Anda di halaman 1dari 335

UNIVERSITAS INDONESIA

PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL DI INDONESIA (Studi Kasus: Putusan MA No. 273PK/Pdt/2007 dan Putusan MA No. 56PK/Pdt.Sus/2011)

SKRIPSI

RADEN UMAR FAARIS PERMADI 0706278525

FAKULTAS HUKUM PROGRAM STUDI ILMU HUKUM DEPOK JULI 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL DI INDONESIA (Studi Kasus: Putusan MA No. 273PK/Pdt/2007 dan Putusan MA No. 56PK/Pdt.Sus/2011)

SKRIPSI
Diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana

RADEN UMAR FAARIS PERMADI 0706278525

FAKULTAS HUKUM PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM TENTANG HUBUNGAN TRANSNASIONAL DEPOK JULI 2012

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM Tanda Tangan Tanggal

: Raden Umar Faaris Permadi : 0706278525 : ............................... : 14 Juli 2012

ii

iii

KATA PENGANTAR

Mimpi adalah sebuah kata yang singkat namun memiliki makna yang besar dalam hidup manusia. Eleanor Roosevelt mengatakan, The beautiful heart is on they who believe to their dreams. Dalam perjalanan Penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tidak dipungkiri bahwa terdapat masa-masa yang kurang baik. Namun demikian sebuah kata mimpi membuat perubahan besar terhadap perjalanan Penulis. Mimpi tersebut pula yang kemudian memicu semangat Penulis untuk menjadi pribadi yang lebih baik termasuk pula dalam hal penulisan skripsi ini. Tidak Penulis pungkiri bahwa Penulis menemui banyak aral rintangan di dalam penulisan skripsi ini. Namun dorongan dari berbagai pihak membuat Penulis merasa terpacu untuk tidak berputus asa dan semangat dalam mengejar gelar Sarjana Hukum. Dengan demikian penulisan skripsi ini pun dapat selesai dengan baik. Oleh karena itu, izinkanlah Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Allah Swt. sang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Tuhan yang telah memberikan kasih sayang tiada batas kepada Penulis, yang selalu mengingatkan mana kala Penulis menyimpang walaupun terkadang Penulis kerap kali sangsi atas nikmat yang telah diberikan. 2. Para pembimbing Penulis, yaitu Prof. Dr. Zulfa Djoko Basuki, S.H., M.H dan Dr. Mutiara Hikmah, S.H, M.H. atas semua waktu, nasihat, dan bimbingan yang berharga bagi Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3. Dosen-Dosen PK 6: Bu Fatmah, Bu Lita Arijati, Mba Tiurma P. Allagan, Bang Yu un Opposunggu, Mba Tita, Prof Hikmahanto Juwana, dan Bang Hadi Rahmat, mereka adalah dosen yang luar biasa karena tidak hanya sekedar mengajar, namun juga mendidik mahasiswa-mahasiswanya dengan hati. Terimakasih atas semua ilmu, motivasi, dan dorongan kepada Penulis untuk senantiasa belajar. 4. Ibunda tercinta Saleha Mulyani, sosok paling luar biasa dalam kehidupan Penulis yang selalu memberikan sokongan tiada hingga. Terima kasih atas

iv

semua kasih sayang, perhatian, dan doa yang tidak henti-hentinya mengalir untuk Penulis. Sungguh tiada dapat Penulis membalas segala jasanya. 5. Ayahanda, Raden Permadi Wiratanuningrat yang telah memberikan sokongan sehingga Penulis tumbuh dewasa dan dapat menempuh pendidikan yang terbaik. 6. Keponakan-keponakan Penulis, Dhiandra, Aisha, dan Aila yang selalu memberikan keceriaan bagi Penulis. Hilang semua penat Penulis ketika melihat tingkah laku polos dan lucu mereka. 7. Kakak-Kakak Penulis, Erwin Susanti dan RA. Amiera Permadi yang tiada hentinya memberikan dorongan moral dan perhatian kepada Penulis. Pula kepada Tante Penulis, Ika Malika yang memberikan banyak nasihat dan masukan dalam segi psikologis. 8. Terimakasih yang mendalam juga Penulis sampaikan kepada Binny Aryuniputri yang telah sabar memotivasi Penulis dan memberikan inspirasiinspirasi untuk bermimpi lebih tinggi. Membuat Penulis tidak hanya berani untuk bermimpi, tetapi juga berani untuk mewujudkannya. Terimakasih untuk segala perhatian dan kebersamaan yang indah ini. 9. Sahabat-sahabat Penulis dari SMA, Omar, Eca, Gilang, Aldy, Bobop, Lucky, Ari, Elvis, Herbert, Azfar, Agathon, Damar, Nizar, Andre, Niki, Putri, Vani, Ega, Riri, Tita, Angel atas semua kehangatan, kebersamaan, dan keceriaan yang mewarnai hari-hari Penulis terutama di akhir pekan. 10. Era, Agi, Intan, Jennifer, Andin atas kebersamaan dalam masa-masa perkuliahan Penulis di FHUI. 11. Teman-teman PK 6 angkatan 2007 dan 2008 yang telah berbagi ilmu kepada Penulis. Firly dan Ana yang telah memberikan banyak bantuan atas penulisan skripsi ini. Anggarara, Tami, Sea, Sisil, dan teman-teman lainnya yang telah membantu perkuliahan di PK 6. 12. Teman-teman Futsal Ceria dan segenap angkatan 2007 yang tidak bisa Penulis sebutkan satu per satu atas semua perkuliahan Penulis selama kurang lebih 5 tahun. 13. Recht Football Club (RFC) yang telah banyak memberikan banyak kenangan dan kesenangan bagi Penulis.

14. Para pihak dari pengadilan yang telah berkenan meluangkan waktu dan membantu penelitian Penulis: Bapak Togi Hakim Mahkamah Agung, Bapak Simarmata Panitera Perdata Umum Mahkamah Agung, Bapak Agus Syarifudin, Bapak Hendro, Bapak Syafruddin, Bapak Denny, Mas Denny dan Mas Amos, Panitera di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Bapak Nce Panitera Perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, serta pihak-pihak lainnya yang turut membantu Penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. 15. Kepada setiap orang yang telah datang dalam kehidupan Penulis dan menjadikan hari-hari Penulis menjadi lebih bermakna dan berwarna. Terimakasih untuk semuanya.

Tiada gading yang tak retak. Penulis pun menyadari bahwa skripsi ini sangat jauh dari sempurna. Tentunya terselip banyak kekurangan di dalam skripsi ini. Kendati demikian, besar harapan Penulis, semoga karya tulis ini sedikit banyak dapat memberikan warna dalam khazanah ilmu pengetahuan, terutama di bidang Hukum Perdata Internasional. Segala kekurangan adalah milik Penulis, dan segala kesempurnaan adalah milik Sang Pencipta. Selamat membaca dan semoga bermanfaat!

Depok, Juli 2012 Raden Umar Faaris Permadi

vi

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Fakultas Jenis karya : Raden Umar Faaris Permadi : 0706278525 : Hukum : Skripsi

Program Studi : Ilmu Hukum

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia (Studi Kasus: Putusan MA No. 273PK/Pdt/2007 dan Putusan MA No. 56PK/PDT.SUS/2011) Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Depok Yang menyatakan

Pada tanggal : 14 Juli 2012

( Raden Umar Faaris Permadi )

vii

ABSTRAK/ ABSTRACT

Nama : Raden Umar Faaris Permadi Program Studi : Ilmu Hukum Judul : Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia (Studi Kasus: Putusan MA No. 273PK/Pdt/2007 dan Putusan MA No. 56PK/PDT.SUS/2011) Title : Annulment of International Arbitral Award in Indonesia (Case Study: Supreme Court Resolution No. 273 PK/Pdt/2007 and No. 56PK/PDT.SUS/2011) Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis peraturan pembatalan putusan arbitrase internasional disertai praktek yang dilakukan lembaga peradilan di Indonesia berdasarkan teori-teori HPI. Penulis mempergunakan metode penelitian yuridis normatif dengan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional dalam UU Arbitrase belum jelas dan lengkap. Hal tersebut dapat dilihat dalam perdebatan mengenai pengaturan pelaksanaan putusan arbitrase internasional dan alasan pembatalan putusan arbitrase. Lembaga peradilan di Indonesia pun pada prakteknya masih inkonsisten dalam menerapkan aturan-aturan tersebut. Sebagai contoh ialah kasus antara Yemen Airways melawan PT Comarindo Tama Tour&Travel dan kasus antara PT Pertamina(Persero) dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum. Kata kunci: Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional, Hukum Perdata Internasional, UU Arbitrase.

This research aimed to describe and analyze the regulation about annulment of international arbitral award with the practice of Indonesian Court in accordance with International Private Law. Author use juridical-normative research method with literature studies. The research shows that the regulation about annulment of international arbitral award in Law of Arbitration has not been clear and sufficient. It can bee seen from the articles about the enforcement of international arbitral award and the ground for annulment of arbitral award. In accordance with that, Indonesian Court has been inconsistent to implement those regulations. For examples is case between PT Comarindo Tama Tour&Travel v. Yemen Airways and case between PT Pertamina (Persero) and PT Pertamina EP v. PT Lirik Petroleum. Key words: Annulment of International Arbitral Award, International Private Law, Law of Arbitration.

viii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ii HALAMAN PENGESAHAN.. iii KATA PENGANTAR.. iv LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH. vii ABSTRAK. viii DAFTAR ISI. ix DAFTAR LAMPIRAN. xi BAB 1 PENDAHULUAN. 1 1.1. Latar Belakang Pemilihan Judul. 1 1.2. Pokok Pokok Permasalahan. 8 1.3. Tujuan Penelitian 9 1.4. Kerangka Konsepsional.. 9 1.5. Metode Penelitian... 12 1.6. Sistematika Penulisan. 14 BAB 2 PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL 16 2.1. Pembatalan Putusan Arbitrase di Indonesia 16 2.1.1. Pengertian Putusan Arbitrase Internasional dalam UU Arbitrase. 17 2.1.2. Pendaftaran Putusan Arbitrase Sebagai Syarat Diajukannya Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase............................ 22 2.1.3. Alasan-Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase dalam UU Arbitrase .. 23 2.1.4. Prosedur Pembatalan Putusan Arbitrase Berdasarkan UU Arbitrase 28 2.1.5. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional Menurut UU Arbitrase 30 2.2. Pembatalan Putusan Arbitrase Berdasarkan Instrumen-Instrumen Hukum Internasional...32 2.2.1. Pembatalan Putusan Arbitrase dalam Perspektif Konvensi New York 1958 .. 32 2.2.2. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional Berdasarkan Konvensi ICSID.................................................................. 36 2.2.3. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional Berdasarkan UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration.. 40 BAB 3 ASPEK-ASPEK HUKUM PERDATA INTERNASIONAL DALAM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL 3.1. Dasar Kewenangan Pengadilan dalam Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional...................... 44 3.2. Aspek-Aspek Hukum Perdata Internasional dalam Pembatalan

ix

Putusan Arbitrase Internasional 3.2.1. Status Personal Badan Hukum 3.2.2. Pilihan Forum. 3.2.3. Pilihan Hukum 3.2.4. Ketertiban Umum

48 49 50 52 53

BAB 4 ANALISIS PERKARA PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL 57 4.1. Perkara Pembatalan Putusan Arbitrase BANI Antara Yemen Airways Melawan PT Comarindo Tama Tour&Travel (Putusan Mahkamah Agung RI No. 273 PK/Pdt/2007) 4.1.1. Kasus Posisi 57 4.1.2. Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Internasional.. 67 4.1.2.1.Status Personal Para Pihak. 67 4.1.2.2.Pilihan Forum 69 4.1.2.3.Pilihan Hukum. 71 4.1.3. Analisis Putusan Hakim.................................................. 73 4.1.3.1.Pengertian Putusan Arbitrase Internasional... 73 4.1.3.2.Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase 74 4.1.3.3.Prosedur Pembatalan Putusan Arbitrase 77 4.2. Perkara Pembatalan Putusan Arbitrase ICC Antara PT Lirik Petroleum Melawan PT Pertamina Persero (Putusan Mahkamah Agung RI No. 56 PK/Pdt.Sus/2011) 4.2.1. Kasus Posisi .. 80 4.2.2. Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Internasional.. 86 4.2.2.1.Status Personal Para Pihak. 86 4.2.2.2.Pilihan Forum 87 4.2.2.3.Pilihan Hukum 89 4.2.3. Analisis Putusan Hakim. 91 4.2.3.1.Putusan Arbitrase Nasional atau Putusan Arbitrase Internasional.............................................. 91 4.2.3.2.Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase 95 4.2.3.3.Ketertiban Umum 97 4.2.3.4.Dasar Kewenangan Pengadilan Indonesia dalam Membatalkan Putusan Arbitrase ICC. 101 4.2.3.5.Prosedur Pembatalan Putusan Arbitrase 102 BAB 5 PENUTUP 4.1. Kesimpulan.. 4.2. Saran......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

105 110

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pemilihan Judul Arbitrase merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yaitu arbitrare yang memiliki arti kekuasaan banyak untuk menyelesaikan mengenai sesuatu menurut yang kebijaksanaan.1

Terdapat

pengertian

arbitrase

dikemukakan oleh para ahli hukum. Namun demikian, berdasarkan

definisi-

definisi tersebut dapat ditarik benang merah bahwa arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa yang dilakukan di luar pengadilan yang dilakukan oleh arbitrator. R. Subekti menyatakan bahwa yang dimaksud dengan arbitrase sebagai:
Penyelesaian masalah atau pemutusan sengketa oleh seorang arbiter atau para arbiter yang berdasarkan persetujuan bahwa mereka akan tunduk kepada atau menaati keputusan yang diberikan oleh arbiter atau para arbiter yang mereka pilih atau tunjuk.2

Menurut Priyatna Abdurrasyid, arbitrase diartikan sebagai:


Suatu tindakan hukum dimana ada pihak yang menyerahkan sengketa atau selisih pendapat antara dua orang atau lebih kepada seseorang atau beberapa ahli yang disepakati bersama dengan tujuan memperoleh satu keputusan final dan mengikat.3

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut dengan UU Arbitrase)

mengemukakan definisi Arbitrase sebagai cara penyelesaian suatu sengketa

R. Subekti, Arbitrase Perdagangan, (Bandung: Bina Cipta, 1987) hal. 1. Ibid. Ibid.

Universitas Indonesia

perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.4 Peranan dan penggunaan lembaga arbitrase dalam menyelesaikan sengketa-sengketa di bidang kegiatan-kegiatan bisnis dan ekonomi yang bersifat nasional maupun internasional dewasa ini semakin berkembang pesat. Arbitrase sudah semakin populer di kalangan para pelaku bisnis sebagai institusi hukum alternatif bagi penyelesaian sengketa disamping penyelesaian sengketa melalui pengadilan. Hal tersebut dibuktikan dengan fakta bahwa banyak kontrak dagang yang dibuat dengan mencantumkan klausula arbitrase sebagai forum penyelesaian sengketa.5 Beberapa faktor yang menyebabkan berkembang pesatnya penyelesaian sengketa melalui arbitrase adalah kelebihan yang dimiliki oleh arbitrase. Kelebihan-kelebihan tersebut menurut Huala Adolf antara lain6: 1. berperkara melalui arbitrase tidak begitu formal dan fleksibel; 2. dalam arbitrase, para pihak yang bersengketa diberi kesempatan untuk memilih arbitrator yang mereka anggap dapat memenuhi harapan mereka baik dari segi keahlian maupun pengetahuan pada suatu bidang tertentu; dan 3. faktor kerahasiaan proses berperkara dan putusan yang dikeluarkan merupakan alasan utama forum arbitrase diminati.

Pendapat lain mengenai kelebihan-kelebihan arbitrase sebagai forum penyelesaian sengketa dibandingkan dengan melalui pengadilan diungkapkan oleh Munir Fuady, antara lain7:

Indonesia(a), Undang-Undang tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, UU No. 30, LN No. 30 Tahun 1999, TLN No. 3872, Pasal 1 angka 1. Erman Rajagukguk(a), Arbitrase dalam Putusan Pengadilan, (Jakarta: Chandra Pratama, 2000), hal. 1. Huala Adolf(a), Dasar-Dasar Hukum Kontrak Internasional, cet. II, (Bandung: Rafika Aditama, 2008), hal 14.
6 5

Universitas Indonesia

1. para pihak diberikan kebebasan untuk memilih forum dan hukum yang akan diberlakukan; 2. para pihak dapat memilih arbitrator yang menurut keyakinannya mempunyai pengetahuan, pengalaman, serta latar belakang yang cukup mengenai masalah yang disengketakan; 3. terjaminnya kerahasiaan pihak yang bersengketa; dan 4. putusan arbitrase bersifat final dan mengikat para pihak.

Meskipun demikian, pada kenyataannya metode penyelesaian arbitrase itu tidak selalu dapat dikatakan lebih menguntungkan. Terdapat pula proses arbitrase yang memakan waktu yang sangat lama misalnya: Kasus AMCO Asia Corp. v. Republik Indonesia.8 Kemudian, berkaitan dengan putusan arbitrase internasional, kadangkala putusan tersebut arbitrase asing tidak sah, dan sebagainya.9 Selain kelebihan tersebut, arbitrase dinilai memiliki kelemahan. Kelemahan-kelemahan penyelesaian sengketa melalui arbitrase antara lain10: 1. tidak mudah untuk mempertemukan kehendak para pihak yang bersengketa untuk membawa sengketa mereka kepada forum arbitrase. Harus terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak yang bersengketa. Dalam penentuan kesepakatan tersebut sering terjadi konflik kepentingan mengenai permasalahan pilihan hukum dan pilhan forum yang berlaku atas perjanjian tersebut; tidak dapat dilaksanakan karena

alasan-alasan tertentu, seperti misalnya permasalahan ketertiban umum, putusan

Munir Fuady, Arbitrase Nasional: Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2000), hal. 94. Erman Rajagukguk(b), Hukum Investasi dan Pembangunan, Modul Kuliah Hukum Investasi dan Pembangunan, (Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011), hal. 137. Sengketa AMCO Asia Corp. v. Republik Indonesia diselesaikan melalui forum arbitrase ICSID pada tahun 1990 dalam kurun waktu penyelesaian 9 (Sembilan) tahun. Sudargo Gautama(a), Arbitrase Luar Negeri dan Pemakaian Hukum Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 110.
10 9 8

Munir Fuady, op.cit.

Universitas Indonesia

2. dalam

hal

pengakuan

dan

pelaksanaan

putusan

arbitrase

internasional masih menjadi persoalan yang rumit. Hal tersebut dikarenakan masing-masing negara mempunyai ketentuan yang berbeda dalam hal pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional; 3. penyelesaian sengketa melalui arbitrase tidak selalu memakan biaya yang sedikit. Hal tersebut dikarenakan biaya arbitrator yang ditunjuk dapat memakan biaya yang cukup banyak mengingat para pihak dapat memilih arbitrator yang menurut mereka ahli di bidangnya masing-masing; dan 4. arbitrase dapat pula berlangsung lama dan karenanya membawa akibat biaya yang tinggi terutama dalam hal arbitrase dilakukan di luar negeri.

Arbitrase pada dasarnya merupakan proses penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Namun demikian pengadilan tetap mempunyai peranan dalam pendaftaran, pengakuan, dan pelaksanaan putusan yang dibuat oleh forum arbitrase tersebut.11 UU Arbitrase mengatur mengenai peranan pengadilan dalam proses arbitrase sejak awal sampai dengan pelaksanaan putusan arbitrase tersebut.12 Misalnya, sebagai tempat pendaftaran putusan arbitrase dalam rangka pelaksanaan putusan arbitrase nasional, dalam rangka pelaksanaan putusan arbitrase nasional, serta dalam rangka pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional. Keputusan Presiden No. 34 Tahun 1981 merupakan ratifikasi Indonesia terhadap Convention on The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award yang dikenal pula sebagai New York Convention 1958 (selanjutnya disebut sebagai Konvensi New York 1958). Pada tahun 1990, dikeluarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1990 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan

11

Erman Rajagukguk(a), op.cit., hal. 9. Indonesia(a), op.cit., Pasal 59 ayat (1).

12

Universitas Indonesia

Arbitrase Asing (Perma No. 1 Tahun 1990). Putusan arbitrase asing berdasarkan Perma No. 1 Tahun 1990 ialah putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan Hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase asing yang berkekuatan hukum tetap sesuai dengan Keppres No. 34 Tahun 1981.13 Di samping itu terdapat perbedaan penggunaan terminologi yang digunakan dalam UU Arbitrase. UU Arbitrase tidak mengatur mengenai pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing seperti halnya yang telah diatur dalam Perma No. 1 Tahun 1990. Namun demikian UU Arbitrase mengatur lebih lanjut mengenai pelaksanaan putusan arbitrase internasional. Putusan arbitrase internasional berdasarkan UU Arbitrase ialah putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional.14 Terminologi putusan arbitrase internasional yang digunakan dalam UU Arbitrase berbeda dengan putusan arbitrase asing baik yang disebut dalam Konvensi New York 1958 maupun dengan Perma No. 1 Tahun 1990. Pelaksanaan putusan arbitrase asing seperti halnya diatur dalam Konvensi New York 1958 dan Perma No. 1 Tahun 1990 hanya mengatur mengenai dimana tempat dibuatnya sebuah putusan arbitrase dan dimana tempat dilaksanakannya putusan arbitrase tersebut. Di sisi lain UU Arbitrase memberikan definisi putusan arbitrase internasional yang sama sebagaimana Perma No. 1 Tahun 1990 memberikan definisi mengenai putusan arbitrase asing. Namun demikian pada hakikatnya terminologi putusan arbitrase yang bersifat internasional terdapat dalam UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengenai arbitrase yang bersifat internasional menyangkut pula unsur-unsur lain

Indonesia(b), Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1990 tentang Tatacara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing , Pasal 2.
14

13

Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 butir 9.

Universitas Indonesia

yang berupa para pihak, badan arbitrase, ketentuan arbitrase, tempat arbitrase dilaksanakan, dan tempat putusan arbitrase ditetapkan.15 Pengaturan yang tidak jelas dalam UU Arbitrase mengenai pengertian putusan arbitrase internasional dapat menimbulkan perbedaan penafsiran para pihak yang berkepentingan. Dalam proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase, sebagaimana lazim dikenal dalam lembaga peradilan, pemeriksaan sengketa akan berujung pada sebuah putusan arbitrase. UU Arbitrase mengatur bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mengikat. Namun demikian, UU Arbitrase pula mengatur bahwa putusan arbitrase tersebut dapat dibatalkan oleh pengadilan negeri. Pembatalan putusan arbitrase sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 70 UU Arbitrase merupakan upaya hukum yang diberikan kepada para pihak yang bersengketa untuk meminta kepada pengadilan negeri membatalkan sebagian atau seluruh putusan arbitrase.16 Terdapat pro dan kontra dalam menginterpretasikan ketentuan yang mengatur pembatalan putusan arbitrase tersebut. Antara lain ialah pendapat yang mengemukakan bahwa alasan-alasan yang tercantum dalam Pasal 70 UU Arbitrase tidak bersifat limitatif.17 Dengan kata lain, alasan-alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase sebagaimana disebutkan dalam Pasal 70 UU Arbitrase bukan merupakan satu-satunya alasan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase disebutkan bahwa alasan-alasan permohonan pembatalan yang tercantum dalam Pasal 70 UU Arbitrase harus dibuktikan dengan putusan pengadilan.18 Putusan arbitrase dikatakan final dan mengikat, namun pihak yang merasa keberatan dengan putusan arbitrase tersebut dapat mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase. Pembatalan putusan arbitrase pun dapat dikatakan sebagai upaya

Tineke Louise Tuegeh Londong, Asas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958, Cetakan Pertama, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1998), hal. 26.
16

15

Indonesia(a), op.cit., Pasal 70.

Tony Budidjadja(a), Public Policy as Grounds for Refusal of Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards in Indonesia (Jakarta: PT Tata Nusa, 2002), hal. 22.
18

17

Indonesia(a), op.cit., Penjelasan Pasal 70 Undang-Undang Arbitrase.

Universitas Indonesia

hukum.19 Oleh sebab itu, apakah hal tersebut bertentangan dengan prinsip dalam arbitrase yang menyatakan bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mengikat, serta kesukarelaan para pihak untuk menjalankan putusan arbitrase. Lebih lanjut, UU Arbitrase tidak menyebutkan dan menjelaskan secara detail apakah pembatalan putusan arbitrase tersebut berlaku pula terhadap putusan arbitrase internasional. Pembatalan putusan arbitrase pada dasarnya berbeda dengan penolakan pelaksanaan putusan arbitrase asing seperti yang diatur dalam Konvensi New York 1958. Perbedaan tersebut dapat dilihat berdasarkan konsekuensi hukum pembatalan putusan arbitrase yang memberikan dampak dinafikannya (seolah tidak pernah dibuat) suatu putusan arbitrase dan pengadilan dapat meminta agar para pihak mengulang proses arbitrase (re-arbitrate), sedangkan penolakan putusan arbitrase asing oleh pengadilan, tidak berarti menafikan putusan tersebut. Penolakan pelaksanaan putusan arbitrase asing memiliki konsekuensi tidak dapatnya putusan arbitrase asing dilaksanakan di yurisdiksi pengadilan yang telah menolaknya.20 Disamping itu perbedaan antara penolakan dengan pembatalan juga ditentukan berdasarkan jurisdiksi primer (primary jurisdiction) dan jurisdiksi sekunder (secondary jurisdiction) dari putusan arbitrase yang telah dibuat. Pembatalan putusan arbitrase dapat dilakukan dari forum yang merupakan jurisdiksi primer dari suatu putusan arbitrase. Di sisi lain, penolakan putusan arbitrase dilakukan dari forum yang merupakan jurisdiksi sekunder.21 Hal tersebut lebih lanjut menimbulkan pertanyaan besar mengenai apakah pengadilan nasional memiliki kewenangan dalam membatalkan suatu putusan arbitrase internasional dan bagaimanakah sikap pengadilan Indonesia yang tercermin dalam putusan perkara yang dikeluarkan terhadap putusan arbitrase internasional.

19

Tony Budidjaja(a), op.cit., hal. 22.

Hikmahanto Juwana, Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional oleh Pengadilan Nasional Jurnal Hukum Bisnis Vol.21, (2002), hal. 67.
21

20

Sudargo Gautama(a), op.cit., hal. 73.

Universitas Indonesia

Skripsi ini lebih lanjut akan membahas mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional, disertai analisis terhadap kasus PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways. Kasus tersebut berawal dari sengketa bisnis antara para pihak yang kemudian dibawa oleh pihak PT Comarindo Tama Tour&Travel untuk diselesaikan di lembaga arbitrase BANI. Namun demikian atas dasar ketidakpuasan, pihak Yemen Airways mengajukan pembatalan putusan arbitrase ke hadapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kasus tersebut telah berkekuatan hukum tetap dan diputus oleh Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung No. 273 PK/Pdt/2007. Pembatalan putusan arbitrase dalam kasus di atas kemudian akan dibandingkan dengan kasus PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum yang telah berkekuatan hukum tetap dan diputuskan oleh Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung No. 56 PK/Pdt.Sus/2011. Berdasarkan pemaparan yang telah dilakukan dapat dilihat berbagai macam polemik yang menarik penulis untuk mengkaji lebih lanjut mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional. Oleh karena itu, penulis memilih judul Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia (Studi Kasus: Putusan MA No. 273PK/Pdt/2007 dan Putusan MA No.

56PK/Pdt.Sus/2011).

1.2. Pokok-Pokok Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka yang menjadi pokok-pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah: 1. Bagaimanakah pengaturan mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional? 2. Bagaimanakah aspek-aspek Hukum Perdata Internasional dalam pembatalan putusan arbitrase internasional? 3. Bagaimanakah sikap hakim dalam hal pembatalan putusan arbitrase Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dalam perkara PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways dan

Universitas Indonesia

pembatalan putusan arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) dalam perkara PT Pertamina dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik?

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: 1. Mengetahui internasional. 2. Mengetahui aspek-aspek Hukum Perdata Internasional dalam pembatalan putusan arbitrase internasional. 3. Mengetahui sikap pengadilan Indonesia dalam hal pembatalan putusan arbitrase internasional di Indonesia. tentang pengaturan pembatalan putusan arbitrase

1.4. Kerangka Konsepsional Penulisan dalam penelitian ini menggunakan istilah yang merupakan katakata kunci yang perlu dijabarkan secara khusus, antara lain: 1. Alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati oleh para pihak, yakni penyelesaian sengketa di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, konsiliasi, mediasi, dan arbitrase.22 2. Arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.23 3. Arbitrator adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa atau yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga arbitrase, untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang

22

Ibid., Pasal 1 butir 10. Ibid., Pasal 1 butir 1.

23

Universitas Indonesia

10

diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase. UU Arbitrase menggunakan istilah arbiter.24 4. Hukum Acara Perdata Internasional adalah bagian dari hukum acara, yakni sepanjang mengandung unsur asing.25 5. Hukum Perdata Internasional adalah keseluruhan peraturan dan keputusan hukum yang menunjukkan stelsel hukum manakah yang berlaku atau apakah yang merupakan hukum, jika hubungan-hubungan dan peristiwa-peristiwa antara warga (-warga) negara pada satu waktu tertentu memperlihatkan titik-titik pertalian dengan stelsel-stelsel dan kaidahkaidah hukum dari dua negara atau lebih yang berbeda dalam lingkungankuasa-tempat, (pribadi) dan soal-soal. Permasalahan Hukum Perdata Internasional bisa timbul ketika dalam sebuah masalah hukum secara fakta melibatkan lebih dari satu sistem hukum.26 6. Lembaga arbitrase adalah badan yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu; lembaga tersebut juga dapat memberikan pendapat yang mengikat mengenai suatu hubungan hukum tertentu dalam hal belum timbul sengketa. 7. Para pihak dalam Arbitrase ialah subjek hukum, baik menurut hukum perdata maupun hukum publik.27

Huala Adolf(b), Arbitrase Komersial Internasional, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1991), hal. 8-9. Huala Adolf meluruskan bahwa penggunaan istilah arbiter tersebut kurang tepat karena pada dasarnya istilah arbiter dipakai untuk menyelesaikan atau memperbaiki syarat-syarat yang tidak terselesaikan dalam suatu kontrak. Di sisi lain arbitrator tidak hanya mengandung pengertian batasan kata tersebut. Dengan demikian kata yang paling tepat dan memenuhi tujuan dan misi hakim arbitrase adalah arbitrator bukan arbiter. Lihat pula Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 butir 7 Sudargo Gautama(b), Hukum Perdata Internasional Indonesia: Jilid III Bagian 2 Buku ke-8, (Bandung: Penerbit Alumni, 2007), hal. 203. Sudargo Gautama(c), Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia, Cet. 5, (Bandung: Binacipta, 1987), hal. 21.
27 26 25

24

Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 butir 2.

Universitas Indonesia

11

8. Pemohon arbitrase adalah pihak yang mengajukan permohonan penyelesaian sengketa melalui arbitrase.28 9. Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa klausul arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.29 10. Putusan arbitrase asing merupakan putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase asing yang berkekuatan hukum tetap sesuai dengan Keppres No. 34 Tahun 1981.30 11. Putusan arbitrase internasional merupakan putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional.31 12. Termohon arbitrase adalah pihak lawan dari pemohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase.32 13. Titik Pertalian Primer (TPP) adalah titik-titik pertalian yang memberikan petunjuk pertama apakah suatu hal merupakan masalah Hukum Perdata Internasional.33

28

Ibid., Pasal 1 butir 1. Ibid., Pasal 1 butir 3. Indonesia(b), op.cit., Pasal 2. Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 butir 9. Ibid., Pasal 1 butir 6.

29

30

31

32

Sudargo Gautama(d), Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid II Bagian 1 Buku ke-2, Cet. 2, (Bandung: Penerbit Alumni, 1972), hal. 29.

33

Universitas Indonesia

12

14. Titik Pertalian Sekunder (TPS) adala faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang menentukan hukum manakah yang harus diberlakukan diantara hukum-hukum yang dipertautkan.34

1.5. Metode Penelitian Metode Penelitian merupakan suatu prosedur atau cara memperoleh pengetahuan yang benar atau kebenaran melalui langkah-langkah yang sistematis.35 Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan kepada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya.36 Dalam menggambarkan permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan bentuk penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian hukum kepustakaan.37 Alat pengumpulan data yang digunakan ialah studi pustaka. Studi pustaka merupakan penelitian yang dilakukan dengan mempelajari dokumendokumen yang ada seperti buku, artikel ilmiah, peraturan-peraturan, dan sebagainya.38 Tipe penelitian yang digunakan ditinjau dari segi sifatnya adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan secara tepat sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi suatu gejala.39 Dalam tulisan ini, penulis berusaha untuk

34

Ibid.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hal. 1.
36

35

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet. III, (Jakarta: UI-Press, 1986),

hal. 102. Sri Mamudji, et al., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum, (Jakarta:Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005), hal. 9-10
38 37

Ibid., hal. 29.

Universitas Indonesia

13

menggambarkan konsepsi mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional secara tepat dan jelas. Penulis juga menerapkan studi kasus dimana terdapat perkara pembatalan putusan arbitrase yang telah diputus oleh BANI antara PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways serta perkara pembatalan putusan arbitrase yang telah diputus oleh ICC antara PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yakni data yang diperoleh melalui bahan-bahan kepustakaan.40 Sumber data sekunder, yakni pustaka hukum yang digunakan antara lain ialah: 1. Bahan hukum primer, yakni bahan-bahan yang isinya mempunyai kekuatan mengikat kepada masyarakat.41 Bahan hukum primer yang digunakan yakni UU Arbitrase; Konvensi New York 1958; dan peraturan-peraturan hukum lainnya yang berkaitan erat dengan pembatalan putusan arbitrase internasional. 2. Bahan hukum sekunder, yakni bahan-bahan yang memberikan informasi atau hal-hal yang berkaitan dengan isi sumber primer serta implementasinya.42 Bahan hukum sekunder yang digunakan antara lain ialah buku-buku; artikel-artikel dalam jurnal hukum; serta artikelartikel yng terdapat dalam internet. 3. Bahan hukum tersier, yakni bahan-bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap sumber primer atau sumber sekunder.43 Bahan hukum tersier yang digunakan yakni kamus besar bahasa Indonesia dan kamus istilah hukum Blacks Law Dictionary.

39

Ibid., hal. 4. Ibid., hal. 31. Ibid., hal. 30. Ibid. Ibid.

40

41

42

43

Universitas Indonesia

14

Metode analisis data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah, analisis data secara kualitatif yang menghasilkan data deskriptif analitis, yaitu apa yang dinyatakan oleh sasaran penelitian yang bersangkutan secara tertulis atau lisan, dan perilaku nyata.44 Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk skripsi berjudul Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia (Studi Kasus: Putusan MA No. 273PK/Pdt/2007 dan Putusan MA No. 56PK/Pdt.Sus/2011).

1.6. Sistematika Penulisan Laporan Penelitian ini dibagi menjadi 5 (lima) bab yang saling terkait satu dengan yang lainnya mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional di Indonesia. Adapun pembagian bab tersebut adalah sebagai berikut: Bab satu adalah Pendahuluan yang akan menguraikan tentang latar belakang pemilihan judul yaitu tentang pembatalan putusan arbitrase internasional berkaitan dengan kepastian hukum di Indonesia. Bab ini juga menjelaskan pokokpokok permasalahan yang akan diteliti, tujuan diadakannya penelitian, kerangka konsepsional, metode penelitian yang digunakan, serta sistematika penulisan. Bab dua membahas mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional. Pada bab ini dipaparkan lebih lanjut mengenai pembatalan putusan arbitrase di Indonesia, dan pembatalan putusan arbitrase berdasarkan instrumen-instrumen hukum internasional. Bab tiga membahas mengenai aspek-aspek Hukum Perdata Internasional dalam pembatalan putusan arbitrase internasional. Bab ini dibuka dengan pembahasan mengenai dasar kewenangan pengadilan dalam membatalkan putusan arbitrase internasional. Kemudian diakhiri dengan pembahasan mengenai aspekaspek Hukum Perdata Internasional yang pada umumnya terdapat dalam suatu pembatalan putusan arbitrase internasional. Bab empat akan menganalisis perkara-perkara pembatalan putusan arbitrase yang telah berkekuatan hukum tetap. Putusan yang pertama ialah
44

Ibid., hal. 67.

Universitas Indonesia

15

mengenai pembatalan putusan arbitrase yang telah dikeluarkan oleh BANI dalam perkara PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways. Putusan yang kedua ialah mengenai pembatalan putusan arbitrase yang telah dikeluarkan oleh ICC dalam perkara PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum. Pembahasan difokuskan pada pertimbangan dan putusan hakim Mahkamah Agung dalam menyelesaikan perkara tersebut dikaitkan pada teori-teori Hukum Perdata Internasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti UU Arbitrase. Bab lima merupakan penutup yang memuat kesimpulan dan saran. Pada bab ini akan diuraikan tentang kesimpulan yang dapat disampaikan terhadap hasil penelitian dan saran yang dapat diberikan terhadap permasalahan-permasalahan yang dibahas.

Universitas Indonesia

16

BAB 2 PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL

2.1. Pembatalan Putusan Arbitrase di Indonesia Pembatalan Putusan Arbitrase ialah suatu upaya hukum yang diberikan kepada para pihak yang bersengketa untuk meminta kepada Pengadilan Negeri agar suatu putusan arbitrase dibatalkan, baik terhadap sebagian isi dari putusan ataupun seluruh isi putusan tersebut.45 Dalam terminologi bahasa Inggris, pembatalan diistilahkan dengan annulment atau set aside.46 Pembatalan putusan arbitrase memberikan dampak putusan arbitrase yang dibatalkan tersebut dianggap tiada.47 Tata hukum Indonesia memiliki aturan mengenai arbitrase.48 Pada tanggal 12 Agustus 1999 telah disahkan UU Arbitrase yang merupakan perubahan atas pengaturan mengenai arbitrase yang sudah tidak memadai lagi dengan tuntutan perdagangan internasional.49 Berdasarkan Pasal 81 UU Arbitrase, ketentuan mengenai arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 615 sampai dengan Pasal 651 Reglement op de Burgelijke Rechtsvordering (Rv)50, Pasal 377 Het Herziene

45

Munir Fuady, op.cit., hal. 107. Hikmahanto Juwana, op.cit., hal. 67. Ibid.

46

47

Suyud Margono, ADR (Alternative Dispute Resolution) & Arbitrase Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010), hal. 111
49

48

Ibid., hal. 114.

Hindia Belanda(a), Reglement op de Burgelijke Rechtsvordering, Staatsblaad 1849-63, Pasal 615-651. Pengaturan umum aturan arbitrase dalam Rv meliputi lima bagian pokok sebagai berikut: 1. Bagian pertama (Pasal 615-623 Rv): persetujuan arbitrase dan pengangkatan arbiter; 2. Bagian kedua (Pasal 624-630 Rv): pemeriksaan di muka badan arbitrase; 3. Bagian ketiga (Pasal 631-640 Rv): pemeriksaan arbitrase

50

Universitas Indonesia

17

Indonesich Reglement (HIR)51 dan Pasal 705 Rechtsreglement Buitengewesten (RGB)52 dinyatakan tidak berlaku.53 Dengan demikian pengaturan mengenai pembatalan putusan arbitrase di Indonesia dilakukan sesuai dengan ketentuan Bab VII: Pembatalan Putusan Arbitrase, Pasal 70 sampai dengan Arbitrase. Dalam pembahasan pembatalan putusan arbitrase di Indonesia ini akan dipaparkan mengenai internasional ini akan dipaparkan mengenai permasalahan pengertian putusan arbitrase internasional dengan putusan arbitrase asing, dan pengaturan pembatalan putusan arbitrase di Indonesia. Pasal 72 UU

2.1.1. Pengertian Putusan Arbitrase Internasional dalam UU Arbitrase Pembahasan mengenai penggunaan terminologi putusan arbitrase

internasional dalam UU Arbitrase ini penting dan terkait erat dengan pembahasan pembatalan putusan arbitrase internasional. Hal tersebut disebabkan UU Arbitrase membedakan antara pelaksanaan putusan arbitrase internasional dan pelaksanaan putusan arbitrase nasional. Oleh sebab itu perlu diketahui dengan jelas mengenai apa yang dimaksud dengan terminologi putusan arbitrase internasional yang terdapat dalam UU Arbitrase. Penggunaan terminologi putusan arbitrase internasional dalam UU Arbitrase berbeda dengan penggunaan terminologi putusan arbitrase asing yang digunakan dalam Konvensi New York 1958 dan Perma No. 1 Tahun 1990. Di sisi lain, baik Konvensi New York 1958, Keppres No. 34 Tahun 1981, maupun Perma No. 1 Tahun 1990 tidak terdapat dalam konsiderans UU Arbitrase. Namun demikian terminologi putusan arbitrase yang bersifat internasional terdapat dalam
4. Bagian keempat (641-647 Rv): upaya-upaya terhadap putusan arbitrase; dan 5. Bagian kelima (Pasal 647-651 Rv): berakhirnya acara arbitrase. Hindia Belanda(b), Het Herziene Indonesich Reglement, Staatsblaad 1849-16, Staatsblaad 1941-44, Pasal 377. Jika orang Indonesia dan orang Timur Asing menghendaki perselisihan mereka diputuskan oleh juru pisah maka mereka wajib menuruti peraturan pengadilan perkara yang berlaku bagi Bangsa Eropa. Hindia Belanda(c), Rechtsreglement Buitengewesten, Staatsblaad 1927-227, Pasal 705. Untuk Reglement Acara Untuk Daerah Luar Jawa dan Madura berlaku ketentuan RGB.
53 52 51

Indonesia(a), op.cit., Pasal 81.

Universitas Indonesia

18

UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengenai arbitrase yang bersifat internasional.54 UU Arbitrase memberikan definisi Putusan arbitrase internasional pada Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase sebagai putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan Hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional.55 Berdasarkan Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase, putusan arbitrase internasional apabila: 1. Putusan arbitrase tersebut dijatuhkan di luar wilayah hukum Indonesia; dan 2. Putusan arbitrase tersebut dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional berdasarkan ketentuan Hukum Republik Indonesia. Berkaitan dengan klasifikasi yang kedua, terdapat ketidakjelasan mengenai ketentuan Hukum Republik Indonesia yang harus digunakan untuk menentukan suatu putusan arbitrase dianggap sebagai putusan arbitrase internasional. Penjelasan Pasal 1 UU Arbitrase pun menyatakan bahwa ketentuan Pasal 1 UU Arbitrase cukup jelas. Konvensi New York 1958 tidak memberikan pendefinisian mengenai putusan arbitrase asing secara tegas. Namun demikian hal tersebut tergambar dalam luas lingkup Konvensi New York 1958 Pasal I ayat (1) yang menyebutkan This Convention shall apply to the recognition and enforcement of arbitral awards made in the territory of a State other than the State where the recognition and enforcement of such awards are sought, and arising out of differences between person, whether physical or legal. It shall apply to arbitral awards not considered as domestic

UNCITRAL, Explanatory Note by The UNCITRAL Secretariat on The Model Law on International Commercial Arbitration. UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration merupakan suatu upaya harmonisasi hukum internasional berkenaan dengan aktivitas arbitrase perdagangan internasional yang semakin berkembang pesat dan semakin banyak digunakan. Hal tersebut berkaitan dengan hukum nasional yang dimiliki oleh negara yang satu berbeda dengan hukum nasional negara lain yang kemudian memberikan dampak ketidaksesuaian penggunaan hukum dalam beberapa kasus internasional yang telah terjadi.
55

54

Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka 9

Universitas Indonesia

19

awards in the State where their recognition and enforcement are sought.56 Konvensi New York 1958 berlaku untuk putusan-putusan arbitrase yang telah dibuat di wilayah negara peserta selain negara tempat dimana pengakuan dan pelaksanaan tersebut dimohonkan. Persoalan arbitrase tersebut harus berkenaan dengan sengketa antara subjek-subjek hukum, baik perseorangan maupun badan hukum. Putusan-putusan arbitrase tersebut bukan merupakan putusan arbitrase domestik di negara dimana putusan arbitrase bersangkutan dimohonkan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase.57 Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan putusan arbitrase asing menurut Konvensi New York 1958 merupakan putusan arbitrase yang dibuat di luar wilayah dimana putusan tersebut akan diakui dan dilaksanakan. Ketentuan tersebut menegaskan prinsip kewilayahan.58 Senada dengan hal tersebut, Van den Berg berpendapat bahwa keberlakuan Konvensi New York 1958 tidak ditentukan dari kewarganegaraan pihak-pihak yang bersengketa.59 Perma No. 1 Tahun 1990 menyebutkan bahwa putusan arbitrase asing merupakan putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase asing yang berkekuatan hukum tetap sesuai dengan Keppres No. 34 Tahun 1981.60 UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration menggunakan terminologi arbitrase yang bersifat internasional. Pasal 1 ayat (3)
56

Convention on The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award, 1958, Art. 1 par. (1).
57

Sudargo Gautama(a), op.cit., hal. 329.

Gatot Soemartono, Arbitrase dan Mediasi di Inonesia, (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2006), hal.69 Albert Jan Van den Berg, The New York Arbitration Convention of 1958, (Netherlands: Kluwer Law and Taxation Publisher, 1981), hal. 15.
60 59

58

Indonesia(b), op.cit. , Pasal 2.

Universitas Indonesia

20

UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengatakan bahwa arbitrase internasional yaitu arbitrase yang:61 a. para pihak dalam suatu perjanjian arbitrase, pada saat menutup perjanjian memiliki tempat usaha dalam negara yang berbeda; atau b. salah satu dari tempat di bawah ini berada di luar negara para pihak memiliki tempat usaha mereka: 1. Tempat arbitrase telah ditentukan di dalam atau

berdasarkan perjanjian arbitrase ini; 2. Setiap tempat di mana suatu bagian penting dari kewajiban menurut pilihan bisnis ini akan dilakukan atau tempat dengan mana pokok permasalahan ini yang disengketakan memiliki hubungan yang paling dekat; atau c. para pihak secara tegas menyetujui bahwa pokok masalah dari perjanjian arbitrase ini berhubungan dengan lebih dari satu negara.

Berkaitan dengan pengertian yang diberikan oleh UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengenai arbitrase internasional, terdapat pendapat senada yang diutarakan oleh Tineke Louise Teugeh Londong mengenai apa yang disebut olehnya sebagai arbitrase luar negeri. Tineke Louise Teugeh Londong mengemukakan bahwa arbitrase luar negeri merupakan arbitrase yang mengandung unsur asing. Unsur asing yang dimaksud dapat berupa para pihak, badan arbitrase, ketentuan arbitrase, dan/atau dimana tempat arbitrase dilaksanakan atau tempat putusan arbitrase ditetapkan. 62 Dapat diambil sebuah kesimpulan pengertian dari arbitrase internasional adalah arbitrase yang memiliki unsur asing karena: 63 a. b. para pihak yang berbeda warga negara; tempat usaha di negara yang berbeda;

61

United Nations, op.cit., Art. 1 par. (3). Tineke Louise Tuegeh Londong, op.cit., hal. 26. Ibid.

62

63

Universitas Indonesia

21

c.

tempat dimana bagian terpenting kewajiban atau hubungan dagang para pihak harus dilaksanakan letaknya di luar negara tempat usaha para pihak;

d.

objek perjanjian arbitrase berhubungan dengan lebih dari satu negara;

e. f. g.

badan arbitrase; ketentuan arbitrase; tempat arbitrase dilaksanakan atau tempat putusan arbitrase ditetapkan;

h.

arbitrase yang dilakukan tidak dalam wilayah negara dimana pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase tersebut diminta.

Berkaitan dengan hal tersebut Sudargo Gautama berpendapat bahwa perumusan arbitrase internasional yang ada dalam Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase berbeda dengan arbitrase internasional seperti yang didefinisikan UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration, bahwa kecondongan pembuat undang-undang mengenai ukuran internasional dalam Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase adalah suatu putusan arbitrase yang telah dijatuhkan di luar wilayah hukum Indonesia.64 Namun demikian Sudargo Gautama menyayangkan bahwa pengaturan mengenai arbitrase internasional dalam UU Arbitrase hanya meliputi beberapa pasal yang hanya mengatur pelaksanaan putusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dan tidak mengatur secara substantif bagaimana harus diacarakan arbitrase internasional tersebut.65 Lebih lanjut, Sudargo Gautama juga menyayangkan bahwa tidak dipikirkan untuk diterima UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara lain seperti Australia, Amerika Serikat, Singapura, dan sebagainya.66

Sudargo Gautama(f), Undang-Undang Arbitrase Baru, 1999, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 40.
65

64

Ibid.. hal. 11-12. Ibid.

66

Universitas Indonesia

22

2.1.2. Pendaftaran

Putusan

Arbitrase

Sebagai

Syarat

Diajukannya

Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase Dalam Penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase dinyatakan bahwa permohonan pembatalan arbitrase hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang sudah didaftarkan di pengadilan.67 Oleh sebab itu perlu diperhatikan pula pengaturan mengenai pendaftaran putusan arbitrase dalam UU Arbitrase. Pengaturan mengenai pendaftaran putusan arbitrase dalam UU Arbitrase masuk dalam Bab VI: Pelaksanaan Putusan Arbitrase. Dalam bab tersebut, UU Arbitrase membagi pelaksanaan putusan arbitrase menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama mengenai pelaksanaan putusan arbitrase nasional dan bagian kedua mengenai pelaksanaan putusan arbitrase internasional. Dengan demikian terdapat perbedaan pengaturan antara pendaftaran putusan arbitrase nasional dengan pendaftaran putusan arbitrase internasional. Pendaftaran putusan arbitrase nasional diatur dalam ketentuan Pasal 59 UU Arbitrase. Pendaftaran putusan arbitrase nasional dilakukan oleh arbitrator atau kuasanya dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan, dengan menyerahkan lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri.68 Penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase nasional dilakukan dengan pencatatan dan penandatanganan pada bagian akhir atau pinggir putusan arbitrase oleh Panitera Pengadilan Negeri dan arbitrator atau kuasanya yang menyerahkan.69 Tidak terpenuhinya ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU Arbitrase mengakibatkan putusan arbitrase tidak dapat dilaksanakan.70 Pendaftaran putusan arbitrase internasional diatur dalam ketentuan Pasal 67 ayat (1) UU Arbitrase yang menyatakan, permohonan pelaksanaan putusan

67

Indonesia(a), op.cit., Penjelasan Pasal 70. Ibid. Pasal 59 ayat (1). Ibid. Pasal 59 ayat (2). Catatan tersebut merupakan akta pendaftaran. Ibid. Pasal 59 ayat (4).

68

69

70

Universitas Indonesia

23

arbitrase internasional dilakukan setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan oleh arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.71 Berdasarkan ketentuan tersebut, maka dapat terlihat perbedaanperbedaan pengaturan antara pendaftaran putusan arbitrase nasional dengan pendaftaran putusan arbitrase internasional. Perbedaan yang pertama ialah pendaftaran putusan arbitrase nasional dilakukan kepada Panitera Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal termohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase, sedangkan pendaftaran putusan arbitrase internasional dilakukan kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Perbedaan berikutnya ialah pendaftaran putusan arbitrase nasional memiliki jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan, sedangkan pendaftaran putusan arbitrase internasional tidak memiliki jangka waktu tertentu.

2.1.3. Alasan-Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase dalam UU Arbitrase Alasan pembatalan putusan arbitrase diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bahwa para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase apabila putusan arbitrase tersebut mengandung unsur sebagai berikut72: a. surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu; b. setelah putusan diambil, ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; dan/atau c. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.

Berdasarkan Penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase, alasan-alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang ditentukan dalam ketentuan Pasal 70 UU

71

Ibid. Pasal 67 ayat (1). Ibid., Pasal 70.

72

Universitas Indonesia

24

Arbitrase harus dibuktikan dengan putusan pengadilan.73 Setelah pengadilan menyatakan bahwa alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti, putusan pengadilan tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak permohonan.74 Permohonan pembatalan putusan arbitrase berdasarkan Pasal 71 UU Arbitrase harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri.75 Sebagai satu contoh ialah kasus Yemen Airways melawan PT Comarindo Tama Tour&Travel (yang akan dianalisis lebih lanjut pada bab 4 (empat) laporan penelitian ini). Dalam perkara ini, Majelis Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Banding berpendapat bahwa untuk membuktikan tipu muslihat dalam alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat pada ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase harus dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Putusan pengadilan tersebut harus menghukum PT Comarindo Tama Tour&Travel telah melakukan penipuan (bedrog) atau kecurangan berdasarkan ketentuan Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Hal tersebut pada dasarnya sangat tidak ideal mengingat pengadilan pidana itu sendiri memakan waktu yang tidak sedikit, sementara jangka waktu untuk mengajukan permohonan pembatalan arbitrase berdasarkan Pasal 71 UU Arbitrase paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri. Terdapat banyak perdebatan dalam interpretasi terhadap alasan-alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat pada ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Beberapa ahli hukum berpendapat bahwa alasan yang dikemukakan dalam Pasal 70 UU Arbitrase bersifat limitatif.76 Di sisi lain terdapat pula ahli-ahli hukum yang berpendapat bahwa alasan-alasan pembatalan yang terdapat dalam
73

Ibid., Penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase.

74

Ibid. Ibid., Pasal 71.

75

Andris Wahyu Sinedyo, Pembatalan Putusan Arbitrase Nasional: Studi Kasus Perum Peruri Melawan PT Pura Barutama http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2006sinedyoand-2360&q=pembatalan+putusan+arbitrase diunduh 5 April 2011.

76

Universitas Indonesia

25

Pasal 70 UU Arbitrase tidak bersifat limitatif.77 Alasan-alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase seperti halnya diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bukan merupakan satu-satunya alasan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase. Pendapat tersebut didukung argumentasi bahwa alasan yang tidak diatur dalam Pasal 70 UU Arbitrase bukan berarti tidak dapat dipergunakan.78 Salah satu contoh alasan yang tidak disebutkan dalam Pasal 70 UU Arbitrase namun dapat digunakan oleh Pengadilan dalam hal pembatalan putusan arbitrase adalah alasan bahwa sengketa yang diputus oleh forum arbitrase menurut hukum telah terjadi
kesalahan prosedural.
79

Menurut Priyatna Abdurrasyid, adanya kesalahan

prosedural dapat mengakibatkan putusan arbitrase internasional dapat dibatalkan. Sebagai satu contoh, untuk putusan arbitrase internasional, eksekusinya harus melalui Konvensi New York Tahun 1958 di mana sebelum eksekusi putusan tersebut harus terlebih dahulu didaftarkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Apabila pendaftaran tersebut tidak dilaksanakan maka terdapat suatu kesalahan dalam proses pelaksanaan putusan arbitrase tersebut sehingga pengadilan dapat membatalkannya.80 Lembaga peradilan pun dalam menginterpretasikan Pasal 70 UU Arbitrase masih tergolong tidak konsisten.81 Dalam beberapa putusan, Mahkamah Agung menginterpretasikan alasan-alasan dalam ketentuan tersebut sebagai alasan yang bersifat limitatif.82 Namun demikian, dalam beberapa putusan yang lain Mahkamah Agung menginterpretasikannya sebagai alasan yang tidak limitatif.83

77

Ibid.

Priyatna Abdurrasyid, Salah Prosedur, Putusan Arbitrase Internasional Dapat Dibatalkan http://hukumonline.com/berita/baca/hol6416/salah-prosedur-putusan-arbitraseinternasional-bisa-dibatalkan diunduh 19 Mei 2011.
79

78

Ibid. Ibid. Ibid.

80

81

Sebagai contoh ialah Putusan Mahkamah Agung Nomor 320K/PDT/2007 Tahun 2007 antara Perum Peruri melawan PT Pura Barutama. Dasar yang diajukan sebagai alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase dalam kasus tersebut tidak sesuai dengan alasan dalam ketentuan

82

Universitas Indonesia

26

Sistem Hukum Indonesia menentukan bahwa hakim tidak boleh menolak mengadili perkara dengan dalih tidak ada atau tidak jelas dasar hukumnya.84 Pasal 22 Algemene Bepalingen van wetgeving voor Indonesie (Peraturan Umum mengenai Peraturan Perundang-Undangan untuk Indonesia; AB) dengan keras menyatakan hakim yang menolak untuk mengadakan keputusan terhadap perkara dengan dalih undang-undang tidak mengaturnya, terdapat kegelapan atau ketidaklengkapan dalam undang-undang, dapat dituntut karena menolak mengadili perkara.85 Lebih lanjut, Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman pun menentukan bahwa Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.86 Nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat sehubungan dengan masalah pembatalan putusan arbitrase ini tidak sulit ditemui, karena sudah lama hidup dan berkembang dalam masyarakat bahkan jauh sebelum UU Arbitrase diberlakukan.87

Pasal 70 UU Arbitrase. Pengadilan Negeri Kudus dalam Putusannya membatalkan putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dengan menggunakan alasan di luar dari ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Namun demikian di tingkat banding Mahkamah Agung membatalkan putusan Pengadilan Negeri Kudus tersebut. Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang dapat diajukan hanya alasan yang terdapat dalam UU Arbitrase. Oleh sebab itu dapat dilihat dalam kasus ini bahwa alasan-alasan yang diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase ialah bersifat limitatif. Sebagai sebuah contoh ialah Putusan Mahkamah Agung Nomor 126 PK/PDT.SUS/2010 Tahun 2010 antara PT Pembangunan Perumahan melawan PT Padjajaran Indah Prima. Dalam memutus kasus ini, Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan pembatalan arbitrase yang terdapat di dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bersifat tidak limitatif. Alasan pembatalan putusan arbitrase dalam kasus ini ialah terdapatnya kesalahan prosedural yang dilakukan oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia dalam memutus perkara antara PT Pembangunan Perumahan melawan PT Padjajaran Indah Prima dalam putusan BANI No. 03/2007/BANI Bandung tanggal 17 Maret 2008. Tony Budidjaja(b), Pembatalan Putusan Arbitrase di Indonesia http://hukumonline.com/berita/baca/hol13217/pembatalan-putusan-arbitrase-di-indonesia, diunduh 19 Mei 2011. Hindia-Belanda(d), Algemene Bepalingen van wetgeving voor Indonesie,Staatsblaad 1847-23, Pasal 22. Indonesia(c), Undang-Undang tentang Kekuasaan Kehakiman, UU No. 48 Tahun 2009, Pasal 5 ayat (1).
87 86 85 84 83

Tony Budidjaja(b), op.cit., diunduh 19 Mei 2011.

Universitas Indonesia

27

Rv (Reglement op de Recthvordering), yang merupakan peraturan perundang-undangan yang penting dan berlaku pada zaman Hindia Belanda dan sempat diberlakukan pada masa kemerdekaan Indonesia sampai dikeluarkannya UU Arbitrase, dapat dijadikan referensi mengenai nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat sehubungan dengan masalah alasan pembatalan putusan arbitrase ini.88 Ada sepuluh alasan berdasarkan Pasal 643 Rv yang bisa dijadikan dasar pembatalan putusan arbitrase, antara lain: 89 1. putusan itu melampaui batas-batas perjanjian arbitrase; atau 2. putusan itu diberikan berdasarkan suatu perjanjian arbitrase yang ternyata tidak sah atau gugur demi hukum; atau 3. putusan itu telah diberikan oleh arbiter yang tidak berwenang memutus tanpa kehadiran arbiter lainnya; atau 4. telah diputuskan hal-hal yang tidak dituntut atau putusan telah mengabulkan lebih daripada yang dituntut; atau 5. putusan itu mengandung hal-hal yang satu sama lain saling bertentangan; atau 6. arbiter telah lalai memberikan putusan tentang satu atau beberapa hal yang menurut perjanjian arbitrase diajukan kepada mereka untuk diputus; atau 7. arbiter telah melanggar prosedur hukum acara arbitrase yang harus diikuti dengan ancaman kebatalan; atau 8. telah dijatuhkan putusan berdasarkan surat-surat yang setelah putusan itu dijatuhkan; atau 9. setelah putusan diberikan, surat-surat yang menemukan yang dulu disembunyikan oleh para pihak, ditemukan lagi; atau 10. putusan didasarkan pada kecurangan atau itikad jahat, yang dilakukan selama jalannya pemeriksaan, yang kemudian diketahui.

88

Ibid. Hindia-Belanda(a), op.cit., Pasal 643.

89

Universitas Indonesia

28

Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat dalam Pasal 70 UU Arbitrase pada dasarnya belum akomodatif dengan kebutuhan yang ada dan seharusnya alasanalasan tersebut dibuat limitatif. Dengan demikian dapat tercipta suatu kepastian hukum dan tidak menimbulkan kebingungan pada pihak-pihak yang memiliki keperluan untuk mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase.

2.1.4. Prosedur Pembatalan Putusan Arbitrase Berdasarkan UU Arbitrase Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan secara tertulis dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri.90 Ketentuan Pasal 71 UU Arbitrase menyebutkan mengenai kompetensi relatif dari Pengadilan yang harus menangani masalah pembatalan putusan arbitrase nasional.91 Dalam hal pengajuan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang dibuat oleh forum arbitrase nasional, permohonan tersebut ditujukan pada Pengadilan Negeri.92 Pasal 1 angka 4 UU Arbitrase menyatakan bahwa Pengadilan Negeri yang dimaksud dalam UU Arbitrase ialah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal Termohon.93 Termohon berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 6 UU Arbitrase ialah pihak lawan dari Pemohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase.94 Dengan demikian, permohonan pembatalan putusan arbitrase diajukan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal Termohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Berdasarkan Pasal 72 ayat (2) UU Arbitrase Ketua Pengadilan Negeri dapat memutus untuk membatalkan seluruhnya atau sebagian isi putusan arbitrase.
90

Indonesia(a), op.cit., Pasal 71. Priyatna Abdurrasyid, op.cit., diunduh 19 Mei 2011. Ibid. Lihat pula Indonesia(a), op.cit., Pasal 71.

91

92

Ibid., Pasal 1 angka 4. Pengadilan Negeri adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal termohon. Ibid., Pasal 1 angka 6. Termohon adalah pihak lawan dari Pemohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase.
94

93

Universitas Indonesia

29

Dalam hal putusan arbitrase dibatalkan seluruhnya, putusan arbitrase tersebut dianggap tidak pernah ada.95 Penjelasan Pasal 72 ayat (2) UU Arbitrase menyebutkan,
Ketua Pengadilan Negeri dapat memutuskan bahwa setelah diucapkan pembatalan, arbiter yang sama atau arbiter lain akan memeriksa kembali sengketa bersangkutan atau menentukan bahwa suatu sengketa tidak mungkin diselesaikan lagi melalui arbitrase.96

Berdasarkan ketentuan ini, UU Arbitrase jelas mengatur kewenangan pengadilan untuk mengabulkan permohonan pembatalan putusan arbitrase dan menentukan bahwa suatu sengketa tidak mungkin diselesaikan lagi melalui arbitrase.97 Konsekuensi hukum terhadap putusan arbitrase yang telah dibatalkan oleh ketua Pengadilan Negeri dapat berupa:98 1. batal seluruh atau sebagian isi putusan tersebut; dan/atau 2. diputuskan bahwa perkara tersebut diperiksa kembali oleh: i. ii. iii. arbitrator yang sama; atau arbitrator lain; atau tidak dimungkinkan lagi diselesaikan melalui forum arbitrase.

Namun demikian, Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan pembatalan putusan arbitrase apabila alasan-alasan pembatalan seperti yang diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase tidak terpenuhi.99 Putusan atas permohonan pembatalan ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan pembatalan putusan arbitrase diterima Ketua Pengadilan Negeri.100

Ibid., Pasal 72 ayat (2), Apabila permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikabulkan, Ketua Pengadilan Negeri menentukan lebih lanjut akibat pembatalan seluruhnya atau sebagian putusan arbitrase.
96

95

Ibid., Penjelasan Pasal 72 ayat (2).

Tony Budidjaja(c), Maraknya Pembatalan Putusan Arbitrase http://hukumonline.com/berita/baca/hol6719/font-size1-colorff0000bmaraknya-pembatalanputusan-arbitrasebfontbrcampur-tangan-, diunduh 19 Mei 2011.
98

97

Munir Fuady, op.cit., hal. 110. Ibid. Indonesia(a), op.cit., Pasal 72 ayat (3),

99

100

Universitas Indonesia

30

Pihak yang merasa dirugikan dengan adanya pembatalan putusan arbitrase oleh Pengadilan Negeri dapat melakukan banding kepada Mahkamah Agung.101 Setelah itu Mahkamah Agung akan mempertimbangkan serta memutuskan permohonan banding atas putusan pengadilan yang membatalkan putusan arbitrase dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah permohonan banding tersebut diterima oleh Mahkamah Agung.102 Pengajuan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali pada dasarnya tidak dapat dilakukan. UU Arbitrase telah memberikan batasan bahwa ketentuan Pasal 72 ayat (4) UU Arbitrase telah jelas mengatur putusan banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase adalah putusan tingkat pertama dan terakhir.103 Dengan demikian terhadap putusan banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase seharusnya tidak dapat diajukan upaya hukum lain. Upaya hukum banding yang diatur pada pasal 72 ayat (4) itu sendiri pada dasarnya sudah bertentangan dengan asas final dan mengikat yang ada dalam putusan arbitrase. Asas final dan mengikat tersebut terdapat pada Pasal 60 UU Arbitrase yang menyatakan bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak.104

2.1.5. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional Menurut UU Arbitrase Terkait upaya pembatalan terhadap putusan arbitrase internasional di Indonesia, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa ketentuan Pasal 70 sampai dengan Pasal 72 UU Arbitrase pada dasarnya hanya berlaku untuk putusan arbitrase nasional.105 Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus Mahkamah Agung Republik Indonesia Tahun 2007
Ibid., Pasal 72 ayat (4), terhadap putusan Pengadilan Negeri dapat diajukan permohonan banding ke Mahkamah Agung yang memutus dalam tingkat pertama dan terakhir.
102 101

Ibid., Pasal 72 ayat (5). Ibid., Pasal 72 ayat (4). Ibid., Pasal 60.

103

104

Candra Irawan, Aspek Hukum dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan (ADR) Di Indonesia, (Bandung: CV. Mandar Maju, 2010, hal. 143.

105

Universitas Indonesia

31

menegaskan bahwa yang dapat dimohonkan pembatalan putusan arbitrase adalah putusan arbitrase nasional sepanjang memenuhi persyaratan yang diatur dalam UU Arbitrase sesuai dengan ketentuan Pasal 70 sampai dengan Pasal 72 UU Arbitrase.106 Sejalan dengan pendapat tersebut, Tin Zuraida berpendapat bahwa UU Arbitrase hanya dapat dipergunakan untuk menolak memberikan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional.107 Ketentuan Pasal 70 sampai dengan Pasal 72 UU Arbitrase tidak dapat dipergunakan sebagai dasar hukum untuk membatalkan putusan arbitrase internasional. Hal tersebut disebabkan putusan arbitrase internasional yang dijatuhkan di wilayah negara lain berlaku hukum arbitrase negara yang bersangkutan (Lex Arbitri) sehingga tidak dapat dinilai dan dibatalkan berdasarkan Hukum Indonesia (UU Arbitrase).

Keberlakuan Hukum Indonesia terbatas pada wilayah hukum Negara Republik Indonesia.108 Namun demikian dalam prakteknya masih terdapat putusan-putusan arbitrase internasional yang dimintakan pembatalannya di Indonesia, salah satunya ialah kasus pembatalan putusan arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) antara PT Lirik Petroleum dengan Pertamina yang akan dibahas dalam Bab 4 (empat) laporan penelitian ini. Berkaitan dengan putusan arbitrase internasional yang diatur dalam ketentuan Pasal 65 UU Arbitrase, maka forum pengadilan yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase internasional ialah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.109 Putusan Pengadilan Negeri yang membatalkan putusan arbitrase

internasional pada kenyataannya dapat tidak mempengaruhi proses hukum di negara lain. Hal tersebut disebabkan oleh salah satunya ialah masing-masing

Mahkamah Agung Republik Indonesia, Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Umum dan Perdata Khusus Mahkamah Agung Republik Indonesia, (Jakarta: Mahkamah Agung, 2007), hal. 176. Tin Zuraida, Prinsip Eksekusi Putusan Arbitrase Internasional Di Indonesia, (Disertasi DoktorUniversitas Airlangga, Surabaya, 2006), hal. 68.
108 107

106

Ibid. Priyatna Abdurrasyid, op.cit., diunduh 19 Mei 2011.

109

Universitas Indonesia

32

negara mempunyai peraturan perundang-undangan yang berbeda-beda khususnya mengenai pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase Internasional. Di samping itu terdapat penyebab lainnya seperti kepentingan yang dimiliki negara atas suatu perkara arbitrase tertentu.110 Sebagai contoh ialah dalam perkara Karaha Bodas, Pengadilan Banding AS tingkat II (The Court of Appels for the Second Circuit) memutuskan untuk tetap membekukan rekening Pertamina senilai US$ 275 juta dari total US$ 520 juta yang sedang dibekukan di salah satu bank di New York walaupun telah adanya pembatalan putusan arbitrase perkara tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di Indonesia.111

2.2. Pembatalan Putusan Arbitrase Berdasarkan Instrumen-Instrumen Hukum Internasional Terdapat 3 (tiga) instrumen internasional mengenai arbitrase yang penting dan perlu diperhatikan mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional. Instrumen hukum tersebut antara lain: sumber hukum pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing utama di dunia yaitu Konvensi New York 1958, model hukum mengenai arbitrase internasional yang telah diadopsi oleh banyak negara di dunia yaitu UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration, dan Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and National of
other States (selanjutnya disebut sebagai Konvensi ICSID).
112

2.2.1. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional dalam Perspektif Konvensi New York 1958 Konvensi New York 1958 pada dasarnya tidak mengatur mengenai pembatalan putusan arbitrase. Namun demikian Pasal V ayat 1(e) Konvensi New
110

Tony Budidjaja(b), op.cit., diunduh 19 Mei 2011.

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 86/PDT.G/2002/PN.JKTPST antara Pertamina melawan Karaha Bodas Company L,L,C.. Dalam putusan tersebut, Pengadilan Negeri Jakarta pusat membatalkan putusan arbitrase yang ditetapkan di Jenewa, Swiss, tanggal 18 Desember 2000 berikut Putusan Sela (Preliminary Award) yang ditetapkan di Jenewa tanggal 30 September 1999, dengan segala akibat hukumnya.
112

111

Tony Budidjaja(b), op.cit., diunduh 19 Mei 2011.

Universitas Indonesia

33

York 1958 menyinggung kemungkinan terjadinya pembatalan putusan abritrase oleh apa yang disebutnya sebagai Competent Authority (otoritas yang berwenang) dari negara dibuatnya putusan arbitrase atau berdasarkan hukum dalam pembuatan putusan arbitrase tersebut (Lex Arbitri).113 Konvensi New York 1958 mengakui keberadaan lembaga pembatalan putusan arbitrase dan penolakan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing. Penolakan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase diatur secara jelas dan lengkap dalam Konvensi New York 1958. Pasal V Konvensi New York 1958 mengatur alasan-alasan suatu putusan arbitrase tidak dapat dilaksanaan atau ditolak, antara lain: 114 1. para pihak pada perjanjian (arbitrase) yang disebut dalam Pasal 2, tidak memiliki kecakapan berdasarkan hukum yang berlaku atas mereka, atau perjanjian tersebut tidak sah berdasarkan hukum mana para pihak sudah menundukkan diri atau, apabila tidak terdapat petunjuk mengenai hal tersebut di atas, maka berdasarkan hukum negara di mana putusan itu dijatuhkan; atau 2. pihak terhadap siapa putusan dijatuhkan tidak diberi

pemberitahuan yang patut mengenai penunjukan arbitrator atau mengenai proses arbitrase atau tidak dapat membela perkaranya; atau 3. putusan berkenaan dengan perselisihan yang tidak dimaksudkan oleh atau tidak termasuk dalam kesepakatan-kesepakatan mengenai pengajuan perselisihan itu ke arbitrase atau memuat putusan atas hal-hal yang berada di luar lingkup kesepakatan mengenai pengajuan perselisihan itu ke arbitrase, dengan ketentuan bahwa, apabila putusan atas hal-hal yang diajukan ke arbitrase dapat

Convention on The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award, 1958, art. V par. 1(e). , or has been set aside or suspended by a competent authority of the country in which, or under the law of which, that award was made.
114

113

Convention on The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award, 1958,

art. V.

Universitas Indonesia

34

dipisahkan dari putusan yang tidak diajukan, maka bagian dari putusan arbitrase yang mencantumkan putusan atas hal-hal yang diajukan ke arbitrase dapat diakui dan dilaksanakan; atau 4. komposisi majelis arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan perjanjian para pihak atau, apabila kesepakatan tersebut tidak ada, tidak sesuai dengan hukum negara di mana arbitrase itu dilangsungkan; atau 5. putusan arbitrase masih belum mengikat para pihak, atau telah dibatalkan atau ditangguhkan oleh otoritas yang berwenang dari negara di mana atau berdasarkan hukum mana putusan arbitrase itu dijatuhkan.

Selanjutnya, konvensi New York juga menyatakan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing juga dapat ditolak apabila pihak yang berwenang di negara di mana pengakuan dan pelaksanaan diupayakan menemukan bahwa materi pokok perselisihan tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase berdasarkan hukum dari negara tersebut, atau pengakuan atau pelaksanaan putusan arbitrase berlawanan dengan ketertiban umum dari negara tersebut.115 Konsep pembatalan suatu putusan arbitrase sudah tentu berbeda dengan konsep penolakan suatu putusan arbitrase asing. Perbedaan konsep pembatalan dengan konsep penolakan berkaitan dengan akibat hukum yang diberikan terhadap putusan arbitrase yang hendak dibatalkan atau ditolak. Pembatalan putusan arbitrase mengakibatkan putusan arbitrase yang bersangkutan menjadi tiada dan tidak dapat dimintakan pelaksanaannya.116 Di sisi lain, penolakan putusan arbitrase asing sebagaimana diatur dalam Konvensi New York 1958 tidak meniadakan putusan arbitrase yang telah dibuat.117

115

Tony Budidjaja(b), op.cit., diunduh 19 Mei 2011. Hikmahanto Juwana, op.cit., hal. 67. Ibid.

116

117

Universitas Indonesia

35

Di samping itu perbedaan antara penolakan dengan pembatalan juga ditentukan berdasarkan jurisdiksi primer dan jurisdiksi sekunder dari putusan arbitrase yang telah dibuat. Jurisdiksi primer termasuk di dalam Pasal V ayat (1) (e) Konvensi New York 1958, yaitu badan peradilan dari negara yang telah dipakai sebagai tempat berlakunya arbitrase atau peradilan dari negara yang hukumnya dipergunakan untuk membuat putusan arbitrase tersebut.118 Jurisdiksi primer merupakan jurisdiksi yang dapat membatalkan suatu putusan arbitrase asing dan memberikan akibat putusan arbitrase asing tersebut menjadi tidak sah dan tidak dapat dimintakan pengakuan dan pelaksanaannya kepada jurisdiksi sekunder. Sudargo Gautama berpendapat bahwa hal tersebut disebabkan pengeluaran biaya dan banyak waktu yang akan hilang dalam usaha untuk memblokir dan terus memblokir pelaksanaan suatu putusan arbitrase yang cacat. Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa Konvensi New York 1958 juga tidak menghendaki ketiadaan pembatalan yang bersifat final terhadap suatu putusan arbitrase yang cacat tersebut. Oleh sebab itu, pembatalan putusan arbitrase oleh jurisdiksi primer mempunyai kekuatan untuk membatalkan putusan arbitrase bersangkutan.119 Pembatalan putusan arbitrase yang dilakukan oleh jurisdiksi primer tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menyelesaikan konflik baik substantif maupun prosedural yang diciptakan.120 Jurisdiksi sekunder merupakan forum yang mencakup hukum dimana suatu pemenang arbitrase hendak melaksanakan putusan arbitrase.121 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konvensi New York 1958 tidak mengatur mengenai pembatalan putusan arbitrase namun menyinggung kemungkinan terjadinya pembatalan putusan abritrase oleh apa yang disebutnya sebagai Competent Authority (otoritas yang berwenang). Di sisi lain, Konvensi
118

Sudargo Gautama(a), op.cit., hal. 73-74. Ibid.

119

Louis L. JaffeSource, Primary Jurisdiction, (Harvard Law Review, Vol. 77, No. 6 (Apr., 19640, hal. 137. http://www.jstor.org/stable/1339061 diunduh pada tanggal 4 April 2012 pukul 14:55.
121

120

Sudargo Gautama(a), op.cit., hal. 73-74.

Universitas Indonesia

36

New York 1958 mengatur mengenai penolakan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase secara jelas dan lengkap. Konsep pembatalan suatu putusan arbitrase sudah tentu berbeda dengan konsep penolakan suatu putusan arbitrase asing. Perbedaan konsep pembatalan dengan konsep penolakan berkaitan dengan akibat hukum yang diberikan terhadap putusan arbitrase yang hendak dibatalkan atau ditolak. Di samping itu pembatalan putusan arbitrase dapat dilakukan dari forum yang merupakan jurisdiksi primer dari suatu putusan arbitrase sedangkan penolakan putusan arbitrase dilakukan dari forum yang merupakan jurisdiksi sekunder.

2.2.2. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional Berdasarkan Konvensi ICSID Konvensi ICSID merupakan sumber hukum arbitrase internasional dalam perselisihan penanaman modal. Pada dasarnya Konvensi ICSID memiliki luas lingkup yang berbeda dengan Konvensi New York 1958. Perbedaan tersebut dapat dilihat bahwa Konvensi ICSID hanya ditujukan untuk menyelesaikan perselisihan antara negara dan warganegara asing mengenai penanaman modal.122 Perbedaan lainnya ialah Konvensi ICSID merupakan sumber hukum di bidang arbitrase internasional yang memiliki pengaturan tersendiri perihal pembatalan putusan arbitrase123, berbeda dengan Konvensi New York 1958 yang menyerahkan perihal pembatalan putusan arbitrase kepada hukum nasional masing-masing negara pesertanya. Oleh sebab itu menjadi penting untuk diketahui bagaimana konsep pembatalan putusan arbitrase yang dimiliki Konvensi ICSID sebagai suatu pembanding berkaitan dengan pembatalan putusan arbitrase internasional.

Sudargo Gautama(e), Indonesia dan Konvensi-Konvensi Internasional, (Bandung: Penerbit P.T. Alumni, 2005), hal. 267.
123

122

Hukum

Perdata

Ibid., hal. 277.

Universitas Indonesia

37

Ketentuan Pasal 52 ayat (1) Konvensi ICSID mengatur bahwa salah satu pihak dapat mengajukan pembatalan putusan dengan mengirimkan permohonan tertulis kepada Secretary-general ICSID berdasarkan alasan-alasan, antara lain:124 1. bahwa majelis arbitrase tidak dibentuk sebagaimana semestinya; 2. bahwa majelis arbitrase telah melampaui kewenangannya; 3. bahwa terdapat tindakan korupsi yang dilakukan anggota majelis arbitrase; 4. bahwa telah terjadi penyimpangan serius atas peraturan yang fundamental dalam prosedur arbitrase; dan/atau 5. bahwa putusan arbitrase tidak berhasil untuk menyatakan pertimbangan yang mendasari putusan tersebut.

Pasal 52 ayat (2) Konvensi ICSID mengatur mengenai jangka waktu pengajuan permohonan pembatalan putusan arbitrase.125 Permohonan putusan arbitrase harus dilakukan dalam jangka waktu 120 (seratus dua puluh) hari setelah tanggal dimana putusan arbitrase tersebut dijatuhkan. Dalam hal permohonan pembatalan putusan arbitrase diajukan dengan alasan korupsi, permohonan tersebut diajukan dengan jangka waktu 120 (seratus dua puluh hari) setelah korupsi tersebut diketahui, dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun setelah putusan arbitrase tersebut dijatuhkan. Pasal 52 ayat (3) Konvensi ICSID mengatur mengenai siapa yang memiliki kewenangan pembatalan putusan arbitrase ICSID.126 Setelah menerima permohonan pembatalan putusan arbitrase, Chairman ICSID kemudian

membentuk ad hoc Committee yang terdiri dari tiga orang dari Panel of the Arbitrators. Ad hoc Committee tersebut yang kemudian memiliki kewenangan untuk membatalkan putusan arbitrase ICSID.

ICSID, Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and National of other States, Art. 52 par. (1).
125

124

Ibid., Art. 52 par. (2). Ibid., Art. 52 par. (3).

126

Universitas Indonesia

38

Pasal 52 ayat (4) Konvensi ICSID mengatur mengenai prosedur pembatalan putusan arbitrase ICSID.127 Prosedur pembatalan putusan arbitrase ICSID dilakukan sesuai ketentuan Pasal 41-45, 48, 49, 53, 54, Bab VI, dan Bab VII Konvensi ICSID secara mutatis mutandis (disesuaikan dengan perubahanperubahan yang diperlukan).128 Pasal 41 Konvensi ICSID mengatur mengenai kompetensi Tribunal ICSID dan eksepsi terhadap kompetensi tersebut.129 Pasal 42 Konvensi ICSID mengatur mengenai hukum yang dipakai oleh Tribunal ICSID dalam penyelesaian sengketa.130 Pasal 43 Konvensi ICSID mengatur mengenai kewenangan Tribunal ICSID berkaitan dengan pemeriksaan perkara.131 Pasal 44 Konvensi ICSID mengatur mengenai prosedur penyelesaian sengketa melalui Arbitrase ICSID.132 Pasal 45 Konvensi ICSID mengatur mengenai kemungkinan yang dapat diusahakan bilamana salah satu pihak tidak hadir dalam proses Arbitrase ICSID.133 Pasal 48 Konvensi ICSID mengatur mengenai kewajiban Tribunal ICSID dalam mengeluarkan putusan arbitrase.134 Pasal 49 Konvensi ICSID mengatur mengenai kewajiban Secretary-General ICSID untuk memberikan salinan putusan arbitrase kepada para pihak.135 Pasal 53 Konvensi ICSID mengatur mengenai keterikatan para pihak atas putusan arbitrase yang telah dibuat.136 Pasal 54 Konvensi ICSID mengatur mengenai kewajiban para pihak untuk mengakui dan melaksanakan putusan arbitrase yang telah dibuat oleh
127

Ibid., Art. 52 par. (4).

Brian A. Garner, Blacks Law Dictionary 9th Edition, (St. Paul: West Publishing co., 2004). Mutatis mutandis: All necessary changes having been made; with the necessary changes.
129

128

ICSID, op.cit., Art. 41. Ibid., Art. 42. Ibid., Art. 43. Ibid., Art. 44. Ibid., Art. 45. Ibid., Art. 48. Ibid., Art. 49. Ibid., Art. 53.

130

131

132

133

134

135

136

Universitas Indonesia

39

ICSID.137 Bab VI Konvensi ICSID mengatur mengenai biaya berperkara melaui Arbitrase ICSID.138 Bab VII Konvensi ICSID mengatur mengenai tempat dilangsungkannya Arbitrase ICSID.139 Pasal 52 ayat (5) Konvensi ICSID mengatur mengenai kemungkinan untuk diadakannya suatu penundaan pelaksanaan putusan arbitrase berkenaan dengan pembatalan putusan arbitrase.140 Berdasarkan ketentuan tersebut, Committee dapat menunda pelaksanaan putusan arbitrase jika dianggap perlu. Dalam hal pemohon pembatalan mengajukan permohonan penundaan pelaksanaan putusan dalam permohonannya, pelaksanaan putusan harus tidak diproses sampai Committee mengambil keputusan mengenai permohonan tersebut. Pasal 52 ayat (6) Konvensi ICSID mengatur apabila putusan arbitrase telah dibatalkan, maka sengketa yang ada berdasarkan permohonan para pihak didaftarkan kepada majelis arbitrase baru yang dibentuk sesuai dengan Bagian 2 Konvensi ICSID.141 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Konvensi ICSID memiliki luas lingkup terbatas hanya pada arbitrase internasional berkaitan penyelesaian perselisihan antara negara dengan warganegara asing mengenai penanaman modal. Namun demikian Konvensi ICSID merupakan satu sumber hukum mengenai arbitrase internasional yang memiliki pengaturan mengenai pembatalan putusan arbitrase. Konsep pembatalan putusan arbitrase dalam Konvensi ICSID penting untuk diketahui sebagai pembanding dengan pengaturan pembatalan putusan arbitrase internasional lainnya. Konvensi ICSID mengatur dengan jelas alasan pembatalan putusan arbitrase secara limitatif dan tidak membuka kemungkinan para pihak untuk mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase dengan alasan lain di luar ketentuan yang ada dalam konvensi ini. Kewenangan untuk membatalkan putusan arbitrase ICSID dimiliki oleh
137

Ibid., Art. 54. Ibid., Chapter VI. Ibid., Chapter VII. Ibid., Art. 52 par. (5). Ibid., Art. 52 par. (6).

138

139

140

141

Universitas Indonesia

40

Committee yang dibentuk oleh Chairman ICSID. Hal tersebut berbeda dengan pembatalan putusan arbitrase pada umumnya dimana kewenangan untuk melakukan pembatalan tersebut dimiliki oleh pengadilan.

2.2.3. Pembatalan

Putusan

Arbitrase

Internasional

Berdasarkan

UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration merupakan suatu upaya harmonisasi hukum internasional berkenaan dengan aktivitas arbitrase perdagangan internasional yang semakin berkembang pesat dan semakin banyak digunakan. Hal tersebut berkaitan dengan hukum nasional yang dimiliki oleh negara yang satu berbeda dengan hukum nasional negara lain yang kemudian memberikan dampak ketidaksesuaian penggunaan hukum dalam beberapa kasus internasional yang telah terjadi.142 Indonesia tidak mengadopsi model hukum ini dalam UU Arbitrase. Namun demikian, UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration telah diadopsi oleh banyak negara antara lain seperti Australia, Amerika Serikat, Singapura, dan sebagainya.143 UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengatur mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional. Pengaturan tersebut terdapat dalam Bab VII: Upaya Perlawanan Terhadap Putusan Arbitrase, Pasal 34 mengenai permohonan pembatalan arbitrase sebagai upaya perlawanan khusus terhadap putusan arbitrase. Pasal 34 ayat (1) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration memberikan pembatasan yang jelas bahwa upaya perlawanan terhadap putusan arbitrase dengan permohonan pembatalan putusan arbitrase hanya dapat dilaksanakan berdasarkan Pasal 34 ayat (1) dan (2) model hukum ini. Pasal 34 ayat (2) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration kemudian mengatur dengan jelas dan lengkap alasanalasan pembatalan suatu putusan arbitrase, antara lain apabila:144

UNCITRAL, Explanatory Note by The UNCITRAL Secretariat on The Model Law on International Commercial Arbitration.
143

142

Ibid.

Universitas Indonesia

41

1. pihak yang mengajukan permohonan menyerahkan bukti bahwa, pertama, pihak perjanjian arbitrase yang disebut dalam Pasal 7 ketentuan ini tidak memiliki kecakapan, atau perjanjian tersebut tidak sah berdasarkan hukum mana para pihak sudah menundukkan diri, atau, apabila petunjuk mengenai hal itu tidak ada, berdasarkan hukum negara di mana putusan itu dijatuhkan; atau 2. kedua, pihak yang mengajukan permohonan dimaksud tidak diberi pemberitahuan yang patut mengenai penunjukan arbitrator atau mengenai proses arbitrase atau tidak dapat membela perkaranya; atau 3. putusan berkenaan dengan perselisihan yang tidak dimaksudkan oleh atau tidak termasuk dalam kesepakatan-kesepakatan mengenai pengajuan perselisihan itu ke arbitrase atau memuat putusan atas hal-hal yang berada di luar lingkup kesepakatan mengenai pengajuan perselisihan itu ke arbitrase, dengan ketentuan bahwa, apabila putusan atas hal-hal yang diajukan ke arbitrase dapat dipisahkan dari putusan yang tidak diajukan, maka bagian dari putusan arbitrase yang mencantumkan putusan atas hal-hal yang diajukan ke arbitrase dapat diakui dan dilaksanakan; atau 4. komposisi majelis arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan perjanjian para pihak atau, apabila perjanjian tersebut tidak ada, tidak sesuai dengan hukum negara di mana arbitrase itu dilangsungkan; atau 5. pengadilan menemukan bahwa pokok sengketa tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase berdasarkan hukum negara ini atau putusan bertentangan dengan ketertiban umum dari negara ini.

Pasal 34 ayat (3) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengatur mengenai jangka waktu pengajuan permohonan pembatalan
United Nations, UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration with Amendments, 2006, Art. 34 par. (2).
144

Universitas Indonesia

42

putusan arbitrase internasional bahwa permohonan tersebut tidak dapat dilakukan apabila telah melewati jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah tanggal dimana para pihak yang mengajukan permohonan telah menerima putusan arbitrase, atau 3 (tiga) bulan setelah tanggal dimana permohonan berkaitan dengan Pasal 33 model hukum ini (koreksi dan/atau interpretasi putusan arbitrase) ditolak oleh majelis arbitrase jika sebelumnya telah ada permohonan mengenai hal tersebut.145 Pasal 34 ayat (4) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengatur bahwa pengadilan ketika dimintakan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase internasional dapat menunda proses pembatalan putusan tersebut dalam kurun waktu tertentu untuk memberikan kesempatan pada majelis arbitrase untuk melanjutkan proses arbitrase atau untuk mengambil tindakan lain jika majelis arbitrase berpendapat bahwa tindakan tersebut dapat meniadakan alasan untuk pembatalan putusan arbitrase tersebut apabila dianggap perlu atau diajukan oleh salah satu pihak.146 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengatur perihal pembatalan putusan arbitrase internasional dengan jelas dan lengkap. Model hukum ini mengatur mengenai alasan pembatalan putusan arbitrase internasional dengan lengkap secara limitatif sehingga timbul kejelasan bahwa pihak yang mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase tidak dapat mengajukan permohonan dengan alasan lain di luar ketentuan model hukum ini. Proses pembatalan putusan arbitrase internasional menurut model hukum ini dapat dilakukan tanpa didahului oleh pendaftaran putusan arbitrase dalam rangka pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional. Hal tersebut dapat dilihat bahwa para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase sebelum selesainya proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase atau dengan kata lain sebelum dikeluarkannya putusan oleh majelis arbitrase.

145

Ibid., Art. 34 par. (3). Ibid., Art. 34 par. (4).

146

Universitas Indonesia

43

BAB 3 ASPEK-ASPEK HUKUM PERDATA INTERNASIONAL DALAM PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL

Hukum Perdata Internasional adalah hukum perdata untuk hubungan yang bersifat internasional.147 Hubungan-hubungan hukum keperdataan. yang terdapat unsur-unsur asingnya, membuat hubungan-hubungan perdata tersebut kemudian menjadi internasional. Dengan demikian, bukan hukumnya yang internasional, melainkan peristiwa, materi, dan fakta-faktanya yang internasional, sedangkan sumber hukumnya tetap nasional. Hubungan internasional ini adalah hubungan hukum yang terjadi melewati lintas batas negara, bukan hukum antar negaranegara.148 Hukum Acara Perdata Internasional adalah bagian dari hukum acara, yakni sepanjang mengandung unsur asing.149 Unsur-unsur asing yang terdapat dalam hukum acara perdata internasional dapat dilihat dari status personal para pihak, atau alat-alat pembuktian yang diajukan berasal dari luar negeri, atau karena harus digunakan hukum asing, atau karena harus diakui keputusan pengadilan asing, atau karena harus diadakan bantuan tambahan terhadap pemeriksaan yang dilakukan oleh pengadilan asing.150 Pada bab ini, penulis akan membahas unsurunsur asing dalam pembatalan putusan arbitrase internasional.

147

Sudargo Gautama(d), op.cit., hal 3-4. Ibid. Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 203. Ibid.

148

149

150

Universitas Indonesia

44

3.1. Dasar Kewenangan Pengadilan dalam Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional Permohonan pembatalan arbitrase internasional berkenaan erat dengan permasalahan pengadilan mana yang memiliki jurisdiksi ekslusif untuk membatalkan suatu putusan arbitrase internasional. Jurisdiksi ekslusif dalam membatalkan suatu putusan arbitrase dimiliki oleh jurisdiksi primer. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, jurisdiksi primer termasuk di dalam Pasal 5 ayat (1) (e) Konvensi New York 1958, yaitu badan peradilan dari negara yang telah dipakai sebagai tempat berlakunya arbitrase atau peradilan dari negara yang hukumnya dipergunakan untuk membuat putusan arbitrase tersebut.151 Dalam penentuan jurisdiksi mana yang merupakan jurisdiksi primer, Sudargo Gautama mengungkapkan bahwa perlu diperhatikan apa yang diartikan dengan istilah Country of Origin.152 Menurut Van den Berg, Country of Origin merupakan negara yang hukum arbitrasenya dipergunakan untuk arbitrase internasional bersangkutan dan putusan arbitrase bersangkutan tersebut mempunyai suatu akibat hukum yang penting untuk arbitrase internasional tersebut.153 Dalam banyak perkara pembatalan putusan arbitase internasional, Country of Origin ialah negara di mana telah dilangsungkannya arbitrase (place of arbitration) atau di mana telah dibuat putusan arbitrase internasional tersebut sesuai dengan konsep territorial pada arbitrase internasional. Namun demikian dalam perkembangannya diberikan kebebasan kepada para pihak untuk menyetujui mengenai pemakaian hukum arbitrase suatu negara yang berbeda dari tempat di mana arbitrase tersebut dilangsungkan.154 Hal tersebut dapat disaksikan dalam perumusan Pasal V ayat

151

Sudargo Gautama(a), op.cit., hal. 73-74.

Ibid., hal. 60. Country of Origin dipakai untuk menjelaskan negara dimana suatu arbitrase internasional secara hukum berakar. Negara asal tersebut penting untuk menentukan badan peradilan manakah yang mempunyai peranan untuk membantu dan memberikan pengawasan atas arbitrase tersebut. Manfaatnya dapat terdiri dari misalnya mengangkat para arbitrator dalam hal Tim Arbitrase tidak bias dibentuk karena sesuatu sebab tertentu. Pengawasan ini asalnya dapat dilakukan dalam pemeriksaan terhadap eksekusi.
153

152

Ibid., hal. 59. Ibid., hal. 60-61.

154

Universitas Indonesia

45

1(e) Konvensi New York 1958.155 Dengan demikian, Konvensi New York 1958 dalam ketentuan Pasal V ayat 1(e) dan Pasal VI membolehkan para pihak untuk memilih suatu hukum arbitrase yang berbeda dari hukum di mana terletak secara geografis arbitrase tersebut sehingga diperbolehkan apabila para pihak menghendaki, suatu hukum arbitrase yang berbeda daripada hukum di tempat mana arbitrase dilangsungkan, yaitu negara yang hukum arbitrasenya dipilih oleh para pihak untuk berlaku terhadap acara perkara arbitrase tersebut sebagai suatu jurisdiksi yang lazim (proper jurisdiction) untuk melangsungkan suatu perkara pembatalan.156 Dalam ketentuan Pasal VI Konvensi New York 1958 diakui adanya primary dari jurisdiksi primer. Jurisdiksi primer dapat memerintahkan pembatalan putusan arbitrase internasional, namun jurisdiksi sekunder mempunyai suatu kelonggaran untuk menentukan sendiri, apakah akan mengikuti apa yang telah ditentukan mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional yang dibuat oleh jurisdiksi primer.157 Van den Berg berpendapat bahwa ketentuan Pasal VI Konvensi New York 1958 berlaku dengan menyatakan bahwa terdapat kemungkinan untuk menangguhkan putusan tentang dilaksanakannya putusan arbitrase bersangkutan sampai permohonan untuk pembatalan telah ditentukan sehingga Konvensi New York 1958 telah memberikan suatu keseimbangan yang beralasan antara kedua pihak, yaitu pihak-pihak yang telah menang maupun yang kalah dalam arbitrase bersangkutan. Lebih lanjut, beliau juga berpendapat bahwa Konvensi New York 1958 tidak mengubah ketentuan hukum domestik mengenai pembatalan putusan arbitrase.158

Convention on The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award, 1958, art. V par. 1(e). , or has been set aside or suspended by a competent authority of the country in which, or under the law of which, that award was made.
156

155

Sudargo Gautama(a), op.cit., hal.63.

Convention on The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award, 1958, art. VI. If an application for the setting aside or suspension of the award has been made in a competent authority referred to in art. V par. 1(e), the authority before which the award is sought to be relied upon may, if it considers it proper, adjourn the decision on the enforcement of the award, order the other party to give suitable security.

157

Universitas Indonesia

46

Berkaitan dengan pengadilan mana yang memiliki kewenangan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase internasional, Pieter Sanders berpendapat bahwa hanya ada 1 (satu) otoritas yang memiliki kewenangan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase internasional dan kewenangan tersebut seringkali diartikan secara ganda, apakah kewenangan tersebut dimiliki oleh pengadilan dari negara di mana putusan arbitrase internasional tersebut telah dibuat atau pengadilan dari negara yang hukumnya telah dipakai untuk proses arbitrase tersebut. Berkaitan dengan negara yang hukumnya telah dipakai untuk proses arbitrase, beliau mengungkapkan bahwa kata-kata tersebut ditambahkan dalam ketentuan Pasal I ayat 3 Konvensi New York 1958 karena adanya suatu usulan dari delegasi Rusia untuk dapat mencakup kasus di mana suatu putusan telah dibuat.159 Berkaitan dengan hal tersebut, Schwartz berpendapat bahwa Konvensi New York 1958 tidak mengubah ketentuan hukum domestik mengenai pembatalan putusan arbitrase. Penentuan pengadilan mana yang berwenang untuk membatalkan suatu putusan arbitrase dilakukan dengan merujuk kembali kepada ketentuan hukum domestik mengenai pembatalan putusan arbitrase, apakah ketentuan hukum tersebut memungkinkan untuk dipilihnya suatu Lex Arbitri lain daripada ketentuan hukum negara tersebut. Apabila hal tersebut dimungkinkan, maka pengadilan yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase internasional bersangkutan ialah pengadilan dari negara yang hukumnya dipakai. Begitu pula sebaliknya ketika ketentuan hukum domestik tidak memungkinkan dipakainya suatu Lex Arbitri lain daripada ketentuan hukum domestik negaranya, maka yang memiliki kewenangan untuk membatalkan putusan arbitrase internasional ialah pengadilan negara di mana putusan arbitrase internasional tersebut telah dibuat.160

158

Sudargo Gautama(a), op.cit., hal.68. Ibid., hal. 126

159

Ibid. Schwartz juga berpendapat bahwa Pieter Sanders maupun Van den Berg menyatakan Pasal V ayat 1(e) Konvensi New York 1958 tidak dimaksudkan untuk merujuk pada lebih dari 1 (satu) competent authority untuk membatalkan atau menunda suatu putusan arbitrase internasional karena Konvensi New York 1958 pada dasarnya dibuat dengan tujuan untuk mempromosikan pelaksanaan putusan-putusan arbitrase internasional seluas mungkin.

160

Universitas Indonesia

47

Berkaitan dengan penentuan pengadilan mana yang memiliki kewenangan sebagai jurisdiksi primer dalam pembatalan putusan arbitrase internasional, penulis mengambil kasus Karaha Bodas melawan Pertamina yang merupakan cause clbre perkara pembatalan arbitrase internasional sebagai sebuah contoh. Pada kasus Karaha Bodas melawan Pertamina, Schwartz berpendapat bahwa ketentuan hukum Swiss menyatakan bahwa Lex Arbitri adalah sesuai dengan hukum dan tempat di mana arbitrase itu dilangsungkan dan tidak dimungkinkan untuk memilih Lex Arbitri lain daripada hukum Swiss. Oleh sebab itu pengadilan yang berwenang untuk membatalkan putusan arbtitrase dalam kasus tersebut ialah Pengadilan di Swiss.161 Pandangan lain diberikan oleh Sudargo Gautama yang berpendapat bahwa dalam kenyataannya bukan putusan tersebut dijatuhkan di Swiss melainkan semua pemeriksaan dan pengucapan putusan tersebut dilakukan di Paris sehingga hukum Indonesia yang harus dipakai dalam arbitrase bersangkutan. Oleh sebab itu beliau berpandangan bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di Negara Republik Indonesia yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan Pasal 65 UU Arbitrase.162 Dengan demikian penentuan mengenai pengadilan negara mana yang memiliki jurisdiksi untuk membatalkan putusan arbitrase internasional dilakukan dengan memperhatikan pengadilan negara mana yang memiliki jurisdiksi primer. Dalam menentukan jurisdiksi primer tersebut perlu diperhatikan apa yang diartikan sebagai Country of Origin. Konvensi New York 1958 tidak mengubah ketentuan hukum domestik mengenai pembatalan putusan arbitrase. Oleh sebab itu penentuan mengenai pengadilan mana yang berwenang untuk membatalkan suatu putusan arbitrase dilakukan dengan merujuk kembali kepada ketentuan hukum domestik mengenai pembatalan putusan arbitrase.

161

Ibid. Ibid., hal. 127.

162

Universitas Indonesia

48

3.2. Aspek-Aspek Hukum Perdata Internasional dalam Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional Hukum Perdata Internasional (HPI) adalah hukum perdata untuk hubungan yang bersifat internasional.163 Hubungan-hubungan hukum keperdataan. yang terdapat unsur-unsur asingnya, membuat hubungan-hubungan perdata tersebut kemudian menjadi internasional. Dengan demikian, bukan hukumnya yang internasional, melainkan peristiwa, materi, dan fakta-faktanya yang internasional, sedangkan sumber hukumnya tetap nasional. Hubungan internasional ini adalah hubungan hukum yang terjadi melewati lintas batas negara, bukan hukum antar negara-negara.164 Titik-titik pertalian primer atau titik taut pembeda yang menentukan bahwa suatu peristiwa merupakan peristiwa HPI. Fungsi dari titik pertalian primer adalah untuk menentukan ada atau tidaknya peristiwa HPI.165 Adapun titik pertalian primer yang umum dikenal adalah Kewarganegaraan, Bendera Kapal, Domisili, Tempat Kediaman, Tempat Kedudukan, Pilihan Hukum, dan Pilihan Forum. Titik-titik pertalian sekunder adalah hal-hal atau keadaan-keadaan yang menentukan berlakunya suatu sistem hukum tertentu di dalam hubungan HPI. Titik pertalian sekunder ini menentukan hukum apa yang harus diberlakukan di dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan HPI.166 Adapun titik pertalian sekunder yang dapat menjadi pedoman hakim dalam menentukan hukum yang harus diberlakukan antara lain ialah Kewarganegaraan, Bendera Kapal, Domisili, Tempat Kediaman, Tempat Kedudukan, Pilihan Hukum, dan Pilihan Forum, Tempat Letaknya Benda, Tempat Dilangsungkannya Pilihan Hukum.

163

Sudargo Gautama(c), op.cit., hal 3-4. Ibid. Sudargo Gautama(d), op.cit., hal. 25. Ibid.

164

165

166

Universitas Indonesia

49

Dalam kaitannya dengan pembatalan putusan arbitrase internasional, aspek HPI pada umumnya dapat dilihat dari status personal badan hukum, pilihan forum, dan pilihan hukum. 3.2.1. Status Personal Badan Hukum Pada hakikatnya subjek hukum terbagi menjadi dua, yaitu natuurlijke persoon/orang perseorangan dan badan hukum. Seperti halnya orang perseorangan, badan hukum juga memiliki status personal.167 Hukum inilah yang kemudian dipakai untuk menentukan ada tidaknya badan hukum, kemampuan untuk bertindak dalam hukum, hukum yang mengatur organisasi intern dan hubungan-hubungan hukum dengan pihak ketiga, cara-cara perubahan anggaran dasar, dan matinya status badan hukum. Dalam menentukan status personal orang perseorangan digunakan prinsip kewarganegaraan atau domisili. Di sisi lain, penentuan status personal badan hukum dapat dilakukan melalui 3 (tiga) teori, antara lain:168 1. Teori inkorporasi Teori ini menentukan bahwa badan hukum tunduk kepada ketentuan hukum tempat ia di dirikan, yaitu negara yang hukumnya telah digunakan pada saat pembentukan badan hukum tersebut. 2. Teori kedudukan statutair Teori ini menentukan bahwa badan hukum tunduk pada ketentuan hukum dari tempat dimana menurut anggaran dasar badan hukum tersebut memiliki tempat kedudukan. 3. Teori manajemen efektif/ teori kantor pusat Teori ini menentukan bahwa hukum yang berlaku untuk status dan kedudukan badan hukum harus diatur berdasarkan hukum dari tempat dimana perusahaan bersangkutan memiliki kantor pusat.

Sudargo Gautama(g), Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid III bagian 1, Buku ketujuh, (Bandung: Penerbit Alumni, 2004)., hal. 3.
168

167

Ibid., hal 336-337.

Universitas Indonesia

50

Dalam prakteknya penentuan status personal badan hukum berdasarkan teori inkorporasi dan kedudukan statutair lazimnya adalah bersamaan. Hal tersebut disebabkan pada umumnya tempat didirikannya suatu badan hukum juga merupakan tempat kedudukan badan hukum itu secara statutair. Dengan demikian alternatif dalam menentukan status personal badan hukum umumnya ditentukan melalui teori inkorporasi atau teori manajemen efektif.169

3.2.2. Pilihan Forum Pilihan Forum menurut HPI merupakan masalah penentuan lembaga apa yang dipilih dan diberi kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul. Klausul Pilihan Forum adalah salah satu klausul yang cukup penting, sama seperti halnya Pilihan Hukum.170 Sudargo Gautama berpendapat bahwa Pilihan Forum merupakan kebebasan yang diberikan para pihak dalam suatu kontrak untuk menentukan forum penyelesaian sengketa yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketa dalam sebuah perikatan.171 Pilihan Forum harus diakui baik dalam hukum nasional maupun internasional. Dasar hukum Pilihan Forum di Indonesia terdapat dalam ketentuan Pasal 24 KUHPerdata.172 Sudargo Gautama berpendapat bahwa pengaturan pasal

169

Ibid.

Huala Adolf(a), op.cit., hal. 163. Klausul Pilihan Forum pada hakikatnya bukan merupakan klausul yang wajib dalam suatu kontrak. Klausul ini bersifat fakultatif, tergantung pada kesepakatan para pihak. Para pihak memiliki kebebasan dalam menentukan pencantuman klausul ini dalamkontrak yang hendak dibuat. Namun demikian, klausul ini dinilai cukup penting karena ia memberikan kepastian pada para pihak dan kepada forum penyelesaian sengketa. Klausul ini mengarahkan para pihak kepada forum apa yang harus digunakan untuk menyelesaikan sengketa. Kepastian mengenai forum ini akan mencegah konflik kewenangan (conflict of jurisdiction) di antara forum penyelesaian sengketa.
171

170

Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 233

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek voor Indonesie], Penerjemah: R. Soebekti, Cet. XXIX, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1999), Pasal 24. Dalam suatu perkara di muka Hakim, kedua belah pihak yang berperkara atau salah satu dari mereka, berhak bebas, dengan akta, memilih tempat tinggal lain dari dari tempat tinggal mereka sebenarnya.

172

Universitas Indonesia

51

tersebut yang membebaskan para pihak untuk memilih domisili dapat digunakan sebagai aturan Pilihan Forum.173 Prinsip-prinsip Pilihan Forum yang berlaku antara lain:174 1. Prinsip kebebasan para pihak Kebebasan para pihak termasuk di dalamnya kebebasan untuk mengubah forum yang sebelumnya telah disepakati. Prinsip kebebasan para pihak dalam memilih forum ini pada prinsipnya adalah hukum yang mengikat. 2. Prinsip bonafide Kesepakatan para pihak harus dihormati dan dilaksanakan dengan itikad baik. Penghormatan terhadap prinsip ini terletak pada penghormatan atas ekspektasi dan keyakinan para pihak bahwa forum yang dipilihnya adalah forum yang netral dan adil untuk menyelesaikan sengketa, termasuk keahlian pengadilan di dalam menyelesaikan sengketa. 3. Prinsip prediktabilitas dan efektivitas Pilihan Forum tidak boleh dilakukan secara sporadis. Pemilihan suatu forum harus didasarkan pada pertimbangan apakah forum yang akan menangani sengketa suatu kontrak dapat diprediksi kewenangannya dalam memutus sengketa. Selain itu perlu diperhatikan pula efektivitas putusan yang akan dikeluarkan dan kemungkinan akan ditaati dan dilaksanakan. 4. Prinsip jurisdiksi eksklusif Pilihan Forum hendaknya tegas, ekslusif, dan tidak menimbulkan jurisdiksi ganda. Di dalam perancangan kontrak internasional, tidak jarang para pihak mencantumkan lebih dari satu pilihan forum untuk menyelesaikan satu sengketa.175

173

Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 233. Huala Adolf(a), op.cit., hal. 167-168.

174

Sudargo Gautama(h) , Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional, Cet. I, (Bandung: Penerbit Alumni, 1985), hal. 236. Pilihan Forum dapat bersifat ekslusif dan noneksklusif. Pilihan Forum bersifat ekslusif berarti hanya pengadilan yang dipilih saja yang memiliki kompetensi. Pilihan Forum non-ekslusif berarti pilihan forum tersebut dapat batal atau dibatalkan.

175

Universitas Indonesia

52

3.2.3. Pilihan Hukum Pilihan Hukum merupakan kebebasan para pihak dalam bidang perjanjian untuk memilih sendiri hukum yang hendak dipergunakan.176 Hal tersebut disebabkan para pihak sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membuat sendiri undang-undang bagi mereka dan tidak ada kewenangan untuk menciptakan hukum untuk diberlakukan pada perjanjian yang disepakati. Oleh sebab itu, para pihak diberikan kebebasan untuk memilih hukum mana yang dikehendaki untuk diberlakukan atas perjanjian yang telah dibuat.177 Hikmahanto Juwana berpendapat bahwa dalam suatu proses arbitrase setidaknya berlaku 3 (tiga) jenis hukum, yaitu Substantive Law, Procedural Law, dan Lex Arbitri.178 Substantive Law adalah hukum materil yang menjadi dasar pemeriksaan substansi dari proses arbitrase yang kemudian digunakan untuk memutus perkara

Sudargo Gautama(i), Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid II bagian 4, Cet. 3,Buku ke 5, (Bandung: Penerbit Alumni, 2004), hal. 5.
177

176

Ibid., hal.4.

Hikmahanto Juwana, Pembatalan Putusan Arbitrase INternasional oleh Pengadilan Nasional. (Jurnal Hukum Bisnis Volume 21, Oktober-November 2002), hal. 67. Lihat pula Erman Radjagukguk(a), op.cit., hal. 2. Redfern dan Hunter yang berpendapat bahwa terdapat 5 (lima) jenis hukum terkait dalam proses arbitrase, antara lain:178 1. The law governing the parties capacity to enter the arbitration agreement; 2. The law governing the arbitration agreement and the performance of that arbitration agreement; 3. The law governing the existence and the proceedings of the arbitral tribunal-the curial law of the arbitration or, in a better phrase, Lex Arbitri; 4. The law, or the relevant legal rules, governing the substantive issues in dispute-generally described as applicable law, the proper law of the contract or the substantive law; dan 5. The law governing the recognition and enforcement of the award which may, in practice, prove to be not one law, but two or more, if recognition and enforcement is sought in more than one country in which the losing party has, or is thought to have assets. Lihat pula Gary B. Born, International Commercial Arbitration in The United States: Commentary and Materials, (Netherlands: Kluwer and Taxation Publishers, 1994), hal. 24. Terdapat pula pendapat yang diutarakan oleh Gary Born bahwa dalam proses arbitrase berlaku 4 (empat) jenis hukum, yaitu: 1. The substantive law governing the merits of the parties contracts and other claims; 2. The substantive law governing parties agreement; 3. The law applicable to the arbitration proceedings (often called the curial law or the Lex Arbitri; dan 4. The conflict of rules applicable to select each of the foregoing laws.

178

Universitas Indonesia

53

oleh arbiter. Hukum materil tersebut dapat ditentukan oleh para pihak yang memiliki sengketa dalam kontrak yang dikenal dengan istilah Governing Law, atau dapat pula ditentukan oleh arbiter bila tidak disepakati sebelumnya oleh para pihak. 179 Procedural Law dapat dikatakan sebagai hukum acara atau rule of the game dari sebuah proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Hukum ini mengikat arbiter dan para pihak dalam proses pemeriksaan hingga keluarnya suatu putusan arbitrase.180 Lex Arbitri adalah hukum dari negara dimana putusan arbitrase dibuat. Hukum ini merupakan hukum dari Negara yang mendasari penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Lex Arbitri mengikat arbitrator dalam menjatuhkan suatu putusan arbitrase.181

3.2.4. Ketertiban Umum Ketertiban Umum dalam konsepsi HPI adalah dasar dikesampingkannya hukum asing untuk diberlakukan pada hukum negara hakim. Asas Ketertiban Umum digunakan pada saat suatu hukum asing melanggar sendi-sendi asasi hukum nasional.182 Prinsipnya, penggunaan Ketertiban Umum harus digunakan sebatas sebagai perisai (as a shield) bukan sebagai pedang (as a sword) sehingga tidak akan mencegah berlakunya putusan arbitrase internasional apabila putusan tersebut tidak melanggar benar sendi-sendi asasi dari sistem hukum dan tata susila masyarakat.183

179

Ibid. Ibid. Ibid.

180

181

Sudargo Gautama(j), Hukum Perdata Internasional Indonesia, Cetakan ketiga, Buku keempat, (Bandung: Penerbit Alumni, 2007), hal. 5. Lihat pula Sudargo Gautama(d), op.cit., hal.142. Ketertiban umum hendak diartikan sebagai lembaga dalam HPI yang memungkinkan sang hakim untuk secara pengecualian mengenyampingkan pemakaian dari hukum asing, yang menurut ketentuan HPI sang hakim sendiri, seharusnya diperlakukan. Tidak dipakainya hukum asing dalam hal yang khusus tersebut disebabkan hukum asing tersebut dipandang demikian menyolok dan mengusik sendi-sendi asasi dari sistem hukum sendiri jika dipergunakan.

182

Universitas Indonesia

54

Sistem hukum negara-negara di dunia mengenal perbedaan antara ketertiban umum internasional dan ketertiban umum intern. Ketertiban umum internasional adalah kaidah-kaidah yang bermaksud untuk melindungi

kesejahteraan negara dalam keseluruhannya. Kaidah-kaidah ini membatasi kekuatan ekstra-territorial dari kaidah-kaidah asing. Kaidah-kaidah intern sebaliknya membatasi kebebasan perseorangan.184 Ketertiban umum internasional pada hakikatnya tidaklah memiliki sifat yang supra nasional, melainkan hanya hubungan-hubungannya yang dianggap internasional. Dengan demikian makna ketertiban umum internasional adalah nasional belaka.185 Doktrin Hukum Perdata Internasional membedakan 2 (dua) fungsi lembaga Ketertiban Umum, yaitu:186 1. Fungsi positif; dan Ketertiban umum digunakan untuk menjamin agar aturan-aturan tertentu dari forum tetap diberlakukan/tidak dikesampingkan sebagai akibat dari pemberlakuan hukum asing, terlepas dari persoalan hukum mana yang seharusnya berlaku atau apapun isi kaidah/aturan lex fori tersebut. 2. Fungsi negatif. Ketertiban Umum digunakan untuk menghindarkan pemberlakuan aturanaturan hukum asing, bila pemberlakuan itu akan menyebabkan pelanggaran terhadap konsep-konsep dasar lex fori.

Tidak terdapat kesatuan pandangan mengenai ruang lingkup Ketertiban Umum.187 Namun demikian, para sarjana berpendirian bahwa Ketertiban Umum

183

Tineke LouiseTeugeh Longdong, op .cit., hal. 24. Sudargo Gautama(g), op.cit., hal. 121. Ibid., hal. 123

184

185

Bayu Seto, Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1992), hal. 2. Prita Amalia, Penerapan Asas Ketertiban Umum dan Pembatasannya dalam Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing di Indonesia Berdasarkan Konvensi New
187

186

Universitas Indonesia

55

memiliki peranan penting karena sistem hukum negara manapun pada hakikatnya memerlukan semacam rem darurat yang disebut istilah hukum.188 Lembaga Ketertiban Umum ini harus dilihat seirit mungkin, fungsinya sebagai suatu rem darurat yang dipakai seirit mungkin, fungsinya sebagai suatu tameng untuk membela diri dan bukan suatu pedang untuk menusuk hukum asing.189 Hanya dalam hal pemakaian hukum asing ini benar-benar merupakan suatu pelanggaran dari sendi-sendi asasi negara dan masyarakat, maka perlu hukum asing ini secara pengecualian dikesampingkan dan digantikan dengan hukum sang hakim sendiri.190 Indonesia menganut konsepsi lembaga Ketertiban Umum dengan fungsi negatif. Hal tersebut dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 23 AB, dimana Ketertiban Umum digunakan sebagai pembatasan Pilihan Hukum. Pasal 23 AB mengatur bahwa setiap perbuatan hukum atau perjanjian yang bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan baik, tidak memiliki kekuatan apapun.191 Pembahasan mengenai lembaga Ketertiban Umum relevan dengan pembatalan putusan arbitrase internasional. Hal tersebut disebabkan Ketertiban Umum kerap digunakan sebagai alasan pembatalan putusan arbitrase

internasional. Namun demikian, Ketertiban Umum tidak termasuk dalam alasan pembatalan putusan arbitrase Pasal 70 UU Arbitrase. Pengaturan mengenai Ketertiban Umum terdapat dalam Pasal 66 huruf (c) UU Arbitrase. Pasal 66 huruf (c) UU Arbitrase mengatur mengenai syarat putusan arbitrase internasional yang dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan

York 1958, hal.8, http://www.scribd.com/doc/45320248/Penerapan-Asas-Ketertiban-Umum, diunduh pada 11 Juli 2012


188

Tineke Louise Teugeh Londong, op.cit., hal. 98. Ibid. Sudargo Gautama(I), op.cit.,hal. 48. Hindia Belanda, op.cit., Pasal 23.

189

190

191

Universitas Indonesia

56

dengan Ketertiban Umum.192 Ketentuan ini memberikan kewenangan bagi negara tempat diajukannya permohonan pelaksanaan putusan arbitrase

internasional untuk menolak permohonan pelaksanaan apabila putusan arbitrase internasional terkait bertentangan dengan Ketertiban Umum. Hal tersebut menimbulkan perdebatan apakah Ketertiban Umum dapat dijadikan alasan pembatalan putusan arbitrase. Sebagai satu contoh ialah kasus PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum (yang akan dibahas lebih lanjut dalam Bab 4 (empat) laporan penelitian ini).

192

Indonesia(a), op.cit., Pasal 66 huruf c.

Universitas Indonesia

57

BAB 4 ANALISIS PERKARA PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE INTERNASIONAL

Bab ini akan membahas mengenai perkara-perkara pembatalan putusan arbitrase yang berkaitan erat dengan Hukum Perdata Internasional (HPI) karena terdapat unsur-unsur asing di dalamnya. Analisis terhadap putusan-putusan perkara ini dilakukan berdasarkan alur proses penyelesaian suatu perkara di pengadilan, dimulai dari permasalahan yurisdiksi atau kewenangan mengadili suatu perkara hingga pembahasan mengenai penerapan hukum yang menjadi landasan pertimbangan hakim yang memutuskan. Pembahasan juga menggunakan teori-teori Hukum Perdata Internasional (HPI) dan peraturan perundang-undangan yang terkait, seperti halnya UU Arbitrase dan ketentuan hukum lainnya.

4.1.

Perkara Pembatalan Putusan Arbitrase Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Antara Yemen Airways Melawan PT Comarindo Tama Tour&Travel (Putusan Mahkamah Agung RI No. 273 PK/Pdt/2007 PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways)

4.1.1. Kasus Posisi Perkara yang diputus oleh Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung RI No. 273 PK/Pdt/2007 PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways mengenai Pembatalan Putusan Arbitrase BANI ini melibatkan dua pihak. Para pihak yang dimaksud adalah:193

193

Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan Nomor: 273PK/PDT/2007, hal. 1.

Universitas Indonesia

58

Pemohon: PT Comarindo Express Tama Tour&Travel, berkedudukan di Jalan Dinoyo Nomor 57, Surabaya, didirikan berdasarkan Hukum Indonesia. Pemohon dahulu merupakan Termohon dalam perkara pembatalan putusan arbitrase di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pemohon Banding dalam tingkat Banding perkara yang sama. Dalam hal ini diwakili kuasa hukum Ahmad Riyadh UB, S.H., M.Si. (selanjutnya akan disebut sebagai Pemohon)

Termohon: Yemen Airways, berkedudukan di Al Hasaba, Airport Road, Sanaa, Republik Yaman, memiliki kantor perwakilan di Gedung Wirausaha lantai 7, Jalan H.R. Rasuna Said Kavling C-5, Jakarta Selatan. Termohon dahulu merupakan Pemohon dalam perkara pembatalan putusan arbitrase di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Termohon Banding dalam tingkat Banding perkara yang sama. Dalam hal ini diwakili oleh kuasa hukum Chellia Bader Djohan, S.H. (selanjutnya akan disebut sebagai Termohon)

Pemohon dan Termohon dalam sengketa ini terikat dalam 2 (dua) perjanjian keagenan, yaitu:194 1. Appointment of General Sales Agent (GSA Passengers); dan GSA Passangers merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh para pihak pada tanggal 29 Oktober 2001. Perjanjian tersebut pada pokoknya menyatakan bahwa Termohon sebagai principal menunjuk Pemohon sebagai agen penjualan umum penumpang pesawat terbang milik perusahaan Termohon. 2. Appointment of General Sales Agent (GSA Cargo). GSA Passengers. GSA Cargo merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh para pihak pada tanggal 5 November 2002. Perjanjian tersebut pada pokoknya
Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya, Putusan Nomor: 15/ARB/BANI JATIM/III/2004, TENTANG DUDUK PERKARA, hal 2.
194

Universitas Indonesia

59

menyatakan bahwa Termohon sebagai principal menunjuk Pemohon sebagai agen penjualan umum muatan barang (cargo) pesawat terbang milik perusahaan Termohon.

Dalam kedua perjanjian tersebut terdapat dua macam sistem pemutusan atau pengakhiran atas perjanjian yang telah disepakati yaitu pemutusan karena cidera janji (default) dan pemutusan atas kesepakatan (mutual termination). Pemutusan karena cidera janji diatur dalam Pasal 18 GSA Passangers dan Pasal 17 GSA Cargo. Pasal-pasal tersebut memiliki isi yang sama bahwa,
Apabila agen melakukan cidera janji (default) tidak memenuhi atau tidak melaksanakan salah satu ketentuan yang diatur dalam perjanjian, maka dalam hal yang demikian, member pilihan bagi principal untuk memutuskan atau atau mengakhiri perjanjian (may at the option of the principal be termination ).195

Di sisi lain, pemutusan karena kesepakatan (mutual termination) diatur dalam Pasal 22 GSA Passangers dan Pasal 21 GSA Cargo. Termohon kemudian melakukan pemutusan karena cidera janji terhadap GSA Passengers dan GSA Cargo berdasarkan surat pemutusan perjanjian yang dikeluarkan oleh Termohon dengan Nomor: Cpml/MM/GSAA/10-03. Pemutusan perjanjian tersebut dilakukan oleh Termohon berdasarkan ketentuan Pasal 18 GSA Passangers dan Pasal 17 GSA Cargo. Alasan yang dikemukakan oleh Termohon dalam melakukan pemutusan karena cidera janji ialah Pemohon tidak mematuhi instruksi Termohon sebagai principal mengenai harga karcis dan tarif, karena memungut harga yang lebih besar dari yang telah ditetapkan. Di samping itu Termohon juga memberikan alasan bahwa Pemohon tidak mengirimkan dana kepada Termohon yang menjadi hak Termohon sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.196 Pemohon dalam hal ini mengajukan penyelesaian sengketa kepada BANI Perwakilan Surabaya yang kemudian memutus perkara tersebut dengan putusan

195

Ibid., hal 5 Ibid., hal 7

196

Universitas Indonesia

60

No. 15/ARB/BANI JATIM/2004. Majelis Arbitrase dari BANI Perwakilan Surabaya dalam menyelesaikan sengketa antara Permohon dan Termohon pada intinya mempertimbangkan antara lain:197 1. Permasalahan hukum terkait yurisdiksi atau kewenangan untuk memeriksa dan mengadili sengketa yang diajukan Pemohon kepada BANI Perwakilan Surabaya. Hal tersebut dilandasi oleh terdapatnya surat yang dikirimkan oleh Termohon pada tanggal 23 Juni 2004, 15 Juli 2004, maupun 26 Juli 2004. Surat tersebut pada intinya merupakan penolakan Termohon dalam mengakui pemeriksaan yang dilakukan oleh arbitrase atas sengketa dengan Pemohon dengan alasan tidak terdapat klausul maupun perjanjian arbitrase yang memilih arbitrase sebagai lembaga penyelesaian sengketa pada GSA Passengers dan GSA Cargo; 2. Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo merupakan klausul arbitrase. Majelis Arbitrase berpendapat dan menyimpulkan bahwa permohonan yang diajukan pemohon telah memenuhi Ketentuan Pasal 1 angka 1 dan Pasal 4 ayat (2) UU Arbitrase. Oleh karena itu, permohonan tersebut telah memenuhi syarat formal sehingga arbitrase sah dan berwenang dalam memeriksa dan memutus sengketa yang diajukan Pemohon dalam kasus ini; 3. Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo tidak mengatur mengenai BANI Perwakilan Surabaya sebagai lembaga arbitrase penyelesaian sengketa dengan BANI Rules & Procedures sebagai hukum prosedural. Majelis Arbitrase menilai bahwa tindakan Pemohon memilih institusi BANI Perwakilan Surabaya dengan BANI Rules & Procedures adalah sah dan dapat dibenarkan. Oleh karena itu BANI Perwakilan Surabaya sah dan berwenang dalam memeriksa dan mengadili sengketa bersangkutan; 4. Bertitik tolak pada permohonan yang diajukan pemohon, dasar hukum yang digunakan ialah Perbuatan Melawan Hukum sesuai dengan ketentuan

197

Ibid., TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM, hal 22-28.

Universitas Indonesia

61

Pasal 1365 KUHPerdata. Bentuk tindakan Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan termohon ialah pemutusan perjanjian dengan sengaja dan tanpa alasan yang sah; 5. Bertitik tolak dari fakta dan peristiwa hukum atas keingkaran Termohon membantah dan menghadiri pemeriksaan, Majelis Arbitrase berpendapat bahwa telah cukup dasar untuk diterapkan ketentuan Pasal 1924 KUHPerdata jo. Pasal 174 HIR terhadap sengketa ini. Termohon dianggap telah mengakui secara murni dalil permohonan pemohon meliputi pula tuntutan ganti rugi materiil dan immateriil yang merupakan konsekuensi logis dari konstruksi hukum pembuktian. Pemohon dianggap telah berhasil membuktikan dalil permohonannya. Dengan demikian cukup alasan bagi Majelis Arbitrase untuk mengabulkan permohonan Pemohon; dan 6. Termohon mengingkari ketentuan Pasal 44 ayat (2) UU Arbitrase dan Pasal 21 ayat (2) BANI Rules & Procedures. Permohonan yang diajukan Pemohon mempunyai dasar hukum, dan cukup alasan untuk dikabulkan seluruhnya maka telah terpenuhi syarat yang digariskan kedua pasal tersebut untuk: 1) serta-merta menjatuhkan putusan berdasar dokumen dan buktibukti yang ada sesuai dengan ketentuan Pasal 21 ayat (2) BANI Rules & Procedures; dan 2) sehubungan dengan itu, Majelis Arbitrase akan menjatuhkan putusan tanpa hadirnya Termohon, dan sekaligus mengabulkan seluruh tuntutan Pemohon sebagaimana telah diminta dalam petitum permohonan, sesuai dengan yang digariskan Pasal 44 ayat (2) UU Arbitrase. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Majelis Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya dalam Putusan No.15/ARB/BANI JATIM/III/2004 memutuskan antara lain:198 1. Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya;

198

Ibid., MENGADILI, hal 28-29.

Universitas Indonesia

62

2. Menyatakan Perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo adalah sah dan tetap mengikat kedua belah pihak; 3. Menyatakan tindakan Termohon melakukan pemutusan secara sepihak Perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo merupakan Perbuatan Melanggar Hukum; 4. Menghukum Termohon untuk membayar ganti rugi kepada Pemohon secara tunai selambat-lambatnya 30 hari dari tanggal Putusan Arbitrase ini diucapkan berupa ganti rugi materiil sebesar US$ 115.682 (seratus lima belas ribu enam ratus delapan puluh dua dollar Amerika Serikat) dan ganti rugi immateriil sebesar US$ 7.000.000 (tujuh juta dollar Amerika Serikat); 5. Menghukum Termohon untuk membayar denda sebesar US$ 15.000 (lima belas ribu dollar Amerika Serikat); dan 6. Menghukum Termohon untuk mengganti biaya perkara yang timbul karena perkara ini kepada Pemohon.

Termohon tidak mengakui dan menyetujui perihal putusan arbitrase tersebut karena BANI Perwakilan Surabaya tidak memiliki kewenangan yang disebabkan tidak adanya kesepakatan yang terjadi antara para pihak. Termohon mendalilkan bahwa tindakan Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian sengketa kepada BANI Perwakilan Surabaya merupakan tindakan yang berupa tipu muslihat. Oleh sebab itu Termohon mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase ke hadapan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam Putusan Nomor:

254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel antara Pemohon melawan Termohon pada intinya mempertimbangkan bahwa:199 1. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memiliki kewenangan dalam

memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tersebut. Hal tersebut didasari oleh Pasal 71 UU Arbitrase yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan
199

diajukan

kepada

Pengadilan

Negeri

dimana

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Putusan Nomor: 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel, TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM, hal. 12-14.

Universitas Indonesia

63

Termohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase bertempat kedudukan. Dalam hal ini domisili dari Kantor Perwakilan Yemen Airways adalah di Jakarta Selatan, sehingga Pengadilan yang berwenang untuk mengadili perkara tersebut ialah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan bukan Pengadilan Negeri Surabaya seperti halnya didalilkan oleh Pemohon; 2. Tindakan yang dilakukan Pemohon ialah upaya tipu muslihat sesuai dengan ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Penentuan forum penyelesaian sengketa melalui arbitrase harus didasari oleh kesepakatan para pihak. Dalam hal ini pengingkaran Termohon dengan membantah kewenangan BANI dalam penyelesaian sengketa ini mendasari putusan yang dikeluarkan BANI Perwakilan Surabaya menjadi dipertanyakan. Namun demikian sesuai dengan penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase maka alasan tersebut harus dibuktikan dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap; dan 3. Di dalam perjanjian Pasal 23 Appointment of General Sales Agent (Passengers) tanggal 29 Oktober 2001 dan Pasal 24 Appointment of General Sales Agent (Cargo) tanggal 5 November 2001 tidak dinyatakan secara tegas dalam perjanjian tersebut forum arbitrase mana yang dipilih oleh para pihak mengenai pilihan forum dan hukum prosedural apa yang kemudian akan digunakan. Dalam perjanjian tersebut hanya terdapat klausul yang berbunyi: Arbitration This Agreement shall in all respect be interpreted in accordance with the law of the Republic of Yemen. Berdasarkan klausul tersebut Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berpendapat bahwa klausul tersebut bukanlah klausul arbitrase melainkan Pilihan Hukum. Oleh sebab itu BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang untuk menyelesaikan sengketa antara Pemohon dan Termohon.

Universitas Indonesia

64

Berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

tersebut

Majelis

Hakim

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan sebagai berikut:200 1. Menolak Eksepsi Pemohon; 2. Mengabulkan Permohonan Termohon; 3. Membatalkan Putusan Arbitrase dari BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 tanggal 19 Agustus 2004; dan 4. Menghukum Pemohon untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 194.000 (seratus sembilan puluh empat ribu rupiah).

Didasari oleh ketidakpuasan Pemohon terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut, Pemohon mengajukan Banding kepada Mahkamah Agung. Pada tingkat Banding, Mahkamah Agung kemudian memutuskan pada Putusan Mahkamah Agung Nomor: 03/Arb.Btl/2005. Majelis Hakim Mahkamah Agung tingkat Banding perkara ini mempertimbangkan bahwa:201 1. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memiliki kewenangan dalam

memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tersebut. Hal tersebut didasari oleh Pasal 71 UU Arbitrase yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan diajukan kepada Pengadilan Negeri dimana

Termohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase bertempat kedudukan. Dalam hal ini domisili dari Kantor Perwakilan Yemen Airways adalah di Jakarta Selatan, sehingga Pengadilan yang berwenang untuk mengadili perkara tersebut ialah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan bukan Pengadilan Negeri Surabaya seperti halnya didalilkan oleh Pemohon; 2. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan Pemohon ialah upaya tipu muslihat. Namun demikian

200

Ibid., MENGADILI, hal. 14-15. Mahkamah Agung Republik Indonesia(b), Putusan Nomor: 03/Arb.Btl/200, hal. 19-

201

21.

Universitas Indonesia

65

pertimbangan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak dapat mendalilkan dengan jelas berdasarkan pembuktian yang seharusnya mengenai unsur-unsur dalam tindakan yang dianggap sebagai upaya tipu muslihat tersebut. Berdasarkan Pasal 70 UU Arbitrase dan Penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase, Majelis Hakim berpendapat bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase tidaklah bersifat limitatif. Dengan demikian, alasan pembatalan putusan arbitrase yang tepat untuk sengketa ini ialah tidak adanya kesepakatan para pihak dalam penentuan forum penyelesaian sengketa melalui arbitrase yang merupakan kewenagan absolut arbitrase dalam penyelesaian sengketa. Dalam hal ini tidak adanya kesepakatan tersebut mendasari putusan yang dikeluarkan BANI Perwakilan Surabaya menjadi dipertanyakan; dan 3. Di dalam perjanjian Pasal 23 Appointment of General Sales Agent (Passengers) tanggal 29 Oktober 2001 dan Pasal 24 Appointment of General Sales Agent (Cargo) tanggal 5 November 2001 tidak dinyatakan secara tegas dalam perjanjian tersebut forum arbitrase mana yang dipilih oleh para pihak mengenai pilihan forum dan hukum prosedural apa yang kemudian akan digunakan. Dalam perjanjian tersebut hanya terdapat klausul yang berbunyi:

Arbitration This Agreement shall in all respect be interpreted in accordance with the law of the Republic of Yemen. Berdasarkan klausul tersebut Majelis Hakim dalam tahap Banding berpendapat bahwa penyelesaian sengketa dari perjanjian-perjanjian tersebut harus diselesaikan berdasarkan Hukum Republik Yaman. Oleh sebab itu BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang untuk

menyelesaikan sengketa antara Pemohon dan Termohon.

Berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

tersebut

Majelis

Hakim

Mahkamah Agung dalam tingkat Banding ini memutuskan untuk menolak

Universitas Indonesia

66

permohonan Banding yang diajukan Pemohon dan memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel yang telah dibuat sebelumnya sehingga berbunyi:202 1. Menolak Eksepsi Pemohon; 2. Mengabulkan Permohonan Termohon; 3. Membatalkan Putusan Arbitrase dari BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 tanggal 19 Agustus 2004; 4. Menyatakan BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon dan Termohon yang didasarkan pada GSA Paseengers dan GSA Cargo; dan 5. Menghukum Pemohon untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat Banding ini ditetapkan sebesar Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah).

Kemudian Pemohon mengajukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali (PK) kepada Mahkamah Agung. Namun demikian, Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor: 273 PK/Pdt/2007 memutuskan untuk menolak permohonan PK dari Pemohon. Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Peninjauan Kembali mempertimbangkan bahwa:203 1. Majelis Hakim tidak menemukan kekeliriuan dan kekhilafan judex factie dalam memutus sengketa ini. Oleh karena itu alasan yang diajukan oleh Pemohon tidak dapat dipertimbangkan sebagai bukti baru; dan 4. Di dalam perjanjian Pasal 23 GSA Passenger tanggal 29 Oktober 2001 dan Pasal 24 GSA Cargo tanggal 5 November 2001 tidak dinyatakan secara tegas dalam perjanjian tersebut forum arbitrase mana yang dipilih oleh para pihak mengenai pilihan forum dan hukum prosedural apa yang kemudian akan digunakan. Dalam perjanjian tersebut hanya terdapat klausul yang berbunyi:

202

Ibid., MENGADILI, hal. 21-22. Mahkamah Agung Republik Indonesia(c), op.cit., hal. 11-12.

203

Universitas Indonesia

67

Arbitration This Agreement shall in all respect be interpreted in accordance with the law of the Republic of Yemen.

Berdasarkan klausul tersebut Majelis Hakim Peninjauan Kembali berpendapat bahwa penyelesaian sengketa dari perjanjian-perjanjian tersebut harus diselesaikan berdasarkan Hukum Republik Yaman.

Berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

tersebut

Majelis

Hakim

Peninjauan Kembali sengketa ini memutuskan untuk menolak permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan Pemohon dan menghukum Pemohon untuk membayar biaya perkara dalam Peninjauan kembali ini sebanyak Rp 2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah).204 Dengan demikian putusan atas sengketa ini telah berkekuatan hukum tetap.

4.1.2. Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Internasional Segi Hukum Perdata Internasional yang akan dianalisis dalam perkara Yemen Airways melawan PT Comarindo Tama Tour&Travel yaitu status personal badan hukum, pilihan forum, dan pilihan hukum.

4.1.2.1. Status Personal Para Pihak Perkara pembatalan putusan arbitrase ini merupakan perkara yang termasuk dalam ruang lingkup Hukum Perdata Internasional (HPI) karena di dalamnya terdapat suatu keadaan yang menimbulkan hubungan-hubungan HPI melalui adanya titik-titik pertalian primer. Titik pertalian primer merupakan titik taut pembeda yang menentukan bahwa suatu peristiwa merupakan peristiwa HPI. Fungsi dari titik pertalian primer adalah untuk menentukan ada atau tidaknya peristiwa HPI.205

204

Ibid., MENGADILI, hal.12. Sudargo Gautama(d), op.cit., hal. 25.

205

Universitas Indonesia

68

Titik pertalian primer dalam kasus ini dapat dilihat dari status personal badan hukum para pihak yang terlibat. Pemohon yaitu PT Comarindo Express Tama Tour&Travel, berkedudukan di Jalan Dinoyo Nomor 57, Surabaya merupakan suatu badan hukum Indonesia yang tunduk pada ketentuan hukum Indonesia.206 Di sisi lain, Termohon yaitu Yemen Airways, berkedudukan di Al Hasaba, Airport Road, Sanaa, Republik Yaman merupakan badan hukum Yaman yang tunduk kepada ketentuan hukum Yaman.207 Pemohon yaitu PT Comarindo Express Tama Tour&Travel memiliki badan hukum Perseroan Terbatas (PT). Pengaturan mengenai badan hukum PT di Indonesia terdapat dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) yang merupakan ketentuan hukum Indonesia. PT Comarindo Express Tama Tour&Travel, berkedudukan di Jalan Dinoyo Nomor 57, Surabaya, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 5 ayat (1) UU PT yang menyatakan bahwa perseroan mempunyai nama dan tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia yang ditentukan dalam anggaran dasar.208 Berdasarkan ketentuan tersebut maka dapat dilihat bahwa penentuan status personal badan hukum PT yang dimiliki oleh PT Comarindo Tama Tour&Travel ditentukan berdasarkan teori kedudukan statutair. Teori kedudukan statutair dalam penentuan status personal badan hukum menyatakan bahwa penentuan status personal suatu badan hukum ditentukan berdasarkan tempat kedudukan dari badan hukum tersebut.209 Oleh sebab itu dapat dikatakan pula bahwa PT Comarindo Express Tama Tour&Travel berdasarkan status personal yang ditentukan atas tempat kedudukannya tunduk pada ketentuan Hukum Indonesia. Penentuan status personal badan hukum berdasarkan ketentuan Hukum Yaman berdasarkan penelitian penulis tidak diketahui dengan jelas. Namun
206

Badan Arbitrase Nasional Indonesia, op.cit., TENTANG DUDUK PERKARA, hal. 2. Ibid.

207

Indonesia(e), Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas,UU No. 40 Tahun 2007, LN No. 106, TLN No. 4756 Pasal 5 ayat (1).
209

208

Sudargo Gautama(g), op.cit., hal. 217.

Universitas Indonesia

69

demikian, berdasarkan teori-teori penentuan status personal badan hukum dapat dilihat bahwa Yemen Airways memiliki kedudukan di Sanaa, Yaman. Di sisi lain Yemen Airways merupakan perusahaan negara milik Republik Yaman yang didirikan berdasarkan ketentuan Hukum Yaman.210 Oleh sebab itu, dapat diketahui bahwa status personal badan hukum Termohon yaitu Yemen Airways berdasarkan teori kedudukan statutair dan inkorporasi ialah tunduk pada ketentuan Hukum Yaman. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disaksikan terdapat pertemuan antara dua sistem hukum yang berbeda dalam perkara ini sehingga perkara ini merupakan suatu permasalahan HPI.

4.1.2.2. Pilihan Forum Pilihan Forum menurut HPI merupakan masalah penentuan lembaga apa yang dipilih dan diberi kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul. Klausul Pilihan Forum adalah salah satu klausul yang cukup penting, sama seperti halnya Pilihan Hukum.211 Sudargo Gautama berpendapat bahwa Pilihan Forum merupakan kebebasan yang diberikan para pihak dalam suatu kontrak untuk menentukan forum penyelesaian sengketa yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketa dalam sebuah perikatan.212 Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo memiliki judul Arbitration. Pemberian judul Arbitration pada Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo menandakan bahwa pasal-pasal tersebut merupakan klausul arbitrase dalam perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo. Berdasarkan klausul arbitrase maka dapat dilihat adanya kehendak para pihak untuk melakukan penyelesaian sengketa yang timbul berkaitan perjanjian-perjanjian tersebut melalui Forum Arbitrase. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3) UU Arbitrase.213 Di sisi lain, ketentuan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24

210

Yemen Airways Profile , http://yemenia.com/DisplaySectionDetail.aspx?ID=85. Huala Adolf(a), op.cit., hal. 163. Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 233

211

212

Universitas Indonesia

70

GSA Cargo tidak mengatur lebih lanjut mengenai bentuk arbitrase dan hukum prosedural apa yang akan digunakan. Setelah terjadinya sengketa antara Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel dengan Termohon yaitu Yemen Airways atas GSA Passengers dan GSA Cargo, Pemohon mengajukan penyelesaian sengketa kepada Badan

Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya. Majelis Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya kemudian memutus perkara tersebut dengan Putusan No. 15/ARB/BANI JATIM/2004.214 Pemeriksaan arbitrase berdasarkan perjanjian tersebut tidaklah sesuai apabila dilakukan di BANI Perwakilan Surabaya karena tidak disebutkan dalam perjanjian bahwa BANI Perwakilan Surabaya merupakan forum penyelesaian sengketa yang akan digunakan. Hal tersebut bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 angka 3 UU Arbitrase yang menyatakan bahwa perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa klausul arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian arbitarse tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.215 Oleh karena itu BANI Perwakilan Surabaya tidak memiliki kompetensi absolut dalam memeriksa perkara antara Pemohon dan Termohon. Dalam kaitannya dengan perkara antara Pemohon melawan Termohon, telah terdapat suatu klausul arbitrase pada perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo. Namun demikian dalam klausul arbitrase tersebut tidak disebutkan bahwa forum arbitrase mana yang disepakati oleh para pihak untuk menyelesaikan sengketa. Oleh sebab itu harus dibuat suatu perjanjian berdasarkan kesepakatan mengenai forum arbitrase mana yang akan menyelesaikan sengketa yang timbul tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa merupakan hal yang tidak tepat apabila Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian sengketa kepada
213

Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka (3), Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa kausual arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian arbitarse tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa. Isi putusan arbitrase BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 mengabulkan selurus permohonan pemohon arbitrase yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel.
215 214

Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka (3).

Universitas Indonesia

71

BANI Perwakilan Surabaya tanpa adanya kesepakatan dengan pihak Yemen Airways. Termohon dalam pemeriksaan arbitrase yaitu Yemen Airways menolak untuk menyelesaikan sengketa di BANI Perwakilan Surabaya. Hal tersebut dapat dilihat pada upaya Termohon mengirimkan surat penolakan berarbitrase di BANI Perwakilan Surabaya yang dikirimkan pada tanggal 23 Juni 2004, 15 Juli 2004, dan 26 Juli 2004. Oleh sebab itu, tidak tepat pula BANI Perwakilan Surabaya mengadili perkara ini dan kemudian memutus perkara dengan putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004.

4.1.2.3. Pilihan Hukum Titik pertalian sekunder adalah hal-hal atau keadaan-keadaan yang menentukan berlakunya suatu sistem hukum tertentu di dalam hubungan HPI. Titik pertalian sekunder ini menentukan hukum apa yang harus diberlakukan di dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan HPI.216 Titik pertalian

sekunder dari kasus tersebut dapat dilihat dari adanya Pilihan Hukum yang dilakukan oleh para pihak dalam perjanjian GSA Passengers tanggal 29 Oktober 2001 dan GSA Cargo tanggal 5 November 2001 yang didasari oleh asas kebebasan berkontrak. Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo menyatakan:

Arbitration This Agreement shall in all respect be interpreted in accordance with the law of the Republic of Yemen.

Isi dari ketentuan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo berbicara mengenai Pilihan Hukum terkait perjanjian tersebut ialah hukum dari Negara Republik Yaman. Pemilihan Hukum Republik Yaman pada perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo hakikatnya merupakan pilihan yang tepat. Perjanjian-perjanjian

216

Sudargo Gautama (d), op.cit., hal.25.

Universitas Indonesia

72

tersebut pada intinya ialah perjanjian keagenan dimana Termohon yaitu Yemen Airways sebagai principal dan Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel sebagai agent. Dalam perjanjian keagenan dapat dilihat bahwa peranan principal lebih karakteristik atau menonjol dibandingkan dengan agen dimana principal bertanggung jawab atas tindakan agen yang melaksanakan pekerjaan bagi pihak lain yaitu pemberi perintah atau principal.217 Dalam hal perjanjian keagenan dilakukan oleh pihak yang berbeda negara, maka hukum dari principal merupakan hukum yang paling sesuai untuk digunakan dalam perjanjian keagenan tersebut.218 Majelis Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya baik dalam pemeriksaan perkara sampai dengan dikeluarkannya putusan arbitrase tidak menggunakan ketentuan Hukum Republik Yaman. Majelis Arbitrase perkara tersebut mendalilkan pertimbangan hukum untuk memutus perkara menggunakan ketentuan-ketentuan Hukum Indonesia. Hal tersebut bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh para pihak untuk menggunakan ketentuan Hukum Republik Yaman dalam perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pula berpendapat bahwa pada dasarnya Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo merupakan Pilihan Hukum yang disepakati oleh para pihak untuk mengatur materi dari perjanjian. Dengan demikian Majelis Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya telah salah dalam menerapkan hukum dengan mengabaikan ketentuan Hukum Republik Yaman dalam menyelesaikan sengketa. Hal tersebut dibenarkan pula oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung baik dalam tingkat Banding maupun Peninjauan Kembali kasus ini.

H.M.N. Purwosutjipto, S.H. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Buku 3 Hukum Pengangkutan, (Jakarta: Djambatan, 1995), hal.35.
218

217

Ibid.

Universitas Indonesia

73

4.1.3. Analisis Putusan Hakim 4.1.3.1. Putusan Arbitrase Nasional atau Putusan Arbitrase Internasional UU Arbitrase memberikan definisi Putusan arbitrase internasional pada Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase sebagai putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional.219 Namun demikian, sampai dengan saat ini tidak jelas ketentuan hukum Republik Indonesia yang mengatur mengenai putusan yang dianggap sebagai putusan arbitrase internasional. Di sisi lain Pasal 1 ayat (3) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengatakan bahwa arbitrase internasional yaitu arbitrase yang:220 d. para pihak dalam suatu perjanjian arbitrase, pada saat menutup perjanjian memiliki tempat usaha dalam negara yang berbeda; atau e. salah satu dari tempat di bawah ini berada di luar negara para pihak memiliki tempat usaha mereka: 1. Tempat arbitrase telah ditentukan di dalam atau

berdasarkan perjanjian arbitrase ini; 2. Setiap tempat di mana suatu bagian penting dari kewajiban menurut pilihan bisnis ini akan dilakukan atau tempat dengan mana pokok permasalahan ini yang disengketakan memiliki hubungan yang paling dekat; atau f. para pihak secara tegas menyetujui bahwa pokok masalah dari perjanjian arbitrase ini berhubungan dengan lebih dari satu negara.

Berkaitan dengan perkara antara Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel dengan Termohon yaitu Yemen Airways, para pihak dalam

219

Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka 9

United Nations, UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration with Amendments, 2006, Art. 1 par. (3).

220

Universitas Indonesia

74

perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo, pada saat menutup perjanjian memiliki tempat usaha dalam negara yang berbeda. Dengan demikian timbul sebuah pertanyaan besar apakah Putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 merupakan putusan arbitrase internasional atau putusan arbitrase nasional. Sudargo Gautama berpendapat bahwa perumusan arbitrase internasional yang ada dalam Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase berbeda dengan arbitrase internasional seperti yang didefinisikan Pasal 1 ayat (3) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration. Pada hakikatnya terdapat kecondongan pembuat undang-undang mengenai ukuran internasional dalam Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase lebih kepada definisi suatu putusan arbitrase yang telah dijatuhkan di luar wilayah hukum Indonesia.221 Sehingga dapat disimpulkan bahwa Putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 merupakan putusan arbitrase nasional. Namun demikian, dari kasus ini dapat kita lihat adanya sebuah urgensi untuk diadopsinya UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration dalam UU Arbitrase Indonesia melihat perkembangan yang terjadi pada hukum arbitrase itu sendiri. Kepentingan itu berkenaan dengan tujuan untuk mempermudah para pihak khususnya pihak asing berkaitan dengan hukum arbitrase di Indonesia. Seperti halnya Sudargo Gautama menyayangkan bahwa pengaturan mengenai arbitrase internasional dalam UU Arbitrase hanya meliputi beberapa pasal yang hanya mengatur pelaksanaan putusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dan tidak mengatur secara substantif bagaimana harus diacarakan arbitrase internasional tersebut.222

4.1.3.2. Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase Dalam kaitannya dengan putusan perkara pembatalan putusan arbitrase antara Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Termohon yaitu Yemen Airways dapat dilihat bahwa Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri

221

Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 40. Ibid.. hal. 11-12.

222

Universitas Indonesia

75

Jakarta Selatan yang mengadili perkara pembatalan putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 15 /ARB/BANI JATIM/2004 telah menafsirkan perjanjian dengan baik dengan memutus bahwa BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang untuk memutus perkara antara Pemohon melawan Termohon. Dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor: 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel yang diputus tanggal 6 Januari 2005, Majelis Hakim mendalilkan dalam pertimbangan hukum bahwa alasan dibatalkannya Putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 didasarkan pada alasan terdapatnya tipu muslihat yang dilakukan oleh Pemohon berdasarkan ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Hal tersebut pada hakikatnya tidak tepat. Berdasarkan penjelasan dari ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase, permohonan pembatalan hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang sudah didaftarkan di pengadilan. Alasan-alasan permohonan pembatalan yang ditentukan dalam pasal 70 UU Arbitrase harus dibuktikan dengan putusan pengadilan.223 Setelah pengadilan menyatakan bahwa alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti, putusan pengadilan tersebut dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak permohonan.224 Namun demikian dalam kasus ini tidak terdapat putusan pengadilan yang menyatakan benar adanya telah terdapat tipu muslihat yang telah dilakukan oleh Pemohon. Mahkamah Agung kemudian dalam tingkat Banding memutus untuk memperbaiki Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor: 03/Arb.Btl/2005, Majelis Hakim pada tingkat Banding berpendapat bahwa penggunaan alasan tipu muslihat berdasarkan Pasal 70 UU Arbitrase tidaklah tepat. Namun demikian, Majelis Hakim juga berpendapat bahwa tidak adanya perjanjian arbitrase yang menunjuk BANI Perwakilan Surabaya sebagai lembaga penyelesaian sengketa antara PT Comarindo Tama Tour&Travel menyebabkan BANI Perwakilan Surabaya tidak memiliki

kewenangan untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut. Alasan ketiadaan

223

Indonesia(a), op.cit., Penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase. Andris Wahyu Sinedyo, op.cit., diakses 5 April 2011.

224

Universitas Indonesia

76

kompetensi absolut arbitrase seperti halnya yang digunakan oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Banding perkara ini bukanlah alasan pembatalan arbitrase yang terdapat dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Hal tersebut disebabkan oleh Majelis Hakim berpendapat bahwa ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase tidaklah bersifat limitatif. Alasan pembatalan putusan arbitrase berisfat tidak limitatif berarti alasanalasan permohonan pembatalan putusan arbitrase seperti halnya yang diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bukan merupakan satu-satunya alasan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase. Pendapat tersebut didukung argumentasi bahwa alasan yang tidak diatur dalam UU Arbitrase bukan berarti tidak dapat dipergunakan. Namun demikian, terdapat pula yurisprudensi yang menyatakan bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase pada ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bersifat limitatif. Salah satu contohnya ialah Putusan Mahkamah Agung Nomor 320K/PDT/2007 Tahun 2007 antara Perum Peruri melawan PT Pura Barutama. Dasar yang diajukan sebagai alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase dalam kasus tersebut tidak sesuai dengan alasan dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase yaitu mengenai kompetensi absolut arbitrase sebagai lembaga penyelesaian sengketa. Pengadilan Negeri Kudus dalam Putusannya membatalkan putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dengan menggunakan alasan tersebut yang merupakan alasan di luar dari ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Namun demikian di tingkat banding Mahkamah Agung membatalkan putusan Pengadilan Negeri Kudus tersebut. Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang dapat diajukan hanya alasan yang terdapat dalam Pasal UU Arbitrase. Oleh sebab itu dapat dilihat dalam kasus tersebut bahwa alasan-alasan yang diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase ialah bersifat limitatif. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dilihat bahwa terdapat banyak perdebatan dalam interpretasi terhadap alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat dalam UU Arbitrase. Lembaga peradilan pun dalam menginterpretasikan Pasal 70 UU Arbitrase masih tergolong tidak konsisten. Oleh sebab itu menjadi sebuah urgensi untuk dilakukannya sebuah perbaikan terhadap ketentuan

Universitas Indonesia

77

mengenai alasan pembatalan arbitrase sehingga dapat terciptanya suatu kepastian hukum mengenai pembatalan putusan arbitrase di Indonesia.

4.1.3.3. Prosedur Pembatalan Putusan Arbitrase Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel dalam Eksepsinya berpendapat bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak memiliki kewenangan relatif dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara pembatalan putusan arbitrase antara PT Comarindo Tama Tour&Travel dengan Yemen Airways. Hal tersebut didasari oleh Pasal 118 kepada HIR yang menyatakan Negeri bahwa dimana

gugatan/permohonan

diajukan

Pengadilan

tergugat/termohon bertempat kedudukan. Dalam hal ini domisili dari PT Comarindo Tama Tour&Travel (dahulu merupakan Termohon pada perkara pembatalan putusan Arbitrase di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan) adalah di Surabaya, sehingga Pengadilan yang berwenang untuk mengadili perkara tersebut ialah Pengadilan Negeri Surabaya dan bukan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berdasarkan asas actor sequituur forum rei yang terdapat dalam ketentuan Pasal 118 HIR. Pendapat tersebut pada dasarnya ialah tidak tepat. Pengadilan Negeri yang berwenang untuk mengadili perkara pembatalan putusan arbitrase tersebut ialah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan bukan Pengadilan Negeri Surabaya seperti halnya didalilkan oleh Pemohon. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memiliki kewenangan dalam memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tersebut. Ketentuan Pasal 71 UU Arbitrase menyebutkan mengenai kompetensi relatif dari Pengadilan yang harus menangani masalah pembatalan putusan arbitrase nasional. Dalam hal pengajuan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang dibuat oleh forum arbitrase nasional, permohonan tersebut ditujukan pada Pengadilan Negeri.225 Pasal 1 angka 4 UU Arbitrase menyatakan bahwa Pengadilan Negeri yang dimaksud dalam UU Arbitrase ialah Pengadilan Negeri yang daerah

225

Indonesia(a), op.cit., Pasal 71.

Universitas Indonesia

78

hukumnya meliputi tempat tinggal Termohon.226 Termohon berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 6 UU Arbitrase ialah pihak lawan dari Pemohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase.227 Dengan demikian, permohonan pembatalan putusan arbitrase diajukan kepada Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal Termohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Dalam hal ini domisili dari Kantor Perwakilan Termohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase yaitu Yemen Airways adalah di Jakarta Selatan, sehingga Pengadilan yang berwenang untuk mengadili perkara tersebut ialah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan bukan Pengadilan Negeri Surabaya seperti halnya didalilkan oleh Pemohon. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam Putusan Nomor: 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel telah mempertimbangkan bahwa tindakan yang dilakukan PT Comarindo Tama Tour&Travel ialah upaya tipu muslihat sesuai dengan ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Berdasarkan penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase maka alasan tersebut harus dibuktikan dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.228 Dalam kasus ini tidak terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap terkait upaya tipu muslihat yang dilakukan oleh PT Comarindo Tama Tour&Travel. Penentuan forum penyelesaian sengketa melalui arbitrase harus didasari oleh kesepakatan para pihak. Di samping itu pula GSA Passangers dan GSA Cargo telah menentukan Pilihan Hukum yaitu ketentuan Hukum Republik Yaman. BANI Perwakilan Surabaya telah jelas mengabaikan ketentuan Hukum Republik Yaman dengan menggunakan dalil-dalil ketentuan Hukum Indonesia. Yemen Airways kemudian melakukan pengingkaran dengan membantah kewenangan BANI dalam penyelesaian sengketa ini mendasari putusan yang dikeluarkan BANI Perwakilan Surabaya menjadi dipertanyakan. Dengan demikian Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah salah dalam menerapkan alasan tipu muslihat dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase

226

Ibid., Pasal 1 angka 4. Ibid., Pasal 1 angka 6. Ibid., Penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase.

227

228

Universitas Indonesia

79

untuk membatalkan putusan arbitrase terkait. Namun demikian ketiadaan kompetensi absolut BANI Perwakilan Surabaya dalam menyelesaikan perkara ini dan tindakan pengabaian BANI Perwakilan Surabaya terhadap Pilihan Hukum yang telah disepakati para pihak menyebabkan putusan arbitrase tersebut harus dibatalkan. Oleh sebab itu Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah tepat dalam memutus dengan membatalkan Putusan Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya Nomor: 15/ARB/BANI JATIM/III/2004. Majelis Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Banding perkara ini telah mempertimbangkan bahwa penggunaan alasan tipu muslihat berdasarkan Pasal 70 UU Arbitrase sebagai alasan pembatalan putusan arbitrase oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidaklah tepat. Majelis Hakim Mahkamah Agung berpendapat bahwa sesuai penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase maka alasan tipu muslihat tersebut harus dibuktikan dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Namun demikian Majelis Hakim Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bersifat tidak limitatif. Dengan demikian ketiadaan kompetensi absolut BANI Perwakilan Surabaya dalam menyelesaikan perkara ini dan tindakan pengabaian BANI Perwakilan Surabaya terhadap Pilihan Hukum yang telah disepakati para pihak dapat menjadi alasan-alasan mengapa putusan arbitrase tersebut harus dibatalkan. Oleh sebab itu Majelis Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Banding perkara ini telah tepat dalam memutus untuk mengoreksi Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor: 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel sehingga putusan tersebut membatalkan Putusan Arbitrase dari BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 tanggal 19 Agustus 2004 dan menyatakan BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon dan Termohon yang didasarkan pada GSA Paseengers dan GSA Cargo. Setelah Mahkamah Agung pada tingkat Banding mengeluarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 03/Arb.Btl/2005, Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel merasa kurang puas dan mengajukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali. Majelis Hakim Peninjauan Kembali perkara ini kemudian

Universitas Indonesia

80

mempertimbangkan bahwa tidak ditemukan kekeliriuan dan kekhilafan dalam memutus sengketa ini. Oleh karena itu alasan yang diajukan oleh Pemohon tidak dapat dipertimbangkan sebagai bukti baru. Pengajuan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali oleh Pemohon tersebut pada dasarnya tidaklah tepat. Ketentuan Pasal 72 ayat (4) UU Arbitrase telah jelas mengatur bahwa putusan banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase adalah putusan tingkat pertama dan terakhir.229 Dengan demikian terhadap putusan banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase tidak dapat diajukan upaya hukum lain. Upaya hukum banding yang diatur pada pasal 72 ayat (4) itu sendiri pada dasarnya sudah bertentangan dengan asas final dan mengikat yang ada dalam putusan arbitrase. Asas final dan mengikat tersebut terdapat pada Pasal 60 UU Arbitrase yang menyatakan bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak.230 Oleh sebab itu Majelis Hakim Peninjauan Kembali telah tepat dalam memutus dalam Putusan Nomor: 273PK/PDT/2007 dengan menolak permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Pemohon.

4.2.

Perkara Pembatalan Putusan Arbitrase ICC Antara PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP Melawan PT Pertamina Persero (Putusan Mahkamah Agung RI No. 56 PK/Pdt.Sus/2011)

4.2.1. Kasus Posisi Perkara yang diputus oleh Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung RI No. 56 PK/Pdt.Sus/2011 antara PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum mengenai Pembatalan Putusan

229

Ibid., Pasal 72 ayat (4). Ibid., Pasal 60.

230

Universitas Indonesia

81

Arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) ini melibatkan 3 (tiga) pihak. Pihak-pihak yang dimaksud adalah:231 Pemohon I: PT Pertamina EP, berkedudukan di Jakarta, berkantor pusat di Menara Standard Chartered Lt. 27 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta Selatan, didirikan berdasarkan Hukum Indonesia. Pemohon I dahulu merupakan Pemohon Banding I dan Pemohon II dalam perkara pembatalan putusan arbitrase internasional ini. Dalam hal ini diwakili oleh kuasa hukum M. Hakim Nasution, S.H., dan kawan-kawan.

Pemohon II: PT Pertamina (Persero), berkedudukan di Indonesia, beralamat di Jl. Merdeka Timur 1A, Jakarta, didirikan berdasarkan Hukum Indonesia. Pemohon II dahulu merupakan Pemohon Banding II dan Pemohon I dalam perkara pembatalan putusan arbitrase internasional ini. Dalam hal ini akan diwakili oleh kuasa hukum M. Yahya Harahap, S.H., dan kawan-kawan. (Pemohon I dan Pemohon II selanjutnya akan disebut sebagai Para Pemohon)

Termohon: PT Lirik Petroleum, berkedudukan di Indonesia, Gedung Satmarindo, Jl. Ampera No. 5, Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Termohon dahulu merupakan Termohon dalam perkara pembatalan putusan arbitrase internasional di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Termohon Banding dalam tingkat Banding perkara yang sama. Dalam hal ini diwakili oleh kuasa hukum Dr. Anita Kolopaking, S.H., M.H., dan kawan-kawan (selanjutnya akan disebut sebagai Termohon)

231

Mahkamah Agung Republik Indonesia(e), Putusan Nomor: 56/PK/PDT.SUS/2011, hal.

84-85.

Universitas Indonesia

82

Pada tahun 1995, Termohon mengajukan Plan of Development (POD) kepada Pemohon II. Berdasarkan Enhanced Oil Recovery Contract (EOR Contract), Para Pemohon berjanji memberikan status komersialitas pada lapangan Molek, South Pulai, North Pulai dan Lirik. Selain itu, EOR Contract juga mewajibkan Para Pemohon untuk menyediakan jalur pipa untuk memudahkan Termohon dalam transportasi minyak bumi dari Lirik ke Terminal Buatan. Namun demikian, Pemohon II menolak memenuhi kewajibannya pada kontrak tersebut dan hanya memberikan komersialitas untuk daerah Lirik karena Para Pemohon menilai hanya Lirik yang komersial. Pemohon II adalah Badan Usaha Milik Negara di bidang migas dan berhak atas pengaturan atas hal tersebut. Dikarenakan Pemerintah yang akan membayarkan cost recovery terhadap Termohon, Para Pemohon merasa perlu mengatur masalah komersialitas ini. Para

Pemohon beranggapan tidak harus mengabulkan dan menyetujui permintaan status komersialitas. Hal tersebut disebabkan pernyataan komersialitas atau tidaknya suatu lapangan baru adalah fungsi pengelolaan dan fungsi pengawasan yang dilimpahkan kepada Pemohon II selaku kuasa pertambangan.232 Kerugian lain yang dialami Termohon juga berkenaan dengan tidak terpenuhinya hak Termohon untuk mendapatkan Incremental Oil dari lapangan tersebut sejak 12 September 1995 hingga 27 Maret 2008. Oleh karena wanprestasi yang telah dilakukan Para Pemohon, Termohon merasa dirugikan. Termohon mengajukan penyelesaian sengketa kepada arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) di Perancis. Hal tersebut sesuai dengan klausul arbitrase yang terdapat pada EOR Contract. Majelis Arbitrase ICC kemudian memutuskan dengan Partial Award (putusan awal) pada tanggal 22 September 2008 bahwa Para Pemohon dinilai telah melanggar janjinya dalam kontrak dan telah melakukan wanprestasi. Selain itu, dalil Para Pemohon mengenai pemampatan total sistem jalur pipa dari lirik menggunakan dalil force majeure ditolak oleh Majelis Arbitrase. Oleh sebab itu

MON. Pertamina Ajukan Pembatalan Putusan Arbitrase ICC. May 26, 2009. <http://hukumonline.com/berita/baca/hol22092/pertamina-ajukan-pembatalan-putusan-arbitraseicc> diakses pada tanggal 4 Mei 2012 pukul 20:45.

232

Universitas Indonesia

83

Pertamina dinilai ingkar dari kontrak dan wajib membayar biaya produksi yang telah dikeluarkan oleh PT Lirik.233 Final Award (putusan akhir) kemudian dijatuhkan oleh Majelis Arbitrase pada tanggal 27 Februari 2009. Majelis arbitrase menghukum Para Pemohon untuk mengganti kerugian sebesar US$ 34.172.178 (tiga puluh empat juta seratus tujuh puluh dua ribu seratus tujuh puluh delapan dollar Amerika Serikat) dan biaya perkara sebesar US$ 323.250 (tiga ratus dua puluh tiga ribu dua ratus lima puluh dollar Amerika Serikat). Total ganti kerugian yang wajib dibayarkan oleh Para Pemohon adalah US$ 34.495.428 (tiga puluh empat juta empat ratus sembilan puluh lima ribu empat ratus dua puluh delapan dollar Amerika Serikat). Para Termohon juga dihukum membayar bunga 6 persen setiap tahun dari jumlah ganti rugi sejak Final Award dijatuhkan hingga putusan dieksekusi.234 Melalui kuasa hukumnya, Majelis Arbitrase kemudian mendaftarkan Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 21 April 2009 akta pendaftaran Putusan Arbitrase No. 02/PDT/ARBINT/2009/PN.JKT.PST. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pun menerbitkan penetapan eksekuatur No. 4571 pada tanggal 23 April 2009.235 Namun demikian Para Pemohon merasa dirugikan oleh putusan tersebut. Dengan demikian pada tanggal 11 Mei 2009, Para Pemohon mengajukan permohonan pembatalan atas putusan arbitrase tersebut kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 01/PEMBATALAN ARBITRASE /2009/

PN.JKT.PST tanggal 31 Agustus 2009. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam Putusan tersebut pada intinya mempertimbangkan bahwa:236

233

Mahkamah Agung Republik Indonesia(e), op.cit., hal 3-4. Mahkamah Agung Republik Indonesia(e), op.cit., hal 4-5..

234

Sengketa Lirik Petroleum: Pertamina Gagal Lawan Eksekusi Putusan ICC. 15 April 2010. <http://www.politikindonesia.com/index.php?k=politik&i=6557> diakses pada tanggal 4 Mei 2012 pukul 14:45.
236

235

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM, hal.

67-80.

Universitas Indonesia

84

1. Perjanjian EOR Contract telah dibuat sesuai dengan Pasal 1320 KUH Perdata, tidak terbukti adanya fakta yang yang dapat membatalkan perjanjian tersebut dan alasan ketertiban umum sebagaimana yang diajukan oleh Para Pemohon secara hukum. Permohonan Para Pemohon tidak memenuhi ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase, atau melanggar perundang-undangan, atau melanggar ketertiban umum. Oleh sebab itu permohonan pembatalan tersebut wajib dinyatakan ditolak; 2. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase, pendapat para ahli, dan fakta-fakta dan kronologis tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat bahwa Putusan ICC No. 14387/JB/JEM adalah putusan arbitrase Internasional. Dengan demikian, ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU Arbitrase mengenai tenggang waktu pendaftaran putusan arbitrase Internasional tidak berlaku terhadap putusan arbitrase bersangkutan; dan 3. Disebabkan oleh putusan arbitrase bersangkutan tidak memenuhi syarat batal dan tidak melanggar ketertiban umum, maka putusan arbitrase tersebut dapat didaftarkan tanpa batas waktu, sah, mempunyai kekuatan eksekutorial, dan dapat dilaksanakan eksekusi.

Berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

tersebut
237

Majelis

Hakim

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan antara lain:

1. Menolak permohonan Provisi Para Pemohon untuk seluruhnya 2. Menolak eksepsi Termohon untuk seluruhnya; 3. Menolak permohonan Para Pemohon untuk seluruhnya; dan 4. Menghukum Para Pemohon untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang hingga kini dihitung sebesar Rp 221.000 (Dua ratus dua puluh satu ribu rupiah).

Didasari oleh ketidakpuasan Para Pemohon terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut, Para Pemohon mengajukan Banding kepada

237

Ibid., MENGADILI, hal. 80-81.

Universitas Indonesia

85

Mahkamah Agung. Pada tingkat Banding, Mahkamah Agung kemudian memutuskan pada Putusan Mahkamah Agung Nomor: 904K/PDT.SUS/2009. Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Banding Nomor:

904K/PDT.SUS/2009 antara Para Pemohon melawan Termohon pada intinya mempertimbangkan bahwa:238 1. Para Pemohon telah sepakat terikat dengan Termohon dalam EOR Contract secara volunteer. Dengan demikian, Para Pemohon harus memenuhi kewajiban yang ada dalam perjanjian termasuk untuk mengikuti proses beracara di ICC dan melanjalankan putusan arbitrase yang telah dibuat; 2. Permohonan Para Pemohon tidak memenuhi ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase, atau melanggar perundang-undangan, atau melanggar ketertiban umum. Oleh sebab itu Para Pemohon wajib bertanggung jawab atas wanprestasi dengan Termohon; 3. Ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU Arbitrase mengenai tenggang waktu pendaftaran putusan arbitrase Internasional tidak berlaku terhadap putusan arbitrase bersangkutan, maka putusan arbitrase tersebut dapat didaftarkan tanpa batas waktu, sah, mempunyai kekuatan eksekutorial, dan dapat dilaksanakan eksekusi.

Berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

tersebut

Majelis

Hakim

Mahkamah Agung dalam tingkat Banding ini memutuskan untuk menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 01/PEMBATALAN

ARBITRASE/2009 /PN.JKT.PST yang telah dibuat sebelumnya. Di samping itu, Majelis Hakim Mahkamah Agung juga menghukum Para Pemohon untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah).239

238

Mahkamah Agung Republik Indonesia(d), Putusan Nomor: 904K/PDT.SUS/2009, hal.

95-96.
239

Ibid., hal. 99.

Universitas Indonesia

86

Kemudian Para Pemohon mengajukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung. Namun demikian, Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor: 56/PK/PDT.SUS/2011 pada hakikatnya

mempertimbangkan bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 72 ayat (4) UU Arbitrase Putusan Banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase adalah putusan tingkat pertama dan terakhir. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa UU Arbitrase tidak mengenal upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali untuk perkara pembatalan putusan arbitrase.240 Berdasarkan pertimbangan tersebut Majelis Hakim memutuskan untuk menolak permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Para Pemohon. Di sisi lain, Majelis Hakim juga memutuskan untuk menghukum Para Pemohon untuk membayar biaya perkara secara tanggung renteng sebanyak Rp 2.500.000 (dua juta lima ratus ribu rupiah).241 Dengan demikian putusan atas sengketa ini telah berkekuatan hukum tetap.242

4.2.2. Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Internasional Segi Hukum Perdata Internasional yang akan dianalisis dalam perkara Yemen Airways melawan PT Comarindo Tama Tour&Travel yaitu status personal badan hukum, pilihan forum, dan pilihan hukum.

4.2.2.1. Status Personal Para Pihak Para Pemohon terdiri dari Pemohon I yaitu PT Pertamina EP dan Pemohon II yaitu PT Pertamina (Persero). Pemohon I yaitu PT Pertamina EP, berkedudukan

240

Mahkamah Agung Republik Indonesia(e), Putusan Nomor: 56/PK/PDT.SUS/2011,

hal. 84-85.
241

Ibid.

Majelis Arbitrase juga telah mendaftarkan putusan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 21 April 2009. Akta pendaftaran putusan arbitrase itu tercatat dalam akta No. 02/PDT/ARBINT/2009/PN.JKT.PST. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat lalu telah menerbitkan penetapan eksekuatur No. 4571 pada 23 April 2009. Dengan demikian Pertamina memiliki kewajiban untuk melaksanakan Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM.

242

Universitas Indonesia

87

di Jakarta, berkantor pusat di Menara Standard Chartered Lt. 27 Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164 Jakarta Selatan, didirikan berdasarkan Hukum Indonesia. Pemohon II yaitu PT Pertamina (Persero), berkedudukan di Indonesia, beralamat di Jl. Merdeka Timur 1A, Jakarta, didirikan berdasarkan Hukum Indonesia. Di sisi lain, Termohon yaitu PT Lirik Petroleum, berkedudukan di Indonesia, Gedung Satmarindo, Jl. Ampera No. 5, Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Baik Para Pemohon dan Termohon memiliki badan hukum Perseroan Terbatas (PT). Pengaturan mengenai badan hukum PT di Indonesia terdapat dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) yang merupakan ketentuan hukum Indonesia. Para Pemohon dan Termohon memiliki tempat kedudukan di Indonesia, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 5 ayat (1) UU PT yang menyatakan bahwa perseroan mempunyai nama dan tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia yang ditentukan dalam anggaran dasar.243 Berdasarkan ketentuan tersebut maka dapat dilihat bahwa penentuan status personal badan hukum PT yang dimiliki oleh Para Pemohon dan Termohon ditentukan berdasarkan teori kedudukan statutair. Teori kedudukan statutair dalam penentuan status personal badan hukum menyatakan bahwa penentuan status personal suatu badan hukum ditentukan berdasarkan tempat kedudukan dari badan hukum tersebut.244 Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa baik Para Pemohon maupun Termohon berdasarkan status personal yang ditentukan atas tempat kedudukannya tunduk pada ketentuan Hukum Indonesia.

4.2.2.2. Pilihan Forum Perkara HPI tersebut. HPI


245

muncul karena adanya suatu unsur asing pada perkara hukum perdata untuk hubungan yang bersifat

adalah

internasional.

Hubungan-hubungan hukum keperdataan. yang terdapat unsur-

unsur asingnya, membuat hubungan-hubungan perdata tersebut kemudian menjadi

243

Indonesia(e), op.cit., Pasal 5 ayat (1). Sudargo Gautama(g), op.cit., hal. 217. Sudargo Gautama(d), op.cit., hal 3-4.

244

245

Universitas Indonesia

88

internasional. Dengan demikian, bukan hukumnya yang internasional, melainkan peristiwa, materi, dan fakta-faktanya yang internasional, sedangkan sumber hukumnya tetap nasional. Hubungan internasional ini adalah hubungan hukum yang terjadi melewati lintas batas negara, bukan hukum antar negara-negara.246 Unsur asing dalam perkara antara Para Pemohon yaitu PT Pertamina EP dan PT Pertamina (Persero) melawan Termohon yaitu PT Lirik Petroleum ialah terdapatnya Pilihan Forum yang telah disepakati oleh para pihak dalam EOR Contract. Pilihan Forum menurut HPI merupakan masalah penentuan lembaga apa yang dipilih dan diberi kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul. Klausul Pilihan Forum adalah salah satu klausul yang cukup penting, sama seperti halnya Pilihan Hukum.247 Sudargo Gautama berpendapat bahwa Pilihan Forum merupakan kebebasan yang diberikan para pihak dalam suatu kontrak untuk menentukan forum yang akan digunakan untuk menyelesaikan suatu sengketa dalam sebuah perikatan.248 Pilihan Forum dalam EOR Contract antara Para Pemohon dengan Termohon dapat disaksikan dalam klausul arbitrase yang terdapat pada Pasal XI 1.1.1 EOR Contract.249 Lebih lanjut, Pasal XI 1.1.4 EOR Contract berbunyi, Except as provided in this section, arbitration shall be concluded in Jakarta, in accordance with The Rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce.250 Berdasarkan Pasal XI EOR Contract tersebut maka dapat dilihat adanya suatu kehendak para pihak untuk melakukan penyelesaian sengketa yang timbul berkaitan perjanjian-perjanjian tersebut melalui forum arbitrase asing. Forum arbitrase yang dipilih oleh para pihak ialah International Chamber of

246

Ibid. Huala Adolf(a), op.cit., cet. II, (Bandung: Rafika Aditama, 2008), hal. 163. Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 233 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG DUDUKNYA PERKARA, hal.

247

248

249

35.
250

Ibid.

Universitas Indonesia

89

Commerce (ICC)251 dengan hukum prosedural ICC Rules. Hal tersebut telah sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3) UU Arbitrase.252

4.2.2.3. Pilihan Hukum Titik pertalian sekunder adalah hal-hal atau keadaan-keadaan yang menentukan berlakunya suatu sistem hukum tertentu di dalam hubungan HPI. Titik pertalian sekunder ini menentukan hukum apa yang harus diberlakukan di dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan HPI.253 Titik pertalian

sekunder dari kasus tersebut dapat dilihat dari adanya Pilihan Hukum yang dilakukan oleh para pihak dalam EOR Contract. Berdasarkan Pasal XVII.2.1, para pihak sepakat untuk menggunakan Hukum Indonesia sebagai Pilihan Hukum untuk menafsirkan kontrak.254 Di sisi lain, berdasarkan Pasal XI 1.1.4 EOR Contract yang berbunyi, Except as provided in this section, arbitration shall be concluded in Jakarta, in accordance with The Rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce dapat dilihat pula bahwa para pihak juga telah melakukan hukum prosedural yaitu ICC Rules sebagai hukum acara untuk penyelesaian sengketa dalam forum arbitrase ICC.255 Hikmahanto Juwana berpendapat bahwa dalam suatu proses arbitrase setidaknya berlaku 3 (tiga) jenis hukum, yaitu Substantive Law, Procedural Law, dan Lex Arbitri.256

251

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG DUDUKNYA PERKARA, hal.

35. Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka (3), Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa kausual arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian arbitarse tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.
253 252

Sudargo Gautama(b), op.cit., hal.25. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG DUDUKNYA PERKARA, hal.

254

35.
255

Ibid.

Hikmahanto Juwana, Pembatalan Putusan Arbitrase INternasional oleh Pengadilan Nasional. (Jurnal Hukum Bisnis Volume 21, Oktober-November 2002), hal. 67.

256

Universitas Indonesia

90

Substantive Law adalah hukum materil yang menjadi dasar pemeriksaan substansi dari proses arbitrase yang kemudian digunakan untuk memutus perkara oleh arbiter. Hukum materil tersebut dapat ditentukan oleh para pihak yang memiliki sengketa dalam kontrak yang dikenal dengan istilah Governing Law, atau dapat pula ditentukan oleh arbiter bila tidak disepakati sebelumnya oleh para pihak.
257

Ketentuan Pasal XVII.2.1 menunjukkan bahwa para pihak sepakat

untuk menggunakan Hukum Indonesia sebagai Pilihan Hukum untuk menafsirkan kontrak.258 Oleh karena itu dapat disaksikan bahwa substantive law pada proses arbitrase ICC antara Para Pemohon dengan Termohon ialah ketentuan Hukum Indonesia. Procedural Law dapat dikatakan sebagai hukum acara atau rule of the game dari sebuah proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Hukum ini mengikat arbiter dan para pihak dalam proses pemeriksaan hingga keluarnya suatu putusan arbitrase.259 Pasal XI 1.1.4 EOR Contract yang berbunyi, Except as provided in this section, arbitration shall be concluded in Jakarta, in accordance with The Rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce menunjukkan bahwa para pihak telah melakukan hukum prosedural yaitu ICC Rules sebagai hukum acara untuk penyelesaian sengketa dalam forum arbitrase ICC.260 Dengan demikian procedural law pada proses arbitrase ICC antara Para Pemohon dengan Termohon ialah ICC Rules. Lex Arbitri adalah hukum dari negara dimana putusan arbitrase dibuat. Hukum ini merupakan hukum dari Negara yang mendasari penyelesaian sengketa melalui arbitrase. Lex Arbitri mengikat arbitrator dalam menjatuhkan suatu putusan arbitrase.261 Pasal XI 1.1.4 EOR Contract yang berbunyi, Except as

257

Hikmahanto Juwana, op.cit., hal. 68-69. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG DUDUKNYA PERKARA, hal.

258

35.
259

Hikmahanto Juwana, op.cit., hal. 68-69 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG DUDUKNYA PERKARA, hal.

260

35.

Universitas Indonesia

91

provided in this section, arbitration shall be concluded in Jakarta, in accordance with The Rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce menunjukkan bahwa para pihak juga telah sepakat dalam memilih Jakarta, Indonesia sebagai tempat berarbitrase. Dengan demikian Lex Arbitri pada proses arbitrase ICC antara Para Pemohon dengan Termohon ialah ketentuan Hukum Indonesia (UU Arbitrase).

4.2.3. Analisis Putusan Hakim 4.2.3.1. Putusan Arbitrase Nasional atau Putusan Arbitrase Internasional UU Arbitrase memberikan definisi Putusan arbitrase internasional pada Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase sebagai putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbitrator perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional.262 Namun demikian Berkaitan dengan klasifikasi yang kedua, terdapat ketidakjelasan mengenai ketentuan Hukum Republik Indonesia yang harus digunakan untuk menentukan suatu putusan arbitrase dianggap sebagai putusan arbitrase internasional. Penjelasan Pasal 1 UU Arbitrase pun menyatakan bahwa ketentuan Pasal 1 UU Arbitrase cukup jelas. Di sisi lain Pasal 1 ayat (3) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengatakan bahwa arbitrase internasional yaitu arbitrase yang:263 1. para pihak dalam suatu perjanjian arbitrase, pada saat menutup perjanjian memiliki tempat usaha dalam negara yang berbeda; atau 2. salah satu dari tempat di bawah ini berada di luar negara para pihak memiliki tempat usaha mereka:

261

Ibid. Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka 9

262

United Nations, UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration with Amendments, 2006, Art. 1 par. (3).

263

Universitas Indonesia

92

a.

Tempat

arbitrase

telah

ditentukan

di

dalam

atau

berdasarkan perjanjian arbitrase ini; b. Setiap tempat di mana suatu bagian penting dari kewajiban menurut pilihan bisnis ini akan dilakukan atau tempat dengan mana pokok permasalahan ini yang disengketakan memiliki hubungan yang paling dekat; atau 3. para pihak secara tegas menyetujui bahwa pokok masalah dari perjanjian arbitrase ini berhubungan dengan lebih dari satu negara.

Berkaitan dengan pengertian yang diberikan oleh UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration mengenai arbitrase internasional, terdapat pendapat yang senada diutarakan oleh Tineke Louise Teugeh Londong dengan apa yang disebut olehnya sebagai arbitrase luar negeri. Tineke Louise Teugeh Londong mengemukakan bahwa arbitrase luar negeri merupakan arbitrase yang mengandung unsur asing. Unsur asing yang dimaksud dapat berupa para pihak, badan arbitrase yang digunakan, ketentuan arbitrase, dan/atau dimana tempat arbitrase dilaksanakan atau tempat putusan arbitrase ditetapkan.
264

Sudargo

Gautama berpendapat bahwa perumusan arbitrase internasional yang ada dalam Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase berbeda dengan arbitrase internasional seperti yang didefinisikan Pasal 1 ayat (3) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration. Pada hakikatnya terdapat kecondongan pembuat undangundang mengenai ukuran internasional dalam Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase lebih kepada definisi suatu putusan arbitrase yang telah dijatuhkan di luar wilayah hukum Indonesia.265 Dalam perkara antara Para Pemohon yaitu PT Pertamina EP dan PT Pertamina (Persero) melawan Termohon yaitu PT Lirik Petroleum, para pihak dalam Pasal XI 1.1.1 EOR Contract telah dipilih Forum Arbitrase ICC untuk menyelesaikan sengketa. Lebih lanjut, Pasal XI 1.1.4 EOR Contract berbunyi,

264

Tineke Louise Tuegeh Londong, op.cit., hal. 26. Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 40.

265

Universitas Indonesia

93

Except as provided in this section, arbitration shall be concluded in Jakarta, in accordance with The Rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce telah menyepakati untuk memilih forum arbitrase ICC dan tempat berarbitrase di Jakarta. Para Pemohon mendalilkan dalam permohonan pembatalan putusan arbitrase bahwa Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM merupakan putusan arbitrase nasional. Hal tersebut dilandasi oleh pemilihan tempat berarbitrase dalam EOR Contract ialah Jakarta, Indonesia. Termohon kemudian menjawab dalil tersebut dalam eksepsinya. Termohon berpendapat bahwa pada hakikatnya putusan arbitrase bersangkutan dijatuhkan di Paris, Perancis. Dalil tersebut dilandaskan pada ketentuan Pasal 27 ICC Rules yang berbunyi:266
Before signing any Award, the Arbitral Tribunal shall submit it in draft form to the court. The Court may lay down modifications as to the form of the Award and, without affecting the Arbitral Tribunals liberty of decision, may also draw its attention to points of substance. No award shall be rendered by the Arbitral Tribunal until it has been approved by the Court as to its form.

Ketentuan tersebut pada hakikatnya menggambarkan bahwa Majelis Arbitrase ICC dalam membuat suatu putusan arbitrase harus disetujui oleh institusi ICC itu sendiri yang memiliki kedudukan di Paris, Perancis. Dengan demikian putusan arbitrase bersangkutan melibatkan ICC yang merupakan forum arbitrase asing. Termohon yaitu PT Lirik Petroleum berpendapat bahwa penggunaan ICC sebagai forum penyelesaian sengketa membuat perkara antara Para Pemohon dengan Termohon masuk ke dalam ruang lingkup HPI. Oleh sebab itu putusan arbitrase yang dibuat oleh ICC terkait perkara antara Para Pemohon dengan Termohon merupakan putusan arbitrase internasional. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kemudian berpendapat bahwa Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase tidak memberikan definisi yang jelas dan tegas mengenai apa yang dimaksud dengan putusan arbitrase internasional.267 Majelis Hakim dalam memutus kemudian melakukan interpretasi apakah perkara

266

International Chamber of Commerce (ICC), ICC Rules, Art. 27. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG PERTIMBANGAN HUKUM,

267

hal. 80.

Universitas Indonesia

94

ini masuk sebagai kriteria putusan arbitrase internasional atau putusan arbitrase nasional. Dalam interpretasi tersebut Majelis Hakim memperhatikan fakta-fakta hukum dalam perkara ini. Majelis Hakim kemudian berpendapat bahwa dari faktafakta tersebut secara substansi Para Pemohon sejak perjanjian dibuat telah mengetahui bahwa ICC merupakan lembaga arbitrase internasional. Para Pemohon juga telah memilih arbitrator Fred B. G. Tumbuan untuk mewakilinya.268 Para Pemohon juga telah mengikuti prosedur dan beracara sesuai dengan aturan yang ditetapkan ICC. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut Majelis Hakim melakukan kualifikasi terhadap Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM bahwa putusan tersebut merupakan putusan arbitrase internasional. Majelis Hakim Mahkamah Agung pada tingkat Banding perkara ini juga membenarkan hal demikian. Berdasarkan kasus ini dapat dilihat bahwa UU Arbitrase belum cukup jelas mengatur mengenai pengertian putusan arbitrase internasional. Hal tersebut dapat dilihat masih terdapat kebingungan yang dialami oleh para pihak dan juga lembaga peradilan dalam menginterpretasikan apa yang dimaksud dengan putusan arbitrase internasional. Lebih lanjut, dapat dilihat pula adanya sebuah urgensi untuk diadopsinya UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration dalam UU Arbitrase Indonesia melihat perkembangan yang terjadi pada hukum arbitrase itu sendiri. Kepentingan itu berkenaan dengan tujuan untuk mempermudah para pihak khususnya pihak asing berkaitan dengan hukum arbitrase di Indonesia. Seperti halnya Sudargo Gautama menyayangkan bahwa pengaturan mengenai arbitrase internasional dalam UU Arbitrase hanya meliputi beberapa pasal yang hanya mengatur pelaksanaan putusan arbitrase yang dibuat di luar negeri dan tidak mengatur secara substantif bagaimana harus diacarakan arbitrase internasional tersebut.269

268

Ibid. Sudargo Gautama(b), op.cit,. hal. 11-12.

269

Universitas Indonesia

95

4.2.3.2. Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase Dalam kaitannya dengan putusan perkara pembatalan putusan arbitrase antara Para Pemohon yaitu PT Pertamina EP dan PT Pertamina (Persero) melawan Termohon yaitu PT Lirik Petroleum dapat dilihat bahwa Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mengadili perkara pembatalan putusan mendaftarkan Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM telah menafsirkan perkara dengan baik dengan memutus bahwa putusan arbitrase tersebut tidak dapat dibatalkan. Para Pemohon mendasarkan permohonan pembatalan arbitrase yang dilakukan pada 4 (empat) alasan, yaitu:270 1. Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM melanggar ketentuan Pasal 54 ayat (1) UU Arbitrase karena tidak terdapat irah-irah DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA; 2. Putusan arbitrase tersebut melanggar Ketertiban Umum karena

bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang mendudukkan Pemohon II sebagai pemegang otoritas Kuasa Pertambangan MIGAS mewakili Pemerintah dalam mengatur dan mengendalikan kebijakan pemberian penetapan staus komersial suatu lapangan pertambangan produksi; 3. Putusan arbitrase tersebut melanggar Ultra Petitum Partium, karena putusan tersebut mengabulkan lebih dari apa yang dituntut Termohon; dan 4. Putusan arbitrase bersangkutan mengandung cacat kontroversi karena pertimbangan putusan tersebut saling bertentangan.

Alasan pembatalan arbitrase tersebut menurut Para Pemohon bukan merupakan alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Para Pemohon merujuk pada Putusan Banding Mahkamah Agung Nomor: 03/Arb.Btl/2005 dimana ketika itu Mahkamah Agung menggunakan alasan pembatalan putusan arbitrase di luar dari ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase (dapat dilihat pada analisis kasus sebelumnya).

270

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, op.cit., TENTANG DUDUK PERKARA, hal. 11.

Universitas Indonesia

96

Termohon memberikan tanggapan bahwa alasan-alasan tersebut tidak sesuai dengan alasan pembatalan putusan arbitrase yang diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Termohon berpendapat bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase bersifat limitatif sehingga Para Pemohon tidak dapat menggunakan alasan di luar itu. Berkaitan dengan alasan-alasan pembatalan putusan arbitrase Para Pemohon, Termohon memberikan jawaban sebagai berikut:271 1. Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM merupakan putusan arbitrase internasional sehingga ketentuan Pasal 54 ayat (1) UU Arbitrase tidak berlaku terhadapnya; 2. Pendapat Para Pemohon yang menyatakan bahwa putusan arbitrase bersangkutan bertentangan dengan ketertiban umum ialah keliru dan tidak berlandaskan hukum; 3. Putusan arbitrase bersangkutan tidak mengandung Ultra Petitum Partium karena Majelis Arbitrase memutus bahwa jumlah ganti kerugian yang harus dibayar pemohon ialah US$ 34.495.428 (tiga puluh empat juta empat ratus sembilan puluh lima ribu empat ratus dua puluh delapan dollar Amerika Serikat) sedangkan yang dituntut oleh Termohon sebesar US$ 124.200.000 (seratus dua puluh empat juta dua ratus ribu dollar Amerika Serikat; dan 4. Alasan Para Pemohon mengenai kontroversi dalam putusan arbitrase ialah tidak jelas dan menyesatkan.

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam Putusan Nomor: 01/PEMBATALAN ARBITRASE /2009/ PN.JKT.PST berpendapat dalam pertimbangan hukum bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase tidak bersifat limitatif. Alasan pembatalan putusan arbitrase berisfat tidak limitatif berarti alasan-alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase seperti halnya yang diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bukan merupakan satu-satunya alasan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase. Namun demikian, Para

271

Ibid., hal.46-58.

Universitas Indonesia

97

Pemohon tidak dapat membuktikan kebenaran alasan-alasan yang diajukan. Dengan demikian permohonan Para Pemohon tidak memenuhi ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase, atau melanggar perundang-undangan, atau melanggar ketertiban umum sehingga Majelis Hakim memutuskan bahwa permohonan pembatalan putusan arbitrase tersebut harus ditolak. Majelis Hakim Mahkamah Agung kemudian dalam tingkat Banding juga memiliki pandangan yang sama dengan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat perkara ini. Dengan demikian Majelis Hakim Mahkamah Agung kemudian memutuskan untuk menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 01/PEMBATALAN

ARBITRASE/2009 /PN.JKT.PST. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dilihat bahwa dalam perkara ini pada hakikatnya Majelis Hakim baik pada tingkat I di Pengadilan Negerei Jakarta Pusat maupun pada tingkat Banding di Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat dalam Pasal 70 UU Arbitrase tidak bersifat limitatif. Dengan demikian dapat dilihat bahwa lembaga peradilan pun dalam menginterpretasikan Pasal 70 UU Arbitrase masih tergolong tidak konsisten. Oleh sebab itu menjadi sebuah urgensi untuk dilakukannya sebuah perbaikan terhadap ketentuan mengenai alasan pembatalan arbitrase sehingga dapat terciptanya suatu kepastian hukum mengenai pembatalan putusan arbitrase di Indonesia.

4.2.3.3. Ketertiban Umum Sebagai Alasan Pembatalan Putusan Arbitrase Ketertiban Umum dalam konsepsi HPI adalah dasar dikesampingkannya hukum asing untuk diberlakukan pada hukum negara hakim. Asas ketertiban umum digunakan pada saat suatu hukum asing melanggar sendi-sendi asasi hukum nasional.272 Prinsipnya, penggunaan ketertiban umum harus digunakan

Sudargo Gautama(j), op.cit., hal. 5. Lihat pula Sudargo Gautama(d), op.cit., hal.142. Ketertiban umum hendak diartikan sebagai lembaga dalam HPI yang memungkinkan sang hakim untuk secara pengecualian mengenyampingkan pemakaian dari hukum asing, yang menurut ketentuan HPI sang hakim sendiri, seharusnya diperlakukan. Tidak dipakainya hukum asing dalam hal yang khusus tersebut disebabkan hukum asing tersebut dipandang demikian menyolok dan mengusik sendi-sendi asasi dari sistem hukum sendiri jika dipergunakan.

272

Universitas Indonesia

98

sebatas sebagai perisai (as a shield) bukan sebagai pedang (as a sword) sehingga tidak akan mencegah berlakunya putusan arbitrase internasional apabila putusan tersebut tidak melanggar benar sendi-sendi asasi dari sistem hukum dan tata susila masyarakat.273 Sistem hukum negara-negara di dunia mengenal perbedaan antara ketertiban umum internasional dan ketertiban umum intern. Ketertiban umum internasional adalah kaidah-kaidah yang bermaksud untuk melindungi

kesejahteraan negara dalam keseluruhannya. Kaidah-kaidah ini membatasi kekuatan ekstra-territorial dari kaidah-kaidah asing. Kaidah-kaidah intern sebaliknya membatasi kebebasan perseorangan.274 Ketertiban umum internasional pada hakikatnya tidaklah memiliki sifat yang supra nasional, melainkan hanya hubungan-hubungannya yang dianggap internasional. Dengan demikian makna ketertiban umum internasional adalah nasional belaka.275 Berkaitan dengan perkara antara Para Pemohon yaitu PT Pertamina EP dan PT Pertamina (Persero) melawan Termohon yaitu PT Lirik Petroleum, Para Pemohon mendalilkan dalam permohonan pembatalan putusan arbitrase berdasarkan alasan Ketertiban Umum sesuai dengan yang diatur Pasal 66 huruf c UU Arbitrase. Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 menentukan prinsip umum perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial. Berdasarkan Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 dpancangkan prinsip bahwa cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.276 Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menegaskan prinsip tata tertib umum bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.277 Pasal 5 UU No. 8 Tahun 1971

273

Tineke LouiseTeugeh Longdong, op .cit., hal. 24. Sudargo Gautama(j), op.cit., hal. 121. Ibid., hal. 123 Indonesia(f), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 , Pasal 33

274

275

276

ayat (2).
277

Ibid., Pasal 33 ayat (3).

Universitas Indonesia

99

mengatur mengenai tujuan didirikannya Pertamina untuk membangun dan melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi dalam arti seluas-luasnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan Negara serta menciptakan ketahanan nasional.278 Pasal 11 UU No.8 Tahun 1971 memberikan status dan kewenangan kepada Pertamina sebagai pemegang seluruh wilayah hukum pertambangan migas di Indonesia dan sebagai pemegang kuasa pertambangan migas mewakili Pemerintah.279 Bertitiktolak pada ketentuan-ketentuan hukum tersebut, Para Pemohon menegaskan bahwa berdasar Ketertiban Umum Pemohon II (Pertamina (Persero)) merupakan satu-satunya perusahaan Negara yang didirikan oleh Pemerintah sebagai pemegang kuasa pertambangan migas mewakili Pemerintah untuk mengatur segala kebijaksanaan yang menyangkut pelaksanaan

penambangan migas dengan pihak investor atau kontraktor. Di sisi lain, Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM mewajibkan Pemohon II untuk memberikan status komersialitas atas beberapa daerah kepada Termohon. Para Pemohon merasa bahwa putusan arbitrase tersebut telah menyingkirkan kewenangan Pemohon II sebagai kuasa pemegang pertambangan migas mewakili Pemerintah. Oleh sebab itu Para Pemohon beralasan bahwa Putusan ICC No. 14387/JB/JEM telah bertentangan dengan Ketertiban Umum sehingga harus dibatalkan. Termohon memberikan tanggapan bahwa Para Pemohon sebagai wakil Pemerintah dalam kontrak kerja sama dengan pihak investor/kontraktor diharapkan menjunjung asas good governance bahwa Para Pemohon tidak bertindak sewenang-wenang, tidak diskriminatif, dan menghormati dan

menjalankan ketentuan-ketentuan dalam kontrak yang telah disepakati. Pasal 6 UU No. 44 Tahun 1960 Tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi telah menetapkan bahwa Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor untuk Perusahaan Negara apabila diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan oleh Perusahaan Negara yang

Indonesia(g), Undang-Undang Tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, UU No. 44 Tahun 1960, Pasal 5.
279

278

Ibid., Pasal 11.

Universitas Indonesia

100

bersangkutan selaku pemegang kuasa pertambangan melalui sistem kontrak dengan investor/kontraktor.280 Para Pemohon telah sepakat terikat dengan Termohon dalam EOR Contract secara volunteer sesuai dengan ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata. Dengan demikian EOR Contract tersebut mengikat Para Pemohon dengan Termohon selayaknya undang-undang sesuai dengan asas pacta sunt servanda yang tertuang dalam ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata. Pemberian status komersialitas merupakan kewajiban Para Pemohon yang tertuang dalam Pasal XI.1.3 EOR Contract. Perkara berkaitan EOR Contract antara Para

Pemohon dan Termohon juga telah disepakati untuk di selesaikan di lembaga arbitrase ICC. Para Pemohon ikut beracara dalam memilih arbitrator yaitu Fred B. G. Tumbuan dan juga mengikuti proses arbitrase tersebut sampai dikeluarkannya Putusan No. 14387/JB/JEM oleh Majelis Arbitrase ICC. Dengan demikian Termohon berpendapat bahwa upaya pembatalan yang dilakukan oleh Para Pemohon hanyalah upaya untuk menghindarkannya dari kewajiban membayar ganti kerugian. Oleh sebab itu, Termohon berpendapat bahwa permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan Para Pemohon sudah seharusnya ditolak. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam Putusan Nomor: 01/PEMBATALAN ARBITRASE /2009/ PN.JKT.PST tanggal 31 Agustus 2009 telah berhati-hati dalam menilai aspek Ketertiban Umum dalam perkara ini. Majelis Hakim berpendapat bahwa EOR Contract telah dibuat sesuai dengan Pasal 1320 KUH Perdata, tidak terbukti adanya fakta yang yang dapat membatalkan perjanjian tersebut dan alasan ketertiban umum sebagaimana yang diajukan oleh Para Pemohon secara hukum. Putusan arbitrase internasional bersangkutan tidak memenuhi syarat batal dan tidak melanggar ketertiban umum, maka putusan arbitrase tersebut dapat didaftarkan tanpa batas waktu, sah, mempunyai kekuatan eksekutorial, dan dapat dilaksanakan eksekusi. Majelis Hakim Mahkamah Agung dalam tingkat Banding perkara ini pada hakikatnya sependapat dengan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

280

Ibid., Pasal 6.

Universitas Indonesia

101

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disaksikan bahwa Majelis Hakim baik dalam tingkat I maupun tingkat Banding perkara ini telah berhati-hati dalam menilai aspek Ketertiban Umum. Hal tersebut telah sesuai dengan prinsip penggunaan Ketertiban Umum. Ketertiban Umum pada perkara ini telah digunakan sebatas sebagai perisai (as a shield) bukan sebagai pedang (as a sword) sehingga tidak mencegah berlakunya putusan arbitrase internasional karena pada hakikatnya putusan tersebut tidak melanggar benar sendi-sendi asasi dari sistem hukum dan tata susila masyarakat Indonesia.

4.2.3.4. Dasar Kewenangan Pengadilan Indonesia dalam Membatalkan Putusan Arbitrase ICC Berkaitan dengan pengadilan mana yang memiliki jurisdiksi primer untuk membatalkan suatu putusan arbitrase internasional, Pieter Sanders berpendapat bahwa hanya ada 1 (satu) otoritas yang memiliki kewenangan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase internasional, apakah kewenangan tersebut dimiliki oleh pengadilan dari negara di mana putusan arbitrase internasional tersebut telah dibuat atau pengadilan dari negara yang hukumnya telah dipakai untuk proses arbitrase tersebut.281 Berkaitan dengan hal tersebut, Schwartz berpendapat bahwa Konvensi New York 1958 tidak mengubah ketentuan hukum nasional mengenai pembatalan putusan arbitrase. Penentuan pengadilan mana yang berwenang untuk membatalkan suatu putusan arbitrase dilakukan dengan merujuk kembali kepada ketentuan hukum nasional mengenai pembatalan putusan arbitrase, apakah ketentuan hukum tersebut memungkinkan untuk dipilihnya suatu Lex Arbitri lain daripada ketentuan hukum negara tersebut. Apabila hal tersebut dimungkinkan, maka pengadilan yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase internasional bersangkutan ialah pengadilan dari negara yang hukumnya dipakai. Begitu pula sebaliknya ketika ketentuan hukum domestik tidak memungkinkan dipakainya suatu Lex Arbitri lain daripada ketentuan hukum domestik negaranya, maka yang memiliki kewenangan untuk membatalkan

281

Sudargo Gautama(a), Iop.cit., hal. 126

Universitas Indonesia

102

putusan arbitrase internasional ialah pengadilan negara di mana putusan arbitrase internasional tersebut telah dibuat.282 Berkaitan dengan perkara ini, ketentuan Pasal XI 1.1.4 EOR Contract telah mengatur mengenai tempat berarbitrase yang dikehendaki oleh para pihak. Pasal XI 1.1.4 EOR Contract berbunyi, Except as provided in this section, arbitration shall be concluded in Jakarta, in accordance with The Rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce. Hal tersebut menunjukkan bahwa para pihak telah sepakat dalam memilih Jakarta, Indonesia sebagai tempat berarbitrase. Berdasarkan hal tersebut maka dapat ditentukan bahwa Lex Arbitri yang digunakan pada proses arbitrase ICC antara Para Pemohon dengan Termohon ialah ketentuan Hukum Arbitrase Indonesia. Dengan demikian jurisdiksi ekslusif dalam membatalkan suatu putusan arbitrase sebagai jurisdiksi primer dimiliki oleh pengadilan di Indonesia. Berdasarkan Pasal 65 UU Arbitrase, forum yang berwenang untuk menangani segala permasalahan berkenaan dengan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional ialah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.283 Dengan demikian forum pengadilan yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase internasional ialah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Oleh sebab itu forum yang berwenang dalam membatalkan Putusan ICC No. 14387/JB/JEM ialah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

4.2.3.5. Prosedur Pembatalan Putusan Arbitrase Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara ini berpendapat dalam pertimbangan hukum bahwa alasan pembatalan putusan arbitrase tidak bersifat limitatif. Alasan pembatalan putusan arbitrase berisfat tidak limitatif berarti alasan-alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase

Ibid. Schwartz juga berpendapat bahwa Pieter Sanders maupun Van den Berg menyatakan Pasal V ayat 1(e) Konvensi New York 1958 tidak dimaksudkan untuk merujuk pada lebih dari 1 (satu) competent authority untuk membatalkan atau menunda suatu putusan arbitrase internasional karena Konvensi New York 1958 pada dasarnya dibuat dengan tujuan untuk mempromosikan pelaksanaan putusan-putusan arbitrase internasional seluas mungkin.
283

282

Indonesia(a), op.cit., Pasal 65.

Universitas Indonesia

103

seperti halnya yang diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bukan merupakan satu-satunya alasan untuk membatalkan suatu putusan arbitrase. Namun demikian, Para Pemohon tidak dapat membuktikan kebenaran alasanalasan yang diajukan pada permohonan perkara ini. Dengan demikian permohonan Para Pemohon tidak memenuhi ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase, atau melanggar peraturan perundang-undangan, atau melanggar ketertiban umum sehingga Majelis Hakim memutuskan bahwa permohonan pembatalan putusan arbitrase tersebut harus ditolak. Oleh sebab itu Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara ini telah tepat dalam memutus dengan menolak permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan oleh Para Pemohon. Majelis Hakim Mahkamah Agung kemudian dalam tingkat Banding juga memiliki pandangan yang sama dengan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat perkara ini. Dengan demikian Majelis Hakim Mahkamah Agung telah tepat dalam memutus dengan kemudian menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 01/PEMBATALAN ARBITRASE/2009 /PN.JKT.PST. Setelah Mahkamah Agung pada tingkat Banding mengeluarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 904K/PDT.SUS/2009, Para Pemohon yaitu PT Pertamina EP dan PT Pertamina (Persero) merasa kurang puas dan mengajukan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali. Majelis Hakim Peninjauan Kembali perkara ini mempertimbangkan bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 72 ayat (4) UU Arbitrase Putusan Banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase adalah putusan tingkat pertama dan terakhir. Pengajuan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali oleh Pemohon tersebut pada dasarnya tidak dapat dilakukan. UU Arbitrase telah memberikan batasan bahwa ketentuan Pasal 72 ayat (4) UU Arbitrase telah jelas mengatur putusan banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase adalah putusan tingkat pertama dan terakhir.284 Dengan demikian terhadap putusan banding atas perkara pembatalan putusan arbitrase seharusnya tidak dapat diajukan upaya hukum lain. Upaya hukum banding yang diatur pada pasal 72 ayat (4) itu sendiri pada dasarnya sudah bertentangan dengan asas final

284

Ibid., Pasal 72 ayat (4).

Universitas Indonesia

104

dan mengikat yang ada dalam putusan arbitrase. Asas final dan mengikat tersebut terdapat pada Pasal 60 UU Arbitrase yang menyatakan bahwa putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak.285 Oleh sebab itu Majelis Hakim Peninjauan Kembali telah tepat dalam memutus dalam Putusan Nomor: 56/PK/PDT.SUS/2011 dengan menolak permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Para Pemohon.

285

Ibid., Pasal 60.

Universitas Indonesia

105

BAB 5 PENUTUP

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya mengenai Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional di Indonesia maka dapat diberikan kesimpulan dan saran adalah sebagai berikut: 5.1. Kesimpulan 1. Pembatalan Putusan Arbitrase ialah suatu upaya hukum yang diberikan kepada para pihak yang bersengketa untuk meminta kepada Pengadilan Negeri agar suatu putusan arbitrase dibatalkan, baik terhadap sebagian isi dari putusan ataupun seluruh isi putusan tersebut. Pengaturan mengenai pembatalan putusan arbitrase di Indonesia diatur dalam UU Arbitrase. Alasan pembatalan putusan arbitrase diatur dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase bahwa para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase apabila putusan arbitrase tersebut mengandung unsur sebagai berikut: (1) surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu; (2) setelah putusan diambil, ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; dan/atau (3) putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa. Terdapat banyak perdebatan dalam interpretasi terhadap ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Beberapa ahli hukum berpendapat bahwa alasan yang dikemukakan dalam Pasal 70 UU Arbitrase tersebut bersifat limitatif. Di sisi lain terdapat pula ahli-ahli hukum yang berpendapat bahwa alasan-alasan pembatalan yang terdapat dalam Pasal 70 UU Arbitrase tidak bersifat limitatif. Forum pengadilan yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase internasional ialah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ketentuan dalam Pasal 70 sampai dengan Pasal 72 UU Arbitrase beserta penjelasannya tidak jelas berlaku atas

Universitas Indonesia

106

putusan arbitrase nasional atau berlaku pula atas putusan arbitrase internasional. Pedoman teknis administrasi dan teknis peradilan perdata umum dan perdata khusus Mahkamah Agung Republik Indonesia tahun 2007 menegaskan bahwa yang dapat dimohonkan pembatalan arbitrase ialah putusan arbitrase nasional yang memenuhi persyaratan dalam ketentuan Pasal 70 sampai dengan Pasal 72 UU Arbitrase. Terdapat 3 (tiga) instrumen internasional mengenai arbitrase yang penting dan perlu diperhatikan mengenai pembatalan putusan arbitrase internasional. Instrumen hukum tersebut antara lain: sumber hukum pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing utama di dunia yaitu Konvensi New York 1958, Convention on the Settlement of Investment Disputes between States
and National of other States (Konvensi ICSID), dan model hukum mengenai

arbitrase internasional yang telah diadopsi oleh banyak negara di dunia yaitu UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa pengaturan pembatalan putusan arbitrase internasional di Indonesia masih belum jelas dan memadai.

2. Hukum Perdata Internasional adalah hukum perdata untuk hubungan yang bersifat internasional. Dalam kaitannya dengan pembatalan putusan

arbitrase internasional, aspek HPI pada umumnya dapat dilihat dari status personal badan hukum, pilihan forum, dan pilihan hukum. Penentuan mengenai pengadilan negara yang memiliki jurisdiksi untuk membatalkan putusan arbitrase internasional dilakukan dengan memperhatikan jurisdiksi primer. Konvensi New York 1958 tidak mengubah ketentuan hukum domestik mengenai pembatalan putusan arbitrase. Penentuan mengenai pengadilan mana yang berwenang untuk membatalkan suatu putusan arbitrase dilakukan dengan merujuk kembali kepada ketentuan hukum domestik mengenai pembatalan putusan arbitrase. Pembahasan mengenai lembaga Ketertiban Umum relevan dengan pembatalan putusan arbitrase internasional. Hal tersebut disebabkan Ketertiban Umum kerap digunakan sebagai alasan pembatalan putusan arbitrase internasional. Namun

Universitas Indonesia

107

demikian, Ketertiban Umum tidak termasuk dalam alasan pembatalan putusan arbitrase Pasal 70 UU Arbitrase.

3. Perkara pembatalan putusan arbitrase Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dalam sengketa antara PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways dan perkara pembatalan putusan arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) dalam sengketa antara PT Pertamina dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum merupakan perkara yang masuk dalam ruang lingkup Hukum Perdata Internasional (HPI). Pembatalan putusan arbitrase perkara-perkara tersebut dilakukan sebagai berikut: a. Perkara-perkara pembatalan putusan arbitrase tersebut merupakan perkara-perkara yang termasuk dalam ruang lingkup Hukum Perdata Internasional (HPI) karena di dalamnya terdapat suatu unsur asing yang menimbulkan hubungan-hubungan HPI melalui adanya titik-titik pertalian primer (TPP). TPP dalam perkara pembatalan putusan arbitrase Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) antara PT Comarindo Tama Tour&Travel melawan Yemen Airways ialah status personal para pihak dimana PT Comarindo Tama Tour&Travel tunduk kepada ketentuan Hukum Indonesia sedangkan Yemen Airways tunduk kepada ketentuan Hukum Yaman. Titik pertalian sekunder dalam perkara ini ialah Pilihan Hukum yang telah dilakukan oleh para pihak dalam perjanjian GSA Passangers dan GSA Cargo yang menunjuk ketentuan Hukum Yaman untuk menafsirkan perjanjian tersebut. Putusan No.15/ARB/BANI JATIM/III/2004 dalam perkara ini merupakan putusan arbitrase nasional. Pengadilan yang memiliki jurisdiksi untuk membatalkan putusan arbitrase tersebut ialah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Alasan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan dalam permohonan ialah alasan tipu daya berdasarkan Pasal 70 UU Arbitrase. Namun demikian alasan tersebut sesuai dengan penjelasan Pasal 70 UU Arbitrase harus didukung oleh

Universitas Indonesia

108

putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Dalam perkara ini tidak ada putusan yang berkekuatan hukum tetap yang mendukung alasan tersebut. Namun demikian ketiadaan kompetensi absolut dari BANI Perwakilan Surabaya dan tindakan pengabaian BANI

Perwakilan Surabaya terhadap ketentuan Hukum Yaman menyebabkan putusan arbitrase tersebut harus dibatalkan. Oleh sebab itu Majelis Hakim baik dalam tingkat Pengadilan Negeri maupun tingkat Banding di Mahkamah Agung telah memutus dengan tepat untuk membatalkan putusan arbitrase tersebut. b. TPP dalam perkara pembatalan putusan arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) antara PT Pertamina dan PT Pertamina EP melawan PT Lirik Petroleum ialah Pilihan Forum yang telah dilakukan oleh Para Pihak dengan menunjuk lembaga arbitrase ICC untuk menyelesaikan sengketa atas EOR Contract. HPI. TPS dalam perkara ini ialah Pilihan Hukum yang dilakukan para pihak dalam EOR Contract yang menunjuk Ketentuan Hukum Indonesia untuk menafsirkan perjanjian tersebut. Proses arbitrase para pihak dalam perkara ini dilakukan di Jakarta Indonesia. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara ini berpendapat bahwa Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase tidak memberikan definisi yang jelas dan tegas mengenai apa yang dimaksud dengan putusan arbitrase internasional. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kemudian

mengkualifikasikan Putusan Arbitrase ICC No. 14387/JB/JEM sebagai putusan arbitrase internasional. Majelis Hakim kemudian berpendapat bahwa dari fakta-fakta hukum yang ada secara substansi Para Pemohon sejak perjanjian dibuat telah mengetahui bahwa ICC merupakan lembaga arbitrase internasional. Para Pemohon juga telah memilih arbitrator Fred B. G. Tumbuan untuk mewakilinya. Para Pemohon juga telah mengikuti prosedur dan beracara sesuai dengan aturan yang ditetapkan ICC. Pengadilan yang memiliki jurisdiksi primer dalam membatalkan putusan arbitrase internasional ini ialah

Universitas Indonesia

109

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Alasan yang diajukan dalam permohonan pembatalan putusan arbitrase salah satunya ialah berkenaan dengan pelanggaran terhadap ketertiban umum Indonesia. Alasan tersebut merupakan alasan di luar alasan pembatalan putusan arbitrase yang terdapat dalam ketentuan Pasal 70 UU Arbitrase. Namun demikian Majelis Hakim (baik dalam tingkat Pengadilan Negeri maupun dalam tingkat Banding di Mahkamah Agung) mempertimbangkan bahwa putusan arbitrase internasional

bersangkutan tidak memenuhi syarat batal dan tidak melanggar ketertiban umum, maka putusan arbitrase tersebut dapat didaftarkan tanpa batas waktu, sah, mempunyai kekuatan eksekutorial, dan dapat dilaksanakan eksekusi. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa Majelis Hakim baik dalam tingkat Pengadilan Negeri maupun tingkat Banding di Mahkamah Agung telah memutus dengan tepat untuk menolak permohonan pembatalan putusan arbitrase.

Universitas Indonesia

110

5.2. Saran Saran yang ingin penulis sampaikan ialah harus dilakukannya revisi terhadap UU Arbitrase. Perbaikan tersebut pada khususnya terkait pelaksanaan dan pengakuan putusan arbitrase internasional. Hal tersebut disebabkan oleh perkembangan yang terjadi dalam hukum arbitrase itu sendiri dalam internasional. Berdasarkan pembahasan dan analisis dari karya tulis ini dapat disaksikan adanya sebuah urgensi untuk diadopsinya UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration dalam ketentuan hukum arbitrase di Indonesia. Berkaitan dengan pembatalan putusan arbitrase internasional khususnya mengenai alasan pembatalan arbitrase dan keberlakuan pembatalan arbitrase terhadap arbitrase internasional dalam ketentuan UU Arbitrase masih tidak konsisten. Kedua hal tersebut merupakan hal yang krusial dan perlu diatur secara tegas agar tidak terjadi kebingungan yang dapat berdampak kepada kepastian hukum dalam penegakkan hukum di Indonesia. Lebih lanjut, agar penegakpenegak hukum di Indonesia tidaklah enggan untuk mempelajari mengenai Hukum Perdata Internasional (HPI) dan tidaklah antipati terhadap hukum asing. Hal tersebut berkenaan dengan itikad baik dari Negara Indonesia untuk menghargai setiap sistem hukum yang ada di dunia dan menghindarkan kita dari sikap chauvinistis terhadap hukum nasional diri sendiri dengan tanpa melupakan dan mengenyampingkan Hukum Nasional Indonesia itu sendiri.

Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Buku Abdurrasyid, Priyatna. Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Fikahati Aneska, 2002. Adolf, Huala. Arbitrase Komersial Internasional. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1991. _______________. Dasar-Dasar Hukum Kontrak Internasional. Cet. II. Bandung: Rafika Aditama, 2008. _______________. Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional. Bandung: Sinar Grafika, 2004. Born, Gary B. International Commercial Arbitration in The United States: Commentary and Materials. Netherlands: Kluwer and Taxation Publishers, 1994. Budidjadja, Tony. Public Policy as Grounds for Refusal of Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards in Indonesia. Jakarta: PT. Tata Nusa, 2002. Fuady, Munir. Arbitrase Internasional Alternatif Penyelesaian Sengketa Bisnis. Bandung: PT. Cipta Aditya Bakti, 2000. Garner, Brian A. Blacks Law Dictionary 9th Edition. St. Paul: West Publishing co., 2004. Gautama, Sudargo. Aneka Masalah Hukum Perdata Internasional. Cet. I. Bandung: Penerbit Alumni, 1985 _______________..Arbitrase Luar Negeri dan Pemakaian Hukum Indonesia. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004. _______________. Hukum Perdata InternasionalIndonesia. Cetakan ketiga. Buku kedua. Bandung: Eresco, 1986. _______________. Hukum Perdata Internasional Indonesia. Cetakan ketiga. Buku keempat. Bandung: Penerbit Alumni, 2007.

_______________. Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid II bagian 4. Cet. 3. Buku kelima. Bandung: Penerbit Alumni, 2004. _______________. Hukum Perdata Internasional Indonesia Jilid III bagian 1. Buku ketujuh. Bandung: Penerbit Alumni, 2004. _______________, Hukum Perdata Internasional Indonesia. Cetakan ketujuh. Buku kedelapan . Bandung: Penerbit Alumni, 2010. _______________. Indonesia dan Konvensi-Konvensi Hukum Perdata Internasional. Bandung: Penerbit P.T. Alumni, 2005. _______________. Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia. Jakarta: Binacipta, 1987. _______________. Undang-Undang Arbitrase Baru, 1999. Aditya Bakti, 2001. Bandung: PT. Citra

Irawan, Candra. Aspek Hukum dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan (ADR) Di Indonesia. Bandung: CV. Mandar Maju. Kaligis, O.C. Arbitrase Dalam Praktik. Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2004. Londong, Tineke Louise Tuegeh. Asas Ketertiban Umum dan Konvensi New York 1958. Cetakan Pertama. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1998. Mahkamah Agung Republik Indonesia. Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Umum dan Perdata Khusus Mahkamah Agung Republik Indonesia. Jakarta: Mahkamah Agung, 2007. Mamudji, Sri. Metode Penelitian dan Penulisan Hukum. Jakarta:Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005 Margono, Suyud. ADR (Alternative Dispute Resolution) & Arbitrase Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum. Bogor: Ghalia Indonesia, 2010. Purwosutjipto, H.M.N. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Buku 3 Hukum Pengangkutan. Jakarta: Djambatan, 1995. Rajagukguk, Erman. Arbitrase Dalam Putusan Pengadilan. Jakarta: Chandra Pratama, 2000. Seto, Bayu. Dasar-Dasar Hukum Perdata Internasional. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1992.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Cet. III. Jakarta: UI-Press, 1986. Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006. ________________. Hukum Investasi dan Pembangunan. Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2011. Soemartono, Gatot. Arbitrase dan Mediasi di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006. Subekti, R. Arbitrase Perdagangan. Bandung: Bina Cipta, 1987. United Nations Comission on International Trade Law (UNCITRAL). Explanatory Note by The UNCITRAL Secretariat on The Model Law on International Commercial Arbitration. Vienna: UNCITRAL, 1994. Van den Berg, Albert Jan. The New York Arbitration Convention of 1958. Netherlands: Kluwer Law and Taxation Publisher, 1981. Yani, Ahmad dan Gunawan Widjaya. Hukum Arbitrase. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

Jurnal dan Artikel Ilmiah Fuady, Munir. Penyelesaian Sengketa Bisnis Melalui Arbitrase Jurnal Hukum Bisnis: Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Vol.21. Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2002. Juwana, Hikmahanto. Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional oleh Pengadilan Nasional Jurnal Hukum Bisnis: Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Vol.21. Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2002. Khairandy, Ridwan. Sikap Pengadilan Di Indonesia Terhadap Pilihan Yurisdiksi Dalam Kontrak Bisnis Jurnal Hukum Bisnis: Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Vol.21. Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2002. Panggabean, H.P. Efektivitas Eksekusi Putusan Arbitrase Dalam Sistem Hukum Indonesia Jurnal Hukum Bisnis: Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Vol.21. Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2002. Simanjuntak, Ricardo. Konflik Yurisdiksi Antara Arbitrase dan pengadilan Negeri Dalam Memeriksa dan Memutuskan Perkara yang Mengandung Klausul

Arbitrase Di Indonesia Jurnal Hukum Bisnis: Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Vol.21. Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2002. Source, Louis L. Jaffe. Primary Jurisdiction Harvard Law Review, Vol. 77, No. 6 Apr., 1964. http://www.jstor.org/stable/1339061 diunduh pada tanggal 4 April 2012. Zuraida, Tin. Prinsip Eksekusi Putusan Arbitrase Internasional Di Indonesia, Disertasi Doktor Universitas Airlangga, Surabaya, 2006.

Peraturan Perundang-Undangan Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. _______________. Peraturan Mahkamah Agung Tentang Tatacara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. Perma No. 1 Tahun 1990. _______________. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. _______________. Undang-Undang Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. UU No. 30. LN No. 30 Tahun 1999. TLN No. 3872. _______________. Undang-Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman, UU No. 48 Tahun 2009. _______________. Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas. UU No. 40 Tahun 2007. LN No. 106. TLN No. 4756. ______________. Undang-Undang Tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. UU No. 44 Tahun 1960. Hindia-Belanda. Algemene Bepalingen van wetgeving voor Indonesie (AB). _______________. Het Herziene Indonesich Reglement, Staatsblaad 1849-16. Staatsblaad 1941-44. _______________. Rechtsreglement Buitengewesten, Staatsblaad 1927-227. _______________. Reglement op de Burgelijke Rechtsvordering. Staatsblaad 184963. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek voor Indonesie], Penerjemah: R. Soebekti, Cet. XXIX, Jakarta: Pradnya Paramita, 1999.

Konvensi Internasional International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID), Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and National of other States,1966. Convention on The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award, 1958. United Nations. UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration with Amendments, 2006.

Internet Abdurrasyid, Priyatna. Salah Prosedur, Putusan Arbitrase Internasional Dapat Dibatalkan http://hukumonline.com/berita/baca/hol6416/salah-prosedurputusan-arbitrase-internasional-bisa-dibatalkan diunduh 19 Mei 2011. Budidjaja, Tony. Maraknya Pembatalan Putusan Arbitrase http://hukumonline.com/berita/baca/hol6719/font-size1 colorff0000bmaraknya-pembatalan-putusan-arbitrasebfontbrcampur-tangan-, diunduh 19 Mei 2011. ______________. Pembatalan Putusan Arbitrase di Indonesia http://hukumonline.com/berita/baca/hol13217/pembatalan-putusan-arbitrasedi-indonesia, diunduh 19 Mei 2011. MON. Pertamina Ajukan Pembatalan Putusan Arbitrase ICC. May 26, 2009. <http://hukumonline.com/berita/baca/hol22092/ pertamina-ajukanpembatalan-putusan-arbitrase-icc> diakses pada tanggal 4 Mei 2012. ______________. Sengketa Lirik Petroleum: Pertamina Gagal Lawan Eksekusi Putusan ICC. 15 April 2010. <http://www.politikindonesia.com/index.php?k=politik&i=6557> diakses pada tanggal 4 Mei 2012. Prita Amalia, Penerapan Asas Ketertiban Umum dan Pembatasannya dalam Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing di Indonesia Berdasarkan Konvensi New York 1958, hal.8, http://www.scribd.com/doc/45320248/Penerapan-Asas-Ketertiban-Umum, diunduh pada 11 Juli 2012

Sinedyo, Andris Wahyu. Pembatalan Putusan Arbitrase Nasional: Studi Kasus Perum Peruri Melawan PT Pura Barutama http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2006-sinedyoand2360&q=pembatalan+putusan+arbitrase diunduh 5 April 2011.

Putusan Arbitrase, Pengadilan, dan Mahkamah Agung Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya. Putusan Nomor: 15/ARB/BANI JATIM/III/2004. International Chamber of Commerce (ICC). Award No. 14387/JB/JEM. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Putusan Nomor: 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. ARBITRASE/PN.JKT.PST/2009. Putusan Nomor: 01/PEMBATALAN

Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan Nomor: 03/Arb.Btl/2005. _______________. Putusan Nomor: 273PK/PDT/2007. _______________. Putusan Nomor: 904K/PDT.SUS/2009. _______________. Putusan Nomor: 56/PK/PDT.SUS/2011.

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
dari

b R
P U T U S A N Nomor : 03/Arb.Btl/2005 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

gu

memeriksa perkara banding atas putusan arbitrase telah mengambil putusan sebagai berikut : PT. COMARINDO EXPRES TAMA

TOUR

berkedudukan di Jalan Dinoyo Nomor 57, Surabaya, dalam hal ini memberi kuasa kepada AHMAD RIYADH UB, SH, M.Si dan kawan, para Advokat, berkantor di Jalan Dinoyo Nomor 49, Surabaya, Pemohon Banding dahulu Termohon ; melawan:

ah

am

YEMEN AIRWAYS, berkedudukan di Al Hasaba, Airport Road, Sanaa, Republik Yaman, dan kantor perwakilan di Gedung

ah k

Wirausaha lantai 7, Jalan H.R. Rasuna Said Kavling C-5, Jakarta Selatan, dalam hal ini memberi kuasa kepada CHELLIA

Bapindo Plaza, Citibank Tower lantai 24, Jalan Jenderal

gu ng

Sudirman Kav.54-55, Jakarta, Termohon Banding dahulu Pemohon ;

Mahkamah Agung tersebut ; Membaca surat-surat yang bersangkutan ; Menimbang, bahwa

surat-surat tersebut ternyata

sekarang Termohon Banding dahulu sebagai Pemohon telah mengajukan permohonan pembatalan putusan

arbitrase melawan Pemohon Banding

ah

Selatan atas dalil-dalil sebagai berikut : Bahwa BANI Perwakilan Surabaya

tidak

lik

dahulu sebagai Termohon di muka persidangan Pengadilan Negeri Jakarta

memiliki

kewenangan serta kompetensi untuk memeriksa serta memutus perkara atas sengketa yang terjadi antara Pemohon dengan Termohon selaku Pemohon

ka

JATIM/III/2004, karena berdasarkan Appointment of General Sales Agent (Passengers) antara Pemohon dan Termohon tanggal 29 Oktober 2001 dan Appointment of General Sales Agent (Cargo) antara Pemohon dengan Termohon tanggal 5 November 2002 yang menjadi dasar sengketa antara Pemohon dan Termohon tidak terdapat klausul arbitrase yang secara tegas

ah

ep

dalam perkara arbitrase BANI Perwakilan Surabaya No.15/ARB/BANI

ub

ng

gu

Hal. 1 dari 22 hal. Put. No.03/BDG/WST/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 1

on

es

In do ne si
bahwa jurisdiksi,

BADER DJOHAN, SH dan kawan, para Advokat, berkantor di

ub lik

In do ne si a
& TRAVEL,

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
memberikan kewenangan kepada BANI Surabaya untuk memeriksa serta memutus perkara atas sengketa yang terjadi antara Pemohon dan Termohon (Bukti P -1 dan P -2) ; BANI Surabaya Ref. No : BDR/VI/2004/048 tanggal 23 Juni 2004, Ref. No :

Bahwa walaupun Pemohon telah mengirimkan surat-surat kepada

ah

gu

BDR/VII/2004/054 tanggal 15 Juli 2004 dan Ref. No : BDR/VII/2004/061

tanggal 26 Juni 2004, ketiganya perihal penolakan penggunaan lembaga arbitrase dalam penyelesaian sengketa antara Pemohon dengan Termohon akan tetapi baik Termohon maupun BANI Surabaya tetap menjalankan

proses persidangan bahkan kemudian BANI Surabaya memberitahukan kepada Pemohon berdasarkan keputusan No : 37/SK/BANI SBY/VII/2004 tentang perubahan susunan majelis arbiter (Bukti P-3, P-4, P-5 dan P-6) ;

am

Bahwa pada tanggal 19 Agustus 2004, BANI Surabaya telah mengeluarkan putusan No.15/ARB/BANI JATIM/III/2004, yang isi putusannya mengabulkan seluruh permohonan dari Termohon (Pemohon Arbitrase) ; Bahwa sampai tanggal permohonan pembatalan putusan arbitrase ini Pemohon ajukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pemohon

ah k

Bahwa dengan tetap dijalankannya atau dengan kata lain

putusan arbitrase yang sudah jelas dan nyata sama sekali tidak ada kewenangan dan yurisdiksi dalam menyelesaikan perselisihan antara

Pemohon dengan Termohon terlihat adanya suatu tipu muslihat yang sengaja

dilakukan oleh Termohon yaitu dengan memakai berbagai cara dan alasan

untuk tercapainya suatu putusan yang dimintakan oleh Termohon (Pemohon arbitrase) kepada BANI Surabaya ;

ah

gu ng

"dipaksakan" persidangan oleh BANI Surabaya sampai terjadinya suatu

tanggal 19 Agustus 2004, No.15/ARB/BANI JATIM/III/2004 adalah cacat hukum oleh karena tidak didasarkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa yang dalam Pasal 1 butir (1) menyatakan :

ka

umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis dan dinyatakan dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase setelah sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditanda tangani para pihak yang bersengketa".

ah

ep

"Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata diluar peradilan

ub

lik

Bahwa putusan arbitrase yang diputuskan oleh BANI Surabaya

ng

gu

Hal. 2 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 2

on

es

In do ne si

sama sekali tidak pernah menerima putusan BANI Surabaya ;

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dan Alternatif

b
Kemudian di dalam Pasal 19 (1) disebutkan bahwa : "Dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase setelah sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat dalam perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak". Bahwa dengan demikian cukup alasan bagi Pengadilan Negeri Jakarta

gu

Selatan berdasarkan ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase Penyelesaian Sengketa

membatalkan Putusan BANI Surabaya No.15/ARB/BANI JATIM/III/2004 tanggal 19 Agustus 2004 ;

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon mohon kepada

ah

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan agar memberikan putusan sebagai berikut : 1. 2. Menerima permohonan Pemohon untuk seluruhnya ;

am

Membatalkan putusan arbitrase No.15/ARB/BANI JATIM/ III/ 2004 tanggal 19 Agustus 2004 yang dikeluarkan oleh BANI Perwakilan Surabaya ;

3.

Menghukum Termohon untuk membayar biaya perkara ;

ah k

Atau :

Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya

Menimbang,

bahwa

terhadap

permohonan

tersebut

I. Tentang kewenangan relatif.

ah

gu ng

mengajukan eksepsi, atas dalil-dalil sebagai berikut :

- Bahwa permohonan Pemohon (YEMEN AIRWAYS (YEMENIA)) adalah tentang pembatalan putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya tanggal 19 Agustus 2004 Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/llI/2004, dengan demikian seharusnya permohonan Pemohon diajukan di Pengadilan Negeri Surabaya sebab baik putusan yang

EXPRES TAMA TOUR & TRAVEL), sebagai pihak dalam perkara a quo berkedudukan hukum/berdomisili di wilayah Pengadilan Negeri Surabaya, karenanya berdasarkan ketentuan Pasal 118 ayat (I) HIR haruslah permohonan Pemohon ditolak.

ka

Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, menyebutkan dengan tegas dan jelas "Pengadilan Negeri adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal Termohon".

ah

ep

- Bahwa selain dari pada itu, Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Nomor : 30

ub

lik

dimohonkan pembatalannya maupun Termohon (PT. COMARINDO

- Bahwa terbukti, selain permohonan dalam perkara ini, juga Pemohon telah
Hal. 3 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 3

on

es

In do ne si
Termohon

(ex a quo et bono).

ep

ub lik

In do ne si a
untuk

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
: 15/ARB/BANI hukum

b
pula mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya daftar perkara Nomor : 577/Pdt.G/2004/PN.Sby., yang intinya, Pemohon juga memohon kepada Pengadilan Negeri Surabaya agar putusan BANI Perwakilan Surabaya

Nomor

JATlM/llI/2004 yang

mempunyai

kekuatan

berlaku,

membuktikan

ah

gu

Pemohon telah mengakui bahwa yang berwenang memeriksa dan

mengadili serta memutus perkara ini adalah Pengadilan Negeri Surabaya

dan menurut hukum pengakuan di depan sidang adalah merupakan bukti yang sempurna ;

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara permohonan pembatalan putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya tanggal 19 Agustus 2004 Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/Ill/2004, yang diajukan oleh Pemohon (YEMEN AIRWAYS (YEMENIA)), sebab Termohon (PT. COMARINDO EXPRES TAMA TOUR & TRAVEL) berdomisili hukum di wilayah Pengadilan Negeri Surabaya sedangkan permohonan Pemohon diajukan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sehingga menjadi

am

ah k

pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Nomor : 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase

ah

II. Permohonan Pemohon kurang pihak.

gu ng

dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dan tidak sesuai pula dengan

ketentuan Pasal 118 ayat (1) HIR. Karenanya terdapat alasan secara juridis formal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak permohonan Pemohon

sebab Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara a quo.

yang disampaikan baik di dalam posita maupun petitumnya telah mempermasalahkan tentang kewenangan BANI Perwakilan Surabaya karena telah memeriksa dan memutus perkara Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/III/2004, karenanya dalam hal ini perlu Termohon sampaikan

ka

BANI Perwakilan Surabaya yang dilakukan oleh Termohon (PT. COMARINDO EXPRES TAMA TOUR & TRAVEL) adalah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, karenanya jika Pemohon (YEMEN AIRWAYS (YEMENIA)) menganggap putusan BANI Perwakilan Surabaya tidak benar

ah

ep

bahwa segala hal yang berkaitan dengan pengajuan gugatan kepada

ub

lik

- Bahwa permohonan Pemohon apabila dicermati secara seksama, materi

ng

dalam

memeriksa

dan

memutus

perkara

Nomor

gu

Hal. 4 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 4

on

es

In do ne si

jelas bahwa permohonan Pemohon adalah bertentangan dengan ketentuan

ep

ub lik

In do ne si a
dinyatakan tidak bahwa

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
maka

b
15/ARB/BANI JATIM/III/2004, seharusnya BANI Perwakilan Surabaya digugat dan dijadikan pihak dalam perkara a quo, untuk diberikan kesempatan menggunakan haknya menanggapi dalil-dalil Pemohon sebab putusan perkara Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/III/2004 diterbitkan oleh BANI Perwakilan Surabaya ;

ah

gu

- Bahwa terbukti, selain permohonan dalam perkara ini, juga Pemohon telah pula mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya dalam

daftar perkara Nomor : 577/Pdt.G/2004/PN.Sby., yang intinya, Pemohon

juga memohon kepada Pengadilan Negeri Surabaya agar putusan BANI Perwakilan Surabaya Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/llI/2004 dinyatakan

tidak mempunyai kekuatan hukum berlaku, dimana dalam gugatannya Pemohon tersebut, menjadikan BANI Perwakilan Surabaya sebagai pihak Tergugat. Hal ini membuktikan bahwa Pemohon telah mengakui bahwa BANI Perwakilan Surabaya juga merupakan pihak dalam perkara ini. Dengan demikian dengan tidak dimasukkannya atau tidak dijadikannya BANI Perwakilan Surabaya sebagai pihak dalam perkara ini, maka permohonan Pemohon haruslah dinyatakan tidak dapat diterima karena

am

ah k

gu ng

III. Permohonan Pemohon diajukan bertentangan dengan persyaratan : yang ditentukan dalam Pasal 70 Undang-Undang

Nomor : 30 Tahun 1999

tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa.

- Bahwa upaya hukum untuk melawan putusan arbitrase menurut Undang Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa hanya boleh melalui dan dengan tata cara serta

alasan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 70 Undang-Undang

ah

dalam permohonannya angka 1 sampai dengan angka 4 bukanlah alasanalasan yang dapat dipakai untuk membatalkan putusan arbitrase tersebut, dengan demikian haruslah dalil pemohon ditolak karena tidak berdasar hukum untuk dipertimbangkan.

ka

permohonannya tersebut adalah jelas tidak berdasarkan hukum, oleh karena Pemohon di dalam positanya sama sekali tidak menjelaskan tindakan Termohon yang mana yang dinyatakan telah melakukan tipu muslihat, sebab alasan adanya tipu muslihat tidak boleh hanya didalilkan tetapi harus dibuktikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah
Hal. 5 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ah

ep

- Bahwa alasan adanya tipu muslihat sebagaimana dalil Pemohon dalam

ub

lik

tersebut diatas, maka apabila dicermati secara seksama dalil Pemohon

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 5

on

es

In do ne si

kurang pihak.

ep

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep

b
berkekuatan hukum tetap, sebagaimana secara tegas disebutkan dalam penjelasan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. IV.Bahwa selain dari pada itu disebutkan dalam dalil pemohon angka 4 yang

ah

gu

intinya menyatakan "sampai tanggal permohonan pembatalan putusan arbitrase ini Pemohon ajukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pemohon sama sekali tidak pernah menerima putusan BANI Surabaya".

Dengan demikian adalah hal yang tidak berdasarkan hukum, jika

kemudian Pemohon mengajukan permohonan pembatalan Putusan

BANI Perwakilan Surabaya, oleh karena sangat mustahil Pemohon dapat mengajukan permohonan pembatalan putusan BANI perwakilan Surabaya sebagaimana dalam perkara ini, sedangkan Pemohon mengakui tidak pernah mendapatkan salinan putusan BANI Perwakilan Surabaya tanggal 19 Agustus 2004 Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/III/2004. Berdasarkan uraian dan hal-hal tersebut diatas, maka dalil-dalil Pemohon haruslah dikesampingkan, sebab tidak berdasarkan hukum untuk

ah k

am

permohonan Pemohon tersebut ditolak untuk seluruhnya atau

gu ng

tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima.

V.Bahwa selain dari pada itu, disamping

pemohon

permohonan pembatalan putusan BANI Perwakilan Surabaya Nomor : 15/Arb/BANI JATIM/III/2004, kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ternyata pemohon juga mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya daftar perkara nomor :

577/Pdt.G/2004/PN.Sby.,yang

ah

agar Putusan BANI Perwakilan Surabaya Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/III/2004 dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum berlaku, dimana dalam gugatannya tersebut, BANI Perwakilan Surabaya juga dijadikan Tergugat oleh Pemohon.

ka

Pemohon telah mengakui bahwa yang berwenang memeriksa dan mengadili serta memutus perkara ini adalah Pengadilan Negeri Surabaya dan menurut hukum, pengakuan di depan sidang adalah merupakan bukti yang sempurna ;

ah

ep

Dengan demikian, berdasarkan uraian tersebut diatas, maka terbukti:

ub

lik

intinya Pemohon juga memohon kepada Pengadilan Negeri Surabaya

Pemohon dalam mengajukan permohonan dalam perkara ini

ng

hanya

gu

Hal. 6 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 6

on

es

In do ne si
setidak mengajukan

dipertimbangkan karenanya terdapat alasan secara juridis formal

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
terhadap

b
bersifat mencoba-coba dan terlihat tidak konsisten. Karenanya permohonan Pemohon tersebut haruslah ditolak untuk seluruhnya, satu dan lain hal, untuk menghindari adanya putusan yang saling bertentangan dalam satu badan peradilan.

Bahwa terhadap eksepsi Termohon, Pengadilan Negeri Jakarta

ah

gu

Selatan telah memberikan putusan sela Nomor : 254/Pdt.P/2004/ PN.Jak.Sel. tanggal 21 Desember 2004 yang amarnya sebagai berikut : 1. Menolak Eksepsi Termohon ;

2. Menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan berwenang memeriksa dan mengadili perkara permohonan No. : 254/Pdt.P/2004/ PN.Jak.Sel. ;

3. Memerintahkan kedua belah pihak untuk melanjutkan perkara ; 4. Menangguhkan biaya perkara hingga putusan akhir ; Menimbang, bahwa

ub lik
permohonan biaya

am

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah memberikan putusan, yaitu putusan Nomor : 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel. tanggal 6 Januari 2005 yang amarnya berbunyi sebagai berikut : DALAM EKSEPSI :

ah k

DALAM POKOK PERKARA ;

2. Membatalkan putusan arbitrase No.15/ARB/BANI JATIM/III/2004, tanggal 19

3. Menghukum Termohon untuk membayar

gu ng

1. Mengabulkan Permohonan Pemohon ;

Agustus 2004, yang dikeluarkan oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya ;

Rp. 194.000,- (seratus sembilan puluh empat ribu rupiah) ;

Menimbang, bahwa sesudah putusan tersebut diucapkan dalam sidang

ah

berperkara pada tanggal 6 Januari 2005, kemudian oleh Termohon dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 17 Januari 2005 diajukan banding secara lisan pada tanggal 19 Januari 2005 sebagaimana ternyata dari akte permohonan banding Nomor : 254/Pdt.P/2004/PN.Jkt.Sel.

ka

permohonan mana kemudian disusul dengan memori banding yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri tersebut pada tanggal 28 Januari 2005 ;

ah

ep

yang dibuat oleh Wakil Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan,

ub

lik

yang terbuka untuk umum dengan dihadiri oleh kedua belah pihak yang

ng

gu

Hal. 7 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 7

on

es

In do ne si
perkara sebesar

- Menolak Eksepsi Termohon ;

ep

In do ne si a
Pemohon tersebut

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
tidak berwenang

b
Bahwa setelah itu oleh Pemohon yang pada tanggal 14 Januari 2005 telah diberitahukan tentang memori banding dari Termohon, diajukan jawaban memori banding yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 24 Januari 2005 ; Menimbang, bahwa Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tidak

ah

gu

mengatur prosedur permohonan banding, namun oleh karena menurut pasal 72 ayat (4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 permohonan banding diajukan

ke Mahkamah Agung, maka prosedur dan pemeriksaan banding tersebut dilakukan menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004;

Menimbang, bahwa permohonan banding a quo beserta alasanalasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undangundang, maka oleh karena itu permohonan banding tersebut formal dapat diterima ;

am

ah k

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Banding/Termohon dalam memori bandingnya tersebut pada pokoknya :

bertitik tolak dari ketentuan yang digariskan Pasal 30 ayat (1) huruf b dan c UU

- salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku,

- lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-

ah

I. Tindakan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam mengadili

gu ng

MA, yakni putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan :

undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

perkara ini telah melanggar asas actor sequitur forum atau forum domisili Yang

kewenangan atau ultra vires, padahal itu dilarang oleh pasal 30 Ayat (1) Huruf a UU MA.

Bahwa baik dalam Jawaban maupun Duplik, Pemohon Banding telah mengajukan Eksepsi secara relatif atau exceptio

ka

Dasar alasan Eksepsi tersebut, bertitik tolak dari ketentuan Pasal 118 ayat (1) HIR jo Pasal 4 ayat (1) UU Nomor 2 Tahun 1986, tentang Peradilan Umum sebagaimana diubah dengan UU Nomor 8 Tahun 2004, Pasal 4 ayat (1) tersebut yang menggariskan batas daerah hukum Pengadilan Negeri : - Pengadilan Negeri berkedudukan di Kotamadya atau di Ibukota Kabupaten,
Hal. 8 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ah

ep

declanatoris yang menyangkut kewenangan relatif.

ub

lik

digariskan Pasal 118 Ayat (1) HIR, sehingga perbuatan itu melampaui batas

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 8

on

es

In do ne si

Bahwa pada prinsipnya, alasan banding yang diajukan Pemohon banding

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
dan - daerah hukumnya, hanya terbatas meliputi wilayah Kotamadya atau Kabupaten yang bersangkutan. Daerah hukum atau wilayah hukum suatu Pengadilan Negeri, menentukan batas kompetensi relatif mengadili bagi setiap Pengadilan Negeri.

ah

gu

Apabila Pengadilan Negeri memeriksa dan mengadili perkara diluar batas daerah hukumnya, Pengadilan Negeri tersebut telah melakukan tindakan melampaui batas kewenangan relatif. Tindakan itu dikategori sebagai ultra

vires, sehingga tindakan itu tidak sah (illegal).

Patokan atau asas untuk menentukan kewenangan mengadili dihubungkan

dengan batas daerah hukum suatu Pengadilan Negeri, merujuk kepada ketentuan Pasal 118 HIR ( Pasal 142 RBG ) atau Pasal 99 RV. 1. Patokan menentukan kompetensi relatif pengadilan negeri yang diatur dalam Pasal 118 ayat (1) HIR, berdasarkan asas actor sequitur forum rei atau forum domisili.

am

ah k

Patokan yang digariskan asas actor sequitur forum rei berdasarkan ketentuan Pasal 118 ayat (1) HIR :

Pengadilan Negeri tempat tinggal Tergugat atau Termohon,

ah

gu ng

oleh karena itu, agar gugatan yang diajukan Penggugat tidak melanggar kompetensi relatif, gugatan harus diajukan dan dimasukkan

kepada Pengadilan Negeri yang berkedudukan di wilayah atau daerah hukum tempat tinggal Tergugat / Termohon.

Prinsip atau asas actor sequitur forum rei atau forum domisili tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu dalam kasus perkara inipun, Pengadilan Negeri

atau Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan harus menegakkan

2. Yang Dimaksud Tempat Tinggal Tergugat/Termohon :

Menurut hukum, yang dianggap sebagai tempat tinggal atau domisili Tergugat, meliputi : - tempat kediaman, atau - tempat alamat tertentu, atau

ka

- tempat kediaman sebenarnya.

ah

Sumber untuk menentukan tempat tinggal yang sah dan resmi, terdiri dari beberapa akta atau dokumen : - berdasar KTP;

ep

ub

lik

dan menerapkannya.

- Kartu Rumah Tangga (KRT);


Hal. 9 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 9

on

es

In do ne si

yang berwenang memeriksa dan mengadili suatu perkara adalah

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Expres

b
- Surat Pajak; - Anggaran Dasar Perseroan (AD). 3. Berdasarkan Anggaran Dasar (AD), tempat Banding

kedudukan Pemohon Tour & Travel)

(PT.Comarindo

Tama

Surabaya, maka sesuai dengan asas actor sequitur forum rei yang

gu

digariskan

Pasal 118 ayat (1) HIR Pengadilan Negeri yang berwenang memeriksa dan mengadili permohonan pembatalan

secara relatif dalam kasus ini tindakan majelis Pengadilan

adalah Pengadilan Negeri Surabaya. Dengan demikian

hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atau

Negeri Jakarta

Selatan dalam mengadili perkara ini

ah

melanggar kompetensi relatif yang diberikan undang-undang kepadanya. Dari penjelasan yang dikemukakan tersebut di atas dihubungkan dengan fakta yang tercantum pada Anggaran Dasar (AD) PT. Comarindo Expres Tama Tour & Travel (Pemohon Banding), bahwa alamat atau tempat kedudukannya adalah kota Surabaya, maka menurut hukum : - gugatan atau permohonan pembatalan sesuai dengan asas actor sequitur forum rei atau forum domisili yang digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR harus

am

ah k

Jakarta Selatan;

Dengan demikian, tindakan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

yang memeriksa dan mengadili perkara ini, nyata-nyata merupakan tindakan

yang : -

gu ng

- Oleh karena itu, yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini,

sesuai prinsip kompetensi relatif adalah Pengadilan Negeri Surabaya, bukan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

bertentangan atau melanggar ketentuan

Pasal 118 ayat (1) HIR dan

ah

vires, - dengan demikian tindakan itu selain

melanggar Pasal 118 ayat (1)

lik

dikategori sebagai perbuatan melampaui batas

kewenangan atau

juga melanggar ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf a UU MA. Berdasarkan alasan ini, Mahkamah Agung R.I. pada peradilan tingkat

ka

dan

menyatakan

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut tidak

ah

berwenang mengadilinya, yang berwenang mengadilinya adalah Pengadilan Negeri Surabaya.

ep

banding harus membatalkan putusan

ub

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

II.Penolakan Eksepsi mengandung cacat Onvoldoende Gemotiveerd,karena

ng

gu

Hal. 10 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 10

on

es

In do ne si
ultra HIR

diajukan kepada Pengadilan Negeri Surabaya bukan ke Pengadilan Negeri

ep

ub lik

In do ne si a
adalah

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep

b
mengabaikan ketentuan Pasal 25 Ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 2004 dan Pasal 178 Ayat (1) HIR. Bahwa dalam Jawaban tanggal 29 Nopember 2004 telah diajukan beberapa Eksepsi yakni : 1.Eksepsi Kompetensi Relatif ;

ah

gu

2.Eksepsi Plurium Litis Consortium (tidak cukup pihak yaitu pihak sebagai Termohon) ;

3.Permohonan pembatalan tidak memenuhi syarat yang ditentukan Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999.

Semua Eksepsi itu ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta

Selatan. Akan tetapi sama sekali tidak dijumpai pertimbangan yang matang (maturity judgement) atau pertimbangan yang cukup (sufficient judgement) yang rasional dan objektif tentang penolakan itu. Bahwa pertimbangan atas penolakan Eksepsi tersebut kacau balau tanpa jelas ujung pangkalnya. Fakta tentang itu dapat dilihat pada halaman 14 Putusan termaksud : - mula-mula ada pertimbangan yang mengatakan : Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok perkara maka

ah k

am

- kemudian menyusul pertimbangan yang

mengatakan

- Selanjutnya dikemukakan pertimbangan yang menyatakan :

ah

gu ng

meneliti secara seksama dalil dari Pemohon cukup jelas

bahwa Termohon

telah melakukan tipu muslihat dalam penyelesaian perkara melalui Arbitrase, karena itu tidak relevan menarik BANI Surabaya menjadi pihak",

". bahwa uraian Eksepsi Termohon selebihnya sudah termuat dalam pokok perkara".

Hanya begitu saja pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta

Banding. Dari pertimbangan yang kacau dan tidak berpangkal dan berujung itu, langsung dijatuhkan amar yang berbunyi : "Menolak Eksepsi Termohon". Putusan Pengadilan Negeri Jakarta

ub
Selatan

lik
tersebut

Selatan terhadap semua eksepsi yang diajukan Termohon/Pemohon

ka

bertentangan atau mengabaikan Pasal 25 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 2004

Negeri dalam menjatuhkan putusan wajib atau harus memuat alasan dan dasar hukum putusan tersebut.

ah

Selatan mengandung cacat onvoldoende gemotiveer, cukup alasan bagi Mahkamah Agung Rl dalam peradilan tingkat banding untuk membatalkan
Hal. 11 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 11

on

es

Berdasarkan fakta yang membuktikan putusan Pengadilan Negeri Jakarta

ep

maupun Pasal 178 ayat (1) HIR yang memerintahkan agar Hakim Pengadilan

In do ne si
"setelah Majelis nyata-nyata

akan dipertimbangkan lebih dahulu Eksepsi dari Termohon "

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
yang

b
putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan berbarengan dengan itu menolak permohonan pembatalan yang diajukan Terbanding. III.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah salah menerapkan hukum yang menyatakan BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang memeriksa sengketa atas alasan dalam perjanjian tidak terdapat klausula

ah

gu

arbitrase, padahal dalam Pasal 23 Appointment Of General Sales Agent

(Selanjutnya Disingkat GSA Passengers) dan dalam Pasal 24 Appointment Of General Sales Cargo (Selanjutnya Disingkat GSA Cargo), terdapat klausula arbitrase, oleh karena itu putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bertentangan dengan Pasal 1342 KUHPerdata.

Bahwa pada halaman 17 putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut terdapat pertimbangan menyimpulkan, bahwa perjanjian GSA

am

Passengers maupun GSA Cargo, tidak mencantumkan klausula Arbitrase. "Menurut pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, perkataan Arbitration yang tercantum sebagai Judul Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo : - bukan klausula Arbitrase ;

ah k

Alasan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang berpendapat,

ah

gu ng

bahwa dalam klausula tersebut tidak menyebut Arbitrase sebagai cara penyelesaian sengketa adalah salah dan keliru, seperti yang dijelaskan di bawah ini :

- Perkataan arbitrase tidak dapat ditafsirkan lain, selain dari pada

kesepakatan para pihak menyelesaikan sengketa melalui arbitrase, dengan demikian tindakan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta

Selatan menafsirkan perkataan itu lain dari pada arbitrase, bertentangan

Baik Termohon Banding maupun Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membenarkan dan mengakui terdapat kata yang berjudul Arbitration pada Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo. Namun pembenaran dan pengakuan itu dianulir dan dikesampingkan kembali atas

ka

- bukan kesepakatan penyelesaian sengketa yang timbul melalui Arbitrase;

ah

Yaman.

Tindakan dan pendapat Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan


Hal. 12 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 12

on

es

- tetapi kesepakatan mengenai pilihan hukum yaitu hukum Republik

ep

alasan, isi yang terkandung dalam judul tersebut :

ub

lik

dengan ketentuan Pasal 1342 KUHPerdata.

In do ne si

- tetapi mengatur mengenai pilihan hukum yakni hukum Republik Yaman.

ep

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
ketentuan

b
tersebut bertentangan dengan Pasal 1342 KUHPerdata yang berbunyi : "Jika kata-kata suatu persetujuan jelas, tidak diperkenankan untuk menyimpang dari padanya dengan jalan penafsiran ". Bertitik

tolak

dari

Pasal

1342

KUHPerdata

dihubungkan dengan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA

ah

gu

Cargo:

- dengan tegas (expressis verbis) tercantum perkataan Arbitration ;

- dengan demikian, kata-kata yang tercantum dalam pasal-pasal tersebut, sangat jelas yakni Arbitrase ;

- dengan demikian, sesuai ketentuan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 30

Tahun 1999, perkataan itu merupakan kesepakatan antara para pihak, bahwa cara penyelesaian sengketa yang timbul dari GSA Passengers dan GSA Cargo, diselesaikan melalui Arbitrase ;

am

- dalam hal yang seperti ini, Pasal 1342 KUHPerdata, melarang Hakim/ Pengadilan Negeri melakukan penafsiran yang menyimpang dari ketentuan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo tersebut. Oleh karena itu, menurut ketentuan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 30

ah k

makna

hakiki

yang

tidak

dapat

diubah

dan

ah

gu ng

Hakim/Pengadilan Negeri, selain dari pada cara penyelesaian sengketa perdata melalui Arbitrase di luar peradilan umum.

Sehubungan dengan itu, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan benar-benar telah salah menerapkan hukum, karena secara sewenang-

wenang telah mengenyampingkan atau meniadakan eksistensi klausula

Arbitrase yang disebut dengan tegas pada Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo. Dan tindakan itu jelas-jelas melanggar penerapan

membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dimaksud. IV.Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan juga salah menerapkan ketentuan Pasal 1345 KUHPerdata karena telah menafsirkan isi yang terdapat di bawah judul arbitration itu kearah yang tidak selaras dengan

ka

Bahwa Pasal 1345 KUHPerdata menegaskan : "Jika kata-kata dapat diberikan dua macam pengertian, maka harus dipilih pengertian yang paling selaras dengan sifat perjanjian ". Sekiranyapun ketentuan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo mengandung kata-kata yang memiliki dua macam pengertian :
Hal. 13 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ah

ep

sifat persetujuan.

ub

lik

Pasal 1342 KUHPerdata. Oleh karena itu, cukup alasan untuk

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 13

on

es

In do ne si
dikesampingkan

Tahun 1999, perkataan Arbitration adalah Arbitrase yang memiliki

ep

ub lik

In do ne si a
tersebut

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
: Termohon tersebut dan

b
- Pertama : terdapat perkataan Arbitration, sehingga mengandung arti klausula Arbitrase, - Kedua : terdapat kata-kata pilihan hukum yakni Hukum Republik Yaman, sehingga mengandung arti governing law atau choice of law. Maka sesuai dengan ketentuan Pasal 1345 KUHPerdata, Hakim/

ah

gu

Pengadilan Negeri harus memilih pengertian yang paling sesuai dengan sifat perjanjian.

Hakim/Pengadilan Negeri dilarang atau tidak dibenarkan memilih pengertian yang tidak selaras dengan sifat perjanjian.

Sifat perjanjian yang disepakati dalam GSA Passengers dan GSA Cargo merupakan perjanjian :

- dalam dunia bisnis (commercial), yang menghendaki cara penyelesaian yang cepat (quick in motion) dan tidak formalistic (informal procedure), sehingga penyelesaian sengketa tidak mahal (zero cost) dan tidak berlarut-larut (waste of time).

am

ah k

- cara yang demikian hanya dapat dicapai dan diwujudkan, hanya melalui arbitrase, karena putusan yang dijatuhkan langsung final and binding

Bertitik tolak dari sifat perjanjian yang disebut di atas, dihubungkan

gu ng

dengan ketentuan Pasal 1345 KUHPerdata pada satu sisi dan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo pada sisi lain, maka

penafsiran yang paling selaras adalah perkataan Arbitration tersebut kesepakatan klausula Arbitrase atau Pemohon

merupakan

Banding/Termohon

Banding/

Pemohon

penyelesaian sengketa yang timbul melalui Arbitrase. Sehubungan dengan itu, Klausula secara nyata, dianggap (feitelijke

ah

1999 yakni para pihak telah mengadakan perjanjian Arbitrase yang menyatakan semua sengketa yang timbul dari GSA Passengers dan GSA Cargo diselesaikan denga cara Arbitrase.

ka

Dengan demikian, pendapat Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta

perjanjian, harus ditolak.

ah

hukum yang mengatakan klausula Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo tidak menyebut BANI serta rules & procedur BANI sebagai
Hal. 14 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 14

on

es

V. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah salah menerapkan

ep

Selatan yang mengatakan tidak terdapat klausula arbitrase dalam

ub

lik

vermoeden) telah memenuhi ketentuan Pasal 2 UU Nomor 30 Tahun

In do ne si
menyetujui

serta tertutup semua upaya hukum.

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
boleh

b
bentuk dan tata cara penyelesaian sengketa, padahal dalam kasus perkara ini, oleh karena klausula tidak menyebut bentuk dan rules arbitrase yang disepakati, Hakim/Pengadilan Negeri harus menerapkan penjelasan Pasal 56 Ayat (2) UU Nomor 30 Tahun 1999 secara luas (extend).

ah

gu

Bahwa seperti yang Pemohon Banding jelaskan di atas, dalam Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo, terdapat dan disepakati

klausula Arbitrase, hanya saja :

- tidak disepakati bentuk arbitrasenya apakah Institusional atau AD HOC;

- juga tidak ditentukan kesepakatan mengenai Rules Arbitrasenya apakah Rules & Procedure BANI, ICC Rules atau UNCITRAL Arbitrase Rules;

Dalam kasus yang demikian semestinya Hakim/Pengadilan Negeri yang memeriksa dan mengadili perkara permohonan pembatalan putusan arbitrase ini harus memperluas (to enlarge, to extend) penerapan penjelasan Pasal 56 ayat (2) UU Nomor 30 Tahun 1999, dengan acuan sebagai berikut :

ah k

am

- apabila klausula arbitrase tidak menentukan bentuk dan rules

ub lik
hak

apa-apa tentang itu ;

gu ng

- maka dalam menghadapi kekosongan atau kevakuman yang demikian

yang harus diterapkan Hakim/Pengadilan Negeri adalah hukum tempat arbitrase dilakukan.

Kalau begitu, oleh karena kekosongan kesepakatan mengenai bentuk dan rules arbitrase tidak mematikan perdata pihak yang

ah

berkepentingan (dalam hal ini Pemohon Banding) dapat memilih bentuk

dan rules arbitrase yang dianggapnya paling memudahkan baginya.

adalah institusi BANI Perwakilan "Surabaya dan rulesnya Rules & Procedure BANI, serta tempat bersidang (principal place) Surabaya, maka tindakan Pemohon Banding itu telah sesuai dengan Penjelasan Pasal 56 ayat (2) UU Nomor 30 Tahun 1999 yakni meminta agar hukum yang

ka

Cara yang demikian sesuai juga dengan Doktrin The Most Appropriate Forum yakni tempat dilakukan persidangan merupakan faktor koneksitas utama (the main connected factors) menentukan hukum yang diterapkan memeriksa dan mengadili perkara Permohonan pembatalan perkara arbitrase ini harus memperluas (to enlarge, to extend) penerapan
Hal. 15 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ah

ep

diterapkan adalah hukum tempat arbitrase dilakukan.

ub

lik

Oleh karena ternyata, Pemohon Banding telah memilih bentuk arbitrasenya

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 15

on

es

In do ne si

yang disepakati dalam perjanjian berarti para pihak tidak menentukan

In do ne si a
arbitrase

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
of Proof,

b
Penjelasan Pasal 56 ayat (2) UU Nomor 30 Tahun 1999. VI. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah salah menerapkan hukum karena dengan sengaja melanggar ketentuan yang digariskan Pasal 70 serta penjelasan Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999. Bahwa pada halaman 14 putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

ah

gu

tersebut mengatakan bahwa dalil permohonan cukup jelas yakni

Termohon telah melakukan tipu muslihat dalam penyelesaian perkara melalui arbitrase. Berarti alasan itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam Pasal 70 huruf c. putusan BANI Perwakilan Surabaya, diambil dari hasil

tipu muslihat yang dilakukan Pemohon Banding dalam pemeriksaan sengketa.

1.Sesuai dengan ketentuan Pasal 163 HIR dan Pasal 1865 KUHPerdata, beban wajib (Burden Bewijslast) dipikulkan kepada

am

Pemohon/Termohon Banding untuk membuktikan adanya tipu muslihat yang dilakukan Pemohon Banding selama proses pemeriksaan

ah k

berlangsung, tetapi ternyata gagal.

Bahwa dalam Pasal 163 HIR atau Pasal 1865 KUHPerdata telah

membuktikannya (who asserts, must proof). Akan tetapi, ternyata selama

ah

gu ng

dalam

proses

pemeriksaan

dalam

persidangan

Pemohon/Termohon Banding tidak pernah mengajukan bukti yang

memenuhi syarat batas minimal pembuktian tentang perbuatan atau

tindakan tipu muslihat yang telah Pemohon Banding lakukan.

Begitu juga pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta

Selatan dalam putusannya tidak dapat menunjuk secara konkrit perbuatan tipu muslihat apa dan yang bagaimana yang telah dilakukan

Baik Termohon Banding maupun Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hanya mendasarkan keterbuktian tipu muslihat itu, semata-mata bertitik tolak dari Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo. Menurut Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan :

ka

- oleh karena itu, tindakan Pemohon Banding mengajukan penyelesaian sengketa kepada BANI Perwakilan Surabaya disimpulkan sebagai tipu muslihat.

ah

ep

- pasal-pasal tersebut tidak memuat klausula arbitrase ;

ub

lik
bukti

Pemohon Banding selama proses pemeriksaan arbitrase berlangsung.

2. Keingkaran Termohon Banding memenuhi hak yang dibenarkan hukum kepadanya,

ng

tidak

dapat

dijadikan

alat

tentang

adanya

gu

Hal. 16 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 16

on

es

In do ne si
berlangsung,

menentukan

prinsip

ep
: siapa

ub lik
yang mendalilkan

In do ne si a
sesuatu, wajib

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
contradictor

b
tipu muslihat. Bahwa sudah barang tentu pendapat dan kesimpulan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut merupakan kesalahan penerapan hukum pembuktian maupun kesalahan penerapan Pasal 70 huruf c UU Nomor 30 Tahun 1999.

gu

Karena segala sesuatu proses pengajuan dan pemeriksaan di BANI

tersebut, dilakukan secara terbuka (disclosure). Dan pengajuan sesuai klausula arbitrase yang dicantumkan pada Pasal 23 GSA Passengers

dan Pasal 24 GSA Cargo. Proses pemeriksaan dilakukan secara adversarial atau dengan cara memberitahu proses

ah

berarbitrase kepada Termohon Banding serta memanggil dan memberi kesempatan kepadanya untuk mengajukan counterclaim sesuai dengan asas audi et alteram partem. Keingkaran Termohon Banding untuk memenuhi haknya menghadiri dan mengajukan Jawaban atau alat bukti yang diperlukan untuk membela kepentingannya tidak dapat dijadikan fakta menjadi alat bukti membuktikan tipu muslihat yang dilakukan Pemohon Banding.

am

ah k

tipu muslihat sehingga putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta

ah

gu ng

Selatan yang mengatakan hal itu terbukti, jelas-jelas merupakan

manipulasi dan merupakan kesalahan penerapan hukum pembuktian.

Oleh karena itu putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut harus dibatalkan dan menolak permohonan pembatalan

yang diajukan Termohon Banding.

Alasan tipu muslihat tidak memenuhi ketentuan penjelasan Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999.

dilakukan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengenai alasan tipu muslihat yang disebut dalam Pasal 70 huruf c UU Nomor 30 Tahun 1999 dikaitkan dengan penjelasan Pasal 70 tersebut. Menurut Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada

ka

- Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999, hanya menyebut tipu muslihat, tetapi tidak menyebut apa unsur-unsurnya ; - Selanjutnya penjelasan menyebutkan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal itu harus dibuktikan dengan putusan pengadilan. Jadi pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
Hal. 17 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ah

ep

halaman 16 putusannya :

ub

lik

Bahwa betapa jauhnya langkah penafsiran dan penerapan yang

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 17

on

es

In do ne si

Dengan demikian, Termohon Banding tidak dapat membuktikan adanya

ep

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
Banding

b
tersebut telah membenarkan bahwa alasan pembatalan apapun yang diajukan (huruf a, b atau c Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999), harus dibuktikan dengan putusan pengadilan. Sehubungan dengan itu, sekiranyapun diikuti pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menyatakan Pasal 70

ah

gu

huruf c tidak menyebut unsur-unsur tipu muslihat. Namun tentang

kebenaran adanya tipu muslihat yang dilakukan Pemohon Banding harus dibuktikan Termohon Banding berdasar putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (selanjutnya disebut BHT) :

yang menghukum Pemohon banding telah melakukan penipuan (bedrog) atau kecurangan berdasarkan ketentuan Pasal 378 KUHP ;

hal itu sesuai dengan ketentuan Pasal 1918 KUHPerdata yang menegaskan, suatu putusan Hakim yang bernilai sebagai alat bukti (bewijsniddelen) adalah putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dengan mana seseorang telah dijatuhi hukuman karena kejahatan dan pelanggaran ;

ah k

am

hanya putusan yang demikian yang dapat dijadikan bukti dalam suatu

Karena begitu, sesuai dengan penjelasan Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun

gu ng

1999, agar alasan tipu muslihat yang didalilkan itu dapat dibenarkan

Pengadilan, maka alasan itu harus dibuktikan dengan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Ternyata Termohon dalam

persidangan,

menunjukkan adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum

tetap, yang menghukum Pemohon Banding melakukan tipu muslihat

selama proses pemeriksaan BANI Perwakilan Surabaya berlangsung.

ah

membuktikan tipu muslihat yang didalilkannya berdasarkan putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, akan tetapi secara tidak benar Majelis Hakim Pengadilan

ub
Negeri

lik
Jakarta

Namun

demikian,

meskipun

Termohon

Banding

ka

menyimpulkan, Pemohon Banding terbukti melakukan tipu muslihat.

menerapkan hukum atau putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut telah melanggar hukum yang digariskan oleh penjelasan Pasal 70 UU Nomor 30 Tahun 1999 jo Pasal1918 KUHPerdata.

ah

ep

Berarti Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan salah

ng

gu

Hal. 18 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 18

on

es

In do ne si
tidak dapat tidak mampu Selatan tetap

perkara perdata.

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
terhadap

b
Menimbang, bahwa alasan-alasan banding tersebut Mahkamah Agung berpendapat : mengenai alasan I : bahwa alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena judex facti tidak salah menerapkan hukum ;

ah

gu

bahwa pasal 72 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

menentukan bahwa permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri, dan sesuai dengan pasal 1 ayat 4 Undang-

Undang Nomor 30 Tahun 1999 Pengadilan Negeri yang dimaksud adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal Termohon ;

bahwa yang dimaksud dengan Termohon, menurut pasal 1 angka 6 Undang-Undang yang sama, adalah pihak lawan dari Pemohon dalam penyelesaian sengketa melalui arbitrase, karena itu Pengadilan Negeri yang berwenang untuk memeriksa dan memutus permohonan pembatalan putusan arbitrase BANI Perwakilan Surabaya Nomor 15/ARB/BANI JATIM/III/2004 adalah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang wilayah hukumnya meliputi tempat tinggal Termohon Arbitrase yakni Yemen Airways yang kantor

am

ah k

bahwa dengan telah diaturnya kompetensi relatif dari Pengadilan Negeri

ketentuan dalam pasal 118 HIR (lex generalis) harus dikesampingkan ; mengenai alasan II :

facti tidak salah menerapkan hukum ;

ah

dari Termohon pada halaman 14 putusannya, sedangkan mengenai eksepsi

bersama-sama pokok perkara (lihat halaman14 putusan sela ) ; mengenai alasan III, IV, V dan VI :

bahwa keberatan-keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena judex facti tidak salah menerapkan hukum ;

ka

Menimbang, bahwa terlepas dari pertimbangan tersebut di atas menurut pendapat Mahkamah Agung amar putusan Pengadilan Negeri kurang lengkap sehingga harus diperbaiki dengan pertimbangan berikut ini ; Menimbang, bahwa dasar permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan oleh Pemohon adalah bahwa BANI Perwakilan Surabaya tidak
Hal. 19 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ah

ep

ub

lik

lainnya karena sudah termasuk pokok perkara maka akan dipertimbangkan

gu ng

di dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 (lex specialis), maka

bahwa alasan tersebut juga tidak dapat dibenarkan, oleh karena judex

bahwa judex facti telah mempertimbangkan mengenai eksepsi butir 2

ng

gu

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 19

on

es

In do ne si

perwakilannya beralamat di Jakarta Selatan ;

ep

ub lik

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
memiliki kewenangan untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon dengan Termohon, dimana Termohon adalah Pemohon Arbitrase dalam perkara Nomor : 15/ARB/BANI JATIM/III/2004 karena dalam perjanjian antara Pemohon dan Termohon yang menjadi dasar sengketa (Appointment of General Sales Agent (Passengers) tanggal 29 Oktober 2001 dan Appointment

ah

gu

of General Sales Agent (Cargo) tanggal 5 Nopember 2002) tidak terdapat

klausul arbitrase yang secara tegas memberikan kewenangan kepada BANI Perwakilan Surabaya untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon dan Termohon ;

bahwa untuk itu Pemohon telah menyurati BANI Surabaya beberapa kali,

namun BANI Surabaya tetap memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon dengan Termohon tersebut ; Menimbang, bahwa

am

pertama-tama

ub lik
Mahkamah

mempertimbangkan mengenai alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang diajukan oleh Pemohon/Termohon Arbitrase ke Pengadilan Negeri ;

ah k

bahwa dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999

dimungkinkan karena beberapa hal, antara lain :

ah

tertera dalam Pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999, seperti halnya dengan alasan kompetensi absolut yang dikemukakan oleh Pemohon ; Menimbang, bahwa selanjutnya

ub

Mahkamah

lik

mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase atas alasan diluar yang

gu ng

a. surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu ;

b. setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan pihak lawan ; atau

c. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa ;

bahwa kata antara lain tersebut memungkinkan Pemohon untuk

ka

mempertimbangkan mengenai ada atau tidaknya klausula arbitrase dalam

bukti P2 = T2) ;

ah

bahwa baik Pasal 24 dalam bukti P1 (Appointment of General Sales Agent (Passengers) tanggal 29 Oktober 2001) maupun Pasal 23 bukti P2 (Appointment of berbunyi : General Sales Agent (Cargo) tanggal 5 Nopember 2002)

ep

kedua perjanjian yang dibuat oleh Pemohon dan Termohon (bukti P1 = T1 dan

ng

gu

Hal. 20 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 20

on

es

In do ne si
Agung akan

tertera bahwa Bab VII mengatur tentang pembatalan putusan arbitrase. Hal ini

ep

In do ne si a
Agung akan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Negeri

b
Arbitration This Agreement shall in all respects be interpreted in accordance with the Laws of the Republic of Yemen ;

ah

gu

bahwa dari rumusan tersebut jelas terlihat bahwa penyelesaian sengketa

yang timbul berdasarkan perjanjian-perjanjian itu harus diselesaikan menurut hukum Republik Yaman, dan karenanya BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang untuk menyelesaikan sengketa antara Pemohon dengan Termohon ;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka

permohonan banding yang diajukan oleh Pemohon Banding : PT. Comarindo Expres Tama Tour & Travel tersebut harus ditolak dengan perbaikan amar putusan Pengadilan Jakarta Selatan Nomor :

am

254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel. tanggal 6 Januari 2005 sehingga amarnya seperti yang akan disebutkan di bawah ini ;

ah k

Menimbang, bahwa oleh karena Pemohon Banding adalah pihak yang kalah, maka biaya perkara dalam tingkat banding ini dibebankan kepadanya ;

1999,

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 14

Tahun 2004 dan peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan :

gu ng

Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5

MENGADILI :

Menolak

permohonan

banding

dari

Pemohon

Banding

ah

Memperbaiki amar putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor : 254/Pdt.P/2004/PN.Jak.Sel. tanggal 6 Januari 2005 sebagaimana yang dipertimbangkan di atas sehingga selengkapnya berbunyi sebagai berikut ; DALAM EKSEPSI Menolak eksepsi Termohon ;

ka

DALAM POKOK PERKARA -

ah

Mengabulkan permohonan Pemohon ;

15/ARB/BANI JATIM/III/2004 tanggal 19 Agustus 2004 ;

ng

gu

Hal. 21 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 21

on

es

Membatalkan putusan arbitrase dari BANI Perwakilan Surabaya Nomor

ep

ub

lik

COMARINDO EXPRES TAMA TOUR & TRAVEL tersebut ;

In do ne si
: PT.

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 30

ep

ub lik

In do ne si a
Tahun

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
6.000,1.000,Rp.493.000,==========

b
Menyatakan BANI Perwakilan Surabaya tidak berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa antara Pemohon dan Termohon yang didasarkan pada Appointment of General Sales Agent (Passengers) tanggal 24 Oktober 2001 dan Appointment of General Sales Agent (Cargo) tanggal 5 Nopember 2002 ;

ah

gu

Menghukum Pemohon Banding/Termohon

untuk membayar biaya

perkara dalam kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding ini ditetapkan sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) ;

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah

Agung pada hari Rabu tanggal 17 Mei 2006 oleh Marianna Sutadi, SH Hakim

Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Atja Sondjaja, SH dan Prof. Rehngena Purba, SH, MS, Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh Nani Indrawati, SH, M. Hum. dihadiri oleh para pihak ; Panitera Pengganti dengan tidak

ah k

am

ttd/ Atja Sondjaja, SH.

ttd/

Biaya-biaya :

gu ng

ttd/ Prof.Rehngena Purba,SH.,MS.

Marianna Sutadi, SH.

Panitera Pengganti : ttd./

1. M e t e r a i Rp. 2. R e d a k s i ... Rp.

Nani Indrawati, SH.,M. Hum.

ah

3. Administrasi kasasi

J u m l a h .. Rp.500.000,-

Untuk salinan

MAHKAMAH AGUNG RI an.Panitera

ka

ah

(H. Parwoto Wignjosumarto,SH)

ep

Plt. Kepala Direktorat Perdata

ng

gu

Hal. 22 dari 22 hal. Put. No.03/Arb.Btl/2005

ik

Dokumen ini diunduh dari situs http://putusan.mahkamahagung.go.id, sesuai dengan Pasal 33 SK Ketua Mahkamah Agung RI nomor 144 SK/KMA/VII/2007 mengenai Keterbukaan Informasi Pengadilan (SK 144) bukan merupakan salinan otentik dari putusan pengadilan, oleh karenanya tidak dapat sebagai alat bukti atau dasar untuk melakukan suatu upaya hukum. Sesuai dengan Pasal 24 SK 144, salinan otentik silakan hubungi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara.

In d
Halaman 22

on

es

NIP.040.018.142.

ub

lik

In do ne si

Hakim-Hakim Anggota :

ub lik

Ketua :

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
khusus

b
PUTUSAN

No. 904 K/PDT.SUS/2009

ng

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG perdata arbitrase memeriksa perkara dalam tingkat

memutuskan sebagai berikut dalam perkara :

1. PT. PERTAMINA EP, berkedudukan di Jakarta, berkantor Pusat di Menara Standard Chartered Lt. 27, Jl. Prof. Dr.

Satrio No. 164, Jakarta, diwakili oleh SALIS S. APRILIAN, kepada M. HAKIM NASUTION, SH., LL.M., dan kawankawan, para Advokat, berkantor di Rukan Permata Senayan Unit B-19, Jl. Tentara Pelajar No. 5, Jakarta Selatan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 04 September Pemohon Banding I dahulu Pemohon II ; 2009 ;

ah

am

ah k

2. PT. PERTAMINA (Persero), berkedudukan di Jalan Merdeka Timur 1A, Jakarta 10110, diwakili oleh KAREN AGUSTIAWAN, Direktur Utama Perseroan, dalam hal ini memberi kuasa kepada M. YAHYA HARAHAP, SH., dan

ep

kawan-kawan, para Advokat, berkantor di Jakarta, Gedung Gatot Subroto, Senayan, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 15 September 2009 ; Pemohon Banding II dahulu Pemohon I ; TERHADAP

Manggala Wanabakti, Block IV, 8th Floor, Wing B, Jl. Jend.

ah

PT.

LIRIK

PETROLLEUM,

berkedudukan

lik
Putusan

Satmarindo, Jl. Ampera No. 5, Cilandak Timur, Jakarta 12560, Mahkamah Agung tersebut ;

ka

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Banding II dan Pemohon Banding I dahulu sebagai Pemohon I dan II

ah

telah

mengajukan

permohonan

ep

Membaca surat-surat yang bersangkutan ;

pembatalan

ub

Termohon Banding dahulu Termohon ;

14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 terhadap sekarang Termohon Banding

ng

dahulu sebagai Termohon di muka persidangan Pengadilan Negeri Jakarta

gu

Hal. 1 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 1

es

In do ne si
di Gedung Arbitrase No.

gu ng

ub lik

Presiden Direktur Perseroan, dalam hal ini memberi kuasa

In do ne si a
banding

gu

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
Pusat pada pokoknya atas dalil-dalil : Bersama ini Pemohon mengajukan permohonan pembatalan terhadap Putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM sesuai dengan Surat Permohonan Pendaftaran yang diajukan oleh Ketua Majelis Arbitrase ICC, melalui Kuasanya, Anita Kolopaking & Partners pada tanggal 20 April 2009 melalui Surat

ah

gu

Permohonan Pendaftaran Putusan Pengadilan Arbitrase Internasional ICC

(International Chamber Of Commerce) Case No. 14387/JB/JEM (P-1), berdasar Specific Power of Attorney tanggal 14 April 2009 (P-2) dan atas dasar permohonan itu, Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM ("Putusan Arbitrase a quo") telah didaftarkan oleh Panitera di Kepaniteraan PN Jakarta Pusat Int/2009/PN.JKT. PST. tanngal 21 April 2009 (P~3), yang terdiri dari: PARTIAL AWARD Tanggal 22 September 2008 (P-4a)

am

dengan amar putusan (Order) yang berbunyi:

ah k

1) Both the First Respondent and Second Respondent are proper parties to this arbitration. The First Respondent is a party to the EOR Contract and the arbitration agreement in Section XII. The Second Respondent

has voluntarily assumed the obligations of the First Respondent under

ah

gu ng

the EOR Contract, including the obligation to arbitrate and has signed the Terms of Reference and participated in this arbitration.

2) The First and Second Respondent wrongfully refused to accord

commerciality to the Molek, South Pulai and North Pulai, in breach of

the EOR contract, and are liable to pay damages to the Claimant for its loss of profits from being unable to realise Incremental Oil from these fields from 12 September 1995 to 27 March 2006.

not constitute an event of force majeure and accordingly the term of The EOR Contract expired on 27 March 2006. 4) The Respondents failed to provide for the transport of oil through its pipeline system, in breach of its obligations under the EOR contract, damages to the Claimant for all losses the Claimant suffered as result of the pipeline blockage during this period. 5) The Respondents have failed to pay their share of the operating expenses incurred in producing crude oil in cash from May 1994 to 27 March 2006, in breach of the operating agreement contained in the EOR from 21 December 1998 to 27 March 2006 and are liable to pay

ka

ah

ep

ub

lik

3) The total blockage of pipeline system from link to Buatan Terminal did

ng

gu

Hal. 2 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 2

es

In do ne si

ub lik

dengan Akte Pendaftaran Putusan Arbitrase lnternasional No. 02/Pdt/Arb-

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
Contract. The Claimant is entitled to damages. for the loss it has plus interest at LIBOR plus 2% (in accordance with articie 9.6 of the retained from the Respondents' 50% share of the Incremental Oil. sustained (if any) equal to the amount of the unpaid operating expenses Operating Agreement) less the value of any proceeds receive and 6) The Respondents; Counterclaims are dismissed. 7) All other decisions are left to a later award. 1)

Terjemahan:

Baik Termohon 1 maupun Termohon 2 adalah pihak yang memenuhi

syarat dalam arbitrase ini. Termohon 1 adalah pihak dalam EOR

ah

Bagian XII. Termohon 2 telah secara voluntaer menerima kewajiban Termohon 1 berdasarkan EOR Contract, termasuk kewajiban untuk berarbitrase dan telah menandatangani Term of Reference dan berpartisipasi dalam arbitrase ini. 2) Penolakan Termohon 1 dan 2 untuk memberikan komersialitas pada Lapangan Molek, South Pulai dan North Pulai adalah salah karena melanggar EOR Contract oleh karena itu bertanggungjawab untuk

ah k

am

membayar ganti kerugian kepada Pemohon atas kerugian berupa

ah

gu ng

kehilangan atas keuntungan karena tidak mendapat Incremental Oil Maret 2006.

dari lapangan-lapangan tersebut sejak 12 September 1995 sampai 27 Pemampatan total sistem jalur pipa dari Lirik ke Terminal Buatan Maret 2006.

3)

bukan merupakan force majeure dan EOR Contract berakhir pada 27 Kegagalan para Termohon menyediakan penyaluran minyak melalui

4)

berdasarkan EOR Contract sejak 21 Desember 1998 sampai 27 Maret 2006. Oleh karena itu, bertanggungjawab atas kerugian yang Pemohon derita selama periode dimaksud. 5) Para Termohon telah gagal untuk membayar kewajiban mereka secara mentah sejak bulan Mei 1994 sampai 27 Maret 2006, sehingga melanggar perjanjian dalam EOR Contract. Dengan demikian, Pemohon berhak memperoleh ganti kerugian yang berlanjut (jika ada) setara dengan besaran dari biaya operasi yang tidak dibayar ditambah suku bunga LIBOR plus 2% (sesuai dengan Pasal 9.5. dari Perjanjian

ka

ah

ep

tunai atas biaya operasi yang dikeluarkan untuk memproduksi minyak

ub

lik

sistem jalur pipanya, merupakan wanprestasi memenuhi kewajibannya

ng

gu

Hal. 3 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 3

es

In do ne si

ub lik

Contract dan telah menyetujui klausula arbitrase yang diatur dalam

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
of Contract U8$ failure

b
Operasi) dikurangi nilai untuk setiap hasil yang akan diterima Termohon sebesar 50% dari Incremental Oil. 6) 7) Menolak seluruh tuntutan rekonvensi dari para Termohon, selanjutnya. Keputusan mengenai hal-hal lainnya akan dijatuhkan dalam putusan FINAL AWARD Tanggal 27 Februari 2009 (P-4b)

Dengan amar putusan (Award and Order) yang berbunyi sebagai berikut: 86. Tribunal awards, orcierand declare as follows: US$

(a) The Respondents shalf pay to the Claimant the sum 34,172,178 as damages for breach of the EOR (and comprising US$25,311, 940 for commerciality issue; 8,722,569 of for the pipeline failure issue and US$ 137,669 for the payment claim); the being administrative expenses paid by the Claimant; the Claimant the

ah

am

ah k

ep

(b) In addition to the damage awarded in paragraph (a), Respondents share shall pay to the Claimant the sum of US$323,250 of

the arbitrators fees ana expenses and the ICC

(c) Thus the total amount payable by the Respondent to US$34, 495; 428:

ah

87. The Respondent shall pay interest on the total amount payable, as specified in paragraph 86(c), from the date of registration of this Award under Article 59 of the Indonesian Arbitration Law or the obtaining Arbitration of an order of Exequatur under Article 66 of the Indonesian Law until the date of payment at the rate of 6% p.a.

ka

ah

ep

Final

ub

lik

ng

gu

Hal. 4 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 4

es

In do ne si
is

gu ng

ub lik

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Arbitrase

b
88. Each party is to bear its own legal and other costs. 89. All other claims and request are rejected. Terjemahan:

86. Majelis

memutuskan,

memerintahkan

menetapkan sebagai berikut: Pemohon,

(a) Para Termohon diwajibkan untuk membayar kepada sejumlah US$ 34.172.178 sebagai ganti kerugian atas pelanggaran terhadap EOR Contract (dan terdiri US$ 8.722.569 untuk masalah kegagalan jalur pipa dan US$ 137.669 untuk masalah klaim kegagalan dalam membayar); (b) Sebagai diberikan tambahan atas ganti kerugian yang

ah

am

ep

ah k

paragraf (a) Para Termohon diwajibkan untuk

sebagai bagian atas biaya dan pengeluaran Arbiter oleh Pemohon; oleh Termohon 34.495.428. total kepada Para Pemohon

gu ng

serta pengeluaran administratif ICC yang dibayarkan

(c) Dengan demikian, jumlah total yang wajib dibayar adalah

87. Para Termohon diwajibkan untuk membayar bunga atas

ah

yang harus dlbayarkan, sebagaimana disebutkan dalam Paraqraf Pasal eksekuatur Indonesia 86 (c), dari tanggal pendaftaran Final Award berdasarkan 59 Undang-undang Arbitrase Indonesia atau memperoleh berdasarkan

ka

ah

ep

Pasal

ub
66

lik
sampai

jumlah

Undang-undang

dengan tanggal pembayaran sebesar 6% per tahun.

ng

88. Masing-masing pihak memikul sendiri biaya hukum dan

gu

Hal. 5 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 5

es

In do ne si
US$ Arbitrase

membayar kepada Pemohon sejumlah US$ 323.250

ub lik
dalam

atas US$ 25.311.940 untuk masalah komersialitas,

In do ne si a
dan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
putusan akan

b
biaya lainnya. Para Pemohon berpendapat, 89. Menolak tuntutan-tuntutan selebihnya. arbitrase a

dipertahankan, oleh karena itu harus dibatalkan berdasar penjelasan dan alasan yang dikemukakan di bawah ini : PENDAFTARAN PUTUSAN ARBITRASE CASE NO. 14387/JB/JEM Pasal 59 Ayat (1) UU NO. 30/1999

MELANGGAR/BERTENTANGAN DENGAN

Majelis Hakim Yth.

ah

yang ditentukan Pasal 59 ayat (1) Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disebut "UU No. 30/1999"), berdasar penjelasan dan fakta-fakta yuridis berikut ini. 1. Putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase domestik Sebagaimana yang

am

ep

ah k

para

ub lik
Pemohon jelaskan

Pendaftaran putusan arbitrase a quo telah melampaui batas tenggang waktu

komprehensif pada uraian selanjutnya, putusan arbitrase a quo adalah

1.1 Tempat Pokok Kedudukan Persidangan Arbitrase Diselenggarakan

ah

gu ng

di Jakarta, Indonesia

Bahwa tempat pokok pelaksanaan arbitrase adalah Jakarta, Indonesia

ditegaskan dalam klausula arbitrase Pasal XII.1.4 Enhanced Oil Recovery Contract (P-5) (selanjutnya. disebut "EOR Contract") yang berbunyi sebagai berikut : "Except as provided in this Section, arbitration shall be conducted Chamber of Commerce" Terjemahan:

in Jakarta, in accordance with the rules of Arbitration of the International

Kecuali diatur lain dalam bagian ini, arbitrase dilaksanakan di Jakarta, sesuai dengan Peraturan Arbitrase International Chamber of Commerce . Dengan demikian, para Pemohon dapat membuktikan bahwa para pihak telah memilih tempat kadudukan arbitrase di Jakarta, Indonesia bukan di luar wilayah Republik Indonesia. 1.2 Putusan Diambil dan Dijatuhkan di Jakarta, Indonesia Baik pada kalimat terakhir Partial Award maupun Final Award jelas dicantumkan rumusan yang berbunyi:

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 6 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 6

es

In do ne si

putusan domestik sesuai dengan alasan berikut:

In do ne si a
quo tidak dapat lebih rinci dan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
batas arbitrase diucapkan: (tardief, dilampaui, bersangkutan;

b
"Place of arbitration, Jakarta, Indonesia" Terjemahan: Tempat berarbitrase: Jakarta, Indonesia Bertitik tolak dari bunyi kalimat terakhir Partial Award dan Final Award putusan arbitrase a quo adalah putusan domestik, karena diambil dan tersebut, maka menurut Pasal 1.9. dan Pasal 66 huruf a UU No. 30/1999

dijatuhkan di wilayah hukum RI, yakni Jakarta (bukan putusan arbitrase internasional/asing, karena bukan diambil dan dijatuhkan di luar wilayah yang berbunyi: on the date stated herein." Terjemahan: hukum Indonesia). Hal ini juga sejalan dengan Pasal 25 ayat (3) ICC Rules

ah

am

"Putusan arbitrase dianggap dibuat di tempat arbitrase dilangsungkan dan pada tanggal yang dinyatakan dalam putusan arbitrase tersebut." 2 Oleh karena putusan a quo adalah putusan arbitrase domestik, maka batas tenggang waktu pendaftarannya kepada Panitera Pengadilan Negeri (PN) tunduk kepada ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999

ah k

Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999 berbunyi:

gu ng

"Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal

putusan diucapkan, lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase Pengadilan Negeri.

diserahkan dan didaftarkan oleh Arbiter atau kuasanya kepada Panitera Bertitik to!ak dari ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU No.30/1999 tersebut : tenggang waktu pendaftaran adalah domestik

ah

ketentuan batas waktu ini bersifat fatal termiyn

ub
tardy) gugur

ka

memaksa, sehingga apabila tenggang waktu itu untuk mendaftarkan putusan arbitrase yang

lik

(tiga puluh) hari dari tanggal putusan arbitrase

ah

dinyatakan

tidak

dapat

ng

diterima (niet onvankelijk verklaard, inadmissible

gu

Hal. 7 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 7

es

akibat hukumnya, permohonan pendaftaran harus

ep

In do ne si
putusan 30 dan hak

ub lik

"The award shall be deemed to be made at the place of the arbitration and

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
declare)

b
atau menolak 3 Ternyata permohonan pendaftaran putusan arbitrase a quo kepada Panitera PN Jakarta Pusat telah melampaui batas tenggang waktu yang ditentukan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999 Majelis Hakim Yth.

permohonan pendaftaran.

Pengajuan permohonan pendaftaran putusan arbitrase a quo yang telah melampaui batas tenggang waktu yang ditentukan Pasal 59 ayat (1)

disampaikan kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ternyata

ah

3.1 Final Award, yakni putusan akhir (eind vonnis) Dijatuhkan Pada Tanggal 27 Februari 2009 Final Award sebagai putusan akhir (eind vonnis) atas putusan arbitrase Case No. 14387/JB/JEM, diambil dan diucapkan pada tanggal 27 Februari 2009. Dengan demikian, tenggang waktu memperhitungkan jangka waktu

am

ah k

2009 sampai dengan tanggal 28 Maret 2009.

ah

gu ng

3.2 Ternyata pendaftaran diajukan dan disampaikan kepada Panitera PN Jakarta Pusat tanggal 21 April 2009

Berdasarkan fakta administratif yustisial yang para Pemohon temukan di Kepaniteraan PN Jakarta Pusat sebagaimana yang tercantum dalam Register No. Relaas 02/Pdt/Arb-lnt/2009/PN.Jkt.Pst. tanggal 21 April 21 April 2009.

2009 (Bukti P-3), putusan arbitrase a quo baru didaftarkan pada tanggal Berdasarkan fakta ini, nyata-nyata pendaftaran putusan arbitrase a quo

telah melampaui batas tenggang waktu yang ditentukan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999, karena pendaftaran baru diajukan dan diterima setelah 54 (lima puluh empat) hari dari tanggal putusan diucapkan/ dijatuhkan. Bertitik tolak dari fakta-fakta yang disebutkan di atas, pendaftaran putusan arbitrase a quo telah melampaui batas tenggang waktu yang ditentukan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30 Tahun 1999. Oleh karena itu, berdasar pelanggaran ini, cukup beralasan untuk menjatuhkan putusan: 1) Menyatakan arbitrase Case putusan No.

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 8 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 8

es

In do ne si

pendaftaran atas putusan arbitrase a quo adalah tanggal 27 Februari

ep

ub lik

UU No. 30/1999 berdasarkan fakta-fakta berikut :

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
14387/JB/JEM tanggal 27 September 2008

Februari 2009 jo. tanggal 22 Putusan arbitrase domestik; 2) Menyatakan permintaan

putusan arbitrase Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September 2008, telah

ah

am

ub lik
3) Menolak tidaknya

melampaui batas tenggang waktu yang ditentukan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999; atau setidakmenerima yang Case No. 22 tidak

ep

ah k

pendaftaran arbitrase Februari

diajukan terhadap putusan 14387/JB/JEM tanggal 27 2009 jo. September Pusat 2008

Kepaniteraan atau

Pengadilan Negeri manapun batas tenggang waktu yang

karena telah dilampauinya ditentukan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999;

ah

4) Menyatakan

lik
arbitrase September mempunyai eksekutorial dilampauinya tenggang

ub ep R

ka

14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo, tanggal 22 2008 karena waktu tidak telah batas yang kekuatan

ah

ng

gu

Hal. 9 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 9

es

In do ne si
di PN Jakarta Kepaniteraan putusan No. Case

gu ng

In do ne si a
adalah pengajuan pendaftaran

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dapat

b
ditentukan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999. PERMOHONAN PEMBATALAN MEMENUHI SYARAT FORMIL Terlepas dari apa yang dikemukakan di atas, bahwa pendaftaran putusan arbitrase a quo telah melampaui batas tenggang waktu pendaftaran yang diatur

gu

dalam Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999, ditinjau dari syarat formil permohonan pembatalan putusan arbitrase para Pemohon jelaskan

permohonan pembatalan yang diajukan adalah sah menurut hukum, karena dan fakta-fakta berikut ini.

semua syarat formil yang ditentukan telah terpenuhi berdasarkan penjelasan

ah

Mengenai keabsahan permohonan dari aspek kompetensi/yurisdiksi dapat dijelaskan dasar dan fakta berikut 1.1 Putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase domestik, oleh karena itu permohonan pembatalan adalah kompetensi pengadilan Indonesia Bahwa untuk menentukan apakah suatu putusan arbitrase merupakan

am

ah k

pada ketentuan Pasal 1.9 dan Pasal 66 huruf a UU No. 30/1999:

ah

gu ng

Pasal 1.9 berbunyi:

"Putusan arbitrase internasional adalah putusan yang dijatuhkan oleh

suatu lembaga arbitrase atau Arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau Arbiter dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional." Pasal 66 huruf a berbunyi:

perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia

arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terikat pada perjanjian, baik secara bilateral maupun multilateral, mengenai pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional." Bertitik tolak dari ketentuan pasal-pasal tersebut di atas, landasan asing, berpatokan 1) pada untuk menentukan suatu putusan arbitrase domestik atau internasional/

ka

ep
asas putusan

ub
dijatuhkan

wilayah/teritorial di

lik
maka

"Putusan arbitrase internasional dijatuhkan oleh Arbiter atau majelis

ah

penerapan: Apabila

Indonesia,

ng

putusan itu oleh undang-undang dikategorikan sebagai

gu

Hal. 10 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 10

es

wilayah

In do ne si
dengan acuan Republik

putusan arbitrase domestik atau internasional/asing, harus mengacu

ep

ub lik

1. Permohonan Diajukan Ke Pengadilan Yang Kompeten

In do ne si a
bahwa

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Award,

b
putusan Sebaliknya, apabila putusan itu diambil dan dijatuhkan di luar

arbitrase domestik.

wilayah RI, putusan itu dikategorikan sebagai putusan arbitrase internasional/asing. 2) dan hukum

gu

Asas teritorial tidak dapat disingkirkan oleh faktor rule material yang disepakati atau dipilih dan diterapkan juga tidak dapat dikesampingkan oleh faktor perbedaan kewarganegaraan/ kebangsaan;

ah

Partial

dan

Final

ub lik
tempat pokok

1.2

Berdasarkan kIausula dalam EOR Contract, pernyataan dalam (principal place) persidangan dan putusan dijatuhkan adalah di Jakarta, Indonesia Untuk membuktikan kebenaran tempat pokok berabitrase dan putusan dijatuhkan berada di wilayah RI, dapat para Pemohon tunjukkan faktafakta berikut: 1.2.1 Pasal XII.1.4 EOR Contract mengatur klausula arbitrase.

am

ah k

arbitrase adalah Jakarta, Indonesia. Klausula tersebut berbunyi:

ah

gu ng

"Except as provided in this Section, arbitration shall be conducted in Jakarta, in accordance with the rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce." Terjemahan:

"Kecuali diatur lain dalam bagian ini, arbitrase dilaksanakan di Jakarta, sesuai dengan Peraturan Arbitrase International Chamber of Commerce."

(expressis verbis) menyatakan: "Place of Arbitration Jakarta, Indonesia". 1.2.3 Pertimbangan kalimat terakhir angka 74 Final Award menyataJakarta,

ka

ah

Pertimbangan tersebut berbunyi: "the seat of the arbitration is Jakarta, ... " Terjemahan:

ep

kan bahwa Majelis Arbitrase kedudukan arbitrase adalah di

ub

lik

1.2.2 Kalimat terakhir Partial Award maupun Final Award secara tegas

ng

" ... kedudukan arbitrase adalah di Jakarta, ... "

gu

Hal. 11 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 11

es

In do ne si

Dalam klausula ini ditegaskan tempat pokok pelaksanaan

ep

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
putusan

b
Bertitik tolak dari fakta-fakta 1.2 ini, dihubungkan dengan angka a quo 1.1, para Pemohon dapat membuktikan bahwa putusan arbitrase adalah domestik, sehingga permohonan

pembatalan terhadapnya menjadi yurisdiksi absolut pengadilan Indonesia.

ah

gu

1.3

Pengajuan permohonan pembatalan menjadi yurisdiksi absolut pengadilan negeri di tempat mana putusan didaftarkan

peradilan Indonesia sedangkan yurisdiksi relatifnya jatuh menjadi Seperti yang dijelaskan di atas, Putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM adalah domestik berdasar Pasal 1.9 dan Pasal 60 huruf a UU No. permohonan pembatalan jatuh menjadi yurisdiksi absolut peradilan Indonesia dalam hal ini Pengadilan Negeri (PN). Selanjutnya ternyata Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mendaftarkan putusan a quo pada tanggal 21 April 2009 berdasar

am

ah k

permohonan dari Anita Kolopaking & Partners tanggal 20 April 2009 yang bertindak sebagai Kuasa Majelis Arbitrase yang memutus perkara ini berdasar Specific Power Of Attorney tanggal 14 April 2009 (vide P-

ep
kemudian arbitrase

3). Oleh karena itu, sesuai dengan ketentuan Pasal 71 UU No. 30/1999;

ah

gu ng

mau tidak mau, para Pemohon harus mendaftarkan permohonan pembatalan putusan arbitrase a quo di PN Jakarta Pusat. Berdasar penjelasan dan fakta-fakta di atas, para Pemohon dapat formil ditinjau dari aspek yurisdiksi absolut dan relatif.

membuktikan, bahwa permohonan pembatalan telah memenuhi syarat

2. Permohonan Diajukan Dalam Tenggang Waktu Yang Ditentukan

Tenggang waktu pengajuan permohonan pembatalan diatur dalam Pasal 70 didaftarkan putusan arbitrase di Kepaniteraan PN: -

ternyata putusan arbitrase a quo didaftarkan putusannya oleh Majelis Arbitrase di PN Jakarta Pusat tanggal 21 April 2009;

ka

ep
puluh

ub
permohonan satu)

lik
hari

UU No.30/1999. Menurut pasal ini tenggang waktunya 30 hari dari tanggal

pembatalan para

diajukan

ah

Pemohon pada tanggal 11 Mei 2009 yaitu 21

tanggal pendaftaran.

Berdasar fakta-fakta hukum yang para Pemohon kemukakan di atas,

ng

gu

Hal. 12 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 12

es

(dua

In do ne si
putusan dari

ub lik

30/1999. Oleh karena itu, berdasarkan Pasal 70 UU No. 30/1999,

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
pengajuan permohonan pembatalan putusan arbitrase telah memenuhi syarat formil yang ditentukan Pasal 70 UU No. 30/1999. 3. Permohonan Memenuhi Syarat Alasan Yang Ditentukan UndangUndang, Berdasar Alinea ke-18 Penjelasan Umum UU No.30/1999 berikut: Alinea ke-18 Penjelasan Umum Pasal 70 UU No. 30/1999 berbunyi sebagai

"Bab VII mengatur tentang pembatalan putusan arbitrase. Hal ini dimungkinkan karena beberapa hal antara lain:

a. surat atau dokumen yang

diajukan dalam pemeriksaan,

ah

am

ub lik
b. setelah ditemukan bersifat

setelah

dijatuhkan diakui palsu atau dinyatakan palsu; putusan dokumen diambil yang

ep R gu ng A
Memang benar alinea ke-18 lain". -

ah k

yang sengaja disembunyikan pihak lawan; atau c. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh pihak salah dalam satu

sengketa." Penjelasan

3.1 Dalam kalimat itu terdapat perkataan: "antara lain"

Umum

mendeskripsikan alasan permohonan pembatalan yang sama persis

ah

tetapi, deskripsi itu pada alinea ke-18 didahului dengan kata: "antara Dengan demikian secara gramatikal dan redaksional membuktikan kehendak/keinginan legislatif/pembuat undang-undang ( legislative purpose), bahwa alasan yang disebut pada Pasal 70 tersebut:

ka

ah

ep

tidak limitatif dan enumeratif; tetapi bersifat terbuka dan ekstensif atau dapat diperluas.

ub

lik

dengan alasan yang disebut pada Pasal 70 UU No. 30/1999. Akan

3.2 Perluasan alasan permohonan pembatalan di luar yang disebut Pasal 70 UU No. 30/1999, dibenarkan oleh yurisprudensi

ng

gu

Hal. 13 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 13

es

In do ne si
pemeriksaan tersebut,

In do ne si a
putusan menentukan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
-

b
Pendapat yang menyatakan alasan permohonan pembatalan yang ditentukan Pasal 70 UU No. 30/1999 tidak bersifat limitatif dan enumeratif, dibenarkan oleh praktek peradilan. Antara lain ditegaskan

dalam Putusan MA No. 03/Arb.BtI/2005 tanggal 17 Mei 2005 (P-6) halaman 20 yang menyatakan: "Bahwa kata "antara lain" tersebut memungkinkan Pemohon untuk

mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase atas alasan di luar yang tertera dalam Pasal 70 Undang-undang No. 30 Tahun 1999, seperti halnya alasan kompetensi absolut yang dikemukakan oleh Pemohon". lain :

ah

am

alasan yang disebut pada Pasal 70 tidak bersifat limitatif. karena pada Penjelasan Umum (alinea ke18) alasan yang disebut pada Pasal 70 itu adalah antara lain.

ah k

yurisdiksi termasuk sebagai alasan permohonan pembatalan putusan

ah

gu ng

arbitrase.

Bertitik tolak dari alasan-alasan dan fakta-fakta yuridis yang para Pemohon permohonan pembatalan ini sesuai dengan Penjelasan Umum alinea 18 UU No. 30/1999 dan yurisprudensi. DASAR HUKUM PERMOHONAN PEMBATALAN

kemukakan di atas, alasan-alasan permohonan yang diajukan dalam

PUTUSAN BERTENTANGAN DENGAN KETERTIBAN UMUM

MENGANDUNG CACAT KONTROVERSI SERTA MELANGGAR Pasal 54 AYAT (1) huruf a UU No. 30/1999 Seperti yang para Pemohon jelaskan di atas, alinea ke-18 Penjelasan Umum UU No. 30/1999 dan yurisprudensi memperluas alasan dalam Pasal 70 UU Bahwa bertitik tolak dari landasan hukum tersebut, alasan permohonan pembatalan terhadap putusan arbitrase a quo yang para Pemohon ajukan dalam permohonan ini adalah alasan-alasan yang dibenarkan dalam Penjelasan Umum alinea ke-18 serta yurisprudensi dimana bobot dan kualitas maupun intensitas cacat cela serta kesalahan yang melekat pada alasan-alasan yang No.30/1999.

ka

ah

ep

ub

lik

JUGA MELANGGAR ASAS ULTRA PETITA, DAN

ng

gu

Hal. 14 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 14

es

In do ne si

Dalam putusan ini, Mahkamah Agung membenarkan pelanggaran

ep

ub lik

Dalam putusan ini terdapat pertimbangan yang menyatakan, antara

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
kuasa

b
diajukan sedemikian rupa, lebih parah atau paling tidak sama bobot cacat celanya dengan alasan yang disebut dalam Pasal 70 tersebut, sehingga alasanalinea ke-18 UU No. 30/1999. arbitrase a quo, terdiri dari : alasan tersebut telah memenuhi syarat formil dan materiil Penjelasan Umum Adapun cacat cela dan kesalahan yang terdapat dan melekat dalam putusan

Pertama : Putusan arbitrase a quo melanggar Pasal 54 ayat (1) huruf a UU No. KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA.

30/1999, karena putusan arbitrase a quo tidak berkepala : DEMI

Kedua :

Putusan arbitrase a quo melanggar ketertiban umum, karena putus-

ah

undangan yang mendudukkan Pemohon (PERTAMINA) sebagai pemegang otoritas pertambangan MIGAS mewakili pemerintah mengatur dan mengendalikan kebijakan pemberian penetapan STATUS KOMERSIAL suatu lapangan pertambangan produksi. Ketiga : Putusan arbitrase a quo melanggar ultra petitum partium, karena

am

ah k

karena itu putusan mengandung cacat ultra vires serta sekaligus Keempat : Putusan arbitrase a quo mengandung cacat kontroversi, karena dalam putusan tersebut terdapat pertimbangan yang saling penegakan kepastian hukum.

ah

Alasan-alasan di ataslah yang menjadi dasar hukum ( rechtegroud, legal foundation) dalil atau fundamentum petendi permohonan pembatalan dan pada relevansi membatalkan putusan arbitrase a quo. dasarnya masing-masing alasan tersebut sama-sama memiliki potensi dan FAKTA-FAKTA YANG MENDUKUNG KEBENARAN ALASAN-ALASAN PERMOHONAN PEMBATALAN Majelis Hakim Yth.

gu ng

melanggar tata tertib beracara.

bertentangan, sehingga putusan yang dijatuhkan melanggar asas

ka

Dalam uraian berikut ini, para Pemohon akan menunjukkan fakta-fakta yang mendukung kebenaran pelanggaran yang terdapat dan melekat dalam putusan arbitrase a quo ;

ah

ep

ub

lik

1. Putusan arbitrase a quo sebagai putusan domestik melanggar Pasal 54 ayat (1) huruf a UU No. 30/1999.

ng

gu

Hal. 15 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 15

es

In do ne si

putusan tersebut mengabulkan melebihi dari apa yang dituntut oleh

ep

ub lik

an yang diambil bertentangan dengan peraturan perundang-

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
hukum -

b
Pasal 54 ayat (1) huruf a UU No. 30/1999 berbunyi : Putusan arbitrase harus memuat : KETUHANAN YANG MAHA ESA a. Kepala putusan yang berbunyi : DEMI KEADILAN BERDASARKAN Pencantuman kepala putusan tersebut dalam suatu putusan arbitrase

ah

gu

diulang lagi penegasannya di dalam Penjelasan Umum alinea ke-12 yang berbunyi : Seperti halnya dengan putusan pengadilan, maka dalam putusan arbitrase BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

sebagai kepala putusan harus juga mencantumkan DEMI KEADILAN

ke-12 UU No. 30/1999, terdapat kata harus, oleh karena itu pencantuman kepala tersebut bersifat imperatif/memaksa (dwingend, mandatory). Dengan adanya kata harus dalam ketentuan yang para Pemohon kemukakan di atas, pencantuman KEPALA PUTUSAN yang berbunyi : DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA dalam putusan arbitrase domestik adalah :

ah k

am

bersifat imperatif yang berkualitas sebagai memaksa (dwingend recht, mandatory law);

oleh karena itu, Majelis Arbitrase yang memeriksa sengketa ini, wajib mematuhinya ;

1.2 Ternyata putusan arbitrase a quo tidak mencantumkan kepala putusan yang diperintahkan Pasal 54 ayat (1) huruf a UU No. 30/1999.

ah

mencantumkan kepala putusan DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 54 ayat (1) huruf a dan alinea ke-12 Penjelasan Umum UU No. 30/1999, terdapat dan melekat pada tanggal 27 Februari 2009. Partial Award tanggal 22 September 2008, dan pada Final Award, Berdasar fakta-fakta yang dikemukakan pada angka 1.2 di atas, para Pemohon dapat membuktikan, putusan arbitrase a quo, nyata-nyata melanggar dan bertentangan dengan Pasal 54 ayat (1) huruf a dan alinea ke-12 Penjelasan Umum UU No. 30/1999, oleh karena itu :

ka

ah

ep

ub

lik

Terbukti, putusan arbitrase a quo sebagai putusan domestik, tidak

ng

gu

Hal. 16 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 16

es

In do ne si

gu ng

ub lik

1.1 Baik dalam Pasal 54 ayat (1) huruf a maupun Penjelasan Umum alinea

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
2. Fakta

b
1) Putusan arbitrase a quo, batal demi hukum (van rechtswege nietig, null and void); mempunyai eksekutorial ; tentang

2) Putusan arbitrase a quo, tidak

kebenaran

putusan arbitrase a quo terhadap ketertiban umum (openbare orde, public order)

Sehubungan dengan fakta pelanggaran putusan arbitrase a quo terhadap 2.1 Prinsip umum produksi penting dan kekayaan alam Indonesia ditegaskan dalam Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945. Baik sebelum maupun sesudah dilakukan perubahan/amandemen ke-4 UUD 1945 Pasal 33 ayat (2) dan (3), telah menentukan prinsip umum perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial, sebagai berikut :

ah

am

ah k

cabang-cabang produksi oleh negara;

yang penting yang

gu ng

menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai

2.1.2 Berdasar ayat (3), ditegaskan prinsip tata tertib : yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat ;

umum, bahwa bumi dan air dan kekayaan alam sebesar-besar

ah

Mahkamah Konstitusi No. 002/PUU-I/2003 tanggal 21 Desember 2004 (P-7), yang menguji UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi terhadap UUD 1945. Dalam pertimbangannya halaman 208-209, Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia antara lain mengemukakan : haruslah diartikan mencakup makna penguasaan oleh negara dalam arti luas yang bersumber dan diturunkan dari konsepsi kedaulatan rakyat Indonesia atas segala sumber kekayaan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya termasuk pula di dalamnya pengertian kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas Bahwa berdasarkan uraian tersebut, pengertian dikuasai oleh negara

ka

ah

ep

ub

lik

Prinsip umum yang dikemukakan di atas, dipertegas oleh putusan

ng

gu

Hal. 17 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 17

es

In do ne si

2.1.1 Berdasar ayat (2) dipancangkan prinsip bahwa

ep

ub lik

ketertiban umum, dapat para Pemohon kemukakan penjelasan berikut :

In do ne si a
kekuatan pelanggaran

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
kekayaan

b
sumber-sumber dimaksud rakyat secara kolektif itu dikontruksikan oleh UUD 1945 memberikan mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan

(bestuursdaad), pengaturan (regelendaad), pengelolaan (beheersdaad) besarnya kemakmuran rakyat. Fungsi pengurusan (bestuursdaad) oleh mengeluarkan dan mencabut fasilitas perijinan (bergunning), lisensi

dan pengawasan (toezichtthoudensdaad) untuk tujuan sebesarnegara dilakukan oleh pemerintah dengan kewenangannya untuk (licentie), dan konsesi (consessie). Fungsi pengaturan oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan legislasi oleh DPR

ah

pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik Negara sebagai instrumen kelembagaan, yang melaluinya negara, c.q pemerintah, mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber kekayaaan itu untuk digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Demikian pula fungsi pengawasan oleh negara

am

ah k

ep

(toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara cq. pemerintah, dalam

ah

gu ng

rangka mengawasi dan mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat.

oleh negara atas sumber-sumber kekayaan dimaksud benar-benar

Bertitik tolak dari prinsip ketertiban umum perekonomian nasional yang digariskan Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 tersebut, setiap banyak, secara konstitusional dikuasai oleh negara.

produksi dan kekayaan alam yang penting bagi hajat hidup orang 2.2 MIGAS dikategori dan dikualifikasi sebagai bahan galian strategis oleh karena itu berdasarkan UU No. 44 Prp Tahun 1999 dan UU No. 8 Tahun 1971, MIGAS dikuasai oleh negara, dan menetapkan/menunjuk PERTAMINA sebagai pemegang kuasa pertambangan mewakili pemerintah.

ka

Konsideran b dan c UU No. 44 Prp Tahun 1960 menegaskan, produksi minyak dan gas bumi (MIGAS) merupakan cabang-cabang produksi yang amat penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak baik langsung maupun tidak, serta mempunyai arti khusus untuk pertahanan nasional.

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 18 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 18

es

In do ne si

ub lik

bersama

pemerintah,

dan

regulasi

oleh

pemerintah.

In do ne si a
Fungsi

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
dan Gas hukum

b
Sejalan dengan ketentuan tersebut, di dalam konsideran huruf a UU No. 8 Tahun 1971 juga menegaskan bahwa MIGAS adalah bahan galian startegis baik untuk perekonomian negara maupun untuk

kepentingan pertahanan dan keamanan.

Selanjutnya dalam Penjelasan Umum angka 1 alinea ke 2 UU No. 44 Prp Tahun 1960 serta Penjelasan Umum alinea ke-2 UU No. 8 Tahun 1971 menyatakan, dalam menetapkan kebijaksanaan perminyakan dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945;

pelaksanaan kebijaksanaan tersebut, harus berpedoman kepada jiwa Menurut Pasal 1 huruf h UU No. 44 Prp Tahun 1960 menegaskan

ah

perusahaan negara untuk melaksanakan usaha pertambangan MIGAS dan selanjutnya disebut dengan kuasa pertambangan. Seharusnya guna melaksanakan kuasa pertambangan tersebut, berdasarkan bagian konsideran menimbang huruf c UU No. 8 Tahun 1971 untuk terjamin pelaksanaan pengusahaan MIGAS secara ekonomis effisien, serta di sisi lain diperoleh manfaat yang sebesarbesarnya untuk rakyat perlu ditugaskan suatu PERUSAHAAN MINYAK

ah k

am

NEGARA

untuk

menyelenggarakan

pengusahaan

gu ng

MIGAS. Untuk mencapai tujuan tersebut UU No. 8 Tahun 1971, telah mengatur ketentuan berikut : Bumi yang

2.2.1 Mendirikan Perusahaan Pertambangan Minyak disingkat dengan PERTAMINA, yang dimiliki Negara RI Pasal 2 (rechtspersoon, legal entity)

ayat PERTAMINA berkedudukan sebagai badan

ah

(Pasal 2 ayat (2)). 2.2.2 Didirikannya

PERTAMINA

lik
sebagai

diberikan hak untuk usaha pertambangan MIGAS ditujukan untuk

membangun dan melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi dalam arti seluas-luasnya negara serta menciptakan ketahanan nasional (Pasal 5) ; 2.2.3 Pasal 11 UU No. 8 Tahun 1971, memberi status dan kewenangan kepada PERTAMINA : Pertama, PEMEGANG untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan

ka

ah

ep

ub

ng

gu

Hal. 19 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 19

es

In do ne si
pertambangan yang

ub lik

bahwa negara berwenang untuk memberikan wewenang kepada

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
pemerintah

b
seluruh wilayah hukum

Pertambangan MIGAS di Indonesia (Pasal 11 ayat (1));

Kedua sebagai PEMEGANG KUASA Pemerintah (Pasal 11 ayat (2)) ;

PERTAMBANGAN MIGAS mewakili

Bertitik tolak dari konsideran dan ketentuan UU No. 44 Prp Tahun 1960 dan UU No. 8 Tahun 1971 yang para Pemohon jelaskan di atas, telah

menegaskan prinsip-prinsip ketertiban umum yang harus ditegakkan, bahwa PERTAMINA adalah satu-satunya perusahaan negara yang pertambangan MIGAS yang diberi kewenangan sebagai pemegang kuasa pertambangan MIGAS mewakili pemerintah untuk mengatur segala KEBIJAKSANAAN yang menyangkut pelaksanaan penambangan MIGAS dengan pihak investor/kontraktor berdasarkan Pasal 1 huruf h jo Pasal 5 ayat (1) jo Pasal 6 ayat (1) UU No. 44 Prp Tahun 1960 dan Pasal 12 UU No. 8 Tahun 1971 untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan negara serta menciptakan ketahanan nasional;

ah

am

ah k

ep

2.3 Dalam kedudukan PERTAMINA sebagai pemegang

ah

gu ng

kuasa

pertambangan

MIGAS

mewakili

berdasar ketertiban umum yang digariskan Pasal 5 ayat (1) UU No. 44 Prp Tahun 1960 jo Pasal 13 ayat (2) PP No. 35 Tahun 1994 jo. Pasal 12 UU No. 8 Tahun 1971 jo. Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945, PERTAMINA

berwenang penuh untuk menetapkan pemberian status pertimbangannya sendiri.

komersial yang dimintakan investor/kontraktor berdasar Berdasar Pasal 12 a;yat (1) UU No. 8 Tahun 1971 berbunyi : Perusahaan dapat mengadakan kerjasama dengan pihak lain dalam bentuk Kontrak Production Sharing.

ka

Memang benar, Pasal 12 ayat (1) UU No. 8 Tahun 1971 memberi pihak lain dalam bentuk Kontrak Production Sharing. Selain dari pada ketentuan Pasal 12 ayat (1) UU No. 8 Tahun 1971 tersebut, ketentuan Pasal 6 ayat (1) UU No. 44 Prp Tahun 1960 juga memberikan wewenang bagi Menteri untuk dapat menunjuk kontraktor bagi perusahaan negara apabila diperlukan untuk melaksanakan

ah

ep

kemungkinan bagi PERTAMINA untuk mengadakan kerjasama dengan

ub

lik

ng

gu

Hal. 20 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 20

es

In do ne si
pemerintah

ub lik

didirikan

oleh

sebagai

pemegang

In do ne si a
wilayah hukum

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat dilaksanakan sendiri pertambangan ; oleh perusahaan negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa

Dengan demikian yang dimaksud dengan kerjasama yang dapat

dilakukan oleh PERTAMINA selain dalam bentuk Kontrak Production Sharing, PERTAMINA dapat pula melakukan kerjasama dalam bentuk lainnya dengan prinsip-prinsip hukum yang disebutkan dalam Pasal 6 ayat (1) UU No. 44 Prp Tahun 1960 antara lain dalam bentuk kerjasama Enhanced Oil Recovery (EOR) Contract ;

PERTAMINA dalam kedudukan dan kapasitasnya sebagai Pemegang menetapkan kebijaksanaan

ah

ub lik
berdasar

Kuasa Pertambangan mewakili Pemerintah, berwenang penuh untuk PERTIMBANGAN yang dianggapnya sesuai dengan prinsip umum yang digariskan Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 jo. konsideran huruf b dan c serta Penjelasan Umum angka 1 alinea ke-2 UU No. 44 Prp Tahun 1960 jo. konsideran huruf a dan c serta Penjelasan Umum alinea ke-2 UU No. 8 Tahun 1971; Oleh karena itu Termohon/PT Lirik wajib untuk tunduk pada ketentuan-

am

ah k

ep

ketentuan tersebut, karena hal ini juga sudah dipertegas dalam Pasal

ah

gu ng

XVII.2.2 EOR Contract yang berbunyi :

No term or provision of this contract, including the agreement of the

parties submit to arbitration hereunder, shall prevent or limit the government of the Republic of Indonesia from exercising its inalienable rights Terjemahan :

Tidak ada ketentuan atau peraturan dari kontrak ini, termasuk disebutkan di bawah ini, dapat menghentikan atau membatasi pemerintah Republik Indonesia dalam melaksanakan kewenangan mutlaknya sebagai negara.

ka

Sehubungan dengan itu, meskipun Pasal IX.1.3 EOR Contract memberi MOLEK, SOUTH PULAI, NORTH PULAI dan LIRIK diberikan status komersialitas, namun berdasarkan Pasal 1 huruf h dari Pasal 5 ayat (1) UU No. 44 Prp Tahun 1960 jo. Pasal 11 UU No.8 Tahun 1971 jo. Pasal 33 ayat (1) dan (1) UUD 1945 ;

ah

ep

hak kepada Termohon PT. LIRIK untuk meminta agar lapangan

ub

lik

kesepakatan para pihak untuk mengajukan ke arbitrase sebagaimana

ng

2.3.1 PERTAMINA berwenang penuh ( full authorized)

gu

Hal. 21 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 21

es

In do ne si

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
apakah pemegang pemerintah. berbunyi :

b
untuk mempertimbangkan secara komprehensif Termohon/PT. LIRIK itu dapat dikabulkan atau tidak dalam kedudukan dan kapasitasnya sebagai kuasa Hal ini pertambangan telah ditentukan

PERMOHONAN/PERMINTAAN

Witnesseth EOR Contract paragraf 1 dan 2 yang WHEREAS, all mineral oil and gas existing within the statutory mining territory of Indonesia, are antional riches controlled by the

ah

WHEREAS, PERTAMINA has an exclusive Authority to mine for mineral oil and gas in and throughout the area described Terjemahan : BAHWA, seluruh minyak dan mineral yang ada di dalam wilayah tambang di Indonesia, adalah kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara, dan BAHWA, PERTAMINA memiliki Kuasa Tambang eksklusif untuk

am

ah k

ep

minyak dan gas mineral di dalam dan di luar area yang

gu ng

disebutkan.

Apa yang disepakati di dalam Paragraf 1 dan 2 Witnesseth EOR

Contract di atas, sesuai dan sejalan dengan Penjelasan Pasal 13 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1994 tentang Syarat-Syarat dan Pedoman Kerjasama Kontrak Bagi Hasil berwenang lapangan untuk adalah menyatakan PERTAMINA status sebagai komersialitas pemegang

Minyak dan Gas Bumi dimana ditegaskan bahwa yang

ah

pertambangan mewakili pemerintah ;

2.3.2 Meskipun permohonan status komersialitas telah dilengkapi dengan pendapat teknis dari institusi LEMIGAS maupun instansi pemerintah lain, namun apabila menurut pertimbangan PERTAMINA permohonan tidak bisa menjamin tercapai tujuan yang disebut dalam konsideran huruf c UU No. 8 Tahun 1971 dan prinsip ketertiban umum yang digariskan Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945, maka PERTAMINA berwenang untuk tidak mengeluarkan PENETAPAN PERSETUJUAN Komersialitas ; 2.3.3 Di lain pihak, dalam exhibit D Pasal 5.2., EOR Contract telah

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 22 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 22

es

In do ne si
suatu kuasa

ub lik

state, and

In do ne si a
mewakili dalam

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
ditegaskan bahwa kedudukan PERTAMINA diposisikan lebih tinggi dari Termohon/PT Lirik. Ketentuan exhibit D Pasal 5.2. EOR Contract berbunyi :

As soon as the parties consider that incremental production is PERTAMINAS approval to have sucht field developed by JOB. Terjemahan:

Commercially exploitable the Operating Committee shall seek

Segera setelah para pihak mempertimbangkan bahwa produksi

intcremental dapat dieksploitasi secara komersial, panitia

operasi harus meminta persetujuan dari PERTAMINA agar

ah

Dengan demikian meskipun telah ada permintaan/permohonan dari Termohon (PT LIRIK) tidak dengan sendirinya menurut hukum Pemohon/PERTAMINA harus atau wajib mengabulkan dan menyetujui permintaan status komersialitas tersebut, karena pernyataan komersialitas tidaknya suatu lapangan baru adalah pelaksanaan fungsi pengelolaan (beheersdaad) dan fungsi pengawasan (toezichthoudensdaad) yang dilimpahkan kepada

ah k

am

Pemohon/PERTAMINA melalui Kuasa Pertambangan tersebut ;

ah

gu ng

2.4 Ternyata putusan arbitrase a quo telah menyingkirkan kewenangan MIGAS mewakili pemerintah, oleh karena itu putusan arbitrase a quo Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 dan UU No. 8 Tahun 1971 ;

PERTAMINA sebagai satu-satunya kuasa pemegang pertambangan melanggar/bertentangan dengan ketertiban umum yang digariskan

Mengenai kebenaran Putusan Arbitrase a quo melanggar/bertentangan berikut :

dengan ketertiban umum, akan para Pemohon tunjukkan fata-fakta

2.4.1 Angka 235 Partial Award menyatakan, PERTAMINA mesti memberi persetujuan status komersialitas yang diminta Termohon/PT LIRIK. Pada angka 235 Partial Award terdapat pernyataan dan In its post hearing closing submission, the respondents say Pertamina, however, as resource manager, is LIABLE for that final determination, therefore has the final say because is still a State asset. Mismanagement of State assets carries grave

ka

ah

ep

pendapat hukum yang berbunyi :

ub

lik

ng

liabilities in todays Indonesia. The tribunal agrees that the First

gu

Hal. 23 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 23

es

In do ne si

ub lik

lapangan tersebut dapat dikembangkan oleh JOB

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
(together PERTAMINA daya, sumber

b
Respondent the Claimant) must determine commerciality. However as tated above the tribunal decides that Pertamina does not have an unfettered discretion and mus

decide in accordance with the terms and spirit of the EOR contract. The EOR Contract constitutes as binding legal agreement whch the First Respondent voluntarlly entered into with the Claimant. Its terms bind both parties Terjemahan : menyatakan manager

Dalam Post Hearing Closing Submission para Termohon bagaimanapun juga,

ah

mengambil keputusan akhir, oleh karena itu dapat mengambil kata akhir sebab masih merupakan aset negara. Pengolahan yang tidak tepat atas aset negara membawa akibat yang sangat buruk bagi Indonesia saat ini, Majelis Arbitrase setuju bahwa Termohon 1

am

ep

ah k

(bersama

ub lik
Pemohon) Putusan arbitrase

BERTANGGUNGJAWAB

harus

komersialitas. Namun sebagaimana disebutkan di atas, Majelis

diskresi tanpa batas dan harus memutuskan dengan merujuk

ah

gu ng

pada ketentuan dan jiwa dari EOR Contract EOR Contract menimbulkan perjanjian yang mengikat secara hukum dimana bersama Pemohon, oleh karena itu mengikat kedua belah pihak.

Termohon 1 secara sukarela masuk dalam perjanjian tersebut

Pendapat dan kesimpulan tersebut nyata-nyata bertentangan dengan Pasal 1 huruf h dan Pasal 5 ayat (1) UU No. 44 Prp (1) dan (2) UUD 1945 atas alasan :

lik
a menurut

Tahun 1960 jo. Pasal 11 UU No. 8 Tahun 1971 jo. Pasal 33 ayat quo telah yang antara sebagai KUASA mewakili hukum, putusan

ub
menempatkan MUTLAK Termohon/PT sebagai pemerintah ; Berarti

kedudukan SETARA LIRIK

ka

ah

ep R

KONTRAKTOR dengan PERTAMINA pemegang PERTAMBANGAN

ng

gu

Hal. 24 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 24

es

In do ne si

Arbitrase memutuskan bahwa PERTAMINA tidak memiliki

In do ne si a
sebagai untuk menentukan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
arbitrase a quo telah

MENYINGKIRKAN dan menganggap valid (invalidatie, un

tidak sah (onwettig, illegal) serta tidak ketentuan Pasal 33 ayat (2) dan (3) 1971, oleh karena dan itu putusan

gu

UUD 1945 serta UU No. 8 Tahun arbitrase a quo tidak memperdulikan kedudukan PERTAMINA Kuasa sebagai

ah

am

2.4.2 Amar 333 angka (2) Partial Award Menyatakan Tindakan Pemohon/Pertamina Menolak (Refused) Memberikan Persetujuan Status Komersial Yang Diminta Termohon/PT LIRIK Adalah Salah (Wrongfully). berikut : Amar 333 angka (2) Partial Award tersebut berbunyi sebagai

ah k

ep

The First and Second Respondent wrongfully refused to accord

ah

gu ng

commerciality to the Molek, South Pulai and North Pulai fields, in breach of the EOR Contract, and are liable to pay damages to the Claimant for its loss of profits from being unable to realize March 2006. Terjemahan : incremental oil from thase fields from 12 September 1995 to 27

Termohon 1 dan Termohon 2 tanpa alas hak yang sah menolak

North Pulai, sebagai pelanggaran atas EOR Contract dan bertanggungjawab untuk membayar ganti kerugian kepada Pemohon atas kehilangan atas keuntungan karena tidak dapat menghasilkan incremental oil dari lapangan tersebut mulai 12 Amar ini sama halnya dengan pertimbangan angka 235 Partial Award sama-sama menyingkirkan dan tidak mengakui kedudukan dan kewenangan PERTAMINA sebagai satu-satunya pemegang Kuasa Pertambangan Migas dalam EOR Contract. September 1995 sampai dengan 27 Maret 2006

ka

ah

ep

ub

lik

untuk memberikan komersialitas kepada Molek, South Pulai dan

ng

Berdasar fakta-fakta 2.41 dan 2.4.2 di atas para Pemohon dapat

gu

Hal. 25 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 25

es

In do ne si

ub lik

Pertambangan

mewakili pemerintah ;

In do ne si a
validation) kewenangan MIGAS pemegang

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Ultra

b
membuktikan, bahwa putusan arbitrase a quo melanggar Pasal 1 huruf h dan Pasal 5 ayat (1) UU No. 44 Prp Tahun 1960 ketertiban umum, karena putusan tersebut bertentangan dengan

jo. Pasal 11 UU No. 8 Tahun 1971 jo. Pasal 33 ayat (1) dan (2) UUD 1945 ; Putusan Arbitrase a quo.

gu

3. Fakta Pelanggaran Ultra Petita Yang Terdapat Dalam

Mengenai permasalahan kebenaran adanya pelanggaran Ultra Petita dalam putusan arbitrase a quo, dapat para Pemohon jelaskan hal-hal berikut : 3.1 Secara universal maupun berdasar Pasal 178 ayat (3) Partium; Berdasarkan Penggugat ; prinsip

ah

ub lik
Petita, dilarang I/Termohon I

HIR, melarang putusan melanggar prinsip Ultra Petitum mengabulkan dan

am

menjatuhkan putusan yang melebihi dari apa yang diminta pihak Putusan yang melanggar larangan ultra petita tidak dapat dibenarkan, karena bertentangan dengan tata tertib beracara serta sekaligus melanggar prinsip FAIR TRAIL dan prinsip keadilan umum ( general

ah k

ep

justice principle).

gu ng

3.1.1 Ternyata putusan arbitrase a quo mengabulkan

perhitungan kerugian atas kehilangan keuntungan komersial terhitung sejak tahun 1995 sehingga diajukan Termohon/ PT LIRIK dalam petitum. Respondent dihukum

(loss of profit) karena tidak diberikan status telah mengabulkan melebihi permintaan yang

Pada amar putusan (order) angka 86 huruf a Final Award, Pemohon/ membayar kehilangan atas keuntungan ( loss of profit) atas tidak diberikannya status komersialitas atas lapangan Molek, North Pulai dan South Pulai sebesar US$25.311.940. Putusan tersebut berbunyi sebagai berikut : The Respondents shall pay to the claimant the sum of US$34.172.178 as damages from breach of the EOR Contract (and compraising US$25.391.940 for the commerciality issue, US$.722.569 for the pipeline failure issue and US$.137.669 for the failure of payment claim) Terjemahan : Para Termohon diwajibkan untuk membayar kepada Pemohon,

ah

ka

ah

ep

ub

lik

PERTAMINA

sebagai

ng

gu

Hal. 26 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 26

es

In do ne si
untuk

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
DS$ 20,8

b
sejumlah US$.34.172.178 sebaga ganti kerugian atas pelanggaran terhadap EOR Contract (dan terdiri atas US$25.311.940 untuk masalah komersialitas, US$ 8.722.569 untuk masalah kegagalan jalur pipa dan

US$ 137.659 untuk masalah klaim kegagalan dalam membayar).

Putusan atas ganti kerugian tersebut di atas bertitik tolak dari amar

ah

gu

angka 338 ayat (2) Partial Award yang telah menghitung ganti kerugian kepada Pemohon/Pertamina karena tidak memberikan status komersial sejak 12 September 1995 ;

akibat kehilangan atas keuntungan ( loss of profit) yang dibebankan

Padahal yang dituntut oleh Termohon/PT Lirik sendiri tentang

dibebankan kepada Pemohon/Pertamina terhitung sejak tahun 1997, tuntutan tersebut ditegaskan oleh Termohon/PT Lirik, dalam angka 54 huruf (b) Claimants Claim Submission tanggal 28 Maret 2007 yang berbunyi sebagai berikut : If the 1st Respondent had agreed to confer commercial status on the four fields when they should have, the Claimant would have made a profit amounting to approx. USS 20.8 million. They have lost this profit

ah k

am

because of the 1s Respondents refusal to do so.

gu ng

Terjemahan :

Sekiranya Termohon 1 telah menyetujui untuk memberikan status

komersialitas atas 4 (empat) lapangan sebagaimana harusnya, mencapai sekitar juta. Namun mereka

Pemohon sudah dapat menghasilkan keuntungan dengan jumlah keuntungan tersebut karena Termohon 1 menolak memberikan status komersialitas.

ah

tersebut di atas, terdapat kalimat when they should have yang dapat diartikan sebagimana harusnya, kalimat dimaksud menunjukkan bahwa Termohon/PT Lirik menghitung loss of profit semenjak diajukannya permohonan status komersialitas oleh Termohon/PT Lirik September 1997 (P-8) ; pada tahun 1997, yaitu melalui Surat No. 162/LP-GS/IX/97 tanggal 26 Dengan demikian berdasar fakta yang para Pemohon tunjukkan di atas, terbukti putusan arbitrase a quo melanggar larangan Ultra Petitum Partium sebab telah mengabulkan lebih dari apa yang diminta/dituntut oleh Termohon/PT LIRIK. Oleh karena itu, putusan arbitrase a quo

ka

ah

ep

ub

lik

Berdasarkan Pernyataan 54 huruf (b) Claimants Claim Submission

ng

gu

Hal. 27 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 27

es

In do ne si
kehilangan

ub lik

penghitungan kehilangan atas keuntungan ( loss of profit) yang

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
harus dibatalkan sebab melampaui batas kewenangan atau ULTRA VIRES ; 4. Fakta-fakta Tentang Kontroversi Yang Terdapat Dalam Kebenaran tentang kontroversi yang terdapat dan melekat pada putusan

Putusan Arbitrase A Quo.

gu

arbitrase a quo dapat para Pemohon buktikan berdasar penjelasan dan fakta-fakta berikut :

4.1 Berdasar Doktrin Dan Praktek Peradilan, Putusan Yang Sebagai Putusan Yang Salah Menerapkan Hukum .

Mengandung Kontroversi (Pertentangan) Dikategorikan

ah

pertentangan/kontroversi yang dikategori sebagai putusan yang salah menerapkan hukum, terdiri dari : terdapat saling pertentangan antara satu pertimbangan dengan pertimbangan yang lain ;

am

ah k

ep

terdapat

ub lik
saling dengan para

Mengenai

patokan/pedoman

putusan

yang

mengandung

pertentangan fakta pihak

dikemukakan persidangan, atau

terdapat pertentangan antara pertimbangan dengan amar putusan. Apabila salah satu melekat dalam putusan, maka putusan itu dikualifikasi mengandung kontroversi.

diantara patokan tersebut terdapat dan

4.2 Ternyata Dalam Putusan Arbitrase A quo Terdapat Adapun mengenai terdapatnya saling pertentangan yang melekat dalam Putusan Arbitrase a quo, dapat para Pemohon buktikan berdasar fakta-fakta yang terdapat antara pertimbangan angka 82 dan kalimat terakhir Final Award. 4.2.1 Pada angka 82 Final Award

ah

ka

ub
arbitrase

lik
apakah

Saling Pertentangan.

pernyataan hukum yang menyatakan, tidak jelas klasifikasi domestik atau

ah

Pertimbangan angka 82 tersebut berbunyi :

ng

The tribunal has not heard argument and does not propose to

gu

Hal. 28 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 28

es

internasional ;

ep

In do ne si
dalam dikemukakan

pertimbangan

gu ng

In do ne si a
saling antara yang

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
angka

b
decide whether this arbitration is property classified as a Indonesia. domestic or an international arbitration under the law of

Terjemahan :

Majelis arbitrase tidak mendengar dan tidak ada yang mengajukan argumen untuk menentukan apakah arbitrase ini arbitrase internasional berdasarkan hukum Indonesia. sepatutnya diklasifikasikan sebagai arbitrase domestik atau

Jadi berdasarkan pertimbangan itu, Majelis Arbitrase sendiri berpendapat atau menyimpulkan bahwa putusan arbitrase a quo internasional atau putusan domestik.

ah

am

4.2.2 Bahkan keadaan kontroversi antara pertimbangan angka 82 itu diperparah lagi dengan amar angka 87 Final Award yang berbunyi: The Respondents shall pay interest on the total amount payuable, as specified in Paragraph 86 , from the date of registration of this Final Award under article 59 of the Indonesia Arbitration Law or

ah k

the obtaining of an order of Exeguatur under article 66 of the

gu ng

Indonesia Arbitration Law until the date of payment at the rate of 6% p.a Terjemahan :

Para Termohon diwajibkan untuk membayar bunga atas jumlah 66 (c) dari tanggal pendaftaran Final Award ini berdasarkan Pasal 59 Undang-undang Arbitrase Indoensia atau

total yang dibayarkan, sebagaimana disebutkan dalam Paragraf

ah

Indonesia sampai dengan tanggal pembayaran sebesar 6% per tahun. Pasal 59 khususnya pada ayat (1) UU No. 30/1999 berbunyi : Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak putusan arbitrase diserahkan dan didaftarkan oleh Arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri. Sedangkan tanggal putusan diucapkan, lembar asli atau salinan otentik

ka

ah

menyatakan Pasal 66 UU No. 30/1999 yang berbunyi : Putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat

ng

gu

Hal. 29 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 29

es

dalam

ep
87

ub
Final

lik
Award

exekuatur berdasarkan Pasal 66 Undang-undang Arbitrase

In do ne si
memperoleh tersebut juga

ub lik

yang dijatuhkan tidak jelas apakah putusan arbitrase asing/

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia, apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Putusan

ah

ub lik ep R gu ng ub ep R
a

am

ah k

internasional; b. Pada satu

berdasarkan Pasal 59 ayat (1) UU No. 30/1999, utusan

Arbitrase putusan karena putusan

dikategorikan

ah

lik
(PN), pada Final

ka

didaftarkan

Pengadilan Negeri sedangkan sisi lain Award

ah

ng

eksekuatur tunduk

gu

Hal. 30 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 30

es

dalam angka 47

In do ne si
sisi maka Majelis domestik menurut Arbitrase perlu di quo

In do ne si a
arbitrase internasional dijatuhkan Arbiter oleh atau majelis arbitrase di dengan pada baik bilateral mengenai pengakuan pelaksanaan putusan arbitrase dan multilateral, suatu negara yang Indonesia negara terikat perjanjian, secara maupun

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
juga 66 pada No.

ah

ub lik ep R gu ng ub ep R ng gu A

am

ah k

tidak c. Dari

kepastian hukum. yuridis jelas

kontroversi dalam angka Award, tidak kepastian apakah arbitrase tersebut putusan domestik putusan

pertimbangan

ah

lik

ka

ah

arbitrase

internasional;

Hal. 31 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 31

es

In do ne si
mempunyai fakta-fakta tersebut, terdapat di 87 Final ada hukum putusan a quo adalah arbitrase atau sehingga

In do ne si a
ketentuan 30/1999 sebagai dimana Pasal UU yang dikategorikan internasional permintaan eksekuatur didaftarkan Jakarta Dengan atas Majelis angka Award putusan harus di Pusat. demikian putusan Arbitrase 87 Final tersebut Pengadilan Negeri

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Award . dan angka 87

b
4.2.3 Terdapat juga saling pertentangan antara amar

angka 87 Final Award dengan angka 74 Final

Pada angka 74 Final Award dinyatakan bahwa para pihak adalah orang Indonesia arbitrase dilaksanakan di Jakarta, Pertimbangan tersebut berbunyi : Jakarta. Terjemahan : arbitrase adalah Jakarta Menurut amar

.as both parties are Indonesian and the seat of the arbitration is

.karena kedua belah pihak adalah Indonesia dan tempat

ah

ub lik
Final Award, dikatakan tempat

am

merupakan putusan domestik, sekaligus putusan internasional, sedangkan menurut angka 74 Final Award jelas dinyatakan bahwa para pihak berasal dari Indonesia dan pelaksanaan arbitrase ( seat of the arbitration) adalah di Jakarta, Indonesia oleh karena itu putusan arbitrase tersebut adalah putusan domestik. Dengan demikian, ada pertentangan antara angka 74 Final Award dengan

ah k

ep
tegas

angka 87 Final Award.

gu ng

Selain dari pada itu, pada bagian terakhir Partial maupun Final Award dengan arbitrase, Indonesia.

Pernyataan tersebut berbunyi : Place of arbitration : Jakarta Indonesia. Terjemahan : Tempat arbitrase : Jakarta Indonesia

ah

kalimat terakhir Final Award, maka Putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM tersebut adalah PUTUSAN DOMESTIK berdasar Pasal 1.9 dan Pasal 66 huruf a UU No. 30 Tahun 1999 maupun berdasar Article 1 (1) Konvensi New York 1958 ; terdapat kontradiksi antara angka 82 dan 87 Final Award dengan angka 74f dan kalimat bagian terakhir dari putusan arbitrase a quo, sehingga putusan arbitrase a quo tidak memenuhi syarat sebagai suatu putusan arbitrase dan oleh karenanya putusan arbitrase a quo harus ditolak atau setidak-tidaknya tidak dapat Dengan demikian berdasar fakta-fakta tersebut, dapat dibuktikan

ka

ah

ep

ub

lik

Kalau begitu, jika bertitik tolak dari angka 74 Final Award dan

ng

gu

Hal. 32 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 32

es

In do ne si
Jakarta

In do ne si a
putusan arbitrase

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Arbitrase No.

b
diterima ;

TUNTUTAN PROVISI

Para Pemohon berpendapat, alasan-alasan yang para Pemohon ajukan sangat

berdasar untuk membatalkan putusan arbitrase a quo. Oleh karena itu untuk arbitrase a quo dilaksanakan, sangat mendesak dan relevan melakukan quo selama proses pemeriksaan permohonan berlangsung ; dan mengadili perkara ini menjatuhkan putusan provisi : eksekusi Putusan

menghindari timbulnya kerugian besar kepada para Pemohon, apabila putusan

tindakan sementara berupa menunda pelaksanaan eksekusi putusan arbitrase a Oleh karena itu, para Pemohon meminta agar Majelis Hakim yang memeriksa

ah

ub lik
14387/JB/JEM

1. Melarang Termohon/PT Lirik mengajukan permohonan pelaksanaan selama proses permohonan berlangsung ;

am

2. Menghukum Termohon/PT Lirik untuk membayar denda sebesar US$ 10.000,00 perhari apabila melanggar putusan provisi ini ; PETITUM PERMOHONAN Bertitik tolak dari fakta-fakta yuridis yang dikemukakan di atas, para Pemohon dapat membuktikan kebenaran dalil/posita bahwa putusan arbitrase a quo

ah k

ep

melanggar/bertentangan dengan ketentuan peraturan yang berlaku termasuk dan harus dibatalkan. Sehubungan dengan itu cukup beralasan bagi para perkara ini, untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut : MENGADILI Menguatkan putusan provisi ; DALAM PROVISI :

Pemohon meminta kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili

ah

PRIMAIR :

1. Menyatakan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September 2008 adalah putusan 2. Menyatakan arbitrase domestik ;

ka

ep

ub

lik
pengajuan

DALAM POKOK PERKARA :

gu ng

ketertiban umum. Oleh karena itu putusan tersebut tidak dapat dipertahankan,

ah

pendaftaran putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September 2008, telah melampaui batas tenggang waktu yang disyaratkan Pasal

ng

gu

Hal. 33 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 33

es

In do ne si
permintaan

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
3. Menolak

b
59 ayat (1) UU No. 30/1999 ; permintaan

diajukan terhadap Putusan Arbitrase Case No.

14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo 22 September 2008 di Kepaniteraan PN Jakarta Pusat atau Kepaniteraan Pengadilan Negeri manapun ;

4. Menyatakan putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September 2008 tidak mempunyai dapat dimintakan eksekusi ;

ah

am

SUBSIDAIR :

1. Mengabulkan permohonan para Pemohon seluruhnya ; arbitrase domestik ;

2. Menyatakan putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM adalah putusan 3. Menyatakan putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM yang terdiri dari Partial

ah k

2009 bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku

ah

gu ng

dan ketertiban umum ;

4. Menyatakan putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM yang terdiri dari Partial 2009 ;

Award tanggal 22 September 2008 dan Final Award tanggal 27 Februari

5. Menyatakan putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM yang terdiri dari Partial

Award tanggal 22 September 2008 dan Final Award tanggal 27 Februari 2009, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat kepada PT. PERTAMINA EP dan PT. PERTAMINA (Persero) ; timbul dalam perkara ini ;

6. Menghukum Termohon untuk membayar seluruh biaya perkara yang Bahwa terhadap permohonan para Pemohon tersebut, Termohon mengajukan eksepsi yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut : Bahwa berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki Termohon terkait dengan perkara a quo yaitu : Bahwa telah terdapat sengketa antara PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP dengan PT Lirik Petroleum dimana para pihak telah bersepakat untuk menyelesaikan sengketa tersebut melalui lembaga 1. KEWENANGAN ABSOLUT.

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 34 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 34

es

In do ne si

Award tanggal 22 September 2008 dan Final Award tanggal 27 Februari

ep

ub lik

kekuatan eksekutorial, oleh karena itu tidak

In do ne si a
pendaftaran yang

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
arbitrase sebagaimana dimuat dalam EOR Contract antara Pemohon dengan Termohon ; Bahwa berdasar atas adanya klausula penyelesaian sengketa dalam EOR Contract tersebut yaitu melalui lembaga arbitrase, maka para pihak telah menunjuk Arbiter dan telah terbentuk majelis Arbiter yang memeriksa sengketa tersebut, Arbiter mana antara lain adalah :

a. Fred B. G. Tumbuan sebagai

Arbiter yang dipilih oleh PT Pertamina (Persero) dan PT. Pertamina EP ;

ah

am

ah k

Bahwa sengketa antara Pemohon dan Termohon tersebut telah diperiksa

Sebagian (Partial Award) ICC International Court of Arbitration Case No.

ah

gu ng

14387/JB/JEM tertanggal 22 September 2008 dan Putusan Akhir ( Final Award) ICC International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tertanggal 27 Februari 2009 yang diputuskan sesuai dengan Peraturan Arbitrase dari ICC International Court of Arbitration dimana putusan tersebut adalah merupakan putusan arbitrase internasional sebagaimana kami Bukti T-2) ; uraikan dalam jawaban terhadap pokok perkara selanjutnya (Bukti T-1 dan Bahwa karena putusan tersebut dibuat oleh Majelis Arbitrase yang disusun berdasarkan kesepakatan dan para pihak dan telah mengikuti prosedur dan/atau tidak terdapat peraturan perundang-undangan yang dilanggar, maka putusan arbitrase tersebut adalah bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat bagi para pihak sesuai dengan Pasal Penyelesaian Sengketa yang mengatur ; 60 Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Putusan Arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak, oleh karenanya para pihak dalam perkara tersebut harus tunduk dan taat terhadap keputusan tersebut ; Bahwa karena Pemohon dalam permohonannya tidak mendasarkan pada

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 35 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 35

es

In do ne si

dan diputus oleh Majelis Arbitrase sebagaimana tertuang dalam Putusan

ub lik

b. Dr. H. Priyatna Abdurrasyid sebagai Arbiter yang dipilih oleh PT Lirik Petroleum ; Arbiter Ketua yang dipilih oleh masing-masing Arbiter ;

c. Prof. Michael Pryies sebagai

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
alasan-alasan sebagaimana diatur dalam Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 yang berbunyi sebagai berikut : Terhadap putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan sebagai berikut : pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur a. surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu ;

b. setelah putusan diambil ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh para lawan, atau c. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh

ah

Maka putusan arbitrase tersebut tidak dapat dibatalkan ;

am

Bahwa karena keputusan tersebut tidak dapat dibatalkan maka Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut menjadi tidak berwenang untuk membatalkan Putusan ICC International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September 2008 ; Bahwa Pasal 1 angka 9 UU Arbitrase menetapkan bahwa : Putusan arbitrase internasional adalah putusan yang dijatuhkan oleh suatu

ah k

lembaga arbitrase atau Arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik

ah

gu ng

Indonesia, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau Arbiter perorangan putusan arbitrase internasional ;

yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu

Berdasarkan batasan dalam Pasal 1 angka (9), ada dua kriteria alternatif untuk menentukan apakah suatu putusan arbitrase digolongkan sebagai putusan arbitrase internasional :

1) Putusan arbitrase yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau

2) Putusan arbitrase suatu lembaga arbitrase atau Arbiter perorangan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional ; Mengacu pada angka (2) tersebut di atas lantas timbul pertanyaan bahwa kewenangan untuk menafsirkan bahwa menurut ketentuan hukum Republik Indonesia, putusan arbitrase tersebut dianggap suatu putusan arbitrase internasional. Berdasarkan Pasal 65, UU No. 30 Tahun 1999 : Yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase

ka

ah

ep

siapa atau lembaga apa yang menurut undang-undang memunyai

ub

lik

Arbiter perorangan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, atau

ng

gu

Hal. 36 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 36

es

In do ne si

ub lik

salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa ;

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
tertanggal 21

b
internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Oleh karena Putusan Arbitrase a quo telah didaftar oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai putusan arbitrase internasional, yaitu berdasarkan INT/2009/PN.JKT.PST. Akte Pendaftaran Putusan Arbitrase Internasional Nomor 02/PDT/ARBApril 2009 (Bukti T-3) berdasarkan Pasal 68, angka (1) UU No. 30 Tahun 1999 yang berbunyi: Terhadap putusan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana putusan arbitrase internasional, tidak dapat diajukan banding atau kasasi. dimaksud dalam Pasal 66 huruf d, yang mengakui dan melaksanakan

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka putusan arbitrase internasional a

ah

am

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 2. KEWENANGAN RELATIF

Adapun fakta-fakta pendukung adalah sebagai berikut:

ah k

Bahwa Pemohon dalam gugatannya telah mengajukan permohonan pembatalan Putusan ICC International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 Jo. tanggal 22 September 2008

ep

dengan pihak Termohon PT LIRIK PETROLEUM yang beralamat di Gedung

gu ng

Satmarindo Jalan Ampera Raya No.5, Cilandak Timur, Jakarta 12560. seharusnya diajukan di tempat domisili hukum Termohon

Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 118 HIR menyatakan permohonan

berdasarkan domisili hukum Termohon di atas adalah di Jakarta Selatan, Selatan.

maka seharusnya permohonan diajukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Bahwa tindakan dari Pemohon tersebut, terdapat ketidak-sesuaian antara

ah

Pemohon berkesimpulan bahwa putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase domestik, di sisi lain permohonan diajukan kepada PN. Jakarta Pusat. Seharusnya apabila Pemohon menyatakan bahwa putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase nasional, maka Pemohon mengajukan domisili dari Termohon, bukan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 3. PERMOHONAN PEMOHON SALAH SUBYEK (ERROR IN PERSONA). Bahwa adapun fakta-fakta hukum yang mendukung adalah: Bahwa keputusan ICC International Court of Arbitration Case No. permohonannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sesuai dengan

ka

ah

ep

ub

lik

kesimpulan Pemohon dengan proses hukum yang dilakukan, dimana

ng

gu

Hal. 37 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 37

es

In do ne si
dimana

ub lik

quo tidak dapat dibatalkan karena merupakan kewenangan mutlak dari pada

In do ne si a
maka

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 Jo. tanggal 22 September 2008 adalah keputusan yang dibuat berdasarkan ICC Rules, dimana para Arbiternya adalah Fred B. G. Tumbuan, Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, dan Prof. Michael Prytes. Bahwa setelah mendapat Final Award (Keputusan Akhir) Majelis Arbitrase,

ah

gu

maka pada tanggal 14 April 2009 Arbiter telah memberikan kuasanya pada Anita Kolopaking & Partners beralamat di Jalan RSPP No. 5 Kompleks RSPP, Cilandak Barat, Jakarta Selatan untuk mendaftarkan putusan tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, hal mana sesuai dengan Pasal 67 ayat (1) yang mengatur:

setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan oleh Arbiter atau kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat". Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sebenarnya yang mengajukan pendaftaran terhadap putusan arbitrase a quo adalah Arbiter melalui Kuasanya dalam sengketa tersebut, bukan Termohon, oleh karenanya penarikan Pemohon agar PT Lirik Petroleum sebagai Termohon adalah salah subyek, karena seharusnya yang menjadi Termohon adalah Majelis

ah k

am

Arbiter perkara a quo. Oleh karenanya, permohonan dari Pemohon tidak

ah

gu ng

dapat diterima.

4. PERMOHONAN PEMOHON KURANG PIHAK.

Bahwa adapun fakta-fakta hukum yang mendukung adalah:

Bahwa sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian mengenai error in

persona tersebut di atas, apabila memang Termohon harus ditarik sebagai salah satu pihak, maka tidaklah cukup apabila Termohon dan Pemohon saja yang menjadi pihak, melainkan juga Arbiter yang mendaftarkan putusan a karena kewajiban pendaftaran adalah kewajiban dari Arbiter. quo harus dan setidak-tidaknya menjadi pihak dalam permohonan Pemohon Berdasarkan uraian tersebut, permohonan yang telah diajukan Pemohon

terkait pembatalan Keputusan ICC International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September 2008 5. PERMOHONAN PEMOHON DIAJUKAN SECARA PREMATUR. Bahwa adapun fakta-fakta hukum yang mendukung adalah sebagai berikut: A. Bahwa Pemohon dalam permohonannya menyatakan bahwa dasar di Pengadiian Negeri Jakarta Pusat tersebut adalah kurang pihak.

ka

ah

ep

ub

lik

ng

pembatalan keputusan ICC International Court of Arbitration

gu

Hal. 38 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 38

es

In do ne si

ub lik

"permohonan pelaksanaan putusan arbitrase internasional dilakukan

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
diambil

b
Case No. 2008 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September

adalah karena bertentangan dengan ketertiban umum (angka 2 halaman 15 permohonan Pemohon).

ah

gu

Bahwa dalil dari Pemohon tersebut adalah tidak benar, karena syarat

permohonan pembatalan yang dibenarkan oleh undang-undang adalah berbunyi:

telah secara tegas diatur dalam Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 yang Terhadap putusan arbitrase para pihak dapat mengajukan permohonan sebagai berikut:

am

a. surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu; b. setelah putusan ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan; atau c. putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa.

ah k

ep

Bahwa syarat tidak bertentangan dengan ketertiban umum adalah

ah

gu ng

merujuk pada Pasal 60 huruf c Undang-undang No. 30 Tahun 1999 yaitu

merupakan salah satu syarat untuk melakukan perlawanan atas pelaksanaan putusan arbitrase internasional dan bukan merupakan syarat dari pada pembatalan putusan arbitrase internasional. Pasal 66 huruf c berbunyi:

Putusan arbitrase internasional hanya diakui serta dapat dilaksanakan di sebagai berikut: c.

wilayah hukum Republik Indonesia, apabila memenuhi syarat-syarat Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksudkan dalam huruf a hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

ka

pelaksanaan keputusan, melainkan baru pada tahap penyerahan dan pendaftaran sebagaimana diatur dalam Pasal 67 ayat (1) UU Arbitrase, yang berbunyi:

ah

ep

Bahwa karena putusan arbltrase internasional a quo belum pada tahap

ub

lik

Permohonan pelaksanaan putusan arbitrase internasional dilakukan setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan oleh Arbiter atau

ng

gu

Hal. 39 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 39

es

In do ne si

ub lik

pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
arbitrase diperluas

b
kuasanya kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. ketertiban umum adalah prematur. Maka dalil Pemohon bahwa putusan a quo bertentangan dengan

B. Bahwa alasan permohonan pembatalan telah memenuhi syarat (vide h. 12 permohonan) adalah tidak benar. putusan para pihak

alinea ke 18 Penjelasan Umum jo. Pasal 70 UU No. 30/1999

Pasal 70 berbunyi : Terhadap

dapat

permohonan pembatalan apabila putusan tersebut diduga mengandung unsur-unsur sebagai berikut (bukan antara lain) :

ah

pada Pasal 70 tersebut hanya dapat diartikan/ditafsirkan secara: Limitatif dan enumeratif tetapi Bersifat tertutup dan eksklusif atau tidak dapat bersifat alternatif dan akumulatif. yang mengakibatkan adanya perbedaan

am

ah k

Sedangkan apabila UU No. 30 Tahun 1999 tersebut ternyata terdapat

penafsiran antara penggunaan kalimat sebagai berikut pada Pasal 70

ah

gu ng

dan kalimat antara lainpada Penjelasan Umum Pasal 70 tersebut maka tentunya yang berlaku adalah tetap penggunaan kalimat sebagai

berikut pada Pasal 70 dan bukan kalimat antara lain pada Penjelasannya, karena untuk merubah undang-undang merupakan kewenangan mutlak dari pada Mahkamah Konstitusi. Namun demikian seandainya alasan pembatalan putusan arbitrase di luar yang disebut Pasal 70 tersebut dapat dimungkinkan, maka alasan bertentangan dengan kepastian hukum, karena putusan arbitrase adalah final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak juga harus telah memenuhi persyaratan seperti yang diatur dalam Penjelasan Pasal 70 UU No.30/1999 yaitu : Bahwa dalam Penjelasan Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 dinyatakan dengan tegas bahwa alasan-alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan terlebih dahulu dengan putusan pengadilan dan apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan-alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti, maka putusan pengadilan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi Hakim untuk mengabulkan yang dapat dijadikan syarat pembatalan adalah selain tidak boleh

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 40 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 40

es

In do ne si

kesalahan

redaksional

ep

ub lik

Dengan demikian secara gramatikal penggunaan kalimat sebagai berikut

In do ne si a
mengajukan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
atau menolak permohonan. Bahwa oleh karena alasan-alasan atau dalil-dalil yang dijadikan syarat ketentuan Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999 adalah prematur. obscuur libel). pembatalan belum dibuktikan dengan putusan pengadilan, maka sesuai

C. Permohonan Pemohon tidak jelas dan kabur (exceptie

1.

Permohonan pembatalan putusan arbitrase adalah dalam bentuk gugatan, bukan permohonan (voluntair). Bahwa sesuai dengan alasan pembatalan putusan arbitrase

sebagaimana telah diatur dalam Pasal 70 UU Arbitrase, maka adanya sengketa sebagaimana terdapat dalam Pasal 70 dimaksud, oleh karenanya bentuk permohonan pembatalannya adalah gugatan, bukan permohonan. Bahwa pendapat tersebut juga sesuai dengan Pedoman Teknis

ah

am

ah k

Administrasi dan Teknis Peradilan, Buku II, Edisi 2007, Mahkamah Agung RI. Bab VI Arbitrase, Halaman 176, Poin c tentang Pembatalan Putusan Arbitrase, angka 3 diatur:

"permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan dalam

ah

gu ng

bentuk gugatan (bukan voluntair) dan disidangkan oleh Hakim":

Bahwa berdasarkan alasan tersebut di atas, maka permohonan Pemohon yang mengajukan pembatalan putusan Arbitrase adalah permohonan dari Pemohon tersebut adalah tidak jelas. keliru dan telah menyalahi teknis peradilan, yang mengakibatkan

2.

Bahwa terdapat dalil-dalll dari Pemohon yang bertentangan atau setidak-tidaknya tidak sesuai dan tidak selaras, sebagaimana terdapat dalam eksepsi tersebut di atas, antara lain:

a. Pemohon menyatakan bahwa Keputusan ICC International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September: 2008 adalah putusan arbitrase domestik (angka 1 halaman 6 permohonan Pemohon), padahal dalam UU Penyelesaian Sengketa tidak dikenal putusan arbitrase domestik, oleh karenanya pernyataan Pemohon tersebut adalah menyimpang dari hal yang telah diatur dalam UU Arbitrase. b. Pemohon mendaftarkan permohonannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, padahal apabila Pemohon menganggap keputusan No. UU No 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 41 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 41

es

In do ne si

ub lik

pembatalan suatu putusan arbitrase adalah didasarkan karena

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
a quo adalah putusan arbitrase nasional, maka Pemohon Pengadilan Negeri dimana domisili Termohon yaitu di Pengadilan seharusnya mengajukan permohonan pembatalan tersebut di

Negeri Jakarta Selatan. Oleh karenanya pernyataan Pemohon dilakukan, sehingga permohonan Pemohon adalah kabur.

tidak sesuai antara kesimpulan dengan proses hukum yang Pemohon menyatakan bahwa putusan arbitrase a quo adalah Arbitrase mengikat terhadap pelaksanaan putusan arbitrase

c.

melanggar ketertiban hukum sebagai syarat yang menurut UU

internasional, padahal perihal dari permohonan Pemohon adalah tanggal 27 Februari 2009 jo. tanggal 22 September 2008 yang

ah

am

syaratnya secara jelas dan tegas telah diatur dalam Pasal 70 UU Arbitrase. Oleh karenanya permohonan Pemohon adalah tidak jelas dan kabur. Bahwa terhadap permohonan tersebut Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mengambil Putusan Sela No. 01/PEMBATALAN ARBITRASE/2009/PN. JKT.PST. tanggal 23 Juli 2009 yang amarnya sebagai berikut :

ah k

Menolak eksepsi Termohon untuk seluruhnya ; ini ;

ah

telah mengambil Putusan No. 01/PEMBATALAN ARBITRASE/2009/PN.JKT. PST. tanggal 3 September 2009 yang amarnya sebagai berikut : Dalam Provisi : Dalam Eksepsi : Dalam Pokok Perkara :

gu ng

Memerintahkan para Pemohon dan Termohon untuk melanjutkan perkara

Menangguhkan biaya perkara yang timbul dalam perkara ini sampai dengan putusan akhir ; Bahwa terhadap permohonan tersebut Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Menolak permohonan provisi para Pemohon untuk seluruhnya ; Menolak eksepsi Termohon untuk seluruhnya ;

ka

Menghukum para Pemohon untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini yang hingga kini dihitung sebesar Rp.221.000,- (dua ratus dua puluh satu ribu rupiah) ; Menimbang, bahwa sesudah putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

ah

ep

Menolak permohonan para Pemohon untuk seluruhnya ;

ub

lik

diucapkan dengan hadirnya Pemohon II dan Pemohon I dan Termohon pada

ng

gu

Hal. 42 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 42

es

In do ne si

ub lik

tentang pembatalan putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
tanggal 23 Juli 2009 kemudian terhadapnya oleh Pemohon II dan Pemohon I dengan perantaraan kuasanya masing-masing, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 04 September 2009 dan 15 September 2009, diajukan permohonan banding secara lisan oleh Pemohon II pada tanggal 04 September dan oleh Pemohon I pada tanggal 16 September 2009 sebagaimana ternyata

ah

gu

dari Surat Permohonan Kasasi/Banding No. 90/Srt.Pdt.Kas/2009/PN.JKT.PST jo Nomor 01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, permohonan tersebut disertai dengan memori banding yang memuat alasan-alasan yang masing-masing diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri tersebut dari Pemohon II pada tanggal 16 Bahwa setelah itu oleh Termohon yang pada tanggal 01 Oktober 2009 telah disampaikan salinan permohonan banding dan salinan memori banding dari Pemohon II dan I, diajukan kontra memori banding yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 23 Oktober 2009 dan 15 Oktober 2009 ; Menimbang, bahwa permohonan banding a quo beserta alasan-

ah k

am

dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undangformal dapat diterima ;

Pemohon Banding dalam memori bandingnya tersebut pada pokoknya ialah : ALASAN-ALASAN BANDING DARI PEMOHON BANDING I : 1.

ah

gu ng

undang, maka oleh karena itu permohonan-permohonan banding tersebut Menimbang, bahwa keberatan-keberatan yang diajukan oleh para

Pemenuhan Syarat Formil Mengenai Jangka Waktu Pendaftaran Permohonan Banding dan Penyampaian Memori Banding

Alternatif Penyelesaian Sengketa ("UU Arbitrase") tidak mengatur mengenai prosedur permohonan banding; namun oleh karena Pasal ayat (4) UU Arbitrase menyebutkan bahwa permohonan banding Putusan Mahkamah Agung No. 03/Arb.Btl/2005 tertanggal 17 Mei 2006, maka prosedur permohonan banding mengacu pada prosedur permohonan kasasi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah terakhir melalui

ka

ah

ep

diajukan ke Mahkamah Agung, dan sesuai dengan Yurisprudensi

ub
72

lik

1.1 Bahwa Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan

ng

gu

Hal. 43 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 43

es

In do ne si

alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama, diajukan

ub lik

September 2009 dan dari Pemohon I pada tanggal 28 September 2009 ;

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
atas

b
Undang-Undang No.3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas ("UU MA); Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung

1.2 Bahwa berdasarkan Pasal 46 ayat (1) jo. Pasal 47 ayat (1) UU MA

ah

gu

permohonan kasasi wajib diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung setelah putusan atau penetapan pengadilan diberitahukan kepada Pemohon dan selanjutnya memori kasasi setelah permohonan yang dimaksud dicatat dalam buku daftar,

wajib disampaikan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari

dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah dibacakannya putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas perkara a quo dan memori banding wajib diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari setelah diajukannya permohonan banding; 1.3 Bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah membacakan putusan perkara No. 01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST pada tanggal 03 September 2009 di

am

ah k

ep
I

hadapan sidang terbuka untuk umum yang dihadiri oleh kuasa

gu ng

hukum

Pembanding/Pemohon serta

II

dan

Terbanding/Pemohon selanjutnya

Terbanding/Termohon;

kuasa hukum Pembanding/Pemohon II telah mendaftarkan dan Pengadilan Registrasi

menandatangani Akta Pernyataan Banding di Kepaniteraan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 04 September 2009 dengan No.01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST.

ah

Dengan

lik
demikian,

No.

90/Srt.Pdt.Kas/2009/PN.JKT.PST.

banding ini telah didaftarkan dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang; 1.4 Bahwa kuasa hukum menyampaikan Jakarta memori Pembanding/Pemohon II telah

ka

ah

Memori Banding ini kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri

ep

ub

Pusat pada tanggal 16 September 2009. Dengan demikian,

ng

gu

Hal. 44 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 44

es

In do ne si
Turut dan jo. permohonan

ub lik

sehingga dalam perkara ini permohonan banding harus diajukan

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
hukum

b
banding ini telah disampaikan dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang;

1.5 Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka permohonan banding ini telah memenuhi syarat-syarat formil menurut undangdan memeriksa permohonan banding dan memori banding ini;

gu

undang, sehingga sudah sepatutnya Mahkamah Agung menerima

1.6 Bahwa berdasarkan hal-hal berikut ini: bahwa 1.6.2 Kaedah yang

1.6.1 Pasal 72 ayat (4) UU Arbitrase yang menyebutkan

ah

ub lik
tetap 1973 bahwa Pasal

permohonan banding diajukan ke Mahkamah Agung; terkandung di dalam yurisprudensi Juni yang permohonan

am

Mahkamah Agung No. 1043 K/Sip/1972 tertanggal 11

ep

ah k

menyatakan

dengan

Rekonvensi, dalam konvensi maupun dalam rekonvensi;

ah

gu ng

perkara harus diperiksa dalam keseluruhannya, baik

sudah sepatutnya apabila Mahkamah Agung Republik Indonesia

dalam tahap banding ini, selain memeriksa masalah penerapan hukum, juga memeriksa kembali fakta-fakta yuridis dan bukti-bukti yang telah Negeri Jakarta Pusat.

2.

Keberatankeberatan terhadap Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST tertanggal 03 September 2009 2.1 Melewati Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Ditetapkan Setelah Jangka Waktu Yang Ditentukan UU Arbitrase ; 2.1.1 Bahwa

ka

ah

ep

ub
72 ayat

lik
(3) atas

disampaikan oleh Pembanding/Pemohon II di hadapan Pengadilan

menentukan,

putusan

permohonan

ng

pembatalan ditetapkan oleh Ketua Pengadilan

gu

Hal. 45 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 45

es

In do ne si
UU Arbitrase

banding oleh pihak Penggugat asal/Tergugat dalam

In do ne si a
diajukannya

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
sejak

b
Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari permohonan pembatalan diterima;

2.1.2 Bahwa

Pembanding/Pemohon

mendaftarkan permohon-an pembatalan putusan arbitrase pada tanggal 05 Mei 2009 kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat;

seharusnya putusan atas permohonan pembatalan Iambatnya pada tanggal 03 Juni 2009; faktanya

putusan arbitrase tersebut ditetapkan selambat-

ah

am

memberikan September puluh) oleh

ub lik
baru putusannya 2009, hari UU (b) Melanggar Tuntutan

2.1.3 Bahwa Pengadiian Negeri Jakarta Pusat pada pada tanggal jauh sejak 03

melampaui jangka waktu paling lama 30 (tiga permohonan pembatalan diterima yang ditentukan

ah k

ep

Arbitrase sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nyata-nyata telah melanggar UU Arbitrase; huruf peraturan

2.1.4 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) UU

Mahkamah Agung, maka pelanggaran terhadap perundang-undang-an dapat mengakibatkan dibatalkannya putusan Pengadilan

ah

2.2

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Telah Salah Menerapkan Atau Hukum Provisi Dalam Mempertimbangkan

ka

Pembanding/Pemohon II berikut: 2.2.2 Bahwa

ah

"Hakim wajib mengadili atas segala bagian gugatan";

ep

2.2.1 Bahwa Pasal 178 ayat (2) H.l.R berbunyi sebagai

Pembanding/

Pemohon

II

telah

mengajukan

ng

tuntutan provisi kepada Pengadilan Negeri Jakarta

gu

Hal. 46 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 46

es

pada

ub
halaman

lik
28-29

Negeri Jakarta Pusat oleh Mahkamah Agung ;

In do ne si
Permohonan

gu ng

In do ne si a
II telah sehingga

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
Pusat sebagai berikut: berpendapat, "Para

Pemohon

alasan-alasan

Pemohon ajukan sangat berdasar untuk membatalkan putusan

arbitrase a quo. Oleh karena itu untuk menghindari timbulnya kerugian besar kepada para Pemohon, apabila putusan arbitrase a quo dilaksanakan, sangat mendesak dan relevan melakukan putusan arbitrase a quo selama proses

tindakan sementara berupa menunda pelaksanaan eksekusi pemeriksaan permohonan berlangsung.

Oleh karena itu, para Pemohon meminta agar Majelis Hakim

ah

am

provisi: 1.

Melarang Termohon/PT Lirik Mengajukan Permohonan Pelaksanaan Eksekusi Putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM selama proses permohonan berlangsung.

ah k

2.

Menghukum Termohon/PT Lirik untuk membayar denda

provisi ini."

gu ng

2.a.3

Bahwa pada halaman 67 putusannya, pertimbangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang menolak tuntutan provisi yang provisi Pembanding/Pemohon II untuk seluruhnya diajukan oleh Pembanding/Pemohon II adalah bahwa tuntutan

mengenai materi pokok perkara dimana Pembanding/Pemohon II dalam provisinya menuntut agar putusan arbitrase a quo dinyatakan sebagai putusan arbitrase domestik, pengajuan permintaan pendaftaran putusan arbitrase a quo telah melampaui batas tenggang waktu yang disyaratkan Pasal 59 ayat (1) UU Arbitrase, menolak permintaan pendaftaran atas putusan arbitrase a quo di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atau di Kepaniteraan Pengadilan Negeri manapun kekuatan eksekutorial, oleh karena itu tidak dapat dimintakan eksekusi; dan menyatakan agar putusan arbitrase a quo tidak mempunyai

ah

ka

ah

pertimbangan

Pengadilan

Negeri

Jakarta

Pusat

dalam

ng

memutuskan menolak tuntutan provisi tidak sesuai dengan apa

gu

Hal. 47 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 47

es

2.a.4

Bahwa berdasarkan uraian di atas telah cukup jelas bahwa

ep

ub

lik

In do ne si
sudah

sebesar US$ 10.000,00 perhari apabila melanggar putusan

ep

ub lik

yang memeriksa dan mengadili perkara ini menjatuhkan putusan

In do ne si a
yang para

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R
Hukum Dalam

b
yang menjadi tuntutan Pembanding/Pemohon II dimana Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menimbang penolakan provisi dengan dasar bahwa tuntutan provisi masuk dalam materi pokok

perkara sedangkan tuntutan provisi Pembanding/Pemohon II

gu

tidak demikian adanya, oleh karena itu telah cukup bukti bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah melanggar ketentuan Pembanding/Pemohon II dengan cermat;

Pasal 178 ayat (2) H.l.R dengan tidak mengadili tuntutan provisi Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf (b) UU

2.a.5

ah

menerapkan atau melanggar hukum, dapat mengakibatkan dibatalkannya putusan tersebut oleh Mahkamah Agung. 2.3 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Telah Salah Menerapkan Atau Melanggar Hukum Karena Menggunakan Dasar Hukum Yang Sudah Tidak Berlaku 2.3.1 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 81 UU Arbiirase, maka

ah k

am

arbitrase sebagaimana dimaksud dalam Pasal 615 sampai

ah

gu ng

dengan Pasal 651 Reglement op de Rechtsvordering (Rv") dinyatakan tidak berlaku;

2.3.2 Bahwa dalam halaman 70 dan 73 putusannya, Pengadilan 643 Rv sebagai dasar pertimbangan hukumnya dalam

Negeri Jakarta Pusat menggunakan ketentuan dalam Pasal memutuskan tidak adanya pelanggaran ketertiban umum,

sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nyata-nyata telah

dasar hukum yang sudah tidak berlaku;

2.3.3 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf (b) UU Mahkamah Agung, maka putusan pengadilan yang salah dibatalkannya putusan tersebut oleh Mahkamah Agung. 2.4 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Telah Salah Menerapkan Atau Melanggar Mempertimbangkan Adanya Pelanggaran Ketertiban Umum Dalam Putusan Arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM menerapkan atau melanggar hukum, dapat mengakibatkan

ka

ah

ep

ub

lik

salah menerapkan atau melanggar hukum karena menggunakan

ng

gu

Hal. 48 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 48

es

In do ne si

pada saat UU Arbitrase ini mulai berlaku, ketentuan mengenai

ub lik

Mahkamah Agung, maka putusan pengadilan yang salah

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
2.4.1 Bahwa Pasal 62 ayat (2) UU Arbitrase memberikan kewenangan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk memeriksa terlebih dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi ketentuan Pasal 4

dan Pasal 5 UU Arbitrase serta tidak berentangan dengan kewenangan kepada Pengadilan Negeri untuk memeriksa pertimbangan hukum dari suatu putusan arbitrase.

kesusilaan dan ketertiban umum. Ketentuan ini memberikan

2.4.2 Dengan demikian, sudah seharusnya Pengadilan Negeri Jakarta putusan arbitrase a quo serta mempertimbangkan fakta-fakta

Pusat memeriksa pertimbangan hukum Majelis Arbitrase dalam

ah

Pemohon II dalam Permohonan Pembatalan, Replik, Kesimpulan serta bukti-bukti yang diajukan sebagai berikut: 2.4.2.1 Bahwa bertitik tolak dari Pasal 33 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menggariskan bahwa produksi dan kekayaan alam yang penting bagi hajat hidup orang banyak, secara konstitusional, dikuasai oleh Negara Republik Indonesia;

ah k

am

2.4.2.2

Bahwa konsideran huruf (b) dan (c) Undang-Undang

ah

gu ng

No. 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak produksi minyak dan gas bumi ("Migas") merupakan cabang-cabang produksi yang amat penting bagi

dan Gas Bumi ("UU No. 44/1960") menegaskan bahwa

negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, baik langsung maupun tidak, serta mempunyai arti khusus untuk pertahanan nasional. Hal ini sejalan dengan konsideran huruf (a) Undang-Undang No. 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara ("UU No. 8/1971") yang juga menegaskan bahwa Migas adalah bahan galian strategis, baik untuk perekonornian negara maupun untuk kepentingan pertahanan dan keamanan;

ka

2.4.2.3

Bahwa selanjutnya dalam Penjelasan Umum angka 1 alinea ke-2 UU No. 44/1960 serta Penjelasan Umum alinea ke-2 UU No. 8/1971 menyatakan bahwa dalam menetapkan kebijaksanaan perminyakan dan pelaksa-

ah

ep

ub

lik
harus

ng

naan

kebijaksanaan

tersebut,

berpedoman

gu

Hal. 49 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 49

es

In do ne si

ub lik

yuridis sebagaimana telah disampaikan oleh Pembanding/

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
negara seterusnya

b
kepada jiwa Pasal 33 ayat (3) UUD 1945; 2.4.2.4

Bahwa Pasal 1 huruf (h) UU No. 44/1960 menegaskan bahwa memberikan wewenang kepada Perusahaan Negara untuk melaksanakan usaha Kuasa Pertambangan; Bahwa guna

pertambangan Migas dan selanjutnya disebut dengan melaksanakan Kuasa

2.4.2.5

Pertambangan tersebut, berdasarkan konsideran huruf

(c) UU No. 8/1971, maka untuk menjamin pelaksanaan

pengusahaan Migas secara ekonomis dan efisien, serta

ah

untuk rakyat, perlu ditugaskan suatu PERUSAHAAN MINYAK NEGARA untuk menyelenggarakan pengusahaan pertambangan Migas, dalam hal ini Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi yang disingkat dengan PERTAMINA. 2.4.2.6 Bahwa berdasarkan Pasal 1 huruf (h) dan Pasal 5 ayat (1) UU No. 44/1960 jo. Pasal 11 UU No. 8/1971 jo. Pasal 33 ayat (1) dan (2) UUD 1945, PERTAMINA,

am

ah k

ep

gu ng

dalam kedudukan dan kapasitasnya sebagai pemegang

kuasa pertambangan mewakili negara, berwenang

penuh (fully authorized) untuk mempertimbangkan secara komprehensif apakah permohonan Terbanding/ Termohon kepada PERTAMINA atas komersialitas lapangan Malek, North Pulai, South Pulai status

dan Lirik dapat dikabulkan atau tidak. Hal ini juga paragraf 1 dan 2 yang berbunyi:

ah

"WHEREAS, all mineral oil and gas existing within the statutory mining territory of Indonesia, are national riches controlled by the state, and mine' for mineral oil and gas in and throughout the area described ... " Terjemahan: WHEREAS, PERTAMINA has an exclusive 'Authority to

ka

ah

ep

ub

lik

dipertegas di dalam bagian Witnesseth EOR Contract

"Bahwa, seluruh minyak dan mineral yang ada di

ng

dalam wilayah tambang di Indonesia, adalah kekayaan

gu

Hal. 50 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 50

es

In do ne si

ub lik

di sisi lain diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
Kuasa

b
nasional yang dikuasai oleh negara, dan

Bahwa

PERTAMINA

merupakan

pemegang Kuasa Pertambangan atas minyak dan gas Mineral di dalam dan seluruh area yang disebutkan ... " Bahwa uraian pada butir 2.4.2.1 hingga 2.4.2.6 di atas

2.4.2.7

gu

telah dipertegas oleh ahli, Teguh Pamudji, SH., dalam sebagai berikut:

persidangan tanggal 06 Agustus 2009 yang menyatakan "... jadi kami ingin mencoba untuk membawa filosofi

atau terjemahan dari Pasal 33 UUD 1945 . (keberatan menjelaskan bahwa terjemahan dari Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945, yang di kegiatan minyak dan

ah

am

gas bumi, diatur di dalam UU No. 44 Prp. Tahun 1960. kemudian di dalam UU No. 8 Tahun 1971 tentang pendirian Pertamina sebagai perusahaan negara. Dalam keterkaitannya dengan pengelolaan sumber daya alam minyak dan gas bumi yang merupakan pemegang penjabaran Pertambangan.

ah k

bahan galian strategis, Pertamina adalah sebagai operasionalisasi Pertamina

pemegang kuasa pertambangan adalah ada di dalam fungsi pengaturan, pembinaan dan pengawasan atas kegiatan usaha minyak tersebut yang terdiri dari kegiatan eksplorasi dan eksploitasi, pemurnian dan hal ini, sebagaimana disebutkan dalam Undang-

penjelasan di dalam UU 44 Tahun 1960, melaksanakan

ah

Undang Dasar untuk sumber daya alam yang strategis itu dibuatkan jalan, pelaksanaannya adalah berdasarkan undang-undang tersebut, Pertamina ini adalah perminyakan." 2.4.2.8 mewakili negara dalam usaha yang terkait dengan Bahwa selain itu, dalam Pasal 5.2., Exhibit D, EOR Contract yang berbunyi: "As soon as the parties consider that incremental

ka

ah

ep

ub

lik

pengolahan, pengangkutan dan penjualan. Jadi dalam

ng

production is commercially exploitable the operating

gu

Hal. 51 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 51

es

In do ne si
Pengertian, sebagai

gu ng

ub lik

penggunaan kata kami dari Termohon). Saya ingin

In do ne si a
satu-satunya

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
PERTAMINA

b
committee shall seek PERTAMINA's approval to have

such field developed by JOB." Terjemahan: produksi dari incremental dapat

"Segera setelah para pihak mempertimbangkan bahwa dieksploitasi secara

gu

komersial, Komite Operasi harus memohon persetujuan agar lapangan tersebut dapat dikembangkan oleh JOB."

telah ditegaskan bahwa kedudukan PERTAMINA

diposisikan lebih tinggi dari Terbanding/Termohon. Hal persidangan . tertanggal Pertamina

ah

ub lik
04 sebagai kuasa kegiatan usaha

ini telah ditegaskan oleh ahli, Ir. Deradjat Zahar, dalam Agustus 2009 yang kuasa menyatakan sebagai berikut:

am

pertambangan, jadi kontraktor kedudukannya sebagai assists, membantu Pertamina di dalam melakukan pekerjaan, dengan demikian, kontraktor membantu, subordinat dari Pertamina."

ah k

ep

Hal ini kemudian dipertegas kembali oleh ahli, Teguh Pamudji, SH., dalam persidangan tertanggal 06 Agustus 2009 yang menyatakan sebagai berikut: sebagai pemegang pertambangan

"Pertama saya ingin jelaskan, bahwa Pertamina ketika dan melaksanakan eksplorasi

eksploitasi di mana instrumen pengikatnya antara Pertamina dengan pihak lain itu adalah kontrak

ah

kedudukan yang berbeda antara Pertamina dengan pihak yang menandatangani kontrak. Dalam hal ini, sering ataupun apa yang dilakukan Departemen ESDM atau Dirjen MIGAS, kedudukan kontraktor adalah yang pertama. Pengertian subordinat adalah ada beberapa kewenangan-kewenangan Pertamina yang mempunyai otoritas penuh di dalam menetapkan kontrak kerjasama." 2.4.2.9 subordinat Pertamina, jadi tidak ada kesetaraan, itu

ka

ah

ep

ub

lik

kerjasama, kontrak kerjasama tersebut mempunyai

ng

Bahwa Pasal XVII.2.2 EOR Contract mengatur sebagai

gu

Hal. 52 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 52

es

In do ne si

gu ng

In do ne si a
pemegang

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
No.

b
berikut:

"No term or provision of this contract, including the agreement of the parties to submit to arbitration

hereunder, shall prevent or limit the government of the Republic of Indonesia from exercising its inalienable rights." Terjemahan:

"Tidak ada ketentuan atau peraturan dari kontrak ini, termasuk kesepakatan para pihak untuk mengajukan ke arbitrase sebagaimana disebutkan di bawah ini,

ah

Republik Indonesia dalam melaksanakan kewenangan mutlaknya sebagai negara." 2.4.3 Bahwa berdasarkan fakta-fakta yuridis yang ada di atas, dapat dibuktikan bahwa Majelis Arbitrase melalui putusan arbitrase ICC Case 14387/JB/JEM telah dengan sengaja mengesampingkan kewenangan yang diberikan oleh undang-

ah k

am

status komersialitas suatu lapangan migas;

ah

gu ng

2.4.4 Bahwa putusan arbitrase a quo mencerminkan ketidak-pahaman Majelis Arbitrase tentang hukum yang mengatur atas usaha kegiatan migas di Indonesia dimana Pertamina sebagai pemegang Kuasa Pertambangan memiliki hak mutlak untuk menentukan apakah suatu lapangan migas dapat diberikan status komersialitas atau tidak;

putusannya, mempertimbangkan sebagai berikut:

"Menimbang, Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945 Jo. UU No.8 Tahun 1971, merupakan pengaturan kewenangan pemerintah berupa kebijakan yang bersifat publik dan apabila pemerintah swasta, berarti pemerintah sedang melakukan perbuatan yang bersifat privat, dengan demikian pemerintah harus tunduk pada hukum privat, kewenangan pemerintah yang bersifat publik seharusnya muncul sebelum kontrak atau perjanjian dibuat atau membuat dan menandatangani suatu kontrak dengan pihak

ka

ah

ep

ub

lik

2.4.5 Bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dalam halaman 74

ng

ditandatangani, dan apabila pemerintah telah menandatangani

gu

Hal. 53 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 53

es

In do ne si

undang kepada PERTAMINA untuk menentukan pemberian

ub lik

dapat menghentikan atau membatasi Pemerintah

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Pengadilan

b
kontrak yang bersifat privat, maka antara pemerintah dengan seimbang dan berlaku azas hukum privat, bahwa perjanjian pihak yang terikat kontrak mempunyai kedudukan yang sama,

mengikat bagi yang membuatnya selaku undang-undang servanda);"

sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata (pacta sunt

2.4.6 Bahwa pertimbangan hukum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagaimana dimaksud pada butir 2.4.5 di atas adalah tidak tepat karena Negeri Jakarta Pusat tidak

mempertimbangkan keterangan para ahli dan fakta-fakta yuridis

ah

terhadap fakta yuridis mengenai ketentuan Pasal XV11.2.2 EOR Contract yang menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan dalam EOR Contract, termasuk ketentuan mengenai pengajuan ke arbitrase, tidak dapat menyingkirkan kewenangan mutlak Pemerintah Republik Indonesia melalui Pertamina dalam menetapkan kebijakan atas sumber daya alamnya yang digariskan berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, yang

am

ah k

ep

dalam hal ini menyangkut kewenangan Pemerintah Republik

ah

gu ng

Indonesia yang diberikan kepada Pertamina untuk memberikan status komersialitas suatu lapangan migas;

2.4.7 Bahwa lebih lanjut, Pembanding/Pemohon II perlu sampaikan bahwa eksekusi atas putusan arbitrase a quo, apabila dikabulkan, akan menimbulkan kerugian bagi negara karena

sebagian besar ganti kerugian yang ditentukan dalam putusan

arbitrase a quo melekat kepada aspek komersialitas yang ditolak oleh Pertamina, dimana eksekusi tersebut tentunya akan ditanggung oleh PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP yang notabene adalah badan usaha milik negara ("BUMN") dan anak perusahaan BUMN. Terlebih lagi, apabila eksekusi atas putusan arbitrase a quo dikabulkan, maka akan terbuka

ka

jalan bagi pihak-pihak lain yang kemudian ingin mempermasalahkan komersialitas yang merupakan prinsip penguasaan negara terhadap sumber daya alam sesuai dengan ketentuan Pasal 33 UUD 1945, yang tentunya berpotensi membawa

ah

ep

ub

lik

ng

kerugian yang lebih besar bagi negara;

gu

Hal. 54 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 54

es

In do ne si

ub lik

yang Pembanding/Pemohon II telah sampaikan, khususnya

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
memeriksa

b
2.4.8 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf (b) UU Mahkamah Agung, maka putusan pengadilan yang salah menerapkan atau melanggar hukum, dapat mengakibatkan 2.5

dibatalkannya putusan tersebut oleh Mahkamah Agung.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Telah Salah Menerapkan atau Melanggar Hukum Karena Tidak Mempertimbangkan Adanya Vires

Pelanggaran Ketertiban Umum Berupa Ultra Petitum atau Ultra Dalam Putusan Arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM

2.5.1 Bahwa Pasal 62 ayat (2) UU Arbitrase memberikan kewenanqan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk memeriksa terlebih dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi ketentuan Pasal 4 dan Pasal 5 UU Arbitrase serta tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. Ketentuan ini memberikan kewenangan kepada Pengadilan Negeri untuk memeriksa pertimbangan hukum dari suatu putusan arbitrase; 2.5.2 Bahwa dalam dan mengadili perkara No.

ah

ah k

am

01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST., sudah menjadi

ah

gu ng

kewajiban hukurn bagi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk

mempertimbangkan semua fakta dan bukti-bukti yang ditemukan di persidangan. Hal ini sejalan dengan Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung No. 3388 K/PDT/1985 tanggal 08 Januari 1992 yang menyatakan:

"Pengadilan Tinggi Riau salah menerapkan hukum, sebab tidak bukti yang ditemukan di persidangan." ("Yurisprudensi MA No. 3388/1985")

2.5.3 Bahwa dalam halaman 75 putusannya, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memberikan pertimbangan hukum atas dalil ultra vires sebagai berikut: "Menimbang, bahwa Pembanding/Pemohon II mengenai adanya ultra petitum atau

ka

ah

ep

sebagaimana

ub

lik
dalam

secara seksama mempertimbangkan semua fakta dan bukti-

pertimbangan

ng

mempunyai

kewenangan

absolut

menjalankan

gu

Hal. 55 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 55

es

tersebut di muka, bahwa lembaga arbitrase dan majelis arbitrase

In do ne si
hukum

ub lik

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
menjadi

b
pekerjaannya. Demikian pula setelah Majelis Hakim mencermati apa

yang

gugatan

para

pihak

International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM

tertanggal 22 September 2008 dan International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tertanggal 27 Februari 2009, apa yang diputuskan tidak melebihi apa yang diminta, dalam dimana tuntutan yang diajukan oleh Termohon sebesar US$ petitum dikabulkan sesuai dengan batas kewenangannya, yakni

124,3 juta, sedangkan yang dikabulkan sebesar US$ 34,172,178

juta dan jumlah total terhitung sebesar US$ 34,495,428 exequatur menurut Pasal 66 UU No. 30/1999;"

ah

am

2.5.4 Bahwa pertimbangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut di atas adalah tidak tepat karena Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hanya mempertimbangkan kepada perbedaan nilai tuntutan ganti rugi yang diajukan oleh Terbanding/Termohon dalam proses arbitrase dengan nilai ganti rugi yang dikabulkan oleh Majelis Arbitrase; sedangkan yang dipermasalahkan oleh

ah k

ep

Pembanding/Pemohon II dalam permohonan pembatalan adalah

mengenai dasar perhitungan putusan arbitrase a quo dalam permasalahan komersialitas. Dalam halaman 39-41 Replik,

pada pokoknya Pembanding/Pemohon II telah menyampaikan berikut:

fakta yuridis kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai

2.5.4.1

Bahwa sesuai Pasal IX.3 EOR Contract, agar suatu Terbanding/ Termohon sebagai

ah

lik
status itu,

lapangan Migas

dapat dieksploitasi

kontraktor,

memohon persetujuan status komersialitas terlebih dahulu dari Pertamina. Namun selama Pertamina belum memberi-kan eksploitasi. persetujuan Oleh komersialitas, tidak mungkin Terbanding/ Termohon belum dapat melakukan kegiatan Terbanding/Termohon memperhitungkan suatu jumlah keuntungan finansial dari suatu lapangan Migas selama belum diberikan persetujuan status komersialitas oleh

ka

ah

ep

ub
karena

ng

Pertamina;

gu

Hal. 56 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 56

es

In do ne si
oleh harus

gu ng

ub lik

ditambah bunga 6% terhitung sejak didapatkannya perintah

In do ne si a
dalam perkara

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
Hukum

b
2.5.4.2 Bahwa secara faktual Majelis Arbitrase mengetahui Terbanding/ermohon pada tahun 1997, ternyata

permohonan status komersialitas baru diajukan oleh Majelis Arbitrase tetap mengabulkan ganti kerugian atas keuntungan yang diharapkan terhitung sejak tahun 1995; II telah

2.5.5 Bahwa berdasarkan fakta yuridis di atas dan bukti-bukti yang ada, Pembanding/Pemohon membuktikan

putusan arbitrase a quo yang dijatuhkan nyata-nyata secara

faktual dan obyektif mengandung ultra petitum atau ultra vires; yuridis dan bukti-bukti tersebut, dengan demikian Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nyata-nyata telah salah menerapkan hukum; 2.5.6 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf (b) UU Mahkamah Agung, maka putusan pengadilan yang salah menerapkan atau melanggar hukum, dapat mengakibatkan dibatalkannya putusan tersebut oleh Mahkamah Agung.

ah

ah k

am

2.6

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Telah Salah Menerapkan Atau Melanggar Karena Tidak Secara Mempertimbangkan

Adanya Cacat Kontroversi Dalam Putusan Arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST,

2.6.1 Bahwa dalam memeriksa dan mengadili perkara No. 01/ sudah menjadi kewajiban hukum bagi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mempertimbangkan semua fakta dan bukti-bukti yang ditemukan di persidangan. Hal ini sejalan dengan Yurisprudensi MA No. 3388/1985; 2.6.2 Bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sudah seharusnya membaca seluruh bagian dari putusan arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM yang dijadikan bukti dalam perkara a quo, yang memuat cacat kontroversi karena putusan arbitrase a quo tidak menentukan apakah putusan arbitrase tersebut adalah putusan

ah

ka

ah

ep

ub

lik

ng

arbitrase nasional atau internasional. Hal ini dibuktikan dengan

gu

Hal. 57 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 57

es

In do ne si
Seksama

gu ng

ub lik

namun Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak memeriksa fakta

In do ne si a
bahwa

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
dengan umum,

b
adanya pertimbangan hukum Majelis Arbitrase pada angka 87 Final Award ICC Case No. 14387/JB/JEM yang menyatakan bahwa:

"The Respondents shall pay interest on the total amount payable, as specified in paragraph 86 (c), from the date of registration of this Final Award under article 59 of the Indonesia

Arbitration Law or the obtaining of an order of exequatur under article 66 of the Indonesia Arbitration Law until the date of payment at the rate of 6%p.a." Terjemahan :

ah

total yang dibayarkan, sebagaimana disebutkan dalam paragraf 86 (c), dari tanggal pendaftaran Final Award ini berdasarkan Pasal 59 Undang-undang Arbitrase Indonesia atau memperoleh eksekuatur berdasarkan Pasal 66 Undang-undang Arbitrase Indonesia sampai pada dengan tanggal pembayaran sebesar 6% per tahun." 2.6.3 Bahwa dari pertimbangan Majelis Arbitrase tersebut di atas

ah k

am

terbukti adanya cacat kontroversi mengenai katagori putusan

ah

gu ng

arbitrase a quo dimana di satu sisi Majelis Arbitrase merujuk kepada ketentuan Pasal 59 UU Arbitrase yang mengatur mengenai tata cara pendaftaran putusan arbitrase untuk putusan arbitrase nasional, sedangkan di sisi yang lain

Majelis Arbitrase merujuk kepada ketentuan Pasal 66 UU Arbitrase yang mengatur mengenai tata cara memperoleh eksekuatur untuk putusan arbitrase internasional; dengan

tidak memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang bersengketa dalam menentukan apakah putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase nasional atau internasional; Jakarta Pusat justru menghubungkan permasalahan cacat kontroversi ketertiban Jakarta permasalahan hal-hal ultra petitum tidak dan ada atau

ka

ah

ep
padahal secara

2.6.4 Bahwa pada halaman 74 putusannya, Pengadilan Negeri

ub

lik
tersebut

adanya cacat kontroversi tersebut maka putusan arbitrase a quo

kaitannya satu sama lain. Dengan demikian, Pengadilan Negeri

ng

Pusat

tidak

seksama

memeriksa

gu

Hal. 58 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 58

es

In do ne si

ub lik

"Para Termohon diwajibkan untuk membayar bunga atas jumlah

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Negeri

b
mempertimbangkan adanya cacat kontroversi dalam putusan arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM tersebut; sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nyata-nyata telah salah

menerapkan hukum;

2.6.5 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf (b) UU

gu

Mahkamah Agung, maka putusan pengadilan yang salah menerapkan atau melanggar hukum, dapat mengakibatkan dibatalkannya putusan tersebut oleh Mahkamah Agung. Pengadilan Atau Jakarta Hukum Pusat Melanggar Dengan Telah Salah

2.7

Putusan

Menerapkan

ah

Arbitrase Internasional

am

2.7.1 Bahwa pada halaman 77-79 putusannya, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan putusan arbitrase a quo sebagai putusan arbitrase internasional dengan pertimbangan hukum sebagai berikut: putusan "Menimbang, bahwa Pasal 1.9 UU Arbitrase mendefinisikan

ah k

dijatuhkan oleh lembaga arbitrase atau arbitrase perorangan di

ah

gu ng

luar yurisdiksi wilayah hukum Republik Indonesia, atau suatu putusan yang menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai putusan arbitrase internasional"; Menimbang, bahwa menurut ahli Prof. Hikmahanto Juwana, adalah tidak mutlak berdasarkan di mana putusan arbitrase tersebut dijatuhkan, melainkan juga putusan arbitrase yang

kriteria putusan arbitrase adalah putusan arbitrase internasional

putusan arbitrase internasional;

Menimbang, bahwa menurut ahli Prof Huala Adolf, selain ketentuan Pasal 1.9 UU Arbitrase, suatu putusan arbitrase unsur-unsur asing dalam pelaksanaan arbitrase tersebut, seperti bahasa, mata uang, forum penyelesaian sengketa, aturan/rules; Menimbang, bahwa lex arbitri merupakan hukum yang berkaitan dinyatakan sebagai putusan arbitrase internasional apabila ada

ka

ah

ep

ub

lik

menurut ketentuan hukum Republik Indonesia dianggap sebagai

ng

dengan arbitrase, dari negara tempat arbitrase diselenggarakan.

gu

Hal. 59 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 59

es

In do ne si

arbitrase

ep

internasional

ub lik
sebagai

Putusan Arbitrase Ice Case No. 14387/J8/JEM Sebagai Putusan

In do ne si a
Menyatakan "putusan yang

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
voluntair

b
Lex arbitri menentukan apakah perjanjian arbitrase sah, apakah sengketa tertentu dapat diselesaikan melalui arbitrase dan seterusnya, termasuk dalam hal menetapkan aturan-aturan

dalam ha! terjadi kekosongan (gap filling);

Menimbang, bahwa Majelis Hakim berpendapat secara hukum

gu

untuk interpretasi apakah perkara a quo masuk sebagai kriteria menafsirkan Pasal 1.9 UU Arbitrase, dan pendapat ahli

putusan arbitrase nasional atau internasional tidak cukup hanya sebagaimana tersebut di atas, tapi akan lebih tepat dan

berkeadilan hukum apabila dikaitkan pula dengan kronologis Menimbang, bahwa adapun kronologis dalam perkara a quo adalah: -

ah

am

Bahwa PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP telah terikat kontrak dengan PT Lirik Petroleum sebagaimana termuat dalam EOR Contract dan dalam bagian XII disetuju secara menerima untuk kewajiban EOR Contract, telah termasuk kewajiban berarbitrase dan

ah k

ep
Chamber atas

menandatangani Term of Reference dan berpartisipasi dalam

gu ng

arbitrase dengan menunjuk forum untuk penyelesaian sengketa adalah lembaga Court of Arbitration of the International Bahwa of Commerce (ICC), berkedudukan di Paris (bukti P-5= T-4); berdasar adanya

klausula

sengketa dalam EOR Contract yang melalui lembaga arbitrase tersebut maka para pihak telah menunjuk Arbiter 2.1 Fred B.G. Tumbuan sebagai Arbiter yang dipilih oleh PT Pertamina (Persero) ; oleh PT Lirik Petroleum; 2.2 Dr. H. Priyatna Abdurrasyid sebagai Arbiter yang dipilih 2.3 Prof. Michael Pryles sebagai Arbiter ketua yang dipilih oleh masing-masing Arbiter; yang memeriksa sengketa tersebut, Arbiter tersebut adalah:

ah

ka

ah

Bahwa pulusan arbitrase a quo dibuat oleh Majelis Arbitrase berdasarkan mengikuti

ep
kesepakatan

ub
dari

lik
para

ng

prosedur dan/atau tidak terdapat peraturan perundang

gu

Hal. 60 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 60

es

pihak

In do ne si
yang penyelesaian dan telah

ub lik

dalam perkara a quo;

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
(Partial

b
undangan yang dilanggar; Bahwa atas sengketa tersebut telah diperiksa dan diputus oleh Majelis Arbitrase sebagaimana tertuang dalam Putusan Sebagian Award) ICC International Court of

Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tertanggal 22 September 2008 (bukti P-4a) dan Putusan Akhir (Final Award) ICC tertanggal 27 Februari 2009 (bukti P-4b);

International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM Bahwa putusan arbitrase a quo oleh Terbanding/Termohon

telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta JKT.PST tanggal 21 April 2009; -

ah

am

Bahwa kemudian Pembanding/Pemohon II mengajukan permohonan agar putusan arbitrase a quo dibatalkan karena bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku dan ketertiban umum atau dinyatakan sebagai putusan arbitrase

ah k

Menimbang, bahwa secara substansi Pembanding/Pemohon II

ah

gu ng

sejak perjanjian dibuat telah tahu bahwa ICC adalah lembaga

arbitrase internasional dan Pembanding/Pemohon II telah menunjuk Arbiter Fred B.G. Tumbuan sebagai Arbiter yang prosedur dan beracara sesuai dengan aturan yang ditetapkan

dipilihnya dan Pembanding/Pemohon II juga telah mengikuti oleh ICC, ternyata dalam putusan arbitrase a quo Pembanding/ ganti rugi, biaya dan bunga;

Pemohon II dinyatakan kalah dan dihukum untuk membayar Menimbang, bahwa para Pemohon berpendapat azas teritorial adalah satu-satunya azas untuk menentukan apakah putusan arbitrase a quo dinyatakan putusan arbitrase nasional atau

ka

internasional, sedangkan Pasal 37 UU Arbitrase mengatur arbitrase, kecuali ditentukan sendiri oleh para pihak"; Menimbang, bahwa dari ketentuan Pasal 1.9 UU Arbitrase, pendapat para ahli, fakta-fakta dan kronologis tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat secara hukum bahwa putusan

ah

ep

bahwa "tempat arbitrase ditentukan oleh Arbiter atau majelis

ub

lik

ng

arbitrase a quo adalah putusan arbitrase internasional;

gu

Hal. 61 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 61

es

In do ne si

domestik sehingga tidak mempunyai kekuatan mengikat;

ep

ub lik

Pusat

dengan

Register No. 02/PDT/ARB-INT/2009/PN.

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
arbitrase York 1958

b
Menimbang, bahwa sebagaimana ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU Arbitrase, pendaftaran putusan arbitrase nasional diatur adanya batas tenggang waktu. Sedangkan putusan arbitrase

internasional tidak diatur adanya tenggang waktu;

Menimbang, bahwa demikian pula tentang irah-irah Demi

gu

Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai Pasal 54 ayat (1) huruf (a) UU Arbitrase, hal tersebut berlaku untuk putusan arbitrase nasional, dan untuk putusan arbitrase internasional sudah pasti secara hukum tidak terikat akan

ah

2.7.2 Bahwa pertimbangan hukum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut di atas adalah keliru dan bertentangan dengan fakta yuridis sebagai berikut: 2.7.2.1 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 1.9 jo Pasal 66 huruf (a) UU Arbitrase, penentuan apakah suatu putusan arbitrase merupakan putusan arbitrase nasional atau putusan arbitrase internasional ditentukan oleh faktor teritorial, yaitu tempat dimana putusan arbitrase Prof. Hikmahanto Juwana, pada persidangan tanggal 06 Agustus 2009, yang menyatakan bahwa: "Jika diperhatikan, Pasal 1.9 UU No. 30/1999

ah k

am

ah

gu ng

tersebut dijatuhkan.Hal ini telah ditegaskan oleh ahli,

disebutkan faktor teritorial terlebih dahulu, baru

kemudian ada kata-kata " ... atau yang menurut hukum Indonesia dianggap sebagai suatu putusan arbitrase teritorial ini menjadi penting untuk menentukan putusan merupakan nasional atau internasional. " internasional."; sehingga mau tidak mau memang

ka

2.7.2.2

Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal I Konvensi Enforcement of Foreign Arbitral Awards ("Konvensi New York 1958"), yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 34 Tahun 1981, maka jelas bahwa faktor teritorial merupakan faktor yang

ah

ep

New

ub
mengenai

lik

Recognition

ng

menentukan apakah suatu putusan arbitrase merupakan

gu

Hal. 62 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 62

es

In do ne si
and

ub lik

ketentuan adanya irah-irah tersebut;

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
bahwa

b
putusan arbitrase nasional atau internasional. Hal ini

juga telah ditegaskan oleh ahli, Prof. Huala Adolf, dalam persidangan tanggal 11 Agustus 2009; Bahwa azas teritorial telah berulang kali dikemukakan

2.7.2.3

oleh Pembanding/Pemohon II, baik dalam Permohonan, Replik maupun Kesimpulannya, yang pada pokoknya menjelaskan Pembanding/Pemohon telah menyepakati II Terbanding/Termohon

arbitrase dalam Pasal X".1.4 Enhanced Oil Recovery

Contract tanggal 1 Maret 1991 ("EOR Contract" ) yang sesuai 2.7.2.4 dengan

ah

ub lik
peraturan 25 ayat (3) of Chamber dan pada azas

menentukan bahwa arbitrase dilaksanakan di Jakarta arbitrase International Chamber of Commerce;

am

Bahwa proses arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM telah dilangsungkan di Jakarta merupakan suatu fakta yuridis yang tidak terbantahkan; bahkan kalimat terakhir di dalam Partial Award maupun Final Award ICC Case No. 14387/JB/JEM secara tegas menyebutkan: "Place of arbitration, Jakarta, Indonesia." Terjemahan: Bahwa Pasal

ah k

ep

"Tempat pelaksanaan arbitrase, Jakarta, Indonesia." peraturan Commerce International

2.7.2.5

sebagai berikut:

"The award shall be deemed to be made at the place of the arbitration and on the date stated herein." Terjemahan: arbitrase dilaksanakan

ah

"Putusan arbitrase wajib dianggap dibuat di tempat tanggal yang dinyatakan dalam putusan arbitrase tersebut." Ketentuan Pasal 25 ayat (3) peraturan arbitrase penggunaan International Chamber of Commerce ini menegaskan

ka

ep

ub
teritorial

lik
yang

ah

Konvensi New York 1958 dan Pasal 1.9 UU Arbitrase. Dengan demikian, sudah sangat jelas bahwa putusan arbitrase ICC ease No. 14387/JB/JEM adalah putusan

ng

arbitrase yang dibuat dan/atau dijatuhkan di Jakarta;

gu

Hal. 63 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 63

es

In do ne si
arbitrase berbunyi sejalan dengan

gu ng

In do ne si a
dan klausula

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
lembaga

b
2.7.2.6 Bahwa dalam halaman 74, 78 dan 79 putusannya,

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan bahwa Pembanding/Pemohon II telah menunjuk ICC yang

sesuai dengan EOR Contract dan Term of Reietence, berkedudukan di Paris sebagai forum penyelesaian

gu

sengketa. Hal ini bertentangan dengan fakta yuridis,

karena Pembanding/Pemohon II tidak pernah menunjuk

lCC sebagai forum penyelesaian sengketa melainkan prosedur yang digunakan dalam arbitrase. Hal ini sesuai kemudian disebutkan kembali di butir 16 Term of

hanya menunjuk peraturan arbitrase lCC sebagai

ah

am

Reference yang pada pokoknya berbunyi sebagai berikut: "Except as provided in this Section, arbitration shall be conducted in Jakarta, in accordance with the rules of Arbitration of the International Chamber of Commerce."

ah k

Terjemahan:

ah

gu ng

"Kecuali diatur lain dalam bagian ini, Arbitrase Arbitrase International Chamber of Commerce."

dilaksanakan di Jakarta, sesuai dengan peraturan

dengan demikian, putusan arbitrase a quo dijatuhkan permanen atau institusi;

oleh arbitrase ad hoc dan bukan oleh arbitrase Bahwa Terbanding/Termohon dalam upayanya untuk

2.7.2.7

putusan arbitrase a quo merupakan putusan arbitrase internasional selalu mengistilahkan "putusan arbitrase sebagai

ub
Court of Paris";

lik
of padahal

meyakinkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bahwa

Arbitration

ka

International Chamber

Commerce sekali

Pembanding/Pemohon II tegaskan, para pihak tidak pernah melakukan proses arbitrase di lembaga Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce . Arbitrase yang dilakukan adalah arbitrase ad hoc yang

ah

ep

berkedudukan

di

ng

menggunakan hukum acara atau peraturan arbitrase

gu

Hal. 64 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 64

es

In do ne si
of the yang lagi

ub lik

dengan ketentuan Pasal XII.1.4 EOR Contract yang

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
ad hoc, atau para pihak

b
ICC; 2.7.2.8

Bahwa hal tersebut di atas merupakan penyesatan dalam upaya menyatakan putusan arbitrase a quo sebagai putusan arbitrase internasional;

2.7.2.9

Bahwa lebih lanjut, sebagaimana telah disampaikan

gu

oleh ahli Prof. Hikmahanto Juwana dalam persidangan tanggal 06 Agustus 2009, maka untuk arbitrase yang bersifat arbitrase arbitration) bahwa penentuan atau sebagai nasional putusan internasional ditentukan arbitrase klausula

oleh penentuan tempat kedudukan arbitrase ( seat of (place of arbitration); dengan demikian mengingat telah menyepakati arbitrase dalam EOR Contract yang menentukan

ah

am

bahwa place of arbitration atau tempat pelaksanaan arbitrase adalah Jakarta, maka putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase nasional lndonesia; 2.7.2.10 Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, maka

ah k

ep
06

terbukti bahwa putusan arbitrase a quo adalah

gu ng

putusan arbitrase nasional. Hal ini telah dipertegas tanggal Agustus 2009 dan Pendapat Ahli

oleh ahli Prof. Hikmahanto Juwana dalam persidangan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I memori banding ini yang pada pokoknya menyampaikan keterangan selengkapnya sebagai berikut: Bahwa tempat kedudukan arbitrase ( seat of

a.

ah

(place of arbitration) adalah faktor yang sangat penting untuk menentukan hukum arbitrase ( lex arbitri) yang

ub
berlaku, suatu

lik
termasuk

arbitration) atau tempat pelaksanaan arbitrase

ka

penentuan b.

apakah

putusan

Bahwa dalam kaitan dengan ICC, ketentuan Pasal 1 ayat (2) peraturan arbitrase ICC secara tegas

ah

"The Court does not itself settle dispute." Terjemahan:

ng

gu

Hal. 65 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 65

es

mengatur sebagai berikut:

ep

nasional atau internasional;

In do ne si
mengenai arbitrase

ub lik

tempat

pelaksanaan

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
sengketa;. (seat of suatu tempat

b
"International Court of Arbitration tidak melakukan penyelesaian sengketa."

Dengan demikian, International Court of Arbitration tidak memiliki kewenangan untuk menyelesaikan Bahwa lebih lanjut penentuan hukum acara ( rules) arbitration) atau tempat

gu

c.

tidak serta merta menjadikan kedudukan arbitrase arbitrase (place of arbitration) dilakukan di Paris; d.

Bahwa walaupun para pihak telah menyepakati para pihak atau Majelis Arbitrase menyepakati kedudukan arbitrase (s eat of arbitration) atau tempat pelaksanaan arbitrase

ah

am

(place of arbitration), maka hukum arbitrase (lex arbitri) dari tempat tersebut yang disepakati tersebutlah yang berlaku; e. Bahwa dalam peraturan arbitrase ICC, bila para pihak yang bersengketa menggunakan hukum melihat bentuk dari dengan format putusan yang

ah k

ep

gu ng

acara ICC maka ICC memiliki kewenangan untuk menyesuaikan standar

Kewenangan yang dimiliki oleh International Court of Arbitration dari ICC ini sama sekali tidak berarti ICC merupakan lembaga yang memutus sengketa; Bahwa apabila penyelesaian sengketa melalui

f.

ah

hukum acara ICC, ketika hendak dibatalkan harus pergi ke Paris maka pengadilan di Paris akan sibuk untuk melakukan

ub
proses untuk

lik

arbitrase yang bersifat ad hoc dan menggunakan

pemeriksaan

ka

permohonan pembatalan. Itu sama sekali bukan kewenangan g.

ep

yang dimaksudkan dalam konteks ICC memiliki melihat putusan format arbitrase tidak putusan apakah dapat arbitrase yang menggunakan hukum acara ICC;

ah

nasional

ataupun

internasional

ng

dilakukan berdasarkan elemen-eleman asing ( most

gu

Hal. 66 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 66

es

Bahwa

penentuan

In do ne si
dan ada. atas

ub lik

hukum acara ICC yang digunakan, namun apabila

In do ne si a
pelaksanaan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Court

b
characteristic connections) mengingat penggunaan elemen-elemen asing dilakukan untuk penentuan hukum materiil ketika kontrak antar pihak tidak menentukan pilihan hukum;

2.7.2.11 Bahwa berdasarkan uraian ahli Prof. Hikmahanto peraturan arbitrase ICC yang mengatur bahwa International of Arbitration dari ICC

gu

Juwana tersebut di atas dan ketentuan Pasal 1 ayat (2)

menyelesaikan sengketa, maka perlu dipertanyakan

keabsahan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

ah

sebagai putusan arbitrase internasional karena diputus oleh International Court of Arbitration dari ICC yang memiliki kedudukan di Paris dimana pada faktanya, berdasarkan Pasal 1 ayat (2) peraturan arbitrase ICC, International Court of Arbitration dari Ice bukanlah suatu lembaga peradilan yang memiliki fungsi ajudikasi. Selain itu, terjemahan kala " court' tidak selalu diartikan sebagai "pengadilan", namun bisa "gelanggang"; hal ini tentunya, didukung dengan diterjemahkan sebagai "Iapangan", "halaman" atau

am

ah k

ep

ketentuan Pasal 1 ayat (2) peraturan arbitrase ICC, menunjukan bahwa kata "court dalam International pengadilan yang dapat menyelesaikan sengketa; Court of Arbitration dari ICC bukanlah suatu badan

2.7.2.12 Bahwa lebih lanjut, seandainya place of arbitration

ah

penentu apakah suatu putusan arbitrase merupakan putusan arbitrase nasional atau internasional - quad non rectum-, maka putusan arbitrase a quo tetap merupakan putusan arbitrase nasional karena tidak internasional memiliki karakteristik sesuai sebagai putusan fakta-fakta arbitrase yuridis,

ka

ep

ah

peraturan perundang-undangan dan doktrin para sarjana hukum ; 2.7.2.13 Bahwa dengan memperhatikan ketentuan perundang-

ub
dengan

lik

atau tempat arbitrase diputuskan tidak menjadi faktor

ng

undangan dan doktrin para sarjana hukum yang

gu

Hal. 67 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 67

es

In do ne si

gu ng

ub lik

yang memutuskan bahwa putusan arbitrase a quo

In do ne si a
tidak

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
RI suatu

b
diuraikan di atas, maka tidak dapat dibantah lagi

bahwa putusan arbitrase a quo adalah putusan

arbitrase nasional, sehingga putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat merupakan suatu jawabkan secara hukum; putusan yang salah dan tidak dapat dipertanggung-

2.7.2.14 Bahwa pertimbangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada halaman 77 putusannya yang berbunyi sebagai berikut:

"Menimbang, bahwa ahli Prof. Huala Adolf, SH, LLM,

ah

30/1999 telah memberikan dua alfernatif kriteria untuk menentukan suatu putusan adalah putusan arbitrase nasional atau internasional, yakni putusan yang dijatuhkan oleh lembaga arbitrase atau arbitrase perorangan di luar yurisdiksi wilayah hukum Republik Indonesia atau suatu putusan yang menurut ketentuan hukum dianggap sebagai putusan arbitrase

ah k

am

internasional, dan untuk dinyatakan sebagai putusan arbitrase internasional tidak hanya didasarkan pada (teritorial) Indonesia, melainkan juga harus di lihat forum penyelesaian sengketa, aturan/rules) yang digunakan, apabila terdapat unsur asing dalam adalah putusan arbitrase internasional."

apakah putusan arbitrase tersebut dijatuhkan di wilayah unsur-unsur asing yang terkait (bahasa, mata uang,

pelaksanaan arbitrase tersebut maka putusan tersebut adalah bertentangan dengan hukum yang berlaku

ah

karena hukum yang berlaku secara tegas menentukan bahwa faktor teritorial dimana putusan arbitrase tersebut dijatuhkan atau dibuat merupakan faktor penentu internasional. Tidak ada satupun dasar hukum yang mengatakan bahwa bahasa, mata uang, forum penyelesaian sengketa, aturan/rules menjadi faktor penentu suatu putusan arbitrase adalah internasional; 2.7.3 Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, maka nyata-nyata apakah putusan arbitrase nasional atau

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 68 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 68

es

In do ne si

gu ng

ub lik

Ph.D, menerangkan menurut Pasal 1.9 UU No.

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
putusan kepada

b
dapat Pembanding/Pemohon arbitrase II a buktikan quo bahwa putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase nasional sehingga terhadap berlaku persyaratan-

persyaratan yang diatur oleh UU Arbitrase, antara lain, sebagai berikut: Bahwa berdasarkan Pasal 59 ayat (1) UU Arbitrase, putusan arbitrase nasional wajib diserahkan dan didaftarkan Panitera Pengadilan Negeri dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan;

ah

gu

2.7.3.1

Arbitrase, putusan arbitrase nasional harus memuat kepala putusan (irah-irah) yang berbunyi "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA"; 2.7.4 Bahwa pada faktanya, sebagaimana telah disampaikan oleh Pembanding/Pemohon II dalam Permohonan, Replik maupun Kesimpulan, putusan arbitrase a quo didaftarkan melampaui

am

ah k

ep

batas tenggang waktu yang ditentukan oleh Pasal 59 ayat (1) UU

Arbitrase. Adapun kronologis pendaftaran putusan arbitrase a quo adalah sebagai berikut: Final Award atau putusan akhir arbitrase diucapkan atau ditetapkan pada tanggal 27 Februari 2009;

2.7.4.1 2.7.4.2

Pendaftaran putusan arbitrase a quo dalam register No. Relaas 02/Pdt/Arb-Int/2009/PN.Jkt.Pst. dilakukan pada terhitung sejak tanggal putusan arbitrase a quo diucapkan atau dijatuhkan; tanggal 21 April 2009, yakni 54 (lima puluh empat) hari

ah

2.7.5 Bahwa sebagai akibat dari keterlambatan pendaftaran putusan arbitrase a quo dalam tenggang waktu sebagaimana dimaksud putusan arbitrase a quo tidak dapat dilaksanakan; 2.7.6 Bahwa sebagaimana telah disampaikan oleh Pembanding/ Pemohon II dalam permohonan, replik maupun kesimpulan, putusan arbitrase a quo tidak memiliki atau memuat kepala di atas, maka sesuai ketentuan Pasal 59 ayat (4) UU Arbitrase,

ka

ah

ep

ub

lik

ng

putusan "DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN

gu

Hal. 69 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 69

es

In do ne si

gu ng

ub lik

2.7.3.2

Bahwa berdasarkan Pasal 54 ayat (1) huruf (a) UU

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
67 ayat

b
YANG MAHA ESA". Dengan demikian putusan arbitrase a quo telah melanggar ketentuan Pasal 54 ayat (1) huruf (a) UU Arbitrase;

2.7.7 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf (b) UU

Mahkamah Agung, maka putusan pengadilan yang salah menerapkan atau melanggar hukum dapat mengakibatkan dibatalkannya putusan tersebut oleh Mahkamah Agung.

2.8

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Telah Salah Menerapkan Atau Syarat Formil Pendaftaran Arbitrase Internasional

Melanggar Hukum Karena Tidak Mempertimbangkan Pemenuhan

ah

yang menyatakan bahwa putusan arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM sebagai putusan arbitrase internasional sudah tepat (quad non rectum), Pengadilan Negeri Jakarta Pusat masih memiliki kesalahan dalam menerapkan hukum, karena tidak mempertimbangkan semua fakta dan bukti yang terungkap di persidangan, sebagaimana dimaksud dalam Yurisprudensi MA

ah k

am

No. 3388/1985;

ah

gu ng

2.8.2 Bahwa

Pasal

(2)

huruf

(c)

mempersyaratkan agar penyampaian berkas permohonan dengan keterangan dari perwakilan diplomatik Republik

pelaksanaan putusan arbitrase internasional harus disertai

Indonesia di negara tempat putusan arbitrase internasional

tersebut ditetapkan, yang menyatakan bahwa negara tempat

putusan ditetapkan terikat pada perjanjian, baik secara bilateral pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional; 2.8.3 Bahwa pada faktanya pendaftaran pelaksanaan putusan arbitrase ICC Case No. 14387/JB/JEM di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak menyertakan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 67 ayat (2) huruf (c) UU

ka

Arbitrase; dan hal ini nyata-nyata merupakan suatu pelanggaran terhadap ketentuan UU Arbitrase dan semakin membuktikan bahwa putusan arbitrase a quo adalah putusan arbitrase nasional, dan secara logika hukum adalah hal yang mustahil

ah

ep

ub

lik

maupun multilateral dengan negara Republik Indonesia perihal

ng

suatu putusan arbitrase yang putusannya ditetapkan di Jakarta

gu

Hal. 70 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 70

es

In do ne si
UU Arbitrase

ub lik

2.8.1 Bahwa seandainya putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
dapat memperoleh keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia. Fakta yuridis ini telah Pembanding/ Pemohon II sampaikan dalam Repliknya; namun Pengadilan

Negeri Jakarta Pusat sama sekali tidak mempertimbangkan fakta nyata telah salah menerapkan hukum;

yuridis ini; sehingga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nyata-

2.8.4 Bahwa sebagai tambahan, mengingat pernyataan Terbanding/ bahwa putusan arbitrase a quo yang dikeluarkan ICC di Paris

Termohon pada halaman 20 jawabannya yang menyatakan adalah produk putusan arbitrase internasional, maka dikaitkan huruf (c) UU Arbitrase, Pembanding/Pemohon II dapat membuktikan bahwa pernyataan Terbanding/Termohon tersebut adalah tidak berdasar dan keliru, atas dasar Perwakilan Republik Indonesia di Paris dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia telah menegaskan sebagai berikut:

ah

ah k

am

Paris ("KBRI Paris"), hingga pengantar berita faksimil ini diterbitkan belum pernah ada wakil dari pihak ICC di Paris, Majelis Arbitrase, PT Lirik Petroleum atau PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP yang menghubungi KBRI Paris dan meminta informasi PT Pertamina EP dengan PT Lirik Petroleum; dan

berkaitan dengan sengketa PT Pertamina (Persero) dan KBRI Paris tidak pernah memberikan informasi apapun arbitase a quo;

2.8.4.2

ah

Penegasan tersebut di atas dinyatakan dalam pengantar berita faksimil No RR-082/PARIS/VIII/09 tertanggal 10 Agustus 2009 perihal Perkara Arbitrase PT Lirik Petroleum melawan PT Perwakilan Republik Indonesia di Paris, Perancis (salinan dari dokumen asli terdapat dalam Lampiran II) dan melalui Surat Direktur Hukum Direktorat Jenderal Hukurn dan Perjanjian Internasional Departemen Luar Negeri Republik Indonesia No. Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP yang diterbitkan oleh

ka

ah

ep

ub

lik

kepada pihak manapun berkaitan dengan perkara

ng

502/0TlVlli/2009/58 tertanggal 14 Agustus 2009 (salinan dari

gu

Hal. 71 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 71

es

In do ne si

2.8.4.1

Dalam catatan Kedutaan Besar Republik Indonesia di

gu ng

ub lik

dengan pemenuhan persyaratan pada Pasal 67 ayat (2)

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
Indonesia

b
dokumen asli terdapat dalam Lampiran III); 2.8.5 Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) huruf (b) UU Mahkamah Agung, maka putusan pengadilan yang salah

menerapkan atau melanggar hukum dapat mengakibatkan dibatalkannya putusan tersebut oleh Mahkamah Agung.

gu

2.9

Putusan Arbitrase a quo Melanggar Ketertiban Umum Dengan Menetapkan Dwangsom atau Uang Paksa

2.9.1 Bahwa ketentuan Pasal 606a Rv. mengatur:

"Sepanjang suatu putusan hakim mengandung hukuman untuk sesuatu yang lain daripada membayar sejumlah uang, maka

ah

tidak mematuhi hukuman tersebut, olehnya harus diserahkan sejumlah uang yang besarnya ditetapkan dalam putusan hakim dan uang tersebut dinamakan uang paksa." 2.9.2 Bahwa ketentuan Pasal 606a Rv. secara a contrario berarti dwangsom atau uang paksa tidak berlaku untuk tindakan membayar uang. Hal ini telah diperkuat dengan adanya yurisprudensi tetap putusan Mahkamah Agung Republik

ah k

am

Indonesia No. 791 K/Sip/1972 tertanggal 26 Februari 1973;

ah

gu ng

2.9.3 Bahwa pada faktanya Majelis Arbitrase dalam putusan arbitrase a quo, khususnya dalam angka 87 Final Award tertanggal 27 Februari 2009, memutuskan sebagai berikut:

"The Respondents shall pay interest on the total amount payable, as specified in paragraph 86 (c), from the date of registration of this Final Award under Article 59 of the Indonesian Arbitration Law or the obtaining of an order of Exequatur under payment at the rate of 6% p.a." Terjemahan:

"Para Termohon diwajibkan untuk membayar bunga atas jumlah total yang harus dibayarkan, sebagaimana disebutkan dalam berdasarkan Pasal 59 Undang-undang Arbitrase Indonesia atau memperoleh eksekuatur berdasarkan Pasal 66 Undang-undang Arbitrase paragraf 86 (c), dari tanggal pendaftaran Final Award

ka

ah

ep
sampai

ub
dengan

lik
tanggal

Article 66 of the Indonesian Arbitration Law until the date of

sebesar 6% per tahun." 2.9.4 Bahwa putusan arbitrase a quo yang menghukum Pembanding/

ng

gu

Hal. 72 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 72

es

In do ne si
pembayaran

ub lik

dapat ditentukan bahwa sepanjang atau setiap kali terhukum

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
atau syarat-syarat

b
Pemohon II untuk membayar sejumlah uang dan menetapkan adanya

dwangsom

uang

paksa

melanggar ketentuan Pasal 606a Rv; dengan demikian,

telah terjadi pelanggaran terhadap perundang-undangan dan ketertiban umum.

ah

gu

ALASAN-ALASAN BANDING DARI PEMOHON BANDING II

Mengenai alasan permohonan banding yang diajukan terhadap putusan a quo, bertitik tolak dari Pasal 30 ayat (1) huruf (b) dan (c) UU MA, yang berbunyi: 1) .. berlaku, dan 3) Lalai memenuhi

ub lik
yang diwajibkan Segi Menolak

2) Salah menerapkan hukum atau melanggar undang-undang yang oleh peraturan

am

perundang- undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya keputusan yang bersangkutan. Bertitik tolak dari alasan banding yang dikemukakan di atas, Pembanding akan menunjukkan satu persatu fakta-fakta yang membuktikan kesalahan penerapan hukum baik dalam bentuk kontraversi atau onvoldoende gemotiverd

ah k

ep
Satu

(insufficient judgement) serta kelalaian memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan Adapun cara pembahasan dan analisa fakta-fakta dimaksud, Pembanding akan mengikuti sistematika yang terdapat dalam pertimbangan putusan a quo, seperti yang dijelaskan berikut ini : Kontroversi, Arbitrase Karena

gu ng

oleh hukum acara yang terdapat dan melekat dalam putusan a quo.

1. Putusan a quo Sendiri, Mengandung Saling Pertentangan Atau Seluruh

Terbanding, Akan Tetapi Pada Segi Lain Menyatakan Putusan Merupakan Putusan Arbitrase Internasional/Asing

ah

Dalam jawaban tanggal 30 Juni 2009 Terbanding mengajukan sebanyak 6 (enam) jenis eksepsi. Salah satu diantaranya yakni dalam eksepsi angka 1 adalah eksepsi kewenangan absolut. Substansi dari eksepsi ini mengatakan 1) Partial Award Ice International Court of Arbitration Case No.14387/JB/ JEM tanggal 22 September 2008 dan Final Award ICC Case No.14387/JB/JEM tanggal 27 Februari 2009 yang diputus oleh Majelis Arbitrase dengan Peraturan Arbitrase dari lCC International Court Of Arbitration adalah Putusan Arbitrase Internasional/asing, antara lain:

ka

ah

ep

ub

lik

Case

No.14387/JB/JEM

ng

gu

Hal. 73 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 73

es

In do ne si
Eksepsi

In do ne si a
telah nyata-nyata

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Jakarta arbitrase tersebut

b
2) Berdasar Pasal 1 angka 9 UU No. 30/1999 terdapat dua kriteria menentukan penggolongan putusan arbitrase internasional/asing yakni: -

Pertama, dijatuhkan di luar wilayah hukum Indonesia, atau sebagai putusan arbitrase internasional/asing. di PN Pusat sebagai adalah

Kedua, menurut hukum Republik Indonesia dianggap

gu

Terbanding menyatakan, oleh karena putusan arbitrase ini telah didaftarkan maka putusan putusan arbitrase

internasional/asing, berdasar Pasal 68 angka (1) UU No. 30/1999 putusan arbitrase internasional/asing, sehingga putusan tersebut tidak dapat dibatalkan.

ah

Itu, Menyatakan Putusan Arbitrase Case No.'14387/JB/JEM Adaiah Putusan Arbitrase Internasional/Asing Jelas, dalam eksepsi kewenangan absolut yang diajukan Terbanding ini dengan tegas secara substansial tersurat dan tersirat pernyataan hukum: No14387/JB/JEM bahwa putusan Arbitrase Partial Award dan Final Award Case

am

ah k

ep
adalah

ub lik
putusan

1.1 Secara Substansial Yang Tersurat Dan Tersirat Dalam Eksepsi

internasional/asing,

ah

gu ng

oleh karena itu putusan tersebut bukan putusan arbitrase

nasional/domestik, dan telah didaftarkan di PN Jakarta Pusat sebagai putusan arbitrase internasional/asing, sehingga tidak dapat dibatalkan PN Jakarta Pusat.

1.2 Eksepsi Tersebut Dengan Tegas Ditolak Oleh Majelis Hakim Sebagaimana Yang Dituangkan Dalam Putusan Sela Maupun Putusan Akhir (putusan a quo) Ternyata untuk menanggapi dan menilai eksepsi kompetensi absolut yang diajukan oleh Terbanding berdasar dalil bahwa Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM adalah putusan

arbitrase internasional/asing maupun eksepsi tentang kompetensi relatif, eksepsi tentang error in persona, eksepsi plurium litis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara permohonan pembatalan putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM, telah menjatuhkan putusan berikut: 1) Putusan Sela No. 01/Pembatalan consortium, eksepsi prematur dan eksepsi obscur libel, Majelis

ka

ah

ep

ub

lik

ng

Arbitrase/2009/PN.JKT.PST

gu

Hal. 74 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 74

es

In do ne si

In do ne si a
arbitrase

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
2) Putusan

b
tanggal 23 Juli 2009, dengan amar : Akhir No. "Menolak Eksepsi Termohon untuk seluruhnya ",

Arbitrase/2009/PN.JKT.PST amar :

September 2009 (putusan a quo), dengan

DALAM EKSEPSI

"Menolak eksepsi Termohon untuk seluruhnya "

Jadi secara faktual dan expresis verbis, baik dalam putusan sela

maupun putusan akhir, Majelis Hakim atau judex facti dengan tegas Putusan Arbitrase Case

ah

ub lik
No.14387/JB/JEM

menolak eksepsi yang diajukan Terbanding yang mendalilkan sebagai putusan arbitrase internasional/asing .

am

1.3 Dengan Ditolaknya Eksepsi Yang Mendalilkan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM Merupakan Putusan Arbitrase Internasional/ Asing, Berarti Secara A Contrario, judex facti atau putusan a quo membenarkan dalil Pembanding dan Turut Terbanding bahwa putusan arbitrase tersebut adalah putusan arbitrase nasional/

ah k

ep

domestik ;

ah

gu ng

Sebagaimana yang Pembanding dan Turut Terbanding dalilkan pada halaman 9 Permohonan, bahwa putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM adalah putusan arbitrase nasional/domestik, jurisdiksi/kompetensi absolut pengadilan Indonesia. oleh karena itu permohonan pembatalan terhadapnya menjadi

Landasan dalil ini bertitik tolak dari Pasal 1.9 jo Pasal 66 huruf a

UU No.30/1999. Pasal-pasal ini dengan tegas menentukan patokan

putusan arbitrase apakah nasional/domestik atau internasional/asing, dengan acuan penerapan sebagai berikut: Republik domestik; Indonesia, maka apabila putusan arbitrase dijatuhkan di dalam wilayah hukum putusan arbitrase itu nasional/

ka

sebaliknya, jika putusan arbitrase dijatuhkan di luar wilayah hukum Republik Indonesia, maka putusan arbitrase tersebut digolongkan/dikatagori putusan arbitrase internasional/asing.

ah

ep

ub

lik

asas teritorial sebagai landasan untuk menentukan katagori suatu

In casu, klausula arbitrase yang disepakati pada Article XII.1.4. Enhanced Oil Recovery Contract for Lirik Field s tanggal 28 Maret

ng

gu

Hal. 75 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 75

es

In do ne si

In do ne si a
01/Pembatalan tanggal 3

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
disebut a quo, panjang

b
1991 (selanjutnya "EOR Contract') menyatakan dilaksanakan di Jakarta, Indonesia. Begitu juga pada kalimat terakhir Partial Award dan angka 74 Final Award dengan tegas

dikatakan: "Place of arbitration, Jakarta Indonesia."

Bertitik tolak dari fakta-fakta yuridis yang ditemukan pada

gu

putusan sela dan putusan akhir yang menolak dengan tegas

eksepsi Terbanding tentang hal ini dihubungkan dengan dalil yang facti atau putusan harus konsekuen dan

dikemukakan Pembanding dan Turut Terbanding, semestinya judex konsisten

menegakkan dan mempertahankan bahwa Putusan Arbitrase Case bukan putusan arbitrase internasional/asing.

ah

am

1.4 Ternyata Dalam Pertimbangan Ad 2 Mulai Dari Halaman 76 Putusan a quo, Judex Facti Menganulir Penolakan Eksepsi Terbanding Tersebut Pada halaman 76 dan seterusnya, judex facti dalam putusan a quo mengemukakan pertimbangan yang kacau balau. Dan dari pertimbangan lebar yang kacau balau tersebut,

ah k

ep
dan

menyimpulkan dan berpendapat, bahwa Putusan Arbitrase Case

ah

gu ng

No. 14387/.JB/JEM adalah putusan arbitrase internasional/asing.

Bahwa pertimbangan dan kesimpulan putusan a quo yang

berpendapat Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM adalah putusan arbitrase internasional/asing adalah sangat tragis dan

ironis serta bertentangan atau kontroversial secara diameteral dengan

pertimbangan dan amar putusan sela maupun amar putusan akhir eksepsi Terbanding yang mendalilkan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM sebagai putusan arbitrase internasional/asing. Nyata-nyata pertimbangan judex facti dalam putusan a quo yang berpendapat Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM sebagai putusan arbitrase internasional/asing dan yang menolak Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM dinyatakan sebagai putusan arbitrase nasional/domestik, bertentangan secara diamateral seratus delapan puluh derajat dengan pertimbangan dan amar putusan sela serta amar putusan akhir yang menolak secara total semua eksepsi Terbanding. petitum Pembanding Turut Terbanding agar Putusan

yang dijatuhkan judex facti sendiri yang dengan tegas menolak

ka

ah

ep

ub

lik

ng

gu

Hal. 76 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 76

es

In do ne si

ub lik

No. 14387/JB/JEM adalah putusan arbitrase nasional/domestik,

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Yurisprudensi,

b
1.5 Sesuai Dengan Putusan Judex Facti Yang Mengandung Saling Pertentangan/Kontraversi, Dikatagori Sebagai Putusan Yang Salah Menerapkan Hukum ;

Setiap putusan judex facti yang mengandung saling pertentangan/

kontraversi apakah hal itu saling pertentangan antara pertimbangan

gu

yang satu dengan yang lain, antara pertimbangan dengan amar, yurisprudensi dianggap sebagai putusan yang

maupun antara putusan sela dengan putusan akhir, menurut kesalahan penerapan hukum yang digariskan Pasal 30 ayat (1) huruf

b UU Mahkamah Agung, antara lain dapat dikemukakan putusan membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Semarang atas alasan yang dapat disadur sebagai berikut : Putusan Tingkat Banding (PT) nyata-nyata mengandung

ah

am

kekeliruan penerapan hukum, karena dalam putusan terdapat pertimbangan yang saling bertentangan/kontradiktif yang sangat serius; satu segi putusan tingkat banding membenarkan cacat yang

ah k

ep

dialami Penggugat sebagai akibat perbuatan rnelawan hukum

ah

gu ng

yang dilakukan Tergugat, akan tetapi pada pertimbangan lain, menolak tuntutan ganti rugi immaterial yang diminta Penggugat ;

(Iihat M. Yahya Harahap, SH., Kekuasaan Mahkamah Agung, Sinar Grafika, Cetakan Pertama 2008, h. 336) ;

Pemeriksaan Kasasi dan Peninjauan Kembali Perkara Perdata,

Bertitik tolak dari fakta-fakta yuridis yang Pembanding kemukakan di

atas, Pembanding dapat membuktikan adanya saling bertentangan/ dan amar putusan sela dengan pertimbangan dan amar putusan akhir. satu segi menolak eksepsi Terbanding tentang Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM sebagai putusan arbitrase pertimbangan dan arnar putusan sela maupun pada amar putusan akhir (putusan a quo); sebaliknya dalam pertimbangan putusan akhir (halaman 76 dan seterusnya) Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM dinyatakan internasional/asing sebagaimana yang ditegaskan dalam

ka

ah

ep

ub

lik

kontroversi yang diameteral dan sangat serius dalam pertimbangan

ng

sebagai

putusan

arbitrase

internasional/asing,

gu

Hal. 77 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 77

es

In do ne si

ub lik

Mahkamah Agung No. 2462 K/Pdt/1984 tanggal 30-12-1985 yang

In do ne si a
mengandung

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Case No.

b
dan menolak petitum Pembanding dan Turut Terbanding, dinyatakan sebagai putusan arbitrase nasional/domestik. yang meminta agar Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM

Saling pertentangan yang dikemukakan dalam putusan Pengadilan Tinggi Semarang yang dibatalkan oleh putusan Mahkamah Agung No. 2462 K/Pdt/1984 tanggal 30-12-1985 di atas, sama seriusnya dengan saling pertentangan yang dijumpai dalam putusan a quo. Dimana saling pertentangan/kontroversi antara putusan sela dan amar putusan skhir dengan pertimbangan putusan akhir itu

sendiri adalah sangat diameteral dan serius. Karena pada satu segi putusan Arbitrase

ah

ub lik
14387/JB/JEM Pelaksanaan 1338

seluruh eksepsi Terbanding termasuk eksepsi yang mendalilkan adalah putusan internasional/asing telah ditolak, namun pada segi lain pertimbangan putusan akhir menyatakan putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM adalah putusan arbitrase internasional/asing. Dengan demikian, oleh yurisprudensi putusan a quo dikatagori melakukan kesalahan penerapan hukum, maka berdasar keberatan banding ini saja, sudah cukup dasar alasan bagi Majelis Hakim Banding yang memeriksa dan

am

ah k

ep
Pasal

mengadili perkara ini untuk membatalkan putusan a quo berdasar

gu ng

Pasal 30 ayat (1) huruf b UU Mahkamah Agung.

2. Putusan A quo Yang Membenarkan Pertirnbangan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM Menyingkirkan Hak Eksklusif

Pembanding (PT PERTAMINA (Persero)) Dan Mendudukkan Statusnya Setara Secara Absolut Sejajar Dengan Terbanding (PT LlRIK) Dalam EOR Contract. Berdasar KUHPerdata, Merupakan

ah

Umum Yang Digariskan Undang-undang No. 44 Perpu 1961 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (UU No. 44 Prp 1961), Undang-undang

ub
No. 8 hukum a yang quo

lik
Tahun yang

Kesalahan Penerapan Hukum, Karena Melanggar Ketertiban

1971

ka

Perusahaan Minyak dan Gas Bumi Negara (UU No. 8/1971) Dan dan Pedoman Kerjasama Kontrak Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi (PP No.35/1994) Jo. Pasal 33 UUD 1945 ; Mengenai tindakan kesalahan judex facti

ah

dalam

putusan

membenarkan

pertimbangan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM menyingkirkan

ng

gu

Hal. 78 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 78

es

penerapan

ep

Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1994 tentang Syarat-Syarat

berkaitan

In do ne si
tentang dengan

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
berkenaan Satu-satunya

b
hak eksklusif Pembanding, dan mendudukkannya setara secara absolut sejajar dengan Terbanding dalam pelaksanaan dan pemenuhan EOR Contract, dapat Pembanding tunjukkan fakta-fakta yuridis berikut ini. 2.1 UU No. 44 Prp. 1960 dan UU No. 8/1970 serta PP No.35/1994 Mengatur Prinsip-Prinsip Ketertiban Umum Mengenai Kebijakan Bumi (MIGAS) ; Yang Menyangkut Pelaksanaan Penambangan Minyak dan Gas

Berdasar peraturan perundang-undangan yang Pembanding sebut di harus ditegakkan dengan pelaksanaan

atas, diatur dan digariskan beberapa prinsip ketertiban umum yang

ah

ditandatangani antara Pembanding dengan Terbanding. Adapun prinsip-prinsip ketertiban umum dimaksud terdiri dari: PERTAMINA Perusahaan 2.1.1 Pasal 11 Ayat (1) jo. 2 Ayat (1) UU No. 8/1971 Menetapkan Negara yang Didirikan Pemerintah Sebagai Pemegang Wilayah Hukum Pertambangan MIGAS ; Prinsip ketertiban umum pertama yang ditentukan dalam

am

ah k

ep

peraturan perundang-undangan yang disebutkan di atas,

gu ng

mendirikan dan menetapkan PERTAMINA dalam hal ini didirikan Pemerintah sebagai pemegang wilayah

Pembanding satu-satunya perusahaan negara yang sengaja pertambangan MIGAS ;

2.1.2 Berdasar Pasal 11 Ayat (2) UU No. 8/1971, PERTAMINA Diberi Mewakili Negara/Pemerintah ;

Kewenangan Sebagai Pemegang Kuasa Pertambangan MIGAS Dalam memangku kedudukan sebagai pemegang wilayah pertambangan MIGAS di Indonesia kepada PERTAMINA

ah

dalam hal ini Pembanding diberi juga kewenangan sebagai pemegang kuasa pertambangan MIGAS mewakili pemerintah/ negara. PERTAMINA Kebijaksanaan Pembangunan Diberi 2.1.3 Berdasar Penjelasan Pasal 12 UU No. 8/1971 Kepada

ka

ep
Hak Mengenai

ub
Eksklusif

lik

Mengatur Dengan

ah

Syarat-Syarat MIGAS

Investor/ Kontraktor ;

ng

Bertitik tolak dari prinsip ketertiban umum yang diatur dalam

gu

Hal. 79 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 79

es

Pertambangan

In do ne si
hukum Segala Pihak Pelaksanaan

ub lik

penambangan MIGAS di Indonesia pada saat EOR Contract dibuat dan

In do ne si a
kebijakan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
Penjelasan Pasal 12 UU No. 8/1971, dengan tegas dikatakan: "Dalam

mengadakan

kerjasama

ini;

harus

syarat-syarat yang paling menguntungkan bagi negara."

Dengan demikian, dalam melaksanakan fungsi dan kewenangan PERTAMINA dalam hal ini Pembanding dapat mengadakan kerjasama dengan investor/kontraktor. Namun dalam mengadakan kerjasama dengan investor/ mengatur syarat-syarat yang negara. mentaati Dan pihak paling menguntungkan harus yang ditentukan

pembangunan MIGAS pada wilayah hukum pertambangan,

kontraktor, PERTAMINA/Pembanding diberi hak eksklusif untuk

ah

persyaratan-persyaratan Memiliki Status

ub lik
Kewenangan Untuk yang Sebagai

investor/kontraktor

am

PERTAMINA. 2.1.4 PERTAMINA Pemberian

Komersialitas

ah k

Investor/Kontraktor

Sesuai dengan hak eksklusif yang dimilikinya sebagai

pegara, hanya PERTAMINA satu-satunya yang berwenang

gu ng

penuh menetapkan pemberian status komersialitas lapangan dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU No. 44 Prp 1960 jo Pasal 35/1994 .

produksi MIGAS yang dimintakan investor/kontraktor sesuai 12 UU No. 8/1971 jo Penjelasan Pasal 13 ayat (2) PP No.

2.2 Tujuan Pelimpahan Kewenangan Prinsip-prinsip Ketertiban Umum Tersebut Kepada PERTAMINA Mewakili Pemegang Pertambangan MIGAS Pemerintah/Negara, Agar

ah

Penguasaan Negara Atas MIGAS Sebagai Kekayaan Alam Yang Penting Bagi Hajat Hidup Rakyat Banyak, Dapat Diperuntukkan Sebesar-besarnya Pemberian Pemegang Bagi Kemakmuran penuh

ub
kepada MIGAS

lik
Rakyat yang

Sesuai

ka

Semangat dan Jiwa Pasal 33 Ayat (2) dan (3) UUD 1945 Kuasa Pertambangan

ep

kewenangan

PERTAMINA

ah

eksklusif menentukan kebijaksanaan dan persyaratan-persyaratan pemberian penetapan status komersialitas kepada investor/kontraktor atas pertimbangan sendiri, merupakan pelaksanaan prinsip ketertiban umum dalam rangka memenuhi tuntutan semangat dan jiwa Pasal 33

ng

gu

Hal. 80 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 80

es

In do ne si
Kuasa Dengan sebagai hak memiliki

pemegang kuasa pertambangan MIGAS mewakili pemerintah/

ep

In do ne si a
diusahakan bagi tunduk dan oleh Menetapkan oleh Dimintakan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
bertindak MIGAS

b
ayat (1) dan (3) UUD 1945 yakni hasil MIGAS tersebut sebagai bahan efisien untuk diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran sosialgalian yang vital bagi hajat hidup rakyat banyak, dapat dikelola secara 2.3 Kedudukan PERTAMINA Sebagai Pemegang Hak Eksklusif, Tidak

ekonomi rakyat dan bangsa Indonesia .

ah

gu

Setara dan Sejajar Dengan Status Investor/Kontraktor

Itu sebabnya seperti yang dikatakan ahli ke-1 Ir. Derajat Zahar, bahwa dalam konteks pelaksanaan kontrak Production Sharing kerjasama Enhanced Oil Recovery (EOR) Contract : PERTAMINA pertambangan sebagai pihak mewakili

dan turunannya dalam bentuk kontrak produksi atau dalam bentuk

ub lik
melaksanakan kerjasama

pemegang

pemerintah/negara

am

kedudukan dan kapasitasnya sebagai bouwher,

Sedangkan kontraktor/investor berkedudukan dan berkapasitas membantu atau assist PERTAMINA untuk menyediakan bantuan teknis dan finansial guna melaksanakan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi penambangan MIGAS.

ah k

MH yang antara lain mengatakan:

gu ng

PERTAMINA sebagai pemegang kuasa pertambangan MIGAS mewakili pemerintah dalam kegiatan usaha eksplorasi dan eksploitasi dengan pihak lain, infrastrukturnya diikat dalam bentuk kontrak kerjasama; dalam ikatan kontrak tersebut,

kedudukan yang berbeda, dimana status PERTAMINA ditempatkan kontraktor ditempatkan sebagai subordinat;

sebagai pemegang otoritas mewakili pemerintah, dan status Dengan demikian, menurut hukum tidak terwujud kesetaraan yang murni dan absolut antara PERTAMINA dengan kontraktor/investor dalam melaksanakan kontrak

ah

ub
kerjasama,

lik
karena

ka

mempunyai otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan dan syarat2.4 Ternyata Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM Menyingkirkan

ah

Kewenangan/Otoritas PERTAMINA/Pembanding Sebagai Satu-satunya Pemegang Kuasa Pertambangan MIGAS Mewakili Pemerintah Dan Sekaligus Menempatkan Kedudukan/Status PERTAMINA/Pembanding Setara Secara Mutlak/Absolut Dengan PT LlRIK/Terbanding Dalam

ep

syarat kontrak/kerjasama yang bersangkutan.

ng

gu

Hal. 81 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 81

es

In do ne si
terdapat PERTAMINA

Pendapat ini didukung juga oleh ahli ke-3, Moch. Teguh Pamudji, SH,

ep

In do ne si a
kuasa dalam

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
penyingkiran Persetujuan i. ii.

b
Pelaksanaan EOR Contract Fakta-fakta

tentang

hak

eksklusif

PERTAMINA/Pembanding sebagai pemegang kuasa pertambangan

MIGAS mewakili pemerintah dan yang menyatakan status/kedudukan

PERTAMINA/Pembanding sama dan setara dengan PT LlRIK/ buktikan berdasar fakta bahwa di dalam Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM terdapat dan melekat pelanggaran prinsip ketertiban umum. Hal itu telah Pembanding dalilkan dan tunjukkan mulai dari Permohonan, Replik dan Konklusi sebagai berikut: Memberikan Status

ah

gu

Terbanding dalam pelaksanaan EOR Contract, telah Pembanding

ub lik
namun bahwa diskresi PERTAMlNA tanpa dengan memutuskan perjanjian sehingga dimana mengikat PERTAMINA masuk Pemberian

2.4.1 Angka 235 Partial Award Menyatakan PERTAMINA Mesti Komersialitas Yang Diminta PT LlRIK

am

Dalam pertimbangan ini, dikatakan antara lain:

Majelis Arbitrase setuju PERTAMINA harus menentukan komersialitas, Majelis Arbitrase memutuskan tidak memiliki batas dan harus pada

ah k

ep gu ng
iii.

ketentuan dan jiwa dari EOR Contract, dengan di

hal itu karena EOR Contract merupakan sukarela dalamnya, hukum

kepada kedua belah pihak. PERTAMINA Menolak

ah

lik

2.4.2 Amar 338 angka 2 Partial Award Menyatakan, Tindakan Persetujuan Status Komersialitas Yang Diminta PT LlRIK Adalah Salah Dalam amar tersebut, antara lain dikatakan: i. PT Pertamina (Persero) dan PT Pertamina EP tanpa atas lapangan Molek, South Pulai dan North Pulai, ii. Penolakan itu merupakan pelanggaran atas EOR Contract, oleh karena itu bertanggung jawab untuk membayar ganti kerugian kepada PT Lirik atas kehilangan keuntungan karena alas hak yang sah menolak untuk memberikan komersialitas

ka

ah

ep

ub

ng

tidak menghasilkan Incremental Oil, dari lapangan tersebut.

gu

Hal. 82 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 82

es

In do ne si
merujuk secara

In do ne si a
dan otoritas

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
bahkan

b
Bertitik tolak dari fakta-fakta yang tercantum dalam pertimbangan angka 235 dan amar 338 angka 2 Partial Award, Pembanding dapat membuktikan:

1)

Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM, tidak mengakui peraturan sebagai telah menyingkirkan kepada

gu

memandulkan hak eksklusif dan otoritas yang diberikan perundang-undang pemegang Arbitrase kuasa Case status pertambangan MIGAS

mewakili pemerintah ; 2) Putusan menempatkan

No.14387/JB/JEM dan

ah

PERTAMINA/Pembanding sejajar dan setara secara penuh dan absolut dengan PT LlRIK/Terbanding dalam pelaksanaan EOR Contract, 3) Putusan PERTAMINA Arbitrase untuk Case No.14387/JB/JEM otoritas permintaan status

am

ah k

menyingkirkan dan melumpuhkan menolak

syarat, sehingga PERTAMINA tidak memiliki pilihan selain dari pada menyetujui status komersialitas yang diminta investor/kontraktor itu tanpa syarat permintaan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. bertentangan secara meskipun

sosial/ekonomis untuk kemakmuran sebesar-besarnya

Berdasar fakta-fakta yuridis yang dikemukakan di atas, Pembanding dimintakan permohonan pembatalan terhadapnya: -

ah

Nyata-nyata secara terang benderang menyingkirkan hak eksklusif PERTAMINA/Pembanding sebagai pemegang otoritas tunggal kuasa pertambangan MIGAS mewakili pemerintah dan menyetarakan/mensejajarkan statusnya secara absolut dengan investor/kontraktor, sehingga tindakan majelis arbitrase yang menjatuhkan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM secara ceroboh melanggar prinsip-prmsip ketertiban umum yang digariskan UU No. 44 Prp. 1960, UU No. 8/1971, PP No. 35/1994 dan Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945;

ka

ah

ep

ub

lik

dapat membuktikan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM yang

ng

gu

Hal. 83 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 83

es

In do ne si

komersialitas yang diminta investor/kontraktor tanpa

gu ng

ep

ub lik

In do ne si a
dan PERTAMINA telah kapasitas

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
melanggar

b
Ternyata putusan a quo yang dibanding sekarang dalam pertimbangan halaman 74, membenarkan pertimbangan dan pendapat Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM tersebut,

sehingga dalam putusan a quo terdapat dan melekat kesalahan/ terangan telah prinsip ketertiban umum yang

kekeliruan penerapan hukum dimana putusan a quo secara terang-

dipancangkan UU No. 44 Prp 1960, UU No. 8/1971, PP No. 35/1994, dan Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945.

Dengan demikian, berdasar alasan Pembanding ini saja, sudah cukup dasar alasan bagi Majelis Hakim yang memeriksa dan

ah

putusan a quo berdasar Pasal 30 ayat (1) huruf b UU Mahkamah Agung. Membenarkan 3. Putusan a quo Salah/Keliru Menerapkan Hukum, Karena Dan Mentolerir Terdapat Saling Dalam Pertentangan/Kontroversi

am

ep
Pada

ah k

Pertimbangan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM

dan Turut Terbanding kepada PN Jakarta Pusat terhadap Putusan Arbitrase

gu ng

Case No. 14387/JB/JEM, didasarkan pada dalil adanya saling pertentangan antara pertimbangan yang satu dengan yang lain maupun antara penyataan hukum yang satu dengan yang lain dalam putusan arbitrase dimaksud. Alasan tentang adanya saling pertentangan/kontroversi ini dijadikan

sebagai alasan ke-4 dalam permohonan pembatalan berdasar faktafakta yuridis yang dikemukakan pada halaman 25 dan seterusnya permohonan yang terdiri dari: 1) angka 82 Final pernyataan statement) klasifikasi : b. apakah internasional. yang hukum Award, (legal tidak yang

ah

lik
menyatakan

ka

diperiksa dan diselesaikan oleh majelis arbitrase a. apakah domestik, atau

ah

"The Tribunal has not heard argument and does not propose to decide whether this arbitration is properly classified as a domestic or an

ng

gu

Hal. 84 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 84

es

Pertimbangan angka 82 tersebut berbunyi:

ep

ub

arbitrase

In do ne si
terdapat jelas

Salah satu alasan permohonan pembatalan yang diajukan oleh Pembanding

ub lik
Yang

mengadili perkara ini pada tingkat banding untuk membatalkan

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
apakah

b
international arbitration under the law of Indonesia." Terjemahan: "Majelis arbitrase tidak mendengar argumen dan tidak memutuskan apakah arbitrase ini sepatutnya diklasifikasikan sebagai arbitrase domestik atau arbitrase internasional berdasarkan hukum Indonesia." Jadi berdasar pertimbangan ini, Putusan Arbitrase Case No.

14387/JB/JEM mengemukakan pendapat dan kesimpulan pernyataan hukum yang saling bertentangan mengenai katagori Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM itu sendiri: satu segi majelis arbitrase mengemukakan pernyataan hukum argumentasi tentang

ah

ub lik
Putusan yakni pada kalimat

bahwa para pihak yang bersengketa tidak ada yang mengajukan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM itu sendiri diklasifikasikan sebagai arbitrase nasional/ domestik atau arbitrase internasional/asing, oleh karena itu majelis arbitrase tidak menentukan status putusan arbitrase tersebut, namun pada segi

am

ep
lain,

ah k

pertimbangan angka 82 tersebut, majelis arbitrase jelas merujuk pada

Akan tetapi meskipun majelis arbitrase merujuk kepada hukum

ah

gu ng

Indonesia, namun tidak menyatakan apakah putusan Arbitrase

Case No. 14387/JB/JEM diklasifikasikan sebagai arbitrase nasional/ domestik atau arbitrase internasional/asing. Padahal Pasal 1.9 jo Pasal 66 huruf a UU No.30/1999 dengan tegas menentukan patokan faktor teritorial untuk menentukan katagori suatu putusan arbitrase. Dengan demikian, nyata-nyata pernyataan hukum yang dikemukakan di dalam antara satu pernyataan dengan pernyataan yang lain, juga pertimbangan tersebut mengandung pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 1.9 jo Pasal 66 huruf a UU No. 30/1999.

pertimbangan angka 82 Final Award selain mengandung pertentangan

1) Amar angka 87 Final Award semakin memperparah lagi saling pertentangan yang terdapat dan melekat dalam Putusan Arbitrase tersebut. Case No.14387/JB/JEM jika hal itu dihubungkan dengan angka 82 Angka 87 Final Award yang berbunyi:

ka

ah

specified in paragraph 86 (c), from the date of registration of this Final A ward under Article 59 of the Indonesia Arbitration Law or the obtaining of

ng

gu

Hal. 85 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 85

es

"The Respondents shall pay interest on the total amount payable, as

ep

ub

lik

In do ne si

ketentuan hukum Indonesia,

In do ne si a
terakhir dari

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
Case No. hukum yang

b
an order of Exequatur under Article 66 of the Indonesia Arbitration Law until the date of payment at the rate of 6% p.a.. Terjemahan: "Para Termohon diwajibkan untuk membayar bunga atas jumlah total yang dibayarkan, sebagaimana disebutkan dalam paragraf 86 (c), dari

ah

gu

tanggal pendaftaran Final Award ini berdasarkan Pasal 59 Undangundang Arbitrase Indonesia atau memperoleh exekuatur berdasarkan Pasal 66 Undang-undang Arbitrase Indonesia sampai dengan tanggal pembayaran sebesar 6% per tahun. Dari bunyi amar ini, perhitungan mengenai pembayaran bunga sebagai berikut: -

am

pertama, bunga dapat dihitung dari tanggal pendaftaran Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM, sesuai Pasal 59 UU No. 30/1999; dengan demikian secara yuridis formil majelis arbitrase mengkatagori Putusan domestik. Arbitrase 14387/JB/JEM adalah nasional/

ah k

bunga dapat juga berdasar faktor memperoleh eksekuatur berdasar

ah

gu ng

Pasal 66 UU No. 30/1999; dengan demikian, Putusan Arbitrase Case internasional/asing.

No. 14387/JB/JEM tersebut juga dikatagori sebagai putusan arbitrase

Akan tetapi, meskipun sedemikian rupa nyata dan terang benderangnya

saling pertentangan/kontroversi yang terdapat dan melekat dalam dibanding sekarang, tidak memperdulikannya. Malahan membenarkan dalam pertimbangan halaman 75 putusan a quo. mempunyai dasar valid.

Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM, putusan a quo yang dan mentolerir cacat kontraversi itu sebagaimana yang dikemukakan Pertimbangannya benar-benar ngawur karena tidak rasional dan tidak

ub

lik

Pertimbangannya

ka

menyatakan antara lain: sengketa; lembaga arbitrase.

ah

begitu juga mengenai bentuk putusan menjadi wewenang absolut

ep

arbitrase mempunyai aturan sendiri dalam menyelesaikan pokok

Pertimbangan putusan a quo yang menjustifikasi dan mentolerir saling pertentangan yang terdapat pada Putusan Arbitrase Case

ng

gu

Hal. 86 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 86

es

In do ne si
hanya

kedua, namun pada sisi lain dikatakan, perhitungan pembayaran

ub lik

didasarkan pada landasan hukum yang bersifat

In do ne si a
AMBIGUITAS

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Sebagai

b
No. 14387/JB/JEM, tidak bertitiksinggung dan tidak korelatif dengan permasalahan cacat saling pertentangan itu sendiri. Pertimbangan putusan a quo yang membenarkan dan mentolerir berdasar, nyata-nyata merupakan kesalahan/kekeliruan penerapan saling pertentangan, melalui pertimbangan yang keliru dan tidak hukum yang digariskan Pasal 30 ayat (1) huruf b UU Mahkamah Agung berdasar fakta-fakta yuridis berikut: Pertentangan hukum

3.1 Yurisprudensi Mengkatagori Putusan Yang Mengandung Saling Kesalahan/Kekeliruan

ah

yang mengandung saling pertentangan antara pertimbangan yang satu dengan yang lain, antara pertimbangan dengan amar atau antara pertimbangan dengan berita acara sidang dikatagori kesalahan penerapan hukum sesuai Pasal 30 ayat (1) huruf b UU Mahkamah Agung. Antara lain hal itu ditegaskan dalam putusan Mahkamah Agung No. 2462 K/Pdt/1984 tanggal 30-12-1985, No. 1026 K/Pdt/1984 tanggal 9-12-1985, No. 3538 K/Pdt/1984 tanggal

am

ah k

ep
Sendiri

3-2-1986.

gu ng

(Ibid, M. Yahya Harahap, S.H., Kekuasaan Mahkamah Agung, halaman 336-337). Dengan demikian, oleh karena putusan a quo membenarkan dan mentolerir saling pertentangan/kontroversi yang terdapat

dan melekat pada Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM, maka berdasar yurisprudensi, putusan a quo yang dibanding sekarang telah terbukti salah/keliru menerapkan hukum. a quo Membenarkan Dengan Perluasan Alasan

ah

Permohonan Pembatalan Putusan Arbitrase Di luar Yang Disebut Pasal 70 UU No. 30/1999 Mempedomani Alasan Pembatalan Yang Disebut Pasal 643 Rv.

ka

Putusan a quo pada halaman 73 alinea terakhir, membenarkan dan arbitrase yang disebut Pasal 70 UU No. 30/1999. Perluasan alasan permohonan pembatalan yang Pembanding dan Turut Terbanding dalilkan berdasar Penjelasan Umum alinea ke-18 UU No. 30/1999 dan yurisprudensi, disetujui oleh judex facti dalam putusan a quo.

ah

ep

menyetujui perluasan alasan permohonan pembatalan putusan

ub

lik

3.2 Putusan

ng

gu

Hal. 87 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 87

es

In do ne si

ub lik

Hal itu telah Pembanding kemukakan di atas. Setiap putusan

In do ne si a
Penerapan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
Kenapa?

b
Bahkan perluasan alasan permohonan pembatalan itu menurut yang disebut Pasal 643 Rv sebagai pedoman. judex facti dalam putusan a quo dapat diperluas dengan alasan

Oleh karena putusan a quo sendiri membenarkan perluasan Rv: -

alasan pembatalan berpedoman kepada ketentuan Pasal 643

ternyata Pasal 643 ke-5 Rv membenarkan saling pertentangan ternyata pada alasan ke-4 permohonan pembatalan yang

sebagai alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase; dan

diajukan Pembanding dan Turut Terbanding terhadap Putusan pertentangan yang terdapat dalam pertimbangan angka 82 Final

ah

am

Award maupun saling pertentangan pernyataan hukum yang terdapat pada angka 87 Final Award. Akan tetapi, putusan a quo tidak konsisten dan konsekuen menilai dan mempertimbangkan alasan itu secara obyektif, reasonable and fairness. Malah dengan cara yang onvoldoende gemotiverd (insufficient judgment), membenarkan dan mentolerir

ah k

kontroversi tersebut. Padahal kontroversi dimaksud benar-benar

ah

gu ng

sangat

serius.

Karena

kontroversi

menimbulkan ketidakpastian hukum (rechtsonzerkerheid, legal

uncertainty) mengenai katagori Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM. Tidak jelas dan tidak pasti apakah nasional/ domestik atau internasional/asing. Akibatnya, menimbulkan ketidakpastian upaya hukum yang dapat diambil dan diajukan Pembanding terhadap putusan arbitrase dimaksud.

Pembanding dapat membuktikan: 1)

Adanya saling pertentangan yang serius yang tidak dapat dibenarkan hukum antara pertimbangan dan amar Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM;

ka

alinea ke-18 UU No.30/1999 dan yurisprudensi maupun angka 5 Pasal 643 Rv, dibenarkan hukum sebagai perluasan alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase; 3) Juga terbukti, putusan a quo membenarkan dan mentolerir saling pertentangan dan menolak alasan yang dikemukakan Pembanding

ah

ep

2)

Alasan saling pertentangan baik berdasar Penjelasan Umum

ub

lik

Bertitik tolak dari fakta-fakta yuridis yang dikemukakan di atas,

ng

gu

Hal. 88 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 88

es

In do ne si
tersebut telah

ub lik

Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM adalah adanya saling

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Arbitrase Case

b
tentang hal ini. Dengan demikian, terbukti putusan a quo nyata-nyata telah salah menerapkan hukum. Oleh karena itu, berdasar keberatan banding ini saja, mengadili perkara ini pada tingkat banding untuk membatalkan putusan a sudah cukup dasar alasan bagi Majelis Hakim Banding yang memeriksa dan quo berdasar Pasal 30 ayat (1) huruf b UU Mahkamah Agung. Putusan ayat (3) HIR Mengenai kesalahan penerapan hukum yang No.

4. Putusan a quo Salah Menerapkan Hukum Karena Membiarkan 14387/JB/JEM Melaksanakan Tata Cara Mengadili Yang Diwajibkan Pasal 178

ah

tindakan putusan a quo membiarkan dan/atau membenarkan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM lalai melaksanakan cara mengadili yang diwajibkan Pasal 178 ayat (3) HIR, dapat dikemukakan fakta-fakta yuridis sebagi berikut : 4.1 Baik Secara Universal Maupun Berdasar Pasal 178 ayat (3) HIR, Telah Digariskan Tata Cara Mengadili Yang Wajib Dipatuhi Yakni Putusan Tidak Boleh Melanggar Asas Ultra Petitum Partitum.

am

ah k

ep

Berdasar asas ini, tata cara mengadili yang wajib ditaati dan

ah

gu ng

dilaksanakan, putusan tidak boleh mengabulkan melebihi apa yang diminta/dituntut. Putusan yang mengabulkan dan menghalalkan melebihi apa yang digariskan Pasal 178 ayat (3) HIR.

yang diminta, melanggar asas ultra petitum partium (ultra petita)

4.2 Ternyata Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM Melanggar

Asas Ultra Petita, Karena Mengabulkan Perhitungan Keuntungan Komersialitas Diajukan Oleh Terbanding Pada Tahun 1997.

Selama proses pemeriksaan persidangan berlangsung, Terbanding tidak dapat membantah dan Turut dan

ub

melumpuhkan bahwa

lik

Yang Diharapkan Sejak Tahun 1995, Padahal Permintaan Status

ka

Pembanding

Terbanding,

permintaan

dan Lirik baru diajukan Terbanding kepada Pembanding pada tanggal 26 September 1997. Secara konkrit, realistik dan obyektif, supaya suatu lapangan MIGAS berproduksi secara finansial : harus lebih dahulu kepada Terbanding sebagai kontraktor diberikan Status

ah

ep

Komersialitas atas lapangan produksi Molek, South Pulai, North Pula;

ng

Komersialitas oleh PERTAMINA (Pembanding),

gu

Hal. 89 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 89

es

In do ne si
kebenaran dalil Status

ub lik

berkenaan

In do ne si a
Lalai dengan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
selama masa eksplorasi atau dengan kata lain, selama Pembanding belum memberikan dan mengeluarkan persetujuan status komersial terhadap lapangan produksi Molek, South Pulai, North Pula; dan

Lirik, semua lapangan itu belum dapat diekspioitasi produksinya secara finansial.

ah

gu

Ternyata Terbanding (PT Lirik) baru mengajukan permintaan status komersialitas kepada Pembanding pada tanggal 26 September 1997. Terbanding belum melakukan kegiatan apapun di semua lapangan produksi dimaksud. Sedang sebelum diajukan permintaan status komersialitas pada 1997,

status komersialitas (quad non rectum), maka tuntutan ganti kerugian atas keuntungan yang diharapkan yang realistik dan obyektif menurut hukum maupun berdasar akal sehat dan ratio legis adalah sejak 26 September 1997. Akan tetapi ternyata, Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM telah mengabulkan ganti kerugian atas keuntungan yang diharapkan sejak tahun 1995. Dengan demikian, terdapat kelebihan 2 tahun dari

ah k

am

permintaan status komersialitas yang diajukan oleh Terbanding. Berarti

ah

gu ng

Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM tersebut telah melanggar yang digariskan Pasal 178 ayat (3) HIR .

tata tertib mengadili yang diwajibkan oleh asas ultra petitum partium

4.3 Pertimbangan Putusan a quo Yang Membenarkan Dan Mentolerir Hukum

Pelanggaran Asas Ultra Petita Tersebut Salah Dan Keliru Menerapkan Pada halaman 75 putusan a quo dikemukakan pertimbangan, -

apa yang diputus oleh Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM, tidak melebihi apa yang diminta dalam petitum; dikabulkan US$ 34,172,178 juta dalam tuntutan diajukan sebesar US$ 124,3 juta, sedang yang

ka

Ultra petita yang Pembanding dan Turut Terbanding permasalahkan dan dalilkan dalam permohonan pembatalan terhadap Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM adalah berkaitan dengan komponen ganti kerugian keuntungan yang diharapkan (lucrum cessan) yang timbul dari akibat penolakan status komersialitas atas lapangan Molek,

ah

ep

Pertimbangan judex facti dalam putusan a quo jelas salah dan keliru.

ub

lik

antara lain:

ng

gu

Hal. 90 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 90

es

In do ne si

ub lik

Kalau begitu, jika sekiranyapun Pembanding dianggap lalai memberi

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Putusan

b
South Pulai, North Pulai dan Lirik. Bukankah sangat nyata dan jelas adanya pelanggaran ultra petita atas pengabulan ganti kerugian atas keuntungan yang diharapkan (lucrum

cessan) terhitung sejak tahun 1995, sedangkan status komersialitas untuk berproduksi secara finansial, baru diajukan Terbanding pada tahun 1997 . Alasan

4.4 Putusan a quo Sendiri Membenarkan Dan Menyetujui Perluasan Pembatalan Arbitrase Berpedoman Kepada Pasal 643 Rv

Seperti yang telah Pembanding kemukakan pada uraian terdahulu,

ah

perluasan alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase selain merujuk kepada Penjelasan Umum alinea ke-18 UU No.30/1999 dan Yurisprudensi, juga berpedoman kepada ketentuan Pasal 643 Rv. Berarti secara yuridis, putusan a quo membenarkan ultra petita sebagai salah satu alasan permohonan pembatalan putusan arbitrase yang sah menurut hukum. Sebab ternyata ketentuan Pasal 643 ke-4 Rv membenarkan alasan ultra petita sebagai salah satu alasan

am

ah k

ep

permohonan pembatalan putusan arbitrase. Pasal 643 ke-4 Rv

ah

gu ng

berbunyi sebagai berikut :

Terhadap putusan wasit yang tidak dapat dimintakan banding dapat dimintakan kebatalannya dalam hal-hal seperti berikut : 1. .. 2. .. 3.

4. bila diputuskan tentang sesuatu yang tidak dituntut, atau Sekiranyapun Terbanding meminta ganti rugi keuntungan yang

diharapkan terhitung sejak tahun 1995 (quad non rectum), permintaan itu secara objektif dan realistis melampaui batas yang dibenarkan hukum. Sebab status komersialitas terbukti baru diajukan pada tanggal No.14387/JB/JEM yang mengabulkan keuntungan yang diharapkan sejak tahun 1995, nyata-nyata bersifat ultra petita atau ultra vires. Dengan demikian, putusan a quo yang membenarkan dan mentolerir Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM melanggar asas ultra petita, nyata-nyata merupakan kesalahan/kekeliruan penerapan hukum, karena 26 September 1997. Oleh karena itu, tindakan Putusan Arbitrase Case

ka

ah

ep

ub

lik

dengan itu diberikan lebih dari yang dituntut.

ng

gu

Hal. 91 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 91

es

In do ne si

ub lik

putusan a quo pada halaman 73 membenarkan dan menyetujui

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
merupakan

b
melanggar batas yang ditentukan Pasal 178 ayat (3) HIR. Sehubungan dengan itu, cukup dasar alasan bagi Majelis Hakim Banding yang memeriksa dan mengadili perkara ini pada tingkat banding untuk membatalkan putusan a quo berdasar Pasal 30 ayat (1) huruf b UU Mahkamah Agung, dan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM. berbarengan dengan itu mengabulkan permohonan pembatalan Putusan

5. Putusan a quo Salah Menerapkan Ketentuan Pasal 54 Ayat (1) huruf a UU No.30/1999 jo Pasal 643 ke-7 Rv jo. Pasal 30 Ayat (1) huruf c UU MA, Karena Membenarkan Dan Menyatakan

Putusan Arbitrase Case No.14387/JB/JEM Sah Dan Valid Ketuhanan Yang Maha Esa

ah

am

Mengenai kesalahan/kekeliruan penerapan hukum putusan a quo atas pelanggaran Pasal 54 ayat (1) huruf a UU No. 30/1999 jc, Pasal 643 ke-7 Rv jo. Pasal 30 ayat (1) huruf c UU Mahkamah Agung, dapat Pembanding kemukakan fakta-fakta yuridis berikut : 5.1 Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM Merupakan Putusan Arbitrase Nasional/Domestik

ah k

Baik dalam Permohonan Pembatalan, Replik dan Konklusi Perkara No.

gu ng

01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST, Pembanding dan Turut Terbanding telah membuktikan, bahwa Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM putusan arbitrase nasional/domestik berdasar fakta-fakta berikut:

5.1.1 Berdasar Pasal 1.9 jo. Pasal 66 huruf a UU No. 30/1999,

landasan hukum untuk menentukan kategori suatu putusan arbitrase nasional/domestik atau internasional/asing, didasarkan apabila proses arbitrase dilaksanakan dan dijatuhan di pada faktor teritorial dengan acuan penerapan:

ah

dalam wilayah hukum RI, maka putusan itu dikategori/ dikualifikasi sebagai putusan arbitrase nasional/domestik, sebaliknya, apabila proses arbitrase dilaksanakan dan putusan tersebut dikategori/dikualifikasi sebagai putusan internasional/asing. 5.1.2 Patokan faktor teritorial dipancangkan juga dalam Article I ke (1) Konvensi New York 1958. Ketentuan tersebut berbunyi: putusan dijatuhkan di luar wilayah hukum RI, maka

ka

ah

ep

ub

lik
the

ng

"This

Convention

shall

apply

to

recognition

and

gu

Hal. 92 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 92

es

In do ne si

ub lik

Meskipun Tanpa Berkepala Demi Keadilan Berdasarkan

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
between

b
enforcement of arbitral awards made in the territory of a State other than the State where the recognition and enforcement of such awards are sought, and arising out

of

differences

persons,

whether

legal. It shall also apply to arbitral awards not considered as domestic awards in the State where their recognition and enforcement are sought." Terjemahan:

"Konvensi ini berlaku terhadap pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase yang dibuat dalam wilayah suatu negara selain tersebut dimintakan, dan timbul karena adanya perbedaan

ah

am

subyek, baik orang maupun badan hukum. Konvensi ini juga berlaku terhadap putusan arbitrase yang tidak dianggap sebagai putusan arbitrase domestik dalam negara dimana pengakuan dan pelaksanaannya dimintakan." 5.1.3 Klausula arbitrase yang disepakatipun dalam Article XII.1.4 EOR Contract dengan tegas mengatakan: Arbitrase dilaksana-

ah k

ep

kan di Jakarta, Indonesia.

ah

gu ng

Ketentuan tersebut berbunyi:

" ... arbitration shall be conducted in Jakarta ... "

5.1.4 Kalimat terakhir Partial Award dan Final Award Case No. Jakarta, Indonesia"

14387/JB/JEM dengan tegas mengatakan: "Place of Arbitration

Berdasar fakta-fakta yuridis di atas, nyata terbukti pelaksanaan dan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM dilaksanakan

Dengan demikian tidak dapat disangkal bahwa putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM adalah putusan arbitase nasional/domestik, bukan putusan arbitrase internasional/asing. 5.2 Putusan Sela No. 01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST Tanggal 2009/PN.JKT.PST Tanggal 3 September 2009 Yakni Putusan a quo Telah Menolak Semua Eksepsi Terbanding, Termasuk Eksepsi Terhadap Dalil Yang Menyatakan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM Putusan Arbitrase Internasional/ Asing Sebagaimana yang telah Pembanding jelaskan pada keberatan

ka

ah

ep

22 Juli 2009 Maupun Putusan Akhir No. 01/Pembatalan Arbitrase/

ub

lik

dan dijatuhkan di Jakarta dalam wilayah hukum Republlk Indonesia.

ng

gu

Hal. 93 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 93

es

In do ne si

ub lik

negara dimana pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase

In do ne si a
physical or

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep
naif dan serta

b
Banding angka 1: Eksepsi Terbanding yang membantah dalil Pembanding bahwa nasional/domestik yang disertai dengan permintaan agar putusan Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM adalah putusan

arbitrase tersebut dinyatakan putusan internasional/asing, ditolak Sela No. 01/Pembatalan Arbitrase/2009/PN.JKT.PST tanggal 22 Juli 2009/PN.JKT.PST Tanggal 3 September 2009,

ah

gu

oleh putusan a quo sebagaimana hal itu dinyatakan dalam Putusan 2009 dan pada Putusan Akhir No. 01/Pembatalan Arbitrase/ Bertitik tolak dari penolakan seluruh eksepsi tersebut oleh

putusan a quo secara langsung atau tidak langsung berpendapat dan menyimpulkan, Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM dikategori putusan arbitrase nasional/domestik. Sehubungan dengan itu, tidak mungkin lagi Majelis Hakim atau judex facti yang menjatuhkan putusan a quo berputar 180 mengingkari Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM sebagai putusan arbitrase nasional/domestik menjadi putusan arbitrase

ah k

am

internasional/asing.

gu ng

5.3 Ternyata, Meskipun Putusan a quo Menolak Eksepsi Terbanding, Sehingga Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM Adalah Putusan Nasional/Domestik, Namun Putusan a quo Membiarkan Dan Mentolerir Keabsahan Dan Validitasnya Walaupun Tanpa Esa ; Berkepala: Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Betapa quo: tragis absurditasnya Majelis Hakim

ah

satu segi pada putusan sela maupun pada putusan akhir, dengan tegas menolak seluruh eksepsi Terbanding, sehingga dengan demikian Putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM merupakan putusan arbitrase nasional/domestik;

ka

akan tetapi dengan pertimbangan yang berputar dan berbelit mulai dari halaman 76, penolakan eksepsi itu dianulir tanpa dasar hukum yang jelas dan menyatakan putusan Arbitrase Case No. 14387/JB/JEM adalah putusan arbitrase internasional/asing;

ah

ep

ub

lik

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam menjatuhkan putusan a

namun lucu dan manipulatif pertimbangan itu, sebab pada

ng

gu

Hal. 94 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 94

es

In do ne si

ub lik

putusan a quo, Majelis Hakim atau judex facti yang menjatuhkan

In do ne si a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
tersebut arbitrase

b
amar putusan akhir yakni dalam ekskepsi tetap ditolak seluruh eksepsi Terbanding. Pemohon Banding II Mahkamah Agung berpendapat : Bahwa alasan-alasan tidak dapat pertimbangan sebagai berikut : Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan dari Pemohon Banding I dan

dibenarkan

Bahwa PT PERTAMINA (Persero) dan PT PERTAMINA EP (para

Pemohon) telah terikat kontrak dengan PT LIRIK PETROLEUM

(Termohon) sebagaimana termuat dalam EOR Contract dan disetujui secara voluntair menerima kewajiban EOR Contract termasuk kewajiban berpartisipasi dalam

ah

ub lik
dengan

untuk berarbitrase dan telah menandatangani Term of Reference dan menunjuk forum untuk penyelesaian sengketa adalah Lembaga Court of Arbitration of The International Chamber of Commerce (ICC) yang berkedudukan di Paris. Bahwa para pihak telah menunjuk Arbiter yang memeriksa sengketa tersebut adalah : a. Fred B..G. Tumbuan sebagai Arbiter yang dipilih oleh

am

ah k

b. Dr. H. Priyatna Abdurrasyid sebagai Arbiter yang

ah

gu ng

dipilih oleh PT LIRIK PETROLIEM ; oleh masing-masing Arbiter ;

c. Prof. Michael Pryles sebagai Arbiter Ketua yang dipilih

Bahwa atas sengketa para pihak, telah diperiksa dan diputus oleh Majelis Arbiter sebagaimana tertuang dalam Putusan Sebagian ( Partial Award) 22 September 2008 dan Putusan Akhir ( Final Award) International Court

ICC International Court of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tertanggal of Arbitration Case No. 14387/JB/JEM tertanggal 27 Februari 2009 ;

Bahwa kemudian para Pemohon dari pihak PERTAMINA mengajukan permohonan agar putusan ICC No. 14387/JB/JEM yang telah didaftarkan tersebut dibatalkan karena bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku dan ketertiban umum untuk dinyatakan sebagai putusan arbitrase domestik sehingga tidak mempunyai kekuatan mengikat ;

ka

Bahwa pembatalan putusan arbitrase, berdasarkan Pasal 70 UndangUndang No. 30 Tahun 1999, dapat dilakukan jika memenuhi unsurunsur : a.

ah

ep

ub

lik

Surat atau dokumen yang diajukan dalam pemeriksaan, setelah putusan dijatuhkan, diakui palsu atau dinyatakan palsu ;

ng

gu

Hal. 95 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 95

es

In do ne si

PT. PERTAMINA (Persero) ;

ep

In do ne si a
dengan

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
diambil

b
b. c. Setelah putusan ditemukan dokumen yang bersifat menentukan, yang disembunyikan oleh pihak lawan, atau Putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa ; Bahwa PERTAMINA sebagai badan hukum yang melaksanakan hak usahanya di bidang komersial harus berpedoman pada prinsip good

governance dan fairness dalam melakukan perjanjian-perjanjian yang bersifat keperdataan (Pasal 1338 BW) sebagaimana kontrak-kontrak yang telah dibuat dengan PT LIRIK PETROLEUM ; Bahwa PERTAMINA sebagai badan hukum harus bertanggung jawab

ah

ICC, dan tidak dapat berdalih bahwa putusan arbitrase ICC telah melanggar undang-undang atau ketertiban umum (Pasal 33 UUD Tahun 1945 jo Pasal 66 huruf c Undang-Undang No. 30 Tahun 1999) ; Bahwa karena putusan ICC merupakan arbitrase internasional maka tidak terikat dengan waktu paling lama 30 hari sudah harus didaftarkan pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri (Pasal 59 ayat (1) UndangUndang No. 30 Tahun 1999) ;

am

ah k

ep
berdasarkan

Menimbang, untuk dikuatkan ;

bahwa

alasan-alasan

Rehngena Purba, SH., MS., tidak sependapat dan menyatakan dissenting opinion dengan mengemukakan pendapatnya sebagai berikut : I.

ah

gu ng

pertimbangan Pengadilan Negeri telah tepat dan benar, karenanya beralasan Menimbang, bahwa namun demikian Hakim Agung/Pembaca I Prof.

Bahwa terlepas dari alasan-alasan banding dari para Pemohon menerapkan hukum ;

Banding, Pembaca I berpendapat judex facti salah dalam

Putusan Arbitrase No.14387/JB/JEM adalah putusan arbitrase internasional, dengan pertimbangan sebagai berikut perjanjian Termohon antara 1. bahwa berdasarkan fakta hukum, EOR Contract (yaitu Pemohon berskala Banding hukum dengan perdata yang Banding),

ka

internasional, dimana di dalam kontrak tersebut ada klausula/kewajiban untuk berarbitrase ditandatangani Term of Reference yang berpartisipasi dengan menunjuk forum untuk penyelesaian sengketa

ah

ep

ub

lik

ng

lembaga Court of Arbitration of the International

gu

Hal. 96 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 96

es

In do ne si
di atas, maka

ub lik

atas wanprestasi yang dilakukan sebagaimana tertuang dalam putusan

In do ne si a

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Case 2009

b
Chamber of Commerce (ICC) yang berkedudukan di

Paris ;

2. Bahwa Pemohon Banding dan Termohon Banding akibat dari EOR Contract, telah menunjuk Arbiter dari

dalam penyelesaian perselisihan/sengketa tentang Pemohon Banding adalah Fred G. Tumbuan dan Arbiter dari Termohon Banding adalah Dr. H. Priyatna Abdurrasyid PHD dan kedua belah pihak telah memilih

Arbiter ketiga adalah Prof. Michael Pryles. Dengan

demikian ada kesepakatan untuk menyelesaikan 3. Bahwa putusan Arbitrase ICC International Court of Arbitration Februari No. 14387/JB/JEM 22 tanggal

ah

ub lik
jo tanggal

sengketa melalui ICC ;

am

dilakukan dengan :

ah k

a. proses pengambilan keputusan dilakukan di Paris pada tanggal 27 September 2008 dan di Indonesia pada 27 Februari 2009 ; b. naskah kontrak dalam bahasa Inggris, koresponden dalam bahasa

ep

Inggris serta mata uang yang dipergunakan adalah mata uang asing,

ah

gu ng

dan semua dokumen dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ;

c. forum penyelesaian adalah ICC ;

d. dalam bukti surat Departemen Luar Negeri, Direktorat Jenderal

Hukum dan Perjanjian International tanggal 14 Agustus 2009, ditegaskan sengketa antara Pemohon Banding dengan Termohon of Commerce ;

Banding telah diputus dalam Forum Arbitrase International Chamber e. Putusan Arbitrase International dan Indonesia dapat dilakukan, dan kriteria teritorial bukan menentukan putusan tersebut adalah putusan arbitrase nasional ; Berdasarkan kriteria tersebut, maka putusan ICC International Court of internasional ; II.

ka

ah

Tentang substansi Putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM melanggar asas ketertiban umum, public policy (memori banding angka 2.5) :

ep

Arbitration Case No. 14387/JB/JEM masuk kriteria putusan arbitrase

ub

lik

ng

1. Bahwa Pasal 66 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999

gu

Hal. 97 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 97

es

In do ne si

In do ne si a
27 September 2008

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
pada

b
tentang Arbitrase huruf c berbunyi : c) Putusan arbitrase internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas putusan tidak bertentangan

ketertiban umum jo Pasal 62 ayat (2) jo Pasal 4, Pasal 5 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 ; satunya perusahaan negara

2. bahwa Pertamina (Pemohon Banding) adalah satusebagai

wilayah hukum pertambangan migas dan diberi kewenangan mewakili negara/

ah

Undang No. 8 Tahun 1971, dengan demikian maka Pemohon Banding adalah mewakili negara untuk membuat/ menandatangani kontrak dengan pihak lain ; 3. Bahwa

am

ep

ah k

dengan

ub lik
kewenangan 1945, rakyat Pertamina status Pemohon stabilitas

berdasarkan Pasal 11 ayat (1) jo ayat (2) Undang-

Banding wajib mengemban tugas negara seperti

Undang

Dasar

sebesar-besarnya

gu ng

kemakmuran/kesejahteraan

Pasal 12 Undang-Undang No. 8 Tahun 1971, yaitu syarat yang paling menguntungkan negara ; tindakan menolak persetujuan

setiap kerjasama harus diusahakan dengan syarat(Pemohon

4. Bahwa

komersialitas Banding

lapangan Molek, South Pulai dan North Pulai adalah

ah

menyelamatkan negara dari kerugian yang dapat mengganggu negara/ketertiban umum. Kewenangan mana adalah merupakan public policy yang berada pada hak eksklusif Pertamina dan sesuai Bahwa berdasarkan kebijakan dari Pertamina untuk menyelamatkan kekayaan negara (public policy) yang berdasarkan keadilan, kepatutan dan ketahanan negara, maka putusan Arbitrase No. 14387/JB/JEM yang menghukum Pemohon Banding atas kebijakan tersebut secara substansial adalah melanggar hukum/ melanggar ketertiban umum ; dengan konstitusi ;

ka

ah

ep

ub

lik

kebijakan/kewenangan

ng

gu

Hal. 98 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 98

es

In do ne si
untuk dan Indonesia Banding atas dalam

tersebut dalam Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Undang-

In do ne si a
dengan pemegang pemerintah tersebut Pemohon

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
arbitrase yang

b
Bahwa tentang putusan mengenai perhitungan kerugian/ keuntungan yang diharapkan dan terhitung sejak tahun 1995, sebagaimana tercantum dalam memori banding angka 4.3, adalah salah dan keliru dalam melebihi dari tuntutan menerapkan hukum, dengan alasan hal itu merupakan putusan yang atau keuntungan seharusnya diperoleh ( lucrum

(ultra petita) karena dikabulkannya ganti kerugian

diperhitungkan sejak tahun 1995 sedangkan status komersial untuk berproduksi, secara finansial baru diajukan oleh Terbanding pada tahun 1997 ;

Menimbang, bahwa oleh karena putusan Pengadilan Negeri dikuatkan,

ah

banding ini ;

am

Memperhatikan Undang-Undang No. 30 Tahun 1999, Undang-Undang No. 48 Tahun 2009, Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 2009, serta peraturan perundangundangan lain yang bersangkutan ; MENGADILI

ah k

ep

Menerima permohonan banding dari Pemohon Banding I : PT tersebut ;

gu ng

PERTAMINA EP dan Pemohon Banding II : PT PERTAMINA (PERSERO) Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

01/PEMBATALAN ARBITRASE/2009/PN.JKT.PST. tanggal 3 September 2009 ;

Menghukum para Pemohon Banding/para Pemohon untuk membayar

biaya perkara dalam tingkat banding ini sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) ;

ah

Agung pada hari Rabu tanggal 9 Juni 2010 oleh DR. HARIFIN A. TUMPA, SH.MH., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, PROF. REHNGENA PURBA, SH.MS., dan H.M. HATTA ALI, SH., MH., Hakim-hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang Anggota-anggota tersebut dan dibantu oleh PRI PAMBUDI TEGUH, SH.MH., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak. terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis, dengan dihadiri oleh

ka

ah

ep

ub

lik

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah

Hakim-hakim Anggota :

ng

K e t u a,

gu

Hal. 99 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 99

es

In do ne si
No.

ub lik

maka Pemohon Banding dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat

In do ne si a
cessan)

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b
Ttd./ PROF. REHNGENA PURBA, SH.MS., Ttd./ H.M. HATTA ALI, SH., MH., Ttd./

DR. HARIFIN A. TUMPA,

1. M e t e r a i Rp.

gu

Biaya-biaya :

ng

SH.MH.,

Panitera Pengganti 6.000,1.000,Ttd./

ah

2. R e d a k s i .. Rp.

PRI PAMBUDI TEGUH, SH.MH.,

3. Administrasi banding Rp.493.000,J u m l a h .. Rp.500.000,-

am

Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I. A.N. PANITERA PANITERA MUDA PERDATA KHUSUS

ah k

ah

ka

ah

ep

ub

lik ng gu
Hal. 100 dari 93 hal. Put. No. 904 K/Pdt.Sus/2009

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

on
Halaman 100

es

In do ne si

RAHMI MULYATI, SH.MH. NIP. 040 049 629

gu ng

ub lik

In do ne si a

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Pusat Jl . di Pro f .

b
P U T U S A N DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

No. 56 PK/PDT.SUS/2011

MA H K A MA H

A G U N G

memer i k sa perka r a perda t a khusus arb i t r a s e

da lam pen i n j a uan

gu

kembal i

memutuskan sebaga i ber i k u t 1. PT. PERTAMINA EP,

da l am perka r a : di

berkedudukan

berkan t o r Lt . 27,

Menara Standa rd Dr . o leh Sat r i o SALIS

Jaka r t a , Pres i d en member i LL.M. , berkan t o r Jl .

d iwak i l i Di rek t u r

ah

ub lik
Perse roan , kawan- kawan, No. 5, Kembal i ; I (Pe r se r o ) , Timur KAREN 1A, da l am ha l HARAHAP, dar i di 8 th in i SH. , IV , Floo r , Subro t o ,

kuasa kepada M. HAKIM NASUTION, SH. , dan di para Advoka t , B- 19 ,

am

Rukan Permata Senayan Uni t Pela j a r Sura t Jaka r t a

Tenta r a

ah k

berdasa r kan

ep

Kuasa Khusus te r t a n gga l

Desember 2010 , No. SK- 353 /EP0000 /2010 - S0 ; Pemohon Penin j a uan Band ing I /

Pemohon I I

2. PT.

PERTAMINA Merdeka o leh

berkedudukan Jaka r t a

Ja l an

d iwak i l i

AGUSTIAWAN,

Utama Perse roan , kepada M. YAHYA

member i dan

kawan, para Advoka t Par t ne r s , Wanabakt i , Jend . berkan t o r Block

Law Of f i c e Gedung

ah

Gato t

lik
Senayan , II 5,
1 dar i

Desember 2010 , No.SK- 205/C00000 /2010 - S0 Pemohon Pen in j a uan Band ing I I / Kembal i dahu l u

ub

berdasa r kan

Sura t

Kuasa Khusus te r t a n gga l ;

ka

ah

PT.

LIR IK

PETROLLEUM, Jl .

ep

Pemohon I ; t e r h a d a p berkedudukan No. di Gedung Timur ,

Satmar i n do , Jaka r t a

Ampera

Ci l andak

ng

12560 ;

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 1

es

In do ne si
di 10110 , Di re k t u r kuasa kawanof Remy & Mangga la Jl . Wing B, Jaka r t a , 16 Pemohon

gu ng

In do ne si a
Jaka r t a , Char t e r e d 164, No. S. APRIL IAN , ha l in i da l am Sela t a n , 17 dahu l u Pemohon

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Pen in j a uan Termohon ; ; dar i I dahu lu Pemohon

b
Temohon Band ing / Kembal i dahu l u Termohon Mahkamah Agung te r s ebu t Membaca sura t - su ra t Menimbang , bahwa

yang bersangku t an ; sura t - sura t

te r s ebu t II

gu

bahwa seka rang Penin j a uan

Pemohon Penin j a u an

Kembal i

Kembal i I dan

sebaga i

Pemohon

I I / P emohon menga jukan (band i n g ) Jun i

Band ing

I / Pemohon

permohonan pen i n j a u an

kembal i

te r hadap

Mahkamah Agung No. 904 K/Pd t . Sus / 2 009 , yang te l a h berkekua t an

ah

2010

ub lik
hukum Pen in j a uan yang d ia j u k an Apr i l 2009 Spec i f i c di Penda f t a r a n dar i :

perka r anya

melawan

Termohon

am

Termohon Band ing / Te rmohon dengan pos i t a ber i k u t : Bersama i n i te r hadap Sura t Maje l i s Par t ne r s Permohonan Putusan

permohonan sebaga i

Pemohon menga jukan Arb i t r a s e

permohonan pembata l a n dengan Ketua

ah k

ep

No.

14387 / JB / JEM sesua i o leh

Permohonan

Penda f t a r a n

pada

tangga l

20

mela l u i

Penda f t a r a n

Putusan

Pengad i l a n

In t e r n a s i o n a l

ICC ( In t e r n a t i o n a l berdasa r

Chamber Of Commerce ) Case Power of At t o r n e y

No. 14387 / JB / JEM (P - 1) , tangga l 14 Apr i l

2009 (P - 2) dan atas dasa r permohonan i t u , Case No.14387 / JB / JEM ( "Pu t u san o leh Pan i t e r a

Putusan Arb i t r a s e

a quo " ) Jaka r t a

te l a h Pusa t

d ida f t a r k a n dengan

Kepan i t e r a a n PN Arb i t r a s e

Akte

Putusan

ah

21 Apr i l

2009 (P - 3) ,

yang te r d i r i

Tangga l 22 September 2008 (P - 4a) dengan amar putusan ( Order ) yang berbuny i : 1) Both the Fi r s t Responden t

ka

ep

ub
par t i e s

PARTIAL AWARD

and Second Responden t

lik
in Sect i o n
2 dar i

ln te r nas i ona l

No. 02 /Pd t / A r b - In t / 2 0 09 /PN . JKT .

ah

prope r to th i s to and the

arb i t r a t i o n . the

The Fi r s t EOR agreement

Responden t

Cont r a c t XI I . The

ng

arb i t r a t i o n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 2

es

In do ne si
Sura t Arb i t r a s e Arb i t r a s e PST. tannga l are is a par t y

Arb i t r a s e ICC, mela l u i

Kuasanya , Ani t a Kolopak i n g &

gu ng

In do ne si a
te r n ya t a dan Pemohon Band ing te l a h II pu tusan tangga l 9 te t a p da l am dahu l u Kembal i

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
Second Responden t has vo l un t a r i l y Responden t the EOR

assumed the ob l i g a t i o n s under inc l ud i ng has and the

Cont ra c t , and of

arb i t r a t e

gu

the

Terms

Refe rence

par t i c i p a t e d

arb i t r a t i o n .

2) The Fi r s t acco rd

and Second Responden t wrong fu l l y

commerc i a l i t y Pula i , the the l o ss of

to in

the

Molek ,

South

Pula i

ah

ub lik
breach l iab le fo r to be ing unab l e f r om p ipe l i n e of fo r ce te rm to prov i d e fo r sys t em, i n to b lockage

EOR con t r a c t ,

and are

am

Cla iman t pro f i t s

f r om Oi l

Inc r emen ta l fie lds

ah k

f r om 12 September 1995 to 27 March 2006 . b lockage of sys t em f r om l i n k d id to

3) The to t a l Buatan not

ep

cons t i t u t e

an the

even t

acco rd i n g l y

The EOR Cont ra c t

exp i r e d on 27 March 2006 . fa i l e d

4) The Responden t s of o i l

the

th r o ugh i t s

p ipe l i n e

breach of i t s

ob l i g a t i o n s 1998 to

under the EOR con t r a c t ,

f r om 21 December

27 March 2006 and are l i a b l e fo r the al l

to the Cla iman t as resu l t of

l o sses the Cla iman t

ah

per i o d . 5) The Responden t s have fa i l e d opera t i n g

expenses i n cu r r e d i n produc i n g crude o i l

ub
in to damages. to

to pay the i r

lik
the fo r the 9.6 of the
3 dar i

p ipe l i n e

ka

cash f r om May 1994 to 27 March 2006 , i n breach of the opera t i n g agreement is

ep

con ta i n ed

EOR Cont r a c t . the l o ss of it the

ah

The Cla iman t has sus ta i n e d

ent i t l e d (if any)

equa l

amount

unpa i d opera t i n g 2% ( i n

expenses p lus i n t e r e s t wi t h ar t i c i e

at LIBOR p lus Opera t i n g

ng

acco rdance

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 3

es

In do ne si
majeu re of and t r a n spo r t pay damages su f f e r e d th i s dur i n g sha re of the in

Termina l

gu ng

In do ne si a
of the Fi r s t ob l i g a t i o n s i gned to in th i s re f u sed to and Nor th of pay damages to its to these rea l i s e

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
the

b
Agreement ) re t a i n e d l e s s the va l ue of any proceeds rece i v e and f r om Responden t s ' 50% share of the Inc r emen ta l 6) The Responden t s ; 7) Al l

Oi l .

Counte r c l a ims are d i sm i s sed . to a l a t e r

othe r dec i s i o n s are l e f t

gu

Ter j emahan : 1) Baik

Termohon 1 maupun Termohon 2 ada l ah

memenuhi sya ra t da l am da lam arb i t r a s e EOR Cont ra c t yang d ia t u r in i .

Termohon 1 ada l ah menye tu j u i XI I .

dan

te l a h

ah

arb i t r a s e te l a h

ub lik
da lam Bag ian te rmasuk dan 2 pada dan Nor t h untuk Pula i karena o leh untuk keun tungan te r s ebu t se j a k 27 ja l u r p ipa

seca ra

vo l un t a e r

mener ima kewa j i b a n

am

berdasa r kan bera rb i t r a s e

EOR Cont r a c t , dan te l a h

kewaj i b a n

menandatangan i

Refe rence dan berpa r t i s i p a s i 2) Peno la kan Termohon

da lam arb i t r a s e i n i . member i kan

ah k

komers i a l i t a s Lapangan sa l ah melangga r Molek ,

ep

EOR

Cont r a c t

ber t a nggung j awab membayar gan t i berupa kerug i a n atas

kepada Pemohon atas

keh i l a n gan

karena Oi l

mendapa t dar i 1995

Inc r emen ta l

l apangan - l apangan sampai

ah

3)

Pemampatan Termina l bukan berakh i r Mare t 2006 .

to t a l

s i s t em

lik
dar i dan 27 EOR Cont r a c t
4 dar i

Mare t 2006 .

merupakan

fo r c e

ub
majeu re

Buatan

ka

pada

ah

4)

Kegaga lan para Termohon menyed ia kan penya l u r a n minyak

mela l u i s i s t em j a l u r kewa j i b a nnya

ep

p ipanya ,

merupakan wanpres t a s i EOR

memenuhi se j a k 21

ng

berdasa r kan

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 4

es

In do ne si
karena itu ke rug i a n t idak 12 September Li r i k ke Cont r a c t

South

gu ng

In do ne si a
award . p ihak yang p ihak k l ausu l a Termohon 2 Termohon 1 un tuk of Term Pula i ada l ah

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
atas te l a h gaga l tuna i

b
Desember 1998 sampai ber t a nggung j awab 27 Mare t kerug i a n 2006 . yang Oleh karena i t u , Pemohon

se l ama per i o de d imaksud . 5) Para

Termohon seca ra

untuk

membayar

mereka

atas

b iaya

gu

d i ke l u a r k an bu l an Mei

untuk 1994

memproduks i sampai 27

minyak Mare t EOR

melangga r demik i a n ,

per j a n j i a n Pemohon

da lam

Cont r a c t . gant i

berhak

mempero l eh

yang ber l a n j u t b iaya operas i LIBOR p lus

(j ika

ada) se ta r a d ibaya r

dengan besa ran dar i

ah

yang t i d a k 2%

(sesua i

ub lik
dengan Pasa l ni l a i Termohon rekonvens i l a i n n ya pu tusan 2009 (P - 4b) sha l f sum the

d i t ambah suku bunga 9.5 . dar i se t i a p 50% dar i

am

Per j a n j i a n has i l yang

Operas i ) akan Oi l .

d i ku r ang i

d i t e r i ma

sebesa r

In c r emen ta l 6) Menolak Termohon , 7) Keputusan da l am se l an j u t n y a .

ah k

se l u r u h

ep

tun t u t a n

FINAL AWARD

Tangga l 27 Februa r i

Dengan amar putusan ( Award and Order ) yang berbuny i ber i k u t :

86. Tr i b una l

awards ,

orc i e r a nd dec l a r e as fo l l o w s : pay to

(a ) The

Responden t s

ah

34,172 , 1 78 as damages fo r

compr i s i n g

ub
i s sue ; the

EOR

Cont r a c t

US$25,311 , U8$

lik
the
5 dar i

Cla iman t

ka

commerc i a l i t y fo r

ep

the p ipe l i n e fo r

fa i l u r e

i s sue and US$ of

ah

137 ,669

fa i l u r e

payment c l a im ) ; add i t i o n

(b ) In

to (a ) ,

the

damage awarded Responden t s

in

ng

parag raph

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 5

es

In do ne si
sebaga i the of US$ breach of the (and 940 fo r 8,722 , 569

mengena i

ha l - ha l

akan

gu ng

In do ne si a
der i t a kewaj i b a n operas i yang mentah se j a k 2006 , seh i ngga Dengan kerug i a n un tuk dar i para d i j a t u h kan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
sha l l pay to US$323,250 the the

b
the Cla iman t the the sum of of

be i ng fees

arb i t r a t o r s ICC

ana expenses

admin i s t r a t i v e

expenses pa i d by the Cla iman t ; (c ) Thus the Responden t to t a l to amount the

Cla iman t

US$34, 495 ; 428 : sha l l

87. The Responden t amount spec i f i e d in

pay i n t e r e s t

payab l e , parag raph of 86(c ) ,

ah

ub lik
th i s 59 of the or the Arb i t r a t i o n bear its Arb i t r a s e dan Termohon kepada US$ 34 .172 . 178

f r om the

reg i s t r a t i o n Award under

am

Ar t i c l e Law

Arb i t r a t i o n of an orde r Indones i a n Law unt i l p.a .

of Exequa tu r

under Ar t i c l e

ah k

the da te of payment at

ep

88. Each par t y

is

to

own l ega l

cos t s .

89. Al l

othe r c la ims and reques t

are re j e c t e d .

Ter j emahan :

86. Maje l i s memer in t a h kan sebaga i ber i k u t : (a ) Para membayar se j um lah kerug i a n Cont ra c t

menetapkan

d iwa j i b k an

ah

lik
te r d i r i masa lah US$ atas gant i
6 dar i

Pemohon, sebaga i gan t i

ub
(dan untuk dan k la im

atas

pe langga ran

ka

25.311 . 9 40 untuk masa lah komers i a l i t a s , US$ 8.722 . 569 ja l u r p ipa

ep

ah

137 .669

masalah

kegaga l an

membayar ) ; tambahan kerug i a n

ng

(b ) Sebaga i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 6

es

In do ne si
and othe r memutuskan , untuk te r hadap EOR atas US$ kegaga l an untuk da lam

gu ng

In do ne si a
share and payab l e by the is on the to t a l as date of Fina l Indones i a n obta i n i n g 66 of the the ra t e of 6%

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
yang parag ra f untuk (a ) US$ 323.250 dan penge l ua r an

b
d ibe r i k a n Para da lam

Termohon

membayar

kepada Pemohon se j um lah bag ian atas

sebaga i

penge l ua r an

Arb i t e r

gu

admin i s t r a t i f

d ibaya r kan o leh Pemohon; (c ) Dengan waj i b Termohon 34.495 . 4 28 . 87. Para bunga yang demik i a n , d ibaya r kepada

j um lah o leh

Pemohon

ah

Termohon

ub lik
d iwa j i b k an j um l ah d lbaya r kan , da lam penda f t a r a n Pasa l Arb i t r a s e Pasa l Indones i a pembayaran 66 p ihak memiku l arb i t r a s e

am

atas harus

d i sebu t k an (c ) , dar i

Paraq ra f Fina l 59 Indones i a

ah k

ep

tangga l

berdasa r kan

mempero l eh

eksekua tu r

berdasa r kan Arb i t r a s e dengan tahun . tangga l

sebesa r

88. Masing - masing

send i r i

hukum dan b iaya l a i n n ya .

89. Menolak tun t u t a n - tun t u t a n se l eb i h n ya .

ah

dapa t d ipe r t a h ankan , pen je l a s an o leh karena itu harus dan

lik
7 dar i

Para

Pemohon

berpendapa t ,

putusan

ka

a lasan yang d i kemukakan d i bawah i n i

PENDAFTARAN PUTUSAN ARBITRASE CASE NO. 14387 / JB / JEM

ah

MELANGGAR/BERTENTANGAN DENGAN Pasa l 59 Aya t (1 ) UU NO. 30 /1999

ep

ub
:

d iba t a l k a n

ng

Maje l i s

Hak im Yth .

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 7

es

In do ne si
Undang- undang sampai 6% per b iaya a quo t idak berdasa r

Undang- undang

gu ng

In do ne si a
d iwa j i b k a n b iaya ser t a ICC yang to t a l yang Para ada l ah US$ untuk membayar to t a l sebaga imana 86 Award atau

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
arb i t r a s e

b
Penda f t a r a n tenggang pu tusan a quo te l a h Pasa l melampau i (1 ) batas waktu

yang d i t e n t u k an

59 aya t

undang No. 30 Tahun 1999 ten t a ng Penye l e sa i a n 30/1999 " ) , ber i k u t

Arb i t r a s e

Sengke ta

(se l a n j u t n y a dan

d i sebu t

berdasa r

pen j e l a s an

fak t a - fak t a

gu

in i .

1. Putusan domest i k .

arb i t r a s e

quo

ada l ah

putusan

Sebaga imana yang akan para Pemohon j e l a s k an dan komprehens i f a quo pada ada l ah ura i a n putusan

se l an j u t n y a , domest i k

ah

arb i t r a s e

ub lik
Indones i a . pe l aksanaan Indones i a arb i t r a s e ( P- 5 ) Cont r a c t yang in th i s Sect i o n , conduc t ed wi t h In t e r n a t i o n a l da lam bag ian di

a lasan ber i k u t : 1.1 Tempat Pokok

am

Kedudukan

Pers i d angan

Dise l engga ra kan d i Jaka r t a , Bahwa Jaka r t a , d i t e gaskan Enhanced d i sebu t ber i k u t : tempa t pokok

arb i t r a s e

ah k

da lam

ep

k lausu l a

"EOR

Cont r a c t " )

berbuny i

"Excep t sha l l in

as

prov i d ed be in of

Jaka r t a ,

acco rdance the

the

Arb i t r a t i o n Commerce"

Ter j emahan : Kecua l i d ia t u r la i n

ah

d i l a k sanakan Jaka r t a , sesua i dengan

In t e r n a t i o n a l of Commerce . Dengan bahwa demik i a n , para di para

ka

ep

ub
Pemohon memi l i h Indones i a

Pera t u r a n

lik
dapa t tempa t bukan di
8 dar i

in i ,

Chamber

ah

p ihak

te l a h

arb i t r a s e

Jaka r t a ,

wi l a yah Repub l i k 1.2 Putusan

Indones i a . dan Di j a t u h kan Jaka r t a ,

ng

Diambi l

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 8

es

In do ne si
sebaga i arb i t r a t i o n ru l e s of Chamber of arb i t r a s e Arb i t r a s e membukt i k an kadudukan di l ua r

Oi l

Recovery

gu ng

In do ne si a
Undangdan Al t e r n a t i f "UU No. yur i d i s arb i t r a s e l eb i h r inc i putusan sesua i dengan Arb i t r a s e ada lah Pasa l XI I . 1 . 4 (se l a n j u t n y a .

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Award buny i Fina l Pasa l

b
Indones i a . Baik Fina l pada

ka l ima t

te r a kh i r

Par t i a l

je l as

d i can t umkan rumusan yang berbuny i : "P l a ce of arb i t r a t i o n , Ter j emahan : Jaka r t a ,

Indones i a "

Tempat bera rb i t r a s e : to l a k dar i

Jaka r t a , ka l ima t

Indones i a te r a kh i r

Ber t i t i k dan

Award 1.9 .

te r s ebu t , UU

maka menuru t No.

dan Pasa l 30/1999

ah

putusan arb i t r a s e d iamb i l d i j a t u h kan putusan d iamb i l di

a quo ada lah

ub lik
dan yakn i di l ua r j uga ICC se j a l a n be made at d ibua t dan di da lam quo ada lah maka

putusan domest i k ,

am

wi l a yah

hukum RI ,

arb i t r a s e dan

i n t e r n a s i o na l / a s i n g , d i j a t u h kan Hal in i

ah k

ep

hukum Indones i a ) . aya t yang berbuny i : (3 )

dengan Pasa l Rules

"The award sha l l the arb i t r a t i o n Ter j emahan : "Pu t usan

be deemed to

and on the date sta t e d here i n . "

arb i t r a s e

d ianggap

tempa t

d i l a n g sungkan pada tangga l

yang

d inya t a kan

putusan

te r s ebu t . " ka rena putusan a

ah

domest i k , batas tenggang waktu

Pengad i l a n Neger i

ka

(PN) tunduk kepada ke ten t u an Pasa l 59 aya t (1 )

ub

penda f t a r a nn ya

lik
har i
9 dar i

2 Oleh

putusan

kepada

No. 30 /1999 .

ah

Pasa l 59 aya t (1 ) UU No. 30 /1999 berbuny i :

"Da l am waktu pa l i n g se j a k putusan

l ama 30 ( t i g a tangga l as l i

ep

pu luh )

ng

d iucapkan ,

l embar

atau

sa l i n a n

oten t i k

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 9

es

In do ne si
the p lace of arb i t r a s e arb i t r a s e arb i t r a s e Pan i t e r a UU te r h i t u n g

gu ng

In do ne si a
Award maupun Par t i a l Award 66 huru f a karena Jaka r t a karena (bukan bukan wi l a yah 25

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dar i : batas ke ten t u an

b
putusan d i se r ah kan kepada dan arb i t r a s e o leh Arb i t e r

d ida f t a r k a n

Pan i t e r a

Pengad i l a n Neger i . Ber t i t i k to l a k Pasa l

59

gu

No.30 / 1999 te r s ebu t -

tenggang

waktu

putusan arb i t r a s e

domest i k

(t iga

pu luh )

har i

ah

putusan arb i t r a s e d iucapkan : ke ten t u an fa t a l batas waktu in i bers i f a t dan

ub lik
te rm i yn ( ta r d i e f , seh i ngga itu d i l ampau i , mendaf t a r k an hukumnya , harus ( n ie t menolak yang

am

memaksa , waktu untuk

apab i l a

ah k

ep

putusan arb i t r a s e

yang bersangku t an ; ak i ba t penda f t a r a n dapa t d i t e r i ma verk l a a r d , atau permohonan t idak

d inya t a kan

i nadmiss i b l e

permohonan penda f t a r a n .

3 Ternya t a kepada Pani t e r a waktu

permohonan penda f t a r a n

pu tusan arb i t r a s e

ah

Maje l i s

Hak im Yth .

ka

Penga j uan permohonan penda f t a r a n yang Jaka r t a waktu d i sampa i kan Pusa t , kepada

ub
59 aya t :

d i t e n t u k an Pasa l 59 aya t (1 ) UU No. 30/1999 .

putusan arb i t r a s e Pengad i l a n ba tas

lik
(1 ) akh i r
10 dar i

PN Jaka r t a

Pusa t te l a h

melampau i ba tas tenggang

ep

Pani t e r a

ah

te r n ya t a

te l a h

melampau i

yang d i t e n t u k an

Pasa l

UU No. 30/1999

berdasa r kan fak t a - fak t a ber i k u t

ng

3.1 Fina l

Award ,

yakn i

putusan

( e ind

vonn i s )

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 10

es

In do ne si
ont vanke l i j k dec l a r e ) a quo a quo Neger i tenggang

gu ng

In do ne si a
atau kuasanya aya t (1 ) UU penda f t a r a n ada lah 30 dar i tangga l ta r d y ) tenggang hak gugur

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
d i j a t u h kan pada Tangga l 27 Februa r i Fina l Award sebaga i 2009

putusan akh i r arb i t r a s e d iamb i l

( e ind vonn i s ) atas

putusan Case No.

14387 / JB / JEM, 2009 .

dan

tangga l Dengan j angka

27 Februa r i demik i a n ,

gu

tenggang

waktu

waktu atas putusan 2009 arb i t r a s e sampai

penda f t a r a n tangga l 27

Februa r i

dengan

Mare t 2009 . 3.2 Ternya t a penda f t a r a n Pani t e r a Jaka r t a Pusat tangga l fak t a

ah

d ia j u kan dan d i sampa i kan kepada PN

am

21 Apr i l

Berdasa r kan Pemohon

admin i s t r a t i f di

ub lik
2009 . tangga l arb i t r a s e 2009 . 21 Apr i l nya ta - nya ta a se te l a h 54 tangga l pu tusan yang arb i t r a s e

yus t i s i a l

temukan

Kepan i t e r a an

PN Jaka r t a

ah k

sebaga imana yang te r can t um da lam Regis t e r 02/Pd t / A r b - l n t / 2 0 09 /PN . J k t . P s t . 2009 (Buk t i

ep

d ida f t a r k a n pada tangga l

Berdasa r kan putusan te l a h Pasa l baru

fak t a

in i ,

arb i t r a s e

melampau i

ba tas tenggang waktu yang d i t e n t u k an UU No. 30 /1999 , d i t e r i ma karena penda f t a r a n ( l i ma

59 aya t

(1 ) dan

d ia j u k an har i

empat )

dar i

d i j a t u h kan . Ber t i t i k atas , to l a k dar i fak t a - fak t a putusan

ah

penda f t a r a n

lik
a arb i t r a s e 27
11 dar i

d i sebu t kan quo

59 aya t berdasa r

(1 )

UU No. 30 Tahun 1999 . in i , cukup

ub

melampau i

ba tas tenggang waktu yang d i t e n t u k an Pasa l Oleh karena i t u , bera l a san untuk

ka

pe langga ran

menja t uh kan putusan :

ep

ah

1) Menyatakan

14387 / JB / JEM

tangga l

ng

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 11

es

In do ne si
penda f t a r a n quo pu luh d iucapkan / di te l a h putusan Case No.

P- 3) ,

pu tusan

gu ng

In do ne si a
d iucapkan pada memperh i t u n g kan a quo ada lah tangga l 28 yang para Pusat No. Relaas 21 a quo Apr i l baru

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
Februa r i tangga l 2008 2009 jo .

arb i t r a s e domest i k ; 2) Menyatakan permin t aan

penda f t a r a n arb i t r a s e

14387 / JB / JEM 27 Februa r i

ah

ub lik
tangga l 2008 , ba tas 59 aya t

am

yang d i t e n t u k an Pasa l (1 ) UU No.

ah k

ep

30 /1999 ; 3) Menolak atau se t i d a k t i d a kn ya mener ima yang d ia j u k an pu tusan t idak

Case No. 14387 / JB / JEM tangga l 2009 j o . 2008 di 27 Februa r i

ah

lik ub ep R
aya t Pengad i l a n manapun tenggang d i t e n t u k an (1 ) 30 /1999 ; 4) Menyatakan

PN Jaka r t a

Kepan i t e r a a n Neger i te l a h batas yang 59 No.

ka

d i l ampau i n ya waktu

ah

ng

putusan

gu

Hal .

12 dar i

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 12

es

In do ne si
penda f t a r a n te r hadap arb i t r a s e 22 September Kepan i t e r a a n Pusa t atau karena Pasa l UU

gu ng

In do ne si a
22 September ada lah Putusan penga j uan putusan Case No. tangga l 2009 j o . 22 September melampau i waktu te l a h tenggang

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
arb i t r a s e Case No.

14387 / JB / JEM 27

Februa r i tangga l 2008

gu

t i dak

kekua t an karena

d i l ampau i n ya tenggang

ah

ub lik
aya t 30 /1999 . d i kemukakan di a quo te l a h dar i sya ra t para dapa t yang d ia j u kan fo rm i l pen je l a s an dan permohonan dapa t quo ada l ah

d i t e n t u k an (1 )

am

PERMOHONAN PEMBATALAN MEMENUHI SYARAT FORMIL. Ter l e pas penda f t a r a n dar i apa yang atas , bahwa batas

ah k

putusan

arb i t r a s e

ep

tenggang waktu penda f t a r a n (1 ) UU No. 30/1999 , putusan

yang d ia t u r

da lam Pasa l fo rm i l

pembata l a n bahwa

arb i t r a s e

Pemohon j e l a s k an ada lah

permohonan

pembata l a n

menuru t te l a h

hukum, karena semua sya ra t berdasa r kan

yang d i t e n t u k an fak t a - fak t a

te r penuh i in i .

ber i k u t

1. Permohonan Dia j u kan Ke Pengad i l a n Yang Kompeten . Mengena i keabsahan dar i

kompetens i / y u r i s d i k s i d i j e l a s k an dasa r dan fak t a ber i k u t

ah

1.1

Putusan domest i k , o leh

arb i t r a s e

lik
putusan pembata l a n sua tu
13 dar i

karena

itu

permohonan

ub
apakah merupakan

ka

kompetens i pengad i l a n Indones i a Bahwa un tuk

ah

menentukan

ep

arb i t r a s e

putusan arb i t r a s e

domest i k

atau i n t e r n a s i o n a l / a s i n g , Pasa l 1.9 dan Pasa l 66

ng

harus mengacu pada ke ten t u an

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 13

es

In do ne si
sah aspek arb i t r a s e ada l ah pu tusan

di t i n j a u

gu ng

In do ne si a
tangga l 2009 jo , 22 September mempunya i ekseku t o r i a l te l a h batas waktu yang Pasa l UU 59 No. melampau i 59 aya t permohonan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
arb i t r a s e wi l a yah atau atau

b
huru f a UU No. 30/1999 : Pasa l 1.9 berbuny i : "Pu t usan arb i t r a s e in te r nas i ona l o leh atau Arb i t e r

ada lah pu tusan yang

d i j a t u h kan sua tu l ua r

l embaga

gu

hukum putusan

Repub l i k arb i t r a s e pero r angan Indones i a

Indones i a ,

Arb i t e r ke ten t u an sua tu

yang

menuru t sebaga i

d ianggap

pu tusan

ah

in te r nas i ona l . " Pasa l 66 huru f "Pu t usan Arb i t e r arb i t r a s e Indones i a bi l a t e r a l di

a berbuny i :

am

arb i t r a s e

in te r nas i ona l atau

ub lik
negara yang per j a n j i a n , menentukan atau d i j a t u h kan Indones i a , itu o leh sebaga i

d i j a t u h kan

maje l i s dengan ba i k negara seca ra

sua tu

ah k

te r i k a t maupun

ep

pada

mul t i l a t e r a l ,

mengena i

Ber t i t i k di atas ,

to l a k

dar i

ke ten t uan un tuk

pasa l - pasa l

l andasan domest i k

sua tu

arb i t r a s e

in te r nas i ona l /

berpa t o kan pada asas wi l a yah / t e r i t o r i a l penerapan :

1)

Apab i l a Repub l i k putusan

pu tusan

ah

arb i t r a s e domest i k . Seba l i k n y a , d i j a t u h kan apab i l a di l ua r

ub
wi l a yah t i dak ru l e

putusan

lik
itu RI , pu tusan dapa t dan t i dak
14 dar i

d i ka t e go r i k a n

ka

d i ka t e go r i k a n

sebaga i

in te r nas i ona l / a s i n g . 2)

ah

Asas te r i t o r i a l

ep

o leh

fak t o r

mate r i a l

yang d i sepaka t i j uga

atau d ip i l i h

dan dapa t

ng

d i t e r a p kan

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 14

es

In do ne si
te r s ebu t putusan as i ng , dengan acuan di wi l a yah maka undang- undang pu tusan d iamb i l putusan dan itu arb i t r a s e dis i ngk i r k an hukum

dan pe laksanaan putusan arb i t r a s e i n t e r n a s i o n a l . "

gu ng

In do ne si a
pero r angan di sua tu l embaga hukum Repub l i k arb i t r a s e o leh pengakuan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Fina l Award , dan putusan

b
d i kesamp ingkan o leh fak t o r perbedaan

kewarganega raan / kIausu l a

kebangsaan ;

1.2

Berdasa r kan da lam

da lam EOR Cont ra c t ,

Par t i a l p lace )

dan

tempa t

pokok

pers i d angan Jaka r t a ,

d i j a t u h kan

Indones i a kebena ran tempa t pu tusan berada d i wi l a yah RI ,

Untuk membukt i k a n dan d i j a t u h kan

pokok berab i t r a s e

ah

ub lik
dapa t in i d i t e g askan ada lah in sha l l in of In t e r n a t i o n a l la i n da l am d i l a k sanakan dengan Par t i a l

tun j u k kan fak t a - fak t a ber i k u t : 1.2 . 1 Pasa l XI I . 1 . 4

am

EOR Cont r a c t

mengatu r

arb i t r a s e . Dalam k l ausu l a

ah k

pe laksanaan Indones i a . "Excep t

ep

arb i t r a s e

Klausu l a te r s ebu t prov i d ed

berbuny i : th i s Sect i o n ,

arb i t r a t i o n

conduc t ed ru l e s

in

Jaka r t a ,

acco rdance

Arb i t r a t i o n Commerce . " Ter j emahan : "Kecua l i arb i t r a s e di Jaka r t a ,

of

the

d ia t u r

ah

In t e r n a t i o n a l Chamber of Commerce . " 1.2 . 2 Kal ima t Award ( express i s Arb i t r a t i o n Indones i a " . te r a kh i r

ub

lik
Award tegas angka Maje l i s
15 dar i

sesua i

Pera t u r a n

ka

seca ra verb i s )

ep

menyatakan : Jaka r t a ,

ah

1.2 . 3 Per t imbangan

ka l ima t

te r a kh i r bahwa

74

Fina l

ng

Award

menyata - kan

Arb i t r a s e

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 15

es

In do ne si
be wi t h the Chamber of bag ian in i , Arb i t r a s e maupun Fina l " Place of

as

gu ng

In do ne si a
pernya t aan (p r i n c i p a l ada lah di para Pemohon k l ausu l a tempa t pokok Jaka r t a ,

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
arb i t r a s e of the

b
kedudukan ada lah di Jaka r t a , Per t imbangan te r sebu t "the sea t

berbuny i :

arb i t r a t i o n

is

"

Ter j emahan : " .. . ... kedudukan " dar i arb i t r a s e

Jaka r t a , Ber t i t i k

to l a k

fak t a - fak t a 1.1 ,

d ihubungkan dapa t ada lah

dengan

angka

membukt i k an putusan

bahwa putusan arb i t r a s e domest i k ,

ah

ub lik
menjad i pembata l a n neger i di di atas , Pasa l UU itu , berdasa r kan 1.9 30 /1999 , ja t uh menjad i perad i l a n Pan i t e r a a

seh i ngga

pembata l a n abso l u t 1.3 Penga j uan abso l u t perad i l a n ja tuh

te r hadapnya

am

pengad i l a n Indones i a .

permohonan

menjad i

ah k

Indones i a

ep

sedangkan

yur i s d i k s i

menjad i

pengad i l a n

Seper t i No.

yang

d i j e l a s k an

Putusan

14387 / JB / JEM berdasa r a karena

ada lah huru f

domest i k

dan

No.

30/1999 . No.

Oleh

permohonan abso l u t

pembata l a n

ah

Selan j u t n y a Jaka r t a mendaf t a r k a n 2009

te r n ya t a Pusa t putusan

lik
te l a h tangga l
16 dar i

Indones i a da lam ha l i n i

Pengad i l a n Neger i

Pengad i l a n

ub
quo pada berdasa r in i

ka

permohonan dar i 20 Apr i l Arb i t r a s e

Ani t a

ep

Kolopak i n g

& Par t ne r s

ah

2009 yang ber t i n d a k

sebaga i

Kuasa Maje l i s Spec i f i c P- 3) . 71 UU

yang memutus perka r a tangga l

berdasa r

Power Of At t o r n e y

14 Apr i l

2009 (v i d e

ng

Oleh karena i t u ,

sesua i

dengan ke ten t uan Pasa l

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 16

es

In do ne si
Arb i t r a s e Pasa l 60 Pasa l 70 UU yur i s d i k s i (PN) . Neger i 21 Apr i l tangga l

putusan d ida f t a r k a n

gu ng

In do ne si a
Jaka r t a , .. . ada lah di 1.2 in i , para Pemohon a quo permohonan yu r i s d i k s i yur i s d i k s i re l a t i f n y a tempa t mana

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
mau t idak Pusa t . dan

b
No. 30 /1999 ; mau, para Pemohon harus mendaf t a r k a n

permohonan pembata l a n

putusan arb i t r a s e

a quo d i PN Jaka r t a

Berdasa r Pemohon

pen j e l a s an

fak t a - fa k t a dapa t

gu

membukt i k a n , memenuh i fo rm i l re l a t i f .

bahwa

permohonan sya ra t

pembata l a n

di t i n j a u

dar i

aspek

yur i s d i k s i

2. Permohonan Di t en t u kan . Tenggang da lam UU No.30 / 1999 . har i waktu

Dia j u kan

Dalam

Tenggang

ah

penga j uan Pasa l Menuru t dar i

ub lik
permohonan 70 in i tenggang tangga l putusan putusannya di PN 2009 ; 21 Apr i l permohonan arb i t r a s e pada tangga l penda f t a r a n . para atas , pu tusan

pembata l a n

am

pasa l

ah k

d ida f t a r k a n putusan arb i t r a s e d i Kepan i t e r a a n PN: te r n ya t a arb i t r a s e o leh a quo

ep

Arb i t r a s e tangga l

Jaka r t a

kemudian putusan Pemohon ya i t u

d ia j u kan 11

21 (dua pu luh sa tu )

tangga l fak t a - fak t a

Berdasa r di penga j uan memenuh i 30/1999 .

hukum yang

Pemohon kemukakan

ah

permohonan pembata l a n sya ra t fo rm i l

lik
Pasa l Yang 70
17 dar i

arb i t r a s e

ka

3. Permohonan

Memenuhi

Syara t

ub
Alasan

yang d i t e n t u k an

Undang- Undang , UU No.30 / 1999 . Al i n ea berbuny i ber i k u t : ke- 18

Berdasa r

ep

Al i n ea

ke- 18 Pen je l a san

ah

Pen je l a san

Umum Pasa l sebaga i

UU No.

ng

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 17

es

In do ne si
Pusa t pembata l a n para Mei 2009 har i dar i te l a h 70 UU No. Di t en t u kan Umum 30/1999

d ida f t a r k a n

gu ng

In do ne si a
di atas , para te l a h abso l u t dan Waktu Yang d ia t u r waktunya 30 Maje l i s

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
ten t a ng in i

b
"Bab VI I Hal mengatu r pembata l a n putusan arb i t r a s e . d imungk i n kan karena beberapa ha l an ta r a l a i n :

a. sura t yang

gu

pemer i k saan , putusan

d i j a t u h kan pa l su pa l su ;

ah

ub lik
b. se te l a h d iamb i l yang

am

dokumen yang bers i f a t menentukan senga j a p ihak

ah k

ep

d i sembuny i k an l awan ; atau c. putusan has i l yang sa l ah p ihak d iamb i l

t ipu

d i l a k u kan sa tu

pemer i k saan sengke t a . " itu te r dapa t perka t a an :

3.1 Dalam ka l ima t Memang benar

"an t a r a l a i n "

a l i n ea

ke - 18 Pen je l a s an permohonan pers i s

Umum te r s ebu t , pembata l a n

ah

sama dengan 30/1999 . a lasan yang

Akan te t a p i ,

desk r i p s i

ub
itu gramat i k a l

d i sebu t

pada

lik
Pasa l dan
18 dar i

mendesk r i p s i k a n

a lasan

pada a l i n e a

ka

18 d idahu l u i Dengan

dengan ka ta : seca ra

"an t a r a l a i n " . redaks i o na l

demik i a n

ah

membukt i k a n kehendak / ke i n g i n a n ( l eg i s l a t i v e purpose ) ,

ep

l eg i s l a t i f / p embua t

ng

bahwa a lasan

yang

d i sebu t

pada

Pasa l

70

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 18

es

In do ne si
musl i h a t o leh da lam yang 70 UU No. keundang- undang

gu ng

In do ne si a
atau dokumen da lam d ia j u k an se te l a h d iaku i atau d inya t a kan putusan d i t emukan dar i

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
te t a p i

b
te r s ebu t :

t i d a k l im i t a t i f bers i f a t

dan enumera t i f ; te r buka

eks tens i f

atau dapa t d ipe r l u a s . di l ua r

3.2 Per l u asan a lasan permohonan pembata l a n

gu

d i sebu t Pasa l

70

UU

No.

30/1999 ,

d ibena r kan

yur i s p r u dens i Pendapa t pembata l a n d i t e n t u k an l im i t a t i f enumera t i f , Anta ra Pasa l 70 UU No. yang menyatakan

a lasan yang 30/1999

ah

ub lik
dan o leh prak t e k (P- 6) la i n " te r s ebu t permohonan di l ua r No.30 a lasan kompetens i te r dapa t pada

am

d ibena r kan la i n

d i t e gaskan tangga l 17 Mei

da lam Putusan MA No. 03 /A rb .B t I / 2 0 0 5 2005

ah k

ha laman 20 yang menya takan : "Bahwa Pemohon putusan da lam ka ta

untuk

menga jukan atas

arb i t r a s e 70

Pasa l

Undang- undang a lasan

seper t i

ha l nya

abso l u

d i kemukakan o leh Pemohon" . Dalam putusan in i

per t imbangan

menya takan ,

anta r a l a i n : a lasan yang d i sebu t t i d a k bers i f a t karena (a l i n e a d i sebu t

ah

lik
Agung dan di
19 dar i

l im i t a t i f . Penje l a san a lasan Umum yang ada lah

ub
te rmasuk

ke- 18)

pada Pasa l

70 i t u

ka

an t a r a l a i n . Dalam pu tusan in i ,

ep

Mahkamah

ah

pe langga ran

yur i s d i k s i

sebaga i

permohonan pembata l a n putusan arb i t r a s e . Ber t i t i k yur i d i s to l a k yang dar i a lasan - a lasan kemukakan fak t a - fak t a atas , a lasan -

ng

para

Pemohon

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 19

es

In do ne si
pembata l a n yang te r t e r a Tahun 1999 , tyang yang pada Pasa l 70 membenarkan a lasan

"an t a r a

ep

gu ng

In do ne si a
dan yang o leh permohonan t i dak bers i f a t perad i l a n . memungk inkan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
yang

b
a lasan permohonan in i d ia j u kan da lam permohonan pembata l a n

sesua i

dengan Pen je l a san

UU No. 30/1999 dan yur i s p r u dens i .

DASAR HUKUM PERMOHONAN PEMBATALAN

PUTUSAN BERTENTANGAN DENGAN KETERTIBAN UMUM JUGA MELANGGAR ASAS ULTRA PETITA , DAN

MENGANDUNG CACAT KONTROVERSI SERTA MELANGGAR Pasa l 54 AYAT (1 ) huru f a UU No. 30 /1999 di atas ,

Seper t i

yang para

Pemohon j e l a s kan

Penje l a san Umum UU No. 30/1999 dan yur i s p r u dens i a lasan da lam Pasa l 70 UU No.30 / 1999 . Bahwa ber t i t i k to l a k dar i

ah

l andasan hukum te r s ebu t ,

ub lik
permohonan in i bobo t dan kesa l ahan yang rupa , sedemik i a n caca t ce l anya te r s ebu t , sya ra t fo rm i l dar i : No. 30 /1999 , berkepa l a :

am

permohonan pembata l a n te r h adap putusan arb i t r a s e para Pemohon a jukan da lam

a lasan ser t a

yang d ibena r kan yur i s p r u dens i caca t

da lam Pen je l a san d imana ser t a

Umum a l i n e a kua l i t a s meleka t l eb i h

ah k

ep

in tens i t a s

ce l a

atau yang

pa l i n g d i sebu t

t i dak

sama bobo t Pasa l 70

dengan a lasan a lasan -

da lam

seh i ngga

a lasan

te r sebu t

te l a h

memenuhi

Penje l a san Umum a l i n e a ke- 18 UU No. 30/1999 . Adapun caca t ce l a dan kesa l ahan yang te r dapa t a quo , te r d i r i

da lam pu tusan arb i t r a s e

Per t ama : (1 )

Putusan arb i t r a s e huru f a UU

a quo melangga r Pasa l karena

ah

BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA .

umum, dengan

karena

putusan

ub
yang dan

Kedua :

Putusan arb i t r a s e

a quo melangga r d iamb i l

lik
MIGAS
20 dar i

arb i t r a s e

a quo t i d a k

DEMI KEADILAN

ka

pera t u r a n Pemohon kuasa

perundang - undangan sebaga i

mendudukkan oto r i t a s pemer i n t a h pember i a n

ep

(PERTAMINA)

ah

per t ambangan

mengatu r

mengenda l i k a n

pene tapan

STATUS

KOMERSIAL

sua tu

ng

l apangan per t ambangan produks i .

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 20

es

In do ne si
dan mate r i i l dan meleka t 54 aya t pu tusan ke te r t i b a n ber t e n t a ngan yang pemegang mewaki l i keb i j a k a n

a lasan - a lasan

yang

d ia j u k an

gu ng

In do ne si a
Umum a l i n e a 18 al i nea ke- 18 memper l uas a lasan a quo yang a lasan ke- 18 maupun pada parah ada l ah

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
karena apa yang

b
Ket i g a : Putusan arb i t r a s e par t i um , meleb i h i putusan a quo melangga r u l t r a te r sebu t pet i t um

putusan

dar i

di t un tu t ul t r a

o leh

mengandung

caca t

seka l i g u s melangga r ta t a te r t i b : Putusan arb i t r a s e karena a quo

beraca ra .

gu

Keempat

mengandung putusan

kon t r o ve r s i , te r dapa t seh i ngga

da lam yang

per t imbangan putusan yang

sa l i n g

d i j a t u h kan

penegakan kepas t i a n hukum. di l ega l atas l a h yang menjad i

ah

Alasan - a lasan ( rech t eg r o ud , petend i masing

ub lik
da l i l atau dan pada memi l i k i a quo . para Pemohon akan kebena ran sebaga i berbuny i :

founda t i o n ) pembata l a n

am

permohonan a lasan

dasa rnya

te r s ebu t

sama- sama

re l e vans i

membata l k an pu tusan arb i t r a s e

ah k

FAKTA- FAKTA YANG MENDUKUNG KEBENARAN ALASAN-ALASAN

Maje l i s

Hak im Yth .

Dalam ura i a n fak t a - fa k t a te r dapa t

ber i k u t

in i ,

yang

mendukung

pe langga ran a quo ;

dan meleka t da lam putusan arb i t r a s e arb i t r a s e a quo

1. Putusan

putusan

melangga r Pasa l 54 aya t (1 ) huru f

a UU No. 30/1999 . :

Pasa l 54 aya t (1 ) huru f

a UU No. 30 /1999 berbuny i

Pu t usan arb i t r a s e harus memuat : a. Kepa la putusan yang

ah

BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pencan tuman kepa l a arb i t r a s e d iu l a ng putusan te r s ebu t l ag i

lik
putusan
21 dar i

DEMI

penegasannya d i :

ub
kepa l a

da lam sua tu

da lam Pen je l a san

ka

Umum a l i n e a ke- 12 yang berbuny i Sepe r t i putusan ha lnya dengan

ep

putusan

pengad i l a n ,

ah

arb i t r a s e DEMI

sebaga i

mencan tumkan MAHA ESA Baik

KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG

ng

da lam Pasa l

54 aya t

(1 )

huru f

a maupun Pen je l a s an

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 21

es

In do ne si
menunjukkan yang domest i k KEADILAN putusan maka da lam harus j uga

PERMOHONAN PEMBATALAN

gu ng

ep

In do ne si a
mengabu l kan karena itu vires ser t a caca t te r s ebu t ber t e n t a ngan , melangga r asas dasa r hukum fundamentum masing dan po tens i

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
ke- 12 UU No.

b
Umum a l i n e a ha ru s , bers i f a t 30/1999 , te r d apa t ka ta

o leh ka rena i t u

pencan t uman kepa l a

impera t i f / m emaksa (dw ingend , mandato r y ) .

Dengan adanya ka ta ha ru s Pemohon kemukakan di :

da lam ke ten t u an yang para atas , DEMI pencan tuman

gu

PUTUSAN yang

berbuny i

KEADILAN BERDASARKAN putusan arb i t r a s e

KETUHANAN YANG MAHA ESA domest i k ada lah : bers i f a t

da lam

impera t i f

berkua l i t a s

sebaga i hukum memaksa mandato r y l aw ) ; itu , Maje l i s

ah

( dwingend rech t , o leh karena

am

Arb i t r a s e yang memer i k sa sengke t a in i , Ternya t a kepa l a huru f putusan waj i b mematuh i n ya ; a quo t idak mencan tumkan 54 aya t (1 )

arb i t r a s e

ah k

putusan yang d ipe r i n t a h kan a UU No. 30/1999 . pu tusan t i dak

ep

domest i k ,

mencan tumkan

kepa l a

putusan

KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA . Pelangga ran huru f a te r hadap al i nea ke ten t u an ke- 12 Pasa l 54

dan

Pen je l a san pada pada

30/1999 , tangga l tangga l

te r dapa t

dan

meleka t 2008 , dan

Par t i a l Fina l

22

September

27 Februa r i

2009 .

Berdasa r atas , a quo ,

fak t a - fak t a

yang d i kemukakan pada angka 1.2 d i

ah

nya ta - nya ta 54 aya t (1 )

melangga r huru f

dan

lik
: demi
22 dar i

para

Pemohon dapa t

membukt i k an ,

putusan arb i t r a s e dengan

ber t en t a ngan

Umum UU No. 30/1999 , o leh ka rena i t u

ub
1) Putusan bata l

Pasa l

a dan a l i n e a

ke- 12 Pen je l a san

ka

arb i t r a s e

ep

ah

rech t swege and vo i d ) ;

n ie t i g ,

2) Putusan t i dak

arb i t r a s e mempunya i

a quo , kekua t an

ng

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 22

es

In do ne si
DEMI aya t (1 ) Umum UU No. Award Award , a quo , ( van nu l l hukum

Terbuk t i ,

arb i t r a s e

ub lik
Pasa l a quo

sebaga i

gu ng

In do ne si a
te r s ebu t KEPALA yang putusan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
2. Fakta

b
ekseku t o r i a l ten t a ng ;

pe langga ran quo

putusan

te r h adap

ke te r t i b a n

( openbare orde , pub l i c pe langga ran umum, : produks i

gu

Sehubungan dengan fa k t a quo te r hadap

putusan arb i t r a s e dapa t para

ke te r t i b a n

kemukakan pen je l a s an ber i k u t 2.1 Pr i n s i p kekayaan

umum

a lam Indones i a

d i t e gaskan

ah

Pasa l 33 aya t (2 ) dan (3 ) UUD 1945 . Baik sebe l um maupun sesudah d i l a k u kan 33 aya t (2 )

am

perubahan / amandemen ke - 4 UUD 1945 Pasa l dan (3 ) , nas i ona l te l a h menentukan pr i n s i p

dan kese j a h t e r a an sos i a l , 2.1 . 1 Berdasa r pr i n s i p yang h idup negara ;

ub lik
aya t (2 ) yang banyak orang : untuk ; di No. Minyak

umum perekonomian :

sebaga i ber i k u t

ah k

ep

bahwa cabang - cabang produks i menguasa i ha ja t

d i kuasa i

2.1 . 2 Berdasa r aya t (3 ) , ta t a ai r di te r t i b

d i t e ga skan pr i n s i p

umum, bahwa bumi

dan kekayaan a lam yang te r k andung da lamnya d i kuasa i

o leh negara dan sebesa r - besar

d igunakan

kemakmuran rakya t Pr i n s i p o leh umum yang d i kemukakan

ah

putusan

Mahkamah Konst i t u s i

22 Tahun 2001 ten t ang UUD 1945 . Dalam

ka

per t imbangannya

ub

tangga l

21 Desember 2004 (P - 7) ,

lik
23 dar i

atas ,

002 /PUU- I / 2 003 UU No.

yang mengu j i

dan Gas Bumi te r h adap ha laman 208- 209 , la i n

Mahkamah Kons t i t u s i mengemukakan : Bahwa d i k u asa i

ep

Repub l i k

Indones i a

ah

berdasa r kan o leh

ura i a n

te r s ebu t , d ia r t i k a n

negara o leh

harus l a h negara

mencakup l uas yang

ng

makna penguasaan

da lam ar t i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 23

es

In do ne si
o leh dan d ipe r t e g a s anta r a penger t i a n

pen t i n g

gu ng

In do ne si a
kebena ran arb i t r a s e a umum orde r ) a Pemohon pen t i n g dan da lam d ipancangkan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
d i t u r u n kan atas di ko l e k t i v i t a s rakya t UUD

b
bersumber rakya t ai r dan dar i konseps i kedau l a t a n Indones i a

sega l a

sumber kekayaan bumi , di

dan kekayaan pu la

a lam yang te r k andung da lamnya

te rmasuk pub l i k

penger t i a n atas

o leh

rakya t

gu

kekayaan

d imaksud o leh untuk

seca ra 1945

d i kon t r u k s i k a n kepada dan negara

member i kan keb i j a k a n

mengadakan

t i n da kan

pengurusan

(bes t u u r s daad ) ,

( r ege l e ndaad ) , pengawasan

penge l o l a a n

(behee r sdaad ) un tuk

ah

( t o e z i c h t t h o udensdaad ) kemakmuran

ub lik
untuk per i j i n a n l eg i s l a s i o leh o leh Badan yang itu kemakmuran

sebesa r - besarnya

rakya t .

am

pengurusan (bes t u u r s daad ) pemer i n t a h dan dengan

o leh negara d i l a k u kan o leh menge lua r kan

kewenangannya

mencabu t

fas i l i t a s

ah k

l i sens i

(l i cen t i e ) , o leh

ep

dan konses i

(consess i e ) .

penga tu r an mela l u i

negara

( r ege l e ndaad ) DPR

pemer i n t a h , penge l o l a a n mekan i sme mela l u i Usaha

dan

regu l a s i

pemer i n t a h . d i l a k u kan

(behee r sdaad )

pemi l i k a n

saham (sha r e - ho l d i n g ) l angsung atau

ke te r l i b a t a n Negara

da lam manajemen Badan Hukum Mi l i k Negara

Mi l i k

sebaga i negara , atas bag i pu la

i n s t r umen

ke l embagaan ,

c.q

pemer i n t a h ,

mendayagunakan penguasaannya untuk d igunakan Demik i a n negara cq .

sumber - sumber

kekayaaan

ah

fungs i

pengawasan

pemer i n t a h ,

da l am rangka mengawas i

ka

agar pe l aksanaan penguasaan o leh negara atas sumber sumber kekayaan d imaksud benar - benar d i l a k u kan untuk sebesa r - besarnya kemakmuran se l u r u h rakya t .

ah

Ber t i t i k

to l a k

ep

dar i

ub
pr i n s i p

( t o e z i c h t h o udensdaad )

d i l a k u kan

lik
o leh o leh se t i a p
24 dar i

sebesa r - besa rnya

rakya t .

dan mengenda l i k a n

ke te r t i b a n Pasa l

perekonomian (2 ) dan (3 )

nas i ona l

yang d iga r i s k a n

33 aya t dan

ng

UUD 1945 te r s ebu t ,

produks i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 24

es

In do ne si
Fungs i mela l u i dan/a t a u mela l u i n y a negara umum

kewenangan

gu ng

In do ne si a
da l amnya kepemi l i k a n sumber - sumber itu ko l e k t i f mandat (be l e i d ) penga tu r an dan tu j u a n Fungs i (be rgunn i n g ) , Fungs i d i l a k u kan bersama

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
pen t i n g bahan itu

b
kekayaan a lam yang bag i ha ja t h idup orang banyak , seca ra kons t i t u s i o n a l 2.2 MIGAS d i ka t e go r i

d i kuasa i dan

sebaga i karena

ga l i a n

stra teg i s UU No.

berdasa r kan

gu

Tahun 1999 dan UU No. 8 Tahun 1971 , MIGAS d i kuasa i o leh negara , dan

menetapkan /menun j u k pemegang pemer i n t a h . kuasa

PERTAMINA per t ambangan

ah

Kons i de r an menegaskan , merupakan bag i ba i k

dan

ub lik
UU No. 44 Prp minyak dan gas produks i ha ja t yang h idup t idak , ser t a te r s ebu t , 8 UU No. negara 1960 ser t a 1971 h UU No.

produks i

am

cabang - cabang

negara

dan menguasa i maupun

l angsung

ah k

khusus untuk per t a hanan nas i ona l . Seja l a n kons i de r a n dengan ke ten t uan a di 1971 da lam j uga

menegaskan bahwa MIGAS ada l ah bahan ga l i a n

ba i k

untuk

perekonomian

maupun

kepen t i n g an per t a hanan dan keamanan. Selan j u t n y a 2 UU No. al i nea da lam Pen je l a s an Prp Tahun

Umum angka 1 a l i n ea Pen je l a san menya takan ,

44

ke- 2 UU No.

8 Tahun

menetapkan keb i j a k s anaan perminyakan dan pe laksanaan keb i j a k s anaan te r s ebu t , harus berpedoman kepada j i wa

ah

Menuru t

Pasa l

1 huru f

lik
44 Prp un tuk kuasa kons i d e r a n untuk seca ra
25 dar i

Pasa l 33 aya t (3 ) UUD 1945 ;

wewenang kepada perusahaan negara untuk melaksanakan usaha per t ambangan MIGAS dan se l an j u t n y a d i sebu t

ka

dengan kuasa per t ambangan . Seharusnya te r s ebu t , huru f c guna

ep

ah

melaksanakan bag i an

ub

menegaskan

bahwa negara

berwenang

berdasa r kan UU No. 8

Tahun

1971

te r j am i n ekonomis

ng

pe laksanaan

pengusahaan

MIGAS

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 25

es

In do ne si
sta r t e g i s untuk ke Umum da lam Tahun 1960 member i kan per t ambangan menimbang

huru f

ep

Tahun

gu ng

In do ne si a
o leh negara . d i kua l i f i k a s i o leh 44 Prp sebaga i mewaki l i Tahun 1960 bumi amat orang (MIGAS) pen t i n g banyak ar t i mempunya i

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
di sis i

b
ef f i s i e n , ser t a la i n d ipe r o l e h per l u un tuk MIGAS. manfaa t yang sebesa r - besarnya un tuk rakya t PERUSAHAAN MINYAK NEGARA

d i t u gaskan sua tu

menye lengga rakan Untuk mencapa i

pengusahaan tu j u an

per t ambangan

te r sebu t

UU No. 8 Tahun 1971 , :

gu

ke ten t u an ber i k u t

2.2 . 1 Mendi r i k a n Minyak dengan Negara dan

Perusahaan Gas Bumi

PERTAMINA, RI Pasa l 2

ah

berkedudukan

ub lik
sebaga i l ega l hak MIGAS membangun dan mencip t a kan 5) ; dan Per t ama , se l u r u h Per t ambangan -

( rech t s pe r s oon , d ibe r i k a n

am

per t ambangan (2 ) ) .

ah k

2.2 . 2 Did i r i k a n n ya untuk

ep

PERTAMINA

ar t i

se l uas - l uasnya

un tuk

besa rnya kemakmuran rakya t ser t a (Pasa l

ke tahanan nas i ona l

2.2 . 3 Pasa l 11 UU No. 8 Tahun 1971 , member i sta t u s kewenangan

PERTAMINA :

sebaga i

ah

lik
(Pasa l (Pasa l
26 dar i

wi l a yah MIGAS 11

ub
(1 ) ) ; Pemer i n t a h (2 ) ) ;

Indones i a

ka

Kedua sebaga i

PEMEGANG KUASA

ep

PERTAMBANGAN MIGAS mewaki l i 11 aya t

ah

Ber t i t i k

to l a k

dar i

kons i d e r a n

dan ke ten t u an

UU No.

ng

44 Prp Tahun 1960 dan UU No. 8 Tahun 1971 yang para

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 26

es

In do ne si
sebesa r dan negara kepada PEMEGANG hukum di aya t

pengusahaan minyak dan gas bumi da lam

gu ng

In do ne si a
te l a h mengatu r Per t ambangan d i s i n g ka t d im i l i k i yang yang aya t PERTAMINA hukum yang usaha 2 aya t badan ent i t y ) un tuk (Pasa l di t u j u kan melaksanakan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
di atas , pemer i n t a h MIGAS kuasa mengatu r (1 ) jo Pasa l dan

b
Pemohon j e l a s kan pr i n s i p te l a h menegaskan pr i n s i p ke te r t i b a n

umum yang harus d i t e ga kkan ,

PERTAMINA ada lah sa tu - sa tunya perusahaan negara yang

d id i r i k a n hukum

o leh

sebaga i yang

pemegang d ibe r i

per t ambangan pemegang un tuk

gu

sebaga i

per t ambangan sega l a

pemer i n t a h menyangku t p ihak h jo Prp untuk

KEBIJAKSANAAN yang MIGAS

pe laksanaan

penam- bangan berdasa r kan Pasa l 12

i n ves t o r / k o n t r a k t o r Pasa l Tahun 5 aya t 1960

6 aya t

ah

ub lik
UU No. kuasa Pasa l Tahun 1960 j o Pasa l menetapkan yang (1 ) UU No.

sebesa r - besarnya

kemakmuran rakya t

am

ser t a mencip t a kan ke tahanan nas i ona l ; 2.3 Dalam pemegang mewaki l i kedudukan

PERTAMINA

per t ambangan berdasa r

ah k

ep

pemer i n t a h

umum yang d iga r i s k a n

(2 )

PP No. 35 Tahun 1994 j o . 8 Tahun 1971 j o . (3 ) UUD 1945 ,

No. dan

PERTAMINA

penuh

untuk

pember i an

komers i a l i n ves t o r / k o n t r a k t o r

per t imbangannya send i r i . Berdasa r berbuny i : Pasa l 12 a;ya t

ah

Pe rusahaan dapa t la i n

mengadakan ker j a s ama dengan p ihak

Memang benar , member i

Pasa l

12 aya t bag i

ka

kemungk i nan dengan

ub
(1 ) la i n Pasa l

da lam ben tuk Kont r a k Produc t i o n Shar i n g . UU No. 8 Tahun 1971 mengadakan Kont r a k

PERTAMINA untuk da lam

ker j a s ama

ep

p ihak

ah

Produc t i o n Shar i n g . Sela i n dar i

pada ke ten t u an

lik
12 aya t
27 dar i

ben tuk

8 Tahun 1971 te r s ebu t ,

ke ten t uan Pasa l

6 aya t (1 )

UU

ng

No. 44 Prp Tahun 1960 j uga member i k an

wewenang bag i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 27

es

In do ne si
Pasa l 12 UU (2 ) 33 aya t berwenang s ta t u s d im in t a kan berdasa r Tahun 1971 (1 ) UU No.

No.

44 Prp

gu ng

In do ne si a
bahwa wi l a yah kewenangan MIGAS mewaki l i dengan Pasa l (1 ) 8 1 huru f UU No. 44 1971 Tahun dan negara sebaga i MIGAS ke te r t i b a n (1 ) UU 5 aya t Pasa l 13 aya t

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dapa t

b
Mente r i perusahaan untuk menunjuk kon t r a k t o r d ipe r l u k a n yang bag i

negara

apab i l a

melaksanakan

peke r j a a n - peke r j a an send i r i se l a ku

t i dak

dapa t yang

d i l a k s anakan bersangku t an

o leh

negara

gu

per t ambangan ; Dengan demik i a n dapa t Kont r a k melakukan d i l a k u kan

yang d imaksud dengan ker j a s ama yang o leh PERTAMINA se l a i n Shar i n g , da lam da lam ben tuk dapa t

Produc t i o n ker j a s ama

PERTAMINA ben tuk

ah

pr i n s i p - pr i n s i p aya t (1 )

hukum yang d i sebu t k an

ub lik
Oi l dan mewaki l i menetapkan Pasa l huru f b 1 al i nea huru f a waj i b te r s ebu t , da l am : of th i s Pasa l

UU No. 44 Prp Tahun 1960 an ta r a ker j a s ama ; Enhanced

am

ben tuk Cont ra c t

Recove ry

PERTAMINA da lam Pemegang berwenang berdasa r pr i n s i p (3 ) Kuasa

kedudukan

kapas i t a s n ya

ah k

ep

Per t ambangan untuk

penuh

umum yang d iga r i s k a n jo . kons i de r a n

33 aya t dan

UUD 1945

Penje l a san Tahun

Umum angka jo .

ke- 2 UU No. dan

1960

kons i de r a n

Penje l a san Umum a l i n e a ke- 2 UU No. 8 Tahun 1971 ; Oleh ka rena i t u pada j uga Termohon /PT L i r i k

ke ten t uan - ke ten t u an sudah d ipe r t e g a s

karena

ah

No the

te rm

or

prov i s i o n of the

lik
con t r a c t , to para
28 dar i

Cont ra c t

yang berbuny i

hereunde r , the

sha l l of

preven t

ub
or l im i t f r om

agreement

par t i e s

submi t

the gove rnment exerc i s i n g

ka

Repub l i c

Indones i a

i na l i e n a b l e Ter j emahan : T i d a k in i , ada

r i gh t s

ah

ke ten t uan

ep

atau

pera t u r a n

te rmasuk ke

kesepaka t an

p ihak

untuk di

ng

menga jukan

arb i t r a s e

sebaga imana

d i sebu t k an

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 28

es

In do ne si
(2 ) dan c ser t a 44 Prp ser t a c untuk tunduk ha l in i XVI I . 2 . 2 EOR inc l ud i ng arb i t r a t i o n of its dar i kon t r a k

PERTIMBANGAN yang d ianggapnya sesua i

gu ng

In do ne si a
un tuk be lum atau perusahaan pemegang kuasa pu la l a i n n ya dengan da lam Pasa l la i n 6 da lam (EOR) sebaga i Pemer i n t a h , keb i j a k s anaan dengan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dapa t itu ,

b
bawah in i , menghen t i k a n Indones i a atau membatas i pemer i n t a h

Repub l i k

da lam

kewenangan mut l a knya sebaga i negara .

Sehubungan Cont ra c t memin ta PULAI

dengan

mesk ipun

Pasa l

member i

hak kepada Termohon PT. LIR IK untuk MOLEK, SOUTH PULAI ,

gu

agar

l apangan

dan

LIR IK

d ibe r i k a n

s ta t u s

namun berdasa r kan Pasa l (1 ) UU No.

1 huru f

h dar i

44 Prp Tahun 1960 j o .

Pasa l

Tahun 1971 j o .

Pasa l 33 aya t (1 ) dan (1 ) UUD 1945 ;

ah

2.3 . 1 PERTAMINA

ub lik
berwenang untuk komprehens i f kedudukan pemegang dan kuasa pemer i n t a h . da l am parag ra f : oi l and 1 min i ng r i ches oi l and

autho r i z e d ) seca ra

memper t imbangkan apakah Termohon /PT .

am

PERMOHONAN/PERMINTAAN LIR IK i t u da lam

dapa t d i kabu l k a n atau t i d a k kapas i t a s n ya per t ambangan in i te l a h

ah k

ep

sebaga i

d i t e n t u k an Cont ra c t berbuny i

Witnesse t h dan

WHEREAS, wi t h i n

al l

minera l sta t u t o r y

the

te r r i t o r y

Indones i a , the sta t e ,

are and

ant i o n a l

con t r o l l e d

WHEREAS, PERTAMINA has an exc l u s i v e to mine fo r minera l

ah

th r oughou t the area desc r i b e d

BAHWA, se l u r u h da lam wi l a yah

minyak dan minera l tambang di

ub
yang memi l i k i

Ter j emahan :

lik
Kuasa
29 dar i

ka

Indones i a , o leh

kekayaan dan BAHWA, eksk l u s i f

nas i ona l

ep

d i kuasa i

ah

PERTAMINA

untuk minyak dan gas mine ra l area yang d i sebu t k an.

d i da l am

ng

dan d i l ua r

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 29

es

In do ne si
EOR 2 yang gas ex i s t i n g of by Au tho r i t y in gas and yang ada d i ada l ah negara , Tambang

mewaki l i

gu ng

In do ne si a
melaksanakan IX . 1 . 3 EOR NORTH komers i a l i t a s , Pasa l 5 aya t 11 UU No.8 penuh ( fu l l Hal

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
Apa yang d i sepaka t i Witnesse t h se j a l a n di da lam Parag ra f di atas , Pasa l 1 dan 2 dan

EOR Cont r a c t Pen je l a s an No.

dengan

Pera t u r a n

Pemer i n t a h dan Minyak bahwa sta t u s

35 Tahun 1994 ten t ang Ker j a sama Gas Kont r a k

Syara t - Syara t Bagi Hasi l

Pedoman dan yang

d i t e gaskan menya takan ada lah

berwenang sua tu

komers i a l i t a s sebaga i

PERTAMINA

pemegang

per t ambangan mewaki l i 2.3 . 2 Mesk ipun d i l e n g kap i ins t i t u s i la i n , permohonan dengan LEMIGAS namun

pemer i n t a h ; s ta t u s

ah

ub lik
pendapa t maupun ins tans i menuru t t idak yang 8 d i sebu t Tahun 1971 d iga r i s k a n d i t e gaskan l eb i h D Pasa l 5.2 . the par t i e s

komers i a l i t a s tekn i s

am

apab i l a

PERTAMINA te r c apa i huru f c

permohonan tu j u an UU

ah k

ep

da lam

No.

(2 )

dan (3 ) t idak

UUD 1945 ,

maka PERTAMINA berwenang

untuk

menge lua r kan ;

PENETAPAN PERSETUJUAN

Komers i a l i t a s p ihak ,

2.3 . 3 Di l a i n

da lam exh i b i t

D Pasa l bahwa

Cont ra c t

te l a h

PERTAMINA

d ipos i s i k a n

t i ngg i

Termohon /PT L i r i k . Keten t uan berbuny i As : as exh i b i t

ah

soon

lik
is Commit t e e have dapa t
30 dar i

cons i de r

exp l o i t a b l e PERTAMINAS

the

Opera t i n g

ub
to p ihak

i n c r emen ta l

produc t i o n

ka

approva l

deve l oped by JOB . Ter j emahan : Sege ra

ah

se te l a h

ep

para

memper t imbangkan d ieksp l o i t a s i harus memin ta

bahwa produks i

i n t c r emen ta l pan i t i a

ng

seca ra komers i a l ,

operas i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 30

es

In do ne si
5.2 . , EOR kedudukan dar i EOR Cont r a c t tha t Commerc i a l l y sha l l seek fie ld such t

ke te r t i b a n

umum yang

gu ng

In do ne si a
sesua i 13 aya t (2 ) Bumi d imana un tuk l apangan kuasa te l a h dar i pemer i n t a h per t imbangan menjamin kons i de r a n pr i n s i p 33 aya t b i sa dan Pasa l

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dar i demik i a n

b
perse t u j u a n te r s ebu t Dengan PERTAMINA agar l apangan

dapa t d i kembangkan o leh JOB mesk ipun dar i

permin t a an / p e rmohonan t i dak dengan

Termohon

send i r i n y a atau

menuru t waj i b

gu

Pemohon/PERTAMINA harus dan menyetu j u i te r s ebu t ,

permin t a an

s ta t u s

karena

pernya t aan

t i d a kn ya sua tu fungs i

l apangan baru ada lah pe laksanaan ( beheersdaad ) dan fungs i

penge l o l a a n

ah

pengawasan d i l i mpahkan

( toez i c h t h oudensdaad ) kepada Pemohon/PERTAMINA ;

ub lik
a quo te l a h sebaga i MIGAS mewaki l i putusan dengan dan (3 ) Putusan dengan Award s ta t u s Par t i a l

am

Kuasa Per t ambangan te r s ebu t 2.4 Ternya t a putusan arb i t r a s e PERTAMINA per t ambangan itu

kewenangan pemegang o leh

sa tu - sa tunya

ah k

ep

karena

arb i t r a s e ke te r t i b a n

d iga r i s k a n Pasa l

33 aya t (2 )

UUD 1945 dan UU

No. 8 Tahun 1971 ; Mengena i kebena ran

Arb i t r a s e ke te r t i b a n

melangga r / b e r t e n t a n gan

para Pemohon tun j u k kan fa t a - fak t a ber i k u t 2.4 . 1 Angka mest i 235 Par t i a l

menyatakan ,

member i

perse t u j u a n

yang d im in t a Termohon /PT LIR IK . Pada angka 235

ah

pernya t aan dan pendapa t hukum yang berbuny i

lik
however , tha t the has asse t . the
31 dar i

Award

responden t s manager ,

say Per t am ina , is LIABLE

ub
fo r

In

its

pos t

hear i n g

clos i ng

submiss i o n ,

ka

dete rm i na t i o n , because of Sta te is

ep

the re f o r e a Sta t e

ah

st i l l

asse t s

car r i e s

grave

l iab i l i t i e s agrees tha t Cla iman t )

today s Fi r s t

Indones i a . Responden t

The t r i b u na l ( t o ge t h e r

the must

ng

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 31

es

In do ne si
a quo umum, akan : PERTAMINA komers i a l i t a s te r dapa t : the as resou r ce f ina l f ina l say Mismanagement in

melangga r / b e r t e n t a n gan

gu ng

In do ne si a
te l a h ada (PT LIR IK ) hukum mengabu l kan komers i a l i t a s komers i a l i t a s yang mela l u i menyingk i r k a n kuasa pemer i n t a h , a quo umum yang

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dec i des

b
dete rm i ne commerc i a l i t y . the However as ta t e d Per t am ina above no t

t r i b u na l

tha t

have an unfe t t e r e d

disc re t i o n

and mus dec i de i n

acco rdance wi t h the te rms and sp i r i t con t r a c t . b ind i n g Responden t Cla iman t . The l ega l EOR Cont ra c t

gu

agreement

whch

vo l un t a r l l y Its

ente r ed

te rms b ind bo th par t i e s

Ter j emahan : Da l am Termohon j uga , Post Hear i n g Clos i n g

Submiss i o n

ah

menyatakan sebaga i

ub lik
PERTAMINA manager untuk mengambi l itu dapa t merupakan tepa t t i dak atas Arb i t r a s e Pemohon) Arb i t r a s e memi l i k i d i sk r e s i dengan dar i EOR per j a n j i a n itu mengika t

sumber

am

BERTANGGUNGJAWAB akh i r , akh i r o leh sebab

karena

masih

ah k

Pengo l ahan

ep

yang

membawa ak i ba t saa t in i ,

yang sanga t

buruk bag i

Termohon

1 (be r sama

harus

komers i a l i t a s . atas , Maje l i s

Namun sebaga imana

d i sebu t k an

memutuskan

PERTAMINA t i d a k dan harus

memutuskan dan j i wa

meru j u k

ke ten t u an Cont ra c t seca ra masuk Pemohon, p ihak . Pendapa t

Cont r a c t yang

menimbu l kan

hukum d imana Termohon 1 seca ra

ah

o leh

ka rena

lik
te r s ebu t 1 huru f Pasa l menempatkan
32 dar i

da lam

per j a n j i a n

te r sebu t

dan

kes impu l an

ub

ka

ber t en t a ngan dengan Pasa l aya t (1 )

h dan Pasa l Pasa l (1 )

UU No. 44 Prp Tahun 1960 j o . 33 aya t

ep

ah

UU No. 8 Tahun 1971 j o .

(2 ) UUD 1945 atas a lasan : Putusan te l a h arb i t r a s e a quo

ng

kedudukan

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 32

es

In do ne si
menentukan di bahwa tanpa batas pada EOR mengika t suka re l a bersama be lah kedua nya ta - nya ta 5 11 dan

Maje l i s

gu ng

In do ne si a
does of the EOR as cons t i t u t e s the Fi r s t in to wi t h the para baga imanapun daya , kepu tusan ka ta mengambi l ase t ase t negara . negara Indones i a bahwa se tu j u

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
-

b
yang MUTLAK SETARA anta r a LIR IK sebaga i

Termohon /PT

KONTRAKTOR dengan sebaga i

pemegang

PERTAMBANGAN pemer i n t a h ; Bera r t i putusan te l a h

menuru t

arb i t r a s e

MENYINGKIRKAN t idak

menganggap ( onwet t i g , t i dak un

ah

ub lik
va l i d Pasa l 33 aya t UUD 1945

am

va l i d a t i o n ) (2 )

ser t a o leh

ah k

ep

Tahun 1971 , putusan t i dak kedudukan PERTAMINA Kuasa mewaki l i

arb i t r a s e

dan

sebaga i

Per t ambangan

pemer i n t a h ; Award

2.4 . 2 Amar

333

angka

(2 )

Par t i a l

Tindakan

Pemohon/Pe r t am i na Perse t u j u a n Termohon /PT

Menolak

Member i kan Dimin t a

Sta t u s LIR IK

Komers i a l Adalah

ah

Amar

333

angka

(2 )

Par t i a l :

lik
to fie lds , are its
33 dar i

( Wrongfu l l y ) .

Award

The

Fi r s t to

and acco rd

Second

ub
Pula i and fo r

berbuny i

sebaga i ber i k u t

Responden t

ka

re f u sed South of the

commerc i a l i t y

Pula i

ep

and Nor t h

ah

EOR Cont r a c t ,

l iab le

damages to the Cla iman t f r om be ing unab le to

l o ss of pro f i t s i n c r emen ta l oi l 27

rea l i z e

ng

f r om thase f i e l d s

f r om 12 September 1995 to

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 33

es

In do ne si
kewenangan pemegang MIGAS Menyatakan ( Refused ) Yang Salah te r s ebu t wrong fu l l y the in Molek , breach to pay

gu ng

In do ne si a
PERTAMINA KUASA mewaki l i hukum, a quo dan sah i l l e ga l ) se r t a ( i n va l i d a t i e , ke ten t uan dan No. (3 ) 8 UU karena i t u a quo memperdu l i k a n

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
un tuk South Molek , pe langga ran un tuk

b
March 2006 . Ter j emahan : Te rmohon 1 dan Termohon 2 tanpa a las

sah

menolak

member i kan Pula i atas

kepada

dan EOR

gu

sebaga i

ber t anggung j awab

membayar

kepada Pemohon atas karena t i d a k dar i dapa t

keh i l a n gan menghas i l k a n mula i

l apangan te r s ebu t

12 September

ah

sampai dengan 27 Mare t 2006 Amar i n i 235 t i dak sama ha lnya Award

am

Par t i a l

ub lik
kedudukan dan sa tu - sa tunya 2.41 dan membukt i k a n , melangga r te r s ebu t 5 aya t Pasa l Ul t r a Pet i t a

dengan per t imbangan angka dan

sama- sama menyingk i r k a n

mengaku i

PERTAMINA sebaga i

ah k

Per t ambangan Migas da lam EOR Cont r a c t . Berdasa r para fak t a - fak t a dapa t quo 2.4 . 2 di atas

arb i t r a s e karena Pasa l

ke te r t i b a n

putusan

ber t en t a ngan (1 )

1 huru f

h dan Pasa l

Prp Tahun 1960 j o . jo .

11 UU No. 8 Tahun 1971

Pasa l 33 aya t (1 ) dan (2 ) UUD 1945 ; Pelangga ran

3. Fakta

Yang Terdapa t

Dalam a quo .

Putusan

Arb i t r a s e

ah

Pet i t a

da lam putusan arb i t r a s e :

a quo , dapa t para Pemohon

3.1 Secara un i ve r s a l aya t (3 ) HIR, Ul t r a

ub
mela rang Ul t r a

j e l a s kan ha l - ha l ber i k u t

maupun berdasa r Pasa l 178 putusan melangga r

ka

pr i n s i p Berdasa r kan mengabu l kan dar i

ah

pr i n s i p dan

ep

Pet i t um Par t i um ; Pet i t a , pu tusan yang di l a r ang meleb i h i

menja t u hkan

lik
ul t r a
34 dar i

Mengena i

permasa l ahan kebena ran adanya pe langga ran Ul t r a

apa yang d im in t a p ihak Pengguga t ;

ng

Putusan

yang

melangga r

l a r angan

pe t i t a

t idak

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 34

es

In do ne si
umum, dengan UU No. 44

Pemohon

ep

gu ng

In do ne si a
hak yang komers i a l i t a s Nor t h Pula i , Cont ra c t dan gan t i kerug i a n atas keun tungan oi l i n c r emen ta l 1995 kewenangan Kuasa pemegang bahwa pu tusan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
ka rena

b
dapa t te r t i b FAIR jus t i c e d ibena r kan , beraca r a TRAIL ber t e n t a ngan dengan ta t a

ser t a

seka l i g u s

melangga r umum

dan

pr i n s i p

kead i l a n

pr i n c i p l e ) . 3.1 . 1 Ternya t a putusan

arb i t r a s e

gu

mengabu l kan perh i t u n gan kerug i a n atas keh i l a n gan keun tungan ( l o ss of

pro f i t ) ka rena t i d a k d ibe r i k a n sta t u s komers i a l seh i ngga permin t a an te r h i t u n g te l a h se j a k

mengabu l kan

ah

ub lik
yang d ia j u k an angka 86 sebaga i membayar atas t idak atas l apangan sebesa r : the pay to US$.722 . 569 fo r fo r the untuk

LIR IK da lam pe t i t um . Pada Award , amar putusan Pemohon/ I ( orde r )

am

PERTAMINA

I / Te rmohon keun tungan s t a t u s Pula i

d ihukum untuk of

keh i l a n gan

ah k

( loss

ep

pro f i t )

komers i a l i t a s dan South

te r s ebu t

berbuny i

sebaga i ber i k u t sha l l

The Responden t s of US$34.172 . 178 (and

c l a iman t

as damages f r om breach compra i s i n g

Cont ra c t

US$25.391 . 940

commerc i a l i t y fa i l u r e

i s sue , and

i s sue

US$.137 . 669

payment c l a im ) Ter j emahan : Pa ra Termohon d iwa j i b k an

ah

Pemohon, kerug i a n te r d i r i

se j um lah

US$.34 . 172 . 1 78

lik
un tuk untuk te r s ebu t
35 dar i

membayar sebaga

atas

US$25.311 . 940

ub

atas pe langga ran te r hadap EOR Cont ra c t

ka

komers i a l i t a s , ja l u r p ipa

US$ 8.722 . 569 un tuk masalah kegaga l an dan

ep

US$

137 .659

masa lah

ah

kegaga l an da l am membayar ) .

Putusan ber t i t i k Award

atas

gant i

kerug i a n

to l a k

dar i

amar angka 338 aya t gant i

(2 )

Par t i a l ak i ba t

ng

yang

te l a h

menghi t u ng

kerug i a n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 35

es

In do ne si
the sum of the EOR fo r the the p ipe l i n e fa i l u r e of kepada gan t i (dan masa lah k l a im di atas

Pula i

US$25.311 . 940 .

gu ng

In do ne si a
pr i n s i p ( genera l a quo tahun 1995 meleb i h i Termohon /PT huru f a Fina l Responden t atas d ibe r i k a n n ya Molek , Nor t h Putusan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
keun tungan

b
keh i l a n gan d ibebankan member i kan 1995 ; atas ( l o ss of pro f i t ) yang

kepada sta t u s

Pemohon/Pe r t am i na komers i a l se j a k

Padaha l

yang d i t u n t u t pengh i t u ngan pro f i t )

o leh Termohon /PT L i r i k keh i l a n gan yang atas

gu

ten t a ng ( loss

of

d ibebankan se j a k

Pemohon/Pe r t am i na tun t u t a n te r s ebu t

te r h i t u n g

d i t e g askan o leh Termohon /PT L i r i k , (b ) Cla iman t s yang

da lam angka 54 huru f tangga l ber i k u t I f the : 1s t 28 Mare t

Cla im Submiss i o n berbuny i

ah

2007

ub lik
had agreed the fou r would USS 20 .8 of the 1s 1 te l a h harusnya , dengan Namun karena Termohon (b ) atas , dapa t te r dapa t d imaksud

am

Responden t sta t u s the on

commerc i a l shou l d have , to

f ie lds

Cla iman t

have made a pro f i t They have

ah k

amount i n g los t th i s

approx .

ep

mi l l i o n .

pro f i t

because

Ter j emahan : Sek i r a n ya

Termohon

menyetu j u i atas 4

member i kan l apangan

s ta t u s

komers i a l i t a s

sebaga imana

Pemohon sudah j um lah mereka

menghas i l k a n sek i t a r

keun tungan 20,8 ju ta .

DS$

keun tungan

te r s ebu t

member i kan sta t u s komers i a l i t a s . Berdasa r kan Pernya t aan 54 huru f Submiss i o n they shou l d te r s ebu t have ka l ima t di yang

ah

lik
1997 , yang
36 dar i

Cla iman t s ka l ima t

harusnya ,

ub
loss sta t u s tahun tangga l

d ia r t i k a n

menun jukkan of pro f i t

ka

Termohon /PT L i r i k d ia j u k annya Termohon /PT Sura t

mengh i t u ng

permohonan Li r i k

ep
pada

komers i a l i t a s ya i t u

ah

No. 162/LP - GS/ IX / 97

26 September

(P - 8) ; Dengan

ng

demik i a n

berdasa r

fak t a

para

Pemohon

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 36

es

In do ne si
un tuk (empa t ) dapa t mencapa i keh i l a n gan menolak 1 Cla im when sebag imana bahwa semenjak o leh mela l u i 1997

re f u sa l

to do so .

gu ng

In do ne si a
karena t i dak 12 September send i r i keun tungan kepada 1997 , tahun sebaga i to con fe r they when Responden t s

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
atas , te r bu k t i l eb i h dar i LIR IK . harus quo Putusan kon t r o ve r s i Dokt r i n Yang

b
tun j u k kan melangga r di putusan arb i t r a s e a quo

l a r a ngan Ul t r a

Pet i t um Par t i um sebab te l a h apa Oleh yang d im in t a / d i t u n t u t itu ,

mengabu l kan o leh

Termohon /PT a

karena

arb i t r a s e

d iba t a l k a n

sebab

gu

batas kewenangan atau ULTRA VIRES ; 4. Fakta - fa k t a Dalam A Quo.

Tentang Kont r o ve r s i

Arb i t r a s e

Kebenaran ten t ang

yang te r d apa t

ah

pada putusan arb i t r a s e

a quo dapa t para Pemohon buk t i k a n : Perad i l a n , Kont r o ve r s i Sebaga i

berdasa r pen j e l a s an dan fak t a - fak t a ber i k u t 4.1 Berdasa r Putusan Dan

am

(Pe r t e n t a ngan )

ah k

Putusan Yang Salah Menerapkan Hukum . Mengena i sa l i n g sebaga i dar i : patokan / pedoman pu tusan yang yang mengandung d i ka t e go r i

pu tusan yang sa l ah menerapkan hukum, te r d i r i

te r dapa t anta ra sa tu

sa l i n g

per t imbangan ;

per t imbangan yang l a i n te r dapa t anta ra yang sa l i n g

per t imbangan dengan fak t a d i kemukakan para

ah

te r dapa t

per t e n t a ngan

lik
sa tu itu
37 dar i

da lam pers i d angan ,

atau an ta r a

Apab i l a

ub
sa l ah da lam

per t imbangan dengan amar putusan . d ian t a r a dan maka

ka

patokan meleka t

te r s ebu t

te r dapa t pu tusan ,

ep
putusan

ah

mengandung kon t r o ve r s i . Dalam Putusan Arb i t r a s e A quo

4.2 Ternya t a

ng

Terdapa t Sal i n g Per t en t a ngan .

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 37

es

In do ne si
per t en t a ngan dengan per t en t a ngan p ihak d i kua l i f i k a s i

per t en t a ngan / kon t r o v e r s i

gu ng

ep

ub lik
Mengandung

Prak t e k

Dika t ego r i k a n

In do ne si a
putusan melampau i Yang Terdapa t dan meleka t

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
te r dapa t n ya

b
Adapun mengena i meleka t sa l i n g per t e n t a ngan yang a quo , dapa t para da l am Putusan

Arb i t r a s e

Pemohon buk t i k a n

berdasa r angka

fak t a - fak t a 82 dan

anta ra Fina l

per t imbangan

ka l ima t

Award . 4.2 . 1 Pada angka 82 Fina l pernya t aan t i dak je l a s hukum

gu

Award d i kemukakan yang menyatakan ,

k l as i f i k a s i

apakah domest i k

atau i n t e r n a s i o na l berbuny i argument th i s :

Per t imbangan angka 82 te r s ebu t The not is t r i b una l propose to prope r t y has no t dec i de heard

ah

ub lik
whethe r as a under t i dak argumen in i sebaga i per t imbangan berpendapa t putusan angka

am

c l as s i f i e d

domest i c the

in te r na t i o na l Indones i a . Ter j emahan : Ma je l i s ada yang

arb i t r a t i o n

ah k

arb i t r a s e

ep

mendengar untuk

apakah

arb i t r a s e

dik l as i f i k a s i k an atau arb i t r a s e

arb i t r a s e

i n t e r n a s i o na l

berdasa r kan

Indones i a . Jad i berdasa r kan send i r i

itu,

Arb i t r a s e

atau menyimpu l kan

bahwa putusan t i dak je l a s

arb i t r a s e apakah

a quo yang

arb i t r a s e

ah

4.2 . 2 Bahkan

keadaan angka

kon t r o ve r s i 82 i t u 87

lik
Fina l in of th i s of
38 dar i

in te r nas i ona l

atau putusan domest i k .

dengan berbuny i :

amar

ub

per t imbangan

d ipe r pa r a h Award

ka

The Responden t s amount payuab l e ,

ep

sha l l

pay i n t e r e s t

ah

as spec i f i e d

Parag raph 86 , Fina l Award Law

f r om the date of reg i s t r a t i o n under ar t i c l e

59 of the Indones i a Arb i t r a t i o n of an orde r Exegua tu r

ng

or the

obta i n i n g

under

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 38

es

In do ne si
sepa tu t n ya domest i k hukum Maje l i s d i j a t u h kan as i ng / anta r a l ag i yang on the to t a l

mengajukan

gu ng

In do ne si a
yang te r dapa t te r a kh i r arb i t r a s e ; and does arb i t r a t i o n or l aw an of dan t idak menentukan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
to t a l da lam Fina l yang

b
ar t i c l e 66 of the Indones i a Arb i t r a t i o n Law un t i l the da te of payment at the ra t e of 6% p.a Ter j emahan :

Pa ra atas

Termohon

d iwa j i b k an

untuk

j um l ah

d ibaya r kan , 66 (c )

gu

d i sebu t k an penda f t a r a n

Parag ra f Award i n i

berdasa r kan Pasa l

Undang- undang Arb i t r a s e Indoens i a atau mempero l eh exekua tu r Arb i t r a s e berdasa r kan Indones i a Pasa l sampai 66

dengan

ah

pembayaran sebesa r 6% per tahun . Pasa l 59 khususnya pada aya t : waktu

am

berbuny i Da l am

pa l i n g

ub lik
(1 ) l ama 30 (t iga oten t i k o leh 87 66 Fina l UU No. In t e r n a s i o n a l di apab i l a :

te r h i t u n g se j a k tangga l as l i atau sa l i n a n

pu tusan d iucapkan , pu tusan

ah k

ep

d i se r ah kan

dan

d ida f t a r k a n

Sedangkan j uga

da lam

angka Pasa l

Award

menyatakan :

berbuny i

Pu t usan ser t a

Arb i t r a s e

dapa t

d i l a k sanakan

wi l a yah memenuhi

Repub l i k sya ra t

Indones i a ,

sebaga i ber i k u t

a. Putusan

ah

ub ep R

lik
o leh atau yang

arb i t r a s e in te r nas i ona l d i j a t u h kan Arb i t e r maje l i s di

ka

arb i t r a s e sua tu

ah

negara Indones i a

ng

gu

Hal .

39 dar i

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 39

es

In do ne si
te r sebu t 30 /1999 yang hanya d iaku i hukum sya ra t negara dengan

kuasanya kepada Pani t e r a

Pengad i l a n Neger i .

gu ng

In do ne si a
membayar bunga sebaga imana tangga l dar i 59 Undang- undang tangga l UU No. 30/1999 pu luh ) har i l embar arb i t r a s e atau Arb i t e r

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
te r i k a t pada

ah

am

ub lik ep R gu ng ub ep R ng gu
Hal . 40 dar i

b. Pada sa tu s i s i berdasa r kan Pasa l (1 ) 59 UU aya t No. maka

ah k

Arb i t r a s e

d i ka t e go r i k a n putusan

domest i k

karena menuru t putusan

Arb i t r a s e quo

ah

lik
sis i

d ida f t a r k a n Pengad i l a n Neger i

sedangkan pada la i n

ka

da lam angka 47 Fina l Award

ah

eksekua t u r tunduk j uga

pada ke ten t uan

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 40

es

In do ne si
a per l u di (PN) ,

In do ne si a
per j a n j i a n , ba i k seca ra bi l a t e r a l maupun mul t i l a t e r a l , mengena i pengakuan dan pe laksanaan putusan arb i t r a s e in te r nas i ona l ; 30/1999 , utusan Maje l i s

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
Pasa l No. 66 UU

ah

ub lik ep R gu ng ub ep R ng gu
Hal . 41 dar i

am

ah k

Arb i t r a s e

angka 87 Fina l

Award te r s ebu t t i dak

mempunya i kepas t i a n hukum. c. Dar i

ah

lik
ada

fak t a

te r s ebu t , je l a s te r dapa t di

kon t r o ve r s i da lam per t imbangan

ka

ah

angka 87 Fina l Award , seh i ngga t i d a k kepas t i a n

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 41

es

In do ne si
fak t a yur i d i s

In do ne si a
30 /1999 yang d i ka t e go r i k a n sebaga i putusan in te r nas i ona l d imana permin t a an eksekua t u r harus d ida f t a r k a n Pengad i l a n Neger i Pusat . demik i a n putusan Maje l i s Jaka r t a Dengan atas di

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
hukum apakah

ah

4.2 . 3 Terdapa t anta ra

ub lik
; j uga sa l i n g amar angka 87 Indones i a 87 Fina l putusan d inya t a kan

am

dengan angka 74 Fina l Pada angka 74 Fina l p ihak ada lah

Award . bahwa para arb i t r a s e te r s ebu t

Award d inya t a kan dan

ah k

d i l a k sanakan berbuny i :

ep

orang

di

Jaka r t a ,

Per t imbangan

.as both par t i e s

are Indones i a n and the sea t of

the arb i t r a t i o n Ter j emahan :

i s Jaka r t a.

.ka rena kedua be lah p ihak ada l ah Indones i a tempa t arb i t r a s e ada l ah Jaka r t a Menuru t amar angka

Award ,

arb i t r a s e

merupakan

domest i k ,

putusan i n t e r n a s i o na l , Fina l berasa l ( sea t Award dar i of the o leh ada l ah je l as

sedangkan menuru t

ah

Indones i a

dan pe laksanaan arb i t r a s e ada l ah di Jaka r t a , arb i t r a s e Dengan

Indones i a te r s ebu t demik i a n ,

karena

ka

putusan

ada per t e n t a ngan anta r a Award . pada

ep

ub
itu

arb i t r a t i o n )

ah

Award dengan angka 87 Fina l

Sela i n Par t i a l

dar i

pada

itu ,

lik
pu tusan bag ian
42 dar i

bahwa

domest i k .

angka 74 Fina l

maupun Fina l

Award dengan tegas d i ka t a kan Indones i a .

ng

tempa t arb i t r a s e ,

Jaka r t a

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 42

es

In do ne si
dan putusan seka l i g u s angka 74 p ihak para te r a kh i r

gu ng

In do ne si a
putusan arb i t r a s e quo a te r s ebu t ada lah pu tusan arb i t r a s e domest i k putusan atau arb i t r a s e in te r nas i ona l per t e n t a ngan Fina l Award

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
j ika dan

b
Pernya t aan te r s ebu t berbuny i : P l a ce of arb i t r a t i o n Ter j emahan :

: Jaka r t a

Indones i a .

Tempat arb i t r a s e : Jaka r t a Kalau Fina l beg i t u , Award ber t i t i k ka l ima t

Indones i a to l a k

gu

te r a kh i r

maka Putusan Arb i t r a s e ada lah Pasa l

No. 14387 / JB/JEM te r s ebu t Pasa l 1.9

PUTUSAN DOMESTIK berdasa r 66 huru f a UU No. 30

Tahun

berdasa r Ar t i c l e Dengan dapa t demik i a n d ibuk t i k a n

1 (1 ) Konvens i berdasa r

New York 1958 ;

ah

ub lik
te r dapa t dar i arb i t r a s e sua tu dan menunda arb i t r a s e

fak t a - fak t a kon t r a d i k s i

am

angka 82 dan 87 Fina l ka l ima t a quo , bag i an

Award dengan angka 74 f dan putusan a arb i t r a s e quo t i dak

te r a kh i r

seh i ngga sya ra t

putusan sebaga i

ah k

memenuh i

ep

pu tusan

dan o leh karenanya putusan arb i t r a s e di to l a k

d i t e r i ma ;

TUNTUTAN PROVISI a lasan - a lasan

Para

Pemohon berpendapa t , berdasa r

yang para

a jukan sanga t

untuk membata l k an untuk mengh inda r i

putusan arb i t r a s e

a quo . Oleh karena i t u

t imbu l n ya kerug i a n

besa r kepada para Pemohon, apab i l a

putusan arb i t r a s e re l e van

d i l a k sanakan , t i n da kan putusan

sanga t

mendesak berupa

sementa r a

pe laksanaan

ah

a quo se l ama proses pemer i k saan permohonan ber l a ngsung ;

yang

memer i k sa :

dan

mengad i l i

ub
perka ra Putusan

Oleh ka rena

itu,

para

Pemohon memin ta

lik
agar in i apab i l a
43 dar i

Maje l i s

ka

putusan prov i s i 1. Mela rang

Termohon /PT

ep

Li r i k

menga jukan

ah

pe laksanaan

eksekus i

Arb i t r a s e

14387 / JB / JEM se l ama proses permohonan ber l a ngsung ; 2. Menghukum sebesa r Termohon /PT US$ Li r i k untuk membayar denda

ng

10.000 , 0 0

perha r i

melangga r

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 43

es

In do ne si
Pemohon a quo melakukan eksekus i Hakim menja t uhkan permohonan No.

atau

se t i d a k - t i d a kn ya

gu ng

In do ne si a
dar i angka 74 Award , Fina l dan 1999 maupun te r s ebu t , an ta r a arb i t r a s e a quo harus t idak dapa t

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
in i ; fak t a - fak t a yang ber l a k u memin ta

b
putusan prov i s i Ber t i t i k atas , to l a k

PETITUM PERMOHONAN yur i d i s

dar i

yang d i kemukakan d i

para Pemohon dapa t membukt i k an kebena ran da l i l / p o s i t a

bahwa putusan arb i t r a s e

a quo melangga r / b e r t e n t a n gan dengan te rmasuk ke te r t i b a n

gu

ke ten t u an pera t u r a n Oleh ka rena i t u

pu tusan te r s ebu t

t i d a k dapa t d ipe r t a hankan ,

dan harus d iba t a l k a n . bag i para Pemohon dan

Sehubungan dengan i t u kepada in i ,

Maje l i s

memer i k sa

mengad i l i :

perka ra

untuk

ah

putusan sebaga i ber i k u t

MENGADILI DALAM PROVISI : -

am

Menguatkan putusan prov i s i

ub lik
Putusan 14387 / JB / JEM 2009 2008 jo . ; penga j uan 14387 / JB / JEM 2009 2008 , jo . tenggang

DALAM POKOK PERKARA : PRIMAIR :

ah k

ep

1. Menya takan No.

Februa r i September

ada lah

arb i t r a s e domest i k 2. Menya takan penda f t a r a n

putusan Arb i t r a s e

No.

Februa r i September batas

ah

lik
No. atau
44 dar i

te l a h

No. 30 /1999 ; 3. Menolak yang

ub
d ia j u kan Case 27

d i sya r a t k a n

Pasa l

59 aya t

ka

permin t a an

ep

te r h adap

ah

Arb i t r a s e tangga l

Februa r i

September Jaka r t a

2008 d i Pusa t

Kepan i t e r a an

PN

ng

Kepan i t e r a an

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 44

es

In do ne si
tangga l 22 pu tusan permin t a an Case tangga l 27 tangga l 22 melampau i yang (1 ) UU waktu penda f t a r a n Putusan 14387 / JB / JEM 2009 jo 22

gu ng

In do ne si a
umum. cukup bera l a san Hak im yang menja t uhkan ; Arb i t r a s e tangga l Case 27

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
Pengad i l a n Neger i manapun ;

4. Menya takan No.

putusan

14387 / JB / JEM 2009 2008

Februa r i September

jo .

t i dak

gu

kekua tan ekseku t o r i a l , itu t i dak ; dapa t

eksekus i

SUBSIDAIR :

1. Mengabu l kan permohonan para Pemohon se l u r u hnya ; 2. Menya takan putusan Arb i t r a s e ;

ah

putusan arb i t r a s e domest i k 3. Menya takan te r d i r i dar i putusan Par t i a l

am

Arb i t r a s e

ub lik
No. No. 27 Februa r i No. 27 Februa r i No. 27 Februa r i ; membayar ; para

14387 / JB / JEM ada l ah

14387 / JB / JEM 22 September

Award tangga l

dan Fina l

Award tangga l

2009 ber t en t a ngan yang ber l a ku dan

ah k

dengan ke ten t uan

ke te r t i b a n umum ; 4. Menya takan te r d i r i dan Fina l dar i

Par t i a l

Award tangga l

22 September 2009 ;

Award tangga l putusan Par t i a l

5. Menya takan te r d i r i dan

Arb i t r a s e

14387 / JB / JEM

dar i

Award tangga l

22 September 2009 ,

Fina l

Award

tangga l

mempunya i kekua tan hukum mengika t EP dan PT. PERTAMINA (Pe r se r o ) Termohon untuk

kepada PT. PERTAMINA

6. Menghukum

se l u r u h

ah

Bahwa

te r hadap

permohonan

lik
Pemohon d im i l i k i PT untuk
45 dar i

perka r a yang t imbu l

da lam perka ra i n i

da l i l

sebaga i ber i k u t

ka

1. KEWENANGAN ABSOLUT. Bahwa te r k a i t Bahwa berdasa r kan

buk t i - buk t i

ep

ub
yang :

Termohon menga jukan ekseps i

yang pada pokoknya atas da l i l -

ah

dengan perka r a a quo ya i t u

te l a h

te r dapa t

sengke t a

an ta r a

(Pe rse r o )

dan PT

Per t am ina EP dengan PT L i r i k te l a h bersepaka t

Pet r o l e um

ng

d imana para

p ihak

menye lesa i k a n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 45

es

In do ne si
2008 yang 2008 t idak b iaya te r s ebu t , Termohon Per t am ina

putusan

ep

perundang - undangan

Arb i t r a s e

14387 / JB / JEM

gu ng

In do ne si a
Arb i t r a s e tangga l Case 27 tangga l 22 mempunya i o leh karena d im in t a kan yang 2008 yang

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
mela l u i atas EOR adanya Cont r a c t maka te r b en t u k te r s ebu t ,

b
sengke t a te r s ebu t l embaga arb i t r a s e sebaga imana d imua t da lam EOR Cont ra c t ; Bahwa

anta r a

Pemohon dengan Termohon

berdasa r da lam

k l ausu l a te r s ebu t p ihak maje l i s

sengke t a l embaga Arb i t e r

gu

arb i t r a s e , dan te l a h

para

memer i k sa ada lah :

sengke ta

Arb i t e r

mana anta r a

a. Fred

ah

ub lik
sebaga i d ip i l i h Per t am ina dan EP ;

am

ah k

ep

b. Dr .

Abdur r a sy i d Arb i t e r o leh yang PT

Pet r o l e um ; c. Pro f . sebaga i yang

Michae l

Arb i t e r d ip i l i h

masing - masing ;

Bahwa te l a h

sengke ta d ipe r i k s a

anta r a dan

Pemohon d ipu t u s da lam

dan o leh

Termohon Maje l i s

ah

sebaga imana Award ) No. ICC

te r t u a ng

Putusan of

lik
Sebag ian September putusan
46 dar i

14387 / JB / JEM Akh i r

te r t a n gga l Award )

ub
22 of

In t e r n a t i o n a l

Cour t

Arb i t r a t i o n

ka

Putusan

( Fina l

ICC In t e r n a t i o n a l

Arb i t r a t i o n

Case No. 14387 / JB / JEM te r t a n gga l sesua i

ep

ah

2009 yang d ipu t u s kan dar i ICC

dengan Pera t u r a n

In t e r n a t i o n a l te r s ebu t

Cour t

Arb i t r a t i o n

putusan

ada l ah

merupakan kami

arb i t r a s e j awaban

ng

in te r nas i ona l

sebaga imana

ura i k an

da lam

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 46

es

In do ne si
Li r i k Pry i e s Ketua o leh Arb i t e r te r s ebu t Arb i t r a s e ( Par t i a l Case dan of 2008 Cour t 27 Februa r i Arb i t r a s e d imana

gu ng

In do ne si a
penye l e sa i a n mela l u i ya i t u te l a h menunjuk Arb i t e r yang la i n B. G. Tumbuan yang PT Arb i t e r o leh (Pe rse r o ) Per t am ina PT. H. Pr i y a t n a sebaga i d ip i l i h

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
mengiku t i

b
te r hadap pokok perka r a T- 2) ; Bahwa se l an j u t n y a (Buk t i T- 1 dan Bukt i karena

putusan

te r s ebu t

d ibua t

Arb i t r a s e p ihak

yang d i susun berdasa r kan te l a h

kesepaka t an

dan

prosedu r

gu

te r dapa t

pera t u r a n

perundang - undangan te r sebu t ada lah

yang

maka putusan dan mempunya i

arb i t r a s e kekua t an

hukum te t a p

dan

para p ihak sesua i

dengan Pasa l

60 Undang- undang Nomor 30 Penye l e sa i a n

Tahun 1999 Tentang Arb i t r a s e Sengke ta yang mengatu r ; Pu t usan Arb i t r a s e hukum te t a p dan

dan Al t e r n a t i f

ah

bers i f a t mengika t

ub lik
f ina l para p ihak , te r sebu t ; da lam 1999 yang para p ihak pu tusan : yang putusan yang

dan mempunya i o leh

am

para p ihak da lam perka r a

harus tunduk dan taa t

te r hadap kepu tusan te r s ebu t Bahwa karena Pemohon

ah k

ep

permohonannya

mendasarkan Pasa l ber i k u t Terhadap 70 :

pada a lasan - a lasan

sebaga imana d ia t u r berbuny i

putusan

arb i t r a s e

dapa t

permohonan

pembata l a n

apab i l a

te r s ebu t

mengandung unsur - unsu r sebaga i ber i k u t a. sura t atau dokumen se te l a h

d ia j u k an

pemer i k saan , d iaku i

pa l su atau d inya t a kan pa l su ; putusan d iamb i l menentukan ,

b. se te l a h bers i f a t

d i t emukan dokumen yang

ah

para l awan , atau c. putusan d iamb i l d i l a k u kan o leh dar i

ub
sa l ah t i dak Pusa t

has i l

lik
t i pu sa tu dapa t
47 dar i

d i sembuny i k an

musl i h a t p ihak

ka

pemer i k saan sengke ta ; Maka pu tusan arb i t r a s e te r s ebu t Bahwa karena kepu tu san Neger i

ep
te r sebu t Jaka r t a

t i d a k dapa t d iba t a l k a n ; d iba t a l k a n menjad i ICC

ah

maka Pengad i l a n t i dak

te r s ebu t

berwenang

untuk

membata l k an

Putusan

ng

In t e r n a t i o n a l

Cour t

of Arb i t r a t i o n

Case No. 14387 / JB / JEM

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 47

es

In do ne si
menga jukan d iduga da lam d i j a t u h kan , o leh yang da lam

UU No.

30

Tahun

gu ng

In do ne si a
o leh Maje l i s dan para t i dak dan /a t a u d i l a n gga r , f i na l bers i f a t mengika t bag i kekua tan karenanya t idak da lam sebaga i

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
2009 j o .

b
tangga l 27 Februa r i tangga l 22 September 2008 ; Bahwa Pasa l 1 angka 9 UU Arb i t r a s e menetapkan bahwa : Putusan arb i t r a s e o leh di i n t e r n a s i o na l l embaga ada l ah putusan atau

d i j a t u h kan

sua tu l ua r sua tu

arb i t r a s e

pero r angan

wi l a yah l embaga

hukum Repub l i k arb i t r a s e

gu

atau

putusan

pero r angan Indones i a

yang d ianggap ; ba tasan

menuru t sebaga i

ke ten t u an sua tu

hukum pu tusan

in te r nas i ona l Berdasa r kan kr i t e r i a putusan

da l am Pasa l untuk

angka

ah

al te r na t i f arb i t r a s e :

ub lik
menentukan sebaga i o leh di pero rangan atau l embaga menuru t sebaga i ; di atas apa un tuk Repub l i k l embaga kewenangan hukum d ianggap in te r nas i ona l . No. 30 Tahun pengakuan dan

d igo l o ngkan

putusan

am

in te r nas i ona l

1) Putusan arb i t r a s e arb i t r a s e atau

yang d i j a t u h kan

Arb i t e r

ah k

hukum Repub l i k 2) Putusan Arb i t e r Repub l i k

Indones i a ,

arb i t r a s e

ep

sua tu yang

Indones i a

d ianggap

sua tu

arb i t r a s e i n t e r n a s i o n a l (2 )

Mengacu pada angka per t an yaan bahwa

te r s ebu t atau

l an t a s yang

s iapa

undang- undang bahwa

memunya i ke ten t u an

menuru t

putusan arb i t r a s e

arb i t r a s e

te r s ebu t

sua tu

ah

berwenang

menangan i

masalah

Jaka r t a

Pusat .

ka

Oleh karena Putusan Arb i t r a s e Pengad i l a n Jaka r t a ya i t u Pusat

ub
Neger i

putusan arb i t r a s e

i n t e r n a s i o na l

ada l ah Pengad i l a n

lik
Putusan
48 dar i

Berdasa r kan

Pasa l

65 ,

UU

a quo te l a h

ah

sebaga i

ep

pu tusan

arb i t r a s e

in te r nas i ona l , Arb i t r a s e

berdasa r kan

Akte

Penda f t a r a n

In t e r n a s i o n a l te r t a n gga l

Nomor

02/PDT/ARB- INT /2009 /PN . JKT .PST. (Buk t i T- 3) maka berdasa r kan

ng

21 Apr i l

2009

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 48

es

In do ne si
putusan t imbu l menuru t menafs i r k a n Indones i a , putusan 1999 : Yang pe l aksanaan Neger i d ida f t a r o leh

pero rangan

ke ten t uan

gu ng

In do ne si a
yang Arb i t e r Indones i a , Arb i t e r atau Repub l i k arb i t r a s e (9 ) , ada dua apakah sua tu arb i t r a s e sua tu l ua r l embaga wi l a yah arb i t r a s e atau hukum

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
da lam

b
Pasa l 68, angka (1 ) UU No. 30 Tahun 1999 yang berbuny i : Neger i 66 Jaka r t a Te rhadap putusan Ketua Pengad i l a n sebaga imana mengaku i d imaksud Pasa l

dan

melaksanakan t i dak dapa t

pu tusan d ia j u kan

in te r nas i ona l ,

gu

kasas i .

Berdasa r kan arb i t r a s e a quo t i d a k mut l a k dar i

ha l - ha l

te r s ebu t

di

atas

in te r nas i ona l

dapa t d iba t a l k a n karena merupakan kewenangan pada Pengad i l a n Neger i Jaka r t a Pusa t .

ah

2. KEWENANGAN RELATIF

Adapun fak t a - fak t a pendukung ada l ah sebaga i ber i k u t : Bahwa Pemohon da lam guga tannya te l a h menga jukan Cour t of

am

permohonan pembata l a n Putusan ICC In t e r n a t i o n a l Arb i t r a t i o n Case No. 14387 / JB / JEM tangga l 27

ub lik
di Pasa l domis i l i hukum Jaka r t a an ta r a bahwa putusan domest i k ,

ah k

2009 Jo . tangga l PT LIR IK

22 September 2008 dengan p ihak Termohon Gedung Satmar i n do Jaka r t a 12560 .

PETROLEUM yang bera l ama t

Bahwa sesua i permohonan seharusnya d imana ada lah

dengan ke ten t u an

118 HIR menya takan

d ia j u kan

di

tempa t

hukum Termohon di atas

berdasa r kan Jaka r t a

domis i l i Sela t a n ,

Termohon

di

maka seharusnya

d ia j u k an kepada Pengad i l a n Neger i Bahwa t i n d a kan sesua i a n kes impu l an dar i

Sela t an .

Pemohon te r s ebu t ,

te r dapa t

ah

d imana Pemohon berkes impu l an quo ada l ah putusan arb i t r a s e

lik
di Pusa t .
49 dar i

Pemohon dengan proses

hukum yang

permohonan d ia j u k an kepada PN. Jaka r t a apab i l a ada lah

ub
nas i ona l , dar i

ka

Pemohon menyatakan bahwa pu tusan arb i t r a s e pu tusan arb i t r a s e

ep

maka Neger i Termohon , Neger i

ah

menga jukan Sela t a n , menga jukan Pusat .

permohonannya sesua i dengan

ke

Pengad i l a n

domis i l i

permohonan

kepada

Pengad i l a n

Jaka r t a

ng

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 49

es

In do ne si
permohonan ke t i d a k d i l a k u kan , a arb i t r a s e sis i la i n Seharusnya a quo Pemohon Jaka r t a bukan

Ja l an Ampera Raya No.5 , Ci l andak Timur ,

gu ng

ep

In do ne si a
Pusa t huru f d, yang arb i t r a s e band i ng atau maka pu tusan Februa r i

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
27

b
3. PERMOHONAN PEMOHON SALAH SUBYEK ( ERROR IN PERSONA ). Bahwa adapun fak t a - fak t a hukum yang mendukung ada lah : Bahwa kepu tusan Case ICC In t e r n a t i o n a l No. Februa r i 2008 yang d ibua t 2009 Cour t of

14387 / JB / JEM

tangga l

gu

September ada lah

kepu tusan

berdasa r kan

d imana para Arb i t e r n y a ada lah Fred B. G. Tumbuan, Dr . H. Pr i y a t n a Abdur r a s y i d , Bahwa Maje l i s maka pada tangga l kuasanya Ja l an 14 Apr i l se te l a h dan Pro f . Fina l Michae l Award Pry t e s .

mendapa t

(Kepu tu san

ah

am

pada Ani t a

Kolopak i n g

ub lik
Arb i t r a s e , 2009 Arb i t e r & Par t ne r s putusan ha l Pusat , arb i t r a s e Pengad i l a n di atas , arb i t r a s e a penar i k a n Termohon

te l a h member i kan bera l ama t di

RSPP No. 5 Kompleks RSPP, Ci l andak Bara t , untuk Neger i mendaf t a r k a n Jaka r t a

Sela t a n Pengad i l a n

ah k

ep

mana sesua i

Pasa l 67 aya t (1 ) yang mengatu r : "pe rmohonan pe laksanaan d i l a k u kan

se te l a h pu tusan te r s ebu t Arb i t e r

d i se r ah kan dan d ida f t a r k a n o leh

atau kuasanya kepada Pani t e r a Pusat " .

Neger i

Berdasa r kan menga jukan penda f t a r a n Arb i t e r

ha l

te r s ebu t

maka sebena rnya

te r h adap

putusan

ah

Termohon , Li r i k karena Arb i t e r

o leh

karenanya sebaga i yang

lik
Pemohon ada l ah
50 dar i

mela l u i

Kuasanya da lam sengke t a

te r s ebu t ,

seharusnya perka r a

menjad i

ub

Pet r o l e um

sa l ah

Termohon ada l ah

ka

a quo .

Oleh karenanya ,

permohonan dar i

Pemohon t i d a k dapa t d i t e r i ma .

ah

4. PERMOHONAN PEMOHON KURANG PIHAK.

Bahwa adapun fak t a - fak t a hukum yang mendukung ada lah : Bahwa sebaga imana te l a h d i j e l a s k an da lam ura i a n mengena i di atas , apab i l a memang

ep

ng

er ro r

in

persona

te r s ebu t

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 50

es

In do ne si
Jaka r t a yang quo ada lah bukan PT agar subyek , Maje l i s

putusan

gu ng

In do ne si a
Arb i t r a t i o n Jo . tangga l 22 ICC Rules , Akh i r ) Jaka r t a di te r s ebu t dengan i n t e r n a s i o na l

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
sebaga i

b
Termohon t i dak l ah menjad i putusan a quo harus cukup p ihak , di ta r i k sa l ah dan sa tu p ihak , maka yang

apab i l a

Termohon j uga

Pemohon sa j a

mela i n kan

Arb i t e r

yang mendaf t a r k a n

harus

dan

se t i d a k - t i d a kn ya kewa j i b a n

menjad i

gu

permohonan

Pemohon karena Arb i t e r . ura i a n

penda f t a r a n

kewa j i b an dar i Berdasa r kan d ia j u k an te r k a i t

te r s ebu t ,

permohonan

Pemohon pembata l a n Case

Keputusan ICC In t e r n a t i o n a l No. 14387 / JB / JEM tangga l

ah

Arb i t r a t i o n 2009 j o . Jaka r t a

ub lik
hukum yang dasa r 2008 sya ra t yang d ibena r kan

tangga l

22 September 2008 d i

Pengad i i a n

am

Pusat te r s ebu t

ada lah kurang p ihak .

5. PERMOHONAN PEMOHON DIAJUKAN SECARA PREMATUR. Bahwa adapun fak t a - fak t a mendukung ada lah

ah k

sebaga i ber i k u t :

A. Bahwa Pemohon da lam permohonannya bahwa

ep

pembata l a n

kepu tusan Arb i t r a t i o n

ICC In t e r n a t i o n a l Case 27 Februa r i

of

No.14387 / JB / JEM tangga l tangga l 22 September

ada l ah

ber t e n t a ngan

dengan ke te r t i b a n

umum (angka

ha l aman 15 permohonan Pemohon) . dar i Pemohon te r sebu t

Bahwa da l i l karena permohonan

ada l ah t i d a k

ah

undang ada lah te l a h seca ra tegas d ia t u r

Terhadap putusan arb i t r a s e para p ihak dapa t menga jukan permohonan pembata l a n unsu r - unsu r sebaga i ber i k u t : a. sura t apab i l a

ka

ep

putusan te r sebu t

ah

ub

UU No. 30 Tahun 1999 yang berbuny i :

lik
d iaku i
51 dar i

pembata l a n

da lam Pasa l 70

d iduga mengandung

atau dokumen yang d ia j u k an da lam pemer i k saan , putusan d i j a t u h kan , pa l su atau

ng

se te l a h

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 51

es

In do ne si
Cour t 2009 j o . karena 2 benar , o leh undang-

gu ng

In do ne si a
p ihak da lam ada l ah yang te l a h Cour t of 27 Februa r i Neger i menyatakan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
d iamb i l

b
d inya t a kan pa l su ; b. se te l a h bers i f a t

pu tusan

d i t emukan

menentukan ,

yang d i sembuny i k an

l awan ; atau d iamb i l o leh dar i sa l ah has i l sa tu t i pu

c. putusan

gu

d i l a k u kan sengke t a .

p ihak

da lam pemer i k s aan

Bahwa sya ra t

t i d a k ber t e n t a ngan dengan ke te r t i b a n umum c Undang- undang No. untuk

ada lah meru j u k pada Pasa l 60 huru f 30 Tahun 1999 ya i t u melakukan arb i t r a s e dar i

merupakan sa l ah sa tu sya ra t

ah

per l awanan in te r nas i ona l

ub lik
atas dan bukan hanya Indones i a , i n t e r n a s i o na l a hanya dapa t pada putusan tahap mela i n kan dan baru

pe la ksanaan merupakan

am

pada pembata l a n putusan arb i t r a s e i n t e r n a s i o n a l . c berbuny i :

Pasa l 66 huru f Putusan dapa t wi l a yah hukum

arb i t r a s e

i n t e r n a s i o na l

ah k

ep

d i l a k s anakan

Repub l i k

apab i l a

c.

Putusan

arb i t r a s e

d imaksudkan da lam huru f di Indones i a te r ba t a s

ber t en t a ngan dengan ke te r t i b a n umum. karena putusan pada arb l t r a s e

Bahwa be lum

in te r nas i ona l

pe laksanaan penye rahan

kepu tusan ,

ah

UU Arb i t r a s e , Pe rmohonan in te r nas i ona l

yang berbuny i : pe laksanaan d i l a k u kan

ub
se te l a h

pu tusan

lik
pu tusan Jaka r t a
52 dar i

penda f t a r a n sebaga imana d ia t u r

da lam Pasa l 67 aya t (1 )

ka

d i se r ah kan dan d ida f t a r k a n kepada Pani t e r a Maka da l i l

o leh Arb i t e r

atau kuasanya Pusa t .

Pengad i l a n Neger i

ah

Pemohon bahwa putusan

ep

a quo ber t e n t a ngan

dengan ke te r t i b a n umum ada lah prematu r . B. Bahwa a lasan permohonan al i nea pembata l a n te l a h Umum

ng

memenuh i

sya ra t

ke 18 Pen je l a san

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 52

es

In do ne si
sebaga imana d i l a k s anakan yang t i dak a quo pada tahap arb i t r a s e te r s ebu t

sya ra t - sya ra t

gu ng

sebaga i ber i k u t :

In do ne si a
dokumen o leh yang p ihak musl i h a t yang pu tusan sya ra t d iaku i ser t a di memenuhi

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
70 UU

b
jo . Pasa l No. 30 /1999 (v i d e h. 12 permohonan) ada lah t i d a k benar . Pasa l 70 berbuny i Te rhadap : arb i t r a s e para

putusan

menga jukan

gu

permohonan pembata l a n mengandung

apab i l a

pu tusan te r s ebu t

unsu r - unsu r sebaga i ber i k u t Dengan demik i a n sebaga i pada Pasa l 70 seca ra

(bukan anta r a l a i n ) penggunaan

gramat i k a l ber i k u t te r s ebu t

ah

ub lik
te r t u t u p dapa t t i dak No. 30 Tahun te r dapa t yang an ta r a Pasa l 70 dan 70 Pasa l 70 dan kewenangan

d ia r t i k a n / d i t a f s i r k a n -

seca ra :

am

L im i t a t i f Bers i f a t atau

dan enumera t i f dan eksk l u s i f te t a p i dan

d ipe r l u a s

ah k

ep

bers i f a t

al te rna t i f

akumula t i f . UU 1999 te r s ebu t

te r n ya t a kesa l ahan

redaks i o na l pena f s i r a n pada

mengak iba t k an penggunaan

perbedaan sebaga i

ber i k u t

ka l ima t

l a i n pada

Penje l a s an

Umum Pasa l ada lah te t a p

te r s ebu t

ten t u n ya yang ber l a ku sebaga i an t a r a ber i k u t la i n

penggunaan ka l ima t bukan

pada

pada Pen je l a s annya , merupakan

karena un tuk merubah

ah

Mahkamah Kons t i t u s i . Namun demik i a n arb i t r a s e dapa t sya ra t di seanda i n ya l ua r yang

ub
d i sebu t

a lasan

lik
Pasa l yang dapa t j uga yang
53 dar i

undang- undang

mut l a k

pembata l a n 70

ka

d imungk i n kan , pembata l a n

maka a lasan

ep
ada lah kepas t i a n dan

se l a i n hukum,

t i dak karena

ah

ber t en t a ngan arb i t r a s e te t a p dan

dengan

ada lah

f ina l

mempunya i

kekua t an harus d ia t u r

mengika t

para

p ihak

te l a h da l am

ng

memenuh i

persya r a t a n

sepe r t i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 53

es

In do ne si
adanya ka l ima t an ta r a maka ka l ima t dar i pada putusan te r s ebu t di j ad i k an bo leh pu tusan hukum

Sedangkan

apab i l a

gu ng

In do ne si a
p ihak dapa t d iduga : ka l ima t hanya dapa t

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Pasa l d i sebu t dahu l u atau dapa t

b
Penje l a san Pasa l 70 UU No.30 /1999 ya i t u Bahwa da lam Penje l a san :

70 UU No. 30 Tahun 1999

d inya t a kan dengan tegas bahwa a lasan - a lasan permohonan pembata l a n d ibuk t i k a n

yang

da lam

pasa l

te r l e b i h

dengan pu tusan

gu

dan apab i l a te r s ebu t pengad i l a n

pengad i l a n

menyatakan bahwa a lasan - a lasan t idak te r bu k t i ,

te r b uk t i in i

d igunakan

per t imbangan bag i Hakim un tuk mengabu l kan atau menolak permohonan .

ah

Bahwa o leh karena a lasan - a lasan atau da l i l - da l i l di j ad i k an sya ra t

ub lik
sesua i No. 30 Tahun t idak je l a s pu tusan ben tuk a lasan d ia t u r da lam sua tu ka rena da lam Pasa l

am

pembata l a n be lum d ibuk t i k a n dengan putusan pengad i l a n , maka ke ten t u an prematu r . Pasa l 70

UU

ah k

C. Permohonan ( excep t i e 1. Permohonan da lam

ep

Pemohon

pembata l a n

arb i t r a s e

guga tan , Bahwa

bukan permohonan ( vo l un t a i r ) . dengan

sesua i

pembata l a n

arb i t r a s e

sebaga imana Arb i t r a s e , ada lah

te l a h

Pasa l

maka pembata l a n d idasa r kan

putusan adanya

ah

karenanya guga tan ,

ben tuk

permohonan

lik
Putusan
54 dar i

sebaga imana te r dapa t

70 d imaksud ,

pembata l a nnya

Bahwa pendapa t Tekn i s Admin i s t r a s i 2007 , 176 ,

te r s ebu t

ub

bukan permohonan .

j uga sesua i

dengan Pedoman

ka

dan Tekn i s

ep

Perad i l a n ,

Buku I I ,

ah

Mahkamah Agung RI .

Bab VI Arb i t r a s e ,

Poin

c ten t a ng

Pembata l a n

angka 3 d ia t u r : "pe rmohonan

ng

pembata l a n

putusan

arb i t r a s e

harus

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 54

es

In do ne si
ada l ah putusan 70 UU arb i t r a s e sengke ta o leh ada l ah Edis i Halaman Arb i t r a s e ,

obscuu r l i b e l ) .

gu ng

In do ne si a
in i harus pengad i l a n maka putusan dasa r sebaga i yang 1999 ada lah dan kabur

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
(bukan a lasan

b
d ia j u k an ben tuk da lam

guga tan

vo l un t a i r )

dan

o leh Hak im" :

Bahwa

berdasa r kan

te r sebu t

permohonan

Pemohon

yang

mengajukan

gu

putusan Arb i t r a s e tekn i s dar i perad i l a n ,

ada l ah ke l i r u yang

dan te l a h

mengak i ba t k an

Pemohon te r sebu t te r dapa t

ada l ah t i d a k j e l a s . dar i

2.

Bahwa

da l i l - da l l l

ber t en t a ngan atau se t i d a k - t i d a kn ya t i d a k t i dak se l a r a s , sebaga imana

ah

te r s ebu t

d i atas ,

an ta r a l a i n :

am

a. Pemohon

menya takan Cour t

ub lik
te r dapa t bahwa of 27 Februa r i ada lah arb i t r a s e Pemohon yang te l a h apab i l a ada lah

Keputusan Case

In t e r n a t i o n a l

Arb i t r a t i o n

14387 / JB / JEM tangga l 22 September :

2009 j o .

ah k

ep

2008

putusan

domest i k padaha l

(angka 1 ha laman 6 permohonan Pemohon) , da lam UU No. UU No 30 Tahun 1999 ten t a ng dan Al t e r n a t i f putusan Penye l e sa i a n Sengke ta

Arb i t r a s e t i dak

d i kena l

domest i k , te r s ebu t d ia t u r

karenanya

pernya t aan dar i ha l

menyimpang Arb i t r a s e .

b. Pemohon mendaf t a r k an Neger i Jaka r t a Pusa t , a maka padaha l quo

permohonannya d i

Pemohon menganggap putusan arb i t r a s e mengajukan Pengad i l a n ya i t u di

ah

nas i ona l , permohonan Neger i

Pemohon

seharusnya te r s ebu t di

d imana Neger i

domis i l i Jaka r t a

ka

Pengad i l a n

ub
yang

pembata l a n

Sela t a n .

pernya t aan Pemohon t i d a k sesua i dengan proses hukum

ep

lik
Termohon d i l a k u kan ,
55 dar i

kepu tusan

Oleh karenanya

an ta r a kes impu l an seh i ngga

ah

permohonan Pemohon ada lah kabur . c . Pemohon menya takan bahwa putusan arb i t r a s e a quo

ng

ada lah

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 55

es

In do ne si
o leh ada l ah da lam UU Pengad i l a n

gu ng

In do ne si a
d i s i d a ngkan di atas , maka pembata l a n menya lah i permohonan Pemohon yang sesua i dan da lam ekseps i ICC No. tangga l arb i t r a s e

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
ke te r t i b a n

b
melangga r menuru t hukum sebaga i UU te r hadap sya ra t yang Arb i t r a s e

mengika t

pe laksanaan

arb i t r a s e in te r nas i ona l , Pemohon ten t a ng padaha l per i h a l ada l ah pembata l a n putusan

dar i

Arb i t r a s e

14387 / JB / JEM tangga l 2008 sya ra t n ya da lam Arb i t r a s e . seca ra Pasa l Oleh je l as 27 Februa r i 2009 j o . yang dan

tangga l

ah

ub lik
tegas 70 karenanya dan kabur . Putusan JKT.PST. : dan ; yang t imbu l ; Putusan No. tangga l

am

permohonan

ada lah t i d a k j e l a s Bahwa te r hadap Jaka r t a Pusat

permohonan te r s ebu t

Pengad i l a n Sela

ah k

te l a h

ep

mengambi l

01/PEMBATALAN ARBITRASE/2009 /PN.

tangga l

Menolak ekseps i Memer in t a h kan

Termohon un tuk se l u r uhnya ; Pemohon in i

para

Termohon

melan j u t k a n perka r a Menangguhkan b iaya in i

perka r a

da lam perka ra

sampai dengan pu tusan akh i r

Bahwa te r hadap Pusa t

permohonan te r s ebu t mengambi l PST. :

Pengad i l a n

Jaka r t a

te l a h

ARBITRASE/2009 /PN .JKT . amarnya sebaga i ber i k u t Dalam Prov i s i Menolak :

3 September

ah

se l u r u hnya ; Dalam Ekseps i :

ka

Menolak ekseps i

Termohon un tuk se l u r uhnya ;

ah

Dalam Pokok Perka ra : -

Menolak permohonan para Pemohon untuk se l u r uhnya ; Menghukum t imbu l para Pemohon in i untuk yang membayar h ingga b iaya yang

ep

ub

permohonan

prov i s i

para

lik
k in i
56 dar i

Pemohon

ng

da lam

perka ra

d ih i t u n g

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 56

es

In do ne si
untuk Neger i 01/PEMBATALAN 2009 yang untuk

2009 yang amarnya sebaga i ber i k u t

gu ng

In do ne si a
putusan permohonan Case No. 22 September te l a h UU Pemohon d ia t u r Neger i No. 23 Ju l i

gu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
(dua

b
sebesa r rup i a h ) Rp.221 .000 , ; ra t u s dua pu luh sa tu r ibu Menimbang , bahwa amar putusan (band i ng ) Rl No.

904 K/Pd t .

Sus/2009 ,

tangga l

9 Jun i

2010 ,

gu

berkekua t an hukum te t a p te r s ebu t

ada l ah sebaga i ber i k u t :

Mener ima permohonan band i ng dar i

Pemohon Band ing I :

PERTAMINA EP dan Pemohon Band ing I I : te r s ebu t ;

PT PERTAMINA (PERSERO)

Menguatkan pu tusan Pengad i l a n Neger i PEMBATALAN

Jaka r t a

ah

01/

ARBITRASE/2009 /PN .JKT .PST.

ub lik
Band ing / p a r a band i ng ; ya i t u 9 Jun i II dan Pemohon Band ing masing - masing 17 Desember 16 Desember pada tangga l ak ta

September 2009 ; Menghukum membayar b iaya para

am

Pemohon

perka r a

da lam t i n g ka t

Rp. 500 .000 , -

( l i ma ra t u s r i b u rup i a h )

ah k

Menimbang ,

bahwa sesudah putusan yang te l a h

ep

kekua tan hukum te t a p te r s ebu t , No. 904 K/Pd t . Sus / kepada Pemohon

pu tusan Mahkamah Agung 2010 d ibe r i t a h u kan Pemohon

Band ing

I / Pemohon

I I / P emohon I tangga l

masing - masing pada tangga l 2010 , II kemudian dan

8 Oktobe r

1 Oktobe r

te r h adapnya o leh

Band ing dengan sura t

I /Pemohon

peran t a r a an

kuasanya , tangga l

kuasa

khusus

2010 ,

351 /EP0000 /2010 - S0 dan tangga l 205 /C00000 / 2010 - S0, seca ra l i san d ia j u k an

2010 ,

permohonan pen i n j a uan

ah

sebaga imana kembal i No.

te r n ya t a

dar i

permohonan

lik
Pusa t ,
57 dar i

masing - masing

20 Desember

01/P /Pembata l a n o leh Pan i t e r a

Arb i t r a s e / 2 009 /PN . JKT .PST . , Pengad i l a n Neger i Jaka r t a

ub
di

32/SRT.PDT.PK/2010 /

PN.JKT.PST

ka

mana d i se r t a i a lasan - a lasan Neger i te r s ebu t

dengan memor i yang

ep

pen in j a u an kembal i Kepan i t e r a an

ah

d i t e r i ma

pada har i itu

itu

j uga ;

Bahwa se te l a h pada tangga l 26

o leh Termohon Band ing / Te rmohon yang 2011 te l a h d ibe r i t a h u ten t a ng

ng

Januar i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 57

es

In do ne si
Band ing 2010 dan Pemohon I I I / P emohon berdasa r kan No. SKNo. SKkembal i 2010 pen i n j a uan jo . No. d ibua t yang permohonan yang memuat Pengad i l a n

2009 ,

tangga l

gu ng

In do ne si a
Mahkamah Agung yang te l a h PT Pusat No. tangga l 3 Pemohon in i un tuk sebesa r mempunya i

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dar i

b
memor i dahu l u pen in j a uan Pemohon I I kembal i Pemohon Band ing d ia j u kan I dan II

dan Pemohon I ,

pen in j a u an kembal i Neger i

yang d i t e r i ma d i Kepan i t e r a a n Pengad i l a n 23 Februa r i 2011 ;

Sumedang pada tangga l

Menimbang ,

bahwa permohonan pen i n j a u an te l a h

gu

bese r t a l awan

a lasan - a lasannya seksama,

d ibe r i t a h u kan da lam

dengan

d ia j u k an

tenggang

dengan cara yang d i t e n t u k an da lam undang- undang , karena itu permohonan pen i n j a uan kembal i

dapa t d i t e r i ma ; Menimbang , bahwa a lasan - a lasan yang

ah

ub lik
a quo dar i : No. 30 tahun UU Arb i t r a s e ) Putusan Arb i t r a s e Dibua t a quo , da lam ha l dan merupakan t i dak

Pemohon Pen in j a uan Kembal i te r s ebu t

da l am memor i

pen in j a u an kembal i

am

pada pokoknya i a l a h : fak t a - fak t a

Berdasa r bawah in i

yur i d i s

yang akan d i kemukakan d i mengandung beberapa

te r n ya t a

putusan

ah k

kekh i l a f a n / k e ke l i r u a n nya ta yang te r d i r i

1. Putusan A quo Melangga r / Be r t e n t a n gan dengan Pasa l 1.9 Undang- Undang dan

ep

Arb i t r a s e

Al t e r n a t i f

Penye l e sa i a n

(se l a n j u t n y a d i sebu t Mengkatego r i k a n 14387 / JB / JEM

Arb i t r a s e ICC )

( Pu t u san

Putusan Arb i t r a s e In t e r n a s i o n a l Di l a ku kan dan Putusan

Padaha l Arb i t r a s e di Jaka r t a ,

Indones i a . 90 putusan te l a h

Pada ha laman band i ng / k a sas i putusan

ah

Arb i t r a s e

ICC

lik
putusan dengan
58 dar i

menyatakan

berpendapa t

pa l i n g

l ama

30

har i

sudah

ub
harus pu tusan

in te r nas i ona l ,

seh i ngga

te r i k a t

dengan

d ida f t a r k a n

ka

Pengad i l a n Neger i Per t imbangan sepenuhnya dan sama

berdasa r kan Pasa l 1.9 UU Arb i t r a s e ; pendapa t dan

ep

band ing / k a sas i pu tusan

ah

sependapa t

sebaga imana yang te r can t um d i da lam ha l aman 79; Pendapa t kekh i l a f a n dan per t imbangan in i nya ta - nya ta mengandung

ng

atau keke l i r u a n nya ta berdasa r kan fak t a - fak t a

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 58

es

In do ne si
Sengke ta karena Telah No. Sebaga i in i pu tusan bahwa arb i t r a s e waktu pada in i PN

gu ng

In do ne si a
j awaban memor i kemba l i a quo p ihak kepada waktu dan maka o leh fo rma l te r s ebu t d ia j u k an o leh 1999 ten t a ng

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
yur i d i s 1.1 Pasa l ber i k u t : 1.9

UU Arb i t r a s e un tuk

dengan

tegas

te r o t i r i a l

menentukan

ka tego r i

arb i t r a s e yang d i j a t u h kan o leh meje l i s Pasa l 1.9 berbuny i sebaga i ber i k u t : in te r nas i ona l

gu

Pu tu san arb i t r a s e

ada lah

d i j a t u h kan o leh sua tu pero rangan d i atau putusan l ua r sua tu

l embaga arb i t r a s e

wi l a yah hukum repub l i k l embaga arb i t r a s e

pero rangan Indones i a

yang

menuru t sebaga i

ke ten t u an sua tu

ah

d ianggap

ub lik
putusan d iamb i l Indones i a , d i ka t e go r i proses pemer i k saan dan d ibua t di sebaga i Pasa l 1.9 sebaga i putusan o leh d i sebu t

putusan

i n t e r n a s i o na l ; Berdasa r ha l i n i , un tuk menentukan

am

dengan tegas d ianu t ka tego r i

arb i t r a s e

nas i ona l / d omes t i k Apab i l a wi l a yah arb i t r a s e pu tusan hukum

atau i n t e r n a s i o n a l : arb i t r a s e

ah k

ep

Repub l i k

arb i t r a s e nas i ona l

atau domest i k ;

Seba l i k n y a , arb i t r a s e

apab i l a

d i l a k u kan

hukum Repub l i k bersangku t an

Indones i a , d i ka t e go r i dan

kepu tusan arb i t r a s e pu tusan

in te r nas i ona l ; Berdasa r mengena l ser t a

ke ten t uan fak t o r

UU Arb i t r a s e bahasa ,

maupun e lemen Arb i t e r

ah

menentukan da l i l Kembal i yang

ka tego r i

lik
arb i t r a s e . Termohon Te rmohon un tuk Pemohon
59 dar i

kebangsaan

fak t o r

(se l a n j u t n y a o leh atas

ub
a quo , fak t o r

d i kemukakan

ka

d ibena r kan d i sebu t ka tego r i di

pu tusan

bahwa e lemen yang menentukan dan nya ta -

ah

pu tusan arb i t r a s e

ep

sebaga i

ada lah ke l i r u

nya ta ber t e n t a ngan dengan Pasa l 1.9 UU Arb i t r a s e ; Terka i t dengan da l i l di atas , PK ICC hendak t i dak

ng

membukt i k an

bahwa

putusan

arb i t r a s e

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 59

es

In do ne si
dan pu tusan wi l a yah l ua r yang arb i t r a s e t idak mata uang , un tuk Sehingga Pen in j a uan PK) yang

te r s ebu t

sebaga i

gu ng

In do ne si a
menganu t asas putusan arb i t r a s e . pu tusan yang atau arb i t e r Indones i a , arb i t e r atau hukum repub l i k arb i t r a s e asas te r i t o r i a l apakah atau d ibua t di maka putusan pu tusan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Par i s , Yves Dera i n s Dera i n s atau Pendapa t

b
d i j a t u h kan di Peranc i s seh i ngga te r dapa t kekh i l a f a n / k e k e l i r u a n Oleh hukum karena dar i itu ,

yang nya ta da lam putusan a quo . memin ta pendapa t

Pemohon PK te l a h yang

merupakan

sekre t a r i s

j ende ra l

ICC Rules ,

ser t a

gu

dar i

Rodman Bundy , d imana

yang merupakan advoka t orang - orang yang d imaksud kompeten

Peranc i s ,

pro f e s s i o n a l - pro f e s i o na l arb i t r a s e , Berdasa r kan 2010 as i ng dar i

te r u t ama arb i t r a s e pendapa t Yves hokum

ICC ;

te r t a n gga l 1) ,

ah

da lam proses

arb i t r a s e

ub lik
( l amp i r a n dan putusan pu tusan hukum i n i hukum dapa t Yves rece i v e to ar t i c l e an the Cour t i n vo l v e s The Par i s f r om the Thus ,

putusan

am

ICC t i d a k berhubungan dengan penen tuan apakah putusan arb i t r a s e ICC merupakan arb i t r a s e arb i t r a s e di l i h a t pada ( v ide

domest i k / n a s i o n a l i n t e r n a s i o na l . parag raph 35

ah k

pendapa t

ep

Parag ra f These

35:

two

ques t i o n

may

par t i e s

answer . French

In

France , Civ i l when

acco rd i n g

Code

Procedu re , it

arb i t r a t i o n

in t e r na t i o na l in t e r na t i o n s l spec i f i e d arb i t r a t i o n li t i ga t i on process the

t r a de . the

of

tha t

in te r na t i o na l

cha rac t e r sub j e c t

resu l t s

ah

tha t

is

in of

d i spu t e . the

lik
tha t and the in is to
60 dar i

and more par t i c u l a r l y

f r om the economica l e lement s such as of p lace the of

arb i t r a t o r s , arb i t r a t i o n whethe r an

the i r a re

res i d ence al l

ub
i r r e l e van t is the of which

na t i o n a l i t y

par t i e s ,

ka

arb i t r a t i o n charac t e r

ep

in te r na t i o na l ; arb i t r a t i o n

ah

in t e r na t i o na l f r om the

d i spu t e

as s take

economics of more than one coun t r y ;

ng

Ter j emahan parag ra f

35:

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 60

es

In do ne si
a common the is 1492 of in te res t s Appea l of of has the of the dete rm i n i n g the resu l t s the i n vo l v e

l amp i r a n 1) ;

gu ng

In do ne si a
mantan pendapa t di hukum Par i s , merupakan b idang di 14 Desember e lemen- e lemen arb i t r a s e Dera i n s

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
in i dapa t dengan Pengad i l a n bahwa

b
Dua per t a n yaan Peranc i s , mener ima Pasa l j awaban 1492 umum. Di Acara

sesua i

Perda t a Peranc i s , Suatu

arb i t r a s e te r s ebu t

d inya t a kan

in te r nas i ona l

arb i t r a s e

mel i b a t k a n kepen t i n gan perdagangan band i ng Par i s te l a h dar i

gu

i n t e r n a s i o na l . mengkhususkan arb i t r a s e proses

ka r a k t e r li t i gas i

in te r nas i ona l

berasa l

sub j e k

dan khususnya pada Jad i , e lemen-

ekonomi

da lam sua tu seper t i tempa t

sengke t a .

e lemen te r s ebu t para arb i t e r , t i dak

nas i ona l i t a s t i n gga l

dar i

ah

ub lik
mereka hubungan berasa l in i fak t a yang in i a quo sebaga i arb i t r a s e Pasa l 1.9 in i asas PK

arb i t r a s e apakah

memi l i k i

da lam

am

arb i t r a s e dar i

nerupakan

i n t e r n a s i o na l ;

i n t e r n a s i o na l d ipe rmasa l a hkan sa tu Negara ;

arb i t r a s e

yang

mel i ba t k a n

ekonomi

ah k

In casu , proses pemer i k saan dan putusan arb i t r a s e yang d ipe rmasa l a hkan da lam perka ra d iamb i l yakn i di di da lam wi l a yah Berdasa r

ep

hukum repub l i k

Jaka r t a .

per t imbangan arb i t r a s e

putusan

menjad i k an fak t o r ICC

yang

d i sepaka t i putusan

menentukan pu tusan dan

ka tego r i

arb i t r a s e

in te r nas i ona l dengan

nya ta - nya ta UU

ber t e n t a ngan

karena berdasa r in i ICC Rules ,

pasa l

yang d i sepaka t i ,

ah

menentukan ka tego r i atau i n t e r n a s i o na l asas te r i t o r i a l ; Pr i n s i p yang

putusan arb i t r a s e

ka

Pemohon ICC

ub
yang ada lah se j a l a n

te t a p i

semata - mata d idasa r kan pada

j e l a s k an

lik
di putusan
61 dar i

bukan menjad i

dan fak t o r

apakah domest i k

menyatakan menjad i arb i t r a s e

bahwa

ep

Rules

d i sepaka t i ka tego r i

ah

fak t o r yang

untuk

menentukan

d i j a t u h kan

i n t e r n a s i o na l ,

sesua i

dan

dengan

pendapa t

ng

hukum yang d i kemukakan o leh

Rodman Bundy te r t a n gga l

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 61

es

In do ne si
Indones i a pendapa t dan Rules untuk sebaga i ke l i r u Arb i t r a s e , da lam ha l untuk atas yang bukan putusan arb i t r a s e

gu ng

In do ne si a
Hukum apab i l a para p ihak , dan tempat penen tuan karak t e r yang dar i sengke ta l eb i h ICC d i l a k u kan dan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
it

b
19 November 2010 ( l amp i r a n 2) pada parag raph 15 (v i d e l amp i r a n 2) bahwa: Parag ra f In th i s 15:

connec t i o n ,

is

immate r i a l

arb i t r a t i o n

took p lace under the ausp i ce s of the ICC headquar t e r s in i Par i s , or tha t the

gu

which

has

its

Awards were rev i ewed by the Cour t si t t i ng in Par i s and de l i v e r e d

of ICC Arb i t r a t i o n

to the par t i e s

arb i t r a t i o n

by the ICC Secre t a r i a t . tasks in i every

The ICC per f o rms ICC Arb i t r a t i o n Par i s

these admin i s t r a t i v e in t o the

ah

a French arb i t r a t i o n p lace of

ub lik
or mean tha t The p lace of in i , bukan yang Par i s , bernaung atau di Arb i t r a s e dan member i kannya o leh in i j uga , arb i t r a s e tempat o leh yang bukan menjad i

arb i t r a t i o n .

am

rema ined Jaka r t a

th r o ughou t the proceed i n g s ; 15: ha l

Ter j emahan parag ra f Berka i t a n pen t i n g yang dengan bahwa

sua tu

ah k

arb i t r a s e pusa t

ep

berkan t o r o leh di

berkedudukan p ihak

Par i s

da lam

arb i t r a s e tugas

sek re t a r i a t

melaksanakan arb i t r a s e mengubah bera r t i

admin i s t r a t i v e

ICC .

Baga imanapun menjad i

ha l

arb i t r a s e

Peranc i s

Par i s

merupakan

arb i t r a s e .

arb i t r a s e sepan j ang arb i t r a s e i n i Pendapa t yang ha l yang sama d i kemukakan

te t a p d i Jaka r t a ; Yves

ah

in i

ICC

Rules , ka tego r i

lik
pendapa t sebaga i un tuk dar i
62 dar i

menyatakan

bahwa Rules

d i sepaka t i , fak t o r

d i j a t u h kan , dan

te t a p i

d idasa r kan

ub
Menuru t bukan berwenang

menentukan

putusan

arb i t r a s e

pada tempa t

ka

putusan ICC ICC

d ibua t . di Par i s

kedudukan arb i t r a s e pemer i k s aan sebaga i

ep

ah

t idak

dan

mengambi l

putusan ,

te t a p i asos i a s i

depar t emen admin i s t r a s i

swasta j uga

ng

kamar dagang i n t e r n a s i o n a l .

Selan j u t n y a ,

be l i a u

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 62

es

In do ne si
kepada para ICC . ICC di semua t i dak in i atau Tempat Dera i n s , da lam untuk yang arb i t r a s e be l i a u , karena fo r um melakukan hanya

d ipe r i k s a

Pengad i l a n

gu ng

In do ne si a
tha t the to the became arb i t r a t i o n hak yang ICC d ibawah bahwa pu tusan ICC yang

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
peran

b
menyatakan ada l ah mengawas i bahwa dan fungs i arb i t r a s e ICC hanya

untuk

mengatu r ,

menatausaha seca ra

pu tusan atas

dan ber t a nggung j awab putusan in i dapa t te r s ebu t di l i h a t

sepenuhnya arb i t r a s e .

Dal i l

da lam parag raph 8

gu

jo .

12 (v i d e l amp i r a n 1) bahwa: 8: the numerous is arb i t r a l the is

Parag ra f Amongst the most

ins t i t u t i o n s ,

famous

ICC In t e r n a t i o n a l a cou r t in

Arb i t r a t i o n ,

which

no t

ah

sense of the word but cons t i t u t e s of i.e . the In t e r n a t i o n a l arb i t r a t i o n of the Chamber body

ub lik
ra t he r of at t a ched es tab l i s h e d 1 st Ju l y France ; ins t i t u s i namun chamber ICC berdasa r kan

Commerce to

am

the

(a r t i c l e non- pro f i t

1.1

ICC Rules ) .

The ICC, in

assoc i a t i o n

ah k

gove rned by French Law (Law 0f assoc i a t i o n its agreement [ c o n t r a c t

ep

d assoc i a t i o n ] ,

Ter j emahan parag raph 8:

Di

an ta r a

sek i an

banyak

arb i t r a s e ,

sa tu yang pa l i n g te r k ena l In t e r n a s i o n a l da l am ICC ,

ada l ah Pengad i l a n

yang bukan merukanan pengad i l a n merupakan of

makna

sebena rnya ,

depar t emen ICC ) , (Pasa l ICC , tahun (Hukum

da lam

In t e r n a t i o n a l

ya i t u

badan arb i t r a s e 1.1

yang meleka t

Rules ) .

ah

1919 1

dan Ju l i

d ia t u r 1901

lik
per j a n j i a n has the
63 dar i

asos i a s i

swas ta

non- pro f i t

yang d id i r i k a n hukum

[ con t r a c t d i Par i s ,

d assoc i a t i o n s ] ) , Peranc i s ;

ub
Cour t It

da l am

memi l i k i

ka

Parag raph 12 : In add i t i o n , tha t no t

ah

ar t i c l e

the ICC In t e r n a t i o n a l i t se l f se t t l e

ep

1.2 of the ICC Rules undersco r e s of Arb i t r a t i o n does of

d i spu t e s .

func t i o n It

ng

ensu r i n g

the app l i c a t i o n

of these Rules .

draws up

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 63

es

In do ne si
sa l ah Arb i t r a s e sebuah Commerce di ICC pada Peranc i s asos i a s i pusa t kan to r

headquar t e r s

gu ng

i n Par i s ,

In do ne si a
dan hukum ada lah maje l i s one of Caur t of the prope r a depar tmen t ( I CC ) , the ICC a pr i v a t e 1919 and 1901 on the has

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Rules the of

b
its own In t e r n a l (Append i x II) . (emphas i s Cour t added) The ro l e

ICC In t e r b a t i o n a l

Arb i t r a t i o n them by

i s no t to the dec i de d i spu t e s and reso l v e arb i t r a t i o n supe rv i s e s award . It organ i z e s ,

an and

admin i s t e r s

arb i t r a t i o n

gu

where the arb i t r a t o r a s and l ega l l y fo rme r respons i b l e of the

are the autho r s fo r ICC it.

As ment i o ned by th r ee Cour t

members it

In t e r n a t i o n a l

Arb i t r a t i o n ,

i s no t

a j ud i c i a l

body . I t s

are not equ i va l e n t s ta t e [] ; cour t s . It

to those of arb i t r a l does no t i t se l f

ah

ub lik
In t e r n a s i o n a l menjamin te r s ebu t dar i Pengad i l a n sua tu menge lo l a ber t a nggung j awab Sebaga imana dar i te r s ebu t t i dak

se t t l e

am

Ter j emahan parag raph 12: Sebaga i tambahan , pasa l bahwa Pengad i l a n dengan send i r i n y a te r s ebu t Rules send i r i

1.2 ICC Rules menggar i s b awah i ICC t i d a k Pengad i l a n

Arb i t r a s e

ah k

ep

menye lesa i k an untuk

sengke t a .

ber f ungs i

In t e r n a l - Rules - nya (Tambahan I I ) . Peran

d i t ambahkan )

In t e r n a s i o n a l

ICC bukan un tuk memutuskan sengke ta dan mela l u i putusan arb i t r a s e .

menye lesa i k a nnya Pengad i l a n

te r s ebu t

mengatu r ,

prosedu r - prosedu r pember i atas t iga putusan

arb i t r a s e dan

d imana arb i t e r

putusan mantan

te r s ebu t . anggo ta ICC ,

d i j e l a s k an

ah

In t e r n a s i o n a l badan pu tusan

pengad i l a n Putusannya

lik
dengan atas , di
64 dar i

Pengad i l a n

maje l i s

arb i t r a s e

ub
atau t idak

yud i s i a l .

seca ta

pengad i l a n

ka

Pengad i l a n

te r s ebu t

menye lesa i k a n sengke ta [] ; Berdasa r kan kes impu l an membenarkan pu tusan pendapa t bahwa, da l i l

ep

ah

hukum d i

dapa t

per t imbangan

Mahkamah Agung

Termohon PK yang menyatakan ICC d i j a t u h kan Par i s

bahwa karena

ng

arb i t r a s e

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 64

es

In do ne si
(penekanan Arb i t r a s e dan mengawas i merupakan seca ra hukum o leh Arb i t r a s e sua tu dengan neger i . bukan send i r i n y a di ta r i k yang

te r sebu t .

Pengad i l a n

gu ng

In do ne si a
of proceed i n g s of the awards of dec i s i o n t r i b u na l s or d i spu t e s d i l a k sanakannya menggambarkan

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
arb i t r a s e o leh

b
dra f t putusan ICC d ipe r i k s a dan d i se t u j u i ICC te r l e b i h

dahu lu

Sekre t a r i a t

berkedudukan d i Par i s , 1.2 ICC

ada lah ke l i r u ; Arb i t r a s e

Merupakan

Bentuk

yang

berben t u k Campuran atau Hybr i d anta r a Permanen dan Ad

gu

Hoc .

Proses dar i

bera rb i t r a s e

sebaga imana

d i ke t a hu i

dua ben tuk ya i t u

ad hoc dan permanen . s ingka t

yang berben t u k sebaga i

ad hoc seca ra

sebuah arb i t r a s e

yang berben t u k t i d a k meru j u k Seba l i k n ya arb i t r a s e sebaga i

ah

pada l embaga arb i t r a s e yang berben t u k

permanen

ub lik
te r t e n t u . d ipahami In t e r n a t i o n a l 2 aya t (1 ) un i k . ICC Par i s . perka r a maje l i s da lam re l e van berwenang da lam

am

bera rb i t r a s e te r t e n t u , (BANI )

yang d i se l e sa i k a n o leh l embaga arb i t r a s e Badan Arb i t r a s e Singapo re Nas iona l Indones i a

seper t i

ataupun

ah k

Cente r ( SIAC) ; Bi l a

memperha t i k a n

ep

Pasa l

dan meru j u k pada

l embaga

arb i t r a s e

yang

dapa t

ben tuk arb i t r a s e

campuran atau hybr i d

anta r a permanen ICC memi l i k i

dan ad hoc . Permanen karena seca ra f i s i k secre t a r i a t hoc yang berkedudukan d i ICC memutus

karena

sebaga imana

da l am Pasa l 2 aya t (1 ) . maje l i s arb i t e r dan

Adapun pemutus perka ra ada l ah l epas dar i

keberadaan

kebe radaan ICC ; In t e r n a s i o na l t i dak

ah

i n t e r n a s i o na l pengad i l a n pu tusan .

lik
melakukan
65 dar i

1.3 Penger t i a n

pu tusan

ka

Per l u d ipahami penger t i a n arb i t r a s e arb i t r a s e yang in te r nas i ona l

ub
bukan l ah o leh

mana yang

i n t e r n a s i o na l

ep

d imaksud

ah

yang d id i r i k a n

Negara - negara

d i kena l

da lam

is t i l a h

In t e r n a t i o n a l

Jus t i c e

(Mahkamah In t e r n a s i o na l ) ; In t e r nas i ona l da l am UU Arb i t r a s e meru j u k

ng

Penger t i a n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 65

es

In do ne si
d i ka t a kan Sementa ra ad d ia t u r arb i t r a s e menentukan pembata l a n da lam pu tusan sebuah seper t i Cour t of

pendapa t

hukum dar i

Rodman Bundy ICC merupakan sua tu

gu ng

In do ne si a
yang un i k karena te r d i r i Arb i t r a s e dapa t d ipahami proses Arb i t r a t i o n

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
d ibua t di

b
pada sua tu pu tusan yang arb i t r a s e , ba i k ad hoc ataupun l ua r permanen ,

Negara

la i n

Indones i a ; Bag i

putusan

arb i t r a s e

yang berben tu k di

proses

pembata l a n dar i

d i l a k u kan

Negara

gu

atau domis i l i arb i t r a s e

l embaga arb i t r a s e .

yang berben t u k ad hoc maka d i l a k u kan d imana

sea t yang d i t e n t u k an o leh para p ihak da lam per j a n j i a n atau yang d i t e n t u k an t i dak berada o leh di arb i t e r . Indones i a pu tusan Bi l a sea t

domis i l i arb i t r a s e d ibua t d i sebu t Untuk

ah

demik i a n

merupakan

ub lik
keun i kannya dan ad hoc pada domis i l i Par i s , para p ihak d i t e n t u k an in i , bahwa putusan Indones i a , in i

d i l ua r

neger i

yang da lam i s t i l a h

am

sebaga i putusan arb i t r a s e i n t e r n a s i o n a l ; ICC menginga t yang merupakan

campuran

anta r a

permanen

ah k

penen tuan bukan te r l e t a k secre t a r i a t yang

ep

ICC yang berada d i

ataupun arb i t e r ;

1.4 Klausu l a dengan

Arb i t r a s e

yang d i sepaka t i PK te l a h

an ta r a

Termohon

arb i t r a s e d i Jaka r t a , Ber t i t i k to l a k PK dar i te l a h

Indones i a . k lausu l a sepaka t

Pemohon tempa t

Termohon

arb i t r a s e

dan

pengambi l a n

arb i t r a s e

da l am wi l a yah hukum repub l i k di Jaka r t a . Apab i l a 1.9

ah

ke ten t u an

Pasa l

UU Arb i t r a s e , proses dan

d i l a k u kan Indones i a . arb i t r a s e ada l ah

dan Oleh yang

d iamb i l ka rena

ub
di wi l a yah seca ra

membukt i k an

bahwa

lik
putusan da lam maje l i s
66 dar i

k l ausu l a

d i ka i t k a n

Pemohon PK dapa t arb i t r a s e repub l i k putusan in i bukan

hukum yur i d i s

ka

itu ,

d ipe rmasa l ahkan arb i t r a s e

ep

ah

pu tusan

nas i ona l / d omes t i k

pu tusan arb i t r a s e i n t e r n a s i o n a l ; 1.5 Angka 74 per t imbangan f ina l award arb i t r a s e ada l ah

ng

dengan

tegas

menyatakan

kedudukan

arb i t r a s e

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 66

es

In do ne si
Pemohon PK tempa t bahwa PK dan proses ada l ah da lam ha l i n i dengan perka r a

d i sepaka t i

o leh

da lam

gu ng

In do ne si a
atau di permanen maka d imana sea t Sementa ra untuk atau maka pu tusan arb i t r a s e yang UU Arb i t r a s e maka cr i t e r i a atau sea t dar i mela i n kan sea t per j a n j i a n

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
te r s ebu t

b
Jaka r t a . Per t imbangan

anta r a

la i n

menya takan

sea t of arb i t r a t i o n Penegasan Indones i a

i s Jaka r t a ; kedudukan l ag i Fina l yang

mengena i

arb i t r a s e da lam Award

d ipe r t e ga s maupun

ka l ima t yang

gu

Par t i a l bawah

Award

tangga l

putusan

mengatakan

Arb i t r a t i o n : Jaka r t a , dar i

Indones i a ; putusan UU a

1.6 Akiba t

keke l i r u a n 1.9

ke ten t u an permohonan

Pasa l

Arb i t r a s e

ah

pembata l a n

ub lik
putusan yang te l a h o leh Pemohon atas te r s ebu t ada l ah itu t idak Indones i a ; o leh a quo , arb i t r a s e in te r nas i ona l ke ten t u an itu mana yang

arb i t r a s e

d ia j u k an o leh Pemohon PK. Baik pada perad i l a n t i n g ka t perad i l a n pembata l a n pu tusan pu tusan

am

t i n g kap per t ama maupun pengad i l a n menguatkan menolak putusan permohonan PK te r hadap a lasan bahwa

band ing / k a sas i t i n g ka t yang

per t ama , d ia j u kan ICC

ah k

arb i t r a s e

i n t e r n a s i o na l ,

o leh

karena

dapa t

pembata l a nnya d i perad i l a n Jad i menuru t putusan

karena

fo r um yang d i sepaka t i ada l ah ICC maka

o leh Pemohon PK dan Termohon PK yang d i j a t u h kan

pu tusan

ada l ah putusan arb i t r a s e b i sa d i t e r a p kan ICC

seh i ngga t i d a k

permohonan

pembata l a n

arb i t r a s e Arb i t r a s e . menyebu t kan mener ima

berdasa r kan putusan

ah

perad i l a n

lik
parag raph (v i d e akan ICC pendapa t
67 dar i

Namun

send i r i

berwenang

arb i t r a s e ICC d imaksud ; Sebaga i pendapa t tambahan , hukum dar i

ka

berdasa r kan

ub
d ipas t i k a n

permohonan

pembata l a n

te r hadap

ep

Yves Dera i n s

ah

pengad i l a n pemer i k s aan

Peranc i s putusan

arb i t r a s e

karena

d imaksud t i d a k Hal in i

d i j a t u h kan d i

wi l a yah hukum Peranc i s . hukumnya ,

ng

d ipe r t e g a s

da lam ku t i p a n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 67

es

In do ne si
d i t e r i ma Rules dan putusan 70 Pasa l UU t i dak un tuk pu tusan 25 jo . 26 1) , l amp i r a n menolak pu tusan

arb i t r a s e

ep

ICC

putusan

gu ng

In do ne si a
the di Jaka r t a , te r a kh i r te r t u a ng Place di of quo menerapkan menolak te l a h ICC yang arb i t r a s e

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
have re f u sed

b
bahwa: Parag ra f French aga i n s t 25: Cour t s

to

en te r t a i n sea t s

arb i t r a l

awards rende red i n and dec l a r e d tha t

a fo r e i g n coun t r y

such recou r se was

gu

no t admiss i b l e ,

even when French l aw had been chosen The above ru l e i s so c l ea r be fo r e the

to gove rn the proceed i n gs . tha t a par t y to of se t br i n g i n g as i de

an ac t i o n an arb i t r a l

Cour t s ou ts i d e

French may be orde red su i t . to Fina l l y , it shou l d

to

pay damages fo r

ah

fr i vo lous in orde r

de te rm i ne

ub lik
where an tha t the fa c t award took i ndeed is a pure l y consequences , as i de an award , And not p lace the award menolak di

be ment i o ned tha t award has been

am

rende red ,

the French Cour t s cons i de r

deemed to have been made at the sea t whi t o u t and /o r The ta k i n g execu t i o n in to of accoun t the

ah k

ep

p lace

Par i s sea t

Cour t of

af

Appea l

cons i de r ed l ega l

which en ta i l s

s i gn i f i c a n t

rega rd i n g j u r i s d i c t i o n the ac t i o n s to the se t

of the sta t e cour t s

dependen t no t i o n p lace

on

par t i e s w i l l . on the

dependen t the

where he hear i n g was

or

p lace

where

which can vary acco rd i n g to the whims or the b lunde r s of the arb i t r a t o r s ; Ter j emahan parag raph 25: Pengad i l a n arb i t r a s e menyatakan d i t e r i ma , Peranc i s yang bahwa walaupun te l a h

ah

lik
Negara te r s ebu t l ua r
68 dar i

pembata l a n

pembata l a n

ub
di guga tan di

d i ke l u a r k an

te r s ebu t

ka

pers i d angan

hukum Peranc i s . p ihak yang

Pera t u r a n

ep

atas sanga t

ah

menga jukan

pembata l a n

arb i t r a s e

yang

d i ke l u a r k an Peranc i s

hadapan Pengad i l a n

dapa t d ipe r i n t a h k an un tuk yang t i d a k memi l i k i

ng

membayar

kerug i a n

atas

tun t u t a n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 68

es

In do ne si
i n par t i c u l a r to ru l e on are which a mate r i a l took execu t ed , putusan dan dapa t as i ng t i dak menggunakan je l a s bahwa putusan di Peranc i s

[T ]he

arb i t r a t i o n

gu ng

In do ne si a
recou r se s in l o ca t e d French award rebde red an award i s of arb i t r a t i o n , tha t hear i n g s e l sewhere . tha t not i o n

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
su i t ) . menentukan la i n . berak i b a t yur i s d i k s i

b
dasa r bahwa ( fr i vo lous untuk Pada akh i r n y a , d i s impu l k an

d imana

sebuah

d i j a t u h kan , tempat

Pengad i l a n

Peranc i s

akan memper t imbangkan berdasa r kan fak t a tempa t

d imana putusan tanpa dan /a t a u tempat

d i j a t u h kan

arb i t r a s e ,

memper t imbangkan pe laksanaan Pengad i l a n

gu

pemer i k s aan te r j a d i di

putusan

band i ng

menganggap bahwa Tempat arb i t r a s e yang kua t yang dengan

ada l ah fak t a

s i gn i f i k a n , pengad i l a n yang

berka i t a n mengatu r

ah

pembata l a n

pu tusan ,

ub lik
arb i t e r ; rende red to the in (ii i ) above , the Arb i t r a t i o n were is are i r r e l e v a n t ; Peranc i s

bergan t ung

kehendak para p ihak ,

dan t i d a k bergan t ung pada tempa t d imana pu tusan te r s ebu t akan

am

pemer i k s aan atau tempa t d ieksekus i ,

yang dapa t bermacam- macam te r gan t ung pada

ke i ng i n an atau kesa l ahan dar i Parag raph 26 : In the presen t tha t the

ah k

case , the French Cour t would dete rm i ne were Jaka r t a , sea t of

arb i t r a t i o n (i i ) the

acco rd i n g

arb i t r a t i o n

Terms of

Refe rence ,

Procedu ra l

No. 1; ( i v ) have been

the awards . exp l a i n e d Cour t the of

For the var i o u s reasons which fac t s tha t

In t e r n a t i o n a l Par i s

and tha t

awards

rende red

aeg i s of th i s

ins t i t u t i o n

Ter j emahan parag raph 26: Dalam kasus in i Pengad i l a n

ah

bahwa putusan d i j a t u h kan d i Jaka r t a , sesua i of dengan ( i ) (i i i ) k l ausu l a

Refe rence ,

Procedu ra l

ub
ICC

arb i t r a s e , Order

lik
(i i ) bahwa di
69 dar i

akan menentukan

tempa t arb i t r a s e the Terms

No. 1 dan ( i v ) yang te l a h

ka

pu tusan . d i j e l a s k an arb i t r a s e

Berdasa r kan di atas ,

a lasan - a lasan

ep

fa k t a - fak t a

ah

in te r nas i ona l

te r l e t a k

bahwa putusan te r s ebu t l embaga i n i

d i j a t u h kan berdasa r kan naungan

ada lah t i d a k re l e van ;

ng

Parag raph 14 :

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 69

es

In do ne si
c l ausu l e , Order ICC in l o ca t e d under the pengad i l a n Par i s dan

awards

gu ng

ep

In do ne si a
putusan bahwa te r s ebu t Peranc i s hukum khususnya neger i yang pada

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
sta t emen t ,

b
In v i ew these of the reco rd was shows tha t agreed the p lace Par t i e s Arb i t r a l the

arb i t r a t i o n the

(Jaka r t a )

to

arb i t r a t i o n

and was con f i rmed by the

Tr i b una l . of of

When cons i d e r e d i n connec t i o n wi t h the ICC Rules , the conc l u s i o n s is

prov i s i o n s the p lace

gu

tha t

arb i t r a t i o n had any

was Jaka r t a . ro l e to p lay

Par i s

nor

France

arb i t r a t i o n . hear i n g s vir tua l l y cons i de r

The awards were not made i n Par i s p lace in tha t have France . the no Accord i n g l y , French

took

cer t a i n tha t fo r of they

ah

ub lik
the in i , tempa t p ihak dan da lam arb i t r a s e yang di di d ibua t d i l a k u kan d ipas t i k a n

ju r i s d i c t i o n

app l i c a t i o n cond i t i o n

se t t i n g

as i de the Awards because the Ferench CPA ( t h a t i s not

am

Ar t i c l e

1504 of

t h e award must have been rende red i n France ) sa t i s f i e d ;

ah k

Ter j emahan parag raph 14: Berdasa r kan menunjukkan d i sepaka t i Maje l i s

pernya t aan - pernya t aan

ep

o leh

para

d i kon f i r mas i

Arb i t r a s e . dengan

Ket i k a

d ipe r t i mbangkan ICC

hubungannya

ke ten t u an tempa t

kes impu l annya ada lah Bukan Par i s maupun

ia l ah

Peranc i s

berpe ran Par i s

arb i t r a s e . ada

Putusan

t idak

pemer i k s aan itu ,

yang

Peranc i s .

karena Peranc i s

dapa t

bahwa

ah

yur i s d i k s i Pasa l

atas pembata l a n putusan karena persya r a t a n

d i ke l u a r k an d i Peranc i s ) Akan te t a p i te r l e p a s

ub
dar i pada ICC

1504

French

CPA

(bahwa

lik
itu , dan
70 dar i

akan menganggap bahwa mereka t i d a k

pu t u san

t i d a k te r penuh i ; peno l a kan

ka

permohonan pembata l a n a las an pu tusan

ep

yang d ia j u k an

Pemohon PK atas bukan putusan te l a h

ah

arb i t r a s e

domest i k / n a s i o n a l

te t a p i

in t e r nas i ona l

melenyapkan hak- hak Pemohon PK yang d ibe r i k a n o leh UU

ng

Arb i t r a s e

untuk

mengkoreks i

melu ru skan

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 70

es

In do ne si
o leh da lam Rules , Jaka r t a . da l am dan t i d a k Oleh pengad i l a n memi l i k i harus

bahwa

arb i t r a s e

gu ng

In do ne si a
by the Nei t h e r in the and no it is Cour t s would over any buk t i - buk t i (Jka r t a )

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
pena f i a n

b
pe l angga ran ke te r t i b a n umum yang meleka t pada pu tusan arb i t r a s e ICC d imaksud ; Pelenyapan atau hak- hak untuk

Pemohon

d i ka r enakan arb i t r a s e

permohonan dapa t

membata l k an karena

t i dak yang

te r l a k s ana

gu

pengad i l a n Indones i a arb i t r a s e harusnya neger i

merasa t i dak

berwenang . berwenang

menyatakan

d ianggap sebaga i merupakan

putusan i n t e r n a s i o n a l pengad i l a n di

kewenangan Par i s ,

da lam ha l i n i

Peranc i s .

ah

d ibawa ke pengad i l a n da l am pendapa t Par i s akan

d i Par i s

hukum Yves Dera i n s karena

ub lik
yur i d i s te l a h yang nya ta - nya ta dasa r a lasan Putusan (2 ) UU putusan Peranc i s

sebaga imana d i sampa i kan maka pengad i l a n di

am

menolaknya

menganggap

arb i t r a s e Indones i a ; Berdasa r atas ,

sebaga i

putusan yang d ibua t

ah k

fak t a - fak t a Pemohon

ep

PK

membukt i k an

da l am pu tusan

a quo karena

dengan /me l angga r Pasa l 1.9 UU Arb i t r a s e ; Oleh karena itu , cukup

pengad i l a n

PK untuk

mengabu l kan

permohonan

atas dasar i t u

membata l k an putusan a quo ; Pelaksanaan

2. Permohonan

Arb i t r a s e

Tidak Memenuhi Pasa l 67

Persya r a t a n

yang Di t en t u kan Arb i t r a s e arb i t r a s e

aya t bahwa

ah

Di j a t u h kan d i Par i s ,

Sek i r a n yapun putusan

putusan

arb i t r a s e

ub
ICC da lam

Putusan Arb i t r a s e In t e r n a s i o n a l .

lik
( quad non Pasa l 67 (1 ) harus
71 dar i

Membukt i k an

dan Bukan Merupakan

d i ka t e go r i

ka

arb i t r a s e

i n t e r n a s i o na l

permohonan persya r a t a n ya i t u :

penda f t a r a nn ya yang

ep

sanga t

je l a s

t i dak

ah

d i t e n t u k an

Penyampa ian d imaksud

berkas

permohonan

sebaga imana dengan :

da lam

aya t

d i se r t a i

ng

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 71

es

In do ne si
ber t e n t a ngan bag i maje l i s PK dan ICC da lam seh i ngga t i dak ICC sebaga i rec t um ) , memenuhi aya t (2 ) pe laksanaan

kekh i l a f a n / k e k e l i r u a n

nya ta yang te r dapa t

gu ng

In do ne si a
PK in i putusan t idak ada di Pengad i l a n karena pu tusan yang l ua r Seba l i k n y a b i l a pu tusan di dan d ipu t u s d i kemukakan di adanya dan meleka t

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
arb i t r a s e ke ten t u an as i ng , dan as l i per j a n j i a n arb i t r a s e per i h a l

b
a. Lembar as l i atau sa l i n a n oten t i k in te r nas i ona l , per i h a l naskah putusan sesua i

oten t i f i k a s i te r j emahan

da lam bahasa Indones i a ; atau

gu

b. Lembar

sa l i n a n

yang

menjad i

in te r nas i ona l

sesua i

oten t i f i k a s i

dokumen as i ng ,

naskah te r j emahan resminya Indones i a , dan

ah

c. Kete rangan repub l i k

ub lik
dar i Indones i a di pada maupun dan in te r nas i ona l putusan mampu memenuhi sebaga imana huru f c dengan Indones i a

perwak i l a n

am

putusan arb i t r a s e i n t e r n a s i o na l d i t e t a p ka , pemohon seca ra

yang menyatakan bahwa Negara per j a n j i a n , ba i k

ah k

ep

te r i k a t

bi l a t e r a l

pengakuan arb i t r a s e d i t ambahkan ) ;

pe laksanaan

Dalam Kuasa

permohonan Arb i t e r

pe laksanaan t idak

arb i t r a s e

impera t i v e arb i t r a s e

da lam

permohonan

pe l aksanaan yang

in te r nas i ona l 67 aya t (2 )

da lam Pasa l penda f t a r a n perwak i l a n tempa t

UU Arb i t r a s e ,

ah

d ip l oma t i k pu tusan

repub l i k

lik
putusan karena
72 dar i

harus

d i se r t a i

ke te r a ngan di

d i t e t a p kan , pada

yang menyatakan bahwa Negara Pemohon te r i k a t ba i k Negara seca ra bi l a t e r a l Indones i a maupun per i h a l arb i t r a s e t i dak ia mampu hanya

ka

per j a n j i a n , dengan dan

mul t i l a t e r a l pengakuan in te r nas i ona l . memenuh i

ah

pe laksanaan

Ternya t a ,

ep

Kuasa

ub
repub l i k

arb i t r a s e

in te r nas i ona l

Arb i t e r

persya r a t a n

te r s ebu t

ng

menyer t a kan cap pengesahan dar i

kedu taaan besa r repub l i k

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 72

es

In do ne si
putusan ( penekanan ICC , persya r a t a n putusan d i t e n t u kan bahwa dar i Negara tesebu t

dengan Negara repub l i k

Indones i a per i h a l

gu ng

In do ne si a
dokumen resminya oten t i k dasa r pu tusan ke ten t u an dan da lam bahasa d ip l oma t i k tempa t te r s ebu t Negara mul t i l a t e r a l

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
pada in i Indones i a te r i k a t

b
Indones i a arb i t r a s e tangan d imana dar i cap di ICC Par i s yang ha laman te r a kh i r putusan

merupakan Depar t emen

l ega l i s a s i Luar t idak

pe jaba t

Neger i

pengesahan

persya r a t a n untuk menyer t a kan ke te r angan dar i

gu

d ip l oma t i k arb i t r a s e

repub l i k

di

Negara yang

te r s ebu t

d i t e t a p kan ,

menya takan

Negara Pemohon te r i k a t bahwa seca ra repub l i k Negara Pemohon

pada per j a n j i a n , pada

per j a n j i a n , dengan

bi l a t e r a l Indones i a

maupun per i h a l

mul t i l a t e r a l pengakuan

ah

ub lik
dan di atas , mela i n kan je l a s untuk bag i nya ta da lm ICC t i d a k arb i t r a s e pu tusan

putusan arb i t r a s e i n t e r n a s i o na l ; Berdasa r kan fak t a yur i d i s

am

Kuasa Arb i t e r

t i d a k mampu memenuhi persya r a t a n da lam Pasa l 67 aya t (2 ) huru f c karena di putusan Par i s , arb i t r a s e Peranc i s , ICC j e l a s - j e l a s di t i dak

ah k

d i j a t u h kan Indones i a dan Fina l Oleh

ep

sebaga iman yang te r c an t um da lam Par t i a l award ;

karena

itu,

cukup

maje l i s

pen in j a u an

kembal i yang

mel i ha t

kekh i l a f a n / k e ke l i r u a n karena putusan

pu tusan

arb i t r a s e

memenuhi

permohonan

pe laksanaan

putusan

seh i ngga j e l a s

bahwa putusan arb i t r a s e yang sesua i

ICC d i j a t u h kan d i

wi l a yah hokum Indones i a d i ka t e go r i k a n domest i k / n a s i o n a l ; 3. Putusan Nyata a quo

dengan UU Arb i t r a s e arb i t r a s e

sebaga i

ah

Mengandung amar Putusan

Pembata l a n te t a p i

Padaha l

ub
semest i n y a

Karena

lik
Menolak da lam
73 dar i

Kekh i l a f a n / Ke ke l i r u a n Permohonan Menolak

Bukan

ka

Menyatakan Permohonan Tidak Dapat Di t e r ima

karena Pengad i l a n Tidak Berwenang Mengad i l i . Putusan sebab a quo mengandung kekh i l a f a n / k e k e l i r u a n ta t a nya ta te r t i b

ah

te r buk t i

putusan

ep

te r sebu t nme l angga r

beraca ra berdasa r kan fak t a - fak t a yur i d i s

ber i k u t : Pokok Perka ra

ng

3.1 Amar

Putusan

Pengad i l a n

Neger i

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 73

es

In do ne si
hak im adanya quo , a ke ten t uan in t e r nas i ona l

gu ng

In do ne si a
atas tanda Peranc i s , sesua i dengan perwak i l a n tempa t putusan bahwa yang menyatakan ba i k Negara pe la ksanaan ten t u Jaka r t a , award

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dan amar d i kua t k an

b
menya takan se l u r u hnya , menolak permohonan para Pemohon untuk

te r s ebu t o leh

band i ng / k a sas i t i n g ka t Secara

Mahkamah

band i ng . dan te r s i r a t ,

te r s u r a t

per t imbangan

gu

t i n g ka t

per t ama yang d ibena r kan kemudian o leh t i n g ka t berpendapa t mengad i l i bahwa perad i l a n permohonan Indones i a

band i ng , berwenng arb i t r a s e

pembata l a n

ICC atas a las an putusan ICC te r sebu t domest i k / n a s i o n a l akan te t a p i

putusan arb i t r a s e

ah

putusan arb i t r a s e i n t e r n a s i o na l ; Sesua i l aw ) , dengan apab i l a ta t a te r t i b

ub lik
beraca r a menganggap dapa t i nadmi ss i b l e pos i t i f pengad i l a n karena d im in t a Pasa l sesua i 70 arb i t r a s e ICC

( due

am

pengad i l a n

berwenang

( onbevoed ,

i n compe tence )

mengad i l i

perka r a yang d ia j u kan kepadanya : Putusan yang propo r s i o n a l pengad i l a n ada l ah

ah k

ep

yang harus d i j a t u h kan o leh yakn i menyatakan ( n ie t

putusan nega t i v e t i dak

on tvanke l i j k

verk l a a r d ) ,

dan bukan putusan yang bers i f a t menolak guga tan atau permohonan ; Kalau beg i t u , apab i l a

menganggap d i r i n y a

t i d a k berwenang mengad i l i d ia j u k an Pemohon yang PK dapa t

permohonan pembata l a n yang berpendapa t putusan

arb i t r a s e pengad i l a n te r ba t a s sedangkan

pembata l a nnya

Indones i a hanya

ah

putusan o leh

arb i t r a s e Pemohon

lik
PK bukan te t a p i menolak
74 dar i

pu tusan

domest i k / n a s i o n a l yang d im in t a o leh

Pengad i l a n maka amar

ada l ah putusan

putusan yang

ub
mest i a quo

pembata l a nnya

d ianggap

arb i t r a s e

i n t e r n a s i o na l , da lah o leh

ka

d i j a t u h kannya yang d ia j u k an

menyatakan permohonan pembata l a n Pemohon PK t i d a k dapa t d i t e r i ma ;

ah

3.2

Ternya t a

amar t i dak

ep

putusan

permohonan pu tusan

dapa t da lam

d i t e r i ma ben tuk

menja t uhkan permohonan

ng

pos i t i f

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 74

es

In do ne si
dec l a r a t i o n ) da lam ben tuk ke UU Arb i t r a s e menyatakan

guga tan / p e rmohonan

d i t e r i ma

gu ng

In do ne si a
pada t i n g ka t Agung pada putusan t i dak putusan bukan ada lah process of di r i n ya t i dak sua tu

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
beraca r a . in te r nas i ona l Oleh

b
pembata l a n putusan arb i t r a s e ICC maka pu tusan a quo mengandung keke l i r u a n dengan ta t a te r t i b Seper t i

yang nya ta

karena ber t e n t a ngan

yang d i j e l a s k an d i atas ,

per t imbangan putusan

a quo menyatakan putusan arb i t r a s e

ICC ada lah putusan bukan itu putusan a

gu

arb i t r a s e

domest i k / n a s i o n a l . berpendapa t arb i t r a s e perad i l a n

ka rena

permohonan ICC d imaksud

pembata l a n berada J i ka di

te r hadap l ua r

Indones i a .

demik i a n

ah

pu tusan yang semest i n y a d i j a t u h kan o leh pu tusan a quo yang propo r s i o na l menyatakan d i t e r i ma . d i j a t u h kan pos i t i f dengan ta t a te r t i b beraca ra t idak putusan ada l ah dapa t yang

am

permohonan Akan te t a p i ,

da lam

putusan

ub lik
pembata l a n te r n ya t a a amar quo menolak putusan a berdasa r Pasa l kebera t an maje l i s

ada lah

ah k

da lam

ben tuk

ep

permohonan

yang d ia j u kan Pemohon PK; Berdasa r kan di atas ,

te r b uk t i beraca r a

pu tusan a quo te l a h

melangga r quo

te r t i b

seh i ngga

keke l i r u a n Oleh

yang nya ta itu ,

67 ( f )

karena

berdasa r

i n i p un , un tuk itu a quo ;

cukup dasa r

a lasan bag i

mengabu l kan permohonan PK dan bersamaan dengan membata l k an pu tusan

ah

Pen je l a s an Alasan

Umum UU Arb i t r a s e Pembata l a n

lik
karena Putusan da lam
75 dar i

4. Putusan

quo

Ber t en t a ngan

dengan

hanya te r b a t a s d i sebu t

sec ra

ub
L im i t a t i f 1999

Permohonan

pada Alasan

ka

da lam Pasa l 70 UU Arb i t r a s e .

Pada ha laman 89 putusan band i ng / k a sa s i , per t imbangan bahwa pembata l a n

ep

MA mengemukakan berdasa r j ika

ah

putusan arb i t r a s e dapa t dar i :

Pasa l

70

UU No.

30

tahun

d i l a k u kan

memenuh i unsu re - unsur yang te r d i r i

ng

a. Sura t

atau

dokumen

yang

d ia j u k an

pemer i k saan

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 75

es

In do ne si
ta t a mengandung UU MA. Pemohon PK perad i l a n PK angka 18 Menya takan Arb i t r a s e yang

fak t a

yur i d i s

yang Pemohon PK kemukakan

gu ng

In do ne si a
pu tusan quo pu tusan yur i s d i k s i ha lnya , amar berben tu k pembata l a n

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
se te l a h putusan d i j a t u h kan , d iaku i pa l su atau d inya t a kan pa l su ; b. Sete l a h bers i f a t putusan

d iamb i l yang

d i t emukan

menentukan

d i sembuny i k an

l awan ; atau

gu

c. Putusan

d iamb i l o leh

dar i sa l ah

has i l sa tu

t ipu

d i l a k u kan sengke t a ;

p ihak

da lam

Ber t i t i k pembata l a n berdasa r l ua r

to l a k yang

dar i

per t imbangan d ibena r kan Pasa l

te r sebu t , o leh

dapa t

ah

a lasan itu

yang d i sebu t t idak

ub lik
dapa t di j ad i k an putusan UU Arb i t r a s e umum pembata l a n bers i f a t ke- 18 in i : pembata l a n t idak d ia j u k an d iaku i d i t emukan has i l sa tu

70 UU Arb i t r a s e , dasa r

a lasan

am

menga jukan Pendapa t

permohonan

pembata l a n

dan per t imbangan pu tusan

a quo te r sebu t

nya ta sa l ah dan ke l i r u ke- 18 pen je l a s an

karena ber t en t a ngan dengan a l i n e a maupun dengan

ah k

yur i s p r u dens i ; Menuru t te r s ebu t , Pasa l 70 al i nea

a lasan UU

permohonan

Arb i t r a s e

l im i t a t i f

enumera t i f

karena

al i nea ber i k u t ten t a ng

d imaksud

sebaga imana d i ku t i p Bab VI I Hal i t u mengatu r

putusan arb i t r a s e .

d imungk i n kan karena beberapa ha l an ta r a l a i n : atau dokumen yang da lam

a. Sura t se te l a h

putusan

d i j a t u h kan ,

ah

b. Sete l a h bers i f a t

putusan

d iamb i l yang

lik
t ipu da lam la i n
76 dar i

d inya t a kan pa l su ;

dokumen o leh

l awan ; atau c. Putusan d i l a k u kan sengke t a ; 4.1 Dalam ka l ima t te r dapa t kemungk i nan d iamb i l o leh dar i sa l ah

ub
p ihak

menentukan

d i sembuny i k an

ka

musl i h a t

ep

ah

a l i n e a ke- 18 pen je l a s an umum d imaksud , an t a r a yang member yang

perka t aan untuk

ng

memper l uas

a lasan

pembata l a n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 76

es

In do ne si
yang d i sebu t dan berbuny i pemer i k saan atau pa l su yang p ihak yang pemer i k s aan

ke- 18

ep

umum

pen je l a s an

gu ng

In do ne si a
dokumen o leh yang p ihak musl i h a t yang pemer i k s aan permohonan hanya di hukum un tuk arb i t r a s e . nya ta UU Arb i t r a s e

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
perka t a an

b
d i sebu t Lan j u t a n Pasa l 70 UU Arb i t r a s e .

dar i

an t a r a

la i n

dengan desk r i p s i arb i t r a s e

a lasan permohonan pembata l a n pu tusan dengan a lasan yang d i sebu t akan te t a p i desk r i p s i itu

yang sama pers i s

pada Pasa l 70 UU Arb i t r a s e ,

gu

sepe r t i

yang d i j e l a s k an d i atas d idahu l u i la i n . Di t i n j a u dar i dan

an t a r a pena f s i r a n undangan ke i ng i n an dan

pendeka tan

gramat i k a l dapa t pembuat

reks i o na l adanya

d ibuk t i k a n

undang - undang , untuk memper l uas

da lam ha l a lasan

ah

pemer i n t a h ,

ub lik
bers i f a t te r bu ka Pasa l d i t e n t u k an l im i t a t i f da lam 17 Mei 2005 . la i n te r s ebu t

pembata l a n 70 UU

putusan arb i t r a s e t idak

yang d i sebu t

am

Arb i t r a s e te t a p i

enumera t i f

bers i f a t

seh i ngga dapa t menjangkau a lasan d i l ua r Pasa l 70 UU Arb i t r a s e . 4.2 Per l ua san di a lasan

ah k

ep

permohonan

pembata l a n

d ibena r kan penerapannya u leh yur i s p r u dens i .

Pendapa t yang menyatakan a lasan permohonan pembata l a n pu tusan arb i t r a s e t i dak yang Pasa l dan 70

Arb i t r a s e an ta r a

bers i f a t

la i n

d i kemukakan

putusan

03 /ARB.BTL /2005 tangga l pu tusan ber i k u t : bahwa Pemohon putusan te r t e r a 1999 ka ta an t a r a te r s ebu t

Pada ha laman 20 sebaga i

d i kemaukakan

per t imbangan

ah

untuk

menga jukan atas

permohonan a lasan di

lik
kompetens i putusan
77 dar i

da lam Pasa l 70 Undang- Undang No. 30 tahun ha lnya a lasan abso l u t e

ka

seper t i

yang d i kemukakan o leh Pemohon ; Memperha t i k a n d i kemukakan di per t imbangan MA yang

ah

atas ,

ep

dapa t

ub

arb i t r a s e

d i kemaukakan

hukum ber i k u t : -

ng

Alasan permohonan pembata l a n pu tusan arb i t r a s e

yang

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 77

es

In do ne si
UU enumera t i f MA No. memungk i kan pembata l a n l ua r yang kons t r u k s i

arb i t r a s e

l ua r

yang d i sebu t

gu ng

In do ne si a
itu di i r i n g i dengan ka ta metode perundang kehendak dan in i DPR permohonan pada Pasa l dan l im i t a t i f dan eks tens i f yang d i sebu t pu tusan 70 UU Arb i t r a s e

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dan pen je l a s an pada Pasa l in i , MA yu r i s d i k s i di j ad i kan dan di j ad i k an

b
d i sebu t pada Pasa l 70 UU Arb i t r a s e t i dak bers i f a t l im i t a t i v e ; Karena

pada

umum a l i n e a 70 te r s ebu t

yang d i sebu t la i n ;

gu

Dalam

putusan

membenarkan

te r hadap

yur i s d i k s i

te rmasuk

sebaga i

permohonan pembata l a n putusan arb i t r a s e . pe l angga ran pu tusan itu yang

d ibena r kan a lasan

sebaga i

ah

pembata l a n putusan arb i t r a s e , a lasan pembata l a n

permohonan

ub lik
bera r t i itu o leh putusan ke te t n uan Pasa l Dasar Pemohon di berdasa r Pemohon PK t i d a k untuk bumi da lam

am

pe l angga ran pub l i c

te r h adap ke te r t i b a n

umum ( openbaar te r hadap

orde r )

pe langga ran

umum i t u l a h a lasan

yang

Pemohon PK menjad i arb i t r a s e ICC

ah k

permohonan

yang mel i p u t i 1. Pelangga ran dan (3 )

pe langga ran : te r h adap

ep

pembata l a n

Undang- undang kedudukan per t ambangan

1945

mengesampingkan pemegang kuasa

b idang

mense ja j a r k a n kedudukan

Pemohon PK dengan se ta r a

kon t r a k t o r Pasa l

yang

KUHPerda ta

seh i ngga

melaksanakan migas yang

fungs i n ya ada di

menjad i k a n

Indones i a

ah

2. Putusan Pasa l ul t r a

melangga r 178 aya t

ke te r t i b a n (3 ) HIR

pet i t um

par t i um

ub
karena yang

yang

lik
pu tusan
78 dar i

kemakmuran rakya t

banyak ;

umum yang d iga r i s k a n melangga r pr i n s i p te l a h

ka

mengabu l kan dar i -

keun tungan

d iha rapkan

apa yang d i t u n t u t

ah

Permohonan sta t u s

ep

berdasa r fak t a ber i k u t : atas l apangan Molek , yang d ia j u k an o leh

komers i a l

Nor t h

Pula i ,

dan South Pula i

Termohon PK pada bu lan September tahun 1997 ; dan

ng

Namun, d i l a i n

p ihak putusan arb i t r a s e

ICC te l a h

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 78

es

In do ne si
karena PK sebaga i migas dan da lam 1338 dapa t l ag i has i l bag i ICC meleb i h i

gu ng

In do ne si a
ke- 18 a lasan ada l ah an t a r a pe langga ran a lasan J i ka , a lasan MA da lam permohonan dapa t d ipe r l u a s dengan a lasan orde , ke te r t i b a n 33 aya t (2 )

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
mengabu l kan sta t u s keun tungan yang d iha rapkan atas

komers i a l

atas l apangan - l apangan te r s ebu t

te r h i t u n g se j a k bu lan September tahun 1995 ;

5. Kont r o ve r s i

yang

te r dapa t ICC . te r dapa t

dan

pu tusan arb i t r a s e kon t r o ve r s i

gu

Mengena i putusan

yang

dan

arb i t r a s e

ICC dapa t

Pemohon PK buk t i k a n

pen je l a s an ber i k u t : 5.1 Berdasa r pu tusan sebaga i pa tokan mengandung pu tusan te r dapa t asas dan prak t e k yang mengandung yang perad i l a n kon t r o ve r s i

ah

pu tusan untuk sa l i n g

ub lik
sa l ah menerapkan hokum per t e n t a ngan p ihak an ta r a arb i t r a s e berdasa r 82 Fina l award je l a s perka ra atau in i dan

menerapkan

mengkua l i f i k a s i

am

per t e n t a ngan / k on t r o v e r s i

yang

sa l ah

sa l i n g

ah k

per t imbangan dengan per t imbangan l a i n sa l i n g

ep

per t e n t a ngan anta r a per t imbangan dengan fak t a

te r dapa t

per t e n t a ngan

per t imbangan

amar putusan ; Ternya t a

5.2

da l am

pu tusan

ICC

beberapa ber i k u t : 5.2 . 1

sa l i n g

per t e n t a ngan

Pada

angka

pernya t aan arb i t r a s e

hukum bahwa t i d a k da lam

in i

ah

berdasa r send i r i pu tusan t idak

per t imbangan berpendapa t arb i t r a s e je l a s

lik
maje l i s putusan
79 dar i

domest i k / n a s i o n a l

in te r nas i ona l

ub
ICC yang an ta r a j auh

menyimpu l kan mereka

ka

apakah

i n t e r n a s i o na l 5.2 . 2

ah

Keadaan kon t r o ve r s i

ep

atau putusan domest i k / n a s i o n a l ; per t i mbangan angka

82 te r sebu t Fina l

semak in

dengan amar angka 87 menyatakan un tuk para membayar

award

yang

ng

Termohon /Pemohon

PK d iwa j i b k a n

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 79

es

In do ne si
dengan te r d apa t fak t a - fak t a d i kemukakan k l as i f i k a s i apakah seh i ngga arb i t r a s e bahwa j a t u h kan arb i t r a s e

yang d i kemukakan

para

da lam pers i d a ngan

gu ng

In do ne si a
meleka t pada meleka t pada sesua i atau li t i gas i , d i kua l i f i k a s i hukum dan yang sebaga i la i n sa tu pu tusan anta r a anta r a atau te r dapa t atau

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
atas j um lah

b
bunga to t a l yang d ibaya r kan 86 (c ) in i sebaga imana dar i

d i sebu t k an

da lam parag raph f ina l

tangga l Pasa l

penda f t a r a n

berdasa r

59 UU Arb i t r a s e Pasa l 66

eksekua t u r sampa i

berdasa r tangga l

gu

dengan

pembayaran

per tahun ; in i , pada sa tu s i s i d ianggap karena menuru t

Berdasa r fak t a ICC

putusan arb i t r a s e sebaga i

seo l ah - o lah

domest i k / n a s i o n a l ICC d imaksud , Pasa l da l am pada 59

putusan

ah

pu tusan arb i t r a s e

ub lik
d ida f t a r sedangkan Award , 66 UU arb i t r a s e pu tusan t i dak arb i t r a s e sebaga imana yang d i kemukakan

UU Arb i t r a s e , 87 Fina l

am

angka

eksekua t u r n ya Arb i t r a s e

ke ten t uan

Pasa l

d i ka t e go r i yang

sebaga i

pu tusan

ah k

mengak i ba t k a n

ep

arb i t r a s e mempunya i

d ipe rmasa l a hkan hukum ( l ega l merupakan

seka rang

pu tusan

domest i k / n a s i o n a l

i n t e r n a s i o na l ; Padaha l , apab i l a maje l i s

berpegang yang

ke ten t u an

UU Arb i t r a s e 1.9

pada Pasa l arb i t r a s e

dan Pasa l

66 UU Arb i t r a s e ,

ICC yang d ipe rmasa l ah kan da lam perka r a i n i

ada l ah pu tusan domest i k / n a s i o n a l ;

KESIMPULAN Ber t i t i k to l a k dar i ura i a n

ah

pen in j a u an kemba l i , SEGI FORMIL

dapa t d i sampa i kan kes impu l an ber i k u t :

Pemohon PK dan penga j uan memor i pen in j a u an kemba l i sya ra t fo rm i l

ub
p ihak pen i n j a uan

lik
yang
80 dar i

ka

yang d i t e n t u k an UU MA berdasa r fak t a ber i k u t : PK d ia j u k an

1. Permohonan itu;

ep

o leh

ah

2. Tenggang waktu sya ra t fo rm i l

penga j uan

kembal i

yang d i t e n t u k an Pasa l 69 huru f permohonan PK memenuhi

c UU MA; yang

ng

3. Penyampa ian

sya ra t

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 80

es

In do ne si
atau putusan pada d iga r i s k a n pu tusan da l am memor i memenuhi berhak un tk memenuhi

uncer t a n i n t y ,

onrech t z e ke r he i d )

gu ng

In do ne si a
Award atau mempero l eh UU arb i t r a s e sebesa r 6 % pu tusan arb i t r a s e berdasa r kan sis i la i n tunduk seh i ngga pada in te r nas i ona l ICC yang kepas t i a n apakah

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
kembal i fo rm i l

b
d i t e n t u k an Pasa l 70 aya t (1 ) UU MA; 4. Biaya pen in j a u an

te l a h

d ipenuh i

o leh Pemohon Pen in j a uan Kembal i ; 5. Penyampa ian / penga j u an memenuh i sya ra t

memor i

pen in j a uan

yang d i t e n t u k an Pasa l 71 UU MA; di atas permohonan

gu

Dar i

fak t a - fak t a

yang

d i kemukakan fo rm i l

te l a h memenuhi sya ra t

yang d i t e n t u k an UU MA;

SEGI ALASAN PENINJAUAN KEMBALI Seper t i ber t i t i k da lam yang d i s i n ggung d i atas , to l a k dar i pu tusan

a lasan pen i n j a uan kembal i ,

ke ten t u an Pasa l 67 huru f Jur i s te r dapa t /

ah

Judex

ub lik
te r d i r i dan putusan d i t e n t u k an seh i ngga t i dak merupakan menolak d i t e r i ma dan

meleka t dar i :

kekh i l a f a n

atau keke l i r u a n yang nya ta ,

am

1. Putusan a quo melangga r / b e r t e n t a n gan dengan Pasa l UU Arb i t r a s e Karena te l a h mengkatego r i k a n

arb i t r a s e padaha l Jaka r t a ,

ICC sebaga i arb i t r a s e

putusan arb i t r a s e

ah k

ep

d i l a k u kan

putusan

Indones i a ;

memenuh i aya t (2 )

persya r a t a n UU

yang

da l am Pasa l

Arb i t r a s e ICC

membukt i k a n di

putusan

arb i t r a s e dan

d i j a t u h kan

Peranc i s

bukan

putusan

in te r nas i ona l ;

3. Putusan karena padaha l

a quo mengandung kekh i l a f a n / k e k e l i r u a n putusan menolak permohonan te t a p i

amar

semest i n ya t i dak

bukan dapa t

ah

t i d a k berwenang mengad i l i ;

Umum UU arb i t r a s e pembata l a n l im i t a t i f Arb i t r a s e ; 5. Kont r o ve r s i

karena menyatakan a lasan permohonan arb i t r a s e hanya seba tas seca ra 70 UU

ka

putusan

pada a lasan yang d i sebu t dan yang

ep

ah

te r dapa t

ub
dan

4. Putusan a quo ber t e n t a ngan dengan angka 18 Pen je l a s an

meleka t

lik
81 dar i

permohonan

karena

da lam Pasa l

arb i t r a s e ICC ; PERMINTAAN

ng

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 81

es

In do ne si
67 bahwa Par i s , arb i t r a s e nya ta pembata l a n menya takan Pengad i l a n pada putusan

2. Permohonan

pe la ksanaan

arb i t r a s e

gu ng

In do ne si a
pembayarannya kembal i PK f UU MA, yakn i berbaga i 1- 9 pu tusan in te r nas i ona l d ibua t di ICC t i dak

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
dan fo rm i l (1 )

b
Oleh karena pemer i k saan penga j uan Pasa l memor i pen i n j a uan Pasa l kembal i huru f dasa r c, memenuhi Pasa l

sya ra t

67 huru f

70 aya t

dan Pasa l

71 UU MA, maka cukup menyatakan

bag i

perad i l a n

t i n g ka t

pen i n j a u an kembal i

permohonan PK dapa t d i t e r i ma ;

gu

Selan j u t n y a Pasa l 67

o leh karena a lasan pen in j a uan kembal i f UU MA yang d ia j u kan dapa t

huru f

te r dapa t putusan send i r i untuk

sua tu

keke l i r u a n fa c t i dan

atau kekh i l a f a n Judex Jur i s ,

yang nya ta da lam send i r i -

Judex

maka ba i k

maupun seca ra membata l k an

bersama- sama dapa t Judex Fac t i

ah

putusan

ub lik
dan menja t u hkan Pemohon PK menguatkan No. 01/ No. 27 Februa r i

da lam ha l i n i tangga l Pusat 9 Jun i

putusan Mahkamah Agung No. 904 K/PDT.SUS/2009 2010 Jo . Putusan Pengad i l a n Neger i Jaka r t a

am

No. 01/PEMBATALAN ARBITRASE/2009 /

PN.JKT.PST tangga l

3 September 2009 . Oleh karena i t u maje l i s mengad i l i ber i k u t : hak im t i n g ka t perka r a

Pemohon PK memin ta kepada yang memer i k sa dan pu tusan sebaga i

ah k

in i

ep

pen in j a u an kembal i untuk

MENGADILI dar i

Mener ima

permohonan

PK

(Pe rse r o )

dan PT Per t am i na EP te r s ebu t ; pu tusan Mahkamah Agung No. yang Pusa t

Membata l kan tangga l Neger i 9

904 K/PDT.SUS/2009 putusan Pengad i l a n

Jun i

2010

Jaka r t a

ARBITRASE/2009 /PN .JKT .PST tangga l

3 September 2009 ;

MENGADILI SENDIRI

ah

1. Membata l kan te r d i r i dan Fina l 2. Menya takan te r d i r i dar i dar i

pu tusan Par t i a l

arb i t r a s e

Award tangga l putusan Par t i a l

ka

arb i t r a s e

ub
No.

Award tangga l

lik
2009 ;
82 dar i

Pr ima i r :

14387 / JB / JEM yang 22 September 2008

14387 / JB / JEM 22 September

ep

Award tangga l 27 Februa r i

ah

dan Fina l

Award tangga l

2009 ber t en t a ngan yang ber l a ku dan

dengan ke ten t uan ke te t i b a n umum; 3. Menya takan

perundang - undangan

ng

putusan

arb i t r a s e

No.

14387 / JB / JEM

yang

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 82

es

In do ne si
PT Per t am ina PEMBATALAN yang 2008

gu ng

In do ne si a
f, 69 berdasa r membukt i k a n di j ad i k an Judex dasar Jur i s ,

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u

b
te r d i r i dan dar i Par t i a l Award Award tangga l 27 22 September 2009 2008 Fina l

tangga l

Februa r i

mempunya i (Pe rse r o )

kekua tan hokum mengika t

kepada PT Per t am ina

dan PT Per t am i na EP; putusan Par t i a l arb i t r a s e No.

4. Menya takan

14387 / JB / JEM

gu

te r d i r i dan

dar i

Award tangga l 27

22 September 2009

Fina l

Award

tangga l

Februa r i

putusan arb i t r a s e domest i k / n a s i o n a l ; penga j uan permin t a an Case yang te r d i r i dar i

5. Menya takan arb i t r a s e No.

penda f t a r a n

ah

14387 / JB / JEM 27 Februa r i 2008

ub lik
batas No. tangga l 22 September Temohon No. 27 Februa r i

tangga l

2009 dan Fina l melampau i

Award

am

September

te l a h

yang d i s ya r a t k a n Pasa l 59 aya t (1 ) UU Arb i t r a s e ; 6. Menolak putusan Par t i a l tangga l permin t a an arb i t r a s e penda f t a r a n No. yang d ia j u k an te r hadap dar i Award

ah k

Award tangga l 22 September

ep

14387 / JB / JEM yang te r d i r i 2009 dan Fina l

27 Februa r i

Pusat atau Kepan i t e r a a n Pengad i l a n Neger i

7. Menya takan te r d i r i dan

putusan Par t i a l

arb i t r a s e Award

14387 / JB / JEM 27 Februa r i 2008

dar i

Fina l

Award

tangga l

memi l i k i

kekua t an ekseku to r i a l ,

o leh karena i t u

dapa t d im in t a kan eksekus i ;

Subs i da i r : 1. Mengabu l kan se l u r u hnya ; 2. Menya takan te r d i r i dan Fina l dar i putusan Par t i a l arb i t r a s e permohonan

Eksekus i

ah

lik
:
83 dar i

14387 / JB / JEM 22 September

Award tangga l

ka

putusan arb i t r a s e domest i k / n a s i o n a l ; 3. Menghukum Termohon

ep

PK un tuk

ub

Award tangga l

2009 maupun ada l ah

membayar

se l u r u h

ah

perka r a pen in j a u an kemba l i ;

Menimbang , kembal i te r s ebu t

bahwa

te r hadap

a lasan - a lasan

Mahkamah Agung berpendapa t

ng

mengena i a lasan ke 1 s /d 5 :

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 83

es

In do ne si
manapun ; yang 2009 t idak t i dak untuk yang 2008 b iaya pen i n j a uan

2008 d i

Kepan i t e r a a n

gu ng

In do ne si a
t i dak yang 2008 ada lah pu tusan Par t i a l Award 22 tangga l tenggang waktu PN Jaka r t a

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Kembal i t i dak pembata l a n

b
Bahwa permohonan pen i n j a uan kembal i Pemohon Penin j a uan yang d ia j u k an o leh d ibena r kan

dapa t

per t imbangan sebaga i ber i k u t : bahwa

permohonan ke

putusan

d ia j u k an

Pengad i l a n

Neger i No.

berdasa r kan 30 Tahun

gu

Pasa l

70

Undang- Undang

d ia j u k an menuru t

permohonan

band i ng

ke

Mahkamah (4 )

ke ten t u an Pasa l

72 aya t

Undang- Undang No.

30 Tahun 1999 , putusan band ing Mahkamah Agung te r s ebu t ada lah putusan da lam t i n g ka t bahwa ada lah o leh karena putusan per t ama dan te r a kh i r ; band i ng Mahkamah dan

ah

ub lik
per t ama hukum l ua r PT. karena d ihukum dar i yang te l a h 2009 dan

pu tusan

da lam

t i n g ka t

am

maka dengan demik i a n t i dak kembal i ; Menimbang , bahwa mengena l upaya

Undang- Undang No. 30 Tahun 1999 b iasa pen in j a uan

ah k

ep

berdasa r kan

per t imbangan

maka permohonan pen i n j a uan kembal i Pemohon te r s ebu t Pen in j a uan

yang d ia j u k an o leh para PERTAMINA EP dan kawan

harus d i t o l a k

Menimbang , dar i

bahwa

o leh

permohonan

kembal i para

para Pemohon Pen in j a u an Kembal i Pen in j a uan Kembal i

di to l a k , untuk

Pemohon

b iaya perka r a da lam pemer i k saan pen in j a uan kemba l i Memperha t i k a n pasa l - pasa l

Undang- Undang

Tahun 1999 , No. 14

Undang- Undang No. 48 Tahun 2009 , 1985 sebaga imana

Tahun

d iubah

ah

Undang- Undang undangan l a i n

No.

Tahun

lik
pera t u r a n kembal i I da lam
84 dar i

Undang- Undang No. 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan perundang -

ME N G A D I L I : Menolak permohonan Kembal i : pen in j a uan 1.

ub

yang bersangku t a n ;

ka

Pemohon Pen in j a uan

ep

PT PERTAMINA EP dan 2.

ah

PERTAMINA (PERSERO) te r s ebu t

Menghukum Pemohon Pen in j a uan Kembal i Pemohon ren t eng Pen in j a uan untuk Kembal i I I / P emohon perka ra

I / Pemohon I I seca ra

tanggung

ng

membayar

b iaya

pemer i k saan

gu

Hal .

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 84

es

In do ne si
pen i n j a uan maka membayar ; in i No. 30 Undang- Undang dengan dar i para PT dan

Kembal i :

gu ng

In do ne si a
dengan arb i t r a s e yang ke ten t uan dapa t 1999 Agung, dan Agung te r a kh i r , di atas ,

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u
Selasa ,

b
pen in j a u an Rp 2.500 . 000 , kembal i in i sebesa r ;

(dua j u t a

l ima ra t u s r i b u rup i a h ) da lam rapa t

Demik i an l a h

d ipu t u s kan

Mahkamah Agung pada har i o leh Pro f . Dr . Mieke

tangga l MCL. ,

23 Agus tus Hakim

Komar ,

SH,

gu

d i t e t a p kan o leh Ketua Mahkamah Agung sebaga i DR. Abdur r ahman, Ph.D . , te r bu ka beser t a SH.MH. , SH. , MH, dan H. Syamsu l

LL.M. ,

Hakim Agung sebaga i untuk

Anggo ta , itu

s i dang Maje l i s SINAGA,

umum pada har i

j uga

Hak im Anggota te r s ebu t , Pani t e r a Penggan t i

d iban t u o leh BARITA t i dak d ihad i r i

ah

o leh para p ihak .

am

Hakim Anggota : u a : Ttd . / Ttd . /

ub lik
dengan

ah k

Dr . Mieke Komar , SH, MCL

Ttd . /

H. Syamsul Maa r i f ,

SH. , LL.M, Ph.D .

Pani t e r a

Penggan t i

ah

ka

Biaya pen in j a u an kembal i

1. M e t e r a i . . .. Rp 2. R e d a k s i . . . Rp

ep

ah

3.

Admin i s t r a s i j auan kemba l i

pen in -

ub
6.000 , 5.000 , -

BARITA SINAGA, SH, MH

lik
Rp Rp 2.489 . 000 , 2.500 . 000 , Hal . 85 dar i

Ttd . /

. . . . . .

ng

J u m l a h . . . . .. . .

gu

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 85

es

In do ne si

Dr . Abdur r ahman, SH, MH

ep

gu ng

In do ne si a
permusyawara t an 2011 Agung yang Ketua Maje l i s , Maa r i f , SH. , d iucapkan da lam o leh Ketua K e t Pro f .

ng

hk am

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia


putusan.mahkamahagung.go.id

ep u ep R

b R
Untuk Sal i n an

Mahkamah Agung RI An. Pan i t e r a Muda Perda t a Khusus

gu

Pan i t e r a

RAHMI MULYATI , SH.MH. NIP. 040 049 629

ah

ah k

am

ah

ka

ah

ep

ub

lik ng gu
Hal . 86 dar i

ik

Disclaimer Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. N Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : kepaniteraan@mahkamahagung.go.id Telp : 021-384 3348 (ext.318)

In d

60 ha l . Put . No. 56 PK/Pdt . Sus / 2 011

on
Halaman 86

es

In do ne si

gu ng

ub lik

In do ne si a

ng