Anda di halaman 1dari 25

Hari, tanggal Jumat/ 16 2012

Subyektif Pasien mendapat imunisasi DPT combo kiri bekas suntikan mengalami bengkak dan kemerahan serta pasien menjadi rewel. malam hari pasien sumer-sumer. Pasien masih sumersumer

Objektif

Assessment dan planning

November di posyandu. Lengan

SabtuMinggu/ 17-18 November 2012 Senin/19 2012

Pasien demam tinggi

November berobat ke dokter spesialis anak namun demam tambah Selasa/ 20 November 2012 tinggi (Demam hari ke-5) MRS pukul 06.35 Demam tinggi. Diare cair + ampas, lendir (-) , darah (-) 3x/ hari. Muntah 1x Batuk kering (+) frekuensi jarang. perut kembung (-) kejang (-) KU: lemah Kesadaran: composs mentis T: 38,10C CRT < 3 detik Pulmo : ves +/+, Rh -/-, wz -/Cor : S1S2 Tunggal, murmur (-) Lab : GDA: 83 mg/dl Hb :12,1 g/dl Leu : 13.000 / cmm Diff. count : 2/-/7/41/45/5 PCV : 38 % Trombosit : 384.000/ cmm
1

A : hipertermi P: infuse D5 1/4NS 690cc/24 jam inj. Norages 90 mg prn ceftriaxone 2 x 120 mg

Rabu/ 21 November 2012

(demam hari ke- 6) Demam tinggi (naikturun) Diare cair + ampas, lendir (-) , darah (-) 3x/ hari. Batuk kering (+) frekuensi jarang. perut kembung (-) kejang (-) Pilek (+) Mata merah (+)

KU : lemah Kesadaran : compos mentis T : 36,90C-380C Turgor cukup Mata cowong (-) BAk lancar seeprti biasa. Lab : Uriene lengkap Leukost 5-6 L/P Eritrosit 2-3 L/P Epitel banyak

A : hipertermi P: infuse D5 1/4NS 690cc/24 jam inj. Norages 90 mg prn ceftriaxone 2 x 200 mg

Kamis 22 November 2012

Makan/ minum +/+ Pulang paksa dari RS Demam (-) mata merah (-) batuk kering (+) jarang BAB masih lembek Selama di rumah anak

Jumat/ 23 2012

bai-baik saja. (hari ke- 8 semenjak demam) pukul 14.00 Ruam- ruam di seluruh tubuh. Muncul pertama kali di daerah wajah.

KU : lemah, rewel Kesadran : compos mentis T :37,20C HR :100 x / menit RR: 40 x/ menit a/i/c/d : -/-/-/Ruam makulopapular eritema region fascialis, thorax, abdomen, punggung, extremitas (region thorax, abdomen dan

A : morbili P: Infuse D51/4NS 700cc/24 jam Pareacetamol 70 mg/ x prn.

November Pasien kembali MRS

Sejak pagi nampak lemah dan malas bermain

punggung bersifat konfluen, pada regio ekstremitas atas dan bawah bersifat discrete) conjungtivitis (-) koplik spot (-) pembesaran KGB leher (-) dada : simetris, retraksi ICS (-) pulmo : Ves +/+, Rh -/-, Wz -/cor : S1S2 tunggal, murmur (-) abd : meteorismus (-) Bising usus (+) Akral hangat (+) Kaku kuduk (-)

Demam (-) batuk kering (+) BAB cair + ampas, lender (-) darah (-). Kurang lebih 4x tiap kali kentrut keluar feses sedikitsedikit.

Sabtu/ 24 November 2012

BAK lancar seperti biasa. Demam (-) Batuk (-) Ruam di daerah dahi mulai menghilang ruam di badan mulai berkurang. Makan/minum : berkurang Ku : cukup Kesadaran : compos mentis T : 37,70C HR : 130 x/ menit RR : 40 x/menit Ruam makulopapuler eritema region fascialis berubah menjadi macula hiperpigmentasi. Ruam makulopapular eritema pada region eritema Ruam makulopapular eritema region extremitas masih tetap. Pulmo : ves +/+, Rh -/-, Wz -/Cor S1S2 tunggal, murmur (-)
3

A : morbili P: Infuse D51/4NS 500cc/24 jam Paracetamol mg/x prn San-B-plex 0,3 Interhistin 3 x 1 cth Vitamin 100.000 1x A abdomen dan 1x 70

thorax,

BAB / BAK lancar seperti biasa.

punggung berubah mendi macula

Abdomen : meteorismus (-) Bising usus (+) Akral hangat

Minggu/ 25 November 2012

Demam (-) Batuk (-) Pilek (-) diare 3x cair + ampas, lendir (-), darah (-)

Ku : cukup Kesadaran : compos mentis T : 37,50C HR : 120 x/ menit RR : 40 x/menit region fascialis didapatkan macula hiperpigmentasi. Ruam makulopapular eritema pada region thorax, abdomen dan punggung berubah mendi macula hiperpigmentasi Ruam makulopapular eritema region extremitas menjadi macula eritema. Pulmo : ves +/+, Rh -/-, Wz -/Cor S1S2 tunggal, murmur (-) Abdomen : meteorismus (-) Bising usus (+) Akral hangat Ku : cukup Kesadaran : compos mentis T : 36,90C HR : 138 x/ menit RR : 38 x/menit region fascialis, thorax, abdomen dan punggung didapatkan macula hiperpigmentasi. Macula eritema region extremitas menjadi macula hiperpigmentasi. Pulmo : ves +/+, Rh -/-, Wz -/

A: Morbili P : Infuse

D51/4NS 500cc/24 jam Paracetamol mg/x prn San-B-plex 0,3 Interhistin 3 x 1 cth 1x 70

ruam mulai berkurang Makan/minum : berkurang BAK lancar seperti biasa.

Senin/ 26 November 2012

Demam (-) Batuk (-) Pilek (-) diare 4x cair + ampas, lendir (-), darah (-)

A : morbili P: Paracetamol mg/x prn San-B-plex 0,3 Interhistin 3 x 1/4 cth 1x 70

ruam berubah di seluruh badan, tang dan kaki

menjadi memudar berubah warna menjadi kecoklatan makaan/minum : berkurang BAK lancar seperti biasa. Selasa/ 27 November 2012 Demam (-) Batuk (-) Pilek (-) diare 1x cair + ampas, lendir (-), darah (-) masih terdapat ruam kecoklatan di tubuh, tangan dan kaki makaan/minum : berkurang BAK lancar seperti biasa.

Cor S1S2 tunggal, murmur (-) Abdomen : meteorismus (-) Bising usus (+) Akral hangat

Ku : cukup Kesadaran : compos mentis T : 36,90C HR : 120 x/ menit RR : 36 x/menit region fascialis, thorax, abdomen punggung dan extremitas didapatkan macula hiperpigmentasi. Pulmo : ves +/+, Rh -/-, Wz -/Cor S1S2 tunggal, murmur (-) Abdomen : meteorismus (-) Bising usus (+) Akral hangat

A: morbili P : anak boleh pulang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit campak merupakan penyebab kematian pada anak-anak di seluruh dunia yang meningkat sepanjang tahun. Di dunia diperkirakan setiap tahun terdapat 30 juta orang yang menderita campak. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 30.000 anak meninggal setiap tahun karena komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit campak. (1) Program pencegahan dan pemberantasan campak di Indonesia pada saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan KLB (Kejadian Luar Biasa). Hasil pemeriksaan sampel darah dan urin penderita campak pada saat KLB menunjukkan IgM positif sekitar 70-100 persen. Insiden rate semua kelompok umur dari laporan rutin Puskesmas dan Rumah Sakit selama tahun 1992-1998 cenderung menurun, terutama terjadi penurunan yang tajam pada semua kelompok umur. Tahun 1997-1999 kejadian campak dari hasil penyelidikan KLB cenderung meningkat, kemungkinan hal ini terjadi berkaitan dengan dampak krisis pangan dan gizi, namum masih perlu dikaji secara mendalam dan komprehensive. (4) Campak sangat menular, sekitar 90% kontak terhadap orang yang rentan akan terserang penyakit. Campak jarang subklinis. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10 tahun, kebanyakan orang dewasa lemah imun.Saat ini di Amerika Serikat, campak terjadi paling sering pada anak umur sekolah yang belum di imunisasi serta pada remaja dan orang dewasa muda yang telah di imunisasi . (2) Campak adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan tiga stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Nama lain penyakit ini adalah campak, measles, atau rubeola. Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien. Virus morbili terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama stadium kataral sampai 24 jam setelah timbul bercak di kulit. Biasanya seseorang akan mendapat kekebalan seumur hidup bila telah sekali terinfeksi oleh campak. (2) (3)

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah case report ini adalah :
6

1. Apakah morbili itu ? 2. Bagaimana perjalanan klinis pasien morbili ? 3. Bagaimana cara mendiagnosa morbili ? 4. Apa saja diagnosis banding dari morbili ? 5. Bagaimana penatalaksaan morbili ?

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Campak yang disebut juga dengan, morbili, measles atau rubeola merupakan suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh paramixovirus. Penyakit ini ditularkan melalui percikan liur (droplet) yang terhirup, ditandai oleh tiga stadium, kataral, erupsi serta konvalesensi.(2) (5) 2.2 Epidemiologi Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan KLB campak yang dilakukan Subdit Surveilans dan Daerah pada tahun 1998-1999, kasus-kasus campak terjadi karena anak belum mendapat imunisasi cukup tinggi, mencapai sekitar 40100 persen dan mayoritas adalah balita (>70 persen).(4) 2.3 Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh golongan paramyxovirus, yaitu virus RNA dari famili Paramixofiridae, genus Morbillivirus. Hanya satu tipe antigen yang diketahui. Selama masa prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kamar (4) (6) 2.4 Patofisiologi Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet lewat udara, menempel dan berkembang biak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler
8

warna kemerahan.Virus dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit.(7) 2.5 Manifestasi Klinik Panas meningkat dan mencapai puncak pada hari 4-5 ketika ruam timbul Coryza yang terjadi sukar dibedakan dengan common cold yang berat. Membaik dengan cepat ketika panas turun. Conjunctivitis ditandai dengan mata merah pada konjunctiva disertai keradangan dengan keluhan fotofobia. Cough merupakan akibat kerdangan epitel saluran napas, mencapai puncak pada saat erupsi dan menghilang setelah beberapa minggu. Muncul kopliks spot sekitar 2 hari sebelum ruam muncul (hari 3-4) dan cepat menghilang setalah beberapa jam atau beberapa hari. Kopliks spot adalah sekumpulan noktah putih pada epitel bukal yang merah, yang merupakan tanda klinis yang pathogonomik untuk morbili. Ruam makulopapuler semula berwarna kemerhan. Ruam ini muncul pertama pada daerah batas rambut dan dahi, serta belakang telinga dan menyebar kea rah perifer sampai kaki. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dad menjadi confluent. Ruam ini membedakan dengan rubella yang ruamnya discrate dan tidak mengalami desquamasi. Telapak tangan dan kaki tidak mengalami desquamasi. (7)

2.6 Pemeriksaan Fisik Masa inkubasi 10-20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium, yaitu : (4)(7)(8) 1. Stadium kataral (prodormal).

Stadium ini berlangsung selama 2-4 sumber lain menyebutkan 4-5 hari disertai gambaran klinis seperti demam, malaise, batuk, fotopobia, konjungtivitis, dan coryza. Menjelang akhir dari stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantem, terdapat bercak koplik berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokasinya di mukosa bukal yang berhadapan dengan molar bawah. Gambaran darah tepi leukopeni dan limfositosis. (4)(7)(8) 2. Stadium erupsi Ditandai dengan timbulnya eritema berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan, Coryza dan batuk bertambah. Ruam ini muncul pertama pada daerah batas rambut dan dahi, serta belakang telinga kemudian menyebar dengan cepat pada seluruh muka, leher, lengan atas dan bagian atas dada pada sekitar 24 jam pertama. Selama 24 jam berikutnya ruam menyebar ke seluruh punggung, abdomen, seluruh lengan, dan paha. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dada menjadi confluent. Bertahan selama 5-6 hari. Suhu naik mendadak ketika ruam muncul dan sering mencapai 40-40,5 C.Ruam mencapai anggota bawah pada hari ke 3, dan menghilang sesuai urutan terjadinya. (4)(7)(8) 3. Stadium konvalesensi Erupsi berkurang menimbulkan bekas yang berwarna lebih tua atau hiperpigmentasi (gejala patognomonik) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain itu ditemukan pula kelainan kulit bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbilli. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai normal kecuali bila ada komplikasi (4)(7)(8) 2.7 Pemeriksaan Penunjang
1.

Pada pemeriksaan darah didapatkan jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri. Pemeriksaan antibodi IgM merupakan cara tercepat untuk memastikan adanya infeksi campak akut. Karena IgM mungkin belum dapat dideteksi pada 2 hari
10

2.

pertama munculnya rash, maka untuk mengambil darah pemeriksaan IgM dilakukan pada hari ketiga untuk menghindari adanya false negative. Titer IgM mulai sulit diukur pada 4 minggu setelah muncul rash.
3.

IgG antibodi dapat dideteksi 4 hari setelah rash muncul, terbanyak IgG dapat dideteksi 1 minggu setelah onset sampai 3 minggu setelah onset. IgG masih dapat ditemukan sampai beberapa tahun kemudian. Virus measles dapat diisolasi dari urine, nasofaringeal aspirat, darah yang diberi heparin, dan swab tenggorok selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu kama (8)

4.

2.8 Diagnosis Diagnosis morbili biasanya cukup ditegakkan berdasarkan gejal klinis. Pemeiksaan laboratorium jarang dilakukan. Mekanisme diagnose morbili dapat dilakukan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, serta dapat dibantu dengan pemeriksaan penunjang seperi dipaparkan pada table berikut : Anamnesis Demam tinggi terus- menerus 38.5oC atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah, dan silau kena cahaya, seringk kali diikuti diare. Pada hari ke 4-5 demam timbul ruam kulit didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula. Saat ruam timbul, batuk dandiare tambah parah sehingga anak mengalami sesak atau dehidrasi. (7) Pemeriksaan fisisk Masa inkubasi 10-20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium, yaitu : (4)(7)(8) 1. Stadium kataral (prodormal). Stadium ini berlangsung selama 2-4 atau 4-5 hari disertai gambaran klinis seperti demam, malaise, batuk, fotopobia, konjungtivitis, dan coryza. Menjelang akhir dari stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantem, terdapat bercak koplik berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema. Lokasinya di mukosa bukal yang
11

berhadapan dengan molar bawah. Gambaran darah tepi leukopeni dan limfositosis. (4)(7)(8) 2. Stadium erupsi Ditandai dengan timbulnya eritema berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan, Coryza dan batuk bertambah. Ruam ini muncul pertama pada daerah batas rambut dan dahi, serta belakang telinga kemudian menyebar dengan cepat pada seluruh muka, leher, lengan atas dan bagian atas dada pada sekitar 24 jam pertama. Selama 24 jam berikutnya ruam menyebar ke seluruh punggung, abdomen, seluruh lengan, dan paha. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dada menjadi confluent. Bertahan selama 5-6 hari. Suhu naik mendadak ketika ruam muncul dan sering mencapai 40-40,5 C.Ruam mencapai anggota bawah pada hari ke 3, dan menghilang sesuai urutan terjadinya. (4)(7)(8) 3. Stadium konvalesensi Erupsi berkurang menimbulkan bekas yang berwarna lebih tua atau hiperpigmentasi (gejala patognomonik) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Selain itu ditemukan pula kelainan kulit bersisik. Hiperpigmentasi ini merupakan gejala patognomonik untuk morbilli. Pada penyakit-penyakit lain dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi. Suhu menurun sampai normal kecuali bila ada komplikasi (4)(7)(8) Pemeriksaan penunjag
2. 3. 1.

Pada pemeriksaan darah didapatkan jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri. Pemeriksaan antibodi IgM anti campak. Pemeriksaan untuk komplikasi : a. Ensefalopati/ ensefalitis : pemeriksaan cairan serebrispinalis, kadar elektrolit darah dan analiasa gas darah. b. Enteritis : feses lengkap c. Bronkopnemonia : dilakukan pemeriksaan foto dada dan analisa
12

gas darah. (7)

2.9 Differensial Diagnosis Diagnosis banding dan cara mebedakan morbili dengan infeksi virus yang menimbulkan gejala demam dan ruam pada anak dapat dilihat pada table dibawah ini :
Penyakit Rubella (German measles, minor measles) Penyebab Virus rubella Musim Bayi, dewasa muda Transmisi Droplet pernapasan Inkubasi 14-21 Prodormal Malaise, demam tidak tinggi, pembesaran kelenjar leher, belakang telinga, dan oksipital; 0-4 hari Rewel, demam tinggi, 3-4 hari, pembesaran kelenjar servikal dan oksipital Gambaran dan struktur ruam Diskrit, nonkonfluen, makula dan papula berwarna merah muda, dimulai dari wajah dan menyebar ke bawah; 1-3 hari enamtema Berbagai makula eritematus pada palatum molle

Roseola (exanthema subitum)

HHV 6 dan 7

Bayi (6 bulan-2 tahun)

Tidak diketahui; saliva atau karier tanpa gejala

5-15 (?)

Ruam timbul ketika suhu tubuh menurun. Makula diskrit pada tubuh dan leher; ruam mendadak timbul lalu menghilang; 0,5-2 hari; beberapa pasien tanpa ruam

Berbagai makula eritematus pada palatum molle

Fifth disease (erythema infectiosum

Parvoviru s B19

Prepubertal

Droplet pernapasan; transfuse darah;plase

5-15

Nyeri kepala, malaise, mialgia, sering demam

Eritema lokal pada pipi (slapped cheek); eritema merah muda pada tubuh dan ekstremitas; mungkin gatal;

Tidak ada

13

nta

ruam mungkin tertunda masa prodromal hingga 3-7 hari; berlangsung 2-4 hari; dapat berulang 2-3 minggu kemudian 12-21 Demam Papula pruritik, vesikel dengan berbagai derajat; 2-4 tumbuh, kemudian menjadi krusta; tersebar pada tubuh dan kemudian wajah dan ekstremitas; 7-10 hari; terulang beberapa tahun kemudian mengikuti distribusi dermatomal (zoster, shingles) Tangan-kaki-mulut: vesikel di lokasi tersebut; Yang lain: tidak spesifik, biasanya halus, nonkonfluen, ruam makular atau makulopapular, jarang petekie, urtikaria, atau vesikel; berlangsung 3-7 hari Mukosa lidah mulut,

Chickenpox (varicella)

Virus varicellazoster

1-14 tahun

Droplet pernapasan

Enterovirus es

Coxsackie virus, ECHOvir us, dan lain-lain

Bayi, young children

Fekal-oral

4-6

Bervariasi; rewel, demam, nyeri tenggorok, mialgia, nyeri kepala

Ya

Mononucle osis

Virus EpsteinBarr

Anak-anak, remaja

Kontak dekat; saliva, transfusi darah

28-49

Demam, adenopati, edema palpebra, nyeri tenggorok, hepatosplenomegali , malaise, limfositosis

Makulopapular atau morbiliformis pada tubuh dan ekstremitas, mungkin konfluen; sering dipicu pemberian ampisilin atau alopurinol; ruam pada 15-50% berbetuk druginduced; berlangsung 2-7 hari

Bervariasi

Sumber: Lembo RM. Fever and rash. Dalam: Kliegman RM, Greenbaum LA, Lye PS, editor. Practical strategies in pediatric diagnosis and therapy. Edisi kedua. Elsevier Saunders. Philadelphia, 2004; 997-1015

14

2.10 Penatalaksanaan Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari : Pemberian cairan yang cukup Kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi Suplemen nutrisi Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder Anti konvulsi apabila terjadi kejang Pemberian vitamin A Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 39,00 C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi. (6)(7) Campak tanpa komplikasi : Hindari penularan Tirah baring di tempat tidur Vitamin A 100.000 IU, apabila disetai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi. (6)(7) Campak dengan komplikasi : Ensefalopati/ensefalitis Antibiotika bila diperlukan, antivirus dan lainya sesuai dengan PDT ensefalitis Kortikosteroid, bila diperlukan sesuai dengan PDT ensefalitis Kebutuhan jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit Bronkopneumonia : Antibiotika sesuai dengan pedoman terapi pneumonia
15

Oksigen nasal atau dengan masker Koreksi gangguan keseimbangan asam-basa, gas darah dn elektrolit Enteritis : koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi Pada kasus campak dengan komplikasi bronkhopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau terhadap adanya infeksi TB laten. Pantau gejala klinis serta lakukan uji Tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan. Pantau keadaan gizi untuk gizi kurang/buruk. (6)(7) 2.11Pencegahan Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas. Jika hanya mengandung campak, vaksin dibeirkan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. Selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat. (6)

2.12Komplikasi Pada penyakit campak terdapat resistensi umum yang menurun sehingga keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti: (4) 1. Bronkopnemonia Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus campak atau oleh pneumococcus, streptococcus, staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih muda, anak dengan malnutrisi energi protein, penderita penyakit menahun seperti tuberkulosis, leukemia dan lain-lain. (4) 2. Komplikasi neurologis Kompilkasi neurologis pada morbili seperti hemiplegi, paraplegi, afasia, gangguan mental, neuritis optica dan ensefalitis. (4)
16

3.

Encephalitis morbili akut Encephalitis morbili akut ini timbul pada stadium eksantem, angka kematian rendah. Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi morbili ialah 1:1000 kasus, sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus morbili hidup adalah 1,16 tiap 1.000.000 dosis. (4)

4. SSPE (Subacute Scleroting panencephalitis) SSPE yaitu suatu penyakit degenerasi susunan saraf pusat. Ditandai oleh gejala yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan mental, disfungsi motorik, kejang, dan koma. Perjalan klinis lambat, biasanya meninggal dalam 6 bulan sampai 3 tahun setelah timbul gejala spontan. Meskipun demikian, remisi spontan masih dapat terjadi. Biasanya terjadi pada anak yang menderita morbili sebelum usia 2 tahun. Immunosuppresive measles encephalopathy Didapatkan pada anak dengan morbili yang sedang menderita defisiensi imunologik karena keganasan atau karena pemakaian obat-obatan imunosupresi (4) 2.13 Prognosa Bila keadaan umum penderita baik tanpa disetai dengan komplikasih, maka prognosisnya baik, tapi prognose buruk pada keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit kronis atau bila ada komplikasi. Angka kematian telah menurun pada tahun-tahun ini sampai tingkat rendah pada semua kelompok umur, terutama akren akeadaan sosioekonomi membaik.(4)

17

18

BAB III RESPONSI KASUS I. II. III. IV. V. IDENTITAS PASIEN SUBYEKTIF OBYEKTIF ASSESMENT PLANING

19

FOLLOW UP PASIEN Hari, tanggal Jumat/ 16 2012 Subyektif Pasien mendapat imunisasi DPT combo di posyandu. mengalami bengkak dan kemerahan serta pasien menjadi rewel. malam hari SabtuMinggu/ 17-18 November 2012 Senin/19 2012 Selasa/ 20 November 2012 Pasien demam tinggi anak namun demam tambah tinggi (Demam hari ke-5) MRS pukul 06.35 Demam tinggi. Diare cair + ampas, lendir (-) , darah (-)3x/ hari. Muntah 1x Batuk kering (+) frekuensi jarang. perut kembung (-) kejang (-) KU: lemah Kesadaran: composs mentis T: 38,1 C CRT < 3 detik Pulmo : ves +/+, Rh -/-, wz -/Cor : S1S2 Tunggal, murmur (-) Lab : GDA: 83 mg/dl Hb :12,1 g/dl Leu : 13.000 / cmm Diff. count : 2/-/7/41/45/5
20
0

Objektif

Assessment dan planning

November Lengan kiri bekas suntikan

pasien sumer-sumer. Pasien masih sumer-sumer

November berobat ke dokter spesialis

A : hipertermi P: infuse D5 1/4NS 690cc/24 jam inj. Norages 90 mg prn ceftriaxone 2 x 120 mg

PCV : 38 % Trombosit : 384.000/ Rabu/ 21 November 2012 (demam hari ke- 6) Demam tinggi (naik- turun) Diare cair + ampas, lendir (-) , darah (-) 3x/ hari. Batuk kering (+) frekuensi jarang. perut kembung (-) kejang (-) Pilek (+) Mata merah (+) Makan/ minum +/+ cmm KU : lemah Kesadaran mentis T : 36,90C-380C Turgor cukup Mata cowong (-) BAk lancar seeprti biasa. Lab : Uriene lengkap Leukost 5-6 L/P Eritrosit 2-3 L/P Epitel banyak : A : hipertermi compos P : infuse D5 1/4NS 690cc/24 jam inj. Norages 90 mg prn ceftriaxone 2 x 200 mg

Kamis 22 November 2012

Pulang paksa dari RS Demam (-) mata merah (-) batuk kering (+) jarang BAB masih lembek Selama di rumah anak KU : lemah, rewel Kesadran : compos mentis Ruam- ruam di seluruh tubuh. Muncul pertama kali di daerah wajah. Sejak pagi nampak lemah dan malas T :37,20C HR :100 x / menit RR: 40 x/ menit a/i/c/d : -/-/-/conjungtivitis (-) koplik spot (-)
21

Jumat/ 23 2012

bai-baik saja. (hari ke- 8 semenjak demam) Pasien kembali MRS pukul

November 14.00

bermain Demam (-) batuk kering (+) BAB cair + ampas, lender (-) darah (-). Kurang lebih 4x tiap kali kentrut keluar feses sedikit-sedikit. BAK lancar seperti biasa.

pembesaran KGB leher (-) dada : simetris, retraksi ICS (-) pulmo : Ves +/+, Rh -/-, Wz -/cor : S1S2 tunggal, murmur (-) abd : meteorismus (-) Bising usus (+) Ruam makulopapular eritema region fascialis, thorax, abdomen, punggung, extremitas (region thorax, abdomen dan punggung bersifat konfluen, pada regio ekstremitas atas dan bawah bersifat discrete) Akral hangat (+) Kaku kuduk (-)

Sabtu/ 24 November 2012

Anak tidak demam, suhu tubuh 37,70C Anak sudah tidak batu lagi. Ruam makulopapular eritema di daerah dahi menghilang tanpa bekas.

Ruam di punggung mulai berkurang. Gambaran makulopapular


22

eritema berubah menjadi macula eritema. Anak menggaruk daerah dengan ruam kemungkinan dirasa gatal. Koplik spot tidak ditemukan. Minggu/ 25 November 2012 Anak tidak demam, suhu tubuh 37,50C Anak sudah tidak batu lagi Anak diare 3x cair+ ampas, tidak ada lendir atau darah Gambaran makulopapular eritema pada wajah hilang tanpa bekas. Gambaran makulopapular eritema pada daerah dada, abdomen, dan punggung berubah menjadi macula kecoklatan (macula hiperpigmentasi) Makulopapular eritema pada ekstremitas berubah menjadi macula
23

merah kecoklatan. Senin/ 26 November 2012 Selasa/ 27 November 2012

BAB IV PEMBAHASAN

24

DAFTAR PUSTAKA 1. Regina. 2008. Campak. FKMUI.


2. Faradilla, Nova . 2009. Campak (morbili) Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

Diakses dari http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/10/11/campak-morbili/ pada tanggal 25 November 2012 pukul 14. 47.
3. Referat makalah kedokteran. 2010. Campak/ Morbili. Referensi kedokteran

blogspot. Diakses dari http://referensikedokteran.blogspot.com/2010/07/morbilicampak.html tanggal 25 November 2012 pukul 14. 55 4. Syamsi, Anwarusy. 2009. Referat morbili (campak). Diakses dari http://anwarusy.wordpress.com/2009/06/16/referat-morbili-campak/ tanggal 25 November 2012 pukul 15.33
5. Andriani, Julia. 2009. Morbili / Measles / Campak. Fakultas Kedokteran

Universitas

Riau.

Diakses

dari tanggal

http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/11/17/morbili-measles-campak/ 25 November 2012 pukul 15.39.

6. Kumpulan referat.2009. campak. Diakses dari http://referatku.blogspot.com/200

9/05/campak.html pada tanggal 25 November 2012 pukul 15.55.


7. Darmowandowo, Widodo. Setiono Basuki, parwati. 2008. Pedoman Dan

Diagnosa Terapi SMF kesehatan anak. Surabaya : rumah Sakit Dokter Sutomo Surabaya.
8. Yuliana.

2008.

CAMPAK

(Morbili,

Measles, Rubeola).

Diakses

dari

http://pediatricinfo.wordpress.com/2008/07/09/campak-morbili-measles-rubeola/ pada tanggal 25 November 2012 pukul 15.55

25