Anda di halaman 1dari 3

KEUTAMAAN MENGUCAP SALAM

Drs. Agung Danarta, M. Ag Dalam kitab Durratun Nasihin bab ke-lima belas tentang Keutamaan Mengucap Salam dikemukakan hadis hadis yang menyatakan tentang keutamaan salam. Hadis-hadis tersebut beserta informasi sumber hadis dan analisa kualitas kesahihannya adalah sebagai berikut: Pertama: Dari Abdullah ibn Masud ra, dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda, as-Salam adalah satu dari Asma-Asma Allah, maka syiarkanlah salam di antara sesama kamu. Takhrij hadis dan nilai kesahihan: Hadis ini diriwayatkan oleh Thabraniy dalam kitab al-Mujam al-Ausath (III: 231), dan oleh al-Baihaqiy dalam kitab Syuabul Iman (6: 432, 433). Menurut Abdul Adzim al-Mundziri, sanad hadis yang diriwayatkan oleh Thabraniy berkualitas jayyid (baik) (al-Targhib wa al-Tarhib III: 287). Sedangkan menurut Jalaluddin al-Suyuthi, hadis ini berkualitas hasan (al-Jami al-Saghir II: 39). Hadis ini bisa dipakai sebagai dasar dalam beramal. Kedua: Apabila seorang muslim memberi salam kepada muslim yang lain, lalu dia menjawab salam orang yang memberi salam itu, maka malaikat-malaikat mendoakan rahmat pada yang menjawab itu tujuh puluh kali. Jika dia tidak menjawabnya, malaikat-malaikat yang bersamanya menjawab salam itu kemudian mereka mengutuknya tujuh puluh kali. Takhrij hadis dan nilai kesahihan: Hadis ini tidak ada sumbernya. Kitab-kitab hadis, baik sumber primer maupun sekunder, tidak mencatat hadis ini. Hadis ini tidak dapat digunakan sebagai dalil dalam beragama. Ketiga: Nabi Muhammad saw bersabda, Barang siapa yang membaca shalawat kepadaku dalam sebuah kitab, maka malaikat-malaikat akan memohon ampun untuknya selagi namaku masih berada dalam kitab itu. Takhrij hadis dan nilai kesahihan: Hadis ini tidak ada sumbernya. Para ulama hadis tidak mencatat hadis ini dalam kitab-kitabnya, sehingga hadis ini tidak dapat dipertanggung jawabkan sebagai berasal dari nabi Muhammad saw. Hadis ini tidak dapat dipakai sebagai dasar dalam beragama.

Keempat: Janganlah kamu memulai salam pada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani. Apabila kamu bertemu dengan seorang dari mereka di jalan, maka desaklah dia kepada penghalangnya. Takhrij hadsi dan nilai kesahihannya: Hadis ini diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim (as-Salam, hadis no. 4030), Imam Tirmidzi dalam kitab Sunan al-Tirmidzi (as-Siyar an Rasulillah hadis no. 1528; dan al-Istidzan wa al-Adab hadis no. 2624), dan Abu Dawud dalam kitab Sunan Abi Dawud (al-Adab hadis no. 4529). Imam Muslim memasukkan hadis ini ke dalam daftar hadis-hadis yang berkualitas shahih. Imam Jalaluddin al-Suyuthi juga menilai hadis ini berkualitas sahih (al-Jami al-Shaghir, II: 199). Hadis ini bisa dipakai sebagai hujjah. Kelima: Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, Kamu tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman sehingga kamu saling kasih mengasihi. Ingat, maukah kamu kalau aku menunjukkan kepada kamu tentang sesuatu yang jika kamu kerjakan tentu kamu akan saling kasih mengasihi?. Syiarkanlah islam di antara kamu. Takhrij hadis dan nilai kesahihannya: Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim (al-Iman hadis no. 81), Ibn Majah dalam kitab Sunannya (Muqaddimah hadis no. 67), al-Tirmidzi dalam kitab Sunan al-Tirmidzi (al-Istidzan wa al-Adab, hadis no. 2612), Abu Dawud dalam kitab Sunannya (Adab, hadis no. 4519) dan Ahmad ibn Hanbal dalam kitab Musnad Ahmad (Hadis no. 8723, 9332, 9788, 10027, 10238). Imam Muslim memasukkan hadis ini ke dalam susunan hadis-hadis yang berkualitas shahih. Para periwayat hadis dalam sanad Imam Muslim tersebut terdiri dari orangorang yang siqah dan sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah. Hadis ini bisa dipakai sebagai hujjah dalam beragama. Keenam: Dari Anas bin Malik ra, dia berkata, Aku telah mengabdi kepada Rasulullah saw selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah bersabda mengenai sesuatu yang telah aku kerjakan, Mengapa engkau lakukan itu? dan tidak bersabda mengenai sesuatu yang tidak aku kerjakan, mengapa engkau tidak melakukan itu?. Beliau pernah bersabda, Hai Anas, aku mewasiatkan kepadamu sebuah wasiat, maka peliharalah wasiat itu dengan baik. Perbanyaklah shalat di waktu malam, tentu malaikat-malaikat hafadhah mencintaimu. Ketika engkau masuk pada keluargamu, ucapkanlah salam kepada mereka, tentu Allah akan menambah kebaikanmu. Jika engkau mampu untuk tidak naik ke atas tempat tidur kecuali dalam keadaan suci, maka kerjakanlah itu. Jika engkau mati, matilah engkau dengan syahid. Jika engkau keluar dari keluargamu maka ucapkanlah salam pada orang yang engkau jumpai tentu Allah akan menambah kebaikanmu. Muliakanlah orang-orang tua dari muslimin dan sayangilah orang-orang muda dari muslimin tentu aku dan engkau di surga seperti dua jari ini. Beliau

menjalinkan jari telunjuk dan jari tengah. Dan ketahuilah Anas, bahwa sesungguhnya Allah ridha terhadap hamba sebab sebuah suapan yang dimakannya lalu dia memuji kepada Allah pada suapan itu, dan dengan seteguk air yang diminumnya lalu dia memuji Allah pada tegukan itu. Takhrij hadis dan nilai kesahihan Hadis ini tidak ada sumbernya. Kitab hadis primer ataupun sekunder tidak mencantumkan adanya hadis ini. Hadis ini tidak bisa digunakan sebagai sumber dalam beragama. Ketujuh: Dari Ibn Salam ra, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Wahai sekalian manusia, syiarkanlah salam, berilah makan (pada orang yang lapar) dan shalatlah di waktu malam sedang manusia tidur nyenyak, tentu kamu masuk surga. Takhrij hadis dan nilai kehujjahan: Hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak ala al-Shahihayn (IV: 176); al-Baihaqiy dalam kitab Hilyat al-Auliya (III: 216), dan Abu Umar Yusuf ibn Abdillah ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Tamhid li Abd al-Barr (XIII: 209). Al-Hakim menyatakan bahwa hadis ini berkualitas shahih sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Bukhari dan Muslim (al-Mustadrak, IV: 176), sehingga karenanya hadis ini bisa digunakan sebagai dasar dalam beramal. Sumber: SM-09-2002