Anda di halaman 1dari 32

TUGAS MAKALAH

PARTAI POLITIK GOLKAR Tugas Kelompok Mata Kuliah Sistem Sosial dan Politik Indonesia

Dosen Pembimbing: Yahya Muhaimin Asisten Dosen: Gita Karisma Oleh: Arifasjah Riza Wibawa / 0801512029 Arrafina Muslimah / 0801512025 Dilla Augusta / 0801512006 Putri Quarta / 0801512028 Rifanny Liestya / 0801512023 Saarah Ayu / 0801512001 Satrio Sugiharto / 0801512030

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL UNIVERSITAS AL AZHAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini berjudul Partai Politik Golkar.

Makalah ini disusun untuk melengkapi nilai mata kuliah Sistem Politik dan agar pembaca dapat lebih mengenal dan mengetahui mengenai partai politik.

Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu penulis dalam pembuatan makalah ini, terutama kepada: 1. Yahya Muhaimin selaku dosen mata kuliah Sistem Politik 2. Gita Kusumua selaku asisten dosen 3. Teman-teman dan keluarga yang mendukung
Dengan tersusunya makalah ini dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menambah wawasan, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk memperbaiki makalah ini. Kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih.

Jakarta , 4 Juni 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................. i ii 1 1 1 1 2 2 2

Bab I PENDAHULUAN............................................................................................. 1.1 Latar Belakang . ............................................................................................

1.2 Rumusan Masalah . ............................................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................

1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................. 1.5 Metode Pengumpulan Data .................................................................................. 1.6 Sistematika Penulisan ...........................................................................................

Bab II LANDASAN TEORI ......................................................................................

3 1

2.1 Pengertian dari Partai Politik............................................................................ 2.2 Tujuan dari partai politik ............................................................................

Bab III PEMBAHASAN................................................................................... 3.1 Fungsi kedudukan partai politik di Indonesia ............................................. 3

3.2 Peranan Partai Politik.................................................................................. 12 3.3 Perkembangan Partai Politik di Indonesia .................................................. 15 3.4 Sejarah berdirinya Golkar ........................................................................... 16 3.5 Peranan, visi, dan misi Golkar..................................................................... 20

Bab III PENUTUP 3.1 Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 24 ............................................................................................. 25

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem politik di Indonesia, dapat berjalan dengan baik tanpa terjadi ketimpangan dalam pelaksanaannya, jika ada kesadaran politik dari segenap komponen politik yang turut serta secara aktif dan bermutu dalam proses politik. Kesadaran politik masyarakat untuk turut serta dalam aktivitas politik, salah satunya termanifestasikan dalam kehidupan kepartaian yang merupakan prasyarat pemilu dan menjadi ciri dari negara demokratis. Seperti yang dikatakan oleh Ramlan Surbakti: Kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warganegara. Hal ini mengangkat pengetahuan seseorang tentang lingkungan masyarakat dan politik, dan mengangkat minat dan perhatian seseorang terhadap lingkungan masyarakat dan politik tempat dia hidup. Berkaitan dengan kesadaran masyarakart akan politik, Ramlan Surbakti juga berpendapat bahwa rakyat harus diikutsertakan dan berpartisipasi dalam proses politik, karena itulah yang mendorong lahirnya partai politik, sebagai penghubung antara rakyat dengan pemerintah bahkan partai politik dianggap sebagai perwujudan atau lambang negara dan modern. Partai politik dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan. Dengan keeksistensian partai politik, aspirasi masyarakat dapat tersalurkan melalui partai politik. Hal ini akan menjadikan sebuah negara yang demokratis dan modern.

1.2

Perumusan Masalah 4 5 6 7 8 9 Apakah pengertian dari Partai Politik? Apakah tujuan dari partai politik? Bagaimana fungsi kedudukan partai politik di Indonesia? Apa sajakah peranan Partai Politik? Bagaimana perkembangan Partai Politik di Indonesia? Bagaimana sejarah berdirinya Golkar?

10 Apakah sajakah peranan, visi, dan misi Golkar?

1.3

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dan penulisan makalah ini dimaksudkan agar pembaca atau mahasiswa/i khususnya yang belajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dapat

memahami benar peranan dan perkembangan partai politik setelah kemerdekaan, hingga masa kini.

1.4

Manfaat Penelitian Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca atau mahasiswa/i dapat menjelaskan dan merealisasikan peranan sistem pemerintahan politik dan sosial dengan baik di Indonesia.

1.5

Metode Pengumpulan Data Data yang dikemukakan dalam makalah ini diperoleh dengan membaca jurnal ataupun buku-buku sumber, yang ada hubungannya dengan Partai Politik

1.6

Sistematika Penulisan Makalah disusun dengan urutan sebagai berikut: Bab I Merupakan bab pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode pengumpulan data, sistematika penulisan. Bab II Membahas Mengenai pengertian Partai Politik, tujuan dari Partai Politik, fungsi kedudukan Partai Politik di Indonesia, peranan Partai Politik, perkembangan Partai Politik di Indonesia.

Bab III Merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya. Terakhir terdapat daftar pustaka sebagai referensi atas data-data yang terkumpul.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1

Pengertian Partai Politik Secara umum, partai politik adalah organisasi politik yang menjalani sekumpulan ide atau

gagasan tertentu atau dibentuknya partai politik tersebut karena mempunyai tujuan khusus. Definisi lainnya adalah kelompok yang terorganisir yang anggotanya mempunyai pandangan, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik - (biasanya) dengan cara konstitusional - untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.12 Partai politik adalah sarana politik yang menjembatani elit-elit politik dalam upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan mandiri dalam hal finansial, memiliki haluan politik tersendiri, menjunjung kepentingan-kepentingan kelompok dalam urusan politik, dan turut berpartisipasi dalam perkembangan politik sebagai suprastruktur politik. Dalam rangka memahami partai politik sebagai salah satu komponen infrastruktur politik dalam negara, berikut beberapa pengertian mengenai partai politik, yakni: 1. Carl J. Friedrich:

Partai Politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasan pemerintah bagi pemimpin partainya, dan berdasarkan penguasan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun materil. 2. R.H. Soltou:

Partai Politik adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyaknya terorganisir, yang bertindak sebagai satu kesatuan politik, yang dengan memanfaatkan kekuasan memilih, bertujuan menguasai pemerintah dan melaksanakan kebijakan umum mereka. 3. Sigmund Neumann:

Partai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis Politik yang berusaha untuk menguasai kekuasan pemerintah serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan melawan golongan-golongan lain yang tidak sepaham.

1 2

Budiarjo, Miriam, "Dasar-Dasar Ilmu Politik", (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), hal.159. UU No.2 tentang Partai Politik tahun 2011

4.

Miriam Budiardjo:

Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka. Partai politik juga berfungsi sebagai penengah atau wadah yang menghimpun aspirasi rakyat untuk disalurkan melalui lembaga-lembaga demokrasi (DPR/D dan MPR). Unsur-unsur yang terdapat dalam partai politik yang memenuhi syarat-syarat peraturan perundang-undangan adalah: 1. Mempunyai program kerja bertumpuh pada rakyat banyak. 2. Memiliki kader-kader berkualitas (pembinaan anggota di utamakan). 3. Parpol harus menjadikan kepentingan bangsa dan Negara sebagai acuan utama.

Tipe-Tipe Partai Politik Dari segi komposisi dan fungsi keanggotaannya, partai politik dapat dibagi menjadi : 1. Partai Kader: Disebut juga partai elite atau tradisional yang dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu tipe Eropa dan Amerika. Tipe Eropa bertujuan untuk mendapatkan anggota sebanyak mungkin, tetapi lebih menekankan pada dukungan dari orang-orang terkemuka, lebih memperhatikan kualitas daripada kuantitas. Sedangkan tipe Amerika menekankan pada usaha menjaring tokoh partai yang loyal. 2. Partai Massa: Tekhnik mengorganisasi partai dilakukan oleh gerakan sosialis, yang kemudian diambil oleh partai komunis dan banyak digunakan di negara-negara berkembang. Dapat dibedakan menjadi tipe sosialis, yang berorientasi terhadap kaum buruh. Tipe partai komunis yang diorganisasi secara otoriter dan terpusat, lebih menggambarkan sentralisasi daripada demokrasi. Tipe partai fasis, menggunakan tekhnik militer untuk mengorganisasi politik massa. 3. Tipe Partai Tengah: Yaitu partai yang menggunakan organisasi massa sebagai alat dukungan partai.3
3

Syahrial Syarbani.Sosiologi dan Politik.(Jakarta:Ghalia Indonesia,2002) hlm 76-77

2.2

Tujuan dari Partai Politik Tujuan Partai Politik Menurut [uu no. 2/2008] :4 1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 2. Menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia 3. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan 4. Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia 5. Meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan 6. Memperjuangkan cita-cita Partai Politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, dan 7. Membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

http://jakarta45.wordpress.com/2009/01/06/7-tujuan-partai-politik-uu-no-22008/

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Fungsi kedudukan Partai Politik di Indonesia Kedudukan partai politik dalam sitem politik sebuah negara adalah sebagai lembaga

Intermediary. Dapat dikatakan bahwa partai politik merupakan penghubung antara rakyat dengan pemerintah. Sehingga ia menjalankan beberapa fungsinya sebagai lembaga intermediary. Seperti sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana artikulasi dan agregasi kepentingan, sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai sarana rekrutmen politik, sebagai sarana pembuatan kebijaksanaan, dan sebagai sarana pengatur konflik.5 Prof.Meriam Budiharjo menjelaskan bahwa partai politik sebagai clearing house of ideas. Partai politik dalam kedudukan sistem politik digambarkan sebagai sebuah lembaga penampung aspirasi rakyat. Aspirasi rakyat yang tidak dapat langsung tersampaikan kepada pemerintah dapat terbantu dengan adanya partai politik. Partai politik merupakan representasi dari perwakilan rakyat. Asas tujuan dan kegiatan yang dilakukan oleh partai politik dibuat sedemikian rupa agar dapat mewakili masyarakat. Hal ini juga dilakukan untuk memudahkan partai politik untuk menarik simpati masyarakat. Hal yang paling penting adalah bahwa partai politik kemudian dapat merangkum aspirasiaspirasi masyarakat agar dapat diberikan kepada pemerintah. Informasi yang diberikan oleh partai politik inilah yang kemudian akan mempengaruhi setiap kebijakan yang akan dibuat oleh pemerintah. Kemudian dapat disimpulkan pula bahwa efektifitas dari setiap partai politik sebagai lembaga intermediary terletak dari setiap kebijakan yang pemerintah laksanakan. Apakah setiap kebijakan yang pemerintah laksanakan sudah sesuai dengan aspirasi masyarakat yang telah mereka salurkan kepada partai politik atau sebaliknya. Jika sesuai, maka dapat dikatakan bahwa partai politik telah berhasil menjalankan kedudukannya sebagai lembaga intermediary. Jika tidak, tentu kita akan mengatakan bahwa partai politik telah gagal dalam menjalankan kedudukannya sebagai lembaga intermediary. Partai politik sebagai public announcer. Dalam kedudukannya sebagai lembaga intermediary, tentu partai politik tidak hanya sebagai penghubung antara masyarakat kepada pemerintah, tetapi juga sebaliknya. Dalam menjalakan kedudukannya sebagai penghubung antara pemerintah kepada masyarakat, partai politik menyampaikan mengenai keadaan pemerintah yang sebenarnya. Tidak hanya itu, partai politik juga dapat menjadi sosialisator dalam menyampaikan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Hal ini sangat perlu dilakukan agar tidak terjadi miss-comunication antara pemerintah dan rakyat. Ketika rakyat memahami apa yang dimaksudkan pemerintah dalam kebijakannya, maka rakyat akan mematuhi kebijaksanaan itu sepenuhnya dan menjalankannya tanpa
5

Haryanto. 1982. Sistem Politik : Suatu Pengantar. Yogyakarta : Liberty

ada paksaan. Selaras dengan sebuah kata pepatah yang masyhur, tak kenal maka tak sayang. Bagaimana masyarakat akan menjalankan sebuah kebijakan secara baik jika mereka tidak memahami maksud dari kebijakan tersebut. Untuk itulah, partai politik dibutuhkan untuk menghindari situasi seperti ini.

Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, menjadikannya sebagai negara yang kehidupan politiknya menjadi sangat bebas. Kebebasan berpolitik ini berdampak langsung pada banyaknya partai-partai politik yang bermunculan. Partai politik semakin subur terutama sekali pascareformasi sekarang ini. Hadirnya parpol-parpol baru oleh masyarakat diharapkan mampu membawa perubahan bagi kehidupan bernegara. Saat ini jika kita perhatikan keadaan bernegara, bagaimana negara diatur, dikelola dan diberdayakan oleh pemerintah, selalu di dalamnya terlibat partai politik. Amandemen konstitusi sebanyak empat kali merupakan salah satu faktor mengapa parpol dapat terlibat dalam setiap aktivitas negara. Pembagian kekuasaan antara lembaga eksekutif dan legislatif mem buat parpol menjadi salah satu elemen penting dalam peroses pembuatan kebijakan. Dalam tulisan yang berjudul Reshuffle Kabinet, Cermin Sistem Politik Indonesia Terkini, penulis telah mengemukakan bahwa pada saat proses reshuffle yang diambil Presi- den SBY pada Oktober lalu. Partai politik merupakan unsur pertama dan utama yang paling berpengaruh dalam mempengaruhi presiden dan terbukti berhasil. Terlihat bagaimana presiden kemarin sangat mendengarkan suara partai politik daripada suara rakyat dalam proses pergantian menteri. Maka dalam tulisan kali ini penulis akan lebih dalam dan mempertegas lagi betapa kedudukan partai politik dalam sistem politik dan sistem pemerintahan di Indonesia sangat vital lagi strategis. Bukan hanya pada saat reshuffle terjadi, tetapi bahkan pada semua aktivitas negara partai politik dengan kevitalannya boleh dikatakan selalu hadir. Terutama sekali dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai agen sosialisasi politik dan partisipasi politik. Dalam bukunya Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi Koirudin (2004), menjelaskan betapa urgennya kedudukan partai politik dalam kehidupan bernegara. Parpol memiliki peran yang cukup besar dalam interaksi antara negara dan rakyat. Bahkan dalam konteks Indonesia menurutnya, bahwa jatuh bangunnya perkembangan yang dialami bangsa Indonesia sejak proklamasi sampai reformasi sekarang ini, tidak dapat dilepas dari parpol.

Partai politik adalah merupakan salah satu sarana atau wadah bagi warga negara berpartisipasi di bidang politik (Haryanto 1982). Sementara menurut Surbakti (1992) bahwa fungsi utama partai politik yaitu mencari dan mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program-program yang disusun berdasarkan ideologi tertentu. Setidaknya itulah definisi dan fungsi yang sederhana dari partai politik. Fungsi parpol dalam hal perebutan kekuasaan itu hanyalah sarana saja, dan merupa-kan sebagian kecil dari fungsi parpol. Ini ditunjukkan dengan operasionalisasi fungsi kekua-saan itu hanya berlangsung dalam ritus lima tahunan. Sedangkan fungsi yang paling pokok justru terletak pada bagaimana manuver taktis parpol dalam perwujudan kebijakan publik. Sebab kebijakan publik adalah wujud nyata dari interaksi negara dengan masyarakat. Dan di-situlah parpol mencoba mengindentifikasi dirinya sebagai parpol modern (Koirudin 2004:69 70). Salah satu penyebab betapa partai politik sangat berpengaruh dalam kehidupan bernegara, bahkan mampu mencapai ranah eksekutif. Yaitu masih digunakannya sistem pembagi-an kekuasaan (distribution of power) antara legislatif dan eksekutif, bukan sistem pemisahan kekuasaan (separation of power). Sehingga pemerintah seringkali tampak tidak bertaring di depan DPR, karena takut jika UU atau Perda yang diajukan ditolak DPR atau DPRD. Pada-hal sesungguhnya fungsi legislasi memang mutlak milik lembaga legislatif. Dalam sistem pemerintahan menurut UUD 1945 dianut sistem pembagian (fungsi) kekuasaan, dalam mana masing-masing bidang kekuasaan tersebut tidak samasekali terpisah. Bahkan dalam beberapa hal terdapat hubungan kerjasama yang sangat erat, misalnya antara Presiden dan DPR dalam bidang pembuatan undang-undang (Maschab 1983). Kehadiran partai politik dengan fungsinya sebagai agen sosialisasi dan partisipasi po-litik dalam sistem politik. Ternyata mampu menjadi elemen yang paling berpengaruh dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, dan tampaknya akan demikian sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Keberadaan partai politik, penulis rasa masih sangat penting untuk Indo- nesia terutama dalam proses pembangunan bangsa (nation building). Tidak bisa dipungkiri bahwa partai politik saat ini menjadi sesuatu yang tampaknya sangat dibenci oleh rakyat. Hal tersebut akibat prilaku politisi-politisi busuk yang mencoreng nama partai dan kesucian politik itu sendiri. Namun apakah hal tersebut tetap kita biarkan dengan keapatisan masyarakat, dan kita tidak berbuat apa-apa? Penulis mengatakan tidak. Partai politik harus kita manfaatkan sebaik-baik mungkin, untuk mencapai kesejahteraan bangsa.

Partai politik disamping menanamkan ideologi partai kepada para pendukungnya, ha-rus pula mengajarkan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan politik yang berlaku di masyarakat atau negaranya. Partai politik juga harus mendidik masyarakatnya agar supaya mempunyai kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi sebagai warga negara dan lebih mementingkan kepentingan nasional daripada kepentingannya sendiri atau golongannya (Haryanto 1982). Sebagai agen sosialisasi politik, partai politik memiliki tugas besar untuk menanam-kan keyakinan-keyakinan politik ke dalam masyarakat. Parpol dipaksa untuk memperkenal-kan nilai-nilai politik, sikap dan etika politik yang berlaku. Untuk melaksanakan fungsinya ini, Haryanto (1982) memberikan contoh cara yang biasanya digunakan parpol yaitu dengan cara memberikan kursus, ceramah, maupun penataran-penataran tentang politik. Disini terlihat bagaimana parpol menjadi penting posisinya sebagai agen sosialisasi politik. Sebagai organisasi yang memiliki kepentingan politik, dijalankannya fungsi sosialisasi yaitu untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satunya adalah untuk membentuk prilakuk politik masyarakat, terutama prilaku pemilih. Prilaku pemilih ini melalui sosialisasi politik diarahkan untuk lebih berpartisipasi dalam kegiatan politik, serta memilih partai atau calon yang diusulkan partai itu sendiri. Namun dalam konteks Indonesia fungsi sosialisasi ini seringkali disalahgunakan oleh parpol. Dalam pelaksanaannya parpol lebih suka mementingkan kepentingan golongannya dibanding kepentingan masyarakat luas. Hal ini tentu bertentangan dari fungsi sosialisasi politik itu sendiri. Sehingga banyak masyarakat yang akhirnya berprilaku demikian, karena hal itulah yang disosialisasikan dan yang diperlihatkan ke meraka. Sosialisasi yang terjadi selama ini masih terfragmentasi. Parpol tertentu gencar melakukan sosialisasi dan transformasi sosial ke masyarakat ketika ada kepentingan yang ingin dicapai, tapi ketika kepentingannya itu sudah dianggap aman, maka sosialisasi politik itu berhenti. Inilah yang membuat antara sosialisasi politik dan bangunan perilaku pemilih di Indonesia dari tahun ke tahun seperti lingkaran yang terputus (Koirudin 2004). 6 Hal di ataslah yang masih terjadi di Indonesia saat ini, setelah reformasi 13 tahun lamanya parpol-parpol belum dapat menjalankan fungsi sosialisasinya dengan baik. Tetapi apakah dengan demikian kita harus benci parpol dan muak berbicara politik? Penulis tegaskan

Koirudin, 2004, Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi, Pustaka Pelajar: Yogyakarta

sekali lagi, tidak. Tidak demikian, justru itulah kita harus bersama-sama mencari dan merumuskan formasi partai politik yang baik, supaya keutamaan dari fungsi parpol dapat tercapai. Dalam beberapa buku rujukan penulis dalam menulis tulisan ini, memang parpol ti-dak disebutkan memiliki fungsi partisipasi politik. Karena memang fungsi partisipasi politik itu secara luas dijalankan oleh masyarakat, dan masyarakat pemilih sempitnya. Tetapi secara eksplisit disebutkan bahwa parpol memiliki fungsi sebagai agen atau alat pastisipasi politik. Penulis pun sepakat demikian, bahwa parpol merupakan salah satu agen partisipasi politik. Menurut Budiardjo (dikutip oleh Koirudin 1994), bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pemimpin negara dan secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kebijakan pemerintah. Kegiatan ini mencakup seperti memberikan suara dalam pemilu, menghadiri rapat umum, dan menjadi anggota suatu partai atau interest group. Partisipasi politik dapat terwujud dalam pelbagai bentuk. Studi-studi tentang partisi-pasi dapat menggunakan skema-skema klasifikasi yang agak berbeda-beda, namun kebanya-kan riset belakangan ini membedakan jenis-jenis perilaku menjadi (a) kegiatan pemilihan; (b) lobbying; (c) kegiatan organisasi; (d) mencari koneksi; (e) tindak kekerasan (Huntington dan Nelson 1994). Berdasarkan jenis-jenis partisipasi politik di atas, setidaknya ada tiga jenis partisipasi yang partai politik terlibat di dalamnya, yaitu kegiatan pemilihan, lobbying, dan kegiatan organisasi. Di tiga jenis partisipasi ini kedudukan partai politik benar-benar diperhitungkan dan sangat berpengaruh. Hal ini dapat dimaklumi karena memang peraturan perundang-undangan dan keadaanlah yang memaksa parpol untuk terlibat langsung. Dalam kegiatan pemilihan atau pemilu, parpol sangat berperan dan berpartisipasi aktif sebagai pemilik resources yaitu calon-calon legislator dan atau pimpinan eksekutif. Sebagai agen partisipasi politik, parpol haruslah menyediakan orang-orang terbaik yang akan duduk sebagai pihak yang terlibat dalam decision makers (pembuat kebijakan). Disinilah peran kehadiran parpol menjadi penting dalam setiap kali pemilu. Kader-kader terbaik di parpol diajukan sebagai calon-calon pemimpin bangsa untuk bertarung dengan calon dari parpol lainnya. Untuk konteks Indonesia sampai saat ini hanya parpol yang memilki keabsahan untuk mencalonkan seseorang dalam pemilu. Walaupun ada wacana pencalonan secara independen tanpa parpol, penulis rasa masih sangat sulit dilaksa-

nakan sekarang ini. sebab ada beberapa hal penting yang tidak dikuasai dan bahkan tidak dimiliki oleh calon independen. Sehingga parpol tetaplah menjadi agen kuat bagi masyarakat dalam memberikan hak suaranya dalam kontestasi pemilu. Ini juga tidak lepas dari fungsi sosialisasi parpol, karena jika sosialisasi yang diberikan parpol baik, maka kemungkinan besar tingkat pasrtisipasi dan kepercayaan masyarakat terhadap partai tersebut akan baik pula. Sehingga kemudian akan berimbas pada suara partai tersebut dalam pelaksanaan pemilu. Selain memberikan hak suara dalam pemilu, masyarakat juga memiliki hak untuk dipilih dalam pemilu sebagai bentuk partisipasi politik. Maka dalam hal demikian satu-satunya alat yang dapat digunakan oleh masyarakat jika ingin ikut bertarung dalam pemilu yaitu partai politik. Sebab untuk saat ini di Indonesia peluang calon independen tanpa dukungan parpol untuk menang sangat kecil, kecuali untuk calon anggota DPD RI. Dalam konteks pemilu ini, parpol hadir sebagai pasrtisipan politik jika terdaftar untuk mengikuti rangkaian kegiatan pemilu. Juga hadir sebagai agen partisipasi politik karena menempatkan kadernya yang notabene merupakan anggota masyarakat, dan mendapatkan suara pula dari rakyat sebagai bentuk nyata dari partisipasi politik aktif masyarakat. Kedua, partisipasi dalam bentuk lobbying. Menurut Huntington dan Nelson (1994), bahwa lobbying mencakup upaya-upaya perorangan atau kelompok-kelompok untuk menghubungi pejabat-pejabat pemerintah dan pemimpin-pemimpin politik dengan maksud memengaruhi keputusan-keputusan mereka mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut hidup orang banyak. 7 Di dalam UUD 1945 disebutkan fungsi membuat undang-undang bersama-sama dijalankan oleh DPR (legislatif) dan Presiden (pemerintah). Dengan demikian pemerintah memiliki hak untuk mengajukan RUU ke DPR untuk dibahas atas nama presiden. Mengingat anggota-anggota DPR merupakan utusan-utusan parpol, maka setiap sikap dan keputusan yang diambil oleh anggota DPR merupakan sikap dan keputusan partai. Walaupun ada beberapa contoh kasus anggota yang sikapnya berbeda dengan garis kebijakan partai, tetapi penulis lihat sedikit sekali yang melakukan hal yang demikian. Dalam proses pembahasan RUU melalui panitia khusus (pansus) antara DPR dan pemerintah, sering-

Huntington, Samuel P. dan Joan, M. Nelson, 1994, Partisipasi Politik Di Negara Berkembang, Rineka Cipta: Jakarta.

kali kita lihat terjadi perbedaan pendapat dan ketidaksepakatan beberapa draf pasal antara partai-partai di DPR dengan pemerintah. Perbedaan pendapat itu umumnya terjadi antara partai-partai oposisi dengan pemerin-tah. Bahkan dalam beberapa pembahasan RUU dan proses pengambilan keputusan lainnya di DPR parpol koalisi juga ada yang berbeda pendapatnya dengan pemerintah. Akhirnya dalam pembahasan RUU dan atau keputusan politik lainnya terjadi deadlock. Dalam kondisi seperti inilah proses lobi antara partai oposisi denga partai koalisi, atau partai oposisi dengan pemerintah berlangsung. Bentuk lobi pun bermacam pula variasinya, selain pada waktu skorsing yang memang diberikan waktu untuk lobi-lobian oleh pimpinan sidang dalam waktu sidang. Lobi juga dapat dilakukan diluar waktu tersebut atau di luar ruang sidang. Tetapi dapat juga dilakukan dengan makan siang/malam bersama, lobi intensif di daerah wisata, atau bentuk-bentuk lobi lain yang sifatnya nonformal. Proses lobi-lobian baik antar partai (opoisisi dan koalisi) maupun antara partai dengan pemerintah, memang biasanya tidak berhasil sehingga berujung pada proses pemungutan suara terbanyak (votting). Tetapi ada juga dari proses lobi tersebut yang sukses dan terdapat sebuah kesepakatan bersama. Sehingga di sini partai politik melalui anggota dan atau fraksinya di DPR telah melaksanakan salah satu bentuk partisipasi politik yaitu lobbying. Walaupun yang berhasil dipengaruhi hanya sekadar rancangan undang-undang yang diajukan pemerintah. Tetapi hal ini sangat penting karena setelah RUU tersebut disahkan sebagai suatu UU, maka akan menjadi instrumen dan acuan utama pemerintah pusat sampai daerah dalam mengambil keputusan dan atau membuat kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Bentuk partisipasi terkahir yaitu, kegiatan organisasi. Kegiatan organisasi menurut Huntington dan Nelson (1994), bahwa kegiatan organisasi menyangkut partisipasi sebagai anggota atau pejabat dalam suatu organisasi yang tujuannya yang utama dan eksplisit adalah memengaruhi pengambilan keputusan pemerintah. Maka dalam hal ini salah satu organisasi yang paling berkepentingan yaitu partai politik. Di Indonesia sendiri selain daripada partai politik, organisasi yang sering melakukan aksi-aksi memengaruhi pemerintah yaitu kelompok kepentingan (interest group). Seperti halnya juga dalam tulisan Reshuffle Kabinet, Cermin Sistem Politik Indonesia Terkini, penulis

menyebutkan bahwa interest group dan civil society merupakan salah satu dari tiga unsur yang berpengaruh dalam sistem politik Indonesia. Dalam hubungannya dengan kelompok kepentingan, partai politik kembali diduduk-kan sebagai agen atau sarana partisipasi politik. Seperti yang dikatakan Haryanto (1982), bah-wa partai politik juga merupakan saluran yang dapat dipergunakan oleh kelompok-kelompok kepentingan untuk mengomunikasikan kepentingan-kepentingan atau tuntutan-tuntutannya. Tetapi mengapa demikian? Bukankah kelompok kepentingan juga agen partisipasi politik? Penulis melihatnya dalam sistem politik dan sistem pemerintahan Indonesia saat ini bahwa suara kelompok kepentingan kurang didengar oleh pemerintah. Sehingga tetap harus dibantu oleh agen yang lain yaitu partai politik. Ambil contoh kasus Mesuji dan Bima, untuk mengusut tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap warga di Mesuji dan Bima, sudah ada kelompok kepentingan yang dipercaya mengadvokasi warga yaitu Komite untuk Korban Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras). Tetapi mengapa masyarakat di dua daerah tersebut tetap saja mengadu ke anggota DPR dengan cara mendirikan bumi perkemahan di depan pintu gerbang parlemen? Tentu saja jawabannya yaitu masyarakat sebenarnya sudah tahu dan paham, sekeras dan sengotot apapun Kontras memvonis salah pemerintah tanpa ada kekuatan politik yang mendukung. Maka kecil kemungkinannya didengar pemerintah atau bahkan pemerintah memilih diam. Kecaman dan penyalahan pemerintah oleh anggota DPR sebagai representasi partai politik, akan lebih mampu mengguncang pemerintah. Sebab pemerintahan nasional saat ini telah dikuasai oleh beberapa partai politik terutama parpol koalisi. Sehingga jika ada parpol yang bersuara lantang apalagi berasal dari parpol oposisi, maka secepat mungkin pemerintah akan bersikap dalam menyelesaikan suatu masalah atau kasus. Dengan meluasnya gagasan bahwa rakyat harus diikutsertakan dalam proses politik, maka parpol telah lahir dan berkembang menjadi penghubung penting antara rakyat dan pemerintah. Bahkan parpol dianggap sebagai perwujudan atau lambing negara modern. Oleh karena itu hampir semua negara demokrasi maupun komunis, negara maju maupun negara berkembang memiliki partai politik (Koirudin 2004). Oleh karena itu kedudukan partai politik sebagai suatu organisasi dalam sistem politik memang tidak boleh dianggap remeh. Sebab sewaktu parpol memosisikan dirinya sebagai agen partisipasi politik, maka di saat itu pula ia menjalankan fungsi artikulasai kepentingan

dari masyarakat. Sehingga sebagai negara yang percaya bahwa suara rakyat merupakan suara tuhan, maka parpol sudah sepatutnya juga dipercaya sebagai penyambung suara tersebut ke pemerintah. Dalam menjalankan fungsi-fungsinya terutama sebagai agen sosialisasi dan partisipasi politik. Partai politik diharapkan tidak berhenti saja, seperti yang penulis sebutkan bahwa keberadaan parpol sangat penting dalam upaya pembangunan bangsa. Dalam kegiatan tersebut mengatur, mengelola, mencerdaskan, dan memberdayakan masyarakat masih perlu keterlibatan parpol di dalamnya, terutama dalam bidang politik. Setelah memahami prilaku pemilih di Indonesia, parpol perlu member pendidikan po-litik kepada masyarakat dengan harapan terciptanya suatu kesadaran maupun budaya politik demokratis dalam masyarakat. Apabila kondisi kesadaran pada budaya politik demokratis sudah tumbuh pada masyarakat, implikasinya partisipasi politik masyarakat akan meluas (Koirudin 2004). Walaupun memang banyak anggapan bahwa parpol hanya mementingkan golongan-nya atau memerhatikan rakyat hanya saat menjelang pemilu saja. Tetapi tidak bisa dibantah bahwa banyak pula kegiatan parpol yang memberdayakan masyarakat sebagai bentuk CSR (corporate social responsibility). Terutama sekali pemberdayaan yang dilakukan yaitu pem-berdayaan politik bagi masyarakat. Upaya memberdayakan masyarakat dimaksudkan sebagai upaya mentransformasikan segenap potensi masyarakat ke dalam kekuatan nyata. Upaya tersebut diharapkan mampu melindungi dan memperjuangkan hak-hak sipil. Inti pemberdayaan tersebut adalah membuka kesadaran ideologis masyarakat sehingga mampu secara aktif dan mandiri mengimbangi kekuasaan negara. Pada akhirnya partai politik tetap ditempatkan di posisi pertama sebagai sebuah agen sosialisasi politik dan partisipasi politik. Memang saat ini masih ada beberapa titik kelemahan parpol-parpol Indonesia yang membuat masyarakat kurang percaya terhadap parpol. Tetapi kalau kita lihat penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa partai politik memiliki kewenangan dan legitimasi yang jauh lebih besar dari kelompok lainnya sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Dengan kondisi yang demikian, maka tidak ada salahnya jika kita kembali memerca-yai partai politik, sembari merumuskan dan membangun model partai politik yang lebih baik lagi.

Supaya dalam melaksanakan fungsi-fungsi dan kedudukannya sebagai agen partisipasi politik mencapai hasil yang maksimal. Tetapi memang dalam beberapa waktu ke depan ini perlu adanya usaha keras dan kerjasama yang baik antar elemen bangsa dalam merevitalisasi parpol. Kekuatan dan kemauan dari masyarakat merupakan elemen utama dalam perbaikan partai politik. Karena selain dengan pemerintah, partai politik juga menjadi bagian yang paling sering berhubungan langsung dengan masyarakat bawah. Semoga partai politik dalam menjalankan fungsinya tetap menjadi agen yang terbaik, terutama sebagai agen sosialisasi dan partisipasi politik. Sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik dapat terwujud, terutama dalam bidang politik. Dan yang paling penting adalah bagaimana kita masyarakat untuk tetap percaya terhadap parpol, dengan selalu ber-upaya
pula untuk memperbaikinya dengan penuh rasa optimis.

3.2

Peranan Partai Politik Menurut Miriam Budiardjo fungsi partai politik sebagai sarana sosialisasi politik, partai politik melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut: 8 1) Fungsi Partai Politik untuk Sosialisasi politik Dalam melaksanakan fungsi sosialisasi politik, partai politik berperan mentransmisikan budaya politik dalam rangka pembentukan sikap dan orientasi anggota masyarakat sebagai warga negara (pendidikan politik). Ide, visi dan kebijakan strategis yang menjadi pilihan partai politik disosialisasikan kepada konstituen atau masyarakat untuk mendapatkan feedback berupa dukungan dari masyarakat luas. Terkait dengan sosialisasi politik ini, partai juga berperan sangat penting dalam rangka pendidikan politik. Partai lah yang menjadi struktur-antara atau intermediate structure yang harus memainkan peran dalam membumikan cita-cita kenegaraan dalam kesadaran kolektif masyarakat warga negara. Misalnya, dalam rangka keperluan memasyarakatkan kesadaran negara berkonstitusi, partai dapat memainkan peran yang penting. Tentu, pentingnya peran partai politik dalam hal ini, tidak boleh diartikan bahwa hanya partai politik saja yang mempunyai tanggungjawab eksklusif untuk memasyarakatkan UUD. Semua kalangan, dan bahkan para pemimpin politik yang duduk di dalam jabatan-jabatan publik, khususnya pimpinan pemerintahan eksekutif mempunyai tanggungjawab yang sama untuk itu. Yang hendak ditekankan disini adalah bahwa peranan partai politik dalam rangka pendidikan politik dan sosialisasi politik itu sangat lah besar.

Budiarjo, Miriam, "Dasar-Dasar Ilmu Politik", (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), hal.159.

2) Fungsi Partai Politik untuk Rekrutmen politik Dalam melaksanakan fungsi rekrutmen, partai politik melakukan seleksi dan pemilihan serta pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya, dan pemerintahan secara khusus. Partai dibentuk memang dimaksudkan untuk menjadi kendaraan yang sah untuk menyeleksi kader-kader pemimpin negara pada jenjang-jenjang dan posisi-posisi tertentu. Kader-kader itu ada yang dipilih secara langsung oleh rakyat, ada pula yang dipilih melalui cara yang tidak langsung, seperti oleh Dewan Perwakilan Rakyat, ataupun melalui cara-cara yang tidak langsung lainnya. Tentu tidak semua jabatan yang dapat diisi oleh peranan partai politik sebagai sarana rekruitmen politik. Jabatan-jabatan profesional di bidang-bidang kepegawainegerian, dan lain-lain yang tidak bersifat politik (poticial appointment), tidak boleh melibatkan peran partai politik. Partai hanya boleh terlibat dalam pengisian jabatan-jabatan yang bersifat politik dan karena itu memerlukan pengangkatan pejabatnya melalui prosedur politik pula (political appointment).

Untuk menghindarkan terjadinya percampuradukan, perlu dimengerti benar perbedaan antara jabatan-jabatan yang bersifat politik itu dengan jabatan-jabatan yang bersifat teknis-administratif dan profesional. Di lingkungan kementerian, hanya ada 1 jabatan saja yang bersifat politik, yaitu Menteri. Sedangkan para pembantu Menteri di lingkungan instansi yang dipimpinnya adalah pegawai negeri sipil yang tunduk kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang kepegawaian. Jabatan dibedakan antara jabatan negara dan jabatan pegawai negeri. Yang menduduki jabatan negara disebut sebagai pejabat negara. Seharusnya, supaya sederhana, yang menduduki jabatan pegawai negeri disebut pejabat negeri. Dalam jabatan negeri atau jabatan pegawai negeri, khususnya pegawai negeri sipil, dikenal adanya dua jenis jabatan, yaitu jabatan struktural dan jabatan fungsional. 3) Fungsi Partai Politik untuk Partisipasi politik Dalam menjalankan fungsi partisipasi politik, partai politik menjadi sarana kegiatan bagi masyarakat dalam memengaruhi proses pembentukan pemimpin pemerintahan melalui pemilu dan pembuatan atau pelaksanaan kebijakan pemerintah. 4) Fungsi Partai Politik untuk Artikulasi kepentingan Dalam menjalankan fungsi artikulasi kepentingan, partai politik merumuskan dan menyalurkan berbagai ragam pendapat, aspirasi, maupun kepentingan masyarakat kepada pemerintah. 5) Fungsi Partai Politik untuk Agregasi kepentingan Dalam menjalankan fungsi agregasi kepentingan, partai politik mengolah dan memadukan berbagai tuntutan dan dukungan masyarakat untuk disalurkan kepada pemerintah. 6) Fungsi Partai Politik untuk Komunikasi politik

Dalam menjalankan fungsi komunikasi politik, partai politik menghubungkan antara arus informasi dari pihak pemerintah kepada masyarakat atau sebaliknya. partai berperan sangat penting dalam upaya mengartikulasikan kepentingan (interests articulation) atau political interests yang terdapat atau kadang-kadang yang tersembunyi dalam masyarakat. Berbagai kepentingan itu diserap sebaik-baiknya oleh partai politik menjadi ide-ide, visi dan kebijakan-kebijakan partai politik yang bersangkutan. Setelah itu, ide-ide dan kebijakan atau aspirasi kebijakan itu disusun sehingga dapat diharapkan mempengaruhi atau bahkan menjadi materi kebijakan kenegaraan yang resmi. 7) Sebagai sarana Pengatur konflik Mengendalikan atau memanajemen suatu konflik (dalam hal ini adanya perbedaan pendapat atau pertikaian fisik) mengenai suatu kebijakan yang dilakukan pemerintah. Pengendalian atau manajemen konflik ini dilakukan dengan cara dialog, menampung dan selanjutnya membawa permasalahan tersebut kepada badan perwakilan rakyat (DPR/DPRD/Camat) untuk mendapatkan keputusan politik mengenai permasalahan tadi. Contoh: di dalam masyarakat terjadi masalah mengenai naiknya harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah. Banyak terjadi demo menentang kebijakan tersebut. Dalam kasus ini parpol sebagai salah satu perwakilan dalam masyarakat di badan pewakilan rakyat (DPR/DPRD), mengadakan dialog bersama masyarakat mengenai kenaikan harga BBM tersebut. Parpol dalam hal ini berfungsi sebagai mengendalikan konflik dengan cara menyampaikan kepada pemerintah guna mendapatkan suatu putusan yang bijak mengenai kenaikan harga BBM tersebut. Demikianlah fungsi partai politik di Indonesia. Partai politik dibutuhkan oleh sebuah negara demokratis yang didalamnya ada penyelenggaraan pemilihan umum yang bersih dan adil. Namun partai politik yang menjunjung asas-asas demokrasi dan nilai-nilai yang dianut negara atau masyarakatlah yang akan di sukai rakyat terutama pemilih. Maka berusahalah menjadi partai politik yang dekat dengan rakyat dan memperjuangkan kebutuhan dan aspirasi rakyat secara jujur dan adil.

3.3

Perkembangan Partai Politik di Indonesia Partai Politik Indonesia secara umum masih mencari jati dirinya. Sangat sulit membedakan

partai-partai politik Indonesiaselain dengan mengelompokkan mereka dalam kelompok partai agamis dan sekuler. Dari segi ini pun terkadang ada partai yang terlihat berusaha menggabungkan kedua unsur ini. Partai Amanat Nasional, misalnya, berusaha menggabungkan citra nasionalisnya dengan kedekatannya terhadap Muhammadiyah. Lemahnya ideologi bahkan bisa dilihat dalam partai-partai utama. Partai besar, seperti Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pun masih amat bergantung pada karisma Mbak Mega (Megawati Soekarnoputri) untuk menarik pendukung. Padahal,

demi kelangsungan organisasinya, partai ini seharusnya sudah bisa mengalihkan dukungan terhadap pemimpin menjadi dukungan terhadap identitas dan organisasi partai. Dilihat dari kacamata organisasi fisik, partai-partai kita juga masih sangat lemah. Di tingkat masyarakat, hanya partai-partai besar yang mampu terus eksis di luar masa kampanye dan pemilu. Kebanyakan partai masih tidur kalau tidak ada pemilu, dan cabang-cabang mereka juga tutup. Kemampuan untuk tetap aktif sangat bergantung pada kapasitas cabang partai dan komitmen pemimpin di tingkat lokal. Lagi pula, cabang lokal juga sangat bergantung pada ketersediaan dana untuk tetap mengadakan aktivitas. Sebagian besar partai juga masih mengontrak kantor cabangnya, dan hanya partai Orde Baru yang punya kantor tetap. Alhasil, kalau mereka sulit mendapat kontrakan, aktivitas juga terhenti dan partai menjadi vakum. Dengan kapasitas organisasi yang seperti ini, sangat sulit bagi partai politik Indonesia membangun hubungan yang stabil dengan para pendukung dan anggotanya. Dari segi rekrutmen, partai-partai besar biasanya hanya mengandalkan pada suara yang didapat pada pemungutan suara sebelumnya. Partai-partai seperti PDIP dan Golkar kurang mementingkan rekrutmen dan lebih menggantungkan diri pada popularitas partainya saat pemilu. Adapun partai-partai muda, seperti PKS dan PAN, memang memprioritaskan rekrutmen anggota baru, tetapi kemampuan mereka untuk merekrut sangatlah berbeda. PKS terlihat lebih mampu untuk konsisten menjalankan program rekrutmen, sedangkan PAN tertatih-tatih untuk mempertahankan eksistensinya di tingkat lokal. Hanya dengan komitmen para kadernya, cabang PAN dapat tetap bertahan tetapi aktivitasnya sangat terbatas. Dengan manajemen anggota yang semacam ini, tidaklah mengherankan bahwa partai biasanya mengejar produk jadi dari selebritas sebagai calon anggota legislatif mereka. Memang tren ini menandakan ketidakmampuan dan kemalasan partai untuk mendidik dan memupuk kadernya sendiri. Tapi bisa juga ini karena kegagalan partai untuk berkembang pada masa lalu, dan pada masa reformasi ini pun mereka juga masih dalam tahap awal perkembangannya. Terutama bagi partai muda, belum ada kader yang siap maju Jadi, yang diperlukan oleh partai politik bukan hanya dukungan, tapi juga kesabaran pemilih untuk memberikan kesempatan kepada partai politik pilihan mereka. Perjalanan partai politik Indonesia ke arah kemajuan masihlah panjang. Selagi kita belajar tentang demokrasi selama kuranglebih sepuluh tahun terakhir, partai politik kita juga sedang belajar tentang organisasi dan manajemen. Godaan dan tantangan tentu saja banyak dan sangat mudah bagi partai politik untuk menjadi non-aktif dan kembali ke praktek politik uang. Karena itulah partisipasi pemilih sangatlah penting untuk menyeleksi partai politik yang kurang efisien. Pemilihan Umum 2009 nanti adalah ujian penting bagi kematangan, bukan hanya bagi partai politik, tapi juga bagi pemilih dalam menentukan pilihannya. 9

http://kakarisah.wordpress.com/2010/03/09/perkembangan-partai-politik-di-indonesia/

3.4

Sejarah berdirinya Golkar Sejarah Partai Golkar bermula pada tahun 1964 dengan berdirinya Sekber Golkar di masa akhir pemerintahan Presiden Soekarno. Sekber Golkar didirikan oleh golongan militer, khususnya perwira Angkatan Darat ( seperti Letkol Suhardiman dari SOKSI) menghimpun berpuluh-puluh organisasi pemuda, wanita, sarjana, buruh, tani, dan nelayan dalam Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).10 Sekber Golkar didirikan pada tanggal 20 Oktober 1964. Sekber Golkar ini lahir karena rongrongan dari PKI beserta ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang makin meningkat. Sekber Golkar ini merupakan wadah dari golongan fungsional/golongan karya murni yang tidak berada dibawah pengaruh politik tertentu. Terpilih sebagai Ketua Pertama Sekber Golkar adalah Brigadir Jenderal (Brigjen) Djuhartono sebelum digantikan Mayor Jenderal (Mayjen) Suprapto Sukowati lewat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) I, Desember 1965. Jumlah anggota Sekber Golkar ini bertambah dengan pesat, karena golongan fungsional lain yang menjadi anggota Sekber Golkar dalam Front Nasional menyadari bahwa perjuangan dari organisasi fungsional Sekber Golkar adalah untuk menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Semula anggotanya berjumlah 61 organisasi yang kemudian berkembang hingga mencapai 291 organisasi. Organisasi-organisasi yang terhimpun ke dalam Sekber GOLKAR ini kemudian dikelompokkan berdasarkan kekaryaannya ke dalam 7 (tujuh) Kelompok Induk Organisasi (KINO), yaitu: 1. Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO) 2. Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) 3. Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) 4. Organisasi Profesi

10

Sejarah Berdirinya Partai Golkar, dalam http://yoilah.blogspot.com/2012/04/sejarah -berdirinya-partaigolkar.html, diakses 8 April 2013

5. Ormas Pertahanan Keamanan (HANKAM) 6. Gerakan Karya Rakyat Indonesia (GAKARI) 7. Gerakan Pembangunan Untuk menghadapi Pemilu 1971, 7 KINO yang merupakan kekuatan inti dari Sekber GOLKAR tersebut, mengeluarkan keputusan bersama pada tanggal 4 Februari 1970 untuk ikut menjadi peserta Pemilu melalui satu nama dan tanda gambar yaitu Golongan Karya (GOLKAR). Logo dan nama ini, sejak Pemilu 1971, tetap dipertahankan sampai sekarang. Pada Pemilu 1971 ini, Sekber GOLKAR ikut serta menjadi salah satu konsestan. Pihak parpol memandang remeh keikutsertaan GOLKAR sebagai kontestan Pemilu. Mereka meragukan kemampuan komunikasi politik GOLKAR kepada grassroot level. NU, PNI dan Parmusi yang mewakili kebesaran dan kejayaan masa lampau sangat yakin keluar sebagai pemenang. Mereka tidak menyadari kalau perpecahan dan kericuhan internal mereka telah membuat tokoh-tokohnya berpindah ke GOLKAR. Hasilnya di luar dugaan. GOLKAR sukses besar dan berhasil menang dengan 34.348.673 suara atau 62,79 % dari total perolehan suara. Perolehan suaranya pun cukup merata di seluruh propinsi, berbeda dengan parpol yang berpegang kepada basis tradisional. NU hanya menang di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, Partai Katholik di Nusa Tenggara Timur, PNI di Jawa Tengah, Parmusi di Sumatera Barat dan Aceh. Sedangkan Murba tidak memperoleh suara signifikan sehingga tidak memperoleh kursi DPR. Kemudian, sesuai ketentuan dalam ketetapan MPRS mengenai perlunya penataan kembali kehidupan politik Indonesia, pada tanggal 17 Juli 1971 Sekber GOLKAR mengubah dirinya menjadi GOLKAR. GOLKAR menyatakan diri bukan parpol karena terminologi ini mengandung pengertian dan pengutamaan politik dengan mengesampingkan pembangunan dan karya. September 1973, GOLKAR menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) I di Surabaya. Mayjen Amir Murtono terpilih sebagai Ketua Umum. Konsolidasi GOLKAR pun mulai berjalan seiring dibentuknya wadah-wadah profesi, seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia

(HKTI), Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI). Setelah Peristiwa G30S maka Sekber Golkar, dengan dukungan sepenuhnya dari Soeharto sebagai pimpinan militer, melancarkan aksi-aksinya untuk melumpuhkan mulamula kekuatan PKI, kemudian juga kekuatan Bung Karno. Pada dasarnya Golkar dan TNIAD merupakan tulang punggung rezim militer Orde Baru. Semua politik Orde Baru diciptakan dan kemudian dilaksanakan oleh pimpinan militer dan Golkar. Selama puluhan tahun Orde Baru berkuasa, jabatan-jabatan dalam struktur eksekutif, legislatif dan yudikatif, hampir semuanya diduduki oleh kader-kader Golkar. Keluarga besar Golongan Karya sebagai jaringan konstituen, dibina sejak awal Orde Baru melalui suatu pengaturan informal yaitu jalur A untuk lingkungan militer, jalur B untuk lingkungan birokrasi dan jalur G untuk lingkungan sipil di luar birokrasi. Pemuka ketiga jalur terebut melakukan fungsi pengendalian terhadap Golkar lewat Dewan Pembina yang mempunyai peran strategis. Jadi Pimpinan Pemilu Dalam pemilu Golkar yang berlambang beringin ini selalu tampil sebagai pememang. Kemenangan Golkar selalu diukir dalam pemilu di tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Arus reformasi bergulir.

Golkar di Era Harmoko Golkar di era kepemimpinan Harmoko merupakan fase akhir Orde Baru. Ketika itu pula, hasil-hasil kemajuan pembangunan justru memperkuat lapisan elit politik yang kritis terhadap pemerintah. Karena itu, fase ini bisa dibilang merupakan fase transisi perubahan Golkar dari partai hegemonik menjadi partai yang berorientasi pasar atau Market Oriented Party (MOP). Namun Golkar di era Harmoko memiliki keterbatasan dalam hal product design, output yang dihasilkan dari proses-proses penjaringan need dan want pemilih itu

tidak dapat sepenuhnya diimplementasikan sebagai kebijakan akhir partai, karena Golkar saat itu belum otonom dari kekuasaan.11 Praktek politik komunikasi hegemonik di era Harmoko saat itu, dilakukan karena saai itu Golkar menyatu dengan kekuasaan, sehingga sulit untuk responsif sepenuhnya dengan aspirasi pasar. Penguasa saat itu senantiasa didorong oleh keinginan untuk terus mempertahankan kekuasaan, tanpa merasa berkepentingan untuk melihat pasar sebagai ssesuatu yang menentkan secara politik. Namun, hal ini tidak bia dipertahankan, karena saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi parah, yang menyebabkan terjadinya reformasi tahun 1998. Tuntutan mundur Presiden Soeharto menggema di mana-mana. Soeharto akhirnya berhasil dilengserkan oleh gerakan mahasiswa. Hal ini kemudian berimbas pada Golkar. Karena Soeharto adalah penasehat partai, maka Golkar juga dituntut untuk dibubarkan. Saat itu Golkar dicerca di mana-mana.

Golkar di Era Akbar Tandjung Golkar di era Akbar Tandjung merupakan Golkar yang sedang memasuki fase baru, di mana sistem politik hegemonik telah runtuh dan digantikan dengan suasana politik yang bebas. Di bawah kepemimpinan Akbar, Golkar yang berorientasi Market Oriented Party (MOP), berubah wujud menjadi Partai Golkar. Saat itu Golkar juga mengusung citra sebagai Golkar baru. Partai Golkar juga bersikap low profile dan tidak pernah mengambil kebijakan yang menentang pasar. Upaya Akbar tak sia-sia, dia berhasil mempertahankan Golkar dari serangan eksternal dan krisis citra, inilah yang membuat Akbar menjadi ketua umum Golkar yang cukup legendaris.12 Partai Golkar kemudian ikut dalam Pemilu 1999, berkompetisi bersama partai-partai baru di era multipartai. Pada pemilu pertama di Era Reformasi ini Partai Golkar mengalami penurunan suara di peringkat ke dua di bawah PDIP. Namun pada pemilu berikutnya Golkar

11 12

Rully Chairul Anwar, Politik Komunikasi Partai Golkar di Tiga Era, Jakarta, Grasindo, 2009, hlm 179-180 Ibid, hlm 180-181

kembali unggul. Pada pemilu legislatif 2004 Golkar menjadi pemenang pemilu legislatif dengan 24.480.757 suara atau 21,58% suara sah.

Golkar di Era Jusuf Kalla Di Era Kalla, Golkar juga mengalami keterbatasan dalam berhadapan dengan kekuasaan dan tidak bebas seperti di era kepemimpinan Akbar dalam bergerak. Faktor sistem politik, seperti koalisi misalnya, membuat pencitraan agak sulit diterapkan karena terkait dengan citra mitra oposisi. Karena itulah Partai Golkar di era kepemimpinan Kalla sepertinya perlu mengembangkan MOP tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat lokal. Harapannya, hal ini bisa menjadi model untuk posisi partai yang tidak dominan di pemerintahan namun beroperasi di atas kombinasi sistem presidensial dan multipartai seperti Indonesia.13 Pada pemilu legislatif 2009 lalu suara Partai Golkar kembali turun ke posisi dua. Pemenang pemilu dipegang oleh Partai Demokrat. Dalam Munas VIII di Pekanbaru, Aburizal Bakrie terpilih sebagai ketua umum menggantikan Jusuf Kalla. Sebagai pimpinan baru partai beringin, Aburizal bertekad akan kembali membawa Golkar memenangkan pemilu. Dia menargetkan Golkar menjadi pemenang pertama pemilu legislatif 2014 nanti. Ketua Umum Golkar dari masa ke masa Djuhartono (1964-1969) Suprapto Sukowati (19691973) Amir Moertono (19731983) Sudharmono (19831988) Wahono (19881993) Harmoko (19931998)

13

Ibid, hlm 181-182

Akbar Tandjung (19982004) Jusuf Kalla (20042009) Aburizal Bakrie (2009sekarang)

3.5

Peranan, visi, dan misi Golkar Sebagai kekuatan politik mayoritas di awal era reformasi,serta sebagai partai politik yang memperoleh suara yang sangat signifikan pada pemilu tahun 1999 dan 2004,partai golkar memiliki posisi politik yang strategis dan turut memainkan peran penting dalam dinamika politik di DPR/MPR dan pemerintahan. Pada awal pemerintahan BJ.habibie,partai golkar telah memainkan peran politik penting di DPR/MPR,khususnya dalam meletakan dasar-dasar perubahan system politik di Indonesia pasca orde baru. Partai golkar mempunya peran yang stategis termasuk dalam menjembatani kepentingankepentingan parlemen(MPR/DPR) dan pemerintah,dan membangun koalii partai-partai politik lain.14 Partai golkar mempunya beberapa kebijakan yang dapat dilihat pada kebijakankebijakan golkar di lembaga parlemen serta kebijakan internal organisasi dalam merespons perkembangan politik,berbagai kebijakan tersebut tidak dapat dilepas dari interaksi di antara para aktir di internal partai daam menyikapi perkembangan politik yang berubah dengan cepat,interaksi dimunculjainovasi-inovasi politik dalam konteks demokratisasi internal pantai. Kebijakan kebijakan yang diambil partai golkar itu memiliki dampak pada prsepsi dan citra partai golkar di era reformasi.berikut adalah beberapa kebijakan partai golkar kebijakan parlemen : sebagai kekuatan politik mayoritas,pada awal era transisi yakni di era kepemimpinan presiden BJ. Habibie, golkar memiliki andil yang nyata dalam merumuskan berbagai kebijakan politik yang strategis di perlemen. Di lembaga MPR golkar turut ambil bagian dalam proses amandemen UUD 1945 dan proses-proses politik yang strategis terkait engan suksesi kepemimpinan nasional diera

14

http://gksb.wordpress.com/sekilas-golkar-propinsi-sumatera-barat/visi-dan-misi-partai-golkar/

reformasi.sementara di lembaga DPR golkar turut ambil bagian dalam proses pembahasan berbagai RUU,khususnya paket RUU di bidang politik sebagai prodk hokum yang mendasari penyelenggaraan proses proses politik selanjutnya. kebijakan MPR:golkar dengan jumlah mayoritas anggota kedua di MPR tidak menunjukan sikap-sikap politik yang menetang arus deras reformasi,pada akhirnya SI MPR menghasilkan beberapa ketetapan tentang percepatan pemilu,pembatasan masa jabatan presiden dan otonomi daerah. kebijakan DPR:salah satu tuntutan reformasi yang mengemukakan sebagaimana yang diusahakan oleh masyarakat pasca orde baru adalah pencabutan paket lima UU bidang politik yang menjadi dasar penyelenggaran kehidupan sosial-politik di Indonesia pada era orde baru. Masyarakat sendiri juga medesak gar presiden BJ. Habibie mempercepat pelaksanaan pemilu,yang sedianya di lakukan pada 2002. kebijakan terhadap pemerintah:tidak dapat dilepaskan dari konteks paradigm baru golkar dan dinamika politik yang berkembang. Pada era presiden BJ. Habibie golkar adalah kekuatan politik pendukung pemerintah,berbagai kebijakan pemerintah selaras dengan pandangan politik golkar,walaupun wacana-wacaa yang berkembang selalu bersifat dinamis sejalan dengan keterbukaan politik kebijakan internal organisasi dan antarpartai: penyelenggaraan munaslub golkar pada 1998 telah mengubah tradisi golkar dalam memilih dan menetapkan ketua umunya. Berbeda dengan masa orde baru,munasulb 1998 mennyelenggarakan proses pemilihan ketua umum secara demokratis,melalui mekanisme pemungutan

suara.dalam manusulb tersebut terdapat sejumlah kandidat ketua umum.

6 Visi Partai Golkar 1. Partai golkar berjuang demi terwujudnya Indonesia yang baru dan modern. Maksudnya : lebih terbuka dan demokratis. Bagi Partai GOLKAR upaya mewujudkan kehidupan politik Dengan visi ini maka Partai GOLKAR hendak mewujudkan kehidupan politik nasional yang demokratis melalui pelaksanaan agenda-agenda reformasi politik yang diarahkan untuk melakukan serangkaian koreksi terencana, melembaga dan berkesinambungan terhadap seluruh bidang kehidupan. Reformasi pada sejatinya adalah upaya untuk menata kembali sistem

kenegaraan kita disemua bidang agar kita dapat bangkit kembali dalam suasana yang yang demokratis yang bertumpu pada kedaulatan rakyat adalah cita-cita sejak kelahirannya. 2. Parta golkar mewujudkan kehidupan politik yang demokratis Maksudnya: melalui pelaksanaan agenda-agenda reformasi politik yang diarahkan untuk melakukan serangkaian koreksi terencana, melembaga dan berkesinambungan terhadap seluruh bidang kehidupan. Reformasi pada sejatinya adalah upaya untuk menata kembali sistem kenegaraan kita disemua bidang agar kita dapat bangkit kembali dalam suasana yang lebih terbuka dan demokratis. Bagi Partai GOLKAR upaya mewujudkan kehidupan politik yang demokratis yang bertumpu pada kedaulatan rakyat adalah cita-cita sejak kelahirannya. 3. Menciptakan system politik yang terbuka dan transparent Maksudnya: Keterbukaan adalah nilai kemanusiaan hakiki yang merupakan nafas dari gerakan reformasi,dengan struktur dan proses politik yang dapat secara efektif benarbenar mencerminkan kedaulatan rakyat. Untuk itu maka peluang bagi rakyat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses-proses politik mutlak dibuka seluas-luasnya. Kebebasan untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat semakin terjamin dan dilindungi oleh Undang-Undang. 4. Di bidang ekonomi visi golkar adalah hanya dengan system ekonomilah yang menjamin masyarakat sejahtera. Maksudnya: Dengan visi ekonomi kerakyatan ini, maka usaha kecil, menengah, dan koperasi akan dikembangkan dan diperkuat sebagai pilar utama perekonomian nasional. Partai GOLKAR menginginkan di masa depan usaha menengah, kecil dan koperasi menjadi ujung tombak pemberdayaan masyarakat dalam pengertian yang sebenarnya. Tanpa upaya-upaya pemberdayaan rakyat, maka tujuan menciptakan masyarakat madani akan semakin jauh dari gapaian kita. Untuk itu sejalan dan searah dengan visi menciptakan kesejahteraan rakyat, perhatian terhadap upaya penguatan usaha menengah, kecil, dan koperasi menjadi prioritas yang paling diutamakan. 5. Partai golkar mencita citakan penguatan budaya bangsa yang mampu melahirkan bangsa yang kuat

Maksdunya: Dengan visi ini pula Partai GOLKAR hendak mengembangkan pola hubungan sosial yang lebih harmonis dan dilandasi oleh semangat persamaan manusia. Pandangan yang diskriminatif dan tidak adil terhadap suatu kelompok tertentu harus dihapuskan dari segenap masyarakat kita, dan diganti dengan pandangan yang diliputi oleh semangat kekeluargaan, kebersamaan dan persaudaraan sejati antara warga negara. 6. Partai golkar mengembangkan pola hubungan social yang lebih harmonis dan dilandasi oleh semangat persamaan manusia.

5 Misi Partai Golkar 1) menegakan,mengamalkan,dan mempertahankan pancasila sebagai dasar ideology bangsa demi untuk memperkokoh Negara kesatuan republik Indonesia. 2) mewujudkan cita-cita proklamasi melalui pelaksanaan pembangunan nasional di segala bidang untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis 3) Medegakan supermasi hokum : Sendi utama masyarakat madani adalah supremasi hukum. Oleh karena negara kita adalah hukum maka supremasi hukum harus ditempatkan sebagai pilar utama dalam rangka mewujudkan sistem politik yang demokratis dan berdasarkan hukum. Partai GOLKAR memandang bahwa reformasi hukum tidak terbatas hanya pada penyempurnaan sarana dan prasarana, materi dan aparatur hukum, tetapi juga budaya hukum. 4) mewujudkan kesejahteraan rakyat 5) hak-hak asasi manusia.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Partai politik adalah sarana politik yang menjembatani elit-elit politik dalam upaya mencapai kekuasaan politik dalam suatu negara yang bercirikan mandiri dalam hal finansial, memiliki haluan politik tersendiri, menjunjung kepentingan-kepentingan kelompok dalam urusan politik, dan turut berpartisipasi dalam perkembangan politik sebagai suprastruktur politik. fungsi partai politik sebagai sarana sosialisasi politik dan tujuannya adalah meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat, menjaga dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengembangkan kehidupan demokrasi serta membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Partai Golkar lahir dari usaha untuk menggalang ormas dan ABRI serta karena rongrongan dari PKI beserta ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang makin meningkat. Partai Golkar ini merupakan wadah dari golongan fungsional/golongan karya murni yang tidak berada dibawah pengaruh politik tertentu. Dengan dalih trauma kepada perilaku partai politik pada era orde lama dan kemudian puncaknya pemberontakan PKI, maka Golkar pada mulanya tidak berkenan menyebut dirinya partai politik walaupun perilaku dan tindak tanduk kerja organisasi adalah pekerjaan partai politik, kebesaran Golkar berangkat dari paksaan masuknya semua elemen pemerintahan yang disebut ABG, yaitu A adalah ABRI, B adalah Beringin atau PNS, G adalah Golkar itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Tinjauan Buku Syafie, Inu Kencana. 2012. Teori dan Analisis Politik. Penerbit Pustaka Reka Cipta Budiarjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), hal.159 [4] Syahrial Syarbani.Sosiologi dan Politik.(Jakarta:Ghalia Indonesia,2002) hlm 76-77 Huntington, Samuel P. dan Joan, M. Nelson, 1994, Partisipasi Politik Di Negara Berkem-bang, Rineka Cipta: Jakarta. Koirudin, 2004, Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Maschab Mashuri, 1983, Kekuasaan Eksekutif di Indonesia, Bina Aksara: Jakarta. Surbakti, Ramlan, 1992, Memahami Ilmu Politik, Grasindo: Jakarta.

Tinjauan Internet
http://yoilah.blogspot.com/2012/04/sejarah-berdirinya-partai-golkar.html
[5]

http://jakarta45.wordpress.com/2009/01/06/7-tujuan-partai-politik-uu-no-22008/

http://politik.kompasiana.com/2012/01/11/partai-politik-sebagai-agen-terbaik-426631.html
http://kakarisah.wordpress.com/2010/03/09/perkembangan-partai-politik-di-indonesia/ http://books.google.com/books?id=BRcEbmAgTjwC&pg=PA253&ots=pXrvx7plC7&dq=peranan+partai+g olkar&output=html_text