Anda di halaman 1dari 44

A.

JUDUL PENELITIAN Pengaruh Model Auditory Intellectually Repetition terhadap Prestasi Belajar Matematika di SMP N 3 Singaraja

B. IDENTITAS PENELITI Nama : Kelompok 1

Jurusan : Pendidikan Matematika Fakultas : MIPA

C. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan memegang peranan yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan manusia. Berawal dari kesuksesan di bidang pendidikan suatu bangsa menjadi maju. Melalui pendidikan sumber daya manusia yang berkualitas dicetak untuk menjadi motor penggerak kemajuan dan kemakmuran bangsa. Indonesia sebagai negara yang berkembang terus berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional menurut Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, produktif serta sehat jasmani dan rohani. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tersebut dan selaras dengan tuntutan zaman maka peningkatan kualitas pendidikan merupakan kebutuhan yang urgen. Proses pendidikan sudah dimulai sejak manusia itu dilahirkan dalam lingkungan keluarga, dan dilanjutkan dengan jenjang pendidikan formal. Sekolah merupakan salah satu tempat untuk melaksanakan proses pendidikan secara formal. Dengan sarana dan prasarana yang memadai serta

situasi diciptakan senyaman mungkin untuk belajar, sehingga proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Proses belajar mengajar di sekolah merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan. Dengan ini memungkinkan komponenkomponen yang terlibat di dalamnya dapat saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Komponen-komponen tersebut antara lain adalah guru sebagai pengajar dan siswa sebagai peserta belajar. Keberhasilan siswa di sekolah merupakan harapan bagi setiap orang tua, pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Keberhasilan pendidikan siswa sangat di harapkan mengingat siswa merupakan generasi yang akan meneruskan pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Proses pendidikan yang di laksanakan di sekolah pada intinya adalah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Melalui proses kegiatan belajar mengajar siswa di harapkan dapat memperoleh prestasi yang setinggi-tingginya sesuai dengan tingkat kemampuannya. Matematika adalah pelajaran yang apabila secara mendalam, tidak hanya berhubungan dengan angka dan rumus-rumus saja melainkan erat kaitanya dengan pola pikir dan pola sikap. Pembelajaran matematika mempunyai tujuan yang dapat dicapai dengan optimal, jika dilakukan usaha secara bertahap. Karenanya, pelajaran matematika menjadi pelajaran yang dipelajari pada setiap program dan jenjang pendidikan yang ada. Menurut Ruseffendi (2006:266) sifat abstrak matematika adalah salah satu hal yang menyebabkan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Oleh karena itu, seorang guru matematika harus dapat memilih dan mengembangkan suatu metode dalam kegiatan belajar mengajarnya dan disesuaikan dengan pokok bahasan yang akan disampaikan. Siswa belajar matematika pada umumnya belum aktif, menurut Zulkardi (Susanto, 2008:7) sebagian besar guru di Indonesia masih menyampaikan materi pelajaran matematika dengan pendekatan tradisional yang menekankan metode ekspositori dan tanya jawab. Pada pembelajaran ini gurulah yang berperan aktif sebagai sumber informasi dan siswa cenderung pasif dengan hanya menunggu

informasi yang disampaikan guru, sehingga pemahaman siswa tentang konsepkonsep matematika sangat lemah. Dalam proses belajar, siswa dan guru mempunyai tujuan yang sama yaitu keberhasilan optimal dalam proses belajar mengajar. Rendahnya nilai siswa dalam matematika umumnya menunjukkan rendahnya prestasi belajar siswa. Ketidakberhasilan proses belajar-mengajar kadangkala disebabkan oleh guru yang tidak tepat dalam memilih model penyajian materi, sehingga dalam kegiatan belajar-mengajarnya, siswa yang pada dasarnya kurang berminat terhadap pembelajaran matematika juga merasa kurang termotivasi untuk mengikuti pelajaran tersebut. Berkenaan dalam hal ini, Russeffendi (1988:8) mengatakn, Keberhasilan siswa dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi kecerdasan anak, kesiapan anak, bakat anak, kemauan belajar dan minat anak. Sedangkan faktor luar terdiri dari model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar, dan kompetensi guru. Pendidikan matematika yang diberikan di sekolah memberikan sumbangan penting bagi siswa dalam pengembangan kemampuan yang sejalan dengan tujuan pendidikan. Depdiknas (Wihatma, 2003:8) merumuskan tujuan umum pendidikan matematika di sekolah yang menekankan siswa agar memiliki: (1) Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata; (2) Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi dan (3) Kemampuan menngunakan matematika sebagai cara bernalar sehingga dapat berpikir logis, sistematis, bersifat objektif, jujur, disiplin dalam memandang dan menyelesaikan masalah. Menurut Maslow dalam Anita Lie (2007: 5), pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa. Kegiatan belajar mengajar harus lebih menekankan pada proses daripada hasil yang didasari bahwa setiap orang pasti mcmpunyai potensi yang dimiliki. Sebagai gambaran pada paradigma lama mengklasifikasikan siswa dalam kategori prestasi belajar seperti dalam penilaian ranking dan hasil-hasil tes. Paradigma lama ini menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang sudah mapan dan tidak dipengaruhi oleh usaha

dan pendidikan. Paradigma baru mengembangkan kompetensi dan potensi siswa berdasar asumsi bahwa usaha dan pendidikan bisa meningkatkan kemampuan mereka. Pengelolaan pembelajaran dalam pendidikan dengan menggunakan model atau metode yang tepat akan memberikan suatu motivasi belajar yang lebih baik bagi anak didik. Dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar tersebut selain pendidiknya harus kreatif, dituntut pula adanya partisipasi aktif dari siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka untuk mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain. Dalam suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan pengisolasian siswa, dampak negatifnya antara lain adalah sikap dan hubungan yang negatif akan terbentuk dan mematikan semangat siswa. Suasana seperti ini akan menghambat pembentukan pengetahuan secara aktif. Oleh karena itu, pengajar perlu menciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga siswa bekerja sama secara gotong-royong. Berdasarakan kondisi yang telah diuraikan, maka perlu dicari model pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Terdapat beberapa cara alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa diantaranya adalah model pembelajaran Auditory, Intelectually and Repetition (yang selanjutnya ditulis AIR). Menurut Suherman (2004) AIR merupakan model pembelajaran yang menganggap bahwa belajar akan efektif jika memperhatikan tiga hal yaitu pertama auditory yang berarti indera telinga digunakan untuk mendengar dan menyimak, berbicara, presentasi dan argumentasi. Kedua Intelectually yang berarti bahwa kemampuam berpikir perlu dilatih melalui kegiatan bernalar, mencipta dan memecahkan masalah, mengkonstruksi dan menerapkan. Ketiga Repetition yang berarti pengulangan, agar pemahaman lebih mendalam dan lebih luas, siswa perlu dilatih melalui pengerjaan soal, pemberian tugas dan kuis.

Hasil penelitian Meirawati (2009) menyimpulkan bahwa prestasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran AIR lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran konvensional dengan metode ekspositori. Artinya pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran AIR memberikan pengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Berdasarkan pengertian model pembelajaran AIR, model pembelajaran tersebut memiliki karakter atau ciri yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Sehingga dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang digunakan untuk penelitian tentang prestasi belajar matematika siswa. Berdasarkan pada deskripsi yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti berkesimpulan bahwa Model pembelajaran AIR adalah model pembelajaran alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Auditory Intelectually Repetition terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa di SMP Negeri 3 Singaraja.

D. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah model pembelajaran auditory intelectually repetition berpengaruh terhadap prestasi belajar Matematika siswa SMP negeri 3 Singaraja? 2. Apakah prestasi belajar siswa meningkat setelah model pembelajaran ini diterapkan? E. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan permasalahan yang diuraikan dalam rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran auditory intelectually repetition terhadap prestasi belajar Matematika siswa SMP negeri 3 Singaraja. 2. Untuk mengetahui prestasi belajar Matematika siswa setelah penggunaan model pembelajaran auditory intelectually repetition.

F. MANFAAT PENELITIAN Secara umum terdapat dua manfaat yang diharapkan dari pene;itian ini. Adapun kedua manfaat tersebut yaitu manfaat praktisdan teoritis.

Manfaat Paraktis Manfaat Praktis dapat memberikan dampak secara langsung kepada segenap komponen pembelajaran. Manfaat praktis yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi siswa Penelitian ini dapat memberikan pengalaman belajar yang baik bagi siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika. Siswa akan semakin tertarik dengan matematika dan menyadari bahwa belajar matematika itu menyenangkan. 2. Bagi guru Penerapan model pembelajaran auditory intelectually repetition dalam pembelajaran matematika dapat dimanfaatkan sebagai pembelajaran yang inovatif dan dapat digunakan sebagai alternatif dalam menyusun pembelajaran dalam meningkatkan prestasi belajar. 3. Bagi sekolah Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pertimbangan mengadakan perbaikan-perbaikan dalam pembelajaran serta dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat dikembangkan dalam mata pelajaran lain.

4. Bagi peneliti Penelitian ini dapat menumbuhkan kreativitas peneliti dalam merancang dan menerapkan model pembelajaran auditory intelectually repetition dalam pembelajaran matematika. Di samping itu, peneliti memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan model pembelajaran ini dalam pembelajaran matematika di kelas. Manfaat teoritis Manfaat teoritis merupakan manfaat jangka panjang dalam pengembangan teori pembalajaran. Adapun manfaat teoritis yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran auditory intelectually repetition terhadap prestasi belajar matematika siswa diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang pendidikan serta memperkaya bahan bacaan.

G. ASUMSI DAN KETERBATASAN PENELITIAN G.1 Asumsi Penelitian Pada penelitian ini asumsi yang digunakan sebagai landasan berpikir adalah. 1. Nilai rapor siswa mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Asumsi ini digunakan karena nilai rapor ditentukan dari nilai tugas, ulangan harian dan ulangan umum. 2. Skor yang diperoleh siswa dalam menjawab tes yang diberikan mencerminkan prestasi belajar matematika siswa yang sesungguhnya. G.2 Keterbatasan penelitian Karena keterbatasan biaya, waktu, dan tenaga, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu sebagai berikut. 1. Populasi pada penelitian ini terbatas pada siswa kelas siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Singaraja pada semester II tahun ajaran 2013/2014.

2.

Pada penelitian ini yang diselidiki hanya terbatas pada pengaruh Model Pembelajaran Auditory Intelectually Repetition terhadap prestasi belajar matematika siswa.

H. DEFINISI OPERASIONAL Model pembelajaran AIR (Auditory Intellectually Repetition) adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan belajar siswa, dimana siswa secara aktif membangun sendiri pengetahuannya secara pribadi maupun kelompok, dengan cara mengintegrasikan ketiga aspek tersebut. Model pembelajaran AIR mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. Istilah AIR diambil dari kependekan unsur-unsurnya yaitu Auditory, Intellectually dan Repetition. Adapun penjelasan mengenai unsur-unsur AIR adalah sebagai berikut : 1. Auditory (A) Auditory adalah belajar dengan berbicara dan mendengarkan, menyimak, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Menurut Meier (2002:96) ada beberapa gagasan untuk meningkatkan penggunaan auditory dalam belajar, diantaranya : a. Mintalah siswa untuk berpasangan, membincangkan secara terperinci apa yang baru mereka pelajari dan bagaimana menerapkannya. b. Mintalah siswa untuk mempraktikan sesuatu keterampilan atau memperagakan suatu konsep sambil mengucapkan secara terperinci apa yang sedang mereka kerjakan. c. Mintalah siswa untuk berkelompok dan berbicara saat menyusun pemecahan masalah. Dari ketiga gagasan tersebut dimulai menyelesaikan masalah, tentunya dari siswa dikumpulkan dalam ketiga aspek tersebut dapat

beberapa kelompok dan mempraktekan secara bersama-sama untuk

menumbuhkan komunikasi siswa dalam kelas sehingga siswa berperan aktif dikelas. Auditory yang dimaksud disini yaitu ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara beberapa area penting di otak kita menjadi aktif 2. Intellectually ( I ) Intellectually adalah belajar dengan berfikir untuk menyelesaikan masalah, kemampuan berfikir perlu dilatih dengan latihan bernalar, menciptakan, memecahkan masalah, mengkonstruksi dan menerapakan. Meier (2002:100) Intellectually dalam belajar akan terlatih jika guru mengajak siswa terlibat dalam aktivitas dan memecahkan menyaring masalah, informasi, menganalisis pengalaman, mencari

merumuskanpertanyaan. Dalam hal ini guru harus mampu merangsang, mengarahkan, memelihara dan meningkatkan intensitas proses berfikir siswa guna mencapai kompetensi yang akan dicapai. 3. Repetition ( R ) Repetition merupakan pengulangan yang bermakna mendalami,

memantapkan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis. Dengan adanya latihan dan pengulangan akan membantu proses mengingat. Pengulangan yang dilakukan tidak berarti dilakukan dengan bentuk pertanyaan atau informasi yang sama, melainkan dalam bentuk informasi yang bervariatif sehingga tidak membosankan. Dengan pemberian soal dan tugas, siswa akan mengingat informasi-informasi yang diterimanya dan terbiasa untuk menyelesaikan permasalaha-permasalahan matematika. Langkah-langkah model pembelajaran AIR adalah sebagai berikut : a. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok 4-5 anggota. b. Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru

c. Setiap kelompok mendiskusikan tentang materi yang mereka pelajari dan menuliskan hasil dari hasil diskusi tersebut dan selanjutnya untuk dipresentasikan didepan kelas (Auditory) d. Saat diskusi berlangsung, siswa mendapat soal atau permasalahan yang berkaitan dengan materi e. Masing-masing kelompok memikirkan cara menerapkan hasil diskusi serta dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk menyelesaikan maslah dari guru (Intellectual) f. Setelah selesai berdiskusi, siswa mendapat pengulangan materi dengan cara mendapatkan tugas atau kuis tiap individu (Repetition).
Istilah prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini, yaitu untuk menunjukkan suatu pencapaian prestasi belajar siswa dari pengaruh penerapan model AIR (Auditory Intelectually Repetition). Prestasi belajar sisiwa diukur melalui hasil yang telah dicapai siswa yang dilakukan melalui tes, prestasi hasil belajar yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang keberhasilan penerapan model pembelajaran AIR (Auditory Intelectually Repetition).

I. KAJIAN PUSTAKA I.1 Konstruktivisme dalam Pembelajaran I.2 Model Pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) Auditory Intellectually Repetition (AIR) merupakan model pembelajaran yang mir ip dengan model pembelajaran Somatic Auditory Visualization Intellectually (SAVI) dan pembelajaran Visualization Auditory Kinesthetic (VAK), bedanya hanya pada repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis (http://pendidikan.infogue.com/modelpembelajaran inovatif). 1. Auditory (belajar membaca dan mendengar) Meier (2003:95) menyatakan bahwa: Pikiran auditory kita lebih kuat dari pada yang kita sadari. Telinga kita terus-menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa kita sadari. Ketika kita membuat suara sendiri

dengan berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif. Belajar auditori merupakan cara belajar standar bagi masyarakat awal sejarah. Hal ini sejalan dengan filosofi bangsa Yunanikuno yaitu Jika kita mau belajar lebih banyak tentang apa saja, bicarakanlah tanpa henti. Wenger (dalam Rose dan Nicholl, 2003:143) menyatakan bahwa: Kunci belajar terletak pada artikulasi terinci. Tindakan mendeskripsikan sesuatu yang baru bagi kita akan mempertajam persepsi dan memori kita tentangnya. Lebih terinci jika kita menguaknya, lebih banyak asosiasi yang kita bentuk dan lebih mudah untuk diingat. Ketika kita membaca sesuatu yang baru, kita harus menutup mata dan kemudian mendeskripsikan dan mengucapkan apa yang sudah dibaca tadi. Dalam merancang pelajaran yang menarik bagi saluran auditori yang kuat dalam diri pembelajar, dapat dilakukan dengan membentuk pembelajaran kelompok dan diskusi sehingga siswa dapat saling menukar informasi yang didapatnya atau mengajak mereka membicarakan tentang apa yang dipelajari, diantaranya menterjemahkan pengalaman mereka dengan suara, mengajak mereka berbicara saat memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, membuat rencana kerja, menguasai keterampilan, membuat tinjauan pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri mereka sendiri (dalam Meier,2003:97). Menurut De porter (dalam Fauzan, 2008:6):gaya belajar auditorial adalah gaya belajar yang mengakses segala jenis bunyi dan kata baik yang diciptakan maupun diingat. Silbermen (dalam Fauzan, 2008:6) menambahkan bahwa: peserta didik auitorial biasanya senang memperhatikan apa yang dikerjakan guru dan membuat catatan. Mereka mengandalkan kemampuan untuk mendengar dan mengingat. Selama pembelajaran, mereka mungkin banyak bicara dan mudah teralihkan perhatiannya oleh suara atau kebisingan. Siswa yang memilki gaya belajar auditori akan lebih mudah belajar dengan cara berdiskusi dengan orang lain dengan suatu topik. Hemacki (dalam fauzan, 2008:6) mengemukakan bahwa: ada beberapa hal yang perlu dilakukan guru untuk mengembangkan potensi siswa yang bergaya belajar auditori, diantaranya:

- melaksanakan diskusi kelas atau debat. - meminta siswa untuk presentasi. - Meminta siswa untuk membaca buku teks dengan keras. - Meminta siswa untuk mendiskusikan ide mereka secara verbal. - Melaksanakan belajar kelompok. 2. Intellectually (belajar dengan memecahkan masalah dan merenung) Meirer (2003:99) menyatakan bahwa: Intelectual bukanlah pendekatan belajar yang tanpa emosi, tidak berhubungan, rasionalistis, akademis, terkotak kotak. Kata intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana dan nilai dari pengalaman tersebut. Intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru. Hal ini menghubungkan dengan pengalaman mental, fisik, emosional, dan intuitif tubuh untuk membuat makna baru bagi dir inya sendiri. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman menjadi kearifan. Meirer (2003:100) juga menyatakan bahwa: Aspek Intelektual dalam belajar akan tertatih jika guru mengajak pembelajar terlibat dalam aktivitas seperti: - memecahkan masalah - menganalisis pengalaman - mengerjakan perencanaan strategis - melahirkan gagasan kreatif - mencari dan menyaring informasi - merumuskan pertanyaan - menciptakan model mental - menerapkan gagasan baru pada pekerjaan - menciptakan makna pribadi - meramalkan implikasi suatu gagasan. 3. Repetition (pengulangan)

Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis (http://pendidikan.infogue.com/model pembelajaran inovatif). Bila guru menjelaskan suatu unit pelajaran, itu perlu diulang-ulang. Karena ingatan siswa tidak selalu tetap dan mudah lupa, maka perlu dibantu dengan mengulangi pelajaran yang sedang dijelaskan. Pelajaran yang diulang akan memberikan tanggapan yang jelas, dan tidak mudah dilupakan, sehingga dapat digunakan oleh siswa untuk memecahkan masalah. Ulangan dapat diberikan secara teratur, pada waktu-waktu tertentu, atau setelah tiap unit diberikan, maupun secara insidentil jika dianggap perlu (dalam slameto 2003:37). I.3 Jenis jenis Kegiatan dalam Auditory Intellectually Repetition (AIR) Menurut Herdian, (dalam (http://pendidikan.infogue.com/model pembelajaran inovatif). Ada beberapa jenis kegiatan yang dilakukan dalam Auditory Intellectually Repetion (AIR) pada matematika, yaitu : 1. Membentuk pembelajaran kelompok dan diskusi. Pada kegiatan ini siswa dapat saling menukar informasi yang didapatnya dan siswa dapat mengeluarkan ide mereka secara verbal atau guru mengajak siswa membicarakan tentang apa yang dipelajari, diantaranya menterjemahkan pengalaman mereka dengan suara, mengajak mereka berbicara saat memecahkan masalah, membuat model, mengumpulkan informasi, dan sebagainya sehingga mereka akan melahirkan gagasan yang kreatif. 2. Memecahkan masalah Pada kegiatan ini ada beberapa hal yang dilakukan siswa dalam mengerjakan perencanaan strategis untuk menyelesaikan soal, yaitu: - Mencari dan menyaring informasi - Merumuskan pertanyaan - Membuat model - Menyelesaikan soal dengan menerapkan seluruh gagasan pada pekerjaan. 3.Melakukan Presentasi.

Pada kegiatan ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil pekerjaan yang telah mereka diskusikan tadi. Siswa diharapkan dapat memikirkan bagaimana cara mereka untuk menerapkan informasi dalam presentasi tersebut sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Kemudian siswa yang lain menanggapi hasil diskusi kelompok lain sehingga terjadi diskusi antar seluruh siswa dan guru akan membantu jika siswa mengalami kesulitan. 4. Melakukan Repetisi Pada kegiatan ini guru melakukan repetisi kepada seluruh siswa tetapi bukan secara berkelompok melainkan secara individu. Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis. Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun yang menjadi kelebihan dari model pembelajaran AIR adalah sebagai ber ikut: a. Melatih pendengaran dan keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapat (Auditory). b. Melatih siswa untuk memecahkan masalah secara kreatif (Intellectually). c. Melatih siswa untuk mengingat kembali tentang materi yang telah dipelajari (Repetition). d. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Sedangkan yang menjadi kelemahan dari model pembelajaran AIR adalah dalam model pembelajaran AIR terdapat tiga aspek yang harus diintegrasikan yakni: Auditory, Intellectually, Repetition sehingga secara sekilas pembelajaran ini membutuhkan waktu yang lama. Tetapi, hal ini dapat diminimalisir dengan cara pembentukan kelompok pada aspek Auditory dan Intellectually. Langkahlangkah Pembelajaran: 1. Membentuk pembelajaran kelompok dan diskusi Pada kegiatan ini siswa dapat saling menukar informasi yang didapatnya dan siswa dapat mengeluarkan ide mereka secara verbal dalam mengerjakan soal yang diberikan atau guru mengajak mereka berbicara sambil memecahkan masalah. 2. Memecahkan masalah

Pada kegiatan ini ada beberapa hal yang dilakukan siswa dalam mengerjakan perencanaan strategis untuk menyelesaiakan soal, yaitu: - Mencari dan menyaring informasi Pada tahap ini siswa harus mencari informasi dalam menyelesaikan suatu permasalahan. - Merumuskan pertanyaan Pada tahap ini siswa harus mampu memahami inti dari permasalahan, yaitu dapat mengetahui dan menyederhanakan bentuk pertidaksamaan. - Membuat model Pada tahap ini siswa harus dapat membuat model dari soal melalui dari apa yang diketahui ditanya pada soal tersebut 3. Melakukan presentasi Pada kegiatan ini siswa diminta untuk mempresentasikan hasil pekerjaan yang telah mereka diskusikan tadi. Siswa diharapkan dapat menerapkan informasi yang telah mereka peroleh pada pekerjaan mereka dalam presentasi berikut sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam berbicara dan memecahkan masalah yaitu dalam memberikan penjelasan atas langkah langkah dalam menyelesaikan soal tersebut diatas. 4. Melakukan Repetisi Pada kegiatan ini guru melakukan repetisi kepada seluruh siswa tetapi bukan secara berkelompok melainkan secara individu. Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis. Repetisi ini dilakukan agar siswa memahami materi pertidaksamaan dan agar siswa tidak mudah melupakan konsep konsep serta langkah langkah dalam penyelesaian soal.

I.4 Pengertian model pembelajaran ekspositori Kata ekspositori berarti menerangkan secara jelas dan terperinci. Dalam konteks pengajaran, ekspositori merupakan penyampaian maklumat isi materi pembelajaran secara langsung kepada siswa dalam kelas. Pembelajaran

ekspositori adalah pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa sehingga dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Menurut Killen (dalam Sanjaya, 2006) model pembelajaran ekspositori ini sama dengan model pembelajaran langsung (direct instruction) karena materi pembelajaran disampaikan secara langsung oleh guru. Model pembelajaran ini merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher centered). Pembelajaran ekspositori berbeda dengan ceramah. Perbedaan pembelajaran ekspositori dengan ceramah adalah dominasi guru yang dikurangai.

I.5 Karakteristik model pembelajaran ekspositori Beberapa karakteristik model ekspositori, diantaranya: a. model ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan model ini, oleh karena itu sering mengidentikanya dengan ceramah; b. materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehinga tidak menuntut siswa untuk bertutur ulang; c. tujuan utama pembelajaran dalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang sudah diuraikan. Model pembelajaran Ekspositori menganut paham behavioristik yang menekankan bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan keterkaitan antara

stimulus dengan respon, sehingga dalam kegiatan pembelajaran peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor yang sangat menentukan. Pembelajaran ekspositori guru hanya memberikan informasi pada waktu-waktu tertentu yang diperlukan siswa. Siswa tidak dituntut untuk menemukan materi itu. Kedua model ini menjadikan guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Dominasi guru dalam kegiatan belajar-mengajar model ceramah lebih terpusat pada guru dari pada model ekspositori. Pada model ekspositori siswa lebih aktif dari pada model ceramah. Siswa mengerjakan latihan soal sendiri, mungkin juga saling bertanya dan mengerjakan bersama dengan siswa lain, atau disuruh membuatnya dipapan tulis. Guru dapat memeriksa pekerjaan siswa secara individual, menerangkan lagi kepada siswa apabila dirasakan banyak siswa yang belum paham mengenai materi. Kegiatan siswa tidak hanya mendengar dan mencatat, tetapi siswa juga menyelesaikan latihan soal dan bertanya bila belum mengerti. I.6 Langkah-langkah model pembelajaran ekspositori Adapun langkah-langkah pembelajaran ekspositori, yaitu sebagai berikut. 1)Persiapan Langkah persiapan berkaitan dengan persiapan siswa untuk menerima pelajaran. Persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan di antaranya adalah memberikan motivasi dan memulai pelajaran dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai 2)Penyajian Langkah penyajian adalah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan

yang telah dilakukan. Yang harus dipikirkan oleh setiap guru dalam penyajian adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh karena, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini, yaitu penggunaan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa, intonasi suara yang tepat, dan menjaga kontak mata dengan siswa. 3)Korelasi Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa. 4) Menyimpulkan Langkah menyimpulkan merupakan langkah untuk memahami inti dari materi pelajaran yang telah disajikan. Langkah ini sangat penting karena siswa akan dapat mengambil inti sari dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.

5) Penerapan Langkah penerepan adalah unjuk kemampuan siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Penerapan sangat penting karena melalui langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini adalah dengan membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan dan memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan. Guru juga bisa memberikan tugas berupa proyek atau produk sesuai dengan materi I.7 Prestasi Belajar Matematika Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar dalam jangka waktu tertentu. Menurut Nasution (2001) prestasi belajar adalah penguasaan seseorang terhadap pengetahuan atau keterampilan tertentu dalam suatu mata pelajaran, yang lasim

diperoleh dari nilai tes atau angka yang diberikan guru. Selanjutnya Bloom (dalam Mulana, 2004) mengungkapkan prestasi belajar merupakan perubahan tingkah laku yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Namun dalam penelitian ini hanya melibatkan prestasi belajar dalam ranah kognitif saja. Menurut Nurkancana dan Sunartana (dalam Ekantini, 2003) mengemukakan bahwa Prestasi belajar juga bisa disebut kecakapan aktual (actual ability) yang diperoleh seseorang setelah belajar, suatu kecakapan potensial ( potensial ability) yaitu suatu kemampuan dasar yang berupa disposisi yang dimiliki oleh individu untuk mencapai prestasi. Kecakapan aktual dan kecakapan potensial ini dapat dimasukkan ke dalam suatu istilah yang lebih umum yaitu kemampuan (ability). Russeffendi, 1988 (dalam Adi Wiguna, 2005) mengatakan ada banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu bagaimana guru menyampaikan materi pelajaran, pengetahuan yang telah dimiliki siswa, dan yang tidak sedikit kontribusinya adalah bagaimana kemampuan siswa atau daya nalar siswa. Lebih lanjut Sofyatiningrum mengungkapkan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor sekolah, yang mencakup metode mengajar (Adi Wiguna, 2005). Selain faktor eksternal, Nasution (2001) menyatakan bahwa faktor internal juga harus diperhatikan guru dalam mengajar antara lain pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelum mengikuti pelajaran berikutnya, dan juga kondisi pribadi siswa terutama kecerdasan dan sikapnya terhadap pelajaran yang dihadapi. Prestasi belajar akan tercapai jika faktor-faktor tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai oleh siswa setelah siswa yang bersangkutan mengalami suatu proses belajar di sekolah dalam jangka waktu tertentu. Prestasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kecakapan nyata yang diperoleh siswa setelah belajar, bukan kecakapan potensial, sebab prestasi belajar ini dapat dilihat secara nyata yang berupa skor atau nilai setelah mengerjakan suatu tes. Tes yang digunakan untuk menentukan prestasi sering diistilahkan dengan tes prestasi belajar. Tes prestasi belajar ini merupakan suatu

alat untuk mengukaur aspek-aspek tertentu dari siwa misalnya: pengetahuan, pemahaman atau aplikasi suatu konsep. Konstruktivisme didefinisikan generatif, yang yaitu tindakan modern. mencipta sebagai pembelajaran yang sesuatu makna dari apa bersifat yang berfikir

dipelajari. Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup berbudaya Konstruktivisme merupakan landasan pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak seketika. Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan bahwa anakanak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi (Slavin dalam Yusuf, 2003). Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Sedangkan menurut Martin. Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagai landasan paradigma pembelajaran, konstruktivisme menekankan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri. Dalam hal tahap-tahap pembelajaran, pendekatan konstruktivisme lebih menekankan pada pembelajaran top-down processing, yaitu siswa belajar dimulai dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan (dengan bantuan guru), kemudian menghasilkan atau menemukan keterampilanketerampilan dasar yang dibutuhkan (Slavin.1997). Misalnya, ketika siswa diminta untuk menulis kalimat-kalimat, kemudian dia akan belajar untuk

membaca, belajar tentang tata bahasa kalimat-kalimat tersebut, dan kemudian bagaimana menulis titik dan komanya. Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (Hudojo, 1998:5-6). Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar. Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa (Suherman dkk, 2001:76). Oleh karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya (Setyosari, 1997: 53). Berdasarkan konstruktivisme, akibatnya orientasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa (student centered instruction). Terdapat konstruktivisme beberapa prinsip konstruktivisme. Prinsip-prinsip teori itu sendiri adalah dasar dalam implementasi

konstuktivisme dan merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan dan dipahami oleh guru sebagai fasilitator dalam belajar. Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut. 1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. 2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar. 3. Murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.

4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar. 5. Struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pertanyaan. 6. Mencari dan menilai pendapat siswa. Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.

I.8 Krangka Berpikir

1. Auditory: Indra pendengaran berupa mendengarkan, menyimak. MODEL PEMBELAJARAN Auditory Intellectually Repetition (AIR) 2. Intelegensi : pemberian masalah 3. Motivasi : melalui diskusi kelompok dan presentasi 4. Repetisi : pengulangan dan pemantapan dengan memberikan latihan soal dan kuis

PRESTASI BELAJAR

Panca Indra, Intelegensi, Motivasi

Auditory Intellectually Repetition (AIR) adalah pembelajaran dimana siswa dapat saling menukar informasi yang didapatnya atau mengajak mereka membicarakan tentang materi yang dipelajari sehingga mereka terlibat dalam aktifitas belajar seperti memecahkan masalah, melahirkan gagasan dan sebagainya. Kemudian dilakukan pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau kuis. Dalam Auditory, siswa dapat mempraktekan suatu keterampilan dalam mengerjakan soal- soal sambil mengucapkan cara terperinci setiap langkah apa yang sedang mereka kerjakan. Sedangkan Intellectually, siswa diajak untuk terlibat dalam aktivitas seperti memecahkan masalah, mengerjakan perencanaan yang strategis untuk memecahkan persoalan, melahirkan gagasan yang kreatif dalam memecahkan permasalahan dan sebagainya. Dengan kata lain, siswa dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa dalam memecahkan masalah. Untuk Repetition, siswa diberikan pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, dan pemantapan dari materi yang diajarkan. Salah satunya dengan melatih siswa melalui pemberian tugas atau kuis dengan rutin. Sehingga siswa akan semakin memahami materi yang diajarkan sekaligus melihat sejauh mana kemampuannya dalam memahami materi yang diajarkan. Prestasi belajar adalah hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan kegiatan belajar yang diberikan berdasarkan atas pengukuran tertentu (Ilyas, 2008). Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Pada faktor internal terdapat kondisi fisiologi dan psikologis. Dalam kondisi psikologis dipengaruhi oleh panca indra, intelegensi dan motivasi. Model pembelajaran AIR menekankan pada indra pendengaran yaitu mendengarkan, menyimak, dan berbicara melalui presentasi. Selain itu model pembelajaran AIR menekankan pada intelegensi dengan memberikan permasalahan yang menantang dan siswa berdiskusi untuk memecahkan permasalahan tersebut, sehingga siswa

termotivasi dalam melakukan diskusi kelompok dan mempresentasikan hasilnya. Panca Indra, intelegnesi dan motivasi adalah beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ditinjau dari kondisi psikologis. Sehingga model pembelajaran AIR mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa, karena model pembelajaran ini menekankan pada beberapa faktor yang dapat meningkatkan prestasi belajar. Disamping itu pada model pembelajaran ini terdapat repetisi yaitu pengulangan dan pemantapan, sehingga siswa semakin mantap dalam menyelesaikan suatu permasalahan maupun dalam menjawab soal. Dengan demikian, prestasi belajar siswa dapat semakin meningkat. I.9 Hipotesis Penelitian Berdasarkan kaitan antara masalah yang dirumuskan dengan teori yang dikemukakan maka dapat disusun suatu hipotesis sebagai berikut: Terdapat pengaruh model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition (AIR) terhadap prestasi belajar siswa.

J. METODE PENELITIAN J.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, dalam kategori penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment), karena tidak seluruh variabelnya diatur dan dikontrol secara ketat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabelvariabel bebas terhadap variabel terikat (Arikunto, 2005). J.2 Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP negeri 3 Singaraja yang terdistribusi ke dalam kelas-kelas homogen secara akademik pada tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah (277) orang siswa yang terdistribusi ke dalam 9 kelas yaitu VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, VIII E, VIII F, VIII G, VIII H dan VIII I . Pembagian kelas ini tidak didasarkan peringkat, sehingga siswa

yang memiliki prestasi tinggi tersebar dalam setiap kelas. Distribusi jumlah siswa pada masing-masing kelas dapat dilihat pada Tabel J.1 Tabel J.1 Komposisi Anggota Populasi No Kelas Populasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 VIII A VIII B VIII C VIII D VIII E VIII F VIII G VIII H VIII I Total populasi Jumlah Siswa 32 32 32 31 30 30 30 30 30 277

(Sumber: data siswa SMP N 3 Singaraja tahun 2013/2014) J.3 Sampel Penelitian Sampel penelitian ini adalah siswa yang berada dalam 2 kelas yang terpilih sebagai sampel penelitian. Satu kelas sebagai kelas control yaitu kelas VIII E dan satu kelas sebagai sampel penelitian yaitu VIII A. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling. Teknik ini digunakan sebagai cara pengambilan sampel dari individu-individu pada populasi telah terdistribusi ke dalam kelas-kelas, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengacakan terhadap individuindividu dalam populasi. J.4 Variabel Penelitian

Penelitian ini menyelidiki pengaruh dua variabel independent atau variabel bebas terhadap varibel dependent atau variabel terikat. Variabel independent adalah variabel yang diperkirakan sebagai variabel yang mempengaruhi variabel terikat (Hadeli, 2005:33). Didalam penelitian ini, variabel bebas yang diteliti terdiri atas variabel perlakuan dan variabel metrik. Variabel perlakuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah model pembelajaran. Variabel model pembelajaran terdiri dari dua dimensi, yaitu (1) model pembelajaran auditory intelectually repetition dan (2) model pembelajaran ekspositori. Model Pembelajaran auditory intelectually repetition dikenakan pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran ekspositori dikenakan pada kelompok kontrol. Variabel metrik berfungsi sebagai kovariat atau disebut sebagai variabel pengendali, yaitu skor pengetahuan awal siswa. Variabel terikat adalah variael akibat yang dipradugakan bervariasi mengikuti perubahan atau variasi variabel independent. Variabel terikat yang diteliti dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika. Berikut ini disajikan hubungan antara variabel-variabel tersebut.

Model Pembelajaran: Auditory Intelectually Repetition Ekspository Prestasi belajar Matematika Pengetahuan Awal

Selain kedua variabel tersebut, terdapat juga variabel-variabel ekstra yang perlu dikontrol, antara lain: (1) kemampuan intelektual, sikap, dan kesanggupan dalam melaksanakan pembelajaran, (2) waktu pembelajaran, (3) fasilitas pembelajaran yang disiapkan. Variabel-variabel tersebut sedapat mungkin dikontrol, antara lain dengan melaksanakan penelitian yang dilakukan oleh satu pengajar (guru), alokasi pembelajaran yang sama, dan penyediaan perangkat pembelajaran berupa RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan LKS

(Lembar Kerja Siswa) yang memfasilitasi masing-masing kelompok dalam pembelajaran. J.5 Rancangan Penelitian Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran audiory intelectually terhadap prestasi belajar matematika siswa. Penelitian ini dikategorikan eksperimen semu (quasi experiment), penempatan subjek ke dalam kelompok yang dibandingkan tidak dilakukan secara acak. Individu subjek sudah ada dalam kelompok (kelas) sebelum diadakannya penelitian. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Post Test Only Control Group Design. Desain penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel Desain Penelitian Kelompok E K Perlakuan X1 X2 Post-Test Y Y (Sumber : Suharsimi Arikunto,2005)

Keterangan: E : Kelompok eksperimen K : Kelompok kontrol X1 : Perlakuan berupa penerapan model pembelajaran audiory intelectually X2 : Perlakuan berupa penerapan model pembelajaran dengan pendekatan konvensional

Y : Post-test Terdapat dua kelompok yang menjadi sampel penelitian yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan berupa model pembelajaran audiory intelectually dan kelompok kontrol diberi perlakuan dengan menerapkan pembelajaran secara konvensional. Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang biasa dilakukan guru di sekolah tempat penelitian yaitu pembelajaran kooperatif. Setelah itu kedua kelompok diberikan tes akhir. Kelas dipilih sebagaimana adanya dan tidak dilakukan pengacakan individu. Desain ini biasa dilakukan pada kelompok yang anggotanya terkumpul secara alami, dalam hal ini siswa mengumpul ke dalam kelas. Dengan desain seperti ini, memungkinkan untuk tidak melakukan pengacakan individu dalam penempatan kelompok. Keunggulan desain penelitian ini adalah penggunaan kelompok (kelas) yang utuh sehingga subyek penelitian tidak begitu menyadari akan adanya eksperimen yang dilakukan. J.6 Prosedur Penelitian (versi kusuma wardani) Pada penelitian ini,langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut. a. Menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan langkah-langkah sebagai berikut. 1. Melakukan proses random sampling terhadap dua kelas

menggunakan nilai ulangan umum matematika Kelas VIII SMP Negeri 3 Singaraja semester ganjil tahun ajaran 2013/2014. 2. Melakukan pengundian untuk memperoleh dua kelas sampel. 3. Sampel kelas yang diperoleh diundi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok control.

4. Melakukan proses matching berdasarkan skor ulangan umum untuk mendapatkan sampel yang lebih setara. b. Menentukan materi yang akan dibahas selama penelitian. c. Menyiapkan bahan pembelajaran sebagai berikut. 1. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk berupa model pembelajaran yang diterapkan di sekolah yaitu model Ekspositori untuk kelas kontrol dan menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Auditori Intelectually Repetition (AIR) untuk kelas eksperimen. 2. Menyiapkan Lembar Kerja Siswa (LKS) d. Menyiapkan instrumen penelitian yaitu berupa tes objektif untuk mengukur prestasi belajar matematika siswa. e. Mengkonsultasikan instrumen penelitian dengan guru matematika dan dosen pembimbing dan selanjutnya dilakukan uji coba instrumen. f. Melakukan uji coba instrumen untuk menentukan validitas dan realibitas. g. Mempersiapkan rencana pembelajaran yang berdasarkan model pembelajaran Auditori Intelectually Repetition (AIR) untuk kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional untuk kelompok kontrol. h. Memberikan tes akhir kepada kedua kelompok secara bersamaan. Tes akhir yang diberikan berupa tes uraian. i. Menganalisis hasil penelitian untuk menguji hipotesis yang diajukan.

Prosedur penelitian ini secara lengkap digambarkan pada bagan dibawah ini. Populasi

Mentukan sampel melalui pengundian, selanjutnya proses matching

Menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol melalui pengundian

Menyusun dan merancang perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP, LKS, intrumen penelitian, serta melakukan uji instrument.

Model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) dalam pembelajaran matematika pada kelompok eksperimen.

Pembelajaran dengan pembelajaran konvensional pada kelompok kontrol.

Tes akhir

Analisis data

Bagan Prosedur Penelitian

Keterangan

Kegiatan yang dilakukan selanjutnya

Adapun kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran Auditory Intelectually Repetition (AIR) yang akan diterapkan pada kelas eksperimen dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel Rancangan Kegiatan Pembelajaran untuk Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol Aktivitas Guru Membimbing siswa untuk mencermati tujuan pembelajaran serta tahapan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Memotivasi siswa tentang pentingnya mempelajari materi. Aktivitas Siswa Mencermati tujuan serta tahapan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Tahapan Pendahuluan Kelompok Eksperimen Aktivitas Guru Auditory Membimbing siswa untuk mencermati tujuan pembelajaran serta tahapan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Memotivasi siswa tentang pentingnya Mencermati tujuan serta tahapan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Aktivitas Siswa

Mempersiapkan diri untuk

Kelompok Kontrol Aktivitas Guru Memotivasi siswa untuk mengingat kembali materi sebelumnya. Aktivitas Siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Mengingat kembali materi sebelumnya.

Tahapan

Kelompok Eksperimen Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

mempelajari Mempersiapkan materi. diri untuk Memotivasi berperan aktif siswa untuk dalam mengingat pembelajaran. kembali materi Mengingat sebelumnya. kembali materi Menjelaskan sebelumnya. model pembelajaran AIR pada siswa agar mengerti maksud dan Mencermati tujuan model penjelasan guru pembelajaran tentang model ini pembelajaran yang akan diterapkan

Menjelaskan Mencermati materi pelajaran penjelasan guru, kepada seluruh mencatat siswa pokok-pokok materi yang dijelaskan Mencermati contoh soal yang diberikan Memberikan contoh soal dan latihan kepada siswa Mengerjakan soal-soal yang Memberikan diberikan, latihan soal mengerjakan kepada siswa contoh soal dan meminta salah satu siswa tersebut di depan kelas mengerjakan di depan kelas Bersama-sama mendiskusikan Mengecek dan latihan soal mendiskusikan yang diberikan hasil pekerjaan

Auditory Menjelaskan garis besar materi yang akan disampaikan Memberi kesempatan siswa untuk membentuk kelompok diskusi. Memberikan Kegiatan kesempatan siswa Inti mencermati langkahlangkah dalam mengerjakan LKS. Mendengarkan dan mencermati penjelasan guru

Membentuk kelompok diskusi.

Mencermati langkahlangkah dalam mengerjakan

Kelompok Kontrol Aktivitas Guru siswa tersebut bersama-sama Aktivitas Siswa

Tahapan

Kelompok Eksperimen Aktivitas Guru Aktivitas Siswa LKS. Intelectually Memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari materi lebih lanjut dan memecahkan masalah di LKS Mendiskusikan secara masalah berkelompok matematika Mendorong dan yang ada pada memfasilitasi LKS. siswa dalam Membuat mendiskusikan ringkasan dan masalah pada menemukan LKS. ide-ide pokok materi di dalam kelas Menghubungka n ide-ide pokok dengan kehidupan nyata Memberikan atau pelajaran penguatan, dan yang pernah klarifikasi jika dipelajari terdapat sebelumnya kekliruan dalam Mempresentasik presentasi siswa an tentang materi yang telah mereka pelajari dan siswa yang lain menanggapinya

Mengarahkan Menyampaikan siswa dalam rangkuman menyampaikan materi yang rangkuman telah dipelajari. materi yang telah dipelajari. Memberikan tugas/pekerjaan rumah (PR). Mencatat

Penutup

Auditory dan Intelectually Mengarahkan siswa dalam Menyampaikan menyampaikan rangkuman rangkuman materi yang materi yang telah dipelajari. telah dipelajari.

Kelompok Kontrol Aktivitas Guru Aktivitas Siswa

Tahapan

Kelompok Eksperimen Aktivitas Guru Repetition Memberikan tugas/pekerjaan rumah (PR). Mencatat tugas/pekerjaan rumah (PR) Mengakhiri dan yang diberikan. menutup pembelajaran Bersama-sama mengakhiri pelajaran Auditory Aktivitas Siswa

tugas/pekerjaan rumah (PR) Mengakhiri dan yang diberikan. Bersama-sama menutup mengakhiri pembelajaran pelajaran

J.7 Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini, jenis data yang diperlukan yaitui data tentang prestasi belajar matematika siswa. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data untuk mengukur prestasi belajar matematika siswa berupa tes prestasi belajar matematika. Tes prestasi belajar matematika yang akan dipergunakan adalah tes objektif. Hal ini dilakukan untuk mengurangi unsur subjektivitas penulis dan menghemat waktu, biaya dan tenaga yang digunakan. Dalam penyusunan tes prestasi belajar matematika, terlebih dahulu dibuat kisi-kisi soal yang berfungsi sebagai peta tentang penyebaran butir soal, sehingga bahan, aspek intelektual, taraf kesukaran, jumlah soal dan persentasenya dapat tersebar secara merata. Tes prestasi belajar matematika dibuat berdasarkan jenjang taksonomi Bloom yang meliputi: ingatan (C1), pemahaman (C2), dan aplikasi (C3). Kisi-kisi soal dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel. Kisi-kisi Soal Tes Prestasi Belajar Matematika

Taraf Kesukaran Mudah Sedang Sukar Jumlah Persentase

Banyak Soal per Dimensi C1 C2 C3 4 2 6 30% 4 4 2 10 50% 2 2 4 20%

Jumlah 6 10 2 20 100%

Tes prestasi belajar matematika yang telah disusun kemudian diujicobakan untuk mendapatkan gambaran secara empirik tentang kelayakan tes tersebut dipergunakan sebagai instrumen penelitian. Hasil uji coba dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas tes.

J.8 Uji Coba Instrumen Tes pemahaman konsep matematika yang telah disusun diujicobakan untuk mendapatkan gambaran secara empirik tentang kelayakan tes tersebut sebelum dipergunakan sebagai instrumen penelitian. Hasil uji coba dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas tes. Hal ini dilakukan karena instrumen penelitian akan dikatakan baik jika sudah memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel (Arikunto, 2002). Sebelum tes diujicobakan, terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dosen Jurusan Pendidikan Matematika dan guru SMP Negeri 3 Singaraja. Untuk tes dianalisis dengan menggunakan uji validitas tes dan reliabilitas tes setelah dilakukan uji coba terpakai pada siswa Kelas VIII B SMP Negeri 3

Singaraja. 1. Validitas Tes

Validitas tes merupakan tingkat suatu tes mampu mengukur apa yang hendak di ukur (Arikunto, 2002). Untuk mengukur validitas tes digunakan rumus korelasi product-moment sebagai berikut.
rxy = ( N X 2 (X ) 2 )( N Y 2 ( Y )2 ) N XY (X )( Y)

dengan : X Y N
rxy

= = = =

skor butir tes skor total banyak responden koefisien korelasi dalam validitas adalah dengan

Kriteria

yang

digunakan

membandingkan harga rxy dengan tabel harga r-product moment pada taraf signifikansi 5%. Tes dikatakan valid jika rxy > rtabel pada taraf signifikansi 5%. Kategori nilai rxy untuk menyatakan validitas tes diklasifikasikan sebagai berikut.
0,80 < r11 1,00 0,60 < r11 0,80 0,40 < r11 0,60 0,20 < r11 0,40 0,00 < r11 0,20 r11 0,00

2.

Reliabilitas Tes

validitas sangat tinggi validitas tinggi validitas sedang validitas rendah validitas sangat rendah tidak valid

Reliabilitas tes mengacu pada tingkat keterandalan tes tersebut sebagai instrumen penelitian (Arikunto, 2002). Reliabilitas suatu alat evaluasi dimaksudkan sebagai suatu alat yang memberikan hasil yang relatif sama meskipun dilakukan pada waktu dan tempat yang berbeda. Menurut Erman

Suherman, tes yang reliabilitasnya tinggi disebut tes yang reliabel. Untuk menentukan reliabilitas tes kemampuan penalaran dan komunikasi matematika dipergunakan rumus alpha, yaitu:
2 n i r11 = 1 i2 n 1

Dengan:

Varian tiap butir tes :

i2 =

X 2
(Y ) 2 N

( X ) 2 N

Varian total :

i2 =

(Arikunto, 2002:376)

Keterangan :
r 11 = reliabilitas tes

= banyaknya butir soal


2 i

i2
N Y X

= jumlah varian skor tiap item = varian total = jumlah responden = skor total item = skor tiap item

Untuk menentukan derajat reliabilitas alat evaluasi dapat digunakan kriteria sebagai berikut.
0,80 < r11 1,00 0,60 < r11 0,80 0,40 < r11 0,60 0,20 < r11 0,40 r11 0,20

reliabilitas sangat tinggi (sangat baik) reliabilitas tinggi (baik) reliabilitas sedang (cukup) reliabilitas rendah (kurang) reliabilitas sangat rendah

3. Indeks Kesukaran Untuk mengetahui tingkat/indeks kesukaran dari tiap butir soal, digunakan rumus yaitu : IK =

Keterangan IK = Indeks Kesukaran = Rata-rata skor SMI = SkorMaksimal Ideal Klasifikasi indeks kesukaran (Suherman, 2003) adalah sebagai berikut : IK = 0,00 0,00< IK 0,30 0,30< IK 0,70 0,70< IK 1,00 IK = 1,00 (Soal terlalu sukar) (Soal Sukar) (Soal Sedang) (Soal Mudah) (Soal Terlalu Mudah)

4. Daya Pembeda Daya pembeda berkaitan dengan mampu/tidaknya instrumen yang digunakan membedakan siswa yang berkemampuan tinggi dan rendah. Untuk mengetahui daya pembeda tiap butir soal, digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

Selanjutnya koefisien daya pembeda yang diperoleh diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria sesuai dengan tabel 3 (Suherman, 1990:202) Tabel Klasifikasi Daya Pembeda Nilai DP Interpretasi Sangat Jelek Jelek Cukup Baik Sangat Baik

Untuk menghitung daya pembeda, penulis menggunakan bantuan program computer software Microsoft Office Excel 2007. Dari hasil uji coba diperoleh hasil berikut. Tabel Daya Pembeda Tiap Butir Soal No.Soal 1 2 3 DP 0,236 0,288 0,479 Interpretasi Cukup Cukup Baik

Tabel 3.3 Rekapitulasi Hasil Tes Uji Coba Soal

No. Soal 1 2 3

Validitas butir soal, daya pembeda, dan Indeks Val 0,516 0,750 0,659 Kriteria Sedang Tinggi Sedang Kesukaran DP Kriteria 0,236 0,288 0,479 Cukup Cukup Baik Keterangan IK 0,793 0,834 0,223 Kriteria Mudah Mudah Sukar Soal digunakan Soal digunakan Soal digunakan

Berdasarkan uraian dan rekapitulasi hasil tes uji coba soal diatas. Dapat disimpulkan bahwa instrument soal yang akan digunakan dalam penelitian telah memenuhi kriteria sebuah instrument yang baik. Sehingga instrument soal dapat digunakan pada penelitian untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII B SMP N 3 Singaraja. J.10 Teknik Analisis Data Teknik Analisis Data Untuk menguji apakah prestasi belajar matematika siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan metode AIR lebih tinggi daripada prestasi belajar matematika siswa yang dibelajarkan dengan metode ekspositori, maka data yang diperoleh dianalisa dengan langkah-langkah sebagai berikut. Uji Prasyarat Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis sebagai berikut. a. Uji Normalitas Sebelum dilaksanakan pengujian untuk memperoleh simpulan, data yang diperoleh harus diuji normalitasnya. Untuk menguji normalitas digunakan uji Chi-Square ( 2 ) pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan
dk = ( k 3)

2 hit = i =1

Rumus yang dipergunakan adalah k

(Oi Ei ) Ei

. Dengan: Oi = frekuensi observasi Ei = frekuensi harapan k = banyak kelas Kriteria pengujian, sampel ditarik dari populasi yang berdistribusi normal
2 2 jika hit < (1)( k 3) , dengan = 5% (Sudjana, 1996).

b. Uji Homogenitas Selain diperlukan uji normalitas, juga diperlukan uji homogenitas varians untuk kedua Fhit =kelompok dengan menggunakan uji F, yaitu:

VariansTerbesar VariansTerkecil

Dengan kriteria pengujian adalah kedua populasi memiliki varian yang berbeda jika Fhit F()( v1,v 2 ) . Dengan

: taraf signifikansi, yaitu sebesar 5%


v1 : derajat kebebasan pembilang, yaitu n1-1 v2 : derajat kebebasan penyebut, yaitu n2-1 (Sudjana, 1996). Uji Hipotesis Sesuai dengan hipotesis penelitian yang telah diajukan pada kajian pustaka, dapat dirumuskan hipotesis nol (H0) yang berbunyi prestasi belajar matematika siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan metode AIR (Auditory Intelectually Repetition) tidak lebih tinggi daripada prestasi belajar matematika

siswa yang dibelajarkan dengan metode ekspositori. Secara statistik, hipotesis tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut. H0 : 1=2, yaitu prestasi belajar matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan metode AIR (Auditory Intelectually Repetition) sama dengan prestasi belajar matematika siswa yang dibelajarkan dengan metode ekspositori, melawan Ha : 1>2, yaitu prestasi belajar matematika siswa yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan metode AIR (Auditory Intelectually Repetition) lebih tinggi daripada prestasi belajar matematika siswa yang dibelajarkan dengan metode ekspositori. Keterangan:

1 = rata-rata skor prestasi belajar matematika siswa yang dibelajarkan


dengan metode AIR (Auditory Intelectually Repetition)
2 = rata-rata skor prestasi belajar matematika siswa yang dibelajarkan

dengan metode ekspositori Jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas varians, diketahui bahwa sampel berdistribusi normal dan variansnya homogen maka untuk menguji hipotesisnya digunakan uji t satu ekor (ekor kanan) dengan taraf signifikansi 5%. Uji t yang digunakan adalah dengan rumus:

t hitung =

X1 X 2 S gab 1 1 + n1 n2

Dengan,

2 2 ( n1 1) s1 + ( n2 1) s 2 gab = ( n1 + n2 2)

s1 =

( X

X1)2

n 1
i

s2 =

( X

X 2 )2

n 1

(Sudjana, 1996).

Keterangan:
X1

= rata-rata skor kelompok eksperimen = rata-rata skor kelompok kontrol = skor post-test = varians gabungan = varians kelompok eksperimen = varians kelompok kontrol = banyak siswa dari kelompok eksperimen = banyak siswa dari kelompok kontrol

X2

Xi Sgab s1 s2 n1 n2

s1

= varians kelompok eksperimen = varians kelompok kontrol.

s2

Kriteria pengujian tolak H0 jika thitung ttabel., dimana ttabel = t(1-)(dk) dengan derajat kebebasan dk = (n1 + n2 2) dan =5%.

s1 maka s2 digunakan uji homogen n1 + n2

t' =

X1 X 2
2

Jika data kedua sampel berdistribusi normal, tetapi variansnya tidak


2

sebagai berikut.

Kriteria pengujian hipotesisnya adalah tolak H0 jika t ' H0 jika sebaliknya, dengan:
w1 =
2 s12 s2 w = , 2 , n1 n2

w1t1 + w2 t 2 dan terima w1 + w2

t1 = t (1 )( n1 1) , t 2 = t (1 )( n2 1) (Sudjana,

1996). Dengan derajat kebebasan masing-masing signifikansi 5%.

( n1 1)

dan

( n2 1) serta

taraf