Anda di halaman 1dari 5

BAB II MATERI dan METODA

Materi : Hipertensi Gestasional


Diagnosis gangguan hipertensi yang menjadi penyulit kehamilan, seperti diringkaskan oleh The Working Group ( 2000), terdapat 5 jenis penyakit hipertensi, antara lain : 1. Hipertensi gestasional ( dahulu hipertensi yang dipicu oleh kehamilan atau hipertensi transien). 2. Preeklamsia 3. Eklamsia 4. Preeklamsia yang terjadi pada pengidap hipertensi kronik ( superimposed ) 5. Hipertensi kronik. Pertimbangan penting dalam klasifikasi ini adalah membedakan gangguan hipertensi yang mendahului kehamilan dari preeklamsia yang secara potensial lebih merugikan. Hipertensi didiagnosis apabila tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih dengan menggunakan fase V Korotkoff untuk menentukan tekanan diastolik. Edema tidak lagi digunakan sebagai kriteria diagnostik karena kelainan ini terjadi pada banyak wanita hamil normal sehingga tidak lagi dapat digunakan sebagai faktor pembeda. Dahulu direkomendasikan bahwa yang digunakan sebagai kriteria diagnostik adalah peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 30 mmHg atau diastolik 15 mmHg. Kriteria ini tidak alagi dianjurkan karena bukti memperlihatkan bahwa dalam kelompok ini kecil kemungkinannya mengalami peningkatan gangguan hasil kehamilan ( Levine, 2000;North dkk, 1999). Namun wanita yangmengalami peningkatan tekanan darah sistolik 30 mmHg atau diastolik 15 mmHg perlu diawasi dengan ketat. Diagnosis hipertensi gestasional ditegakkan pada wanita yang tekanan darahnya mencapai 140/90 mmHg tau lebih untuk pertam kali selama kehamilan, tetapi belum mengalami proteinuria. Hipertensi gestasional disebut hipertensi transien apabila tidak terjadi preeklamsia dan tekanan darah kembali normal dalam 12 minggu postpartum. Dalam klasifikasi ini, diagnosis final bahwa wanita yang bersangkutan tidak mengidap preeklamsia hanya dapat dibuat postpartum. Dengan demikian, hipertensi gestasional merupakan diagnosis eksklusi. Namun perlu diketahui bahwa wanita dengan hipertensi gestasional dapat memperlihatkan tanda tanda yang berkaitan dengan preeklamsia, misalnya nyeri kepala, nyeri epigastrium, atau trombositopenia, yang mempengaruhi penatalaksanaan. Apabila tekanan darah meningkat cukup besar selama paruh terakhir, akan berbahaya terutama bagi janin seandainya tidak dilakukan tindakan semata mata karena proteinuria

belum terjadi. Seperti ditekankan oleh Chesley (1985), 10 % kejang eklamsia terjadi sebelum proteinuria muncul dengan jelas. Karenanya, jelaslah bahwa apabila tekanan darah mulai meningkat, baik ibu maupun janinnya mengalami peningkatan resiko lebih besar. Proteinuria adalah tanda memburuknya penyakit hipertensi, terutama preeklamsia, dan apabila proteinuria tersebut jelas dan menetap, resiko pada ibu dan janin menjadi semakin besar. Risiko meningkat pada masa plasenta besar ( pada gemelli, penyakit trofoblas ), diabetes mellitus, isoimunisasi rhesus, faktor herediter, masalah vaskuler.

Patofisiologi

Bagan 1. Patofisiologi Hipertensi Gestasional Diunduh dari www.google.com

1)

Vasospasme Konsep Vasospasme diajukan oleh Volhard berdasarkan pengamatan

langsung pada pembuluh darah kecil pada dasar kuku, fundus okuli dan konjungtiva bulbi. Konstriksi vaskular menyebabkan tahanan dan selanjutnya menimbulkan hipertensi. 2) Aktivasi sel endotel Dalam hal ini faktor yang disekresikan ke dalam sirkulasi ibu yang

kemungkinan besar berasal dari plasenta menyebabkan aktivasi dan disfungsi vascular

endothelium.. sindrom klinis preeklampsia diperkirakan karena perubahan sel endotel yang luas. 3) Peningkatan respon pressor, inhibisi nitrik oksida sintesa dll Vasospasme adalah

dasar patofisiologi preeklampsia-eklampsia. Konstriksi vaskular menyebabkan resistensi aliran darah dan menjadi penyebab hipertensi arterial. Besar kemungkinan bahwa vasospasme itu sendiri menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah. Selain itu angiotensin II menyebabkan sel endotel berkontraksi. Perubahan-perubahan ini mungkin menyebabkan kerusakan sel endotel dan kebocoran di celah-celah sel endotel. Kebocoran ini menyebabkan konstituen darah mengendap di sub endotel. http://vebee.wordpress.com/2009/05/26/gangguan-hipertensi-dalam-kehamilan/ Penatalaksanaan Jika kehamilan < 37 minggu, tangani secara rawat jalan : Pantau tekanan darah, kadar protein , dan kondisi janin setiap minggu. Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklamsia. Jika kondisi janin memburuk, atau pertumbuhan janin terhambat, rawat dan pertimbangkan terminasi kehamilan. Beri obat antihipertensi untuk ibu hamil. Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg IV pelan pelan selama 5 menit sampai tekanan darah turun. Jika perlu, pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam, atau 12,5 mg IM setiap 2 jam. Jika hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan : Nifedipine 5 mg sublingual. Jika respon tidak baik setelah 10 menit, beri tambahan 5 mg sublingual.

Labetolol 10 mg IV, yang jika respon tidak baik setelah 10 menit, diberikan lagi labetolol 20 mg IV.

Pencegahan Pembatasan kalori, cairan, dan diet rendah garam tidak dapat menvegah hipertensi karena kehamilan, malah dapat membahayakan janin. Manfaat aspirin, kalsium, dan lain lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan belum terbukti. Yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan cepat tepat. Kasus harus ditindak lanjuti secara reguler dan diberi penerangan yang jelas bilamana harus kembali ke pelayanan kesehatan. Pemasukan cairan terlalu banyak mengakibatkan edema paru. Differential Diagnosis Preeklampsia Ringan Pada preeklampsia ringan, TD meningkat seperti hipertensi gestasional namun disertai dengan proteinuria 300 mg atau lebih protein dalam urin per 24 jam atau 30 mg/dl ( +1 pada dipstick) secara menetap pada sample acak urin. Derajat proteinuria dapat berfluktuasi sangat luas dalam periode 24 jam, bahkan pada kasus yang parah. Dengan demikian, satu sample acak mungkin tidak mampu memperlihatkan adanya proteinuria yang signifikan. Eklampsia Eklampsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita hamil dengan preeklampsia yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang bersifat grand mal dan mungkin timbul sebelum, selama, dan mungkin setelah persalinan. Namun, kejang yang timbul lebih dari 48 jam postpartum, terutama pada nulipara, dapat dijumpaii sampai 10 hari postpartum. Hipertensi Kronik

Hipertensi kronik didiagnosis pada TD 140/90 mmHg sebelum kehamilan atau didiagnosis sebelum gestasi 20 minggu. Atau dapat pula didefinisikan sebagai hipertensi pertama kali didiagnosis setelah gestasi 20 minggu dan menetap setelah 12 minggu postpartum.

Metode
Metode yang dipakai pada kasus ini adalah dengan mengadakan kunjungan ke rumah pasien serta mengambil data data yang diperlukan dari pasien dan keluarga.