Anda di halaman 1dari 15

294 Pengembangan Inovasi Pertanian 4(4), 2011: 294-308

Bambang Prastowo

REORIENTASI RANCANG BANGUN ALAT DAN MESIN PERTANIAN MENUJU EFISIENSI DAN PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR NABATI1)
Bambang Prastowo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111 Telp. (0251) 8313083, 8361194, Faks. (0251) 8336194 e-mail: puslitbangbun@litbang.deptan.go.id Diajukan: 8 Agustus 2011; Disetujui: 20 Oktober 2011

ABSTRAK
Mekanisasi pertanian akan semakin dibutuhkan seiring makin sulitnya memperoleh tenaga kerja pertanian. Hampir semua kegiatan mekanisasi pertanian bergantung pada pasokan dan ketersediaan energi fosil. Penggunaan mesin pertanian akan mengonsumsi minyak solar minimal 522,5 juta liter/ tahun, melebihi kebutuhan solar bersubsidi. Kelangkaan bahan bakar minyak dapat mengancam keberlanjutan pengembangan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke depan. Di sisi lain, potensi energi dari bahan bakar nabati di Indonesia sangat besar, berkisar antara 441-470 juta gigajoule, sehingga terdapat peluang untuk mensinergikan pengembangan mekanisasi pertanian, khususnya alsintan, dengan pemanfaatan bahan bakar nabati di masa yang akan datang. Kelangkaan energi fosil maupun tuntutan kelestarian lingkungan makin mendorong perlunya reorientasi dalam perancangan alsintan. Orientasi rancangan harus mempertimbangkan sumber energi alternatif dari sektor pertanian sendiri. Pemanfaatan bahan bakar nabati tidak mengurangi kinerja mesin. Kebutuhan pengguna mengarah kepada jenis dan sumber bahan bakar nabati yang memengaruhi jenis dan rancangan alsintan. Di Sulawesi Utara dapat dikembangkan alsintan yang mampu memanfaatkan bahan bakar nabati asal kelapa, sedangkan di Sumatera dan Kalimantan dapat dikembangkan alsintan dengan bahan bakar nabati asal kelapa sawit. Penggunaan bahan bakar nabati untuk pengoperasian alsintan menghasilkan emisi yang rendah dan menghemat penggunaan bahan bakar asal energi fosil secara nasional. Ketepatan jenis alsintan, sumber energi, serta kebutuhan pengguna dalam pengembangan alsintan ke depan hendaknya didukung oleh standar yang tepat. Implikasinya, pemerintah bersama masyarakat harus segera menyiapkan Standar Nasional Indonesia yang mendukung dihasilkannya kinerja alsintan berbahan bakar nabati yang bermutu. Kata kunci: Alat dan mesin pertanian, mekanisasi, bahan bakar nabati

ABSTRACT
Reorientation of Design of Agricultural Equipments and Machineries for Increasing Efficiency and Biofuel Development Agricultural mechanization is getting more important in agricultural development in Indonesia in line with the limited supply of agricultural labors. Almost all activities of agricultural mechanization depend on the supply and the availability of fossil energy. The use of agricultural machineries will consume diesel fuel at least 522.5 million liters/year, exceeding the needs of subsidized diesel fuel.
1)

Naskah disarikan dari bahan Orasi Profesor Riset yang disampaikan pada tanggal 26 November 2009 di Bogor.

Reorientasi rancang bangun alat dan mesin pertanian ...

295

Scarcity of fuel oil could threaten the sustainability of agricultural machineries in the future. The potential energy of biofuels in Indonesia is very large, ranging from 441 to 470 million gigajoule. So there is a synergy between development opportunities of agricultural machineries and the utilization of biofuels in the future. Scarcity of fossil energy and increasing the awareness of environmental sustainability encourage reorientation of machinery design. The orientation of the design should be able to consider alternative energy sources from agricultural sector alone. Utilization of biofuels does not reduce engine performance. User needs lead to the types and sources of biofuels which ultimately influence performance of machinery. In North Sulawesi, agricultural machinery can be developed that is able to take advantage of biofuel from coconut, while in Sumatra and Kalimantan could be developed with biofuel from palm oil. The use of biofuels produced lower emissions and also saved the use of fossil fuels nationally. The use of machineries and energy resources in the development of agricultural mechanization should be supported by appropriate standards. So government together with the community have to prepare Indonesian National Standard to have the reliable performance of machinery operated by biofuel. Keywords: Agricultural machinery and equipment, mechanization, biofuels

PENDAHULUAN Mekanisasi pertanian akan makin berperan dalam pembangunan pertanian di masa mendatang dan ikut mewarnai lingkungan strategis sektor pertanian. Saat ini, tenaga kerja pertanian untuk bekerja di sawah maupun di kebun makin sulit diperoleh. Lahan sawah yang dapat dilayani traktor tangan baru mencapai 34%, sedangkan oleh power thresher lebih kecil lagi, hanya 22% (Direktorat Alsintan 2004). Kondisi ini akan terus berlanjut karena mesin utama pertanian seperti traktor tangan yang beroperasi baru mencapai 81.211 unit, traktor roda empat 1.997 unit, dan pompa air 134.507 unit, masih sangat kurang dibandingkan dengan kebutuhan (Deptan 2008). Mengacu kepada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk traktor, pompa air, dan mesin pengering, penggunaan mesin pertanian akan mengonsumsi minyak solar minimal 522,5 juta liter/tahun. Angka ini jauh melebihi kebutuhan solar bersubsidi yang harus dipenuhi oleh biodiesel dalam negeri yang hanya 300 juta liter (Prastowo 2008c).

Elastisitas energi Indonesia masih di atas satu (1,87), lebih tinggi dibandingkan dengan Jepang dan negara maju lainnya yang sudah di bawah satu. Hal ini mengindikasikan konsumsi energi nasional masih boros (Menteri ESDM 2006; Menko Perekonomian 2006). Oleh karena itu, selain dengan menghemat konsumsi energi, juga diperlukan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak asal fosil (BBM). Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden No. 5/2006 dan Instruksi Presiden No. 1/2006, yang mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati. Dalam beberapa tahun terakhir, para operator alat mesin pertanian (alsintan) sering mengalami kesulitan memperoleh solar atau BBM, bahkan mereka tidak jarang harus antre untuk mendapatkannya (Prastowo et al. 2006). Oleh karena itu, pengembangan alsintan ke depan memerlukan langkah yang mampu merespons dan mengantisipasi pengurangan penggunaan BBM. Hampir semua kegiatan mekanisasi pertanian bergantung pada pasokan dan ketersediaan BBM. Oleh karena itu, harga

296

Bambang Prastowo

minyak mentah dunia yang sempat mencapai US$130/barel (Budya 2008), bahkan sempat menyentuh US$170/barel dapat mengancam keberlanjutan pegembangan alsintan ke depan. Di negara-negara ASEAN, energi biomassa dari limbah kayu dan pertanian memberi kontribusi 40% dari konsumsi total energi, yaitu lebih dari 2,5 juta terajoule/tahun. Potensi energi bahan bakar nabati di Indonesia sangat besar, berkisar antara 441-470 juta gigajoule (ZREU 2000; Kamaruddin 2002; Prastowo 2007c). Hal ini menunjukkan adanya peluang sinergi yang cukup besar antara pengembangan alsintan dan pemanfaatan bahan bakar nabati dalam perancangan alsintan di masa yang akan datang.

DINAMIKA PERKEMBANGAN INOVASI DAN TEKNOLOGI ALSINTAN Periode Sebelum Revolusi Hijau (sampai dengan 1969) Kegiatan mekanisasi pertanian telah lama dimulai di Indonesia. Pengolahan sawah dengan alat pertanian di pantai utara Jawa Barat sudah dilakukan saat Sultan Agung menyerang VOC di Batavia sekitar tahun 1624 (Soedjatmiko 1989). Hal ini terlihat pada rancangan cangkul di daerah tersebut yang mirip dengan cangkul dari Yogyakarta. Penggunaan alat pertanian tampaknya juga sudah dikenal sejak zaman dulu, seperti terindikasi pada relief Candi Borobudur (Sukmadi et al. 1995). Bajak singkal raksasa sudah digunakan pada tahun 1920-an untuk mendukung sistem reynoso dalam penanaman tebu (Soedjatmiko 1989). Hal yang positif dari proses ini adalah mulainya berkem-

bangnya bidang perekayasaan (engineering ) (Soemodihardjo 1977), termasuk pengembangan ilmu teknik pertanian sejak awal tahun 1900-an (McColly dan Martin 1955 dalam Pusposutardjo 1995). Pada awal kemerdekaan Indonesia, alsintan berukuran besar sudah digunakan secara besar-besaran. Pendekatan ini lebih berhasil pada subsektor perkebunan dibandingkan dengan tanaman pangan (Baharsyah 1991; Soedjatmiko 1996). Pada era ini mulai disadari perlunya penelitian dan pengembangan maupun penyiapan sumber daya manusia yang terkait dengan mekanisasi pertanian. Hal ini tercermin dari berdirinya Fakultas Tekno-logi Pertanian di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1963 dan Fakultas Teknologi dan Mekanisasi Pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1964.

Periode Revolusi Hijau (1970-1985) Intensifikasi pertanian yang dicirikan oleh penggunaan varietas unggul padi berumur pendek, tanam serentak yang didukung peningkatan indeks pertanaman dan jadwal irigasi, secara tidak langsung mendorong penggunaan alsintan, terutama traktor tangan rancangan IRRI pada tahun 1970-an, termasuk perspektif gendernya (Suhaeti dan Siwi 2004). Alsintan sederhana juga mulai banyak dihasilkan oleh peneliti Badan Litbang Pertanian untuk mendukung pengembangan tanaman pangan dan swasembada beras, seperti alat tanam biji-bijian bersambung dalam alur ATD-2 untuk pertanian lahan kering (Prastowo 1986) dan alat tanam suntik berguling (Prastowo 1986). Upaya pencapaian swasembada beras juga didukung oleh penelitian untuk meningkatkan efi-

Reorientasi rancang bangun alat dan mesin pertanian ...

297

siensi pengolahan tanah, antara lain studi bentuk petak sawah dan cara pengoperasian alsintan, termasuk simulasi model kelambatan waktu pengolahan tanah.

Periode Pasca-Revolusi Hijau (1986-1999) Inovasi teknologi alsintan berlanjut dan masih terfokus pada upaya peningkatan produksi pangan dan diversifikasinya, termasuk penelitian kehilangan hasil panen maupun introduksi teknologi sabit bergerigi. Inovasi lainnya adalah pengembangan mesin pembuat sawut dan chip ubi kayu CSM-3 (Prastowo dan Riyadi 1990), mesin pembuat tepung ubi kayu TEM-1 (Prastowo et al. 1990b), dan mesin pengolah ubi kayu (Prastowo et al. 1990a). Proses pengenalan beberapa mesin pertanian memerlukan upaya khusus, termasuk dukungan dan kehadiran Menteri dalam peluncuran dan sosialisasinya. Pada era Banpres, unit mesin pengolah ubi kayu sampai harus dipamerkan di Binagraha (Prastowo dan Hardono 1989; Prastowo dan Riyadi 1990; Prastowo et al. 1990a; Prastowo dan Manwan 1991). Beberapa prototipe alsintan tersebut telah dikembangkan di beberapa daerah, bahkan perbanyakannya didukung oleh swasta, terutama di daerah transmigrasi. Untuk mendukung diversifikasi pangan, inovasi juga terjadi pada pembuatan gaplek (Richana dan Prastowo 1987) dan teknik penyimpanan jagung dengan memanfaatkan limbah padi (Richana dan Prastowo 1989). Sejak era ini, muncul pemikiran untuk memanfaatkan energi alternatif, sebagaimana terlihat dari dikembangkannya pompa dengan sumber tenaga dari kaki, yang disebut pompa injak (Prastowo dan

Imamuddin 1988, 1989; Prabowo et al. 1989). Pompa jenis ini bahkan sudah digunakan di Timor Timur pada akhir tahun 1980-an. Inovasi pompa air selanjutnya memanfaatkan prinsip ulir/gulungan berputar dan gaya sentrifugal sehingga disebut pompa ulir (Prastowo 1991). Seiring dengan kemajuan dan minat masyarakat untuk ingin lebih nyaman, pemanfaatan alsintan berkembang ke arah pompa air bermotor, yang disebut pompa sepak (Imamuddin dan Prastowo 1992). Pompa jenis ini termasuk low lift pump sehingga dimanfaatkan oleh beberapa tambak udang di Sulawesi Selatan. Pompa air dengan tenaga kincir angin juga dikembangkan dan telah dimanfaatkan di sepanjang bantaran sungai di Sulawesi Selatan dan Moumere. Bahkan Menteri Pekerjaan Umum memperkenalkannya kepada petani transmigran untuk pengembangan lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan (Imamuddin dan Prastowo 1995). Selanjutnya dikembangkan peralatan pengolah tanah seperti multimode power unit for lowland puddling and upland minimum tilling/weeding (Prastowo 1999) untuk meningkatkan efisiensi dengan cara menggandakan fungsi alsintan. Untuk daerah pasang surut dikembangkan traktor kura-kura (Ananto et al. 1993). Namun, fokus penelitian dan perancangan alsintan masih bersifat parsial (Prastowo et al. 1993), bahkan ada beberapa penelitian yang ditangani oleh peneliti dengan bidang keahlian yang kurang sesuai (Prastowo dan Supratomo 1994).

Periode Reformasi dan Desentralisasi (2000 - Sekarang) Memasuki periode ini makin disadari bahwa penelitian dan pengembangan al-

298

Bambang Prastowo

sintan sangat diperlukan dan harus mampu menghasilkan produk yang berorientasi kepada kebutuhan pasar (Sugondo 1994). Iptek alsintan selanjutnya mengarah pada penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan. Inovasi alsintan yang berkaitan dengan energi alternatif, seperti tungku sekam untuk pengeringan gabah, juga telah dikembangkan (Lubis et al. 2003; Sutrisno dan Rachmad 2003). Biodiesel dengan bahan dasar biji kapuk juga mulai dicoba pada motor diesel dengan hasil daya dan efisiensi yang tidak berbeda dibandingkan dengan minyak solar asal fosil (Handoyo et al. 2007). Pemanfaatan minyak jarak pagar dan minyak kelapa sawit dengan kompor khusus pada mesin pengolah kopi dan kakao serta produk perkebunan telah dicoba dengan hasil yang menggembirakan (Prastowo dan Rahmarestia 2008; Prastowo dan Srimulato 2008; Sukrisno et al. 2008). Kompor seperti ini pernah didemonstrasikan di depan para petani peserta Penas di Palembang pada tahun 2007. Kompor sejenis ini sebenarnya telah mulai dikembangkan oleh Universitas Hohenheim (Muhlbauer et al. 1998; Muller et al. 2006). Pengoperasian mesin pengering dapat menggunaan minyak kelapa sawit, minyak kelapa maupun minyak jarak pagar, dengan kinerja yang tidak berbeda (Prastowo 2007a; Prastowo dan Rahmarestia 2008). Pengolahan kopi di Jember juga telah memanfaatkan alat tersebut dan menghasilkan produk olahan yang cukup baik (Prastowo dan Rahmarestia 2008; Sukrisno et al. 2008). Motor penggerak pompa air dengan putaran yang rendah dapat memanfaatkan minyak nabati dari tanaman perkebunan, seperti minyak kelapa, minyak jarak pagar, dan minyak kelapa sawit (Prastowo 2007c).

Reksowardojo dan Tatang (2006) telah mencoba menggunakan biodiesel dari kelapa sawit dan jarak pagar untuk mengoperasikan mesin diesel dengan kinerja dan emisi gas buang yang sama. Penggunaan minyak nabati murni (pure plant oil atau PPO) 50% pada mesin diesel pada generator menghasilkan emisi CO 2,6 ppm, CO2 10,4%, NO2 32,6 mg/m3, dan SO2 1,1 mg/m3 (Sumarsono 2008). Angka ini masih jauh di bawah standar Kepmen KLH No. 13/1995, yaitu NO2 1.000 mg/m3 dan SO2 800 mg/m3. Limbah biomassa padat kopi, kakao, sekam padi, dan lainnya juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi nabati (Lubis et al. 2003; Sutrisno dan Rachmad 2003; Balittri 2008; Prastowo 2008a, 2008d; Srimulato 2008). Pengoperasian mesin pertanian dalam agroindustri gula juga telah memanfaatkan limbah padatnya (Prastowo dan Srimulato 2008).

Periode Ke Depan Kelangkaan energi fosil maupun tuntutan kelestarian lingkungan makin mendorong adanya reorientasi dalam pengembangan alsintan. Alsintan yang saat ini sebagian besar menggunakan bahan bakar dari energi fosil, orientasi rancangannya harus bisa mempertimbangkan sumber energi alternatif dari sektor pertanian. Ke depan, pemanfaatan bahan bakar nabati tetap harus mempertimbangkan kebutuhan pengguna, seperti ketepatan jenis dan standar mutu alsintan. Dengan demikian, dari segi produsen dapat diperoleh kejelasan standar teknis alsintan yang harus diproduksi, sedangkan konsumen dapat memperoleh alsintan dengan mutu dan kinerja standar sesuai dengan kebutuhan.

Reorientasi rancang bangun alat dan mesin pertanian ...

299

POTENSI, KENDALA, DAN PELUANG PENGEMBANGAN ALSINTAN Potensi Selain meningkatnya permintaan, pengembangan alsintan di Indonesia juga didukung oleh perkembangan industri alsintan. Industri alsintan skala menengah-besar yang berjumlah sekitar 30 perusahaan dan 400 perusahaan kecil merupakan potensi bagi pengembangan alsintan nasional. Produk dari industri tersebut sudah mulai diekspor ke banyak negara. Yamindo pada tahun 2007 mengekspor 624 unit alsintan ke Timor Leste, Jepang, Dominika, Mesir, Thailand, dan negara lainnya, yang terdiri atas traktor tangan, unit penggiling padi, dan pemanen. Pada tahun 2008, ekspor ketiga jenis alsintan tersebut meningkat menjadi 4.749 unit. Potensi lainnya adalah adanya lembaga pendidikan dan penelitian di banyak daerah yang mampu menyediakan sumber daya manusia yang andal maupun inovasinya. Potensi ini didukung oleh beberapa prototipe alsintan hasil litbang yang sudah tersedia dan siap dimanfaatkan kalangan industri alsintan. Untuk menghasilkan alsintan yang sesuai standar telah tersedia pula jaminan mutu berupa SNI untuk traktor (SNI No. 05-0738.2-1998), pompa air (SNI No. 050141.2-1998), dan mesin pengering (SNI No. 02-4512-98). SNI sangat penting bagi industri agar alsintan yang harus dibuat jelas spesifikasi teknisnya sehingga dapat menjamin kepastian bisnisnya. Secara keseluruhan, kemampuan sumber daya manusia yang bergerak dalam industri alsintan terus meningkat, terutama dalam rekayasa dan perancangan alsintan tepat guna. Potensi ini harus dimanfaatkan

untuk merancang alsintan yang sesuai dengan kebutuhan dan agroekosistem. Kendala Kendala utama dalam pengembangan alsintan mencakup aspek fisik, ekonomi, dan sosial. Kendala fisik meliputi terbatasnya jalan usaha tani (farm road) dengan petak sawah yang sempit sehingga membatasi mobilitas alsintan. Skala usaha petani yang umumnya sangat kecil dan pendapatan para pemanen yang rendah berdampak terhadap rendahnya kapasitas alsintan. Sebagai contoh, kelompok perontokan padi sengaja menyisakan gabah di malai untuk kemudian dipungut kembali. Secara sosial, di beberapa wilayah terdapat masyarakat yang menolak penggunaan mesin perontok karena mengancam pendapatan mereka dari kegiatan perontokan secara manual. Kendala lain adalah hasil penelitian dan pengembangan kurang inovatif atau tidak sesuai dengan kebutuhan di tingkat lapangan (Gaybita 1995). Sementara beberapa kalangan menyebut teknologi yang dihasilkan merupakan sunset technology, yaitu teknologi yang sudah tidak banyak dimanfaatkan. Kondisi ini mungkin masih terjadi karena adanya tumpang tindih mandat antarinstitusi penelitian di Indonesia (Prastowo 2003). Pengembangan alsintan saat ini juga dihadapkan pada masalah makin langkanya energi fosil, padahal hampir semua kegiatan mekanisasi pertanian bergantung pada pasokan dan ketersediaan BBM. Peluang Makin kurang kompetitifnya sektor pertanian dibandingkan dengan sektor lainnya

300

Bambang Prastowo

telah mendorong generasi muda untuk meninggalkan sektor ini. Dampaknya adalah makin sulitnya memperoleh tenaga kerja pertanian atau makin mahalnya upah buruh pertanian. Ke depan, permasalahan ini dapat diatasi dengan penggunaan alsintan yang efisien dan sesuai kebutuhan pengguna. Dewasa ini hanya 34% lahan sawah yang mampu dilayani oleh traktor. Hal ini juga merupakan peluang bagi pengembangan alsintan di dalam negeri. Di sisi lain, power thresher yang tersedia hanya mampu melayani 22% dari kebutuhan, sementara mesin pengering di Jawa hanya mampu melayani 1% dari total areal panen (Direktorat Alsintan 2004). Kondisi ini masih berlanjut sehingga diperlukan tambahan alsintan dalam jumlah yang besar (Deptan 2008). Dari sisi teknologi, peluang pengembangan alsintan cukup terbuka dengan mulai tersedianya teknologi rekayasa yang memanfaatkan sumber energi dari bahan bakar nabati. Sumber-sumber bahan bakar nabati maupun biomassanya (feedstock) juga tersedia cukup melimpah (Prastowo 2007b, 2007c, 2008b). Untuk penyediaan biodiesel maupun bioetanol, saat ini alsintan sederhana pengolah minyak nabati menjadi biodiesel sudah dikembangkan dan teknologinya pun telah tersedia, baik oleh ITB, BPPT, Deptan maupun institusi lain (Prastowo 2008a).

mencakup bahan bakar nabati dan sumbernya serta kaitannya dengan kinerja alsintan, sedangkan kebutuhan pengguna meliputi agroekosistem dan faktor sosial ekonomi masyarakat tempat alsintan akan digunakan, serta jenis dan mutunya. Bahan bakar nabati dapat berbentuk padat, seperti sekam dan briket limbah organik, berbentuk cair seperti bioetanol, biodiesel, dan minyak jarak, atau berbentuk gas seperti biogas.

Aspek Energi Teknologi mekanisasi pertanian hampir sebagian besar memerlukan bahan bakar fosil, sedangkan pemanfaatan energi alternatif yang tersedia secara lokal belum banyak dikembangkan (Prastowo 2005). Perancangan seharusnya mengarah pada pemanfaatan energi yang tersedia di sektor pertanian, misalnya bahan bakar nabati. Pemanfaatan bahan bakar ini untuk alsintan utama seperti traktor, pompa, dan mesin pengering diperkirakan dapat menghemat 522,5 juta liter BBM/tahun. Angka ini melebihi jumlah solar bersubsidi dari pemerintah yang harus dipenuhi untuk biodiesel dalam negeri yang hanya 300 juta liter pada tahun 2009. Inovasi dan teknologi yang mendukung upaya reorientasi pengembangan alsintan melalui pemanfaatan bahan bakar nabati sudah banyak ditemukan (Lubis et al. 2003; Sutrisno dan Rachmad 2003; Reksowardojo dan Tatang 2006; Handoyo et al. 2007; Prastowo 2007b; Prastowo dan Rahmarestia 2008; Sukrisno et al. 2008). Jenis dan ketersediaan bahan bakar nabati pun cukup melimpah. Komoditas yang berpotensi menjadi sumber bahan bakar nabati antara lain adalah padi, kelapa, kelapa sawit, jarak pagar, sagu, tebu, dan ubi kayu.

REORIENTASI PERANCANGAN ALSINTAN BERBAHAN BAKAR NABATI Reorientasi perancangan alsintan berbahan bakar nabati hendaknya mempertimbangkan aspek energi yang digunakan dan kebutuhan pengguna. Aspek energi

Reorientasi rancang bangun alat dan mesin pertanian ...

301

Aspek Kebutuhan Pengguna Sesuai Agroekosistem Kebutuhan pengguna meliputi agroekosistem wilayah pengembangan alsintan serta jenis dan mutu alsintan terkait dengan energi yang akan digunakan. Aspek agroekosistem yang harus diperhatikan adalah yang berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar nabati yang akan digunakan serta faktor sosial ekonomi, seperti kebiasaan dan kemampuan ekonomi petani. Kendala dalam pemanfaatan bahan bakar nabati untuk pengoperasian alsintan adalah penyediaan dan distribusinya. Oleh karena itu, upaya percepatan reorientasi perancangan alsintan hendaknya juga bersifat spesifik agroekosistem dan sesuai kebutuhan pengguna. Di sentra produksi kelapa dan atau kelapa sawit, misalnya, reorientasi perancangan harus berbasis energi nabati dari kedua komoditas tersebut. Demikian pula halnya pada agroekosistem dengan potensi bahan bakar nabati seperti ubi kayu untuk bioetanol. Dari aspek teknis jenis alsintan, di kawasan rawa pasang surut seperti Kalimantan tetap memanfaatkan traktor kurakura (Ananto dan Astanto 2003) atau sejenisnya. Demikian juga pada agrokosistem lahan kering tetap dapat memanfaatkan alsintan yang sesuai, seperti alat tanam bersambung dalam alur ATD-2 atau alat tanam suntik berguling, dan multimode power unit (Prastowo 1986, 1999). Bahan bakar nabati yang mudah tersedia pada agroekosistem lahan rawa adalah biodiesel asal minyak kelapa sawit.

Aspek Skala Usaha Skala usaha biasanya memengaruhi jenis alsintan yang digunakan, baik karena

sempitnya lahan maupun volume usaha penggunanya, dan yang lebih penting cara mengelolanya. Terbukti bahwa walaupun dikelola melalui Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) di wilayah pasang surut, pengelolaan alsintan oleh perorangan dapat menghasilkan kinerja usaha yang lebih baik dibandingkan dengan pengelolaan alsintan oleh kelompok besar (Ananto dan Astanto 2003). Ke depan, ketepatan pengelolaan bukan hanya ditinjau dari sisi ketepatgunaan alsintan, tetapi juga jenis energi yang tersedia dan mudah digunakan di wilayah tersebut serta skala usaha yang dapat memberikan pendapatan investasi (return on investment atau ROI), secara ekonomi menguntungkan, dan berkelanjutan. Untuk skala usaha besar (misalnya agroindustri kelapa sawit) maupun agroindustri pengolahan produk perkebunan lainnya, sumber energi dapat dikelola sendiri. Mereka dapat memanfaatkan mesin transesterifikasi sederhana untuk menghasilkan biodiesel sendiri. Mesin statis (misalnya pompa air, mesin pengering) maupun yang mobil (misalnya traktor, mesin tanam) yang dioperasikan dengan biodiesel terbukti menunjukkan kinerja yang baik (Reksowardojo dan Tatang 2006). Untuk skala petani perorangan dan usaha sendiri, mesin-mesin pertanian yang memanfaatkan langsung minyak nabati dan bahan bakar nabati padat dari limbah pertanian dapat dikembangkan, seperti biogas untuk mesin pengering dan peralatan rumah tangga. Sebagai contoh, peralatan kompor tekan untuk sumber energi alsintan terbukti dapat dimanfaatkan untuk pengolahan produk pertanian, termasuk untuk skala rumah tangga (Prastowo dan Rahmarestia 2008; Sukrisno et al. 2008).

302

Bambang Prastowo

Reorientasi Perancangan Pengunaan biodiesel pada mesin diesel tidak memerlukan modifikasi, kecuali komponen berbahan karet yang mungkin bersentuhan langsung dengan bahan bakar, seperti saluran pada tangki (UKP 2007). Biodiesel memiliki sifat yang cepat melarutkan bahan. Hal ini terjadi jika hanya menggunakan biodiesel lebih dari 30%. Jadi penggunaan motor diesel pada alsintan yang memakai biodiesel secara umum dapat dilakukan dengan memperbaiki rancangan teknis komponen dari bahan selain karet atau sejenisnya. Salah satu parameter BBM adalah angka cetan. Efisiensi pembakaran pada engine akan bertambah dengan naiknya angka cetan pada bahan bakar diesel dan nilai oktan pada bensin. Angka cetan biodiesel rata-rata 55 (Lszl 2008). Minyak solar hanya memiliki angka cetan sekitar 48 (UKP 2007). Secara teoritis, etanol memiliki angka oktan 108,6 dan bensin standar 89,7 (Kreatif Energi Indonesia 2006). Berdasarkan sumber energinya, alsintan yang sifatnya mobil, seperti traktor, mesin panen, dan mesin tanam yang umumnya menggunakan engine, kinerjanya tidak akan berkurang jika memanfaatkan bahan bakar nabati. Jika bahan bakar nabati dimanfaatkan sebagai sumber panas pada alsintan statis, seperti untuk pengeringan dan pengolahan produk pertanian, efisiensi pembakaran kompor minyak nabati cukup tinggi, berkisar antara 46-51% atau mendekati efisiensi pembakaran pada kompor gas sekitar 55% (Sukrisno et al. 2008; Prastowo dan Rahmarestia 2008, 2009). Namun, perancangan bagian pengatur sumber energi dan pengolah produk menentukan jenis bahan bakar nabati yang akan diman-

faatkan. Untuk mesin pengering produk perkebunan seperti kakao, kopi, dan tembakau, pemanasan langsung dari pembakaran limbah padat pertanian akan memengaruhi aroma produk olahannya. Oleh karena itu, diperlukan rancangan alsintan yang memiliki bagian pemindah panas atau sejenisnya agar produk tidak langsung bersentuhan dengan asap pembakaran.

ARAH DAN STRATEGI PENGEMBANGAN ALSINTAN Arah Pengembangan Kelangkaan energi fosil dan pemanasan global serta tuntutan terhadap kelestarian lingkungan makin mendorong reorientasi pengembangan alsintan. Reorientasi perancangan hendaknya mempertimbangkan berbagai aspek, seperti (1) ketepatan jenis dan sumber energi; (2) kesesuaian jenis alsintan; (3) kebutuhan pengguna; dan (4) spesifik agroekosistem. Ketepatan jenis dan sumber energi hendaknya disesuaikan dengan potensi energi alternatif yang tersedia di sektor pertanian dalam arti luas. Oleh karena itu, pemanfaatan beberapa jenis dan sumber bahan bakar nabati menjadi acuan dalam reorientasi perancangan ke depan. Kebutuhan pengguna mengarah pada jenis dan sumber bahan bakar nabati yang harus digunakan, yang akhirnya memengaruhi jenis dan rancangan alsintan yang akan dikembangkan pada suatu agroekosistem. Sebagai contoh, di Sulawesi Utara yang merupakan daerah penghasil kelapa dapat dikembangkan mesin pertanian yang dapat memanfaatkan bahan bakar nabati asal kelapa. Di Sumatera dan Kalimantan yang banyak menghasilkan kelapa sawit hen-

Reorientasi rancang bangun alat dan mesin pertanian ...

303

daknya dikembangkan alsintan yang mampu menggunakan bahan bakar nabati asal kelapa sawit. Agroekosistem Kalimantan yang didominasi lahan pasang surut memerlukan sejenis traktor kura-kura, dengan jenis engine yang dapat dioperasikan dengan biodiesel asal kelapa sawit yang merupakan komoditas dominan di kawasan ini. Demikian juga di Lampung, ubi kayu dan bioetanolnya merupakan sumber energi nabati yang penting. Penelitian dan pengembangan serta perekayasaan alsintan ke depan hendaknya terfokus pada verifikasi teknologi alsintan semacam ini dan harus mampu memanfaatkan bahan bakar nabati di daerah setempat. Dengan demikian, reorientasi perancangan alsintan ke depan difokuskan pada sumber energi, skala usaha, dan spesifik agroekosistem.

gangan global yang makin kompetitif. Strategi berikutnya adalah meningkatkan fokus penelitian dan pengembangan serta perekayasaan alsintan dengan mensinergikan antara jenis alsintan dan bahan bakar nabati yang tersedia, serta sesuai dengan skala usaha dan kebutuhan pengguna.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kesimpulan 1. Pemanfaatan bahan bakar nabati tidak mengurangi kinerja engine yang banyak digunakan sebagai sumber energi pada alsintan saat ini. 2. Dalam mengantisipasi kelangkaan energi fosil dan perdagangan global, pengembangan alsintan ke depan harus mempertimbangkan ketepatan jenis alsintan dan sumber energi serta kebutuhan pengguna sesuai dengan skala, jenis usaha, dan agroekosistem. 3. Jenis alsintan seperti pompa air, traktor, mesin tanam, mesin pengering, dan pengolah produk pertanian yang sebagian besar engine-nya memerlukan minyak solar dari bahan bakar fosil, tetap dapat berkinerja baik jika dioperasikan menggunakan biodiesel maupun bahan bakar nabati lainnya. Oleh karena itu, reorientasi perancangan alsintan diperlukan untuk mendukung pengembangannya ke depan 4. Potensi ketersediaan bahan bakar nabati cukup untuk mendukung pendekatan baru dalam pengembangan alsintan di Indonesia. Sumber energi yang dimanfaatkan hendaknya disesuaikan dengan potensi bahan bakar nabati yang tersedia pada masingmasing agroekosistem.

Strategi Pengembangan Strategi pertama adalah karakterisasi dan identifikasi jenis alsintan yang sangat bergantung pada energi fosil, selanjutnya dilakukan kaji ulang perancangan agar mampu dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar nabati. Strategi kedua adalah penentuan jenis dan sumber bahan bakar nabati yang sesuai dengan karakterisasi agroekosistem agar kendala pasokan dan distribusi bahan bakar nabati dapat dikurangi. Untuk menjaga kepentingan produsen maupun konsumen, alsintan yang menggunakan bahan bakar nabati hendaknya didukung oleh SNI. Strategi pengembangan SNI mesin pertanian berbahan bakar nabati bukan hanya untuk lingkungan nasional, tetapi juga untuk merespons dan mengantisipasi perubahan iklim dan degradasi lingkungan serta perda-

304

Bambang Prastowo

5. Penggunaan bahan bakar nabati untuk pengoperasian alsintan menghasilkan emisi yang rendah dan menghemat penggunaan bahan bakar asal energi fosil secara nasional.

DAFTAR PUSTAKA Ananto, E.E., T. Alihamsyah, dan I.G. Ismail. 1993. Traktor kura-kura: Alat pengolah tanah alternatif di lahan sawah dan rawa pasang surut. hlm. 850-854. Dalam M. Syam, Hermanto, H. Kasim, dan Sunihardi (Ed.). Prosiding Kinerja Penelitian Tanaman Pangan. Buku III. Jakarta, 23-25 Agustus 1993. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. Ananto, E.E. dan Astanto. 2003. Evaluasi teknis dan ekonomi traktor di lahan pasang surut (kasus di Delta Telang II dan Sugihan Kanan, Sumatera Selatan). Jurnal Enjiniring Pertanian 1(2): 8-15. Baharsjah, S. 1991. Kebijaksanaan pengembangan alat dan mesin pertanian. 14 hlm. Dalam E.E. Ananto dan R. Thahir (Ed.). Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian Menunjang Industri Pertanian. Risalah Lokakarya dan Ekspose Alat dan Mesin Menunjang Industri Pertanian, Bogor, 13-14 Agustus 1991. Balittri (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri). 2008. Biogas dari Bungkil Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Leaflet. Balittri, Pakuwon, Sukabumi. Budya, H. 2008. Laporan Pertamina untuk Tim Nasional BBN. Workshop Sosialisasi Pengembangan Bahan Bakar Nabati, Jakarta, 21 Juli 2008. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta. Deptan (Departemen Pertanian). 2008. Roadmap Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian 2009-2013. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Jakarta. Direktorat Alsintan. 2004. Alsintan. Buletin Informasi Alat dan Mesin Pertanian.

Implikasi Kebijakan 1. Perancangan dan pengembangan alsintan ke depan hendaknya memerhatikan kesesuaiannya dengan bahan bakar nabati yang tersedia di suatu wilayah agroekosistem. 2. Pemerintah harus segera memulai atau lebih meningkatkan fokus litbangnya dengan mengkaji seluruh jenis alsintan agar mampu dioperasikan secara aman dan tetap berkinerja baik dengan bahan bakar nabati tanpa mengurangi produktivitas pertanian. Hal ini hendaknya dilakukan dengan masif dan terintegrasi dengan seluruh institusi litbang terkait. 3. Ke depan, orientasi rancangan alsintan dengan engine statis dapat memanfaatkan secara langsung bahan bakar nabati yang berupa minyak nabati, seperti minyak kelapa maupun biodieselnya. Alsintan dengan engine yang mobile dapat memanfaatkan minyak nabati yang sudah ditransesterifikasi menjadi biodiesel atau bioetanol dari tebu atau ubi kayu. 4. Ketepatan jenis alsintan, sumber energi, dan kebutuhan pengguna dalam pengembangan alsintan ke depan hendaknya didukung oleh standar yang tepat. Pemerintah bersama masyarakat harus segera menyiapkan SNI yang mendukung dihasilkannya kinerja alsintan berbahan bakar nabati.

Reorientasi rancang bangun alat dan mesin pertanian ...

305

Direktorat Jenderal Bina Sarana Pertanian, Jakarta. 38 hlm. Gaybita, M.N. 1995. Pola penggunaan alsin tanaman pangan dan hortikultura. Prospek Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Hortikultura untuk Menunjang Agribisnis dan Agroindustri. Seminar Mekanisasi Hortikultura. Serpong, 4-6 September 1995. Balai Besar Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian, Serpong. Handoyo, R., A.A. Agraini, dan S. Anwar. 2007. Biodiesel dari minyak biji kapok. Jurnal Enjiniring Pertanian 5(1): 57-64. Imamuddin, F. dan B. Prastowo. 1992. Pompa sepak dan sentrifugal untuk pengairan. Prosiding Lokakarya dan Pelatihan Pelaksana Penelitian Pengembangan Maros, Bone, dan Wajo, Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros, 28-29 Oktober 1992. Imamuddin, F. dan B. Prastowo. 1995. Evaluasi beberapa bentuk dan luas daun kincir angin tipe savonious sebagai tenaga penggerak pompa air. Lokakarya dan Ekspose Teknologi Sistem Usaha Tani Konservasi dan Alat Mesin Pertanian, Yogyakarta, 17-19 Januari 1995. Balai Besar Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian, Serpong bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kamaruddin, A. 2002. Biomass energy potensials and utilization in Indonesia. Laboratory of Energy and Agricultural Electrification, Department of Agricultural Engineering, Bogor Agricultural University and Indonesian Renewable Energy Society (IRES). Kreatif Energi Indonesia. 2006. Bioethanol, Alternatif energi terbarukan: Kajian prestasi mesin dan implementasi di lapangan. Berita Iptek, 15 Juni 2006.

http://www.indobiofuel.com/menu bioethanol1.php Lszl, K. 2008. Key Factors to Process Jatropha to Good Quality Biodiesel. BioDiesel Technologies GmbH, Vienna, Austria. Jatropha World Hamburg, 2021 October 2008. Austrian Biofuels Institute, Austria. Lubis, S., S. Nugraha, Sudaryono, dan R. Rachmat. 2003. Evaluasi penggunaan pengering bahan bakar sekam tipe flat bed. Jurnal Enjiniring Pertanian 3(2): 6369. Menteri ESDM (Energi dan Sumber daya Mineral). 2006. Kebijakan Energi Nasional dan Pengembangan Biofuel Losari, Jawa Barat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. 2006. Program Aksi Penyediaan dan Pemanfaatan Energi Alternatif, Jakarta. Muhlbauer, W., A. Esper, E. Stumpf, and R. Baumann. 1998. Plant oil-based cooking stove-a technology update. Workshop Rural Energy, Equity, and Employment: Role of trophy curcas. Harare, Zimbabwe, 13-15 May 1998. Scientific and Industrial Research and Development Centre (SIRDC). The Rockefeller Foundation. Muller, J., M. Kratzeisen, K. Weis, E. Stumpf, and W. Muhlbauer. 2006. Jatropha curcas derivatives as alternative energy source for households. Lokakarya II Status Teknologi Jarak Pagar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor, 29 November 2006. Prabowo, A., B. Prastowo, dan F. Imamuddin. 1989. Supplementary irrigation using shallow groundwater for soybean after wetland rice. Int. Rice Res. Newsl. 14(2): 42.

306

Bambang Prastowo

Prastowo, B. 1986. Hasil modifikasi alat tanam suntik berguling model dua alur. Agrikam 1(1): 10-15. Prastowo, B. dan F. Imamuddin. 1988. Pompa injak untuk irigasi di lahan kering dan tadah hujan. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 10(6): 6-7. Prastowo, B. dan F. Imamuddin. 1989. Low cost treadle pump for supplementary irrigation of rainfed farms. Int. Rice Res. Newsl. 14(1): 31. Prastowo, B. dan Hardono. 1989. Alat pengolah ubi kayu Balittan Maros: Murah dan sederhana untuk mengatasi melimpahnya produksi ubi kayu. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 11(4): 6-7. Prastowo, B. dan Riyadi. 1990. Mesin pembuat sawut dan chip ubi kayu CSM 3. Agrimek 2(1): 16-21. Prastowo, B., N. Richana, S. Yamin, dan Riyadi. 1990a. Mesin mesin pengolah ubi kayu. Agrikam 5(1): 1-5. Prastowo, B., Y. Sinuseng, dan N. Richana. 1990b. Mesin pembuat tepung ubikayu TEM 1. Agrimek 2(1): 22-28. Prastowo, B. 1991. Design of the coilling of pipe for water pump model PUSM 1. Agrimek 3(1): 1-6. Prastowo, B. dan I. Manwan. 1991. Alat Pengolah Ubikayu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor. Prastowo, B., E.E. Ananto, R. Thahir, dan Handaka. 1993. Pengembangan alat dan mesin pertanian dalam meningkatkan efisiensi usahatani. hlm. 200211. Dalam M. Syam, Hermanto, H. Kasim, dan Sunihardi (Ed.). Kinerja Penelitian Tanaman Pangan. Buku I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Prastowo, B. dan Supratomo. 1994. Penelitian dan pengembangan di bidang teknik pertanian dan pengembangannya pada PJP II. hlm. 22-27. Dalam A. Prabowo, Supratomo, T.M. Lando, dan R.H. Anasiru (Ed.). Strategi Penelitian dan Pengembangan Bidang Teknik Pertanian di Indonesia dalam PJP II. Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros bekerja sama dengan Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia, Sulawesi Selatan. Prastowo, B. 1999. Multi mode power unit for lowland puddling and upland minimum tilling/weeding. PII J. Technol. Future 5(3): 24-27. Prastowo, B. 2003. Meningkatkan Daya Saing Agroindustri Melalui Pendayagunaan Teknologi Tepat Guna dalam rangka Mengatasi Krisis Nasional. Taskap Lemhannas KRA XXXVI 2003, Jakarta. Prastowo, B. 2005. Pembelajaran dari implementasi pemanfaatan energi pedesaan untuk pertanian. Makalah Diskusi Energi Pedesaan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 22 Maret 2005. Prastowo, B. , E. Karmawati, D. Allorerung, dan Wargiono. 2006. Pengembangan komoditas pertanian untuk bahan bakar nabati mendukung industrialisasi pertanian. Prosiding Seminar Nasional Mekanisasi Pertanian. Bogor, 29-30 November 2006. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Prastowo, B. 2007a. Kompor berbahan bakar minyak nabati. Warta Penelitian. dan Pengembangan Pertanian 29(6): 79. Prastowo, B. 2007b. Biofuel development in Indonesia. Makalah International Workshop on Development of Jatro-

Reorientasi rancang bangun alat dan mesin pertanian ...

307

pha curcas L. Industry. Haikau, Hainan, 29-31 October 2007. Prastowo, B. 2007c. Potensi sektor pertanian sebagai penghasil dan pengguna energi terbarukan. Perspektif: Review Penelitian Tanaman Industri 6(2): 8593. Prastowo, B. 2008a. Inovasi teknologi pertanian mendukung pengembangan bahan bakar nabati. Makalah disampaikan pada Seminar dan Pameran Nasional Perhimpunan Teknik Pertanian di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 18-19 November 2008. Prastowo, B. 2008b. Jatropha curcas plantation and market development in Indonesia: Prospect and challenges. World Biofuel Summit, Bangkok, 28 March 2008. Salvo Management, Bangkok. Prastowo, B. 2008c. Penyediaan bahan baku dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan bakar nabati jangka panjang. Makalah Seminar Dewan Riset Nasional, Jakarta, 1-2 Desember 2008. Prastowo, B. 2008d. Sumber energi dari bungkil jarak pagar. Infotek Jarak Pagar 3(10): 1-38. Prastowo, B. dan E. Rahmarestia. 2008. Kompor protos berbahan bakar minyak nabati. Makalah Seminar Nasional Mekanisasi Pertanian, Bogor, 23 November 2008. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong. Prastowo, B. dan E. Rahmarestia. 2009. Uji kinerja kompor tipe tekan dengan bahan bakar minyak kemiri sunan (Aleurites trisperma BLANCO) dan minyak nyamplung ( Calophyllum inophyllum L.). Makalah Simposium V Perkebunan: Teknologi Perkebunan Menjawab Krisis Energi. Pusat Pene-

litian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor, 14 Agustus 2009. Prastowo, B. and Srimulato. 2008. Biomass energy technologies in Indonesia: State of the art. The International Workshop and Exhibition on Clean Energy Development held in Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS), Surabaya, 9-10 December 2008. Pusposutardjo, S. 1995. Konsep Konservasi Tanah dan Air untuk Keberlanjutan Irigasi. Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Reksowardojo, I. dan H.S. Tatang. 2006. Teknologi pengembangan bio-energi untuk industri pertanian. hlm. 69-81. Prosiding Seminar Nasional Mekanisasi Pertanian, Bogor, 29-30 November 2006. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong. Richana, N. dan B. Prastowo. 1987. Perbaikan cara pembuatan gaplek. Agrikam 2(2): 45-48. Richana, N. dan B. Prastowo. 1989. Pengasapan dan teknik penyimpanan jagung dengan memanfaatkan limbah padi (sekam). Agrimek 1(1): 1-3. Soedjatmiko. 1989. Mechanization of land tillage for paddy field: A management analysis of tractor utilization at farm level. p. 110-118. In K.P. Hadi, K. Abdullah, M.A. Dhalhar, Y. Sagara, K. Fujii, and M. Djojomartono (Ed.). Proc. Second Joint Seminar on Agricultural Engineering and Technology, JICAIPB, Bogor, 7-8 August 1989. Soedjatmiko. 1996. Kepeloporan nasional teknik pertanian di Indonesia. hlm. 30-36. Dalam I. Berd, Syafriddin, Hasbullah, H. Suryanto, dan R. Jaya. Prosiding Kontribusi Teknik Pertanian

308

Bambang Prastowo

untuk Memacu Pembangunan Industri dalam Era Globalisasi. Perteta Sumatera Barat, Universitas Andalas, BappedaDiperta Sumatera Barat, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sukarami. Soemodihadjo, S. 1977. Peranan mekanisasi pertanian dalam pembangunan nasional. Mekanisasi Pertanian untuk Pembangunan. Seminar Mekanisasi Pertanian, Jakarta, 25-26 Mei 1977. Srimulato. 2008. Produksi Biogas dari Limbah Biomasa Kopi dan Kakao serta Ternak. Leaflet. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember. Sugondo, S. 1994. Kebutuhan penelitian dan pengembangan keteknikan pertanian bagi swasta. hlm. 59-62. Dalam A. Prabowo, Supratomo, T.M. Lando, dan R.H. Anasiru. Strategi Penelitian dan Pengembangan Bidang Teknik Pertanian di Indonesia dalam PJP II. Balai Penelitian Tanaman Pangan Maros dan Perhimpunan Teknik Pertanian Sulawesi Selatan. Suhaeti, R.N. dan S.S. Siwi. 2004. Inkorporasi perspektif gender dalam pengembangan rekayasa alat dan mesin pertanian. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian 2(1): 67-76. Sukmadi, I., I. Hendrawan, M. Haifan, S. Sukotjo, dan Soedjatmiko. 1995. Sejarah Mekanisasi Pertanian: Fakta, analisis, masa depan. ASSET Professional-

Fakultas Teknologi Pertanian Institut Teknologi Indonesia, Serpong. Sukrisno, W., Srimulato, B. Prastowo, dan S. Edy. 2008. Kinerja mesin sangrai tipe silinder horizontal dengan sumber panas kompor bertekanan berbahan bakar minyak nabati. Seminar Nasional Mekanisasi Pertanian. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Bogor, 23 November 2008. Sumarsono, W. 2008. Status perkembangan bahan bakar nabati di Indonesia dan isu strategis terkait. Makalah Lokakarya Optimalisasi Permen ESDM No. 22/2008 tentang Bahan Bakar Nabati, Dewan Riset Nasional, Jakarta, 1-2 Desember 2008. Sutrisno dan R. Rachmad. 2003. Perbaikan desain tungku sekam untuk meningkatkan efisiensi panas pada pengeringan gabah. Jurnal Enjiniring Pertanian 1(1): 39-48. UKP (Universitas Kristen Petra). 2007. Analisa Penggunaan Minyak Jarak Sebagai Bahan Campuran Biodiesel. Digital Collection. hlm. 1-20. http:// digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/mesn/ 2007/jiunkpe-ns-s1-2007-244020336460-minyak_jarak-chapter2.pdf. ZREU (Zentrum fur Rationell Energieanwendung und Umwelt GmbH). 2000. Biomass in Indonesia - Business Guide.