Anda di halaman 1dari 9

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT RESERSE KRIMINAL KHUSUS DAERAH SULAWESI SELATAN

LAPORAN
HASIL PENYELENGGARAAN PELATIHAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA BIDANG ILLEGAL LOGGING TAHUN 2013

I.

PENDAHULUAN
1. a. Umum. Tuhan yang maha esa telah menganugrahi kepada bangsa Indonesia berupa hutan sebagai kekayaan yang dikuasai Negara, memberi manfaat serba guna bagi umat Manusia,oleh karenanya wajib disyukuri, diurus, dimanfaatkan secara optimal serta di jaga kelestariaannya untuk kemakmuran bagi rakyat Indonesia. b. Dengan daya tarik tersebut, maka hutan dimanfaatkan oleh orangorang yang tidak bertanggung jawab dengan memanfaatkan masyarakat yang tinggal disekitar hutan untuk melakukan praktek illegal logging ( Penebangan tanpa izin ) guna memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan dengan mereka yang melakukan penebangan secara legal, karena tidak ada kewajiban membayar Dana Reboisasi dan provisi sumber daya hutan yang harus disetorkan kepada Negara. c. Untuk mencegah makin meluasnya kerusakan hutan di Indonesia, upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan mengeluarkan Inpres No. 4 tahun 2005 tentang percepatan pemberantasan illegal

2 logging dikawasan hutan dan peredarannya diseluruh wilayah Indonesia dan sebagai tindak lanjut dari Inpres tersebut maka Kapolri menekankan bahwa angka kejahatan illega logging harus dapat ditekan sampai jera yang diimplementasikan melalui peningkatan kegiatan rutin maupun penggelaran operasi Kepolisian, namun demikian meski telah banyak para pelaku illegal logging yang berhasil ditindak akan tetapi sampai saat ini masih saja ditemukan TP illegal logging, sulit untuk di berantas dan permasalahan illegal loging sendiri juga sangat kompleks, karena tidak hanya terkait dengan aspek penegakan hukum saja tetapi juga terkait aspek ekonomis, sosiologi maupun kultur. 2. Dasar a. Sprin Kabareskrim Polri No : sprin /719/III/2013/Bareskrim tanggal 4 Maret 2013 tentang penyelenggaraan Pelatihan Peningkatan Kemampuan Penyidikan Tindak Pidana Illegal Loggin. b. c. ST Kabareskrim Polri No. : ST/116/III/2013 tanggal 6 maret 2013 tentang permintaan nama anggota yang berpangkat Perwira. Sprin Dir. Krimsus Nomor : Sprin / 39 / III / 2013 tanggal 23 Maret 2013. 3. Maksud dan Tujuan a. Maksud. Laporan ini dimaksudkan sebagai pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan memberikan gambaran kepada Pimpinan tentang pelaksanaan pelatihan dan hasil yang dicapai; b. Tujuan. 1) Penyelenggaraan Pelatihan Peningkatan Kemampuan Penyidikan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, pemahaman dan profesionalisme para peserta pelatihan selaku Penyidik / Penyidik Pembantu yang Pidana illegal logging yang dengan dimiliki nantinya akan dan menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan Tindak kemampuan dapat profesionalisme mempercepat

penyelesaian penyidikan tindak pidana illegal loggimg.

3 2) Agar dengan pengetahuan dan pemahaman tentang

perundang-undangan yang terkait dengan tindak pidana illegal logging penguasaan tehnik Lidik / Sidik termasuk cara penanganan masalah Lingkungan Hidup serta unsur pasal pasal yang dipersangkakan dan pengetahuan lainnya yang diperoleh selama mengikuti Pelatihan dapat diaplikasikan dalam pelaksanaan tugasnya, sehingga kasus-kasus tentang tindak pidana dibidang illegal logging dapat tertangani dengan cepat, tepat dan mendapat kepastian hukum. 4. Ruang Lingkup Ruang lingkup dari Pelatihan Peningkatan Kemampuan Penyidikan Tindak Pidana Illegal logging Tahun 2013 ini meliput : 5. Tata Urut I. II. III. IV. V. PENDAHULUAN PELAKSANAAN HASIL YANG DICAPAI KESIMPULAN DAN SARAN PENUTUP.

4 II. 1. a. PELAKSANAAN Tahap Pelaksanaan Tempat Pelatihan dilaksanakan di Wisma PKBI Jl Hang Jebat III/F3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan; b. Waktu Penyelenggaraan Pelatihan Peningkatan Kemampuan Penyidikan Tindak Pidana Bidang Illegal Logging Tahun 2013, mulai tanggal 24 s / d 27 Maret 2013. c. Peserta Pelatihan Peningkatan Kemampuan Penyidikan TP. Illegal logging. Tahun 2013 diikuti oleh dari Kewilayahan 42 ( empat puluh dua ) orang personil menangani kasusdan Bareskrim Polri yang

kasus Tindak Pidana Bidang Illegal Logging. d. Pada Acara Pembukaan Pelatihan dipimpin oleh Wakabareskrim yang mewakili Kabareskrim Polri sedangkan pada acara Penutupan Pelatihan dipimpin oleh Wadir Tipidter Mabes Polri yang mewakili Kabareskrim Mabes Polri. e. Narasumber / Instruktur dan materi : Sebagai 1) 2) 3) Nara Sumber / Instruktur dan Materi yang disampaikan dalam pelatihan adalah : Dari.KABAGRESKRIM. Dari.KEMENTERIAN KEHUTANAN RI ( DITJEN PLUNOLGI ) degan Materi Perubahan fungsi / Peruntukan kawasan hutan Dari KEMENTERIAN KEHUTANAN RI (DITJEN BINA USAHA) dengan materi Penataan hasil hutan dan perizinan bidang hasil hutan. 4) Dari KEMENTERIAN PERTANIAN RI (DITJEN PERKEBUNAN) Dengan Materi Perizinan bidang perkebunan dan giat perkebunan terkait kawasan hutan

5 5) 6) 7) Dari KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM RI (DITJEN PENATAAN RUANG) Dengan Materi Penataan Ruang Dari DEPUTI III PENGATURAN DAN PENATAAN PERTANAHAN BPN RI. Dengan Materi Hak Atas Tanah. Dari JAMPIDUM KEJAKSAAN AGUNG RI. Degan Materi Pembuktian Dakwaan dan Tuntutan dalam kasus TP illegal logging. 8) 9) Dari Dit Tipidter Bareskrim Polri tentang Study Kasus. Dengan Materi Tehnik Lidik dan Sidik TP illegal logging. Dari Kabagbinfung Rorenmin Bareskrim Polri yang disampaikan oleh Kombes.Pol. Drs. ISKANDAR IBRAHIM, MM., MH jabatan Kabagbinfung Rorenmin Bareskrim Polri tentang Manajemen Penyidikan dan Permasalahan. f. Sambutan adalah : Bahwa beberapa faktor yang mendorong terjadinya praktek illegal logging. 1) Kondisi geografis Indonesia, yang berpulau-pulau perbatasan dengan perairan laut malaysia,juga dengan lautan bebas pelayaran internasional, sehingga memberikan peluang untuk menyelundupkan hasil tebangan liar keluar dari Indonesia seperti Malaysia, china, Taiwan, Vietnam dan beberapa negara di Eropa lainnya. 2) Pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bagi masyarakat sekitar hutan , hanya bergantung pada kegiatan penebangan hutan,maka banyak masyarakat sekitar hutan dimanfatkan oleh cukong / pemodal sehingga penebangan liar semakin banyak dan terus terjadi. 3) Lemahnya peraturan / kebijakan dalam pengawasan Kabareskrim pada acara buka pelatihan intinya

sehingga berpotensi adanya penyimpangan oleh pelaku illegal logging dan aparat penegak hukum dalam pelaksanaan

6 tugas yang tidak sesuai ketentuan/standar operasional prosedur (SOP). 4) Adanya kebijakan Pemda terkait otonomi Daerah, maka secara langsung / tidak langsung dapat mendarong terjadinya praktek terjadinya illegal logging, karena tumpang tindih dan belum singkrongnya rencana tata ruang dengan pemerintah pusat bahkan kebijakan Pemda yang tidak sesuai UU Otonomi daerah, akibatnya banyak pengusaha pertambangan yang memasuki kawasan hutan lindung tetapi belum / tidak memiliki ijin dari menteri kehutanan. 5) belum sinerginya kerja sama aparat penegak hukum dengan kementerian terkait sampai ditingkat Kabupaten / kota 6) Vonnis yang dijatuhkan kepada pelaku kejahatan illegal logging sangat ringan bahkan ada yang di vonnis bebas, sehingga tidak memberikan efek jera para pelakunya dan semakin banyak muncul pelaku-pelaku baru. g. Sedangkan inti Amanat Kabareskrim penutupan antara lain : Terkait dengan berbagai permasalahan illegal logging termasuk permasalahan yang ditemui dilapangan yang dinilai masih lemah dalam pengawasannya serta tidak memberikan efek jera terhadap pelaku illegal logging, sehingga masih sering dijumpai tindak pidana illegal logging di Indonesia karena adanya faktor pendukung sebagai berikut : 1) Belum diberlakukannya ancaman pidana maksimal dan vonnis terhadap hakim sangat ringan bahkan adanya di vonis bebas, pelaku illegal logging. sehingga vonnis yang dijatuhkan tidak menimbulkan efek jera Polri pada Acara

7 2) Belum memungkinkan Polri untuk penindakan / penegakan hukum.dengan modus operandinya menggunakan alat berat dalam penebangan yang tidak sah . 3) Masih adanya penyalahgunaan wewenang dalam penerbitan Surat Keterangan asal usul kayu (SKAU) oleh kepala desa yang memiliki peluang bagi kepala Desa tentang SKAU tersebut. 4) Berdasarkan hasil temuan di lapangan bahwa pelaksanaan tugas Pejabat Penerbit Dokumen kayu masih ada yang tidak sesuai SOP yang ada sehingga memberi peluang bagi Pejabat yang bersangkutan untuk bekerjasama dengan pelakuTindak Pidana illegal logging. h. Hambatan / kendala Selama berlangsungnya kegiatan Pelatihan tidak terdapat kendala dan hambatan yang prinsipil, sehingga pelaksanaanya berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. III. 1. HASIL YANG DICAPAI Dapat meningkatkan kemampuan penyidik dan profesionalisme di bidang TP illegal logging. 2. Para peserta Pelatihan dapat memahami termasuk Per Undang-undangan a.l. : 1) Perubahan fungsi / peruntukan kawasan hutan. 2) Penataan Hasil hutan dan perizinan bidang hasil hutan. 3) Perizinan kawasan bidang hutan. Perkebunan dan giat perkebunan terkait materi yang diberikan

4) Penataan Ruang. 5) Hak atas Tanah. 6) Pembuktian, Dakwaan dan tuntutan dalam kasus TP illegal logging. 7) Tekhnik lidik dan Sidik TP Illegal Logging

8 IV. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan a. Modus yang dilakukan oleh para pelaku illegal logging juga beraneka ragam bahkan akan terus berkembang, untuk itu penyidik yang menangani kasus illegal logging diharapkan mampu memahami Undang-undang tentang kehutanan dan peraturan lain yang terkait, mampu menganilasa kasus, mendeteksi modus operandi dan lebih jeli dalam meneliti dokumen yang menyertainya, sehingga secara tepat dapat menentukan pasal yang dipersangkakan bahkan dapat menemukan tindak pidana baru selain pelanggaran Undang-undang Kehutanan serta mampu melakukan koordinasi baik dengan aparat CJS maupun dengan instansi terkait. b. Berdasarkan hasil penyidikan dan temuan dilapangan modus operandi yang digunakan oleh para pelaku kejahatan illegal logging berupa : 1) PELAKU YANG MEMILIKI IJIN Yaitu menebang kayu diluar areal dari ijin yang ada menebang di areal pada radius yang dilarang ( pinggir sungai, danau dan waduk) untuk menghindari pembayaran Provisi sumber daya hutan (PSDH) / dana Reboisasi (DR) maka kayu hasil tebangan di arealnya dilengkapi dokumen Surat Keterangan Sahnya Kayu Bulat ( SKSKB ) dengan dicap rakyat seolah-olah berasal dari Hutan Hak, memanipulasi Laporan Hasil Hutan ( LHP ) yaitu kayu bulat besar menjadi kayu bulat kecil, sehingga ada selisih dalam pembayaran Dana Reboisasi (DR). 2) PELAKU YANG TIDAK MEMILIKI IJIN Memanfaatkan masyarakat setempat untuk melakukan penebangan liar dengan menggunakan alat berat, kayu hasil tebangan masyarakat dilengkapi dokumen SKSKB yang dicap rakyat, memanfaatkan risalah lelang, dokumen ijin usaha pemungutan hasil hutan kayu (IUPHHK) yang

9 sudah tidak aktif digunkan untuk kayu olahan illegal, memanfaatkan surat keterangan asal usul kayu (SKAU) melalui penyimpangan oleh kepala desa atau aparat DISHUT setempat. 2. Saran a. Dapat disarankan kepada pimpinan Polda Sulsel (Kapolda) untuk menekan terjadinya TP illegal logging maka perlu dilakukan penambahan personil, karena personil yang ada saat ini hanya berjumlah 4 (empat) orang sehingga dalam proses penyidikan sangat lamban. b. Luasnya wilayah yang tidak sebanding dengan jumlah petugas, sehingga secara keseluruhan hutan tidak dapat diawasi IV. PENUTUP Demikian Laporan hasil mengikuti Pelatihan Peningkatan Kemampuan Penyidikan Tindak Pidana Bidang illegel logging Tahun 2013 yang dilaksanakan oleh Bagbinfung Rorenmin Bareskrim Polri sebagai pertanggung jawaban dan masukan bagi Pimpinan dalam menentukan kebijakan lebih lanjut.