Anda di halaman 1dari 9

1. PENDIDIKAN KESEHATAN MANAJEMEN NYERI INTRANATAL A.

Rasa Tidak Nyaman Neurologis Rasa tidak nyaman selama persalinan disebabkan oleh dua hal (Hugs, 1992). Pada tahap pertama persalinan, kontraksi rahim menyebabkan (1) dilatasi dan penipisan serviks serta (2) iskemia rahim (penurunan aliran darah sehingga oksigen lokal mengalami defisit) akibat kontraksi arteri myometrium. Impuls rasa nyeri pada tahap pertama persalinan ditransmisi melalui segmen saraf spinalis T11-12 dan saraf-saraf asesori torakal bawah serta saraf simpatik lumbar atas. Saraf-saraf ini berasal dari korpus uterus dan serviks. Rasa tidak nyaman akibat perubahan serviks dan iskemia rahim ialah nyeri viseral. Nyeri ini berasal dari bagian bawah abdomen dan menyebar ke daerah lumbar punggung dan menurun ke paha. Biasanya ibu mengalami rasa nyeri ini hanya selama kontraksi dan bebas dari rasa nyeri pada interval antar-kontraksi. Selama tahap kedua persalinan, yakni tahap pengeluaran bayi, ibu mengalami nyeri somatik atau nyeri pada perineum. Rasa tidak nyaman pada perineum ini timbul akibat peregangan jaringan perineum supaya janin dapat melewati bagian ini, juga akibat tarikan peritoneum dan topangan uteroservikal saat kontraksi . Rasa nyeri juga dapat diakibatkan pengeluaran janin menggunakan forcep atau tekanan pada bagian terendah janin, yakni kandung kemih, usus, atau struktur sensitif panggul yang lain. Impuls nyeri selama tahap kedua persalinan dihantar melalui S1-4 dan sistem parasimpatis jaringan perineum. Nyeri yang dialami pada persalinan tahap ketiga ialah nyeri rahim, nyeri yang mirip dengan nyeri yang dialami pada awal pertama persalinan. Nyeri dapat berupa nyeri lokal disertai disertai kram dan sensasi robekan akibat distensi dan laserasi serviks, vagina, atau jaringan perineum. Rasa tidak nyaman sering digambarkan sebagai sensasi terbakar yang dirasakan saat jaringan meregang. Nyeri juga dapat beralih sehingga dapat dirasakan di punggung, di pinggang, dan di paha. B. Faktor-faktor yang Memperngaruhi Rasa Nyeri dalam Persalinan 1. Rasa takut atau kecemasan akan meninggikan respon individual terhadap rasa sakit. Misalnya rasa takut terhadap hal yang tidak diketahui, rasa takut ditinggal sendiri saat proses persalinan dan rasa takut atas kegagalan persalinan. 2. Keperibadian Ibu. Ibu yang secara alamiah tegang dan cemas akan lebih lemah dalam menghadapi stress dibandingkan wanita yang rileks dan percaya diri. 3. Kelelahan. Ibu yang sudah lelah selama beberapa jam persalinan atau terganggu tidurnya oleh ketidaknyamanan dari akhir masa kehamilan akan kurang mampu mentolerir rasa sakit.

4. Faktor sosial dan budaya. Beberapa budaya mengharapkan stoicisme (sabar dan membiarkan) sedangkan budaya lainnya mendorong keterbukaan untuk menyatakan perasaan. C. Penatalaksanaan Non-Farmakologis Nyeri Persalinan 1. Kehadiran pendamping selama proses persalinan. Pendamping ibu saat proses persalinan sebaiknya adalah orang yang peduli pada ibu dan orang yang diinginkan ibu untuk mendampingi selama proses persalinan. 2. Perubahan posisi dan pergerakan. Penolong persalinan tidak boleh memaksakan posisi yang telah dipilih ibu. 3. Sentuhan. Sentuhan mungkin akan membantu ibu rileks dengan cara pasangan menyentuh atau mengusap bagian tubuh ibu. Sentuhan seseorang yang peduli dan ingin menolong merupakan sumber kenikmatan saat ibu sakit, lelah dan takut. 4. Masase. Pemijatan secara lembut akan membantu ibu merasa lebih segar, rileks dan nyaman selama persalinan. Pijat merangsang tubuh melepaskan senyawa endhorphin yang merupakan pereda sakit alami. Endhorphin juga dapat menciptakan perasaan nyaman dan enak. Bagian tubuh yang dapat dipijat adalah kepala, leher, punggung dan tungkai. Saat melakukan pemijatan dapat menggunakan minyak sayur, minyak pijat atau sedikit bedak agar tangan agak licin dan ibu merasa nyaman. Ada dua teknik pemijatan yang dilakukan dalam persalinan yaitu : a. Effleurage : adalah teknik pemijatan berupa usapan lembut, lambat, dan panjang atau tidak putus-putus. Teknik ini menimbulkan efek relaksasi. Dalam persalinan, effleurage digunakan dengan menggunakan ujung jari yang ditekan lembut dan ringan. Lakukan usapan dengan ringan dan tanpa tekanan kuat, tetapi usahakan ujung jari tidak lepas dari permukaan kulit. b. Counterpressure adalah pijatan tekanan kuat dengan cara meletakkan tumit tangan atau bagian datar dari tangan, atau juga menggunakan bola tenis. Tekanan dapat diberikan dalam gerakan lurus atau lingkaran kecil. Teknik ini efektif menghilangkan sakit punggung akibat persalinan. Namun perlu disadari bahwa ada ibu yang tidak biasa dipijat, bahkan disentuh saat mengalami kontraksi, hal ini disebabkan karena kontraksi sedemikian kuatnya sehingga ibu tidak sanggup lagi menerima rangsangan apapun pada tubuh. 5. Panas buatan dan dingin buatan. Pemanasan merupakan metode sederhana yang digunakan pada ibu untuk meredakan rasa sakit. Dalam persalinan panas buatan dapat dilakukan dengan cara meletakkan botol air panas yang dibungkus dengan handuk di punggung, menggunakan kantong kain berisi kulit ari beras atau gandum yang dipanaskan beberapa menit di microwave, melakukan pemijatan dengan cara menggosokkan tangan pendamping persalinan di punggung ibu. Pijatan ini akan menghangatkan kulit sekaligus merangsang tubuh melepaskan senyawa alamiah pereda sakit. Dingin buatan dapat dilakukan dengan cara mengompres punggung ibu

menggunakan waslap yang dicelupkan dengan air es atau kantong kompres khusus untuk es. 6. Pencelupan di dalam air. Air dapat mengatasi rasa sakit karena dapat menyebabkan relaksasi. Air membantu ibu lebih rileks dan lebih dapat mengendalikan diri menghadapi kontraksi sehingga tidak terlalu menyakitkan. Selain itu di dalam air otot-otot ibu mengendur. 7. Teknik pernapasan. Dibedakan menjadi dua : a. Teknik pernapasan pada kala I awal. Dilakukan dengan cara tiap kali kontraksi dari awal sampai akhir kontraksi, ibu diminta untuk menarik nafas dalam-dalam dan teratur melalui hidung dan keluarkan lewat mulut. Pada puncak kontraksi bernafaslah dengan ringan dan pendek-pendek melalui mulut tetapi jangan terlalu lama karena bisa mengakibatkan ibu kekurangan oksigen. b. Teknik pernapasan kala I akhir. Kontraksi pada kala I akhir akan terjadi selama 1 menit dan bisa terasa setiap menit. Agar ibu tidak mengejan terlalu awal minta ibu untuk mengatakan huh huh, pyuh, sambil bernafas pendek-pendek lalu bernafaslah panjang. Setelah itu, bernafaslah perlahan dan teratur. Masa transisi ini merupakan masa yang paling sulit karena kontraksi akan sangat kuat, tetapi serviks belum membuka seluuruhnya. Pada tahap ini, minta ibu jangan mengejan terlebih dahulu karena akan menyebabkan serviks edem. 8. Visualisasi dan pemusatan perhatian. Pemberdayaan otak kanan untuk persalinan yang bebas sakit pada dasarnya menanamkan keyakinan melahirkan itu tidak sakit. Otak kanan adalah bagian yang mampu memvisualisasikan sesuatu seolah-olah itu kenyataan. Misalnya membayangkan seolah-olah sedang berada di taman bunga dan bayi sudah bersama ibu. Setiap ibu bisa melakukan visualisasi, sebaiknya latihan dilakukan sejak kandungan berusia 2 bulan atau paling lambat 7 bulan. Dengan visualisasi, ibu juga dibantu untuk tenang dan menghilangkan trauma atau naluri ekstra bawah sadar. Ibu dapat berlatih visualisasi dalam waktu 7x2,5 jam. 2. TANDA-TANDA PERSALINAN 1. Tanda yang mungkin - Sakit pinggang yang hilang timbul Sakit ini sering disertai dengan perasaan tidak enak atau gelisah (ketidakmampuan untuk merasa nyaman pada posisi apa pun dalam waktu yang lama. Sakitnya berbeda dengan sakit akibat postur tubuh yang dialami kebanyakan wanita hamil sesudah berdiri atau duduk untuk waktu yang lama. Sakitnya mirip sakit pinggang yang dialami sebelum menstruasi. Sakit pinggang ini dapat hilang timbul dalam beberapa hari sebelum atau bersama dengan munculnya tanda persalinan lainnya. - Kram perut yang menimbulkan ketidaknyamanan ringan sampai sedang. Beberapa wanita merasakan kram ini seperti kram menstruasi. Kram dapat berkembang atau tidak berkembang menjadi kontraksi rahim yang nyata.
3

Sering buang air besar dan tinja lunak. Kadang-kadang dirancukan dengan gangguan usus. Keadaan ini adalah perubahan yang dipicu prostaglandin untuk mengosongkan saluran usus bagian bawah dan membuat ruangan untuk bayi agar bergerak kebawah. Gejala seperti diare pada atau dekat dengan tanggal perkiraan lahir meupakan tanda kemungkinan pada persalinan.

2. Tanda awal - Kontraksi rahim yang tidak berkembang Ini adalah kontraksi teratur yang berlanjut selama beberapa jam tanpa berubah intensitasnya, frekuensinya atau lamanya. Kontraksi ini disebut kontraksi persalinan. Kadang-kadang kontraksi ini cukup kuat, panjang (sampai 2 menit), atau sering (berjarak 5 menit satu sama lain). Kontraksi umumnya cenderung ringan dan berjarak 8-10 menit. - Aliran lendir yang licin bercampur darah (keluarnya darah) Sepanjang kehamilan, leher rahim mengandung lendir yang kental yang akan menjadi encer dan dikeluarkan pada akhir kehamilan saat leher rahim mulai menipis dan membuka. Kadang-kadang lendir ini tampak sebagai gumpalan lendir yang kental. Meskipun demikian, sebagian besar wanita tidak pernah mengalami pengeluaran lendir dalam bentuk gumpalan tersebut. Pengeluaran yang lebih sering adalah lendir menjadi encer dan cair (Leukorrhea). - Rembesan cairan ketuban dari vagina Kantung ketuban terkadang mulai bocor sebelum persalinan. Kadang-kadang kantung pecah dengan aliran yang deras. 3. Tanda Positif - Kontraksi rahim yang berkembang Kontraksi yang menjadi lebih lama, lebih kuat dan lebih dekat jaraknya. Kontraksi berkembang membuat leher rahim melebar dan mendorong janin kebawah dan keluar dari rahim. Pada persalinan awal, kontraksi biasanya terasa seperti rasa kencang diperut disertai nyeri pinggang. Dengan semakin berkembangnya persalinan, kontraksi biasanya menjadi lebih sakit. - Robekan membran (ROM) disertai arus deras ketuban Pada sebagian besar kehamilan, membran baru robekan setelah fase aktif persalinan atau bahkan lebih lama lagi. Kantung air yang pecah diiringi arus ketuban yang deras lebih dramatis ketimbang kantung yang bocor. Kadang-kadang calon ibu menganggap ia tidak lagi dapat mengendalikan kandung kemihnya. Saat ROM terjadi disertai arus deras, kontraksi persalinan biasanya dimulai dalam waktu beberapa jam. - Perubahan leher rahim dipertegas dengan pemeriksaan dalam Pemberi perawatan melakukan pemeriksaan ini untuk menentukan perubahan apa yang sudah terjadi pada posisi, pematangan, penipisan atau pelebaran leher rahim.
4

Kategori Tanda Kemungkinan Persalinan (Bisa atau tidak menjadi tanda awal dari persalinan, waktu yang akan menentukan) Tanda Awal Persalinan (Tanda perkembangan, tetapi tetap dikaitkan dengan proses persalinan awal atau pra-persalinan)

Tanda Sakit Pinggang : Nyeri yang samar, ringan, dan dapat hilang timbul Kram pada perut bagian bawah : Seperti kram menstruasi, dapat disertai dengan rasa yang tidak nyaman dipaha Tinja yang lunak : Buang air beberapa kali dalam beberapa jam, dapat disertai dengan kram perut atau gangguan pencernaan Kontraksi yang tidak berkembang : Kontraksi cenderung mempunya panjang, kekuatan dan frekuensi yang sama. Kontraksi ini dapat berlangsung singkat atau terus menerus selama beberapa jam sebelum berhenti atau mulai berkembang Keluar darah : Aliran lendir yang bernoda darah dari vagina Rembesan Cairan ketuban yang deras dari vagina : Disebabkan oleh robekan kecil pada membran (ROM) Tanda Positif Kontraksi yang berkembang : Menjadi lebih lama, lebih Persalinan (Tanda kuat dan lebih dekat jaraknya bersama dengan berjalannya paling jelas bahwa waktu leher rahim melebar) Aliran cairan ketuban yang deras dari vagina : Disebabkan oleh robekan membrane yang besar (ROM) Pelebaran leher rahim : Leher rahim membuka sebagai respons terhadap kontraksi yang berkembang

3. TEHNIK MENERAN PADA SAAT PERSALINAN 3.1. Pengertian Meneran Meneran adalah menahan napas dan menekan (kamus besar. 2009). Meneran dilakukan ketika ada keinginan dari ibu untuk mengeluarkan sesuatu dari abdomen, sering disebut mulas. Meneran efektif sangat bermanfaat dan mempermudah pada saat tertentu pada proses persalinan berlangsung. 3.2. Fungsi Posisi Meneran Posisi meneran yang dipilih ibu pada saat proses persalinan memberikan banyak manfaat, diantarnya (APN.2007) : 1. Mengurangi ketidakyamanan dan rasa sakit 2. Proses persalinan kala II menjadi lebih singkat 3. Mengurangi laserasi pada perineum 4. Lebih membantu meneran 5. Nilai APGAR lebih baik
5

3.3. Macam-macam posisi meneran Macam-macam, posisi meneran menurut APN (2007),diantaranya : 1. Duduk atau Setengah Duduk Dengan posisi ini penolong persalinan lebih leluasa dalam membantu kelahiran kepala jani serta dapat memperhatikan perineum. 2. Merangkak Posisi ini sangat cocok untuk persalinan dengan rasa sakit dipunggung, mempermudah janin dalam melakukan rotasi dan peregangan pada perineum berkurang. 3. Jongkok atau berdiri Cara ini memudahkan penurunan kepala janin, memperluas panggul sebanyak 28% lebih besar pada pintu bawah panggul, memperkuat dorongan meneran. Namun posisi ini sangat beriko terjadi laserasi (perlukaan jalan lahir). Posisi jongkok atau berdiri, seorang ibu lebih mudah mengkosongkan kandung kemihnya, karena kandung kemih yang penuh akan memperlambat penurunan bagian bawah janin. 4. Berbaring atau miring ke kiri Posisi ini dapat mengurangi pada penekanan pada vena kava inferior sehingga dapat mengurangi terjadinya hipoksia, suplai oksigen tidak terganggu, memberikan rasa rileks pada ibu yang mengalami kecapean dan dapat pencegahan terjadinya laserasi atau robekakn jalan lahir.

5. Posisi telentang atau supine Posisi ini tidak dianjurkan bagi ibu karena dapat menyebabkan hipotensi, karena bobot uterus dan isinya menekan aorta, vena kava inferior dan pembuluh darah lain yang menyebabkan suplai darah ke jani menjadi berkurang, dan akhirnya ibu dapat pingsan dan bayi mengalami fetal distress atau anoreksia janin. Posisi ini menyebabkan persalinan menjadi lama kemungkinan besar terjadi laserasi perineum dan dapat mengakibatkan kerusakan saraf kaki dan punggung. 3.4. Tehnik meneran atau bernapas Pada kala I tehnik meneran dapat dilakukan dengan otot-otot abdomen. Namun pada saat mendekati kelahiran (kala III) yaitu seiring dengan meningkatnya kontraksi maka pernapasan ibu 2 kali lebih cepat. Pada saat pembukaan 8-10 ibu sudah sangat sulit untuk dikendalikan sehingga butuh peragaan langsung dari penolong persalinan sehingga ibu dapay mengikuti tehnik bernapas yang benar saat bersalin. Hal ini dilakukan untuk mencegah alkalosis pada ibu. Adapun tehnik-tehnik bernapas yang dapat dilakukan saat proses persalinan adalah (Wong, hlm : 444) sebagai berikut : 1. Cleansing breath Yaitu,nafas relaksasi melalui mulut dan hidung.digunakan pada awal dan akhir tiap kontraksi. 2. Slow paced breathing (kira-kira 6-8 kali nafas/menit) Yaitu nafas tidak kurang dari separuh laju nafas normal(jumlah nafas/menit dibagi 2) Inspirasi 2-3-4/ekspirasi 2-3-4/inspirasi2-3-4/ekspirasi2-3-4 3. Modified-paced breathing (kira-kira 32-40 kali nafas/menit) Tidak lebih dari 2 kali laju nafas normal (jumlah nafas permenit dikali 2) Inspirasi-ekspirasi/inspirasi-eksipirasi/ Inspirasi-ekspirasi. Pada beberapa wanita yang ingin lebih fleksibel dan bervariasi bisa menggabungkan antara slow faced breathing pada awal dan akhir kontraksi dan medified breathing pada nafas yang inten.tehnik ini menghasilkan banyak energy dan mengurangi kelelahan 4. Patterned paced breathing ( kelajuan sama dengan modified paced breathing) a. Pola nafas 3:1 Inspirasi-ekspirasi/Inspirasi-ekspirasi/Inspirasi-ekspirasi/inspirasi-hembus (diulang selama kontraksi) b. Pola nafas 4:1 Inspirasi-ekspirasi/Inspirasi-ekspirasi/Inspirasi-ekspirasi/Inspirasiekspirasi/inspirasi-hembus
7

c. Coach call Digunakan ketika seorang ibu membutuhkan banyak konsentrasi dan distraksi (contoh selama transisi)

Note: Anjuran saat meneran Pada saat meneran, lakukan relaksasi pada otot dasar pelvikagara proses meneran lebih efektif dan lebih nyaman. Diantara kontraksi, istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga pada proses meneran selanjutnya. (Zainal, hlm: 24) Sedangkan Otot-otot yang digunakan saat meneran (Farrer, hlm:119) yaitu: Otot Rahim yaitu otot volunteer dan diafragma

DAFTAR PUSTAKA Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC. Donna,L. Wong at All. 2006. Maternal Child Nursing Care Ed. 3trd. USA: Mosby Elsevier Farrer, Helen. 2001. Perawatan Maternitas Ed.2. Jakarta: EGC Penny Simkin, P.T, dkk.2009. Panduan Lengkap Kehamilan, Melahirkan dan Bayi. Jakarta : EGC Yeyeh, Ai. 2009. Asuhan Kebidanan 2 (Persalinan). Jakarta : TIM. Zainal, Mazneera.2007. Detik kelahiran si permata hati. Kisah Benar pengalaman ibu menghadapi saat melahirkan anak pertama. Kuala Lumpur: Fukuda Printing