Anda di halaman 1dari 9

Alhamdulillah, Kita jumpa lagi di jembatan keledai_3.

. Dari beberapa email yang masuk banyak yang menanyakan tentang jembatan keledai yang lain, bahkan ada yang minta dikirimi semua jembatan keledai yang saya punya. Terima kasih atas apresiasinya, semoga ada manfaatnya. Untuk jembatan keledai yang ketiga ini datang lebih awal kehadapan peserta didik, kebetulan hari ini libur dalam rangka Pilkada Walikota, jadi sambil menyelesaikan materi ajar saya sempatkan untuk menuliskan ini, sekaligus memenuhi permintaan mas Hermawan. Baiklah, sesuai permintaan saya akan mencoba membuatkan jembatan keledai cara menghafal jenis besaran pokok. Dalam fisika ditetapkan 7 macam besaran pokok yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. panjang massa kuat arus waktu suhu intensitas cahaya jumlah zat

Berbeda dengan spekrum gelombang elektromagnetik (lihat jembatan keledai_1) yang harus urut, maka untuk besaran pokok ini tidak perlu lagi harus urut, yang penting tahu mana yang termasuk besaran pokok. Okekita buat saja jembatan keledainya. Perhatikan nomor 1 sampai 7 di atas , saya buat jembatan keledainya sebagai berikut : PA-MAN-KU WAKTU SU-BUH INGAT JUMILAH Dengan memperhatikan kata yang bercetak tebal, maka : PA = panjang, MA = massa, KU = kuat arus, WAKTU = waktu, SU = suhu, IN = intensitas cahaya, dan JUM = jumlah. Nah, bagaimana? mudah kan ?

masih seputar jembatan keledai. Hallo peserta didik.. Jumpa lagi dengan saya di jembatan keledai_2. Sekali lagi saya minta maaf sebelumnya bagi yang gak suka dengan cara saya. Kali ini saya akan sedikit memberikan tips pada Anda bagaimana mengingat persamaan tegangan permukaan yang rumusnya : Perlu peserta didik ketahui bahwa soal-soal yang berhubungan dengan persamaan di atas tidak selalu dalam bentuk aplikasi perhitungan, namun sering pula dalam bentuk pernyataan seperti : Tegangan permukaan zat cair dipengaruhi oleh ., a,b,c,d,e. Nah peserta didik diminta memilih mana yang benar atau bisa juga dalam bentuk (1), (2), (3), (4). Beberapa kali saya menganalisis hasil ulangan yang berhubungan dengan pernyataan tersebut 90 % menjawab salah. Ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak memahami makna persamaan di atas. Bahkan banyak yang mengatakan tidak hafal. Ingat..!rumus bukan untuk dihafalkan, kata pak guru saya. Tapi tidak semua peserta didik memahami apa itu konsep, bahkan banyak minta yang instaninstan saja. Saya sendiri memahami betul karena 23 tahun mengajar di sekolah swasta yang notabene input siswanya di bawah sekolah negeri. Kadang-kadang saya harus mencari cara bagaimana siswa senang dengan mapel fisika,meskipun mungkin cara saya ini tidak dikehendaki oleh sebagian pakar fisika. Apa boleh buat, tujuan saya cuma satu siswa senang dulu, termotivasi dulu, baru kemudian bicara konsep. Untuk itulah maka untuk menghafal (maaf menghafal) rumus di atas, saya selalu membuat jembatan keledai sekedar untuk membuat motivasi siswa (biar tidak selalu teriak rumus lagirumus lagi). Lalu,.seperti apa jembatan keledainya ? Perhatikan Rumusnya ! dari rumus di atas dapat kita simpulkan bahwa tegangan permukaan zat cair dipengaruhi oleh :

massa jenis zat cair (rho) percepatan gravitasi (g) Jari-jari pipa kapiler (R) Ketinggian zat cair pada pipa (y) sudut kontak (alpha)

Sekarang saya buat jembatan keledainya seperti ini :

Tegangan permukaan zat cair = roti gantum Rasanya yahud, diper kosa oleh 2 anak sekarang perhatikan yang dicetak tebal, ro, g, R, diper (dibagi), kosa = cos alpha, dan 2 (indek perkalian yang di bawah) Bagaimana,.. Anda suka ? mudah-mudah bisa membantu bagi yang tidak suka dengan rumus. Selanjutnya silakan perserta didik berlatih untuk membuat soal sendiri dengan persamaan di atas, tetapi hati-hati dengan satuannya. jangan sampai jari-jarinya 1 m (memangnya untuk lubang sumur), 10 cm juga gak boleh (memangnya pralon), karena pipa kapiler ya pakai sajalah satuan milimeter (mm). Okee, sekian dulu..

Ide penulisan ini sebenarnya berawal dari siswa-siswi saya di sebuah lembaga bimbingan belajar dimana saya diminta untuk ikut bergabung. Saat itu hujan deras dan anak-anak bimbingan belum pulang. Sambil menunggu hujan reda, seorang siswi menanyakan salah satu materi SKL. Pak gimana cara menghafalkan spektrum gelombang elektromagnetik, soalnya kan harus urut dari frekuensi besar dulu atau dari panjang gelombangnya dulu, kalo tidak urut sih aku bisa. Jangan jawab kuasai konsepnya lho pak, soalnya guruku kalo ditanya dikit-dikit jawabnya kuasai konseeeep. Wah, sudah keduluan dijawab sendiri nih oleh yang tanya. Sesaat saya berfikir lalu saya jawab : Ya dibuat jembatan keledai lah. Apa tuh pak ? Lho gak tau to. itu lho jembatan kecil buat nyeberangkan kambing. Rupanya model-model pembelajaran yang pernah saya dapat dari Bapak/Ibu guru waktu saya sekolah dulu, nyaris sudah tak terdengar lagi. Padahal metode jembatan keledai ampuh juga kalo kita mau kreatif, yang jelas tidak kalah dengan metode pembelajaran berbasis IT dengan menggunakan laptop yang harganya mahal. Tapi bukan berarti saya tidak setuju dengan model sekarang, jangan salah paham bagi yang maniak dengan pembelajaran berbasis teknologi. Akhirnya saya buatkan juga jembatan keledainya untuk menghafalkan spektrum gelombang elektromagnetik berdasarkan urutan dari frekuensi besar ke frekuensi kecil. Perhatikan urutannya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. sinar Gamma (frekuensinya paling besar) sinar X sinar Ultraviolet sinar Tampak sinar Inframerah gelombang Radar gelombang TV gelombang Radio.. (frekuensinya paling kecil)

Kita buat saja jembatan keledainya seperti ini : Gadis X Ulangtahun Tampak Imut-imut kena Radar masuk TV dan Radio rupanya anak-anak malah pada tertawa. Artinya Pak ..? Ga = sinar gamma ; X = sinar X, Ul = ultraviolet; Tampak = sinar tampak; Im = inframerah, Radar = gelombang radar, TV = gelombang TV, dan Radio = gelombang radaio.

Yang lain Pak..yang lain. Wah hujan sudah reda.pulang dulu ya. besok yang lain ya Pak? Sambil menuju motor saya jawab sekenanya, Ya. Catatan : Mohon maaf untuk para pakar fisika barang kali cara yang saya pakai ini dianggap sebagai pembodohan siswa, saya tidak bermaksud demikian. Bagi saya, yang penting adalah bagaimana siswa merasa enjoi belajar, merasa tidak terbebani sesuatu yang dianggapnya sulit.
About these ads

Dalam fisika ketika mempelajari materi yang berhubungan dengan vektor, momen gaya, getaran, maupun gelombang peserta didik sering dihadapkan pada sudut-sudut istimewa seperti sin 30, sin 60, cos 30, sin 90, cos 90 dan sebagainya. Pada saat proses pembelajaran berlangsung saya merasa anak didik telah menguasai sudut-sudut istimewa tersebut, karena setiap saya memberikan contoh soal kemudian menanyakan sin 3o, secara serentak siswa menjawab setengah. Namun berbeda ketika saya menganalisis hasil ulangan, ternyata sebagian besar salahnya justru pada nilai sin, cos, maupun tangen sudut tersebut. Permasalahannya sepele sebenarnya yaitu terbalik. Saat dikonvirmasi ke peserta didik sebagian menjawab Bingung pak kalau sudah banyak soal, antara sin 30 dan sin 60 mana yang setengah Ternyata apa yang saya perkirakan ketika proses pembelajaran berlangsung tidak sesuai dengan hasil evaluasinya. Dari kejadian inilah akhirnya saya bercerita kepada peserta didik tentang pengalaman saya waktu sekolah dulu bagaimana cara mengingat nilai sin 30 dan 60 agar tidak terbalik. Dulu saya pernah punya teman namanya Chosanah, anaknya banyak mulut dan sering tidak terkontrol bila ngomong. Dari sikapnya itu teman-teman yang lain kadang-kadang sambil bergurau mengatakan Sinting kamu Nah atau Sinting-Nah. Terinspirasi pelajaran matematika tentang sin dan cos , akhirnya saya sering memanggilnya dengan sebutan Cosanah-Sintingah. Apa Artinya ?

Cosanah = Cos enampuluh setengah Sintingah = sin tigapuluh setengah

Nah kalau kedua atau salah satu saja ingat maka yang lain tentu ingat. misal yang kita ingat Sintingah = Sin tigapuluh setengah, maka sin 60 pasti setengah akar tiga. kalau sin 60 setengah akar tiga, ya pasti cos 60 = setengah, karena nilainya kan setengah dan setengah akar tiga. Kalau Sin sembilan puluh ? bagaimana,.suatu saat protes. lalu saya jawab sekenanya, ..lho kamu kalau sore suka nonton cerita sangaji di TVRI kan ? Apa hubungannya ? gak nyambung sama pertanyaan tuuuu., sahutnya. Ya adaa..lah.. Sangaji itu kan Sin sangangpuluh siji (sin sembilan puluh = 1). Sambil tertawa Chosanah malah mengatakan saya gila,..gila kamu! Wah ternyata orang sinting kalau temu sama orang gila malah dapat membuat cara ngapalin rumus nih.

Nah.Sejak saat itu peserta didik yang ketemu saya tidak lagi mengenal nama saya, malah saya disebutnya sangaji Yaa,.tidak apa-papa Sangaji kan Sin sangangpuluh siji. Bagaimana?, Anda suka dengan sangaji ? kasih komentar dong !
About these ads

Salah satu materi pada pembahasan vektor adalah menguraikan sebuah vektor yang membentuk sudut menjadi komponen-komponennya terhadap sumbu x dan sumbu y. Kesalahan yang sering dilakukan oleh peserta didik adalah menentukan dimana komponen yang mengandung nilai cosinus dan komponen yang mengandung nilai sinus.

Gambar di samping merupakan contoh dari permasalahan tersebut. Sebuah vektor V membentuk sudut 30 derajat terhadap sumbu x. Peserta didik diminta untuk menentukan besar komponen vektor V pada sumbu x maupun pada sumbu y. Bagi peserta didik yang penguasaan konsep matematikanya matang, adalah hal mudah untuk mengerjakan persoalan tersebut. lalu bagaimana dengan peserta didik yang konsep matematika kurang atau bahkan tidak tahu. Dari pengalamaan membimbing siswa, selalu dihadapkan pada pertanyaan Pak bagaimana cara mengetahui letak sin cos nya ?.. ironis memang,.tapi itu fakta. Lagi-lagi saya harus menjelaskan pada peserta didik keluar dari akidah fisika, yaitu Kuasai Konsep. yatidak bisa dipungkiri, begitu guru bicara konsep, ada siswa yang alergi. Guru biasanya merasa apa yang diberikan sudah paling jelas, dengan suara keras, intonasi teratur, frekuensi dibuat sedemikian peserta didik senang mendengarnya. Itu baru menurut si guru, samakah menurut persepsi siswamaaf saya tidak bisa menjawab. Di sini yang saya lakukan hanyalah bagaimana membuat siswa selalu ingat apa yang saya sampaikan dalam memahami persoalan ini. lalu saya mulai cerita lagi,.Nah, kalau sudah bicara cerita biasanya peserta didik lebih serius mendengarnya. Saya awali dengan memberikan pertanyaan kepada peserta didik,Apakah di antara kalian ada yang kos, atau semua rumahnya dekat dengan sekolahan ? beberapa peserta didik menjawab saya kos Pak. Nah, saya lalu melanjutkan pertanyaan, .. lebih enak mana kos dekat sekolahan apa kos yang jauh dari sekolahannya?..serentak menjawab,ya enak dekat sekolahan Pak, buat apa kos, kalau masih jauh juga.. Oke, sekarang lihat gambar di papan tulis, (seperti pada gambar di atas),.Anggap saja bahwa

vektor V adalah jalan yang berada antara sumbu x dan sumbu y, dan sudut 30 (atau sudut berapapun) Anda anggap sebagai sekolahandimana letak Cos nya

?tanpa pikir panjang peserta didik menjawab ya di sumbu X Pak. .Kenapa ?,karena dekat dengan sekolahan. Sambil menenangkan peserta didik, saya lalu menegaskan. Ingat !!!!! ingat..Cos tidak identik dengan sumbu x, artinya tidak setiap yang mengandung x selalu cos, dan tidak setiap yang mengandung y selalu sin, Tapi.Perhatikan letak sudutnya !! ..Yang jelas yang dekat dengan sekolahan (dekat dengan sudut) pasti cos,..yang jauh ya berarti sin. Bagaimana ? Apakah menurut Anda tambah sulit,kalau ya, .. tidak usah dipakai, ini hanya sebuah solusi bagi peserta didik yang kalau dengar kata konsep jadi alergi. Sekian dulu, sampai jumpa.
About these ads