Riset Kesehatan Dasar

(RISKESDAS) 2007

Laporan Nasional 2007

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Republik Indonesia Desember 2008

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA, kita bisa menyelesaikan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kita persiapkan sejak tahun 2006 dan dilaksanakan pada tahun 2007 di 28 provinsi dan tahun 2008 di 5 provinsi wilayah Indonesia Timur. Perencanaan Riskesdas dimulai tahun 2006, dimulai oleh tim kecil yang berupaya menuangkan gagasan dalam proposal sederhana, kemudian secara bertahap dibahas tiap Kamis-Jum’at di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pembahasan juga dilakukan dengan para pakar kesehatan masyarakat, para perhimpunan dokter spesialis, para akademisi dari Perguruan Tinggi termasuk Poltekkes, lintas sektor khususnya Badan Pusat Statistik, jajaran kesehatan di daerah dan tentu saja seluruh peneliti Balitbangkes sendiri. Dalam setiap rapat atau pertemuan, selalu ada perbedaan pendapat yang terkadang sangat tajam, terkadang disertai emosi, namun didasari niat untuk menyajikan yang terbaik bagi bangsa. Setelah cukup matang, dilakukan uji coba bersama BPS di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk menghasilkan penyempurnaan instrumen penelitian. Selanjutnya bermuara pada “launching” Riskesdas oleh Ibu Menteri Kesehatan pada tanggal 6 Desember 2006. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas dilakukan dua tahap, tahap pertama dimulai pada awal Agustus 2007 sampai dengan Januari 2008 di 28 provinsi, tahap kedua pada Agustus-September 2008 di 5 propinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat). Balitbangkes mengerahkan 5.619 enumerator, seluruh (502) peneliti Balitbangkes, 186 dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Labkesda dan Rumah Sakit serta Perguruan Tinggi. Untuk kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun 36,357 spesimen dari sampel anggota rumah tangga usia satu tahun keatas yang berasal dari 540 blok sensus perkotaan di 270 kabupaten/kota terpilih. Proses editing, entry, dan data cleaning sebagai bagian dari manajemen data Riskesdas dimulai pada awal Januari 2008, yang secara paralel dilakukan pula pembahasan rencana pengolahan dan analisis. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan protes, dari sindiran melalui jargon-jargon Riskesdas sampai protes keras. Dan ini merupakan ujud dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Kini telah tersedia data dasar kesehatan yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Indonesia berupa seluruh status dan indikator kesehatan termasuk data biomedis, yang tentu saja amat kaya dengan berbagai informasi di bidang kesehatan. Kami berharap data itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peneliti yang sedang mengambil pendidikan master dan doktor. Kami memperkirakan akan muncul ratusan doktor dan ribuan master dari data Riskesdas ini. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, para dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Ahli, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas, termasuk mereka yang wafat selama Riskesdas dilaksanakan.

i

Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun sebagai langkah perdana pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas ke-2 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tahun 2010 nanti. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

Jakarta, Desember 2008
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Dr. Triono Soendoro, PhD

ii

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Departemen Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator dan data dasar kesehatan berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dihasilkan melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik daerah, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, data Riskesdas yang menggunakan sampling Susenas Kor 2007, menjadi lebih lengkap untuk mengkaitkan dengan data dan informasi sosial ekonomi rumah tangga. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai angka standar yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia, mengingat sampai saat ini sebagian besar standar yang kita pakai berasal dari luar. Dengan berhasilnya Riskesdas yang baru pertama kali dilaksanakan ini, saya yakin untuk Riskesdas dimasa mendatang dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Karena itu, Riskesdas harus dilaksanakan secara berkala 3 tahun sekali sehingga dapat diketahui pencapaian sasaran pembangunan kesehatan di setiap wilayah, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Untuk tingkat kabupaten/kota, perencanaan berbasis bukti akan semakin tajam bila keterwakilan data dasarnya sampai tingkat kecamatan. Oleh karena itu saya menghimbau agar Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ikut serta berpartisipasi dengan menambah sampel Riskesdas agar keterwakilannya sampai ke tingkat Kecamatan. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada para peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, jajaran Labkesda dan Rumah Sakit, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan.

iii

Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)

iv

RINGKASAN
A. Ringkasan Eksekutif
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan, yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. Indikator yang dihasilkan berupa antara lain status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada konsep Henrik Blum, merepresentasikan gambaran wilayah nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan Riskesdas 2007 adalah: 1. Bagaimana status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota; 2. Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan kesehatan; dan 3. Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik? Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, dirumuskan tujuan antara lain yaitu penyediaan data dasar status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat rumah tangga maupun tingkat individual, dengan ruang lingkup sebagai berikut: 1. Status gizi; 2. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan; 3. Sanitasi lingkungan; 4. Konsumsi makanan; 5. Penyakit menular, penyakit tidak menular dan riwayat penyakit keturunan; 6. Ketanggapan pelayanan kesehatan; 7. Pengetahuan, sikap dan perilaku; 8. Disabilitas; 9. Kesehatan mental; 10. Imunisasi dan pemantauan pertumbuhan; 11. Kesehatan bayi; 12. Pengukuran anthropometri, tekanan darah, lingkar perut dan lingkar lengan atas; 13. Pengukuran biomedis; 14. Pemeriksaan visus; 15. Pemeriksaan gigi; 16. Berbagai autopsi verbal peristiwa kematian; dan 17. Mortalitas. Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat deskriptif. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error, relative standard error, confidence interval, design effect dan jumlah sampel tertimbang menyertai setiap estimasi variabel. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 berhasil mengumpulkan sebanyak 258.366 sampel rumah tangga dan 987.205 sampel anggota rumah tangga untuk pengukuran berbagai variabel kesehatan masyarakat. Riskesdas 2007 juga mengumpulkan 36.357 sampel untuk pengukuran berbagai variabel biomedik dari anggota rumah tangga yang berumur lebih dari 1 tahun dan bertempat tinggal di desa/kelurahan dengan klasifikasi perkotaan. Khusus untuk pengukuran gula darah, berhasil dikumpulkan sebanyak 19.114 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun. Untuk tes cepat yodium, berhasil dilakukan pengukuran pada 257.065 sampel rumah tangga, sedangkan untuk pengukuran yodium di dalam urin, berhasil dilakukan pengukuran pada 8.473 sampel anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di 30 kabupaten/kota dengan berbagai kategori tingkat konsumsi yodium. Hasil pemeriksaan biomedis akan dilaporkan tersendiri. Keterbatasan Riskesdas mencakup non-random error antara lain: pembentukan kabupaten baru, blok sensus tidak terjangkau, rumah tangga tidak dijumpai, periode waktu pengumpulan data yang berbeda, estimasi tingkat kabupaten tidak bisa berlaku untuk semua indikator, dan data biomedis yang hanya mewakili blok sensus perkotaan. Khusus untuk lima provinsi (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT) baru dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008, sementara 28 provinsi lainnya telah selesai dilaksanakan pada tahun 2007.

v

Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan. Dengan 900 variabel, maka hasil Riskesdas 2007 telah dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis lanjut, pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan, penelusuran hubungan kausal-efek, dan pemodelan statistik. Riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan, misalnya prevalensi gizi buruk yang berada diatas rerata nasional (5,4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Namun demikian, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target Millenium Development Goals sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat dicapai pada 2007. Posyandu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78,3%; balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih), ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut adalah 45,4%, 29,1%, dan 25,5%. Sedangkan kegiatan di posyandu untuk pemberian suplemen gizi (47,6%), PMT (45,7%), pengobatan (41,2%) dan imunisasi (55,8%). Secara keseluruhan, cakupan imunisasi pada anak usia 12 – 23 bulan menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86,9%), campak (81,6%), polio tiga kali (71,0%), DPT tiga kali (67,7%) dan terendah hepatitis B (62,8%). Secara keseluruhan, proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11,5% (berdasarkan catatan yang ada), dan ibu hamil yang memeriksaan kehamilan sebanyak 84,5%. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97,1%) dan penimbangan berat badan ibu (94,8%). Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33,8%) dan pemeriksaan urine (36,4%). Khusus untuk provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua ditemukan sebanyak 60% melahirkan bayinya di rumah. Penolong persalinan yang dominan di perkotaan adalah bidan (61,7%), sedangkan di perdesaan yang dominan adalah dukun bersalin (45,9%). Dari pemetaan penyakit menular, tampak keberhasilan program pengendalian malaria di Jawa-Bali (prevalensi <0,5%). Di lain pihak, ketimpangan juga terlihat jelas dengan adanya prevalensi malaria yang mencapai 26,14%, sembilan kali lebih besar dari prevalensi nasional atau 145 kali lebih besar dari prevalensi yang terendah, yaitu 0,18%. Untuk mencegah penyebaran malaria diperlukan program pengobatan yang cepat dan tepat. Riskesdas 2007 menggambarkan kesadaran masyarakat untuk berobat dan akses terhadap obat malaria program secara nasional sebesar 47,7%, walaupun beberapa provinsi sudah menunjukkan tingkat pengobatan malaria dalam 24 jam pertama cukup tinggi. Untuk diare, penggunaan oralit dalam 24 jam pertama juga masih di bawah 50%, kecuali pada kelompok balita –di mana prevalensinya tertinggi- penggunaan oralit sudah di atas 50%. Selain itu, Riskesdas 2007 juga memperlihatkan perubahan epidemiologis penyakit, contohnya demam berdarah dengue, yang prevalensi tertinggi tidak lagi dijumpai pada anak-anak, melainkan pada kelompok dewasa muda (25-34 tahun). Hasil utama Riskesdas 2007 menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik, strok, hipertensi, obese dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan, kemiskinan, dll). Penyakit hipertensi misalnya, tidak berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi (kuintil pengeluaran) seperti pada kuintil 1 (30,5%) dan kuintil 5 (33,0%), dan mulai banyak dijumpai pada kelompok usia muda 15 – 17 tahun (8,3%). Sebaliknya patut diduga penyakit diabetes yang diambil dari 356 kab/kota daerah perkotaan mencakup 24.417 orang (usia > 15 tahun) menunjukkan gambaran lebih tinggi pada kuintil 5 (7,1%) dibanding kuintil 1 (4,1%). Demikian halnya

vi

Sumatera Barat.5%).3% (Riskesdas 2007). Kalimantan Selatan.0%). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31. B.9% dan katarak (1. Kota Magelang (8. Tabanan (7.9% (Riskesdas. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.8% (kuintil 1) Prevalensi disabilitas menunjukkan peningkatan yang berarti.5% (kuintil 5). dan Bondowoso (8. dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13.8%) yang meningkat dari 1.1%). Aceh Barat Daya (39. Tidak ada perbedaan perilaku merokok antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi. 3 domain seperti ‘waktu tunggu’ tercatat 84. Kalimantan Tengah.9%).3% (SKRT.9%). kejelasan informasi (75. kebutaan 0. Ditemukan peningkatan proporsi usia mulai merokok pada umur <20 tahun.8%) dan kebersihan ruangan (78. masing-masing sebesar 10. vii .3%). 2007).7%). Minahasa (6. Papua Barat dan Papua. Sumatera Utara.5%). Rote Ndao (40. 2001) menjadi 11.dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT).4% (Riskesdas. Terdapat 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.6%.1 tahun) dibanding periode 2000-2005 (66. Patut diduga bahwa peningkatan jumlah kasus katarak ini berkaitan erat dengan peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia pada periode 2005-2010 (69. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita tertinggi berturut-turut adalah Aceh Tenggara (48.8%).2 tahun).4%). ‘kejelasan informasi’ 85. dan Buru (37. Maluku Utara.2%). Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran. dari 10. Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi. Gorontalo. dari 32. maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18.2%) dan pnemonia (15. sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional.3%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita terendah adalah Kota Tomohon (4.8%.3%). Tapanuli Utara (38. Sulawesi Barat. Penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35. • Secara nasional.1%).3%). Kota Jakarta Selatan (8.1%).8%). Nusa Tenggara Timur. Ringkasan Hasil Status Gizi Balita • Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5.5%) dan congenital malformations (18.4%.0% (Susenas 2003) menjadi 33. Timor Tengah Selatan (40. Prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11. Maluku.9%) dan premature (32. Kota Madiun (6. Dari ketanggapan rawat inap.7%).2%). Kupang (38.8%). Mamuju Utara (39. Namun demikian. Badung (7.1%).7%). Keadaan ini lebih baik dibanding dengan hasil Surkesnas 2004 yaitu waktu tunggu (78. penyeban kematian yang terbanyak adalah stroke.8%). dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Bantul (7.8% (Asia 5% .7% (SKRT 2004) menjadi 21. Kalimantan Barat.0%). baik di perkotaan maupun di perdesaan. Jambi.8%). sedangkan untuk usia (728 hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20. Sulawesi Tenggara. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%). dari 12.6%).2%). Kalimantan Timur.4%) dan pnemonia (23. Kepulauan Aru (40. Demikian halnya dengan perilaku merokok kelompok penduduk >15 tahun cenderung meningkat. Sedangkan untuk usia > 5 tahun.3%).0%. Nusa Tenggara Barat. yaitu terbanyak adalah diare (25. Riau.4% dan domain ‘kebersihan ruangan’ (82. dan 8. Sulawesi Tengah. Simeulue (39. Gianyar (6. 2007) Proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4.2% menurut SKRT 2001.5%) telah tercapai pada 2007.

Kota Salatiga (4. Sulawesi Tengah. Maluku dan Papua. Kalimantan Selatan. Kota Bekasi (21. Maluku Utara. Kota Tanjung Pinang (19.3%). Status Gizi Penduduk Umur 6-14 Tahun (Usia Sekolah) • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13. Jambi.3%). dan Kapuas Hulu (59.9%). Sulawesi Tengah. Cianjur (5. • Secara bersama-sama. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Lebih Pada Balita diatas prevalensi nasional. Jambi.0%). Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Riau. Sulawesi Barat. Kalimantan Timur.2%. DI Yogyakarta. Sulawesi Selatan.3%). Wajo (18. Sulawesi Tenggara.4%). Lampung.9%). Buru ( 30.• Prevalensi nasional Gizi Lebih Pada Balita adalah 4. Papua Barat. Gorontalo. Sumatera Utara. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus tertinggi adalah Solok Selatan (41. yaitu Sumatera Utara. dan Maluku Utara.4%). Bali.0%). Sulawesi Tenggara.2%). yaitu DI Aceh. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat. Kota Magelang (5.0%). prevalensi nasional Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek (stunting) adalah 36. Banten. dan Luwu Timur (21. Riau.9%). Kota Bogor (4.6%). Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah. Gayo Lues (59. viii .0%). Aceh Tenggara (66. Kalimantan Selatan. dan Aceh Utara (29. Sumatera Utara.6%). Kalimantan Tengah.2%). • Secara nasional.6%). Sulawesi Barat. Simeulue (63. Kota Jakarta Selatan (20. Kalimantan Timur. Jawa Timur. Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Timur. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek terendah adalah Sarmi (16.8%). Sumatera Selatan. Bangka Belitung. Nagan Raya (30. Kota Madiun (21. Nias Selatan (67. Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat. • Secara nasional. Jawa Timur.5%). dan Papua Barat. Sorong Selatan (60. Tapanuli Selatan (31. Riau. Sumatera Selatan.2%). DKI Jakarta. Kampar (20. Jawa Timur. Bengkulu. • Prevalensi nasional Balita Gemuk adalah 12.4%). Banten. .7).9%).3%. Manggarai (33. Sulawesi Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek di atas prevalensi nasional. Lampung. yaitu DI Aceh.9%).8%. Kalimantan Barat.7%). Sumatera Utara.5%). dan Bangka (5. Kota Mojokerto (19. Asmat (30. Jambi. Aceh Barat Daya (60. Sebanyak 18 provinsi mempunyai Balita Gemuk diatas prevalensi nasional. Timor Tengah Utara (59. Bandung (4. Sumatera Selatan. Banten. Maluku. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus terendah adalah Minahasa (0%). DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Balita Kurus adalah 7. Jambi. DKI Jakarta.2% (wasting-kritis). Kalimantan Tengah.3%).3%.6%). Riau.4% (wasting-serius) dan Balita Sangat Kurus adalah 6. Maluku. Seruyan (41. Kalimantan Timur. Kota Sukabumi (3. Kalimantan Tengah. Bali. Sumatera Selatan. Banten.9%).9%. Sumatera Barat. Maluku. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat.0%). Lampung. yaitu DI Aceh. Sumatera Utara. yaitu DI Aceh. Kalimantan Barat. Maluku Utara. Kepulauan Riau. Sumatera Selatan. dan Papua Barat. • Sebanyak 25 provinsi mempunyai prevalensi Balita Kurus diatas prevalensi nasional. dan Papua. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10.1%). • Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional.9%). Sulawesi Tengah. Kota Tomohon (2.7%). Kota Batam ( 20. Maluku. Riau. Gorontalo. Seram Bagian Barat (31. Sulawesi Barat. Bengkulu. Gorontalo. Kalimantan Barat. Tapanuli Utara (61.7%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek tertinggi adalah Seram Bagian Timur (67.1%). Kalimantan Timur.6%).1).

dan Papua. Kepulauan Riau. yaitu DI Aceh. Lampung. Kalimantan Selatan. Lampung. Jawa Barat.9%.735. dan Papua. dan Papua. yaitu Bangka Belitung. • Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Lakilaki) diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Bengkulu. yaitu DI Aceh.4%. Papua Barat. yaitu DKI Jakarta. DKI Jakarta. Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah. DKI Jakarta. Bali. Maluku. Jawa Barat. Sumatera Utara. yaitu DI Aceh. sedangkan prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Perempuan Umur ≥ 15 Tahun adalah 23. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara. Bangka Belitung.8%. Nusa Tenggara Timur. Jambi. Maluku Utara. Nusa Tenggara Barat. Riau. Kalimantan Tengah. Kepulauan Riau. Lampung. Nusa Tenggara Barat. Jambi. Konsumsi Energi Dan Protein • Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1. bahwa prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Laki-Laki Umur ≥ 15 Tahun adalah 13.5%. Maluku Utara. DKI Jakarta. Jawa Timur. Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat. Sulawesi Utara. Sumatera Selatan. Jawa Timur. Bali. Kepulauan Riau. Riau. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6. Kalimantan Timur. Riau. Banten. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Bengkulu. Kalimantan Barat. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Jambi. Papua Barat. Kalimantan Timur. Jambi. Sulawesi Utara.5 kkal. Bali. Sulawesi Selatan. Jawa Tengah. Status gizi Wanita Usia Subur 15-45 tahun • Prevalensi nasional Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13. Kalimantan Timur. Nusa ix . DI Yogyakarta. Kalimantan Timur. Bengkulu. Maluku. dan Maluku. DKI Jakarta. Sulawesi Barat. Jambi.• Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) diatas prevalensi nasional. dan Papua. Kepulauan Riau. • Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Tengah. yaitu Riau. • Prevalensi nasional Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 18. Sumatera Selatan. Jawa Barat. Gorontalo. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Sumatera Selatan.6%. Kalimantan Barat. Banten. Kalimantan Selatan. Maluku Utara. Lampung. • Berdasarkan perbedaan menurut jenis kelamin menunjukkan. Gorontalo. DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9. Sulawesi Tengah. Kalimantan Tengah. DKI Jakarta. DKI Jakarta. Sumatera Utara.3%. Sumatera Selatan. Jawa Timur. dan Maluku. Papua Barat. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. • Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. Banten. Kalimantan Selatan. Sulawesi Utara. dan Papua. Banten. Kalimantan Barat. Status Gizi Penduduk Umur ≥ 15 Tahun • Prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 10.8%. Riau. Nusa Tenggara Timur. Bangka Belitung. Jawa Timur. Sumatera Selatan. yaitu Sumatera Utara. Kalimantan Timur. Kepulauan Riau. Bengkulu. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. yaitu DI Aceh.

5 gram. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Utara. Aceh Utara (12.3%). Musi Banyuasin (99. Banten. Sumatera Barat. Seram Bagian Timur (10. Maluku. Sumatera Barat. Karo (99.8%). Bangka Belitung. Tolikara (100%). Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Sumatera Utara. Nusa x . Kepualauan Mentawai (100%). dan Rokan Hulu (99. Status Imunisasi • Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 86. Merangin (100%). Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat.8%). Gorontalo. Sebanyak 6 provinsi telah mencapai target Universal Salt Iodization 2010 (90%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Jawa Barat. Sulawesi Selatan. Sulawesi Barat. Gorontalo. Sumatera Selatan. Sulawesi Tengah. Jawa Barat. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Jambi. Kalimantan Tengah. Kalimantan Barat. ternyata persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (30-80 ppm KIO3) adalah 24. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. • Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 62.5%). Jeneponto (11. Papua Barat dan Papua. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia terendah adalah Pidie (1. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia tertinggi adalah Nagan Raya (100%). Gorontalo. Gorontalo dan Papua Barat. yaitu Sumatera Barat. Bangka Belitung. DI Yogyakarta. Banten. Kepulauan Bangka Belitung. Flores Timur (11.7%).9%). Papua Barat dan Papua. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Maluku. Kalimantan Tengah.Tenggara Barat. Sulawesi Barat. dan Bima (12. Sumatera Utara. Banten. Bali. Jawa Barat.5%). Kalimantan Selatan.8%. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah. Banten. Jawa Timur. DKI Jakarta. Jambi. Siak (100%). dan Sulawesi Barat. Maluku. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Utara. • Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 67. yaitu Sumatera Barat. Kalimantan Tengah. Bengkulu. Kalimantan Barat.3% rumah tangga Indonesia mempunyai garam cukup iodium.5%).8%).5%. Maluku Utara. Sulawesi Selatan. Jawa Barat.0%. Nusa Tenggara Barat.9%. Jawa Tengah. Sulawesi Utara. Tabanan (11. dan Sulawesi Barat. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Waropen (100%). Maluku Utara. Dompu (11. Sumatera Barat. Banten. • Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 71. Nusa Tenggara Timur. • Secara nasional. Lampung. Sulawesi Barat. Bangka (100%). Konsumsi garam beriodium • Secara nasional. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional.4%).1%).7%. Sulawesi Tenggara. Bireuen (5. Kalimantan Timur. Papua Barat dan Papua. • Dari sampel 30 kabupaten/kota.0%). Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Utara. • Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55.1%). Sulawesi Selatan. sebanyak 62. Rote Ndao (11. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional.

Kota Bontang (81. Pinrang (1. Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Maluku.5%).7%). Bone (1. Jambi. Jeneponto (1.3%).7%).3%). Sulawesi Selatan.0%). yaitu Sumatera Selatan. Lembata (93. Malinau (78. dan Mandailing Natal (36. Asmat (4. Riau. Jawa Barat. Kepulauan Sula (26. DI Yogyakarta. • Secara nasional. Bengkulu.6%). Sikka (86.3%). Sulawesi Selatan. Lampung. Karanganyar (83.0%).4%). Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Tengah.4%).5%. dan Jayawijaya (4. Tolikara ( 28. Kalimantan Barat. Grobogan (85. Paniai (16. Sulawesi Tengah. Kalimantan Tengah. • Secara nasional. Raja Ampat (96. Bangka Belitung. Sulawesi Barat.500 gram) adalah 11. Kulon Progo (92. 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%). Bengkulu. yaitu Sumatera Utara. Nias Selatan (4.1%). Wonogiri (84.0%).5%). dan Wonosobo (78. Banten.7%).2%). Sulawesi Tenggara. Sulawesi Barat. Mamasa (26. Sulawesi Barat.9%). Keerom (94.7%). Takalar (2. Papua Barat dan Papua. Kepulauan Riau. Yahukimo (0%). Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah. Tolikara (0%). Maluku. Pegunungan Bintang (2. Puncak Jaya (0%).5%. dan Gunung Kidul (83. Pemantauan Pertumbuhan Balita • Persentase nasional Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir adalah 45.8%). Bangka Belitung. Maluku Utara. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak • Persentase nasional Bayi Berat Lahir Rendah (< 2. xi . Jawa Barat. • Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 81. Berau (79. Kapuas (32.9%). Temanggung (93.8%).0%).4%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). Kepulauan Riau. Wonogiri (80. Nusa Tenggara Barat. Gayo Lues (1.0%). Timor Tengah Utara (84.9%). dan Sulawesi Barat. dan Kepulauan Seribu (100.3%). Kalimantan Tengah. Sumatera Utara.0%).5%). Sulawesi Tenggara.7%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A tertinggi adalah Landak (92. Keerom (88.Tenggara Timur. Flores Timur ( 85. Lampung. Sulawesi Tenggara. Riau.9%).4%. Kalimantan Barat.3%). Sumatera Selatan. Gorontalo. Papua Barat dan Papua.3%). Distribusi Kapsul Vitamin A • Persentase nasional Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A adalah 71. Semarang (94. Pangkajene Kepulauan (2. Kalimantan Barat. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A dibawah persentase nasional. Dairi ( 35. Papua Barat dan Papua. Sumatera Selatan. Labuhan Batu (34. Bangka Belitung. Buru (23. Papua Barat dan Papua.9%). Banten.0%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93. Kota Metro (80.0%). 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Anak Umur 659 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A terendah adalah Yahukimo (5. Maluku. Paniai (0%).2%).1%).6%).6%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin tertinggi adalah Kepulauan Seribu (100. Bantaeng (1. Maluku.6%). Sabang (96.0%).8%). Jambi. Sebanyak 19 provinsi mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir dibawah persentase nasional. dan Wajo (2. Sidenreng Rappang (0.8%). Banten. Badung (81.6%. Kalimantan Barat.6%).8%). Gowa (1. Kota Surakarta (93. Keerom (86.1%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase Bayi Berat Lahir Lahir Rendah diatas persentase nasional. Sumatera Barat. • Secara nasional. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin terendah adalah Maros (0. Sumedang (92.2%). yaitu Sumatera Utara. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung.6%).8%).0%).9%).9%).0%). Bintan (93.0%).

Sulawesi Tengah. Maluku Utara. Maluku Utara.7%). Sulawesi Tenggara. Sikka (55. Papua Barat.1%). Papua Barat. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Demam Berdarah Dengue diatas prevalensi nasional. Sumatera Barat. dan Papua. Kalimantan Barat. Jambi. Maluku Utara.62%. Maluku. Sulawesi Barat. Maluku Utara. Sulawesi Tengah.85.8%).8%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.8%). Manggarai Barat (63. Lembata (62.5%).6%). Kota Denpasar (4. Nusa Tenggara Barat.1%). Papua Barat dan Papua • Persentase tempat melahirkan tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Selatan. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63. Kalimantan Timur. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Pulang Pisau (6.0%).99%. Kalimantan Selatan. dan Puncak Jaya (56. Papua Barat dan Papua adalah di rumah (berkisar antara 65. Papua Barat dan Papua. dan Papua. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.11%. Gorontalo. Sorong Selatan (56.4% . • Tempat Melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. • Secara nasional. Maluku. Maluku. Sulawesi Tenggara. Gorontalo. Papua Barat dan Papua. Maluku Utara. dan Papua. Kota Pagar Alam (7. Maluku. Sulawesi Tengah. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Filariasis diatas prevalensi nasional.Kalimantan Tengah. Langkat (7. Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Udara • Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25.5%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat. Papua Barat dan Papua.6%). Sulawesi Tengah. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Malaria diatas prevalensi nasional. Banten. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut diatas prevalensi nasional. Kota Pasuruan (8. Raja Ampat (55. DKI Jakarta. Jawa Barat. Kota Palembang (6. Nusa Tenggara Barat.1%). Nusa Tenggara Timur.7%). Gorontalo.3. Bangka Belitung.8%). • Prevalensi nasional Demam Berdarah Dengue (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Jawa Tengah. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur. Bengkulu. Pegunungan Bintang (59. Kepulauan Riau. Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah. Banten. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Utara.85%. dan Pontianak (8. Nusa Tenggara Timur.9%). Gorontalo. Sulawesi Selatan.3%). Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Timur. Kota Binjai (5. • Prevalensi nasional Malaria (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Bengkulu. Sumatera Barat.0%). Hanya sebagian kecil ibu di 5 provinsi ini memilih tempat melahirkan di polindes/poskesdes (berkisar antara 0. Kepulauan Riau. Ngada (58. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi xii .5%). Bangka Belitung. • Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3. Maluku Utara. DKI Jakarta.7%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Ogan Komering Ulu (6.50%. Sulawesi Tengah.3%). Manggarai (61. Bangkulu. Maluku.13%. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pnemonia diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur. Penyakit Menular – Ditularkan Vektor • Prevalensi nasional Filariasis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. • Prevalensi nasional Pnemonia (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Sulawesi Selatan.4%). Riau.1%).5% .

yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Penyakit Tidak Menular • Prevalensi nasional Penyakit Sendi adalah 30. Tasikmalaya (56. • Prevalensi nasional Hepatitis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Kalimantan Selatan. dan Papua Barat. Banten. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tengah. • Secara nasional. Gorontalo. Kalimantan Selatan.7%).Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.2%). Sumedang (55. Bali.3%).0%). Sumatera Barat.18%.7%). Bengkulu. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi tertinggi adalah Sampang (57. Sumatera Barat. Sumatera Barat. Kota Payakumbuh (11..9%). Sulawesi Selatan. Ogan Komering Ulu Timur (10. Kota Binjai (10. Sulawesi Tenggara.6%). Manggarai (54. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur. Majalengka (51. Riau. Kalimantan Tengah.1%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi terendah adalah Yakuhimo (0.1%). Kalimantan Selatan. Rokan Hilir (47. Kalimantan Timur. Jawa Tengah. Katingan (49. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DI Yogyakarta. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun diatas prevalensi nasional.7%). • Prevalensi nasional Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29. dan Papua. Papua Barat dan Papua. DI Yogyakarta.60%. xiii .9%). • Secara nasional. Banten. Riau. Nusa Tenggara Barat. Lembata (57. Kalimantan Selatan. Sebanyak . Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Hepatitis diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Sumatera Barat. Gorontalo.5%). Nusa Tenggara Barat.2%).9%). Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Makanan dan Minuman • Prevalensi nasional Tifoid (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. DKI Jakarta. Kota Makassar (12.6%). Nusa Tenggara Timur. Banten. Sulawesi Selatan. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Sendi diatas persentase nasional. Jambi. Kalimantan Timur.7%). Jawa Timur. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Campak diatas prevalensi nasional. Bangka Belitung.60%. Sulawesi Tengah.8% (berdasarkan pengukuran). Bengkulu. Jawa Barat.4%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Tolikara ( 53. yaitu Riau. Wonogiri (49. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah. Gorontalo. Sulawesi Selatan. Siak (9. Mamasa (50.6%). Nusa Tenggara Timur. Ogan Komering Ulu (8. Jawa Tengah. Jawa Tengah. Hulu Sungai Selatan (48. Sulawesi Utara.9%). Nusa Tenggara Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tenggara. Banten. Cianjur (56. • Prevalensi nasional Campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1.9%).3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua. Garut (55. Nusa Tenggara Timur.5%). • Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 9. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Barat.1%). Jawa Tengah.5%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Barito Timur (11. Riau.8%). provinsi mempunyai prevalensi Tifoid diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta.5%). dan Jeneponto (51. Riau. dan Sulawesi Barat. Gorontalo. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Barat. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Timur.00%. Karo (11. Nusa Tenggara Barat. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun tertinggi adalah Natuna (53. Jawa Timur. Sulawesi Tengah. Maluku Utara. Papua Barat. Papua Barat dan Papua.

Jawa Tengah.5%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Lampung Tengah (). Gorontalo.9%). Sumatera Barat. Kepulauan Riau. Sumatera Selatan. • Prevalensi nasional Strok adalah 0.0%). Riau. Sulawesi Tengah.5%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0. Sulawesi Tengah.7%).Kuantan Senggigi (46. Serdang Bedagai (0.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). • Prevalensi nasional Buta Warna adalah 0.1%). Langkat (0. • Prevalensi nasional Penyakit Jantung adalah 7. Sulawesi Utara. Karo (0.2%). Jawa Barat.7%). Kalimantan Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur.4% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). DKI Jakarta. Kepulauan Riau. Jawa Barat. Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah.5%). • Prevalensi nasional Glaukoma adalah 0.5% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). Yahukimo (13. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Stroke diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1. Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Timur. Jawa Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Boalemo (11. Banten.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala).6%). Sumatera Barat.6%). Kalimantan Selatan. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6. • Prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0. dan Kota Binjai (0. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma tertinggi adalah Aceh Barat (13. Sulawesi Utara. Kediri (0. Bangka Belitung. dan Manggarai (9. Bali. Pegunungan Bintang (13.5% (berdasarkan keluhan responden).2%). Sarmi (14. DKI Jakarta. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Jantung diatas prevalensi nasional. Teluk Wondama (9. Sebanyak 6 provinsi mempunyai prevalensi Buta Warna diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Tapanuli Selatan (0.6%). Gorontalo. • Prevalensi nasional Penyakit Tumor/Kanker adalah 0. DI Yogyakarta.9%). Sulawesi Tenggara.1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). dan Papua Barat. Sumatera Barat. Kepulauan Riau. Sulawesi Tengah.1%). • Secara nasional.5%). Jawa Timur. Seluma (14. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Glaukoma diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. dan Sulawesi Barat. DI Yogyakarta. Jawa Barat. yaitu Sumatera Barat.4%). Soppeng (0. Tana Toraja (9.2%). Sumatera Selatan.1%).2%). Kaimana (10. Sumba Barat (11.5%). dan Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kepulauan Mentawai (11. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.7%).6%). Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur.2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Bengkulu Selatan (11. Buol (13. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Jiwa Berat diatas prevalensi nasional. DI Yogyakarta. Sulawesi Utara.6%). DKI Jakarta. Jawa Barat. dan Papua Barat.8%). yaitu xiv . Pohuwato (13.6%). Gorontalo. Nusa Tenggara Barat. • Prevalensi nasional Penyakit Asma adalah 4.0%). DKI Jakarta.6%). dan Kota Salatiga (45. Kalimantan Selatan.7% (berdasarkan keluhan responden). Banjar (9.0%). Bener Meriah (46. Sorong Selatan (10. dan Tulang Bawang (15. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Tumor/Kanker diatas prevalensi nasional. Tapin (46. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bangka Belitung. DKI Jakarta.5%). Tolikara (12.5%). Sumatera Barat.6%). Lampung Utara (0. Nusa Tenggara Barat. dan Sulawesi Selatan. Sumatera Barat. dan Papua Barat.6%). Sulawesi Utara.3%). Gorontalo.

Maluku Tengah (2.9% (berdasarkan hasil pengukuran. Sulawesi Selatan.6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). Bengkulu. Karimun (1. Kepulauan Riau. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. visus <20/60 – 3/60). Sulawesi Tengah. DI Yogyakarta. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33. DKI Jakarta. Tabalong (2. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. Bangka Belitung. DKI Jakarta. Gorontalo.6%). yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Tengah.4%). Jawa Barat.2% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara).6%). Pulang Pisau (1. Kepulauan Riau. Manggarai (32. Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. Jawa Barat. Sumatera Utara. DI Yogyakarta. DKI Jakarta.1%). Bengkulu. Nusa Tenggara Timur. Jayapura (1. Sumatera Selatan. DKI Jakarta.4%). • Prevalensi nasional Rhinitis adalah 2. Kepulauan Riau. Bengkulu. Jawa Timur. Papua Barat dan Papua. Sumatera Barat.4%).7%). Belitung Timur (31. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.4%).8% (berdasarkan keluhan responden). Sulawesi Selatan. Riau. • Prevalensi nasional Dermatitis adalah 6. Maluku. Jawa Tengah. Kudus (2. • Prevalensi nasional Hemofilia adalah 0. dan Muaro Jambi (2. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Low Vision diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Sumatera Barat. Banjarnegara (30. • Prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. Boalemo (29. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.0%). Sumatera Barat. • Prevalensi nasional Bibir Sumbing adalah 0. Gorontalo.9%).0%). dan Papua Barat.8% (berdasarkan hasil pengukuran.1%). Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. dan Gorontalo. Lampung. DKI Jakarta. Jawa xv .7% (berdasarkan keluhan responden). Kota Baru (2. • Prevalensi nasional Talasemia adalah 0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Cirebon (29. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Dermatitis diatas prevalensi nasional. dan Gorontalo.9%). • Secara nasional. Sumatera Selatan. Jawa Timur. DKI Jakarta. Sumatera Barat. • Persentase nasional Low Vision adalah 4. Sulawesi Tengah. DI Yogyakarta.9%).9%).5%). Nusa Tenggara Barat. Sidoarjo (1. Kepulauan Riau. visus < 3/60). Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Rhinitis diatas prevalensi nasional. Purwakarta (32. Kalimantan Selatan. Bangka Belitung. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Hemofilia diatas prevalensi nasional. dan Sulawesi Barat. Gorontalo.Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Bibir Sumbing diatas prevalensi nasional. dan Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Sulawesi Utara.1% (berdasarkan keluhan responden). Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Kepulauan Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.4% (berdasarkan keluhan responden). Kepulauan Riau. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Talasemia diatas prevalensi nasional. Bengkulu. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional.7%). Nusa Tenggara Timur. Aceh Selatan (32. Sumatera Barat. • Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 11. Sulawesi Utara. Jawa Tengah.4%). Jawa Timur.9%) dan Kota Malang (29. dan Gorontalo. Jawa Tengah. dan Nusa Tenggara Barat.

0%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.2%). Maluku Tenggara (38. Sulawesi Utara. Bali. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa adalah 14. Papua Barat dan Papua. yaitu Riau. Nusa Tenggara Timur.6%). Kalimantan Barat.4%. Maluku. DKI Jakarta. Jambi. Sumatera Selatan. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional. Sumatera xvi . • Prevalensi nasional Gosok Gigi Setiap Hari adalah 91. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Utara. Sumatera Selatan. Gorontalo. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional. Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Lampung Utara (3.5%. dan Papua Barat. DKI Jakarta. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Gosok Gigi Setiap Hari dibawah prevalensi nasional. Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Kampar (35. Boalemo (47. dan Papua Barat. Sulawesi Barat. Jawa Tengah. yaitu Sumatera Utara. DI Yogyakarta. Bangka Belitung.2%). Kota Metro (1. • Prevalensi nasional Karies Aktif adalah 43.8%). Sulawesi Selatan. Sulawesi Tengah. Jambi.1%. Jombang (3. Nusa Tenggara Timur.3). dan Karo (3. Sulawesi Utara. Kalimantan Selatan. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53.1%). Lampung. Maluku. Sulawesi Utara. Maluku Utara. Bondowoso (3.6%). Sebanyak 14 provinsi memiliki prevalensi Karies Aktif diatas prevalensi nasional. Kalimantan Selatan. • Secara nasional. Sulawesi Selatan. Bengkulu. Sulawesi Tengah. Jeneponto (40. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tenggara.6%). dan Maluku. • Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Tengah. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. Sulawesi Tenggara. Pidie (40. Maluku.67 g/dl. yaitu Nanggroe Aceh Darusalam. Gorontalo. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1.7%). Sumatera Selatan.5%). • Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18. Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat. Sulawesi Tenggara. Gorontalo. Aceh Barat Daya (41. Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 21 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Sulawesi Selatan. Jawa Timur. Bengkulu. Bali. Kalimantan Tengah. Maluku Utara. Jambi. Pasaman (39. Sulawesi Barat. dan Luwu Utara (35.6%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Mojokerto (3.00 g/dl. Sulawesi Selatan. Di Yogyakarta. Bali. Sulawesi Barat. Karanganyar (2.8%). Riau. Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Pengukuran Biomedis (Anemia dan Diabetes Mellitus) • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13. Jambi.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan).5%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Barat. Jawa Tengah. Banten. Kalimantan Timur. Timor Tengah Utara (36. Kota Magelang (2. Nusa Tenggara Barat. Papua Barat dan Papua. Kalimantan Selatan.6%). Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Masalah Gigi-Mulut diatas prevalensi nasional.1%). Kalimantan Tengah. Lampung. Sumatera Barat. dan Maluku Utara. Madiun (2.Barat.5%). Kalimantan Selatan.6%). Jawa Tengah. • Prevalensi nasional Masalah Gigi-Mulut adalah 23.5%). Nusa Tenggara Timur.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Nusa Tenggara Timur.5%).

Jawa Tengah. Perilaku Merokok • Persentase nasional Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 23. Bangka Belitung. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Selatan. Maluku. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun adalah 19. gangguan penglihatan jarak dekat (11. Nusa Tenggara Barat.5%. bertempat tinggal di perkotaan) adalah 10. Cedera dan Disabilitas • Prevalensi nasional Cedera adalah 7. Kalimantan Barat. Lampung. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah. Jawa Timur. Sulawesi Utara. Sulawesi Tengah. dan Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat. dan Maluku Utara. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Papua Barat dan Papua.5% (berdasarkan pengakuan responden. DI Yogyakarta. untuk berbagai penyebab cedera). Jawa Timur. Bangka Belitung. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan.67 g/dl. Jawa Tengah. yaitu Sumatera Barat. Jawa Timur. yaitu Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun adalah 12. Sebanyak 14 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun dibawah nilai rerata nasional. Jawa Tengah. Kalimantan Timur. dan Papua Barat. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. dan Sulawesi Barat. Jawa Timur. • Prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5. dan gangguan berjalan jauh (11. dan Maluku Utara. Sumatera Utara. Jawa Barat.7%. Maluku.6%). Sumatera Selatan. DKI Jakarta. Banten. Bangka Belitung. Jambi. Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Bengkulu. Lampung. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun (berdasarkan International Classification of Functioning. • Prevalensi nasional Toleransi Glukosa Terganggu (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun. Kepulauan Riau. Kalimantan Barat. Gorontalo. Banten. Kalimantan Selatan. Sumatera Barat. DKI Jakarta. Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah. Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu diatas prevalensi nasional. Sulawesi Utara. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat.2%. Banten. Gorontalo. Bangka Belitung. xvii . Jawa Timur. Maluku Utara.5%).7%. Jawa Tengah. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.6%). • Persentase nasional 3 penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (58.0%). Gorontalo. Kalimantan Barat. Lampung. Bali.Utara. Jawa Barat.7%). DI Yogyakarta. yaitu Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Gorontalo. Gorontalo. Riau. kecelakaan transportasi darat (25. yaitu Bengkulu. Kalimantan Selatan. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah.9%) dan terluka benda tajam (20. Kalimantan Selatan. Jawa Barat. DI Yogyakarta. Sulawesi Utara. Riau. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Cedera diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan. dan Papua Barat. Bangka Belitung. Disability and Health) yang paling menonjol adalah gangguan penglihatan jarak jauh (11. Sulawesi Selatan. Banten. Kalimantan Tengah. Riau.

Maluku Utara.3%). Probolinggo (34. Ogan Komering Ulu Timur (62. • Secara nasional.8%).4%). Maluku. Mappi (44.6%).5%). Nusa Tenggara Barat.9%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar Flu Burung dibawah prevalensi nasional.2%). Banten. Perilaku Aktifitas Fisik • Prevalensi nasional Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 48.6%.1%). Lampung. Kalimantan Barat. Temanggung (36. dan Sulawesi Tengah. Pegunungan Bintang (35.7%). Sulawesi Utara. Kota Kupang (11.5%). Sumatera Barat. DI Yogyakarta. Gunung Kidul (65. Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tenggara. Sumatera Utara. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Pacitan (68.9%). dan Papua Barat.0%). Barru (15. Kalimantan Selatan.6%. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Puncak Jaya (8.2%. Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung • Prevalensi nasional Pernah Mendengar Flu Burung adalah 64. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Pontianak (13. Sedangkan 10 kabupaten/kota mempunyai dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Kota Padang (11.2%). Bali. Jawa Tengah. Kalimantan Timur.5%).2%). Yapen Waropen (15. Sekadau (62.4%). Nusa Tenggara Timur. Buton (15.3%). 85.4%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Asmat (53. • Secara nasional.5%).8%). Kota Lubuk Linggau (12. Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur • Prevalensi nasional Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 93. Sulawesi Utara.4%). dan Seram Bagian Barat (19. Kota Tomohon (61. Perilaku Minum Minuman Beralkohol • Prevalensi nasional Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir adalah 4. Sulawesi Selatan. Kepulauan Riau. Jawa Barat. Sumatera Barat. Bungo (18.6%).8%).4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Bangli (62.9%).9%). Riau.0). Wonosobo (34.8%). Kota Samarinda (18. Kota Payakumbuh (13. Gorontalo. Sidoarjo (14. Melawi (34. Maluku. DKI Jakarta.0).7%). Bangka Belitung.3%). Sumatera Selatan.2%).4%). dan Tabalong (15. yaitu Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional.3%). Sulawesi Tengah. Kalimantan Selatan. Kepulauan Riau. Boven Digul (36. Jawa Barat.3%).9%). Aceh Timur (19.• Secara nasional.8%).4%). Bangka Belitung. Riau.9%). Kepulauan Riau. dan Maluku Utara. Bali. Sedangkan jenis rokok yang paling diminati adalah kretek dengan filter (64. yaitu Sumatera Utara. Langsa (17. DKI Jakarta. Humbang Hasundutan (62. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Papua Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kepulauan Riau.5%). Kota Ambon (15.6%). xviii . Banten. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Magetan (63. Manokwari (13. Kalimantan Tengah.7%. Kalimantan Barat. Kota Balikpapan (19. Jambi. Kota Bukit Tinggi (17. Sumatera Selatan. dan Toba Samosir (61.3%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. dan Lampung Barat (33. Karo (40. Dairi (61. Sulawesi Utara. Sulawesi Selatan. dan Papua. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir diatas prevalensi nasional. Sumatera Utara. Sulawesi Selatan. Bali.

• Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) adalah 78,7%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) dibawah prevalensi nasional, yaitu Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pengetahuan dan Sikap tentang HIV/AIDS • Prevalensi nasional Pernah Mendengar HIV/AIDS adalah 44,4%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar HIV/AIDS dibawah prevalensi nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara. • Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) adalah 13,9%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) dibawah prevalensi nasional, yaitu Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Perilaku Higienis • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar adalah 71,1%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan adalah 23,2%. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Pola Konsumsi Makanan Berisiko • Secara nasional, prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur > 10 tahun adalah Penyedap (77,8%), Manis (68,1%), dan Kafein (36,5%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai penduduk umur > 10 tahun yang mengkonsumsi Penyedap diatas prevalensi nasional, yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Barat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • Prevalensi nasional Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah 38,7%. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau,

xix

Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terendah adalah Raja Ampat (0%), Supiori (0%), Gayo Lues (1,3%), Kepulauan Mentawai (1,4%), Nias Selatan (1,8%), Jayawijaya (2,1%), Paniai (2,1%), Nagan Raya (2,2%), Nias (3,0%), dan Timor Tengah Selatan (3,8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertinggi adalah Klungkung (100%), Badung (100%), Sumedang (68,8%), Kota Batu ( 67,1%), Gianyar (66,7%), Soppeng (64,7%), Kota Tomohon (63,4%), Kota Kendari (62,1%), Sukoharjo (61,3%), dan Kuningan (60,5%). Akses Ke Sarana Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu, Dokter Praktek, Bidan Praktek) • Secara nasional, sebanyak 94,1% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana pelayanan kesehatan dan sebanyak 90,8% rumah tangga dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit. • Sebanyak 18 provinsi mempunyai persentase rumah tangga berada lebih dari 5 km dari sarana pelayanan kesehatan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Akses Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu, Poskesdes, Polindes) • Secara nasional, sebanyak 98,4% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat, dan sebanyak 96,5% rumah tangga dapat mencapai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat kurang atau sama dengan 30 menit. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang berada kurang • atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat diatas persentase nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sebanyak 27,3% rumah tangga memanfaatkan posyandu, 62,5% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu karena tidak membutuhkan, dan 10,3% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu untuk alasan lainnya. Rawat Inap • Secara nasional, persentase tertinggi tempat rawat inap yang dipilih rumah tangga adalah Rumah Sakit Pemerintah (3,1%), Rumah Sakit Swasta (2,0%) dan Puskesmas (0,8%). • Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Rumah Sakit Pemerintah untuk tempat rawat inap dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku.

xx

• Sebanyak 6 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Puskesmas untuk tempat rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat inap adalah Dari Kantong Sendiri (71,0%), Askes/Jamsostek (15,6%), dan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (14,3%). • Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Rawat Jalan • Secara nasional, persentase tertinggi yang dipilih rumah tangga untuk tempat rawat jalan adalah Rumah Sakit Bersalin (14,8%), Tenaga Kesehatan (13,9%), dan Rumah Sakit Pemerintah (1,6%). • Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih tenaga kesehatan sebagai tempat untuk rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Utara, Gorontalo. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat jalan adalah Dari Kantong Sendiri (74,5%), Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (10,8%), dan Askes/Jamsostek (9,8%). • Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Ketanggapan Pelayanan Kesehatan • Secara nasional, 3 aspek Ketanggapan Pelayanan Kesehatan yang memperoleh penilaian baik terendah dari rumah tangga adalah Kebersihan Ruangan (82,9%), Kebebasan Memilih Sarana (84,5%), dan Waktu Tunggu (84,8%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memberikan penilaian baik atas Kebersihan Ruangan dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Air Bersih • Persentase nasional rumah tangga dengan rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter adalah 14,4%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter dibawah persentase nasioal, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat,

xxi

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. Fasilitas buang air besar • Persentase nasional rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri adalah 60,0%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Sarana Pembuangan Air Limbah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah adalah 24,9%. Sebanyak 23 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pembuangan sampah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72,9%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Perumahan • Persentase nasional rumah tangga dengan rumah berlantai tanah adalah 13,8%. Sebanyak 7 provinsi mempunyai persentase rumah tangga dengan rumah berlantai tanah diatas persentase nasional, yaitu Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Pemeliharaan Ternak • Secara nasional terdapat 39,4% rumah tangga yang memelihara unggas, 11,6% memelihara ternak sedang, 9,0% memelihara ternak besar dan 12,5% memelihara binatang jenis anjing, kucing atau kelinci. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10-20% memeliharanya di dalam rumah. Mortalitas • Gambaran nasional selama 12 tahun (1995–2007) menunjukkan bahwa proses transisi epidemiologi telah berlangsung seiring dengan transisi demografi. Transisi epidemiologi ditandai dengan pergeseran penyebab kematian dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Transisi demografi ditandai dengan pergeseran proporsi kematian dari struktur penduduk umur muda ke arah penduduk umur yang lebih tua. • Penurunan proporsi penyakit menular sebagai penyebab dasar kematian tahun 2001-2007 tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (1995-2001). Di lain pihak, peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 19952001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama. Dengan demikian Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan menghadapi beban ganda,

xxii

yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap, serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat. • Selanjutnya, proporsi penyakit/gangguan yang berhubungan dengan kematian maternal serta kematian perinatal tidak berubah dalam periode terakhir (2001-2006). Upaya-upaya peningkatan pelayanan berkualitas untuk kehamilan, persalinan, masa nifas perlu terus menerus ditingkatkan untuk menurunkan kematian maternal dan perinatal.

xxiii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i Sambutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ..............................................iii Ringkasan............................................................................................................. v Daftar isi............................................................................................................ xxiv Daftar Tabel, gambar, dan grafik ..................................................................... xxvii Daftar Singkatan ..................................................................................................xli Daftar Lampiran ................................................................................................. xliv BAB 1. 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 BAB 2. 2.1 2.2 2.3 Pendahuluan ........................................................................................ 1 Latar Belakang......................................................................................... 1 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 .............................................................. 2 Pertanyaan Penelitian.............................................................................. 2 Tujuan Riskesdas .................................................................................... 3 Kerangka Pikir ......................................................................................... 3 Alur Pikir Riskesdas 2007 ........................................................................ 4 Pengorganisasian Riskesdas................................................................... 5 Manfaat Riskesdas .................................................................................. 6 Persetujuan Etik Riskesdas ..................................................................... 6 Metodologi Riskesdas .......................................................................... 7 Disain....................................................................................................... 7 Lokasi ...................................................................................................... 7 Populasi dan Sampel ............................................................................... 8 Penarikan Sampel Blok Sensus ........................................................ 8 Penarikan Sampel Rumah Tangga ................................................... 8 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga ..................................... 8 Penarikan Sampel Biomedis ............................................................. 9 Penarikan Sampel Iodium ................................................................. 9

2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.3.5 2.4 2.5 2.6

Variabel.................................................................................................. 13 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data.............................. 14 Manajemen Data ................................................................................... 18 Editing ............................................................................................. 18 Entry................................................................................................ 18 Cleaning .......................................................................................... 18 xxiv

2.6.1 2.6.2 2.6.3

2.7 2.8 BAB 3. 3.1

Keterbatasan Riskesdas ........................................................................ 19 Pengolahan dan Analisis Data............................................................... 20 Hasil dan Pembahasan ...................................................................... 34 Gizi ........................................................................................................ 34 Status Gizi Balita ............................................................................. 34 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)............... 45 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas .............................. 48 Konsumsi Energi dan Protein.......................................................... 56 Konsumsi Garam Beriodium ........................................................... 60 Status Imunisasi .............................................................................. 66 Pemantauan Pertumbuhan Balita ................................................... 71 Distribusi Kapsul Vitamin A ............................................................. 80 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak................................ 82 Prevalensi Filariasis, Demam Berdarah Dengue dan Malaria ......... 99 Prevalensi ISPA, Pnemonia, Tuberkulosis (TB), dan Campak...... 103 Prevalensi Tifoid, Hepatitis, Diare ................................................. 107 Penyakit Tidak Menular Utama, Penyakit Sendi, dan Penyakit Gangguan Mental Emosional ........................................................ 119 Penyakit Mata ............................................................................... 122 Kesehatan Gigi.............................................................................. 130 Anemia .......................................................................................... 148 Diabetes Mellitus ........................................................................... 156 Cedera .......................................................................................... 160 Status Disabilitas / Ketidakmampuan ............................................ 170 Perilaku Merokok .......................................................................... 174 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur .............................................. 186 Perilaku Minum Minuman Beralkohol ............................................ 189 xxv

3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.3 3.3.1 3.3.2 3.3.3 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.4.4 3.5 3.5.1 3.5.2 3.6 3.6.1 3.6.2 3.7 3.7.1 3.7.2 3.7.3

Kesehatan Ibu dan Anak ....................................................................... 66

Penyakit Menular ................................................................................... 99

Penyakit Tidak Menular ....................................................................... 110

Keturunan .................................................................................................. 110

Biomedis .............................................................................................. 148

Cedera dan Disabilitas......................................................................... 160

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku........................................................ 174

...................7.............3 3............ 244 Daftar Pustaka ................................2 3.........7.................................................................. 244 Fasilitas Buang Air Besar ................................... 239 Air Keperluan Rumah Tangga................. 278 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan...................5 3..7 3........10........... 286 Lampiran........................................2 3.............................8....... 275 Distribusi Kasus Kematian .....................................1 3........6 3......9.........................................3. 258 Sarana pembuangan air limbah .......2 3......... 270 Mortalitas . 211 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan .............1 3......................... 202 Pola Konsumsi Makanan Berisiko ......................................9................................................................................................................8...................4 3..... 231 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan ............3 3............................ 211 Kesehatan Lingkungan .............. 192 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS .............9 3................10 3....................... 207 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan ....................................................10.........1 3.9......... 276 Kematian Menurut Kelompok Umur ......9...............4 3.......3 Perilaku Aktifitas Fisik ..... 291 xxvi ....... 275 Kematian Semua Umur........................................... 205 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ........................................10.............8 3.......................................... 194 Perilaku Higienis ...........................8...........................................................7................................7..............................5 3.......7................................. 268 Perumahan.......... 266 Pembuangan sampah ........9...............................................8 3...

11 Tabel 2. Tabel 2.4.9 Tabel 2. Tabel 2.10 Tabel 2.7. Tabel 2.14 xxvii .1 Tabel 2. GAMBAR.1.2 Tabel 2. 2007 Jumlah Sampel Anggota Rumah tangga (ART) per Provinsi 12 menurut Susenas 2007 dan Riskesdas. Tabel 2.12 Tabel 2.3. DAN GRAFIK Nomor Tabel Tabel 1. Tabel 2. Riskesdas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil 22 Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil 23 Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita 24 hasilPengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun 25 hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 26 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 27 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 28 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 29 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 31 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Tabel 2. Tabel 2.8 Tabel 2. 2007 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari 21 Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.DAFTAR TABEL.5.6 Nama Tabel Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Hal 2 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 10 2007 Jumlah Sampel Rumah tangga (RT) per Provinsi menurut 11 Susenas 2007 dan Riskesdas.13.

Tabel 3.18 Tabel 3.14 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 53 Atas menurut Karakteristik Responden.9 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) 49 Menurut IMT dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke 50 Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.4.11 Tabel 3.5 Tabel 3.17 Tabel 3. WHO 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut 46 Jenis Kelamin dan Provinsi.Tabel 2. 35 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.8 Tabel 3.15 Tabel 3.19 xxviii .1. Riskesdas 2007 Tabel 2. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut 47 Karakteristik. Riskesdas 2007 54 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun 55 Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.7 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik 42 Responden.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 32 hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 33 Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.3. Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun 56 menurut Karakteristik Responden. 43 Riskesdas 2007 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut 45 Nilai Rerata IMT.12 Tabel 3. Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 52 Atas menurut Provinsi.16 Tabel 3.6 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik 41 Responden. 38 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik 39 Responden. 37 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.10 Tabel 3.16 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.13 Tabel 3. Umur dan Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT 51 dan Karakteristik Responden.2. Riskesdas 2007 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut 58 Provinsi. Tabel 3.

Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 72 Terakhir dan Provinsi.24 Tabel 3.25 Tabel 3. 78 Riskesdas 2007 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik 79 Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 67 Dasar menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 xxix .28 Tabel 3.37 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 71 Dasar menurut Karakteristik Responden.39 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 65 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.20 Tabel 3.26 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 60 Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita .35 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 80 Vitamin A menurut Provinsi.29 Tabel 3.31 Tabel 3.36 Tabel 3.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 59 Rendah dari Rerata Nasional. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 73 Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 69 Dasar menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 64 Tabel 3. Riskesdas 2007.27 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 74 Terakhir dan Provinsi.23 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 70 Dasar menurut Provinsi.30 Tabel 3.38 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium 62 Menurut Karakteristik Responden.Tabel 3. 76 Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik 77 Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam 63 mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota.33 Tabel 3. Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup 61 Iodium menurut Provinsi.22 Tabel 3.32 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.34 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 75 Terakhir dan Karakteristik Responden.

Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 90 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.51 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi 96 Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.41 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3.56 Tabel 3.43 Tabel 3. Riskesdas 2007 menurut Karakteristik 93 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 91 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.Tabel 3.53 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 95 Karakteristik Responden.45 Tabel 3.54 Tabel 3.42 Tabel 3.52 Tabel 3. Riskesdas 92 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus Responden. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 87 menurut Karakteristik Responden.50 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 85 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 88 Kehamilan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 97 dan Provinsi.47 Tabel 3.58 xxx . Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 89 Kehamilan dan Karakteristik Responden.40 Tabel 3.48 Tabel 3.44 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 83 Karakteristik. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 98 dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 86 menurut Provinsi. Demam Berdarah Dengue.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 94 Provinsi. Malaria dan 101 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.57 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 84 menurut Provinsi.46 Tabel 3.49 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 81 Vitamin A menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 82 Provinsi.

Rhinitis. Buta 118 Warna.63 Tabel 3. dan Strok menurut 111 Provinsi. Pneumonia. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.62 Tabel 3. Hipertensi.70 Tabel 3. Hipertensi. Riskesdas 2007 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 120 Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 121 berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. Jantung*.73 Tabel 3. Malaria dan 102 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.61 Tabel 3.65 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.64 Tabel 3.59 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma*. Jantung. Diabetes Mellitus. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. Pneumonia.67 Prevalensi Penyakit Persendian. dan Strok menurut 113 Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 128 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi. TB. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Hepatitis. dan Campak menurut 106 Karakteristik Responden. Hepatitis.66 Tabel 3. Talasemi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Persendian.68 Tabel 3. Responden. dan Campak menurut 104 Provinsi.Tabel 3.74 xxxi . Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. Glaukoma. Demam Berdarah Dengue.72 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 127 Menurut Karakteristik Responden. Sumbing. Dan Tumor 116 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 108 2007 Prevalensi Tifoid. Riskesdas 2007 Tabel 3.71 Tabel 3. Dermatitis. Diare menurut Provinsi. 124 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 125 menurut Provinsi. Diabetes* Dan Tumor** 115 menurut Provinsi.62 Tabel 3.69 Tabel 3. TB.60 Tabel 3. Riskesdas 2007 Diare menurut Karakteristik 109 Tabel 3. 123 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.

75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 129 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.91 Tabel 3.93 xxxii . Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk Provinsi.84 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 146 Normal Gigi. 140 Riskesdas 2007 Komponen D.81 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut 143 Karakteristik Responden. Protesa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 139 Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 144 menurut Provinsi.76 Tabel 3.79 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 145 menurut Karakteristik Responden.87 Tabel 3.Riskesdas 2007 Bermasalah Gigi-Mulut menurut 131 menurut 133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 134 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi. Edentulous.Tabel 3.150 laki Dewasa. M.77 Tabel 3. M. Anak-anak dan Ibu Hamil. Edentulous. Riskesdas 2007 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut 149 Provinsi Riskesdas 2007 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 137 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.82 Tabel 3.80 Tabel 3. Protesa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 138 Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Komponen D.83 Tabel 3.85 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 136 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.92 Tabel 3.78 Tabel 3.89 Tabel 3.88 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 135 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik 141 Responden. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 147 Normal Gigi. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 142 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.86 Tabel 3.90 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Dewasa PerkotaanMenurut 152 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak.99 Tabel 3.94 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.154 Anak Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain 154 Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 155 2007 Prevalensi TGT.95 Tabel 3.108 Tabel 3. Riskesdas 2007 dan 167 168 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.112 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun KeatasMenurut 172 Status dan Provinsi. DDM dan UDDM pada penduduk perkotaan 156 di Indonesia Riskesdas 2007 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus 157 menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. 164 Riskesdas 2007 Tabel 3. Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena Karakteristik Responden.96 Tabel 3.104 Tabel 3.113 Tabel 3.105 Tabel 3.106 Tabel 3.101 Tabel 3.98 Tabel 3. Riskesdas 2007. 169 Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang 170 Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut 165 Karakteristik Responden. 158 Riskesdas 2007 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua 159 Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori. DM. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.97 Tabel 3. Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.102 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Obesitas Abdominal dan 159 Hipertensi Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah 160 dan Aktifitas Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.110 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.107 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut 173 Status dan Karakteristik Responden.100 Tabel 3.Tabel 3. 166 Riskesdas 2007. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Provinsi.114 xxxiii .109 Tabel 3.111 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut 151 Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 175 Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.106.103 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 194 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 190 menurut Provinsi.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 176 Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.121 Tabel 3.123 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 196 dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden.124 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 191 menurut Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 193 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota 184 Rumah Tangga menurut Provinsi.126 Tabel 3.132 xxxiv .Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 185 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 195 dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang 178 Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 188 ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 183 menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok 177 yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.128 Tabel 3.116 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 180 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 187 ke Atas menurut Provinsi.118 Tabel 3.117 Tabel 3.129 Tabel 3.120 Tabel 3.Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 186 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.130 Tabel 3.119 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 181 menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.122 Tabel 3.127 Tabel 3.131 Tabel 3.125 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 179 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.

137 Tabel 3.134 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 212 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan 216 Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.136 Tabel 3.139 Tabel 3.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 198 Tentang HIV/AIDS dan Provinsi.141 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 215 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.147 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap 201 Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden. Kurang Aktifitas Fisik. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 209 Konsumsi Sayur Buah. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 210 Konsumsi Sayur Buah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 214 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 199 Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 203 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.144 Tabel 3.143 Tabel 3.148 xxxv . Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada 200 Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi di Indonesia.140 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 205 Makanan Berisiko menurut. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 204 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh 213 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.146 Tabel 3.142 Tabel 3. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.138 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku 208 Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.145 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 206 Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.

Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 227 Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 xxxvi . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 228 Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 222 Di Desa Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 221 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.151 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Provinsi.160 Tabel 3.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 218 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi. Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan 226 Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 225 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.153 Tabel 3.154 Tabel 3.156 Tabel 3.155 Tabel 3.164 Tabel 3.152 Tabel 3.157 Tabel 3.159 Tabel 3.163 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 230 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 229 Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 224 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.149 Persentase Rumah Posyandu/Poskesdes Riskesdas 2007 Tangga Menurut Pemanfaatan 217 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 220 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan 233 Karakteristik Rumah Tangga.158 Tabel 3. Riskesdas 2007 Menurut Tempat dan 232 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 219 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.162 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 231 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan 223 Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.Tabel 3.161 Tabel 3.

168 Tabel 3.180 Tabel 3.174 Tabel 3.170 Tabel 3.172 Tabel 3. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 238 Provinsi.175 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 252 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.177 Tabel 3.Tabel 3.183 Tabel 3.171 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa 249 Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 244 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 242 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 246 Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga.166 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 235 dan Karakteristik Rumah Tangga.173 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 239 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 243 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 245 Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 253 dan Provinsi di Indonesia.182 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan 237 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 251 dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 241 dan Provinsi.179 Tabel 3.184 xxxvii . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga 250 yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.169 Tabel 3.176 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 234 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 248 Sumber Air. Susenas 2007 Tabel 3.167 Tabel 3.181 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir 236 Menurut Tempat dan Provinsi. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 247 Sumber Air.178 Tabel 3.

Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 263 dan Provinsi.192 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.197 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 259 Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.Tabel 3.199 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan 268 Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 260 Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Riskesdas 2007 Tempat 255 Sebelum Tempat 256 Sebelum Tangga.198 Tabel 3.196 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Provinsi.195 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 261 dan Provinsi.188 Tabel 3.191 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 257 dan Provinsi. Tabel 3.200 Tabel 3.194 Tabel 3.202 xxxviii . Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 258 dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan 267 Air Limbah dan Provinsi.187 Tabel 3. Riskesdas 2008 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 270 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.185 Tabel 3. Susenas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 269 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.190 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 265 Tinja dan Provinsi.201 Tabel 3.193 Tabel 3. 271 Kepadatan Hunian dan Provinsi.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 254 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 264 dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 266 Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.189 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 262 dan Provinsi di Indonesia.

Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Jenis Kelamin.204 Tabel 3.205 Tabel 3.218 Tabel 3.222 xxxix .209 Tabel 3. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe 276 Daerah.216 Tabel 3.206 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 279 ha Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian 279 Bayi 0-6 hari. Riskesdas 2007 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 Penyakit. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas 285 menurut Jenis Kelamin Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke 285 atas enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis 275 Kelamin.217 Tabel 3.210 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun 282 menurut jenis kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Tipe Daerah.215 Tabel 3.Tabel 3.207 Tabel 3.221 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun 281 menurut Tipe Daerah.220 Tabel 3.208 Tabel 3.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan 272 Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.213 Tabel 3.211 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 273 Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi. Riskesdas 2007 281 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua 278 Umur. 280 Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas 280 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Tipe Daerah.Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.212 Tabel 3.219 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 274 Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.214 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Jenis Kelamin.

2 Nama Gambar Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Alur Pikir Riskesdas 2007 Hal 3 5 Nomor Grafik Grafik 3.1 Gambar 1. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Hal Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 xl .1 Nama Grafik Penyakit.Nomor Gambar Gambar 1.

Teeth Departemen Kesehatann Filling Teeth Gejala klinis Hemoglobin International Diabetes Federation Indeks Massa Tubuh International Classification of Functioning.DAFTAR SINGKATAN ART AFP ASKES ASKESKIN BB BB/U BB/TB BUMN BALITA BABEL BCG BBLR BATRA CPITN D DG DM DDM D-T DKI DPT DIY DMF-T DEPKES F-T G HB IDF IMT ICF ICCIDD IU JNC JABAR JATENG JATIM KEPRI KALTIM KALTENG KALSEL KALBAR Anggota Rumah Tangga Acute Flaccid Paralysis Asuransi Kesehatan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Berat Badan Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Tinggi Badan Badan Usaha Milik Negara Bawah Lima Tahun Bangka Belitung Bacillus Calmete Guerin Berat Bayi Lahir Rendah Pengobatan Tradisional Community Periodental Index Treatment Needs Diagnosis Diagnosis dan Gejala Diabetes Mellitus Diagnosed Diabetes Mellitus Decay .Teeth Daerah Khusus Ibukota Diptheri Pertusis Tetanus Daerah Istimewa Yogyakarta Decay Missing Filling . Disability and Health International Council for the Control of Iodine Deficiency Disorders International Unit Joint National Committee Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat xli .

KK Kg KEK KKAL KEP KMS KIA KLB LP LILA mmHg mL MI M-T MTI MDG Malut Nakes NAD NTT NTB O Poskesdes Polindes Pustu Puskesmas PTI POLRI PNS PT PPI PD3I PIN Posyandu PPM RS RSB RTI RPJM Riskesdas SRQ SKTM SPAL Sumbar Sumsel Sulut Sulbar Sulsel Sulteng Kepala Keluarga Kilogram Kurang Energi Kalori Kilo Kalori Kurang Energi Protein Kartu Menuju Sehat Kesehatan Ibu dan Anak Kejadian Luar Biasa Lingkar Perut Lingkar Lengan Atas Milimeter Air Raksa Mili Liter Missing index Missing Teeth Missing Teeth Index Millenium Development Goal Maluku Utara Tenaga Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Obat atau Oralit Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa Puskesmas Pembantu Pusat Kesehatan Masyarakat Performed Treatment Index Polisi Republik Indonesia Pegawai Negeri Sipil Perguruan Tinggi Panitia Pembina Ilmiah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Pekan Imunisasi Nasonal Pos Pelayanan Terpadu Part Per Million Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Required Treatment Index Rencana Pembangunan Jangka Menengah Riset Kesehatan Dasar Self Reporting Questionnaire Surat Keterangan Tidak Mampu Saluran Pembuangan Air Limbah Sumatera Barat Sumatera Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah xlii .

Sultra SD SD SLTP SLTA TB TB TB/U TT TDM TGT UNHCR UNICEF UCI UDDM WHO WUS µl Sulawesi Tenggara Standar Deviasi Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Tinggi Badan Tuberkulosis Tinggi Badan/Umur Tetanus Toxoid Total Diabetes Mellitus Toleransi Glukosa Terganggu United Nations High Commissioner for Refugees United Nations Children's Fund Universal Child Immunization Undiagnosed Diabetes Mellitus World Health Organization Wanita Usia Subur Mikro Liter xliii .

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877/MENKES/SK/XI/2006 tentang Tim Riset Kesehatan Dasar.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.Kuesioner Riset Kesehatan Dasar xliv .1 . Lampiran 1.1.2. Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) Lampiran 2.

Untuk mewujudkan visi “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. informasi yang valid. Sampai saat ini belum tersedia peta status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi di tingkat kabupaten/kota. maka kewenangan yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan kini berada di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. asupan. Dengan demikian. baik di pusat maupun di daerah.BAB 1. proses serta luaran sistem kesehatan. untuk meningkatkan manfaat Riskesdas 2007 maka komparabilitas berbagai alat pengumpul data yang digunakan. Sehingga dapat dikatakan bahwa survei yang ada belum memadai untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah sebuah policy tool bagi pembuat kebijakan kesehatan diberbagai jenjang administrasi. Data dasar yang dihasilkan Riskesdas 2007 terdiri dari indikator kesehatan utama tentang status kesehatan. Data dasar ini. reliable dan comparable dari suatu proses pemantauan dan penilaian sesungguhnya dapat berkontribusi bagi ketersediaan evidence pada skala nasional. serta manajemen data yang terkoordinasikan dengan baik. Riskesdas 2007 diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Riskesdas 2007 dirancang dengan pengendalian mutu yang ketat. tetapi juga menggambarkan berbagai indikator kesehatan minimal sampai ke tingkat kabupaten/kota. provinsi dan kabupaten/kota. Pelaksanaan Riskesdas 2007 adalah upaya mengisi salah satu dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai survei berbasis komunitas seperti Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. perumusan dan pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. bukan saja berskala nasional. kesehatan lingkungan. selain validitas dan reliabilitas. dan berbagai aspek pelayanan kesehatan. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based di seluruh Indonesia. status gizi. sebagai salah satu unit utama di lingkungan Departemen Kesehatan yang berfungsi menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti. sampel yang memadai. 1 . Pelaksanaan Riskesdas 2007 mengakui pentingnya komparabilitas. Pengalaman menunjukkan bahwa komparabilitas dari suatu survei rumah tangga seperti Riskesdas 2007 dapat dicapai dengan efisien melalui disain instrumen yang canggih dan ujicoba yang teliti dalam pengembangannya. Susenas Modul Kesehatan dan Sjurvei Kesehatan Rumah Tangga hanya menghasilkan estimasi yang mewakili tingkat kawasan atau provinsi. Departemen Kesehatan RI mengembangkan misi: “membuat rakyat sehat”. Informasi yang valid. belum sepenuhnya dibuat berdasarkan informasi komunitas yang berbasis bukti. Lebih jauh lagi. Penyelenggaraan Riskesdas 2007 dimaksudkan pula untuk membangun kapasitas peneliti di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. agar mampu mengembangkan dan melaksanakan survei berskala besar serta menganalisis data yang kompleks. perilaku kesehatan. Rencana pembangunan kesehatan yang appropriate dan adequate membutuhkan data berbasis komunitas yang dapat mewakili populasi (rumah tangga dan individual) pada berbagai jenjang administrasi. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. reliable dan comparable dari Riskesdas 2007 dapat digunakan untuk mengukur berbagai status kesehatan. baik untuk tingkat individual maupun rumah tangga menjadi isu yang sangat penting. Pada tahap disain. 1.

Biomedis --S: Sumatera. Penyakit -S/J/KTI 7. Sampel 35. Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Indikator SDKI SKRT Susenas 2007 280.3 Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam Riskesdas 2007 dikembangkan berdasarkan pertanyaan kebijakan kesehatan yang sangat mendasar terkait upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Bagaimana status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. Gigi & Mulut --10. Riskesdas 2007 mencakup sampel yang lebih besar dari survei-survei kesehatan sebelumnya. Balitbangkes melaksanakan Riskesdas untuk menyediakan informasi berbasis komunitas tentang status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dengan keterwakilan sampai tingkat kabupaten/kota. J: Jawa-Bali. Pola Mortalitas Nasional S/J/KTI 3. provinsi dan kabupaten/kota? c. maka pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui Riskesdas adalah: a.1. dan mencakup aspek kesehatan yang lebih luas. Sanitasi lingkungan -S/J/KTI 6. Cedera & Kecelakaan Nasional S/J/KTI 8.Atas dasar berbagai pertimbangan di atas. 1.000 Nasional Kabupaten Kabupaten Kabupaten Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Nasional 1.000 10. Sesuai dengan latar belakang pemikiran dan kebutuhan perencanaan.000 -Kabupaten Provinsi Kabupaten ------ Riskesdas 2007 280. Disabilitas -S/J/KTI 9. dengan menggunakan sampel Susenas Kor. tingkat keterwakilan Riskesdas adalah sebagai berikut : Tabel 1. provinsi dan kabupaten/kota? b. Apa dan bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. Dibandingkan dengan survei berbasis komunitas yang selama ini dilakukan.000 2.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 adalah riset berbasis komunitas dengan sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga yang dapat mewakili populasi di tingkat kabupaten/kota. Apa masalah kesehatan masyarakat yang spesifik di setiap provinsi dan kabupaten/kota? 2 . Gizi & Pola Konsumsi -S/J/KTI 5. Perilaku -S/J/KTI 4. KTI: Kawasan Timur Indonesia 1. Riskesdas 2007 menyediakan informasi kesehatan dasar termasuk biomedis.

Membandingkan status kesehatan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi antar provinsi dan antar kabupaten/kota 1. perilaku.5 Kerangka Pikir Pengembangan Riskesdas 2007 didasari oleh kerangka pikir Henrik Blum (1974. Gambar 1. Konsep ini terfokus pada status kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara simulatn oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu sama lain. Menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan termasuk alokasi sumber daya di berbagai tingkat administratif. diukur atau diperiksa adalah sebagai berikut : a. Menyediakan peta status dan masalah kesehatan di tingkat nasional. c. 1981). b.1. provinsi dan kabupaten/kota. Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Pada Riskesdas tahun 2007 ini tidak semua indikator dikumpulkan baik yang terkait dengan status kesehatan maupun ke empat faktor penentu dimaksud.4 Tujuan Riskesdas Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut diatas. pelayanan kesehatan dan keturunan. Menyediakan informasi berbasis bukti untuk perumusan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai tingkat administratif. Bagan kerangka pikir Blum dapat dilihat pada Gambar 1. Berbagai indikator yang ditanyakan. Status kesehatan mencakup variabel: 3 . d.1. maka tujuan Riskesdas 2007 adalah sebagai berikut : a. Keempat faktor penentu tersebut adalah: lingkungan.1.

Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. Perilaku aktivitas fisik. termasuk untuk upaya kesehatan berbasis masyarakat. Untuk menjamin appropriateness dan adequacy dalam konteks penyediaan data kesehatan yang valid. vitamin dan mineral • Lingkungan fisik. HIV/AIDS Akses terhadap pelayanan kesehatan. perbandingan kota – desa dan perbandingan antar provinsi. meliputi konsumsi energi. polusi dan sampah • Lingkungan sosial. Dengan demikian. buang air besar) Pengetahuan. sikap dan perilaku terhadap flu burung. maka pada setiap tahapan Riskesdas 2007 dilakukan upaya penjaminan mutu yang ketat. tingkat sosial-ekonomi. Ketanggapan pelayanan kesehatan.2) ini secara skematis menggambarkan enam tahapan penting dalam Riskesdas 2007. Perilaku konsumsi sayur dan buah. Pelayanan kesehatan mencakup variabel: • • • • 1. Perilaku gosok gigi. meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular • Disabilitas (ketidakmampuan) • Status gizi (berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk semua umur. sanitasi. dan pengukuran lingkar lengan atas untuk wanita usia 15-45 tahun) • Kesehatan jiwa b. pemeriksaan bayi dan imunisasi). Keenam tahapan ini terkait erat dengan ide dasar Riskesdas untuk menyediakan data kesehatan yang valid. hasil Riskesdas 2007 bukan saja harus mampu menjawab pertanyaan kebijakan. protein. serta dapat menghasilkan estimasi yang dapat mewakili rumah tangga dan individu sampai ke tingkat kabupaten/kota. Perilaku higienis (cuci tangan. Instrumen dimaksud 4 . Perilaku merokok/konsumsi tembakau dan alkohol. Substansi pertanyaan. Dengan demikian. Siklus yang dimulai dari Tahapan 1 hingga Tahapan 6 menggambarkan sebuah system thinking yang seyogyanya berlangsung secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Faktor lingkungan mencakup variabel: • Konsumsi gizi. meliputi air minum. Cakupan program KIA (pemeriksaan kehamilan.6 Alur Pikir Riskesdas 2007 Alur pikir (Gambar 1. comparable. reliable dan comparable. pengukuran dan pemeriksaan Riskesdas 2007 mencakup data kesehatan yang mengadaptasi sebagian pertanyaan World Health Survey yang dikembangkan oleh the World Health Organization. berbagai instrumen yang dikembangkan untuk Riskesdas 2007 mengacu pada berbagai instrumen yang telah ada dan banyak digunakan oleh berbagai bangsa di dunia (61 negara). namun harus memberikan arah bagi pengembangan pertanyaan kebijakan berikutnya. reliable. pengukuran lingkar perut untuk penduduk dewasa 15 tahun keatas. meliputi tingkat pendidikan. kabupaten/kota c. Faktor perilaku mencakup variabel: • • • • • • d.• Mortalitas (pola penyebab kematian untuk semua umur) • Morbiditas.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan 5 . Statistik • Deskriptif • Bivariat • Multivariat • Uji Hipotesis 3.2. output dan outcome kesehatan. Indikator • Morbiditas • Mortalitas • Ketanggapan • Pembiayaan • Sistem Kesehatan • Komposit variabel lainnya Policy Questions Research Questions 6. process. Alur Pikir Riskesdas 2007 1.7 Pengorganisasian Riskesdas Riskesdas direncanakan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Manajemen Data Riskesdas 2007 • Editing • Entry • Cleaning follow up • Perlakuan terhadap missing data • Perlakuan terhadap outliers • Consistency check • Analisis syntax appropriateness • Pengarsipan 1.dikembangkan. Gambar 1. Disain Alat Pengumpul Data • Kuesioner wawancara. pemeriksaan • Validitas • Reliabilitas Riskesdas 2007 5. Pelaksanaan Riskesdas 2007 • Pengembangan manual Riskesdas • Pengembangan modul pelatihan • Pelatihan pelaksana • Penelusuran sampel • Pengorganisasian • Logistik • Pengumpulan data • Supervisi / bimbingan teknis 4. diuji dan dipergunakan untuk mengukur berbagai aspek kesehatan termasuk didalamnya input. Laporan • Tabel Dasar • Hasil Pendahuluan Nasional • Hasil Pendahuluan Provinsi • Hasil Akhir Nasional • Hasil Akhir Provinsi 2. pengukuran.

Kalimantan Tengah. Stratifikasi indikator kesehatan menurut status sosial-ekonomi sesuai hasil Susenas 2007. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. pemerintah daerah. dan Sulawesi Barat. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. DI Yogyakarta. Maluku Utara.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi DKI Jakarta.Sulawesi Utara. Jawa Tengah. b. Lampung. pengorganisasian Riskesdas 2007 dibagi menjadi berbagai tingkat dengan rincian sebagai berikut (Lihat Lampiran 1. Maluku. e. organisasi profesi.melibatkan berbagai pihak. dan partisipasi masyarakat. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi Jawa Timur. Jambi. Tersedianya informasi berkelanjutan. Daftar provinsi. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jawa Barat. Kalimantan Selatan.) : a. dan Kalimantan Barat c. Sumatera Selatan. koordinator wilayah dan jadwal pengumpulan data per wilayah disusun sebagai berikut: a. lembaga penelitian. dan Kepulauan Riau b. Kalimantan Barat. Sumatera Utara. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Barat. Riau. Papua Barat.8 Manfaat Riskesdas Riskesdas memberikan manfaat bagi perencanaan pembangunan kesehatan berupa : • • Tersedianya data dasar dari berbagai indikator kesehatan di berbagai tingkat administratif. dan Papua d. untuk perencanaan pembangunan kesehatan yang • 1.2)) 6 . Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat. antara lain Badan Pusat Statistik. Sulawesi Selatan. Tingkat pusat Tingkat wilayah (empat wilayah) Tingkat provinsi (33 Provinsi) Tingkat kabupaten (440 Kabupaten/Kota) Tim pengumpul data (disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) Pengumpulan data Riskesdas 2007 direncanakan untuk dilakukan segera setelah selesainya pengumpulan data Susenas 2007. c. d. Banten. perguruan tinggi. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877 Tahun 2006. 1.1. Bali.9 Persetujuan Etik Riskesdas Riskesdas ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Sulawesi Tengah. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. (Lampiran 1.

para pembentuk kebijakan dan pengambil keputusan di bidang pembangunan kesehatan dapat menarik manfaat yang optimal dari ketersediaan data Riskesdas 2007. Dengan demikian. 2. Riskesdas 2007 menyediakan data dasar yang dikumpulkan melalui survei berskala nasional sehingga hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan kebijakan kesehatan bahkan sampai ke tingkat kabupaten/kota. Disain Riskesdas 2007 dikembangkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan teori dasar tentang hubungan antara berbagai penentu yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. sementara Susenas 2007 sudah mengikuti jumlah kabupaten/kota yang ada. 13) Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo). 5) Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat). 4) Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan). dengan catatan sebagai berikut: a. diukur atau diperiksa. 14) 7 . confidence interval. 11) Kabupaten Buton Utara. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error.2 Lokasi Sampel Riskesdas 2007 di tingkat kabupaten/kota berasal dari 440 kabupaten/kota (dari jumlah keseluruhan sebanyak 456 kabupaten/kota) yang tersebar di 33 (tiga puluh tiga) provinsi Indonesia.BAB 2. Lebih lanjut. relative standard error. 6) Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat). Dengan disain ini. Pidie Jaya. METODOLOGI RISKESDAS 2. data Riskesdas 2007 mudah dikorelasikan dengan data Susenas 2007.1 Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. 7) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Riskesdas 2007 didisain untuk mendukung pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah. karena metodologinya hampir seluruhnya sama dengan Susenas 2007 (lihat penjelasan pada seksi berikut). design effect dan jumlah sampel tertimbang akan menyertai setiap estimasi variabel. atau dengan data survei lainnya seperti data kemiskinan yang menggunakan metodologi yang sama. secara menyeluruh. 3) Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). dapat menggambarkan masalah kesehatan di tingkat provinsi dan variabilitas antar kabupaten/kota. 10) Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). akurat dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan di berbagai tingkat administratif. 12) Kabupaten Konawe Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). 2) Kota Subussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam). 9) Minahasa Tenggara. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. Kabupaten dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Kab. Sebanyak 16 (enam belas) kabupaten tidak termasuk dalam sampel Riskesdas 2007 karena merupakan pengembangan kabupaten baru yang pada saat perencanaan Riskesdas belum diperhitungkan. 8) Kabupaten Kepulauan Siao Tagolandang Biaro. maka setiap pengguna informasi Riskesdas dapat memperoleh gambaran yang utuh dan rinci mengenai berbagai masalah kesehatan yang ditanyakan. sedangkan di tingkat provinsi. Laporan Hasil Riskesdas 2007 akan menggambarkan berbagai masalah kesehatan di tingkat nasional dan variabilitas antar provinsi.

Diluar itu. Dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel kabupaten/kota diambil sejumlah blok sensus yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut. Secara keseluruhan. Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 972.1 Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya.989 individu yang sama dengan 8 . yaitu: 1) Kabupaten Puncak Jaya dan 2) Kabupaten Pegunungan Bintang (Provinsi Papua). 2. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi penghitungan dan cara penarikan sampel untuk Riskesdas 2007 identik pula dengan two stage sampling yang digunakan dalam Susenas 2007. 2. dalam 438 kabupaten/kota pada Susenas 2007 terdapat 1. yang menjadi sampel rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut.Kabupaten Sumba Barat Daya.3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga Selanjutnya. sedang Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 258.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia.150 blok sensus dari 438 jumlah kabupaten/kota.357 (tujuh belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) sampel blok sensus. Secara keseluruhan. Sebanyak 2 (dua) kabupaten masuk kedalam sampel Riskesdas 2007.3. Pada Riskesdas. Dengan begitu. berdasarkan sampel blok sensus dalam Susenas 2007 yang berjumlah 17.3.134. Riskesdas menggunakan sepenuhnya sampel yang terpilih dari Susenas 2007. seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih dari kedua proses penarikan sampel tersebut diatas diambil sebagai sampel individu. Riskesdas berhasil mengunjungi 17. b. 16) Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur). pada Riskesdas 2007.630 (dua ratus tujuh puluh tujuh enam ratus tiga puluh).2 Penarikan Sampel Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 16 (enam belas) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). 2.3.284 rumah tangga.1). walaupun tidak masuk kedalam sampel Susenas 2007. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud. Bila dalam sebuah blok sensus terdapat lebih dari 150 (seratus lima puluh) rumah tangga maka dalam penarikan sampel di tingkat ini akan dibentuk sub-blok sensus. (Lihat Tabel 2. 2. 15) Kabupaten Sumba Tengah. terkumpul 182 rumah tangga tambahan dari dua (2) kabupaten di Papua. Kemungkinan sebuah blok sensus masuk kedalam sampel blok sensus pada sebuah kabupaten/kota bersifat proporsional terhadap jumlah rumah tangga pada sebuah kabupaten/kota (probability proportional to size). terdapat 15 blok sensus dari 2 kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas 2007 (Lihat Tabel 2.225 (satu juta seratus tiga puluh empat ribu dua rtus dua puluh lima) sampel anggota rumah tangga.2). jumlah sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota Susenas 2007 adalah 277.

Khusus untuk pengukuran gula darah.3.065 sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota. adalah pengukuran kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga. yang berasal dari 272 kabupaten/kota dan 540 blok sensus. Dari jumlah tersebut. dari dua (2) kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas. Secara nasional. Dari rumah tangga yang terpilih. Pertama.3). 26. Riskesdas 2007 mengumpulkan 36.3. sampel diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun yang berjumlah 19. Balai GAKI-Magelang. (Lihat Tabel 2. terpilih sampel anggota rumah tangga berasal dari 971 blok sensus perkotaan yang dari 294 kabupaten/kota dalam Susenas 2007. Dalam Riskesdas 2007 dilakukan test cepat iodium dalam garam pada 257. Secara keseluruhan. dan Puslitbang Gizi dan Makanan. dipilih secara acak dua (2) rumah tangga yang mempunyai anak usia 6-12 tahun dari 16 RT per blok sensus di 30 kabupaten yang dapat mewakili secara nasional. Pengukuran kadar iodium dalam garam dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beriodium. dan 8473 anak usia 6-12 tahun yang dilakukan pengukuran kadar iodium dalam urin.2. terkumpul 673 sampel anggota rumah tangga. 30 Kabupaten yang terpilih dapat dilihat pada sub. Bogor.919. dan juga sampel urin dari anak usia 6-12 tahun yang selanjutnya dikirim ke laboratorium Universitas Diponegoro. 2674 sampel garam beriodium rumah tangga dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada garam. 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga sedang dan 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga rendah. berhasil digabung dengan sampel anggota rumah tangga Rikesdas sejumlah.114 orang.5. Pengukuran kadar iodium dalam garam dilakukan dengan test cepat menggunakan “iodina” dilakukan pada seluruh sampel rumah tangga. Untuk pengukuran kedua. dan 182 rumah tangga dari dua (2) kabupaten di Papua. 2. 9 . Pada Riskesdas 2007. dan kedua adalah pengukuran iodium dalam urin. 2.4 Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis adalah anggota rumah tangga berusia lebih dari 1 (satu) tahun yang tinggal di blok sensus dengan klasifikasi perkotaan.bab.357 (tiga puluh enam ribu tiga ratus limapuluh tujuh) anggota rumah tangga berusia lebih dari satu (1) tahun. Pemilihan 30 kabupaten berdasarkan hasil survei konsumsi garam beriodium pada Susenas 2005 dengan memilih secara acak 10 (sepuluh) kabupaten dimana tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga tinggi. sampel garam rumah tangga diambil.Susenas. Sedangkan pengukuran iodium dalam urin adalah untuk menilai kemungkinan kelebihan konsumsi garam iodium pada penduduk.5 Penarikan Sampel Iodium Ada 2 (dua) pengukuran iodium.

10 . namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 15 BS. Dengan demikian 17. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.1 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Jml BSSusenas 2007 687 1054 692 434 380 540 342 438 230 230 427 1282 1578 216 1872 304 358 360 608 456 534 494 474 354 388 918 416 210 196 215 209 146 315 17357 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jml BSRiskesdas 2007 683 1045 689 426 379 538 337 424 230 230 409 1267 1576 215 1872 303 357 360 605 455 533 471 461 325 376 909 416 200 191 215 208 144 301 17150 Jml BS yang tidak ada 4 9 3 8 1 2 5 14 0 0 18 15 2 1 0 1 1 0 3 1 1 23 13 29 12 9 0 10 5 0 1 2 14 207 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.Tabel 2.165 BS berhasil dikumpulkan.

206 94.6 Riau 6.3 Jawa Tengah 3.687 13.6 Nusa Tenggara Timur 7.680 3.585 80.359 3.563 95.431 91.656 6.4 Maluku 3.792 91.420 92.2. 2007 Jumlah Sampel RTSusenas 2007 Jumlah Sampel RTRiskesdas 2007 % Sampel RT Riskesdas /Susenas Provinsi 10.664 4.2 Sulawesi Selatan 6.456 3.9 Jawa Barat 25.664 85.375 95.769 92.952 28.864 4.402 92.981 NAD 16.5 Bengkulu 7. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.9 10.447 87.861 16.728 9.9 Sulawesi Utara 6.8 DI Yogyakarta 29.284 93.904 7.5 Kalimantan Timur 5.469 94.2 Sumatra Utara 11.9 Kalimantan Selatan 7.421 97.0 Sumatra Barat 6.0 Gorontalo 3.1 Bangka Belitung 3.2 Papua Barat 5.578 6.512 19.728 5.6 DKI Jakarta 20.Tabel 2.6 Lampung 3.8 Kalimantan Barat 8.498 95.424 2. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 182 RT.344 2.072 10.021 4.329 1. Dengan demikian rumah tangga yang dikumpulkan berjumlah 258.543 7.831 94.208 5.8 Sulawesi Tenggara 3.064 92.933 6.915 87.1 Papua*) 277.090 92.7 Sulawesi Tengah 14.386 97.0 Nusa Tenggara Barat 9.5 Sumatra Selatan 5.490 92.4 Jawa Timur 4.760 5.959 86.806 95.430 94.640 8.078 5.578 97.2 Maluku Utara 2.832 4.5 Jambi 8.2 Kalimantan Tengah 7.294 6. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.418 94.1 Banten 5.630 258.134 2.821 78.366.472 5.705 88.263 91.680 3.241 93.248 24.890 71. 11 .647 98.634 96.074 81.008 6.4 Kepulauan Riau 6.8 Bali 5.0 Sulawesi Barat 3.0 Indonesia *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.

3 70. Jumlah Sampel Anggota Rumah Tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.2 61.410 26.833 13.2 85.5 81.0 85.966 17. 2007 Jumlah Sampel ARTSusenas 2007 46.046 74. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.9 73.952 21. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 673 ART).756 31.4 82.5 83.085 986.156 17.164 100.646 29.148.397 21.048 29.966 24.435 33.591 45.486 1.361 13.8 92.064 22.624 29.9 84.3 92.4 94.152 9.553 63.7 67.645 12.9 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan peg.3.603 21.519 78.642 11.460 87.136 16.9 93.002 39.269 11.928 14.530 22.970 68.514 16.856 36.661 13.2 81.4 85.349 10.548 45.637 14.4 83.Tabel 2.056 22.898 15.2 92.3 86.358 19.015 25.3 85.205 orang 12 .512 54.1 60.256 42.648 47.245 10.7 87.687 14.297 38.706 25.892 69.870 27.557 28.4 81. Dengan demikan ART yang berhasil di wawancarai adalah sejumlah 987.521 95.754 21.532 %Sampel ART Riskesdas /Susenas 88.4 88.2 90.5 84.250 28.021 25.7 89.8 82.954 33.189 6.570 26.8 89.4 83.7 69.418 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jumlah Sampel ARTRiskesdas 2007 40.044 23.465 110.412 20.276 20.7 91.570 14.848 22.2 91.119 10.

Papua (6 variabel). viii.IND).AV1). Blok X-H tentang kesehatan bayi (khusus untuk bayi berumur < 12 bulan (7 variabel).2. Kuesioner rumah tangga (RKD07.Maluku Utara. yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). Kuesioner individu (RKD07. • Blok IV tentang anggota rumah tangga (12 variabel). Blok X-A tentang identifikasi responden (4 variabel). c. Dalam Riskesdas 2007 terdapat kurang lebih 900 variabel yang tersebar dalam 6 (enam) jenis kuesioner. iii. d. yang terdiri dari: • Blok VIII tentang konsumsi makanan rumah tangga 24 jam lalu. yang terdiri dari: • Blok IX tentang keterangan wawancara individu (4 variabel). Blok X-E tentang disabilitas/ketidakmampuan untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (23 variabel). • Blok X tentang keterangan individu dikelompokkan menjadi: i. • Blok II tentang keterangan yang meninggal (6 variabel). • Blok V tentang mortalitas (10 variabel).4 Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan kebijakan kesehatan Indonesia dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari (RKD07. tidak menular. 13 . Blok X-G tentang imunisasi dan pemantauan pertumbuhan untuk semua anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan (11 variabel). Maluku. vii. • Blok VI tentang akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (11 variabel). dan riwayat penyakit turunan (50 variabel).GIZI). b. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. Blok X-F tentang kesehatan mental untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (20 variabel). ii. • Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel).RT) yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (9 variabel). vi. v. Blok X-I tentang kesehatan reproduksi – pertanyaan tambahan untuk 5 provinsi: NTT. Papua Barat. Blok X-C tentang ketanggapan pelayanan kesehatan Pelayanan rawat inap (11 variabel) Pelayanan berobat jalan (10 variabel iv. • Blok XI tentang pengukuran dan pemeriksaan (14 variabel). Blok X-B tentang penyakit menular. • Blok II tentang keterangan rumah tangga (7 variabel). Kuesioner gizi (RKD07. • Blok VII tentang sanitasi lingkungan (17 variabel).

Lihat Lampiran 2. Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari .RT • Responden untuk Kuesioner RKD07.5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2007 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. • Blok IIIA tentang autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (44 variabel). • Blok IIIB tentang autopsi verbal untuk perempuan umur 10 tahun keatas (4 variabel).< 5 tahun (RKD07. 2.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi 14 . • Blok VIB tentang keadaan ibu (8 variabel). • Blok V tentang autopsi verbal kesehatan ibu neonatal ketika hamil dan bersalin (2 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (RKD07. • Blok IIID tentang autopsi verbal untuk laki-laki atau perempuan yang berumur 15 tahun keatas (1 variabel). dengan rincian sebagai berikut: a. • Blok IVA tentang keadaan bayi ketika lahir (6 variabel).<5 tahun (35 variabel).1 Kuesioner Riskesdas 2007.• Blok III tentang karakteristik ibu neonatal (5 variabel). • Blok III tentang autopsi verbal riwayat sakit bayi/balita berumur 29 hari . • Blok IV tentang resume riwayat sakit untuk umur 5 tahun keatas (5 variabel). Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. • Blok IIIC tentang autopsi verbal untuk perempuan pernah kawin umur 10-54 tahun (19 variabel). e. yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). Catatan Selain keenam kuesioner tersebut diatas. • Blok VIA tentang bayi usia 0-28 hari termasuk lahir mati (4 variabel). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). terdapat dua (2) formulir yang digunakan untuk pengumpulan data tes cepat iodium garam (Form Garam) dan data iodium didalam urin (Form Pemeriksaan Urin). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). • Blok IVB tentang keadaan bayi ketika sakit (12 variabel).AV3).AV2). • Blok IV tentang resume riwayat sakit bayi/balita (6 variabel) f.

penggunaan alkohol. serta perilaku terkait dengan konsumsi buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar. sikap dan perilaku terkait Penyakit Flu Burung. termasuk ibu hamil). RKD07. Demam Berdarah Dengue. Penyakit Jantung.AV3. Tumor / Kanker dan Penyakit Keturunan. HIV/AIDS. • Informasi mengenai kejadian kematian dalam rumah tangga di recall terhitung sejak 1 Juli 2004.AV1. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan gigi permanen. Cedera. Filariasis. pengukuran lingkar perut. penyakit tidak menular dan penyakit keturunan sebagai berikut: Infeksi Saluran Pernafasan Akut. serta pengukuran berat badan. • Anggota rumah tangga berumur > 5 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan visus. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. Tuberkulosis Paru. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kematian yang terjadi dalam 12 bulan sebelum wawancara dilakukan eksplorasi lebih lanjut melalui autopsi verbal dengan menggunakan kuesioner RKD07. responden untuk Kuesioner RKD07.• Dalam Kuesioner RKD07. Hepatitis. • Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. • Anggota rumah tangga berumur 6-12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan iodium dalam urin. Campak. serta pengukuran lingkar lengan atas (khusus untuk wanita usia subur 15-45 tahun. • Anggota rumah tangga berumur < 12 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai kesehatan bayi. Stroke. Demam Tifoid. b. 15 . Penyakit Tekanan Darah Tinggi. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 30 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Katarak.IND adalah setiap anggota rumah tangga. aktivitas fisik. Diare. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07.AV2 dan RKD07. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Sendi. disabilitas.IND • Secara umum. Penyakit Kencing Manis. c.AV yang sesuai dengan umur anggota rumah tangga yang meninggal dimaksud. Asma. termasuk di dalamnya kejadian bayi lahir mati. Pnemonia.RT terdapat verifikasi terhadap keterangan anggota rumah tangga yang dapat menunjukkan sejauh mana sampel Riskesdas 2007 identik dengan sampel Susenas 2007. tinggi badan / panjang badan. pengukuran tekanan darah. kesehatan mental. penggunaan tembakau. Malaria. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 10 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai pengetahuan. Pengumpulan data kematian dengan teknik autopsi verbal menggunakan Kuesioner RKD07. • Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. perilaku higienis. Gigi dan Mulut.

e. Pembagian ini dimaksudkan untuk memenuhi kepraktisan ketika dilakukan wawancara agar tetap terarah pada penyebab kematian secara spesifik pada setiap kelompok usia. Pengumpulan data biomedis berupa spesimen darah dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk di blok sensus perkotaan di Indonesia. • Jumlah blok sensus di daerah perkotaan yang terpilih berjumlah 971.< 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM) > 200 mg/dl. 1999) yang digunakan adalah sebagai berikut: • • • Normal (Non DM) < 140 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) 140 . Untuk pemeriksaan kadar glukosa darah. d.AV2). f. Nilai rujukan (WHO. Khusus untuk responden yang sudah diketahui positif menderita Diabetes Mellitus (berdasarkan konfirmasi dokter). Sampel 30 kabupaten/kota dipilih untuk pengamatan ini berdasarkan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga hasil Susenas 2005: 16 . hanya diberi pembebanan sebanyak 300 kalori (alasan medis dan etika).Model kuesioner Riskesdas-mortalitas 2007 (RKD07. kuesioner AV2 untuk balita berumur 28 hari-<5 tahun (RKD. Pengamatan tingkat nasional pada dampak konsumsi garam beriodium dinilai berdasarkan kadar iodium dalam urin. Pengambilan sampel darah dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga berumur di atas satu (1) tahun dari rumah tangga terpilih di blok sensus perkotaan terpilih sesuai Susenas 2007. gejala sakit sebelum seorang individu meninggal dengan teknik autopsi verbal (AV) melalui wawancara kepada keluarga almarhum/ah yang merawatnya ketka sakit.AV1 – AV3) dirancang untuk mengumpulkan tanda.536 RT. Kuesioner dilengkapi dengan lembar khusus untuk pembuatan resume riwayat patofisiologi perjalanan penyakit sampai terjadi kematian dan penegakan diagnosis penyebab kematian.AV3). Pengambilan darah vena dilakukan setelah 2 jam pembebanan. kecuali wanita hamil (alasan etika). disentrifus sesegera mungkin untuk dijadikan serum. dengan melakukan pengumpulan garam beriodium pada rumah tangga bersamaan dengan pemeriksaan kadar iodium dalam urin pada anggota rumah tangga yang sama. kuesioner untuk usia lima (5) tahun ke atas (RKD. riwayat perdarahan dan menggunakan obat pengencer darah secara rutin. dipilih sejumlah 15% dari total blok sensus perkotaan. Ada tiga (3) macam kuesioner AV yang dipakai yaitu: kuesioner AV1 untuk neonatal berumur 0-<28 hari (RKD. yang keduanya akan dikerjakan oleh dokter reviewer dengan mengacu pada ketentuan International Classification of Diseases 10 (ICD-10) dari WHO. data dikumpulkan dari anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun. dengan total sampel 15. Sampel darah diambil dari seluruh anggota rumah tangga (kecuali bayi) yang menanda-tangani informed consent. Darah didiamkan selama 20–30 menit. Serum segera diperiksa dengan menggunakan alat kimia klinis otomatis. Pengumpulan data konsumsi garam beriodium rumah tangga untuk seluruh sampel rumah tangga Riskesdas 2007 dilakukan dengan tes cepat iodium menggunakan “iodina test”. Responden terpilih memperoleh pembebanan sebanyak 75 gram glukosa oral setelah puasa 10–14 jam.AV1). Rangkaian pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut: • Dari Blok sensus perkotaan yang terpilih pada Susenas 2007. Pengambilan darah tidak dilakukan pada anggota rumah tangga yang sakit berat.

pelaksanaan pengumpulan data dalam berbagai situasi amat tergantung pada ketersediaan alat transpor. Kabupaten Jember. Kabupaten Karawang. Kabupaten Konawe dan Kota Gorontalo). Situasi ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: a. Kota Semarang. d. pengumpulan data baru dapat dilaksanakan pada Agustus-September 2008. Kesiapan daerah untuk berperanserta dalam pelaksanaan Riskesdas 2007 amat bervariasi. • Sedang – meliputi Kota Tangerang. Kabupaten Grobogan. Pelatihan dilaksanakan di tiap provinsi. Kota Salatiga. Bahkan untuk lima (5) provinsi daerah sulit (Papua. Kabupaten Semarang. sehingga pelaksanaan dari satu lokasi pengumpulan data ke lokasi lainnya memerlukan koordinasi dan manajemen logistik yang rumit. b. Kota Dumai. Untuk pengumpulan data biomedis. Kabupaten Sikka. Kabupaten Nganjuk. Kota Tarakan dan Kabupaten Jeneponto. Kota Metro. sehingga dalam analisis perlu beberapa penyesuaian agar komparabilitas data dari satu periode pengumpulan data yang satu dengan periode pengumpulan data lainnya dapat terjaga dengan baik. Kabupaten Balangan dan Kabupaten Mappi. Papua Barat. 17 . Kabupaten Bondowoso. Kota Pasuruan. Catatan Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007 tidak dapat dilakukan serentak pada pertengahan 2007. Maluku. perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk petugas pengambil spesimen dan manajemen spesimen. Kabupaten Katingan. Petugas dimaksud adalah para analis atau petugas laboratorium dari rumah sakit atau laboratorium daerah. ketersediaan tenaga pendamping dan ketersediaan biaya operasional yang memadai tepat pada waktunya. Kabupaten Toba Samosir. Kabupaten Solok Selatan. Pelatihan dilakukan oleh peneliti dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi dan petugas Labkesda setempat. • Buruk – meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah. Kota Kendari. sehingga waktu pengumpulan data pada provinsi di wilayah III dan sangat bervariasi (akhir Juli 2007 . Di daerah kepulauan dan daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi geografis dari sampel blok sensus terpilih amat bervariasi.• Tinggi – meliputi Kabupaten Blitar. c. Kabupaten Donggala. Kabupaten Bantul. Kabupaten Karo.January 2008). Kabupaten Tapin. Perubahan kebijakan anggaran internal Departemen Kesehatan pada tahun anggaran 2007 menyebabkan gangguan ketersediaan dana operasional untuk pengumpulan data. Kabupaten Klungkung. sehingga bisa melaksanakan pengumpulan data lebih awal (akhir Juli 2007). Sedangkan Koordinator Wilayah III dan IV lebih lambat. Koordinator Wilayah I dan II bisa mencairkan anggaran sebelum terjadinya perubahan kebijakan anggaran dimaksud. Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur).

PJT Kabupaten dan PJT Provinsi bertugas untuk melakukan supervisi pelaksanaan pengumpulan data. Fokus perhatian Ketua Tim Pewawancara adalah kelengkapan dan konsistensi jawaban responden dari setiap kuesioner yang masuk. memeriksa kuesioner yang telah diisi serta membantu memecahkan masalah yang timbul di lapangan dan juga melakukan editing. Prasyarat pengetahuan dan keterampilan ini menjadi penting untuk menekan kesalahan entry. Buku kode disiapkan dan digunakan sebagai acuan bila menjumpai masalah entry data.6 Manajemen Data Manajemen data Riskesdas dilaksanakan oleh Tim Manajemen Data Pusat yang mengkoordinir Tim Manajemen Data dari Korwil I – IV. no responses.6. Di lapangan. 2. Ketua Tim Pewawancara harus mengkonsultasikan seluruh masalah editing yang dihadapinya kepada Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kabupaten dan / atau Penangung Jawab Teknis (PJT) Provinsi. Kuesioner yang sama juga banyak mengandung skip questions yang secara teknis memerlukan ketelitian petugas entry data untuk menjaga konsistensi dari satu blok pertanyaan ke blok pertanyaan berikutnya.2 Entry Tim manajemen data yang bertanggungjawab untuk entry data harus mempunyai dan mau memberikan ekstra energi berkonsentrasi ketika memindahkan data dari kuesioner / formulir kedalam bentuk digital. Tim Manajemen Data menyediakan pedoman khusus untuk melakukan cleaning data Riskesdas. Ketua Tim Pewawancara harus dapat membagi waktu untuk tugas pengumpulan data dan editing segera setelah selesai pengumpulan data pada setiap blok sensus. Urutan kegiatan manjemen data dapat diuraikan sebagai berikut.1 Editing Editing adalah salah satu mata rantai yang secara potensial dapat menjadi the weakest link dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. 2. Kegiatan ini seyogyanya dilaksanakan segera setelah diserahkan oleh pewawancara. Peran Ketua tim Pewawancara sangat kritikal dalam proses editing. Hasil pelaksanaan entry data ini menjadi bagian yang penting bagi petugas manajemen data yang bertanggungjawab untuk melakukan cleaning dan analisis data. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak data diperoleh dari jawaban responden. 18 .6.6. Kuesioner Riskesdas 2007 mengandung pertanyaan untuk berbagai responden dengan kelompok umur yang berbeda.2. Petugas entry data Riskesdas merupakan bagian dari tim manajemen data yang harus memahami kuesioner Riskesdas dan program data base yang digunakannya.3 Cleaning Tahapan cleaning dalam manajemen data merupakan proses yang amat menentukan kualitas hasil Riskesdas 2007. outliers amat menentukan akurasi dan presisi dari estimasi yang dihasilkan Riskesdas 2007. Perlakuan terhadap missing values. 2. pewawancara bekerjasama dalam sebuah tim yang terdiri dari tiga (3) pewawancara dan seorang Ketua Tim.

b. sehingga tidak menjadi bagian sampel kabupaten/kota Riskesdas (Lihat Sub Bab 2. Pengorganisasian Riskesdas 2007 melibatkan berbagai unsur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. e. Pada Riskesdas.346. balai/balai besar. sampel anggota rumah tangga serta luasnya cakupan wilayah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007.Petugas cleaning data harus melaporkan keseluruhan proses perlakuan cleaning kepada penanggung jawab analisis Riskesdas agar diketahui jumlah sampel terakhir yang digunakan untuk kepentingan analisis. 19 . Keterlambatan pada fase ini telah menyebabkan keterlambatan pada fase berikutnya. atau karena kondisi alam yang tidak memungkinkan seperti ombak besar. Total rumah tangga yang tidak berhasil dikunjungi Riskesdas adalah sebanyak 19. loka. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga ada kemungkinan beberapa estimasi penyakit menular yang bersifat seasonal pada beberapa provinsi atau kabupaten/kota menjadi under-estimate atau overestimate.566 anggota rumah tangga yang tidak bisa dikumpulkan datanya (Lihat Tabel 2. g. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga estimasi jumlah populasi pada periode waktu yang berbeda akan berbeda pula. variabel tanggal pengumpulan data bisa digunakan pada saat melakukan analisis. Berbagai keterlambatan tersebut memberikan kontribusi penting bagi berbagai keterbatasan dalam Riskesdas 2007. tetapi tidak semua estimasi bisa mewakili kabupaten/kota.) Blok sensus tidak terjangkau. Perubahan kebijakan pembiayaan dalam tahun anggaran 2007 dan prosedur administrasi yang panjang dalam proses pengadaan barang menyebabkan keterlambatan dalam kegiatan pengumpulan data. pusat-pusat penelitian.7 Keterbatasan Riskesdas Keterbatasan Riskesdas 2007 mencakup berbagai permasalahan non-random error. tersebar di seluruh kabupaten/kota (Lihat Tabel 2. sampel rumah tangga. sebagaimana uraian berikut ini: a. Meski Riskesdas dirancang untuk menghasilkan estimasi sampai tingkat kabupaten/kota. Riskesdas tidak berhasil mengumpulkan 207 blok sensus yang terpilih dalam sampel Susenas 2007. Proses pengadaan logistik untuk kegiatan Riskesdas 2007 terkait erat dengan ketersediaan biaya. Banyaknya sampel blok sensus. maka informasi mengenai imputasi (proses data cleaning) dapat meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai kualitas data.1. Rumah tangga yang terdapat dalam DSRT Susenas 2007 ternyata tidak dapat dijumpai oleh Tim Pewawancara Riskesdas 2007. serta perguruan tinggi setempat. Pembentukan kabupaten/kota baru hasil pemekaran suatu kabupaten/kota yang terjadi setelah penetapan blok sensus Riskesdas dari Susenas 2007. d. f.2. seperti terlihat pada Tabel 2. Besaran numerator dan denominator dari suatu estimasi yang mengalami proses data cleaning merupakan bagian dari laporan hasil Riskesdas 2007 Bila pada suatu saat data Riskesdas 2007 dapat diakses oleh publik.2) Bisa juga terjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga yang terpilih dan bisa dikunjungi oleh Riskesdas. karena ketidak-tersediaan alat transportasi menuju lokasi dimaksud. 2. Tercatat sebanyak 159.3). pada saat pengumpulan data dilakukan tidak ada di tempat. c.

tetapi ada pula yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2008. Maluku. anak 6 – 14 tahun. 20 .terutama kejadian-kejadian yang frekuensinya jarang. pada akhirnya akan berkurang untuk analisis masingmasing variabel yang dikumpulkan. 2. Khusus untuk data biomedis. beberapa kelemahan menggunakan teknis autopsi verbal akan mempengaruhi kualitas informasi yang diberikan oleh responden. dewasa ≥ 18 tahun. dan tabel 2. Seluruh variabel Riskedas yang berjumlah hampir 900 pada saat analisis dilakukan prosedur yang sama. bahkan lima provinsi (Papua. estimasi yang dihasilkan hanya mewakili sampai tingkat perkotaan nasional. Maluku Utara dan NTT) baru melaksanakan pada bulan Agustus-September 2008. serta wanita usia sunur 1545 tahun. Riskesdas yang terdiri dari 6 Kuesioner dan 11 Blok Topik Analisis akan tergantung dari jawaban responden dan jumlahnya terhadap Susenas 2007. ketepatan waktu kejadian kematian.4). 2) variabel hasil wawancara konsumsi tingkat rumah tangga.8 Pengolahan dan Analisis Data Isu terpenting dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007 adalah sampel Riskesdas 2007 yang identik dengan sampel Susenas 2007. menyebabkan pelaksanaan Riskesdas tidak serentak. h. Aplikasi statistik ini memungkinkan penggunaan two stage sampling design seperti yang diimplementasikan di dalam Susenas 2007.4 mencantumkan jumlah sampel anggota rumah tangga dan rumah tangga berdasarkan: 1) variabel pengukuran dari kelompok umur <5 tahun. Kejadian yang jarang seperti ini hanya bisa mewakili tingkat provinsi atau bahkan hanya tingkat nasional. Aplikasi statistik yang tersedia didalam SPPS untuk mengolah dan menganalisis data seperti Riskesdas 2007 adalah SPSS Complex Samples. j. ada yang dimulai pada bulan Juli 2007. Penyebabnya antara lain. Hasil pengukuran yang diperoleh dari two stage sampling design memerlukan perlakuan khusus yang pengolahannya menggunakan paket perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS. Untuk data mortalitas. Dengan penggunaan SPSS Complex Sample dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007. Selain itu kemungkinan under-reporting. anak ≥6 tahun. dewasa ≥15 tahun. Terutama kabupaten/kota dimana jumlah sampel teranalisis pada Riskesdas 2007 kurang dari 80% sampel Susenas 2007. Jumlah sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Riskesdas 2007 yang terkumpul seperti tercantum pada tabel 2.2. dewasa ≥ 30 tahun. Hasil pengolahan dan analisis data dipresentasikan pada Bab Hasil Riskesdas. dan 3) variabel hasil pengujian garam iodium dirumah tangga. Disain penarikan sampel Susenas 2007 adalah two stage sampling. Terbatasnya dana dan waktu realisasi pencairan anggaran yang tidak lancar. i. Papua Barat. karena tidak diperolehnya jawaban (missing values) maupun kemungkinan kesalahan hasil pengukuran (outlier) dari rumah tangga atau anggota rumah tangga. yaitu mengeluarkan missing values dan outlier serta dilakukan pembobotan sesuai dengan jumlah masing-masing sampel. Tabel 2.ketepatan umur kematian juga akan mempengauhi mutu data yang dikumpulkan. Pada laporan ini seluruh analisis dilakukan berdasarkan jumlah sampel rumah tangga maupun anggota rumah tangga setelah missing values dan outlier dikeluarkan. serta kualitas pewawancara untuk bisa menggali penyebab kematian. (Tabel 2.3. maka validitas hasil analisis data dapat dioptimalkan. Akan tetapi untuk kepentingan analisis kabupaten/kota maka jumlah sampel akhir yang digunakan untuk masing-masing varibel perlu diperhatikan. Jumlah sampel Riskesdas 2007 cukup untuk kepentingan analisis yang menberikan gambaran nasional maupun provinsi.

0 129 29.3 241 55.5 70-79.7 95 21.5 73 16.8 87 19.2 87 19.7 163 37.Rincian jumlah kabupaten/kota setiap provinsi menurut jumlah sampel anggota rumah tangga dan sampel rumah tangga yang bisa di analisis Riskesdas 2007 terhadap jumlah sampel Susenas 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.2 37 8.3 160 36.6 213 48.3 59 13.4 55 12.5 – Tabel 2.5 100 22.9% 25 5.7 47 10.9 60 13.6 122 27.7 >90% 332 75.9 187 42.6 98 22.4 45 10.5 58 13.9% 56 12.5 62 14.7 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 Total Kab/Kota*) 438 *)Total Kabupaten/Kota 438 adalah Kabupaten/Kota Riskesdas 2007 yang sama dengan Sampel Susenas 2007 21 .5 118 26.7 151 34.5 327 74.2 203 46.7 106 24.8 264 60.8 77 17.2 80-89.7 47 10.9 129 29.2 85 19.7 50 11.9 81 18.3 11 2. Tabel 2.5 65 14.6 95 21.0 20 4.8 73 16. Riskesdas 2007 Variabel Pengukuran/Pemeriksaan pada Riskesdas Pengukuran BB/U (Balita) Pengukuran TB/U (Balita) Pengukuran BB/TB (Balita) Pemeriksaan Visus (Anak >=6 tahun) Pengukuran IMT (Anak 614tahun) Pengukuran IMT (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran Lingkar Perut (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran LILA (Wanita usia15-45 tahun) Pengukuran Tensi (Dewasa >=18 tahun) Pemeriksaan Katarak (Dewasa >=30 tahun) Penilaian Konsumsi Rumah Tangga Penilaian Konsumsi garam Iodium pada Rumah Tangga Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Persen Sampel Teranalisis <70% 25 5.16.7 27 6.6 105 24.7 169 38.4 111 25.9 103 23.4 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.4 223 50.

Tabel 2.9% >=90% 2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 0 0 0 0 1 4 2 2 5 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 5 0 1 0 0 1 3 4 1 2 1 2 1 2 1 3 5 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 0 5 0 3 0 4 2 1 8 1 1 0 1 1 3 4 17 23 17 9 9 11 4 6 7 5 1 24 34 5 37 4 9 9 11 10 10 12 8 0 9 14 9 4 3 0 1 3 7 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 25 25 56 332 438 22 .5 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.

9% 80-89.9% >=90% 4 2 2 0 0 1 0 3 0 1 3 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 2 4 0 2 0 0 1 7 5 3 6 3 0 0 2 1 2 4 2 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 1 2 4 0 2 4 0 4 1 1 1 0 2 3 3 3 4 1 5 1 2 3 2 0 2 0 3 1 0 3 1 1 1 6 3 3 1 3 1 4 10 2 0 3 1 1 2 4 11 19 16 4 8 9 2 3 7 3 1 22 33 5 34 3 8 8 8 6 7 11 6 0 6 7 7 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 50 47 77 264 438 23 .6 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

9% 80-89.7 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 4 1 2 2 0 3 0 3 0 1 4 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 1 2 3 0 1 0 0 2 7 5 3 6 1 1 0 2 2 1 5 2 0 0 1 1 1 0 2 1 0 0 2 2 3 0 2 5 1 1 2 0 0 0 2 4 3 7 7 3 6 1 3 3 3 1 3 0 4 3 0 7 1 1 1 7 3 4 2 3 1 4 4 2 1 3 1 1 1 4 9 16 14 1 7 7 1 2 6 2 1 20 31 5 29 3 8 8 6 5 6 10 6 0 5 17 6 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 55 47 95 241 438 24 .Tabel 2.

Tabel 2.8 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.9% >=90% 2 1 3 3 0 1 2 4 0 1 5 5 2 1 1 2 1 0 1 3 2 2 4 7 2 4 0 3 4 6 5 7 14 6 4 11 5 3 3 2 3 3 4 0 12 14 2 13 0 1 1 11 2 5 2 8 2 8 8 7 1 1 1 3 2 3 12 17 4 3 7 5 5 3 3 1 1 8 18 2 23 4 5 8 3 5 7 9 1 0 0 10 3 1 0 1 0 0 0 1 3 1 0 0 5 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 98 151 169 20 438 25 .

9% >=90% 1 0 2 1 0 1 0 0 0 0 5 1 1 0 0 1 0 0 0 2 3 2 2 2 0 0 0 0 2 5 2 3 9 1 2 0 4 0 0 2 4 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 3 2 1 1 2 6 2 3 0 2 3 1 5 4 5 7 1 3 4 6 4 4 5 1 4 0 5 4 2 8 1 2 1 7 4 5 2 8 1 8 13 4 1 0 2 1 1 3 12 22 14 2 4 9 3 1 6 1 1 18 30 2 29 3 7 8 6 4 5 8 1 0 0 7 6 2 0 0 0 1 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 45 58 122 213 438 26 .9% 80-89.9 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

9% 80-89.Tabel 2.9% >=90% 1 1 2 1 0 0 1 0 0 0 5 1 0 0 0 2 0 0 0 2 2 1 3 5 0 1 0 1 3 6 4 6 11 3 0 1 3 1 1 4 3 2 3 0 4 3 1 2 0 1 0 8 1 4 2 4 3 7 6 4 2 2 1 3 3 5 8 12 8 5 6 4 3 7 0 3 1 19 20 4 23 3 3 1 7 5 6 6 6 1 3 14 4 2 0 1 1 0 1 9 12 8 2 3 9 1 0 5 0 0 1 12 0 13 1 5 8 1 4 2 4 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 59 87 187 105 438 27 .10 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

11 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% 80-89.9% >=90% 1 1 4 3 0 1 1 0 0 1 6 1 0 0 0 2 0 0 0 3 2 1 3 4 0 1 0 1 2 6 4 6 11 6 1 1 2 1 1 4 3 0 3 0 3 1 1 1 0 1 0 7 1 2 2 2 4 7 6 3 2 3 2 3 3 5 8 13 7 4 7 4 4 5 2 2 0 19 16 1 12 1 2 1 8 5 7 2 7 1 3 13 5 2 0 0 1 0 1 6 10 7 2 2 8 0 2 5 0 0 2 18 3 25 3 6 8 1 3 3 8 1 0 0 3 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 65 81 163 129 438 28 .

9% 80-89.Tabel 2.9% >=90% 2 1 2 1 0 1 2 1 0 0 5 2 0 0 1 2 0 0 1 3 2 1 2 8 0 1 0 1 3 6 5 6 14 3 3 1 4 2 2 3 5 1 3 0 6 4 2 3 0 1 1 11 1 2 2 4 0 8 9 4 2 2 2 3 3 3 13 16 8 6 6 5 4 4 2 3 1 17 25 3 25 4 2 7 4 6 8 5 7 1 2 12 5 2 0 0 0 0 0 3 5 8 0 2 6 0 0 4 0 0 0 6 0 9 0 6 1 0 2 2 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 73 100 203 62 438 29 .12 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9% 80-89.Lampiran 2.13 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 3 4 2 4 1 1 2 1 0 1 5 3 4 0 1 2 0 0 2 3 3 3 5 8 6 4 1 2 3 6 6 6 14 3 2 2 1 0 1 4 7 0 3 1 5 4 2 3 1 1 0 11 1 4 1 4 1 4 6 3 3 2 1 1 3 2 6 5 6 5 5 2 3 2 2 2 0 16 24 2 24 3 4 2 3 7 7 5 4 0 0 13 5 0 0 1 1 0 1 9 14 9 1 4 10 0 0 5 0 0 1 3 1 10 0 4 7 0 1 0 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 106 87 160 85 438 30 .

Tabel 2.14 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 1 1 3 0 0 0 0 1 5 2 4 7 1 0 2 2 0 1 3 3 0 0 0 3 1 1 1 1 0 0 0 2 1 2 3 5 4 4 1 3 2 1 4 3 6 2 2 4 2 2 3 3 5 2 6 0 11 9 0 8 1 1 0 11 3 5 1 5 1 6 8 5 2 2 1 2 2 3 17 22 12 7 8 10 3 2 5 0 1 10 25 4 29 3 8 9 5 6 6 9 4 0 0 11 4 0 0 1 0 0 2 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 37 60 118 223 438 31 .9% 80-89.

15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% 80-89.9% >=90% 1 2 1 0 2 1 0 0 0 1 5 0 6 1 27 4 3 9 6 1 2 3 5 1 2 0 0 0 0 4 3 6 15 5 3 3 6 6 1 1 0 1 4 1 4 4 3 10 0 5 0 3 3 1 2 7 1 3 3 3 0 2 1 3 3 3 8 11 10 4 2 7 4 1 4 0 0 5 8 1 1 0 1 0 7 5 10 6 1 1 5 11 6 3 2 3 2 0 0 7 9 5 1 0 5 4 9 2 1 0 16 17 0 0 2 0 0 0 3 1 2 0 6 0 9 1 2 1 0 0 0 0 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 111 95 129 103 438 32 .

9% >=90% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 3 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1 3 5 2 1 3 1 0 0 2 2 1 1 0 2 2 2 1 1 2 0 2 1 4 0 7 4 7 4 1 1 3 3 3 4 6 18 24 16 9 10 14 7 8 6 5 1 23 33 3 35 4 7 9 14 9 9 12 4 2 3 19 9 3 1 2 4 0 4 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 11 27 73 327 438 33 .16 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.Tabel 2.

0 >=-3.0 >=-2. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U. Untuk menilai status gizi anak.0 >=-2. yaitu: berat badan menurut umur (BB/U).1.0 >2. dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0.1.0 Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Kategori Pendek Kategori Normal Z-score < -3. tinggi badan menurut umur (TB/U). Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Kategori Kategori Kategori Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Z-score Z-score Z-score Z-score < -3. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U Tabel 3.0 >=-3. tidak spesifik. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).1 cm.1 kg. panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0. 34 . Berdasarkan indikator BB/U : Kategori Kategori Kategori Kategori b.0 s/d Z-score <-2. Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0.0 s/d Z-score <-2.0 Z-score >=-2.0 s/d Z-score <-2. Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut : a. 3. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita.0 s/d Z-score <=2.1 cm.1 Gizi 3.0 s/d Z-score <=2.0 Perhitungan angka prevalensi dilakukan sebagai berikut: Prevalensi Prevalensi Prevalensi Prevalensi gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100% gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100% gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100% gizilebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100% a. tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut.0 >2. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri. maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006.0 Z-score >=-3. Gizi Gizi Gizi Gizi Buruk Kurang Baik Lebih Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.BAB 3.0 c.1 Status Gizi Balita HASIL DAN PEMBAHASAN Status gizi balita diukur berdasarkan umur.

1 16.4 72.4 Gizi lebih 4.9 71.8 4.0 9.0 77.0 2.7 6. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kategori status gizi BB/U Gizi buruk 10.3 5.0 2.4 10.8 5.3 6.7 8.0 16.1 73.4 18.4 5.7 24.5 2.0%.0 4.3 12.7 12. Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18.3 Indonesia *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 5.8 6. Sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi nasional.5 3.3 6.1 70.0 8.3 74.3 2. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.6 Gizi baik 69.3 8.5 80.8 8.2 8.2 5.3 Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5.5 80.1 11.0 5.9 3.5 6.4 14.6 3.4 73.3 76.5 15.4 4.7 2.2 4.3 13.6 11.3 74.0 5. Kepulauan Riau. 35 .1 18.4%.0 73.6 3. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.6 81.8 5.1 8.5%.0 77.7 5.4% dan gizi kurang 13.5 12.1 9.0 11.4 3.6 Gizi kurang 15.4 64.4 8.4 4.7 4.9 5.9 11.6 3.2 16.2 4.9 83. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.7 77.4 6.9 12.6 71.5 18.8 13.Tabel 3.2 8.1 6. Namun pencapaian tersebut belum merata di 33 provinsi.3 80.7 3.2 13.3 3.5 3.2 72.3 6.4 6.0 9.7 69.2 4.6 12.6 4.6 3.0 4. Bangka Belitung.5 8.5 16.4 13.2 10.7 9.7 6.5 4.4 4.9 7.2 15.5 3.1.0 3.2 73.7 11. maka secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui.2 78.0 78.4 81.8 14.4 3.4 75.9 3. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.0 2.9 17.8 75.3 14.3 75.3 72.4 85.1 67.0 79.2 14.1 6.7 4.5 72. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18.

Jambi. Jawa Tengah. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Barat. Lampung. DI Yogyakarta. DKI Jakarta. Bangka Belitung. yaitu Sumatera Utara. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6. Prevalensi gizi lebih secara nasional adalah 4. Sulawesi Selatan. Jawa Barat. Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi melebihi angka nasional. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek. Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang 36 . Kalimantan Timur. indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Bengkulu. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Jawa Timur. Jawa Barat. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis. Bengkulu. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB. Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. Ke 14 provinsi yang telah memenuhi kedua target adalah: Sumatera Selatan. Maluku Utara dan Papua. c. Delapan belas provinsi menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Kepulauan Riau. Sumatera Selatan. b.8%.0 SD. Di Yogyakarta. dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB Tabel 3. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10. Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13. Sulawesi Utara. sedangkan untuk target RPJM sudah 16 provinsi yang melampaui target. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. DKI Jakarta. Jawa Timur.15. Bali.1% .2%. Riau. seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker). Masalah pendek pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36. Jawa Tengah. Ke 12 provinsi tersebut adalah: Bangka Belitung. artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan.6%.3.0%. Maluku dan Papua. Banten. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U Tabel 3. Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3.2 menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Bangka Belitung. Bali.3%. Jawa Timur. Kepulauan Riau. Dua provinsi lainnya yaitu Jambi dan Kalimantan Timur hanya melampaui target RPJM. Terdapat 12 provinsi yang memiliki prevalensi balita sangat kurus di bawah angka prevalensi nasional. Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek.Bila mengacu pada target MDG maka 14 provinsi yang sudah melampaui target. Bali. sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik.0% (UNHCR). perilaku pola asuh yang tidak tepat.

0 19.1 28.0 16.serius. Hanya 3 (tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa Barat.6 16.8 11. Pada Tabel 3.2 59.9 25.9 22.5 17.0 23.3 53.9 17.7 17.7 17.9 59.2 20.2 18.9 25.1 18. 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori kritis (prevalensi kurus >15%).7 57.0 22.4 20.7 27.6 19.6 19.9 19.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pendek 17.6 18.7 13.5 67.5 54.8 73.3 20.8 13.0 16.4 13.3 19.3 64. dapat dilihat bahwa prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 12.9 21. Bahkan.0 69.6 16. Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.2 37 .1 17.0 56.2 61.7 18.9 23.8 59.3 16.1 25.7 15.9 14.0 63.1 17. Delapan belas provinsi memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional Tabel 3.3 64.5 20. DI Yogyakarta dan Bali.8 60.8 24.3 64. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Sangat pendek 26.1 20.9 20.8 68.5 12.4 19.2 60.5 18.4 56.3 15.3.2 64.3 Indonesia *) TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 18.3 16.6 16.7 17.9 63.2 17.5 73.2.8 18.5 72.4 15.2 17.9 14.2%.6 62.4 18.3 58.4 19.7 20.6 55.0 20. 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%). dari 33 provinsi.0 19.9 17.5 60.8 19.0 63.6 70.5 15. Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita.0 61.4 65.5 63.4 Normal 55.1 13.1 55.6 20.

8 5.9 7.0 8.9 74.5 5.1 10.6 11.3 8.4 74.9 7.5 Indonesia 6.9 15.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurus 9.4 10.1 8.6 70.8 78. Status gizi balita menurut karakteristik responden Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U.4 20.3 76.9 6.9 71.9 14.6 12.7 73.8 6.6 7. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.5 12.4 7.8 78.1 12.7 6.6 13.9 6.4 12.2 70.5 66.5 3.6 7.4 8.3 4.2 10.0 68.7 8.2 9.5 5. pendidikan KK.9 8.4 14.3 8.6 66.3 76.8 74.5 9.0 9.0 77.8 68.4 63.6 3.6 7.8 7.1 9. 38 .9 7.4 16.6 10.3 14.0 75.3 7.8 12. telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.9 7.7 5.5 9. tempat tinggal dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas).4 6.Tabel 3.0 13.5 5.9 81.6 4.1 8.1 Gemuk 15.4 72. jenis kelamin.2 8.7 10.3.2 9.9 6.0 Normal 66.3 12.5 8. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Sangat kurus 9.2 7.2 78.4 6.3 9.4 70.2 *) BB/TB= Berat Badan menurut Tinggi Badan d.8 6.1 7.5 10.7 11.9 14.6 73.2 9.8 69.8 62.9 9.4 5.4 7.1 5.7 7.9 76.2 10.6 4.4 8.4 8.5 12.7 69.2 3.1 7.9 77.2 7. pekerjaan KK.5 15.7 9.0 8.2 16.8 70.1 9.5 76.6 10.9 7.8 8.5 8. TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur.9 7.3 75.4 71.1 12.5 73.2 7.9 13.8 5.7 3.

0 13.4 11.5 4.8 77.9 6.Tabel 3.7 7.6 3.5 4.8 5. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/U balita dengan variabel-variabel karakteristik responden.2 78.7 4.8 13.9 8.8 3.2 76.6 12.7 5.9 77.6 13.2 8.9 11.9 4.4 5.3 78.2 4.3 7.3 14.8 5.7 14.3 75.8 14. Tabel 3.9 80.3 14.4.4.8 75.1 11.7 78.5 4.0 5.4 9.0 6.9 4.0 79. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 6.1 76.3 11. 39 .7 76.8 13.7 4.7 3.9 3.1 73.0 6.6 5.8 5.9 3.6 3.3 12.8 4. sedangkan untuk gizi lebih cenderung menurun.5 9.8 78.2 4.9 3.9 75.1 15.3 4.7 3.7 5.6 74. Semakin bertambah umur.4 3.7 5.8 12.4 13.9 3.9 3.9 4.4 77.2 6.7 80.2 12.2 4.9 78.0 81.2 78.5 14.6 4. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik Responden.8 5.5 3.3 5. prevalensi gizi kurang cenderung meningkat.7 4.0 5.7 76.8 9.8 4.7 75.7 82.4 14.8 80. yaitu: a.7 Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Dapat dilihat bahwa secara umum ada kecenderungan arah yang mengaitkan antara status gizi BB/U dengan karakteristik responden.6 4.9 3.7 4.1 6.4 8.0 76.2 8.

Masalah kurus cenderung semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur. 40 . Tidak ada pola yang jelas pada masalah kurus menurut tingkat pendidikan KK. Seperti halnya dengan status gizi BB/U. f. Tidak tampak adanya perbedaan masalah kurus yang mencolok antara balita laki-laki dan perempuan. Tidak ada pola pada masalah kurus menurut tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. Makin tinggi pendidikan KK prevalensi pendek pada balita cenderung makin rendah. Menurut umur. b. Semakin tinggi pendidikan KK semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita.5.b. Kajian deskriptif kaitan antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden menunjukkan: a. Kelompok dengan KK berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta) memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang yang relatif rendah. namun masalah kegemukan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. d. baik maupun lebih antara balita laki-laki dan perempuan. Pada kelompok keluarga yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Swasta). Tidak nampak adanya perbedaan yang mencolok pada prevalensi gizi buruk. sebaliknya terjadi peningkatan gizi baik dan gizi lebih. Tidak ada perbedaan mencolok antara masalah kurus di daerah perdesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan.6. tidak tampak adanya pola masalah pendek pada balita. b. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang daerah perkotaan relatif lebih rendah dari daerah perdesaan. Prevalensi pendek di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. prevalensi pendek relatif lebih rendah dari keluarga dengan pekerjaan berpenghasilan tidak tetap. f. dan sebaliknya. Tabel 3. Sedangkan prevalensi balita kegemukan tertinggi ditemui pada kelompok dengan KK yang mempunyai pekerjaan dengan penghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta). untuk gizi baik dan gizi lebih semakin meningkat. Menurut jenis kelamin. tetapi pada keluarga dengan KK berpendidikan tamat PT. f. e. kurang. prevalensi kekurusan relatif lebih rendah dan prevalensi kegemukan relatif tinggi. Tabel 3. c. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden. tidak tampak adanya perbedaan masalah pendek yang mencolok pada balita. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balitanya. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi TB/U dengan karakteristik responden. c. Prevalensi pendek cenderung lebih rendah seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. e. e. d. d. Prevalensi kurus balita pada kelompok dengan KK sebagai petani/nelayan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan KK yang memiliki pekerjaan lain. c. kaitan antara status gizi BB/TB dan karakteristik responden menunjukkan kecenderungan yang serupa : a.

2 19.8 14.5 21.2 22.8 14.9 16.8 67.8 19.7 16.2 19.0 20.7 17.9 18.6 18.2 17.1 19.1 22.7 64.0 20.1 21.Tabel 3.3 15.8 65.8 60.8 17.6 61.0 22.5 18.1 15.9 69.1 17.1 62.5 61.7 70.4 60.0 67.3 19.7 14.2 62.3 67.6 59.7 13.6 68.0 18.2 19.3 59.9 65.4 18.2 19.2 17.0 13.9 16.6 17.3 19.1 17.9 18.1 65.8 17.8 60.8 17.6 Sangat pendek Pendek Normal 41 .6 72. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 21.0 15.2 17.5 14.5 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik Responden.5 20.3 64.1 70.8 19.8 15.7 14.5 58.1 59.3 18.5 17.9 62.2 15.7 19.0 58.

Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 6.0 6.0 7.3 74.5 7.7 di bawah ini menyajikan gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang).9 7.9 73.Tabel 3.0 11.9 15.2 10.9 6. Tigapuluh provinsi masih menghadapi permasalahan gizi akut dan 18 provinsi menghadapi permasalahan gizi akut dan kronis. Hanya tiga provinsi.0 5.3 7.4 12.4 64.8 6.6 7.0 7.1 19.8 74.4 12.6 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.7 7.2 75.3 74.7 8.3 7. BB/TB (kurus).4 11.4 12.5 73.3 73.7 14.0 76.2 10.8 7.1 7.7 74.0 7.5 4. TB/U (pendek).5 5.6 5.9 7.5 74.0 7. yaitu Jawa Barat.9 10.4 7. Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut.8 8.5 7.3 75.7 7.9 12.4 74.6 7.3 73.7 77.7 6.9 7.4 13.7 72.4 73.0 11.2 6.9 72.9 11.7 7.2 74.8 6.7 7.0 76.9 6.0 7.0 4.5 6.0 74.3 73.0 7.9 12.1 5.9 15.2 6.0 6.8 7.8 12.1 73.2 73.8 11.3 6.6 6.6 6.1 7.0 6.9 72.8 14.9 12.2 11.1 5.2 7.5 7.6 7.6 11.7 10.1 12.7 Sangat kurus Kurus Normal Gemuk Tabel 3.9 12.0 6.8 68. 42 .

7 35.5 17.9 16.2 39.7 25.3 15.2 16.9 17.2 26.6 36.7 17.0 10.0 9. Riskesdas 2007 BB/U Buruk & Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia TB/U Kronis BB/TB Akut Akut* Kronis** Kurang 26.3 29.0 13.0 16.0 15.5 13.4 25.7 20.8 38.7 14.3 17.4 (Pendek) 44.7 36.8 22.6 34.2 18.0 38.6 17.7 39.4 12. yang masalah gizi kronisnya lebih kecil dari angka nasional dan masalah gizi akutnya belum mencapai kondisi serius.0 15.0 11.7.8 17.2 40.6 22.6 26.4 27.2 21.5 39.6 43.6 11.9 31.9 15.2 21.7 35.4 44.8 14.9 44.4 16.5 24.4 18.4 16.9 18.3 15.8 23.3 22.0 17.4 24.1 36. Tabel 3. Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.5 33.7 46.8 41.2 13.3 12.1 40.1 26.2 42.1 10.5 18.8 13.4 37.9 10.2 14.4 36.6 22.0 43.DI Yogyakarta dan Bali.4 13.1 19.5 45.8 33.2 15.8 (Kurus) 18.7 16.8 35.2 31.7 10.8 9.8 27.5 22.6 16.4 12.4 27.0 36.7 14.6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB >10% (UNHCR) **Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U di atas prevalensi nasional 43 .6 19.2 15.9 16.8 40.5 20.

7% 1. 10.Memperhatikan jumlah sampel balita yang bisa dianalisis sampai tingkat kabupaten/kota. Berdasarkan TB/U: stunting (gabungan antara sangat pendek dan pendek) Berdasarkan BB/TB: wasting (gabungan antara sangat kurus dan kurus) • • Sebagai gambaran.9% 60.4% 67. Sarmi Wajo Kota Mojokerto Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kampar Kota Jakarta Selatan Kota Madiun Kota Bekasi Luwu Timur 16.2% 8. 6.7% 59.2% 60. 4.6% 19. bila diambil gizi buruk saja prevalensinya terlalu kecil. 8. 7.7% 18. 9.3% 20.7% 1. 6. Seperti pada tabel 2.2% 20.0% 19. 4.4% 20.9% 21. daftar 10 kabupaten/kota dengan underweight paling banyak dan paling sedikit adalah: 1.1% 38. 6.2% 40. kemudian diambil 10 kabupaten/kota yang terbaik dan terburuk sebagai berikut: Berdasarkan BB/U. 5.7% 39.6% 59. kemungkinan tidak mewakili kabupaten/kota. 10. 2. 5. 3.6% Berdasarkan TB/U (gabungan sangat pendek + pendek).5% 8.3% 38.8% 40. 8.2% 39.0% 37. 2. 7.5 dapat dilihat jumlah kabupaten/kota dimana data balita untuk status gizi hampir sebagian besar kabupaten/kota dengan jumlah sampel Riskesdas 2007 teranalisis >80% darisampel Susenas 2007.7% 40. uraian berikut ini mengkaji urutan (rangking) dari yang terbaik sampai yang terburuk terhadap seluruh 440 kabupaten/kota.5% 21. 9. 7. Terburuk Seram Bagian Timur Nias Selatan Aceh Tenggara Simeulue Tapanuli Utara Aceh Barat Daya Sorong Selatan Timor Tengah Utara Gayo Lues Kapuas Hulu 67. 3.1% 39. 7.8% 6.3% 8.0% 6. 9. 8. 9.8% 6. 2.0% 44 .0% 21.8% 63.1% 7.4% 7. Contohnya untuk status gizi balita bisa diambil indikator: • Berdasarkan BB/U: underweight (gabungan gizi buruk + gizi kurang berdasarkan BB/U). gambarannya adalah sebagai berikut Terbaik 1. 2. 3.8% 7. 8. 6. 4. Secara kasar bisa dipilih indikator dengan prevalensi / persentase yang tidak terlalu sedikit. Terburuk Aceh Tenggara Rote Ndao Kepulauan Aru Timor Tengah Selatan Simeulue Aceh Barat Daya Mamuju Utara Tapanuli Utara Kupang Buru 48.9% 61. 4. setelah dilakukan rangking antar kabupaten/kota. 3. 10. 10. 5. Terbaik Kota Tomohon Minahasa Kota Madiun Gianyar Tabanan Bantul Badung Kota Magelang Kota Jakarta Selatan Bondowoso 4. 5.1% 66.5% 59.

7 14.0 Perempuan +2SD 18.9 13.8). Nusa Tenggara Timur mempunyai prevalensi kurus tertinggi baik pada anak laki-laki (23. 6. 9.6 21.9 -2SD 13.4% 5.6% 4.9 14. Sebagai rujukan untuk menentukan kurus.5 +2SD 19. 10.2 27. yaitu 8.7 12.5 22.3% 31.7 16.6 23.1 13.2 19.7 24.1% 33.2 19.5 18.1%). 10.5 14.9 17.5 19. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9.9 26.7 12.9% pada perempuan. 8. 45 . 4.0% 4. 6.1.9% 31.3% 30.3% 4.3% 5.5% dan perempuan 6.4%.9% 30.3 18.8 19.9 15. 5.3 15.4 16. WHO 2007 Umur (Tahun) 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Laki-laki Rerata IMT 15.5 15.2 13. 5. apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata.9% 5.8 25.7 16.9 15.9% 29.1 14.6% 3.0% 30. (Tabel 3. Umur dan Jenis Kelamin. 8. 7. 3.4 15. 4.1 16. secara nasional prevalensi kurus adalah 13.5 13. Terburuk Solok Selatan Seruyan Manggarai Tapanuli Selatan Seram Bagian Barat Asmat Buru Nagan Raya Aceh Utara Bengkalis 41.5 21.3% pada laki-laki dan 10. 3.1%) maupun pada anak perempuan (19. 9.5 13. Tabel 3. 2.6% 1. 2. 7.Berdasarkan BB/TB (gabungan sangat kurus dan kurus) gambaran 10 kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: 1.2% 5.0% 2.0 18.1% 29.9) . dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2 SD nilai rerata standar WHO 2007 (Tabel 3.0 19.8 20. Sedangkan prevalensi kurus terendah di Bali. Terbaik Minahasa Kota Tomohon Kota Sukabumi Kota Bogor Bandung Kota Salatiga Kota Magelang Magelang Cianjur Bangka 0.4 22.8% 3.5% 41.8 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut Nilai Rerata IMT. Menurut provinsi.4 14.6 24.5 23.6 -2SD 12.7 20.9% pada anak perempuan.3% pada anak laki-laki dan 6.3 15.3 Berdasarkan standar WHO di atas.6 17.3 13.1 16.5 Rerata IMT 15.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin.0 13.

1 8.9 8.2 5.4%).1 17.5 11.2 9.8 6.3 10.8 12. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 13.4 Lima provinsi dengan prevalensi kurus tertinggi pada anak laki-laki adalah NTT (23.1 23. Kalimantan Tengah (15.8 9.1 7.0 16. Maluku (18.8 10.4 13. Riau (13.5 6.8 14.4 6. NTB (17.1 4.0 8.3 6.1%).6 7.2 13.1 9.2 12.2 7.2 15.3 4.3 4.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Perempuan Kurus 12.5 7.5 13.9 11.5 3.4 9.9 13.6 8.2 7.5 10.1%).4 BB-Lebih 13.2 14.4 14.8 8.4 9.8 5.4 13.9 15.6 15.3 17.0 10.3 12.5 13.8 8.1 9.Tabel 3.5 9.8 10. Riskesdas 2007 Laki-laki Kurus 14.2 6.9%).1 12.6 7.5 6.3 9.1 11.2 11.0 11.5 8.7 10.2%).3%).9 10.8 6.7 13.0 8.8 14.2 6.6 10.4 9.4 15.0 7.7 10.9 13.3 12.6 11.1 12.7 7.2 12.6 10.5 8.0 14.3 9.9 6.7 9.7 7.8 13.1%).3 3.9 10.7 15.3 6.5 6.8 15.6 9.6 4.9 10.9 12.9 6. Banten (14.5 10.7 BB-Lebih 12.6 11. dan Kalimantan Tengah (16.9 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi. Kalimantan Barat (17.6 12.2 18.4 4.2 6.4 11.4 6. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NTT (19.0 4.4%).1 11.4 13.1 9.3 11.9%).7 11.0 12.8 Indonesia 13.7 9.4 12.4 9.7 10.2 12.7 19.5 14.8 6.0 4.4 16.6 4.8 4.0 6.8%.4 11. 46 .5 12.8 10.

5 2.5 Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 14.6 4.4 11.8 6.7 5.5 12.0 13. Sumatera Selatan (11%).5 13.1 9.7%).3 Menurut umur tampak adanya kecenderungan.3 9.3 12.0%) dan untuk anak perempuan di NAD (12.6 7.8 10. sebaliknya prevalensi BB lebih sedikit lebih tinggi di perkotaan.2 12.3 10.0 Laki-laki Kurus 13.9 13.9%). Sumatera Utara (11.0 9.4 13.1 8.0 10.10 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut Karakteristik. prevalensi kurus sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan. Lima provinsi dengan prevalensi BB-lebih pada anak laki-laki adalah Sumatera Selatan (16%). Bengkulu (14. dan Kepulauan Riau (9. Riau (15.1 7.2%). Menurut tipe daerah.5%) Tabel 3.4 10.5 1.6 3.3 13.3 8.3 8.9 6.6 11.1%).2 12.1 6.6 8.8 2.Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di Sumatera Selatan untuk anak laki-laki (16.8 5.3 13.5 13. dan Papua (12.8%).1 12.3 12.2 BB-Lebih 15.1 10. Tampak adanya kecenderungan positip antara tingkat pengeluaran per kapita dengan BB lebih baik pada laki-laki maupun perempuan. Sedangkan prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur.4 9.1 10.5 13. Papua (9. semakin bertambah umur semakin kecil prevalensi BB lebih.0 5.0 11. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NAD (12%).6 9.8 12.6 14.7 Perempuan Kurus 10.6%) maupun pada anak perempuan (3.8%).0 11. sedangkan untuk prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas. Sumatera Utara (14.9 12.2%). Tabel 3.6 11.7 10.1 7.0%).9 13.10 menggambarkan prevalensi kurus dan BB lebih menurut karakteristik responden. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun terendah ditemukan di NTT baik pada anak laki-laki (4.9 10.7 10.0 8. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 12.7 3. 47 .5 BB-Lebih 11.6 14.

45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA).12. Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese. Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional. Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 . Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan. Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut : BB (kg)/TB(m)2.13 menyajikan hasil tabulasi silang status gizi penduduk dewasa menurut IMT dengan beberapa variabel karakteristik responden.11 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masingmasing provinsi.0 Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral. Gorontalo. Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3. Maluku Utara.8% BB lebih dan 10. Prevalensi obesitas umum lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan.5 . Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) Tabel 3. Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0. Nusa Tenggara Barat.1% (8.<27. Kalimantan Barat.1 cm.3.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT).0 . Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan. ini berlaku juga untuk prevalensi BB lebih dan obese. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur.<24. Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0.3% obese).9% dan 23. 48 . Tabel 3. b. Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13.8%).0 IMT >=27. DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.1 cm. Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas: Kategori kurus Kategori normal Kategori BB lebih Kategori obese IMT < 18. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan cenderung semakin tinggi prevalensi obesitas umum.9 IMT >=25. Dari tabel ini terlihat bahwa : a.1. a.5 IMT >=18.

6 15.8 69.7 8.4 11.8 10.2 11.7 67.9 7.4 9.Tabel 3.1 11. Riskesdas 2007 Kategori IMT Provinsi Kurus NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.1 6.5 60.3 14.3 7.1 5.5 67.6 72.1 9.9 23.3 8.6 63.3 11.8 11.5 10.3 66.2 Normal 69.0 7.4 7.2 67.3 49 .7 12.9 9.8 6.2 11.5 13.8 17.0 70.7 71.2 62.7 9.0 8.6 15.5 70.0 17.7 5.5 BB-Lebih 7.1 7.0 10.7 7.9 67.2 66.5 7.7 10.2 71.9 9.8 64.1 16.9 15.1 16.8 10.7 Indonesia 14.4 64.2 7.1 15.8 66.6 7.7 11.6 17.4 13.3 65.9 10.9 9.7 64.6 15.5 9.4 14.7 Obese 8.2 8.2 11.4 66.4 6.7 60.8 11.6 9.4 12.7 11.3 8.0 14.1 8.5 14.4 11.6 9.9 19.0 10.3 70.3 7.1 6.2 14.7 10.4 7.6 4.2 67.6 14.6 12.3 13.1 68.0 68.0 18.3 66.1 8.5 8.9 64.3 15.9 12.8 7.5 7.8 68.1 9.3 72.8 69.9 7.9 63.1 6.8 9.2 7.1 9.6 16.11 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.9 12.1 73.9 11.4 7.0 9.2 10.0 12.4 7.5 12.

7 20.3 16.6 20.8 26.5 14.9 30.3 8.9 27.1 12.4 19.0 18.5 20.8 19.8 21.4 15.3 16.9 27.0 22.2 14.6 24.2 22.1 21.9 16.0 18.1 15.6 14.4 10.7 29.6 19.0 20.4 23.3 22.4 29.12 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.7 23.3 18.1 Perempuan 20.7 11.6 18.3 22.5 33.4 16.6 14.2 22.3 11.5 25.2 13.8 9.7 8.7 20.Tabel 3.1 26.3 28.9 24.1 17.0 15.5 Laki-laki dan Perempuan 16.7 14.4 Indonesia 13.4 11.6 27.7 16.4 13.5 11.8 18.0 22.2 20.9 24.9 23.1 50 .6 15.9 7.6 12.3 38.3 15.5 18.2 16.0 22.6 20.3 18.4 19.1 33.4 18. Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum (%) Provinsi Laki-laki NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.2 15.2 11.7 14.9 22.3 14.9 23.8 10.0 26.7 10.2 11.4 11.1 13.2 19.7 20.5 20.9 17.7 18.4 17.0 10.5 20.9 10.

Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18.15 menyajikan prevalensi obesitas sentral menurut provinsi.4 7.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran RT per kapita per bulan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 17. 51 . Menurut kelompok umur.8 68.14). Menurut tipe daerah tampak lebih tinggi di daerah perkotaan (23.3 9.9 Kategori IMT Normal BB-Lebih Obese 67. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurus Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe daerah 13. prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada ibu rumah tangga (Tabel 3.1 7.7%).9 7.7 16. Dari 33 provinsi. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP) Tabel 3.7 64.8 8.Tabel 3.7 7.1 13. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7.2 66.3 8.9 7.4 13.9 8.2 11.5 15.14 dan Tabel 3.3 67. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif.7 9. Demikian juga semakin meningkat tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan. prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun. Tidak tampak pola kecendrungan antara obesitas sentral menurut tingkat pendidikan.4 Perkotaan 15. Sedangkan menurut pekerjaan.2 13.3 66. 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional (Tabel 3.6%) dibandingkan daerah perdesaan (15. jenis kelamin dan karakteristik responden. 2005).4 7.5 b.9 63.8 11.9 12.8 10.8 7.13 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden.2 67.1 10.8%. semakin tinggi prevalensi obesitas sentral.8 10.5 9.3 15. selanjutnya berangsur menurun kembali.7 8.5 13.9 67.9 7.7 12. Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik.7 9.0 62.6 63.15).4 65.6 15.8 19.7 11.7%).

1 27.3 13.4 11.2 19.8 .7 14.1 15.0 19.1 27.9 15.Tabel 3. P>80) * NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 14.1 18.0 17.8 20.1 21.1 18.9 10. L =Laki-laki .2 Indonesia Catatan: *) LP= lingkar perut .14 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Provinsi. P = Perempuan 18.6 13. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral Provinsi (LP.0 15.4 19.5 31.L>90.0 27.5 23.8 16.0 23.4 18.0 19.2 15.6 19.1 19.5 22. 52 .6 25.4 17.9 23.

7 29.4 26.9 24.7 16.8 17.1 23.9 15.3 20.6 15. P = Perempuan 8.5 7.8 10.0 19.8 19.Tabel 3. P>80) * Kelompok Umur (Tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Catatan: *) LP= lingkar perut .9 15.9 23.8 7.8 19.7 23.0 16.15 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.L>90.7 15.3 18.0 36.7 15.7 20.0 17.3 25.1 18.2 Karakteristik Responden 53 . L =Laki-laki . Riskesdas 2007 Obesitas Sentral (LP.0 19.

2 24.c.23 3.16 menggambarkan prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur.2 Standar Deviasi (SD) 2.78 2.41 54 .57 2.98 3.16. yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).18 menyajikan gambaran masalah gizi pada WUS yang diukur dengan LILA.35 3.80 2.2 27. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat.24 3.10 3.53 2.6 25.4 26.31 3. Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD. dan Tabel 3. Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.3 27.62 2.0 27.6 26.17 3.72 2. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Umur (Tahun 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rerata (cm) 23. Tabel 3.4 24.4 25.32 3.4 27.17. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut provinsi dan karakteristik responden.14 3.2 27.0 27.1 26. Tabel 3.2 27.9 25.3 26.7 24.37 3.7 26.4 27.16.29 3.17 3.98 2.62 2. Tabel 3.94 2.60 2.33 3.37 3.9 27.6 24.04 3.1 25.92 2.8 25.22 3.8 24.32 3.1 27. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) Tabel 3.0 25.2 27.16 3.3 27.8 26.9 26.35 3.

6 10.6 12.9 10.4 9. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Risiko KEK* (%) 12.1 19.2 10.6 55 .2 20. Jawa Timur.5 9.0 12.5 14.8 12.6 12. Maluku.6%) yaitu DKI Jakarta.17 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi.9 8.4 12.8 10. Sulawesi Tenggara.4 24.2 5. Tabel 3. Tabel 3.2 14.6 23.0 11. Kalimantan Selatan.6 8.3 7.1 8. DI Yogyakarta. Papua Barat.9 12.Untuk menilai prevalensi risiko KEK dilakukan dengan cara menghitung LILA lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun.1 9.8 10.17 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas angka nasional (13.3 16.5 15.2 15. Jawa Tengah. NTT.0 17.9 12. dan Papua.1 Indonesia 13.1 11.

1 15.0 14.8 12. risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT).5 12. Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT dengan konsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.8 13. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut.1 14.5 KEK 3. menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah.6 13. prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4 Kuintil – 5 16. Tabel 3.4 12.4 13. Secara nasional. Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK.5 13.1.18 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita. b.18.4 11. Berdasarkan tingkat pendidikan. Sedangkan 56 .4 Konsumsi Energi dan Protein Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu. c.Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi risiko KEK dengan karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 3. gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). adalah: a.

Lampung. Sulawesi Tengah. Bali. Papua Barat. Bengkulu. Gorontalo. Kalimantan Timur.0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58. Sulawesi Tengah. Gorontalo. Banten. Maluku Utara. Maluku. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Maluku Utara.7 kkal) dan provinsi dengan angka konsumsi energi tertinggi adalah provinsi Jawa Timur (2175. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Selatan.8 gram) dan provinsi dengan rerata konsumsi protein tertinggi adalah Kepulauan Riau (69. Sulawesi Utara. Sulawesi Selatan. Sumatera Barat.5 gram). Provinsi dengan rerata konsumsi energi di atas rerata nasional sebanyak 11 provinsi yaitu: NAD. Kalimantan Barat. Data pada Tabel 3. DI Yogyakarta. Bangka Belitung.19 disajikan angka rerata konsumsi energi dan protein per kapita per hari.21 menunjukkan bahwa persentase RT di perkotaan dengan konsumsi “energi rendah” lebih tinggi dari RT di perdesaan.20 memperlihatkan persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah” yang berarti di bawah angka rerata nasional (1735. Kep.0 gram). Jawa Timur. Lampung.5 gram untuk protein. semakin rendah persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah”. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59. Sedangkan provinsi dengan rerata konsumsi protein di atas rerata nasional sebanyak 19 provinsi yaitu: NAD. dan pada Tabel 3. Bali. dan Papua. Sumatera Utara.5 Kkal dan 55. Tabel 3. Jawa Tengah. Sumatera Selatan. Persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “ protein rendah” menurut tingkat pengeluaran RT per kapita menunjukkan pola yang spesifik. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Jambi. Jawa Tengah. Pada tabel 3. Jawa Barat. DI Yogyakarta. Sumatera Utara. Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi “energi rendah” di atas angka nasional (59. dan Sulawesi Barat.5 %. 57 . Provinsi dengan rerata konsumsi protein terendah adalah Bengkulu (45. Banten.20 dan Tabel 3. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita. merupakan data prevalensi RT dengan konsumsi ”energi rendah” dan konsumsi ”protein rendah”. Maluku. Riau.21. Kalimantan Tengah. Jawa Timur. NTB. Kalimantan Tengah. Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi konsumsi “protein rendah” di atas angka prevalensi nasional (58. dan Papua. dan Papua Barat. NTT. Riau. Sumatera Barat.19 menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735. DKI Jakarta. Bangka Belitung.5 kkal). Kalimantan Barat. Maluku Utara. Kalimantan Timur. Jambi.0 %) yaitu Provinsi Riau. Provinsi dengan angka konsumsi energi terendah adalah provinsi Sulawesi Barat (1384. Tabel 3. NTT. Prevalensi RT yang mengkonsumsi energi dan protein di atas rerata konsumsi energi dan protein tidak disajikan. NTB. Sulawesi Barat. Kalimantan Selatan.RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT dengan konsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. sebaliknya persentase RT di perdesaan dengan konsumsi “protein rendah” lebih tinggi dari RT di perkotaan. Sulawesi Utara.5 Kkal untuk energi dan 55.5%) yaitu Provinsi Bengkulu.

3 1764.5 748.2 28.4 568.9 1592.4 56.9 923.9 1534.1 28.8 22.7 53.5 24.1 29.8 506.6 51.0 68.5 58.1 1865.3 615.3 65.7 1602.1 641.1 618.1 739.5 26.0 460.6 59.7 1703.7 2182.1 28.4 1385.2 586.1 30.0 741.6 1823.6 807.3 609.7 791.1 28.6 69.7 55.3 26.3 27.2 1504.4 23.5 485.7 24.6 1594.6 24.7 705.3 1683.8 709.5 1644.5 922.6 1806.6 45.6 772.3 21.3 608.6 1803.2 618.5 28.3 45.8 56.2 60.8 28.6 744.6 53.4 58 .1 28.7 66.9 678.5 52.7 1692.6 1828.3 602.3 24.7 54.3 1371.3 57.4 51.5 24. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi Rerata SD 1805.9 25.8 21.Tabel 3.7 32.4 62.7 1884.6 56.7 1532.2 610.1 53.0 493.2 1362.6 615.4 1451.8 51.9 30.8 781.7 56.8 677.0 60.6 27.3 1623.5 1706.8 25.4 1371.3 585.5 27.6 1375.3 47.5 18.3 24.2 26.1 1752.8 1672.3 1861.5 Indonesia 1735.5 691.7 1682.9 24.6 653.0 20.2 57.5 53.1 26.5 28.7 Protein Rerata SD 69.1 55.2 653.0 58.9 47.7 1381.0 59.5 1636.3 50.0 596.19 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi.

7 63.6 49.9 60.7 38.0 57.1 65.5 53.1 35.8 77.3 53.6 67.3 57.20 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional.4 80.6 61.Tabel 3.1 65.9 48.8 69.8 69.5 56.2 64.2 62.4 80.4 81.4 82.9 Protein 35.4 50.2 51.8 57.9 66.7 52.4 53.5 39.9 72.6 64.3 59.2 58.9 Indonesia 59.0 57.5 kkal) dan Protein (55.1 75.1 74.9 58.9 63.8 72.8 54.9 55.6 62.6 55.9 63.5 71.5 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.9 56. Riskesdas 2007 Persentase RT Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi 51.7 53.6 61.5 51.0 59.5 76.5 gram) dari data Riskesdas 2007 59 .3 61.8 50.1 61.8 59.4 60.0 51.0 58.1 37.4 66.3 78.6 42.8 59.

dikumpulkan urin dari anak usia 6-12 tahun untuk dilakukan pengecekan kadar iodium dalam urin. Riskesdas 2007.1 66.7 48.0 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.3 Kuintil – 5 53.4 Kuintil – 3 59.5 gram) dari data Riskesdas 2007 3. dan hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam melalui titrasi serta hasil pemeriksaan urin. Tabel 3.4 Protein Kuintil – 1 64. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga menggunakan garam cukup iodium. mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda.0 59.5 Konsumsi Garam Beriodium Informasi mengenai konsumsi garam beriodium pada Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium.9 62. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua.8 Kuintil – 2 60. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga. Pada penulisan laporan ini yang disajikan adalah hasil tes cepat. Karakteristik Responden Persentase RT Energi Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita 61. Secara nasional.3% RT Indonesia mempunyai garam cukup iodium. dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna. Disamping itu. Ada enam provinsi yang telah mencapai target garam beriodium untuk semua yaitu Sumatera Barat. Bersamaan dengan sampel garam rumah tangga tersebut.5 kkal) dan Protein (55. baru sebanyak 62. Dari hasil tes cepat yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3).1 60. Gorontalo dan Papua Barat.3 56. Jambi.Tabel 3.4 57.4 55. Bangka Belitung.22 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut provinsi. 60 . Sumatera Selatan.1. secara nasional juga dikumpulkan sampel garam dari 30 kabupaten/kota yang dkonsumsi oleh rumah tangga untuk dilakukan pengecekan kadar iodiumnya dengan metode titrasi.3 Kuintil – 4 57.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita .

1 34.4 45.8 94.2 83.8 98.0 84.3 82.1 68. Tabel 3.5 90.1 83.2 62.0 43.1 27.0 90.2 45.3 61.Tabel 3.22 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi. persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Berdasarkan tempat tinggal.9 31.7 58.3 61 .0 69.0 93.7 76.7 76.7 45.9 90.1 46.6 82. Riskesdas 2007 Rumah-tangga Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tanggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua mempunyai garam cukup iodium (%) 47.23 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (≥30 ppm) menurut menurut karakteristik responden.3 58.7 89.2 Indonesia 62.8 89.4 88.9 86.3 89.

atau 75. persentase yang mempunyai garam cukup iodium pada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS/TNI/Polri/BUMN dan swasta lebih tinggi dibandingkan yang pekerjaannya tidak tetap.7 67. Gambaran nasional yang diwakili 30 kabuapten/kota dapat dilihat bahwa kandungan iodium dalam garam yang dikonsumsi RT hanya 24.23 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden.9 56.2 75. Riskesdas 2007 Rumah tangga Karakteristik responden Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang/Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 mempunyai garam cukup iodium (%) 50. Tabel 3.Ditinjau dari kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita.5% garam yang dikonsumsi rumah tangga kandungan iodiumnya tidak memenuhi SNI. Berdasarkan pekerjaan.7 79.7 59.3 56.24.8 64.1 56.5 70. semakin tinggi kuintil semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium. semakin tinggi pendidikan kepala keluarga semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium.9 59.0 Dari hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga dengan metode titrasi dapat dilihat pada tabel 3.8 75.5 68.1 70.8 60.4 56. Demikian pula menurut pendidikan.3 61. 62 .1 80.5% yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI): 30-80 ppm KIO3.

2 76.9 57.0 81.8 80.0 72.5 Dari tabel 3.9 75. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Persentase RT mempunyai Garam Iodium < 30 ppm Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 77.9% anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota dengan ekskresi iodium dalam urine (EIU) atau kadar iodium < 100 µg/L.1 37.3 72. 63 .7 90. Kadar iodium dalam urin merupakan petunjuk yang baik dari asupan (konsumsi) iodium terkini. sebanyak 12.0 63.5 75.7 59.4 41.Tabel 3.7 96.0 75.5 84. Dari 30 kabupaten/kota.0 97.3 66.6 67.0 86.24 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota.7 69.6 68.2 57.35 dapat dilihat. tidak ada satupun dengan persentase kadar iodium urin < 100 µg/L yang mencapai 50%. Jika lebih 50% anak 6-12 tahun mempunyai kadar iodium urin < 100 µg/L maka pada populasi tersebut kemungkinan besar ada masalah kekurangan iodium.2 56.7 92.8 83.2 69.8 50.3 84.3 100.

5 20.1 8. Bondowoso. Nilai median antara 100-199 µg/L menunjukkan asupan iodium di populasi tersebut telah dapat memenuhi kecukupan yang dianjurkan sedangkan nilai median diatas 300 µg/L masuk kategori asupan yang berlebih.4 11.2 15.9 Tabel 3.2 20.1 4.5 16. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA Persentase Anak dengan EIU < 100 µg/L 12.4 17.3 22. Konawe Selatan dan Kota Gorontalo. tanah dan sumber air minumnya mengandung tinggi iodium.7 14.9 3.1 10.9 5.8 13.6 13. Dari 30 kabupaten/kota.3 10.0 34.9 12.9 23.4 7. ada 6 kabupaten/kota dengan nilai median kadar iodium urin antara 100-199 µg/L yaitu Bantul. Klungkung.8 23.Tabel 3.26 menunjukkan bahwa nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota adalah 224 µg/L atau masuk kategori ‘diatas angka kecukupan yang dianjurkan’.9 12.4 10.25 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.0 10. nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan diatas 300 µg/L.7 8.3 8. Jeneponto. Catatan khusus untuk Grobogan.4 13. 64 .7 9.4 6. Sementara itu.5 5.

26 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota.Tabel 3. Riskesdas 2007 NILAI MEDIAN EIU KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA (µg/L) 225 230 221 229 237 290 229 365 244 304 288 192 208 214 164 246 236 186 157 209 296 270 257 219 221 181 213 187 199 211 224 65 .

imunisasi polio pada bayi baru lahir.30). anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. ibu lupa berapa kali sudah diimunisasi.8%). untuk imunisasi BCG yang terendah di Sulawesi Barat (73. Tabel 3. polio tiga kali (71. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Bila dilihat masingmasing imunisasi menurut provinsi. Dalam Riskesdas. campak (81. Cakupan imunisasi yang lebih bervariasi antar provinsi terlihat pada imunisasi polio tiga kali yaitu terendah di Sulawesi Barat (47. satu kali imunisasi campak dan tiga kali imunisasi Hepatitis B (HB). Tabel 3. Program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Tidak semua balita dapat diketahui status imunisasi (missing). Dari tabel 3. DPT tiga kali (67. tidak dapat menunjukkan KMS/ Buku KIA karena hilang atau tidak disimpan oleh ibu. dan Catatan dalam Buku KIA.27 dapat dilihat secara keseluruhan.8%). cakupan imunisasi menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86.2 Kesehatan Ibu dan Anak 3. tiga kali HB dan satu kali imunisasi campak.2. dan campak menurut provinsi dan karakteristik responden. tiga kali HB. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. imunisasi DPT/HB pada bayi umur dua.7%) dan terendah hepatitis B (62. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi.27 dan Tabel 3. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan.1%).1 Status Imunisasi Departemen Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum. tiga kali polio. tiga kali DPT. tiga. catatan dalam Buku KIA tidak lengkap/tidak terisi. catatan dalam KMS tidak lengkap/tidak terisi. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: • • • Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui.30 adalah cakupan imunisasi lengkap pada anak. subyek yang ditanya tentang imunisasi bukan ibu balita. 66 . Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan. yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak. atau ketidakakuratan pewawancara saat proses wawancara dan pencatatan. empat kali imunisasi polio.9%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan.6%). cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan.3.2%) dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100.9%) dan tertinggi juga di DI Yogyakarta (89.0%).9%). dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu.29 dan 3. ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi. tiga kali polio. tiga kali imunisasi DPT.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi yaitu BCG. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. Cakupan imunisasi pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada empat tabel (Tabel 3. tiga kali DPT. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. DPT tiga kali terendah juga di Sulawesi Barat (47.0%).27 s/d Tabel 3.

8 79.5 85.0 64.8 58.1 90.3 59.6 61.8 59.8 66.8 95.5 85.3 58.8 77.3 93.9 55.0 59.3 89.1 DPT 3 58.3 68.7 94.7 85.7 56.1 88.7 84.7 100.3 82.7 49.8 81.7 93.3 71.7 69.6 71.7 73.0 46.7 62.6 96.1 83.9 71.2 67.3 77.1 77.0 83.5 54.6 42.3 67.1 78.4 67.5 83.4 48.7 Indonesia 86.6 77.7 78.1 81.5 Campak 69.2 63.0 68.5 80.4 70.2 52.9 64.9 84.3 47.1 74.2 70.1 73.9 62.5 71. PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga 67 .8 79.3 96.5 72.6 66.0 89.1 68.2 83.1 60.7 67.0 88.8 62.8 75.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Polio 3 63.27 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.9 85.1 89.5 66.8 67.6 74.3 87.5 95.3 72.9 68.5 84.0 69.3 77.7 85. dan 1997.2 88.9 79.3 62.6 76.6 81.4 93.Tabel 3.3 67.1 73.1 88.2 73.9 65.3 83.9 59.9 72.6 Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia.4 84.0 77. Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995.7 77.6 51.4 65.9 57.9 85. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 77.4 89.3 60.0 64.1 88.8 70.8 51.2 81.4 76.8 62.4 78.3 71.0 67.9 89.7 90.8 79.7 56.4 83.2 64. PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah.4 65.9 47.7 64.7 79. Pada tahun 2002.2 75.3 83.5 98.1 94.8 68.7 64. WHO membuat rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).3 95.7 74.8 93.4 71.4 50.5 66.8 85.0 77.3 67.3 83.4 51. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flacid paralysis (AFP) pada tahun 2005.0 90.6 89.5 HB 3 53.4 87.3 81.5 54.2 74.5 96.7 64.1 99.3 75.8 65.1 78. 1996.3 64.8 96.1 85.

Pada tahun 2006 PIN diulang kembali dua kali/ dosis polio saja yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006. Perbedaan cakupan imunisasi anak menurut pendidikan antara kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga dengan pendidikan perguruan tinggi antara 17. masih terdapat 8. Cakupan imunisasi lengkap yaitu semua jenis imunisasi yang sudah didapatkan anak umur 12-23 bulan dapat dilihat pada Tabel 3. Cakupan untuk tiap jenis imunisasi selalu lebih tinggi antara 7.4%. tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan tiap jenis imunisasi. Tetapi WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio. terendah di Banten (62.2%. dan November. Cakupan imunisasi menurut jenis pekerjaan terlihat bahwa untuk tiap jenis imunisasi. dan tahun 2006 mencakup 100% target DPT/HB.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi menurut karakteristik anak. Terdapat variasi yang lebar antar provinsi. hampir sama dengan yang tidak lengkap yaitu sebesar 45. Tabel 3. cakupan imunisasi lengkap terendah di Sulawesi Barat (17.5% anak 12-23 bulan yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali. Oktober. walaupun masih terdapat 35.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (0.1% anak 12-23 bulan di perdesaan yang belum diimunisasi sama sekali. cakupan tertinggi bila pekerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI dan cakupan terendah pada kepala keluarga dengan pekerjaan petani/nelayan/buruh.7 – 12.2%).2%).3%) dan masih terdapat 11. Imunisasi hepatitis B awalnya diberikan terpisah dari DPT. Tetapi sejak tahun 2004 hepatitis B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT/HB yang didistribusikan untuk 20% target.27) Tabel 3. Bila cakupan imunisasi campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap. Dengan adanya PIN tersebut. yaitu jenis imunisasi yang diprogramkan terakhir. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan. keluarga dan daerah. Walaupun demikian. Perbedaan cakupan imunisasi anak tingkat pengeluaran per kapita terendah (kuintil 1) dan tertinggi (kuintil 5) antara 8. terendah di Sulawesi Barat (42.2 – 13.0%) yaitu tidak ada anak umur 12-23 bulan yang belum diimunisasi. tetapi terdapat perbedaan menurut daerah.4%) dan tertinggi di Bali (85. bila dilihat menurut provinsi masih terdapat 12 provinsi yang belum mencapai UCI (Tabel 3. tetapi pelaksanaan di daerah dapat berbeda tergantung dari stok vaksin DPT dan HB yang masih terpisah di tiap daerah.0%) dibanding di perdesaan (41.4% yang imunisasinya tidak lengkap. Tidak terdapat perbedaan cakupan tiap jenis imunisasi menurut jenis kelamin. secara keseluruhan Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI).28 juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan. 68 . Persentase tertinggi anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali adalah di Maluku (21.1 – 25.7% di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan. Untuk imunisasi campak variasi cakupan juga terjadi menurut provinsi. semakin tinggi cakupan tiap jenis imunisasi. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi (54.kali/ dosis polio saja pada bulan September. tahun 2005 untuk 50% target.9%). Selain perbedaan yang lebar untuk cakupan imunisasi lengkap antar provinsi.2%. frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya. Cakupan imunisasi hepatitis B. Tabel 3. Terlihat bahwa secara keseluruhan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46.3%.5%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (99.3%) dan tertinggi di Bali (73.30 menunjukkan cakupan imunisasi lengkap menurut karakteristik anak. orangtua dan daerah. Walaupun vaksin DPT/HB sudah didistribusikan untuk seluruh target.29.

3 62.9 69.0 78.6 91.1 79.2 76. makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.7 58.2 65.1 68.2 89.3 DPT 3 67.7 63.2 82.6% dan kuintil tertinggi 53.4 83.2 61.7 91.1 63. Tingkat cakupan imunisasi lengkap dengan kepala keluarga berpendidikan terendah 35.3 68.5 Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Polio 3 71.5 62.7 67.6 83.1 78.5 75. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 87.5 70.5 53.0 74.7 59.0 Campak 82.6 93. Demikian juga menurut tingkat pengeluaran per kapita.3 88.2 62.7 76.8 75.0 87.6 77.9%) dan terendah pada kelompok petani/nelayan/buruh (41.0 70.0 57.7 69.0 59. cakupan imunisasi lengkap terdapat pada kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (57.9 78.6 74.5 71.1 78.0 95.1 54.6 68.5 66.4 83.7 82.8 85.9 63.6 62.3 75.1 71.Tabel 3.1 65.7 66. 69 .1 81.3 84. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua.1 71.8 72.9 57.9 81.8 71.4 92.0 66.2 86.2 83.6 79.7 91.4 71.1 80.3 86.9 77.7 57.0 85.4 95.6 71.5%.28 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.9 58.1 84. Tingkat cakupan imunisasi lengkap pada kuintil terendah 41.3 50. menunjukkan kecenderungan yang sama.7 86.0 81.5 92.9 69.9 83.5 HB 3 63.4 67.8 Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan imunisasi lengkap.6 74.8 88. semakin sedikit anak yang tidak di imunisasi sama sekali.5 83. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.6 79.9 66.3 86.4%. demikian juga makin tinggi pengeluaran per kapita.8 64.8 73.1% dan pendidikan tertinggi sebesar 60.3 71.9 62. Menurut pekerjaan kepala keluarga.1%).7 87.1 78.0 90.1 72.9 64.5 78.

4 44.8 7.3 35.7 42.8 53.5 2. Campak.3 5.3 8. 70 .1 13.4 6.29 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi. dari kalangan petani/nelayan/buruh.6 7.0 53.9 52.Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali terbanyak pada kelompok anak yang orangtuanya tidak sekolah.3 64.4 38.5 Imunisasi lengkap: BCG.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tidak lengkap 52.3 9.1 31.7 44.2 44.0 51.1 7.7 41. Polio minimal 3 kali. Hepatitis B minimal 3 kali.9 6.7 32.0 43.6 2.6 17.3 5.1 13.0 4.5 11.2 8.2 45.0 62.6 39.1 34.0 47.1 50.0 43.0 Tidak sama sekali 13.6 73.8 1.6 24.3 32.3 1.3 0.3 40.3 45.9 57.5 41.8 55.7 30.7 60. dan pada kuintil terendah.4 64.3 21.4 45.2 52.9 47.5 5.4 48.6 54.1 48. Tabel 3.5 65.5 1.4 55.5 11.3 11. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap 35.0 45.4 47.7 9.2 14.9 38.6 46. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.0 58.8 42.4 46.0 7.0 38.2 17.0 41.4 44.3 34.7 46.9 15.9 37.6 Indonesia Catatan: 46.4 35. di daerah perdesaan.3 49.3 7.7 36.4 35.0 15.9 47.2 32.2 48.8 57.3 17.9 5.6 43.6 59. DPT minimal 3 kali.

ditimbang 1-3 kali yang berarti “penimbangan tidak teratur”. DPT minimal 3 kali. polindes.7 Tamat SD 41.Tabel 3.1 Tamat SMA 54. Data pemantauan pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumahtangga yang mengetahui.5 41.7 45. 3.2 8. Dalam Riskesdas 2007.1 47.0 41. dan 4-6 kali yang diartikan sebagai “penimbangan teratur”.5 4. penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan.1 46.1 11.9 39.9 Tidak tamat SD 39.0 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 41.5 Wiraswasta 49.7 PNS/POLRI/TNI 57.6 Lainnya 47.4 36. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap Tidak lengkap Tidak sama sekali Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki 46. Hepatitis B minimal 3 kali.9 9.0 41.3 11.2 7.7 7.4 8.7 44. puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain.2.2 14.4 46.4 44.3 44.0 15.3 45.7 2.7 11.2 Ibu rumah tangga 51.6 2.3 44.3 47.1 Pendidikan KK Tidak sekolah 35.0 Tamat PT 60.9 Pekerjaan KK Tidak bekerja 44.1 Kuintil 5 53. Polio minimal 3 kali.1 Petani/nelayan/buruh 41. Campak. ditanyakan frekuensi penimbangan dalam 6 bulan terakhir yang dikelompokkan menjadi “tidak pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir”.6 45.3 Kuintil 2 43.5 Perdesaan 41.6 8.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya hambatan pertumbuhan (growth faltering) secara dini. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.1 49.30 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.1 4.5 Catatan: Imunisasi lengkap: BCG.9 Tipe daerah Perkotaan 54.6 47.1 49.0 5.3 6. 71 .2 Perempuan 45.8 7.5 6.0 9.7 46.9 Tamat SMP 46.0 48. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti posyandu.1 Kuintil 4 49.9 4. Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut.7 Kuintil 3 47.

7 42.1 14.5 62.4%.4 30.Tabel 3.8 39.4 22.6 30.7 32.2 57.9 16.3 28.6 56.0 27.0 20.0 5.0 33.6 14.0 78.8 39.8 29.7 15.1 46.2 30.8 38.5%).3 27.1 35.3 22.9 29.31 terlihat bahwa secara keseluruhan dalam enam bulan terakhir balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).3 29.5 34.4 36.8 56.7 30.7 33.6 31. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan > 4 kali 47.5%.5 21.0 28. rumah tangga dan daerah dapat dilihat pada tabel 3.5 37.0 21.2 18.32.8 39.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (78.9 34.1 26.0 34.8 37.4 29.2 33.7 17.4 23.1 25.6 38.7 28.4 21.1 Indonesia 45.4 24.0 34.4 29.6 35.5 31.5 26.2 38.9 36.9 31. Cakupan penimbangan rutin bervariasi menurut provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (21. 72 .3 8.3 26.9 36.2 69. 29.8 45.1 15.5 28.4 46.8 37.1 52.3 29.1 39. dan 25.7 26.6 16.4 20.9 34. Cakupan penimbangan balita menurut karakteristik anak.9 34.9 40.5 57.4 38.7 36.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1-3 kali 35.0 13.0 60.7 58.9 23.9 28.6 57.9 35.6 32.1%. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut 45.3 Tidak pernah 17.5 39.9 10.0 45.5 42.5 Pada Tabel 3.6 33.0 37.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.9 8.

5 27.0 45. Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula persentase anak yang tidak pernah ditimbang.5 44.1 31.7 48.1 48.5%) dibanding di daerah perdesaan (44.32 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.7 46.7 25.1%).1 42.7 23.2 44.1 29.6 46. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan (kali) Tidak pernah 8.1 39.4 26.5 26.6 45.Tabel 3.3 25. tetapi sedikit berbeda menurut tipe daerah dengan cakupan penimbangan empat kali atau lebih dalam enam bulan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan (47.0 45.5 39.9 44. 73 .0 45.8 45.2 33.5 28.1 46.9 32.7 16.4 28.8 47.3 30.1 31.6 54.2 26.8 36.3 > 4 kali 67.3 27.0 29. Cakupan penimbangan balita tidak berbeda antar jenis kelamin.1 21.8 28.9 48.2 30.6 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1-3 kali 23.3 44.8 23.9 27.2 44.7 22.9 17.5 26. Perbedaan hanya 6.8 25.6% untuk tingkat pengeluaran per kapita.5 44.2 27.7 28.7 33.3 29.3 28.1 18.7 24.5 19.8 32.7% untuk tingkat pendidikan dan 1.7 29. makin rendah cakupan penimbangan rutin (≥ 4 kali).5 45.8 29.6 22.1 23.1 45.9 25.1 Terlihat ada kecenderungan makin tinggi umur anak.6 28.9 29.7 23.9 28.6 22. Cakupan penimbangan rutin (>4 kali dalam 6 bulan) tidak banyak berbeda menurut tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.7 31.0 26.4 52.3 31.

Papua (22.4 8.8 6.0 3.8 2.2 22.8 78.8 3.4 4.1 11.1 7.1 1.1 3.3 1.2 2.9 1.7 1.0 4. 74 .4 2.2 2.9 66.5 16.3 7.6 74.8 0.7 6.3 15.9 14.1 9.5 10.5 7.7 3.2 3.7 9.9 8.6 95.33 terlihat bahwa posyandu secara keseluruhan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78.3 47.2 81.9 75.0 67.9 68.7 3.9 61.0 6.4 1.1 12.6 2.2%) dan terendah di Kepulauan Riau (47.9 1.4 5.1 1.4 7.1 73.5 4.9 7.2 4.2 2.9 2.1 1.6 83.4 16.1 1.Pada tabel 3.1 1.2 2.4 3.3 89.0 86.8 3.3 65.0 6.2 87.1 86.3%.9 67.7 10.9 81.1 4.5 4. Tabel 3.0 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Puskesmas 11.6 2.1 1.0 65.2 6.0 1.1 1.5 3.9 85.3 15.6 92.6 82.2 1.1 6.3 1.6 14.9 11.6 2.3 6.6 2.8 6.1 59.6 6.5 2.9%).4 2.8 78.33 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.5 4.2 2.1 2.8 Lainnya 5.2 8.2 1.0 5.9 11.3 60.0 5.3 2. dan Sulawesi Selatan (18.3 10. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 2.1 2.6 Polindes 4.5 1.2 Posyandu 76.0 12.1 2.9 18.0 13.7 2.7 4.1 78.3 8.3 3.7 2.1 77.3 3.4 5.8 5.7 72.2 2.8 1.9 24.8 3.3 0.0 0.6 4.3%).0 2.6 85. Tempat penimbangan selain posyandu yang cukup tinggi antara lain Puskesmas seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah (24.7 4.2 2.0 84.1 9.5 11.0 5.6 2.0 12.1 1.5 12.8 0.4 34.9 3.8 91.9 14.8 3.6%).4 6.0 Posyandu sebagai sarana penimbangan balita paling banyak terdapat di Maluku Utara (95.4 5.1 6.8 0.5%).4 2.3 5.2 6.4 13.2 5.2 74.4 5.5 Indonesia 3.

1 2.1 3.8 2.6 2.7 3. rumah tangga.0 2.8 3.2 80.9 83.3 7.3 3.8 68.3 2.5 78.3 77. Pada tabel tersebut terlihat bahwa untuk setiap jenis tempat penimbangan balita tidak ada pola kecenderungan baik menurut umur maupun jenis kelamin. Namun sebaliknya persentase penimbangan di polindes dan posyandu lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.5 79.4 Menurut tipe daerah persentase penimbangan balita di RS dan Puskesmas lebih banyak di perkotaan dari pada di perdesaan.1 71.7 8.6 1.9 62.7 4.0 2.7 8.1 84.7 80.7 4.7 5.2 6.8 5.0 1.1 8.2 79.7 70. Tabel 3.5 81.1 4.34 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.3 7.8 5.3 Lainnya 6.8 78.3 74.6 78.4 9.9 3.6 78.8 7.2 12.7 9.5 7.2 4.6 9.0 7.9 3.3 3.6 4.0 3. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan persentase penimbangan balita di posyandu.4 4.5 8.6 3.3 2.1 3.8 8.6 3.4 3.9 8.9 2.0 9.5 13.9 8.1 2.0 2.6 9.3 7.1 9.7 3.1 5.3 8.9 10.2 3.9 10.3 2.3 7.6 3.6 2.4 72.7 2.7 3.1 2.1 10.3 80.5 9.0 2.4 76.8 2.6 2.1 5.3 3.4 2.3 83.2 83. Persentase penimbangan di posyandu pada balita dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai 75 .9 2. dan tipe daerah.2 17.4 2.5 Posyandu 78.0 8.9 Polindes 2.5 77. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 3.4 3.0 4.5 2.5 8.0 2.6 5.0 2.5 6.9 7.2 2.6 12.1 1.0 7.2 5.3 6.1 8.8 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Puskesmas 8.8 7.Tabel 3.3 8.6 83.34 menunjukkan tempat penimbangan balita menurut karakteristik anak.0 8.7 83.8 2.

8 24.2 29.8 3 39.4 25.0 43.0 42. Kepemilikan KMS dan dapat menunjukkan bervarisasi menurut provinsi. sedangkan 41.8 26.3 10.8 18.0 44. Riskesdas 2007 Kepemilikan KMS* 1 18.0 22.9 33.2 31. Tabel 3.6 31.1 37.1 39.5 49.8 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2 41.2 34.2 32.3 41.4 21.9 12.3 29. di mana secara keseluruhan hanya 23.9%) dan tertinggi di DKI Jakarta (39.6 22.6 27.35 menunjukkan kepemilikan KMS menurut provinsi.9 25.2 49.1 47.0% tidak mempunyai KMS.0 * Catatan : 1 = Memiliki KMS dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki KMS.4 52.1 43.8 44.4 48.4 34.3% balita yang mempunyai KMS dan dapat menunjukkan.8 39.6 19.4 25. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki KMS 76 .9 45.5 Indonesia 23.8 18.3 43.35 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.7% mengatakan punya KMS tetapi tidak dapat menunjukkan.2 22.4 31.8 25.5 18.1 51.6 43.6 23.4 36.9 49.4 22.petani/nelayan/buruh atau ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada kepala keluarga dengan jenis pekerjaan yang lain.9 22.6 26. Tabel 3.6 49.9 37.7 27.2 31.2 22.0 45.2 38.8 27.8 38.2 26.5 47.9 45.9 17. Sisanya sebesar 35.9 44.8 23.6 45.0 55.8 35.6 46.8 32.3 24.5 38.2%).6 41.6 16.5 28.6 37.7 55.9 54.4 24.7 45.0 22.3 32.0 34.2 27.9 16.2 20.1 18.9 22.8 32.9 23.6 28.6 22.4 41.2 41. terendah di Sulawesi Barat (10.8 34.5 38.7 35.2 32.

4 46.9 22.5 Ibu rumah tangga 26.7 38.4 43.6 Tidak tamat SD 20.1 30.0 6 – 11 42.6 35.7%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (20.9 Tamat SMA 25.1 Perempuan 23.9 34. dan hanya 12.0 40.9 Perdesaan 20.1 38.6 28.0 39.3 48 – 59 12.0 Jenis kelamin Laki-laki 23.4 43.9 36 – 47 14.3 48.0 31.3 48. 77 .0 Kuintil 2 22.6 Kuintil 4 25.4 PNS/POLRI/TNI 27.4 Petani/nelayan/buruh 20.9 34.3 45. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut jenis kelamin. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan KMS* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 36.5 40.7 39.3 39.3 Pendidikan KK Tidak sekolah 18.4 48.3 Kuintil 5 25.8 39.4 29.9 24 – 35 20.5 31.36 menunjukkan karakteristik responden. di perkotaan persentase kepemilikan KMS (28.9 35.4 Tamat SMP 23.7 – 42.3 12 – 23 30.4 49.6%).0 Tipe daerah Perkotaan 28.9 49.0 43.5 36.9 Lainnya 24.7 43.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 21.8 Pekerjaan KK Tidak bekerja 25. Menurut kelompok umur persentase kepemilikan KMS lebih tinggi pada anak umur di bawah 12 bulan (36.3 Kuintil 3 23.5 34.6 23.5 27. Tabel 3.7 38.5 * Catatan : 1 = Punya KMS dan dapat menunjukkan 2 = Punya KMS.3 37.4 40.0 40.4 43.7 32.8 33.36 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya KMS Sedangkan menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dengan kepemilikan KMS.4 41. Menurut tipe daerah.3 38.4% pada anak 48-59 bulan.8 41.0 Tamat PT 28.6 27.1 Tamat SD 22.1 45.8 35.3 40.0%).2 41.Tabel 3.8 35.9 Wiraswasta 25.6 38.2 33.3 39.3 31.7 19.

1 55.6 4.7 34.5 30.5 14.2 17.3 13.7 37.5 22.8 5.1 43.8 9. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut pekerjaan kepala keluarga.3 24.8 9.9 72.3 4.Perbedaan kepemilikan KMS menurut tingkat pendidikan sebesar 10.8 3.0 78.5 25.1%.9 8.8 88.1 25.0 9.37 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.1 25.3 17.1 32.5 57.5 8.2 29.8 2 26.6 17.3 62.3 82. Pada Tabel 3.2 33. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kepemilikan buku KIA* 1 11.7 7.6 57.9 61.6 * Catatan : 1 = Memiliki Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki Buku KIA.6 7.1% dan tingkat pengeluaran per kapita sebesar 4.0 24.4 21.8 25.8 46.4 73.7 22.6 76.7 7.2 7.0 36.0 85.2 40.1 44.1 82.0 32.2 27.9 34.8 36.7 35.5 68.6 50. Tabel 3.1 63.2 74.7 16.0%.6 22. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki Buku KIA 78 .3 13.3 41.5 2.1 12.2 74.0 27.6 81.2 26.1 14.5 Indonesia 13.5 60.3 28.37 menunjukkan bahwa kepemilikan Buku KIA lebih rendah dari kepemilikan KMS yaitu sebesar 13.7 11.5 73.1 5.9 16.2 15.9 19.2 18.0 37.4 56.7 43.8 3 62.1 5.5 21.4 65.2 12.7 42.6 25.9 9.8 22.1 51.7 20.2 4.1 33.6 11.3 67.6 18.

7%).4-23.4 57.3 Wiraswasta 13.7 Tidak tamat SD 13.9 Tamat SMP 12.2 Tamat PT 13.4 Lainnya 14.7 25.1 24.5 67.9 60. Pada Tabel 3.0 36 – 47 8.9%).8 25.6 62.8 60.8 66.2 23.9 58.6 Kuintil 3 13.1 27.38 kepemilikan Buku KIA dirinci menurut karakteristik anak.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 11.3 61.5 62.2 63.1 61.4 23.3 Kuintil 2 13.4 48 – 59 5.5 20.1 62.9 23. Tabel 3.9 14.2 23.9 63.0 Kuintil 4 13.8 12 – 23 17.7 26.3 26. dan tingkat pengeluaran per kapita. Tidak ada perbedaan kepemilikan Buku KIA menurut tipe daerah. pekerjaan kepala keluarga. rumah tangga dan tipe daerah.1 24.3 Pekerjaan KK Tidak bekerja 14.1 Tipe daerah Perkotaan 13.5 23.2 61.3 29.9 61.38 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden.4 18.6 62.7 Perdesaan 12.6 Tamat SD 13.2 Tamat SMA 12.1 62.5 64.1 Petani/nelayan/buruh 12.0 Pendidikan KK Tidak sekolah 12. pendidikan.Kepemilikan buku KIA tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (2. tetapi tidak ada perbedaan menurut jenis kelamin.7 Ibu rumah tangga 16. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan buku KIA* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 23.1 Kuintil 5 14.1 64.8 62.8 62.8 26. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya Buku KIA Cakupan Buku KIA yang tertinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan (23.7 63.0 61.8 57.9 26.2 65.1 24.2 6 – 11 23.8 * Catatan : 1 = Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Punya Buku KIA.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (42.3 22.7 PNS/POLRI/TNI 12.5 24.8 25.4 26.9 23.7 24 – 35 11.4 22.2 24.8 Jenis kelamin Laki-laki 12.1 59. 79 .2 Perempuan 13.3 22.9 63.

2 69.9 62.9 51.3 Distribusi Kapsul Vitamin A Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus.4 69.8 71.9 73.5 Secara keseluruhan cakupan distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6 .3 81.2 82.2 73.6 79.39 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi.2.3 84.5% seperti terlihat dalam tabel 3.7 79.2 74. Kapsul merah (dosis 100.000 IU) untuk anak umur 12 – 59 bulan.5 81.0 73.9 79.0 67.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.39 Cakupan tersebut bervariasi antar 80 . sejak anak berusia enam bulan.5 69.3 65.7 67. Tabel 3.59 bulan sebesar 71.7 73.1 74.5 66.9 77.1 78.8 72. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Menerima kapsul vitamin A 74.8 82.3.6 57.9 Indonesia 71.4 65.2 61.6 59.1 62.

8 76. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Menerima kapsul vitamin A 66.2 67. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.2 66.9 70. Sedangkan menurut jenis kelamin anak tidak nampak adanya perbedaan. Bila dilihat menurut pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.5 71. makin tinggi cakupan pemberian kapsul vitamin A. terlihat adanya hubungan positif dengan cakupan kapsul vitamin A.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84. Cakupan lebih tinggi terdapat di perkotaan (74.3 73.4 71.7 73.5 74.8 71. Tabel 3.5 70.5 69.8 76. rumah tangga dan tipe daerah.4 77.3 70.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (69.4 77.7 74. 81 .7%). Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut kelompok umur cukup bervariasi.3%).40 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden.6 72.provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (51.4 69.7%).3 71.0 75.2 70.7 64.5 74.1 Tabel 3.4 69.40 menunjukkan perbedaan cakupan distribusi kapsul vitamin A menurut karakteristik anak. nampak cakupan tertinggi pada kelompok umur 12-23 bulan (77.

0 19.2 57.8 72.5 13.8 14.0 15.2 73.0 10.6 14.8 55.4 75.2 Normal 57.0 13.4 73.9 76.9 Indonesia 13.8 68.2 19.2 18. penimbangan bayi lahir.8 16.5 61.1 69.3.3 9.9 14. dikumpulkan data tentang pemeriksaan kehamilan.1 19.4 65.2 23.6 66.5 14.1 10.3 29.7 12.6 12.9 71.9 21.4 20.1 69.6 68.3 18.2 11.5 6. ukuran bayi lahir.1 14. Tabel 3.1 27.3 18.7 70.1 61.2 17. jenis pemeriksaan kehamilan.8 9.4 62.41 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi.7 20.8 75.2 9.8 16.8 83.3 21.0 73.4 66.2 13.1 17. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 18. dan dikonfirmasi dengan catatan Buku KIA/KMS/catatan kelahiran.3 52.7 11.1 16.5 14.3 12.4 12.0 Besar 24.9 78.0 82 .0 71.6 59.2 15.0 71.7 7.1 64.7 11.1 20.9 28.4 20. Data tersebut dikumpulkan dengan mewawancarai ibu yang mempunyai bayi umur 0 – 11 bulan.3 7.1 13.1 19.5 10.5 20.1 35.5 47.2 17.7 36.7 82.3 10.2 11.8 16.5 76.7 19.6 72.5 10.4 6.2.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dalam Riskesdas 2007.7 57.1 14. pemeriksaan neonatus pada ibu yang mempunyai bayi.8 18.8 11.4 5.8 15.

Persentase ukuran bayi kecil bervariasi antar provinsi.5%) dibandingkan persentase ibu yang mempunyai bayi laki-laki berukuran (12.5%) yang mempunyai persepsi bayi yang dilahirkan berukuran kecil dibanding di perkotaan (11.9 13.4 69.5 13.8 14. Sedangkan menurut tipe daerah.Tabel 3.9 13.5 18.8%).1 67.9 15.0 25. walaupun berat badan bayi lahir tidak diketahui.1 14.0% mempunyai persepsi ukuran bayinya besar.0%).5 20. terendah di Maluku (5.2 13.9 21.4%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21. Namun bila persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga.6 12.7 66.2 18. Riskesdas 2007 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 12.6 21.9 68.5% mempunyai persepsi ukuran bayi normal dan 20.6 66.3 65. Tabel 3.0 65.4 20.42.3 19. Pada tabel tersebut terlihat bahwa lebih banyak persentase ibu yang mempunyai bayi perempuan menyatakan.6 67.5 67.1 11.7 Normal 66.7 67.3 10. bahwa ukuran bayinya kecil (14.1 19.9 24.0 22.5 67.0 67.41 memperlihatkan persepsi ibu tentang ukuran bayi saat dilahirkan.6 14.6 65.6 13.5 17.5 64.2 11. 66.42 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik.5 20.4 66.7 7. nampak ada kecenderungan hubungan negatif persepsi yaitu semakin 83 . Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu dapat dilihat pada Tabel 3.4%).0 20.2 19.5 11.7 17.4 67.4 64.0 23.0 65. lebih banyak ibu di perdesaan (14.1 19.0 68.2 Persentase persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan pekerjaan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita tidak tampak adanya pola kecenderungan.2 19.9 12.2 Besar 21.3 20.0 14. Secara keseluruhan terdapat 13.4 14.1 14.9 15.4% ibu yang mempunyai persepsi bahwa bayi yang dilahirkan berukuran kecil.5 61.

0 83. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 11.8 20.3 16.0 10.8 27.8 >= 4000 5.2 71.3 23.6 80.7 9.7 69.1 75.9 15.5 5.5 8.3 83.8 7.3 7.6 4.7 83.1 8.8 5.6 78.1 78.5%.3 77.tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.2 6.7 14.3 13.5 74.5 82.0 2500-3999 82.5 8.0 84.6 7.0 4.5 9.2 15.5 8. Hanya sebagian bayi yang mempunyai catatan berat badan lahir.2 7.2 3.7 0.4 3.7 10.2 11.6 7.6 16. Berat badan lahir dari hasil penimbangan dapat dilihat pada Tabel 3.4% (Tabel 3.9 86.8 12.8 2.8 82.0 80.5 7.1 77. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.4 67.3 5.43.5 4.8 2.2 21.5 6.7 2.9 10.4 11.4 7.7 88.8 14.7 6.9 83.5 8.2 Indonesia 11. Tabel 3.43 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.5 19.4 80. 84 .8 82.5 87.3 Secara keseluruhan.2 17.4 80.7 5.5 75.8 88. Proporsi ini sebanding dengan persentase ibu yang mempunyai persepsi bahwa ukuran bayi pada saat lahir kecil yaitu sebesar 13.0 3.5 11.8 3.1 74.7 9.1 8.1 85.4 10.9 84.6 9.9 10.9 5.6 8.6 83.9 84.41).3 5.3 84.8 9.2 12.0 7. semakin kecil persentase ibu yang menyatakan ukuran bayi yang dilahirkan kecil.5 85.6 11.5 8.

1 9. dan Sulawesi Utara (7.8%).4 81.5 5.7 13.8%).6 6.0 11.7 11.7 11.3 5. pemeriksan tinggi fundus 85 .8 17.3 75. pemeriksaan tekanan darah. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12. NTT (20.1 8. Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5. proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17.5 80. Jambi (7.2 80.5%).5%).6 5.1 85.5 6.0 83.8 7. Papua Barat (23. Diidentifikasi ada 8 jenis pemeriksaan kehamilan yaitu : a.9 Untuk mendapatkan informasi tentang riwayat pemeriksaan kehamilan ibu untuk bayi yang lahir dalam 12 bulan terakhir.9 78.2%). c.6%).4 5.1 80. pengukuran tinggi badan. Pada Tabel 3.2%) dibanding di perkotaan (10.2 80.2 13.8 8.0 11. Tabel 3.1 83. Riau (7.2 7.7 83.8 12.8 12.3 10.7 81.0 13.1 5.2 80.3 6.4 8. dan Kalimantan Barat (16.3 79.4 8.2 5.Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.0 7.6 13.0%).2 5.7%).44 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.3 6.6 85.5 84.6%).8 86.9%).9 11. Sulawesi Barat (7.3%).0 12.0%). Menurut karakteristik rumah tangga.5 2500-3999 82. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 10. ibu ditanya tentang jenis pemeriksaan kehamilan apa saja yang pernah diterima.0%) dibanding laki-laki (10.1 10.9 6.0 81.8%).1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8.6 5.0 10.3 5.6 >= 4000 7. b.6 14.44 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13. Sumatera Selatan (19.5 83.2 6. Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.7 81.

9 90.2 97.2 81.4 93.8 89. dan h.6 84. f.5 86 .3 71.1 90.2 83.1 94.45 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi. Riwayat pemeriksaan kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi terdapat pada Tabel 3.5 80.0 Indonesia 84. g. penimbangan berat badan.(perut). Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Periksa hamil 72. d. Tabel 3. pemberian imunisasi TT.4 69.1%).4 87. pemeriksaan urin.6 90.9 71.0 67.0%) dan tertinggi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta (97.2 91. pemberian tablet Fe.9 95.45 yang memperlihatkan secara keseluruhan 84.5 77.8 92.9 95. Cakupan pemeriksaan kehamilan terendah di Provinsi Papua (67.5% ibu memeriksakan kehamilan.6 97.1 95.8 92.3 90.3 87.1 74.4 79.1 95. e.7 75.5 84.9 85. Pemeriksaan hemoglobin.

8%) dan pemeriksaan urine (36. tampak bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan (94.1%).1 78.1%) dan penimbangan berat badan ibu (94.46). Tabel 3. Secara keseluruhan pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97.47 menunjukkan delapan jenis pemeriksaan (seperti yang diuraikan sebelumnya) yang dilakukan pada ibu hamil.6 79.7 83.9%) dan terendah pada kelompok keluarga petani/nelayan/ buruh (78.2 94. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33.9 90.1 75.9 92. Tabel 3. semakin tinggi pula cakupan pemeriksaan kehamilan. Semakin tinggi pendidikan kepala keluarga atau semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.4 86.4 79.2 89.3 Terdapat kecenderungan hubungan positif antara cakupan pemeriksaan ibu hamil dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan pengeluaran per kapita.1 78. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Periksa hamil 94. 87 .3 89.Menurut karakteristik rumah tangga dan tipe daerah (Tabel 3. Variasi tiap jenis pemeriksaan menurut provinsi dapat dilihat lebih lanjut di Tabel 3.8%).6 90.5 85.5 81.2%).1%) dibanding di perdesaan (78.9 87.46 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden.4 86. Cakupan periksa kehamilan tertinggi terdapat pada kelompok keluarga dengan perkerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri (92.47.2 82.4%).

3 94.7 86.4 93.9 41.5 90.7 87.5 94.9 89.4 22.7 98.5 42.9 47.5 86.6 97.2 90.0 97.6 56.4 95.5 42.8 66.5 30.5 96.4 81.1 89.1 96.3 67.4 47.8 52.5 94.1 98.0 98.1 96.0 41.5 94.8 97.5 94.6 98.3 91.4 92.9 62.4 95.2 84.5 24.8 98.8 94.0 46.3 96.9 77.1 85.5 85.3 97.9 90.3 95.2 57.2 94.3 64.0 38.9 91.7 86.9 92.5 97.7 97.5 86.8 57.8 36.9 65.9 95.7 95.0 38.2 88.5 86.9 44.1 96.3 92.8 33.4 91.8 c 92.5 97.3 94.7 b 97.4 94.8 56.1 h 40.3 95.1 85.1 19.2 27.5 15.0 54.7 99.7 88.8 87.47 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.9 98.8 38.2 f 92.3 88.7 91.2 42.9 Indonesia 58.2 94.0 96.5 87.1 33.4 56.2 88.5 56.2 19.7 38.0 26.7 57.7 75.8 49.7 83.5 95.4 76.48 Secara umum terlihat dalam tabel tersebut bahwa cakupan tiap jenis pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan.5 42.0 85.7 17.1 30.4 95.5 43.7 95.7 98.5 92.4 97.2 91.7 86.2 95.6 25.0 96.8 52.1 81.8 95.6 100.1 90.7 37.8 89.9 100.9 68.1 100.6 34.5 95.3 35.5 32.6 34.7 38.1 91.5 89.0 91.1 48.9 96.5 45.4 79.5 95.0 26.8 98.9 98.5 97.4 95.7 89.6 24.0 36.2 95.2 71.3 87.4 48.2 22.3 95.4 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Jenis pemeriksaan menurut tipe daerah dan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 3.2 39.7 94.8 99.2 91.5 e 86.6 41.3 98.6 45.7 28.2 93.4 69.3 95.9 98.3 97.0 37.1 91.5 89.5 32.2 34.3 96.8 97.3 62.1 96.3 29.9 93.5 93.1 79.4 95.6 23.0 96.1 95.3 97.5 84.1 88.4 25.2 80.7 13.7 97.3 59.6 93.2 77. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jenis pelayanan* a 55.1 51.9 96.1 65.9 39.1 85.2 92.8 75.3 84.0 35.7 66.2 86.0 61.8 26.8 83.2 d 89.3 14.4 73.3 98.2 88.9 98.2 66.9 82.6 83.5 83.8 95.2 45.6 93.2 63.0 97.2 91.7 47.2 95.1 95.3 75.5 85.9 87.Tabel 3.2 90.8 95.8 78.9 97.0 96.0 85.3 91.1 97.7 25.3 82.3 42.0 97.2 47.5 96.3 94.1 92.6 95. Terdapat kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dan tiap jenis pemeriksaan 88 .6 98.3 88.6 g 38.9 97.9 97.5 79.8 52.1 27.3 91.

4 90.0 98.2 45.7 41.4 87.49).2 98.5 95. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe Jenis pelayanan* a 63.4 86.7 96.3 97.7 93.7 39.6 87. Demikian juga ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pengeluaran rumah tangga dengan pengukuran tinggi badan.2 43.0 40.6 85.2 94.6 58. Ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan relatif lengkap (6 .1 40.8 32.9 56.4 38.8 94.4 85.6 38.9 87.6 87.1 92.0 68.1 93. Secara keseluruhan 61. 89 .9 90.6 85.1 96.2 30.0 29.8 56.5 86. dan hanya 2.1 32.9 86.8 55.0 97.4 37.8 56.0 35.7 92.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (83.1 98.8 90.7 48.4 57.6 c 89.5 36.1%).0 96.3 f 97.9 92.9 91.0 94.1 31.8 94.3 85.0 85.5 63.0 98.6 87.8 91.2 89.3 59.1 37.4 58.1 87.0 94.2 h 46.0 32.8 83.0 97. Namun sebaliknya tidak terdapat pola kecenderungan cakupan untuk tiap jenis pemeriksaan kehamilan dengan pekerjaan kepala keluarga.5 92.1 39.5 92. 35.4 91.3 84.9 e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Semakin banyak jenis pemeriksaan kehamilan yang diterima ibu hamil semakin lengkap pemeriksaan kehamilan yang diterima (Tabel 3.9 89.1 88.6 95.5 61. pemeriksaan hemoglobin dan urine.8 e 87.0 59.8 27.1 89.6 97.3 29.8 25.0 96.5 93.2 88.7 91.0 93.8 28.9 60.0 87.3 85.1 25.9 96.7 88.9 94.6 54.8% ibu yang menerima 6-8 jenis pemeriksaan selama kehamilan.7 57.2 32.kehamilan terutama pada pemeriksaan hemoglobin dan urine.8 36.7 84.3 87.9 88.8% yang hanya menerima 1-2 jenis pemeriksaan selama kehamilan.4 88.6 91.8 jenis) persentase terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara (41.8 49.5 93.8 95.2 86.4 97.7 92.6 33.2 97.8 62.4 99.48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden.1 b 98.1 97.1 41.9 48.0 85.4 96.6 37.8 28.3 94.0 92.9 95.1 55.3 91.7 35.6 d 93.4 90.1 38.4 92.6 g 43.5 89.5 91.0 90.2 97. Tabel 3.9 97.5 30.4 96.7 97.6 63.3% ibu menerima 3 – 5 jenis pemeriksaan kehamilan.2 88.

2 28.8 1.4 2.3 20. 90 .0 45.5 4.2 3.8 77.3 21.4 2.0 37.9 5.3 75.8 2.3 0.5 2.8 0.0 76.0 0.4 28.0 60.4 20.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3-5 jenis 34.6 2.1 39.0 1.Tabel 3. Riskesdas 2007 Pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3.6 56.50 menunjukkan kelengkapan pemeriksaan kehamilan menurut karakteristik daerah dan rumah tangga.7 60.1 67.9 33.1 28.0 2.9 31.8 39.0 2.6 24.8 69.8 Tabel 3.9 26.5 60.2 1.3 79.2 2.0 58.8 4.2 76.2 48.0 55.7 16.7%).6 20.2 0.2 39.0 3.1 71.5 83.0 1.7 2.8 33.3 3.5 78.0 59.2 7.6 68.3 58.8 Indonesia 2.1 41.6 3.4%) dibanding dengan di perdesaan (55.5 3.7 63.0 5.5 37.0 2.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.9 37.5 6-8 jenis 62.0 21.2 39.0 68.9 62. Persentase pemeriksaan kehamilan yang lebih lengkap lebih banyak di perkotaan (69.8 38.7 68.1 56.3 1.7 24.3 4.8 50.1 2.6 75.3 28.4 48.6 35.6 66.8 35.5 38.8 61.4 31.3 61.9 58.3 61.8 46.1 48.8 29.9 0.

6 67.5 30.3 34.51 terlihat bahwa secara keseluruhan 57.6 3. Tabel 3.7 39.6 62.1 67.1 33.8%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.2%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (81.2 29.7 31.50 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.Kelengkapan pemeriksaan kehamilan berhubungan secara positif tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 2.9 3.3 61.2 6-8 jenis 69.9%).8 35.9 31.8%).9 3.2 58.7 3.7 54.4 73.8 3.1 35.0 Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.3 4.8 2.4 55.7 64. Pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari terendah di Papua (27.8 40.6 43.9 67.2 4.6 1.5 63. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita semakin besar persentase ibu yang mendapatkan pemeriksaan kehamilan lebih lengkap.2 58.5 40.8 38.4 1.5 28. Dalam Tabel 3.8 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 3-5 jenis 28.8 38. 91 . Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Kalimantan Barat (19.5% neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.7 1.3 60.0 25.2 69.8 35.3 3.6 64.1 2.0 2.5 61. Riskesdas 2007 Skor jenis pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 1.6 57.7 34.4 55.5 2.6 0.6% neonatus umur 0-7 hari dan 33.4 2.

5 66.0 62.5 58.9 34. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi.3 29.6 81.1 28.5 63.4 28.51 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi.1 58.2 62.7 49.2 59.2 22.52 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.9 33.8 27.1 39.6 31.7 49.8 35.1 25.0 53.6 68.8 63.7 26.6 33.4 30.0 42.7 65.8 42.9 55.7 50.0 41.8 21.6 37.Tabel 3.8 39.1 29.0 26.5 35.3 44.2 50.1 64.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Umur 8-28 hari 36.9 70.2 28.2 66.2 66.2 27.5 35. Riskesdas 2007 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 56.8 Indonesia 57. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala 92 .1 19.9 41.7 44.5 Tabel 3.0 32.4 69.3 64.6 30.4 45.3 45. tipe daerah dan rumah tangga.9 39.9 43. Menurut tipe daerah di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan.4 54.9 54.1 58.0 25.7 47.5 23.

RS Swasta. Riskesdas mengumpulkan data tentang tempat melahirkan. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.7 40. Tabel 3.2 28.0 59.5 62.58 memberikan gambaran tentang informasi tersebut.4 36.1%) dan terkecil di Papua (65.3 57.2 33.7 32. rumah.9 64. RB/RBIA/Klinik. Maluku Utara. dan lainnya.0 58.52 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Karakteristik Responden. Persentase terbesar ibu yang melahirkan di rumah adalah di Maluku (85. Tempat persalinan dikelompokkan menjadi 7 yaitu: RS Pemerintah.5 63.9 27.5 30.keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.53 sampai dengan Tabel 3.3 33. Puskesmas/Pustu.0 37.53 menunjukkan pada umumnya di lima provinsi sebagian besar ibu (di atas 60%) melahirkan bayinya di rumah.7 29.0 69.2 59.2 46.0 60.8 65.5 42. 93 . Polindes/Poskesdes.7 52.1 Umur 8-28 hari 41.8 24. khusus pada lima provinsi.4%).2 28.4 65.5 52.0 31. Maluku. Papua Barat.7 51. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 65. dan penolong persalinan.3 54. Tabel 3. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita. dan Papua.3 46. yaitu Nusa Tenggara Timur.9 37.4 50.8 63. Tabel 3.5 37.9 Selain penjelasan tersebut di atas.8 41.6 33.8 55. jumlah pemeriksaan kehamilan.2 37.1 60.

7 Papua Barat 14. famili/keluarga.5 3.56 menunjukkan penolong persalinan pertama dan terakhir pada ibu yang mempunyai balita.2 65.50. Maluku.0 f 77. Ternyata baru 30. Puskesmas/Pustu. Tabel 3.55 menunjukkan jumlah pemeriksaan selama kehamilian trimester-1. nampak tidak banyak perbedaan. cakupan pemeriksaan kehamilan yang memadai untuk masingmasing trimester dan ketiga trimester menunjukkan lebih banyak ibu periksa kehamilan di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.1 82. Puskesmas/Pustu d. RS Swasta.7% ibu yang periksa hamil empat kali atau lebih. trimester-3.4% .5 71. Di perkotaan.0 1.2 c d e 3.9 2.0 4.1 5. Terlihat kecenderungan hubungan positif antara jumlah pemeriksaan kehamilan yang memadai di tiap trimester dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun pengeluaran per kapita.1 85. Terlihat dalam tabel tersebut adanya variasi persentase antar provinsi untuk masing-masing jenis penolong. RB/RBIA/Klinik dibanding di perdesaan.5 0. RS swasta c.7%.8%. Penolong persalinan dikelompokkan menjadi 6 (enam) yaitu: dokter.5 7.5% telah melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali seperti yang dianjurkan. Namun bila dibandingkan antara persentase penolong persalinan pertama dan penolong persalinan terakhir untuk masing-masing jenis penolong.0 Keterangan: a: RS Pemerintah b.9% -50.9 4. Selama trimester-1 ibu yang tidak pernah melakukan pemeriksaan di lima provinsi berkisar antara 25. trimester-2.37. Riskesdas 2007 Provinsi Tempat melahirkan a b 2. Persentase ibu yang melahirkan di RS Pemerrintah paling banyak kelompok RT dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI. Selama kehamilan jumlah minimal pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali yaitu minimal 1 kali pada trimestes I.Tabel 3.6 0.5 1. dan Maluku Utara penolong persalinan yang dominan adalah dukun bersalin dibanding dengan provinsi 94 .2 3.8 1.6 0. Di Nusa Tenggara Timur.54 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang besar tempat melahirkan di lima provinsi tersebut menurut tipe daerah.0 Maluku Utara 7. Pada Tabel 3.9 2. polindes/ Poskesdes 6. Sedangkan di perdesaan.0 Nusa Tenggara Timur 6.4 g 0. ibu lebih banyak melahirkan di rumah dan di Polindes/Poskesdes.7 0.34. dukun bersalin. Pada trimester-3 sebanyak 24.8 2.0 0. sedangkan menurut anjuran selama trimester-1 dan trimester-2 minimal periksa kehamilian satu kali. Terdapat hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita dengan RS Pemerintah sebagai tempat ibu melahirkan. minimal i kali pada trimester II dan minimal 2 kali pada trimester III.9 Maluku 7.4 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya Pada Tabel 3. dan trimester seluruhnya.1 0. sedangkan pada trimester-2 berkisar antara 15.53 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi. ibu lebih banyak melahirkan di RS Pemerintah. Sebaliknya tampak ada hubungan negatif antara tempat ibu yang melahirkan di rumah dengan pendidikan KK maupun tingkat pengeluaran per kapita.2 1. Menurut tipe daerah. dan lainnya. Hal ini menunjukkan penolong persalinan pertama umumnya sama dengan penolong terakhir. tenaga kesehatan lain.5 Papua 18. bidan.5% .2% .9 4.2 3. Terlihat adanya variasi pemeriksaan kehamilan antar provinsi.

0 0.8 84.6 3.1 77.6 2.3 Tamat SMP 9.4 2.2 70.3% dan 61.2 Tamat SMA 19.4 6.9 84.4 1.6 7.7 3.0 2.7 7.2 1. sedangkan di Papua yang dominan dua penolong persalinan yaitu bidan dan famili/keluarga.3 4.3 Kuintil-5 20.4 1.8 0.0 Lainnya 16.0 2. Tabel 3.3 3.9 91. Pada tabel 3. Puskesmas/Pustu d: Polindes/ Poskesdes 4.7 f 43.7%.3 9.8 0. yaitu semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin banyak persalinan yang ditolong oleh dokter dan bidan.5 d 2.6 g 1.0 7.0 1.3 .4 4.0 0.6 2.54 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.6 5.2 2.9 6.4 56.3 76.8 1.2 Pendidikan KK Tidak sekolah 2.5 4.6 2. Untuk penolong persalinan oleh famili/keluarga.5 4.5 5.7 2.5 0.7 2.5 2.6 2.7 3. Sebaliknya semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun dan famili/keluarga.3 PNS/POLRI/TNI 30.3 4.2 1.57 di lima provinsi terlihat bahwa penolong persalinan baik untuk penolong persalingn pertama maupun terakhir yang dominan di perkotaan adalah bidan (masingmasing 60.0 Tidak tamat SD 3. Namun kurang nampak adanya pola kecenderungan menurut tingkat pendidikan KK.8 60.5 2.7 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 95 .2 Tamat PT 35.7 Tamat SD 4.4 2.3 55.2 86.3 Kuintil-2 5.1 Kuintil-3 8.5 3.7 Kuintil-4 12.1 71.4 0.7 Tipe daerah Perkotaan 29. nampak ada pola kecenderungan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin sedikit persalinan yang ditolong famili/keluarga.3 Ibu rumah tangga 18.9 0.2 85.6 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a b 8.9 68.4 6. Persentase penolong persalinan oleh bidan dan dukun baik sebagai penolong pertama maupun terakhir lebih besar bila dibanding dengan tenaga penolong jenis lain.2 6.7 Keterangan: a: RS Pemerintah b.6 0. RS swasta c.0 8.4 2.8 0.3 1.4 1.8 11.0 2.1 1.1 Pekerjaan KK Tidak bekerja 12.9 Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 5.7% dan 45.1 6.1 1.1 6.5 1.5 2.0 1.6 2.5 83.3 0.8 Tempat melahirkan c 6.9 4.Papua Barat da Papua.2 85.1 6.1 e 8.0 4. Bila penolong persalinan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran per kapita nampak adanya pola yang jelas.2 4.0 1.7 42.6 7.2 1.9 1.2 2. Sedangkan di perdesaan yang dominan baik untuk penolong persalinan pertama maupun terakhir adalah dukun bersalin (masing-masing 43.7 Perdesaan 4.9%).6 Wiraswasta 21.5 1.2 6.8 0.5 4.1 5.1 8.2 1. Di Papua Barat yang dominan adalah bidan.1 59.3 7.9 Petani/ buruh/ nelayan 3.1 5.7 1.4 1.4 2.6 35.2 4.

0 18.1 40.2 19.4 32.9 26.9 33.8 21.7 14.4 34.6 30.1 13.9 16.6 20.9 40.8 20.0 50.2 19.1 38.6 46.8 30.7 39.0 31.3 23.1 26.1 56.2 21.8 28.2 25.5 61.1 23.3 25.4 5.3 61. Riskesdas 2007 Provinsi/Karakteristik Responden Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 25.4 32.6 43.1 29.1 20.9 30.8 17.0 62.1 23.0 21.5 15.7 22.1 50.6 29.0 16.2 28.0 35.3 37.2 17.2 50.7 21.1 49.7 47.6 24.8 49.8 28.9 26.9 25.3 71.2 30.7 26.8 29.8 42.4 49.9 20.1 37.8 19.6 39.8 24.2 29.5 42.5 21.4 22.7 41.3 23.5 39.5 34.1 34.1 21.3 22.6 19.1 23.0 15.2 13.4 37.2 22.3 50.5 49.9 15.8 36.3 17.2 43.9 22.4 19.9 34.2 53.8 55.8 51.6 26.9 15.5 21.7 61.0 34.1 42.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.9 29.2 29.7 51.2 25.3 21.3 12.7 19.7 33.7 20.7 41.3 40.6 16.6 39.3 36.9 30.7 20.3 36.8 36.9 34.9 17.4 21.3 26.0 33.4 8.3 29.2 12.9 23.7 37.5 23.7 8.5 6.4 25.1 15.5 36.5 32.3 25.8 39.5 46.6 20.5 9.0 34.2 32.5 38.4 16.1 65.3 42.0 16.7 18.1 Trimester-1 Tidak 1 kali > 1 kali Trimester-2 Tidak 1 kali > 1 kali Tidak Trimester-3 1 kali 2 kali > 2 kali Trimester 123 Tidak 1-3 kali > 4 kali 96 .6 18.6 59.0 22.8 32.7 35.6 11.6 24.3 34.5 15.2 15.8 35.1 66.2 21.8 28.6 52.5 11.0 31.3 28.3 40.2 56.4 18.8 31.1 45.6 25.7 13.5 38.0 22.3 53.1 28.0 29.9 16.7 26.5 55.4 20.1 46.2 51.8 23.9 25.7 14.0 33.3 33.2 41.6 20.0 26.9 64.2 11.2 23.4 28.2 20.9 28.8 33.6 49.2 32.6 26.0 38.4 58.1 15.1 3.8 48.7 47.3 17.1 38.0 24.8 24.2 63.6 24.5 8.7 38.3 23.2 17.2 36.3 33.8 38.3 29.6 26.3 20.5 13.9 15.3 18.7 29.9 41.2 32.0 4.6 28.8 44.5 27.6 21.9 39.9 23.7 55.7 63.5 40.1 32.6 50.3 28.6 43.3 36.4 26.5 21.7 42.6 23.8 21.3 43.4 17.3 29.7 45.9 25.1 25.8 39.Tabel 3.5 23.7 36.0 35.8 30.0 22.0 15.0 54.5 10.9 6.1 22.0 18.5 22.6 26.0 72.9 33.2 18.4 36.8 9.8 38.7 33.7 15.2 21.4 73.1 32.0 29.4 28.1 37.8 34.8 30.3 43.2 48.6 42.9 31.9 20.5 29.5 44.5 30.6 20.8 32.9 10.0 33.1 37.3 37.4 7.3 12.5 41.7 24.9 22.

2 40.5 39. Riskesdas 2007 Penolong persalinan pertama a 4.9 0.7 2.1 35.1 19.8 c 1.7 1.9 32.1 20.3 50.3 35.8 31.0 56.4 4.6 3.9 1.4 51.7 47.5 1.8 d 43.6 10.5 0.6 0.6 3.7 3.2 9.3 0.56 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi.1 e 12.4 12.6 6.2 36.4 14.6 1.9 4.7 1.4 3.2 56.0 f 0.3 Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keterangan: Penolong persalinan terakhir f 0.Tabel 3.2 a 3.1 a: Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 97 .0 d 46.6 22.5 0.6 2.0 34.3 c 1.2 b 38.9 55.5 b 36.8 7.4 3.7 21.7 1.2 0.2 0.9 5.7 e 11.1 2.

2 39.0 37.7 0.6 27.2 5.7 32.7 45.2 38.9 1.9 Kuintil-3 4.0 1.8 3.0 Tamat SD 2.6 1.6 2.4 1.8 1.4 1.4 16.0 4.0 1.2 0.0 1.3 27.3 Perdesaan 2.1 47.6 1.5 3.7 Keterangan: a : Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 98 .2 28.1 4.3 0.9 5.9 35.9 1.6 4.2 1.0 15.3 1.2 24.0 23.4 18.0 30.5 1.9 Kuintil-2 2.6 2.5 42.8 30.6 15.9 36.9 8.1 25.7 50.1 1.0 6.6 1.5 0.9 51.2 1.5 12.2 18.5 46.0 16.9 21.8 Tidak tamat SD 2.7 1.7 15.9 f 0.3 34.8 13.0 Pekerjaan KK Tidak bekerja 4.7 12.6 37.9 32.1 7.2 4.9 1.9 29.1 31.3 1.8 18.1 11.7 e 4.8 49.8 17.5 1.1 41.4 2.6 13.7 0.8 1.4 e 4. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Penolong persalinan pertama a b 60.1 Lainnya 6.1 2.2 14.3 0.5 15.7 2.0 55.8 45.9 7.6 28.4 Kuintil-5 10.3 12.2 PNS/POLRI/TNI 16.6 1.6 d 19.0 0.2 65.57 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.6 10.4 2.1 1.5 0.2 13.1 48.2 c 0.3 48.4 2.2 2.8 1.2 Tamat PT 20.9 Wiraswasta 9.2 13.1 23.8 2.3 1.9 60.6 1.5 Petani/ buruh/ nelayan 2.6 a 13.7 1.7 0.9 6.2 0.9 1.2 6.7 7.6 8.3 51.3 31.1 2.0 9.5 c 1.9 17.7 43.9 21.9 Kuintil-4 6.3 Ibu rumah tangga 5.3 2.8 9.4 11.4 44.9 b 61.2 1.7 44.3 65.5 3.2 41.3 57.8 46.3 0.5 63.5 Tamat SMA 10.2 0.9 1.3 1.6 62.Tabel 3.7 2.6 1.2 37.3 10.6 1.6 2.5 38.4 1.1 20.0 1.6 5.5 d 18.6 22.2 1.5 Penolong persalinan terakhir f 0.6 18.6 2.6 1.9 42.1 34.7 2.9 40.7 1.9 3.9 38.0 2.7 18.9 10.8 43.4 35.4 19.0 15.9 29.6 1.9 16.9 2.8 53.7 1.6 1.8 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 2.3 17.4 Tamat SMP 4.8 37.3 17.1 8.2 10.1 35.7 37.0 16.4 1.1 2.9 30.4 Tipe daerah Perkotaan 14.6 1.2 1.0 63.9 43.0 52.7 Pendidikan KK Tidak sekolah 1.6 1.9 51.

dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma. Demikian pula diare. Data yang diperoleh hanya merupakan prevalensi penyakit secara klinis dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner baku (RKD07. Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global. berkeringat. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB. 99 .1 Prevalensi Filariasis. mual dan muntah. dan tidak sedikit menyebabkan kematian. selain prevalensi penyakit juga dinilai proporsi kasus malaria yang mendapat pengobatan dengan obat antimalaria program dalam 24 jam menderita sakit (O). Untuk responden yang menyatakan “pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” ditanyakan apakah mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas. sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat antimalaria. dan malaria. kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan atau mimisan. pembengkakan payudara dan pembengkakan tungkai bawah atau atas.IND: Blok X no B01-22). pneumonia dan campak. Khusus malaria. Jadi prevalensi penyakit merupakan data yang didapat dari D maupun G (DG). Prevalensi penyakit akut dan penyakit yang sering dijumpai ditanyakan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. dan diare. demam berdarah dengue (DBD). sedangkan prevalensi penyakit kronis dan musiman ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir (lihat kuesioner RKD07. sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah penyakit tifoid. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi tular vektor yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gejala klinis kronis dan kecacatan. laten atau kronis. sakit kepala/pusing disertai nyeri di ulu hati/perut kiri atas.3.IND). berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis filariasis oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan gejala-gejala sebagai berikut: adanya radang pada kelenjar di pangkal paha. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” dalam satu bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin). dinilai proporsi kasus diare yang mendapat pengobatan oralit (O). Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor adalah filariasis. panas naik turun secara berkala. Penyakit ini dapat bersifat akut. tanpa konfirmasi pemeriksaan laboratorium. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis DBD oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita demam/panas. 3. dan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. lemas. pembengkakan alat kelamin.3. kaki/tangan dingin.3 Penyakit Menular Penyakit menular yang diteliti pada Riskesdas 2007 terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vektor. serta dapat mengakibatkan kematian. hepatitis. Kepada responden ditanyakan apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan (D: diagnosis). Penyakit ini bersifat musiman yaitu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) hidup di genangan air bersih. penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur. ditanyakan lagi apakah pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut (G). Demam Berdarah Dengue dan Malaria Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

6‰). Bengkulu dan DKI Jakarta (1. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.6. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir.Tabel 3.5‰).58. Papua Barat (4. Kalimantan Timur. Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤0.26. Kalimantan Barat. Sedangkan di beberapa provinsi sebagian besar hanya berdasarkan gejala klinis yaitu Bengkulu.2‰). prevalensi malaria klinis nasional adalah 2. Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47. yaitu Nusa Tenggara Timur (2.3‰ .7%). Sulawesi Tenggara (1. dan Sulawesi Barat (0. Papua Barat (2. Di NTT. menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir filariasis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi klinis sebesar 1.2.4‰). Riau dan Sulawesi Barat.5‰). dan Bengkulu. Bangka Belitung. DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1. Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Kalimantan Selatan. Hal ini disebabkan gejala klinis DBD menyerupai penyakit infeksi virus lainnya. Sulawesi Tenggara.9% (rentang: 0. Bengkulu. Pada 12 provinsi didapatkan prevalensi DBD klinis lebih tinggi dari angka nasional. walaupun kasus malaria klinis tinggi. Bangka Belitung. Sulawesi Tengah. Jambi. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD.1%). dan Gorontalo (1. Kep Riau.3‰ . Di 11 provinsi.2%). yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (6. Nusa Tenggara Barat. Bengkulu. Banten. Papua (2.5%). hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit. Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam. kasus DBD klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi (DG) 0. Kalimantan Timur.6% (rentang: 0.9%). Bangka Belitung. Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26. Papua Barat. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional. sebagian besar berada di Indonesia Timur. dan Papua).5%.8%). Papua. dan Jawa Timur kasus DBD klinis lebih banyak didapatkan berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan.0%).9‰).0%). Kepulauan Riau (1. Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali. Papua Barat. Kalimantan Barat. Papua (0. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi (DG) filariasis melebihi angka prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur (2. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (<10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Kalimantan Timur.4%) dan NTT (12. Sumatera Selatan. Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Papua.2% . Kep Riau. Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (<35%) terdapat di provinsi di Jawa. Papua (18.0%).4‰).5%). Kepulauan Riau.1%).1%). DI Yogyakarta. Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat serta NAD (1.7%.4‰). Jawa Tengah. 100 .1 ‰ (rentang : 0. sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria. Di Provinsi DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. Riau dan Maluku Utara (0.

18 0.03 0.20 0.08 0.65 12.04 0.06 0.88 0.24 0.06 0.04 0.38 1.55 0.46 0.26 3.43 0.66 49.10 2.30 0.09 0.04 0.04 0.07 0.44 24.01 4.52 Indonesia 0.18 0.06 0.59 0.63 7.69 60. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.09 0.03 20.42 1.25 0.08 0.37 1.15 0.77 2.31 15.37 1.32 64.32 0.03 0.41 0.05 Malaria DG 1.04 0.41 0.62 1.70 0.15 0.43 0.67 2.Tabel 3.42 7.27 0.83 28.09 1.65 2.41 42.10 0. Demam Berdarah Dengue.36 1.68 101 .62 36.55 42.12 0.02 0.58 0.60 0.16 0.07 0.86 2.29 D 1.16 0.08 0.15 0.05 0.03 0.07 0.30 0.10 41.77 26.54 0.50 0.06 7.51 0.73 1.42 0.81 0.45 0.01 0.14 1.37 2.51 0.06 0.10 0.78 0.78 53.04 0.45 0.35 0.04 0.09 0.41 0.07 0.09 0.21 0.02 0.93 DG 0.41 O 36.42 0.14 0.02 0.08 48.35 51.05 0.17 0.09 0.10 0.00 34.31 3.06 0.33 43.14 18.07 0.41 1.01 0.03 0.90 49.07 0.84 0.26 0.09 0.16 0.37 47.27 0.32 0.52 0.01 0.27 59.03 0.23 0.31 1.64 0.04 3.21 0.45 2.04 0.08 0.07 0.22 5.22 0.41 27.04 0.12 7.02 0.53 36.66 2.02 0.06 0.05 0.16 2.25 0.00 0.12 0.05 0.23 1.07 0.03 3.39 2.03 0.01 0.04 0.06 0.16 0.57 46.13 0.30 0.26 0.32 0.04 0.88 0.15 0.14 0.73 1.87 3.19 0.03 0.10 0.96 0.43 0.02 6.58 Prevalensi Filariasis.36 39.58 0.10 2.27 5.10 39.85 1.85 47.99 30.10 0.11 0.08 0.03 0.45 0.12 0.57 43.11 0.03 0.78 23.75 12.00 0.09 0.11 0.33 0.10 0.21 0.07 0.12 0. Riskesdas 2007 Provinsi Filariasis D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.29 1.05 0.86 1.67 58.87 2.23 26.03 0.29 0.28 43.09 DG 3.34 44.18 0.89 1.09 0.33 0.46 23.33 65.14 DBD D 0.79 0.82 1.

15 0.17 0.05 2.09 3.19 0.02 5-14 0.70 2.04 2. tidak bekerja dan petani/nelayan/buruh.06 35-44 0.63 51.07 Pekerjaan Tidak kerja 0.21 0.22 1.12 0.42 1.08 65-74 0.05 102 .92 51.04 15-24 0.73 47.69 2.62 0.38 39.88 1.80 50.56 0.08 0.06 55-64 0.34 0.57 0.62 3.89 46.46 3.74 49.05 0.10 0.49 2.03 47.10 1.18 0.53 0.59 adalah gambaran Filariasis.95 4.59 1.40 53.20 0.11 0.05 1.21 0.20 0.13 0.41 1.59 0.74 0.31 1.06 Kuintil 5 0.47 47.52 0.57 0.87 43.12 0.68 0.85 46.20 3.24 0.61 0.16 0.23 57.25 47.68 0.13 2.38 1.11 0.57 1.54 3.42 2.13 54.07 Petani/Nelayan/ 0.96 46.05 Kuintil 4 0.08 53.74 0.62 0.19 1.53 1.08 Jenis kelamin Laki-laki 0.66 1.03 25-34 0.08 43.59 Prevalensi Filariasis.05 Wiraswasta 0.12 0.10 >75 0.15 0.17 0.14 0.11 0.08 0.05 Tipe daerah Perkotaan 0.15 0. dan tidak ada perbedaan prevalensi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita.67 0. Filariasis klinis dijumpai pada semua kelompok umur dan sudah ditemukan pada kelompok umur ≤5 tahun.14 1.06 Pendidikan Tidak sekolah 0.56 0.12 2.12 0.09 0.97 2.36 1. Demam Berdarah Dengue.12 0.07 0.78 Kelompok umur (tahun) <1 0.38 1.48 1.19 42.37 1.12 0.35 1.44 48.11 0.59 0.56 0.07 Lainnya 0.05 Tamat PT 0.23 0.61 0.08 Sekolah 0.19 1.16 0.57 1.83 2. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.83 3.18 0.08 1.10 0.85 1.19 0.02 2.07 0.84 49.64 2.25 0.05 Ibu RT 0.51 0.31 1.39 44.70 0.26 0.66 0.19 46.25 41.06 Tamat SD 0.61 0.78 48.14 0.15 0.37 1.63 0.09 0.50 1.14 0. Filariasis klinis lebih tinggi didapati pada responden di perdesaan dan responden yang tidak sekolah.17 0.04 45-54 0. DBD dan Malaria menurut karakteristik responden.65 0.51 0.05 Perempuan 0. Tabel 3.27 0.29 41.59 0.09 DBD D 0. tidak ada perbedaan prevalensi antara laki-laki dan perempuan.03 Perdesaan 0.83 1.19 0.04 Tamat SMA 0.01 1-4 0.02 0.08 0.05 2.72 2.16 0.11 0.66 2.10 0.14 1.90 2.61 0.16 0.35 DG 1.75 1.24 Malaria DG 0.43 1.10 Tidak tamat SD 0.66 D 0.59 0.65 48.75 1.72 46. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Filariasis D DG 0.08 1.25 0.12 0.22 35.05 Kuintil 3 0.05 Tamat SMP 0.20 0.10 0.63 0.32 45.09 0.69 3.28 1.03 Pegawai 0.12 0.83 46.83 2.64 0.75 3.12 0.10 0.30 0.55 1.14 0.52 O 57.05 Kuintil 2 0.06 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0.74 3.Tabel 3.19 0.

ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat. Walaupun diagnosis pasti TB berdasarkan pemeriksaan sputum BTA positif.2 Prevalensi ISPA. Kepada responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis campak oleh tenaga kesehatan. pegawai dan wiraswasta.7%) dan terendah pada bayi (0. Di Indonesia masih terdapat kantong-kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB. Tuberkulosis (TB). Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk malaria. dan Campak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. DBD klinis relatif lebih tinggi di perdesaan. ditanyakan apakah menderita gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk berdahak bercampur darah. Kepada respoden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan.54 tahun). Keadaan ini menunjukkan kewaspadaan dan kepedulian penanganan penyakit malaria pada anak sudah cukup baik di mana >50% malaria klinis mendapat obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit. responden sekolah dan petani/nelayan/buruh. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global.DBD dahulu dikenal hanya sebagai penyakit pada anak-anak. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25 . kelompok pendidikan tinggi. 103 . kelompok petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Temuan yang juga perlu menjadi perhatian adalah DBD klinis relatif lebih banyak ditemukan pada responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). diagnosis klinis sangat menunjang untuk diagnosis dini terutama pada penderita TB anak. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur. Di Indonesia penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. Pengobatan dengan obat malaria program juga relatif lebih baik (≥50%) di daerah perkotaan. Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data ISPA ringan dan pneumonia. 3. terutama pada balita. sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar. tetapi proporsi pengobatan dengan obat malaria program cenderung lebih baik pada anak dibandingkan orang dewasa. Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa. Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan. Kepada responden ditanyakan apakah dalam satu bulan terakhir pernah didiagnosis ISPA/pneumonia oleh tenaga kesehatan. Pnemonia. dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita tinggi. dapat menjadi pneumonia. serta sering mengakibatkan kematian. Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama. Tidak terlihat perbedaan prevalensi DBD pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi DBD klinis juga cenderung meningkat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita yang lebih tinggi. namun kasus yang terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan lebih banyak di perkotaan.2%). Hal ini mungkin berhubungan dengan tingkat kesadaran penderita dalam mengenali penyakit dan mencari pengobatan yang lebih baik di kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita yang lebih tinggi tersebut. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 . ditanyakan apakah pernah menderita gejala ISPA dan pneumonia.3. Walaupun prevalensi malaria klinis pada anak (<15 tahun) relatif lebih rendah dari orang dewasa. dan cenderung tinggi pada responden dengan pendidikan rendah.34 tahun (0. dan bila tidak. prevalensi pada bayi relatif rendah.

6%).37 0.45 4.67 4.88 9.91 0.08 14.22 6.47 1.83 1.66 0.52 ISPA DG 36.58 0.78 0.53 4.68 0.54 10.12 1.43 2.63 1. Prevalensi ISPA satu bulan terakhir di Indonesia adalah 25.06 2.73 0.13 D 1.84 0.01 DG 1.73 0.63 Indonesia 8.78 6.77 1.87 22.37 0.42 0.36 0.55 1.22 0.62 1.40 5.39 1.07 2.50 4.16 0.17 2.27 1.47 2.04 0.81 1.8% . Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.36 0.ditanyakan apakah pernah menderita gejala demam tinggi dengan mata merah dan penuh kotoran.54 0.43 0.59 5.24 2.92 0.40 12.36 0.52 0.55 28.11 0.50 0.76 0.45 0.18 0.64 5.48 18.64 0.24 0.63 0.32 25.60 0. kecuali di Sumatera Selatan lebih banyak didiagnosis oleh tenaga kesehatan.07 2.78 1.97 2.42 0.29 0.35 0.58 0.43 0.27 1.75 0.26 0.60 24.59 5.77 1.37 0.24 0.02 0.72 0.50 1.00 0.29 0.42 0.5.43 0.70 0.44 0.5% (rentang: 17. Pneumonia.87 1.37 0.01 0.98 TB D 0.20 36.36 22.92 2.04 5.47 30.06 0.23 0.33 2.90 0.56 Pneumonia D 1.49 26.41.50 0. Prevalensi pneumonia satu bulan terakhir di Indonesia adalah 2.98 8.73 9.56 0.65 17.85 2.49 0.40 0.38 22.27 0.5% . TB.56 0.06 27.44 1.50 0.24 1.05 5.40 0.31 0.10 1.20 0.37 0.53 1.31 0.13 0.22 1.12 0.36 17.31 0.03 1.44 9.08 22.80 30.00 1.34 0.78 1.76 2.23 0.18 104 .60 Prevalensi ISPA.98 1.47 0.63 2.39 21.58 0.1% (rentang: 0.90 19. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.95 8.60 2.84 18.21 0.52 28.98 2.03 1.37 0.84 0. serta ruam pada kulit terutama di leher dan dada.29 1.72 0.81 1.40 0.61 1.13 0.71 0.14 0.36 1.47 0.71 0.50 2.34 0.43 0.22 1.80 6.95 2.65 20.40 25.56 0.75 33.67 2.59 1.98 5.26 8.53 0.38 9.65 2.15 0.32 0.54 2.53 1.86 0.73 29.47 0.32 0.20 6.59 1.39 26.99 0.19 2.65 0.01 0.47 0.05 0.20 0. dan Campak menurut Provinsi.77 0.54 0.80 0.68 4.98 6.53 1.09 2.11 0.75 0.63 0.78 22.4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional.89 Campak DG 1.41 1.82 0.52 20.39 0.41 2.19 1. Tabel 3.02 0.97 24.29 1.74 8.77 0.28 1.90 22.23 0.78 0.42 0.69 1.38 7.36 1.69 1.99 0.25 0.38 0.06 12.03 27.88 1.20 30.49 1.04 0.38 0.28 1.26 0.10 0.73 DG 3.41 1.10 10.31 0.56 0.99 22.33 0.18 0.48 1.58 0.52 41.44 0.58 0.28 7.64 22.79 3.94 7.61 0.08 1.10 25.54 29.

Bali. Jawa Barat. Sulawesi Tenggara.2%. dan Papua Barat. kecuali di Sumatera Selatan dan Papua. Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%). Maluku. Tabel 3. antara lain Nusa Tenggara Timur. Nanggroe Aceh Darussalam. Prevalensi relatif sama pada laki-laki dan perempuan demikian pula di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relatif sama. Empat belas provinsi mempunyai prevalensi lebih tinggi dari angka nasional. Papua Barat. Nusa Tenggara Timur.Empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. DKI Jakarta. Kasus pneumonia pada umumnya terdeteksi berdasarkan diagnosis gejala penyakit. Pada umumnya kasus campak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan. tertinggi di Provinsi Papua Barat (2. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Pneumonia cenderung lebih tinggi pada kelompok yang memiliki pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.2%) dan terendah di Provinsi Lampung dan Bali (0. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi. dan Papua. Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional.3%). Banten.4%) dan masih cukup tinggi ditemukan pada usia di bawah 15 tahun. kecuali di Provinsi Bengkulu. Karakteristik responden pneumonia serupa dengan karakteristik responden ISPA.24 tahun. dan Campak menurut karakteristik responden. dan relatif sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita. dan Papua. TB. Sulawesi Selatan. Gorontalo.4%). tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. Kalimantan Selatan. Maluku Utara. Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 1. Sulawesi Barat. sedangkan terendah pada kelompok umur 15 . 105 .5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0. Prevalensi TB paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Prevalensi campak lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Pneumonia klinis terdeteksi relatif lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan. tertinggi di Provinsi Gorontalo (3. Kalimantan Tengah. Prevalensi campak klinis 12 bulan terakhir di Indonesia adalah 1. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. Pneumonia. kecuali pada kelompok umur ≥55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi.0%. Prevalensi campak tertinggi pada anak balita (3. Lampung.61 adalah gambaran ISPA. kecuali di Provinsi Sumatera Selatan.

79 Tidak tamat SD 7.30 26.08 2.92 20.32 0.40 0.26 0.53 0.69 5.72 0.10 0.73 0.56 0.59 1.82 23.9 1-4 16.21 2.13 Perdesaan 8.08 0.15 0.77 1.27 0.27 0.42 1.17 1.77 Ibu RT 6.17 1.27 1.17 1.04 1.26 0.27 0.21 0.01 26.58 Wiraswasta 6.0 55-64 7.2 15-24 5.85 Lainnya 6.37 0.26 0.86 0.26 2.46 1.40 0.76 0.60 0.94 1.29 0.32 1.08 1.6 45-54 7.23 0.96 1.71 21.09 Kuintil 2 8.98 Kuintil 5 7.02 1.7 65-74 8.24 0.89 19.99 35.39 0.40 0.38 0.44 3.42 1.49 23.98 0. dan Campak menurut Karakteristik Responden.31 0.43 0.61 0.40 Tamat SD 6.02 0.11 Kuintil 4 7.29 0.4 >75 9.27 0.21 0.51 23.00 Kuintil 3 8. TB.13 2.91 2.53 0.33 1.67 1.1 5-14 9.88 0.55 0.64 0.00 1.45 1.42 Pegawai 6.20 27.82 0.56 0.69 0.84 106 .90 0.38 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D ISPA DG Pneumonia D DG D TB DG D Campak DG Kelompok umur (tahun) <1 14.84 0.53 28.80 1.47 0.84 1.14 0.46 0.70 2.60 1.56 0.62 0.79 0.41 1.40 0.04 Tipe daerah Perkotaan 8.96 21.44 0.60 0.06 Perempuan 8.33 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 8.48 0.61 0.18 0.82 1.87 27.47 24.01 0.70 1.62 0.80 0.49 0.07 20.6 25-34 6.73 23.42 0.73 0.61 0.62 0.18 0.0 Jenis Kelamin Laki-laki 8.66 0.27 0.73 0.49 18.63 2.46 Tamat SMP 6.59 1.39 0.83 1.48 25.01 1.53 0.26 25.50 0.55 2.61 0.89 1.65 0.92 42.18 0.35 0.34 0.47 0.75 1.45 1.81 2.59 0.33 2.34 0.37 0.34 1.55 0.12 2.62 2.42 0.74 0.60 0.58 0.57 25.17 1.13 0.70 0.68 24.68 0.07 22.69 2.91 20.40 2.94 0.67 Pekerjaan Tidak kerja 6.Tabel 3.66 0.47 0.22 1.36 0.40 0.92 1.60 1.26 2.38 4.33 0.81 17.60 0.67 0.99 Sekolah 6.43 0.61 Prevalensi ISPA.42 0.00 Pendidikan Tidak sekolah 7.57 1.73 2.81 1.69 0.17 22.30 30.43 0.77 28.21 0.04 2.57 22.67 0.69 0.42 0.49 0.56 0.75 18.09 0.17 0.62 0. Pneumonia.39 0.21 0.56 0.21 Tamat PT 6.20 Tamat SMA 6.42 3.10 1.07 1.50 2.44 0.37 Petani/Nelayan/ 6.83 1.36 1.00 0.30 0.60 26.20 3.42 0.70 0.17 25.76 1.43 4.35 0.94 0.84 2.1 35-44 6.07 1.51 0.04 0.34 0.

Sumatera Selatan. sakit kepala. Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya. ditanya apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. Banten. Gorontalo. Kasus diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. serta kulit dan mata berwarna kuning.9%). dan Sulawesi Selatan) kasus diare lebih banyak dideteksi berdasarkan gejala klinis. 107 . Sulawasi Selatan.2%. Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD. Sulawesi Barat. Bengkulu. Sumatera Barat. tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI Yogyakarta.4%).3. Sulawesi Tenggara. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu. Di 18 provinsi. Dua belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. nyeri perut sebelah kanan atas. Papua Barat dan Papua).6% (rentang: 0.3. Sulawesi Tengah. Hanya di tujuh provinsi (Banten. Kalimantan Tengah. Jawa Barat. yaitu Provinsi NAD. Responden yang menyatakan tidak pernah. Tabel 3. Responden yang menderita diare ditanya apakah minum oralit atau cairan gula garam. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar. tidak nafsu makan. Nusa Tenggara Barat. terendah ditemukan di Provinsi Banten (29. Kalimantan Timur. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur.6% (rentang: 0. Responden yang menyatakan tidak pernah. Nusa Tenggara Barat. Banten. ditanya apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair.3%).0% (rentang: 4. Diare Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Prevalensi diare diukur dengan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. dan Papua. Jawa Tengah. Hepatitis. Jawa Barat. Gorontalo. Sulawesi Tengah. Prevalensi diare klinis adalah 9. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. kasus tifoid sebagian besar terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Riau.3% . Kalimantan Selatan. Papua Barat. Nusa Tengara Timur.1.3 Prevalensi Tifoid. proporsi responden diare klinis yang mendapat oralit adalah 42. Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis.2% . Sulawesi Utara. muntah. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian.18. Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Kalimantan Selatan. kecuali di Provinsi Jawa Timur. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis hepatitis dalam 12 bulan terakhir. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual. Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. kencing warna air teh. Dua belas provinsi mempunyai proporsi pemberian oralit kurang dari proporsi nasional.2% . Secara nasional.62 menunjukkan bahwa prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1. Kalimantan Selatan. sedang di provinsi lainnya terutama berdasarkan gejala klinis.9%).

2 0.7 30.4 0.03 1.2 11.2 0.9 7.5 7.8 DG 18.9%.13 2.4 54.1 0.80 1.03 1.16 1.3 0.4 12.9 O 42.94 0.7 1.2 0.8 2.1 43.25 1.2 0.60 0.5 5.9 9.2 0.5 7.36 0.93 2.1 49.5 9.2 47.61 0.86 1.2 10.1 0.1 0.1 0.7 51.4 0. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.3 10.7 0.6 0.1 2.8 4.0 42.7 56.3 0.0 8.6 39.91 1.90 1.1 8.42 0.7 5.90 1.7 1.8 2.5 0.7 44.5 3.14 tahun) yaitu 1.68 0.39 2.35 1.06 0.4 0.1 0.56 0.27 2.40 0.9 5.3 0.4 7.9 5.70 0.96 0.53 0.9 0.3 0.1 0.2 0.8%).9 52.9 5.0 10.2 0.67 1.7 4.1 5.0 37.19 1.8 0.6 6.2 3.44 2.96 0.0 5.0 43.1 44.7 4.7 29.62 adalah gambaran Tifoid.4 43.5 43.8 DG 1.6 4.0 49.2 0.60 0.01 0.3 36.95 1.1 5.4 0.3 0. Hepatitis.5 0.6 2.3 8.65 1.2 40.79 1.7 1.87 0.44 0.4 5.8 45.5 4.3 0.5 0.2 2.77 1. terendah pada bayi (0.16 0.8 10.87 1.4 41. dan Diare menurut karakteristik responden. dan relatif lebih tinggi di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan.5 0.2 0.7 0.4 35.2 0.6 0.8 3.3 Diare D 11.4 16.3 0.1 0.20 2.9 0.98 0.30 0.3 5.6 0.9 3.6 7.7 41.35 0.4 0.8 1.4 9.6 5.4 47.2 47.48 1.66 0.1 0.3 0.43 0.8 5.1 0.9 47.32 2.44 0.3 4.9 7.2 0.88 0.54 0.1 48.85 Tifoid DG 2. Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.5 Indonesia 0. Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 .1 0.24 0.46 1.3 13.60 0.9 8.Tabel 3.2 0.1 0.2 Tabel 3.2 4. Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.1 9.58 0.31 0.11 Hepatitis D 0.1 0.12 0.8 30. 108 .2 8.4 0.99 1.75 1.7 4. Hepatitis.1 0.69 0.2 9.2 6.6 50.2 0.2 7.1 0.0 5.8 0.8 4.2 0.2 3.0 29. Diare menurut Provinsi.3 0.14 1.33 1.3 0.3 0.2 0.1 6.3 0.5 7.53 0.4 3.51 1.6 5.3 0.80 0.5 2.62 Prevalensi Tifoid.4 53.0 8.28 1.8 9.0 53.

6 16.8 43.9 4.5 10.3 7.0 1.8 Kuintil -1 0.7 36.4 6.7 9.7 Tamat SMA 0.2 0.5 39.7 55-64 0.3 0.7 25-34 0.7 Perkotaan 0.9 Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun.6 0.7 Pegawai 0.9 10.8 1.1 40.9 5.5 16. Diare menurut Karakteristik Responden.5 9.3 0.62 Prevalensi Tifoid.3 0.6 4.5 1.2 7.0 0.0 5.3 <1 0.2 4.3 5.1 0.7 0.6 1.4 8.3 3.8 0.2 0.8 8.7 1.9 5.2 0.5 0.1 3.1 37.4 1.2 1.9 52.6 11.Tabel 3.2 0.5 3.7 42.5 4.2 0.2 0.8 3.5 42.7 0.7 0.2 0.5 38.2 0.7 1.6 0.1 7. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D Tifoid DG D Hepatitis DG D Diare DG O Kelompok umur (tahun) 0.8 0.8 1-4 1.4 39.2 0.9 4.8 1.3 8.5 0.1 37.6 7.0 10.0 36.2 5.2 0.6 0.2 1.5 1.9 9.6 1.8 55.2 0.7 8.6 7.1 0.1 4.2 0.8 41.4 1.1 1.4 0.8 Petani/nelayan/buruh 0.9 Tidak tamat SD 0.4 9.8 1.7 >75 Jenis Kelamin 0.2 0.7 0.3 37.4 8.9 Laki – laki 0.6 65-74 0.5 0.6 0.3 0.5 1.5 41.2 1.4 0.4 36.9 0.3 36.2 0.2 0.4 10.3 5.8 Kuintil -5 0.2 0.2 0.3 37.0 9.8 38. dan cenderung lebih tinggi pada 109 .0 0.7 35-44 0.9 1.0 8.3 0.2 0.2 0.8 1.8 4.8 41.7 Tamat PT Pekerjaan 0.8 Kuintil -4 0.9 Perdesaan Pendidikan 0.1 1.1 5.2 5.9 15-24 0.5 Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita 0.2 0.2 7.2 41.9 0.6 0.0 7.9 0.5 37.1 39.8 0.8 42.0 40.7 0.6 41.4 4.5 1.6 0.9 0.8 Tamat SMP 0.0 41.7 5.5 43. hampir 2 kali lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.7 0.6 1.0 Sekolah 0.4 8.3 0.0 37.3 5. Hepatitis.8 Perempuan Tipe daerah 0.7 Wiraswasta 0.3 0.7 11.7 0.6 0.7 1.2 4.7 45-54 0.0 4.4 0.9 3.9 4.8 Kuintil -3 0.5 1.6 1.5 1.6 37.2 0.4 5.9 9.3 0.6 8.3 0.8 4.6 1.6 0.2 4.4 1.2 0.4 1.7 7.4 3.9 Tamat SD 0.7 7.8 1.1 4.7 Tidak sekolah 0.7 1.9 Tidak kerja 1.9 Kuintil -2 0.0 38.1 5-14 0.6 Ibu RT 0.3 1.6 5.

5%. aritmia. dan Penyakit Keturunan Data penyakit tidak menular (PTM) yang disajikan meliputi penyakit sendi. hipertensi. Data hipertensi didapat dengan metode wawancara dan pengukuran. Setiap responden diukur tensinya minimal 2 kali. bibir sumbing. hipertensi. Prevalensi PTM adalah gabungan kasus PTM yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan kasus yang mempunyai riwayat gejala PTM (dinotasikan sebagai DG pada tabel). Pengukuran tensi dilakukan pada responden umur 15 tahun ke atas. tumor/kanker. Hipertensi berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan tekanan darah/tensi. dan dekompensasi kordis. stroke. yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Riwayat penyakit sendi. Responden dikatakan memiliki gejala jantung jika pernah mengalami salah satu dari 4 gejala termaksud. cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran RT per kapita. baik berdasarkan diagnosis maupun gejala (D dibagi DG). maka dilakukan pengukuran ke tiga. Penyakit Sendi. 110 . Penyakit sendi. Tensimeter digital divalidasi dengan menggunakan standar baku pengukuran tekanan darah (sfigmomanometer air raksa manual). proporsi yang mendapat oralit pada ke dua kelompok umur tersebut berturut-turut 52. asma. jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran pertama. jantung. Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan. yaitu penyakit jantung kongenital. ditetapkan menggunakan alat pengukur tensimeter digital.1 Penyakit Tidak Menular Utama. gangguan jiwa berat. DM. Kriteria JNC VII 2003 hanya berlaku untuk usia 18 tahun keatas. dan untuk jenis PTM lainnya kurun waktu riwayat PTM adalah selama hidupnya.pendidikan rendah. sedangkan PTM lainnya ditanyakan kepada semua responden.7%). glaukoma. stroke dan asma ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.4. Dua data pengukuran dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi. 3. buta warna. Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk 15 tahun ke atas maka temuan kasus hipertensi pada usia 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi. angina.4 Penyakit Tidak Menular 3. riwayat pernah mengalami gejala penyakit jantung dinilai dari 5 pertanyaan dan disimpulkan menjadi 4 gejala yang mengarah ke penyakit jantung. maka prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensi dihitung hanya pada penduduk umur 18 tahun ke atas. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003. dan hemofilia dianalisis berdasarkan jawaban responden “pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan” (notasi D pada tabel) atau “mempunyai gejala klinis PTM”. Prevalensi diare yang tinggi pada bayi dan anak balita tidak selalu diberi oralit. Untuk kasus penyakit jantung. Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16.8% dan 55. rinitis. talasemiaa. hipertensi dan stroke ditanyakan kepada responden umur 15 tahun ke atas. Cakupan atau jangkauan pelayanan tenaga kesehatan terhadap kasus PTM di masyarakat dihitung dari persentase setiap kasus PTM yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dibagi dengan persentase masingmasing kasus PTM yang ditemukan. dermatitis.

9 12.8 10.6 14.4 10.8 29.6 31.8 4.3 4.5 6.1 30. Hipertensi.7 7.2 7.0 9.2 10.4 5.9 5.1 9.0 29.8 9.2 7.1 13.1 9.4 22.7 20.8 5.1 37.4 7.2 26.4 7.0 4.6 19.7 5.4 5.5 29.0 9.8 9.4 15.0 10.9 3.4 8.6 33.3 6.3 8.63 Prevalensi Penyakit Persendian.8 27.3 9.2 6.6 6.6 31.3 6.0 D/G 16.1 14.7 4.7 25.1 6.7 9.8 19.6 29.4 10.1 7.0 3.9 7.8 23.0 14.7 6.7 26.0 6.4 U 30.3 17. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.9 28.1 5.7 5.7 6.8 5.0 12.3 7.6 29.3 10.7 7.1 5.9 5.2 30.5 4.6 11.4 20.6 31.6 5.6 7.5 8.5 6.0 12.6 7.0 26.4 8.4 D/G 34.5 4.8 29.2 4.1 29.4 6.0 5.2 5.1 24.4 9.1 5.5 8.6 5.0 8.7 36.6 7.6 8.4 9.2 12.3 9.7 2.3 28.7 9.5 33.1 8.4 28.9 7.3 Stroke (‰) D 10.1 11.2 2.0 8.1 14.5 7.9 4.8 7.3 8.8 37.7 11.6 8.7 Hipertensi (%) D 9.1 24.0 35.4 7.3 7.5 25.9 32.6 5.0 8.9 8.3 8.0 10.7 28.5 9.2 5.0 31.2 7.9 38.8 5.Tabel 3.3 41.1 4.0 7.1 4.4 7.9 30.0 30.9 31.0 5.7 12.1 22.5 15.1 32.2 33.1 D/O 10.6 38.4 37.9 5.5 3.3 31.8 33.4 8.0 6.8 11.4 17. dan Stroke menurut Provinsi.9 4.6 8.1 6.5 12.8 8.0 11.2 29.6 29.5 5.5 6.6 23.8 12.6 9.8 Indonesia 14.8 27.5 6.0 8.4 8.3 28.2 9.3 11.0 27.2 36.5 6.0 30.2 5.9 19.0 28.2 20.3 Catatan : D = Diagnosa oleh Tenaga Kesehatan D/G = Didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit Hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 111 .3 7.3 5.9 29.2 11.6 26.4 5.4 7.6 5.3 7.2 7.3 31.8 7.8 23.1 7.3 19.4 27.9 3.5 5.1 35.6 6.9 26.6 9.6 39.1 4.9 8.7 6.7 9.6 15.2 34.0 6.3 13.4 8.

4%). dan gabungan kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dengan kasus hipertensi berdasarkan riwayat minum obat hipertensi diberi istilah diagnosis/minum obat dengan inisial DO. baik pola prevalensi penyakit sendi maupun hipertensi dan stroke tampak tidak ada perbedaan yang mencolok. maka terdapat 4050 (8. hipertensi maupun stroke tampak meningkat sesuai peningkatan umur responden. demikian pula prevalensi hipertensi. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8. DI Yogyakarta.6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0. Apabila kriteria hipertensi sesuai JNC VII 2003 juga diterapkan untuk penduduk 15-17 tahun. Kalimantan Tengah.3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Terdapat 13 provinsi dengan prevalensi stroke lebih tinggi dari angka nasional.63) sebesar 30. atau dengan kata lain sebanyak 76.6%) dan terendah di Papua Barat (20. dan Nusa Tengah Tenggara Barat.0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis.6‰) dan terendah di Papua (3. hipertensi. Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24. Terdapat 11 provinsi dengan prevalensi penyakit sendi lebih tinggi dari angka nasional. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. 112 . prevalensi penyakit sendi pada Petani/Buruh/Nelayan ditemukan lebih tinggi daripada kelompok pekerjaan lainnya. Provinsi Jawa Timur. Menurut provinsi. Sulawesi Barat. merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. Sulawesi Tengah.64 juga dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit sendi. Berdasarkan pekerjaan responden. Prevalensi penyakit sendi secara nasional (Tabel 3.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%. prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31.Selain pengukuran tekanan darah. Menurut karakteristik responden.5%). Bangka Belitung. namun meningkat kembali pada kelompok pendidikan tamat PT. prevalensi penyakit sendi.1%). kasus hipertensi berdasarkan hasil pengukuran diberi inisial U. Sedangkan pola prevalensi stroke menurut jenis kelamin tidak tampak perbedaan yang mencolok. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39.2%.8%) dan terendah di Sulawesi Barat (7. Dalam penulisan tabel. Menurut jenis kelamin. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7. Menurut provinsi. kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diberi inisial D. Cakupan diagnosis penyakit sendi oleh tenaga kesehatan di setiap provinsi umumnya sekitar 50% dari seluruh kasus yang ditemukan. Sedangkan untuk hipertensi dan stroke. responden juga diwawancarai tentang riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat meminum obat anti-hipertensi. prevalensi penyakit sendi tertinggi dijumpai di Provinsi Papua Barat (28.0%. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7.8‰). Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di NAD (16. prevalensi ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja. dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1000 penduduk.3 per 1000 penduduk. Hal ini menunjukkan sekitar 72.4%) responden umur 15-17 tahun yang telah mengalami hipertensi. Jawa Tengah. dan stroke cenderung tinggi pada tingkat pendidikan rendah dan menurun sesuai dengan peningkatan tingkat pendidikan. namun ada kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan peningkatkan tingkat pengeluaran rumah tangga. Riau. Pada Tabel 3. prevalensi penyakit sendi cenderung lebih tinggi pada perempuan.7%.

9 8.6 7.9 17.9 27. dan Stroke menurut Karakteristik Responden.7 8.2 19.1 5.1 25.5 8.0 12.1 14.0 18.3 1.5 6.7 15.3 0.9 8.9 5.2 32.3 16.1 5.4 0.4 31.9 23.0 7.3 7.3 20.1 11.5 5.8 33.0 2.4 5.8 8.1 28.8 33.1 13.7 13.8 4.7 14.9 8.0 7.7 63.3 7.5 5.1 0.7 7.3 5.3 11.1 22.7 7.1 7.3 6.6 1.9 15.0 14.6 7.5 25.5 67.9 3.6 8.0 6.5 4.9 7.2 5.5 15.4 7.0 8.4 53.6 7.4 6.9 6.1 6.1 4.5 11.8 9.7 30.1 15.0 31.5 30.4 8.5 0.0 15.2 18.4 20.4 30.6 9.9 42.64 Prevalensi Penyakit Persendian.4 62.8 33.3 4.8 29.5 17.8 46.5 11.9 2.Tabel 3.2 28.8 32.3 8.5 22.2 32.9 8.3 8.7 7.2 7.1 6.0 32.7 6.6 6.2 13.2 22.6 31.4 6.9 33.4 14.0 6.1 5.8 7.6 4.2 31.6 8.6 32.4 4.2 9.7 14.7 19.6 18.9 10.0 9.7 12.3 23.0 29.5 6.9 41.1 7.7 44.6 7. Hipertensi.9 28.0 6.9 31.3 56.8 7.6 6.4 11.7 7.2 6.3 0.1 37.4 16.6 53.3 30.8 17.9 8.1 1.7 9.9 33.8 31.2 31.2 4.3 31.9 39.5 31.3 7.9 19.6 28.8 12.7 1.3 6.9 6.7 13.1 9.1 29.0 29.9 2. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Karakteristik Responden D Umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuinti 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.8 25.9 65.8 8.8 13.5 4.9 4.8 4.7 11.1 24.0 7.3 2.7 9.2 12.7 20.6 2.2 5.7 11.6 13.2 30.0 8.7 2.7 Hipertensi (%) D D/0 U Stroke (‰) D D/G D/G Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita 113 .1 14.3 0.7 3.6 6.1 1.2 5.5 35.5 9.

Sebagai contoh bisa dipilih penyakit hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah. diabetes.76 9. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis asma oleh tenaga kesehatan sebesar 54. 114 . prevalensi asma berkisar antara 1. dan tumor menurut provinsi. Prevalensi DM menurut provinsi.23 47.00 11. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi. sepuluh kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jayawijaya Teluk Wondama Bengkulu Selatan Kepulauan Mentawai Tolikara Yahukimo Pegunungan Bintang Seluma Sarmi Tulang Bawang 6.65 menunjukkan prevalensi asma. Penyakit asma ditemukan sebesar 3. jantung.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1. yaitu dengan membuat urutan (ranking) dari yang terbaik sampai yang terburuk.5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung. Dalam hal ini harus dipilih indikator kesehatan yang prevalensinya cukup besar.11 12.56 49.5% di Indonesia dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1.9%.48 48.9%. berkisar antara 0. Terdapat 17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional.6% di Lampung sampai 12. Menurut provinsi.3% (D dibagi DG). berkisar antara 1.4% di Lampung hingga 2. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional.55 49.5% di Provinsi Lampung hingga 7.45 13.6%.38 11.96 45.3‰.19 Tabel 3. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63.6‰ di DI Yogyakarta.Untuk penyakit tidak menular.29 50.1%. Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7.2% berdasarkan wawancara. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional. Setelah ditentukan urutan (ranking) dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak kasus hipertensi untuk usia ≥ 18 tahun.58 15.74 46.94 14.5‰ di Maluku hingga 9. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0.2% di Gorontalo.29 46. dapat pula dilakukan analisis sampai ke tingkat kabupaten/kota. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung.86 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Terburuk Natuna Mamasa Katingan Wonogiri Hulu Sungai Selatan Rokan Hilir Kuantan Singingi Bener Meriah Tapin Kota Salatiga 53. Prevalensi menurut provinsi.6% di DKI Jakarta.09 45. berkisar antara 2.64 13.6% di NAD.56 14.

4 4.1 4.5 0.4 8.8 2.4 0.3 0.8 3.7 0.8 1.9 6.4 0.5 1.5 1.5 D 2.8 1.1 1.0 2.5 4.8 1.5 0.5 4.3 2.4 6.5 4.9 1.6 0.2 2.3 0.8 9.9 5.9 2.2 1.7 5.5 2.6 0.8 3.0 2.4 6.9 2.9 5.3 1.8 1.8 1.6 7.0 1.3 1.8 1.65 Prevalensi Penyakit Asma*.4 1.7 0.1 4.4 1.5 3.4 0.1 3.6 1.6 0.3 1.7 4.6 5.9 0.4 8.8 8.9 0.3 0.1 8.6 11.6 2.3 1.8 0.0 5.9 1.4 7.8 (%) D 2.3 7.8 1.2 1.8 0.0 3.7 6.5 0.0 11.0 0.3 3.1 4.4 1. D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.5 0.7 5.0 1.2 4.7 3.2 8. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker 115 .7 4.6 0.6 2.6 DM (%) Tumor (‰) D/G 1.0 1.2 0.6 1.0 0.2 11.6 0.1 1.4 8.8 0.3 D 1.6 3.8 4.3 3.6 0.8 5.7 0.7 0.7 5.4 4.6 3.7 0.5 0.9 1.3 2.9 4.8 1.7 0.8 0.1 0.7 1.5 0.5 0.1 2.9 1.5 3.7 3.2 0.7 8.0 0.9 3.0 1.7 0.5 0.3 0.4 2.8 0.2 7.3 1.6 0.8 2.3 2.0 7.3 5.0 0.7 1.8 0.5 1.8 0.3 1.6 0.3 2.4 1.6 2.0 1.3 Catatan: D=Diagnosa oleh tenaga kesehatan.8 0.6 4.6 1.4 Jantung (%) D/G 4.1 2.2 2.7 0.9 3.9 3.8 0.9 7.3 0. Riskesdas 2007 Asma Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.8 1.6 1.6 0.0 3.8 7.Tabel 3.8 0.8 4.3 2.4 0.8 3.2 2.6 1.8 0.4 Indonesia 1.3 7.4 3.4 0.1 2.5 1.0 4.5 8.4 3.7 2.4 1.4 5.7 0.8 1.3 0.5 2.3 0.4 6.7 0.4 3.6 0.8 5.1 1.6 3.7 4.8 1.2 1.8 2.1 2.7 2.0 0. jantung.3 1.3 1.5 0.8 3.6 5.2 0. Jantung*.6 1.5 0.9 2.5 1.7 0.1 2.0 3. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.1 9.6 3.6 3.8 0.6 0.7 D/G 12.3 2.5 0.

3 2.9 2.9 9.66 menunjukkan prevalensi penyakit asma.8 5.4 2.7 0.6 1.1 2.7 3.3 10.0 3.9 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.1 1.2 0.5 0.4 6.2 20.3 0.7 3.8 2.6 1.2 1.8 0.7 2.2 1.2 0.3 3.1 0.0 1.1 4.9 4. Tabel 3.4 0.3 6.2 3.1 10.9 1.2 0.8 5.7 1.3 3.2 1.7 8.7 6.4 2.4 1.8 Desa 2.1 116 .6 5.7 0.1 1.1 6.4 0.7 5.7 2.6 1.2 1.4 1.7 6.8 3.5 1.2 2.9 10. Jantung.6 1.5 4.7 1.3 1.5 2.2 2.1 3.5 1.5 1.3 0.1 4.4 0.9 1.2 1.9 Asma (%) D D/G Jantung (%) D D/G Diabetes (%) D D/G Tumor (‰) D Kota 1.4 3.9 1.8 0.2 7.4 1.3 1.4 1.9 1.2 7.0 1.8 1.2 7.4 4.3 0.7 1.0 0.3 5.5 2.1 1.1 4.66 Prevalensi Penyakit Asma.4 8.3 7.9 6. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) <1 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tempat tinggal 0.5 8.9 1.8 2.8 4.6 3.0 2.2 6.4 5.3 1.3 1.8 7.1 19.2 8.7 0.7 5.2 2.2 1.9 1.7 0.0 8.3 0.5 10.7 3.0 3.0 0.5 3.8 6.6 2.9 3.0 2.3 1.2 0.2 7.2 8.1 1.8 1.7 0.5 1.9 0.1 11.4 2.6 1.4 3. dan tumor menurut karakteritik responden.1 1.4 3.2 1.0 0.8 2.0 0.8 6.5 0.0 4.0 2.2 1.3 5.2 0.5 16.3 0.5 1.8 7.2 1.5 1.0 1.9 5.0 2.5 8.4 2.1 0.1 8.4 1.6 6.4 2.0 2.1 1.8 2. DM.2 1 1.8 9.0 2.2 2.8 1.9 1.4 6.1 7.7 2.7 3.3 1.8 1.2 0.0 1.4 12.1 0.2 1.8 8.8 0.8 1.1 4. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.0 1.6 0.3 12.5 3.7 3.8 6.1 14. Diabetes Mellitus.7 4.4 10.5 3.5 0.4 2.8 1.Tabel 3.0 1.2 5.6 0.0 4.5 3.8 2.7 1.8 0. jantung.

Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga. menempati urutan sesudahnya. jantung.8‰). Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat (25. prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja.9‰ jauh di atas angka nasional (2.6‰). Nanggroe Aceh Darussalam (15. Provinsi DKI Jakarta ternyata menduduki peringkat teratas untuk prevalensi bibir sumbing. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Jambi.0‰). disusul kelompok petani/nelayan/buruh. Prevalensi rinitis di Indonesia sebesar 24. Riau (9. Prevalensi asma dan DM tidak berbeda menurut jenis kelamin.7‰). Riau (21. DKI Jakarta (99.3‰).3‰. yaitu sebesar 13. DKI Jakarta (37. Prevalensi penyakit asma dan jantung lebih tinggi di daerah perdesaan. sedangkan provinsi lain seperti Sumatera Selatan (10.8‰).3‰) yang diikuti berturut-turut oleh Provinsi Kep.5‰). Prevalensi penyakit asma.4‰). Kep. sedangkan prevalensi penyakit jantung dan tumor dijumpai lebih tinggi pada perempuan. Kep.8‰).5‰).8‰). Sumatera Selatan (9.4‰). tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (24. dan Sulawesi Barat masingmasing sebesar 0. Prevalensi dermatitis di Indonesia cukup tinggi (67. Prevalensi terendah terdapat di Riau (0. Nanggroe Aceh Darussalam (98.2‰).2‰).4‰.9‰). Sumatera Barat (16. Nanggroe Aceh Darussalam (7.4‰). Riau (3. Sulawesi Tengah (38. DKI Jakara (12. Nusa Tenggara Barat (9.7‰).9‰). Kalimantan Barat.5‰).6‰). Prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 4.67 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4. Jawa Barat (36. Sumatera Selatan (5.Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma. dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah.1‰). Untuk Talasemia.6‰).4‰. Prevalensi terendah 117 . berturut-turut diikuti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (12. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20. terdapat 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional. Prevalensi DM paling banyak terdapat pada kelompok pegawai.9‰).1‰). Menurut tingkat pendidikan. DM dan tumor meningkat dengan bertambahnya umur. namun untuk DM prevalensi cenderung menurun kembali setelah umur 64 tahun.7‰).2‰). Kep. Sumatera Barat (11. DM.1‰). dan tumor meningkat dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. Prevalensi terendah terdapat di Sumatera Utara(1. Nusa Tenggara Timur (99.8‰) dan berturut-turut disusul DI Yogyakarta (40.4‰).4‰). Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga. Prevalensi buta warna di Indonesia sebesar 7. Menurut jenis pekerjaan utama.9‰). Gorontalo (15. Gorontalo (3.0‰). tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (49. Tabel 3.6‰).6‰ dan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (18. Sumatera Barat (19.9‰).3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18. antara lain Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (13. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara (5.9‰). jantung. Nusa Tenggara Barat (8. sedangkan DM dan tumor lebih tinggi di daerah perkotaan. tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (113.6‰.7‰). prevalensi asma dan jantung paling tinggi pada kelompok tidak sekolah sedangkan prevalensi DM dan tumor paling tinggi terdapat pada kelompok tamat perguruan tinggi. sebaliknya prevalensi penyakit jantung. diikuti Sulawesi Tengah (105.5‰).Riau (12. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh dan tidak bekerja.9‰).Tampak bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dengan menurunnya tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.0‰). Sulawesi Tengah (12. DM.

1 2.4 2.1 48.3 3.6 5.2 2.5 1. atau hemofilia Jiwa 18.6 53.9 9.9 39. Talasemi.2 6.7 7.2 6.9 8.9 2.4 Glaukoma 12.2 1.9 1.8 35.4 22.4 1.5 Hemofili 5.6 0.7 6.6 0.9 4.0 62.8 6.3 0.5 10. Dermatitis.4 0.67 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.8 3.4 16.1 0.8 0.6 4.5 99.terdapat di Provinsi Lampung.1 0.4 0.1 0.6 1.3 84.1‰.4 4.0 12.4 0.5 0.3 0.9 15.5 43.4 7.5 73.5 0. buta warna.2 1.0 40.3 0.8 8.0 27.0 3.7 36.4 3.0 1.8 2.8 5.7 2.4 9.9 14.6 7.2 0.3 2.5 0.4 0.2 1.5 0.4 13.5 0.6 11.5 0.9 6.3 118 .0 2.2 11. dermatitis.3 15.6 Buta warna 15.5 1.4 10.5 4. dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0. glaukoma.4 0.8 12. Sumbing.9 92.8 0.1 99. talasemia.9 1.4 0.8 13.7 1.6 3.8 40.4 10.7 6.7 0.2 22.6 0.3 Talasemi 13.5 37.0 21.4 0. Tabel 3.8 0.2 62.5 113.0 24.7 12.3 2.4 20.2 105. Glaukoma.4 0.5 1.8 6.2 1.9 1. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.4 2.3 67.9 1.2 18.5 3.6 0.5 9.4 11.1 0.8 3.1 0.8 53.4 0.6 6.4 0.6 39.7 0.2 0.5 4.2 2.1 94.8 5.8 26.1 0.8 1.1 1.0 9.3 58.5 0.0 5.4 1.7 38.5 3. bibir sumbing.9 0.8 21.2 26.9 6.9 1.1 1.3 0.5 0.5 1.6 18.4 47.5 2.9 8. Rhinitis.7 26.3 0.3 92.4 Dermatitis 98.4 1.9 3.8 89.0 64.5 27.3 0.8 0.5 0.5 2.2 3.9 13.8 0.3 34.2 2.3 1.0 0.4 1.9 9.1 2.2 1.8 1.8 49.0 32.5 24.1 5.1 5.8 0.9 20.8 1.7 0.4 1.6 0.6 4.6 1.4 0.4 5.3 3.6 1.3 2.1 0.3 5.2 0.1 0.5 19.4 0.2 1.9 6.2 27.1 2.2 3.7 26.4 8.5 73.9 32. Buta Warna.1 23.8 Rhinitis 49.0 3.5 67.4 2.6 Sumbing 7.3 2.5 0.4 0.6 0.8 3.9 30.8 0.3 4.9 0.1 0.0 13.9 34.3 5.2 0.0 1.6 11.7 79.6 2.1 0.5 3.3 0.5 0.4 8.0 17.4 90.8 2. Riskesdas 2007 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Catatan: *) Penyakit keturunan ditetapkan menurut jawaban pernah mengalami salah satu dari riwayat penyakit gangguan jiwa berat (skizofrenia).6 0.3 7.6 0.2 29.2 25.1 2.9 7. Kalimantan Barat.8 38.9 1.7 1.4 21. rinitis.6 12.8 0.5 0.4 0.1 1.0 0.

Dari tabel ini dapat dilihat bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11.9‰). Tabel 3. 1995).1% sampai dengan 20.0‰). prevalensi tertinggi terdapat di DKI Jakarta yaitu gangguan jiwa berat. Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14.2‰).2 Gangguan Mental Emosional Di dalam kuesioner Riskesdas. dan hemofilia 3.6%). SRQ memiliki keterbatasan karena hanya mengungkap status emosional individu sesaat (± 2 minggu) dan tidak dirancang untuk diagnostik gangguan jiwa secara spesifik. SKRT 1995 juga menggunakan SRQ sebagai alat ukur. Nilai batas pisah yang ditetapkan pada survei ini adalah 6 yang berarti apabila responden menjawab minimal 6 atau lebih jawaban “ya”. dan Nanggroe Aceh Darussalam (15.68 di bawah ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun. Pertanyaan-pertanyaan SRQ diberikan kepada anggota rumah tangga (ART) yang berusia ≥ 15 tahun. Individu dinyatakan mengalami gangguan mental emosional apabila menjawab minimal 6 jawaban “Ya” kuesioner SRQ.1%). Kep. tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke atas (33. kelompok yang tidak bekerja (19.Demikian juga prevalensi Hemofilia masih terlihat tinggi. Riau (21. Lima dari 8 penyakit keturunan yang ditanyakan.4. Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut.3%).3‰).0% Prevalensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20. 119 .6%).7%). serta pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah (pada Kuintil 1: 12.6%. Nilai batas pisah tersebut sesuai penelitian uji validitas yang pernah dilakukan (Hartono. Prevalensi terendah di Provinsi Sumatera Utara (1. terutama di Provinsi DKI Jakarta (24. Berdasarkan umur. Sumatera Barat (19.0%). Dalam Riskesdas 2007 pertanyaan dibacakan petugas wawancara kepada seluruh responden. kelompok yang memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah. glaukoma. Riau (5. menunjukkan 140 dari 1000 Anggota Rumah Tangga yang berusia ≥ 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.5‰).0%) dan yang terendah terdapat di Provinsi Kep. Prevalensi ini bervariasi antar provinsi dengan kisaran antara 5. maka responden tersebut diindikasikan mengalami gangguan mental emosional. Tabel 3. buta warna. tinggal di perdesaan (12. Ke-20 butir pertanyaan ini mempunyai pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. Badan Litbangkes. yaitu 21.69 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Hasil SKRT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 1995. Gorontalo (15.5‰). Kesehatan mental dinilai dengan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang terdiri dari 20 butir pertanyaan. bibir sumbing. pertanyaaan mengenai kesehatan mental terdapat di dalam kuesioner individu F01 –F20.1%).

8 14.5 9.7 Kabupaten/kota DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Papua Indonesia *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 11.9 9.4 7.9 11.5 7.9 13.7 11.7 10.0 9.0 13.3 6.1 20.3 10.2 16.5 7.9 13.8 14.6 120 .Tabel 3.7 7.8 10.5 8.0 12.0 16.3 6.8 12.5 5.1 6.1 14.1 6.3 11.6 12.2 9.68 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Gangguan mental emosional 14.

1 Kuintil 5 10.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil1 12.7 Pekerjaan Tidak kerja 19.2 Lainnya 11.0 55-64 15.9 Kuintil 2 12.4 Pegawai 6.0 Perempuan 14.2 75+ 33.4 Kuintil 3 11.0 Tamat SD 9.9 65-74 23.3 Wiraswasta 9.7 Jenis kelamin Laki-laki 9.5 Tamat PT 6.9 45-54 12.2 Petani/nelayan/buruh 11.0 Tamat SMA 7.0 Tempat tinggal Kota 10.7 Tidak tamat SD 15.Tabel 3.8 Kuintil 4 11.7 25-34 9.0 35-44 9.6 Sekolah 8.0 Ibu RT 13.4 Desa 12.0 Pendidikan Tidak sekolah 21.1 *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 121 .69 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Karakteristik Responden Gangguan Mental Emosional Kelompok umur (tahun) 15-24 8.8 Tamat SD 12.

72 dan 3. Proporsi low vision tertinggi di Provinsi Bengkulu diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (9. Rendahnya proporsi low vision di Papua berkaitan dengan respons rate individu yang rendah.2% di DI Yogyakarta hingga 28. Proporsi low vision dan kebutaan cenderung lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan.1% di Provinsi Sulawesi Barat hingga 3.7% di Provinsi NAD. Tabel 3. tetapi terdistribusi hampir merata di semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Prevalensi low vision dan kebutaan dihitung berdasarkan hasil pengukuran visus pada responden berusia enam tahun ke atas.71 menunjukkan bahwa proporsi low vision makin meningkat sesuai pertambahan umur dan meningkat tajam pada kisaran umur 45 tahun ke atas.1% (di Provinsi Bengkulu). Sedangkan proporsi penduduk yang mengaku memiliki gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau) ditambah dengan yang pernah didiagnosis dalam 12 bulan terakhir secara nasional sebesar 17. Terdapat 11 provinsi dengan proporsi lebih tinggi dibanding angka nasional. sehingga proporsi tersebut mungkin tidak mewakili keadaan wilayah provinsi terkait secara keseluruhan.5 kali lipat angka nasional.3 Penyakit Mata Data yang dikumpulkan untuk mengetahui indikator kesehatan mata meliputi pengukuran tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen (dengan atau tanpa pin-hole). mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding angka nasional.9% dengan kisaran antara 0. riwayat katarak. Proporsi low vision dan kebutaan pada perempuan cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki. dan pemeriksaan segmen anterior mata menggunakan pen-light.6% (di Provinsi Sulawesi Selatan).4%). Keterbatasan pengumpulan data visus adalah tidak dilakukannya koreksi visus. Proporsi low vision dan kebutaan pada penduduk berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan. Secara keseluruhan. Data ini 122 .4. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh. Proporsi kebutaan tertinggi di Sulawesi Selatan diikuti oleh Provinsi NTT (1. masing-masing hampir 3 dan 1. Proporsi kebutaan tingkat nasional adalah sebesar 0.3%. dengan kisaran 1. sehingga pemakaian lensa intra-okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi. Sementara itu proporsi terbesar juga berada pada kelompok penduduk yang tidak bekerja.3% (di Provinsi Kalimantan Timur) sampai 2. Keterbatasan pada pengumpulan data katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata menggunakan alat bantu pen-light. Delapan dari 33 provinsi masih memperlihatkan proporsi low vision lebih tinggi dari angka nasional. Prevalensi katarak dihitung berdasarkan jawaban responden berusia 30 tahun ke atas sesuai empat butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner individu.1% di Provinsi NTT.73 adalah proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. Notasi D pada tabel 3. riwayat glaukoma.3. tetapi dilakukan pemeriksaan visus tanpa pin-hole. operasi katarak. Tabel 3.7% (di Provinsi Papua) hingga 10. tetapi tidak pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. diikuti peningkatan proporsi kebutaan. Proporsi riwayat operasi katarak didapatkan dari responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak dan pernah menjalani operasi katarak dalam 12 bulan terakhir.8% dengan kisaran antara 1.72 memperlihatkan bahwa proporsi penduduk usia 30 tahun ke atas yang pernah didiagnosis katarak sebesar 1. sedangkan DG adalah proporsi D ditambah proporsi responden yang mempunyai gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau). dan jika visus lebih kecil dari 20/20 dilanjutkan dengan pin-hole.70 menunjukkan bahwa proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4.8%). makin rendah tingkat pendidikan makin tinggi proporsinya. tabel 3. dua kali lipat lebih dibanding kelompok umur 35-44 tahun. dengan kisaran 10.8%.

9 10.5 4.4 3.5 0.6 0.4 3.70 Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.0 1.6 0.menggambarkan rendahnya cakupan diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan secara nasional (1.6 2.3% atau hanya 1/10nya).2 4.1 0.0 0.3 0.2 3. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Low vision* (%) 5.0 4.2 2.8 4.1 2.9 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 123 .5 0.1 0.1 1.2 3.7 3.6 2.4 5.8 0.4 2.6 0.4 0.9 5.3 1.9 2.1 3.7 9.8 0.9 0.9 6.8% dari 17.7 Kebutaan** (%) 1.7 3.4 1.9 0.5 1.3 5.9 4.6 0.7 0.5 4.2 1.0 1.6 0.8 4.3 1.7 0.5 0.8 3.4 1.4 0. Gambaran ini juga tampak di seluruh provinsi.5 5.7 3.4 1.1 3.0 4. Tabel 3.0 0.0 0.5 0.5 1.4 Indonesia 4.

3 0.7 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 124 .6 Kuintil 3 5.0 Petani/nelayan/buruh 6.3 Ibu RT 5.3 0.0 Kuintil 5 4.8 0.7 75+ 37.3 0.1 15 – 24 1.6 0.0 Kuintil 4 5.1 Tipe Daerah Perkotaan 4.4 Pendidikan Tidak sekolah 19.7 Wiraswasta 4.0 13.5 Sekolah 1.3 0.7 65 – 74 27.1 5.2 0.2 Perdesaan 5.7 1.0 1.9 0.6 Kuintil 2 4.1 0.Tabel 3.6 Tamat SD 4.3 3.8 Jenis kelamin Laki-laki 4.0 1.0 0.8 1.4 1.0 1.3 6.2 0.1 Tidak tamat SD 6.9 1.1 55 – 64 14.8 2.1 Tamat SD 2.8 35 – 44 2.71 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.2 Pekerjaan Tidak kerja 11.7 0. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Low vision* (%) Kebutaan* (%) 0.7 45 – 54 6.1 Perempuan 5.7 Tamat PT 3.6 25 – 34 1.2 0.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 4.5 0.8 Kelompok umur (tahun) 6 – 14 1.3 0.3 0.3 Pegawai 2.6 Tamat SMA 2.8 0.4 Lainnya 6.

0 16.1 28.9 1.4 1.4 18.3 2. **)DG= proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir.1 14.7 1.5 2.6 15.3 11.72 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi.2 12.2 18.4 2.5 DG** (%) 27.2 10.7 20.3 21.0 1.0 11. Tabel 3.6 1.3 1.2 17.5 3.5 17.1 15.0 1.2 1.0 19.1 1.8 17.6 2.73 menunjukkan bahwa proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan meningkat sesuai pertambahan usia.9 14.2 12.0 1.4 2.6 10.7 2.2 1.0 2.6 28.0 16.1 1. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D* (%) 3.Tabel 3.6 1.8 2.3 1.3 17.5 1.0 23.6 20.6 1.0 20.4 1.3 24. Proporsi katarak menurut umur yang dikelompokkan dengan interval 10 tahun memberikan gambaran adanya kecenderungan 125 .0 16.3 1.5 16.0 20.3 *)D = proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.5 13.6 27.5 18.7 1.3 2.4 Indonesia 1.4 1.2 1.8 2.

proporsi operasi katarak terbesar dijumpai pada kelompok yang sedang sekolah dan tinggal di daerah perkotaan. Proporsi terendah ditemukan di Provinsi Papua Barat (5. Tampak pula bahwa proporsi gejala katarak cenderung menurun pada tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi. Proporsi katarak berdasarkan riwayat diagnosis cenderung lebih besar pada perempuan (1.1%). proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan lebih besar pada penduduk dengan latar pendidikan enam tahun atau kurang dibanding dengan yang memperoleh pendidikan tujuh tahun lebih.2%) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (31.1% dengan kisaran terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara (21.75 menunjukkan bahwa proporsi operasi katarak makin meningkat sejalan dengan meningkatnyan umur. Tabel 3. Proporsi operasi katarak pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan. sehingga tidak semua penderita pasca operasi merasa memerlukan kacamata untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Pemberian kacamata pasca operasi katarak bertujuan mengoptimalkan tajam penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat. Secara nasional cakupan operasi ini masih sangat rendah. proporsi diagnosis katarak pada kelompok penduduk yang tidak bekerja lebih tinggi.74 menggambarkann proporsi operasi katarak dan pemakaian kacamata pasca operasi pada penduduk umur 30 tahun ke atas. sehingga visus pasca operasi mendekati normal dan hanya sedikit penderita yang memerlukan kacamata pasca operasi. Tabel 3. terdapat penumpukan kasus katarak pada tahun terkait (2007) sebesar 82%. Kemungkinan lain adalah hasil operasi katarak yang cukup baik. 126 .4%) dan tertinggi di Provinsi Papua (91. Proporsi operasi katarak makin meningkat sesuai dengan meningkatnya lama pendidikan. Pemakaian kacamata pasca operasi katarak di tingkat nasional adalah sebesar 58. Seperti halnya low vision dan kebutaan. tetapi tampak bahwa proporsi diagnosis katarak tertinggi ditemukan pada tingkat pengeluaran tertinggi (2%).7%).peningkatan proporsi katarak untuk tiap kelompok umur kurang lebih dua kali lipat dalam tiap periode 10 tahunan. Proporsi operasi katarak dalam 12 bulan terakhir untuk tingkat nasional adalah sebesar 18% dari penduduk yang pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan. Proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.9%) dan sedikit lebih besar di daerah perkotaan (2. Berdasarkan pekerjaan dan tipe daerah. Dari aspek pekerjaan. Proporsi operasi katarak meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga per kapita.5%).

7 17.5 7.4 4.6 18.5 19.7 1.9 51.6 1.2 8.0 22.6 8.3 1.8 41.9 2.3 0.3 16.5 1.4 3.3 3.3 1.3 17.5 1.6 13.73 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak Menurut Karakteristik Responden.0 9.1 17.9 2.6 1.2 28.4 1.7 18.1 1.7 1.6 15.9 17.8 D (%) DG (%) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 1.8 1.4 0.Tabel 3.1 1. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pendidikan < 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 2.6 1.2 5.8 17.3 16.8 19.1 5.0 127 .6 Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.4 11.6 19.1 8.1 38.

6 22.9 66.3 21.2 18.9 20.2 46.4 71.7 15.74 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.1 16.8 22.9 20.Tabel 3.8 8.0 49.1 25.2 13.1 21.0 50.8 Pakai Kacamata Pasca Operasi (%) 55.0 26.3 14.0 18.9 13.9 10.0 54.5 20.9 21.7 46.0 76.1 8.7 81.6 5.8 71.8 66.7 62.1 47.4 47.3 17.7 31.0 23.0 58.5 20.9 10.8 14.7 Indonesia 18.7 66.0 62.7 27.5 8.4 65.8 43. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Operasi Katarak (%) 13.6 11.2 12.4 49.7 63.5 70.7 91.1 20.9 27.5 50.4 65.5 61.5 90.0 50.1 128 .0 54.5 72.2 34.9 27.

75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.7 14.2 19.7 14 24.9 57.5 17.3 56.4 19.5 35.6 65.9 72.9 18.4 66.8 64.Tabel 3.5 46.8 18.2 20.2 13.4 52.2 56.7 60.5 17. Riskesdas 2007 Operasi katarak (%) Pakai kacamata pasca operasi (%) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama pendidikan ≥ 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.2 15.8 31.2 22.1 16.2 15.5 56.4 50.7 59.9 58.3 19.9 46.2 55.2 48 72 59.1 59.3 18.7 63.4 54 65.3 17 21.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 129 .4 21.2 11.3 78.9 22.6 21.

Dalam Riskesdas 2007 ini dikumpulkan berbagai indikator kesehatan gigi-mulut masyarakat. Hasil wawancara dan pemeriksaan gigimulut tersebut dapat terlihat pada tabel-tabel berikut. Analisis untuk dentally fit tidak bisa dilakukan. anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi. antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies. Terdapat lima langkah program indikator terkait penilaian keberhasilan program dan pencapaian target gigi sehat 2010. karena untuk penilaian CPITN ini diperlukan alat ( hand instrument ) yang spesifik. baik melalui wawancara maupun pemeriksaan gigi-mulut. Pemeriksanan ini dilakukan pada kelompok umur 12 tahun ke atas dengan cara observasi (hanya yang terlihat) menggunakan instrumen genggam (kaca mulut) dengan bantuan penerangan senter. preventif. dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi.4. Sedangkan pertanyaan tentang perilaku pemeliharaan kesehatan/kebersihan gigiditanyakan kepada masyarakat 10 tahun keatas. perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. telah dilakukan berbagai program. kuratif maupun rehabilitatif. Penilaian dan pemeriksaan status kesehatan gigi-mulut dilakukan oleh pengumpuldata dengan latar belakang yang bervariasi. penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%. Wawancara dilakukan terhadap semua kelompok umur. penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M=0). protektif. 2005 Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. hilang seluruh gigi asli. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T.1995).3. baik promotif. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan. penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5% (WHO.4 Kesehatan Gigi Menuju target pencapaian pelayanan kesehatan gigi 2010. dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤2%. meliputi data masyarakat yang bermasalah gigi-mulut. karena pemeriksaan perlu menggunakan instrumen genggam lengkap. dan jenis perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. Berbagai indikator telah ditentukan WHO. 130 . yaitu: Sehat/Promotif (Prevalensi) Rawan (protektif) (Insiden) Laten/Deteksi dini dan terapi (% dentally Fit) % bebas karies pada umur 5 tahun DMF-T 12 th Expected incidence Kecenderungan DMF-T menurut umur DMF-T 15 th DMF-T 18 th MI CPITN RTI MI RTI PTI % protesa PTI % dentally fit Sakit/kuratif (% keluhan) Cacat/ Rehabilitatif (% 20 gigi berfungsi) % edentulous • • • Sumber WHO. Penilaian untuk kebutuhan perawatan penyakit periodontal Community periodontal index treatment need (CPITN) tidak dilakukan.

7 23.6 29.7 15.2 42.8 0.3 31.6 30.0 39.6 22.5 33.4 21.1 24.7 35.2 2.2 28.6 1.7 1.4 29.2 1.3 27.6% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.Tabel 3.0 0.7 1.7 21.0 25.9 34.5 31.5 25.7 18.1 1. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut terdapat 29.1 26.3 4.2 2.9 20.5 27.4 30.7 2.5 16.7 0.1 20.8 23.0 24.7 1.1 26.5 1.9 1.3 25.4 1.1 23.8 25.9 30.3 25.0 1.6 29.4%.5 0.76 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Provinsi.0 Hilang seluruh gigi asli 1.4 19.0 28.7 0.1 30. Riskesdas 2007 Menerima Provinsi Bermasalah Gigi – mulut NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30. dan terdapat 1. Tabel 3.8 2.2 39.76 menggambarkan prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.4 2.9 20.0 23.7 0.7 1.1 0.1 19.6 22.0 2.2 25.8 36.2 25. Prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir adalah 23.8 31.5 33.3 22.9 0.1 34.5 23.5 2.5 22.6 1.9 21.5 25.2 21.7 perawatan dari tenaga medis gigi 44.6 0.4 Indonesia 23.8 0.4 37.6 131 .6 20.0 3.6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya.0 23.4 24.1 26.2 0.7 19.5 24.9 2.1 17.4 31.

Tetapi ada kecenderungan. semakin besar persentase yang melakukan penambalan / pencabutan / bedah gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat. Pemasangan gigi tiruan lepas/cekat terlihat tinggi di tiga provinsi yaitu di Kepulauan Riau (12. Tabel 3. Prevalensi masalah gigi-mulut ini tidak menunjukkan hubungan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6%). Aceh (30. prevalensi masalah gigi dan mulut.5%).3%).6%. Kesadaran untuk melakukan konseling relatif sedikit di semua provinsi (13.1%). dan terendah di DKI Jakarta (74. Penambalan/pencabutan/bedah gigi tertinggi di Kepulauan Riau (55. yaitu Gorontalo (33. Tabel 3. pengobatan paling tinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (94. tetapi mulai kelompok umur 55 tahun prevalensi masalah gigi-mulut menurun kembali.9%). dan Sumatera Selatan (10.0%).1%).9%). Prevalensi masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan/pengobatan gigi sedikit lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. masing-masing sebesar 13. yaitu ‘pengobatan’ (87. Sedangkan yang menerima perawatan/pengobatan gigi tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Menurut tipe daerah.7%).2%).5%). Semakin tinggi umur.. sedangkan menerima perawatan/pengobatan gigi di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan.747 bayi yang diwawancara (orang tuanya).77 menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi-mulut bervariasi menurut karakteristik responden.2%).9%).4%).3%).0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (19.9% (6/54) didapatkan dari 16.9%) dan terendah di NTT (23. 175 bayi mempunyai masalah gigi/mulut. Dapat dilihat bahwa jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut. Sulawesi Tengah (31.3% dan 4. jauh di atas target WHO 2010. dan pada kelompok umur 65 tahun ke atas hilangnya seluruh gigi mencapai 17. Konseling perawatan/ kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil. Sulawesi Barat (11. semakin meningkat umur. Dari yang mengalami masalah gigi-mulut.5%). Prevalensi masalah gigi-mulut dan kehilangan gigi asli menunjukkan kecenderungan menurut umur. Meskipun prevalensi penduduk yang mengalami hilang seluruh gigi asli terlihat relatif kecil 1.6%. provinsi dengan persentase yang menerima perawatan/pengobatan gigi dari tenaga kesehatan gigi tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (44.. Kepulauan Riau (19. semakin besar persentase penduduk yang menerima perawatan/pengobatan gigi. serta persentase penduduk yang mengalami kehilangan seluruh gigi asli sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Tabel 3. namun terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4.6%).8% hilang seluruh gigi asli. Lampung (18.6% Menurut provinsi. Sumatera Selatan (17. disusul ‘penambalan/pencabutan/bedah gigi’ (38.79 menjelaskan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut karakteristik responden.Lima provinsi dengan prevalensi masalah gigi-mulut tertinggi. kecuali dalam hal perawatan/pengobatan gigi. Provinsi dengan prevalensi gigi-mulut terendah adalah Sumatera Utara (16.78 menggambarkan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.8%) dan Kalimantan Selatan (29.2%). Pada kelompok umur 45-54 tahun sudah ditemukan 1.2%). Sulawesi Utara (29. 54 diantaranya mendapat perawatan dan 6 yang mendapat perawatan pencabutan/bedah mulut oleh karena sebab yang tidak diketahui. DI. semakin meningkat prevalensi masalah gigi-mulut. Data tentang persentase pencabutan/penambalan/bedah mulut pada bayi (<1 tahun) sebesar 10. Tidak ada pola yang jelas jenis perawatan gigi yang diterima menurut kelompok umur.0%) dan Bangka Belitung (3.5%) dan terendah di Maluku Utara (19. Mulai umur 65 tahun ke atas persentase yang melakukan penambalan / 132 .

8 1.1 22.8 26.7 1.6 20. pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat dan konseling perawatan gigi lebih tinggi di perkotaan.7 0 0 0 0 0 0.5 Kuintil-4 23.1 29.5 24.3 Tipe daerah Perkotaan 21.6 26.9 Perdesaan 24.3 37.6 Bermasalah Gigi-mulut Menerima perawatan Hilang seluruh gigi asli Jenis kelamin Laki-laki 22.9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ 1. sedangkan pengobatan lebih tinggi di perdesaan.1 27.6 29.9 21.6 21.2 28.5 Perempuan 24.4 30. pemasangan gigi tiruan lepasan.4 1.8 1.3 1. jenis perawatan penambalan/pencabutan gigi.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 22.5 26.4 1.1 6. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 32 31.7 28. Menurut jenis kelamin.9 26.9 17. dan melakukan konseling gigi.4 1.4 Kuintil-3 23. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3. yang melakukan pengobatan cenderung menurun.77 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Karakteristik Responden.6 1.5 30.7 37 25.5 23. Menurut tipe daerah.7 Kuintil-5 23.1 0.8 5. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur ( tahun) <1 1 .pencabutan gigi mengalami penurunan. Pemasangan gigi tiruan sudah ditemui pada kelompok umur anak sekolah dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur. semakin tinggi persentase penduduk yang melakukan penambalan/pencabutan gigi.6 1.4 5 .6 133 .8 31.6 1.1 28. Sebaliknya untuk pengobatan. tidak ada perbedaan persentase pemanfaatan jenis perawatan gigi yang mencolok antara laki-laki dan perempuan.6 31.7 Kuintil-2 23.3 29.3 30.

8 4.3 85.78 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.1 83.5 93.Tabel 3.6 12.8 81.7 5.6 6.0 2.0 2.7 42.2 5.9 54.5 42.2 Pemasangan gigi lepasan / tiruan 4.9 12. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tengga Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pengobatan 94.9 1.2 85.6 45.0 3.9 92.5 91.8 0.5 10.1 3.2 4.9 7.6 81.2 89.6 21.3 10.4 2.8 9.5 21.6 5.8 1.6 82.5 88.0 2.7 11.5 3.8 55.8 5.2 87.7 7.5 74.7 20.9 43.3 4.0 4.8 6.3 4.1 1.2 13.9 4.4 83.6 Lain nya 0.0 37.5 2.3 11.6 2.2 13.9 3.2 13.9 11.4 37.0 2.6 12.0 81.0 2.0 80.0 1.4 16.0 39.1 2.8 88.3 0.3 48.6 13.9 32.2 Indonesia 87.0 0.9 5.5 2.9 4.7 10.9 2.4 9.5 15.6 87.0 2.1 20.8 42.3 44.6 1.0 86.3 6.8 28.2 2.7 91.8 52.6 38.2 12.6 86.0 86.2 2.7 90.4 14.1 Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi 32.7 25.8 9.5 35.0 1.3 3.3 2.0 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 13.0 1.8 18.9 1.4 4.3 36.0 1.1 39.9 2.3 2.6 92.5 4.5 4.7 14.3 0.0 5.2 40.2 2.6 11.1 47.3 2.2 15.5 45.9 83.8 34.6 12.2 134 .1 3.0 2.7 34.4 46.4 14.1 4.8 91.8 23.6 21.9 89.1 85.8 9.9 35.5 16.3 22.3 84.2 36.6 2.9 32.5 10.5 53.7 90.3 6.7 89.2 85.5 25.9 4.0 43.

7 86.7 1.3 2. Sebagian besar penduduk umur 10 tahun ke atas (91.0 2.1 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 6.4 2. Jawa Barat (95.6 2.7%. Untuk mendapatkan hasil yang optimal.4 4.2 11.2 14.2 2.0 0.8 2.7 1.4 13.3 2. Proporsi masyarakat yang menggosok gigi setiap hari sesudah makan pagi hanya 12.0 1.0 88.1 2.8 16. dan kapan waktu menggosok gigi dilakukan. dan Kalimantan Timur (95.6 4.5 2.7 41.2 15.5%).0 3.6% dan sebelum tidur malam hanya 28.7%.9 12. menggosok gigi yang benar adalah menggosok gigi setiap hari pada waktu pagi hari sesudah makan dan malam sebelum tidur.0 4.4 84.2 43.9 36.4%).1 12.4 37.2 11.5 13.4 9.2 10.3 14.9 9.6 30.5%).2 2. 135 .5 35.8 2.1 43.6 14.5 88.2 2.4 3.0 1–4 5–9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 + Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 84.5 6.5 44.2 89.8 12.6 32.2 12. Tiga provinsi yang mempunyai persentase tertinggi dalam hal menggosok gigi adalah DKI Jakarta (98.8 1. juga adanya wilayah yang masih sulit terjangkau informasi akibat keadaan geografi yang bervariasi.6 7.2 4.1%) mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari.0 89.8 39.0 0.7 81.1 88.6 89.4 13. sedangkan yang terendah di Provinsi NTT (74.7%) dan Papua (58.4 11.8 5.7 39. Didapatkan bahwa pada umumnya masyarakat menggosok gigi setiap hari pada waktu mandi pagi dan atau sore 90.4 87.4 46.4 39.1 2.6 4.3 2.5 4.5 90.0 0.6 10.7 13.5 13.4 4.4 87.7 29.3 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 83.9 32.3 87. Riskesdas 2007 Karakterisktik Responden Pengobatan Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi Pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat 0.79 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.Tabel 3.5 84.9 87.2 3.5 2.8%).4 88.7 11.7 93. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan gigi-mulut.80 berikut ini menggambarkan perilaku penduduk umur 10 tahun ke atas yang berkaitan dengan kebiasaan menggosok gigi.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.0 33.8 45.

1 91.7 32.5 2.9 26.8 15.7 25.8 94.6 90.8 1.8 94.2 4.1 11.0 3.6 9. Maluku (26.6 93.9 27.5 95.2 90.8 42.3 25.3 16.1 15.6 22. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari 87.9 46.3 25.3 17.2 23.3 26.3 19.3 10.5 94.6 31.5 6.7 Sesudah makan pagi 10.0 16.5 90.3 5. Sedangkan persentase yang terendah di Provinsi Sumatera Barat (5.0 88.4 41.9 37.7 74.6 20.5 15.0 92.8 44.9 91.9 2.0 84.0 95.7 9.8 14.7 93.9 31.2 24.8 13.7 3.5 34.6 26.0 11.5 35.2 24.0 38.4 90.8 89.1 58.9 50.7 1.9 34.2 17.9 14.7 Provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi setelah makan pagi adalah Papua Barat (30.3 94.6 42.5 3.3 12.4 2.6 Sesudah bangun pagi 27.3 80.9 12.7 3.2 68.6 94.4 13.8 18.8 3.3 86.1%) dan Sumatera Utara (6.6 9.7 48. Lampung (5.3 93.1 31.4 13.4 92.4 94.4 95.2 2.1 40.0 25.8 86.7 92.0 37.9 95.80 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.2 20.7 34.6 92.0 32.1 2.2 25.8 94.7 32.9 84.6 11.7 Lainnya Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.7 23.4 17.3 15.4 2.4 28.7 40.8 92.7 1.4 35.7 94.9 27.2 88.3 92.4 91.9 89.9 92.3 20.0 9.7 86.0 16.0 3.7 85.1 4.9 91.7 89.6 34.0 95.9 96.1 31.5 96.9 24.4 26.2 1.3%) .Tabel 3.7 94.0 6.0 98.7 2.5 74.4 27.7 20.9 95.5 92.9 48.9 16.3 30.9 22.9 44.1 Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 88.0 87.4 28.2 86.8 2.5 94.7 12.9 1.9 2.7 6.9 3.3 97.0%).5 2.2 94.8 9.6%).1 18. Adapun provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi sebelum tidur 136 .0 84.2 Sebelum tidur malam 20.6 28.8 2.2 26.7 31.2 9.7%) dan Sulawesi Tenggara (26.7 1.7 32.5 1.3%).5 95.5 94.7 13.0 94.7 19.4 4.2 95.3 22.2 12.4 89.5 22.6 3.3 27.8 11.7 88.1 42.0 5.4 3.8 92.

terutama mulai umur 15 tahun ke atas .9 90.8 38. Sulawesi Selatan (48.9 3.0 4.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 88.2 12.5 91.0%) dan Jambi (17.8 89. persentase penduduk 137 .4 88.1 30.7 92.2 85. persentase penduduk menggosok gigi setiap hari maupun semua jenis waktu menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.5 90. persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur.2 58. Sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.3 4.6 38.1%).0 Lainnya Karakteristik Responden Kelompok umur ( thn) 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan 93.3 90.5 22.6 11.8 91.3 15.4%).8 21. Bali dan Kalimantan Selatan masing-masing (44. Persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. sedangkan yang terendah Provinsi Lampung (14.0 90.8 25.0 11. terutama di perkotaan.3 10.3 26. Tabel 3.5 3. Menurut umur.81 menunjukkan perilaku penduduk dalam menggosok gigi bervariasi menurut karakteristik responden.0 4.8 3. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 89.9 3.5 3.9 11.0 94.6 3.6 Perdesaan 88.7 90.5%).9 96.0 26.4 27.1 25.5 Sesudah makan pagi 11.2 26.3 14.0 91.7 4.7 2.3 91.0 26.6 80.7 27.9 29.9 30.malam adalah Kepulauan Riau (50.3 25.4 3.2 25.7 89.5 26.8 13.9 Sebelum tidur malam 25..5 28.1%).8 91.4 27. Begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 33.5 31.8 13.7 10.4%).9 3.4 11. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi penduduk yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.1 92. Tabel 3.0 27.8 3.4 3.0 93.8 13.2 28.7 13.9 21.2 28.3 3.9 25.1 92.4 Menurut tipe daerah. NTT (16.5 90.2 11.5 90. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 90.6 31.3 95. hanya kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam terlihat lebih banyak pada perempuan.6 Sesudah bangun pagi 25.5 18.4 24.0 91.81 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.8 96.8 11.

2 91.2 5.8 10.2 17.8 94.7 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi setiap hari dengan cara yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).4 5.0 89.7 5.1 8. Pada Tabel 3.5 92.2 15.7 91.7 90.1 4.2 89.5 84.1 92.3 92.9 7.menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.5 3.3 94. Riskesdas 2007 Berperilaku benar menggosok gigi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ya 4.9 4.9 91.0 10.2 8.7 5.8 2.8 91.9 3.5 17. 138 .7 6.1 95.6 8.8 84.3 12.9 95.9 92.9 7.5 82.8 8.1 7.5 15.8 82.0 6.7 Tidak 95.3 9.0 93.5 96.3 Indonesia 7.6 90.1 10.6 11.1 92.4 9.9 89. Tabel 3.2 97.3 94.6 95.2 97.3 93.4 91.8 2.7 87.4 88.3 9.5 7.1 96.82 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.82 disajikan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.

9 Kuintil-5 10.2 94.7%) dan Jambi (3.6 96. yaitu dilakukan pada saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam.6 Kuintil-4 7. persentase penduduk berperilaku benar menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.5 Jenis Kelamin Laki-laki 6.4 92.4 94.Dikategorikan berperilaku benar dalam menggosok gigi bila seseorang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari dengan cara yang benar.1%).2 93.4 65+ 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sedangkan menurut jenis kelamin.2 15 – 24 8. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Berperilaku benar menyikat gigi Ya Tidak 93. Tabel 3. Kepulauan Riau (17. semakin tinggi persentase yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.2 Kuintil-2 5.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden.83 menggambarkan perilaku benar menggosok gigi menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.2 91.8 Kuintil-3 6. terutama mulai umur 15 tahun ke atas.7 45 – 54 6.4 Perempuan 8.6 55 – 64 5. yaitu 7.4 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).5 35 – 44 7.7%). Tampak persentase penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi masih sangat rendah.4%).8 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 5.8 91.8 94.3 93. Begitu pula menurut tipe daerah. Provinsi dengan persentase penduduk tertinggi dalam berperilaku benar menggosok gigi adalah Papua Barat (17. Sedangkan yang terendah di Provinsi Lampung (2. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.8 25 – 34 8.5 93. Tabel 3.6 Perdesaan 5.6 92. Menurut umur.0 90. Sumatera Barat (2.6 setiap hari dengan cara Kelompok umur (tahun) 10 – 14 6.3%.0 Tipe daerah Perkotaan 9.5 92.9%). persentase perilaku benar dalam menggosok gigi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki. 139 . ada kecenderungan persentase penduduk berperilaku benar dalam menggosok gigi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur.4 94.3%) dan Sulawesi Tenggara (15.1 89.

90 3.08 0.52 3.31 1.06 0. dan Filling/F (gigi ditumpat).04 1.04 0.06 0.38 0.04 1.61 4.84 Komponen D. merupakan penjumlahan dari indeks D-T.02 5.55 3.25 4.77 1.19 1.46 4.08 4.08 5.43 5.73 3.73 3.53 3.88 1.98 4.95 1.68 1.37 3.92 0.08 0.11 6.82 2.04 0.94 3.11 M-T (X) 3.18 0.25 4.43 5.80 1.01 2.53 6.39 3.12 0.Tabel 3.50 1.53 4.08 5.28 3.04 0. M.05 0. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi.83 5.19 Indonesia 1.02 0.02 0.22 6.06 0.68 3.96 F-T (X) 0.84 0.02 0. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D-T (X) 1.77 0.60 3.38 5. M-T.04 0.08 0.60 3.66 2.92 3.70 3. Missing/M (gigi dicabut). Ini berarti rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang.22 3.05 0.09 0.16 0.08 0.86.25 3. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3. Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4.69 3.05 0.86 0.35 1.18 4.02 3.47 2.38 1.73 4.27 0.01 2.06 1.06 0.05 0. dan F-T yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang).84 3.00 1.52 3.03 5.35 1.08 0.92 4.24 1. Tabel 3.36 1.05 0.21 2.66 3.11 0.59 4.43 1.08 0.42 1.85 5.84 menyajikan komponen DMF-T menurut provinsi.60 2.66 4.02 0.89 1.41 1.60 4.85.05 0.85 140 . Indeks DMF-T sebagai indikator status kesehatan gigi.01 6.93 3.92 2.50 1.83 5.34 1. dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan.27 4.34 4.01 5.35 1.05 4.06 0.13 1.05 0.09 0.16 4.84 4.05 Index DMF-T (X) 4.44 3.05 0.00 1.71 4.

Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita .90 0. yaitu Kalimantan Selatan (6.16 16.57 0. yang berarti kerusakan gigi rata-rata 18.12 Catatan D-T : Rata2 jumlah gigi gigi berlubang per orang.90 0. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden. Pada kelompok umur 35-44 tahun DMFT tinggi (4.47 0.91 1. Kalimantan Barat (6.77 Tabel 3. M-T : Rata2 jumlah gigi dicabut/indikasi pencabutan.44 2.87 4.14 1.41 0.07 Kuintil-4 1.22 3.3.DMF-T di lima provinsi sangat tinggi.05 Kuintil-2 1.13 4.79 4.26 3.06 Kuintil-3 1. (Kristanti dkk.38).10 Perdesaan 1. DMF-T lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.29 4.07 15 0.85 di atas menunjukkan jumlah kerusakan gigi meningkat seiring dengan peningkatan umur berdasarkan Indeks DMF-T.04 35 – 44 1.98). dan Sulawesi Tengah (5. DI Yogyakarta (6.57 0. DMF-T yang ditemukan pada Riskesdas ini lebih rendah dari temuan SKRT 1995 sebesar 6.97 per orang.33 0.88 0.06 Perempuan 1.24 0. Jawa Timur (6.4 dan SKRT 2001 sebesar 5. dicabut maupun ditumpat).DMF-T hampir sama pada kelompok penduduk dengan semua umur tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.91 0.83%).83).90 0.33 4.15 4. Riskesdas 2007 D-T (X) M-T (X) F-T (X) Karakteristik responden Index DMF-T Kelompok umur ( tahun) 12 0.22 4.89 4.99 0.86 menyajikan prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk umur 12 tahun ke atas menurut provinsi. Bahkan komponen yang terbesar adalah M-T (rata-rata gigi dicabut) sebesar 16. Dikategorikan karies aktif bila memiliki indeks D-T >0 141 .06 Tingkat pengeluaran/ kapita Kuintil-1 1. 0.11 3.14 0.09 Tipe daerah Perkotaan 1.02 18 0.41 4.72 0.89 0. 1997 dan Kristanti dkk. bahkan pada kelompok umur di atas 65 tahun DMF-T sudah menjadi 18.22 3.14 Jenis Kelamin Laki-laki 1.46). hal ini mungkin berkaitan dengan cara dan alat pemeriksaan yang digunakan.46 18. F-T : Rata2 jumlah gigi ditumpat. Tabel 3.44).92 4.27 3. M.08 65 + 1.55 5.74 0.08 Kuintil-5 1.13 3.36 5.27.85 Komponen D.27 buah per orang. 2002) Tabel 3.24 3. DMF-T : Rata2 jumlah kerusakan gigi per orang (baik yg masih berupa decay.13 0.

5% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72.1 50.1%.6 53.4 75.6 75. prevalensi karies aktif tertinggi 142 . Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.3 47.8 65.1 71.5 83.4 67.8 40.9 78. Tabel 3.8 37.0 51.4 67.4 77.86 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.0 34.8 39.6 40.1 52.1 72.9 76. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi karies sebesar 46.2 58.7 49.2 49.5 68.atau karies yang belum tertangani dan mempunyai pengalaman karies bila indeks DMFT >0.5 60.8 40.9 34.9 71.2 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.1 58.0 40.0 43.6 47.1 41.4 64.9 54.2 68.0 37.6 44.0 42.4 75.1 43.5 86.8 77.1 67.3 37.1 70.9 77.2 55.7 55.8 40.4 39. Menurut provinsi.4 50.4 48.0 59.8 43.2 51.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Karies aktif 41.4 62.6 30.5 55.3 60.3 Indonesia 43. Riskesdas 2007 Pengalaman karies 62.2 61.9 62.6 39.3 56.

Yogyakarta (52. meningkat sampai umur 35-44 tahun dan menurun kembali pada umur 65 tahun ke atas.8 67..3%). Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50.4 Jenis Kelamin Laki-laki 43. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0. Pengalaman karies sedikit lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.9%). dan Jawa Timur (76.8%).6%). Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.5 65 + 32.8 80. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi pengalaman karies (DMF-T>0) sedikit lebih tinggi pada kelompok perempuan dan di perdesaan.7 Perempuan 43. Kalimantan Selatan (84.5 Tipe daerah Perkotaan 42. tetapi di perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan di peran.1 15 36.4%.1%).5 94.6 18 41.7%) Kalimantan Timur (50.2 50. Kalimantan Barat (78.0 66.87.3 67. Sedangkan prevalensi karies.4). Menurut kelompok umur.8%).6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.87 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden. ada kecenderungan semakin meningkat umur. Sedangkan sepuluh provinsi dengan prevalensi pengalaman karies tertinggi. Riskesdas 2007 Pengalaman karies Karakteristik responden Karies aktif Kelompok umur ( tahun) 12 29.9%). DI Yogyakarta (78.0 68. Tabel 3.5 Kuintil-4 44. Maluku (77.9%).8 35 – 44 53. Sulawesi Utara (82. Kalimantan Selatan (50. seperti tersaji pada Tabel 3. Lampung (54.6 68.6%) dan Kalimantan Tengah (76. ada 143 . Sedangkan prevalensi karies tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.Jambi (77.9 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani. Bangka Belitung (50.8%).5 64.2 65.5 Perdesaan 44.7%).(lebih dari 50%) ditemukan di Jambi (56. Kalimantan Timur (76.7%). semakin meningkat yang mempunyai pengalaman karies.3%). Maluku (54. adalah Bangka Belitung (86. Riau (53.2%).1 43.7 66.2%). .5%). Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (57.6 Kuintil-2 43.8 68.4%).2 Kuintil-3 43.4 Kuintil-5 42.8 36.

9 25. sedangkan RTI (besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan 144 .9 1.0 1.5 69.7 77. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RTI PTI MTI (D/DMF-T)x100% (F/DMF-T)x100% (M/DMF-T)x100% 23.1 0.8 19.0 71.9 83.6 81.5 28.7 26. Tabel 3.6 0.1 22.1 65.0 1.3 22.7 22.3 1.8 24.0 86.9 26.6 4.5 18. Tabel 3.9 28.4 1.88 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi.3 20.8 1.6 1.4 31.2 0.9 0.4 1.1 22.0 70. Namun prevalensi karies tidak menunjukan pola tertentu pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 1.6 Dari tabel di atas tampak PTI (motivasi seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap) sangat rendah hanya 1.7 76.7 3.7 91.7 1.4 72.4 8.8 35.6 1.2 1.9 71.2 21.3 77.7 Indonesia 25.2 27.2 83.0 70.5 26.7 1.6 1.1 76.1 1.1 92.6 76.8 1.5 32.9 76.7 19.2 69.2 76.2 33.2 0.7 2.9 80.8 25.5 1.7 27.8 19.2 35.6 74.6 32.6 67.9 1.2 75.8 77.0 27.6%.8 74.2 1.7 2.8 102.0 35.8 24.6 29.kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang mempunyai pengalaman karies.8 68.6 0.88 di bawah ini menyajikan persentase gigi tetap yang ditumpat dan persentase gigi tetap yang karies menurut provinsi.6 88.8 75.4 77.7 16.6 79.3 1.2 1.9 0.8 33.6 1.2 79.

4 78.8 1.8 Tipe daerah Perkotaan 25. tetapi semakin menurun nilai RTI-nya. namun menurun pada umur yang lebih tinggi.3 65 + 6. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan. Terdapat 20 provinsi yang angka RTI-nya diatas rerata nasional dan terdapat 18 provinsi yang mempunyai nilai PTI di bawah rerata nasional.3 81.8 Kuintil-5 23. Riskesdas 2007 RTI (D/DMF-T)x100% PTI (F/DMF-T)x100% 0.penumpatan/pencabutan) sebesar 25. Berarti semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 Kuintil-3 25. Persentase PTI dan RTI pada tabel 3.9 2.2 1.2%. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T. Sedangkan menurut jenis kelamin. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi pula nilai PTI. Menurut umur. Tabel 3.1 1.6 1. mulai umur 15 tahun nilai RTI cenderung menurun seiring meningkatnya umur.2 28.4 1.6 78. RTI pada laki-laki lebih tinggi dan PTI-nya lebih rendah dari pada perempuan.3 Jenis Kelamin Laki-laki 26.5 1.7 Karakteristik responden MTI (M/DMF-T)x100% 26. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 80. semakin baik motivasi penduduk untuk merawat kesehatan giginya.5 Perdesaan 25.0 Catatan: Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T.1 79. sedangkan nilai PTI tinggi pada umur 18 tahun.89 menunjukkan variasi menurut karakteristik responden. sedangkan nilai RTI kurang lebih sama..3 15 65.8 Perempuan 23.6 2.0 Kelompok umur ( tahun) 12 62.7 80. Nilai PTI di perkotaan dua kali lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.3 Kuintil-2 26.2 1.6 78.4 1.0 64.3 18 63.7 79.7 1.6 33.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 26.6 80. 145 .89 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden.3 Kuintil-4 24.9 0.9 92.8 2.4 35 – 44 32.

9 2.9 93.5 3.8 88.2 88.3 2.5 91.9 92.9 7.5 91.2 91.9 91.3 6.3 95. Proporsi penduduk dengan fungsi gigi normal tertinggi di Provinsi Banten 146 .7 3.6 3.2 94.3 85.6 12.5 Dari tabel di atas terlihat 91.0 1. Protesa dan Provinsi.0 5.8 9. Tabel 3.4 4.5 88.2 90.6 89.0 0.7 10.8 4.0 2.5 94.0 1. dan penggunaan protesa pada responden yang umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.2 4.0 2.6 0.Tabel 3.6 3.7 0.5 Protesa 4.2 2.0 95.5 2.0 0.1 3.4 90.9 2.4 1.0 91.3 3.3 95.0 86.9 5.3 90.0 2.7 0.90 di bawah ini menyajikan proporsi fungsi gigi normal.0% penduduk umur 12 tahun ke atas memiliki fungsi normal gigi (mempunyai minimal 20 gigi berfungsi).6 94. Edentulous.0 4.5 2.4 1.8 5.7 1.0 Indonesia 91.9 94.5 0.9 3.0 4.5 2.90 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.4 2.1 0.6 2.1 92.5 2.1 4.9 11.9 2.2 93.8 6.4 0.0 92.1 93.0 2.3 4. lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (86.7 1.9 4.1 91.0 2.5%).9 1.0 93. gigi tetap yang hilang semua (edentulous).9 4.1 1.7 5.2 2.2 84.6 Edentulous 2.8 2.3 1.0 3.3 0.1 86.7 1.0 91. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Fungsi Normal 92.5 4.

Proporsi penduduk dengan fungsi normal gigi.5 5.9 99.7 1.7 2.3%) dan Sulawesi Barat (11.0 5. Proporsi penduduk yang edentulous dan penggunaan protesa meningkat seiring dengan bertambahnya umur.1%).0%).4 91.2 4.2%). (95. edentulous dan penggunaan protesa bervariasi menurut karakteristik responden.2 2. lebih tinggi dari target WHO pada tahun 2010 (90%) dan SKRT 2001 (91. namun penggunaan protesa miningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.1 0.9 147 .3 90.6 5.9 41. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas hanya 41.91 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.9 99.0 0.4 2.1 2.2%). Proporsi fungsi gigi normal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding dengan perempuan.2 90. dan Gorontalo (95.0 0.6 1.0 4.9 95.9 5. Adapun proporsi edentulous penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 17. masih jauh di bawah target WHO (75%) namun masih lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (30. tertinggi ditemukan di Kepulauan Riau (12.1 5. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Edentulous.6%.0 0.5 1.2%).6 14.5% penduduk telah memakai protesa atau gigi tiruan lepas atau gigi tiruan cekat.(95.1 90. Tabel 3.1 2.9 4.0 90. Secara umum 4. Edentulous lebih banyak dijumpai pada perempuan dan lebih tinggi di perdesaan.2 91. Dari tabel 3.9%.7%).4 17.6%).0 0.3 91. masih jauh di atas target WHO pada tahun 2010 (5%). tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (4.3 1.9 89.0% sedikit lebih rendah daripada hasil SKRT 2001 (2.91 tampak proporsi responden umur 35 – 44 tahun dengan fungsi gigi normal sebesar 95.4%). Riskesdas 2007 Karakteristik Fungsi Normal Edentulous Protesa Kelompok umur ( tahun) 12 15 18 35 – 44 65 + Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 99.2 2.4 5.2%. Protesa dan Provinsi.3 89. Proporsi edentulous atau hilang seluruh gigi sebesar 2.9 2.3 6. fungsi normal gigi dan edentulous tersebar merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.0%) dan Keppulauan Riau (3.

umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No. Pemeriksaan anemia terhadap spesimen darah responden semua umur dilakukan di laboratorium kabupaten/kota setempat.93). Salah satu hasil biomedis adalah data anemia. dengan perincian 13. dan 278 spesimen darah ibu hamil. Bila menggunakan nilai rerata Hb yang diperoleh dalam Riskesdas.3. dan MCHC (mean corpuscular haematocrit concentration). seseorang dikatakan anemi bila Hb nya lebih kecil dari nilai rerata Hb nasional untuk kelompoknya (perempuan dewasa.1 Ke tiga nilai yang terakhir ini diukur untuk menentukan jenis anemia.67g/dl. 1 MCV = Ht/Σ eritrosit MCH = Hb/Σ eritrosit MCHC = Hb/Ht 148 .810 spesimen darah.5 Biomedis 3.1 Anemia Data biomedis diperoleh dari pemeriksaan darah vena yang diambil dari 8% responden penduduk perkotaan. anak-anak 12. laki-laki dewasa.81g/dl. Telah diperiksa 34.5. 8. Dengan nilai-nilai tersebut di atas dan simpangan baku (standard deviation) untuk masing-masing rerata. Secara nasional diperoleh nilai rerata Hb untuk perempuan dewasa sebesar 13. MCH (mean corpuscular haematocrit). yang mungkin dapat memperkirakan penyebab anemia tersebut. 11. Nilai yang diukur adalah kadar Hemoglobin (Hb). yaitu : Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl Hb perempuan dewasa : >12 g/dl Hb anak-anak : >11 g/dl Hb ibu hamil : >11 g/dl Seseorang dikatakan anemi bila kadar Hb nya kurang dari nilai baku tersebut di atas. dan anak-anak) dikurangi 1 SD (Χ – 1SD). 736a/Menkes/XI/1989.751 spesimen darah anak-anak (<15 tahun). Tabel 3. ditetapkan rentang nilai Hb normal versi Riskesdas untuk ke empat kelompok di atas (Tabel 3.92 memperlihatkan hasil pemeriksaan berupa nilai rerata Hb untuk perempuan dan laki-laki dewasa. laki-laki dewasa 14.67g/dl. MCV (mean corpuscular volume). dan ibu hamil 11.809 spesimen darah laki-laki dewasa (>15 tahun). Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak. anak-anak dan ibu hamil di perkotaan menurut provinsi.972 spesimen darah perempuan dewasa (>15 tahun) yang tidak hamil.00g/dl.

87 12.26 12.91 13.48 14.07 12.01 15.25 13.67 8.809 14.53 13.76 13.75 13.17 12.53 14.79 12.32 14.45 14.74 14.07 Anak-anak (< 14 tahun) ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 115 433 315 41 77 103 175 199 147 20 366 1136 1075 115 1299 169 556 286 170 173 123 181 323 198 123 396 144 57 66 45 57 44 24 13.48 13.37 14.56 14.53 12.22 14.972 13.16 15.62 13.51 14.21 14.9 12.33 13.8 14.12 12.82 12.06 10.27 11.92 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Perempuan dewasa Provinsi ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 288 691 483 73 178 246 229 313 232 48 685 1631 1841 253 2236 327 833 359 184 239 268 295 405 265 157 594 205 86 70 83 95 41 39 13.00 11.83 12.28 12.61 12.36 14.06 12.15 13.05 168 533 322 39 157 219 221 305 226 57 485 1471 1617 207 1953 307 736 337 160 182 218 253 331 220 125 483 157 75 58 47 70 28 42 Laki-laki dewasa ∑ specimen Nilai rerata Hb (g/dl) 14.52 15.69 12.63 15.76 12.5 13.65 12.67 12.1 12.8 14.1 Ibu hamil ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 1 15 8 1 10 5 2 4 0 0 15 50 37 4 28 5 6 8 4 2 11 11 6 7 1 20 10 0 3 0 3 0 1 Indonesia 13.06 12.41 12.81 149 .11 12.31 12.54 11.79 12.97 12.67 278 11.43 12.18 15.58 14.77 13.85 15.78 12.22 12.78 13.6 13.54 14.14 13.17 12.9 13.48 13.36 13.23 13.02 14.66 12.76 12.8 13.54 15.44 15.74 13.55 12.75 12.79 12.25 14.Tabel 3.86 12.73 12.59 12.07 13.97 12.17 14.49 12.03 14.82 12.751 12.76 14.35 13.96 12.11 12.13 13.21 14.

95. laki-laki dan anak-anak (adjusted for group).3% dan 19. Terdapat 20 provinsi yang mempunyai prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional. Selanjutnya dari total 33 provinsi.736a tahun 1989.09 – 14. Riskesdas 2007 Kelompok Nilai rerata Hb (g/dl) Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak (< 14 thn) Ibu hamil 13.67 12.9% (menurut acuan Riskesdas). menurut provinsi.8% untuk anak-anak.2% dan 13.0%) menderita anemia.83 – 16.51 11. Anak-anak dan Ibu Hamil.72 12.Tabel 3.36 Tabel 3. 68 orang (24.5%) di antaranya menderita anemia menurut acuan nilai SK Menkes.28 – 14.8% (menurut acuan SK Menkes) dan 11. Prevalensi anemi secara umum.1% untuk laki-laki dewasa perkotaan. Tampak bahwa secara nasional prevalensi anemia sebesar 14. Berturut-turut mengacu pada batas nilai normal Riskesdas dan SK Menkes adalah 11. 12. dapat dilihat pada Tabel 3.7% untuk anemia perempuan dewasa perkotaan. Prevalensi anemia ditemukan sangat tinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara.26 – 13. setelah disesuaikan untuk perempuan.81 Nilai SD (g/dl) 1. 150 .72 1. ibu hamil yang menjadi responden biomedis (diambil darahnya) adalah sebanyak 278 orang (tidak tampak dalam Tabel 3. menurut provinsi. untuk kedua acuan nilai di atas.55 Rerata ± 1SD (g/dl) 11.8% dan 9. Tampak bahwa terdapat perbedaan prevalensi anemia menurut kedua acuan baku di atas.25 10. berdasarkan nilai rerata Riskesdas dikurangi 1SD dan berdasarkan nilai baku SK Menkes No.84 1.00 14.67 11.94 memperlihatkan prevalensi anemia pada perempuan (tidak hamil) dan lakilaki dewasa serta anak-anak. serta 12.93 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki-laki Dewasa. dan menurut acuan nilai Riskesdas 39 orang (14.58 1.94).

3 7.7 5.2 19.8 8.4 22.4 14.9 23.0 9.8 12.Tabel 3.6 13.9 8.1 16.4 2.5 16.5 14.1 23.8 7.9 31.6 17.3 21.5 18.8 27.1 34.1 12.4 11.4 9.5 17.8 20.1 5.0 12.4 12.0 10.9 24.3 5.3 6.6 7.1 8.8 23. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Anemia (%) SK Menkes <12g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.7 Indonesia 19.2 12.6 16.4 21.4 12.2 9.5 25.5 5.5 17.1 12.3 9.1 3.2 7.4 18.1 7.6 8.4 11.0 8.1 17.6 4.8 14.0 16.4 15.4 11.6 13.83g/dl Anak-anak Anemia (%) SK Menkes <11g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.9 12.7 5.8 5.9 15.3 13.6 17.5 16.8 16.3 19.3 17.9 28.4 13.8 5.8 10.2 14.3 25.2 12.1 7.4 10.4 12.3 4.7 11.9 4.8 10.7 10.94 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.7 11.9 14.1 26.8 16.5 7.4 19.2 10.3 9.9 23.0 19.8 28.8 15.0 8.2 17.8 20.6 19.7 11.3 4.8 15.6 9.6 8.8 15.0 18.2 17.4 19.3 16.8 7.5 12.4 14.7 18.1 19.7 24.9 10.6 6.3 10.7 5.2 2.9 8.5 27.5 24.0 19.2 12.3 14.6 10.5 12.9 8.8 9.6 17.8 13.3 12.7 13.3 17.6 8.1 16.0 5.9 3.7 13.6 13.9 20.7 19.5 8.9 8.2 14.3 14.5 10.6 19.8 26.9 21.6 17.6 18.3 20.4 12.7 5.8 7.4 27.1 13.5 12.3 21.7 38.1 12.1 25.8 5.0 13.1 8.5 10.4 8.2 12.8 26.2 8.7 11.6 5.6 8.1 13.8 10.4 6.2 25.9 43.8 5.3 14.1 5.1 9.6 16.2 14.4 9.0 29.0 16.28g/dl Laki-laki Anemia (%) SK Menkes <13g/dl Anemia (%) Riskesdas <12.7 19.3 13.4 9.9 11.0 14.0 31.7 5.9 24.0 17.09g/dl NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 20.8 151 .

4 17.9 13.9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 16.3 9.8 12.6 11.7 14.0 5.6 12.6 17.1 14.9 Indonesia 14.0 11.8 11.7 17.2 15.6 29.6 16.8 11.0 10.8 12.9 152 .5 19.5 6.3 24.6 16.6 18.4 21.2 15.2 13.1 9.9 4.4 22. Riskesdas 2007 Prevalensi anemia (%) (disesuaikan menurut kelompok perempuan dewasa.95 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.4 15.4 16.2 15.9 12.9 12.0 19.3 9.1 18.9 11.2 31.0 12.0 8.1 9.8 7.2 21.4 10.7 14.7 10.2 19.1 6.5 9.1 25.5 23.6 15.Tabel 3.0 9.0 16.7 10.7 25.8 5.2 18.7 13.5 18.1 19.2 10.7 14. Provinsi laki-laki dewasa dan anak-anak) Menurut SK Menkes Menurut Riskesdas 12.

dikenal beberapa jenis anemia2. Hasil pemeriksaan Ht dan eritrosit ibu hamil cenderung lebih rendah dibanding kelompok dewasa lainnya.96 memperlihatkan jenis anemia terbanyak pada orang dewasa dan anak-anak adalah anemia mikrositik hipokromik (60. Anemia makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12. Jenis anemia pada ibu hamil sebagian besar adalah anemia mikrositik hipokromik (59% dari ibu hamil yang anemia). lekosit dan trombosit (Tabel 3. Sedangkan anemia jenis normositik normokromik lebih banyak dijumpai pada laki-laki dewasa. yaitu : Perempuan : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Laki-laki : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Perempuan dan laki-laki : Anemia Hipokromik : Anemia Normokromik : Anemia Hiperkromik : MCHC <33 % MCHC = 33 – 36% MCHC >36 % MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl serta kombinasi dari jenis-jenis di atas.normokromik biasanya karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut. Sebaliknya.2%). juga dilakukan pemeriksaan hematokrit. anemia mikrositik hipokromik ini lebih besar proporsinya pada anak-anak. 2 Mikrositik = ukuran sel darah merah <normal Normositik = ukuran sel darah merah normal Makrositik = ukuran sel darah merah >normal Hipokrom = warna sel darah merah lebih muda dari normal Normokrom = warna sel darah merah normal Hiperkrom = warna sel darah merah lebih tua dari normal 153 .97). Tabel 3. Jika dibandingkan antara anak-anak dan dewasa. Anemia mikrositik-hipokromik. penyakit kronis tingkat lanjut. biasanya karena kekurangan zat besi. kadar lekosit ibu hamil cenderung lebih tinggi. eritrosit. atau keracunan timbal. Anemia normositik.Sesuai bentuk dan warna (morfologi) sel darah merah. Selain kadar Hb dan jenis anemia.

4 Anemia Makrositik Anemia lainnya *Anemia menurut nilai baku Riskesdas Tabel 3.3 4. Menurut pekerjaan.1 6.7 5.9 174.3 – 9.1 6.Tabel 3.0 29.97 Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Hematokrit (%) Anak 1 – 4 tahun 5 – 14 tahun Dewasa Laki-laki Perempuan Ibu Hamil 31.9 Tabel 3.1 4.9 33.8 – 444.0 – 379.8 4.6 – 321.5 – 4. pekerjaan dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.4 193.5 6. Menurut pendidikan.2 – 46.0 – 40.4 70.0 KELOMPOK Eritrosit (juta/µl) Lekosit (ribu/µl) Trombosit (ribu/µl) 38.7%).8 – 43.4 3. tampak bahwa ibu rumah tangga mempunyai prevalensi anemia tertinggi.98 menggambarkan prevalensi anemia berdasarkan kelompok umur.1 – 342.7 – 39.2 3. kelompok kuintil 154 .3 14.8 31.2 Anemia Normositik Normokromik 0. Menurut umur.3 11. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah prevalensi anemia.2 221.7 – 10.0 – 5. pendidikan.7 5.5 1.7 – 11. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 – 12.2 30.7 33. tertinggi dijumpai pada kelompok usia anak balita yaitu 27.0 – 10. diikuti dengan kelompok usia lanjut (75 tahun ke atas) (17.96 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak N Kelompok Anemia* Anemia (%) Mikrositik Hipokromik Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Ibu hamil TOTAL 1581 1445 1118 39 4183 59.1 0 4.8 30.5 – 354.7%.3 – 6.1 59 60.9 24.5 187.8 21.9 20.2 – 5.1 – 48.5 10.2 259.8 4.3 14.2 27.4 – 5.

0 5.5 6.0 6.0 11 10 9 7.98 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Pendidikan Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Anemia 27. makin rendah prevalensi anemia. Makin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.4 6.1 mempunyai prevalensi anemia tertinggi (11%).9 6.7 10.4 17.7 10.6 7. Tabel 3.7 9.5 8.9 7.9 5.2 6.4 8.3 5.5 5.6 10.1 6.6 7.0 7.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 155 .1 4.

5% UDDM** 4.7% *DDM = Diagnosed Diabetes Melltus (Responden sudah mengetahui dirinya DM) **UDDM = Undiagnosed Diabetes Mellitus (Responden belum mengetahui dirinya menderita DM.4 %) dan NAD (8. Pengambilan darah vena sebanyak 15 cc dilakukan setelah dua (2) jam pembebanan. Prevalensi DM terendah di Papua (1. baru terdiagnosis saat pemeriksaan Riskesdas) ***Total DM = DDM + UDDM Tabel 3.2% Total DM*** 5.99 Prevalensi TGT.99 memperlihatkan prevalensi TGT dan total DM pada penduduk perkotaan Indonesia.3. darah didiamkan selama kurang dari 30 menit. Serum (300 µl) segera diperiksa (< 4 jam) untuk mengetahui kadar glukosa darah menggunakan alat kimia klinis otomatis atau fotometri. diberi makanan cair 300 kalori. Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat 156 . diikuti NTT (1. Riskesdas 2007 TGT Penduduk perkotaan Indonesia 10. tetapi responden yang telah mengetahui dirinya menderita DM (DDM) hanya 1.8%).5% (kira-kira 26% dari total DM). Responden dipersiapkan puasa 10 – 14 jam sebelum diambil darah. Untuk menegakkan diagnosis DM dipergunakan rujukan menurut WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003.< 200 mg/dl > 200 mg/dl : Tidak DM : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) : Diabetes Mellitus (DM) Tabel 3. DDM dan UDDM pada Penduduk Perkotaan. Prevalensi total DM 5.5. kecuali pasien yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus (DM) (dikonfirmasi oleh dokter koordinator tim laboratorium). Tabel 3. atau dalam laporan ini disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). DM.2% DDM* 1.417 responden dari sampel perkotaan saja. Secara umum prevalensi TGT yang didapat dalam penelitian ini hampir dua (2) kali prevalensi DM. Kriteria inklusi pemeriksaan glukosa darah adalah usia 15 tahun keatas. diikuti Riau (10. yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan: < 140 mg/dl 140 . kemudian diberi pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori).7%. tidak hamil (alasan medis dan etika). Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11.5%).2 Diabetes Mellitus Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada responden usia 15 tahun keatas yang berjumlah 24.7%). segera disentrifus dan diambil serumnya. Setelah diambil. Angka total DM merupakan gabungan dari persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM.1%). dan persentase responden yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita DM – baru terdiagnosis dalam Riskesdas ini – yang dalam laporan ini disebut Undiagnosed Diabetes Mellitus (UDDM). Sisa darah dikirim ke Laboratorium Balitbangkes Jakarta untuk pemeriksaan variabel lainnya.100 menunjukkan prevalensi TGT dan DM pada penduduk urban Indonesia menurut provinsi.

8 7.2 5.2 5.6%).0 7.4%) dibanding lakilaki (4.1 1.8 6.3 9.3 9. Tabel itu menunjukkan DM dan TGT meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.1 10.7 3.3 8. dan Sulut (17.4 6.7 Total DM (%) 8. DM lebih banyak dijumpai pada perempuan (6. diikuti NTT (4.5 1.2 6.7 17.3 6.2 7.5 5.9 12.8 13.9.6 4.8 11.6 10.0%).6 3.1 5.3%).5 4.3 4.4 5.0 6.9%) .7 4.6 10.1 10.8 5.9 6.101 menggambarkan prevalensi TGT dan DM berdasarkan karakteristik responden.0 8.0 7.5%) lebih tinggi dibanding laki- 157 .2 17.6 3.4 4.0 11.(21.3 9.100 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan.4 3. Tabel 3.2 8.6 6.2 14.3 3.3 6.0 4. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TGT (%) 12.3 8.7 10.8%). diikuti Sulbar (17.8 11.2 3.6 4.9 21.1 3.1 5.1 4.5 12.3 7. sedangkan terendah di Jambi (4%).8 5.0 6. demikian juga TGT pada perempuan (11.7 Tabel 3.1 8.3 8.4 11.7 Indonesia 10.5 8.

prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja.9 6.5 14. Ditinjau dari segi pendidikan.7%).6 Tidak bekerja 6.8 Tamat PT Pekerjaan 12.9 Wiraswasta 6.0 5. Tabel 3.5 Perempuan Pendidikan 13.0 10.0 Petani/nelayan/buruh 10.3 Tidak tamat SD 10. 158 . setelah dua jam pemberian makanan cair 300 kalori.3 5. Tampak bahwa masih banyak di antara mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.5 35 – 44 12.5 13.8 Kuintil-1 8.9 Tamat SMA 9.5 Sekolah 11.7 Ibu rumah tangga 10.4 8.3 15 – 24 6.9 5.9 Kuintil-2 10.9 1.9 2.4 Kuintil-3 10.0 5.3 55 – 64 17.3 7.8 9.5 4.8 45 – 54 15. Riskesdas 2007 Karakteristik TGT (%) Total DM (%) 0.8 65 – 74 21.6 1.9 8.0 5.6 Pegawai 9.9 25 – 34 11. atau disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). prevalensi DM danTGT meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.4 Tamat SD 9. Menurut jenis pekerjaan.5 Kuintil-5 Tabel 3.9% (kadar glukosa > 140 mg/dl).0 12.102 memperlihatkan persentase kadar glukosa darah responden yang telh mengetahui dirinya menderita DM.1 Kuintil-4 10.101 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.6 Tamat SMP 8.0 7.1 Kelompok umur (tahun) 5.5 4.7 Laki-laki 11.laki (8. yaitu 75. diikuti pegawai dan wiraswasta.7 75 ke atas Jenis kelamin 8.0 4.6 6.9 Tidak sekolah 12.8 5. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 4.4 4.3 Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita per bulan 8. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok tidak sekolah dan tidak tamat SD.9 5.

7 4.1% 17. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok yang mempunyai aktifitas fisik kurang Tabel 3.8% 59. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.1% 66. Tabel 3. Menurut aktifitas fisik.102 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori. Riskesdas 2007 Jenis Kelamin < 140 mg/dl Laki-laki Perempuan Total 33.3 15.3 9.1 9.7 4.1 12. Tabel 3.0 9. juga pada responden dengan obesitas sentral.Tabel 3.9% 16.7% >= 200 mg/dl 49.3 9.8% 15.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.1 8. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi. juga pada responden dengan obesitas sentral.1 15.0 3.< 200 mg/dl 17.3% 24.103 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.2% Tabel 3.3 16.1% Kadar Glukosa Darah 140 .4 Perut Hipertensi 159 .4 DM 3.9 9.104 menunjukkan prevalensi DM dan TGT kurang lebih sama pada kelompok yang mengkonsumsi sayur buah < 5 dan ≥5 porsi/hari.4 7. Obesitas Abdominal dan Hipertensi Karakteristik Responden IMT Kurus Normal BB lebih Obesitas Obesitas sentral Tidak obesitas sentral Hipertensi Tidak hipertensi TGT 10.

0%). Sedang prevalensi yang terkecil terdapat di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45.2% kemudian Provinsi DI Yogyakarta 43.3%.9%.5 10.1%).1 Cedera Kasus cedera Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan wawancara. Jumlah responden yang ditanyakan tentang cedera sebesar 973. leher. Responden pada umumnya mengalami cedera di beberapa bagian tubuh (multiple injury). dada. dan Papua Barat (10.9 5. Rerata penyebab cedera karena jatuh 58. panggul). Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12. Sulawesi Barat.1%).8%-12. Jawa Timur.4%.0% yang diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur 64.2% di mana reratanya 25. lutut dan tungkai bawah. 160 .6%. selebihnya di bawah 10 %. dan Jawa Barat.Tabel 3.105 memberikan gambaran bahwa dari 33 provinsi di Indonesia. Cedera yang ditanyakan adalah yang dialami responden selama 12 bulan terakhir dan kepada semua umur. Prevalensi jatuh paling besar terdapat di Provinsi DKI Jakarta 67. bahu dan sekitarnya (bahu dan lengan atas). Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensinya rata-rata kecil atau sedikit. diperoleh prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3.7 5. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh.6.6 Cedera dan Disabilitas 3. kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/tumpul. Tabel 3.1 11. sedang yang terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 14. pergelangan tangan dan tangan.104 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Karakteristik Sayur Buah > 5 porsi/hari < 5 porsi/hari TGT 10.9%). perut dan sekitarnya (perut.3 10. Maluku.8% .525 orang. Sulawesi Tenggara. Banten. Ada 18 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.9% dengan rerata 7. Pembagian katagori bagian tubuh yang terkena cedera didasarkan pada klasifikasidari ICD-10 (International Classification Diseases) yang mana dikelompokkan ke dalam 10 kelompok yaitu bagian kepala.5%.2 DM 4.2%). Nusa Tenggara Timur.7 Aktifitas Fisik Cukup Kurang 3. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bengkulu 44.8%. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (12.1%). Kalimantan Selatan (12. Jawa Tengah.punggung.0 4.0%. Yang dimaksud cedera dalam Riskesdas 2007 adalah kecelakaan dan peristiwa yang sampai membuat kegiatan sehari-hari responden menjadi terganggu. DKI Jakarta (10. tumit dan kaki. Ada 11 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional yaitu DKI Jakarta. Gorontalo (11. siku dan sekitarnya (siku dan lengan bawah).9%) sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3. Papua Barat.8%). Ditemukan prevalensi kecelakaan transportasi di darat antara 14.44. Sulawesi Tengah (10.

Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam atau benda tumpul terdapat pada mereka yang berpendidikan tamat SD (26.6% dan terendah ditemukan di Provinsi DKI Jakarta 8. Namun jika dilihat dari penyebab kecelakaan maka didapatkan bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan transportasi di darat terdapat di kota sekitar 30. Prevalensi cedera yang disebabkan oleh kecelakaan transportasi di darat tertinggi pada mereka yang pegawai (53.2%) dan terendah pada yang tidak sekolah (13. Penyebab cedera lain hampir merata di setiap provinsi. Penyebab cedera yang lain hampir sama pada semua tingkat pendidikan. Penyebab cedera lainnya merata pada laki-laki dan perempuan. Akan tetapi prevalensi cedera karena jatuh (58. Prevalensi tertinggi pada responden yang tidak sekolah (64. cedera terbanyak pada laki-laki dan penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat juga terdapat pada laki-laki sedangkan penyebab cedera jatuh dan karena benda tajam terbanyak pada perempuan. prevalensi cedera merata pada semua tingkat pendidikan hanya sedikit lebih banyak pada responden yang tidak tamat SD. diperoleh sebanyak 9.7%.3%).7%).0%) dan terendah pada yang bekerja sebagai pegawai 37.2% terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Papua 4. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa prevalensi cedera hampir sama atau seimbang tingkat pengeluaran antara kuintil 1 sampai dengan kuintil 5. Prevalensi cedera tertinggi karena kecelakaan transportasi di darat terdapat 161 . Bila dilihat dari jenis pekerjaan. Ada 14 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.3% cedera terdapat pada mereka yang masih sekolah dan yang terendah pada ibu rumah tangga (4. Adapun untuk penyebab cedera jatuh menunjukkan prevalensi meningkat pada umur muda kemudian menurun dan merambat meningkat lagi di umur tua. Penyebab cedera yang sedikit menonjol adalah penyerangan. Secara umum.2% dan terendah pada pegawai 15.3%. Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan besaran prevalensi cedera menurut status ekonomi. Jika ditinjau dari lokasi tempat tinggal prevalensi cedera tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara perkotaan dan pedesaan.106 juga menampilkan prevalensi cedera menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan.6%) dan terendah pada ibu rumah tangga (19. Sedang penyebab cedera karena jatuh berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan yaitu semakin meningkat tingkat pendidikan maka prevalensi jatuh semakin menurun. Penyebab cedera karena jatuh terdapat pada mereka yang masih sekolah (63.106 menunjukkan bahwa untuk prevalensi cedera menurut kelompok umur yang menduduki peringkat tertinggi adalah umur 5-14 sekitar 9. Tabel 3.9%. Kelompok umur lainnya hampir merata kecuali pada bayi (kelompok umur < 1 tahun). Prevalensi tertinggi terdapat pada mereka yang tamat perguruan tinggi (50.4%.Adapun untuk prevalensi terluka karena benda tajam/tumpul paling tinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah 33.0%) dan terendah pada mereka yang tamat perguruan tinggi.2%) yang diikuti pada mereka yang bekerja sebagai wiraswasta (45.5%) dan terluka benda tajam dan tumpul (23.4%).9%. Prevalensi cedera karena terluka benda tajam atau tumpul tertinggi pada ibu rumah tangga 32.6%) ditemukan pada responden yang bertempat tinggal di desa.1% dan diikuti oleh kelompok 15-24 (9. menunjukkan angka prevalensi tertinggi sekitar 5.0%). Prevalensi penyebab karena jatuh tertinggi terdapat pada kelompok umur di bawah 14 tahun kemudian di atas 75 tahun. Jika dilihat dari tingkat pendidikan. Prevalensi penyebab cedera akibat kecelakaan transportasi di darat mengelompok pada umur antara 15 – 54 tahun dan prevalensi yang lebih tinggi (47.8%).7% melebihi angka prevalensi Nasional yaitu 20. Tabel 3.9%) terdapat pada kelompok umur 15-24 tahun. Penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pendidikan.5%) dan terendah pada yang tamat perguruan tinggi (36.

Untuk cedera di dada (3. dada. Selebihnya provinsi-provinsi yang lain prevalensinya di bawah 15%.6% di Provinsi Kalimantan Barat.1%). NAD (17. (6. dada.3%) kebanyakan pada responden yang bermukim di perdesaan. (11. bagian tumit dan kaki 30.6% di Provinsi NAD.6%) dan pinggul (6.3%) dan pada mereka yang bekerja sebagai petani/buruh (9.2%. siku. (3.8%.3%) kebanyakan mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yang diikuti responden yang tamat SMP (11.5%. cedera lainnya hampir berimbang di setiap tingkat pendidikan.0% dan 20. masing-masing 12. Prevalensi cedera di bagian siku tertinggi diderita oleh responden yang berusia 15-24 tahun dan kelompok umur 5-14 tahun masing-masing 24.7%) dan kelompok umur 1-4 tahun (43. bagian pergelangan tangan dan tangan 38. (15. Cedera pada pinggul/tungkai atas terbanyak pada ibu rumah tangga 36. Sedang cedera pada lutut dan tungkai bawah terdapat pada responden yang masih sekolah (43. Untuk cedera di bahu seimbang antara umur < 1 tahun.0%) diikuti yang tidak bekerja dan wiraswasta.5% di Provinsi Kalimantan Selatan.4% di Provinsi Papua Barat.1%). hanya prevalensi tertinggi bagian 162 . Jika dilihat dari tingkat pendidikan ditemukan bahwa prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala (12.5%).7%). Adapun untuk cedera di lutut sebagian besar dialami kelompok umur 5-14 tahun (46.7%). Ditinjau dari lokasi tempat tinggal responden. Tabel 3. pergelangan (28. bagian dada 8. bahu.3%).5% di Provinsi DKI Jakarta.8%) terbanyak pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sedangkan prevalensi cedera di bagian perut kebanyakan pada ibu rumah tangga (9.1%).6%). lutut/tungkai bawah.3%). Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam/tumpul tertinggi terdapat pada kuintil 2 (21.8%). bagian siku/lengan bawah 29. Selanjutnya untuk cedera di bagian pinggul dan tungkai atas kebanyakan diderita oleh kelompok 75 tahun keatas (15.9%. Untuk dicedera di bagian perut kebanyakan pada responden yang tidak sekolah (11. prevalensi cedera pada kepala.9%). Sumatra Selatan (16.8% di Provinsi Nusa Tenggara Barat.5% di Provinsi Papua.107 menunjukkan prevalensi tertinggi bagian tubuh yang terkena cedera berdasarkan provinsi sebagai berikut: bagian kepala 18. bahu/lengan atas didominasi oleh kelompok umur < 1 tahun masing-masing sebanyak (50.5%). Prevalensi cedera di kepala tertinggi dialami oleh responden yang bekerja lainnya (13.0%). DI Yogyakarta (16. leher. tumit dan kaki kebanyakan pada laki-laki dibanding perempuan. perut (7. Tabel 3. leher seimbang antara perkotaan dan perdesaan.3% di Provinsi Nusa Tenggara Barat.2%). Prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala. bagian bahu/lengan atas 14. Sedangkan cedera di bagian tangan tertinggi di kelompok 25-34 tahun sebesar 34.108 menggambarkan bahwa cedera di bagian kepala.6%). bagian lutut dan tungkai bawah 47.9%).7%). Jambi (16.9%). bagian pinggul/tungkai atas 11.7%). bagian leher 3. bagian perut/punggung/panggul 14.4%).0%). Papua (16. Perbedaan yang agak menyolok terdapat pada cedera di bagian siku/lengan 20. Cedera pada dada (3.1% .4%) sedangkan penyebab cedera tertinggi karena jatuh terdapat pada kuintil 1 (63.6% dibanding 14. kelompok umur 15-24 tahun dan yang dialami oleh kelompok 75 tahun ke atas . Papua Barat (18. Prevalensi bagian tubuh yang mengalami cedera di kepala.5% di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). perut/punnggung/panggul. dada dan perut menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan menunjukkan bahwa untuk kuintil 1 sampai dengan kuintil 5 terlihat hampir seimbang.9% di provinsi Kepulauan Riau.pada kuintil 5 (34. Sulawesi Utara (16. Beberapa provinsi yang prevalensi cedera di bagian kepala dan di atas angka prevlensi Nasional adalah Provinsi Kepulauan Riau (18.7%). Leher.9%).

163 . Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan Kepulauan Riau sama-sama 3. Kejadian keracunan lebih sering dijumpai pada kelompok umur 75 tahun ke atas. Rerata prevalensi jenis cedera yang lain relatif kecil.tubuh terkena cedera untuk bahu dan siku pada kuintil 5. lebih sering pada laki-laki.2%. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka prevalensi Nasional. Rerata prevalensi jenis cedera terkilir/teregang 20. Rerata prevalensi jenis cedera patah tulang 4.8%. Rerata prevalensi cedera akibat luka lecet sebesar 50.4%. Gorontalo. dan Papua. Ditemukan sebanyak 14 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka rerata Nasional.8% . Sulawesi Utara. Tabel 3. Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka sebesar 25. prevalensi luka bakar paling banyak dijumpai pada kelompok umur di bawah satu tahun/bayi (3. Prevalensi tertinggi 60.6%).5%.9%.110 menunjukkan jenis cedera berdasarkan karakteritik responden. Menurut kelompok umur. Sebanyak 16 provinsi mempunyai angka prevalensi di atas angka rerata Nasional. dan lainnya 1.0%.1% terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang diikuti oleh Provinsi Maluku (46. Maluku. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet di atas angka rerata Nasional.5%. Ada 5 provinsi yang angka prevalensi jenis cedera benturan di atas angka rerata secara Nasional yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan. Rerata prevalensi jenis cedera anggota gerak terputus (amputasi) 1. Prevalensi jenis cedera karena benturan tertinggi adalah 47. dan lebih banyak di perdesaan.3% terdapat pada Provinsi Sulawesi Tengah. Sedang prevalensi tertinggi cedera pada pinggul terdapat pada kuintil 3 dan cedera pada lutut pada kuintil 4.6%. Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar relatif kecil yaitu 2. Berdasarkan tabel 3.0%.3%). Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu 9. keracunan 1. Tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 36. Prevalensi tertinggi sekitar 33.109 memperlihatkan bahwa rerata prevalensi jenis cedera karena benturan adalah 42.0%.2 % yang terdapat Provinsi Kalimantan Barat.4%.

8 27.1 0.9 4.7 18.1 0.4 0.0 0.2 0.2 0.0 27.6 0.0 0.8 61.4 1.1 0.8 1.9 4.7 0.0 0.5 0.0 0.1 0.4 31.7 1.8 1.7 61.9 0.8 0.2 5.0 0.0 0.1 16.2 Asfik0.1 0.2 0.8 0.0 63.5 64.7 7.3 3.0 3.1 0.7 2.7 0.1 7.1 0.2 6.0 0.4 0.0 0.4 0.0 0.1 56.1 0.2 0.5 25.7 19.2 0. Riau DKI Jabar Jaten D.8 5.0 0.7 1.6 0.9 0.4 0.6 0.4 1.0 0.2 1.2 8.7 14.7 0.1 51.0 1.1 53.1 0.3 0.3 0.0 0.2 0.4 0.0 0.6 0.2 0.3 0.8 0.8 16.8 9.2 0.4 0.5 0.1 0.4 45.0 0.8 7.8 0.1 0.9 21.0 0.7 2.8 17.1 0.6 1.4 0.1 2.4 62.5 0.9 1.5 0.6 0.1 0.5 0.5 22.2 3.2 0.9 0.2 0.2 30.4 0.1 0.3 1.0 0.0 0.9 24.0 58.2 60.8 1.7 3.1 55.0 0.0 0.2 0.1 0.4 3.3 3.0 0.3 0.5 1.2 8.2 0.3 58.0 0.9 4.1 0.2 0.0 16.1 50.0 0.3 6.3 4.3 0.1 3.0 0.1 0.9 0.0 0.1 44.0 28.0 0.2 2.1 0.4 0.2 1.2 0.6 23.1 25.3 0.0 1.3 0.0 0.0 0.3 0.7 54.4 29.0 0.6 15.2 1.2 1.1 0.4 0.0 0.1 0.0 0.4 0.0 0.1 0.3 0.4 0.7 0.5 0.0 0.1 0.4 9.4 0.2 0.4 0.3 1.2 0.2 0.8 17.1 0.2 0.4 1.1 0.3 57.0 2.1 0.1 7.1 0.1 0.0 0.9 0.1 0.8 1.0 0.1 0.1 0.6 12.5 0.I Y Jatim Banten Bali N. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Ba-Bel Kep.1 2.0 1.0 0.3 0.4 0.1 0.1 0.9 0.6 0.2 0.0 0.6 22.6 58.0 0.3 25.8 25.1 0.6 29.0 0.4 0.Tabel 3.3 64.1 0.8 0.0 0.7 0.2 0.1 0.5 31.3 53.4 0.9 4.4 6.3 0.1 0.5 1.1 0.2 radia si 1.0 0.1 19.1 0.1 Lainnya 2.8 3.2 3.4 0.1 0.8 24.1 0.1 0.5 4.0 31.T.9 laut 0.7 1.3 0.0 12.2 0.1 0.5 0.0 0.7 30.4 0.7 0.8 62.9 1.4 0.0 0.9 0.7 5.8 1.1 0.7 56.6 0.1 0.6 Serangan 2.3 0.1 0.8 16.1 10.5 1.0 6.3 0.2 0.8 23.9 15.0 4.4 12.9 1.1 0.1 0.2 0.0 0.9 1.0 Sajam /tumpul 18.0 0.0 0.9 15.0 0.9 Bencana alam 1.2 0.1 53.1 0.3 31.0 8.1 0.0 0.4 senja ta api 0.3 0.8 49.0 4.8 0.6 0.0 0.0 0.7 1.3 0.0 0.2 35.3 0.1 50.1 0.1 Kontak racun 1.0 16.1 0.6 0.1 0.7 164 .1 Komplikasi 0.8 33.4 1.1 0.9 1.2 0.5 7.2 0.B N.1 0.0 0.0 0.2 0.6 56.0 0.9 0.4 7.8 0.2 24.1 1.1 Tenggelam 0.4 0.4 67.2 0.0 0.0 0.3 0.0 0.7 24.2 0.0 0.4 10.4 31.1 0.7 4.1 0.2 0.0 2.7 43.4 1.1 1.0 1.0 0.T Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Indonesia Penyebab cedera Cedera 5.2 2.1 0.7 0.2 0.2 0.2 3.8 0.4 0.3 0.5 0.1 0.0 0.1 0.7 9.8 1.1 0.1 0.8 0.3 5.5 0.8 30.5 7.6 Terbakar 2.1 0.2 0.2 0.2 0.7 32.2 0.6 0.2 0.1 0.9 2.0 0.0 0.1 0.3 0.1 9.2 0.1 0.8 1.7 9.1 0.5 0.9 22.1 0.3 24.4 0.2 5.3 0.7 0.1 0.3 64.8 1.1 3.0 0.7 0.3 0.2 0.1 0.2 0.4 1.T.0 0.7 12.0 0.6 0.9 30.2 0.1 0.9 55.9 0.3 15.0 0.3 0.9 33.6 57.7 27.1 56.1 0.2 0.2 0.2 0.1 0.6 2.7 1.2 0.8 0.3 2.2 0.0 0.3 0.3 0.0 0.2 0.1 0.4 1.5 11.0 0.2 udara 1.0 14.9 1.0 0.8 29.2 2.9 3.9 0.4 1.7 22.1 0.1 30.5 0.7 57.3 5.2 30.0 0.9 4.0 0.3 0.5 0.5 Jatuh 48.0 0.0 0.5 8.5 1.8 3.7 50.0 0.5 0.0 0.7 4.6 5.0 0.9 0.1 9.1 0.0 0.5 19.6 9.2 0.4 0.1 0.9 20.2 0.0 0.3 1.2 0.2 0.6 17.9 1.2 1.6 0.4 57.2 1.0 0.6 1.6 1.1 0.1 0.0 0.105 Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.0 4.0 0.3 1.1 0.2 15.1 0.5 0.1 0.3 0.0 0.5 1.0 0.1 0.2 Bunuh diri 0.0 0.0 0.9 10.5 darat 35.5 0.7 0.0 0.3 0.5 0.2 21.2 0.9 7.2 3.3 0.4 21.2 0.2 0.9 0.1 4.0 0.

2 0.1 0.9 1.8 0.4 0.9 4.1 0.0 0.3 56.5 0.9 37.2 0.2 0.0 0.2 2.2 0.7 56.1 0.4 14.5 0.4 1.0 0.0 47.1 0.4 0.2 0.1 36.2 0.2 0.1 0.9 3.1 0.1 3.0 1.1 0.6 1.9 1.5 1.4 1.1 0.4 4.7 1.0 1.2 0.9 4.3 0.1 0.1 0.9 1.1 0.0 0.1 0.1 1.1 0.4 22.0 0.6 42.4 31.3 1.5 1.4 27.4 Tdk tamat SD 8.1 0.1 0.4 20.1 0.2 1.2 31.0 1.3 18.7 0.8 0.1 1.9 Tamat PT 5.0 0.2 65 – 74 7.1 0.1 1.7 0.0 3.2 3.6 26.4 55 – 64 6.1 0.0 0.9 20.1 0.2 15.2 0.4 42.2 0.5 0.0 0.7 32.9 1.8 3.2 0.2 0.2 0.1 1.1 0.2 1.4 58.1 0.1 0.2 0.2 0.7 1.0 0.1 0.5 1.1 0.3 0.6 0.1 0.4 0.1 1.3 0.5 0.1 0.7 21.4 88.2 0.2 0.4 0.1 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 2.1 19.8 0.1 1.0 3.1 0.4 1.2 0.3 39.3 Tamat SMP 7.6 49.8 0.4 0.8 Wiraswasta 7.3 0.2 0.0 0.1 0.3 0.4 19.0 0.5 41.5 4.2 0.6 2.8 19.9 1.0 3.2 0.4 1.2 0.4 19.5 0.1 0.4 4.6 1.5 0.6 3.9 0.0 0.5 0.1 1.1 0.3 0.1 0.6 Kuintil 5 7.3 51.6 15.6 0.5 0.0 0.3 0.1 0.1 0.2 0.3 34.1 0.3 17.5 Perempuan 6.5 50.1 0.7 3.1 0.3 0.0 0.5 53.9 25.1 0.1 0.2 0.5 0.5 1.5 0.5 3.0 0.7 0.0 19.3 0.1 63.1 1.9 87.2 42.2 0.4 58.3 0.1 0.1 0.4 0.6 25 – 34 6.2 0.6 35 – 44 6.3 1.3 0.1 0.5 3.4 0.1 0.1 0.6 0.6 4.1 0.3 0.2 0.8 1.2 0.5 0.5 2.1 0.8 4.6 0.6 20.7 23.106.8 1.2 0.1 0.0 0.2 0.1 0.7 0.6 0.0 8.4 Kuintil 2 7.1 1.7 0.2 0.1 0.2 0.1 0.7 62.9 31.2 5.0 1.1 0.4 1.1 0.1 0.5 1.8 3.7 59.3 1.1 0.0 0.5 3.8 29.1 0.7 4.2 0.1 0.2 0.8 165 .3 0.8 1.2 0.1 0.4 1.0 3.8 0.7 0.8 0.5 Desa 7.7 75+ 7.5 1.3 1.8 Pekerjaan Tidak kerja 8.1 0.1 0.2 0.5 Pendidikan Tidak sekolah 7.1 21.2 0.3 0.1 4.3 1.6 15 – 24 9.0 0.1 0.1 0.6 78.7 1.6 0.0 0.4 4.3 0.5 0.3 0.0 0.1 0.1 0.1 0.1 0.7 0.4 0.0 0.6 Ibu RT 4.1 0.2 28.1 0.1 0.2 0.1 0.2 0.1 0.1 0.7 1.3 0.1 0.6 Tamat SMA 6.Tabel 3.3 1.9 0.1 0.3 Tempat tinggal Kota 7.2 0.5 0.3 0.5 0.3 0.7 1.1 0.5 0.7 15.0 0.5 63.3 1.5 0.7 1.0 0.2 0.5 Sekolah 9.0 24.2 0.1 0.0 0.7 0.2 0.3 0.2 0.5 46.1 0.6 0.4 16.9 64.0 21.2 0.0 0.2 0.0 0.8 0.7 13.0 0.6 23.4 45 – 54 6.1 0.4 0.3 0.7 1.9 0.3 0.4 1.1 0.0 0.9 0.6 0.0 0.0 0.4 5 – 14 9.1 0.3 0.0 0.9 3.3 1–4 7.3 0.3 45.5 28.9 24.2 0.0 0.3 0.3 1.0 52.0 13.7 1.1 0.1 0.5 27.1 0.8 Jenis kelamin Laki-laki 9.1 Komplikasi medis 0.0 1.2 0.0 0.2 1.1 0.2 45.2 11.3 0.2 18.1 0.2 0.1 0.6 21.3 26.2 0.1 0.1 0.6 25.1 0.1 0.5 Tingkat Pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil 1 7.0 2.1 0.8 0.4 0.4 0.4 0.7 4.9 1.3 0.1 0.3 28.6 1.6 Tamat SD 7.1 0.2 0.8 0.0 0.0 0.1 1.7 1.2 0.1 0.2 0.2 0.3 0.3 0.0 4.2 0.2 0.5 Petani/nelayan/b 7.7 0.5 62.2 41.0 49.9 76.6 3.5 1. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden.6 1.2 0.1 0.3 1.9 0.1 0.2 4.9 4.1 0.0 0.9 3.1 0.6 1.1 0.1 0.9 1.7 30. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Cedera darat laut udara Jatuh Sajam /tumpul Serangan senjata api Penyebab cedera Kontak racun Bencana alam Bunuh diri Tenggelam Terradiasi bakar Asfiksia 0.1 0.6 0.3 40.4 42.4 0.0 0.1 0.6 19.9 37.6 0.2 30.1 0.2 0.2 0.2 0.5 0.3 4.2 4.4 Pegawai 6.5 67.3 0.5 Kuintil 3 7.1 0.9 57.8 58.0 1.5 0.2 0.0 0.7 36.1 0.1 1.2 0.1 0.9 19.7 9.1 12.6 Kuintil 4 7.7 54.6 0.1 0.2 0.2 0.0 0.4 1.1 0.5 0.1 1.1 1.1 0.7 18.1 0.8 19.3 0.5 Lainnya 8.2 0.7 28.

7 20.4 9.0 34.7 20.3 36.7 5.6 19.8 27.9 6.2 1.3 13.2 28.6 3.1 11.6 6.3 28.3 1.4 25.7 14.1 1.1 6.9 0.7 17.7 7.5 5.7 25.9 11.8 23.3 21.0 21.2 35.5 5.1 7.4 7.4 9.8 9. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.1 6.4 28.7 21.3 37.8 35.7 17. lengan atas Siku.5 10.4 19.1 6.2 1.3 7.7 10.7 45.1 5.1 2.6 16.8 26.0 4.1 5.3 3.5 0.7 15.9 15.8 6.6 7.5 2.3 4.8 1.5 7.3 8.8 20.7 7.1 24.2 4.0 23.0 18.9 6.1 37.0 33.5 1.9 5.9 35.5 25.3 26.2 3.3 6.5 14.5 29.8 12.0 3.2 6.6 4.5 7.4 26.7 22.9 32.6 8.7 8.1 22.4 13.4 23.5 5.5 7.0 27.8 2.5 2.8 13.3 28.6 1.7 13.5 28.9 0.3 5.7 38.4 25.0 5.0 2.7 9.9 13.2 25.1 4.0 23.8 24.7 5.1 18.7 38.9 5.4 21.3 11.4 11.2 6.4 9.7 30.7 22.0 15.0 17.0 12.0 17.9 10.8 26.1 12.6 28.7 18.6 4.4 15.5 24.5 23.5 34.5 5.4 21.9 30.7 35.2 1.8 2.5 35.0 4.2 11.3 24.3 4.9 31.1 22.7 2.6 17.8 2.5 5.8 1.3 15.8 14.9 14.5 7.0 1.4 43.7 27.0 21. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.107 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.1 7.0 19.4 1.0 27.6 18.4 5.4 0.8 23.8 5.4 21.7 30.0 13.7 5.1 6.7 1.3 24.9 27.7 31.Tabel 3.9 6.3 4.6 31.6 36.6 8.5 9.5 6.2 44.6 15.8 6.3 9.2 1.0 14.1 15.6 6.1 1.4 2.1 7.9 11.7 31.5 6.6 25. panggul Bahu.2 6.3 5.0 36.3 5.5 32.9 8.6 14.5 21.7 6.3 4.2 15.4 35.5 27.0 4.8 38.7 26.6 13.3 12.6 5.2 11.5 7.3 6.2 32.6 24.1 8.3 12.6 5.2 17.3 14.3 37.7 34.2 36.8 22.8 28.6 29.6 13.6 1.0 0.2 18.2 40.8 1.7 13.2 2.0 28.6 9.0 0. punggung.8 11.5 3.6 10.6 5.1 18.7 28.8 6.2 3.3 27.7 7.1 4. Riskesdas 2007.2 11.0 4.4 4.0 16.7 23.6 23.7 11.1 3.8 21.7 29.9 1.4 14.9 23.5 4.0 1.6 1.4 11.6 39.4 166 .5 3.2 1.5 24.2 22.1 34.4 1.6 9.0 36.4 5.8 11.3 23.7 21.0 3.5 43.6 2.6 6.1 6.1 0.1 16.9 8.2 1.3 8.1 1.8 11.3 33.6 4. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian dan kaki tumit tajam/tumpul NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 17.1 3.3 30.1 1.9 2.5 5.5 10.2 7.0 5.5 16.6 2.9 14.4 27.4 47.5 45.1 7.0 2.6 7.9 16.2 5.5 21.2 7.8 10.3 6.7 10.9 25.1 3.1 1.8 13.

1 9. punggung.7 24.3 25.6 19.8 20.3 6.1 6.1 27.9 3.4 1.3 26.1 3.1 27.3 9.5 35.1 18.7 11.8 Tamat SMP 11.9 21.5 1.2 15.0 9.7 7.0 Tidak tamat SD 10.8 27. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian tumit dan kaki tajam/tumpul Kelompok umur (tahun) <1 50.3 5.3 25.8 8.3 26.2 1.7 Lainnya 13.8 27.5 2.5 1.1 37.5 Kuintil 5 13.5 27.3 6.7 31.0 6.6 Tamat SD 10.4 21.8 29.2 17.8 6.1 27.0 1.4 6.6 15.6 3.6 38.5 4.7 24.9 5.2 26.1 22. Riskesdas 2007.2 11.9 6. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.4 26.5 6.3 20.2 8.2 9.5 1.9 4.7 15.2 24. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.5 3.0 21.4 19.1 9.8 75+ 14.2 Pekerjaan Tidak kerja 12.5 3.3 22.5 2.3 46.1 8.5 43.2 1.6 32.3 29.6 27.4 55 – 64 11.6 7.2 3.6 14.1 3.3 8.3 8.5 1.3 20.7 4.9 35.5 1.7 28.9 25.3 36.4 1.6 Pegawai 12.0 Kuintil 4 13.3 1.3 Tamat PT 11.5 32.8 28.0 6.4 26.4 11.2 2.3 11.5 1.6 3.5 6.9 1.2 10. panggul Bahu.7 Desa 13.9 11.1 34.6 3.1 9.3 7.8 30.7 9.2 7.3 43.5 35.8 23.3 6.8 1.4 Jenis kelamin Laki-laki 14.2 20.5 25.0 18.0 3.0 6.0 7.4 1.4 18.2 3.1 167 .8 45 – 54 11.7 9.7 7.2 29.7 37.7 8.4 3.9 26.3 5.7 10.8 18.0 17.5 3.3 13.7 24.2 Ibu RT 9.3 7.7 11.1 2.4 18.1 35 – 44 10.5 7.9 3.2 2.8 13.3 6.6 6.2 5.0 1.4 3.2 1.5 8.1 5 – 14 12.3 1.8 36.9 7.0 27.8 23.4 29.9 2.8 27.0 6.4 17.4 33.8 25 – 34 11.6 5.9 17.Tabel 3.9 25.3 1.5 3.3 6.1 17.6 18.5 28.7 9.9 30.9 26.8 9.9 8.5 4.4 13.4 9.8 9.0 31.9 10.4 1.2 27.1 3.4 29.7 Tamat SMA 12.6 20.9 16.6 36.1 3.5 6.3 3.8 3.4 35.5 7.0 7.6 1.5 24.4 8.3 12.3 1.8 35.0 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 13.6 1.1 11.2 27.2 18.5 29.9 7.9 25.6 31.3 5.2 9.8 3.8 12.5 1.0 1–4 26.5 25.6 2.3 5.7 1.7 36.9 31. lengan atas Siku.6 7.6 2.0 32.8 35.9 26.9 8.3 6.0 7.6 6.0 25.6 11.9 13.3 3.4 27.0 28.2 8.7 5.6 14.2 7.9 6.1 11.4 7.7 3.9 5.4 25.8 6.4 33.1 6.6 9.7 15 – 24 11.6 14.9 37.6 3.8 26.108 Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden.3 13.7 Kuintil 3 13.1 8.4 1.3 35.0 6.6 24.9 31.5 Kuintil 2 12.6 6.6 3.5 3.4 0.6 27.8 26.9 Sekolah 10.4 0.0 29.1 32.4 1.9 10.4 28.6 26.9 1.9 Pendidikan Tidak sekolah 11.3 10.9 Petani/nelayan/buruh 10.4 17.4 wiraswasta 12.4 9.3 26.4 6.0 26.3 26.6 Tempat tinggal Kota 13.0 6.9 20.2 65 – 74 12.1 Perempuan 11.

2 35.1 29.6 4.7 28.8 1.7 13.6 1.0 Keracunan 0.1 17.9 0.4 31.5 0.7 35.9 2.3 2.Tabel 3.3 29.5 3.1 15.2 2.6 1.7 4.0 1.8 19.1 30.0 1.6 2.109 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.7 0.6 2.7 .7 23.2 19.6 0.0 3.5 0.1 15.1 1.4 0.8 Luka terbuka 23.3 4.2 35.7 49.2 23.8 0.5 59.4 39.4 39.4 16.4 4.5 0.7 4.0 3.5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 168 .6 54.6 2.0 0.6 3.4 47.9 0.0 2.4 27.0 1.0 59.1 30.4 21.3 1.4 0.7 0.7 2.3 1.1 21.2 0.7 1.4 23.6 0.8 53.0 14.4 Luka bakar 3.5 13.6 35.6 25.4 0.4 1.9 1.5 Anggota gerak terputus 1.4 20.5 0.5 45.2 57.5 21.6 1.2 2.0 2.0 1.2 45.8 2.2 39.3 2.3 51.0 30.9 1.2 39.4 53.2 12.0 45.0 Lainnya 1.3 3.7 1.8 1.1 29.7 20.3 21.3 55.1 2.7 31.2 1.8 3.5 0.6 4.2 0.2 42.9 4.4 1.3 3.2 6.2 5.1 24.4 1.0 0.1 2.2 1.9 Patah tulang 8.6 1.1 31.4 9.2 29.7 5.0 0.1 22.2 35.8 3.6 0.7 29.9 2.2 39.9 1.8 2.8 23.5 39.1 7.8 34.0 1.5 2.5 3.3 55.1 42.7 39.0 37.1 19.4 Luka lecet 50.1 2.5 56.7 12.9 58.5 0.8 13.4 28.1 14.8 25.6 3.9 11.3 0.5 20.4 0.0 24.7 47.5 0.5 23.9 55.1 0.0 49.9 1.5 5.9 22.3 49.2 33.3 2.8 2.6 1.5 20.7 44.6 46.1 36.7 1.9 1.0 3.7 21.7 19.8 2.6 1.2 Terkilir / teregang 31.5 35.7 2.5 22.9 4.6 0.7 4.0 0.5 27.3 16.0 1.5 35.0 37.0 18.5 58.4 2.9 2.9 28.6 1. Riskesdas 2007 Provinsi Bentu ran 35.3 1.5 0.9 22.4 24.8 46.4 24.8 40.6 14.7 23.5 2.3 1.0 28.4 4.4 0.1 19.7 2.5 30.1 23.0 2.2 0.7 2.6 12.0 3.4 0.2 0.4 2.8 2.8 3.6 29.8 2.2 2.6 3.4 0.2 3.1 1.6 26.9 40.6 2.0 1.0 2.1 1.6 0.1 7.9 49.8 2.9 2.2 3.6 1.6 4.9 0.8 22.6 53.7 35.6 53.3 1.7 3.7 7.6 42.3 .1 50.2 2.6 0.7 0.7 0.1 4.8 40.0 30.6 4.0 7.4 0.5 0.6 56.7 9.5 39.5 0.8 45.1 52.9 2.5 4.5 38.5 44.3 0.6 0.2 53.3 1.5 18.4 60.0 5.

8 0.0 31.8 22.9 36.0 2.5 0.2 1.1 4.8 44.7 2.6 42.3 47.0 1.1 0.0 34.7 21.1 28.4 4.6 1.4 0.7 1.4 46.4 2.2 1.5 22.5 2.2 2.7 0.7 40.8 1.1 2.1 2.5 2.9 36.1 4.0 5.1 2.6 3.4 52.3 1.1 23.5 3.8 2.1 3.2 13.8 5. teregang Patah tulang Anggota gerak terputus Keracunan Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 1—4 5 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ 49.4 2.8 2.7 52.7 1.7 0.1 27.0 46.4 38.8 2.4 0.4 Tempat tinggal Kota 169 .5 1.9 4.0 0.8 20.2 2.3 22.0 0.5 21.9 5.8 1.1 24.4 23.9 1.8 2.3 1.6 2.2 20.5 22.6 5.0 13.5 23.3 20.3 38.1 24.3 1.0 0.0 3.3 2.2 4.4 4.1 0.9 36.4 25.0 47.6 28.3 54.2 2.8 3.3 22.8 28.4 26.2 1.8 3.0 2.5 51.6 2.7 21.0 22.5 1.2 22.1 2.7 2.0 24.2 22.1 6.4 13.5 2.1 1.7 0.3 26.9 25.2 2.4 1.0 47.4 4.4 27.3 21.6 4.0 51.0 6.7 0.6 2.8 61.4 2.4 36.4 Desa 36.5 41.9 1.0 2.2 0.6 50.6 1.3 0.1 22.4 33.7 52.7 0.2 1.5 50.4 5.0 39.2 2.6 39.8 23.3 0.9 0.4 36.9 21.7 34.1 1.5 2.0 20.8 2.0 23.8 39.5 39.1 36.2 31.9 25.3 22.8 62.9 7. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Benturan Luka lecet Luka terbuka Luka bakar Terkilir.8 5.4 0.8 52.2 2.5 2.1 37.0 5.4 0.6 20.7 39.6 25.3 0.7 40.3 28.7 26.8 23.5 5.3 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya 38.3 7.8 1.8 29.7 3.4 2.4 36.3 2.5 37.7 1.8 48.1 2.7 0.5 22.6 0.0 1.3 41.3 16.4 2.3 1.5 25.9 1.7 27.1 2.1 1.7 27.110 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.6 2.5 35.5 5.4 1.1 32.5 4.0 0.1 0.6 2.4 2.5 30.5 2.5 6.1 33.6 1.5 57.1 28.9 2.3 6.3 35.8 1.9 1.1 1.8 0.8 3.1 2.2 53.6 3.2 37.7 2.8 47.2 2.3 49.3 0.8 8.2 2.9 20.7 0.2 1.8 1.2 21.2 4.Tabel 3.8 1.3 2.8 0.1 5.9 2.2 40.7 37.1 1.7 37.1 27.6 27.1 29.5 28.3 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 37.1 23.7 58.1 51.1 3.5 37.7 0.0 1.0 36.6 2.7 25.0 1.1 2.8 0.3 36.1 0.5 1.5 0.3 2.4 21.0 1.

3. Sembilan pertanyaan terkait dengan fungsi individu dan sosial dengan pilihan jawaban sebagai berikut. Disebut “Tidak bermasalah” bila responden menjawab 1 atau 2 pada 20 pertanyaan inti. Sebelas pertanyaan pada kelompok pertama terkait dengan fungsi tubuh bermasalah. yaitu “Tidak bermasalah” atau “Bermasalah”.6.5 5.7 6. sehingga memerlukan bantuan orang lain.4 6. melakukan aktivitas/gerak atau berkomunikasi. dan 5) Sangat berat.3 11. Riskesdas 2007 Fungsi Tubuh/Individu/Sosial Bermasalah* (%) 11. 4) Sulit.9 6. bila responden menjawab 3.8 2. 3) Sedang. Disability and Health (ICF). 2) Ringan.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan Status disabilitas dikumpulkan dari kelompok penduduk umur 15 tahun ke atas berdasarkan pertanyaan yang dikembangkan oleh WHO dalam International Classification of Functioning.8 8. 3) Sedang.4 atau 5 untuk keduapuluh pertanyaan termaksud. 2) Ringan. Tabel 3.6 5. Disebut “Bermasalah” bila responden menjawab 3.9 8. 4) Berat. Dalam analisis. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi oleh penduduk terkait dengan fungsi tubuh. dengan pilihan jawaban 1) Ya dan 2) Tidak.9 5.2 2.2 Melihat jarak jauh (20 m) Melihat jarak dekat (30 cm) Mendengar suara normal dalam ruangan Mendengar orang bicara dalam ruang sunyi Merasa nyeri/rasa tidak nyaman Nafas pendek setelah latihan ringan Batuk/bersin selama 10 menit tiap serangan Mengalami gangguan tidur Masalah kesehatan mempengaruhi emosi Kesulitan berdiri selama 30 menit Kesulitan berjalan jauh (1 km) Kesulitan memusatkan pikiran 10 menit Membersihkan seluruh tubuh Mengenakan pakaian Mengerjakan pekerjaan sehari-hari Paham pembicaraan orang lain Bergaul dengan orang asing Memelihara persahabatan Melakukan pekerjaan/tanggungjawab Berperan di kegiatan kemasyarakatan *) Bermasalah. penilaian pada masing-masing jenis gangguan kemudian diklasifikasikan menjadi 2 kriteria.111 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial. Tiga pertanyaan tambahan terkait dengan kemampuan responden untuk merawat diri.4 atau 5 170 . individu dan sosial.8 11.2 4.6 9.7 11.5 5.3 8. dengan pilihan jawaban sebagai berikut 1) Tidak ada. Responden diajak untuk menilai kondisi dirinya dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan 20 pertanyaan inti dan 3 pertanyaan tambahan untuk mengetahui seberapa bermasalah disabilitas yang dialami responden. yaitu 1) Tidak ada.2 10.5 5. dan 5) Sangat sulit/tidak dapat melakukan.

dan Sumatera Utara masing-masing 1. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tidak berbeda menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran perkapita per bulan. dan napas pendek setelah latihan ringan merupakan disabilitas yang menonjol.3%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” semakin meningkat dengan bertambahnya umur.2%).6%). (Tabel 3.5%).111 tampak bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas yang bermasalah dalam hal penglihatan jarak jauh. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” terendah adalah Maluku (1.7%).2%). Jawa Barat (25. Gorontalo (2. sedangkan yang terendah pada responden yang sekolah. Semakin rendah tingkat pendidikan penduduk ternyata diikuti dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” yang semakin tinggi.113) 171 . Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat pada responden yang tidak bekerja. dan mengenakan pakaian hanya sekitar 3%. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disabilitas pada laki-laki. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Bermasalah” terendah adalah di Provinsi Maluku Utara dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing sekitar 10%.9%). merasa nyeri/merasa tidak nyaman. Nusa Tenggara Barat (2.4%). (Tabel 3. dan Sulawesi Selatan (2.Dari tabel 3.112) Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas menunjukkan variabilitas menurut karakteristik responden. Bengkulu (2. Kriteria “Sangat bermasalah” apabila responden menjawab ya untuk salah satu dari tiga pertanyaan tambahan.5%. berjalan jauh. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat (2. Secara nasional ternyata status disabilitas dengan kriteria “Sangat bermasalah” adalah sebesar 1. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” ternyata bervariasi menurut pekerjaan responden. Sedangkan yang bermasalah dalam hal membersihkan seluruh tubuh. Sulawesi Tengah (26. Kalimantan Timur.8% dan “Bermasalah” 19. Nusa Tenggara Barat (27. penglihatan jarak dekat.4%). Kalimantan Tengah. Dalam menilai status disabilitas kriteria “Bermasalah” dirinci menjadi “Bermasalah” dan “Sangat bermasalah”.7%). Prevalensi disabilitas “Bermasalah” tertinggi ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (27.3%.

7 19.4 1.5 1.6 26.9 1.3 1.112 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Provinsi.1 1.5 172 .1 21.9 10.6 12.9 2.7 Bermasalah (%) 18.9 1.6 1.8 16.7 1.1 1.2 17.8 25.0 10.4 1.9 15.4 1.9 23.7 21.1 20.5 14.7 2.3 2.0 15.3 12.7 19.8 19.9 2.1 18.6 10.9 1.Tabel 3.4 22.0 1. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Provinsi Sangat Bermasalah (%) 2.4 1.6 1.2 1.0 21.7 14.4 2.2 1.5 2.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.6 21.1 14.1 27.5 2.7 1.6 15.7 1.3 17.8 18.1 1.3 1.0 2.7 1.1 14.6 23.0 27.4 2.9 20.3 1.

3 25.1 30.4 10.3 20.7 1.8 18.8 18.4 2.8 23.8 1.5 1.5 2.7 30.2 1.0 29.0 20.7 5. Polri) Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.2 2.9 3.0 1.8 19.0 4.5 1.0 17.6 20.1 61.4 21.3 37.1 19.8 62.2 7.7 1.1 20.7 17.8 14.0 1.8 1.2 1.8 1.2 1.8 1.7 2.7 20.3 50.9 .9 19.9 25.Tabel 3.8 1.4 47. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Karakteristik Kelompok umur: 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan: Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan: Tidak bekerja Sekolah Mengurus RT Pegawai (Negeri.4 Sangat bermasalah Bermasalah 173 .113 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.8 18.6 1. Swasta.4 31.1 8.5 23.7 26.0 1.7 1.

dengan rentang rerata 29% sampai 32%. Bagi penduduk yang merokok setiap hari. Pada perokok kadang-kadang. Tabel 3.4%).1%) dan Gorontalo (32. DKI Jakarta dan Jawa Tengah masingmasing 9 batang.5%). Pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan penyakit flu burung dan HIV/AIDS ditanyakan melalui wawancara individu. ditanyakan berapa umur mulai merokok setiap hari dan berapa umur pertama kali merokok. Sikap dan Perilaku Pengetahuan.9%) 10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (1.7 Pengetahuan. 3. Sedangkan persentase terendah dijumpai di Provinsi Maluku (19.5%) dan Maluku (25. Prevalensi perokok saat ini tertinggi di Provinsi Lampung (34. dan porsi konsumsi buah dan sayur.114 menunjukkan bahwa secara nasional persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok tiap hari 24%. yaitu yang merokok setiap hari dan merokok kadang-kadang.7. dan pola konsumsi makanan berisiko. perilaku konsumsi buah dan sayur. selanjutnya adalah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16 batang. Sedangkan penduduk kelompok umur 10-14 tahun yang merokok tiap hari sudah mencapai 0.6%). Secara nasional. Rerata batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi di NAD (19 batang). Menurut pendidikan. penggunaan tembakau/ perilaku merokok.3%).3%). Perokok saat ini adalah perokok setiap hari dan perokok kadang-kadang. Bali (24. merokok kadang-kadang. Juga ditanyakan apakah merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.8%) dan Jawa Barat (26.9%). Sulawesi Selatan (25. Persentase tertinggi ditemukan di Provinsi Bengkulu (29. pada laki-laki (9.116 menunjukkan perilaku merokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap menurut provinsi. sikap dan perilaku dalam Riskesdas 2007 ditanyakan kepada penduduk umur 10 tahun ke atas. Sulawesi Barat (25. disusul Bengkulu (34. kebiasaan buang air besar. Untuk mendapatkan persepsi yang sama. mantan perokok atau tidak merokok. Pada penduduk yang merokok.8%) penduduk laki-laki umur 10 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari. proporsi tinggi dimulai pada kelompok umur 15-24 tahun (7. termasuk penduduk yang belajar merokok. minum minuman beralkohol. Bagi mantan perokok ditanyakan berapa umur ketika berhenti merokok. Secara nasional prevalensi perokok saat ini 29.1 Perilaku Merokok Pada penduduk umur 10 tahun ke atas ditanyakan apakah merokok setiap hari. Sedangkan mantan perokok proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 75 tahun ke atas (12. pada saat melakukan wawancara mengenai satuan standar minuman beralkohol.115 menggambarkan perilaku merokok penduduk umur 10 tahun ke atas menurut karakteristik responden.8%) dan perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Tidak tampak perbedaan antara rumah tangga yang tingkat pengeluarannya rendah dan tinggi. Tabel 3. Hampir separuh (45.0%).3. Tabel 3. proporsi tertinggi dijumpai pada penduduk tamat SMA (26.2%). sedangkan yang paling sedikit adalah Bali. Nusa Tenggara Barat.6%).7% dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17%. digunakan kartu peraga. aktivitas fisik. diikuti dengan Lampung (28.3%).2% dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 12 batang per hari. klasifikasi aktivitas fisik. 174 . persentase penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun). Provinsi-provinsi yang prevalensinya di bawah angka nasional adalah Provinsi Kalimantan Selatan (24.8%).2%). Demikian juga perilaku higienis yang meliputi pertanyaan mencuci tangan pakai sabun. ditanyakan berapa rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan jenis rokok yang dihisap.

4 5.0 Tidak merokok Mantan perokok 2.7 64.1 2.6 22.0 3.4 24.5 3.9 2.4 6.1 65.6 5.5 3.0 67.4 67.1 65.9 1.1 72.9 6.Tabel 3.2 69.1 20.7 64.2 64.3 7.6 6.3 69.9 3.5 5.6 20.2 68.0 5.5 28.8 71.6 4.0 23.8 26.5 22.4 71.7 5.8 20.9 67.5 5.8 27.1 2.7 65.5 4.8 65.6 5.4 4.6 24.6 6.1 21.1 4.6 3.8 24.2 23.8 4.0 4.3 23.1 25.0 69.9 3.3 3.8 2.3 2.8 5.8 73.6 5.5 4.2 69.7 23.8 2.0 6.8 67.9 19.9 19.0 3.4 29.4 5.8 1.3 3.8 175 .0 3.6 69.1 20.5 66.5 71.0 5.7 1.5 70.4 24.1 2.5 71.7 6.5 2.3 25.2 2.5 25.3 6.3 4.4 67.5 2.3 1.114 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.3 25.0 3.7 24.5 5.6 64.3 68.2 22.5 3.4 Perokok kadangkadang 6.8 24.0 63.8 6.6 71.7 5.6 68.8 4.3 64.2 21.2 3.5 5.1 2.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Nasional 23.6 7.8 Bukan perokok 68.0 2.5 6.1 19.1 4. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Provinsi Perokok setiap hari 23.8 67.2 5.5 2.4 20.6 24.

1 5.9 23.2 61.3 5.8 2.9 3.3 7.3 6.8 1.0 62.4 24.9 94.4 5.0 69.0 65.8 3.6 5.9 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 26.4 5.6 69.3 23.4 68.7 67.3 5.8 4.8 20.8 9.0 9.1 67.0 26.8 28.7 2.3 21.6 7.7 74.6 67.0 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 21.6 2.1 1.6 68.7 2.3 29.2 25.5 67.2 23.4 67.2 57.7 17.6 5.3 0.1 6.3 63.4 0.Tabel 3.3 72.5 54.9 1.9 12.4 5.0 30.8 27.9 6.8 5.9 55.8 Tidak merokok Mantan perokok Bukan perokok Perokok setiap hari Perokok kadangkadang Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 45.1 3.0 97.4 2.6 5.3 1.0 4.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.7 5.6 4.5 2.5 2.6 55.9 66.8 2.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.9 176 .2 6.6 5.2 32.4 3.9 23.5 5.8 5. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 0.4 24.7 4.4 3.4 31.6 3.7 38.

7 15.4 11.8 9.2 25.5 14.8 32.1 9.3 25.9 30.1 11.8 Indonesia 29.5 12.4 31.Tabel 3.5 14.0 27.1 28.9 24.1 16.4 29.1 31.4 13.4 30.7 25.3 30.2 26.4 32.4 8.8 12.7 13. Riskesdas 2007 Perokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rerata jumlah batang rokok /hari 18.4 14.2 30.3 28.2 12.9 10.4 11.2 24.0 12.7 34.4 13.9 9.4 13.5 8.5 26.8 29.9 9.3 13.8 30.8 30.1 34.0 177 .7 28.7 30.7 27.1 10.2 27.7 29.6 25.2 14 saat ini 29.9 27.2 28.9 11.0 12.5 9.3 10.116 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.9 14.3 10.0 13.

Tabel 3.6 11. walaupun prevalensi hanya 2%.5 28. tetapi rerata rokok yang dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (16 batang dan 12 batang). tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16 batang per hari. Prevalensi perokok saat ini lebih tinggi pada penduduk tamat SMA dan penduduk tidak sekolah.1 12. Tidak tampak adanya perbedaan antara penduduk dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita tinggi dan rendah.117 menggambarkan prevalensi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap per hari menurut karakteristik responden.9 25.0 38.5 34.3 30.7 12.7 15.0 29.4%).7 11. Tabel 3.6 35.0 36.6 29.9 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 29.0 27. kemudian menurun pada umur lebih lanjut. Riskesdas 2007 Perokok saat ini (%) Rerata jumlah batang rokok /hari 10 12 13 14 13 13 10 13 11.7 Prevalensi perokok saat ini pada laki-laki 11(sebelas) kali lebih tinggi dibandingkan perempuan (berturut-turut 55. Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur 15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun.117 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun.1 55.3 28.4 30.9 12.6 11.3 12.6 12.7 33.0 26.6 34.5 29.7% dan 4.7 11. serta di daerah perdesaan.1 12.7 4.7 12.5 11. 178 .6 30.0 11.0 24.4 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 2.0 37.

3 14.8 8.1 27.0 0.3 1.7 32.8 11.9 35.3 13.8 37.6 10.1 14.5 26.6 36.0 24.2 2.9 6.6 1.3 46.1 3.9 4.8 14.0 0.2 26.2 9.2 7.8 2.1 34.0 Untuk kelompok usia muda (5-9 tahun).2 38.118 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.3 18.9 2.6 36.7 15.1 27.5 1.0 0.3 40.4 2.7 2.0 18.2 0.4 13.1%).5 4.3 4.0 0.4 22.4 35.0 0.9 11.3 2.8 12.6 2.4 27.2 Indonesia 0.6 4.0 3.0 0.0 13.8 10.3 12.0 38.2 6.4 13.0 0.2 3.0 0.7 1.118 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari.7 20-24 17.0 15-19 30.3 5.1 34.2 4.0 0.2 29.2 5.5 17.7 44.5 44.0 0.8 7.6 34.5 3.5 2.0 9.4 6.9 15.9 1.0 0.4 4.5 29.0 0.6 18.0 0.8 15.0 5.3 33.8 24.0 12.8 6.4 20.6 26.Tabel 3.8 36.3 10.0 7.4 31.0 0.9 39. yaitu 36.0 0.1 Tidak tahu 39.0 0.3 12.8 5.4 11.5 34.8 19.7 18.0 3. Papua menduduki tempat tertinggi (3.8 6.8 2.4 16.5 17.7 59.4 3.5 46.1 3.0 0.0 2.5 29.6 28.5 28.3 2.1 9.2 1.7 3.3%.2 8.2 10-14 6.1 10.9 1.6 9.2 3.8 3.9 12. 30 kali lebih besar dibandingkan dengan angka nasional (0.2%).2 30.9 17.0 36.2 6.4 0.6 11.3 36.0 0.4 8.6 9.3 9.2 39.9 5.1 30.1 2. Secara nasional persentase usia mulai merokok tiap hari umur 15-19 tahun menduduki tempat tertinggi.1 ≥30 2.0 0.0 0.7 1.5 52.9 4.6 4. Usia mulai merokok tiap hari ini penting diketahui untuk melihat lamanya paparan rokok pada penduduk.4 26.6 36.6 0.6 3.2 5.7 39.4 33.3 1.9 12.9 5.6 38.1 17.7 3.4 36.5 43.0 0.3 3.3 12.4 18.3 3.6 29.4 24.4 3.4 10.1 34.7 25-29 3.3 35.8 0.0 0.7 24.0 0.4 21.4 5.5 40.6 19.4 1.6 33.5 3. Tabel 3.0 13.9 10.7 36.0 39. 179 .4 3.6 33.3 16.5 2.0 18.8 17.0 18.1 14.3 3.0 12.5 3. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5-9 0.8 2.3 6.2 35.8 1.7 5.8 36.7 1.9 2.0 0.4 13.0 8.0 10.4 3.9 4.0 0.0 33.6 5.9 4.7 1.0 37.

5 11.0 14.2 0.7 28.1 8.0 0.1 1.4 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 0.0 57.1 0.1 0.8 37.2 4.2 11.0 43.9 35.8 2.1 0.2 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 0.3 14.1 7.0 3.9 29. Tabel 3.2 9.3 22.9 14.9 4.5 5.1 19.1 0.6 17.1 0.1 11.4 0.0 4.2 3.3 3. 19% penduduk umur 10-14 tahun sudah mulai merokok tiap hari pada usia 10-14 tahun.7 21.9 40.Tabel 3.9 30.3 24.2 4.1 3.6 21.1 38.4 7.1 0.6 6.4 8.1 0.2 5.9 3.0 10.4 3.2 0.1 0.1 0.2 15. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 1.5 32.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 0.4 15.3 4.5 18.2 4.1 18.9 19.3 6.9 2.0 30.7 7.1 7.0 15.1 3.0 36.1 7.1 18.0 27.1 4.1 0.8 0.5 16.119 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari dan karakteristik responden.6 19.5 3.1 16.5 4.0 7.5 4. Berdasarkan kelompok umur.0 3.2 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 0.0 17.6 4.0 16. kecuali pada usia 5-9 tahun dan 30 tahun ke 180 .6 34.6 22.2 4.5 16.6 19.4 3.9 0.1 0.9 2.119 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.0 33.9 6.6 48.7 38.5 6.1 33.5 21.1 24.6 18.8 17.7 4.2 14. bahkan 1.3 44.1 3.7 34.0 7.6 10.1 0.9 6.1 35.1 0.6 4.0 0.8 10.6 9.6 15.9 79.7 55.8 7.1 0.0 27.8 9.9 29.9 36.3 29.4 4.4 34.9 55.4% mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun.0 0.4 4.3 37.1 46.2 10.2 24.0 5.5 Untuk setiap kelompok usia mulai merokok tiap hari pada umumnya persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.4 9.2 9.0 45.4 12.5 2.3 0.9 29.7 10.7 0.3 6.3 10.7 39.2 0.6 5.

0 11.5 8.7 1.3 1.8 3.6 44.9 1.9 11.3 6.1 48.4 1.3 2.8 3.4 13.1 39.8 Tidak tahu 49.9 2.6 0.2 ≥30 2.9 0.2 42. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Provinsi 5-9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.2 37.1 37.5 12.1 1.8 4.1 13.7 28.7 0.6 0.9 1.7 4.5 10.5 33.4 1.7 1.5 3.5 32.8 45.6 7.7 3.5 1.3 38.5 13.4 4.7 25-29 2.2 3.1 31.3 28.9 9.1 35.7 1.9 9.8 3.6 2.3 51.0 10.6 32.1 2.1 24.4 11.1 1.2 7.1 11. Tabel 3.4 11.7 1.0 34.1 0.0 1.2 9.3 2.3 8.1 13.6 2.7 14.2 33.3 11.7 38.8 8.0 50.8 43.8 34.2 1.5 43.120 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.atas.2 6.6 2.4 12.2 42.3 33.7 9.9 1.7 1.7 3.2 2.6 10.9 8.8 35.1 8.0 8.4 39.9 1.1 42.7 1.7 11.3 10.4 34.3 4.8 14.1 2.8 1.8 10.2 35.5 10.3 0.4 13.5 36.5 31.4 32.9 1.2 1.7 11.0 0.1 31.1 3.0 9.3 2.9 15-19 26.6 16.3 29.9 33.0 22.3 12.9 0.2 31.2 12.5 1.2 1.3 1.0 Nasional 1.4 11.8 40.9 44.6 1.0 0.0 3.9 1.9 2.6 9.3 1.3 12.8 39.9 22.3 3.6 10.8 2.0 10-14 7.3 6.8 1.4 2.3 10.9 2.4 2.0 2.3 46.3 32.1 14.1 1.8 4.0 4.7 10.5 12.4 1.3 0.0 9.0 4.8 13.2 8.2 59.3 0.4 1.5 6.2 40.5 33.9 2.5 1.0 32.2 1.7 34.6 4.4 34.5 13.6 11.2 28.6 3.9 13.6 33.8 1.5 1.7 1.5 6.Tidak tampak perbedaan usia mulai merokok tiap hari dilihat dari tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.5 2.8 1.3 4.9 2.5 6.6 2.0 7.5 2.2 8.2 16.9 35.4 33.6 13.6 2.7 5.1 0.3 34.1 16.5 1.4 27.5 32.120 memperlihatkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau.3 20-24 11.8 4.6 3.2 1.4 41.6 33.0 13.3 3.2 2. Usia mulai merokok atau 181 .7 28.6 28.6 26.2 Tabel 3.9 3.0 40.0 27.6 43.

5%). Secara nasional. dan tingkat pengeluaran per kapita. penduduk tidak sekolah lebih banyak menggunakan rokok linting atau tembakau kunyah dibandingkan jenis rokok lainnya. Bangka Belitung.124).0%). kemudian kretek tanpa filter (35. Demikian juga rokok linting dan tembakau kunyah. tetapi ada 5.121 menggambarkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau dan karakteristik reponden. Gorontalo (2.9%). DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masingmasing 1. DKI Jakarta (13.4%). perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun tertinggi dijumpai di Bangka Belitung (42. selanjutnya Bangka Belitung (16.6%) dan Kalimantan Selatan (12. persentase tertinggi usia pertama kali merokok terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun (32. disusul usia 20-24 tahun (11. Secara nasional.1%).1%) (lihat Tabel 3.4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Menurut jenis kelamin.8%).7%). Menurut pendidikan. Menurut kelompok umur. Perokok yang mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun terbanyak di Provinsi Sumatera Barat (16. Sulawesi Utara (39. laki-laki lebih dominan pada semua jenis rokok dibandingkan perempuan. Jawa Tengah (13. pendidikan.0%). disusul Kepulauan Riau (2.122 menunjukkan prevalensi perokok yang merokok dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga menurut provinsi.9%). 3%).1% yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun.5%) dan Jawa Barat (35.4%) dan rokok linting (17. pada umumnya jenis rokok yang diminati adalah kretek dengan filter.8%). Menurut provinsi. Tabel 3.0%).2%). Secara umum jenis rokok yang paling banyak diminati adalah rokok kretek dengan filter (64. banyak diminati oleh penduduk berumur 55 tahun ke atas.9%). Perokok umur 10-14 tahun umumnya mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun (31. kecuali pada kelompok umur 55 tahun ke atas kretek tanpa filter merupakan pilihannya. Menurut jenis kelamin. 182 . persentase mulai merokok tertinggi dijumpai pada kelompok usia 15-19 tahun.3%). 85. disusul oleh DKI Jakarta (39. kecuali penggunaan tembakau kunyah pada perempuan 19 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. tertinggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (93. Tabel 3.9%.mengunyah tembakau mencakup juga penduduk yang baru pertama kali mencoba merokok atau mengunyah tembakau. Sedangkan perokok dengan umur mulai merokok pada umur 5-9 tahun tertinggi di Papua (4. demikian juga halnya menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran per kapita (Tabel 3. dan pada jenjang pendidikan lainnya didominasi oleh penggunaan kretek dengan filter.123). tipe daerah. Terdapat 18 provinsi dengan prevalensi di atas angka nasional.

9 6.8 12.1 1.5 7.1 3.2 25.7 4.2 1.7 2.0 34.9 38.1 4.3 36.0 3.7 1.6 32.6 4.0 4.9 63.1 32.1 1.8 17.9 10.6 2.7 0.0 20.5 10.0 31.0 26.2 Kuintil-5 183 .3 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 1.8 9.5 4.8 Kuintil-4 1.4 37.5 2.9 3. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 5.8 2.6 31.7 1.7 13.0 0.6 2.4 32.7 13.9 11.3 1.7 6.1 1.1 32.5 1.0 2.121 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.6 1.2 44.2 9.4 38.3 2.3 31.1 10.5 38.1 1.9 2.1 55.5 3.1 10.1 8.8 8.7 3.2 17.0 4.4 3.5 2.2 14.1 7.2 0.3 1.5 42.9 11.6 9.2 12.8 12.6 37.4 7.5 61.1 12.1 3.2 2.1 13.2 5.3 30.7 2.2 10.1 4.2 25.4 1.4 2.4 0.6 2.6 3.3 13.9 1.4 11.8 19.0 49.8 11.6 3.5 Kuintil-3 1.2 14.6 10.5 3.2 59.2 3.3 1.3 33.2 10.2 1.7 10.4 1.2 53.4 41.9 11.8 2.4 10.1 33.8 3.0 6.5 1.3 10.0 40.0 0.6 36.5 5.1 1.3 36.2 Kuintil-1 1.4 30.2 0.6 12.2 3.0 40.2 Kuintil-2 1.3 11.Tabel 3.0 13.4 5.9 38.3 47.0 18.0 3.9 10.3 41.8 34.2 31.1 7.5 33.3 11.2 0.0 0.3 13.3 32.4 6.4 1.

5 91.7 92.0 83.2 89. Riskesdas 2007 Perokok merokok Provinsi dalam rumah ketika bersama ART NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 82.8 80.0 88.122 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi.8 93.7 86.7 87.4 86.7 82.4 87.4 78.3 90.9 84.3 90.Tabel 3.2 83.1 85.4 184 .2 89.3 90.7 89.1 88.4 84.9 91.4 79.7 83.0 84.7 77.9 86.1 82.1 64.7 86.4 Indonesia 85.

9 14.2 0.1 0.7 46.7 24.8 0.1 12.8 74.5 51.3 0.9 1.5 13.3 2.1 0.8 37.4 1.2 14.8 38. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Provinsi Kretek dengan filter NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Nusa Tenggara Kalimantan Barat Kalimantan Kalimantan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 55.7 45.1 3.7 9.0 1.9 24.0 0.2 Indonesia 64.3 75.0 13.2 0.4 0.1 70.3 16.7 1.9 14.4 13.7 26.2 11.2 0.6 0.3 0.0 42.3 0.5 0.5 1.3 0.9 0.9 80.9 0.2 0.2 0.2 16.5 1.5 0.6 23.9 60.3 3.5 0.6 3.2 0.6 0.2 20.2 0.6 16.3 0.3 76.6 59.1 0.7 0.4 0.0 13.4 0.9 1.1 Cangklong 0.3 3.2 28.7 57.4 52.8 28.3 72.7 0.8 82.2 0.7 59.6 22.3 0.0 63.6 0.1 0.2 0.0 Rokok linting 7.1 11.2 0.1 24.5 20.3 62.9 17.4 0.6 0.6 21.2 21.4 0.4 0.9 26.0 59.4 1.4 0.4 1.7 0.4 0.7 24.4 1.7 85.7 0.9 6.7 0.5 10.1 Kretek tanpa filter 38.5 0.3 2.9 Rokok putih 16.6 18.4 46.0 1.6 6.8 2.9 1.4 14.1 Lain nya 0.1 60.7 80.7 0.6 0.3 72.8 17.2 0.2 9.8 55.4 20.8 25.4 14.8 85.6 1.9 43.5 0.6 4.8 18.4 0.5 5.9 60.0 9.4 12.5 0.2 13.2 0.4 0.4 22.9 1.0 16.7 20.4 5.5 20.9 2.9 77.7 0.5 21.3 0.7 9.7 1.6 0.7 Cerutu Tembakau dikunyah 6.9 30.2 0.8 56.3 0.5 5.3 14.6 55.0 15.4 31.6 25.1 46.9 6.3 64.2 70.4 1.8 5.5 1.5 1.7 0.4 29.6 25.4 25.1 65.0 4.4 0.8 23.4 185 .7 32.6 0.1 3.8 0.1 0.0 9.7 4.2 0.123 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi.Tabel 3.2 0.0 0.0 0.0 6.5 0.8 14.7 10.2 0.2 0.9 21.2 0.7 1.9 12.2 84.4 0.1 33.2 11.5 0.5 0.7 0.1 0.6 0.3 55.3 0.7 1.1 14.3 0.9 10.9 18.4 0.2 3.6 6.5 35.9 75.3 0.6 18.5 1.3 1.2 16.8 8.4 0.5 20.0 2.9 2.9 0.3 10.0 1.4 69.2 3.5 4.1 0.1 5.8 0.4 1.1 1.2 0.2 30.9 67.6 8.2 0.1 4.3 19.3 7.9 27.2 51.2 7.3 0.9 12.

7 6.1 33.5 30.0 0.4 57.7 33.7 0.3 33.6 68.4 20.5 19.8 4.8 17.5 0.4 0.7 28.5 0.7 0.9 0. Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu.3 0.9 72.4 8.6 74.5 0.9 1.6 0.6 31.8 12.4 0.2 13.6 0.6 19.6 18.4 23.3 12.6 0.5 1.3 0.6 0.8 77.4 10.3 0.5 0.7 0.3 0.5 1.5 0.7 2.0 17.2 4.8 35.6 0.2 36.8 15.7 0.0 36.5 0.5 0.6 4.3 15.3 0.2 70. 186 .124 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.0 7.5 24.5 7.7.9 0.8 0.5 18.6 0.3 23.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari.5 51.4 0.6 0.8 79.3 59.5 33.5 1.6 0.2 22.4 14.6 3.3 60.3 9.3 2.7 0.5 0.4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 3.6 0.7 0.7 37.7 4.3 20.4 0.5 0.6 0.6 44.6 40.4 22.0 12.7 77.5 0.6 0.3 3.6 0.7 0.7 0.0 1.5 0.4 20.4 38.6 2.3 41.8 29.7 0.8 0.6 0.4 0.5 37.8 7.7 74.1 1.7 18. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Karakteristik responden Kretek dengan filter Kelompok 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Kretek tanpa filter Rokok putih Rokok linting Cangklong Cerutu Tembakau dikunyah Lain nya umur 73.6 0.4 0.1 1.4 40.3 16.7 62.8 0.9 12.4 9.4 4.1 31.5 0.6 30.Tabel 3.8 38.0 63.1 37.6 0.5 4.7 9.3 0.6 66.8 5.2 6.0 24.3 34.0 5.4 0.3 62.9 17.3 14.6 0.0 0.7 3.9 1.9 27.0 37.6 0.9 14.7 0.2 10.6 0.8 35.0 14.7 0.7 13.8 12.0 0.7 66.5 0.6 15.4 24.6 41.5 17.7 0.8 11.8 35.6 7.3 1.7 41. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas.9 34.5 0.9 1.

0 86.8%.7 91.2 94.Tabel 3.8 97.9% dan 97.6 94.2 91. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang makan buah dan sayur*) 95.1 91.5 95.6 96.5 96. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat.3 89. penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93.1 87.9 94.5%).6 96. Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83.1 90.4 96.5 93.4 92.6 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 187 . Tabel 3.125 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.4 97.7 96.2 92.9 92. dan Lampung (87.9 93.7%).9 91.7 96. DI Yogyakarta (86.7 Indonesia 93. masing-masing 97.6%.7 92.4 96.125 menunjukkan bahwa secara keseluruhan.1%).5 96.8 91.4 94.5 96.9 83.

8 25-34 93.0 Perdesaan 94.3 Tamat SD 94. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.126 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.3 Kuintil-5 92.6 15-24 93. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan.6 Kuintil-2 94.Pada tabel 3.126 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95.3 45-54 93.3 Tempat Tinggal Perkotaan 93. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.5 Perempuan 93.2 Kuintil-3 93.1 Tamat SMP 93.8 Tamat PT 90.6 Tamat SMA 92. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur.3%).9 Kuintil-4 93.7 75+ 95. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita.7 65-74 94. Tidak tampak adanya perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan.9 Tidak tamat SD 94.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 94.4 35-44 93. Sementara berdasarkan pendidikan.5 55-64 93. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang makan buah dan sayur*) Kelompok Umur (Tahun) 10-14 93. Tabel 3.4 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 188 . dengan perkataan lain.7 Pendidikan Tidak sekolah 94.3 Jenis Kelamin Laki-laki 93. dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur.

Pada tabel 3. prevalensi minum alkohol tinggi tampak pada yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SMA.7.3%). Sedangkan menurut pendidikan. dan Gorontalo (12. 189 .6%. juga diikuti dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam satu bulan terakhir di atas angka nasional. sedangkan yang masih minum dalam satu bulan terakhir 3.128 dapat dilihat bahwa prevalensi peminum alkohol 12 bulan dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 15-24 tahun.5% dan 3. jenis minuman dan rata-rata satuan minuman standar.3. Dilakukan kalibrasi terhadap berbagai persepsi ukuran yang digunakan responden.4%).3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol Salah satu faktor risiko kesehatan adalah kebiasaan minum alkohol. yang selanjutnya meningkat menjadi 6. seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (17. Wawancara diawali dengan pertanyaan apakah minum minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir. termasuk frekuensi. Karena perilaku minum alkohol seringkali periodik maka ditanyakan perilaku minum alkohol dalam periode 12 bulan dan satu bulan terakhir. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi minum alkohol tinggi.7%). prevalensi peminum alkohol lebih besar laki-laki dibanding perempuan.127 memperlihatkan secara nasional prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir sebanyak 4. Tabel 3. Tidak tampak perbedaan prevalensi peminum alkohol menurut tingkat pengeluaran per kapita per bulan. yaitu satu minuman standar setara dengan bir volume 285 mililiter.3% pada umur 25-34 tahun. namun kemudian turun dengan bertambahnya umur.7% dan 4. Informasi perilaku minum alkohol didapat dengan menanyakan kepada responden umur 10 tahun ke atas. Untuk penduduk yang menjawab “ya” ditanyakan dalam 1 bulan terakhir. Sulawesi Utara (17.5%. Menurut jenis kelamin. yaitu sebesar 5. Pada umumnya provinsi dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional. sehingga didapatkan ukuran standar.0%. Prevalensi peminum alkohol di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan.

Tabel 3.127 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Konsumsi Provinsi alkohol 12 Bulan terakhir
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1,5 6,1 1,5 3,4 2,7 2,9 2,8 2,2 4,4 5,9 4,0 2,6 2,2 3,2 1,9 1,6 6,4 2,0 17,7 8,8 6,5 1,2 3,4 17,4 8,9 5,9 7,7 12,3 4,0 8,2 7,4 8,1 6,7

Konsumsi alkohol 1 Bulan terakhir
0,4 4,4 0,7 1,3 1,7 2,1 1,8 1,4 2,5 3,7 2,7 1,3 1,1 1,7 1,0 0,9 4,6 1,2 13,5 4,8 3,5 0,5 1,7 14,9 6,4 3,9 5,8 10,7 2,6 5,0 4,4 4,9 4,4

Indonesia

4,6

3,0

190

Tabel 3.128 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia, Riskesdas 2007
Karakteristik Responden Pernah minum alkohol dalam 12 bulan terakhir Masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir 0,3 3,5 4,3 3,7 3,3 2,4 1,7 0,9 5,8 0,4 2,1 2,5 3,0 3,5 3,8 2,4 2,5 3,3 2,9 3,0 3,0 3,0 3,0

Kelompok Umur (Tahun) 10-14 0,7 15-24 5,5 25-34 6,7 35-44 5,5 45-54 4,8 55-64 3,6 65-74 2,6 75+ 1,5 Jenis Kelamin Laki-laki 8,8 Perempuan 0,7 Pendidikan Tidak sekolah 3,1 Tidak tamat SD 3,8 Tamat SD 4,5 Tamat SMP 5,5 Tamat SMA 6,0 Tamat PT 3,9 Tipe Daerah Perkotaan 3,9 Perdesaan 5,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4,4 Kuintil-2 4,7 Kuintil-3 4,6 Kuintil-4 4,7 Kuintil-5 4,7

191

3.7.4 Perilaku Aktifitas Fisik
Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Dikumpulkan data frekuensi beraktifitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. Selain frekuensi, dilakukan pula pengumpulan data intensitas, yaitu jumlah hari melakukan aktifitas ’berat’, ’sedang’ dan ’berjalan’. Perhitungan jumlah menit aktifitas fisik dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktifitas yang dilakukan, di mana aktifitas diberi pembobotan, masing-masing untuk aktifitas ‘berat’ empat kali, aktifitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktifitas ‘ringan’ atau jalan santai. Pada tabel 3.129 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48,2%) kurang melakukan aktifitas fisik. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61,7%) dan Provinsi Riau (60,2%). Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27,3%), Sulawesi Tengah (39,4%), dan Bengkulu (40,1%). Pada tabel 3.130 terlihat bahwa menurut kelompok umur, kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76,0%) dan umur 10-14 tahun (66,9%), dan perempuan (54,5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41,4%). Berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57,6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42,4%), dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik.

192

Tabel 3.129 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang Aktifitas Fisik 53,3 52,1 54,8 60,2 57,8 48,1 40,1 45,3 46,4 53,1 54,7 52,4 44,2 45,3 44,7 55,0 44,6 48,8 27,3 46,9 43,8 49,4 61,7 47,2 39,4 49,1 47,6 47,3 42,7 49,2 48,2 50,4 43,0

Indonesia

48,2

*) Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu

193

Tabel 3.130 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang aktifitas fisik

Kelompok umur 10-14 66,9 15-24 52,0 25-34 42,9 35-44 38,9 45-54 38,4 55-64 44,4 65-74 58,5 75+ 76,0 Jenis Kelamin Laki-laki 41,4 Perempuan 54,5 Pendidikan Tidak sekolah 48,8 Tidak tamat SD 48,1 Tamat SD 43,4 Tamat SMP 47,4 Tamat SMA 52,6 Tamat PT 60,3 Tipe daerah Perkotaan 57,6 Perdesaan 42,4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 44,8 Kuintil-2 45,5 Kuintil-3 47,1 Kuintil-4 49,1 Kuintil-5 53,9

3.7.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS a. Flu Burung
Data mengenai pengetahuan dan sikap penduduk tentang flu burung dikumpulkan dengan didahului pertanyaan saringan: apakah pernah mendengar tentang flu burung. Untuk penduduk yang pernah mendengar, ditanyakan lebih lanjut pengetahuan tentang penularan dan sikapnya apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak. Penduduk dianggap memiliki pengetahuan tentang penularan flu burung yang benar apabila menjawab cara penularan melalui kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang. Penduduk dianggap bersikap benar bila menjawab salah satu : melaporkan kepada aparat terkait, atau membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas sakit, apabila ada unggas yang sakit dan mati mendadak.

194

Tabel 3.131 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Pernah mendengar
61,7 74,6 67,3 74,1 67,8 55,8 66,8 70,2 73,1 81,4 80,9 71,6 68,2 74,7 63,7 63,2 70,8 52,2 35,9 57,8 61,4 69,3 74,6 71,1 66,7 63,1 55,8 51,9 56,9 54,7 41,9 52,1 44,4

Berpengetahuan benar*
81,3 84,8 73,7 77,2 81,7 87,7 80,7 86,2 75,2 81,0 83,6 77,6 79,9 74,6 75,9 83,3 85,7 79,6 69,8 81,3 82,2 71,1 86,7 80,7 70,0 70,6 74,9 79,9 66,2 76,2 63,7 69,0 74,8

Bersikap benar**
88,7 94,2 81,3 87,6 87,6 85,1 87,2 92,2 92,1 91,9 91,4 84,9 86,9 93,6 89,4 87,3 96,1 91,0 85,9 88,6 82,4 74,6 92,5 92,7 83,9 85,8 83,2 85,2 84,5 84,1 82,2 84,2 86,8

Indonesia

64,7

78,7

87,7

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.131 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan provinsi. Secara nasional, 64,7% penduduk pernah mendengar tentang flu burung. Di antara mereka, 78,7% memiliki pengetahuan yang benar dan 87,7% memiliki sikap yang benar. Tiga provinsi yang penduduknya kurang mendengar tentang flu burung adalah Nusa Tenggara Timur (35,9%), Maluku Utara (41,9%) dan Papua (44,4%). Provinsi yang penduduknya mempunyai pengetahuan yang

195

baik tentang flu burung tertinggi di Lampung (86,2%) dan yang sikapnya terbaik Provinsi Bali (96,1%).

Tabel 3.132 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik responden Pernah mendengar Berpengetahuan benar*
73,0 83,1 81,6 79,2 75,6 71,4 64,8 59,2 80,6 76,7 60,9 66,7 74,1 82,2 86,4 90,3 77,1 79,4 75,8 88,7 81,9 73,9 80,4 82,7 75,2 75,5 76,3 77,7 79,4 82,6

Bersikap benar**
82,2 89,7 89,3 88,5 86,9 85,6 82,3 79,1 88,8 86,6 77,7 78,8 84,3 90,2 93,4 95,7 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4 84,4 89,2 91,0 84,9 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4

Umur 10-14 tahun 52,4 15-24 tahun 79,0 25-34 tahun 75,3 35-44 tahun 70,0 45-54 tahun 60,8 55-64 tahun 47,6 65-74 tahun 33,5 75+ tahun 19,7 Jenis kelamin Laki-laki 68,2 Perempuan 61,5 Pendidikan Tidak sekolah 26,3 Tidak tamat SD 44,5 Tamat SD 61,0 Tamat SMP 79,1 Tamat SMA 89,0 Tamat PT 93,7 Pekerjaan Tidak kerja 53,9 Sekolah 65,3 Ibu RT 65,1 PNS/Polri/TNI/BUMN 91,3 Wiraswasta 78,2 Petani/nelayan/buruh 54,6 Lainnya 73,4 Tipe daerah Perkotaan 78,8 Perdesaan 56,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 56,0 Kuintil 2 60,5 Kuintil 3 64,0 Kuintil 4 67,7 Kuintil 5 74,5

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.132 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan karakteristik responden. Kelompok umur 15-24 tahun

196

merupakan kelompok tertinggi untuk kategori pernah mendengar, berpengetahuan benar dan bersikap benar. Persentase laki-laki yang pernah mendengar tentang flu burung lebih tinggi dari perempuan (68,2% dibanding 61,5%), demikian juga lebih banyak laki-laki memiliki pengetahuan dan sikap benar. Menurut tipe daerah, penduduk di perkotaan lebih banyak yang telah mendengar tentang flu burung, dan lebih banyak yang memiliki pengetahuan dan sikap yang benar terhadap flu burung dibanding perdesaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi presentase penduduk yang telah pernah mendengar tentang flu burung, dan yang mempunyai pengetahuan serta sikap yang benar tentangnya.

b. HIV/IADS
Berkaitan dengan HIV/AIDS, penduduk ditanyakan apakah pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Selanjutnya penduduk yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang penularan virus HIV ke manusia (tujuh pertanyaan), pencegahan HIV/AIDS (enam pertanyaan), dan sikap apabila ada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS (lima pertanyaan). Penduduk dianggap berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS apabila menjawab benar masing-masing 60%. Untuk sikap ditanyakan: bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS apakah responden merahasiakan, membicarakan dengan ART lain, mengikuti konseling dan pengobatan, mencari pengobatan alternatif ataukah mengucilkan penderita. Tabel 3.133 menggambarkan persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan provinsi. Secara nasional, 44,4% penduduk sudah pernah mendengar tentang HIV/AIDS; 13,9% di antaranya berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS dan 49,3% berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS. Tiga provinsi yang penduduknya paling sedikit mendengar tentang HIV/AIDS adalah Maluku Utara (28,4%), Sulawesi Barat (29,3%) dan Nusa Tenggara Timur (30,2%). Dari yang pernah mendengar, yang berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS terendah adalah di Jawa Barat (6,2%), disusul Jawa Timur (6,6%) dan Banten (6,9%), sedangkan yang berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS terendah adalah Sulawesi Barat (29,0%), disusul Lampung (37,8%) dan Sulawesi Selatan (38,9%). Tabel 3.134 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan karakteristik responden. Pada umumnya, penduduk usia produktif (15-45 tahun) paling banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Menurut jenis kelamin, laki-laki umumnya lebih banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibandingkan perempuan. Secara umum, tampak adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS seiring dengan peningkatan umur. Dari segi pekerjaan, penduduk yang berpenghasilan tetap lebih banyak yang berpengetahuan benar tentang HIV/AIDS. Sedangkan dari segi tipe daerah, penduduk perkotaan lebih banyak yang sudah mendengar tentang HIV/AIDS dan berpengetahuan benar tentang pencegahan. Selanjutnya semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin baik pengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS.

197

Tabel 3.133 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi Pernah mendengar
44,3 55,2 42,0 55,3 46,0 34,5 49,2 43,2 52,9 71,1 67,8 45,1 42,5 57,4 40,5 41,7 52,1 33,9 30,2 46,6 40,5 44,3 59,2 58,6 38,5 35,3 35,6 33,7 29,3 45,7 28,4 56,4 51,3

Berpengetahuan benar tentang penularan*
17,9 17,1 16,5 14,3 19,5 21,8 10,6 7,2 8,7 17,4 9,2 6,2 12,2 9,4 6,6 6,9 12,8 21,4 29,2 17,7 10,9 7,8 13,3 12,5 7,1 13,7 14,8 14,1 16,1 26,6 15,9 37,1 45,0

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
41,0 40,6 46,6 45,1 40,3 40,4 39,8 37,8 44,5 53,9 61,8 61,2 60,0 64,9 53,6 49,3 61,8 52,7 50,6 46,7 46,1 46,3 47,8 51,9 44,2 38,9 41,0 40,5 29,0 54,9 46,8 53,4 59,9

NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Indonesia

44,4

13,9

49,3

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

198

Tabel 3.134 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik Pernah mendengar Berpengetahuan benar tentang penularan*
11,3 14,2 14,0 14,2 14,4 12,9 11,6 12,0 14,0 13,8 14,4 10,1 9,5 11,8 15,6 26,3 13,2 14,3 11,9 20,9 12,5 11,0 14,2 13,5 14,3 11,0 11,5 12,6 13,7 17,6

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
34,9 50,5 51,4 51,1 48,9 47,4 42,8 34,7 50,1 48,5 32,9 33,4 38,2 47,0 57,4 68,8 48,2 46,9 46,9 64,2 51,9 39,1 53,9 56,6 40,9 43,1 45,3 47,6 50,3 55,2

Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5

21,8 63,2 58,8 49,7 37,3 25,4 14,7 7,1 48,0 40,9 8,7 17,1 33,4 61,2 80,1 89,7 37,2 40,7 44,2 84,6 60,7 30,3 57,1 62,5 33,2 33,0 38,0 42,9 47,9 58,2

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

199

4 85.2 64.8 67.3 35.3 5.0 5.5 88.6 6.8 61.1 74.1 5.2 85.3 40.2 86.2 63.5 48.1 2.5 75.9 43.3 70.9 59.2 66.2% dan 6.4 67.9 10.7 10.8 59.8 67.7 87.0 8. Riskesdas 2007 BicaraProvinsi Merahasia-kan kan dgn ART lain NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 33.1 93.3 5.9 93.3 91.7 95.3 62.1 90.7 37.4 82.7 85.9 64. sebesar 89.8 19. Sedangkan melakukan konseling dan pengobatan merupakan persentase tertinggi.9 92.7 23.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi.2 62.7 76.5% (masing-masing 28.8 5.9 55.4 79.1 4.3 5.7 76.3 50.0 87.2 69.3 65.9 13.6 90.0 88.3 30.3 64.5 24.5 57.1 5.1 5.7 8.4 28.4 58.0 51.0 5.6 52.4 7.2 75.9 5.5 51.8 27.3 26.3 7.0 83.9 Cari pengobatan alternatif 60.9 44.7 68.135 di atas memperlihatkan persentase penduduk di atas 10 tahun menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan provinsi.8 64.5%) dan Sulawesi Tengah (18.0 83.0%.9 8.4 6.3 29.7 60. Secara nasional.6 58.7 63.3 64.8 23.4%).8 5.3 72.1 59. Sulawesi Selatan (17.0 62.2 5.8 8.3 67.4 3.2 5.4 65.7 24.8 30.7 5.2 87.1 43.7 58.7 23.7 70.2 73.8 87.0 24.4 85.9 85.1 19.6 9. Provinsi-provinsi yang penduduknya bersikap baik (sedikit yang merahasiakan dan mengucilkan) adalah Sulawesi Barat (12%).8 20.5 6.8 60.9 29.8 60.7 93.3 15.5 3.2 67.8 50.7 90. 200 .1 89.3 57.9 89.7 88.4 56.3%).2 78.3 12.8 34.1 38.7 68.6 6.5 48.0 58.6 63.3 57.0 76. penduduk yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan apabila ada ART yang menderita HIV/AIDS sebesar 34.0 76.3 89.2 87.7 62.8 26.4 54.1 60.5 6.3 Tabel 3.2 5.9 34.1 61.3 Konseling dan pengobatan 84.7 21.5 92.6 34.0 51.9 76.1 71.4 Mengucilkan Indonesia 28.6 6.2 62.2 6.7 57.1 55.Tabel 3.7 89.5 28.

6 6.6 56.8 65-74 25.9 58.8 68.0 60.1 6.9 62.2 69.2 77.3 88.1 Tidak tamat SD 28.3 56. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Merahasiakan Bicarakan dengan ART lain 58.6 70.2 6.8 59.7 72.3 52.1 Tamat SMP 29.2 66.7 85.1 74.Sedangkan provinsi yang penduduknya bersikap baik dalam hal akan melakukan konseling dan pengobatan adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah (masing-masing 93.9 Perdesaan 27.9 63.8 88.2 59.6 6.3 56.0 55-64 25.8 7.6 6.8 Ibu RT 28.1 60.5 59.6 64.0 52.6 71.3 5.3 Kuintil-5 27.0 Jenis Kelamin Laki-laki 28.7 81.9 6.9 87.8 6.7 57.3 6.6 67.1 92.3 56.4 6.9 7.7 Wiraswasta 28.0 Tamat SD 28.6 59.2 59.0 Tamat PT 26.3 6.0 70.8 75+ 24.5 Tipe Daerah Perkotaan 28.3 6.2 5.4 71.3 Tamat SMA 28.1 Cari pengobatan alternatif 49.5 Pendidikan Tidak sekolah 30.7 59.9 85.4 15-24 30.7 69.5 88.3 6.7 55.9 71.7 89.5 6.4 45-54 27.9 6.8 58.7 58.2 94.5 58.2 Kuintil-4 28.3 89.5 Kuintil-2 28.4 89.7 Kuintil-3 28.7%) dan Bangka Belitung (93.7 60.6 6.7 5.136 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.0 201 .9 93.4 25-34 28.4%).0 Konseling dan pengobatan 79.1 76.6 53. Tabel 3.0 70.7 86.4 60.8 58.5 Lainnya 26.6 50.1 35-44 26.3 87.7 6.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 29.5 61.6 6.3 90.5 6.9 6.6 91.0 6.7 57.0 Perempuan 28.8 78.7 64.5 90.1 66.6 89.9 58.7 69.4 5.9 86.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 27.6 69.4 6.4 60.8 74.3 Sekolah 29.7 5.1 90.9 57.4 72.5 Mengucilkan Kelompok umur (tahun) 10-14 29.6 55.8 90.5 91.8 5.0 85.5 86.5 6.7 Pekerjaan Tidak bekerja 29.0 78.4 69.1 Petani/Nelayan/Buruh 27.0 68.6 89.9 87.1 69.

semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sikap merahasiakan dan mengucilkan. demikian pula dengan penduduk perkotaan. Perilaku BAB yang dianggap benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban.1% berperilaku benar dalam hal BAB.6%) adalah provinsiprovinsi yang perilaku cuci tangan benarnya rendah.4%). 3. Semakin tinggi pendidikan. Menurut pendidikan. sebelum menyiapkan makanan. semakin tinggi semakin kecil sikap merahasiakan dan mengucilkan ini. namun hanya 23. 202 . Menurut tingkat pengeluaran. Menurut kelompok umur. setelah menceboki bayi/anak. DKI Jakarta menduduki tempat tertinggi untuk perilaku baik dalam hal BAB dan cuci tangan.5%) dan Riau (14.1% dan 18. Tabel 3. Dari segi pekerjaan. Tabel 3. petani/buruh/ nelayan memiliki persentase perilaku baik BAB dan cuci tangan terendah (56. Sedangkan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi persentase perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan.137 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut provinsi. perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan semakin tinggi.Tabel 3. Tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan.136 menggambarkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan karakteristik responden. Mencuci tangan yang benar adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. Sumatera Utara (14. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat (8.2%) dan Sumatera Barat (59.2% dibanding 70. setelah buang air besar. Gorontalo (59. semakin muda umur penduduk semakin tinggi persentase sikap merahasiakan dan mengucilkan.6 Perilaku Higienis Perilaku higienis yang dikumpulkan meliputi kebiasaan/perilaku buang air besar (BAB) dan perilaku mencuci tangan. Persentase perempuan yang berperilaku benar dalam BAB dan cuci tangan lebih tinggi dari laki-laki (berturut-turut 71. sebesar 71.7. Semakin tinggi usia semakin berperilaku benar dalam BAB dan cuci.2% yang berperilaku cuci tangan benar.9%.8% dibanding 18. Secara nasional. Provinsi Sulawesi Barat (57.138 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut karakteristik. tetapi tampak menurun lagi pada umur 55 tahun ke atas. Dari aspek pekerjaan.3%) adalah provinsi-provinsi yang perilaku BAB benarnya rendah. yang tidak memiliki pekerjaan relatif lebih banyak yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan anggota keluarganya yang menderita HIV/AIDS. dan 27.8%). Penduduk perkotaan berperilaku baik lebih tinggi dari perdesaan.4%). dan setelah memegang unggas/binatang.6%).

1 23.3 68. setelah buang air besar.3 84.6 18.7 71.4 20.5 35. sebelum menyiapkan makanan.7 27.6 29.9 17.0 36.3 24. Riskesdas 2007 Provinsi Berperilaku benar dalam hal BAB* 61.2 86.2 20.4 82.5 73.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 71.3 80.2 89.137 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.0 65.0 23.8 24. dan setelah menceboki bayi/anak.2 57.4 43.5 8.8 38.7 59.8 26. dan setelah memegang unggas/binatang.0 68.1 32.2 25.2 72.9 68.4 15.9 22.3 25.3 59.9 20.9 83.4 63.1 69.1 32.9 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 16.3 68.9 15.7 67.6 79.2 59.1 59.0 14.3 44.5 30.6 60.9 29.4 14.8 72.Tabel 3.2 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.6 76.0 30.6 14. 203 .7 60.2 59.9 73.1 72.0 81.9 18.5 19.0 98.

4 27.6 23. dan setelah memegang unggas/binatang.2 23.6 68.6 26.7 69.8 72.7 56.0 21.1 18.8 29.9 20.7 19.5 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 17.1 14.6 21.3 70.1 18.8 24.2 59.8 84.4 27.1 77.7 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.7 58. 204 .8 76.7 31. dan setelah menceboki bayi/anak.6 73.2 72.4 59. setelah buang air besar.9 94.8 89.8 18.8 19.9 73.138 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.7 93.1 18.8 17.7 88.5 68.7 28.9 24.Tabel 3.1 71.6 69.2 52.4 71.6 19.9 71.6 75.4 24. sebelum menyiapkan makanan.3 83.0 36.4 22.9 30.0 64. Riskesdas 2007 Berperilaku Karakteristik responden benar dalam hal BAB* Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 68.0 70.8 24.5 22.1 25.1 65.

0 39.8 18.3 15.7 1.1 56.2 34.6 24.1 9.5 8.1 71.5 12.6 2.3 21.0 1.8 3.5 25.3 71.6 1.8 19.8 39.9 Berka fein 45.5 6.6 4.0 79.8 14.3 3.3 83.6 4.7 47.6 68.6 24.3 5.8 Indonesia 65.7 14.0 3.7 2.7 31.6 70.2 1.4 35.0 68.2 86.9 5.2 5.4 8.2 3.6 2.2 Asin 22.9 1.3 58.8 11.2 87.0 2.3 85.9 65.9 69.4 21.6 6.4 1.1 9.9 60.0 4.6 24.6 86.5 1.3 1.1 25.5 89. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari.4 60.6 45.0 75.4 2.2 59.2 2.6 10.5 92.5 44.9 6.1 59.7 4.7 90.7 47.8 63.1 9.2 68.8 7.5 5.2 1.9 30.6 55.8 27.6 47.8 19.4 83.7 18.6 13.3 29.3 11.6 7.2 Jeroan 3.6 77.7 85.2 11.1 1.6 1.3 72.4 2.7 15.4 1.0 2.5 2.1 21.7 1.3 19.8 205 .0 29.7 5.8 54.6 23.1 55.4 16.6 30.9 79.3 76.2 24.139 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Provinsi.0 31.1 4.9 38.0 5.9 1.3 7. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Manis 69.5 28.0 76.4 86.4 3.3 41.0 18.3 57. makanan minuman makanan penduduk Tabel 3.7 24.4 4.3.1 13.9 69.6 5.0 79. berlemak.8 1.6 2.6 67.5 4.1 6.2 11.7 3.2 81. dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi berisiko.2 27.3 21.1 90.2 15.5 19.2 80.9 8.8 4. jeroan.7 4.8 73.3 10.7 28.6 38.0 0.8 2.3 87.5 2.7.2 19.2 5.4 14.1 4.2 11.4 5.1 0.4 35.4 84.4 2.3 15.9 29.2 3.5 19.9 7.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko Penduduk yang “sering” makan makanan/minuman manis.2 1.5 89.2 50.6 74.9 27.3 16.2 78.7 8.3 36.0 46.1 22.4 44.9 59.4 8.6 61.8 23. berkafein.3 84.4 7.2 30.6 84.5 45.2 43.3 2.8 52.6 9.6 23.8 34.5 79.1 72.8 Berle mak 15.2 10.0 4.2 8.9 7.0 6.5 5.2 10.5 82.7 3.6 6.1 20.7 17.7 7. makanan yang diawetkan.8 17.4 2.1 74.9 83.2 7.2 9.0 3.9 4.0 4.8 5.5 85.2 62. makanan asin.6 2.8 2.1 64. makanan dibakar/panggang.3 9.0 8.1 1.1 3.7 40.0 Penyedap 33.4 8.6 43.5 77.8 71.5 4.5 58.1 4.7 Dipang gang 5.9 2.9 13.4 23.8 89.8 4.2 4.0 8.8 12.4 3.3 5.7 52.6 2.1 10.2 9.4 7.0 Diawet kan 6.

0 2.3 37.9 2. tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (92.1 35.5 4.9 1.3 76.7 4.0 Perdesaan 62.Tabel 3.2 5.1 2.8 1.9 21.6 4.5 77.1 2.9 24.2 77.3 Diawet kan 8.5 Perempuan 63.2% penduduk Indonesia yang berusia ≥10 tahun. Riskesdas 2007 Karakteristik Manis Asin Berle mak 13.6%) dan terendah di Provinsi Sulawesi Tengah (5.4 24.8 1.1 13.7 77.1 78.9 12.5 78.7 2.6 26. Tabel 3.1 24.8 Kuintil-3 65.5 21.2 2.4 35.6 26.1 1.2 78. Sedangkan prevalensi sering mengonsumsi makanan asin secara nasional ditemukan 24.5 76.5 4.5 79.1 Jeroan Dipang gang 5.9 55-64 63.4 12.8 3.3 75.7 72.3 6.7 36.8%) dan terendah di Provinsi Bangka Belitung (5.3 1.140 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.5 79.7 2.7 46.7 6.5 Berka fein 16.5%.3 6.2 79. Penyedap sering dikonsumsi oleh 77.5 21.2 12.4 43. Secara nasional.8 65.3 6.8 4.6 23.0%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (11.0 Tamat SMP 66.2%).4 2.6%).3 28. 12.7 77.0 4.0 4.0 4.4 Tamat SD 64.4 66.0 75+ 60.0 5.4 15-24 65.3 78.0 2.4 5.6 4.8 5.4 Pendidikan Tidak Sekolah 57.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 62.4 5.0 5.7 35-44 66.7 4.6%) dan terendah di Provinsi NAD (33.9 1.1 5.6 7.8 6.4 62.7 1.0 1.0 4.8 12.6 6.2 4.1 65.5 206 .1 38.7 32.5% penduduk secara nasional. Sering mengonsumsi makanan manis dilakukan oleh 65.6 14.3 35.5 3.8 1.7 62.8 4.8 24.1 39. tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan (41.9 11.7 78.5 2.1 Kuintil-4 66.8 11.8 77.9 74.8%).5 11.5 6.4 6.5 46.1 45.1 Tamat SMA 69.8 24.8 37.6 39.9 1.7 78.5 25.8 63.0 36.5 Tidak Tamat SD 62.9 6. Sedangkan kafein sering dikonsumsi oleh 36.4 Kuintil-5 68.6 31.9 76.4 68.4 4.7 6. tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (83.1 36.139 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut provinsi.5 24.4 63.1 24.7 14.5 13.2 24.1 2.5 3.0 10.8 1.7%).8% penduduk secara keseluruhan.1 68.3 6.9 45-54 66.0 71. tertinggi di Provinsi Gorontalo (25.5%) dan terendah Provinsi Bali (44.6 13.1 7.7 5.7 42.7 5.0 Tipe daerah Perkotaan 69.2 65-74 61. tertinggi di Provinsi Bali (62.6 6.8 Tamat PT 71.1 5.2 6.1 12.0 37.9 42.2%).6 5.5 25.3 12.8% penduduk Indonesia sering mengonsumsi makanan berlemak.8 1.2 25.9 78.2 78.1 Penyedap Kelompok umur 10-14 63.1 66.4 13.3 3.4 25-34 66.8 11.7 23.9 Jenis kelamin Laki-Laki 67.3 24.4 Kuintil-2 63.

bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. ekonomi.8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Riskesdas 2007 mengumpulkan 10 indikator tunggal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)3 yang terdiri dari enam indikator individu dan empat indikator rumah tangga. makanan asin. Sedangkan perilaku sering minum minuman berkafein nampak meningkat sesuai peningkatan usia. yaitu rumah tangga dengan balita dan rumah tangga tanpa balita. jeroan. kepemilikan/ketersediaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. penduduk cukup beraktifitas fisik. bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif. minum minuman berkafein dan makanan dipanggang cenderung lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. sehingga nilai tertinggi delapan (8). penduduk tidak merokok. untuk meningkatkan pengetahuan. Menurut tipe daerah. diawetkan dan penyedap makanan pola prevalensi menurut tingkat pendidikan nampak tidak beraturan. PHBS diklasifikasikan “kurang” apabila mendapatkan nilai kurang dari enam (6) untuk rumah tangga mempunyai balita dan nilai kurang dari lima (5) untuk rumah tangga tanpa balita. sehingga nilai tertinggi adalah 10. Sedangkan untuk makanan yang dipanggang.7%.141 memperlihatkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS baik menurut provinsi. Indikator Rumah Tangga meliputi rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih. Tabel 3.140 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut karakteristik responden. makanan berlemak. perilaku sering mengonsumsi makanan manis cenderung menurun setelah usia 45 tahun. Terdapat lima provinsi dengan pencapaian di atas angka nasional. sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dengan membuka jalur komunikasi. dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan. Secara nasional. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. Menurut jenis kelamin. laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan minum minuman berkafein dibandingkan perempuan.Tabel 3. berlemak. dan makanan yang diawetkan ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. Pola yang sama ditemukan untuk konsumsi penyedap makanan menurut umur. kelompok dan masyarakat. penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38. dan rumah tangga dengan lantai rumah bukan tanah. dan penyedap makanan nampak berbanding terbalik dengan peningkatan kuintil. Menurut umur. makanan dipanggang dan diawetkan. Sedangkan untuk konsumsi jenis makanan berisiko lainnya pola prevalensi antara laki-laki dan perempuan hampir sama. Sedangkan pola prevalensi sering mengonsumsi makanan asin.7. Menurut tingkat pendidikan. Sementara untuk makanan asin dan minum minuman berkafein pola prevalensi berbanding terbalik dengan meningkatnya pendidikan. Sementara pola prevalensi sering minum minuman berkafein. memberikan informasi dan melakukan edukasi. namun setelah usia 55 tahun prevalensi cenderung menurun. jeroan dan makanan yang dipanggang cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi. sedangkan untuk rumah tangga tanpa balita terdiri dari 8 indikator. makanan berlemak. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. akses jamban sehat. makanan berlemak. yaitu 3 Program PHBS adalah upaya untuk memberi pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan. 207 . pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. Sementara pola prevalensi jenis konsumsi lainnya nampak tidak berbeda menurut tempat tinggal. Dalam penilaian PHBS ada dua macam rumah tangga. kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (≥8m2/ orang). keluarga. 3. Indikator individu meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. melalui pendekatan pimpinan. Untuk rumah tangga dengan balita digunakan 10 indikator. demikian halnya perilaku sering mengonsumsi makanan asin. dan penduduk cukup mengonsumsi sayur dan buah.

7 34.7% ).8 28.7 41.3 27.DI Yogyakarta (58.0 33.6 49.4 37.9 33.8%).6 47. Gorontalo (27. Tabel 3. Nusa Tenggara Timur (26. Jawa Tengah (47%).1%) dan Sumatera Barat (28.9 44.8%).1 33.2%).8%).8 30.9 32. Bali (51.0 58.4 35.4 38.0 40. Riskesdas 2007 RT dengan PHBS Baik 34.8 33.0 24.7 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 208 .2 35. Riau (28.9 34.3 28. Kalimantan Timur (49.2% ).3 33.8 51.8 32. Sedangkan provinsi dengan pencapaian PHBS rendah berturut-turut adalah Papua (24.1 26.4%).8 37.2 28.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.8 46.4 42.8 29.7 47.2 45.9% ). dan Sulawesi Utara (46.

7 47.7 96.2 57.7 96. Riskesdas 2007 Kurang Provinsi konsumsi sayur buah* NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 95.2 39.7 91.4 92.8 27.1 87.4 96.6 94.9 19.6 24.3 42.Tabel 3.9 93.8 24.6 47.4 53.7 24.6 48.1 19.2 50.2 21.3 89.8 91.4 44.1 20.0 23.1 54.6 96.3 23.0 Merokok*** Indonesia 93.1 54.2 91.3 25.1 25.5 93.3 46.7 49.4 49.1 20.8 60.9 83.2 94.5 22.5 96.5 96.4 43.6 20.3 44.5 28.3 25.4 24.8 20.1 47.9 92.2 23.8 49.9 94.0 23.9 19.4 20.2 92.6 48.1 45.5 25.4 94. Kurang Aktifitas Fisik.142 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.6 22.7 92.1 40.7 Kurang aktifitas fisik** 53.2 23.4 97.2 45.2 22. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.5 96.1 21.4 61.8 24.8 97.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari 209 .4 29.1 90.6 24.9 43.8 26.6 96.7 55.0 86.0 44.7 23.9 91.3 52.4 24.7 52.5 95.2 48.1 91.3 46.8 48.8 27.4 96.

3 38.3 76. Riskesdas 2007 Kurang Karakteristik responden konsumsi sayur buah* Kurang aktifitas fisik** Merokok*** Kelompok umur (tahun) 10-14 93.0 45-54 93. stroke.9 48.9 2.3 27.4 55.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 94.5 29.0 Kuintil-2 94.9 36.2 45.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari Tabel 3. kanker. 210 .6 26.0 15-24 93.143 di atas merupakan gabungan dari beberapa perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular.0 Tamat PT 90.7 58.6 47.1 29.7 44.6 Kuintil-3 93.6 44.0 24.6 34.1 25.9 35.0 33.4 37.7 Perempuan 93.9 28.5 38.3 Tamat SD 94. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.0 57. penyakit paru obstruktif kronik).5 4.4 30.1 29.4 38.7 75+ 95.9 47.8 30.5 Kuintil-4 93.5 Kuintil-5 92.143 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.4 Pendidikan Tidak Sekolah 94.3 60.0 35-44 93.4 28.8 52.4 53. yaitu perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari).1 43.3 48.6 Tamat SMA 92.8 52.1 Jenis Kelamin Laki-Laki 93.7 54.5 65-74 94.0 55-64 93.5 41.6 66.4 42.6 Perdesaan 94.5 34.0 42.4 30. kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu) dan merokok setiap hari.8 29.142 tabel 3.6 25-34 93.Tabel 3.3 Tamat SMP 93.0 Tipe daerah Perkotaan 93.9 Tidak Tamat SD 94.3 49. diabetes mellitus.

di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.2%). Sulawesi Tenggara (10. Sulawesi Barat (14. termasuk alasan apabila responden tidak memanfaatkan UKBM dimaksud. 211 .8%). Sulawesi Tenggara (13.2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan. posyandu.3%).9%) Tabel 3. dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan.2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23.6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit.4%). proporsi rumahtangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.7%).8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4. DKI Jakarta (4. Dengan demikian secara nasional. DI Yogyakarta (4. Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi. Berdasarkan tipe daerah. Papua (30. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan. Dalam analisis ini. dokter praktek dan bidan praktek 2. Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yaitu pelayanan poskesdes.8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan 3. yaitu: 1. Tabel 3.8%). masih ada sekitar 9. puskesmas pembantu. serta status sosial-ekonomi dan budaya.144 menunjukkan bahwa sebanyak 94. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak. Untuk masing-masing kelompok pelayanan kesehatan tersebut dikaji akses rumah tangga ke sarana pelayanan kesehatan tersebut. antara lain jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan.8.5%).9%). sarana pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi dua. Papua (12.0%). Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3. Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dan polindes/bidan di desa.4%) dan Maluku (10.145 menyajikan informasi tentang jarak dan waktu tempuh rumahtangga terhadap sarana pelayanan kesehatan menurut karakteristik rumah tangga.0% RT berada lebih dari 5 km. Nusa Tenggara Timur (14.1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor penentu.6%). Sulawesi Barat (17. Kalimantan Barat (19. Nanggroe Aceh Darussalam (10.7%). puskesmas.7%). Daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30. warung obat desa.3. pos obat desa. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16. Selanjutnya untuk UKBM dikaji tentang pemanfaatan dan jenis pelayanan yang diberikan/diterima oleh rumah tangga/RT (masyarakat). Sarana pelayanan kesehatan rumah sakit.4%).1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari sarana pelayanan kesehatan dan hanya 6.

8 14.4 6.0 67.4 47.5 40.2 19.9 50.9 11.6 1 .1 66.5 3.0 51.6 46.5 57.1 5.2 5.6 6.3 16'-30' 31.7 4.7 2.7 1.8 36.5 1.9 4.4 52.3 44.1 0.6 3.9 24.6 24.0 Indonesia Catatan: 47.0 69.4 1.4 17.4 47.5 3.0 65.2 75.8 20.7 36.4 47.5 73.6 2.9 31.2 29.4 1.2 3.8 36.0 76.1 6.4 50.7 7.6 40.0 54.7 > 5 KM 10.7 45.0 3.6 26.9 6.6 4.1 0.8 42.9 6.3 72.5 20.4 1.7 47.6 41.1 51.3 41.7 *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.6 2.6 4.6 27.5 52.5 10.0 48.8 4.3 66. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.6 64.7 22.7 40.5 23.6 57.4 8.6 6.5 2.9 58.3 2.4 74.7 46.8 6.2 46.3 3. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua JARAK KE YANKES < 1 KM 27.3 14.1 31'-60' 9.6 19.8 28.3 6.4 7.4 58.2 5.6 1.4 44.5 69.3 75.7 76.1 16.8 30.8 0.9 48.7 38.0 52.0 57.5 70.2 69.Tabel 3.1 47.8 7.6 24.0 27.8 23.6 31.6 42.1 72.4 27.7 44.5 50.8 7.0 20.8 52.9 7.1 6.2 72.8 25.8 1.4 37.2 2.7 67.0 76.0 1.8 55.2 23.0 4.6 55.9 44.9 6.0 27.6 6.2 16.5 45.5 79.9 17.7 52.9 10.1 3.3 7.8 12.2 64.0 72.6 3.6 9.8 14.7 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 55.4 5.4 4.6 6.0 54.2 50.0 48.2 39.6 18.7 5.3 17.8 10.5 58.7 7.6 74.8 4.8 37.0 1.3 23.4 19.1 39.3 5.6 4.9 20.4 8.4 52.0 4.8 37.3 65.5 35.4 21.5 44.3 3.3 3.2 22.2 3.6 >60' 3.2 10.4 61.0 2.0 22.3 4.3 7.4 69.4 0.5 KM 61.4 73. Puskesmas.9 49.5 43.9 35.5 3.4 54.6 47.2 48.0 37.4 5.6 12.6 5.6 2.2 2.7 0.6 50.7 2.5 3.9 3.2 45.4 1.6 0.3 24.1 60.4 7.6 1.144 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.4 7.2 19.7 6. Dokter 212 .2 16.5 48.

7 48.5 6.8 48. Poskesdes.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat Pengeluaran rumahtangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Catatan: * Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.1 0. dan semakin singkat waktu tempuh ke UKBM.6 2.5% berjarak 1-5 km dari UKBM.2 7.1 2.6 4. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 58.5 19.0 61. meliputi Posyandu.5 4.4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19. Dari segi jarak. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.8 52.147) 213 . Berdasarkan tipe daerah.4 74.4 8.6 5.6 3.0 67.0 JARAK KE YANKES < 1 km 1 .6 6.1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit. proporsi rumah tangga dengan jarak ke UKBM >5 kilometer.5 48. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6.8 4.3%).7 8. Dokter Tabel 3.4 6.9 50.4%).8 22. disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11. Praktek dan Bidan Praktek ) 43.4 26.146 menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM. Sebanyak 11. dan 3.1 60.6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit.3%) dan Riau (5. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.5 25.4 64.7 43.5 7.6 Puskesmas Pembantu.0 46.9 78. Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM. nampak bahwa 78.5 2.6 9. (Tabel 3. tertinggi adalah Provinsi Papua (15.5 1.3 18. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85.8 40.3 23.4 45.8 26.1 5. Puskesmas.3 1.6 39.3 3. dan Polindes.8 45. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.1 69.6%).4 47.Tabel 3.145 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.

4 2.5 23.7 0.7 9.4 0.7 13.7 1.5 1.9 11.5 1.1 0.0 4.3 91.0 11.5 9.9 76.3 78.3 6.0 87.0 81.9 69.5 14.0 2.7 90.7 6.9 86.8 27.1 2.7 3.4 18.6 74.5 km 27.3 88.7 88.6 83.7 11.3 80.2 24.3 13.9 5.6 8. Polindes 214 .3 0.3 15.3 93.8 0.1 7.4 0.1 1.6 2.6 93.4 12.2 23.8 2.5 0.5 6.3 73.9 24.4 1.2 0.4 7.9 0.0 62.9 1.9 4.1 1.1 0.0 3.0 14.1 0.9 1 .6 1.9 92.6 3.2 13.1 0.5 74.4 >60' 2.8 22.2 8.0 0.7 5.5 25.5 76.7 22.6 19.1 9.1 84.7 1.9 86.5 85.8 67.5 0.3 2.1 3.2 79.4 87.7 89.4 8.6 6.7 1.7 75.5 1.2 1.3 1.7 3.1 79.2 1.5 21.5 > 5 km 3.8 79.6 68.1 9.3 22.5 91.3 0.7 88.6 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 80.5 9.6 1.7 20.6 2.1 68.2 0.3 2.6 66.6 0.5 1. Poskesdes.9 28.4 92.4 1.2 74.1 1.2 8.1 18.9 7.9 15.4 1.5 2.8 12.9 9.2 0.1 75.2 *) UKBM meliputi Posyandu.3 7.9 4.4 2.5 3.2 74.6 0.3 21.4 1.6 70.9 77.2 1.2 7.Tabel 3.4 3.4 1.0 16.4 0.1 84.4 21.0 86.7 0.4 2.7 1. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia JARAK KE YANKES < 1 km 69.3 82.2 87.3 8.0 3.2 93.2 0.3 88.0 7.0 5.9 11.146 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi.6 0.9 89.2 83.1 1.6 0.0 84.7 31.5 0.3 78.6 0.0 16.4 16'-30' 14.7 81.5 0.3 1.0 88.8 86.5 0.9 0.4 1.1 15.6 72.3 2.7 85.8 90.9 83.8 1.3 17.3 16.8 0.3 2.6 82.7 2.8 15.2 66.8 2.2 16.1 81.3 24.4 0.0 9.2 27.2 6.9 2.2 4.7 80.1 91.4 2.1 31'-60' 3.6 64.9 29.9 8.1 1.1 3.8 2.5 90.3 20.9 1.6 0.8 29.3 13.5 1.7 83.4 0.

1 82.3 84.8 81.3 20.0 1.9 79.5 19.9%) dan Nanggroe Aceh Darussalam (19. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/ poskesdes tertinggi adalah Provinsi Maluku (20. nampak ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin kurang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes.9%) dan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (19.5 1.5 km > 5 km <15' WAKTU TEMPUH KE UKBM 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 76.9 10.4 0.7 86.0 1. tidak ada yang hamil atau tidak mempunyai bayi/balita. di Indonesia sebanyak 27.148.7 1.4 1. Sebanyak 62.9 11. Provinsi dengan persentase rumah tangga memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (42.5 21.7 13.4 2.6 1.4 18.7 3. memberikan gambaran persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu atau poskesdes di tiap provinsi selama tiga bulan terakhir.5% rumah tangga menyatakan tidak membutuhkan pelayanan di posyandu atau poskesdes karena berbagai alasan.2 81.8%) dan Jawa Barat (5.5 12.6 88.6 17.4 92.149 menggambarkan pemanfaatan posyandu/poskesdes berdasarkan karakteristik rumah tangga.Tabel 3. 215 .7 JARAK KE UKBM < 1 km 1 .147 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga. Secara keseluruhan.0 85. Poskesdes. Bila ditinjau dari tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 2.1 3.8 78.4 1.4 9. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 88.4 24. Tampak bahwa persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan.0 *) UKBM meliputi Posyandu. Polindes Tabel 3.7 77.1 6. Sedangkan yang sebetulnya membutuhkan tetapi tidak memanfaatkan posyandu atau poskesdes adalah sebanyak 10.3% rumah tangga.2 73. seperti tidak ada anggota rumah tangga (ART) yang sakit.1 1.3% rumah tangga memanfaatkan pelayanan di posyandu atau poskesdes. sedangkan terendah di Provinsi Jawa Tengah (5.4 2.8 0.8 2.9%).5 0.1 1.7%).8 1.4 2.6 1.8%). Tabel 3.9 10.1 11.

2 11.4 27.0 6.3 62.3 42.7 11.0 30.8 11.8 7.0 27.3 48.4 51.8 18.3 15.148 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.6 20.5 10.4 28.8 5.8 20.7 65.3 42.4 70.1 19.7 67.3 68.3 25. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.7 27.9 5.6 66.9 5.4 25.4 24.4 8.4 10.5 16.5 64.8 33.4 56.6 22.4 11.7 23.8 30.6 12.Tabel 3.1 7.8 25.7 64.6 12.1 66.8 23.1 62.9 9.2 12.7 36.9 27.9 30.0 7.5 13.4 25.4 68.9 33.9 6.4 59.5 22.6 50.4 19.5 61.0 55.2 13.2 31.1 60.4 61.0 64.3 58.8 26.5 57.0 23.6 58.6 67.2 11.0 8.0 11.5 28.2 64.2 26.0 26.9 7.8 22.2 60.2 17.7 52.3 216 .8 54.8 31.9 27.5 60.9 69.9 58.1 28.3 11.3 Alasan lain Indonesia 27.4 7.4 68.

Hampir separuh rumah tangga (49. Untuk alasan ’letak posyandu/poskesdes jauh’ tertinggi di Provinsi Riau (52. PMT dan suplemen gizi. Sedangkan pelayanan KB dan pengobatan di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan.1 58. Tabel 3. dan suplemen gizi lebih banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga di perkotaan daripada di perdesaan.1%). semakin sedikit yang menerima pelayanan penimbangan. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.6%). semakin banyak yang menerima pelayanan tersebut.0 71.9 18. penyuluhan. Menurut tipe daerah.6%) dan terendah adalah Papua Barat (17.7 8.4 31.149 Persentase Rumah Tangga Menurut Pemanfaatan Posyandu/Poskesdes dan Karakteristik Rumah Tangga.150 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir. Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi menjawab ’layanan tidak lengkap’ adalah DI Yogyakarta (88.4%) dan terendah di 217 .1 10.0 27.1% dan 24. imunisasi.8 62.7%) dan pelayanan KB (28.1 66.3%.9 59. PMT. Pada rumah tangga yang sebetulnya membutuhkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir tetapi tidak memanfaatkan diminta untuk menyebutkan alasannya.4 10.8 11. Hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan posyandu/poskesdes untuk konsultasi risiko penyakit (13.0%) dan imunisasi (55.3 23.4 66.6%) tidak memanfaatkan pelayanan di posyandu/poskesdes karena dianggap tidak lengkap.2 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Per Bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 35. Sedangkan yang menjawab letak jauh dan tidak ada posyandu persentasenya hampir sama.8%). untuk pelayanan penimbangan.1 10.151 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.152 menggambarkan alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir (di luar yang tidak membutuhkan). Tampak secara keseluruhan di Indonesia jenis pelayanan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga adalah penimbangan (85.3 29.1 10. Sebaliknya untuk pelayanan pengobatan dan konsultasi risiko penyakit semakin tinggi tingkat pengeluaran.3 10. yaitu masing-masing 26. Tabel 3.5 54. imunisasi.Tabel 3. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 24.3 Tabel 3.

2 32.3 49.7 79.9 33.6 12.3 29.4 51.2 42.3 45.6 25.5 28.7 76.8 59.2 46.9 19.9 46.3 85.5 70.5 17.1 83.5 81.2 55.9 22. Riskesdas 2007 Penimbangan Penyuluhan Imunisasi Pengobatan Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit Provinsi KIA KB PMT NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92.2 27.9 60.4 27.8 37.1 18.3 46.4 49.1 50.1 54.0 78.8 38.4 37. Tabel 3.9 61.4 59.2 60.6 50.6 27.9 52.9 28.1 58.2 22.2%).7 49.2 60.6 38.4 33.5 16.9 24.3 28.6 24.2 50.Provinsi DI Yogyakarta (5.3 27.2 36.9 52.6 85.5 78.9 45.9 68.3 37.3 50.2 20.7 32.5 37.4 32.3 69.5 30.2 22.6 80. Berdasarkan tipe daerah.0 24.8 28.5 91.0 40.6 25.6 28.5 67.2 84. di perkotaan alasan ’jenis layanan posyandu/poskesdes tidak lengkap’ lebih mendominasi. sedangkan di perdesaan alasan yang banyak dipakai adalah ’letak jauh’.1 40.7 39.9 40.1 18.6 42.8 55.6 59.7 37.9 28.0 23.0 20.153 menggambarkan alasan utama (di luar tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan posyandu/poskesdes menurut karakteristik rumah tangga.0 24.3 40.1 27.5 47.3 12.2 54.2 33.9 78.7 39.1 46.6 41.5 32.1 62.0 22.0%) dan terendah DKI Jakarta 218 .9 46.5 56.3 60.6 62.7 Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa adalah Provinsi Sumatera Barat (34.2 11.7 39.2 17.7 24.9 55.9 34.0 14.1 39.4 53.3 65.1 89.8 74.0 64.2 23.0 39.1 43.2 35.2 24.0 34.4 42.2 34.2 80.7 92.0 56.1 9.2 48.1 30.7 56.3 36.7 28.8 52.4 47.0 53.2 95.8 64.2 10.2 80.7 24.0 10.3 51.1 93. Tabel 3.7 42.8 30.7 47.5 13. Ketidakberadaan posyandu / poskesdes disebut sebagai alasan untuk tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes oleh rumah tangga dengan persentase yang tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan.6 12.3 38.9 56.3 25.4 50.1 10.2 48.2 98.8 46.5 27.7 46.8 29.1 55.1 52.3 56.7 33.2 11.2 50.5 49.1 88.9 48.5 71.5 42.0 11.6 30.2 35.2 25.9 64.7 37.7 14.1 34.1 46.7 28.5 33.0 62.2 15.1 27.3 33. sedangkan untuk alasan ’tidak ada posyandu/poskesdes’ tertinggi di Papua Barat (71.8 55.4 16.6 68.9 43.7 20.9 36.6 35.9 54.7 28.8 9.4 46.6 17.4 35.2 20.8 92.4 67.0 47.2%).1 67.4 26.5 46.9 58.4 31.5 40.9 32.7 37.6 55.2 9.5 14.3 28.9 38.8 56.3 29.3 59.7 25.3 40.2 32.3 61.9 94.2 46.7 37.3 94.5 25.2 8.5 89.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.0 82.6 62.9 34.1 36.7 30.0 51.3 25.5 31.9 35.2 54.4 46.5 85.6 16.2 60.0 34.9 30.1 90.8 51.5 51.3 10.8 34.3 33.6 30.2 36.7 37.7 31.0 24.6 42.4 88.0 25.4 55.7 88.4 53.8 33.9 72.5 34.9 35.0 36.0 32.1 52.7 16.9 48.4 14.0 30.0 24.7 54.9 25.6 27.5 46.2 27.6 31.0 44.2 47.7 13.0 40.5 12.0 43.4 37.8 96.2 26.5 41.9 58.1 48.7 22.3 23.8 41.8 58.5 32.9 15.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (6.6 77.7 9.

6 55. Provinsi Gorontalo menempati persentase tertinggi (76.7 43.7 35.7 43.2 39.7 37.1 53.7 Tipe Daerah Perkotaan 89.9 15.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (15.6 25.7 26.6 Kuintil 4 83. Riskesdas 2007 Tipe Daerah Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit 13.2 58.6 30.5 Kuintil 3 84.7 13.0%) dan Papua Barat (54.0 47.4 Perdesaan 82.9 39.9 40.2 56.7 52.4 13. Untuk alasan tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.6 42.8 30. Sedangkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa di perdesaan (25.3 13.3 219 .5 40.6 47.2%).7 30.5 39. Tabel 3.3%).7 Kuintil 5 81.5 14.9 36.1 44. sedangkan terendah adalah Provinsi Papua (30.6 27.2 35.155 menggambarkan pemanfaatan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.4%).6 30.6 Kuintil 2 85.5 45.8 33.1 54.4 44.8 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Kuintil 1 87.1 28.6 29.3 30.4%).8 30. baik yang tinggal di daerah perdesaan maupun perkotaan.151 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga. sedangkan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (13.3 35.7%).1 46.4 43.2 36.8 42.0 45.2 30. Tabel 3. Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang tidak memanfaatkan dengan alasan lain (diluar tidak membutuhkan) adalah Provinsi Papua (55.0 37.(6.2 29. Secara keseluruhan lebih dari separuh rumah tangga.6%).8 46.7 12.0 28.2 49.2 51. tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.5 48.

0 52.6 12.9 39.9 16.6 31.3 10.1 posyandu 20.6 50. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Provinsi posyandu/poskesdes Tdk ada Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 16.2 20.4 36.8 51.7 18.5 50.2 46.9 61.0 37.1 24.6 220 .6 39.6 38.8 29.3 8.0 6.1 39.1 25.0 17.8 17.3 20.8 58.1 17.4 16.7 26.9 19.4 6.7 26.2 52.1 51.0 34.1 22.1 23.3 12.3 37.7 62.3 Layanan tdk lengkap 63.6 32.5 21.3 43.4 26.2 19.5 13.6 33.5 22.4 70.7 54.152 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.4 43.7 69.8 9.1 56.9 38.7 71.2 88.4 38.Tabel 3.5 25.7 50.5 60.4 23.1 42.4 11.9 27.7 37.3 10.8 25.6 55.0 20.6 60.6 19.4 35.7 32.9 14.2 29.6 30.1 24.6 18.4 8.5 30.2 41.5 49.0 50.9 44.0 10.0 17.2 24.5 47.8 67.6 16.2 8.1 44.8 27.2 66.2 22.9 38.8 5.

Dari rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir. Adapun pelayanan KIA yang terbanyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan bayi/balita (29.9%).2%). Menurut provinsi.1 24.156 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan provinsi.9 24. pemeriksaan bayi/balita terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (69. Jenis pelayanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pengobatan (82.1%) dan terendah Bengkulu (17.3 22.3 31.3 24. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Letak jauh Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15.8 41.0 Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran.9 59. Untuk pelayanan KIA.4 44. jenis pelayanan yang diterima dapat dikelompokkan menjadi dua. pemeriksaan ibu nifas dan pemeriksaan neonatus masing-masing di bawah 10%.8 22.9 50. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan persalinan.2 25. Tabel 3.7 44.0 29. Pertolongan persalinan terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Jambi (42.7%). persalinan.Tabel 3. Pelayanan KIA meliputi pemeriksaan kehamilan.1%) dan terendah di DKI Jakarta (56.153 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.5%).7 25. pemanfaatan polindes/bidan di desa sebagai tempat pengobatan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (90.4 60. pemeriksaan neonatus. yaitu pelayanan KIA dan pengobatan.3%).6 22.7%).0%) dan terendah di Bengkulu (11. disusul pemeriksaan kehamilan (22. 221 . semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dan semakin banyak yang tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan desa.8 18.3 52.5 26. Pemeriksaan kehamilan tertinggi dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (97.2 posyandu/poskesdes Tdk ada posyandu Layanan tdk lengkap Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 33.1%) dan terendah di Riau (4.6%). pemeriksaan ibu nifas. dan pemeriksaan bayi/balita.

8 14.154 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi.0 54.4 62.3 76.4 25.5 45.0 27.6 20.9 64.2 45.6 23.5 40.1 19.9 58.8 54.3 51.1 27.8 20.8 46.9 22.2 45.8 29.7 25.5 45.4 43.8 41.1 17.9 25.7 67.8 21.2 222 .0 19.2 16.3 50.3 24.8 13.6 22.7 22.0 33.4 34.9 23.4 21.5 15.6 56.7 18.4 24.9 30.2 31.3 38.3 48.5 51.3 44.7 27.0 39.2 13.3 13.5 23.3 26.0 45.5 30.Tabel 3.2 50.8 8.5 63.4 11.2 29.9 19.8 29.5 24.2 21.2 46.3 6.0 34.9 52.0 14.4 49.2 50.8 21.9 21.1 26.4 57.1 71.4 52.2 17.9 9.1 54.7 25.3 9. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.7 22.0 52.0 Alasan lain Indonesia 21.3 42.3 55.7 10.4 56.9 25.8 34.2 19.4 45.3 19.4 32.3 8.9 26.

2 25. dan persentase terendah Provinsi DKI Jakarta (1.Tabel 3.6 24. Menurut tipe daerah.5 22. Alasan utama yang mengemuka meliputi ’tidak ada polindes/bidan di desa’ (39.1%). Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi (23.9 25.158 menggambarkan alasan utama rumah tangga (di luar yang tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut provinsi.0 50.4 23.7 52. dan ’layanan tidak lengkap’ (7.1%).2 25. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15. Sedangkan untuk alasan ’layanan tidak lengkap’ persentase tertinggi adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (26.0 58.3 27.3%).6 50. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1 Tabel 3. 223 .7%) dan terkecil di Provinsi Jawa Tengah (15. dan semakin meningkat yang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan.9%).157 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan karakteristik rumah tangga.9%).7 49.5%) dan terendah Provinsi Bangka Belitung (2. ’letak jauh’ (8.8 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 24. sedangkan di perdesaan lebih banyak yang memanfaatkan untuk pelayanan pengobatan. nampaknya rumah tangga di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/bidan di desa untuk pelayanan KIA.155 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.6 20. Rumah tangga yang tidak memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir diminta untuk menyampaikan alasannya.8 24.8%) yang tidak memanfaatkan polindes/bidan desa dengan alasan ‘letak polindes/bidan di desa jauh’.6 25. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.5 54.8 24.8 16.8 57. Tabel 3. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa untuk pemeriksaan bayi/balita.3%). Persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ’tidak ada polindes/bidan desa’ tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (77.

1 77.2 20.8 19.5 14.9 59.4 21.0 49.0 48.8 11.1 6.2 4.7 14.9 8.2 20.1 32.5 73.1 69.3 9.8 9.6 4.3 86.8 82.6 72.8 75.7 19.8 10.4 20.5 85.6 42.9 86.2 7.3 20.3 6.3 27.6 7.1 28.7 20.6 4.3 5.7 80.9 26.9 26.4 5.4 4.3 81.9 6.9 97.7 72.1 34.2 8.5 25.1 4.8 47.2 7.4 30.6 16.6 17.8 5.2 49.8 39.4 30.5 8.6 5.7 29.3 11.2 8.8 11.8 21.3 5.7 12.2 23.4 68.7 6.6 85.2 11.8 19.2 15.3 40.3 76.2 71.1 11.5 78.5 9.3 24.5 20.4 23.8 23.9 12.7 44.2 72.2 24.0 10.8 14.0 20.0 92.1 7.8 19.6 6.4 20.7 78.1 7.6 9.3 18.2 10.6 25.2 82.6 22.0 29.0 16.0 11.8 18.2 6.1 45.1 9.5 15.2 29.6 9.9 8.5 4.7 24.1 80.1 5.7 26.8 27.8 23.0 10.7 15.1 80.9 88.6 22.7 5.2 15.8 84.4 17.3 77.4 23.8 6.1 34.7 39.5 6.6 17.4 25.3 7.7 13.3 8.6 11.6 4.1 40.9 33.4 5.7 9.9 224 .7 5.9 30.8 23.6 17.6 16.5 36.7 88.1 Indonesia 22.3 5.2 21.3 13.6 8.7 90.1 7.5 38.1 6.2 34.1 10.1 42.8 86.0 16.7 15.8 10.5 30.8 30.4 6.5 24.6 6.8 56.Tabel 3.6 33.4 77.3 5.8 35.0 4.6 20.4 24.2 20.6 84.8 89.3 30.7 8.8 24.4 77.7 78.1 16.3 6.6 79.9 3.2 38. Riskesdas 2007 Pemeriksaan Pemeriksaan Persalinan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kehamilan 29.156 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.2 10.6 78.9 24.

semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.2 27.3%) daripada di perkotaan (8.7 20. Kajian pemanfaatan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga tersaji pada Tabel 3. Secara keseluruhan sebagian besar rumah tangga (79.5 Tabel 3.0 8. semakin tinggi pula persentase rumah tangga yang tidak membutuhkan POD/WOD. persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’ dan ‘layanan tidak lengkap’ lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.8 9.161 Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD lebih banyak di perdesaan (11.0 32.4%) dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung (0.3 8. Sedangkan alasan ‘tidak ada polindes/bidan di desa’ lebih banyak ditemukan di perkotaan. Tabel 3.160 menyajikan informasi tentang pemanfaatan Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD) dalam tiga bulan terakhir.5 8.7 8.5 25.4 10.1 83.5 26.8 33.2 9. semakin sedikit yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’. Sedangkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD karena tidak membutuhkan tertinggi di Provinsi Riau (16.5%). semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.2 9.1 10.9 26.Tabel 3.2 8.2 8.9 8. 225 .0 83.8 9.1 21.9 30. Menurut tipe daerah.4%).3 83.7 77.159 menggambarkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan utama (di luar yang tidak membutuhkan) menurut karakteristik rumah tangga.8%) dan terendah di Lampung (0.2 83.3 7. dan semakin banyak yang mengajukan alasan ‘pelayanan tidak lengkap’.6%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan bahwa ada kecederungan.157 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.7%).2 28. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 27. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (24.3 9.8 Pemeriksaan Kehamilan Persalinan Pemeriksaan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 20.6%) tidak memanfaatkan POD/WOD.2 8.4 81.7 9.9 84.5 10.9 9.3 9.7 22.2 23.6 10. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan. sebaliknya untuk rumah tangga yang tidak membutuhkan lebih banyak di perkotaan (11.

3 1.1 66.8 6.6 53.1 38.3 12.5 9.5 7.9 226 .9 6.4 15.3 20.Tabel 3.6 9.8 27.9 9.6 26.5 17.3 23.5 33.3 5.9 25.3 6.5 11.7 8.5 12.1 70.1 19.1 15.2 10.7 28.1 6.8 13.6 37.0 31.2 4.5 45.5 22.2 30.1 7.3 15.9 7.6 20.1 57.3 12.8 17.7 35.6 42.0 66.1 9.9 18.7 2.9 7.4 77.3 4.2 32.9 31.9 2.7 28.7 14.4 8.1 4.5 2.7 58.4 7.3 Layanan tdk lengkap 26.2 26.3 48.6 53.7 57.4 20.9 Tidak ada polindes/bidan 39.9 28.4 39.3 53.2 33.9 54.3 70.5 6.6 5.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.7 7.2 48.3 24.7 5.6 12.6 1.6 4.5 55.4 3.0 12.3 55.9 60. Riskesdas 2007 Alasan Lain Tidak Memanfaatan Poslindes/Bidan PROVINSI Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7.7 7.9 7.9 39.2 4.5 46.3 16.3 27.1 5.5 29.5 14.2 5.0 7.7 64.7 64.0 71.4 4.3 10.8 8.6 3.5 66.9 29.9 56.9 58.0 10.5 56.6 43.1 19.2 10.1 10.3 31.8 13.0 8.8 19.9 Lainnya 26.6 38.2 4.2 6.0 36.3 53.2 19.6 1.2 2.4 1.1 81.7 7.

1%) dan terendah di Lampung.4 7.2 39.3 Rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD diminta untuk menyebutkan alasannya.8 49.1%).Tabel 3.162 menunjukkan rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan ‘letak jauh’ tertinggi Provinsi Riau (3.4 12.8%) tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan utama ‘tidak ada POD/WOD’.0 45. tertinggi di Provinsi Maluku Utara (7.1%). Tabel 3.3 7.7 40. begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Yang menyatakan alasan ‘tidak ada POD/WOD’.0 8. Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan untuk alasan ‘obat tidak lengkap’.0%).1 42. Alasan utama terbanyak yang dikemukakan adalah tidak adanya POD/WOD.2%) dan terendah di Papua Barat (90.8 10.9 43.8 5.5 9. DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (masing-masing 0.8 7.9 7. Tabel 3.0 47.7 37. tertinggi di Provinsi Lampung (98. Kepulauan Bangka Belitung.3 42.8 Letak jauh Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/BDD Tidak ada polindes/bidan Layanan tdk lengkap Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.0 38.6 39.5%) dan terendah di Lampung.9 6. 227 . dan DI Yogyakarta (0.159 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.5 39.7 31. Tidak tampak perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan dalam hal alasan utama untuk tidak memanfaatkan POD/WOD. Sebagian besar rumah tangga (94.1 9.163 menyajikan informasi tentang alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 3.9 46.6 8.

4 21.1 80.0 89.8 88.6 80.2 88.4 0.4 9.6 69.0 18.9 7.6 6.6 80.0 21.160 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Provinsi.4 12.0 5.0 5.2 85. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Provinsi Nanggroe Aceh D.7 8.5 10.6 7.3 9.9 7.2 3.7 15.1 9.9 15.2 79.1 11.5 0.8 10.9 78.1 77.Tabel 3.0 15.4 7.2 96.0 15.1 90.0 92.9 4.6 7.2 71.0 85.2 3.7 10.0 Alasan lain Indonesia 10.6 10.2 75.9 4.2 10.6 4.1 69.6 8.5 14.4 17.6 64.3 10.5 12.4 0.6 13.6 86.2 16.6 5.1 5.2 13.5 10.3 81.9 3.3 3.1 88.3 76.4 14.8 85.7 74.3 82.5 84.1 9.7 4.1 80.4 3.2 11.4 69.1 89.0 3.4 7.7 6.8 11.5 membutuhkan 11.6 228 .4 9.9 85.2 7.5 76. Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Memanfaatkan 24.1 66.1 5.6 12.6 6.4 11.1 79.5 11.4 12.1 13.

3 10.4 Kuintil 4 10.6 229 .161 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.9 Kuintil 3 10.0 79.4 79.4 Kuintil 2 10.2 Kuintil 5 9.Tabel 3.6 78.4 Alasan lain Tipe Daerah Perkotaan 8.7 79.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 10.1 9.7 Perdesaan 11.2 9.5 79.5 80.6 9.8 79.3 12. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tidak membutuhkan 11.2 10.

4 1.9 4.2 0.5 1.1 90.0 3.5 2.1 0.1 0.3 0.0 97.7 0.2 0.9 98.8 96.2 2.5 0.2 1.5 0.5 Tidak ada POD/WOD 93.7 2.2 0.5 0.1 92.2 97.7 0.3 0.4 0.1 0.8 1.3 4.0 0.7 1.6 0.3 89.0 0.0 94.1 3.5 98.3 2.4 2.4 2.3 0.2 1.2 0.2 0.9 2.2 0.0 3.6 3.0 2.6 Obat tidak lengkap 4.5 0.1 1.6 93.1 230 .3 5.5 0.0 1.5 0.7 0.0 7.9 94.6 0.1 0.0 1.4 0.4 0.7 90.7 0.5 0.0 2.8 2.2 3.3 96. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD PROVINSI Lokasi jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.0 97.Tabel 3.0 96.6 2.9 96.8 0.1 0.0 3.1 91.8 89.3 2.0 1.4 Lainnya 1.0 2.3 96.6 0.6 93.6 0.0 0.2 1.0 0.5 96.3 0.7 8.2 98.4 2.6 93.2 0.162 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.2 2.5 Indonesia 1.1 1.8 98.0 8.5 0.0 96.5 0.7 4.9 3.1 5.1 96.8 3.1 0.7 91.8 2.1 97.2 93.5 1.3 0.2 95.5 2.8 96.7 3.8 1.0 1.5 1.8 1.8 1.0 90.5 7.5 91.1 3.8 3.

1 1.1% dan 5. terdapat 11 provinsi yang persentase pemanfaatan di atas persentase nasional.9% dan 5.164).1%) kemudian disusul RS Swasta (2.0 1.7 2.2 Lainnya 3.1 95.9 Kuintil 2 1.1 3. Pemanfaatan RS Swasta terbesar di Provinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara yaitu masing-masing sebesar 5.2 94.9 3. Dari data ini diperoleh gambaran tentang seberapa besar persentase rumah tangga yang telah tercakup oleh asuransi kesehatan. Askes Swasta. Jamsostek. Seluruh penduduk diminta untuk memberikan informasi tentang apakah yang bersangkutan pernah menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir.7 2.9 2.0%).0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1. Asabri. Demikian pula dengan pemanfaatan Rumah Sakit Swasta sebagai tempat rawat inap.8.1 1. di samping peningkatan derajat kesehatan (health status) dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (fairness of financing).5%. Untuk rawat inap (Tabel 3.2%.0 3.1 Kuintil 3 1.8 94.6 Tipe Daerah Perkotaan 0. Pihak-pihak yang menanggung biaya perawatan kesehatan tersebut bisa lebih dari satu. Sumber biaya dibedakan menjadi sumber biaya sendiri/keluarga.9 1. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Karakteristik rumah tangga Lokasi jauh Tidak ada POD/WOD Obat tidak lengkap 0.163 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.7 Kuintil 5 0.4 3.1 95. Terdapat 16 provinsi dari 33 provinsi yang memanfaatkan RS Pemerintah sebagai tempat rawat inap masih di bawah persentase nasional. 231 . dan lainnya.0 0.0 94.0 95. termasuk penggunaan Askeskin/SKTM yang salah sasaran. Asuransi (Askes PNS. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).5 Perdesaan 1. serta dari mana sumber biaya perawatan kesehatan tersebut. Dana Sehat. Persentase terbanyak pemanfaatan RS Pemerintah untuk rawat inap di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua Barat yaitu masing-masing sebesar 5.2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Salah satu tujuan sistem kesehatan adalah ketanggapan (responsiveness). paling banyak masyarakat masih memanfaatkan RS Pemerintah (3.Tabel 3.0%. dan JPK Pemerintah Daerah). Mereka yang pernah rawat jalan maupun rawat inap diminta untuk menjelaskan dimana terakhir menjalani perawatan kesehatan. Pada bagian ini dikumpulkan informasi tentang jenis sarana dan sumber pembiayaan yang paling sering dimanfaatkan oleh responden Pembiayaan kesehatan meliputi untuk perawatan kesehatan rawat inap dan rawat jalan.9 1. Sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 1.9 94.0 Kuintil 4 1.

6 0.1 0.3 0.1 0.8 0.0 95.5 0.2 0.8 0.6 0.5 2.1 0.0 0.2 2.2 0.1 0.4 1.0 0.7 Tenaga 0.1 0.8 0.5 0.8 91.6 0.5 0.8 94.1 0.1 4.6 0.7 5.2 0.0 0.2 0.0 96.9 92.2 0.3 0. dan tempat praktek tenaga kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh 232 .7 RSLN 0.7 0.8 0.1 0.0 0.9 2.7 3.9 0.1 0.2 0.5 0.1 0.1 1.9 95.1 RS Swasta 1.4 0.0 0.1 0.4 0.4 1.9 1.2 2.0 0.1 0.2 95.7 4.2 0.2 0.4 0.7 1.8 0.0 0.3 0.0 0.4 0.1 3.0 0.1 0.0 0.4 0.1 0.0 0.3 0.7% dan 2.0 0.8 3.1 0.0 0.1 0.6 1.1 Puskesmas 0.5 0.0 0.1 0.8 2.1 0.1 0.4 0.1 0.1 0.5 0.8 3.2 0.2 0.0 0.1 0.9 0.5 0.1 96.9 3.7 93.8 3.5 1.8 3. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Pemerintah 2.3 0.4 0.0 0.3 95.0 0.2 0.8 0. RS Bersalin.0 0.5 0.1 0.9 0.1 90.0 0.1 2.0 0.3 90.9 1.3 91.7 2.1 93.9 91.6 0.0 0.1 0.6 89.1 3.4 0.0 0.4 1.1 0.1 0.1 0.3 0.9 0.0 0.1 94.0 0.1 0.0 0.1 0.0 1. RS Swasta.2 0.4 3.1 0.1 0.0 0.3 0.1 0.5 1.9 2.0 0.5 0.1 0.8 0.5 96.1 0.1 0.2 0.5 0.2 0.9 93.0 RSB 0.8 0.4 90.0 0.1 0.8 2.1 Menurut tipe daerah (tabel 3.0 90. terlihat bahwa RS Pemerintah. masing-masing sebesar 2.2 INDONESIA 3.6 0.3 0.0 0.0 0.0 0.3 3.7 90.8 0.5 0. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.1 0.2 95.7 0.1 5.1 0.2 1.0 0.1 0.Puskesmas sebagai tempat rawat inap secara nasional menempati urutan ketiga setelah RS Pemerintah dan RS Swasta.0 0.7 0.165).1 0.0 0.1 95.1 0.8 4.5 1.2 95.1 93.3 0.9 2.6 1.0 0.0 0.8 1.2 0.2 0.1 0.0 0.4 0.4 2.0 5.0 0.0 0.3 0. RS lain.0 0.0 0.4 0.8 5.0 0.2 87.0 0.8 1.1 94.9 0.3 0.1 0.0 2.6 0.0 0.8 95.3 3.2 3.1 0.2 4.0 93.0 0.0 0.7 4.5 0.2 0.1 0.2 3.4 Tidak rawat Inap 94.8 0.0 4.0 0.3 0.8 1.1 0.7 1.1 0.1 0.2 0.1 3.0 0.3 91.5 2.9 2.0 0.0 93.7 0.5 1.2 1. Tabel 3.5 1.2 0.0 2.4 0.2 2.164 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Provinsi.2 0.5%.5 0.7 1.1 0.6 0.2 0.0 0.3 2.2 0.0 Lainnya 0.9 0.1 0.2 0.1 3.3 0.3 0.1 0.1 0.6 0.5 0.0 0.5 92.4 0.3 Batra 0.4 0.

3 2.4 0. tampak kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintan dan RS Swasta.6 2. kemudian berturut-turut disusul oleh pembiayaan oleh Askes/Jamsostek (15. Tabel 3.5 0.6 0.8 0. Pemanfaatan sarana lain tersebar hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.1 0. Kalau pembiayaan oleh Askeskin/Jamsostek.4 1.1 0.0 0.4 0.3 0.0 0.4 2.1 93.3 2.4 0.0 0.5 0.1 0.1 0.5 0.7 0. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.masyarakat perkotaan.4 0.8 0. Askeskin/SKTM (14. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dan Dana Sehat (2.0%) pembiayaan yang dibayar oleh pasien sendiri atau keluarga (out of pocket’).9%).0 0.4 0. Namun apabila dicermati masih ada sekitar 10% masyarakat yang mampu secara ekonomi (kuintil 5 dan 4) masih menggunakan Askeskin/SKTM.8 0.3 1.3 0. sedangkan puskesmas lebih banyak dimanfaatkan masyarakat perdesaan.8 0. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Tempat berobat rawat inap RS Pemerintah RS Swasta RS LN RSB Puskesmas Tenaga kesehatan Batra Lainnya Tidak rawat Inap Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 4. Sedangkan untuk pembiayaan rawat inap dengan memanfaatkan Askeskin/SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan.4 0.6%). maka sekitar 30% responden yang pernah rawat inap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah mempunyai ‘sejenis asuransi kesehatan’. Tabel 3.166 memperlihatkan bahwa sumber pembiayaan rawat inap secara keseluruhan untuk Indonesia masih didominasi (71.1 0.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.9 3.6 0. Sebaliknya.1 0.1 0. terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak perawatan inap yang dibiayai Askes/Jamsostek.9 94.0 0.3%).4 92.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.9 0.167 memperlihatkan bahwa menurut tipe daerah.1 0. 233 .1 0.1 1.1 0.1 90.1 0.3 3.1 0.4 0.4 4.5 90. semakin rendah tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askeskin/SKTM dan Dana Sehat. Askeskin/SKTM dan Dana Sehat diperhitungkan sebagai ‘sejenis asuransi kesehatan’.1 0.6 94. pembiayaan rawat inap oleh Askes/Jamsostek lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan.8 2.2 1.1 0.5 94.4 0.1 0.4 0.3 3.

6 10.9 11.9 15.6 1. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Provinsi Sendiri/ keluarga 62.4 15.7 14.2 12.2 65.1 3.5 63.6 3.7 1.1 67.0 2.5 75.6 58.8 12.9 23.1 60.7 16.1 14.4 11.6 15.3 5.8 8. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 234 .8 70.0 9.0 73.9 12.4 19.6 Askeskin/ SKTM 28.1 7.7 14.4 8.2 3.1 11.4 12.0 3.2 4.6 1.9 5.8 13.5 72.0 1.1 19.0 11.9 65.4 25.9 3.2 10.7 0.5 72.9 8.1 17.7 14.9 17.1 2.8 5.5 19.2 19.7 3.4 10.0 75.5 2.0 Askes/ Jamsostek 13.2 2.2 76.7 19.9 2.9 3.9 18.9 Lainlain 6.4 9.3 5.0 59.3 1.4 3. Askes swasta.166 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi.3 7.4 27. Asabri.7 1.2 3.7 63.0 1.2 71.1 3.5 68.6 67.3 Dana Sehat 4.4 67.9 4.7 10.5 19.8 4.0 20.8 0.0 23.1 13. Jamsostek.7 7.6 4.5 17.6 79.1 8.4 0.4 5.8 65.3 8.3 3.6 26.8 76.6 3.5 4.9 7.3 18.4 15.3 76.5 0.2 12.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.0 15.7 11.8 11.2 3.5 7.5 68.1 76.5 17.9 74.5 25.5 81.4 17.8 18.9 16.0 68.2 7.3 2.8 19.3 6.9 4.7 6.1 18.1 19.9 10.8 29.3 22.9 1.2 5.1 18.7 49.7 71.3 0.9 66.9 13.9 33.6 11.9 8.8 17.0 10.0 2.3 5.2 13.3 13.4 10.0 4.2 5.5 1.0 1.Tabel 3.5 74.2 7.1 76.5 15.

4 3.8%) dan terendah di Papua (3.3 Perkotaan 69.Tabel 3.3 6.5 72.9%) merupakan sarana kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan untuk rawat jalan.5 6.8 5. Sedangkan persentase tertinggi pemanfaatan tenaga kesehatan untuk rawat jalan ditemukan di Provinsi Bali (25.168 menunjukkan bahwa secara nasional RS Bersalin/RSB (14.9 17.8%) dan Tenaga Kesehatan (13.5%) dan terendah di Sumatera Utara (7.9%). Askes swasta.0 18.7 6. Persentase pemanfaatan RSB sebagai tempat rawat jalan.9 6.2 3.2 16.8 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Dana Sehat 2.6%) pada urutan ketiga.6%). 235 .5 LainLain 7.8 9.8 25. tertinggi di Provinsi Papua Barat (38. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga Askes/ Jamsostek Askeskin/ SKTM 10.9 25.8 7. Pemanfaatan Puskesmas (1.4 10. Jamsostek.167 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga.0 Perdesaan 72.2 2.9 71.4 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.9 15. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3.7 21.4 72.7 3. Asabri.7 12.5 5.6 11.3%) menempati urutan keempat setelah RS Pemerintah (1.5 71.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Keterangan : 66.5 4.5 1.0 6.

4 Di Rumah 1.6 2.8 19.1 4.0 11.1 0.6 1.9 2.169).4 1.5 58.3 0.1 0.1 0.8 0.5 0.4 0.3 0.4 68.2 13.6 13.2 1.0 64.6 14. Sedangkan responden di perdesaan lebih memanfaatkan RSB.4 0.8 1.3 22.2 0.2 1.3 0.2 0.3 0.8 1.1 1.2 3.3 70.5 16.2 0.4 0.2 0.4 Menurut tipe daerah (Tabel 3.6 9. dan Puskesmas.1 0.0 0.9 0.2 0. RS Swasta.4 0.7 0.9 3.4 1.1 1.3 Nakes Batra Lainnya 0.2 12.1 0.4 0.3 0.8 67.0 12.2 2.1 1.9 14.2 0.3 0.7 0.0 12.1 12.2 0.6 0.1 1.6 17.7 61.4 0.0 7. tampak kecenderungan responden di perkotaan lebih banyak memanfaatkan RS Pemerintah.1 81.7 0.6 14.1 0.0 1.9 15.3 10.4 0.2 1.9 11.6 RS Swasta 0.7 20.3 0.4 0.8 0.1 0.6 38.8 0.2 10.1 1.1 71.4 11.1 14.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 0.3 2.8 16.3 3.6 61.7 16.3 3.4 2.1 0.0 RSLN RSB Puskesmas 1.7 67.2 0.8 0.4 0.6 1.2 0.4 0.5 35.0 1.3 1.2 0.7 1.6 50.0 0.6 73.6 14.9 0.0 0.7 0.2 0.4 68.4 0.9 0.3 0.1 0.3 2.8 1.3 0.4 0.3 0.0 0.7 5.3 1.0 0.4 1.5 0.9 19.8 11.5 0.3 15.3 19.2 4.3 0.1 1.4 0.5 2.4 1.4 1.5 0.9 1.0 4.2 0.7 70.9 0.8 0.5 0.1 0.7 Tidak rawat Inap 46.4 0.9 65.6 0.3 17.5 0.0 0.5 4.1 0.5 0.6 1.1 0.9 0.5 61.2 0.6 13.1 0.6 12.4 1.1 7.2 2.1 1.3 0.0 14.2 0.3 0.0 15.1 0.4 67.1 0.1 54.9 0.7 17.0 1.5 0.4 0.8 0.0 0.2 0.1 0.2 0.2 0.1 0.3 0.2 0.8 2.3 0.4 19.2 11.8 1.7 18.4 66.8 11.4 4.0 0.2 53.3 0.1 12.0 0.7 0.6 74.1 0.7 1.1 2.8 14.3 0.0 70.0 1.0 1.2 73.0 25.6 1.5 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah 3.4 2.4 2.7 1.5 0.1 4.7 0. dan pengobat tradisional untuk rawat jalan.9 5.3 0.6 0.1 0.4 0.7 0.2 1.0 0.2 1.4 0.2 1.7 1.8 19.4 1.4 1.0 1.3 26.Tabel 3.7 0.9 1.2 0.3 0.0 0.1 17.7 0.7 0.3 1.0 0.4 1. 236 .0 0.0 0.2 14.1 13.5 1.3 0.4 1.9 1.6 0.3 0.1 0.6 1.5 0.9 0.7 10.5 80.2 0.7 0.6 0.8 11.3 13.2 71.5 15.0 0.8 0.4 0.2 0.2 0.5 0.6 54.0 1.5 33.8 1.1 0.168 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.1 0.2 0.1 0.7 0.2 0.9 13.9 1.1 0.7 5.8 10.7 1.2 1.1 17.9 1.6 66.6 1.3 1.5 60.5 56.3 0.1 0.0 1.3 66.2 0.2 62. Tenaga Kesehatan.1 67.8 69.7 1.1 4.5 7.0 0.1 0.9 1.3 1.7 0.3 0.0 0.

8 15.3 0.8 Gambaran tentang sumber pembiayaan rawat jalan dan rawat inap tampak tidak berbeda (Tabel 3.4 0.8 0.2 0.9 1.7 2.9 0. Sumber biaya dari Askeskin/SKTM secara nasional mencapai 10.8 13.4 0.5%).6 14.7 0.4 65.9 63.3 1.5 0.3 16.2 14 11. Puskesmas.3 0.3 0.6 64.3 Perdesaan 1.6%) dan terkecil di DKI Jakarta (2. Secara nasional.2 1.8 0. tetapi semakin sedikit yang memanfaatkan RSB untuk rawat jalan. tampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintah.4 1.2 0. di Provinsi Lampung persentase terbesar pembiayaan rawat jalan berasal dari biaya sendiri/keluarga dan yang terendah adalah pembiayaan oleh Askes/Jamsostek.9 1.3 12.169 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.5 0. RS Swasta.8% untuk rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir dan menurut provinsi.5 0.8%) dan terendah di Papua Barat (40.5 0.2 1.8 15 16.170).7 0.3 12.4 1. sedangkan di Provinsi Papua Barat persentase tertinggi untuk pembiayaan rawat jalan berasal dari Askeskin/SKTM dan terendah dari biaya sendiri/keluarga.8 15. Tabel 3.3 0.2 16.5 0. Sumber biaya rawat jalan juga didominasi oleh pembiayaan sendiri/keluarga (74.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.6 66.7 0. Persentase sumber biaya sendiri/keluarga tertinggi ditemukan di Provinsi Lampung (88.0 11.0 0.0 67. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah RS Swasta RSL N RSB Puskesmas Nakes Batra Lainnya Di Rumah Tidak rawat Inap Tipe Daerah Perkotaan 2.8 0. 237 .7 0.5 1.5 0.7 0.0 1.5 0.1 1. dan Tenaga Kesehatan.4 0.4 0.6 65.0%).1 2.5 0.5 0.7 66.9 13.4%).Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. persentase terbesar ditemukan di Provinsi Papua Barat (37.4 0.9 0.5 0.5 0.4 0.

9 6.6%).4 17.4 78.4 6.7 85.7 7.1 22.3 2.1 6.1 10.9 1.Tabel 3.5 7.9 1.8 8. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 58.3 3.0 10.9 2.8%).9 3.9 9.3 15.1 81.6 3.3 20.5 75.4 70.171).1 80.2 0.5 1.6 17.6 4.9 9.4 46.8 5. sebaliknya pembiayaan dari Askeskin/ SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan (12.8 Askeskin/ SKTM 32.9 7. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan PROVINSI Sendiri/ Keluarga NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.0 72.5 9.6 28.4 12.2 86.4 11.3 10. Jamsostek.1 2.1 60.9 2.1 85. Asabri.7 3.0 78.5 1.9 9.8 2.5 3.3 13.2 1.3 5.2 3.9 11.0 71.2 1.5 6.6 0.4 6.4 5.1 1.8 0.9 1.5 40.6 4.5 11.4 12.2 21.2 16.9 13.1 5.1 1.2 4.2 0.5 5.1 33.0 80. Askes swasta.0 1.8 Dana Sehat 2.6 12.0 9.4 Sumber biaya rawat jalan menurut tipe daerah (Tabel 3.170 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi.7 78.7 11.9 60.4 3.5 Lain-Lain 5.6 87.7 18.6 3.1 10.9 4.7 2.9 2.3 8.1 2.7 5.6 15.3 15.2 1.1 8.2 4.2 83.8 3.3 9.7 8.1 88.6 1.2 74.3 1.6 0.3 4.8 79.3 77. tidak tampak berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan.3 88. 238 .6 4.5 6.5 4.6 1.6 6.9 83.9 61.5 6.4 5.3 5.5 8. terbanyak dari biaya sendiri/keluarga.5 49.3 0.4 15.9 6.0 23.1 37.7 66.1 2.7 1.6 0.3 11.8 77.4 4.9 10.9 2.5 64.3 11.9 4.6 1.0 5.6 2.3 3.1 9.2 3.3 7.5 47.8 4.2 5.9 11. Pembiayaan dari Askes/Jamsostek tampak lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan (13.9 3.1 13.2 3.5 Askes/ Jamsostek 6.8 2.3 6.4 3.2 4.8 73.9 4.8 84.9 0.

5 8. 3. Tampaknya Askeskin/SKTM belum sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat tidak/kurang mampu.1 75. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Gambaran sumber biaya rawat jalan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askes/Jamsostek dan sebaliknya Askeskin/SKTM untuk pembiayaan rawat jalan.1 1.3 4. Jamsostek.9 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Askes/ Jamsostek 13.9 11.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 72. Pembiayaan dari Dana Sehat semakin sedikit dimanfaatkan responden dengan tingkat pengeluaran yang makin tinggi. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga 73.171 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga.3 2.8 2.0 6.7 Askeskin/ SKTM 7. Asabri.0 3.9 2.3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan.0 4. Ada 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.8 13.6 2.0 9.8.0 74. Delapan domain ketanggapan untuk rawat inap terdiri dari: • • • • Lama waktu menunggu untuk mendapat pelayanan kesehatan Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara Kejelasan petugas dalam menerangkan segala sesuatu terkait dengan keluhan kesehatan yang diderita Kesempatan yang diberikan petugas untuk mengikutsertakan klien dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis perawatan yang diinginkan 239 .3 5.4 76.5 14.8 Lain-Lain 5.7 74.1 4.0 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.8 7.1 3.6 7.6 75.2 7.6 3.5 10.3 12.6 4.Tabel 3. Penilaian untuk masing-masing domain ditanyakan kepada responden. berdasarkan pengalamannya waktu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan untuk rawat inap dan rawat jalan. Askes swasta.8 Dana Sehat 1.

baik. Masing-masing domain ketanggapan dinilai dalam 5 (lima) skala yaitu: sangat baik. Tujuh domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan sama dengan domain rawat inap. Penyajian hasil analisis/tabel selanjutnya hanya mencantumkan persentase yang ’baik’ saja.9%). 240 .5%) dan ‘keramahan petugas’ (87. Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu. Menurut provinsi. Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87. kecuali domain ke delapan (kemudahan dikunjungi keluarga/teman).• • • • Dapat berbicara secara pribadi dengan petugas kesehatan dan terjamin kerahasiaan informasi tentang kondisi kesehatan klien Kebebasan klien untuk memilih tempat dan petugas kesehatan yang melayaninya Kebersihan ruang rawat/pelayanan termasuk kamar mandi Kemudahan dikunjungi keluarga atau teman. turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. dan kebebasan memilih sarana pelayanan. Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82. Tabel 3.172 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi. buruk. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi. cukup.0%). WHO membagi menjadi dua bagian besar yaitu ‘baik’ (sangat baik dan baik) dan ‘kurang baik’ (cukup. Penduduk diminta untuk menilai setiap aspek ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan di luar medis selama menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. sangat buruk. buruk dan sangat buruk). kerahasiaan informasi. tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan. Untuk memudahkan penilaian aspek ketanggapan rawat jalan dan rawat inap pada sistem pelayanan kesehatan tersebut.

6 78.3 88.9 87.2 85.5 84.6 85.2 72.0 90.2 89.5 87.8 83.8 80.4 82.0 82.8 91.4 82.172 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.7 92.5 80. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu 84.9 91.7 88.6 91.0 85.7 85.0 81.9 84.4 81.4 82.1 87.8 70.2 95.5 83.6 86.7 81.2 82.7 84.9 91.6 89.0 80.4 92.0 84.0 85.3 91.8 87.7 Ikut ambil keputusan 81.3 84.8 87.8 86.1 84.4 84.2 83.1 85.1 89.8 86.8 85.9 68.6 82.2 94.3 84.2 81.9 89.9 74.2 78.4 79.0 83.6 74.4 80.9 90.7 83.6 92.0 79.6 72.8 85.4 90.9 Kerahasiaan 82.7 92.8 89.4 91.4 92.7 87.9 90.1 90.2 86.0 86.0 72.4 90.0 72.0 93.5 88.8 74.173 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.4 82.6 69.7 82.2 84.1 69.9 80.1 86.5 91.0 68.5 86.0 85.1 83.0 76.1 88.1 84.1 86.9 85.4 86.0 88.6 84.4 81.4 84.3 89.1 87.2 88.2 84.6 84.8 86.7 84.9 72.9 84.5 85.6 Kejelasan informasi 81.0 80.4 67.6 85.0 82.2 84.4 92.4 Kebebasan pilih sarana 81.4 Keramah an 86.8 78.2 86.5 82.6 83.6 78.0 79.7 80.6 88.1 84.2 82.2 76.0 85.0 78. 241 .7 89.5 93.7 80.4 83.0 82.8 83.9 92.8 85.0 93.6 79.8 77.1 90.7 91.2 79.8 78.2 79.9 79.0 83.8 77.1 81.5 81.9 88.0 90.8 82.1 72.9 84.6 80.6 78.1 86.2 85.8 80.3 82.8 92.Tabel 3.5 81.1 87.3 83.8 88.4 88.6 87.5 94.2 89.3 Mudah dikunjungi 83.6 73.7 87.8 84.4 77.2 72.2 90.7 78.6 85.4 93.4 81.6 88.2 87.0 75.5 80.1 88.7 87.5 92.7 87.9 77.4 91.7 84.7 92.7 85.1 81.1 92.5 83.1 89.4 87.2 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 84.1 84.6 84.0 83.4 84.7 87.6 88.0 81.0 81.5 93.5 85.6 78.5 86.1 81.5 Tabel.2 91.7 88.8 87.8 85.7 94.5 91.8 88.1 79.4 87.4 86.6 88.9 85.0 89.2 82.5 86.6 81.0 83.4 86.2 94.7 94.2 95.7 92.9 Kebersihan ruangan 78.9 86.5 93.0 84.0 81.4 77.5 84.1 81.5 80.4 88.2 71.8 84.0 86.9 92.8 79. 3.2 79.8 86.7 84.8 82.2 76.3 82.6 87.

8 86. Menurut provinsi.0 87.4%). Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspekaspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki.7 88. semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan.6 84.9 82.5 87. kerahasiaan informasi. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.173 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman.7 84.7 84. tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam.174 menunjukkan secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90.5 84.2 85.1 84. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas.7 85. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85. Sedangkan di daerah perdesaan.2 84.3 81.2 83. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan.2 86.4 87. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.6 86.1%).4 83.4 86.7 85. kebebasan memilih fasiltas pelayanan.7 83.6 Tabel 3.8 83. keramahan petugas.0 88. dan kebersihan ruangan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga.6 84.1 82.1 86. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu.5 84. turut serta dalam p[engambilan keputusan memilih jenis perawatan.2 85.5 85.9 86.5 87.175). dan kebebasan memilih sarana pelayanan.5 84.5 82.7 Perdesaan 85. Riskesdas 2007 Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan Mudah dikunjungi Karakteristik Reponden Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Tipe Daerah Perkotaan 84. 242 . semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan.4 84.9 87.2 83.6 83. dan kebersihan ruangan.4 86. Menurut tipe daerah (tabel 3.6 86. kerahasian informasi.8 87.8 84.6 86.2 85.6 85.7 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 84.4 83.0 86. Tabel 3. kejelasan informasi.0 85. Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan.6 82.5 86.3 86.7 84.Menurut tipe daerah.0 86.

1 84.2 83.8 90.1 94.3 95.1 93.1 87.4 84.5 Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana 83.3 94.8 98.8 93.4 81. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu Keramahan 89.3 80.7 80.Tabel 3.2 85.6 92.3 86.8 91.0 67.2 93.4 87.2 84.4 88.7 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 87.4 94.9 82.6 93.4 90.0 95.3 88.7 92.4 92.0 95.8 81.1 97.3 86.5 84.8 92.7 84.1 82.3 77.2 83.9 77.2 78.8 89.1 88.9 71.9 65.5 97.8 83.3 84.9 82.2 84.8 91.6 93.9 94.0 92.3 93.2 93.5 86.6 94.1 89.0 87.2 86.174 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.1 92.1 84.6 95.2 95.9 80.4 93.0 85.3 68.9 86.6 86.5 85.9 83.9 82.5 78.8 65.2 84.0 85.8 87.9 80.2 84.9 93.4 83.4 89.3 83.0 96.6 91.4 83.0 93.9 91.4 87.7 87.7 90.2 82.0 88.6 84.5 81.0 91.1 65.7 68.3 85.3 Ikut ambil keputusan 84.0 95.4 95.7 86.0 88.1 83.6 83.0 86.0 86.9 93.4 Kebersihan ruangan 79.1 78.4 83.5 86.3 91.3 86.5 86.8 78.0 86.3 94.6 93.1 87.2 Kejelasan informasi 84.4 89.4 86.2 81.3 84.3 81.8 93.9 90.2 82.4 87.7 78.2 84.2 88.3 90.2 85.0 85.4 80.8 85.2 79.8 92.7 92.5 82.7 77.6 86.1 73.1 91.3 85.7 87.6 91.7 84.9 83.7 85.8 92.1 88.8 94.5 83.0 85.0 87.8 88.2 91.7 92.0 88.7 67.5 88.1 93.4 96.0 87.1 96.5 83.8 84.6 93.2 94.8 85.6 89.5 90.6 86.8 89.5 83.6 81.7 93.8 95.8 77.5 93.9 79.5 93.2 95.6 93.5 86.5 84.6 88.0 88.8 85.0 70.0 88.5 85.7 95.1 91.9 83.6 84.6 91.3 INDONESIA 86.6 82.0 94.4 84.5 83.8 87.3 87.7 88.2 86.3 70.6 82.1 91.4 88.8 96.2 83.5 90.9 87.1 86.1 86.3 84.8 76.0 85.1 92.2 92.9 65.3 79.2 92.1 243 .9 90.8 90.5 83.

Data tersebut bersifat fisik dalam rumah tangga.1 86. sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap kepala rumah tangga dan pengamatan.2 85.9 86. 244 .9 liter/orang/hari’.Tabel 3. Rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga.5 87. Risiko kesehatan masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah (‘tidak akses’ dan ‘akses kurang’) dikategorikan sebagai mempunyai risiko tinggi.8 87.2 87. ‘akses kurang’.6 87.6 90.9 91.1 87. kategori tersebut dinyatakan sebagai ‘tidak akses’.7 86.7 3. Rerata pemakaian individu ini kemudian dikelompokkan menjadi ‘<5 liter/orang/hari’.7 89.4 86.8 84. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan 85.9 89. ’50-99.1 87. Berdasarkan tingkat pelayanan.8 86. dan perumahan.8 88.9 85. ‘akses menengah’.175 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.6 90.9 liter/orang/hari’ dan ‘≥100 liter/orang/hari’.5 87.1 86.9 85.1 84. Dengan demikian dalam penyajian beberapa tabel kesehatan lingkungan merupakan gabungan data Riskesdas dan Kor Susenas. pembuangan sampah.4 84.1 86. dan ‘akses optimal’.6 86.5 87.0 84.6 85.9 Kesehatan Lingkungan Data kesehatan lingkungan diambil dari dua sumber data.7 84.7 86.8 88.0 86. Data yang dikumpulkan dalam survei ini meliputi data air bersih keperluan rumah tangga.7 86. ‘akses dasar’.0 90. sarana pembuangan air limbah (SPAL).6 84. sarana pembuangan kotoran manusia.1 Air Keperluan Rumah Tangga Menurut WHO.3 86. jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan risiko kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan higiene.3 90. ‘5-19.9 85.5 89.9 liter/orang/hari’. 3. ’20-49.7 85.4 86.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 86.1 85.9. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa rerata jumlah pemakaian air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga dalam sehari semalam. yaitu Riskesdas 2007 dan Kor Susenas 2007.9 86.9 87.1 87.

4 13.7 19.9 27.0 11.8 26.6 1.5 17.1 9.5 3.2 21.7 28.1 15.2 27.6 27.6 0.6 17.7 31.4 32.9 31.8 ≥100 32.3 16.8 0.6 11.1 26.0 0.8 34.176 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi.7 42.3 31.7 32.1 28.0 7.0 22.7 2.3 0.7 1.6 50.2 19.4 0.0 23.6 11.0 23. Riskesdas 2007 Rerata pemakaian air bersih Provinsi <5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.9 31.0 9.8 43.4 2.8 26.6 1.4 37.5 17.1 43.3 21.0 40.Tabel 3.2 2.9 25.5 41.3 30.5 42.6 21.1 12.2 9.1 10.2 14.2 1.6 32.6 42.1 55.9 15.2 Indonesia 5.2 6.9 25.4 33.1 41.3 11.9 21.7 22.5 17.7 10.9 20-49.7 8.2 4.4 30.4 4.3 2.7 24.4 0.0 8.2 30.176 menunjukkan secara nasional.3 0.6 1.6 13.1 8.6 6.6 20.7 17. Sebesar 245 .3 0.9 23.9 8.5 36. terdapat 16.5 23.4% tidak akses dan 10.1 47.2 6.7 13.8 9.6 10.5 36.2 13.1 0.2 7.4 32.0 5.1 41.6 16.2 17.0 4.8% akses kurang).3 1.6 23.2 41.3 31.9 19.0 30.2 44.8 26.9 31.0 per orang per hari (dalam liter) 5-19.6 34.7 28.3 0.1 17.9 63.7 11.4 19.5 27.0 22.9 15.6 29.7 32.1 4.9 0.6 35.6 0.9 20.2% rumah tangga yang pemakaian air bersihnya masih rendah (5.0 24.5 14.3 0.5 33.7 24.6 36.5 29.0 3.7 8.2 24.5 22.0 21.1 29.1 12.5 6.7 40.5 4.4 29.2 13.4 10.3 28.0 50-99.9 13.7 39. berarti mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan/penyakit.9 7.2 31.7 37.9 14.6 Tabel 3.8 10.6 21.5 31.

NTT. Kepulauan Riau. Dilihat dari karakteristik rumah tangga (Tabel 3.0 31.6 11. maka secara nasional akses terhadap air bersih menurut jumlah pemakaian air per orang per hari adalah 83.9 ≥100 Tingkat pengeluaran Rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 6.0 23. dan bagaimana kemudahan dalam memperoleh air bersih.0 29.3 26.6 12. Bila mengacu pada kriteria Joint Monitoring Program WHO-Unicef. Riskesdas 2007 Karakteristik tangga <5 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 3.8%. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi akses terhadap air bersih optimal.26.5 7.6% akses optimal. rerata pemakaian air bersih per orang per hari menunjukkan perbedaan. dan Jambi.6 10.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga. atau mengalami penurunan dibandingkan data tahun 2004 sebesar 88. di mana batasan minimal akses untuk konsumsi air bersih adalah 20 liter/orang/hari.9 25.5 25. Papua. Sulawesi Tenggara.178 246 . Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau sumber air bersih pulang pergi.2%) berturutturut adalah Gorontalo.2 Proporsi rumah tangga yang aksesnya rendah terhadap air bersih lebih tinggi di perdesaan (19.2 5. Hasil tersaji pada Tabel 3. NAD.8 6. Tabel 3.3 26.2 13.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (11. Provinsi-provinsi yang akses terhadap air bersih masih rendah (di atas 16. dan NTB.3 4.0 33. Banten.4 26. serta persepsi tentang ketersediaan sumber air.8 25. DI Yogyakarta. Maluku.%). Sedangkan provinsi yang proporsi akses air bersih optimalnya tinggi adalah DKI Jakarta.9 10.6 39. dan 31.3 29. 25.0 25.6 28.177).9 4.6 38. berapa jarak antara rumah dengan sumber air. Sulawesi Utara.9 50-99. baik menurut tipe daerah maupun menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Di samping jumlah pemakaian air bersih untuk keperluan rumah tangga.9 26.4 25.8 5.7%.1 26.1 8. Jawa Barat.5 24.9 20-49.9% rumah tangga mempunyai akses dasar (minimal). Riau. Sulawesi Barat. Sumatera Barat.3% akses menengah.6 29.0 23. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. ditanyakan juga tentang jarak dan waktu tempuh ke sumber air.7 rumah Rerata pemakaian air bersih per orang per hari (dalam liter) 5-19.

4 7.2 94.3 4.4 73. tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (14.8 18.8 89.2 1.6 29.8 0.7 93.0 71.3 Ketersediaaan Sulit pada musim kemarau 21.7 95.6 0.2 1.2 3.6 28.9 96.4 1.6 94.9 1.6 6.4 5.8 1.2 0.2 3.6 95.4 0.4 1.4 4.5 93.4 92.0 89.2 2.5 74.4 6.8 1.1 4.5 85.7 93.4 8.6 97.6 99.8 98.2 10.6 93.8 14.4 2.9 4.4 10.2 4.4 14.3 2.0 1.3 2.8 97.5 94.6 94.3 44.5 97.0 1.8 25.8 67.4 90.1% rumah tangga memerlukan rerata waktu tempuh ke sumber air lebih dari 30 menit.7 11.1 4.0 10.8 5.4 48.3 40.5 15.6 92.5 70.6 30.7 84.178 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.1 82.9 39.3 89.1 99.5 96.7 5.9 5.7 72.9%).0 10.9 0.0 94.6 2.4 0.1 1.2 85.4 97.8 26.3 0.7 97.9 25.1 16.4 59.5 95.8 35.6 7.6 83.9 85.0 19.3 66.2 0.8 59.4 2.9 24.7 97.4 5.0 14.0 32.0 13.1 2.8 26.2 10.4 53.7 99.6 16.6 Sulit sepanjang tahun 1.5 5.5 2.4 64.4 0.1 72.8 98.5 87.2 Tabel di atas menunjukkan secara nasional sebanyak 3.3 1.1 14.9 98.3 97.2 12.2 7.3 12.8 1.3 1.0 89.9 99.5 69.0 9.5 72.4 31.5 98. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Provinsi Waktu (mnt) Jarak (km) Mudah sepan>30 jang tahun NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.7 2.8 97.9 83.2 98.8 98.3 20.2 68.7 11.7 85.8 95.3 1.6 10. disusul oleh NTT 247 .7 0.1 95.2 81.8 94.4 42.6 87.2 1.5 4.5 26.9 32.9 78.4 97.6 79.3 95.3 96.2 97.7 1.1 3.4 5.3 6.1 2.0 25.Tabel 3.5 3.8 70. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi.3 2.6 0.8 38.7 97. Terdapat 16 provinsi dengan persentase di atas 3.0 30.6 9.7 0.4 77.4 3.7 3.0 90.9 0.5 0.3 2.5 1.8 68.7 98.0 5.6 85.6 29.3 66.8 6.6 98.9 95.2 5.7 68.6 97.1%.2 2.4 89.5 6.8 87.9 0.3 2.1 ≤30 >1 ≤1 Indonesia 3.8 0.5 94.6 94.3 6.1 96.6 96.9 57.7 1.4 1.5 0.6 92.6 2.7 50.6 99.8 2.3 88.8 89.2 93.8 97.3 0.6 2.3 0.5 52.8 96.

8%.0 93.2 26.9 97.9 1. ada kecenderungan proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang waktu mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.3%) dan NTT (4.0 78.8 95. ada kecenderungan proporsi waktu tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.4 28.5 24.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Provinsi dengan proporsi jarak ke sumber air lebih dari satu kilometer terbesar adalah Provinsi Riau (18. Dilihat dari jarak.8% rumah tangga yang air bersihnya tersedia sepanjang waktu.6 6.8 ≤30 >1 ≤1 jang tahun Tipe daerah Perkotaan 2.5 6.9%) merupakan dua provinsi yang paling tinggi proporsi rumah tangga dengan ketersediaan air bersih sulit sepanjang tahun.4%).1 5.8 31.8%). Akses air bersih menurut waktu. (Tabel 3.9 Kuintil-3 3.4 72.8 68.5% rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer.0 97.5 96.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (66.4 Kuintil-4 2. disusul oleh Kepulauan Riau (16.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (4.2 Kuintil-2 3. dan Riau (10.7 1.179 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.3 75. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.(10.6 97.2 Kuintil-5 2.7 Proporsi rumah tangga yang waktu tempuh ke sumber airnya lebih dari 30 menit lebih tinggi di perdesaan (3.8 94. secara nasional terdapat 72.6 94.7 30. secara nasional terdapat 5. Begitu pula proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang tahun lebih tinggi di perkotaan (82. Terdapat 18 provinsi dengan proporsi ketersediaan air bersih sepanjang tahun lebih kecil dari 72.5%).179) Tabel 3.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (2. jarak dan ketersediaan air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 5.4 1. Kepulauan Riau (6.4 96.4 97.0 20. Dilihat dari ketersediaan air bersih dalam satu tahun.5%).1 94.4 4.1 96. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 70. ada kecenderungan proporsi jarak tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.7%).4 82.6 4.0%).3%) dan Sulawesi Tenggara (14. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Karakteristik rumah Waktu (mnt) tangga >30 Jarak (km) Mudah sepanSulit pada musim kemarau 16.4%).2 1. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.4 1. 248 .5 93.4 66. Proporsi rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer lebih tinggi di perdesaan (6.4 Ketersediaaan Sulit sepanjang tahun 0.1 0.0 Perdesaan 3.6 96.0 5.

2 49.1 49.5 23.8 48.9 61. Aspek gender dalam pengambilan air bersih dapat dilihat pada Tabel 3.5 5.8 55.4 2.3 38.4 60.8 3.4 50.7 29.4 3.1 2.9 4.0 2.5 59.Tabel 3.0 4.1 1.5 7.8 60.4 2.5 1.6 4.0 64.3 2.2 1.2 4.7 65.0 4.9 28.3 72.4 5. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Dewasa Anak-anak (<12 thn) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 65.7 0.7 2.8 52.6 41.0 2.4 6.1 48.0 23.7 41.2 36.5 48.3 2.0 5.0 1.3 40.7 3.6 2.9 27.1 6.7 46.7 49.1 51.5 2.6 77.3 3.6 7.9 41.8 29.7 44.7 3.7 34.9 43.4 25.6 51.6 1.5 46.5 44.7 53.4 4.9 33.6 72.7 4.9 1.4 23.1 2.4 7.9 1.2 0. ditanyakan siapa yang biasanya mengambil air dalam rumah tangga tersebut.8 5.6 38.180 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.4 0.0 54.0 2.2 54.2 2.6 3.4 2.8 7.6 3.180 249 .3 1.4 1.2 57.8 1.1 1.3 54.1 6.9 46.7 55.5 2. sebagai upaya untuk melihat aspek gender dan perlindungan anak.3 42.2 67.0 5.0 63.4 51.9 19.2 43.4 1.9 2.3 48.4 Indonesia 49.7 34.2 3.9 2.7 4.7 0.4 38.3 2.9 48.3 3.3 52.8 4.9 32.7 44.4 47.3 47.0 2.5 47.0 Dalam rangka memperoleh air untuk keperluan rumah tangga bila sumbernya berada di luar pekarangan.9 16.1 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 5.4 10.5 1.

secara nasional terdapat 7.Tabel di atas menunjukkan.1 3.5 49.5 50.6 42.2 43. NTT.3 3.6 49.8 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tkt pengeluaran rumah tangga per kapita Tenaga perempuan dan anak-anak yang mengambil air di rumah tangga lebih tinggi di perdesaan (51. rasa. Kategori kualitas fisik air minum baik bila air tersebut tidak keruh.2% rumah tangga yang anakanaknya mempunyai beban untuk mengambil air keperluan rumah tangga (3.0%. terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah (58. bau. tidak berwarna dan tidak berbusa.1%). meliputi kekeruhan. Tabel 3.4 44.2% wanita dan 4. tidak berbau. Provinsi-provinsi di mana anak-anak ikut berperan dalam pengambilan air untuk kebutuhan rumah tangga adalah Papua. Tabel 3.0% anak laki-laki).1% dan 6.4 49.9 2. (tabel 3. NAD.8 41.2 50.0 47.6%). Sedangkan provinsi-provinsi yang pengambilan airnya banyak dilakukan kaum perempuan adalah di Provinsi NTB. Data kualitas fisik air untuk keperluan minum rumah tangga dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan. Kepulauan Riau dan Sumatera Utara. Proporsi individu yang mengambil air bersih di rumah tangga menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. warna dan busa.0 4.8 3. Sulawesi Selatan dan NAD.181 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.182 menunjukkan secara nasional. tidak berasa. NTT.7 2.181).6 3.2 2. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin rendah proporsi perempuan dan anak-anak yang bertugas mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga. Riskesdas 2007 Perempuan Karakteristik rumah tangga Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 44. 250 .4%) dibandingkan dengan di perkotaan (44.3 41.1 51.3 4. proporsi rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar 86. Maluku. Sumatera Barat.2 3. Ada 15 provinsi yang proporsi kualitas fisik air minumnya baik di bawah rerata nasional.2% dan 7. Persentase perempuan yang bertanggung jawab dalam pengambilan air di rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.9 4. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 46.4 3.1 3.8 3.

5 2.7 4.7 4.3 7.4 3.5 75.9 88.9 6.5 6.3 2.3 90.4 3.0 7.3 0.8 2.5 0.7 9.7 0.7 1.2 10.3 10.7 1.8 3.9 1.8 3.6 Baik*) 75.7 0. Riskesdas 2007 Kualitas fisik air minum Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keruh 17.8 1.9 3.6 8.5 7.9 4.3%).6 2.2 5.3 Berasa 7.6 6.4 10.8 2.6 5.2 10. tidak berwarna.5 2.4 79.2 3.3 2.9 1.6 9.1 5.7 1.4 1.7 0.9 3.0 92.1 4.0 4.2 6.0 * baik = tidak keruh.7 0.5 80.6 1.182 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.9 6.5 8.2 5.3 3.6 2.5 90.4 0.1 84.8 0.183).8 0.2 95.4 90.9 3.0 9.3 3.9 3.1 0.4 Berwarna 12.0 1.8 7.2 11.2 81.5 9.8 3.9 3.4 1.5 15.5 0.6 2.3 11.0 11.4 15.4 1.6 0.0 6.6 0.7 1.9 1.6 2.1 86. tidak berbusa dan tidak berbau Proporsi kualitas fisik air minum rumah tangga yang baik bervariasi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 4.6 7.7 3.2 84. terutama dalam hal kekeruhan dan warna.9 1.7 6.0 1.9 4.4 22.5 26.3 2.0 3.4 2.0 5.5 1.3 6.4 7.7 0.7 92.5 58. tidak berasa.6 4.2 9.6 6.5 18.4 15.6 71.8 4.7 1.8 5.6 1.7 12.5 0.4 3.0 0.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (84.0 3.8 87.0 91.1 7.5 95.0 1.9 82.4 3.7 6. 251 .9 6.1 8.2 9.9 89.2 Berbusa 1.0 3.8 4. proporsi rumah tangga dengan kualitas fisik air minum baik di perkotaan sedikit lebih tinggi (88.1 4.4 2.3 88.0 3.8 93.1 2.5 1.3 88.8 Indonesia 9.8 1.2 6.6 79.6 1.3 9.8 1.2 90.0 80.3 0.9 13.4 0.7 7.1 6. Secara umum.0 3.7 5.3 84.5 84.8 6.3 1.8 15.0 6.8 4.8 82.1 2.8 3.6 89.6 5.9 11.9 1.5 10.5 34.8 1.2 17.4 87.2 5.4 3.1 Berbau 4.2 9.7 86.8 2.9 1.9 6.6 6.5 9.Tabel 3.1 3.1 1. (Tabel 3.

tidak berbusa dan tidak berbau Data jenis sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga diambil dari data Kor Susenas 2007.0 85. Tabel 3.9 10. Jambi.5%). penggunaan air kemasan di rumah tangga mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat. yaitu dari 2.0%.6% menjadi 6.0 1.3 6.6 84.7 3. Bila dibandingkan data Susenas 2004.1 1.0%. Provinsi yang banyak menggunakan air hujan sebagai sumber air minum antara lain Kalimantan Barat.4%.5 1.0 0. Provinsi-provinsi yang proporsi penggunaan air kemasannya tinggi antara lain Kepulauan Riau.1 7. dan DI Yogyakarta.9 88. Pada tabel 3.9 4.183 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.8%). tidak berwarna.8 6. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 6.2 5.6 11.2 1.0 1.1 3.9 86. DKI Jakarta. Provinsi-provinsi yang cakupan air perpipaannya di atas rerata nasional antara lain Kalimantan Selatan.1 5. air sungai 3.4 4.7 8.7 4.184 Secara nasional masih banyak rumah tangga yang menggunakan air minum dari sumber tidak terlindung (sumur tidak terlindung 12.0 2.5 6. DKI Jakarta.4 5.3 1. Papua.5 3. Banten.3 8. Sementara yang menggunakan air perpipaan/ledeng tidak mengalami peningkatan/tetap (masing-masing 17.9 4. Bali. tidak berasa.1 * baik = tidak keruh.8 85. dan Papua Barat. mata air tidak terlindung 5.0 3.6 5. dan Papua Barat. Riau. 252 .7 88.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 10.5 Kualitas fisik air minum Keruh Berbau Berwarna Berasa Berbusa Baik*) 3.8% dan lainnya 0.Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang kualitas fisik air minumnya baik.3 83.1 9.3 3.2 7.6 7.

7 5.9 14.2 8.7 11.4 4.0 3.0 3.7 0.9 0.6 40.8 9.7 13.2 7.1 7.0 0.1 24.5 0.1 1.5 5.9 1.6 20.8 15.4 3.2 14.5 0.4 3.9 0.8 0.0 3.3 23.0 11.9 8.3 3.8 2.6 16.2 14.9 5.2 1.2 2.0 0.2 1.7 10.4 57.3 1.4 7.7 5.9 0.2 15.2 1.2 6.3 8.8 3.6 15.6 18.1 2.7 7.1 49.5 10.9 29.1 25.9 22.0 21.0 28.9 2.0 2.2 15.5 0.8 6.7 14.0 9.1 42.0 8.7 14.9 7.8 2.9 12.0 0.1 2.5 7.8 21.2 5.9 18.5 12.8 4.0 Indonesia 6.1 2.4 10.3 7.4 17.3 0.0 14.2 2.8 33.0 1.7 0.2 2.0 1.1 Ledeng Pompa Sumur 0.8 17.0 2.7 0.4 5.6 0.3 1.3 13.6 47.9 0.0 0.8 7.5 0.6 14.8 9.0 0.7 21.6 25.5 0.6 7.5 0.7 0.6 11.2 0.6 10.9 1.2 20.0 3.Tabel 3.2 3.184 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.2 20.0 0.8 6.7 4.8 13.4 8.5 13.4 0.1 15.3 5.1 43.7 0.2 5.4 0.3 3.6 2.8 3.9 12.8 11.9 11.9 23.8 6.2 0.0 7.1 2.3 1.4 6. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk Terlindung Provinsi Ledeng eceran Air kemasan Air sungai terlindung Mata air terlindung Air hujan 1.5 1.8 1.4 4.5 0.7 1.2 0.7 2.9 11.2 8.8 19.7 19.9 10.3 9.4 9.1 2.7 3.6 46.6 0.6 4.0 43.6 0.0 3.1 28.3 0.9 3.7 0.4 10.0 4.2 4.9 7.2 0.9 3.0 5.3 1.9 4.2 1.0 8.4 5.1 11.5 15.2 35.9 19.3 1.4 13.9 1.1 8.6 1.7 29.8 0.3 6.1 1.2 0.8 253 Lainnya 0.1 0.7 4.6 6.4 6.7 1.1 41.7 1.1 8.2 34.5 21.6 34.0 9.1 18.4 0.0 3.1 30.9 0.8 9.0 0.0 3.1 13.6 19.9 1.1 7.9 0.8 meteran NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.3 0.7 34.9 22.7 3.1 8.4 0.2 2.4 13.2 0.8 11.6 5.0 5.1 0.9 12.4 11.4 .2 36.1 21.5 0.5 3.3 0.3 10.7 1.5 4.3 4.6 11.2 2.8 8.2 9.2 26.2 2.3 3.9 2.0 13.9 28.6 11.7 0.3 1.3 6.6 11.8 10.9 5.2 8.7 0.5 7.4 13.5 10.9 34.4 0.1 0.9 18.0 3.9 10.4 3.6 5.5 5.4 7.3 5.2 2.6 7.5 0.1 0.3 41.1 17.3 2.6 3.8 11.4 10.0 1.2 2.5 5.1 7.9 0.1 0.5 11.0 1.7 7.4 2.8 13.3 3.9 16.6 6.7 12.3 1.7 14.9 22.7 1.9 3.4 7.3 1.2 24.9 15.4 34.7 7.3 1.5 55.7 25.6 1.4 1.5 21.6 0.3 5.3 1.1 5.0 0.1 0.4 1.9 3.3 1.5 29.8 28.4 11.6 0.3 0.8 14.5 5.6 5.5 3.1 10.7 27.6 7.1 4.2 2.2 10.6 1.2 0.3 33.8 3.9 1.4 0.4 2.5 11.4 29.6 2.6 3.1 0.5 .0 1.7 9.2 5.9 0.4 4.

0 7.9 25.9 2.9 6.1 8.3 10.7 7.5 2.3 12. NAD. Tempat penampungan air di rumah tangga sebagian besar menggunakan wadah tertutup (69.185) Tabel 3.4 0. Bila melihat sebarannya. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Karakteristik rumah tangga Ledeng meteran Ledeng eceran Air kemasan Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk terlindung terlindung terlindung Air sungai Air hujan 2.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.2%).1 4.1 16.8 5. Di daerah perdesaan sumber air minum yang menonjol digunakan dibandingkan di perkotaan adalah jenis sumur (terlindung dan tidak terlindung).0%) dan tidak menggunakan penampungan (18.4 0. Tabel 3.6 0.7 10.8 11.9 5.4 4.7 3. (Tabel 3.3 13.0 28.1 16.9 13.0 31.2 21.0 5.1 12.8 5.4 27.5 0.Sebaran proporsi penggunaan jenis sumber air minum bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sumatera Barat.8 11. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan air kemasan.9 3.7 7. dan Sumatera Utara.8 5.2 3.3 2. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak terlindung.3 10.0 6. ledeng eceran.1 5.9 4.4 Penggunaan air kemasan.2 14.7 30.2 3.3 1.2 17.5 3.9 8.3 4.1 24.9 6.8 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13. dan sumur bor lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. ledeng eceran.185 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.9 7.4 16.8%.7 7. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga. air sungai dan air hujan.7 0.2 30. sedangkan yang menggunakan wadah terbuka sebesar 12.6 0.1 14. dan sumur pompa.1 14.186 menggambarkan jenis tempat penampungan air untuk keperluan minum yang digunakan rumah tangga dan jenis pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum air tersebut dikonsumsi.0 5.2 4. 254 Mata air Pompa Sumur Lainnya . Papua Barat.6 9.5 0.1 3. ledeng meteran.2 2.5 7.8 4. mata air.3 4.8 12. provinsi-provinsi dengan proporsi penampungan air terbuka tinggi antara lain Papua.5 29.9 0.6 4.1 3.0 0.

6 9.9 40.1 0.5 9.9 2.7 5.1 70.2 8.0 77.8 60.5 13.1 0.3 7.8 12.2 96.8 0.4 17.3 92.4 26.8 79.3 7.5 4.6 21.8 12.6 17.3 69.1 3.7 4.2 3.0 7.3 86.6 62.6 48.3 12.2 28.6 33.1 96.7 1.9 0.4 0.7 5.0 80.3 0.0 18.5 0.3 4.4 1.0 5.0 1.5 10.8 19.7 0.1 76.6 14.8 7. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak 89.1 72.0 31.4 2.1 8.4 0.6 70.4 93.2 4.Tabel 3.8 81.7 76.1 97.4 1.1 7.0 16.8 7.6 0.0 94.7 wadah diminum 37.5 89.7 26.6 5.5 1.5 2.7 96.6 79.6 55.4 10.7 7.3 5.8 95.7 81.8 84.1 97.9 14.1 0.8 86.8 81.2 23.7 Lain nya 4.1 2.9 94.0 75.3 1.1 69.1 24.0 78.5 95.1 91.4 5.3 7.8 10.3 15.7 6.3 2.8 69.2 8.1 14.2 3.0 22.6 88.2 10.5 0.1 17.0 10.9 30.0 12.2 255 .6 4.7 67.4 13.6 6.9 4.6 27.4 56.1 2.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 21.0 78.3 5.2 0.7 94.6 7.3 94.7 14.9 1.6 16.3 97.0 5.7 12.9 34.5 5.3 5.7 54.2 1.3 8.3 7.4 70.4 8.0 5.3 5.4 4.3 8.7 0.5 18.7 1.6 15.9 7.3 72.9 11.7 94.4 5.2 2.4 1.8 0.8 23.0 Tempat penampungan Provinsi Tdk ada Wadah terbuka Wadah tertutup 41.2 1.4 8.4 14.2 3.1 3.7 12.1 17.6 84.2 16.0 41.0 12.3 21.9 10.7 4.1 10.8 0.1 9.8 6.9 Bahan kimia 0.7 0.4 37.6 54.0 4.1 12.1 5.3 12.6 98.1 9.8 0.1 25.5 1.7 93.0 4.3 12.2 11.3 11.9 7.2 11.9 5.5 4.1 0.1 9.7 5.8 1.6 31.7 95.3 9.4 2.1 3.6 0.8 12.1 26.1 56.0 5.3 2.1 14.7 0.8 0.5 0.9 2.2 5.4 3.6 64.4 93.5 62.3 11.6 7.5 9.7 84.8 96.0 30.3 72.1 2.2 5.6 6.3 6.0 6.8 7.0 8.1 92.3 9.2 0.5 6.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Provinsi.0 2.8 93.3 5.4 90.4 96.0 92.9 2.6 24.9 45.8 11.5 14.5 Disaring 12.5 20.4 Indonesia 12.4 5.5 1.7 4.6 2.7 0.

sumur bor/pompa.0 91. (Tabel 3. dan sarana sumber air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah.9 7.4 12.3% yang melakukan pengolahan dengan cara penyaringan dan 2. 256 . Tabel 3.8 3.9 68.9 68. dan Kalimantan Timur. Dalam hal pengolahan air sebelum dikonsumsi.9 13.2 92. Data konsumsi air dan jarak ke sumber air berasal dari Riskesdas 2007.9 1.1 1.5 88.9 7. Provinsi dengan proporsi penyaringan tinggi adalah NTT.9 4.1 69. sedangkan yang tidak menggunakan penampungan lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 12.9 20.7 Proporsi yang menggunakan wadah terbuka lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.8 7. Sarana sumber air yang improved menurut WHO/Unicef adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng.5 7.1 2.0% dengan membubuhkan bahan kimia.1 12. Kalimantan Selatan.8 12.5 69.2 2.4 2.0 69. sedangkan yang langsung diminum (tanpa pengolahan) lebih tinggi di perkotaan.2 10.187).8 7.3 9. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin kecil proporsi yang menggunakan wadah terbuka.3 13. tetapi semakin meningkat yang tidak menggunakan tempat penampungan air.3 92.7 17.4 12.1 14. Maluku dan Jawa Timur.1 12. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.6 18.1 1.3 3. sumur terlindung. sarana sumber air yang digunakan improved. mata air terlindung.6 12.7 2. tampak cara memasak dan disaring sedikit lebih tinggi di perdesaan.2 15. dan air hujan. selain dari itu dikategorikan not improved.4 16.4 89. sedangkan data jenis sarana air minum berasal dari Kor Susenas 2007.9 92.4 17. akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari. sedangkan provinsi dengan proporsi pembubuhan bahan kimia tinggi adalah Kalimantan Tengah.3%).3 2.Secara nasional pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum digunakan sebagian besar dengan cara dimasak (91.8 92.6 6. Proporsi penggunaan tempat penampungan air dan pengolahan air sebelum dikonsumsi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 10.7 15.9 8.6 68.9 2. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Terdapat 12.187 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Tangga.2 7.0 69.8 wadah diminum 22. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak Disaring Bahan kimia Lain nya Karakteristik rumah tangga Tempat penampungan Tdk ada Wadah Wadah terbuka tertutup Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 9.

3%) dan Kepulauan Riau (31.1 26.7 39.8 37.5 77. 2007).3 61.Tabel 3.5 53.7%).5 46.8 37.2 65.2 68.3 Baik*) 48. 257 .9 63.3 48.8 33.5 22.1 60.7 51.4%).1 36.4 49.8 35.0 61.6 68.4 62.188 menunjukkan secara nasional terdapat 57.188 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi.6 59.9 39.6 37.0 31.0 38.8 55.2 44.7% yang mempunyai akses baik terhadap air bersih.3 51.5 46.4 31.7 *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.5 53.0 68.9 64.9 25. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.2 62.1 35.7 46.1 74.5 63. terendah Papua (26.9 56. 2007).5 36.7 38.7 48. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 51.8 55.2 62.3 61.6 37.3 57.1 23.2 67.7 38.8 31.6 50. Provinsi dengan proporsi akses baik terhadap air bersih di bawah rerata nasional sebanyak 18 provinsi.7 Indonesia 42.8 34.9 73. disusul oleh Riau (31.1 43. 2007) Berdasarkan kriteria tersebut. dari sumber terlindung (Susenas. tabel 3.4 40.3 53.2 65.2 44.4 62.9 76.3 60.

4 60. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 32.5 53.9.1 48. 2007) Tabel di atas menunjukkan di perkotaan akses baik terhadap air bersih lebih tinggi (67. 3. Data ini diambil dari data rumah tangga Kor Susenas 2007.0 56.6 58. semakin tinggi tingkat pengeluaran cenderung semakin besar proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih.3 Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 47.9 51. Tabel 3.3%). dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.6 39. 2007).5 CATATAN : *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.3 61.0 43.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (51. 258 .189 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga.7 67.Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 41.7 38. dari sumber terlindung (Susenas.2 Fasilitas Buang Air Besar Data fasilitas buang air besar meliputi penggunaan atau pemilikan fasilitas buang air besar dan jenis jamban yang digunakan. 2007).

9%.4 42.4 1.2 47.8 Tabel 3.1 7.5 16.2 7.4 57.4 20.1 19.0 13.1 53.0 46.1 25.3 2.0 12.2 9.8 59.7 31.7 13.6 60.8 6.1 18.1 59.2 42.7 65.7 77.0 42.1 11.8 57.5 36.3 12.6 11.6 14.7 8.4 25.2 19.8 72.6%) dan Maluku Utara (36.1 5.7 1.1 18.4%).4 8.6 61.8 20. Beberapa provinsi dengan proporsi penggunaan jamban sendiri rendah antara lain Gorontalo (31.1 28.9 23.1 45.8 58.2 8.8 2.0 0.7 4.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 58.5 0.7 16.3 76. 259 .8 43.5 8.3 47.5 16.5% (tahun 2004 sebesar 60.190 menunjukkan rumah tangga yang menggunakan/memiliki jamban sendiri sebesar 58.4 64.4 57.2 71. Susenas 2007 Jenis penggunaan Provinsi Sendiri 51.1 4.3 8.4 58.4 8.9 36.9 51.7 12.2 25.4 9.8 7.8 12.5 64.1 4.8 15.1 12.2 24.3 65.0 14.6 2.5 9.7 3.4 31.2 Tidak ada 32.9 25.8 63.8 27.5 36.6 8.1 6.8 2.3 9.5 32.9 11.1 60. dibandingkan dengan hasil Susenas 2004 mengalami penurunan sebesar 1.6 Umum 8.7 1.5 13.8 49.0 2.4 4.2 23.6 7.5 3.0 7.3 6.4 31.9 Bersama 8.190 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.9 27.0 20.6 3.0 .1 1.Tabel 3.0 7.9 12.5 35.9 38.8 32.3 1.1 79.2 26.2 3.0 4. NTB (35.1 9.4 3.8%).2 49.9 16.3 59.0 1.0%).2 6.0 32.2 17.0 5.1 12.

6 12.3%.9 14. dan DI Yogyakarta (83. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak pakai jamban tinggi antara lain Kalimantan Tengah (14.2 49. Susenas 2007 Jenis penggunaan Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 73.1%). Kalimantan Selatan (13. Maluku Utara (84.3%).6 52. Provinsi dengan cakupan penggunaan jamban saniter tinggi antara lain Bali (95.191) Tabel 3.6 Persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di perkotaan lebih tinggi (73.0 13.2%).2 3.8 11.7%). DKI Jakarta (86. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi yang menggunakan jamban sendiri.9 4. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.2 19. Banten (87. (Tabel 3.2 4.2 11.9%).4%) dan Papua (11.2%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. Gorontalo (87.2%).191 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.2 34.5 Sendiri Bersama Umum Tidak ada Tingkat pengeluaran rumah tanggaper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 43.3%).Cakupan penggunaan jamban sendiri menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.192 menggambarkan berbagai jenis sarana pembuangan kotoran.7%).8 11. Dibandingkan dengan data tahun 2004 sebesar 49.8 9.3 58.9%.0 75.8%).1 30.5 65.0 6.3 10.5 2. Sulawesi Utara (85.0 12.1 25. Jenis sarana pembuangan kotoran dianggap ‘saniter’ bila menggunakan jenis leher angsa.7 3.2%). Secara nasional rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebesar 68. penggunaan jamban saniter ini mengalami peningkatan yang signifikan. 260 .4 37.3 4.

8 6.0 68.1 9.4 4.8 12.6 4.5 6.0 18.5 70.0 30.2 86.4 0.0 7.0 1.0 6.6 21.6 1.8 5.8 69.7 0.8 68.6 67.3 5.6 13.7 0.2 5.7 3.2 7.2 13.2 9.9 2.3 16.4 14.5 5.2 83.2 25.0 8.4 10.3 7.9 17.6 9.8 4.1 8.3 67.3 1.9 76.8 11.3 11.7 0.7 79.6 14.5 63.9 0.6 Tidak pakai 7.3 58.5 6.6 84.2 2.8 24.7 9.0 7.4 7.7 87.7 26.1 19.1 49.5 7.0 24.3 7.6 11.2 31.5 29.8 60.8 14.9 18.1 75.8 15.0 43.9 4.8 15.2 Cemplung/ cubluk 24.7 16.5 66.0 78.4 39.7 8.5 85.8 8.2 Indonesia 68.6 4.8 4.4 3.2 75.192 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi.4 60.2 75.5 9.1 15.4 3.7 5.6 6.8 1.3 13.8 11.6 2.2 53.8 6.9 72.5 Proporsi penggunaan tempat buang air besar bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.3 24.193) 261 .9 66.6 2.0 Plengsengan 8.Tabel 3.9 9.1 87.5 4.7 59.4 1.0 4.9 4.6 2.0 17.4 2.3 13. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Provinsi Leher angsa NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 59.9 6.7 5.8 6.0 16.5 62.8 22.7 95.3 12.9 14.1 1.4 25.7 2.5 18.

9%) dibandingkan dengan di perdesaan (56.6 2.5 13.4 10.0 7.9 9.1 Leher angsa Plengsengan Cemplung/ cubluk Tidak pakai Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Proporsi rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa lebih tinggi di perkotaan (83. terendah adalah Papua (17.8 10.4 22.7 5.0 8.2 5.3 3.5 11.6 4.5 9. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi yang menggunakan jamban jenis leher angsa. akses sanitasi disebut ‘baik’ bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa. Terdapat 18 provinsi dengan akses baik terhadap sanitasi di bawah rerata nasional. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 83.3 73.6 7.1 17.9 56.194 dapat dilihat secara nasional rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi sebesar 43.Tabel 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0%).8 26. 262 .5 27.193 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.8 1. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.0%.1%). pada tabel 3.6 82.5%) dan Maluku Utara (31. Berdasarkan kriteria tersebut.5 7.8 68.2 8. disusul oleh Papua Barat (25.5 61.0 53.9%).

Tabel 3.2 60.2 63.0 58.6 45.0 66.0 *) menggunakan jamban sendiri.2 46.6 70.5 77.2 68.0 50.3 57.1 53.1 Baik*) 33. jenis latrin (Susenas.0 41.0 70.Tabel 3.1 40.194 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Provinsi.0 74.3 55. Menurut tingkat 263 .5 82. di perkotaan lebih tinggi dua kali lipat (63.8 39.4 31.9 44.4 29.9 46.3%).0 30.4 55.3 64.0 33. 2007).0 43. Susenas 2007 Akses sanitasi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 66.9 49.7 42.6 41.5 27.8 36.5 73.9 54.0 34.0 65. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.195 menunjukkan proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.6 69.0 25.9 41.8 53.5 22.5 41.5 55.3%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.3 44.1 50.7 55.3 49.8 31.0 49.5 17.9 60.4 58.1 55.7 44.4 48.9 Indonesia 57.1 46.7 35.6 51.5 58.9 42.7 50.1 58.5 44.1 57.

Kalimantan Barat.3 50. Kalimantan Tengah. Proporsi rumah tangga dengan penggunaan tempat pembuangan akhir tinjanya jenis tangki/SPAL (saniter) bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. data diambil dari Kor Susenas 2007.196) Proporsi penggunaan sarana pembuangan akhir tinja saniter tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta (86.197) 264 .3 Akses sanitasi Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 74. 2007). Sulawesi Barat. Lampung. Untuk pembuangan akhir tinja. dan Gorontalo. kolam/sawah.7 63. Sulawesi tengah.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3%.7 69.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (30. jenis latrin (Susenas. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan tangki/SPAL. NAD.5 *) menggunakan jamban sendiri.0%) dan Bali (76.5 36. Bengkulu. Papua.9 65. Provinsi-provinsi yang proporsi pembuangan akhir tinja saniternya di bawah rerata nasional adalah NTT. proporsi rumah tangga dengan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki/SPAL (saniter) sebesar 46. Kalimantan Selatan.5%).7 49. Secara nasional.pengeluaran rumah tangga per kapita terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi. Susenas dan Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 36. (Tabel 3. Sulawesi Tenggara. Maluku. Tempat pembuangan akhir tinja dikategorikan saniter adalah bila menggunakan jenis tangki/sarana pembuangan air limbah (SPAL).5 63. sisanya dibuang ke sungai/laut.3%). NTB. Proporsi rumah tangga yang menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinja dua kali lebih tinggi di perkotaan (71.5 25.(Tabel 3. Papua Barat. dan pantai/tanah. lobang tanah. Tabel 3.1 34.6 42. Jambi.4 57.3 30. Sumatera Barat.

0 0.2 5.4 1.1 0.6 24.8 1.1 1.3 33.3 23.6 1.0 21.0 20.2 31.6 6.1 0.7 38.4 35.0 265 .6 1.8 47.1 4.3 2.2 1.9 22.6 18.4 36.8 32.2 48.4 11.5 11.2 Sungai /laut 22.1 25.1 21.1 22.7 3.1 50.7 69.7 11.2 13.6 40.7 14.0 14.0 1.1 30.4 0.3 0.5 31.7 22.2 11.0 1.6 0.4 33.3 15.0 0.8 4.7 Lainnya 3.1 5.3 1.3 34.4 5.8 61.6 1.0 1.3 1.5 1.1 7.5 2.7 31.1 12.6 21.0 53.4 0.3 16.196 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi.6 4.1 21.1 0.4 3.5 34.6 7.1 15.0 24.9 3.2 5.0 1.5 1.0 49.1 6.9 0.0 26.7 14.4 26.6 0.8 24.3 32.6 20.0 1.3 43.6 2.6 16.9 12.7 7.5 11.2 18.9 21.0 0.0 4.7 Kolam/ sawah 63.9 7.6 0.5 49.0 25.1 2.5 Lobang tanah 22.7 0.0 14.0 0.8 21.3 1.2 2.3 2.8 9.7 26.1 7.1 4.9 2.4 2.5 3.4 8.4 76.3 17.3 8.1 11.7 15.2 29.4 1.8 16.8 8.4 0.1 57.1 28.9 2.Tabel 3.9 0.2 14.8 1.2 22.4 0.2 55.9 22.7 39.9 22.2 Indonesia 46.7 1.7 6.2 6.1 1.9 86.1 42.4 54.9 15.4 42.4 30.3 14.9 46.9 3.5 1.3 41.3 3.0 25.0 2.6 0.4 18.7 22.6 35.6 2.3 55.6 1.1 2.0 0.2 4.6 0.7 Pantai/ tanah 12.4 1.7 53.2 1. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Provinsi Tangki/ SPAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 36.3 30.2 4.3 33.7 1.7 69.5 38.9 1.7 2.7 12.8 2.8 2.6 21.1 20.1 3.4 21.9 45.6 2.2 20.1 46.3 0.

2 2.7 1.9%) dibandingkan dengan di perkotaan (15.2 2.7 7.8 20.9 2. terdapat peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.9%).8 Kuintil 3 45.199) 266 .2 16.0 4.5 9. proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL hampir tiga kali lipat (42.Tabel 3.5 19. Proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.197 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin rendah proporsi rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.2 11. Di daerah perdesaan. Dibandingkan dengan data Susenas tahun 2004. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Karakteristik rumah tangga Tangki/ SPAL Kolam/ sawah Sungai /laut Lobang tanah Pantai/ tanah Lainnya Tipe daerah Perkotaan 71.6 23.7 11.1 1.0 Kuintil 5 65.8 2.2 2.3 3.9. Secara nasional.5 21.3 Kuintil 2 38.0 11.5 2.8 12.9 6.4 Kuintil 4 52.9%).8 1.9 Perdesaan 30. disusul oleh Kalimantan Selatan (75.3 Sarana pembuangan air limbah Data penggunaan saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga didapatkan dengan cara wawancara dan pengamatan.7%) dan Kalimantan Tengah (65.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 30.198) Terdapat 16 provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak memiliki SPAL lebih tinggi dari rerata nasional.8% menjadi 32. terdapat 67.1 10. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.(Tabel 3.6 3.3 16.7% rumah tangga yang menggunakan SPAL di rumahnya.5 4.5 26.6 27. tertinggi adalah NTT (77.3 23.6 1.1 22. yaitu dari 25.5% (Tabel 3.6 3.4 24.3 3.7%).2 3. baik SPAL jenis tertutup maupun terbuka.

7 13.7 11.8 14.9 47.1 14.4 30.6 51.7 44.3 18.1 52.5 23.3 77.9 41. Riskesdas 2007 Saluran pembuangan air limbah Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Terbuka 56.6 37.2 32.0 46.3 52.3 11.0 11.3 25.6 46.2 17.1 57.9 8.9 44.8 21.6 53.3 60.8 6.3 25.6 65.9 34.2 71.3 4.6 26.7 20.7 33.3 24.1 20.5 47.7 Tdk ada 26.9 75.7 31.5 267 .4 42.5 46.9 10.0 27.3 38.7 52.5 41.7 16.1 24.7 46.1 17.1 43.4 69.4 17.6 39.6 30.5 34.2 34.2 10.3 40.3 16.0 16.8 10.7 4.4 9.5 25.8 42.7 27.1 37.0 38.4 48.0 17.1 27.0 48.4 8.6 37.2 5.5 33.5 69.2 Indonesia 42.1 25.2 21.4 47.5 55.Tabel 3.198 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.0 50.0 27.7 12.1 43.2 48.9 43.5 22.6 25.1 Tertutup 17.0 49.7 23.

Tabel 3.8 28. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memiliki tempat sampah tertinggi adalah Gorontalo (dalam rumah) dan Kalimantan Selatan (luar rumah). terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang memiliki tempat sampah.201 menunjukkan di perkotaan proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah lebih tinggi (36.9.8 Kuintil-3 43. Tabel 3.3 35. Tabel 3.2 29.9 40.2 14.4 33. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 Kuintil-4 42.8 23.9 Perdesaan 42. baik di dalam maupun di luar rumah.5 3. 268 .6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.5% dalam rumah dan 38.4 Pembuangan sampah Data pembuangan sampah meliputi ketersediaan tempat penampungan/ pembuangan sampah di dalam dan di luar rumah.5 Kuintil-2 42.7 22.2% di luar rumah) dibandingkan dengan di perdesaan (20.200 menunjukkan secara nasional terdapat 26.6 Saluran pembuangan air limbah Tertutup Tdk ada 42. Proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 15. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Terbuka Tipe daerah Perkotaan 41.0 Kuintil-5 41.9 42.4 20.9% di luar rumah).5 17.5% rumah tangga memiliki tempat sampah di luar rumah.3% dalam rumah dan 56.199 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.1 36.6% rumah tangga yang memiliki tempat sampah di dalam rumah dan 45.

3 72.7 76.0 29.6 80.0 11.9 51.0 23.8 83.5 14.9 64.8 61.2 3.9 5.0 Indonesia 8.2 31.5 9.5 10.3 63.2 60.0 8.4 36.9 42.8 5.7 34.3 13.1 6.0 11.4 6.4 11.2 77. Riskesdas 2008 Penampungan sampah dalam Provinsi Tertutup NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5.8 24.3 7.7 19.2 15.3 48.9 69.4 3.6 65.5 37.8 22.5 7.0 65.4 23.1 73.0 55.9 31.8 4.5 65.0 27.4 18.1 28.9 17.7 26.9 53.Tabel 3.0 7.5 3.4 14.9 24.2 37.2 5.3 80.0 16.0 33.3 44.5 37.9 10.9 56.0 39.3 4.3 73.8 4.0 10.9 11.2 54.1 10.7 8.5 74.5 55.6 2.0 3.1 26.0 17.3 30.3 7.8 6.0 33.2 28.9 35.8 74.4 5.8 7.9 15.3 30.0 11.8 5.1 58.0 21.4 80.4 66.5 59.9 72.8 5.0 76.0 7.6 3.1 36.1 83.6 85.3 65.0 9.1 41.7 Tidak ada 77.2 66.3 24.1 8.5 8.5 8.4 5.1 8.8 36.6 3.2 5.5 7.6 73.0 63.9 8.5 16.4 86.5 27.7 13.1 32.2 6.5 15.2 12.4 28.8 Penampungan sampah di luar rumah rumah Terbuka 17.9 23.4 3.3 65.7 7.6 68.7 13.4 8.4 15.3 13.2 21.3 60.3 14.1 58.6 77.2 16.0 29.5 269 .5 Tertutup 9.4 34.1 Terbuka 25.0 42.9 3.6 56.0 2.5 61.4 35.3 54.5 12.5 81.7 14.1 34.4 47.1 23.3 63.9 81.6 56.2 17.2 77.1 34.0 80.8 73.0 85.7 5.1 64.6 18.9 5.8 6.5 3.1 75.200 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.8 58.1 66.5 17.1 4.7 54.2 54.1 72.8 18.5 18.0 Tidak ada 65.2 10.6 23.8 6.0 29.1 71.4 3.3 49.9 62.5 6.

2 6.7 74.7 46.5 Kuintil-2 6.0%).5 3. Proporsi rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan tingkat hunian padat bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. sedangkan data pemeliharaan ternak diambil dari Riskesdas 2007.9.201 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.1 65.9 15. disusul oleh Jawa Tengah (28.3 16. dan DKI Jakarta (37.0 Perdesaan 4.2 52.7 76.4 79.Tabel 3.1 57. Sedangkan provinsi dengan proporsi hunian padat lebih tinggi dari rerata nasional antara lain Papua (51.5% dengan tingkat hunian padat.202 menunjukkan secara nasional masih terdapat 12.3 8.0 Kuintil-5 14.0%) dibandingkan dengan di perkotaan (5.1 Karakteristik rumah tangga Penampungan sampah di luar rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 43.8 36. Riskesdas 2007 Penampungan sampah dalam rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 63. Hasil perhitungan dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat.8 15.3 3.4%) dan Papua (27.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4.7%). kepadatan hunian.3 17.5 38.9 13.8%).0 71.6 55.9 61.1 60. luas lantai rumah dan jumlah anggota rumah tangga diambil dari Kor Susenas 2007. ada kecenderungan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang lantai rumahnya tanah dan tingkat huniannya padat. Data jenis lantai.6% rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan 17.8 5. sedangkan proporsi rumah dengan kepadatan hunian tinggi tidak menunjukkan perbedaan antara di perkotaan dan perdesaan. 270 .4 7.0 Tipe daerah Perkotaan 15. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Papua Barat (40. terdapat delapan provinsi dengan proporsi jenis lantai rumah tanah lebih dari rerata nasional.8 18.5 40.0 37.9%).9 35.0 20.2 Kuintil-4 10. Tabel 3. yaitu memenuhi syarat bila ≥8m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila <8m2/kapita (padat). Tabel 3.4 40.5 Perumahan Data perumahan yang dikumpulkan dan menjadi bagian dari persyaratan rumah sehat adalah jenis lantai rumah. tertinggi NTT (44.203 memperlihatkan proporsi rumah tangga dengan jenis lantai tanah di perdesaan lebih tinggi (17.0 Kuintil-3 7.4%). Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi luas lantai rumah dalam meter persegi dengan jumlah anggota rumah tangga. dan keberadaan hewan ternak dalam rumah.0 19.7 79. Dilihat dari provinsi.1 34.5%).3 21.

4 79.3 9.2 83.7 4.7 96.2 92.3 16.2 80.4 12.6 20.6 72.7 94.3 78.5 73.1 13.4 59.3 5.7 17.3 4.4 4.9 21.3 86.8 74.6 88.2 37.8 97.4 27.1 7.0 69.4 55.7 2.0 94.9 2.3 84.2 49.6 44.7 94.7 15.3 93.1 91.3 96.5 17.6 40.7 87.4 11.9 92.0 88.9 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 79.8 91.5 96.2 71.0 Indonesia 87. Kepadatan Hunian dan Provinsi.1 78.5 6.3 97.5 26.5 20.9 8.1 78.8 72.6 22.7 81.7 21.9 21.7 90.6 3.9 89.9 23.5 271 .1 89.Tabel 3.6 89.3 82.3 17.7 95.8 28.202 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.3 18.4 19.0 11.2 8.6 80.6 63.4 3.2 2.1 82.3 4.0 30.1 97.4 36.6 95.1 10.5 3.9 89.5 93.2 27.8 62.2 25.8 7.4 88.1 10.3 12.3 11.4 10.8 16.7 88.7 13.5 79.6 96.7 6.8 19.6 11.2 84.4 96.5 80.5 19.8 9. Susenas 2007 Jenis lantai Provinsi Bukan tanah NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 86.8 51.7 82.1 79.9 84.2 6.2 90.1 66.3 5.9 10.4 78.0 Tanah < 8 m2/ kapita 20.8 15.1 15.9 33.6 82.8 93.0 5.7 83.9 20.1 76.9 17.

Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.4 10.5 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita < 8 m2/ kapita Bukan tanah Tanah Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Dalam hal pemeliharaan ternak. 12. dll). ternak besar.7 12.9 6.1 14. ternak sedang (kambing. Bila di rumah tangga memelihara ternak.205). babi.9 15.9 85. Pada Tabel 3. kerbau.6 90.3 87. ternak sedang. dll) atau binatang peliharaan seperti anjing.5 17. kucing atau kelinci.5 17.4 5.4 34. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.2 82. baik jenis unggas.6 89. ternak besar (sapi. kucing dan kelinci. 272 .3% memelihara ternak sedang.9% memelihara binatang jenis anjing. Susenas 2007 Jenis lantai Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 94.0 80.Tabel 3. kemudian ditanyakan dan diamati apakah dipelihara di dalam rumah. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8% memelihara ternak besar dan 16.2 5. domba. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10%-20% memeliharanya di dalam rumah.6 65.6 21.5 83.7% rumah tangga yang memelihara unggas.4 9. Bali dan Papua.6 82.4 78.8 17.8 94. data dikumpulkan dengan menanyakan kepada seluruh kepala rumah tangga apakah memelihara binatang jenis unggas. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin sedikit memelihara ternak. kuda. maupun binatang kucing.204 tampak secara nasional terdapat 41.1 84. 8.0 19. Provinsi-provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memelihara ternak tinggi antara lain Provinsi NTT. anjing atau kelinci.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.1 93.

8 3.1 71.4 0.6 0.3 29.9 68.5 6.3 90.5 27.9 5.6 10.7 4.2 2.5 2.8 23.6 85.8 2.1 7.2 25.9 2.9 11.9 2.0 91.7 31.8 95.3 57.8 3.0 82.9 18.5 9.1 2.2 2.7 76.3 0.3 13.6 7.1 95.1 4.4 4.3 90.3 23.1 83.6 2.5 96.4 97.7 17.4 62.3 1.6 2.1 0.4 0.9 2.8 0.6 94.0 Tdk dipelihara 86.2 4.9 88.8 25.2 4.1 83.7 3.9 13.3 91.1 12.8 29.8 54.9 Luar rmh 3.1 0.4 9.8 47.3 29.7 1.3 6.9 59.3 9.8 0.2 0.8 91.0 5.0 0.3 10.5 0.6 8.7 63.9 2.204 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.2 30.2 80.7 69.4 85.8 2.1 70.7 77.1 97.6 57.1 79.4 10.1 10.0 6.7 15.7 92.8 91.1 0.1 73.8 5.1 Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh 9.9 66.8 45.2 88.6 3.0 0.0 0.0 96.5 1.3 0.0 2.4 99.7 2.6 94.3 10.0 0.8 62.2 1.7 56.3 12.3 4.4 40.5 3.0 94.1 35.6 67.4 0.6 98.2 81.3 99.5 2.3 0.1 3.9 8.7 95.6 91.9 96.1 5.4 1.3 63.5 1.8 5.2 99.0 14.4 85.7 99.4 0.7 3.2 4.1 1.9 17.6 4.9 0.8 91.1 93.9 12.8 94.0 Luar rmh 11.0 50.1 0.1 0.4 64.8 5.9 3.9 82.7 3.9 97. Riskesdas 2007 Ternak Unggas Provinsi Dlm rmh 3.1 1.2 93.2 2.1 87.1 61.0 0.8 99.8 0.8 10.0 18.2 69.7 26.8 52.8 2.1 75.7 39.1 2.5 27.6 83.9 8.3 6.2 Tdk dipelihara 44.4 84.1 47.5 3.6 92.3 26.7 4.2 0.6 52.2 0.3 8.6 16.7 Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh 0.5 0.6 8.6 46.1 0.2 0.1 54.9 14.6 0.2 0.9 4.0 6.9 13.8 Tdk dipelihara 87.1 16.0 13.9 3.6 1.0 65.4 Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh 1.3 0.5 6.8 48.0 0.1 31.6 69.1 27.7 9.5 95.8 26.4 5.0 14.0 0.9 98.7 0.1 0.4 7.2 7.4 0.7 0.7 95.4 49.8 29.8 6.1 66.7 40.7 4.4 34.3 1.7 92.9 56.1 99.4 0.8 4.4 96.6 85.8 33.7 6.4 57.3 44.6 0.8 50.6 98.3 0.2 3.1 2.8 36.1 95.2 3.4 2.5 1.3 Luar rmh 12.0 18.4 15.0 15.9 0.8 2.Tabel 3.9 9.0 90.6 7.0 12.2 35.0 70.9 2.7 97.5 33.8 8.6 71.4 4.4 2.1 7.5 6.8 19.1 8.0 11.7 11.7 92.9 94.2 0.0 95.3 0.9 9.1 7.5 78.7 96.6 90.0 94.8 31.8 0.2 2.5 58.3 26.1 90.0 51.5 0.4 0.5 5.2 25.3 17.6 64.7 16.3 83.4 78.3 1.2 0.6 83.6 93.3 0.6 11.0 2.4 77.7 14.5 83.4 8.0 3.0 6.7 94.0 82.0 0.8 1.1 21.7 4.0 0.8 3.9 32.4 0.7 66.1 69.5 87.1 93.6 1.3 0.9 8.3 6.4 17.0 3.6 89.8 45.6 84.6 0.8 11.8 6.7 67.9 0.0 Tdk dipelihara 86.1 0.3 40.1 36.8 3.1 0.0 33.9 1.3 84.7 93.2 4.9 22.8 6.3 94.5 Luar rmh 51.5 5.3 94.5 83.3 7.2 16.7 5.1 88.2 13.7 5.9 89.3 26.3 5.3 48.4 11.9 3.0 80.8 1.3 0.5 42.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 273 .3 65.3 89.2 66.2 6.9 3.

2 4.4 36.5 90.2 79.0 0.6 1.3 47.0 89.6 92.1 11.8 0.5 2.8 89.7 7.2 6.3 1.9 67.6 87.0 94.6 13.7 83.4 89.8 8.6 82.8 7.4 7.6 7.7 6.9 59.7 39 38.1 6.8 12.6 9.5 10.8 89.8 19.2 0.7 96 82.3 9.2 54.0 84.2 0.4 97.3 7.205 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.4 56.0 6.4 92.7 10.4 45 76.2 8.7 1.2 8.0 4.1 27.5 0.8 7.3 274 .5 10.3 1.8 3.5 86 87.6 12 4.5 11.4 1.0 81. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Ternak Unggas Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 4.5 9.3 1.6 15.3 34.5 1.8 6.1 82.3 1.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.3 7.8 53.6 85.4 1.3 9.Tabel 3.

3. Tabel 3.0 16.0 Perempuan n % 144 48 27 48 89 124 213 251 316 454 8.4 17. Kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sebelum survei (terletak pada rentang waktu 1 Juli 2006-31 Januari 2008) ditindaklanjuti dengan wawancara kepada anggota keluarga almarhum/ah menggunakan kuesioner AV.6 1.0%. Pada kelompok umur muda (di bawah 15 tahun).163. yang anggota keluarganya berhasil diwawancarai secara lengkap.4 Distribusi kematian menurut umur dan jenis kelamin pada tabel 3.5 4. Proporsi kematian pada umur 45-74 tahun pada laki-laki lebih besar daripada perempuan.1 20. sedangkan pada kelompok umur 45-74 tahun di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan.206 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada umur di bawah 1 tahun adalah 9.552 kejadian kematian.2 4.8 1.6 18.7 21.5 6. 275 .6 2.3 13. sedangkan pada umur 75 tahun ke atas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.0 5.2 12. dan proporsi kematian umur 15 tahun ke atas semakin meningkat.2 7.10.014 kasus (88.552 per 1.9 3.0 4. yaitu 4. proporsi kematian pada umur 5-14 tahun terendah.2 persen).10 Mortalitas Pewawancara menanyakan kejadian kematian selama kurun waktu tiga (3) tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data.4 2.552 kasus kematian di atas.4 14.8 5.207 membandingkan proporsi kematian menurut tipe daerah.5 Total n 354 103 76 137 178 250 511 632 776 922 % 9.0 2.5 2.4 26.4 2. hanya 4. termasuk di dalamnya 75 kasus lahir mati. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1000.0 19.488 RT yang berhasil diwawancarai x 4.5 rata-rata jumlah ART).206 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin. Tabel 3.7 13. Data mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33 provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4. proporsi kematian di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan.1 Distribusi Kasus Kematian Diantara 4.7 23.196 (=258. Riskesdas 2007 Kelompok umur Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas Laki-Laki n % 210 55 49 89 89 120 298 381 460 468 9. 3.

2 Kematian Semua Umur Tabel 3. tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti dengan transisisi demografi.5 4.4 3. Proporsi gangguan maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan.8 n 354 103 76 137 178 250 511 631 776 922 Total % 9. Di lain pihak. Riskesdas 2007 Kelompok umur n Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas 104 31 23 59 84 97 252 295 327 378 Perkotaan % 6. Kondisi maternal/perinatal dalam kurun waktu tujuh (7) tahun tidak berubah dan kematian karena cedera tidak mengalami perubahan.208 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15.9 15. Penyakit menular didominasi oleh TB penyakit hati (termasuk hepatitis kronik).1 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen.4 4.1 2. Hipertensi (6. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat.9 n 250 72 53 78 94 153 259 336 449 544 Perdesaan % 11.8%) dan Cedera (6. hipertensi. sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.6 23.0 3.6 1. dan tumor ganas.3 14.3 17.8 22.1 5.7 11.7 23. proporsi penyakit menular telah menurun.207 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah.3 1.3 3.0 16.7 19. Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001. sedangkan penyakit tidak menular didominasi oleh strok. menurut empat (4) kelompok penyebab kematian.0 19. pnemonia.10. dan diare. 276 .9 19.209 menunjukkan urutan penyakit menular dan tidak menular pada semua umur. Pada tabel 3.9 3.6 5. dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen.0 2.Tabel 3.4 3. walaupun dalam enam (6) tahun terakhir penurunan hanya sedikit. Grafik 3. yang disusul oleh TB (7. Proses ini diprediksi akan berjalan terus. diabetes mellitus.4%).5%).9 1.5 6.5%).1 6.3 13.

5 6.5 0. Pola penyebab kematian semua umur.1 5.6 1.4 7. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 277 .1 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit.6 0.7 1.1 5.5 6.8 3.7 5.208.Tabel 3.3 0.0 5. Riskesdas 2007 Penyebab kematian Strok TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi Proporsi kematian (%) 15.2 .8 6.5 0.6 3.5 1. Grafik 3.1 4.3 0.7 5.8 0.

2 7. tercatat 181 kasus kematian. faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya.2 2.4 1. Poporsi terbesar disebabkan karena gangguan/kelainan pernafasan (respiratory disorders). maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil. pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.0 0. kematian bayi neonatal dini (0-6 hari) adalah sebesar 78.285) % 26. yaitu kematian bayi 0-28 hari. komplikasi ketika bersalin 278 . Proporsi lahir mati cukup tinggi yaitu 34.2 9.5 3.Tabel 3.2 Strok Penyakit Hipertensi Diabetes mellitus Tumor ganas Penyakit jantung Iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 hari Malformasi congenital Malnutrisi % Penyakit tidak menular (n=2. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari). Di lain pihak.8% ibu dari bayi perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil.10. Untuk kematian perinatal.6% (75 kematian) dari seluruh kematian perinatal.8 19. atau karena alasan lainnya.080) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/ ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia 27. Terbanyak karena sepsis (20%) (Tabel 3. Kematian bayi neonatal lanjut (7-28 hari) tercatat 39 kasus. Proporsi bayi prematur yang meninggal cukup tinggi (32. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir.209.3 Kematian Menurut Kelompok Umur a. jumlah kematian neonatal.4 13.1 14. Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal.9 1.3 9.2 6. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir marti secara berturut-turut adalah hipertensi maternal (24%). yaitu kematian bayi umur 0-6 hari (disebut juga kematian bayi neonatal dini). Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur.2).3 10. Riskesdas 2007 No Penyakit menular (n=1. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil.4 3. 96.2 10.6 3.1 1.9 12. sebesar 142 kasus kematian. Sisanya. yaitu lahir mati ditambah kematian bayi umur 0-6 hari tercatat sebesar 217 kasus kematian.0 4. Bila dibandingkan dengan seluruh kematian neonatal ini.210). seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan. Kematian Berumur 0-28 hari (Neonatal) Jumlah kematian perinatal di 33 provinsi.4%) menunjukkan bahwa penanganan bayi prematur belum memuaskan. selanjutnya urutan ke 2 dan 3 disebabkan oleh prematuritas dan sepsis (Tabel 5.5%.

Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lahir mati (n=75) Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Ketuban pecah dini Perdarahan antepartum Cedera maternal Persalinan sungsang Kehamilan ganda Infeksi intrapartum Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran Lilitan tali pusat % 23.0 21.4 2.210 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 hari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0-6 hari (n=142) Gangguan/kelainan pernafasan Prematuritas Sepsis Hipotermi Kelainan perdarahan dan kuning Postmatur Malformasi kongenitas % 35.5 3.5 Tabel 3.3 1.3 6.(partus macet) sebesar 17.8 2.6 2.6 2.1 b.7 10.7 3. Tabel 3.4 Sepsis 7-28 hari (n=39) Malformasi kongenital Pnemonia Sindrom gawat pernafasan (RDS) Prematuritas Kuning Cedera lahir Tetanus Defisiensi nitrisi Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden infant death) % 20.0 6.3 5.5 18.4 12.6 17. dan hipertensi maternal (22%) (Table 3. Sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal berumur 0-6 hari adalah ketuban pecah dini (23%).6 1.8 12.5%.6 3.211 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari.1 15.6 2.9 5.4 12.9 5.211).7 12.8 1.6 2.6 2.8 16.6 3. dan pnemonia.0 10.9 6.9 32.8 0-6 hari (n=142) Ketuban pecah dini Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Kelainan nutrisi maternal Multiple pregnancy Perdarahan antepartum Persalinan sungsang Infeksi intrapartum Lilitan tali pusat Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran % 23. Kematian Berumur 29 hari-4 tahun Kematian bayi postneonatal dan anak balita didominasi oleh penyakit menular. Untuk bayi postneonatal penyebab kematian yang juga perlu diperhatikan 279 . Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi postneonatal (29 hari-11 bulan) dan anak balita (14 tahun) untuk tiga penyakit terbesar mempunyai pola yang sama yaitu diare.5 12.

6 5.2 Campak Tenggelam TB Malaria Leukemia 5.8 6.1 2.966) % 16.1 9.8 Pnemonia Necroticans Entero Collitis (NEC) Meningitis/ensefalitis Demam berdarah dengue hidrosefalus 6 7 8 9 10 Sepsis Tetanus Malnutrisi TB Campak 4. tenggelam 5%.6 6. TB 4% (Tabel 3.5 10.7 Strok TB Perdesaan (n=1.4 9.515) % 19. Kematian Berumur 5 Tahun ke atas Proporsi penyebab kematian tiga terbesar pada kelompok umur lima (5) tahun ke atas di perkotaan adalah penyakit tidak menular yaitu: stroke. diabetes mellitus.4 23.3 6. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 29 hari-11 bulan (n=173) Diare Pnemonia Meningitis/ensefalitis Kelainan saluran pencernaan Kelainan jantung congenital dan % 31.0 5.7 8.1 8.1 6.213 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah. sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%.9 2. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit jantung iskemik Tumor ganas Penyakit hati NEC Penyakit jantung lain Penyakit saluran nafas bawah kronik Perkotaan (n=1. Di perdesaan.5 7.7 7. Tabel 3.4 5.strok dan TB menempati urutan pertama dan kedua.3 1. yaitu sebesar 16% dan 9% (Tabel 3.8 Diare 1-4 tahun (n=103) % 25.5 5.4 4.212 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.4 280 .3 6.7 4.3 5.9 3.adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%).213).8 9.9 c.9 2.3 Hipertensi Penyakit kronik Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik NEC Penyakit jantung lain Diabetes mellitus saluran nafas bawah 7. Proporsi kematian karena TB menempati urutan ke empat di perkotaan.1 4. Tabel 3.5 5. hypertensive diseases.8 5.2 15.9 2.2 1.212).8 4.

3 4.4 13. Di perdesaan proporsi penyakit infeksi sebagai penyebab kematian sama 281 . sedangkan di perdesaan adalah diare dan pnemonia (masing-masing 11%).5 7.7 8.9 9. di perdesaan banyak kematian akibat jatuh dan tenggelam.1 Di perkotaan.5 7.0 6.0 8.4 7. paru-paru. 214 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.9 Penyakit jantung iskemik Ulkus lambung dan usus 12 jari Strok Tifoid Penyakit kronik saluran nafas bawah 4.4 Perdesaan (n=325) Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas TB Malaria Tumor ganas (leher rahim.9 9.215 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah. penyakit hati dan TB.3 Perdesaan (n=53) Diare Pnemonia Malaria Kecelakaan lalu lintas Penyakit hati Jatuh Tenggelam NEC Tifoid Gagal ginjal % 11.3 6 7 8 9 10 Diabetes mellitus Strok Ulkus lambung dan usus 12 jari Hipertensi Penyakit jantung lain 4.3 4.3 9. rahim) % 13.2 4.5 7. rahim.5 3.6 4. payudara. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 Perkotaan (n=240) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Kematian karena penyebab obstetrik Tumor ganas (payudara.4 9.8 3. leher rahim.4 10.8 5.8 Proporsi penyakit penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut tipe daerah menunjukkan bahwa perkotaan dan perdesaan mempunyai pola yang sama yaitu tempat teratas diduduki oleh kecelakaan lalu lintas. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=23) Demam berdarah dengue Tifoid Meningitis Pnemonia Jatuh Tumor ganas Kecelakaan lalu lintas Campak Infeksi lain dan penyakit parasit % 30.Proporsi kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan berbeda dengan di perdesaan. Tabel 3. Di perkotaan proporsi kematian yang terbesar adalah demam berdarah dengue (30%).2 4.4 5.3 4. Tabel 3. hati) % 9. Selain itu.4 3.0 3.214).0 13. Pada kelompok umur tersebut. proporsi penyakit tidak menular seperti strok. proporsi kematian karena penyebab obstetrik lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.2 3.5 8.3 2. masingmasing sebesar 8% (Tabel 3.3 11.2 4.0 13. penyakit jantung iskemik sudah cukup tinggi sebagai penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan. hati.7 3. Kematian karena kecelakaan lalu lintas di perdesaan 2 kali lebih besar daripada di perkotaan.

218). Proporsi penyakit TB pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki lebih besar (11%) dari pada pada perempuan (9%).216 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin. Di perkotaan kecelakaan lalau lintas termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian (Table 3. Proporsi TB sebagai penyebab kematian hamper sama di perkotaan maupun di perdesaan (Tabel 3. Pada perempuan. pada laki-laki proposinya sama dengan perempuan. Pada perempuan penyakit tidak menular yang terbanyak menimbulkan kematian adalah diabetes mellitus (16 persen).3 4. Proporsi tumor ganas pada perempuan secara mencolok lebih besar dari laki-laki (Tabel 3. Pada kelompok umur 55-64 tahun. Pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki maupun perempuan proporsi penyakit tidak menular lebih tinggi secara mencolok dibandingkan penyakit menular.3 3. proporsi penyebab kematian karena penyakit infeksi pada kelompok umur 45-54 tahun lebih tinggi di perdesaan (25%) dibandingkan di perkotaan (14%). Untuk penyakit menular. Proporsi yang terbesar pada laki-laki adalah kecelakaan lalu lintas.0 5.6 4.5 4. (Tabel 3. 8% pada perempuan). hipertensi. Penyakit menular yang masih banyak menyebabkan kematian adalah TB.7 11. penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian.6 7.219). diabetes mellitus.2 3. 282 .0 5.0 2.2 4. pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda.7 5. sedangkan pada laki-laki terbesar adalah strok (16%).7 7.9 4. proporsi kematian karena other direct obstetric deaths di urutan ke tiga sebesar 8% (Tabel 3.0 4.1 9.5 Menurut tipe daerah. sedangkan proporsi penyakit tidak menular lebih besar di perkotaan (62%) dibandingkan di perdesaan (48%). proporsi TB lebih besar di perdesaan. keduanya didominasi oleh penyakit tidak menular. Tabel 3.216).7 7.(Tabel 3.215) Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun pada laki-laki maupun perempuan karena tuberculosis masih tinggi (11% pada laki-laki. Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Laki-Laki (n=298) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Malaria Strok Penyakit jantung iskemik Tifoid Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Jatuh % 16.217).220).6 2.dengan di perkotaan (19%).6 Perempuan (n=261) Penyakit hati TB Penyebab obstetrik lain Tumor ganas leher rahim dan payudara Ulkus lambung dan usus 12 jari Kecelakaan lalu lintas Malaria Diabetes mellitus Hipertensi Tifoid % 9.

rahim) 10 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3.3 3.0 2.3 283 .1 7.8 4. hati.0 9.7 8.4 4.9 7.3 11. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Hipertensi Diabetes mellitus Laki-Laki (n=298) % 15.3 11.2 5.218 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin.0 9. % 16.0 6.8 3.217 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah. 4.3 5.7 Penyakit jantung lain Penyakit hati 6.9 14. leher Perkotaan (n=252) % 15.6 8.6 7.7 7.0 8.7 11.2 payudara.2 Tifoid 3.0 Perempuan (n=213) Diabetes mellitus Strok Penyakit jantung iskemik Hipertensi TB Tumor ganas (paru-paru.1 8.2 4.8 TB Strok Perdesaan (n=259) % 12.7 8.5 9.7 Pnemonia Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3.2 8.1 payudara. rahim.5 5. rahim) 7 8 Kecelakaan lalu lintas Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 9 10 Tifoid Ulkus lambung 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Strok Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik TB Hipertensi Penyakit jantung lain diseases Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas Tumor ganas (payudara.2 4. prostat) Ulkus lambung Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3. leher rahim.1 6.Tabel 3.8 Hipertensi Penyakit jantung iskemik Penyakit hati Diabetes mellitus Tumor ganas (paru-paru.8 rahim.8 8. hati.

6 2. rahim.Tabel 3.8 Perkotaan (n=295) % 26. leher rahim. payudara.6 5. otak) 3.7 3.0 11.2 8.5 8.3 3. 284 .4 6. rahim. paru-paru.8 5.1 4.6 9 10 NEC Tumor ganas (hati.4 10.1 7.220 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Jenis Kelamin.7 Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit lain Penyakit jantung iskemik Tabel 3.2 Tumor ganas (hati. paru-paru.4 Penyakit jantung lain Penyakit kronik 9 10 Tumor ganas (hati.1 Strok Perdesaan (n=337) % 17.9 saluran pernafasan bawah 5.3 NEC Penyakit jantung iskemik 3.2 6.8 8.6 9. leher rahim.6 8.6 8 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 4.5 10. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 Penyakit jantung lain NEC 4. payudara.4 2. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 Laki-Laki (n=381) Strok Diabetes mellitus TB Hipertensi Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain % 22. prostat) NEC 3.0 5.219 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Tipe Daerah.8 Perempuan (n=251) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit hati Tumor ganas (hati. prostate) Penyakit lain 2.4 6.7 3. prostat.7 12. leher rahim. rahim) Penyakit kronik saluran pernafasan bawah % 20. paru-paru.5 9.1 7.1 6.4 11.1 5.0 5.8 Proporsi kematian pada umur 65 tahun ke atas karena penyakit tidak menular sedikit lebih tinggi di perkotaan (59.5%) dari pada di perdesaan (57%). Proporsi penyakit infeksi di perkotaan yang menyebabkan kematian adalah penyakit sistem pernafasan seperti TB. payudara.7 Penyakit jantung lain 3. paru-paru.

Pola penyakit sama dibandingkan kelompok umur yang lebih muda.5 8.5 Strok Perempuan (n=770) Hipertensi % 24.5 4.0 6.4 11.221 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas menurut Tipe Daerah.6 3.2 9.4 4.0 6.8 7.8 10. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok NEC Hipertensi Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 9 10 TB Penyakit jantung lain Penyakit hati Pnemonia 6.0 7.1 7.6 6.3 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Hipertensi TB NEC Penyakit jantung lain Proporsi penyebab kematian pada umur 65 tahun ke atas pada laki-laki maupun perempuan sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular. dan pnemonia.4 3.5 Strok Perdesaan (n=993) % 21.0 3.penyakit hati.7 NEC Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 5 6 7 8 9 10 NEC Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Penyakit hati Pnemonia 7.5 3.3 5.0 Perkotaan (n=705) % 23.0 2.0 3.2 285 .3 Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Pnemonia Penyakit hati 5. Riskesdas 2007 No 1 2 Strok Penyakit kronik 3 4 TB Hipertensi 8. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan tidak jauh berbeda dengan di perdesaan (Tabel 3. Tabel 3.5 9.2 9.0 5.6 saluran pernafasan bawah Laki-Laki (n=928) % 20. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Tabel 3.9 4.9 7. Tabel 3.3 6.9 10.222).9 5.221).222 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin.6 6.9 4.9 5.2 9.8 Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain TB Pnemonia Penyakit hati 6.

Basuki.medicastore. 12. Abas B. Hipertensi. Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003.DAFTAR PUSTAKA 1. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan. 6. Badan Pusat Statistik.com/MedLB/article_ID=ZZZUKQQ9EPC&sub_cat=73 8/24/2002.1999). Summary. Departemen Kesehatan R. Dini Latief. ORC Macro 2002-2003.htm. Jamrozik. 2000.. Balitbangkes.I. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. de Courten M. R.com/datatopik /hipertensi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. de Courten. Sandjaja. Status gizi balita di Indonesia sebelum dan selama krisis (Analisis data antropometri Susenas 1989 . The WHO Stepwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Faktors. Departemen Kesehatan R. 2001 15. Depkes RI.htm. B. Jahari. Depression Linked With Increased Risk of Heart Failure Among Elderly With Hypertension. Atmarita. 2006. Operational Study an Integrated Community-Based Intervention Program on Common Risk Factors of Major Non-communicable Diseases in Depok Indonesia. Studi Morbiditas dan Disabilitas.344-348. Geneva: World Health Organization 16. Dwyer T et al. R.. -----------------Faktor Resiko Terjadinya pria. ------------------9/20/2002 Hipertensi. http://www. The WHO STEPwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Factors. 2005 2.I. 8. Departemen Kesehatan. Dwyer. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.2 Maret 2000. 2001.. Departemen Kesehatan R. Disability And Health – A Common Framework For Describing Health States. Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan.I. Jakarta 29 Februari . Geneva: World Health Organization. M. 2001. Herman Sudiman. Soekirman. Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: The WHO STEP wise approach. Departemen Kesehatan R. Winkelmann. Past Antihypertensive drugs and Risk of Hypertension : A Rural Indonesia Study. 9.. Laporan SKRT 2001: Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil. 4. http://www. Laporan SKRT 2001: Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Bedirhan Ustun. The International Classification Of Functioning. Departemen Kesehatan R. Idrus Jus'at.medem. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas. Surveillance Noncommunicable Diseases and Mental Health. AMA (American Medical Association). Bonita R et al.I. 3. K.com/penyakit/hiperten. 7.I. 13.Geneva World Health Organization. Age. 2002. p.klinik http://www. 11. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Body Posture. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. T. B & Setianto. 2000 14. Laporan SKRT 2001: Studi Kesehatan Ibu dan Anak. Tahun 2002 10. 286 . Tahun 2002. Bonita R. Daily Working Load. 5. Bonita. Tahun 2002. Fasli Jalal.

51 (20). 2003. 29. Departemen Kesehatan R. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. 2003. 2006.I.. Pusat Promosi Kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. Prevalence of Blindness and Visual Impairment in Pakistan: The Pakistan National Blindness and Visual Impairment Survey. Series 11. Survey Kesehatan Nasional. Bagian I. Disampaikan pada seminar hypertensi PERKI . 25.. CDC. Bourne R. Imamoto S. MMWR. Mohammad Z. Direktorat Epim-Kesma. Depkes. Psychiatric morbidity among patients attending the Bangetayu community health centre in Indonesia. 2000. Department of Health and Human Services. Prevalensi Hipertensi pada Karyawan Salah Satu BUMN yang menjalani pemeriksaan kesehatan. State-Specific Mortality from Stroke and Distribution of Place of Death United States. 21. Program Imunisasi di Indonesia. 18. Non Communicable Disease.17.. Shibata T. Johnson G. Dineen B. 30. Kelompok Kerja Serebro Vaskular FK UNPAD/RSHS “ . Jakarta. et al. Disability And Health (ICF). : 429 . Survey Kesehatan Nasional. Darmojo. Laporan. Pemantauan Pertumbuhan Balita. Hashimoto K. CDC Growth Charts for the United State : Methods and Development. Departemen Kesehatan R. 1997 28. et al. Mohammad A. Departemen Kesehatan RI. Bulletin WHO 2001.I. Glucose Intolerance is Common in Japanese Patients With Acute CoronarySyndrome Who Were Not Previously Diagnosed With Diabetes. 22. 51 (21) : 456.I.47:4749-55.. 1999. Departemen Kesehatan. Investigative Ophthalmology and Visual Science.Depkes RI Jakarta. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. 2003.R. 287 .J. Departemen Kesehatan R. Number 246.. 1995 34. International Classification Of Functioning. Departemen Kesehatan. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. 2002. 31..I. SKRT 1995. B. Mengamati Penelitian Epidemiologi Hipertensi di Indonesia. Nagasawa H. Khan. Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI. Departemen Kesehatan R. 35. Hartono IG.A.World Health Organization. Statistik Penyakit Penyebab Kematian. Departemen Kesehatan. Tahun 2002 26. SKRT 1995 32. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2001 36. George Alberty. S dkk. Jadoon. May 2002 19. Tomorrow’s pandemic. Geneva. Vital and Health Statistics. Mochizuki S. 79/10: 907. Depkes RI 24. 2005. Tahun 2002 27.P. Diabetes Care 28: 1182 -1186. 33. Ikewaki K. Jakarta: Departemen Kesehatan. CDC. State – Specific Trend in Self Report 3d Blood Pressure Screening and High Blood Pressure – United States. 1991 – 1999. S. Jakarta: Depkes RI 23. Brotoprawiro. 2002. Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu. Laporan. MMWR. 2002.Depkes RI Jakarta 2004. 2001. Departemen Kesehatan R. Shah S. 1999.I. Djaja. Yagi H. 20.

Obesity and Diabetes in the Developing World — A Growing Challenge 46. Perkeni. dkk. Policy Paper for Directorate General of Public Health. Resolution WHA57. Jan 18.17. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia.Geneva. Clinicians Pocket Reference. In: Fiftysixth World Health Assembly. Janet. Kaplan NM. Lippincott :Williams & Wilkins 2002. 2007 57.. Geneva: WHO. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. 2005 52. Departemen Kesehatan RI. 2006. Vol 356: 213 – 215. 2002 38.D. Diet Obesitas dan hipertensi.Soemantri. Analisis Data . Grawhill Medical Publishing division. International edition. and health. Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang yang berobat di poli Ginjal Hipertensi. 42. http://www. 2004 43. 48. 2006. Resolution WHA56. Pedoman Pewawancara Petugas Pengumpul Data. 17-12 May 2004. In:Fiftyseventh World Health Assembly. Steven A Haist.1. Depkes RI. 2001 288 . June 2002 51.surya. 1998. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006.D. M. and Meguid El Nahas.Global Strategy on diet.co. Sarimawar Djaja. World Health Organization. Baltimore : Williams and Wilkins Inc. 49. Rose Men’s. 2006. How To Keep Your Blood Pressure Under Control.Kapita Selekta Kedokteran 1999 :518 – 521.43. Survei Kesehatan Rumah Tangga 1992. M. Perkeni. A.WHO Framework Convention on Tobacco Control. Parvez Hossain. Leonard G Gomella. Kristanti CM.37. Muchtar & Fenida.id /31072002 /10a. 39.D. 1999 58. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009. Kaplan NM. 2004 56. 2006. The New England Journal of Medicine. Jakarta: Perkeni.. World Health Organization. Mc. Survei Kesehatan Rumah Tangga 41. Mansjoer. Hipertensi di Indonesia . Primary Hypertention Phatogenesis In : Clinical Hypertention. dan Soemantri S. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. 44. S. M. 2002. Bisher Kawar. Clinical Hipertension.phtml. Jakarta: Perkeni. Jakarta: Badan Litbangkes. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. 8th Ed. pp 9. News Health Recource. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 54. AS. Report of WHO. 1995. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.D. 53. 1997.physical activity. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 2003 55. Dwi Hapsari. Ph. 45. Geneva: WHO.. 2007 47. Pradono J dan Soemantri S. Trend Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. 1998 : 41-132 40.. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga.43. 7th Ed. NY. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Kristanti CM. Suhardi. 2004 50.Geneva. Report of WHO. 19-28 May 2003. pp 9. Petunjuk Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal.

The WHO STEPwise approach to Surveillance of Noncommunicable Diseases 2003. Berkala Ilmu Kedokteran Vol.. 71. Pedoman Klinik Diagnosis & Terapy.. 60. No 8. Depkes R. No.. Cakupan viramin A untuk bayi dan balita di Indonesia.M. Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001. Husain R. Causes of low vision and blindness in rural Indonesia. AIHW Cat. Laasar. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.59.87:1075-8. Cape town. Cakupan penimbangan balita di Indonesia. The Risk of Hypertension : Genesis and Detection.) 75. 1984. Jawa Barat. Titiek Setyowati. 73. 29 (4).8. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996. BJ.W. Pathogenesis. 2001. U. Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Gazzard G. Penerbit UI-PRESS : 1439. Gambaran Rumah Sehat di Berbagai Provinsi Indonesia Berdasarkan Data SUSENAS 2001. SpringerVerlag. 1984 : 44. No. 64. 1997. Jakarta. Sarjito Yogyakarta. Sonny P. Ann Intern Med.T. M. Cape town. Arterial Hypertension. Tim survei Depkes RI. ISSN: 0125 – 9695 . Suradi & Sya’bani. Sudikno. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. SKRT 2001. Badan Penelitian dan 289 . Sri Hartini KS Kariadi. 1993 : 119. Bandung 9 – 13 April 2000 (SX111-1) 70. Koh D.1997. Bulletin of Health Studies. Non-communicable Disease Surveillance and Prevention in South-East Asia Region. 74. Syah. Dalam: Julian Rosenthal. B. dkk. Denpasar. Widjaja D.I. Soemantri. 15 Th. Sandjaja. dalam Naskah Lengkap KOPAPDI VI. Disampaikan pada Konggres Nasional ke 5.ISN = 724 62.. 7-8 Desember 2005. ISSN 0377-1121 63.. Perjalanan Transisi Epidemiologi di Indonesia dan Implikasi Penanganannya.3. P. Hipertensi Borderline “White Coat” dan sustained “ : Suatu Studi Komperatif terhadap Normotensi para karyawan usia 18 – 42 tahun di RSUP Dr. Saw S-M. 1999 65. Lisa Mulyono. 66. S. Univ. Sarimawar Djaja dan S. Diagnosis. STEPS Instrument for NCD Risk Factors (Core and expanded Version 1. ISSN: 0854-7971. 2002. et al. 61. Canberra: AIHW. Agustina Lubis. Titiek Setyowati. 77. SK Menkes RI Nomor : 736a/Menkes/XI/1989 tentang Definisi Anemia dan batasan Normal Anemia 67. Sarimawar Djaja. Hipertensi.2. Pola Sikap Penderita Hipertensi Terhadap Pengobatan Jangka Panjang. Sandjaja. Medical hazard of obesity. Analisis lanjut Data Susenas – Surkesnas 2001. 1999 : 13 68. Sinaga. and Therapy. The Australian Institute of Health and Welfare 2003. Depkes RI. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI. Prosiding temu Ilmiah dan Kongres XIII Persagi. Indicators of Health Risk Factors: The AIHW view. 69. Volume 31. 20-22 November 2005.. Volume 53. Laju Konversi Toleransi Glukosa Terganggu menjadi Diabetes di Singaparna. Sunyer FX. Sobel. The Journal of the Indonesian Medical Association. PHE 47. 72. Tan D.Jakarta. Haematology: An Aproach to Diagnosis and Management. Makalah disajikan pada Simposium Nasional Litbang Kesehatan.H. Nomor 3 – 2003. British Journal of Ophthalmology 2003. New York Heidelberg Berlin. & Bakris GL. Department of Haematology. Sudikno. Joko Irianto. 76.3.

Depkes RI. Surveillance of Major Non-communicable Diseases in South – East Asia Region. April 2004 80.1994. The World Health Survey Programme. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Injuries and Causes of Death. 2003. World Health Organization.Pengembangan Kesehatan. 1999. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Auser’s guide to the self reporting questionnaire. Geneva.Geneva. p. Geneva. 2005. Survei Kesehatan Nasional 78. WHO. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. Report of an Inter-country Consultation. WHO. WHO-ISH. 1999 83. 79. Jakarta: Badan Litbangkes. 85. 86. volume 1. Based on The Recommendation of The Ninth Revision Conference 1975 and Adopted by The Twenty Ninth WHA. Needs of the Community.15. A Public Health Report. WHO-ISH. WHO. 2003 84. Oral Health Care. 1997. World Health Organization. The Surf Report 1. 81. 1995. (Surkesnas) 2001. 290 . World Health Organization: International Classification of Diseases. 82. Assessing the iron status of populations: Report of a joint World Health Organization/Centers for Disease Control and Prevention technical consultation on the assessment of iron status at the population level . 2001. 2003. WHO/SEARO. Geneva: WHO. Switzerland. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. Surveillance of Risk Factors related to noncommunicable diseases: Current of global data. 1999.

LAMPIRAN 291 .

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1179A/Menkes/SK/X/ 1999 tentang Kebijakan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Undang-undang Nomor 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.Lampiran 1 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 877/MENKES/SK/XI/2006 TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 Menimbang : a. c. Mengingat : 1. bahwa Riset Kesehatan Dasar dapat dimanfaatkan untuk penyediaan informasi berbasis survei Pembangunan Kesehatan menuju pencapaian strategi utama Departemen Kesehatan. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495). bahwa dalam pelaksanaan Riset Kesehatan Dasar diperlukan Tim Riset Kesehatan Dasar Tahun 2006 – 2008 yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. Tahun 1995 tentang 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1992 Nomor 100. b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). . bahwa untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan yang optimal dan mempunyai lingkup nasional yang terintegrasi perlu dilakukan Riset Kesehatan Dasar yang merupakan pengembangan Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas). tambahan lembaran negara Republik Indonesia Nomor 3609). 4. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1995 Nomor 67. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2002 Nomor 84. 2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 791/Menkes/SK/VII/ 1999 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Memberi rekomendasi agar kaidah ilmiah dari Riskesdas tetap ditegakkan. Menyusun pedoman kerja dan pengolahan data. Melaporkan hasil Riskesdas tahun 2006-2008 kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Litbangkes. Permenkes Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. managemen data. analisis data serta publikasi hasil Riskesdas. Tim Pakar. 4. Mengidentifikasi dan membahas masalah pelaksanaan yang terkait dengan aspek ilmiah dari Riskesdas. Melakukan desiminasi dan publikasi Riskesdas. Melaksanakan sosialisasi. Tim Teknis sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1.6. Merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan Riskesdas. 4. 5. 3. 5. Menyusun rencana kerja. c. Melakukan pengawasan pelaksanaan Riskesdas. Tim Pengarah sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. 2. a. 6. Tim Pakar sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. b. MEMUTUSKAN : Menetapkan Kesatu Kedua : : : tentang KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006 – 2008 Tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2006-2008 terdiri dari Tim Penasehat. 3. Melaksanakan pengumpulan data dan pengolahan data. 3. Tim Pengarah. 2. Memberi masukan tentang aspek ilmiah dari proposal dan protokol dan pelaksanaan pengumpulan data. Memberi rekomendasi untuk meningkatkan keberhasilan dan manfaat pelaksanaan Riskesdas. Membahas berbagai masalah yang terkait dengan pelaksanaan Riskesdas. Merumuskan dan menetapkan metodologi. Ketiga : . 7. 2. Melaksanakan pelatihan. Tim Teknis. dan Tim Manajemen dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.

Sp. Biaya kegiatan Riskesdas dibebankan kepada anggaran DIPA Badan Litbangkes. Dengan berlakunya Keputusan ini maka Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 358/Menkes/SK/V/2006 tentang Tim Surkesnas tahun 2004 – 2006 dinyatakan tidak berlaku lagi. Menyiapkan prasarana Riskesdas.8.Siti Fadilah Supari. Departemen Kesehatan dan sumbersumber lain yang tidak mengikat. Membuat laporan kegiatan kepada kepada Ketua Tim Pengarah melalui koordinasi dengan Tim Teknis. Menyusun laporan kegiatan. Melaporkan kegiatan dan hasil kepada Ketua Tim Pengarah. 2. 5. Melakukan administrasi ketenagaan Riskesdas. 9. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. d.dr.JP (K) . Mendukung administrasi Riskesdas. Tim Manajemen sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. 4. Atas nama Menteri Kesehatan Kepala Badan Litbang Kesehatan dapat membentuk Kelompok Kerja dan Tim Riset Kesehatan Dasar pada tingkat Propinsi dan Kab/kota. Melakukan administrasi keuangan. Ditetapkan di Jakarta Pada Tanggal 3 Nopember 2006 MENTERI KESEHATAN RI Kelima : Keenam : Ketujuh : Kedelapan : Dr. Keempat : Dalam melaksanakan tugas tim bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 3.

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 877/MENKES/SK/XI/2006 Tanggal : 3 Nopember 2006 TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 I. Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan 9. Ph. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 7. Badan PPSDM Kesehatan II. Dirjen Bina Pelayanan Medik 5. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan. Badan Pusat Statistik Direktur Statistik Kependudukan.D (Kepala Badan Litbangkes) Deputi Statistik Sosial. Departemen Dalam Negeri Ketua Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan Direktur Statistik Ketahanan Sosial. Inspektur Jenderal Depkes 4. Kepala Badan Pusat Statistik : : : : : : : Dr Triono Soendoro. Menteri Kesehatan RI 2. Badan PPSDM Kesehatan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Tim Pengarah Ketua Ketua I Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Anggota . Sekretaris Jenderal Depkes 3. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat 6. Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan 8. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 10. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan Direktur Metodologi Statistik Badan Pusat Statistik SAM Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi SAM Bidang Pembiayaan dan Ekonomi Kesehatan SAM Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi SAM Bidang Mediko Legal Kepala Badan Litbang Depdagri. Tim Penasehat : 1.

D. Riau . Herawati Sudoyo. Soedarti Soerbakti Dr Pratiwi Sudarmono.D. Soeharsono Soemantri. Ph.. KFER Dr. Ph.PH : Dr Julianty Pradono MS : Dr. Tim Pakar : - Prof. DR. Sangkot Marzuki.Kes : Supraptini. Susanna Imanuel. Prof. Sumut.Kes Tim Kerja Wilayah I Area Wilayah Propinsi : NAD.MM : Indah Yuning Prapti. Sp. Dr.D.D IV. Badan Pusat Statistik : Dr. Trihono. Soewarta Kosen. Bangka Belitung : Dr.. Dr Purnawan Junadi Ph. MSc. MPH (Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator .. Sunarno Ranu Widjojo. M.D. MPH : Direktur Statistik Kesra. Sofia Mubarika Prof Bambang Sutisna Prof Razak Thaha dr. Dr. Dr.D. Jambi. David Handoyo. SKM.Ph. Ph. Widjaja Lukita.... SKM.Sp.III. SKM. Ph. Yulianto Witjaksono. MPH. dr. Tim Teknis Ketua Ketua I Ketua II Ketua III Sekretaris I Sekretaris II Sekretaris III : DR.D. Irawan Yusuf. M. Kepulauan Riau . PhD.PD.. Ph. OG. MGO. Faizati Karim. Sumbar.PK Dr. Sp. Dr. Sumsel. Dr.

Jateng.D (Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Farmasi) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah III Area Wilayah Propinsi : Bali. Papua Barat. Banten. Erna Tresnaningsih. Maluku. Maluku Utara.. Sulteng. Suwandi Makmur. Sulbar. Sulut.. Gorontalo Koordinator Wakil Koordinator Penanggung Jawab Spesimen Anggota : DR. MOH. Sultra. Ph. MM (Kepala Pusat Litbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah IV Area Wilayah Propinsi : Jabar. Kalteng. Bengkulu. NTT. Kalsel. Papua : Dr. NTB. Sunarno Ranu Widjojo. Kaltim. Koordinator : Dr.Tim Kerja Wilayah II Area Wilayah Propinsi : DKI Jakarta. Kalbar. Lampung. SKM. MPH (Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan) : Peneliti Badan Litbangkes : Peneliti Badan Litbangkes : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator . Sulsel. DI Jogjakarta. Jatim.

Sp. Tim Manajemen Ketua : ketua I : ketua II : Sekretaris I : Sekretaris II : Drg. Msi. MM Budi Santoso. M.Siti Fadilah Supari.. SKM.V. Apt Drs. Titte Kabul Adimidjaja.PH Indah Yuning Prapti. Ondri Dwi Sampoerno. SH MENTERI KESEHATAN RI Dr. M.Sc.Kes Drs. Muhamad Socheh.dr.JP (K) .

I. cedera. konsumsi makanan. pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga. DR. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden .000.. Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.. Bila Bapak/Ibu/Sdr/Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini..depkes. kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp..... kesehatan gigi.. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam. Departemen Kesehatan R. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat.. .I Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan... lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun.per keluarga.. Jakarta 10560. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama . Jalan Percetakan Negara 29. kecacatan dan kesehatan mental..... Rumah tangga Bapak/Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya.... ketidak mampuan... Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata.Lampiran 2 Untuk Responden Kesmas Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R. riwayat kematian dalam rumah tangga. sikap dan perilaku terhadap kesehatan. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium...I mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280... sanitasi lingkungan.... penyakit menular dan tidak menular.. email riskesdas@litbang. Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih. Telp. .. pelayanan kesehatan... Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan – Departemen Kesehatan R. Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. (021) 4261088 ext 146.. 20...I.... berat badan. kadar iodium dalam garam. riwayat penyakit turunan... 2. Akan dilakukan wawancara.. Sunarno Ranu Widjojo.go. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan – Departemen Kesehatan R.. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara. Telp/sms (021) 98264854....000 rumah tangga yang tersebar di 18...(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan.. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan.000 blok sensus. pengetahuan. Wawancara meliputi keterangan diri.... . fax (021) 4209866.. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. MPH (HP 0811848473) atau Keterangan: * Naskah Penjelasan hanya diberikan 1(satu)/ rumah tangga. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun. imunisasi.. tekanan darah.id atau 1.

. diukur dan diperiksa Nomor Kode Sampel ... Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktuwaktu tanpa sanksi apapun.............Responden (1 lbr) . kirim ke korwil bersama kuesioner ** Diluar tim pewawancara. No....PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)* (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan R... Pernyataan bersedia diwawancara. Nama Responden Urut ART Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali Nama Saksi** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan: *PSP dibuat 2 rangkap.. untuk: ....... tetangga atau KetuaRT .......... bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga.I.........Tim pewawancara (1 lbr)....

riwayat penyakit turunan. tidak melakukan aktivitas berat. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium.(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan.. Akan dilakukan wawancara. sanitasi lingkungan. Anggota keluarga yang terpilih diambil darahnya.. akan mendapatkan uang pengganti transport Rp. Selain itu juga dilakukan pengambilan darah di laboratorium yang ditunjuk guna mengetahui penyakit yang mungkin terjadi berkaitan dengan penyakit menular.. dan disediakan makanan setelah pengambilan darah. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat dan data biomedis.per orang.000.. namun tidak ada risiko yang membahayakan.000..000 rumah tangga yang tersebar di 18. minum air putih tawar diperbolehkan. Pengambilan darah diawasi oleh tim medis yang berpengalaman disertai peralatan yang memadai. masing-masing 1 sendok teh (5 ml) pada wanita hamil..... kadar iodium dalam garam. penyakit menular dan tidak menular.. tekanan darah. Dalam pengambilan darah akan ada sedikit rasa nyeri seperti digigit semut. . ...000 blok sensus.. ketidak mampuan. berat badan.... pengetahuan. Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. imunisasi. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan..... Untuk orang dewasa (umur > 15 tahun) yang akan diambil darahnya.. kecacatan dan kesehatan mental.... Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama .. 20. Darah vena yang akan diambil sebanyak 1 sendok makan (15 ml) pada dewasa. Wawancara meliputi keterangan diri. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata... lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun.. Pengambilan darah dilakukan oleh petugas pengambil darah yang terlatih. Rumah tangga Bapak/ Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya.. Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. pelayanan kesehatan. cedera...... anak dan balita tidak perlu puasa. kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp.. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun... riwayat kematian dalam rumah tangga..... pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga. sikap dan perilaku terhadap kesehatan.. tidak sarapan...... kesehatan gigi. Bapak/ Ibu/ Saudara akan diberi minuman 1 gelas yang mengandung gula sebelum diambil darahnya. Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih.Untuk Responden Biomedis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.... pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam. Yang diambil darahnya adalah semua anggota rumah tangga usia 1 tahun keatas... konsumsi makanan... termasuk tidak merokok. anak dan balita. 35.per keluarga.... tidak menular. Departemen Kesehatan RI mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280. kelainan gizi dan kelainan bawaan.. Untuk wanita hamil. perlu persiapan puasa 10 – 14 jam sebelum pengambilan darah..I..

Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Sunarno Ranu Widjojo.id atau 1. Sedyaningsih. Dr.Anda akan mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah. MPH. Endang R. Jika terjadi sesuatu yang memerlukan pertolongan dokter pada saat pengambilan darah maka Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan segera diberi pertolongan. Bila Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini. dr. fax (021) 4209866. Telp/sms (021) 98264854. (021) 4261088 ext 146.depkes. darah rutin atau kadar Hb bila peralatan otomatis tidak ada. Telp.I. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan–Departemen Kesehatan R. Jakarta 10560. bila perlu dirujuk ke Rumah Sakit dan biaya akan ditanggung oleh Badan Litbang Kesehatan. DrPH (HP 0816855887) Keterangan: *Naskah Penjelasan hanya diberikan 1 (satu)/ rumah tangga. Jalan Percetakan Negara 29. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan–DepKes. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat 2. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden . MPH (HP 0811848473) 3. email riskesdas@litbang.go.

PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) * (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan RI. Pernyataan bersedia diwawancara.Pertinggal di Laboratorium Kesehatan Daerah/ RS/Swasta (1 lbr. tetangga atau KetuaRT .Tim Pewawancara (1 lbr). diukur. diperiksa dan diambil darah Nama Responden Nomor Stiker Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali** Nama Saksi*** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan * PSP dibuat 3 rangkap untuk: . kirim ke Korwil bersama kuesioner ** bila responden berusia < 15 tahun atau responden sulit berkomunikasi *** Diluar tim pewawancara. dititip pada petugas lapangan/ puskesmas untuk diserahkan kepada petugas lab) . Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan saya dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.Responden (1 lbr) . bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga.

Pengumpulan data: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Pengumpul Data 4 Nama Ketua Tim: Tgl. Tidak ada iodium (Tidak berwarna) SAMPEL GARAM DIAMBIL HANYA UNTUK 30 KAB/ KOTA TERPILIH (LIHAT DAFTAR KAB/ KOTA DI PEDOMAN PENGISIAN) 8 STIKER NOMOR GARAM (RUMAH TANGGA) TEMPEL STIKER DI SINI III. Tidak Blok III 1. KETERANGAN RUMAH TANGGA 1 2 3 4 5 6 7 Nama kepala rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga yang diwawancarai: Jumlah balita (umur di bawah 5 tahun): Jumlah kematian ART dlm periode 12 bulan sebelum survei dan dilakukan verbal otopsi: Apakah Rumah tangga menyimpan garam? Lakukan tes cepat Iodium dan catat kandungan Iodiumnya 1. Nomor blok sensus b.Lampiran 3 . KETERANGAN PENGUMPUL DATA 1 2 3 Nama Pengumpul Data: Tgl. PENGENALAN TEMPAT 1 2 3 4 5 6 Provinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*) Klasifikasi Desa/Kelurahan a. Tdk cukup (biru/ ungu muda) 3. RT I. REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN RISET KESEHATAN DASAR 2007 PERTANYAAN RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU RAHASIA RKD07. Perkotaan 2. Ya 2. Perdesaan 7 8 9 Nomor Kode Sampel Nomor urut sampel rumah tangga Alamat rumah II. Nomor sub blok sensus 1. Cukup (biru/ungu tua) 2. Pengecekan: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Ketua Tim: - - 5 6 - - *) coret yang tidak perlu .

10. apakah kelambu berinsektisida? Verifikasi No. Ya 2. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA Hubungan dengan kepala rumah tangga Jenis Kelamin Umur (tahun) Status Kawin Khusus ART ≥ 10 tahun Pendidikan Tertinggi Pekerjaan utama Khusus ART perempuan 10-54 tahun Apakah sedang Hamil? [KODE] [KODE] [KODE] 1. Ya 2. 11. Perem. 2. (2) (3) 1 (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) GUNAKAN LEMBAR TAMBAHAN APABILA JUMLAH ART > 15 ORANG Kode kolom 3 Hubungan dengan kepala rumah tangga 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/ mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya Kode kolom 6 Status Kawin 1 = Belum kawin 2 = Kawin 3 = Cerai hidup 4 = Cerai mati Kode kolom 7 Pendidikan Tertinggi 1 = Tidak pernah sekolah 2 = Tidak tamat SD 3 = Tamat SD 4 = Tamat SLTP 5 = Tamat SLTA 6 = Tamat Perguruan Tinggi Kode kolom 8 Pekerjaan Utama 01 = Tidak kerja 02 = Sekolah 03 = Ibu umah tangga 04 = TNI/Polri 05 = PNS 06 = Pegawai BUMN 07 = Pegawai swasta 08 = Wiraswasta/ Pedagang 09 = Pelayanan Jasa 10 = Petani 11 = Nelayan 12 = Buruh 13 = Lainnya Kode kolom 12 Verifikasi 1= Tidak ada perubahan 2= Ada perubahan 3 = Meninggal 4 = Pindah 5 = Lahir 6 = Anggota baru 7 = Tdk pernah ada dlm RT sampel . Laki2 Jika umur 2. 9. 6. urut ART Nama Anggota Rumah Tangga (ART) [KODE] Jika umur < 1thn isikan “00” 1. Tidak kol. Tidak Tahu (1) 1.12 1. Tdk Tahu kol. 3. Tidak ART semalam tidur di dalam kelambu? Jika ya. Tidak 8.12 8. 8.≥ 97 thn puan isikan “97” 1. Ya 2. 4. 7. 15. 12.IV. 14. 13. 5.

.. Masa nifas (60 hr setelah bersalin) 5... Diare b.. JIKA TIDAK ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 LANGSUNG KE BLOK VI No. Jika terdapat kematian dalam periode 12 bulan sebelum survei sampai dengan survei berlangsung.. Campak d... Bln 2.< 5 thn: RKD07.... Lainnya (9) Bln Hari Bulan 1. Thn Tahun Hari Bulan …… ……. Kanker/ Tumor m..AV dengan melihat kolom 7 (umur saat meninggal) untuk memilih jenis kuesioner Kode kolom 8 Penyebab Kematian Kode kolom 4 Hubungan dengan kepala RT 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya 01 = Diare 02 = ISPA/radang paru 03 = Campak 04 = TBC 05 = Malaria 06 = Demam berdarah 07 = Sakit kuning 08 = Tifus 09 = Hipertensi/Jantung 10 = Stroke 11 = Kencing manis 12 = Kanker/Tumor 13 = Kecelakaan/Cedera 14 = Hamil/Bersalin/Nifas 15 = bayi lahir mati 16 = penyakit lainnya...... Thn Tahun Hari Bulan …… …….. Keguguran 3.. Typhus i. Thn Tahun Hari Bulan …… ……......... No.. Kecelakaan/ cedera n. Lk 2. apakah terjadi pada: 1...... Kencing manis l..54 thn yang meninggal............. Pr Umur Saat Meninggal ⇒ < 1 th tulis dalam bulan ⇒ < 1 bulan tulis dalam hari ⇒ < 1 hari tulis 00 pada kolom Hari ⇒ Lahir mati tulis 98 pada kolom hari ⇒ ≥ 97 thn tulis 97 pada kolom thn [ISI SALAH SATU BARIS: HARI ATAU BULAN ATAU TAHUN] (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Penyebab Utama Kematian [KODE] Untuk wanita umur 10 .AV2 5 thn ke atas : RKD07. MORTALITAS Nama ART yang diwawancarai: .... 1) KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 (TERMASUK KEJADIAN BAYI LAHIR MATI) ---.... Stroke k..... Bln 4... Melahirkan 4. Bayi lahir mati p.. AV1 29 hari .HANYA DALAM RUMAH TANGGA 1 APAKAH ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 KARENA PENYAKIT DI BAWAH INI: (BACAKAN PILIHAN PENYAKIT) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a.... ISPA/ Pneumonia c.AV3 ...V. Thn Tahun …… ……. TBC e. Sakit kuning h. Hamil/ Bersalin/ Nifas o. Lainnya... Malaria f. DBD g. Bln 3............. maka lanjutkan dengan menggunakan kuesioner RKD07.. Kolom 7 Umur saat meninggal GUNAKAN KUESIONER: < 29 hari (NEONATAL): RKD07. ........ Urut ART yang diwawancarai: (lihat Blok IV kol. Hipertensi / Jantung j... Kehamilan 2.... Urut Nama yang Meninggal Hubungan dengan Kepala Rumah Tangga [KODE] Bulan dan Tahun Kejadian Kematian sejak 1 Juli 2004 Jenis kelamin 1.....

. Pemeriksaan neonatus (<1 bulan) LANJUTKAN KE P.2a) Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes dalam 3 bulan terakhir? Jika ya.. Tidak 4 P..... apakah alasan utamanya? 1... Poskesdes.……meter 2a 2b ……. Bidan Praktek)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit.. Letak polindes/ bidan desa jauh 2. Dokter praktek. Konsultasi risiko penyakit 6 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes. Tidak 2. Pengobatan 9 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa..……meter 1b ……. Multi gizi mikro) i. Pustu... Pelayanan tidak lengkap 5... Penimbangan b. Puskesmas. Tidak membutuhkan 11 . Tidak ada posyandu 3....VI.. Dokter praktek. 1. Fe. Ya VII 2. Ya 1.. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7=TIDAK BERLAKU a. Pelayanan tidak lengkap 4.1a dan P..4 tahun) f.. Bidan Praktek)? Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu.9 8 e......7 ……….. Tidak ada POD/ WOD 4. Lainnya: . Pemeriksaan ibu nifas d.. Ya 2.. 4... Polindes)? Apakah tersedia angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat? (berlaku untuk P.. Pemberian Makanan Tambahan h.. menit ………....... Letak posyandu jauh 2.... Tidak membutuhkan 1. Pemeriksaan kehamilan b. Lainnya: .. AKSES DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN 1a Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit.. KIA e. Puskesmas. Pengobatan LANJUTKAN KE P. Lainnya: ... Tidak 7 Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa dalam 3 bulan terakhir? Jika ya......... Polindes)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu...... Poskesdes. Lokasi jauh 3. Ya 2. 2.. Tidak ada polindes/ bidan desa 3. Pustu. Pemeriksaan bayi (1-11 bulan) dan/ atau anak balita (1..Km ….. Penyuluhan c. Imunisasi d. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7= TIDAK BERLAKU a. menit 3 1. apakah alasan utamanya? 1....Km …. KB f.6 5 g... Obat tidak lengkap 5. apakah alasan utamanya? 1. Persalinan c. Tidak 10 Apakah rumah tangga ini pernah Memanfaatkan pelayanan Pos Obat Desa (POD)/ Warung Obat desa (WOD) dalam 3 bulan terakhir? Jika tidak memanfaatkan POD/ WOD.10 P. Suplementasi gizi (Vit A..

Wadah/tandon tertutup Bagaimana pengolahan air minum sebelum diminum/ digunakan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Tempat sampah terbuka 1. Saluran terbuka 2. 9. Penghilang noda pakaian f.. Sulit di musim kemarau 3... Spray rambut/ deodorant spray c... 12. SANITASI LINGKUNGAN 1. Sumber air di dalam pekarangan rumah a. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah rumah tangga di luar rumah tersebut? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK Apakah tersedia tempat penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? Bila ya... Tempat sampah tertutup b.13 a. Bagaimana kualitas fisik air minum? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Anak perempuan 5... Jarak . Berbusa e. Penampungan tertutup di pekarangan/ SPAL 3.. Diberi bahan kimia e... Berbau 7. Ya (mudah) 2. Pengkilap kaca/ kayu/ logam e.VII. 14. Ya 5. Wadah/tandon terbuka 3. Tempat sampah terbuka 15. 2. Sulit sepanjang tahun 1. Lama… Menit 3. Anak laki-laki 4.. Langsung diminum b. 8. Orang dewasa perempuan 2. 2. Langsung ke got/ sungai 10. Tidak 3. Tidak ada/langsung dari sumber 2. Ya 2. Pembersih lantai d.Km b. Berwarna c. Dimasak c.. Orang dewasa laki-laki 3. Apakah di sekitar sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran (air limbah/ cubluk/ tangki septik/ sampah)? Apakah air untuk semua kebutuhan rumah tangga diperoleh dengan mudah sepanjang tahun? Bila sumber air terletak di luar pekarangan rumah. Dimana tempat penampungan air limbah dari kamar mandi/ tempat cuci/ dapur? 1. Tidak P.15 13. siapa yang biasanya mengambil air untuk keperluan Rumah Tangga 1.... Aki (Accu) g. Disaring d..... 11. Tidak P. Saluran tertutup 3. Tanpa penampungan (di tanah) Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/ dapur/ tempat cuci? 1. 6.. 5.. Tempat sampah tertutup b. Penampungan terbuka di pekarangan 4. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK 1... Racun serangga/ Pembasmi hama . 4. Apakah Rumah Tangga ini selama sebulan yang lalu menggunakan bahan kimia yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3) di dalam rumah (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Berapa jumlah pemakaian air untuk keperluan Rumah Tangga? Berapa jarak/lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air (pulang-pergi)? ….. Penampungan di luar pekarangan 2. Apakah jenis sarana/ tempat penampungan air minum sebelum dimasak? 1.. Keruh b. Pengharum ruangan (spray) b. Ya 2. Tidak ada sumber air 1.. Cat h. Berasa d. liter/hari a.. a. b. Lainnya: . Tanpa saluran Apakah tersedia tempat pembuangan sampah di luar rumah? Bila ya.

Rumah tanpa kandang 2. Terminal/stasiun kereta api/bandara f. Pasar tradisional Jarak (meter) (2) Sumber Pencemaran (1) e. kucing. Kandang luar rumah 4. burung) b. Jarak rumah ke sumber pencemaran? JIKA TIDAK TAHU JARAK KE SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”8888” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) JIKA TIDAK ADA SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”9999” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) Sumber Pencemaran (1) a. Bengkel g. babi) c.kerbau. kelinci Dipelihara di : 1. Tidak ternak berikutnya (1) a. Kandang dalam rumah 3. Jalan raya/ rel kereta api b.bebek.domba. Luar rumah tanpa kandang (2) 17. Tempat Pembuangan Sampah (Akhir/Sementara)/Incinerator/IPAL RS c. Ternak sedang (kambing. Jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT/ SUTET) h.16. Unggas (ayam. Apa jenis ternak yang dipelihara? Dipelihara? Ternak/hewan peliharaan 1. Ya 2. Industri/pabrik d. Ternak besar (sapi. Anjing. Peternakan/ Rumah Potong Hewan (termasuk unggas) Jarak (meter) (2) CATATAN PENGUMPUL DATA .kuda) d.

......orang Makan pagi Waktu Makan Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) . KONSUMSI MAKANAN RUMAH TANGGA (24 JAM LALU) 1 KETERANGAN JUMLAH ART DAN TAMU YG MAKAN DALAM RT BERDASARKAN UMUR.15 16 .. DAN WAKTU MAKAN PAGI SIANG MALAM Jumlah ART L P L P L P KELOMPOK (salin dari (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) UMUR Blok IV) ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU 0 – 11 1-3 4-6 7-9 10 – 12 13 ......... Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel RKD07...18 19 ..... JENIS KELAMIN.. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07...orang Jenis bahan makanan Makan Malam .....49 50 ...RT VIII.64 > 64 bulan tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun Jumlah 2 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ..........orang Masakan/Menu Makan Siang .RAHASIA RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT Kec Desa/Kel D/K No..29 30 .....GIZI Prov Kab/ Kota No....... Blok No..

...................................... Masakan/Menu Jenis bahan makanan No Urut ART Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) Nama Anak: Waktu Makan CATATAN PENGUMPUL DATA .............................................3 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN ANAK (0 – 24 BULAN) DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ...

RAHASIA

RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT
Kec Desa/Kel D/K No. Blok No. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel

RKD07.IND

Prov

Kab/ Kota

No. urut sampel RT

Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.RT

IX. KETERANGAN WAWANCARA INDIVIDU
1. 2. Tanggal kunjungan pertama: Tgl -Bln-Thn Tanggal kunjungan akhir: Tgl -Bln-Thn

-

-

3. 4.

Nama Pengumpul data Tanda tangan Pengumpul data

X. KETERANGAN INDIVIDU A. IDENTIFIKASI RESPONDEN
A01 A02 Tuliskan nama dan nomor urut Anggota Rumah Tangga (ART) Untuk ART pada A01 < 15 tahun/ kondisi sakit/ orang tua yang perlu didampingi, tuliskan nama dan nomor urut ART yang mendampingi Nama ART …………………… Nama ART …………………… Nomor urut ART: Nomor urut ART:

B. PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR, DAN RIWAYAT PENYAKIT TURUNAN
[NAMA] pada pertanyaan di bawah ini merujuk pada NAMA yang tercatat pada pertanyaan A01 PERTANYAAN B01-B40 DITANYAKAN PADA SEMUA UMUR INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)/ INFLUENZA/ RADANG TENGGOROKAN B01 B02 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita ISPA oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas disertai batuk berdahak/ kering atau pilek? 1. Ya B03 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

PNEUMONIA/ RADANG PARU B03 B04 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Pneumonia oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai batuk berdahak dan napas lebih cepat dan pendek dari biasa (cuping hidung) / sesak nafas dengan tanda tarikan dinding dada bagian bawah? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Typhoid oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas terutama pada sore malam hari > 1 minggu disertai sakit kepala, lidah kotor dengan pinggir merah, diare atau tidak bisa BAB? 1. Ya B05 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM TYPHOID (TIFUS PERUT) B05 B06 1. Ya B07 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B09 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

MALARIA B07 B08 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Malaria yang sudah dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin), panas naik turun secara berkala, berkeringat, sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat anti malaria? Jika Ya, apakah [NAMA] mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Diare oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dengan kotoran/ tinja lembek atau cair? Apakah pada saat diare, diatasi dengan pemberian Oralit/ pemberian larutan gula garam/ cairan rumah tangga?

B10

B09

DIARE/ MENCRET B10 B11 B12 1. Ya B12 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B13

CAMPAK/ MORBILI B13 B14 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita campak oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai mata merah dengan banyak kotoran pada mata, ruam merah pada kulit terutama pada leher dan dada? 1. Ya B15 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) B15 B16 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita TB Paru oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita batuk ≥ 2 minggu disertai dahak atau dahak bercampur darah/ batuk berdarah dan berat badan sulit bertambah/ menurun? 1. Ya B17 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) B17 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Berdarah Dengue oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita demam/panas, sakit kepala/ pusing disertai nyeri di uluhati/ perut kiri atas, mual dan muntah, lemas kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan/ atau mimisan, kaki/ tangan dingin? 1. Ya B19 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

B18

HEPATITIS/ SAKIT LIVER/ SAKIT KUNING B19 B20 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Hepatitis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B21 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

Dalam 12 bulan terakhir apakah [NAMA] pernah menderita demam, lemah, gangguan saluran cerna, (mual, muntah, tidak nafsu makan), nyeri pada perut kanan atas, disertai urin warna seperti air teh pekat, mata atau kulit berwarna kuning? FILARIASIS/ PENYAKIT KAKI GAJAH B21 B22 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Filariasis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita radang pada kelenjar di pangkal paha secara berulang, atau pembesaran alat kelamin/ payudara/ tungkai bawah dan atau atas (Filariasis/ kaki gajah)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Asma oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami sesak napas disertai bunyi (mengi)/ Rasa tertekan di dada/ Terbangun karena dada terasa tertekan di pagi hari atau waktu lainnya, Serangan sesak napas/terengah-engah tanpa sebab yang jelas ketika tidak sedang berolah raga atau melakukan aktivitas fisik lainnya?

1. Ya B23 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B25 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

ASMA/ MENGI/ BENGEK B23 B24

GIGI DAN MULUT B25 B26 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mempunyai masalah dengan gigi dan/atau mulut? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] menerima perawatan atau pengobatan dari perawat gigi, dokter gigi atau dokter gigi spesialis? 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B28 B28

B27

Jenis perawatan atau pengobatan apa saja yang diterima untuk masalah gigi dan mulut yang [NAMA] alami? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Pengobatan b. Penambalan/ pencabutan/ bedah gigi atau mulut c. Pemasangan gigi palsu lepasan (protesa) atau gigi palsu cekat (bridge) d. Konseling tentang perawatan/ kebersihan gigi dan mulut 1. Ya 2. Tidak e. Perawatan gigi lainnya. Ya, sebutkan…………

B28

Apakah [NAMA] telah kehilangan seluruh gigi asli?

CEDERA B29 B30 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami cedera sehingga kegiatan sehari-hari terganggu? Penyebab cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN p) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kecelakaan transportasi di darat (bus/ truk, kereta api, motor, mobil) b. Kecelakaan transportasi laut c. Kecelakaan transportasi udara d. Jatuh e. Terluka karena benda tajam, benda tumpul f. Penyerangan (benda tumpul/ tajam, bahan kimia, dll) g. Ditembak dengan senjata api h. Kontak dengan bahan beracun (binatang, tumbuhan, kimia) B31 1. Ya 2. Tidak B33

i. Bencana alam (gempa bumi, tsunami) j. Usaha bunuh diri (mekanik, kimia) k. Tenggelam l. Mesin elektrik, radiasi m. Terbakar, terkurung asap n. Asfiksia (terpendam, tercekik, dll.) o. Komplikasi tindakan medis p. Lainnya, Sebutkan ..............................

Bagian tubuh yang terkena cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN j) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kepala b. Leher c. Bagian dada d. Bagian perut, tulang punggung, tulang panggul e. Bagian bahu dan lengan atas f. Bagian siku, lengan bawah g. Bagian pergelangan tangan, dan tangan h. Bagian pinggul dan tungkai atas i. Bagian lutut dan tungkai bawah j. Bagian tumit dan kaki

B32

Jenis cedera yang dialami : (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Benturan/ Luka memar b. Luka lecet c. Luka terbuka d. Luka bakar e. Terkilir, teregang f. Patah tulang g. Anggota gerak terputus h. Keracunan i. Lainnya: ……………

PENYAKIT JANTUNG B33 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit jantung oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] pernah ada gejala/ riwayat: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Jantung berdebar-debar tanpa a. Bibir kebiruan saat menangis atau melakukan sebab aktifitas d. Sesak nafas pada saat tidur b. Nyeri dada/ rasa tertekan berat/ sesak nafas tanpa bantal ketika berjalan terburu- buru/ mendaki/ berjalan biasa di jalan datar/ kerja berat/ jalan jauh 1. Ya B35 2. Tidak

B34

e. Tungkai bawah bengkak

PENYAKIT KENCING MANIS (DIABETES MELLITUS) B35 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita kencing manis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] selama ini pernah mengalami gejala banyak makan, banyak kencing, banyak minum, lemas dan berat badan turun atau menggunakan obat untuk kencing manis? 1. Ya B37 2. Tidak 1. Ya 2.Tidak

B36

TUMOR / KANKER B37 B38 B39 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit tumor/ kanker oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Sejak kapan [NAMA] didiagnosis tumor tersebut? Tahun............... Dimana lokasi tumor/ kanker tersebut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN m) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 7=TIDAK BERLAKU a. Mata, otak, dan bagian susunan syaraf pusat b. Bibir, rongga mulut dan tenggorokan c. Kelenjar gondok dan kelenjar endokrin lain d. Saluran pernafasan (paru- paru) e. Payudara PENYAKIT KETURUNAN/GENETIK B40 Apakah [NAMA] ada riwayat keluhan menderita sebagai berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Gangguan jiwa (schizophrenia)(observasi) b. Butawarna c. Glaukoma d. Bibir sumbing (observasi) e. Alergi dermatitis f. Alergi rhinitis • JIKA ART UMUR ≥ 15 TAHUN • JIKA ART UMUR < 14 TAHUN B41 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN g. Thalasemia h. Hemofilia f. Saluran cerna (usus, hati) g. Saluran kemih h. Alat kelamin wanita: ovarium, cervix uteri i. Alat kelamin pria: Prostat j. Kulit k. Jaringan lunak l. Tulang, tulang rawan m. Darah 1.Ya 2.Tidak B40

PERTANYAAN B41-B50, KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN PENYAKIT SENDI/ REMATIK/ ENCOK B41 B42 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita penyakit sendi/ rematik/ encok oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita sakit/ nyeri/ kaku/ bengkak di sekitar persendian, kaku di persendian ketika bangun tidur atau setelah istirahat lama, yang timbul bukan karena kecelakaan? 1. Ya B43 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

HIPERTENSI/ PENYAKIT TEKANAN DARAH TINGGI B43 B44 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita hipertensi/ penyakit tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah saat ini [NAMA] masih minum obat antihipertensi? 1. Ya B45 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1.Ya B47 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

STROKE B45 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita stroke oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami kelumpuhan pada satu sisi tubuh atau pada otot wajah, atau gangguan pada suara (pelo) secara mendadak? • JIKA ART UMUR ≥ 30 TAHUN • JIKA ART UMUR < 29 TAHUN KATARAK (KHUSUS ART ≥ 30 TAHUN) B47 Dalam 12 bulan terakhir, apakah salah satu atau kedua mata [NAMA] pernah didiagnosis/ dinyatakan katarak (lensa mata keruh) oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B49 2. Tidak 8. Tidak tahu

B46

B47 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN

B48

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mengalami: (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Penglihatan berkabut/ berasap/ berembun atau tidak jelas? b. Mempunyai masalah penglihatan berkaitan dengan sinar, seperti silau pada lampu/pencahayaan yang terang? a. b. C

B49 B50

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah operasi katarak? Apakah setelah operasi katarak [NAMA] memakai kacamata?

1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN Ca. KETANGGAPAN PELAYANAN RAWAT INAP
Ca01 Dalam 5 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani rawat inap terakhir? 1. Rumah Sakit Pemerintah 6. Praktek tenaga kesehatan 2. Rumah Sakit Swasta 7. Pengobat Tradisional 3. Rumah Sakit Di Luar Negeri 8. Lainnya (Sebutkan.....................................) 4. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 9. Tidak Pernah menjalani rawat inap Cb01 5. Puskesmas Berapa biaya yang dikeluarkan untuk rawat inap terakhir (dalam 5 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk rawat inap tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ………………………

Ca02 Ca03

.

.

Untuk pelayanan rawat inap yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Ca04 Ca05 Ca06 Ca07 Ca08 Ca09 Ca10 Ca11 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan rawat inap? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang rawat inap termasuk kamar mandi? Bagaimana [NAMA] menilai kemudahan dikunjungi oleh keluarga atau teman ketika masih dirawat di fasilitas kesehatan?

Cb. KETANGGAPAN PELAYANAN BEROBAT JALAN
Cb01 Dalam 1 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani berobat jalan terakhir? 01. Rumah Sakit Pemerintah 06. Praktek tenaga kesehatan 02. Rumah Sakit Swasta 07. Pengobat Tradisional 03. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 08. Lainnya (Sebutkan.....................................) 04. Puskesmas/ Pustu/ Pusling/ Posyandu 09. Di rumah 05. Poliklinik/ Balai Pengobatan Swasta 10. Tidak Pernah menjalani berobat jalan Cb10a Berapa biaya yang dikeluarkan untuk berobat jalan terakhir (dalam 1 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk berobat jalan tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ……………………

Cb02 Cb03

.

.

Untuk pelayanan berobat jalan yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Cb04 Cb05 Cb06 Cb07 Cb08 Cb09 Cb10 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan berobat jalan? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang pelayanan berobat jalan termasuk kamar mandi? ISIKAN KODE ”7” JIKA TEMPAT MENJALANI BEROBAT JALAN (Cb01) “DI RUMAH” • JIKA ART UMUR 0 - 4 TAHUN • JIKA ART UMUR 5 - 9 TAHUN • JIKA ART UMUR >10 TAHUN G. IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN XI. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN D. PENGETAHUAN, SIKAP dan PERILAKU

Cb10a

D. PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU (SEMUA ART UMUR ≥ 10 TAHUN)
PENYAKIT FLU BURUNG D01 D02 Apakah [NAMA] pernah mendengar tentang penyakit flu burung pada manusia? 1. Ya 2. Tidak Sebutkan melalui apa saja penularan kepada manusia? (POINT “a” SAMPAI “g” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Udara b. Berdekatan dengan penderita c. Lalat d. Kontak dengan unggas sakit e. Kontak kotoran unggas/Pupuk kandang f. Makanan g. Lainnya, sebutkan .............................. D04

D03

Apa yang harus [NAMA] lakukan apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak? (POINT “a” SAMPAI “f” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Mengubur/membakar unggas yang sakit a. Melaporkan pada aparat terkait e. Menjual dan mati mendadak b. Membersihkan kandang unggas d. Memasak dan memakan f. Lainnya: …………………

HIV/AIDS D04 D05 Apakah [NAMA] mengetahui tentang HIV/AIDS 1. Ya 2. Tidak D08

Penularaan virus HIV/AIDS ke manusia melalui : (POINT a SAMPAI DENGAN h TIDAK DIBACAKAN) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK g. Penularan dari ibu ke a. Hubungan seksual d. Penggunaan pisau cukur secara bersama-sama bayi selama hamil b. Jarum suntik c. Transfusi darah e. Penularan dari ibu ke bayi saat persalinan f. Penularan dari ibu melalui ASI h. Lainnya: ……………….

D06

Bagaimana mencegah HIV/AIDS? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Tidak berhubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan tetap b.Tidak berhubungan seksual dengan pengguna narkoba suntik c.Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali d. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual e. Tidak menggunaan jarum suntik bersama f. Tidak menggunaan pisau cukur bersama

D07

Andaikan ada anggota keluarga [NAMA] menderita HIV/AIDS, apa yang akan dilakukan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Merahasiakan b. Membicarakan dengan anggota keluarga lain c. Konseling dan pengobatan d. Mencari pengobatan alternatif e. Mengucilkan

PERILAKU HIGIENIS D08 Apakah [NAMA] mencuci tangan pakai sabun? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN d) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Sebelum makan b. Sebelum menyiapkan makanan D09 Dimana [NAMA] biasa buang air besar? 1. Jamban 3. Sungai/danau/laut 2. Kolam/sawah/selokan 4. Lubang tanah Apakah [NAMA] biasa menggosok gigi setiap hari? Kapan saja [NAMA] menggosok gigi? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Saat mandi pagi dan/ sore b. Sesudah makan pagi PENGGUNAAN TEMBAKAU D11 Apakah [NAMA] merokok/ mengunyah tembakau selama 1 bulan terakhir? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1. Ya, setiap hari 3. Tidak, sebelumnya pernah D16 2. Ya, kadang-kadang D13 4. Tidak pernah sama sekali D18 Berapa umur [NAMA] mulai merokok/ mengunyah tembakau setiap hari ? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Rata-rata berapa batang rokok/ cerutu/ cangklong (buah)/ tembakau (susur) yang [NAMA] hisap perhari? ............... tahun ...........batang c. Sesudah bangun pagi d. Sebelum tidur malam e. Lainnya, sebutkan……….. c. Setelah buang air besar/ Setelah menceboki bayi d. Setelah memegang binatang (unggas, kucing, anjing)

5. Pantai/tanah lapang/ kebun/ halaman 6. Lainnya: ........................... 1. Ya 2. Tidak D11

D10a D10b

D12 D13

.. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali melakukannya? Biasanya berapa hari dalam seminggu. Ya D17 2. Rokok linting e.. sopi)? 1... < 1x tiap bulan 3...hari ………….... tahun ALKOHOL Catatan (GUNAKAN KARTU PERAGA): 1 satuan minuman standard yang mengandung 8 – 13 g etanol. Tidak D17 g... Tidak D25 ………….. tahun . Rokok kretek dengan filter b. biasanya berapa rata-rata satuan minuman standar ……….. [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat. Ya 2. Tidak D28 …………. Tidak D21a D21b Dalam 1 bulan terakhir seberapa sering [NAMA] minum minuman beralkohol? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1. Tidak D22 D22 D19 D20 Apakah dalam 1 bulan terakhir [NAMA] pernah mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol? 1... waktu senggang dan transportasi D22 D23 D24 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik berat. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu.. Bir Jenis minuman beralkohol yang paling banyak dikonsumsi: 2.. Cangklong f.menit 1. Cerutu 1. misalnya terdapat dalam: 1 gelas/ botol kecil/ kaleng (285 – 330 ml) bir 1 gelas kerucut (60 ml) aperitif 1 sloki (30 ml) whiskey 1 gelas kerucut (120 ml) anggur D18 Apakah dalam 12 bulan terakhir [NAMA] mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol (minuman alkohol bermerk: contohnya bir.hari …………. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) D25 D26 D27 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik sedang.satuan [NAMA] minum dalam satu hari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK TAHU AKTIVITAS FISIK (GUNAKAN KARTU PERAGA) Berikut adalah pertanyaan aktivitas fisik/ kegiatan jasmani yang berkaitan dengan pekerjaan. [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang.. nyirih. Lainnya: ……………… D15 D16 D17 Apakah [NAMA] biasa merokok di dalam rumah ketika bersama ART lain? Berapa umur [NAMA] ketika berhenti/ tidak merokok/ tidak mengunyah tembakau sama sekali? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Berapa umur [NAMA] ketika pertama kali merokok/ mengunyah tembakau? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT . [NAMA] berjalan kaki atau bersepeda selama paling sedikit 10 menit terus-menerus setiap kalinya? 1. 5 hari atau lebih tiap minggu 3. anggur/ wine.. vodka.jam ………. 1 – 4 hari tiap minggu 4. minuman tradisional Ketika minum minuman beralkohol.. Ya 2. whiskey. Ya 2.. Tembakau dikunyah (susur. Tidak D31 D28 D29 ………….menit 1. poteng.... 1 – 3 hari tiap bulan 2. dll dan minuman tradisional: contohnya tuak.. anggur/wine 1.hari . Ya 2... Whiskey/ Vodka 4. Rokok putih d. Rokok kretek tanpa filter c. nginang) h. Ya 2..D14 Sebutkan jenis rokok/ tembakau yang biasa [NAMA] hisap/ kunyah: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) Apakah [NAMA] biasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu.jam ……….

Makanan/ minuman manis b. seberapa besar [NAMA] menderita batuk atau bersin selama 10 menit atau lebih dalam satu serangan? E02 E08 Dalam 1 bulan terakhir.porsi D35 Sekarang saya akan menanyakan keadaan kesehatan menurut penilaian [NAMA] sendiri. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan orang lain dalam ruangan yang sunyi. sering terbangun pada malam hari atau bangun lebih awal daripada biasanya) Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan suara normal yang berdiri di sisi lain dalam satu ruangan. trasi) …… hari ……. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN JIKA ART UMUR >15 TAHUN E.XI. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali orang di seberang jalan (kira-kira dalam jarak 20 meter) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. SEDANG 5. 1 kali per hari 4. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali obyek sepanjang lengan/ jarak baca (30 cm) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir.Bumbu penyedap (vetsin.jam ……….porsi ……hari ……. kecap. RINGAN 4. berapa hari [NAMA] makan buah-buahan segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D33 Berapa porsi rata-rata [NAMA] makan buah-buahan segar dalam satu hari dari hari-hari tersebut? (GUNAKAN KARTU PERAGA) Biasanya dalam 1 minggu. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berdiri dalam waktu 30 menit? E05 E11 Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sering [NAMA] mengalami masalah kesehatan yang mempengaruhi keadaan emosi berupa rasa sedih dan tertekan? E03 E09 E04 E10 Dalam 1 bulan terakhir. Yang dimaksud dengan keadaan kesehatan disini adalah keadaan fisik dan mental [NAMA] E. dll) h.menit PERILAKU KONSUMSI D31 D32 D33 D34 Biasanya dalam 1 minggu. seberapa besar [NAMA] merasakan napas pendek setelah melakukan latihan ringan. seberapa sering [NAMA] mengalami gangguan tidur (misal mudah ngantuk.D30 Biasanya dalam sehari. SANGAT BERAT 2. Makanan berlemak D35a • • d. Tidak pernah Biasanya berapa kali [NAMA] mengkonsumsi makanan berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) a. berapa hari [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D35 Berapa porsi rata-rata [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar dalam sehari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) TANYAKAN D35 TANPA KARTU PERAGA DAN ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1.Minuman berkafein (kopi. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berjalan jauh sekitar satu kilometer? . babat. ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1.14 TAHUN.Makanan dibakar/dipanggang f. BERAT E01 Dalam 1 bulan terakhir. 3 – 6 kali per minggu 5. seberapa besar [NAMA] merasakan nyeri/ rasa tidak nyaman? E06 Dalam 1 bulan terakhir. TIDAK ADA 3. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN (ART UMUR ≥ 15 TAHUN) UNTUK PERTANYAAN E01 – E11. Jeroan (usus.Makanan yang diawetkan JIKA ART UMUR 10 . walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. Makanan asin c. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN g. < 3 kali per bulan 2. Misalnya naik tangga 12 trap? E07 Dalam 1 bulan terakhir. > 1 kali per hari 3. paru) e. berapa total waktu yang [NAMA] gunakan untuk berjalan kaki atau bersepeda? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) …………. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. 1 – 2 kali per minggu 6.

RINGAN 3. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN . TIDAK ADA 2. seberapa sulit [NAMA] mengenakan pakaian? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] membersihkan seluruh tubuh seperti mandi? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat berperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan (arisan. Kalau [NAMA] kurang mengerti kami akan membacakan sekali lagi. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas/ gerak (misalnya bangun tidur. atau kegiatan lain)? E13 E14 E18 E19 E15 E16 E20 UNTUK PERTANYAAN E21 – E23. BACAKAN & ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK E21 E22 E23 Dalam 1 bulan terakhir. SULIT 5.UNTUK PERTANYAAN E12 – E20. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. seberapa sulit [NAMA] dapat memelihara persahabatan? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya sebagai anggota rumah tangga? Dalam 1 bulan terakhir. SEDANG 4. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk merawat diri (makan. PERTANYAAN F01 SAMPAI DENGAN F20 HARUS TERJAWAB LANJUTKAN KE BLOK XI. berpakaian. SANGAT SULIT/ TIDAK DAPAT MELAKUKAN E12 Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat memusatkan pikiran pada kegiatan atau mengingat sesuatu selama 10 menit? Dalam 1 bulan terakhir. Jika [NAMA] ada pertanyaan akan kita bicarakan setelah selesai menjawab ke 20 pertanyaan. seberapa sulit [NAMA] dapat memahami pembicaraan orang lain? E17 Dalam 1 bulan terakhir. KESEHATAN MENTAL (SEMUA ART UMUR ≥ 15 TAHUN) DITANYAKAN UNTUK KONDISI 1 BULAN TERAKHIR Untuk lebih mengerti kondisi kesehatan [NAMA] kami akan mengajukan 20 pertanyaan yang memerlukan jawaban ”Ya” atau “Tidak”. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk berkomunikasi (berbicara dan dimengerti oleh lawan bicara)? F. mandi. namun kami tidak akan menjelaskan/ mendiskusikan.dll) Dalam 1 bulan terakhir. cemas atau kuatir? Apakah tangan [NAMA] gemetar? Apakah pencernaan [NAMA] terganggu/ buruk? Apakah [NAMA] sulit untuk berpikir jernih? Apakah [NAMA] merasa tidak bahagia? Apakah [NAMA] menangis lebih sering? F11 F12 F13 F14 F15 F16 F17 F18 F19 F20 Apakah [NAMA] merasa sulit untuk menikmati kegiatan sehari-hari? Apakah [NAMA] sulit untuk mengambil keputusan? Apakah pekerjaan [NAMA] sehari-hari terganggu? Apakah [NAMA] tidak mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup? Apakah [NAMA] kehilangan minat pada berbagai hal? Apakah [NAMA] merasa tidak berharga? Apakah [NAMA] mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup? Apakah [NAMA] merasa lelah sepanjang waktu? Apakah [NAMA] mengalami rasa tidak enak di perut? Apakah [NAMA] mudah lelah? PERIKSA KEMBALI. ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK F01 F02 F03 F04 F05 F06 F07 F08 F09 F10 Apakah [NAMA] sering menderita sakit kepala? Apakah [NAMA] tidak nafsu makan? Apakah [NAMA] sulit tidur? Apakah [NAMA] mudah takut? Apakah [NAMA] merasa tegang. seberapa sulit [NAMA] berinteraksi/ bergaul dengan orang yang belum dikenal sebelumnya? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari? Dalam 1 bulan terakhir. ISIKAN DENGAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. berjalan dalam rumah atau keluar rumah)? Dalam 1 bulan terakhir. keagamaan. pengajian.

tanggal. Umur [NAMA] dalam bulan b...... Bulan G06 G07 Di antara imunisasi yang [NAMA] dapatkan dalam dua tahun terakhir apakah ada yang diperoleh pada saat PIN? Apakah [NAMA] mempunyai KMS? (Minta ditunjukkan KMS) G08 1. Imunisasi campak yang biasanya mulai diberikan umur 9 bulan dan disuntikkan di paha serta diberikan satu kali? i.. DPT2 h.. Ya 2. Polindes 4. Berapa kali [NAMA] diimunisasi DPT? h.. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. Tidak G06 8... Tidak tahu . Ya.. Tidak G05. Tidak tahu G05. Imunisasi Hepatitis B yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di paha? j..c 8. Tidak Apakah dalam 6 bulan terakhir [NAMA] mendapatkan kapsul vitamin A (GUNAKAN KARTU PERAGA) Apakah [NAMA] pernah mendapat imunisasi seperti: (INFORMASI DAPAT DIPEROLEH DARI BERBAGAI SUMBER) a. Ya 2. Kali 2.. Tidak tahu G06 .. Ya 2...... Pada umur berapa [NAMA] diimunisasi BCG? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) c.. 3. DPT3 i. Tidak G05. Ya 1. Hari . Jika Umur [NAMA] < 1 bulan.... Ya..... Hepatitis B2 l.... Polio 1 c.. Berapa kali [NAMA] diimunisasi polio? f. cairan merah muda atau putih yang biasanya mulai diberikan umur 2 bulan dan diteteskan ke mulut? d.... Posyandu 5. Kali 2.. Imunisasi BCG terhadap TBC..h ... Kali 1.. tidak dapat menunjukkan G09 4. Polio 2 d...f .. ISI KODE ”88” Dimana [NAMA] paling sering ditimbang? 1.. Tidak 3.. Tidak punya G09 2. kali - Dalam 6 bulan terakhir..G........ Campak j.... dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G09 Salin dari KMS. Imunisasi polio... Tanggal lahir: (Tgl-Bln-Thn) G02 G03 G04 G05 a2.... tuliskan Umur dalam hari KE G04 .59 BULAN/ BALITA) G01 a1... IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN (KHUSUS ART UMUR 0 . Tidak tahu G05.. Imunisasi DPT yang biasanya disuntikkan di paha dan biasanya mulai diberikan umur 2 bulan bersama dengan imunisasi polio? g.……… 1. Bulan 1.. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’./ tahun.h 8.. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi polio? (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK BULAN) e.. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi. Bulan 2... Hepatitis B3 / / / / / / / / / / / / .. BCG b.. Ya . Tidak 8.. Tidak tahu 2. Tidak pernah imunisasi 8.... TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a.. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi Hepatitis B? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) k. Berapa kali [NAMA] diimunisasi Hepatitis B? 1.. Ya .... Puskesmas/ Pustu 3.. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA.. DPT1 / / / / / / / / / / / / g... Polio 4 f... Hepatitis B1 k..f 8. Ya .. berapa kali [NAMA] ditimbang? JIKA TDK PERNAH DITIMBANG. Di RS 2. yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di lengan atas atau paha serta meninggalkan bekas (scar)? b. JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN... Lainnya: . Ya 1. ISI KODE ”00” ATAU JIKA ”TIDAK TAHU”.. Hari 1.. Tidak G05. Tidak tahu G05.. Polio 3 e./ bulan..........c .

TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’. Ya 2... Lainnya ……………… / / / / / / G11 Bila tidak dapat menunjukkan... Normal 4. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN G11a H. Hepatitis B3 / / / / / / 3.. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G11a 3.. Polio 2 d. Polio 3 e. Pemeriksaan urin a. Penimbangan berat badan g. Ya . bidan. Polio 4 f. siapakah yang menyimpan KMS/buku KIA tersebut? 1.. Tidak H07 Apakah ketika ibu mengandung bayi [NAMA] pernah memeriksakan kehamilan pada dokter. 8 – 28 hari setelah lahir H07 Apakah [NAMA] mendapat pelayanan kesehatan (dikunjungi/ mengunjungi) pada: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN b) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Sangat Besar 1.. Pemeriksaan tinggi fundus (perut) d. BCG b. Kecil Apakah waktu lahir [NAMA] ditimbang Bila H02=Ya. Bidan/ tenaga kesehatan 2. DPT3 i./ bulan. tidak dapat menunjukkan G11 4. Ya 2. KESEHATAN BAYI (KHUSUS UNTUK BAYI BERUMUR < 12 BULAN) H01 H02 H03 H04 H05 H06 Menurut Saudara. Pemeriksaan tekanan darah c. berat lahir [NAMA] dalam ukuran (gram) : Darimana sumber informasi berat [NAMA] lahir: 1.. Pemeriksaan hemoglobin h. Besar 5. pelayanan kesehatan apakah yang diterima saat memeriksakan kehamilan pada dokter. Kader Posyandu • JIKA ART UMUR 0 – 11 BULAN • JIKA ART UMUR 12 . bidan atau perawat? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Pengukuran tinggi badan b. Pemberian imunisasi TT f. b. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi 2. Sangat kecil 2. Hepatitis B2 l. Ya.. Hepatitis B1 k. Tidak H05 2. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. Campak j. Pemberian tablet Fe e. Buku KIA/ KMS/ catatan kelahiran 3. Ya. atau perawat? Jika Ya. DPT1 / / / / / / / / / / / / g. tanggal.. JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN. . Pengakuan atau ingatan Ibu/ ART lain 1. 1 – 7 hari setelah lahir b. DPT2 h. Berat Badan [NAMA] ketika lahir : 1. Polio 1 c.G09 Apakah [NAMA] mempunyai buku KIA? (Minta ditunjukkan Buku KIA) 1. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a.59 BULAN LANJUT KE H01 XI. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA./ tahun. Tidak punya Blok G11a G10 Salin dari Buku KIA.

. Jika [NAMA] menggunakan kacamata. Tidak 2. Ya KIRI 2.. 9. Ya 1. lakukan pemeriksaan visus dengan tetap memakai kacamata 8.. Kanan: a. Kanan: / / b. Kiri: b.. Parut kornea d. 2. cm i. Sistolik 3 h. Tinggi Badan/ Panjang Badan (cm) KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN . Tidak 2. Diastolik 1 PEMERIKSAAN 2 d. Jika [NAMA] tidak menggunakan kacamata tetap lakukan pemeriksaan visus 2. Sistolik 2 e. b2....XI.... Ya 1. cm PEMERIKSAAN VISUS (KHUSUS ART > 5 TAHUN) 6 Apakah mata [NAMA] mengalami gangguan: (LAKUKAN PENGAMATAN] KANAN a.. LINGKAR PERUT. Tidak 2. Tanpa Pinhole Dengan Pinhole a.. .. Kiri: / / CATATAN UNTUK RESPONDEN YANG TIDAK DAPAT MELIHAT KARTU SNELLEN ATAU KARTU E 1... Berdiri 2. Menggunakan kacamata (jauh dan atau dekat)? 1. Nadi 3 . Ya 1. Ya 2. c1. Jika [NAMA] hanya dapat melihat GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter TULIS 01/300 5. Nadi 1 4 Lingkar perut f.. PEMERIKSAAN VISUS: 1. Ya 1. TEKANAN DARAH. Tidak 1. d1. KHUSUS WANITA USIA SUBUR (15 – 45 TAHUN) TERMASUK IBU HAMIL 5 Lingkar lengan atas (LILA) …. Sistolik 1 b. Lensa keruh/Katarak 7. Telentang . Jika [NAMA] tidak dapat melihat sinar (BUTA TOTAL) TULIS 00/000 LAKUKAN HITUNG JARI: . PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN PENGUKURAN ANTHROPOMETRI. Tidak 2.. 2a.. DAN LILA SEMUA UMUR 1.. Tidak 2. Ya 1.. b1.. Ya a1. d2. Diastolik 2 PEMERIKSAAN 3 Hanya dilakukan bila selisih pengukuran tekanan darah 1 dan 2 > 10 mmHg g. Tidak 2. Juling b. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 3 meter TULIS 03/060 2. Diastolik 3 c. 3 Tekanan darah (mmHg) PEMERIKSAAN 1 a. c2.. Pterigium c. Nadi 2 …….. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 2 meter TULIS 02/060 3. Berat badan (kg) 2b. Ya 1. Khusus untuk balita. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 1 meter TULIS 01/060 4. Tidak 1. Posisi Pengukuran TB/PB 1. Tidak a2... Jika [NAMA] hanya dapat melihat SINAR SENTER TULIS 01/888 6...

Apakah diambil Urin (khusus ART umur 6 – 12 thn) STIKER NOMOR URIN 1. Tidak KE CATATAN PENGUMPUL DATA TEMPEL STIKER DI SINI CATATAN PENGUMPUL DATA . Ya 2.13 atau KE CATATAN PENGUMPUL DATA 12.PEMERIKSAAN GIGI PERMANEN (KHUSUS ART ≥ 12 TAHUN) 10. STIKER NOMOR DARAH TEMPEL STIKER DI SINI 13 14. Apakah diambil spesimen darah 1. Ya 2.M. Berilah kode D. atau F pada setiap ruang dentogram di bawah ini: D (decayed) = gigi berlubang M (missing) = gigi telah dicabut/ tinggal akar F (filling) = gigi ditambal CATATAN: JIKA PADA GIGI YANG SAMA TERDAPAT LUBANG DAN JUGA TAMBALAN MAKA TULISKAN “DF” PADA SATU RUANG DENTOGRAM TERSEBUT 8 7 6 5 (I) Kanan 4 3 2 1 1 Kiri (II) 2 3 4 5 6 7 8 8 7 6 III Kanan 5 4 3 2 1 Kiri IV 1 2 3 Kiri (IV) 4 5 6 7 8 (III) Kanan DIISI OLEH PENGUMPUL DATA ∑D-T ∑M-T ∑F-T 1 = Incisivus 1 (gigi seri 1) 2 = Incisivus 2 (gigi seri 2) 3 = Caninus (taring) 4 = Premolar 1 (geraham kecil 1) 5 = Premolar 2 (geraham kecil 2) 6 = Molar 1 (geraham besar 1) 7 = Molar 2 (geraham besar 2) 8 = Molar 3 (geraham besar 3) PEMERIKSAAN DARAH DAN URIN 11. Tidak KE XI.

Lainnya a. Normal ________bulan 2. KEADAAN BAYI KETIKA LAHIR 6. Operasi 1 . _________ hari 3. ________ jam 1. Bagaimana proses kelahiran bayi? c. Lama/sulit 3. Di perjalanan 4.RT II. penyebabnya ____________________ Umur ibu pada saat melahirkan bayi yang meninggal? ______________ tahun Berapa jumlah kehamilan (G). Normal 1. b. 2. Laki-laki 2. 5b Jika YA BAYI LAHIR HIDUP. III. Di rumah b. AUTOPSI VERBAL BAYI MENINGGAL BERUMUR 0-28 HARI IVA. persalinan (P). AV1 Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No. apakah bayi ketika lahir sempat bernafas. Lainnya. Berapa bulan umur bayi di kandungan? b. Cepat 2. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Penolong Terakhir JIKA LAHIR MATI (JAWABAN BLOK II P 5A DAN P 5B ADALAH 98) LANJUTKAN KE BLOK V P24 IV.urut yg meninggal: _________ Kutip dari RKD07. Penolong Pertama G P A 8. No. TANYAKAN KEPADA ART YANG MERAWAT BAYI/ YANG MEWAKILI) 1.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan____/ tahun ____ / / / / Jika tanggal lahir dan tanggal yang meninggal sama. keguguran (A) yang dialami ibu? Siapa saja yang menolong ibu ketika melahirkan bayi tersebut? 1. Family/keluarga 5. Sakit 3. Vakum 3. Meninggal. Di fasilitas kesehatan 2. Sehat 2. merintih/menangis lemah atau bergerak? Jika TIDAK BAYI LAHIR MATI. 5.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR < 29 HARI I.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini Bagaimana kesehatan ibu neonatal saat ini? 1. Apakah bayi lahir normal atau dengan bantuan alat atau operasi? 1. Perempuan 1b. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a. _____________________. tuliskan angka 98 pada P5a. Dukun 4. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Blok No. KARAKTERISTIK IBU NEONATAL (BILA IBU NEONATAL MENINGGAL. 4. tanya umur bayi saat meninggal TULISKAN “88” BILA TIDAK TAHU 5 6 Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? a. 2 3 4 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal 1. Bidan/Tenaga paramedis lainnya 3. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel No. Dokter 2. Tidak tahu 3. PENGENALAN TEMPAT RKD07. a.

Tidak 2. Lemah 1. a. Tidak 2. Tidak tahu 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Alkohol/ betadine 1. Ya 2. Apakah saluran nafas bayi dibersihkan segera setelah lahir? f. Tidak tahu 3. Kemerahan 2. Lambat 1. Jika menangis. Ya 1. Tidak tahu 8. Bokong/kaki 3. Tidak tahu P10c 8. a. Kuning 3. ________ gram 1. Tidak tahu P9c P9c 1. Apakah warna air ketuban? g. Silet/pisau 1. Jernih 2. Kepala 1. Segera 2. Tidak tahu P10c 8. Tidak tahu 2. Tidak 2. Tidak ada tulang kepala belakang (anencephalus) d. rata-rata. Ya 1. Lumpuh/lunglai 8. Merintih 8. apakah bayi sangat kecil. Apakah bayi dibedong segera setelah lahir? 7. Tidak 2. Apakah bayi ditimbang segera setelah lahir? b. Ya 1. Kepala besar (hidrosefalus) c. demam. Aktif 1. Benjolan pada dinding perut sekitar pusar (omphalocele) e. Tidak ada 1. berapa berat badan bayi? c. Bambu 8. Tidak 2. Keruh 1. Tidak ada 8. muntah. Tidak diberi apa-apa 2. Ada 2. Bagaimana warna kulit bayi ketika lahir? 1. sesak. Kehijauan 8. Kembar 3. Tunggal 1. Ya 1. Tidak 2. Tidak 2. Ceritakan gejala awal dan utama bayi ketika sakit? (kejang. Ramuan daun/abu 8. Tidak ada lubang dubur (atresia ani) f. Ya 1. a. Keras 2. Ada. Pucat 1. Jika ya. Apakah bayi bergerak aktif atau lumpuh/ lunglai? e . Apakah ada trauma lahir sehingga bayi terluka? Sebutkan e. a. lebih besar atau sangat besar? 11. tubuh dingin. lainnya) TANYAKAN DAN CATAT LAMANYA SAKIT _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 2 . Sangat kecil 2. Tidak tahu 2. Tidak bernafas 8. Apakah bayi lahir kembar? 8. Kebiruan 4. Tidak tahu 8. Tidak 2. Bagaimana nafas bayi ketika lahir? d. Jika tidak ditimbang. Normal 2. Gunting 2. Apakah tali pusar keluar sebelum bayi lahir? c. Ya 3. Tidak tahu 3. lebih kecil. Sesak nafas 1. Ya 1. Lainnya (tuliskan) ____________________________ 1. Ya 1. Tidak tahu 2. Lebih kecil dari rata-rata 3. Tidak 8. Tidak tahu IVB. Rata-rata/normal Apakah bayi dilahirkan dengan cacat bawaan: (Tanyakan satu persatu kepada ibu/keluarga yang mendampingi) a. Tidak tahu 8. Tali pusar diobati dengan apa? 9. KEADAAN BAYI KETIKA SAKIT [Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/hari)] 12. Tidak tahu 2. Tidak 8. Ya 1. Apakah ada lilitan tali pusar di leher bayi? d. Ya 1. Tidak tahu 8. Apakah bayi segera menangis setelah lahir? b. Tidak tahu 8. Apakah kulit bayi terkelupas ? 10. Bahu/tangan 8. Tidak tahu 3.d. Lebih besar 5. Tidak tahu f. apakah suaranya keras/ lemah? c. Tidak tahu 3. Bibir/langit-langit sumbing b. Sangat besar 8. Tidak P11 4. Tali pusar bayi dipotong dengan apa? b. Tidak menangis 8. _________ 2. Bagian tubuh apa yang pertama keluar ketika bayi lahir? b. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8.

Kuning 2. Merah muda 2. Tidak tahu 4. _______hari 1. Lainnya. a. Tidak tahu 8. Tidak 2. Jika ya. Tidak 2. _______hari 1. Tidak tahu 8. _______hari 1. Ya. Tidak tahu 8. seperti mulut ikan? b. Tidak 8. Apakah warna tubuh bayi? b. apakah gangguannya? 2. Tidak P23c 2. Lemah 4. Air buah 5. Tidak tahu P23c 3. Apakah ada gangguan dalam buang air besar (BAB)? b. _________ hari 3. a.Tidak tahu P21a b. Tidak P15 8.13. Tidak tahu 8. a. Pucat 1. Bagaimana sifat pernafasan bayi? 2. Normal 2. _______hari 1. Kuat 1. Apakah diberikan minuman/makanan lain sebagai berikut? (jawaban dapat lebih dari satu) 3 . Tidak tahu 8. Ya. Apakah warna kaki/ tangan bayi? c. Air tajin 2. Ya. Tidak menangis. Ya. Tidak 2. Tidak tahu 1. _____ hari 1. _______hari 2. Warna kuning. _______hari 1. Tidak tahu 8. _______hari 1. Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam? 16. Tidak 2. Ya. a. Kuning 3. Normal. _______hari 1. Ya. Ya. Nafas normal 2. Tidak bisa mengisap 7. Sehabis minum ASI. Tidak tahu 8. Apakah tubuh bayi dingin? 20. Pucat 1. Merah muda 2. ______ hari 1. _____hari 8. a. _______hari 1. ________ 23. Cekung. Apakah mulut bayi mencucu. ______hari 8. Air madu/gula 3. Ya. Tidak tahu 8. _____hari 2. Tidak 2. Ya. Kebiruan 4. Berulang-ulang. _______hari 1. Apakah ada luka/bercak putih di dinding rongga mulut? 19. Tidak tahu P15 b. Ya. Apakah diberi Air Susu Ibu (ASI)? b. Tidak 2. _______hari 1. Ya. Ya. Menangis dgn suara melengking tiba-tiba dan terus-menerus 8. Tidak 3. Tidak P23a 2. Ya. Apakah perut bayi kembung? b. Tidak 2. Bagaimana muntah tersebut terjadinya? 1. Air putih 2. Tidak tahu 1. Diare. Tidak tahu 8. _______hari 1. Bagaimana keadaan mata bayi? 18. Tidak Tahu 8. Tidak tahu 8. ____ hari 4. Apakah bayi muntah? b. gelembung berisi apa? 15. Tidak tahu 8. Tidak 2. a. _______hari 1. a. _____ hari 2. Tidak 2. Apakah ubun-ubun bayi menonjol? 14. Tidak tahu P23a 21. Tidak 2. ____ hari 1. Susu formula 6. Tidak tahu 8. Kebiruan 4. Ya. Cairan keruh/nanah 8. Ya. Bagaimana bayi mengisap ASI? c. Nafas cepat/ megap-megap . a. Bagaimana suara tangisan bayi? 1. Melemah. ____ hari 1. Tidak 2. Ya. Apakah cuping hidung kembang kempis ketika nafas? d. ____hari 8. Ya. Apakah ada batuk? c. _____ hari 3. Apakah bayi demam? b. Tidak tahu 8. _______hari 1. Apakah kulit bayi bergelembung? d. Pisang 8. Apakah bibir berwarna kebiruan? c. Apakah bayi mengalami penurunan kesadaran? (bayi dibangunkan tetapi tidur terus) 17. Jika ya. Tidak tahu 8. Apakah terlihat ada benjolan di perut? 22. Apakah bayi kejang? b. _______hari 1. Ya. a. _____ hari 1. Tidak P21a 2. Tidak tahu 1. a. Tidak tahu 8. Apakah mengeluarkan air liur terus-menerus? d. Tidak bisa BAB. Belekan. Nasi 8. Cairan jernih 2. _______hari 1. Tidak 2.

sakit jantung h. Tidak tahu 8. _______________________________ 25. Ya 1. Ketika ibu bersalin. Ya 1. Tidak 2. Ya 1. apakah mengalami komplikasi? a. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak 2. Ya 1. Tidak 2. lesu. Ya 1. asthma. Tidak tahu 8. Sulit ketika melahirkan b. Tidak 2. Tekanan darah tinggi dan atau bengkak b. Ya 1. Tidak 2. Nyeri perut hebat d. Tidak tahu 8. Tidak 8. Sesak napas. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak 2. Kejang/ eklampsi e. Tidak tahu 8. Ya 1.V. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya 1. Pusing. Tidak tahu 8. Ketika ibu hamil. Lainnya ________________________________ Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Tidak tahu 8. Demam h. Perdarahan c. Ya 1. Tidak tahu 8. Nyeri perut hebat g. Tidak 2. RESUME RIWAYAT SAKIT VIA. lemah. Tidak tahu 8.BAYI USIA 0-28 HARI TERMASUK LAHIR MATI (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Jenis kelamin dan umur bayi ketika dikandung: Berat badan lahir: Keadaan waktu lahir dan bagian tubuh yang keluar lebih dulu: Riwayat sakit: 4 . Ya 1. Tidak 2. Tekanan darah tinggi f. Tidak tahu 8. Tidak 2. Cedera/kecelakaan k. Ya 1. Tidak 2. Tidak 2. Sakit kuning j. Ya 1. Kejang l. Lainnya. Ya 1. Tidak tahu VI. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak 2. Demam g. Radang paru. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. Ya 2. Ya 2. AUTOPSI VERBAL KESEHATAN IBU NEONATAL KETIKA HAMIL DAN BERSALIN 24. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Tidak 2. Sesak nafas i. Ya 1. tuberculosis i. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya 1. Ketuban pecah dini d. Tidak 8. Tidak 2. kunang-kunang e. Tidak 2. Ibu kurus (kurang energi kronis) f. Ya 1. apakah mengalami komplikasi? a. Perdarahan c. Tidak tahu 8.

Keadaan relevan lain yang menyebabkan kematian bayi/lain... ...................... Tanggal: .......... ... Penyakit/keadaan lain ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ e.. Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 0-6 hari (diisi oleh dokter) a. Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 7 hari – 28 hari (diisi oleh dokter) a... Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c. Telah diperiksa oleh Ketua Tim................ Penyakit atau keadaan utama janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ b... Penyakit atau keadaan lain janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ c........... 5 ................. ...... ....... Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ____________________________________________________________________________ d... tetapi tidak berkaitan dengan penyakit/keadaan janin/bayi maupun ibunya: _____________________________________________________________________________ Kode ICD 10 ......... ...VIB....... Tanda tangan:............ tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada Rangkaian a-c ________________________________________________________________ ...... Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian..... RESUME KEADAAN IBU (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur ibu ketika melahirkan: GPA: Penolong persalinan: Proses persalinan: Komplikasi kehamilan: Komplikasi persalinan: 26... Kode ICD 10 27... Penyakit/keadaan utama ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ d......... ..... ..... Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) _____________________________________________________________________________ b. Nama:..............

Menurut responden. Di fasilitas kesehatan 2. PENGENALAN TEMPAT No. Ya. Susu formula 3. Apakah [NAMA] minum ASI ketika sakit? b. menyusu Lemah 1. Apakah [NAMA] ketika lahir kecil atau berat badan kurang dari 2500 gram? b. bidan. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] menderita cacat bawaan? b. Pisang 7. _____ bln 1. Jika ya.urut yg meninggal: . Perempuan 1b. berapa berat badan ketika lahir c. a. ASI saja 2.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ a. No.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 29 hari . Ya 2. Lainnya.< 5 tahun I. Laki-laki 2.. Ya. . KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. Air putih 4.RT II. Tidak 8. Sudah tidak minum ASI 6. AV2 Prov Kab/ Kota Kec No Kode Sampel No. apa penyebab kematian [NAMA]? (termasuk keterangan dari perawat.. Sub Desa/Kel D/K Sensus Blok Sensus RKD07. Bubur 9.. Nasi 10.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini b.... Jenis minuman/ makanan apa lagi yang diberikan? (jawaban dapat lebih dari satu) 1.hari (<30 hari) 1. Di perjalanan 4.. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ 2. Tidak P4a ______________________________________ 4. Jika ya. a. ____________________ III. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07... a. Tidak bisa menyusu 4. menyusu kuat 2. Di Rumah / / b. Tidak P2c 8. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Tidak tahu P2c __________ gram 1. Air buah 5.. Kutip dari RKD07. _________________ 1 . Air madu/gula 3. Ya 2. Ya. Makanan bayi siap saji 8.. Tidak tahu P4a 3.. dokter) __________________________________________________________________________________________________________ c. Blok No. a. Lainnya.... Apakah [NAMA] lahir prematur? 1. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT BALITA (29 hari ....<5 tahun) Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (hari/bulan) 1.bulan (< 5 tahun) / / 3. sebutkan jenis cacatnya 2.

Ya. Bagaimana sifat demamnya? c. Ya. 11. Tidak 2. _____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] sesak nafas/ sulit bernafas? Apakah [NAMA] nafas dengan cepat? Apakah dinding dada bagian bawah tertarik ke dalam sewaktu menarik nafas? Apakah [NAMA] sakit di daerah perut? a. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. 19. Ya. _____hr ____bln 2. Tidak tahu 8. usia_______bulan 1. _____hr 1. Kering 2. Tidak 2. Tidak 2. Ya. Apakah ada benjolan di sekitar leher? b. _____hr 1. _____hr 1. 12. Ya. Tidak 2. Tidak tahu 8. Berulang disertai keringat malam 2. usia_______bulan 1. Tidak tahu 8. Tidak Tahu 8. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? d. Ya 1. Tidak P17 2. Menggigil 4. Apakah perut [NAMA] membesar/membuncit? a. Ya. Tidak 2. _____hr 1. Ya. _____bln 1. Tidak Tahu 8. Jika positif malaria. Ya 1. Tidak 2. Tidak 2. _____hr ____bln 1. 7. Ya. Jika ya. _____hr 1. Tidak 2. _____hr 1. Ya. Tidak tahu P6 8. _____hr ____bln 1. Batuk terus menerus 8. Ya. _____hr 1. Tidak Tahu 8. apakah sifat batuknya c. apakah diberi obat? 6. Tidak 8. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak P8 P6 8. Tidak tahu 2. Apakah [NAMA] ada parut BCG a. Tidak tahu 2 . Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] batuk? b. Pertusis. kapan diperiksa? e. _____. Apakah pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? Jika ya. Ya. Apakah dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal berat badan [NAMA] tidak naik? c. Tidak tahu 8. 21. 9. _____hr ____bln 1. _____hr 1. Apakah [NAMA] diare? b. Tidak Tahu 8.c. Tidak tahu 8. Positif. Tidak tahu P6 5. Tidak P13 2. Jika ya. Apakah [NAMA] muntah-muntah? b. Tidak tahu 8. usia ____. Tidak 2. Berdahak 1. Apakah ada benjolan yang tidak normal di perutnya? 14. _____hr 1. Tidak 2. Tetanus Campak Hepatitis d. Tidak tahu 8. Ya. kapan obat mulai diberikan? 8. Apakah [NAMA] luka/sariawan di rongga mulut? 18. Ya. Ya. Tidak tahu P13 8. Tidak tahu 8. Tidak 8. Ya 1. 20. Ya. Ya. Tidak tahu P8 3. Tidak tahu 8. Naik turun 1. Ya. Tidak 2. Tidak 2. Apakah [NAMA] terlihat pucat terutama di bibir atau telapak tangan? d. Apakah [NAMA] kurang gizi sebelum sakit? b. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. 10. Tidak 2. Ya. Terus menerus 2. Tidak tahu P17 8. _____hr 1. 3. _______hr 1. Tidak tahu 8. _____bulan 1. Ya 1. Ya. _____bln 1. a. 16. Apakah [NAMA] mengalami demam sebelum meninggal? b. Apakah [NAMA] pernah diimunisasi sebagai berikut: Diptheri. apakah muntah disertai dengan darah berwarna kehitaman? 13. Ya. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Ya. Tidak tahu 8. Tidak 2. terutama kelopak mata? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? Apakah pergelangan kaki/persendian lain bengkak? 1. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Apakah diare disertai lendir dan atau darah? Apakah mata [NAMA] cekung/ haus/ kulit mengkerut/ tidak kencing? a. _____hr ____bln 1. Ya. Ya. Tidak 2. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 1. Ya. _____hr 1. Bagaimana hasilnya? Jika positif. 17. Tidak 2. ________ hr 1. Apakah [NAMA] kejang? a. Tidak 2. _____hr 1. Tidak 2. Ya. Tidak 2. Ya. Tidak 2. Negatif 2. Tidak P6 2. 15. 22. Apakah warna putih mata jadi kuning? Apakah tubuh [NAMA] berwarna biru setelah beraktifitas atau menangis? Apakah muka [NAMA] bengkak.

Ya. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] menderita campak sebelum meninggal? Apakah ada bintik-bintik merah di kulit? Apakah [NAMA] mimisan? Apakah [NAMA] sering ngantuk bukan pd jam tidur? Apakah [NAMA] kaku kuduk (kaku di leher)? Apakah [NAMA] mengeluh sakit kepala? Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? Apakah [NAMA] mengalami lumpuh satu atau dua tungkai? Apakah [NAMA] mengalami gangguan kencing? Apakah kencing bercampur darah? a. _____hr 1. Ya.... Ya. 24.. terbakar. _____hr 2... Tanda tangan: . Apakah [NAMA] pernah digigit anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b..23.. Tidak 2. Tidak tahu 8..... lama sakit): Berat badan lahir: ___________gram Prematur/ Cukup bulan:__________________ 36. . 28. Tidak tahu 8..... Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ___________________________________________________________________________ b..... _____hr 1. Ya. _____hr 1... . Tidak tahu 8. Jika ya.... _____hr 1. _____hr 1. Tanggal: _________________________ 3 ... Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c. _____hr 1. Tidak tahu 8... Ya. Tidak 2. Apakah [NAMA] pernah cedera karena kecelakaan lalu lintas atau lainnya (jatuh. 29. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian.. _____hr 1. 30. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a-c ___________________________________________________________________________ Kode ICD 10 ..... tenggelam. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ___________________________________________________________________________ d. Tidak tahu 8. _____hr 1. dll)? b. sebut jenis binatang apa (anjing.. _____hr 1... ular. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. Tidak 2. RESUME RIWAYAT SAKIT BAYI/ BALITA (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur balita: ________ Cacat bawaan: Riwayat sakit (tanda.. ..... Ya.... kalajengking. gejala. _____hr ____bln 2. Tidak tahu P35 _______________________________________________________ 1.. Tidak tahu 8. Telah diperiksa oleh Ketua Tim.. kera... Ya.. Tidak 2...... Tidak 2... Tidak tahu 8. Jika ya. 34. 33.. Tidak tahu 8... 26. Ya...... 25. Tidak 2. 27.. Ya. Ya.. Tidak 2. _____hr 1.. Diagnosis Penyebab Kematian Bayi/ Balita (29 hari . _____hr 1.< 5 tahun) (DIISI OLEH DOKTER) a..... Tidak 2. Tidak 2. 32. sebut jenis cedera 1......... Ya.. Tidak IV 8.... Tidak tahu 8.... Jika ya. Nama: .. Tidak 2.. Tidak 2. dll)? a. Ya..... Tidak P35 8.. Ya... Tidak tahu 8... Tidak tahu IV 35 ________________________________________________________ ________________________________________________________ IV. 31.

Tidak 8.... Apakah [NAMA] demam/ panas tinggi sebelum meninggal? a. Tidak/ Tidak tahu 8.. Tidak tahu 8. Nomor responden (Kutip dari RKD07. 4. Di fasilitas kesehatan 2. Lainnya ___________________ III. Tidak tahu 1 . Naik turun 1. 5. Kadang-kadang 2. Tidak tahu 8. Ya 1. Berulang disertai keringat malam 2. Tidak tahu 8. 2.urut yg meninggal: . AUTOPSI VERBAL UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/ hari) 1a. Bagaimana sifat demamnya? b. apa penyebab kematiannya? (termasuk keterangan dari perawat dan dokter)_____________________________________. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Tidak tahu 8.hr 1. Laki-laki 2. Tidak tahu 3. Ya. 6. Tidak tahu 8. Ya 1. _____ hr 1.. Tidak 2. AV3 I.RT II. Tidak tahu P3 3. Tidak 2. kapan diperiksa? d. Bagaimana hasilnya? Jika positif. ______. Tidak 2. ____hr ____bln 1. b. Positif. c. No. Perempuan 1b.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini . KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. Di perjalanan 4. ____hr ____bln 1. apakah diberi obat? 1. Ya.. Kutip dari RKD07. Menurut responden. . Terus menerus 2. Sub Blok Sensus No Kode Sampel No.. Di Rumah / / / / 3. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? c.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ _______ tahun 1. Blok Sensus No. Ya.. ____hr ____bln 2. Apakah [NAMA] sesak nafas ketika melakukan pekerjaan ringan? Apakah [NAMA] sesak nafas ketika tidur sehingga harus diganjal dengan beberapa bantal? Apakah [NAMA] pernah mengeluh jantung berdebar-debar? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? 8. Ya. Tidak 2. Jika positif malaria. Negatif 2. PENGENALAN TEMPAT Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No.. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: ___________________________________________________________________________________ ____________________________________________________________________________________________________________________________ 1.. Naik turun disertai menggigil 4. Ya. Tidak P3 8.. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT III A.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS RKD07. ____hr ____bln 1..

Lainnya. Ya. Ya. Ya. ______ 2. pada perut bagian mana? 3. Tidak tahu 8. apakah tinja bercampur dengan darah dan lendir? 18. Di atas 2. Apakah pergelangan kakinya bengkak? Apakah persendian lainnya bengkak? Apakah [NAMA] nafasnya berbunyi/ mengi? Apakah [NAMA] batuk lebih dari 2 minggu? Jika ya. 12. Tidak 2. 11. Tidak 2. Dahak + darah 4. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 2 . Hilang timbul 1. Di bawah 1. Berdahak 1. Tidak P14 8. Apakah perut [NAMA] membuncit/ membesar? b. Ya. Apakah [NAMA] mengeluh nyeri dada hebat? b. ____hr ____bln 1. Jika ya. Tidak tahu 8. Tidak P12 3. Ya 1. 23. Ya. 19. ____thn 1.bln 1. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Ya. Tidak tahu 8. Ya. Tidak tahu P22 P19 P12 2. Apakah [NAMA] nafasnya pendek-pendek dan cepat? Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ketika bernafas? Apakah [NAMA] perokok berat? Berapa lama merokok? a. _____. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 14. Tidak tahu 8. 26. Ya. Ada darah 2. 21. Tidak 2. Tidak tahu 8. 13. ____hr ____bln 1. Ya 1. Kering 2. Tidak tahu 8. Di tengah 2. ____hr 1. Tidak P29 28. Tidak 2. Di atas 2. Ya. Tidak 2. ____bln___thn 1. Tidak 2. a. Tidak tahu 8. Tidak P30 29. Tidak 2. Ya. Kiri 2. Tidak 2. Ya. tiba-tiba < 1minggu 2. Tidak 2. Seluruh perut 2. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Ya. dan sering BAK/ kencing? Apakah [NAMA] pernah ada luka yang sulit sembuh? Apakah [NAMA] ada rasa kesemutan di kaki/ tangan? a. Tidak tahu 8. minum. 15. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tengah 3. Ya. Ya. gangguannya apa? 3. Tidak tahu 8. Kanan 1.7. Apakah [NAMA] nyeri ketika BAK/kencing? Apakah air seninya berwarna merah? Apakah [NAMA] banyak makan. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] menderita diare? b. Ya. Tidak tahu 8. Ya. Tak dapat BAK 2. Tidak tahu 8. bagaimana timbulnya? 2. Bagaimana sifat nyerinya? 1. Tidak 2. Ya. ____hr ____bln 1. 17. Tidak tahu 8. Jika ya. Tidak tahu 8. Ya. Tidak P28 8. Tidak tahu 8. Terus-menerus 2. Apakah [NAMA] mengalami nyeri perut? b. 24. Tidak 2. Jika ya. 27. Tidak tahu 8. 20. Tidak tahu 8. Di bawah 1. a. pada perut bagian mana? 3. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. di bagian mana? c. Jika ya. Tidak tahu P22 8. Ya. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Tidak tahu P19 8. Tidak 2. Ya 1. bagaimana sifat batuknya? Apakah [NAMA] pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? a. 25. Jika ya. Tidak tahu P30 P29 P28 22. Ya 1. 8. Ngompol 4. bertahap > 1 minggu 8. 9. Tidak tahu P14 8. 10. Apakah ada benjolan di perutnya (tumor)? b. Apakah [NAMA] kekurangan cairan tubuh? Apakah [NAMA] mengeluh sulit menelan? Apakah [NAMA] sakit kepala? a. ____hr ____bln 1. 16. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. ____bln___thn 1. Tidak tahu 8. Sedikit-sedikit 1. Jika ya. Tidak 2. Apakah [NAMA] ada gangguan Buang Air Kecil (BAK)/ kencing? b.

serangga lain) • • • ____________________________________________________ 44 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 Tahun Ke Atas IIIB Jika YANG MENINGGAL adalah Laki-Laki Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 5-9 Tahun atau Laki-Laki Umur 5-14 Tahun III B. Ya. Jika ya. Tidak tahu 4. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 8. Ya. Ya. Tidak tahu P36 36. terbakar. 37. Tidak tahu P43 39. ditusuk. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] menderita penyakit kulit? b. Tidak tahu 8. Jika ya. Mendadak 2. sebut jenis cedera (patah tulang. ____hr ____bln 2. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Ya. a. Jika ya. Tungkai kanan 2. Jika ya. tenggelam. Tidak 2. Jika ya. Tidak P36 34. a. Apakah [NAMA] pernah cedera akibat kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan lainnya (jatuh. Tidak tahu P38c ____________________________________________________ 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Apakah ada kaku kuduk? 35. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 2. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] ada luka atau benjolan pada payudara atau kulit payudara berkerut seperti kulit jeruk dan atau puting payudara keluar cairan kemerahan? Apakah [NAMA] keluar darah berlebihan pada saat datang bulan/ menstruasi? 1. Ya. Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? b. Tidak 2. Tidak P34 8.RESUME 45. ____hr ____bln 1. Tidak tahu P33 2. Tidak tahu 8. 32. Lengan kiri 1. Apakah ada bagian tubuh [NAMA] yang lumpuh? b. Tidak tahu 8. berapa kali dalam sehari kejang? 8. Tungkai kiri 8. Tidak 2. 42. Tidak 2. Tidak tahu 8. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN UMUR 10 THN KE ATAS IV. Tidak 8. Apakah ada benjolan di sekitar leher 2. dll? b. Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? b. sebut jenis binatang (kera.kali/ hari 1. a. Tidak P31 8. Ya. Ya. ____hr ____bln _______. 38. Tidak P43 8. Tidak 2. Ya. Tidak tahu P44 43. Tidak tahu 8. Tidak tahu 3. Lengan kanan 2. Ya. Jika ya. Apakah berat badan [NAMA] turun secara mencolok sebelum meninggal? Apakah [NAMA] mengalami sariawan luas di mulut sebelum meninggal? a. Tidak 2. gegar otak dll) ____________________________________________________ ____________________________________________________ 1. ____bln 1. Tidak P44 8. keracunan. apakah muntahnya campur darah? 1. Tidak P38c 8. anjing. Tidak 2. Tidak 2. ____hr 1. a. Ya. ____hr ____bln 1. Ya. Tidak 2. bagaimana proses penurunan kesadaran? P33 8. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Ya. Ya. Ya. Ya. Tidak 2. ular. 40. jelaskan gejala yang timbul pada kulit c. ____hr ____bln 1. Ya. Apakah [NAMA] menderita kejang? b. ____hr ____bln 1. 41. ____hr ____bln 1. ____hr 1. Apakah [NAMA] pernah digigit oleh anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b. kalajengking. Apakah [NAMA] tampak pucat? Apakah muka [NAMA] bengkak/ sembab? Apakah mata [NAMA] berubah jadi kuning? a. Ya. a. Bertahap beberapa hari 2. Ya.30. Apakah [NAMA] muntah-muntah ketika sakit? b. bagian tubuh mana yang lumpuh? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. Tidak tahu 3 . Ya. 46. ____hr ____bln 2. Apakah [NAMA] bicara kacau selama sakit parah? a. Jika ya. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. Tidak tahu P31 31. Jika ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu P34 33.

Tidak P60 8. Tidak 2. Ya. Tidak 2.54 Tahun PERNAH KAWIN IIIC Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Bagaimana kondisi bayi [NAMA] setelah lahir? • • 1. Tidak 3. Ya. Ya. Tidak 2. Tidak 2. Ya 1. 65. Ya 1. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Apakah [NAMA] meninggal ketika sedang hamil? Apakah [NAMA] menderita tekanan darah tinggi ketika hamil (dikatakan oleh tenaga medis) atau kejang ? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan hebat ketika hamil? 1. Kembar. Dengan cara apa bayi dilahirkan? c. Kembar. hari ke ____ 1. Tidak tahu 8. Ya 1. Ya. 55. Tidak tahu 8. Tunggal 1. 50. Tidak tahu P52 LANJUTKAN KE P67 52. Tidak 2. Tidak 8. hari ke ____ 1. hari ke ____ 1. Tidak tahu 8. 54. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] meninggal setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] kejang setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] perdarahan setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] demam tinggi setelah melahirkan? Apakah ada cairan berbau busuk keluar dr jalan lahir setelah melahirkan? a. 59. Tidak tahu 8. Pada waktu bayi lahir.RESUME 4 . Apakah [NAMA] mengalami perdarahan dari jalan lahir di luar siklus menstruasinya? b.54 Tahun BELUM KAWIN P. Tidak Tahu P66a 3. Lengan/ kaki 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] melahirkan tunggal atau kembar? b. Tidak 2. Siapa saja yang menolong persalinan? b. bagian tubuh mana yang keluar lebih dahulu? 66. Ya. Ya. Ya. apakah perdarahan masih terus sampai meninggal? 1. Hidup 2. Tidak P52 8. Tidak 2. Ya. semua bayi meninggal 67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10-14 Tahun IV. ____hr ____bln 1. hamil ___bln 1. Keluarga 2. 53. a. hari ke ____ 1. hari ke ____ 1. Dokter P67 8. 58. Tidak tahu 8. 61. Ya. Tidak tahu 48. Ya 1. Ya P67 2. Tidak 2. Tidak 2. 57. _____bln 1. Kembar 3. 63. Ya. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 2. Kepala 2. Jika ya. satu bayi meninggal 4. hamil ___bln 2. Tidak 2. Tidak tahu P60 LANJUTKAN KE P65a 60. 56. Tidak 2. Tidak tahu 8. 64. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 10-54 TAHUN 49. Tidak tahu 8. Ya. Tidak tahu P67a 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya 1. a. Tidak tahu 2. Tidak tahu 8.Opeasi Sectio P66a 8. Ya.47. 62. Tidak 2. Dukun 2. Bidan 1. Ya 1. Vakum P66a 1. Meninggal 3. ____ jam 1.67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 55 Ke Atas IIID III C. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] mengalami keguguran (umur kehamilan < 22 minggu/ 5 bulan) sebelum meninggal? Apakah [NAMA] meninggal pada saat melahirkan? Apakah [NAMA] demam tinggi saat melahirkan? Apakah [NAMA] kejang saat melahirkan? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak sebelum bayi lahir? Apakah [NAMA] sulit/ lama (lebih dari 12 jam) ketika melahirkan? Apakah ari-arinya sulit lahir? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak (lebih dari 3 kain) setelah bayi lahir? 1. Tidak 2. Lahir spontan 2. Bokong 1. Apakah [NAMA] mengeluarkan cairan tidak normal dari jalan lahir? Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Tidak tahu 4. 51.

c ________________________________________________________ Kode ICD 10 . ____bln ____thn 1. Sakit lambung/ maag e. Asthma h. Tidak 2. Tidak 2. Ya. Tidak 2. Tidak 2. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ________________________________________________________________________ c. Tidak tahu 8. Ya. Kegemukan (Obesitas) i. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a. Kencing manis c. AUTOPSI VERBAL UNTUK LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN YANG BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS 68 . Tidak tahu IV. Tidak tahu 8. Diagnosis Penyebab Kematian Umur 5 Tahun Ke atas (diisi oleh dokter) a. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ________________________________________________________________________ b. . Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] mempunyai riwayat/ pernah sakit: a. Tidak 2. . Sakit kuning f. Tidak 2. Ya. ____bln ____thn 2. Ya. Tidak tahu 8. Darah tinggi/ sakit jantung b. Pengguna narkoba suntik atau pil Jika ya. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. Ya. Tidak 2. Tidak tahu 8. Sakit radang sendi (artritis) d. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. ____bln ____thn 1. berapa lama ? 1. Tuberkulosis/ Flek paru g. Tumor/`kanker j. RESUME RIWAYAT SAKIT 5 TAHUN KE ATAS (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur almarhum/ah: Jenis kelamin: Penyakit yang diderita dan lamanya (Blok III D): Riwayat sakit (Blok III A-C. Tidak 2. Ya. Ya. Ya. Peminum alkohol kronik k. Ya. gejala. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. Telah diperiksa oleh Ketua Tim. Ya. Tidak 8.III D. Nama: _____________________ Tanda tangan: _____________________ Tanggal: _____________________ 5 . Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ________________________________________________________________________ d. Ya. lama sakit ): 69. . Tidak 2. Tidak tahu 8. untuk tanda. ____bln ____thn 1. Tidak 2. Tidak tahu 8.

6 .