Anda di halaman 1dari 23

Prevention and Treatment of Vulvovaginal Candidiasis Using Exogenous Lactobacillus

Pembimbing : dr. Eko, Sp.KK Diterjemahkan oleh: Ryan Putra (406118037)

Pendahuluan
Keseimbangan yang kompleks dari

mikroorganisme dalam vagina merupakan kunci dari menjaga kesehatan ginekologi Perubahan dari lingkungan di vagina dapat menyebabkan organisme patogen untuk berproliferasi dan menyebabkan gejala infeksi Sebagai contohnya, terjadi kolonisasi oleh spesies candida di dalam vagina, yang bermanifestasi sebagai pruritus, eritema, discharge yang tebal dan putih

Pendahuluan
Di dalam vagina yang sehat, terdapat organisme

Lactobacillus dalam jumlah yang besar

Fungsi dari Lactobasillus Endogen


Vagina normal memiliki lebih dari 23 jenis

mikroorganisme dengan Lactobacillus sebagai jenis yang dominan L. Acidophilus ,L. Fermentum ,L. Crispatus ,L. Jensenii Bila organisme Lactobacillus ini berkurang dalam lingkungan vagina, overgrowth dari beberapa organisme dapat terjadi infeksi bakterial atau jamur

Fungsi dari Lactobasillus Endogen


Fungsi Lactobacillus :
Produksi asam laktat sebagai hasil dari

metabolisme glikogen di sel vagina pH 4.0-4.5 Produksi hidrogen peroksidase menghambat pertumbuhan mikroba Menempel kuat pada epitel vagina, berkompetisi dengan mikroorganisme patogen pada reseptorbinding sites Stimulasi imunitas menginhibisi beberapa protein spesifik (antimikroba)

Vulvovaginal Candidiasis
Vaginitis merupakan penyebab paling sering

seorang wanita untuk berobat 75% wanita seksual-aktif setidaknya pernah 1 kali mengalami episode VVC Gejala berupa :
Pruritus dan Vaginal discomfort Dyspareunia Dysuria

Vulvar eritema
Discharge yang putih, tebal, dan tak berbau

Vulvovaginal Candidiasis
Candida merupakan spesies jamur yang

menempel secara superfisial pada sel epitel, terdapat pada saluran GI yang normal Candida dapat ditemukan 5% - 20% pada wanita asimptomatik, progres untuk menjadi simptomatik ditentukan oleh ekosistem di dalam vagina Antibiotik, kontrasepsi spermicidal dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem vagina dan membunuh organisme yang menguntungkan seperti L. Acidophilus

Vulvovaginal Candidiasis
Diabetes Melitus berhubungan dengan resiko

terjadinya infeksi candida Mengenakan baju ketat dan aktivitas seksual yang tinggi juga merupakan faktor resiko untuk terjadinya VVC Status immunocompromise meningkatkan resiko terjadinya VVC dan juga sistemik candidiasis

Pengobatan yang telah ada sekarang


Intravaginal antifungal imidazole, seperti:
Clotrimazole Butaconazole Miconazole Tioconazole

Rasio kesembuhan dengan pengobatan ini

antara 75% - 90%, namun dengan pengobatan ini, gejala dapat menetap atau berulang Berulang yaitu 4 atau lebih episode infeksi candida dalam 1 tahun

Pengobatan yang telah ada sekarang


C. Albicans merupakan spesies utama penyebab

VVC, spesies lain juga dapat menyebabkan infeksi (sendiri ataupun bersama) Infeksi yang resisten terhadap pengobatan diatas mungkin dikarenakan infeksi yang bukan disebabkan oleh C. Albicans

Pengobatan yang telah ada sekarang


Efek samping Antifungal topikal:
Edema vulva Eritema Rasa terbakar Frekuensi berkemih yang meningkat

Wanita mungkin menghentikan pengobatan saat

gejala sudah mulai berkurang, tetapi Candida belum tereridikasi meningkatkan resiko berulang atau resisten

Pengobatan yang telah ada sekarang


Pengobatan intravaginal tidak mengeridikasi

Candida yang terdapat di rektum, sehingga dapat menyebabkan terjadi nya rekolonisasi setelah pengobatan dihentikan

Pengobatan yang telah ada sekarang


Banyak wanita yang melakukan pengobatan

sendiri, merupakan sebuah kasus selfmisdiagnosis dimana mereka melakukan pengobatan antifungal Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ross et al., Ketika organisme candida ditambahkan, mikroflora berubah menjadi abnormal dalam waktu 24 jam, dan jumlah L. Acidophilus berkurang dengan signifikan pada hari ke-5, namun ketika antifungal (Clotrimazole) ditambahkan pada infeksi yang tidak jelas (bukan candida) didapatkan perbuhan menjadi abnormal pada 24 jam, dan L. Acidophilus tidak terditeksi

Pengobatan yang telah ada sekarang


Antijamur oral:
Fluconazole single dose 150mg Ketoconazole Itraconazole

Perbandingan antara pemberian oral dan

intravaginal selama 6 hari, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan, hanya eradikasi terjadi lebih cepat pada pengobatan oral Namun kebanyakan wanita lebih menyukai preparat oral, menimbang dari efek samping topikal dan hanya single dose

Pengobatan yang telah ada sekarang


Namun, efek samping sistemik dari pengobatan

oral lebih tinggi, karena obat ini di metabolisme di hati dan interaksi obat dengan obat lain, seperti warfarin, fenitoin, teofilin, dll

Pengobatan yang telah ada sekarang


Induksi intravaginal dengan kapsul boric acid,

yang berfungsi sebagai acidify Namun masih banyak kekurangan dari preparat ini, termasuk toksisitas dan rasa terbakar serta iritasi pada vagina

Terapi Lactobacillus Eksogen


Lactobacillus eksogen dapat berupa sediaan oral

ataupun intravaginal, dengan bentuk sebagai suplemen atau produk sehari-hari dalam bubuk, tablet, kapsul, maupun suppositoria Apakah Lactobacillus eksogen dapat berkolonisasi di vagina seperti Lactobacillus endogen?

Terapi Lactobacillus Eksogen


Untuk sediaan oral, pertama Lactobacillus harus

dapat melewati saluran GI dalam bentuk aktif Lactobacillus casei GG adalah satu-satunya yang menetap pada GI distal dalam waktu yang lama setelah dosis pemberian dihentikan

Terapi Lactobacillus Eksogen


Terdapat beberapa penelitian:
Reid et al. : Oral prebeotic suspensi dari L.

Rhamonus GR-1 dan L. Fermentum RC-14 pada susu steril untuk 10 wanita dengan UTI Hilton et al. : yogurt free dan yogurt containing diet pada 33 wanita Shalev et al. : peningkatan L. Acidophilus pada vagina dan rektum setelah pemberian oral
Sehingga dapat disimpulkan bahwa,

Lactobacillus eksogen dapat berkolonisasi pada ekosistem vagina, namun juga dipengaruhi medium pengantarnya

Terapi L. Eks pada VVC


Penggunaan lactobacilli sebagai (dibandingan

oral atau topikal antifungal) telah terbukti rendah resiko terjadinya resisten, rendah efek samping, dan harga yang murah, serta lebih dipilih oleh wanita yang lebih memilih terapi secara natural Intravaginal lactobacillus 2 kali sehari terapi terhadap 28 wanita dengan VVC (lebih dari 5 episode 1 tahun), setelah 1 minggu, terjadi perbaikan pada gejala, dan berkurangnya tanda infeksi pada sediaan vagina

Terapi L. Eks pada VVC


Pada pasien immunocompromise, terapi dengan

Lactobacillus setiap minggu dan Clotrimazole terbukti efektif untuk pencegahan VVC

Terapi L. Eks pada VVC


Namun pada penelitian jangka panjang oleh

Hawes et al., 182 wanita selama 2 tahun, Lactobacillus dibagi menjadi 2 yaitu LB+ (penghasil hidrogen peroksidase) dan LB-, menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara status Lactobacillus dan VVC

Clinical Practice
Penggunaan Lactobacillus eksogen sebagai

terapi ada VVC rekuren adalah tidak adekuat yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut Karena tidak ada kerugian dalam menggunakan Lactobacillus oral dalam yogurt maupun sediaan intravaginal, kita dapat menyarankan penggunaan terapi ini, namun harus disertakan dengan penjelasan atas ketidakpastian dari terapi ini