Anda di halaman 1dari 6

TINJAUAN PUSTAKA Dasar Teori A.

Metabolisme Kreatin Kreatinin kinase adalah suatu enzim yang dilepaskan saat terjadi cedera otot dan memliki tiga fraksi isoenzim: CK-MM, CK-BB, dan CK-MB. CK-BB paling banyak terdapat dalam jaringan otak dan biasanya tidak terdapat dalam serum. CK-MM dijumpai dalam otot skelet dan merupakan CK yang paling banyak terdapat dalam sirkulasi cedera otot (misalnya jatuh, suntikan intramuscular, atau penyakit tertentu seperti distrofia otot) menyebabkan peningktan CK dan CK-MM. CK-MB paling banyak terdapat dalam miokardium; namun juga terdapat dlam jumlah yang sedikit di otot skelet. Peningkatan dan penururnan CK dan CK-MB merupkan penanda cedera otot yang paling spesifik seperti pada infark miokardium. Setelah infark miokardium akut, CK dan CK-MB meningkat dalam waktu 4 hingga 6 jam dengan kadar puncak dalam 8 hingga 24 jam, dan kembali menurun hingga normal setelah 2 hingga 3 hari. CK-MB juga terdapat pada otot skelet sehingga penegakan diagnosis cedera miokardium didasarkan pada pola peningkatan dan penurunan (Price dan Wilson, 2005). Kreatinin adalah hasil akhir dari pembentukan kreatinin saat energi dilepaskan dari fosfokreatin, penyimpanan energi selama metabolisme otot rangka. Rata-rata pembentukkan kreatinin berbanding langsung dengan total massa otot. Kreatinin dibersihkan dari aliran darah oleh ginjal dan diekskresi di urin sebanding dengan pembentukannya. Ekskresi kreatinin dikarenakan juga oleh refleks total massa otot. Pada atropi otot rangka karena malnutrisi dapat menurunkan ekskresi kreatinin. Pengukuran kreatinin urin dengan pengumpulan urin 24 jam. Standar ekskresi kreatinin dipengaruhi oleh jenis kelamin dan TB. Standar ekskresi kreatinin ini digunakan dengan pengukuran kreatinin untuk menentukan

Creatinin Height Index (CHI) dalam persen. Contoh: CHI = 70 % artinya massa otot rangka klien kira-kira 70 % diharapkan pada orang dengan ukuran tubuh yang sama (Siregar, 2004). Kreatin fosfat adalah simpanan energi pertama yang digunakan pada awal aktivitas kontraktil. Seperti ATP, kratin fosfat mengandung sebuah gugus fosfat berenergi tinggi, yang dapat diberikan secara langsung ke ADP untuk membentuk ATP. Seperti terjadinya pelepasan energi sewaktu ikatan fosfat terminal di ATP diputuskan, energi juga dibebaskan ketika ikatan fosfat dan kreatin diputuskan. Energi yang dibebaskan dari hidrolisis kreatin fosfat, bersama dengan fosfatnya, dapat diberikan secara langsung ke ADP untuk membentuk ATP. Reaksi ini, yang dikatalisis oleh enzim sel otot kreatin kinase bersifat reversibel; energi dan fosfat dari ATP dapat dipindahkan ke kreatin untuk membentuk kreatin fosfat (Sherwood, 2001). Ketika cadangan energi bertambah pada otot yang beristirahat, peningkatan konsentrasi ATP cenderung menyebabkan pemindahan gugus fosfat berenergi tinggi ke kreatin fosfat, sesuai dengan hukum aksi massa. Dengan demikian, sebagian besar energi di dalam otot tersimpan dalam bentuk kreatin fosfat (Sherwood, 2001). Meskipun jalur metabolisme kreatin tampak sederhana, tetapi sebenarnya pada sebagian besar jaringan mengalami kekurangan enzim yang diperlukan, sehingga mengharuskan pengangkutan antar jaringan melalui darah untuk memungkinkan seluruh kaskade reaksi untuk melanjutkan. Pada mamalia, misalnya, siklus urea lengkap beroperasi aktif hanya dalam hati. Tempat utama biosintesis Arg untuk jaringan tubuh lainnya, di ginjal. Citrulline, disintesis dalam hati atau usus kecil dan diangkut melalui darah, diambil oleh ginjal dan dikonversi menjadi Arg terutama oleh tubulus nefron proksimal. Arg terbentuk di dalam

ginjal lalu dilepaskan ke dalam darah dan juga dikonsumsi oleh jaringan lain atau digunakan di dalam ginjal itu sendiri untuk sintesis guanidinoacetate (Wyss, 2000).

Gambar metabolisme kreatin, diambil dari Wyss, M. dan Kaddurah-Daouk R. 2000. Creatine and Creatinine Metabolism: PubMed.gov. Vol. (30):80.

Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin. Kreatin sebagian besar ditemukan di otot rangka, tempat zat ini terlibat dalam penyimpanan energi sebagai kreatin fosfat. Dalam sintesis ATP dari ADP, kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalasi enzim kreatin kinase. Reaksi ini berlanjut seiring dengan pemakaian energi sehingga dihasilkan kreatin fosfat. Dalam prosesnya, sejumlah kecil kreatin diubah secara ireversibel

menjadi kreatinin, yang dikeluarkan dari sirkulasi oleh ginjal. Jumlah kreatinin yang dihasilkan setara dengan massa otot rangka yang dimilikinya (Sacher, 2004).

B. Sintesis Kreatin Kreatinin dibentuk di otot dari kreatin fosfat melalui dehidrasi nonenzimatik irreversible dan pengeluaran fosfat (Murray, 2009). Sintesis kreatin dalam tubuh diawali dengan pembentukan guanidinoasetat di tubulus proksimal ginjal dari arginin dan glisin, dengan bantuan enzim L-arginin:glisin amidinotransferase (AGAT). Selanjutnya di hati, guanidinoasetat akan menjalani proses berikutnya menjadi kreatin dengan penambahan satu gugus metil dari S-adenosil-L-metionin yang dikatalisis oleh enzim S-adenosil-L-metionin:N-guanidinoasetat metil transferase (GAMT). Kreatin yang telah terbentuk kemudian masuk ke sirkulasi dan jaringan yang memerlukannya dengan bantuan creatine transporter (pengangkut kreatin). Di jaringan, sebagian kreatin akan mengalami degradasi menjadi kreatinin dan kemudian diekskresikan melalui ginjal. Sebagai perkiraan, orang dengan berat badan 70 kg akan memiliki 120 gram kreatin (bentuk bebas dan bentuk fosfat), dan 2 gram/hari dari kreatin tersebut diubah menjadi kreatinin. Degradasi sebanyak 2 gram/hari ini harus digantikan melalui makanan sehari-hari. Sebagian besar (90%) kreatin dalam tubuh disimpan di otot, 40% di antaranya dalam bentuk kreatin bebas dan 60% dalam bentuk kreatin fosfat. Apabila otot berkontraksi dimana diperlukan energi yang siap pakai dalam waktu cepat, kreatin fosfat akan mengalami defosforilasi menjadi kreatin dan fosfat berenergi tinggi untuk menghasilkan ATP.

Sebagian kreatin akan mengalami refosforilasi kembali menjadi kreatin fosfat dan sebagian lagi akan mengalami degradasi menjadi kreatinin (Marks, 2000).

DAFTAR PUSTAKA

Murray, Robert K., Daryl K. Granner, dan Victor W. Rodwell. 2009. Biokimia Harper Edisi 27. Jakarta: EGC. Hlm. 283. Sacher, Ronald A. dan Richard A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC. Hlm. 292 Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. Hlm. 438. Price, Sylvia Anderson dan Lorraine McCarty Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC. Hlm. 592-3. Siregar, Cholina Trisa. 2004. Nutrisi. [online]. Available from:

http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-cholina2.pdf. Diakses pada tanggal 30 November 2010. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC. Hlm. 233. Marks, Dawn B., Allan D.Marks dan Collen M. Smith. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta: EGC. Hlm. 628. Wyss, M. dan Kaddurah-Daouk R. 2000. Creatine and Creatinine Metabolism: PubMed.gov. Vol. (30):80.

Creatine & Creatinine Creatine is synthesized in the liver from methionine, glycine, and arginine. In skeletal muscle, it is phosphorylated to form phosphorylcreatine (Figure 17-21), which is an important energy store for ATP synthesis (see Chapter 3). The ATP formed by glycolysis and oxidative phosphorylation reacts with creatine to form ADP and large amounts of phosphorylcreatine. During exercise, the reaction is reversed, maintaining the supply of ATP, which is the immediate source of the energy for muscle contraction. Some athletes ingest creatine as a dietary supplement and claim that it enhances their performance in sprints and other forms of vigorous short-term exertion. The creatinine in the urine is formed from phosphorylcreatine. Creatine is not converted directly to creatinine. The rate of creatinine excretion is relatively constant from day to day. Indeed, creatinine output is sometimes measured as a check on the accuracy of the urine collections in metabolic studies; an average daily creatinine output is calculated, and the values for the daily output of other substances are corrected to what they would have been at this creatinine output. Creatinuria occurs normally in children, in women during and after pregnancy, and occasionally in nonpregnant women. There is very little, if any, creatine in the urine of normal men, but appreciable quantities are excreted in any condition associated with extensive muscle breakdown. Thus, creatinuria occurs in starvation, thyrotoxicosis, poorly controlled diabetes mellitus, and the various primary and secondary diseases of muscle (myopathies).