Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

STUDI TEOLOGI ISLAM ISLAM DAN SAINS MODERN


Dosen Pembimbing : Ach. Nasichuddin, MA

Oleh : Kelompok 7 1.Fitrotin Nisa 2.Uwaina Fardha 3. Ainun Rosyida 4. Fithrotul Mafula 5. Farida Ulin Nuha 6. Dian Alvy Pratiwi 7. Imroatul Mukarromah (07610042) (09610081) (09610085) (09610091) (09610103) (09610115) (09610117)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu alaikum wr.wb, Segala puji kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. Berkat rahmat, taufiq dan hidayah-Nya makalah ini dapat kami selesaikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, para sahabat dan para pengikut setia Beliau. Dalam makalah ini membahas tentang Islam dan Sains Modern. Makalah ini terdiri dari tiga bab pokok. Pada bab I Pendahuluan yang membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan. Bab II tinjauan pustaka yang berisi tentang pembahasan tentang Islam dan Sains Modern. Dan bab III penutup berisi tentang kesimpulan. Ucapan terima kasih tak lupa kami sampaikan atas bimbingannya dalam penyusunan makalah ini untuk Bapak Ach. Nasichuddin, MA selaku dosen mata kuliah teologi Islam. Kemudian juga untuk teman-teman yang juga turut membantu dalam kelangsungan pembuatan makalah ini. Dengan adanya makalah ini kami berharap dapat memenuhi tugas kami, serta dapat memberikan informasi atau gambaran serta manfaat yang terkandung di dalamnya. Wassalamu alaikum wr.wb. Malang, 18 Mei 2010

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam merupakan agama yang mempunyai sejarah pergulatan teologi yang panjang. Dengan rentang sejarah yang panjang itu, teologi Islam memberikan sebuah fakta untuk turut serta dalam meramaikan kancah intelektual dalam peradaban ilmu pengetahuan dan politik dunia. Berbagai konsep dan sudut pandang teologis muncul secara dialektis dalam atmosfir kebudayaan Islam. Di antara hal yang di anggap modern di era ini adalah sains dan teknologi. Sains dan teknologi mengalami perkembangan yang begitu pesat bagi kehidupan manusia. Dalam setiap waktu para ahli dan ilmuwan terus mengkaji dan meneliti sains dan teknologi sebagai penemuan yang paling canggih dan modern. Keduanya sudah menjadi simbol kemajuan dan kemodernan pada abad ini. Oleh karena itu, apabila ada suatu bangsa atau negara yang tidak mengikuti perkembangan sains dan teknologi, maka bangsa atau negara itu dapat dikatakan negara yang tidak maju dan terbelakang. Oleh karena itu, kemajuan sains dan teknologi telah banyak memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya karena Allah telah mengkaruniakan anugerah kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama dan kenikmatan sains teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ilmu adalah sumber teknologi yang mampu memberikan kemungkinan munculnya berbagai penemuan rekayasa dan ide-ide. Adapun teknologi adalah terapan atau aplikasi dari ilmu yang dapat ditunjukkan dalam hasil nyata yang lebih canggih dan dapat mendorong manusia untuk berkembang lebih maju lagi. Sebagai umat Islam kita harus menyadari bahwa dasar-dasar filosofis untuk mengembangkan ilmu dan teknologi itu bisa dikaji dan digali dalam Al-quran sebab kitab suci yang kita miliki banyak mengupas keterangan-keterangan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pandangan Islam terhadap sains dan teknologi adalah bahwa Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk me-research dan bereksperimen dalam hal apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam sains dan teknologi adalah termasuk ayat-ayat Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah yang tersebar di alam semesta ini Allah anugerahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan uraian diatas kita bisa melihat adanya hubungan antara agama dan sains sehingga penyusun mencoba menyusun makalah dengan judul Islam dan Sains Modern. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa definisi ilmu pengetahuan dan teknologi? 2. Apa prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam? 3. Siapa tokoh-tokoh IPTEK dalam islam? 4. Bagaimana masa depan tradisi sains dalam islam? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui definisi ilmu pengetahuan dan teknologi. 2 3 4 Untuk mengetahui prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam. Untuk mengetahui tokoh-tokoh IPTEK dalam islam. Untuk mengetahui masa depan tradisi sains dalam islam.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Ilmu pengetahuan atau sains secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian secara empirik dan dapat diterima oleh rasio1, sedangkan teknologi adalah penerapan konsep ilmiah yang tidak hanya bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman, namun lebih jauh lagi bertujuan memanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam gejala-gejala tersebut untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang terjadi. Dengan kata lain, teknologi dapat diartikan sebagai suatu penerapan sains secara sistematis untuk mempengaruhi dan mengendalikan alam disekeliling kita, dalam suatu proses produktif ekonomis untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. Antara ilmu pengetahuan dan teknologi selain memiliki keterkaitan yang erat juga memiliki suatu peranan dan fungsi yang sama. Keterkaitan tersebut yakni keberadaan teknologi merupakan penerapan seluruh konsep atau teori yang terdapat di dalam ilmu pengetahuan. Adapun peran dan fungsinya, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan sama-sama sebagai jembatan yang menghubungkan antara seluruh kekayaan alam dan sumber daya alam dengan kebutuhan manusia secara materiel2 Beberapa penjelasan di atas membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua sosok yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya memiliki timbal balik yang sangat erat keterkaitannya, yaitu ilmu pengetahuan sebagai konsep dan teknologi sebagai terapan dari konsep tersebut.
1

Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaaan Agama Islam Depag RI, Islam untuk Disiplin Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi , Departemen Agama RI, Jakarta, 1995, hlm.88. Ali Anwar Yusuf, Islam Dan Sains Modern, Pustaka Setia, Bandung, 2006,

hlm 280

2.2 Prinsip-Prinsip Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Islam Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah memberikan banyak perubahan kepada umat manusia. Perubahan tersebut tentunya memberikan efek positif dan negatif baik dari segi pola pikir, gaya hidup, tingkah laku serta sikap atau prilaku yang dimiliki oleh seseorang. Jika dilihat dari segi positif, kemajuan tersebut telah membuat kehidupan manusia menjadi sempurna di dalam menguasai, mengolah, dan mengelola sumber daya alam untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Sedangkan, dari segi negatifnya dapat menimbulkan hasil yang manusia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, diperlukan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi diantaranya : 1. Adanya keinginan untuk merevaluasi pengertian atau konsep teknologi 2. Tuntutan agar teknologi tidak berlaku netral, tetapi memihak kepada nilainilai kemanusiaan yang abadi, serta berorientasi kepada generasi-generasi yang akan datang. Inilah yang disebut dengan nilai-nilai teknologi yang bersifat spiritual. 3. Perlunya sikap hormat dan tertib menghadapi kekayaan alam yang dapat diperbaharui apalagi terhadap sumber yang tak dapat diperbaharui. Sikap yang diperlukan adalah sikap bersyukur dan bukan sikap mumpung dan kegabah terhadap kekayaan alam tersebut. Dengan demikian, masalah kelestarian menjadi penting dalam setiap tindakan teknologi3. Pada prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam di atas, sekaligus menjadi tujuan berorientasi pada nilai-nilai berikut ini: 1. Sumber ilmu adalah Allah, dan ilmu Allah yang diberikan kepada manusia hanya sedikit sekali: Q.S. Al-Isra: 85. 2. Ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan sebagai salah satu untuk melengkapi dan menyempurnakan ibadah kepada Allah: Q.S. AdzDzariyat: 56.
3

tidak direncanakan dan

dikehendaki, bahkan terkadang menyulitkan dan mengancam kehidupan

A. M. Lutfi, Teknologi untuk Manusia, dalam Mukjizat Al-Quran dan Assunah tentang IPTEK, Jilid II, Gema Insani Press, Jakarta, 1997, hlm. 149.

3. Alam semesta beserta isinya hak milik mutlak Allah SWT.: Q.S. Thaha: 6; Q.S. Al-Maidah: 120; Q.S. Al-Baqarah: 255. 4. Alam semesta beserata isinya merupakan nikmat dari Allah SWT. Yang dikaruniakan kepada manusia: Q.S. Lukman: 20; Q.S. Ibrahim: 32,33,34. 5. Alam yang dikaruniakan Allah SWT. Ini harus dinikmati dan dimanfaatkan dengan tidak melampaui batas-batas ketentuan-Nya: Q.S. Al-Araf: 31; Q.S.An-Nisa: 6; Q.S. Al-Furqan: 68. 6. Ilmu pengetahun dan teknologi yang digunakan tidak boleh menimbulkan kerusakan palagi mengancam kehidupan manusia: Q.S. Al-Ankabut: 36; Q.S. Al-Qashash: 77; Q.S. Al-Araf: 56. 7. Ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk mencapai kebahagian hidup dunia dan akhirat: Q.S. Al-Baqarah: 2014. Nilai-nilai di atas menunjukkan bahwa ketika manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengelola alam dan kekayaannya, baik mengelolanya dengan gegabah atau sembarangan hingga dapat menimbulkan kerusakan dimuka bumi ini atau dipahami dan dimanfanfaatkan sebagai nikmat Allah dengan mensyukuri secara tertib dalam bentuk yang efisien, produktif, hema, cermat, teliti, adil, serta dapat memberikan banyak manfaatkepada manusia yang tidak mengancam kehidupan manusia. Sebab dalam kenyataannya, penguasaan, pengembangan, dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak disertai oleh nilai-nilai ketuhanan membawa manusia pada penderitaan dan kesengsaraan, bahkan kehancuran. Oleh karena itu, penguasaan, pengembangan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus senantiasa berada didalam jalur nilai-nilai kemanusian dan ketuhanan yang harus dimiliki oleh setiap bangsa agar tercapai tujuan pembangunan dan hidup yang dicita-citakan. 2.3 Tokoh-Tokoh IPTEK dalam Islam Jika sains dan teknologi ini ditelusuri kembali ke masa-masa pertumbuhannya, hal itu tidak lepas dari sumbangsih para ilmuwan muslim. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa asal-usul sains modern atau revolusi
4

Ali Anwar Yusuf, Islam Dan Sains Modern, Pustaka Setia, Bandung, 2006, hlm 285

ilmiah berasal dari peradaban Islam. Memang sebuah fakta, umat Islam adalah pionir sains modern. Diantara tokoh-tokoh IPTEK dalam islam adalah: 1. Jabir Ibn Hayyan (721-815) Merupakan orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya tentang al-kimiyu. Yang kemudian oleh ilmuwan Barat diambil alih serta dikembangkan menjadi ilmu kimia. Jabir atau Geber juga orang pertama yang memeberikan suatu bengkel dan mempergunakan tungu untuk mengolah meneral-mineral dan mengekstrasi mineral-mineral itu menjadi zat kimiawi, lalu diklasifikasikan pada beberapa bentuk zat kimia melalui intizhar. 2. Muhammad Ibn Zakaria Ar-Razi (865-925 M) Di dunia Barat, Ar-Razi dikenal sebagai ahli di bidang ilmu kedokteran sama halnya dengan Ibnu Sina, sehingga gambaran kedua ilmuwan muslim ini dapat menghiasi Fakultas Kedokteran Universitas Paris. Ia juga dianggap sebagai orang yang menemukan benang fontanel (yang dipergunakan dalam ilmu bedah). 3. Ibnu Sina Ibnu Sina adalah seorang filosof islam yang juga dikenal sebagai ilmuwan dalam bidang ilmu kedokteran. Karya ilmiahnya yang di dunia Barat dikenal dengan sebutan canun menjadi buku teks standar ilmu kedokteran, baik di dunia islam maupun non-islam. Selain itu di dunia Barat, ia dikenal sebagai dokter dan politikus. Banyak karya tulisan dan buku yang dikarangnya, diantaranya yaitu: Al-Syifa yang memuat ilmu-ilmu kefilsafatan, seperti: logika, fisika, matematika, dan metafisika Al-Hikmah Al-Masyrikiyah yang berisi tentang ilmu logika dan filsafat orang-orang Timur Al-Qanun (canun of madicine), berupa ensiklopedi yang berisi tentang rumus-rumus dan ilmu-ilmu kedokteran. Serta masih banyak lagi karyanya, baik yang berupa buku maupun tulisan lainnya.

4. Umar Al-Khayyam Seorang ilmuwan muslim yang dikenal keahliannya sebagai ahli ilmu pasti, juga sebagai ilmuwan dalam bidang astronomi serta seorang penyair yang terkenal. Dia juga dikenal sebagai peletak pondasi pertama ilmu geometris analisis, selain itu dia orang pertama yang mengklasifikasikan persamaan-persamaan menurut derajatnya dan batas-batas yang ada padanya, kemudian menghimpunnya menjadi 25 jenis. 5. Al-Biruni (973-1048 M) Di kalangan islam ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang serba bisa yaitu dikenal sebagai ilmuwan ahli falaq, ilmu bumi, sejarah, ahli obatobatan, serta seorang dokter. Oleh karena itu dalam dunia islam, dia dikenal sebagai al-stadz fil al-ulum (guru besar dalam berbagai ilmu pengetahuan) 6. Abu Hasan Al-Qalshadi (1410-1486) Para ilmuwan barat menghubungkan minus-mius aljabar dan simmbolsimbol proses perhitungan kepada ilmuwan Perancis, yang bernama Vieste. Padahal, Abu Hasan yeng berasal dari Andalusia ini telah menggunakan rumus-rumus aljabar dan simbol-simbol proses berhitung lebih dahulu dari ilmuwan Perancis tersebut, seperti yang dikemukakan dalam bukunya Kasyf Al-Mahjub fi Ilm Al-Ghuyub. 7. Ibnu Khaldun (1332-1406 M) Nama lengkapnya Waliuddin Abdurrahman Ibn Khaldun AlHamdhami dari Tunisia. Dia dikenal sebagai ilmuwan muslim dalam bidang filsafat, sejarah dan sosiologi. Dunia Barat mengakuinya sebagai perintis ilmu dan ahli di bidang sosiologi modern. Bukunya yang berjudul Muqaddimah, merupakan bagian dari karyanya yang terbesar. Kitab Al-Ibar wad-Diwan al-Mubtada wal-Khabar fii Al-Ayyami Al-Arabi wa Al-Ajami wal Barbar wa man Asharahum min Dzawi Al-Sulthani AlAkbar. Sampai saat ini sangat terkenal di dunia Barat dan dijadikan buku rujukan di berbagai universitas5.
5

(1) Ali Abdul Adiffa, Ilmu Matematika dalam Peradaban Islam, dalam buku Mukjizat Al-Quran dan As-sunah tentang IPTEK, Jilid II, Gema Insani Press, Jakarta, 1997, hlm. 143-145; (2) Yusran Asmunia, Sejarah Peradaban Islam,

Masih banyak penemu dan ahli dibidang sains dan teknologi yang hidup dalam dunia islam, meskipun dalam sejarahnya mengalami tarik-menarik dengan para ilmuwan Barat. Sehingga dalam islam pun mampu menciptakan tokoh-tokoh atau para ilmuwan yang ahli dibidang sains dan teknologi yang dalam kenyataannya-pun bila ditelusuri dapat dikatakan bahwa para ilmuwan dalam islam itu lebih dominan. 2.4 Masa Depan Tradisi Sains dalam Islam Apresiasi pemikiran islam di tanah air ini setidak-tidaknya sampai saat ini ternyata masih banyak ditandai oleh dikotomi pemikiran antara warna Barat dan Timur Tengah. Kondisi ini kemdian menjadi potensi pemicu perseteruan yang hebat di kalangan pemikir islam. Kelompok islam hasil didikan di Baratlah yang kemudian lebih nampak memperoleh tamparan dari kelompok islam di Timur Tengah yang mengklaim atas segala hujatan dan tuduhanya itu berdasarkan islam, dan lebih islami. Warna perseteruan itu telah cukup menggambarkan betapa rendahnya apresiasi kefilsafatan dan keilmuan (dalam cakupannya yang lebih luas) dikalangan sebagian umat islam. Karena hal-hal semacam itu sesungguhnya menjadi sah-sah saja dan dijadikan sebagai wahana dinamisasi pemikiran islam. Tetapi yang nampak malah proses pengkafiran satu sama lain. Namun, dalam perjalanan sejarah, beberapa abad setelah renaissance, revolusisains, diikuti oleh revolus industri dan revolusi informasi, pengetahuan ilmiah kita tentang diri dan alam lingkungan kita telah berubah secara tajam. Sayangnya gambaran yang baru itu untuk banyak orang cenderung menegasikan gambaran yang diberikan oleh teologi agama-agama dunia yang manapun. Karena itulah agama makin ditinggalkan. Hal ini terjadi jika hanya melihat ditataran permukaan. Padahal, seharusnya kita melihat bahwa sebenarnya teologi hanyalah merupakan konstruksi intelektual manusia yang mencoba memahami pesan-pesan religius
Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm. 99-121; (3) Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintag, Jakarta, 1984, hlm. 137-154, dan 307-344.

para Nabi. Dengan demikian, kita harus berani menghadapkan teologi dengan sains yang membuat keduanya berkembang secara dialektis dan komplementer untuk memecahakan permasalahan umat manusia yang ditimbulkan oleh penerapan sains yang semakin maju itu.6 Menurut Ian Barbour, antara sains dan agama terdapat empat varian hubungan : konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Dalam hubungan konflik, sains menegasikan eksistensi agama dan agama menegasikan sains.Masing-masing hanya mengakui keabsahan eksistensi yang lain dan menyatakan bahwa diantara sains dan agama tidak ada irisan satu sama lain. Sedangkan dalam hubungan dialog, diakui bahwa diantara sains dan agama terdapat kesamaan yang bisa didialogkan antara para ilmuwan dan agamawan, bahkan bisa saling mendukung. Hubungan yang keempat, yaitu integrasi. Menyatakan bahwa ada dua varian integrasi yang menggabungkan agama dan sains.Yang pertama disebut sebagai teologi natural dan yang kedua disebutnya sebagai teologi alam. Pada varian teologi natural, teologi mencari dukungan pada penemuan-penemuan ilmiah, sedangkan pada varian teologi alam, pandangan teologi tentang alam justru harus dirubah, disesuaikan dengan penemuan-penemuan sains yang mutakhir tentang alam. Sejak abad ke-18, ketika dunia islam mulai muncul beberapa orang modernis yang ingin kembali merumuskan kembali islam melalui pendekatan rasional filosofis, guna menemukan kembali akar-akar kejayaannya pada masa lampau, yakni dengan usaha mencari hubungan organik antara Barat dengan Islam. Tetapi karena usaha mereka itu tidak cukup steril dari serangan-serangan internal, bahkan diantara mereka memperoleh tuduhan sebagai agen Barat sekuler yang anti islam, maka boleh dibilang sampai sekarang usaha para modernis itu belum cukup berhasil. Namun secara realitas usaha-usaha mereka itu terus berjalan, dan keberhasilannya tinggal menunggu proses waktu saja.7

Ian G. Barbour. MenemukanTuhandalamSainsKontemporerdan Agama, (Bandung: Mizan Media Utama, 2005 , hlm. 10-11
7

SyamsulArifin. Spiritualisasi Islam danPeradabanMasaDepan, (Yogyakarta: Sipress, 1996), hlm. 103-114

Sebagaimana

kita tahu, bahwa barat tetap memiliki kekurangan yang

lebih bersifat spiritual dan paradigmanya. Bangunan filsafatnya miskin dari wawasan metafisik, sehingga pandangan dunia yang dibangunnnya mengenai kebenaran reaalitas menjadi bias dan artifisial. Dengan demikian, penyerapan pengetahuan dari manapun asalnya, terutama dari barat, bukanlah penyerapan atas pandangan dunianya. Hal itu didasarkan karena doktrin-doktrin normatif islam telah cukup memberikan pandangan dunia secara lebih memuaskan. Perangkat-perangkat itulah yang dapat digunakan oleh kaum muslim sebagai alat bantu untuk mengembangkan pandangan dunianya untuk dapat menata kehidupan duniawinya secara baik melalui pengembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan. Kendati kenyataan sejarah menunjukkan bahwa hampir tidak bisa dipungkiri adanya pemikiran Yunani dalam perkembangan awal pemikiran islam atau filsafat islam, namun bukan berarti bahwa filsafat islam bersumber atau berakar pada filsafat Yunani. Tetapi kita musti mengakui akan hutang budi atas berkembangnya pemikiran islam kepada pemikiran Yunani yang telah memberikan perangkat-perangkat berfikir kritis-analisis dan rasional dalam menjelaskan nash-nash Al-Quran sebagai sumber inspirasi pemikiran islam. Pemikiran Yunani hanya memberikan dorongan dan rangsangan kepada sumber-sumber inspirasi tersebut. Peristiwa paling penting dalam sejarah pembentukan tradisi Filsafat Islam adalah saat bertemunya Islam dengan filsafat Yunani di Baghdad pada masa kekhalifahan Abbasyiah. Sejak saat itulah kaum muslimim menjadi pengibar panji peradaban dunia, hampir lebih 5 abad lamanya. Mereka menyelami berbagai macam ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, kimia, bioligi, astronomi dan kedokteran, yang semula tumbuh subur dalam tradisi alam pemikiran Yunani. Perkembangan filsafat Islam secaraumum, juga termasuk di dalamnya perkembangan Filsafat Sains dikalangan umat islam sebenarnyaberawal dari kegigihan-kegigihan kaum muslim pada masa The Gold Age of Science in Islam, antara tahun 650 M sampai 1100 M. Masa itu lebih jelas ditunjukkan oleh munculnya Jabir Ibn Hayyan (721-815 M) sebagai bapak Alkemi modern,

yang dengan gigih memperjuangkan keyakinannya bahwa seorang ilmuwan seharusnya tidak menyatakan sesuatua kalau ia tidak dengan dapat mendukungnya dengan pembuktian secara eksperimental. Tradisi berfikir Yunani lebih menekankan struktur logis atau logika formanya daripada logika materinya, sehingga melahirkan kebenaran semu dibidang keilmuan, atau yang sering disebut pseudo sains. Berdasarkan pola pikir seperti itu, wajar kalau kita jumpai banyak kufarat dan tahayul dalam konsepsi pengetahuan Yunani. Tetapi setelah bangunan pengetahuan itu beralih ke tangan kaum muslimin, kufarat-kufarat atau mistisisme Yunani itu dilenyapkann dengan mengubah tradisi berfikir Yunani yang murni spekulatif menjadi pola berfikir empiris dalam upaya mencari kebenaran realitas melalui tradisi sains yang berpostulasi pda Al-Quran dan Sunnah Nabi. Di Belahan barat, di Cordova, Spanyol, umat islam emperoleh kebebasan intelektual untuk mengembangkan pemikiran filsafatnya. Tidak kurang muncul figur-figur perintis pemikir semacam IbnMassarah (w. 931 M), alMajrithi (w.1008 M), danIbnBajjah (w. 1138 M).

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa: 1. Ilmu pengetahuan atau sains dapat didefinisikan sebagai suatu himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses pengkajian secara empirik dan dapat diterima oleh rasio. Sedangkan, teknologi dapat diartikan sebagai suatu penerapan sains secara sistematis untuk mempengaruhi dan mengendalikan alam disekeliling kita, dalam suatu proses produktif ekonomis untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. 2. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi diantaranya : a. Adanya keinginan untuk merevaluasi pengertian atau konsep teknologi b. Tuntutan agar teknologi tidak berlaku netral, tetapi memihak kepada nilai-nilai kemanusiaan yang abadi, serta berorientasi kepada generasi-generasi yang akan datang. c. Perlunya sikap hormat dan tertib menghadapi kekayaan alam yang dapat diperbaharui apalagi terhadap sumber yang tak dapat diperbaharui. 3. Tokoh-tokoh IPTEK dalam islam antara lain: a. Jabir Ibn Hayyan (721-815) b. Muhammad Ibn Zakaria Ar-Razi (865-925 M) c. Ibnu Sina d. Umar Al-Khayyam e. Al-Biruni (973-1048 M) f. Abu Hasan Al-Qalshadi (1410-1486) g. Ibnu Khaldun (1332-1406 M) 4. Apresiasi pemikiran islam di tanah air ini setidak-tidaknya sampai saat ini ternyata masih banyak ditandai oleh dikotomi pemikiran antara warna Barat dan Timur Tengah. Kondisi ini kemudian menjadi potensi pemicu perseteruan yang hebat di kalangan pemikir islam. Kelompok islam hasil didikan di Baratlah yang kemudian lebih nampak

memperoleh tamparan dari kelompok islam di Timur Tengah yang mengklaim atas segala hujatan dan tuduhanya itu berdasarkan islam, dan lebih islami.

DAFTAR PUSTAKA Adiffa, Ali Abdul. 1997. Ilmu Matematika dalam Peradaban Islam, dalam buku Mukjizat Al-Quran dan As-sunah tentang IPTEK, Jilid II. Jakarta: Gema Insani Press

Asmunia, Yusran. 1996. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada Madjid, Nurcholish. 1984. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintag Arifin, Syamsul. 1996. Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan . Yogyakarta: Sipress Barbour, Ian G. 2005. Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama . Bandung : Mizan Media Utama Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaaan Agama Islam Depag RI. 1995. Islam untuk Disiplin Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi . Jakarta: Departemen Agama RI Lutfi, A. M., 1997. Teknologi untuk Manusia, dalam Mukjizat Al-Quran dan Assunah tentang IPTEK Jilid I. Jakarta: Gema Insani Press Yusuf, Ali Anwar. 2006. Islam Dan Sains Modern. Bandung: Pustaka Setia