Riset Kesehatan Dasar

(RISKESDAS) 2007

Laporan Nasional 2007

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Republik Indonesia Desember 2008

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA, kita bisa menyelesaikan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kita persiapkan sejak tahun 2006 dan dilaksanakan pada tahun 2007 di 28 provinsi dan tahun 2008 di 5 provinsi wilayah Indonesia Timur. Perencanaan Riskesdas dimulai tahun 2006, dimulai oleh tim kecil yang berupaya menuangkan gagasan dalam proposal sederhana, kemudian secara bertahap dibahas tiap Kamis-Jum’at di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pembahasan juga dilakukan dengan para pakar kesehatan masyarakat, para perhimpunan dokter spesialis, para akademisi dari Perguruan Tinggi termasuk Poltekkes, lintas sektor khususnya Badan Pusat Statistik, jajaran kesehatan di daerah dan tentu saja seluruh peneliti Balitbangkes sendiri. Dalam setiap rapat atau pertemuan, selalu ada perbedaan pendapat yang terkadang sangat tajam, terkadang disertai emosi, namun didasari niat untuk menyajikan yang terbaik bagi bangsa. Setelah cukup matang, dilakukan uji coba bersama BPS di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk menghasilkan penyempurnaan instrumen penelitian. Selanjutnya bermuara pada “launching” Riskesdas oleh Ibu Menteri Kesehatan pada tanggal 6 Desember 2006. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas dilakukan dua tahap, tahap pertama dimulai pada awal Agustus 2007 sampai dengan Januari 2008 di 28 provinsi, tahap kedua pada Agustus-September 2008 di 5 propinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat). Balitbangkes mengerahkan 5.619 enumerator, seluruh (502) peneliti Balitbangkes, 186 dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Labkesda dan Rumah Sakit serta Perguruan Tinggi. Untuk kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun 36,357 spesimen dari sampel anggota rumah tangga usia satu tahun keatas yang berasal dari 540 blok sensus perkotaan di 270 kabupaten/kota terpilih. Proses editing, entry, dan data cleaning sebagai bagian dari manajemen data Riskesdas dimulai pada awal Januari 2008, yang secara paralel dilakukan pula pembahasan rencana pengolahan dan analisis. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan protes, dari sindiran melalui jargon-jargon Riskesdas sampai protes keras. Dan ini merupakan ujud dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Kini telah tersedia data dasar kesehatan yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Indonesia berupa seluruh status dan indikator kesehatan termasuk data biomedis, yang tentu saja amat kaya dengan berbagai informasi di bidang kesehatan. Kami berharap data itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peneliti yang sedang mengambil pendidikan master dan doktor. Kami memperkirakan akan muncul ratusan doktor dan ribuan master dari data Riskesdas ini. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, para dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Ahli, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas, termasuk mereka yang wafat selama Riskesdas dilaksanakan.

i

Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun sebagai langkah perdana pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas ke-2 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tahun 2010 nanti. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

Jakarta, Desember 2008
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Dr. Triono Soendoro, PhD

ii

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Departemen Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator dan data dasar kesehatan berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dihasilkan melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik daerah, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, data Riskesdas yang menggunakan sampling Susenas Kor 2007, menjadi lebih lengkap untuk mengkaitkan dengan data dan informasi sosial ekonomi rumah tangga. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai angka standar yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia, mengingat sampai saat ini sebagian besar standar yang kita pakai berasal dari luar. Dengan berhasilnya Riskesdas yang baru pertama kali dilaksanakan ini, saya yakin untuk Riskesdas dimasa mendatang dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Karena itu, Riskesdas harus dilaksanakan secara berkala 3 tahun sekali sehingga dapat diketahui pencapaian sasaran pembangunan kesehatan di setiap wilayah, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Untuk tingkat kabupaten/kota, perencanaan berbasis bukti akan semakin tajam bila keterwakilan data dasarnya sampai tingkat kecamatan. Oleh karena itu saya menghimbau agar Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ikut serta berpartisipasi dengan menambah sampel Riskesdas agar keterwakilannya sampai ke tingkat Kecamatan. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada para peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, jajaran Labkesda dan Rumah Sakit, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan.

iii

Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)

iv

RINGKASAN
A. Ringkasan Eksekutif
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan, yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. Indikator yang dihasilkan berupa antara lain status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada konsep Henrik Blum, merepresentasikan gambaran wilayah nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan Riskesdas 2007 adalah: 1. Bagaimana status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota; 2. Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan kesehatan; dan 3. Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik? Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, dirumuskan tujuan antara lain yaitu penyediaan data dasar status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat rumah tangga maupun tingkat individual, dengan ruang lingkup sebagai berikut: 1. Status gizi; 2. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan; 3. Sanitasi lingkungan; 4. Konsumsi makanan; 5. Penyakit menular, penyakit tidak menular dan riwayat penyakit keturunan; 6. Ketanggapan pelayanan kesehatan; 7. Pengetahuan, sikap dan perilaku; 8. Disabilitas; 9. Kesehatan mental; 10. Imunisasi dan pemantauan pertumbuhan; 11. Kesehatan bayi; 12. Pengukuran anthropometri, tekanan darah, lingkar perut dan lingkar lengan atas; 13. Pengukuran biomedis; 14. Pemeriksaan visus; 15. Pemeriksaan gigi; 16. Berbagai autopsi verbal peristiwa kematian; dan 17. Mortalitas. Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat deskriptif. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error, relative standard error, confidence interval, design effect dan jumlah sampel tertimbang menyertai setiap estimasi variabel. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 berhasil mengumpulkan sebanyak 258.366 sampel rumah tangga dan 987.205 sampel anggota rumah tangga untuk pengukuran berbagai variabel kesehatan masyarakat. Riskesdas 2007 juga mengumpulkan 36.357 sampel untuk pengukuran berbagai variabel biomedik dari anggota rumah tangga yang berumur lebih dari 1 tahun dan bertempat tinggal di desa/kelurahan dengan klasifikasi perkotaan. Khusus untuk pengukuran gula darah, berhasil dikumpulkan sebanyak 19.114 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun. Untuk tes cepat yodium, berhasil dilakukan pengukuran pada 257.065 sampel rumah tangga, sedangkan untuk pengukuran yodium di dalam urin, berhasil dilakukan pengukuran pada 8.473 sampel anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di 30 kabupaten/kota dengan berbagai kategori tingkat konsumsi yodium. Hasil pemeriksaan biomedis akan dilaporkan tersendiri. Keterbatasan Riskesdas mencakup non-random error antara lain: pembentukan kabupaten baru, blok sensus tidak terjangkau, rumah tangga tidak dijumpai, periode waktu pengumpulan data yang berbeda, estimasi tingkat kabupaten tidak bisa berlaku untuk semua indikator, dan data biomedis yang hanya mewakili blok sensus perkotaan. Khusus untuk lima provinsi (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT) baru dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008, sementara 28 provinsi lainnya telah selesai dilaksanakan pada tahun 2007.

v

Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan. Dengan 900 variabel, maka hasil Riskesdas 2007 telah dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis lanjut, pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan, penelusuran hubungan kausal-efek, dan pemodelan statistik. Riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan, misalnya prevalensi gizi buruk yang berada diatas rerata nasional (5,4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Namun demikian, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target Millenium Development Goals sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat dicapai pada 2007. Posyandu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78,3%; balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih), ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut adalah 45,4%, 29,1%, dan 25,5%. Sedangkan kegiatan di posyandu untuk pemberian suplemen gizi (47,6%), PMT (45,7%), pengobatan (41,2%) dan imunisasi (55,8%). Secara keseluruhan, cakupan imunisasi pada anak usia 12 – 23 bulan menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86,9%), campak (81,6%), polio tiga kali (71,0%), DPT tiga kali (67,7%) dan terendah hepatitis B (62,8%). Secara keseluruhan, proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11,5% (berdasarkan catatan yang ada), dan ibu hamil yang memeriksaan kehamilan sebanyak 84,5%. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97,1%) dan penimbangan berat badan ibu (94,8%). Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33,8%) dan pemeriksaan urine (36,4%). Khusus untuk provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua ditemukan sebanyak 60% melahirkan bayinya di rumah. Penolong persalinan yang dominan di perkotaan adalah bidan (61,7%), sedangkan di perdesaan yang dominan adalah dukun bersalin (45,9%). Dari pemetaan penyakit menular, tampak keberhasilan program pengendalian malaria di Jawa-Bali (prevalensi <0,5%). Di lain pihak, ketimpangan juga terlihat jelas dengan adanya prevalensi malaria yang mencapai 26,14%, sembilan kali lebih besar dari prevalensi nasional atau 145 kali lebih besar dari prevalensi yang terendah, yaitu 0,18%. Untuk mencegah penyebaran malaria diperlukan program pengobatan yang cepat dan tepat. Riskesdas 2007 menggambarkan kesadaran masyarakat untuk berobat dan akses terhadap obat malaria program secara nasional sebesar 47,7%, walaupun beberapa provinsi sudah menunjukkan tingkat pengobatan malaria dalam 24 jam pertama cukup tinggi. Untuk diare, penggunaan oralit dalam 24 jam pertama juga masih di bawah 50%, kecuali pada kelompok balita –di mana prevalensinya tertinggi- penggunaan oralit sudah di atas 50%. Selain itu, Riskesdas 2007 juga memperlihatkan perubahan epidemiologis penyakit, contohnya demam berdarah dengue, yang prevalensi tertinggi tidak lagi dijumpai pada anak-anak, melainkan pada kelompok dewasa muda (25-34 tahun). Hasil utama Riskesdas 2007 menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik, strok, hipertensi, obese dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan, kemiskinan, dll). Penyakit hipertensi misalnya, tidak berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi (kuintil pengeluaran) seperti pada kuintil 1 (30,5%) dan kuintil 5 (33,0%), dan mulai banyak dijumpai pada kelompok usia muda 15 – 17 tahun (8,3%). Sebaliknya patut diduga penyakit diabetes yang diambil dari 356 kab/kota daerah perkotaan mencakup 24.417 orang (usia > 15 tahun) menunjukkan gambaran lebih tinggi pada kuintil 5 (7,1%) dibanding kuintil 1 (4,1%). Demikian halnya

vi

Tabanan (7. baik di perkotaan maupun di perdesaan. B.6%).9%) dan premature (32.8%).0%). dari 12. dan 8.4% dan domain ‘kebersihan ruangan’ (82. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%). Nusa Tenggara Timur.5%). Kalimantan Selatan. Tapanuli Utara (38. Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi.3%). Aceh Barat Daya (39. Sedangkan untuk usia > 5 tahun. yaitu terbanyak adalah diare (25. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.3%). Mamuju Utara (39. sedangkan untuk usia (728 hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20. 2001) menjadi 11. Kupang (38. maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18. dari 10.8%).8%).4%).9% (Riskesdas. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita tertinggi berturut-turut adalah Aceh Tenggara (48. Nusa Tenggara Barat.1 tahun) dibanding periode 2000-2005 (66.4%. Kalimantan Timur.0% (Susenas 2003) menjadi 33. Minahasa (6.7%).7%).8%.5%) dan congenital malformations (18. Badung (7.9%).5% (kuintil 5). Rote Ndao (40. Riau.8%). Kota Magelang (8. dari 32.1%). Kepulauan Aru (40. Sulawesi Barat. Namun demikian. Bantul (7.7%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita terendah adalah Kota Tomohon (4.3% (SKRT. Patut diduga bahwa peningkatan jumlah kasus katarak ini berkaitan erat dengan peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia pada periode 2005-2010 (69. Terdapat 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan. Gianyar (6. Demikian halnya dengan perilaku merokok kelompok penduduk >15 tahun cenderung meningkat.3%). Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran.1%).0%). Penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35.7% (SKRT 2004) menjadi 21.2%). Maluku Utara. Ringkasan Hasil Status Gizi Balita • Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5. sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional. Prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11.2%). • Secara nasional. Sulawesi Tenggara. Kota Jakarta Selatan (8. Papua Barat dan Papua. penyeban kematian yang terbanyak adalah stroke. Timor Tengah Selatan (40. Tidak ada perbedaan perilaku merokok antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi.8%) yang meningkat dari 1. Sumatera Barat.4%) dan pnemonia (23. Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31. Gorontalo.0%. Dari ketanggapan rawat inap. Maluku.3% (Riskesdas 2007).8%).8%) dan kebersihan ruangan (78.3%).8% (Asia 5% .9%). Jambi.2% menurut SKRT 2001.4% (Riskesdas. masing-masing sebesar 10. dan Buru (37. Simeulue (39.9% dan katarak (1. dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13.dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Kalimantan Barat. Sumatera Utara. Kalimantan Tengah.5%) telah tercapai pada 2007. dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. kejelasan informasi (75.1%).2 tahun). kebutaan 0. 2007). Keadaan ini lebih baik dibanding dengan hasil Surkesnas 2004 yaitu waktu tunggu (78. 3 domain seperti ‘waktu tunggu’ tercatat 84.2%) dan pnemonia (15.5%). dan Bondowoso (8.3%). Sulawesi Tengah.8% (kuintil 1) Prevalensi disabilitas menunjukkan peningkatan yang berarti.2%). Kota Madiun (6. 2007) Proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. vii .6%. Ditemukan peningkatan proporsi usia mulai merokok pada umur <20 tahun.1%). ‘kejelasan informasi’ 85.

Manggarai (33.3%).8%.2% (wasting-kritis).2%). Nias Selatan (67. Sulawesi Selatan.6%).7%). Sulawesi Barat. Jambi. dan Papua Barat. Kota Sukabumi (3.9%).9%). dan Luwu Timur (21. • Prevalensi nasional Balita Kurus adalah 7. Kota Mojokerto (19. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Timur. Jawa Timur.3%.3%).6%).0%). Maluku Utara. Sumatera Utara. Sumatera Selatan.9%).1). Nusa Tenggara Timur. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus terendah adalah Minahasa (0%). Sumatera Selatan. yaitu Sumatera Utara. • Sebanyak 25 provinsi mempunyai prevalensi Balita Kurus diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. dan Aceh Utara (29. Kalimantan Tengah. prevalensi nasional Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek (stunting) adalah 36. • Secara nasional. Sulawesi Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek terendah adalah Sarmi (16. Kalimantan Barat. Kota Magelang (5. Bali. Riau. Bengkulu.2%).• Prevalensi nasional Gizi Lebih Pada Balita adalah 4. Kota Bogor (4.8%). . Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. yaitu DI Aceh. Kalimantan Timur.4% (wasting-serius) dan Balita Sangat Kurus adalah 6. Sumatera Selatan. Wajo (18. Kalimantan Barat.7%). • Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional. Cianjur (5. Lampung. • Prevalensi nasional Balita Gemuk adalah 12. Bengkulu.5%). Maluku. Bengkulu. Sumatera Selatan. Banten. Gorontalo. DKI Jakarta. Bangka Belitung.7). Sorong Selatan (60. Sulawesi Tenggara.6%). sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10. Papua Barat. Sumatera Utara. Maluku dan Papua. Simeulue (63. Kota Bekasi (21. yaitu DI Aceh. Kota Batam ( 20. Kalimantan Tengah.3%. dan Papua Barat. • Secara nasional. Nusa Tenggara Barat.2%).9%).4%). Sumatera Selatan. Nagan Raya (30. Kota Madiun (21. Jambi. Jawa Timur. Kalimantan Tengah. Banten. Maluku.6%).9%). Kota Tomohon (2. Kalimantan Selatan.7%). Bali. Sumatera Barat. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus tertinggi adalah Solok Selatan (41. Maluku. Sumatera Barat. Kota Jakarta Selatan (20. Aceh Tenggara (66.3%). Sumatera Utara. Kalimantan Barat. Kepulauan Riau. yaitu DI Aceh.9%). Jambi. Maluku. Gorontalo.9%). Sulawesi Barat. Banten. dan Papua. Gorontalo. Sebanyak 18 provinsi mempunyai Balita Gemuk diatas prevalensi nasional.4%). Riau.9%.0%). Sulawesi Tengah. Bandung (4. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek di atas prevalensi nasional. Kota Tanjung Pinang (19. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek tertinggi adalah Seram Bagian Timur (67.1%). Riau.3%). viii .2%. DI Yogyakarta. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Lebih Pada Balita diatas prevalensi nasional. Tapanuli Utara (61.0%). Lampung. Gayo Lues (59. • Secara bersama-sama. Aceh Barat Daya (60. DKI Jakarta. Seram Bagian Barat (31.5%). Kalimantan Barat. Lampung. dan Kapuas Hulu (59. Timor Tengah Utara (59. Sulawesi Selatan. dan Bangka (5.0%). Jambi. Buru ( 30. Riau. DKI Jakarta. Maluku Utara. Seruyan (41. Kalimantan Timur. dan Maluku Utara. Asmat (30. Kalimantan Timur.0%). Kota Salatiga (4.4%). Status Gizi Penduduk Umur 6-14 Tahun (Usia Sekolah) • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13. Kampar (20. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah.1%). yaitu DI Aceh. Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur. Kalimantan Selatan. Tapanuli Selatan (31.6%). Nusa Tenggara Barat. Banten. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Utara.

Jawa Barat. Sumatera Selatan. Jawa Timur. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur diatas prevalensi nasional. Jambi. Kalimantan Tengah. Bangka Belitung. DKI Jakarta. Jambi.8%. yaitu Sumatera Utara. Sulawesi Utara. Maluku Utara. yaitu DI Aceh. Sumatera Barat. Jawa Timur. Kalimantan Barat. Status Gizi Penduduk Umur ≥ 15 Tahun • Prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 10. yaitu DI Aceh. Kalimantan Selatan. DI Yogyakarta.6%. Gorontalo. DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9. Riau. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6. Jawa Timur. Sumatera Selatan. DKI Jakarta. dan Papua. yaitu Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur. Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. Lampung. Konsumsi Energi Dan Protein • Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1. • Berdasarkan perbedaan menurut jenis kelamin menunjukkan. Sulawesi Tenggara. Kepulauan Riau. Status gizi Wanita Usia Subur 15-45 tahun • Prevalensi nasional Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13. yaitu Riau. Bengkulu. Sumatera Utara. Jawa Tengah. Kepulauan Riau. Riau. yaitu DKI Jakarta. Jawa Barat. Kalimantan Timur. Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. Jawa Tengah. Bali. • Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Banten. Kalimantan Timur. Kalimantan Barat. DKI Jakarta. dan Papua. Kalimantan Selatan. Jawa Timur. Papua Barat. dan Papua. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. Bengkulu. Kalimantan Barat. • Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan.5 kkal. Kalimantan Selatan. DI Yogyakarta. Jambi.8%. Sulawesi Selatan. Kepulauan Riau. Sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. yaitu DI Aceh. yaitu DI Aceh. Nusa Tenggara Timur. Nusa ix . Kepulauan Riau. Riau.9%. DKI Jakarta. sedangkan prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Perempuan Umur ≥ 15 Tahun adalah 23.5%. Banten. Lampung. Kalimantan Tengah. Jambi. Banten. Kalimantan Timur. Kalimantan Timur. Bangka Belitung. Gorontalo. Jawa Barat.• Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) diatas prevalensi nasional.4%. Kepulauan Riau. dan Maluku. Bali. Sumatera Selatan. Jambi. Bengkulu. Kalimantan Timur. Sulawesi Utara. Kepulauan Riau. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. Papua Barat. Bali. Maluku Utara. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional.3%. Maluku. Sulawesi Tengah. Banten. Sulawesi Tenggara. Sumatera Utara. Jawa Timur. Riau.735. Lampung. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. dan Papua. Maluku. dan Maluku. Bengkulu. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Lampung. DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 18. • Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Lakilaki) diatas prevalensi nasional. dan Papua. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. Maluku Utara. Jawa Tengah. bahwa prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Laki-Laki Umur ≥ 15 Tahun adalah 13. Sumatera Selatan.

Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur. • Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55. Sulawesi Barat.4%). Kalimantan Tengah.5%).3%). Flores Timur (11. Konsumsi garam beriodium • Secara nasional. yaitu Sumatera Barat. dan Sulawesi Barat.5%. Jawa Barat. ternyata persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (30-80 ppm KIO3) adalah 24. Maluku. Jambi. Bireuen (5. Karo (99. Sumatera Barat. Bangka Belitung.0%).8%). Tolikara (100%). Sulawesi Selatan. dan Bima (12. Status Imunisasi • Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 86. Gorontalo. Kalimantan Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Aceh Utara (12.1%). Gorontalo dan Papua Barat. Tabanan (11.1%). DKI Jakarta. Jawa Timur.5%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia tertinggi adalah Nagan Raya (100%). Sumatera Barat. Banten. Kalimantan Tengah. Bengkulu.9%). Kalimantan Barat. Sulawesi Barat.9%. Nusa Tenggara Barat.8%. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Maluku Utara. Kepualauan Mentawai (100%). Kalimantan Tengah. Bangka (100%). Lampung. • Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 62. Jambi. Sebanyak 6 provinsi telah mencapai target Universal Salt Iodization 2010 (90%). Sumatera Utara. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Jawa Barat. • Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 67.8%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • Secara nasional. • Dari sampel 30 kabupaten/kota. Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Bangka Belitung. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Gorontalo. Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah. Banten. Sebanyak 16 provinsi mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Dompu (11. Bali. Sulawesi Selatan. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Jawa Barat. Maluku. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan.5 gram. dan Sulawesi Barat. Rote Ndao (11. Kalimantan Selatan. Gorontalo. Sulawesi Utara. Sumatera Selatan.8%). Maluku. Bangka Belitung. Sulawesi Utara.0%. Merangin (100%). Sulawesi Barat.5%). • Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 71. Seram Bagian Timur (10. Kalimantan Timur. dan Rokan Hulu (99. Siak (100%). Sulawesi Tenggara. Sumatera Utara. Banten. Musi Banyuasin (99. Jeneponto (11.Tenggara Barat. Kalimantan Barat. Sumatera Utara.7%).3% rumah tangga Indonesia mempunyai garam cukup iodium. Papua Barat dan Papua. Gorontalo. Sumatera Selatan.7%. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Utara. Banten. Papua Barat dan Papua. yaitu Sumatera Barat. Waropen (100%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Jawa Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Banten. 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia terendah adalah Pidie (1. Nusa x . sebanyak 62. Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan. DI Yogyakarta.

yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Mandailing Natal (36. Riau. yaitu Sumatera Utara. Kalimantan Barat. DI Yogyakarta. Sulawesi Tenggara. Jeneponto (1.5%). dan Jayawijaya (4. dan Gunung Kidul (83.2%). dan Kepulauan Seribu (100. Tolikara (0%). Badung (81. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin terendah adalah Maros (0. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin tertinggi adalah Kepulauan Seribu (100.5%.3%). Keerom (86. Bangka Belitung.7%).6%).500 gram) adalah 11. 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%).5%.3%). Jawa Barat. Sabang (96.6%).0%). Malinau (78.6%). Sumatera Barat. Bangka Belitung. Banten.0%).0%). Kepulauan Riau. dan Wonosobo (78. Banten. Karanganyar (83. Bengkulu.7%). Grobogan (85. Kalimantan Tengah.0%).6%). Sulawesi Selatan.8%).1%). Maluku.3%). Papua Barat dan Papua.Tenggara Timur.4%).8%).7%). Wonogiri (80.2%). Sulawesi Tengah.6%). • Secara nasional. Sumatera Selatan. Gowa (1. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A tertinggi adalah Landak (92. Tolikara ( 28. Sulawesi Barat. Jawa Barat. Berau (79. Sumatera Selatan. dan Sulawesi Barat.9%).7%). Sulawesi Selatan. Kota Bontang (81. Lembata (93.9%).6%. Pegunungan Bintang (2. Kepulauan Riau. Maluku. Sulawesi Tenggara. Papua Barat dan Papua. Kota Surakarta (93.5%).9%). Asmat (4. Maluku. Distribusi Kapsul Vitamin A • Persentase nasional Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A adalah 71. Maluku Utara.9%). Kulon Progo (92. Banten.0%). Kapuas (32. Timor Tengah Utara (84.3%).9%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase Bayi Berat Lahir Lahir Rendah diatas persentase nasional.4%).5%). Sikka (86.0%). Sulawesi Barat. xi . Raja Ampat (96. Bone (1. Bangka Belitung. Mamasa (26. Paniai (0%). Kalimantan Barat. Sebanyak 19 provinsi mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir dibawah persentase nasional. Kepulauan Sula (26.9%).8%).0%).8%). Riau. Kalimantan Tengah. Bengkulu.5%). Sulawesi Tengah. Takalar (2. Keerom (88. yaitu Sumatera Selatan. Pangkajene Kepulauan (2.9%). • Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 81.1%).4%).3%). Kota Metro (80. Temanggung (93. Flores Timur ( 85. Keerom (94. Bantaeng (1. Nusa Tenggara Barat. Bintan (93. Pinrang (1. Gayo Lues (1. Lampung.3%).0%). Kalimantan Barat. Pemantauan Pertumbuhan Balita • Persentase nasional Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir adalah 45. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak • Persentase nasional Bayi Berat Lahir Rendah (< 2.8%). Jambi. Bangka Belitung.0%). Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Maluku.2%). Semarang (94. Papua Barat dan Papua.8%). Dairi ( 35. Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur.0%). dan Wajo (2. Papua Barat dan Papua. Yahukimo (0%). Sumatera Utara. Wonogiri (84. Puncak Jaya (0%).7%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93.4%. Paniai (16. Sumedang (92.0%). 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Anak Umur 659 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A terendah adalah Yahukimo (5. • Secara nasional. Lampung. Labuhan Batu (34. Jambi. Kalimantan Selatan. Buru (23. Kalimantan Tengah. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A dibawah persentase nasional. Nias Selatan (4. Kalimantan Barat. Gorontalo.6%). Sidenreng Rappang (0. Sulawesi Tenggara. yaitu Sumatera Utara.1%). • Secara nasional.0%). Kalimantan Tengah.

3%). dan Puncak Jaya (56. Jawa Tengah. Hanya sebagian kecil ibu di 5 provinsi ini memilih tempat melahirkan di polindes/poskesdes (berkisar antara 0.6%). Maluku. Nusa Tenggara Timur. Lembata (62. • Secara nasional. Langkat (7. Maluku Utara. Sulawesi Tenggara. Bangka Belitung.85.3%). Jambi. Papua Barat dan Papua • Persentase tempat melahirkan tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur. • Prevalensi nasional Pnemonia (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Sikka (55. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Filariasis diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur. Kota Palembang (6. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi xii . Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Demam Berdarah Dengue diatas prevalensi nasional.1%). Papua Barat dan Papua. Bangka Belitung.Kalimantan Tengah. Manggarai Barat (63.85%. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Malaria diatas prevalensi nasional. Sulawesi Selatan. Bengkulu. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat. dan Pontianak (8. Papua Barat. DKI Jakarta.5%). Gorontalo. Sorong Selatan (56. Papua Barat dan Papua.6%).8%). Papua Barat.8%). Maluku Utara. Maluku. Sumatera Barat. Riau. Papua Barat.1%). Sulawesi Tengah. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pnemonia diatas prevalensi nasional.62%. Kalimantan Selatan. Maluku Utara.7%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63. Kepulauan Riau.9%). Papua Barat dan Papua.7%). Papua Barat dan Papua adalah di rumah (berkisar antara 65. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). Gorontalo. Raja Ampat (55.8%). Nusa Tenggara Barat. Maluku Utara. Manggarai (61.5%). Kota Pagar Alam (7. Nusa Tenggara Timur. Maluku. dan Papua.1%). DKI Jakarta. yaitu Nangroe Aceh Darussalam.7%). Gorontalo. Maluku. Gorontalo. Sulawesi Tengah. Pulang Pisau (6. Sulawesi Barat. Bengkulu.4%). • Tempat Melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.11%.1%).13%. Sulawesi Tengah.50%. Jawa Barat. Penyakit Menular – Ditularkan Vektor • Prevalensi nasional Filariasis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0.99%. Nusa Tenggara Barat.0%). Ngada (58. Kalimantan Tengah.5% . Ogan Komering Ulu (6. Kota Pasuruan (8. Maluku Utara. Maluku. Kepulauan Riau. Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Udara • Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25. Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah. dan Papua. dan Papua. • Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Barat. Kalimantan Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3.4% . Nusa Tenggara Timur. • Prevalensi nasional Malaria (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2.3. Kalimantan Selatan. Pegunungan Bintang (59. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Timur. Maluku Utara.0%). Kota Denpasar (4. Bangkulu. Sulawesi Tenggara.8%). Sulawesi Selatan. • Prevalensi nasional Demam Berdarah Dengue (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Banten. Kota Binjai (5.

Jawa Timur. Bangka Belitung.6%). Kota Binjai (10.18%. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Hepatitis diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta.2%). Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Makanan dan Minuman • Prevalensi nasional Tifoid (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1.0%). Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Tengah. dan Jeneponto (51. Jawa Tengah. Maluku Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.8% (berdasarkan pengukuran).1%). Banten. Nusa Tenggara Timur. Banten. Kalimantan Timur.7%). Riau. • Secara nasional.60%. Banten. Riau. Jambi.5%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat. Bali. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Barat.9%). Lembata (57. Hulu Sungai Selatan (48. Sulawesi Utara. Sulawesi Tenggara.9%). Jawa Tengah. Katingan (49. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional.7%). Gorontalo. Sulawesi Tengah.9%). Sulawesi Selatan.7%). Garut (55.5%). Manggarai (54. Kalimantan Selatan. Bengkulu. Sulawesi Tengah.9%). Papua Barat. Papua Barat dan Papua. Papua Barat dan Papua. • Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 9.5%). Sulawesi Selatan.4%). Kalimantan Selatan. yaitu Riau. Sulawesi Selatan. • Secara nasional. Kalimantan Selatan. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi tertinggi adalah Sampang (57. dan Sulawesi Barat. Cianjur (56. Kota Makassar (12. Gorontalo. Sumatera Barat.7%). DI Yogyakarta. DKI Jakarta. Jawa Barat. dan Papua.1%). Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. • Prevalensi nasional Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29. Papua Barat dan Papua. Mamasa (50. Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Rokan Hilir (47.6%). Nusa Tenggara Timur. Sebanyak . Sulawesi Tengah. Gorontalo. Kalimantan Tengah. xiii . Jawa Timur. Riau. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Sumatera Barat. Ogan Komering Ulu (8.1%).Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional. Sulawesi Selatan. DI Yogyakarta.60%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bengkulu. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur. Barito Timur (11. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat.. Nusa Tenggara Barat. dan Papua Barat. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Sendi diatas persentase nasional. Sumedang (55. Wonogiri (49.8%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun tertinggi adalah Natuna (53.9%). Gorontalo.00%.6%). Kota Payakumbuh (11.2%). Nusa Tenggara Barat.3%). Sumatera Barat. Nusa Tenggara Timur.5%). • Prevalensi nasional Hepatitis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Sulawesi Tengah. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi terendah adalah Yakuhimo (0. Kalimantan Selatan. • Prevalensi nasional Campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. Nusa Tenggara Timur. Tolikara ( 53. Ogan Komering Ulu Timur (10.3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Jawa Tengah. provinsi mempunyai prevalensi Tifoid diatas prevalensi nasional. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Timur. Tasikmalaya (56. Penyakit Tidak Menular • Prevalensi nasional Penyakit Sendi adalah 30. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Karo (11. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Campak diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Majalengka (51. Banten. Jawa Barat. Kalimantan Timur. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Siak (9. Jawa Tengah.

6%). Gorontalo.7% (berdasarkan keluhan responden). Kaimana (10. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Glaukoma diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Sulawesi Utara.9%).6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. Sumatera Barat. Pohuwato (13. Jawa Barat. Bangka Belitung. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. Kalimantan Selatan.7%). Tolikara (12.Kuantan Senggigi (46.6%). Jawa Tengah. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Tumor/Kanker diatas prevalensi nasional.5%). Sebanyak 6 provinsi mempunyai prevalensi Buta Warna diatas prevalensi nasional.2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). dan Kota Salatiga (45. dan Papua Barat. Kepulauan Mentawai (11.0%). Bener Meriah (46.1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Bangka Belitung.5%). Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Jiwa Berat diatas prevalensi nasional.4% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). DI Yogyakarta. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Barat. Teluk Wondama (9. Sumatera Barat. Sulawesi Tenggara.1%). dan Manggarai (9.0%). Kepulauan Riau.2%).5% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). Kalimantan Timur. Tana Toraja (9. dan Sulawesi Selatan. DKI Jakarta.6%). Banjar (9.9%).6%). • Prevalensi nasional Penyakit Tumor/Kanker adalah 0. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional. Sulawesi Selatan. Sumatera Barat.1%).7%). dan Nusa Tenggara Barat. dan Tulang Bawang (15. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Bali.6%). yaitu Sumatera Barat. Gorontalo.3%).5% (berdasarkan keluhan responden). Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Selatan.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Seluma (14. Kepulauan Riau. DI Yogyakarta. Sulawesi Tenggara. Tapanuli Selatan (0. Yahukimo (13. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Riau. Langkat (0. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma tertinggi adalah Aceh Barat (13. yaitu xiv .7%). Bangka Belitung. Boalemo (11. • Secara nasional. DKI Jakarta. Jawa Barat.5%).1%). Lampung Utara (0. Banten. Kepulauan Riau. DKI Jakarta. Sumatera Selatan.8%). Sarmi (14.5%). Jawa Barat. • Prevalensi nasional Penyakit Jantung adalah 7. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Stroke diatas prevalensi nasional.5%). Karo (0. Pegunungan Bintang (13. Sulawesi Tengah.2%).6%). Sulawesi Utara.5%). • Prevalensi nasional Penyakit Asma adalah 4. Sumatera Barat. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Jawa Timur. dan Kota Binjai (0. Buol (13. dan Sulawesi Barat.6%). • Prevalensi nasional Strok adalah 0. Nusa Tenggara Barat. • Prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0. DKI Jakarta. Riau.0%). Sulawesi Utara. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Jantung diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Lampung Tengah (). Gorontalo.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur.2%). • Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1. Jawa Barat. Sulawesi Utara. Sorong Selatan (10. Serdang Bedagai (0.6%).5%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6. • Prevalensi nasional Glaukoma adalah 0. dan Papua Barat. Kediri (0. Kalimantan Selatan. Sumba Barat (11.2%). dan Papua Barat. Bengkulu Selatan (11. Gorontalo. Soppeng (0. Tapin (46. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. Jawa Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah.4%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0. • Prevalensi nasional Buta Warna adalah 0. DKI Jakarta.

dan Papua Barat.1%).1% (berdasarkan keluhan responden). visus <20/60 – 3/60). Pulang Pisau (1. Jayapura (1. Cirebon (29. • Prevalensi nasional Hemofilia adalah 0. Sumatera Selatan. dan Muaro Jambi (2. DI Yogyakarta. DI Yogyakarta. Tabalong (2. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua. Jawa Timur. Gorontalo. Kudus (2. DKI Jakarta. Sulawesi Tengah.9%). Sulawesi Tengah. Jawa xv .7%).9%). Jawa Barat. Riau. DKI Jakarta. dan Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur.6%). Kalimantan Tengah. DKI Jakarta. Kepulauan Riau. Jawa Tengah.5%). Sumatera Selatan.0%). DKI Jakarta. Kepulauan Riau.9%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Bengkulu.4%).2% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). Bangka Belitung. • Prevalensi nasional Talasemia adalah 0.6%).8% (berdasarkan keluhan responden). Nusa Tenggara Timur.8% (berdasarkan hasil pengukuran. Bangka Belitung. Sumatera Barat. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Hemofilia diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Dermatitis adalah 6. Jawa Tengah.6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). Bangka Belitung. Sulawesi Tengah.4%). Sumatera Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • Prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. Sulawesi Selatan. • Prevalensi nasional Rhinitis adalah 2. dan Gorontalo. Kepulauan Riau.1%). Sulawesi Selatan. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Bibir Sumbing diatas prevalensi nasional.7% (berdasarkan keluhan responden). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Utara. Belitung Timur (31. Kota Baru (2. • Secara nasional.9%). Kalimantan Timur. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Rhinitis diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. DKI Jakarta. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Maluku. Jawa Barat. Manggarai (32.7%). DKI Jakarta. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Dermatitis diatas prevalensi nasional. Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat. • Persentase nasional Low Vision adalah 4.4%). Jawa Timur. Purwakarta (32. Sumatera Barat. dan Nusa Tenggara Barat. Bengkulu. dan Gorontalo. • Prevalensi nasional Bibir Sumbing adalah 0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.4% (berdasarkan keluhan responden). Bengkulu. Kepulauan Riau. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Selatan. Gorontalo. Banjarnegara (30. Sidoarjo (1. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Low Vision diatas prevalensi nasional. Gorontalo. dan Gorontalo.9% (berdasarkan hasil pengukuran.Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. Bangka Belitung. Kepulauan Riau. Kepulauan Riau. Jawa Tengah. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Talasemia diatas prevalensi nasional. Maluku Tengah (2. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Barat. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan. Bengkulu. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan.0%).4%). Sumatera Barat. DI Yogyakarta. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1. Karimun (1. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Lampung. dan Papua Barat. • Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 11. Jawa Tengah. Aceh Selatan (32.4%). Jawa Timur. visus < 3/60). Boalemo (29.9%) dan Kota Malang (29. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Utara.

DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1. Banten. Sumatera Selatan. Sumatera Barat. Jambi. Maluku. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 21 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Boalemo (47. Maluku Utara. Kota Metro (1. Bondowoso (3. Lampung. Kampar (35. Kalimantan Tengah.8%). Bali. Pasaman (39.6%). Kalimantan Tengah. Sumatera Barat.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). dan Luwu Utara (35. Sulawesi Selatan.5%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur.6%). Sulawesi Tenggara. Maluku Tenggara (38.0%). Sulawesi Barat. Sumatera Selatan. Timor Tengah Utara (36. Maluku. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. Lampung. yaitu Sumatera Utara. Jawa Timur. Jawa Tengah. Sumatera Utara.00 g/dl. dan Maluku Utara. Sulawesi Utara. Kalimantan Selatan.5%). dan Papua Barat.5%). Gorontalo. Nusa Tenggara Timur.1%. Jambi. Kalimantan Barat. Jawa Barat. Bangka Belitung. Gorontalo. Madiun (2. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa adalah 14. Sumatera xvi . 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. Papua Barat dan Papua.1%). Nusa Tenggara Barat. • Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18. Jombang (3. dan Papua Barat. Bengkulu. • Prevalensi nasional Masalah Gigi-Mulut adalah 23. Bali. Sulawesi Tenggara. Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Masalah Gigi-Mulut diatas prevalensi nasional. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan.7%). Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua. Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darusalam.6%). Jambi. Bengkulu. Bali. Nusa Tenggara Barat. Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan. Maluku. Kalimantan Timur. DI Yogyakarta. Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. dan Karo (3. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. Gorontalo. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Kota Magelang (2. Lampung Utara (3. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). Sulawesi Selatan. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional.8%). • Secara nasional.5%). Aceh Barat Daya (41. dan Maluku. Sulawesi Barat. Sulawesi Barat. Sumatera Selatan. • Prevalensi nasional Karies Aktif adalah 43.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Bangka Belitung. Maluku Utara. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Gosok Gigi Setiap Hari dibawah prevalensi nasional. Jeneponto (40. Karanganyar (2.3).6%).6%). Pengukuran Biomedis (Anemia dan Diabetes Mellitus) • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13.2%). Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat. Sulawesi Tenggara. Di Yogyakarta. Sebanyak 14 provinsi memiliki prevalensi Karies Aktif diatas prevalensi nasional.1%). Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah.Barat. yaitu Riau. Bengkulu.4%. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.67 g/dl.2%). Mojokerto (3. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan.6%).5%). Pidie (40. Jambi. Sulawesi Utara. DI Yogyakarta. • Prevalensi nasional Gosok Gigi Setiap Hari adalah 91.

Sulawesi Utara. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun adalah 19. Maluku. Sulawesi Tengah. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. DKI Jakarta. Sulawesi Barat. Sulawesi Tenggara. • Prevalensi nasional Toleransi Glukosa Terganggu (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. dan gangguan berjalan jauh (11. Jawa Barat. Sulawesi Tenggara. DI Yogyakarta.67 g/dl. Kepulauan Riau. Sulawesi Tengah. • Persentase nasional 3 penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (58. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur.Utara.7%. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan. Maluku. bertempat tinggal di perkotaan) adalah 10. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah.2%. Kalimantan Tengah. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun (berdasarkan International Classification of Functioning. Jawa Timur. • Prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5.9%) dan terluka benda tajam (20. dan Papua Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Sumatera Barat. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua. Bangka Belitung. DI Yogyakarta.5%. Sumatera Selatan. Banten. Sulawesi Selatan. Gorontalo. Kalimantan Barat. yaitu Sumatera Barat. Lampung. Kalimantan Timur. Gorontalo. kecelakaan transportasi darat (25.7%. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. Jawa Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tenggara. xvii . Jawa Timur. Jawa Timur. Banten. Banten. Jambi. Sulawesi Selatan. Jawa Tengah. Sulawesi Utara. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung.5%).0%). dan Maluku Utara. Sumatera Barat. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu diatas prevalensi nasional. yaitu Sumatera Barat.6%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun dibawah nilai rerata nasional. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Utara. Jawa Barat.5% (berdasarkan pengakuan responden. Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. DI Yogyakarta. Banten. gangguan penglihatan jarak dekat (11. Jawa Tengah. Sulawesi Utara. DKI Jakarta. Jawa Barat. DKI Jakarta. Jawa Tengah. Bangka Belitung. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Cedera diatas prevalensi nasional. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Riau. Nusa Tenggara Barat. Disability and Health) yang paling menonjol adalah gangguan penglihatan jarak jauh (11. Jawa Tengah.6%). Perilaku Merokok • Persentase nasional Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 23. Lampung. Jawa Barat. Gorontalo. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. yaitu Bengkulu. Riau. Kalimantan Barat.7%). Bangka Belitung. Jawa Timur. dan Maluku Utara. Gorontalo. dan Maluku Utara. Riau. Bali. Sulawesi Selatan. untuk berbagai penyebab cedera). Bangka Belitung. Cedera dan Disabilitas • Prevalensi nasional Cedera adalah 7. Maluku Utara. Kalimantan Timur. Bengkulu. Jawa Tengah. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun adalah 12. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. dan Papua Barat. Lampung. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat.

Sidoarjo (14.3%). Gunung Kidul (65. Melawi (34. dan Lampung Barat (33. Boven Digul (36.4%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Puncak Jaya (8. Humbang Hasundutan (62. dan Maluku Utara.• Secara nasional. Jambi. Maluku.6%).3%). Sulawesi Barat. Riau.6%). Nusa Tenggara Barat. Probolinggo (34. Maluku.2%). Aceh Timur (19. Mappi (44.2%).1%). Nusa Tenggara Timur.9%).9%). Sulawesi Selatan.9%). Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur • Prevalensi nasional Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 93. Kota Ambon (15. Gorontalo. DI Yogyakarta. Magetan (63.4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Kota Bukit Tinggi (17.3%). Sulawesi Utara. Kota Samarinda (18.5%).9%). Temanggung (36. Pegunungan Bintang (35. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.4%). Kepulauan Riau.3%). Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Bali. Banten. Bangka Belitung.8%). Bali.8%). Kota Tomohon (61. Perilaku Aktifitas Fisik • Prevalensi nasional Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 48. dan Papua Barat. Barru (15. Sumatera Barat. Langsa (17.3%). Bungo (18. Sulawesi Tengah.0).6%.3%). Buton (15. Nusa Tenggara Timur. Karo (40.8%). dan Seram Bagian Barat (19. • Secara nasional.9%). Kota Lubuk Linggau (12. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Tengah. Sumatera Selatan. Maluku. Yapen Waropen (15. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Wonosobo (34.7%.4%).5%).7%). • Secara nasional. Sedangkan jenis rokok yang paling diminati adalah kretek dengan filter (64. Sulawesi Selatan. Sumatera Barat. Riau. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Pacitan (68. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Asmat (53. Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung • Prevalensi nasional Pernah Mendengar Flu Burung adalah 64. Kota Kupang (11. Kalimantan Selatan.8%). Kepulauan Riau. Sumatera Selatan.6%. DKI Jakarta.6%). Sumatera Utara. Papua Barat. Jawa Barat.8%). Pontianak (13.5%).2%. Jawa Barat. Ogan Komering Ulu Timur (62. Bali. Bangli (62. Lampung. Maluku Utara.5%). Perilaku Minum Minuman Beralkohol • Prevalensi nasional Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir adalah 4. yaitu Sumatera Utara. Banten.9%). Jawa Barat. Manokwari (13. dan Toba Samosir (61. DKI Jakarta. dan Sulawesi Tengah.5%). Sulawesi Tenggara. Kota Balikpapan (19. Kalimantan Barat. Sulawesi Utara. Dairi (61.2%). Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.7%). Sumatera Utara. Kalimantan Timur. 85. Kepulauan Riau. Sulawesi Utara. Kalimantan Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota mempunyai dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Kota Padang (11.4%).4%). Kota Payakumbuh (13. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan.0%). xviii . Sekadau (62. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar Flu Burung dibawah prevalensi nasional. Kepulauan Riau.2%).4%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir diatas prevalensi nasional. dan Tabalong (15. DKI Jakarta. yaitu Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional.0). dan Papua. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan.

• Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) adalah 78,7%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) dibawah prevalensi nasional, yaitu Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pengetahuan dan Sikap tentang HIV/AIDS • Prevalensi nasional Pernah Mendengar HIV/AIDS adalah 44,4%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar HIV/AIDS dibawah prevalensi nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara. • Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) adalah 13,9%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) dibawah prevalensi nasional, yaitu Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Perilaku Higienis • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar adalah 71,1%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan adalah 23,2%. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Pola Konsumsi Makanan Berisiko • Secara nasional, prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur > 10 tahun adalah Penyedap (77,8%), Manis (68,1%), dan Kafein (36,5%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai penduduk umur > 10 tahun yang mengkonsumsi Penyedap diatas prevalensi nasional, yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Barat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • Prevalensi nasional Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah 38,7%. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau,

xix

Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terendah adalah Raja Ampat (0%), Supiori (0%), Gayo Lues (1,3%), Kepulauan Mentawai (1,4%), Nias Selatan (1,8%), Jayawijaya (2,1%), Paniai (2,1%), Nagan Raya (2,2%), Nias (3,0%), dan Timor Tengah Selatan (3,8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertinggi adalah Klungkung (100%), Badung (100%), Sumedang (68,8%), Kota Batu ( 67,1%), Gianyar (66,7%), Soppeng (64,7%), Kota Tomohon (63,4%), Kota Kendari (62,1%), Sukoharjo (61,3%), dan Kuningan (60,5%). Akses Ke Sarana Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu, Dokter Praktek, Bidan Praktek) • Secara nasional, sebanyak 94,1% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana pelayanan kesehatan dan sebanyak 90,8% rumah tangga dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit. • Sebanyak 18 provinsi mempunyai persentase rumah tangga berada lebih dari 5 km dari sarana pelayanan kesehatan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Akses Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu, Poskesdes, Polindes) • Secara nasional, sebanyak 98,4% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat, dan sebanyak 96,5% rumah tangga dapat mencapai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat kurang atau sama dengan 30 menit. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang berada kurang • atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat diatas persentase nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sebanyak 27,3% rumah tangga memanfaatkan posyandu, 62,5% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu karena tidak membutuhkan, dan 10,3% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu untuk alasan lainnya. Rawat Inap • Secara nasional, persentase tertinggi tempat rawat inap yang dipilih rumah tangga adalah Rumah Sakit Pemerintah (3,1%), Rumah Sakit Swasta (2,0%) dan Puskesmas (0,8%). • Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Rumah Sakit Pemerintah untuk tempat rawat inap dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku.

xx

• Sebanyak 6 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Puskesmas untuk tempat rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat inap adalah Dari Kantong Sendiri (71,0%), Askes/Jamsostek (15,6%), dan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (14,3%). • Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Rawat Jalan • Secara nasional, persentase tertinggi yang dipilih rumah tangga untuk tempat rawat jalan adalah Rumah Sakit Bersalin (14,8%), Tenaga Kesehatan (13,9%), dan Rumah Sakit Pemerintah (1,6%). • Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih tenaga kesehatan sebagai tempat untuk rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Utara, Gorontalo. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat jalan adalah Dari Kantong Sendiri (74,5%), Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (10,8%), dan Askes/Jamsostek (9,8%). • Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Ketanggapan Pelayanan Kesehatan • Secara nasional, 3 aspek Ketanggapan Pelayanan Kesehatan yang memperoleh penilaian baik terendah dari rumah tangga adalah Kebersihan Ruangan (82,9%), Kebebasan Memilih Sarana (84,5%), dan Waktu Tunggu (84,8%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memberikan penilaian baik atas Kebersihan Ruangan dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Air Bersih • Persentase nasional rumah tangga dengan rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter adalah 14,4%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter dibawah persentase nasioal, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat,

xxi

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. Fasilitas buang air besar • Persentase nasional rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri adalah 60,0%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Sarana Pembuangan Air Limbah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah adalah 24,9%. Sebanyak 23 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pembuangan sampah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72,9%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Perumahan • Persentase nasional rumah tangga dengan rumah berlantai tanah adalah 13,8%. Sebanyak 7 provinsi mempunyai persentase rumah tangga dengan rumah berlantai tanah diatas persentase nasional, yaitu Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Pemeliharaan Ternak • Secara nasional terdapat 39,4% rumah tangga yang memelihara unggas, 11,6% memelihara ternak sedang, 9,0% memelihara ternak besar dan 12,5% memelihara binatang jenis anjing, kucing atau kelinci. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10-20% memeliharanya di dalam rumah. Mortalitas • Gambaran nasional selama 12 tahun (1995–2007) menunjukkan bahwa proses transisi epidemiologi telah berlangsung seiring dengan transisi demografi. Transisi epidemiologi ditandai dengan pergeseran penyebab kematian dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Transisi demografi ditandai dengan pergeseran proporsi kematian dari struktur penduduk umur muda ke arah penduduk umur yang lebih tua. • Penurunan proporsi penyakit menular sebagai penyebab dasar kematian tahun 2001-2007 tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (1995-2001). Di lain pihak, peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 19952001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama. Dengan demikian Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan menghadapi beban ganda,

xxii

yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap, serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat. • Selanjutnya, proporsi penyakit/gangguan yang berhubungan dengan kematian maternal serta kematian perinatal tidak berubah dalam periode terakhir (2001-2006). Upaya-upaya peningkatan pelayanan berkualitas untuk kehamilan, persalinan, masa nifas perlu terus menerus ditingkatkan untuk menurunkan kematian maternal dan perinatal.

xxiii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i Sambutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ..............................................iii Ringkasan............................................................................................................. v Daftar isi............................................................................................................ xxiv Daftar Tabel, gambar, dan grafik ..................................................................... xxvii Daftar Singkatan ..................................................................................................xli Daftar Lampiran ................................................................................................. xliv BAB 1. 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 BAB 2. 2.1 2.2 2.3 Pendahuluan ........................................................................................ 1 Latar Belakang......................................................................................... 1 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 .............................................................. 2 Pertanyaan Penelitian.............................................................................. 2 Tujuan Riskesdas .................................................................................... 3 Kerangka Pikir ......................................................................................... 3 Alur Pikir Riskesdas 2007 ........................................................................ 4 Pengorganisasian Riskesdas................................................................... 5 Manfaat Riskesdas .................................................................................. 6 Persetujuan Etik Riskesdas ..................................................................... 6 Metodologi Riskesdas .......................................................................... 7 Disain....................................................................................................... 7 Lokasi ...................................................................................................... 7 Populasi dan Sampel ............................................................................... 8 Penarikan Sampel Blok Sensus ........................................................ 8 Penarikan Sampel Rumah Tangga ................................................... 8 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga ..................................... 8 Penarikan Sampel Biomedis ............................................................. 9 Penarikan Sampel Iodium ................................................................. 9

2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.3.5 2.4 2.5 2.6

Variabel.................................................................................................. 13 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data.............................. 14 Manajemen Data ................................................................................... 18 Editing ............................................................................................. 18 Entry................................................................................................ 18 Cleaning .......................................................................................... 18 xxiv

2.6.1 2.6.2 2.6.3

2.7 2.8 BAB 3. 3.1

Keterbatasan Riskesdas ........................................................................ 19 Pengolahan dan Analisis Data............................................................... 20 Hasil dan Pembahasan ...................................................................... 34 Gizi ........................................................................................................ 34 Status Gizi Balita ............................................................................. 34 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)............... 45 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas .............................. 48 Konsumsi Energi dan Protein.......................................................... 56 Konsumsi Garam Beriodium ........................................................... 60 Status Imunisasi .............................................................................. 66 Pemantauan Pertumbuhan Balita ................................................... 71 Distribusi Kapsul Vitamin A ............................................................. 80 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak................................ 82 Prevalensi Filariasis, Demam Berdarah Dengue dan Malaria ......... 99 Prevalensi ISPA, Pnemonia, Tuberkulosis (TB), dan Campak...... 103 Prevalensi Tifoid, Hepatitis, Diare ................................................. 107 Penyakit Tidak Menular Utama, Penyakit Sendi, dan Penyakit Gangguan Mental Emosional ........................................................ 119 Penyakit Mata ............................................................................... 122 Kesehatan Gigi.............................................................................. 130 Anemia .......................................................................................... 148 Diabetes Mellitus ........................................................................... 156 Cedera .......................................................................................... 160 Status Disabilitas / Ketidakmampuan ............................................ 170 Perilaku Merokok .......................................................................... 174 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur .............................................. 186 Perilaku Minum Minuman Beralkohol ............................................ 189 xxv

3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.3 3.3.1 3.3.2 3.3.3 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.4.4 3.5 3.5.1 3.5.2 3.6 3.6.1 3.6.2 3.7 3.7.1 3.7.2 3.7.3

Kesehatan Ibu dan Anak ....................................................................... 66

Penyakit Menular ................................................................................... 99

Penyakit Tidak Menular ....................................................................... 110

Keturunan .................................................................................................. 110

Biomedis .............................................................................................. 148

Cedera dan Disabilitas......................................................................... 160

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku........................................................ 174

....9............................... 244 Daftar Pustaka .............. 239 Air Keperluan Rumah Tangga....... 275 Kematian Semua Umur......................................................8 3............. 194 Perilaku Higienis ................................. 270 Mortalitas ..............................................................................7 3.................................... 205 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ......... 207 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan .............................................9....3 3....1 3. 211 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan ..... 266 Pembuangan sampah .5 3......9.10.10.........................4 3.3 3..... 278 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.................10.................................................................................8..............7........................3..................................................................6 3.....8..... 275 Distribusi Kasus Kematian ............................................. 192 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS ..........7..................................................8..................... 244 Fasilitas Buang Air Besar ..............3 Perilaku Aktifitas Fisik ...................................5 3..1 3...................10 3..........7......... 202 Pola Konsumsi Makanan Berisiko ...................................................9 3............................... 268 Perumahan........4 3..... 231 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan ....7...2 3............. 291 xxvi ..............2 3............. 276 Kematian Menurut Kelompok Umur ...................................... 211 Kesehatan Lingkungan .............. 258 Sarana pembuangan air limbah .............7..................................1 3...................................................... 286 Lampiran...........................9........9...........................................................8 3.............................2 3.............................

2007 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari 21 Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan. Tabel 2. Tabel 2.1 Tabel 2.DAFTAR TABEL.13. GAMBAR.10 Tabel 2.7. Riskesdas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil 22 Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil 23 Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita 24 hasilPengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun 25 hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 26 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 27 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 28 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 29 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 31 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Tabel 2.4. Tabel 2. DAN GRAFIK Nomor Tabel Tabel 1.5.3. Tabel 2.9 Tabel 2.8 Tabel 2. Tabel 2.6 Nama Tabel Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Hal 2 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 10 2007 Jumlah Sampel Rumah tangga (RT) per Provinsi menurut 11 Susenas 2007 dan Riskesdas.1. 2007 Jumlah Sampel Anggota Rumah tangga (ART) per Provinsi 12 menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.2 Tabel 2. Tabel 2.12 Tabel 2.14 xxvii .11 Tabel 2.

12 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 2. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik 42 Responden.Tabel 2. Tabel 3.17 Tabel 3. 35 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.5 Tabel 3.16 Tabel 3.19 xxviii . Riskesdas 2007 54 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun 55 Menurut Provinsi.14 Tabel 3.16 Tabel 3. Riskesdas 2007 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut 58 Provinsi. 38 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik 39 Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut 47 Karakteristik. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT 51 dan Karakteristik Responden.13 Tabel 3.4.15 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.1. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) 49 Menurut IMT dan Provinsi.6 Tabel 3.10 Tabel 3.8 Tabel 3.7 Tabel 3. Tabel 3.18 Tabel 3. Tabel 3.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 32 hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 33 Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 52 Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi. WHO 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut 46 Jenis Kelamin dan Provinsi. Umur dan Jenis Kelamin.9 Tabel 3. Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke 50 Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun 56 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 53 Atas menurut Karakteristik Responden.3. 37 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi. 43 Riskesdas 2007 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut 45 Nilai Rerata IMT.2.11 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik 41 Responden.

34 Tabel 3. 78 Riskesdas 2007 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik 79 Responden.32 Tabel 3.29 Tabel 3.26 Tabel 3.35 Tabel 3. 76 Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik 77 Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 71 Dasar menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.23 Tabel 3. Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup 61 Iodium menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 67 Dasar menurut Provinsi.28 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 80 Vitamin A menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.38 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 72 Terakhir dan Provinsi.39 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 65 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 64 Tabel 3.22 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 70 Dasar menurut Provinsi. Riskesdas 2007 xxix .33 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 74 Terakhir dan Provinsi.Tabel 3.37 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 60 Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita . Riskesdas 2007 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.25 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 69 Dasar menurut Karakteristik Responden.27 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 75 Terakhir dan Karakteristik Responden.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 59 Rendah dari Rerata Nasional.20 Tabel 3.36 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 73 Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium 62 Menurut Karakteristik Responden.30 Tabel 3.31 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam 63 mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007.24 Tabel 3.

46 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 90 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 82 Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 85 menurut Karakteristik Responden. Malaria dan 101 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.47 Tabel 3.57 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 83 Karakteristik.42 Tabel 3.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 94 Provinsi. Demam Berdarah Dengue.49 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 81 Vitamin A menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 86 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 98 dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 95 Karakteristik Responden. Riskesdas 92 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus Responden. Riskesdas 2007 Tabel 3.56 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 88 Kehamilan dan Provinsi.43 Tabel 3.58 xxx .44 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis.48 Tabel 3.Tabel 3.50 Tabel 3.45 Tabel 3.51 Tabel 3.53 Tabel 3. Riskesdas 2007 menurut Karakteristik 93 Tabel 3.40 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 97 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 89 Kehamilan dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi 96 Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 91 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.41 Tabel 3.54 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 84 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 87 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi.52 Tabel 3.

74 xxxi .72 Tabel 3.62 Tabel 3. Hepatitis.73 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 127 Menurut Karakteristik Responden. Dermatitis.61 Tabel 3.Tabel 3.69 Tabel 3. Talasemi. Responden. dan Campak menurut 104 Provinsi. Glaukoma. Diare menurut Provinsi. Pneumonia. Hipertensi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. Diabetes Mellitus. Sumbing. Diabetes* Dan Tumor** 115 menurut Provinsi. Dan Tumor 116 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Persendian. Riskesdas 108 2007 Prevalensi Tifoid. Hipertensi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma.67 Prevalensi Penyakit Persendian. Malaria dan 102 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.60 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 120 Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 121 berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. dan Campak menurut 106 Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma*. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. Pneumonia. Rhinitis.71 Tabel 3.68 Tabel 3. dan Strok menurut 113 Karakteristik Responden. 123 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. 124 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 125 menurut Provinsi.70 Tabel 3.65 Tabel 3. Buta 118 Warna.59 Prevalensi Filariasis.62 Tabel 3. Hepatitis. TB. TB.66 Tabel 3. Jantung. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 128 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Riskesdas 2007 Diare menurut Karakteristik 109 Tabel 3. Demam Berdarah Dengue.64 Tabel 3. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.63 Tabel 3. Jantung*. dan Strok menurut 111 Provinsi.

Tabel 3.89 Tabel 3.80 Tabel 3.150 laki Dewasa.84 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 134 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 147 Normal Gigi.92 Tabel 3. 140 Riskesdas 2007 Komponen D. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 145 menurut Karakteristik Responden. Protesa dan Provinsi.88 Tabel 3. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 139 Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut 149 Provinsi Riskesdas 2007 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki.90 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk Provinsi.82 Tabel 3.93 xxxii . Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut 143 Karakteristik Responden.Riskesdas 2007 Bermasalah Gigi-Mulut menurut 131 menurut 133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 135 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.77 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 136 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 146 Normal Gigi. M. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 138 Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 129 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik 141 Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 137 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Tabel 3. Edentulous. Protesa dan Provinsi.79 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Komponen D.91 Tabel 3.87 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 144 menurut Provinsi.81 Tabel 3.83 Tabel 3.78 Tabel 3.85 Tabel 3. M. Anak-anak dan Ibu Hamil.86 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 142 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Edentulous.76 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT. 158 Riskesdas 2007 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua 159 Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.113 Tabel 3.111 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut 151 Provinsi.110 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Provinsi.106 Tabel 3. Obesitas Abdominal dan 159 Hipertensi Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah 160 dan Aktifitas Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.Tabel 3. Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.97 Tabel 3.105 Tabel 3.102 Tabel 3.112 Tabel 3.96 Tabel 3.99 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.154 Anak Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain 154 Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 155 2007 Prevalensi TGT.107 Tabel 3. DDM dan UDDM pada penduduk perkotaan 156 di Indonesia Riskesdas 2007 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus 157 menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. 169 Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang 170 Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.104 Tabel 3.109 Tabel 3. DM. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut 165 Karakteristik Responden. 166 Riskesdas 2007.114 xxxiii .100 Tabel 3.94 Tabel 3.103 Tabel 3. Riskesdas 2007 Dewasa PerkotaanMenurut 152 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak.98 Tabel 3. Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi. 164 Riskesdas 2007 Tabel 3.108 Tabel 3. Riskesdas 2007.106. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun KeatasMenurut 172 Status dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut 173 Status dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 dan 167 168 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.101 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3.95 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 175 Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.

Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok 177 yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.122 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 180 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.120 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 194 menurut Karakteristik Responden.117 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 188 ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 185 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 187 ke Atas menurut Provinsi.119 Tabel 3.124 Tabel 3.131 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 190 menurut Provinsi.Tabel 3.Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 186 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.116 Tabel 3.130 Tabel 3.127 Tabel 3.125 Tabel 3.126 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 179 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 193 menurut Provinsi.118 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 183 menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota 184 Rumah Tangga menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 191 menurut Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 195 dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 181 menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.121 Tabel 3.132 xxxiv .115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 176 Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 196 dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden.129 Tabel 3.128 Tabel 3.123 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang 178 Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.

Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 206 Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.140 Tabel 3.148 xxxv .138 Tabel 3.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 198 Tentang HIV/AIDS dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 215 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 214 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi.139 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 205 Makanan Berisiko menurut.141 Tabel 3.146 Tabel 3.147 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 209 Konsumsi Sayur Buah.137 Tabel 3. Kurang Aktifitas Fisik.143 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 204 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan 216 Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 203 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 212 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada 200 Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi di Indonesia.142 Tabel 3. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku 208 Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 199 Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 210 Konsumsi Sayur Buah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh 213 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.136 Tabel 3.145 Tabel 3.134 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap 201 Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.Tabel 3.144 Tabel 3.

161 Tabel 3.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan 233 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 227 Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Menurut Tempat dan 232 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan 223 Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.159 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 220 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.163 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 222 Di Desa Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 228 Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.155 Tabel 3.151 Tabel 3.154 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 230 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 229 Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.157 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Provinsi.153 Tabel 3.158 Tabel 3.162 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 231 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 218 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.149 Persentase Rumah Posyandu/Poskesdes Riskesdas 2007 Tangga Menurut Pemanfaatan 217 dan Karakteristik Rumah Tangga.160 Tabel 3.152 Tabel 3. Riskesdas 2007 xxxvi . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan 226 Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 221 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.164 Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 224 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 225 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga. Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 219 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.156 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 253 dan Provinsi di Indonesia. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi di Indonesia.183 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 235 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 238 Provinsi.170 Tabel 3.167 Tabel 3.175 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 247 Sumber Air. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 244 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa 249 Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.179 Tabel 3.177 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 246 Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir 236 Menurut Tempat dan Provinsi.166 Tabel 3.182 Tabel 3.174 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 251 dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga 250 yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan 237 Karakteristik Rumah Tangga.168 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 243 dan Provinsi.172 Tabel 3.181 Tabel 3.178 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 239 Karakteristik Rumah Tangga.176 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 234 dan Provinsi.180 Tabel 3.169 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 242 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 248 Sumber Air. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 252 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 241 dan Provinsi.184 xxxvii .173 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 245 Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi di Indonesia.171 Tabel 3.

Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 262 dan Provinsi di Indonesia. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 259 Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.190 Tabel 3. Susenas 2007 Tabel 3.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 254 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.194 Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2008 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 270 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan 267 Air Limbah dan Provinsi.192 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 258 dan Karakteristik Rumah Tangga.199 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 260 Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Riskesdas 2007 Tempat 255 Sebelum Tempat 256 Sebelum Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Provinsi.188 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan 268 Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.189 Tabel 3. 271 Kepadatan Hunian dan Provinsi.201 Tabel 3.195 Tabel 3.193 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 269 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi. Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 261 dan Provinsi.196 Tabel 3.187 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 265 Tinja dan Provinsi. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 266 Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.202 xxxviii .191 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 257 dan Provinsi. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 264 dan Karakteristik Rumah Tangga.198 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 263 dan Provinsi.197 Tabel 3.185 Tabel 3.200 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun. Riskesdas 2007 281 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan 272 Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.219 Tabel 3.215 Tabel 3.204 Tabel 3.209 Tabel 3.205 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 273 Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.206 Tabel 3.216 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe 276 Daerah.210 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun 282 menurut jenis kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 Penyakit.208 Tabel 3.222 xxxix .207 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke 285 atas enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Tipe Daerah.213 Tabel 3.214 Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 274 Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua 278 Umur.218 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas 285 menurut Jenis Kelamin Tabel 3.211 Tabel 3.212 Tabel 3.217 Tabel 3. 280 Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas 280 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 279 ha Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian 279 Bayi 0-6 hari.221 Tabel 3.220 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun 281 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis 275 Kelamin.

1 Nama Grafik Penyakit.Nomor Gambar Gambar 1.1 Gambar 1.2 Nama Gambar Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Alur Pikir Riskesdas 2007 Hal 3 5 Nomor Grafik Grafik 3. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Hal Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 xl .

DAFTAR SINGKATAN ART AFP ASKES ASKESKIN BB BB/U BB/TB BUMN BALITA BABEL BCG BBLR BATRA CPITN D DG DM DDM D-T DKI DPT DIY DMF-T DEPKES F-T G HB IDF IMT ICF ICCIDD IU JNC JABAR JATENG JATIM KEPRI KALTIM KALTENG KALSEL KALBAR Anggota Rumah Tangga Acute Flaccid Paralysis Asuransi Kesehatan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Berat Badan Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Tinggi Badan Badan Usaha Milik Negara Bawah Lima Tahun Bangka Belitung Bacillus Calmete Guerin Berat Bayi Lahir Rendah Pengobatan Tradisional Community Periodental Index Treatment Needs Diagnosis Diagnosis dan Gejala Diabetes Mellitus Diagnosed Diabetes Mellitus Decay . Disability and Health International Council for the Control of Iodine Deficiency Disorders International Unit Joint National Committee Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat xli .Teeth Daerah Khusus Ibukota Diptheri Pertusis Tetanus Daerah Istimewa Yogyakarta Decay Missing Filling .Teeth Departemen Kesehatann Filling Teeth Gejala klinis Hemoglobin International Diabetes Federation Indeks Massa Tubuh International Classification of Functioning.

KK Kg KEK KKAL KEP KMS KIA KLB LP LILA mmHg mL MI M-T MTI MDG Malut Nakes NAD NTT NTB O Poskesdes Polindes Pustu Puskesmas PTI POLRI PNS PT PPI PD3I PIN Posyandu PPM RS RSB RTI RPJM Riskesdas SRQ SKTM SPAL Sumbar Sumsel Sulut Sulbar Sulsel Sulteng Kepala Keluarga Kilogram Kurang Energi Kalori Kilo Kalori Kurang Energi Protein Kartu Menuju Sehat Kesehatan Ibu dan Anak Kejadian Luar Biasa Lingkar Perut Lingkar Lengan Atas Milimeter Air Raksa Mili Liter Missing index Missing Teeth Missing Teeth Index Millenium Development Goal Maluku Utara Tenaga Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Obat atau Oralit Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa Puskesmas Pembantu Pusat Kesehatan Masyarakat Performed Treatment Index Polisi Republik Indonesia Pegawai Negeri Sipil Perguruan Tinggi Panitia Pembina Ilmiah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Pekan Imunisasi Nasonal Pos Pelayanan Terpadu Part Per Million Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Required Treatment Index Rencana Pembangunan Jangka Menengah Riset Kesehatan Dasar Self Reporting Questionnaire Surat Keterangan Tidak Mampu Saluran Pembuangan Air Limbah Sumatera Barat Sumatera Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah xlii .

Sultra SD SD SLTP SLTA TB TB TB/U TT TDM TGT UNHCR UNICEF UCI UDDM WHO WUS µl Sulawesi Tenggara Standar Deviasi Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Tinggi Badan Tuberkulosis Tinggi Badan/Umur Tetanus Toxoid Total Diabetes Mellitus Toleransi Glukosa Terganggu United Nations High Commissioner for Refugees United Nations Children's Fund Universal Child Immunization Undiagnosed Diabetes Mellitus World Health Organization Wanita Usia Subur Mikro Liter xliii .

1 . Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877/MENKES/SK/XI/2006 tentang Tim Riset Kesehatan Dasar.Kuesioner Riset Kesehatan Dasar xliv .DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) Lampiran 2.1. Lampiran 1.2.

Susenas Modul Kesehatan dan Sjurvei Kesehatan Rumah Tangga hanya menghasilkan estimasi yang mewakili tingkat kawasan atau provinsi. Pelaksanaan Riskesdas 2007 mengakui pentingnya komparabilitas. Riskesdas 2007 dirancang dengan pengendalian mutu yang ketat. maka kewenangan yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan kini berada di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. kesehatan lingkungan. tetapi juga menggambarkan berbagai indikator kesehatan minimal sampai ke tingkat kabupaten/kota. informasi yang valid. Departemen Kesehatan RI mengembangkan misi: “membuat rakyat sehat”. 1 . serta manajemen data yang terkoordinasikan dengan baik. Pelaksanaan Riskesdas 2007 adalah upaya mengisi salah satu dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Informasi yang valid. sebagai salah satu unit utama di lingkungan Departemen Kesehatan yang berfungsi menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti. Untuk mewujudkan visi “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. asupan. agar mampu mengembangkan dan melaksanakan survei berskala besar serta menganalisis data yang kompleks. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based di seluruh Indonesia. sampel yang memadai. perumusan dan pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai survei berbasis komunitas seperti Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. selain validitas dan reliabilitas.BAB 1. Penyelenggaraan Riskesdas 2007 dimaksudkan pula untuk membangun kapasitas peneliti di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. provinsi dan kabupaten/kota. bukan saja berskala nasional. Data dasar yang dihasilkan Riskesdas 2007 terdiri dari indikator kesehatan utama tentang status kesehatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa survei yang ada belum memadai untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Sampai saat ini belum tersedia peta status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi di tingkat kabupaten/kota. Pengalaman menunjukkan bahwa komparabilitas dari suatu survei rumah tangga seperti Riskesdas 2007 dapat dicapai dengan efisien melalui disain instrumen yang canggih dan ujicoba yang teliti dalam pengembangannya. dan berbagai aspek pelayanan kesehatan. proses serta luaran sistem kesehatan. untuk meningkatkan manfaat Riskesdas 2007 maka komparabilitas berbagai alat pengumpul data yang digunakan. perilaku kesehatan. belum sepenuhnya dibuat berdasarkan informasi komunitas yang berbasis bukti. status gizi. Lebih jauh lagi. Pada tahap disain. 1. reliable dan comparable dari suatu proses pemantauan dan penilaian sesungguhnya dapat berkontribusi bagi ketersediaan evidence pada skala nasional. reliable dan comparable dari Riskesdas 2007 dapat digunakan untuk mengukur berbagai status kesehatan. baik untuk tingkat individual maupun rumah tangga menjadi isu yang sangat penting. Rencana pembangunan kesehatan yang appropriate dan adequate membutuhkan data berbasis komunitas yang dapat mewakili populasi (rumah tangga dan individual) pada berbagai jenjang administrasi. Riskesdas 2007 diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). baik di pusat maupun di daerah. Data dasar ini.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah sebuah policy tool bagi pembuat kebijakan kesehatan diberbagai jenjang administrasi. Dengan demikian.

Apa dan bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. Sampel 35. Cedera & Kecelakaan Nasional S/J/KTI 8.3 Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam Riskesdas 2007 dikembangkan berdasarkan pertanyaan kebijakan kesehatan yang sangat mendasar terkait upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. provinsi dan kabupaten/kota? c. maka pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui Riskesdas adalah: a. KTI: Kawasan Timur Indonesia 1. Penyakit -S/J/KTI 7.000 -Kabupaten Provinsi Kabupaten ------ Riskesdas 2007 280. Perilaku -S/J/KTI 4.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 adalah riset berbasis komunitas dengan sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga yang dapat mewakili populasi di tingkat kabupaten/kota.000 10. provinsi dan kabupaten/kota? b. Riskesdas 2007 mencakup sampel yang lebih besar dari survei-survei kesehatan sebelumnya.1. Riskesdas 2007 menyediakan informasi kesehatan dasar termasuk biomedis. Gizi & Pola Konsumsi -S/J/KTI 5.000 2. Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Indikator SDKI SKRT Susenas 2007 280. Pola Mortalitas Nasional S/J/KTI 3. Dibandingkan dengan survei berbasis komunitas yang selama ini dilakukan. Balitbangkes melaksanakan Riskesdas untuk menyediakan informasi berbasis komunitas tentang status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dengan keterwakilan sampai tingkat kabupaten/kota. Sesuai dengan latar belakang pemikiran dan kebutuhan perencanaan. 1. Disabilitas -S/J/KTI 9.Atas dasar berbagai pertimbangan di atas.000 Nasional Kabupaten Kabupaten Kabupaten Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Nasional 1. tingkat keterwakilan Riskesdas adalah sebagai berikut : Tabel 1. Gigi & Mulut --10. Bagaimana status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. J: Jawa-Bali. dan mencakup aspek kesehatan yang lebih luas. Apa masalah kesehatan masyarakat yang spesifik di setiap provinsi dan kabupaten/kota? 2 . Biomedis --S: Sumatera. Sanitasi lingkungan -S/J/KTI 6. dengan menggunakan sampel Susenas Kor.

Berbagai indikator yang ditanyakan. b. Menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan termasuk alokasi sumber daya di berbagai tingkat administratif.1. d. Bagan kerangka pikir Blum dapat dilihat pada Gambar 1. maka tujuan Riskesdas 2007 adalah sebagai berikut : a. Keempat faktor penentu tersebut adalah: lingkungan. Gambar 1. provinsi dan kabupaten/kota. c. diukur atau diperiksa adalah sebagai berikut : a. 1981).4 Tujuan Riskesdas Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut diatas. Konsep ini terfokus pada status kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara simulatn oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu sama lain. Menyediakan peta status dan masalah kesehatan di tingkat nasional.1.1. Status kesehatan mencakup variabel: 3 .5 Kerangka Pikir Pengembangan Riskesdas 2007 didasari oleh kerangka pikir Henrik Blum (1974. Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Pada Riskesdas tahun 2007 ini tidak semua indikator dikumpulkan baik yang terkait dengan status kesehatan maupun ke empat faktor penentu dimaksud. Membandingkan status kesehatan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi antar provinsi dan antar kabupaten/kota 1. perilaku. pelayanan kesehatan dan keturunan. Menyediakan informasi berbasis bukti untuk perumusan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai tingkat administratif.

Siklus yang dimulai dari Tahapan 1 hingga Tahapan 6 menggambarkan sebuah system thinking yang seyogyanya berlangsung secara berkesinambungan dan berkelanjutan. meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular • Disabilitas (ketidakmampuan) • Status gizi (berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk semua umur. Ketanggapan pelayanan kesehatan. HIV/AIDS Akses terhadap pelayanan kesehatan. dan pengukuran lingkar lengan atas untuk wanita usia 15-45 tahun) • Kesehatan jiwa b. Faktor lingkungan mencakup variabel: • Konsumsi gizi. reliable. pemeriksaan bayi dan imunisasi). Untuk menjamin appropriateness dan adequacy dalam konteks penyediaan data kesehatan yang valid. comparable. Perilaku aktivitas fisik. maka pada setiap tahapan Riskesdas 2007 dilakukan upaya penjaminan mutu yang ketat. Dengan demikian. pengukuran lingkar perut untuk penduduk dewasa 15 tahun keatas. meliputi tingkat pendidikan. sanitasi. buang air besar) Pengetahuan. tingkat sosial-ekonomi. Keenam tahapan ini terkait erat dengan ide dasar Riskesdas untuk menyediakan data kesehatan yang valid. kabupaten/kota c. Dengan demikian. reliable dan comparable. serta dapat menghasilkan estimasi yang dapat mewakili rumah tangga dan individu sampai ke tingkat kabupaten/kota. perbandingan kota – desa dan perbandingan antar provinsi.2) ini secara skematis menggambarkan enam tahapan penting dalam Riskesdas 2007. berbagai instrumen yang dikembangkan untuk Riskesdas 2007 mengacu pada berbagai instrumen yang telah ada dan banyak digunakan oleh berbagai bangsa di dunia (61 negara). Perilaku gosok gigi. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. Perilaku konsumsi sayur dan buah.• Mortalitas (pola penyebab kematian untuk semua umur) • Morbiditas. Faktor perilaku mencakup variabel: • • • • • • d. meliputi konsumsi energi. polusi dan sampah • Lingkungan sosial. protein. meliputi air minum. Substansi pertanyaan. vitamin dan mineral • Lingkungan fisik. Cakupan program KIA (pemeriksaan kehamilan. pengukuran dan pemeriksaan Riskesdas 2007 mencakup data kesehatan yang mengadaptasi sebagian pertanyaan World Health Survey yang dikembangkan oleh the World Health Organization. termasuk untuk upaya kesehatan berbasis masyarakat. namun harus memberikan arah bagi pengembangan pertanyaan kebijakan berikutnya. sikap dan perilaku terhadap flu burung. hasil Riskesdas 2007 bukan saja harus mampu menjawab pertanyaan kebijakan. Pelayanan kesehatan mencakup variabel: • • • • 1. Instrumen dimaksud 4 . Perilaku higienis (cuci tangan. Perilaku merokok/konsumsi tembakau dan alkohol.6 Alur Pikir Riskesdas 2007 Alur pikir (Gambar 1.

Disain Alat Pengumpul Data • Kuesioner wawancara. Laporan • Tabel Dasar • Hasil Pendahuluan Nasional • Hasil Pendahuluan Provinsi • Hasil Akhir Nasional • Hasil Akhir Provinsi 2. output dan outcome kesehatan.dikembangkan. Manajemen Data Riskesdas 2007 • Editing • Entry • Cleaning follow up • Perlakuan terhadap missing data • Perlakuan terhadap outliers • Consistency check • Analisis syntax appropriateness • Pengarsipan 1. Indikator • Morbiditas • Mortalitas • Ketanggapan • Pembiayaan • Sistem Kesehatan • Komposit variabel lainnya Policy Questions Research Questions 6. Pelaksanaan Riskesdas 2007 • Pengembangan manual Riskesdas • Pengembangan modul pelatihan • Pelatihan pelaksana • Penelusuran sampel • Pengorganisasian • Logistik • Pengumpulan data • Supervisi / bimbingan teknis 4. Alur Pikir Riskesdas 2007 1. Gambar 1. Statistik • Deskriptif • Bivariat • Multivariat • Uji Hipotesis 3. diuji dan dipergunakan untuk mengukur berbagai aspek kesehatan termasuk didalamnya input. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan 5 .2. pemeriksaan • Validitas • Reliabilitas Riskesdas 2007 5. pengukuran.7 Pengorganisasian Riskesdas Riskesdas direncanakan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. process.

Banten. Sulawesi Tenggara.2)) 6 . Gorontalo. lembaga penelitian. b. pemerintah daerah.Sulawesi Utara. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. Riau. Maluku. perguruan tinggi. pengorganisasian Riskesdas 2007 dibagi menjadi berbagai tingkat dengan rincian sebagai berikut (Lihat Lampiran 1.9 Persetujuan Etik Riskesdas Riskesdas ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Sulawesi Tengah. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1.8 Manfaat Riskesdas Riskesdas memberikan manfaat bagi perencanaan pembangunan kesehatan berupa : • • Tersedianya data dasar dari berbagai indikator kesehatan di berbagai tingkat administratif. Sumatera Utara. Bali. DI Yogyakarta. Kalimantan Barat. c. Jawa Tengah. Daftar provinsi.melibatkan berbagai pihak. e.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi DKI Jakarta. Kalimantan Tengah.1. Tersedianya informasi berkelanjutan. Maluku Utara. Nusa Tenggara Barat. Papua Barat. Sumatera Selatan. dan Sulawesi Barat. Jambi. Sumatera Barat. Lampung. organisasi profesi. Kalimantan Selatan. d. (Lampiran 1. untuk perencanaan pembangunan kesehatan yang • 1. antara lain Badan Pusat Statistik. dan Kepulauan Riau b. Tingkat pusat Tingkat wilayah (empat wilayah) Tingkat provinsi (33 Provinsi) Tingkat kabupaten (440 Kabupaten/Kota) Tim pengumpul data (disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) Pengumpulan data Riskesdas 2007 direncanakan untuk dilakukan segera setelah selesainya pengumpulan data Susenas 2007. koordinator wilayah dan jadwal pengumpulan data per wilayah disusun sebagai berikut: a. dan Kalimantan Barat c. dan Papua d. Bangka Belitung. Stratifikasi indikator kesehatan menurut status sosial-ekonomi sesuai hasil Susenas 2007.) : a. Nusa Tenggara Timur. dan partisipasi masyarakat. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. Sulawesi Selatan. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi Jawa Timur. Jawa Barat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877 Tahun 2006.

14) 7 . 11) Kabupaten Buton Utara. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. Laporan Hasil Riskesdas 2007 akan menggambarkan berbagai masalah kesehatan di tingkat nasional dan variabilitas antar provinsi. 3) Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). secara menyeluruh. 2. relative standard error. 5) Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat). Lebih lanjut. 13) Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo). 10) Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). Dengan demikian. METODOLOGI RISKESDAS 2. dengan catatan sebagai berikut: a. Sebanyak 16 (enam belas) kabupaten tidak termasuk dalam sampel Riskesdas 2007 karena merupakan pengembangan kabupaten baru yang pada saat perencanaan Riskesdas belum diperhitungkan. 2) Kota Subussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam). design effect dan jumlah sampel tertimbang akan menyertai setiap estimasi variabel. karena metodologinya hampir seluruhnya sama dengan Susenas 2007 (lihat penjelasan pada seksi berikut). data Riskesdas 2007 mudah dikorelasikan dengan data Susenas 2007. 4) Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan).BAB 2. 6) Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat).1 Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. sementara Susenas 2007 sudah mengikuti jumlah kabupaten/kota yang ada. para pembentuk kebijakan dan pengambil keputusan di bidang pembangunan kesehatan dapat menarik manfaat yang optimal dari ketersediaan data Riskesdas 2007.2 Lokasi Sampel Riskesdas 2007 di tingkat kabupaten/kota berasal dari 440 kabupaten/kota (dari jumlah keseluruhan sebanyak 456 kabupaten/kota) yang tersebar di 33 (tiga puluh tiga) provinsi Indonesia. 9) Minahasa Tenggara. sedangkan di tingkat provinsi. dapat menggambarkan masalah kesehatan di tingkat provinsi dan variabilitas antar kabupaten/kota. akurat dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan di berbagai tingkat administratif. 12) Kabupaten Konawe Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). Disain Riskesdas 2007 dikembangkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan teori dasar tentang hubungan antara berbagai penentu yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Pidie Jaya. diukur atau diperiksa. 8) Kabupaten Kepulauan Siao Tagolandang Biaro. Dengan disain ini. Kabupaten dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Kab. maka setiap pengguna informasi Riskesdas dapat memperoleh gambaran yang utuh dan rinci mengenai berbagai masalah kesehatan yang ditanyakan. atau dengan data survei lainnya seperti data kemiskinan yang menggunakan metodologi yang sama. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Riskesdas 2007 didisain untuk mendukung pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah. Riskesdas 2007 menyediakan data dasar yang dikumpulkan melalui survei berskala nasional sehingga hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan kebijakan kesehatan bahkan sampai ke tingkat kabupaten/kota. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. confidence interval. 7) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Pada Riskesdas. Dengan begitu. Secara keseluruhan. Riskesdas berhasil mengunjungi 17. Riskesdas menggunakan sepenuhnya sampel yang terpilih dari Susenas 2007. (Lihat Tabel 2. yang menjadi sampel rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. b. pada Riskesdas 2007. 2. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud.2). 2. Secara keseluruhan. jumlah sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota Susenas 2007 adalah 277. 15) Kabupaten Sumba Tengah. berdasarkan sampel blok sensus dalam Susenas 2007 yang berjumlah 17. 2. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi penghitungan dan cara penarikan sampel untuk Riskesdas 2007 identik pula dengan two stage sampling yang digunakan dalam Susenas 2007. Sebanyak 2 (dua) kabupaten masuk kedalam sampel Riskesdas 2007.3.134.3. 16) Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur). Dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel kabupaten/kota diambil sejumlah blok sensus yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut.3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga Selanjutnya. sedang Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 258.150 blok sensus dari 438 jumlah kabupaten/kota. Diluar itu. seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih dari kedua proses penarikan sampel tersebut diatas diambil sebagai sampel individu. Bila dalam sebuah blok sensus terdapat lebih dari 150 (seratus lima puluh) rumah tangga maka dalam penarikan sampel di tingkat ini akan dibentuk sub-blok sensus. walaupun tidak masuk kedalam sampel Susenas 2007.2 Penarikan Sampel Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 16 (enam belas) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). yaitu: 1) Kabupaten Puncak Jaya dan 2) Kabupaten Pegunungan Bintang (Provinsi Papua). Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 972. dalam 438 kabupaten/kota pada Susenas 2007 terdapat 1.284 rumah tangga. 2. Kemungkinan sebuah blok sensus masuk kedalam sampel blok sensus pada sebuah kabupaten/kota bersifat proporsional terhadap jumlah rumah tangga pada sebuah kabupaten/kota (probability proportional to size).225 (satu juta seratus tiga puluh empat ribu dua rtus dua puluh lima) sampel anggota rumah tangga.1).357 (tujuh belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) sampel blok sensus.Kabupaten Sumba Barat Daya.3. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007.1 Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya.989 individu yang sama dengan 8 .3 Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. terdapat 15 blok sensus dari 2 kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas 2007 (Lihat Tabel 2.630 (dua ratus tujuh puluh tujuh enam ratus tiga puluh). terkumpul 182 rumah tangga tambahan dari dua (2) kabupaten di Papua.

26. Pengukuran kadar iodium dalam garam dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beriodium. 9 . Untuk pengukuran kedua. dan Puslitbang Gizi dan Makanan.5 Penarikan Sampel Iodium Ada 2 (dua) pengukuran iodium. (Lihat Tabel 2.114 orang. Pemilihan 30 kabupaten berdasarkan hasil survei konsumsi garam beriodium pada Susenas 2005 dengan memilih secara acak 10 (sepuluh) kabupaten dimana tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga tinggi. sampel garam rumah tangga diambil. adalah pengukuran kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga. Pengukuran kadar iodium dalam garam dilakukan dengan test cepat menggunakan “iodina” dilakukan pada seluruh sampel rumah tangga.3. dipilih secara acak dua (2) rumah tangga yang mempunyai anak usia 6-12 tahun dari 16 RT per blok sensus di 30 kabupaten yang dapat mewakili secara nasional. Khusus untuk pengukuran gula darah. dan kedua adalah pengukuran iodium dalam urin. 2. Pertama. 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga sedang dan 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga rendah. yang berasal dari 272 kabupaten/kota dan 540 blok sensus. Bogor.357 (tiga puluh enam ribu tiga ratus limapuluh tujuh) anggota rumah tangga berusia lebih dari satu (1) tahun. Pada Riskesdas 2007.3. Sedangkan pengukuran iodium dalam urin adalah untuk menilai kemungkinan kelebihan konsumsi garam iodium pada penduduk. sampel diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun yang berjumlah 19.065 sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota. Secara keseluruhan.5. Dalam Riskesdas 2007 dilakukan test cepat iodium dalam garam pada 257.919. 2674 sampel garam beriodium rumah tangga dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada garam.Susenas. dan 8473 anak usia 6-12 tahun yang dilakukan pengukuran kadar iodium dalam urin.3).2. Dari rumah tangga yang terpilih.bab. Balai GAKI-Magelang. terkumpul 673 sampel anggota rumah tangga. 30 Kabupaten yang terpilih dapat dilihat pada sub. Riskesdas 2007 mengumpulkan 36. terpilih sampel anggota rumah tangga berasal dari 971 blok sensus perkotaan yang dari 294 kabupaten/kota dalam Susenas 2007. 2. Dari jumlah tersebut. Secara nasional. berhasil digabung dengan sampel anggota rumah tangga Rikesdas sejumlah. dan juga sampel urin dari anak usia 6-12 tahun yang selanjutnya dikirim ke laboratorium Universitas Diponegoro.4 Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis adalah anggota rumah tangga berusia lebih dari 1 (satu) tahun yang tinggal di blok sensus dengan klasifikasi perkotaan. dari dua (2) kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas. dan 182 rumah tangga dari dua (2) kabupaten di Papua.

Dengan demikian 17.Tabel 2. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 15 BS. 10 . Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.165 BS berhasil dikumpulkan.1 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Jml BSSusenas 2007 687 1054 692 434 380 540 342 438 230 230 427 1282 1578 216 1872 304 358 360 608 456 534 494 474 354 388 918 416 210 196 215 209 146 315 17357 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jml BSRiskesdas 2007 683 1045 689 426 379 538 337 424 230 230 409 1267 1576 215 1872 303 357 360 605 455 533 471 461 325 376 909 416 200 191 215 208 144 301 17150 Jml BS yang tidak ada 4 9 3 8 1 2 5 14 0 0 18 15 2 1 0 1 1 0 3 1 1 23 13 29 12 9 0 10 5 0 1 2 14 207 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.

498 95.472 5.543 7.664 85.5 Kalimantan Timur 5.6 Lampung 3.9 Jawa Barat 25.078 5.640 8.021 4.8 Sulawesi Tenggara 3.344 2. 2007 Jumlah Sampel RTSusenas 2007 Jumlah Sampel RTRiskesdas 2007 % Sampel RT Riskesdas /Susenas Provinsi 10.072 10.2 Sumatra Utara 11.074 81.386 97.8 DI Yogyakarta 29.8 Kalimantan Barat 8.5 Sumatra Selatan 5.9 Sulawesi Utara 6.585 80.664 4. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.430 94.248 24.9 10.792 91.769 92.578 6.2 Sulawesi Selatan 6.6 Nusa Tenggara Timur 7.4 Maluku 3.447 87.680 3.366. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 182 RT.Tabel 2.864 4.421 97.284 93.4 Jawa Timur 4.263 91.630 258.008 6.563 95.6 DKI Jakarta 20.647 98. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.420 92.064 92.728 5.375 95.981 NAD 16.490 92.2.634 96.4 Kepulauan Riau 6.578 97.7 Sulawesi Tengah 14.090 92.904 7.952 28.456 3.821 78.0 Nusa Tenggara Barat 9.431 91.5 Bengkulu 7.806 95.1 Papua*) 277.760 5.134 2.861 16.469 94.512 19.2 Maluku Utara 2.359 3.329 1.8 Bali 5.705 88.424 2.933 6.3 Jawa Tengah 3.206 94.890 71.9 Kalimantan Selatan 7.418 94.208 5.687 13.915 87.728 9.6 Riau 6.2 Kalimantan Tengah 7. Dengan demikian rumah tangga yang dikumpulkan berjumlah 258.294 6.959 86.680 3.1 Bangka Belitung 3.241 93.0 Sumatra Barat 6. 11 .831 94.0 Sulawesi Barat 3.832 4.1 Banten 5.656 6.402 92.2 Papua Barat 5.5 Jambi 8.0 Gorontalo 3.0 Indonesia *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.

Jumlah Sampel Anggota Rumah Tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.4 88.2 85.754 21.4 83.021 25.152 9.557 28.645 12.8 89.848 22.056 22.4 94.9 93.3 86.856 36.136 16. 2007 Jumlah Sampel ARTSusenas 2007 46.9 84.570 14.205 orang 12 .486 1.7 87.952 21.Tabel 2.5 84.519 78.4 83.642 11.870 27.349 10.954 33.637 14.928 14.8 92.7 91.7 69.706 25.015 25.9 73.156 17.085 986.966 17.530 22.276 20.603 21.0 85.532 %Sampel ART Riskesdas /Susenas 88.521 95. Dengan demikan ART yang berhasil di wawancarai adalah sejumlah 987.548 45.418 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jumlah Sampel ARTRiskesdas 2007 40.1 60.7 67.646 29.9 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan peg.465 110.3.4 82.256 42.687 14.164 100.297 38.5 83.046 74.044 23.148.250 28.970 68. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.2 91.512 54.3 85.624 29.3 92.514 16.269 11.898 15.7 89.361 13.756 31.553 63.189 6.8 82. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 673 ART).397 21.119 10.410 26.5 81.245 10.048 29.661 13.064 22.648 47.4 81.966 24.2 92.2 90.002 39.570 26.3 70.358 19.4 85.435 33.591 45.833 13.2 81.460 87.412 20.892 69.2 61.

Dalam Riskesdas 2007 terdapat kurang lebih 900 variabel yang tersebar dalam 6 (enam) jenis kuesioner.RT) yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (9 variabel). dan riwayat penyakit turunan (50 variabel). • Blok VII tentang sanitasi lingkungan (17 variabel). Papua Barat. Blok X-I tentang kesehatan reproduksi – pertanyaan tambahan untuk 5 provinsi: NTT. Kuesioner individu (RKD07. • Blok IV tentang anggota rumah tangga (12 variabel). yang terdiri dari: • Blok VIII tentang konsumsi makanan rumah tangga 24 jam lalu. ii.Maluku Utara.2. • Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). • Blok XI tentang pengukuran dan pemeriksaan (14 variabel). d. Maluku. vii. c. • Blok X tentang keterangan individu dikelompokkan menjadi: i. • Blok VI tentang akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (11 variabel). Kuesioner gizi (RKD07. Papua (6 variabel).AV1). viii. 13 . yang terdiri dari: • Blok IX tentang keterangan wawancara individu (4 variabel). v. Blok X-F tentang kesehatan mental untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (20 variabel). Kuesioner rumah tangga (RKD07. b.GIZI). Blok X-G tentang imunisasi dan pemantauan pertumbuhan untuk semua anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan (11 variabel). • Blok V tentang mortalitas (10 variabel).4 Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan kebijakan kesehatan Indonesia dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). vi. • Blok II tentang keterangan yang meninggal (6 variabel). Blok X-A tentang identifikasi responden (4 variabel). tidak menular. • Blok II tentang keterangan rumah tangga (7 variabel).IND). iii. Blok X-E tentang disabilitas/ketidakmampuan untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (23 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari (RKD07. Blok X-C tentang ketanggapan pelayanan kesehatan Pelayanan rawat inap (11 variabel) Pelayanan berobat jalan (10 variabel iv. Blok X-H tentang kesehatan bayi (khusus untuk bayi berumur < 12 bulan (7 variabel). Blok X-B tentang penyakit menular.

• Blok IV tentang resume riwayat sakit untuk umur 5 tahun keatas (5 variabel).AV2).5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2007 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari . Kuesioner autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (RKD07. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07.RT • Responden untuk Kuesioner RKD07.< 5 tahun (RKD07. • Blok IV tentang resume riwayat sakit bayi/balita (6 variabel) f. • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel).RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi 14 . e. • Blok IVA tentang keadaan bayi ketika lahir (6 variabel). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel).• Blok III tentang karakteristik ibu neonatal (5 variabel). • Blok VIA tentang bayi usia 0-28 hari termasuk lahir mati (4 variabel). • Blok IVB tentang keadaan bayi ketika sakit (12 variabel). • Blok IIIA tentang autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (44 variabel). • Blok IIIB tentang autopsi verbal untuk perempuan umur 10 tahun keatas (4 variabel). • Blok IIID tentang autopsi verbal untuk laki-laki atau perempuan yang berumur 15 tahun keatas (1 variabel). • Blok VIB tentang keadaan ibu (8 variabel). terdapat dua (2) formulir yang digunakan untuk pengumpulan data tes cepat iodium garam (Form Garam) dan data iodium didalam urin (Form Pemeriksaan Urin).<5 tahun (35 variabel). dengan rincian sebagai berikut: a. • Blok III tentang autopsi verbal riwayat sakit bayi/balita berumur 29 hari . Catatan Selain keenam kuesioner tersebut diatas. • Blok IIIC tentang autopsi verbal untuk perempuan pernah kawin umur 10-54 tahun (19 variabel).AV3).1 Kuesioner Riskesdas 2007. yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). Lihat Lampiran 2. • Blok V tentang autopsi verbal kesehatan ibu neonatal ketika hamil dan bersalin (2 variabel). 2.

Penyakit Tekanan Darah Tinggi.RT terdapat verifikasi terhadap keterangan anggota rumah tangga yang dapat menunjukkan sejauh mana sampel Riskesdas 2007 identik dengan sampel Susenas 2007. • Anggota rumah tangga berumur 6-12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan iodium dalam urin. Tuberkulosis Paru. serta pengukuran lingkar lengan atas (khusus untuk wanita usia subur 15-45 tahun. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 30 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Katarak. • Informasi mengenai kejadian kematian dalam rumah tangga di recall terhitung sejak 1 Juli 2004. Pnemonia.IND adalah setiap anggota rumah tangga.• Dalam Kuesioner RKD07. Filariasis. Asma. sikap dan perilaku terkait Penyakit Flu Burung. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Sendi. Penyakit Jantung. Demam Tifoid. penggunaan alkohol. Pengumpulan data kematian dengan teknik autopsi verbal menggunakan Kuesioner RKD07. tinggi badan / panjang badan. Penyakit Kencing Manis.AV yang sesuai dengan umur anggota rumah tangga yang meninggal dimaksud. HIV/AIDS. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 10 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai pengetahuan. termasuk ibu hamil). b. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kematian yang terjadi dalam 12 bulan sebelum wawancara dilakukan eksplorasi lebih lanjut melalui autopsi verbal dengan menggunakan kuesioner RKD07. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. Malaria. disabilitas. serta perilaku terkait dengan konsumsi buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar. termasuk di dalamnya kejadian bayi lahir mati. Tumor / Kanker dan Penyakit Keturunan. 15 .AV2 dan RKD07. aktivitas fisik. perilaku higienis. RKD07. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan gigi permanen. • Anggota rumah tangga berumur > 5 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan visus. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Stroke. • Anggota rumah tangga berumur < 12 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai kesehatan bayi. • Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. Diare. Cedera.IND • Secara umum.AV1. responden untuk Kuesioner RKD07. kesehatan mental. pengukuran lingkar perut. Hepatitis. Campak. serta pengukuran berat badan. c. pengukuran tekanan darah. Demam Berdarah Dengue. Gigi dan Mulut.AV3. • Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular. penggunaan tembakau. penyakit tidak menular dan penyakit keturunan sebagai berikut: Infeksi Saluran Pernafasan Akut.

Pembagian ini dimaksudkan untuk memenuhi kepraktisan ketika dilakukan wawancara agar tetap terarah pada penyebab kematian secara spesifik pada setiap kelompok usia. Untuk pemeriksaan kadar glukosa darah. Kuesioner dilengkapi dengan lembar khusus untuk pembuatan resume riwayat patofisiologi perjalanan penyakit sampai terjadi kematian dan penegakan diagnosis penyebab kematian. Pengumpulan data biomedis berupa spesimen darah dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk di blok sensus perkotaan di Indonesia. hanya diberi pembebanan sebanyak 300 kalori (alasan medis dan etika). e. Nilai rujukan (WHO. data dikumpulkan dari anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun. Sampel 30 kabupaten/kota dipilih untuk pengamatan ini berdasarkan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga hasil Susenas 2005: 16 . gejala sakit sebelum seorang individu meninggal dengan teknik autopsi verbal (AV) melalui wawancara kepada keluarga almarhum/ah yang merawatnya ketka sakit. 1999) yang digunakan adalah sebagai berikut: • • • Normal (Non DM) < 140 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) 140 . Pengambilan sampel darah dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga berumur di atas satu (1) tahun dari rumah tangga terpilih di blok sensus perkotaan terpilih sesuai Susenas 2007. Khusus untuk responden yang sudah diketahui positif menderita Diabetes Mellitus (berdasarkan konfirmasi dokter).Model kuesioner Riskesdas-mortalitas 2007 (RKD07. dengan total sampel 15.AV1 – AV3) dirancang untuk mengumpulkan tanda. kuesioner untuk usia lima (5) tahun ke atas (RKD. • Jumlah blok sensus di daerah perkotaan yang terpilih berjumlah 971. Darah didiamkan selama 20–30 menit. Rangkaian pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut: • Dari Blok sensus perkotaan yang terpilih pada Susenas 2007. kecuali wanita hamil (alasan etika). Responden terpilih memperoleh pembebanan sebanyak 75 gram glukosa oral setelah puasa 10–14 jam. dengan melakukan pengumpulan garam beriodium pada rumah tangga bersamaan dengan pemeriksaan kadar iodium dalam urin pada anggota rumah tangga yang sama. Pengamatan tingkat nasional pada dampak konsumsi garam beriodium dinilai berdasarkan kadar iodium dalam urin. kuesioner AV2 untuk balita berumur 28 hari-<5 tahun (RKD. Sampel darah diambil dari seluruh anggota rumah tangga (kecuali bayi) yang menanda-tangani informed consent. yang keduanya akan dikerjakan oleh dokter reviewer dengan mengacu pada ketentuan International Classification of Diseases 10 (ICD-10) dari WHO. f. Pengambilan darah vena dilakukan setelah 2 jam pembebanan. dipilih sejumlah 15% dari total blok sensus perkotaan. riwayat perdarahan dan menggunakan obat pengencer darah secara rutin. Serum segera diperiksa dengan menggunakan alat kimia klinis otomatis.< 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM) > 200 mg/dl. disentrifus sesegera mungkin untuk dijadikan serum.AV2).AV1). d. Ada tiga (3) macam kuesioner AV yang dipakai yaitu: kuesioner AV1 untuk neonatal berumur 0-<28 hari (RKD.536 RT. Pengumpulan data konsumsi garam beriodium rumah tangga untuk seluruh sampel rumah tangga Riskesdas 2007 dilakukan dengan tes cepat iodium menggunakan “iodina test”.AV3). Pengambilan darah tidak dilakukan pada anggota rumah tangga yang sakit berat.

Kabupaten Balangan dan Kabupaten Mappi. d. Kabupaten Katingan. Kota Metro.• Tinggi – meliputi Kabupaten Blitar. Kabupaten Klungkung. Kabupaten Sikka. Kabupaten Tapin. Kabupaten Toba Samosir. Sedangkan Koordinator Wilayah III dan IV lebih lambat. Kabupaten Solok Selatan. sehingga waktu pengumpulan data pada provinsi di wilayah III dan sangat bervariasi (akhir Juli 2007 . Kabupaten Bantul. sehingga dalam analisis perlu beberapa penyesuaian agar komparabilitas data dari satu periode pengumpulan data yang satu dengan periode pengumpulan data lainnya dapat terjaga dengan baik. Kabupaten Grobogan. Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur). Pelatihan dilaksanakan di tiap provinsi. c. sehingga bisa melaksanakan pengumpulan data lebih awal (akhir Juli 2007). Koordinator Wilayah I dan II bisa mencairkan anggaran sebelum terjadinya perubahan kebijakan anggaran dimaksud. Kondisi geografis dari sampel blok sensus terpilih amat bervariasi. Kota Salatiga. Petugas dimaksud adalah para analis atau petugas laboratorium dari rumah sakit atau laboratorium daerah. Maluku. Pelatihan dilakukan oleh peneliti dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi dan petugas Labkesda setempat.January 2008). • Buruk – meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah. Situasi ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: a. b. Catatan Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007 tidak dapat dilakukan serentak pada pertengahan 2007. pelaksanaan pengumpulan data dalam berbagai situasi amat tergantung pada ketersediaan alat transpor. Kabupaten Bondowoso. sehingga pelaksanaan dari satu lokasi pengumpulan data ke lokasi lainnya memerlukan koordinasi dan manajemen logistik yang rumit. ketersediaan tenaga pendamping dan ketersediaan biaya operasional yang memadai tepat pada waktunya. 17 . Perubahan kebijakan anggaran internal Departemen Kesehatan pada tahun anggaran 2007 menyebabkan gangguan ketersediaan dana operasional untuk pengumpulan data. Bahkan untuk lima (5) provinsi daerah sulit (Papua. Kabupaten Donggala. Kota Dumai. Di daerah kepulauan dan daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. Kota Tarakan dan Kabupaten Jeneponto. Kabupaten Jember. Kabupaten Nganjuk. Kota Pasuruan. Kabupaten Karawang. Kota Semarang. pengumpulan data baru dapat dilaksanakan pada Agustus-September 2008. Untuk pengumpulan data biomedis. Kabupaten Karo. Kota Kendari. Kabupaten Konawe dan Kota Gorontalo). Kesiapan daerah untuk berperanserta dalam pelaksanaan Riskesdas 2007 amat bervariasi. Kabupaten Semarang. Papua Barat. perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk petugas pengambil spesimen dan manajemen spesimen. • Sedang – meliputi Kota Tangerang.

pewawancara bekerjasama dalam sebuah tim yang terdiri dari tiga (3) pewawancara dan seorang Ketua Tim. Ketua Tim Pewawancara harus mengkonsultasikan seluruh masalah editing yang dihadapinya kepada Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kabupaten dan / atau Penangung Jawab Teknis (PJT) Provinsi.3 Cleaning Tahapan cleaning dalam manajemen data merupakan proses yang amat menentukan kualitas hasil Riskesdas 2007. 2. Di lapangan. memeriksa kuesioner yang telah diisi serta membantu memecahkan masalah yang timbul di lapangan dan juga melakukan editing. Kuesioner Riskesdas 2007 mengandung pertanyaan untuk berbagai responden dengan kelompok umur yang berbeda. Prasyarat pengetahuan dan keterampilan ini menjadi penting untuk menekan kesalahan entry. Ketua Tim Pewawancara harus dapat membagi waktu untuk tugas pengumpulan data dan editing segera setelah selesai pengumpulan data pada setiap blok sensus. no responses.2. 2. 2. Kuesioner yang sama juga banyak mengandung skip questions yang secara teknis memerlukan ketelitian petugas entry data untuk menjaga konsistensi dari satu blok pertanyaan ke blok pertanyaan berikutnya. Buku kode disiapkan dan digunakan sebagai acuan bila menjumpai masalah entry data.2 Entry Tim manajemen data yang bertanggungjawab untuk entry data harus mempunyai dan mau memberikan ekstra energi berkonsentrasi ketika memindahkan data dari kuesioner / formulir kedalam bentuk digital. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak data diperoleh dari jawaban responden. Perlakuan terhadap missing values. Peran Ketua tim Pewawancara sangat kritikal dalam proses editing. outliers amat menentukan akurasi dan presisi dari estimasi yang dihasilkan Riskesdas 2007. 18 . Urutan kegiatan manjemen data dapat diuraikan sebagai berikut. Tim Manajemen Data menyediakan pedoman khusus untuk melakukan cleaning data Riskesdas.6. Kegiatan ini seyogyanya dilaksanakan segera setelah diserahkan oleh pewawancara.6 Manajemen Data Manajemen data Riskesdas dilaksanakan oleh Tim Manajemen Data Pusat yang mengkoordinir Tim Manajemen Data dari Korwil I – IV. Hasil pelaksanaan entry data ini menjadi bagian yang penting bagi petugas manajemen data yang bertanggungjawab untuk melakukan cleaning dan analisis data.6. PJT Kabupaten dan PJT Provinsi bertugas untuk melakukan supervisi pelaksanaan pengumpulan data. Fokus perhatian Ketua Tim Pewawancara adalah kelengkapan dan konsistensi jawaban responden dari setiap kuesioner yang masuk. Petugas entry data Riskesdas merupakan bagian dari tim manajemen data yang harus memahami kuesioner Riskesdas dan program data base yang digunakannya.6.1 Editing Editing adalah salah satu mata rantai yang secara potensial dapat menjadi the weakest link dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007.

Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga ada kemungkinan beberapa estimasi penyakit menular yang bersifat seasonal pada beberapa provinsi atau kabupaten/kota menjadi under-estimate atau overestimate. atau karena kondisi alam yang tidak memungkinkan seperti ombak besar. pada saat pengumpulan data dilakukan tidak ada di tempat. Pembentukan kabupaten/kota baru hasil pemekaran suatu kabupaten/kota yang terjadi setelah penetapan blok sensus Riskesdas dari Susenas 2007. g. sampel rumah tangga. variabel tanggal pengumpulan data bisa digunakan pada saat melakukan analisis. tersebar di seluruh kabupaten/kota (Lihat Tabel 2. karena ketidak-tersediaan alat transportasi menuju lokasi dimaksud. Total rumah tangga yang tidak berhasil dikunjungi Riskesdas adalah sebanyak 19. Pengorganisasian Riskesdas 2007 melibatkan berbagai unsur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.3). sebagaimana uraian berikut ini: a. serta perguruan tinggi setempat. Pada Riskesdas. 19 . b.Petugas cleaning data harus melaporkan keseluruhan proses perlakuan cleaning kepada penanggung jawab analisis Riskesdas agar diketahui jumlah sampel terakhir yang digunakan untuk kepentingan analisis. Berbagai keterlambatan tersebut memberikan kontribusi penting bagi berbagai keterbatasan dalam Riskesdas 2007. e. Perubahan kebijakan pembiayaan dalam tahun anggaran 2007 dan prosedur administrasi yang panjang dalam proses pengadaan barang menyebabkan keterlambatan dalam kegiatan pengumpulan data. Keterlambatan pada fase ini telah menyebabkan keterlambatan pada fase berikutnya.1. balai/balai besar. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga estimasi jumlah populasi pada periode waktu yang berbeda akan berbeda pula.) Blok sensus tidak terjangkau. sehingga tidak menjadi bagian sampel kabupaten/kota Riskesdas (Lihat Sub Bab 2.2) Bisa juga terjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga yang terpilih dan bisa dikunjungi oleh Riskesdas. pusat-pusat penelitian.566 anggota rumah tangga yang tidak bisa dikumpulkan datanya (Lihat Tabel 2. Riskesdas tidak berhasil mengumpulkan 207 blok sensus yang terpilih dalam sampel Susenas 2007.346. Rumah tangga yang terdapat dalam DSRT Susenas 2007 ternyata tidak dapat dijumpai oleh Tim Pewawancara Riskesdas 2007. maka informasi mengenai imputasi (proses data cleaning) dapat meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai kualitas data.2.7 Keterbatasan Riskesdas Keterbatasan Riskesdas 2007 mencakup berbagai permasalahan non-random error. seperti terlihat pada Tabel 2. d. Meski Riskesdas dirancang untuk menghasilkan estimasi sampai tingkat kabupaten/kota. tetapi tidak semua estimasi bisa mewakili kabupaten/kota. c. sampel anggota rumah tangga serta luasnya cakupan wilayah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. Proses pengadaan logistik untuk kegiatan Riskesdas 2007 terkait erat dengan ketersediaan biaya. Besaran numerator dan denominator dari suatu estimasi yang mengalami proses data cleaning merupakan bagian dari laporan hasil Riskesdas 2007 Bila pada suatu saat data Riskesdas 2007 dapat diakses oleh publik. loka. Banyaknya sampel blok sensus. 2. f. Tercatat sebanyak 159.

Disain penarikan sampel Susenas 2007 adalah two stage sampling. dan tabel 2. Tabel 2. 20 .4 mencantumkan jumlah sampel anggota rumah tangga dan rumah tangga berdasarkan: 1) variabel pengukuran dari kelompok umur <5 tahun. serta kualitas pewawancara untuk bisa menggali penyebab kematian. pada akhirnya akan berkurang untuk analisis masingmasing variabel yang dikumpulkan. yaitu mengeluarkan missing values dan outlier serta dilakukan pembobotan sesuai dengan jumlah masing-masing sampel. Dengan penggunaan SPSS Complex Sample dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007.4). Maluku Utara dan NTT) baru melaksanakan pada bulan Agustus-September 2008. i. serta wanita usia sunur 1545 tahun. Aplikasi statistik ini memungkinkan penggunaan two stage sampling design seperti yang diimplementasikan di dalam Susenas 2007. Papua Barat. estimasi yang dihasilkan hanya mewakili sampai tingkat perkotaan nasional. 2) variabel hasil wawancara konsumsi tingkat rumah tangga.ketepatan umur kematian juga akan mempengauhi mutu data yang dikumpulkan. h. dewasa ≥15 tahun. Hasil pengolahan dan analisis data dipresentasikan pada Bab Hasil Riskesdas. anak 6 – 14 tahun.3. Terutama kabupaten/kota dimana jumlah sampel teranalisis pada Riskesdas 2007 kurang dari 80% sampel Susenas 2007.terutama kejadian-kejadian yang frekuensinya jarang. Akan tetapi untuk kepentingan analisis kabupaten/kota maka jumlah sampel akhir yang digunakan untuk masing-masing varibel perlu diperhatikan. Hasil pengukuran yang diperoleh dari two stage sampling design memerlukan perlakuan khusus yang pengolahannya menggunakan paket perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS. 2. tetapi ada pula yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2008.8 Pengolahan dan Analisis Data Isu terpenting dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007 adalah sampel Riskesdas 2007 yang identik dengan sampel Susenas 2007. menyebabkan pelaksanaan Riskesdas tidak serentak. beberapa kelemahan menggunakan teknis autopsi verbal akan mempengaruhi kualitas informasi yang diberikan oleh responden. Aplikasi statistik yang tersedia didalam SPPS untuk mengolah dan menganalisis data seperti Riskesdas 2007 adalah SPSS Complex Samples. dewasa ≥ 18 tahun. Khusus untuk data biomedis. Maluku. maka validitas hasil analisis data dapat dioptimalkan. (Tabel 2. Selain itu kemungkinan under-reporting. dan 3) variabel hasil pengujian garam iodium dirumah tangga. anak ≥6 tahun. karena tidak diperolehnya jawaban (missing values) maupun kemungkinan kesalahan hasil pengukuran (outlier) dari rumah tangga atau anggota rumah tangga. bahkan lima provinsi (Papua. ketepatan waktu kejadian kematian. Penyebabnya antara lain.2. Seluruh variabel Riskedas yang berjumlah hampir 900 pada saat analisis dilakukan prosedur yang sama. Pada laporan ini seluruh analisis dilakukan berdasarkan jumlah sampel rumah tangga maupun anggota rumah tangga setelah missing values dan outlier dikeluarkan. Terbatasnya dana dan waktu realisasi pencairan anggaran yang tidak lancar. Untuk data mortalitas. ada yang dimulai pada bulan Juli 2007. dewasa ≥ 30 tahun. j. Jumlah sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Riskesdas 2007 yang terkumpul seperti tercantum pada tabel 2. Jumlah sampel Riskesdas 2007 cukup untuk kepentingan analisis yang menberikan gambaran nasional maupun provinsi. Kejadian yang jarang seperti ini hanya bisa mewakili tingkat provinsi atau bahkan hanya tingkat nasional. Riskesdas yang terdiri dari 6 Kuesioner dan 11 Blok Topik Analisis akan tergantung dari jawaban responden dan jumlahnya terhadap Susenas 2007.

4 111 25.8 264 60.7 50 11.4 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.8 73 16.9 81 18.0 129 29.8 77 17.9% 25 5.4 223 50.7 27 6.6 98 22.7 47 10.5 100 22.7 106 24.4 55 12.0 20 4.5 70-79. Riskesdas 2007 Variabel Pengukuran/Pemeriksaan pada Riskesdas Pengukuran BB/U (Balita) Pengukuran TB/U (Balita) Pengukuran BB/TB (Balita) Pemeriksaan Visus (Anak >=6 tahun) Pengukuran IMT (Anak 614tahun) Pengukuran IMT (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran Lingkar Perut (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran LILA (Wanita usia15-45 tahun) Pengukuran Tensi (Dewasa >=18 tahun) Pemeriksaan Katarak (Dewasa >=30 tahun) Penilaian Konsumsi Rumah Tangga Penilaian Konsumsi garam Iodium pada Rumah Tangga Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Persen Sampel Teranalisis <70% 25 5.7 163 37.2 203 46.5 327 74.3 241 55.5 65 14.7 169 38. Tabel 2.3 59 13.5 73 16.2 85 19.Rincian jumlah kabupaten/kota setiap provinsi menurut jumlah sampel anggota rumah tangga dan sampel rumah tangga yang bisa di analisis Riskesdas 2007 terhadap jumlah sampel Susenas 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.5 – Tabel 2.6 95 21.3 11 2.2 80-89.16.4 45 10.9 187 42.9 60 13.5 58 13.7 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 Total Kab/Kota*) 438 *)Total Kabupaten/Kota 438 adalah Kabupaten/Kota Riskesdas 2007 yang sama dengan Sampel Susenas 2007 21 .9 103 23.9% 56 12.9 129 29.6 105 24.5 62 14.5 118 26.6 122 27.7 151 34.7 >90% 332 75.2 87 19.3 160 36.7 95 21.7 47 10.2 37 8.6 213 48.8 87 19.

5 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% >=90% 2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 0 0 0 0 1 4 2 2 5 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 5 0 1 0 0 1 3 4 1 2 1 2 1 2 1 3 5 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 0 5 0 3 0 4 2 1 8 1 1 0 1 1 3 4 17 23 17 9 9 11 4 6 7 5 1 24 34 5 37 4 9 9 11 10 10 12 8 0 9 14 9 4 3 0 1 3 7 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 25 25 56 332 438 22 .9% 80-89.

Tabel 2.9% >=90% 4 2 2 0 0 1 0 3 0 1 3 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 2 4 0 2 0 0 1 7 5 3 6 3 0 0 2 1 2 4 2 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 1 2 4 0 2 4 0 4 1 1 1 0 2 3 3 3 4 1 5 1 2 3 2 0 2 0 3 1 0 3 1 1 1 6 3 3 1 3 1 4 10 2 0 3 1 1 2 4 11 19 16 4 8 9 2 3 7 3 1 22 33 5 34 3 8 8 8 6 7 11 6 0 6 7 7 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 50 47 77 264 438 23 .6 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.

9% >=90% 4 1 2 2 0 3 0 3 0 1 4 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 1 2 3 0 1 0 0 2 7 5 3 6 1 1 0 2 2 1 5 2 0 0 1 1 1 0 2 1 0 0 2 2 3 0 2 5 1 1 2 0 0 0 2 4 3 7 7 3 6 1 3 3 3 1 3 0 4 3 0 7 1 1 1 7 3 4 2 3 1 4 4 2 1 3 1 1 1 4 9 16 14 1 7 7 1 2 6 2 1 20 31 5 29 3 8 8 6 5 6 10 6 0 5 17 6 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 55 47 95 241 438 24 .Tabel 2.9% 80-89.7 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

8 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 2 1 3 3 0 1 2 4 0 1 5 5 2 1 1 2 1 0 1 3 2 2 4 7 2 4 0 3 4 6 5 7 14 6 4 11 5 3 3 2 3 3 4 0 12 14 2 13 0 1 1 11 2 5 2 8 2 8 8 7 1 1 1 3 2 3 12 17 4 3 7 5 5 3 3 1 1 8 18 2 23 4 5 8 3 5 7 9 1 0 0 10 3 1 0 1 0 0 0 1 3 1 0 0 5 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 98 151 169 20 438 25 .9% 80-89.Tabel 2.

9 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 1 0 2 1 0 1 0 0 0 0 5 1 1 0 0 1 0 0 0 2 3 2 2 2 0 0 0 0 2 5 2 3 9 1 2 0 4 0 0 2 4 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 3 2 1 1 2 6 2 3 0 2 3 1 5 4 5 7 1 3 4 6 4 4 5 1 4 0 5 4 2 8 1 2 1 7 4 5 2 8 1 8 13 4 1 0 2 1 1 3 12 22 14 2 4 9 3 1 6 1 1 18 30 2 29 3 7 8 6 4 5 8 1 0 0 7 6 2 0 0 0 1 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 45 58 122 213 438 26 .9% 80-89.Tabel 2.

9% 80-89.9% >=90% 1 1 2 1 0 0 1 0 0 0 5 1 0 0 0 2 0 0 0 2 2 1 3 5 0 1 0 1 3 6 4 6 11 3 0 1 3 1 1 4 3 2 3 0 4 3 1 2 0 1 0 8 1 4 2 4 3 7 6 4 2 2 1 3 3 5 8 12 8 5 6 4 3 7 0 3 1 19 20 4 23 3 3 1 7 5 6 6 6 1 3 14 4 2 0 1 1 0 1 9 12 8 2 3 9 1 0 5 0 0 1 12 0 13 1 5 8 1 4 2 4 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 59 87 187 105 438 27 .Tabel 2.10 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9% 80-89.Tabel 2.11 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 1 1 4 3 0 1 1 0 0 1 6 1 0 0 0 2 0 0 0 3 2 1 3 4 0 1 0 1 2 6 4 6 11 6 1 1 2 1 1 4 3 0 3 0 3 1 1 1 0 1 0 7 1 2 2 2 4 7 6 3 2 3 2 3 3 5 8 13 7 4 7 4 4 5 2 2 0 19 16 1 12 1 2 1 8 5 7 2 7 1 3 13 5 2 0 0 1 0 1 6 10 7 2 2 8 0 2 5 0 0 2 18 3 25 3 6 8 1 3 3 8 1 0 0 3 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 65 81 163 129 438 28 .

Tabel 2.12 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 2 1 2 1 0 1 2 1 0 0 5 2 0 0 1 2 0 0 1 3 2 1 2 8 0 1 0 1 3 6 5 6 14 3 3 1 4 2 2 3 5 1 3 0 6 4 2 3 0 1 1 11 1 2 2 4 0 8 9 4 2 2 2 3 3 3 13 16 8 6 6 5 4 4 2 3 1 17 25 3 25 4 2 7 4 6 8 5 7 1 2 12 5 2 0 0 0 0 0 3 5 8 0 2 6 0 0 4 0 0 0 6 0 9 0 6 1 0 2 2 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 73 100 203 62 438 29 .9% 80-89.

Lampiran 2.13 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 3 4 2 4 1 1 2 1 0 1 5 3 4 0 1 2 0 0 2 3 3 3 5 8 6 4 1 2 3 6 6 6 14 3 2 2 1 0 1 4 7 0 3 1 5 4 2 3 1 1 0 11 1 4 1 4 1 4 6 3 3 2 1 1 3 2 6 5 6 5 5 2 3 2 2 2 0 16 24 2 24 3 4 2 3 7 7 5 4 0 0 13 5 0 0 1 1 0 1 9 14 9 1 4 10 0 0 5 0 0 1 3 1 10 0 4 7 0 1 0 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 106 87 160 85 438 30 .9% 80-89.

9% >=90% 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 1 1 3 0 0 0 0 1 5 2 4 7 1 0 2 2 0 1 3 3 0 0 0 3 1 1 1 1 0 0 0 2 1 2 3 5 4 4 1 3 2 1 4 3 6 2 2 4 2 2 3 3 5 2 6 0 11 9 0 8 1 1 0 11 3 5 1 5 1 6 8 5 2 2 1 2 2 3 17 22 12 7 8 10 3 2 5 0 1 10 25 4 29 3 8 9 5 6 6 9 4 0 0 11 4 0 0 1 0 0 2 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 37 60 118 223 438 31 .14 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.Tabel 2.

9% 80-89.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% >=90% 1 2 1 0 2 1 0 0 0 1 5 0 6 1 27 4 3 9 6 1 2 3 5 1 2 0 0 0 0 4 3 6 15 5 3 3 6 6 1 1 0 1 4 1 4 4 3 10 0 5 0 3 3 1 2 7 1 3 3 3 0 2 1 3 3 3 8 11 10 4 2 7 4 1 4 0 0 5 8 1 1 0 1 0 7 5 10 6 1 1 5 11 6 3 2 3 2 0 0 7 9 5 1 0 5 4 9 2 1 0 16 17 0 0 2 0 0 0 3 1 2 0 6 0 9 1 2 1 0 0 0 0 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 111 95 129 103 438 32 .

16 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.9% >=90% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 3 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1 3 5 2 1 3 1 0 0 2 2 1 1 0 2 2 2 1 1 2 0 2 1 4 0 7 4 7 4 1 1 3 3 3 4 6 18 24 16 9 10 14 7 8 6 5 1 23 33 3 35 4 7 9 14 9 9 12 4 2 3 19 9 3 1 2 4 0 4 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 11 27 73 327 438 33 .Tabel 2.

Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita.BAB 3.1.0 Z-score >=-2.0 >=-3. tinggi badan menurut umur (TB/U).0 Z-score >=-3. berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). yaitu: berat badan menurut umur (BB/U).0 s/d Z-score <-2. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U Tabel 3.1. 3. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U.0 >2.0 Perhitungan angka prevalensi dilakukan sebagai berikut: Prevalensi Prevalensi Prevalensi Prevalensi gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100% gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100% gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100% gizilebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100% a. 34 . Berdasarkan indikator BB/U : Kategori Kategori Kategori Kategori b. tidak spesifik. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).0 s/d Z-score <=2.0 s/d Z-score <=2. tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut. maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006. Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0.0 >=-3.1 cm.1 kg. Gizi Gizi Gizi Gizi Buruk Kurang Baik Lebih Z-score Z-score Z-score Z-score < -3. Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut : a.0 Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Kategori Pendek Kategori Normal Z-score < -3.0 >=-2.0 >=-2.1 Gizi 3.0 c. Untuk menilai status gizi anak. panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0.0 s/d Z-score <-2. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri.0 s/d Z-score <-2.1 cm.0 >2. dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0. Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Kategori Kategori Kategori Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.1 Status Gizi Balita HASIL DAN PEMBAHASAN Status gizi balita diukur berdasarkan umur.

35 .1 11.7 69.8 5.5 72.0 5.0 4.3 74.0%.5 18.0 2.4 73.4 10.6 3.0 2.4% dan gizi kurang 13.1 18.6 81.8 6.7 24.2 13.7 4.1 6.1 8.5 80.3 72.3 8.4 64.5 3.7 4. maka secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui.Tabel 3.4 81.1 6.0 9.7 3.0 77.3 6.4 Gizi lebih 4.3 6. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Namun pencapaian tersebut belum merata di 33 provinsi.8 14. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.9 7.4 14.4 6.9 11.4 3.7 8. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kategori status gizi BB/U Gizi buruk 10.3 6.0 5.4 3.1.0 79.4 72.7 11.8 5.4 18.9 3. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18.7 6.3 12.4%.2 4.0 11.1 73.5 3.0 73.5 3.1 67.6 3.7 5.9 83.5 16.3 3.4 85. Kepulauan Riau.4 5.7 9.3 Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5.7 2.2 73.6 3.9 17.4 4.2 14.7 6.9 71.3 Indonesia *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 5.5%.4 8.5 80.6 71. Sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi nasional.3 14.4 4.8 8.2 8.9 5.2 16.9 12.2 4.2 8.0 77.0 78.1 9.4 13.5 4.6 Gizi kurang 15.0 4.8 75.6 Gizi baik 69.8 4.6 3.5 6.4 75. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.2 78.0 16.7 77.0 3.2 5.3 13.0 2.1 70.0 9.7 12.3 2.6 11. Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18.5 15. Bangka Belitung.2 10.0 8.4 6.1 16.3 74.2 72.5 12.2 4.2 15.3 76.5 2.8 13.3 80.9 3.6 4.4 4.3 5.3 75.5 8.6 12. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.

DI Yogyakarta. indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Sumatera Selatan. Di Yogyakarta. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. Jawa Timur.6%. Bangka Belitung. Maluku Utara dan Papua. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10. Bengkulu.2 menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Jawa Barat. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB. dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15.0%. Bengkulu. Bali. Ke 14 provinsi yang telah memenuhi kedua target adalah: Sumatera Selatan. yaitu Sumatera Utara. Terdapat 12 provinsi yang memiliki prevalensi balita sangat kurus di bawah angka prevalensi nasional. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis. Sulawesi Tenggara. Lampung. Kepulauan Riau. Dua provinsi lainnya yaitu Jambi dan Kalimantan Timur hanya melampaui target RPJM.0% (UNHCR). Sulawesi Selatan. Prevalensi gizi lebih secara nasional adalah 4. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. Kepulauan Riau. Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13. perilaku pola asuh yang tidak tepat. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%. Masalah pendek pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36. Ke 12 provinsi tersebut adalah: Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Kepulauan Riau. Delapan belas provinsi menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Sulawesi Selatan.0 SD.Bila mengacu pada target MDG maka 14 provinsi yang sudah melampaui target.15. Jawa Timur. b. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. Bali. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker). Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang 36 . Sulawesi Utara. Maluku dan Papua. Riau. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6.2%. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi melebihi angka nasional. Banten. artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek. Bali.1% .3%. Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek. c. Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut. Jawa Timur. Jambi. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U Tabel 3. Jawa Tengah.8%. seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. DKI Jakarta. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3. Bangka Belitung. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB Tabel 3.3. DKI Jakarta. Jawa Tengah. Kalimantan Barat. sedangkan untuk target RPJM sudah 16 provinsi yang melampaui target. sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Jawa Barat.

9 14.7 17.2 18.3 20.5 15.2 20.6 16.1 17.0 19.3 64.9 20.3 58.9 25.5 60.5 67.8 13. Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita.1 13. DI Yogyakarta dan Bali.3 Indonesia *) TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 18.5 72.4 65.4 20.0 56.2%. Delapan belas provinsi memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional Tabel 3.5 12.3 53. 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori kritis (prevalensi kurus >15%).7 15.9 17.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pendek 17.3 16.3.9 14.5 63.7 27.0 69.8 68.1 17.7 17.6 19.9 22.0 63.5 18. Hanya 3 (tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa Barat.9 63.0 23.5 73. dapat dilihat bahwa prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 12. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Sangat pendek 26.6 62.0 61. Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.0 16.1 55.4 19.0 19.8 60.2 17.7 57.2 61. dari 33 provinsi.4 18.9 21.2 64.6 19.5 20.7 20.6 16.5 17.8 19.9 25.7 18.0 20.8 59.4 15.1 25.3 16.4 Normal 55. 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%).4 19.9 19.4 56.7 17.1 18.3 15.3 64.4 13. Pada Tabel 3.9 23.7 13.8 18.0 63.1 20. Bahkan.6 18.8 11.2 60.6 20.3 64.6 70.9 59.0 16.6 55.serius.2 59.2.5 54.6 16.0 22.1 28.8 73.2 17.8 24.9 17.3 19.2 37 .

4 72.3 7.8 70.5 8.7 8.9 76.9 6.8 69.8 78.9 9.9 7.3 4.0 Normal 66.1 9.7 73.4 6.4 12. pendidikan KK.0 8.5 10.7 10. tempat tinggal dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas).2 7.2 10. 38 .2 7.3 8. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.3 76.2 3.5 9.3 14.9 74.4 71.1 7.7 7.9 7.Tabel 3.4 10.5 73.4 7.4 8.9 77.3 76.5 8. TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur.1 Gemuk 15.4 7. telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.6 4.8 5.3 8.5 3. pekerjaan KK.7 6.7 11.3 12.7 3.6 70.6 66.4 8.5 9.2 78.9 7.5 66. Status gizi balita menurut karakteristik responden Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U.8 7.9 14.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurus 9.2 70.0 75.1 10.8 6.3 75.6 13.9 8.2 9.9 7.8 5.5 76.9 13.2 8.3 9.5 12.6 7.8 62.7 5.4 14.7 69.9 7.1 7.4 8.1 5.6 3.6 10.1 9.5 5.0 68.7 9.6 7.4 70.4 63.9 7.0 13.4 16.4 5.6 7.2 9.1 8.8 68.6 4.0 9.8 6.1 8.3.8 74.1 12.2 10. jenis kelamin.5 12.4 74.4 20.0 8.6 10.8 78.9 81.6 11.5 15.5 Indonesia 6.6 73.6 12.9 6.2 16.4 6. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Sangat kurus 9.1 12.5 5.8 12.9 14.8 8.5 5.9 6.9 15.0 77.2 *) BB/TB= Berat Badan menurut Tinggi Badan d.2 7.9 71.2 9.

7 14.0 6.6 3.9 4.4 3. yaitu: a.2 78. Tabel 3.0 79.9 4.1 73.3 4.2 6.7 3.2 4.9 3.4.9 4.9 3.9 78.8 5.8 12.9 3.7 4.7 4.2 12.8 75.4 9.5 9.5 4.0 5.9 75.3 5.6 4.0 81.8 3.3 12.9 8.8 5.1 15.4 77.7 5.3 14. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 6.3 11.9 80.8 77. sedangkan untuk gizi lebih cenderung menurun.0 6.2 4.9 3.5 4.9 77.7 80.2 8.7 78. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/U balita dengan variabel-variabel karakteristik responden.4 11.5 3.8 13.6 4.8 9.5 4.9 11. prevalensi gizi kurang cenderung meningkat.1 76. Semakin bertambah umur.7 76.1 6.6 5.7 76.8 13.Tabel 3.9 6.8 14.0 5.3 14.7 75.7 3.8 4.8 78.6 12.7 7.4 14.0 76.3 78.3 75.8 80.9 3.2 8.5 14.6 13.8 4.7 82.3 7.4 5.7 4.8 5. 39 .6 3.6 74.2 4.4 13.7 4.7 5.7 Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Dapat dilihat bahwa secara umum ada kecenderungan arah yang mengaitkan antara status gizi BB/U dengan karakteristik responden.1 11.0 13.2 78.9 3.4. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik Responden.8 5.7 5.2 76.4 8.

e. kaitan antara status gizi BB/TB dan karakteristik responden menunjukkan kecenderungan yang serupa : a. prevalensi pendek relatif lebih rendah dari keluarga dengan pekerjaan berpenghasilan tidak tetap. dan sebaliknya. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi TB/U dengan karakteristik responden. b. tetapi pada keluarga dengan KK berpendidikan tamat PT. d. Tidak ada perbedaan mencolok antara masalah kurus di daerah perdesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. Seperti halnya dengan status gizi BB/U. baik maupun lebih antara balita laki-laki dan perempuan. f. untuk gizi baik dan gizi lebih semakin meningkat. e. d. Prevalensi pendek di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. Prevalensi kurus balita pada kelompok dengan KK sebagai petani/nelayan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan KK yang memiliki pekerjaan lain. d. Pada kelompok keluarga yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Swasta). Sedangkan prevalensi balita kegemukan tertinggi ditemui pada kelompok dengan KK yang mempunyai pekerjaan dengan penghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta). Tabel 3. c. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balitanya. Tidak tampak adanya perbedaan masalah kurus yang mencolok antara balita laki-laki dan perempuan. prevalensi kekurusan relatif lebih rendah dan prevalensi kegemukan relatif tinggi. Tabel 3. Tidak nampak adanya perbedaan yang mencolok pada prevalensi gizi buruk. b. f.5. tidak tampak adanya perbedaan masalah pendek yang mencolok pada balita. Tidak ada pola pada masalah kurus menurut tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. Makin tinggi pendidikan KK prevalensi pendek pada balita cenderung makin rendah. 40 .b. tidak tampak adanya pola masalah pendek pada balita. c. kurang. f. namun masalah kegemukan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. Kelompok dengan KK berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta) memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang yang relatif rendah. c. e. Menurut jenis kelamin. Semakin tinggi pendidikan KK semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden. Prevalensi pendek cenderung lebih rendah seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. Masalah kurus cenderung semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang daerah perkotaan relatif lebih rendah dari daerah perdesaan. Kajian deskriptif kaitan antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden menunjukkan: a. Menurut umur. sebaliknya terjadi peningkatan gizi baik dan gizi lebih.6. Tidak ada pola yang jelas pada masalah kurus menurut tingkat pendidikan KK.

1 15.7 64.5 21.0 13.9 16.8 17.0 58.6 17.2 19.9 62.0 22.8 19.2 17.6 72.9 69.1 17.2 17.9 16.8 17.7 13.9 18.2 19.0 67.2 19.8 15.8 67.8 14.0 20.1 65.7 14.0 18.6 61.1 70.3 67.7 16. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 21.5 18.3 59.5 61.6 Sangat pendek Pendek Normal 41 .5 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik Responden.9 65.7 70.Tabel 3.7 17.8 65.5 14.8 60.1 21.1 19.1 22.0 20.3 19.6 59.5 17.8 17.1 59.1 17.8 60.6 18.4 18.9 18.2 62.5 58.3 19.6 68.7 14.2 15.2 22.5 20.2 19.1 62.3 18.3 64.2 17.7 19.8 19.8 14.0 15.3 15.4 60.

Tabel 3.7 8.4 11.3 75.9 10.0 6.5 74.6 7.9 7.9 7.0 76.9 73.0 7.2 75.9 7.7 14. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 6.0 7.3 7.0 4.0 7.9 15.9 15.2 6.3 74.9 12. TB/U (pendek).2 10.0 6.0 6.8 7.9 72.2 11.0 76.0 5.6 6.8 12.0 7.4 12.4 12.4 13.6 6.8 11.1 5. Hanya tiga provinsi.2 10.5 73.7 7.3 73.6 7.0 11.8 14.2 74.5 7.9 11.0 11.0 7.8 68.7 di bawah ini menyajikan gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang).3 7.1 73.5 4.7 72.8 6.5 5. 42 .4 7.1 19.1 12.9 12.5 7. yaitu Jawa Barat.3 6.9 6.7 74.6 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.6 5.9 12.8 74.2 7.5 6.2 73.3 74.1 7.7 77.4 73.6 11. BB/TB (kurus).8 6.4 64.3 73.2 6.4 74.3 73.5 7.7 7.9 72.7 10.1 7. Tigapuluh provinsi masih menghadapi permasalahan gizi akut dan 18 provinsi menghadapi permasalahan gizi akut dan kronis.0 6.1 5.0 7.7 Sangat kurus Kurus Normal Gemuk Tabel 3.8 8.7 6. Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut.8 7.7 7.6 7.0 74.7 7.9 6.4 12.9 12.

9 16.0 13.0 16.8 23.0 38.6 19.8 27. Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.2 13.2 26.4 44.2 21.2 15.4 27.0 11.4 24.9 16.2 40.5 24.7 16.4 16.1 10.0 10.2 14.1 19.7 36.8 (Kurus) 18.4 12.8 40.1 36.5 18.8 38.7 25.4 (Pendek) 44.5 39.0 15.7 35.3 12. Riskesdas 2007 BB/U Buruk & Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia TB/U Kronis BB/TB Akut Akut* Kronis** Kurang 26.7 14.9 44.9 15.8 41.4 37.9 10.6 34.8 14.6 43.8 33.8 17.7 10.6 17.0 15.7 17.7 14.7 46.9 18.4 36.2 15.6 11.7 39.2 31.6 22.6 22.0 9.3 29.6 26.2 18.9 17.0 43.4 13.6 36.5 17.3 22.6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB >10% (UNHCR) **Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U di atas prevalensi nasional 43 .7 20.4 12.5 13. yang masalah gizi kronisnya lebih kecil dari angka nasional dan masalah gizi akutnya belum mencapai kondisi serius.4 16. Tabel 3.7 35.1 26.5 33.5 45.DI Yogyakarta dan Bali.4 25.3 17.4 27.0 17.9 31.0 36.8 22.8 9.7.8 13.8 35.5 20.1 40.2 16.2 21.3 15.3 15.2 39.2 42.6 16.4 18.5 22.

10. 4.4% 67.0% 44 .6% 59. uraian berikut ini mengkaji urutan (rangking) dari yang terbaik sampai yang terburuk terhadap seluruh 440 kabupaten/kota. Secara kasar bisa dipilih indikator dengan prevalensi / persentase yang tidak terlalu sedikit.0% 37. Contohnya untuk status gizi balita bisa diambil indikator: • Berdasarkan BB/U: underweight (gabungan gizi buruk + gizi kurang berdasarkan BB/U). 10.7% 1.7% 40. 6. 3. 4.9% 21.1% 66.0% 21.9% 60. Terburuk Seram Bagian Timur Nias Selatan Aceh Tenggara Simeulue Tapanuli Utara Aceh Barat Daya Sorong Selatan Timor Tengah Utara Gayo Lues Kapuas Hulu 67. 9. 2. setelah dilakukan rangking antar kabupaten/kota. 7.0% 19.2% 60. 8. 9. 8. daftar 10 kabupaten/kota dengan underweight paling banyak dan paling sedikit adalah: 1.8% 63. 7. Sarmi Wajo Kota Mojokerto Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kampar Kota Jakarta Selatan Kota Madiun Kota Bekasi Luwu Timur 16.5% 59. 4. 5. 9.1% 39. kemungkinan tidak mewakili kabupaten/kota.3% 38. 8. 8. 6. 2. 4. Terburuk Aceh Tenggara Rote Ndao Kepulauan Aru Timor Tengah Selatan Simeulue Aceh Barat Daya Mamuju Utara Tapanuli Utara Kupang Buru 48.Memperhatikan jumlah sampel balita yang bisa dianalisis sampai tingkat kabupaten/kota.5 dapat dilihat jumlah kabupaten/kota dimana data balita untuk status gizi hampir sebagian besar kabupaten/kota dengan jumlah sampel Riskesdas 2007 teranalisis >80% darisampel Susenas 2007. Berdasarkan TB/U: stunting (gabungan antara sangat pendek dan pendek) Berdasarkan BB/TB: wasting (gabungan antara sangat kurus dan kurus) • • Sebagai gambaran. bila diambil gizi buruk saja prevalensinya terlalu kecil.4% 7.7% 18.8% 40. 3. 3. 2.1% 7. 5. 3. 6. Seperti pada tabel 2.4% 20. 2.3% 20. 7.6% 19.2% 40. 5.2% 8.9% 61.5% 8.2% 39. 10.7% 39.8% 6. 5. gambarannya adalah sebagai berikut Terbaik 1.2% 20. 7.1% 38.0% 6.8% 7. 6. Terbaik Kota Tomohon Minahasa Kota Madiun Gianyar Tabanan Bantul Badung Kota Magelang Kota Jakarta Selatan Bondowoso 4. 10.6% Berdasarkan TB/U (gabungan sangat pendek + pendek).3% 8. 9.7% 59. kemudian diambil 10 kabupaten/kota yang terbaik dan terburuk sebagai berikut: Berdasarkan BB/U.5% 21.8% 6.7% 1.

5 +2SD 19.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin.6 17.3 13. 3.4 14. 45 .0 19. 8.5 19.6 24.0% 4. 5.1 16.6 21. WHO 2007 Umur (Tahun) 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Laki-laki Rerata IMT 15.2 27.9% 29. secara nasional prevalensi kurus adalah 13.7 12.7 14.5 18.3 Berdasarkan standar WHO di atas.6 -2SD 12.6% 3.9 15.8 25.1% 33.1%) maupun pada anak perempuan (19.3 18. 8. 2.9 26.1 14.5 23. 5.6% 1. 6.9 14.4% 5.9% 5.7 20.4 22.4%.1%). yaitu 8.3% pada anak laki-laki dan 6.9% 30.3 15.7 24. (Tabel 3.9 17.2% 5.0% 30.5% dan perempuan 6.7 12. apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata.3% 5.0 Perempuan +2SD 18.9) .1 13.5 13. Nusa Tenggara Timur mempunyai prevalensi kurus tertinggi baik pada anak laki-laki (23.9 13. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9.Berdasarkan BB/TB (gabungan sangat kurus dan kurus) gambaran 10 kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: 1. Sebagai rujukan untuk menentukan kurus. 9.2 13.3% 30.9 15.7 16.9% pada anak perempuan.9% 31. 9.8% 3.1 16. Tabel 3.5 13. 2.3 15. 6.4 16.9% pada perempuan.2 19. 7.1. 7.3% pada laki-laki dan 10.8 20.3% 31.5 15. Terbaik Minahasa Kota Tomohon Kota Sukabumi Kota Bogor Bandung Kota Salatiga Kota Magelang Magelang Cianjur Bangka 0.5 22.5 14. 4.8 19. dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2 SD nilai rerata standar WHO 2007 (Tabel 3. 10.0 18.8).8 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut Nilai Rerata IMT.0 13.5 Rerata IMT 15.0% 2.5 21.2 19.9 -2SD 13.3% 4. Sedangkan prevalensi kurus terendah di Bali. Terburuk Solok Selatan Seruyan Manggarai Tapanuli Selatan Seram Bagian Barat Asmat Buru Nagan Raya Aceh Utara Bengkalis 41. Menurut provinsi.5% 41.6% 4.6 23.7 16. Umur dan Jenis Kelamin.4 15.1% 29. 4. 10. 3.

2 6.6 11.0 8.7 10.9 6. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 13.5 8.0 7. Kalimantan Barat (17.1 23.5 10.7 BB-Lebih 12.2 7.9 6.8 10.7 19.0 4.4 4.5 10. Kalimantan Tengah (15.6 8.2 7.4 13.7 10.5 6.0 8.8 10.Tabel 3.4 BB-Lebih 13.1 11.5 14.1 12.1 9.8 8.2 6.4 Lima provinsi dengan prevalensi kurus tertinggi pada anak laki-laki adalah NTT (23.8 8.4 15.1 8.9%).7 11.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Perempuan Kurus 12.4 9.0 14.5 6. NTB (17.1 9.1 12.9 11.3 11.1 9.0 12.8 13.4 12.6 4.4 16.8 5.3 6.4%).8 10.3 9.3 10.6 10.4 6.5 3.5 8.2 12.8 6.6 11. dan Kalimantan Tengah (16.7 13.2 18.5 13.8 4.4 14.4 11.4 9.0 6.3%).2%).5 6.2 13.9 10.1 11.8 14.8 Indonesia 13.3 17.6 4.8 12.9 10.3 12.3 4.3 9.0 16.4 9. Riau (13.4 13.4%).2 9.6 7.4 13.9 10.8 6.9 13.3 4.7 15.0 4.2 6.7 9.5 9.9 8.5 11.0 11. Banten (14. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NTT (19.1%). 46 .2 12.1%).9 13.1%).6 12.5 12.4 6.2 5.3 6.3 12.5 13. Maluku (18.8 9.6 9.6 7.6 10.9 12.7 7.5 7.1 7.2 12.9 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.1 4.9%).8 15.0 10.4 9.8%.1 17.6 15.2 14.4 11.7 9.2 11.7 10.7 7.2 15.8 6.8 14.3 3. Riskesdas 2007 Laki-laki Kurus 14.9 15.

0 11.5 1. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun terendah ditemukan di NTT baik pada anak laki-laki (4.1 10.5 12.1%).0 Laki-laki Kurus 13.9 6.8 5. Menurut tipe daerah.0%) dan untuk anak perempuan di NAD (12.8 2.4 10.0 13.3 12. Bengkulu (14.6 11.3 8.4 13.8 6. Sumatera Selatan (11%). Sumatera Utara (14.3 8.7 5.5 BB-Lebih 11.4 11.2 12.6 7.7 Perempuan Kurus 10.1 12. dan Papua (12.6 9.0 9. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.10 menggambarkan prevalensi kurus dan BB lebih menurut karakteristik responden. Sedangkan prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur.2 BB-Lebih 15.1 7.0 11.8%).9 10.6 3.5 2.3 9.Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di Sumatera Selatan untuk anak laki-laki (16.1 6. 47 .5 13.0 10. Papua (9. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 12. Riau (15.7 10. dan Kepulauan Riau (9. Lima provinsi dengan prevalensi BB-lebih pada anak laki-laki adalah Sumatera Selatan (16%). Sumatera Utara (11.7 10.8%).1 9.9%).2 12.6 11.5 13. sebaliknya prevalensi BB lebih sedikit lebih tinggi di perkotaan.9 13.0 5.1 7.9 13. sedangkan untuk prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas.1 10. prevalensi kurus sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.5 13. semakin bertambah umur semakin kecil prevalensi BB lebih.0%).6 4.3 Menurut umur tampak adanya kecenderungan.5%) Tabel 3.6 8.1 8.5 Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 14.9 12.4 9.6 14.8 10.8 12.7%).7 3.3 13.0 8. Tampak adanya kecenderungan positip antara tingkat pengeluaran per kapita dengan BB lebih baik pada laki-laki maupun perempuan.2%).3 13.6%) maupun pada anak perempuan (3.3 10.3 12.2%). Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NAD (12%). Tabel 3.10 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut Karakteristik.6 14.

8% BB lebih dan 10. Dari tabel ini terlihat bahwa : a.9% dan 23. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) Tabel 3.0 . Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 .1 cm.1 cm. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur. Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13.1% (8. Maluku Utara. Gorontalo. Prevalensi obesitas umum lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan.13 menyajikan hasil tabulasi silang status gizi penduduk dewasa menurut IMT dengan beberapa variabel karakteristik responden. a. Tabel 3. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur. ini berlaku juga untuk prevalensi BB lebih dan obese. Kalimantan Barat.9 IMT >=25. DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). 48 . Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3. Nusa Tenggara Barat.0 Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral. Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan. Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan.1.45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA).<24. Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese.5 . Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0.<27.12.11 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masingmasing provinsi. b. Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional. Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas: Kategori kurus Kategori normal Kategori BB lebih Kategori obese IMT < 18. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan cenderung semakin tinggi prevalensi obesitas umum.5 IMT >=18.0 IMT >=27.3% obese).8%). Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19. Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut : BB (kg)/TB(m)2.3.

0 70.0 18.1 8.9 12.7 10.3 7.8 69.6 14.0 10.7 9.3 8.1 9.2 Normal 69.7 71.9 64.9 67.0 14.9 12.4 64.8 9.1 9.0 17.8 17.8 10.8 10.7 67.4 12.2 11.3 14.0 7.4 9.11 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.3 8.2 8.5 9.5 70.0 12.5 8.9 15.2 71.5 BB-Lebih 7.9 11.7 11.9 63.7 60.3 7.2 10.6 15.7 12.1 16.3 66.7 7.7 64.9 10.4 14.5 12.0 10.3 49 .2 62. Riskesdas 2007 Kategori IMT Provinsi Kurus NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.3 13.3 66.2 7.6 17.3 15.8 68.2 7.1 9.1 6.8 7.2 67.8 66.6 9.0 9.9 9.5 67.1 5.3 72.9 7.5 7.4 11.4 7.5 14.1 6.1 8.3 11.4 13.8 64.Tabel 3.4 11.2 11.1 15.1 68.5 7.6 63.2 66.7 11.9 9.5 10.4 7.4 6.2 14.6 72.6 7.4 7.1 73.6 15.6 4.0 68.5 13.3 65.1 11.2 11.7 5.7 8.7 10.8 6.1 16.6 9.6 12.8 11.2 67.5 60.6 16.9 23.7 Obese 8.9 9.8 69.7 Indonesia 14.8 11.4 66.4 7.1 7.9 19.3 70.1 6.6 15.9 7.0 8.

9 24.4 29.5 33.2 13.8 19.1 21.4 10.9 16.4 15.5 20.4 Indonesia 13.7 18.4 19.6 12.6 24.9 23.1 15.3 15.2 16.4 23.8 21.1 33.3 28.2 15.9 23.0 22.7 20.0 22.1 Perempuan 20.12 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.9 24.1 13.2 19.7 10.7 14.1 50 .2 11.3 18.8 10.3 11.5 14.3 16.9 17.9 27.9 7.0 10.4 11.6 15.0 26.7 20.1 17.3 8.8 26.3 22.9 22.3 16.6 19.7 29.Tabel 3.9 10.8 18.3 38.3 14.6 14.5 18.4 19.6 20.2 22.3 18.2 14.7 11.2 22.7 20.4 16.0 18.8 9.4 13.1 12.4 18.2 11.2 20.5 11.0 20.6 14.9 30.0 18.7 23.4 17.1 26.7 14.7 8.5 20.0 22.6 20.4 11.6 27.5 25.5 Laki-laki dan Perempuan 16.7 16.0 15.6 18.3 22. Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum (%) Provinsi Laki-laki NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.9 27.5 20.

1 7. Menurut tipe daerah tampak lebih tinggi di daerah perkotaan (23.15 menyajikan prevalensi obesitas sentral menurut provinsi.2 11.8 68.8%.4 7.4 7.4 65.5 9.5 15.7 8.5 13. Dari 33 provinsi.5 b.4 Perkotaan 15. prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada ibu rumah tangga (Tabel 3.4 13.9 67.9 8. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurus Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe daerah 13.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran RT per kapita per bulan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 17.8 11.9 7. Menurut kelompok umur.7 16.6 15.Tabel 3.1 13.9 Kategori IMT Normal BB-Lebih Obese 67.8 10. Demikian juga semakin meningkat tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.1 10.0 62.3 67.7 12.7 11.8 8.9 12.3 15. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif.6 63. 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional (Tabel 3.7 9.9 63.3 66. prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun.3 8.7%).8 7. Tidak tampak pola kecendrungan antara obesitas sentral menurut tingkat pendidikan.2 66. Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik.9 7.3 9.8 19.7%).14).6%) dibandingkan daerah perdesaan (15.15). selanjutnya berangsur menurun kembali. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP) Tabel 3.14 dan Tabel 3. jenis kelamin dan karakteristik responden.7 64. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7.2 13. Sedangkan menurut pekerjaan. Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18.13 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden.8 10.7 7.9 7.7 9. semakin tinggi prevalensi obesitas sentral. 2005). 51 .2 67.

0 17.5 23.14 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Provinsi. 52 . L =Laki-laki .2 19.9 23. P>80) * NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 14.2 15.6 25.0 15.8 20.4 17.L>90. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral Provinsi (LP.1 27.6 13.2 Indonesia Catatan: *) LP= lingkar perut .8 .1 18.1 19.7 14.0 19.5 22.9 15.6 19.0 19.4 11.4 19.1 21.5 31.1 18.8 16.0 27.3 13.Tabel 3.4 18.1 15.1 27.0 23.9 10. P = Perempuan 18.

6 15.9 24.0 17.7 15. L =Laki-laki .9 23. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral (LP. P = Perempuan 8.0 16.1 23.8 19.L>90.9 15.3 20.0 36.15 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.2 Karakteristik Responden 53 .Tabel 3.3 18.8 7.7 16.0 19.7 29.9 15.1 18.7 20.4 26.7 23.8 19.5 7.7 15.0 19.8 17.3 25. P>80) * Kelompok Umur (Tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Catatan: *) LP= lingkar perut .8 10.

16.9 25.4 25. Tabel 3.9 26.4 27.41 54 .98 2.1 27. Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) Tabel 3.32 3.32 3.16 menggambarkan prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur. yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).10 3. Tabel 3.3 27.3 27.2 Standar Deviasi (SD) 2.4 24.16 3. dan Tabel 3.6 26.8 24.17 3.1 25.4 27.92 2.1 26. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut provinsi dan karakteristik responden.2 27.7 24.62 2.29 3.57 2.53 2.6 24.37 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Umur (Tahun 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rerata (cm) 23.17.04 3. Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.98 3.17 3.0 25.62 2.9 27.31 3.8 25.0 27.24 3.18 menyajikan gambaran masalah gizi pada WUS yang diukur dengan LILA.4 26.2 27.2 24.35 3.0 27.14 3.94 2.35 3.60 2.16.37 3.8 26.22 3.80 2.2 27.2 27.33 3. Tabel 3.7 26.72 2. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat.6 25.c.3 26.78 2.23 3.

3 7. Papua Barat. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Risiko KEK* (%) 12.0 12.17 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi.6 12.1 Indonesia 13.5 15.2 5.2 20.0 17.8 12.17 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas angka nasional (13.0 11.6 8.6 12.9 10.6 10. NTT.2 14.3 16.5 9. DI Yogyakarta.2 10.4 12. Jawa Tengah.Untuk menilai prevalensi risiko KEK dilakukan dengan cara menghitung LILA lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun. Jawa Timur. dan Papua.8 10.9 12.5 14.1 19. Tabel 3. Kalimantan Selatan.1 9.4 9.4 24. Tabel 3.6%) yaitu DKI Jakarta.8 10. Maluku.6 55 . Sulawesi Tenggara.9 12.1 11.2 15.9 8.6 23.1 8.

6 13. risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT).Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi risiko KEK dengan karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan tingkat pendidikan. b. Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK. prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan.0 14.18. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita.18 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden. menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah.4 Konsumsi Energi dan Protein Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu.5 KEK 3.4 13. Secara nasional.8 12.4 11. c.1 15. Tabel 3.4 12.8 13.1. Sedangkan 56 . gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4 Kuintil – 5 16.5 12. adalah: a.1 14. Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT dengan konsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut.5 13.

Kalimantan Barat. Riau. Jambi. Sumatera Barat. DKI Jakarta.19 disajikan angka rerata konsumsi energi dan protein per kapita per hari. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59. Sulawesi Tenggara. Jambi.19 menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735.0 %) yaitu Provinsi Riau. Provinsi dengan rerata konsumsi energi di atas rerata nasional sebanyak 11 provinsi yaitu: NAD. Sulawesi Barat. Lampung. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. Jawa Barat. Tabel 3. Banten. Kalimantan Tengah.0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58. NTT.5 %. Maluku.RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT dengan konsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. Sulawesi Utara. Riau. Bali. dan Sulawesi Barat.20 memperlihatkan persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah” yang berarti di bawah angka rerata nasional (1735. Papua Barat. DI Yogyakarta.0 gram). Maluku. 57 . Maluku Utara. Kalimantan Timur.8 gram) dan provinsi dengan rerata konsumsi protein tertinggi adalah Kepulauan Riau (69. Sulawesi Selatan.20 dan Tabel 3. Jawa Barat. Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi konsumsi “protein rendah” di atas angka prevalensi nasional (58. NTB. Kalimantan Barat. DKI Jakarta. Sumatera Selatan. merupakan data prevalensi RT dengan konsumsi ”energi rendah” dan konsumsi ”protein rendah”. Sumatera Barat.5 gram). Pada tabel 3. Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi “energi rendah” di atas angka nasional (59. Kalimantan Timur. Lampung. Bali. Kalimantan Selatan. Bangka Belitung. semakin rendah persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah”. dan Papua. NTT. Prevalensi RT yang mengkonsumsi energi dan protein di atas rerata konsumsi energi dan protein tidak disajikan. Kalimantan Tengah. Kep.5 kkal). Persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “ protein rendah” menurut tingkat pengeluaran RT per kapita menunjukkan pola yang spesifik.5%) yaitu Provinsi Bengkulu. Jawa Tengah. Gorontalo. Jawa Timur.5 Kkal untuk energi dan 55. dan Papua Barat. Bengkulu.5 Kkal dan 55.21. Gorontalo. DI Yogyakarta.7 kkal) dan provinsi dengan angka konsumsi energi tertinggi adalah provinsi Jawa Timur (2175. Provinsi dengan angka konsumsi energi terendah adalah provinsi Sulawesi Barat (1384. Tabel 3. dan Papua. Bangka Belitung. Sumatera Utara. Jawa Timur. Maluku Utara. Jawa Tengah. Data pada Tabel 3. Sulawesi Selatan. Maluku Utara. Sumatera Utara. Kalimantan Selatan. Provinsi dengan rerata konsumsi protein terendah adalah Bengkulu (45. sebaliknya persentase RT di perdesaan dengan konsumsi “protein rendah” lebih tinggi dari RT di perkotaan.21 menunjukkan bahwa persentase RT di perkotaan dengan konsumsi “energi rendah” lebih tinggi dari RT di perdesaan. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tenggara. dan pada Tabel 3. NTB. Sedangkan provinsi dengan rerata konsumsi protein di atas rerata nasional sebanyak 19 provinsi yaitu: NAD. Banten. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita. Kalimantan Timur.5 gram untuk protein.

4 1371.3 27.3 1371.7 Protein Rerata SD 69.3 1861.1 30.5 Indonesia 1735.1 739.5 53.4 1385.3 585.8 25.0 58.Tabel 3.9 30.1 28.6 807.5 922.3 615.2 653.3 47.5 52.6 615.5 28.7 2182.3 57.8 677.5 1636.6 1823.7 1381.0 59.4 568.2 618.2 1504.5 485.2 26.5 24.7 1692.2 60.8 28.6 1375.3 26.7 705.7 1703.8 781.5 748.2 28.0 493.1 28.3 1683.1 26.5 691.6 59.2 586.0 20.9 47.4 56.5 27.6 744.6 1828.8 56.8 51.2 1362.6 653.5 26.7 791.1 618.1 28.7 56.0 741.4 23.5 18.7 32.3 24.5 1706.6 56.7 66.9 1534.9 25.1 29.7 1602.1 28.6 53.7 24.3 608.2 610.1 55.6 772.5 24.4 62.0 596.8 22.9 678.3 21.9 1592.8 709.6 27.8 1672.1 1865.3 45.3 65.4 51.7 1532.5 58.19 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi.6 1803.1 53.2 57.7 1682.0 460.0 68.5 1644.9 923.3 602.9 24.8 21.5 28.6 45.6 1594.7 1884.3 24.7 54.7 53.1 641.6 69.4 1451.0 60.3 1764.8 506. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi Rerata SD 1805.4 58 .3 1623.7 55.3 50.1 1752.3 609.6 24.6 51.6 1806.

1 35.2 64.6 64.9 63.0 57.Tabel 3.9 63.4 50.2 62.4 66.1 74.9 55.6 42.20 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional.4 60.8 69.2 58.3 53.2 51.4 82.6 61.3 61.1 65.9 58.7 52.8 50.5 51.8 54.7 38.4 81.0 57.7 63.6 49.6 62.8 59.4 53.5 39.6 55.9 66.9 Indonesia 59.5 71.4 80.0 58.3 57.3 59.9 Protein 35.9 48.8 69.8 72.1 65.6 67.0 51.8 57.5 kkal) dan Protein (55.1 61.3 78.9 56.4 80.5 76.5 56. Riskesdas 2007 Persentase RT Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi 51.8 77.5 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.9 72.7 53.5 53.1 75.0 59.1 37.6 61.8 59.5 gram) dari data Riskesdas 2007 59 .9 60.

4 57. secara nasional juga dikumpulkan sampel garam dari 30 kabupaten/kota yang dkonsumsi oleh rumah tangga untuk dilakukan pengecekan kadar iodiumnya dengan metode titrasi. mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda. Dari hasil tes cepat yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3).0 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.8 Kuintil – 2 60. Ada enam provinsi yang telah mencapai target garam beriodium untuk semua yaitu Sumatera Barat. dikumpulkan urin dari anak usia 6-12 tahun untuk dilakukan pengecekan kadar iodium dalam urin.1.5 Konsumsi Garam Beriodium Informasi mengenai konsumsi garam beriodium pada Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium. Bangka Belitung. Disamping itu. Pada penulisan laporan ini yang disajikan adalah hasil tes cepat. baru sebanyak 62. Tabel 3.4 55.3% RT Indonesia mempunyai garam cukup iodium.5 kkal) dan Protein (55.7 48. Secara nasional.4 Kuintil – 3 59. 60 . Karakteristik Responden Persentase RT Energi Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita 61. dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna.4 Protein Kuintil – 1 64. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga menggunakan garam cukup iodium.3 Kuintil – 4 57.22 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut provinsi.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita . Riskesdas 2007. Gorontalo dan Papua Barat. dan hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam melalui titrasi serta hasil pemeriksaan urin.1 60.9 62.0 59. Sumatera Selatan.Tabel 3. Bersamaan dengan sampel garam rumah tangga tersebut. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua.1 66.3 Kuintil – 5 53. Jambi.5 gram) dari data Riskesdas 2007 3. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga.3 56.

7 45.9 86.1 46.23 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (≥30 ppm) menurut menurut karakteristik responden.3 61 .9 90.8 94.1 34.0 43.7 76.4 45.22 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi.7 58.4 88.1 83.9 31.8 89. Riskesdas 2007 Rumah-tangga Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tanggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua mempunyai garam cukup iodium (%) 47.2 83.7 76.2 62.8 98.0 84. Berdasarkan tempat tinggal.0 90.0 93.1 68.3 89.7 89.5 90.3 82.2 Indonesia 62. Tabel 3.3 61.1 27.2 45.0 69.3 58.Tabel 3.6 82. persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.

4 56. Tabel 3.3 61.1 80.7 79.5% garam yang dikonsumsi rumah tangga kandungan iodiumnya tidak memenuhi SNI.1 70.24.7 67.1 56.8 75.23 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Rumah tangga Karakteristik responden Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang/Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 mempunyai garam cukup iodium (%) 50. 62 . persentase yang mempunyai garam cukup iodium pada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS/TNI/Polri/BUMN dan swasta lebih tinggi dibandingkan yang pekerjaannya tidak tetap.Ditinjau dari kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita.0 Dari hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga dengan metode titrasi dapat dilihat pada tabel 3. Gambaran nasional yang diwakili 30 kabuapten/kota dapat dilihat bahwa kandungan iodium dalam garam yang dikonsumsi RT hanya 24. Demikian pula menurut pendidikan.2 75.5% yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI): 30-80 ppm KIO3.8 60.7 59. semakin tinggi pendidikan kepala keluarga semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium. semakin tinggi kuintil semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium.5 68.5 70. Berdasarkan pekerjaan.8 64.9 56.3 56. atau 75.9 59.

3 84.0 72.8 80. 63 .2 56.0 63.1 37.8 83.0 81. sebanyak 12.5 Dari tabel 3.7 96. tidak ada satupun dengan persentase kadar iodium urin < 100 µg/L yang mencapai 50%.0 97.2 76.35 dapat dilihat. Kadar iodium dalam urin merupakan petunjuk yang baik dari asupan (konsumsi) iodium terkini.3 72. Jika lebih 50% anak 6-12 tahun mempunyai kadar iodium urin < 100 µg/L maka pada populasi tersebut kemungkinan besar ada masalah kekurangan iodium.7 59.0 86.3 66.0 75.Tabel 3.2 57.7 90.5 84.24 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Persentase RT mempunyai Garam Iodium < 30 ppm Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 77.7 92.4 41.9 57.9 75. Dari 30 kabupaten/kota.6 68.7 69.3 100.5 75.9% anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota dengan ekskresi iodium dalam urine (EIU) atau kadar iodium < 100 µg/L.8 50.2 69.6 67.

Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA Persentase Anak dengan EIU < 100 µg/L 12.2 15.5 20.6 13.4 11. nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan diatas 300 µg/L.9 5.9 12.4 17.7 8.1 8.0 10.4 6.7 14.3 10.8 23. Nilai median antara 100-199 µg/L menunjukkan asupan iodium di populasi tersebut telah dapat memenuhi kecukupan yang dianjurkan sedangkan nilai median diatas 300 µg/L masuk kategori asupan yang berlebih.1 10.26 menunjukkan bahwa nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota adalah 224 µg/L atau masuk kategori ‘diatas angka kecukupan yang dianjurkan’.9 23.9 3. Klungkung.3 22. Bondowoso. Jeneponto. Dari 30 kabupaten/kota.1 4. Sementara itu.5 5.5 16.4 7.4 10.7 9.4 13. Konawe Selatan dan Kota Gorontalo.8 13. Catatan khusus untuk Grobogan. 64 .Tabel 3.2 20. ada 6 kabupaten/kota dengan nilai median kadar iodium urin antara 100-199 µg/L yaitu Bantul.9 12. tanah dan sumber air minumnya mengandung tinggi iodium.25 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.3 8.0 34.9 Tabel 3.

26 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 NILAI MEDIAN EIU KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA (µg/L) 225 230 221 229 237 290 229 365 244 304 288 192 208 214 164 246 236 186 157 209 296 270 257 219 221 181 213 187 199 211 224 65 .Tabel 3.

29 dan 3. subyek yang ditanya tentang imunisasi bukan ibu balita. 66 . tiga. tiga kali DPT.27 dapat dilihat secara keseluruhan. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. imunisasi DPT/HB pada bayi umur dua. catatan dalam Buku KIA tidak lengkap/tidak terisi. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: • • • Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. ibu lupa berapa kali sudah diimunisasi.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi yaitu BCG.2.0%). Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi.9%) dan tertinggi juga di DI Yogyakarta (89.30). Program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Tidak semua balita dapat diketahui status imunisasi (missing). Hal ini disebabkan karena beberapa alasan.30 adalah cakupan imunisasi lengkap pada anak.9%).3. imunisasi polio pada bayi baru lahir. polio tiga kali (71. empat kali imunisasi polio. satu kali imunisasi campak dan tiga kali imunisasi Hepatitis B (HB).8%).1 Status Imunisasi Departemen Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Dari tabel 3. untuk imunisasi BCG yang terendah di Sulawesi Barat (73. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). tiga kali polio.8%). Bila dilihat masingmasing imunisasi menurut provinsi. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. Cakupan imunisasi pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada empat tabel (Tabel 3.27 dan Tabel 3. dan Catatan dalam Buku KIA. DPT tiga kali terendah juga di Sulawesi Barat (47. tiga kali HB. Tabel 3. atau ketidakakuratan pewawancara saat proses wawancara dan pencatatan. dan campak menurut provinsi dan karakteristik responden. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. Cakupan imunisasi yang lebih bervariasi antar provinsi terlihat pada imunisasi polio tiga kali yaitu terendah di Sulawesi Barat (47. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda.6%). cakupan imunisasi menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86. tidak dapat menunjukkan KMS/ Buku KIA karena hilang atau tidak disimpan oleh ibu. yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak. Tabel 3.9%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. DPT tiga kali (67.2 Kesehatan Ibu dan Anak 3.27 s/d Tabel 3. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. tiga kali polio.2%) dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100.7%) dan terendah hepatitis B (62. tiga kali HB dan satu kali imunisasi campak. tiga kali DPT. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. Dalam Riskesdas. tiga kali imunisasi DPT. campak (81. ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. catatan dalam KMS tidak lengkap/tidak terisi.0%).1%).

1 89.0 68.1 83.2 63.8 65.2 74.8 95.8 67.8 75.7 69.9 79.8 62.9 72.0 90.0 77.0 64.6 96.4 87.1 73.1 DPT 3 58.5 80.9 59.1 85.5 66.7 67.1 68.7 Indonesia 86.4 50.6 71.2 64.9 55.3 93.4 48.5 98.0 69.9 47.0 88.4 93.7 85.8 96.9 57.3 67.6 66.7 78.1 90.6 42.3 62.5 54.8 62.7 56.1 88.2 83.1 94.8 51.4 83.4 84.3 68.27 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.1 60.9 85. PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah.2 67.7 56.4 70.9 64.1 88.2 75.8 79.0 67.1 81.7 79.8 79.3 67.9 89.7 94. dan 1997.7 64.4 71.6 74.3 60.8 79.6 61.8 81.7 64. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flacid paralysis (AFP) pada tahun 2005.9 71.9 68.3 83.8 68.5 66.3 96.5 72.5 71.5 Campak 69.6 77.3 87.7 77.9 62.0 59.3 47.9 84.3 59.3 72.4 65.2 73.7 93.3 64.3 58.3 89.9 85.5 95.8 70.4 67. PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga 67 .8 59.Tabel 3. 1996.4 78.9 65.3 83.7 90.4 89.7 49.5 96. Pada tahun 2002.6 Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia.1 74.1 99.5 85.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Polio 3 63.7 84.5 54.6 76.8 85.3 75.3 71.1 88. Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995.2 88.0 46.4 65.4 51.2 52.5 85.6 89.8 58.3 95.4 76.2 70.7 73.0 77.3 77.7 64.7 62.8 93.8 66.1 78.1 73.5 83.2 81. WHO membuat rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).0 83.7 85.6 51.7 100.0 89.3 77.7 74.5 84.6 81.1 77.3 83.0 64.3 82.3 81.8 77.5 HB 3 53. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 77.3 67.1 78.3 71.

3%) dan tertinggi di Bali (73. tetapi terdapat perbedaan menurut daerah. Tabel 3.2%). Untuk imunisasi campak variasi cakupan juga terjadi menurut provinsi. frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya.29.4%. Perbedaan cakupan imunisasi anak tingkat pengeluaran per kapita terendah (kuintil 1) dan tertinggi (kuintil 5) antara 8. Oktober.7% di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan.2%). semakin tinggi cakupan tiap jenis imunisasi. Perbedaan cakupan imunisasi anak menurut pendidikan antara kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga dengan pendidikan perguruan tinggi antara 17.0%) yaitu tidak ada anak umur 12-23 bulan yang belum diimunisasi. Walaupun vaksin DPT/HB sudah didistribusikan untuk seluruh target. Walaupun demikian.2 – 13. cakupan imunisasi lengkap terendah di Sulawesi Barat (17. masih terdapat 8. Pada tahun 2006 PIN diulang kembali dua kali/ dosis polio saja yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006.5% anak 12-23 bulan yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.3%) dan masih terdapat 11.2%.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi menurut karakteristik anak. Terdapat variasi yang lebar antar provinsi. secara keseluruhan Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI). tahun 2005 untuk 50% target.0%) dibanding di perdesaan (41. tetapi pelaksanaan di daerah dapat berbeda tergantung dari stok vaksin DPT dan HB yang masih terpisah di tiap daerah.9%). yaitu jenis imunisasi yang diprogramkan terakhir.kali/ dosis polio saja pada bulan September. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi (54.4% yang imunisasinya tidak lengkap. Tabel 3. 68 .4%) dan tertinggi di Bali (85.1 – 25. Cakupan untuk tiap jenis imunisasi selalu lebih tinggi antara 7. terendah di Sulawesi Barat (42. Tetapi WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio. Cakupan imunisasi lengkap yaitu semua jenis imunisasi yang sudah didapatkan anak umur 12-23 bulan dapat dilihat pada Tabel 3.30 menunjukkan cakupan imunisasi lengkap menurut karakteristik anak. Terlihat bahwa secara keseluruhan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46. Tidak terdapat perbedaan cakupan tiap jenis imunisasi menurut jenis kelamin. Persentase tertinggi anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali adalah di Maluku (21. Dengan adanya PIN tersebut. Cakupan imunisasi hepatitis B. dan November.5%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (99. cakupan tertinggi bila pekerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI dan cakupan terendah pada kepala keluarga dengan pekerjaan petani/nelayan/buruh. hampir sama dengan yang tidak lengkap yaitu sebesar 45. orangtua dan daerah.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (0. Bila cakupan imunisasi campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap.28 juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan.1% anak 12-23 bulan di perdesaan yang belum diimunisasi sama sekali.27) Tabel 3. bila dilihat menurut provinsi masih terdapat 12 provinsi yang belum mencapai UCI (Tabel 3. terendah di Banten (62.2%. walaupun masih terdapat 35.3%. dan tahun 2006 mencakup 100% target DPT/HB. Tetapi sejak tahun 2004 hepatitis B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT/HB yang didistribusikan untuk 20% target. Selain perbedaan yang lebar untuk cakupan imunisasi lengkap antar provinsi. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan. Cakupan imunisasi menurut jenis pekerjaan terlihat bahwa untuk tiap jenis imunisasi. tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan tiap jenis imunisasi. Imunisasi hepatitis B awalnya diberikan terpisah dari DPT. keluarga dan daerah.7 – 12.

7 82.5 53.9%) dan terendah pada kelompok petani/nelayan/buruh (41.5 66.6 74.5 92.0 78.7 87.7 59.0 95.5 Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Polio 3 71.0 90.9 78.6 77.0 81.9 83.1 84.2 65.1 78.7 66.0 59. Tingkat cakupan imunisasi lengkap pada kuintil terendah 41.6 83.5 83.2 61.2 86.6 79. Tingkat cakupan imunisasi lengkap dengan kepala keluarga berpendidikan terendah 35.4 71.1 80.2 82.1 63.0 57.9 77.2 62.28 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.1 78.3 88. semakin sedikit anak yang tidak di imunisasi sama sekali. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 87.8 71.0 70.4%.7 67.1 81.5 75.1 68.4 83.1%).5 62.6 93. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua.1% dan pendidikan tertinggi sebesar 60.8 75.9 81.1 79.7 58.3 68.1 78.5%. Menurut pekerjaan kepala keluarga.5 71.6 71. menunjukkan kecenderungan yang sama.9 63.1 65.8 72.6 91.9 57.3 71.2 89.7 69.9 69.7 91.8 88.7 76.6 62.3 50.4 83.5 78.8 85.1 71.3 84.1 72.3 DPT 3 67. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.6 79.7 57.4 95.9 64.0 87. Demikian juga menurut tingkat pengeluaran per kapita.7 63.7 86.3 86.5 70.3 62.9 66. 69 .0 66. makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.Tabel 3.1 71. cakupan imunisasi lengkap terdapat pada kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (57.4 92.9 58.9 62.2 76.6 68.7 91.0 85. demikian juga makin tinggi pengeluaran per kapita.1 54.8 Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan imunisasi lengkap.5 HB 3 63.6% dan kuintil tertinggi 53.8 73.0 74.9 69.8 64.4 67.3 75.2 83.6 74.3 86.0 Campak 82.

6 73.Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali terbanyak pada kelompok anak yang orangtuanya tidak sekolah.9 6.3 49.7 60.7 42.3 0.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tidak lengkap 52.9 37.5 5.6 24.3 1.3 5.0 Tidak sama sekali 13.0 38.4 64. 70 .0 43.8 57.1 48.3 32.5 Imunisasi lengkap: BCG.0 51.1 7.9 47.9 38.6 46.6 59.2 17. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.0 4.0 43.6 43.0 45.4 35.3 35. DPT minimal 3 kali.6 7.0 41.2 48.29 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.5 11.2 44.4 38.4 45. Hepatitis B minimal 3 kali. Polio minimal 3 kali.0 62.7 30.8 7.6 39.4 46.4 44.3 21.7 9.2 14.2 52.3 40.3 9. Campak.1 34.7 46.0 7.0 47.1 50.6 17.9 15.9 52.4 47.9 5. dari kalangan petani/nelayan/buruh.8 53. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap 35.2 45.8 1.1 13.3 5.9 47.5 1.3 8.6 2. di daerah perdesaan.7 32.4 44.5 2.3 34.0 15.6 Indonesia Catatan: 46.4 6.0 53.1 31.1 13.0 58.4 35.2 32.3 17.3 64.7 44.5 11. dan pada kuintil terendah.7 36.6 54.5 65.3 11.2 8.3 7.3 45.7 41.9 57.8 42.8 55.4 55.4 48. Tabel 3.5 41.

0 5.4 44.5 Catatan: Imunisasi lengkap: BCG.9 Tamat SMP 46.1 49.5 41.5 Perdesaan 41.3 Kuintil 2 43.7 11.4 46.6 2.7 Kuintil 3 47.4 8. dan 4-6 kali yang diartikan sebagai “penimbangan teratur”.3 44.1 11.6 47.3 44.6 Lainnya 47. Campak.2 14.0 Tamat PT 60.3 6.7 2.7 44.1 49.1 Petani/nelayan/buruh 41. Polio minimal 3 kali.0 41.2 Ibu rumah tangga 51. polindes.0 15.9 4. Data pemantauan pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumahtangga yang mengetahui.7 45.9 Pekerjaan KK Tidak bekerja 44. ditanyakan frekuensi penimbangan dalam 6 bulan terakhir yang dikelompokkan menjadi “tidak pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir”. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti posyandu. DPT minimal 3 kali.0 9.5 6. puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap Tidak lengkap Tidak sama sekali Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki 46. Hepatitis B minimal 3 kali.5 Wiraswasta 49.2 7.7 7.7 PNS/POLRI/TNI 57.0 41. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA. 3.30 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.1 47. Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut.7 46.0 48.0 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 41.2 8.8 7.2.9 39. Dalam Riskesdas 2007.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya hambatan pertumbuhan (growth faltering) secara dini.Tabel 3.1 46. penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan.1 4.7 Tamat SD 41.9 Tipe daerah Perkotaan 54.4 36. 71 .1 Kuintil 4 49. ditimbang 1-3 kali yang berarti “penimbangan tidak teratur”.1 Pendidikan KK Tidak sekolah 35.3 47.5 4.1 Kuintil 5 53.3 45.9 9.3 11.6 8.9 Tidak tamat SD 39.1 Tamat SMA 54.6 45.2 Perempuan 45.

0 28.4 38.9 34.3 27.1 15. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut 45.0 34.5 21.5%).0 5.4 36.4 20.1 14.1 Indonesia 45.4 29.3 8.7 58.1 39.4 46.2 57.6 35.0 34.0 13.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1-3 kali 35.8 39.5 39.3 29.0 27.5 31.9 34.7 15.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (78.32.8 37.4 30.9 40.5 28.2 33.3 22.9 29.1 26.1 35.3 26.4 21.3 29.1%.0 60.8 56.3 Tidak pernah 17.6 56.5 57.7 36. Cakupan penimbangan rutin bervariasi menurut provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (21.Tabel 3.9 10.5 42.9 35.9 16. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan > 4 kali 47.8 38.8 39.5 34.4 23. 72 .9 8.3 28.0 78.5 37.9 31.7 17.0 33.7 28.9 36.7 26.4 29.9 34.4%.6 32.8 29.4 22.2 69.6 33.9 23.6 14.9 28.1 25.2 38.4 24.5 26.0 37.6 30.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.2 18.6 57.1 52.31 terlihat bahwa secara keseluruhan dalam enam bulan terakhir balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).6 16.6 38.8 39.5 62.6 31. Cakupan penimbangan balita menurut karakteristik anak.7 33.9 36.7 42.7 30.0 21. rumah tangga dan daerah dapat dilihat pada tabel 3.2 30.7 32.8 37.1 46.0 45.5 Pada Tabel 3.0 20. dan 25.5%.8 45. 29.

9 44.5 39.4 28.5 44.8 36.1 29.6 28.1 45.7% untuk tingkat pendidikan dan 1.8 28.9 27.3 31. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan (kali) Tidak pernah 8.3 28.5 26.6 45.1 46.7 46.2 27.7 31.4 52.7 29.8 23.5 27.3 > 4 kali 67.32 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.7 24.6 54.8 32.7 48.5 45.0 45.2 30.1 23.3 44.7 33. makin rendah cakupan penimbangan rutin (≥ 4 kali).9 48.1 31.6 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1-3 kali 23.7 22.9 17.8 29.2 44.5 44.7 23.7 28.3 27.6 46.5 19.3 30.2 44.0 29.9 29.2 26. Cakupan penimbangan rutin (>4 kali dalam 6 bulan) tidak banyak berbeda menurut tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.6 22. Cakupan penimbangan balita tidak berbeda antar jenis kelamin.9 32.5 26.1 48.8 47.0 45.5%) dibanding di daerah perdesaan (44.8 45.3 29.1 18.3 25. Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula persentase anak yang tidak pernah ditimbang.9 28.7 16.5 28.1 31.9 25.0 45. Perbedaan hanya 6.4 26. 73 .1%).Tabel 3.1 39.8 25.1 21. tetapi sedikit berbeda menurut tipe daerah dengan cakupan penimbangan empat kali atau lebih dalam enam bulan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan (47.6 22.1 42.1 Terlihat ada kecenderungan makin tinggi umur anak.0 26.7 25.6% untuk tingkat pengeluaran per kapita.7 23.2 33.

8 78.3 89.9 61.9 11.2 1.6 6.1 3.0 13.1 1.4 34.9 11.1 1.9 8.4 1.8 3.1 11.6 82.6 4.3 1.1 77.6 74.0 3.0 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Puskesmas 11.6 14.4 5.2 4.6 95.9 14.2 2.8 3.4 6.3 7.7 2.1 59.0 12.1 1.33 terlihat bahwa posyandu secara keseluruhan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78.2 2.7 6.6%).9 66.8 1.5 12. Tempat penimbangan selain posyandu yang cukup tinggi antara lain Puskesmas seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah (24.1 9.4 16.9 1.1 1.9 75.4 2.5 10.5 3.2 87.3 65.6 2.6 2.2 74.8 3.5 16.5 1.9 1.2 6.7 4.0 5.2 5.0 1.2 Posyandu 76.2 3.9 67.0 Posyandu sebagai sarana penimbangan balita paling banyak terdapat di Maluku Utara (95.6 2. dan Sulawesi Selatan (18.9 81.1 12.5 Indonesia 3.7 4.0 2.5%).8 3.9 85.7 9.1 7.3 3.0 5.2 2.33 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.3 5.1 78.8 78.2 22. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 2.1 86.3 6.4 5.7 72.7 10.0 5.5 11.Pada tabel 3.0 12.0 6.5 2.8 0.3 0.9 68.2 6.6 83.4 2.9 3.1 1.0 86.3 8.3 60.3 15.9%).8 0.8 91.3 2.8 6.1 4.3 1.0 84.2 8.2 2.2 2.1 2.9 7.4 2.8 5.3 3.9 18.2%) dan terendah di Kepulauan Riau (47.3%).4 3.8 Lainnya 5.6 Polindes 4.3 15.3 10.2 2.1 1.5 4.0 6.1 1. Papua (22.8 6.4 5.3 47.6 85.5 4.6 2.4 13.9 24.9 14.4 4. 74 .5 4.7 3.1 73.3%.1 6.6 92.8 2.1 2.2 81.1 2.0 4.1 9.0 0. Tabel 3.0 65.7 2.1 6.5 7.8 0.0 67.4 8.4 7.4 5.9 2.1 1.2 2.7 1.2 1.6 2.7 3.

5 6.0 8.6 9.5 77.0 4.5 2.34 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.6 9.7 8.4 2.8 2.6 1.9 10.0 2.7 83.6 4.7 3.9 83.2 12.3 77.6 3.0 2.8 7.0 1.1 71.4 3.9 7.3 2.0 3.9 8.Tabel 3. Pada tabel tersebut terlihat bahwa untuk setiap jenis tempat penimbangan balita tidak ada pola kecenderungan baik menurut umur maupun jenis kelamin.9 10.6 78.9 Polindes 2.3 7.0 2.2 2. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan persentase penimbangan balita di posyandu.0 8.8 5.1 8.9 3.2 83.1 2.3 8.5 81.6 78.1 4.34 menunjukkan tempat penimbangan balita menurut karakteristik anak.4 Menurut tipe daerah persentase penimbangan balita di RS dan Puskesmas lebih banyak di perkotaan dari pada di perdesaan.7 9.8 8.6 83.6 3.1 5.8 3.5 8.7 3.4 4.7 80.1 3.1 10.2 17.2 3.2 5.4 76.4 72. Namun sebaliknya persentase penimbangan di polindes dan posyandu lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.8 7.1 84.0 7.0 9.1 3.8 68.3 7.6 2.3 80.0 2.8 2.3 3.4 3.7 8.5 78.0 2.7 70.8 5.5 79.7 4.9 8.6 2.1 2.6 3.5 7.7 3.7 5.6 5.9 62. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 3.2 4.2 6.3 83.2 80.1 5.3 7. dan tipe daerah.9 2.8 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Puskesmas 8.5 13.8 2.3 2.5 8.7 2.0 7.9 2.8 78. rumah tangga.6 12.6 2.3 3.4 2.5 Posyandu 78.3 74.1 9.3 3.1 8. Tabel 3.3 7.1 2.3 2.1 1. Persentase penimbangan di posyandu pada balita dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai 75 .3 6.9 3.2 79.5 9.0 2.7 4.4 9.3 8.3 Lainnya 6.

8 39.8 32.4 52.8 35.2 20.9 17.5 38.4 25.4 31.3% balita yang mempunyai KMS dan dapat menunjukkan.1 47.5 Indonesia 23.0 22.9%) dan tertinggi di DKI Jakarta (39.8 23.6 19.2%).2 29.9 37.6 43.3 43.9 16.6 41.35 menunjukkan kepemilikan KMS menurut provinsi.petani/nelayan/buruh atau ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada kepala keluarga dengan jenis pekerjaan yang lain.2 27.4 36.9 22.6 16.6 46.1 51.7 35.6 26.9 23.9 33.7 27.8 18.4 24.4 25.6 22.9 44.0 45.6 31.3 10. Sisanya sebesar 35.8 24.2 49.8 26.8 44. Tabel 3.8 38.1 43.2 31.2 26.8 18.0 * Catatan : 1 = Memiliki KMS dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki KMS.0 42.4 21.6 37.5 28.5 38. Tabel 3.3 24.6 45.3 32.5 18.5 49.9 45.9 49. sedangkan 41.8 25.9 54.2 34.2 31.0 34.6 49.7% mengatakan punya KMS tetapi tidak dapat menunjukkan.4 41.8 3 39.3 29.6 22.1 37.8 27.0 43.8 32.8 34.2 22.2 22.3 41.0 55.7 55.35 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.6 28.9 22. di mana secara keseluruhan hanya 23.2 32.4 34.2 32.6 27.0 22.6 23.9 25.0 44. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki KMS 76 .9 45.8 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2 41.1 39.0% tidak mempunyai KMS. Riskesdas 2007 Kepemilikan KMS* 1 18. Kepemilikan KMS dan dapat menunjukkan bervarisasi menurut provinsi.1 18.9 12.4 22.4 48.2 38.5 47.7 45. terendah di Sulawesi Barat (10.2 41.

4 43.7 32.0 40.7 38.8 39.6 38.0 43.1 30.1 Perempuan 23.8 41.4 48.3 48.0 40.Tabel 3. dan hanya 12.0 Kuintil 2 22.6 Tidak tamat SD 20.3 45.4% pada anak 48-59 bulan.4 40.7 43.9 49.6 23.3 37.0 39.9 Tamat SMA 25.4 PNS/POLRI/TNI 27.6%).5 * Catatan : 1 = Punya KMS dan dapat menunjukkan 2 = Punya KMS.9 Perdesaan 20.2 41.4 29.8 35.0 31.4 46.3 31.4 49.9 36 – 47 14. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan KMS* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 36.4 43.8 35. Menurut tipe daerah. Tabel 3.7 – 42.0%).4 Petani/nelayan/buruh 20.8 Pekerjaan KK Tidak bekerja 25.0 Tipe daerah Perkotaan 28.9 Wiraswasta 25.3 12 – 23 30.3 48 – 59 12.1 38.3 48.3 Kuintil 3 23.36 menunjukkan karakteristik responden.0 6 – 11 42.7 19.9 34.3 38.3 Kuintil 5 25.5 31.3 Pendidikan KK Tidak sekolah 18.4 41.0 Jenis kelamin Laki-laki 23.1 Tamat SD 22.7 39.6 35.4 Tamat SMP 23. di perkotaan persentase kepemilikan KMS (28. Menurut kelompok umur persentase kepemilikan KMS lebih tinggi pada anak umur di bawah 12 bulan (36.3 40. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut jenis kelamin.5 36.3 39.5 40.9 22.5 27.0 Tamat PT 28.3 39. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya KMS Sedangkan menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dengan kepemilikan KMS.5 34.8 33.9 24 – 35 20.5 Ibu rumah tangga 26.1 45.9 34.6 Kuintil 4 25.4 43.7 38.36 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden. 77 .9 35.6 27.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 21.9 Lainnya 24.7%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (20.2 33.6 28.

1 43.0%.9 34.1 51.6 4.5 68.7 37.7 11.37 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.4 21.6 17.1 5.2 4.1 82.3 24.9 61.6 11.0 9.3 28.0 37.7 42.1 32.7 16.9 19.0 24.6 7.2 74.8 3.5 60.2 74.9 9.6 50.3 82.7 34.8 36.2 29. Pada Tabel 3.5 22.1 33.6 76.8 25.3 62.5 14.Perbedaan kepemilikan KMS menurut tingkat pendidikan sebesar 10.7 7.7 20.0 36.1 55.37 menunjukkan bahwa kepemilikan Buku KIA lebih rendah dari kepemilikan KMS yaitu sebesar 13.7 35.1% dan tingkat pengeluaran per kapita sebesar 4.5 8.8 3 62.2 12.2 18.3 13.2 17.1 12.8 9. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut pekerjaan kepala keluarga.5 2.4 73.0 27.3 4.8 5.6 * Catatan : 1 = Memiliki Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki Buku KIA.2 33.8 46.1 25.1%.1 14.6 22.6 57.5 73.3 17.7 7.5 25.0 85.8 22.4 56.2 7. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki Buku KIA 78 .3 41.1 44.6 18.0 78.2 27.5 57.2 15.1 25.0 32.9 8.6 25.2 26.8 9.3 67. Tabel 3.5 21.9 72.9 16.7 22.2 40.6 81.1 63.3 13.5 30.8 2 26.4 65.8 88.1 5. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kepemilikan buku KIA* 1 11.5 Indonesia 13.7 43.

1 Petani/nelayan/buruh 12.2 Perempuan 13.4 26.8 12 – 23 17.4 Lainnya 14.5 64. pekerjaan kepala keluarga. Tabel 3. Tidak ada perbedaan kepemilikan Buku KIA menurut tipe daerah.8 62.2 Tamat PT 13.9 58.0 36 – 47 8.9 26.7%).8 60.5 23.9 63.8 62.1 59.5 20.8 26. dan tingkat pengeluaran per kapita.1 62.1 27.1 64.9 60.7 PNS/POLRI/TNI 12.9%).1 24.7 Tidak tamat SD 13.2 61. 79 .8 25.9 23.9 63.7 24 – 35 11.3 29.6 Tamat SD 13.1 61.4 57.4-23.3 26.2 Tamat SMA 12.5 24.2 23.2 24.0 Kuintil 4 13.8 57.9 23.38 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden.4 22.7 Ibu rumah tangga 16.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 11.7 26. tetapi tidak ada perbedaan menurut jenis kelamin.3 Pekerjaan KK Tidak bekerja 14.Kepemilikan buku KIA tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (2.9 Tamat SMP 12.4 18. Pada Tabel 3.6 62.5 62.3 Wiraswasta 13.6 Kuintil 3 13.8 66. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan buku KIA* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 23.8 * Catatan : 1 = Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Punya Buku KIA.8 25.4 48 – 59 5. pendidikan.9 14.3 Kuintil 2 13.5 67.1 62.38 kepemilikan Buku KIA dirinci menurut karakteristik anak.1 24.2 6 – 11 23.3 22.0 61.3 61.2 65.0 Pendidikan KK Tidak sekolah 12. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya Buku KIA Cakupan Buku KIA yang tertinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan (23.7 63.7 25.4 23.1 Kuintil 5 14.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (42.7 Perdesaan 12.1 Tipe daerah Perkotaan 13.9 61.2 63. rumah tangga dan tipe daerah.6 62.8 Jenis kelamin Laki-laki 12.1 24.3 22.2 23.

9 Indonesia 71.8 82.5% seperti terlihat dalam tabel 3.5 66.4 69.9 62.59 bulan sebesar 71.3 81.2 69.2 61.9 73.1 62.5 81. Tabel 3.5 Secara keseluruhan cakupan distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6 .7 79.9 79.1 74.8 71.39 Cakupan tersebut bervariasi antar 80 .2 74.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200. sejak anak berusia enam bulan.2 82.39 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi.2.2 73.5 69.0 73.6 57.3.0 67.1 78.6 79.6 59.000 IU) untuk anak umur 12 – 59 bulan.8 72. Kapsul merah (dosis 100.3 84. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Menerima kapsul vitamin A 74.3 Distribusi Kapsul Vitamin A Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus.9 77.3 65.4 65.7 67.9 51.7 73.

3%).4 69.5 74. Tabel 3.3 73.8 71.1 Tabel 3.4 77. 81 . makin tinggi cakupan pemberian kapsul vitamin A.8 76. Cakupan lebih tinggi terdapat di perkotaan (74.7%). Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut kelompok umur cukup bervariasi.40 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden. nampak cakupan tertinggi pada kelompok umur 12-23 bulan (77.9 70. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita. rumah tangga dan tipe daerah.7 64.2 70.7 74.4 77.3 71.provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (51.40 menunjukkan perbedaan cakupan distribusi kapsul vitamin A menurut karakteristik anak. Bila dilihat menurut pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.0 75.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.5 69.8 76. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Menerima kapsul vitamin A 66.2 66.7 73.5 71.2 67. Sedangkan menurut jenis kelamin anak tidak nampak adanya perbedaan.7%).4 71.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (69.5 74.6 72. terlihat adanya hubungan positif dengan cakupan kapsul vitamin A.4 69.3 70.5 70.

penimbangan bayi lahir.3 29. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 18.3 18.0 10.5 14.8 16.3 12.1 14.8 75.2 19.1 20.2 17.4 66. dikumpulkan data tentang pemeriksaan kehamilan.7 70.9 28.1 16.4 20.7 7.3 9.8 11.5 10. Tabel 3.8 83.2.9 76.4 73.9 78.7 57.3.4 12.3 18.3 21. pemeriksaan neonatus pada ibu yang mempunyai bayi.9 14.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dalam Riskesdas 2007.1 17.8 16.1 14.8 15.7 11.2 23. jenis pemeriksaan kehamilan.1 13.1 69.2 11.5 20.8 16.5 10.5 61.4 75.8 9.2 73.2 18.7 12.2 17.2 Normal 57.0 Besar 24.0 15. Data tersebut dikumpulkan dengan mewawancarai ibu yang mempunyai bayi umur 0 – 11 bulan.1 35.6 68.0 71.2 13.2 9.4 62.0 73.6 72.7 36.6 14.0 19.1 61.9 71.8 14.1 19.0 13.1 19.4 5.6 66.2 11.3 7. ukuran bayi lahir.4 20.7 19.7 82.1 69.0 82 .2 15.3 10.7 11.1 64.3 52.8 55.4 6.1 27.6 12.1 10.41 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi.4 65.5 47.5 6.9 Indonesia 13.0 71.5 13.5 76.2 57. dan dikonfirmasi dengan catatan Buku KIA/KMS/catatan kelahiran.6 59.8 68.8 18.7 20.8 72.5 14.9 21.

5%) yang mempunyai persepsi bayi yang dilahirkan berukuran kecil dibanding di perkotaan (11. walaupun berat badan bayi lahir tidak diketahui.7 17.4 64. bahwa ukuran bayinya kecil (14.9 13.5% mempunyai persepsi ukuran bayi normal dan 20.4 14.Tabel 3.6 12.6 67.4 66.4 69.5 67.1 67.0 14. Persentase ukuran bayi kecil bervariasi antar provinsi.9 12.9 15.0 22.1 14. Secara keseluruhan terdapat 13. terendah di Maluku (5.5%) dibandingkan persentase ibu yang mempunyai bayi laki-laki berukuran (12.7 Normal 66.4%). lebih banyak ibu di perdesaan (14.0 25.0%).5 67.0 68.7 7.5 61.0 65.0 65.2 19. Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu dapat dilihat pada Tabel 3.0 23.2 11.1 14. Riskesdas 2007 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 12.4 20.1 11.8%).0% mempunyai persepsi ukuran bayinya besar.5 13.3 20.5 18. Tabel 3.2 19.42 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik. Sedangkan menurut tipe daerah.9 21.9 68. Pada tabel tersebut terlihat bahwa lebih banyak persentase ibu yang mempunyai bayi perempuan menyatakan.2 Persentase persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan pekerjaan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita tidak tampak adanya pola kecenderungan.3 65.1 19.9 24.5 20.2 13.41 memperlihatkan persepsi ibu tentang ukuran bayi saat dilahirkan.5 20.4% ibu yang mempunyai persepsi bahwa bayi yang dilahirkan berukuran kecil.6 66.2 18.6 13.9 13.5 11.0 67.3 19.4 67. nampak ada kecenderungan hubungan negatif persepsi yaitu semakin 83 .1 19.2 Besar 21. Namun bila persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga.5 64.3 10.8 14.42.6 65.9 15.7 67.4%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21.5 17. 66.0 20.6 21.7 66.6 14.

6 83.8 82.2 7.4 10.5 9.5 7.4 7. semakin kecil persentase ibu yang menyatakan ukuran bayi yang dilahirkan kecil.8 >= 4000 5.2 15.8 2.9 10.8 27.7 9. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 11.8 82.9 15.2 12.0 80.5 8.8 2.6 8.3 23.5 75.6 7.9 83.2 6.3 16.3 5.3 7.5 8.1 74.0 7.5 6.5 8.6 78.4 80.3 Secara keseluruhan.7 10.0 3.2 17.tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga. Hanya sebagian bayi yang mempunyai catatan berat badan lahir.6 11.7 69.2 3. 84 .5 4.8 14.3 5.4 3.9 86.7 6.5%.7 5.8 5.4% (Tabel 3.5 74.43 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.9 84.5 82.2 21.2 11.8 88.3 77.9 84.2 Indonesia 11.4 80.9 10. Tabel 3.5 5.0 84.8 12.9 5.3 13.41).7 0.5 8.1 78.8 9.5 19.0 10.7 2. Berat badan lahir dari hasil penimbangan dapat dilihat pada Tabel 3.7 88.5 8.5 87.2 71.0 4.4 67.0 2500-3999 82.7 9. Proporsi ini sebanding dengan persentase ibu yang mempunyai persepsi bahwa ukuran bayi pada saat lahir kecil yaitu sebesar 13.43.1 75.1 85.1 77.8 3.5 11.6 4.6 7.1 8.0 83.1 8.6 16.8 7.7 83. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.4 11.5 85.3 84.6 9.3 83.7 14.6 80.8 20.

6 14.6 13.8 7.1 10.2 13.0 7.5%). Riau (7.5%).0%).7 83. ibu ditanya tentang jenis pemeriksaan kehamilan apa saja yang pernah diterima.3 5.2 5.1 9.2 80.8%). dan Kalimantan Barat (16. Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.8 12. pemeriksaan tekanan darah.0 12.0 11. Pada Tabel 3. Sulawesi Barat (7.4 5.7 11. b.9%).8 8.6 85.Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.5 83.8%). Papua Barat (23.8 12. Sumatera Selatan (19.0 13.7 11.2 5.1 85.44 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13.1 83. c. pengukuran tinggi badan. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12.2 6.7%). Menurut karakteristik rumah tangga.0 81.7 81.0%) dibanding laki-laki (10.3 6. Diidentifikasi ada 8 jenis pemeriksaan kehamilan yaitu : a. Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5.5 2500-3999 82.6 5.9 11.8 17.2 7.6%).3 75.3 79.3 6.9 78.9 6.6 >= 4000 7.5 84.4 81.6 6.7 13.5 6.2%) dibanding di perkotaan (10.6 5.4 8.8%).3 5.6%).4 8.0 10.7 81.0 83.8 86. Tabel 3.3 10. pemeriksan tinggi fundus 85 .44 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.5 80.0%).9 Untuk mendapatkan informasi tentang riwayat pemeriksaan kehamilan ibu untuk bayi yang lahir dalam 12 bulan terakhir.2 80.2 80. NTT (20.3%). proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17.0 11.1 80.1 8.2%). Jambi (7. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 10.1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8.5 5.1 5. dan Sulawesi Utara (7.

6 97. dan h.2 83. pemeriksaan urin.3 90. Tabel 3.4 69. pemberian imunisasi TT.9 95.6 90.5% ibu memeriksakan kehamilan.9 95.6 84.1 94. Pemeriksaan hemoglobin.9 85.8 89.0%) dan tertinggi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta (97.4 87.1 95.(perut).1 95.4 93.9 71.1 90.3 71.1%). Cakupan pemeriksaan kehamilan terendah di Provinsi Papua (67.45 yang memperlihatkan secara keseluruhan 84.1 74.5 77.2 81. pemberian tablet Fe.9 90.3 87.8 92.4 79.5 86 .0 67. d.2 91. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Periksa hamil 72. Riwayat pemeriksaan kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi terdapat pada Tabel 3.7 75. e.8 92. f.5 84. penimbangan berat badan.45 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi.2 97.5 80. g.0 Indonesia 84.

Variasi tiap jenis pemeriksaan menurut provinsi dapat dilihat lebih lanjut di Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Periksa hamil 94.4 86.46 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden.3 Terdapat kecenderungan hubungan positif antara cakupan pemeriksaan ibu hamil dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan pengeluaran per kapita.8%). Cakupan periksa kehamilan tertinggi terdapat pada kelompok keluarga dengan perkerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri (92.1%) dibanding di perdesaan (78.2 94.1 75.9%) dan terendah pada kelompok keluarga petani/nelayan/ buruh (78.4 79.2 89.47.Menurut karakteristik rumah tangga dan tipe daerah (Tabel 3.8%) dan pemeriksaan urine (36. Tabel 3. tampak bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan (94.1%).46).9 87.1 78.5 81.6 90.4 86.4%). 87 .9 92.2%).1 78. semakin tinggi pula cakupan pemeriksaan kehamilan.9 90. Semakin tinggi pendidikan kepala keluarga atau semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita. Secara keseluruhan pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97.7 83. Tabel 3. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33.47 menunjukkan delapan jenis pemeriksaan (seperti yang diuraikan sebelumnya) yang dilakukan pada ibu hamil.6 79.2 82.3 89.1%) dan penimbangan berat badan ibu (94.5 85.

1 85.1 30.5 90.1 97.1 65.4 79.5 32.3 97.3 75.9 65.5 30.7 86.5 85.5 89.2 34.3 91.0 97.1 85.7 83.2 95.7 b 97.7 75.6 g 38.6 34.4 94.1 88.8 97.1 96.2 91.3 67.4 95.5 42.7 13.5 85.5 87.9 44.1 95.7 88.1 95.8 94.8 89.0 35.7 99.4 76.0 85.1 81.9 97.3 64.6 100.8 52.8 57.7 94.0 91.3 59.6 83.5 89.5 97.0 38.3 42.6 98.8 97.5 95.8 95.8 87.7 25.5 95.0 98.0 38.7 98.0 37.8 38.4 81.0 96.0 41.9 90.5 42.2 d 89.4 22.9 98.4 92.2 92.0 96.6 93.2 71.7 89.9 97.5 e 86.5 92.7 47.2 90.7 97.7 66.5 94.3 92.8 83.6 34.8 78.5 94.1 96.3 94.4 25.9 97.Tabel 3.8 98.9 98.5 86.3 97.4 69.9 96.5 15.4 91.2 93.2 91.7 38.3 98.3 96.2 57.5 84.5 32.7 17.6 95.4 47.47 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.6 41.1 27.0 54.3 62.3 88.3 88.6 97.8 99.1 19.3 97.2 19.2 77.6 25.2 80.5 86.2 66.9 62.2 91.9 95.2 84.8 c 92.4 95.0 96.2 94.7 28.1 85.0 46.9 82.2 88.6 45.8 75.9 47.2 39. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jenis pelayanan* a 55.2 63.1 100.7 95.9 91.1 98.8 52.5 93.8 56.0 97.2 95.2 86.7 37.3 95.2 42.8 52.1 h 40.8 95.9 87.4 73.5 96.4 97.1 90.6 24.6 98.1 91.4 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Jenis pemeriksaan menurut tipe daerah dan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 3.7 87.3 35.1 92.4 95.1 89.5 45.1 96.5 96.7 98.7 38.2 95.3 95.2 47.3 94.0 26.3 95.9 77.8 95.5 83.2 94.9 68.3 14.8 98.3 82.5 24.6 56.5 94.0 61.3 87.5 95.5 94.4 56.9 93.8 36.2 22.3 91.9 100.5 56.7 86.6 23.9 41.0 36.3 94.0 85.6 93.0 97.4 95.3 91.1 79.0 96.9 Indonesia 58.9 98.5 43.9 98.3 96.1 91. Terdapat kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dan tiap jenis pemeriksaan 88 .5 86.1 33.2 90.5 97.7 57.2 f 92.7 91.5 97.4 93.2 88.9 92.7 95.8 26.7 97.3 29.1 96.3 98.4 48.9 89.5 79.3 84.8 49.1 48.3 95.8 66.4 95.48 Secara umum terlihat dalam tabel tersebut bahwa cakupan tiap jenis pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan.2 45.8 33.9 39.1 51.7 86.9 96.0 26.5 42.2 88.2 27.

8 56.5 36.0 94.7 92.7 93.9 56.8 28.7 88.6 c 89.6 37. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe Jenis pelayanan* a 63.0 98.4 91.8 94.6 97.4 96.8 94.8 jenis) persentase terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara (41.1 89.8 27.9 89.9 95.5 93.5 92.9 90.9 48.0 90.3 f 97. Demikian juga ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pengeluaran rumah tangga dengan pengukuran tinggi badan.9 91.5 91.8 32.5 92.4 38.7 57.8 95.5 93.9 96. Tabel 3.0 68.0 40.0 97.8 36.6 87.4 86.7 48.3 94.3% ibu menerima 3 – 5 jenis pemeriksaan kehamilan. Ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan relatif lengkap (6 .4 99.1 88.1 25.3 84.0 94.0 85.8 49.8 91.4 87.4 92.1 87.2 89.6 91.2 h 46.1 41.5 61. pemeriksaan hemoglobin dan urine.6 54.3 29. Namun sebaliknya tidak terdapat pola kecenderungan cakupan untuk tiap jenis pemeriksaan kehamilan dengan pekerjaan kepala keluarga.8 90.4 90.7 84. dan hanya 2.1 40.9 88.6 87.5 89.6 g 43.2 45.6 95.7 96.2 30.3 85. Secara keseluruhan 61.kehamilan terutama pada pemeriksaan hemoglobin dan urine.0 97.5 30.0 35.0 96.0 87.8 28.2 88.4 96.4 58.7 41.0 85.6 58.1 98.4 37.9 86.4 57.3 87.0 96.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (83.5 95.48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden.7 39.49).8 55.3 85.2 86.6 85.6 33.8% ibu yang menerima 6-8 jenis pemeriksaan selama kehamilan.8 25.1 37.6 38.1 93.9 94.1 32.1%).0 59.6 d 93.2 97.2 94.7 97.8 83.0 29.4 90.1 97.2 97.8% yang hanya menerima 1-2 jenis pemeriksaan selama kehamilan.4 97.1 31.1 38.1 39.7 92.2 88.1 96.9 97.6 87.3 97. 35.3 59.1 92.9 87.8 62.0 93.9 e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Semakin banyak jenis pemeriksaan kehamilan yang diterima ibu hamil semakin lengkap pemeriksaan kehamilan yang diterima (Tabel 3.2 43.0 98.2 32.4 88.7 91.3 91.1 55.0 92.4 85.6 63.8 56.2 98.6 85.1 b 98. 89 .5 63.9 60.9 92.8 e 87.0 32.5 86.7 35.

8 2.5 3.2 39.7 16.9 33.5 78.8 39.50 menunjukkan kelengkapan pemeriksaan kehamilan menurut karakteristik daerah dan rumah tangga.8 61.5 4.0 37.2 76.1 28.3 3.0 68.7 68.9 37.5 83.9 62.8 46.4 31.9 26.3 79.8 4.3 21.8 69.0 21.2 1.0 59.1 67.6 68.5 60.2 0.1 41.2 3.0 55.4 48.2 2.9 5.1 48.0 76.7 2.0 0.7 63.3 1.8 77.8 0.9 58.1 39.1 2.4 2.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.3 58.3 61.3 0.3 28.6 66.Tabel 3.6 75.6 20.0 2.0 2.5 2.2 48.6 3.6 2.8 Tabel 3.8 38.8 1.0 3.0 1.2 7.1 71.8 50.0 45.2 39.0 60. Riskesdas 2007 Pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3.4 28.6 56.9 31.7 24.6 35.5 38.4 20.8 29.9 0.4%) dibanding dengan di perdesaan (55. Persentase pemeriksaan kehamilan yang lebih lengkap lebih banyak di perkotaan (69.0 5.5 6-8 jenis 62.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3-5 jenis 34.8 33.3 61.0 1.3 20.8 Indonesia 2.2 28.0 58.4 2.7 60.8 35.1 56.0 2. 90 .5 37.6 24.3 75.7%).3 4.

6 62.8 38.Kelengkapan pemeriksaan kehamilan berhubungan secara positif tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 58.5% neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.5 30.7 3.8%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.8%).50 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.5 63.7 1.3 34. 91 .8 35.9%).5 2.8 38.51 terlihat bahwa secara keseluruhan 57. Pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari terendah di Papua (27.9 3.1 35. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita semakin besar persentase ibu yang mendapatkan pemeriksaan kehamilan lebih lengkap.2 29. Tabel 3.8 40.0 25.8 2.1 67.4 55.0 Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.6 0.0 2.5 40.7 34.2%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (81.5 28.3 60.6% neonatus umur 0-7 hari dan 33.3 3.8 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 3-5 jenis 28.4 2.6 67.1 33.2 58.6 43.6 1. Dalam Tabel 3.7 64.9 67.1 2.1 2.3 4.6 3. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Kalimantan Barat (19.5 61.9 31.7 39.8 3.4 55.4 73. Riskesdas 2007 Skor jenis pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 1.8 35.2 6-8 jenis 69.2 69.3 61.7 31.9 3.4 1.6 64.6 57.7 54.2 4.

51 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi.5 63.4 69.2 62.0 42.9 34.9 55.5 66.0 25.2 28.3 64. Riskesdas 2007 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 56.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Umur 8-28 hari 36.7 50.4 54.5 35.0 53.8 63.7 26.5 23.1 25.Tabel 3.2 50.0 26.8 27.7 44.6 81.7 47.6 37.8 42.7 49.3 44.0 32.8 Indonesia 57.6 30.9 33.8 21.9 70. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi. tipe daerah dan rumah tangga.0 62.2 22.3 45.6 33.9 43.1 28.8 35.4 28.3 29.1 39.9 41.2 27.5 58.2 59.2 66.2 66.9 54.6 31.0 41.5 Tabel 3.7 65.52 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.7 49.6 68.1 29. Menurut tipe daerah di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan.4 30.5 35.1 58.1 58.1 19.8 39.1 64.4 45. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala 92 .9 39.

2 28.2 37.58 memberikan gambaran tentang informasi tersebut.2 33.3 57. khusus pada lima provinsi.7 29.4 65.5 63.9 64. Maluku Utara. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 65.4 50.4 36.8 41. RS Swasta.1 60.0 37. 93 . RB/RBIA/Klinik. Tabel 3.2 59. Papua Barat.6 33.5 52.7 52.8 63. rumah.7 40.2 28.3 46. Polindes/Poskesdes.5 62. dan Papua.7 32.0 58.9 Selain penjelasan tersebut di atas.5 42. Tabel 3.1 Umur 8-28 hari 41. Persentase terbesar ibu yang melahirkan di rumah adalah di Maluku (85.keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.7 51.3 33. dan penolong persalinan. Riskesdas mengumpulkan data tentang tempat melahirkan.8 24.5 30.0 60.1%) dan terkecil di Papua (65.5 37.53 sampai dengan Tabel 3. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.53 menunjukkan pada umumnya di lima provinsi sebagian besar ibu (di atas 60%) melahirkan bayinya di rumah. Tempat persalinan dikelompokkan menjadi 7 yaitu: RS Pemerintah.9 37.2 46.8 55. Tabel 3. dan lainnya. Puskesmas/Pustu.3 54. jumlah pemeriksaan kehamilan.9 27.4%).0 59. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.8 65. yaitu Nusa Tenggara Timur.0 69. Maluku.52 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Karakteristik Responden.0 31.

tenaga kesehatan lain. Pada trimester-3 sebanyak 24.7 Papua Barat 14.5 Papua 18.5% .2% . sedangkan menurut anjuran selama trimester-1 dan trimester-2 minimal periksa kehamilian satu kali.5 7. Maluku.2 65.1 5.4 g 0. Selama trimester-1 ibu yang tidak pernah melakukan pemeriksaan di lima provinsi berkisar antara 25. dan lainnya. Ternyata baru 30.1 82.9% -50.0 0.8 2. nampak tidak banyak perbedaan. RB/RBIA/Klinik dibanding di perdesaan. ibu lebih banyak melahirkan di RS Pemerintah.5 1.0 f 77.9 4.9 Maluku 7. famili/keluarga.6 0. Terlihat adanya variasi pemeriksaan kehamilan antar provinsi.56 menunjukkan penolong persalinan pertama dan terakhir pada ibu yang mempunyai balita.37.0 1. Puskesmas/Pustu.1 85.9 2.7% ibu yang periksa hamil empat kali atau lebih. Tabel 3. sedangkan pada trimester-2 berkisar antara 15.5 71.2 c d e 3. Riskesdas 2007 Provinsi Tempat melahirkan a b 2.2 3.34. Penolong persalinan dikelompokkan menjadi 6 (enam) yaitu: dokter. Namun bila dibandingkan antara persentase penolong persalinan pertama dan penolong persalinan terakhir untuk masing-masing jenis penolong. Puskesmas/Pustu d.54 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang besar tempat melahirkan di lima provinsi tersebut menurut tipe daerah.5 0. Terdapat hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita dengan RS Pemerintah sebagai tempat ibu melahirkan.9 2.7 0.Tabel 3. dan Maluku Utara penolong persalinan yang dominan adalah dukun bersalin dibanding dengan provinsi 94 .0 Keterangan: a: RS Pemerintah b. polindes/ Poskesdes 6. Pada Tabel 3.2 3. Terlihat kecenderungan hubungan positif antara jumlah pemeriksaan kehamilan yang memadai di tiap trimester dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun pengeluaran per kapita. cakupan pemeriksaan kehamilan yang memadai untuk masingmasing trimester dan ketiga trimester menunjukkan lebih banyak ibu periksa kehamilan di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.0 Nusa Tenggara Timur 6. trimester-2. dukun bersalin.53 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi.0 4.5% telah melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali seperti yang dianjurkan.9 4. Di perkotaan.4% . Sedangkan di perdesaan.2 1.7%.50. trimester-3.8%. RS Swasta. Terlihat dalam tabel tersebut adanya variasi persentase antar provinsi untuk masing-masing jenis penolong. ibu lebih banyak melahirkan di rumah dan di Polindes/Poskesdes. Menurut tipe daerah.55 menunjukkan jumlah pemeriksaan selama kehamilian trimester-1.0 Maluku Utara 7.5 3. Hal ini menunjukkan penolong persalinan pertama umumnya sama dengan penolong terakhir.6 0. RS swasta c. bidan. minimal i kali pada trimester II dan minimal 2 kali pada trimester III. Persentase ibu yang melahirkan di RS Pemerrintah paling banyak kelompok RT dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI.4 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya Pada Tabel 3. Sebaliknya tampak ada hubungan negatif antara tempat ibu yang melahirkan di rumah dengan pendidikan KK maupun tingkat pengeluaran per kapita. Selama kehamilan jumlah minimal pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali yaitu minimal 1 kali pada trimestes I.1 0.8 1. dan trimester seluruhnya. Di Nusa Tenggara Timur.

5 4.7 1.0 8.1 8.7 Keterangan: a: RS Pemerintah b.4 56.7 3.7 2.8 0.5 5.8 84.7% dan 45.5 83.3 PNS/POLRI/TNI 30.7 f 43.8 0.2 85.7 Tamat SD 4.5 1.2 1.5 3.4 4.4 6.9 91.5 4.6 Wiraswasta 21.8 0.9 Petani/ buruh/ nelayan 3.2 Pendidikan KK Tidak sekolah 2.1 5.4 2.9 4.1 5.6 35. sedangkan di Papua yang dominan dua penolong persalinan yaitu bidan dan famili/keluarga.6 2.5 2.3 0. Pada tabel 3.7%.6 2.0 Lainnya 16.1 6.4 2.6 3.2 1.8 Tempat melahirkan c 6.9%).2 2.8 11.4 6.6 2.3 55.5 2.6 g 1. Untuk penolong persalinan oleh famili/keluarga.2 4.6 5.2 6.54 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.4 2.3 3.9 0.5 1.2 1.6 7. Tabel 3.0 1.4 2.4 1.7 Perdesaan 4.3% dan 61.2 4.8 1.6 2.0 0.9 Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 5.8 0.3 76.6 7.1 1.2 85.3 1.0 4. Bila penolong persalinan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran per kapita nampak adanya pola yang jelas.2 2.2 70.3 Tamat SMP 9.5 d 2.0 1.2 Tamat SMA 19. RS swasta c.9 6.5 2. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a b 8.7 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 95 .2 86.8 60.5 0.1 6.0 Tidak tamat SD 3.0 7.4 0.1 1.3 9.1 Kuintil-3 8.3 Kuintil-5 20. nampak ada pola kecenderungan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin sedikit persalinan yang ditolong famili/keluarga.3 4.7 Kuintil-4 12.0 2.4 1.Papua Barat da Papua.6 0.3 Ibu rumah tangga 18. yaitu semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin banyak persalinan yang ditolong oleh dokter dan bidan.1 77. Persentase penolong persalinan oleh bidan dan dukun baik sebagai penolong pertama maupun terakhir lebih besar bila dibanding dengan tenaga penolong jenis lain.1 71.4 1.7 42. Namun kurang nampak adanya pola kecenderungan menurut tingkat pendidikan KK.5 4. Di Papua Barat yang dominan adalah bidan.0 0.6 2.2 Tamat PT 35.1 6. Sebaliknya semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun dan famili/keluarga.0 2.6 0.1 e 8.9 84.2 1.3 Kuintil-2 5.7 Tipe daerah Perkotaan 29.1 Pekerjaan KK Tidak bekerja 12.4 1.3 . Puskesmas/Pustu d: Polindes/ Poskesdes 4.0 1.9 1.7 2.3 4.57 di lima provinsi terlihat bahwa penolong persalinan baik untuk penolong persalingn pertama maupun terakhir yang dominan di perkotaan adalah bidan (masingmasing 60. Sedangkan di perdesaan yang dominan baik untuk penolong persalinan pertama maupun terakhir adalah dukun bersalin (masing-masing 43.2 6.9 68.0 2.7 3.3 7.1 59.7 7.

7 29.5 61.6 59.1 42.6 26.3 29.2 63.3 33. Riskesdas 2007 Provinsi/Karakteristik Responden Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 25.1 34.9 23.4 37.8 24.6 19.7 19.1 21.3 20.2 29.3 50.9 31.7 42.7 14.9 33.3 36.7 63.8 28.0 34.0 31.2 21.7 15.4 49.6 26.7 61.3 28.8 36.0 18.8 48.6 39.9 20.1 49.5 22.2 43.3 25.3 61.4 17.3 18.7 45.6 29.5 46.4 7.0 35.5 13.5 30.9 30.1 23.4 26.8 30.6 11.0 29.8 21.0 22.2 51.2 18.9 23.3 71.4 25.0 18.6 24.7 22.1 13.8 55.8 34.5 23.8 31.1 37.2 48.9 15.0 29.9 15.3 34.6 52.3 40.8 49.9 29.4 36.3 36.8 44.9 64.9 22.4 73.9 39.8 51.8 19.9 25.3 28.7 8.9 34.9 10.8 23.2 21.2 13.3 33.6 20.3 23.8 39.6 43.9 34.1 Trimester-1 Tidak 1 kali > 1 kali Trimester-2 Tidak 1 kali > 1 kali Tidak Trimester-3 1 kali 2 kali > 2 kali Trimester 123 Tidak 1-3 kali > 4 kali 96 .9 25.3 43.6 24.9 26.2 23.1 37.0 21.0 31.5 42.5 36.5 49.2 56.3 40.6 42.6 23.1 65.4 22.3 17.1 56.7 55.3 23.3 12.5 6.9 16.3 42.0 24.8 38.2 32.0 50.2 28.6 50.7 47.5 34.5 27.4 28.7 24.7 37.7 35.8 39.6 20.1 3.4 34.6 39.5 55.8 21.6 16.2 20.4 20.3 26.6 43.1 15.1 26.0 15.8 36.6 46.2 12.2 53.3 23.0 33.0 26.2 32.1 15.9 15.0 16.2 11.2 30.5 15.2 41.8 32.8 28.8 9.4 32.7 20.7 41.5 38.1 46.3 25.8 24.3 22.7 26.6 20.9 40.2 50.1 38.Tabel 3.1 32.5 41.9 28.8 30.0 16.7 51.7 33.9 16.3 29.1 50.1 40.8 17.6 21.1 38.9 26.5 15.7 41.8 30.4 58.0 15.8 20.1 28.0 72.9 22.7 21.5 10.9 17.3 37.5 9.9 25.0 33.2 17.1 23.2 36.6 18.5 38.5 23.4 16.2 19.1 25.4 5.7 47.1 45.8 35.5 8.6 28.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.7 38.2 32.3 12.4 21.1 22.4 8.3 43.9 33.7 20.2 22.3 37.6 30.2 17.7 33.3 29.6 20.0 38.5 11.4 19.0 4.8 29.3 36.2 21.5 21.3 17.4 28.0 54.0 22.9 41.5 32.2 25.3 21.5 29.2 25.0 35.2 15.8 32.1 23.4 32.1 37.6 49.4 18.1 32.9 6.1 29.1 20.0 34.7 26.6 24.2 19.6 26.5 44.0 33.6 26.7 13.0 62.7 18.9 30.8 33.8 42.0 22.6 25.9 20.5 21.1 66.5 40.7 14.8 38.7 36.5 39.8 28.3 53.5 21.2 29.7 39.

0 f 0.1 a: Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 97 .0 34.6 6.7 1.1 20.4 12.9 5.7 2.2 9.0 d 46.8 31.4 3.2 0.7 1.1 2.2 40.7 1.3 50.8 7.0 56.2 36.6 22.6 0.5 39.6 3.3 Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keterangan: Penolong persalinan terakhir f 0.1 35.6 1.9 0.7 3.1 19.9 55.56 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi.7 e 11.8 c 1.7 47.4 3.7 21.3 0.3 c 1.6 10.9 32.2 0.2 b 38.4 14.5 0.3 35.9 1.9 4.Tabel 3.5 b 36.5 1.6 2.8 d 43.4 51.6 3.4 4.2 56.5 0. Riskesdas 2007 Penolong persalinan pertama a 4.2 a 3.1 e 12.

9 b 61. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Penolong persalinan pertama a b 60.5 1.8 46.6 2.5 46.5 0.2 1.6 1.0 55.8 1.6 a 13.7 15.9 42.6 1.4 44.9 29.7 1.9 Kuintil-3 4.4 1.6 1.3 57.9 32.0 63.5 42.6 d 19.1 Lainnya 6.4 18.3 12.7 0.0 2.2 13.2 0.1 25.7 12.5 0.9 f 0.7 0.7 2.3 17.0 1.6 2.1 23.3 1.8 30.3 0.6 5.8 18.6 1.9 21.4 2.6 2.2 2.4 11.7 7.0 16.2 28.4 Tamat SMP 4.2 13.1 1.1 2.1 48.4 1.7 0.7 32.0 1.2 0.3 48.8 37.0 Pekerjaan KK Tidak bekerja 4.9 2.3 2.1 47.2 c 0.3 1.7 43.6 1.4 Kuintil-5 10.6 27.6 10.3 17.9 7.9 1.4 16.9 29.1 2.3 1.7 18.9 1.6 18.2 38.7 1.9 16.9 60.9 51.9 Kuintil-2 2.0 1.6 1.7 44.57 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.9 17.6 1.7 e 4.0 15.4 1.1 35.3 31.2 PNS/POLRI/TNI 16.9 36.6 1.7 2.6 1.2 1.1 7.8 13.5 Penolong persalinan terakhir f 0.3 Ibu rumah tangga 5.2 1.9 35.2 41.8 17.9 3.9 43.9 5.8 53.9 40.2 0.5 1.6 37.7 37.7 45.2 37.1 11.2 65.3 27.2 1.7 Pendidikan KK Tidak sekolah 1.0 Tamat SD 2.6 8.9 38.9 30.9 6.5 12.1 20.2 18.2 24.1 2.6 13.0 52.7 1.3 0.6 1.9 Kuintil-4 6.0 4.1 8.9 1.5 15.6 2.4 1.7 2.1 34.8 45.6 4.0 37.1 41.2 10.7 Keterangan: a : Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 98 .0 0.3 0.4 35.2 Tamat PT 20.Tabel 3.2 6.0 9.4 19.9 51.8 3.8 9.9 1.9 1.2 5.5 63.5 3.4 Tipe daerah Perkotaan 14.5 Tamat SMA 10.6 28.7 1.8 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 2.4 e 4.8 1.4 2.8 43.9 Wiraswasta 9.8 Tidak tamat SD 2.5 38.3 51.0 16.5 c 1.1 1.8 2.3 34.0 15.3 65.4 2.0 6.5 Petani/ buruh/ nelayan 2.6 62.6 15.6 22.9 21.5 3.1 4.8 1.2 1.6 1.0 23.9 10.2 39.3 10.3 Perdesaan 2.0 1.1 31.9 8.8 49.6 1.2 4.5 d 18.2 14.7 50.0 30.3 1.

dan diare. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB. dan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. Khusus malaria. sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah penyakit tifoid. dan tidak sedikit menyebabkan kematian. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis filariasis oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan gejala-gejala sebagai berikut: adanya radang pada kelenjar di pangkal paha. dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma. Demam Berdarah Dengue dan Malaria Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi tular vektor yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyakit ini bersifat musiman yaitu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) hidup di genangan air bersih. hepatitis. mual dan muntah. berkeringat. pembengkakan alat kelamin. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” dalam satu bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin). serta dapat mengakibatkan kematian. lemas.1 Prevalensi Filariasis.3 Penyakit Menular Penyakit menular yang diteliti pada Riskesdas 2007 terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vektor. Untuk responden yang menyatakan “pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” ditanyakan apakah mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas. Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor adalah filariasis. Demikian pula diare. Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat antimalaria. tanpa konfirmasi pemeriksaan laboratorium. kaki/tangan dingin. Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global.IND: Blok X no B01-22). Jadi prevalensi penyakit merupakan data yang didapat dari D maupun G (DG). Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis DBD oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita demam/panas. Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gejala klinis kronis dan kecacatan. panas naik turun secara berkala. 99 . demam berdarah dengue (DBD). 3. pembengkakan payudara dan pembengkakan tungkai bawah atau atas. Prevalensi penyakit akut dan penyakit yang sering dijumpai ditanyakan dalam kurun waktu satu bulan terakhir.IND). Kepada responden ditanyakan apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan (D: diagnosis). dan malaria. berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi.3. kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan atau mimisan. penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur. laten atau kronis. Data yang diperoleh hanya merupakan prevalensi penyakit secara klinis dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner baku (RKD07. dinilai proporsi kasus diare yang mendapat pengobatan oralit (O).3. Penyakit ini dapat bersifat akut. sedangkan prevalensi penyakit kronis dan musiman ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir (lihat kuesioner RKD07. pneumonia dan campak. ditanyakan lagi apakah pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut (G). sakit kepala/pusing disertai nyeri di ulu hati/perut kiri atas. selain prevalensi penyakit juga dinilai proporsi kasus malaria yang mendapat pengobatan dengan obat antimalaria program dalam 24 jam menderita sakit (O).

Riau dan Sulawesi Barat.58.5‰). hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit.5%. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Di 11 provinsi. kasus DBD klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi (DG) 0. Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali. Sumatera Selatan. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1. yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (6. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi (DG) filariasis melebihi angka prevalensi nasional. yaitu Nusa Tenggara Timur (2.1%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional. Papua Barat. Kalimantan Timur.7%.0%).9% (rentang: 0.6% (rentang: 0. Kalimantan Timur. menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir filariasis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi klinis sebesar 1.26.Tabel 3. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD. Jambi. dan Jawa Timur kasus DBD klinis lebih banyak didapatkan berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (<10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Kalimantan Timur.1 ‰ (rentang : 0.2‰).6. Nusa Tenggara Barat.9‰). Jawa Tengah.3‰ .5%). Bengkulu. Bangka Belitung. Bengkulu. Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (<35%) terdapat di provinsi di Jawa. Sulawesi Tengah. Papua (2. DI Yogyakarta. dan Gorontalo (1.1%). Bangka Belitung.7%).0%). Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat serta NAD (1. 100 . Kalimantan Selatan. Pada 12 provinsi didapatkan prevalensi DBD klinis lebih tinggi dari angka nasional. Kalimantan Barat.9%).1%). Kep Riau. Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam. dan Papua). Nusa Tenggara Timur (2.5%).4‰). Sedangkan di beberapa provinsi sebagian besar hanya berdasarkan gejala klinis yaitu Bengkulu.2% .4‰). Papua (18. Di Provinsi DKI Jakarta. Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26. Sulawesi Tenggara. sebagian besar berada di Indonesia Timur. Papua (0. Papua Barat.2%).4‰).8%). sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria. Di NTT. Hal ini disebabkan gejala klinis DBD menyerupai penyakit infeksi virus lainnya.4%) dan NTT (12. Kepulauan Riau.6‰). Bangka Belitung. Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤0. Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.3‰ . Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Papua. Kepulauan Riau (1. Sulawesi Tenggara (1.5‰). Nusa Tenggara Barat. Papua Barat (4.0%). dan Bengkulu. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir. dan Sulawesi Barat (0. Bengkulu dan DKI Jakarta (1. Papua Barat (2. Kep Riau. walaupun kasus malaria klinis tinggi.2. prevalensi malaria klinis nasional adalah 2. Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47. Kalimantan Barat. Riau dan Maluku Utara (0. Papua. Banten.

69 60.04 0.37 1.22 5.02 0.22 0.09 0.11 0.34 44.46 0.36 39.10 2.07 0.21 0.58 0.50 0.26 0.33 65.21 0.06 0.10 0.41 0.05 0.04 0.12 0.32 0.59 0.51 0.29 1.07 0.45 0.08 0.86 1.78 0.09 0.28 43.38 1.81 0.14 0.89 1.04 0.26 3.05 0.14 18.09 0.35 0.12 0.31 3.93 DG 0.41 1.09 0.23 0.03 0.10 39.58 0.07 0.17 0.66 2.10 0.77 2.00 0.25 0.03 0.14 DBD D 0.16 0.62 36.54 0.11 0.04 0.02 0.30 0.10 2.29 D 1.66 49.41 42.04 0.02 0.07 0.77 26.88 0.10 0.62 1.33 0.52 Indonesia 0.03 3.05 0. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.11 0.06 0.37 47.27 0.23 26.42 0.30 0.73 1.18 0.20 0.12 0.87 3.41 27.00 0.78 53.85 1.03 0.42 1.26 0.Tabel 3.08 0.01 0.03 0.46 23.07 0.37 1.05 Malaria DG 1.09 1.10 41.39 2.84 0.06 0.70 0.04 0.16 0.42 7.08 48.68 101 .67 58.04 0.55 0.03 0.83 28.03 0.02 6.31 15.41 0.01 0.32 64.43 0.27 59.00 34.03 0.32 0.52 0.04 0.45 0.79 0.15 0.14 0.75 12.58 Prevalensi Filariasis.02 0.64 0.01 4.06 0.10 0.53 36.06 0.44 24.03 20.07 0.27 0.43 0.15 0.02 0.57 43.36 1.41 0.08 0.09 0.73 1.05 0.10 0.60 0.09 0.06 0.33 0.01 0.07 0.24 0.07 0.04 0.88 0.06 7.08 0.15 0.57 46.01 0.99 30.27 5.18 0.45 2.25 0.42 0.55 42.31 1. Demam Berdarah Dengue.63 7.05 0.82 1.18 0.16 0.43 0.87 2.23 1.90 49.04 3.04 0.51 0.96 0.85 47.32 0.19 0.65 12.86 2.03 0.06 0.14 1.03 0.41 O 36.08 0.33 43.07 0.13 0.12 0.78 23.09 0.09 DG 3.03 0.65 2.04 0.16 2.21 0.35 51.45 0.12 7.09 0.15 0. Riskesdas 2007 Provinsi Filariasis D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.30 0.67 2.16 0.37 2.29 0.10 0.

DBD dan Malaria menurut karakteristik responden.62 0.66 1.06 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0.35 DG 1.09 0.59 0.05 Tamat SMP 0.70 2.23 57.02 0.11 0.83 3.24 Malaria DG 0.10 >75 0.59 0.12 0.21 0.15 0.72 46.12 0.09 0.25 41.11 0.25 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Filariasis D DG 0.97 2.05 Kuintil 4 0.39 44.19 1.19 0. Filariasis klinis dijumpai pada semua kelompok umur dan sudah ditemukan pada kelompok umur ≤5 tahun.14 1.08 1.04 2.08 Jenis kelamin Laki-laki 0.29 41.08 1.61 0.12 0.30 0.09 DBD D 0.24 0.19 1.75 1.02 2.89 46.19 0.10 Tidak tamat SD 0.14 0.08 0.31 1.55 1.11 0.28 1.13 0.56 0.68 0.42 2.22 35.49 2.27 0.08 65-74 0.83 2.07 Pekerjaan Tidak kerja 0.47 47.17 0.90 2.04 45-54 0.64 0. Tabel 3. Demam Berdarah Dengue.05 0.23 0.25 47.64 2. tidak ada perbedaan prevalensi antara laki-laki dan perempuan.07 0.87 43.10 0.20 3.02 5-14 0.83 2.17 0.70 0.06 35-44 0.68 0.03 Perdesaan 0.26 0.13 2.16 0.14 0.57 0.06 Tamat SD 0.74 0.53 0.20 0.19 0.40 53.72 2.85 1.05 Tamat PT 0.75 1.84 49.05 Tipe daerah Perkotaan 0.63 0.48 1.08 0.18 0.37 1.54 3.19 0.06 55-64 0.16 0.14 0.56 0.46 3.66 0.10 0. dan tidak ada perbedaan prevalensi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita.20 0.66 2.10 0.07 Lainnya 0.65 48.83 1.12 0.57 1.12 0.42 1.10 0.17 0.08 43.14 1.35 1. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.16 0.05 2.10 0.51 0.10 1.57 0.69 3.73 47.09 0.03 25-34 0.38 1.38 39.01 1-4 0.75 3.05 1.15 0.80 50.83 46.09 3.62 0.05 Wiraswasta 0.15 0.06 Kuintil 5 0.61 0.12 0.43 1.14 0.67 0.31 1.59 1.11 0.20 0.41 1.04 Tamat SMA 0.22 1.69 2.52 0.44 48.59 adalah gambaran Filariasis.38 1.12 0.62 3.92 51.61 0.18 0.59 0.21 0.05 Perempuan 0.19 46.12 0.37 1.63 51.34 0.08 Sekolah 0.66 D 0.03 Pegawai 0.96 46.25 0.08 53.36 1.74 3.06 Pendidikan Tidak sekolah 0.04 15-24 0.63 0.85 46.78 48.07 Petani/Nelayan/ 0.05 Kuintil 2 0.03 47.05 2.51 0.59 0.74 0.08 0.78 Kelompok umur (tahun) <1 0.15 0.56 0.95 4.05 102 .19 42.65 0.16 0.88 1.05 Ibu RT 0.07 0.05 Kuintil 3 0.52 O 57.53 1.32 45.59 Prevalensi Filariasis. Filariasis klinis lebih tinggi didapati pada responden di perdesaan dan responden yang tidak sekolah.Tabel 3.11 0.50 1. tidak bekerja dan petani/nelayan/buruh.13 54.12 0.74 49.12 2.61 0.57 1.

sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar. Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data ISPA ringan dan pneumonia. dan Campak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. ditanyakan apakah pernah menderita gejala ISPA dan pneumonia. diagnosis klinis sangat menunjang untuk diagnosis dini terutama pada penderita TB anak. namun kasus yang terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan lebih banyak di perkotaan. Kepada respoden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan. Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Walaupun diagnosis pasti TB berdasarkan pemeriksaan sputum BTA positif. terutama pada balita. Pengobatan dengan obat malaria program juga relatif lebih baik (≥50%) di daerah perkotaan. Keadaan ini menunjukkan kewaspadaan dan kepedulian penanganan penyakit malaria pada anak sudah cukup baik di mana >50% malaria klinis mendapat obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit. tetapi proporsi pengobatan dengan obat malaria program cenderung lebih baik pada anak dibandingkan orang dewasa. prevalensi pada bayi relatif rendah. Temuan yang juga perlu menjadi perhatian adalah DBD klinis relatif lebih banyak ditemukan pada responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD).7%) dan terendah pada bayi (0. Kepada responden ditanyakan apakah dalam satu bulan terakhir pernah didiagnosis ISPA/pneumonia oleh tenaga kesehatan. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Hal ini mungkin berhubungan dengan tingkat kesadaran penderita dalam mengenali penyakit dan mencari pengobatan yang lebih baik di kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita yang lebih tinggi tersebut. 103 . dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita tinggi. 3. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global. Di Indonesia masih terdapat kantong-kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB. dan bila tidak. Pnemonia.2 Prevalensi ISPA. Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk malaria. pegawai dan wiraswasta. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 . Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25 . responden sekolah dan petani/nelayan/buruh. dan cenderung tinggi pada responden dengan pendidikan rendah. ditanyakan apakah menderita gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk berdahak bercampur darah.34 tahun (0. dapat menjadi pneumonia. serta sering mengakibatkan kematian. Walaupun prevalensi malaria klinis pada anak (<15 tahun) relatif lebih rendah dari orang dewasa. Kepada responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis campak oleh tenaga kesehatan.54 tahun).3. Prevalensi DBD klinis juga cenderung meningkat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita yang lebih tinggi. Tidak terlihat perbedaan prevalensi DBD pada laki-laki dan perempuan. Di Indonesia penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa. ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat. Tuberkulosis (TB). Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur. kelompok petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.2%). Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. kelompok pendidikan tinggi. DBD klinis relatif lebih tinggi di perdesaan.DBD dahulu dikenal hanya sebagai penyakit pada anak-anak.

Prevalensi ISPA satu bulan terakhir di Indonesia adalah 25.02 0.44 0.62 1.90 0.56 Pneumonia D 1.52 28.22 1.38 22.54 0.40 0.45 4.07 2.10 25.8% .40 25.16 0.31 0.10 0.67 4.64 5.72 0.53 1.98 8.90 19.40 12.55 28.54 10.36 0.39 21.77 0.56 0.53 4.1% (rentang: 0.43 2.34 0.42 0.67 2.39 0.72 0.50 4.41 2.36 1. Pneumonia.42 0.44 1.77 0.78 6.52 ISPA DG 36.34 0.63 0.92 2.47 2.75 0.85 2.14 0.98 2.52 20.22 1.95 8.28 7.40 5.38 0.5% .20 0.06 0.18 0.50 0.53 1.05 0.78 1.56 0.73 0.38 0.98 1.41.23 0.22 0.5% (rentang: 17.43 0.86 0.37 0.50 0.09 2.87 1.06 2.98 6.84 18.36 1.77 1.63 0.32 0.54 2.19 1.58 0.42 0.60 24.25 0.55 1.65 20.36 0.75 33.11 0.49 26.61 0.37 0.10 10.22 6.20 0.88 9.40 0.50 0.43 0.88 1.01 0.54 29.19 2.36 17.87 22.41 1.53 0.81 1.6%).23 0.41 1.36 22.27 0.32 0.59 1.07 2.44 0.53 1.31 0.11 0. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.08 1.68 4.37 0.47 0.26 0.12 0.47 1.17 2.12 1.73 0.54 0.61 1.36 0.38 7.06 12.03 1.69 1.45 0.08 14.42 0.94 7.13 D 1.13 0.79 3.26 8.37 0.18 0.63 Indonesia 8.75 0.13 0.65 2. dan Campak menurut Provinsi.5.47 30.80 0.64 0.47 0.04 0.78 0.35 0. Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.91 0.33 0.92 0.66 0.47 0.76 0.29 0.04 5.99 22.71 0.21 0.64 22.48 1. kecuali di Sumatera Selatan lebih banyak didiagnosis oleh tenaga kesehatan.39 26.97 24.90 22.20 30.89 Campak DG 1.24 1.00 1.50 1.01 0.04 0.20 36.28 1.49 1.50 2.52 0.76 2.29 1.83 1.58 0.43 0.77 1.68 0.63 2.65 0.24 2.70 0.37 0.82 0.80 6.06 27.80 30.02 0.58 0.59 5.56 0.84 0.65 17.39 1.99 0.49 0.48 18.29 1.74 8. Tabel 3.98 5.58 0.27 1.ditanyakan apakah pernah menderita gejala demam tinggi dengan mata merah dan penuh kotoran.37 0.73 9.69 1.58 0. TB.78 0.73 DG 3.08 22.59 1.84 0.29 0.78 1.52 41.95 2. Prevalensi pneumonia satu bulan terakhir di Indonesia adalah 2.78 22.31 0.38 9.99 0.24 0.40 0.20 6.71 0.26 0.44 9.03 1.43 0.15 0.59 5.97 2.28 1.60 Prevalensi ISPA.63 1.27 1.10 1.33 2.60 2.98 TB D 0.73 29.56 0.31 0.47 0.03 27. serta ruam pada kulit terutama di leher dan dada.32 25.00 0.81 1.18 104 .4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional.60 0.05 5.01 DG 1.24 0.23 0.

Nusa Tenggara Timur. Maluku. dan Campak menurut karakteristik responden. Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Kalimantan Tengah.5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0. Pada umumnya kasus campak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah. tertinggi di Provinsi Papua Barat (2.Empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Prevalensi campak klinis 12 bulan terakhir di Indonesia adalah 1. Maluku Utara. Pneumonia klinis terdeteksi relatif lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan. Prevalensi relatif sama pada laki-laki dan perempuan demikian pula di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Sulawesi Tengah.3%). Jawa Barat. sedangkan terendah pada kelompok umur 15 . dan Papua. Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%). Bali. Papua Barat. kecuali pada kelompok umur ≥55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi. kecuali di Provinsi Sumatera Selatan. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relatif sama.4%) dan masih cukup tinggi ditemukan pada usia di bawah 15 tahun. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Pneumonia.61 adalah gambaran ISPA. Sulawesi Selatan. antara lain Nusa Tenggara Timur. dan Papua Barat.24 tahun.2%. Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Barat. tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. DKI Jakarta. kecuali di Provinsi Bengkulu. Pneumonia cenderung lebih tinggi pada kelompok yang memiliki pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.0%. 105 . Tabel 3. Prevalensi TB paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. tertinggi di Provinsi Gorontalo (3.2%) dan terendah di Provinsi Lampung dan Bali (0. Gorontalo. dan relatif sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. Kasus pneumonia pada umumnya terdeteksi berdasarkan diagnosis gejala penyakit. Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 1. Lampung. Banten. TB. Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional. Kalimantan Selatan. Prevalensi campak tertinggi pada anak balita (3. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan.4%). dan Papua. Karakteristik responden pneumonia serupa dengan karakteristik responden ISPA. Sulawesi Tenggara. kecuali di Sumatera Selatan dan Papua. Prevalensi campak lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Empat belas provinsi mempunyai prevalensi lebih tinggi dari angka nasional. Nusa Tenggara Barat.

02 0.26 2.50 0.1 35-44 6.14 0.47 0.20 27.20 3.40 2.79 0.38 4.29 0.47 24.0 55-64 7.45 1.60 26.75 1.71 21.68 24.22 1.37 0.42 0.57 1.46 1.73 0.21 0.55 0.11 Kuintil 4 7.00 0.42 3.30 30.33 1.07 20.96 1.60 0.23 0.84 106 .65 0.84 2.53 28.36 1.7 65-74 8.37 Petani/Nelayan/ 6.98 0.07 1.31 0.92 1.27 0.99 Sekolah 6. TB.55 0.29 0.35 0.00 Pendidikan Tidak sekolah 7.18 0.21 0.91 2.80 1.17 1.62 2.83 1. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D ISPA DG Pneumonia D DG D TB DG D Campak DG Kelompok umur (tahun) <1 14.01 1.46 Tamat SMP 6.57 25.04 Tipe daerah Perkotaan 8.84 0.10 0.83 1.80 0.08 1.77 1.57 22.60 0.44 3. dan Campak menurut Karakteristik Responden.42 0.06 Perempuan 8.53 0.61 0.87 27.84 1.09 Kuintil 2 8.15 0.27 0.01 0.56 0.01 26.89 19.48 0.17 0.62 0.26 2.2 15-24 5.59 1.34 0.96 21.27 0.91 20.67 0.43 4.6 45-54 7.27 0.00 Kuintil 3 8.61 0.43 0.45 1.66 0.59 0.21 0.36 0.48 25.58 Wiraswasta 6.04 0.77 Ibu RT 6.26 0.76 0.76 1.26 25.92 42.75 18.56 0.99 35.60 1.77 28.1 5-14 9.60 1.13 Perdesaan 8.13 2.42 0.04 1.34 0.42 0.4 >75 9.32 1.72 0.26 0. Pneumonia.17 22.67 Pekerjaan Tidak kerja 6.98 Kuintil 5 7.81 1.86 0.40 0.82 0.68 0.33 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 8.49 0.30 26.41 1.21 2.56 0.74 0.62 0.34 1.21 Tamat PT 6.55 2.26 0.38 0.38 0.56 0.10 1.58 0.49 0.69 0.92 20.62 0.12 2.46 0.17 1.27 1.85 Lainnya 6.18 0.53 0.44 0.30 0.89 1.70 0.21 0.73 0.61 Prevalensi ISPA.73 23.60 0.94 1.70 1.33 0.40 0.81 17.39 0.70 0.42 1.13 0.88 0.6 25-34 6.51 0.94 0.44 0.69 0.32 0.18 0.49 18.70 2.50 2.69 2.47 0.33 2.81 2.40 0.49 23.63 2.42 1.08 2.40 Tamat SD 6.07 22.79 Tidak tamat SD 7.67 0.82 23.20 Tamat SMA 6.60 0.56 0.17 1.Tabel 3.00 1.17 25.61 0.90 0.39 0.53 0.42 Pegawai 6.64 0.51 23.59 1.04 2.73 2.40 0.09 0.43 0.17 1.43 0.35 0.37 0.61 0.82 1.69 5.08 0.67 1.69 0.62 0.94 0.40 0.07 1.73 0.27 0.34 0.66 0.42 0.24 0.02 1.39 0.47 0.9 1-4 16.0 Jenis Kelamin Laki-laki 8.

Secara nasional. tidak nafsu makan. terendah ditemukan di Provinsi Banten (29. Sulawesi Tengah. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Hepatitis.3. sakit kepala. Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya.3 Prevalensi Tifoid. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Selatan. 107 . Gorontalo.3. Prevalensi diare diukur dengan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Banten.2%. Gorontalo.6% (rentang: 0. Sulawesi Barat. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian.0% (rentang: 4. Papua Barat.9%). sedang di provinsi lainnya terutama berdasarkan gejala klinis. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis hepatitis dalam 12 bulan terakhir. Tabel 3. serta kulit dan mata berwarna kuning. Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan.3%). Prevalensi diare klinis adalah 9.2% . Kalimantan Selatan. Jawa Barat. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar. Sumatera Selatan. ditanya apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair. Responden yang menyatakan tidak pernah. yaitu Provinsi NAD. Dua belas provinsi mempunyai proporsi pemberian oralit kurang dari proporsi nasional.1.62 menunjukkan bahwa prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1. Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis. dan Sulawesi Selatan) kasus diare lebih banyak dideteksi berdasarkan gejala klinis. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual. Hanya di tujuh provinsi (Banten. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD.3% . ditanya apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. Sulawasi Selatan. Sulawesi Tengah. Kalimantan Timur. Diare Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Banten. nyeri perut sebelah kanan atas.4%). Nusa Tenggara Barat.18. Kalimantan Tengah. proporsi responden diare klinis yang mendapat oralit adalah 42. Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Responden yang menyatakan tidak pernah. Responden yang menderita diare ditanya apakah minum oralit atau cairan gula garam. Kalimantan Selatan. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. kecuali di Provinsi Jawa Timur. kasus tifoid sebagian besar terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan.6% (rentang: 0. kencing warna air teh. Sumatera Barat. Riau. Sulawesi Utara. tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI Yogyakarta. muntah. Nusa Tengara Timur. Jawa Tengah. Jawa Barat.9%). Kasus diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Sulawesi Tenggara. Papua Barat dan Papua). Di 18 provinsi. Bengkulu. dan Papua. Dua belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Nusa Tenggara Barat. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu.2% .

2 10.3 0.1 0.3 0.2 6.99 1.5 0.7 29.1 0.87 0.4 0.0 37.12 0.1 8.5 2.6 4.3 0.2 47.0 53.2 Tabel 3.7 0.93 2.2 0.70 0.30 0.1 44.1 43.24 0.79 1.0 29.9 52.66 0.7 4.4 16.2 0.2 0.6 7.2 0.53 0.3 0.8 DG 1.77 1.8%).1 2.2 3.7 5.98 0.5 4.67 1.1 0.6 39.1 0.0 5.2 0.8 30.0 42.5 3.95 1.3 8.94 0.2 4.1 49.9 0.4 0.3 0.86 1.5 9.3 0.7 56.4 0.4 41.27 2.2 3.7 44.5 0.7 1. Hepatitis.8 9.3 0.1 0.2 0.80 0. dan relatif lebih tinggi di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan.8 4.1 5.9%.5 Indonesia 0.42 0.9 3.96 0.7 4.1 0.9 5.58 0.6 5.8 DG 18.6 0.13 2.5 0.0 8.2 0.35 1.6 50.6 0.4 35.62 Prevalensi Tifoid.2 0.6 5.7 4.90 1.2 0.2 0.7 1.2 0.43 0.11 Hepatitis D 0.39 2.0 49.7 0.46 1.8 10.31 0.4 0.3 Diare D 11. Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 .2 7.75 1.2 40.4 0.33 1.69 0.5 5.8 4.65 1.16 0.54 0.1 0.56 0.3 10.2 0.20 2.0 10.2 8.7 30.0 8.85 Tifoid DG 2.3 13.5 7.1 0.91 1.28 1.3 4.4 0.Tabel 3.4 53.8 0.4 54.2 9.5 7.06 0.4 9.8 1.3 0.19 1.88 0.1 0.62 adalah gambaran Tifoid.2 0. Hepatitis.1 0.1 9.3 0.8 5.03 1.1 0.4 3.8 2.1 0.90 1.0 43.2 0. Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.4 7.60 0.9 7.2 11.14 1.9 5.53 0.3 5.03 1.8 3.44 2. terendah pada bayi (0.44 0.61 0.5 43.4 12.8 45.2 0.9 9.1 0.60 0.2 47.40 0.01 0.6 0.9 47.9 0.0 5.68 0.7 41.48 1. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.9 O 42. dan Diare menurut karakteristik responden.60 0.9 7.3 0.8 2.87 1.3 0.25 1.9 5.1 5. Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.16 1.6 2.4 5.7 51.32 2.3 36.6 6.51 1.1 6.1 0.3 0.7 1.4 43.96 0.1 48.14 tahun) yaitu 1.35 0. 108 .44 0.8 0.3 0.4 47.80 1.9 8.2 2.5 0.5 7.36 0. Diare menurut Provinsi.

4 0.8 8.9 0.3 37.7 55-64 0. dan cenderung lebih tinggi pada 109 .9 9.4 9.8 1.2 7.0 38.0 0.6 7.2 0.8 0.2 0.2 0.3 7.5 4.2 0.7 0.4 36.2 0.4 8.8 Kuintil -4 0.6 5.6 0.5 3.2 0.9 0.1 5.0 0.3 0.3 5.1 0.1 4.1 1. Diare menurut Karakteristik Responden.5 41.8 Perempuan Tipe daerah 0.3 0.6 4.4 0.6 1.7 36.0 8.7 1.62 Prevalensi Tifoid.5 42.9 9.9 15-24 0.8 Kuintil -1 0.7 Perkotaan 0.8 Kuintil -5 0.6 7.0 41.8 55.6 0.6 0.1 3.6 1.3 0.9 52.9 10.2 0. Hepatitis.3 8.4 1.2 0.8 41.7 9.Tabel 3.1 37.8 3.5 1.6 11.8 4.0 36.7 1.3 1.6 0.9 5.7 7.9 Perdesaan Pendidikan 0.6 16.8 0.2 4.7 45-54 0.4 4.0 Sekolah 0.7 Tamat PT Pekerjaan 0.1 4.2 0.7 Wiraswasta 0.5 1.7 25-34 0.8 0.5 38.1 0.4 8.7 5.9 1.8 Petani/nelayan/buruh 0.7 1.2 0.7 0.6 1.9 0.0 10.9 Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun.2 0.0 4.3 0.2 4.4 0.2 1.2 5.2 0.9 Tamat SD 0.3 5.7 42.9 4.4 5.6 8.6 1.6 0.5 37.2 7.6 Ibu RT 0.1 39.7 0.7 Pegawai 0.0 7.2 0.5 1.5 1.3 0.7 0.5 0.1 1.8 42.1 40.9 Kuintil -2 0.7 0.2 5.2 0.2 0.2 4.4 10.0 5.8 1.6 37.9 5.5 43.5 0.8 Tamat SMP 0.8 1.2 0.3 3.2 0.8 41.3 0.9 Laki – laki 0.2 1.2 0.3 37.6 1.0 40.6 0.5 9.8 Kuintil -3 0.5 1.6 0.2 0.2 41.4 1.4 6.7 7.3 <1 0.2 1.3 0.1 7.2 0.7 8.0 37.9 Tidak tamat SD 0.4 1. hampir 2 kali lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.4 1.3 0.8 1.8 43.9 3.3 5.6 0.7 0.7 11.7 >75 Jenis Kelamin 0.9 4. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D Tifoid DG D Hepatitis DG D Diare DG O Kelompok umur (tahun) 0.2 0.5 0.8 4.8 1-4 1.4 39.9 0.6 65-74 0.9 4.9 Tidak kerja 1.8 1.5 1.0 9.5 39.1 37.7 35-44 0.3 36.1 5-14 0.4 8.2 0.5 10.7 0.5 16.0 1.3 0.7 Tidak sekolah 0.5 Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita 0.6 41.7 Tamat SMA 0.4 3.7 1.8 38.

dan Penyakit Keturunan Data penyakit tidak menular (PTM) yang disajikan meliputi penyakit sendi.4 Penyakit Tidak Menular 3.5%.7%).pendidikan rendah. 3. yaitu penyakit jantung kongenital. Responden dikatakan memiliki gejala jantung jika pernah mengalami salah satu dari 4 gejala termaksud. Prevalensi PTM adalah gabungan kasus PTM yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan kasus yang mempunyai riwayat gejala PTM (dinotasikan sebagai DG pada tabel). Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran RT per kapita. aritmia. buta warna. stroke. Prevalensi diare yang tinggi pada bayi dan anak balita tidak selalu diberi oralit. Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16. Penyakit Sendi. Dua data pengukuran dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi. glaukoma. maka prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensi dihitung hanya pada penduduk umur 18 tahun ke atas. stroke dan asma ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan. Penyakit sendi. bibir sumbing. jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran pertama. angina. Setiap responden diukur tensinya minimal 2 kali. baik berdasarkan diagnosis maupun gejala (D dibagi DG). hipertensi dan stroke ditanyakan kepada responden umur 15 tahun ke atas.1 Penyakit Tidak Menular Utama. maka dilakukan pengukuran ke tiga. riwayat pernah mengalami gejala penyakit jantung dinilai dari 5 pertanyaan dan disimpulkan menjadi 4 gejala yang mengarah ke penyakit jantung.8% dan 55. cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. hipertensi. Untuk kasus penyakit jantung. dan untuk jenis PTM lainnya kurun waktu riwayat PTM adalah selama hidupnya. Hipertensi berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan tekanan darah/tensi. Cakupan atau jangkauan pelayanan tenaga kesehatan terhadap kasus PTM di masyarakat dihitung dari persentase setiap kasus PTM yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dibagi dengan persentase masingmasing kasus PTM yang ditemukan. tumor/kanker. ditetapkan menggunakan alat pengukur tensimeter digital. hipertensi. Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk 15 tahun ke atas maka temuan kasus hipertensi pada usia 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi. gangguan jiwa berat. Kriteria JNC VII 2003 hanya berlaku untuk usia 18 tahun keatas. 110 . dan hemofilia dianalisis berdasarkan jawaban responden “pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan” (notasi D pada tabel) atau “mempunyai gejala klinis PTM”. Pengukuran tensi dilakukan pada responden umur 15 tahun ke atas.4. Tensimeter digital divalidasi dengan menggunakan standar baku pengukuran tekanan darah (sfigmomanometer air raksa manual). proporsi yang mendapat oralit pada ke dua kelompok umur tersebut berturut-turut 52. DM. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003. talasemiaa. dermatitis. rinitis. asma. yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. dan dekompensasi kordis. Data hipertensi didapat dengan metode wawancara dan pengukuran. jantung. sedangkan PTM lainnya ditanyakan kepada semua responden. Riwayat penyakit sendi.

dan Stroke menurut Provinsi.2 7.1 8.3 31.0 9.5 7.7 36.1 14.3 7.4 8.1 37.8 23.8 5.4 37.7 25.4 8.5 15.Tabel 3.8 23.6 5.8 19.9 30.4 6.8 11.1 32.6 6.6 11.6 7.4 17.1 9.7 5.9 5.3 11.6 29.4 10.4 20.6 15.9 38.8 7.2 12.4 8.5 5.1 22.6 39.0 30.5 25.6 5.7 6.7 9.5 12.3 7.6 6.7 6.6 29.5 8.5 4.0 D/G 16.3 6.9 8.0 30.4 7.9 7.9 8.7 7.3 6.8 7.1 4.1 5.63 Prevalensi Penyakit Persendian.5 4.1 24.1 11.9 12.6 7.4 7.5 9.2 30.7 11.6 31.6 5.1 14.0 7.0 29.3 9.4 D/G 34.6 38.0 3.1 4.4 7.5 6.2 29.0 26.5 5.6 5.3 4.3 10.7 Hipertensi (%) D 9.9 32.4 15.7 2.2 20.7 4.9 3.8 29.3 13.2 5.3 Catatan : D = Diagnosa oleh Tenaga Kesehatan D/G = Didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit Hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 111 .6 9.0 14.9 28.6 23.3 8.5 29.5 6.0 35.6 26. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.0 8.0 11.6 29.2 7.3 31.6 14.6 8.3 9.0 6.0 12.0 8.7 26.4 22.1 6.4 9.8 33.5 6.0 10.5 6.0 12.0 6.0 5.6 8.0 8.7 28.6 33.0 27.1 6.1 7.0 10.1 24.2 2.2 9.9 29.6 19.8 37.6 8.4 8.2 10.9 4. Hipertensi.4 7.2 7.2 34.4 27.3 7.8 4.7 9.6 7.7 6.8 8.2 26.9 19.3 5.9 31.8 9.5 8.0 9.0 8.7 12.2 6.9 26.0 28.3 Stroke (‰) D 10.2 5.3 8.2 33.7 9.3 7.5 3.2 4.0 5.7 5.3 19.3 41.6 31.6 31.8 27.1 29.4 5.4 10.1 9.1 5.7 20.5 33.0 31.2 11.0 6.9 7.1 7.4 5.1 D/O 10.9 3.9 4.4 9.1 13.7 7.6 9.8 5.0 4.3 28.8 10.1 5.8 5.4 8.3 8.3 17.4 7.8 27.8 9.2 5.9 5.2 36.8 12.3 28.2 7.5 6.8 29.4 5.8 Indonesia 14.4 28.1 4.1 35.4 U 30.9 5.1 30.

Sedangkan pola prevalensi stroke menurut jenis kelamin tidak tampak perbedaan yang mencolok.8‰).6%) dan terendah di Papua Barat (20. baik pola prevalensi penyakit sendi maupun hipertensi dan stroke tampak tidak ada perbedaan yang mencolok. Menurut karakteristik responden. prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31. Sulawesi Barat. Berdasarkan pekerjaan responden. Cakupan diagnosis penyakit sendi oleh tenaga kesehatan di setiap provinsi umumnya sekitar 50% dari seluruh kasus yang ditemukan. Terdapat 13 provinsi dengan prevalensi stroke lebih tinggi dari angka nasional.5%).64 juga dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit sendi.4%). atau dengan kata lain sebanyak 76.6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0. Menurut provinsi. prevalensi penyakit sendi tertinggi dijumpai di Provinsi Papua Barat (28. maka terdapat 4050 (8. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7. dan stroke cenderung tinggi pada tingkat pendidikan rendah dan menurun sesuai dengan peningkatan tingkat pendidikan. Riau. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Menurut jenis kelamin. Kalimantan Tengah. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. namun meningkat kembali pada kelompok pendidikan tamat PT. hipertensi maupun stroke tampak meningkat sesuai peningkatan umur responden. Pada Tabel 3. dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1000 penduduk.2%. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8. Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24. Jawa Tengah. prevalensi penyakit sendi pada Petani/Buruh/Nelayan ditemukan lebih tinggi daripada kelompok pekerjaan lainnya. Dalam penulisan tabel.3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan.3 per 1000 penduduk. Sedangkan untuk hipertensi dan stroke. Provinsi Jawa Timur. 112 .7%. merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. prevalensi penyakit sendi. dan Nusa Tengah Tenggara Barat.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%.8%) dan terendah di Sulawesi Barat (7.0%. dan gabungan kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dengan kasus hipertensi berdasarkan riwayat minum obat hipertensi diberi istilah diagnosis/minum obat dengan inisial DO. responden juga diwawancarai tentang riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat meminum obat anti-hipertensi. hipertensi. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39. demikian pula prevalensi hipertensi. Bangka Belitung.6‰) dan terendah di Papua (3. Sulawesi Tengah. prevalensi ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja. kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diberi inisial D. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di NAD (16. Menurut provinsi. kasus hipertensi berdasarkan hasil pengukuran diberi inisial U. prevalensi penyakit sendi cenderung lebih tinggi pada perempuan.0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis.Selain pengukuran tekanan darah.63) sebesar 30. Prevalensi penyakit sendi secara nasional (Tabel 3. namun ada kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan peningkatkan tingkat pengeluaran rumah tangga. Apabila kriteria hipertensi sesuai JNC VII 2003 juga diterapkan untuk penduduk 15-17 tahun. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7.1%). DI Yogyakarta. Hal ini menunjukkan sekitar 72. Terdapat 11 provinsi dengan prevalensi penyakit sendi lebih tinggi dari angka nasional.4%) responden umur 15-17 tahun yang telah mengalami hipertensi.

5 0.7 14.4 7.Tabel 3.7 7.3 8.8 29.7 44.3 7.8 33.2 9.8 4.3 8.1 6.5 4.8 13.7 14.9 2.0 7.0 14.2 30.2 32.7 3.8 31.6 8.0 6.2 18.0 6.8 25.9 19.6 7.7 1.0 29.5 67.9 8.4 11.9 2.5 31.6 18.2 12.0 32.9 39.1 28.2 28.7 12. Hipertensi.8 32.9 65.4 5.8 9.4 20.3 5.0 12.8 7.7 7.9 15.9 17.9 8.7 15.1 0.7 13.1 25.3 4.7 11.3 1.5 35.0 8.5 22.6 28.2 22.9 8.3 30.7 Hipertensi (%) D D/0 U Stroke (‰) D D/G D/G Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita 113 .1 14.3 2.9 33.8 33.4 30.2 5.3 6.8 33.9 5.5 25.0 9.2 4.7 9.3 11.2 5.9 8.5 17.7 6.6 31.4 31.0 15.7 30.2 6.7 2.2 31.5 5.9 8. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Karakteristik Responden D Umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuinti 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.7 8.7 19.7 63.1 1.0 18.3 7.9 41.1 11.5 6.1 15.3 7.5 11.3 20.2 5.6 1.1 4.0 8.5 11.3 0.4 0.1 6.9 27.5 8.1 5. dan Stroke menurut Karakteristik Responden.9 28.6 7.1 7.9 42.9 6.3 23.2 31.7 11.9 7.1 1.4 6.6 7.7 13.3 6.3 16.0 7.7 20.5 5.8 8.9 4.5 30.9 23.4 6.9 31.8 12.7 9.8 46.5 9.2 32.5 6.9 6.2 13.6 9.1 5.0 31.4 62.8 17.9 33.9 3.3 31.3 0.7 7.2 19.8 7.6 32.1 24.0 2.6 4.6 8.1 37.1 9.6 13.6 6.4 14.8 4.6 53.4 8.6 7.64 Prevalensi Penyakit Persendian.6 2.8 8.7 7.3 0.6 6.9 10.5 4.1 22.1 29.2 7.0 7.4 4.0 6.6 6.5 15.3 56.1 14.0 29.1 5.1 7.4 16.4 53.1 13.

5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung. diabetes. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi.9%.2% berdasarkan wawancara. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis asma oleh tenaga kesehatan sebesar 54.65 menunjukkan prevalensi asma. Menurut provinsi.2% di Gorontalo. dapat pula dilakukan analisis sampai ke tingkat kabupaten/kota.29 50. Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4. Dalam hal ini harus dipilih indikator kesehatan yang prevalensinya cukup besar.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1.3‰.11 12.64 13.55 49. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0. yaitu dengan membuat urutan (ranking) dari yang terbaik sampai yang terburuk.6% di NAD. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63.09 45. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional.96 45. berkisar antara 1.76 9.94 14.6% di Lampung sampai 12. sepuluh kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jayawijaya Teluk Wondama Bengkulu Selatan Kepulauan Mentawai Tolikara Yahukimo Pegunungan Bintang Seluma Sarmi Tulang Bawang 6.38 11. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional.6‰ di DI Yogyakarta.86 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Terburuk Natuna Mamasa Katingan Wonogiri Hulu Sungai Selatan Rokan Hilir Kuantan Singingi Bener Meriah Tapin Kota Salatiga 53.1%.74 46.48 48.6% di DKI Jakarta. Setelah ditentukan urutan (ranking) dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak kasus hipertensi untuk usia ≥ 18 tahun. jantung. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7. Penyakit asma ditemukan sebesar 3.56 14. Prevalensi menurut provinsi.5% di Indonesia dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1. prevalensi asma berkisar antara 1.45 13.3% (D dibagi DG).9%.19 Tabel 3.00 11. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0.5% di Provinsi Lampung hingga 7.4% di Lampung hingga 2.6%. Terdapat 17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional.Untuk penyakit tidak menular. berkisar antara 0. berkisar antara 2. dan tumor menurut provinsi.29 46. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung. 114 . Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12. Prevalensi DM menurut provinsi. Sebagai contoh bisa dipilih penyakit hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah.56 49.5‰ di Maluku hingga 9.23 47.58 15.

8 2.6 3.3 1.1 1.5 0.0 4.0 1.9 3.6 0.5 0.2 1.8 7.8 3.7 0.0 11.5 2.8 1.7 4.6 1.5 0.0 0.3 5.8 1.3 0.5 0.0 0.0 0. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker 115 .9 1.3 2.4 1.Tabel 3.3 1.7 0.6 2.65 Prevalensi Penyakit Asma*.4 0.2 7.8 0.4 6.5 0.8 1.4 3.2 4.2 0.2 11.3 1.4 0.3 3.6 2. Jantung*.8 0.7 3.7 D/G 12.6 1.8 0.8 0.1 9.8 0.8 5.0 1.7 6.6 0.4 2.1 0.7 0.6 0.0 5.6 11.7 0.5 2.6 1.3 0.4 8.0 3.9 2.3 2.2 1.8 9.7 4.6 1.3 1.3 2.4 1.1 8.9 0.0 7.6 3.8 5.8 1.7 2.5 4.0 0.6 0.7 0.6 0.3 0.8 4.5 0.8 3.3 0.9 2.5 1.3 2.7 1.3 3.3 7.8 0.3 1.3 1. jantung.5 0.9 4.7 5.3 0.1 4.4 4.6 0.6 4.9 2.9 1.1 2.2 2.5 3.6 3.7 0.4 8.5 0.8 1.3 2.4 6.8 1.5 0.0 3.3 D 1.4 3.7 3.1 2.0 3.6 0.5 4.5 3.9 0.3 0.8 1.9 7.1 2.5 4. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.9 5.7 0.4 3.7 8.4 5.6 3.3 1.8 3.0 2.4 Jantung (%) D/G 4.7 0.2 0.1 1.0 2.7 0.5 1.6 7.3 Catatan: D=Diagnosa oleh tenaga kesehatan.7 2.8 0.5 8.8 8.2 8.6 2.7 4.1 4.8 0.5 1.0 1.8 1.4 0.1 3.4 7.5 0.4 8.8 3.0 1.4 0.0 0.3 7.9 3.1 2.2 2.4 1.6 1.2 0.9 1.8 2.5 1.6 5.0 1.6 0.5 0.4 0.4 1.6 0.9 5.4 4.2 2.4 Indonesia 1.6 5.8 2.6 1.8 0.7 5.3 2.7 0.6 DM (%) Tumor (‰) D/G 1.1 1.8 4.4 6.7 1.1 2.5 1. Riskesdas 2007 Asma Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.9 6.6 0.8 0.9 1.4 1.9 3.8 1.8 (%) D 2.5 D 2.8 1.8 0.6 0.7 5.7 0.1 4. D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.8 0.6 3.2 1.3 0.8 1.3 1.

3 7.0 2.4 0.9 10.8 2.3 0.2 2.Tabel 3.6 5.2 7.8 0.8 2.0 1.3 12.3 10.4 6.2 3.2 2.2 0.3 3. jantung.7 2.0 2.5 1.1 19.6 1.0 3.2 1.4 2.9 2.1 11.5 1.6 1.8 6.3 1.2 7.6 1.0 2.66 menunjukkan prevalensi penyakit asma.3 1.8 1.8 7.4 2.3 5.7 5.8 6.5 16.5 0.4 0.8 2.2 0.8 7.8 0.4 2.3 0.1 2.5 3.4 1.9 6.8 1.7 1.4 0.0 1.8 9.2 2.1 4.6 0.2 7. Jantung.3 1.5 2.1 4.3 0.0 2.2 0.7 6.0 2.8 1.4 3.0 8.8 1.6 1.7 0.4 1.7 3.7 3.5 1.4 3.9 5.0 1.9 4.8 2.8 Desa 2.4 5.2 7.0 1.4 10.2 8.2 1.4 1.1 1.5 3. Tabel 3.4 2.3 2.7 5.9 1.4 6.1 4.8 1.0 4.9 1.6 3.5 0. dan tumor menurut karakteritik responden.5 1.2 1 1.1 10.2 1.4 2.9 1.6 1.5 1.2 1.2 1.0 1.2 1.3 0.8 6.7 3.1 4.0 0.2 0.0 0.3 6.3 1.4 1.5 8. DM.1 0.8 0.6 0.7 8.0 0.5 8.2 1.4 2.2 8.3 0.4 1.7 1.9 9.8 5.9 3.1 14. Diabetes Mellitus.9 1.0 4.7 4.7 2.7 3.9 1.8 2.5 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) <1 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tempat tinggal 0.7 0.2 0.1 1.5 3.7 0.2 1.8 1.9 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.8 0.7 1.1 1.0 0.7 1.2 6.66 Prevalensi Penyakit Asma.5 0.7 0.1 1.4 12.1 1.2 5.3 1.2 0.2 2.1 6.7 3.3 5.5 4.1 0.5 2.1 8.8 8.0 1.6 6.1 1.9 1.2 1.7 2.4 3.5 1.3 3.5 10.4 4.8 4.0 2.3 1.0 3.1 0.1 3.9 0.7 0.2 20.2 1. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.1 116 .8 5.7 6.9 Asma (%) D D/G Jantung (%) D D/G Diabetes (%) D D/G Tumor (‰) D Kota 1.8 3.6 2.4 8.1 7.9 1.

Sumatera Selatan (5.8‰). Sulawesi Tengah (38.6‰). sedangkan provinsi lain seperti Sumatera Selatan (10. Sumatera Barat (19. Sumatera Barat (16.4‰). dan Sulawesi Barat masingmasing sebesar 0.5‰). disusul kelompok petani/nelayan/buruh.6‰ dan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (18.0‰). Prevalensi terendah terdapat di Riau (0. sedangkan prevalensi penyakit jantung dan tumor dijumpai lebih tinggi pada perempuan. Prevalensi asma dan DM tidak berbeda menurut jenis kelamin. terdapat 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional.2‰). DM. Gorontalo (3. Riau (9.67 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4. prevalensi asma dan jantung paling tinggi pada kelompok tidak sekolah sedangkan prevalensi DM dan tumor paling tinggi terdapat pada kelompok tamat perguruan tinggi. Untuk Talasemia.1‰). Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0. tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (49.3‰). namun untuk DM prevalensi cenderung menurun kembali setelah umur 64 tahun. jantung.6‰). prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja.Riau (12. Provinsi DKI Jakarta ternyata menduduki peringkat teratas untuk prevalensi bibir sumbing.6‰). menempati urutan sesudahnya.9‰). Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20. Riau (21. Nusa Tenggara Timur (99. DM. sedangkan DM dan tumor lebih tinggi di daerah perkotaan. Prevalensi DM paling banyak terdapat pada kelompok pegawai.8‰) dan berturut-turut disusul DI Yogyakarta (40. Nanggroe Aceh Darussalam (98. Prevalensi terendah terdapat di Sumatera Utara(1.3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18. Nanggroe Aceh Darussalam (7. Kep.9‰). jantung. berturut-turut diikuti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (12. antara lain Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (13.4‰).9‰).1‰). diikuti Sulawesi Tengah (105. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara (5.3‰. Tabel 3. sebaliknya prevalensi penyakit jantung. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat (25.4‰). Prevalensi penyakit asma dan jantung lebih tinggi di daerah perdesaan.9‰).9‰ jauh di atas angka nasional (2. dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Jambi.6‰. Menurut tingkat pendidikan. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh dan tidak bekerja.7‰). Kep.5‰). tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (113. DKI Jakara (12. Jawa Barat (36.0‰).8‰).4‰).Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma. Nusa Tenggara Barat (8.4‰. Sumatera Barat (11.7‰).7‰). Prevalensi penyakit asma.4‰. Kalimantan Barat. Sumatera Selatan (9. yaitu sebesar 13. Riau (3.1‰). dan tumor meningkat dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. Nanggroe Aceh Darussalam (15.9‰). Prevalensi buta warna di Indonesia sebesar 7.Tampak bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dengan menurunnya tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.2‰). Gorontalo (15.8‰). Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga.3‰) yang diikuti berturut-turut oleh Provinsi Kep.2‰).6‰). Sulawesi Tengah (12. DM dan tumor meningkat dengan bertambahnya umur. Kep.4‰). Prevalensi dermatitis di Indonesia cukup tinggi (67. tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (24.9‰). Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga. DKI Jakarta (99.8‰). Prevalensi rinitis di Indonesia sebesar 24. Prevalensi terendah 117 .0‰).5‰). DKI Jakarta (37.5‰).9‰).7‰). Prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 4. Nusa Tenggara Barat (9. Menurut jenis pekerjaan utama.

4 8.9 1. Dermatitis.0 62.8 0.5 113.6 0.9 6.1 0.1 23.1 1.2 25.9 4.6 5.3 Talasemi 13.9 8.5 3.1 0.5 1.9 0.1 5.5 0.2 2.8 0.4 0.8 38.4 47.2 2.3 0.5 10.6 11.7 1.8 0.8 1.4 3.8 3. Riskesdas 2007 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Catatan: *) Penyakit keturunan ditetapkan menurut jawaban pernah mengalami salah satu dari riwayat penyakit gangguan jiwa berat (skizofrenia).3 34.5 9. bibir sumbing.8 49.3 67.7 0.8 0.4 1.terdapat di Provinsi Lampung.9 39.3 0.0 24.6 Sumbing 7.7 0.7 6.4 0.1 2.6 18.1 1.7 6.2 6.0 40.6 0.5 73.6 Buta warna 15.5 24.6 0.67 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.6 0. atau hemofilia Jiwa 18.3 2.5 0.8 35.6 0.3 0.4 10.9 1.1 0.2 6.0 5.4 20.6 0.2 1.2 22.4 0.2 11.3 3.8 3.1 2.9 20.7 12.7 36.2 27.4 5.6 0.3 1.9 32.6 11.3 4.2 26.2 2.2 0.1 1.7 26.3 5.6 12.1‰.9 7.2 0.8 40.5 0.8 0. glaukoma.7 7.5 4.0 32.4 2.5 99.1 0.2 0.7 26.8 5.8 5.9 34. Buta Warna.5 1.1 2.2 1.1 99.9 1.4 11.9 2.5 0.8 6.9 8.3 15.4 0.5 0.4 0.4 1.6 0.9 15.8 3.5 67.9 14.4 0.4 0.8 21.6 3.4 1.5 0.6 4.4 16.7 2.5 43.3 118 .2 1. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.9 6.1 0.8 8.6 2.5 0.0 3.8 1.4 0.0 1.4 22.3 2.4 0.9 0.2 29. Glaukoma.5 37.3 58.5 3.3 0.8 0.6 4.4 1.5 2.3 0.2 3.5 0.4 7.2 0. dermatitis.1 0.4 0.0 17.2 3.3 2.4 1.7 38.2 1.4 13.3 0.4 8.9 9.1 94.0 12.0 64.5 0.4 2.3 5.5 3.4 21.4 9.2 18.8 2.1 5.2 1.4 10. Talasemi.0 9.5 Hemofili 5.8 53.0 21.4 Glaukoma 12.4 Dermatitis 98.3 7.4 0.8 Rhinitis 49.6 39.1 2.6 53.5 1.9 1.5 4.1 0.1 0.0 3.8 12.8 1.0 27. Rhinitis. Sumbing.5 0.1 0.4 2.8 0.5 0.7 0.3 84.6 1.5 27. rinitis.8 26.8 0.1 48.8 89.0 2.9 1. buta warna. Tabel 3.1 0.0 13.4 0.5 0.0 0. dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0.6 1. talasemia.0 0.6 7.9 9.9 30.0 1.3 2.9 92. Kalimantan Barat.4 4.5 2.2 105.4 90.9 13.3 92.5 1.9 3.2 1.2 62.5 19.7 1.4 0.4 0.7 79.6 1.8 13.9 1.6 6.9 6.8 6.3 0.3 3.5 73.8 2.

dan Nanggroe Aceh Darussalam (15. Dari tabel ini dapat dilihat bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11. Lima dari 8 penyakit keturunan yang ditanyakan. Kep. Sumatera Barat (19.69 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Hasil SKRT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 1995.6%).4.2 Gangguan Mental Emosional Di dalam kuesioner Riskesdas. Ke-20 butir pertanyaan ini mempunyai pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. glaukoma.3‰). Kesehatan mental dinilai dengan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang terdiri dari 20 butir pertanyaan. Individu dinyatakan mengalami gangguan mental emosional apabila menjawab minimal 6 jawaban “Ya” kuesioner SRQ. Gorontalo (15. 1995). SKRT 1995 juga menggunakan SRQ sebagai alat ukur. Badan Litbangkes. menunjukkan 140 dari 1000 Anggota Rumah Tangga yang berusia ≥ 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.1%).6%. pertanyaaan mengenai kesehatan mental terdapat di dalam kuesioner individu F01 –F20. Pertanyaan-pertanyaan SRQ diberikan kepada anggota rumah tangga (ART) yang berusia ≥ 15 tahun.6%). Nilai batas pisah yang ditetapkan pada survei ini adalah 6 yang berarti apabila responden menjawab minimal 6 atau lebih jawaban “ya”. Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14. Dalam Riskesdas 2007 pertanyaan dibacakan petugas wawancara kepada seluruh responden. Nilai batas pisah tersebut sesuai penelitian uji validitas yang pernah dilakukan (Hartono. dan hemofilia 3.1% sampai dengan 20.9‰). Berdasarkan umur.5‰). prevalensi tertinggi terdapat di DKI Jakarta yaitu gangguan jiwa berat.1%).0%). kelompok yang tidak bekerja (19.5‰). kelompok yang memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah.2‰). Riau (5. serta pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah (pada Kuintil 1: 12.68 di bawah ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun.Demikian juga prevalensi Hemofilia masih terlihat tinggi.0%) dan yang terendah terdapat di Provinsi Kep. Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut.7%). maka responden tersebut diindikasikan mengalami gangguan mental emosional. SRQ memiliki keterbatasan karena hanya mengungkap status emosional individu sesaat (± 2 minggu) dan tidak dirancang untuk diagnostik gangguan jiwa secara spesifik. Tabel 3. bibir sumbing.0% Prevalensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20. 119 . yaitu 21. buta warna. Prevalensi ini bervariasi antar provinsi dengan kisaran antara 5. Tabel 3. tinggal di perdesaan (12.3%). terutama di Provinsi DKI Jakarta (24. tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke atas (33. Riau (21.0‰). Prevalensi terendah di Provinsi Sumatera Utara (1.

4 7.7 10.7 7.8 14.7 11.8 12.3 6.Tabel 3.8 10.6 120 .2 9.5 7.0 13.5 9.9 11.6 12.7 Kabupaten/kota DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Papua Indonesia *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 11.1 14.1 6.9 9.5 7.68 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Gangguan mental emosional 14.0 9.0 16.1 6.5 5.0 12.8 14.5 8.2 16.3 10.9 13.1 20.9 13.3 6.3 11.

6 Sekolah 8.7 Pekerjaan Tidak kerja 19.9 Kuintil 2 12.0 55-64 15.7 25-34 9.9 45-54 12.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil1 12.1 Kuintil 5 10.0 Ibu RT 13.3 Wiraswasta 9.0 Tamat SD 9.8 Kuintil 4 11.4 Desa 12.2 Petani/nelayan/buruh 11.Tabel 3.1 *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 121 .4 Pegawai 6.0 Tamat SMA 7.7 Jenis kelamin Laki-laki 9.0 Tempat tinggal Kota 10.2 75+ 33.0 Perempuan 14.2 Lainnya 11.0 Pendidikan Tidak sekolah 21.69 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Karakteristik Responden Gangguan Mental Emosional Kelompok umur (tahun) 15-24 8.9 65-74 23.5 Tamat PT 6.0 35-44 9.7 Tidak tamat SD 15.4 Kuintil 3 11.8 Tamat SD 12.

tabel 3. diikuti peningkatan proporsi kebutaan. sedangkan DG adalah proporsi D ditambah proporsi responden yang mempunyai gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau). dua kali lipat lebih dibanding kelompok umur 35-44 tahun. operasi katarak. Data ini 122 .70 menunjukkan bahwa proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4.3% (di Provinsi Kalimantan Timur) sampai 2. tetapi tidak pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. riwayat katarak.3 Penyakit Mata Data yang dikumpulkan untuk mengetahui indikator kesehatan mata meliputi pengukuran tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen (dengan atau tanpa pin-hole).1% di Provinsi NTT.3%.72 memperlihatkan bahwa proporsi penduduk usia 30 tahun ke atas yang pernah didiagnosis katarak sebesar 1.71 menunjukkan bahwa proporsi low vision makin meningkat sesuai pertambahan umur dan meningkat tajam pada kisaran umur 45 tahun ke atas. riwayat glaukoma.5 kali lipat angka nasional. Sementara itu proporsi terbesar juga berada pada kelompok penduduk yang tidak bekerja. Proporsi kebutaan tingkat nasional adalah sebesar 0.4%).72 dan 3. dan pemeriksaan segmen anterior mata menggunakan pen-light.9% dengan kisaran antara 0. Proporsi riwayat operasi katarak didapatkan dari responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak dan pernah menjalani operasi katarak dalam 12 bulan terakhir.3. Proporsi kebutaan tertinggi di Sulawesi Selatan diikuti oleh Provinsi NTT (1. Tabel 3.8%). sehingga pemakaian lensa intra-okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi.1% di Provinsi Sulawesi Barat hingga 3. makin rendah tingkat pendidikan makin tinggi proporsinya. Rendahnya proporsi low vision di Papua berkaitan dengan respons rate individu yang rendah.8% dengan kisaran antara 1. Delapan dari 33 provinsi masih memperlihatkan proporsi low vision lebih tinggi dari angka nasional. Secara keseluruhan. Sedangkan proporsi penduduk yang mengaku memiliki gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau) ditambah dengan yang pernah didiagnosis dalam 12 bulan terakhir secara nasional sebesar 17. Proporsi low vision dan kebutaan pada penduduk berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan. Proporsi low vision dan kebutaan cenderung lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. dengan kisaran 10.8%.4. Prevalensi low vision dan kebutaan dihitung berdasarkan hasil pengukuran visus pada responden berusia enam tahun ke atas.73 adalah proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.7% (di Provinsi Papua) hingga 10. mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding angka nasional. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh. dengan kisaran 1. Prevalensi katarak dihitung berdasarkan jawaban responden berusia 30 tahun ke atas sesuai empat butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner individu. Proporsi low vision dan kebutaan pada perempuan cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki.6% (di Provinsi Sulawesi Selatan). Notasi D pada tabel 3. Terdapat 11 provinsi dengan proporsi lebih tinggi dibanding angka nasional.7% di Provinsi NAD. dan jika visus lebih kecil dari 20/20 dilanjutkan dengan pin-hole. Keterbatasan pengumpulan data visus adalah tidak dilakukannya koreksi visus. Proporsi low vision tertinggi di Provinsi Bengkulu diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (9. sehingga proporsi tersebut mungkin tidak mewakili keadaan wilayah provinsi terkait secara keseluruhan.2% di DI Yogyakarta hingga 28. tetapi terdistribusi hampir merata di semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1% (di Provinsi Bengkulu). Tabel 3. masing-masing hampir 3 dan 1. Keterbatasan pada pengumpulan data katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata menggunakan alat bantu pen-light. tetapi dilakukan pemeriksaan visus tanpa pin-hole.

6 2.6 0.4 3.5 0.5 4.4 1.8% dari 17.1 0.0 0.4 Indonesia 4.4 2.2 3.3 5.9 10.2 2.7 0.6 2.2 3.5 5.4 3.0 0.0 1.5 4.0 4.1 2.5 0.8 3.4 1. Gambaran ini juga tampak di seluruh provinsi.1 1.2 1.9 6.5 1.8 4.6 0.4 0.6 0.1 3.5 0.70 Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Low vision* (%) 5.7 0.5 1.7 9.9 0.8 4.7 3.7 3.9 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 123 .7 3.8 0.6 0.4 1.9 2.3% atau hanya 1/10nya).4 5.0 1.9 0.1 0. Tabel 3.0 0.4 0.2 4.3 0.8 0.3 1.menggambarkan rendahnya cakupan diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan secara nasional (1.6 0.9 5.1 3.9 4.5 0.7 Kebutaan** (%) 1.0 4.3 1.

2 Pekerjaan Tidak kerja 11.1 Tipe Daerah Perkotaan 4.0 13.6 Kuintil 3 5.9 0.1 15 – 24 1.0 1.3 Ibu RT 5.6 Kuintil 2 4.9 1.3 0.8 Jenis kelamin Laki-laki 4.8 35 – 44 2.4 1.6 25 – 34 1.71 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.4 Pendidikan Tidak sekolah 19.0 Kuintil 5 4.2 0.2 Perdesaan 5. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Low vision* (%) Kebutaan* (%) 0.3 Pegawai 2.0 Kuintil 4 5.7 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 124 .1 55 – 64 14.8 Kelompok umur (tahun) 6 – 14 1.2 0.8 0.8 2.0 Petani/nelayan/buruh 6.7 Tamat PT 3.1 Perempuan 5.3 0.7 0.6 Tamat SMA 2.3 3.6 Tamat SD 4.5 Sekolah 1.Tabel 3.7 45 – 54 6.4 Lainnya 6.1 5.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 4.7 1.8 0.3 0.6 0.1 0.5 0.3 0.3 0.3 0.1 Tamat SD 2.2 0.0 1.3 6.0 0.8 1.0 1.7 Wiraswasta 4.7 65 – 74 27.1 Tidak tamat SD 6.7 75+ 37.

9 14.1 1.3 2.1 15.4 18.4 1.4 1.2 12.0 19.0 1.3 1.2 1. Proporsi katarak menurut umur yang dikelompokkan dengan interval 10 tahun memberikan gambaran adanya kecenderungan 125 .8 2.6 20.2 1.0 2.1 28.6 2.4 2.3 *)D = proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.0 11.8 17.5 2.0 20.0 1.0 20.5 3.5 13.2 17.8 2.6 1.3 2.0 16.1 14.2 12.4 1.6 15. **)DG= proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir.7 1. Tabel 3.4 Indonesia 1.0 23.3 17.3 11.6 10. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D* (%) 3.5 1.2 10.72 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi.5 18.4 2.0 1.2 1.5 DG** (%) 27.7 1.6 28.5 16.73 menunjukkan bahwa proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan meningkat sesuai pertambahan usia.6 1.9 1.0 16.6 27.6 1.3 1.Tabel 3.5 17.7 2.1 1.7 20.0 16.3 21.3 1.3 24.2 18.

proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan lebih besar pada penduduk dengan latar pendidikan enam tahun atau kurang dibanding dengan yang memperoleh pendidikan tujuh tahun lebih. Pemakaian kacamata pasca operasi katarak di tingkat nasional adalah sebesar 58. Tampak pula bahwa proporsi gejala katarak cenderung menurun pada tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi.75 menunjukkan bahwa proporsi operasi katarak makin meningkat sejalan dengan meningkatnyan umur.1%). sehingga tidak semua penderita pasca operasi merasa memerlukan kacamata untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Proporsi terendah ditemukan di Provinsi Papua Barat (5.7%). Kemungkinan lain adalah hasil operasi katarak yang cukup baik. Proporsi operasi katarak meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga per kapita. sehingga visus pasca operasi mendekati normal dan hanya sedikit penderita yang memerlukan kacamata pasca operasi. Seperti halnya low vision dan kebutaan. 126 .peningkatan proporsi katarak untuk tiap kelompok umur kurang lebih dua kali lipat dalam tiap periode 10 tahunan. Proporsi katarak berdasarkan riwayat diagnosis cenderung lebih besar pada perempuan (1.9%) dan sedikit lebih besar di daerah perkotaan (2. Proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.2%) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (31. Proporsi operasi katarak makin meningkat sesuai dengan meningkatnya lama pendidikan.1% dengan kisaran terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara (21. Pemberian kacamata pasca operasi katarak bertujuan mengoptimalkan tajam penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat. Secara nasional cakupan operasi ini masih sangat rendah.5%).4%) dan tertinggi di Provinsi Papua (91. Berdasarkan pekerjaan dan tipe daerah. proporsi diagnosis katarak pada kelompok penduduk yang tidak bekerja lebih tinggi. Proporsi operasi katarak pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan. proporsi operasi katarak terbesar dijumpai pada kelompok yang sedang sekolah dan tinggal di daerah perkotaan. Dari aspek pekerjaan. Tabel 3. Proporsi operasi katarak dalam 12 bulan terakhir untuk tingkat nasional adalah sebesar 18% dari penduduk yang pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan. Tabel 3. tetapi tampak bahwa proporsi diagnosis katarak tertinggi ditemukan pada tingkat pengeluaran tertinggi (2%). terdapat penumpukan kasus katarak pada tahun terkait (2007) sebesar 82%.74 menggambarkann proporsi operasi katarak dan pemakaian kacamata pasca operasi pada penduduk umur 30 tahun ke atas.

9 17.Tabel 3.8 41.8 19.4 0.9 2.6 13.3 3.5 1.6 1.1 17.4 4.3 1.6 19.1 1.3 1.7 18.0 22.7 17.8 17.6 15.0 9.73 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak Menurut Karakteristik Responden.6 18.8 D (%) DG (%) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 1.4 1.2 8.3 17.6 1.5 1.6 Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.3 16.6 1.2 28.2 5.3 16.0 127 .5 19.6 8.8 1.7 1. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pendidikan < 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 2.9 2.3 0.4 3.1 38.9 51.5 7.4 11.1 1.1 8.1 5.7 1.

0 23.0 58.7 27.0 54.0 62.1 21.1 25.3 21.6 22.9 66.5 20.0 76.8 66.9 27.4 65.3 17.9 20.0 49.5 61.8 22.5 50.6 11.8 43.7 63.1 16.7 Indonesia 18.8 71.7 81.9 13.2 13.0 50.2 46.9 10.8 Pakai Kacamata Pasca Operasi (%) 55.4 65.5 90.7 91.2 34.2 12.5 70.7 62.9 10.9 20.3 14.0 50.1 47.1 20.1 8.2 18.74 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.0 54.5 20.4 47.4 49.6 5.Tabel 3.7 15.9 27.5 72.8 8. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Operasi Katarak (%) 13.7 46.0 26.8 14.7 31.5 8.0 18.1 128 .4 71.7 66.9 21.

2 15.9 58.5 35.3 18.5 17.2 19.3 19.7 59.5 17.2 22.4 19.4 66.4 50. Riskesdas 2007 Operasi katarak (%) Pakai kacamata pasca operasi (%) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama pendidikan ≥ 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.3 56.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.3 78.1 59.4 52.7 60.2 11.2 56.8 18.7 63.Tabel 3.6 21.4 54 65.9 18.3 17 21.9 57.2 48 72 59.5 56.9 22.9 72.7 14.2 13.6 65.9 46.7 14 24.2 15.4 21.8 31.2 55.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 129 .8 64.1 16.5 46.2 20.

perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. karena untuk penilaian CPITN ini diperlukan alat ( hand instrument ) yang spesifik. antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies. yaitu: Sehat/Promotif (Prevalensi) Rawan (protektif) (Insiden) Laten/Deteksi dini dan terapi (% dentally Fit) % bebas karies pada umur 5 tahun DMF-T 12 th Expected incidence Kecenderungan DMF-T menurut umur DMF-T 15 th DMF-T 18 th MI CPITN RTI MI RTI PTI % protesa PTI % dentally fit Sakit/kuratif (% keluhan) Cacat/ Rehabilitatif (% 20 gigi berfungsi) % edentulous • • • Sumber WHO. Analisis untuk dentally fit tidak bisa dilakukan. anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi.4. 2005 Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. karena pemeriksaan perlu menggunakan instrumen genggam lengkap. 130 . Wawancara dilakukan terhadap semua kelompok umur. Sedangkan pertanyaan tentang perilaku pemeliharaan kesehatan/kebersihan gigiditanyakan kepada masyarakat 10 tahun keatas. Pemeriksanan ini dilakukan pada kelompok umur 12 tahun ke atas dengan cara observasi (hanya yang terlihat) menggunakan instrumen genggam (kaca mulut) dengan bantuan penerangan senter. Berbagai indikator telah ditentukan WHO. dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤2%. hilang seluruh gigi asli. Hasil wawancara dan pemeriksaan gigimulut tersebut dapat terlihat pada tabel-tabel berikut.4 Kesehatan Gigi Menuju target pencapaian pelayanan kesehatan gigi 2010. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.1995). telah dilakukan berbagai program. meliputi data masyarakat yang bermasalah gigi-mulut. penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5% (WHO. dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi. Penilaian untuk kebutuhan perawatan penyakit periodontal Community periodontal index treatment need (CPITN) tidak dilakukan. preventif. kuratif maupun rehabilitatif. Terdapat lima langkah program indikator terkait penilaian keberhasilan program dan pencapaian target gigi sehat 2010. Penilaian dan pemeriksaan status kesehatan gigi-mulut dilakukan oleh pengumpuldata dengan latar belakang yang bervariasi. Dalam Riskesdas 2007 ini dikumpulkan berbagai indikator kesehatan gigi-mulut masyarakat. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T. baik promotif. protektif. penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%.3. penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M=0). baik melalui wawancara maupun pemeriksaan gigi-mulut. dan jenis perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi.

5 25.3 25.0 0.5 24.0 23.1 26.5 25.0 Hilang seluruh gigi asli 1.4 2.8 23.0 1. Tabel 3.1 1.7 21.7 1.2 25.4 19.5 1.9 34.6 22.2 28.0 23.2 42.6 30.6 1.6 22.7 23.6 131 .3 31.5 27.0 39. Riskesdas 2007 Menerima Provinsi Bermasalah Gigi – mulut NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.8 36.0 24.8 0.8 25.5 16.3 27. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut terdapat 29.7 15.5 33.9 30.6 29.Tabel 3.76 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Provinsi.4 30.2 0.5 2.7 0.2 39.0 3.2 21.1 23.8 2.1 20.6% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.4 1.9 20.4 24.2 25.2 2.8 0.2 2.76 menggambarkan prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.5 33.1 34.7 1.3 4.7 perawatan dari tenaga medis gigi 44.1 24.4 37.5 31.9 1.7 2.9 20.0 25.0 2.6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya.9 2.8 31.1 26.9 21.9 0. Prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir adalah 23.7 0.7 1.6 29.2 1.3 22.6 20.7 35.3 25.6 0.4 Indonesia 23.7 18.5 22.1 17.5 23.6 1.4%.1 19.4 29.7 1.1 0.7 0.1 30.4 31. dan terdapat 1.4 21.5 0.0 28.7 19.1 26.

Penambalan/pencabutan/bedah gigi tertinggi di Kepulauan Riau (55. Dari yang mengalami masalah gigi-mulut.Lima provinsi dengan prevalensi masalah gigi-mulut tertinggi..5%).6%). 175 bayi mempunyai masalah gigi/mulut.9%) dan terendah di NTT (23.8%) dan Kalimantan Selatan (29. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Lampung (18.4%).9% (6/54) didapatkan dari 16.3%). Meskipun prevalensi penduduk yang mengalami hilang seluruh gigi asli terlihat relatif kecil 1.1%).2%).78 menggambarkan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.0%) dan Bangka Belitung (3.3%). Provinsi dengan prevalensi gigi-mulut terendah adalah Sumatera Utara (16. semakin meningkat prevalensi masalah gigi-mulut. Tabel 3. yaitu ‘pengobatan’ (87. Aceh (30. Tidak ada pola yang jelas jenis perawatan gigi yang diterima menurut kelompok umur. namun terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4.6%. 54 diantaranya mendapat perawatan dan 6 yang mendapat perawatan pencabutan/bedah mulut oleh karena sebab yang tidak diketahui. Tabel 3. dan terendah di DKI Jakarta (74. Tabel 3. Semakin tinggi umur. Kesadaran untuk melakukan konseling relatif sedikit di semua provinsi (13. pengobatan paling tinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (94. sedangkan menerima perawatan/pengobatan gigi di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan. Data tentang persentase pencabutan/penambalan/bedah mulut pada bayi (<1 tahun) sebesar 10. dan pada kelompok umur 65 tahun ke atas hilangnya seluruh gigi mencapai 17.5%) dan terendah di Maluku Utara (19. Sumatera Selatan (17. prevalensi masalah gigi dan mulut. Tetapi ada kecenderungan. jauh di atas target WHO 2010. semakin meningkat umur. Kepulauan Riau (19.9%). semakin besar persentase penduduk yang menerima perawatan/pengobatan gigi. Prevalensi masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan/pengobatan gigi sedikit lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki.2%). serta persentase penduduk yang mengalami kehilangan seluruh gigi asli sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.747 bayi yang diwawancara (orang tuanya). Sulawesi Tengah (31. Prevalensi masalah gigi-mulut dan kehilangan gigi asli menunjukkan kecenderungan menurut umur. masing-masing sebesar 13. dan Sumatera Selatan (10. Mulai umur 65 tahun ke atas persentase yang melakukan penambalan / 132 .6% Menurut provinsi. Pemasangan gigi tiruan lepas/cekat terlihat tinggi di tiga provinsi yaitu di Kepulauan Riau (12. Dapat dilihat bahwa jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut. disusul ‘penambalan/pencabutan/bedah gigi’ (38.5%). Sulawesi Utara (29..9%).0%). tetapi mulai kelompok umur 55 tahun prevalensi masalah gigi-mulut menurun kembali. Pada kelompok umur 45-54 tahun sudah ditemukan 1. Sulawesi Barat (11. Sedangkan yang menerima perawatan/pengobatan gigi tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur. Prevalensi masalah gigi-mulut ini tidak menunjukkan hubungan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6%.9%).77 menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi-mulut bervariasi menurut karakteristik responden.8% hilang seluruh gigi asli.2%). Menurut tipe daerah.1%).3% dan 4.5%).79 menjelaskan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut karakteristik responden.7%).0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (19. kecuali dalam hal perawatan/pengobatan gigi. DI. yaitu Gorontalo (33. provinsi dengan persentase yang menerima perawatan/pengobatan gigi dari tenaga kesehatan gigi tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (44. Konseling perawatan/ kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil.6%).2%). semakin besar persentase yang melakukan penambalan / pencabutan / bedah gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat.

9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ 1. semakin tinggi persentase penduduk yang melakukan penambalan/pencabutan gigi. pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat dan konseling perawatan gigi lebih tinggi di perkotaan.6 20.6 1.9 26.3 37.7 Kuintil-2 23.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 22.7 32 31.5 Perempuan 24.4 5 . sedangkan pengobatan lebih tinggi di perdesaan.9 Perdesaan 24.1 27.6 1.5 23.6 133 .3 30.6 1.7 Kuintil-5 23.9 17.6 21. pemasangan gigi tiruan lepasan.3 29.6 26.8 1. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 28.77 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Karakteristik Responden. jenis perawatan penambalan/pencabutan gigi.1 28.8 1. dan melakukan konseling gigi.4 1.1 22.4 1. Menurut tipe daerah.7 0 0 0 0 0 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur ( tahun) <1 1 .4 Kuintil-3 23. Menurut jenis kelamin.7 28.3 Tipe daerah Perkotaan 21.5 24.7 37 25.9 21.6 29.5 30.1 0.6 31.8 31. Tabel 3.4 1. Sebaliknya untuk pengobatan.4 30.5 Kuintil-4 23.6 Bermasalah Gigi-mulut Menerima perawatan Hilang seluruh gigi asli Jenis kelamin Laki-laki 22. tidak ada perbedaan persentase pemanfaatan jenis perawatan gigi yang mencolok antara laki-laki dan perempuan.8 5.1 6. yang melakukan pengobatan cenderung menurun.3 1. Pemasangan gigi tiruan sudah ditemui pada kelompok umur anak sekolah dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur.1 29.5 26.7 1. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 26.pencabutan gigi mengalami penurunan.

7 89.6 21.0 4.7 7.3 3.4 9.2 Pemasangan gigi lepasan / tiruan 4.0 1.8 81.5 10.0 2.2 134 .6 87.9 3.3 44.2 12.5 15.5 88.5 3.9 35.2 2.9 54.3 11.9 4.0 2.5 4.7 11.4 37.8 1.5 91.1 20.6 12.8 55.1 83.5 16.0 39.2 36.0 80.3 4.3 36.3 6.9 43.8 6.2 85.3 84.4 83.7 14.5 42.6 12.7 10.8 34.1 4.3 0.1 85.5 21.0 86.3 85.1 1.7 20.0 3.3 2.6 2.6 13.78 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.0 1.0 81.9 11.1 Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi 32.6 92.8 18.6 2.3 22.3 0.4 2.5 53.4 46.2 13.5 45.8 42.3 6.2 5.5 25.7 5.3 10.7 90.0 0.9 89.7 42.3 4.4 4.8 9.9 5.0 86.9 32.1 3.7 91.5 35.8 9.3 2.4 14.8 23.2 Indonesia 87.0 5.2 89.0 2.5 74.6 5.1 39.Tabel 3.0 2.9 92.9 32.1 2.2 2.6 Lain nya 0.2 15.7 90.8 52.0 43.6 86.6 11.2 13.8 5.7 34.7 25.6 1.0 2.5 10.2 13.8 88.6 81.9 2.2 87.9 4.9 2.4 16.6 6. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tengga Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pengobatan 94.6 45.0 2.5 4.6 12.0 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 13.9 7.6 82.6 38.3 2.8 0.1 3.9 1.2 2.9 4.5 2.8 91.9 83.9 1.6 21.0 37.2 40.8 28.1 47.8 4.0 1.5 2.5 93.2 4.4 14.8 9.9 12.0 2.2 85.0 1.3 48.

7 11.4 88.7 1.7 39.3 2.4%).1 88.4 9.0 0.1 12.4 39.8 12.5 90.2 2.3 2.5 2.1%) mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari.4 4.6 4.5 44.4 2. dan Kalimantan Timur (95.0 1.0 0.6 2.8 2.4 46.9 36.0 89.5 2. juga adanya wilayah yang masih sulit terjangkau informasi akibat keadaan geografi yang bervariasi.5 6.5 13.Tabel 3.6 89.4 13. dan kapan waktu menggosok gigi dilakukan.7%.5%).6 4.0 4. Sebagian besar penduduk umur 10 tahun ke atas (91.7%.2 89.7 81. Proporsi masyarakat yang menggosok gigi setiap hari sesudah makan pagi hanya 12.7 41.8 1.3 14. 135 .9 12.79 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.3 87.4 4. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan gigi-mulut.5 13. menggosok gigi yang benar adalah menggosok gigi setiap hari pada waktu pagi hari sesudah makan dan malam sebelum tidur.6% dan sebelum tidur malam hanya 28.0 0.5 4.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.7%) dan Papua (58. Didapatkan bahwa pada umumnya masyarakat menggosok gigi setiap hari pada waktu mandi pagi dan atau sore 90.6 30.9 32.5%).1 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 6. Untuk mendapatkan hasil yang optimal.0 33.7 86.8 2.4 87.8 45.2 3.2 4.1 2. sedangkan yang terendah di Provinsi NTT (74.0 1–4 5–9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 + Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 84. Tiga provinsi yang mempunyai persentase tertinggi dalam hal menggosok gigi adalah DKI Jakarta (98.6 32.8 5.2 11.3 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 83.0 3.2 15.7 29.4 3.2 2.3 2.1 43.2 14.4 84.2 10. Jawa Barat (95.5 35. Riskesdas 2007 Karakterisktik Responden Pengobatan Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi Pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat 0.4 37.5 84.4 13.6 14.9 87.0 88.4 11.6 7.80 berikut ini menggambarkan perilaku penduduk umur 10 tahun ke atas yang berkaitan dengan kebiasaan menggosok gigi.2 12.7 13.6 10.2 43.7 1.2 11.2 2.4 87.7 93.5 88.1 2.8%).8 16.0 2.8 39.9 9.

7 88.7 23.9 92.2 90.1 31.9 89.2 24.8 14.7 93.7 48.9 46.7 92.7 3.7 9.8 94.2 94.7 32.3 94.8 44.5 96.9 22.7 85.4 95.3 12.5 95. Adapun provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi sebelum tidur 136 .5 2.4 26.2 26.7 32.4 13.1 91.6 11.8 92.3 30.9 27.1 18.7 20.8 9.7 13.4 89.7 12.5 35.7 94.7 31.8 92.4 27.8 94.Tabel 3.7 25.2 2.1 40.3%) . Lampung (5.4 17.3 27.2 23.0 11.6 26.2 88.1 31.3 25.6 92.8 42.6 93.0 25.8 13.0 38.6 22.5 1.9 84.5 94.0 98.8 2.4 28.7 19. Sedangkan persentase yang terendah di Provinsi Sumatera Barat (5.8 15.5 90.9 27.3 17.2 24.6 42.8 1.2 Sebelum tidur malam 20.6 28.0 3.2 68.0 94.9 14.9 2.1 15.0 88.1 4.4 2.3 5.1 2.7 94.0 6.7 34.4 92.0 84.0 87.9 50.5 15.9 95.6 90.5 22.2 4.5 2.3 22.8 89.2 25.4 28.9 96.7 Provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi setelah makan pagi adalah Papua Barat (30.7 6.1 11.2 1.7 1.5 94.2 17.3 92.9 3.1 Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 88.7%) dan Sulawesi Tenggara (26.7 74.5 34.3 86.4 41. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari 87.0 95.2 86.9 34.7 1.7 Lainnya Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.3 97.3 10.2 12.4 35.7 89.0 9.5 6.3 25.9 37.8 2.1%) dan Sumatera Utara (6.5 3.7 2.6 9.1 42.9 31.4 3.6 31.2 20.7 40.2 9.5 94.0 16.7 86.4 90.5 74.4 94.3 19.9 1.0 84.6 Sesudah bangun pagi 27.6%).8 86.9 44.2 95.7 3.9 91.0 92.1 58.80 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.3 26.0 3.7 1.4 2.0%).3 93.3 16.6 34.9 48.9 2.5 95.8 3.3 20.8 18.0 16.4 91.4 4.6 94. Maluku (26.3 80.3%).0 5.9 26.9 24.6 9.4 13.6 20.6 3.7 32.3 15.8 11.9 12.0 95.5 92.9 95.8 94.7 Sesudah makan pagi 10.9 16.0 37.9 91.0 32.

3 91.1 25.6 31.8 13.7 27. persentase penduduk 137 .7 89.3 3.81 menunjukkan perilaku penduduk dalam menggosok gigi bervariasi menurut karakteristik responden.9 11.7 92.9 Sebelum tidur malam 25.0%) dan Jambi (17.2 89.6 38.4 11.0 4. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 90.5 90..7 13.5 26.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 88.5 91.4%).0 91.0 4. Sulawesi Selatan (48.1%).8 38.8 11.9 96.3 14.8 21.9 25.1 30.5%). Bali dan Kalimantan Selatan masing-masing (44. terutama mulai umur 15 tahun ke atas . Persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.8 91.1%).2 58.3 26.4 27.0 90.9 21.0 27.4 24.0 26.2 26.5 31.0 Lainnya Karakteristik Responden Kelompok umur ( thn) 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan 93.8 89.2 11. hanya kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam terlihat lebih banyak pada perempuan.6 3.5 22.8 96.2 12.4 3.5 90.6 Sesudah bangun pagi 25. Begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi penduduk yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.6 11.81 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden. persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur.9 30.3 25.5 28.8 25. sedangkan yang terendah Provinsi Lampung (14.8 91.3 4. Menurut umur.4 27. persentase penduduk menggosok gigi setiap hari maupun semua jenis waktu menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.5 Sesudah makan pagi 11.malam adalah Kepulauan Riau (50.4 88.9 3.5 18.4 3.3 90.6 Perdesaan 88.9 3.3 15.0 26.8 3.7 2.3 95.8 3. NTT (16.2 28.0 93.8 13.1 92.1 92.5 90.2 85.0 91.0 94.7 10.4 Menurut tipe daerah. Sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.7 4. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 13.3 10.5 3. terutama di perkotaan.6 80.2 25.0 33.2 28.9 3. Tabel 3.4%).0 11.5 3.7 90.9 90.9 29.

2 8.2 17.2 5.1 95.6 11.5 82.1 7.7 5.82 disajikan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.3 94.1 8.1 92.3 Indonesia 7.5 92.0 89.menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.82 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.9 3.2 91.7 Tidak 95.5 17.8 2.2 89.5 7.8 2.9 92.7 90.8 84.3 93.6 90.2 97.3 92.0 6.8 8. 138 . Pada Tabel 3. Riskesdas 2007 Berperilaku benar menggosok gigi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ya 4.2 15.4 9.5 96.5 15.8 91.9 91.4 5.7 87.3 94.7 91.8 10.1 96.6 8.7 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi setiap hari dengan cara yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).9 4. Tabel 3.8 82.6 95.4 88.5 84.1 4.7 5.9 7.0 10.1 92.8 94.9 7.9 95.0 93.7 6.3 9.9 89.5 3.4 91.3 9.2 97.3 12.1 10.

Tabel 3. yaitu dilakukan pada saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam.8 Kuintil-3 6.6 setiap hari dengan cara Kelompok umur (tahun) 10 – 14 6.2 Kuintil-2 5. Provinsi dengan persentase penduduk tertinggi dalam berperilaku benar menggosok gigi adalah Papua Barat (17.3%. Tabel 3.7%). Sedangkan yang terendah di Provinsi Lampung (2.3%) dan Sulawesi Tenggara (15.4 92.8 91.7%) dan Jambi (3.6 96.5 35 – 44 7. persentase perilaku benar dalam menggosok gigi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki.7 45 – 54 6. semakin tinggi persentase yang berperilaku benar dalam menggosok gigi. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 65+ 3.2 93.8 25 – 34 8.4 94. yaitu 7.9 Kuintil-5 10. Kepulauan Riau (17.Dikategorikan berperilaku benar dalam menggosok gigi bila seseorang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari dengan cara yang benar. persentase penduduk berperilaku benar menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.4 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam). 139 .2 15 – 24 8.5 93.4%). Sumatera Barat (2. Sedangkan menurut jenis kelamin.8 94.6 Kuintil-4 7.83 menggambarkan perilaku benar menggosok gigi menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.6 Perdesaan 5.4 94.1%).0 Tipe daerah Perkotaan 9.2 94.2 91.6 55 – 64 5.5 Jenis Kelamin Laki-laki 6.1 89. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Berperilaku benar menyikat gigi Ya Tidak 93.9%). Tampak persentase penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi masih sangat rendah. Menurut umur.6 92. Begitu pula menurut tipe daerah.4 Perempuan 8. terutama mulai umur 15 tahun ke atas. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden.5 92.8 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 5. ada kecenderungan persentase penduduk berperilaku benar dalam menggosok gigi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur.3 93.0 90.

01 5.06 0.41 1.08 5.08 0.77 0.60 3. dan Filling/F (gigi ditumpat).02 0.84 4.44 3.46 4.02 3.92 2. M.38 5.22 3.83 5.39 3.35 1.05 0.05 0.84 0.82 2.73 4.38 0.68 3. M-T.38 1.73 3.37 3.18 4.02 0.52 3.92 4.43 1.08 0.96 F-T (X) 0.35 1.04 0.01 2.88 1.04 1.83 5.35 1.Tabel 3.03 5.00 1.16 0.27 0.06 0.19 Indonesia 1.08 0.60 3.89 1.34 1.94 3.84 Komponen D. merupakan penjumlahan dari indeks D-T.53 6.68 1.86 0.55 3.98 4. Missing/M (gigi dicabut). Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D-T (X) 1.95 1.25 3.05 0.08 4.53 3.50 1.61 4.02 0. dan F-T yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang).01 6.24 1.28 3.05 0.84 menyajikan komponen DMF-T menurut provinsi.27 4. dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan.73 3.11 6.05 0.86.04 1.13 1.31 1.04 0. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi.05 4.85.84 3. Tabel 3.80 1.77 1.06 1.59 4.90 3. Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4.08 0.66 2.85 5.92 3.36 1.52 3.92 0.02 0.05 0.22 6.01 2.16 4.06 0.34 4.66 4.11 M-T (X) 3.53 4.12 0.71 4.06 0. Indeks DMF-T sebagai indikator status kesehatan gigi.05 0.05 Index DMF-T (X) 4.02 5.19 1.08 0.47 2.11 0.09 0.66 3.06 0.25 4.70 3.00 1.09 0.50 1.18 0.60 2.21 2.08 5.43 5.05 0.43 5.25 4.93 3.42 1.69 3.04 0.08 0.85 140 .60 4. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang.04 0.

38).72 0.10 Perdesaan 1.55 5. Tabel 3. yaitu Kalimantan Selatan (6. DI Yogyakarta (6. F-T : Rata2 jumlah gigi ditumpat. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita . 1997 dan Kristanti dkk. DMF-T : Rata2 jumlah kerusakan gigi per orang (baik yg masih berupa decay.11 3. M-T : Rata2 jumlah gigi dicabut/indikasi pencabutan.41 4.3. Pada kelompok umur 35-44 tahun DMFT tinggi (4.88 0.05 Kuintil-2 1.26 3.4 dan SKRT 2001 sebesar 5.91 1. 0.29 4.27.44).74 0.22 4. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden.08 Kuintil-5 1.06 Perempuan 1.13 4. M. Dikategorikan karies aktif bila memiliki indeks D-T >0 141 . (Kristanti dkk. dan Sulawesi Tengah (5. dicabut maupun ditumpat).91 0. hal ini mungkin berkaitan dengan cara dan alat pemeriksaan yang digunakan. yang berarti kerusakan gigi rata-rata 18.08 65 + 1.33 0.89 0.90 0.27 buah per orang.15 4.22 3.57 0.57 0.46 18.92 4. DMF-T lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.97 per orang.99 0.09 Tipe daerah Perkotaan 1.85 di atas menunjukkan jumlah kerusakan gigi meningkat seiring dengan peningkatan umur berdasarkan Indeks DMF-T.DMF-T di lima provinsi sangat tinggi.86 menyajikan prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.07 Kuintil-4 1.27 3.98).47 0.90 0.02 18 0.83%).41 0.33 4.06 Tingkat pengeluaran/ kapita Kuintil-1 1. bahkan pada kelompok umur di atas 65 tahun DMF-T sudah menjadi 18.16 16.04 35 – 44 1. Jawa Timur (6.12 Catatan D-T : Rata2 jumlah gigi gigi berlubang per orang. Bahkan komponen yang terbesar adalah M-T (rata-rata gigi dicabut) sebesar 16.13 0.87 4.36 5.79 4. Kalimantan Barat (6.44 2.89 4.83).90 0. DMF-T yang ditemukan pada Riskesdas ini lebih rendah dari temuan SKRT 1995 sebesar 6.14 0. 2002) Tabel 3.DMF-T hampir sama pada kelompok penduduk dengan semua umur tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.77 Tabel 3.22 3.24 0.14 Jenis Kelamin Laki-laki 1.07 15 0.46).06 Kuintil-3 1.13 3. Riskesdas 2007 D-T (X) M-T (X) F-T (X) Karakteristik responden Index DMF-T Kelompok umur ( tahun) 12 0.85 Komponen D.24 3.14 1.

4 77.9 78.6 39.8 65.0 37. Riskesdas 2007 Pengalaman karies 62.0 51.4 50.9 54.1 50.4 75.1 58.9 71.4 48.8 43.5 86.9 34.2 51. prevalensi karies aktif tertinggi 142 .7 55.2 61.4 75.1%.3 60.6 30.9 76.0 40.8 37.1 67.4 67.2 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.0 34.8 40.9 77.0 59.4 62.8 40.6 47.2 68.0 42.6 53.8 77.3 37.5 68. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.2 49.5 55.8 39.3 Indonesia 43.4 39.4 67.4 64.1 72.5 83. Tabel 3.5% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72.1 52.1 71.6 75.atau karies yang belum tertangani dan mempunyai pengalaman karies bila indeks DMFT >0.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Karies aktif 41.1 43.2 58.7 49.2 55.5 60.3 56.6 40. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi karies sebesar 46.1 70.86 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.3 47. Menurut provinsi.9 62.8 40.0 43.1 41.6 44.

Sedangkan sepuluh provinsi dengan prevalensi pengalaman karies tertinggi..4 Jenis Kelamin Laki-laki 43. Pengalaman karies sedikit lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan. DI Yogyakarta (78.Jambi (77.7 Perempuan 43.3 67.5 Perdesaan 44. Maluku (54.1 43.3%).6 68. Menurut kelompok umur. meningkat sampai umur 35-44 tahun dan menurun kembali pada umur 65 tahun ke atas. semakin meningkat yang mempunyai pengalaman karies. Sulawesi Utara (82.2%).5 94.1%).5 Tipe daerah Perkotaan 42.2 50.8%). seperti tersaji pada Tabel 3.5%).5 65 + 32.8 67. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.6%) dan Kalimantan Tengah (76.6%). ada 143 .2%).87. ada kecenderungan semakin meningkat umur.(lebih dari 50%) ditemukan di Jambi (56.7 66.7%) Kalimantan Timur (50. dan Jawa Timur (76. Riskesdas 2007 Pengalaman karies Karakteristik responden Karies aktif Kelompok umur ( tahun) 12 29.5 64. Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.6 Kuintil-2 43. Sedangkan prevalensi karies.6 18 41.4%).9%). Kalimantan Timur (76.1 15 36. Kalimantan Barat (78. Riau (53.9%). Kalimantan Selatan (50.4%. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi pengalaman karies (DMF-T>0) sedikit lebih tinggi pada kelompok perempuan dan di perdesaan. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50.8 36.5 Kuintil-4 44.4).8 35 – 44 53. Yogyakarta (52.9 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani. Bangka Belitung (50.3%).7%).2 Kuintil-3 43.8%).8 68.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42. Sedangkan prevalensi karies tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.8%). Maluku (77. tetapi di perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan di peran.2 65.0 66.8 80. Tabel 3.87 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden.7%).0 68. Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (57. . Kalimantan Selatan (84. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga. Lampung (54.4 Kuintil-5 42.9%). adalah Bangka Belitung (86.

4 8.1 92.0 1.2 33.1 1.7 91.1 22.7 1.3 20.9 25.4 1.3 1.6 29.7 16.7 76.5 1.2 76.2 0.5 32.6 79.3 1.7 2.88 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi.9 1.7 2.6 1.6 0.9 76.8 25.5 28.8 19.8 74.8 68.2 75.0 1.9 0.6 74.2 69.8 77.8 24. sedangkan RTI (besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan 144 .7 3.1 65.kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang mempunyai pengalaman karies.4 77.7 1.6 76.4 31.2 0.6 Dari tabel di atas tampak PTI (motivasi seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap) sangat rendah hanya 1.8 1. Tabel 3.9 0.5 69.9 71.1 0.8 19.9 28. Namun prevalensi karies tidak menunjukan pola tertentu pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 27.2 35.6 4.7 22.4 1.0 27.2 1. Tabel 3.6%.9 26.8 24.88 di bawah ini menyajikan persentase gigi tetap yang ditumpat dan persentase gigi tetap yang karies menurut provinsi. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RTI PTI MTI (D/DMF-T)x100% (F/DMF-T)x100% (M/DMF-T)x100% 23.9 1.6 32.6 1.1 22.7 19.6 1.2 21.0 70.6 0.8 102.9 80.6 1.1 76.0 35.5 26.8 75.8 35.6 67.7 Indonesia 25.0 86.2 1.3 22.4 1.3 77.8 1.7 77.2 79.2 27.9 83.0 71.6 81.7 26.6 88.2 83.8 33.4 72.5 18.2 1.0 70.

0 64.3 18 63. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.89 menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.2 28.8 1. sedangkan nilai PTI tinggi pada umur 18 tahun. Riskesdas 2007 RTI (D/DMF-T)x100% PTI (F/DMF-T)x100% 0.4 1. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T.2%. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. namun menurun pada umur yang lebih tinggi.3 Jenis Kelamin Laki-laki 26.8 2. 145 .7 1.9 0. semakin baik motivasi penduduk untuk merawat kesehatan giginya. mulai umur 15 tahun nilai RTI cenderung menurun seiring meningkatnya umur.9 2. RTI pada laki-laki lebih tinggi dan PTI-nya lebih rendah dari pada perempuan. Terdapat 20 provinsi yang angka RTI-nya diatas rerata nasional dan terdapat 18 provinsi yang mempunyai nilai PTI di bawah rerata nasional.6 1.5 Perdesaan 25.3 15 65.6 33.2 1.4 78.8 Tipe daerah Perkotaan 25.3 65 + 6.7 79.4 35 – 44 32.penumpatan/pencabutan) sebesar 25.3 Kuintil-4 24.6 78.4 1.89 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden. Nilai PTI di perkotaan dua kali lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 26.3 Kuintil-2 26. Tabel 3.7 Karakteristik responden MTI (M/DMF-T)x100% 26. Persentase PTI dan RTI pada tabel 3. tetapi semakin menurun nilai RTI-nya. sedangkan nilai RTI kurang lebih sama..6 2.9 92.7 80.2 80. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi pula nilai PTI.2 1.5 1. Menurut umur.6 80.1 1.1 79.8 Perempuan 23.0 Kelompok umur ( tahun) 12 62. Berarti semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sedangkan menurut jenis kelamin.0 Catatan: Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T.3 81.6 78.1 Kuintil-3 25.8 Kuintil-5 23.

lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (86. Proporsi penduduk dengan fungsi gigi normal tertinggi di Provinsi Banten 146 .5 2.8 9. Edentulous.9 3.6 Edentulous 2.5 3.0 1.5 0. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Fungsi Normal 92.0 2.5 Protesa 4.2 93.2 4.3 2.1 3.9 11. dan penggunaan protesa pada responden yang umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.8 4.2 90.6 89.9 7.0 5.1 1.3 95.90 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.7 0.7 1.5 91.2 2.0 93.7 0.2 94.6 3. gigi tetap yang hilang semua (edentulous).2 84.0 2.Tabel 3.6 2.2 88.0 95.4 1.90 di bawah ini menyajikan proporsi fungsi gigi normal.3 95.0 91.5 91.4 90.0 1.7 1.3 4.9 4.8 6.3 3.0 0.9 1.7 10. Protesa dan Provinsi.4 2.5%).0 4.9 91.7 1.3 0.9 92.4 4.1 93.4 1.3 6.9 2.0 4.5 Dari tabel di atas terlihat 91. Tabel 3.5 88.5 4.7 5.0% penduduk umur 12 tahun ke atas memiliki fungsi normal gigi (mempunyai minimal 20 gigi berfungsi).9 93.9 94.3 1.0 0.0 Indonesia 91.1 4.0 2.0 92.3 90.1 92.9 5.0 3.7 3.4 0.1 91.5 94.3 85.6 3.2 2.0 91.6 12.8 2.8 88.0 2.6 94.6 0.8 5.9 2.1 0.5 2.0 86.2 91.5 2.9 4.5 2.9 2.0 2.1 86.

2%). Proporsi penduduk yang edentulous dan penggunaan protesa meningkat seiring dengan bertambahnya umur.7%).3 89. Protesa dan Provinsi. tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (4.7 2.9 4. edentulous dan penggunaan protesa bervariasi menurut karakteristik responden. dan Gorontalo (95.0% sedikit lebih rendah daripada hasil SKRT 2001 (2.3 6. (95.0%). fungsi normal gigi dan edentulous tersebar merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.7 1.1 90.0 90.1 0.9 95.6 14.6 5. lebih tinggi dari target WHO pada tahun 2010 (90%) dan SKRT 2001 (91. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2%.0 0.9 99.9%.6%. tertinggi ditemukan di Kepulauan Riau (12.3 1.0 4.5% penduduk telah memakai protesa atau gigi tiruan lepas atau gigi tiruan cekat.9 5. Secara umum 4.2 2.3 90.9 89.1 2.3 91.2 91.5 5.(95.9 147 . Tabel 3.1 2.9 2.5 1. Edentulous.3%) dan Sulawesi Barat (11.6 1.0 5.1%).1 5.0 0.2 4.2 2.0 0.4%). Adapun proporsi edentulous penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 17.0%) dan Keppulauan Riau (3.4 5.4 2.0 0.2%).2 90. namun penggunaan protesa miningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.4 17.91 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi. Riskesdas 2007 Karakteristik Fungsi Normal Edentulous Protesa Kelompok umur ( tahun) 12 15 18 35 – 44 65 + Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 99. Proporsi fungsi gigi normal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding dengan perempuan.2%). Dari tabel 3.9 41. Edentulous lebih banyak dijumpai pada perempuan dan lebih tinggi di perdesaan.91 tampak proporsi responden umur 35 – 44 tahun dengan fungsi gigi normal sebesar 95. masih jauh di bawah target WHO (75%) namun masih lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (30. masih jauh di atas target WHO pada tahun 2010 (5%). Proporsi penduduk dengan fungsi normal gigi.6%). Proporsi edentulous atau hilang seluruh gigi sebesar 2.9 99. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas hanya 41.4 91.

67g/dl. Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak. Secara nasional diperoleh nilai rerata Hb untuk perempuan dewasa sebesar 13. dan ibu hamil 11. laki-laki dewasa 14. dan 278 spesimen darah ibu hamil.1 Ke tiga nilai yang terakhir ini diukur untuk menentukan jenis anemia.67g/dl. laki-laki dewasa. dan MCHC (mean corpuscular haematocrit concentration). Nilai yang diukur adalah kadar Hemoglobin (Hb). MCH (mean corpuscular haematocrit).1 Anemia Data biomedis diperoleh dari pemeriksaan darah vena yang diambil dari 8% responden penduduk perkotaan. Dengan nilai-nilai tersebut di atas dan simpangan baku (standard deviation) untuk masing-masing rerata. seseorang dikatakan anemi bila Hb nya lebih kecil dari nilai rerata Hb nasional untuk kelompoknya (perempuan dewasa.751 spesimen darah anak-anak (<15 tahun).5.92 memperlihatkan hasil pemeriksaan berupa nilai rerata Hb untuk perempuan dan laki-laki dewasa. yaitu : Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl Hb perempuan dewasa : >12 g/dl Hb anak-anak : >11 g/dl Hb ibu hamil : >11 g/dl Seseorang dikatakan anemi bila kadar Hb nya kurang dari nilai baku tersebut di atas.810 spesimen darah. ditetapkan rentang nilai Hb normal versi Riskesdas untuk ke empat kelompok di atas (Tabel 3. Tabel 3.972 spesimen darah perempuan dewasa (>15 tahun) yang tidak hamil. umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No. 11. 8.5 Biomedis 3. yang mungkin dapat memperkirakan penyebab anemia tersebut. Pemeriksaan anemia terhadap spesimen darah responden semua umur dilakukan di laboratorium kabupaten/kota setempat. anak-anak 12.3. 1 MCV = Ht/Σ eritrosit MCH = Hb/Σ eritrosit MCHC = Hb/Ht 148 . 736a/Menkes/XI/1989.93). MCV (mean corpuscular volume). Bila menggunakan nilai rerata Hb yang diperoleh dalam Riskesdas. anak-anak dan ibu hamil di perkotaan menurut provinsi. dengan perincian 13.00g/dl. Salah satu hasil biomedis adalah data anemia. Telah diperiksa 34.81g/dl.809 spesimen darah laki-laki dewasa (>15 tahun). dan anak-anak) dikurangi 1 SD (Χ – 1SD).

45 14.85 15.81 149 .51 14.67 12.76 14.809 14.92 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Perempuan dewasa Provinsi ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 288 691 483 73 178 246 229 313 232 48 685 1631 1841 253 2236 327 833 359 184 239 268 295 405 265 157 594 205 86 70 83 95 41 39 13.61 12.59 12.63 15.79 12.00 11.12 12.07 Anak-anak (< 14 tahun) ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 115 433 315 41 77 103 175 199 147 20 366 1136 1075 115 1299 169 556 286 170 173 123 181 323 198 123 396 144 57 66 45 57 44 24 13.35 13.01 15.44 15.17 14.66 12.6 13.03 14.751 12.48 13.25 13.06 12.27 11.18 15.79 12.33 13.54 14.41 12.17 12.77 13.06 12.76 13.48 13.53 14.73 12.07 12.97 12.23 13.21 14.86 12.Tabel 3.55 12.75 12.49 12.8 14.14 13.82 12.91 13.74 14.48 14.52 15.13 13.74 13.96 12.16 15.56 14.76 12.76 12.31 12.36 13.43 12.11 12.78 12.1 12.25 14.32 14.58 14.54 15.87 12.53 13.36 14.83 12.5 13.972 13.65 12.62 13.11 12.8 13.15 13.22 14.21 14.97 12.54 11.79 12.1 Ibu hamil ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 1 15 8 1 10 5 2 4 0 0 15 50 37 4 28 5 6 8 4 2 11 11 6 7 1 20 10 0 3 0 3 0 1 Indonesia 13.17 12.22 12.05 168 533 322 39 157 219 221 305 226 57 485 1471 1617 207 1953 307 736 337 160 182 218 253 331 220 125 483 157 75 58 47 70 28 42 Laki-laki dewasa ∑ specimen Nilai rerata Hb (g/dl) 14.67 278 11.26 12.8 14.28 12.06 10.9 13.69 12.53 12.9 12.02 14.78 13.07 13.67 8.75 13.37 14.82 12.

dapat dilihat pada Tabel 3.5%) di antaranya menderita anemia menurut acuan nilai SK Menkes. 150 .67 11.72 12.67 12. Prevalensi anemia ditemukan sangat tinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara. Tampak bahwa terdapat perbedaan prevalensi anemia menurut kedua acuan baku di atas. Tampak bahwa secara nasional prevalensi anemia sebesar 14. Riskesdas 2007 Kelompok Nilai rerata Hb (g/dl) Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak (< 14 thn) Ibu hamil 13.8% (menurut acuan SK Menkes) dan 11. 12.736a tahun 1989. ibu hamil yang menjadi responden biomedis (diambil darahnya) adalah sebanyak 278 orang (tidak tampak dalam Tabel 3.09 – 14.72 1.Tabel 3. Selanjutnya dari total 33 provinsi. laki-laki dan anak-anak (adjusted for group). Anak-anak dan Ibu Hamil.00 14. serta 12.51 11.84 1.94).7% untuk anemia perempuan dewasa perkotaan.28 – 14. untuk kedua acuan nilai di atas.36 Tabel 3. Terdapat 20 provinsi yang mempunyai prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional.95. dan menurut acuan nilai Riskesdas 39 orang (14.0%) menderita anemia.25 10.26 – 13. menurut provinsi. Berturut-turut mengacu pada batas nilai normal Riskesdas dan SK Menkes adalah 11. 68 orang (24.1% untuk laki-laki dewasa perkotaan.55 Rerata ± 1SD (g/dl) 11. Prevalensi anemi secara umum.94 memperlihatkan prevalensi anemia pada perempuan (tidak hamil) dan lakilaki dewasa serta anak-anak.8% untuk anak-anak.8% dan 9.2% dan 13.93 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki-laki Dewasa.83 – 16.9% (menurut acuan Riskesdas). menurut provinsi. berdasarkan nilai rerata Riskesdas dikurangi 1SD dan berdasarkan nilai baku SK Menkes No. setelah disesuaikan untuk perempuan.3% dan 19.58 1.81 Nilai SD (g/dl) 1.

8 28.7 5.1 5.8 10.8 20.6 16.8 20.4 11.7 5.7 5.1 12.4 2.0 16.7 19.9 10.3 10.7 13.1 23.3 16.1 19.0 19.5 17.2 19.9 8.1 26.09g/dl NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 20.8 15.3 13.4 18.6 17.6 6.9 31.0 12.8 23.5 18.7 Indonesia 19.3 14.8 16.5 24.2 12.6 19.4 22.1 34.7 24.7 18.9 8.5 5.8 7.6 7.6 13.2 9.1 16.3 12.8 151 .Tabel 3.6 16.3 25.5 10.4 21.2 12.8 7.8 7.8 26.4 9.1 3.5 16.7 11.4 9.4 6.8 12.4 14.0 29.0 16.0 14.8 15.3 5.7 5.4 12.8 13.2 12.9 43.6 10.5 8.5 10.2 14.8 5.2 17.6 17.6 8.6 9.8 14.1 12.2 7.7 38.2 14.8 5.4 19.1 7.9 23.0 5.7 5.9 3.3 21.9 8.6 8.0 19.3 19.3 14.6 8.3 13.9 23.3 4.4 11.4 27.4 12.2 17.8 15. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Anemia (%) SK Menkes <12g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.0 10.1 7.3 14.7 10.6 18.5 25.3 9.8 9.2 25.9 24.2 14.9 24.0 31.1 13.2 10.8 10.5 27.0 8.8 26.6 8.9 11.9 28.3 9.2 12.3 20.5 7.7 19.0 9.4 13.28g/dl Laki-laki Anemia (%) SK Menkes <13g/dl Anemia (%) Riskesdas <12.1 17.4 10.5 12.5 14.9 15.8 16.2 2.8 5.83g/dl Anak-anak Anemia (%) SK Menkes <11g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.6 5.7 11.4 12.8 5.0 8.4 19.4 11.1 25.0 13.9 4.5 17.9 12.2 8.1 13.4 12.1 12.4 9.4 14.5 16.6 13.3 6.1 16.7 11.6 4.0 17.3 4.6 17.4 8.1 9.5 12.3 17.3 17.6 17.9 20.0 18.1 8.8 27.8 8.7 13.3 7.8 10.94 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.4 15.6 19.9 21.6 13.1 8.7 11.9 14.3 21.5 12.9 8.1 5.

2 31.7 14.4 15.9 Indonesia 14.7 13.2 18.5 23.0 5.9 11.9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 16.6 12.1 6.7 10. Riskesdas 2007 Prevalensi anemia (%) (disesuaikan menurut kelompok perempuan dewasa.1 25.0 16. Provinsi laki-laki dewasa dan anak-anak) Menurut SK Menkes Menurut Riskesdas 12.1 18.6 17.7 14.5 9.6 18.1 14.4 10.7 10.3 9.8 11.9 13.2 19.9 4.3 9.95 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.8 7.2 15.4 21.1 9.6 16.5 19.1 19.9 12.2 15.8 11.8 5.0 9.9 12.0 12.7 17.8 12.7 14.0 19.4 17.2 10.2 15.5 18.6 11.8 12.9 152 .2 21.5 6.0 11.4 22.1 9.2 13.Tabel 3.3 24.7 25.6 15.0 8.6 16.4 16.6 29.0 10.

kadar lekosit ibu hamil cenderung lebih tinggi. Anemia mikrositik-hipokromik. biasanya karena kekurangan zat besi.2%). 2 Mikrositik = ukuran sel darah merah <normal Normositik = ukuran sel darah merah normal Makrositik = ukuran sel darah merah >normal Hipokrom = warna sel darah merah lebih muda dari normal Normokrom = warna sel darah merah normal Hiperkrom = warna sel darah merah lebih tua dari normal 153 . juga dilakukan pemeriksaan hematokrit. Tabel 3. lekosit dan trombosit (Tabel 3. atau keracunan timbal. Hasil pemeriksaan Ht dan eritrosit ibu hamil cenderung lebih rendah dibanding kelompok dewasa lainnya. Anemia makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12.96 memperlihatkan jenis anemia terbanyak pada orang dewasa dan anak-anak adalah anemia mikrositik hipokromik (60. eritrosit. Jika dibandingkan antara anak-anak dan dewasa. Anemia normositik. Sebaliknya. Jenis anemia pada ibu hamil sebagian besar adalah anemia mikrositik hipokromik (59% dari ibu hamil yang anemia). Sedangkan anemia jenis normositik normokromik lebih banyak dijumpai pada laki-laki dewasa.Sesuai bentuk dan warna (morfologi) sel darah merah.normokromik biasanya karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut.97). penyakit kronis tingkat lanjut. yaitu : Perempuan : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Laki-laki : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Perempuan dan laki-laki : Anemia Hipokromik : Anemia Normokromik : Anemia Hiperkromik : MCHC <33 % MCHC = 33 – 36% MCHC >36 % MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl serta kombinasi dari jenis-jenis di atas. Selain kadar Hb dan jenis anemia. anemia mikrositik hipokromik ini lebih besar proporsinya pada anak-anak. dikenal beberapa jenis anemia2.

pekerjaan dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.8 4.2 27.8 – 43.9 33.8 – 444.1 – 342.4 193.Tabel 3.7 5. tampak bahwa ibu rumah tangga mempunyai prevalensi anemia tertinggi.0 – 40.8 30.5 187.5 – 354.0 KELOMPOK Eritrosit (juta/µl) Lekosit (ribu/µl) Trombosit (ribu/µl) 38.4 3. tertinggi dijumpai pada kelompok usia anak balita yaitu 27.9 174.98 menggambarkan prevalensi anemia berdasarkan kelompok umur.7 33.8 31.5 1.8 21.3 – 6.3 11.2 Anemia Normositik Normokromik 0.9 Tabel 3.1 4.7%.7%).7 5.8 4.7 – 11. kelompok kuintil 154 . pendidikan.1 – 12.0 – 379.4 70.2 – 5.0 – 10. diikuti dengan kelompok usia lanjut (75 tahun ke atas) (17.5 6.6 – 321.0 29.0 – 5.2 – 46.1 0 4.96 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak N Kelompok Anemia* Anemia (%) Mikrositik Hipokromik Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Ibu hamil TOTAL 1581 1445 1118 39 4183 59.2 221.7 – 10.1 59 60.3 – 9.7 – 39.9 20. Menurut pekerjaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 259.4 – 5.4 Anemia Makrositik Anemia lainnya *Anemia menurut nilai baku Riskesdas Tabel 3. Menurut pendidikan.1 6.97 Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Hematokrit (%) Anak 1 – 4 tahun 5 – 14 tahun Dewasa Laki-laki Perempuan Ibu Hamil 31.2 3.5 – 4.5 10. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah prevalensi anemia. Menurut umur.2 30.1 – 48.1 6.3 4.3 14.9 24.3 14.

7 10.4 8.0 5.1 mempunyai prevalensi anemia tertinggi (11%).3 5.7 9.0 7.6 7.7 10.0 6.9 7.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 155 .5 5.98 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Pendidikan Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Anemia 27. makin rendah prevalensi anemia.5 8.4 6.9 6.2 6.0 11 10 9 7.6 10.9 5.5 6.1 4. Makin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1 6. Tabel 3.6 7.4 17.

Serum (300 µl) segera diperiksa (< 4 jam) untuk mengetahui kadar glukosa darah menggunakan alat kimia klinis otomatis atau fotometri.1%). tetapi responden yang telah mengetahui dirinya menderita DM (DDM) hanya 1. diikuti NTT (1. kemudian diberi pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori). Prevalensi DM terendah di Papua (1. Sisa darah dikirim ke Laboratorium Balitbangkes Jakarta untuk pemeriksaan variabel lainnya.99 memperlihatkan prevalensi TGT dan total DM pada penduduk perkotaan Indonesia. yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan: < 140 mg/dl 140 . Prevalensi total DM 5.5% (kira-kira 26% dari total DM).5.99 Prevalensi TGT. Angka total DM merupakan gabungan dari persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM.2 Diabetes Mellitus Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada responden usia 15 tahun keatas yang berjumlah 24. Secara umum prevalensi TGT yang didapat dalam penelitian ini hampir dua (2) kali prevalensi DM.7%). dan persentase responden yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita DM – baru terdiagnosis dalam Riskesdas ini – yang dalam laporan ini disebut Undiagnosed Diabetes Mellitus (UDDM). DM. atau dalam laporan ini disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). Kriteria inklusi pemeriksaan glukosa darah adalah usia 15 tahun keatas. diikuti Riau (10.5%). segera disentrifus dan diambil serumnya.2% DDM* 1.7%. Riskesdas 2007 TGT Penduduk perkotaan Indonesia 10. diberi makanan cair 300 kalori.7% *DDM = Diagnosed Diabetes Melltus (Responden sudah mengetahui dirinya DM) **UDDM = Undiagnosed Diabetes Mellitus (Responden belum mengetahui dirinya menderita DM. Pengambilan darah vena sebanyak 15 cc dilakukan setelah dua (2) jam pembebanan.5% UDDM** 4. tidak hamil (alasan medis dan etika). kecuali pasien yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus (DM) (dikonfirmasi oleh dokter koordinator tim laboratorium).4 %) dan NAD (8. DDM dan UDDM pada Penduduk Perkotaan.8%). Untuk menegakkan diagnosis DM dipergunakan rujukan menurut WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003.417 responden dari sampel perkotaan saja. Responden dipersiapkan puasa 10 – 14 jam sebelum diambil darah.100 menunjukkan prevalensi TGT dan DM pada penduduk urban Indonesia menurut provinsi. Tabel 3. darah didiamkan selama kurang dari 30 menit. baru terdiagnosis saat pemeriksaan Riskesdas) ***Total DM = DDM + UDDM Tabel 3.< 200 mg/dl > 200 mg/dl : Tidak DM : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) : Diabetes Mellitus (DM) Tabel 3. Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11.3.2% Total DM*** 5. Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat 156 . Setelah diambil.

6 10.2 6.6%). Tabel itu menunjukkan DM dan TGT meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.6 3.3 4.6 4.8 6.0 7.3 9.2 5.0%).1 10.6 6.0 7.5 4.8 5.1 5.1 3.4%) dibanding lakilaki (4.1 1.6 4.2 3.7 4.3 8.3 6.1 4.6 3.5 8.3 7.9 12.7 3.3 9.7 Tabel 3.7 17.3 8.6 10.4 11.5%) lebih tinggi dibanding laki- 157 .5 12.0 4.2 5.3%).0 11.8 5.(21.2 17. Tabel 3.9 6. DM lebih banyak dijumpai pada perempuan (6.4 3.1 5.3 8. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TGT (%) 12.5 5.9.0 8.5 1.2 7.8 13. dan Sulut (17.8 11.0 6.4 4. sedangkan terendah di Jambi (4%).2 14.100 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan.8%).8 11.9 21.1 8.7 Total DM (%) 8.3 6.7 10. diikuti Sulbar (17.9%) .7 Indonesia 10.2 8.1 10. demikian juga TGT pada perempuan (11. diikuti NTT (4.3 9.8 7.4 5.3 3.0 6.4 6.101 menggambarkan prevalensi TGT dan DM berdasarkan karakteristik responden.

9 5.4 Tamat SD 9. yaitu 75.4 Kuintil-3 10.1 Kuintil-4 10.3 5. atau disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). Tabel 3.5 Kuintil-5 Tabel 3.8 Kuintil-1 8. setelah dua jam pemberian makanan cair 300 kalori.5 Sekolah 11.7 Ibu rumah tangga 10.5 4.0 Petani/nelayan/buruh 10.9 5.9 Tidak sekolah 12.9 Kuintil-2 10.9 6.6 Pegawai 9.0 12.0 10.8 9. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok tidak sekolah dan tidak tamat SD. Menurut jenis pekerjaan.3 15 – 24 6.9 2.0 5.5 14.5 4.0 5.9 25 – 34 11.8 45 – 54 15.3 Tidak tamat SD 10. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 7.8 65 – 74 21.7 Laki-laki 11.1 4.laki (8.3 7.6 Tidak bekerja 6.3 Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita per bulan 8.4 4.0 4. 158 .1 Kelompok umur (tahun) 5.102 memperlihatkan persentase kadar glukosa darah responden yang telh mengetahui dirinya menderita DM. Ditinjau dari segi pendidikan. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja.0 5.6 Tamat SMP 8.9 1.9 Tamat SMA 9.5 Perempuan Pendidikan 13.5 35 – 44 12. prevalensi DM danTGT meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.3 55 – 64 17.6 1. diikuti pegawai dan wiraswasta.7%).101 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.5 13.8 Tamat PT Pekerjaan 12.4 8. Riskesdas 2007 Karakteristik TGT (%) Total DM (%) 0.9 Wiraswasta 6.7 75 ke atas Jenis kelamin 8.9 8.9% (kadar glukosa > 140 mg/dl).8 5. Tampak bahwa masih banyak di antara mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.6 6.

Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.Tabel 3.1% 66. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok yang mempunyai aktifitas fisik kurang Tabel 3.0 3.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.102 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori. Riskesdas 2007 Jenis Kelamin < 140 mg/dl Laki-laki Perempuan Total 33.7% >= 200 mg/dl 49.1 15.3% 24.9% 16.3 15. Tabel 3.8% 15.7 4. Obesitas Abdominal dan Hipertensi Karakteristik Responden IMT Kurus Normal BB lebih Obesitas Obesitas sentral Tidak obesitas sentral Hipertensi Tidak hipertensi TGT 10.3 16.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.1 12.0 9.7 4.1 9.103 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.< 200 mg/dl 17.4 7.8% 59. juga pada responden dengan obesitas sentral.1% 17. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi. Tabel 3.1% Kadar Glukosa Darah 140 .2% Tabel 3.104 menunjukkan prevalensi DM dan TGT kurang lebih sama pada kelompok yang mengkonsumsi sayur buah < 5 dan ≥5 porsi/hari.1 8.3 9.4 DM 3.9 9. Menurut aktifitas fisik.4 Perut Hipertensi 159 . juga pada responden dengan obesitas sentral.3 9.

1%).0%). Jawa Tengah.punggung.525 orang.105 memberikan gambaran bahwa dari 33 provinsi di Indonesia. dada.104 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Karakteristik Sayur Buah > 5 porsi/hari < 5 porsi/hari TGT 10. Banten.2%).0% yang diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur 64.3%.6 Cedera dan Disabilitas 3. DKI Jakarta (10. Tabel 3.44. pergelangan tangan dan tangan. Jawa Timur.0%.2% kemudian Provinsi DI Yogyakarta 43. kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/tumpul. leher. Ada 11 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional yaitu DKI Jakarta. panggul). selebihnya di bawah 10 %. Jumlah responden yang ditanyakan tentang cedera sebesar 973.6%. Yang dimaksud cedera dalam Riskesdas 2007 adalah kecelakaan dan peristiwa yang sampai membuat kegiatan sehari-hari responden menjadi terganggu. Kalimantan Selatan (12. dan Papua Barat (10.8%-12. Sulawesi Tenggara.Tabel 3. Prevalensi jatuh paling besar terdapat di Provinsi DKI Jakarta 67. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensinya rata-rata kecil atau sedikit.6. Sedang prevalensi yang terkecil terdapat di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45. lutut dan tungkai bawah.2 DM 4.3 10.8%.5 10. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bengkulu 44. Cedera yang ditanyakan adalah yang dialami responden selama 12 bulan terakhir dan kepada semua umur.1 11. Gorontalo (11.7 5. Maluku.9%). Nusa Tenggara Timur. Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12. dan Jawa Barat.9% dengan rerata 7. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (12.7 Aktifitas Fisik Cukup Kurang 3.8%).4%. bahu dan sekitarnya (bahu dan lengan atas).1 Cedera Kasus cedera Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan wawancara.9%. Ada 18 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh. diperoleh prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3. Responden pada umumnya mengalami cedera di beberapa bagian tubuh (multiple injury).1%). Ditemukan prevalensi kecelakaan transportasi di darat antara 14. perut dan sekitarnya (perut.1%). Sulawesi Tengah (10. Papua Barat. sedang yang terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 14. Rerata penyebab cedera karena jatuh 58. siku dan sekitarnya (siku dan lengan bawah). tumit dan kaki.2% di mana reratanya 25.9%) sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3.5%.8% . Sulawesi Barat. 160 . Pembagian katagori bagian tubuh yang terkena cedera didasarkan pada klasifikasidari ICD-10 (International Classification Diseases) yang mana dikelompokkan ke dalam 10 kelompok yaitu bagian kepala.9 5.0 4.

Penyebab cedera karena jatuh terdapat pada mereka yang masih sekolah (63.Adapun untuk prevalensi terluka karena benda tajam/tumpul paling tinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah 33.3%). prevalensi cedera merata pada semua tingkat pendidikan hanya sedikit lebih banyak pada responden yang tidak tamat SD.5%) dan terendah pada yang tamat perguruan tinggi (36.3%. Namun jika dilihat dari penyebab kecelakaan maka didapatkan bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan transportasi di darat terdapat di kota sekitar 30. Penyebab cedera yang sedikit menonjol adalah penyerangan.9%.2%) dan terendah pada yang tidak sekolah (13. Penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Prevalensi penyebab karena jatuh tertinggi terdapat pada kelompok umur di bawah 14 tahun kemudian di atas 75 tahun. Jika dilihat dari tingkat pendidikan.8%). Ada 14 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional. cedera terbanyak pada laki-laki dan penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat juga terdapat pada laki-laki sedangkan penyebab cedera jatuh dan karena benda tajam terbanyak pada perempuan. Sedang penyebab cedera karena jatuh berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan yaitu semakin meningkat tingkat pendidikan maka prevalensi jatuh semakin menurun.4%).2% dan terendah pada pegawai 15. Jika ditinjau dari lokasi tempat tinggal prevalensi cedera tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara perkotaan dan pedesaan.0%) dan terendah pada yang bekerja sebagai pegawai 37.2%) yang diikuti pada mereka yang bekerja sebagai wiraswasta (45.4%.7%).106 juga menampilkan prevalensi cedera menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Prevalensi penyebab cedera akibat kecelakaan transportasi di darat mengelompok pada umur antara 15 – 54 tahun dan prevalensi yang lebih tinggi (47. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam atau benda tumpul terdapat pada mereka yang berpendidikan tamat SD (26.2% terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Papua 4.106 menunjukkan bahwa untuk prevalensi cedera menurut kelompok umur yang menduduki peringkat tertinggi adalah umur 5-14 sekitar 9.5%) dan terluka benda tajam dan tumpul (23.6%) dan terendah pada ibu rumah tangga (19. menunjukkan angka prevalensi tertinggi sekitar 5.7%. Tabel 3. Penyebab cedera lainnya merata pada laki-laki dan perempuan. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa prevalensi cedera hampir sama atau seimbang tingkat pengeluaran antara kuintil 1 sampai dengan kuintil 5.0%). Prevalensi cedera yang disebabkan oleh kecelakaan transportasi di darat tertinggi pada mereka yang pegawai (53.6%) ditemukan pada responden yang bertempat tinggal di desa.6% dan terendah ditemukan di Provinsi DKI Jakarta 8. Secara umum. Prevalensi cedera karena terluka benda tajam atau tumpul tertinggi pada ibu rumah tangga 32. Penyebab cedera lain hampir merata di setiap provinsi. Bila dilihat dari jenis pekerjaan.3% cedera terdapat pada mereka yang masih sekolah dan yang terendah pada ibu rumah tangga (4.9%) terdapat pada kelompok umur 15-24 tahun. Prevalensi tertinggi pada responden yang tidak sekolah (64.0%) dan terendah pada mereka yang tamat perguruan tinggi. Kelompok umur lainnya hampir merata kecuali pada bayi (kelompok umur < 1 tahun). Penyebab cedera yang lain hampir sama pada semua tingkat pendidikan.1% dan diikuti oleh kelompok 15-24 (9. Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan besaran prevalensi cedera menurut status ekonomi. Prevalensi cedera tertinggi karena kecelakaan transportasi di darat terdapat 161 . Adapun untuk penyebab cedera jatuh menunjukkan prevalensi meningkat pada umur muda kemudian menurun dan merambat meningkat lagi di umur tua.9%. diperoleh sebanyak 9. Akan tetapi prevalensi cedera karena jatuh (58. Prevalensi tertinggi terdapat pada mereka yang tamat perguruan tinggi (50.7% melebihi angka prevalensi Nasional yaitu 20. Tabel 3.

2%). Leher. Ditinjau dari lokasi tempat tinggal responden.1% . bagian siku/lengan bawah 29.107 menunjukkan prevalensi tertinggi bagian tubuh yang terkena cedera berdasarkan provinsi sebagai berikut: bagian kepala 18. bagian lutut dan tungkai bawah 47.8%) terbanyak pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sedangkan prevalensi cedera di bagian perut kebanyakan pada ibu rumah tangga (9.pada kuintil 5 (34.5%. Adapun untuk cedera di lutut sebagian besar dialami kelompok umur 5-14 tahun (46. Untuk dicedera di bagian perut kebanyakan pada responden yang tidak sekolah (11. tumit dan kaki kebanyakan pada laki-laki dibanding perempuan. bagian bahu/lengan atas 14. leher.3%) dan pada mereka yang bekerja sebagai petani/buruh (9. Beberapa provinsi yang prevalensi cedera di bagian kepala dan di atas angka prevlensi Nasional adalah Provinsi Kepulauan Riau (18.0%) diikuti yang tidak bekerja dan wiraswasta. masing-masing 12.0%). bagian perut/punggung/panggul 14.7%). prevalensi cedera pada kepala. Sulawesi Utara (16.4%). Cedera pada pinggul/tungkai atas terbanyak pada ibu rumah tangga 36.8% di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk cedera di dada (3.6%).4% di Provinsi Papua Barat. (15. Prevalensi bagian tubuh yang mengalami cedera di kepala. dada. Cedera pada dada (3. Papua Barat (18.7%).6% di Provinsi NAD. Selanjutnya untuk cedera di bagian pinggul dan tungkai atas kebanyakan diderita oleh kelompok 75 tahun keatas (15.9%). bagian pinggul/tungkai atas 11. dada dan perut menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan menunjukkan bahwa untuk kuintil 1 sampai dengan kuintil 5 terlihat hampir seimbang. bagian pergelangan tangan dan tangan 38. bagian leher 3.9% di provinsi Kepulauan Riau. siku. dada.3% di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk cedera di bahu seimbang antara umur < 1 tahun.9%).9%). Papua (16. hanya prevalensi tertinggi bagian 162 . Prevalensi cedera di bagian siku tertinggi diderita oleh responden yang berusia 15-24 tahun dan kelompok umur 5-14 tahun masing-masing 24.6% di Provinsi Kalimantan Barat. Sumatra Selatan (16.7%). Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam/tumpul tertinggi terdapat pada kuintil 2 (21. (3.2%. (6.1%).0%).6%). Sedangkan cedera di bagian tangan tertinggi di kelompok 25-34 tahun sebesar 34. NAD (17.108 menggambarkan bahwa cedera di bagian kepala.3%) kebanyakan pada responden yang bermukim di perdesaan. Prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala. Prevalensi cedera di kepala tertinggi dialami oleh responden yang bekerja lainnya (13. Tabel 3.9%. Jika dilihat dari tingkat pendidikan ditemukan bahwa prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala (12.3%).1%).6%) dan pinggul (6.9%).5% di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).8%. DI Yogyakarta (16.6% dibanding 14. perut/punnggung/panggul.5% di Provinsi DKI Jakarta. perut (7.5% di Provinsi Papua.0% dan 20. (11.5%). lutut/tungkai bawah.5%). Perbedaan yang agak menyolok terdapat pada cedera di bagian siku/lengan 20.1%). Sedang cedera pada lutut dan tungkai bawah terdapat pada responden yang masih sekolah (43.7%). bagian dada 8. bahu/lengan atas didominasi oleh kelompok umur < 1 tahun masing-masing sebanyak (50.3%) kebanyakan mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yang diikuti responden yang tamat SMP (11. Selebihnya provinsi-provinsi yang lain prevalensinya di bawah 15%. pergelangan (28. bahu. leher seimbang antara perkotaan dan perdesaan. bagian tumit dan kaki 30. Jambi (16.3%). Tabel 3.4%) sedangkan penyebab cedera tertinggi karena jatuh terdapat pada kuintil 1 (63. kelompok umur 15-24 tahun dan yang dialami oleh kelompok 75 tahun ke atas .7%).8%). cedera lainnya hampir berimbang di setiap tingkat pendidikan.5% di Provinsi Kalimantan Selatan.7%) dan kelompok umur 1-4 tahun (43.

Tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 36.110 menunjukkan jenis cedera berdasarkan karakteritik responden. Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar relatif kecil yaitu 2.1% terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang diikuti oleh Provinsi Maluku (46.3%). Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan Kepulauan Riau sama-sama 3.5%. Prevalensi tertinggi sekitar 33. Ditemukan sebanyak 14 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka rerata Nasional. prevalensi luka bakar paling banyak dijumpai pada kelompok umur di bawah satu tahun/bayi (3. dan lainnya 1. Tabel 3. Maluku. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet di atas angka rerata Nasional.0%. 163 .4%.4%. Ada 5 provinsi yang angka prevalensi jenis cedera benturan di atas angka rerata secara Nasional yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu 9.8%. keracunan 1.2 % yang terdapat Provinsi Kalimantan Barat. dan lebih banyak di perdesaan.0%.5%. Kejadian keracunan lebih sering dijumpai pada kelompok umur 75 tahun ke atas. lebih sering pada laki-laki.9%.2%.6%. Rerata prevalensi jenis cedera yang lain relatif kecil. Menurut kelompok umur. dan Papua.8% .3% terdapat pada Provinsi Sulawesi Tengah. Sebanyak 16 provinsi mempunyai angka prevalensi di atas angka rerata Nasional. Prevalensi jenis cedera karena benturan tertinggi adalah 47. Prevalensi tertinggi 60. Sedang prevalensi tertinggi cedera pada pinggul terdapat pada kuintil 3 dan cedera pada lutut pada kuintil 4. Rerata prevalensi jenis cedera terkilir/teregang 20. Rerata prevalensi jenis cedera patah tulang 4. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka prevalensi Nasional.0%. Berdasarkan tabel 3. Gorontalo.109 memperlihatkan bahwa rerata prevalensi jenis cedera karena benturan adalah 42. Rerata prevalensi cedera akibat luka lecet sebesar 50. Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka sebesar 25.6%). Sulawesi Utara. Rerata prevalensi jenis cedera anggota gerak terputus (amputasi) 1.tubuh terkena cedera untuk bahu dan siku pada kuintil 5.

1 30.9 0.1 0.3 0.0 0.1 0.3 0.9 24.9 0.7 1.2 21.1 19.4 0.7 0.1 3.8 0.0 0.9 33.1 0.2 0.2 8.4 0.4 6.1 0.1 4.0 0.2 0.1 0.4 0.1 0.2 5.9 2.7 2.1 0.7 4.2 0.5 darat 35.0 0.2 1.9 1.8 29.2 0.0 0.2 0.9 0.7 1.6 0.3 0.3 0.8 0.8 0.2 0.7 3.1 0.1 0.3 0.2 0.3 0.4 1.1 0.3 0.6 0.1 0.1 50.1 16.0 0.0 Sajam /tumpul 18.4 7.1 0.8 30.0 0.9 laut 0.1 0.2 0.1 3.9 22.1 0.7 1.3 1.9 0.5 0.3 53.0 0.8 3.0 0.9 0.1 7.8 17.6 29.8 5.3 24.1 25.4 1.9 21.1 0.9 0.4 0.2 2.2 2.1 0.7 30.3 0.7 1.5 4.7 0.3 0.9 3.2 0.4 0.5 0.1 0.1 0.5 11.7 18.0 0.3 0.1 0.5 1.0 0.4 0.1 Komplikasi 0.2 0.6 1.0 0.9 0.0 0.0 0.4 31.6 5.Tabel 3.0 2.0 0.1 0.9 4.6 Terbakar 2.5 8.0 4.5 22.1 0.6 0.0 6.0 1.0 0.2 0.1 9.4 0.0 0.9 1.3 0.T.3 57.1 0.6 9.5 0.1 0.2 0.1 0.2 0.1 53.6 1.2 0.1 0.1 0.1 0.2 0.0 14.7 54.9 30.0 0.0 0.0 4.7 14.0 0.5 1.9 7.1 2.4 0.1 0.0 0.4 29.2 0.0 0.7 56.2 0.0 0.1 0.3 0.1 0.0 0.1 2.8 16.5 0.0 0.8 25.1 0.2 6.3 3.2 0.9 1.2 0.I Y Jatim Banten Bali N.0 0.1 0.5 64.4 62.0 0.1 0.4 9.0 0.4 0.2 1.8 7.7 27.0 0.4 31.2 0.0 0.2 0.8 49.0 0.9 Bencana alam 1.0 0.0 4.6 22.0 16.2 30.1 0.0 0.1 0.1 0.0 0.0 0.4 0.1 0.1 0.2 0.7 164 .4 10.2 1.2 0.1 0.6 0.2 8.5 0.2 Bunuh diri 0.3 0.105 Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.4 67.5 7.0 0.6 17.0 0.4 0.1 0.5 0.9 1.0 0.1 0.2 0.6 0.1 0.1 0.2 0.4 1.0 0.0 0.1 10.2 24.2 0.1 0.0 0.6 0.7 22.4 0.2 3.1 0.9 4.1 0.0 0.0 0.6 2.6 1.5 0. Riau DKI Jabar Jaten D.4 1.1 0.1 0.5 1.5 0.6 0.7 61.8 1.0 0.1 0.8 0.1 Lainnya 2.1 1.3 0.0 0.1 1.3 0.4 0.2 radia si 1.4 senja ta api 0.9 0.0 0.9 10.3 2.7 9.0 0.0 0.1 0.2 0.2 0.0 0.0 12.9 4.0 0.1 0.2 15.8 0.2 0.9 4.7 0.2 60.0 0.0 0.1 0.2 0.3 0.2 1.2 5.3 5.6 58.0 0.3 15.6 0.0 0.4 0.5 0.0 0.4 0.7 1.5 7.9 15.2 0.0 0.3 58.3 5.1 0.B N.4 21.0 0.3 0.2 0.6 15.3 0.5 19.2 0.2 0.2 0.0 1.1 0.8 1.6 Serangan 2.0 0.9 0.0 0.1 0.2 0.9 0.0 0.3 0.4 0.2 0.0 0.8 1.8 3.5 1.0 16.4 1.8 0.3 0.1 50.8 0.9 1.8 1.1 0.0 0.1 0.2 3.7 2.1 44.5 0.1 0.3 1.7 32.4 1.2 0.1 0.6 56. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Ba-Bel Kep.4 0.6 12.0 0.1 0.6 0.1 0.2 Asfik0.4 0.6 57.8 24.9 15.0 0.1 0.1 51.9 20.7 7.5 0.8 17.4 1.4 0.1 0.3 1.7 9.0 0.2 udara 1.8 16.1 0.8 61.0 31.3 1.0 0.2 0.3 0.5 0.0 0.0 0.0 0.1 56.1 0.1 0.7 19.2 35.0 0.2 0.1 0.3 6.8 0.6 0.0 0.9 1.8 23.8 62.2 2.8 33.7 0.2 3.6 0.8 1.3 3.3 0.0 0.2 0.2 30.2 1.7 5.7 0.9 4.4 0.1 0.1 0.8 1.3 31.1 0.7 12.0 8.4 3.1 9.0 58.1 0.4 0.7 0.4 12.8 0.0 0.0 0.0 3.2 0.5 25.0 0.0 1.4 0.1 0.0 27.0 0.1 0.5 0.1 0.7 0.1 0.1 56.2 0.0 0.5 31.2 1.4 1.1 53.2 0.7 0.0 0.1 0.3 0.7 0.0 0.3 0.0 0.0 0.9 0.1 55.3 0.0 63.1 7.5 1.7 57.0 0.7 43.4 0.1 Tenggelam 0.1 0.8 1.7 50.1 0.0 1.2 0.8 0.5 0.9 55.2 0.7 0.2 0.0 28.9 1.4 0.9 0.3 4.7 4.0 2.5 Jatuh 48.2 0.4 57.3 0.1 Kontak racun 1.2 0.8 9.0 0.T Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Indonesia Penyebab cedera Cedera 5.7 24.2 0.T.3 0.3 64.1 0.2 3.3 25.8 1.6 0.2 0.0 0.5 0.0 0.0 0.2 0.1 0.5 0.3 0.6 23.3 64.1 0.3 0.5 0.2 0.4 45.1 0.2 0.0 0.8 27.

1 0.1 0.0 1.2 0.1 0.3 4.1 0.8 0.1 0.4 58.6 Kuintil 4 7.5 1.4 58.1 0.5 0.1 0.0 1.6 0.6 20.7 0.8 19.3 1.7 56.3 0.1 0.7 0.5 1.6 0.6 3.1 0.6 Tamat SMA 6.1 0.5 0.1 0.1 0.9 3.1 1.6 25.0 0.7 36.2 0.2 0.1 0.9 1.6 Tamat SD 7.1 0.2 0.0 0.2 0.6 4.4 0.1 0.5 62.1 1.7 1.1 0.2 0.106.6 0.2 0.0 0.2 1.4 0.1 0.1 0.1 63.4 Kuintil 2 7.1 0.8 0.7 15.5 Lainnya 8.2 0.1 0.3 0.0 0.3 1.6 0.6 0.2 0.8 1.8 29.2 41.5 1.4 42.2 65 – 74 7.8 4.2 1.8 Jenis kelamin Laki-laki 9.7 1.1 0.3 0.1 Komplikasi medis 0.2 0.1 0.1 0.3 0.3 0.0 2.7 0.1 1.0 1.0 0.1 0.4 0.8 0.1 0.9 1.0 13.9 3.4 1.5 0.6 0.1 0.1 0.1 0.1 4.1 0.8 3.2 0.4 0.5 Tingkat Pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil 1 7.9 57.3 0.3 0.1 0.7 75+ 7.2 0.2 31.2 4.5 Petani/nelayan/b 7.1 0.1 0.1 0.6 1.3 1.1 0.1 0.0 0.1 0.1 1.9 0.9 1.4 Tdk tamat SD 8.6 19.1 0.7 4.4 4.6 2.1 0.7 4.7 13.4 0.5 0.7 1.1 1.1 0.7 0.5 3.5 0.2 0.2 0.0 0.0 0.2 0.1 0.1 0.7 3.1 0.2 0.1 0.3 Tempat tinggal Kota 7.0 0.2 0.Tabel 3.1 0.1 0.1 0.8 165 .5 0.5 3.2 28.9 37.1 0.1 1.6 78.5 0.0 1.8 Wiraswasta 7.0 47.4 5 – 14 9.6 0.9 76.5 0.4 0.2 0.1 0.7 0.2 18.8 Pekerjaan Tidak kerja 8.2 0.9 20.6 15.1 0.1 36.1 0.2 0.9 24.6 15 – 24 9.2 0.9 Tamat PT 5.3 0.9 64.4 0.6 1.5 50.3 1.3 39.2 0.5 0.2 0.1 1.0 0.4 1.7 1.3 0.1 0.2 0.7 0.2 0.1 0.1 0.2 0.2 0.5 0.4 19.1 0.2 0.7 62.2 0.2 11.8 0.1 0.4 19.1 0.5 Desa 7.1 0.9 1.5 0.0 0.1 0.3 1.1 0.2 0.2 0.2 0.1 0.0 24.1 0.0 52.4 14.4 4.1 0.0 0.0 0.7 9.0 3.2 0.3 0.0 0.9 0.3 34.8 19.1 1.1 0.1 0.2 0.2 0.4 45 – 54 6.5 Pendidikan Tidak sekolah 7.5 0.0 8.1 0.5 28.5 0.3 0.5 0.7 1.0 0.5 3.3 Tamat SMP 7.4 Pegawai 6.1 0.1 0.9 1.7 32.3 0.1 0.3 45.6 21.2 0.9 31.6 0.8 3.0 49.2 0.2 0.4 1.5 0.1 0.2 2.0 0.7 1.2 0.6 23.1 0.6 0.2 0.2 30.1 0.1 0.0 4.1 0.1 0.4 31.5 41.3 0.3 0.6 26.4 0.7 30.3 28.4 1.1 0.1 19.9 19.2 4.1 0.8 1.6 1.3 0.5 53.8 0.2 0.8 0.2 3.4 1.1 21.3 56.4 22.0 3.7 0.4 1.6 35 – 44 6.2 0.2 15.7 0.1 0.3 0.9 0.4 20.8 0.3 26.3 1.4 1.0 1.1 0.1 0.5 67.9 37.2 0.0 19.2 45.1 0.8 1.2 0.3 0.3 51.0 3.1 0.3 0.5 1.2 0.2 0.1 0.1 0.6 42.4 16.9 3.0 0.3 0.9 87.4 27.3 1–4 7.6 Kuintil 5 7.2 0.1 0.0 0.0 0.2 0.1 1.3 0.1 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 2.5 2.7 1.2 0.4 0.1 0.5 4.2 0.2 42.7 18.2 0.1 1.4 0.9 4.8 0.1 1.0 0.2 0.7 59.0 0.4 1.9 0.3 0.9 4.9 0.3 0.0 0.1 0.3 1. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Cedera darat laut udara Jatuh Sajam /tumpul Serangan senjata api Penyebab cedera Kontak racun Bencana alam Bunuh diri Tenggelam Terradiasi bakar Asfiksia 0.7 23.1 1.5 63.6 Ibu RT 4.6 25 – 34 6.3 0.1 0.1 0.0 0.9 1.9 4.1 3.0 0.0 0.3 0.3 0.0 0.6 49.4 42.4 4.2 5.3 0.4 55 – 64 6.7 28.0 0.7 1.3 40.8 58.5 0.1 0.0 0.2 0.0 0.2 0.5 0.1 12.3 0.1 0.1 0.3 18.3 0.0 1.6 1.7 54.7 21.1 0.0 0.0 0.1 0.8 0.4 88.7 1.0 0.2 0. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden.1 0.9 25.5 1.1 0.5 27.4 0.0 3.2 0.3 1.3 0.4 0.1 0.2 0.6 1.2 0.5 0.1 0.6 0.7 0.6 0.2 0.4 0.2 0.5 0.3 1.2 0.1 0.1 0.1 0.9 1.3 0.1 0.5 Kuintil 3 7.1 0.2 0.5 1.0 21.5 Perempuan 6.3 17.2 0.0 0.1 0.6 3.2 0.0 0.0 0.2 0.3 0.1 0.1 0.5 1.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.1 0.5 46.2 1.1 0.5 Sekolah 9.1 1.

4 27.4 166 .0 12.6 14.7 13.9 25.8 24.1 7.9 2.5 0.1 1.0 36.4 13.7 20.3 14.8 6.5 5.9 11.5 21.8 9.7 26.7 5.5 3.5 34.4 43.0 34.4 2.6 23.2 6.8 2.3 7.0 23.9 5.7 5.7 35.8 26.0 4.0 21.9 30.6 1.2 3.3 4.5 9.2 11.2 1.5 5.4 47.7 7.0 27.7 11.7 10.7 7.9 11.8 35.7 5. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.8 14.5 7.5 5.5 7.1 8. lengan atas Siku.9 6.0 21.9 14.6 10.4 5.0 17.0 18.2 28.1 22.3 5.1 37.3 12. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.9 13.1 7.7 45.0 27.6 2.6 2.7 14.8 11.5 6.5 7.3 9.3 3.6 1.Tabel 3.0 3.3 24.0 33.5 10.2 1.1 1.4 0.8 38.3 30.9 14.7 21.7 25.2 1.0 0.5 16.2 11.1 2.6 6.0 17.1 5.7 2.2 6. Riskesdas 2007.6 9.6 5.6 39.0 36.0 28.3 8.6 7.3 26.9 35.5 35.9 32.3 6.4 14.7 10.6 1.7 8.7 15.8 1.6 36.8 28.5 2.2 6.8 23.9 31.1 7.8 11.1 3.5 23.3 36.2 22.3 28.5 21.8 27.4 25.3 8.1 22.2 7.7 1.6 5.1 18.6 17.4 9.1 16.3 15.7 38.2 44.3 24.4 11.2 18.6 3.4 15.7 22.9 0.4 26.8 1.7 30.2 35.1 11.7 28. panggul Bahu.6 4.7 6.7 30.0 5.9 15.1 18.0 3.5 5.7 17.5 25.6 29.3 13.1 6.6 5.7 31.8 13.2 32.7 31.9 8.9 0.5 4.4 19.4 11.5 6.1 0.2 2.0 5.1 3.3 28.1 4.2 17.8 2.5 1.8 22.5 14.8 5. punggung.8 2.5 43.2 1.6 19.7 18.5 24.0 4.7 38.8 21.3 37.4 1.3 6.0 13.9 27.1 12.3 5.6 6.1 6.2 5.9 8.1 5.0 14.0 2.1 1.6 9.6 18.3 1.1 6. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian dan kaki tumit tajam/tumpul NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 17.4 21.5 27.3 5.5 7.2 11.2 3.9 5.1 4.3 23.6 13.3 12.1 7.0 2.8 20.3 33.5 3.5 24.3 4.5 7.5 29.4 5.6 7.6 24.3 37.8 12.6 28.4 7.7 20.5 45.3 27.3 4.3 4.2 1.7 34.8 11.0 0.7 7.0 16.1 1.1 3.3 21.6 4.6 8.8 26.7 29.3 11.0 4.5 5.0 15.8 6.5 10.7 23.2 7.7 27.6 25.7 9.1 6.1 15.107 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.6 6.1 1.6 16.5 32.2 1.6 13.8 6.0 4.0 19.4 25.7 17.4 21.2 40.9 16.4 23.7 21.8 10.2 36.4 28.9 10.4 35.6 4.0 1.2 25.4 21.9 1.4 4.2 4.5 5.0 1.8 13.1 24.0 23.9 23.7 22.5 2.4 9.9 6.6 31.1 6.6 15.3 6.6 8.5 28.8 1.7 13.8 23.1 34.4 9.4 1.2 15.9 6.

9 10.1 11.6 31.3 3.1 5 – 14 12.4 1.8 28.5 7.1 8.4 7.5 3.4 17.3 1.108 Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden.8 6.3 43.2 20.0 9.1 18.3 26.0 6.3 5.7 15 – 24 11.7 9.9 Sekolah 10.3 26.2 29.8 3.0 1–4 26.5 6.1 17.6 6.0 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 13.3 20.8 75+ 14.7 15.3 6.2 2.9 21.9 11.7 Desa 13.5 3.5 43.5 7.4 wiraswasta 12.0 1.9 5.5 6.5 35.7 8.5 1.5 4.3 6.4 28.Tabel 3.4 21.3 8.9 4.1 Perempuan 11.3 29.5 2.3 11.0 6.6 Pegawai 12.8 35.3 6.0 31.4 11.9 Petani/nelayan/buruh 10.3 25.8 45 – 54 11.9 16.1 27.1 6.0 1.9 1.4 25.5 Kuintil 5 13.3 35.7 4.9 25.6 3.9 2.2 Ibu RT 9.3 26.2 9.6 27.2 2.1 3.5 4.8 13.4 17.9 Pendidikan Tidak sekolah 11.1 32.4 26.8 27.8 27.6 18.3 46.2 Pekerjaan Tidak kerja 12.3 5.1 3.0 21.7 7.4 9.5 Kuintil 2 12.6 36.9 6.0 7.8 23.0 Kuintil 4 13.3 1.3 22.1 11.9 13.2 1.6 26.8 9.5 1.6 3. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.5 1.9 26.0 6.0 26. Riskesdas 2007.2 18.8 26.4 35.7 3.6 1.7 Tamat SMA 12.5 2.9 8.7 10.9 31.7 Lainnya 13.3 1.0 29.3 6.2 3.4 1.8 23.8 6.1 2.6 32.0 27.1 9.6 2.9 1. lengan atas Siku.2 1.3 13.1 34.8 8.6 15.3 12.0 18.8 18.9 25.1 3.5 3.5 32.9 8.1 35 – 44 10.6 3.9 3.7 7.9 35.6 1.3 9.6 14.5 8.8 25 – 34 11.3 7.1 9.0 7.2 17.7 1.4 0.4 6.5 3.3 6.4 18.5 25.3 5.3 6.6 3. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian tumit dan kaki tajam/tumpul Kelompok umur (tahun) <1 50.9 7.5 29.5 1.7 11.4 8.4 55 – 64 11.2 5.6 14.7 24.3 13.2 26.1 167 .6 Tamat SD 10.4 6.9 5.2 27.3 3.4 1.3 7.7 31.8 12.5 24.9 26.6 20.4 18.3 1.8 30.1 6.8 29.3 26.0 Tidak tamat SD 10.6 3.6 11.7 36.5 28. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.9 31.7 11.7 24.0 32.8 27.6 19.9 7.9 10.0 6.4 1.9 6.6 38.1 8.7 9.5 3.6 9.0 6.4 3.2 8.7 28.8 20.4 1.9 3.2 3.4 1.2 1.7 5.5 25.5 1. punggung.2 7.6 6.5 27.3 25.4 27.4 29.7 37.4 26.4 0.8 3.5 1.4 9.5 1.3 10.3 20.2 8.2 27.6 Tempat tinggal Kota 13.8 1.6 7.3 5.2 11.0 3.2 65 – 74 12.0 7.8 26.0 6.4 33.9 17.1 37.8 Tamat SMP 11.4 3.0 28.5 6.8 35.2 10.4 29.5 35.8 36.2 7.6 14.9 26.9 25.8 9.3 36.7 Kuintil 3 13.9 37.7 24.3 Tamat PT 11.9 20.0 25.9 30.1 27.6 24.4 Jenis kelamin Laki-laki 14.2 24.6 2.0 17.2 15.6 7.7 9.1 22.4 33.3 8.4 19.6 5.1 3.1 27.2 9. panggul Bahu.1 9.4 13.6 27.6 6.

3 4.0 37.1 30.4 0.1 29.9 4.9 1.8 40.4 24.6 2.2 Terkilir / teregang 31.1 17.1 2.0 0.8 22.7 4.6 3.3 55.6 2.7 23.Tabel 3.7 20.0 45.3 2.5 13.1 22.4 21.5 0.4 31.5 21.7 44.0 0.6 1.4 16.1 19.8 13.9 0.7 3.6 53.0 49.1 23.0 1.7 1.4 0.7 0.4 39.0 30.8 Luka terbuka 23.0 2.5 3.0 2.8 2.5 56.1 7.2 2.3 49.5 0.4 60.3 1.0 1.2 39.6 46.4 0.5 35.6 26.9 22.5 45.2 53.2 57.1 30.1 0.9 4.2 1.1 1.9 28.4 4.1 24.109 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.1 42.0 0.6 14.3 16.8 2.6 1.5 2.5 0.2 33.9 2.7 0.5 39.2 1.5 38.1 15.8 3.3 51.7 12.0 5.5 0.2 35.2 3.1 7.6 1.7 13.3 1.1 31.4 2. Riskesdas 2007 Provinsi Bentu ran 35.8 53.9 1.7 49.9 2.6 4.8 2.5 0.9 1.8 3.7 29.1 15.5 58.6 0.6 0.3 1.4 53.2 39.9 1.7 5.3 0.5 2.1 14.9 0.0 37.6 4.7 1.5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 168 .0 18.9 Patah tulang 8.8 34.9 2.4 0.6 0.6 3.0 1.0 3.4 39.4 Luka bakar 3.7 0.8 40.7 35.5 23.4 0.5 39.2 6.2 3.0 0.9 40.8 0.4 Luka lecet 50.8 3.5 30.6 1.9 1.3 3.7 28.6 35.7 9.3 2.3 21.6 0.0 7.1 4.7 1.2 0.2 0.4 23.6 4.4 4.0 1.3 1.6 42.8 2.3 3.7 21.1 29.5 20.6 0.0 1.2 5.8 45.2 23.5 0.1 52.2 39.0 24.4 2.4 1.7 23.5 Anggota gerak terputus 1.2 29.5 0.0 59.3 1.5 44.4 47.6 1.8 1.6 3.1 36.7 2.4 9.9 55.1 2.7 2.7 35.2 42.5 3.8 2.3 2.6 29.6 2.9 0.6 0.8 2.4 0.3 29.4 28.7 19.7 2.6 1.7 4.0 1.2 2.7 47.7 31.0 Lainnya 1.4 1.1 21.5 0.5 18.6 25.7 4.8 19.0 14.2 19.2 0.9 11.2 35.1 2.4 24.9 58.0 1.1 19.0 28.0 30.2 35.7 0.2 2.4 0.2 12.7 39.6 1.9 49.3 0.5 4.3 1.3 .4 0.6 53.0 2.0 Keracunan 0.5 27.2 2.6 12.8 25.1 1.5 0.6 0.0 3.5 5.6 2.8 2.1 50.0 3.7 .6 1.9 2.6 54.6 56.5 35.1 1.9 22.5 0.5 22.9 2.3 55.8 46.0 2.0 3.7 7.5 20.4 20.6 4.7 2.8 1.8 23.5 59.4 1.4 27.2 45.2 0.

6 27.3 49.5 2.5 6.5 2.7 0.8 20.4 2.4 33.3 22.1 1.6 2.6 39.8 1.0 47.8 44.5 25.5 23.2 2.0 1.9 36.3 47.6 3.4 0.5 22.5 5.0 47.6 5.5 4.2 4.7 37.6 1.0 1.7 26.9 5.1 4.8 23.3 28.1 22.5 41.4 38.5 28.9 1.0 2.0 1.8 3.3 22.1 0.3 54.0 51.8 1.5 2.3 2.0 2.2 2.7 1.7 25.2 1.1 0.4 0.4 26.3 0.8 5.6 3.8 62.7 1.4 2.7 27.5 22.8 29.2 1.1 2.8 52.3 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya 38.5 21.4 36.4 1.1 0.7 3.4 21.1 28.4 4.4 0.8 0.8 39.2 40.2 4.0 46.9 1.6 1.1 2.7 52.6 50.7 37.8 61.0 0.3 0.4 Desa 36.4 36.6 2.7 0.7 2.3 0.2 1.3 1.7 0.0 36.4 4.2 2.5 35.3 20.3 2.9 36.9 21.7 40.5 1.1 2.1 27.3 41.9 7.4 Tempat tinggal Kota 169 .1 1.1 1.6 25.5 5.1 5.9 0.0 2.6 2.2 2.6 20.1 1.4 4.4 46.1 24.8 1.9 36.0 5.0 31.9 4.5 2.7 27.3 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 37.2 37.5 37.4 5.8 22.0 13.1 23.7 39.3 22.1 24.8 23.2 53.2 1.7 21.8 48.8 2.6 0.0 34.7 0.1 29.1 3.0 20.4 36.2 22.4 13.8 1.1 3.8 2.9 25.6 42.9 2.3 0.8 2.2 2.2 31.7 34.4 2.5 50.5 1.2 1.1 0.3 38.3 16.1 51.4 2.2 2.1 23.6 4.8 3.6 1.0 23.5 3.7 21.7 2.7 0.9 1.4 52.4 2.110 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.1 2.7 40.5 57.3 36.1 1.0 5.8 47.2 2.8 3.3 1.0 0.5 2.6 28.5 1.9 1.2 2.0 0.8 0.Tabel 3.5 2.7 0.1 2.8 1.7 1.8 0.3 7.4 23.3 1.3 6.4 2.1 37.2 22.3 1.2 20.3 21. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Benturan Luka lecet Luka terbuka Luka bakar Terkilir.0 1.3 26.1 28.5 0.1 2.1 4.2 0.1 33.6 2.5 22.1 2.1 32.5 51.0 3.1 27.8 0.2 13. teregang Patah tulang Anggota gerak terputus Keracunan Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 1—4 5 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ 49.1 6.5 37.0 6.7 58.5 0.0 22.3 2.9 20.5 30.6 2.6 2.8 1.4 1.7 0.0 1.0 39.9 25.1 36.9 2.8 5.2 21.1 2.0 24.4 25.7 52.8 2.5 39.4 0.8 2.3 35.7 0.8 8.8 28.7 2.0 0.3 2.4 27.

2 4.8 8. dan 5) Sangat berat.2 10.6.111 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.3 11. yaitu 1) Tidak ada. Disebut “Tidak bermasalah” bila responden menjawab 1 atau 2 pada 20 pertanyaan inti.9 5.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan Status disabilitas dikumpulkan dari kelompok penduduk umur 15 tahun ke atas berdasarkan pertanyaan yang dikembangkan oleh WHO dalam International Classification of Functioning.5 5. Tiga pertanyaan tambahan terkait dengan kemampuan responden untuk merawat diri.7 6. yaitu “Tidak bermasalah” atau “Bermasalah”. 2) Ringan. sehingga memerlukan bantuan orang lain. bila responden menjawab 3.9 8. 3) Sedang.8 11. dan 5) Sangat sulit/tidak dapat melakukan.8 2. 4) Berat.4 atau 5 untuk keduapuluh pertanyaan termaksud. Disebut “Bermasalah” bila responden menjawab 3.5 5. Responden diajak untuk menilai kondisi dirinya dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan 20 pertanyaan inti dan 3 pertanyaan tambahan untuk mengetahui seberapa bermasalah disabilitas yang dialami responden. Sebelas pertanyaan pada kelompok pertama terkait dengan fungsi tubuh bermasalah. penilaian pada masing-masing jenis gangguan kemudian diklasifikasikan menjadi 2 kriteria.3.2 Melihat jarak jauh (20 m) Melihat jarak dekat (30 cm) Mendengar suara normal dalam ruangan Mendengar orang bicara dalam ruang sunyi Merasa nyeri/rasa tidak nyaman Nafas pendek setelah latihan ringan Batuk/bersin selama 10 menit tiap serangan Mengalami gangguan tidur Masalah kesehatan mempengaruhi emosi Kesulitan berdiri selama 30 menit Kesulitan berjalan jauh (1 km) Kesulitan memusatkan pikiran 10 menit Membersihkan seluruh tubuh Mengenakan pakaian Mengerjakan pekerjaan sehari-hari Paham pembicaraan orang lain Bergaul dengan orang asing Memelihara persahabatan Melakukan pekerjaan/tanggungjawab Berperan di kegiatan kemasyarakatan *) Bermasalah. 4) Sulit. 3) Sedang.2 2.5 5.4 6. dengan pilihan jawaban 1) Ya dan 2) Tidak. melakukan aktivitas/gerak atau berkomunikasi.9 6. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi oleh penduduk terkait dengan fungsi tubuh. Disability and Health (ICF). individu dan sosial.6 5. 2) Ringan. Tabel 3.3 8. Sembilan pertanyaan terkait dengan fungsi individu dan sosial dengan pilihan jawaban sebagai berikut. Riskesdas 2007 Fungsi Tubuh/Individu/Sosial Bermasalah* (%) 11.4 atau 5 170 . Dalam analisis.6 9. dengan pilihan jawaban sebagai berikut 1) Tidak ada.7 11.

5%. (Tabel 3. Kalimantan Timur. Dalam menilai status disabilitas kriteria “Bermasalah” dirinci menjadi “Bermasalah” dan “Sangat bermasalah”.Dari tabel 3.2%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tidak berbeda menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Kalimantan Tengah.8% dan “Bermasalah” 19.2%). Sedangkan yang bermasalah dalam hal membersihkan seluruh tubuh. Gorontalo (2. merasa nyeri/merasa tidak nyaman. Jawa Barat (25. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat pada responden yang tidak bekerja. penglihatan jarak dekat.6%). dan Sumatera Utara masing-masing 1. Sulawesi Tengah (26. Prevalensi disabilitas “Bermasalah” tertinggi ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (27. sedangkan yang terendah pada responden yang sekolah. dan mengenakan pakaian hanya sekitar 3%. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” terendah adalah Maluku (1.9%). Bengkulu (2. dan Sulawesi Selatan (2.4%). berjalan jauh. Nusa Tenggara Barat (2.112) Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas menunjukkan variabilitas menurut karakteristik responden.7%). Nusa Tenggara Barat (27. Secara nasional ternyata status disabilitas dengan kriteria “Sangat bermasalah” adalah sebesar 1. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat (2. dan napas pendek setelah latihan ringan merupakan disabilitas yang menonjol. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disabilitas pada laki-laki.4%).3%. (Tabel 3.5%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” ternyata bervariasi menurut pekerjaan responden. Kriteria “Sangat bermasalah” apabila responden menjawab ya untuk salah satu dari tiga pertanyaan tambahan. Semakin rendah tingkat pendidikan penduduk ternyata diikuti dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” yang semakin tinggi.113) 171 . Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Bermasalah” terendah adalah di Provinsi Maluku Utara dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing sekitar 10%.3%).111 tampak bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas yang bermasalah dalam hal penglihatan jarak jauh.7%).

7 1.9 20.9 1.0 15.9 2.1 14.4 1.5 2.8 18.0 27.9 1.7 1.1 20.4 22.1 27.112 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Provinsi.3 1.2 1. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Provinsi Sangat Bermasalah (%) 2.7 2.6 1.7 1.7 19.4 1.1 1.5 1.4 1.9 23.6 10.9 15.Tabel 3.3 2.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.1 21.9 1.6 1.3 1.2 17.2 1.4 2.8 25.0 1.4 2.5 2.8 19.1 14.7 Bermasalah (%) 18.9 2.6 21.6 15.0 2.1 1.3 17.5 14.6 23.5 172 .0 21.3 12.7 1.6 12.7 14.9 10.0 10.6 26.4 1.1 18.7 19.1 1.3 1.7 21.8 16.

0 17.6 1.2 2.2 1.113 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.3 37. Swasta.3 20.5 23.7 2.8 18.5 1.8 18.5 2.0 4.7 1.8 14.0 1.8 1.0 20.6 20.9 19.4 10.4 47.8 1. Polri) Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.Tabel 3.2 7.8 1.7 17. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Karakteristik Kelompok umur: 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan: Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan: Tidak bekerja Sekolah Mengurus RT Pegawai (Negeri.2 1.7 1.7 5.1 8.4 31.1 30.8 19.0 29.4 2.9 25.5 1.7 30.4 21.3 50.1 61.0 1.0 1.9 3.8 23.3 25.7 26.7 20.8 1.8 1.7 1.2 1.1 20.9 .4 Sangat bermasalah Bermasalah 173 .1 19.8 62.8 18.

dan pola konsumsi makanan berisiko.5%). penggunaan tembakau/ perilaku merokok. merokok kadang-kadang. Tabel 3. Hampir separuh (45. Tabel 3.2% dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 12 batang per hari. minum minuman beralkohol. ditanyakan berapa umur mulai merokok setiap hari dan berapa umur pertama kali merokok. Tabel 3.8%). Demikian juga perilaku higienis yang meliputi pertanyaan mencuci tangan pakai sabun. Perokok saat ini adalah perokok setiap hari dan perokok kadang-kadang. sikap dan perilaku dalam Riskesdas 2007 ditanyakan kepada penduduk umur 10 tahun ke atas. disusul Bengkulu (34. aktivitas fisik. Sedangkan mantan perokok proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 75 tahun ke atas (12. yaitu yang merokok setiap hari dan merokok kadang-kadang. 174 .3%). mantan perokok atau tidak merokok. pada laki-laki (9. sedangkan yang paling sedikit adalah Bali. Sulawesi Barat (25. Nusa Tenggara Barat.8%) penduduk laki-laki umur 10 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari. Untuk mendapatkan persepsi yang sama. proporsi tinggi dimulai pada kelompok umur 15-24 tahun (7. pada saat melakukan wawancara mengenai satuan standar minuman beralkohol. Juga ditanyakan apakah merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.114 menunjukkan bahwa secara nasional persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok tiap hari 24%. termasuk penduduk yang belajar merokok. Bali (24.116 menunjukkan perilaku merokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap menurut provinsi. Secara nasional prevalensi perokok saat ini 29. klasifikasi aktivitas fisik.1%) dan Gorontalo (32. Sikap dan Perilaku Pengetahuan. Tidak tampak perbedaan antara rumah tangga yang tingkat pengeluarannya rendah dan tinggi. diikuti dengan Lampung (28.7. Prevalensi perokok saat ini tertinggi di Provinsi Lampung (34. Secara nasional. Rerata batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi di NAD (19 batang). proporsi tertinggi dijumpai pada penduduk tamat SMA (26.3%). Menurut pendidikan.3%).7% dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17%. Bagi penduduk yang merokok setiap hari. Provinsi-provinsi yang prevalensinya di bawah angka nasional adalah Provinsi Kalimantan Selatan (24. Bagi mantan perokok ditanyakan berapa umur ketika berhenti merokok. ditanyakan berapa rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan jenis rokok yang dihisap.2%).6%). dengan rentang rerata 29% sampai 32%. Pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan penyakit flu burung dan HIV/AIDS ditanyakan melalui wawancara individu.9%). Pada perokok kadang-kadang. DKI Jakarta dan Jawa Tengah masingmasing 9 batang. perilaku konsumsi buah dan sayur.6%). selanjutnya adalah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16 batang.2%). Persentase tertinggi ditemukan di Provinsi Bengkulu (29.8%) dan perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Sedangkan penduduk kelompok umur 10-14 tahun yang merokok tiap hari sudah mencapai 0.9%) 10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (1. persentase penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun). kebiasaan buang air besar. dan porsi konsumsi buah dan sayur. Sulawesi Selatan (25. digunakan kartu peraga.4%).5%) dan Maluku (25.1 Perilaku Merokok Pada penduduk umur 10 tahun ke atas ditanyakan apakah merokok setiap hari.8%) dan Jawa Barat (26. Pada penduduk yang merokok.115 menggambarkan perilaku merokok penduduk umur 10 tahun ke atas menurut karakteristik responden.0%). Sedangkan persentase terendah dijumpai di Provinsi Maluku (19.3.7 Pengetahuan. 3.

1 72.4 5.6 68.7 65.2 5.9 67.6 6.5 4.5 4.1 20.7 64.5 3.8 67.4 6.8 4.1 2.4 24.3 69.6 3.3 3.8 67.8 Bukan perokok 68.2 3.0 4.2 21.2 64.6 20.6 4.1 65.5 5.8 73.1 2.8 175 .8 2.6 6.1 65.6 5.9 1.6 64.6 5.5 70.9 19.0 5.0 Tidak merokok Mantan perokok 2.Tabel 3.5 66.6 22.1 2.6 71.0 23.3 25.5 5.8 26.0 5.4 Perokok kadangkadang 6.8 5.1 4.4 67.0 67.5 71.8 27.3 7.8 65.8 24.3 25.8 6.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Nasional 23.4 24.4 71.114 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.5 3.7 64.8 1.6 69.8 71. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Provinsi Perokok setiap hari 23.4 29.3 2.2 22.3 23.3 68.3 1.0 69.6 7.7 1.1 25.1 19.7 24.5 71.3 3.0 3.7 23.3 4.4 4.0 3.3 64.9 3.8 24.1 4.8 2.7 5.5 5.5 2.5 22.5 25.6 24.1 20.8 20.5 2.2 2.7 6.2 23.5 3.9 3.1 21.5 28.6 5.4 5.5 6.3 6.4 20.0 3.4 67.9 2.2 69.0 6.8 4.5 5.0 63.5 2.2 68.0 2.7 5.0 3.9 19.6 24.2 69.9 6.1 2.

6 5.3 0.9 55.0 30.8 28.6 67.4 3.4 67.1 6.Tabel 3.3 72.5 5.1 3.8 Tidak merokok Mantan perokok Bukan perokok Perokok setiap hari Perokok kadangkadang Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 45.7 67.8 3.3 63.2 61.4 5.7 5.4 5.0 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 21.5 54.6 5.4 31.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.6 7.9 1.6 3.1 1.2 23.9 23.0 69.3 5.0 26.9 23.4 0.5 2.7 2.3 6.7 2.0 9.6 68.6 55.0 97.3 7.6 5.2 32.9 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 26.4 24.3 23.9 3.6 69.4 3.1 67.5 2.4 2.9 94.8 4.6 5.7 74.8 27.6 4.8 5.8 2.7 38.0 4.9 6.5 67.8 9.3 1.7 17.1 5.9 176 .0 65.9 66.3 5.8 20.6 2. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 0.3 29.2 57.7 4.4 24.8 1.8 2.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.4 5.8 5.2 6.0 62.4 68.2 25.3 21.9 12.

1 10.4 29.3 13.3 30.4 8.4 14.8 30.9 11.9 14.116 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.7 13. Riskesdas 2007 Perokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rerata jumlah batang rokok /hari 18.8 29.0 27.9 30.0 13.4 13.8 12.2 26.2 24.7 30.4 32.5 8.8 30.7 25.7 15.5 14.0 177 .3 10.4 13.1 31.5 14.3 10.5 26.5 9.9 27.9 9.2 30.1 16.5 12.7 29.6 25.4 31.9 9.2 28.4 30.7 27.9 24.1 11.1 28.8 32.9 10.Tabel 3.3 28.8 Indonesia 29.4 13.7 28.2 27.4 11.2 12.0 12.3 25.1 34.4 11.7 34.1 9.8 9.0 12.2 14 saat ini 29.2 25.

tetapi rerata rokok yang dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (16 batang dan 12 batang).4 30. Tidak tampak adanya perbedaan antara penduduk dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita tinggi dan rendah. Prevalensi perokok saat ini lebih tinggi pada penduduk tamat SMA dan penduduk tidak sekolah.1 12.7 Prevalensi perokok saat ini pada laki-laki 11(sebelas) kali lebih tinggi dibandingkan perempuan (berturut-turut 55.3 28. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun.3 12. walaupun prevalensi hanya 2%.0 38.3 30.1 55.7% dan 4. serta di daerah perdesaan. kemudian menurun pada umur lebih lanjut.0 26. tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16 batang per hari.7 15. 178 .5 29.4 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 2.6 35. Tabel 3.6 29.6 12.6 11.9 25.117 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.6 11.6 30.117 menggambarkan prevalensi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap per hari menurut karakteristik responden.0 29.7 11.9 12.7 11.0 36.0 37. Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur 15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun.5 11.7 12.0 11.7 4.5 34.1 12.4%).0 24.6 34.9 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 29.Tabel 3. Riskesdas 2007 Perokok saat ini (%) Rerata jumlah batang rokok /hari 10 12 13 14 13 13 10 13 11.0 27.7 33.5 28.7 12.

9 1.2 5. Papua menduduki tempat tertinggi (3.9 4.3 13.3 4.4 11.8 2.1 27. Usia mulai merokok tiap hari ini penting diketahui untuk melihat lamanya paparan rokok pada penduduk.0 0.1%).8 36.7 20-24 17.0 3.5 3.7 1.8 15.5 46.4 13.9 11.0 0.8 36.5 28.2 2.8 2.5 52.0 0.3 6.3 5.6 26.0 7.1 34.4 20.5 3.9 5.0 12.8 14.2 30.6 19.1 17. 30 kali lebih besar dibandingkan dengan angka nasional (0.0 0.0 0.9 12.2 6.9 6.4 3.7 36.2 1.6 18.1 3.2 4.2 26.0 5.6 36.2 29.1 2.8 37.6 5.3 46.5 4.9 39.3 9.8 8.1 Tidak tahu 39.1 27.3 3.1 14.0 38. Tabel 3.0 0.0 8.6 36.6 33.5 34.4 0.7 1.8 24.3 36.3 33.7 2.6 11.7 25-29 3.3 35.0 13.5 29.9 4.2 3.8 12.9 4.118 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.0 36.8 11.5 40.0 0.6 10.0 0.5 17.2 Indonesia 0.7 24.6 29.0 10.9 4.4 8.9 2.4 1.3 10.6 3.2 35.0 0.8 7.6 4.7 1.2 39.4 36.0 33.0 2.0 0.1 34.0 0.0 0.4 2.4 5.0 18.9 10.2 10-14 6.4 10.0 0.8 10.8 2.0 12.6 1.4 4.4 21.0 9.0 18.1 3.2 0.1 ≥30 2.2 3.6 9.6 2.0 0.0 0.5 2.7 18.6 0.8 19.5 1.3%.4 13.0 0.2%).4 16.6 33. yaitu 36.5 43.7 5.9 15.3 1.4 13.8 6.2 8.0 0.4 6.3 16.9 5.8 0.3 14.9 17.0 3.4 3.0 24.8 6.4 33.1 10.8 1.5 3.8 17.7 44.3 2.0 0.4 22.0 0.7 3.4 24.4 27.1 9.9 2.5 44.9 12.7 59.0 0.6 9.2 5.5 2.5 26.5 17.0 0.118 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari.6 38. Secara nasional persentase usia mulai merokok tiap hari umur 15-19 tahun menduduki tempat tertinggi.7 3.2 7.4 3.6 34.7 1.1 34.0 0.2 38.4 3.0 0.6 36.2 9.4 31.3 12.6 4.0 39.0 13.2 6.3 18.0 0.3 1.1 14.7 15.7 39.4 26.8 5.3 12.3 2.8 3. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5-9 0.9 35.1 30.4 35.0 37. 179 .7 32.0 Untuk kelompok usia muda (5-9 tahun).5 29.4 18.0 18.6 28.3 3.3 40.3 3.0 0.Tabel 3.0 15-19 30.3 12.9 1.

9 14.1 8.1 7.8 37.6 15.1 18.9 55.1 19.9 30.1 0.4 0.3 37.7 4.9 0.2 4.5 32.2 14.1 0.8 17.7 10.0 36.3 24.1 0.0 30.1 0.0 0.2 4.1 35.6 17.2 3.2 15.1 0.2 9.7 38.5 21.0 10.6 48.9 35.0 7.6 9.9 36.6 4.2 0.3 3.4 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 0.0 4.1 0.2 0.9 79.2 9. Tabel 3.1 18.3 6.4% mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun.1 4.0 57.3 6.1 3.1 0.2 10.8 7.2 5.0 15.2 4.4 9. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 1.Tabel 3.5 6.4 4.1 0.3 0.4 3.7 21.0 5.9 4.6 21.1 1.2 24.8 10.8 0.6 10.7 34.0 14.1 0.9 29.0 3.1 33.1 3.9 29.4 4.5 2.4 34.5 4.0 16.1 3.119 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari dan karakteristik responden.1 11.6 4.9 2.4 12. bahkan 1.2 0.1 0.7 28.0 3.7 7.0 0.7 0.6 18.0 0.5 11.0 43.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 0.9 40.1 46.5 16.2 11.5 5.8 9.4 7.5 Untuk setiap kelompok usia mulai merokok tiap hari pada umumnya persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.9 2.0 45.1 0.3 44.119 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.6 5.1 7.2 4. Berdasarkan kelompok umur. kecuali pada usia 5-9 tahun dan 30 tahun ke 180 .0 7.6 19.5 16.1 38.6 6.1 0.3 10.6 34.9 6.1 24.3 4.7 39.5 18.4 8. 19% penduduk umur 10-14 tahun sudah mulai merokok tiap hari pada usia 10-14 tahun.7 55.0 27.0 27.9 3.9 29.6 22.1 7.3 29.2 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 0.5 4.8 2.9 6.1 16.3 22.4 15.1 0.0 17.2 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 0.1 0.0 33.4 3.6 19.3 14.5 3.9 19.

1 13.5 33.8 14.0 9.4 2.9 2.4 34.7 38.0 10-14 7.4 4.0 13.6 33.9 2.3 38.7 14.1 35.4 1.9 15-19 26.4 11.9 1.7 5.4 2.7 3.8 2.4 33.2 1.9 13.2 37.atas.3 2.8 40.9 1.3 6.2 1.8 1.0 4.8 43.5 36.4 34.5 6.6 2.3 1.1 0.2 Tabel 3.6 2.7 1.1 2.1 48.2 9.2 28.5 1.6 1.2 8.3 0.6 10.0 1.8 4.8 3.2 1.2 1.Tidak tampak perbedaan usia mulai merokok tiap hari dilihat dari tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.3 10.5 2.1 31. Usia mulai merokok atau 181 .6 2.6 13.5 2.3 28.7 0.7 3.7 1.9 9.6 11.9 11.3 3.3 4.2 31.3 1.8 1.3 2.9 1.5 6.6 26.3 10.3 33.7 1.1 3.0 2.0 4.7 1.5 6.8 1.1 13.1 2.1 39.0 0.3 51.5 33.5 1.5 32.8 4.0 7.4 12.2 2. Tabel 3.9 22.0 0.8 4.0 9.0 34.6 10.6 9.6 4.9 2.2 42.3 11.7 34.2 1.8 1.5 8.1 0.7 28.1 31.8 45.4 39.6 44.3 29.0 27.1 42.5 32.6 2.5 31.4 13.7 10.2 12.1 1.6 43.2 16.1 8.0 8.3 2.9 2.8 13.9 33.6 16.0 11.7 4.2 6.6 28.9 3.8 3.4 41.2 35.3 20-24 11.1 24.0 22.7 28.0 32. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Provinsi 5-9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.9 44.8 34.2 2.4 13.8 39.9 1.2 40.7 1.6 3.8 Tidak tahu 49.4 1.5 10.6 2.0 10.9 0.5 1.3 0.8 8.0 Nasional 1.3 46.120 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.6 3.7 1.9 8.6 32.8 10.4 27.3 4.4 11.9 1.2 59.5 12.7 1.1 37.3 3.8 35.7 11.3 32.1 11.6 0.6 7.6 0.2 7.3 8.6 33.3 1.7 11.5 43.2 8.4 32.5 12.4 11.9 35.4 1.3 34.1 1.0 50.2 ≥30 2.1 16.9 1.3 0.2 3.9 2.9 9.8 3.7 25-29 2.4 1.3 12.5 13.5 3.7 9.5 1.120 memperlihatkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau.0 3.2 42.5 13.5 10.2 33.1 1.5 1.0 40.9 0.1 14.3 12.3 6.

Bangka Belitung. 85. Menurut kelompok umur. Demikian juga rokok linting dan tembakau kunyah. Secara nasional. pada umumnya jenis rokok yang diminati adalah kretek dengan filter. perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun tertinggi dijumpai di Bangka Belitung (42. tertinggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (93.124).7%).0%).9%. Secara nasional.3%). tetapi ada 5. Tabel 3. disusul Kepulauan Riau (2.8%). Menurut provinsi. Menurut pendidikan.2%). persentase mulai merokok tertinggi dijumpai pada kelompok usia 15-19 tahun.123). dan tingkat pengeluaran per kapita. tipe daerah. 182 . Tabel 3. disusul oleh DKI Jakarta (39. Sedangkan perokok dengan umur mulai merokok pada umur 5-9 tahun tertinggi di Papua (4.5%) dan Jawa Barat (35.mengunyah tembakau mencakup juga penduduk yang baru pertama kali mencoba merokok atau mengunyah tembakau.9%). laki-laki lebih dominan pada semua jenis rokok dibandingkan perempuan.9%). Sulawesi Utara (39. Gorontalo (2. Menurut jenis kelamin.1%) (lihat Tabel 3. Terdapat 18 provinsi dengan prevalensi di atas angka nasional. Perokok yang mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun terbanyak di Provinsi Sumatera Barat (16.4%) dan rokok linting (17. DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masingmasing 1. disusul usia 20-24 tahun (11.8%). DKI Jakarta (13.6%) dan Kalimantan Selatan (12.0%).0%). Jawa Tengah (13. pendidikan.4%). kecuali pada kelompok umur 55 tahun ke atas kretek tanpa filter merupakan pilihannya. demikian juga halnya menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran per kapita (Tabel 3.5%). 3%).121 menggambarkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau dan karakteristik reponden. Menurut jenis kelamin. Perokok umur 10-14 tahun umumnya mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun (31. selanjutnya Bangka Belitung (16. persentase tertinggi usia pertama kali merokok terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun (32. kemudian kretek tanpa filter (35. penduduk tidak sekolah lebih banyak menggunakan rokok linting atau tembakau kunyah dibandingkan jenis rokok lainnya.4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. banyak diminati oleh penduduk berumur 55 tahun ke atas. Secara umum jenis rokok yang paling banyak diminati adalah rokok kretek dengan filter (64. kecuali penggunaan tembakau kunyah pada perempuan 19 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. dan pada jenjang pendidikan lainnya didominasi oleh penggunaan kretek dengan filter.122 menunjukkan prevalensi perokok yang merokok dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga menurut provinsi.1%).1% yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun.9%).

3 11.5 10.4 38.1 32.5 33.4 30.5 7.1 12.8 3.3 2.2 1.0 49.0 40.1 3.6 3.4 3.6 2.1 10.9 11.1 1.9 2.3 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 1.0 4.9 38.9 11.2 44.4 6. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 5.1 8.1 7.8 2.4 1.5 5.2 59.2 2.3 13.2 25.8 12.2 Kuintil-2 1.3 36.1 4.0 26.121 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.2 1.9 63.9 38.6 31.8 9.5 38.6 10.2 Kuintil-5 183 .6 4.1 32.7 13.7 3.4 7.7 1.0 0.2 3.0 4.7 10.5 4.2 12.5 2.7 6.2 9.2 0.6 36.9 10.2 0.7 2.7 2.5 61.2 53.1 1.4 1.2 10.3 32.1 1.3 47.0 6.4 1.2 14.1 13.0 2.8 19.2 25.2 17.3 41.3 33.8 8.7 13.6 2.9 1.3 10.1 3.3 1.8 Kuintil-4 1.9 10.6 32.6 37.Tabel 3.8 12.1 1.4 5.2 14.3 31.4 11.4 2.4 41.4 10.2 0.1 1.3 13.3 30.1 55.9 6.7 1.8 17.2 31.6 9.8 11.2 Kuintil-1 1.4 32.6 2.5 3.5 1.4 37.2 10.8 2.9 11.0 40.8 34.0 0.1 7.3 1.6 12.0 20.0 0.5 3.2 5.5 Kuintil-3 1.0 34.9 3.5 42.6 1.1 10.6 3.5 2.3 36.1 33.3 1.5 1.0 13.2 3.0 31.4 0.7 4.3 11.1 4.7 0.0 3.0 18.0 3.

7 89.5 91.9 91.4 87.7 92.7 83.0 84.0 88.4 Indonesia 85.2 83.8 93.0 83.7 86.4 78.9 86.9 84.2 89.7 77.7 87.1 88.7 82.1 64.Tabel 3.4 84.7 86.2 89.3 90.122 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Perokok merokok Provinsi dalam rumah ketika bersama ART NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 82.4 86.8 80.1 82.4 184 .1 85.4 79.3 90.3 90.

4 0.1 0.2 0.1 12.3 2.5 1.9 30.4 185 .1 1.2 30.7 20.3 62.0 59.8 2.4 0.0 0.8 74.3 72.6 21.5 0.0 1.4 0.6 23.4 1.8 18.2 21.1 46.3 0.5 20.8 23.2 84.7 1.3 1.8 25.0 1.9 10.7 1.4 0.1 65. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Provinsi Kretek dengan filter NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Nusa Tenggara Kalimantan Barat Kalimantan Kalimantan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 55.2 0.1 Kretek tanpa filter 38.6 25.1 0.2 0.7 Cerutu Tembakau dikunyah 6.2 13.4 0.7 32.7 24.3 0.7 0.4 12.4 1.9 1.4 0.4 0.6 1.9 27.9 14.3 0.7 10.8 38.0 13.7 0.9 12.6 0.6 8.6 3.8 5.5 1.1 14.3 2.4 0.3 0.3 0.4 0.6 18.3 3.1 4.7 0.2 16.9 0.2 0.7 0.0 2.6 0.6 0.9 0.3 3.2 0.9 24.2 0.9 67.5 5.0 4.2 70.4 0.6 16.6 4.3 14.9 1.3 0.2 20.3 76.9 77.2 0.6 0.4 13.1 0.4 1.2 14.2 0.4 25.1 0.1 24.1 Lain nya 0.6 0.5 0.7 46.2 0.7 4.0 13.2 0.5 0.2 28.3 0.2 0.9 18.2 0.0 15.8 55.5 51.3 0.5 0.9 6.5 0.2 0.2 0.4 22.6 18.5 13.4 29.9 2.6 6.7 9.Tabel 3.5 20.9 14.1 3.6 0.8 82.1 3.3 0.2 11.9 2.0 63.8 17.7 0.9 75.5 0.7 0.2 3.3 0.9 80.4 1.4 0.4 0.0 0.8 85.8 28.5 35.8 8.9 43.2 7.2 3.7 1.9 1.0 42.9 21.9 60.8 37.9 6.4 1.6 22.4 31.3 0.5 4.9 1.7 45.4 1.3 19.6 6.1 0.2 0.7 80.0 9.7 0.0 1.5 1.5 10.2 0.8 14.0 16.4 46.9 17.0 0.2 9.4 14.7 24.0 Rokok linting 7.4 5.3 72.2 0.5 0.7 9.3 55.0 6.7 0.8 0.1 0.8 0.3 16.7 0.7 26.9 26.9 60.8 56.4 0.5 20.7 57.5 5.9 0.6 0.123 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi.7 85.1 5.3 10.3 64.9 12.8 0.2 0.2 51.3 0.1 33.4 20.5 1.5 0.3 7.4 0.9 Rokok putih 16.5 0.5 21.7 59.6 59.1 60.3 75.6 0.6 55.1 0.2 Indonesia 64.4 14.2 0.1 70.2 11.7 1.2 0.0 9.5 1.4 69.6 25.4 52.1 11.2 16.1 Cangklong 0.

0 37.4 8.0 5.5 19.3 33.3 14.5 0.8 17.9 34.8 35.4 14.4 22.6 19.6 0.9 0.7 0.5 0.3 0. 186 .6 0.3 0.1 37.5 17.0 0.1 1.5 1.8 12.3 0.5 0.3 23.5 7.6 0.9 72.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Karakteristik responden Kretek dengan filter Kelompok 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Kretek tanpa filter Rokok putih Rokok linting Cangklong Cerutu Tembakau dikunyah Lain nya umur 73.5 0.6 0.4 0.8 0.7.5 0.5 4.7 77.5 18.7 0.7 4. Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu.6 0.7 0.6 44.8 77.2 4.4 10.4 20.3 20.7 0.6 0.7 0.8 4.0 0.5 0.8 12.5 51.3 0.6 0.8 0.5 0.4 38.7 28.6 0.3 59.3 16.1 1.6 0.9 27.3 2.124 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.6 18.6 2.3 1.6 0.5 24.3 3.6 0.8 29.6 4.4 0.4 9.6 0.5 0.3 41.7 2.0 0.7 0.4 20.9 0.7 33.6 68.8 7.5 0.5 1.2 70.4 0.7 0.6 40.3 34.0 36.0 1.8 35.4 0.1 31.9 17.5 0.3 9.6 7.0 24.4 57.4 0.3 15.9 12.2 22.4 24.4 0.8 79.6 0.2 36.2 13.6 31.9 1.6 0.7 0.8 11.8 0.8 35.5 37.3 62.4 0.4 23.8 5.6 0.7 62.7 66.7 13.3 0.0 12.1 33.9 1.2 10.0 17.5 0.6 41.7 0.7 6.4 4.7 0.3 60.6 0.Tabel 3.7 3.8 38.0 14.6 0.3 0.5 30.7 41.6 66.6 15.4 40.0 63.7 9.5 33.2 6.6 30.5 1.5 0.7 18.6 0.4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 3.5 0.6 74.0 7.7 0.6 3.7 0. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas.9 1.5 0.8 15.7 37.3 12.9 14.7 74.

DI Yogyakarta (86.9 92.9 94.9 91.1 90.4 92.Tabel 3. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang makan buah dan sayur*) 95.8 91.125 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.9 83.2 92. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat.7 96.7 92.4 97.5%). dan Lampung (87.5 93.8%.5 95.7 91.0 86.9% dan 97.4 94. masing-masing 97.5 96.4 96.1%).2 94.6%.4 96.2 91.1 91. Tabel 3.7%). penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93.8 97.5 96.7 Indonesia 93.6 94.7 96.6 96.6 96.5 96.1 87.9 93.6 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 187 .125 menunjukkan bahwa secara keseluruhan.3 89. Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83.

Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang makan buah dan sayur*) Kelompok Umur (Tahun) 10-14 93. dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur. Sementara berdasarkan pendidikan.6 Kuintil-2 94.8 25-34 93.3 45-54 93.2 Kuintil-3 93. dengan perkataan lain.7 75+ 95. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan. Tabel 3.1 Tamat SMP 93.4 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 188 . semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur.126 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95.3 Tempat Tinggal Perkotaan 93.3%).7 Pendidikan Tidak sekolah 94. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.6 Tamat SMA 92.5 55-64 93.Pada tabel 3. Tidak tampak adanya perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan.3 Jenis Kelamin Laki-laki 93.9 Kuintil-4 93.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 94.6 15-24 93.3 Tamat SD 94.7 65-74 94.3 Kuintil-5 92.9 Tidak tamat SD 94.4 35-44 93. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.126 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.0 Perdesaan 94.5 Perempuan 93.8 Tamat PT 90.

yang selanjutnya meningkat menjadi 6.127 memperlihatkan secara nasional prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir sebanyak 4. yaitu sebesar 5. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi minum alkohol tinggi. Karena perilaku minum alkohol seringkali periodik maka ditanyakan perilaku minum alkohol dalam periode 12 bulan dan satu bulan terakhir. juga diikuti dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam satu bulan terakhir di atas angka nasional.128 dapat dilihat bahwa prevalensi peminum alkohol 12 bulan dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 15-24 tahun. dan Gorontalo (12.3%).3. 189 . Menurut jenis kelamin. Informasi perilaku minum alkohol didapat dengan menanyakan kepada responden umur 10 tahun ke atas.7% dan 4. Tabel 3.3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol Salah satu faktor risiko kesehatan adalah kebiasaan minum alkohol. Pada umumnya provinsi dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional. prevalensi minum alkohol tinggi tampak pada yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SMA.7. Sulawesi Utara (17. namun kemudian turun dengan bertambahnya umur. Prevalensi peminum alkohol di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan. jenis minuman dan rata-rata satuan minuman standar. seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (17.4%).7%). Wawancara diawali dengan pertanyaan apakah minum minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir.5%. Dilakukan kalibrasi terhadap berbagai persepsi ukuran yang digunakan responden. Pada tabel 3. sedangkan yang masih minum dalam satu bulan terakhir 3.0%. termasuk frekuensi. yaitu satu minuman standar setara dengan bir volume 285 mililiter.5% dan 3. prevalensi peminum alkohol lebih besar laki-laki dibanding perempuan. Sedangkan menurut pendidikan.6%.3% pada umur 25-34 tahun. sehingga didapatkan ukuran standar. Untuk penduduk yang menjawab “ya” ditanyakan dalam 1 bulan terakhir. Tidak tampak perbedaan prevalensi peminum alkohol menurut tingkat pengeluaran per kapita per bulan.

Tabel 3.127 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Konsumsi Provinsi alkohol 12 Bulan terakhir
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1,5 6,1 1,5 3,4 2,7 2,9 2,8 2,2 4,4 5,9 4,0 2,6 2,2 3,2 1,9 1,6 6,4 2,0 17,7 8,8 6,5 1,2 3,4 17,4 8,9 5,9 7,7 12,3 4,0 8,2 7,4 8,1 6,7

Konsumsi alkohol 1 Bulan terakhir
0,4 4,4 0,7 1,3 1,7 2,1 1,8 1,4 2,5 3,7 2,7 1,3 1,1 1,7 1,0 0,9 4,6 1,2 13,5 4,8 3,5 0,5 1,7 14,9 6,4 3,9 5,8 10,7 2,6 5,0 4,4 4,9 4,4

Indonesia

4,6

3,0

190

Tabel 3.128 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia, Riskesdas 2007
Karakteristik Responden Pernah minum alkohol dalam 12 bulan terakhir Masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir 0,3 3,5 4,3 3,7 3,3 2,4 1,7 0,9 5,8 0,4 2,1 2,5 3,0 3,5 3,8 2,4 2,5 3,3 2,9 3,0 3,0 3,0 3,0

Kelompok Umur (Tahun) 10-14 0,7 15-24 5,5 25-34 6,7 35-44 5,5 45-54 4,8 55-64 3,6 65-74 2,6 75+ 1,5 Jenis Kelamin Laki-laki 8,8 Perempuan 0,7 Pendidikan Tidak sekolah 3,1 Tidak tamat SD 3,8 Tamat SD 4,5 Tamat SMP 5,5 Tamat SMA 6,0 Tamat PT 3,9 Tipe Daerah Perkotaan 3,9 Perdesaan 5,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4,4 Kuintil-2 4,7 Kuintil-3 4,6 Kuintil-4 4,7 Kuintil-5 4,7

191

3.7.4 Perilaku Aktifitas Fisik
Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Dikumpulkan data frekuensi beraktifitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. Selain frekuensi, dilakukan pula pengumpulan data intensitas, yaitu jumlah hari melakukan aktifitas ’berat’, ’sedang’ dan ’berjalan’. Perhitungan jumlah menit aktifitas fisik dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktifitas yang dilakukan, di mana aktifitas diberi pembobotan, masing-masing untuk aktifitas ‘berat’ empat kali, aktifitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktifitas ‘ringan’ atau jalan santai. Pada tabel 3.129 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48,2%) kurang melakukan aktifitas fisik. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61,7%) dan Provinsi Riau (60,2%). Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27,3%), Sulawesi Tengah (39,4%), dan Bengkulu (40,1%). Pada tabel 3.130 terlihat bahwa menurut kelompok umur, kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76,0%) dan umur 10-14 tahun (66,9%), dan perempuan (54,5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41,4%). Berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57,6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42,4%), dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik.

192

Tabel 3.129 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang Aktifitas Fisik 53,3 52,1 54,8 60,2 57,8 48,1 40,1 45,3 46,4 53,1 54,7 52,4 44,2 45,3 44,7 55,0 44,6 48,8 27,3 46,9 43,8 49,4 61,7 47,2 39,4 49,1 47,6 47,3 42,7 49,2 48,2 50,4 43,0

Indonesia

48,2

*) Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu

193

Tabel 3.130 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang aktifitas fisik

Kelompok umur 10-14 66,9 15-24 52,0 25-34 42,9 35-44 38,9 45-54 38,4 55-64 44,4 65-74 58,5 75+ 76,0 Jenis Kelamin Laki-laki 41,4 Perempuan 54,5 Pendidikan Tidak sekolah 48,8 Tidak tamat SD 48,1 Tamat SD 43,4 Tamat SMP 47,4 Tamat SMA 52,6 Tamat PT 60,3 Tipe daerah Perkotaan 57,6 Perdesaan 42,4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 44,8 Kuintil-2 45,5 Kuintil-3 47,1 Kuintil-4 49,1 Kuintil-5 53,9

3.7.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS a. Flu Burung
Data mengenai pengetahuan dan sikap penduduk tentang flu burung dikumpulkan dengan didahului pertanyaan saringan: apakah pernah mendengar tentang flu burung. Untuk penduduk yang pernah mendengar, ditanyakan lebih lanjut pengetahuan tentang penularan dan sikapnya apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak. Penduduk dianggap memiliki pengetahuan tentang penularan flu burung yang benar apabila menjawab cara penularan melalui kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang. Penduduk dianggap bersikap benar bila menjawab salah satu : melaporkan kepada aparat terkait, atau membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas sakit, apabila ada unggas yang sakit dan mati mendadak.

194

Tabel 3.131 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Pernah mendengar
61,7 74,6 67,3 74,1 67,8 55,8 66,8 70,2 73,1 81,4 80,9 71,6 68,2 74,7 63,7 63,2 70,8 52,2 35,9 57,8 61,4 69,3 74,6 71,1 66,7 63,1 55,8 51,9 56,9 54,7 41,9 52,1 44,4

Berpengetahuan benar*
81,3 84,8 73,7 77,2 81,7 87,7 80,7 86,2 75,2 81,0 83,6 77,6 79,9 74,6 75,9 83,3 85,7 79,6 69,8 81,3 82,2 71,1 86,7 80,7 70,0 70,6 74,9 79,9 66,2 76,2 63,7 69,0 74,8

Bersikap benar**
88,7 94,2 81,3 87,6 87,6 85,1 87,2 92,2 92,1 91,9 91,4 84,9 86,9 93,6 89,4 87,3 96,1 91,0 85,9 88,6 82,4 74,6 92,5 92,7 83,9 85,8 83,2 85,2 84,5 84,1 82,2 84,2 86,8

Indonesia

64,7

78,7

87,7

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.131 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan provinsi. Secara nasional, 64,7% penduduk pernah mendengar tentang flu burung. Di antara mereka, 78,7% memiliki pengetahuan yang benar dan 87,7% memiliki sikap yang benar. Tiga provinsi yang penduduknya kurang mendengar tentang flu burung adalah Nusa Tenggara Timur (35,9%), Maluku Utara (41,9%) dan Papua (44,4%). Provinsi yang penduduknya mempunyai pengetahuan yang

195

baik tentang flu burung tertinggi di Lampung (86,2%) dan yang sikapnya terbaik Provinsi Bali (96,1%).

Tabel 3.132 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik responden Pernah mendengar Berpengetahuan benar*
73,0 83,1 81,6 79,2 75,6 71,4 64,8 59,2 80,6 76,7 60,9 66,7 74,1 82,2 86,4 90,3 77,1 79,4 75,8 88,7 81,9 73,9 80,4 82,7 75,2 75,5 76,3 77,7 79,4 82,6

Bersikap benar**
82,2 89,7 89,3 88,5 86,9 85,6 82,3 79,1 88,8 86,6 77,7 78,8 84,3 90,2 93,4 95,7 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4 84,4 89,2 91,0 84,9 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4

Umur 10-14 tahun 52,4 15-24 tahun 79,0 25-34 tahun 75,3 35-44 tahun 70,0 45-54 tahun 60,8 55-64 tahun 47,6 65-74 tahun 33,5 75+ tahun 19,7 Jenis kelamin Laki-laki 68,2 Perempuan 61,5 Pendidikan Tidak sekolah 26,3 Tidak tamat SD 44,5 Tamat SD 61,0 Tamat SMP 79,1 Tamat SMA 89,0 Tamat PT 93,7 Pekerjaan Tidak kerja 53,9 Sekolah 65,3 Ibu RT 65,1 PNS/Polri/TNI/BUMN 91,3 Wiraswasta 78,2 Petani/nelayan/buruh 54,6 Lainnya 73,4 Tipe daerah Perkotaan 78,8 Perdesaan 56,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 56,0 Kuintil 2 60,5 Kuintil 3 64,0 Kuintil 4 67,7 Kuintil 5 74,5

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.132 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan karakteristik responden. Kelompok umur 15-24 tahun

196

merupakan kelompok tertinggi untuk kategori pernah mendengar, berpengetahuan benar dan bersikap benar. Persentase laki-laki yang pernah mendengar tentang flu burung lebih tinggi dari perempuan (68,2% dibanding 61,5%), demikian juga lebih banyak laki-laki memiliki pengetahuan dan sikap benar. Menurut tipe daerah, penduduk di perkotaan lebih banyak yang telah mendengar tentang flu burung, dan lebih banyak yang memiliki pengetahuan dan sikap yang benar terhadap flu burung dibanding perdesaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi presentase penduduk yang telah pernah mendengar tentang flu burung, dan yang mempunyai pengetahuan serta sikap yang benar tentangnya.

b. HIV/IADS
Berkaitan dengan HIV/AIDS, penduduk ditanyakan apakah pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Selanjutnya penduduk yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang penularan virus HIV ke manusia (tujuh pertanyaan), pencegahan HIV/AIDS (enam pertanyaan), dan sikap apabila ada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS (lima pertanyaan). Penduduk dianggap berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS apabila menjawab benar masing-masing 60%. Untuk sikap ditanyakan: bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS apakah responden merahasiakan, membicarakan dengan ART lain, mengikuti konseling dan pengobatan, mencari pengobatan alternatif ataukah mengucilkan penderita. Tabel 3.133 menggambarkan persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan provinsi. Secara nasional, 44,4% penduduk sudah pernah mendengar tentang HIV/AIDS; 13,9% di antaranya berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS dan 49,3% berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS. Tiga provinsi yang penduduknya paling sedikit mendengar tentang HIV/AIDS adalah Maluku Utara (28,4%), Sulawesi Barat (29,3%) dan Nusa Tenggara Timur (30,2%). Dari yang pernah mendengar, yang berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS terendah adalah di Jawa Barat (6,2%), disusul Jawa Timur (6,6%) dan Banten (6,9%), sedangkan yang berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS terendah adalah Sulawesi Barat (29,0%), disusul Lampung (37,8%) dan Sulawesi Selatan (38,9%). Tabel 3.134 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan karakteristik responden. Pada umumnya, penduduk usia produktif (15-45 tahun) paling banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Menurut jenis kelamin, laki-laki umumnya lebih banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibandingkan perempuan. Secara umum, tampak adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS seiring dengan peningkatan umur. Dari segi pekerjaan, penduduk yang berpenghasilan tetap lebih banyak yang berpengetahuan benar tentang HIV/AIDS. Sedangkan dari segi tipe daerah, penduduk perkotaan lebih banyak yang sudah mendengar tentang HIV/AIDS dan berpengetahuan benar tentang pencegahan. Selanjutnya semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin baik pengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS.

197

Tabel 3.133 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi Pernah mendengar
44,3 55,2 42,0 55,3 46,0 34,5 49,2 43,2 52,9 71,1 67,8 45,1 42,5 57,4 40,5 41,7 52,1 33,9 30,2 46,6 40,5 44,3 59,2 58,6 38,5 35,3 35,6 33,7 29,3 45,7 28,4 56,4 51,3

Berpengetahuan benar tentang penularan*
17,9 17,1 16,5 14,3 19,5 21,8 10,6 7,2 8,7 17,4 9,2 6,2 12,2 9,4 6,6 6,9 12,8 21,4 29,2 17,7 10,9 7,8 13,3 12,5 7,1 13,7 14,8 14,1 16,1 26,6 15,9 37,1 45,0

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
41,0 40,6 46,6 45,1 40,3 40,4 39,8 37,8 44,5 53,9 61,8 61,2 60,0 64,9 53,6 49,3 61,8 52,7 50,6 46,7 46,1 46,3 47,8 51,9 44,2 38,9 41,0 40,5 29,0 54,9 46,8 53,4 59,9

NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Indonesia

44,4

13,9

49,3

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

198

Tabel 3.134 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik Pernah mendengar Berpengetahuan benar tentang penularan*
11,3 14,2 14,0 14,2 14,4 12,9 11,6 12,0 14,0 13,8 14,4 10,1 9,5 11,8 15,6 26,3 13,2 14,3 11,9 20,9 12,5 11,0 14,2 13,5 14,3 11,0 11,5 12,6 13,7 17,6

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
34,9 50,5 51,4 51,1 48,9 47,4 42,8 34,7 50,1 48,5 32,9 33,4 38,2 47,0 57,4 68,8 48,2 46,9 46,9 64,2 51,9 39,1 53,9 56,6 40,9 43,1 45,3 47,6 50,3 55,2

Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5

21,8 63,2 58,8 49,7 37,3 25,4 14,7 7,1 48,0 40,9 8,7 17,1 33,4 61,2 80,1 89,7 37,2 40,7 44,2 84,6 60,7 30,3 57,1 62,5 33,2 33,0 38,0 42,9 47,9 58,2

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

199

6 52.9 43. sebesar 89.9 64.8 87.1 61.0 24. Sedangkan melakukan konseling dan pengobatan merupakan persentase tertinggi.8 59.5 28.7 21.8 5.7 68.8 8.9 10.4 82.3 67.4 85.1 90.2 85.6 63.2 86. Sulawesi Selatan (17.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi.3 91.8 23.6 58.9 13. Secara nasional.1 38. penduduk yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan apabila ada ART yang menderita HIV/AIDS sebesar 34.9 44.0 83.5 75.1 59.7 88.6 6.3 5.1 60.7 62.3 57.9 89.4 58.7 76.9 5.2 5.4 67.4 79.2% dan 6.0 51.3 65.1 55.7 63.3 72.7 37.2 64.9 29.1 2. 200 .5 3.3 12.2 63.8 64.8 26.7 57.5 24.2 5.8 5.2 6.3 35.6 6.6 90.0 5.9 92.6 34.9 59.2 69.0 51.9 85.0 58. Provinsi-provinsi yang penduduknya bersikap baik (sedikit yang merahasiakan dan mengucilkan) adalah Sulawesi Barat (12%).4 56.8 20.5 88.3 64.7 87.0 83.9 34.5 57.8 30.3 70.3 64.3 5.1 19. Riskesdas 2007 BicaraProvinsi Merahasia-kan kan dgn ART lain NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 33.5%) dan Sulawesi Tengah (18.8 67.Tabel 3.3 50.1 89.7 90.0 88.3 5.2 78.8 50.9 93.4 65.2 67.0 76.7 58.4 85.7 24.135 di atas memperlihatkan persentase penduduk di atas 10 tahun menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan provinsi.0 76.3 89.2 73.6 9.3 30.1 5.3 29.5 48.6 6.8 67.3 15.7 76.8 61.4 28.8 34.9 8.1 93.5 51.0 87.5 48.1 43.0 8.1 5.8 60.3 Tabel 3.7 10.0%.1 5.5 92.2 66.7 93.7 23.2 87.7 68.3 62.8 60.7 5.7 95.3 7.9 76.7 23.7 89.0 5.4 3.5% (masing-masing 28.7 70.3 57.4%).1 71.7 85.8 27.8 19.4 Mengucilkan Indonesia 28.3%).7 8.7 60.4 54.1 4.5 6.2 62.2 5.1 74.4 7.9 Cari pengobatan alternatif 60.2 75.5 6.9 55.4 6.2 87.3 Konseling dan pengobatan 84.3 26.2 62.0 62.3 40.

1 Tidak tamat SD 28.4 6.8 59.3 6.7 5.1 6.2 59.1 Tamat SMP 29.6 89.3 87.6 6.4 71.3 6.8 68.0 Konseling dan pengobatan 79.4 60.3 6.5 Kuintil-2 28.9 87.6 6.9 6.2 69.0 70.0 Jenis Kelamin Laki-laki 28.4 25-34 28.1 60.4 6.7 86. Tabel 3.6 53.5 58.2 5.1 90.1 74.9 6.8 90.0 78.3 5.7 Wiraswasta 28.7 Pekerjaan Tidak bekerja 29.9 63.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 27.9 6.1 76.7 Kuintil-3 28.2 6.7 81.9 62.0 Perempuan 28.6 67.7 64.3 90.0 60.5 Pendidikan Tidak sekolah 30.1 69.3 52.6 50.4 15-24 30.6 70.8 5.0 201 .0 55-64 25.3 Tamat SMA 28.6 6.4%).8 7.4 69.7 60.6 91.5 91.9 86.6 69.9 57.8 74.7 59.8 58.0 70.0 Tamat SD 28.2 Kuintil-4 28.6 71.0 Tamat PT 26.7 58.7 57.2 59.7 69.7 72.8 78.1 66.9 93.2 94.3 6.8 6.3 56.136 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.4 72.Sedangkan provinsi yang penduduknya bersikap baik dalam hal akan melakukan konseling dan pengobatan adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah (masing-masing 93.9 87.4 45-54 27.6 89.5 6.6 59.7 5.0 68.1 Cari pengobatan alternatif 49.4 5.3 56.6 6.5 90.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 29.5 Mengucilkan Kelompok umur (tahun) 10-14 29.5 Tipe Daerah Perkotaan 28.5 86.6 64.0 6.1 35-44 26.4 60.6 6.7 85.6 55.4 89.5 61.9 Perdesaan 27.9 7.8 58.2 77.7 57.6 56.1 92.5 6.9 58.0 52.2 66.7 6.3 Sekolah 29.7 89.8 Ibu RT 28.9 71.3 88.5 Lainnya 26.1 Petani/Nelayan/Buruh 27.8 65-74 25.8 88.8 75+ 24.3 Kuintil-5 27.7%) dan Bangka Belitung (93.0 85. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Merahasiakan Bicarakan dengan ART lain 58.5 88.9 85.3 89.5 6.9 58.7 69.5 59.3 56.7 55.

Dari segi pekerjaan. sebelum menyiapkan makanan. perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan semakin tinggi.136 menggambarkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan karakteristik responden. tetapi tampak menurun lagi pada umur 55 tahun ke atas.138 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut karakteristik. namun hanya 23.1% berperilaku benar dalam hal BAB.6%) adalah provinsiprovinsi yang perilaku cuci tangan benarnya rendah.1% dan 18. Tabel 3.2% yang berperilaku cuci tangan benar. Provinsi Sulawesi Barat (57.2%) dan Sumatera Barat (59. dan 27. DKI Jakarta menduduki tempat tertinggi untuk perilaku baik dalam hal BAB dan cuci tangan. Mencuci tangan yang benar adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. Semakin tinggi usia semakin berperilaku benar dalam BAB dan cuci. demikian pula dengan penduduk perkotaan.8%). setelah menceboki bayi/anak.4%). Secara nasional. petani/buruh/ nelayan memiliki persentase perilaku baik BAB dan cuci tangan terendah (56.4%). Dari aspek pekerjaan. Perilaku BAB yang dianggap benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban. 202 . 3. Semakin tinggi pendidikan. Tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan.7. yang tidak memiliki pekerjaan relatif lebih banyak yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan anggota keluarganya yang menderita HIV/AIDS. semakin muda umur penduduk semakin tinggi persentase sikap merahasiakan dan mengucilkan.6%).8% dibanding 18. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sikap merahasiakan dan mengucilkan. Menurut tingkat pengeluaran. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat (8.Tabel 3.6 Perilaku Higienis Perilaku higienis yang dikumpulkan meliputi kebiasaan/perilaku buang air besar (BAB) dan perilaku mencuci tangan. Gorontalo (59. Sumatera Utara (14.3%) adalah provinsi-provinsi yang perilaku BAB benarnya rendah.5%) dan Riau (14. sebesar 71. Persentase perempuan yang berperilaku benar dalam BAB dan cuci tangan lebih tinggi dari laki-laki (berturut-turut 71. Penduduk perkotaan berperilaku baik lebih tinggi dari perdesaan. Tabel 3. Sedangkan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi persentase perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan. semakin tinggi semakin kecil sikap merahasiakan dan mengucilkan ini.137 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut provinsi. dan setelah memegang unggas/binatang. setelah buang air besar. Menurut pendidikan. Menurut kelompok umur.9%.2% dibanding 70.

4 43.0 98.2 72.8 38.7 71.6 29.3 25.0 23.0 81.2 25.9 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 16.1 23.2 59.5 30.9 73. dan setelah menceboki bayi/anak.7 67.3 84.6 60.3 59.0 36.4 14.3 68.4 20.2 57.9 29.3 44.1 59.9 20.9 68.1 69.7 27. dan setelah memegang unggas/binatang.4 63. Riskesdas 2007 Provinsi Berperilaku benar dalam hal BAB* 61.2 86.6 18.3 68.0 68.2 89.4 82.7 59.9 83.0 14.9 17.6 76.9 22.1 72.Tabel 3.8 72.9 18.8 24.0 30.2 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.2 59. sebelum menyiapkan makanan.4 15.5 73.5 35.8 26.6 14.0 65.7 60.5 19. setelah buang air besar.9 15.137 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.5 8.1 32. 203 .3 80.2 20.1 32.3 24.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 71.6 79.

8 24.6 26.1 71.7 88.7 69.8 18.2 23.0 70.6 69.9 94.9 73.9 30.6 19.8 29.6 75. dan setelah memegang unggas/binatang.7 58.7 28.7 19. dan setelah menceboki bayi/anak.Tabel 3.7 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.1 18.4 71.1 18.3 70. sebelum menyiapkan makanan.4 27.5 22. setelah buang air besar.6 23.0 21.8 17.2 52.138 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.9 20.6 21. Riskesdas 2007 Berperilaku Karakteristik responden benar dalam hal BAB* Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 68.8 72.3 83.8 24.7 93.1 14.9 24.1 65.1 18.1 25.8 89.4 22.6 68.4 59. 204 .8 76.7 31.5 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 17.4 24.0 64.2 59.1 77.6 73.5 68.8 84.7 56.9 71.2 72.0 36.8 19.4 27.

2 80.8 3.3 76.1 1.3 15.6 6.0 2.4 86.9 1.1 71.1 0.4 1.8 Indonesia 65.5 58.7 Dipang gang 5.3 15.9 5.1 1.1 13. berlemak.5 5.8 19.5 8.8 17.6 6.8 7.4 2.4 21.6 10.1 59.6 84.4 60.3 83.2 3.4 23.5 19.5 28.0 0.7 31.5 85.7 5.3 21.8 11.6 13.7 3.8 14.8 71.0 Penyedap 33.9 69.8 54.3 11.7 4.8 39.9 69.5 19.1 20.8 52.2 Jeroan 3.5 45.5 12.2 86.4 4.3 16.8 205 .0 1.3 21.6 2.8 18.7 1.2 27.0 5.7 18.4 35.6 86.6 4.5 79.7 90.0 18.6 70.7 40.6 7.3 85.8 23.2 5.4 8.4 16.7 8.3 71.2 2.1 4.8 4.4 44.2 15. makanan dibakar/panggang.2 7.8 63.4 84.9 7.0 2.1 22.6 47. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Manis 69.5 89.3 9.6 55.6 2.5 6.6 61. berkafein.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko Penduduk yang “sering” makan makanan/minuman manis.6 74.8 4.3 87.9 27.1 6.9 59.2 24.0 4. makanan minuman makanan penduduk Tabel 3.0 68.2 3.9 29.3 29.3. jeroan.5 77. dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi berisiko.4 7.5 44.0 79.7 1.8 1.4 2.8 19.4 2.3 72.5 4.2 Asin 22.5 82.9 60. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari.6 24.5 2.9 30.1 56.2 1.1 3.0 4.6 23.2 11.7 47.6 24.3 1.5 89.4 14.6 38.5 4.5 2.0 3.0 8.9 13.1 25.1 4.8 12. makanan asin.2 11.9 6.6 23.3 58.1 74.2 78.0 3.9 65.1 10.7 47.0 31.1 90.5 92.4 8.6 1.7 52.2 43.2 5.6 4.2 87.0 8.6 43. makanan yang diawetkan.1 72.8 5.8 73.2 1.6 77.0 29.8 2.0 39.7.4 5.2 68.4 35.1 64.2 59.4 83.8 2.3 3.8 Berle mak 15.3 41.6 1.4 8.6 9.3 84.9 83.2 10.2 11.8 34.4 1.0 6.3 5.6 30.6 67.7 3.7 85.7 7.0 4.2 34.0 79.9 7.9 1.6 2.3 19.6 45.2 9.4 3.6 5.7 15.5 1.0 Diawet kan 6.1 9.9 2.5 5.2 9.2 4.9 79.0 76.6 2.9 8.9 4.2 10.1 9.3 5.9 38.3 7.2 81.0 46.4 2.6 2.6 68.2 19.3 57.4 3.4 7.7 28.2 8.6 24.9 Berka fein 45.3 10.2 1.3 2.2 30.1 21.2 62.0 75.8 27.139 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Provinsi.7 2.1 4.7 24.2 50.7 17.1 9.7 14.7 4.5 25.3 36.1 55.8 89.

5 11.6%) dan terendah di Provinsi Sulawesi Tengah (5.6 5.5 25.7 36.0 4.3 Diawet kan 8. tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (92.8 1.7 42.6 39.4 Tamat SD 64.3 78.1 12.8 4.4 5.7 5.7 4.8 3.8 37.8 1.4 Pendidikan Tidak Sekolah 57.3 6.4 4.3 3.4 15-24 65.0 36.7 46.140 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.1 39.5 46.8 11.9 2.6 26. tertinggi di Provinsi Gorontalo (25.5 21.8 Kuintil-3 65.3 37.9 6.0 Perdesaan 62.5 6.3 75.6 13.2 65-74 61.5 4.0 5.6 7.8 1.4 35.7 62.6 31.5 24.9 Jenis kelamin Laki-Laki 67.5 Perempuan 63.6 14.4 25-34 66.9 78.0 Tipe daerah Perkotaan 69.1 24. tertinggi di Provinsi Bali (62.1 1.3 6.1 2.5% penduduk secara nasional.2 5.7 6.1 5.6 26.9 45-54 66.2 77.4 43.5 Tidak Tamat SD 62.6%) dan terendah di Provinsi NAD (33.2 78.5 13.2 24.5 Berka fein 16.6 6.3 35.2%).1 35.8 65.8 63.1 78. tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan (41.8 24.4 Kuintil-2 63.7 78.1 38.Tabel 3.5 78.6%). tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (83.3 28.4 12.4 24.7 32.5 76.2 79.6 4.4 13.1 5.5%.5 2.4 2.1 7.2 25.7 23.0 5.7%).7 1.3 12.0 4.8 Tamat PT 71.9 1.8 11. Sering mengonsumsi makanan manis dilakukan oleh 65.1 45.0%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (11.2 4.7 72.4 63.8% penduduk Indonesia sering mengonsumsi makanan berlemak.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 62.9 42.7 78.2% penduduk Indonesia yang berusia ≥10 tahun.1 2.4 62.8 12.6 4.4 66.0 71.3 6. Tabel 3.9 76.8 24.3 24.8 1.5 79.0 2.6 23.1 68.1 66. Riskesdas 2007 Karakteristik Manis Asin Berle mak 13.1 13.7 77.9 74.1 2.0 37.7 6.8 4.5 4.5 3.5 3.3 76.7 4.5 21.8% penduduk secara keseluruhan.5 25.1 24.5 206 . Sedangkan kafein sering dikonsumsi oleh 36.4 5.4 Kuintil-5 68.4 6. Secara nasional.3 6.4 68.7 2.9 55-64 63.2 2.9 12.3 1.0 75+ 60.7 5.8 77.1 Jeroan Dipang gang 5.8%) dan terendah di Provinsi Bangka Belitung (5.2 12.1 Tamat SMA 69.0 4. Penyedap sering dikonsumsi oleh 77.2 6.8 1.0 2.5 79.7 2. Sedangkan prevalensi sering mengonsumsi makanan asin secara nasional ditemukan 24.9 1.7 77.1 65.5%) dan terendah Provinsi Bali (44.5 77.9 1.0 Tamat SMP 66.7 35-44 66.9 11.2 78.8 5.6 6. 12.8 6.1 Penyedap Kelompok umur 10-14 63.2%).7 14.1 Kuintil-4 66.8%).9 21.0 4.139 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut provinsi.1 36.0 1.0 10.9 24.

8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Riskesdas 2007 mengumpulkan 10 indikator tunggal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)3 yang terdiri dari enam indikator individu dan empat indikator rumah tangga. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. Sedangkan untuk konsumsi jenis makanan berisiko lainnya pola prevalensi antara laki-laki dan perempuan hampir sama.7. kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (≥8m2/ orang).7%. dengan membuka jalur komunikasi. kepemilikan/ketersediaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. 3. melalui pendekatan pimpinan. dan rumah tangga dengan lantai rumah bukan tanah. yaitu rumah tangga dengan balita dan rumah tangga tanpa balita. Sementara pola prevalensi sering minum minuman berkafein. Indikator Rumah Tangga meliputi rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih.Tabel 3. dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan. Sedangkan untuk makanan yang dipanggang. Menurut umur.140 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut karakteristik responden. diawetkan dan penyedap makanan pola prevalensi menurut tingkat pendidikan nampak tidak beraturan. jeroan dan makanan yang dipanggang cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi. sedangkan untuk rumah tangga tanpa balita terdiri dari 8 indikator. Pola yang sama ditemukan untuk konsumsi penyedap makanan menurut umur. makanan berlemak. yaitu 3 Program PHBS adalah upaya untuk memberi pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan. Tabel 3. dan penyedap makanan nampak berbanding terbalik dengan peningkatan kuintil. dan makanan yang diawetkan ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. makanan berlemak. PHBS diklasifikasikan “kurang” apabila mendapatkan nilai kurang dari enam (6) untuk rumah tangga mempunyai balita dan nilai kurang dari lima (5) untuk rumah tangga tanpa balita. 207 . sehingga nilai tertinggi delapan (8). makanan berlemak. bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sedangkan perilaku sering minum minuman berkafein nampak meningkat sesuai peningkatan usia. Menurut tipe daerah. bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif. berlemak. Untuk rumah tangga dengan balita digunakan 10 indikator. Sedangkan pola prevalensi sering mengonsumsi makanan asin. demikian halnya perilaku sering mengonsumsi makanan asin. Secara nasional. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. Sementara untuk makanan asin dan minum minuman berkafein pola prevalensi berbanding terbalik dengan meningkatnya pendidikan. penduduk cukup beraktifitas fisik. namun setelah usia 55 tahun prevalensi cenderung menurun. Dalam penilaian PHBS ada dua macam rumah tangga. memberikan informasi dan melakukan edukasi. penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38.141 memperlihatkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS baik menurut provinsi. makanan asin. sehingga nilai tertinggi adalah 10. ekonomi. Terdapat lima provinsi dengan pencapaian di atas angka nasional. laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan minum minuman berkafein dibandingkan perempuan. Menurut tingkat pendidikan. untuk meningkatkan pengetahuan. Sementara pola prevalensi jenis konsumsi lainnya nampak tidak berbeda menurut tempat tinggal. perilaku sering mengonsumsi makanan manis cenderung menurun setelah usia 45 tahun. dan penduduk cukup mengonsumsi sayur dan buah. makanan dipanggang dan diawetkan. Indikator individu meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. penduduk tidak merokok. jeroan. sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat. minum minuman berkafein dan makanan dipanggang cenderung lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. keluarga. kelompok dan masyarakat. Menurut jenis kelamin. akses jamban sehat.

8 37.1 26.0 24.9 33.2 35.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.DI Yogyakarta (58.1%) dan Sumatera Barat (28.0 58.8%). Bali (51.8%).7 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 208 .9 32. Gorontalo (27. Tabel 3.8 30.2 45. Sedangkan provinsi dengan pencapaian PHBS rendah berturut-turut adalah Papua (24.7 47. Riau (28.2 28.9 34.8 29.4 37.2%).0 40.8 51.9% ).4 42.8 46.4 38.7 41.6 47.1 33.8 32.6 49.3 28.4%).9 44. dan Sulawesi Utara (46.8%). Nusa Tenggara Timur (26.8 28.3 33.0 33.8 33.7% ). Riskesdas 2007 RT dengan PHBS Baik 34.3 27.2% ). Kalimantan Timur (49. Jawa Tengah (47%).4 35.7 34.

7 55.2 91.2 94.9 92.0 86.5 28.2 23.5 22.5 95.5 93.0 Merokok*** Indonesia 93.6 96.3 46.7 52.9 91.2 39.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari 209 .2 92.5 96.8 97.4 20.6 20.9 83. Kurang Aktifitas Fisik.2 48.1 20.9 19.1 90.4 43.8 49.5 96.8 27.4 92.7 96.4 96.4 61.4 29.9 93.2 50.7 49.6 96.4 94.Tabel 3.8 60.3 42.6 24.2 23.0 23.8 91.7 96.6 48.4 49.1 21.9 19.8 20.7 91.9 43.6 94.9 94.1 40.8 27.3 89.6 48.8 24.2 57.1 87.6 22.3 52.0 23.2 45.4 53.8 48.1 25.3 44.1 19.1 45.8 26.5 96.2 21.1 47.6 47.3 25.4 24.1 91. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Kurang Provinsi konsumsi sayur buah* NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 95.7 Kurang aktifitas fisik** 53.4 24.1 20.5 25.7 24.6 24.7 92.3 25.3 23.7 23.4 97.142 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.1 54.4 96.7 47.8 24.1 54.0 44.4 44.2 22.3 46.

3 60.7 54.3 Tamat SD 94. kanker.5 4.8 29.0 15-24 93.8 52.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 94. Riskesdas 2007 Kurang Karakteristik responden konsumsi sayur buah* Kurang aktifitas fisik** Merokok*** Kelompok umur (tahun) 10-14 93.0 42.7 75+ 95. diabetes mellitus.2 45.9 35.3 49.0 Tipe daerah Perkotaan 93.6 Kuintil-3 93.0 55-64 93.3 48.6 26.0 33.0 45-54 93.8 30.4 38.7 Perempuan 93.1 43. penyakit paru obstruktif kronik).3 38.3 76.9 36.Tabel 3.6 25-34 93.6 47.3 27.0 35-44 93.4 Pendidikan Tidak Sekolah 94.0 24.0 Kuintil-2 94.6 Perdesaan 94.4 30.5 41. kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu) dan merokok setiap hari.1 29.4 30.4 42.9 2.5 34. 210 .4 53.4 37. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.4 55.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari Tabel 3.9 48.1 Jenis Kelamin Laki-Laki 93.5 38.5 Kuintil-5 92.5 Kuintil-4 93.143 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.7 58.6 44.3 Tamat SMP 93.9 47.5 29.6 Tamat SMA 92.5 65-74 94.9 Tidak Tamat SD 94.8 52.6 66. stroke.142 tabel 3.9 28.1 25.0 Tamat PT 90.6 34.0 57. yaitu perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari).143 di atas merupakan gabungan dari beberapa perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular.7 44.1 29.4 28.

211 . termasuk alasan apabila responden tidak memanfaatkan UKBM dimaksud. yaitu: 1. dokter praktek dan bidan praktek 2. posyandu.4%). Sulawesi Tenggara (10. DKI Jakarta (4.0% RT berada lebih dari 5 km.3.7%). Sulawesi Tenggara (13. Dengan demikian secara nasional.2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan. Papua (12.2%).1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor penentu.3%). Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit. pos obat desa. proporsi rumahtangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer. warung obat desa.4%). Papua (30. Sarana pelayanan kesehatan rumah sakit.9%). Tabel 3. Nusa Tenggara Timur (14. serta status sosial-ekonomi dan budaya.6%).5%).9%) Tabel 3. Berdasarkan tipe daerah.4%) dan Maluku (10. Daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30.1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari sarana pelayanan kesehatan dan hanya 6. Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67. Sulawesi Barat (17. Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3. Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi. sarana pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi dua. DI Yogyakarta (4. Nanggroe Aceh Darussalam (10.8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4.145 menyajikan informasi tentang jarak dan waktu tempuh rumahtangga terhadap sarana pelayanan kesehatan menurut karakteristik rumah tangga.8%). masih ada sekitar 9. antara lain jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan. Sulawesi Barat (14.8%). Kalimantan Barat (19.7%). Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.8. puskesmas pembantu.8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan 3. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23. puskesmas. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16. Untuk masing-masing kelompok pelayanan kesehatan tersebut dikaji akses rumah tangga ke sarana pelayanan kesehatan tersebut.144 menunjukkan bahwa sebanyak 94.0%).7%). dan polindes/bidan di desa. Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yaitu pelayanan poskesdes. Dalam analisis ini. Selanjutnya untuk UKBM dikaji tentang pemanfaatan dan jenis pelayanan yang diberikan/diterima oleh rumah tangga/RT (masyarakat). dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.

2 48.7 38.5 23.6 5.5 35.8 7.5 50.9 17.1 5.6 3.6 6.6 18.1 72.9 6.6 27.6 1.0 48.3 3.4 69.6 4.1 16.4 1.0 27.2 3.2 29.8 12.2 2.7 5.0 27.3 72.1 3.4 19.4 1.9 31.4 5.6 55.4 6.2 39.5 44.8 20.4 17.6 2.2 75.4 52.5 40.0 1.0 3.8 4.5 3.9 4.0 37.4 21. Dokter 212 .6 2.3 6.4 73.6 0.4 37.0 51.5 57.6 26.3 65.8 37.1 39.9 24.9 48.3 14.2 5.2 19.4 7.6 42.7 1.9 44.4 61.Tabel 3.2 72.8 0.6 41.6 9.2 10.0 76.7 7.5 2.2 46.2 16.6 12.3 7.4 5.5 58.5 48.3 3.5 10.4 52.8 52.0 1.9 6.6 46.2 45.0 57.9 49.6 50.8 28.8 55.0 4.7 67.6 6.8 10.5 1.6 2.7 6.8 7.6 31.6 24.1 31'-60' 9.4 27.4 58.6 4.1 0.2 5. Puskesmas.9 50.4 8.9 11.8 4.4 0.3 44.0 76.2 16.5 73.2 50.0 2.0 22.5 52.4 47.7 > 5 KM 10.7 46.0 4.5 3.7 44.4 54.6 74.2 19.0 69.9 6.6 19.9 20.6 4.9 7.6 24.8 14.1 66.4 47.3 66.5 3.5 3.8 6.0 52.6 3.7 4.3 16'-30' 31.1 47.7 0.7 *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.9 3.6 6.7 47.0 20.6 >60' 3.4 7.4 1.4 7.8 37.7 2.3 4.0 65.9 10.7 36.4 47.3 2.6 47.8 25.9 35.4 1.2 3.4 4.7 2.3 3.5 79.8 36.0 48.144 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.2 2.0 Indonesia Catatan: 47.1 51.3 41.4 74.7 76.7 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 55.4 50.6 1.2 69.1 60.8 36.6 57.1 6.7 40.9 58.2 22.4 44. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.6 6.3 24.8 42.0 54.7 7. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua JARAK KE YANKES < 1 KM 27.5 KM 61.3 23.5 20.2 23.5 45.6 64.5 43.3 17.1 6.8 14.2 64.3 7.7 45.0 54.3 5.7 22.3 75.0 72.7 52.4 8.0 67.6 40.5 70.6 1 .8 23.8 1.8 30.1 0.5 69.

9 78.5% berjarak 1-5 km dari UKBM.5 25.6 Puskesmas Pembantu.7 43.146 menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM. Poskesdes. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 58. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85. Praktek dan Bidan Praktek ) 43.8 26.6 9. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.6 39.3 1. (Tabel 3.5 6.4 47.0 JARAK KE YANKES < 1 km 1 .8 48.5 48.0 67.1 2.6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Berdasarkan tipe daerah.4 74.1 60.5 2.3 3. Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM.4 64.4 45.7 48. Dari segi jarak.3%).4 8.Tabel 3.6 2.1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit.4 6.8 52.6 4.1 69. dan 3.6 5.5 7.8 4. tertinggi adalah Provinsi Papua (15.4 26. Dokter Tabel 3. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.0 61.3 18.4%).8 40.4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak. Puskesmas. nampak bahwa 78.0 46.1 5. disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11.145 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.6 6.3 23.7 8. proporsi rumah tangga dengan jarak ke UKBM >5 kilometer.1 0.3%) dan Riau (5.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat Pengeluaran rumahtangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Catatan: * Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.5 1. dan Polindes.8 22. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 3.2 7. Sebanyak 11.6%).5 19. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6.147) 213 . dan semakin singkat waktu tempuh ke UKBM.5 4.8 45. meliputi Posyandu.9 50.

5 1.0 84.5 0.1 9.9 4.2 93.3 80.7 88.4 3.4 0.7 89.4 0.9 11.0 0.8 0.3 16.6 0.1 18.9 8.9 4.3 82.9 83.1 1.0 3.1 7.6 8.2 4.4 1.6 0.9 29.7 80.4 0.4 16'-30' 14.5 76.1 79.9 1 .5 6.9 11.7 2.0 2.1 81.6 0.3 15.0 7.2 0.8 1.3 22.5 3.1 68.0 5.2 6.9 0.4 18.0 16.8 12.5 14.6 93.9 86.4 1.2 27.9 7.9 1.5 74.Tabel 3.2 0.8 29.3 93.3 20.7 88.1 15.2 24.2 13.3 0.1 1.5 21.7 1.5 91.4 2.9 69.5 9.4 7.4 2.6 83.9 15.6 64.9 28.9 1.8 90.7 5.6 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 80.5 85.4 1.5 1.0 4.5 1.3 1.4 8.2 23.5 90.7 13.7 0.1 91.3 2.0 11.6 19.0 86.2 7.8 15.4 >60' 2.2 8.1 0.6 72.1 1.6 70.3 6.9 9.0 9.5 0.7 85.8 2.6 0.1 1. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia JARAK KE YANKES < 1 km 69.6 3.4 2.8 22.9 0.5 23.7 31.8 86.3 73.6 2.1 1.7 20.7 3.7 1.146 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi.9 24.5 0.5 1.4 92.3 2.6 2.2 1.2 74.4 2.3 78.2 0.1 0.3 13.4 0.0 3.2 1.7 3.7 6.4 87.6 0.0 81.3 17.1 0.0 16.6 82.3 7.0 88.7 0.3 2.7 11.7 1.7 1.3 24.3 78.6 68.8 67.1 31'-60' 3.8 27.4 12.6 1.7 75.4 1.9 92.9 77.5 2.8 0.1 0.9 86.2 0.6 66.5 km 27.7 9.1 2.2 66.1 3.3 1. Poskesdes.3 0.5 0.6 74.8 79.5 9.3 88.3 13.8 2.5 25.8 2.2 1. Polindes 214 .3 21.1 84.2 83.3 8.6 1.5 0.2 *) UKBM meliputi Posyandu.5 1.9 76.1 84.5 > 5 km 3.0 14.7 83.9 5.4 0.3 91.1 3.7 81.2 16.2 79.7 90.2 74.1 9.7 22.2 87.6 6.4 1.6 0.3 2.1 75.4 1.3 88.9 89.4 21.2 8.9 2.0 62.0 87.

Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 88.4 1.8 78.5 19. Provinsi dengan persentase rumah tangga memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (42.6 1.6 17.8%) dan Jawa Barat (5.0 85.4 2.5 1. nampak ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin kurang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes. seperti tidak ada anggota rumah tangga (ART) yang sakit.1 1. di Indonesia sebanyak 27.4 18.149 menggambarkan pemanfaatan posyandu/poskesdes berdasarkan karakteristik rumah tangga. Polindes Tabel 3.3% rumah tangga.2 81.5 12.8 2. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/ poskesdes tertinggi adalah Provinsi Maluku (20. sedangkan terendah di Provinsi Jawa Tengah (5.4 0.7 13.7 77.147 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.0 1. Secara keseluruhan.7 1.8 81.5 21.9%).6 88.3% rumah tangga memanfaatkan pelayanan di posyandu atau poskesdes.9 11.1 1.0 1.4 24.1 2.7 86.6 1.2 73.7 JARAK KE UKBM < 1 km 1 .9%) dan Nanggroe Aceh Darussalam (19.9 79.4 2.1 6. memberikan gambaran persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu atau poskesdes di tiap provinsi selama tiga bulan terakhir.148.Tabel 3.8%).9 10. Tampak bahwa persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan.8 0. Sedangkan yang sebetulnya membutuhkan tetapi tidak memanfaatkan posyandu atau poskesdes adalah sebanyak 10.5 km > 5 km <15' WAKTU TEMPUH KE UKBM 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 76. tidak ada yang hamil atau tidak mempunyai bayi/balita.4 2.5% rumah tangga menyatakan tidak membutuhkan pelayanan di posyandu atau poskesdes karena berbagai alasan. Bila ditinjau dari tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 1.1 82.1 3.4 9.9%) dan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (19.4 92. Poskesdes.8 1.1 11.0 *) UKBM meliputi Posyandu.7 3.3 84.3 20.9 10. Sebanyak 62. 215 .7%).5 0.

4 7.0 11.4 10.9 6.5 10.5 61.5 13.2 11.4 27.4 70.2 12.0 23.8 18.2 26.3 25.0 27.8 11.2 31.8 22.8 25.8 33.1 66.8 31.148 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.5 16.4 68.8 7.7 36.9 9.8 54.9 30.4 25.4 68.0 6.9 7.4 24.6 67. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.1 60.7 23.2 11.6 20.2 13.4 56.7 64.9 69.8 26.4 19.4 28.8 5.0 26.4 8.1 19.8 30.9 5.0 7.5 28.9 5.6 22.2 17.3 58.6 58.4 61.7 11.6 66.3 Alasan lain Indonesia 27.3 48.2 64.3 15.1 62.9 58.0 8.9 33.4 51.7 65.1 28.5 57.2 60.4 11.3 216 .3 42.4 59.Tabel 3.3 62.7 67.3 68.8 20.9 27.0 55.7 27.7 52.6 50.0 30.6 12.3 42.5 60.5 22.6 12.4 25.5 64.8 23.3 11.0 64.1 7.9 27.

151 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.1 10.3 29. imunisasi.7%) dan pelayanan KB (28. Sebaliknya untuk pelayanan pengobatan dan konsultasi risiko penyakit semakin tinggi tingkat pengeluaran.0 27. imunisasi.1 66.1 58.9 18. Tabel 3.7 8.1%). Hampir separuh rumah tangga (49.4 31. Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi menjawab ’layanan tidak lengkap’ adalah DI Yogyakarta (88.5 54.3%. PMT.3 Tabel 3. semakin banyak yang menerima pelayanan tersebut. Tampak secara keseluruhan di Indonesia jenis pelayanan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga adalah penimbangan (85. yaitu masing-masing 26.0 71.4 66.1 10. penyuluhan.6%) tidak memanfaatkan pelayanan di posyandu/poskesdes karena dianggap tidak lengkap. Untuk alasan ’letak posyandu/poskesdes jauh’ tertinggi di Provinsi Riau (52. PMT dan suplemen gizi.150 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir.8 62. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga. Sedangkan pelayanan KB dan pengobatan di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan. semakin sedikit yang menerima pelayanan penimbangan.8 11.152 menggambarkan alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir (di luar yang tidak membutuhkan). Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 24.6%) dan terendah adalah Papua Barat (17.6%).1% dan 24.0%) dan imunisasi (55. Pada rumah tangga yang sebetulnya membutuhkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir tetapi tidak memanfaatkan diminta untuk menyebutkan alasannya.3 10.1 10. dan suplemen gizi lebih banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga di perkotaan daripada di perdesaan.149 Persentase Rumah Tangga Menurut Pemanfaatan Posyandu/Poskesdes dan Karakteristik Rumah Tangga.9 59.3 23.4 10.8%). Sedangkan yang menjawab letak jauh dan tidak ada posyandu persentasenya hampir sama.2 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Per Bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 35. Hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan posyandu/poskesdes untuk konsultasi risiko penyakit (13. Menurut tipe daerah.4%) dan terendah di 217 . ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. untuk pelayanan penimbangan.Tabel 3. Tabel 3.

7 30. Riskesdas 2007 Penimbangan Penyuluhan Imunisasi Pengobatan Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit Provinsi KIA KB PMT NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92.5 25.7 39.0 64.7 25.8 55.6 24.5 41.2 50.2%).0 11.4 33.9 78.5 42.8 52.5 67.9 58.0 24.3 60.8 58.5 16.6 80.9 55.4 14.7 24.2 54.9 61.5 56.9 45.9 25.4 51.6 25.2 17.0 78.5 40.3 33.7 37.1 36.2 27.4 32.2 46.7 14.3 33.2 60.9 46.0 34.3 94.0 43.5 91.7 46.2 80.2 10.3 65.8 55.0 22.0 53.0 34.1 62.6 25.2 32.Provinsi DI Yogyakarta (5.9 36.2 42.8 59.8 74.4 46.4 42.7 28.1 90.1 48.9 68.6 12.7 42.2 84.3 29.0 82.2%).0 30.8 37.5 32.1 9.9 34. di perkotaan alasan ’jenis layanan posyandu/poskesdes tidak lengkap’ lebih mendominasi. Berdasarkan tipe daerah.0 51.7 20.3 28.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (6.3 85.6 42.2 22.0 47.3 49.3 23.5 34.2 23. Tabel 3.5 17.6 35.1 34.2 20.7 28.7 Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa adalah Provinsi Sumatera Barat (34.2 33.9 48.6 41.2 20.8 41.9 72.0 44.9 60.8 9.1 83.4 59.7 37.1 43.8 30.8 56.6 17.6 27.5 71.9 40.1 18.4 67.5 31.6 62.3 38.2 8.2 48.9 43.7 24.6 85.3 46.2 11.0 10.7 79.1 10.6 30.2 80.7 88.8 51.1 67.9 28.5 70.7 47.2 95. sedangkan di perdesaan alasan yang banyak dipakai adalah ’letak jauh’.4 55.4 88.0 40.7 16.6 30.2 35.9 94.2 15.5 37.2 60.4 26.9 52.8 64.7 76.3 56.0 23.3 40.4 37.2 27.6 55. Ketidakberadaan posyandu / poskesdes disebut sebagai alasan untuk tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes oleh rumah tangga dengan persentase yang tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan.9 33.1 50.2 26.0 24.0 32.4 53.0%) dan terendah DKI Jakarta 218 .5 46.3 28.7 37.8 38.1 52.1 54.5 47.4 31.3 27.1 58.2 48.5 81.3 29.9 52.3 61.0 24.9 54.6 31.8 28.3 50.9 56.0 24.0 40.5 32.1 30.7 13.0 25.7 37.1 93.2 36.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.7 39.5 78.5 46.4 27.4 49.0 14.3 40.1 39.7 9.2 54.6 50.0 56.2 32.2 34.9 28.9 58.9 38.1 27.9 46.4 53.6 27.2 46.9 35.7 92.1 18.6 38.3 36.9 15.2 25.8 33.6 28.9 30.4 50.5 89.9 32.9 24.5 14.1 52.9 22.5 33.4 46.3 45.4 37. sedangkan untuk alasan ’tidak ada posyandu/poskesdes’ tertinggi di Papua Barat (71.5 51.9 35.0 36.7 22.5 28.1 55.9 34.2 9.6 77.2 24.9 64.3 25.5 30.8 34.3 10.5 12.8 46.6 16.4 35.9 48.1 88.8 92.7 33.1 46.2 22.4 47.2 55.2 36.153 menggambarkan alasan utama (di luar tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan posyandu/poskesdes menurut karakteristik rumah tangga.6 62.5 27.3 37.3 12.5 85.6 59.1 40.2 47.7 31.1 46.9 19.3 25.1 89.4 16.8 96.3 69.2 60.7 28.0 39.5 49.2 50.7 37.7 56.1 27.8 29.2 11.3 51.2 98.3 59.7 39.0 20.6 12.7 32.2 35.0 62.7 54.7 49.6 68.5 13.6 42. Tabel 3.

2 29.9 36.4 44.8 30.9 15.5 40. Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang tidak memanfaatkan dengan alasan lain (diluar tidak membutuhkan) adalah Provinsi Papua (55. Secara keseluruhan lebih dari separuh rumah tangga. Tabel 3.1 53.2 58.5 48.6 Kuintil 4 83.(6. tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.7 43.1 28.3 219 .4 43. sedangkan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (13.6 30.6 30.0 28.0%) dan Papua Barat (54.8 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Kuintil 1 87.9 40.2 51.7 37.151 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.8 46.4%).7 26.0 47.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (15.8 33.7 30.3 35.5 45.5 39.1 46. Tabel 3.6 42.1 44.7 52.5 Kuintil 3 84. Untuk alasan tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.3 13.6 29.4%).2 56.155 menggambarkan pemanfaatan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.4 13.4 Perdesaan 82. Riskesdas 2007 Tipe Daerah Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit 13.6%).0 37. sedangkan terendah adalah Provinsi Papua (30.2 30. baik yang tinggal di daerah perdesaan maupun perkotaan.1 54.2 36.8 42.7 13.9 39.7 43.6 Kuintil 2 85.3%). Provinsi Gorontalo menempati persentase tertinggi (76.6 25.7 12.0 45.2 49.2 35.6 47.3 30.7%).8 30.2 39.2%). Sedangkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa di perdesaan (25.7 35.7 Tipe Daerah Perkotaan 89.6 55.7 Kuintil 5 81.6 27.5 14.

3 10.2 41.6 39.8 58.1 39.1 24.2 8.1 23.5 13.0 52.2 20.5 49.7 18.7 26.1 42.6 32.6 50.6 12.4 70.Tabel 3.7 50.9 44.4 43.4 16.0 6.2 88.1 17.3 20.1 44.2 24.4 11.3 37.0 37.6 16.0 34.5 30.2 52.1 56.7 62.1 posyandu 20.9 61.0 20.3 Layanan tdk lengkap 63.4 23.5 50.8 25.6 60.4 35.0 17.8 51.2 46.0 17.8 17.5 21.2 29.8 5.6 31.9 19.6 18.9 16.5 47.7 71.5 22.3 43. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Provinsi posyandu/poskesdes Tdk ada Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 16.1 25.9 14.3 12.8 29.6 38.6 19.4 8.4 6.3 10.1 24.4 26.6 220 .2 66.8 27.8 9.7 54.9 39.7 26.0 50.7 32.1 22.2 19.1 51.4 38.0 10.7 69.9 38.2 22.6 55.152 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.5 25.4 36.8 67.7 37.6 33.9 38.9 27.5 60.6 30.3 8.

153 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dan semakin banyak yang tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan desa.4 44.7 25.3%).2 posyandu/poskesdes Tdk ada posyandu Layanan tdk lengkap Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 33. Pemeriksaan kehamilan tertinggi dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (97.1%) dan terendah Bengkulu (17. pemeriksaan bayi/balita terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (69.5%).3 52.3 31.0%) dan terendah di Bengkulu (11. Menurut provinsi. yaitu pelayanan KIA dan pengobatan. Dari rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir. pemeriksaan ibu nifas. pemeriksaan neonatus. Untuk pelayanan KIA.0 Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran.3 24. 221 . Jenis pelayanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pengobatan (82. Adapun pelayanan KIA yang terbanyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan bayi/balita (29. disusul pemeriksaan kehamilan (22. jenis pelayanan yang diterima dapat dikelompokkan menjadi dua. dan pemeriksaan bayi/balita.9 24.8 22.1 24.6 22.8 18.7%).7%). Pertolongan persalinan terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Jambi (42.156 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan provinsi. persalinan.7 44. Tabel 3.9%).2%).4 60.1%) dan terendah di DKI Jakarta (56. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan persalinan.6%).8 41.9 59.9 50. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Letak jauh Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15. Pelayanan KIA meliputi pemeriksaan kehamilan.3 22.0 29.5 26.Tabel 3.1%) dan terendah di Riau (4. pemanfaatan polindes/bidan di desa sebagai tempat pengobatan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (90. pemeriksaan ibu nifas dan pemeriksaan neonatus masing-masing di bawah 10%.2 25.

0 45.3 48.4 24.2 45.3 50.9 23.8 21.2 31.7 27.2 16.9 52.0 52.5 51.3 9.5 23.3 8.4 62.8 34.3 51.3 38.8 41.8 21.9 9.5 24.1 26.9 30.2 50.8 20.9 25.9 64.4 57.2 19.9 25.6 56.8 46.7 18.6 20.3 26.5 45.3 76.0 39.154 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi.2 13.1 71.7 10.9 21.1 54.2 46.9 58.Tabel 3.4 45.6 22.5 30.3 24. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.8 54.4 25.1 27.4 43.3 6.1 19.6 23.4 56.0 14.3 19.5 63.7 22.8 14.8 13.2 45.2 29.9 19.5 45.8 8.3 42.0 Alasan lain Indonesia 21.7 22.2 50.7 25.7 67.0 34.0 19.4 21.4 34.2 222 .0 54.4 32.0 27.3 44.8 29.1 17.0 33.5 15.8 29.4 11.3 13.7 25.9 26.3 55.5 40.4 49.2 21.4 52.2 17.9 22.

2 25.8 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 24.6 25.1%).6 20.3 27. Tabel 3. dan ’layanan tidak lengkap’ (7.157 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan karakteristik rumah tangga.3%).Tabel 3.0 50.155 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.9%).5 54. Persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ’tidak ada polindes/bidan desa’ tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (77. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.1 Tabel 3. dan persentase terendah Provinsi DKI Jakarta (1.6 50. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa untuk pemeriksaan bayi/balita.5 22. nampaknya rumah tangga di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/bidan di desa untuk pelayanan KIA. Rumah tangga yang tidak memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir diminta untuk menyampaikan alasannya.8 24.2 25.3%). dan semakin meningkat yang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan. Sedangkan untuk alasan ’layanan tidak lengkap’ persentase tertinggi adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (26.7 52.8%) yang tidak memanfaatkan polindes/bidan desa dengan alasan ‘letak polindes/bidan di desa jauh’. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.9%).0 58.158 menggambarkan alasan utama rumah tangga (di luar yang tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut provinsi. Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi (23.6 24.8 16. sedangkan di perdesaan lebih banyak yang memanfaatkan untuk pelayanan pengobatan.9 25. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15. Menurut tipe daerah.1%).8 57.8 24. ’letak jauh’ (8. 223 .4 23.7 49. Alasan utama yang mengemuka meliputi ’tidak ada polindes/bidan di desa’ (39.5%) dan terendah Provinsi Bangka Belitung (2.7%) dan terkecil di Provinsi Jawa Tengah (15.

8 23.1 4.5 8.2 4.3 76.2 15.4 20.0 4.8 86.3 5.7 80.7 13.8 35.2 7.6 17.2 24.2 8.2 7.2 11.1 6.8 23.1 10.0 20.2 23.4 77.8 39.0 10.9 30.5 20.1 45.0 10.7 9.8 24.1 34.1 32.8 82.6 6.9 12.4 20.0 49.6 11.6 4.2 49.3 30.9 26.5 6.7 24.8 21.8 14.2 20.6 8.6 9.7 78.2 21.4 30.5 24.6 33.4 6.1 6.2 20.8 75.5 85.1 5.3 20.6 4.2 82.3 5.8 30.0 16.3 40.3 81.1 Indonesia 22.7 8.1 77.5 73.9 24.2 72.3 86.4 30.3 6.4 24.8 9.6 22.1 28.7 12.9 59.1 16.4 5.5 4.0 11.7 15.1 7.4 5.0 29.7 5.3 7.7 19.9 86.7 39.8 5.7 44.3 77.156 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.1 34.8 10.2 71.6 4.9 88.2 8.3 6.5 14.9 33.1 9.3 5.5 36. Riskesdas 2007 Pemeriksaan Pemeriksaan Persalinan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kehamilan 29.3 9.3 11.2 34.4 17.7 15.4 23.6 42.3 5.3 8.9 6.6 72.8 47.2 6.7 78.6 6.3 18.5 30.8 84.1 69.6 7.6 20.6 78.3 27.6 16.8 19.0 92.8 11.8 56.5 9.7 14.9 8.9 3.2 29.4 21.6 5.3 13.2 38.9 8.1 7.1 11.7 88.9 224 .0 16.1 40.2 10.9 26.6 22.6 17.3 24.4 77.6 17.8 19.2 15.8 6.8 23.4 25.5 15.0 48.7 5.5 25.9 97.5 38.8 27.1 7.7 72.7 6.6 79.8 18.6 85.1 80.8 11.7 29.6 25.2 10.6 16.7 20.4 4.1 42.6 9.8 10.5 78.2 20.6 84.1 80.Tabel 3.4 23.7 26.4 68.8 89.7 90.8 19.

3 9.8 33.1 83.2 83.8 Pemeriksaan Kehamilan Persalinan Pemeriksaan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 20.7 77.7 20.5 26. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. dan semakin banyak yang mengajukan alasan ‘pelayanan tidak lengkap’.5%).6 10. Sedangkan alasan ‘tidak ada polindes/bidan di desa’ lebih banyak ditemukan di perkotaan. semakin sedikit yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’.160 menyajikan informasi tentang pemanfaatan Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD) dalam tiga bulan terakhir. persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’ dan ‘layanan tidak lengkap’ lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.2 9.3%) daripada di perkotaan (8. Sedangkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD karena tidak membutuhkan tertinggi di Provinsi Riau (16.4%).4%) dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung (0.7 8.2 8.3 8.9 9.4 81.3 7. Secara keseluruhan sebagian besar rumah tangga (79.2 9.7 9.1 21.3 83.6%).0 32. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1 10. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan bahwa ada kecederungan.2 23. Kajian pemanfaatan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga tersaji pada Tabel 3.5 Tabel 3.161 Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD lebih banyak di perdesaan (11.8%) dan terendah di Lampung (0.157 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.0 8.8 9.8 9.2 8.159 menggambarkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan utama (di luar yang tidak membutuhkan) menurut karakteristik rumah tangga.9 84.9 30.Tabel 3.9 8.3 9. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 27.4 10.5 8.7 22. semakin tinggi pula persentase rumah tangga yang tidak membutuhkan POD/WOD. Menurut tipe daerah.9 26.2 8.2 27.5 25.7%).6%) tidak memanfaatkan POD/WOD. 225 . Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (24. sebaliknya untuk rumah tangga yang tidak membutuhkan lebih banyak di perkotaan (11. Tabel 3.2 28.5 10. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.0 83.

Riskesdas 2007 Alasan Lain Tidak Memanfaatan Poslindes/Bidan PROVINSI Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7.7 28.4 20.4 39.1 19.6 12.5 46.2 26.8 19.4 4.1 5.5 66.8 17.5 33.5 22.0 12.9 7.6 5.7 64.4 7.3 53.9 9.7 58.8 8.1 19.1 66.3 Layanan tdk lengkap 26.4 3.0 8.5 6.0 31.1 38.6 20.5 11.7 5.4 77.9 54.2 33.4 1.3 12.9 6.3 4.9 25.1 70.2 30.9 56.3 31.Tabel 3.2 2.2 10.5 29.9 39.0 36.3 24.3 48.9 18.1 57.1 6.5 17.8 13.6 53.3 27.3 53.7 64.3 10.9 58.1 10.9 7.5 12.2 4.9 7.6 43.9 226 .3 55.9 28.0 71.2 48.8 13.5 2.2 32.2 5.9 Lainnya 26.8 27.9 Tidak ada polindes/bidan 39.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.5 7.5 45.4 8.3 1.1 7.0 7.7 2.2 4.6 53.8 6.2 4.1 9.0 66.7 7.7 7.6 9.3 16.5 55.6 26.2 6.6 37.0 10.3 5.1 15.3 15.7 14.2 10.9 60.6 3.6 4.3 70.5 56.1 4.3 20.3 23.9 31.7 28.6 1.7 35.6 42.6 38.7 8.5 9.9 2.3 12.6 1.3 6.1 81.7 57.9 29.7 7.2 19.5 14.4 15.

5 9.8%) tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan utama ‘tidak ada POD/WOD’.1 9.159 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.9 43. dan DI Yogyakarta (0.5%) dan terendah di Lampung. Tabel 3.0 8.5 39. tertinggi di Provinsi Maluku Utara (7.9 7.0%).3 42.7 31.1 42. Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan untuk alasan ‘obat tidak lengkap’.8 5. Tidak tampak perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan dalam hal alasan utama untuk tidak memanfaatkan POD/WOD.3 Rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD diminta untuk menyebutkan alasannya. tertinggi di Provinsi Lampung (98.1%).0 38.0 45.9 6.1%) dan terendah di Lampung. 227 .2 39.4 12.163 menyajikan informasi tentang alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga.8 10. begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (masing-masing 0.0 47. Yang menyatakan alasan ‘tidak ada POD/WOD’.Tabel 3.8 49. Sebagian besar rumah tangga (94.1%).7 40.7 37.6 8. Kepulauan Bangka Belitung.4 7.8 7.9 46. Alasan utama terbanyak yang dikemukakan adalah tidak adanya POD/WOD.8 Letak jauh Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/BDD Tidak ada polindes/bidan Layanan tdk lengkap Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11. Tabel 3.6 39.3 7.2%) dan terendah di Papua Barat (90.162 menunjukkan rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan ‘letak jauh’ tertinggi Provinsi Riau (3. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 3.

5 10.1 66.1 79.1 5.1 80.6 86.Tabel 3.6 80.1 69.9 7.2 79.2 88.2 7.5 membutuhkan 11.7 10.6 13.0 Alasan lain Indonesia 10.3 10.1 9.7 74.0 85.2 13.0 15.1 77.4 11.5 14.5 84.4 21.5 10.5 76.1 90.6 228 .6 64.6 80.3 82.4 7.1 89.0 15.2 16.0 21.4 14.6 4.2 75.7 15.2 96.3 81.9 3.2 10.4 3.1 13.1 80.2 3.6 5.3 9.0 89.9 15.4 12.4 69.6 7.5 0.4 0.0 5.3 3.9 7.9 78.8 88.4 7.4 9. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Provinsi Nanggroe Aceh D.8 85. Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Memanfaatkan 24.6 6.8 11.9 4.1 5.7 6.8 10.9 85.4 0.0 18.6 10.4 17.6 7.6 8.1 11.6 12.2 11.0 5.5 12.2 3.2 85.6 6.1 88.0 3.7 4.2 71.9 4.3 76.7 8.160 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Provinsi.0 92.4 12.5 11.4 9.6 69.1 9.

5 79.7 79.7 Perdesaan 11. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tidak membutuhkan 11.3 12.161 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 10.4 Kuintil 4 10.2 9.2 10.2 Kuintil 5 9.1 9.4 79.3 10.Tabel 3.4 Alasan lain Tipe Daerah Perkotaan 8.8 79.5 80.9 Kuintil 3 10.0 79.6 78.4 Kuintil 2 10.6 229 .6 9.

8 96.8 2.2 0.0 3.1 0.5 0.8 89.7 3.5 2.0 3.5 96.4 Lainnya 1.3 0.8 96.0 1.0 7.3 0.5 Indonesia 1.2 98.6 93.7 4.0 2.5 Tidak ada POD/WOD 93.2 1.7 0.4 2.2 0.7 91.6 0.0 0.1 90.5 0.7 0.0 1.6 3.2 3.5 1.0 8.1 230 .1 0.4 0.9 96.4 2.5 7.2 0.1 0.2 97.2 0.5 0.5 0.0 2.2 95.5 0.7 0.0 96.3 5.5 98.6 0.9 4.3 96.0 97.1 0.5 91.0 2.7 0.2 2.0 97.3 89.1 97.9 94.8 1.4 0.8 3.9 98.6 2.5 2.9 2.2 0.2 93.4 2.2 1.6 0. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD PROVINSI Lokasi jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.8 98.0 1.8 3.3 0.8 1.6 93.1 0.5 1.0 0.3 2.5 0.0 0.8 0.6 Obat tidak lengkap 4.0 90.3 0.1 91.5 0.0 1.Tabel 3.1 96.6 93.1 3.2 2.5 0.8 1.1 0.1 3.1 1.0 96.2 1.2 0.0 3.3 2.7 90.7 1.3 0.8 1.6 0.9 3.4 0.0 94.1 5.7 2.162 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.2 0.1 1.4 1.5 0.3 4.8 2.0 0.5 1.3 96.7 8.1 92.

2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Salah satu tujuan sistem kesehatan adalah ketanggapan (responsiveness).Tabel 3. terdapat 11 provinsi yang persentase pemanfaatan di atas persentase nasional. Persentase terbanyak pemanfaatan RS Pemerintah untuk rawat inap di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua Barat yaitu masing-masing sebesar 5.8 94.1 1.0 94.1 3.4 3. Sumber biaya dibedakan menjadi sumber biaya sendiri/keluarga.9 1.9 94. di samping peningkatan derajat kesehatan (health status) dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (fairness of financing).2 Lainnya 3. Dana Sehat. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).0 Kuintil 4 1. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Karakteristik rumah tangga Lokasi jauh Tidak ada POD/WOD Obat tidak lengkap 0.0 0. Jamsostek. Demikian pula dengan pemanfaatan Rumah Sakit Swasta sebagai tempat rawat inap. Pihak-pihak yang menanggung biaya perawatan kesehatan tersebut bisa lebih dari satu.7 2.0 95.1%) kemudian disusul RS Swasta (2. Terdapat 16 provinsi dari 33 provinsi yang memanfaatkan RS Pemerintah sebagai tempat rawat inap masih di bawah persentase nasional. Untuk rawat inap (Tabel 3.0%). Sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 1.2 94. Dari data ini diperoleh gambaran tentang seberapa besar persentase rumah tangga yang telah tercakup oleh asuransi kesehatan. Pemanfaatan RS Swasta terbesar di Provinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara yaitu masing-masing sebesar 5.1 95.0 3. paling banyak masyarakat masih memanfaatkan RS Pemerintah (3. Seluruh penduduk diminta untuk memberikan informasi tentang apakah yang bersangkutan pernah menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir.5 Perdesaan 1.164). dan lainnya.5%.8.7 Kuintil 5 0. Asabri.9 2.9 1. dan JPK Pemerintah Daerah).1 1.9 Kuintil 2 1. Askes Swasta.0 1.163 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.2%. serta dari mana sumber biaya perawatan kesehatan tersebut.9 3. Mereka yang pernah rawat jalan maupun rawat inap diminta untuk menjelaskan dimana terakhir menjalani perawatan kesehatan.7 2.1 95.6 Tipe Daerah Perkotaan 0.0%.1 Kuintil 3 1. termasuk penggunaan Askeskin/SKTM yang salah sasaran. Pada bagian ini dikumpulkan informasi tentang jenis sarana dan sumber pembiayaan yang paling sering dimanfaatkan oleh responden Pembiayaan kesehatan meliputi untuk perawatan kesehatan rawat inap dan rawat jalan.9% dan 5.1% dan 5. 231 .0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1. Asuransi (Askes PNS.

0 93.3 0.1 0. Tabel 3.5%.2 0.3 0.1 1.1 0.9 2.0 0.0 0.6 0.0 Lainnya 0.1 0.5 0.0 0.5 0.0 0.0 0.0 0.0 0.7 5.1 0.6 0.5 1.7 3.0 0.9 0.4 Tidak rawat Inap 94.4 1.1 0.8 1.0 0.8 0.7 1.2 2.0 0.2 0.3 90.0 0.1 0. dan tempat praktek tenaga kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh 232 .2 0.5 1.2 1.1 0.2 0.1 94.9 0.0 95.8 3.6 0.1 0.2 0.0 2.3 0.1 0.2 0.1 0.1 0.6 0.0 0.6 1.0 0.8 91.8 5. RS Bersalin.6 0.1 0.4 0.8 3.9 0.1 4.7 4. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Pemerintah 2.0 0.2 0.1 0.4 0.1 Menurut tipe daerah (tabel 3.1 0.0 0.3 0.3 0.0 0.4 0.165).1 0.1 0.5 0.1 0.4 0.8 0.1 90.1 3.1 0.1 0.4 0.1 93.2 2.0 0.4 0.5 2.1 0.3 2.1 3.4 0.3 0.1 95.0 0.3 0.9 1.5 0.2 0.1 0.3 95.1 0.0 0.5 1.1 0.1 93.2 0.1 0.1 0.8 2.1 RS Swasta 1.4 1.1 0.2 0.0 0.9 2.1 94.0 5.0 0.8 3.0 0. RS Swasta.1 0.Puskesmas sebagai tempat rawat inap secara nasional menempati urutan ketiga setelah RS Pemerintah dan RS Swasta.7 0.0 0.2 95. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.0 0.9 91.4 2.0 0.2 95.0 0.1 0.8 94.5 0.9 95.4 0.2 0.1 0.5 0.0 0.8 0.1 5.7 0.0 0. terlihat bahwa RS Pemerintah.7 1.0 0.1 0.1 0.7 93.2 0.3 0.0 0.8 1.5 0.5 2.9 1.0 0.0 0.5 92.5 1.3 0.2 2.2 1.5 1.5 0.1 0.0 0.7 4.1 0.4 0.8 0.6 1.4 0.2 95.0 0.6 0.0 0.1 3.9 93.1 0.8 1.1 2.3 Batra 0.5 0.0 0.1 0.2 4.0 0.4 90.2 INDONESIA 3.7 0.3 3.4 3.8 0.2 0.1 0.1 Puskesmas 0.6 0.5 0.6 0.0 93.5 0.9 3.2 0.1 0.0 0.3 0.6 89.9 2.1 0.8 95.1 0.0 0.2 0.0 0.0 4.3 3.3 0.2 0.1 0.2 0.1 96.1 0.0 0.2 0.0 0.5 0.3 0.2 0.8 2.1 0.4 1.1 0.1 0.8 4.1 0.4 0.0 0.0 0.1 0.7% dan 2.1 0.2 0.9 0.9 92.8 0.8 0.5 0.8 0.1 3.3 91.1 0.7 Tenaga 0.2 0.7 RSLN 0.0 90.3 0.2 87. masing-masing sebesar 2.5 96.4 0.8 3.0 2.0 0.2 0.4 0.3 0. RS lain.0 1.164 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Provinsi.5 0.0 96.6 0.0 0.1 0.9 2.0 0.9 0.3 91.0 0.8 0.2 0.7 2.7 90.9 0.0 0.7 1.7 0.1 0.8 0.2 3.0 RSB 0.1 0.2 3.0 0.0 0.

Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Tempat berobat rawat inap RS Pemerintah RS Swasta RS LN RSB Puskesmas Tenaga kesehatan Batra Lainnya Tidak rawat Inap Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 4.8 0.3%).5 0.4 0.1 0.4 0.3 0.3 2.2 1.4 0.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.1 0.3 2.167 memperlihatkan bahwa menurut tipe daerah.4 0.4 2.1 0.4 1.5 0.3 3.1 0.0 0. semakin rendah tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askeskin/SKTM dan Dana Sehat. Tabel 3.9 3.8 0.0 0. Askeskin/SKTM dan Dana Sehat diperhitungkan sebagai ‘sejenis asuransi kesehatan’.1 0. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 94. Namun apabila dicermati masih ada sekitar 10% masyarakat yang mampu secara ekonomi (kuintil 5 dan 4) masih menggunakan Askeskin/SKTM.1 0. Askeskin/SKTM (14.4 4. kemudian berturut-turut disusul oleh pembiayaan oleh Askes/Jamsostek (15.1 0. sedangkan puskesmas lebih banyak dimanfaatkan masyarakat perdesaan. pembiayaan rawat inap oleh Askes/Jamsostek lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan.5 94.4 92.7 0.166 memperlihatkan bahwa sumber pembiayaan rawat inap secara keseluruhan untuk Indonesia masih didominasi (71.6 2.4 0. Sedangkan untuk pembiayaan rawat inap dengan memanfaatkan Askeskin/SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan.4 0.4 0. terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak perawatan inap yang dibiayai Askes/Jamsostek. Sebaliknya.3 1.6 0.1 0.5 90. maka sekitar 30% responden yang pernah rawat inap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah mempunyai ‘sejenis asuransi kesehatan’. Tabel 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 2.1 93.1 0.1 0.6 0.1 0.8 0. Pemanfaatan sarana lain tersebar hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.6%).0 0. tampak kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintan dan RS Swasta.8 0.1 90.5 0.1 0.4 0.0 0.masyarakat perkotaan. Kalau pembiayaan oleh Askeskin/Jamsostek.1 0.9%). dan Dana Sehat (2.4 0.1 1.9 0.0%) pembiayaan yang dibayar oleh pasien sendiri atau keluarga (out of pocket’). 233 .0 0.3 3.3 0.1 0.1 0.6 94.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.

3 18.5 68.5 17.0 15.Tabel 3.9 18.8 19.5 2.5 63.7 11.1 14.0 75.3 5.0 23.8 70.3 5.5 25.3 2.2 71.1 76.3 1.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.2 19.6 10.2 7.7 19.3 76.1 2.7 10.3 6.2 3.7 1.5 68.8 13.9 1.5 15.5 81.8 12.1 7.2 3.5 19.7 6.7 1.4 8.5 19.6 3.9 74.9 15.4 19.4 15. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 234 .4 0.8 5.4 12.3 Dana Sehat 4.9 23.1 19.0 59.0 Askes/ Jamsostek 13.9 33.4 5.9 4.3 13.5 17.7 14.8 18.9 3.0 10.9 2.5 72.0 20.5 72.2 2.3 0.7 63.5 75.0 1.9 12.9 4.9 3.7 49. Asabri.0 1.8 65.6 1.3 5.6 67.2 7.4 17.2 12.4 11.5 0.0 2.8 29.0 3.1 60.3 8.9 65.1 11.4 3.0 4.1 17.7 0.6 3.7 14.9 11.6 26.0 1.2 65.3 7.9 8.9 Lainlain 6.8 17.2 12.7 14.2 5.166 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi.1 67.1 19.2 4.9 16.2 76.6 4.0 2.4 10.7 71.4 10.9 66.5 74.1 13.7 16.9 10.1 76.9 17.2 5.6 11.6 1.3 3.2 13.9 5.7 3.5 7.5 1.1 3.0 68.9 13.4 27.9 7.1 3.4 9.8 4.4 25.5 4.9 8. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Provinsi Sendiri/ keluarga 62.0 73.8 0.4 15.2 10.0 11. Askes swasta.6 79.2 3.8 76.6 15.6 58.8 11.7 7.6 Askeskin/ SKTM 28.1 18. Jamsostek.8 8.3 22.1 18.1 8.4 67.0 9.

JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3.9 17.9 6.8 5. 235 .9 15.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Keterangan : 66.4 10.8 9. Askes swasta.167 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga. Jamsostek.0 6.8 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Dana Sehat 2. Sedangkan persentase tertinggi pemanfaatan tenaga kesehatan untuk rawat jalan ditemukan di Provinsi Bali (25.9 25.5 6.8 25.168 menunjukkan bahwa secara nasional RS Bersalin/RSB (14.8 7.0 18.3 Perkotaan 69.6%).Tabel 3.7 3. Persentase pemanfaatan RSB sebagai tempat rawat jalan.2 3. Pemanfaatan Puskesmas (1.4 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.5 72.5 1.9 71.9%).8%) dan terendah di Papua (3. tertinggi di Provinsi Papua Barat (38.2 2.8%) dan Tenaga Kesehatan (13.7 12.5 5.6%) pada urutan ketiga.6 11.7 21.7 6.5 LainLain 7.5 4.0 Perdesaan 72.2 16.3%) menempati urutan keempat setelah RS Pemerintah (1.5%) dan terendah di Sumatera Utara (7.4 72.9%) merupakan sarana kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan untuk rawat jalan. Asabri.5 71.4 3. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga Askes/ Jamsostek Askeskin/ SKTM 10.3 6.

6 0.3 0.3 0.3 2.4 68.1 17.2 12.2 0.2 0.1 0.0 0.6 13.3 0.5 15.0 0.7 0.7 Tidak rawat Inap 46.2 0.5 56.4 1.1 17.7 0.3 0.3 10.4 1.0 11.2 62.7 1.7 61.4 0.8 10.8 1.4 0.7 0.8 1.3 3.6 1.4 0.0 0.0 70.9 0.5 60.1 0.1 54.4 0.3 15.2 0.9 3.1 0.168 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.4 0.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 0.0 1.2 1.2 0.2 0.8 1.7 0.0 1.4 66.4 0.1 1.8 0.2 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah 3.3 70.3 13.2 71.7 70.2 1.2 4.2 3.3 0.0 64.9 0.5 0.6 14.9 15.2 0.8 0.1 71.0 0.3 0.4 1.2 2.7 0.8 14.8 1.3 0.0 1.1 0.2 0.1 0.7 0.5 0.4 2.1 81.4 0.5 0.5 33. dan Puskesmas.7 18.3 1.9 0.8 0.0 14.6 13.7 0.1 1.0 1.3 1.9 1.5 0.2 73.7 0.4 68.2 1.0 0.6 61.8 16.4 2.2 0.2 0.2 0.0 0.8 11.3 0.0 1.1 12.1 7.7 1. tampak kecenderungan responden di perkotaan lebih banyak memanfaatkan RS Pemerintah.2 0.0 0.1 0.0 12.1 0.9 14.6 0.6 RS Swasta 0.4 1.1 0.3 22.7 67.7 10.1 13.0 15.6 2. 236 .1 14.2 0.1 1.6 74.0 0.7 1.0 25.9 2.3 3.2 53.5 80.4 1.0 0.0 1.9 1.3 0.2 1.6 12.1 0.2 1.7 0.1 0.1 0.7 0.8 11.2 0.6 73.2 0.2 0.6 0.9 1.5 58.6 1.8 0.3 0.1 0.3 0.2 1.1 0.0 0.1 1.0 1.6 0.5 0.6 17.7 0.8 11.2 0.9 1.2 0.6 54.6 66.0 12.4 11.1 4.6 1.0 0.4 2.3 66.1 1.1 0.4 0.1 2.0 7.2 0.4 Menurut tipe daerah (Tabel 3.4 0.9 5.4 0.5 61.2 0.2 14.6 9. dan pengobat tradisional untuk rawat jalan.1 0.3 0.6 0.7 20.1 4.8 1.3 0.1 4.5 0.1 0.Tabel 3.5 0.0 0.8 19.2 11.4 67.3 0.7 0.4 0.3 0.2 1.1 0.6 14.9 0.3 0.5 0.5 0.3 0.6 1.3 0.4 0.8 0.5 0.3 0.4 0.3 0.1 1.5 16.9 19.5 2.7 1.1 1.3 Nakes Batra Lainnya 0.2 10.1 0.8 0.3 1.2 0.9 0.7 1.9 1.1 0.1 12.3 0.8 0.4 19.4 Di Rumah 1.7 0.2 2.1 0.0 0.3 17.0 RSLN RSB Puskesmas 1.1 0.0 4.5 4.2 0.4 4.8 2.4 1.0 0.4 1.9 0.5 0.5 7. Tenaga Kesehatan.5 0. Sedangkan responden di perdesaan lebih memanfaatkan RSB.0 0. RS Swasta.4 0.2 13.4 1.2 0.8 67.4 0.7 5.9 65.5 35.1 0.3 1.3 26.9 0.4 1.4 0.3 2.1 0.4 0.1 67.6 38.0 0.6 1.8 19.3 19.4 0.0 1.8 69.1 0.3 0.3 0.1 0.7 1.7 5.169).0 0.6 50.9 13.7 17.9 1.6 14.4 1.9 11.7 16.1 0.5 1.2 0.6 1.3 1.

9 13.8 15.4 0.8 Gambaran tentang sumber pembiayaan rawat jalan dan rawat inap tampak tidak berbeda (Tabel 3. Tabel 3.2 16. tetapi semakin sedikit yang memanfaatkan RSB untuk rawat jalan.3 16. Persentase sumber biaya sendiri/keluarga tertinggi ditemukan di Provinsi Lampung (88.8 13.3 Perdesaan 1.4 1. Secara nasional.5 0.7 0.3 0. sedangkan di Provinsi Papua Barat persentase tertinggi untuk pembiayaan rawat jalan berasal dari Askeskin/SKTM dan terendah dari biaya sendiri/keluarga.2 1.3 0. di Provinsi Lampung persentase terbesar pembiayaan rawat jalan berasal dari biaya sendiri/keluarga dan yang terendah adalah pembiayaan oleh Askes/Jamsostek.4 0.6 66.7 0. Sumber biaya rawat jalan juga didominasi oleh pembiayaan sendiri/keluarga (74.5 0.6%) dan terkecil di DKI Jakarta (2.5%).9 63.7 0.9 0.3 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah RS Swasta RSL N RSB Puskesmas Nakes Batra Lainnya Di Rumah Tidak rawat Inap Tipe Daerah Perkotaan 2.8%) dan terendah di Papua Barat (40.2 14 11.9 1.3 1.169 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.9 1.2 0.8 15 16.5 0.0 67.7 66.8 0.5 0.1 2.8% untuk rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir dan menurut provinsi.0 1. Puskesmas.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.5 0.4 0.3 12. dan Tenaga Kesehatan.4 0.9 0.6 64.4 1.0 0.2 0.4 65. tampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintah.0%).8 15.6 14.4 0.5 0. Sumber biaya dari Askeskin/SKTM secara nasional mencapai 10. RS Swasta.5 0.Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 0.7 0. 237 .5 0.7 2.7 0.4%).4 0.2 1.5 0.8 0.5 1.0 11.1 1.5 0.6 65.5 0.3 12.3 0. persentase terbesar ditemukan di Provinsi Papua Barat (37.170).

5 5.9 60.9 1.6 1.5 6.3 4.4 15.2 1.6 0.3 10.5 6.6 1.5 1.7 66.4 Sumber biaya rawat jalan menurut tipe daerah (Tabel 3.0 78.4 70.9 3. Jamsostek.6 0.3 11.1 1.2 4.0 1. sebaliknya pembiayaan dari Askeskin/ SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan (12. Askes swasta.3 5.4 6.9 0.7 78.2 16.3 9.2 1.1 8.5 11.2 0.0 71.9 3.2 3.9 13.4 5.3 6.8 5.7 3.2 3.9 1.8 8.0 23.7 85.6 15.1 9. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 58.0 10.6 0.0 72.9 4.4 12.6 87.2 83.6 17.1 80.4 17.8 79.3 13.8 84.6 4.3 20.2 0.1 10.5 9.0 5.9 7.3 5.1 2.4 78.4 6.1 13.9 61.1 10.3 7.3 2.5 75.1 22.3 77.9 2.9 4.2 21.1 60.9 9. tidak tampak berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan.6 1.9 2.9 83.2 4.4 4.5 40. Asabri.8%).170 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi.7 11.8 77.4 5.2 3.8 73.9 11.6 3.4 12.2 4.5 47.1 5.1 6.9 11.6 3.6 4.9 9.9 6.1 85.5 49.4 11.3 15.3 1.1 81.9 2.1 88.6 12.6 28.171).7 18.8 Dana Sehat 2.6 4.4 3.4 3.8 Askeskin/ SKTM 32.6%).5 Askes/ Jamsostek 6. terbanyak dari biaya sendiri/keluarga.7 8.2 1.3 0.3 3.3 3.6 2.1 37.9 9.5 Lain-Lain 5.9 4.2 74.5 7.1 2.8 0.7 1.0 80. 238 .Tabel 3.8 3.9 10.3 88.7 5.2 86.6 6.8 4.9 6.3 15.5 6.2 5. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan PROVINSI Sendiri/ Keluarga NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.5 64.9 2.3 8.8 2.5 1.9 1.8 2.0 9.5 3. Pembiayaan dari Askes/Jamsostek tampak lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan (13.5 4.5 8.7 7.7 2.1 1.1 33.4 46.3 11.1 2.

6 3.9 11. Penilaian untuk masing-masing domain ditanyakan kepada responden.8 13.0 3.3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan.7 74.2 7. Asabri.9 2.0 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.0 74.8 2.3 4.6 7.8 7.Tabel 3.1 1. Tampaknya Askeskin/SKTM belum sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat tidak/kurang mampu.5 14. Ada 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.1 75.5 8.3 12.6 2. Jamsostek.8 Lain-Lain 5.3 5.4 76.1 3. Pembiayaan dari Dana Sehat semakin sedikit dimanfaatkan responden dengan tingkat pengeluaran yang makin tinggi.0 9.5 10. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga 73. berdasarkan pengalamannya waktu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan untuk rawat inap dan rawat jalan.0 4.6 4.8.0 6. 3.7 Askeskin/ SKTM 7. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Gambaran sumber biaya rawat jalan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askes/Jamsostek dan sebaliknya Askeskin/SKTM untuk pembiayaan rawat jalan. Delapan domain ketanggapan untuk rawat inap terdiri dari: • • • • Lama waktu menunggu untuk mendapat pelayanan kesehatan Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara Kejelasan petugas dalam menerangkan segala sesuatu terkait dengan keluhan kesehatan yang diderita Kesempatan yang diberikan petugas untuk mengikutsertakan klien dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis perawatan yang diinginkan 239 . Askes swasta.9 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Askes/ Jamsostek 13.8 Dana Sehat 1.171 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 72.1 4.3 2.6 75.

Tabel 3. Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82. turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. Masing-masing domain ketanggapan dinilai dalam 5 (lima) skala yaitu: sangat baik. Menurut provinsi. Penyajian hasil analisis/tabel selanjutnya hanya mencantumkan persentase yang ’baik’ saja. WHO membagi menjadi dua bagian besar yaitu ‘baik’ (sangat baik dan baik) dan ‘kurang baik’ (cukup. buruk. Tujuh domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan sama dengan domain rawat inap. 240 .9%). Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87. baik. buruk dan sangat buruk). Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi.• • • • Dapat berbicara secara pribadi dengan petugas kesehatan dan terjamin kerahasiaan informasi tentang kondisi kesehatan klien Kebebasan klien untuk memilih tempat dan petugas kesehatan yang melayaninya Kebersihan ruang rawat/pelayanan termasuk kamar mandi Kemudahan dikunjungi keluarga atau teman.172 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi. cukup. Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu. kerahasiaan informasi. kecuali domain ke delapan (kemudahan dikunjungi keluarga/teman). dan kebebasan memilih sarana pelayanan. sangat buruk.5%) dan ‘keramahan petugas’ (87.0%). Penduduk diminta untuk menilai setiap aspek ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan di luar medis selama menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. Untuk memudahkan penilaian aspek ketanggapan rawat jalan dan rawat inap pada sistem pelayanan kesehatan tersebut. tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan.

8 82.0 76.8 80.0 85.0 85.8 77.6 86.6 78.2 87.5 88.0 93.0 83.9 77.8 85.7 85.6 84.8 74.0 72.2 82.0 75.8 88.7 81.1 81.5 93.6 74.2 78.4 87.4 86.2 76.2 82.8 86.8 88.5 86.4 90.6 88.6 85.0 82.9 92.0 81.4 82.7 92.5 80.0 85.0 79.5 84.3 Mudah dikunjungi 83.7 89.4 84.8 87.4 67.7 94.6 88.0 68.9 84.2 72.7 94.4 83.0 80.1 72.2 94.4 92.4 88.4 87.7 84.8 84.4 81.4 91.9 Kebersihan ruangan 78.9 85.3 82.0 89.7 Ikut ambil keputusan 81.2 85.6 72.7 88.4 86.5 91.4 82.7 92.1 86.2 82.1 81.8 92.9 92.5 83.4 90.8 89.0 82.5 91.4 80.2 84.2 89.8 79.4 77.9 87.9 84.9 90.6 81.6 91.1 84.7 92.1 84.4 88.6 82.5 Tabel.8 91.0 81.2 88.4 82.1 83.9 89.4 79.2 85.0 88.0 78.2 79.6 79.9 Kerahasiaan 82.4 91.7 85.5 94.1 81.1 90.3 83.2 95. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu 84.5 84.4 Keramah an 86.5 92.4 81.0 72.6 85.7 80.2 91.3 82.4 Kebebasan pilih sarana 81.9 86.1 81.1 92.4 77.6 87.2 83.7 84.173 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.0 83.8 85.4 92.0 86.2 71.4 93.8 83.0 90.5 80.0 90.8 84.6 78.5 93.6 69.3 84.5 86.7 78.8 86.2 84.4 82.6 80.6 Kejelasan informasi 81.5 81.1 84.5 85.1 84.4 92.1 89.1 87.1 85.9 68.3 84.9 74.6 78.0 83.7 82.9 84.8 85.6 84.8 87.5 83.Tabel 3.1 86.5 86.4 86.4 84.4 84.0 83.172 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.8 87.0 93.7 87.0 81.1 79.5 87.3 89.1 88. 241 .6 92.1 89.2 89.9 90.2 94.8 70.9 91.9 91.1 86.7 91.1 69.0 86.9 72.7 92.0 80.7 80.9 88.2 95.8 77.8 80.1 90.7 87.6 89.9 79.2 79.0 79.2 81.6 85.2 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 84.4 81.5 93.6 87.3 91.2 76.2 86.8 83.8 85.1 88.7 84.7 88.0 81.3 88.7 87.2 72.8 86.6 78.7 84.5 85.8 78.6 84.1 87.5 80.8 82.8 86.2 84.6 88.2 90.6 73.2 86.0 85.7 83.9 80.5 82.0 84.7 87.9 85.5 81.2 79.0 82.7 87.0 84.8 78.6 83.1 87.6 88. 3.

4 86.8 84. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan.0 87.Menurut tipe daerah.2 85.2 84. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan.7 85.9 82.6 84. tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu.5 87.5 84. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspekaspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki.1 84.4 86.7 Perdesaan 85. keramahan petugas.6 83.0 86. dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman. semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan.9 87.0 85.2 83.1 82.5 84.6 82.7 83. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi. Menurut tipe daerah (tabel 3.6 84.5 87. kerahasian informasi. Menurut provinsi.5 82.8 86.0 86.7 85.4 83. Riskesdas 2007 Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan Mudah dikunjungi Karakteristik Reponden Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Tipe Daerah Perkotaan 84. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan.9 86.7 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 84.5 86.2 86. kerahasiaan informasi.4 83. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85.4%).7 84.1 86.6 Tabel 3. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.173 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.3 86. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 83. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Tabel 3.7 84.1%). kejelasan informasi.4 87.7 88.5 85.7 84.2 85.175). kebebasan memilih fasiltas pelayanan. turut serta dalam p[engambilan keputusan memilih jenis perawatan.0 88.6 86.3 81. Sedangkan di daerah perdesaan.174 menunjukkan secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90. Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan. dan kebebasan memilih sarana pelayanan. dan kebersihan ruangan.8 87. semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan.6 86.5 84. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas.6 86. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga.6 85.8 83.2 85.4 84. dan kebersihan ruangan. 242 .

0 95.5 84.6 86.4 88.0 88.1 92.0 92.6 84.5 85.4 83.8 90.3 84.2 85.9 82.5 83.2 86.1 243 .2 93.6 91.6 92.6 91.7 84.4 93.3 95.9 87.8 85.2 83.8 90.9 65.9 91.7 92.4 84.8 94.4 90.1 91.7 90.9 83.6 91.4 80.0 87.3 86.8 89.4 83.8 87.0 86.3 INDONESIA 86.0 85.1 97.9 83.9 94.5 93.4 92.7 87.5 88.8 88.0 85.4 Kebersihan ruangan 79.1 83.3 68.9 79.0 88.0 86.4 84.5 83.1 91.0 70.4 86.9 86.7 88.3 84.2 79.0 91.6 94.4 89.1 87.6 93.4 83.8 92.5 85.8 93.2 Kejelasan informasi 84.0 87.3 85.5 97.7 95.7 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 87.2 92.8 77.8 91.6 88.4 94.0 67.Tabel 3.2 82.3 90.5 82.1 84.0 95.3 94.7 87.0 88.3 88.2 84.5 86.3 86.1 87.2 84.6 89.6 82.1 89.0 85.2 81.9 80.2 84.6 93.3 84.3 77.6 82.5 86.2 82.5 84.5 90.0 85.9 82.8 89.5 Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana 83.7 77.9 90.7 68.3 91.5 83.6 84.5 83.3 80.3 86.1 91.2 83.7 78.2 83.8 98.2 93.2 88.8 92.2 94.9 65.2 95.1 86.0 96.1 78.0 88.6 93.1 86.1 93. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu Keramahan 89.5 86.0 88.6 93.8 83.6 81.7 67.2 78.2 84.9 93.0 87.9 90.5 90.8 93.7 84.9 71.1 93.9 77.4 87.4 95.3 83.4 89.7 85.2 86.3 Ikut ambil keputusan 84.4 87.3 70.3 87.8 85.6 86.7 92.0 93.2 91.2 84.174 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.8 92.0 86.6 86.2 95.7 80.8 85.9 80.6 95.1 88.3 93.6 93.1 65.4 81.4 87.8 96.7 93.8 87.0 85.5 81.9 82.3 79.5 83.1 96.8 65.1 84.5 93.8 95.8 78.8 76.7 92.0 95.8 81.1 94.2 92.1 73.7 86.4 96.3 94.1 88.1 82.6 83.9 93.3 81.3 85.1 92.8 84.5 86.8 91.9 83.0 94.5 78.2 85.4 88.

6 90.8 88. 244 .4 86.6 87.2 87.7 84. dan perumahan.5 89.1 86.1 87. sarana pembuangan air limbah (SPAL).1 85. Rerata pemakaian individu ini kemudian dikelompokkan menjadi ‘<5 liter/orang/hari’.5 87.9 89.7 89.7 85.1 84. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan 85. Berdasarkan tingkat pelayanan.9 86. Dengan demikian dalam penyajian beberapa tabel kesehatan lingkungan merupakan gabungan data Riskesdas dan Kor Susenas.0 86. ‘akses kurang’.9 85.3 90.7 86.4 84. ‘akses menengah’. pembuangan sampah.0 84. dan ‘akses optimal’.8 84.7 86.9 Kesehatan Lingkungan Data kesehatan lingkungan diambil dari dua sumber data.9 91.1 87.9 85.9 liter/orang/hari’. kategori tersebut dinyatakan sebagai ‘tidak akses’.8 86.1 86.1 Air Keperluan Rumah Tangga Menurut WHO. jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan risiko kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan higiene.6 85. Rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga. Data yang dikumpulkan dalam survei ini meliputi data air bersih keperluan rumah tangga.9 87.5 87.9 liter/orang/hari’.1 86. Risiko kesehatan masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah (‘tidak akses’ dan ‘akses kurang’) dikategorikan sebagai mempunyai risiko tinggi.9 liter/orang/hari’ dan ‘≥100 liter/orang/hari’.9 85.1 87.Tabel 3. ‘akses dasar’. 3.9.0 90. yaitu Riskesdas 2007 dan Kor Susenas 2007.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 86.5 87.3 86.6 84. ‘5-19. ’20-49.175 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.8 88.2 85.7 3.8 87. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa rerata jumlah pemakaian air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga dalam sehari semalam.6 86.9 86. Data tersebut bersifat fisik dalam rumah tangga. sarana pembuangan kotoran manusia.6 90. sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap kepala rumah tangga dan pengamatan.7 86.4 86. ’50-99.

2 2.1 4.0 40.2 21.7 31.9 14.7 24.6 23.5 27.7 19.6 27. Riskesdas 2007 Rerata pemakaian air bersih Provinsi <5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.0 9.0 4. berarti mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan/penyakit.1 17.5 41.9 25.7 42.0 50-99.6 42.4 2.9 20.2 6.9 8.5 33.1 41.7 17.6 Tabel 3.5 42.9 15.8 34.6 20.5 31.8 9.6 29.8 26.4 0.5 36.6 32.1 0.3 30.9 23.1 29.7 11.6 17.7 24.6 0.5 17.0 11.0 5.9 27.9 15.7 13.2 44.3 0.6 50.6 1.6 11.2 4.0 22.2 13.0 23.3 1.5 3.0 per orang per hari (dalam liter) 5-19.9 7.0 30.4% tidak akses dan 10.9 31.4 4.9 31.8 0.2 19.6 34.4 30.5 29.6 1.6 10.2 7.2 41.2 13.7 32.2 17.4 19.6 21.5 4.9 19.7 37.6 0.3 16.5 22.1 10.1 12.3 0.4 32.8 ≥100 32.1 15.3 0.9 25.1 28.7 40.0 21.7 22.1 12.7 28.9 31. terdapat 16.2 31.3 31.5 14.3 0.Tabel 3.4 29.9 63.176 menunjukkan secara nasional.4 37.8 26.4 32.9 20-49.8 26.1 47.8% akses kurang).7 8.1 43.4 33.1 9.6 13.5 23.3 28.3 2.2 1.2 Indonesia 5.0 7.6 35.2 24.0 22.5 6.3 31.2 9.2 30.0 24.6 21.2 6.7 1.1 55.6 16.5 17.8 10.9 13.7 32.4 13.2 14.9 21.9 0.8 43.7 8.5 17.6 6.7 10.6 11.7 39.7 28.6 1.1 8.1 41.0 0.3 0.0 3.2% rumah tangga yang pemakaian air bersihnya masih rendah (5.0 23.4 10.7 2.0 8.6 36.5 36.2 27.3 21.176 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi. Sebesar 245 .4 0.1 26.3 11.

dan bagaimana kemudahan dalam memperoleh air bersih. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi akses terhadap air bersih optimal. Maluku. rerata pemakaian air bersih per orang per hari menunjukkan perbedaan.9 4. dan Jambi.6 38. maka secara nasional akses terhadap air bersih menurut jumlah pemakaian air per orang per hari adalah 83. di mana batasan minimal akses untuk konsumsi air bersih adalah 20 liter/orang/hari.2 13. Jawa Barat. atau mengalami penurunan dibandingkan data tahun 2004 sebesar 88.26. Bila mengacu pada kriteria Joint Monitoring Program WHO-Unicef.4 26.0 29. serta persepsi tentang ketersediaan sumber air.8 6. baik menurut tipe daerah maupun menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 25. Banten. Di samping jumlah pemakaian air bersih untuk keperluan rumah tangga.6 39.1 8. Sedangkan provinsi yang proporsi akses air bersih optimalnya tinggi adalah DKI Jakarta. NAD.0 31. Sulawesi Tenggara. Riau. Dilihat dari karakteristik rumah tangga (Tabel 3.3% akses menengah.9% rumah tangga mempunyai akses dasar (minimal). NTT. Hasil tersaji pada Tabel 3.3 26. 25.6 28.%).5 7.8%.178 246 .6 10.6% akses optimal.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (11. Provinsi-provinsi yang akses terhadap air bersih masih rendah (di atas 16.0 23. dan 31. ditanyakan juga tentang jarak dan waktu tempuh ke sumber air.8 5. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau sumber air bersih pulang pergi. Sulawesi Barat. Papua.0 33.6 11.7 rumah Rerata pemakaian air bersih per orang per hari (dalam liter) 5-19.9 20-49.2 Proporsi rumah tangga yang aksesnya rendah terhadap air bersih lebih tinggi di perdesaan (19.5 24.3 26.177). berapa jarak antara rumah dengan sumber air. DI Yogyakarta. Riskesdas 2007 Karakteristik tangga <5 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 3.3 29. Sumatera Barat.9 10.6 29. Kepulauan Riau.9 26.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga. dan NTB. Sulawesi Utara.7%.2%) berturutturut adalah Gorontalo.5 25.3 4.9 50-99.2 5.0 23.4 25.1 26.6 12.8 25.9 25. Tabel 3.9 ≥100 Tingkat pengeluaran Rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 6.

6 87.5 52.9 39.8 1.2 98.8 98.2 68.3 12.0 1.0 19.2 10.2 94.9 98.9 0.4 97.6 2.8 5.8 87.3 2.3 40.2 2.6 95.8 97. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi.2 1.3 2.3 1.5 1.4 4.2 4.3 2.5 69.5 96.1 14.4 42.0 10.8 26.6 9.3 4.1 4.9 0.1 82.3 1.8 96.3 0.Tabel 3.7 97.4 0.9 99.0 89.3 88.4 3.6 99.2 2.5 98.2 0.7 3.8 67.9 57.5 87.2 97.4 90.0 71.4 2.5 94.7 68.1 99.4 59.3 Ketersediaaan Sulit pada musim kemarau 21.0 94.1 16.7 93.1 1.3 6.4 1.6 29.6 99.3 96.0 30.8 98.4 5. disusul oleh NTT 247 .6 7.8 1.3 97.8 94.7 93.2 3.9 78.6 93.6 96.4 1.5 97.3 66.6 97.2 1.4 31.5 0.4 48.7 11.2 85.4 89.9 83.3 0.4 5. Terdapat 16 provinsi dengan persentase di atas 3.5 70.6 98.0 90.4 73.2 5.4 1.4 10.6 0.3 2.5 94.5 5.4 6.8 6.1 ≤30 >1 ≤1 Indonesia 3.7 2.6 85.7 11.3 6.7 1.3 0.7 97.4 64.0 10.6 6.7 0.6 2.7 98.9 96.9 24.6 83.5 95.2 0.7 72.8 0.7 85.1 4.5 3.1 72.5 74.4 0.5 4.4 53.3 66.6 10.2 7.8 14.3 20. tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (14.3 2.1 2.7 84.2 81.9 1.6 30.6 Sulit sepanjang tahun 1.6 94.5 2.2 93.2 3.1 2.9 25.178 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.3 1.1% rumah tangga memerlukan rerata waktu tempuh ke sumber air lebih dari 30 menit.1 96.5 85.9 0.0 32.8 89.0 13.8 0.8 2.8 35.3 95. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Provinsi Waktu (mnt) Jarak (km) Mudah sepan>30 jang tahun NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.9 32.9 95.7 5.2 12.4 5.9%).8 97.8 95.6 16.7 97.8 38.8 18.0 89.4 97.7 99.4 0.6 28.1 3.7 95.8 98.7 50.6 2.7 0.6 94.4 92.5 26.4 14.8 97.7 1.6 94.9 4.8 68.8 89.5 0.9 85.6 79.3 89.5 93.8 26.2 1.1%.8 25.5 15.0 9.3 44.0 5.5 72.9 5.6 92.6 0.4 7.5 6.2 10.8 59.6 97.8 1.4 2.6 29.6 92.4 8.0 1.2 Tabel di atas menunjukkan secara nasional sebanyak 3.1 95.0 25.4 77.8 70.0 14.

4%).4%) dibandingkan dengan di perdesaan (66.8%.4 1. Akses air bersih menurut waktu. Dilihat dari ketersediaan air bersih dalam satu tahun.4 97.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (2. ada kecenderungan proporsi jarak tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.0 78.6 97.1 94. ada kecenderungan proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang waktu mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.9 1.2 Kuintil-5 2.3%) dan NTT (4.5 24.0 Perdesaan 3.7 30.4 28.8 68.2 26.1 0.8%).4 1.(10.9%) merupakan dua provinsi yang paling tinggi proporsi rumah tangga dengan ketersediaan air bersih sulit sepanjang tahun.6 94. 248 .0 70. dan Riau (10. (Tabel 3.4 96.1 5.0 5.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 3.8% rumah tangga yang air bersihnya tersedia sepanjang waktu. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Karakteristik rumah Waktu (mnt) tangga >30 Jarak (km) Mudah sepanSulit pada musim kemarau 16.0 20.9 Kuintil-3 3.3 75.4 66. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Provinsi dengan proporsi jarak ke sumber air lebih dari satu kilometer terbesar adalah Provinsi Riau (18.7 1. Dilihat dari jarak.7 Proporsi rumah tangga yang waktu tempuh ke sumber airnya lebih dari 30 menit lebih tinggi di perdesaan (3.5 96.0 93. Proporsi rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer lebih tinggi di perdesaan (6.5%).7%).179) Tabel 3.179 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.2 1. Terdapat 18 provinsi dengan proporsi ketersediaan air bersih sepanjang tahun lebih kecil dari 72.1 96.3%) dan Sulawesi Tenggara (14.9 97.8 ≤30 >1 ≤1 jang tahun Tipe daerah Perkotaan 2.9 5. secara nasional terdapat 72.4 4.4 82.0 97. Begitu pula proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang tahun lebih tinggi di perkotaan (82.5 93.4 Kuintil-4 2.5% rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer. Kepulauan Riau (6. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. secara nasional terdapat 5.6 96.6 6. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 Kuintil-2 3.5%).4%). disusul oleh Kepulauan Riau (16.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (4.8 95.4 72.8 31.8 94. jarak dan ketersediaan air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 Ketersediaaan Sulit sepanjang tahun 0. ada kecenderungan proporsi waktu tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.5 6.6 4.0%).

3 3.8 55.0 2.9 2.0 2.6 7.6 51.6 4.9 33.4 2.7 4.3 54.6 3.0 1.5 47.7 34.2 0.1 48.2 57.4 3.180 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.9 28.7 29.4 47. sebagai upaya untuk melihat aspek gender dan perlindungan anak.6 1.3 2.180 249 .9 41.1 51.6 77.3 47. ditanyakan siapa yang biasanya mengambil air dalam rumah tangga tersebut.7 3.5 7.4 7.9 1.7 46. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Dewasa Anak-anak (<12 thn) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 65.8 5.2 1.7 44.9 19.3 3.5 44.0 2.3 52.9 2.5 59.5 5. Aspek gender dalam pengambilan air bersih dapat dilihat pada Tabel 3.0 4.0 63.6 72.8 60.0 54.7 53.3 48.3 2.9 61.3 38.0 Dalam rangka memperoleh air untuk keperluan rumah tangga bila sumbernya berada di luar pekarangan.9 48.7 2.4 10.1 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 5.0 5.4 23.5 2.4 25.4 1.1 2.8 1.9 32.9 27.4 5.4 2.5 1.7 55.4 0.4 50.5 23.0 5.6 41.7 4.4 2.8 4.5 1.7 41.8 29.8 3.9 43.3 1.9 4.4 Indonesia 49.3 42.7 3.2 54.1 1.9 1.4 1.7 65.2 4.5 48.7 34.3 40.7 0.8 7.3 2.3 72.4 51.8 48.7 44.7 0.6 38.0 64.2 2.1 6.1 6.1 49.2 49.2 67.4 4.6 3.9 46.0 23.5 2.1 1.6 2.5 46.2 36.8 52.2 43.4 6.Tabel 3.9 16.1 2.7 49.0 4.4 60.2 3.4 38.0 2.

Kategori kualitas fisik air minum baik bila air tersebut tidak keruh.8 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tkt pengeluaran rumah tangga per kapita Tenaga perempuan dan anak-anak yang mengambil air di rumah tangga lebih tinggi di perdesaan (51.9 2.2% dan 7.0 4. NTT. Proporsi individu yang mengambil air bersih di rumah tangga menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sumatera Barat. secara nasional terdapat 7. NTT.0%.9 4.8 41.3 41. Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.2% wanita dan 4.6 49. tidak berbau.8 3. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.Tabel di atas menunjukkan. Maluku.6 42. Sedangkan provinsi-provinsi yang pengambilan airnya banyak dilakukan kaum perempuan adalah di Provinsi NTB. Sulawesi Selatan dan NAD. tidak berwarna dan tidak berbusa. Provinsi-provinsi di mana anak-anak ikut berperan dalam pengambilan air untuk kebutuhan rumah tangga adalah Papua.2 50.7 2.0% anak laki-laki).2 3.1 3.4 44.0 47.6 3. Persentase perempuan yang bertanggung jawab dalam pengambilan air di rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Riskesdas 2007 Perempuan Karakteristik rumah tangga Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 44.8 3.3 3. (tabel 3. terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah (58.5 50. meliputi kekeruhan.1 51. 250 .181 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.3 4.6%). terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin rendah proporsi perempuan dan anak-anak yang bertugas mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga.4 49.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (44. Tabel 3.1%).2 2. warna dan busa.2% rumah tangga yang anakanaknya mempunyai beban untuk mengambil air keperluan rumah tangga (3. proporsi rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar 86. bau.182 menunjukkan secara nasional. NAD. tidak berasa. Tabel 3.5 49.2 43.181). Ada 15 provinsi yang proporsi kualitas fisik air minumnya baik di bawah rerata nasional.1 3.1% dan 6.4 3. Data kualitas fisik air untuk keperluan minum rumah tangga dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan.4 46. rasa.

4 3.8 87.5 0.4 22.9 6.4 0.8 1.4 1. tidak berbusa dan tidak berbau Proporsi kualitas fisik air minum rumah tangga yang baik bervariasi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 0.0 3.4 1.3 0.5 80.4 3.2 95.5 10.5 8.4 3.9 1.4 0.3 6.5 18.7 4. tidak berwarna.2 9.4 79.6 89.6 0.0 11.3 84.6 6.2 6.9 3.3 Berasa 7.0 4.0 92.6 2.5 9.2 84.3 2.2 5.6 6.0 * baik = tidak keruh.9 1.7 12.8 0.9 1.3 88.1 4.0 3.3 1.5 9.0 6.2 9.9 6.5 2.7 1.0 9.6 9.0 1.0 80.Tabel 3.5 58.6 1.0 1.4 90.5 84.3 3.8 3.1 6.8 0.6 1.8 4.6 5.7 3.8 2.2 10.2 3.1 2.7 1.182 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.6 5.3%).9 4.5 4.7 92.4 1. 251 .7 7.1 1.1 4.6 71.0 3.4 10.8 2.4 2.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (84.183).8 3.5 1.7 0. Riskesdas 2007 Kualitas fisik air minum Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keruh 17.6 8.6 2.8 3.1 Berbau 4.6 2.4 7.3 10.4 15.0 5.7 1.9 11.7 6.5 26.3 7.2 6.3 0.0 6.9 1.4 Berwarna 12.6 79. terutama dalam hal kekeruhan dan warna.9 6.2 9.3 3.9 3.5 15.2 90.9 1.4 3.2 Berbusa 1.8 Indonesia 9. (Tabel 3.8 6.1 2.8 15.0 91.3 2.0 1. tidak berasa.5 0.7 1.9 6.6 7.1 0.9 3.8 5.8 1.7 1.4 2.7 4.6 1.8 3.2 5.4 87.8 93.3 9.2 11.9 3.5 6.7 6.9 3.1 86.1 7.4 15.6 2.6 Baik*) 75.5 2.3 11.9 89.6 6.2 81.1 84.1 3.8 4.5 95.3 90.9 1.7 0.4 3. Secara umum.5 1.8 82.7 86.5 90.7 0.3 88.7 0.0 7.7 0.8 1.8 1.5 75.9 88.9 82.1 5.2 17. proporsi rumah tangga dengan kualitas fisik air minum baik di perkotaan sedikit lebih tinggi (88.0 3.8 4.8 2.7 5.3 2.5 34.5 0.9 13.8 7.1 8.0 3.2 10.9 4.6 4.2 5.5 7.7 9.0 0.

tidak berasa. Sementara yang menggunakan air perpipaan/ledeng tidak mengalami peningkatan/tetap (masing-masing 17.8% dan lainnya 0.4%.6 7.5%).2 7. dan Papua Barat.3 8.0 85.4 5.8%).4 4. Pada tabel 3. dan DI Yogyakarta. Provinsi yang banyak menggunakan air hujan sebagai sumber air minum antara lain Kalimantan Barat. Tabel 3.0 1. tidak berbusa dan tidak berbau Data jenis sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga diambil dari data Kor Susenas 2007. yaitu dari 2. DKI Jakarta. Bila dibandingkan data Susenas 2004. DKI Jakarta. penggunaan air kemasan di rumah tangga mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat.6% menjadi 6. 252 .7 8.9 88.8 85.5 Kualitas fisik air minum Keruh Berbau Berwarna Berasa Berbusa Baik*) 3.1 9.1 3.6 84.7 3.0 3. Provinsi-provinsi yang proporsi penggunaan air kemasannya tinggi antara lain Kepulauan Riau.3 1.5 1.0 2.0 0. dan Papua Barat. Papua.9 4.3 3.0%. Bali. mata air tidak terlindung 5.5 6.5 3.0 1. tidak berwarna.0%. Jambi.9 86.1 5.1 7.183 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang kualitas fisik air minumnya baik.6 11.1 * baik = tidak keruh.6 5. Provinsi-provinsi yang cakupan air perpipaannya di atas rerata nasional antara lain Kalimantan Selatan.3 83.7 4.184 Secara nasional masih banyak rumah tangga yang menggunakan air minum dari sumber tidak terlindung (sumur tidak terlindung 12.8 6. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 6.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 10. air sungai 3.3 6.9 10.2 1.7 88. Riau.2 5.1 1.9 4. Banten.

6 3.7 0.5 7.5 15.6 25.2 20.6 15.2 26.0 0.9 11.0 3.8 3.4 9.4 2.4 11.6 11.8 2.4 2.7 1.7 12.9 14.5 0.6 1.7 5.3 3.0 21.4 5.2 2.3 3.5 29.9 1.4 29.0 0.6 14.2 6.8 33.7 1.9 1.5 0.6 0.2 0.2 5.4 3.0 9.1 7.4 0.8 1.0 1.8 meteran NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.3 0.9 16.3 0.4 1.4 0.9 5.9 29.2 9.4 4.8 4.Tabel 3.6 5.2 20.6 1.3 0.8 10.0 1.7 27.4 1.8 7.4 3.9 22.9 0.6 46.1 43.1 1.9 1.1 0.9 3.2 1.0 9.3 3.2 5.6 19.0 3.5 0.9 7.1 2.5 10.3 1.9 10.4 .2 0.7 9.2 1.184 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.7 3.6 3.9 10.0 11.1 0.3 10.7 4.6 10.2 2.7 13.3 2.1 10.4 0.7 19.9 0.2 2.6 7.2 24.2 36.9 1.0 3.6 18.8 14.4 4.1 8.3 1.5 5.8 9.9 15.1 Ledeng Pompa Sumur 0. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk Terlindung Provinsi Ledeng eceran Air kemasan Air sungai terlindung Mata air terlindung Air hujan 1.0 0.1 7.0 14.9 3.4 7.5 7.4 8.3 7.9 12.8 6.7 29.7 7.8 11.9 19.0 0.3 0.7 0.0 0.6 0.6 11.6 6.2 8.2 8.2 15.2 8.0 0.8 17.9 12.2 2.4 0.8 19.2 3.6 16.0 5.4 4.6 2.2 2.4 3.6 11.3 4.5 0.5 21.8 2.6 11.7 7.3 1.2 2.9 22.4 6.1 2.5 4.1 25.6 40.2 2.1 28.7 11.1 18.9 23.4 13.9 18.9 0.6 7.2 0.4 6.1 5.5 3.3 23.3 5.8 8.5 0.4 0.1 2.9 8.5 12.7 14.1 2.4 10.5 11.2 15.7 1.7 0.2 2.4 5.1 42.9 3.7 1.5 5.2 4.5 11.9 2.6 0.4 57.2 1.3 8.2 14.3 6.7 21.9 0.1 1.8 13.5 13.9 22.7 25.4 34.0 3.3 0.7 0.8 9.8 11.2 2.1 11.0 8.7 7.1 21.5 1.2 14.4 10.9 2.5 0.2 7.0 13.3 13.9 0.3 1.5 5.0 1.1 24.8 3.3 1.5 55.3 33.9 7.0 3.9 34.6 2.9 3.2 34.7 0.1 2.4 7.0 43.7 4.0 2.6 0.2 0.0 4.7 14.8 21.3 1.4 11.0 28.9 0.5 0.7 10.9 1.5 3.8 13.4 7.6 6.8 6.6 5.9 0.8 15.9 4.3 6.9 0.7 2.3 1.4 0.4 13.5 21.1 13.1 49.4 17.4 10.6 7.0 3.3 1.6 0.6 20.7 34.1 0.0 5.6 34.1 30.5 .1 4.7 0.5 0.2 35.2 1.1 7.1 17.6 4.1 0.2 10.0 3.0 7.2 0.1 0.6 5.0 8.3 3.0 0.8 9.8 28.6 1.2 5.3 5.8 11.3 1.7 0.7 5.2 0.1 41.0 1.0 1.7 3.7 14.5 0.3 9.3 1.2 0.3 1.9 5.1 8.8 6.1 0.8 0.1 8.9 11.1 0.0 3.0 Indonesia 6.4 13.9 28.7 1.6 47.8 3.8 253 Lainnya 0.5 10.9 12.8 0.7 0.0 0.1 15.3 41.0 2.5 5.9 18.3 5.

9 13.0 28.9 2.5 7.8 5.9 3.7 7.9 7.5 29.1 16.6 4.1 4.185 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.7 7.8 4.4 0. ledeng meteran.9 0.0%) dan tidak menggunakan penampungan (18.8 12.8 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.7 3. mata air. dan Sumatera Utara.2 4.4 Penggunaan air kemasan.0 5.Sebaran proporsi penggunaan jenis sumber air minum bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 8.4 16.2 3.1 14.8 5.2 14.1 3.5 0.3 4.8 11.8%.1 12.3 4.2 30.9 5.1 8.1 3.8 11.185) Tabel 3.9 6. dan sumur pompa. Tabel 3.0 7.7 10. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak terlindung. ledeng eceran. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.186 menggambarkan jenis tempat penampungan air untuk keperluan minum yang digunakan rumah tangga dan jenis pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum air tersebut dikonsumsi.9 6.2 3.2%).7 30. sedangkan yang menggunakan wadah terbuka sebesar 12.3 10.1 14. 254 Mata air Pompa Sumur Lainnya .5 2. provinsi-provinsi dengan proporsi penampungan air terbuka tinggi antara lain Papua. Sumatera Barat.1 24. Tempat penampungan air di rumah tangga sebagian besar menggunakan wadah tertutup (69.6 9.0 0.8 5.0 31.2 2. Papua Barat.6 0. NAD.4 27.1 16.5 0.2 17.6 0. Di daerah perdesaan sumber air minum yang menonjol digunakan dibandingkan di perkotaan adalah jenis sumur (terlindung dan tidak terlindung). (Tabel 3.0 5.7 0.5 3.4 0.0 6.3 10.3 1. ledeng eceran.7 7.3 13.3 2.3 12.9 4.4 4. dan sumur bor lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.2 21. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan air kemasan. air sungai dan air hujan. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Karakteristik rumah tangga Ledeng meteran Ledeng eceran Air kemasan Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk terlindung terlindung terlindung Air sungai Air hujan 2. Bila melihat sebarannya.1 5.9 25.

0 94.7 26.3 11.1 0.7 96.1 69.8 95.0 12.8 0.4 8.2 5.3 2.1 97.3 5.3 5.1 70.8 0.8 11.7 4.3 4.3 12.9 40.0 77.7 14.1 97.5 89.1 26.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 21.6 31.9 94.8 10.9 7.3 69.7 0.7 84.4 5.8 0.4 0.4 14.5 14.3 92.9 7.1 12.9 45.2 8.7 93.7 4.0 1.4 4.1 25.1 76.3 11.6 5.2 96.3 5.3 21.8 1.8 12.4 2.8 93.4 13.1 72.4 1.6 9.6 17.2 255 .7 0.1 92.6 54.5 1.0 4.9 Bahan kimia 0.5 62.0 18.3 8.1 9.0 5.4 Indonesia 12.6 33.0 Tempat penampungan Provinsi Tdk ada Wadah terbuka Wadah tertutup 41.5 Disaring 12.4 93.2 23.3 9.0 6.3 7.1 10.3 1.5 4.6 84.5 6.7 4.1 2.5 2.5 0.3 5.7 81.2 5.6 62.1 7.5 20.1 17.3 72.8 81.6 4.0 30.2 3.8 0.1 8.6 0.7 6.7 94.8 69.6 88.3 2.0 8.9 30.7 0.6 24.6 6.3 5.5 9.1 3.8 0.9 0.1 2.9 2.5 95. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak 89.6 98.5 4.7 0.3 97.2 1.Tabel 3.6 6.4 1.8 7.0 12.6 7.8 7.0 7.9 14.6 2.7 12.9 2.0 4.3 9.4 5.1 14.5 9.5 5.7 54.4 56.8 23.7 1.0 2.8 19.3 0.0 75.9 2.9 4.5 0.0 31.8 79.7 5.0 22.8 96.4 8.9 1.4 96.8 60.8 84.6 14.5 1.3 15.7 5.5 18.6 79.3 8.0 80.2 16.1 2.4 3.7 7.7 67.8 12.2 0.4 37.1 24.8 12.1 9.6 27.3 7.1 9.3 94.8 86.7 94.9 11.8 7.7 95.7 Lain nya 4.3 6.1 5.2 3.5 10.6 16.4 70.2 2.5 1.7 12.8 81.2 3.1 14.9 34.6 7.4 26.6 48.1 0.2 0.1 96.3 86.4 90.1 56.3 72.2 10.4 2.3 12.3 7.4 1.0 16.2 8.6 70.1 0.4 93.2 11.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Provinsi.0 41.6 21.7 wadah diminum 37.0 78.0 78.1 17.8 6.7 5.2 1.6 15.1 3.4 10.9 5.6 55.0 5.4 17.2 11.0 5.1 3.4 0.0 10.7 0.5 13.0 92.1 91.3 7.3 12.6 0.1 0.2 4.7 1.6 64.0 5.7 76.2 28.4 5.5 0.9 10.

4 17.0 69.6 6. Sarana sumber air yang improved menurut WHO/Unicef adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng.0% dengan membubuhkan bahan kimia.3%). sedangkan provinsi dengan proporsi pembubuhan bahan kimia tinggi adalah Kalimantan Tengah. dan sarana sumber air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah.3 2.2 7.1 14. sedangkan yang langsung diminum (tanpa pengolahan) lebih tinggi di perkotaan. mata air terlindung.4 16.7 15. Kalimantan Selatan.0 91.8 7.8 12.9 7.9 2.3% yang melakukan pengolahan dengan cara penyaringan dan 2. Tabel 3.4 2.1 2.0 69. Proporsi penggunaan tempat penampungan air dan pengolahan air sebelum dikonsumsi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. sedangkan yang tidak menggunakan penampungan lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. tetapi semakin meningkat yang tidak menggunakan tempat penampungan air.9 68. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin kecil proporsi yang menggunakan wadah terbuka.9 4.8 7. Dalam hal pengolahan air sebelum dikonsumsi.1 1.3 10. dan air hujan. selain dari itu dikategorikan not improved.8 92.6 68.3 13.9 1.4 12.2 92.1 1. akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari.8 3.5 69. Data konsumsi air dan jarak ke sumber air berasal dari Riskesdas 2007.4 12.187). (Tabel 3. sumur terlindung.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 12. sedangkan data jenis sarana air minum berasal dari Kor Susenas 2007.9 92.9 13.4 89. dan Kalimantan Timur.6 18.1 12. sarana sumber air yang digunakan improved.9 68.6 12.3 9.7 Proporsi yang menggunakan wadah terbuka lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.187 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Tangga.7 17. Provinsi dengan proporsi penyaringan tinggi adalah NTT.1 12. tampak cara memasak dan disaring sedikit lebih tinggi di perdesaan.2 15.9 7.5 88.8 wadah diminum 22. Terdapat 12.2 10. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak Disaring Bahan kimia Lain nya Karakteristik rumah tangga Tempat penampungan Tdk ada Wadah Wadah terbuka tertutup Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 9.2 2. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.1 69.9 8.5 7.3 3. Maluku dan Jawa Timur. 256 .Secara nasional pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum digunakan sebagian besar dengan cara dimasak (91.3 92.7 2.9 20. sumur bor/pompa.

4 62. tabel 3.1 36.1 60.7 39.8 55.3 48.188 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi.5 53.8 55.9 63.Tabel 3.3 53.4 31. terendah Papua (26.6 50.9 39.7 48. 2007).6 59.6 37.3 57.4%).5 46.3 61.0 68.7 *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.5 77.5 53.9 73.1 35.0 38.5 63.3 51.8 33.6 37. 2007).7 Indonesia 42.5 36.3%) dan Kepulauan Riau (31.8 37.4 62.2 44.8 31.9 76.1 23.3 60.2 68.5 46. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.0 61.9 64. 257 .8 34.1 74.7 38.7 46.3 Baik*) 48.7 38.3 61. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 51.5 22.2 65.6 68.7 51. disusul oleh Riau (31.8 37.7% yang mempunyai akses baik terhadap air bersih.4 40. Provinsi dengan proporsi akses baik terhadap air bersih di bawah rerata nasional sebanyak 18 provinsi.2 44.2 65.188 menunjukkan secara nasional terdapat 57.0 31. 2007) Berdasarkan kriteria tersebut.2 62.9 56.7%).2 62.2 67.8 35. dari sumber terlindung (Susenas.1 43.4 49.9 25.1 26.

7 67. Data ini diambil dari data rumah tangga Kor Susenas 2007.1 48. 2007).6 58. 2007). 2007) Tabel di atas menunjukkan di perkotaan akses baik terhadap air bersih lebih tinggi (67. 3.189 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga.6 39.3%).7 38.Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. 258 .2 Fasilitas Buang Air Besar Data fasilitas buang air besar meliputi penggunaan atau pemilikan fasilitas buang air besar dan jenis jamban yang digunakan.9 51.5 53.3 Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 47.4 60.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (51.0 56.0 43. dari sumber terlindung (Susenas. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 32. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas. semakin tinggi tingkat pengeluaran cenderung semakin besar proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 41.3 61.5 CATATAN : *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas. Tabel 3.9.

0 20.9 Bersama 8.8%).5 36.4 25.3 9.8 12.6 Umum 8.6 7.4 20.2 6.1 11.0 7.0 2.5 0.2 42.3 47.7 16.0 46.9 23.190 menunjukkan rumah tangga yang menggunakan/memiliki jamban sendiri sebesar 58.8 49.1 19.8 27.6 8.8 63.2 19.4 9.0 0.6 3.9%.1 28.9 12.7 12.3 12.2 49.1 60.4 57.6%) dan Maluku Utara (36.3 76.2 7.0 32.8 7.8 15.1 53.1 12.9 16.8 57.2 25.3 1.4 31.0%).8 72.2 71.0 .0 4.2 17. 259 .1 4.3 2.0 7.5 16.8 43.5 13.7 77. dibandingkan dengan hasil Susenas 2004 mengalami penurunan sebesar 1.3 6.7 31.9 27.1 18.1 79.4 57.5 8.1 12.2 47.4 8.2 8.1 9.9 25.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 58.4%).9 51.0 13.1 59.8 20.0 42.5 35.4 3.Tabel 3.1 18.3 59.4 8.5 3.4 31.2 23.6 11.2 3. Beberapa provinsi dengan proporsi penggunaan jamban sendiri rendah antara lain Gorontalo (31.4 64. Susenas 2007 Jenis penggunaan Provinsi Sendiri 51.7 13.3 8.8 Tabel 3.2 26.8 59.1 4.4 58.0 14.5 64.1 25.2 Tidak ada 32.1 7.5 9.6 14.9 38.8 6.9 11.190 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.5 36.4 1.1 5.7 3.8 2.8 2.6 60.1 6.7 1.6 2.0 1.4 4.2 24.7 8.1 1.5 16.6 61.5 32.4 42.3 65. NTB (35.7 4.7 1.0 12.5% (tahun 2004 sebesar 60.8 32.1 45.9 36.8 58.0 5.7 65.2 9.

8 11. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi yang menggunakan jamban sendiri.5 2.7%). Dibandingkan dengan data tahun 2004 sebesar 49.2%) dibandingkan dengan di perdesaan (49.9 4.7%).1%). penggunaan jamban saniter ini mengalami peningkatan yang signifikan.4%) dan Papua (11.6 52. dan DI Yogyakarta (83.3%. Gorontalo (87.0 13.0 6.3 4.2 11.2 19.1 30. DKI Jakarta (86.3%).5 65.6 12. Jenis sarana pembuangan kotoran dianggap ‘saniter’ bila menggunakan jenis leher angsa.2%).8 11.3 10.3 58.9%.9 14.192 menggambarkan berbagai jenis sarana pembuangan kotoran.4 37.Cakupan penggunaan jamban sendiri menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2%). 260 .191 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga. Secara nasional rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebesar 68.0 12.5 Sendiri Bersama Umum Tidak ada Tingkat pengeluaran rumah tanggaper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 43. Provinsi dengan cakupan penggunaan jamban saniter tinggi antara lain Bali (95. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak pakai jamban tinggi antara lain Kalimantan Tengah (14.2 4.2%).9%).1 25.3%). Maluku Utara (84. Tabel 3.7 3.2 49. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sulawesi Utara (85.8 9.0 75.191) Tabel 3.2 3. (Tabel 3. Susenas 2007 Jenis penggunaan Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 73. Kalimantan Selatan (13. Banten (87.6 Persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di perkotaan lebih tinggi (73.8%).2 34.

6 4.5 66.6 14.1 8.8 22.9 76.9 66.2 13.4 7.7 95.3 1.8 15.4 60.9 2.4 25.8 11.8 4.5 18.1 87.9 9.1 49.7 0.6 13.9 17.5 62.3 13.5 5.5 6.9 72.5 6.9 6.0 16.2 75.6 Tidak pakai 7.0 17.5 70.4 0.6 21.0 8.0 4.8 6.5 4.6 4.6 2.7 2.2 83.2 Cemplung/ cubluk 24.1 9.9 4.7 9.7 79.0 6.8 11.8 60.7 0.8 68.7 26.2 7.6 1.2 Indonesia 68.7 16.3 7.9 18.9 0. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Provinsi Leher angsa NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 59.0 Plengsengan 8.193) 261 .8 5.7 5.6 67.1 1.1 19.4 2.9 14.8 15.7 0.6 9.Tabel 3.0 1.8 6.0 18.4 3.2 31.6 6.9 4.7 59.7 87.2 9.8 6.1 75.6 11.0 24.1 15.4 3.2 5.0 78.0 68.4 14.8 24.192 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi.3 24.7 5.8 12.5 85.6 2.8 1.0 43.3 11.2 53.3 12.5 7.0 30.8 14.4 4.4 1.4 10.8 8.4 39.0 7.3 7.3 16.5 Proporsi penggunaan tempat buang air besar bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.0 7.8 4.8 69.5 63.2 25.3 5.3 67.2 2.7 8.5 9.3 13.2 75.2 86.6 2.3 58.7 3.5 29.6 84.

Terdapat 18 provinsi dengan akses baik terhadap sanitasi di bawah rerata nasional. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.6 82.0 53.0 8.1%). akses sanitasi disebut ‘baik’ bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa. Berdasarkan kriteria tersebut.193 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.5 11.5 13.5 61.9 9.4 10.5%) dan Maluku Utara (31.3 3.5 9.1 Leher angsa Plengsengan Cemplung/ cubluk Tidak pakai Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Proporsi rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa lebih tinggi di perkotaan (83.6 2. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 83. terendah adalah Papua (17. pada tabel 3.5 27.8 26.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (56.9%).0%).8 10.2 8.194 dapat dilihat secara nasional rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi sebesar 43.3 73.Tabel 3.0 7. 262 .0%.4 22. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 1.7 5.8 68.1 17.5 7.6 4. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi yang menggunakan jamban jenis leher angsa.9 56.6 7.2 5. disusul oleh Papua Barat (25.

5 44.5 55.9 49.0 30.0 66.2 63.4 48.9 46.4 55.0 34.1 58.8 31. di perkotaan lebih tinggi dua kali lipat (63.2 68.9 54.0 43.0 50.5 27.1 Baik*) 33. 2007).0 70.6 51.5 58.1 53.5 41.4 31.9 Indonesia 57. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 35.7 42.0 74.9 41.5 17.7 44.0 58.9 42.6 70.2 46.1 40.5 73.194 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Provinsi.2 60.1 50.1 55.9 44.0 41.8 36.4 58.3%).8 53.0 65. Tabel 3.6 45.4 29.0 33.7 50.0 *) menggunakan jamban sendiri.3 49.6 41.1 57.5 82. Menurut tingkat 263 .3 64.0 25. jenis latrin (Susenas.3 44.3%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.Tabel 3.3 57.3 55.0 49.5 77.9 60. Susenas 2007 Akses sanitasi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 66.195 menunjukkan proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.8 39.7 55.6 69.1 46.5 22.

5 *) menggunakan jamban sendiri. dan pantai/tanah.3 30.0%) dan Bali (76. (Tabel 3. Kalimantan Tengah.3 Akses sanitasi Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 74. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5%). Sulawesi Tenggara.3%). Secara nasional. Kalimantan Selatan. kolam/sawah.7 69.9 65. Lampung. proporsi rumah tangga dengan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki/SPAL (saniter) sebesar 46. Maluku. Sulawesi Barat.5 36. Jambi.pengeluaran rumah tangga per kapita terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.5 63.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. jenis latrin (Susenas.196) Proporsi penggunaan sarana pembuangan akhir tinja saniter tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta (86.5 25. Papua. Sumatera Barat. data diambil dari Kor Susenas 2007. Proporsi rumah tangga yang menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinja dua kali lebih tinggi di perkotaan (71.(Tabel 3. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan tangki/SPAL. Kalimantan Barat.6 42.7 63. sisanya dibuang ke sungai/laut. Tabel 3. Provinsi-provinsi yang proporsi pembuangan akhir tinja saniternya di bawah rerata nasional adalah NTT. Proporsi rumah tangga dengan penggunaan tempat pembuangan akhir tinjanya jenis tangki/SPAL (saniter) bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sulawesi tengah. Bengkulu. dan Gorontalo. NTB.3%. Susenas dan Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 36. Tempat pembuangan akhir tinja dikategorikan saniter adalah bila menggunakan jenis tangki/sarana pembuangan air limbah (SPAL). Papua Barat. Untuk pembuangan akhir tinja. 2007). NAD.7 49.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.3 50.4 57.1 34. lobang tanah.197) 264 .

1 7.0 26.0 1.2 31.3 43.7 14.8 47.9 22.5 1.0 2.1 2.1 21.2 29.1 25.0 14.3 23.4 54.3 0.3 15.8 2.9 22.6 0.4 18.6 20.2 48.0 1.Tabel 3.0 14.9 2.0 24.7 31.5 1.3 33.5 Lobang tanah 22.0 25.1 20.2 20.7 69.4 11.2 Sungai /laut 22.1 0.1 5.4 35.4 30.4 42.4 33.1 1.3 30.6 0.0 25.7 53.6 24.4 21.2 11.7 6.7 Pantai/ tanah 12.1 50.4 3.4 1.3 41.1 4.7 1.1 0.3 34.8 9.2 22.3 0.3 2.6 40.4 0.8 32.0 1.7 0.9 0.1 22.6 1.6 21.9 3.5 2.3 33.6 7.0 4.1 3.2 2.3 1.4 1.3 14.1 11.8 1.7 Lainnya 3. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Provinsi Tangki/ SPAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 36.1 7.6 2.2 Indonesia 46.1 30.0 21.7 11.9 45.2 1.6 18.8 24.0 20.1 15.6 0.4 0.7 15.6 1.9 3.5 31.0 0.6 6.7 2.2 6.9 22.5 49.9 12.9 86.1 28.1 21.5 11.0 0.3 2.2 5.7 14.6 16.8 21.0 49.0 265 .9 7.1 46.0 0.8 2.6 2.196 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi.5 1.2 18.2 1.7 22.3 3.7 26.9 21.3 55.9 15.3 1.4 8.0 53.6 1.1 57.6 21.9 0.4 1.2 55.3 32.2 5.1 2.0 0.1 1.9 2.4 76.6 4.7 69.0 0.5 34.7 39.9 1.8 61.1 42.7 38.4 0.7 3.2 4.7 12.9 46.8 8.6 2.0 1.1 12.5 3.7 1.3 1.3 17.4 36.2 4.0 1.1 4.4 0.7 22.2 13.8 16.3 16.4 26.7 Kolam/ sawah 63.7 7.4 5.8 1.1 0.4 2.8 4.6 35.5 38.3 8.6 1.5 11.2 14.6 0.1 6.6 0.

disusul oleh Kalimantan Selatan (75.4 Kuintil 4 52.5 9.4 24. proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL hampir tiga kali lipat (42. Di daerah perdesaan.8 12. Dibandingkan dengan data Susenas tahun 2004.5 2.9 Perdesaan 30.2 3.3 Kuintil 2 38. yaitu dari 25.198) Terdapat 16 provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak memiliki SPAL lebih tinggi dari rerata nasional.3 3.2 16.1 10. Proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 16.6 3.5 19. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 3.9%).5% (Tabel 3. tertinggi adalah NTT (77.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 30.1 22.9%) dibandingkan dengan di perkotaan (15. baik SPAL jenis tertutup maupun terbuka.0 4.9.1 1.Tabel 3.9 6.6 27.7 7.2 2.0 Kuintil 5 65.3 23. terdapat peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.8 20.0 11.7%) dan Kalimantan Tengah (65.3 Sarana pembuangan air limbah Data penggunaan saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga didapatkan dengan cara wawancara dan pengamatan.6 23.8 1.5 4.8 Kuintil 3 45. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Karakteristik rumah tangga Tangki/ SPAL Kolam/ sawah Sungai /laut Lobang tanah Pantai/ tanah Lainnya Tipe daerah Perkotaan 71.8 2.2 11.(Tabel 3. semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin rendah proporsi rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.197 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.9%).2 2.7%). terdapat 67.7 11.9 2.5 21. Secara nasional.7 1.2 2.199) 266 .8% menjadi 32.5 26.6 1.3 3.7% rumah tangga yang menggunakan SPAL di rumahnya.

6 37.9 8.5 25.6 51.2 21.3 60.5 46.0 46.1 37.7 27.0 27.198 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.4 8.0 16.5 69.1 27.5 267 .0 49.3 38. Riskesdas 2007 Saluran pembuangan air limbah Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Terbuka 56.1 43.4 9.1 25.7 20.6 65.1 43.8 10.7 52.3 16.7 11.3 25.2 17.5 55.2 5.7 44.2 Indonesia 42.3 11.7 4.1 57.6 30.9 41.2 34.6 39.4 69.7 31.6 37.5 22.1 24.1 Tertutup 17.6 25.3 24.1 17.2 32.4 47.7 13.7 16.4 30.5 23.0 48.0 11.4 48.7 33.7 23.2 48.9 44.9 75.3 25.8 42.4 17.3 77.5 47.0 38.3 4.Tabel 3.8 21.3 52.8 6.5 41.5 34.3 18.8 14.1 14.1 52.2 71.0 50.7 46.6 26.6 53.0 17.7 12.9 10.6 46.1 20.9 34.3 40.9 43.4 42.2 10.9 47.5 33.0 27.7 Tdk ada 26.

2% di luar rumah) dibandingkan dengan di perdesaan (20.5 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Terbuka Tipe daerah Perkotaan 41. Tabel 3.9 15.5 17. Proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 23.0 Kuintil-5 41.4 33.6 Saluran pembuangan air limbah Tertutup Tdk ada 42.4 20.8 28.9 40.5% rumah tangga memiliki tempat sampah di luar rumah.9.6% rumah tangga yang memiliki tempat sampah di dalam rumah dan 45. Tabel 3. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memiliki tempat sampah tertinggi adalah Gorontalo (dalam rumah) dan Kalimantan Selatan (luar rumah).9 42.199 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.201 menunjukkan di perkotaan proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah lebih tinggi (36.2 29.1 36.4 Pembuangan sampah Data pembuangan sampah meliputi ketersediaan tempat penampungan/ pembuangan sampah di dalam dan di luar rumah.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.3 35.0 Kuintil-4 42.2 14.9% di luar rumah).5 Kuintil-2 42.3% dalam rumah dan 56.200 menunjukkan secara nasional terdapat 26. baik di dalam maupun di luar rumah.5% dalam rumah dan 38. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang memiliki tempat sampah.7 22. 268 .9 Perdesaan 42.8 Kuintil-3 43.

5 7.3 73.8 5.6 56.2 21.7 Tidak ada 77.1 64.2 6.1 83.6 23.4 86.5 17.8 6.1 4.9 51.0 10. Riskesdas 2008 Penampungan sampah dalam Provinsi Tertutup NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5.5 7.1 Terbuka 25.9 10.2 5.2 54.5 81.9 5.7 5.5 8.4 8.2 15.4 5.3 49.1 73.4 66.8 36.0 39.6 77.1 28.4 18.0 33.3 30.8 24.3 4.0 33.3 14.0 29.2 31.4 11.0 85.5 37.3 65.8 18.1 71.5 74.8 58.9 81.5 269 .3 54.0 2.7 13.6 68.4 80.7 8.3 24.0 63.0 17.8 5.1 8.5 3.1 72.2 16.7 13.1 66.8 6.4 5.8 61.8 73.2 17.Tabel 3.8 7.4 14.1 34.9 8.4 3.3 63.3 13.7 7.2 10.2 77.1 10.2 12.6 3.4 36.6 80.3 7.200 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.0 7.8 5.9 72.5 3.8 Penampungan sampah di luar rumah rumah Terbuka 17.6 73.7 34.5 59.9 17.3 30.5 16.7 76.1 58.5 65.3 63.7 14.1 26.9 15.6 2.3 7.0 27.0 65.6 65.5 12.0 55.8 74.9 11.0 29.5 9.8 83.0 7.6 85.4 28.5 10.1 75.9 23.0 42.5 15.3 65.9 24.4 23.0 9.3 13.0 11.8 4.0 23.5 18.8 22.5 14.2 77.3 80.1 8.0 76.3 48.0 Indonesia 8.5 8.0 80.9 5.4 35.1 36.2 28.6 3.9 35.2 5.1 32.0 29.1 34.5 6.1 58.0 8.4 3.9 31.1 41.3 60.1 23.7 19.5 Tertutup 9.0 3.2 60.4 47.2 66.6 56.5 61.8 4.0 16.4 3.5 55.7 26.2 54.3 44.4 6.0 21.9 56.4 15.9 64.9 3.1 6.9 53.0 Tidak ada 65.0 11.8 6.0 11.5 27.2 37.6 18.2 3.3 72.5 37.9 62.9 69.4 34.9 42.7 54.

9 61. 270 .5 Perumahan Data perumahan yang dikumpulkan dan menjadi bagian dari persyaratan rumah sehat adalah jenis lantai rumah.4%) dan Papua (27.7 46.8 36.0 37.0 71.1 57.2 Kuintil-4 10.5%).8 5.5% dengan tingkat hunian padat.7%).4 79.5 40. Tabel 3.9.9 35. sedangkan proporsi rumah dengan kepadatan hunian tinggi tidak menunjukkan perbedaan antara di perkotaan dan perdesaan. Sedangkan provinsi dengan proporsi hunian padat lebih tinggi dari rerata nasional antara lain Papua (51.1 Karakteristik rumah tangga Penampungan sampah di luar rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 43.1 60. Papua Barat (40.0 19. Dilihat dari provinsi. yaitu memenuhi syarat bila ≥8m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila <8m2/kapita (padat). dan DKI Jakarta (37.0 Kuintil-5 14.4 7.5 38. Hasil perhitungan dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat. Tabel 3.7 79.3 21.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4.8 18.201 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.0%) dibandingkan dengan di perkotaan (5.3 3.0%).7 74. Proporsi rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan tingkat hunian padat bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 40. Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi luas lantai rumah dalam meter persegi dengan jumlah anggota rumah tangga. kepadatan hunian.9 15.5 3. Riskesdas 2007 Penampungan sampah dalam rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 63.0 Tipe daerah Perkotaan 15.8 15. ada kecenderungan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang lantai rumahnya tanah dan tingkat huniannya padat.3 8.1 65.0 Kuintil-3 7.3 16.4%). terdapat delapan provinsi dengan proporsi jenis lantai rumah tanah lebih dari rerata nasional.6% rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan 17. disusul oleh Jawa Tengah (28.5 Kuintil-2 6. luas lantai rumah dan jumlah anggota rumah tangga diambil dari Kor Susenas 2007.9%). dan keberadaan hewan ternak dalam rumah.Tabel 3.8%).203 memperlihatkan proporsi rumah tangga dengan jenis lantai tanah di perdesaan lebih tinggi (17.9 13. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 17.0 20.202 menunjukkan secara nasional masih terdapat 12.2 52.0 Perdesaan 4.1 34. Data jenis lantai.2 6.6 55. sedangkan data pemeliharaan ternak diambil dari Riskesdas 2007. tertinggi NTT (44.7 76.

9 2.1 89.6 95.7 94.6 40.2 6.8 16.0 Tanah < 8 m2/ kapita 20.1 10.4 3.7 83.4 88.6 88.0 69.2 83.5 73.5 19.6 89.2 71.9 10.4 19.2 49.9 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 79.2 37.9 17.2 84.5 93.7 96.5 79.8 7.1 13.3 78.7 88.3 16.202 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.1 7.4 11.7 4.3 5.5 96.3 82.1 78.6 63.1 91.1 97.8 93.0 30.6 3.3 97.5 6.6 11.7 82.4 78.7 21.6 44.3 96.4 79.4 4.3 17.Tabel 3.0 11.2 2.9 21.2 80.3 84.4 55.3 5.7 94.9 23.9 33.2 25.3 93.5 20.9 89.6 72.2 27.4 12.0 94.8 97.8 15.3 11.9 89.7 2.7 95.9 21.5 17.3 86. Kepadatan Hunian dan Provinsi.8 62.1 66.1 78.9 84.0 5.5 271 .7 81.5 26.9 20.6 20.1 10.7 15.3 4.0 Indonesia 87.8 9.1 15.6 96.6 80.4 27.4 10.7 87.7 13.4 36.7 90.8 51.2 92.1 82.3 12.8 28.6 22.4 96.2 90.4 59.2 8.3 18.9 8.0 88.7 6.8 19.3 4.8 72.1 76.7 17.9 92.8 74.1 79.8 91.6 82.5 80. Susenas 2007 Jenis lantai Provinsi Bukan tanah NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 86.3 9.5 3.

5 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita < 8 m2/ kapita Bukan tanah Tanah Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Dalam hal pemeliharaan ternak.Tabel 3.1 93.5 83.5 17.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.205). baik jenis unggas. ternak sedang (kambing.2 82.8% memelihara ternak besar dan 16. kerbau. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9% memelihara binatang jenis anjing. 272 .8 94.7% rumah tangga yang memelihara unggas. Pada Tabel 3. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.6 82.6 21. Bali dan Papua. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.6 65.0 80. dll) atau binatang peliharaan seperti anjing.9 85. kucing dan kelinci. ternak besar (sapi.0 19. Susenas 2007 Jenis lantai Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 94. anjing atau kelinci.3% memelihara ternak sedang.8 17.1 14.2 5. kemudian ditanyakan dan diamati apakah dipelihara di dalam rumah. kucing atau kelinci. Bila di rumah tangga memelihara ternak.1 84. data dikumpulkan dengan menanyakan kepada seluruh kepala rumah tangga apakah memelihara binatang jenis unggas.5 17. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin sedikit memelihara ternak. Provinsi-provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memelihara ternak tinggi antara lain Provinsi NTT.4 78.7 12. ternak sedang.204 tampak secara nasional terdapat 41.4 9. 8.4 5.4 34. 12. maupun binatang kucing.3 87.9 6.4 10. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10%-20% memeliharanya di dalam rumah. domba.6 89.6 90. babi. kuda.9 15. ternak besar. dll).

2 1.8 3.7 31.0 95.1 0.2 2.7 4.8 3.6 83.9 3.8 1.6 93.6 57.4 77.2 35.5 95.9 14.3 26.6 0.1 47.1 7.9 2.6 94.0 18.3 26.1 73.7 4.7 26.9 2.8 62.0 6.0 90.6 8.3 29.7 4.3 0.2 4.1 Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh 9.9 2.1 83.5 5.8 47.8 54.0 12.5 83.9 17.1 0.2 81.8 0.9 9.7 3.8 48.1 0.4 Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh 1.8 11.8 2.0 70.7 Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh 0.3 8.7 5.3 48.7 0.2 Tdk dipelihara 44.4 4.4 0.1 3.3 9.3 94.5 96.3 0.9 13.5 0.3 1.0 Tdk dipelihara 86.0 91.1 21.1 90.0 51.3 40.8 2.0 6.4 64.1 16.6 11.6 16.3 83.3 5.3 17.0 0.6 98.7 56.2 0.9 8.1 95.5 Luar rmh 51.3 23.8 0.9 89.6 2.6 90.4 8.4 7.5 0.4 0.7 2.6 69.6 2.0 0.6 52.0 Tdk dipelihara 86.1 31.3 91.1 10.1 36.6 92.3 26.3 13.1 70.2 13.7 63.8 6.8 4.9 2.2 0.4 0.8 0.0 14.Tabel 3. Riskesdas 2007 Ternak Unggas Provinsi Dlm rmh 3.7 39.1 0.6 83.6 98.4 34.1 0.2 2.7 3.2 6.5 3.8 0.3 1.7 94.1 83.2 99.9 18.3 44.8 1.8 5.4 4.1 87.3 1.8 94.2 0.1 95.7 11.1 2.2 4.2 25.4 40.6 4.0 2.7 93.2 0.2 80.0 Luar rmh 11.9 56.3 99.3 6.2 3.1 93.6 0.5 42.8 2.3 90.8 25.3 29.7 6.3 65.3 Luar rmh 12.2 2.7 15.8 91.1 1.7 14.0 0.9 2.3 6.6 10.5 1.8 29.8 23.8 50.9 96.7 40.6 0.9 68.9 0.3 12.2 4.7 92.3 57.0 13.6 67.0 15.2 25.9 98.0 80.5 27.1 99.5 87.4 15.6 46.8 45.5 6.9 1.1 88.0 0.5 33.6 64.2 30.4 49.3 89.3 7.9 0.7 77.9 66.4 2.8 5.3 63.9 22.1 71.0 50.4 85.3 0.3 10.9 94.8 31.3 4.2 93.8 26.6 1.4 17.5 3.6 94.9 8.7 92.1 5.8 Tdk dipelihara 87.8 52.9 5.6 1.6 84.5 5.7 4.4 1.1 2.3 84.1 66.2 66.5 58.9 3.9 32.8 91.4 2.8 5.9 13.6 91.2 0.7 16.8 45.1 75.7 67.4 11.8 6.3 0.9 0.7 92.9 8.1 69.2 2.9 3.9 9.0 14.7 76.4 0.4 5.4 0.9 82.2 16.5 1.2 0.2 0.3 0.7 3.2 69.8 99.1 7.8 2.1 0.7 97.1 0.6 71.8 29.0 82.0 94.3 6.9 Luar rmh 3.0 82.0 96.3 0.1 1.0 94.5 2.0 65.4 9.6 0.7 96.8 91.1 0.0 18.9 12.9 3.4 0.3 10.7 99.9 11.7 95.9 88.5 6.5 9.8 95.0 0.4 78.9 97.8 36.1 2.5 1.1 0.6 3.6 85.7 95.2 88.4 97.3 0.1 79.1 7.7 5.1 8.8 8.1 27.1 61.0 11.6 8.4 0.7 0.1 35.2 4.1 12.0 3.5 6.6 89.4 0.4 96.9 59.0 33.2 7.8 10.4 85.6 7.4 84.8 3.0 0.8 19.5 83.204 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.5 27.4 99.4 10.1 4.2 3.4 62.1 93.0 5.5 0.0 0.1 54.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 273 .7 1.9 4.3 90.7 69.7 9.0 3.7 17.0 6.0 0.6 7.4 57.5 2.6 85.3 0.8 6.0 2.3 0.5 78.8 3.0 0.3 94.8 33.7 66.1 97.

Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Ternak Unggas Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 4.7 10.7 1.3 7.0 81.205 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.6 92.8 53.4 97.8 7.3 1.0 84.0 0.2 0.4 56.3 1.8 19.3 7.5 90.3 47.3 9.5 10.6 87.4 7.6 85.7 96 82.9 59.3 274 .7 83.0 6.3 1.5 10.1 27.2 4.6 1.6 15.3 1.5 1.5 86 87.8 12.8 89.5 11.4 36.4 1.4 1.6 12 4.0 89.6 82.2 79.9 67.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.3 9.6 7.1 6.0 4.8 7.4 92.7 39 38.3 34.2 0.Tabel 3.8 3.2 8.2 54.1 11.0 94.8 89.6 9.2 6.2 8.8 0.4 89.6 13.1 82.4 45 76.7 7.5 2.5 0.8 8.5 9.7 6.8 6.

4 17. Kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sebelum survei (terletak pada rentang waktu 1 Juli 2006-31 Januari 2008) ditindaklanjuti dengan wawancara kepada anggota keluarga almarhum/ah menggunakan kuesioner AV.6 2.10 Mortalitas Pewawancara menanyakan kejadian kematian selama kurun waktu tiga (3) tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data. Tabel 3.0 2.8 5. sedangkan pada umur 75 tahun ke atas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Riskesdas 2007 Kelompok umur Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas Laki-Laki n % 210 55 49 89 89 120 298 381 460 468 9. yaitu 4. termasuk di dalamnya 75 kasus lahir mati.552 kejadian kematian.4 Distribusi kematian menurut umur dan jenis kelamin pada tabel 3.10.4 2.0 5.7 13.2 12.0 4.3. Pada kelompok umur muda (di bawah 15 tahun).488 RT yang berhasil diwawancarai x 4. yang anggota keluarganya berhasil diwawancarai secara lengkap.5 6. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1000. Tabel 3. Proporsi kematian pada umur 45-74 tahun pada laki-laki lebih besar daripada perempuan. proporsi kematian pada umur 5-14 tahun terendah.6 18.4 26.1 20.0 Perempuan n % 144 48 27 48 89 124 213 251 316 454 8.552 per 1. hanya 4.7 23. Data mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33 provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4.5 4.8 1.9 3.5 Total n 354 103 76 137 178 250 511 632 776 922 % 9. dan proporsi kematian umur 15 tahun ke atas semakin meningkat.5 2.207 membandingkan proporsi kematian menurut tipe daerah.0 19.3 13.0%.2 4. sedangkan pada kelompok umur 45-74 tahun di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan. 3.2 persen).206 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.163.4 2.5 rata-rata jumlah ART).552 kasus kematian di atas.7 21.0 16.196 (=258.206 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada umur di bawah 1 tahun adalah 9. proporsi kematian di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan.014 kasus (88.1 Distribusi Kasus Kematian Diantara 4. 275 .4 14.2 7.6 1.

dan tumor ganas.5%).5%). Penyakit menular didominasi oleh TB penyakit hati (termasuk hepatitis kronik). yang disusul oleh TB (7.209 menunjukkan urutan penyakit menular dan tidak menular pada semua umur. walaupun dalam enam (6) tahun terakhir penurunan hanya sedikit.9 3.8 22. Proses ini diprediksi akan berjalan terus.0 3. menurut empat (4) kelompok penyebab kematian.4 4.5 4.6 23.9 15.2 Kematian Semua Umur Tabel 3. sedangkan penyakit tidak menular didominasi oleh strok. dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen. dan diare. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat.7 11.4 3.0 19. Di lain pihak.5 6.207 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah.6 5.6 1.1 5. diabetes mellitus. Grafik 3.9 n 250 72 53 78 94 153 259 336 449 544 Perdesaan % 11.3 17. pnemonia.3 14.3 13.7 19. hipertensi. proporsi penyakit menular telah menurun.208 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15.4 3.1 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen. Riskesdas 2007 Kelompok umur n Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas 104 31 23 59 84 97 252 295 327 378 Perkotaan % 6. sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.4%).9 19.3 1. 276 . Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001.10.0 16. Pada tabel 3.1 6.9 1.3 3. Proporsi gangguan maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan. Kondisi maternal/perinatal dalam kurun waktu tujuh (7) tahun tidak berubah dan kematian karena cedera tidak mengalami perubahan. tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti dengan transisisi demografi.7 23.8%) dan Cedera (6.1 2.8 n 354 103 76 137 178 250 511 631 776 922 Total % 9. Hipertensi (6.Tabel 3.0 2.

SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 277 . Riskesdas 2007 Penyebab kematian Strok TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi Proporsi kematian (%) 15.7 1.6 0.3 0.1 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit.4 7.6 1.5 0. Pola penyebab kematian semua umur.1 4.8 0.7 5.5 6.1 5.5 0.208.5 1. Grafik 3.6 3.8 6.7 5.0 5.Tabel 3.1 5.3 0.5 6.2 .8 3.

jumlah kematian neonatal.8% ibu dari bayi perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil.2 7. Riskesdas 2007 No Penyakit menular (n=1. faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya. Kematian Berumur 0-28 hari (Neonatal) Jumlah kematian perinatal di 33 provinsi.5 3. selanjutnya urutan ke 2 dan 3 disebabkan oleh prematuritas dan sepsis (Tabel 5.2 9. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir marti secara berturut-turut adalah hipertensi maternal (24%).2 10.3 9.2). pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.6% (75 kematian) dari seluruh kematian perinatal.0 4. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil.6 3. maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil.2 6. Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal.285) % 26. sebesar 142 kasus kematian.2 Strok Penyakit Hipertensi Diabetes mellitus Tumor ganas Penyakit jantung Iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 hari Malformasi congenital Malnutrisi % Penyakit tidak menular (n=2.0 0.10. yaitu lahir mati ditambah kematian bayi umur 0-6 hari tercatat sebesar 217 kasus kematian. Bila dibandingkan dengan seluruh kematian neonatal ini.1 1. komplikasi ketika bersalin 278 .080) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/ ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia 27.Tabel 3.1 14.4 13. 96.9 12. Terbanyak karena sepsis (20%) (Tabel 3. Kematian bayi neonatal lanjut (7-28 hari) tercatat 39 kasus.3 10. Poporsi terbesar disebabkan karena gangguan/kelainan pernafasan (respiratory disorders).4%) menunjukkan bahwa penanganan bayi prematur belum memuaskan.2 2. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari).210). seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan.5%. kematian bayi neonatal dini (0-6 hari) adalah sebesar 78. tercatat 181 kasus kematian. atau karena alasan lainnya. Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir.8 19.4 3. Proporsi lahir mati cukup tinggi yaitu 34. Proporsi bayi prematur yang meninggal cukup tinggi (32.4 1. yaitu kematian bayi 0-28 hari.9 1. yaitu kematian bayi umur 0-6 hari (disebut juga kematian bayi neonatal dini).3 Kematian Menurut Kelompok Umur a.209. Sisanya. Untuk kematian perinatal. Di lain pihak.

Tabel 3.6 1.3 6.4 2.4 12.5 18.8 0-6 hari (n=142) Ketuban pecah dini Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Kelainan nutrisi maternal Multiple pregnancy Perdarahan antepartum Persalinan sungsang Infeksi intrapartum Lilitan tali pusat Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran % 23.6 2.210 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 hari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0-6 hari (n=142) Gangguan/kelainan pernafasan Prematuritas Sepsis Hipotermi Kelainan perdarahan dan kuning Postmatur Malformasi kongenitas % 35.(partus macet) sebesar 17.6 3.4 Sepsis 7-28 hari (n=39) Malformasi kongenital Pnemonia Sindrom gawat pernafasan (RDS) Prematuritas Kuning Cedera lahir Tetanus Defisiensi nitrisi Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden infant death) % 20. Kematian Berumur 29 hari-4 tahun Kematian bayi postneonatal dan anak balita didominasi oleh penyakit menular. Sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal berumur 0-6 hari adalah ketuban pecah dini (23%).9 32.211).211 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari. dan hipertensi maternal (22%) (Table 3.1 b.5%.4 12.1 15.6 2.0 6.8 16.6 2. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lahir mati (n=75) Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Ketuban pecah dini Perdarahan antepartum Cedera maternal Persalinan sungsang Kehamilan ganda Infeksi intrapartum Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran Lilitan tali pusat % 23.9 5.3 1.5 12.5 3. dan pnemonia.6 17.7 10.7 3.3 5.6 3. Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi postneonatal (29 hari-11 bulan) dan anak balita (14 tahun) untuk tiga penyakit terbesar mempunyai pola yang sama yaitu diare.8 1.8 12.9 6.0 21.0 10.6 2.9 5. Untuk bayi postneonatal penyebab kematian yang juga perlu diperhatikan 279 .7 12.5 Tabel 3.6 2.8 2.

Tabel 3.7 4. TB 4% (Tabel 3.1 4.5 7.213).6 5.adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%).6 6.7 8.3 6.3 5. Di perdesaan.2 15.966) % 16. diabetes mellitus.9 2.8 4. Kematian Berumur 5 Tahun ke atas Proporsi penyebab kematian tiga terbesar pada kelompok umur lima (5) tahun ke atas di perkotaan adalah penyakit tidak menular yaitu: stroke. Tabel 3.strok dan TB menempati urutan pertama dan kedua.8 5.7 7.4 4.1 2.213 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah.9 c.3 1.1 9.1 8.5 10. tenggelam 5%.0 5.4 5. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit jantung iskemik Tumor ganas Penyakit hati NEC Penyakit jantung lain Penyakit saluran nafas bawah kronik Perkotaan (n=1.9 2.212 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.8 9.515) % 19.8 Pnemonia Necroticans Entero Collitis (NEC) Meningitis/ensefalitis Demam berdarah dengue hidrosefalus 6 7 8 9 10 Sepsis Tetanus Malnutrisi TB Campak 4. hypertensive diseases.3 6. Proporsi kematian karena TB menempati urutan ke empat di perkotaan.7 Strok TB Perdesaan (n=1.212).4 9.2 Campak Tenggelam TB Malaria Leukemia 5.9 3.4 23.1 6.5 5. yaitu sebesar 16% dan 9% (Tabel 3.2 1. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 29 hari-11 bulan (n=173) Diare Pnemonia Meningitis/ensefalitis Kelainan saluran pencernaan Kelainan jantung congenital dan % 31.5 5.3 Hipertensi Penyakit kronik Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik NEC Penyakit jantung lain Diabetes mellitus saluran nafas bawah 7.9 2.8 Diare 1-4 tahun (n=103) % 25.8 6.4 280 . sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%.

4 7.0 13.5 7.4 5. Pada kelompok umur tersebut.Proporsi kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan berbeda dengan di perdesaan.3 6 7 8 9 10 Diabetes mellitus Strok Ulkus lambung dan usus 12 jari Hipertensi Penyakit jantung lain 4.4 3.0 3.3 11. Di perdesaan proporsi penyakit infeksi sebagai penyebab kematian sama 281 .2 3. Tabel 3. hati. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=23) Demam berdarah dengue Tifoid Meningitis Pnemonia Jatuh Tumor ganas Kecelakaan lalu lintas Campak Infeksi lain dan penyakit parasit % 30.215 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah. Tabel 3.3 2.2 4. proporsi penyakit tidak menular seperti strok. Di perkotaan proporsi kematian yang terbesar adalah demam berdarah dengue (30%). penyakit jantung iskemik sudah cukup tinggi sebagai penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan.9 9.7 3.8 3. Selain itu.3 Perdesaan (n=53) Diare Pnemonia Malaria Kecelakaan lalu lintas Penyakit hati Jatuh Tenggelam NEC Tifoid Gagal ginjal % 11.5 3.214).3 4.6 4. rahim.1 Di perkotaan.0 6. Kematian karena kecelakaan lalu lintas di perdesaan 2 kali lebih besar daripada di perkotaan.3 9.0 13.9 Penyakit jantung iskemik Ulkus lambung dan usus 12 jari Strok Tifoid Penyakit kronik saluran nafas bawah 4.8 5.9 9.3 4.2 4.4 9.5 7. paru-paru.3 4. rahim) % 13. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 Perkotaan (n=240) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Kematian karena penyebab obstetrik Tumor ganas (payudara.5 8. hati) % 9.2 4. payudara. proporsi kematian karena penyebab obstetrik lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.5 7.0 8. 214 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.8 Proporsi penyakit penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut tipe daerah menunjukkan bahwa perkotaan dan perdesaan mempunyai pola yang sama yaitu tempat teratas diduduki oleh kecelakaan lalu lintas. penyakit hati dan TB. sedangkan di perdesaan adalah diare dan pnemonia (masing-masing 11%).7 8.4 Perdesaan (n=325) Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas TB Malaria Tumor ganas (leher rahim. leher rahim. masingmasing sebesar 8% (Tabel 3.4 10. di perdesaan banyak kematian akibat jatuh dan tenggelam.4 13.

0 5. Pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki maupun perempuan proporsi penyakit tidak menular lebih tinggi secara mencolok dibandingkan penyakit menular.7 7. Untuk penyakit menular.7 7. Proporsi yang terbesar pada laki-laki adalah kecelakaan lalu lintas. Proporsi tumor ganas pada perempuan secara mencolok lebih besar dari laki-laki (Tabel 3.9 4. Proporsi TB sebagai penyebab kematian hamper sama di perkotaan maupun di perdesaan (Tabel 3.218). Pada kelompok umur 55-64 tahun.0 5. pada laki-laki proposinya sama dengan perempuan. hipertensi.216).0 4.7 5. Pada perempuan. Tabel 3.5 Menurut tipe daerah. diabetes mellitus. proporsi penyebab kematian karena penyakit infeksi pada kelompok umur 45-54 tahun lebih tinggi di perdesaan (25%) dibandingkan di perkotaan (14%).0 2. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Laki-Laki (n=298) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Malaria Strok Penyakit jantung iskemik Tifoid Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Jatuh % 16.6 4. 282 . Penyakit menular yang masih banyak menyebabkan kematian adalah TB. 8% pada perempuan).220).219). (Tabel 3. Di perkotaan kecelakaan lalau lintas termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian (Table 3.3 4.216 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin.215) Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun pada laki-laki maupun perempuan karena tuberculosis masih tinggi (11% pada laki-laki.6 Perempuan (n=261) Penyakit hati TB Penyebab obstetrik lain Tumor ganas leher rahim dan payudara Ulkus lambung dan usus 12 jari Kecelakaan lalu lintas Malaria Diabetes mellitus Hipertensi Tifoid % 9. Proporsi penyakit TB pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki lebih besar (11%) dari pada pada perempuan (9%).6 7. penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian.217).dengan di perkotaan (19%). sedangkan pada laki-laki terbesar adalah strok (16%). Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok.2 3. sedangkan proporsi penyakit tidak menular lebih besar di perkotaan (62%) dibandingkan di perdesaan (48%). proporsi kematian karena other direct obstetric deaths di urutan ke tiga sebesar 8% (Tabel 3.5 4. Pada perempuan penyakit tidak menular yang terbanyak menimbulkan kematian adalah diabetes mellitus (16 persen).(Tabel 3.3 3. pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda. proporsi TB lebih besar di perdesaan.6 2.2 4.1 9.7 11. keduanya didominasi oleh penyakit tidak menular.

218 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin.8 rahim.2 5. rahim) 10 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3. rahim) 7 8 Kecelakaan lalu lintas Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 9 10 Tifoid Ulkus lambung 3.2 Tifoid 3.2 8.7 8. leher Perkotaan (n=252) % 15. rahim.6 7.4 4.0 Perempuan (n=213) Diabetes mellitus Strok Penyakit jantung iskemik Hipertensi TB Tumor ganas (paru-paru.2 payudara.3 3. leher rahim.5 9.3 5.0 2.3 283 .2 4.6 8.7 Penyakit jantung lain Penyakit hati 6.1 7.3 11.9 14.1 payudara.8 TB Strok Perdesaan (n=259) % 12. hati.8 4. 4.Tabel 3. hati.5 5. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Strok Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik TB Hipertensi Penyakit jantung lain diseases Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas Tumor ganas (payudara.8 8. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Hipertensi Diabetes mellitus Laki-Laki (n=298) % 15.8 Hipertensi Penyakit jantung iskemik Penyakit hati Diabetes mellitus Tumor ganas (paru-paru.7 Pnemonia Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3.0 9.0 8.7 11.3 11.1 6. % 16.7 8.2 4. prostat) Ulkus lambung Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3.0 9.217 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah.0 6.9 7.8 3.7 7.1 8.

6 2.6 9.4 10.6 8 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 4. rahim.219 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Tipe Daerah.6 5. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan yang menyebabkan kematian adalah penyakit sistem pernafasan seperti TB. prostat) NEC 3. leher rahim.1 7.6 9 10 NEC Tumor ganas (hati.3 NEC Penyakit jantung iskemik 3.7 3. paru-paru.0 5. payudara. otak) 3.3 3. 284 . payudara.6 8.7 12. paru-paru. paru-paru.Tabel 3. payudara.4 2.8 Perempuan (n=251) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit hati Tumor ganas (hati. paru-paru. prostat. leher rahim.7 Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit lain Penyakit jantung iskemik Tabel 3.1 Strok Perdesaan (n=337) % 17.220 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Jenis Kelamin.5 9.7 Penyakit jantung lain 3.4 Penyakit jantung lain Penyakit kronik 9 10 Tumor ganas (hati.8 Perkotaan (n=295) % 26. leher rahim.1 5. prostate) Penyakit lain 2.8 8.5%) dari pada di perdesaan (57%). Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 Laki-Laki (n=381) Strok Diabetes mellitus TB Hipertensi Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain % 22.1 4.4 6.4 11.1 7.5 8.2 8. rahim) Penyakit kronik saluran pernafasan bawah % 20. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 Penyakit jantung lain NEC 4.1 6.5 10. rahim.8 Proporsi kematian pada umur 65 tahun ke atas karena penyakit tidak menular sedikit lebih tinggi di perkotaan (59.7 3.9 saluran pernafasan bawah 5.8 5.0 11.4 6.0 5.2 Tumor ganas (hati.2 6.

Tabel 3.3 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Hipertensi TB NEC Penyakit jantung lain Proporsi penyebab kematian pada umur 65 tahun ke atas pada laki-laki maupun perempuan sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular.6 3.2 9. Pola penyakit sama dibandingkan kelompok umur yang lebih muda.0 7.0 3.8 7.5 Strok Perdesaan (n=993) % 21.9 5. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Tabel 3.6 6.221 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas menurut Tipe Daerah.4 4.3 Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Pnemonia Penyakit hati 5.0 6.6 saluran pernafasan bawah Laki-Laki (n=928) % 20.222).0 5.2 9.3 6. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan tidak jauh berbeda dengan di perdesaan (Tabel 3. Tabel 3.0 3.0 6.5 8.5 3. Riskesdas 2007 No 1 2 Strok Penyakit kronik 3 4 TB Hipertensi 8. dan pnemonia.9 10.5 4.0 Perkotaan (n=705) % 23.5 Strok Perempuan (n=770) Hipertensi % 24.9 4.222 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok NEC Hipertensi Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 9 10 TB Penyakit jantung lain Penyakit hati Pnemonia 6.2 285 .2 9.221).4 3.1 7.8 Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain TB Pnemonia Penyakit hati 6.6 6.0 2.5 9.penyakit hati.8 10.9 4.4 11.9 7.9 5.7 NEC Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 5 6 7 8 9 10 NEC Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Penyakit hati Pnemonia 7.3 5.

Jamrozik. Tahun 2002. Departemen Kesehatan R. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2001. 12. Soekirman. Basuki.1999). http://www. Geneva: World Health Organization 16.I. Dwyer T et al. Past Antihypertensive drugs and Risk of Hypertension : A Rural Indonesia Study.htm. 9. 2000. Laporan SKRT 2001: Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular.medicastore. ------------------9/20/2002 Hipertensi. 2002. Laporan SKRT 2001: Studi Kesehatan Ibu dan Anak..Geneva World Health Organization. Winkelmann. 5.medem. R. Balitbangkes. Jahari..I.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta 29 Februari . Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan R.2 Maret 2000.com/MedLB/article_ID=ZZZUKQQ9EPC&sub_cat=73 8/24/2002. http://www. de Courten M. 2001 15. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Fasli Jalal. Depkes RI. K. Disability And Health – A Common Framework For Describing Health States. Departemen Kesehatan R. Abas B. R. Dwyer. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2005 2.I. T. 11.com/datatopik /hipertensi. Departemen Kesehatan R. Body Posture. Geneva: World Health Organization. 3. 2001. 8.I.. 7. Bedirhan Ustun. ORC Macro 2002-2003. M. 2000 14. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.344-348. Dini Latief. Bonita. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas.. Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: The WHO STEP wise approach. Status gizi balita di Indonesia sebelum dan selama krisis (Analisis data antropometri Susenas 1989 . Idrus Jus'at. 6. AMA (American Medical Association). 286 . Hipertensi. The WHO Stepwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Faktors. 4. Bonita R et al. 2006. Depression Linked With Increased Risk of Heart Failure Among Elderly With Hypertension. Daily Working Load. Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003. Bonita R. -----------------Faktor Resiko Terjadinya pria. Departemen Kesehatan. Atmarita.I. Laporan SKRT 2001: Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil. The WHO STEPwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Factors. B. Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. Operational Study an Integrated Community-Based Intervention Program on Common Risk Factors of Major Non-communicable Diseases in Depok Indonesia. Sandjaja. The International Classification Of Functioning. 13. Tahun 2002. B & Setianto. de Courten. Badan Pusat Statistik. Age. p. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Studi Morbiditas dan Disabilitas. Tahun 2002 10.klinik http://www. Herman Sudiman.htm. Summary. Surveillance Noncommunicable Diseases and Mental Health.com/penyakit/hiperten. Departemen Kesehatan R.

Departemen Kesehatan R. Pusat Promosi Kesehatan. Direktorat Epim-Kesma.. Vital and Health Statistics. State-Specific Mortality from Stroke and Distribution of Place of Death United States.I. Khan. Survey Kesehatan Nasional. MMWR. Diabetes Care 28: 1182 -1186.Depkes RI Jakarta. Laporan. 2003. Psychiatric morbidity among patients attending the Bangetayu community health centre in Indonesia. Depkes RI 24. 31. Kelompok Kerja Serebro Vaskular FK UNPAD/RSHS “ .. 1997 28. SKRT 1995. Jakarta: Departemen Kesehatan. Program Imunisasi di Indonesia.I. International Classification Of Functioning. May 2002 19. B. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Depkes RI 23. Nagasawa H. 2001. Mochizuki S. 29. 2001 36.I. S. Dineen B. : 429 . Yagi H. Imamoto S.R. Departemen Kesehatan. 51 (21) : 456. Series 11. 22. 18. Number 246. Prevalence of Blindness and Visual Impairment in Pakistan: The Pakistan National Blindness and Visual Impairment Survey. 21. 1999. MMWR. Departemen Kesehatan R. Departemen Kesehatan RI. Tomorrow’s pandemic. Shah S. 2005. Disampaikan pada seminar hypertensi PERKI . 35. Departemen Kesehatan. 2002. Mengamati Penelitian Epidemiologi Hipertensi di Indonesia.. Jadoon. 51 (20). Survey Kesehatan Nasional. 1995 34. Pemantauan Pertumbuhan Balita. Shibata T.. Bagian I. Departemen Kesehatan R. 20. 30. Departemen Kesehatan R.J. Darmojo. Non Communicable Disease. Johnson G. Hartono IG. 2000. Tahun 2002 26. 25. Jakarta. 2002. 2003. Glucose Intolerance is Common in Japanese Patients With Acute CoronarySyndrome Who Were Not Previously Diagnosed With Diabetes. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. et al. George Alberty.Depkes RI Jakarta 2004.A. Prevalensi Hipertensi pada Karyawan Salah Satu BUMN yang menjalani pemeriksaan kesehatan. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Disability And Health (ICF). Investigative Ophthalmology and Visual Science. Hashimoto K. Laporan. et al.I. 2002. Depkes. 1999. Geneva.World Health Organization.47:4749-55. Tahun 2002 27. 1991 – 1999. Bulletin WHO 2001. Ikewaki K. Statistik Penyakit Penyebab Kematian. SKRT 1995 32. Departemen Kesehatan R. Brotoprawiro. 33. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. CDC. Bourne R. Djaja. 287 . Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI. 79/10: 907.I. CDC.17.. 2006. Mohammad Z. Mohammad A.P. State – Specific Trend in Self Report 3d Blood Pressure Screening and High Blood Pressure – United States. S dkk. Departemen Kesehatan.. CDC Growth Charts for the United State : Methods and Development. Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Department of Health and Human Services. 2003.

World Health Organization. Primary Hypertention Phatogenesis In : Clinical Hypertention. Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang yang berobat di poli Ginjal Hipertensi. Resolution WHA57. Jakarta: Perkeni. Baltimore : Williams and Wilkins Inc. Analisis Data . 1995. Geneva: WHO. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Ph.1. Jan 18. 2007 57.D.physical activity. Steven A Haist.id /31072002 /10a. 2003 55. M. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Depkes RI. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009. M. In:Fiftyseventh World Health Assembly. Clinicians Pocket Reference.Soemantri. How To Keep Your Blood Pressure Under Control. 1997. Kaplan NM. 2006. Report of WHO. Perkeni.D.. News Health Recource. Suhardi. Survei Kesehatan Rumah Tangga 1992. Report of WHO. and Meguid El Nahas. Jakarta: Perkeni. and health. 2006.Geneva. 48. 2004 56. Hipertensi di Indonesia . Muchtar & Fenida. Leonard G Gomella. 39. dkk. 54. Resolution WHA56. 2006. Survei Kesehatan Rumah Tangga 41. Kaplan NM. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga.surya. http://www. Janet.Global Strategy on diet.. 42. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006.D. Geneva: WHO. Parvez Hossain. Trend Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia.phtml. 1998. Departemen Kesehatan RI. M. A. 45. 2006. NY. Sarimawar Djaja.43. Kristanti CM. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. dan Soemantri S. World Health Organization.WHO Framework Convention on Tobacco Control. 2004 50. pp 9. Pedoman Pewawancara Petugas Pengumpul Data. 2002. 19-28 May 2003. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia.43. Mansjoer. Mc. 2007 47.17. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Dwi Hapsari. AS. Clinical Hipertension. Grawhill Medical Publishing division. 49. Lippincott :Williams & Wilkins 2002. Jakarta: Badan Litbangkes.. Diet Obesitas dan hipertensi.D. Obesity and Diabetes in the Developing World — A Growing Challenge 46. Rose Men’s. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Petunjuk Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 8th Ed. 1999 58. In: Fiftysixth World Health Assembly.. The New England Journal of Medicine.37. 53. 2002 38.co. S.Kapita Selekta Kedokteran 1999 :518 – 521. 2004 43. Bisher Kawar. Policy Paper for Directorate General of Public Health.Geneva. Perkeni. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. 7th Ed. 17-12 May 2004. Kristanti CM. International edition. 1998 : 41-132 40. Vol 356: 213 – 215. 2001 288 . June 2002 51. Pradono J dan Soemantri S. 44. 2005 52. pp 9.

U.. Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001. The WHO STEPwise approach to Surveillance of Noncommunicable Diseases 2003. 72. Volume 53. Sudikno. Badan Penelitian dan 289 .W. Canberra: AIHW. Saw S-M. Agustina Lubis.H. 60. Cakupan penimbangan balita di Indonesia. Hipertensi. Lisa Mulyono. Sandjaja. Prosiding temu Ilmiah dan Kongres XIII Persagi. dkk. 2001. Sunyer FX. Sandjaja. 69. Pathogenesis. British Journal of Ophthalmology 2003. Soemantri.1997. Koh D.ISN = 724 62. SKRT 2001. ISSN: 0854-7971. Univ. Medical hazard of obesity. Nomor 3 – 2003. STEPS Instrument for NCD Risk Factors (Core and expanded Version 1. 77. 64. Volume 31. Department of Haematology.3. SpringerVerlag.T. The Risk of Hypertension : Genesis and Detection.2. AIHW Cat. 76. S.) 75.3. Widjaja D. & Bakris GL. Denpasar. Hipertensi Borderline “White Coat” dan sustained “ : Suatu Studi Komperatif terhadap Normotensi para karyawan usia 18 – 42 tahun di RSUP Dr. Bandung 9 – 13 April 2000 (SX111-1) 70. Cape town. 2002. 1997. Laju Konversi Toleransi Glukosa Terganggu menjadi Diabetes di Singaparna. 73. Sri Hartini KS Kariadi... SK Menkes RI Nomor : 736a/Menkes/XI/1989 tentang Definisi Anemia dan batasan Normal Anemia 67. Pola Sikap Penderita Hipertensi Terhadap Pengobatan Jangka Panjang. 1999 : 13 68. Depkes RI.. Disampaikan pada Konggres Nasional ke 5. No 8. Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Bulletin of Health Studies. Causes of low vision and blindness in rural Indonesia. and Therapy. 1993 : 119. Non-communicable Disease Surveillance and Prevention in South-East Asia Region. 20-22 November 2005. Berkala Ilmu Kedokteran Vol. Gazzard G. Indicators of Health Risk Factors: The AIHW view.59. Tim survei Depkes RI.. Sudikno. 1984. Jakarta. BJ. The Journal of the Indonesian Medical Association. 71. 7-8 Desember 2005. Haematology: An Aproach to Diagnosis and Management. Perjalanan Transisi Epidemiologi di Indonesia dan Implikasi Penanganannya. Makalah disajikan pada Simposium Nasional Litbang Kesehatan. Sarimawar Djaja dan S. 1984 : 44. Sobel. Suradi & Sya’bani..87:1075-8. Husain R. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996. P. Pedoman Klinik Diagnosis & Terapy. No.I. PHE 47. 29 (4). Cakupan viramin A untuk bayi dan balita di Indonesia. 74.Jakarta. Cape town. M. 61. Diagnosis. 15 Th. Analisis lanjut Data Susenas – Surkesnas 2001. Sonny P. The Australian Institute of Health and Welfare 2003. New York Heidelberg Berlin. ISSN: 0125 – 9695 .M. Sarimawar Djaja. Dalam: Julian Rosenthal. 1999 65. ISSN 0377-1121 63. B. Laasar. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. No. dalam Naskah Lengkap KOPAPDI VI. Titiek Setyowati. Titiek Setyowati. Sinaga. Jawa Barat. Penerbit UI-PRESS : 1439. Arterial Hypertension.8. Gambaran Rumah Sehat di Berbagai Provinsi Indonesia Berdasarkan Data SUSENAS 2001. Ann Intern Med. Depkes R. et al. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI. Syah. 66. Tan D. Sarjito Yogyakarta. Joko Irianto.

81. 1995. 2003 84. (Surkesnas) 2001. World Health Organization. 1999. Injuries and Causes of Death. Switzerland. 86. April 2004 80. 2001. WHO/SEARO. The Surf Report 1. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee.1994. WHO. 2005. Based on The Recommendation of The Ninth Revision Conference 1975 and Adopted by The Twenty Ninth WHA. 290 . The World Health Survey Programme. World Health Organization: International Classification of Diseases. volume 1. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. WHO-ISH. Report of an Inter-country Consultation. 1997. 79. 1999 83. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Assessing the iron status of populations: Report of a joint World Health Organization/Centers for Disease Control and Prevention technical consultation on the assessment of iron status at the population level .Pengembangan Kesehatan. 2003. Survei Kesehatan Nasional 78. WHO-ISH. Needs of the Community. 85. A Public Health Report. Geneva: WHO. WHO. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. Surveillance of Risk Factors related to noncommunicable diseases: Current of global data. Oral Health Care.Geneva. 1999. Jakarta: Badan Litbangkes. Surveillance of Major Non-communicable Diseases in South – East Asia Region. Auser’s guide to the self reporting questionnaire. Geneva. 82. WHO. Geneva.15. 2003. World Health Organization. Depkes RI. p.

LAMPIRAN 291 .

b. . c. 2. Tahun 1995 tentang 3. tambahan lembaran negara Republik Indonesia Nomor 3609). Peraturan Pemerintah Nomor 39 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1995 Nomor 67. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1992 Nomor 100. bahwa untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan yang optimal dan mempunyai lingkup nasional yang terintegrasi perlu dilakukan Riset Kesehatan Dasar yang merupakan pengembangan Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1179A/Menkes/SK/X/ 1999 tentang Kebijakan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Mengingat : 1. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2002 Nomor 84. bahwa dalam pelaksanaan Riset Kesehatan Dasar diperlukan Tim Riset Kesehatan Dasar Tahun 2006 – 2008 yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. 4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 791/Menkes/SK/VII/ 1999 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 5. bahwa Riset Kesehatan Dasar dapat dimanfaatkan untuk penyediaan informasi berbasis survei Pembangunan Kesehatan menuju pencapaian strategi utama Departemen Kesehatan. Undang-undang Nomor 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.Lampiran 1 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 877/MENKES/SK/XI/2006 TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495).

5. Menyusun rencana kerja. Ketiga : . Melakukan pengawasan pelaksanaan Riskesdas. Tim Teknis. Memberi masukan tentang aspek ilmiah dari proposal dan protokol dan pelaksanaan pengumpulan data. dan Tim Manajemen dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. 4. Tim Pakar sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Tim Pengarah sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Melaksanakan sosialisasi. Merumuskan dan menetapkan metodologi. Menyusun pedoman kerja dan pengolahan data. managemen data. analisis data serta publikasi hasil Riskesdas. a. c. Memberi rekomendasi agar kaidah ilmiah dari Riskesdas tetap ditegakkan. Tim Teknis sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. 2. MEMUTUSKAN : Menetapkan Kesatu Kedua : : : tentang KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006 – 2008 Tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2006-2008 terdiri dari Tim Penasehat. Melaksanakan pelatihan. Memberi rekomendasi untuk meningkatkan keberhasilan dan manfaat pelaksanaan Riskesdas. 3.6. 3. Melaksanakan pengumpulan data dan pengolahan data. Tim Pakar. 2. Mengidentifikasi dan membahas masalah pelaksanaan yang terkait dengan aspek ilmiah dari Riskesdas. Tim Pengarah. 6. Merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan Riskesdas. 5. b. Membahas berbagai masalah yang terkait dengan pelaksanaan Riskesdas. 7. 3. 2. Melakukan desiminasi dan publikasi Riskesdas. 4. Melaporkan hasil Riskesdas tahun 2006-2008 kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Litbangkes. Permenkes Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.

Melakukan administrasi ketenagaan Riskesdas. Biaya kegiatan Riskesdas dibebankan kepada anggaran DIPA Badan Litbangkes. Membuat laporan kegiatan kepada kepada Ketua Tim Pengarah melalui koordinasi dengan Tim Teknis. Dengan berlakunya Keputusan ini maka Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 358/Menkes/SK/V/2006 tentang Tim Surkesnas tahun 2004 – 2006 dinyatakan tidak berlaku lagi. Keempat : Dalam melaksanakan tugas tim bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Sp.Siti Fadilah Supari. d.dr. Melakukan administrasi keuangan. Mendukung administrasi Riskesdas. Menyiapkan prasarana Riskesdas. Atas nama Menteri Kesehatan Kepala Badan Litbang Kesehatan dapat membentuk Kelompok Kerja dan Tim Riset Kesehatan Dasar pada tingkat Propinsi dan Kab/kota. 5. Melaporkan kegiatan dan hasil kepada Ketua Tim Pengarah. Departemen Kesehatan dan sumbersumber lain yang tidak mengikat. Ditetapkan di Jakarta Pada Tanggal 3 Nopember 2006 MENTERI KESEHATAN RI Kelima : Keenam : Ketujuh : Kedelapan : Dr. 9. Menyusun laporan kegiatan.JP (K) . 4. Tim Manajemen sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1.8. 3. 2. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Menteri Kesehatan RI 2. Tim Pengarah Ketua Ketua I Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Anggota . Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 10. Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan 9. Tim Penasehat : 1. Sekretaris Jenderal Depkes 3. Dirjen Bina Pelayanan Medik 5. Badan Pusat Statistik Direktur Statistik Kependudukan. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan Direktur Metodologi Statistik Badan Pusat Statistik SAM Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi SAM Bidang Pembiayaan dan Ekonomi Kesehatan SAM Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi SAM Bidang Mediko Legal Kepala Badan Litbang Depdagri. Kepala Badan Pusat Statistik : : : : : : : Dr Triono Soendoro. Badan PPSDM Kesehatan II. Inspektur Jenderal Depkes 4. Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan 8. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 7. Badan PPSDM Kesehatan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 877/MENKES/SK/XI/2006 Tanggal : 3 Nopember 2006 TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 I. Departemen Dalam Negeri Ketua Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan Direktur Statistik Ketahanan Sosial. Ph. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat 6.D (Kepala Badan Litbangkes) Deputi Statistik Sosial.

Soewarta Kosen.. Bangka Belitung : Dr. SKM... Dr. Dr. Kepulauan Riau . Ph.D. Sp. Sangkot Marzuki. Sp.Ph.D.D.Kes Tim Kerja Wilayah I Area Wilayah Propinsi : NAD. PhD... Prof. DR. Dr Purnawan Junadi Ph. Jambi. Tim Pakar : - Prof.. Riau . MGO. Dr. Trihono.D.PK Dr. Sofia Mubarika Prof Bambang Sutisna Prof Razak Thaha dr.Sp.Kes : Supraptini. Yulianto Witjaksono. MPH (Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator .III. Susanna Imanuel.D IV. M. KFER Dr. M. Soedarti Soerbakti Dr Pratiwi Sudarmono. MPH : Direktur Statistik Kesra. dr. SKM. Faizati Karim. MPH. Sunarno Ranu Widjojo. Dr. Ph. Sumut. Sumsel. Tim Teknis Ketua Ketua I Ketua II Ketua III Sekretaris I Sekretaris II Sekretaris III : DR.MM : Indah Yuning Prapti. OG. Widjaja Lukita. David Handoyo. Soeharsono Soemantri. Badan Pusat Statistik : Dr. Ph. Sumbar..PH : Dr Julianty Pradono MS : Dr. Herawati Sudoyo. MSc. SKM. Dr. Irawan Yusuf. Ph.D. Ph.PD.D.

Sulsel. Sulut. Kaltim. Erna Tresnaningsih. Sulteng. Maluku Utara. Papua : Dr. Papua Barat. Jateng. Gorontalo Koordinator Wakil Koordinator Penanggung Jawab Spesimen Anggota : DR. Kalbar. MOH. Banten. Suwandi Makmur. Sunarno Ranu Widjojo. Koordinator : Dr. MM (Kepala Pusat Litbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah IV Area Wilayah Propinsi : Jabar.. Jatim. Kalsel. Maluku. Kalteng. NTB. MPH (Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan) : Peneliti Badan Litbangkes : Peneliti Badan Litbangkes : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator ..Tim Kerja Wilayah II Area Wilayah Propinsi : DKI Jakarta. NTT. Sultra. SKM.D (Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Farmasi) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah III Area Wilayah Propinsi : Bali. Sulbar. Bengkulu. Lampung. Ph. DI Jogjakarta.

Titte Kabul Adimidjaja. Tim Manajemen Ketua : ketua I : ketua II : Sekretaris I : Sekretaris II : Drg.Siti Fadilah Supari. M.PH Indah Yuning Prapti.Kes Drs. Apt Drs. Msi. Sp.V. MM Budi Santoso. Muhamad Socheh. SKM.Sc. Ondri Dwi Sampoerno.dr.JP (K) . SH MENTERI KESEHATAN RI Dr. M..

...... kecacatan dan kesehatan mental. imunisasi. .000 rumah tangga yang tersebar di 18.I.... Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih. DR..I. Rumah tangga Bapak/Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya..per keluarga.... Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama .. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan – Departemen Kesehatan R. kadar iodium dalam garam. 20. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam. .. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium... email riskesdas@litbang...(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan. Jakarta 10560. Bila Bapak/Ibu/Sdr/Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini.. sikap dan perilaku terhadap kesehatan. Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih.... pelayanan kesehatan. Departemen Kesehatan R.. riwayat kematian dalam rumah tangga.000 blok sensus. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden . fax (021) 4209866... Akan dilakukan wawancara.. Jalan Percetakan Negara 29... Telp. riwayat penyakit turunan.Lampiran 2 Untuk Responden Kesmas Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan.. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata....... lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun.I Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. pengetahuan.. Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun.. sanitasi lingkungan.. ketidak mampuan.. 2. berat badan. konsumsi makanan.. tekanan darah. Sunarno Ranu Widjojo. penyakit menular dan tidak menular. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan – Departemen Kesehatan R.000.go.... kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp.I mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280.. kesehatan gigi. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat. (021) 4261088 ext 146.. Wawancara meliputi keterangan diri. pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara.. cedera. . MPH (HP 0811848473) atau Keterangan: * Naskah Penjelasan hanya diberikan 1(satu)/ rumah tangga..depkes..id atau 1.. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Telp/sms (021) 98264854..

. untuk: ..................... Pernyataan bersedia diwawancara.... diukur dan diperiksa Nomor Kode Sampel . No....PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)* (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan R. tetangga atau KetuaRT ....... bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga.Responden (1 lbr) ......I. kirim ke korwil bersama kuesioner ** Diluar tim pewawancara... Nama Responden Urut ART Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali Nama Saksi** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan: *PSP dibuat 2 rangkap.Tim pewawancara (1 lbr)..... Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktuwaktu tanpa sanksi apapun....

. Akan dilakukan wawancara. riwayat kematian dalam rumah tangga.. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium.... penyakit menular dan tidak menular... Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih..000 rumah tangga yang tersebar di 18.. tidak melakukan aktivitas berat. lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun.. perlu persiapan puasa 10 – 14 jam sebelum pengambilan darah.. anak dan balita tidak perlu puasa. tekanan darah. imunisasi. Selain itu juga dilakukan pengambilan darah di laboratorium yang ditunjuk guna mengetahui penyakit yang mungkin terjadi berkaitan dengan penyakit menular... Darah vena yang akan diambil sebanyak 1 sendok makan (15 ml) pada dewasa. cedera..... sikap dan perilaku terhadap kesehatan.. Departemen Kesehatan RI mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280....... dan disediakan makanan setelah pengambilan darah.... Pengambilan darah diawasi oleh tim medis yang berpengalaman disertai peralatan yang memadai.... riwayat penyakit turunan.Untuk Responden Biomedis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R..per orang. kecacatan dan kesehatan mental... Untuk orang dewasa (umur > 15 tahun) yang akan diambil darahnya... Dalam pengambilan darah akan ada sedikit rasa nyeri seperti digigit semut. 35. pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga. Anggota keluarga yang terpilih diambil darahnya. ketidak mampuan.. .. Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Wawancara meliputi keterangan diri. termasuk tidak merokok. 20. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat dan data biomedis. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan.I. anak dan balita.000.. Bapak/ Ibu/ Saudara akan diberi minuman 1 gelas yang mengandung gula sebelum diambil darahnya. berat badan.. Rumah tangga Bapak/ Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun. akan mendapatkan uang pengganti transport Rp.. tidak sarapan. Untuk wanita hamil.. Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. kelainan gizi dan kelainan bawaan. Pengambilan darah dilakukan oleh petugas pengambil darah yang terlatih...000...(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan.. tidak menular.. namun tidak ada risiko yang membahayakan. kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp. sanitasi lingkungan.000 blok sensus.. Yang diambil darahnya adalah semua anggota rumah tangga usia 1 tahun keatas. minum air putih tawar diperbolehkan.... kesehatan gigi.. kadar iodium dalam garam...per keluarga. pengetahuan. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara.. .. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata.. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama .. pelayanan kesehatan. masing-masing 1 sendok teh (5 ml) pada wanita hamil.. konsumsi makanan..

id atau 1. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan–Departemen Kesehatan R. Jalan Percetakan Negara 29. Telp. Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden .I. Bila Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini. email riskesdas@litbang. (021) 4261088 ext 146. dr. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan–DepKes. Sedyaningsih. Sunarno Ranu Widjojo.Anda akan mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah.depkes. Telp/sms (021) 98264854. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat 2. bila perlu dirujuk ke Rumah Sakit dan biaya akan ditanggung oleh Badan Litbang Kesehatan. darah rutin atau kadar Hb bila peralatan otomatis tidak ada.go. fax (021) 4209866. Endang R. MPH. Dr. Jika terjadi sesuatu yang memerlukan pertolongan dokter pada saat pengambilan darah maka Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan segera diberi pertolongan. MPH (HP 0811848473) 3. DrPH (HP 0816855887) Keterangan: *Naskah Penjelasan hanya diberikan 1 (satu)/ rumah tangga. Jakarta 10560.

diperiksa dan diambil darah Nama Responden Nomor Stiker Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali** Nama Saksi*** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan * PSP dibuat 3 rangkap untuk: . tetangga atau KetuaRT . kirim ke Korwil bersama kuesioner ** bila responden berusia < 15 tahun atau responden sulit berkomunikasi *** Diluar tim pewawancara. Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan saya dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) * (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan RI. diukur.Tim Pewawancara (1 lbr).Responden (1 lbr) . dititip pada petugas lapangan/ puskesmas untuk diserahkan kepada petugas lab) . Pernyataan bersedia diwawancara. bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga.Pertinggal di Laboratorium Kesehatan Daerah/ RS/Swasta (1 lbr.

Perkotaan 2. KETERANGAN PENGUMPUL DATA 1 2 3 Nama Pengumpul Data: Tgl. REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN RISET KESEHATAN DASAR 2007 PERTANYAAN RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU RAHASIA RKD07. KETERANGAN RUMAH TANGGA 1 2 3 4 5 6 7 Nama kepala rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga yang diwawancarai: Jumlah balita (umur di bawah 5 tahun): Jumlah kematian ART dlm periode 12 bulan sebelum survei dan dilakukan verbal otopsi: Apakah Rumah tangga menyimpan garam? Lakukan tes cepat Iodium dan catat kandungan Iodiumnya 1. PENGENALAN TEMPAT 1 2 3 4 5 6 Provinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*) Klasifikasi Desa/Kelurahan a. RT I. Perdesaan 7 8 9 Nomor Kode Sampel Nomor urut sampel rumah tangga Alamat rumah II. Tidak Blok III 1. Tidak ada iodium (Tidak berwarna) SAMPEL GARAM DIAMBIL HANYA UNTUK 30 KAB/ KOTA TERPILIH (LIHAT DAFTAR KAB/ KOTA DI PEDOMAN PENGISIAN) 8 STIKER NOMOR GARAM (RUMAH TANGGA) TEMPEL STIKER DI SINI III. Cukup (biru/ungu tua) 2. Nomor sub blok sensus 1.Lampiran 3 . Pengecekan: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Ketua Tim: - - 5 6 - - *) coret yang tidak perlu . Ya 2. Pengumpulan data: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Pengumpul Data 4 Nama Ketua Tim: Tgl. Nomor blok sensus b. Tdk cukup (biru/ ungu muda) 3.

IV. 5. Tidak ART semalam tidur di dalam kelambu? Jika ya. 4.12 8. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA Hubungan dengan kepala rumah tangga Jenis Kelamin Umur (tahun) Status Kawin Khusus ART ≥ 10 tahun Pendidikan Tertinggi Pekerjaan utama Khusus ART perempuan 10-54 tahun Apakah sedang Hamil? [KODE] [KODE] [KODE] 1. Ya 2. apakah kelambu berinsektisida? Verifikasi No. urut ART Nama Anggota Rumah Tangga (ART) [KODE] Jika umur < 1thn isikan “00” 1. Ya 2. 3. 2. 7. 13. 6. 10.12 1. Tdk Tahu kol. Ya 2. 9. Tidak 8. (2) (3) 1 (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) GUNAKAN LEMBAR TAMBAHAN APABILA JUMLAH ART > 15 ORANG Kode kolom 3 Hubungan dengan kepala rumah tangga 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/ mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya Kode kolom 6 Status Kawin 1 = Belum kawin 2 = Kawin 3 = Cerai hidup 4 = Cerai mati Kode kolom 7 Pendidikan Tertinggi 1 = Tidak pernah sekolah 2 = Tidak tamat SD 3 = Tamat SD 4 = Tamat SLTP 5 = Tamat SLTA 6 = Tamat Perguruan Tinggi Kode kolom 8 Pekerjaan Utama 01 = Tidak kerja 02 = Sekolah 03 = Ibu umah tangga 04 = TNI/Polri 05 = PNS 06 = Pegawai BUMN 07 = Pegawai swasta 08 = Wiraswasta/ Pedagang 09 = Pelayanan Jasa 10 = Petani 11 = Nelayan 12 = Buruh 13 = Lainnya Kode kolom 12 Verifikasi 1= Tidak ada perubahan 2= Ada perubahan 3 = Meninggal 4 = Pindah 5 = Lahir 6 = Anggota baru 7 = Tdk pernah ada dlm RT sampel . 11. 8. 14. Tidak Tahu (1) 1.≥ 97 thn puan isikan “97” 1. 12. Tidak kol. 15. Laki2 Jika umur 2. Perem.

. Masa nifas (60 hr setelah bersalin) 5... Thn Tahun Hari Bulan …… …….V... Kecelakaan/ cedera n... Typhus i...... Melahirkan 4.HANYA DALAM RUMAH TANGGA 1 APAKAH ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 KARENA PENYAKIT DI BAWAH INI: (BACAKAN PILIHAN PENYAKIT) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a.. Kanker/ Tumor m.... TBC e... Thn Tahun …… ……...... Urut Nama yang Meninggal Hubungan dengan Kepala Rumah Tangga [KODE] Bulan dan Tahun Kejadian Kematian sejak 1 Juli 2004 Jenis kelamin 1.AV2 5 thn ke atas : RKD07... Lainnya (9) Bln Hari Bulan 1...... ... Bln 3. Campak d....... Stroke k. ISPA/ Pneumonia c..... No. Hipertensi / Jantung j. Sakit kuning h... Jika terdapat kematian dalam periode 12 bulan sebelum survei sampai dengan survei berlangsung.... Kencing manis l.... Kolom 7 Umur saat meninggal GUNAKAN KUESIONER: < 29 hari (NEONATAL): RKD07.54 thn yang meninggal.... Keguguran 3......... Diare b... 1) KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 (TERMASUK KEJADIAN BAYI LAHIR MATI) ---. MORTALITAS Nama ART yang diwawancarai: .. AV1 29 hari .. Lainnya. Kehamilan 2... Bayi lahir mati p... Urut ART yang diwawancarai: (lihat Blok IV kol.. Lk 2.< 5 thn: RKD07. Bln 2........AV dengan melihat kolom 7 (umur saat meninggal) untuk memilih jenis kuesioner Kode kolom 8 Penyebab Kematian Kode kolom 4 Hubungan dengan kepala RT 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya 01 = Diare 02 = ISPA/radang paru 03 = Campak 04 = TBC 05 = Malaria 06 = Demam berdarah 07 = Sakit kuning 08 = Tifus 09 = Hipertensi/Jantung 10 = Stroke 11 = Kencing manis 12 = Kanker/Tumor 13 = Kecelakaan/Cedera 14 = Hamil/Bersalin/Nifas 15 = bayi lahir mati 16 = penyakit lainnya. Hamil/ Bersalin/ Nifas o.. Malaria f.. Thn Tahun Hari Bulan …… ……. Thn Tahun Hari Bulan …… ……. Pr Umur Saat Meninggal ⇒ < 1 th tulis dalam bulan ⇒ < 1 bulan tulis dalam hari ⇒ < 1 hari tulis 00 pada kolom Hari ⇒ Lahir mati tulis 98 pada kolom hari ⇒ ≥ 97 thn tulis 97 pada kolom thn [ISI SALAH SATU BARIS: HARI ATAU BULAN ATAU TAHUN] (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Penyebab Utama Kematian [KODE] Untuk wanita umur 10 .AV3 .... Bln 4.. DBD g... JIKA TIDAK ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 LANGSUNG KE BLOK VI No... apakah terjadi pada: 1........ maka lanjutkan dengan menggunakan kuesioner RKD07..

6 5 g. Suplementasi gizi (Vit A. Pustu. Penyuluhan c. menit ……….. Pelayanan tidak lengkap 5.Km …. Pelayanan tidak lengkap 4.10 P. Letak posyandu jauh 2.. Persalinan c.. menit 3 1..... Poskesdes. Obat tidak lengkap 5. Bidan Praktek)? Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu... AKSES DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN 1a Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit... Pemeriksaan neonatus (<1 bulan) LANJUTKAN KE P..... Ya 2. Bidan Praktek)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit.. Dokter praktek. Tidak ada polindes/ bidan desa 3.. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7= TIDAK BERLAKU a. Letak polindes/ bidan desa jauh 2. Tidak ada posyandu 3.VI. KB f. Pemeriksaan ibu nifas d.. Fe.... Tidak 7 Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa dalam 3 bulan terakhir? Jika ya.2a) Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes dalam 3 bulan terakhir? Jika ya.. Ya VII 2. 2. Imunisasi d. Lainnya: . Multi gizi mikro) i.9 8 e.. Ya 2.. Tidak 10 Apakah rumah tangga ini pernah Memanfaatkan pelayanan Pos Obat Desa (POD)/ Warung Obat desa (WOD) dalam 3 bulan terakhir? Jika tidak memanfaatkan POD/ WOD..……meter 1b ……...4 tahun) f. Dokter praktek. KIA e. Pemeriksaan kehamilan b. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7=TIDAK BERLAKU a.. Puskesmas.. Poskesdes... Tidak membutuhkan 1. Tidak 2..7 ……….... apakah alasan utamanya? 1.... Puskesmas. Lainnya: .. 4... Penimbangan b. Tidak ada POD/ WOD 4.... Lokasi jauh 3...... Polindes)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu. Pengobatan 9 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa... Tidak membutuhkan 11 ... Pengobatan LANJUTKAN KE P. Konsultasi risiko penyakit 6 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes.. Polindes)? Apakah tersedia angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat? (berlaku untuk P...... Pemeriksaan bayi (1-11 bulan) dan/ atau anak balita (1. 1..Km ….1a dan P. Tidak 4 P. apakah alasan utamanya? 1. Ya 1...……meter 2a 2b ……. Pustu. Pemberian Makanan Tambahan h... Lainnya: .... apakah alasan utamanya? 1..

Anak perempuan 5. 5.. Tidak P. Penampungan di luar pekarangan 2. Berapa jumlah pemakaian air untuk keperluan Rumah Tangga? Berapa jarak/lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air (pulang-pergi)? ….13 a. Berwarna c. Berasa d.. Sulit di musim kemarau 3... Orang dewasa laki-laki 3. Sumber air di dalam pekarangan rumah a. Disaring d. Bagaimana kualitas fisik air minum? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a... Pengkilap kaca/ kayu/ logam e.. Tempat sampah tertutup b. Langsung ke got/ sungai 10. Tidak ada sumber air 1. Tidak P.. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK 1. a. 9.. Tidak 3. Aki (Accu) g. Ya 2. 11.. Lama… Menit 3. 8.Km b.. Dimasak c. Tempat sampah tertutup b. 12.. Penampungan tertutup di pekarangan/ SPAL 3.. Tempat sampah terbuka 15.. Berbau 7. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah rumah tangga di luar rumah tersebut? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK Apakah tersedia tempat penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? Bila ya. Tidak ada/langsung dari sumber 2. Apakah jenis sarana/ tempat penampungan air minum sebelum dimasak? 1. Saluran tertutup 3. Apakah di sekitar sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran (air limbah/ cubluk/ tangki septik/ sampah)? Apakah air untuk semua kebutuhan rumah tangga diperoleh dengan mudah sepanjang tahun? Bila sumber air terletak di luar pekarangan rumah.. Diberi bahan kimia e. 2. Sulit sepanjang tahun 1. Tanpa penampungan (di tanah) Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/ dapur/ tempat cuci? 1. 14. Jarak . Tanpa saluran Apakah tersedia tempat pembuangan sampah di luar rumah? Bila ya. Penghilang noda pakaian f. Ya 5..VII. Langsung diminum b. Berbusa e. 6. Lainnya: .. Apakah Rumah Tangga ini selama sebulan yang lalu menggunakan bahan kimia yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3) di dalam rumah (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Ya 2. Dimana tempat penampungan air limbah dari kamar mandi/ tempat cuci/ dapur? 1. Saluran terbuka 2.. Pembersih lantai d..... Racun serangga/ Pembasmi hama .. Ya (mudah) 2. 4. Wadah/tandon terbuka 3. liter/hari a.... Cat h. Anak laki-laki 4. Orang dewasa perempuan 2. SANITASI LINGKUNGAN 1. Spray rambut/ deodorant spray c. siapa yang biasanya mengambil air untuk keperluan Rumah Tangga 1.. Penampungan terbuka di pekarangan 4. Pengharum ruangan (spray) b. Tempat sampah terbuka 1. 2. Keruh b.. b.15 13.. Wadah/tandon tertutup Bagaimana pengolahan air minum sebelum diminum/ digunakan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a.

Terminal/stasiun kereta api/bandara f. Kandang dalam rumah 3. Industri/pabrik d. Kandang luar rumah 4. Peternakan/ Rumah Potong Hewan (termasuk unggas) Jarak (meter) (2) CATATAN PENGUMPUL DATA . burung) b. Tempat Pembuangan Sampah (Akhir/Sementara)/Incinerator/IPAL RS c. Unggas (ayam. Jalan raya/ rel kereta api b. Anjing. Rumah tanpa kandang 2. Bengkel g. kucing.kerbau. Apa jenis ternak yang dipelihara? Dipelihara? Ternak/hewan peliharaan 1. Pasar tradisional Jarak (meter) (2) Sumber Pencemaran (1) e.kuda) d. Jarak rumah ke sumber pencemaran? JIKA TIDAK TAHU JARAK KE SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”8888” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) JIKA TIDAK ADA SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”9999” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) Sumber Pencemaran (1) a. Ya 2. babi) c. Luar rumah tanpa kandang (2) 17.bebek. Ternak besar (sapi.domba. Jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT/ SUTET) h. Tidak ternak berikutnya (1) a. kelinci Dipelihara di : 1. Ternak sedang (kambing.16.

Blok No..49 50 ...RT VIII...15 16 ....... urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07........GIZI Prov Kab/ Kota No..18 19 .64 > 64 bulan tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun Jumlah 2 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ...orang Makan pagi Waktu Makan Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) ... Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel RKD07......RAHASIA RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT Kec Desa/Kel D/K No.... JENIS KELAMIN........29 30 ...orang Jenis bahan makanan Makan Malam .. KONSUMSI MAKANAN RUMAH TANGGA (24 JAM LALU) 1 KETERANGAN JUMLAH ART DAN TAMU YG MAKAN DALAM RT BERDASARKAN UMUR......... DAN WAKTU MAKAN PAGI SIANG MALAM Jumlah ART L P L P L P KELOMPOK (salin dari (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) UMUR Blok IV) ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU 0 – 11 1-3 4-6 7-9 10 – 12 13 ..orang Masakan/Menu Makan Siang ..

.........3 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN ANAK (0 – 24 BULAN) DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ................................ Masakan/Menu Jenis bahan makanan No Urut ART Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) Nama Anak: Waktu Makan CATATAN PENGUMPUL DATA .............................................

RAHASIA

RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT
Kec Desa/Kel D/K No. Blok No. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel

RKD07.IND

Prov

Kab/ Kota

No. urut sampel RT

Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.RT

IX. KETERANGAN WAWANCARA INDIVIDU
1. 2. Tanggal kunjungan pertama: Tgl -Bln-Thn Tanggal kunjungan akhir: Tgl -Bln-Thn

-

-

3. 4.

Nama Pengumpul data Tanda tangan Pengumpul data

X. KETERANGAN INDIVIDU A. IDENTIFIKASI RESPONDEN
A01 A02 Tuliskan nama dan nomor urut Anggota Rumah Tangga (ART) Untuk ART pada A01 < 15 tahun/ kondisi sakit/ orang tua yang perlu didampingi, tuliskan nama dan nomor urut ART yang mendampingi Nama ART …………………… Nama ART …………………… Nomor urut ART: Nomor urut ART:

B. PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR, DAN RIWAYAT PENYAKIT TURUNAN
[NAMA] pada pertanyaan di bawah ini merujuk pada NAMA yang tercatat pada pertanyaan A01 PERTANYAAN B01-B40 DITANYAKAN PADA SEMUA UMUR INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)/ INFLUENZA/ RADANG TENGGOROKAN B01 B02 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita ISPA oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas disertai batuk berdahak/ kering atau pilek? 1. Ya B03 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

PNEUMONIA/ RADANG PARU B03 B04 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Pneumonia oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai batuk berdahak dan napas lebih cepat dan pendek dari biasa (cuping hidung) / sesak nafas dengan tanda tarikan dinding dada bagian bawah? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Typhoid oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas terutama pada sore malam hari > 1 minggu disertai sakit kepala, lidah kotor dengan pinggir merah, diare atau tidak bisa BAB? 1. Ya B05 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM TYPHOID (TIFUS PERUT) B05 B06 1. Ya B07 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B09 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

MALARIA B07 B08 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Malaria yang sudah dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin), panas naik turun secara berkala, berkeringat, sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat anti malaria? Jika Ya, apakah [NAMA] mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Diare oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dengan kotoran/ tinja lembek atau cair? Apakah pada saat diare, diatasi dengan pemberian Oralit/ pemberian larutan gula garam/ cairan rumah tangga?

B10

B09

DIARE/ MENCRET B10 B11 B12 1. Ya B12 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B13

CAMPAK/ MORBILI B13 B14 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita campak oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai mata merah dengan banyak kotoran pada mata, ruam merah pada kulit terutama pada leher dan dada? 1. Ya B15 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) B15 B16 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita TB Paru oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita batuk ≥ 2 minggu disertai dahak atau dahak bercampur darah/ batuk berdarah dan berat badan sulit bertambah/ menurun? 1. Ya B17 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) B17 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Berdarah Dengue oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita demam/panas, sakit kepala/ pusing disertai nyeri di uluhati/ perut kiri atas, mual dan muntah, lemas kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan/ atau mimisan, kaki/ tangan dingin? 1. Ya B19 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

B18

HEPATITIS/ SAKIT LIVER/ SAKIT KUNING B19 B20 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Hepatitis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B21 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

Dalam 12 bulan terakhir apakah [NAMA] pernah menderita demam, lemah, gangguan saluran cerna, (mual, muntah, tidak nafsu makan), nyeri pada perut kanan atas, disertai urin warna seperti air teh pekat, mata atau kulit berwarna kuning? FILARIASIS/ PENYAKIT KAKI GAJAH B21 B22 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Filariasis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita radang pada kelenjar di pangkal paha secara berulang, atau pembesaran alat kelamin/ payudara/ tungkai bawah dan atau atas (Filariasis/ kaki gajah)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Asma oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami sesak napas disertai bunyi (mengi)/ Rasa tertekan di dada/ Terbangun karena dada terasa tertekan di pagi hari atau waktu lainnya, Serangan sesak napas/terengah-engah tanpa sebab yang jelas ketika tidak sedang berolah raga atau melakukan aktivitas fisik lainnya?

1. Ya B23 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B25 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

ASMA/ MENGI/ BENGEK B23 B24

GIGI DAN MULUT B25 B26 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mempunyai masalah dengan gigi dan/atau mulut? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] menerima perawatan atau pengobatan dari perawat gigi, dokter gigi atau dokter gigi spesialis? 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B28 B28

B27

Jenis perawatan atau pengobatan apa saja yang diterima untuk masalah gigi dan mulut yang [NAMA] alami? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Pengobatan b. Penambalan/ pencabutan/ bedah gigi atau mulut c. Pemasangan gigi palsu lepasan (protesa) atau gigi palsu cekat (bridge) d. Konseling tentang perawatan/ kebersihan gigi dan mulut 1. Ya 2. Tidak e. Perawatan gigi lainnya. Ya, sebutkan…………

B28

Apakah [NAMA] telah kehilangan seluruh gigi asli?

CEDERA B29 B30 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami cedera sehingga kegiatan sehari-hari terganggu? Penyebab cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN p) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kecelakaan transportasi di darat (bus/ truk, kereta api, motor, mobil) b. Kecelakaan transportasi laut c. Kecelakaan transportasi udara d. Jatuh e. Terluka karena benda tajam, benda tumpul f. Penyerangan (benda tumpul/ tajam, bahan kimia, dll) g. Ditembak dengan senjata api h. Kontak dengan bahan beracun (binatang, tumbuhan, kimia) B31 1. Ya 2. Tidak B33

i. Bencana alam (gempa bumi, tsunami) j. Usaha bunuh diri (mekanik, kimia) k. Tenggelam l. Mesin elektrik, radiasi m. Terbakar, terkurung asap n. Asfiksia (terpendam, tercekik, dll.) o. Komplikasi tindakan medis p. Lainnya, Sebutkan ..............................

Bagian tubuh yang terkena cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN j) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kepala b. Leher c. Bagian dada d. Bagian perut, tulang punggung, tulang panggul e. Bagian bahu dan lengan atas f. Bagian siku, lengan bawah g. Bagian pergelangan tangan, dan tangan h. Bagian pinggul dan tungkai atas i. Bagian lutut dan tungkai bawah j. Bagian tumit dan kaki

B32

Jenis cedera yang dialami : (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Benturan/ Luka memar b. Luka lecet c. Luka terbuka d. Luka bakar e. Terkilir, teregang f. Patah tulang g. Anggota gerak terputus h. Keracunan i. Lainnya: ……………

PENYAKIT JANTUNG B33 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit jantung oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] pernah ada gejala/ riwayat: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Jantung berdebar-debar tanpa a. Bibir kebiruan saat menangis atau melakukan sebab aktifitas d. Sesak nafas pada saat tidur b. Nyeri dada/ rasa tertekan berat/ sesak nafas tanpa bantal ketika berjalan terburu- buru/ mendaki/ berjalan biasa di jalan datar/ kerja berat/ jalan jauh 1. Ya B35 2. Tidak

B34

e. Tungkai bawah bengkak

PENYAKIT KENCING MANIS (DIABETES MELLITUS) B35 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita kencing manis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] selama ini pernah mengalami gejala banyak makan, banyak kencing, banyak minum, lemas dan berat badan turun atau menggunakan obat untuk kencing manis? 1. Ya B37 2. Tidak 1. Ya 2.Tidak

B36

TUMOR / KANKER B37 B38 B39 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit tumor/ kanker oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Sejak kapan [NAMA] didiagnosis tumor tersebut? Tahun............... Dimana lokasi tumor/ kanker tersebut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN m) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 7=TIDAK BERLAKU a. Mata, otak, dan bagian susunan syaraf pusat b. Bibir, rongga mulut dan tenggorokan c. Kelenjar gondok dan kelenjar endokrin lain d. Saluran pernafasan (paru- paru) e. Payudara PENYAKIT KETURUNAN/GENETIK B40 Apakah [NAMA] ada riwayat keluhan menderita sebagai berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Gangguan jiwa (schizophrenia)(observasi) b. Butawarna c. Glaukoma d. Bibir sumbing (observasi) e. Alergi dermatitis f. Alergi rhinitis • JIKA ART UMUR ≥ 15 TAHUN • JIKA ART UMUR < 14 TAHUN B41 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN g. Thalasemia h. Hemofilia f. Saluran cerna (usus, hati) g. Saluran kemih h. Alat kelamin wanita: ovarium, cervix uteri i. Alat kelamin pria: Prostat j. Kulit k. Jaringan lunak l. Tulang, tulang rawan m. Darah 1.Ya 2.Tidak B40

PERTANYAAN B41-B50, KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN PENYAKIT SENDI/ REMATIK/ ENCOK B41 B42 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita penyakit sendi/ rematik/ encok oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita sakit/ nyeri/ kaku/ bengkak di sekitar persendian, kaku di persendian ketika bangun tidur atau setelah istirahat lama, yang timbul bukan karena kecelakaan? 1. Ya B43 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

HIPERTENSI/ PENYAKIT TEKANAN DARAH TINGGI B43 B44 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita hipertensi/ penyakit tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah saat ini [NAMA] masih minum obat antihipertensi? 1. Ya B45 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1.Ya B47 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

STROKE B45 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita stroke oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami kelumpuhan pada satu sisi tubuh atau pada otot wajah, atau gangguan pada suara (pelo) secara mendadak? • JIKA ART UMUR ≥ 30 TAHUN • JIKA ART UMUR < 29 TAHUN KATARAK (KHUSUS ART ≥ 30 TAHUN) B47 Dalam 12 bulan terakhir, apakah salah satu atau kedua mata [NAMA] pernah didiagnosis/ dinyatakan katarak (lensa mata keruh) oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B49 2. Tidak 8. Tidak tahu

B46

B47 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN

B48

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mengalami: (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Penglihatan berkabut/ berasap/ berembun atau tidak jelas? b. Mempunyai masalah penglihatan berkaitan dengan sinar, seperti silau pada lampu/pencahayaan yang terang? a. b. C

B49 B50

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah operasi katarak? Apakah setelah operasi katarak [NAMA] memakai kacamata?

1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN Ca. KETANGGAPAN PELAYANAN RAWAT INAP
Ca01 Dalam 5 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani rawat inap terakhir? 1. Rumah Sakit Pemerintah 6. Praktek tenaga kesehatan 2. Rumah Sakit Swasta 7. Pengobat Tradisional 3. Rumah Sakit Di Luar Negeri 8. Lainnya (Sebutkan.....................................) 4. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 9. Tidak Pernah menjalani rawat inap Cb01 5. Puskesmas Berapa biaya yang dikeluarkan untuk rawat inap terakhir (dalam 5 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk rawat inap tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ………………………

Ca02 Ca03

.

.

Untuk pelayanan rawat inap yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Ca04 Ca05 Ca06 Ca07 Ca08 Ca09 Ca10 Ca11 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan rawat inap? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang rawat inap termasuk kamar mandi? Bagaimana [NAMA] menilai kemudahan dikunjungi oleh keluarga atau teman ketika masih dirawat di fasilitas kesehatan?

Cb. KETANGGAPAN PELAYANAN BEROBAT JALAN
Cb01 Dalam 1 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani berobat jalan terakhir? 01. Rumah Sakit Pemerintah 06. Praktek tenaga kesehatan 02. Rumah Sakit Swasta 07. Pengobat Tradisional 03. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 08. Lainnya (Sebutkan.....................................) 04. Puskesmas/ Pustu/ Pusling/ Posyandu 09. Di rumah 05. Poliklinik/ Balai Pengobatan Swasta 10. Tidak Pernah menjalani berobat jalan Cb10a Berapa biaya yang dikeluarkan untuk berobat jalan terakhir (dalam 1 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk berobat jalan tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ……………………

Cb02 Cb03

.

.

Untuk pelayanan berobat jalan yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Cb04 Cb05 Cb06 Cb07 Cb08 Cb09 Cb10 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan berobat jalan? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang pelayanan berobat jalan termasuk kamar mandi? ISIKAN KODE ”7” JIKA TEMPAT MENJALANI BEROBAT JALAN (Cb01) “DI RUMAH” • JIKA ART UMUR 0 - 4 TAHUN • JIKA ART UMUR 5 - 9 TAHUN • JIKA ART UMUR >10 TAHUN G. IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN XI. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN D. PENGETAHUAN, SIKAP dan PERILAKU

Cb10a

D. PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU (SEMUA ART UMUR ≥ 10 TAHUN)
PENYAKIT FLU BURUNG D01 D02 Apakah [NAMA] pernah mendengar tentang penyakit flu burung pada manusia? 1. Ya 2. Tidak Sebutkan melalui apa saja penularan kepada manusia? (POINT “a” SAMPAI “g” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Udara b. Berdekatan dengan penderita c. Lalat d. Kontak dengan unggas sakit e. Kontak kotoran unggas/Pupuk kandang f. Makanan g. Lainnya, sebutkan .............................. D04

D03

Apa yang harus [NAMA] lakukan apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak? (POINT “a” SAMPAI “f” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Mengubur/membakar unggas yang sakit a. Melaporkan pada aparat terkait e. Menjual dan mati mendadak b. Membersihkan kandang unggas d. Memasak dan memakan f. Lainnya: …………………

HIV/AIDS D04 D05 Apakah [NAMA] mengetahui tentang HIV/AIDS 1. Ya 2. Tidak D08

Penularaan virus HIV/AIDS ke manusia melalui : (POINT a SAMPAI DENGAN h TIDAK DIBACAKAN) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK g. Penularan dari ibu ke a. Hubungan seksual d. Penggunaan pisau cukur secara bersama-sama bayi selama hamil b. Jarum suntik c. Transfusi darah e. Penularan dari ibu ke bayi saat persalinan f. Penularan dari ibu melalui ASI h. Lainnya: ……………….

D06

Bagaimana mencegah HIV/AIDS? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Tidak berhubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan tetap b.Tidak berhubungan seksual dengan pengguna narkoba suntik c.Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali d. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual e. Tidak menggunaan jarum suntik bersama f. Tidak menggunaan pisau cukur bersama

D07

Andaikan ada anggota keluarga [NAMA] menderita HIV/AIDS, apa yang akan dilakukan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Merahasiakan b. Membicarakan dengan anggota keluarga lain c. Konseling dan pengobatan d. Mencari pengobatan alternatif e. Mengucilkan

PERILAKU HIGIENIS D08 Apakah [NAMA] mencuci tangan pakai sabun? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN d) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Sebelum makan b. Sebelum menyiapkan makanan D09 Dimana [NAMA] biasa buang air besar? 1. Jamban 3. Sungai/danau/laut 2. Kolam/sawah/selokan 4. Lubang tanah Apakah [NAMA] biasa menggosok gigi setiap hari? Kapan saja [NAMA] menggosok gigi? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Saat mandi pagi dan/ sore b. Sesudah makan pagi PENGGUNAAN TEMBAKAU D11 Apakah [NAMA] merokok/ mengunyah tembakau selama 1 bulan terakhir? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1. Ya, setiap hari 3. Tidak, sebelumnya pernah D16 2. Ya, kadang-kadang D13 4. Tidak pernah sama sekali D18 Berapa umur [NAMA] mulai merokok/ mengunyah tembakau setiap hari ? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Rata-rata berapa batang rokok/ cerutu/ cangklong (buah)/ tembakau (susur) yang [NAMA] hisap perhari? ............... tahun ...........batang c. Sesudah bangun pagi d. Sebelum tidur malam e. Lainnya, sebutkan……….. c. Setelah buang air besar/ Setelah menceboki bayi d. Setelah memegang binatang (unggas, kucing, anjing)

5. Pantai/tanah lapang/ kebun/ halaman 6. Lainnya: ........................... 1. Ya 2. Tidak D11

D10a D10b

D12 D13

.. Tidak D31 D28 D29 ………….jam ………. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali melakukannya? Biasanya berapa hari dalam seminggu. anggur/wine 1. dll dan minuman tradisional: contohnya tuak. Ya 2. Tidak D25 …………. nginang) h. Ya 2.satuan [NAMA] minum dalam satu hari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK TAHU AKTIVITAS FISIK (GUNAKAN KARTU PERAGA) Berikut adalah pertanyaan aktivitas fisik/ kegiatan jasmani yang berkaitan dengan pekerjaan. misalnya terdapat dalam: 1 gelas/ botol kecil/ kaleng (285 – 330 ml) bir 1 gelas kerucut (60 ml) aperitif 1 sloki (30 ml) whiskey 1 gelas kerucut (120 ml) anggur D18 Apakah dalam 12 bulan terakhir [NAMA] mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol (minuman alkohol bermerk: contohnya bir. biasanya berapa rata-rata satuan minuman standar ………..... yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu... 5 hari atau lebih tiap minggu 3. Ya 2. waktu senggang dan transportasi D22 D23 D24 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik berat. nyirih.menit 1. Cangklong f... Tidak D21a D21b Dalam 1 bulan terakhir seberapa sering [NAMA] minum minuman beralkohol? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1.. 1 – 3 hari tiap bulan 2. Rokok kretek tanpa filter c. [NAMA] berjalan kaki atau bersepeda selama paling sedikit 10 menit terus-menerus setiap kalinya? 1. Tembakau dikunyah (susur. Cerutu 1.jam ……….. Rokok putih d. Tidak D28 …………. minuman tradisional Ketika minum minuman beralkohol.. Lainnya: ……………… D15 D16 D17 Apakah [NAMA] biasa merokok di dalam rumah ketika bersama ART lain? Berapa umur [NAMA] ketika berhenti/ tidak merokok/ tidak mengunyah tembakau sama sekali? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Berapa umur [NAMA] ketika pertama kali merokok/ mengunyah tembakau? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT .menit 1.hari ………….hari …………. Tidak D17 g.. Bir Jenis minuman beralkohol yang paling banyak dikonsumsi: 2... tahun ALKOHOL Catatan (GUNAKAN KARTU PERAGA): 1 satuan minuman standard yang mengandung 8 – 13 g etanol. Rokok kretek dengan filter b. sopi)? 1. [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang.... vodka. Ya 2. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) Apakah [NAMA] biasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu. Whiskey/ Vodka 4. < 1x tiap bulan 3.. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) D25 D26 D27 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik sedang. Rokok linting e... poteng. Tidak D22 D22 D19 D20 Apakah dalam 1 bulan terakhir [NAMA] pernah mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol? 1. 1 – 4 hari tiap minggu 4..D14 Sebutkan jenis rokok/ tembakau yang biasa [NAMA] hisap/ kunyah: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a....hari . anggur/ wine. [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat. whiskey. Ya D17 2.. Ya 2... tahun .

sering terbangun pada malam hari atau bangun lebih awal daripada biasanya) Dalam 1 bulan terakhir.Makanan dibakar/dipanggang f. seberapa besar [NAMA] menderita batuk atau bersin selama 10 menit atau lebih dalam satu serangan? E02 E08 Dalam 1 bulan terakhir. SEDANG 5. berapa total waktu yang [NAMA] gunakan untuk berjalan kaki atau bersepeda? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) …………. babat.XI. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan orang lain dalam ruangan yang sunyi. Yang dimaksud dengan keadaan kesehatan disini adalah keadaan fisik dan mental [NAMA] E. Misalnya naik tangga 12 trap? E07 Dalam 1 bulan terakhir.D30 Biasanya dalam sehari. > 1 kali per hari 3. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. Makanan berlemak D35a • • d. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berjalan jauh sekitar satu kilometer? . DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN (ART UMUR ≥ 15 TAHUN) UNTUK PERTANYAAN E01 – E11.Minuman berkafein (kopi.14 TAHUN. Makanan asin c. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan suara normal yang berdiri di sisi lain dalam satu ruangan. Makanan/ minuman manis b. 3 – 6 kali per minggu 5. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN JIKA ART UMUR >15 TAHUN E. 1 kali per hari 4. Jeroan (usus. seberapa besar [NAMA] merasakan napas pendek setelah melakukan latihan ringan. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN g. kecap.menit PERILAKU KONSUMSI D31 D32 D33 D34 Biasanya dalam 1 minggu.Bumbu penyedap (vetsin.jam ………. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. < 3 kali per bulan 2. dll) h. seberapa sering [NAMA] mengalami gangguan tidur (misal mudah ngantuk.porsi ……hari ……. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali obyek sepanjang lengan/ jarak baca (30 cm) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. 1 – 2 kali per minggu 6. RINGAN 4.porsi D35 Sekarang saya akan menanyakan keadaan kesehatan menurut penilaian [NAMA] sendiri. trasi) …… hari ……. SANGAT BERAT 2. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berdiri dalam waktu 30 menit? E05 E11 Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali orang di seberang jalan (kira-kira dalam jarak 20 meter) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. BERAT E01 Dalam 1 bulan terakhir. Tidak pernah Biasanya berapa kali [NAMA] mengkonsumsi makanan berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) a. berapa hari [NAMA] makan buah-buahan segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D33 Berapa porsi rata-rata [NAMA] makan buah-buahan segar dalam satu hari dari hari-hari tersebut? (GUNAKAN KARTU PERAGA) Biasanya dalam 1 minggu. berapa hari [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D35 Berapa porsi rata-rata [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar dalam sehari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) TANYAKAN D35 TANPA KARTU PERAGA DAN ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. seberapa besar [NAMA] merasakan nyeri/ rasa tidak nyaman? E06 Dalam 1 bulan terakhir.Makanan yang diawetkan JIKA ART UMUR 10 . paru) e. TIDAK ADA 3. ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. seberapa sering [NAMA] mengalami masalah kesehatan yang mempengaruhi keadaan emosi berupa rasa sedih dan tertekan? E03 E09 E04 E10 Dalam 1 bulan terakhir.

apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas/ gerak (misalnya bangun tidur. mandi. KESEHATAN MENTAL (SEMUA ART UMUR ≥ 15 TAHUN) DITANYAKAN UNTUK KONDISI 1 BULAN TERAKHIR Untuk lebih mengerti kondisi kesehatan [NAMA] kami akan mengajukan 20 pertanyaan yang memerlukan jawaban ”Ya” atau “Tidak”. TIDAK ADA 2. keagamaan. PERTANYAAN F01 SAMPAI DENGAN F20 HARUS TERJAWAB LANJUTKAN KE BLOK XI. atau kegiatan lain)? E13 E14 E18 E19 E15 E16 E20 UNTUK PERTANYAAN E21 – E23. Kalau [NAMA] kurang mengerti kami akan membacakan sekali lagi.UNTUK PERTANYAAN E12 – E20. pengajian. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. SANGAT SULIT/ TIDAK DAPAT MELAKUKAN E12 Dalam 1 bulan terakhir. BACAKAN & ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK E21 E22 E23 Dalam 1 bulan terakhir. ISIKAN DENGAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk berkomunikasi (berbicara dan dimengerti oleh lawan bicara)? F. cemas atau kuatir? Apakah tangan [NAMA] gemetar? Apakah pencernaan [NAMA] terganggu/ buruk? Apakah [NAMA] sulit untuk berpikir jernih? Apakah [NAMA] merasa tidak bahagia? Apakah [NAMA] menangis lebih sering? F11 F12 F13 F14 F15 F16 F17 F18 F19 F20 Apakah [NAMA] merasa sulit untuk menikmati kegiatan sehari-hari? Apakah [NAMA] sulit untuk mengambil keputusan? Apakah pekerjaan [NAMA] sehari-hari terganggu? Apakah [NAMA] tidak mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup? Apakah [NAMA] kehilangan minat pada berbagai hal? Apakah [NAMA] merasa tidak berharga? Apakah [NAMA] mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup? Apakah [NAMA] merasa lelah sepanjang waktu? Apakah [NAMA] mengalami rasa tidak enak di perut? Apakah [NAMA] mudah lelah? PERIKSA KEMBALI. berjalan dalam rumah atau keluar rumah)? Dalam 1 bulan terakhir. ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK F01 F02 F03 F04 F05 F06 F07 F08 F09 F10 Apakah [NAMA] sering menderita sakit kepala? Apakah [NAMA] tidak nafsu makan? Apakah [NAMA] sulit tidur? Apakah [NAMA] mudah takut? Apakah [NAMA] merasa tegang. seberapa sulit [NAMA] dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari? Dalam 1 bulan terakhir. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk merawat diri (makan. seberapa sulit [NAMA] mengenakan pakaian? Dalam 1 bulan terakhir. RINGAN 3. seberapa sulit [NAMA] dapat berperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan (arisan. Jika [NAMA] ada pertanyaan akan kita bicarakan setelah selesai menjawab ke 20 pertanyaan. seberapa sulit [NAMA] dapat memahami pembicaraan orang lain? E17 Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] berinteraksi/ bergaul dengan orang yang belum dikenal sebelumnya? Dalam 1 bulan terakhir. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN . seberapa sulit [NAMA] dapat melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya sebagai anggota rumah tangga? Dalam 1 bulan terakhir. namun kami tidak akan menjelaskan/ mendiskusikan. SEDANG 4. seberapa sulit [NAMA] dapat memusatkan pikiran pada kegiatan atau mengingat sesuatu selama 10 menit? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] membersihkan seluruh tubuh seperti mandi? Dalam 1 bulan terakhir. SULIT 5. seberapa sulit [NAMA] dapat memelihara persahabatan? Dalam 1 bulan terakhir.dll) Dalam 1 bulan terakhir. berpakaian.

... Kali 2.. IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN (KHUSUS ART UMUR 0 .... Ya 1.....G.f 8.. Tidak tahu G05.. Tidak G06 8... Tidak tahu 2. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’.. Tidak G05. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi polio? (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK BULAN) e. ISI KODE ”00” ATAU JIKA ”TIDAK TAHU”. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G09 Salin dari KMS..... Hari ... Tanggal lahir: (Tgl-Bln-Thn) G02 G03 G04 G05 a2. Polindes 4. 3.59 BULAN/ BALITA) G01 a1.h 8.. Ya 2.... Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi Hepatitis B? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) k. Berapa kali [NAMA] diimunisasi polio? f.. Tidak G05. Pada umur berapa [NAMA] diimunisasi BCG? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) c... Ya ..... Puskesmas/ Pustu 3. Tidak 3.. Ya ... kali - Dalam 6 bulan terakhir. Umur [NAMA] dalam bulan b.. Hepatitis B3 / / / / / / / / / / / / . Kali 1. BCG b. Lainnya: . Tidak tahu ... imunisasi untuk setiap jenis imunisasi.... yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di lengan atas atau paha serta meninggalkan bekas (scar)? b. Ya 2. tidak dapat menunjukkan G09 4... Polio 3 e... JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN.. Hepatitis B2 l...……… 1. DPT1 / / / / / / / / / / / / g... Polio 4 f..f .... Imunisasi Hepatitis B yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di paha? j. Ya.. Tidak pernah imunisasi 8. tanggal. Ya ... Tidak tahu G06 . Imunisasi DPT yang biasanya disuntikkan di paha dan biasanya mulai diberikan umur 2 bulan bersama dengan imunisasi polio? g. Tidak 8. Bulan 2.h .. Tidak G05....... Imunisasi polio. Di RS 2. Posyandu 5.. DPT3 i... Imunisasi BCG terhadap TBC........ Berapa kali [NAMA] diimunisasi DPT? h. Ya. Jika Umur [NAMA] < 1 bulan. ISI KODE ”88” Dimana [NAMA] paling sering ditimbang? 1..... Kali 2....c ..... DPT2 h. tuliskan Umur dalam hari KE G04 .... Polio 2 d. Berapa kali [NAMA] diimunisasi Hepatitis B? 1. Polio 1 c. Hepatitis B1 k. Tidak punya G09 2... Hari 1. Bulan G06 G07 Di antara imunisasi yang [NAMA] dapatkan dalam dua tahun terakhir apakah ada yang diperoleh pada saat PIN? Apakah [NAMA] mempunyai KMS? (Minta ditunjukkan KMS) G08 1. Campak j.c 8. berapa kali [NAMA] ditimbang? JIKA TDK PERNAH DITIMBANG. Ya 2.. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a... cairan merah muda atau putih yang biasanya mulai diberikan umur 2 bulan dan diteteskan ke mulut? d.. Imunisasi campak yang biasanya mulai diberikan umur 9 bulan dan disuntikkan di paha serta diberikan satu kali? i. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA./ tahun.. Tidak Apakah dalam 6 bulan terakhir [NAMA] mendapatkan kapsul vitamin A (GUNAKAN KARTU PERAGA) Apakah [NAMA] pernah mendapat imunisasi seperti: (INFORMASI DAPAT DIPEROLEH DARI BERBAGAI SUMBER) a. Ya 1./ bulan. Bulan 1. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi.... Tidak tahu G05. Tidak tahu G05...

. Tidak punya Blok G11a G10 Salin dari Buku KIA. Pemberian tablet Fe e. BCG b.G09 Apakah [NAMA] mempunyai buku KIA? (Minta ditunjukkan Buku KIA) 1....59 BULAN LANJUT KE H01 XI. Sangat kecil 2. DPT3 i. b.. KESEHATAN BAYI (KHUSUS UNTUK BAYI BERUMUR < 12 BULAN) H01 H02 H03 H04 H05 H06 Menurut Saudara. pelayanan kesehatan apakah yang diterima saat memeriksakan kehamilan pada dokter. Polio 3 e. Normal 4. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA. Hepatitis B2 l. Kecil Apakah waktu lahir [NAMA] ditimbang Bila H02=Ya. Polio 1 c. Ya. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G11a 3. 8 – 28 hari setelah lahir H07 Apakah [NAMA] mendapat pelayanan kesehatan (dikunjungi/ mengunjungi) pada: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN b) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Tidak H05 2.. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a. JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN./ bulan. Hepatitis B1 k. Polio 2 d.. DPT2 h. Ya . Pengukuran tinggi badan b. Berat Badan [NAMA] ketika lahir : 1. bidan atau perawat? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a.. Hepatitis B3 / / / / / / 3. Pemeriksaan tinggi fundus (perut) d. Campak j. Ya 2. berat lahir [NAMA] dalam ukuran (gram) : Darimana sumber informasi berat [NAMA] lahir: 1. Penimbangan berat badan g. Lainnya ……………… / / / / / / G11 Bila tidak dapat menunjukkan. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. Sangat Besar 1. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi 2. Pemeriksaan urin a. Tidak H07 Apakah ketika ibu mengandung bayi [NAMA] pernah memeriksakan kehamilan pada dokter. tanggal. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN G11a H.. Pemeriksaan tekanan darah c. Pemberian imunisasi TT f. 1 – 7 hari setelah lahir b. Ya 2. Buku KIA/ KMS/ catatan kelahiran 3./ tahun. siapakah yang menyimpan KMS/buku KIA tersebut? 1. Pemeriksaan hemoglobin h. Kader Posyandu • JIKA ART UMUR 0 – 11 BULAN • JIKA ART UMUR 12 . Bidan/ tenaga kesehatan 2. tidak dapat menunjukkan G11 4. . Ya. DPT1 / / / / / / / / / / / / g.. Polio 4 f. Pengakuan atau ingatan Ibu/ ART lain 1. atau perawat? Jika Ya. bidan.. Besar 5.

. c2. Jika [NAMA] tidak menggunakan kacamata tetap lakukan pemeriksaan visus 2. Khusus untuk balita..XI.. Tidak 2. d2. Menggunakan kacamata (jauh dan atau dekat)? 1. Tidak 2. cm i. Tinggi Badan/ Panjang Badan (cm) KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN .. Juling b..... DAN LILA SEMUA UMUR 1. Ya 1. Diastolik 1 PEMERIKSAAN 2 d. KHUSUS WANITA USIA SUBUR (15 – 45 TAHUN) TERMASUK IBU HAMIL 5 Lingkar lengan atas (LILA) ….. Tidak 1. Posisi Pengukuran TB/PB 1. Telentang . Nadi 3 .. Kanan: / / b.. c1. Diastolik 3 c. b1.. Tidak 1. PEMERIKSAAN VISUS: 1. d1.. Jika [NAMA] hanya dapat melihat SINAR SENTER TULIS 01/888 6. Tidak 2. Ya 1. Sistolik 2 e. Parut kornea d. Ya a1... 9. b2.... LINGKAR PERUT.. Ya KIRI 2.. Diastolik 2 PEMERIKSAAN 3 Hanya dilakukan bila selisih pengukuran tekanan darah 1 dan 2 > 10 mmHg g. Tanpa Pinhole Dengan Pinhole a. Ya 1. Sistolik 3 h. . Kanan: a. Kiri: b.. 2. Tidak a2. Ya 1. Jika [NAMA] hanya dapat melihat GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter TULIS 01/300 5. cm PEMERIKSAAN VISUS (KHUSUS ART > 5 TAHUN) 6 Apakah mata [NAMA] mengalami gangguan: (LAKUKAN PENGAMATAN] KANAN a.. Ya 1. Tidak 2. 2a. Jika [NAMA] menggunakan kacamata. Lensa keruh/Katarak 7.. Berdiri 2. lakukan pemeriksaan visus dengan tetap memakai kacamata 8. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 3 meter TULIS 03/060 2. Tidak 2.. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 1 meter TULIS 01/060 4. Nadi 1 4 Lingkar perut f. PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN PENGUKURAN ANTHROPOMETRI. Tidak 2. Pterigium c. TEKANAN DARAH. Berat badan (kg) 2b.. Sistolik 1 b. Nadi 2 ……. Jika [NAMA] tidak dapat melihat sinar (BUTA TOTAL) TULIS 00/000 LAKUKAN HITUNG JARI: . Ya 1. Kiri: / / CATATAN UNTUK RESPONDEN YANG TIDAK DAPAT MELIHAT KARTU SNELLEN ATAU KARTU E 1. Ya 2.. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 2 meter TULIS 02/060 3. 3 Tekanan darah (mmHg) PEMERIKSAAN 1 a..

Berilah kode D. Tidak KE XI.PEMERIKSAAN GIGI PERMANEN (KHUSUS ART ≥ 12 TAHUN) 10. Apakah diambil spesimen darah 1.13 atau KE CATATAN PENGUMPUL DATA 12. Apakah diambil Urin (khusus ART umur 6 – 12 thn) STIKER NOMOR URIN 1. Ya 2. atau F pada setiap ruang dentogram di bawah ini: D (decayed) = gigi berlubang M (missing) = gigi telah dicabut/ tinggal akar F (filling) = gigi ditambal CATATAN: JIKA PADA GIGI YANG SAMA TERDAPAT LUBANG DAN JUGA TAMBALAN MAKA TULISKAN “DF” PADA SATU RUANG DENTOGRAM TERSEBUT 8 7 6 5 (I) Kanan 4 3 2 1 1 Kiri (II) 2 3 4 5 6 7 8 8 7 6 III Kanan 5 4 3 2 1 Kiri IV 1 2 3 Kiri (IV) 4 5 6 7 8 (III) Kanan DIISI OLEH PENGUMPUL DATA ∑D-T ∑M-T ∑F-T 1 = Incisivus 1 (gigi seri 1) 2 = Incisivus 2 (gigi seri 2) 3 = Caninus (taring) 4 = Premolar 1 (geraham kecil 1) 5 = Premolar 2 (geraham kecil 2) 6 = Molar 1 (geraham besar 1) 7 = Molar 2 (geraham besar 2) 8 = Molar 3 (geraham besar 3) PEMERIKSAAN DARAH DAN URIN 11. Ya 2.M. STIKER NOMOR DARAH TEMPEL STIKER DI SINI 13 14. Tidak KE CATATAN PENGUMPUL DATA TEMPEL STIKER DI SINI CATATAN PENGUMPUL DATA .

_____________________. Di perjalanan 4. 5b Jika YA BAYI LAHIR HIDUP. KEADAAN BAYI KETIKA LAHIR 6. Meninggal. Di fasilitas kesehatan 2. tuliskan angka 98 pada P5a. 4. penyebabnya ____________________ Umur ibu pada saat melahirkan bayi yang meninggal? ______________ tahun Berapa jumlah kehamilan (G). tanya umur bayi saat meninggal TULISKAN “88” BILA TIDAK TAHU 5 6 Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? a. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. merintih/menangis lemah atau bergerak? Jika TIDAK BAYI LAHIR MATI. Di rumah b. Tidak tahu 3. Berapa bulan umur bayi di kandungan? b. a. persalinan (P). KARAKTERISTIK IBU NEONATAL (BILA IBU NEONATAL MENINGGAL. Dukun 4. TANYAKAN KEPADA ART YANG MERAWAT BAYI/ YANG MEWAKILI) 1. Normal ________bulan 2. Vakum 3. _________ hari 3. 5. apakah bayi ketika lahir sempat bernafas. Cepat 2. AUTOPSI VERBAL BAYI MENINGGAL BERUMUR 0-28 HARI IVA.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini Bagaimana kesehatan ibu neonatal saat ini? 1. ________ jam 1. Penolong Pertama G P A 8. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Lainnya a. No. Bidan/Tenaga paramedis lainnya 3. III. AV1 Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No. Bagaimana proses kelahiran bayi? c. Sakit 3. Lama/sulit 3. Dokter 2.RT II. Laki-laki 2. 2 3 4 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal 1. Lainnya. PENGENALAN TEMPAT RKD07. 2.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR < 29 HARI I. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel No. Operasi 1 . Penolong Terakhir JIKA LAHIR MATI (JAWABAN BLOK II P 5A DAN P 5B ADALAH 98) LANJUTKAN KE BLOK V P24 IV. Blok No. Sehat 2. Family/keluarga 5. Normal 1. b.urut yg meninggal: _________ Kutip dari RKD07. Apakah bayi lahir normal atau dengan bantuan alat atau operasi? 1.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan____/ tahun ____ / / / / Jika tanggal lahir dan tanggal yang meninggal sama. Perempuan 1b. keguguran (A) yang dialami ibu? Siapa saja yang menolong ibu ketika melahirkan bayi tersebut? 1.

Tidak 2. Tidak tahu 8. Aktif 1. Kembar 3. Apakah tali pusar keluar sebelum bayi lahir? c. Kehijauan 8. tubuh dingin. Apakah bayi bergerak aktif atau lumpuh/ lunglai? e . Apakah kulit bayi terkelupas ? 10. Tidak 2. Kepala 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Keruh 1. Pucat 1. Jernih 2. Lebih kecil dari rata-rata 3. Tidak tahu 8. Ya 1. Kuning 3. Bambu 8. Apakah ada lilitan tali pusar di leher bayi? d. Tidak 2. Alkohol/ betadine 1. Tidak tahu 2. Tidak tahu 8. berapa berat badan bayi? c. Lumpuh/lunglai 8. Tidak bernafas 8. Tidak tahu 3. apakah suaranya keras/ lemah? c. Jika tidak ditimbang. Sangat kecil 2. Ya 3. Tidak tahu 2. Tidak tahu 8. demam. Tidak ada tulang kepala belakang (anencephalus) d. Tidak tahu 8. Apakah bayi dibedong segera setelah lahir? 7. Tidak ada 8. rata-rata. Tidak tahu 8. Normal 2. Tidak tahu 8. Sangat besar 8. Tidak tahu f. Ya 1. Tidak tahu P10c 8. Tidak 8. KEADAAN BAYI KETIKA SAKIT [Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/hari)] 12. Apakah bayi segera menangis setelah lahir? b. Kebiruan 4. Bagian tubuh apa yang pertama keluar ketika bayi lahir? b. Gunting 2. Kepala besar (hidrosefalus) c. Ramuan daun/abu 8. Tidak diberi apa-apa 2. a. sesak. Tidak tahu IVB. a. Apakah saluran nafas bayi dibersihkan segera setelah lahir? f. lebih kecil. Tidak tahu 2. ________ gram 1. Merintih 8. Sesak nafas 1. Ya 1. muntah. a. Tidak tahu 3. Kemerahan 2. Lainnya (tuliskan) ____________________________ 1. Bagaimana warna kulit bayi ketika lahir? 1. Lebih besar 5. Rata-rata/normal Apakah bayi dilahirkan dengan cacat bawaan: (Tanyakan satu persatu kepada ibu/keluarga yang mendampingi) a. apakah bayi sangat kecil. Tunggal 1. Benjolan pada dinding perut sekitar pusar (omphalocele) e. Ada 2. lainnya) TANYAKAN DAN CATAT LAMANYA SAKIT _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 2 . Lemah 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 2. Tidak 2. Tidak tahu P10c 8. Ada. Ya 2. Ya 1. Bagaimana nafas bayi ketika lahir? d. Bibir/langit-langit sumbing b. Ya 1. Tidak tahu 3. Tidak tahu 2. Bahu/tangan 8. Tidak 2. Silet/pisau 1. Tali pusar diobati dengan apa? 9. Tidak 8. Tidak 2. Segera 2. Jika menangis. Tidak ada lubang dubur (atresia ani) f. Ya 1. Tidak 2. Tidak ada 1. _________ 2. Ya 1. Ya 1. Apakah warna air ketuban? g. Jika ya. Apakah ada trauma lahir sehingga bayi terluka? Sebutkan e. Tidak menangis 8.d. Tali pusar bayi dipotong dengan apa? b. Tidak tahu P9c P9c 1. Tidak P11 4. Ya 1. Keras 2. a. lebih besar atau sangat besar? 11. Apakah bayi lahir kembar? 8. Bokong/kaki 3. Lambat 1. Apakah bayi ditimbang segera setelah lahir? b. Ceritakan gejala awal dan utama bayi ketika sakit? (kejang. Tidak tahu 3.

Ya. Melemah. Ya. Tidak 2. a. Ya. Ya. Bagaimana bayi mengisap ASI? c. Tidak bisa BAB. a. Ya. _______hari 1. Tidak 8. a. Tidak tahu 8. Tidak tahu 1. Tidak P15 8. Tidak tahu 8. a. _______hari 2. Apakah perut bayi kembung? b. Apakah mengeluarkan air liur terus-menerus? d. Apakah bayi mengalami penurunan kesadaran? (bayi dibangunkan tetapi tidur terus) 17. _____hari 8. Cekung. Apakah diberikan minuman/makanan lain sebagai berikut? (jawaban dapat lebih dari satu) 3 . Ya. Tidak P23a 2. Tidak tahu 1. Ya. Tidak tahu 8. ____ hari 4. ____ hari 1. Ya. Kebiruan 4. Tidak tahu 8. Tidak 2. _______hari 1. a. Tidak P21a 2. Bagaimana keadaan mata bayi? 18. Ya. Tidak tahu 8. Tidak bisa mengisap 7. Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam? 16. Apakah ada batuk? c. Tidak tahu 8. Tidak 2. ________ 23. Tidak Tahu 8. Ya. Tidak 3. Ya. ______ hari 1. Cairan keruh/nanah 8. Susu formula 6. Apakah bayi muntah? b. Diare. Pisang 8. a. Air tajin 2. _______hari 1. Jika ya. Berulang-ulang. Menangis dgn suara melengking tiba-tiba dan terus-menerus 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Apakah ada gangguan dalam buang air besar (BAB)? b. Apakah warna tubuh bayi? b. Lainnya. Tidak tahu 8. _______hari 1.Tidak tahu P21a b. _______hari 1. Tidak tahu 8. Nafas normal 2. _______hari 1. Nafas cepat/ megap-megap . Bagaimana suara tangisan bayi? 1. Apakah terlihat ada benjolan di perut? 22. a. Apakah kulit bayi bergelembung? d. a. _______hari 1. Warna kuning. Bagaimana muntah tersebut terjadinya? 1. Cairan jernih 2. Pucat 1. Tidak menangis. Tidak tahu 1. Air madu/gula 3. Apakah tubuh bayi dingin? 20. _______hari 1. ____hari 8. Tidak tahu 4. gelembung berisi apa? 15. Tidak 2. ____ hari 1. _______hari 1. Apakah diberi Air Susu Ibu (ASI)? b. Tidak tahu P23c 3. Tidak tahu P23a 21. Ya. _______hari 1. Apakah ada luka/bercak putih di dinding rongga mulut? 19. Normal. Normal 2. Lemah 4. ______hari 8. _____ hari 2. Tidak P23c 2. Tidak 2. Pucat 1. _____hari 2. Sehabis minum ASI. Air putih 2. Nasi 8. Apakah warna kaki/ tangan bayi? c. _______hari 1. _____ hari 1. Tidak tahu 8. Ya. _______hari 1. Ya. Tidak 2. Kebiruan 4. _______hari 1. Kuning 2. Merah muda 2. Tidak tahu 8. _______hari 1. Ya.13. _____ hari 1. Tidak 2. Apakah mulut bayi mencucu. Ya. Tidak tahu 8. Tidak 2. _________ hari 3. apakah gangguannya? 2. Jika ya. Air buah 5. Tidak tahu 8. Apakah bayi kejang? b. Ya. Ya. Belekan. Apakah cuping hidung kembang kempis ketika nafas? d. Tidak tahu 8. _____ hari 3. Apakah ubun-ubun bayi menonjol? 14. seperti mulut ikan? b. Apakah bayi demam? b. Merah muda 2. a. Tidak 2. Tidak 2. Apakah bibir berwarna kebiruan? c. Tidak tahu 8. Kuat 1. Tidak 2. Tidak tahu P15 b. Bagaimana sifat pernafasan bayi? 2. Kuning 3. a. _______hari 1.

Tidak 2. _______________________________ 25. Nyeri perut hebat g. Ya 1. Ya 1. Cedera/kecelakaan k. Ya 1. Tidak 8. lemah. Tidak tahu 8. Perdarahan c. kunang-kunang e. Ya 1. Tidak 2. Ya 2. Ya 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya 1. Kejang/ eklampsi e. Kejang l. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. Pusing. Tidak tahu 8. Ibu kurus (kurang energi kronis) f. Tidak tahu Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Tidak tahu 8. apakah mengalami komplikasi? a. Ya 1. tuberculosis i. asthma. Ya 1. Ya 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. Ya 1. Tidak 2. Tekanan darah tinggi f. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Sulit ketika melahirkan b. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak tahu VI. RESUME RIWAYAT SAKIT VIA. apakah mengalami komplikasi? a. Lainnya.BAYI USIA 0-28 HARI TERMASUK LAHIR MATI (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Jenis kelamin dan umur bayi ketika dikandung: Berat badan lahir: Keadaan waktu lahir dan bagian tubuh yang keluar lebih dulu: Riwayat sakit: 4 .V. Ya 1. Demam g. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. AUTOPSI VERBAL KESEHATAN IBU NEONATAL KETIKA HAMIL DAN BERSALIN 24. lesu. Lainnya ________________________________ Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Perdarahan c. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ketuban pecah dini d. Nyeri perut hebat d. Ya 1. Ya 1. Tidak 2. Ya 1. Ya 1. Tidak tahu 8. Sesak napas. Sakit kuning j. Radang paru. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak 8. sakit jantung h. Tidak 2. Demam h. Tidak 2. Tekanan darah tinggi dan atau bengkak b. Ya 1. Ketika ibu hamil. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ketika ibu bersalin. Sesak nafas i. Ya 1.

.................... Kode ICD 10 27.... tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada Rangkaian a-c ________________________________________________________________ ....... Penyakit/keadaan lain ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ e.............. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian.............. 5 .... Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ____________________________________________________________________________ d.... ........... ....... Penyakit/keadaan utama ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ d..... Tanggal: .... Keadaan relevan lain yang menyebabkan kematian bayi/lain.. ...... .. RESUME KEADAAN IBU (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur ibu ketika melahirkan: GPA: Penolong persalinan: Proses persalinan: Komplikasi kehamilan: Komplikasi persalinan: 26.. .... Telah diperiksa oleh Ketua Tim............ Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 7 hari – 28 hari (diisi oleh dokter) a......... .... Nama:... Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) _____________________________________________________________________________ b......... tetapi tidak berkaitan dengan penyakit/keadaan janin/bayi maupun ibunya: _____________________________________________________________________________ Kode ICD 10 ........... Penyakit atau keadaan utama janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ b. Penyakit atau keadaan lain janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ c.VIB............... Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 0-6 hari (diisi oleh dokter) a..... ...... Tanda tangan:.. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c..

. Apakah [NAMA] menderita cacat bawaan? b.. a. Blok No.< 5 tahun I. AV2 Prov Kab/ Kota Kec No Kode Sampel No. Air madu/gula 3...<5 tahun) Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (hari/bulan) 1. Bubur 9. .. Makanan bayi siap saji 8. sebutkan jenis cacatnya 2..RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini b. Ya. Susu formula 3.. Apakah [NAMA] lahir prematur? 1. Apakah [NAMA] minum ASI ketika sakit? b. dokter) __________________________________________________________________________________________________________ c. Tidak tahu P2c __________ gram 1. Di Rumah / / b.. a.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ a. Tidak P4a ______________________________________ 4.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 29 hari . KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1.urut yg meninggal: . apa penyebab kematian [NAMA]? (termasuk keterangan dari perawat. Pisang 7.... Jenis minuman/ makanan apa lagi yang diberikan? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. Air buah 5. No. Tidak tahu 8. Nasi 10. Di perjalanan 4. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07.. Jika ya. ASI saja 2.bulan (< 5 tahun) / / 3.. Apakah [NAMA] ketika lahir kecil atau berat badan kurang dari 2500 gram? b. Perempuan 1b. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Tidak bisa menyusu 4. Jika ya. Tidak 8. Lainnya.RT II. a. Ya. Tidak tahu P4a 3. bidan. Tidak P2c 8. Laki-laki 2. _________________ 1 . menyusu Lemah 1. Sub Desa/Kel D/K Sensus Blok Sensus RKD07. _____ bln 1. Ya. ____________________ III. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT BALITA (29 hari . menyusu kuat 2.. berapa berat badan ketika lahir c. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ 2. Ya 2.. PENGENALAN TEMPAT No.. Sudah tidak minum ASI 6.. Di fasilitas kesehatan 2. Air putih 4.. a. Lainnya.hari (<30 hari) 1. Ya 2. Menurut responden. Kutip dari RKD07.

Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. Tidak 2. 9. Batuk terus menerus 8. Ya 1. Ya. Tidak tahu 8. _____hr 1. _____hr ____bln 1. Tidak 2. Tidak 2. Tidak P17 2. Apakah pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? Jika ya. _______hr 1. 7. Tetanus Campak Hepatitis d. Naik turun 1. Kering 2. Tidak tahu 2 . Tidak tahu 8. usia_______bulan 1. _____hr ____bln 1. _____hr 1. Ya. Tidak tahu 8. _____hr 1. Tidak 8. usia_______bulan 1. Terus menerus 2. Tidak 2. Ya. Apakah [NAMA] diare? b. 22. Tidak 2. Ya. _____bln 1. Ya 1. 19. Ya. Ya. Apakah [NAMA] batuk? b. Apakah [NAMA] luka/sariawan di rongga mulut? 18. Ya. _____bln 1. _____hr 1. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. Tidak 2. Ya. Tidak 2. Tidak tahu P13 8. _____hr 1. Ya. Tidak Tahu 8. Ya. Tidak Tahu 8. 3. Apakah [NAMA] ada parut BCG a. 12. _____hr 1. Ya 1. Apakah warna putih mata jadi kuning? Apakah tubuh [NAMA] berwarna biru setelah beraktifitas atau menangis? Apakah muka [NAMA] bengkak. _____hr 1. Negatif 2. 15. _____hr 1. apakah diberi obat? 6. Ya. _____hr ____bln 1. kapan diperiksa? e. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. apakah muntah disertai dengan darah berwarna kehitaman? 13. Tidak 2. Tidak 2. _____hr 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya. _____hr ____bln 1. Berulang disertai keringat malam 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya. 21. Tidak tahu 8. apakah sifat batuknya c. Tidak 8. Positif. 10. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 1. a. _____hr ____bln 1. Ya. Tidak P13 2. Apakah dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal berat badan [NAMA] tidak naik? c. Ya. Ya. kapan obat mulai diberikan? 8. ________ hr 1. _____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] terlihat pucat terutama di bibir atau telapak tangan? d. Tidak 2. Apakah [NAMA] mengalami demam sebelum meninggal? b. Tidak tahu 2. 20. Tidak tahu P8 3. Menggigil 4. _____hr 1. Tidak 2. Ya. Apakah [NAMA] pernah diimunisasi sebagai berikut: Diptheri. Apakah ada benjolan yang tidak normal di perutnya? 14. Tidak tahu 8. Apakah diare disertai lendir dan atau darah? Apakah mata [NAMA] cekung/ haus/ kulit mengkerut/ tidak kencing? a. usia ____. Pertusis. Apakah [NAMA] muntah-muntah? b. Tidak tahu 8. Berdahak 1. Apakah perut [NAMA] membesar/membuncit? a. Ya. 11. Apakah [NAMA] sesak nafas/ sulit bernafas? Apakah [NAMA] nafas dengan cepat? Apakah dinding dada bagian bawah tertarik ke dalam sewaktu menarik nafas? Apakah [NAMA] sakit di daerah perut? a. Tidak 2. Tidak tahu 8. Bagaimana hasilnya? Jika positif. _____hr ____bln 2. Ya. Tidak 2. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. 16.c. Tidak P8 P6 8. Jika ya. Tidak 2. Tidak tahu P17 8. Apakah [NAMA] kurang gizi sebelum sakit? b. _____. terutama kelopak mata? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? Apakah pergelangan kaki/persendian lain bengkak? 1. Ya. Tidak tahu P6 5. Jika positif malaria. Tidak tahu P6 8. _____hr 1. Ya 1. Ya. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? d. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. Tidak Tahu 8. _____bulan 1. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] kejang? a. Tidak P6 2. Tidak Tahu 8. Ya. Apakah ada benjolan di sekitar leher? b. Jika ya. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. 17. Bagaimana sifat demamnya? c. Tidak tahu 8. _____hr 1.

. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. Ya.. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak P35 8. _____hr 1..... ular. Tidak 2. Tidak 2... Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ___________________________________________________________________________ d.. Tidak 2. Tidak tahu IV 35 ________________________________________________________ ________________________________________________________ IV. Ya.. 26.. Tidak IV 8.< 5 tahun) (DIISI OLEH DOKTER) a... tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a-c ___________________________________________________________________________ Kode ICD 10 ... Tidak tahu 8. _____hr 1..... .. gejala... 24. Tidak tahu 8...... 25...... 34. Tidak 2. Tanggal: _________________________ 3 .. _____hr 1. . lama sakit): Berat badan lahir: ___________gram Prematur/ Cukup bulan:__________________ 36. Apakah [NAMA] menderita campak sebelum meninggal? Apakah ada bintik-bintik merah di kulit? Apakah [NAMA] mimisan? Apakah [NAMA] sering ngantuk bukan pd jam tidur? Apakah [NAMA] kaku kuduk (kaku di leher)? Apakah [NAMA] mengeluh sakit kepala? Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? Apakah [NAMA] mengalami lumpuh satu atau dua tungkai? Apakah [NAMA] mengalami gangguan kencing? Apakah kencing bercampur darah? a... Tidak tahu 8. _____hr ____bln 2. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ___________________________________________________________________________ b. 28.. Apakah [NAMA] pernah digigit anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b... Tidak 2.. Jika ya.. Tidak tahu 8.... Diagnosis Penyebab Kematian Bayi/ Balita (29 hari . RESUME RIWAYAT SAKIT BAYI/ BALITA (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur balita: ________ Cacat bawaan: Riwayat sakit (tanda. 31. dll)? b...... sebut jenis cedera 1.. Tanda tangan: . Tidak tahu 8... _____hr 1.... Tidak tahu 8.. 33... Nama: ... Telah diperiksa oleh Ketua Tim. Tidak tahu 8... Tidak 2. Ya..... _____hr 2. Tidak 2.... tenggelam. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c. Ya. Ya. _____hr 1.. _____hr 1.. dll)? a. Ya. Ya. Tidak 2... 27. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2.. kalajengking. _____hr 1.. 29.... Ya. Ya... Ya.... Apakah [NAMA] pernah cedera karena kecelakaan lalu lintas atau lainnya (jatuh.... _____hr 1.. Jika ya. _____hr 1.. 32.... Tidak tahu 8. kera.. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. Tidak 2. Jika ya. . Ya...23. Ya. Tidak tahu P35 _______________________________________________________ 1.. 30. sebut jenis binatang apa (anjing. _____hr 1..... terbakar. _____hr 1. Tidak tahu 8.

Blok Sensus No. Di fasilitas kesehatan 2. b. Tidak tahu 3. ____hr ____bln 1.hr 1.. Naik turun disertai menggigil 4. 2. ____hr ____bln 1.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS RKD07.RT II. Sub Blok Sensus No Kode Sampel No. c. apakah diberi obat? 1. 5. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT III A. Tidak tahu 8. Positif. Ya. Apakah [NAMA] demam/ panas tinggi sebelum meninggal? a. Tidak tahu 8. Tidak 8.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ _______ tahun 1.. Kadang-kadang 2. Menurut responden. AUTOPSI VERBAL UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/ hari) 1a. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? c. Di perjalanan 4. Tidak tahu 8. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. Di Rumah / / / / 3. Ya 1. Negatif 2. Tidak 2. Naik turun 1.. No. Apakah [NAMA] sesak nafas ketika melakukan pekerjaan ringan? Apakah [NAMA] sesak nafas ketika tidur sehingga harus diganjal dengan beberapa bantal? Apakah [NAMA] pernah mengeluh jantung berdebar-debar? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? 8. Bagaimana sifat demamnya? b. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Bagaimana hasilnya? Jika positif... Tidak tahu 8. Tidak 2. ____hr ____bln 2.. Berulang disertai keringat malam 2. Terus menerus 2. Perempuan 1b.. Laki-laki 2. Kutip dari RKD07. _____ hr 1. Tidak tahu 8.. ______. Tidak 2. Ya.. ____hr ____bln 1. Tidak tahu P3 3. Tidak/ Tidak tahu 8. Tidak tahu 1 . apa penyebab kematiannya? (termasuk keterangan dari perawat dan dokter)_____________________________________. . AV3 I. Tidak 2. Ya.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini . Tidak P3 8. PENGENALAN TEMPAT Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No. Ya. Lainnya ___________________ III.. kapan diperiksa? d. Nomor responden (Kutip dari RKD07.. Ya 1. 6. 4.urut yg meninggal: . Jika positif malaria.. Ya. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: ___________________________________________________________________________________ ____________________________________________________________________________________________________________________________ 1.

Ya. 26. Bagaimana sifat nyerinya? 1. Tidak tahu P22 P19 P12 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. ____thn 1. Apakah ada benjolan di perutnya (tumor)? b. Di tengah 2. Tidak 2.7. apakah tinja bercampur dengan darah dan lendir? 18. Berdahak 1. 20. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Jika ya. Tidak tahu 8. 10. ____hr ____bln 1. pada perut bagian mana? 3. 12. _____. Ya 1. Apakah [NAMA] menderita diare? b. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] nafasnya pendek-pendek dan cepat? Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ketika bernafas? Apakah [NAMA] perokok berat? Berapa lama merokok? a. a.bln 1. Jika ya. Seluruh perut 2. Tidak tahu 8. Kiri 2. Tidak tahu 2 . ____hr ____bln 1. 25. Tidak tahu P14 8. Apakah [NAMA] kekurangan cairan tubuh? Apakah [NAMA] mengeluh sulit menelan? Apakah [NAMA] sakit kepala? a. Tidak 2. Ya 1. Ya. ____hr ____bln 1. Ya. Tidak P30 29. 27. Apakah [NAMA] nyeri ketika BAK/kencing? Apakah air seninya berwarna merah? Apakah [NAMA] banyak makan. Ya 1. 17. Apakah [NAMA] ada gangguan Buang Air Kecil (BAK)/ kencing? b. Jika ya. Tak dapat BAK 2. Di bawah 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya 1. Ya. ____hr ____bln 1. 8. bertahap > 1 minggu 8. 11. di bagian mana? c. Dahak + darah 4. Ya. Ya. 13. Tidak tahu 8. Ya. Tidak tahu 8. Tidak P14 8. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. a. Tidak P28 8. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. ____bln___thn 1. Apakah [NAMA] mengeluh nyeri dada hebat? b. pada perut bagian mana? 3. Jika ya. gangguannya apa? 3. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. ____hr ____bln 1. tiba-tiba < 1minggu 2. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 14. Ya. Tidak tahu 8. Jika ya. minum. Tidak tahu 8. Tidak 2. Lainnya. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Kering 2. Ya. Apakah [NAMA] mengalami nyeri perut? b. Tidak tahu P30 P29 P28 22. Ya. Tidak tahu P19 8. Tidak tahu 8. Ya. 19. Apakah perut [NAMA] membuncit/ membesar? b. ____hr ____bln 1. 15. Ngompol 4. Tengah 3. Tidak 2. bagaimana sifat batuknya? Apakah [NAMA] pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? a. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya. Di atas 2. 16. Tidak P29 28. Tidak tahu P22 8. ______ 2. Terus-menerus 2. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Sedikit-sedikit 1. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. dan sering BAK/ kencing? Apakah [NAMA] pernah ada luka yang sulit sembuh? Apakah [NAMA] ada rasa kesemutan di kaki/ tangan? a. 23. Tidak 2. Apakah pergelangan kakinya bengkak? Apakah persendian lainnya bengkak? Apakah [NAMA] nafasnya berbunyi/ mengi? Apakah [NAMA] batuk lebih dari 2 minggu? Jika ya. Kanan 1. Tidak 2. Tidak 2. Ada darah 2. ____hr 1. Tidak tahu 8. Ya. Ya. ____bln___thn 1. Di atas 2. Hilang timbul 1. 21. Jika ya. Tidak 2. Di bawah 1. ____hr ____bln 1. Ya. 24. Ya. Ya. Tidak 2. 9. Tidak P12 3. bagaimana timbulnya? 2.

____hr ____bln 1. Tidak tahu 3. Tidak 2. Tidak P31 8. Tidak tahu 8. ____bln 1. a. Tidak 2. ____hr ____bln 8. ____hr 1. Ya. anjing. Tidak 2. Ya. Apakah berat badan [NAMA] turun secara mencolok sebelum meninggal? Apakah [NAMA] mengalami sariawan luas di mulut sebelum meninggal? a. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN UMUR 10 THN KE ATAS IV. Ya. serangga lain) • • • ____________________________________________________ 44 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 Tahun Ke Atas IIIB Jika YANG MENINGGAL adalah Laki-Laki Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 5-9 Tahun atau Laki-Laki Umur 5-14 Tahun III B. berapa kali dalam sehari kejang? 8. Tidak 2. Jika ya. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Tidak 8. Ya. Tungkai kiri 8. Tidak 2. kalajengking. Ya. Apakah [NAMA] ada luka atau benjolan pada payudara atau kulit payudara berkerut seperti kulit jeruk dan atau puting payudara keluar cairan kemerahan? Apakah [NAMA] keluar darah berlebihan pada saat datang bulan/ menstruasi? 1. gegar otak dll) ____________________________________________________ ____________________________________________________ 1. Ya. Jika ya. Tidak P43 8. Ya. Tidak P44 8. Apakah [NAMA] menderita kejang? b. Apakah [NAMA] pernah cedera akibat kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan lainnya (jatuh. Tidak tahu 3 . bagaimana proses penurunan kesadaran? P33 8. ____hr 1.RESUME 45. 46. ____hr ____bln 1. a. Jika ya. a. Apakah ada bagian tubuh [NAMA] yang lumpuh? b. Tidak tahu 4. Tidak tahu 8. Apakah ada kaku kuduk? 35. Ya. Mendadak 2. apakah muntahnya campur darah? 1. Ya. ____hr ____bln 1. Ya. Tidak tahu P33 2. Ya. Apakah [NAMA] menderita penyakit kulit? b. Ya. ____hr ____bln _______. 42. tenggelam. terbakar. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Apakah [NAMA] tampak pucat? Apakah muka [NAMA] bengkak/ sembab? Apakah mata [NAMA] berubah jadi kuning? a. Jika ya. ____hr ____bln 2. Tidak 2. Tidak 2. Ya. ____hr ____bln 1. Ya. 41. Tidak tahu P34 33. Jika ya. 38. Tidak 2. jelaskan gejala yang timbul pada kulit c. 37. ditusuk. Tidak tahu P36 36. Tidak tahu 8. Jika ya. Tidak tahu P44 43. Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? b. Ya. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] pernah digigit oleh anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b. 40. Ya. sebut jenis cedera (patah tulang. Tidak 2. Ya. ular. Tidak P36 34. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. ____hr ____bln 1. Tidak tahu P43 39. Tungkai kanan 2. ____hr ____bln 2. Tidak P34 8. ____hr ____bln 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Bertahap beberapa hari 2. sebut jenis binatang (kera.30. keracunan. Lengan kanan 2. Tidak P38c 8. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Jika ya. Tidak tahu 8. dll? b. Ya.kali/ hari 1. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Lengan kiri 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu P31 31. a. Tidak tahu P38c ____________________________________________________ 1. Jika ya. Apakah ada benjolan di sekitar leher 2. Apakah [NAMA] bicara kacau selama sakit parah? a. Apakah [NAMA] muntah-muntah ketika sakit? b. Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? b. Tidak tahu 8. bagian tubuh mana yang lumpuh? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. Tidak 2. Ya. 32. Tidak tahu 8. a.

Tidak tahu 8. Tidak 2. satu bayi meninggal 4. 61. Tidak tahu 8. 57. Tidak tahu 8. a. Tidak tahu 8. Ya.54 Tahun BELUM KAWIN P. Lahir spontan 2. Tidak 2. Ya 1. Tidak 2. Lengan/ kaki 8. Ya. Ya. Apakah [NAMA] meninggal ketika sedang hamil? Apakah [NAMA] menderita tekanan darah tinggi ketika hamil (dikatakan oleh tenaga medis) atau kejang ? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan hebat ketika hamil? 1. Ya P67 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Vakum P66a 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Dokter P67 8. hari ke ____ 1. Ya. Ya 1. Jika ya. Ya. Tidak tahu P67a 8. hamil ___bln 2. Tidak tahu 4. Apakah [NAMA] mengalami keguguran (umur kehamilan < 22 minggu/ 5 bulan) sebelum meninggal? Apakah [NAMA] meninggal pada saat melahirkan? Apakah [NAMA] demam tinggi saat melahirkan? Apakah [NAMA] kejang saat melahirkan? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak sebelum bayi lahir? Apakah [NAMA] sulit/ lama (lebih dari 12 jam) ketika melahirkan? Apakah ari-arinya sulit lahir? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak (lebih dari 3 kain) setelah bayi lahir? 1. Tidak P52 8. Tidak tahu 48. Apakah [NAMA] mengeluarkan cairan tidak normal dari jalan lahir? Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Tidak 3. Ya. Tidak 2. a. 62. Kembar. Tidak 2. Dukun 2. Bagaimana kondisi bayi [NAMA] setelah lahir? • • 1.47. hari ke ____ 1. Tidak 2. bagian tubuh mana yang keluar lebih dahulu? 66. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. 53. ____hr ____bln 1. 51. Tidak 2. Tidak tahu 8. Kembar. Tidak tahu P60 LANJUTKAN KE P65a 60. Ya. Apakah [NAMA] melahirkan tunggal atau kembar? b. 58. Siapa saja yang menolong persalinan? b. Tidak tahu 8. _____bln 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya 1. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 10-54 TAHUN 49. Bokong 1. hari ke ____ 1. Bidan 1. 50. Ya. 63. Tidak 2.54 Tahun PERNAH KAWIN IIIC Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . apakah perdarahan masih terus sampai meninggal? 1. Tidak tahu 2. 65. 54. Pada waktu bayi lahir. Tidak 8. Ya. 55. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Keluarga 2. Kepala 2. semua bayi meninggal 67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10-14 Tahun IV. Tidak 2. Kembar 3.RESUME 4 . Ya 1. ____hr ____bln 2.Opeasi Sectio P66a 8. Tidak tahu 8. Tidak Tahu P66a 3. Hidup 2. 59. hari ke ____ 1. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] meninggal setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] kejang setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] perdarahan setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] demam tinggi setelah melahirkan? Apakah ada cairan berbau busuk keluar dr jalan lahir setelah melahirkan? a. hamil ___bln 1. 64. Ya 1. Apakah [NAMA] mengalami perdarahan dari jalan lahir di luar siklus menstruasinya? b. Tidak 2. Ya. Ya. hari ke ____ 1. Tidak P60 8. Tidak tahu P52 LANJUTKAN KE P67 52. Tidak 2. Ya 1. ____ jam 1. 56. Ya. Dengan cara apa bayi dilahirkan? c.67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 55 Ke Atas IIID III C. Tunggal 1. Meninggal 3.

Sakit radang sendi (artritis) d. Asthma h. Tidak tahu 8. Tumor/`kanker j. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. berapa lama ? 1. Kegemukan (Obesitas) i. . gejala. Darah tinggi/ sakit jantung b. Tidak tahu 8.c ________________________________________________________ Kode ICD 10 . Telah diperiksa oleh Ketua Tim. Tidak tahu 8. Peminum alkohol kronik k. ____bln ____thn 1. Tidak tahu 8. AUTOPSI VERBAL UNTUK LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN YANG BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS 68 . Tidak tahu 8. . ____bln ____thn 1. Tidak 8. untuk tanda. ____bln ____thn 1. RESUME RIWAYAT SAKIT 5 TAHUN KE ATAS (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur almarhum/ah: Jenis kelamin: Penyakit yang diderita dan lamanya (Blok III D): Riwayat sakit (Blok III A-C. Ya. Diagnosis Penyebab Kematian Umur 5 Tahun Ke atas (diisi oleh dokter) a. Kencing manis c. Sakit kuning f. ____bln ____thn 1. . Tidak 2. Ya. Ya. Tuberkulosis/ Flek paru g. Ya. ____bln ____thn 1. Tidak tahu 8. lama sakit ): 69. Tidak tahu IV. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. Ya.III D. ____bln ____thn 1. Ya. Tidak 2. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ________________________________________________________________________ c. Tidak tahu 8. Ya. Ya. ____bln ____thn 1. Tidak 2. ____bln ____thn 1. Ya. Tidak 2. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. Tidak 2. Apakah [NAMA] mempunyai riwayat/ pernah sakit: a. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. Nama: _____________________ Tanda tangan: _____________________ Tanggal: _____________________ 5 . tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ________________________________________________________________________ b. Pengguna narkoba suntik atau pil Jika ya. Ya. Tidak 2. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ________________________________________________________________________ d. ____bln ____thn 2. Sakit lambung/ maag e.

6 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful