P. 1
2

2

|Views: 1|Likes:
Dipublikasikan oleh laod_
cukup
cukup

More info:

Categories:Topics, Food & Wine
Published by: laod_ on Jul 14, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2014

pdf

text

original

PRESENTASI KASUS

ADRIAN FEBRIADI

IDENTITAS PASIEN


   

Nama Pasien Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Agama Alamat setu MRS

: Nn. S A : 16 Tahun : perempuan : pelajar : Islam : perm. BTR blok 02/32 rt 001/008 : 4 juni 2013

ANAMNESIS
Auto anamnesa pada tanggal 4 juni 2013 Keluhan Utama : Nyeri perut kanan bawah. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri dibagian perut kanan bawah sejak 1 minggu SMRS. Nyeri muncul secara tiba-tiba, dirasakan terus menerus, dan sakitnya seperti melilit dan dipuntir. Keluhan pasien juga disertai demam, BAB cair dan pusing. BAK tidak ada keluhan, haid teratur, tidak mual dan tidak muntah. Pasien mengaku sering makan makanan pedas sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu : 1 tahun yang lalu pasien pernah mengalami keluhan yang sama yaitu nyeri perut kanan bawah. Awalnya nyeri dirasakan pasien di daerah ulu hati lalu berpindah ke kanan bawah. Saat itu tidak diobati karena menurut pasien nyerinya tidak terlalu sakit seperti sekarang, pasien hanya berusaha menahan nyerinya hingga hilang. Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Alergi : -

TB : 158 cm .GCS : E 4 M 6 V5 total 15 .TD : 110/80 .PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis : .Keadaan umum : compos mentis .BB : 57 kg .RR : 21 x/m -N : 84 x/m -S : 36.4 .

.Kulit : ikterik (-). SI -/: bentuk simetris. membran timpani tidak tampak .Hidung : bentuk normal.Mata . septum deviasi (-). KGB tidak teraba . . konka tidak udem dan tidak hiperemis. sianosis (-).Tenggorokan: faring tidak hiperemis. sekret (-).Kepala .Ekstremitas : akral hangat.Leher : normosefal : pupil isokor. CA -/-. tonsil T1-T1 .Telinga : serumen -/-. tidak sianosis. turgor kulit cukup . trakea terletak ditengah. - . tidak udem.

rhonki -/-.Inspeksi : paru-paru : simetris saat statis dan dinamis. murmur (-). batas jantung normal . wheezing -/: Jantung : BJ I-II murni regular. gallop (-) .Thorax : .Perkusi : paru-paru : sonor di seluruh lapangan paru : jantung : redup.Palpasi : paru-paru : fremitus taktil simetris : jantung : iktus kordis tidak teraba .Auskultasi : Paru-paru : suara dasar vesikuler. retraksi (-) : jantung : iktus kordis tidak terlihat .

warna kulit sama dengan sekitar Auskultasi : bising usus (+) normal Perkusi : timpani pada seluruh abdomen. nyeri ketok (-) Palpasi : nyeri tekan dan nyeri lepas pada titik Mc Burney (+). .Status lokalis : Regio abdomen Inspeksi : datar. obturator sign (-). psoas sign (-). Rovsing sign (+).

3 (P:14-16.37 (3.5 (35-50)  Trombosit: 221 (150-4000)ribu/mm3 .300 (3500-10000)/mm  Eritrosit: 4.W:12-16)g/dl  Leukosit: 5.PEMERIKSAAN PENUNJANG  Darah rutin  Hemoglobin: 13.8-5.8)  Hematokrit: 38.

RESUME Pasien wanita berumur 16 tahun dengan nyeri perut kanan bawah 1 minggu SMRS. Nyeri diawali dari daerah ulu hati menjalar ke kanan bawah. . BAB cair dan pusing. Ada riwayat sering makan-makanan pedas sebelumnya. SMRS pasien juga demam. Dari pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan dan nyeri lepas pada titik Mc Burney. 1 tahun yang pasien pernah mengalami keluhan yang sama.

tramadol 3x1 amp drip. gastroenteritis akut RENCANA TERAPI RL. ranitidin 2x1 amp Appendiktomi PROGNOSIS Quo ad vitam : bonam Quo ad fungsionam : bonam Quo ad sanantionam : bonam .DIAGNOSIS KERJA Appendisitis kronis eksaserbasi akut DIFFERENTIAL DIAGNOSIS KET. Cefotaxim 2x1 gr.

TINJAUAN PUSTAKA APPENDISITIS Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermivormis. dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. karena yang merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum. Apendiks disebut juga umbai cacing. . Istilah usus buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat.

. Saat lahir. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang menyatu dipersambungan caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk mendeteksi apendiks. apendiks pendek dan melebar dipersambungan dengan sekum. Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada bagian distal. Panjangnya kira-kira 10cm (kisaran 3-15cm) dan pada orang dewasa umbai cacing berukuran sekitar 10 cm.ANATOMI Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung panjang dan sempit.

Anatomi Appendiks Posisi Appendiks .

ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI OBSTRUKSI LUMEN BAKTERI FAMILIAL DIET .

PATOFISIOLOGI BENDUNGA N MUKUS TEKANAN INTRA LUMEN MENINGKAT OBSTRUKSI APPENDISITIS AKUT LOKAL NYERI EPIGASTRIUM ALIRAN LIMFE TERHAMBA T .

SEKRESI MUKUS BERLANJUT TEKANAN TERUS MENINGKAT OBSTRUKSI VENA. UDEMA BERTAMBAH. BAKTERI AKAN MENEMBUS DINDING PERADANGAN MENGENAI PERITONEUM SETEMPAT  NYERI KANAN BAWAH APENDISITIS AKUT SUPURATIF .

ALIRAN ARTERI TERGANGGU INFARK DINDING APPENDIKS + GANGREN APPENDISITIS GANGRENOSA APPENDISITIS PERFORASI DINDING PECAH .

nyeri lepas .nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (blumberg) .MANIFESTASI KLINIS  Tanda awal .nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak. seperti napas dalam.nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (Rovsing Sign) . .nyeri tekan .nyeri mulai di epigastrium atau regio umbilikus disertai mual dan anoreksia Nyeri pindah ke kanan bawah dan menunjukkan tanda rangsang peritoneum lokal di titik McBurney .defans muskular   Nyeri rangsang peritoneum tidak langsung .

38.5⁰. Rectal toucher  menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai dengan jari telunjuk . disertai nyeri lepas.PEMERIKSAAN KLINIS     Demam ringan (37.5⁰C) Abdomen  kembung  biasanya pada penderita dengan komplikasi perforasi Palpasi  nyeri yang terbatas pada regio iliaca kanan.

ampula teraba distensi/cenderung kolaps. akan didapatkan :  -Nyeri tekan positif pada arah jam 9-11.pemeriksaan rectal toucher. .  -Pada yang mengalami komplikasi.

PEMERIKSAAN TAMBAHAN  1.Rovsing’s Sign : .

 2. Psoas sign .

Obsturator sign . 3.

dengan adanya shift to the left.000.000/mm3) dengan peningkatan PMN. USG CT scan Analisis urin Pengukuran enzim hati dan tingkatan amylase Serum Beta Human Chorionic Gonadotropin (BHCG) Pemeriksaan barium enema Pemeriksaan foto polos abdomen        .harus dipikirkan telah terjadi perforasi atau penyakit infeksi lain. Jika leukosit >18.000-18.PEMERIKSAAN PENUNJANG  pemeriksaan laboratorium menemukan leukositosis (10.

Gambaran Foto Polos abdomen  Gambaran foto polos abdomen tampak apendikolith (panah) .

Barium Enema  Gambaran foto oblique superior kanan abdomen dengan barium enema single kontras. . Tampak Sekum (C) dan appendix yang mengalami osifikasi dan kontur yang ireguler (tanda panah).

USG Gambaran appendisitis : tampak penebalan dari dinding apendiks  .

CT SCAN  Gambaran CT scan tampak apendiks terinflamasi (A) dengan apendikolith (a) .

Sonografi CT scan 90 – 100% 95 – 100% Evaluasi pasien dengan kecurigaan diagnosis appendicitis Sensitivitas Spesifisitas Penggunaan 85% 92% Evaluasi pasien dengan kecurigaan diagnosis appendicitis Keuntungan Aman Relative lebih murah Lebih akurat Lebih baik mengidentifikasi Dapat menyingkirkan penyakit pelvis pada wanita Lebih baik penggunaanya pada anak-anak phlegmon dan abses Lebih baik mengindentifikasi apendiks normal Kerugian Ketergantungan operator Nyeri Harga lebih mahal Efek radiasi pengion Penggunaan kontras .

ALVARADO SCORE M • Migratory of pain (1) • Anorexia (1) • Nausea/Vomitus (1) • Tenderness (2) A N T R E • Rebound tenderness (1) • Elevation of temperature (1) L • Leukositosis (2) 7-9: Appendisitis akut 5-6: Observasi 24 jam <5: bukan appendisitis .

Objective examination. . Vaginal examination for women. Rectal examination for men. Anamnesis. 3. 2. General blood and urine analyses. 4.DIAGNOSIS 1. 5.

DIAGNOSIS Laboratorium:  Leukositosis (tidak mutlak)  CRP positif  Pemeriksaan urine untuk menyingkirkan kelainan lain (Urolithiasis. axilla –rectal = 0.8-1. UTI)  Thrombosit  DD/ dengan DHF  USG  Perbedaan temp.5oC  CT Scan .

GE Demam Dengue • RL +. Sakit perut tidak berbatas tegas. Trombositopenia. radang (-) . ht meningkat Kelainan ovulasi • Pernah timbul nyeri yang sama sebelumnya. muntah. diare mendahului rasa sakit.DIAGNOSIS BANDING • Mual. Hiperperistaltik.

Lokasi nyeri perut dibawah kanan tidak konstan dan menetap. Mesenterika • Didahului GE.• Lebih sering menyerang anak-anak dengan biasanya diawali infeksi saluran napas. mual. nyeri difus. infeksi urin. syok • Vt. penonjolan rongga Douglas . dan jarang terjadi true muscle Limfadenitits guarding. difus di pelvis. nyeri perut. keputihan. NT samar terutama kanan • Demam tinggi. vt: nyeri PID Kehamilan ektopik • Riwayat : telat haid. ruptur tuba/abortus: nyeri mendadak. nyeri.

piuria . Kolik menjalar dari pinggang ke perut ke inguinal kanan • Eritrosituria • Pielonefritis : demam tinggi. nyeri cva.• demam (-) • Nyeri mendadak. menggigil. teraba massa Kista Ovarium • Vt/rt: teraba massa terpuntir Urolitiasis pielum/ureter • Riw.

KOMPLIKASI PERFORASI PERITONITIS MASSA PERIEPENDIKULER .

icise McBurney paling banyak dipilih oleh ahli bedah.PENATALAKSANAAN  Apendiktomi dapat dilakukan secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi. . Bila apendiktomi terbuka.

.diteruskan sampai 5-7 hari post operatif untuk kasus apendisitis ruptur atau dengan abses .Post operative. .diteruskan sampai hari 7-10 hari pada kasus apendisitis ruptur dengan peritonitis difus. Antibiotik . . antibiotik diteruskan selama 24 jam pada pasien tanpa komplikasi apendisitis.Pada apendisitis gangrenosa atau perforata .Preoperatif. antibiotik broad spectrum intravena diindikasikan untuk mengurangi kejadian infeksi pasca pembedahan.

. pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob. perlu dilakukan laparotomi. Sebelum pembedahan perlu dilakukan perbaikan keadaan umum dengan infus. dan pemasangan pipa nasogastrik. Pada appendisitis dengan perforasi.

. Setelah operasi masih dapat terjadi infeksi pada 30% kasus apendix perforasi atau apendix gangrenosa.PROGNOSIS   Apendiktomi yang dilakukan sebelum perforasi prognosisnya baik. Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat. Kematian dapat terjadi pada beberapa kasus.

2004 David C Sabiston : buku Ajar Bedah. EGC: Jakarta Lorraine M. Wilson. De Jong.DAFTAR PUSTAKA  Sjamsuhidjat. EGC: Jakarta. Edisi 6.Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah. R. 2005   . Edisi 2. W. Bagian I. Patofisiologi. EGC.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->