Anda di halaman 1dari 3

Aksi Nyata Sinergis Hijaukan Kota Oleh : Adi Fidianto

Perubahan iklim merupakan tantangan paling serius yang dihadapi dunia di abad 21. Sejumlah bukti baru dan kuat yang muncul dalam studi mutakhir memperlihatkan bahwa masalah pemanasan global yang terjadi 50 tahun terakhir disebabkan oleh tindakan manusia. Pemanasan global di masa depan lebih besar dari yang diduga sebelumnya. Pada bulan Desember 1977 dan Desember 2000, Panel Antar Pemerintah Mengenai Perubahan Iklim (IPCC), sebuah badan yang terdiri dari 2000 ilmuwan, mengajukan sejumlah pandangan mengenai realitas bumi sekarang ini: yakni bencana-bencana alam yang lebih sering dan bervolume dahsyat seperti gempa bumi, banjir, angin topan, siklon dan kekeringan akan terus terjadi. Adapun Indikator-indikator ekstrim seputar perubahan iklim meliputi lima gejala (lihat Tabel dibawah).1 Akumulasi dari situasi inilah yang memperburuk capaian Indonesia yang ditargetkan dalam penanganan kemiskinan global melalui proyek Millennium Development Goals (MDGs).Indonesia sulit memenuhi tujuan yang ketujuh dari MDGs yaitu menjamin kesinambungan pembangunan lingkungan pada sampai tahun 2015.2 Sebab, perusakan lingkungan Indonesia yang terjadi secara masif belakangan ini telah bertolak belakang dengan amanat Deklarasi Rio tahun 1992, untuk Lingkungan dan Pembangunan dengan cetak biru Agenda-21 guna mencapai Pembangunan Berkelanjutan.

Kota Besar Sumber Masalah Lingkungan Hidup Di kota besar, masih banyak yang belum berhasil diselesaikan seperti sampah dan polusi yang menimbulkan dampak lingkungan, namun isu-isu baru (emerging issue) telah muncul, sebagian besar terfokus pada perubahan iklim yang berdampak serius terhadap kesehatan manusia. Persoalan-persoalan baru tersebut sumbernya justru di wilayah perkotaan yang menjadi denyut nadi 90 persen aktivitas ekonomi negara. Tuntutan hidup di perkotaan telah menimbulkan gaya hidup instan dan menuntut
1

Artikel Dampak Perubahan Iklim, Bisnis Indonesia, Senin 24 September, Hal. 8 Pernyataan ini disampaikan oleh Erna Witoelar, Duta Khusus PBB bagi kawasan Asia Pasifik untuk implementasi MDGs. Lihat http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=134683
2

penggunaan fasilitas modern seperti alat-alat elektronik serta konsumsi energi yang terus meningkat yang ternyata telah menimbulkan dampak negatif serius bagi kehidupan umat manusia. Penerapan model kebijakan lingkungan eco developmantalisme3, menyebabkan sebagian besar penanganan lingkungan ditujukan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi. Industri senantiasa berkembang di kota-kota besar. Dan akhirnya ekosistem kota, sebagai dampaknya, terganggu sedemikian rupa. Di Indonesia, kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota lainnya sedang terus mencari format penyelesaian dampak lingkungan atas pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Upaya untuk mewujudkan 3C (clean land, clean water dan clean air) di daerah perkotaan perlu terus dilakukan, Salah satu hasil kajian menunjukkan bahwa akibat lingkungan yang buruk, masyarakat miskin Indonesia terpaksa harus membelanjakan dana yang sangat besar (sekitar 45 triliun rupiah) untuk biaya pengobatan yang semestinya dapat didayagunakan untuk keperluan yang lebih produktif. Khususnya bagi masayarakt miskin kota yang jumlahnya 11 juta orang (BPS, 2011) , inefisiensi dana sebesar itu tentu sudah bisa disetarakan sebagai bencana kehidupan. Adapun persoalan lingkungan utama yang dialami kota besar diantaranya: Rendahnya kualitas air di negara berkembang, berpusat di perkotaan. Menurut Bank Dunia, sekurangnya 280 juta orang yang tinggal di kota-kota dan sekurangnya 950 juta orang yang tinggal di desa-desa di negara berkembang tidak memiliki akses guna mendapatkan air bersih untuk minum, masak, dan cuci. Sumber-sumber air telah terkontaminasi dengan berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia, bahan kimia beracun, dan metal berat yang sudah sulit untuk dihilangkan dengan menggunakan teknik purifikasi biasa (standar). Dilaporkan juga bahwa penggunaan air yang tercemar tersebut telah menyebabkan jutaan orang meninggal dan lebih dari satu milyar orang sakit setiap tahun . Tingginya tingkat pencemaran udara di kota-kota besar. Baru-baru ini dalam sebuah penelitian mengenai tingkat pencemaran udara di 20 kota besar di seluruh dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekurangnya satu jenis polusi udara di kota-kota besar tersebut telah melebihi ambang batas pencemaran udara WHO (UNEP dan WHO, 2000). Penelitian lain memperkirakan bahwa kurang lebih 700 juta orang hidup di kota yang tingkat pencemaran sulfur dioksidanya melebihi ambang batas pencemaran udara WHO, dan sekitar 1,25 milyar. Orang tinggal di kota-kota yang tingkat pencemaran debunya sudah sangat tinggi. Meningkatnya volume sampah. Kenaikan jumlah penduduk dan meningkatnya taraf hidup masyarakat menyebabkan jumlah sampah setiap hari meningkat. Pola penyelesaian sampah di kota besar umumnya bersifat sementara dan menghabiskan anggaran yang cukup besar. Artinya, target penyelesaian masalah sampah masih bersifat teoritis, tanpa arah yang jelas dan kurang menyentuh pola hidup masyarakat. Misalnya, karakteristik sampah di Indonesia banyak mengandung organik, sebesar 70 persen hingga 80 persen. Namun pendekatan solusi memakai incinerator dapat mencemari lingkungan serta kapasitas pembakarnya rendah. Sebagai contoh, sampah DKI Jakarta yang jumlahnya 22.000 m3 per hari, setara dengan 11.000 ton. Apabila satu hari incinerator bekerja 10 jam, maka untuk peralatannya saja membutuhkan anggaran Rp 30 miliar. Sementara, hal yang

Menurut Dietsi (1998) paham/ aliran gerakan Iingkungan digolongkan menjadi tiga : 1.Eco Pascism yaitu kelompok yang memperjuangkan, masalah Iingkungan demi lingkungan itu sendiri. 2. Eco Populism yaitu gerakan lingkungan yang dilakukan untuk kepentingan rakyak banyak demi kesejahteraan sosial. 3. Eco developmentalism yaitu gerakan lingkungan yang dilakukan, demi kelangsungan pertumbuhan okonomi/pembangunan.

paling riskan dalam menggunakan incinerator adalah adanya gas H2S yang mencemari udara dan meningkatkan suhu udara. Contoh Sinergi antar Aktor lahirkan Aksi Nyata Lingkungan Kabar baik untuk penyelematan lingkungan muncul sebagai inisiatif yang diprakarsai sejumlah elemen civil society. Masyarakat dalam relasinya dengan aktor pembangunan lain, sangat strategis menjembatani kepentingan pihak swasta dan pemerintah. Dibawah ini merupakan 3 contoh aksi nyata hijaukan kota yang dengan skalanya masing-masing sebenarnya mampu dijadikan best practice dalam program selamatkan bumi di berbagai tempat lain di Indonesia. Jakarta Green and Clean (JGC) yang sudah berlangsung semenjak tahun 2006. Kreatifitas menyelamatkan lingkungan digagas oleh sinergi 3 pihak yakni PT Unilever, PT Delta FM, Republika (sebagai sektor swasta), BPLHD DKI (pemerintah) dan Aksi Cepat Tanggap atau ACT (civil society). Sebagai sebuah gerakan, sinergi antar sektor ini menghasilkan paguyuban fasilitator lingkungan yang menjadi duta masyarakat untuk mengubah gaya hidupnya menjadi pro lingkungan, program dilakukan mulai dari pengadaan bank sampah tiap RT/RW, kantor hijau, menggalakkan trashion (trash fashion atau fashion dengan produk daur ulang sampah) sampai awarding tokoh-tokoh lingkungan. Komunitas Indonesia berkebun (ID Berkebun) yang digagas oleh Ridwan Kamil ini berawal dari kreativitasnya membangunkan lahan tidur di ibukota yang mubazir jika tak ditanami pohon. Memalui urban framing ini, cita-citanya membuat sebanyak mungkin ruang terbuka hijau, bagus pula jika menjadi tanaman produktif ekonomis. Gayung bersambut, aksinya merambat ke lebih dari 20 kota. Lewat jejaring sosial dan pembentukan komunal, ID berkebun saat ini masif hijaukan kota dengan pendekatan green life style dan mulai menguatkan diri maju sebagai entitas industri kreatif berbasis produk ramah lingkungan. Percontohan Paru-paru Kota Bandung Babakan Siliwangi sukses di- generate sebagai masterplan hutan dalam kota. Lewat perjuangan yang tidak mudah, sebab melawan pemerintah cenderung berpikir lahan sebagai komoditas, masyarakat bergerak secara kreatif mengembalikan fungsi utamanya sebagai RTH perkotaan. Dari ketiga contoh diatsa dapat diperhatikan relasi gerakan lingkungan hidup yang sukses sejatinya adalah relasi sinergis antar aktor pembangunan. Istilah gerakan lingkungan hidup dalam literatur Sosiologi digunakan dalam tiga pengertian yaitu sebagai berikut :4 Pertama, sebagai penggambaran perkembangan tingkah laku kolektif ( collective behaviour ) tertentu. Dalam contoh diatas terlihat bahwa isu lingkungan dijalankan dengan pendekatan komunitas dan atas kesepakatan / solidaritas bersama. Kedua, sebagai jaringan konflik konflik dan interaksi politis seputar isu isu lingkungan hidup dan isu isu lain yang terkait. Dalam kasus babakan Siliwangi terlihat masyarakat tarik menarik dengan pemerintahnya sendiri sebagai bagian dari unsur politis. Ketiga, sebagai perwujudan dari perubahan opini publik dan nilai nilai yang menyangkut lingkungan. Dari kasus JGC dan ID berkebun terlihat bahwa perubahan mindset menuju gaya hidup pro lingkungan perlu dilakukan dengan kreatif dan menyusup sebagai trend sejalan perkembangan zaman. Sehingga siapa saja merasa tak boleh ketinggalan menganut nilai yang sama.

George Junus Aditjondro, 2003, Pola Pola Gerakan Lingkungan, Pustaka Pelajar