Anda di halaman 1dari 6

TUGAS UJIAN PPI PANDUAN PENGELOLAAN PASIEN DENGAN INFEKSI AIRBORNE

Disusun Oleh Kelompok 7 (Kelas 8A) Anggota :


Valyandra Paszita P.R Vivianda Devisa Windi Pertiwi Wowo Masthuro Mahfud Wulan Suci Sakti Rony

20121030036 20121030037 20121030038 20121030039 20121030040

MAGISTER MANAJEMEN RUMAH SAKIT UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perawat profesional dalam melaksanakan peran dan fungsinya sehari hari, selalu beresiko tertular terhadap berbagai penyakit. Penularan penyakit dapat terjadi secara kontak langsung ataupun tidak langsung, penularan tersebut dapat melalui droplet transmission, dan airborne transmission (CDC). Tindakan pencegahan universal merupakan salah satu strategi yang telah direkomendasikan oleh Centers for Desease Control and Prevention (CDC) dalam upaya pengendalian infeksi dan penularan penyakit di sarana kesehatan, seperti rumah sakit, poliklinik , dan pusat layanan kesehatan lainnya. Standard Precaution dapat mencegah penularan penyakit / mikroorganisme (Duerink, dkk. 2006). Prinsip tindakan pencegahan universal yaitu menganggap semua pasien adalah terkena atau terinfeksi mikroorganisme, dengan atau tanpa tanda dan gejala sehingga tingkat pencegahan seragam harus digunakan dalam merawat semua pasien (Smeltzer, dkk, 2009). Penularan agen infeksius melalui airborne adalah penularan penyakit yang disebabkan oleh penyebaran droplet nuklei yang tetap infeksius saat melayang di udara dalam jarak jauh dan waktu yang lama. Penularan melalui udara dapat dikategorikan lebih lanjut menjadi penularan obligat atau penularan preferensial. Terus munculnya ancaman kesehatan dalam bentuk penyakit menular membuat langkah pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan sama sekali tidak boleh diabaikan. Penyakit/patogen yang menular merupakan masalah yang terus berkembang, dan penularan patogen yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tidak terkecuali. Cara penularan utama sebagian besar ISPA adalah melalui droplet, tapi penularan melalui kontak (termasuk kontaminasi tangan yang diikuti oleh inokulasi tak sengaja) dan aerosol pernapasan infeksius berbagai ukuran dan dalam jarak

dekat bisa juga terjadi untuk sebagian patogen. Karena banyak gejala ISPA merupakan gejala nonspesifik dan pemeriksaan diagnosis cepat tidak selalu dapat dilakukan, penyebabnya sering tidak langsung diketahui. Selain itu, intervensi farmasi (vaksin, antivirus, antimikroba) untuk ISPA mungkin tidak tersedia. Maka dari itu perlu diadakan panduan pengelolaan pasien dengan infeksi airborne.

B. LANDASAN HUKUM SK Menkes No 270/MENKES/2007 tentang Pedoman Manajerial PPI di RS dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya. SK Mankes No. 382/Menkes/2007 tentang Pedoman PPI di RS dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya SK Menkes No. 129/Menkes/SK/II/2008 tentang SPM RS SK Menkes 1165.A./Menkes/SK/X/2004 tentang KARS SE Dirjen Bina Yanmed No.HK.03.01/III/3744/08 tentang Pembentukan Komite PPI RS dan Tim PPI RS

C. SASARAN Perawat yang menghadapi pasien dengan infeksi airborne dan pemangku kepentingan (stake holder) di rumah sakit.

BAB II Panduan Pengelolaan Pasien dengan Infeksi Airborne A. Pengertian Penularan agen infeksius melalui airborne adalah penularan penyakit yang disebabkan oleh penyebaran droplet nuklei yang tetap infeksius saat melayang di udara dalam jarak jauh dan waktu yang lama. Penularan melalui udara dapat dikategorikan lebih lanjut menjadi penularan obligat atau penularan preferensial. B. Dasar Pasien infeksi saluran pernapasan akut parah cenderung berusaha mendapatkan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga fasilitas pelayanan kesehatan memainkan peran penting dalam mengidentifikasi tanda-tanda awal ISPA yang baru muncul yang dapat menimbulkan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi kekhawatiran lokal atau internasional. Identifikasi dini dan pelaporan memberikan peluang keberhasilan usaha penghentian penularan. Identifikasi segera dan penanganan pasien, petugas kesehatan, atau pengunjung yang dapat terinfeksi ISPA yang dapat menimbulkan kekhawatiran dan berpotensi menimbulkan pandemi dan epidemi merupakan langkah pengendalian administratif penting dan sangat penting untuk mengurangi risiko penularan yang berkaitan dengan perawatan kesehatan dan untuk memungkinkan tanggapan kesehatan masyarakat yang efisien. Tanggapan tersebut mencakup isolasi pasien, pelaksanaan langkah pengendalian infeksi yang memadai, pengobatan, dan pelaporan segera. Pengenalan kemungkinan episode tergantung pada definisi kasus ISPA, yang mungkin berubah bila diperoleh informasi epidemiologis dan klinis baru. Alur Pengelolaan pasien dengan infeksi airborne: 1. Pasien masuk triase dengan gejala-gejala ISPA yang disertai demam.

2. Petugas kesehatan harus membersihkan tangan secara memadai, menggunakan masker bedah, dan menggunakan pelindung mata (kacamata pelindung/pelindung wajah) bila diperkirakan akan terjadi percikan pada mata 3. Pasien anak-anak yang memperlihatkan gejala dan tandatanda klinis yang menunjukkan diagnosis tertentu (misalnya, croup untuk parainfluenza, bronkiolitis akut untuk RSV), khususnya selama wabah musiman, mungkin memerlukan kewaspadaan isolasi sesegera mungkin. 4. Lakukan pengendalian sumber infeksi (misalnya, menggunakan tisu, saputangan, atau masker bedah) pada pasien di ruang tunggu saat batuk atau bersin, dan pembesihan tangan setelah kontak dengan sekresi pernapasan. 5. Bila memungkinkan, tempatkan pasien dengan jarak terpisah minimal 1 m dari pasien lainnya. 6. Petugas kesehatan harus menggunakan APD (masker bedah atau respirator partikulat, pelindung mata, gaun pelindung, dan sarung tangan), dan membersihkan tangan yang memadai 7. Ruang pencegahan penularan melalui udarab atau penempatan di ruang untuk satu pasien yang berventilasi baik, kalau ada. 8. Bila ruang untuk satu pasien tidak tersedia, gabungkan (cohorting) pasien-pasien yang diagnosis penyebab penyakitnya sama. 9. Bila penyebab penyakit tidak diketahui dan kamar untuk satu pasien tidak ada, lakukan langkah khusus

BAB III Kesimpulan

Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan di rumah sakit maka pelaksanaan kegiatan pengendalian infeksi pasien rumah sakit sangatlah penting. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi penekanan / penurunan kejadian penularan infeksi airborne sehingga dapat lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit. .