Anda di halaman 1dari 14

Motor Stepper

Motor stepper adalah motor DC yang khusus berputar dalam suatu derajat yang tetap yang disebut step (langkah). Satu step antara 0,9 sampai 90. Motor stepper terdiri dari rotor dan stator. Rotor adalah permanen maget sedangkan stator adalah elektromagnet. Rotor akan bergerak jika stator diberi aliran listrik. Aliran listrik ini membangkitkan medan magnet dan membuat rotor menyesuaikan dengan kutub magnet yang dimilikinya. Motor stepper digunakan khusus menentukan posisi batang motor tanpat harus mempergunakan sensor posisi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menghitung jumlah step yang harus diberikan dari posisi acuan. Ukuran dari step ditentukan oleh jumlah rotor dan kutub stator. Tidak ada kesalahan kumulatif yaitu kesalahan sudut tidak terus bertambahan dengan meningkatnya step.

Gambar 6.1. Motor Stepper

Motor stepper bekerja secara lup terbuka, yaitu pengatur mengirimkan sejumlah step ke motor untuk menggerakkan rotor ke posisi yang diinginkan. Sebagai contoh motor stepper pada floppy disk drive. Motor stepper memiliki kecepatan yang rendah dan sering digunakan tanpa reduksi gigi gerigi (gear reduction). Suatu jenis motor stepper dengan 500 pulsa/detik akan berputar 150 rpm. Tetapi motor stepper dapat dibuat berputar 1 rpm atau kurang dengan akurasi yang tinggi. Terdapat tiga jenis motor stepper yaitu magnet permanen, variable reluctance dan hibrid.

Gambar 1.2. Perubahan gaya dan torsi saat Rotor menuju stator 6.2. Permanent Magnet Stepper Motor Permanent Magnet (PM) Stepper Motor menggunakan magnet permanen sebagai rotornya. Pada gambar 1.1 adalah jenis PM Motor Stepper dengan 4 medan (stator). Jika kumparan medan 1 diberi energi listrik maka kutub selatan rotor akan tertarik menuju kumparan ini. Jika kumparan 1 tidak diberi energi dan kumparan 2 diberi energi maka rotor akan berputar dan menuju kumparan 2. Jadi rotor memiliki step 90 untuk setiap kali pemberian energy ini. Salah satu sifat motor stepper yang diinginkan adalah rotor akan mengarah kepada kutub yang terdekat meski tidak dialiri listrik. Anda akan merasakan hentakan magnet ini jika memutar motor stepper dengan tangan. Gejala ini disebut detent torque atau residual torque (torsi sisa). Torsi residu ini sangat diperlukan karena membuat motor berhenti pada step terakhir yang diperintahkan. Efek Pembebanan Pada Motor Stepper Dalam pengerjaan lup terbuka seharusnya motor stepper harus bergerak satu step setiap kali diperintah tetapi jika bebanya terlalu berlebihan motor stepper memiliki torsi untuk membuat satu step. Mungkin rotor akan berputar sedikit kemudian kembali ke posisi semula tanpa mencapai satu step. Ini yang disebut dengan stalled. Jika pengatur tidak memiliki umpan balik maka pengatur tidak akan pernah tahu kalau tidak tercapai sebuah step. Pada saat rotor tepat pada kutub stator torsinya adalah nol, torsi hanya terjadi pada saat rotor tepat pada kutub stator. Kejadian ini digambarkan pada gambar 1.2. Saat stator dialiri listrik terjadi gaya pada kutub utara rotor untuk bergerak menuju kutub selatan stator. Terjadi torsi yang memutar rotor dan gaya tarik semakin bertambah. Pada saat rotor tepat di depan stator (gambar terakhir di Gambar 1.2) terjadi gaya tarik yang paling besar tetapi torsinya tidak ada. Pada prakteknya rotor akan berhenti sebelum tepat di depan stator saat torsi step yang melemah ini sama dengan torsi beban. Gambar 1.2. Perubahan gaya dan torsi saat Rotor menuju stator Misal rotor diinginkan berputar berlawanan arah jarum jam. Jika rotor tertinggal satu step (langkah) dari stator yaitu pada saat rotor baru mau bergerak kumparan kedua sudah dialiri (Gambar 1.3). Hal ini menyebabkan rotor bisa berputar berlawanan arah jarum jam tetapi bisa juga searah jarum jam dalam mengejar kutub utara stator. Karena itu dibatasi agar rotor tidak tertingal lebih dari setengah step. Pada saat ini torsi yang dimiliki motor akan cukup untuk memutar rotor sampai ke arah yang diinginkan tanpa harus stall. Pada saat motor berputar dengan cepat, step dari motor akan tetap dengan adanya kelembaban dari rotor.

Gambar 1.3. Rotor tertunda satu step Mode Operasi Motor stepper memiliki dua mode operasi yaitu single step dan slew. Pada mode single step atau mode dua arah motor berputar dengan frekuensi yang rendah dan masih memungkinkan rotor untuk berhenti sesaat saat sampai kutub stator. Untuk setiap step sudutnya terlampaui sesaat kemudian berhenti atau berosilasi sebelum diam. Mode single step ini memiliki keuntungan setiap step tidak tergantung pada step yang lain sehingga motor bisa langsung stop atau langsung berganti arah. Kelemahannya adalah lambat dan tersendatsendat. Misal kecepatan mode single step adalah 5 step per detik maka akan membuat putaran 15 rpm menjadi 15 per step. Pada mode slew atau mode arah tunggal frekuensi rotor cukup tinggi sehingga rotor tidak punya waktu untuk berhenti. Pada mode ini motor berputar dengan torsi terus menerus secara kontinu seperti putaran motor DC. Pada mode slew ini motor tidak dapat berhenti tiba-tiba atau berganti arah tiba-tiba. Jika dipaksakan berhenti maka rotor akan berputar beberapa step lebih jauh baru berhenti. Sehingga perhitungan step menjadi tidak tepat. Untuk mengatasinya pengatur harus tahu kapan mode slew akan berakhir dan harus menurunkan kecepatannya saat akan berakhir.

Gambar 6.4. Kurva Torsi kecepatan pada single mode dan slew mode

Kurva antara torsi dan kecepatan diperlihatkan pada gambar 1.4. Detent Torque adalah torsi yang diperlukan untuk membangkitkan gaya pada magnet permanen (rotor) diawal pemberian daya. Yaitu hentakan kecil saat anda memutar motor secara manual saat motor tidak diberi daya. Dynamic Torque adalah torsi putar maksimum saat rotor tertinggal setengah step terhadap kutub medan. Holding torque adalah torsi stall terbesar saat motor sudah berhenti tetapi medan terakhir masih diberi energi. Perhatikan sepanjang sumbu-x, ada tiga macam torque yaitu detent torque, diynamic torque dan holding torque. Detent torque adalah torsi yang diperlukan untuk mengatasi gaya magnet permanen (ketika power dimatikan). Gaya ini merupakan sentakan kecil yang anda rasakan bila anda memutar motor secara manual tanpa power. Dynamic torque merupakan maximum running torque yang diperoleh ketika rotor tertinggal di belakang kutub medan sebesar setengah step. Holding torque merupakan stall torque (torsi lambat) tertinggi dan dihasilkan ketika motor telah berhenti sempurna tetapi dengan ktub (pole) terakhir yang masih memperoleh energized. Sebenarnya ini merupakan jenis detent torque sebab memberikan sejumlah torsi eksternal yang dibutuhkan untuk memutar motor yang melawan kecenderungan (against its wishes) Di sini kita dapat memberikan sebuah contoh kasus pada printer. Misalnya sebuah motor stepper mempunyai properti: holding torque 50 in.-oz, dynamic torque 30 in.oz dan detent torque 5 in.-oz. Motor stepper akan digunakan untuk memutar diameter platen printer 1 in. Gaya yang dibutuhkan untuk menarik kertas melalui printer diperkirakan tidak melebihi 40 oz. Berat statik kertas pada platen (bila printer mati/off) adalah 12 oz. Pertanyaannya adalah dapatkah motor stepper pada printer tersebut bekerja? Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka diperlukan torsi untuk memutar platen selama proses pencetakan, dan hal ini dapat dihitung sebagai berikut: Torsi = gaya x radius = 40 oz x ( x 1 in) = 20 in.-oz

Karena itu, motor dengan dynamic torque sebesar 30 in.-oz , akan cukup kuat untuk mengangkat kertas. Torsi pada platen dengan hanya berat kertas dapat dihitung sebagai berikut: Torsi = gaya x radius = 12 oz x ( x 1 in) = 6 in.-oz Ketika printer on, kekuatan holding torque 50 in-oz lebih dari cukup untuk menahan kertas. Namun, bila printer dalam keadaan off, berat kertas melebihi detent torque 5 in-oz, dan platen (dan motor) akan berputar terbalik. Karena itu kita simpulkan bahwa motor tidak dapat menerima beban tersebut. Mode Eksitasi untuk PM Motor Stepper Motor stepper memiliki beberapa kombinasi lilitan dan rotor. Terdapat beberapa urutan energi pada lilitan medan yang menentukan jumlah lilitan yang terpisah, yang dinyatakan dengan phase Two Phase (Bipolar) Stepper Motor Motor stepper dua-phase (bipolar) mempunyai konstruksi yang mirip dengan jenis unipolar, hanya tidak terdapat tap pada kumparannya (gambar 1.5). Penggunaan motor stepper jenis bipolar memerlukan rangkain yang agak lebih rumit untuk mengatur agar motor ini dapat berputar dalam dua arah. Untuk menggerakkan motor stepper jenis ini biasanya diperlukan sebuah driver motor yang dikenal dengan nama H bridge. Rangkaian ini akan mengontrol setiap kumparan secara terpisah (independent) termasuk polaritas untuk setiap kumparan. Motor stepper dua-phase (bipolar) hanya mempunyai dua rangkaian tetapi sebenarnya terdiri dari empat kutub medan. Gambar 1.5(a) menunjukkan simbol motor dan gambar 1.5(b) menunjukkan bagaimana perkawatan/lilitan internal motor tersebut. Pada gambar 1.5(b), rangkaian AB terdiri dari dua kutub berlawanan sedemikian bila tegangan yang dikenakan (+A-B), kutub bagian atas akan memberikan ujung utara terhadap rotor dan kutub bawah akan memberikan ujung selatan. Rotor akan cenderung sejajar sendiri secara vertikal (posisi 1) dengan kutub selatannya mengarah ke atas (sebab kutub magnet yang berlawanan akan saling menarik). Cara yang paling sederhana dalam memberikan step pada motor ini adalah dengan memberikan energi secara bergantian pada AB atau CD untuk menarik rotor dari kutub ke kutub. Jika rotor bergerak CCW (counterclockwise, berlawanan arah jarum jam) dari posisi 1, maka rangkaian CD harus diberi energi dengan polaritas C+D-. Hal ini akan menarik rotor ke posisi 2. Selanjutnya, rangkaian AB diberi energi lagi, tetapi kali ini polaritasnya terbalik (-A+B), yang menyebabkan kutub bawah memberikan ujung utara pada rotor, dengan demikian tertarik ke posisi 3. Istilah bipolar digunakan pada motor ini karena arus kadang-kadang terbalik. Urutan tegangan diperlukan untuk memutar motor satu putaran penuh dan ditunjukkan di bawah ini. Pembacaan dari atas ke bawah memberikan urutan untuk peralihan/perputaran CCW, pembacaan dari bawah ke atas adalah urutan CW (clockwise, sarah jarum jam) Two-Phase (bipolar) stepper motor memiliki dua rangkaian lilitan dengan 4 kutub medan. (Gambar 1.5)

Cara lain pengoperasian stepper dua-phase adalah memberikan energi pada kedua rangkaian tersebut dengan waktu yang sama. Pada mode ini, rotor akan ditarik kepada dua kutub yang berdekatan dan menganggap posisinya ada di antaranya. Gambar 1.6(a) menunjukkan empat posisi rotor yang mungkin. Urutan eksitasi untuk stepping pada dual mode ini adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 1.8. Ada dua rangkaian pada waktu yang sama menghasilkan torsi lebih (yang diinginkan) daripada mode eksitasi tunggal; namun, arus yang digunakan juga lebih besar dan kontrolernya lebih kompleks. Dan karena menghasilkan power-to-weight ratio yang besar maka pada biploar ini mode ekesitasi ganda (dual-excitation mode) menghasilkan power-to-weight ratio yang besar maka pada biploar ini mode ekesitasi ganda (dual-excitation mode) merupakan hal yang sangat lazim . Kedua metoda tersebut menghasilkan four-step drive, yakni empat step per siklus. Dengan mempergilirkan atau mengubah-ubah (alternating) mode eksitasi tunggal (single-excitation mode) dan mode eksitasi ganda (dual-excitation mode), maka motor dapat diarahkan untuk mendapatkan half-step, seperti yang ditunjukkan pada gambar 8(b). Posisi 1, 2, 3 dan 4 berasal dari mode eksitasi tunggal, dan posisi 1, 2, 3 dan 4 dari mode eksitasi ganda. Bila pengemudian ini yang digunakan, maka motor memperoleh delapan step per revolusi (satu putran lengkap 3600) dan disebut eight-step drive. Hal ini dibutuhkan pada beberapa aplikasi karena membolehkan motor mempunyai revolusi posisi dua kali. Bahkan memungkinkan step lebih kecil dengan sebuah proses yang disebut microstepping.

Gambar 1.5. Two-Phase (Bipolar) Stepper Motor Disebut bipolar karena arus yang mengalir pada lilitan bisa sewaktu-waktu berubah polaritas. Lilitan AB jadi satu pada saat A positif dan B negatif maka rotor akan ada pada posisi 1. Jika diinginkan motor berputar berlawanan arah jarum jam maka setelah AB diberi energi, aliran AB dihentikan dan lilitan CD diberi energi dengan polaritas C positif dan D negatif sehingga rotor ada pada posisi 2 untuk memutar ke posisi 3 maka lilitan CD alirannya diberhentikan dan lilitan AB diberi energi lagi tapi sekarang dengan polaritas yang berlawanan. Untuk berputar berlawanan arah jarum jam maka susunan eksitasi single mode adalah sebagai berikut:

Cara yang lain adalah dengan memberi aliran pada kedua rangkaian AB dan CD secara bersamaan sehingga rotor berada pada posisi diantara kutub-kutub. Urutan eksitasi dual mode ini adalah sebagai berikut:

Gambar 1.6. Mode Operasi tambahan Kedua cara single mode dan dual mode ini memberikan 4 step. Memberikan arus listrik sekaligus pada kedua rangkaian menyebabkan torsinya lebih kuat daripada single mode tetapi lebih banyak energi yang dikonsumsi. Cara lain dengan memberikan setengah step maka akan diperoleh 8 step (Gambar 6.6). Posisi 1, 2, 3 dan 4 diperoleh dari single mode sedangkan posisi 1, 2, 3 dan 4 diperoleh dari dual mode. Pada rotor yang jumlah kutubnya lebih banyak akan diperoleh ukuran step yang lebih kecil. Misal motor stepper dengan 6 rotor akan menghasilkan step sebesar 30.

Gambar 1.7. Motor 30 dengan 6 kutub rotor

Four Phase (Unipolar) Stepper Motor Motor stepper empat-phase (unipolar) adalah jenis motor stepper yang paling umum (gambar 1.8). Istilah empat-phase digunakan karena motor mempunyai empat kumparan medan yang dapat diberikan energi secara terpisah/tersendiri, dan istilah unipolar digunakan karena arus selalu menjalar dalam arah yang sama melalui kumparan. Cara sederhana untuk mengoperasikan motor stepper empat-phase adalah dengan memberikan energi phase satu pada suatu waktu yang berurutan (dikenal dengan wave drive). Untuk memutar ke arah CW, digunakan urutan berikut: Dibandingkan dengan motor stepper bipolar dua-phase, motor stepper empat-phase mempunyai keuntungan karena kesederhanaannya (simplicity). Rangkaian kontrol motor empat-phase mudah men-switch urutan kutub on dan off ; tanpa harus membalik polaritas kumparan medan (namun, motor dua-phase menghasilkan torsi lebih besar karena pushing dan pulling dilakukan bersamaan). Torsi motor stepper empat-phase dapat dinaikkan jika dua kumparan yang berdekatan diberikan energi secara bersamaan, menyebabkan rotor menjajarkan sendiri antara kutubkutub medan (seperti yang ditunjukkan pada gambar 10). Walaupun diperlukan masukan energi dua kali lipat, torsi motor meningkat sekitar 40%, dan kecepatan respon meningkat. Jenis ini paling sering digunakan, kata four phase berarti motor stepper ini mempunyai 4 lilitan dan kata unipolar berarti arah arus pada setiap lilitan selalu sama polaritasnya tidak pernah berubah. Dengan konstruksi motor demikian mereka dapat digunakan dalam mode dua-phase atau empat-phase seperti yang biasa digunakan. Hal ini dilakukan dengan membiarkan dua kumparan tambahan (dari motor dau-phase) yang secara internal dihubungkan ke titik di antara kumparan medan yang berlawanan. Gambar 1.9(a) menunjukkan simbol untuk jenis motor ini dan gambar 1.9(b) menunjukkan interior kumparan motor. Jika motor tersebut digunakan dalam mode dua-phase, maka center tap (terminal 2 dan 5) tidak digunakan. Jika dioperasikan dalam mode empat-phase, center tap menjadi common return, dan power diberikan pada terminal 1, 4, 3 dan 6 seperti yang dibutuhkan. Saat ini hampir semua motor stepper magnet permanen tersedia dalam ukuran step yang lebih kecil dibandingkan dengan motor sederhana yang telah kita bahas di depan.

Gambar 1.8. Four Phase (Unipolar) Stepper Motor Untuk memutar Four-Phase Stepper Motor pada arah searah jarum jam urutan stepnya adalah Biasanya suatu Four-phase stepper motor dapat dioperasikan sebagai two phase sekaligus menggunakan perangkat center tap (Gambar 1.9). Saat ingin dibuat two phase, center tap (terminal 2 dan 5) tidak dihubungkan sedangkan saat ingin dibuat menjadi four-phase terminal 2 dan 5 dihubungkan dengan ground.

Gambar 1.9. Four-Phase Stepper Motor Variable-Reluctance Stepper Motor Variable-Reluctance (VR) Stepper Motor pada rotornya tidak menggunakan magnet tetapi sebagai gantinya digunakan roda beri bergerigi (Gambar 1.10b) Motor stepper variable-reluctance (VR) tidak menggunakan magnet pada rotornya; sebagai gantinya, digunakan roda besi bergerigi (toothted iron wheel, [lihat gambar di bawah]). Keuntungan dari tidak diperlukannya rotor yang termagetisasi adalah bahwa dia dapat dibuat dalam berbagai ketajaman (any shape). Setiap gigi rotor ditarik mendekati kutub medan dalam stator yang mendapat energi, tetapi tidak dengan gaya yang sama seperti pada motor magnet permanen. Hal ini memberikan motor-VR torsi yang lebih kecil dibandingkan dengan motor magnet permanen. Motor stepper VR umumnya mempunyai tiga atau empat phase. Gambar (a) menunjukkan sebuah motor stepper tiga-phase tipikal. Stator mempunyai tiga rangkaian kutub medan: 1, 2 dan 3. Gambar di bawah ini menunjukkan bahwa motor aktual mempunyai 12 kutub medan, di mana setiap rangkaian memberikan energi pada empat kumparan; anda dapat melihat ini dengan mengamati lebih dekat kumparan 1 dalam gambar tersebut. Perhatikan bahwa rotor hanya mempunyai 8 gigi walaupun terdapat 12 gigi pada stator. Karena itu gigi rotor tidak dapat naik one for one dengan gigi stator.

Gambar tersebut mengilustrasikan operasi motor stepper VR. Bila rangkaian 1 mendapat energi, rotor bergerak ke posisi seperti yang ditunjukkan pada gambar 12(a)yakni gigi rotor (A) segaris dengan kutub medan 1. Selanjutnya rangkaian 2 mendapat energi. Gigi rotor B mendekat dan ditarik ke arah 2 [gambar 12(b)]. Perhatikan bahwa rotor harus bergerak hanya 150 untuk persejajaran ini. Jika rangkaian 3 yang berikutnya mendapat energi, rotor akan terus berlanjut ke arah CCW 150 dengan menarik gigi C menjadi sejajar. Sudut step motor stepper VR adalah selisih antara sudut rotor dan sudut stator. Untuk motor pada gambar 12, sudut antara kutub medan adalah 300, dan sudut antara kutub rotor adalah 450. Karena itu step nya adalah 150 (450 300 = 150). Dengan menggunakan desain ini, motor stepper VR dapat dicapai step yang sangat kecil (kurang dari 10). Ukuran step yang kecil sering menjadi pertimbangan karena untuk memberikan posisi yang lebih presisi. Motor stepper VR mempunyai banyak perbedaan fungsional bila dibandingkan dengan motor stepper jenis magnet permanen. Karena rotor tidak termagnetisasi, motor VR lebih lemah (torsi kecil) dari motor stepper magnet permanen dengan ukuran yang sama. Dan juga, tidak mempunyai detent torque bila catu daya mati, yang dapat merupakan keuntungan atau kerugian tergantung pada aplikasi. Akhirnya, karena ukuran step nya kecil dan detent torque yang direduksi, motor stepper VR mempunyai kecenderungan yang lebih untuk mengalami overshoot dan melewati suatu step. Hal ini merupakan hal yang serius jika motor dioperasikan dalam open-loop, di mana posisi dipertahankan dengan menjaga sejumlah step yang diberikan. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa urutan damping dapat digunakan. Hal ini dapat dilakukan secara mekanik dengan menanmbahkan gesekan (friction) atau secara elektrik dengan memberikan suatu torsi pengereman kecil (slight braking torque) dengan kutub-kutub medan yang berdekatan.

Gambar 1.10 Variable-Reluctance Stepper Motor Rangkaian Penggerak atau Pengontrol Motor Stepper Rangkaian penggerak terdiri dari sebuah pengatur (controller) yang menentukan jumlah dan arah dari step (CCW=Counter Clock wise, CW=clock wise). Sedangkan Generator pulsa membangkitkan pulsa yang sesuai untuk masing-masing lilitan sesuai dengan arah dan besar step yang diinginkan. Motor stepper tidak memerlukan operasional amplifier karena hanya biasanya

digunakan secara digital yaitu penyalaan on/off saja.

Gambar 1.11. Penggerak Motor Stepper Untuk menggerakkan two phase (bipolar) stepper motor berlawanan arah jarum jam (CCW) digunakan timing diagram pada gambar 6.12. Misal untuk posisi rotor di 1 maka kutub A diberi polaritas positif dan kutub B negative sehingga mengalir arus sedangkan kutub C dan D diberi polaritas negatif atau rangkaiannya menjadi off.

Gambar 1.12 Posisi rotor dan timing diagram two phase stepper motor Sedangkan timing diagram untuk four-phase dapat dilihat pada gambar 1.13.

Gambar 1.13. Posisi rotor dan timing diagram four-phase stepper motor

Untuk membuat timing diagram seperti pada gambar 1.12 dapat dilakukan dengan menggunakan rangkaian digital (Gambar 1.14) yang menghasikan posisi naik (UP) dan posisi pulsa turun (DOWN). Setiap timing diagram ini dinyatakan dengan pulsa digital menggunakan 2 to 4 decoder yang menghasilkan keempat timing diagram dinyatakan dengan salah satu dari nilai 00, 01, 10, 10 dan 11. Output dari decoder harus diinverting dan dihubungkan ke rangkaian transistor simetri. Resistor dan zener membuat transistor UP menjadi on pada saat keluaran OFF dan sebaliknya

Gambar 1.14. Rangkaian lengkap penggerak two-phase stepper motor Rangkaian untuk four-phase stepper motor mirip dengan gambar1.14 tetapi pada keluaran decoder tidak perlu ditambahkan inverting lagi. Keluaran dari decoder dihubungkan ke 4 penguatan darlington.

Gambar 1.15 Rangkaian lengkap penggerak four-phase stepper motor Biasanya keempat penguat Darlington sudah tersedia di dalam IC Allegro ULN- 2064/65B. Penguat ini dapat disuplai sampai 1,5 A dan dan digerakkan langsung dari TTL 5V logika. Dioda sebagai tempat pembuangan arus saat transistor off.

Gambar 1.16. IC Allegro ULN-2064/65B Contoh lain adalah Allegro UCN-5894B yang memiliki tiga mode pengoperasian.

Gambar 1.17. Rangkaian UNC-5894B Penggerak Unipolar Stepper Motor Motor stepper merupakan salah satu jenis motor yang banyak digunakan saat ini sebagai actuator, misalnya sebagai penggerak head baca/tulis pada disk drive yang akan menetapkan posisi head baca/tulis di atas permukaan piringan disket, penggerak head pada printer dan line feed control, dan yang lebih populer saat ini adalah aplikasi dalam bidang robotik. Dengan bantuan mikroprosesor atau mikrokontroler perputaran motor dapat dikontrol dengan tepat dan terprogram.