Anda di halaman 1dari 7

Konvolusi (Convolution)

Secara umum konvolusi didefinisikan sebagai cara untuk mengkombinasikan dua buah deret angka yang menghasilkan deret angka yang ketiga. Didalam dunia seismik deret-deret angka tersebut adalah wavelet sumber gelombang, reflektivitasbumi dan rekaman seismik.

Secara matematis, konvolusi adalah integral yang mencerminkan jumlah lingkupan dari sebuah fungsi a yang digeser atas fungsi bsehingga menghasilkan fungsi c. Konvolusi dilambangkan dengan asterisk ( *). Sehingga, a*b = c berarti fungsi a dikonvolusikan dengan fungsi b menghasilkan fungsi c. Konvolusi dari dua fungsi a dan fungsi b dalan rentang terbatas [0, t] diberikan oleh:

Contoh: a = [1, 2, 3] dan b = [4,5,6] makaa*b :

Sehingga a*b adalah [4,13,28,27,18] Dari contoh diatas terlihat bahwa jumlah elemen c adalah jumlah elemen a ditambah jumlah elemen b dikurangi 1 (3+3-1 = 5)

Konvolusi dikawasan waktu (time domain) ekuivalen dengan perkalian dikawasan frekuensi dan sebaliknya konvolusi dikawasan frekuensi ekuivalen dengan perkalian dikawasan waktu [Bracewell, 1965]

Deconvolusi (Deconvolution)
Deconvolusi adalah proses pengolahan data seismik yang bertujuan untuk meningkatkan resolusi temporal (baca: vertikal) dengan cara mengkompres wavelet seismik. Deconvolusi umumnya dilakukan sebelum stacking akan tetapi dapat juga diterapkan setelah stacking. Selain meningkatkan resolusi vertikal, deconvolusi dapat mengurangi efek 'ringing' atau multiple yang mengganggu interpretasi data seismik. Deconvolusi dilakukan dengan melakukan konvolusi antara data seismik dengan sebuah filter yang dikenal dengan Wiener Filter . Filter Wiener diperoleh melalui permasaan matriks berikut: axb=c a adalah hasil autokorelasi wavelet input (wavelet input diperoleh dengan mengekstrak dari data seismik), b Filter Wiener dan c adalah kros korelasi antara wavelet input dengan output yang dikehendaki. Output yang dikehendaki terbagi menjadi beberapa jenis [Yilmaz, 1987]: 1. 2. 3. 4. 5. Zero lag spike (spiking deconvolution Spike pada lag tertentu. time advanced form of input series (predictive deconvolution) Zero phase wavelet Wavelet dengan bentuk tertentu (Wiener Shaping Filters)

Zero lag spike memiliki bentuk [1 , 0, 0, 0, ..., 0] yakni amplitudo bukan nol terletak para urutan pertama. Jika Output yang dikehendaki [0 , 0, 1, 0, ..., 0] maka disebut spike pada lag 2 (amplitudo bukan nol terletak para urutan ketiga) dan seterusnya. Dalam bentuk matrix, Persamaan Filter Wiener dituliskan sbb:
mem iliki bentuk

dimana n adalah jumlah elemen.

Matriks a diatas merupakan matriks dengan bentuk spesial yakni matriks Toeplitz, dimana solusi persamaan diatas secara efisien dapat dipecahkan dengan solusi Levinson. Dengan demikian operasi Deconvolusi jenis ini seringkali dikenal dengan Metoda Wiener-Levinson. Untuk memberikan kestabilan dalan komputasi numerik diperkenalkan sebuah Prewhitening e yakni dengan memberikan pembobotan dengan rentang 0 s.d 1 pada zero lag matriks a (sehingga elemen a0 matrix diatas menjadi a0(1+e).
( )

Gambar

dibawah

ini

menunjukkan

diagram

alir

proses

Deconvolusi.

Fungsi" Delta Dirac pertama kali diperkenalkan oleh fisikawan Inggris Paul. A. M. Dirac (1902-1982) [1] untuk mengambarkan suatu keadaan fenomena fisika yang memiliki nilai pada suatu titik (singular pada satu titik), namun nilai pada titik yang lain sama dengan nol. Di samping itu, integral "fungsi" tersebut sepanjang interval domainnya sama dengan satu. Dirac menggunakan symbol untuk menggambarkan "fungsi"nya tersebut. Dalam beberapa fenomena fisika, kita akan berhubungan dengan kejadian yang sifatnya impulsif (hal yang terjadi pada selang waktu yang singkat). Sebagai contoh, saat bola golf dipukul dengan stik, kejutan listrik, tumbukan massa, transfer panas, dan sebagainya. Pada kasus bola golf yang dipukul dengan stik, bola yang dipukul tentunya tidak akan menempel pada alat pemukul untuk jangka waktu yang lama.

Misalkan fungsi (t) menyatakan besarnya gaya yang diberikan stik terhadap bola dan bekerja pada saat t = t0 , maka akan diperoleh nilai (t) = 0 untuk t < t0 maupun t > t0 . Sedangkan reaksi dari gaya ini dapat dituliskan (1), setelah dinormalisasi, sebagai:

Nilai pada ruas kanan persamaan (1) di atas tidak boleh sama dengan nol karena reaksi ini ada yaitu ditunjukan dengan bola yang melesat. Dalam matematika, tidak ada fungsi kontinu yang bersifat demikian, sebab jika ada fungsi yang nilainya tidak nol hanya pada suatu titik maka integral Riemann fungsi tersebut sepanjang domainnya akan menghasilkan nilai sama dengan nol.
Autokorelasi adalah korelasi silang dari sinyal dengan dirinya sendiri. Secara informal adalah kesamaan antara pengamatan sebagai fungsi dari pemisahan waktu. Merupakan salahsatu cara di matematika untuk menemukan pola berulang, seperti adanya sinyal periodik dikaburkan oleh kebisingan, atau mengidentifikasi frekuensi sinyal tersirat yang harmonik . sering digunakan dalam pemrosesan sinyal untuk menganalisis fungsi atau serangkaian nilai-nilai, seperti sinyal dalam domain waktu . Contoh : Auto-Korelasi fungsi a =[1, 2, 3] akan menghasilkan 3,8,14, 8,3 KORALASI
Korelasi adalah sebuah bagian fundamental dari stratigrafi, dan lebih lagi merupakan usaha dari stratigraphers dalam membuat unit stratigrafi yang formal yang mengarah pada penemuan praktis dan metode yang dapat dipercaya untuk korelasi unit ini dari suatu area dengan lainnya (Boggs, 1987). Korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996). Menurut North American Stratigrafi Code (1983) ada tiga macam prinsip dari korelasi: 1. 2. Lithokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama lithologi dan posisi stratigrafinya. Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi biostratigrafinya.

3. Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi kronostratigrafi. Korelasi dapat dipandang sebagai suatu yang langsung (direct)(formal) ataupun tidak langsung (indirect) (informal) (B.R.Shaw,1982). Korelasi langsung adalah korelasi yang tidak dapat dipungkiri secara fisik dan tegas. Pelacakan secara fisik dari kemenerusan unit stratigrafi adalah hanya metode yang tepat untuk menunjukkan persesuaian dari sebuah unit dalam suatu lokal dengan unit itu di lokal lain. Korelasi tidak langsung dapat menjadi tidak dipungkiri oleh metode numerik seperti contoh pembandingan secara visual dari instrumen well logs, rekaman pembalikan polaritas,atau kumpulan fosil; meskipun demikian, seperti pembandingan mempunyai perbedaan derajat reabilitas dan tidak pernah secara keseluruhan tegas (tidak meragukan).

Secara matematis Cross-Korelasi dituliskan sebagai:

Dimana a dan b memiliki panjang N dengan (N>1). Jika panjang salah satu data tidak sama maka bagian yang kosong dari data yang pendek di-nol kan sampai panjangnya sama. m=1, ..., 2N-1. dan

b* adalah conj ug ate dari b.

Contoh Cross Korelasi fungsi a = [1, 2, 3] dan b =[4, 5, 6]:

Sehingga untuk cross korelasi antara fungsi a dan b diperoleh: 12, 23, 32, 17, 6. Contoh korelasi data seismik dengan data log
Log adalah suatu terminologi yang secara original mengacu pada hubungan nilai dengan kedalaman, yang diambil dari pengamatan kembali (mudlog). Sekarang itu diambil sebagai suatu pernyataan untuk semua pengukuran kedalam lubang sumur (Mastoadji, 2007). Secara prinsip pengunaan dari well logs adalah untuk: 1. Penentuan lithologi

2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4.

Korelasi stratigrafi Evaluasi fluida dalam formasi Penentuan porositas Korelasi dengan data seismik Lokasi dari faults and fractures Penentuan dip dari strata Syarat untuk dapat dilakukannya korelasi well logs antara lain adalah : Deepest Thickest Sedikit gangguan struktur (unfaulted) Minimal ada 2 data well log pada daerah pengamatan Pada sikeun sand-shale yang tebal, itu mungkin menjadi petunjuk kecil dari bentuk kurva untuk zona batuan untuk korelasi zona. Regional dip superimposed pada cross section sumur akan membantu. Unit pasir yang individual mungkin akan tidak menerus sepanjang lintasan, tetapi garis korelasi memberikan petunjuk tentang possible time sikuen stratigrafi (Crain, 2008).

Korelasi Batupasir Sequence Boundary (SB) merupakan batas atas dan bawah satuan sikuen stratigrafi adalah bidang ketidak selarasan atau bidang-bidang keselarasan padanannya (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996). Maximum flooding surface teridentifikasi oleh adanya maximum landward onlap dari lapiasan marine pada batas basin dan mencerminkan kenaikan maksimum secara relatif dari sea level(Armentout, 1991).

Gambar Kandidat Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MSF) (Possamentier & Allen 1999) Untuk sikeun stratigrafi, biasanya dipakai Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MSF) untuk korelasi. Hal ini dikarenakan pelamparan SB dan MSF yang luas. Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MFS) ini menandakan suatu proses perubahan muka air laut yang terjadi secara global. Sehingga Sequence Boundary (SB) dan Maximum Flooding Surface (MFS) ini sering digunakan untuk korelasi antar sumur. Dari data Well logs, adanya Sequence Boundary (SB) biasanya ditandai dengan adanya perubahan secara tiba-tiba dari Coarsening Upward menjadi Fineing Upward atau sebalikknya. Sedangkan Maximum Flooding Surface (MFS) dari data log ditunjukkan dari adanya akumulasi shale yang banyak, dan MSF merupakan amplitude dari log yang daerah shale.