Anda di halaman 1dari 43

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Menurut UU NO.22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, Pasal 1 No.24 disebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan yang lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian harta benda. [1,11] Menurut Peraturan Pemerintah No.43 tahun 1993 Pasal 94 ayat (1) kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disangka-sangka dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya, mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. [9]

Gambar 1.1. Kecelakaan Lalu Lintas

Masalah dan beban karena kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut wilayah secara geografi. Lebih dari separuh kematian karena kecelakaan lalu lintas jalan terjadi di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat dan angka tertinggi kecelakaan terjadi diwilayah Afrika. Resiko kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut tingkat ekonomi negara. Dinegara-negara dengan tingkat ekonomi tinggi, mayoritas korban kecelakaan lalu linttas adalah pengemudi
1

dan penumpang, sedangkan di negara dengan tingkat ekonomi rendah sampai sedang, sebagian besar kematian terjadi pada pejalan kaki, pengendara sepeda motor, dan pemakai kendaraan umum. [7] 1.2.Tujuan Tujuan penulisan referat ini adalah untuk memenuhi Tugas Kepaniteraaan Klinik di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik Universitas Airlangga RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan untuk memberikan pengetahuan kepada teman sejawat dan pembaca lainnya mengenai Klasifikasi Kecelakaan Lalu Lintas dan untuk mengetahui pola trauma secara umum pada kecelakaan lalu lintas serta mengetahui pola trauma pada berbagai jenis kecelakaan lalu lintas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Definisi Menurut UU NO.22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, Pasal 1 No.24 disebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan yang lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian harta benda. [1,11] Menurut Peraturan Pemerintah No.43 tahun 1993 Pasal 94 ayat (1) kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disangka-sangka dan tidak disengaja

melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya, mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta benda. [9] Berdasarkan UU NO.22 Tahun 2009 Pasal 229 No.1-5 membagi kecelakaan lalu lintas , yaitu: 1. Kecelakaan lalu lintas digolongkan atas : [1,11] a. Kecelakaan Lalu Lintas Ringan b. Kecelakaan Lalu Lintas Sedang c. Kecelakaan Lalu Lintas Berat 2. Kecelakaan lalu lintas ringan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan kendaraan dan atau barang. [1,11]

Gambar 2.1. Kecelakaan Lalu Lintas Ringan

3. Kecelakaan lalu lintas sedang, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang. [1,11]

Gambar 2.2. Kecelakaan Lalu Lintas Sedang

4. Kecelakaan lalu lintas berat, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kecelakaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat. [1,11]

Gambar 2.3. Kecelakaan Lalu Lintas Berat

5. Kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disebabkan oleh kelalaian pengguna jalan, ketidaklaikan kendaraan, serta ketidaklaikan jalan dan/atau lingkungan. [1,11] 2.2. Epidemiologi Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi semua sektor kehidupan. Pada tahun 2002 diperkirakan sebanyak 1,18 juta orang meninggal karena kecelakaan. Angka kecelakaan ini merupakan 2,1% dari kematian global, dan merupakan indikator penting dalam status kesehatan. Berdasarkan data statistik dari World Tourism Organization, turis internasional pada tahun 2006 melampaui 840 juta orang. Pada tahun 2006, mayoritas turis internasional (sekitar 410 juta orang) dan mereka datang dengan tujuan untuk berwisata, rekreasi dan liburan (51%). Sedangkan untuk keperluan bisnis ialah 13% (131 juta orang) dan 27% (225 juta orang). Berpergian dengan tujuan lain seperti mengunjungi keluarga,urusan ibadah, dan urusan kesehatan. Sisanya sebanyak 8% mempunyai tujuan yang tidak dapat diklasifikasikan. [8] Pada tahun 1990, kecelakaan lalu lintas menduduki peringkat ke-9 (WHA) penyebab utama faktor resiko, penyakit dan kematian dan meliputi 2,6% dari faktor kehilangan kualitas hidup secara global. Selain itu diperkirakan pada tahun 2020 diperkirakan angka kecelakaan lalu lintas menduduki urutan ke-3 di atas masalah kesehatan lain seperti malaria, TB paru, dan HIV/AIDS berdasarkan proyeksi penyakit secara global. Pada tahun 2002, 90% dari kematian global karena kecelakaan lalu lintas terjadi di negara-negara dengan penghasilan
5

rendah sampai sedang. Cedera karena kecelakaan lalu lintas secara tidak seimbang menimpa golongan miskin di negara-negara tersebut, dengan sebagian besar korban ialah pemakai jalan yang rentan seperti pejalan kaki, pengendara sepeda, anak-anak, dan penumpang. [8] Di Indonesia, sebagian besar (70%) korban kecelakaan lalu lintas adalah pengendara sepeda motor dengan golongan umur 15-55 tahun dan berpenghasilan rendah, dan cedera kepala merupakan urutan pertama dari semua jenis cedera yang dialami korban kecelakaan. Proporsi disabilitas( ketidakmampuan ) dan angka kematian karena kecelakaan masih cukup tinggi yaitu sebesar 25% dan upaya untuk mengendalikannya dapat dilakukan melalui tatalaksana penanganan korban kecelakaan di tempat kejadian kecelakaan maupun setelah sampai di sarana pelayanan kesehatan.[8] 2.3. Aspek Medis dan Legal Kecelakaan Lalu Lintas 2.3.1. Penggolongan Korban Korban kecelakaan lalu lintas diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu sebagai berikut:
[9]

a. Korban mati atau meninggal dunia b. Korban luka berat c. Korban luka ringan Dalam kaitan korban kecelakaan lalu lintas, Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 1993 yang terkait mengenai korban yaitu : a. Korban Mati atau Meninggal Dunia Berdasarkan pasal 93 ayat 3 PP No. 43 tahun 1993 yang dinyatakan sebagai korban mati atau meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas adalah korban yang dipastikan mati sebagai akibat kecelakaan lalu lintas dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah kecelakaan tersebut. [9] b. Korban Luka Berat Berdasarkan pasal 93 ayat 4 PP No. 43 tahun 1993 yang dinyatakan sebagai korban luka berat akibat kecelakaan lalu lintas adalah korban yang karena luka-lukanya menderita
6

cacat tetap atau harus dirawat dalam jangka waktu lebih dari 30 (tiga puluh) hari sejak terjadi kecelakaan. [9] c. Korban Luka Ringan Berdasarkan pasal 93 ayat 5 PP No. 43 tahun 1993 yang dinyatakan sebagai korban luka ringan akibat kecelakaan lalu lintas adalah korban yang tidak termasuk dalam pengertian ayat (3) dan ayat (4). [9]

2.4. Pola Trauma secara Umum Korban kecelakaan lalu lintas dapat diduga jenis cederanya dengan meneliti riwayat trauma dengan cermat. Pada korban kecelakaan lalu lintas, biasanya ditemukan trauma atau tanda kekerasan yang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok : [10] 1. Trauma akibat kekerasan pertama oleh kendaraan (first impact) Trauma yang ditimbulkan oleh persentuhan bagian kendaraan dengan dengan tubuh. Perhatikan bentuk / gambaran luka serta letaknya. Trauma biasanya berupa luka lecet jenis tekan. [4,6,10]

Gambar 2.4. Trauma akibat Kekerasan Pertama oleh Kendaraan

2. Trauma akibat terjatuh Pada tubuh korban dapat ditemukan trauma lain yang terjadi akibat terjatuhnya korban setelah persentuhan pertama dengan kendaraan. Trauma biasanya merupakan luka lecet jenis geser dan atau luka robek. [4,6,10]

Gambar 2.5. Trauma akibat Terjatuh

3. Trauma akibat terlindas ( rollover ) Trauma akibat lindasan ban kendaraan memberikan gambaran cermat terhadap jejas , seringkali dapat membantu pihak yang berwajib untuk mengidentifikasi jenis kecelakaan yang menyebabkan kecelakaan. Deskripsi ban baik mengenai coraknya maupun ukurannya dengan sketsa atau foto. [4,6,10]

Gambar 2.6. Trauma akibat Terlindas

2.5. Kekerasan Benda Tumpul pada Kulit dan Jaringan dibawahnya Sebagian besar kecelakaan lalu lintas menyebabkan trauma karena kekerasan benda tumpul. Kekerasan benda tumpul tersebut dapat menyebabkan trauma antara lain:
8

2.5.1. Luka Lecet Luka lecet adalah kerusakan yang mengani lapisan atas dari epidermis akibat kekerasan dengan benda yang mempunyai permukaan yang kasar, sehingga epidermis menjadi tipis, sebagian atau seluruh lapisannya hilang. Kadang-kadang luka lecet dapat memberi petunjuk tentang jenis benda yang menyebabkannya, misalnya luka tersebut berbentuk ban mobil. [3] Ciri-ciri luka lecet : [3] a. Sebagian atau seluruh epitel hilang b. Permukaan tertutup oleh eksudasi yang akan mongering (crusta) c. Timbul reaksi radang berupa penimbunan sel-sel PMN d. Biasanya tidak menimbulkan jaringan parut

Gambar 2.7. Luka Lecet

2.5.2. Luka Memar Yang mengalami kerusakan adalah jaringan subkutan sehingga pembuluh-pembuluh darah (kapiler) rusak dan pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya. Disini permukaan kulit tidak selalu mengalami kerusakan. Bagian tubuh yang mudah mengalami luka memar adalah bagian yang mempunyai jaringan lemak dibawahnya dan berkulit tipis. Luka memar tidak bisa dengan pasti menunjukkan berat ringannya kekerasan, juga tidak bisa menunjukkan jenis benda penyebabnya. [3]

Gambar 2.8. Luka Memar

2.5.3. Luka Robek Seluruh tebal kulit mengalami kerusakan dan juga jaringan bawah kulit, sehingga epidermis terkoyak, folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea juga mengalami kerusakan. Pada umumnya jika sembuh akan menimbulkan jaringan parut (sikatrik). Luka robek mudah terjadi pada kulit dengan adanya tulang dibawahnya. [3] Ciri luka robek : [3] a. Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tidak rata b. Bila ditautkan tidak dapat rapat (karena sebagian jaringan hancur) c. Tepi luka tidak rata dan ditemukan jembatan jaringan d. Disekitar garis batas luka ditemukan memar

10

Gambar 2.9. Luka Robek

2.5.4. Luka Retak sampai Patah Tulang Luka retak adalah luka pada kulit daerah tubuh yang ada tulang tepat dibawah kulit tersebut. Luka ini akibat kekerasan benda tumpul yang memounyai pinggiran. [3] Ciri luka retak : [3] a. Tepi luka dan sudut luka tidak tajam b. Permukaan luka tidak rata c. Ditemukan adanya jembatan jaringan dan memar atau lecet disekitar luka d. Rambut ditemukan tercabut

Gambar 2.10 Luka Retak

11

2.6. Dinamika Cedera akibat Kecelakaan dalam Berkendara Trauma jaringan disebabkan karena adanya perbedaan dari pergerakan. Adanya perbedaan perpindahan gerak yang traumatis, yaitu akselerasi dan deselerasi. Perbedaan ini diukur dengan gaya gravitasi ( G force ). Rumus G ( G force ) digunakan untuk menghitung ratarata kekuatan pada kecelakaan : [10] G= (v2 x 0,034)/D G= Kekuatan yang dihasilkan oleh gaya gravitasi V= Kecepatan dalam km/jam D= Jarak yang ditempuh setelah benturan sampai kendaraan berhenti dalam meter (m)

Gambar 2.11. Dinamika cedera

12

2.7. Pembagian Arah Benturan Ada 4 tipe arah benturan pada kecelakaan, yaitu: a. Arah Depan Ini adalah tipe yang paling umum dari semua tabrakan kendaraan bermotor. Terjadi bila 2 kendaraan bertabrakan dua-duanya atau bila bagian depan dari kendaraan menabrak benda yang tidak bergerak, seperti tembok atau tiang listrik. Sebagai akibat dari energi gerak, penumpang dari kendaraan bermotor akan terus melaju ( bila tidak memakai sabuk pengaman ) dan terjadi benturan pada kemudi atau dashboard, kaca depan, ataupun lampu depan kendaraan. Pola luka akan terbentuk tergantung dari posisi daripada penumpang dari kendaraan bermotor.[10,15]

Ganbar 2.12. Benturan arah depan

13

Ganbar 2.13. Benturan arah depan

b. Arah Samping Biasanya terjadi dipersimpangan. Kendaraan lain menabrak dari arah samping atau pun mobil terpelanting dan sisinya menghantam benda tidak bergerak sehingga dapat terlihat perlukaan yang sama dengan tabrakan dari arah depan termasuk robeknya pembuluh darah aorta dan patah dasar tulang tengkorak. [10,15] Bi l a benturan terjadi pada sisi kiri kendaraan pengemudi akan cenderung mengalami perlukaan pada sisi kiri dan penumpang depan akan mengalmi perlukaan yang lebih sedikit karena pengemudi bersifat sebagai bantalan. Bila benturan terjadi pada sisi kanan, maka yang terjadi adalah sebaliknya, demikian juga bila tidak ada penumpang. [10,15]
14

Gambar 2.14. Benturan arah samping

C. Terguling Keadaan ini lebih mematikan dibandingkan dengan tabrakan dari arah samping terutama bila tidak dipakainya sabuk pengaman dan penumpang terlempar keluar. Bila terlempar semuanya beberapa perlukaan dapat terbentuk pada saat korban mendarat pada permukaan yang keras. Pada beberapa kasus, korban yang terlempar bisa ditemukan hancur atau terperangkap di bawah kendaraan. [10,15]

15

Gambar 2.15. Benturan terguling

d. Arah Belakang Hal ini dapat menyebabkan acceleration injuries dan sangat jarang menimbulkan kematian. Pada benturan dari arah belakang, benturan dikurangi atau terserap oleh bagian bagasi dan kompartemen penumpang belakang yang dengandemikian memproteksi penumpang bagian depan dari perlukaan yang parah dan mengancam jiwa. [10,15]

Gambar 2.16. Benturan arah belakang

16

2.8. Cedera pada Penumpang Kendaraan Jenis kendaraan (selain sepeda motor) dalam teorinya memiliki sedikit perbedaan dalam mekanisme kejadian cedera. Kendaraan berat pengangkut barang biasanya mengalami kerusakan/akibat yang lebih berat daripada kendaraan kecil jika terjadi kecelakaan karena memiliki massa dan kekuatan yang lebih besar, dan juga ketinggiannya dari permukaan tanah. Kerusakan struktural dari pengaruh dengan kendaraan-kendaraan yang ukurannya lebih kecil akan lebih ringan dan sering terjadi pada bagian di bawah posisi pengemudi. Meskipun demikian, karena daya deselerasinya lebih kecil, maka para penumpang tetap rentan terhadap pola-pola cidera. [10] 1. Pengemudi Beberapa keadaan yang dapat diderita oleh pengemudi : [5,10,12,15] a. Fascia : Abrasi, laserasi dan fraktur. b. Tulang : dapat menyebabkan fraktur pada semua bagian tulang terutama basis cranii, cervical, femur, patella, pelvis dan cruris. c. Abdomen : internal bleeding . d. Thorax: Rusaknya Aorta Kontusi jantung , luka epikardium dan miokardium dan hemorrhage subendokardial Haemothoraks atau pneumothoraks, atau bahkan keduanya.

e. Kerusakan organ-organ vital 2. Penumpang Yang Duduk Dikursi Depan Di negara-negara dengan rasio kendaraan terhadap penduduk yang lebih rendah terjadi kebalikannya dan banyak kecelakaan disebabkan oleh terlalu sesaknya penumpang. Pola cedera yang dialami oleh penumpang sama dengan pengemudi, namun kedudukannya di dalam mobil lebih membahayakan. Satu lagi faktor ialah bahwa pengemudi memusatkan perhatiannya secara konstan pada jalan sehingga ia jarang sekali memperingatkan penumpangnya saat terjadi resiko kecelakaan. [10,15]

17

Gambar 2.17. Penumpang yang duduk didepan

3. Penumpang Yang Duduk Di Kursi Belakang Sebelum sabuk pengaman populer digunakan bahkan di beberapa negara sekarang diwajibkan ditengarai bahwa posisi duduk di kursi belakang cukup aman, jika dibandingkan dengan posisi duduk di depan. Meskipun keberadaan sabuk pengaman telah secara dramatis mengurangi resiko kecelakaan dengan cedera serius bagi para penumpang yang duduk di kursi depan, bahaya bagi penumpang yang duduk di kursi belakang menjadi jauh lebih nyata. [10,15] Selama terjadinya deselerasi yang keras, para penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman yang duduk di kursi belakang diproyeksikan ke arah depan dan terhempas ke bagian belakang kursi depan, termasuk bagian sandaran kepala. Mereka dapat saja terlempar ke atas kursi, menabrak dan mengalami cidera yang lebih parah dibandingkan penumpang yang duduk di kursi depan atau bahkan terpental ke arah windscreen, yang kemungkinan dapat pecah karena benturan oleh penumpang yang berada di depan. Dalam tabrakan beruntun, penumpang kursi belakang memiliki trauma yang sama beratnya, tetapi mengalami cedera yang kemungkinan lebih banyak karena terbentur berkali-kali, seperti terbentur kaca, spion, pegangan pintu, dan jendela.[10,15]

18

Gambar 2.18. Penumpang yang duduk dibelakang

4. Cedera Akibat Sabuk Pengaman Seperti yang telah dikemukakan di atas, banyak negara sekarang telah memiliki peraturan yang mewajibkan pemasangan sabuk pengaman pada kursi depan dan kursi belakang.Bukan hanya kematian yang dapat ditekan, tetapi juga cedera terutama pada daerah kepala dan cedera lain yang berakibat fatal dapat pula dikurangi. [10,13,14,15] Macam-macam jenis sabuk pengaman: a. Lap-Belt [10,13,14,15]

Gambar 2.19. Lap-Belt

19

b. Three-point attachment belt [10,13,14,15]

Gambar 2.20. Three-point attachment belt

c. Inertia-reel [10,13,14,15]

Gambar 2.21. Inertia reel

20

d. Shoulder belt [10,13,14,15]

Gambar 2.22 Shoulder belt

Berbagai bentuk sabuk pengaman berfungsi dengan: a. Menahan penumpang agar tidak lepas dari tempat duduk Kepala, meskipun masih dapat mengalami hiperfleksi, akan terlindungi dari benturan kaca dan badan tidak dapat diproyeksikan pada kaca, lantai mobil, maupun jalan. Sabuk ini dapat menyesuaikan dengan intrusi belakang mesin, lantai, atap mobil atau pilar ujung jika struktur-strukturnya mencapai tempat duduk penumpang pada posisi duduk awal. Efektivitas dari sabuk pengaman ini juga bergantung pada fiksasi yang aman dari tempat duduk terhadap lantai kendaraan. [10,13,14,15]

Gambar 2.23. Sabuk pengaman

21

b. Sabuk pengaman menahan penumpang di dalam kendaraan saat terjadi hempasan pada bagian pintu Kejadian terpental cenderung menambah resiko kematian atau cedera parah. Sabuk pengaman relatif tidak efektif jika terjadi efek samping, kecuali mengurangi cedera akibat terpental pada korban side-swipes yang mengenakan sabuk pengaman, walaupun alasannya kurang jelas. [10,13,14,15]

Gambar 2.24. Sabuk pengaman

c. Memperlama waktu dan jarak deselerasi dengan menambah elastisitas sabuk Agar dapat beperan efektif, sabuk pengaman harus dipasang secara kencang pada tubuh agar mendapatkan tingkat kekangan/ikatan yang tinggi, baik dengan menyesuaikan pengaturnya maupun dengan menggunakan inertia reel. Sabuk pengaman tidak boleh digunakan lagi jika telah bekas karena daya melarnya lebih tinggi sehingga membayakan penggunanya. [10,13,14,15]

22

Gambar 2.25. Sabuk pengaman

d. Memperluas daya bidang aplikasi deselerasi [10,13,14,15]

Gambar 2.26. Sabuk pengaman

Sabuk pengaman juga dapat menimbulkan cedera dari yang ringan sampai dengan berat, diantaranya adalah : [10,13,14,15] Luka permukaan kulit Luka kulit permukaan dapat terjadi pada dinding perut dan dada Kerusakan organ dalam Fraktur disekitar tempat pemasangan sabuk pengaman

23

5. Cedera Akibat Kantong Udara ( Air Bag) Dalam beberapa tahun terakhir ini penggunaan kantung udara semakin intensif, dari awalnya sekedar dipasang pada mobil-mobil mahal hingga sekarang dapat dijumpai pada mobil-mobil yang harganya relatif murah. Alat ini terdiri atas kantong yang berukuran besar, yang biasanya dilipat di dalam wadah pada kemudi dan di depan kursi penumpang depan.Sebuah alat deselerasi yang sensitif memicu inflasi dari kanister gas, yang terjadi dalam hitungan seper-sekian detik. Deflasi juga terjadi dengan cepat, sehingga kontrol mobil residu dan tindakan penyelamatan keluar dari kendaraan menjadi tidak terhambat. Kantung yang mengalami inflasi didesain untuk interposisi antara penumpang dan struktur frontal kabin penumpang, untuk mencegah terjadinya benturan dan hiperfleksi. [10,13,14,15]

Gambar 2.27. Air bag

6. Kerawanan Anak-anak Terhadap Kendaraan Masalah ini khususnya penting karena meliputi sejumlah aspek. Banyak negara yang telah memberlakukan undang-undang untuk melindungi anak-anak yang menumpang mobil karena mereka masih sangat rentan dan rawan terhadap ancaman kecelakaan. [10,13,14,15] Sabuk pengaman untuk orang dewasa tidak tepat digunakan untuk anak-anak (atau bahkan orang dewasa yang bertubuh kecil), karena titik fiksasi pada pilar pintu terlalu tinggi bahkan meskipun tali dapat dipendekkan agar kencang. Bagian diagonal dapat melewati bagian tenggorokan sehingga resikonya sangat berbahaya. [9,12,13,14]

24

Gambar 2.28. Sabuk pengaman pada anak-anak

7. Cedera Pada Pengendara Sepeda Motor Meskipun di negara maju jumlah kendaraan roda dua (sepeda motor) lebih sedikit daripada kendaraan roda empat atau lebih (mobil), namun tingkat kejadian cedera dan kematian pada pengendara motor lebih tinggi. Pada kebanyakan kasus kecelakaan sepeda motor, posisi pengendara ketika kecelakaan akan benar-benar terpental dari kendaraannya, sehingga biasanya daerah kepala, pinggul, dan anggota gerak akan menderita cedera yang parah sebagai akibat dari kecelakaan. [5,10,12,13,14,15] a. Cedera kepala Meskipun helm pelindung telah menjadi perangkat wajib pengendara di sebagian besar negara, namun tingkat keparahan kecelakaan sering mengalahkan perlindungan dari helm tersebut. [5,10,12,13,14,15]

Gambar 2.29. Cedera kepala

25

b. Cedera otak Komplikasi yang sering terjadi adalah patah tulang dasar tengkorak. Leher menjadi bagian tubuh yang paling sering terjadi patah tulang leher yang parah, bahkan meskipun pengendara telah mengenakan helm dengan benar. [5,10,12,13,14,15]

Gambar 2.30. Cedera otak dan leher

c. Cedera ekstremitas Kaki sering menjadi sasaran cedera ketika terjadi kecelakaan sepeda motor, baik oleh benturan awal dengan kendaraan lain maupun oleh struktur jalan, atau terjepit oleh rangka motor. [5,10,12,13,14,15]

Gambar 2.31. Cedera kendaraan bermotor

26

d. Luka lecet Ketika pengendara terjatuh dan terpental dari sepeda motor, seluruh atau sebagian tubuh pengendara akan bergesekan dengan jalan dalam kecepatan tinggi sehingga terjadi abrasi luas pada banyak permukaan tubuh. [5,10,12,13,14,15]

Gambar 2.32. Luka lecet

8. Cedera Pada Pengendara Sepeda Secara umum luka-luka yang dialami oleh pengendara sepeda bukan berupa lukaluka yang serius dan tidak mengancam nyawa. Hal ini dikarenakan kecepatan pengendara sepeda yang tidak terlalu cepat. Jenis luka-luka atau cedera yang diderita oleh pengendara sepeda hampir sama dengan yang diderita oleh pengendara motor, karena sepeda memiliki instabilitas yang sama tetapi dengan kecepatan yang jauh lebih rendah.[5,10,12,13,14,15]

Gambar 2.33. Cedera pada pengendara sepeda

9. Cedera Pada Pejalan Kaki Di seluruh dunia, kecelakaan lalu-lintas yang dialami oleh pejalan kaki adalah kejadian yang paling sering dijumpai. Kejadian paling sering ditemukan pada daerah27

daerah yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi. Jenis dan pola cidera pada pejalan kaki dipengaruhi oleh 4 faktor yang berperan dalam kecelakaan transportasi pada pejalan kaki. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pola cidera pada pejalan kaki.[5,10,12,13,14,15] 1. Kecepatan kendaraan 2. Jenis kendaraan 3. Adanya pengereman atau tidak 4. Umur pejalan kaki yang tertabrak Cedera awal disebabkan oleh benturan pertama kendaraan dengan korban, sedangkan cedera lanjutan disebabkan oleh benturan lanjutan dengan tanah. Beberapa penulis juga menggunakan istilah cedera tersier untuk mendeskripsikan terjadinya benturan korban dengan tanah, karena cedera sekunder mereka hubungkan dengan benturan dengan kendaraan, misalnya saat korban berusaha menghindari tabrakan/kontak dengan windscreen. [5,10,12,13,14,15]

Gambar 2.34. Cedera pada pejalan kaki

2.9. Penyebab Kematian dalam Kecelakaan Lalu Lintas a. multiple injuries b. Patah tulang dasar tengkorak c. Perdarahan otak d. Asfiksia e. Internal bleeding f. Patah tulang g. Gagal multiorgan [5,10,12,13,14,15]

28

BAB III PEMERIKSAAN FORENSIK


3.1. Pemeriksaan Forensik Pada Kecelakaan Lalu Lintas Dalam rangka membantu proses peradilan dalam hal menyelesaikan kasus hukum mengenai kecelakaan lalu lintas, seorang dokter adalah seorang ahli yang tepat bagi penegak hukum untuk memeriksa barang bukti yang berupa mayat, orang hidup, bagian tubuh manusia, atau sesuatu yang berasal dari tubuh manusia. Kegiatan otopsi secara umum identik dengan prosedur yang biasanya berlaku , tetapi ditambah dengan perhatian khusus pada halhal berikut ini:[1,4,7,10,11,15] 1. Karena ketentuan pidana terlibat di dalam kasus kecelakaan lalu-lintas, maka masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum seperti identitas mayat dan kontinuitas bukti harus dipastikan. [1,4,7,10,11,15] 2. Mayat harus dikenakan pakaian, jika kondisinya saat dibawa ke rumah sakit telah tewas, sehingga cedera yang ia derita dapat dicocokkan dengan kerusakan pakaian yang dikenakannya. Seringkali hal demikian mustahil dilakukan, khususnya jika korban tidak memungkinkan untuk dibawa dengan mengenakan pakaian sebelum ia mengalami kecelakaan. [1,4,7,10,11,15] 3. Sampel darah harus didapatkan dari golongan darah dan sekarang mungkin disesuaikan dengan sidik jari , DNA dalam kasus tabrak-lari yang di tempat kejadiannya ditemukan bercak darah atau petunjuk-petunjuk lainnya. [1,4,7,10,11,15] 4. Pemeriksaan eksternal, seperti untuk semua jenis kematian akibat trauma, adalah hal yang sangat penting sehingga harus dilakukan secara detail, akurat dan tercatat semua. Ketinggian pola cedera di atas permukaan tungkai korban harus ditandai, untuk membandingkannya dengan dimensi kendaraan penabraknya. Semua jenis bukti dapat ditemukan oleh seorang ahli patologi, dari bercak cat dan serpihan kaca hingga bagian-bagian dari struktur kendaraan. [1,4,7,10,11,15] 5. Otopsi yang menyeluruh harus dilakukan. Adanya kemungkinan penyakit yang diderita oleh korban sebelum ia tewas tertabrak, maupun penyakit yang mungkin diderita oleh si pengendara harus dipertimbangkan. Lesi jantung dan serebral lama dan baru khususnya penting untuk dijadikan petunjuk. [1,4,5,7,10,11,12,15]
29

6. Pemeriksaan alkohol dan obat-obatan pada kecelakaan merupakan suatu yang penting. Konsumsi alkohol oleh pengemudi dan pejalan kaki telah menyebabkan 25.000 kematian dari total 800.000 kecelakaan di Amerika serikat setiap tahunnya. Alkohol adalah penyebab terbesar kecelakaan fatal pada kecelakaan tunggal. Beberapa obat seperti obat antihistamin dan antidepresi yang dikonsumsi sesaat sebelum mengemudi juga dapat menyumbangkan sejumlah kasus kecelakaan kendaraan bermotor. [1,2,4,5,7,10,11,12,15] Apabila pengendara terbukti lalai dalam berkendara karena pengaruh alkohol atau obatobatan non narkotik, pengendara dapat dikenai: Pasal 311 UU No. 22 Tahun 2009 1. Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan kendaraan bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). [2] 2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah). [2] 3. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah). [2] 4. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). [2] 5. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

30

Hal ini berbeda apabila pengendara dalam pengaruh konsumsi narkotik, pengendara akan dikenai pasal berlapis pasal 112 jo, pasal 132, subsider 127 UU no. 35 tahun 2009 tentang narkotika. [2] Pasal 112 UU No. 35 tahun 2009 1. Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hokum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah). [2] 2. Dalam hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga). [2] Pasal 132 UU No. 35 tahun 2009 1. Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129, pelakunya dipidana dengan pidana penjara yang sama sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal-Pasal tersebut. [2] 2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111, Pasal 112, Pasal 113, Pasal 114, Pasal 115, Pasal 116, Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, Pasal 120, Pasal 121, Pasal 122, Pasal 123, Pasal 124, Pasal 125, Pasal 126, dan Pasal 129 dilakukan secara terorganisasi, pidana penjara dan pidana denda maksimumnya ditambah 1/3 (sepertiga).[2] 3. Pemberatan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi tindak pidana yang diancam dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara 20 (dua puluh) tahun. [2]

31

Pasal 127 UU No. 35 tahun 2009 1. Setiap Penyalah Guna: a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun [2] b. Narkotika Golongan II bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun; dan [2] c. Narkotika Golongan III bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun. [2] 2. Dalam memutus perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hakim wajib memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, Pasal 55, dan Pasal 103. [2] 3. Dalam hal Penyalah Guna sebagaimana dimaksud pada mayat (1) dapat dibuktikan atau terbukti sebagai korban penyalahgunaan Narkotika, Penyalah Guna tersebut wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. [2] 3.2.Bunuh Diri atau Pembunuhan Menggunakan Kendaraan Bermotor Bunuh diri dengan kendaraan bermotor adalah salah satu hal yang sulit dalam praktek forensik. Kecuali situasi dan bukti-bukti jelas. Cara dan posisi kematian pada pemeriksaan forensik sangat penting bagi pihak perusahaan asuransi dalam hal klaim terhadap asuransi tersebut.[8,12,13,15] Beberapa fakta dan penemuan yang biasanya dapat membantu menegakkan bunuh diri dengan kendaraan bermotor: [8,12,13,15] 1. Adanya percobaan bunuh diri pada beberapa waktu sebelumnya 2. Adanya riwayat depresi pada korban 3. Adanya bukti kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi 4. Tidak adanya bukti melakukan pengereman 5. Tabrakan dengan pohon, jembatan, atau benda-benda keras lain yang mengenai sudut mati pada tengah-tengah bagian depan kendaraan 6. Adanya catatan sebelum kematian yang menyebutkan bahwa ingin bunuh diri

32

Pada kasus pembunuhan dengan kendaraan bermotor, pembunuhan dapat dilakukan melalui 4 cara: 1. Pembunuhan terencana pejalan kaki dengan menggunakan kendaraan. Investigasi situasi seperti ini tidaklah sulit jika pembunuhan tersebut terdapat saksi disekitar tempat kejadian perkara. Jika pengendara mobil meninggalkan lokasi dan tidak ada bukti adanya perencanaan sebelumnya, maka kejadian seperti ini dapat diklasifikasikan sebagai tabrak lari. [8,12,13,15] 2. Tabrak lari. Hal ini mungkin merupakan salah satu tindakan kriminal dengan kendaraan yang menyebabkan cidera serius ataupun kematian. Pengendara secara tidak sengaja membunuh ataupun melukai seseorang dan meninggalkan lokasi untuk melarikan diri dari hukum. [8,12,13,15] Hal yang berhubungan dengan kelalaian dalam berkendara diatur dalam pasal 310 UU No. 22 Tahun 2009 dan apabila terdapat unsur kesengajaan dalam berkendara yang mengakibatkan kecelakaan, maka pengendara dapat dikenakan pasal 311 UU No. 22 Tahun 2009. Hal ini disesuaikan dengan cara berkendara pengemudi, apabila mengemudi dengan ugal-ugalan pengendara dapat dikenai pasal berlapis, pasal 283 UU No. 22 Tahun 2009 tentang mengemudikan kendaraan dengan tidak wajar. Apabila pengendara mengemudikan kendaraan melebihi batas kecepatan atau melanggar rambu lalu lintas lainnya, maka pengendara dapat dikenai pasal 287 UU No. 22 Tahun 2009 tentang pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Berbeda lagi dalam hal tabrak lari, dalam kasus ini pengendara akan dikenai pasal berlapis, pasal 312 UU No. 22 Tahun 2009. Dalam pasal ini hukuman yang akan didapat pengendara akan jauh lebih berat. [1,11] Pasal 283 UU No. 22 Tahun 2009 Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain ataudipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah). [1,11] Pasal 287 UU No. 22 Tahun 2009 1. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Rambu Lalu Lintas sebagaimana dimaksud
33

dalam Pasal 106 ayat (4) huruf a atau Marka Jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf b dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). [1,11] 2. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan perintah atau larangan yang dinyatakan dengan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf c dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). [1,11] 3. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan gerakan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf d atau tata cara berhenti dan Parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf e dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). [1,11] 4. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi Kendaraan Bermotor yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 ayat (4) huruf f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). [1,11] 5. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf g atau Pasal 115 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). [1,11] 6. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar aturan tata cara penggandengan dan penempelan dengan Kendaraan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (4) huruf h dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). [1,11] Pasal 310 UU No. 22 Tahun 2009 1. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).[1,11]
34

2. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah). [1,11] 3. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). [1,11] 4. Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah). [1,11] Pasal 311 UU No. 22 Tahun 2009 1. Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah).[1,11] 2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat juta rupiah). [1,11] 3. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan Kendaraan dan/atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (3), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah). [1,11] 4. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (4), pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah). [1,11]

35

5. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah). [1,11] Pasal 312 UU No. 22 Tahun 2009 Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor yang terlibat Kecelakaan Lalu Lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan Kecelakaan Lalu Lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 231 ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c tanpa alasan yang patut dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah). [1,11]

3. Kecelakaan palsu untuk menyembunyikan tindakan kriminal. Kejadian ini sangat jarang ditemukan, tetapi bukan berarti tidak ada. Seseorang bisa saja dibunuh dengan suatu maksud, kemudian tubuhnya diletakan di dalam kendaraan dan kemudian didorong ke jalan raya agar terlihat seperti kecelakaan. Ketelitian yang tinggi dibutuhkan dalam mengidentifikasi kasus seperti ini. Pemeriksaan terhadap seluruh luka dan penyebab kematian dapat membantu dalam proses identifikasi. [8,12,13,15] 4. Menyembunyikan tindakan kriminal dengan membakar korban di dalam mobil. Pada kasus seperti ini dapat dilakukan tes CO, karena pada kasus menyembunyikan korban di dalam mobil dan dibakar, kadar carboxyhemoglobin pada darah akan rendah. Pemeriksaan otopsi lainnya juga dapat ditemukan adanya luka-luka lain yang dapat menyebabkan kematian selain luka bakar. [8,12,13,15]

36

BAB IV KESIMPULAN
Kecelakaan adalah serangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian yang tidak terduga sebelumnya, dan selalu mengakibatkan kerusakan pada benda, luka atau kematian. Menurut UU NO.22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, Pasal 1 No.24 disebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan yang lain yang mengakibatkan korban manusia dan atau kerugian harta benda. Berdasarkan UU NO.22 Tahun 2009 Pasal 229 No.1-5 membagi kecelakaan lalu lintas sendiri menjadi 3, yaitu: 1. Kecelakaan lalu lintas ringan 2. Kecelakaan lalu lintas sedang 3. Kecelakaan lalu lintas berat Pola cedera, kejadian fatal dan hal-hal lainnya, memiliki perbedaan bergantung pada jenis korbannya, yakni korban sebagai penumpang kendaraan, pengendara motor, pengendara sepeda atau pejalan kaki. Perubahan kecepatan meninggalkan akibat traumatic, baik itu perubahan menjadi lebih cepat (akselerasi) atau menjadi lebih lambat (deselerasi). Selama akselerasi atau deselerasi kerusakan kelenjar yang terjadi akan bergantung pada gaya yang berlaku tiap bidang unit. Pada korban kecelakaan lalu lintas, biasanya ditemukan trauma atau tanda kekerasan yang dapat dibagi menjadi beberapa kelompok : 1. Trauma akibat kekerasan pertama oleh kendaraan (first impact) 2. Trauma akibat terjatuh 3. Trauma akibat terlindas ( rollover ) Jenis kecelakaan yang paling sering terjadi adalah frontal impact. Pola cedera pada penumpang kendaraan berbeda-beda antara pengemudi, penumpang pada kursi depan, maupun penumpang pada kursi belakang.

37

Di negara maju jumlah kendaraan roda dua (sepeda motor) lebih sedikit daripada kendaraan roda empat atau lebih (mobil), namun tingkat kejadian cidera dan kematian pada pengendara motor lebih tinggi. Di seluruh dunia, kecelakaan lalu-lintas yang dialami oleh pejalan kaki adalah kejadian yang paling sering dijumpai. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola cidera pada pejalan kaki : 1. Kecepatan kendaraan 2. Jenis kendaraan 3. Adanya pengereman atau tidak 4. Umur pejalan kaki yang tertabrak Penyebab kematian pada kecelakaan lalu lintas antara lain gegar otak, perdarahan, kerusakan musculoskeletal, kerusakan multi organ, asfiksia traumatis, kegagalan ginjal, emboli lemak, infeksi sistemik dan penyakit penyerta. Pemeriksaan forensik pada kecelakaan lalu lintas secara umum identik dengan prosedur yang biasanya berlaku, tetapi ditambah dengan perhatian khusus pada hal-hal berikut ini: 1. Identitas mayat dan kontinuitas bukti. 2. Pakaian mayat. 3. Sampel darah, sidik jari, DNA 4. Pemeriksaan eksternal 5. Otopsi 6. Pemeriksaan alkohol dan obat-obatan Bunuh diri menggunakan kendaraan bermotor ditentukan dengan penemuan bukti : 1. Adanya percobaan bunuh diri pada beberapa waktu sebelumnya 2. Adanya riwayat depresi pada korban 3. Adanya bukti kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi 4. Tidak adanya bukti melakukan pengereman 5. Tabrakan dengan pohon, jembatan, atau benda-benda keras lain yang mengenai sudut mati pada tengah-tengah bagian depan kendaraan 6. Adanya catatan sebelum kematian yang menyebutkan bahwa ingin bunuh diri

38

Pembunuhan dengan kendaraan bermotor dapat dilakukan melalui 4 cara: 1. Pembunuhan terencana pejalan kaki dengan menggunakan kendaraan. 2. Tabrak lari. 3. Kecelakaan palsu untuk menyebunyikan tindakan criminal 4. Menyembunyikan tindakan kriminal dengan membakar korban di dalam mobil

39

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Available from : www.hukumonline.com/pusatdata/download/lt4a604fffd43d3/parent/lt4a604fcfd406d 2. Anonim. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Available from : www.hukumonline.com/pusatdata/download/lt4a604fffd43d3/parent/lt4a604fcfd406d 3. Apuranto Hariadi, Hoediyanto. Ilmi Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Edisi keenam. 2010. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya. 4. Dahlan S. Status dokter dalam proses peradilan pidana. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2004. Pages: 17 21 5. Fauzi AA. Penanganan cedera kepala di puskesmas. [updated 2007 Desember] Available from: http://www.tempo.co.id/medika/arsip/072002/pus-1.htm 6. Fatteh A. Transportation fatalities. Handbook of Forensic Pathology. Philadelphia : J.B. Lippincott Company, 1973. Pages: 209 219 7. Hardajati S. Penerapan variable traffic controllers system di dki Jakarta. [updated 2007 Agustus] Available from : http://www.digilib.itb.ac.id. 8. Inda. Aspek Medikolegal Kecelakaan Lalu Lintas [updated 2010 Januari] Available from: http:www.scribd.com/doc/98015134/referat-forensik-KLL 9. Indonesia. PP. R.I nomor 41, PP. R.I nomor 42, PP. R.I nomor 43, PP. R.I nomor 44: tentang petunjuk pelaksanaan Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan, 1993 : dilengkapi Keputusan Menteri Perhubungan no. 22 tahun 1993, tentang tarif angkutan penumpang. Mini Jaya Abadi, 1993 10. Knight B. Transportation injuries. Forensic Pathology Second Edition. New York : Oxford University Press, 1996. Pages : 275-293 11. Rosaria, M. 2009. Undang-Undang Lalu Lintas & Angkutan Jalan. Jakarta : Visi Media 12. Saanin S. Cedera kepala. [updated 2002 Januari] Available from :

http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/sebab.html
40

13. Shepherd R. Transportation injuries. Simpsons Forensic Medicine. New York : Oxford University Press, 2003. Pages: 87-92 14. Sitoresmi D. Aspek medikolegal trauma kimia, kecelakaan kerja, serta regulasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Available from:

http://www.berbagimanfaat.com/2011/12/trauma-kimia-kecelakaan-kerja-regulasi.html 15. Vincent J., Dominick J. Transportation deaths. Handbook of Forensic Pathology Second Edition. Georgetown : Landes Bioscience, 1998. Page : 175 183

DAFTAR PUSTAKA GAMBAR


Gambar 1.1 http://hukum.kompasiana.com/2012/01/23/jika-terjadi-kecelakaan-apa-yang-harusdilakukan-429633.html Gambar 2.1 http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Japanese_car_accident.jpg Gambar 2.2 http://www.motodream.net/content/read/jika-anda-terlibat-kecelakaan-lalu-lintasini-tindakan-yang-harus-dilakukan/ Gambar 2.3. http://www.radar.co.id/berita/read/8412/2013/Mencari-Kepastian-Hukum-danRasa-Keadilan Gambar 2.4. http://www.thehindu.com/news/cities/Madurai/mock-road-accident-attracts-hugecrowd-in-madurai/article4282358.ece Gambar 2.5. http://motor-cycle-info.blogspot.com/2010/04/photo-review-accident-superbikerace.html Gambar 2.6. http://pribumiartikel.blogspot.com/2011/12/ibu-dan-anak-terlindas-truk.html Gambar 2.7. http://mangsholeh.files.wordpress.com/2008/09/jatoh1.jpg Gambar2.8.http://3.bp.blogspot.com/xce2aG0Y9mY/URyHSdkuZ6I/AAAAAAAAAUw/Ow7Jn zqsB2c/s1600/Memar.jpg Gambar 2.9. http://edwintohaga.files.wordpress.com/2010/01/lukarobek.jpg Gambar 2.10. http://1.bp.blogspot.com/-XP8ILQm88I/TaFdgPOEH5I/AAAAAAAAAT4/oidUjCDnbxY/s1600/Vulnus+Laceratum.jpgGam
41

Gambar 2.11. http://www.scribd.com/doc/98015134/referat-forensik-KLL Gambar 2.12, 2.13 http://www.scribd.com/doc/98015134/referat-forensik-KLL Gambar 2.14 http://medan.tribunnews.com/foto/berita/2012/1/11/tabrakan-mobil-aceh.jpg Gambar2.15http://2.bp.blogspot.com/_gY5kmaCckA/TCgtBws4O7I/AAAAAAAAA4M/20o7C ZOiS68/s1600/28062010341.jpg Gmabr 2.16 http://www.fergusondimeolaw.com/wp/wp-content/uploads/2012/10/Car-AccidentBlog.jpg Gambar2.17http://us.123rf.com/400wm/400/400/mangostock/mangostock1005/mangostock1005 00044/6990158-urban-transport-happy-female-passenger-inside-of-a-taxi.jpg Gambar 2.18 http://watermarked.cutcaster.com/cutcaster-photo-100317700-Taxi-driver-andpassenger.jpg Gambar 2.19. http://www.wescoperformance.com/images/2pt_install.gif Gambar 2.20 http://i01.i.aliimg.com/img/pb/180/610/509/509610180_382.jpg Gambar 2.21 http://www.freepatentsonline.com/6742848-0-large.jpg Gambar 2.22 http://image.made-in-china.com/6f3j00IvSTeiUcHQls/Children-sftey-seat-belt.jpg Gambar 2.23 http://edenprairieweblogs.org/policedepartment/wp-content/uploads/2009/05/seatbelt-with-adult1.jpg Gambar 2.24 http://blog.mercedes-benz-passion.com/wp-content/uploads/beltbeltbelt.jpg Gambar 2.25 http://www.trueblueford.com/ed_pages/EABD_FbeltLOCK.jpg Gambar 2.26 http://www.buzzle.com/img/articleImages/287817-20020-41.jpg Gambar2.27http://4.bp.blogspot.com/QIcfCEO686A/UOVBnbjwfxI/AAAAAAAAAzc/74ChSV zmOaQ/s1600/airbag1.jpg

42

Gambar 2.28 http://img.myconfinedspace.com/wp-content/uploads/2009/05/baby-seat-belt500x362.jpg Gambar2.29.http://4.bp.blogspot.com/_vzaH97UMUE8/TUlsizRfZI/AAAAAAAABX4/AWc1P CkHggM/s1600/byk%2B10.jpg\ Gambar 2.30.http://a2.ecimages.myspacecdn.com/images 02/65/96640bb73366468e8a0a2a354eeb5c0c/l.jpg Gambar 2.31 http://3.bp.blogspot.com/XjTdzjmWhuo/TcdSXBmhKvI/AAAAAAAABKE/OnAueb6xvrI/s1600/Accident.jpg Gambar 2.32 https://bayoesunaryo.files.wordpress.com/2012/04/luka-lecet1.jpg Gambar 2.33. http://klandrylaw.com/wp-content/uploads/2012/11/Bicycle-Accident.jpg Gambar 2.34. http://www.insurancehotline.com/wp-content/uploads/2012/05/Pedestrian-CarAccident-300x200.jpg

43