Anda di halaman 1dari 6

1. Pelopor yg mengembangkan forensik odontologi dari Swedia (1968) Jwb: DR. F. Gustafson 2.

Forensik (dari bahasa Romawi) artinya Pengadilan Odontologi (dari bahasa Yunani) artinya Odons : gigi ; Logos artinya ilmu 3. Tokoh & bapak pendiri Odontologi Forensik dg hasil karya Lart Dentaire En Medicine Legale adalah Dr. Oscar Amoedo 4. Ruang lingkup kegiatan odontologi forensik menurut Cameron dan Sims, dibagi 3 bidang, yaitu: a. Non kriminal/perdata : mal praktik, kelalaian, ident.fragmen, ident.pd kecelakaan masal b. Kriminal pidana : identifikasi seseorang (korban/pelaku) dari gigi, bekas gigitan c. Penelitian/research : menentukan golongan darah, menentukan umur pasien, menentukan ras 5. Identifikasi : upaya pengenalan kembali dari seseorang manusia baik yg mati maupun hidup melalui metode identifikasi & ilmu forensik 6. Metode identifikasi dianggap sah bila memenuhi 2 kriteria dari 9 kriteria : visual, dokumentasi, perhiasan, pakaian, gigi, sidik jari, medis, serologi, eksklusi 7. Metode pokok identifikasi : a. Metode sederhana: visual, properti/pemilikan pakaian), dokumen (KTP, ID CARD) (perhiasan,

b. Metode ilmiah: sidik jari, medik, odontogram, antropologi, biologi 8. Standart identifikasi : a. identifikasi primer : sidik jari, catatan gigi, DNA b. Identifikasi sekunder : medis, properti/barang milik korban, photo 9. Fungsi identifikasi : penyelidikan kasus kriminal, aspek legal (asuransi, warisan), pengembalian korban kepada ahli waris yg berhak, utk menjunjung tinggi nama baik bangsa & negara, aspek religius & kultural

10.

Kriteria2 yg dimiliki gigi sbg sarana utk identifikasi:

a. tahan terhadap trauma phisis, termis& dekomposisi b. mempunyai bentuk yg jelas & tertentu c. terletak di bag. badan yg relatif kecil shg walaupun badan hancur tp gigi tetap utuh. d. Terletak di bag. badan yg mudah dicapai, tdk memerlukan pemotongan & persiapan khusus e. Kemungkinan gigi sama 1 : 2 billion(milyar) 11. Gigi yg dipakai utk pedoman umur2 yg kritis di bag. hukum indonesia : Menurut drg. Adi Sukadana: a. M1 tanpa tetangga di sebelah distal = berisa 5 9 th b. C, range 7-15 (biasanya 10 -12 th) c. P2, range 7-15 th (biasanya 11-13 th) d. M2, 0-15 th (biasanya 13-15 th) Menurut Gustafson: a. Keausan gigi (atrisi) : makin tua , atrisi makin luas b. Dentin sekunder : warna lebih primer : gelap dari dentin

makin tua : makin tebal c. Resesi gingiva : makin tua , penurunan gusi > (makin banyak) d. Penebalan cementum pada lap. luar akar gigi makin tua, makin tebal 12. Info yg dpt diharapkan dari gigi utk identifikasi : umur, gol.darah, ras, jenis kelamin, kebiasaan pekerjaan, ciri2 khas, DNA 13. Khas ras Mongoloid (Asia) : adanya bentuk sekop (showel shaped) pd gigi Incisor rahang atas & adanya torus palatinus yg tinggi 14. Khas ras Caucasoid (Eropa): ukuran bucco-palatal gigi P2 mengecil & ukuran mesio distalnya melebar

15. 16.

Khas ras Negroid (Afrika): Akar P yg membelah/3 akar Pekerjaan/ kebiasaan:

a. perokok : pewarnaan pd gigi b. tukang sepatu: lekukan pd gigi c. pekerja di pabrik batu batery: warna gelap pd gusi/gingiva 17. Penentuan golongan darah dari pulpa gigi: jika pulpa

Jika pulpa masih segar: darah langsung diambil; mengering: apex dipotong 1/3 terus ditumbuk 18. Penentuan gol. darah daari sediaan/bag. tubuh:

a. Serologis : rambut, tulang, kuku, gigi, dll b. Grap antigen : jaringan kulit, air mata, saliva 19. Odontogram: catatan mengenai keadaan gigi-geligi & mulut dalam bentuk gambar/sketsa 20. Data ante mortem (data awal): catatan medis, tanda2 khusus, sidik jari, pas foto, kartu identitas, daftar penumpang, pakaian/perhiasan 21. Data ante mortem didapat dari: data keluarga, data dokumen, data polisi, medical record, dental record, dari masyarakat. 22. Data post mortem (data di TKP):

a. lakukan foto di KTP b. catat identitas korban : Laki2/perempuan c. catat tinggi badan, berat badan, ciri khusus, gol.darah d. catat data gigi e. identitas sidik jari f. catat baju korban, perhiasan, kartu identitas 23. Pd pemeriksaan Kedokteran gigi forensik pd kasus identifikasi korban: data post mortem selalu lebih buruk dari data ante mortem.

Contoh: Data Post Mortem 27 amalgam filling(AF) 36 amalgam filling(AF) 16 missing 35 missing 24 crown Data Ante Mortem 27 caries medial Catatan Mungkin

36 Crown tdk mungkin 16 crown Mungkin 35 amalgam filling (AF) Mungkin 24 missing tdk mungkin

24. Kegunaan utama ilmu forensik odontologi (Stimson,1997): diagnosa, pemeriksaan &evaluasi dari jejas oromaxillafacial, identifikasi dari individu khususnya pd kasus kriminal & bencana, identifikasi, pemeriksaan dan evaluasi dari bekas gigitan 25. Penggunaan gigi utk identifikasi : abad 1

26. Anggripina (istri muda ke 4 Kaisar Claudius+ibu ambisius(bekas istri Nero) merencanakan kematian Lollia Paulina dg memenggal kepala. Identifikasi dilakukan melalui : deretan gigi berjejal dari Lollia Paulina 27. Sabina, identifikasi kepala istri Nero melalui : gigi anterior yg berwarna hitam 28. Th 1193 invasi tentara nabi Muhammad, peperangan utk merebut kota suci Kanauji, Jai Chand (raja Kanauji) terbunuh : identifikasi gigi palsu 29. Earl of Shrewsbury terbunuh dlm perang Castilion th 1453 : identifikasi gigi geligi 30. Charles the Bold (Duke of Burgundy) terbunuh dlm perang di Nancy 1477 : identifikasi gigi yg hilang di beberapa bagian 31. Peter Halket terbunuh perang India th 1758 : identifikasi gigi tiruan pd skeleton 32. Dokter gigi forensik pertama di AS : Paul Revere

33. Dr. Joseph Warren berdasarkan : gigi tiruan cengkramannya dari perak

diidentifikasi oleh Paul Revere kecil yg dibuat dari gading &

34. Dr James Alexander mengidentifikasi jenasah Mrs. McAlister dgn : memasangkan gigi tiruan ke tengkoraknya 35. Mr Guerin th 1829 ditemukan dgn identifikasi: abrasi gigi akibat kebiasaan menghisap pipa utk merokok 36. William si penakluk meninggal th 1089, kuburannya digali th 1868, gigi masih bagus : Sifat gigi yang mampu bertahan lama identifikasi bisa dilakukan, sekalipun tubuh sdh rusak dan terkubur lama 37. Dr. Oscar Amodo (lahir th 1863 di Matanzas, Cuba): bapak forensik odontologi 38. Forensik odontologi di Indonesia mulai dikenal sejak: tenggelamnya kapal Tampomas (Januari 1997 di Palembang pd kasusu jatuhnya pesawat Silk Air) Dipelopori oleh: Kombes Pol (Purn) Drg. Peter Sahelangi 39. Kasus di Indonesia dg identifikasi forensik odontologi: Bom bali th 2002, Bom di Hotel J.W. Marriott, peledakan di depan Kedubes Australia th 2004, tsunami Aceh, Gempa bumi, Pangadaran 40. Kasus tekenal yg menggunakan gigi sbg identifikasi : John F. Kennedy (1963),

a. Lee Harvey Oswald mengidentifikasi dibuka lg th 1981

b. Serangan teroris di gedung WTC & Pentagon (2001) c. Korban bencana alam Badai Katrina & badai Rita th 2005 41. Detil ciri/karakteristik sangat membandingkan & membedakan 42. Urutan identifikasi : penting karena bertujuan:

a. Pemeriksaan & pencatatan sistematik b. Menemukan drg korban & rekam gigi c. Lokalisasi catatan gigi, rontgen, model, dll d. Membandingkan temuan sekarang & data rekam gigi

e. Interpretasi & laporan temuan 43. Data gigi yg bermanfaat: data diagnosis, radiograf, fotograf, catatan perawatan, model plester/stone gips, desain plat protesa & tanda khusus, catatan gigitan 44. Dental charting digunakan karena: mudah dimengerti, mudah dihafalkan, lebih sederhana & praktis