Anda di halaman 1dari 22

BAB 1 PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Penyakit diare merupakan salah satu penyakit utama di Indonesia pada balita yang menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat yang sangat penting bagi tubuh. Diare mungkin bukan penyakit yang parah seperti jantung atau kanker. Namun, diare pada balita sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat kekurangan cairan, akan tetapi selama ini banyak orang tua yang meremehkan apabila balita atau anaknya mengalami diare, hal ini dikarenakan ketidaktahuan orang tua tentang bahaya diare yang dapat mengakibatkan dehidrasi dan seringkali ketika dibawa ke dokter penderita sudah dalam keadaan terlambat, lemas atau kekurangan cairan dan selanjutnya syok bahkan kematian (Purbawati, 2001). Menurut catatan WHO (2009) setiap detik 1 balita meninggal karena diare dan membunuh 2 juta anak di dunia setiap tahunnya, sedangkan di Indonesia sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya (Amirudin, 2010). Data yang diperoleh dari Puskesmas Bantur didapatkan jumlah anak diare yang berobat di Puskesmas Bantur pada tahun 2010 sebanyak 820 pasien dan tahun 2011 berjumlah 982 pasien. Bulan Januari sampai April 2012 berjumlah 265 pasien, sedangkan untuk setiap harinya ada 2-3 pasien anak dengan diare, dari beberapa balita yang dibawa berobat di Puskesmas Bantur ada yang mengalami tanda-tanda dehidrasi ringan bahkan sampai dehidrasi sedang.

Diare merupakan penyakit infeksi mikro organisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya. Penularan penyakit melalui oral ini tentunya disebabkan oleh berbagai faktor pendukung, yaitu lingkungan yang kotor dan sanitasi yang buruk ataupun manusia itu sendiri yang tidak menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Kondisi tersebut dapat mendukung tingginya angka kejadian diare terutama pada balita dengan orang tua yang memiliki pengetahuan kurang tentang diare (Mujiwati, 2007). Pada umumnya orang tua atau ibu yang memiliki pengetahuan kurang, lebih banyak ditemukan di desadesa yang mempunyai banyak faktor penyebab, mulai dari minimnya sumber informasi, rendahnya tingkat pendidikan khususnya wanita di desa, sampai lingkungan atau adat yang menuntut mereka untuk memiliki pendidikam sampai hanya pada tingkat tertentu (Pieget, 2007). Kurangnya pengetahuan orang tua khususnya ibu balita terhadap diare dapat ditingkatkan melalui penyuluhan tentang diare, salah satunya dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat mulai dari diri sendiri dan lingkungan, serta tanggapnya orang tua terhadap kejadian diare pada anaknya. Berdasarkan fenomena tersebut peneliti ingin meneliti lebih lanjut gambaran pengetahuan ibu tentang diare pada balita di Puskesmas Bantur. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka rumusannya adalah Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang diare pada balita di Puskesmas Bantur?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang diare pada balita berdasarkan parameter di Puskesmas Bantur. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi pekerjaan) b. Mengetahui pengetahuan ibu tentang diare D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan bagi peneliti tentang pengetahuan ibu dengan anak usia balita tentang diare pada balita. 2. Bagi Bidang Pelayanan Kesehatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi bidang pelayanan kesehatan setempat untuk memberikan informasi atau karakteristik responden (umur, pendidikan,

pengetahuan tentang diare pada ibu dengan anak usia balita.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pengetahuan 1. Definisi Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang (Alleborgobot, 2007). Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi, pengetahuan muncul ketika seseorang mengunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat dan dirasakan sebelumnya (Alleborgobot, 2007). Pengetahuan adalah pembentukan pemikiran asosiasi yang menghubungkan atau menjalin sebuah pikiran dan kenyataan atau pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai kausalitas (sebab akibat) yang universal (Wilson, 2008). Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia dan kehidupan (Keraf, dkk, 2000). Pengetahuan adalah tambahan ilmu dari sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan pengetahuan ini bisa di peroleh lewat belajar dari orang lain, membaca, menyimak, menyelidiki dan juga bisa digunakan seseorang dalam menggambil suatu keputusan dimasa datang (Anonim, 2008). Pengetahuan adalah buah dari berfikir (natigyyah) adalah sebagian defferentia (fashl) yang memisahkan manusia dari hewan (Reach, 2007).

Pengetahuan (knowledge) adalah interaksi terus menerus antara individu dengan lingkungan (Piaget, 2007). Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman baru (Budiningsih, 2005). Berdasarkan beberapa definisi pengetahuan diatas maka dapat disimpulkan bahwa: Pengetahuan adalah ilmu baru yang diperoleh oleh seseorang melalui berbagai cara baik dari proses belajar maupun interaksi terus menerus dengan lingkungan. 2. Macam-Macam Pengetahuan Pengetahuan dibedakan menjadi dua: a. Pengetahuan Empiris adalah pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman indrawi, pengetahuan empiris juga dapat berkembang menjadi pengetahuan diskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat dan gejala yang ada pada empiris tersebut b. Pengetahuan Rasionalisme adalah pengetahuan yang di dapatkan melalui akal budi, rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori, tidak menekankan pada pengalaman (Alleborgobot, 2007). Pengetahuan manusia dari satu sudut pandang dibagi menjadi empat macam: a. Pengetahuan Indrawi Seseorang akan memperoleh pengetahuan ini melalui panca indranya, tentunya tanpa menafikan peran khas akal dalam proses perolehan itu.

Pengetahuan ini biasanya digunakan berbagi cabang ilmu empirik seperti: Fisika, Kimia, Biologi b. Pengetahuan Rasional Pengetahuan ini tersusun dari konsep-konsep abstraktif yang disebut juga konsep sekunder. Ruang lingkup pengetahuan ini adalah Logika, Filsafat, Matematika c. Pengetahuan Tekstual Pengetahuan ini memiliki peran sekunder karena tergantungnya pada pengetahuan sebelumnya, yaitu pengetahuan tentang sumber informasi yang terpercaya (otoritas) dan diperoleh dari orang yang jujur d. Pengetahuan Hudhuri dan Syudhudi Berbeda dengan pengetahuan sebelumnya, pengetahuan ini terkait langsung dengan wujud objeknya, tanpa melalui perantara gambaran konseptual dibenak, serta bebas dari kekeliruan (anonym, 2008). Pengetahuan manusia dikategorikan menjadi enam: a. Pengetahuan Hudhuri/Badihi (fitra) Merupakan pijakan dasar bagi seluruh tindakan manusia, untuk jenis pengetahuan ini manusia hanya perlu menyadarinya secara langsung dan instropektif. b. Pengetahuan Rasional (akal) Pengetahuan ini berpusat pada akal, dengan sifat yang universal dan abstrak c. Pengetahuan Indrawi (panca indra)

Pengetahuan ini diperoleh lewat panca indera pengetahuan ini bersifat spasiotemporer, pertikular dan berubah-ubah, sesuai dengan hukumhukum yang mengatur alam fisik d. Pengetahuan Mistis/Emosional (hati) Pengetahuan yang bersumber dari lintasan-lintasan hati. Sifat

pengetahuan ini adalah partikular abstrak e. Pengetahuan Imajiner (imajinasi) Pengetahuan ini bersumber pada daya imajinasi dan angan-angan manusia f.Pengetahuan Keagamaan (wahyu/teks suci) Pengetahuan yang bersumber pada teks-teks suci Al-quran dan hadist adalah sumber utama pengetahuan keagamaan dalam konteks islam (anonim, 2007). a. Proses didalam Pengetahun a. Interaksi objek dan lingkungan b. Kemampuan menginstruksi pengetahuan c. Mengingat d. Mengungkapkan kembali pengalaman e. Kemampuan mengambil keputusan dan akan perbedaan f. Kemampuan menyukai pengalaman yang satu dengan yang lain (Budiningsih, 2005). Langka-langka dalam proses pengetahuan a. Tingkatan Persepsi: kontak dengan dunia luar b. Tingkatan Sintesis: pengaturan bahan-bahan persepsi

c. Tingkatan

Konsepsi:

mengadakan

pengaturan

kembali

atau

penyusunan kembali d. Tingkatan pertimbangan e. Tingkatan simpulan (Anonim, 2008). b. Pengukuran Pengetahuan Pengukuran Pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek peneliti atau responden kedalam pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dengan tingkatan-tingkatan tersebut diatas 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan a. Umur Bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan akan berkurang. b. Intelegensi Perbedaan intelegensi dari seseorang akan berpengaruh pula terhadap tingkat pengetahuan c. Lingkungan Lingkungan memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang akan berpengaruh pada cara berfikir seseorang

d. Pekerjaan Seseorang bekerja bertujuan untuk mencapai suatu keadaan yang lebih daripada keadaan sebelumnya. Dengan bekerja seseorang dapat berbuat sesuatu yang lebih bernilai, bermanfaat dan memperoleh berbagai pengalaman. e. Pendidikan Tingkat pendidikan turut pula menentukan muda tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuanya g. Informasi Meskipun seseorng memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari berbagai media misalnya TV, radio, atau surat kabar maka hal itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseoarang. h. Pengalaman Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan (Hendra, 2008).

B. Konsep Diare 1. Pengertian Diare Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan feces bayi encer dan atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari dan kadang disertai muntah, muntah dapat berlangsung singkat, namun diare dapat berlanjut sampai 10 hari (Sakinadkk, 2006). Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (3 atau lebih perhari) yang disertai perubahan bentuk dan konsisten tinja dari penderita (Amiruddin, 2007). Diare adalah buang air besar encer tiga kali atau lebih dalam sehari (Anugra, 1992). Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair (Suriadi, dkk, 2001). 2. Penyebab Diare a. Penyaki Diare disebabkan oleh1). Infeksi mikro organisme termasuk bakteri, virus, dan parasit lainnya seperti jamur,cacing dan protozoa 2). Salah satu bakteri penyebab diare adalah bakteri Escherichia Coli Enteropatogenik (EPEC) b. Secara klinis penyebab diare di kelompokkan menjadi 6 golongan 1). Karena infeksi 2). Malabsorbsi 3). Alergi 4). Keracunan 5). Imunodefisiensi

6). Penyebab lain (Amirudin, 2007) c. Faktor Infeksi 1). Bakteri : Enteropathogenic Escherichia coli, Salmonella,

Sheigella,Yersinia enterocoliticia 2). Virus : Enterovirus-echoviruses, Adenovirys,Human retrovua

seperti agent, Rotavirus 3). 4). 5). Jamur : Candida enteritis Parasit Protozoa : Glardia clmbia, Crytosporidium

d. Bukan faktor infeksi 1). Alergi makanan, susu, protein 2). Gangguan metabolic atau malabsorbsi, penyakit celiac, cystic fibrosis pada pangkreas 3). Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan 4). Obat-obatan : antibiotic 5). Penyakit usus : colitis ulcerative, crohn disease, entero colitis 6). Emosional atau stress 7). Obstruksi usus (Suriadi, dkk, 2001). 3. Tanda dan gajala Diare a. Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat

b. Nafsu makan berkurang atau tidak ada c. Frekuensi berak lebih dari 3 kali perhari d. Tinja cair mungkin disertai lendir dan darah

e.

Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijauan karena tercampur dengan empedu

f. Anus dan daerah sekitarnya lecet g. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare h. Bila penderita banyak kehilangan cairan maka gejala diare akan nampak i. Berat badan turun (Suriadi, dkk, 2001). 4. Macam-macam diare a. Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung beberapa jam / hari : bahaya utamanya adalah dehidrasi juga penurunan berat badan jika tidak diberi makan atau minum b. Diare akut bercampur darah (disentri) : bahaya utamanya adalah kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam darah), dan malnutrisi (kurang gizi) dan komplikasi lain termasuk dehidrasi c. Diare Persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama): bahaya utamanya adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius diluar usus halus, dehidrasi juga bisa terjadi d. Diare dengan malnutrisi berat ( marasmus dan khwashiorkor): bahaya utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral (Suriadi, dkk, 2001). 5. Bahaya diare Diare dapat menyebabkan kehilangan garam ( natrium ) dan air secara

cepat, yang sangat penting oleh hidup dan dapat menyebabkan komplikasi sebagai berikut : a. Dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik ) b. Renjatan hipovolemik c. Hipoglikemi d. Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim lactase karena kerusakan vili mukosa usus halus e. Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, pada elektrokardigram) f. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah penderita juga mengalami kelaparan 6. Penanganan Diare a. Penanganan di Rumah Jika ibu menyusui, Asi terus diberikan dan diberikan lebih sering bayi dengan susu formula boleh diberikan cairan rehidrasi oral selama 12 jam pertama, setelah itu dapat diberikan susu formula lebih sedikit dari jumlah yang biasanya diberikan, namun diberikan lebih sering (Sakina, 2006). b. Penggantian Cairan dan Elektrolit Cairan yang hilang di dalam tubuh bisa digantikan dengan CRO (Cairan Rehidrsi Oral ) / Clear Fluid biasa kita kenal dengan Oralit yang idealnya rehidrasi terdiri dari: 3,5 g natrium klorida, 2,5 g kalium bikarbonat, 1,5 g kalium klorida, 20 g glukosa perliter air

( Zein, 2004). Yang bisa kita beli di apotik / toko obat. Cara penyajian: 1) Oralit satu sachet dilarutkan dengan 2 gelas ( 400 ml ) air 2) CRO khusus anak ( kemasan botol ) siap digunakan ( Sakina, 2006). Menurut Farian Sakina 1. Larutkan 1 sendok makan gula dengan 2 gelas ( 200 ml ) air 2. Limun (bukan rendah kalori ), 1 gelas limun dilarutkan dengan 4 gelas ( 800 ml ) air 3. Jus buah 1 gelas dilarutkan degan 4 gelas (800 ml ) air

4. Untuk bayi hingga usia 9 bulan pembuatan CRO harus menggunakan air mendidih yang didinginkan Menurut Umar zein 1) sendok teh garam 2) sendok teh baking soda 3) 2-4 makan gula perliter air 4) 2 pisang atau 1 cangkir jus jeruk di berikan untuk mengganti kalium, cairan tersebut harus diberikan segera setelah mereka merasa haus. C. Faktor risiko kejadian diare pada anak balita Kehidupan anak dipandang rentang karena memiliki ketergantungan tinggi terhadap orang tuanya, jika orang tuanya membiasakan hidup bersih dan sehat tentu terhindar dari diare. Selain itu diare yang disebabkan oleh bakteri ecoli akan lebih cepat berkembang ditempat-tempat yang becek dan tergenang air yang biasanya merupakan tempat yang paling disenangi anak-anak kecil untuk bermain, sehingga mereka rentan dihinggapi bakteri ecoli (Mujiwati, 2007).

Selain itu bayi dan balita (bayi di bawah lima tahun) rentan sekali oleh diare dikarenakan perkembangan sistem pencernaan dan kekebalan tubuhnya yang belum optimal menyebabkan mareka mudah terserang diare akibat virus (syam, 2001). D. Kerangka Teori Pengetahuan Ibu balita Tentang Diare Pengertian diare Penyebab diare Tanda dan gejala diare Macam-macam diare Bahaya diare Penanganan diare

Faktor E. Yang Mempengaruhi Pengetahuan Umur Pendidikan Pekerjaan Intelegensi Lingkungan Informasi Pengalaman

Baik

Cukup

Kurang

Keterangan : Diteliti ----------: Tidak diteliti

Gambar 2. 1 : Kerangka Teori Gambaran Pengetahuan Ibu dengan anak usia Balita Tentang Diare pada Balita

BAB 3 METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini akan di bahas jenis rancangan bangun penelitian variabel, populasi, sample, lokasi dan waktu penelitian, teknik dan instrument pengumpulan data dan teknik analisa data. A. Jenis dan Rancang Bangun Penelitian Rancangan atau desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian (Alimul, 2003). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif yang bertujuan untuk mendiskripsikan (memaparkan) peristiwa-peristiwa urgen yang terjadi pada masa kini (Nur Salam dan Pariani, 2001). Penelitian ini menggunakan survey public opinion dengan desain diskriptif yang bertujuan untuk memberikan gambaran pengetahuan ibu tentang penyakit diare pada balita. B. Variabel Variabel adalah suatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh sebagian penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu (Notoadmojo, 2002). Pada penelitian ini menggunakan variabel pengetahuan ibu tentang diare pada balita.

1. Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari suatu yang didefinisikan tersebut (Alimul, 2003). Tabel 3. 1 : Definisi Operasional Variabel Definisi Parameter Alat ukur operasional Pe Merupakan 1. Penger Kuesioner ngetahuan hasil tahu ibu tian diare ibu tentang tentang pada balita diare pada penyakit 2. Penye balita infeksi usus bab diare U yang pada balita mur ibu menyebabkan 3. Maca Pe feses encer m-macam ndidikan dengan diare pada ibu frekuensi balita Pe berak lebih 4. Bahay kerjaan ibu dari 3 kali a diare pada perhari balita 5. Penan ganan diare pada balita Kriteria Skala

1.

2. 3. 4.

Baik Ordinal 76-100% Cukup 56-75% Kurang <56% (Nursalam, 2003).

C. Populasi Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti setiap objek (misalnya : manusia, pasien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003). Menurut Notoadmojo (2003) populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut Subyek yang dijadikan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia balita di Puskesmas Bantur. D. Sampel Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat

dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2003).

Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia Balita di Puskesmas Bantur dan memenuhi kriteria sebagai berikut : Kriteria inklusi adalah dimana subyek penelitian dapat mewakili dalam sample penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat, 2003) Dalam penelitian ini kriteria inklusinya adalah : a. Ibu yang bisa membaca dan menulis b. Ibu yang bersedia menjadi responden Kriteria eksklusi adalah kriteria dimana subyek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Hidayat, 2003). Dalam penelitian in kriteria eksklusinya adalah : a. Ibu Primigravida b. Pasien lansia E. Sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003). Pada penelitian ini menggunakan non probability sampling tipe consecutive sampling yaitu pemilihan sampel dengan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehinggga jumlah responden yang diperlukan terpenuhi (Nursalam, 2003). F. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Bantur waktu penelitian dimulai pada tanggal 20 Agustus -27 Agustus 2013

G. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan angket atau kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari objek penelitian atau responden (Notoadmojo, 2003). Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini digunakan berupa kuesioner, dalam penelitian diartikan sebagai daftar pertanyaan yang dijawab oleh responden dimana responden memilih jawaban yang dianggap benar sesuai pilihan yang disediakan dengan cara menyilang kuesioner tersebut dibagikan setelah peneliti memberikan penjelasan dan diadakan informed consent dengan responden teknik

penyampaian kuesioner dari peneliti ke responden serta pengambilan melalui hubungan langsung. H. Teknik Analisa Data Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan ibu tentang diare pada balita. Pengelolahan data atau analisa dilakukan dengan tahap sabagai berikut : 1. Editing Data atau kuesioner yang terkumpul diperiksa kembali untuk memastikan semua jawaban telah diisi maksud dan pertanyaan dan sesuai petunjuk pengisian. 2. Cooding a). Kode responden Memberi kode-kode tertentu pada setiap responden dengan cara memberi kode nomor responden pada kuesioner untuk memudahkan saat tabulasi data dan untuk menghindari kekeliruan.

b). Kode jawaban Memberi kode-kode tertentu pada setiap jawaban menjadi bentuk yang lebih ringkas sehingga memudahkan saat tabulasi data dan guna menghindari kekeliruan. 3. Transfering Dalam kuesioner yang disusun oleh peneliti ada 18 pertanyaan data yang sudah dapat dikuantitatifkan dengan memberikan skor pada setiap jawaban yang diberikan sesuai dengan skor yang sudah ditetapkan, data bersifat kuantitatif. 4. Tabulating Setelah data terkumpul seluruhnya ditransfer ke master sheet, langkah selanjutnya adalah menganalisa dalam bentuk tabel per parameter dan data secara umum. Menurut Arikunto (1998) untuk menjawab yang benar diberi skor 1 dan yang salah diberi skor 0, dari hasil yang telah diberi pembobotan dijumlahkan dan dibandingkan dengan jumlah skor tertinggi lalu dikalikan 100% (Arikunto, 1998). Rumus yang digunakan adalah SP N= SM Keterangan : N SP SM : Nilai yang didapat : Skor yang didapat : Skor tertinggi x 100%

Untuk variabel penelitian diinterprestasikan dengan menggunakan skala kualitatif yaitu : Baik 76%-100%, Cukup 56%-75%, Kurang 56% (Nursalam, 2003). I. Etika Penelitian 1. Informed concent Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan responden peneliti dengan memberikan lembar persetujuan (Informed Concent) Informed Concent diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden dan mengetahui dampaknya jika responden tidak bersedia maka peneliti harus

menghormati hak responden. 2. Anominity (Tanpa nama) Menjelaskan bentuk alat ukur dengan tidak perlu mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data, hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data. 3. Kerahasiaan Merupakan masalah etika yang menjamin kerahasiaan dari hasil penelitian informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset (Aziz, 2003)