Riset Kesehatan Dasar

(RISKESDAS) 2007

Laporan Nasional 2007

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Republik Indonesia Desember 2008

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA, kita bisa menyelesaikan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kita persiapkan sejak tahun 2006 dan dilaksanakan pada tahun 2007 di 28 provinsi dan tahun 2008 di 5 provinsi wilayah Indonesia Timur. Perencanaan Riskesdas dimulai tahun 2006, dimulai oleh tim kecil yang berupaya menuangkan gagasan dalam proposal sederhana, kemudian secara bertahap dibahas tiap Kamis-Jum’at di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pembahasan juga dilakukan dengan para pakar kesehatan masyarakat, para perhimpunan dokter spesialis, para akademisi dari Perguruan Tinggi termasuk Poltekkes, lintas sektor khususnya Badan Pusat Statistik, jajaran kesehatan di daerah dan tentu saja seluruh peneliti Balitbangkes sendiri. Dalam setiap rapat atau pertemuan, selalu ada perbedaan pendapat yang terkadang sangat tajam, terkadang disertai emosi, namun didasari niat untuk menyajikan yang terbaik bagi bangsa. Setelah cukup matang, dilakukan uji coba bersama BPS di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk menghasilkan penyempurnaan instrumen penelitian. Selanjutnya bermuara pada “launching” Riskesdas oleh Ibu Menteri Kesehatan pada tanggal 6 Desember 2006. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas dilakukan dua tahap, tahap pertama dimulai pada awal Agustus 2007 sampai dengan Januari 2008 di 28 provinsi, tahap kedua pada Agustus-September 2008 di 5 propinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat). Balitbangkes mengerahkan 5.619 enumerator, seluruh (502) peneliti Balitbangkes, 186 dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Labkesda dan Rumah Sakit serta Perguruan Tinggi. Untuk kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun 36,357 spesimen dari sampel anggota rumah tangga usia satu tahun keatas yang berasal dari 540 blok sensus perkotaan di 270 kabupaten/kota terpilih. Proses editing, entry, dan data cleaning sebagai bagian dari manajemen data Riskesdas dimulai pada awal Januari 2008, yang secara paralel dilakukan pula pembahasan rencana pengolahan dan analisis. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan protes, dari sindiran melalui jargon-jargon Riskesdas sampai protes keras. Dan ini merupakan ujud dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Kini telah tersedia data dasar kesehatan yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Indonesia berupa seluruh status dan indikator kesehatan termasuk data biomedis, yang tentu saja amat kaya dengan berbagai informasi di bidang kesehatan. Kami berharap data itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peneliti yang sedang mengambil pendidikan master dan doktor. Kami memperkirakan akan muncul ratusan doktor dan ribuan master dari data Riskesdas ini. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, para dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Ahli, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas, termasuk mereka yang wafat selama Riskesdas dilaksanakan.

i

Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun sebagai langkah perdana pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas ke-2 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tahun 2010 nanti. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

Jakarta, Desember 2008
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Dr. Triono Soendoro, PhD

ii

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Departemen Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator dan data dasar kesehatan berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dihasilkan melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik daerah, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, data Riskesdas yang menggunakan sampling Susenas Kor 2007, menjadi lebih lengkap untuk mengkaitkan dengan data dan informasi sosial ekonomi rumah tangga. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai angka standar yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia, mengingat sampai saat ini sebagian besar standar yang kita pakai berasal dari luar. Dengan berhasilnya Riskesdas yang baru pertama kali dilaksanakan ini, saya yakin untuk Riskesdas dimasa mendatang dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Karena itu, Riskesdas harus dilaksanakan secara berkala 3 tahun sekali sehingga dapat diketahui pencapaian sasaran pembangunan kesehatan di setiap wilayah, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Untuk tingkat kabupaten/kota, perencanaan berbasis bukti akan semakin tajam bila keterwakilan data dasarnya sampai tingkat kecamatan. Oleh karena itu saya menghimbau agar Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ikut serta berpartisipasi dengan menambah sampel Riskesdas agar keterwakilannya sampai ke tingkat Kecamatan. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada para peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, jajaran Labkesda dan Rumah Sakit, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan.

iii

Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)

iv

RINGKASAN
A. Ringkasan Eksekutif
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan, yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. Indikator yang dihasilkan berupa antara lain status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada konsep Henrik Blum, merepresentasikan gambaran wilayah nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan Riskesdas 2007 adalah: 1. Bagaimana status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota; 2. Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan kesehatan; dan 3. Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik? Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, dirumuskan tujuan antara lain yaitu penyediaan data dasar status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat rumah tangga maupun tingkat individual, dengan ruang lingkup sebagai berikut: 1. Status gizi; 2. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan; 3. Sanitasi lingkungan; 4. Konsumsi makanan; 5. Penyakit menular, penyakit tidak menular dan riwayat penyakit keturunan; 6. Ketanggapan pelayanan kesehatan; 7. Pengetahuan, sikap dan perilaku; 8. Disabilitas; 9. Kesehatan mental; 10. Imunisasi dan pemantauan pertumbuhan; 11. Kesehatan bayi; 12. Pengukuran anthropometri, tekanan darah, lingkar perut dan lingkar lengan atas; 13. Pengukuran biomedis; 14. Pemeriksaan visus; 15. Pemeriksaan gigi; 16. Berbagai autopsi verbal peristiwa kematian; dan 17. Mortalitas. Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat deskriptif. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error, relative standard error, confidence interval, design effect dan jumlah sampel tertimbang menyertai setiap estimasi variabel. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 berhasil mengumpulkan sebanyak 258.366 sampel rumah tangga dan 987.205 sampel anggota rumah tangga untuk pengukuran berbagai variabel kesehatan masyarakat. Riskesdas 2007 juga mengumpulkan 36.357 sampel untuk pengukuran berbagai variabel biomedik dari anggota rumah tangga yang berumur lebih dari 1 tahun dan bertempat tinggal di desa/kelurahan dengan klasifikasi perkotaan. Khusus untuk pengukuran gula darah, berhasil dikumpulkan sebanyak 19.114 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun. Untuk tes cepat yodium, berhasil dilakukan pengukuran pada 257.065 sampel rumah tangga, sedangkan untuk pengukuran yodium di dalam urin, berhasil dilakukan pengukuran pada 8.473 sampel anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di 30 kabupaten/kota dengan berbagai kategori tingkat konsumsi yodium. Hasil pemeriksaan biomedis akan dilaporkan tersendiri. Keterbatasan Riskesdas mencakup non-random error antara lain: pembentukan kabupaten baru, blok sensus tidak terjangkau, rumah tangga tidak dijumpai, periode waktu pengumpulan data yang berbeda, estimasi tingkat kabupaten tidak bisa berlaku untuk semua indikator, dan data biomedis yang hanya mewakili blok sensus perkotaan. Khusus untuk lima provinsi (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT) baru dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008, sementara 28 provinsi lainnya telah selesai dilaksanakan pada tahun 2007.

v

Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan. Dengan 900 variabel, maka hasil Riskesdas 2007 telah dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis lanjut, pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan, penelusuran hubungan kausal-efek, dan pemodelan statistik. Riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan, misalnya prevalensi gizi buruk yang berada diatas rerata nasional (5,4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Namun demikian, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target Millenium Development Goals sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat dicapai pada 2007. Posyandu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78,3%; balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih), ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut adalah 45,4%, 29,1%, dan 25,5%. Sedangkan kegiatan di posyandu untuk pemberian suplemen gizi (47,6%), PMT (45,7%), pengobatan (41,2%) dan imunisasi (55,8%). Secara keseluruhan, cakupan imunisasi pada anak usia 12 – 23 bulan menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86,9%), campak (81,6%), polio tiga kali (71,0%), DPT tiga kali (67,7%) dan terendah hepatitis B (62,8%). Secara keseluruhan, proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11,5% (berdasarkan catatan yang ada), dan ibu hamil yang memeriksaan kehamilan sebanyak 84,5%. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97,1%) dan penimbangan berat badan ibu (94,8%). Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33,8%) dan pemeriksaan urine (36,4%). Khusus untuk provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua ditemukan sebanyak 60% melahirkan bayinya di rumah. Penolong persalinan yang dominan di perkotaan adalah bidan (61,7%), sedangkan di perdesaan yang dominan adalah dukun bersalin (45,9%). Dari pemetaan penyakit menular, tampak keberhasilan program pengendalian malaria di Jawa-Bali (prevalensi <0,5%). Di lain pihak, ketimpangan juga terlihat jelas dengan adanya prevalensi malaria yang mencapai 26,14%, sembilan kali lebih besar dari prevalensi nasional atau 145 kali lebih besar dari prevalensi yang terendah, yaitu 0,18%. Untuk mencegah penyebaran malaria diperlukan program pengobatan yang cepat dan tepat. Riskesdas 2007 menggambarkan kesadaran masyarakat untuk berobat dan akses terhadap obat malaria program secara nasional sebesar 47,7%, walaupun beberapa provinsi sudah menunjukkan tingkat pengobatan malaria dalam 24 jam pertama cukup tinggi. Untuk diare, penggunaan oralit dalam 24 jam pertama juga masih di bawah 50%, kecuali pada kelompok balita –di mana prevalensinya tertinggi- penggunaan oralit sudah di atas 50%. Selain itu, Riskesdas 2007 juga memperlihatkan perubahan epidemiologis penyakit, contohnya demam berdarah dengue, yang prevalensi tertinggi tidak lagi dijumpai pada anak-anak, melainkan pada kelompok dewasa muda (25-34 tahun). Hasil utama Riskesdas 2007 menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik, strok, hipertensi, obese dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan, kemiskinan, dll). Penyakit hipertensi misalnya, tidak berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi (kuintil pengeluaran) seperti pada kuintil 1 (30,5%) dan kuintil 5 (33,0%), dan mulai banyak dijumpai pada kelompok usia muda 15 – 17 tahun (8,3%). Sebaliknya patut diduga penyakit diabetes yang diambil dari 356 kab/kota daerah perkotaan mencakup 24.417 orang (usia > 15 tahun) menunjukkan gambaran lebih tinggi pada kuintil 5 (7,1%) dibanding kuintil 1 (4,1%). Demikian halnya

vi

dari 10. Sulawesi Barat. dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13.7%). sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional. 3 domain seperti ‘waktu tunggu’ tercatat 84. Kota Jakarta Selatan (8.7%). Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%). penyeban kematian yang terbanyak adalah stroke. dan 8.2% menurut SKRT 2001. Demikian halnya dengan perilaku merokok kelompok penduduk >15 tahun cenderung meningkat.9%).4%.4% (Riskesdas.2%). Ringkasan Hasil Status Gizi Balita • Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5.1 tahun) dibanding periode 2000-2005 (66.8%) yang meningkat dari 1.0%). Tabanan (7. sedangkan untuk usia (728 hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20. Maluku. Maluku Utara.8% (Asia 5% . kebutaan 0. vii . 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita tertinggi berturut-turut adalah Aceh Tenggara (48. dan Buru (37. Nusa Tenggara Timur.0%).3%).4%) dan pnemonia (23.9%). Minahasa (6. Kota Magelang (8. Sumatera Utara.3% (SKRT. Riau. 2007) Proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. Rote Ndao (40. • Secara nasional.8%). Kalimantan Barat. Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi.3%). Kota Madiun (6. Badung (7. Tidak ada perbedaan perilaku merokok antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi.8%. Aceh Barat Daya (39.5%) dan congenital malformations (18. Kalimantan Timur.3%).0%. Prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11. yaitu terbanyak adalah diare (25.7% (SKRT 2004) menjadi 21. dari 12.8%). Kupang (38.2%).9% dan katarak (1. Sulawesi Tenggara.8%) dan kebersihan ruangan (78.5%) telah tercapai pada 2007. dan Bondowoso (8. B. Sumatera Barat. Dari ketanggapan rawat inap.6%.dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Keadaan ini lebih baik dibanding dengan hasil Surkesnas 2004 yaitu waktu tunggu (78. ‘kejelasan informasi’ 85.3% (Riskesdas 2007).7%). Mamuju Utara (39. masing-masing sebesar 10. baik di perkotaan maupun di perdesaan. Kalimantan Tengah.1%). Papua Barat dan Papua.0% (Susenas 2003) menjadi 33. Penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35.5%). Gorontalo.3%). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31. Terdapat 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.9% (Riskesdas.8% (kuintil 1) Prevalensi disabilitas menunjukkan peningkatan yang berarti. Namun demikian.5% (kuintil 5).9%) dan premature (32. Sulawesi Tengah.1%).8%). maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18.8%).6%).3%). Kepulauan Aru (40. dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.8%). Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran. dari 32.4% dan domain ‘kebersihan ruangan’ (82.2%). 2001) menjadi 11. Sedangkan untuk usia > 5 tahun. Gianyar (6. Bantul (7. Tapanuli Utara (38.4%). Simeulue (39. Kalimantan Selatan. Timor Tengah Selatan (40.2 tahun). kejelasan informasi (75.1%). 2007). Ditemukan peningkatan proporsi usia mulai merokok pada umur <20 tahun. Patut diduga bahwa peningkatan jumlah kasus katarak ini berkaitan erat dengan peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia pada periode 2005-2010 (69. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita terendah adalah Kota Tomohon (4.5%).2%) dan pnemonia (15. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jambi. Nusa Tenggara Barat.1%).

Sumatera Selatan. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek di atas prevalensi nasional. dan Bangka (5. Jawa Timur. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10.9%). Kalimantan Selatan. Bengkulu. Kalimantan Timur. Sulawesi Barat. Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Riau.2% (wasting-kritis). Sumatera Utara. Kota Bekasi (21. Kalimantan Tengah.3%. Sumatera Selatan. DKI Jakarta. Gorontalo. Sebanyak 18 provinsi mempunyai Balita Gemuk diatas prevalensi nasional.4%). Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah. yaitu DI Aceh. Bandung (4.1%). . Maluku. Nagan Raya (30. Tapanuli Selatan (31. Riau. Sulawesi Barat. Lampung. Banten. Sumatera Barat. Kalimantan Selatan.6%).4%). yaitu DI Aceh. Gorontalo. • Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional. Kalimantan Selatan.0%). Lampung. dan Aceh Utara (29. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek terendah adalah Sarmi (16. Buru ( 30. Maluku. Sorong Selatan (60.5%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek tertinggi adalah Seram Bagian Timur (67. • Secara bersama-sama.0%). Kota Mojokerto (19. DKI Jakarta. Kota Batam ( 20. Riau. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus terendah adalah Minahasa (0%).2%). Seruyan (41.7%). Sulawesi Selatan.0%).7%). Sulawesi Tenggara.3%).• Prevalensi nasional Gizi Lebih Pada Balita adalah 4. Sumatera Selatan. Nias Selatan (67. prevalensi nasional Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek (stunting) adalah 36. Kalimantan Barat. Kalimantan Barat. Jambi.0%). Asmat (30. Tapanuli Utara (61. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Utara. Bengkulu. Sumatera Utara. dan Papua.2%. Kalimantan Barat. Sulawesi Tenggara. Maluku.8%). dan Maluku Utara.9%. Aceh Barat Daya (60. Sumatera Barat.3%).2%). Nusa Tenggara Barat. Maluku. Kota Tanjung Pinang (19. Kalimantan Timur. Lampung. Cianjur (5. Wajo (18. Sulawesi Tengah. Maluku Utara. dan Kapuas Hulu (59.6%). yaitu DI Aceh.1%). • Prevalensi nasional Balita Gemuk adalah 12. Nusa Tenggara Timur. Timor Tengah Utara (59. Status Gizi Penduduk Umur 6-14 Tahun (Usia Sekolah) • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13.3%.7). Simeulue (63. Kota Salatiga (4. Banten. Sulawesi Barat. Kota Jakarta Selatan (20. Kalimantan Tengah. • Sebanyak 25 provinsi mempunyai prevalensi Balita Kurus diatas prevalensi nasional. Gorontalo. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat. Kota Bogor (4. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus tertinggi adalah Solok Selatan (41.5%). Kalimantan Timur. Bali. Seram Bagian Barat (31. Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat.6%).9%).9%). Kota Sukabumi (3. Maluku Utara.8%. Kepulauan Riau. Bengkulu. Kota Madiun (21.4% (wasting-serius) dan Balita Sangat Kurus adalah 6.9%). Kota Tomohon (2. Sumatera Selatan. Manggarai (33.4%). Maluku dan Papua. Sulawesi Barat. • Secara nasional. Banten. Sulawesi Tengah. • Secara nasional.3%). Kalimantan Tengah. • Prevalensi nasional Balita Kurus adalah 7. Bangka Belitung. Kalimantan Tengah. Jambi. Jawa Timur.9%). Gayo Lues (59.6%). DI Yogyakarta.3%). Jambi. Banten. Kepulauan Riau. Kalimantan Barat. Kota Magelang (5. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Lebih Pada Balita diatas prevalensi nasional. dan Papua Barat. Aceh Tenggara (66.1). dan Luwu Timur (21. Nusa Tenggara Barat. dan Papua Barat.9%). Jawa Timur. Bali.6%). Riau.2%). Kalimantan Timur.9%). yaitu DI Aceh. Jambi. viii .0%).7%). Sumatera Selatan. yaitu Sumatera Utara. Kampar (20.

9%. DKI Jakarta. • Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan. Banten. Jawa Tengah. Maluku. Jawa Timur. Bangka Belitung. • Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. Jambi. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tenggara. DKI Jakarta. DKI Jakarta. DKI Jakarta. Maluku Utara. Kalimantan Tengah. yaitu DI Aceh. Sumatera Selatan. Kalimantan Tengah. Sulawesi Selatan. • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9. • Prevalensi nasional Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 18. Kalimantan Timur. Sulawesi Tenggara.6%. Sulawesi Barat. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Maluku Utara. Kalimantan Barat. Jawa Tengah.735. Papua Barat. Sulawesi Tenggara. Jawa Barat. Sumatera Barat.5 kkal. Jawa Barat. Jawa Tengah. bahwa prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Laki-Laki Umur ≥ 15 Tahun adalah 13. Nusa ix . Kalimantan Barat. Banten. dan Papua. Jambi. Sulawesi Utara. Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Bali. yaitu DI Aceh. Banten. dan Papua. Sulawesi Selatan.8%. Kalimantan Selatan. yaitu Riau. Papua Barat. Sulawesi Tengah. Kepulauan Riau. Bengkulu. Lampung. Gorontalo. yaitu DI Aceh. Kalimantan Selatan. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur diatas prevalensi nasional. Kalimantan Timur. yaitu Bangka Belitung. Bengkulu. Riau. Jawa Tengah. Jawa Timur. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6. Riau. DKI Jakarta. Sumatera Selatan. dan Maluku. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. Kepulauan Riau. Sumatera Utara. dan Papua. DKI Jakarta. Gorontalo. Kalimantan Tengah. Bali. Sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Kalimantan Timur. Bengkulu. Lampung. Sulawesi Utara.3%. Sulawesi Utara. Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah. Maluku Utara. Jambi. Konsumsi Energi Dan Protein • Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1. yaitu DI Aceh. Nusa Tenggara Barat. Riau. Sulawesi Selatan. • Berdasarkan perbedaan menurut jenis kelamin menunjukkan. Riau. Maluku. Jambi. Kalimantan Barat. Bali. Jawa Timur. Nusa Tenggara Timur. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Selatan.• Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) diatas prevalensi nasional. Jawa Barat. dan Papua. Nusa Tenggara Timur. Jambi. Kalimantan Barat. Status Gizi Penduduk Umur ≥ 15 Tahun • Prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 10. Kalimantan Timur. Jawa Timur. dan Papua.8%. Banten. Sumatera Selatan. Bangka Belitung. yaitu Sumatera Utara. DKI Jakarta. dan Maluku.4%. sedangkan prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Perempuan Umur ≥ 15 Tahun adalah 23. Lampung. Status gizi Wanita Usia Subur 15-45 tahun • Prevalensi nasional Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13. Lampung. Jawa Timur. • Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Lakilaki) diatas prevalensi nasional.5%. Bangka Belitung. Papua Barat. Sumatera Utara. Kepulauan Riau. yaitu DKI Jakarta. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional.

Sulawesi Selatan. Banten. Kalimantan Selatan. Papua Barat dan Papua. Jawa Barat. • Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 67. Merangin (100%). sebanyak 62. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Nusa Tenggara Barat.0%). Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur. Karo (99. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Kalimantan Barat. Gorontalo. • Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 71. Jawa Tengah. Lampung. yaitu Sumatera Barat. dan Rokan Hulu (99. Kepualauan Mentawai (100%). Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Barat. Seram Bagian Timur (10. Jawa Timur. Jambi. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat. Konsumsi garam beriodium • Secara nasional. Sumatera Selatan.1%). Aceh Utara (12. Sulawesi Tenggara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur.3% rumah tangga Indonesia mempunyai garam cukup iodium. Sebanyak 16 provinsi mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Maluku. Maluku Utara. Bangka Belitung. Bangka (100%). Kalimantan Tengah. Waropen (100%). Musi Banyuasin (99. • Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55. Sumatera Barat. Nusa x . Rote Ndao (11. Kalimantan Tengah. Gorontalo dan Papua Barat.5%). yaitu Sumatera Barat. Maluku.5%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia tertinggi adalah Nagan Raya (100%). Gorontalo. Sulawesi Selatan. Kalimantan Barat. Sumatera Barat. DI Yogyakarta. dan Bima (12.8%). Kalimantan Selatan.7%).8%. Tabanan (11. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Jawa Barat. Bengkulu. Banten. Sulawesi Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bangka Belitung.7%. Sulawesi Selatan.0%. • Dari sampel 30 kabupaten/kota. Banten. DKI Jakarta. Jawa Barat. Status Imunisasi • Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 86.9%).1%). Banten.5%. ternyata persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (30-80 ppm KIO3) adalah 24. Sulawesi Utara. Sulawesi Barat. Jambi. Sumatera Utara. Papua Barat dan Papua. Sumatera Selatan.4%). • Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 62. Nusa Tenggara Timur.3%). Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah. Bali.8%). Gorontalo. Papua Barat dan Papua. Kalimantan Tengah. Kepulauan Bangka Belitung. Sumatera Utara. Sumatera Utara.9%. Gorontalo. Kalimantan Tengah. Sumatera Barat.8%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku Utara. Maluku. Sebanyak 6 provinsi telah mencapai target Universal Salt Iodization 2010 (90%). • Secara nasional. dan Sulawesi Barat. Sumatera Utara. Bireuen (5. Nusa Tenggara Barat.Tenggara Barat. dan Sulawesi Barat. Dompu (11.5 gram. 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia terendah adalah Pidie (1. Jawa Barat. Siak (100%).5%). Jeneponto (11. Tolikara (100%). Flores Timur (11. Sulawesi Tengah.

Bantaeng (1. Jambi. Sulawesi Barat. Sulawesi Tenggara.2%). Kepulauan Sula (26.0%). Distribusi Kapsul Vitamin A • Persentase nasional Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A adalah 71. Bangka Belitung. Raja Ampat (96. Takalar (2. Badung (81. Labuhan Batu (34. Pegunungan Bintang (2.6%). Kalimantan Tengah.8%). dan Wonosobo (78. Karanganyar (83.0%). 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%). Jeneponto (1. Grobogan (85.0%). Paniai (16.0%). Kalimantan Barat. Nias Selatan (4. Kalimantan Barat.5%.1%).3%). Kota Metro (80. xi . Bengkulu. Nusa Tenggara Timur.1%). Kepulauan Riau. Gayo Lues (1. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan. Sumedang (92.5%).0%). Kalimantan Tengah. Bone (1. Kepulauan Riau. Bengkulu. Maluku. yaitu Sumatera Utara.9%). Wonogiri (84. Papua Barat dan Papua.6%).5%). dan Jayawijaya (4.0%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A tertinggi adalah Landak (92. Bangka Belitung. Bangka Belitung.9%).9%). Papua Barat dan Papua. Tolikara (0%). Keerom (88. yaitu Sumatera Utara.0%). Lampung.3%).9%). Riau.7%). Yahukimo (0%).0%). Sikka (86. Wonogiri (80. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Anak Umur 659 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A terendah adalah Yahukimo (5. Pemantauan Pertumbuhan Balita • Persentase nasional Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir adalah 45.9%). Lampung. Sulawesi Barat.4%). Sumatera Barat.7%). Timor Tengah Utara (84.7%). Malinau (78. Banten.0%). Sulawesi Barat. Paniai (0%). Kapuas (32. Bangka Belitung. Sumatera Utara.0%).3%).8%). Keerom (86. Kota Bontang (81.8%).0%). Gowa (1.3%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.0%). Maluku Utara. Maluku.5%). Puncak Jaya (0%). Sumatera Selatan.3%). Jambi. Lembata (93.8%). Sidenreng Rappang (0. Kalimantan Barat. Asmat (4. Sulawesi Tengah. Flores Timur ( 85. Berau (79. Tolikara ( 28. Keerom (94. dan Sulawesi Barat.8%). Riau. Temanggung (93. dan Kepulauan Seribu (100. Banten. Jawa Barat. Sulawesi Tenggara.9%). • Secara nasional.4%).7%).Tenggara Timur.6%). Pangkajene Kepulauan (2. Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua.4%.7%). dan Gunung Kidul (83.6%). Maluku.5%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A dibawah persentase nasional. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak • Persentase nasional Bayi Berat Lahir Rendah (< 2. dan Wajo (2. • Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 81.6%). Kulon Progo (92. Kalimantan Tengah.3%). Sumatera Selatan.8%).500 gram) adalah 11.6%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase Bayi Berat Lahir Lahir Rendah diatas persentase nasional. Sulawesi Selatan. Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Sebanyak 19 provinsi mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir dibawah persentase nasional. Gorontalo.6%). Pinrang (1. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin terendah adalah Maros (0. Dairi ( 35. Buru (23. Papua Barat dan Papua.5%. Sabang (96. Banten. • Secara nasional. dan Mandailing Natal (36. Bintan (93.4%). Sulawesi Tenggara.9%). Kota Surakarta (93. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin tertinggi adalah Kepulauan Seribu (100. Nusa Tenggara Barat. Semarang (94.2%). DI Yogyakarta. Sulawesi Selatan. Kalimantan Barat. Mamasa (26.2%).1%). Maluku. Jawa Barat. • Secara nasional. yaitu Sumatera Selatan.

Kalimantan Tengah. Papua Barat dan Papua adalah di rumah (berkisar antara 65.9%). Sumatera Utara. Banten.6%). Gorontalo. Sulawesi Barat. Sumatera Barat. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Barat.85%. Ngada (58. Jawa Tengah. Ogan Komering Ulu (6. Pulang Pisau (6.50%. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3. Bangka Belitung. Maluku. • Prevalensi nasional Demam Berdarah Dengue (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. dan Papua. Bangka Belitung. Maluku Utara. • Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. dan Papua. Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan. dan Papua.4%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63.85. Kota Palembang (6. Kalimantan Selatan. • Prevalensi nasional Pnemonia (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. DKI Jakarta.5%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jambi.8%). Hanya sebagian kecil ibu di 5 provinsi ini memilih tempat melahirkan di polindes/poskesdes (berkisar antara 0.62%.1%). Sulawesi Tenggara.8%). Kalimantan Tengah. Maluku Utara. Nusa Tenggara Barat.0%).8%). Papua Barat. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Timur. Maluku Utara. Gorontalo. Maluku. Kota Pasuruan (8. dan Pontianak (8. Bengkulu. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Timur. Riau.1%).3%). Banten. Maluku. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Demam Berdarah Dengue diatas prevalensi nasional. Kalimantan Selatan.3%). Papua Barat. Bangkulu. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Raja Ampat (55. Manggarai Barat (63. Maluku Utara.5%). Langkat (7. Papua Barat. Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Udara • Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Filariasis diatas prevalensi nasional. Gorontalo. Papua Barat dan Papua • Persentase tempat melahirkan tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi xii . Gorontalo. • Tempat Melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah.99%. Kota Binjai (5. Kota Pagar Alam (7. Jawa Barat. Kalimantan Selatan.1%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku. • Secara nasional.6%). Lembata (62.5%). Nusa Tenggara Barat. Kepulauan Riau. Bengkulu. Pegunungan Bintang (59.11%. Kepulauan Riau.5% .3. Kota Denpasar (4. Papua Barat dan Papua. Sorong Selatan (56. Maluku Utara. Penyakit Menular – Ditularkan Vektor • Prevalensi nasional Filariasis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Sikka (55.4% . Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pnemonia diatas prevalensi nasional. Papua Barat dan Papua. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Malaria diatas prevalensi nasional.0%).8%).1%). Maluku. Nusa Tenggara Timur. dan Puncak Jaya (56. Sulawesi Tengah.7%).13%. Manggarai (61.7%). Sulawesi Tengah. • Prevalensi nasional Malaria (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Nusa Tenggara Barat.7%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku Utara.

Nusa Tenggara Barat. Ogan Komering Ulu Timur (10. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Tolikara ( 53. Sumatera Barat. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi tertinggi adalah Sampang (57. Papua Barat dan Papua. DI Yogyakarta.4%). Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur. Kota Binjai (10. Banten. Sulawesi Tengah. Penyakit Tidak Menular • Prevalensi nasional Penyakit Sendi adalah 30. Kalimantan Tengah. Jawa Barat. Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Tasikmalaya (56. Riau. Sulawesi Tenggara. Sebanyak . Bangka Belitung. provinsi mempunyai prevalensi Tifoid diatas prevalensi nasional. Garut (55.2%).18%. dan Papua Barat. Siak (9. DKI Jakarta. Jawa Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.7%). • Prevalensi nasional Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29. Riau. dan Papua. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi terendah adalah Yakuhimo (0.9%). Kalimantan Selatan. Riau. DKI Jakarta. Mamasa (50. Lembata (57. Nusa Tenggara Timur. Manggarai (54. Kalimantan Selatan. Ogan Komering Ulu (8. • Secara nasional.9%).7%). Jawa Timur.60%. • Prevalensi nasional Campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. Jawa Timur. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Banten. Sumatera Barat. Sulawesi Utara.9%).5%).7%). Nusa Tenggara Timur. Gorontalo.7%). Sulawesi Tengah. Jambi. Kalimantan Selatan.9%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Campak diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. DI Yogyakarta.0%). Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Hepatitis diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat.5%). Papua Barat. Nusa Tenggara Timur. Jawa Tengah.00%. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan.5%). Sulawesi Selatan.8%).1%). Sumatera Barat. dan Sulawesi Barat. Jawa Barat. Katingan (49. Riau. Jawa Tengah. Banten.2%). Karo (11. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Sendi diatas persentase nasional. Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Makanan dan Minuman • Prevalensi nasional Tifoid (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1.6%). Sulawesi Tengah.1%).3%).6%). xiii . Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.9%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun tertinggi adalah Natuna (53. Kota Makassar (12. • Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 9. Banten. • Prevalensi nasional Hepatitis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0.. Sulawesi Tenggara. Bengkulu. Cianjur (56.3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Gorontalo. Hulu Sungai Selatan (48. Bali. yaitu Riau. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Papua Barat dan Papua. Gorontalo.60%. Sumedang (55. Papua Barat dan Papua. Kalimantan Selatan. Kota Payakumbuh (11. Jawa Tengah. Kalimantan Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.1%). dan Jeneponto (51. Sulawesi Selatan.6%).5%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat dan Papua. Majalengka (51. Barito Timur (11. Wonogiri (49. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. • Secara nasional. Rokan Hilir (47. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku Utara.Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional.8% (berdasarkan pengukuran). Nusa Tenggara Timur.

Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Karo (0. Tapanuli Selatan (0. dan Kota Binjai (0. Sulawesi Utara. Sumatera Barat. DKI Jakarta.6%).4% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan).6%).7%).7% (berdasarkan keluhan responden). Banten. • Prevalensi nasional Penyakit Tumor/Kanker adalah 0. Jawa Barat. Nusa Tenggara Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). Kalimantan Selatan. Gorontalo. Kepulauan Mentawai (11. Langkat (0. Jawa Timur. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat.7%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Jantung diatas prevalensi nasional.6%).8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Tapin (46. yaitu Sumatera Barat. Kalimantan Timur. Seluma (14. Sumatera Barat.6%). Boalemo (11. DKI Jakarta.5%).6%). DI Yogyakarta. Riau. Riau. Sumatera Barat. dan Sulawesi Barat.5% (berdasarkan keluhan responden).6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. Jawa Barat. Nusa Tenggara Barat. dan Tulang Bawang (15. Pegunungan Bintang (13. dan Papua Barat. • Prevalensi nasional Glaukoma adalah 0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Tana Toraja (9.Kuantan Senggigi (46.5%). Yahukimo (13. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Stroke diatas prevalensi nasional. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional.1%). Kepulauan Riau. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah.0%). Jawa Barat. dan Papua Barat. Sarmi (14. dan Kota Salatiga (45. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Jiwa Berat diatas prevalensi nasional.6%).1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala).4%). Gorontalo. Sorong Selatan (10. • Prevalensi nasional Buta Warna adalah 0. Bener Meriah (46. Sumba Barat (11. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6.6%). Jawa Barat. Sumatera Selatan.2%). • Prevalensi nasional Penyakit Jantung adalah 7.0%).5%).5%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma tertinggi adalah Aceh Barat (13. Sulawesi Selatan.2%). Bangka Belitung. DKI Jakarta. Gorontalo. Kepulauan Riau.0%).7%). • Prevalensi nasional Penyakit Asma adalah 4. Nusa Tenggara Timur.5%).9%). Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Tumor/Kanker diatas prevalensi nasional. yaitu xiv . Nusa Tenggara Barat.5% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). • Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1. Serdang Bedagai (0. Soppeng (0.2%). dan Manggarai (9. dan Papua Barat. Pohuwato (13. • Secara nasional.1%). Bengkulu Selatan (11.9%). Kalimantan Selatan. Tolikara (12. Sumatera Selatan. Kepulauan Riau.6%). Lampung Tengah ().5%).0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Jawa Tengah. DKI Jakarta. Sebanyak 6 provinsi mempunyai prevalensi Buta Warna diatas prevalensi nasional. Bali.2%). Sulawesi Utara. Jawa Tengah. • Prevalensi nasional Strok adalah 0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.3%). Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. dan Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Buol (13. DKI Jakarta.1%). Kaimana (10. Nusa Tenggara Barat.8%). Lampung Utara (0. Sulawesi Tenggara. Gorontalo. Banjar (9. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0. dan Nusa Tenggara Barat. Teluk Wondama (9. Sulawesi Utara. • Prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Glaukoma diatas prevalensi nasional.2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Kediri (0. Kalimantan Selatan. Bangka Belitung.

4%). DKI Jakarta. Sumatera Selatan. Manggarai (32. Sulawesi Selatan.9%). visus < 3/60). Gorontalo. dan Sulawesi Barat. • Prevalensi nasional Bibir Sumbing adalah 0. Kepulauan Riau. • Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 11. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat. DI Yogyakarta.0%). Boalemo (29. Sidoarjo (1.4%). Karimun (1. Kepulauan Riau. Sumatera Utara. Maluku. Nusa Tenggara Timur.7%).7% (berdasarkan keluhan responden). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Purwakarta (32. • Prevalensi nasional Hemofilia adalah 0. DKI Jakarta. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Timur. Nusa Tenggara Timur. Bangka Belitung.8% (berdasarkan hasil pengukuran. • Secara nasional. Kalimantan Tengah.9% (berdasarkan hasil pengukuran. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Low Vision diatas prevalensi nasional.9%). Sumatera Barat. Jawa Tengah.0%). Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Sumatera Selatan. Sulawesi Utara.7%). Sulawesi Tengah. Sumatera Selatan. Aceh Selatan (32. DI Yogyakarta. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. • Prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. Sulawesi Selatan.Nanggroe Aceh Darussalam. dan Nusa Tenggara Barat. • Persentase nasional Low Vision adalah 4. Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah.1% (berdasarkan keluhan responden).9%). yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Kepulauan Riau. dan Muaro Jambi (2. Kalimantan Timur. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33. Tabalong (2. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Bibir Sumbing diatas prevalensi nasional. Papua Barat dan Papua.4% (berdasarkan keluhan responden).5%). dan Papua Barat. DKI Jakarta. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Rhinitis diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta.4%).4%). Bengkulu. Bengkulu. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional.2% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). Sulawesi Selatan. Jawa Barat.1%). Jawa xv .8% (berdasarkan keluhan responden). Sulawesi Utara.6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). Bangka Belitung.6%). Banjarnegara (30. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Timur. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Barat. dan Gorontalo. Bengkulu. DKI Jakarta. Kepulauan Riau. Jawa Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1. Kepulauan Riau. • Prevalensi nasional Rhinitis adalah 2. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur. dan Gorontalo. Sumatera Selatan.6%). Kepulauan Riau. Kudus (2. Belitung Timur (31. Sumatera Barat. Sumatera Barat. Sumatera Selatan. Nusa Tenggara Timur. Bangka Belitung. Maluku Tengah (2. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Dermatitis diatas prevalensi nasional.4%). • Prevalensi nasional Talasemia adalah 0. Jawa Tengah. Jayapura (1. Lampung. Kota Baru (2. Bangka Belitung. DKI Jakarta. Jawa Barat.1%). visus <20/60 – 3/60). Cirebon (29. Bengkulu. dan Papua Barat. Jawa Timur. Nusa Tenggara Barat. dan Gorontalo. Gorontalo. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Talasemia diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • Prevalensi nasional Dermatitis adalah 6. Jawa Tengah. Pulang Pisau (1. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Hemofilia diatas prevalensi nasional.9%) dan Kota Malang (29. Riau.9%). Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Sulawesi Tengah. DI Yogyakarta.

Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Gosok Gigi Setiap Hari dibawah prevalensi nasional.5%). Banten. Pengukuran Biomedis (Anemia dan Diabetes Mellitus) • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13. Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat. Sebanyak 21 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa dibawah nilai rerata nasional. • Prevalensi nasional Karies Aktif adalah 43.6%).7%). Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional. DI Yogyakarta. Sumatera Barat. Jawa Barat. Bengkulu.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan).2%). Madiun (2. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur. Sulawesi Tenggara. Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Kalimantan Timur. yaitu Riau. Jawa Tengah. Maluku. Kalimantan Selatan. Jambi.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. Jambi. Bali. Jeneponto (40. Lampung Utara (3. Sulawesi Barat.67 g/dl. Bondowoso (3. Sulawesi Selatan.6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat dan Papua. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1. • Secara nasional.2%). Kota Magelang (2. Timor Tengah Utara (36. Kalimantan Tengah.6%). Sumatera xvi .6%). dan Papua Barat. Kalimantan Selatan. Riau. Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Masalah Gigi-Mulut diatas prevalensi nasional. dan Maluku. Sumatera Selatan. Riau. Sulawesi Utara. Bali. Jawa Timur. Jawa Tengah. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. • Prevalensi nasional Masalah Gigi-Mulut adalah 23.8%). Sulawesi Tenggara. Sumatera Selatan. Lampung. Sulawesi Barat.5%). Nusa Tenggara Timur. Gorontalo.3).0%). • Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1. dan Papua Barat. Maluku. Nusa Tenggara Barat. dan Luwu Utara (35. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan.00 g/dl. Mojokerto (3. Bengkulu. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional. Lampung. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. Sumatera Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darusalam.6%). Nusa Tenggara Timur. Bali.5%). Aceh Barat Daya (41. Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.1%). Nusa Tenggara Barat. Sumatera Utara. Jombang (3. Maluku Tenggara (38. dan Karo (3.6%). • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa adalah 14. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53. Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Barat.1%). Papua Barat dan Papua. Bengkulu. Kalimantan Tengah. Jawa Tengah. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. Sebanyak 14 provinsi memiliki prevalensi Karies Aktif diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Gosok Gigi Setiap Hari adalah 91.1%. Sulawesi Selatan. Jambi. dan Maluku Utara. Boalemo (47. • Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18. yaitu Sumatera Utara.5%). Maluku Utara. Kota Metro (1. Pidie (40. Sulawesi Barat.Barat. Maluku. Kalimantan Tengah.5%).4%. Sulawesi Utara. Kalimantan Barat. Pasaman (39. DKI Jakarta. Karanganyar (2. Sulawesi Tengah.5%. Jambi. Nusa Tenggara Barat. Di Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. Kampar (35.8%). Maluku Utara.

7%. Nusa Tenggara Timur. dan gangguan berjalan jauh (11. Sulawesi Selatan. Kalimantan Barat. Jawa Tengah. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun adalah 12. Cedera dan Disabilitas • Prevalensi nasional Cedera adalah 7. DKI Jakarta. kecelakaan transportasi darat (25. • Prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu diatas prevalensi nasional. Kalimantan Tengah. Jawa Timur. Maluku Utara. DKI Jakarta. dan Maluku Utara. Lampung.7%. Jawa Timur. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Papua Barat dan Papua.5%. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Cedera diatas prevalensi nasional. Banten. Sumatera Selatan. Bangka Belitung. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Barat. untuk berbagai penyebab cedera). xvii . Sulawesi Tengah. bertempat tinggal di perkotaan) adalah 10. Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan. DI Yogyakarta. Gorontalo. Sulawesi Barat. Jawa Timur. Jambi. Kalimantan Timur. Bangka Belitung.Utara. Sulawesi Tengah. Jawa Tengah. Kalimantan Timur. • Prevalensi nasional Toleransi Glukosa Terganggu (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun. Bali. Riau. yaitu Sumatera Barat. Sumatera Utara. Kalimantan Barat. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Kalimantan Selatan. Bangka Belitung. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Utara. Bangka Belitung. Sulawesi Tengah. Maluku. Gorontalo. yaitu Sumatera Barat. Sulawesi Tenggara. Jawa Barat. yaitu Bengkulu. DI Yogyakarta. DKI Jakarta. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. Riau. Nusa Tenggara Barat.9%) dan terluka benda tajam (20. Jawa Tengah. DKI Jakarta. Lampung. Sulawesi Selatan. Jawa Timur. gangguan penglihatan jarak dekat (11. yaitu Sumatera Barat. Sulawesi Selatan.5%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun dibawah nilai rerata nasional. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Barat. Disability and Health) yang paling menonjol adalah gangguan penglihatan jarak jauh (11. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tenggara. Gorontalo. dan Maluku Utara. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun adalah 19. Bangka Belitung.7%). Sulawesi Utara.5% (berdasarkan pengakuan responden.6%). Gorontalo. Jawa Timur. dan Maluku Utara. Sulawesi Selatan.0%). Bangka Belitung.6%). Jawa Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Timur. Jawa Barat. Banten. Riau.67 g/dl.2%. Kalimantan Selatan. dan Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. Bengkulu. Perilaku Merokok • Persentase nasional Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 23. • Persentase nasional 3 penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (58. Sulawesi Selatan. Banten. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat. Kepulauan Riau. Lampung. dan Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun (berdasarkan International Classification of Functioning. Gorontalo. Sulawesi Utara. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Maluku. Banten. DKI Jakarta.

Bangka Belitung. Kepulauan Riau. Sumatera Utara. DI Yogyakarta.0). Karo (40.6%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Tengah. Kalimantan Selatan. Sedangkan jenis rokok yang paling diminati adalah kretek dengan filter (64. Melawi (34.5%).3%). Sidoarjo (14.7%). Sulawesi Tenggara.3%). Ogan Komering Ulu Timur (62. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Asmat (53. Jawa Barat. Sumatera Utara.2%). Sumatera Barat.5%). Kota Bukit Tinggi (17. Pegunungan Bintang (35. Humbang Hasundutan (62. Temanggung (36. Jambi.9%). Maluku.9%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir diatas prevalensi nasional. Papua Barat. Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bali. Sulawesi Utara. Kota Balikpapan (19. yaitu Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional.8%). Perilaku Aktifitas Fisik • Prevalensi nasional Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 48.4%).6%). Dairi (61. Bungo (18. Manokwari (13. Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung • Prevalensi nasional Pernah Mendengar Flu Burung adalah 64. Maluku. Kalimantan Timur. Sulawesi Selatan. dan Papua Barat. dan Sulawesi Tengah.6%. Sulawesi Barat. yaitu Sumatera Utara.2%). Kota Payakumbuh (13. Nusa Tenggara Timur. Boven Digul (36. Kota Kupang (11. Banten. dan Tabalong (15. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Yapen Waropen (15.4%).• Secara nasional. Barru (15. Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung.3%).1%).3%). Langsa (17.9%).8%). Buton (15.2%). Maluku Utara.2%). Gunung Kidul (65.9%).7%).5%). Magetan (63. Kepulauan Riau.2%. 85. Kota Tomohon (61. Sumatera Selatan. Sulawesi Tengah. Jawa Barat.5%). • Secara nasional.3%). Kalimantan Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Pontianak (13. Lampung. dan Toba Samosir (61.4%).6%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar Flu Burung dibawah prevalensi nasional. Kota Samarinda (18. • Secara nasional. Kepulauan Riau. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Pacitan (68. DKI Jakarta. Maluku.8%). Sulawesi Utara. Perilaku Minum Minuman Beralkohol • Prevalensi nasional Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir adalah 4.9%). Probolinggo (34. Riau.5%).4%). Kalimantan Selatan. Jawa Barat. DKI Jakarta. dan Lampung Barat (33.6%). Sedangkan 10 kabupaten/kota mempunyai dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Kota Padang (11. Kota Lubuk Linggau (12. Bali. Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur • Prevalensi nasional Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 93.8%). Sumatera Barat.7%. dan Maluku Utara.4%).8%). Sulawesi Selatan.4%). xviii . Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Puncak Jaya (8.3%). Sekadau (62. Wonosobo (34. Kota Ambon (15. Kalimantan Selatan.9%). Bangli (62. Riau. Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan.0). Sulawesi Selatan. dan Seram Bagian Barat (19. Mappi (44. Bali. Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Riau. Gorontalo. Kalimantan Barat. Kalimantan Barat. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. dan Papua.0%).4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Aceh Timur (19.

• Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) adalah 78,7%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) dibawah prevalensi nasional, yaitu Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pengetahuan dan Sikap tentang HIV/AIDS • Prevalensi nasional Pernah Mendengar HIV/AIDS adalah 44,4%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar HIV/AIDS dibawah prevalensi nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara. • Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) adalah 13,9%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) dibawah prevalensi nasional, yaitu Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Perilaku Higienis • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar adalah 71,1%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan adalah 23,2%. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Pola Konsumsi Makanan Berisiko • Secara nasional, prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur > 10 tahun adalah Penyedap (77,8%), Manis (68,1%), dan Kafein (36,5%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai penduduk umur > 10 tahun yang mengkonsumsi Penyedap diatas prevalensi nasional, yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Barat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • Prevalensi nasional Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah 38,7%. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau,

xix

Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terendah adalah Raja Ampat (0%), Supiori (0%), Gayo Lues (1,3%), Kepulauan Mentawai (1,4%), Nias Selatan (1,8%), Jayawijaya (2,1%), Paniai (2,1%), Nagan Raya (2,2%), Nias (3,0%), dan Timor Tengah Selatan (3,8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertinggi adalah Klungkung (100%), Badung (100%), Sumedang (68,8%), Kota Batu ( 67,1%), Gianyar (66,7%), Soppeng (64,7%), Kota Tomohon (63,4%), Kota Kendari (62,1%), Sukoharjo (61,3%), dan Kuningan (60,5%). Akses Ke Sarana Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu, Dokter Praktek, Bidan Praktek) • Secara nasional, sebanyak 94,1% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana pelayanan kesehatan dan sebanyak 90,8% rumah tangga dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit. • Sebanyak 18 provinsi mempunyai persentase rumah tangga berada lebih dari 5 km dari sarana pelayanan kesehatan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Akses Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu, Poskesdes, Polindes) • Secara nasional, sebanyak 98,4% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat, dan sebanyak 96,5% rumah tangga dapat mencapai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat kurang atau sama dengan 30 menit. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang berada kurang • atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat diatas persentase nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sebanyak 27,3% rumah tangga memanfaatkan posyandu, 62,5% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu karena tidak membutuhkan, dan 10,3% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu untuk alasan lainnya. Rawat Inap • Secara nasional, persentase tertinggi tempat rawat inap yang dipilih rumah tangga adalah Rumah Sakit Pemerintah (3,1%), Rumah Sakit Swasta (2,0%) dan Puskesmas (0,8%). • Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Rumah Sakit Pemerintah untuk tempat rawat inap dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku.

xx

• Sebanyak 6 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Puskesmas untuk tempat rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat inap adalah Dari Kantong Sendiri (71,0%), Askes/Jamsostek (15,6%), dan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (14,3%). • Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Rawat Jalan • Secara nasional, persentase tertinggi yang dipilih rumah tangga untuk tempat rawat jalan adalah Rumah Sakit Bersalin (14,8%), Tenaga Kesehatan (13,9%), dan Rumah Sakit Pemerintah (1,6%). • Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih tenaga kesehatan sebagai tempat untuk rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Utara, Gorontalo. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat jalan adalah Dari Kantong Sendiri (74,5%), Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (10,8%), dan Askes/Jamsostek (9,8%). • Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Ketanggapan Pelayanan Kesehatan • Secara nasional, 3 aspek Ketanggapan Pelayanan Kesehatan yang memperoleh penilaian baik terendah dari rumah tangga adalah Kebersihan Ruangan (82,9%), Kebebasan Memilih Sarana (84,5%), dan Waktu Tunggu (84,8%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memberikan penilaian baik atas Kebersihan Ruangan dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Air Bersih • Persentase nasional rumah tangga dengan rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter adalah 14,4%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter dibawah persentase nasioal, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat,

xxi

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. Fasilitas buang air besar • Persentase nasional rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri adalah 60,0%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Sarana Pembuangan Air Limbah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah adalah 24,9%. Sebanyak 23 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pembuangan sampah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72,9%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Perumahan • Persentase nasional rumah tangga dengan rumah berlantai tanah adalah 13,8%. Sebanyak 7 provinsi mempunyai persentase rumah tangga dengan rumah berlantai tanah diatas persentase nasional, yaitu Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Pemeliharaan Ternak • Secara nasional terdapat 39,4% rumah tangga yang memelihara unggas, 11,6% memelihara ternak sedang, 9,0% memelihara ternak besar dan 12,5% memelihara binatang jenis anjing, kucing atau kelinci. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10-20% memeliharanya di dalam rumah. Mortalitas • Gambaran nasional selama 12 tahun (1995–2007) menunjukkan bahwa proses transisi epidemiologi telah berlangsung seiring dengan transisi demografi. Transisi epidemiologi ditandai dengan pergeseran penyebab kematian dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Transisi demografi ditandai dengan pergeseran proporsi kematian dari struktur penduduk umur muda ke arah penduduk umur yang lebih tua. • Penurunan proporsi penyakit menular sebagai penyebab dasar kematian tahun 2001-2007 tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (1995-2001). Di lain pihak, peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 19952001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama. Dengan demikian Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan menghadapi beban ganda,

xxii

yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap, serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat. • Selanjutnya, proporsi penyakit/gangguan yang berhubungan dengan kematian maternal serta kematian perinatal tidak berubah dalam periode terakhir (2001-2006). Upaya-upaya peningkatan pelayanan berkualitas untuk kehamilan, persalinan, masa nifas perlu terus menerus ditingkatkan untuk menurunkan kematian maternal dan perinatal.

xxiii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i Sambutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ..............................................iii Ringkasan............................................................................................................. v Daftar isi............................................................................................................ xxiv Daftar Tabel, gambar, dan grafik ..................................................................... xxvii Daftar Singkatan ..................................................................................................xli Daftar Lampiran ................................................................................................. xliv BAB 1. 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 BAB 2. 2.1 2.2 2.3 Pendahuluan ........................................................................................ 1 Latar Belakang......................................................................................... 1 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 .............................................................. 2 Pertanyaan Penelitian.............................................................................. 2 Tujuan Riskesdas .................................................................................... 3 Kerangka Pikir ......................................................................................... 3 Alur Pikir Riskesdas 2007 ........................................................................ 4 Pengorganisasian Riskesdas................................................................... 5 Manfaat Riskesdas .................................................................................. 6 Persetujuan Etik Riskesdas ..................................................................... 6 Metodologi Riskesdas .......................................................................... 7 Disain....................................................................................................... 7 Lokasi ...................................................................................................... 7 Populasi dan Sampel ............................................................................... 8 Penarikan Sampel Blok Sensus ........................................................ 8 Penarikan Sampel Rumah Tangga ................................................... 8 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga ..................................... 8 Penarikan Sampel Biomedis ............................................................. 9 Penarikan Sampel Iodium ................................................................. 9

2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.3.5 2.4 2.5 2.6

Variabel.................................................................................................. 13 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data.............................. 14 Manajemen Data ................................................................................... 18 Editing ............................................................................................. 18 Entry................................................................................................ 18 Cleaning .......................................................................................... 18 xxiv

2.6.1 2.6.2 2.6.3

2.7 2.8 BAB 3. 3.1

Keterbatasan Riskesdas ........................................................................ 19 Pengolahan dan Analisis Data............................................................... 20 Hasil dan Pembahasan ...................................................................... 34 Gizi ........................................................................................................ 34 Status Gizi Balita ............................................................................. 34 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)............... 45 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas .............................. 48 Konsumsi Energi dan Protein.......................................................... 56 Konsumsi Garam Beriodium ........................................................... 60 Status Imunisasi .............................................................................. 66 Pemantauan Pertumbuhan Balita ................................................... 71 Distribusi Kapsul Vitamin A ............................................................. 80 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak................................ 82 Prevalensi Filariasis, Demam Berdarah Dengue dan Malaria ......... 99 Prevalensi ISPA, Pnemonia, Tuberkulosis (TB), dan Campak...... 103 Prevalensi Tifoid, Hepatitis, Diare ................................................. 107 Penyakit Tidak Menular Utama, Penyakit Sendi, dan Penyakit Gangguan Mental Emosional ........................................................ 119 Penyakit Mata ............................................................................... 122 Kesehatan Gigi.............................................................................. 130 Anemia .......................................................................................... 148 Diabetes Mellitus ........................................................................... 156 Cedera .......................................................................................... 160 Status Disabilitas / Ketidakmampuan ............................................ 170 Perilaku Merokok .......................................................................... 174 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur .............................................. 186 Perilaku Minum Minuman Beralkohol ............................................ 189 xxv

3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.3 3.3.1 3.3.2 3.3.3 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.4.4 3.5 3.5.1 3.5.2 3.6 3.6.1 3.6.2 3.7 3.7.1 3.7.2 3.7.3

Kesehatan Ibu dan Anak ....................................................................... 66

Penyakit Menular ................................................................................... 99

Penyakit Tidak Menular ....................................................................... 110

Keturunan .................................................................................................. 110

Biomedis .............................................................................................. 148

Cedera dan Disabilitas......................................................................... 160

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku........................................................ 174

........... 276 Kematian Menurut Kelompok Umur .............................2 3...........3 3.............................................................1 3................7....7................................................8.................1 3.................9.8........9........7.............. 211 Kesehatan Lingkungan .....................2 3..................................................... 202 Pola Konsumsi Makanan Berisiko ...................... 205 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ...........8....................................3 3.................................................... 244 Fasilitas Buang Air Besar .......10 3................7.... 275 Kematian Semua Umur.5 3.................................. 291 xxvi ...................................................9..................................9...................9 3.............................................7...3....................................3 Perilaku Aktifitas Fisik ..................1 3......................2 3.....10................... 239 Air Keperluan Rumah Tangga.......................10........... 268 Perumahan..................................................4 3............................................................8 3...................... 194 Perilaku Higienis . 286 Lampiran........................ 192 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS ...........5 3......... 278 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.............................................. 266 Pembuangan sampah .................8 3..... 207 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan ..........9.....4 3................................................................6 3... 211 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan ..............................................................10...... 231 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan ......................... 244 Daftar Pustaka ... 275 Distribusi Kasus Kematian .................. 270 Mortalitas .......7 3........... 258 Sarana pembuangan air limbah .....

GAMBAR.13. Tabel 2.DAFTAR TABEL.8 Tabel 2.5. DAN GRAFIK Nomor Tabel Tabel 1.10 Tabel 2.6 Nama Tabel Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Hal 2 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 10 2007 Jumlah Sampel Rumah tangga (RT) per Provinsi menurut 11 Susenas 2007 dan Riskesdas. Riskesdas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil 22 Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil 23 Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita 24 hasilPengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun 25 hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 26 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 27 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 28 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 29 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 31 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Tabel 2. Tabel 2.3.9 Tabel 2.2 Tabel 2. Tabel 2. Tabel 2.14 xxvii . 2007 Jumlah Sampel Anggota Rumah tangga (ART) per Provinsi 12 menurut Susenas 2007 dan Riskesdas. Tabel 2.7. Tabel 2. 2007 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari 21 Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.12 Tabel 2.4.1.11 Tabel 2.1 Tabel 2.

38 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik 39 Responden.14 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.8 Tabel 3.11 Tabel 3.6 Tabel 3.9 Tabel 3. Tabel 3. Umur dan Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 52 Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke 50 Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.4. Riskesdas 2007 Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi. WHO 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut 46 Jenis Kelamin dan Provinsi.7 Tabel 3. Tabel 3.Tabel 2. 35 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.5 Tabel 3.1.10 Tabel 3.2. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik 42 Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut 47 Karakteristik.17 Tabel 3.13 Tabel 3. 37 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 32 hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 33 Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.19 xxviii . Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik 41 Responden. Riskesdas 2007 Tabel 2.3. Tabel 3.16 Tabel 3.18 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun 56 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) 49 Menurut IMT dan Provinsi. 43 Riskesdas 2007 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut 45 Nilai Rerata IMT.16 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 53 Atas menurut Karakteristik Responden.12 Tabel 3. Riskesdas 2007 54 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun 55 Menurut Provinsi.15 Tabel 3. Riskesdas 2007 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut 58 Provinsi. Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT 51 dan Karakteristik Responden.

27 Tabel 3. 78 Riskesdas 2007 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik 79 Responden.39 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 65 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 75 Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 67 Dasar menurut Provinsi.30 Tabel 3.20 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi. 76 Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik 77 Responden.37 Tabel 3.22 Tabel 3.28 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 70 Dasar menurut Provinsi.34 Tabel 3.33 Tabel 3. Riskesdas 2007 xxix . Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 80 Vitamin A menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 74 Terakhir dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 69 Dasar menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 72 Terakhir dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 73 Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 71 Dasar menurut Karakteristik Responden.35 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 60 Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita .24 Tabel 3.23 Tabel 3.38 Tabel 3. Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup 61 Iodium menurut Provinsi.32 Tabel 3.Tabel 3.36 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.26 Tabel 3.31 Tabel 3.25 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium 62 Menurut Karakteristik Responden.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 59 Rendah dari Rerata Nasional.29 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam 63 mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007. Riskesdas 2007 64 Tabel 3.

48 Tabel 3. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 87 menurut Karakteristik Responden.56 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi 96 Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.46 Tabel 3.57 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis.53 Tabel 3. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 86 menurut Provinsi.Tabel 3.49 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 81 Vitamin A menurut Karakteristik Responden.51 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 91 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 85 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 88 Kehamilan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 83 Karakteristik.41 Tabel 3.44 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 95 Karakteristik Responden.47 Tabel 3.52 Tabel 3.40 Tabel 3.43 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 90 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.54 Tabel 3.45 Tabel 3.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 94 Provinsi. Riskesdas 92 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus Responden. Malaria dan 101 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 82 Provinsi. Demam Berdarah Dengue.42 Tabel 3.50 Tabel 3. Riskesdas 2007 menurut Karakteristik 93 Tabel 3.58 xxx . Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 84 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 89 Kehamilan dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 98 dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 97 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Tabel 3.

Pneumonia. dan Campak menurut 106 Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma. TB.71 Tabel 3. Pneumonia. Hepatitis. TB. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Diare menurut Karakteristik 109 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA.61 Tabel 3. Jantung*. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Dan Tumor 116 menurut Karakteristik Responden. Demam Berdarah Dengue.72 Tabel 3.66 Tabel 3.67 Prevalensi Penyakit Persendian. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma*. Talasemi.62 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Persendian. Hipertensi. 123 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 128 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA.Tabel 3. Sumbing. Diare menurut Provinsi. Riskesdas 108 2007 Prevalensi Tifoid. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 127 Menurut Karakteristik Responden.63 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat. Buta 118 Warna. Responden.73 Tabel 3. dan Campak menurut 104 Provinsi. Hepatitis. Malaria dan 102 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.65 Tabel 3. Dermatitis. dan Strok menurut 111 Provinsi.64 Tabel 3.60 Tabel 3. Hipertensi.69 Tabel 3.70 Tabel 3. Diabetes* Dan Tumor** 115 menurut Provinsi. Rhinitis. Glaukoma. Riskesdas 2007 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 120 Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 121 berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.62 Tabel 3. Diabetes Mellitus. Jantung.74 xxxi . dan Strok menurut 113 Karakteristik Responden.59 Prevalensi Filariasis.68 Tabel 3. 124 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 125 menurut Provinsi.

Riskesdas 2007 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut 149 Provinsi Riskesdas 2007 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki. Riskesdas 2007 Komponen D.76 Tabel 3.79 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk Provinsi.77 Tabel 3.88 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 146 Normal Gigi. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 142 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 139 Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 136 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi. Edentulous.150 laki Dewasa.Riskesdas 2007 Bermasalah Gigi-Mulut menurut 131 menurut 133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 144 menurut Provinsi. Protesa dan Provinsi.83 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 145 menurut Karakteristik Responden. Edentulous. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 135 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.91 Tabel 3. Protesa dan Provinsi.78 Tabel 3.Tabel 3.87 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 138 Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi. M.81 Tabel 3. Anak-anak dan Ibu Hamil. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 137 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut 143 Karakteristik Responden. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik 141 Responden.86 Tabel 3.82 Tabel 3.84 Tabel 3.90 Tabel 3. M.89 Tabel 3.93 xxxii . Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 147 Normal Gigi.92 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 134 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 129 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden. 140 Riskesdas 2007 Komponen D.80 Tabel 3.85 Tabel 3.

105 Tabel 3.109 Tabel 3.Tabel 3.102 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun KeatasMenurut 172 Status dan Provinsi.110 Tabel 3.97 Tabel 3.96 Tabel 3.100 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 175 Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.98 Tabel 3.114 xxxiii .107 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut 173 Status dan Karakteristik Responden. 169 Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang 170 Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial. Riskesdas 2007 Dewasa PerkotaanMenurut 152 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.154 Anak Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain 154 Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 155 2007 Prevalensi TGT. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Provinsi. DM. Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.113 Tabel 3. Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 dan 167 168 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.103 Tabel 3.111 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut 151 Provinsi.99 Tabel 3. Riskesdas 2007.104 Tabel 3. 164 Riskesdas 2007 Tabel 3. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut 165 Karakteristik Responden. 166 Riskesdas 2007.106.95 Tabel 3.106 Tabel 3.101 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.94 Tabel 3. DDM dan UDDM pada penduduk perkotaan 156 di Indonesia Riskesdas 2007 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus 157 menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. Obesitas Abdominal dan 159 Hipertensi Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah 160 dan Aktifitas Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.112 Tabel 3.108 Tabel 3. 158 Riskesdas 2007 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua 159 Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.

Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok 177 yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 176 Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.129 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 190 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 195 dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi.120 Tabel 3.127 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 187 ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang 178 Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.116 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 188 ke Atas menurut Karakteristik Responden.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 183 menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 194 menurut Karakteristik Responden.118 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 193 menurut Provinsi.Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 186 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 180 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.117 Tabel 3.130 Tabel 3.123 Tabel 3.132 xxxiv . Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 185 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 179 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota 184 Rumah Tangga menurut Provinsi.124 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 191 menurut Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Tabel 3.119 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 181 menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.128 Tabel 3.126 Tabel 3.121 Tabel 3.131 Tabel 3.125 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 196 dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden.122 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 206 Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.138 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku 208 Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.146 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada 200 Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi di Indonesia.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 198 Tentang HIV/AIDS dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 210 Konsumsi Sayur Buah.139 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 205 Makanan Berisiko menurut. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 204 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 203 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.143 Tabel 3.145 Tabel 3.136 Tabel 3.142 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh 213 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.148 xxxv . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan 216 Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap 201 Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.140 Tabel 3. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 214 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 212 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi. Kurang Aktifitas Fisik. Riskesdas 2007 Tabel 3. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 215 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.141 Tabel 3.144 Tabel 3.137 Tabel 3.133 Tabel 3.134 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 199 Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.147 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 209 Konsumsi Sayur Buah.

149 Persentase Rumah Posyandu/Poskesdes Riskesdas 2007 Tangga Menurut Pemanfaatan 217 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 221 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.Tabel 3. Riskesdas 2007 xxxvi .159 Tabel 3.158 Tabel 3.164 Tabel 3.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 218 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.155 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 229 Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 230 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Tabel 3.162 Tabel 3.161 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 219 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan 223 Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Menurut Tempat dan 232 Tabel 3.160 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan 226 Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.154 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 220 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 231 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 228 Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan 233 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 225 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Provinsi.153 Tabel 3.152 Tabel 3.157 Tabel 3.156 Tabel 3.163 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 227 Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.151 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 222 Di Desa Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 224 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.

179 Tabel 3.171 Tabel 3.181 Tabel 3.184 xxxvii .173 Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir 236 Menurut Tempat dan Provinsi.180 Tabel 3. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 252 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.183 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 245 Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi di Indonesia.182 Tabel 3.177 Tabel 3. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.169 Tabel 3.168 Tabel 3.166 Tabel 3.176 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 234 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 246 Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 241 dan Provinsi.175 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 248 Sumber Air.178 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 251 dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 242 dan Karakteristik Rumah Tangga.170 Tabel 3. Susenas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa 249 Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 253 dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 235 dan Karakteristik Rumah Tangga.172 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 239 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 243 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 244 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan 237 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga 250 yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.174 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 238 Provinsi.167 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 247 Sumber Air.

Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 258 dan Karakteristik Rumah Tangga.187 Tabel 3. Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 269 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.201 Tabel 3.185 Tabel 3.190 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Provinsi.194 Tabel 3.193 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 265 Tinja dan Provinsi. Susenas 2007 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan 267 Air Limbah dan Provinsi. 271 Kepadatan Hunian dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan 268 Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 262 dan Provinsi di Indonesia.189 Tabel 3.202 xxxviii .196 Tabel 3.195 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 259 Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.192 Tabel 3. Riskesdas 2008 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 270 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 261 dan Provinsi.191 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 257 dan Provinsi. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 266 Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 263 dan Provinsi.Tabel 3.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 254 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.200 Tabel 3.199 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 264 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Riskesdas 2007 Tempat 255 Sebelum Tempat 256 Sebelum Tangga.188 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 260 Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.197 Tabel 3.198 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke 285 atas enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Jenis Kelamin.219 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Jenis Kelamin.220 Tabel 3.207 Tabel 3.205 Tabel 3. 280 Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas 280 menurut Tipe Daerah.Tabel 3.222 xxxix .211 Tabel 3. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis 275 Kelamin. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe 276 Daerah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 274 Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 273 Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Tipe Daerah.212 Tabel 3.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan 272 Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.213 Tabel 3.214 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun 281 menurut Tipe Daerah.215 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas 285 menurut Jenis Kelamin Tabel 3.208 Tabel 3. Riskesdas 2007 281 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.217 Tabel 3.221 Tabel 3.204 Tabel 3.210 Tabel 3. Riskesdas 2007 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 Penyakit.Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.218 Tabel 3.216 Tabel 3.206 Tabel 3. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua 278 Umur.209 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 279 ha Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian 279 Bayi 0-6 hari. Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun 282 menurut jenis kelamin.

Nomor Gambar Gambar 1.1 Nama Grafik Penyakit.1 Gambar 1.2 Nama Gambar Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Alur Pikir Riskesdas 2007 Hal 3 5 Nomor Grafik Grafik 3. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Hal Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 xl .

DAFTAR SINGKATAN ART AFP ASKES ASKESKIN BB BB/U BB/TB BUMN BALITA BABEL BCG BBLR BATRA CPITN D DG DM DDM D-T DKI DPT DIY DMF-T DEPKES F-T G HB IDF IMT ICF ICCIDD IU JNC JABAR JATENG JATIM KEPRI KALTIM KALTENG KALSEL KALBAR Anggota Rumah Tangga Acute Flaccid Paralysis Asuransi Kesehatan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Berat Badan Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Tinggi Badan Badan Usaha Milik Negara Bawah Lima Tahun Bangka Belitung Bacillus Calmete Guerin Berat Bayi Lahir Rendah Pengobatan Tradisional Community Periodental Index Treatment Needs Diagnosis Diagnosis dan Gejala Diabetes Mellitus Diagnosed Diabetes Mellitus Decay .Teeth Daerah Khusus Ibukota Diptheri Pertusis Tetanus Daerah Istimewa Yogyakarta Decay Missing Filling .Teeth Departemen Kesehatann Filling Teeth Gejala klinis Hemoglobin International Diabetes Federation Indeks Massa Tubuh International Classification of Functioning. Disability and Health International Council for the Control of Iodine Deficiency Disorders International Unit Joint National Committee Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat xli .

KK Kg KEK KKAL KEP KMS KIA KLB LP LILA mmHg mL MI M-T MTI MDG Malut Nakes NAD NTT NTB O Poskesdes Polindes Pustu Puskesmas PTI POLRI PNS PT PPI PD3I PIN Posyandu PPM RS RSB RTI RPJM Riskesdas SRQ SKTM SPAL Sumbar Sumsel Sulut Sulbar Sulsel Sulteng Kepala Keluarga Kilogram Kurang Energi Kalori Kilo Kalori Kurang Energi Protein Kartu Menuju Sehat Kesehatan Ibu dan Anak Kejadian Luar Biasa Lingkar Perut Lingkar Lengan Atas Milimeter Air Raksa Mili Liter Missing index Missing Teeth Missing Teeth Index Millenium Development Goal Maluku Utara Tenaga Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Obat atau Oralit Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa Puskesmas Pembantu Pusat Kesehatan Masyarakat Performed Treatment Index Polisi Republik Indonesia Pegawai Negeri Sipil Perguruan Tinggi Panitia Pembina Ilmiah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Pekan Imunisasi Nasonal Pos Pelayanan Terpadu Part Per Million Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Required Treatment Index Rencana Pembangunan Jangka Menengah Riset Kesehatan Dasar Self Reporting Questionnaire Surat Keterangan Tidak Mampu Saluran Pembuangan Air Limbah Sumatera Barat Sumatera Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah xlii .

Sultra SD SD SLTP SLTA TB TB TB/U TT TDM TGT UNHCR UNICEF UCI UDDM WHO WUS µl Sulawesi Tenggara Standar Deviasi Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Tinggi Badan Tuberkulosis Tinggi Badan/Umur Tetanus Toxoid Total Diabetes Mellitus Toleransi Glukosa Terganggu United Nations High Commissioner for Refugees United Nations Children's Fund Universal Child Immunization Undiagnosed Diabetes Mellitus World Health Organization Wanita Usia Subur Mikro Liter xliii .

Lampiran 1.1 .1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877/MENKES/SK/XI/2006 tentang Tim Riset Kesehatan Dasar.Kuesioner Riset Kesehatan Dasar xliv . Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) Lampiran 2.2.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.

belum sepenuhnya dibuat berdasarkan informasi komunitas yang berbasis bukti. Riskesdas 2007 dirancang dengan pengendalian mutu yang ketat. serta manajemen data yang terkoordinasikan dengan baik. 1. untuk meningkatkan manfaat Riskesdas 2007 maka komparabilitas berbagai alat pengumpul data yang digunakan. maka kewenangan yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan kini berada di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. Pengalaman menunjukkan bahwa komparabilitas dari suatu survei rumah tangga seperti Riskesdas 2007 dapat dicapai dengan efisien melalui disain instrumen yang canggih dan ujicoba yang teliti dalam pengembangannya. baik untuk tingkat individual maupun rumah tangga menjadi isu yang sangat penting. Data dasar yang dihasilkan Riskesdas 2007 terdiri dari indikator kesehatan utama tentang status kesehatan. Data dasar ini. Rencana pembangunan kesehatan yang appropriate dan adequate membutuhkan data berbasis komunitas yang dapat mewakili populasi (rumah tangga dan individual) pada berbagai jenjang administrasi. sampel yang memadai. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based di seluruh Indonesia. Pelaksanaan Riskesdas 2007 adalah upaya mengisi salah satu dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. kesehatan lingkungan. reliable dan comparable dari suatu proses pemantauan dan penilaian sesungguhnya dapat berkontribusi bagi ketersediaan evidence pada skala nasional. Departemen Kesehatan RI mengembangkan misi: “membuat rakyat sehat”. Informasi yang valid. perumusan dan pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. Riskesdas 2007 diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). selain validitas dan reliabilitas. baik di pusat maupun di daerah. Susenas Modul Kesehatan dan Sjurvei Kesehatan Rumah Tangga hanya menghasilkan estimasi yang mewakili tingkat kawasan atau provinsi. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai survei berbasis komunitas seperti Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Penyelenggaraan Riskesdas 2007 dimaksudkan pula untuk membangun kapasitas peneliti di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Untuk mewujudkan visi “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. Sehingga dapat dikatakan bahwa survei yang ada belum memadai untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota. dan berbagai aspek pelayanan kesehatan. Pelaksanaan Riskesdas 2007 mengakui pentingnya komparabilitas. informasi yang valid. perilaku kesehatan. asupan. sebagai salah satu unit utama di lingkungan Departemen Kesehatan yang berfungsi menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti. reliable dan comparable dari Riskesdas 2007 dapat digunakan untuk mengukur berbagai status kesehatan. Pada tahap disain.BAB 1. Dengan demikian. provinsi dan kabupaten/kota. agar mampu mengembangkan dan melaksanakan survei berskala besar serta menganalisis data yang kompleks. bukan saja berskala nasional.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah sebuah policy tool bagi pembuat kebijakan kesehatan diberbagai jenjang administrasi. proses serta luaran sistem kesehatan. status gizi. 1 . Lebih jauh lagi. tetapi juga menggambarkan berbagai indikator kesehatan minimal sampai ke tingkat kabupaten/kota. Sampai saat ini belum tersedia peta status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi di tingkat kabupaten/kota. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Gizi & Pola Konsumsi -S/J/KTI 5. Apa masalah kesehatan masyarakat yang spesifik di setiap provinsi dan kabupaten/kota? 2 . 1. Penyakit -S/J/KTI 7. Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Indikator SDKI SKRT Susenas 2007 280. dan mencakup aspek kesehatan yang lebih luas. Apa dan bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. provinsi dan kabupaten/kota? b.3 Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam Riskesdas 2007 dikembangkan berdasarkan pertanyaan kebijakan kesehatan yang sangat mendasar terkait upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. dengan menggunakan sampel Susenas Kor. J: Jawa-Bali.000 -Kabupaten Provinsi Kabupaten ------ Riskesdas 2007 280. KTI: Kawasan Timur Indonesia 1. maka pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui Riskesdas adalah: a. Sesuai dengan latar belakang pemikiran dan kebutuhan perencanaan. Sanitasi lingkungan -S/J/KTI 6.1.000 Nasional Kabupaten Kabupaten Kabupaten Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Nasional 1. tingkat keterwakilan Riskesdas adalah sebagai berikut : Tabel 1. Dibandingkan dengan survei berbasis komunitas yang selama ini dilakukan. Bagaimana status kesehatan masyarakat di tingkat nasional.000 2. Cedera & Kecelakaan Nasional S/J/KTI 8. provinsi dan kabupaten/kota? c. Gigi & Mulut --10.000 10.Atas dasar berbagai pertimbangan di atas. Balitbangkes melaksanakan Riskesdas untuk menyediakan informasi berbasis komunitas tentang status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dengan keterwakilan sampai tingkat kabupaten/kota. Perilaku -S/J/KTI 4. Riskesdas 2007 mencakup sampel yang lebih besar dari survei-survei kesehatan sebelumnya. Disabilitas -S/J/KTI 9. Riskesdas 2007 menyediakan informasi kesehatan dasar termasuk biomedis.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 adalah riset berbasis komunitas dengan sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga yang dapat mewakili populasi di tingkat kabupaten/kota. Pola Mortalitas Nasional S/J/KTI 3. Biomedis --S: Sumatera. Sampel 35.

Keempat faktor penentu tersebut adalah: lingkungan. provinsi dan kabupaten/kota. Menyediakan informasi berbasis bukti untuk perumusan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai tingkat administratif. Status kesehatan mencakup variabel: 3 .1.4 Tujuan Riskesdas Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut diatas. maka tujuan Riskesdas 2007 adalah sebagai berikut : a. Menyediakan peta status dan masalah kesehatan di tingkat nasional. Bagan kerangka pikir Blum dapat dilihat pada Gambar 1.1. Membandingkan status kesehatan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi antar provinsi dan antar kabupaten/kota 1. c. Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Pada Riskesdas tahun 2007 ini tidak semua indikator dikumpulkan baik yang terkait dengan status kesehatan maupun ke empat faktor penentu dimaksud. Gambar 1.1. 1981). Berbagai indikator yang ditanyakan.5 Kerangka Pikir Pengembangan Riskesdas 2007 didasari oleh kerangka pikir Henrik Blum (1974. b. Konsep ini terfokus pada status kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara simulatn oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu sama lain. Menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan termasuk alokasi sumber daya di berbagai tingkat administratif. perilaku. d. diukur atau diperiksa adalah sebagai berikut : a. pelayanan kesehatan dan keturunan.

sanitasi. Perilaku konsumsi sayur dan buah. Dengan demikian. dan pengukuran lingkar lengan atas untuk wanita usia 15-45 tahun) • Kesehatan jiwa b. Perilaku merokok/konsumsi tembakau dan alkohol. Perilaku gosok gigi. HIV/AIDS Akses terhadap pelayanan kesehatan. Ketanggapan pelayanan kesehatan. pengukuran lingkar perut untuk penduduk dewasa 15 tahun keatas. tingkat sosial-ekonomi. Faktor perilaku mencakup variabel: • • • • • • d. berbagai instrumen yang dikembangkan untuk Riskesdas 2007 mengacu pada berbagai instrumen yang telah ada dan banyak digunakan oleh berbagai bangsa di dunia (61 negara). Keenam tahapan ini terkait erat dengan ide dasar Riskesdas untuk menyediakan data kesehatan yang valid. kabupaten/kota c. termasuk untuk upaya kesehatan berbasis masyarakat. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. Substansi pertanyaan. Dengan demikian. Untuk menjamin appropriateness dan adequacy dalam konteks penyediaan data kesehatan yang valid. maka pada setiap tahapan Riskesdas 2007 dilakukan upaya penjaminan mutu yang ketat.6 Alur Pikir Riskesdas 2007 Alur pikir (Gambar 1. Perilaku higienis (cuci tangan. buang air besar) Pengetahuan. meliputi tingkat pendidikan. Siklus yang dimulai dari Tahapan 1 hingga Tahapan 6 menggambarkan sebuah system thinking yang seyogyanya berlangsung secara berkesinambungan dan berkelanjutan. reliable dan comparable. reliable. hasil Riskesdas 2007 bukan saja harus mampu menjawab pertanyaan kebijakan. namun harus memberikan arah bagi pengembangan pertanyaan kebijakan berikutnya. Perilaku aktivitas fisik. serta dapat menghasilkan estimasi yang dapat mewakili rumah tangga dan individu sampai ke tingkat kabupaten/kota. meliputi air minum. meliputi konsumsi energi.2) ini secara skematis menggambarkan enam tahapan penting dalam Riskesdas 2007. Instrumen dimaksud 4 . polusi dan sampah • Lingkungan sosial. Pelayanan kesehatan mencakup variabel: • • • • 1. perbandingan kota – desa dan perbandingan antar provinsi. pengukuran dan pemeriksaan Riskesdas 2007 mencakup data kesehatan yang mengadaptasi sebagian pertanyaan World Health Survey yang dikembangkan oleh the World Health Organization.• Mortalitas (pola penyebab kematian untuk semua umur) • Morbiditas. pemeriksaan bayi dan imunisasi). meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular • Disabilitas (ketidakmampuan) • Status gizi (berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk semua umur. protein. vitamin dan mineral • Lingkungan fisik. comparable. sikap dan perilaku terhadap flu burung. Faktor lingkungan mencakup variabel: • Konsumsi gizi. Cakupan program KIA (pemeriksaan kehamilan.

Laporan • Tabel Dasar • Hasil Pendahuluan Nasional • Hasil Pendahuluan Provinsi • Hasil Akhir Nasional • Hasil Akhir Provinsi 2.7 Pengorganisasian Riskesdas Riskesdas direncanakan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Statistik • Deskriptif • Bivariat • Multivariat • Uji Hipotesis 3. Disain Alat Pengumpul Data • Kuesioner wawancara. diuji dan dipergunakan untuk mengukur berbagai aspek kesehatan termasuk didalamnya input. Indikator • Morbiditas • Mortalitas • Ketanggapan • Pembiayaan • Sistem Kesehatan • Komposit variabel lainnya Policy Questions Research Questions 6. process. pengukuran. Pelaksanaan Riskesdas 2007 • Pengembangan manual Riskesdas • Pengembangan modul pelatihan • Pelatihan pelaksana • Penelusuran sampel • Pengorganisasian • Logistik • Pengumpulan data • Supervisi / bimbingan teknis 4.2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan 5 . Gambar 1. output dan outcome kesehatan. Manajemen Data Riskesdas 2007 • Editing • Entry • Cleaning follow up • Perlakuan terhadap missing data • Perlakuan terhadap outliers • Consistency check • Analisis syntax appropriateness • Pengarsipan 1. pemeriksaan • Validitas • Reliabilitas Riskesdas 2007 5.dikembangkan. Alur Pikir Riskesdas 2007 1.

antara lain Badan Pusat Statistik. e. Bangka Belitung. dan Kepulauan Riau b. pemerintah daerah. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tingkat pusat Tingkat wilayah (empat wilayah) Tingkat provinsi (33 Provinsi) Tingkat kabupaten (440 Kabupaten/Kota) Tim pengumpul data (disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) Pengumpulan data Riskesdas 2007 direncanakan untuk dilakukan segera setelah selesainya pengumpulan data Susenas 2007. Papua Barat. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sumatera Selatan. Sumatera Utara. Sulawesi Tengah. b. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877 Tahun 2006. DI Yogyakarta. Daftar provinsi. dan Kalimantan Barat c. Kalimantan Tengah. Riau. Kalimantan Selatan.2)) 6 . Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. perguruan tinggi. 1.9 Persetujuan Etik Riskesdas Riskesdas ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. dan partisipasi masyarakat.Sulawesi Utara. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. lembaga penelitian. pengorganisasian Riskesdas 2007 dibagi menjadi berbagai tingkat dengan rincian sebagai berikut (Lihat Lampiran 1. (Lampiran 1. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. c. Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Lampung. d. Jawa Barat. dan Papua d. organisasi profesi. koordinator wilayah dan jadwal pengumpulan data per wilayah disusun sebagai berikut: a. dan Sulawesi Barat. Maluku. Jambi. Jawa Tengah. Sulawesi Tenggara. Tersedianya informasi berkelanjutan. untuk perencanaan pembangunan kesehatan yang • 1. Banten.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi DKI Jakarta.melibatkan berbagai pihak.1. Bali.8 Manfaat Riskesdas Riskesdas memberikan manfaat bagi perencanaan pembangunan kesehatan berupa : • • Tersedianya data dasar dari berbagai indikator kesehatan di berbagai tingkat administratif. Stratifikasi indikator kesehatan menurut status sosial-ekonomi sesuai hasil Susenas 2007. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi Jawa Timur. Kalimantan Barat. Gorontalo.) : a.

10) Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). 7) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Dengan disain ini. diukur atau diperiksa. 5) Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat).2 Lokasi Sampel Riskesdas 2007 di tingkat kabupaten/kota berasal dari 440 kabupaten/kota (dari jumlah keseluruhan sebanyak 456 kabupaten/kota) yang tersebar di 33 (tiga puluh tiga) provinsi Indonesia. 9) Minahasa Tenggara. secara menyeluruh. maka setiap pengguna informasi Riskesdas dapat memperoleh gambaran yang utuh dan rinci mengenai berbagai masalah kesehatan yang ditanyakan. design effect dan jumlah sampel tertimbang akan menyertai setiap estimasi variabel. 13) Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo). METODOLOGI RISKESDAS 2. 14) 7 . akurat dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan di berbagai tingkat administratif.BAB 2. Kabupaten dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Kab. dengan catatan sebagai berikut: a. Riskesdas 2007 menyediakan data dasar yang dikumpulkan melalui survei berskala nasional sehingga hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan kebijakan kesehatan bahkan sampai ke tingkat kabupaten/kota. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. Laporan Hasil Riskesdas 2007 akan menggambarkan berbagai masalah kesehatan di tingkat nasional dan variabilitas antar provinsi. 4) Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan). 2. 11) Kabupaten Buton Utara. Dengan demikian. 3) Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). Secara singkat dapat dikatakan bahwa Riskesdas 2007 didisain untuk mendukung pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah. atau dengan data survei lainnya seperti data kemiskinan yang menggunakan metodologi yang sama. 6) Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat). 12) Kabupaten Konawe Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. sedangkan di tingkat provinsi.1 Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. karena metodologinya hampir seluruhnya sama dengan Susenas 2007 (lihat penjelasan pada seksi berikut). relative standard error. dapat menggambarkan masalah kesehatan di tingkat provinsi dan variabilitas antar kabupaten/kota. 8) Kabupaten Kepulauan Siao Tagolandang Biaro. para pembentuk kebijakan dan pengambil keputusan di bidang pembangunan kesehatan dapat menarik manfaat yang optimal dari ketersediaan data Riskesdas 2007. Sebanyak 16 (enam belas) kabupaten tidak termasuk dalam sampel Riskesdas 2007 karena merupakan pengembangan kabupaten baru yang pada saat perencanaan Riskesdas belum diperhitungkan. confidence interval. data Riskesdas 2007 mudah dikorelasikan dengan data Susenas 2007. Lebih lanjut. Disain Riskesdas 2007 dikembangkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan teori dasar tentang hubungan antara berbagai penentu yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. 2) Kota Subussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam). sementara Susenas 2007 sudah mengikuti jumlah kabupaten/kota yang ada. Pidie Jaya.

357 (tujuh belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) sampel blok sensus. 2. jumlah sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota Susenas 2007 adalah 277. terkumpul 182 rumah tangga tambahan dari dua (2) kabupaten di Papua. 15) Kabupaten Sumba Tengah. 2. Diluar itu. yaitu: 1) Kabupaten Puncak Jaya dan 2) Kabupaten Pegunungan Bintang (Provinsi Papua). Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007.134. yang menjadi sampel rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. berdasarkan sampel blok sensus dalam Susenas 2007 yang berjumlah 17. (Lihat Tabel 2. Kemungkinan sebuah blok sensus masuk kedalam sampel blok sensus pada sebuah kabupaten/kota bersifat proporsional terhadap jumlah rumah tangga pada sebuah kabupaten/kota (probability proportional to size). Riskesdas menggunakan sepenuhnya sampel yang terpilih dari Susenas 2007.630 (dua ratus tujuh puluh tujuh enam ratus tiga puluh). terdapat 15 blok sensus dari 2 kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas 2007 (Lihat Tabel 2.3. sedang Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 258.1). b. Sebanyak 2 (dua) kabupaten masuk kedalam sampel Riskesdas 2007.150 blok sensus dari 438 jumlah kabupaten/kota.2).Kabupaten Sumba Barat Daya. 2. seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih dari kedua proses penarikan sampel tersebut diatas diambil sebagai sampel individu. pada Riskesdas 2007. Dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel kabupaten/kota diambil sejumlah blok sensus yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut. Secara keseluruhan.284 rumah tangga. Secara keseluruhan.3.3. 2. dalam 438 kabupaten/kota pada Susenas 2007 terdapat 1.3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga Selanjutnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi penghitungan dan cara penarikan sampel untuk Riskesdas 2007 identik pula dengan two stage sampling yang digunakan dalam Susenas 2007. 16) Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur). Pada Riskesdas. walaupun tidak masuk kedalam sampel Susenas 2007. Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 972.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia.225 (satu juta seratus tiga puluh empat ribu dua rtus dua puluh lima) sampel anggota rumah tangga.989 individu yang sama dengan 8 . Bila dalam sebuah blok sensus terdapat lebih dari 150 (seratus lima puluh) rumah tangga maka dalam penarikan sampel di tingkat ini akan dibentuk sub-blok sensus.2 Penarikan Sampel Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 16 (enam belas) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). Riskesdas berhasil mengunjungi 17.1 Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud. Dengan begitu.

2. Pengukuran kadar iodium dalam garam dilakukan dengan test cepat menggunakan “iodina” dilakukan pada seluruh sampel rumah tangga. 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga sedang dan 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga rendah.357 (tiga puluh enam ribu tiga ratus limapuluh tujuh) anggota rumah tangga berusia lebih dari satu (1) tahun. Dari rumah tangga yang terpilih. dipilih secara acak dua (2) rumah tangga yang mempunyai anak usia 6-12 tahun dari 16 RT per blok sensus di 30 kabupaten yang dapat mewakili secara nasional. Balai GAKI-Magelang. 9 . Dalam Riskesdas 2007 dilakukan test cepat iodium dalam garam pada 257. Pada Riskesdas 2007. Dari jumlah tersebut. Bogor. dan 182 rumah tangga dari dua (2) kabupaten di Papua. dan Puslitbang Gizi dan Makanan.919. Untuk pengukuran kedua. Riskesdas 2007 mengumpulkan 36.114 orang. dari dua (2) kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas. sampel diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun yang berjumlah 19.5 Penarikan Sampel Iodium Ada 2 (dua) pengukuran iodium. Sedangkan pengukuran iodium dalam urin adalah untuk menilai kemungkinan kelebihan konsumsi garam iodium pada penduduk. yang berasal dari 272 kabupaten/kota dan 540 blok sensus. adalah pengukuran kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga. Khusus untuk pengukuran gula darah. Pemilihan 30 kabupaten berdasarkan hasil survei konsumsi garam beriodium pada Susenas 2005 dengan memilih secara acak 10 (sepuluh) kabupaten dimana tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga tinggi. berhasil digabung dengan sampel anggota rumah tangga Rikesdas sejumlah. 2. Pertama. 26. (Lihat Tabel 2.065 sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota.3. dan 8473 anak usia 6-12 tahun yang dilakukan pengukuran kadar iodium dalam urin. Pengukuran kadar iodium dalam garam dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beriodium.3. sampel garam rumah tangga diambil. 2674 sampel garam beriodium rumah tangga dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada garam.3). Secara keseluruhan.Susenas.5. Secara nasional. terpilih sampel anggota rumah tangga berasal dari 971 blok sensus perkotaan yang dari 294 kabupaten/kota dalam Susenas 2007. terkumpul 673 sampel anggota rumah tangga.4 Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis adalah anggota rumah tangga berusia lebih dari 1 (satu) tahun yang tinggal di blok sensus dengan klasifikasi perkotaan.bab. dan kedua adalah pengukuran iodium dalam urin. 30 Kabupaten yang terpilih dapat dilihat pada sub. 2. dan juga sampel urin dari anak usia 6-12 tahun yang selanjutnya dikirim ke laboratorium Universitas Diponegoro.

Dengan demikian 17.Tabel 2. 10 . Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 15 BS.165 BS berhasil dikumpulkan.1 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Jml BSSusenas 2007 687 1054 692 434 380 540 342 438 230 230 427 1282 1578 216 1872 304 358 360 608 456 534 494 474 354 388 918 416 210 196 215 209 146 315 17357 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jml BSRiskesdas 2007 683 1045 689 426 379 538 337 424 230 230 409 1267 1576 215 1872 303 357 360 605 455 533 471 461 325 376 909 416 200 191 215 208 144 301 17150 Jml BS yang tidak ada 4 9 3 8 1 2 5 14 0 0 18 15 2 1 0 1 1 0 3 1 1 23 13 29 12 9 0 10 5 0 1 2 14 207 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.

424 2.241 93.981 NAD 16.4 Maluku 3.647 98.630 258.Tabel 2.1 Banten 5.420 92.959 86.0 Sumatra Barat 6.634 96.8 DI Yogyakarta 29.359 3.831 94.8 Sulawesi Tenggara 3. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.6 Lampung 3.864 4.008 6.418 94.832 4.792 91.4 Jawa Timur 4.490 92.456 3.430 94.5 Kalimantan Timur 5.5 Bengkulu 7.0 Gorontalo 3.640 8.705 88.0 Sulawesi Barat 3. Dengan demikian rumah tangga yang dikumpulkan berjumlah 258.8 Kalimantan Barat 8.9 Jawa Barat 25.7 Sulawesi Tengah 14.248 24.206 94.2 Sumatra Utara 11.769 92.208 5.263 91. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 182 RT.2 Maluku Utara 2.021 4.284 93.469 94.4 Kepulauan Riau 6.1 Bangka Belitung 3.543 7.512 19.890 71.563 95.375 95.933 6.728 5.2 Sulawesi Selatan 6.656 6.6 Nusa Tenggara Timur 7.9 Kalimantan Selatan 7.2 Papua Barat 5.294 6.8 Bali 5.447 87.952 28.915 87.861 16.664 85.904 7.585 80.2 Kalimantan Tengah 7.072 10.386 97.6 Riau 6.728 9.431 91.5 Sumatra Selatan 5. 2007 Jumlah Sampel RTSusenas 2007 Jumlah Sampel RTRiskesdas 2007 % Sampel RT Riskesdas /Susenas Provinsi 10.680 3.760 5.5 Jambi 8.9 10.821 78.472 5.064 92.498 95. 11 .3 Jawa Tengah 3.687 13.078 5.9 Sulawesi Utara 6.421 97.329 1.1 Papua*) 277.134 2.6 DKI Jakarta 20.680 3. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.344 2.806 95.664 4.074 81.366.0 Nusa Tenggara Barat 9.578 6.402 92.090 92.2.578 97.0 Indonesia *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.

519 78.297 38.056 22. 2007 Jumlah Sampel ARTSusenas 2007 46.156 17.3 70.8 82. Jumlah Sampel Anggota Rumah Tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.966 24.706 25.021 25.250 28. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.557 28.642 11.4 88.189 6.119 10.756 31.205 orang 12 .048 29.9 73.9 84.164 100.486 1.418 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jumlah Sampel ARTRiskesdas 2007 40.754 21.2 85.512 54.521 95.361 13. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 673 ART).7 91.152 9.5 83.2 90.7 87.2 81.8 89.648 47.0 85.892 69.624 29.952 21.460 87.7 89.9 93.046 74.3 85.2 91.637 14.002 39.4 94.245 10.256 42.970 68.966 17.848 22.5 84.856 36.465 110.435 33.603 21.661 13.5 81.570 14.3 92.412 20.687 14. Dengan demikan ART yang berhasil di wawancarai adalah sejumlah 987.015 25.7 67.646 29.1 60.591 45.4 83.085 986.349 10.833 13.044 23.870 27.397 21.3.9 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan peg.898 15.148.276 20.269 11.514 16.548 45.136 16.8 92.645 12.2 61.Tabel 2.3 86.570 26.358 19.7 69.4 82.4 83.4 81.410 26.532 %Sampel ART Riskesdas /Susenas 88.553 63.2 92.064 22.4 85.530 22.954 33.928 14.

• Blok X tentang keterangan individu dikelompokkan menjadi: i. yang terdiri dari: • Blok VIII tentang konsumsi makanan rumah tangga 24 jam lalu. Papua Barat. • Blok XI tentang pengukuran dan pemeriksaan (14 variabel). dan riwayat penyakit turunan (50 variabel). iii. 13 . tidak menular. vii. • Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). c. yang terdiri dari: • Blok IX tentang keterangan wawancara individu (4 variabel). Blok X-H tentang kesehatan bayi (khusus untuk bayi berumur < 12 bulan (7 variabel). viii.2. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. Blok X-I tentang kesehatan reproduksi – pertanyaan tambahan untuk 5 provinsi: NTT. • Blok II tentang keterangan rumah tangga (7 variabel). Kuesioner gizi (RKD07. • Blok VI tentang akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (11 variabel). Maluku. • Blok V tentang mortalitas (10 variabel). d. Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari (RKD07. • Blok VII tentang sanitasi lingkungan (17 variabel).RT) yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (9 variabel). b. Kuesioner individu (RKD07. Blok X-A tentang identifikasi responden (4 variabel). vi. Blok X-E tentang disabilitas/ketidakmampuan untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (23 variabel). Blok X-F tentang kesehatan mental untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (20 variabel).Maluku Utara. v. Dalam Riskesdas 2007 terdapat kurang lebih 900 variabel yang tersebar dalam 6 (enam) jenis kuesioner. Papua (6 variabel). ii.GIZI). • Blok IV tentang anggota rumah tangga (12 variabel). Blok X-C tentang ketanggapan pelayanan kesehatan Pelayanan rawat inap (11 variabel) Pelayanan berobat jalan (10 variabel iv.AV1). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (6 variabel).IND). Blok X-B tentang penyakit menular.4 Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan kebijakan kesehatan Indonesia dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Kuesioner rumah tangga (RKD07. Blok X-G tentang imunisasi dan pemantauan pertumbuhan untuk semua anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan (11 variabel). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel).

• Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel).RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi 14 . e. Lihat Lampiran 2. yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). • Blok IIIB tentang autopsi verbal untuk perempuan umur 10 tahun keatas (4 variabel).<5 tahun (35 variabel). • Blok IV tentang resume riwayat sakit untuk umur 5 tahun keatas (5 variabel).1 Kuesioner Riskesdas 2007. • Blok IVA tentang keadaan bayi ketika lahir (6 variabel). • Blok IVB tentang keadaan bayi ketika sakit (12 variabel). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel).AV3). • Blok III tentang autopsi verbal riwayat sakit bayi/balita berumur 29 hari .• Blok III tentang karakteristik ibu neonatal (5 variabel). • Blok VIB tentang keadaan ibu (8 variabel). • Blok IV tentang resume riwayat sakit bayi/balita (6 variabel) f. • Blok IIIC tentang autopsi verbal untuk perempuan pernah kawin umur 10-54 tahun (19 variabel). • Blok V tentang autopsi verbal kesehatan ibu neonatal ketika hamil dan bersalin (2 variabel). • Blok IIIA tentang autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (44 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari . Kuesioner autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (RKD07. dengan rincian sebagai berikut: a. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. • Blok IIID tentang autopsi verbal untuk laki-laki atau perempuan yang berumur 15 tahun keatas (1 variabel). terdapat dua (2) formulir yang digunakan untuk pengumpulan data tes cepat iodium garam (Form Garam) dan data iodium didalam urin (Form Pemeriksaan Urin).RT • Responden untuk Kuesioner RKD07. • Blok VIA tentang bayi usia 0-28 hari termasuk lahir mati (4 variabel). 2.5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2007 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data.< 5 tahun (RKD07. Catatan Selain keenam kuesioner tersebut diatas.AV2).

Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kematian yang terjadi dalam 12 bulan sebelum wawancara dilakukan eksplorasi lebih lanjut melalui autopsi verbal dengan menggunakan kuesioner RKD07. • Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular.IND adalah setiap anggota rumah tangga. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. Tumor / Kanker dan Penyakit Keturunan. • Informasi mengenai kejadian kematian dalam rumah tangga di recall terhitung sejak 1 Juli 2004. serta perilaku terkait dengan konsumsi buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar. Pengumpulan data kematian dengan teknik autopsi verbal menggunakan Kuesioner RKD07.AV3. Hepatitis. kesehatan mental. pengukuran lingkar perut. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. Filariasis. Diare. • Anggota rumah tangga berumur < 12 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai kesehatan bayi. tinggi badan / panjang badan. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan gigi permanen. Penyakit Jantung. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 30 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Katarak. Tuberkulosis Paru. disabilitas. responden untuk Kuesioner RKD07. • Anggota rumah tangga berumur > 5 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan visus. perilaku higienis. pengukuran tekanan darah. • Anggota rumah tangga berumur 6-12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan iodium dalam urin. Stroke.IND • Secara umum. termasuk ibu hamil). penggunaan tembakau. RKD07. Penyakit Tekanan Darah Tinggi. 15 . termasuk di dalamnya kejadian bayi lahir mati. aktivitas fisik. sikap dan perilaku terkait Penyakit Flu Burung. c. Demam Berdarah Dengue. penggunaan alkohol. b. • Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. Penyakit Kencing Manis. Pnemonia. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 10 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai pengetahuan. serta pengukuran lingkar lengan atas (khusus untuk wanita usia subur 15-45 tahun.• Dalam Kuesioner RKD07. Malaria. Gigi dan Mulut. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Sendi. Campak. HIV/AIDS. Cedera.AV yang sesuai dengan umur anggota rumah tangga yang meninggal dimaksud.RT terdapat verifikasi terhadap keterangan anggota rumah tangga yang dapat menunjukkan sejauh mana sampel Riskesdas 2007 identik dengan sampel Susenas 2007.AV1.AV2 dan RKD07. penyakit tidak menular dan penyakit keturunan sebagai berikut: Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Demam Tifoid. serta pengukuran berat badan. Asma.

< 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM) > 200 mg/dl. Pengumpulan data konsumsi garam beriodium rumah tangga untuk seluruh sampel rumah tangga Riskesdas 2007 dilakukan dengan tes cepat iodium menggunakan “iodina test”. Pengambilan sampel darah dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga berumur di atas satu (1) tahun dari rumah tangga terpilih di blok sensus perkotaan terpilih sesuai Susenas 2007. kecuali wanita hamil (alasan etika). dengan melakukan pengumpulan garam beriodium pada rumah tangga bersamaan dengan pemeriksaan kadar iodium dalam urin pada anggota rumah tangga yang sama. Pengamatan tingkat nasional pada dampak konsumsi garam beriodium dinilai berdasarkan kadar iodium dalam urin. Serum segera diperiksa dengan menggunakan alat kimia klinis otomatis. 1999) yang digunakan adalah sebagai berikut: • • • Normal (Non DM) < 140 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) 140 . Pembagian ini dimaksudkan untuk memenuhi kepraktisan ketika dilakukan wawancara agar tetap terarah pada penyebab kematian secara spesifik pada setiap kelompok usia. Pengambilan darah vena dilakukan setelah 2 jam pembebanan.AV1 – AV3) dirancang untuk mengumpulkan tanda. Pengambilan darah tidak dilakukan pada anggota rumah tangga yang sakit berat. data dikumpulkan dari anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun. Sampel darah diambil dari seluruh anggota rumah tangga (kecuali bayi) yang menanda-tangani informed consent. d. kuesioner untuk usia lima (5) tahun ke atas (RKD. Untuk pemeriksaan kadar glukosa darah.AV3). kuesioner AV2 untuk balita berumur 28 hari-<5 tahun (RKD. Ada tiga (3) macam kuesioner AV yang dipakai yaitu: kuesioner AV1 untuk neonatal berumur 0-<28 hari (RKD.Model kuesioner Riskesdas-mortalitas 2007 (RKD07. hanya diberi pembebanan sebanyak 300 kalori (alasan medis dan etika). Darah didiamkan selama 20–30 menit. yang keduanya akan dikerjakan oleh dokter reviewer dengan mengacu pada ketentuan International Classification of Diseases 10 (ICD-10) dari WHO. disentrifus sesegera mungkin untuk dijadikan serum. Nilai rujukan (WHO. • Jumlah blok sensus di daerah perkotaan yang terpilih berjumlah 971. dipilih sejumlah 15% dari total blok sensus perkotaan. gejala sakit sebelum seorang individu meninggal dengan teknik autopsi verbal (AV) melalui wawancara kepada keluarga almarhum/ah yang merawatnya ketka sakit. f. Khusus untuk responden yang sudah diketahui positif menderita Diabetes Mellitus (berdasarkan konfirmasi dokter). e.536 RT. dengan total sampel 15. Sampel 30 kabupaten/kota dipilih untuk pengamatan ini berdasarkan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga hasil Susenas 2005: 16 . Pengumpulan data biomedis berupa spesimen darah dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk di blok sensus perkotaan di Indonesia. Rangkaian pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut: • Dari Blok sensus perkotaan yang terpilih pada Susenas 2007.AV1). riwayat perdarahan dan menggunakan obat pengencer darah secara rutin.AV2). Kuesioner dilengkapi dengan lembar khusus untuk pembuatan resume riwayat patofisiologi perjalanan penyakit sampai terjadi kematian dan penegakan diagnosis penyebab kematian. Responden terpilih memperoleh pembebanan sebanyak 75 gram glukosa oral setelah puasa 10–14 jam.

Situasi ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: a. Kabupaten Semarang. Bahkan untuk lima (5) provinsi daerah sulit (Papua. Kota Salatiga. Kabupaten Klungkung. Kota Tarakan dan Kabupaten Jeneponto. ketersediaan tenaga pendamping dan ketersediaan biaya operasional yang memadai tepat pada waktunya. c.• Tinggi – meliputi Kabupaten Blitar. Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur). Kondisi geografis dari sampel blok sensus terpilih amat bervariasi. Koordinator Wilayah I dan II bisa mencairkan anggaran sebelum terjadinya perubahan kebijakan anggaran dimaksud. Kota Semarang. Pelatihan dilaksanakan di tiap provinsi. Petugas dimaksud adalah para analis atau petugas laboratorium dari rumah sakit atau laboratorium daerah. 17 . pelaksanaan pengumpulan data dalam berbagai situasi amat tergantung pada ketersediaan alat transpor. sehingga dalam analisis perlu beberapa penyesuaian agar komparabilitas data dari satu periode pengumpulan data yang satu dengan periode pengumpulan data lainnya dapat terjaga dengan baik. Maluku. Kota Kendari. Untuk pengumpulan data biomedis. Kabupaten Konawe dan Kota Gorontalo). Pelatihan dilakukan oleh peneliti dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi dan petugas Labkesda setempat. Kabupaten Jember. Kabupaten Bondowoso. Kabupaten Karawang. Kota Dumai. Catatan Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007 tidak dapat dilakukan serentak pada pertengahan 2007. sehingga pelaksanaan dari satu lokasi pengumpulan data ke lokasi lainnya memerlukan koordinasi dan manajemen logistik yang rumit. Kabupaten Karo. Kabupaten Bantul. Di daerah kepulauan dan daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk petugas pengambil spesimen dan manajemen spesimen. b. Kabupaten Donggala. Kabupaten Solok Selatan. Papua Barat. • Sedang – meliputi Kota Tangerang. Kesiapan daerah untuk berperanserta dalam pelaksanaan Riskesdas 2007 amat bervariasi. d. Perubahan kebijakan anggaran internal Departemen Kesehatan pada tahun anggaran 2007 menyebabkan gangguan ketersediaan dana operasional untuk pengumpulan data. sehingga waktu pengumpulan data pada provinsi di wilayah III dan sangat bervariasi (akhir Juli 2007 . Kabupaten Nganjuk. Kota Pasuruan. sehingga bisa melaksanakan pengumpulan data lebih awal (akhir Juli 2007). Kabupaten Sikka. Kota Metro. Kabupaten Katingan.January 2008). Kabupaten Tapin. pengumpulan data baru dapat dilaksanakan pada Agustus-September 2008. Sedangkan Koordinator Wilayah III dan IV lebih lambat. Kabupaten Balangan dan Kabupaten Mappi. Kabupaten Toba Samosir. Kabupaten Grobogan. • Buruk – meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah.

Tim Manajemen Data menyediakan pedoman khusus untuk melakukan cleaning data Riskesdas. Fokus perhatian Ketua Tim Pewawancara adalah kelengkapan dan konsistensi jawaban responden dari setiap kuesioner yang masuk.2. Kegiatan ini seyogyanya dilaksanakan segera setelah diserahkan oleh pewawancara. Ketua Tim Pewawancara harus mengkonsultasikan seluruh masalah editing yang dihadapinya kepada Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kabupaten dan / atau Penangung Jawab Teknis (PJT) Provinsi. Di lapangan. Ketua Tim Pewawancara harus dapat membagi waktu untuk tugas pengumpulan data dan editing segera setelah selesai pengumpulan data pada setiap blok sensus.6.6. Perlakuan terhadap missing values. memeriksa kuesioner yang telah diisi serta membantu memecahkan masalah yang timbul di lapangan dan juga melakukan editing. no responses. Kuesioner Riskesdas 2007 mengandung pertanyaan untuk berbagai responden dengan kelompok umur yang berbeda. Buku kode disiapkan dan digunakan sebagai acuan bila menjumpai masalah entry data. Petugas entry data Riskesdas merupakan bagian dari tim manajemen data yang harus memahami kuesioner Riskesdas dan program data base yang digunakannya. Urutan kegiatan manjemen data dapat diuraikan sebagai berikut. PJT Kabupaten dan PJT Provinsi bertugas untuk melakukan supervisi pelaksanaan pengumpulan data. 2. Hasil pelaksanaan entry data ini menjadi bagian yang penting bagi petugas manajemen data yang bertanggungjawab untuk melakukan cleaning dan analisis data.6. Kuesioner yang sama juga banyak mengandung skip questions yang secara teknis memerlukan ketelitian petugas entry data untuk menjaga konsistensi dari satu blok pertanyaan ke blok pertanyaan berikutnya.3 Cleaning Tahapan cleaning dalam manajemen data merupakan proses yang amat menentukan kualitas hasil Riskesdas 2007.1 Editing Editing adalah salah satu mata rantai yang secara potensial dapat menjadi the weakest link dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. Peran Ketua tim Pewawancara sangat kritikal dalam proses editing. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak data diperoleh dari jawaban responden. 2. Prasyarat pengetahuan dan keterampilan ini menjadi penting untuk menekan kesalahan entry.6 Manajemen Data Manajemen data Riskesdas dilaksanakan oleh Tim Manajemen Data Pusat yang mengkoordinir Tim Manajemen Data dari Korwil I – IV.2 Entry Tim manajemen data yang bertanggungjawab untuk entry data harus mempunyai dan mau memberikan ekstra energi berkonsentrasi ketika memindahkan data dari kuesioner / formulir kedalam bentuk digital. outliers amat menentukan akurasi dan presisi dari estimasi yang dihasilkan Riskesdas 2007. pewawancara bekerjasama dalam sebuah tim yang terdiri dari tiga (3) pewawancara dan seorang Ketua Tim. 18 . 2.

2. sampel rumah tangga. 2. c. Banyaknya sampel blok sensus. b.3). Proses pengadaan logistik untuk kegiatan Riskesdas 2007 terkait erat dengan ketersediaan biaya. tetapi tidak semua estimasi bisa mewakili kabupaten/kota. maka informasi mengenai imputasi (proses data cleaning) dapat meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai kualitas data. Pembentukan kabupaten/kota baru hasil pemekaran suatu kabupaten/kota yang terjadi setelah penetapan blok sensus Riskesdas dari Susenas 2007. Total rumah tangga yang tidak berhasil dikunjungi Riskesdas adalah sebanyak 19. sehingga tidak menjadi bagian sampel kabupaten/kota Riskesdas (Lihat Sub Bab 2. seperti terlihat pada Tabel 2. Rumah tangga yang terdapat dalam DSRT Susenas 2007 ternyata tidak dapat dijumpai oleh Tim Pewawancara Riskesdas 2007. Tercatat sebanyak 159. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga ada kemungkinan beberapa estimasi penyakit menular yang bersifat seasonal pada beberapa provinsi atau kabupaten/kota menjadi under-estimate atau overestimate. e. Meski Riskesdas dirancang untuk menghasilkan estimasi sampai tingkat kabupaten/kota. Berbagai keterlambatan tersebut memberikan kontribusi penting bagi berbagai keterbatasan dalam Riskesdas 2007.7 Keterbatasan Riskesdas Keterbatasan Riskesdas 2007 mencakup berbagai permasalahan non-random error. Riskesdas tidak berhasil mengumpulkan 207 blok sensus yang terpilih dalam sampel Susenas 2007. Pengorganisasian Riskesdas 2007 melibatkan berbagai unsur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. atau karena kondisi alam yang tidak memungkinkan seperti ombak besar.) Blok sensus tidak terjangkau. Keterlambatan pada fase ini telah menyebabkan keterlambatan pada fase berikutnya. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga estimasi jumlah populasi pada periode waktu yang berbeda akan berbeda pula. pada saat pengumpulan data dilakukan tidak ada di tempat.2) Bisa juga terjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga yang terpilih dan bisa dikunjungi oleh Riskesdas. pusat-pusat penelitian.1.566 anggota rumah tangga yang tidak bisa dikumpulkan datanya (Lihat Tabel 2. Perubahan kebijakan pembiayaan dalam tahun anggaran 2007 dan prosedur administrasi yang panjang dalam proses pengadaan barang menyebabkan keterlambatan dalam kegiatan pengumpulan data. 19 . karena ketidak-tersediaan alat transportasi menuju lokasi dimaksud. serta perguruan tinggi setempat. g. variabel tanggal pengumpulan data bisa digunakan pada saat melakukan analisis. Pada Riskesdas.Petugas cleaning data harus melaporkan keseluruhan proses perlakuan cleaning kepada penanggung jawab analisis Riskesdas agar diketahui jumlah sampel terakhir yang digunakan untuk kepentingan analisis. Besaran numerator dan denominator dari suatu estimasi yang mengalami proses data cleaning merupakan bagian dari laporan hasil Riskesdas 2007 Bila pada suatu saat data Riskesdas 2007 dapat diakses oleh publik. tersebar di seluruh kabupaten/kota (Lihat Tabel 2. sampel anggota rumah tangga serta luasnya cakupan wilayah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. loka. balai/balai besar. sebagaimana uraian berikut ini: a. f. d.346.

Terutama kabupaten/kota dimana jumlah sampel teranalisis pada Riskesdas 2007 kurang dari 80% sampel Susenas 2007. Aplikasi statistik ini memungkinkan penggunaan two stage sampling design seperti yang diimplementasikan di dalam Susenas 2007. Maluku. anak ≥6 tahun.2. Seluruh variabel Riskedas yang berjumlah hampir 900 pada saat analisis dilakukan prosedur yang sama.3. menyebabkan pelaksanaan Riskesdas tidak serentak. Riskesdas yang terdiri dari 6 Kuesioner dan 11 Blok Topik Analisis akan tergantung dari jawaban responden dan jumlahnya terhadap Susenas 2007. Selain itu kemungkinan under-reporting. maka validitas hasil analisis data dapat dioptimalkan. ada yang dimulai pada bulan Juli 2007. i. Jumlah sampel Riskesdas 2007 cukup untuk kepentingan analisis yang menberikan gambaran nasional maupun provinsi. ketepatan waktu kejadian kematian. Untuk data mortalitas. Aplikasi statistik yang tersedia didalam SPPS untuk mengolah dan menganalisis data seperti Riskesdas 2007 adalah SPSS Complex Samples. Akan tetapi untuk kepentingan analisis kabupaten/kota maka jumlah sampel akhir yang digunakan untuk masing-masing varibel perlu diperhatikan.ketepatan umur kematian juga akan mempengauhi mutu data yang dikumpulkan. pada akhirnya akan berkurang untuk analisis masingmasing variabel yang dikumpulkan.terutama kejadian-kejadian yang frekuensinya jarang. 2. Kejadian yang jarang seperti ini hanya bisa mewakili tingkat provinsi atau bahkan hanya tingkat nasional.4 mencantumkan jumlah sampel anggota rumah tangga dan rumah tangga berdasarkan: 1) variabel pengukuran dari kelompok umur <5 tahun. dan tabel 2. anak 6 – 14 tahun. Hasil pengukuran yang diperoleh dari two stage sampling design memerlukan perlakuan khusus yang pengolahannya menggunakan paket perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS. Khusus untuk data biomedis. Jumlah sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Riskesdas 2007 yang terkumpul seperti tercantum pada tabel 2. (Tabel 2. beberapa kelemahan menggunakan teknis autopsi verbal akan mempengaruhi kualitas informasi yang diberikan oleh responden. Penyebabnya antara lain. Terbatasnya dana dan waktu realisasi pencairan anggaran yang tidak lancar. 2) variabel hasil wawancara konsumsi tingkat rumah tangga. dan 3) variabel hasil pengujian garam iodium dirumah tangga. Papua Barat.8 Pengolahan dan Analisis Data Isu terpenting dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007 adalah sampel Riskesdas 2007 yang identik dengan sampel Susenas 2007. Dengan penggunaan SPSS Complex Sample dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007. tetapi ada pula yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2008. estimasi yang dihasilkan hanya mewakili sampai tingkat perkotaan nasional. Pada laporan ini seluruh analisis dilakukan berdasarkan jumlah sampel rumah tangga maupun anggota rumah tangga setelah missing values dan outlier dikeluarkan. Tabel 2. serta wanita usia sunur 1545 tahun. karena tidak diperolehnya jawaban (missing values) maupun kemungkinan kesalahan hasil pengukuran (outlier) dari rumah tangga atau anggota rumah tangga. dewasa ≥15 tahun. j. dewasa ≥ 30 tahun. h. yaitu mengeluarkan missing values dan outlier serta dilakukan pembobotan sesuai dengan jumlah masing-masing sampel. dewasa ≥ 18 tahun. Disain penarikan sampel Susenas 2007 adalah two stage sampling. Maluku Utara dan NTT) baru melaksanakan pada bulan Agustus-September 2008.4). serta kualitas pewawancara untuk bisa menggali penyebab kematian. Hasil pengolahan dan analisis data dipresentasikan pada Bab Hasil Riskesdas. 20 . bahkan lima provinsi (Papua.

4 223 50.9 60 13.7 163 37.7 47 10.7 106 24.5 62 14.4 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.6 213 48.6 122 27.7 47 10.5 327 74.7 27 6. Tabel 2.6 95 21.8 264 60.6 105 24.5 118 26.2 203 46.9 129 29.3 59 13.2 37 8.8 73 16.6 98 22.4 111 25.3 241 55.2 80-89.9% 25 5.7 151 34.7 169 38.3 160 36.2 87 19.0 129 29.7 95 21.8 87 19.5 70-79.5 58 13.7 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 Total Kab/Kota*) 438 *)Total Kabupaten/Kota 438 adalah Kabupaten/Kota Riskesdas 2007 yang sama dengan Sampel Susenas 2007 21 . Riskesdas 2007 Variabel Pengukuran/Pemeriksaan pada Riskesdas Pengukuran BB/U (Balita) Pengukuran TB/U (Balita) Pengukuran BB/TB (Balita) Pemeriksaan Visus (Anak >=6 tahun) Pengukuran IMT (Anak 614tahun) Pengukuran IMT (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran Lingkar Perut (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran LILA (Wanita usia15-45 tahun) Pengukuran Tensi (Dewasa >=18 tahun) Pemeriksaan Katarak (Dewasa >=30 tahun) Penilaian Konsumsi Rumah Tangga Penilaian Konsumsi garam Iodium pada Rumah Tangga Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Persen Sampel Teranalisis <70% 25 5.7 50 11.8 77 17.7 >90% 332 75.5 100 22.0 20 4.9% 56 12.9 103 23.16.2 85 19.9 187 42.5 – Tabel 2.4 55 12.5 73 16.3 11 2.9 81 18.5 65 14.Rincian jumlah kabupaten/kota setiap provinsi menurut jumlah sampel anggota rumah tangga dan sampel rumah tangga yang bisa di analisis Riskesdas 2007 terhadap jumlah sampel Susenas 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.4 45 10.

9% >=90% 2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 0 0 0 0 1 4 2 2 5 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 5 0 1 0 0 1 3 4 1 2 1 2 1 2 1 3 5 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 0 5 0 3 0 4 2 1 8 1 1 0 1 1 3 4 17 23 17 9 9 11 4 6 7 5 1 24 34 5 37 4 9 9 11 10 10 12 8 0 9 14 9 4 3 0 1 3 7 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 25 25 56 332 438 22 .9% 80-89.5 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

6 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 4 2 2 0 0 1 0 3 0 1 3 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 2 4 0 2 0 0 1 7 5 3 6 3 0 0 2 1 2 4 2 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 1 2 4 0 2 4 0 4 1 1 1 0 2 3 3 3 4 1 5 1 2 3 2 0 2 0 3 1 0 3 1 1 1 6 3 3 1 3 1 4 10 2 0 3 1 1 2 4 11 19 16 4 8 9 2 3 7 3 1 22 33 5 34 3 8 8 8 6 7 11 6 0 6 7 7 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 50 47 77 264 438 23 .Tabel 2.9% 80-89.

9% 80-89.9% >=90% 4 1 2 2 0 3 0 3 0 1 4 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 1 2 3 0 1 0 0 2 7 5 3 6 1 1 0 2 2 1 5 2 0 0 1 1 1 0 2 1 0 0 2 2 3 0 2 5 1 1 2 0 0 0 2 4 3 7 7 3 6 1 3 3 3 1 3 0 4 3 0 7 1 1 1 7 3 4 2 3 1 4 4 2 1 3 1 1 1 4 9 16 14 1 7 7 1 2 6 2 1 20 31 5 29 3 8 8 6 5 6 10 6 0 5 17 6 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 55 47 95 241 438 24 .7 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

9% >=90% 2 1 3 3 0 1 2 4 0 1 5 5 2 1 1 2 1 0 1 3 2 2 4 7 2 4 0 3 4 6 5 7 14 6 4 11 5 3 3 2 3 3 4 0 12 14 2 13 0 1 1 11 2 5 2 8 2 8 8 7 1 1 1 3 2 3 12 17 4 3 7 5 5 3 3 1 1 8 18 2 23 4 5 8 3 5 7 9 1 0 0 10 3 1 0 1 0 0 0 1 3 1 0 0 5 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 98 151 169 20 438 25 .8 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% 80-89.

9 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.9% >=90% 1 0 2 1 0 1 0 0 0 0 5 1 1 0 0 1 0 0 0 2 3 2 2 2 0 0 0 0 2 5 2 3 9 1 2 0 4 0 0 2 4 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 3 2 1 1 2 6 2 3 0 2 3 1 5 4 5 7 1 3 4 6 4 4 5 1 4 0 5 4 2 8 1 2 1 7 4 5 2 8 1 8 13 4 1 0 2 1 1 3 12 22 14 2 4 9 3 1 6 1 1 18 30 2 29 3 7 8 6 4 5 8 1 0 0 7 6 2 0 0 0 1 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 45 58 122 213 438 26 .Tabel 2.

9% >=90% 1 1 2 1 0 0 1 0 0 0 5 1 0 0 0 2 0 0 0 2 2 1 3 5 0 1 0 1 3 6 4 6 11 3 0 1 3 1 1 4 3 2 3 0 4 3 1 2 0 1 0 8 1 4 2 4 3 7 6 4 2 2 1 3 3 5 8 12 8 5 6 4 3 7 0 3 1 19 20 4 23 3 3 1 7 5 6 6 6 1 3 14 4 2 0 1 1 0 1 9 12 8 2 3 9 1 0 5 0 0 1 12 0 13 1 5 8 1 4 2 4 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 59 87 187 105 438 27 .10 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.Tabel 2.

9% 80-89.11 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% >=90% 1 1 4 3 0 1 1 0 0 1 6 1 0 0 0 2 0 0 0 3 2 1 3 4 0 1 0 1 2 6 4 6 11 6 1 1 2 1 1 4 3 0 3 0 3 1 1 1 0 1 0 7 1 2 2 2 4 7 6 3 2 3 2 3 3 5 8 13 7 4 7 4 4 5 2 2 0 19 16 1 12 1 2 1 8 5 7 2 7 1 3 13 5 2 0 0 1 0 1 6 10 7 2 2 8 0 2 5 0 0 2 18 3 25 3 6 8 1 3 3 8 1 0 0 3 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 65 81 163 129 438 28 .

9% >=90% 2 1 2 1 0 1 2 1 0 0 5 2 0 0 1 2 0 0 1 3 2 1 2 8 0 1 0 1 3 6 5 6 14 3 3 1 4 2 2 3 5 1 3 0 6 4 2 3 0 1 1 11 1 2 2 4 0 8 9 4 2 2 2 3 3 3 13 16 8 6 6 5 4 4 2 3 1 17 25 3 25 4 2 7 4 6 8 5 7 1 2 12 5 2 0 0 0 0 0 3 5 8 0 2 6 0 0 4 0 0 0 6 0 9 0 6 1 0 2 2 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 73 100 203 62 438 29 .9% 80-89.Tabel 2.12 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9% 80-89.Lampiran 2.13 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 3 4 2 4 1 1 2 1 0 1 5 3 4 0 1 2 0 0 2 3 3 3 5 8 6 4 1 2 3 6 6 6 14 3 2 2 1 0 1 4 7 0 3 1 5 4 2 3 1 1 0 11 1 4 1 4 1 4 6 3 3 2 1 1 3 2 6 5 6 5 5 2 3 2 2 2 0 16 24 2 24 3 4 2 3 7 7 5 4 0 0 13 5 0 0 1 1 0 1 9 14 9 1 4 10 0 0 5 0 0 1 3 1 10 0 4 7 0 1 0 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 106 87 160 85 438 30 .

Tabel 2.9% >=90% 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 1 1 3 0 0 0 0 1 5 2 4 7 1 0 2 2 0 1 3 3 0 0 0 3 1 1 1 1 0 0 0 2 1 2 3 5 4 4 1 3 2 1 4 3 6 2 2 4 2 2 3 3 5 2 6 0 11 9 0 8 1 1 0 11 3 5 1 5 1 6 8 5 2 2 1 2 2 3 17 22 12 7 8 10 3 2 5 0 1 10 25 4 29 3 8 9 5 6 6 9 4 0 0 11 4 0 0 1 0 0 2 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 37 60 118 223 438 31 .9% 80-89.14 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.Tabel 2.9% >=90% 1 2 1 0 2 1 0 0 0 1 5 0 6 1 27 4 3 9 6 1 2 3 5 1 2 0 0 0 0 4 3 6 15 5 3 3 6 6 1 1 0 1 4 1 4 4 3 10 0 5 0 3 3 1 2 7 1 3 3 3 0 2 1 3 3 3 8 11 10 4 2 7 4 1 4 0 0 5 8 1 1 0 1 0 7 5 10 6 1 1 5 11 6 3 2 3 2 0 0 7 9 5 1 0 5 4 9 2 1 0 16 17 0 0 2 0 0 0 3 1 2 0 6 0 9 1 2 1 0 0 0 0 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 111 95 129 103 438 32 .

9% 80-89.9% >=90% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 3 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1 3 5 2 1 3 1 0 0 2 2 1 1 0 2 2 2 1 1 2 0 2 1 4 0 7 4 7 4 1 1 3 3 3 4 6 18 24 16 9 10 14 7 8 6 5 1 23 33 3 35 4 7 9 14 9 9 12 4 2 3 19 9 3 1 2 4 0 4 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 11 27 73 327 438 33 .Tabel 2.16 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

1 Status Gizi Balita HASIL DAN PEMBAHASAN Status gizi balita diukur berdasarkan umur.0 >=-2. panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0. Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum.1 Gizi 3. 3.0 >2. Gizi Gizi Gizi Gizi Buruk Kurang Baik Lebih Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.0 s/d Z-score <=2.0 >=-2. 34 .0 >=-3. tinggi badan menurut umur (TB/U). dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). tidak spesifik.0 s/d Z-score <=2. Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Kategori Kategori Kategori Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.0 Z-score >=-2. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut : a. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U. berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).1.1 cm.0 >2. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri.1 cm.0 >=-3.0 s/d Z-score <-2.0 Z-score >=-3.0 s/d Z-score <-2. yaitu: berat badan menurut umur (BB/U).1 kg. tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut.1.0 Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Kategori Pendek Kategori Normal Z-score < -3. Berdasarkan indikator BB/U : Kategori Kategori Kategori Kategori b.BAB 3. maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006. Untuk menilai status gizi anak. dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0.0 c.0 s/d Z-score <-2. Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U Tabel 3.0 Perhitungan angka prevalensi dilakukan sebagai berikut: Prevalensi Prevalensi Prevalensi Prevalensi gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100% gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100% gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100% gizilebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100% a.

7 11.8 75.5 16.4 14.0 4.7 6.5 8.7 77.5 6.3 8.4 6.6 71. 35 .4 Gizi lebih 4.9 3.0 9.9 12.3 Indonesia *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 5.6 12.0 3.1 73.0 5.5 15.3 13.2 73.4 64.0 5.1 6.3 6.4 10.6 4.Tabel 3.5 18.3 5.2 14.0 9.5 3.2 15. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18.5 72.6 Gizi baik 69.7 4.8 14.2 8.3 Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.4 5.9 71.6 3.7 12.8 8.3 74.3 72.6 3.1.0 78.1 18.7 3.5 2.0 77.0 4.0 2.8 13.2 5.1 11.7 2.6 81.3 6.7 5.4 72. Bangka Belitung. maka secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui.6 Gizi kurang 15. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.3 76.4 4.2 10.4 75.1 8.1 70.0 16.1 16.4% dan gizi kurang 13. Kepulauan Riau.9 3.4 81.0 8.4 4.9 17. Namun pencapaian tersebut belum merata di 33 provinsi.1 9.9 7.2 4.7 8.3 14.9 83. Sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi nasional.2 8.3 74.4 8.3 12.4 18.8 4.5%.0 2.8 6.4 13.4 85.0 73.4 4.5 4.4 73.4 3.2 16.8 5.4 6. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kategori status gizi BB/U Gizi buruk 10.8 5.2 4.3 75.0%.5 3.5 12.5 80.4 3. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.2 13.1 67.0 2.7 24.9 5.7 69.9 11.7 9.2 78.3 80.5 3.1 6.6 3. Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18.0 79.3 2.0 77.3 6.4%.3 3.2 72.6 3.5 80.7 4.6 11.2 4.0 11. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.7 6.

3. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3. Sulawesi Selatan. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. Sumatera Selatan. Jambi. artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan. Kepulauan Riau. b. Jawa Tengah. Banten. Dua provinsi lainnya yaitu Jambi dan Kalimantan Timur hanya melampaui target RPJM. Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek. sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Bangka Belitung.2%. Maluku Utara dan Papua. Sulawesi Tenggara. Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. Riau. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U Tabel 3. Kepulauan Riau.Bila mengacu pada target MDG maka 14 provinsi yang sudah melampaui target. Jawa Timur. Jawa Timur. Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi melebihi angka nasional. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker). DKI Jakarta. Jawa Barat. DI Yogyakarta.6%. Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13. yaitu Sumatera Utara. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. Maluku dan Papua. Kalimantan Barat. Jawa Timur. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB.3%.2 menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Bali. DKI Jakarta. Sulawesi Utara. Bengkulu. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek. Ke 14 provinsi yang telah memenuhi kedua target adalah: Sumatera Selatan. Prevalensi gizi lebih secara nasional adalah 4. Bali. Bali. Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. Jawa Barat. seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Bengkulu.1% . c. Kepulauan Riau. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%.0%. Ke 12 provinsi tersebut adalah: Bangka Belitung. Di Yogyakarta. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6. Sulawesi Selatan.0% (UNHCR). Jawa Tengah. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10. Delapan belas provinsi menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut. Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang 36 . sedangkan untuk target RPJM sudah 16 provinsi yang melampaui target. Terdapat 12 provinsi yang memiliki prevalensi balita sangat kurus di bawah angka prevalensi nasional. Lampung. perilaku pola asuh yang tidak tepat.8%.0 SD. Masalah pendek pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB Tabel 3.15. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis.

Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita. 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori kritis (prevalensi kurus >15%).9 17.7 20.2.9 25.7 17.6 19.6 16.4 15. Hanya 3 (tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa Barat. Bahkan.0 69.0 19.9 14.8 73.2 60.2%.4 13.7 57.9 63.8 24.3 64.6 55.5 72.8 68.3 20.4 65.1 55.3 16.0 61.9 21.4 19. dapat dilihat bahwa prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 12. Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.8 11.6 70.3 19.0 20.9 19.7 17.9 59.9 20.1 17.3 Indonesia *) TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 18.0 16.8 59.3 53. DI Yogyakarta dan Bali.9 14.5 73.6 18.4 56.6 19.7 13.6 16.1 18.2 18.2 64.1 13.5 20.3 64. Pada Tabel 3.9 25.0 63.6 62.3 15.8 18. 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%).4 19.5 12.5 17.5 15.0 22.7 18.7 17.8 60.1 17.8 13.6 16.2 59.9 23.8 19.1 28.4 20.9 22. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Sangat pendek 26.serius.5 63.3.0 63.1 20.5 60.3 64.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pendek 17.2 20.7 15.4 Normal 55.0 16.0 23.4 18.5 18.5 54.2 17.2 17.6 20.7 27.2 37 . dari 33 provinsi.3 16.5 67.0 19. Delapan belas provinsi memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional Tabel 3.0 56.3 58.9 17.1 25.2 61.

8 5.8 12. 38 .7 5.2 3.9 74.4 6.3 8.6 4.6 7.6 10.5 Indonesia 6.4 12.7 8.9 6.7 10.3 14.2 16.0 9.5 73.9 15.1 9.2 10.0 13.4 10.5 76.9 7.2 7.7 73.4 71.0 68.0 77.5 66.7 69.2 7.4 63.6 70.9 71.4 8.4 16.9 13.8 5.4 8.1 12. Status gizi balita menurut karakteristik responden Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U.1 5.9 7.5 5.6 7.5 9.7 3.9 7.2 9.8 7.3 9.2 78.5 12.4 20.3 7.8 74.2 70. pendidikan KK.7 11.1 10.8 78.6 13.9 9.8 70.8 69. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.5 12.5 3. pekerjaan KK.4 6.4 8.1 Gemuk 15.8 78.2 10.8 8.2 8.5 8.6 10.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurus 9.7 9.5 9. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Sangat kurus 9.9 6.Tabel 3.9 81.4 14.8 6.4 74.7 6.1 12.4 70.3 75.5 10. telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.2 9.5 15.9 8.3.4 7.9 76.5 5.9 7.0 75.6 4.3 8.9 7.0 Normal 66.6 73.1 8.5 5.4 72.9 77.4 5.9 6.3 76.0 8.6 3.3 12.0 8.7 7.9 7.1 7.2 7.8 68.3 76.6 12. tempat tinggal dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas).2 *) BB/TB= Berat Badan menurut Tinggi Badan d. TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur.1 7.6 11.1 9.8 62.2 9.5 8.9 14. jenis kelamin.6 7.9 14.1 8.3 4.4 7.6 66.8 6.

menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/U balita dengan variabel-variabel karakteristik responden.7 80.2 4.8 4.1 15.9 8.3 14.8 14. sedangkan untuk gizi lebih cenderung menurun.3 11.4 77.7 3.Tabel 3.0 81.2 78.7 4.9 4.2 76.7 76.2 12.8 75.9 78.9 3.2 78.7 5. prevalensi gizi kurang cenderung meningkat. 39 .7 Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Dapat dilihat bahwa secara umum ada kecenderungan arah yang mengaitkan antara status gizi BB/U dengan karakteristik responden.0 6. Tabel 3.8 5.5 14.6 3.7 5.4 8.9 3.9 6.6 3.3 12.7 78.8 5.5 9.5 4.4 5.9 3.9 3.7 7.7 3.6 5.2 8.2 4.7 76.8 12.7 75.1 76.3 75.3 78.7 4.8 77.4 14.5 3.0 5.8 3.5 4.7 4.8 13.0 79.2 4.1 6.4 11.4 9.6 4. Semakin bertambah umur.4.9 4.4 13.0 5.3 4.6 4.8 4.8 5.4 3.9 77.0 6.8 5. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 6.1 11.3 7.9 80.6 13.3 5.7 14.8 13.6 74.9 11.6 12.5 4.7 5.1 73.8 80.7 4.4.0 76. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik Responden.9 4.9 3.9 3.0 13.7 82.3 14.2 8. yaitu: a.9 75.2 6.8 9.8 78.

Makin tinggi pendidikan KK prevalensi pendek pada balita cenderung makin rendah. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang daerah perkotaan relatif lebih rendah dari daerah perdesaan. d. tidak tampak adanya pola masalah pendek pada balita.6. Prevalensi kurus balita pada kelompok dengan KK sebagai petani/nelayan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan KK yang memiliki pekerjaan lain. b. Tabel 3. Tidak ada pola pada masalah kurus menurut tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. e. untuk gizi baik dan gizi lebih semakin meningkat. f. Masalah kurus cenderung semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur. Tidak ada perbedaan mencolok antara masalah kurus di daerah perdesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. c. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balitanya. Kajian deskriptif kaitan antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden menunjukkan: a. d. Tidak ada pola yang jelas pada masalah kurus menurut tingkat pendidikan KK. kaitan antara status gizi BB/TB dan karakteristik responden menunjukkan kecenderungan yang serupa : a. e. Tidak tampak adanya perbedaan masalah kurus yang mencolok antara balita laki-laki dan perempuan. b. tidak tampak adanya perbedaan masalah pendek yang mencolok pada balita. prevalensi pendek relatif lebih rendah dari keluarga dengan pekerjaan berpenghasilan tidak tetap. 40 . c. c. Kelompok dengan KK berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta) memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang yang relatif rendah. d. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden. kurang. Tidak nampak adanya perbedaan yang mencolok pada prevalensi gizi buruk. Semakin tinggi pendidikan KK semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita.b. e. dan sebaliknya. tetapi pada keluarga dengan KK berpendidikan tamat PT. baik maupun lebih antara balita laki-laki dan perempuan. f. Sedangkan prevalensi balita kegemukan tertinggi ditemui pada kelompok dengan KK yang mempunyai pekerjaan dengan penghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta). Menurut jenis kelamin. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi TB/U dengan karakteristik responden. Seperti halnya dengan status gizi BB/U. Tabel 3. prevalensi kekurusan relatif lebih rendah dan prevalensi kegemukan relatif tinggi.5. Pada kelompok keluarga yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Swasta). Menurut umur. sebaliknya terjadi peningkatan gizi baik dan gizi lebih. Prevalensi pendek di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. namun masalah kegemukan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. f. Prevalensi pendek cenderung lebih rendah seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan.

5 14.6 68.3 64.2 17.8 67.6 61.9 62.6 59.8 14.5 61.0 58.3 19. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 21.0 15.7 14.1 70.9 69.7 13.9 65.1 21.7 70.1 22.8 15.1 15.3 19.4 60.9 18.1 65.8 17.2 19.5 20.4 18.0 13.7 14.9 18.6 18.0 20.1 62.5 58.2 17.2 17.2 19.5 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik Responden.2 22.8 60.8 65.6 Sangat pendek Pendek Normal 41 .2 62.0 18.2 19.7 64.3 59.8 17.0 67.3 67.7 17.8 14.5 21.6 17.1 17.9 16.3 18.7 16.7 19.0 22.Tabel 3.8 19.2 15.6 72.1 59.8 17.2 19.1 19.5 18.1 17.9 16.0 20.5 17.8 60.8 19.3 15.

8 12. Hanya tiga provinsi.5 74.8 11.9 15. Tigapuluh provinsi masih menghadapi permasalahan gizi akut dan 18 provinsi menghadapi permasalahan gizi akut dan kronis.0 7.0 6.7 6.2 11.7 7.3 73. TB/U (pendek).1 73. Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut.3 73.6 5.2 7.3 7.8 7.2 10.9 6.0 11.8 8.5 6.9 72.9 15.5 4.4 7.7 di bawah ini menyajikan gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang).4 73.2 6.9 10.9 12.9 72.2 6.4 74.4 13.3 75.6 6.8 14.9 12.7 74.8 6.1 7.0 5.5 7.0 76.6 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.6 7.3 6.7 7.8 7.0 6.0 7.1 12.9 12.1 7.6 11.2 10.9 6.Tabel 3.8 74.4 12.0 7.9 12.8 68.5 7.7 77.6 7. yaitu Jawa Barat.3 7.0 6.6 7. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 6.3 73.0 6.4 64.0 11.2 73.1 19.4 12.3 74.6 6.0 7.7 10.2 74.7 Sangat kurus Kurus Normal Gemuk Tabel 3.7 7.0 74.0 7.5 7. BB/TB (kurus).1 5.0 4.0 7.7 72.9 7.9 7.9 11.5 73.5 5.9 73.7 8.2 75.4 12.3 74.0 76.9 7. 42 .7 14.8 6.7 7.4 11.1 5.

9 15.7 35.6 16.9 10.5 18.2 14.0 15.8 14.9 44.1 19.3 29.7 14.2 16.8 23.0 9.0 10.5 22.2 13.2 31.5 20.1 26.3 15.6 43.4 36.4 44. Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.2 21.4 12.2 40.4 16.6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB >10% (UNHCR) **Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U di atas prevalensi nasional 43 .5 17.2 26.5 24.7 20.0 36.6 17.8 33.6 22.DI Yogyakarta dan Bali.4 27.7 16. Riskesdas 2007 BB/U Buruk & Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia TB/U Kronis BB/TB Akut Akut* Kronis** Kurang 26.4 37.9 16.3 12. Tabel 3.7 39.4 24.8 22.2 39.7 17.7 14.7 35.7 10.4 25.7 36.5 33.7 25. yang masalah gizi kronisnya lebih kecil dari angka nasional dan masalah gizi akutnya belum mencapai kondisi serius.8 27.4 13.1 10.8 40.3 22.9 17.9 31.5 45.2 18.1 40.0 38.4 16.6 26.0 13.8 (Kurus) 18.0 16.7 46.8 9.5 39.0 11.4 27.6 22.7.6 36.2 42.5 13.9 18.3 17.2 15.6 11.0 15.4 (Pendek) 44.8 38.4 12.9 16.6 19.0 17.8 41.6 34.8 35.4 18.3 15.1 36.8 13.2 15.2 21.8 17.0 43.

8. 10. 2.1% 66. 6.9% 61. 5.1% 38.4% 67. 6. Seperti pada tabel 2. kemudian diambil 10 kabupaten/kota yang terbaik dan terburuk sebagai berikut: Berdasarkan BB/U. uraian berikut ini mengkaji urutan (rangking) dari yang terbaik sampai yang terburuk terhadap seluruh 440 kabupaten/kota. 5. 3.8% 40. 3.0% 21. 6.3% 8. 5.4% 7.6% 19.9% 60. daftar 10 kabupaten/kota dengan underweight paling banyak dan paling sedikit adalah: 1. bila diambil gizi buruk saja prevalensinya terlalu kecil. 10.2% 40.0% 19. 4.7% 59. Berdasarkan TB/U: stunting (gabungan antara sangat pendek dan pendek) Berdasarkan BB/TB: wasting (gabungan antara sangat kurus dan kurus) • • Sebagai gambaran.1% 39. 9. 4. 9. 8. Terburuk Seram Bagian Timur Nias Selatan Aceh Tenggara Simeulue Tapanuli Utara Aceh Barat Daya Sorong Selatan Timor Tengah Utara Gayo Lues Kapuas Hulu 67.2% 8.2% 39.8% 6.5 dapat dilihat jumlah kabupaten/kota dimana data balita untuk status gizi hampir sebagian besar kabupaten/kota dengan jumlah sampel Riskesdas 2007 teranalisis >80% darisampel Susenas 2007.Memperhatikan jumlah sampel balita yang bisa dianalisis sampai tingkat kabupaten/kota.2% 20.7% 1. Terbaik Kota Tomohon Minahasa Kota Madiun Gianyar Tabanan Bantul Badung Kota Magelang Kota Jakarta Selatan Bondowoso 4. gambarannya adalah sebagai berikut Terbaik 1. 2.1% 7.7% 40.6% Berdasarkan TB/U (gabungan sangat pendek + pendek).7% 39. 3. Terburuk Aceh Tenggara Rote Ndao Kepulauan Aru Timor Tengah Selatan Simeulue Aceh Barat Daya Mamuju Utara Tapanuli Utara Kupang Buru 48.5% 21. 7. 5.7% 1.8% 6. Contohnya untuk status gizi balita bisa diambil indikator: • Berdasarkan BB/U: underweight (gabungan gizi buruk + gizi kurang berdasarkan BB/U).0% 6. 10. 9. 9.0% 37. 8.7% 18. 7.4% 20.3% 38. 4. 7.2% 60. kemungkinan tidak mewakili kabupaten/kota.5% 8. 4. 2. Sarmi Wajo Kota Mojokerto Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kampar Kota Jakarta Selatan Kota Madiun Kota Bekasi Luwu Timur 16. Secara kasar bisa dipilih indikator dengan prevalensi / persentase yang tidak terlalu sedikit.6% 59. 3.8% 63. 8. 10.5% 59.0% 44 . 7. 2. setelah dilakukan rangking antar kabupaten/kota.8% 7. 6.9% 21.3% 20.

Tabel 3.9% 5.9 15.5 15.5 21. 5. secara nasional prevalensi kurus adalah 13.5 23.9 26. 6. 7. 4.5 Rerata IMT 15.3 13. (Tabel 3.8 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut Nilai Rerata IMT.4 22. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9. 6. 8.8).3% pada laki-laki dan 10. 10. 9.5% dan perempuan 6.5 22.1 13.2 13.2 27. WHO 2007 Umur (Tahun) 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Laki-laki Rerata IMT 15.1.9% pada anak perempuan. 5.8% 3.3% 4.3% 31.8 25.4 15.7 16.5 +2SD 19.1 16.3% 30.9 -2SD 13.5 19.8 20. 2.0 18.6 17.6% 3.9% pada perempuan.7 12. Umur dan Jenis Kelamin.8 19.5 13.0% 2.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin.2% 5. Terburuk Solok Selatan Seruyan Manggarai Tapanuli Selatan Seram Bagian Barat Asmat Buru Nagan Raya Aceh Utara Bengkalis 41. 45 .1%).0 Perempuan +2SD 18.4 14.3 Berdasarkan standar WHO di atas.7 16.7 20.9% 30.1 16.5 18.5 13. 4. Menurut provinsi.6 -2SD 12.9 15. yaitu 8.9 13.9 14.4% 5.1%) maupun pada anak perempuan (19. 3.1% 33.5% 41.7 12. 9.3% pada anak laki-laki dan 6. Sedangkan prevalensi kurus terendah di Bali.9% 29.9 17.1 14.9% 31.0 19. Sebagai rujukan untuk menentukan kurus.6 23.7 24.6% 4. 8.3 15.9) .1% 29. apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata.6% 1.3 18.2 19. Terbaik Minahasa Kota Tomohon Kota Sukabumi Kota Bogor Bandung Kota Salatiga Kota Magelang Magelang Cianjur Bangka 0.Berdasarkan BB/TB (gabungan sangat kurus dan kurus) gambaran 10 kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: 1.5 14. 2.0% 30.6 24. dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2 SD nilai rerata standar WHO 2007 (Tabel 3.3 15. Nusa Tenggara Timur mempunyai prevalensi kurus tertinggi baik pada anak laki-laki (23.0% 4.6 21.4 16.7 14.3% 5. 3.0 13. 7.2 19. 10.4%.

0 4.4 9.0 11.3 9.3 4.3 9.4%).4 13.8 14.0 12.6 7.9 13.2 15.6 10.7 9.8 13.8 8.7 10.1 11.7 10. Riau (13.8 8.4%).Tabel 3.3 6.4 9.1 9.3 11.9%).8 10.2 13.4 13.4 BB-Lebih 13.7 9.0 14.1 9.3 12.6 15.9%). NTB (17.8 6.0 16.4 9.8 14.4 14.4 4.2 14.2 18.6 11.1%).4 12.0 10.1 12.6 7.2%).2 6.8 9.4 13.2 6.9 10.1 4.0 7.4 15.6 9.5 3.4 6.9 12.1%).9 15.1 12.8 15.2 12.2 9.6 8.7 13.4 Lima provinsi dengan prevalensi kurus tertinggi pada anak laki-laki adalah NTT (23.9 6.7 10.9 13.9 6.2 7.2 5.7 11.8 Indonesia 13.0 8. Kalimantan Barat (17.1 9.6 12.3 3.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Perempuan Kurus 12. Banten (14. Riskesdas 2007 Laki-laki Kurus 14.6 11.9 10. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NTT (19.5 10.2 6.1 7.8 6.5 13.5 13. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 13.5 6.5 12.2 7.4 9.9 10.7 7.6 4.8 12.4 11.8 10.1 17.5 10.0 8.0 4.7 7.9 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.8 4.5 14. dan Kalimantan Tengah (16.7 19.1%).7 15.5 11.8%.3 10.4 16.9 8.5 6.8 10. 46 .2 12.1 8.5 7.8 5.1 11.3 12.5 8. Maluku (18.2 11.7 BB-Lebih 12.3 17. Kalimantan Tengah (15.5 6.1 23.4 6.6 4.5 9.3%).9 11.6 10.8 6.4 11.2 12.5 8.0 6.3 6.3 4.

Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 12. dan Papua (12.9 6.5 1. sebaliknya prevalensi BB lebih sedikit lebih tinggi di perkotaan.7 10.0 11.5 Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 14.5 12.10 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut Karakteristik.6 3.6 7.6 11.2 12. prevalensi kurus sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.5 13.1 12.5 13.4 10.1 8.7 Perempuan Kurus 10.4 11.0%). Tabel 3.2 BB-Lebih 15.3 8.0 Laki-laki Kurus 13.6 11.3 Menurut umur tampak adanya kecenderungan.5%) Tabel 3. Riau (15.1 6.4 9.3 12. 47 .9 13.4 13.1 10.8 12.7 3. Bengkulu (14.5 BB-Lebih 11.10 menggambarkan prevalensi kurus dan BB lebih menurut karakteristik responden.7 10.0 11.3 9. Sumatera Utara (14.1 7. semakin bertambah umur semakin kecil prevalensi BB lebih. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun terendah ditemukan di NTT baik pada anak laki-laki (4.6 14.8%). Sumatera Utara (11.3 8.0 13. Menurut tipe daerah.1 9.8 10.8 2.Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di Sumatera Selatan untuk anak laki-laki (16.9 12. sedangkan untuk prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas.6 9.5 2.5 13.6%) maupun pada anak perempuan (3.6 4.0%) dan untuk anak perempuan di NAD (12. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.0 8.1 7.6 8.1%).0 5.2%).9 13.6 14.3 12. dan Kepulauan Riau (9. Sumatera Selatan (11%).1 10.8 6. Lima provinsi dengan prevalensi BB-lebih pada anak laki-laki adalah Sumatera Selatan (16%).7 5.2 12.8%).3 13. Tampak adanya kecenderungan positip antara tingkat pengeluaran per kapita dengan BB lebih baik pada laki-laki maupun perempuan.9 10.3 13.8 5.0 10.3 10. Sedangkan prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur.7%). Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NAD (12%).0 9.2%).9%). Papua (9.

a. 48 . Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3.0 . Kalimantan Barat. Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan. Nusa Tenggara Barat. Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional. Gorontalo.5 IMT >=18. Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19.3. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) Tabel 3. Tabel 3.1% (8.9 IMT >=25.11 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masingmasing provinsi. Maluku Utara. Prevalensi obesitas umum lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan.9% dan 23.13 menyajikan hasil tabulasi silang status gizi penduduk dewasa menurut IMT dengan beberapa variabel karakteristik responden. Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 .8% BB lebih dan 10. DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.12.45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA).<27.8%). Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0. Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut : BB (kg)/TB(m)2.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT).1 cm. Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0. Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas: Kategori kurus Kategori normal Kategori BB lebih Kategori obese IMT < 18. Dari tabel ini terlihat bahwa : a. b.5 . Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese. ini berlaku juga untuk prevalensi BB lebih dan obese. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur.0 IMT >=27.3% obese).1 cm. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan cenderung semakin tinggi prevalensi obesitas umum.0 Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral. Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan.<24. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur.1.

9 63.1 9.4 66.7 Indonesia 14.8 11.2 62.5 60.6 15.7 11.8 68.6 17.4 7.9 23.4 11.7 12.1 16.3 11.Tabel 3. Riskesdas 2007 Kategori IMT Provinsi Kurus NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.8 17.0 18.8 66.0 9.0 68.8 10.9 11.3 15.3 72.5 67.6 9.6 63.3 13.1 6.6 15.9 19.3 49 .2 14.3 7.8 69.2 10.3 65.9 7.8 10.4 6.7 Obese 8.7 9.7 10.6 14.3 8.4 14.9 9.5 14.1 6.5 8.9 12.0 12.9 9.9 7.9 10.2 11.6 72.4 7.1 5.2 11.0 70.2 Normal 69.3 8.7 10.2 7.0 17.4 11.8 9.0 8.5 9.6 9.9 9.2 66.11 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.4 7.6 15.3 14.4 7.6 4.0 14.7 7.6 16.2 8.8 6.0 10.2 67.2 71.9 64.1 7.3 66.4 13.7 5.1 9.8 7.5 BB-Lebih 7.5 10.4 12.9 12.7 67.0 10.7 64.4 9.1 9.1 68.8 11.5 12.3 7.8 69.2 11.3 70.9 15.5 70.5 7.1 6.7 71.1 8.0 7.8 64.1 11.6 7.7 11.1 15.6 12.2 7.3 66.9 67.5 13.7 60.1 8.2 67.1 73.5 7.1 16.7 8.4 64.

5 33.9 7.6 20.5 18.7 20.7 14.8 10.9 30.5 11.3 15.4 17.4 10.8 9.5 25.1 21.1 15.9 27.9 17.2 13.8 18.3 18.4 19.2 19.4 11.0 22.12 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.4 13.1 50 .0 22.2 15.0 10.2 22.1 13.6 24.0 22.0 15.7 18.3 22.3 14.3 16.4 29.9 27.4 23.5 20.5 20.7 8.1 Perempuan 20.3 18.4 Indonesia 13.2 16.7 23.2 11.0 20.4 16.9 10.9 24.6 14.7 10.3 8.1 12.2 11.6 20.2 22.7 11.5 20.9 16.0 18.5 14.9 22.3 16.6 18.3 38.9 23.7 20.8 21.7 20.7 16.6 15.7 14.8 26.2 20.4 11.6 14.4 18.6 19.7 29.9 24.0 26.1 17.1 33.0 18.6 12.4 15.9 23. Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum (%) Provinsi Laki-laki NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.3 11.6 27.4 19.Tabel 3.1 26.5 Laki-laki dan Perempuan 16.8 19.2 14.3 28.3 22.

Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif.9 67.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran RT per kapita per bulan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 17. Demikian juga semakin meningkat tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.8 10. Menurut kelompok umur.5 b.7 64.14).8 8.Tabel 3.6 15. Dari 33 provinsi.7%).9 Kategori IMT Normal BB-Lebih Obese 67.9 7. prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada ibu rumah tangga (Tabel 3.2 11. Tidak tampak pola kecendrungan antara obesitas sentral menurut tingkat pendidikan.2 13.2 66.7 9.7 11.7 9.2 67.8 11.3 8. Menurut tipe daerah tampak lebih tinggi di daerah perkotaan (23.8 68.8 7.5 15.4 65. prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP) Tabel 3. selanjutnya berangsur menurun kembali.9 7.4 7.3 15.8 10.1 7.7%).5 9. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurus Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe daerah 13.3 66.9 8. semakin tinggi prevalensi obesitas sentral.8 19.15). Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik.1 10.7 7.1 13.7 8. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7.9 12.15 menyajikan prevalensi obesitas sentral menurut provinsi.6%) dibandingkan daerah perdesaan (15. Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18.14 dan Tabel 3.13 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden.7 12.4 7.8%. 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional (Tabel 3.7 16.9 63.3 67.9 7.4 Perkotaan 15.4 13. 2005).3 9.6 63.0 62. 51 . Sedangkan menurut pekerjaan.5 13. jenis kelamin dan karakteristik responden.

1 27.2 19.5 31.14 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Provinsi. 52 .1 18.8 16.0 15. P>80) * NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 14.9 23.L>90.0 23. P = Perempuan 18.2 Indonesia Catatan: *) LP= lingkar perut .8 20.0 17.5 22.1 21.1 15.0 19.6 19.9 15.4 19.6 13.4 18.0 19.0 27. L =Laki-laki .1 27.1 19.3 13.9 10.7 14.6 25.4 11.8 .1 18. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral Provinsi (LP.4 17.5 23.2 15.Tabel 3.

15 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.9 23.7 16.3 20.0 16.0 19.9 15.2 Karakteristik Responden 53 .8 19.7 23.9 24.8 17.9 15.1 18. P>80) * Kelompok Umur (Tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Catatan: *) LP= lingkar perut . P = Perempuan 8.3 25.7 20. L =Laki-laki .8 7.3 18.0 36.L>90.Tabel 3.7 15.0 19. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral (LP.1 23.6 15.7 15.8 19.4 26.0 17.8 10.5 7.7 29.

41 54 .57 2.0 27.1 25. Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.33 3.9 26. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat.94 2.18 menyajikan gambaran masalah gizi pada WUS yang diukur dengan LILA.22 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Umur (Tahun 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rerata (cm) 23.04 3.37 3.17 3.37 3.8 26.35 3. Tabel 3.62 2.8 24.7 24.0 27.72 2.6 25. Tabel 3.98 3.78 2.14 3.29 3.1 26.53 2.9 27.7 26.16 menggambarkan prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur.17 3.6 24.2 27.2 27.24 3.2 24.3 27.4 27.32 3.16 3.16.62 2.3 26.4 24.35 3.2 27.9 25.31 3.60 2.1 27.2 Standar Deviasi (SD) 2.23 3.c. Tabel 3.2 27. Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD.92 2. dan Tabel 3.4 25.3 27.4 26. yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).0 25. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) Tabel 3.6 26. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut provinsi dan karakteristik responden.32 3.17.4 27.8 25.98 2.10 3.80 2.16.

2 20.4 12.0 11.6 12.2 5. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Risiko KEK* (%) 12. Maluku. NTT. Tabel 3.Untuk menilai prevalensi risiko KEK dilakukan dengan cara menghitung LILA lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun.8 10.6 55 .1 9. Papua Barat.6%) yaitu DKI Jakarta.1 8.4 9.6 10.9 12.17 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas angka nasional (13.1 19.3 7. Kalimantan Selatan.2 10.6 12. Jawa Timur.1 Indonesia 13.2 14.6 23.2 15.3 16.5 9.1 11.0 12.5 15.8 10. Sulawesi Tenggara. dan Papua.17 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi. DI Yogyakarta.9 10.9 12.4 24.5 14. Jawa Tengah.0 17.9 8. Tabel 3.6 8.8 12.

b. gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut.8 13. adalah: a.6 13. menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah.Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi risiko KEK dengan karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 3.5 12.18. Sedangkan 56 .1 14. Tabel 3. Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT dengan konsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4 Kuintil – 5 16.1.18 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden. c.8 12.4 13.4 12. Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK. prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita.4 Konsumsi Energi dan Protein Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu. risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT).5 13.5 KEK 3. Secara nasional.1 15.0 14.4 11. Berdasarkan tingkat pendidikan.

Maluku Utara. Sumatera Barat. dan Papua Barat. Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi konsumsi “protein rendah” di atas angka prevalensi nasional (58. Maluku. Prevalensi RT yang mengkonsumsi energi dan protein di atas rerata konsumsi energi dan protein tidak disajikan. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59. Maluku Utara. Jawa Tengah. Kalimantan Tengah. Jawa Tengah. NTB. Provinsi dengan rerata konsumsi energi di atas rerata nasional sebanyak 11 provinsi yaitu: NAD.5%) yaitu Provinsi Bengkulu. Maluku.8 gram) dan provinsi dengan rerata konsumsi protein tertinggi adalah Kepulauan Riau (69.5 %. NTB. DKI Jakarta. DI Yogyakarta. Bangka Belitung. Kalimantan Selatan. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tenggara. Jawa Barat. Sulawesi Barat. Data pada Tabel 3. Gorontalo. Kalimantan Barat. DKI Jakarta. Riau.5 Kkal untuk energi dan 55. dan pada Tabel 3. Kep.0 gram). Bengkulu. Banten.7 kkal) dan provinsi dengan angka konsumsi energi tertinggi adalah provinsi Jawa Timur (2175. Lampung. NTT. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita. sebaliknya persentase RT di perdesaan dengan konsumsi “protein rendah” lebih tinggi dari RT di perkotaan. merupakan data prevalensi RT dengan konsumsi ”energi rendah” dan konsumsi ”protein rendah”. dan Papua. Sulawesi Utara. Pada tabel 3. Sumatera Selatan. Persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “ protein rendah” menurut tingkat pengeluaran RT per kapita menunjukkan pola yang spesifik. Kalimantan Tengah. Sulawesi Tengah. Kalimantan Timur. DI Yogyakarta. Gorontalo. Papua Barat. Sulawesi Selatan. Sedangkan provinsi dengan rerata konsumsi protein di atas rerata nasional sebanyak 19 provinsi yaitu: NAD. Tabel 3.20 dan Tabel 3. Kalimantan Barat.5 gram).19 disajikan angka rerata konsumsi energi dan protein per kapita per hari.0 %) yaitu Provinsi Riau.21 menunjukkan bahwa persentase RT di perkotaan dengan konsumsi “energi rendah” lebih tinggi dari RT di perdesaan. Maluku Utara.RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT dengan konsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.21. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Jawa Timur. Jawa Barat. Jambi. NTT. dan Papua. Tabel 3. Banten. Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi “energi rendah” di atas angka nasional (59. Jawa Timur.5 gram untuk protein.19 menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735. Bali.5 kkal). Provinsi dengan angka konsumsi energi terendah adalah provinsi Sulawesi Barat (1384. Sumatera Utara. Riau.0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58. Jambi. 57 . Sumatera Barat. Bali. Lampung. Sulawesi Tengah. Sumatera Utara. Sulawesi Utara. Provinsi dengan rerata konsumsi protein terendah adalah Bengkulu (45. semakin rendah persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah”. Sulawesi Tenggara.5 Kkal dan 55. Sulawesi Selatan.20 memperlihatkan persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah” yang berarti di bawah angka rerata nasional (1735.

7 1884.6 59.6 744.1 55.5 58.8 781.6 45.7 705.9 47.6 53.1 1865.5 28.7 56.3 1683.9 678.8 56.7 55.9 1534.2 586.3 615.7 791.5 485.5 1644.7 1532.2 1362.5 748.2 1504.7 1692.3 609.2 610.2 618.6 1803.2 26.6 1806.7 Protein Rerata SD 69.8 28.1 28.0 596.4 58 .5 27.19 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi.6 27.5 24.6 1828.0 60.3 1623.3 24.1 28.9 30.8 709.3 24.9 1592.4 1371.4 56.0 58.3 1371.0 493.8 506.1 1752. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi Rerata SD 1805.0 741.3 21.4 568.9 923.0 460.3 47.6 1594.3 602.3 57.7 32.6 51.6 1375.8 51.4 23.3 65.0 68.3 50.1 641.2 653.5 1706.5 24.6 56.8 22.3 1764.1 26.3 585.3 26.4 62.1 53.6 772.6 615.7 1703.6 24.6 1823.3 1861.8 21.5 26.1 29.7 66.2 57.1 618.1 28.3 27.2 60.5 Indonesia 1735.4 51.6 807.8 677.7 54.1 30.7 2182.5 53.3 45.5 691.7 1602.7 53.6 653.5 18.6 69.9 24.7 24.5 28.5 922.5 1636.7 1381.1 28.8 25.9 25.5 52.0 59.4 1385.8 1672.3 608.2 28.Tabel 3.7 1682.1 739.0 20.4 1451.

6 42.2 51.0 57.6 61.4 80.9 66.9 56. Riskesdas 2007 Persentase RT Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi 51.9 58.0 57.9 55.3 53.0 58.4 50.9 48.4 81.8 50.7 63.1 65.9 72.9 63.5 76.Tabel 3.0 59.5 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.9 60.3 61.0 51.5 gram) dari data Riskesdas 2007 59 .9 63.2 62.2 64.6 62.4 82.20 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional.4 53.8 57.5 kkal) dan Protein (55.8 77.6 55.5 53.6 49.7 53.1 75.5 56.1 74.8 72.7 38.8 69.1 65.5 51.1 37.4 66.8 59.6 64.8 54.7 52.8 59.5 39.3 59.9 Protein 35.1 61.2 58.8 69.3 57.3 78.5 71.4 80.6 61.4 60.9 Indonesia 59.6 67.1 35.

Bangka Belitung. Gorontalo dan Papua Barat. dikumpulkan urin dari anak usia 6-12 tahun untuk dilakukan pengecekan kadar iodium dalam urin. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua. Ada enam provinsi yang telah mencapai target garam beriodium untuk semua yaitu Sumatera Barat.4 Kuintil – 3 59. Dari hasil tes cepat yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3).3 56. dan hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam melalui titrasi serta hasil pemeriksaan urin.0 59.9 62.Tabel 3.5 gram) dari data Riskesdas 2007 3.1 66. Secara nasional. secara nasional juga dikumpulkan sampel garam dari 30 kabupaten/kota yang dkonsumsi oleh rumah tangga untuk dilakukan pengecekan kadar iodiumnya dengan metode titrasi. dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna. mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda. Pada penulisan laporan ini yang disajikan adalah hasil tes cepat. Sumatera Selatan.3 Kuintil – 4 57.0 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.4 57. Bersamaan dengan sampel garam rumah tangga tersebut.22 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut provinsi. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga. Riskesdas 2007. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga menggunakan garam cukup iodium. Jambi.3 Kuintil – 5 53. Karakteristik Responden Persentase RT Energi Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita 61. 60 .8 Kuintil – 2 60.7 48. baru sebanyak 62.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita .4 Protein Kuintil – 1 64.5 kkal) dan Protein (55.3% RT Indonesia mempunyai garam cukup iodium. Disamping itu.4 55.1.5 Konsumsi Garam Beriodium Informasi mengenai konsumsi garam beriodium pada Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium. Tabel 3.1 60.

5 90.4 88.3 82.9 31.8 94.1 34.7 45.1 68. Riskesdas 2007 Rumah-tangga Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tanggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua mempunyai garam cukup iodium (%) 47.0 84.22 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi. Tabel 3.2 83.6 82.2 62.7 76.0 69.Tabel 3.4 45.3 61 .8 89.23 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (≥30 ppm) menurut menurut karakteristik responden. Berdasarkan tempat tinggal.0 43.7 58.9 90.3 89.1 83.7 76.2 45.1 27.9 86. persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.3 61.8 98.3 58.0 90.1 46.2 Indonesia 62.0 93.7 89.

5 70.9 59. Riskesdas 2007 Rumah tangga Karakteristik responden Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang/Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 mempunyai garam cukup iodium (%) 50. Berdasarkan pekerjaan.1 70.7 59.8 75.1 56.24.8 60.1 80. atau 75.3 61.3 56. Demikian pula menurut pendidikan.9 56.0 Dari hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga dengan metode titrasi dapat dilihat pada tabel 3. semakin tinggi kuintil semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium.4 56. semakin tinggi pendidikan kepala keluarga semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium.2 75. 62 . Gambaran nasional yang diwakili 30 kabuapten/kota dapat dilihat bahwa kandungan iodium dalam garam yang dikonsumsi RT hanya 24.Ditinjau dari kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita. persentase yang mempunyai garam cukup iodium pada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS/TNI/Polri/BUMN dan swasta lebih tinggi dibandingkan yang pekerjaannya tidak tetap.23 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden.8 64.5 68.5% yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI): 30-80 ppm KIO3.7 67.5% garam yang dikonsumsi rumah tangga kandungan iodiumnya tidak memenuhi SNI. Tabel 3.7 79.

0 97.7 92.0 75.0 72.35 dapat dilihat.5 Dari tabel 3.2 69.7 96.4 41.3 66. sebanyak 12.9 75.3 72.8 83. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Persentase RT mempunyai Garam Iodium < 30 ppm Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 77.2 57.3 100.2 56.9% anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota dengan ekskresi iodium dalam urine (EIU) atau kadar iodium < 100 µg/L.0 86.9 57.0 81.5 84. Kadar iodium dalam urin merupakan petunjuk yang baik dari asupan (konsumsi) iodium terkini. 63 .7 59.0 63. Jika lebih 50% anak 6-12 tahun mempunyai kadar iodium urin < 100 µg/L maka pada populasi tersebut kemungkinan besar ada masalah kekurangan iodium.5 75. Dari 30 kabupaten/kota. tidak ada satupun dengan persentase kadar iodium urin < 100 µg/L yang mencapai 50%.7 90.24 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota.Tabel 3.8 80.2 76.8 50.3 84.7 69.6 67.6 68.1 37.

Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA Persentase Anak dengan EIU < 100 µg/L 12.6 13.9 Tabel 3.4 6. Catatan khusus untuk Grobogan.9 3. Sementara itu.1 8.8 23.2 20.2 15.7 9. Nilai median antara 100-199 µg/L menunjukkan asupan iodium di populasi tersebut telah dapat memenuhi kecukupan yang dianjurkan sedangkan nilai median diatas 300 µg/L masuk kategori asupan yang berlebih. Klungkung.4 10. ada 6 kabupaten/kota dengan nilai median kadar iodium urin antara 100-199 µg/L yaitu Bantul.7 8.Tabel 3.3 8.3 10.4 17.9 5.4 7.7 14.25 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.1 4.4 11. Bondowoso.3 22.8 13.5 5.9 23.4 13.5 20. nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan diatas 300 µg/L. 64 .5 16.0 10.0 34. tanah dan sumber air minumnya mengandung tinggi iodium.9 12.1 10. Jeneponto. Konawe Selatan dan Kota Gorontalo. Dari 30 kabupaten/kota.9 12.26 menunjukkan bahwa nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota adalah 224 µg/L atau masuk kategori ‘diatas angka kecukupan yang dianjurkan’.

Riskesdas 2007 NILAI MEDIAN EIU KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA (µg/L) 225 230 221 229 237 290 229 365 244 304 288 192 208 214 164 246 236 186 157 209 296 270 257 219 221 181 213 187 199 211 224 65 .Tabel 3.26 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota.

anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG.6%).2. Tidak semua balita dapat diketahui status imunisasi (missing).8%).0%). tiga kali DPT.27 s/d Tabel 3. Dalam Riskesdas. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda.9%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. polio tiga kali (71.8%). disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. dan Catatan dalam Buku KIA. subyek yang ditanya tentang imunisasi bukan ibu balita.27 dan Tabel 3. ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi. tiga. empat kali imunisasi polio. Dari tabel 3. imunisasi DPT/HB pada bayi umur dua.7%) dan terendah hepatitis B (62.2%) dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100. cakupan imunisasi menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86. yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak. ibu lupa berapa kali sudah diimunisasi.27 dapat dilihat secara keseluruhan. Tabel 3.30 adalah cakupan imunisasi lengkap pada anak.30). tiga kali imunisasi DPT.29 dan 3. tiga kali DPT.9%) dan tertinggi juga di DI Yogyakarta (89.1%). Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS).28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi yaitu BCG. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. Cakupan imunisasi pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada empat tabel (Tabel 3. tidak dapat menunjukkan KMS/ Buku KIA karena hilang atau tidak disimpan oleh ibu. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: • • • Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. Tabel 3. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan.0%). catatan dalam Buku KIA tidak lengkap/tidak terisi. imunisasi polio pada bayi baru lahir. campak (81. tiga kali polio. tiga kali polio. Bila dilihat masingmasing imunisasi menurut provinsi. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. 66 .1 Status Imunisasi Departemen Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. DPT tiga kali (67. untuk imunisasi BCG yang terendah di Sulawesi Barat (73. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu.9%).3. satu kali imunisasi campak dan tiga kali imunisasi Hepatitis B (HB). empat bulan dengan interval minimal empat minggu. dan campak menurut provinsi dan karakteristik responden. tiga kali HB dan satu kali imunisasi campak. Cakupan imunisasi yang lebih bervariasi antar provinsi terlihat pada imunisasi polio tiga kali yaitu terendah di Sulawesi Barat (47. DPT tiga kali terendah juga di Sulawesi Barat (47. catatan dalam KMS tidak lengkap/tidak terisi. atau ketidakakuratan pewawancara saat proses wawancara dan pencatatan.2 Kesehatan Ibu dan Anak 3. yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum. Program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. tiga kali HB.

3 83.9 59.7 49.2 52.0 67.0 68.3 64.8 70. WHO membuat rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).7 56.8 93. 1996.6 61.6 77.8 59.0 69.5 66.7 85.7 84.8 81.9 57.7 100.2 64. PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga 67 .8 67.0 90.0 77.4 65.8 85.4 78.5 80.4 71.1 DPT 3 58.7 79.9 68.3 59.9 89.5 71.7 62.3 96.3 77.8 79.3 82.2 67.3 81.4 70.9 47.1 74.4 51.7 74.3 93.7 64.0 88.8 79.5 72.9 64.5 Campak 69.0 46.1 68.3 67.7 64.3 83.5 85.1 94.6 42.8 95. Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995.7 56.1 77.2 88.1 99.1 88.1 60.6 76.7 93.2 81.8 58.5 96.1 90.5 95.3 47.1 73.6 51.3 87.0 89.9 62.5 66.0 64.2 73. PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah.9 79.5 84.8 96.5 85.2 70.3 77.7 94.1 78.27 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.8 51.1 88.8 62.2 74.4 76.1 78.6 66.6 74.0 64.3 75.1 73.6 71.5 HB 3 53.1 81.1 88.8 68.6 96.9 84. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flacid paralysis (AFP) pada tahun 2005.3 67.1 83.5 83.0 77. Pada tahun 2002.8 77.8 65.7 Indonesia 86. dan 1997.4 50.7 64.7 78.3 68.5 98.7 67.4 84.3 83.9 72.9 71.4 65.3 89.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Polio 3 63.3 58.3 72.0 83.9 85.8 75.4 89.8 66. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 77.1 85.0 59.5 54.6 81.7 90.3 60.9 55.4 87.4 67.2 75.Tabel 3.1 89.3 62.2 63.3 71.8 62.7 69.4 83.6 Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia.7 85.4 93.4 48.7 73.6 89.3 71.3 67.2 83.3 95.9 65.9 85.8 79.5 54.7 77.

Terdapat variasi yang lebar antar provinsi. masih terdapat 8. terendah di Banten (62.1 – 25. Walaupun demikian.3%) dan tertinggi di Bali (73. Tetapi sejak tahun 2004 hepatitis B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT/HB yang didistribusikan untuk 20% target. 68 . yaitu jenis imunisasi yang diprogramkan terakhir.1% anak 12-23 bulan di perdesaan yang belum diimunisasi sama sekali. Cakupan imunisasi menurut jenis pekerjaan terlihat bahwa untuk tiap jenis imunisasi. orangtua dan daerah.2%). cakupan tertinggi bila pekerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI dan cakupan terendah pada kepala keluarga dengan pekerjaan petani/nelayan/buruh.2%. Cakupan imunisasi lengkap yaitu semua jenis imunisasi yang sudah didapatkan anak umur 12-23 bulan dapat dilihat pada Tabel 3.2 – 13.3%. Tabel 3. Tabel 3. tetapi pelaksanaan di daerah dapat berbeda tergantung dari stok vaksin DPT dan HB yang masih terpisah di tiap daerah.4%) dan tertinggi di Bali (85. cakupan imunisasi lengkap terendah di Sulawesi Barat (17. tahun 2005 untuk 50% target. tetapi terdapat perbedaan menurut daerah.4%.4% yang imunisasinya tidak lengkap. Perbedaan cakupan imunisasi anak tingkat pengeluaran per kapita terendah (kuintil 1) dan tertinggi (kuintil 5) antara 8.28 juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (0.0%) yaitu tidak ada anak umur 12-23 bulan yang belum diimunisasi.7 – 12. Dengan adanya PIN tersebut. Terlihat bahwa secara keseluruhan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi menurut karakteristik anak. Oktober. bila dilihat menurut provinsi masih terdapat 12 provinsi yang belum mencapai UCI (Tabel 3. secara keseluruhan Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI). dan November.27) Tabel 3. terendah di Sulawesi Barat (42. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi (54. Tidak terdapat perbedaan cakupan tiap jenis imunisasi menurut jenis kelamin.2%. Selain perbedaan yang lebar untuk cakupan imunisasi lengkap antar provinsi. Cakupan untuk tiap jenis imunisasi selalu lebih tinggi antara 7.2%). Imunisasi hepatitis B awalnya diberikan terpisah dari DPT.9%). semakin tinggi cakupan tiap jenis imunisasi. Perbedaan cakupan imunisasi anak menurut pendidikan antara kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga dengan pendidikan perguruan tinggi antara 17. frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya.29. Pada tahun 2006 PIN diulang kembali dua kali/ dosis polio saja yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006. keluarga dan daerah. Bila cakupan imunisasi campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap.kali/ dosis polio saja pada bulan September. hampir sama dengan yang tidak lengkap yaitu sebesar 45.5% anak 12-23 bulan yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali. tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan tiap jenis imunisasi. dan tahun 2006 mencakup 100% target DPT/HB.30 menunjukkan cakupan imunisasi lengkap menurut karakteristik anak. Cakupan imunisasi hepatitis B. Tetapi WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio.5%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (99.7% di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan.3%) dan masih terdapat 11. Persentase tertinggi anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali adalah di Maluku (21. Walaupun vaksin DPT/HB sudah didistribusikan untuk seluruh target.0%) dibanding di perdesaan (41. walaupun masih terdapat 35. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan. Untuk imunisasi campak variasi cakupan juga terjadi menurut provinsi.

2 86. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua.1%).5 Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Polio 3 71.8 75. menunjukkan kecenderungan yang sama.6 68.7 66.6 74.0 59.3 DPT 3 67.1 54.7 57.0 57.0 95.2 61.9 64.6 71.5 92.1 78.7 69.5 HB 3 63.1 63.2 89.3 86.1 71.2 82.1 68.5 78.9 66. Demikian juga menurut tingkat pengeluaran per kapita.4 83.3 71. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.1 65. 69 .0 90.6 77.3 88.Tabel 3.7 91.6 91.4%.8 72.9%) dan terendah pada kelompok petani/nelayan/buruh (41.7 63.9 57.3 50. Menurut pekerjaan kepala keluarga.5 53.9 63.8 85. demikian juga makin tinggi pengeluaran per kapita.0 Campak 82.0 81.5%.9 69.7 58.3 84.4 92.6 83.0 85.6 62.9 78.1 71.5 70. semakin sedikit anak yang tidak di imunisasi sama sekali.8 88.1 72.6 79.0 74.0 87.6 74.2 76.6 79.3 75. cakupan imunisasi lengkap terdapat pada kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (57.8 73. makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.6 93.2 65.3 68.7 87.4 95.9 83.4 71.8 Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan imunisasi lengkap.1 80.5 75.0 66.1 78.5 66. Tingkat cakupan imunisasi lengkap pada kuintil terendah 41.9 81.1 78.5 62.0 78. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 87.1 79.7 67.7 82.2 62.5 83.28 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.9 62.8 64. Tingkat cakupan imunisasi lengkap dengan kepala keluarga berpendidikan terendah 35.0 70.4 83.4 67.7 86.7 91.7 59.2 83.7 76.8 71.9 58.5 71.9 69.6% dan kuintil tertinggi 53.1 84.1% dan pendidikan tertinggi sebesar 60.3 62.1 81.9 77.3 86.

1 50.4 46.4 6. 70 .5 41.0 58.4 35.8 42.4 38.9 38.0 43.1 34.4 45.3 45.1 13.7 36.0 Tidak sama sekali 13.2 8.3 34.4 64. DPT minimal 3 kali.0 62.3 49.7 32.3 11.6 Indonesia Catatan: 46.1 31.4 44.8 53.6 54.6 73.4 44.0 15. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.5 11.0 51.4 48. Tabel 3.5 Imunisasi lengkap: BCG.6 24.3 9. Hepatitis B minimal 3 kali. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap 35.5 11.3 40. di daerah perdesaan.0 47.6 39.6 43.7 60.2 17.8 1.3 8.5 5.9 57.1 48.2 52. dari kalangan petani/nelayan/buruh.7 30.6 17.3 5.9 5.9 37.3 7.4 55.9 47.7 9.0 41.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tidak lengkap 52.5 65.0 45.8 55.8 7.3 35.1 13.3 17. Campak.2 44.0 38.3 0.0 4.6 46.9 47.9 15.3 64. dan pada kuintil terendah.3 21.29 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.6 2. Polio minimal 3 kali.4 47.2 48.0 7.7 44.2 14.3 32.3 1.5 2.6 7.4 35.5 1.6 59.3 5.0 53.2 45.8 57.Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali terbanyak pada kelompok anak yang orangtuanya tidak sekolah.7 42.9 52.1 7.2 32.7 41.7 46.9 6.0 43.

6 45.5 Wiraswasta 49.9 9.3 47.9 Pekerjaan KK Tidak bekerja 44.5 Catatan: Imunisasi lengkap: BCG.2 14.3 Kuintil 2 43.0 41. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap Tidak lengkap Tidak sama sekali Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki 46.0 5.7 Kuintil 3 47.9 Tidak tamat SD 39.7 PNS/POLRI/TNI 57. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti posyandu.0 48. Data pemantauan pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumahtangga yang mengetahui.4 36.1 Kuintil 5 53.0 9.5 4.0 41.4 8.6 47.1 Petani/nelayan/buruh 41.7 11.3 44.1 49.7 45.6 8. Polio minimal 3 kali.9 Tamat SMP 46.Tabel 3.7 46. penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan.4 46.3 44.5 41.9 39.4 44. ditanyakan frekuensi penimbangan dalam 6 bulan terakhir yang dikelompokkan menjadi “tidak pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir”.1 Tamat SMA 54. Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut. Hepatitis B minimal 3 kali.7 Tamat SD 41. 71 .0 15. Dalam Riskesdas 2007.3 6.3 45.2 7.8 7.3 11.1 Kuintil 4 49. Campak. ditimbang 1-3 kali yang berarti “penimbangan tidak teratur”.7 2.9 4.0 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 41.9 Tipe daerah Perkotaan 54.7 44.0 Tamat PT 60. 3.1 49.2.5 Perdesaan 41.6 2.1 4. dan 4-6 kali yang diartikan sebagai “penimbangan teratur”. DPT minimal 3 kali.1 47.2 Ibu rumah tangga 51.2 8.5 6. puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain.6 Lainnya 47.1 46.1 Pendidikan KK Tidak sekolah 35.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya hambatan pertumbuhan (growth faltering) secara dini. polindes.2 Perempuan 45.1 11. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.30 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.7 7.

8 45.31 terlihat bahwa secara keseluruhan dalam enam bulan terakhir balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).6 16. rumah tangga dan daerah dapat dilihat pada tabel 3.7 28. Cakupan penimbangan balita menurut karakteristik anak.4 21.8 56.1 46.0 33. dan 25.0 28.5 37.6 31.4%.2 69.9 34.7 26.9 34.4 22.9 29.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.0 20.1 14.4 23.1 35.7 15.5 57.5 39.8 39.0 13.9 8.1 25.0 45.0 5.6 33. 29.5 34.7 33.3 26.5 28.0 37.1 52.8 37.0 34.6 56.5%.3 8.1 39.1%.0 60.2 38.6 30.4 20.4 38.32.9 10.7 30.7 32.1 Indonesia 45.6 57. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan > 4 kali 47.5 31.2 30. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut 45.6 35.9 36.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (78.7 36.7 17.6 38.8 38.5 Pada Tabel 3.7 42.1 26.3 Tidak pernah 17.3 27.5 42.9 36.8 37.8 39.6 32.8 39.0 78.4 29.4 46.1 15.2 33.4 29.6 14.5 62.9 31.3 22.0 21.9 34.5%).9 40. Cakupan penimbangan rutin bervariasi menurut provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (21.2 57.3 29.4 30.0 34.5 21.4 24.9 35.3 29.3 28.0 27.5 26.2 18.7 58.8 29.9 23.4 36.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1-3 kali 35.9 16.9 28. 72 .Tabel 3.

9 44.8 45.7 48.9 29.9 17.7 46.2 44.6% untuk tingkat pengeluaran per kapita.7% untuk tingkat pendidikan dan 1.8 28.0 26. 73 .7 33.3 29.6 46.1 29.5 19. Cakupan penimbangan rutin (>4 kali dalam 6 bulan) tidak banyak berbeda menurut tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.7 23.1%).6 22.Tabel 3.3 27.4 26.5 28.3 31.8 25. Perbedaan hanya 6.5 44.1 21.3 28.5 27.9 28.7 29.2 27.1 Terlihat ada kecenderungan makin tinggi umur anak.3 > 4 kali 67.9 32.6 28.5 26.8 47.2 26.3 25.1 48.0 45.1 42.7 23.8 29.6 22.2 33. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan (kali) Tidak pernah 8. makin rendah cakupan penimbangan rutin (≥ 4 kali).5 45.9 27.7 22.0 45.6 54.2 30.5 26.8 23.4 28.8 32.1 31.8 36.3 30.0 45.7 24.7 25.6 45.1 46.5 44.1 18.7 28.1 31.32 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.4 52.5%) dibanding di daerah perdesaan (44.1 45. Cakupan penimbangan balita tidak berbeda antar jenis kelamin.1 23.3 44.9 48.7 31.5 39.7 16.6 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1-3 kali 23.1 39.9 25.2 44.0 29. Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula persentase anak yang tidak pernah ditimbang. tetapi sedikit berbeda menurut tipe daerah dengan cakupan penimbangan empat kali atau lebih dalam enam bulan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan (47.

5 10.7 6.7 1.6 2.4 5.8 3.2 87.4 7.6 6.3%).9 2.9 66.8 0.9 81.2 8.1 1.2 81.9 67.3 47.2 4.7 3.0 65.2 3.4 8.1 78.0 67.7 10.8 1.3 10.5 4.6 2.9 3.6 2.33 terlihat bahwa posyandu secara keseluruhan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78.5%).7 9.8 6.0 5.1 73.0 4.4 2.1 1.33 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.1 3.5 4.4 2.3 89.0 86.0 84.2 2.7 2.5 2.1 9.8 0.2 Posyandu 76.9 11.8 0.3 0.2 1.1 11.3 7.4 34.8 78.0 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Puskesmas 11.4 13.3 5.3 3.2%) dan terendah di Kepulauan Riau (47.2 6.8 6.9 8.1 2.1 1.1 86.1 77.3 8.3 1.4 5.1 1.4 1.8 Lainnya 5.3 3.0 3.8 2.0 12.8 78.0 5.4 16. Tabel 3.9%).2 1.0 0.6 74.2 22.9 1.1 4.1 1.7 4.5 7.1 6. dan Sulawesi Selatan (18.3 1.9 14.0 5.6 Polindes 4.7 72.6 83.6 82.5 Indonesia 3.5 16.8 3. Tempat penimbangan selain posyandu yang cukup tinggi antara lain Puskesmas seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah (24.2 6.1 59.0 13.0 1.5 12.8 3.5 3.4 5.4 3.1 7.9 75.3 60.3 15.Pada tabel 3.9 11.7 2.7 3.2 2.7 4.2 2.6 2.1 2.8 91.8 5.2 2.1 6.0 6.3 15.2 2.1 1.9 68.1 1.6 2.0 2.3 65.3 6.6 85.2 5.6 14.9 7.9 24.4 5.6 95.0 12.2 74.4 2.1 2.2 2.9 85.6 92.9 61.3%.1 9.5 1.1 12.6 4.3 2. Papua (22.9 18.9 1.1 1. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 2.2 2.6%).4 4.5 11.5 4. 74 .9 14.8 3.0 Posyandu sebagai sarana penimbangan balita paling banyak terdapat di Maluku Utara (95.4 6.0 6.

9 10.5 7.9 2.4 2.6 2.8 7.7 4.9 8.8 2.3 7.4 9.6 12.0 8.3 2.34 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.0 7.5 9. Pada tabel tersebut terlihat bahwa untuk setiap jenis tempat penimbangan balita tidak ada pola kecenderungan baik menurut umur maupun jenis kelamin.5 8.2 79. dan tipe daerah.3 2.1 8.1 5.3 80.0 2. Namun sebaliknya persentase penimbangan di polindes dan posyandu lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.8 2.1 84.5 13.5 81.0 2.9 Polindes 2.5 79.8 5.5 2.4 72.2 83.8 5.3 Lainnya 6.8 78.3 2.8 68.8 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Puskesmas 8.1 2.0 2.34 menunjukkan tempat penimbangan balita menurut karakteristik anak.8 2.9 7.7 3.6 2. rumah tangga.3 7.9 62.7 2.3 77.3 83.6 1.0 1.7 3.8 7.7 83.3 3.3 7.0 2.9 8.1 5.3 3.1 4.5 77.7 70.7 5.0 3.6 3.9 3. Tabel 3. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 3.7 8.3 3.1 2.2 80.7 3.1 71.6 9.6 5.5 Posyandu 78.0 2. Persentase penimbangan di posyandu pada balita dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai 75 .3 8.6 2.6 3.Tabel 3.5 6.9 10.1 1.4 2.8 8.8 3.1 3.1 3.5 8.4 4.6 9.6 83.4 Menurut tipe daerah persentase penimbangan balita di RS dan Puskesmas lebih banyak di perkotaan dari pada di perdesaan.6 78.1 9.3 74.2 5.7 80.2 17.6 3.2 2.2 4.9 2.4 3.3 8.0 2.0 9.7 9.2 12.3 6.5 78.6 4.0 8.0 4.1 8.3 7.1 2.1 10.9 83.0 7.9 3.7 8. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan persentase penimbangan balita di posyandu.4 3.2 6.7 4.4 76.6 78.2 3.

4 36.6 43.6 37.2 22.6 46.7 55.9 22.9 12.1 51.0 42.8 18.7 45.4 24.2 31.3 10.9 33. Tabel 3.5 38.8 32.1 47.3 43.8 26.8 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2 41. Riskesdas 2007 Kepemilikan KMS* 1 18.2 38.2 32.4 22.4 48.0 * Catatan : 1 = Memiliki KMS dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki KMS.2 31.6 22.5 49.4 21. Kepemilikan KMS dan dapat menunjukkan bervarisasi menurut provinsi.35 menunjukkan kepemilikan KMS menurut provinsi.3 32.6 23.8 32. Sisanya sebesar 35.5 47.6 16.9 37.5 18.8 18.0 22.2 34.9 17. di mana secara keseluruhan hanya 23.9 45.0 55.4 31.3 24. sedangkan 41.8 23.3% balita yang mempunyai KMS dan dapat menunjukkan.8 44. terendah di Sulawesi Barat (10.9 22.1 39.2 27.7% mengatakan punya KMS tetapi tidak dapat menunjukkan.9 49.7 35.4 41.9 16.8 27.3 29.1 43.0 44.6 41.8 25.2 20.2 29.6 49.5 38.0 45.6 22.0 22.4 34.9 23. Tabel 3.35 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.0% tidak mempunyai KMS.9 44.9 25.6 19.8 39.0 43.6 45.4 25.3 41.9 45.5 28.8 38.8 34.8 24.9 54.6 28.1 18.6 26.7 27.9%) dan tertinggi di DKI Jakarta (39.8 3 39.4 52. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki KMS 76 .0 34.8 35.petani/nelayan/buruh atau ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada kepala keluarga dengan jenis pekerjaan yang lain.6 27.2 26.5 Indonesia 23.6 31.2 49.2%).2 41.4 25.2 32.1 37.2 22.

77 .9 49.9 Wiraswasta 25. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya KMS Sedangkan menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dengan kepemilikan KMS. di perkotaan persentase kepemilikan KMS (28.9 Tamat SMA 25.36 menunjukkan karakteristik responden.0 39.0 40.5 31.8 Pekerjaan KK Tidak bekerja 25.8 35.9 24 – 35 20.1 45.0 Tamat PT 28.7 43.0%).5 40.6 38.7%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (20.3 40.1 Perempuan 23.3 Pendidikan KK Tidak sekolah 18.4 40.4 48.36 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden.0 43.8 33.8 35.7 – 42.3 38.7 32.0 Tipe daerah Perkotaan 28. Tabel 3.0 Jenis kelamin Laki-laki 23.3 Kuintil 5 25.9 Lainnya 24.9 22.4 PNS/POLRI/TNI 27. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan KMS* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 36.9 35. Menurut tipe daerah.3 37.9 Perdesaan 20.3 Kuintil 3 23.4 Petani/nelayan/buruh 20.9 34.3 31.4 29.3 48.3 45.7 38.7 19.3 39.6%).5 27.6 35.0 Kuintil 2 22.3 48 – 59 12.5 36. Menurut kelompok umur persentase kepemilikan KMS lebih tinggi pada anak umur di bawah 12 bulan (36.4 43. dan hanya 12.8 41.2 33.5 34.0 6 – 11 42.3 12 – 23 30.1 Tamat SD 22.3 39.7 39.6 23.Tabel 3.4 43.1 30.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 21.4 43.1 38.4% pada anak 48-59 bulan.0 40.5 * Catatan : 1 = Punya KMS dan dapat menunjukkan 2 = Punya KMS.6 Kuintil 4 25.6 Tidak tamat SD 20. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut jenis kelamin.8 39.6 28.7 38.4 46.6 27.2 41.9 34.9 36 – 47 14.5 Ibu rumah tangga 26.4 41.0 31.3 48.4 Tamat SMP 23.4 49.

9 9.0 32.2 12.3 67.9 8.8 46.8 5.1% dan tingkat pengeluaran per kapita sebesar 4.2 4.6 76.7 16.37 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.1 14.5 14.2 74.7 11.8 3.2 40. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki Buku KIA 78 .5 22.8 25.8 9.3 13.7 43.8 3 62.0 37.6 18.5 68.6 25.1 63.6 22.9 61.0 36.Perbedaan kepemilikan KMS menurut tingkat pendidikan sebesar 10.2 27.2 74.7 35.3 4.2 26.2 15.0 24.6 4.3 62.5 2.9 34. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut pekerjaan kepala keluarga.8 2 26.6 57.5 30.4 56.0 78.6 50.1 55.7 34.9 19.2 33.3 28.7 22.3 13.7 20.5 57.8 22.7 7.1 12.7 7.5 Indonesia 13.0%.1 44.6 17.1 82.2 18.6 * Catatan : 1 = Memiliki Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki Buku KIA.3 82.5 8.0 85.8 88. Pada Tabel 3.8 36.0 9.37 menunjukkan bahwa kepemilikan Buku KIA lebih rendah dari kepemilikan KMS yaitu sebesar 13.1 25.6 81.9 72.1 51.5 73.3 24.6 11.7 37.0 27. Tabel 3.1 25.3 17.2 7.2 17.4 65.5 21.7 42.4 73.8 9.1 32.1 5.4 21.1 33.1 43. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kepemilikan buku KIA* 1 11.1 5.5 25.5 60.3 41.2 29.6 7.9 16.1%.

8 66.1 61.7 26.5 62. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan buku KIA* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 23.3 Pekerjaan KK Tidak bekerja 14.0 61.8 Jenis kelamin Laki-laki 12.4 22.8 57.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (42.38 kepemilikan Buku KIA dirinci menurut karakteristik anak.3 22.8 * Catatan : 1 = Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Punya Buku KIA.4 23.8 25.3 29.1 64.9 26.5 20.7 Ibu rumah tangga 16.8 62. Tabel 3. rumah tangga dan tipe daerah.1 62.2 61.2 Tamat PT 13.3 Wiraswasta 13.5 24.0 36 – 47 8.7 24 – 35 11.9 23.9 60.4-23.2 Tamat SMA 12.Kepemilikan buku KIA tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (2. Tidak ada perbedaan kepemilikan Buku KIA menurut tipe daerah. pendidikan. Pada Tabel 3. tetapi tidak ada perbedaan menurut jenis kelamin.1 Kuintil 5 14.9 61.8 12 – 23 17.2 23.9 23. 79 .7 Tidak tamat SD 13.4 48 – 59 5.1 27.2 24.5 64.7 25.2 6 – 11 23. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya Buku KIA Cakupan Buku KIA yang tertinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan (23.3 22.9%).4 57.1 24.9 63.6 62.5 23.7%).9 63.8 62.1 24.2 65. dan tingkat pengeluaran per kapita.8 60.4 18.9 14.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 11.1 24.2 Perempuan 13.4 26.3 61.6 Kuintil 3 13.38 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden.3 Kuintil 2 13.8 26.7 Perdesaan 12.8 25.6 Tamat SD 13.1 62.0 Kuintil 4 13.9 58.2 23.6 62.5 67.1 Petani/nelayan/buruh 12.9 Tamat SMP 12.1 Tipe daerah Perkotaan 13.3 26.7 63.2 63.0 Pendidikan KK Tidak sekolah 12. pekerjaan kepala keluarga.4 Lainnya 14.7 PNS/POLRI/TNI 12.1 59.

3.3 84.59 bulan sebesar 71.3 Distribusi Kapsul Vitamin A Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus.4 69.7 79.9 79.39 Cakupan tersebut bervariasi antar 80 .000 IU) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.3 65.8 72.5 69.2.9 73.6 59.2 69. sejak anak berusia enam bulan.1 62.6 57.1 74.2 61.2 73.9 77.0 73.5 Secara keseluruhan cakupan distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6 .0 67.7 67.000 IU) untuk anak umur 12 – 59 bulan.9 Indonesia 71. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Menerima kapsul vitamin A 74.4 65.9 62.2 74.3 81.2 82.1 78.8 82.9 51. Kapsul merah (dosis 100.5% seperti terlihat dalam tabel 3.6 79.5 81.39 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi. Tabel 3.5 66.7 73.8 71.

8 71.0 75.5 70. nampak cakupan tertinggi pada kelompok umur 12-23 bulan (77.8 76.4 69.4 77.40 menunjukkan perbedaan cakupan distribusi kapsul vitamin A menurut karakteristik anak.5 69.40 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden. terlihat adanya hubungan positif dengan cakupan kapsul vitamin A.7 74.7 64. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Menerima kapsul vitamin A 66.4 77. Tabel 3. Sedangkan menurut jenis kelamin anak tidak nampak adanya perbedaan.2 66. Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut kelompok umur cukup bervariasi.7%).3 70.2 70.3 71. rumah tangga dan tipe daerah.provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (51.8 76.4 69.5 74.5 74.2 67. 81 .1 Tabel 3.4 71.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.7%).6 72.7 73.3 73. makin tinggi cakupan pemberian kapsul vitamin A. Bila dilihat menurut pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita. Cakupan lebih tinggi terdapat di perkotaan (74.5 71.9 70.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (69.3%).

8 75.0 15.3 52.6 59.0 10.4 62.1 35.9 78.5 6.1 61. pemeriksaan neonatus pada ibu yang mempunyai bayi.4 75.9 Indonesia 13.3 7.4 6.8 83.2 Normal 57.3.5 76.1 64.5 61.8 16.8 15.7 70.8 14.6 72.3 10.4 5.7 11.6 12.9 14.2 11.9 28.3 9.8 68.1 14.41 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi.0 71.8 11.0 71. Data tersebut dikumpulkan dengan mewawancarai ibu yang mempunyai bayi umur 0 – 11 bulan.7 7.8 72.1 13.5 47.1 19. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 18.1 69.1 20.3 18.0 19.2. Tabel 3.1 16.3 21.3 29.2 73.6 66. penimbangan bayi lahir.7 36.0 Besar 24.1 17.9 71.2 17.8 16.1 10.2 18.5 10.2 15.5 10. dan dikonfirmasi dengan catatan Buku KIA/KMS/catatan kelahiran.2 23.4 20.4 73.8 18.2 9. dikumpulkan data tentang pemeriksaan kehamilan.5 14.0 13.2 13.8 9.7 82.1 14.8 16.3 18. jenis pemeriksaan kehamilan.0 82 .8 55.4 12.2 11. ukuran bayi lahir.3 12.4 65.6 14.2 19.9 76.4 20.1 69.7 20.5 14.5 20.9 21.0 73.7 57.7 11.1 19.2 17.7 12.7 19.2 57.5 13.1 27.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dalam Riskesdas 2007.4 66.6 68.

6 13.0 25.1 19.4 66.7 Normal 66.1 14.8 14.6 14.Tabel 3.5%) dibandingkan persentase ibu yang mempunyai bayi laki-laki berukuran (12.1 67.9 21.5 17.1 19.5 20.2 Besar 21.4 69.0 22.4%). 66.7 67.0% mempunyai persepsi ukuran bayinya besar.1 14.9 12.2 19.3 65.6 66.2 11.5 13.2 18.0 65. Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu dapat dilihat pada Tabel 3.9 15.9 13. terendah di Maluku (5.2 19.5 18. bahwa ukuran bayinya kecil (14.1 11.0 14.9 24.3 19.3 10.5 20.5 67.4%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21.42.42 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik.0 23.6 67. Tabel 3. Sedangkan menurut tipe daerah.5 67.7 17.0%).7 66. Riskesdas 2007 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 12. Persentase ukuran bayi kecil bervariasi antar provinsi.5 11.5 61.9 15. nampak ada kecenderungan hubungan negatif persepsi yaitu semakin 83 .9 68.0 67. walaupun berat badan bayi lahir tidak diketahui.9 13.4% ibu yang mempunyai persepsi bahwa bayi yang dilahirkan berukuran kecil.6 65. Secara keseluruhan terdapat 13.2 Persentase persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan pekerjaan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita tidak tampak adanya pola kecenderungan.6 21. Namun bila persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga.0 65.0 20.4 20.5%) yang mempunyai persepsi bayi yang dilahirkan berukuran kecil dibanding di perkotaan (11.41 memperlihatkan persepsi ibu tentang ukuran bayi saat dilahirkan.4 64.4 67.7 7.4 14. Pada tabel tersebut terlihat bahwa lebih banyak persentase ibu yang mempunyai bayi perempuan menyatakan.5 64.2 13.3 20. lebih banyak ibu di perdesaan (14.0 68.5% mempunyai persepsi ukuran bayi normal dan 20.8%).6 12.

6 80.5 7.5 9.5 87.9 84.3 5.0 7.5 11.3 16.0 10.8 7.3 Secara keseluruhan. Hanya sebagian bayi yang mempunyai catatan berat badan lahir.3 7.3 23. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 11.2 11.41).7 5.9 83.5 19.5 8.8 88.1 78.6 7.4 11.7 6.9 15.43.6 78.5 6.7 14.0 80.0 83.1 75.43 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.4 80.2 21. semakin kecil persentase ibu yang menyatakan ukuran bayi yang dilahirkan kecil.2 3.4% (Tabel 3.6 16.5 5. 84 .3 5.6 7.3 83.1 8. Berat badan lahir dari hasil penimbangan dapat dilihat pada Tabel 3.7 0.6 4.0 84. Proporsi ini sebanding dengan persentase ibu yang mempunyai persepsi bahwa ukuran bayi pada saat lahir kecil yaitu sebesar 13.2 15. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.1 74.9 10.2 7.8 14.1 77.8 5.2 Indonesia 11.8 >= 4000 5.9 10.2 17.5 74.2 12.9 5.4 10.4 67.8 82.5%.5 4.8 27.8 2.0 3.7 69.8 2.9 86.7 9.8 82. Tabel 3.3 84.7 83.3 77.2 71.3 13.6 11.5 75.1 85.5 8.5 82.1 8.8 20.7 2.4 80.8 3.5 8.8 9.4 3.8 12.6 83.5 8.5 8.4 7.7 10.6 9.9 84.2 6.5 85.7 88.0 2500-3999 82.tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.0 4.6 8.7 9.

6%).2 80.1 10.2 5.6 5.5 83.3 10.1 80. Riau (7. Diidentifikasi ada 8 jenis pemeriksaan kehamilan yaitu : a. Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5.2 80.5 6.2 5. pemeriksan tinggi fundus 85 .8 7. Pada Tabel 3. Menurut karakteristik rumah tangga.6 13.0%) dibanding laki-laki (10. Jambi (7.4 5.5%).9%).0 81.0 83.4 8.8 12.7 11.6 14.8%).5 84.8%).4 81.7 11. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12. Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 10.Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.44 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.7 83.0 11.8 17. Sumatera Selatan (19.0 7.6 6. dan Kalimantan Barat (16.2 6.0 10.8 8.6%).9 78.9 6.0 11.0%). dan Sulawesi Utara (7.0 12.6 85. c.5%).6 >= 4000 7.1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8.5 5. Sulawesi Barat (7.9 11.2%) dibanding di perkotaan (10. pemeriksaan tekanan darah.7 81.1 5. proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17. b.0 13.7%).1 83. Papua Barat (23.2 80.8%).6 5.0%).3 5.1 8.5 80.2%).9 Untuk mendapatkan informasi tentang riwayat pemeriksaan kehamilan ibu untuk bayi yang lahir dalam 12 bulan terakhir.3 75.3 6.1 9.1 85.8 86.2 13.7 13.5 2500-3999 82.4 8.8 12. pengukuran tinggi badan.3 5.2 7.3 79.3 6.7 81. ibu ditanya tentang jenis pemeriksaan kehamilan apa saja yang pernah diterima. Tabel 3.44 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13. NTT (20.3%).

4 79. e.9 90.2 81.8 92. pemberian tablet Fe.0 67.2 83. Riwayat pemeriksaan kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi terdapat pada Tabel 3.1 90.4 93. Pemeriksaan hemoglobin.3 87.1%). penimbangan berat badan.45 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Periksa hamil 72. Cakupan pemeriksaan kehamilan terendah di Provinsi Papua (67.1 74.1 94.2 97.2 91.5 80.7 75. Tabel 3.5% ibu memeriksakan kehamilan.0 Indonesia 84. d.(perut).9 71.3 71.8 92.4 69.3 90.6 84. pemeriksaan urin. pemberian imunisasi TT.5 86 .6 90.5 77.6 97.5 84.1 95. g. f.1 95.9 85.0%) dan tertinggi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta (97.45 yang memperlihatkan secara keseluruhan 84.9 95. dan h.9 95.4 87.8 89.

1 78. Cakupan periksa kehamilan tertinggi terdapat pada kelompok keluarga dengan perkerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri (92.2 89.6 79.7 83.6 90. Variasi tiap jenis pemeriksaan menurut provinsi dapat dilihat lebih lanjut di Tabel 3. semakin tinggi pula cakupan pemeriksaan kehamilan.1 78.8%) dan pemeriksaan urine (36.47 menunjukkan delapan jenis pemeriksaan (seperti yang diuraikan sebelumnya) yang dilakukan pada ibu hamil.3 Terdapat kecenderungan hubungan positif antara cakupan pemeriksaan ibu hamil dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan pengeluaran per kapita. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33. Semakin tinggi pendidikan kepala keluarga atau semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.1%) dibanding di perdesaan (78. Secara keseluruhan pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97.2 94.5 85.9%) dan terendah pada kelompok keluarga petani/nelayan/ buruh (78. Tabel 3. Tabel 3.46).46 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden.1 75.1%).4 86.2%).8%).47. 87 . Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Periksa hamil 94.9 92.5 81.3 89.Menurut karakteristik rumah tangga dan tipe daerah (Tabel 3.4 79.1%) dan penimbangan berat badan ibu (94.4 86. tampak bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan (94.2 82.9 90.4%).9 87.

4 95.2 90.6 93.5 56.2 94.3 91.0 36.3 35.0 38.6 34.4 73.48 Secara umum terlihat dalam tabel tersebut bahwa cakupan tiap jenis pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan.9 93.7 98.1 19.5 95.1 100.5 15.5 94.5 86.6 24.9 47.8 49.3 95.5 79.5 e 86.7 38.4 92.9 90.9 77.8 c 92.8 36.9 97.7 97.6 23.9 100.9 62.7 28.2 95.Tabel 3.0 61.3 97.8 52.5 94.2 92.1 95.4 69.2 88.0 96.2 84.5 93.1 33.6 93.7 86.3 96.4 95.7 94.9 39.0 26.2 94.7 95.9 97.0 85.8 89.5 96.5 89.5 30.0 98.9 98.2 47.1 91.3 98.8 95.3 87.1 h 40.1 65.9 96.9 82.2 77.2 86.3 94.6 g 38.0 97.7 13.2 91.7 99.4 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Jenis pemeriksaan menurut tipe daerah dan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 3.5 97.5 95.6 56.3 88.2 90.6 45.4 93.6 34.5 97.1 95.4 81.5 87.2 42.6 83.2 66.2 19.1 79.3 91.5 24.2 93.3 42.5 86.6 98.4 95.8 56.5 32.3 94.7 98.7 37.2 27.2 57.2 39.7 89.1 90.2 34.5 43.7 88.3 62.8 26.4 95.1 96.1 96.47 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.4 91.6 25.8 98.5 94.1 81.9 89.1 27.4 56.1 88.5 95.0 35.7 91.3 64.1 89.8 95.3 29.0 37.2 91.4 79.3 92.3 96.3 82.5 85.3 75.8 33.2 95.2 95.3 95.5 42.4 97.7 47.8 99.0 97.6 100.3 91.9 41.9 91.2 45.5 42.8 52.9 92.9 98.4 25.5 32.8 94.9 87.2 f 92.8 38.1 51.9 68.9 96.5 86.5 85.2 91.0 38.8 97.3 94.8 57.5 97.7 66.4 22.1 97.7 86.4 76.7 75.1 85.5 96.9 97.6 41.3 95.1 30.2 71.3 98.3 59.9 98.1 96.7 87.3 95.0 96.8 78.2 80.0 96.0 91.8 83.7 b 97.8 95.2 88.4 95.9 Indonesia 58.0 54.7 86.3 88.0 26.8 98.7 25.3 67.6 97.3 84.7 97.6 95.8 75.6 98.5 89.2 63.4 47.7 38.0 96.1 48.4 94.2 88.5 94.5 45.1 96.1 85.8 97.5 84.2 22.7 95.1 92.9 95.5 83.0 41.7 17.7 83. Terdapat kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dan tiap jenis pemeriksaan 88 .7 57.4 48.9 98.5 90.2 d 89.1 85.8 66.5 92.5 42.1 98.9 44.0 46.3 97.9 65.8 52.0 85.0 97.3 14.1 91.8 87.3 97. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jenis pelayanan* a 55.

6 58. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe Jenis pelayanan* a 63.6 85.6 37. Demikian juga ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pengeluaran rumah tangga dengan pengukuran tinggi badan.1 98.6 63.0 96.9 56.5 93. Secara keseluruhan 61.9 90.1 87.1 40.4 87.1 96.8 49.9 97.8 56.3 85.9 88.8 36.5 92.0 97.6 85.7 92.8 94.7 93.8 55.1 97.0 40.4 86. 35.3% ibu menerima 3 – 5 jenis pemeriksaan kehamilan.3 91.7 39.1%).0 85.3 97.7 57.2 98.1 89. Tabel 3. Namun sebaliknya tidak terdapat pola kecenderungan cakupan untuk tiap jenis pemeriksaan kehamilan dengan pekerjaan kepala keluarga.4 88.2 97.9 48.5 61.0 29.5 89.9 96.0 98.1 32.6 87.7 92.2 86.4 91.2 88.4 38.9 86.1 41.5 86.2 32.8 94.0 97.5 91.8 28.2 89.4 96.3 29.9 89. dan hanya 2.5 36.0 92.6 g 43.5 92.7 41.1 88.0 35.6 97.3 85.8 25.6 33.4 96.1 25.9 95.6 54.8 56. pemeriksaan hemoglobin dan urine.4 99.2 h 46.2 43.9 e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Semakin banyak jenis pemeriksaan kehamilan yang diterima ibu hamil semakin lengkap pemeriksaan kehamilan yang diterima (Tabel 3.4 90.1 93.6 87.8 jenis) persentase terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara (41. Ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan relatif lengkap (6 .0 93.1 38.6 38.5 95.6 95.6 d 93.4 37.3 87.7 91.7 48.8 90.9 92.8% yang hanya menerima 1-2 jenis pemeriksaan selama kehamilan.8 e 87.3 84.1 39.3 f 97.1 b 98.1 31.8 62.8 91.kehamilan terutama pada pemeriksaan hemoglobin dan urine.7 35.0 85.8 27.4 92.8 32.4 57.7 84.0 32.2 97.8 83.4 85.7 96.2 30.2 88.0 96.6 c 89.9 91.1 37.6 91.8 28.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (83.9 60.0 90.1 92.0 87.48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden.7 97.9 87.2 94.49).0 59.1 55.3 94.6 87.0 98.0 68.0 94.7 88.3 59.8% ibu yang menerima 6-8 jenis pemeriksaan selama kehamilan.4 97.5 30.4 90.5 63.9 94.8 95.2 45.0 94.4 58.5 93. 89 .

4 28.0 2.6 56.8 39.4 31.7 68.0 55.3 79.0 21.0 2.8 4.8 2.50 menunjukkan kelengkapan pemeriksaan kehamilan menurut karakteristik daerah dan rumah tangga.3 61.2 28.3 28.8 0.1 41.8 29.6 24.0 1.5 3.6 35.3 3.3 1.8 46.1 71.6 75.6 68.9 62.2 0.1 67.2 7.5 6-8 jenis 62.5 38.9 33.1 2.7 63.1 28.5 60.2 48.0 59.7 2.7%).9 26.2 39.4 48.1 48.8 Indonesia 2.0 1.7 24.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3-5 jenis 34.3 58.2 3.0 2.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.5 2.0 37.8 38.6 66.8 77.5 78. Riskesdas 2007 Pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3.0 58.3 20.6 20.8 33.9 31.0 76.6 2.7 60.9 0.2 39.0 68.5 4.0 3.7 16.5 83.6 3.8 1.8 Tabel 3.8 69.2 1.4 2.8 61.4%) dibanding dengan di perdesaan (55.0 0. Persentase pemeriksaan kehamilan yang lebih lengkap lebih banyak di perkotaan (69.0 45. 90 .3 61.8 35.9 58.3 0.3 4.0 5.2 2.1 56.Tabel 3.0 60.9 5.1 39.9 37.4 2.8 50.2 76.4 20.3 21.5 37.3 75.

7 1.8 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 3-5 jenis 28.2 4.4 73.3 60.7 54.7 39.3 4. Riskesdas 2007 Skor jenis pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 1.2 58.0 25.9%).5 40.1 35.8 3.4 2.7 64.8 38. Tabel 3.5 28.8 35.4 55.6 57.6 1.4 55.8%).8 2.6% neonatus umur 0-7 hari dan 33.6 64.8 38.6 67.6 43.6 3. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Kalimantan Barat (19. 91 .5 63.8 40. Pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari terendah di Papua (27.2 29.3 34.6 62.7 31.0 2.8 35.Kelengkapan pemeriksaan kehamilan berhubungan secara positif tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 31.7 34.9 67.0 Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.9 3.5% neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.7 3.3 61.51 terlihat bahwa secara keseluruhan 57.5 30.4 1.1 2.2 58.9 3. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita semakin besar persentase ibu yang mendapatkan pemeriksaan kehamilan lebih lengkap.50 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.5 61.6 0.8%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.3 3.2%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (81.1 2.2 69.5 2.1 67.1 33.2 6-8 jenis 69. Dalam Tabel 3.

8 27.4 69.8 39.5 66.7 65.2 62.Tabel 3.7 49.3 64.8 Indonesia 57. Menurut tipe daerah di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan.3 44.0 42.2 50.7 49.0 53.2 22.4 45.7 26.9 39.2 28.5 58.1 58.5 23.1 25.8 21.6 81.7 44.6 37.1 58.4 54.8 63.1 28.1 29.9 43.9 54.0 26.7 47.52 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.9 41.2 66.8 35.6 33.3 45.0 32.3 29.6 68. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala 92 .7 50.0 41.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Umur 8-28 hari 36.1 64.9 55.5 63.6 30.4 28.0 62.9 34.5 35.9 33.2 27.4 30. tipe daerah dan rumah tangga.0 25.6 31.5 35.2 66.1 39.51 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi. Riskesdas 2007 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 56.1 19.2 59.9 70.8 42.5 Tabel 3.

khusus pada lima provinsi. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 65.1 60. RB/RBIA/Klinik.9 37.2 59. Maluku Utara. Tabel 3.5 30. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.4 65.3 46. Riskesdas mengumpulkan data tentang tempat melahirkan. Maluku.5 42. Tabel 3.5 37.4 50.52 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Karakteristik Responden.0 60. rumah.1%) dan terkecil di Papua (65.7 51.2 37.0 69.5 63.5 52. RS Swasta.0 31.2 46. Polindes/Poskesdes.0 37.53 menunjukkan pada umumnya di lima provinsi sebagian besar ibu (di atas 60%) melahirkan bayinya di rumah. Papua Barat.9 Selain penjelasan tersebut di atas.9 64.3 57. 93 .7 52.3 33.8 63. Persentase terbesar ibu yang melahirkan di rumah adalah di Maluku (85.4%). dan Papua.2 33.0 59. dan penolong persalinan.8 41.9 27.3 54.0 58.keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita. dan lainnya.58 memberikan gambaran tentang informasi tersebut.2 28. Tempat persalinan dikelompokkan menjadi 7 yaitu: RS Pemerintah.8 65.5 62. Tabel 3. Puskesmas/Pustu.7 29. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.2 28.7 32.8 24.8 55.4 36.53 sampai dengan Tabel 3.7 40. jumlah pemeriksaan kehamilan.6 33. yaitu Nusa Tenggara Timur.1 Umur 8-28 hari 41.

53 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi.55 menunjukkan jumlah pemeriksaan selama kehamilian trimester-1.2 1. sedangkan pada trimester-2 berkisar antara 15. Selama trimester-1 ibu yang tidak pernah melakukan pemeriksaan di lima provinsi berkisar antara 25.5 0.5 Papua 18. Di Nusa Tenggara Timur. Di perkotaan.2% . dan trimester seluruhnya.7 0.7%.5% .37. Persentase ibu yang melahirkan di RS Pemerrintah paling banyak kelompok RT dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI. Sedangkan di perdesaan.5 3.0 4. polindes/ Poskesdes 6. RS swasta c.1 85.5 1.1 0. Sebaliknya tampak ada hubungan negatif antara tempat ibu yang melahirkan di rumah dengan pendidikan KK maupun tingkat pengeluaran per kapita. Terlihat dalam tabel tersebut adanya variasi persentase antar provinsi untuk masing-masing jenis penolong. bidan.9 2.7% ibu yang periksa hamil empat kali atau lebih. Puskesmas/Pustu.9% -50.1 82.6 0.9 4. Tabel 3. cakupan pemeriksaan kehamilan yang memadai untuk masingmasing trimester dan ketiga trimester menunjukkan lebih banyak ibu periksa kehamilan di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. Pada trimester-3 sebanyak 24.5 71. ibu lebih banyak melahirkan di RS Pemerintah. Terlihat kecenderungan hubungan positif antara jumlah pemeriksaan kehamilan yang memadai di tiap trimester dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun pengeluaran per kapita. dan Maluku Utara penolong persalinan yang dominan adalah dukun bersalin dibanding dengan provinsi 94 .50.0 Nusa Tenggara Timur 6. minimal i kali pada trimester II dan minimal 2 kali pada trimester III.0 Maluku Utara 7. nampak tidak banyak perbedaan. Selama kehamilan jumlah minimal pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali yaitu minimal 1 kali pada trimestes I. dan lainnya. Riskesdas 2007 Provinsi Tempat melahirkan a b 2. ibu lebih banyak melahirkan di rumah dan di Polindes/Poskesdes. Terdapat hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita dengan RS Pemerintah sebagai tempat ibu melahirkan.7 Papua Barat 14.8%.5% telah melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali seperti yang dianjurkan. Ternyata baru 30. Menurut tipe daerah.9 Maluku 7.6 0.9 4. Puskesmas/Pustu d. Terlihat adanya variasi pemeriksaan kehamilan antar provinsi.0 1.4% . tenaga kesehatan lain.5 7.1 5. trimester-3. famili/keluarga.2 c d e 3.56 menunjukkan penolong persalinan pertama dan terakhir pada ibu yang mempunyai balita. Pada Tabel 3. Penolong persalinan dikelompokkan menjadi 6 (enam) yaitu: dokter. dukun bersalin. sedangkan menurut anjuran selama trimester-1 dan trimester-2 minimal periksa kehamilian satu kali. RS Swasta.2 3. trimester-2.Tabel 3. Namun bila dibandingkan antara persentase penolong persalinan pertama dan penolong persalinan terakhir untuk masing-masing jenis penolong.2 3.8 1.54 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang besar tempat melahirkan di lima provinsi tersebut menurut tipe daerah.9 2.34. RB/RBIA/Klinik dibanding di perdesaan.4 g 0.2 65.8 2. Maluku. Hal ini menunjukkan penolong persalinan pertama umumnya sama dengan penolong terakhir.0 0.4 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya Pada Tabel 3.0 f 77.0 Keterangan: a: RS Pemerintah b.

3 0.2 Tamat PT 35.2 2.0 Lainnya 16.9 91.3 9.5 0.5 4.3 76.6 2.3 Ibu rumah tangga 18.7 3.8 60.3 4.7 1.1 Pekerjaan KK Tidak bekerja 12.4 1.4 6.7 2.2 6.9%).0 2.1 5.6 2.7% dan 45.2 70.2 1.6 7.7 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 95 .2 Tamat SMA 19.0 Tidak tamat SD 3.7 f 43. Bila penolong persalinan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran per kapita nampak adanya pola yang jelas.3 7.5 5. Namun kurang nampak adanya pola kecenderungan menurut tingkat pendidikan KK.2 85.3 PNS/POLRI/TNI 30.2 1.8 84.8 Tempat melahirkan c 6.4 2. Sebaliknya semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun dan famili/keluarga.7 Tamat SD 4. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a b 8. nampak ada pola kecenderungan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin sedikit persalinan yang ditolong famili/keluarga.3 3.7 Keterangan: a: RS Pemerintah b. sedangkan di Papua yang dominan dua penolong persalinan yaitu bidan dan famili/keluarga. Sedangkan di perdesaan yang dominan baik untuk penolong persalinan pertama maupun terakhir adalah dukun bersalin (masing-masing 43.5 2.6 g 1.7 7.4 1.6 Wiraswasta 21.3 1.5 1.0 4.1 1.8 0.2 1.9 0.3 Tamat SMP 9.3 Kuintil-5 20.1 1.8 0.2 Pendidikan KK Tidak sekolah 2.2 4.4 56. Tabel 3.7 Kuintil-4 12.1 e 8.6 35.4 1.Papua Barat da Papua.0 2.1 6.1 6.8 0.8 1.6 7.5 1.6 0.7 42.5 d 2.1 77.3 55.2 1.9 6.9 1.5 2.0 8.0 1.9 84. Di Papua Barat yang dominan adalah bidan.5 83. Puskesmas/Pustu d: Polindes/ Poskesdes 4.2 4.7 Perdesaan 4.0 2.1 8.9 4. Persentase penolong persalinan oleh bidan dan dukun baik sebagai penolong pertama maupun terakhir lebih besar bila dibanding dengan tenaga penolong jenis lain.4 6.4 2.8 11.5 4.7 3.9 Petani/ buruh/ nelayan 3. RS swasta c.3 4.54 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.0 0.1 Kuintil-3 8. yaitu semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin banyak persalinan yang ditolong oleh dokter dan bidan.1 59.8 0.4 2.0 1.2 86.5 2.6 2.1 6. Untuk penolong persalinan oleh famili/keluarga.3% dan 61.6 3.4 1.4 2.1 5.0 7.3 .3 Kuintil-2 5.6 2.6 2.6 0.7%.0 1.6 5.5 3.57 di lima provinsi terlihat bahwa penolong persalinan baik untuk penolong persalingn pertama maupun terakhir yang dominan di perkotaan adalah bidan (masingmasing 60. Pada tabel 3.0 0.4 4.2 2.1 71.5 4.4 0.7 Tipe daerah Perkotaan 29.2 85.2 6.7 2.9 Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 5.9 68.

4 17.1 65.3 50.1 42.8 49.9 20.4 32.6 19.6 24.1 46.8 32.3 25.9 30.0 22.3 23.9 30.4 36.4 21.7 8.4 5.8 38.8 44.3 36.7 38.7 33.8 39.6 20.7 63.3 40.9 25.0 34.5 13.2 56.4 32.3 42.7 37.3 18.9 25.5 30.8 33.6 11.3 26. Riskesdas 2007 Provinsi/Karakteristik Responden Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 25.9 26.5 38.8 23.3 43.7 21.1 38.2 17.2 11.2 32.3 61.1 32.8 55.7 29.6 26.6 24.9 40.7 55.3 17.9 6.2 21.2 28.6 49.2 32.7 20.1 13.5 10.1 3.5 34.2 51.5 9.9 34.7 45.0 54.1 25.7 33.2 43.8 9.5 41.5 21.1 37.5 23.0 18.9 22.8 19.0 31.9 33.3 29.9 26.0 15.3 36.1 45.5 11.6 26.9 15.1 66.8 21.4 37.1 28.6 26.2 20.0 16.6 46.1 21.8 51.0 16.2 63.0 24.7 39.3 28.2 19.4 28.3 33.5 6.1 15.2 29.9 23.3 21.5 15.6 29.8 30.8 17.4 7.5 61.7 61.6 20.3 12.2 22.1 56.3 17.7 47.6 23.2 53.5 21.3 23.3 25.1 29.1 37.5 55.8 30.1 23.5 36.5 49.2 48.6 20.3 28.8 24.7 42.6 28.2 21.8 28.1 22.8 28.6 59.3 12.0 22.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.7 22.0 33.6 42.5 23.2 25.9 34.8 36.5 22.8 36.0 29.5 29.7 19.2 18.8 35.0 62.5 38.4 58.9 17.9 33.3 71.7 24.6 52.9 29.8 31.3 29.7 13.8 21.8 48.6 20.8 24.3 40.9 16.1 23.6 43.8 42.9 15.1 38.6 50.4 22.4 34.5 15.5 40.1 34.0 22.1 32.3 29.0 35.5 8.7 15.3 53.7 41.9 16.7 14.6 24.9 28.3 34.5 27.9 22.4 19.6 21.6 26.6 30.3 22.2 50.8 32.3 43.2 32.2 23.7 14.4 18.4 16.1 37.7 35.8 20.Tabel 3.0 15.8 34.1 Trimester-1 Tidak 1 kali > 1 kali Trimester-2 Tidak 1 kali > 1 kali Tidak Trimester-3 1 kali 2 kali > 2 kali Trimester 123 Tidak 1-3 kali > 4 kali 96 .3 23.1 50.9 64.6 25.1 15.2 29.3 36.7 47.0 38.9 39.4 20.5 32.5 21.1 26.7 26.1 40.9 41.9 25.0 4.4 26.0 18.6 39.6 16.2 12.3 37.4 49.9 15.1 20.0 35.2 19.5 44.5 39.8 30.2 21.4 25.4 73.2 41.0 34.6 18.6 39.1 23.2 36.0 50.5 46.2 13.0 29.7 36.3 20.0 31.0 26.5 42.7 18.0 21.8 29.7 51.7 41.4 8.3 33.2 17.1 49.8 38.7 20.2 25.8 28.9 23.8 39.2 30.0 33.6 43.2 15.0 33.9 31.0 72.3 37.7 26.9 10.9 20.4 28.

7 3.2 40.7 1.8 31.4 12.2 a 3.7 e 11.8 7.6 0.2 0.2 36.9 1.Tabel 3.4 3.3 50.56 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi.7 1.3 35.4 14.9 4.6 10.1 e 12.5 b 36.0 34.6 1.3 c 1.2 9.1 a: Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 97 .6 2.5 39.2 0.4 4.1 19.7 2.3 0.0 d 46.5 0.7 47. Riskesdas 2007 Penolong persalinan pertama a 4.9 32.5 0.7 1.6 6.0 f 0.0 56.3 Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keterangan: Penolong persalinan terakhir f 0.6 3.8 c 1.1 2.5 1.4 3.6 3.2 56.8 d 43.4 51.9 5.6 22.1 35.1 20.9 0.2 b 38.9 55.7 21.

7 32.1 7.9 Kuintil-4 6.5 38.9 43.2 0.1 11.0 15.1 1.9 1.5 3.6 37.6 1.1 2.6 1.1 23.3 51.6 4.1 20.3 10.6 a 13.3 0.2 0.2 65.8 43.9 35.4 e 4.5 d 18.4 1.3 31.1 47.8 18.8 1.5 3.2 1.3 1.2 10.6 d 19.4 1.5 Tamat SMA 10.6 18.9 36.0 63.7 43.4 18.2 PNS/POLRI/TNI 16.2 4.9 10.0 16.6 2.7 1.8 1.6 1.9 1.6 2.0 6.4 44.0 23.4 2.6 1.6 1.6 2.5 Petani/ buruh/ nelayan 2.1 1.5 12.57 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.4 2.9 38.8 37.9 2. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Penolong persalinan pertama a b 60.1 34.7 1.1 2.2 24.3 0.6 27.9 16.0 55.9 Kuintil-2 2.3 57.2 1.0 30.7 2.4 19.1 25.9 8.3 65.3 1.2 41.5 c 1.3 17.8 9.6 1.2 1.5 15.1 48.5 1.0 0.4 Tamat SMP 4.0 1.7 0.8 13.7 15.5 0.6 1.8 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 2.8 46.0 1.9 51.0 16.6 28.6 13.8 45.3 12.9 6.9 5.2 c 0.1 8.9 7.3 0.0 Pekerjaan KK Tidak bekerja 4.7 1.6 1.6 10.6 1.1 4.9 40.2 1.0 2.9 b 61.2 28.5 Penolong persalinan terakhir f 0.4 11.0 37.4 2.9 1.2 5.9 21.8 49.6 62.7 1.8 3.9 21.7 2.5 63.8 30.3 2.2 6.2 38.7 2.9 29.7 7.9 42.2 13.7 12.2 14.2 39.9 Kuintil-3 4.9 1.6 22.1 41.6 15.6 2.1 2.2 0.6 1.0 Tamat SD 2.2 37.7 18.3 48.8 17.3 Perdesaan 2.3 17.1 35.5 0.8 Tidak tamat SD 2.7 Pendidikan KK Tidak sekolah 1.3 Ibu rumah tangga 5.4 1.9 51.8 53.9 Wiraswasta 9.9 32.7 0.0 52.4 1.4 35.5 42.7 37.7 45.0 9.4 Kuintil-5 10.8 2.7 e 4.9 60.9 17.5 46.9 30.2 1.5 1.1 Lainnya 6.8 1.9 29.2 13.7 Keterangan: a : Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 98 .9 3.3 34.0 4.0 1.2 Tamat PT 20.0 15.9 1.6 1.9 f 0.7 44.6 5.Tabel 3.6 8.2 18.4 16.6 1.4 Tipe daerah Perkotaan 14.3 27.3 1.7 0.1 31.0 1.3 1.7 50.2 2.

hepatitis. Penyakit ini bersifat musiman yaitu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) hidup di genangan air bersih. 99 . Untuk responden yang menyatakan “pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” ditanyakan apakah mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas. dan diare. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB. Jadi prevalensi penyakit merupakan data yang didapat dari D maupun G (DG). dan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. pembengkakan payudara dan pembengkakan tungkai bawah atau atas. sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah penyakit tifoid. berkeringat. dinilai proporsi kasus diare yang mendapat pengobatan oralit (O). berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. demam berdarah dengue (DBD). sakit kepala/pusing disertai nyeri di ulu hati/perut kiri atas. dan malaria. kaki/tangan dingin. Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gejala klinis kronis dan kecacatan. kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan atau mimisan. panas naik turun secara berkala.3 Penyakit Menular Penyakit menular yang diteliti pada Riskesdas 2007 terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vektor. laten atau kronis. tanpa konfirmasi pemeriksaan laboratorium. dan tidak sedikit menyebabkan kematian. Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor adalah filariasis. Data yang diperoleh hanya merupakan prevalensi penyakit secara klinis dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner baku (RKD07. 3. sedangkan prevalensi penyakit kronis dan musiman ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir (lihat kuesioner RKD07. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis filariasis oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan gejala-gejala sebagai berikut: adanya radang pada kelenjar di pangkal paha. Kepada responden ditanyakan apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan (D: diagnosis). pembengkakan alat kelamin. selain prevalensi penyakit juga dinilai proporsi kasus malaria yang mendapat pengobatan dengan obat antimalaria program dalam 24 jam menderita sakit (O). Khusus malaria. serta dapat mengakibatkan kematian. Prevalensi penyakit akut dan penyakit yang sering dijumpai ditanyakan dalam kurun waktu satu bulan terakhir.3. lemas. mual dan muntah.3. Penyakit ini dapat bersifat akut. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” dalam satu bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin).IND). pneumonia dan campak. penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur. dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma. Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global.IND: Blok X no B01-22). Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi tular vektor yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB).1 Prevalensi Filariasis. ditanyakan lagi apakah pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut (G). Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat antimalaria. Demikian pula diare. Demam Berdarah Dengue dan Malaria Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis DBD oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita demam/panas.

0%). Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Kepulauan Riau.9%).2% . Nusa Tenggara Barat. Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (<35%) terdapat di provinsi di Jawa. Nusa Tenggara Barat. sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria. Kalimantan Timur. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Bengkulu.Tabel 3.3‰ .1%). Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali. Sulawesi Tengah. Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47.0%). Kalimantan Selatan.6% (rentang: 0. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi (DG) filariasis melebihi angka prevalensi nasional.8%). 100 .4%) dan NTT (12. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD. Papua (2. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (<10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Kalimantan Timur.5%.5‰).1%). Bangka Belitung. Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat serta NAD (1. Kep Riau. yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (6.4‰).3‰ .5%).1%). Papua Barat (4. Papua Barat (2. Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Papua.6‰). Dalam kurun waktu satu bulan terakhir. dan Sulawesi Barat (0. Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤0. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur (2.2. dan Gorontalo (1. Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam. Sedangkan di beberapa provinsi sebagian besar hanya berdasarkan gejala klinis yaitu Bengkulu. Papua. Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26.7%.26. Kepulauan Riau (1. yaitu Nusa Tenggara Timur (2. sebagian besar berada di Indonesia Timur. Sulawesi Tenggara. Bengkulu dan DKI Jakarta (1.9‰). Jambi.2%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional.4‰). Sumatera Selatan. dan Jawa Timur kasus DBD klinis lebih banyak didapatkan berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Hal ini disebabkan gejala klinis DBD menyerupai penyakit infeksi virus lainnya.2‰). Riau dan Sulawesi Barat. Pada 12 provinsi didapatkan prevalensi DBD klinis lebih tinggi dari angka nasional.4‰).9% (rentang: 0. Kalimantan Barat. dan Papua). Di Provinsi DKI Jakarta.0%). Papua (18. DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1.5‰). menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir filariasis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi klinis sebesar 1. prevalensi malaria klinis nasional adalah 2.6. dan Bengkulu.7%).58. hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit.5%). Papua Barat. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Di NTT. Jawa Tengah. Di 11 provinsi. Sulawesi Tenggara (1. Kep Riau. Kalimantan Timur. DI Yogyakarta. Papua Barat. Kalimantan Barat. kasus DBD klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi (DG) 0. Banten.1 ‰ (rentang : 0. Papua (0. walaupun kasus malaria klinis tinggi. Bangka Belitung. Riau dan Maluku Utara (0. Bengkulu.

03 0.73 1.23 0.86 2.12 0.00 0.10 0.51 0.30 0.09 0.77 26.31 3.87 2.10 39.02 6.03 0.41 0.13 0.04 3.23 26.50 0.16 0.70 0.15 0.85 47.81 0.07 0.78 53.27 5.05 0.27 0.23 1.75 12.14 0.35 0.39 2.88 0.12 0.14 0.64 0.45 0.82 1.29 1.78 0.18 0.18 0.08 48.42 0.79 0.15 0.06 0.10 0.03 0.42 7.21 0.24 0.Tabel 3.07 0.87 3.46 0.44 24.33 43.78 23.01 0.15 0.04 0.00 34.66 49.10 0.16 0.42 0.09 0.89 1.46 23.08 0.01 0.52 0.07 0.20 0.29 D 1.14 1.53 36.03 0.21 0.30 0.60 0.83 28.10 41.09 DG 3.73 1.90 49.07 0.10 0.62 36.17 0.03 0.06 0.16 0.22 0.03 0.32 0.41 0.58 0.08 0.05 Malaria DG 1.18 0.42 1.19 0.03 3.11 0.02 0.04 0.03 0.01 0.37 47.34 44.04 0.36 39.03 20.38 1.12 0.01 4.06 0.88 0.00 0.45 0.10 2.09 0.32 0.10 0.04 0.04 0.33 0.10 2.58 0.52 Indonesia 0.14 18.58 Prevalensi Filariasis.63 7.41 27.05 0.67 2.03 0.09 0.05 0.07 0.57 46. Riskesdas 2007 Provinsi Filariasis D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.22 5.43 0.41 42.09 0.84 0.30 0.04 0.29 0.37 2.11 0.32 0.03 0.41 O 36.25 0.85 1.37 1.14 DBD D 0.65 12.08 0.09 0.06 0.21 0.86 1.37 1.10 0.69 60.26 3.26 0.07 0.02 0.93 DG 0.12 0.36 1.08 0.04 0.04 0.08 0.41 0.05 0.68 101 .31 1.25 0.01 0.31 15.77 2.16 2.33 0.43 0.55 42.07 0.06 0.05 0.32 64.65 2.04 0.27 59.12 7.26 0.06 7.57 43.54 0.67 58.33 65.04 0.02 0. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.43 0.09 0.35 51.96 0.07 0.55 0.59 0.06 0.09 0.41 1.06 0.66 2.07 0.62 1.04 0.15 0. Demam Berdarah Dengue.02 0.11 0.45 2.02 0.27 0.51 0.45 0.99 30.09 1.16 0.28 43.03 0.

57 1.89 46.24 0.10 >75 0.59 1. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Filariasis D DG 0.64 2.17 0.12 0.10 1. Demam Berdarah Dengue.87 43.06 35-44 0.20 0.74 0.10 0.31 1.61 0.63 0.85 46.54 3. tidak bekerja dan petani/nelayan/buruh.66 0.47 47.13 2.06 55-64 0.66 2.48 1.23 57.69 2.52 O 57.04 45-54 0.68 0.56 0.15 0.09 0.14 0.68 0.16 0.06 Tamat SD 0.56 0.38 39.13 54.11 0.10 0.12 0.59 0.72 46.53 1.01 1-4 0. Tabel 3. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.19 1.36 1.17 0.05 Perempuan 0.10 0.05 Ibu RT 0.43 1.61 0.05 2.05 Tamat SMP 0.04 Tamat SMA 0.62 0.03 47.Tabel 3.07 0.57 1.19 42.19 46.09 0.31 1.37 1.84 49.65 0.04 2.35 1.92 51.75 1.66 D 0.14 0.16 0.28 1.22 1.14 1.20 3. dan tidak ada perbedaan prevalensi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita.39 44.64 0.63 0.65 48.05 Kuintil 2 0.83 2.06 Pendidikan Tidak sekolah 0. tidak ada perbedaan prevalensi antara laki-laki dan perempuan.09 DBD D 0.25 0.34 0.08 1.88 1.59 0.41 1.03 25-34 0.59 0.42 2.40 53.05 Kuintil 4 0.07 Lainnya 0.11 0.25 41.22 35.38 1.20 0.70 2.51 0. Filariasis klinis dijumpai pada semua kelompok umur dan sudah ditemukan pada kelompok umur ≤5 tahun.12 0.44 48.21 0.15 0.07 Petani/Nelayan/ 0.05 0.83 46.12 2.19 0.62 0.20 0.56 0.06 Kuintil 5 0.19 0.12 0.02 0.14 0.11 0.08 65-74 0.83 3.74 3.05 Kuintil 3 0.11 0.08 Jenis kelamin Laki-laki 0.13 0.83 1.15 0.63 51.72 2.78 48.51 0.14 0.09 0.12 0.42 1. Filariasis klinis lebih tinggi didapati pada responden di perdesaan dan responden yang tidak sekolah.37 1.74 0.35 DG 1.70 0.05 1.90 2.11 0.27 0.10 0.08 43.19 1.95 4.55 1.12 0.30 0.05 Tipe daerah Perkotaan 0.62 3.61 0.04 15-24 0.46 3.03 Perdesaan 0.75 1.67 0.07 Pekerjaan Tidak kerja 0.32 45.25 0.06 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0.18 0.02 5-14 0.15 0.29 41.16 0.08 1.21 0.97 2.12 0.49 2.16 0.75 3.66 1.25 47.78 Kelompok umur (tahun) <1 0.18 0.10 Tidak tamat SD 0.03 Pegawai 0.52 0.83 2.59 adalah gambaran Filariasis.09 3.69 3.08 0.12 0.85 1.05 Tamat PT 0.61 0.74 49.19 0.12 0.57 0.05 Wiraswasta 0.05 2.96 46.17 0.05 102 .59 Prevalensi Filariasis.53 0.80 50.38 1.19 0.57 0.08 Sekolah 0.10 0.23 0.07 0.08 0.59 0.08 53.24 Malaria DG 0.73 47.50 1. DBD dan Malaria menurut karakteristik responden.14 1.02 2.26 0.08 0.

Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25 . ditanyakan apakah pernah menderita gejala ISPA dan pneumonia. Walaupun diagnosis pasti TB berdasarkan pemeriksaan sputum BTA positif. dan Campak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan.7%) dan terendah pada bayi (0. Temuan yang juga perlu menjadi perhatian adalah DBD klinis relatif lebih banyak ditemukan pada responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). namun kasus yang terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan lebih banyak di perkotaan. kelompok pendidikan tinggi. tetapi proporsi pengobatan dengan obat malaria program cenderung lebih baik pada anak dibandingkan orang dewasa. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 .34 tahun (0. Di Indonesia penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi.3. Pengobatan dengan obat malaria program juga relatif lebih baik (≥50%) di daerah perkotaan. pegawai dan wiraswasta. dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita tinggi. responden sekolah dan petani/nelayan/buruh. Keadaan ini menunjukkan kewaspadaan dan kepedulian penanganan penyakit malaria pada anak sudah cukup baik di mana >50% malaria klinis mendapat obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit. Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data ISPA ringan dan pneumonia. 3. dan bila tidak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global. Pnemonia. Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama.54 tahun). Tidak terlihat perbedaan prevalensi DBD pada laki-laki dan perempuan. serta sering mengakibatkan kematian.DBD dahulu dikenal hanya sebagai penyakit pada anak-anak. dan cenderung tinggi pada responden dengan pendidikan rendah. sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar. Di Indonesia masih terdapat kantong-kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB. namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa. Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk malaria. DBD klinis relatif lebih tinggi di perdesaan.2%). dapat menjadi pneumonia. Hal ini mungkin berhubungan dengan tingkat kesadaran penderita dalam mengenali penyakit dan mencari pengobatan yang lebih baik di kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita yang lebih tinggi tersebut. Tuberkulosis (TB). Kepada responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis campak oleh tenaga kesehatan. Kepada respoden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan. Prevalensi DBD klinis juga cenderung meningkat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita yang lebih tinggi.2 Prevalensi ISPA. terutama pada balita. prevalensi pada bayi relatif rendah. ditanyakan apakah menderita gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk berdahak bercampur darah. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur. Walaupun prevalensi malaria klinis pada anak (<15 tahun) relatif lebih rendah dari orang dewasa. Kepada responden ditanyakan apakah dalam satu bulan terakhir pernah didiagnosis ISPA/pneumonia oleh tenaga kesehatan. Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. 103 . diagnosis klinis sangat menunjang untuk diagnosis dini terutama pada penderita TB anak. kelompok petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

20 36.90 22.88 9.37 0.18 0.08 22.87 1.84 0.52 ISPA DG 36.08 14.23 0.99 0.86 0.02 0.16 0.36 22.10 1.41 1.47 0.40 0.01 0.15 0.52 20.56 0.29 1.38 9. dan Campak menurut Provinsi.20 30.50 1.38 7.78 0.23 0.68 4.80 30.44 0.52 41.47 30.29 0.06 27.88 1.34 0.73 DG 3.58 0.18 0.71 0.8% .5. TB.22 1.63 1.36 0.94 7.22 0.78 22.31 0.60 24.28 7.1% (rentang: 0.20 6.78 1.98 6.31 0.73 0.73 29.19 1.65 20.06 12.13 0.43 0.03 1. Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.40 5.43 0.53 0.27 1.97 24.92 0.01 0.99 22.14 0.92 2.29 0.77 1.05 5.97 2.6%).69 1.77 1.20 0. Pneumonia.21 0.11 0.45 4.56 0.64 0.36 1.00 1.22 1.37 0.35 0.59 5.85 2.10 10.27 0.98 8.75 33.23 0.43 2.76 0.59 1.48 1.54 10.50 4.78 1.56 0.99 0.62 1.37 0.18 104 .49 1.01 DG 1.77 0. Prevalensi pneumonia satu bulan terakhir di Indonesia adalah 2.37 0.75 0.25 0.12 0.42 0.50 0.52 28.90 19.ditanyakan apakah pernah menderita gejala demam tinggi dengan mata merah dan penuh kotoran.41 1.29 1.33 2.58 0.38 0.82 0.72 0. serta ruam pada kulit terutama di leher dan dada.04 5.27 1.04 0.58 0.50 0.11 0.26 0.66 0.37 0.40 0.59 5.98 2. kecuali di Sumatera Selatan lebih banyak didiagnosis oleh tenaga kesehatan.32 0.63 Indonesia 8.41 2.53 1.42 0.06 2.80 0.65 2.42 0.10 0.81 1.60 2.65 17.63 0.45 0.71 0.69 1.54 0.44 1.02 0.52 0.07 2.31 0.33 0.5% .13 D 1.44 0.38 22.26 8.49 26.24 0.84 18.98 5.36 1.73 0.50 0.65 0.90 0.48 18.36 17.54 2.38 0.39 26.40 25.36 0.41.42 0.24 2.34 0.63 2.20 0.98 TB D 0.70 0.44 9.98 1.74 8. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.60 Prevalensi ISPA.39 1.75 0.64 22.47 2.10 25.63 0.91 0.68 0.17 2.24 1.05 0.32 0.56 Pneumonia D 1. Prevalensi ISPA satu bulan terakhir di Indonesia adalah 25.53 4.22 6.36 0. Tabel 3.56 0.43 0.73 9.61 1.31 0.81 1.72 0.5% (rentang: 17.47 1.03 1.58 0.61 0.40 12.83 1.79 3.89 Campak DG 1.58 0.19 2.95 2.87 22.47 0.78 6.54 0.84 0.13 0.49 0.09 2.43 0.39 21.08 1.50 2.24 0.32 25.54 29.28 1.37 0.55 28.03 27.06 0.4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional.76 2.67 2.80 6.26 0.95 8.04 0.77 0.47 0.53 1.39 0.40 0.53 1.59 1.28 1.55 1.78 0.67 4.07 2.12 1.00 0.60 0.64 5.47 0.

4%) dan masih cukup tinggi ditemukan pada usia di bawah 15 tahun. antara lain Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan. Kasus pneumonia pada umumnya terdeteksi berdasarkan diagnosis gejala penyakit. Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%). dan Campak menurut karakteristik responden. Empat belas provinsi mempunyai prevalensi lebih tinggi dari angka nasional. dan Papua Barat.24 tahun. Jawa Barat. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. Prevalensi TB paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Gorontalo. TB. Prevalensi campak tertinggi pada anak balita (3. Pneumonia. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. DKI Jakarta. kecuali pada kelompok umur ≥55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi. Sulawesi Tenggara. Prevalensi relatif sama pada laki-laki dan perempuan demikian pula di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. dan relatif sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita. Papua Barat. Banten. 105 . Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relatif sama.2%) dan terendah di Provinsi Lampung dan Bali (0.Empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Pada umumnya kasus campak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Sulawesi Selatan. Prevalensi campak lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi. Nusa Tenggara Timur. dan Papua. Kalimantan Selatan. Bali. Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional. Nanggroe Aceh Darussalam. tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. Kalimantan Tengah. Tabel 3. Maluku Utara. Lampung. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.3%). kecuali di Sumatera Selatan dan Papua. Sulawesi Tengah.4%). Nusa Tenggara Barat. Prevalensi campak klinis 12 bulan terakhir di Indonesia adalah 1. sedangkan terendah pada kelompok umur 15 . tertinggi di Provinsi Papua Barat (2. dan Papua. tertinggi di Provinsi Gorontalo (3.5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0. Pneumonia cenderung lebih tinggi pada kelompok yang memiliki pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.61 adalah gambaran ISPA. kecuali di Provinsi Bengkulu.0%. kecuali di Provinsi Sumatera Selatan.2%. Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 1. Karakteristik responden pneumonia serupa dengan karakteristik responden ISPA. Maluku. Pneumonia klinis terdeteksi relatif lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan.

62 0.17 1.56 0.14 0.27 0.18 0.38 4.32 1.92 1.35 0.49 0.48 25.91 20.17 1.49 23.22 1.20 Tamat SMA 6.74 0.61 0.75 1.67 Pekerjaan Tidak kerja 6.07 20.37 Petani/Nelayan/ 6.42 0.56 0.62 0.60 0.58 Wiraswasta 6.42 0.07 1.13 0.92 42.09 Kuintil 2 8.47 0.55 0.49 18.34 1.4 >75 9.Tabel 3.80 0.26 2.89 1. TB.79 0.42 0.88 0.86 0.46 0.47 0.84 106 .40 0.00 1.00 Pendidikan Tidak sekolah 7.18 0.96 1.37 0.33 2.44 3.30 0.73 23.40 0.76 0.60 0.42 0.36 1.82 1.53 0.09 0.84 2.18 0.42 Pegawai 6.46 Tamat SMP 6.40 0.2 15-24 5.66 0.85 Lainnya 6.02 1.82 23.70 0.38 0.77 1.70 1.06 Perempuan 8.33 1.27 1.83 1.57 25.98 0.01 1.56 0.33 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 8.17 22.27 0.64 0.83 1.68 0.82 0.68 24.69 0.61 0.43 0.40 Tamat SD 6.81 2.40 2.42 3.65 0.27 0.94 0.10 1.29 0.17 0.26 0.60 0.30 30.35 0.26 25.42 0.70 2.26 2.99 Sekolah 6.17 25.73 0.0 Jenis Kelamin Laki-laki 8.96 21.07 1.26 0.66 0.57 22.12 2. dan Campak menurut Karakteristik Responden.94 1.53 28.04 0.43 0.94 0.21 2.48 0.6 25-34 6.0 55-64 7.70 0.34 0.42 1.00 Kuintil 3 8.62 0.81 17.45 1.58 0.69 5.15 0.21 0.02 0.89 19.38 0.99 35.51 23.63 2.10 0.67 1.69 0.13 Perdesaan 8.60 1.56 0.00 0.42 1.44 0.60 1.71 21.27 0.76 1.57 1.33 0.6 45-54 7.27 0.1 5-14 9.04 1.08 0.31 0.9 1-4 16.75 18.91 2.17 1.26 0.59 0.45 1.21 0.61 0.53 0.34 0.73 2.50 2.61 Prevalensi ISPA.50 0.51 0.55 2.36 0.60 0.73 0.49 0.20 3.60 26.77 Ibu RT 6.01 0.20 27.87 27.07 22.72 0.24 0.17 1.79 Tidak tamat SD 7.43 0.23 0.98 Kuintil 5 7.80 1.84 0.40 0.84 1.47 0.41 1.08 2.67 0.39 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D ISPA DG Pneumonia D DG D TB DG D Campak DG Kelompok umur (tahun) <1 14.32 0.37 0.39 0.69 2.08 1.04 2.29 0.46 1.43 4.81 1.1 35-44 6.55 0.47 24.11 Kuintil 4 7.13 2.73 0.21 0.53 0.44 0.69 0. Pneumonia.62 0.90 0.59 1.59 1.34 0.04 Tipe daerah Perkotaan 8.56 0.61 0.77 28.92 20.21 Tamat PT 6.21 0.7 65-74 8.67 0.30 26.40 0.39 0.01 26.62 2.

Kalimantan Selatan. Dua belas provinsi mempunyai proporsi pemberian oralit kurang dari proporsi nasional. ditanya apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair.6% (rentang: 0. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD. Sulawesi Tengah.2% . Riau. terendah ditemukan di Provinsi Banten (29. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Sulawesi Barat. Bengkulu. Secara nasional. kecuali di Provinsi Jawa Timur. tidak nafsu makan. Gorontalo. sakit kepala. sedang di provinsi lainnya terutama berdasarkan gejala klinis. Sumatera Selatan. Responden yang menyatakan tidak pernah. Gorontalo. Kalimantan Tengah.3 Prevalensi Tifoid. Papua Barat dan Papua). proporsi responden diare klinis yang mendapat oralit adalah 42. Hanya di tujuh provinsi (Banten. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian. muntah. tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI Yogyakarta.3% .3. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tengara Timur. serta kulit dan mata berwarna kuning. Kasus diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan.2% . Prevalensi diare klinis adalah 9. Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Jawa Barat. Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis hepatitis dalam 12 bulan terakhir. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu. Sulawesi Tenggara.4%). kencing warna air teh. Nusa Tenggara Barat.6% (rentang: 0. Sumatera Barat. Di 18 provinsi. Banten. Papua Barat. Sulawesi Tengah. Banten.18.9%). Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis. nyeri perut sebelah kanan atas.2%. dan Sulawesi Selatan) kasus diare lebih banyak dideteksi berdasarkan gejala klinis. Diare Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. 107 . Sulawesi Utara. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual. Prevalensi diare diukur dengan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. ditanya apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. kasus tifoid sebagian besar terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan.3%).0% (rentang: 4. Kalimantan Timur. Hepatitis. Responden yang menyatakan tidak pernah. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar.3. Tabel 3.1. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. dan Papua. Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0.62 menunjukkan bahwa prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1.9%). Dua belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. yaitu Provinsi NAD. Sulawasi Selatan. Responden yang menderita diare ditanya apakah minum oralit atau cairan gula garam. Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya. Kalimantan Selatan.

5 4.9 5.16 1.28 1.2 0.7 4.8 0.44 0.0 53.6 39.5 0. terendah pada bayi (0.12 0.2 2.5 9.2 0.93 2.1 0.67 1.4 35.96 0.1 0.0 8.2 40.6 0.1 8.5 43.7 29.1 9.3 0.3 0.90 1.3 0.3 10.6 50.33 1.9 7.1 0.3 4.2 3.1 0.5 0.4 0.19 1.58 0.3 0.1 0.2 4.8%).8 4.3 0.2 0.9 O 42.0 5.77 1. Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.1 44.44 2. dan relatif lebih tinggi di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan.8 2.5 7.0 49.7 5.5 0.03 1.06 0.1 0.2 0.5 2.7 0.2 0.3 5.0 8.0 29.5 Indonesia 0.2 0.2 0.6 0.9 5.3 0.4 47.5 0.98 0.1 0.9 47.1 0.2 47.7 1.79 1.3 0.6 0.69 0.4 41.56 0.5 7. Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 .1 49.8 5.9 3.6 7.54 0.8 DG 1.3 8.31 0.86 1.0 42.68 0.3 0.6 5.90 1.4 43.80 1.4 53.95 1.4 54.4 0.7 41.1 43.2 0.8 9.2 9.2 10.9 0.13 2.9 7.4 0.3 13.2 6.61 0. dan Diare menurut karakteristik responden.8 2.7 4. Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.8 DG 18. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.42 0.2 8.4 3.3 0.7 51.20 2.4 7.8 3.9 5.1 5.6 4.7 0.8 45.1 2.7 56.3 Diare D 11.30 0.35 0.9 8.7 30.14 tahun) yaitu 1.7 44.46 1. Diare menurut Provinsi.1 5.2 47.53 0.65 1.3 0.0 43.6 5.8 30.87 1.48 1.9 9.0 37.2 11.91 1.4 0.03 1.53 0.88 0.4 12. 108 .3 0.62 adalah gambaran Tifoid.7 4.2 0.39 2.1 0.60 0.32 2.6 2.5 5.01 0.3 0.24 0.4 16.8 0.7 1.99 1.5 3.96 0.11 Hepatitis D 0.35 1.1 48.62 Prevalensi Tifoid.1 0.43 0.Tabel 3.36 0.75 1.4 9.70 0.25 1.4 0.2 0. Hepatitis.2 0.4 0.0 5.94 0.2 0.2 0.60 0.66 0.4 5. Hepatitis.2 0.1 6.8 10.2 3.2 7.8 1.1 0.9 52.7 1.5 7.44 0.27 2.9%.1 0.1 0.2 Tabel 3.14 1.3 36.51 1.0 10.2 0.60 0.40 0.9 0.1 0.3 0.6 6.16 0.85 Tifoid DG 2.80 0.8 4.87 0.

2 0.2 0.5 3.0 36.3 0.0 1.6 1.4 0.3 5.5 1.0 5.3 5.3 8.5 0.0 0.6 37.4 1.7 Tamat SMA 0.5 1.0 Sekolah 0.2 0.Tabel 3.6 Ibu RT 0.4 10.1 7. dan cenderung lebih tinggi pada 109 .1 0.8 41.7 42.5 1.9 Tamat SD 0.2 5.5 0.8 1.8 42.2 0.2 0.8 4.2 0.2 41.5 1.9 0.5 9.6 16.1 1.5 10.0 37.4 0.7 0.2 0.7 11.0 10.2 0.7 0.4 9.7 Wiraswasta 0.8 3.4 36.8 41.8 Tamat SMP 0.3 0.4 1.5 4.9 Tidak kerja 1.6 1.4 4.9 3.8 Perempuan Tipe daerah 0.2 0.7 25-34 0.3 <1 0.7 1.6 0.4 1.2 0.4 8.7 Perkotaan 0.4 5.8 Kuintil -5 0.6 0.7 0.1 40.7 1.4 3.7 55-64 0.8 Kuintil -4 0.8 Kuintil -1 0.8 Kuintil -3 0.6 0.0 41.9 0.9 Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun.6 4.2 0.1 4.2 1.7 0.6 1.7 Tamat PT Pekerjaan 0.5 43.2 0.9 5.0 7.8 Petani/nelayan/buruh 0.2 0.1 4.8 4.4 1.5 41.9 1.2 5.3 0.7 45-54 0.9 5. Hepatitis.2 0.6 1.3 0.1 37.0 8.2 4.6 0.4 39.5 16.9 Perdesaan Pendidikan 0.6 0.5 1.8 1.2 4.8 1-4 1.4 8. Diare menurut Karakteristik Responden.3 5.8 55.8 1.62 Prevalensi Tifoid.8 0.9 4.9 Tidak tamat SD 0.0 40.6 41.6 1.2 0.8 0. hampir 2 kali lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.2 4.5 42.2 7.4 8.7 9.7 Tidak sekolah 0.5 0.7 0.3 1.1 37.3 0.3 7.5 Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita 0.5 38.7 36.2 0.1 39.8 43.3 0.3 37.7 0.3 0.2 0.2 7.2 1.0 0.6 65-74 0.6 7.2 0.9 9.7 35-44 0.1 1.6 0.6 7.9 Kuintil -2 0.8 0.9 4.1 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D Tifoid DG D Hepatitis DG D Diare DG O Kelompok umur (tahun) 0.5 37.2 0.1 5-14 0.5 39.6 8.7 8.5 1.7 >75 Jenis Kelamin 0.9 0.3 0.4 6.0 9.2 0.7 7.8 1.7 5.4 0.6 0.9 10.6 5.2 1.7 1.1 5.1 3.7 1.3 37.9 52.8 8.7 Pegawai 0.9 Laki – laki 0.6 0.7 0.9 15-24 0.3 0.0 38.8 1.3 36.9 0.8 38.7 7.9 4.0 4.6 11.9 9.2 0.3 3.2 0.

rinitis. Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran RT per kapita. DM. angina. hipertensi. gangguan jiwa berat. Tensimeter digital divalidasi dengan menggunakan standar baku pengukuran tekanan darah (sfigmomanometer air raksa manual). Pengukuran tensi dilakukan pada responden umur 15 tahun ke atas. 3.pendidikan rendah. 110 . Hipertensi berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan tekanan darah/tensi. Riwayat penyakit sendi. stroke. yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. dermatitis. Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan. Cakupan atau jangkauan pelayanan tenaga kesehatan terhadap kasus PTM di masyarakat dihitung dari persentase setiap kasus PTM yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dibagi dengan persentase masingmasing kasus PTM yang ditemukan. Prevalensi diare yang tinggi pada bayi dan anak balita tidak selalu diberi oralit. hipertensi dan stroke ditanyakan kepada responden umur 15 tahun ke atas.1 Penyakit Tidak Menular Utama. asma. maka dilakukan pengukuran ke tiga. yaitu penyakit jantung kongenital. Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk 15 tahun ke atas maka temuan kasus hipertensi pada usia 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi. buta warna. aritmia. Untuk kasus penyakit jantung. jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran pertama. bibir sumbing. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003. cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Penyakit sendi. Dua data pengukuran dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi. proporsi yang mendapat oralit pada ke dua kelompok umur tersebut berturut-turut 52. Kriteria JNC VII 2003 hanya berlaku untuk usia 18 tahun keatas. Data hipertensi didapat dengan metode wawancara dan pengukuran. jantung.5%.7%). dan hemofilia dianalisis berdasarkan jawaban responden “pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan” (notasi D pada tabel) atau “mempunyai gejala klinis PTM”. Setiap responden diukur tensinya minimal 2 kali.8% dan 55. riwayat pernah mengalami gejala penyakit jantung dinilai dari 5 pertanyaan dan disimpulkan menjadi 4 gejala yang mengarah ke penyakit jantung. stroke dan asma ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. hipertensi. dan dekompensasi kordis. tumor/kanker. sedangkan PTM lainnya ditanyakan kepada semua responden.4 Penyakit Tidak Menular 3. Responden dikatakan memiliki gejala jantung jika pernah mengalami salah satu dari 4 gejala termaksud. glaukoma. dan Penyakit Keturunan Data penyakit tidak menular (PTM) yang disajikan meliputi penyakit sendi. Penyakit Sendi. baik berdasarkan diagnosis maupun gejala (D dibagi DG). dan untuk jenis PTM lainnya kurun waktu riwayat PTM adalah selama hidupnya. ditetapkan menggunakan alat pengukur tensimeter digital. Prevalensi PTM adalah gabungan kasus PTM yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan kasus yang mempunyai riwayat gejala PTM (dinotasikan sebagai DG pada tabel). Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16. talasemiaa.4. maka prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensi dihitung hanya pada penduduk umur 18 tahun ke atas.

1 7.1 9.5 6.3 17.1 35.9 4.7 20.2 12.9 3.1 6.6 5.8 8.6 6.1 11.4 22.2 7.9 8.8 4.6 19.0 D/G 16.5 6.3 8.4 7.4 10.0 6.9 3.7 2.0 7.1 5.9 38.5 6.3 Catatan : D = Diagnosa oleh Tenaga Kesehatan D/G = Didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit Hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 111 .9 5.7 26.2 9.3 13.0 8.2 26.1 4.6 5.2 33.6 9.6 8.2 4.7 7.0 11.5 25.0 8.0 9.1 24.0 5.8 27.2 5.5 3.3 28.1 32.4 37.7 5.2 10.4 7.6 31.8 7.4 7.7 6.1 24.8 19.8 23.6 11.63 Prevalensi Penyakit Persendian.8 12.8 9.4 27.7 25.4 17.3 8.7 5.5 7.0 4.4 U 30.6 29.1 4.0 12.0 30.6 38.4 10.7 6.0 6.6 7.6 8.6 29.7 9.Tabel 3.9 28.9 7.3 11.2 34.5 5.8 5.8 Indonesia 14.4 D/G 34.6 9.3 9.6 39.3 8.3 10.6 26.1 29.6 8.5 6.0 8.9 12.9 26.8 9.7 9.2 7.6 7.0 30.6 5.4 8.8 33.0 29.7 12.7 11.5 6.1 37.2 5.4 9.3 9.1 9.2 7.4 8.6 33.6 31.0 8.5 8.6 15.3 31.9 5.3 19.1 22.0 26.1 D/O 10.8 5.1 13.9 5. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.0 10.3 7.5 33.3 7.2 30.9 31.1 5.3 41.4 6.3 Stroke (‰) D 10.6 29.2 11.2 7.8 5.9 29.0 10.3 6.9 7.9 8.0 3.8 11.8 23. dan Stroke menurut Provinsi.1 14.4 8.1 14.5 15.4 28.4 9.4 8.5 29.8 29.6 5.1 7.2 29.4 20.7 6.6 7.1 30.3 31.9 32.1 4.4 5.9 4.0 28.8 7.3 4.3 28.5 4.6 6.3 6.0 27.7 4.2 2.3 7.6 23.4 5.7 7.4 7.0 9.0 14.9 30.9 19.0 35.6 14.1 6.1 5.5 8.2 36.8 29.0 6.0 12.7 Hipertensi (%) D 9.4 5.5 4.1 8.5 9.0 5.7 36.3 5.4 7.4 15.5 5.8 37. Hipertensi.0 31.8 27.6 31.2 6.8 10.5 12.3 7.2 5.4 8.7 9.7 28.2 20.

prevalensi ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja. Sulawesi Tengah. demikian pula prevalensi hipertensi. prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6%) dan terendah di Papua Barat (20. Menurut jenis kelamin.Selain pengukuran tekanan darah. Sulawesi Barat. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7.2%.4%) responden umur 15-17 tahun yang telah mengalami hipertensi. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7. Jawa Tengah. Sedangkan pola prevalensi stroke menurut jenis kelamin tidak tampak perbedaan yang mencolok. Sedangkan untuk hipertensi dan stroke. Berdasarkan pekerjaan responden.0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis. prevalensi penyakit sendi cenderung lebih tinggi pada perempuan.4%). Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di NAD (16.6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0.6‰) dan terendah di Papua (3.0%.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%. dan Nusa Tengah Tenggara Barat. prevalensi penyakit sendi pada Petani/Buruh/Nelayan ditemukan lebih tinggi daripada kelompok pekerjaan lainnya. Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24. maka terdapat 4050 (8. Cakupan diagnosis penyakit sendi oleh tenaga kesehatan di setiap provinsi umumnya sekitar 50% dari seluruh kasus yang ditemukan. baik pola prevalensi penyakit sendi maupun hipertensi dan stroke tampak tidak ada perbedaan yang mencolok. Terdapat 13 provinsi dengan prevalensi stroke lebih tinggi dari angka nasional. Riau. responden juga diwawancarai tentang riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat meminum obat anti-hipertensi. Hal ini menunjukkan sekitar 72. Apabila kriteria hipertensi sesuai JNC VII 2003 juga diterapkan untuk penduduk 15-17 tahun. Provinsi Jawa Timur. Menurut provinsi.7%. Pada Tabel 3. Terdapat 11 provinsi dengan prevalensi penyakit sendi lebih tinggi dari angka nasional. DI Yogyakarta. hipertensi. dan stroke cenderung tinggi pada tingkat pendidikan rendah dan menurun sesuai dengan peningkatan tingkat pendidikan. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. dan gabungan kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dengan kasus hipertensi berdasarkan riwayat minum obat hipertensi diberi istilah diagnosis/minum obat dengan inisial DO. namun ada kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan peningkatkan tingkat pengeluaran rumah tangga.63) sebesar 30.64 juga dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit sendi. prevalensi penyakit sendi tertinggi dijumpai di Provinsi Papua Barat (28. hipertensi maupun stroke tampak meningkat sesuai peningkatan umur responden. kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diberi inisial D.1%). Menurut karakteristik responden. Bangka Belitung.3 per 1000 penduduk. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8. namun meningkat kembali pada kelompok pendidikan tamat PT.8%) dan terendah di Sulawesi Barat (7. merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1000 penduduk. Menurut provinsi.8‰).3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Dalam penulisan tabel. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39. Prevalensi penyakit sendi secara nasional (Tabel 3. prevalensi penyakit sendi.5%). 112 . atau dengan kata lain sebanyak 76. kasus hipertensi berdasarkan hasil pengukuran diberi inisial U. Kalimantan Tengah.

0 29.8 32.8 31.1 1.0 29.6 28.7 19.6 7. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Karakteristik Responden D Umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuinti 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.7 7.3 20.8 33.7 1.2 18.9 10.6 7.7 20.6 1.4 6.6 53.7 14.3 11.3 8.0 14.9 42.1 11.0 12.5 6.4 5.2 6.9 8.3 23.9 8.9 65.6 6.2 19.7 Hipertensi (%) D D/0 U Stroke (‰) D D/G D/G Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita 113 .4 4.4 30.3 7.2 30.8 8.7 13.5 8.8 33.8 7.1 14.5 22.3 7.8 29.1 0.3 1.3 56.9 17.9 27.7 30.6 9.9 7.9 28.1 5.1 1.9 4.3 0.3 6.9 2.3 0.6 4.1 15.4 31.5 35.5 5. dan Stroke menurut Karakteristik Responden.64 Prevalensi Penyakit Persendian.2 5.0 8.7 9.6 18.1 6.4 16.5 11. Hipertensi.2 22.4 8.7 63.8 46.2 5.7 13.1 6.9 2.5 5.4 14.7 11.2 5.3 16.0 32.5 4.1 7.3 0.4 62.7 7.9 23.3 31.6 8.7 14.9 6.4 6.1 13.8 25.8 17.2 12.1 37.6 7.3 7.8 8.9 5.9 33.2 28.9 15.2 31.0 31.1 24.1 14.5 31.0 15.8 4.0 7.0 6.9 33.5 4.5 67.0 7.1 28.9 39.1 29.1 5.1 22.2 31.5 9.6 6.8 9.8 33.6 13.9 6.9 3.7 15.3 2.9 41.9 8.0 6.7 7.1 5.3 5.1 9.3 30.8 13.7 12.6 32.5 0.0 6.9 19.5 30.2 32.2 4.9 8.4 53.7 6.5 11.7 9.1 7.5 6.3 6.9 8.6 8.8 7.2 9.5 17.5 15.4 7.4 11.Tabel 3.2 13.5 25.3 4.7 11.0 7.2 7.7 44.6 31.2 32.7 8.7 3.6 7.3 8.1 25.0 18.7 7.1 4.6 2.0 2.0 9.4 0.0 8.7 2.6 6.4 20.8 12.9 31.8 4.

Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi. Terdapat 17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis asma oleh tenaga kesehatan sebesar 54.56 14. 114 .29 46. Prevalensi DM menurut provinsi. Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4. sepuluh kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jayawijaya Teluk Wondama Bengkulu Selatan Kepulauan Mentawai Tolikara Yahukimo Pegunungan Bintang Seluma Sarmi Tulang Bawang 6. yaitu dengan membuat urutan (ranking) dari yang terbaik sampai yang terburuk. berkisar antara 2.1%.6% di NAD. Penyakit asma ditemukan sebesar 3.38 11.65 menunjukkan prevalensi asma.5% di Provinsi Lampung hingga 7.9%.23 47. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional. Dalam hal ini harus dipilih indikator kesehatan yang prevalensinya cukup besar.94 14. Prevalensi menurut provinsi.86 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Terburuk Natuna Mamasa Katingan Wonogiri Hulu Sungai Selatan Rokan Hilir Kuantan Singingi Bener Meriah Tapin Kota Salatiga 53.29 50.09 45. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung. dan tumor menurut provinsi.76 9. Sebagai contoh bisa dipilih penyakit hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah.5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung.6‰ di DI Yogyakarta.2% di Gorontalo.6%.74 46.5‰ di Maluku hingga 9.3% (D dibagi DG). Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12. Menurut provinsi.2% berdasarkan wawancara.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1.11 12.55 49. berkisar antara 0.64 13. berkisar antara 1.Untuk penyakit tidak menular. Setelah ditentukan urutan (ranking) dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak kasus hipertensi untuk usia ≥ 18 tahun. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63.96 45.5% di Indonesia dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional.6% di DKI Jakarta. jantung.58 15.00 11.48 48.9%. diabetes.56 49. dapat pula dilakukan analisis sampai ke tingkat kabupaten/kota. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional.45 13.4% di Lampung hingga 2. prevalensi asma berkisar antara 1.3‰.19 Tabel 3.6% di Lampung sampai 12.

6 1.1 1.0 1.9 3. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.4 4.3 2.9 2.8 0.5 0.8 1.6 3.2 1.4 6.2 1.7 0.4 0.6 7.9 5.9 1.8 0. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker 115 .3 3.0 0.9 5.2 0.6 0.3 0.6 2.0 1.7 5.5 1.7 5.0 2.5 0.Tabel 3.0 0.4 2.6 0.8 9.7 0.5 4.6 5.7 0.5 0.1 2.5 0.7 0.4 6.5 0.5 1.0 11.1 1.6 5.3 7.2 2.7 4.8 1.9 2.8 3.5 1.3 1.6 1.0 3.6 0.9 7.6 0.5 4.6 0.2 1.3 0.2 2.7 D/G 12. Riskesdas 2007 Asma Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.3 1.8 3.4 4.0 3.6 DM (%) Tumor (‰) D/G 1.6 4.1 3. D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.7 2.3 1.4 1.9 0.8 0.0 1.6 0.5 1.9 3.9 3.8 7.8 4.7 3.5 0.4 0.8 0.4 6.5 0.8 1.1 2.8 8.6 0.2 11.7 0.2 4.7 6.7 4.5 3.9 1.6 1.5 0.1 0.4 1.8 0.4 0.8 5.0 0.9 2.9 0.0 0.3 0.9 4.1 4.8 2.6 0.8 0.3 0.8 1.9 6.4 3.4 8.6 3.4 8.4 7.4 8.8 3.3 1.7 4.3 1.7 3.3 2.8 1.1 2.3 0.3 2.2 7.6 2.0 7.6 2.3 7.1 8.7 8.0 3.0 1.4 0.3 0.8 0.8 1.8 1.65 Prevalensi Penyakit Asma*.3 3.7 0.3 Catatan: D=Diagnosa oleh tenaga kesehatan.4 3.8 0.8 1.8 3. jantung.6 3.5 3.8 4.0 5.6 3.8 2.4 Jantung (%) D/G 4.6 0.1 4.8 1.6 1.1 2.8 0.8 5.8 0.1 2.1 1.4 Indonesia 1.5 0.5 D 2.5 2.8 (%) D 2.5 0.1 9.5 8.2 0.0 0.8 1.7 0.2 2.4 5.3 2.4 0.7 5.8 0.7 0.9 1.6 1.6 0.5 4.7 2.0 2.4 1.3 2.6 1.4 1.7 0.6 11.2 0.4 3.8 0.5 2.7 1.9 1.3 2.6 3.7 0.3 0.3 D 1.6 0.3 5. Jantung*.5 0.7 0.3 1.3 1.1 4.8 1.2 8.0 4.4 1.8 2.7 1.3 1.5 1.0 1.

3 0.5 3.6 0.7 6.4 1.4 12.0 0.2 8. Diabetes Mellitus.8 2.9 3.7 3.1 4.8 0.8 7.2 1.0 1.7 0.2 0.4 4.5 0.4 0.2 2.2 1.8 5.5 8.1 2.0 1.4 1.6 2.9 4.5 2.2 0.0 3.2 6.5 1.1 0.0 4.2 1.5 1.0 1.2 2.7 1.7 4.4 2.6 5.7 3.5 8.5 1.4 6.0 3.9 1.5 0.7 2.5 16.9 Asma (%) D D/G Jantung (%) D D/G Diabetes (%) D D/G Tumor (‰) D Kota 1. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) <1 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tempat tinggal 0.3 1.3 1.8 1.7 5.2 1.0 1.6 1.4 10.5 1.1 4.0 2.2 1.2 0.3 2.9 6.0 1.1 8.3 0.8 1.8 8.3 1.7 0.3 6.3 7.7 0.2 2.4 3.3 5.6 1.9 1.0 2.2 8.8 1.4 2.1 14.1 1.2 1.9 5.0 1.7 0.9 1.1 3.8 1.9 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2. jantung.1 116 .9 1.5 1.1 10.8 5.1 1.1 0.1 11.6 1.8 7.7 1. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.1 6.7 6.7 3.5 10.4 2.3 10.8 0.0 0.9 1.7 1.4 5.1 1.6 1. DM.7 2.8 6.3 0.0 8.3 12.2 1.0 2.4 3.8 2.7 2.8 2.7 5.2 1.5 2.2 20.2 3.4 1.9 2.0 0.8 2.0 2.2 2.3 5.2 1.8 3. Jantung.2 7.4 2.0 2.3 1.0 0.7 1.4 0.8 4.2 5.8 Desa 2.2 1.2 0.5 4.1 1.8 9.7 3.9 0.0 2.4 6. Tabel 3.3 3.2 1 1.6 3.5 3.2 0.4 8.4 1.6 0.0 4.8 0.4 3.5 1.5 0.4 0.3 1.2 0.1 1.8 1. dan tumor menurut karakteritik responden.2 7.9 1.7 8.4 1.9 1.7 0.2 7.4 2.5 3.8 1.6 1.8 6.8 6.1 7.1 4.1 1.Tabel 3.9 9.3 0.3 1.1 0.7 3.4 2.6 6.66 menunjukkan prevalensi penyakit asma.9 10.8 2.1 19.5 3.3 3.3 0.66 Prevalensi Penyakit Asma.1 4.8 0.2 7.

jantung. Untuk Talasemia. Riau (9. sedangkan provinsi lain seperti Sumatera Selatan (10. Tabel 3.8‰). DKI Jakarta (99. DM.6‰). jantung. disusul kelompok petani/nelayan/buruh. dan tumor meningkat dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.1‰). Nanggroe Aceh Darussalam (98.5‰). Prevalensi rinitis di Indonesia sebesar 24.8‰). Prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 4. Provinsi DKI Jakarta ternyata menduduki peringkat teratas untuk prevalensi bibir sumbing.0‰). Sumatera Selatan (9. Sumatera Barat (16.6‰).5‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara (5. prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja.3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18.4‰. Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga. Kep.4‰. Prevalensi terendah terdapat di Sumatera Utara(1. Menurut tingkat pendidikan.7‰).Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma. Sumatera Barat (19. tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (24. DM.9‰).1‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat (25. tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (113.4‰).2‰).2‰). Gorontalo (3. sedangkan prevalensi penyakit jantung dan tumor dijumpai lebih tinggi pada perempuan.Riau (12.6‰ dan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (18.6‰).0‰).0‰). Prevalensi penyakit asma dan jantung lebih tinggi di daerah perdesaan.5‰). Prevalensi buta warna di Indonesia sebesar 7.9‰). Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0. Kalimantan Barat. Prevalensi terendah 117 . yaitu sebesar 13. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Jambi. berturut-turut diikuti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (12.2‰). Prevalensi DM paling banyak terdapat pada kelompok pegawai. Riau (21.4‰). Kep. Kep.9‰).4‰).9‰). namun untuk DM prevalensi cenderung menurun kembali setelah umur 64 tahun. dan Sulawesi Barat masingmasing sebesar 0. Nusa Tenggara Barat (8.5‰). diikuti kelompok petani/nelayan/buruh dan tidak bekerja. Prevalensi asma dan DM tidak berbeda menurut jenis kelamin. Sumatera Barat (11.3‰). antara lain Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (13. prevalensi asma dan jantung paling tinggi pada kelompok tidak sekolah sedangkan prevalensi DM dan tumor paling tinggi terdapat pada kelompok tamat perguruan tinggi. terdapat 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional. Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga. DM dan tumor meningkat dengan bertambahnya umur.1‰).4‰). Sumatera Selatan (5. Prevalensi penyakit asma. Nanggroe Aceh Darussalam (15.7‰). menempati urutan sesudahnya.3‰) yang diikuti berturut-turut oleh Provinsi Kep.9‰). DKI Jakara (12. Sulawesi Tengah (12. Nusa Tenggara Barat (9. dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah.9‰). sebaliknya prevalensi penyakit jantung.6‰).8‰) dan berturut-turut disusul DI Yogyakarta (40. Sulawesi Tengah (38. Menurut jenis pekerjaan utama.7‰).3‰. Riau (3.8‰). Prevalensi dermatitis di Indonesia cukup tinggi (67.7‰). Prevalensi terendah terdapat di Riau (0. Jawa Barat (36.8‰).67 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4.9‰ jauh di atas angka nasional (2.Tampak bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dengan menurunnya tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.4‰).6‰. Nanggroe Aceh Darussalam (7. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20. tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (49. Gorontalo (15. DKI Jakarta (37. Nusa Tenggara Timur (99.9‰). diikuti Sulawesi Tengah (105. sedangkan DM dan tumor lebih tinggi di daerah perkotaan.

4 0.6 2.5 19.4 20.8 38.7 38.0 3.9 2.7 0.5 27.8 8.8 3.3 2.8 0.2 105.0 2.4 22.4 16.1 2. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.4 0.4 7.3 2.5 0.1 0.4 0.0 62.2 1.8 5.3 2.9 1.8 21.2 26.3 5.3 0.2 0.1 2.7 36.6 7.4 0.4 0.8 49.1 0.2 1.2 1. Rhinitis.6 53.6 0.3 0.9 8.0 64.5 0.3 34.3 5.0 1.4 10.0 0.2 1.8 0.4 5.0 13.6 12. Sumbing.9 6.5 Hemofili 5. buta warna.2 2.8 40.3 15.1 0.1 0.6 39.6 0.4 0.5 99.4 47. Talasemi.4 1.7 1.1 0.1 1.9 6.7 26.6 1.9 15.9 1.0 40.3 1.4 4.8 3.2 62.1 0. atau hemofilia Jiwa 18.4 10.1 48.9 3.8 2.2 0. glaukoma.4 2. Tabel 3.0 3.3 0.6 1.0 24.8 53. bibir sumbing.1 23.8 0.2 11.1 5.3 3.6 18.5 0.8 2.2 2.4 21.3 92.8 26.5 3.5 0.5 2.9 1.8 0.4 0.9 1.0 12.4 0.4 0.1 5.2 1.6 0.5 1.9 1.1 94.9 20.7 1.8 5.1‰.5 0.4 Dermatitis 98.0 0.5 2.3 0.7 6.3 0.0 32.5 0.8 13.2 25.6 6.5 113.3 2.6 4.6 0.5 24.8 0.9 30.5 4.2 1.2 0.1 0.3 58.5 1.1 2.5 67.0 27. Kalimantan Barat.6 4.4 1.8 35.6 Sumbing 7.9 0.0 17.5 73.9 34.6 Buta warna 15.9 14.0 21.2 3.6 1.3 4.9 7.1 1.7 12.7 79. dermatitis.4 90.5 9.8 89.8 3.4 0.8 0.3 3.8 0.4 0.6 11.4 2. Riskesdas 2007 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Catatan: *) Penyakit keturunan ditetapkan menurut jawaban pernah mengalami salah satu dari riwayat penyakit gangguan jiwa berat (skizofrenia).9 32.6 5.8 12.8 6.5 0.4 9.6 0.3 118 .8 1.7 2. dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0.5 3.6 0.6 11.8 1.9 9.1 2.7 6.5 0.9 39.7 0.4 2.3 67.4 0.2 27.6 3.9 1.1 99.8 1.5 4.7 0. rinitis.1 0.1 0.0 5. Dermatitis.5 73.9 9.5 0.67 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.9 4.8 0.9 8.terdapat di Provinsi Lampung.5 1.2 18.5 10.5 0. Glaukoma.9 13.2 2.8 6.4 0.6 0.7 7.6 0.2 6. Buta Warna.5 3.5 37.4 8.7 26.1 0.5 0.5 0.3 0.4 13.0 1.2 22.2 3.5 1.4 11.1 1.4 3.8 Rhinitis 49.4 1.3 7.4 1.9 6.4 0.3 84. talasemia.3 Talasemi 13.3 0.9 0.5 43.4 1.4 Glaukoma 12.9 92.2 0.2 6.4 8.0 9.2 29.

68 di bawah ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun. buta warna. Individu dinyatakan mengalami gangguan mental emosional apabila menjawab minimal 6 jawaban “Ya” kuesioner SRQ.6%).Demikian juga prevalensi Hemofilia masih terlihat tinggi. Pertanyaan-pertanyaan SRQ diberikan kepada anggota rumah tangga (ART) yang berusia ≥ 15 tahun. tinggal di perdesaan (12.1%). terutama di Provinsi DKI Jakarta (24. Kep. pertanyaaan mengenai kesehatan mental terdapat di dalam kuesioner individu F01 –F20. Dalam Riskesdas 2007 pertanyaan dibacakan petugas wawancara kepada seluruh responden. SKRT 1995 juga menggunakan SRQ sebagai alat ukur. Lima dari 8 penyakit keturunan yang ditanyakan. SRQ memiliki keterbatasan karena hanya mengungkap status emosional individu sesaat (± 2 minggu) dan tidak dirancang untuk diagnostik gangguan jiwa secara spesifik. Nilai batas pisah tersebut sesuai penelitian uji validitas yang pernah dilakukan (Hartono. Gorontalo (15. yaitu 21. Berdasarkan umur.4. Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14.1%).5‰).2 Gangguan Mental Emosional Di dalam kuesioner Riskesdas.1% sampai dengan 20. Tabel 3. menunjukkan 140 dari 1000 Anggota Rumah Tangga yang berusia ≥ 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut.3%). kelompok yang tidak bekerja (19. dan Nanggroe Aceh Darussalam (15. bibir sumbing. Badan Litbangkes.6%.0‰). glaukoma. Ke-20 butir pertanyaan ini mempunyai pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. Nilai batas pisah yang ditetapkan pada survei ini adalah 6 yang berarti apabila responden menjawab minimal 6 atau lebih jawaban “ya”. Riau (21. Prevalensi terendah di Provinsi Sumatera Utara (1. prevalensi tertinggi terdapat di DKI Jakarta yaitu gangguan jiwa berat. dan hemofilia 3. Tabel 3. Prevalensi ini bervariasi antar provinsi dengan kisaran antara 5.7%).0%) dan yang terendah terdapat di Provinsi Kep.0% Prevalensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20. serta pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah (pada Kuintil 1: 12. Sumatera Barat (19. 119 .2‰).69 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Dari tabel ini dapat dilihat bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11. kelompok yang memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah.0%). tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke atas (33. 1995). Kesehatan mental dinilai dengan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang terdiri dari 20 butir pertanyaan.9‰).3‰). Hasil SKRT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 1995.5‰). maka responden tersebut diindikasikan mengalami gangguan mental emosional.6%). Riau (5.

5 7.5 9.0 13.7 11.3 6.7 Kabupaten/kota DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Papua Indonesia *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 11.8 12.6 12.8 14.5 8.1 6.6 120 .1 20.7 7.9 9.Tabel 3.3 11.68 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Gangguan mental emosional 14.3 10.5 7.0 9.2 16.7 10.5 5.4 7.9 13.0 12.1 14.8 10.9 11.8 14.2 9.9 13.1 6.3 6.0 16.

7 25-34 9.69 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Karakteristik Responden Gangguan Mental Emosional Kelompok umur (tahun) 15-24 8.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil1 12.4 Desa 12.0 Tamat SMA 7.3 Wiraswasta 9.2 Petani/nelayan/buruh 11.7 Pekerjaan Tidak kerja 19.5 Tamat PT 6.0 Perempuan 14.1 *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 121 .8 Tamat SD 12.8 Kuintil 4 11.6 Sekolah 8.7 Jenis kelamin Laki-laki 9.9 45-54 12.7 Tidak tamat SD 15.Tabel 3.4 Kuintil 3 11.0 55-64 15.0 Tamat SD 9.0 35-44 9.1 Kuintil 5 10.0 Pendidikan Tidak sekolah 21.0 Tempat tinggal Kota 10.2 Lainnya 11.4 Pegawai 6.0 Ibu RT 13.2 75+ 33.9 65-74 23.9 Kuintil 2 12.

mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding angka nasional. sehingga proporsi tersebut mungkin tidak mewakili keadaan wilayah provinsi terkait secara keseluruhan.8%. Proporsi low vision dan kebutaan cenderung lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. riwayat katarak. Proporsi low vision tertinggi di Provinsi Bengkulu diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (9. tetapi dilakukan pemeriksaan visus tanpa pin-hole.70 menunjukkan bahwa proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. sedangkan DG adalah proporsi D ditambah proporsi responden yang mempunyai gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau). Secara keseluruhan.4.6% (di Provinsi Sulawesi Selatan). Terdapat 11 provinsi dengan proporsi lebih tinggi dibanding angka nasional. Sedangkan proporsi penduduk yang mengaku memiliki gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau) ditambah dengan yang pernah didiagnosis dalam 12 bulan terakhir secara nasional sebesar 17.1% di Provinsi Sulawesi Barat hingga 3. riwayat glaukoma. tetapi tidak pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan.7% (di Provinsi Papua) hingga 10.3 Penyakit Mata Data yang dikumpulkan untuk mengetahui indikator kesehatan mata meliputi pengukuran tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen (dengan atau tanpa pin-hole).5 kali lipat angka nasional. Notasi D pada tabel 3. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh. dua kali lipat lebih dibanding kelompok umur 35-44 tahun. Tabel 3.7% di Provinsi NAD.3% (di Provinsi Kalimantan Timur) sampai 2. Proporsi low vision dan kebutaan pada perempuan cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki. tetapi terdistribusi hampir merata di semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Keterbatasan pengumpulan data visus adalah tidak dilakukannya koreksi visus. Data ini 122 .3.73 adalah proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.3%. diikuti peningkatan proporsi kebutaan.8% dengan kisaran antara 1. Proporsi riwayat operasi katarak didapatkan dari responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak dan pernah menjalani operasi katarak dalam 12 bulan terakhir.1% di Provinsi NTT. Proporsi kebutaan tertinggi di Sulawesi Selatan diikuti oleh Provinsi NTT (1. dengan kisaran 1. Proporsi kebutaan tingkat nasional adalah sebesar 0. tabel 3. Tabel 3. dengan kisaran 10. Prevalensi low vision dan kebutaan dihitung berdasarkan hasil pengukuran visus pada responden berusia enam tahun ke atas.9% dengan kisaran antara 0. Keterbatasan pada pengumpulan data katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata menggunakan alat bantu pen-light. sehingga pemakaian lensa intra-okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi.1% (di Provinsi Bengkulu). dan pemeriksaan segmen anterior mata menggunakan pen-light. Delapan dari 33 provinsi masih memperlihatkan proporsi low vision lebih tinggi dari angka nasional. Sementara itu proporsi terbesar juga berada pada kelompok penduduk yang tidak bekerja. Rendahnya proporsi low vision di Papua berkaitan dengan respons rate individu yang rendah.8%). masing-masing hampir 3 dan 1. operasi katarak.2% di DI Yogyakarta hingga 28. makin rendah tingkat pendidikan makin tinggi proporsinya.72 memperlihatkan bahwa proporsi penduduk usia 30 tahun ke atas yang pernah didiagnosis katarak sebesar 1.71 menunjukkan bahwa proporsi low vision makin meningkat sesuai pertambahan umur dan meningkat tajam pada kisaran umur 45 tahun ke atas.72 dan 3. dan jika visus lebih kecil dari 20/20 dilanjutkan dengan pin-hole. Proporsi low vision dan kebutaan pada penduduk berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan.4%). Prevalensi katarak dihitung berdasarkan jawaban responden berusia 30 tahun ke atas sesuai empat butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner individu.

2 1.4 2.0 4.0 1. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Low vision* (%) 5.4 1.5 0.5 4.5 1.4 0.7 9.6 2.8 3.3% atau hanya 1/10nya).8 0.5 0.4 1.7 3.1 1.2 3.6 0. Gambaran ini juga tampak di seluruh provinsi.9 10.0 4.3 0.7 Kebutaan** (%) 1.5 1.4 Indonesia 4.menggambarkan rendahnya cakupan diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan secara nasional (1.6 0.6 0.4 3.2 3.0 0.7 0.5 0.0 0.8 4.9 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 123 .8% dari 17.9 0.3 1.9 5.9 2.8 4.0 0.4 5.1 2.5 4.2 2.7 3.3 5.4 0.1 0.8 0.70 Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.6 0.6 2.9 4.4 3.7 3.0 1.1 3.7 0. Tabel 3.3 1.1 0.9 6.5 5.6 0.1 3.4 1.9 0.2 4.5 0.

0 1.0 1.6 Tamat SD 4.1 Perempuan 5.6 Kuintil 3 5.9 0.8 0.3 0.0 Kuintil 5 4.7 65 – 74 27.8 0.3 Pegawai 2.6 Tamat SMA 2.8 1.1 5.1 Tipe Daerah Perkotaan 4.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 4.7 0.9 1.71 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.3 0.8 35 – 44 2.3 Ibu RT 5.2 0.7 1.1 Tidak tamat SD 6.6 Kuintil 2 4.0 13.8 Kelompok umur (tahun) 6 – 14 1.5 Sekolah 1.7 75+ 37.0 Kuintil 4 5.4 Lainnya 6. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Low vision* (%) Kebutaan* (%) 0.3 6.0 Petani/nelayan/buruh 6.8 Jenis kelamin Laki-laki 4.1 55 – 64 14.8 2.7 Tamat PT 3.4 Pendidikan Tidak sekolah 19.1 0.Tabel 3.0 0.7 Wiraswasta 4.1 Tamat SD 2.3 0.3 0.6 25 – 34 1.7 45 – 54 6.0 1.2 0.7 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 124 .3 0.4 1.5 0.1 15 – 24 1.2 Pekerjaan Tidak kerja 11.3 0.2 Perdesaan 5.2 0.3 3.6 0.

4 Indonesia 1.2 1.6 27.5 16.73 menunjukkan bahwa proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan meningkat sesuai pertambahan usia.0 11.2 12.5 1.0 20.3 2.3 24.3 2.7 1.0 19.8 17.2 1.3 1.3 1.7 20.4 2.8 2.0 23.9 14.1 28.1 15. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D* (%) 3.5 3.5 18.5 13.0 1.0 16.6 28.6 1.4 18.0 16.3 *)D = proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.2 17.3 17.1 1.4 1.4 2.0 20.1 1.6 10.2 18.2 1.7 2.2 12.3 11.9 1.6 15.5 2.0 2. **)DG= proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir.2 10.4 1.1 14.6 1.0 16.8 2.4 1.Tabel 3.6 1.5 DG** (%) 27.5 17.3 21.0 1.6 20.7 1.3 1.72 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi.0 1.6 2. Tabel 3. Proporsi katarak menurut umur yang dikelompokkan dengan interval 10 tahun memberikan gambaran adanya kecenderungan 125 .

74 menggambarkann proporsi operasi katarak dan pemakaian kacamata pasca operasi pada penduduk umur 30 tahun ke atas.4%) dan tertinggi di Provinsi Papua (91. Proporsi operasi katarak pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan. Proporsi operasi katarak dalam 12 bulan terakhir untuk tingkat nasional adalah sebesar 18% dari penduduk yang pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan. proporsi operasi katarak terbesar dijumpai pada kelompok yang sedang sekolah dan tinggal di daerah perkotaan.1% dengan kisaran terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara (21. sehingga tidak semua penderita pasca operasi merasa memerlukan kacamata untuk melakukan aktivitas sehari-hari.7%). Proporsi terendah ditemukan di Provinsi Papua Barat (5.5%). terdapat penumpukan kasus katarak pada tahun terkait (2007) sebesar 82%.2%) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (31. Tabel 3. proporsi diagnosis katarak pada kelompok penduduk yang tidak bekerja lebih tinggi.75 menunjukkan bahwa proporsi operasi katarak makin meningkat sejalan dengan meningkatnyan umur.1%). Secara nasional cakupan operasi ini masih sangat rendah. Berdasarkan pekerjaan dan tipe daerah. Pemakaian kacamata pasca operasi katarak di tingkat nasional adalah sebesar 58. Dari aspek pekerjaan. sehingga visus pasca operasi mendekati normal dan hanya sedikit penderita yang memerlukan kacamata pasca operasi.peningkatan proporsi katarak untuk tiap kelompok umur kurang lebih dua kali lipat dalam tiap periode 10 tahunan. Pemberian kacamata pasca operasi katarak bertujuan mengoptimalkan tajam penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat. Tampak pula bahwa proporsi gejala katarak cenderung menurun pada tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi. Proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan. proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan lebih besar pada penduduk dengan latar pendidikan enam tahun atau kurang dibanding dengan yang memperoleh pendidikan tujuh tahun lebih. Tabel 3. tetapi tampak bahwa proporsi diagnosis katarak tertinggi ditemukan pada tingkat pengeluaran tertinggi (2%).9%) dan sedikit lebih besar di daerah perkotaan (2. Proporsi katarak berdasarkan riwayat diagnosis cenderung lebih besar pada perempuan (1. Kemungkinan lain adalah hasil operasi katarak yang cukup baik. 126 . Proporsi operasi katarak makin meningkat sesuai dengan meningkatnya lama pendidikan. Proporsi operasi katarak meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga per kapita. Seperti halnya low vision dan kebutaan.

6 1.4 3.6 13.5 1.3 16.3 16.0 9.3 0.2 8.6 18.6 8.4 0.6 Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.5 1.3 3.7 17.1 17.4 4.8 D (%) DG (%) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 1.Tabel 3.9 51.7 1.9 2.6 15.6 1.9 2.1 1.3 1.1 8.9 17.8 41.1 1.8 19.3 1.8 17.2 28.4 11.8 1.5 7.1 38.7 18.4 1.5 19. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pendidikan < 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 2.1 5.6 1.3 17.73 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak Menurut Karakteristik Responden.0 22.2 5.7 1.6 19.0 127 .

5 61.1 21.1 128 .7 27.7 62.5 72.2 12.4 47.5 90.4 65.0 50.0 54. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Operasi Katarak (%) 13.0 62.6 22.9 27.4 49.8 43.9 20.9 10.8 Pakai Kacamata Pasca Operasi (%) 55.5 20.8 66.2 18.3 14.2 34.8 71.6 5.0 18.7 63.0 23.0 58.8 8.7 66.6 11.1 8.1 25.0 76.7 91.Tabel 3.9 21.5 70.9 13.3 17.1 20.0 50.7 46.7 81.8 14.7 31.0 26.2 13.9 27.4 71.9 10.4 65.5 8.5 20.7 Indonesia 18.1 16.8 22.0 54.2 46.7 15.0 49.9 66.1 47.9 20.5 50.3 21.74 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.

5 46.8 18.9 18.9 72.1 59.3 18.3 78.2 15.5 56.9 22.7 59.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 129 .4 21.8 64.4 19.4 52.9 46.1 16. Riskesdas 2007 Operasi katarak (%) Pakai kacamata pasca operasi (%) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama pendidikan ≥ 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.6 65.3 19.4 66.2 13.9 58.3 56.3 17 21.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.4 50.5 35.7 60.2 20.7 14.2 11.9 57.5 17.4 54 65.6 21.2 48 72 59.2 56.2 55.2 22.7 63.2 19.7 14 24.8 31.Tabel 3.5 17.2 15.

penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%. penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M=0). baik promotif.4 Kesehatan Gigi Menuju target pencapaian pelayanan kesehatan gigi 2010. Pemeriksanan ini dilakukan pada kelompok umur 12 tahun ke atas dengan cara observasi (hanya yang terlihat) menggunakan instrumen genggam (kaca mulut) dengan bantuan penerangan senter. Penilaian dan pemeriksaan status kesehatan gigi-mulut dilakukan oleh pengumpuldata dengan latar belakang yang bervariasi. karena pemeriksaan perlu menggunakan instrumen genggam lengkap. telah dilakukan berbagai program. Wawancara dilakukan terhadap semua kelompok umur.4. dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤2%. meliputi data masyarakat yang bermasalah gigi-mulut. karena untuk penilaian CPITN ini diperlukan alat ( hand instrument ) yang spesifik. Sedangkan pertanyaan tentang perilaku pemeliharaan kesehatan/kebersihan gigiditanyakan kepada masyarakat 10 tahun keatas. Berbagai indikator telah ditentukan WHO. Penilaian untuk kebutuhan perawatan penyakit periodontal Community periodontal index treatment need (CPITN) tidak dilakukan. Terdapat lima langkah program indikator terkait penilaian keberhasilan program dan pencapaian target gigi sehat 2010.3. preventif. 130 . yaitu: Sehat/Promotif (Prevalensi) Rawan (protektif) (Insiden) Laten/Deteksi dini dan terapi (% dentally Fit) % bebas karies pada umur 5 tahun DMF-T 12 th Expected incidence Kecenderungan DMF-T menurut umur DMF-T 15 th DMF-T 18 th MI CPITN RTI MI RTI PTI % protesa PTI % dentally fit Sakit/kuratif (% keluhan) Cacat/ Rehabilitatif (% 20 gigi berfungsi) % edentulous • • • Sumber WHO. hilang seluruh gigi asli. perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi.1995). RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan. protektif. 2005 Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies. kuratif maupun rehabilitatif. baik melalui wawancara maupun pemeriksaan gigi-mulut. dan jenis perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. Hasil wawancara dan pemeriksaan gigimulut tersebut dapat terlihat pada tabel-tabel berikut. anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi. Analisis untuk dentally fit tidak bisa dilakukan. Dalam Riskesdas 2007 ini dikumpulkan berbagai indikator kesehatan gigi-mulut masyarakat. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T. penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5% (WHO.

4 31.8 0.7 1.1 30.1 26.7 0.1 0.0 3.7 0.0 23.3 31.9 30.0 23.0 0.5 23.6 22.8 25.7 1.5 0.8 23.0 Hilang seluruh gigi asli 1.2 25.7 0.7 1.7 23.4 19. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut terdapat 29.6 131 .4 30.9 2.7 18.6 1.0 25. Riskesdas 2007 Menerima Provinsi Bermasalah Gigi – mulut NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.7 21.1 34.4%.6 0.9 20.2 2. Tabel 3.2 21.3 22.6 29.5 33.5 22.1 19.8 36.7 15.2 39.6 22.1 20.6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya.5 27.9 21.2 0.6% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.1 24.76 menggambarkan prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.4 1.2 2.9 1.3 27.8 0.7 1.0 1.76 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Provinsi.4 2.2 42.4 21.1 17.7 2.5 2.5 25.4 29.0 39.4 37.1 1.2 25. Prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir adalah 23.1 23.Tabel 3.9 34.3 25.6 1.4 Indonesia 23.4 24.5 24.5 1.0 28.2 1.7 35.5 25.0 24.9 0.8 2.2 28.3 25.0 2.5 31.8 31. dan terdapat 1.5 33.5 16.7 perawatan dari tenaga medis gigi 44.6 20.1 26.6 30.1 26.3 4.9 20.7 19.6 29.

Tabel 3.77 menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi-mulut bervariasi menurut karakteristik responden.9%). Dapat dilihat bahwa jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut.0%).Lima provinsi dengan prevalensi masalah gigi-mulut tertinggi. Dari yang mengalami masalah gigi-mulut. Sulawesi Tengah (31. dan Sumatera Selatan (10.6%. Penambalan/pencabutan/bedah gigi tertinggi di Kepulauan Riau (55.3% dan 4.9% (6/54) didapatkan dari 16. Kesadaran untuk melakukan konseling relatif sedikit di semua provinsi (13. yaitu ‘pengobatan’ (87..2%).9%).6%). Prevalensi masalah gigi-mulut dan kehilangan gigi asli menunjukkan kecenderungan menurut umur.5%). tetapi mulai kelompok umur 55 tahun prevalensi masalah gigi-mulut menurun kembali. Sumatera Selatan (17. Konseling perawatan/ kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil.747 bayi yang diwawancara (orang tuanya). dan pada kelompok umur 65 tahun ke atas hilangnya seluruh gigi mencapai 17. 175 bayi mempunyai masalah gigi/mulut. yaitu Gorontalo (33.7%). dan terendah di DKI Jakarta (74.79 menjelaskan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut karakteristik responden. Tetapi ada kecenderungan.3%). Tabel 3.2%).0%) dan Bangka Belitung (3.2%). semakin besar persentase yang melakukan penambalan / pencabutan / bedah gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. semakin besar persentase penduduk yang menerima perawatan/pengobatan gigi. provinsi dengan persentase yang menerima perawatan/pengobatan gigi dari tenaga kesehatan gigi tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (44.6%. masing-masing sebesar 13. Aceh (30.8%) dan Kalimantan Selatan (29. Menurut tipe daerah. Prevalensi masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan/pengobatan gigi sedikit lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Lampung (18.78 menggambarkan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi. 54 diantaranya mendapat perawatan dan 6 yang mendapat perawatan pencabutan/bedah mulut oleh karena sebab yang tidak diketahui.9%) dan terendah di NTT (23. Pemasangan gigi tiruan lepas/cekat terlihat tinggi di tiga provinsi yaitu di Kepulauan Riau (12. namun terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4. Prevalensi masalah gigi-mulut ini tidak menunjukkan hubungan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5%) dan terendah di Maluku Utara (19. serta persentase penduduk yang mengalami kehilangan seluruh gigi asli sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.1%). jauh di atas target WHO 2010. Pada kelompok umur 45-54 tahun sudah ditemukan 1. Sulawesi Utara (29.8% hilang seluruh gigi asli. sedangkan menerima perawatan/pengobatan gigi di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan. disusul ‘penambalan/pencabutan/bedah gigi’ (38.6%). Meskipun prevalensi penduduk yang mengalami hilang seluruh gigi asli terlihat relatif kecil 1.6% Menurut provinsi. Tidak ada pola yang jelas jenis perawatan gigi yang diterima menurut kelompok umur. Tabel 3.4%). kecuali dalam hal perawatan/pengobatan gigi. pengobatan paling tinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (94.5%).0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (19.5%). prevalensi masalah gigi dan mulut.9%). semakin meningkat umur. Semakin tinggi umur. DI. Provinsi dengan prevalensi gigi-mulut terendah adalah Sumatera Utara (16. Mulai umur 65 tahun ke atas persentase yang melakukan penambalan / 132 . Sedangkan yang menerima perawatan/pengobatan gigi tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur. Sulawesi Barat (11.2%).. Data tentang persentase pencabutan/penambalan/bedah mulut pada bayi (<1 tahun) sebesar 10. Kepulauan Riau (19. semakin meningkat prevalensi masalah gigi-mulut.1%).3%).

4 1.9 Perdesaan 24.2 28.3 29.6 29. pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat dan konseling perawatan gigi lebih tinggi di perkotaan.7 1.1 27.5 23.8 31.1 22. Sebaliknya untuk pengobatan.4 Kuintil-3 23. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur ( tahun) <1 1 .1 29.8 1.3 37.1 0.7 Kuintil-2 23.6 Bermasalah Gigi-mulut Menerima perawatan Hilang seluruh gigi asli Jenis kelamin Laki-laki 22.5 26.1 6. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 17.7 0 0 0 0 0 0. yang melakukan pengobatan cenderung menurun.8 5.4 1.4 30.7 28.5 Kuintil-4 23.77 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Karakteristik Responden.8 1.6 133 .pencabutan gigi mengalami penurunan. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dan melakukan konseling gigi. pemasangan gigi tiruan lepasan.9 21.5 24. Menurut tipe daerah.3 1. Pemasangan gigi tiruan sudah ditemui pada kelompok umur anak sekolah dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur.4 5 .9 26.6 1. semakin tinggi persentase penduduk yang melakukan penambalan/pencabutan gigi.6 20.5 Perempuan 24.7 Kuintil-5 23.9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ 1.6 21. tidak ada perbedaan persentase pemanfaatan jenis perawatan gigi yang mencolok antara laki-laki dan perempuan. jenis perawatan penambalan/pencabutan gigi.6 1.6 31.8 26.3 Tipe daerah Perkotaan 21.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 22.6 1.6 26.7 37 25.3 30.1 28.5 30. Menurut jenis kelamin. sedangkan pengobatan lebih tinggi di perdesaan. Tabel 3.7 32 31.4 1.

2 13.6 13.0 1.2 87.8 55.5 25.3 2.0 1.3 48.0 2.2 36.7 14.7 11.3 2.3 0.4 4.5 21.9 11.0 81.1 1.3 11.2 Pemasangan gigi lepasan / tiruan 4.5 2.8 9.6 6.6 21.2 89.0 86.9 4.5 15.1 39.1 3.3 2.7 25.6 92.3 3.2 40.2 2.0 1.3 10.4 37.3 4.6 87.3 44.8 23.0 1.2 134 .5 3.8 91.9 2.7 42.0 3.6 12.9 4.4 14.7 90.7 91.0 37.8 88.7 90.2 85.7 34.6 45.6 12.9 32.0 4.6 12.3 36.5 35.8 52.3 85.7 5.5 45.5 74.8 6.Tabel 3.8 1.4 2.5 10.5 88.6 1.1 85.9 32.8 4.5 4.3 6.6 5.0 2.1 Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi 32.9 12.0 86.8 9.4 9.8 34.9 1.7 89.8 81.2 2.9 89.9 3.3 84.1 20.0 2.2 12.2 4.0 2.0 0.8 28.5 16.0 2.7 7.9 35.3 6.9 5.78 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.6 86.9 1.8 42.5 91.4 83.0 5.9 2.5 4.5 53.9 54.5 2.6 21.8 5.2 5.6 2.0 80.6 2.6 82.8 18.0 2.2 15.0 2.1 3.9 4.2 85.9 7.4 14.3 22.0 43.2 Indonesia 87.1 83.1 2.6 Lain nya 0.3 0.6 38.7 20.8 0.8 9.9 43. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tengga Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pengobatan 94.9 83.7 10.0 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 13.2 2.5 93.6 81.0 39.1 47.4 16.9 92.2 13.4 46.6 11.3 4.5 42.1 4.5 10.2 13.

6 4.5 35.8 5.1 2.0 33.8 2. menggosok gigi yang benar adalah menggosok gigi setiap hari pada waktu pagi hari sesudah makan dan malam sebelum tidur.0 0.0 1.9 32. Riskesdas 2007 Karakterisktik Responden Pengobatan Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi Pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat 0.2 4.8 2.8 39.4 37. 135 .8 1.6 30.7 41.7 39.2 12.5 13.79 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.5 2.7 86.0 0.5 4. Didapatkan bahwa pada umumnya masyarakat menggosok gigi setiap hari pada waktu mandi pagi dan atau sore 90.0 2.7%.2 89.4 4.3 14.5 90.7%) dan Papua (58.4%).1%) mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari.4 13. Tiga provinsi yang mempunyai persentase tertinggi dalam hal menggosok gigi adalah DKI Jakarta (98.4 84.2 15.6% dan sebelum tidur malam hanya 28.7%.0 89.3 2.7 11.7 93.0 1–4 5–9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 + Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 84.Tabel 3.80 berikut ini menggambarkan perilaku penduduk umur 10 tahun ke atas yang berkaitan dengan kebiasaan menggosok gigi.8%).0 0.1 12.9 12.4 13.1 43.6 32.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3. dan Kalimantan Timur (95.2 11.7 29.8 45.2 11. Jawa Barat (95. juga adanya wilayah yang masih sulit terjangkau informasi akibat keadaan geografi yang bervariasi.2 14.1 2.7 81.1 88.7 1.0 88.5%). Untuk mendapatkan hasil yang optimal.3 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 83.2 2.4 3.4 2.7 1.5 6.9 9.1 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 6. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan gigi-mulut.2 10.4 46.0 4.3 87. Sebagian besar penduduk umur 10 tahun ke atas (91.5%).4 4.0 3.9 36.5 44.6 89.6 7.5 2.3 2.2 3.7 13.4 87.4 11.2 2.8 16. sedangkan yang terendah di Provinsi NTT (74. dan kapan waktu menggosok gigi dilakukan.3 2.6 14. Proporsi masyarakat yang menggosok gigi setiap hari sesudah makan pagi hanya 12.4 9.9 87.6 2.4 39.5 13.2 43.2 2.8 12.4 87.5 84.5 88.6 10.4 88.6 4.

0 84.2 1.7 32.9 48.9 12.9 50.6 28.1 31.7 94.8 94.9 89.0 84.3 26.2 9.0 9.9 92.5 94.3%) .2 25.2 88. Maluku (26.5 6.0 25.3 86.0 16.5 3.2 17.3 17.7 1.9 22.7 86.9 95.5 92.7 34.3 22.9 37.0 98.0 92.4 92.1 11.3 10.3 97.9 84.9 14.6 90.3%).5 95.0 11.2 24.7 32.9 2.0 3.2 90.8 2.3 25.3 19.4 13.3 5.4 26.0%).8 9.4 4.Tabel 3.4 2.9 27.1 18.1 4.1 91.8 86.8 14.7 48.0 38.8 3.7 1.2 4.3 15.3 92. Lampung (5.1 42.7 3.6 93.3 12.2 26.0 3.7 93.2 12.2 20.7 12.2 95.8 92.1 2.5 96.7 94.9 46.7 40.5 1.1%) dan Sumatera Utara (6.7 89.2 94.8 89.7 25.7 85.5 90.80 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.4 28.7 74.7 9.7 Sesudah makan pagi 10.9 16.9 27.3 20.8 92.7 13.1 31.0 37.4 2.4 89.6 3.3 80.7 31.8 13.6 31. Adapun provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi sebelum tidur 136 .7 20.0 32.4 13.7 1.3 25.8 15.7 88.2 24.7 23.9 91.4 28.4 3.8 1.4 91.0 5.6 92. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari 87.6 26.7 Provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi setelah makan pagi adalah Papua Barat (30.1 15.9 1.6 9.9 26.2 23.4 94.3 94.9 24.5 94.4 41.9 2.4 35.0 95.3 16.0 6.8 94.6 22.4 17.9 3.4 90.3 27.5 2.7 19.9 34.5 34.7 Lainnya Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.0 87.1 58.2 68.7 92.7%) dan Sulawesi Tenggara (26.8 11.8 18.9 91.1 40.6 94.5 15.5 74.6 42.5 95.6 9.0 95.3 30.6 20.7 32.9 95.6 11.7 3.8 44.7 2.4 27.8 94.0 88.0 16.7 6.4 95.5 22.5 2.5 94.9 31.2 86.6%).2 2.9 44.6 34.6 Sesudah bangun pagi 27.8 42.0 94.2 Sebelum tidur malam 20.3 93.9 96.8 2.1 Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 88.5 35. Sedangkan persentase yang terendah di Provinsi Sumatera Barat (5.

1%).5 90.4 27.4 88.8 3.5 91.9 25.8 3.3 90. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 90. Sulawesi Selatan (48. persentase penduduk menggosok gigi setiap hari maupun semua jenis waktu menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.5 22. Sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur.4%).9 96. Menurut umur.8 21. Bali dan Kalimantan Selatan masing-masing (44.4 3.8 91.3 26. sedangkan yang terendah Provinsi Lampung (14. Tabel 3.8 11.9 29.6 3.2 58.9 3. Begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 10.0 33.5 3.0 Lainnya Karakteristik Responden Kelompok umur ( thn) 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan 93.5 18.7 2.8 13.8 13.7 13.2 11.6 Perdesaan 88.0 26.3 15.0 11.4 27.2 28.3 91. NTT (16.2 85.81 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.3 3.0 4.0 94.7 4.1 25.0%) dan Jambi (17.5 Sesudah makan pagi 11.9 30.5 26.. terutama mulai umur 15 tahun ke atas .5 3.4%).malam adalah Kepulauan Riau (50.1 92.3 14.1 92. hanya kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam terlihat lebih banyak pada perempuan.9 11.8 38. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi penduduk yang berperilaku benar dalam menggosok gigi. Persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.8 89.2 89.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 88.8 91.8 25.6 11.9 Sebelum tidur malam 25.4 3.8 96.9 90.9 3.0 90.0 93.5 90.2 25.8 13.7 89.0 4.0 91.3 95.9 3.2 28.1 30. Tabel 3.81 menunjukkan perilaku penduduk dalam menggosok gigi bervariasi menurut karakteristik responden.6 Sesudah bangun pagi 25.7 92.0 91.3 10.3 25.7 90.6 38.6 80.6 31.4 11.1%).4 Menurut tipe daerah.3 4. terutama di perkotaan.0 26.0 27. persentase penduduk 137 .5%).7 27.5 28.2 12. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 24.5 31.9 21.5 90.2 26.

5 82.3 Indonesia 7.7 Tidak 95.0 89.3 12.9 7. Riskesdas 2007 Berperilaku benar menggosok gigi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ya 4.3 94.9 89.2 97.5 92.7 6.2 15.9 4.6 11.2 8.7 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi setiap hari dengan cara yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).3 9. Pada Tabel 3.1 92. 138 .5 3.9 7.5 7.8 8.5 96.4 9.7 87.8 82.8 91.3 92.82 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.7 5.0 93.82 disajikan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.3 9.1 95.menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.6 90.1 7. Tabel 3.3 93.0 10.7 5.8 84.9 3.9 92.1 92.9 95.4 5.5 15.0 6.4 91.2 5.2 89.6 8.4 88.2 97.7 90.5 84.5 17.8 2.1 96.1 4.2 17.8 94.9 91.3 94.8 2.2 91.8 10.7 91.1 8.1 10.6 95.

0 Tipe daerah Perkotaan 9. Begitu pula menurut tipe daerah. Sumatera Barat (2.1%). 139 .2 15 – 24 8.5 35 – 44 7.8 91. Sedangkan yang terendah di Provinsi Lampung (2.4 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).8 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 5.6 Kuintil-4 7.4 65+ 3. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Berperilaku benar menyikat gigi Ya Tidak 93.Dikategorikan berperilaku benar dalam menggosok gigi bila seseorang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari dengan cara yang benar.6 Perdesaan 5. persentase perilaku benar dalam menggosok gigi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki. persentase penduduk berperilaku benar menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.2 94.3 93.7%). Menurut umur.5 Jenis Kelamin Laki-laki 6.5 92. yaitu dilakukan pada saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam.8 Kuintil-3 6.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden.6 setiap hari dengan cara Kelompok umur (tahun) 10 – 14 6. Sedangkan menurut jenis kelamin.4 Perempuan 8.2 Kuintil-2 5.7 45 – 54 6. Tampak persentase penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi masih sangat rendah. Tabel 3. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.8 25 – 34 8.4%).6 92. Provinsi dengan persentase penduduk tertinggi dalam berperilaku benar menggosok gigi adalah Papua Barat (17. Kepulauan Riau (17.6 96.2 91.3%.9%).5 93.6 55 – 64 5.83 menggambarkan perilaku benar menggosok gigi menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.9 Kuintil-5 10.4 94.1 89.7%) dan Jambi (3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. semakin tinggi persentase yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.8 94.3%) dan Sulawesi Tenggara (15. yaitu 7. ada kecenderungan persentase penduduk berperilaku benar dalam menggosok gigi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur.2 93.0 90. terutama mulai umur 15 tahun ke atas.4 92.4 94. Tabel 3.

06 0.85 5.80 1.06 1. Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4.84 menyajikan komponen DMF-T menurut provinsi.01 2.92 3.53 6.84 0.27 0. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang.73 3.66 4.02 0.60 3.53 4.01 6.05 0.89 1.06 0.22 6.28 3.18 4.98 4.92 0.43 1.25 4. M.84 3.66 2.02 5.39 3.09 0.08 0.77 0.85 140 .84 Komponen D.02 3.04 1.73 3.44 3.92 4.21 2.11 0. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D-T (X) 1.11 6.35 1.88 1.70 3. Tabel 3.35 1.82 2.09 0.04 1. dan Filling/F (gigi ditumpat).69 3.05 0.83 5.34 4. dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan.36 1.52 3.04 0.83 5.55 3.16 4.05 4.16 0.18 0.90 3.61 4.96 F-T (X) 0.60 2.52 3.77 1.25 4.08 5.12 0.38 0.84 4.02 0.19 Indonesia 1.08 0.60 4.05 0.93 3. M-T.19 1.68 3.13 1.50 1. merupakan penjumlahan dari indeks D-T.85.08 0.04 0.86 0.94 3.02 0.05 0.43 5.08 0.60 3.37 3.06 0.41 1.47 2.05 0.71 4. Missing/M (gigi dicabut).43 5.06 0.35 1.06 0.05 0.22 3.11 M-T (X) 3.08 0.31 1.08 4.05 Index DMF-T (X) 4.53 3.46 4.04 0.50 1.05 0.02 0.25 3.73 4. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3.86.00 1.01 5.92 2.00 1.24 1. dan F-T yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang).68 1.59 4.38 1.34 1.08 0.03 5.42 1.04 0.Tabel 3.08 5.66 3.01 2.38 5. Indeks DMF-T sebagai indikator status kesehatan gigi.05 0.27 4.95 1.

86 menyajikan prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.27. hal ini mungkin berkaitan dengan cara dan alat pemeriksaan yang digunakan.22 3.46 18.26 3. M.83).57 0.89 4. dicabut maupun ditumpat). bahkan pada kelompok umur di atas 65 tahun DMF-T sudah menjadi 18.99 0.33 0. yaitu Kalimantan Selatan (6. Riskesdas 2007 D-T (X) M-T (X) F-T (X) Karakteristik responden Index DMF-T Kelompok umur ( tahun) 12 0.16 16. DMF-T yang ditemukan pada Riskesdas ini lebih rendah dari temuan SKRT 1995 sebesar 6. yang berarti kerusakan gigi rata-rata 18.77 Tabel 3.06 Kuintil-3 1.DMF-T hampir sama pada kelompok penduduk dengan semua umur tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.24 0.29 4.47 0.14 0.13 4.05 Kuintil-2 1.90 0. Bahkan komponen yang terbesar adalah M-T (rata-rata gigi dicabut) sebesar 16.08 Kuintil-5 1.92 4.13 3. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita .41 4.12 Catatan D-T : Rata2 jumlah gigi gigi berlubang per orang.44 2.15 4.04 35 – 44 1. Pada kelompok umur 35-44 tahun DMFT tinggi (4.07 Kuintil-4 1. 1997 dan Kristanti dkk.11 3.90 0.87 4.91 0.38). F-T : Rata2 jumlah gigi ditumpat.08 65 + 1.27 buah per orang.41 0.89 0.33 4.06 Perempuan 1.79 4.14 1.55 5. Jawa Timur (6. dan Sulawesi Tengah (5.24 3.09 Tipe daerah Perkotaan 1.57 0. (Kristanti dkk.07 15 0. Tabel 3. Dikategorikan karies aktif bila memiliki indeks D-T >0 141 .90 0.13 0.22 3. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden. DI Yogyakarta (6.85 Komponen D.72 0.98).97 per orang.88 0. 0.02 18 0.3.44).74 0.22 4.83%).85 di atas menunjukkan jumlah kerusakan gigi meningkat seiring dengan peningkatan umur berdasarkan Indeks DMF-T. 2002) Tabel 3.46).10 Perdesaan 1.36 5.06 Tingkat pengeluaran/ kapita Kuintil-1 1. M-T : Rata2 jumlah gigi dicabut/indikasi pencabutan. DMF-T : Rata2 jumlah kerusakan gigi per orang (baik yg masih berupa decay. DMF-T lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan. Kalimantan Barat (6.27 3.4 dan SKRT 2001 sebesar 5.91 1.DMF-T di lima provinsi sangat tinggi.14 Jenis Kelamin Laki-laki 1.

86 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.4 75.8 77.0 37. prevalensi karies aktif tertinggi 142 .2 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.6 47.2 49.9 76. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.4 50.5 83.atau karies yang belum tertangani dan mempunyai pengalaman karies bila indeks DMFT >0.1 72.9 77.2 51.6 75.0 59.2 68.0 43.0 34.2 55.2 58.7 55.6 44.8 37. Tabel 3.9 62.5 60.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Karies aktif 41.8 40.4 48.7 49.0 40.4 75.5 55.1 50.1 52.1 58.8 40.0 42.3 Indonesia 43.5 68.1 41.8 65.8 40.1 71.4 77.6 30.5% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72.4 67.2 61.9 54.9 78.6 39.9 34.4 62.1 43.1 67.5 86. Menurut provinsi. Riskesdas 2007 Pengalaman karies 62.3 60.6 53.8 39.3 56.4 64.1 70.4 39.4 67.8 43. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi karies sebesar 46.0 51.1%.9 71.6 40.3 47.3 37.

Jambi (77.5 94.1%). Pengalaman karies sedikit lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.3%).6%).6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42. tetapi di perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan di peran. ada kecenderungan semakin meningkat umur.9 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.8 80.7 Perempuan 43. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi pengalaman karies (DMF-T>0) sedikit lebih tinggi pada kelompok perempuan dan di perdesaan.5%).7%) Kalimantan Timur (50. Sulawesi Utara (82.87.5 65 + 32.2%).8%).0 66. Riau (53.8%). Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.2 50. adalah Bangka Belitung (86.2%).4 Kuintil-5 42. Lampung (54.5 Perdesaan 44.2 65. Yogyakarta (52. dan Jawa Timur (76. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.6 Kuintil-2 43.2 Kuintil-3 43. Tabel 3.8 67.6 68. Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (57. Maluku (77. Sedangkan sepuluh provinsi dengan prevalensi pengalaman karies tertinggi. Maluku (54.9%).0 68.5 Kuintil-4 44. Kalimantan Barat (78.(lebih dari 50%) ditemukan di Jambi (56. Bangka Belitung (50. Kalimantan Selatan (84.9%). DI Yogyakarta (78.87 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden. Sedangkan prevalensi karies.. Kalimantan Selatan (50.4%).4 Jenis Kelamin Laki-laki 43. Menurut kelompok umur.7%). seperti tersaji pada Tabel 3. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.5 Tipe daerah Perkotaan 42.8 35 – 44 53.8%). semakin meningkat yang mempunyai pengalaman karies. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50. .8 36.7 66.1 15 36. meningkat sampai umur 35-44 tahun dan menurun kembali pada umur 65 tahun ke atas.1 43. ada 143 .3 67.5 64. Sedangkan prevalensi karies tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.6 18 41.3%).6%) dan Kalimantan Tengah (76. Riskesdas 2007 Pengalaman karies Karakteristik responden Karies aktif Kelompok umur ( tahun) 12 29.4).4%.9%).8 68.7%). Kalimantan Timur (76.

6 79.7 26.8 68. Namun prevalensi karies tidak menunjukan pola tertentu pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 Dari tabel di atas tampak PTI (motivasi seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap) sangat rendah hanya 1.5 18.4 8.0 86.5 1.9 71.1 65.9 83.1 76.8 35.3 1.8 1.3 20.6 81.88 di bawah ini menyajikan persentase gigi tetap yang ditumpat dan persentase gigi tetap yang karies menurut provinsi.8 75.8 33.6 32.5 32.7 3.8 19.6 74.2 76.2 27.2 1.8 24. Tabel 3.4 72.7 91.6 1.6 1.0 71.7 19.4 1.9 25.0 27.0 1.9 28.9 0.7 22.1 22.1 1.4 31.8 24.7 76.1 0.8 77. sedangkan RTI (besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan 144 .5 28.7 1.6 76.9 80.7 2. Tabel 3.9 76.9 0.4 1.9 1.1 22.2 0.6 67.2 79.3 77.5 26. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RTI PTI MTI (D/DMF-T)x100% (F/DMF-T)x100% (M/DMF-T)x100% 23.7 2.3 22.6 88.6 1.7 1.4 1.5 69.2 33.2 1.4 77.2 21.2 35.0 70.9 26.kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang mempunyai pengalaman karies.6 1.1 92.7 27.7 16.2 0.6%.2 75.2 69.8 102.9 1.0 1.0 70.0 35.6 0.8 19.2 83.8 1.8 74.7 Indonesia 25.6 0.88 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi.2 1.6 4.8 25.3 1.7 77.6 29.

8 Kuintil-5 23.3 81.4 1.penumpatan/pencabutan) sebesar 25. tetapi semakin menurun nilai RTI-nya.4 78.1 Kuintil-3 25. Tabel 3.1 1. namun menurun pada umur yang lebih tinggi.9 0.6 80. 145 .9 2. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. RTI pada laki-laki lebih tinggi dan PTI-nya lebih rendah dari pada perempuan.9 92.4 1.6 33.7 79.8 Tipe daerah Perkotaan 25.6 78. Riskesdas 2007 RTI (D/DMF-T)x100% PTI (F/DMF-T)x100% 0. Sedangkan menurut jenis kelamin.3 Kuintil-4 24.4 35 – 44 32. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T. Persentase PTI dan RTI pada tabel 3. Nilai PTI di perkotaan dua kali lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi pula nilai PTI.2 80.89 menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.1 79.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 26.8 Perempuan 23.0 Kelompok umur ( tahun) 12 62.0 64.8 1.3 18 63.6 2.2 28. Menurut umur.2 1. semakin baik motivasi penduduk untuk merawat kesehatan giginya.6 1. Terdapat 20 provinsi yang angka RTI-nya diatas rerata nasional dan terdapat 18 provinsi yang mempunyai nilai PTI di bawah rerata nasional.3 Kuintil-2 26. sedangkan nilai RTI kurang lebih sama.6 78.2%..0 Catatan: Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T.7 Karakteristik responden MTI (M/DMF-T)x100% 26.7 1. Berarti semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 80.89 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden.3 65 + 6.3 Jenis Kelamin Laki-laki 26.3 15 65.8 2. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.2 1.5 Perdesaan 25. mulai umur 15 tahun nilai RTI cenderung menurun seiring meningkatnya umur. sedangkan nilai PTI tinggi pada umur 18 tahun.5 1.

dan penggunaan protesa pada responden yang umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.3 95.9 5.6 3.5 2.0 2.5 2.0% penduduk umur 12 tahun ke atas memiliki fungsi normal gigi (mempunyai minimal 20 gigi berfungsi).8 5.4 90.4 0.5 Protesa 4.9 91.0 91.6 2.3 3.2 91.Tabel 3.0 2.7 5.0 95.2 90.2 2.1 91.3 90.5 Dari tabel di atas terlihat 91.1 1. Edentulous.0 2.1 3.9 92.6 Edentulous 2.5 88.3 6.8 9.4 4.6 94.1 92.8 6.7 1.0 1.8 2.9 94.9 93.9 3.9 2.6 12.0 0. Tabel 3.9 7.5 0.5 91.4 1.3 95.0 4.5 2.3 4.5 4.3 2. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Fungsi Normal 92.4 1.1 4.0 0.5 91.0 1.7 10.9 4.2 93.9 1.5 3.1 86.6 89.7 1.7 3.90 di bawah ini menyajikan proporsi fungsi gigi normal.9 4.2 2.1 93.1 0.7 1.9 11.3 85.0 4.0 93.0 86.9 2.2 4.7 0.5%).8 4.2 94.0 2.90 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi. Proporsi penduduk dengan fungsi gigi normal tertinggi di Provinsi Banten 146 .2 88.0 5.0 2.9 2.3 0.7 0.0 Indonesia 91.0 92. Protesa dan Provinsi.3 1.5 94.0 3. gigi tetap yang hilang semua (edentulous).0 91.6 3.8 88.4 2.2 84.5 2. lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (86.6 0.

1 0.0 5.7 1.2 4. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas hanya 41.0 0.9 89. namun penggunaan protesa miningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2%).6%.9 2.0 0.1 5. (95.91 tampak proporsi responden umur 35 – 44 tahun dengan fungsi gigi normal sebesar 95.0 0.9 99.4 5.1 2.(95.3 89.6 14. Adapun proporsi edentulous penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 17. Edentulous.2%).1%).3 1.6 5.0 90.9%. Proporsi penduduk yang edentulous dan penggunaan protesa meningkat seiring dengan bertambahnya umur. masih jauh di bawah target WHO (75%) namun masih lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (30.2 90.2%. Proporsi edentulous atau hilang seluruh gigi sebesar 2. Riskesdas 2007 Karakteristik Fungsi Normal Edentulous Protesa Kelompok umur ( tahun) 12 15 18 35 – 44 65 + Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 99.1 2.0% sedikit lebih rendah daripada hasil SKRT 2001 (2.6%).0%).0 0.7%).7 2. Tabel 3.5 1. tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (4. Proporsi fungsi gigi normal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding dengan perempuan.2%).5% penduduk telah memakai protesa atau gigi tiruan lepas atau gigi tiruan cekat. Proporsi penduduk dengan fungsi normal gigi.9 41. edentulous dan penggunaan protesa bervariasi menurut karakteristik responden.2 91.3%) dan Sulawesi Barat (11.9 95.9 5.6 1.1 90. Secara umum 4. fungsi normal gigi dan edentulous tersebar merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga. Edentulous lebih banyak dijumpai pada perempuan dan lebih tinggi di perdesaan.0 4. Protesa dan Provinsi. dan Gorontalo (95.3 6.2 2.4 2.3 90.2 2.4 17. lebih tinggi dari target WHO pada tahun 2010 (90%) dan SKRT 2001 (91.5 5.4%).91 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.3 91. tertinggi ditemukan di Kepulauan Riau (12.9 147 .4 91. masih jauh di atas target WHO pada tahun 2010 (5%). Dari tabel 3.9 99.9 4.0%) dan Keppulauan Riau (3.

yang mungkin dapat memperkirakan penyebab anemia tersebut. 1 MCV = Ht/Σ eritrosit MCH = Hb/Σ eritrosit MCHC = Hb/Ht 148 . MCH (mean corpuscular haematocrit). dan anak-anak) dikurangi 1 SD (Χ – 1SD). dengan perincian 13. umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No.751 spesimen darah anak-anak (<15 tahun).1 Ke tiga nilai yang terakhir ini diukur untuk menentukan jenis anemia. Nilai yang diukur adalah kadar Hemoglobin (Hb).810 spesimen darah. Pemeriksaan anemia terhadap spesimen darah responden semua umur dilakukan di laboratorium kabupaten/kota setempat.5.5 Biomedis 3.972 spesimen darah perempuan dewasa (>15 tahun) yang tidak hamil.1 Anemia Data biomedis diperoleh dari pemeriksaan darah vena yang diambil dari 8% responden penduduk perkotaan.67g/dl. Tabel 3. yaitu : Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl Hb perempuan dewasa : >12 g/dl Hb anak-anak : >11 g/dl Hb ibu hamil : >11 g/dl Seseorang dikatakan anemi bila kadar Hb nya kurang dari nilai baku tersebut di atas. dan 278 spesimen darah ibu hamil. Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak. ditetapkan rentang nilai Hb normal versi Riskesdas untuk ke empat kelompok di atas (Tabel 3. seseorang dikatakan anemi bila Hb nya lebih kecil dari nilai rerata Hb nasional untuk kelompoknya (perempuan dewasa. laki-laki dewasa 14.93). Secara nasional diperoleh nilai rerata Hb untuk perempuan dewasa sebesar 13. dan MCHC (mean corpuscular haematocrit concentration). anak-anak dan ibu hamil di perkotaan menurut provinsi.00g/dl.67g/dl.3. Bila menggunakan nilai rerata Hb yang diperoleh dalam Riskesdas. dan ibu hamil 11. Dengan nilai-nilai tersebut di atas dan simpangan baku (standard deviation) untuk masing-masing rerata. 8. 11. Salah satu hasil biomedis adalah data anemia. laki-laki dewasa.81g/dl.92 memperlihatkan hasil pemeriksaan berupa nilai rerata Hb untuk perempuan dan laki-laki dewasa.809 spesimen darah laki-laki dewasa (>15 tahun). Telah diperiksa 34. anak-anak 12. 736a/Menkes/XI/1989. MCV (mean corpuscular volume).

41 12.54 14.26 12.31 12.86 12.78 13.809 14.35 13.07 12.25 13.61 12.78 12.48 13.21 14.96 12.97 12.76 12.81 149 .9 12.32 14.22 14.17 12.972 13.06 12.11 12.16 15.1 12.49 12.17 14.05 168 533 322 39 157 219 221 305 226 57 485 1471 1617 207 1953 307 736 337 160 182 218 253 331 220 125 483 157 75 58 47 70 28 42 Laki-laki dewasa ∑ specimen Nilai rerata Hb (g/dl) 14.76 14.87 12.07 13.67 12.97 12.12 12.92 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Perempuan dewasa Provinsi ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 288 691 483 73 178 246 229 313 232 48 685 1631 1841 253 2236 327 833 359 184 239 268 295 405 265 157 594 205 86 70 83 95 41 39 13.67 8.91 13.Tabel 3.00 11.67 278 11.44 15.79 12.18 15.751 12.06 10.8 13.53 13.13 13.66 12.23 13.48 13.5 13.75 12.82 12.54 15.59 12.73 12.43 12.54 11.74 13.83 12.63 15.07 Anak-anak (< 14 tahun) ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 115 433 315 41 77 103 175 199 147 20 366 1136 1075 115 1299 169 556 286 170 173 123 181 323 198 123 396 144 57 66 45 57 44 24 13.1 Ibu hamil ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 1 15 8 1 10 5 2 4 0 0 15 50 37 4 28 5 6 8 4 2 11 11 6 7 1 20 10 0 3 0 3 0 1 Indonesia 13.76 12.03 14.37 14.14 13.52 15.6 13.76 13.53 12.21 14.33 13.69 12.77 13.36 14.62 13.85 15.74 14.9 13.27 11.17 12.02 14.25 14.55 12.79 12.53 14.8 14.45 14.79 12.51 14.11 12.75 13.01 15.28 12.22 12.15 13.8 14.58 14.48 14.65 12.06 12.56 14.36 13.82 12.

Prevalensi anemia ditemukan sangat tinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara. Terdapat 20 provinsi yang mempunyai prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional. menurut provinsi. Berturut-turut mengacu pada batas nilai normal Riskesdas dan SK Menkes adalah 11.7% untuk anemia perempuan dewasa perkotaan.09 – 14. dan menurut acuan nilai Riskesdas 39 orang (14. dapat dilihat pada Tabel 3.2% dan 13.51 11.736a tahun 1989.Tabel 3.55 Rerata ± 1SD (g/dl) 11. ibu hamil yang menjadi responden biomedis (diambil darahnya) adalah sebanyak 278 orang (tidak tampak dalam Tabel 3.93 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki-laki Dewasa.84 1.83 – 16.28 – 14.67 12. 150 .26 – 13.0%) menderita anemia.00 14.5%) di antaranya menderita anemia menurut acuan nilai SK Menkes.81 Nilai SD (g/dl) 1.36 Tabel 3.72 1.8% dan 9. berdasarkan nilai rerata Riskesdas dikurangi 1SD dan berdasarkan nilai baku SK Menkes No.9% (menurut acuan Riskesdas). Selanjutnya dari total 33 provinsi. Tampak bahwa secara nasional prevalensi anemia sebesar 14.25 10.95. 12. menurut provinsi.94).8% untuk anak-anak. Tampak bahwa terdapat perbedaan prevalensi anemia menurut kedua acuan baku di atas. untuk kedua acuan nilai di atas.67 11. setelah disesuaikan untuk perempuan. serta 12.8% (menurut acuan SK Menkes) dan 11. laki-laki dan anak-anak (adjusted for group). 68 orang (24. Prevalensi anemi secara umum.3% dan 19.72 12.58 1. Riskesdas 2007 Kelompok Nilai rerata Hb (g/dl) Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak (< 14 thn) Ibu hamil 13.94 memperlihatkan prevalensi anemia pada perempuan (tidak hamil) dan lakilaki dewasa serta anak-anak.1% untuk laki-laki dewasa perkotaan. Anak-anak dan Ibu Hamil.

8 10.6 17.3 13.8 7.6 4.1 8.7 5.2 25.6 19.9 3.9 8.9 23.3 7.4 18.3 12.8 5.83g/dl Anak-anak Anemia (%) SK Menkes <11g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.2 12.5 25.5 17.9 8.6 7.6 5.1 17.3 5.9 24.6 8.3 14.1 34.4 27.0 10.0 14.8 12.3 16.6 17.3 4.8 5.4 21.5 5.8 15.94 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.8 28.9 12.0 8.8 7.4 8.9 14.3 21.1 7.1 3.3 14.5 18.5 16.6 13.3 25.4 12.8 13.0 8.4 19.7 11.9 24.6 17.9 21.5 24.3 9.2 12.2 12.4 12.9 20.7 Indonesia 19.5 17.6 8.2 7.1 13. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Anemia (%) SK Menkes <12g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.4 10.3 9.7 13.Tabel 3.5 16.8 26.5 10.5 12.3 13.4 11.1 8.7 11.4 12.2 17.8 151 .2 19.2 17.4 19.3 14.1 19.5 12.3 4.0 16.1 12.8 5.1 16.9 23.3 6.8 8.0 9.6 9.8 10.7 5.6 17.4 14.4 15.6 16.1 12.6 8.7 5.5 14.6 19.0 13.7 24.1 16.1 26.3 20.9 8.8 10.6 13.4 9.0 17.4 11.2 12.8 20.2 8.7 11.0 19.5 27.2 14.4 9.2 14.7 19.8 15.1 7.7 38.6 6.7 5.8 7.0 16.9 43.9 10.7 18.0 18.5 12.28g/dl Laki-laki Anemia (%) SK Menkes <13g/dl Anemia (%) Riskesdas <12.2 10.6 8.4 9.5 7.8 9.9 8.9 15.1 25.9 4.9 11.6 10.0 12.9 28.1 13.4 22.1 9.8 20.5 8.7 10.0 31.4 11.3 17.0 19.4 6.1 5.5 10.3 10.6 18.9 31.0 5.1 12.09g/dl NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 20.1 5.7 11.4 2.0 29.6 16.4 14.8 16.4 13.8 23.3 21.4 12.3 19.8 27.2 9.3 17.8 16.8 14.2 2.8 26.6 13.8 5.7 19.8 15.7 13.7 5.1 23.2 14.

9 4.4 21.4 17.8 12.0 12.8 11.9 13.5 19.1 18.9 11.5 9.9 12.7 14.9 152 .7 10.2 21.1 25.2 15.6 16.7 14.4 10.0 10.6 15.8 5.4 16.3 9.5 18.9 12.6 18.6 11.3 9.4 22.7 13.3 24.2 31.7 14.0 16.4 15.6 17.95 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi anemia (%) (disesuaikan menurut kelompok perempuan dewasa.9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 16.2 15.5 6.8 11.8 7.9 Indonesia 14.2 19.6 16.1 9.6 12.1 14.5 23.1 9.2 18.2 15.0 19.0 8.0 9.2 10.0 11.7 25.7 17.7 10.0 5.1 6.Tabel 3. Provinsi laki-laki dewasa dan anak-anak) Menurut SK Menkes Menurut Riskesdas 12.6 29.8 12.2 13.1 19.

Sesuai bentuk dan warna (morfologi) sel darah merah. yaitu : Perempuan : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Laki-laki : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Perempuan dan laki-laki : Anemia Hipokromik : Anemia Normokromik : Anemia Hiperkromik : MCHC <33 % MCHC = 33 – 36% MCHC >36 % MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl serta kombinasi dari jenis-jenis di atas. Anemia makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12.2%). lekosit dan trombosit (Tabel 3. biasanya karena kekurangan zat besi. 2 Mikrositik = ukuran sel darah merah <normal Normositik = ukuran sel darah merah normal Makrositik = ukuran sel darah merah >normal Hipokrom = warna sel darah merah lebih muda dari normal Normokrom = warna sel darah merah normal Hiperkrom = warna sel darah merah lebih tua dari normal 153 . Hasil pemeriksaan Ht dan eritrosit ibu hamil cenderung lebih rendah dibanding kelompok dewasa lainnya. Anemia normositik. dikenal beberapa jenis anemia2.97). Jika dibandingkan antara anak-anak dan dewasa. juga dilakukan pemeriksaan hematokrit. eritrosit. Sebaliknya. Anemia mikrositik-hipokromik. kadar lekosit ibu hamil cenderung lebih tinggi.normokromik biasanya karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut. atau keracunan timbal. anemia mikrositik hipokromik ini lebih besar proporsinya pada anak-anak. Jenis anemia pada ibu hamil sebagian besar adalah anemia mikrositik hipokromik (59% dari ibu hamil yang anemia). Sedangkan anemia jenis normositik normokromik lebih banyak dijumpai pada laki-laki dewasa. Selain kadar Hb dan jenis anemia. Tabel 3.96 memperlihatkan jenis anemia terbanyak pada orang dewasa dan anak-anak adalah anemia mikrositik hipokromik (60. penyakit kronis tingkat lanjut.

8 31.9 33.5 1. pendidikan.0 – 40.3 11.9 Tabel 3. Menurut pendidikan.1 0 4.Tabel 3.5 – 4.4 70. Menurut umur.7 33.9 174.4 Anemia Makrositik Anemia lainnya *Anemia menurut nilai baku Riskesdas Tabel 3. tampak bahwa ibu rumah tangga mempunyai prevalensi anemia tertinggi.8 4.97 Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Hematokrit (%) Anak 1 – 4 tahun 5 – 14 tahun Dewasa Laki-laki Perempuan Ibu Hamil 31.0 – 5.8 30.7 5.7%).2 3. kelompok kuintil 154 .3 14.0 KELOMPOK Eritrosit (juta/µl) Lekosit (ribu/µl) Trombosit (ribu/µl) 38.2 30. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah prevalensi anemia.3 – 6. diikuti dengan kelompok usia lanjut (75 tahun ke atas) (17.1 – 12.2 221.8 – 43.3 4. Menurut pekerjaan.3 – 9.5 6.4 3.0 – 379.2 – 5.5 10.7 5.2 27.4 193.8 4.2 – 46.2 Anemia Normositik Normokromik 0.7 – 11.1 59 60.1 6.96 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak N Kelompok Anemia* Anemia (%) Mikrositik Hipokromik Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Ibu hamil TOTAL 1581 1445 1118 39 4183 59.5 – 354. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 – 39. tertinggi dijumpai pada kelompok usia anak balita yaitu 27.7 – 10.98 menggambarkan prevalensi anemia berdasarkan kelompok umur.6 – 321.8 – 444.0 29.1 6.4 – 5.9 20.3 14.1 4. pekerjaan dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.8 21.2 259.1 – 48.7%.9 24.0 – 10.1 – 342.5 187.

4 6.98 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Pendidikan Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Anemia 27.1 6.4 17.7 9. Tabel 3.9 7.5 8.2 6.3 5.0 6.5 5.1 4.9 6.5 6.7 10. makin rendah prevalensi anemia.0 5.6 7.9 5.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 155 .0 11 10 9 7. Makin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1 mempunyai prevalensi anemia tertinggi (11%).4 8.6 7.7 10.6 10.0 7.

diberi makanan cair 300 kalori. Tabel 3.4 %) dan NAD (8.99 Prevalensi TGT.5% UDDM** 4. Kriteria inklusi pemeriksaan glukosa darah adalah usia 15 tahun keatas. darah didiamkan selama kurang dari 30 menit. Setelah diambil. Pengambilan darah vena sebanyak 15 cc dilakukan setelah dua (2) jam pembebanan. Responden dipersiapkan puasa 10 – 14 jam sebelum diambil darah. Prevalensi total DM 5. Sisa darah dikirim ke Laboratorium Balitbangkes Jakarta untuk pemeriksaan variabel lainnya.5% (kira-kira 26% dari total DM). Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat 156 . Serum (300 µl) segera diperiksa (< 4 jam) untuk mengetahui kadar glukosa darah menggunakan alat kimia klinis otomatis atau fotometri. kemudian diberi pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori).2% DDM* 1. kecuali pasien yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus (DM) (dikonfirmasi oleh dokter koordinator tim laboratorium).2 Diabetes Mellitus Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada responden usia 15 tahun keatas yang berjumlah 24.99 memperlihatkan prevalensi TGT dan total DM pada penduduk perkotaan Indonesia. diikuti NTT (1. Untuk menegakkan diagnosis DM dipergunakan rujukan menurut WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003. atau dalam laporan ini disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). Riskesdas 2007 TGT Penduduk perkotaan Indonesia 10.7%). dan persentase responden yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita DM – baru terdiagnosis dalam Riskesdas ini – yang dalam laporan ini disebut Undiagnosed Diabetes Mellitus (UDDM).417 responden dari sampel perkotaan saja. diikuti Riau (10.7% *DDM = Diagnosed Diabetes Melltus (Responden sudah mengetahui dirinya DM) **UDDM = Undiagnosed Diabetes Mellitus (Responden belum mengetahui dirinya menderita DM. Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11. tetapi responden yang telah mengetahui dirinya menderita DM (DDM) hanya 1. Angka total DM merupakan gabungan dari persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM. DDM dan UDDM pada Penduduk Perkotaan.1%). Secara umum prevalensi TGT yang didapat dalam penelitian ini hampir dua (2) kali prevalensi DM. DM.2% Total DM*** 5.100 menunjukkan prevalensi TGT dan DM pada penduduk urban Indonesia menurut provinsi.< 200 mg/dl > 200 mg/dl : Tidak DM : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) : Diabetes Mellitus (DM) Tabel 3. tidak hamil (alasan medis dan etika). yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan: < 140 mg/dl 140 .8%).7%.5%).5. baru terdiagnosis saat pemeriksaan Riskesdas) ***Total DM = DDM + UDDM Tabel 3.3. Prevalensi DM terendah di Papua (1. segera disentrifus dan diambil serumnya.

8%).2 5.100 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan.6 6. Tabel itu menunjukkan DM dan TGT meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.2 7.0 8.8 5.3 4.3 9.6 10.9 21.5 12.7 Tabel 3.4 6.1 3.3 8.0 11.5 1.8 6.8 7.6 4.2 17. demikian juga TGT pada perempuan (11.2 14.9%) .5 4.3%). dan Sulut (17.4 5.7 4. Tabel 3.3 7.6 3.3 6.9.1 5.8 11. diikuti Sulbar (17.3 9.6 10.0 7.0 6.1 5.3 9.0 4.101 menggambarkan prevalensi TGT dan DM berdasarkan karakteristik responden. diikuti NTT (4.3 6.5 8.1 1.(21.2 3.6%).0%).6 3. sedangkan terendah di Jambi (4%).7 Total DM (%) 8.3 8.0 7.0 6.8 11.7 Indonesia 10.8 5.4 4.9 12.5%) lebih tinggi dibanding laki- 157 .7 3.3 8. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TGT (%) 12.1 4.2 6.2 8.8 13.2 5.6 4.5 5.7 17.7 10. DM lebih banyak dijumpai pada perempuan (6.9 6.1 8.3 3.1 10.1 10.4%) dibanding lakilaki (4.4 11.4 3.

101 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Karakteristik TGT (%) Total DM (%) 0.6 Pegawai 9.0 7.8 65 – 74 21.7 Laki-laki 11. yaitu 75.7%).9 5.3 5.8 Tamat PT Pekerjaan 12.0 5.3 15 – 24 6.5 14.3 Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita per bulan 8.5 35 – 44 12. Tampak bahwa masih banyak di antara mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.3 Tidak tamat SD 10.5 Perempuan Pendidikan 13. 158 .9 6.8 9.8 45 – 54 15. Menurut jenis pekerjaan.5 4.8 Kuintil-1 8.9 Tamat SMA 9.3 55 – 64 17.1 4.9 5.4 Tamat SD 9.0 4.9 Wiraswasta 6.6 6.0 5.0 12.6 Tamat SMP 8.5 Sekolah 11. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 Tidak bekerja 6.4 8.9 Tidak sekolah 12.0 10.0 Petani/nelayan/buruh 10.8 5.9 2.4 4.9 8.9 25 – 34 11.0 5.3 7.7 75 ke atas Jenis kelamin 8.9 Kuintil-2 10. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja.1 Kuintil-4 10.7 Ibu rumah tangga 10. setelah dua jam pemberian makanan cair 300 kalori.6 1.9% (kadar glukosa > 140 mg/dl).5 4.5 13.4 Kuintil-3 10.102 memperlihatkan persentase kadar glukosa darah responden yang telh mengetahui dirinya menderita DM.1 Kelompok umur (tahun) 5.5 Kuintil-5 Tabel 3. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok tidak sekolah dan tidak tamat SD.laki (8. atau disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). Ditinjau dari segi pendidikan.9 1. diikuti pegawai dan wiraswasta. prevalensi DM danTGT meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. Tabel 3.

3% 24.1 8.1 12.1% 17.1 15. Obesitas Abdominal dan Hipertensi Karakteristik Responden IMT Kurus Normal BB lebih Obesitas Obesitas sentral Tidak obesitas sentral Hipertensi Tidak hipertensi TGT 10.104 menunjukkan prevalensi DM dan TGT kurang lebih sama pada kelompok yang mengkonsumsi sayur buah < 5 dan ≥5 porsi/hari.0 3. juga pada responden dengan obesitas sentral.0 9.1 9.8% 59.7 4. Tabel 3.< 200 mg/dl 17.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.3 16.103 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.Tabel 3.2% Tabel 3. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi. Menurut aktifitas fisik.8% 15.4 Perut Hipertensi 159 .9% 16.7 4. Riskesdas 2007 Jenis Kelamin < 140 mg/dl Laki-laki Perempuan Total 33.102 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.1% Kadar Glukosa Darah 140 .3 9.4 DM 3. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok yang mempunyai aktifitas fisik kurang Tabel 3. Tabel 3.3 9.1% 66.4 7.3 15. juga pada responden dengan obesitas sentral.9 9. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.7% >= 200 mg/dl 49.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.

tumit dan kaki.8%-12. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh. dan Jawa Barat.5%.8% .9%. panggul). Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bengkulu 44.2%). Cedera yang ditanyakan adalah yang dialami responden selama 12 bulan terakhir dan kepada semua umur. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensinya rata-rata kecil atau sedikit.6%. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (12.7 5.105 memberikan gambaran bahwa dari 33 provinsi di Indonesia.2% di mana reratanya 25. Sulawesi Barat.6 Cedera dan Disabilitas 3. Sulawesi Tenggara.1 Cedera Kasus cedera Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan wawancara.2 DM 4. Ditemukan prevalensi kecelakaan transportasi di darat antara 14.525 orang. Banten. DKI Jakarta (10. bahu dan sekitarnya (bahu dan lengan atas). Kalimantan Selatan (12.0%. dada.5 10. dan Papua Barat (10. perut dan sekitarnya (perut. kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/tumpul.0%). Prevalensi jatuh paling besar terdapat di Provinsi DKI Jakarta 67.104 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Karakteristik Sayur Buah > 5 porsi/hari < 5 porsi/hari TGT 10.8%).0 4.9 5.3 10.9% dengan rerata 7. lutut dan tungkai bawah.2% kemudian Provinsi DI Yogyakarta 43.7 Aktifitas Fisik Cukup Kurang 3.9%). Ada 18 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional. Gorontalo (11. siku dan sekitarnya (siku dan lengan bawah). pergelangan tangan dan tangan. Jawa Timur. Tabel 3.44. Sedang prevalensi yang terkecil terdapat di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45. selebihnya di bawah 10 %.6.0% yang diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur 64. Papua Barat.4%. Yang dimaksud cedera dalam Riskesdas 2007 adalah kecelakaan dan peristiwa yang sampai membuat kegiatan sehari-hari responden menjadi terganggu.punggung.1 11.1%).3%.1%). Jawa Tengah. Maluku. Responden pada umumnya mengalami cedera di beberapa bagian tubuh (multiple injury). Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12. diperoleh prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3. Pembagian katagori bagian tubuh yang terkena cedera didasarkan pada klasifikasidari ICD-10 (International Classification Diseases) yang mana dikelompokkan ke dalam 10 kelompok yaitu bagian kepala. leher. Rerata penyebab cedera karena jatuh 58. Sulawesi Tengah (10. Ada 11 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional yaitu DKI Jakarta.8%.Tabel 3. Nusa Tenggara Timur.9%) sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3. sedang yang terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 14. 160 . Jumlah responden yang ditanyakan tentang cedera sebesar 973.1%).

Prevalensi cedera yang disebabkan oleh kecelakaan transportasi di darat tertinggi pada mereka yang pegawai (53.106 juga menampilkan prevalensi cedera menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan. prevalensi cedera merata pada semua tingkat pendidikan hanya sedikit lebih banyak pada responden yang tidak tamat SD.2% dan terendah pada pegawai 15. Prevalensi penyebab karena jatuh tertinggi terdapat pada kelompok umur di bawah 14 tahun kemudian di atas 75 tahun.4%). Prevalensi tertinggi terdapat pada mereka yang tamat perguruan tinggi (50. menunjukkan angka prevalensi tertinggi sekitar 5.6%) ditemukan pada responden yang bertempat tinggal di desa.1% dan diikuti oleh kelompok 15-24 (9. Penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pendidikan.2% terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Papua 4.7%. Penyebab cedera yang sedikit menonjol adalah penyerangan. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa prevalensi cedera hampir sama atau seimbang tingkat pengeluaran antara kuintil 1 sampai dengan kuintil 5.0%). Prevalensi cedera tertinggi karena kecelakaan transportasi di darat terdapat 161 .106 menunjukkan bahwa untuk prevalensi cedera menurut kelompok umur yang menduduki peringkat tertinggi adalah umur 5-14 sekitar 9. Penyebab cedera lain hampir merata di setiap provinsi.0%) dan terendah pada yang bekerja sebagai pegawai 37. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam atau benda tumpul terdapat pada mereka yang berpendidikan tamat SD (26. Bila dilihat dari jenis pekerjaan.8%).Adapun untuk prevalensi terluka karena benda tajam/tumpul paling tinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah 33. Kelompok umur lainnya hampir merata kecuali pada bayi (kelompok umur < 1 tahun).3%. Prevalensi tertinggi pada responden yang tidak sekolah (64. Penyebab cedera karena jatuh terdapat pada mereka yang masih sekolah (63.2%) yang diikuti pada mereka yang bekerja sebagai wiraswasta (45.4%. Secara umum. Sedang penyebab cedera karena jatuh berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan yaitu semakin meningkat tingkat pendidikan maka prevalensi jatuh semakin menurun. Tabel 3. Tabel 3. Prevalensi penyebab cedera akibat kecelakaan transportasi di darat mengelompok pada umur antara 15 – 54 tahun dan prevalensi yang lebih tinggi (47.9%.9%) terdapat pada kelompok umur 15-24 tahun.6%) dan terendah pada ibu rumah tangga (19.5%) dan terluka benda tajam dan tumpul (23.0%) dan terendah pada mereka yang tamat perguruan tinggi. Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan besaran prevalensi cedera menurut status ekonomi. Penyebab cedera lainnya merata pada laki-laki dan perempuan. Ada 14 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.7% melebihi angka prevalensi Nasional yaitu 20.2%) dan terendah pada yang tidak sekolah (13. Jika ditinjau dari lokasi tempat tinggal prevalensi cedera tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara perkotaan dan pedesaan.9%. cedera terbanyak pada laki-laki dan penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat juga terdapat pada laki-laki sedangkan penyebab cedera jatuh dan karena benda tajam terbanyak pada perempuan. diperoleh sebanyak 9.7%). Namun jika dilihat dari penyebab kecelakaan maka didapatkan bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan transportasi di darat terdapat di kota sekitar 30. Adapun untuk penyebab cedera jatuh menunjukkan prevalensi meningkat pada umur muda kemudian menurun dan merambat meningkat lagi di umur tua.6% dan terendah ditemukan di Provinsi DKI Jakarta 8.3%).5%) dan terendah pada yang tamat perguruan tinggi (36. Akan tetapi prevalensi cedera karena jatuh (58. Prevalensi cedera karena terluka benda tajam atau tumpul tertinggi pada ibu rumah tangga 32. Penyebab cedera yang lain hampir sama pada semua tingkat pendidikan.3% cedera terdapat pada mereka yang masih sekolah dan yang terendah pada ibu rumah tangga (4. Jika dilihat dari tingkat pendidikan.

5%. Jika dilihat dari tingkat pendidikan ditemukan bahwa prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala (12. Sedangkan cedera di bagian tangan tertinggi di kelompok 25-34 tahun sebesar 34.5%).5% di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).9%). bagian pergelangan tangan dan tangan 38.9%). bahu/lengan atas didominasi oleh kelompok umur < 1 tahun masing-masing sebanyak (50. kelompok umur 15-24 tahun dan yang dialami oleh kelompok 75 tahun ke atas .3% di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala.0%).8%) terbanyak pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sedangkan prevalensi cedera di bagian perut kebanyakan pada ibu rumah tangga (9. Sulawesi Utara (16. bagian tumit dan kaki 30. perut (7.6%). Selebihnya provinsi-provinsi yang lain prevalensinya di bawah 15%.108 menggambarkan bahwa cedera di bagian kepala. (3. pergelangan (28. dada. Prevalensi bagian tubuh yang mengalami cedera di kepala. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam/tumpul tertinggi terdapat pada kuintil 2 (21.2%). dada dan perut menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan menunjukkan bahwa untuk kuintil 1 sampai dengan kuintil 5 terlihat hampir seimbang. Tabel 3.7%). hanya prevalensi tertinggi bagian 162 . bagian perut/punggung/panggul 14.1% . bahu.3%) dan pada mereka yang bekerja sebagai petani/buruh (9. Papua (16.7%).4%) sedangkan penyebab cedera tertinggi karena jatuh terdapat pada kuintil 1 (63. (11.7%). DI Yogyakarta (16.8%).4%). bagian siku/lengan bawah 29. Tabel 3. Ditinjau dari lokasi tempat tinggal responden. perut/punnggung/panggul. lutut/tungkai bawah. Untuk cedera di dada (3. cedera lainnya hampir berimbang di setiap tingkat pendidikan. bagian dada 8. bagian pinggul/tungkai atas 11. (15. (6. tumit dan kaki kebanyakan pada laki-laki dibanding perempuan. leher seimbang antara perkotaan dan perdesaan. Sumatra Selatan (16.6% di Provinsi NAD. Papua Barat (18.6%) dan pinggul (6. masing-masing 12.5% di Provinsi DKI Jakarta. Prevalensi cedera di bagian siku tertinggi diderita oleh responden yang berusia 15-24 tahun dan kelompok umur 5-14 tahun masing-masing 24.8% di Provinsi Nusa Tenggara Barat.2%. Untuk cedera di bahu seimbang antara umur < 1 tahun. Beberapa provinsi yang prevalensi cedera di bagian kepala dan di atas angka prevlensi Nasional adalah Provinsi Kepulauan Riau (18.6% dibanding 14. Perbedaan yang agak menyolok terdapat pada cedera di bagian siku/lengan 20. dada.8%.1%). bagian leher 3.0%). Untuk dicedera di bagian perut kebanyakan pada responden yang tidak sekolah (11.0% dan 20. Leher.3%).3%). Prevalensi cedera di kepala tertinggi dialami oleh responden yang bekerja lainnya (13. Selanjutnya untuk cedera di bagian pinggul dan tungkai atas kebanyakan diderita oleh kelompok 75 tahun keatas (15.7%).9% di provinsi Kepulauan Riau. bagian lutut dan tungkai bawah 47. leher. prevalensi cedera pada kepala.pada kuintil 5 (34. Jambi (16.1%).107 menunjukkan prevalensi tertinggi bagian tubuh yang terkena cedera berdasarkan provinsi sebagai berikut: bagian kepala 18.6%).3%) kebanyakan mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yang diikuti responden yang tamat SMP (11.5% di Provinsi Papua. Sedang cedera pada lutut dan tungkai bawah terdapat pada responden yang masih sekolah (43.5% di Provinsi Kalimantan Selatan.7%) dan kelompok umur 1-4 tahun (43.1%). NAD (17. Cedera pada dada (3.4% di Provinsi Papua Barat.0%) diikuti yang tidak bekerja dan wiraswasta.7%).9%.9%). Cedera pada pinggul/tungkai atas terbanyak pada ibu rumah tangga 36. siku.9%).3%) kebanyakan pada responden yang bermukim di perdesaan. bagian bahu/lengan atas 14.6% di Provinsi Kalimantan Barat.5%). Adapun untuk cedera di lutut sebagian besar dialami kelompok umur 5-14 tahun (46.

0%. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu 9. dan Papua.3% terdapat pada Provinsi Sulawesi Tengah.2 % yang terdapat Provinsi Kalimantan Barat.2%. Ada 5 provinsi yang angka prevalensi jenis cedera benturan di atas angka rerata secara Nasional yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan.4%. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka prevalensi Nasional. Prevalensi tertinggi 60. Sebanyak 16 provinsi mempunyai angka prevalensi di atas angka rerata Nasional.5%. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan Kepulauan Riau sama-sama 3.109 memperlihatkan bahwa rerata prevalensi jenis cedera karena benturan adalah 42. Rerata prevalensi jenis cedera patah tulang 4.0%. Rerata prevalensi jenis cedera terkilir/teregang 20. Kejadian keracunan lebih sering dijumpai pada kelompok umur 75 tahun ke atas. Sulawesi Utara. Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar relatif kecil yaitu 2. Tabel 3. Tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 36.4%.3%).0%.8% . Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka sebesar 25.tubuh terkena cedera untuk bahu dan siku pada kuintil 5.1% terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang diikuti oleh Provinsi Maluku (46. Rerata prevalensi jenis cedera anggota gerak terputus (amputasi) 1. Rerata prevalensi cedera akibat luka lecet sebesar 50. lebih sering pada laki-laki. Maluku.9%. 163 .6%). Rerata prevalensi jenis cedera yang lain relatif kecil.8%. Prevalensi tertinggi sekitar 33. Gorontalo. Prevalensi jenis cedera karena benturan tertinggi adalah 47. Berdasarkan tabel 3. dan lainnya 1. Menurut kelompok umur. Ditemukan sebanyak 14 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka rerata Nasional. prevalensi luka bakar paling banyak dijumpai pada kelompok umur di bawah satu tahun/bayi (3. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet di atas angka rerata Nasional. dan lebih banyak di perdesaan.110 menunjukkan jenis cedera berdasarkan karakteritik responden.5%. keracunan 1.6%. Sedang prevalensi tertinggi cedera pada pinggul terdapat pada kuintil 3 dan cedera pada lutut pada kuintil 4.

9 0.3 1.4 1.2 0.4 6.1 0.8 1.9 Bencana alam 1.2 0.0 0.4 29.0 0.0 0.2 0.9 0.1 0.4 0.9 1.9 24.1 0.0 27.7 0.2 0.5 0.0 0.1 0.2 1.5 0.8 17.0 16.8 49.4 0.8 3.1 0.1 0.0 0.8 16.1 0.8 1.1 0. Riau DKI Jabar Jaten D.9 4.1 0.0 31.4 31.2 0.9 laut 0.2 0.1 0.0 0.6 0.9 0.0 4.4 31.5 0.1 56.2 2.6 22.9 15.1 25.4 1.0 0.1 0.0 0.7 0.0 0.9 21.2 0.0 0.2 3.3 0.9 4.4 0.3 0.2 0.0 0.1 7.1 1.7 1.2 0.1 0.2 0.5 1.0 0.0 0.3 4.8 0.1 3.2 2.7 19.2 0.0 0.0 0.T Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Indonesia Penyebab cedera Cedera 5.5 0.0 0.7 1.2 30.1 0.3 5.1 30.6 0.2 0.5 64.0 63.0 0.7 9.1 Kontak racun 1.3 64.8 33.2 3.2 Asfik0.8 29.2 0.6 0.2 8.4 1.1 2.3 0.2 15.0 0.0 0.1 0.0 0.1 0.6 0.5 22.9 4.1 3.3 0.1 0.2 0.4 0.8 0.2 0.9 1.4 0.1 0.7 0.6 0.8 30.2 0.3 6.Tabel 3.0 2.0 0.0 0.7 1.2 0.9 3.4 12.0 0.4 1.3 57.8 1.0 12.2 0.0 0.2 8.3 0.2 5.3 25.2 0.6 57.0 0.2 0.3 1.0 0.4 10.5 0.2 1.3 2.0 0.2 radia si 1.6 0.9 22.7 1.1 1.1 0.1 0.1 16.0 0.5 0.1 0.7 3.7 61.0 0.1 9.3 0.7 4.3 0.1 0.6 0.6 29.8 0.2 0.1 0.8 1.1 0.3 3.4 0.7 164 .9 10.3 3.1 Tenggelam 0.1 0.1 0.3 0.7 57.4 1.2 0.8 0.2 0.0 4.5 31.1 Lainnya 2.2 21.4 0.1 0.0 0.0 0.0 0.4 67.0 0.8 1.1 9.0 0.7 2.8 0.7 0.3 0.9 1.2 1.1 0.1 0.9 1.1 0.2 0.0 0.9 0.0 0.0 3.B N.1 0.0 0.8 23.0 0.0 0.9 0.9 0.3 0.9 1.4 0.3 0.2 0.2 0.6 15.9 1.0 0.0 0.0 0.6 56.1 0.0 0.4 1.1 0.5 darat 35.1 0.I Y Jatim Banten Bali N.2 0.1 0.4 1.0 0.9 4.7 2.1 0.8 1.3 1.4 senja ta api 0.7 1.7 4.5 0.9 33.1 0.2 Bunuh diri 0.0 0.2 2.2 24.7 0.8 0.2 0.5 0.7 43.1 51.2 0.7 32.0 0.1 0.6 1.2 0.0 0.8 7.0 0.9 0.0 1.4 0.6 2.6 12.1 50.1 0.4 62.1 0.1 0.1 0.4 0.1 0.9 55.9 15.7 0.0 0.8 1.0 0.5 Jatuh 48.0 0.2 0.2 0.1 0.0 16.4 0.2 0.4 7.5 8.1 0.0 0.0 4.4 0.0 0.5 4.0 14.1 0.2 0.0 28.0 0.8 1.3 0.1 55.7 30.3 31.2 0.3 0.6 9.0 0.2 0.1 0.8 27.1 0.3 0.1 0.9 0.4 21.1 10.7 0.4 0.8 0.1 19.2 0.0 0.4 0.1 0.1 0.0 0.9 0.3 0.2 0.8 25.4 0.9 7.5 0.7 0.5 1.1 0.0 0.7 5.6 5.7 54.3 5.8 62.3 0.8 0.1 7.7 9.2 0.2 30.1 56.2 0.7 18.2 0.9 0.1 0.0 0.0 0.3 0.3 0.3 0.6 23.0 0.5 11.0 0.2 5.6 1.2 0.0 0.2 0.4 0.1 0.1 0.4 0.5 0.1 0.6 0.0 0.0 8.0 58.1 50.3 0.6 17.0 2.4 45.9 0.8 0.1 0.3 24.4 0.9 4.2 0.1 0.5 7.6 1.7 7.0 0.0 0.8 9.4 0.0 0.2 3.1 0.2 0.4 0.4 57.8 24.1 0.7 24.5 1.2 0.4 0.1 0.1 0.3 0.8 3.1 0.6 0.5 0.5 7.0 0.0 0.T.1 0.7 12.3 0.105 Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.0 0.2 60.2 0.1 0.0 1.1 0.1 0.1 0.2 0.1 0.0 0.2 6.8 16.4 1.1 0.2 1.2 udara 1.6 Serangan 2.3 0.3 0.3 0.3 53.1 0.0 0.6 0.0 0.9 1.0 0.2 35.4 9.T.0 Sajam /tumpul 18.9 2.4 0.5 0.7 22.4 3.9 30.6 0.0 0.3 1.3 58.2 0.1 0.2 0.1 4.5 1.2 0.0 0.0 0.1 44.1 0.1 0.5 0.1 0.1 0.7 27. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Ba-Bel Kep.8 0.1 0.5 0.1 53.0 0.3 0.0 1.6 58.0 0.7 56.9 20.1 0.4 0.2 0.6 0.0 0.5 0.3 0.1 0.5 0.1 53.2 1.0 6.3 15.0 0.5 0.3 0.2 0.1 2.2 3.2 0.3 0.6 Terbakar 2.0 0.2 1.0 0.1 Komplikasi 0.1 0.8 61.9 0.3 64.0 0.1 0.7 14.7 0.1 0.0 1.1 0.5 1.7 0.8 5.5 25.8 17.0 0.4 0.0 0.7 50.5 19.0 0.

6 3.2 0.0 24.3 1.2 0.5 0.2 0.4 55 – 64 6.5 0.0 0.2 0.2 0.4 4.5 3.5 67.9 3.1 0.9 31.1 0.7 0.9 1.106.7 13.4 27. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Cedera darat laut udara Jatuh Sajam /tumpul Serangan senjata api Penyebab cedera Kontak racun Bencana alam Bunuh diri Tenggelam Terradiasi bakar Asfiksia 0.7 1.1 0.2 45.1 0.5 1.0 0.0 52.5 0.9 0.1 0.1 0.2 0.8 0.2 0.4 0.8 Wiraswasta 7.2 0.3 0.8 Jenis kelamin Laki-laki 9.1 0.4 42.9 4.1 0.2 0.1 0.8 1.6 25 – 34 6.2 0.1 4.1 0.2 0.3 0.4 16.0 1.1 Komplikasi medis 0.8 29.7 0.9 4.4 1.1 1. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden.0 19.9 37.0 0.1 63.1 0.2 0.3 1–4 7.1 0.1 0.2 0.2 0.1 0.8 3.8 1.2 28.2 0.1 0.7 23.0 1.0 0.4 1.1 1.7 18.1 0.5 0.5 Sekolah 9.7 0.6 1.6 0.1 0.5 0.1 0.0 0.1 0.3 Tempat tinggal Kota 7.4 31.1 0.9 19.0 0.5 2.0 47.7 1.1 0.1 0.2 18.4 0.1 0.4 0.1 0.5 0.0 0.1 0.5 3.0 0.0 0.5 3.2 0.7 28.2 0.7 36.0 0.5 0.5 0.1 0.9 1.4 5 – 14 9.1 0.1 0.1 0.4 19.7 1.0 2.0 3.9 0.4 4.3 1.2 0.1 0.7 4.5 1.1 0.2 0.6 4.1 0.2 0.1 12.1 21.1 3.2 0.6 Kuintil 4 7.9 0.4 0.1 0.2 0.5 1.0 0.3 0.3 1.1 0.5 0.2 0.6 23.6 1.4 0.0 4.6 0.6 0.5 1.4 1.3 56.9 Tamat PT 5.4 Kuintil 2 7.3 45.8 0.3 0.3 0.9 57.5 53.5 46.1 0.8 19.8 4.3 0.1 1.0 0.4 22.1 0.6 0.0 8.0 1.4 0.2 0.8 0.1 0.4 1.3 0.2 0.1 0.1 0.4 0.1 0.2 0.1 0.7 1.3 0.8 0.5 Lainnya 8.2 0.6 78.5 Perempuan 6.4 20.3 0.5 0.1 0.5 63.6 1.1 0.6 15 – 24 9.2 0.0 0.1 0.5 0.3 1.2 4.1 0.9 37.3 28.0 1.1 0.5 27.0 0.1 1.0 0.3 0.1 0.1 0.2 0.2 0.2 0.1 0.6 0.1 0.3 0.2 0.2 0.0 21.1 0.1 0.2 0.2 3.2 42.4 14.6 Kuintil 5 7.3 1.2 0.3 40.2 0.3 0.1 0.1 0.2 0.7 75+ 7.2 0.0 0.5 4.0 0.5 Petani/nelayan/b 7.1 0.1 0.2 0.0 0.3 1.6 0.8 19.1 0.4 58.1 0.8 0.9 64.4 58.5 Pendidikan Tidak sekolah 7.1 0.9 24.2 1.1 0.2 11.6 2.9 0.6 49.1 1.1 19.5 0.2 0.0 0.0 13.5 0.3 0.2 1.5 Tingkat Pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil 1 7.2 41.6 21.6 Ibu RT 4.1 0.8 Pekerjaan Tidak kerja 8.2 0.6 0.2 0.3 1.1 0.2 0.2 0.1 0.1 0.2 0.2 0.2 0.5 0.7 3.4 0.7 0.3 0.2 4.1 1.3 0.6 Tamat SD 7.7 30.3 1.3 17.3 4.1 0.7 1.1 0.1 0.2 0.4 1.8 0.7 4.0 3.9 1.1 0.0 0.5 50.5 0.9 1.6 Tamat SMA 6.2 0.7 0.2 0.3 34.7 54.1 0.8 3.0 0.4 1.2 0.1 0.2 1.2 0.1 0.0 0.7 15.0 0.7 0.2 0.5 28.1 0.5 Kuintil 3 7.0 0.5 0.8 58.2 0.1 0.3 0.3 0.0 0.1 0.6 26.4 4.6 0.2 0.3 1.1 0.1 0.1 0.7 32.9 25.5 41.2 5.8 1.6 20.0 0.7 1.4 0.0 3.1 0.1 0.1 0.4 Pegawai 6.6 0.1 0.6 42.Tabel 3.1 0.7 1.3 0.6 0.3 18.6 35 – 44 6.5 Desa 7.2 65 – 74 7.3 0.0 0.0 0.5 1.2 0.7 9.1 1.1 0.4 0.5 62.1 1.6 1.4 1.1 0.4 45 – 54 6.0 0.1 1.6 19.9 20.0 1.1 1.1 0.9 1.0 0.1 0.1 0.3 0.6 15.1 0.2 0.9 0.3 0.4 Tdk tamat SD 8.0 0.2 0.7 62.1 0.0 0.6 1.1 0.0 0.3 0.2 0.0 0.1 0.7 1.1 0.7 0.7 56.0 0.1 0.6 3.4 0.1 0.3 26.3 0.9 1.1 0.2 31.0 49.8 0.3 Tamat SMP 7.2 2.7 1.1 1.5 0.7 21.9 3.2 0.5 0.4 88.4 19.1 0.3 39.4 0.3 0.1 0.1 36.9 3.2 15.1 0.1 0.1 1.0 0.1 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 2.0 1.7 0.3 0.2 0.2 30.0 0.0 0.1 0.1 0.3 0.1 0.4 1.5 0.2 0.3 0.5 1.1 0.1 1.2 0.6 25.3 51.9 87.9 1.2 0.9 4.8 0.1 0.3 0.1 0.3 0.0 0.1 0.9 76.2 0.3 0.1 0.7 59.8 165 .8 0.5 1.7 0.3 0.1 0.6 0.0 3.4 0.4 42.

5 32.3 37.3 6.9 27.3 23.4 166 .1 7.9 0.0 21.7 25.9 1.5 3.0 2.7 22.8 27.4 14.5 5.5 7.5 25.8 20.4 13.4 21.4 7.7 11.9 6.0 36.6 13.7 31.1 6.6 31.3 5.4 25.4 11.2 6.7 5.9 6.0 17.2 4.7 7.8 13.3 15.1 2.8 22.1 1.0 14.9 30. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian dan kaki tumit tajam/tumpul NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 17.0 12.5 6.1 18.3 3.9 14.0 27.8 24.3 4.8 6.8 38.8 6.1 24.4 2.2 11.5 35.3 28.1 11.2 2.8 1.7 9.3 30.2 1.3 4.0 17. punggung.5 16.9 25.0 18.5 7.2 11.6 28.7 15.8 5.5 3.5 1.6 8.1 37.0 15.2 1.3 1.7 35.7 1.0 4.5 7.6 5.7 14.7 30.4 1.6 13.8 1.3 6.6 5.8 2.3 9.4 4.107 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.7 27.4 43.8 23.2 7.5 6.7 38.0 2.1 6.5 0.5 9.8 11.0 5.7 10.5 34.9 16.4 25.4 28.3 13.5 29.0 34.8 11. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.6 7.1 6.7 23.1 6.0 23.9 8.1 8.1 22.1 12.5 21.9 11.0 5.7 5.5 28.6 10.7 6.0 19.Tabel 3.7 20.5 23.1 4.4 0.8 6.2 35.5 5.0 1.7 13.3 28.6 17.3 11.2 6.9 5.6 25.3 8.7 8. Riskesdas 2007.9 15.9 14.3 7.6 2.0 27.7 38.1 22.1 5.5 10.2 32.9 35.0 33.1 1.6 9.1 3.3 12.7 17.4 19.5 2.1 1.2 18.6 18. lengan atas Siku.1 3.1 1.3 5.7 34.1 7.5 14.7 5.6 4.5 21.9 2.1 0.8 13.6 7.0 28.0 0.2 3.8 21.7 26.2 44.5 45.2 40.6 5.1 7. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.7 7.2 11.8 10.6 23.1 16.2 5.5 5.0 13.7 17.0 36.9 0.2 36.4 23.6 15.9 23.6 4.8 9.2 1.8 28.5 24.5 4.3 24.3 24.7 22.6 1.9 31.3 26.4 27.4 5.7 28.6 6.7 18.6 39.7 30.1 18.3 4.0 1.8 23.8 2.4 15.4 21.0 0.4 21.2 6.1 34.6 4.5 5.7 10.8 14.3 12.5 5.3 27.6 24.6 6.0 4.2 15.5 2.0 16.2 25.4 9.5 27.8 2.2 28.2 17.8 35.1 3.3 33.6 19.9 8.7 20.9 32.0 4.1 5.0 3.5 7.4 9.6 1.4 47.8 1.2 1.9 13.3 37.0 4.5 5.5 10.2 22.7 2.7 29.5 24.4 26.6 16.8 12.7 13.1 7.3 36.7 21. panggul Bahu.6 1.8 26.3 14.6 2.6 14.6 29.2 1.2 3.4 35.4 1.1 6.3 5.1 4.7 31.3 6.6 36.6 9.6 6.0 23.9 10.3 21.5 43.9 5.2 7.6 8.4 5.0 3.5 7.3 4.8 11.6 3.9 6.4 11.2 1.8 26.7 21.4 9.1 1.3 8.7 45.1 15.0 21.7 7.9 11.

8 6.9 37.5 Kuintil 2 12.9 3.1 9.0 3.3 22.7 8.1 27.9 1.4 3.2 Ibu RT 9.1 11.5 1.9 13.4 11.7 24.4 8.9 6.7 Lainnya 13.2 10.7 5.3 36.5 3.8 35.1 9.4 17.1 3.6 27.108 Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.9 10.3 12.3 Tamat PT 11.3 25.9 2.6 32.8 28.2 11.6 15.5 29.0 1–4 26.1 6.8 6.7 31.1 5 – 14 12.5 32.3 5. lengan atas Siku.3 5.2 2.8 25 – 34 11.3 13.9 1.3 35.8 29.8 35.6 38.6 7.7 37.9 7.4 25.4 55 – 64 11.6 3.1 3.9 8.4 18.3 10.6 24.5 1.2 27.4 28.3 29.3 6.3 26.5 7.8 1.2 1.2 18.0 Tidak tamat SD 10.8 9.9 6.0 6.9 35.7 9.5 4.3 7.4 9.0 6.0 26.1 9.0 6.9 4.3 26.8 27.0 7.4 29.6 6.0 1.6 14.2 65 – 74 12.5 35.8 13.7 Desa 13.9 5.1 17.4 1.7 11.5 6.4 3.6 Tempat tinggal Kota 13.6 36.4 1.5 2.3 5.0 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 13.3 13.1 35 – 44 10. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian tumit dan kaki tajam/tumpul Kelompok umur (tahun) <1 50.4 33.3 43.5 25.1 6.0 7.6 3.8 30.7 15.3 20.3 20.6 2.9 31.2 26.8 75+ 14.4 13.0 Kuintil 4 13.2 8.6 3.0 28.3 25.8 9.9 26.5 Kuintil 5 13.4 19.2 20.5 3.4 6.3 8.4 1.8 45 – 54 11.8 36.0 7.7 7.0 32.5 4.7 4.1 34.4 33.6 5.5 3.9 Sekolah 10.2 9.6 14.0 1.2 27.3 6.3 1.8 23.4 6.0 25.1 37.8 Tamat SMP 11.3 11.7 11.9 10.7 1.1 167 .4 27.1 32.6 Pegawai 12.1 3.6 31.7 3.5 1.4 17.2 7.3 5.4 1.6 Tamat SD 10.3 9.0 6.8 12.5 1.9 30.9 16.3 7.0 6.3 6.9 17.4 9.2 3.5 27.9 26.6 18.9 25.6 3.5 1.4 26.9 31.9 8.7 7.9 Petani/nelayan/buruh 10.4 wiraswasta 12.6 7.4 35.6 6.5 25.0 31.1 Perempuan 11.1 22.3 3.0 17.8 26.9 5.6 9.4 21.6 6.7 24.6 26.9 11.9 21.9 7.2 3.1 3.1 8.8 3.3 46.4 0.5 24.2 Pekerjaan Tidak kerja 12.6 1.5 1.5 1.9 Pendidikan Tidak sekolah 11.2 17.3 6. panggul Bahu.2 29.7 Tamat SMA 12. Riskesdas 2007.2 24.3 1.5 6.9 3.8 26.9 25.3 8.2 1.8 18.1 2.5 35.7 15 – 24 11.4 0.4 26.5 6.0 6.4 Jenis kelamin Laki-laki 14.8 20.5 7.3 6.6 14.4 1.5 2.7 9.3 6.5 3.7 9.3 1.Tabel 3.3 26.5 43.3 26.9 26.8 27.2 2.0 9.7 10.0 27.5 3.6 11.8 27.6 1.4 1.5 8.1 8.2 1.7 24.7 36.2 7.8 8.1 27.6 27.2 15.1 18.9 20.5 28.1 27.3 3.7 28.0 18.8 3.2 8.6 19.4 29.7 Kuintil 3 13.2 5.4 7.0 29.1 11.2 9.4 18.3 1.6 20. punggung.0 21.8 23.9 25. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.6 3.6 2.

5 13.5 Anggota gerak terputus 1.2 53.1 19.5 0.0 30.7 2.7 35. Riskesdas 2007 Provinsi Bentu ran 35.5 0.6 2.5 44.0 49.0 3.2 0.5 35.4 24.6 2.8 19.5 20.8 13.2 6.7 23.6 4.6 2.4 28.1 29.4 53.5 3.6 4.7 4.1 2.1 36.5 39.6 29.2 45.7 44.5 0.5 30.0 28.6 1.7 13.7 7.9 1.6 14.109 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.4 0.9 4.1 1.0 37.6 56.7 0.9 40.0 5.5 59.3 51.3 1.7 2.7 21.1 1.1 2.7 4.8 53.9 58.5 0.2 42.7 20.0 18.3 55.1 42.7 12.7 31.8 34.9 22.7 1.0 Lainnya 1.1 24.8 1.0 2.5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 168 .9 2.6 26.3 0.5 0.4 0.1 7.6 4.7 5.7 49.1 19.8 3.2 5.2 35.0 0.4 16.4 9.5 56.5 21.1 1.3 1.5 23.2 2.3 1.1 17.6 0.0 1.5 58.1 15.8 2.5 22.5 20.5 4.3 3.4 21.Tabel 3.4 24.7 2.4 2.1 50.8 23.3 1.5 27.0 2.9 0.6 3.1 30.4 Luka bakar 3.4 23.4 0.0 0.5 2.7 29.7 4.0 14.7 0.1 30.9 1.9 1.4 1.3 .4 1.6 3.4 0.7 35.0 1.3 49.1 52.6 12.2 2.4 47.0 30.5 0.1 15.1 2.9 55.2 3.2 3.7 23.5 0.2 19.1 23.4 0.0 1.6 25.0 3.2 2.6 0.8 3.2 33.6 1.9 2.4 0.6 53.8 25.1 7.9 11.5 5.6 2.7 2.6 0.2 Terkilir / teregang 31.1 22.5 0.0 7.2 29.0 3.0 1.5 45.3 0.5 39.6 35.2 35.0 59.5 35.9 4.5 0.3 2.4 2.3 21.0 45.4 27.3 4.5 18.2 1.6 1.6 0.8 45.8 2.4 4.0 0.4 31.0 24.8 2.9 0.9 49.8 1.5 38.6 1.6 1.5 0.9 Patah tulang 8.8 46.4 4.3 1.4 Luka lecet 50.6 1.8 2.0 2.9 2.0 Keracunan 0.9 1.7 .1 21.2 39.3 29.1 31.3 16.2 1.0 3.6 1.9 2.8 Luka terbuka 23.4 0.4 39.5 2.7 19.9 0.3 3.9 1.1 0.2 2.2 0.4 20.6 53.3 1.6 0.3 2.0 1.7 47.6 1.8 3.8 40.2 39.7 3.2 12.2 57.7 1.0 0.3 2.1 4.8 22.0 37.8 40.9 2.8 2.0 1.1 14.2 39.9 22.2 0.6 4.7 9.8 2.6 42.6 54.6 0.4 60.7 0.2 35.7 0.2 0.0 2.9 28.7 1.7 39.4 1.7 28.6 3.2 23.6 0.6 46.1 29.3 55.4 0.4 39.8 2.5 3.8 0.0 1.

7 40.5 22.5 2.8 5.7 0.7 52.3 47.0 1.7 21.3 16.1 3.4 21.0 6.5 21.7 0.6 25.1 24.6 1.8 47.4 0.5 41.3 35.5 2.9 1.0 36.8 1.9 2.5 2.3 22.6 3.1 51.9 20.1 3.7 1.8 0.4 23.6 2.6 42.0 13.3 54.4 4.5 23.3 20.3 1.2 2.7 25.7 27.8 5.9 25.0 1.7 52.1 33.5 1.8 62.5 2.1 2.3 1.8 3.5 3.2 1.7 1.1 4.5 25.4 36.1 2.7 0.5 0.8 23.0 0.1 37.6 2.2 2.7 34.6 27.5 50.5 6.2 2.8 39.5 57.6 20.6 1.8 3.9 1.8 29.3 0.8 8.8 2.4 2.3 6.4 4.2 1.3 7.5 51.3 28.7 37.5 30.0 39.0 24.6 2.2 22.4 25.3 36.8 1.7 0.3 2.0 1.3 22.1 28.3 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya 38.1 29.1 0.3 0.8 0.2 2.2 0.4 13.0 31.0 3.2 1.4 33.4 4.6 2.3 2.0 0.0 20.0 47.9 5.2 53.7 37.5 37.8 23.8 28.1 22.5 37.4 2.3 0.5 1.4 2.8 52.5 2.0 22.7 0.8 61.9 1.0 46.7 21.9 36.6 4.4 0.3 2.1 32.4 1.8 2.1 36.1 1.0 5.3 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Benturan Luka lecet Luka terbuka Luka bakar Terkilir.1 1.1 23.6 2.4 46.4 Tempat tinggal Kota 169 .8 0.9 7.0 2.8 2.7 58.7 39.1 5.0 1.8 22.2 1.7 2.4 0.4 52.3 2.3 38.5 35.0 2.7 0.5 4.1 2.8 20.1 2.9 36.7 40.1 28.3 49.9 4.7 2.3 41.9 36.1 23.2 37.0 0.8 0.1 2.4 Desa 36.7 3.1 2.2 40.8 1.6 3.0 5.1 0.6 50.5 1.3 1.9 21.0 2.1 1.8 48.6 1.1 1.8 2.2 21.1 27.5 5.4 0.7 26.7 0.9 0.4 26.1 0.1 2.1 2.4 2.4 36.1 24.4 2.8 44.4 36.6 28.4 27.8 1.1 0.1 27.6 5.8 3.5 2.9 1.7 2.5 28.1 1.9 2.0 1.7 1.8 1.5 0.2 4.3 1.2 1.4 2.4 5.2 2.8 2.1 6.2 2. teregang Patah tulang Anggota gerak terputus Keracunan Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 1—4 5 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ 49.4 1.0 51.2 22.5 39.3 26.6 39.2 31.Tabel 3.9 25.2 20.6 0.3 22.2 2.2 13.110 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.2 2.0 47.5 22.2 4.5 5.6 2.3 21.3 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 37.7 0.4 38.0 34.1 4.0 23.8 1.0 0.7 27.5 22.

4) Berat. Responden diajak untuk menilai kondisi dirinya dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan 20 pertanyaan inti dan 3 pertanyaan tambahan untuk mengetahui seberapa bermasalah disabilitas yang dialami responden.8 11.111 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.3 11.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan Status disabilitas dikumpulkan dari kelompok penduduk umur 15 tahun ke atas berdasarkan pertanyaan yang dikembangkan oleh WHO dalam International Classification of Functioning.8 2.6.5 5. bila responden menjawab 3. Dalam analisis.4 atau 5 170 . penilaian pada masing-masing jenis gangguan kemudian diklasifikasikan menjadi 2 kriteria. Disability and Health (ICF). Sebelas pertanyaan pada kelompok pertama terkait dengan fungsi tubuh bermasalah. melakukan aktivitas/gerak atau berkomunikasi. Riskesdas 2007 Fungsi Tubuh/Individu/Sosial Bermasalah* (%) 11. 4) Sulit.2 Melihat jarak jauh (20 m) Melihat jarak dekat (30 cm) Mendengar suara normal dalam ruangan Mendengar orang bicara dalam ruang sunyi Merasa nyeri/rasa tidak nyaman Nafas pendek setelah latihan ringan Batuk/bersin selama 10 menit tiap serangan Mengalami gangguan tidur Masalah kesehatan mempengaruhi emosi Kesulitan berdiri selama 30 menit Kesulitan berjalan jauh (1 km) Kesulitan memusatkan pikiran 10 menit Membersihkan seluruh tubuh Mengenakan pakaian Mengerjakan pekerjaan sehari-hari Paham pembicaraan orang lain Bergaul dengan orang asing Memelihara persahabatan Melakukan pekerjaan/tanggungjawab Berperan di kegiatan kemasyarakatan *) Bermasalah. yaitu “Tidak bermasalah” atau “Bermasalah”. Tiga pertanyaan tambahan terkait dengan kemampuan responden untuk merawat diri. yaitu 1) Tidak ada. sehingga memerlukan bantuan orang lain.4 atau 5 untuk keduapuluh pertanyaan termaksud.3. dengan pilihan jawaban sebagai berikut 1) Tidak ada.2 4. Disebut “Bermasalah” bila responden menjawab 3.5 5.9 8.2 2.5 5. dengan pilihan jawaban 1) Ya dan 2) Tidak. individu dan sosial.8 8.2 10. Disebut “Tidak bermasalah” bila responden menjawab 1 atau 2 pada 20 pertanyaan inti. dan 5) Sangat berat. 3) Sedang. Tabel 3. 3) Sedang.6 5. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi oleh penduduk terkait dengan fungsi tubuh.6 9. 2) Ringan. dan 5) Sangat sulit/tidak dapat melakukan. Sembilan pertanyaan terkait dengan fungsi individu dan sosial dengan pilihan jawaban sebagai berikut.4 6.7 11.9 5.9 6. 2) Ringan.7 6.3 8.

Kalimantan Tengah.7%). dan napas pendek setelah latihan ringan merupakan disabilitas yang menonjol. (Tabel 3.112) Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas menunjukkan variabilitas menurut karakteristik responden.6%).7%). berjalan jauh. dan Sumatera Utara masing-masing 1.9%).113) 171 . Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” terendah adalah Maluku (1. (Tabel 3.2%). dan Sulawesi Selatan (2. Bengkulu (2.2%).5%.111 tampak bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas yang bermasalah dalam hal penglihatan jarak jauh.4%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat (2. sedangkan yang terendah pada responden yang sekolah. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tidak berbeda menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Kalimantan Timur. Dalam menilai status disabilitas kriteria “Bermasalah” dirinci menjadi “Bermasalah” dan “Sangat bermasalah”.5%). Semakin rendah tingkat pendidikan penduduk ternyata diikuti dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” yang semakin tinggi. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” ternyata bervariasi menurut pekerjaan responden. Gorontalo (2. Kriteria “Sangat bermasalah” apabila responden menjawab ya untuk salah satu dari tiga pertanyaan tambahan. dan mengenakan pakaian hanya sekitar 3%. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat pada responden yang tidak bekerja. Nusa Tenggara Barat (27. Secara nasional ternyata status disabilitas dengan kriteria “Sangat bermasalah” adalah sebesar 1.4%).3%). merasa nyeri/merasa tidak nyaman. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disabilitas pada laki-laki. penglihatan jarak dekat. Jawa Barat (25.Dari tabel 3. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Bermasalah” terendah adalah di Provinsi Maluku Utara dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing sekitar 10%. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Sedangkan yang bermasalah dalam hal membersihkan seluruh tubuh. Sulawesi Tengah (26.3%.8% dan “Bermasalah” 19. Prevalensi disabilitas “Bermasalah” tertinggi ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (27. Nusa Tenggara Barat (2.

7 2.2 17.1 1.8 25.9 2.5 2.6 12.8 18.0 10.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.6 23.6 10.1 21.6 26.7 1.9 2.1 1.2 1.112 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Provinsi.9 10.4 1.5 2.3 1.7 19.5 1.3 1.7 1.1 20.7 21.4 2.7 1.3 2.0 27.1 27.9 23.9 1.7 14.0 21.1 1.4 1.8 19.3 12.0 15.9 20.6 1.Tabel 3.7 Bermasalah (%) 18.9 1.6 15.4 22.0 2.8 16.7 19. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Provinsi Sangat Bermasalah (%) 2.5 14.3 17.1 18.9 15.9 1.6 1.2 1.4 1.0 1.4 2.4 1.1 14.7 1.5 172 .1 14.6 21.3 1.

8 1.9 25.7 1.4 21.8 18.0 1.2 1.6 1.1 20.8 18.4 10.3 37.9 3.8 23.8 1.2 2.8 18.7 26.8 1.3 50.8 1.1 61.113 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.8 62.4 47.0 29.7 1.7 5.9 .5 23.7 2.5 2.7 20.4 Sangat bermasalah Bermasalah 173 .3 25.0 20.0 17.2 1.6 20. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Karakteristik Kelompok umur: 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan: Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan: Tidak bekerja Sekolah Mengurus RT Pegawai (Negeri. Polri) Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.7 1.5 1. Swasta.1 8.0 4.2 1.0 1.1 19.5 1.2 7.Tabel 3.3 20.7 30.1 30.4 31.8 19.4 2.8 14.8 1.0 1.7 17.9 19.

Tabel 3. Nusa Tenggara Barat. Untuk mendapatkan persepsi yang sama.9%).8%) dan Jawa Barat (26.5%) dan Maluku (25. merokok kadang-kadang. Sedangkan persentase terendah dijumpai di Provinsi Maluku (19. ditanyakan berapa umur mulai merokok setiap hari dan berapa umur pertama kali merokok. diikuti dengan Lampung (28. Tidak tampak perbedaan antara rumah tangga yang tingkat pengeluarannya rendah dan tinggi. disusul Bengkulu (34.5%).6%).116 menunjukkan perilaku merokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap menurut provinsi.2% dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 12 batang per hari. klasifikasi aktivitas fisik.7 Pengetahuan. Sedangkan penduduk kelompok umur 10-14 tahun yang merokok tiap hari sudah mencapai 0. dengan rentang rerata 29% sampai 32%. 3. Secara nasional. Prevalensi perokok saat ini tertinggi di Provinsi Lampung (34. DKI Jakarta dan Jawa Tengah masingmasing 9 batang. Perokok saat ini adalah perokok setiap hari dan perokok kadang-kadang. selanjutnya adalah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16 batang. Tabel 3. Demikian juga perilaku higienis yang meliputi pertanyaan mencuci tangan pakai sabun. Pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan penyakit flu burung dan HIV/AIDS ditanyakan melalui wawancara individu. Bagi mantan perokok ditanyakan berapa umur ketika berhenti merokok. Pada perokok kadang-kadang. kebiasaan buang air besar.1 Perilaku Merokok Pada penduduk umur 10 tahun ke atas ditanyakan apakah merokok setiap hari. Tabel 3.3.8%) penduduk laki-laki umur 10 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari. Menurut pendidikan. Hampir separuh (45. perilaku konsumsi buah dan sayur. yaitu yang merokok setiap hari dan merokok kadang-kadang. Rerata batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi di NAD (19 batang). Secara nasional prevalensi perokok saat ini 29.7. Juga ditanyakan apakah merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Provinsi-provinsi yang prevalensinya di bawah angka nasional adalah Provinsi Kalimantan Selatan (24.7% dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17%.1%) dan Gorontalo (32. dan pola konsumsi makanan berisiko. dan porsi konsumsi buah dan sayur. Sulawesi Selatan (25. minum minuman beralkohol. Sulawesi Barat (25.115 menggambarkan perilaku merokok penduduk umur 10 tahun ke atas menurut karakteristik responden. Bagi penduduk yang merokok setiap hari.114 menunjukkan bahwa secara nasional persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok tiap hari 24%. Bali (24. Persentase tertinggi ditemukan di Provinsi Bengkulu (29. mantan perokok atau tidak merokok. aktivitas fisik.3%).2%). penggunaan tembakau/ perilaku merokok.3%).3%).4%). proporsi tertinggi dijumpai pada penduduk tamat SMA (26. Sedangkan mantan perokok proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 75 tahun ke atas (12. proporsi tinggi dimulai pada kelompok umur 15-24 tahun (7. termasuk penduduk yang belajar merokok.0%). pada saat melakukan wawancara mengenai satuan standar minuman beralkohol. sikap dan perilaku dalam Riskesdas 2007 ditanyakan kepada penduduk umur 10 tahun ke atas. Pada penduduk yang merokok. digunakan kartu peraga. pada laki-laki (9.6%). 174 . persentase penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun). ditanyakan berapa rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan jenis rokok yang dihisap. sedangkan yang paling sedikit adalah Bali.9%) 10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (1. Sikap dan Perilaku Pengetahuan.2%).8%).8%) dan perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan.

6 5.5 2.3 2.9 19.6 4.5 5.2 3.2 68.1 20.0 3.8 2.3 23.2 2.5 3.6 71.8 6.3 1.5 5.0 5.8 24.8 26.0 3.2 5.6 5.1 2.1 25.3 4.3 7.4 Perokok kadangkadang 6.0 3.1 19.6 69. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Provinsi Perokok setiap hari 23.9 6.8 65.5 70.5 25.7 65.4 20.3 64.5 4.2 22.1 21.4 6.8 5.6 6.1 4.5 3.4 5.0 2.1 2.0 69.8 27.2 23.1 4.8 67.4 24.Tabel 3.4 24.6 3.5 71.6 6.114 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.0 4.7 64.8 2.5 6.3 25.8 67.8 20.6 64.9 67.7 6.7 5.8 73.9 1.4 71.4 67.0 Tidak merokok Mantan perokok 2.8 Bukan perokok 68.5 4.5 2.0 67.6 20.4 29.9 2.3 6.0 5.0 63.7 5.5 71.2 69.3 3.3 3.5 2.5 5.8 24.3 68.2 64.6 5.0 6.5 28.4 4.7 64.9 3.2 21.7 24.6 24.2 69.6 24.1 65.3 25.8 4.1 2.0 23.8 71.7 1.5 5.5 22.1 72.5 3.3 69.7 23.8 4.4 67.9 19.1 2.6 68.8 175 .6 7.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Nasional 23.5 66.1 65.0 3.8 1.6 22.1 20.9 3.4 5.

0 62.3 7.6 67.1 6.9 6.3 1.9 12.8 4.7 4.3 63.8 Tidak merokok Mantan perokok Bukan perokok Perokok setiap hari Perokok kadangkadang Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 45.5 2.5 2.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.0 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 21.9 23.9 176 .1 3.5 5.7 17.6 5.4 5.9 1.3 0.9 3.7 38.6 2.6 69.8 20.0 30.4 3.4 67.3 23.6 3.6 5.0 9.8 28.4 24.3 21.7 67.0 26.3 72.9 23.5 54.2 61.9 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 26.0 97.7 2.8 27.7 74.2 23.2 6.3 5.5 67.Tabel 3.9 66.4 31.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.0 69.4 5.2 32.1 1.6 5.8 3.8 5.2 25.0 65.8 9. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 0.6 55.6 5.8 1.8 5.3 5.1 67.0 4.6 4.2 57.7 2.8 2.4 3.9 55.7 5.4 68.4 5.6 68.8 2.3 6.1 5.4 24.3 29.9 94.6 7.4 0.4 2.

9 14.0 177 .1 28.5 9.7 13.5 26.1 31.8 32.3 10.1 10.3 25.9 10.5 14.1 16.9 27.9 30.0 13.4 30.3 10.5 14.4 13.3 30.4 11.0 27.2 26.6 25.1 34.7 28.7 30.2 25.1 11.7 29.9 9.7 15.4 11.116 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.8 12.2 12.8 9.2 28.9 24.4 8.0 12.0 12.4 13.4 14.Tabel 3.9 11.3 28.2 24.4 29. Riskesdas 2007 Perokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rerata jumlah batang rokok /hari 18.4 13.7 34.2 30.8 Indonesia 29.8 29.3 13.8 30.4 31.7 25.7 27.1 9.2 27.9 9.2 14 saat ini 29.8 30.4 32.5 8.5 12.

7 12.3 12.5 11. Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur 15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun.0 37.7 33. 178 .9 12.7 11.4%).0 24.0 36.7 12. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun.Tabel 3. serta di daerah perdesaan. Tidak tampak adanya perbedaan antara penduduk dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita tinggi dan rendah.9 25.3 28. kemudian menurun pada umur lebih lanjut.0 11.1 12.7 4.6 11.0 29.6 35.6 12.5 29. Prevalensi perokok saat ini lebih tinggi pada penduduk tamat SMA dan penduduk tidak sekolah.1 55. tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16 batang per hari. Riskesdas 2007 Perokok saat ini (%) Rerata jumlah batang rokok /hari 10 12 13 14 13 13 10 13 11.4 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 2.117 menggambarkan prevalensi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap per hari menurut karakteristik responden. Tabel 3.0 38.0 26.6 34.6 30.5 28. walaupun prevalensi hanya 2%.117 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. tetapi rerata rokok yang dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (16 batang dan 12 batang).1 12.7 Prevalensi perokok saat ini pada laki-laki 11(sebelas) kali lebih tinggi dibandingkan perempuan (berturut-turut 55.0 27.3 30.6 11.7 11.7% dan 4.6 29.7 15.5 34.9 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 29.4 30.

4 3.0 0.2 2.2 35.0 5.8 5.3 35.0 0.2 29.0 33.9 35.2 8.3 3.4 24.5 44.1 17.7 2.6 10.8 2.8 14.4 27.6 28.2 5.4 0.118 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.0 15-19 30.1%).9 2.8 8.3 4.7 32.8 7.9 4.7 39.9 12.4 3.3 3.0 0.5 52.9 5.5 26.8 15.8 10.0 10.1 30.0 0.0 37.6 36.0 13.8 2.9 1.0 0.6 18.9 4.0 39.4 3.2 30.0 0.4 26.9 17.6 0.5 3.0 0.6 34.1 34.4 20.0 7.0 9.5 3.6 9.4 22.9 2.2 1.7 1.4 2. Papua menduduki tempat tertinggi (3.6 11.4 8.5 34.0 18.4 3.4 10.2 6.3 33.4 18.6 4.6 9.1 9.6 4.6 19.8 1.9 12. Usia mulai merokok tiap hari ini penting diketahui untuk melihat lamanya paparan rokok pada penduduk.7 18.3 36.9 5.5 3.0 12.7 1.5 2.2 0.4 13.5 2.5 4.3 6.4 31.2 4.6 38.5 29.5 46.0 18.0 0.6 36.4 13.6 3.7 36.0 0.1 3.0 0.7 24.1 10.4 13.6 5.4 36.8 36.4 5.9 4.8 24.0 3.8 36.9 11.0 Untuk kelompok usia muda (5-9 tahun).3 2. Tabel 3.2 7.2%).1 27.0 0.8 2.4 33.4 1.0 8.0 0.0 18.3 1.118 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari.7 3.0 0.6 33.3 40.0 2.7 20-24 17.0 0.3 12.7 1.0 0.3 3.6 29.0 0.0 0.3 2.9 15.7 25-29 3. yaitu 36.1 27.9 39.7 15.0 0.1 Tidak tahu 39.0 0.8 17. Secara nasional persentase usia mulai merokok tiap hari umur 15-19 tahun menduduki tempat tertinggi. 179 .1 14.8 3.7 3.0 0.0 24.1 34.0 0.8 12.5 17.6 36.8 19.4 11.8 6.0 3.4 35.2 10-14 6.2 5.3 18.2 3.1 ≥30 2.4 6.8 6.7 44.5 1.3 12.1 3.2 3.0 0.7 5.9 6.5 28.3%.5 43.3 12.1 14.3 9.7 1.4 4.8 0.8 37.2 Indonesia 0.5 17.6 26.9 1.4 16.6 2.7 59.1 2.3 16.0 12.4 21.2 39.3 13.2 6.9 4.0 0.3 10.0 0.3 1.6 1.0 13.8 11.1 34.0 36.2 38.Tabel 3.3 14.5 40. 30 kali lebih besar dibandingkan dengan angka nasional (0.3 5.0 38. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5-9 0.2 9.5 29.0 0.9 10.6 33.3 46.2 26.

2 4.6 15.4 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 0.1 0.0 0.6 4.8 37.1 0. 19% penduduk umur 10-14 tahun sudah mulai merokok tiap hari pada usia 10-14 tahun.0 27.3 6.6 17.5 11.0 0.1 3.1 16.1 0.7 28.1 8.1 0.8 17.9 29.1 0.9 79.2 9.1 3.4 3.0 30. bahkan 1.4 7.2 4.1 0.3 3.1 18.7 39.0 15.0 7.0 17.1 19.6 22.6 9.7 4.1 35.6 19.5 Untuk setiap kelompok usia mulai merokok tiap hari pada umumnya persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.1 0.119 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari dan karakteristik responden.7 0.3 37.9 3.0 45.1 7.2 9.9 2.0 3.1 18.8 10.0 33.0 7.1 4.2 0.1 0.9 4.3 44.3 14.0 14.3 6.2 14.4% mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun.7 38. Berdasarkan kelompok umur.8 7.8 0.4 12.1 0.1 11.9 0.9 36.0 5.9 29.7 34.3 4.5 21.5 18.1 33.6 19.2 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 0.6 6.1 24.9 30.2 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 0.0 3.3 29.5 4.1 0.2 4.9 29. Tabel 3.2 0.2 4.5 16.1 38.6 34.9 19.5 3.4 15. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 1.4 0.9 2.7 7.9 40.1 0.1 3.7 55.3 0.5 4.7 21.1 7.6 21.7 10.9 14.4 8.3 24.1 7.6 48.9 35.3 10. kecuali pada usia 5-9 tahun dan 30 tahun ke 180 .5 2.4 4.2 15.5 32.2 3.9 55.1 0.4 4.4 34.9 6.5 6.0 27.0 43.119 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.6 5.2 11.0 36.0 10.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 0.5 5.1 46.8 2.5 16.4 3.Tabel 3.0 16.9 6.1 0.1 0.8 9.0 4.0 0.6 18.2 24.6 10.1 1.0 57.3 22.2 0.2 5.6 4.2 10.4 9.

4 2.5 6.0 13.3 0.2 35.8 2.1 13.5 1.1 14.2 33.9 11.8 3.5 13.2 9.9 1.0 22.8 1.5 43.7 11.1 35.5 33.9 9.3 33.9 2.9 1.1 16.7 3.6 16.3 2.0 4.3 4.8 45.0 40.3 0.3 3.9 1.5 1.0 Nasional 1.8 43.6 13.2 31.2 28.3 6.7 34.5 8.0 50.0 0.7 1.5 1.3 2.1 13.6 33.9 35.5 12.5 32.8 4.9 33.3 0.9 13.8 1.7 28.3 20-24 11.1 24.2 42.1 11.2 8.9 2.7 1.9 1.4 34.8 39.3 51.1 1.3 11.3 10.4 41.1 31. Tabel 3.0 27.8 34.8 Tidak tahu 49.2 6.0 10-14 7.0 2.0 1.5 1.8 1.3 38.0 3.8 8.120 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.120 memperlihatkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau.4 1.9 2.4 32.6 11.5 6.9 1.atas.0 11. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Provinsi 5-9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.4 13.3 3.4 11.0 8.7 5.9 0.1 2.7 1.7 11.8 1.4 39.5 3.7 4.6 44.0 4.6 28.6 26.5 1.2 59.7 38.9 0.3 28.2 1.4 34.7 25-29 2.2 42.3 1.6 43.5 10.6 7.2 12.0 10.4 1.3 46.2 1.5 12.5 13.0 9.7 1.9 9.7 9.2 16.7 0.6 10.9 2.2 ≥30 2.3 8.3 34.6 10.4 33.1 8.6 0.2 1.9 15-19 26.2 40.1 3.5 10.1 0.6 3.5 33.8 4.4 12.8 10.1 31.7 1.0 0.5 6.3 6.6 3.1 2.6 1.2 Tabel 3.5 2.1 48.9 22.9 44.9 1.8 14.8 3.3 10.3 29.3 32.9 3.8 13.4 1.7 1.3 12.4 2.6 4. Usia mulai merokok atau 181 .1 39.3 1.4 27.8 40.1 0.4 4.2 1.6 9.2 1.1 1.7 14.4 11.5 36.6 33.7 10.7 3.9 2.5 2.6 0.6 2.0 34.3 4.2 2.6 2.0 9.6 2.8 35.Tidak tampak perbedaan usia mulai merokok tiap hari dilihat dari tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.7 28.1 1.3 1.6 2.4 13.1 37.8 3.4 11.2 8.7 1.4 1.9 8.0 32.2 7.0 7.3 2.2 3.5 31.1 42.6 32.2 2.6 2.2 37.5 32.3 12.8 4.

4%) dan rokok linting (17. selanjutnya Bangka Belitung (16.123). kecuali penggunaan tembakau kunyah pada perempuan 19 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.6%) dan Kalimantan Selatan (12.8%). disusul Kepulauan Riau (2.9%. Secara nasional.mengunyah tembakau mencakup juga penduduk yang baru pertama kali mencoba merokok atau mengunyah tembakau. demikian juga halnya menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran per kapita (Tabel 3. Bangka Belitung. Menurut jenis kelamin. persentase mulai merokok tertinggi dijumpai pada kelompok usia 15-19 tahun.0%).124).121 menggambarkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau dan karakteristik reponden. perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun tertinggi dijumpai di Bangka Belitung (42.1% yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun.7%).3%).8%). 85. dan tingkat pengeluaran per kapita. persentase tertinggi usia pertama kali merokok terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun (32. Menurut pendidikan. Perokok yang mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun terbanyak di Provinsi Sumatera Barat (16.5%) dan Jawa Barat (35. banyak diminati oleh penduduk berumur 55 tahun ke atas.0%). Jawa Tengah (13.4%). Sulawesi Utara (39. DKI Jakarta (13. kecuali pada kelompok umur 55 tahun ke atas kretek tanpa filter merupakan pilihannya. Tabel 3. Secara umum jenis rokok yang paling banyak diminati adalah rokok kretek dengan filter (64.2%). Menurut jenis kelamin. disusul usia 20-24 tahun (11.9%). Demikian juga rokok linting dan tembakau kunyah. Gorontalo (2. pendidikan.4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.122 menunjukkan prevalensi perokok yang merokok dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga menurut provinsi. laki-laki lebih dominan pada semua jenis rokok dibandingkan perempuan.5%).9%). dan pada jenjang pendidikan lainnya didominasi oleh penggunaan kretek dengan filter. Secara nasional. tetapi ada 5. penduduk tidak sekolah lebih banyak menggunakan rokok linting atau tembakau kunyah dibandingkan jenis rokok lainnya. DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masingmasing 1. tipe daerah. Menurut provinsi.0%). disusul oleh DKI Jakarta (39. Menurut kelompok umur.1%) (lihat Tabel 3. kemudian kretek tanpa filter (35.9%). Tabel 3. Sedangkan perokok dengan umur mulai merokok pada umur 5-9 tahun tertinggi di Papua (4. Perokok umur 10-14 tahun umumnya mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun (31. tertinggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (93.1%). 3%). Terdapat 18 provinsi dengan prevalensi di atas angka nasional. pada umumnya jenis rokok yang diminati adalah kretek dengan filter. 182 .

3 10.3 36.2 10.2 25.6 10.4 30.6 12.2 14.7 4.0 40.2 0.6 37.7 2.6 9.2 2.3 32.1 1.6 3.3 2.5 3.4 1.3 30.1 1.1 1.6 2.7 6.4 6.4 2.6 36.3 1.1 12.3 47.9 38.2 0.0 4.9 10.3 11.121 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.7 13.2 59.Tabel 3.9 3.3 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 1.4 7.2 25.0 34.5 1.2 14.1 4.7 13.6 4.3 13.4 10.2 5.5 5.4 0. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 5.2 53.2 9.6 32.2 44.3 11.2 3.2 31.4 5.0 26.2 12.5 42.9 6.8 12.8 17.3 36.2 Kuintil-1 1.0 49.2 0.0 0.8 11.9 1.2 Kuintil-2 1.9 11.4 1.4 38.3 33.4 3.0 6.8 19.3 31.0 13.5 4.0 18.6 1.5 38.2 17.8 8.0 3.3 41.1 8.6 2.1 3.7 1.8 9.2 1.4 41.0 2.6 31.0 0.3 1.7 10.2 1.0 40.9 11.0 31.1 4.4 11.4 1.8 2.1 32.5 2.9 63.8 12.1 10.8 2.1 32.9 10.5 2.3 1.9 2.6 2.8 3.1 55.8 34.1 7.5 7.7 1.0 20.1 3.1 13.1 33.7 0.8 Kuintil-4 1.6 3.0 0.0 4.7 3.1 7.5 10.9 11.9 38.5 Kuintil-3 1.4 32.2 3.2 10.5 1.5 33.7 2.0 3.3 13.1 10.1 1.5 61.2 Kuintil-5 183 .1 1.4 37.5 3.

Riskesdas 2007 Perokok merokok Provinsi dalam rumah ketika bersama ART NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 82.3 90.1 85.3 90.0 88.9 84.2 83.0 84.1 64.8 93.2 89.7 83.4 184 .0 83.1 82.9 86.7 89.2 89.7 92.4 87.9 91.4 84.7 82.4 78.7 77.5 91.4 86.Tabel 3.4 79.7 86.1 88.4 Indonesia 85.3 90.7 86.7 87.122 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi.8 80.

9 26.9 0.5 1.1 65.6 22.4 0.3 0.9 30.7 1.5 20.8 14.1 Cangklong 0.8 85.1 0.7 80.0 0.7 4.2 3.9 2.9 43.5 0.1 0.2 16.4 0.4 12.0 0.7 10.3 14.1 1.8 18.2 0.6 6.8 0.7 0.1 11.9 1.9 0.5 20.3 76.9 6.3 1.1 0.7 0.5 0.3 0.2 Indonesia 64.5 4.9 14.7 9.3 0.9 21.9 18.9 1.1 5.5 5.6 23.7 0.8 8.4 52.5 35.3 62.2 0.7 0.5 20.5 1.6 6.2 0.4 0.4 25.6 4.2 9.4 1.5 1.3 2.4 0.9 67.3 75.0 2.2 0.4 46.2 0.8 17.2 84.7 1.4 14.0 13.2 0.0 63.0 59.4 0.3 72.8 82.2 28.3 0.3 7.5 51.4 20.2 0.3 0.5 0.3 0.5 5.3 10.7 57.4 0.4 69.0 1.3 64.1 33.1 Lain nya 0.2 0.8 2.6 55.0 9.7 24.4 1.5 0.4 13.4 1.9 80.3 3.8 56.8 25.2 70.5 0.2 16.8 0.2 0.7 85.1 24.1 0.8 28.7 1.7 Cerutu Tembakau dikunyah 6.3 72.9 14.8 0.6 25.4 22.8 5.4 0.2 51.3 0.3 2.1 3.5 13.7 0.7 20.6 0.7 45.0 42.4 0.2 3.1 Kretek tanpa filter 38.3 0.7 0.9 24.9 27.9 60.6 18.9 10.4 0.2 13.3 0.6 0.4 1.6 18.3 19.7 59.2 0.6 0.0 1.6 59.0 6.8 37.2 0. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Provinsi Kretek dengan filter NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Nusa Tenggara Kalimantan Barat Kalimantan Kalimantan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 55.4 0.9 12.2 21.9 1.2 11.6 3.9 0.0 9.0 15.5 0.1 14.1 0.6 0.1 46.8 55.6 25.5 1.9 75.3 3.1 12.2 14.8 23.7 0.0 1.3 0.5 0.1 3.0 4.0 0.5 21.9 Rokok putih 16.2 0.123 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi.2 0.6 8.2 7.1 0.1 0.9 12.6 0.7 0.0 Rokok linting 7.9 77.4 0.4 0.5 0.2 0.4 29.9 6.2 0.6 16.Tabel 3.1 70.4 5.7 9.5 10.6 0.2 0.5 1.4 1.6 1.6 0.7 24.2 11.3 55.7 0.0 13.3 16.4 0.9 60.0 16.1 4.4 14.2 0.2 0.2 30.4 31.3 0.8 74.4 0.2 0.8 38.4 185 .9 1.1 60.6 0.9 17.2 0.7 26.4 1.6 21.7 46.5 0.2 20.7 1.3 0.7 32.9 2.

7 28.5 0.7 4.7 6.8 77.4 24.1 37.6 0.4 40.7 37.6 41.4 0.5 19.3 41.5 51.7 18.4 0.7 41.6 74.9 1.0 7.2 10.6 0.5 0.6 31.6 2.7.7 0.5 0.6 0.7 74.7 0.7 0.8 4.2 13.4 10.9 12.6 66.6 44.7 62.5 33.124 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.7 0.0 14.0 63.5 0.6 0.3 0.8 12.5 0.1 33.4 0.2 70.1 31.6 0.7 3.5 0.3 62.5 0.6 0.6 0.7 0.6 18.5 1.8 5.7 0.9 14.3 59.9 0.9 1.8 35.3 0.5 7.3 60.1 1.4 23.4 20.4 22.8 79.6 0.2 22.8 15.5 1.8 0.7 33.5 18.3 34.8 0.3 2.7 0.6 0.6 3.5 37.0 0.7 0.3 0.0 37.8 11.4 0.3 16.5 0. 186 . Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu.4 0.3 9.8 12.5 1.3 15.6 19.8 35.7 0.3 0.2 4.0 0.7 2.8 17.9 17.6 0.4 20.5 0.5 4.3 1.3 0.5 0.4 8.5 30.6 0.0 24.0 0.9 72.7 13.8 7.6 0.7 0.5 17.0 5.6 0.7 9.6 7.8 0.9 34.0 12.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari.3 14.6 30.0 36.4 4.7 0.6 4.4 57.2 6.6 40.Tabel 3.5 0.5 0.6 0.6 15.5 0.3 23.3 33.6 0.8 38.6 68.5 0.4 9.3 12.8 35.9 0.9 1.8 29.7 77.4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 3.6 0.7 0.4 14.0 17.7 66.3 0.6 0.4 38.9 27. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas.1 1. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Karakteristik responden Kretek dengan filter Kelompok 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Kretek tanpa filter Rokok putih Rokok linting Cangklong Cerutu Tembakau dikunyah Lain nya umur 73.3 20.6 0.4 0.0 1.5 24.2 36.3 3.4 0.

8 91.9 93. penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93.6 94.6 96.0 86.1 90.7 Indonesia 93.7 91.2 91. masing-masing 97.9 92.3 89. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang makan buah dan sayur*) 95. Tabel 3.9 94. DI Yogyakarta (86.9 91. dan Lampung (87.125 menunjukkan bahwa secara keseluruhan.1%).125 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.5 96.5 93.4 96.Tabel 3.5 95.7%).9 83.5 96.4 94.8%.8 97.2 92.2 94.4 92.6 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 187 .7 96.1 87.6 96.9% dan 97.7 92.1 91.4 96.5%).6%. Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83.5 96.4 97. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat.7 96.

3 Jenis Kelamin Laki-laki 93. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan.6 Kuintil-2 94. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 94.7 65-74 94.1 Tamat SMP 93.126 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95.3 Kuintil-5 92.9 Kuintil-4 93.3%). Sementara berdasarkan pendidikan. dengan perkataan lain. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang makan buah dan sayur*) Kelompok Umur (Tahun) 10-14 93.5 55-64 93.0 Perdesaan 94.3 Tempat Tinggal Perkotaan 93.3 45-54 93.8 Tamat PT 90. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur.5 Perempuan 93.9 Tidak tamat SD 94.4 35-44 93.6 Tamat SMA 92.126 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.6 15-24 93.7 Pendidikan Tidak sekolah 94.7 75+ 95.Pada tabel 3.3 Tamat SD 94.2 Kuintil-3 93.4 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 188 . dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur. Tabel 3. Tidak tampak adanya perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan.8 25-34 93. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.

Beberapa provinsi mempunyai prevalensi minum alkohol tinggi. seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (17.6%. termasuk frekuensi. Prevalensi peminum alkohol di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan.3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol Salah satu faktor risiko kesehatan adalah kebiasaan minum alkohol. yaitu satu minuman standar setara dengan bir volume 285 mililiter. 189 . juga diikuti dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam satu bulan terakhir di atas angka nasional.3%). prevalensi minum alkohol tinggi tampak pada yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SMA.0%. Sulawesi Utara (17. sehingga didapatkan ukuran standar.7%). sedangkan yang masih minum dalam satu bulan terakhir 3. Menurut jenis kelamin. jenis minuman dan rata-rata satuan minuman standar. Tabel 3. Pada umumnya provinsi dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional. prevalensi peminum alkohol lebih besar laki-laki dibanding perempuan.128 dapat dilihat bahwa prevalensi peminum alkohol 12 bulan dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 15-24 tahun. Sedangkan menurut pendidikan.5% dan 3.3. Karena perilaku minum alkohol seringkali periodik maka ditanyakan perilaku minum alkohol dalam periode 12 bulan dan satu bulan terakhir. namun kemudian turun dengan bertambahnya umur.7. Tidak tampak perbedaan prevalensi peminum alkohol menurut tingkat pengeluaran per kapita per bulan. yang selanjutnya meningkat menjadi 6.5%. Dilakukan kalibrasi terhadap berbagai persepsi ukuran yang digunakan responden. Untuk penduduk yang menjawab “ya” ditanyakan dalam 1 bulan terakhir.7% dan 4. Informasi perilaku minum alkohol didapat dengan menanyakan kepada responden umur 10 tahun ke atas. dan Gorontalo (12.127 memperlihatkan secara nasional prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir sebanyak 4. yaitu sebesar 5.4%).3% pada umur 25-34 tahun. Wawancara diawali dengan pertanyaan apakah minum minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir. Pada tabel 3.

Tabel 3.127 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Konsumsi Provinsi alkohol 12 Bulan terakhir
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1,5 6,1 1,5 3,4 2,7 2,9 2,8 2,2 4,4 5,9 4,0 2,6 2,2 3,2 1,9 1,6 6,4 2,0 17,7 8,8 6,5 1,2 3,4 17,4 8,9 5,9 7,7 12,3 4,0 8,2 7,4 8,1 6,7

Konsumsi alkohol 1 Bulan terakhir
0,4 4,4 0,7 1,3 1,7 2,1 1,8 1,4 2,5 3,7 2,7 1,3 1,1 1,7 1,0 0,9 4,6 1,2 13,5 4,8 3,5 0,5 1,7 14,9 6,4 3,9 5,8 10,7 2,6 5,0 4,4 4,9 4,4

Indonesia

4,6

3,0

190

Tabel 3.128 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia, Riskesdas 2007
Karakteristik Responden Pernah minum alkohol dalam 12 bulan terakhir Masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir 0,3 3,5 4,3 3,7 3,3 2,4 1,7 0,9 5,8 0,4 2,1 2,5 3,0 3,5 3,8 2,4 2,5 3,3 2,9 3,0 3,0 3,0 3,0

Kelompok Umur (Tahun) 10-14 0,7 15-24 5,5 25-34 6,7 35-44 5,5 45-54 4,8 55-64 3,6 65-74 2,6 75+ 1,5 Jenis Kelamin Laki-laki 8,8 Perempuan 0,7 Pendidikan Tidak sekolah 3,1 Tidak tamat SD 3,8 Tamat SD 4,5 Tamat SMP 5,5 Tamat SMA 6,0 Tamat PT 3,9 Tipe Daerah Perkotaan 3,9 Perdesaan 5,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4,4 Kuintil-2 4,7 Kuintil-3 4,6 Kuintil-4 4,7 Kuintil-5 4,7

191

3.7.4 Perilaku Aktifitas Fisik
Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Dikumpulkan data frekuensi beraktifitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. Selain frekuensi, dilakukan pula pengumpulan data intensitas, yaitu jumlah hari melakukan aktifitas ’berat’, ’sedang’ dan ’berjalan’. Perhitungan jumlah menit aktifitas fisik dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktifitas yang dilakukan, di mana aktifitas diberi pembobotan, masing-masing untuk aktifitas ‘berat’ empat kali, aktifitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktifitas ‘ringan’ atau jalan santai. Pada tabel 3.129 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48,2%) kurang melakukan aktifitas fisik. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61,7%) dan Provinsi Riau (60,2%). Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27,3%), Sulawesi Tengah (39,4%), dan Bengkulu (40,1%). Pada tabel 3.130 terlihat bahwa menurut kelompok umur, kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76,0%) dan umur 10-14 tahun (66,9%), dan perempuan (54,5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41,4%). Berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57,6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42,4%), dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik.

192

Tabel 3.129 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang Aktifitas Fisik 53,3 52,1 54,8 60,2 57,8 48,1 40,1 45,3 46,4 53,1 54,7 52,4 44,2 45,3 44,7 55,0 44,6 48,8 27,3 46,9 43,8 49,4 61,7 47,2 39,4 49,1 47,6 47,3 42,7 49,2 48,2 50,4 43,0

Indonesia

48,2

*) Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu

193

Tabel 3.130 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang aktifitas fisik

Kelompok umur 10-14 66,9 15-24 52,0 25-34 42,9 35-44 38,9 45-54 38,4 55-64 44,4 65-74 58,5 75+ 76,0 Jenis Kelamin Laki-laki 41,4 Perempuan 54,5 Pendidikan Tidak sekolah 48,8 Tidak tamat SD 48,1 Tamat SD 43,4 Tamat SMP 47,4 Tamat SMA 52,6 Tamat PT 60,3 Tipe daerah Perkotaan 57,6 Perdesaan 42,4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 44,8 Kuintil-2 45,5 Kuintil-3 47,1 Kuintil-4 49,1 Kuintil-5 53,9

3.7.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS a. Flu Burung
Data mengenai pengetahuan dan sikap penduduk tentang flu burung dikumpulkan dengan didahului pertanyaan saringan: apakah pernah mendengar tentang flu burung. Untuk penduduk yang pernah mendengar, ditanyakan lebih lanjut pengetahuan tentang penularan dan sikapnya apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak. Penduduk dianggap memiliki pengetahuan tentang penularan flu burung yang benar apabila menjawab cara penularan melalui kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang. Penduduk dianggap bersikap benar bila menjawab salah satu : melaporkan kepada aparat terkait, atau membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas sakit, apabila ada unggas yang sakit dan mati mendadak.

194

Tabel 3.131 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Pernah mendengar
61,7 74,6 67,3 74,1 67,8 55,8 66,8 70,2 73,1 81,4 80,9 71,6 68,2 74,7 63,7 63,2 70,8 52,2 35,9 57,8 61,4 69,3 74,6 71,1 66,7 63,1 55,8 51,9 56,9 54,7 41,9 52,1 44,4

Berpengetahuan benar*
81,3 84,8 73,7 77,2 81,7 87,7 80,7 86,2 75,2 81,0 83,6 77,6 79,9 74,6 75,9 83,3 85,7 79,6 69,8 81,3 82,2 71,1 86,7 80,7 70,0 70,6 74,9 79,9 66,2 76,2 63,7 69,0 74,8

Bersikap benar**
88,7 94,2 81,3 87,6 87,6 85,1 87,2 92,2 92,1 91,9 91,4 84,9 86,9 93,6 89,4 87,3 96,1 91,0 85,9 88,6 82,4 74,6 92,5 92,7 83,9 85,8 83,2 85,2 84,5 84,1 82,2 84,2 86,8

Indonesia

64,7

78,7

87,7

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.131 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan provinsi. Secara nasional, 64,7% penduduk pernah mendengar tentang flu burung. Di antara mereka, 78,7% memiliki pengetahuan yang benar dan 87,7% memiliki sikap yang benar. Tiga provinsi yang penduduknya kurang mendengar tentang flu burung adalah Nusa Tenggara Timur (35,9%), Maluku Utara (41,9%) dan Papua (44,4%). Provinsi yang penduduknya mempunyai pengetahuan yang

195

baik tentang flu burung tertinggi di Lampung (86,2%) dan yang sikapnya terbaik Provinsi Bali (96,1%).

Tabel 3.132 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik responden Pernah mendengar Berpengetahuan benar*
73,0 83,1 81,6 79,2 75,6 71,4 64,8 59,2 80,6 76,7 60,9 66,7 74,1 82,2 86,4 90,3 77,1 79,4 75,8 88,7 81,9 73,9 80,4 82,7 75,2 75,5 76,3 77,7 79,4 82,6

Bersikap benar**
82,2 89,7 89,3 88,5 86,9 85,6 82,3 79,1 88,8 86,6 77,7 78,8 84,3 90,2 93,4 95,7 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4 84,4 89,2 91,0 84,9 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4

Umur 10-14 tahun 52,4 15-24 tahun 79,0 25-34 tahun 75,3 35-44 tahun 70,0 45-54 tahun 60,8 55-64 tahun 47,6 65-74 tahun 33,5 75+ tahun 19,7 Jenis kelamin Laki-laki 68,2 Perempuan 61,5 Pendidikan Tidak sekolah 26,3 Tidak tamat SD 44,5 Tamat SD 61,0 Tamat SMP 79,1 Tamat SMA 89,0 Tamat PT 93,7 Pekerjaan Tidak kerja 53,9 Sekolah 65,3 Ibu RT 65,1 PNS/Polri/TNI/BUMN 91,3 Wiraswasta 78,2 Petani/nelayan/buruh 54,6 Lainnya 73,4 Tipe daerah Perkotaan 78,8 Perdesaan 56,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 56,0 Kuintil 2 60,5 Kuintil 3 64,0 Kuintil 4 67,7 Kuintil 5 74,5

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.132 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan karakteristik responden. Kelompok umur 15-24 tahun

196

merupakan kelompok tertinggi untuk kategori pernah mendengar, berpengetahuan benar dan bersikap benar. Persentase laki-laki yang pernah mendengar tentang flu burung lebih tinggi dari perempuan (68,2% dibanding 61,5%), demikian juga lebih banyak laki-laki memiliki pengetahuan dan sikap benar. Menurut tipe daerah, penduduk di perkotaan lebih banyak yang telah mendengar tentang flu burung, dan lebih banyak yang memiliki pengetahuan dan sikap yang benar terhadap flu burung dibanding perdesaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi presentase penduduk yang telah pernah mendengar tentang flu burung, dan yang mempunyai pengetahuan serta sikap yang benar tentangnya.

b. HIV/IADS
Berkaitan dengan HIV/AIDS, penduduk ditanyakan apakah pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Selanjutnya penduduk yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang penularan virus HIV ke manusia (tujuh pertanyaan), pencegahan HIV/AIDS (enam pertanyaan), dan sikap apabila ada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS (lima pertanyaan). Penduduk dianggap berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS apabila menjawab benar masing-masing 60%. Untuk sikap ditanyakan: bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS apakah responden merahasiakan, membicarakan dengan ART lain, mengikuti konseling dan pengobatan, mencari pengobatan alternatif ataukah mengucilkan penderita. Tabel 3.133 menggambarkan persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan provinsi. Secara nasional, 44,4% penduduk sudah pernah mendengar tentang HIV/AIDS; 13,9% di antaranya berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS dan 49,3% berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS. Tiga provinsi yang penduduknya paling sedikit mendengar tentang HIV/AIDS adalah Maluku Utara (28,4%), Sulawesi Barat (29,3%) dan Nusa Tenggara Timur (30,2%). Dari yang pernah mendengar, yang berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS terendah adalah di Jawa Barat (6,2%), disusul Jawa Timur (6,6%) dan Banten (6,9%), sedangkan yang berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS terendah adalah Sulawesi Barat (29,0%), disusul Lampung (37,8%) dan Sulawesi Selatan (38,9%). Tabel 3.134 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan karakteristik responden. Pada umumnya, penduduk usia produktif (15-45 tahun) paling banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Menurut jenis kelamin, laki-laki umumnya lebih banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibandingkan perempuan. Secara umum, tampak adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS seiring dengan peningkatan umur. Dari segi pekerjaan, penduduk yang berpenghasilan tetap lebih banyak yang berpengetahuan benar tentang HIV/AIDS. Sedangkan dari segi tipe daerah, penduduk perkotaan lebih banyak yang sudah mendengar tentang HIV/AIDS dan berpengetahuan benar tentang pencegahan. Selanjutnya semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin baik pengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS.

197

Tabel 3.133 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi Pernah mendengar
44,3 55,2 42,0 55,3 46,0 34,5 49,2 43,2 52,9 71,1 67,8 45,1 42,5 57,4 40,5 41,7 52,1 33,9 30,2 46,6 40,5 44,3 59,2 58,6 38,5 35,3 35,6 33,7 29,3 45,7 28,4 56,4 51,3

Berpengetahuan benar tentang penularan*
17,9 17,1 16,5 14,3 19,5 21,8 10,6 7,2 8,7 17,4 9,2 6,2 12,2 9,4 6,6 6,9 12,8 21,4 29,2 17,7 10,9 7,8 13,3 12,5 7,1 13,7 14,8 14,1 16,1 26,6 15,9 37,1 45,0

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
41,0 40,6 46,6 45,1 40,3 40,4 39,8 37,8 44,5 53,9 61,8 61,2 60,0 64,9 53,6 49,3 61,8 52,7 50,6 46,7 46,1 46,3 47,8 51,9 44,2 38,9 41,0 40,5 29,0 54,9 46,8 53,4 59,9

NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Indonesia

44,4

13,9

49,3

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

198

Tabel 3.134 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik Pernah mendengar Berpengetahuan benar tentang penularan*
11,3 14,2 14,0 14,2 14,4 12,9 11,6 12,0 14,0 13,8 14,4 10,1 9,5 11,8 15,6 26,3 13,2 14,3 11,9 20,9 12,5 11,0 14,2 13,5 14,3 11,0 11,5 12,6 13,7 17,6

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
34,9 50,5 51,4 51,1 48,9 47,4 42,8 34,7 50,1 48,5 32,9 33,4 38,2 47,0 57,4 68,8 48,2 46,9 46,9 64,2 51,9 39,1 53,9 56,6 40,9 43,1 45,3 47,6 50,3 55,2

Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5

21,8 63,2 58,8 49,7 37,3 25,4 14,7 7,1 48,0 40,9 8,7 17,1 33,4 61,2 80,1 89,7 37,2 40,7 44,2 84,6 60,7 30,3 57,1 62,5 33,2 33,0 38,0 42,9 47,9 58,2

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

199

1 55.0 58.3 70. Secara nasional.7 21.0 83.4 79.7 95.3 64.1 90.3 26.8 59.9 59.7 68.2 69.9 10.7 87.3 29.2 5.6 6.8 60.8 5.8 27.1 60.7 68.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi.9 76.7 85.0%.8 30. Provinsi-provinsi yang penduduknya bersikap baik (sedikit yang merahasiakan dan mengucilkan) adalah Sulawesi Barat (12%).4 3.3 5.8 5.8 61.0 51.5 88.5 51.5 3.8 34.3 64. sebesar 89.7 60.7 63.4 65.2 85.1 93.0 5.0 88.3 89.0 83.9 13.2 6.9 5.7 89.9 29.1 4.3 62. 200 .9 34.4 6.7 58.7 90.7 76.7 76.3 5.2 87.5 6.5 75.8 60.3 57.5 6.1 89.4 85.7 23.1 2.2 78.1 59.2 67.135 di atas memperlihatkan persentase penduduk di atas 10 tahun menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan provinsi.3 30.4 85.7 88.9 44.7 62.3 91.8 87. Sulawesi Selatan (17.9 93.3 35.3 72.2 5.4 7.2 63.5%) dan Sulawesi Tengah (18.0 76.3 15.8 67.1 74.8 19.5 28.3 7.7 10.9 43.2 86.Tabel 3.3 40. Riskesdas 2007 BicaraProvinsi Merahasia-kan kan dgn ART lain NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 33.3 65.8 67.9 92.4 67.8 20.8 8.5% (masing-masing 28.8 26.1 5.4 54.4%).7 5.6 6.7 93.7 57.2 62.5 92.2 87.2 62.6 58.3 12.4 Mengucilkan Indonesia 28.3 Tabel 3.9 89.1 38.7 23.8 50.1 61.2 5.2% dan 6.5 48.4 56.9 85.7 8.6 63.5 24.2 64.0 5.8 64.2 75.3%).7 70.0 8.4 28.8 23.3 67.2 73.1 43.5 48. Sedangkan melakukan konseling dan pengobatan merupakan persentase tertinggi.1 71.6 9.3 57.6 52.0 51.3 5.1 5.0 24.1 5.9 55.9 64.4 58. penduduk yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan apabila ada ART yang menderita HIV/AIDS sebesar 34.6 34.3 50.5 57.3 Konseling dan pengobatan 84.0 87.1 19.9 Cari pengobatan alternatif 60.9 8.4 82.7 24.7 37.2 66.0 62.6 6.6 90.0 76.

2 69.1 90.6 69.4 60.4 45-54 27.4 89.0 85.5 6.3 56.3 Sekolah 29.3 Tamat SMA 28.6 56.4 15-24 30.5 Lainnya 26.9 63.9 6.0 Perempuan 28.6 6.1 74.3 89.3 6.0 Jenis Kelamin Laki-laki 28.6 70.1 76.9 7.3 88.7 59.9 86.4 69.5 90.5 Pendidikan Tidak sekolah 30.9 62.4 72.3 56.0 68.8 88.3 6.7 5.2 94.6 71.5 6.2 77.8 Ibu RT 28.8 78.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 27.3 6.0 78.7%) dan Bangka Belitung (93.2 59.1 69.1 6.7 55.7 Kuintil-3 28.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 29.0 6.4%).4 6.0 60.3 87.5 Mengucilkan Kelompok umur (tahun) 10-14 29.0 Tamat PT 26.9 87.9 58.8 75+ 24.0 70.7 Wiraswasta 28.7 Pekerjaan Tidak bekerja 29.9 87.1 35-44 26.3 6.6 64.7 57.6 55.3 5.3 Kuintil-5 27.7 60.6 67. Tabel 3.9 71.8 58.9 Perdesaan 27.9 6.6 91.5 91.6 50.9 58.2 Kuintil-4 28.7 6.7 58.2 59.4 71.7 57.6 6.7 86.7 72.8 5.8 90.1 66.6 89.8 6.5 6.9 93.4 60.6 59.3 56.6 6.9 6.8 74.5 86.8 59.5 Tipe Daerah Perkotaan 28.2 6.8 65-74 25.0 201 .4 25-34 28.0 Tamat SD 28.8 58.0 55-64 25.6 53.5 59.7 89.8 68.9 57.9 85.5 58.1 Cari pengobatan alternatif 49.6 6.7 5.6 89.0 52.5 88.3 90.5 Kuintil-2 28.4 5.1 Petani/Nelayan/Buruh 27.1 Tidak tamat SD 28.1 92.8 7.1 Tamat SMP 29.5 61.7 69.7 69.7 85.6 6.3 52.7 81.136 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Merahasiakan Bicarakan dengan ART lain 58.2 66.7 64.0 Konseling dan pengobatan 79.4 6.1 60.2 5.0 70.Sedangkan provinsi yang penduduknya bersikap baik dalam hal akan melakukan konseling dan pengobatan adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah (masing-masing 93.

setelah buang air besar. yang tidak memiliki pekerjaan relatif lebih banyak yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan anggota keluarganya yang menderita HIV/AIDS. namun hanya 23. Perilaku BAB yang dianggap benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban.7. setelah menceboki bayi/anak.138 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut karakteristik. sebesar 71. Sumatera Utara (14. perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan semakin tinggi. Provinsi Sulawesi Barat (57.2% dibanding 70.9%.Tabel 3.6%). dan setelah memegang unggas/binatang.2%) dan Sumatera Barat (59. Menurut pendidikan. petani/buruh/ nelayan memiliki persentase perilaku baik BAB dan cuci tangan terendah (56. demikian pula dengan penduduk perkotaan.3%) adalah provinsi-provinsi yang perilaku BAB benarnya rendah.8% dibanding 18. semakin tinggi semakin kecil sikap merahasiakan dan mengucilkan ini. Dari segi pekerjaan. 202 .6%) adalah provinsiprovinsi yang perilaku cuci tangan benarnya rendah. Tabel 3. Semakin tinggi pendidikan. DKI Jakarta menduduki tempat tertinggi untuk perilaku baik dalam hal BAB dan cuci tangan. Semakin tinggi usia semakin berperilaku benar dalam BAB dan cuci. tetapi tampak menurun lagi pada umur 55 tahun ke atas. sebelum menyiapkan makanan. Persentase perempuan yang berperilaku benar dalam BAB dan cuci tangan lebih tinggi dari laki-laki (berturut-turut 71.8%).6 Perilaku Higienis Perilaku higienis yang dikumpulkan meliputi kebiasaan/perilaku buang air besar (BAB) dan perilaku mencuci tangan. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sikap merahasiakan dan mengucilkan. Mencuci tangan yang benar adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.5%) dan Riau (14. Menurut tingkat pengeluaran. Penduduk perkotaan berperilaku baik lebih tinggi dari perdesaan. Sedangkan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi persentase perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan.4%).137 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut provinsi. Tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan. Gorontalo (59.1% dan 18. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat (8. Dari aspek pekerjaan.1% berperilaku benar dalam hal BAB.4%). Menurut kelompok umur. dan 27. 3. Tabel 3. semakin muda umur penduduk semakin tinggi persentase sikap merahasiakan dan mengucilkan.136 menggambarkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan karakteristik responden. Secara nasional.2% yang berperilaku cuci tangan benar.

2 59.0 68. dan setelah menceboki bayi/anak.0 30.3 59.1 59.2 59.0 65.5 19.Tabel 3.9 68.7 71.4 15.4 43.9 29.9 20.7 27. dan setelah memegang unggas/binatang.5 35.2 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan. 203 .1 69.2 89.9 15.3 68.1 32.5 30.9 22.6 18.0 36.3 84.0 81.3 44.4 82.9 17.7 67.2 20.8 24.0 23. setelah buang air besar.4 20.6 60.9 73.3 80.3 24.2 86.7 60.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 71.2 25.1 23.3 25.6 79.2 57.7 59.1 72.1 32.9 18.0 14.6 76.4 14.6 14.8 26.4 63.0 98.9 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 16.137 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.3 68.5 73.8 72.9 83.5 8. Riskesdas 2007 Provinsi Berperilaku benar dalam hal BAB* 61. sebelum menyiapkan makanan.8 38.2 72.6 29.

4 71.7 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.6 69.7 93.7 19.7 58.9 24.Tabel 3. dan setelah menceboki bayi/anak.138 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden. dan setelah memegang unggas/binatang.8 18.2 52.6 21.8 72.1 71.8 29.4 59.4 27.6 75.7 88.5 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 17.9 94.8 24.1 18.0 21.9 71.8 17. setelah buang air besar.6 73.6 26.8 84.6 19.9 30.5 22.0 64.2 72.1 25.6 68.8 24.8 76.9 73.1 14.3 83.8 89.1 18. Riskesdas 2007 Berperilaku Karakteristik responden benar dalam hal BAB* Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 68.7 69. sebelum menyiapkan makanan.2 59.7 56.0 36.2 23.1 65.4 22.4 27.6 23.7 28.3 70.1 77.1 18. 204 .9 20.8 19.0 70.5 68.4 24.7 31.

0 4.8 12.2 Asin 22.7 47.7 5.0 46.1 0.7 31.8 7.5 2.3 15.5 8.1 9. berkafein.139 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Provinsi.6 2.8 89.8 4.8 1.5 4.8 23.0 79.9 1.3 29.4 3.2 11.2 4.2 80.2 19.5 89.7 24.1 71.7 2.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko Penduduk yang “sering” makan makanan/minuman manis.9 83.2 50.5 19.3 83.3 84.3 5.4 8.7 18.8 11.9 79.4 7.5 44.6 24.3 15.0 39.2 5.6 6.0 5.2 11.3 36.0 0.6 30.9 2.6 24.3.9 4.6 2.9 38.8 Indonesia 65.3 1.0 4.7 28.1 74.2 87.4 21.6 23.4 35.4 14.6 1.8 54.9 8.2 1.7.6 24.2 1.6 61.7 1.4 2.0 18.5 25.2 86.2 62.3 16.7 47. makanan minuman makanan penduduk Tabel 3. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari.5 89.8 3.3 11.1 13.8 18.0 8.0 8.3 87.4 86.8 73.1 21.3 21.6 13.1 55.9 7.7 85.2 43.2 15.1 6.0 31.2 59.1 1.7 15.5 5.5 5.9 65.8 4.2 81. dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi berisiko.5 1.9 27.1 9.7 3.6 7.6 10.2 3.3 72.3 58. jeroan.1 72.5 77.5 85.2 68.3 10.2 27.8 27.4 44.7 52.0 75.5 4.9 29.1 90.9 1.3 3.9 7.1 64.1 59.6 55.3 57.6 43.4 3.0 2.1 20.4 83.2 11.8 17.8 14.8 Berle mak 15.1 9.8 52.0 Diawet kan 6.6 38. makanan dibakar/panggang.1 4.5 58.2 30.0 2.7 Dipang gang 5.1 56.2 10.2 2.8 2.7 8.7 17.9 69.6 9.6 23.4 7.0 79.6 86.0 6. makanan asin.6 84.4 2.2 1.4 5.6 5.0 29.8 34. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Manis 69.2 34.5 12.6 2.6 45.2 9.7 3.4 16.9 69.4 1.1 1.5 6.3 71. makanan yang diawetkan.9 59.7 1.4 60.6 74.6 68.7 40.1 25.7 90.3 2.9 Berka fein 45.4 8.2 5.7 4.8 205 .5 28.6 1.8 5.4 84.8 19.3 19.9 13.4 4.5 45.8 71.6 77.6 2.3 21.0 Penyedap 33.0 3.3 5.2 8.0 68.8 19.5 79.3 7.8 63.2 78.5 2.6 4.4 23.5 82.8 39.0 76.5 92.4 35.5 19.3 85.3 41.6 67.1 4.1 10.7 14.4 8.3 76.2 10.1 4.0 3.8 2.4 2.4 2.6 6. berlemak.6 2.6 70.2 Jeroan 3.6 47.4 1.1 3.2 7.7 4.2 3.9 6.2 24.2 9.1 22.6 4.9 60.7 7.9 5.9 30.3 9.0 4.0 1.

3 37. tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (83.8 Tamat PT 71.8 12.0 4.8 24.1 78.8 1.3 35. Tabel 3.6 4.5 25.5 Berka fein 16.4 68. Penyedap sering dikonsumsi oleh 77.7 78.0 4.4 Kuintil-5 68. 12. tertinggi di Provinsi Bali (62.5 25.7 2.9 1.4 Tamat SD 64.4 2.2 25.1 68.0 2.8 1.140 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.6 13.1 Tamat SMA 69.5 78.1 7.7 4.5 76.7 77.6 26.1 24.1 2.3 1.4 6.5 Tidak Tamat SD 62.9 Jenis kelamin Laki-Laki 67.5 79.6 6.2 77.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 62.1 39.1 Kuintil-4 66.6 26.0 10.7 1.9 1.8 11.4 63.9 1.8% penduduk Indonesia sering mengonsumsi makanan berlemak.6 14.2 4.3 Diawet kan 8.5 206 .5 Perempuan 63.1 35.7 2. Sedangkan kafein sering dikonsumsi oleh 36.8 37.3 12.3 3.0 36.5 77.8 1.6 5.6 39.6 7.0 4.5 24.0%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (11.7 23.5%.1 2.1 66.0 5.7 62.5%) dan terendah Provinsi Bali (44.4 5.0 Perdesaan 62.1 45.8 1.1 5.8% penduduk secara keseluruhan. tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan (41.0 4.1 1.5% penduduk secara nasional.8%).8 4.9 45-54 66.7 5.2 78. tertinggi di Provinsi Gorontalo (25.8 65.7 6. Sedangkan prevalensi sering mengonsumsi makanan asin secara nasional ditemukan 24.7 72.6%).3 6.2%).2 24.2 79.5 21.8 77.4 25-34 66.9 24.2 78.2 6.8 3.4 13.4 5.0 2.8 63.7 36.0 1.4 4.1 12. Secara nasional.5 79.5 4.6%) dan terendah di Provinsi Sulawesi Tengah (5.Tabel 3.8 11.3 6.9 6.6 4.2% penduduk Indonesia yang berusia ≥10 tahun.0 Tipe daerah Perkotaan 69. tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (92.1 Jeroan Dipang gang 5.3 75.9 11.9 78.5 3.3 6.8 24.4 Pendidikan Tidak Sekolah 57.7 4.8%) dan terendah di Provinsi Bangka Belitung (5.7 6.9 74.1 65.5 46.4 43.7 14.1 36.6%) dan terendah di Provinsi NAD (33.0 75+ 60.2 12.7 5.6 23.1 13.7 42.0 71.5 2.1 2.0 37.4 35.6 6.1 Penyedap Kelompok umur 10-14 63.8 1.2%).5 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Manis Asin Berle mak 13.9 2.4 15-24 65.9 42.9 55-64 63.4 66.5 21.0 Tamat SMP 66.7 46.9 76.4 62.8 6.7 77.5 4.5 6.3 24.1 5.3 28.6 31.2 2.0 5.1 38.5 11.7%).2 5.7 78.4 24.3 6.8 4. Sering mengonsumsi makanan manis dilakukan oleh 65.9 12.8 5.3 78.139 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut provinsi.5 13.9 21.4 12.4 Kuintil-2 63.1 24.7 35-44 66.8 Kuintil-3 65.2 65-74 61.3 76.7 32.

pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. berlemak. Untuk rumah tangga dengan balita digunakan 10 indikator. Sedangkan perilaku sering minum minuman berkafein nampak meningkat sesuai peningkatan usia. Sementara pola prevalensi sering minum minuman berkafein. sehingga nilai tertinggi delapan (8). ekonomi. demikian halnya perilaku sering mengonsumsi makanan asin. sedangkan untuk rumah tangga tanpa balita terdiri dari 8 indikator. Menurut tipe daerah. kepemilikan/ketersediaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.7%. Sementara pola prevalensi jenis konsumsi lainnya nampak tidak berbeda menurut tempat tinggal. diawetkan dan penyedap makanan pola prevalensi menurut tingkat pendidikan nampak tidak beraturan. minum minuman berkafein dan makanan dipanggang cenderung lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. untuk meningkatkan pengetahuan. yaitu rumah tangga dengan balita dan rumah tangga tanpa balita. namun setelah usia 55 tahun prevalensi cenderung menurun. Sedangkan pola prevalensi sering mengonsumsi makanan asin. penduduk tidak merokok. melalui pendekatan pimpinan. penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38. yaitu 3 Program PHBS adalah upaya untuk memberi pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan. makanan berlemak. makanan asin. jeroan. 207 . PHBS diklasifikasikan “kurang” apabila mendapatkan nilai kurang dari enam (6) untuk rumah tangga mempunyai balita dan nilai kurang dari lima (5) untuk rumah tangga tanpa balita.Tabel 3. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. Menurut umur. Menurut jenis kelamin. dengan membuka jalur komunikasi. kelompok dan masyarakat.140 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut karakteristik responden. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. makanan dipanggang dan diawetkan. 3. memberikan informasi dan melakukan edukasi. laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan minum minuman berkafein dibandingkan perempuan. dan makanan yang diawetkan ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. Pola yang sama ditemukan untuk konsumsi penyedap makanan menurut umur. dan rumah tangga dengan lantai rumah bukan tanah. dan penyedap makanan nampak berbanding terbalik dengan peningkatan kuintil. Dalam penilaian PHBS ada dua macam rumah tangga. dan penduduk cukup mengonsumsi sayur dan buah. perilaku sering mengonsumsi makanan manis cenderung menurun setelah usia 45 tahun. Indikator individu meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. jeroan dan makanan yang dipanggang cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi. bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. akses jamban sehat. Secara nasional. kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (≥8m2/ orang). penduduk cukup beraktifitas fisik. Menurut tingkat pendidikan.8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Riskesdas 2007 mengumpulkan 10 indikator tunggal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)3 yang terdiri dari enam indikator individu dan empat indikator rumah tangga. Sedangkan untuk konsumsi jenis makanan berisiko lainnya pola prevalensi antara laki-laki dan perempuan hampir sama. Sementara untuk makanan asin dan minum minuman berkafein pola prevalensi berbanding terbalik dengan meningkatnya pendidikan. makanan berlemak. Sedangkan untuk makanan yang dipanggang.7. dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan. bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. Indikator Rumah Tangga meliputi rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih. makanan berlemak. Terdapat lima provinsi dengan pencapaian di atas angka nasional. sehingga nilai tertinggi adalah 10. sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat. keluarga.141 memperlihatkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS baik menurut provinsi. Tabel 3.

6 47.4 37.2% ).8%).8 29. Jawa Tengah (47%).8 37.8 46.8 33. Nusa Tenggara Timur (26.7 47.9 34. dan Sulawesi Utara (46.4%).7 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 208 .7 34.2 45.2 28.1 33.8%).3 28.8 30. Riau (28.1 26. Kalimantan Timur (49.6 49.2%).8%).9 33.7 41. Gorontalo (27.8 28.3 27.0 58.3 33.0 33.9 44. Tabel 3. Riskesdas 2007 RT dengan PHBS Baik 34.7% ).8 32.0 40.4 38.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.DI Yogyakarta (58.4 42. Sedangkan provinsi dengan pencapaian PHBS rendah berturut-turut adalah Papua (24.9% ).4 35.0 24.2 35.9 32.1%) dan Sumatera Barat (28.8 51. Bali (51.

8 48.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari 209 .6 47.4 20.2 21.6 20.7 49.3 52.6 96.1 20. Kurang Aktifitas Fisik.6 24.7 92.4 61.8 27.9 92.8 91.1 54.1 54.9 43.2 23.8 49. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.5 96.0 44.2 22.1 20.4 94.8 27.2 45.2 92.7 47.6 94.3 44.8 24.2 94.4 44.7 23.3 89.4 24.3 25.7 96.142 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.9 83.8 26.2 39.5 93.6 96.0 86.6 48.7 91.5 22.4 92.9 93.8 60.8 20.5 28.6 22.1 21. Riskesdas 2007 Kurang Provinsi konsumsi sayur buah* NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 95.7 24.4 53.4 43.4 96.9 19.1 25.2 23.8 24.8 97.3 23.6 48.5 96.3 46.2 48.1 45.0 23.3 42.4 96.4 24.0 23.2 91.1 47.5 25.1 87.1 40.9 94.9 19.9 91.7 96.3 46.7 52.6 24.1 91.1 90.4 29.3 25.2 57.1 19.5 96.7 Kurang aktifitas fisik** 53.0 Merokok*** Indonesia 93.2 50.4 97.5 95.Tabel 3.4 49.7 55.

0 Tamat PT 90. Riskesdas 2007 Kurang Karakteristik responden konsumsi sayur buah* Kurang aktifitas fisik** Merokok*** Kelompok umur (tahun) 10-14 93.5 4.3 Tamat SMP 93.6 47.7 54.0 Kuintil-2 94.5 Kuintil-4 93.4 28.2 45.7 58.4 30.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 94.0 Tipe daerah Perkotaan 93.6 66.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari Tabel 3.3 27.1 Jenis Kelamin Laki-Laki 93.9 28.5 38.9 2.4 30.8 30.0 42.1 29.3 76.0 57.3 38. 210 . diabetes mellitus.3 60.9 35.8 29.6 Tamat SMA 92.8 52.8 52.4 53. kanker.143 di atas merupakan gabungan dari beberapa perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular.4 55.0 45-54 93.6 Perdesaan 94.5 34.4 38. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.5 Kuintil-5 92.142 tabel 3.6 44.5 29. kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu) dan merokok setiap hari.0 33.3 Tamat SD 94.9 48. stroke.4 37.6 26.9 Tidak Tamat SD 94.0 24.0 55-64 93.1 25.4 42.7 Perempuan 93.9 36.7 44.5 41.1 29.3 48. penyakit paru obstruktif kronik).3 49.0 35-44 93.7 75+ 95.Tabel 3.6 25-34 93.4 Pendidikan Tidak Sekolah 94.0 15-24 93.6 Kuintil-3 93. yaitu perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari).6 34.9 47.143 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.1 43.5 65-74 94.

8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4. yaitu: 1. Papua (12.2%). terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.8%). Kalimantan Barat (19. pos obat desa. Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3. Dalam analisis ini.6%).144 menunjukkan bahwa sebanyak 94. puskesmas. dan polindes/bidan di desa.7%).9%). di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.3%). Nusa Tenggara Timur (14. posyandu. warung obat desa.2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.4%).2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23. serta status sosial-ekonomi dan budaya. DKI Jakarta (4.4%). Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67. termasuk alasan apabila responden tidak memanfaatkan UKBM dimaksud. Dengan demikian secara nasional.145 menyajikan informasi tentang jarak dan waktu tempuh rumahtangga terhadap sarana pelayanan kesehatan menurut karakteristik rumah tangga. dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan. Sulawesi Barat (14.8. dokter praktek dan bidan praktek 2. puskesmas pembantu.8%).8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan 3. Sarana pelayanan kesehatan rumah sakit. proporsi rumahtangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer.0%). 211 . Papua (30.7%).6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor penentu. DI Yogyakarta (4. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16. Daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30. Sulawesi Tenggara (10. Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi. Sulawesi Tenggara (13. Berdasarkan tipe daerah.5%). antara lain jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan.9%) Tabel 3.1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari sarana pelayanan kesehatan dan hanya 6. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.7%). Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yaitu pelayanan poskesdes.0% RT berada lebih dari 5 km. Nanggroe Aceh Darussalam (10. Sulawesi Barat (17. masih ada sekitar 9. sarana pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi dua. Untuk masing-masing kelompok pelayanan kesehatan tersebut dikaji akses rumah tangga ke sarana pelayanan kesehatan tersebut.3.4%) dan Maluku (10. Selanjutnya untuk UKBM dikaji tentang pemanfaatan dan jenis pelayanan yang diberikan/diterima oleh rumah tangga/RT (masyarakat).

5 52.4 1.9 58.6 50.7 22.6 3.6 2.9 3.7 45.4 37.9 6.4 74.4 7.2 50.4 8.0 48.7 46.5 40.3 44.4 58.7 1.7 5.2 2.6 4.5 KM 61.6 27.9 35.8 25.9 11.3 5.2 22.2 3.6 41.8 7.8 37.6 1. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.5 3.1 6.8 6.6 64.5 45.0 22.5 79.8 14.1 66.6 26.4 69.9 50.0 Indonesia Catatan: 47.3 4.0 27.1 3.1 51.4 52.4 7.7 40.0 54.5 35.6 3.3 3.6 >60' 3.0 72.0 20.7 0.3 24.5 44.3 3.9 48.6 4.4 50.6 6.8 20.1 47.6 46.0 4.7 2.6 24. Dokter 212 .0 69.Tabel 3.6 47.6 74.4 54.2 72.2 48.0 4.7 38. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua JARAK KE YANKES < 1 KM 27.1 72.6 2.3 41.1 31'-60' 9.2 46.9 17.4 52.8 55.144 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.5 43.5 23.6 5.1 0.2 16.4 5.0 54.7 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 55.2 75.6 1.1 60.3 75.4 1.9 6.7 7.3 23.5 57.6 1 . Puskesmas.6 40.7 6.6 24.4 7.9 24.5 3.3 17.0 37.9 49.4 17.3 6.1 16.6 31.4 47.0 51.0 76.3 2.8 42.4 61.2 16.8 12.9 4.5 1.5 2.5 3.1 39.0 1.9 20.7 2.8 4.3 65.4 6.0 48.8 36.7 7.4 73.3 16'-30' 31.8 30.4 0.8 10.3 14.8 23.4 21.0 67.7 52.8 37.6 6.4 47.6 9.2 19.6 42.3 7.2 5.2 3.0 76.1 0.6 2.0 52.5 69.9 10.0 3.7 4.5 48.7 47.8 4.8 28.8 36.2 19.9 44.3 3.8 1.8 52.7 76.0 2.4 8.8 14.2 69.0 27.4 47.2 29.8 0.6 12.5 3.3 7.5 73.4 5.5 50.2 39.4 44.4 19.5 10.6 19.6 6.7 36.6 4.9 7.5 20.0 1.8 7.4 27.3 72.7 67.2 45.2 23.2 5.0 57.5 70.7 > 5 KM 10.2 2.6 55.4 4.9 6.7 44.0 65.2 10.6 0.1 6.6 57.4 1.3 66.2 64.6 18.4 1.9 31.1 5.7 *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.6 6.5 58.

Dari segi jarak. Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM. Praktek dan Bidan Praktek ) 43. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.4%).8 52. tertinggi adalah Provinsi Papua (15.3 18. Puskesmas.7 43.7 8. dan 3.4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit.6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit.146 menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM.5 4.6%).4 74. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 3.4 8.3%) dan Riau (5.9 50. Poskesdes. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.6 39.1 5.4 45. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.5 25.147) 213 . dan Polindes.0 JARAK KE YANKES < 1 km 1 .8 26.0 61.4 64.1 69.6 6.8 4.6 4.145 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga. disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11.Tabel 3.6 9.6 5.1 60. (Tabel 3.0 46.8 40.5% berjarak 1-5 km dari UKBM.1 0.4 6. dan semakin singkat waktu tempuh ke UKBM.3 23. nampak bahwa 78.6 2.3 1.6 Puskesmas Pembantu. proporsi rumah tangga dengan jarak ke UKBM >5 kilometer.5 7.5 19.1 2.8 45. Dokter Tabel 3.3 3.7 48.3%).5 6.4 47. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6. Berdasarkan tipe daerah. meliputi Posyandu.2 7.8 22.9 78.5 48.8 48.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat Pengeluaran rumahtangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Catatan: * Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 58. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19.4 26.5 2.5 1.0 67. Sebanyak 11.1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.

2 79.9 7.5 21.8 15.4 0.4 0.3 88.1 2.2 74.6 0.9 86.Tabel 3.1 1.6 2.4 0.3 73.0 86.6 93.5 1.5 91.7 1.0 81.0 3.0 9.3 0.3 2.4 1.3 20.7 83.3 82.9 0.0 87.2 66.2 74.3 13.1 1.5 74.5 9.6 82.8 0.5 1.1 1.2 93.7 9.1 0.6 66.2 0.6 3.4 1.5 0.5 1.2 87.6 0.7 2.2 8.0 88.5 1.9 1 .6 0.3 78.9 15.5 6.2 8.9 89.3 21.6 2.4 2.0 16.7 6.4 21.5 > 5 km 3.4 3.4 2.2 4.9 83.1 79.4 7. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia JARAK KE YANKES < 1 km 69.1 84.1 0.8 86.1 7.9 11.6 74.6 0.7 85.3 17.9 92.6 68.4 18.0 62.2 0.2 27.6 0.8 67.6 6.0 3.2 0.7 0.3 1.7 3.1 91.8 2.3 16.8 2.9 76.7 13.1 68.3 0.6 0.7 80.5 9.7 22.2 24.0 11.5 0.1 0.3 2.8 27.0 7.5 0.7 5.6 1.1 1.2 0.7 1.6 1.8 90.9 1.9 2.9 1.9 9.4 >60' 2.3 24.1 15.8 12.2 1.3 78.7 75. Polindes 214 .4 16'-30' 14.7 11.3 13.1 9.5 14.8 1.0 5.4 1.9 5.5 85.7 81.2 16.4 2.8 79.3 80.5 km 27.6 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 80.4 1.4 1.1 31'-60' 3.9 8.7 90.0 0.146 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi.1 1.4 2.3 2.3 93.6 72.9 28.4 92.3 2.9 11.7 88.9 4.5 2.3 91.3 1.1 75.4 8.0 2.5 3.7 89.1 0.5 0.0 84.3 88.3 8.0 16.1 9.4 12.7 0.5 23.1 84.9 69.7 88.8 2.7 1.9 77.1 3.2 1. Poskesdes.1 18.5 1.6 8.6 83.5 90.2 7.6 70.2 *) UKBM meliputi Posyandu.2 6.4 1.1 81.9 0.7 3.5 76.8 0.9 29.7 20.9 4.7 1.3 6.5 0.0 14.7 31.0 4.9 24.3 15.2 83.8 29.6 19.8 22.9 86.2 13.2 23.4 0.1 3.6 64.4 87.3 22.2 1.3 7.4 0.5 25.

8%).9 11.6 88.5 0. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/ poskesdes tertinggi adalah Provinsi Maluku (20.1 6.5 19.4 1. nampak ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin kurang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes.1 1.1 2.8 0.7 13.7 86.4 1.4 2.4 0. tidak ada yang hamil atau tidak mempunyai bayi/balita. Sedangkan yang sebetulnya membutuhkan tetapi tidak memanfaatkan posyandu atau poskesdes adalah sebanyak 10. Poskesdes.5 km > 5 km <15' WAKTU TEMPUH KE UKBM 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 76.8 78. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 88.4 24.3% rumah tangga.0 1.8 1.6 1.8%) dan Jawa Barat (5.4 2.4 2.9%) dan Nanggroe Aceh Darussalam (19. seperti tidak ada anggota rumah tangga (ART) yang sakit.6 17.4 9.2 73.7%).Tabel 3. Polindes Tabel 3.148. 215 .7 1.4 18. Tampak bahwa persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan.5% rumah tangga menyatakan tidak membutuhkan pelayanan di posyandu atau poskesdes karena berbagai alasan. Secara keseluruhan.4 92. sedangkan terendah di Provinsi Jawa Tengah (5. Sebanyak 62. Provinsi dengan persentase rumah tangga memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (42.147 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.9 10.9%) dan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (19.5 12.7 77.9 79.9%).1 1.6 1.5 21.7 JARAK KE UKBM < 1 km 1 .0 *) UKBM meliputi Posyandu.1 3.1 11.3 20.5 1.8 81. Tabel 3.8 2.9 10.3 84.7 3.149 menggambarkan pemanfaatan posyandu/poskesdes berdasarkan karakteristik rumah tangga. memberikan gambaran persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu atau poskesdes di tiap provinsi selama tiga bulan terakhir. di Indonesia sebanyak 27. Bila ditinjau dari tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 81.0 1.0 85.3% rumah tangga memanfaatkan pelayanan di posyandu atau poskesdes.1 82.

1 62.4 56.7 65.8 26.0 64.1 66.4 24.7 23.4 68.0 55.0 11.6 20.8 20.2 13.7 36.4 19.3 42.4 8.6 67.2 64.2 12.148 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.4 25.2 17.0 23.7 52.0 6.1 19.3 11.9 30.4 27.3 58.5 16.8 33.3 48.0 27.5 10.5 60.7 64.2 11.9 7.5 57.8 25.8 18.9 58.3 68.4 10.1 60.3 216 .1 28.8 23.5 22.4 51.8 30.0 26.8 7.Tabel 3.0 30.8 31.9 9.0 8.6 12.8 11.8 5.1 7.9 6.2 60.7 11.9 69.4 61.5 13.5 64.6 66.2 11.7 27.3 42.5 28. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.3 Alasan lain Indonesia 27.4 7.8 54.4 25.0 7.2 26.4 70.6 58.2 31.4 28.4 59.6 12.8 22.9 5.9 27.5 61.4 11.6 50.4 68.3 62.9 27.9 5.9 33.7 67.6 22.3 25.3 15.

yaitu masing-masing 26. Sedangkan yang menjawab letak jauh dan tidak ada posyandu persentasenya hampir sama.3 29. untuk pelayanan penimbangan.1 66.3 10. penyuluhan. Pada rumah tangga yang sebetulnya membutuhkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir tetapi tidak memanfaatkan diminta untuk menyebutkan alasannya.6%).6%) tidak memanfaatkan pelayanan di posyandu/poskesdes karena dianggap tidak lengkap.4 10.1% dan 24. semakin sedikit yang menerima pelayanan penimbangan.7%) dan pelayanan KB (28.Tabel 3.5 54.3%.1%).4 66. imunisasi. Sebaliknya untuk pelayanan pengobatan dan konsultasi risiko penyakit semakin tinggi tingkat pengeluaran. dan suplemen gizi lebih banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga di perkotaan daripada di perdesaan.0 71.4%) dan terendah di 217 . Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.8%).1 10. Tabel 3.9 18. Hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan posyandu/poskesdes untuk konsultasi risiko penyakit (13.152 menggambarkan alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir (di luar yang tidak membutuhkan). Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi menjawab ’layanan tidak lengkap’ adalah DI Yogyakarta (88. Menurut tipe daerah.2 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Per Bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 35. PMT.149 Persentase Rumah Tangga Menurut Pemanfaatan Posyandu/Poskesdes dan Karakteristik Rumah Tangga.6%) dan terendah adalah Papua Barat (17. imunisasi.0%) dan imunisasi (55.9 59. Hampir separuh rumah tangga (49. Tabel 3.0 27.3 Tabel 3.3 23. Sedangkan pelayanan KB dan pengobatan di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan. PMT dan suplemen gizi.8 11. semakin banyak yang menerima pelayanan tersebut.151 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.1 10.7 8. Untuk alasan ’letak posyandu/poskesdes jauh’ tertinggi di Provinsi Riau (52.4 31.1 10. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 24.8 62.150 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir.1 58. Tampak secara keseluruhan di Indonesia jenis pelayanan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga adalah penimbangan (85. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.

6 85.9 35.2 42.0 25.9 48.3 33.1 10.0 40.7 92.3 28.8 38.0 56.Provinsi DI Yogyakarta (5.6 17.3 94.9 52.3 27.0 30.5 85.7 47.4 37.5 16.7 33.4 55.7 24.3 23.9 58.5 32.9 78.5 17.7 37.0 78.4 49.5 46.6 41.1 46.5 49.0 24.5 40.1 83.4 53.4 37.5 33.4 16.3 69.8 9.3 59.9 24.3 40.2 48.8 46.9 55.5 28.6 68.1 34.1 55.2 36.1 52.9 72.7 14.2 11.5 91.4 47.0 22.8 96.7 39.7 56.8 37.6 25.0 20.4 35.4 46.1 54.0 62.7 37.3 85.7 46.2 32.2 25.0 11.2 27.1 27.0 10.3 40.8 30.4 42.0 24.6 12.9 94.6 27.9 61.3 10.3 29.9 40.3 46.7 39.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.0 39. di perkotaan alasan ’jenis layanan posyandu/poskesdes tidak lengkap’ lebih mendominasi.0 24.7 88.5 78.8 41.6 25.8 56.6 35.9 54.9 64.9 45.2 55.1 30.3 25.8 59.1 40.7 32.8 74.3 51.0 43.6 50.4 33.8 28.0%) dan terendah DKI Jakarta 218 .6 28.4 14.2 20.0 82.9 30.7 79.9 52.7 30.6 42.7 28.1 43.1 50.6 77.2 27.5 27.9 46.1 90.4 59.6 62.2 26.2 10.5 56.1 89. Riskesdas 2007 Penimbangan Penyuluhan Imunisasi Pengobatan Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit Provinsi KIA KB PMT NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92.2 47.9 34.3 29.5 89.5 25.5 51.2 32.6 12.0 51. sedangkan di perdesaan alasan yang banyak dipakai adalah ’letak jauh’.4 26.7 16.8 55.6 59.3 49.5 34.4 46.2 11.9 68.2 60.2 50.2 54.6 42.2 46. sedangkan untuk alasan ’tidak ada posyandu/poskesdes’ tertinggi di Papua Barat (71.2 54.2 95.2 24.7 42.0 14.5 71.8 34.6 30.0 32.5 70.9 35.8 33.3 50.1 18.6 80.1 93.5 12.8 29.0 47.6 30.3 45.9 48.5 41.9 43.2 17.2 23.2%).4 31.2 8.2 46.9 28.7 28.2 80.5 30.1 67.4 53.3 37.7 49.4 51.1 27.7 Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa adalah Provinsi Sumatera Barat (34.8 92.5 42.7 28.7 37.2 36.5 14.7 31.2 35.2 60.9 15.1 39. Berdasarkan tipe daerah.4 50.9 33.2 80.2%).2 34.9 58.4 32.2 50.0 53.9 46.9 38.1 48.3 33.2 48.7 24.7 37.2 20.8 51.3 60.6 62.7 76.1 52. Tabel 3.7 13.7 20.5 46.6 24.5 32.5 37.1 36.5 47.0 34.2 35.5 81.0 23.5 31.1 62.8 52.9 34.5 67.153 menggambarkan alasan utama (di luar tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan posyandu/poskesdes menurut karakteristik rumah tangga.1 9.1 46.6 27.0 36.1 18.3 61.0 44.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (6.2 22.5 13.0 34.4 27.8 64. Ketidakberadaan posyandu / poskesdes disebut sebagai alasan untuk tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes oleh rumah tangga dengan persentase yang tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan.2 9.9 28. Tabel 3.9 60.1 88.4 88.7 9.9 22.9 32.2 98.2 84.1 58.0 40.3 12.4 67.3 25.2 22.8 55.7 22.9 25.3 56.2 33.6 16.7 54.9 56.0 64.7 37.0 24.9 36.7 25.7 39.6 55.6 38.3 38.2 60.3 65.8 58.9 19.2 15.3 28.3 36.6 31.

3 219 .3%).7 43.2 29.9 39.2 30.9 15.2%).7 13.9 36.6 25.2 39.6 30.0 47.2 35. Tabel 3.6 55.4%).8 30.6%).7 30.8 33.0%) dan Papua Barat (54. Sedangkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa di perdesaan (25.6 42.(6.8 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Kuintil 1 87.2 58.5 39.4 44.151 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.3 35.2 56.8 30.5 40. sedangkan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (13.3 30.9 40. Provinsi Gorontalo menempati persentase tertinggi (76.7 37.1 53.0 45.7 12.4 13.7 Tipe Daerah Perkotaan 89.2 49.1 44.3 13.7%).4%).4 Perdesaan 82. Tabel 3.6 47.155 menggambarkan pemanfaatan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga. baik yang tinggal di daerah perdesaan maupun perkotaan.7 43.1 54.0 28.2 36. Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang tidak memanfaatkan dengan alasan lain (diluar tidak membutuhkan) adalah Provinsi Papua (55. Untuk alasan tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.7 Kuintil 5 81.7 35.6 30.5 Kuintil 3 84.4 43.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (15. Secara keseluruhan lebih dari separuh rumah tangga.6 27.1 46.6 Kuintil 2 85. sedangkan terendah adalah Provinsi Papua (30.8 46.5 48.7 26.7 52.6 Kuintil 4 83.8 42. Riskesdas 2007 Tipe Daerah Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit 13.5 14.6 29.0 37.1 28.5 45. tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.2 51.

5 30.8 29.5 60.6 220 .3 12.0 52.3 20.4 8.2 41.2 8.3 10.8 51.6 16.7 50.0 50.8 9.1 56.9 16.7 69.3 37.7 26.9 39.5 50.8 67.1 51.1 42.8 25.8 58.1 44.0 37.6 19.4 70.7 18.4 36.1 25.6 31.2 52.2 22.6 32.3 8.0 17.Tabel 3.0 34.9 61.7 71.7 26.6 55.6 39.9 19.2 20.4 43.3 43. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Provinsi posyandu/poskesdes Tdk ada Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 16.9 38.7 37.0 6.9 44.0 20.2 66.5 22.7 54.1 24.1 posyandu 20.7 32.152 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.6 33.6 60.5 25.6 12.4 23.2 46.4 16.2 88.6 50.5 47.4 6.1 24.3 Layanan tdk lengkap 63.6 38.8 5.9 38.0 10.3 10.2 19.1 39.8 17.4 11.5 49.5 13.9 14.1 22.8 27.2 29.1 23.6 18.6 30.4 38.0 17.2 24.4 26.7 62.1 17.5 21.4 35.9 27.

Dari rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir.8 41. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Letak jauh Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15.7 25.0%) dan terendah di Bengkulu (11. Tabel 3.Tabel 3.5 26.2 25. Pelayanan KIA meliputi pemeriksaan kehamilan. disusul pemeriksaan kehamilan (22.7 44.1%) dan terendah Bengkulu (17. pemeriksaan bayi/balita terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (69.156 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan provinsi. pemanfaatan polindes/bidan di desa sebagai tempat pengobatan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (90. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dan semakin banyak yang tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan desa. Menurut provinsi.3 24.1%) dan terendah di DKI Jakarta (56.6%). dan pemeriksaan bayi/balita.7%). Jenis pelayanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pengobatan (82.7%).0 29. persalinan.8 18. Pertolongan persalinan terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Jambi (42. Adapun pelayanan KIA yang terbanyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan bayi/balita (29.5%). pemeriksaan ibu nifas.2 posyandu/poskesdes Tdk ada posyandu Layanan tdk lengkap Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 33.3 52.2%).3%). yaitu pelayanan KIA dan pengobatan. 221 .8 22.1%) dan terendah di Riau (4.4 44.4 60.1 24. Untuk pelayanan KIA. pemeriksaan neonatus.9 59. Pemeriksaan kehamilan tertinggi dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (97. pemeriksaan ibu nifas dan pemeriksaan neonatus masing-masing di bawah 10%.9 50.153 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.0 Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran. jenis pelayanan yang diterima dapat dikelompokkan menjadi dua.3 22.9%).3 31.6 22. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan persalinan.9 24.

5 63.8 41.2 21.0 27.7 67.1 26.1 27.9 52.5 30.8 54.8 34.3 9.5 45.9 19.9 26.4 43.9 58.4 57.9 25.8 46.3 48.0 19.3 42.4 21.3 51.154 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi.8 20.Tabel 3.8 8.0 33.4 62.8 13.4 32.8 29.3 8.3 50.0 45.5 15.2 45.8 21.3 6.1 71.4 11.0 52.5 40.4 49.2 50.7 18.3 55.2 13.3 13.9 25.4 56.2 222 .9 30.6 20.7 22.7 22.2 16.5 51.4 34.1 19.9 64. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.6 22.3 24.0 39.5 23.7 27.4 25.6 23.1 54.1 17.0 14.2 50.2 17.9 21.7 10.2 29.5 45.4 24.4 45.7 25.3 38.0 34.0 54.6 56.2 46.8 29.8 21.9 9.2 19.7 25.4 52.3 19.2 31.9 23.2 45.9 22.8 14.0 Alasan lain Indonesia 21.5 24.3 26.3 76.3 44.

223 .9%). Alasan utama yang mengemuka meliputi ’tidak ada polindes/bidan di desa’ (39.5 54.1%).3%).6 24. Persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ’tidak ada polindes/bidan desa’ tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (77. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa untuk pemeriksaan bayi/balita. Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi (23. dan semakin meningkat yang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan.8 24. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. nampaknya rumah tangga di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/bidan di desa untuk pelayanan KIA.2 25. dan persentase terendah Provinsi DKI Jakarta (1.9 25.Tabel 3.1 Tabel 3. sedangkan di perdesaan lebih banyak yang memanfaatkan untuk pelayanan pengobatan.158 menggambarkan alasan utama rumah tangga (di luar yang tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut provinsi. Tabel 3.5 22.155 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.0 50. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15.6 25.3 27.7 49.4 23.9%).7 52.3%). dan ’layanan tidak lengkap’ (7.8 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 24.8 16.2 25. Rumah tangga yang tidak memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir diminta untuk menyampaikan alasannya.8 57.0 58. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan. Sedangkan untuk alasan ’layanan tidak lengkap’ persentase tertinggi adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (26.8 24. Menurut tipe daerah.8%) yang tidak memanfaatkan polindes/bidan desa dengan alasan ‘letak polindes/bidan di desa jauh’.7%) dan terkecil di Provinsi Jawa Tengah (15.6 50.1%). ’letak jauh’ (8.5%) dan terendah Provinsi Bangka Belitung (2.157 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan karakteristik rumah tangga.6 20.

156 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.8 19.1 7.8 21.2 20.1 77.2 72.4 68.9 26.7 44.2 8.5 14.1 4.4 23.3 5.8 10.0 11.7 78.3 6.4 6.0 16.7 90.8 14.5 20.5 24.1 28.4 23.4 77.2 7.4 20.0 92.8 27.8 5.2 11.2 8.6 8.1 11.8 9.3 24.4 24.Tabel 3. Riskesdas 2007 Pemeriksaan Pemeriksaan Persalinan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kehamilan 29.3 18.4 20.5 6.2 38.2 7.8 75.1 32.5 8.6 6.3 86.8 23.3 76.3 11.8 19.1 34.5 85.1 80.6 4.7 80.6 17.7 24.2 24.9 12.6 16.6 79.6 17.2 6.1 9.1 69.8 84.5 78.8 82.3 20.6 17.7 29.1 10.2 20.7 15.7 19.2 4.8 19.9 3.0 16.5 25.1 Indonesia 22.6 72.8 86.4 21.3 5.8 6.3 8.5 4.6 85.6 6.9 224 .8 11.5 73.3 5.3 81.2 21.2 71.2 15.6 25.7 6.7 39.6 84.6 11.0 48.2 29.9 8.1 42.7 8.3 30.6 5.9 86.3 77.0 10.8 23.2 10.4 30.6 16.6 20.9 24.7 5.4 5.5 38.1 45.8 39.7 72.9 30.6 4.7 15.7 12.3 5.2 23.6 4.9 59.1 6.3 40.3 27.8 23.9 33.1 7.6 9.3 9.5 36.8 10.1 34.4 17.8 30.2 34.0 49.6 78.5 30.9 88.6 22.2 82.1 16.4 30.8 24.4 77.2 20.2 15.8 11.3 7.9 26.6 42.1 40.7 14.6 33.4 5.7 20.3 6.3 13.4 25.2 49.5 9.8 18.0 4.5 15.7 9.9 97.0 10.0 29.7 13.1 7.8 56.0 20.1 80.6 9.1 5.1 6.7 26.6 22.6 7.9 8.8 35.4 4.7 88.8 47.9 6.7 5.8 89.7 78.2 10.

4 10. Secara keseluruhan sebagian besar rumah tangga (79.4%) dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung (0. sebaliknya untuk rumah tangga yang tidak membutuhkan lebih banyak di perkotaan (11.2 28.0 32.3 9. semakin sedikit yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’.9 84.2 23.Tabel 3.7 20. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 27.7 8.2 27.8 9.4 81.5 Tabel 3. semakin tinggi pula persentase rumah tangga yang tidak membutuhkan POD/WOD.157 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.159 menggambarkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan utama (di luar yang tidak membutuhkan) menurut karakteristik rumah tangga.9 30.6%) tidak memanfaatkan POD/WOD. dan semakin banyak yang mengajukan alasan ‘pelayanan tidak lengkap’.3%) daripada di perkotaan (8.2 8.0 8.160 menyajikan informasi tentang pemanfaatan Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD) dalam tiga bulan terakhir. 225 . semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.6 10.3 8. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.0 83. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (24.9 26. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan bahwa ada kecederungan.2 8.8 Pemeriksaan Kehamilan Persalinan Pemeriksaan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 20. Kajian pemanfaatan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga tersaji pada Tabel 3.4%). Menurut tipe daerah.2 9.2 8.7 9.1 10.8 9.9 9.9 8.3 7.5 26.3 9.5 8.8%) dan terendah di Lampung (0.7 77.5 10.5%). Tabel 3.6%).5 25.8 33. persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’ dan ‘layanan tidak lengkap’ lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Sedangkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD karena tidak membutuhkan tertinggi di Provinsi Riau (16.7 22. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.1 83.2 9.3 83.161 Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD lebih banyak di perdesaan (11.1 21.2 83.7%). Sedangkan alasan ‘tidak ada polindes/bidan di desa’ lebih banyak ditemukan di perkotaan.

6 12.2 10.0 7.3 Layanan tdk lengkap 26.6 20.7 7.6 1.5 2.7 7.9 25.5 11.9 Lainnya 26.2 4.4 4.0 71.6 53.1 38.6 43.1 5.7 8.2 6.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.7 14.8 19.6 9.5 6.7 64.2 26.6 42.9 54.1 4.3 20.1 7.8 17.7 5.1 57.5 12.5 14.9 7.4 77.0 10.0 8.9 Tidak ada polindes/bidan 39.9 58.2 4.3 70.0 31.9 7.1 81.7 58.6 38.1 66.2 4.1 15.5 45.3 55.5 66.5 9.4 8.7 28.1 6.9 29.4 20.4 15.0 36.7 28.0 66.8 27.3 16.1 9.4 7.9 226 .3 15.3 24. Riskesdas 2007 Alasan Lain Tidak Memanfaatan Poslindes/Bidan PROVINSI Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7.9 31.8 8.3 4.Tabel 3.9 7.5 22.8 13.5 56.2 33.9 60.7 2.3 48.7 64.1 19.4 3.9 2.6 1.3 31.6 5.1 70.0 12.3 12.6 37.3 5.7 57.3 53.3 12.6 3.9 18.2 30.3 53.2 32.2 5.3 10.6 26.2 10.5 33.6 4.5 7.2 48.1 10.5 46.9 28.5 17.2 2.9 6.1 19.5 29.3 6.4 1.2 19.6 53.9 9.9 56.3 27.3 23.9 39.7 35.8 6.3 1.8 13.7 7.4 39.5 55.

Tabel 3.9 6. Yang menyatakan alasan ‘tidak ada POD/WOD’. DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (masing-masing 0.5 9.Tabel 3.7 31.8 7.6 8.0 47.7 37.9 46.3 7.2%) dan terendah di Papua Barat (90. begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 5. Alasan utama terbanyak yang dikemukakan adalah tidak adanya POD/WOD. tertinggi di Provinsi Lampung (98. tertinggi di Provinsi Maluku Utara (7. Sedangkan untuk alasan ‘obat tidak lengkap’.1 9.6 39.8 49.4 7.1%).3 Rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD diminta untuk menyebutkan alasannya.0 8.1 42. Kepulauan Bangka Belitung. Sebagian besar rumah tangga (94.5 39. 227 .8 10.162 menunjukkan rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan ‘letak jauh’ tertinggi Provinsi Riau (3.8%) tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan utama ‘tidak ada POD/WOD’. Tidak tampak perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan dalam hal alasan utama untuk tidak memanfaatkan POD/WOD.7 40.0 45.2 39.9 43. Kepulauan Bangka Belitung.5%) dan terendah di Lampung. dan DI Yogyakarta (0.1%). Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 3.159 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.163 menyajikan informasi tentang alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga.8 Letak jauh Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/BDD Tidak ada polindes/bidan Layanan tdk lengkap Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.0 38.4 12.0%).3 42.1%) dan terendah di Lampung.9 7. Tabel 3.

7 6.4 11.1 89.6 228 .0 21.1 69.5 76.0 92.5 10.9 85.8 88.0 18.9 4.6 64.5 10.1 66.3 81.6 86.4 14.3 82.6 7.7 8.3 9.9 4.1 9.2 88.9 7.1 80.7 74.2 3.4 7.160 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Provinsi.5 membutuhkan 11.1 9.4 69.6 12.5 0.2 16.0 89.5 14.6 8.Tabel 3.1 79.6 7.2 85.9 78.1 13.4 0.6 6.1 88.4 7.4 17.6 4.2 3.2 79.0 15.5 11.6 10.8 10.4 9. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Provinsi Nanggroe Aceh D.9 15.4 9.1 80.1 5.0 5.2 71.4 3.2 75.1 5.2 7.6 80.9 3.4 12.3 76.3 10.0 15. Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Memanfaatkan 24.5 12.1 90.9 7.1 11.6 80.2 10.3 3.0 3.7 15.7 4.4 0.6 69.7 10.0 5.0 Alasan lain Indonesia 10.6 6.6 5.8 11.6 13.4 12.8 85.2 13.2 11.2 96.5 84.0 85.1 77.4 21.

7 Perdesaan 11. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tidak membutuhkan 11.6 229 .7 79.8 79.9 Kuintil 3 10.3 10.6 9.0 79.4 Kuintil 2 10.2 9.4 Kuintil 4 10.6 78.4 79.5 80.2 Kuintil 5 9.161 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.1 9.Tabel 3.2 10.3 12.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 10.5 79.4 Alasan lain Tipe Daerah Perkotaan 8.

1 0.9 4.0 1.2 98.5 0.5 0.3 0.6 0.4 0.6 3.4 0.7 0.2 3.1 1.7 0.0 1.Tabel 3.7 1.1 0.7 2.1 91.3 2.2 0.0 2.6 0.2 0.6 93.1 92.0 94.2 0. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD PROVINSI Lokasi jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.2 1.9 94.5 2.2 1.5 1.2 97.3 0.1 0.6 Obat tidak lengkap 4.0 7.9 3.3 96.5 2.0 1.8 1.5 Indonesia 1.5 Tidak ada POD/WOD 93.0 3.1 0.0 0.1 97.4 2.2 1.7 8.4 2.8 1.2 93.0 0.8 1.8 89.3 2.2 0.7 90.8 96.1 0.2 2.5 96.8 98.3 96.5 1.3 89.0 96.2 0.3 5.8 96.3 0.0 97.5 0.5 98.1 90.0 0.7 0.5 91.5 0.1 96.8 2.3 0.1 0.2 2.9 96.1 5.0 0.0 1.2 95.3 0.5 0.8 3.0 2.5 0.4 2.8 0.9 98.6 0.3 4.162 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.0 97.1 230 .4 Lainnya 1.7 0.8 1.1 3.5 0.1 1.5 0.5 7.9 2.6 2.0 90.8 2.8 3.4 0.1 3.0 8.5 0.0 96.6 93.5 1.0 2.6 93.6 0.7 91.7 4.7 3.4 1.0 3.2 0.0 3.2 0.

Jamsostek. Pemanfaatan RS Swasta terbesar di Provinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara yaitu masing-masing sebesar 5. dan lainnya.9 94.8 94.0 1.9 1. termasuk penggunaan Askeskin/SKTM yang salah sasaran. Pada bagian ini dikumpulkan informasi tentang jenis sarana dan sumber pembiayaan yang paling sering dimanfaatkan oleh responden Pembiayaan kesehatan meliputi untuk perawatan kesehatan rawat inap dan rawat jalan. Askes Swasta.5%.9 3. Mereka yang pernah rawat jalan maupun rawat inap diminta untuk menjelaskan dimana terakhir menjalani perawatan kesehatan.1 1. paling banyak masyarakat masih memanfaatkan RS Pemerintah (3. Sumber biaya dibedakan menjadi sumber biaya sendiri/keluarga. Pihak-pihak yang menanggung biaya perawatan kesehatan tersebut bisa lebih dari satu. Dari data ini diperoleh gambaran tentang seberapa besar persentase rumah tangga yang telah tercakup oleh asuransi kesehatan. Seluruh penduduk diminta untuk memberikan informasi tentang apakah yang bersangkutan pernah menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Untuk rawat inap (Tabel 3.0 94.1 95. Asuransi (Askes PNS. di samping peningkatan derajat kesehatan (health status) dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (fairness of financing).9 Kuintil 2 1. terdapat 11 provinsi yang persentase pemanfaatan di atas persentase nasional.1 3. Dana Sehat.0%). Asabri. Persentase terbanyak pemanfaatan RS Pemerintah untuk rawat inap di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua Barat yaitu masing-masing sebesar 5.1% dan 5. Sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 1.Tabel 3.0 3.9% dan 5. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Karakteristik rumah tangga Lokasi jauh Tidak ada POD/WOD Obat tidak lengkap 0.0 95.8.1 Kuintil 3 1. dan JPK Pemerintah Daerah).6 Tipe Daerah Perkotaan 0.9 1.4 3. Demikian pula dengan pemanfaatan Rumah Sakit Swasta sebagai tempat rawat inap. 231 .0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1.0 0.2 Lainnya 3.0 Kuintil 4 1.1 95.1 1.9 2.7 2.2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Salah satu tujuan sistem kesehatan adalah ketanggapan (responsiveness).0%.7 2.2%. Terdapat 16 provinsi dari 33 provinsi yang memanfaatkan RS Pemerintah sebagai tempat rawat inap masih di bawah persentase nasional. serta dari mana sumber biaya perawatan kesehatan tersebut.164).2 94.163 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.1%) kemudian disusul RS Swasta (2.5 Perdesaan 1.7 Kuintil 5 0.

6 0.5 1.1 0.4 0.0 0.5 0.164 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Provinsi.0 0.0 0.1 0.1 0.3 0.9 2.4 0.9 0.3 3.0 0.9 1.0 0.0 0.5%.9 92.3 0.8 4.5 96.2 INDONESIA 3.4 0.8 1.5 0.6 0.0 0.4 0.2 0.7 1.7 0.1 0.1 0.2 0.1 0.7 90.4 0.1 0.1 93.2 0.1 0.2 0.0 0.1 0.6 0.7 3.0 0.1 0.0 0.8 1.3 0.0 0. RS Bersalin.6 89.1 0.4 0.6 1.0 5.8 0.0 0.0 0.1 0.8 0.2 0. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.6 0.9 0.1 3.9 1.7 0.1 0.3 2.4 0.0 0.0 0.3 0.0 0.1 93.7 0.1 5.5 0.7% dan 2.1 0.2 0.1 Menurut tipe daerah (tabel 3.5 1.4 1.0 2.5 2.1 1.1 4.5 0.1 0. terlihat bahwa RS Pemerintah.9 95.7 Tenaga 0.5 0.0 0.1 0.8 0.8 0.7 1.0 0.1 0.0 90.3 0.9 0.1 0.1 0.0 0.9 0. dan tempat praktek tenaga kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh 232 .1 0.165).4 0.2 0.1 0.2 2.5 92.1 0.1 0.2 0.5 0.3 95.2 0. RS Swasta.0 0.4 1.1 0.5 0.0 0.3 0.3 Batra 0.2 95.8 3.0 0.7 1.6 0.4 3.0 0.9 2.2 0.0 0.0 0.8 94.1 0.2 87.1 0.0 0. Tabel 3.1 94.4 1.0 93.0 0.5 1.1 0.0 0.1 95.0 0.2 0.5 0.4 90.5 0.2 0.9 0.2 2.2 0.2 1.0 0.0 0.2 0.2 3.1 0.0 4.1 0.1 0.0 0.8 3.1 0.1 0.3 0.4 0.6 0.0 2.9 2.1 0.2 0.2 0.1 3.7 2.8 91.1 0.2 0.0 0.4 0.7 0.1 0.1 96.4 0.8 1.5 0.0 0.1 0.3 3.8 0.1 0.1 0.4 Tidak rawat Inap 94.0 93.2 3.9 91.8 0.8 0. RS lain.4 2.7 4.3 0.6 0.1 Puskesmas 0.5 1.0 Lainnya 0.7 4.2 1.1 94.2 0.1 0.2 0.9 0.0 0.2 95.1 0.Puskesmas sebagai tempat rawat inap secara nasional menempati urutan ketiga setelah RS Pemerintah dan RS Swasta.5 0.0 0.2 0.9 3.1 3.0 0.0 0.0 1.1 0.3 0.1 0.2 4.1 90.3 0.0 0.1 0.0 RSB 0.6 0.9 2.3 90.3 0.2 2.4 0.3 0.9 93.0 96.5 2.3 91.1 0.0 95.0 0.1 0.5 1.1 0.6 1.3 91.8 0.8 2.2 0.8 0.0 0.0 0.4 0.5 0.1 0.1 0.8 3.3 0.5 0.8 3.0 0.2 0.8 0.1 0.1 RS Swasta 1.0 0.8 2. masing-masing sebesar 2.0 0.7 RSLN 0.1 0.7 93.6 0.0 0.0 0.0 0.0 0.3 0.1 2.0 0.8 5.5 0.0 0.8 95.1 3.7 5.2 95.2 0.1 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Pemerintah 2.

masyarakat perkotaan.9 94.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.5 90. Namun apabila dicermati masih ada sekitar 10% masyarakat yang mampu secara ekonomi (kuintil 5 dan 4) masih menggunakan Askeskin/SKTM.6 0.1 0.0%) pembiayaan yang dibayar oleh pasien sendiri atau keluarga (out of pocket’).1 0.6 94.8 0. Sebaliknya.4 0.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.3 2. semakin rendah tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askeskin/SKTM dan Dana Sehat.3 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 0.4 1. Sedangkan untuk pembiayaan rawat inap dengan memanfaatkan Askeskin/SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan. pembiayaan rawat inap oleh Askes/Jamsostek lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan. Tabel 3.3 1.6 0.0 0. maka sekitar 30% responden yang pernah rawat inap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah mempunyai ‘sejenis asuransi kesehatan’.4 0.1 1.1 0.8 0.0 0. Pemanfaatan sarana lain tersebar hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.4 0. Tabel 3.4 0.1 0.5 0. dan Dana Sehat (2.2 1.1 0.3 0.1 93.1 0. Kalau pembiayaan oleh Askeskin/Jamsostek. kemudian berturut-turut disusul oleh pembiayaan oleh Askes/Jamsostek (15.1 0.6%).3 0.6 2.1 0.5 0.5 0.4 0.1 0.1 90.5 94.7 0.0 0.9%).4 92.8 0.8 2.9 3.4 0.167 memperlihatkan bahwa menurut tipe daerah.4 4. Askeskin/SKTM (14. Askeskin/SKTM dan Dana Sehat diperhitungkan sebagai ‘sejenis asuransi kesehatan’.1 0.1 0.4 0. sedangkan puskesmas lebih banyak dimanfaatkan masyarakat perdesaan.1 0. terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak perawatan inap yang dibiayai Askes/Jamsostek.4 0.9 0.3%).0 0.3 2.4 2. tampak kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintan dan RS Swasta.8 0.1 0. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Tempat berobat rawat inap RS Pemerintah RS Swasta RS LN RSB Puskesmas Tenaga kesehatan Batra Lainnya Tidak rawat Inap Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 4. 233 .4 0.1 0.1 0.166 memperlihatkan bahwa sumber pembiayaan rawat inap secara keseluruhan untuk Indonesia masih didominasi (71.

Askes swasta. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Provinsi Sendiri/ keluarga 62. Asabri.1 8.9 4.Tabel 3.9 11.0 4.1 60.6 10.8 5.1 2.7 10.2 3.3 5.6 3.4 0.8 76.2 12.0 68.2 65.4 15.6 Askeskin/ SKTM 28.2 13.2 12.2 5.4 17.4 9.3 2.9 1.0 73.4 3.4 5.5 17.0 20.7 3.5 17.7 6.3 0.166 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi.9 23.5 68.5 74.8 19.8 4.3 Dana Sehat 4.5 2.3 8.9 7.3 18.9 8.0 1.6 3.4 67.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.5 15.2 7.0 11.2 19.8 8.4 10.3 6.5 19.7 0.3 1.0 23.5 4.6 11.2 76.9 3.3 5.7 14.7 19.2 3.0 75.6 67.7 11.7 7.5 72.7 63.1 13.2 7.8 29.4 11.2 4.5 72.8 17. Jamsostek.0 59.6 26.9 18.1 19.3 76.9 4.1 14.9 17.1 19.1 7.3 3.9 15.6 1.2 2.2 3.7 49.3 7.7 1.8 0.8 70.0 1.9 66.8 12.0 3.5 19.5 75.7 14.6 1.9 65.9 3.8 13.0 1.6 15.5 0.4 8.8 18.9 5.1 76.5 7.5 63.5 1.4 15.3 22.0 2.7 71.4 10.6 4.1 18.0 Askes/ Jamsostek 13.0 2.8 11.2 71.1 67.1 18.9 13.9 16.4 25.9 8.5 25.0 9.4 27.5 81.2 5.9 74.1 3.4 12.6 79.1 76.5 68.7 16.7 14.9 Lainlain 6.0 10. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 234 .9 10.7 1.1 3.3 13.0 15.2 10.9 2.1 17.9 12.4 19.6 58.3 5.9 33.1 11.8 65.

Askes swasta. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3.4 72.5 4.9 15.8%) dan Tenaga Kesehatan (13.2 2.9%).8 25.8%) dan terendah di Papua (3.9 25. Persentase pemanfaatan RSB sebagai tempat rawat jalan. 235 .5%) dan terendah di Sumatera Utara (7.6%) pada urutan ketiga.4 10.8 5.4 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.3 Perkotaan 69.9 6.5 72.8 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Dana Sehat 2.168 menunjukkan bahwa secara nasional RS Bersalin/RSB (14.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Keterangan : 66.8 9.7 3.5 71.0 18.7 21. Jamsostek. Asabri.9 17.6%).5 5.167 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga.7 12. tertinggi di Provinsi Papua Barat (38.3 6. Pemanfaatan Puskesmas (1.5 LainLain 7.0 6. Sedangkan persentase tertinggi pemanfaatan tenaga kesehatan untuk rawat jalan ditemukan di Provinsi Bali (25.7 6.2 16.6 11.4 3. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga Askes/ Jamsostek Askeskin/ SKTM 10.8 7.5 6.5 1.9 71.3%) menempati urutan keempat setelah RS Pemerintah (1.Tabel 3.9%) merupakan sarana kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan untuk rawat jalan.2 3.0 Perdesaan 72.

236 .5 0.6 0.2 1.1 0.7 0.5 16.2 0.4 0.3 13.2 0.0 14.4 68.9 0.5 15.5 80.2 73.2 12.9 1.5 0.2 0.2 2.4 68.1 0.4 11.3 70.9 5.1 1.6 50.3 3.2 2.9 1.5 0.2 0.8 0.6 73.8 11.4 2.7 1.4 1.2 0.1 0.3 0.3 0.9 15.1 0.6 14.3 2.5 0.8 0.0 15.1 0.1 13.0 7.9 0.3 0.0 1.8 11.6 0.5 0.9 13.7 5.3 0.4 19.8 19.3 1.8 1.3 0.9 0.2 0.0 0.7 0.7 0.169).1 4.0 1.0 1.3 0.1 2.2 0.168 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.4 0.7 0.8 0.3 3.2 13.7 17.2 53.0 RSLN RSB Puskesmas 1.0 0.0 70.3 1.7 1.1 4.7 61.2 4.4 1.3 17.4 66.1 0.6 1.2 0.2 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah 3.4 0.0 0.2 1. tampak kecenderungan responden di perkotaan lebih banyak memanfaatkan RS Pemerintah.5 7.8 1.5 0.4 1.7 20.2 0.4 0.8 1.0 4.1 0.4 0.0 0.2 0.8 2.1 1.7 0.1 0.0 1.3 Nakes Batra Lainnya 0.6 RS Swasta 0.4 1.4 0.0 0.0 1.9 0.5 0.3 2.4 1.1 0.5 58.0 0.7 0.5 0.6 38.3 26.3 1.0 0.1 0.3 0.3 0.2 0.0 0.2 0.2 1.1 14.5 33.0 0.2 0.6 0.4 4.6 0.0 0.2 1.5 2.Tabel 3.9 0.3 0.3 0.3 0.4 1. dan Puskesmas.5 0.4 0.1 0.0 0.1 0.6 0.4 67.4 Menurut tipe daerah (Tabel 3.0 0.2 10.2 0.8 19.4 0.3 0.0 1.8 16.1 1.7 1.1 1.3 0.3 10.6 17.1 81.0 25.4 0.3 15.7 1.5 35.9 1.4 1.3 0.5 60.2 14. dan pengobat tradisional untuk rawat jalan.3 66.9 0.0 0.7 0.2 0.2 0.3 0.3 22.7 0.2 0.6 54.0 0.1 0.1 17.1 67.3 1.7 1.8 0.5 61.8 1.4 0.4 2.4 0.1 0.1 0.6 1.1 1.5 56.2 71.9 65.1 0.7 70.6 1.2 0.0 0.4 0.1 12.2 0.6 14.8 0.8 11.9 11.2 0.6 9.3 0.4 0.8 69.9 3.1 1.0 1.9 1.2 0.0 12.7 16.8 0.0 64.5 1.3 0.9 19.0 12.7 0.1 12.6 61.7 1.3 1.9 0.6 12.5 4.7 18.5 0.7 Tidak rawat Inap 46.4 Di Rumah 1.3 0.8 1.2 1.6 66.6 13.9 14.9 1.7 0.6 13.1 0.4 0.2 1.1 0.6 2.3 0.0 1.9 1.4 1.7 0.3 0.1 0.4 1.4 1.1 0.4 0.2 0.1 0.6 74.5 0.0 0.7 0.1 54. Tenaga Kesehatan.9 2.1 4.2 62.2 0.1 0.6 1.2 0.1 1.8 67.6 1.4 0.3 0.4 0.7 67.1 71.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 0.8 10.4 2.6 1.8 14.7 5.0 0.3 0.1 0.7 0.5 0.3 19.3 0.1 17.8 0.0 11.1 0.1 0.1 0.4 0.2 1.2 3. Sedangkan responden di perdesaan lebih memanfaatkan RSB.6 14.7 10.2 11.1 7. RS Swasta.

7 66. di Provinsi Lampung persentase terbesar pembiayaan rawat jalan berasal dari biaya sendiri/keluarga dan yang terendah adalah pembiayaan oleh Askes/Jamsostek.8 13.4%).7 0.8 15.6 66.3 0.8%) dan terendah di Papua Barat (40.4 0.1 2.3 12.4 0.3 0.8 0.4 1.5 0.1 1.169 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.8% untuk rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir dan menurut provinsi.2 1. 237 .8 15.5 0.9 0.170).7 0.2 0.3 1.5 0.7 0.5 0. Sumber biaya rawat jalan juga didominasi oleh pembiayaan sendiri/keluarga (74.7 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah RS Swasta RSL N RSB Puskesmas Nakes Batra Lainnya Di Rumah Tidak rawat Inap Tipe Daerah Perkotaan 2.4 0. Secara nasional.7 2.9 0.9 1.8 0.0 1.3 16.Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 11.6 14.4 65. Puskesmas.5 0. Persentase sumber biaya sendiri/keluarga tertinggi ditemukan di Provinsi Lampung (88.6%) dan terkecil di DKI Jakarta (2.2 14 11.0 0. RS Swasta.6 65.4 0. tampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintah. tetapi semakin sedikit yang memanfaatkan RSB untuk rawat jalan.2 0.8 Gambaran tentang sumber pembiayaan rawat jalan dan rawat inap tampak tidak berbeda (Tabel 3.4 0.3 0. dan Tenaga Kesehatan.5 0.5 0.5 0.7 0.5%).3 0.2 1.0%).3 Perdesaan 1. sedangkan di Provinsi Papua Barat persentase tertinggi untuk pembiayaan rawat jalan berasal dari Askeskin/SKTM dan terendah dari biaya sendiri/keluarga.4 0.5 1.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.6 64.5 0.2 16.4 1.3 12. Tabel 3.8 15 16. persentase terbesar ditemukan di Provinsi Papua Barat (37.9 63.5 0.9 13.9 1. Sumber biaya dari Askeskin/SKTM secara nasional mencapai 10.0 67.8 0.5 0.

9 1.1 37.4 5.5 1.4 4.1 1.3 1. Asabri.9 4.3 2.3 6.9 0.1 85.7 3.4 5.3 5.2 5.9 1.7 78.0 23. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan PROVINSI Sendiri/ Keluarga NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.6 17.8 Askeskin/ SKTM 32.6 3.4 11.1 2.2 4.9 2.4 12.4 17.1 22.8 8.8 Dana Sehat 2.9 2.2 3.1 5.4 6.2 1.6%).7 8.5 64.9 13.0 9.1 80.0 71.8 2.7 85.5 6.3 8.1 13.9 11.6 12.5 3.2 21.6 4.6 3.3 15.6 0.2 83.3 15.4 70.5 6.9 6.9 60. Askes swasta.2 4.8%).9 9.2 4.6 0.6 1.2 3.1 8.5 5.8 2.7 7.1 88.3 0.6 4.9 11.8 5.1 10.5 Askes/ Jamsostek 6.7 66.9 2.5 11.9 61.5 9. tidak tampak berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan.7 11.9 1.2 0.5 4.0 72.3 3.3 77.5 1.8 77. terbanyak dari biaya sendiri/keluarga.5 49.9 9.9 2.3 88.2 86.9 9.3 13.5 6.9 6.2 0. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 58. sebaliknya pembiayaan dari Askeskin/ SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan (12.6 28.3 11.0 1.7 18.3 11.0 80.171).4 12.0 5.9 10.5 7.6 1.8 73.2 1.9 3.6 0.4 3.5 47.9 3.4 78.Tabel 3.8 79.4 46.9 4.8 84.2 3. Jamsostek.5 Lain-Lain 5.7 5.0 10.6 87.3 3.8 3.9 4. 238 .1 81.3 7.8 0.4 Sumber biaya rawat jalan menurut tipe daerah (Tabel 3.3 5.2 1.1 1.170 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi.1 60.1 2.5 8.1 9.5 75.9 7.1 2.1 6.4 6.0 78.6 4.1 33.3 4.2 16.8 4.6 15.7 2.2 74.5 40.6 2.3 10.1 10.4 3.3 20.6 6. Pembiayaan dari Askes/Jamsostek tampak lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan (13.3 9.9 83.4 15.7 1.6 1.

berdasarkan pengalamannya waktu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan untuk rawat inap dan rawat jalan.0 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.7 74.3 2. Asabri.8 2. Penilaian untuk masing-masing domain ditanyakan kepada responden. Pembiayaan dari Dana Sehat semakin sedikit dimanfaatkan responden dengan tingkat pengeluaran yang makin tinggi.3 5.6 7.5 14.1 75. Tampaknya Askeskin/SKTM belum sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat tidak/kurang mampu. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Gambaran sumber biaya rawat jalan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askes/Jamsostek dan sebaliknya Askeskin/SKTM untuk pembiayaan rawat jalan. Jamsostek.8 13.6 3.5 8.0 3.0 74.1 1.9 11. Askes swasta.4 76. 3.8.Tabel 3.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 72.1 4.0 4.0 9.7 Askeskin/ SKTM 7.1 3.8 Dana Sehat 1.6 75.6 2.2 7.8 7.3 12.3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan. Ada 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.6 4.8 Lain-Lain 5. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga 73.9 2.5 10.171 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga.9 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Askes/ Jamsostek 13.3 4.0 6. Delapan domain ketanggapan untuk rawat inap terdiri dari: • • • • Lama waktu menunggu untuk mendapat pelayanan kesehatan Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara Kejelasan petugas dalam menerangkan segala sesuatu terkait dengan keluhan kesehatan yang diderita Kesempatan yang diberikan petugas untuk mengikutsertakan klien dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis perawatan yang diinginkan 239 .

Penyajian hasil analisis/tabel selanjutnya hanya mencantumkan persentase yang ’baik’ saja.0%). tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan. kecuali domain ke delapan (kemudahan dikunjungi keluarga/teman).9%).5%) dan ‘keramahan petugas’ (87. cukup.172 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi. Masing-masing domain ketanggapan dinilai dalam 5 (lima) skala yaitu: sangat baik. baik. Tabel 3. Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu. sangat buruk. Tujuh domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan sama dengan domain rawat inap. kerahasiaan informasi. buruk dan sangat buruk). Penduduk diminta untuk menilai setiap aspek ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan di luar medis selama menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. 240 . buruk. turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. Untuk memudahkan penilaian aspek ketanggapan rawat jalan dan rawat inap pada sistem pelayanan kesehatan tersebut. Menurut provinsi. Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82. dan kebebasan memilih sarana pelayanan.• • • • Dapat berbicara secara pribadi dengan petugas kesehatan dan terjamin kerahasiaan informasi tentang kondisi kesehatan klien Kebebasan klien untuk memilih tempat dan petugas kesehatan yang melayaninya Kebersihan ruang rawat/pelayanan termasuk kamar mandi Kemudahan dikunjungi keluarga atau teman. Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87. WHO membagi menjadi dua bagian besar yaitu ‘baik’ (sangat baik dan baik) dan ‘kurang baik’ (cukup. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi.

2 79.8 88.4 91.7 87.2 95.5 80.4 81.3 83.2 85.0 72.8 70.5 80.0 72.4 82.172 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.4 87.8 91.5 87.8 86.9 Kerahasiaan 82.0 82.6 74.1 90.6 88.0 80.0 89.0 78.5 83.1 84.8 87.8 83.9 85.8 89.4 81.2 86.0 76.0 90.1 85.8 86.7 85.8 85.7 81.0 79.1 87.2 89.8 84.1 87.0 68.4 88.4 67.5 94.2 82.2 95.6 80.6 91.7 84.2 81.7 78.0 84.1 84.0 93.9 79.3 91.9 74.4 86.7 80.8 85.2 76.8 83.0 75.6 88.5 88.9 68.6 87.1 90.1 81.6 Kejelasan informasi 81.5 81.2 72.1 86.6 79.6 89.5 83.9 92.1 89.7 91.7 Ikut ambil keputusan 81.7 89.0 93.5 Tabel.1 81.1 84.0 81.5 81.4 82.7 84.9 87.2 91.6 88.5 92.2 82.4 84.0 83.8 80.6 82.1 81.2 82.4 84.2 84.3 Mudah dikunjungi 83.2 84.173 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.9 91. 241 .7 87.6 85.4 83.2 71.7 92.6 83.7 94.4 92.2 72.9 80.0 82.5 86.6 78.4 93.8 92.5 85.0 83.1 72.8 77.8 86.6 81.9 90.1 88.7 88.3 84.2 90.2 85.3 82.5 93.Tabel 3.3 89.4 82.1 86.0 85.8 77.2 84.9 84.5 91.7 92.4 77.6 84.0 83.5 91.2 87.9 91.2 86. 3.5 82.8 78.4 80.6 73.8 80.9 92.0 81.6 78.4 77.7 88.1 89.0 86.3 84.4 90.4 88.1 92.9 90.1 81.9 84.9 85.6 84.6 84.8 87.5 85.4 92.6 92.2 94.4 86.2 79.2 78.1 88.4 79.8 88.7 92.6 85.3 82.8 82.7 87.8 84.9 84.7 92.4 Kebebasan pilih sarana 81.0 84.4 87.8 82.7 84.5 80.9 86.4 82.7 87.1 87.9 72.0 79.7 82.2 79.5 93.2 89.1 83.4 90. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu 84.4 81.4 84.0 81.4 86.0 80.9 89.8 78.0 82.9 88.9 Kebersihan ruangan 78.7 80.6 78.7 94.1 79.6 87.9 77.7 83.2 76.1 86.1 69.8 85.2 94.4 91.1 84.0 88.2 88.8 85.2 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 84.6 69.8 79.5 84.0 85.8 86.7 84.7 85.4 92.5 84.7 87.0 85.6 78.6 88.0 90.4 Keramah an 86.0 85.0 83.6 72.0 81.8 74.2 83.5 86.6 86.0 86.5 86.8 87.6 85.5 93.3 88.

2 86.0 86.8 83.9 86.175). Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspekaspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga.7 88. kejelasan informasi. Menurut tipe daerah (tabel 3.4 86.5 87.1 82.4%). Sedangkan di daerah perdesaan.6 84.Menurut tipe daerah. kebebasan memilih fasiltas pelayanan.5 82.2 85. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 84.7 84.6 82.4 84. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi.7 85. tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam.0 88. keramahan petugas. Menurut provinsi. kerahasiaan informasi.174 menunjukkan secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.6 86.4 83.9 87.4 83.6 83.2 83. kerahasian informasi.9 82.5 84. semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan. dan kebersihan ruangan.5 84.5 86.2 85.7 84.7 Perdesaan 85.173 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.1 86.3 86. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan.5 87. Riskesdas 2007 Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan Mudah dikunjungi Karakteristik Reponden Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Tipe Daerah Perkotaan 84. dan kebersihan ruangan.2 85.8 84.7 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 84. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan.1%). dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman.4 86. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan.3 81. semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan.7 85.2 83.1 84. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85.2 84.7 84.5 85. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas. Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan.6 85. turut serta dalam p[engambilan keputusan memilih jenis perawatan. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu.4 87.6 Tabel 3.8 87.6 86. 242 . dan kebebasan memilih sarana pelayanan. Tabel 3.0 85.0 87. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.8 86.0 86.7 83.6 86.6 84.

8 85.1 91.2 Kejelasan informasi 84.0 96.6 88.0 88.4 87.7 84.9 83.6 84.3 70.3 INDONESIA 86.0 85.6 86.5 84.5 Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana 83.9 80.7 92.9 87.6 84.2 92.7 67.8 84.3 68.1 88.5 97.2 84.8 87.5 86.2 83.2 94.1 84.1 83.3 83.3 91.6 91.2 92.3 80.5 83.0 85.4 86.6 86.4 83.0 85.2 79.2 82.8 95.1 96.8 96.8 81.9 94.5 90.9 83.1 94.2 84.9 82.Tabel 3.5 90.8 85.6 91.0 87.5 83. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu Keramahan 89.7 78.3 84.8 93.8 91.4 87.4 80.3 86.2 85.6 93.7 87.8 94.5 82.3 85.1 86.7 84.6 82.0 86.3 90.5 93.2 86.3 94.3 93.5 85.0 88.9 77.5 83.8 87.2 93.0 85.7 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 87.1 78.1 93.5 93.2 93.9 90.0 95.8 91.8 93.3 84.3 95.4 88.0 86.2 81.9 83.5 78.1 91.4 81.7 87.3 81.0 91.4 83.8 76.6 93.0 88.4 83.5 83.4 87.4 89.0 92.2 83.2 84.1 92.5 88.0 88.2 82.1 243 .6 92.9 65.1 97.6 82.4 89.7 85.7 88.0 85.4 Kebersihan ruangan 79.0 93.1 93.8 65.3 86.9 90.2 91.1 82.6 86.3 94.7 95.5 83.3 88.4 94.3 87.8 89.5 86.1 91.1 89.2 88.6 91.3 85.2 84.5 86.0 87.9 71.0 87.9 79.7 92.0 95.6 94.9 93.3 Ikut ambil keputusan 84.6 83.2 83.9 86.8 83.8 77.9 91.2 78.5 84.174 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.2 86.0 70.8 90.9 80.1 92.1 73.8 92.2 84.7 93.4 84.6 95.1 87.4 92.1 87.0 86.8 88.6 93.5 85.0 88.3 86.9 65.8 89.4 93.2 85.8 90.7 77.6 89.3 84.7 92.9 93.6 93.0 94.4 95.1 65.6 93.3 79.7 68.0 67.1 88.0 95.2 95.7 86.9 82.8 92.7 80.1 84.8 85.2 95.3 77.4 96.6 81.5 81.8 78.4 88.8 98.5 86.4 90.9 82.8 92.7 90.4 84.1 86.

sarana pembuangan air limbah (SPAL).6 90.9 liter/orang/hari’.9 85.Tabel 3.7 85. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa rerata jumlah pemakaian air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga dalam sehari semalam.3 90. Data yang dikumpulkan dalam survei ini meliputi data air bersih keperluan rumah tangga. Risiko kesehatan masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah (‘tidak akses’ dan ‘akses kurang’) dikategorikan sebagai mempunyai risiko tinggi.0 90.1 86.5 87. ‘5-19.7 86.9 89.1 85.9 86.0 84. Rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga.1 84.7 3.4 86.5 87.175 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan 85.6 87. Data tersebut bersifat fisik dalam rumah tangga. 3.3 86. kategori tersebut dinyatakan sebagai ‘tidak akses’.9 liter/orang/hari’.7 84. Dengan demikian dalam penyajian beberapa tabel kesehatan lingkungan merupakan gabungan data Riskesdas dan Kor Susenas.6 85. ’20-49.9 Kesehatan Lingkungan Data kesehatan lingkungan diambil dari dua sumber data. pembuangan sampah. dan ‘akses optimal’.4 84. ‘akses menengah’.5 87.6 84. ’50-99.8 86.9 liter/orang/hari’ dan ‘≥100 liter/orang/hari’.1 87.6 90.4 86.7 86.9 86.9.1 87.1 86. ‘akses kurang’. Rerata pemakaian individu ini kemudian dikelompokkan menjadi ‘<5 liter/orang/hari’.9 85.1 87. ‘akses dasar’. sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap kepala rumah tangga dan pengamatan. Berdasarkan tingkat pelayanan.8 87. dan perumahan.8 84.9 87. yaitu Riskesdas 2007 dan Kor Susenas 2007.8 88. sarana pembuangan kotoran manusia.2 85.1 Air Keperluan Rumah Tangga Menurut WHO.9 85.2 87.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 86.0 86.7 89.7 86. jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan risiko kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan higiene.6 86.9 91. 244 .5 89.8 88.1 86.

2 6.4 32.8 43.0 per orang per hari (dalam liter) 5-19.5 31.9 13.4% tidak akses dan 10.7 17.3 0.3 11.2 6. Riskesdas 2007 Rerata pemakaian air bersih Provinsi <5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.3 0.6 21.3 0.9 63.0 0.2 31.1 12.5 42.0 3.2 13.5 29.9 31.5 17.6 1.5 17.6 35.5 33.3 1.9 19.6 10.6 1.3 21.4 10.1 41.Tabel 3.4 32.6 23.0 21.6 11.9 23.8 9.8 34.0 7.7 32.1 28.6 42.9 27.1 55.6 21.7 32.6 27.9 8.9 14.0 4.5 23.0 5.176 menunjukkan secara nasional.4 4.8 26.2 13.2 4.2 44.5 6.2 17.7 37.5 36.7 2.6 6.5 3.5 17.5 22.7 24.4 29.5 4.3 0.1 43.7 8.0 8.9 20-49.6 29.1 0.2 24.6 0.3 16.1 47.6 32.0 24.6 16.2 14.9 0.5 27.3 0.8 0.2 2.6 1.2 9.3 30.1 9.0 11.9 25.7 19.7 22.5 14.2 30.8 26.9 31.6 11.3 31.2% rumah tangga yang pemakaian air bersihnya masih rendah (5.7 28.2 19.7 1.8% akses kurang).9 25.176 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi.9 7.1 41.1 10.1 26.0 9.2 Indonesia 5.6 0.7 8.4 2.2 7.7 39.4 0.0 22.1 12.4 33.2 27.6 Tabel 3.6 13.3 28.2 1.1 4.4 30.7 13.7 28.7 31.0 40. terdapat 16.0 22.5 41.7 11.8 10.6 36.1 29.4 13.5 36.4 37.7 24.7 10.6 34. Sebesar 245 .2 41.6 20.9 15.8 ≥100 32.1 17.4 0.2 21.3 31.9 15.1 15.1 8.7 42.9 21.0 50-99. berarti mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan/penyakit.9 31.0 30.6 50.9 20.0 23.4 19.0 23.3 2.7 40.6 17.8 26.

5 24. Sulawesi Utara.2 13.9 4. maka secara nasional akses terhadap air bersih menurut jumlah pemakaian air per orang per hari adalah 83. dan NTB.6 10.6 12. NAD. Banten. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Kepulauan Riau.9 10.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga.8 6.8%.9 20-49. atau mengalami penurunan dibandingkan data tahun 2004 sebesar 88. Maluku.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (11. serta persepsi tentang ketersediaan sumber air.9% rumah tangga mempunyai akses dasar (minimal).0 31. Sedangkan provinsi yang proporsi akses air bersih optimalnya tinggi adalah DKI Jakarta. 25.3 26.1 26.6% akses optimal.5 7. Riskesdas 2007 Karakteristik tangga <5 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 3. dan 31.9 26. Sulawesi Tenggara.1 8. ditanyakan juga tentang jarak dan waktu tempuh ke sumber air. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi akses terhadap air bersih optimal.4 26.2 5. Papua.26.8 5. Riau.177).8 25.9 25.6 11.0 33.9 ≥100 Tingkat pengeluaran Rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 6.6 38. Tabel 3. Hasil tersaji pada Tabel 3.0 25.7%. Bila mengacu pada kriteria Joint Monitoring Program WHO-Unicef. NTT. di mana batasan minimal akses untuk konsumsi air bersih adalah 20 liter/orang/hari. Sulawesi Barat.0 23. baik menurut tipe daerah maupun menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 26. Provinsi-provinsi yang akses terhadap air bersih masih rendah (di atas 16. rerata pemakaian air bersih per orang per hari menunjukkan perbedaan. dan bagaimana kemudahan dalam memperoleh air bersih.3 29. Di samping jumlah pemakaian air bersih untuk keperluan rumah tangga.%). Sumatera Barat. dan Jambi. Jawa Barat.178 246 .6 28.5 25. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau sumber air bersih pulang pergi.0 29.7 rumah Rerata pemakaian air bersih per orang per hari (dalam liter) 5-19.3% akses menengah.6 39. DI Yogyakarta.3 4. Dilihat dari karakteristik rumah tangga (Tabel 3. berapa jarak antara rumah dengan sumber air.2%) berturutturut adalah Gorontalo.6 29.4 25.0 23.2 Proporsi rumah tangga yang aksesnya rendah terhadap air bersih lebih tinggi di perdesaan (19.9 50-99.

4 64.3 20.2 10.0 1.6 Sulit sepanjang tahun 1.8 14.6 0.7 84.6 30.8 2.2 2.1 3.6 94.7 97.6 2.5 0.6 2.7 98.4 42.6 79.0 13.9 24.6 2.6 99.2 68.6 93.4 0.2 2.3 1.5 70.2 85.7 11.3 44.178 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.4 97.7 97.7 0.4 8.1 16.9 25.8 26.6 9.1 72.8 1.4 53.2 10.4 73.5 72.1 2.4 10.3 6.6 0.6 29.6 85.0 14.8 94.4 97.8 38.1 4.9 85.8 96.7 95.8 97.6 87.8 70.9 96.9 0.4 5.5 26.8 97.8 35.7 68.7 1.6 96.8 89.5 93.3 0.0 10.8 1.5 74.3 97.9 98.7 5.2 Tabel di atas menunjukkan secara nasional sebanyak 3.8 59.8 98.3 1.0 1.7 3.3 6.4 0.4 6.3 12.4 7.6 94.2 3.5 4.6 83.2 94.5 98.5 15.1 14.3 0.0 19.4 14.8 1.8 67.6 92. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Provinsi Waktu (mnt) Jarak (km) Mudah sepan>30 jang tahun NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.3 1.5 94.9 57.6 10.8 68.1 2.5 85.1 96.2 97.2 1.9 95.2 3.7 93.6 99.4 3.3 95.2 12.5 87.9%).4 2.8 89.1 4.9 0.0 9.2 7.4 92.7 11.0 90.4 1.7 99.5 95.5 1.3 Ketersediaaan Sulit pada musim kemarau 21.1 ≤30 >1 ≤1 Indonesia 3.3 2.2 0.4 1.8 0.0 10.2 5.0 5.3 89.2 4.5 3.9 1.7 72.7 2.2 81.3 88.Tabel 3.8 18.6 28.0 30.5 96.5 2.8 98.9 99.1 95.4 5.6 6.2 98.6 97.9 5.5 94. tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (14.0 89.2 0.5 97.6 92.8 5.3 66.3 2.0 89.0 25.8 97.7 50.1 99.7 93.5 69.7 0.0 94.8 25.2 1.3 66.2 1.9 78.3 2. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi. disusul oleh NTT 247 .4 77.4 4.1 82.3 2.4 0.1 1.4 89.0 32.6 95.9 39.6 98.7 97.8 87.9 4.5 5.4 5.8 0.9 32.8 98.7 85.4 59. Terdapat 16 provinsi dengan persentase di atas 3.0 71.5 6.1%.3 0.8 26.6 29.6 97.9 0.1% rumah tangga memerlukan rerata waktu tempuh ke sumber air lebih dari 30 menit.8 6.8 95.4 31.3 4.6 7.3 40.4 2.6 16.5 0.3 2.3 96.2 93.5 52.4 1.9 83.4 90.4 48.6 94.7 1.

2 1.3%) dan Sulawesi Tenggara (14.6 6.7 Proporsi rumah tangga yang waktu tempuh ke sumber airnya lebih dari 30 menit lebih tinggi di perdesaan (3.9 97.0 Perdesaan 3.9 1.8 31.1 94.0 5.7%).7 30.4 97. disusul oleh Kepulauan Riau (16.8% rumah tangga yang air bersihnya tersedia sepanjang waktu. dan Riau (10.0 70. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 3.179 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.4 Kuintil-4 2.8 95.4 Ketersediaaan Sulit sepanjang tahun 0. ada kecenderungan proporsi jarak tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.0 97.6 96.5%). Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Karakteristik rumah Waktu (mnt) tangga >30 Jarak (km) Mudah sepanSulit pada musim kemarau 16. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.(10.0%).9 5.0 78. secara nasional terdapat 72. Begitu pula proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang tahun lebih tinggi di perkotaan (82.5 96.9%) merupakan dua provinsi yang paling tinggi proporsi rumah tangga dengan ketersediaan air bersih sulit sepanjang tahun.5 93.0 93. Proporsi rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer lebih tinggi di perdesaan (6.5%).3 75.2 Kuintil-2 3.7 1.2 26.1 0.5% rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (66.8 68.6 94. Dilihat dari jarak. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.8%.8 ≤30 >1 ≤1 jang tahun Tipe daerah Perkotaan 2. Terdapat 18 provinsi dengan proporsi ketersediaan air bersih sepanjang tahun lebih kecil dari 72.9 Kuintil-3 3.4 96.1 5. (Tabel 3.2 Kuintil-5 2.1 96.8 94. secara nasional terdapat 5. 248 . ada kecenderungan proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang waktu mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.4 1.5 24.5 6.4%).4 1. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. jarak dan ketersediaan air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 4.4 66. ada kecenderungan proporsi waktu tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita. Dilihat dari ketersediaan air bersih dalam satu tahun.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (4.179) Tabel 3.0 20.3%) dan NTT (4.6 97.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (2.4 72.8%). Akses air bersih menurut waktu.4%).6 4. Kepulauan Riau (6.4 28.4 82. Provinsi dengan proporsi jarak ke sumber air lebih dari satu kilometer terbesar adalah Provinsi Riau (18.

4 2. sebagai upaya untuk melihat aspek gender dan perlindungan anak.2 67.5 5.2 3.8 5.4 47.4 50.0 64.6 7.0 4.2 0.4 60.3 3.4 1.9 2.4 1.4 3.7 0.9 16.1 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 5.0 23.1 6.9 1.2 1.0 1.2 57.3 48.8 1.7 4.8 4.3 2.1 48.9 28.3 2.7 46.7 0.0 54.0 Dalam rangka memperoleh air untuk keperluan rumah tangga bila sumbernya berada di luar pekarangan.9 4.3 38.4 10.1 49.Tabel 3.3 52.4 25.0 2.1 6. ditanyakan siapa yang biasanya mengambil air dalam rumah tangga tersebut.0 2.2 2.0 2.9 2.5 2. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Dewasa Anak-anak (<12 thn) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 65.7 41.9 48.2 49.3 3.2 36.9 43.6 3. Aspek gender dalam pengambilan air bersih dapat dilihat pada Tabel 3.6 72.9 32.5 48.7 3.8 7.9 61.1 2.4 Indonesia 49.9 41.9 46.1 51.5 1.2 4.6 77.1 1.6 3.5 1.180 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.3 42.4 7.5 23.8 3.7 65.0 4.1 2.5 7.4 23.5 46.8 48.6 41.4 0.2 54.9 27.6 51.9 19.5 47.8 52.6 2.3 54.7 2.9 33.4 2.4 2.0 5.7 44.7 49.2 43.9 1.7 34.3 1.7 4.7 3.7 34.0 5.5 2.1 1.6 1.4 5.3 47.8 60.4 4.4 51.4 38.3 40.0 63.5 44.7 29.7 44.6 38.7 53.8 29.6 4.3 72.7 55.3 2.4 6.0 2.180 249 .8 55.5 59.

Provinsi-provinsi di mana anak-anak ikut berperan dalam pengambilan air untuk kebutuhan rumah tangga adalah Papua.8 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tkt pengeluaran rumah tangga per kapita Tenaga perempuan dan anak-anak yang mengambil air di rumah tangga lebih tinggi di perdesaan (51. Sumatera Barat. tidak berasa.5 50.0 47. Sulawesi Selatan dan NAD. tidak berbau.3 4.1 3.8 3.181). NTT. Riskesdas 2007 Perempuan Karakteristik rumah tangga Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 44.6 49. Persentase perempuan yang bertanggung jawab dalam pengambilan air di rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.4 44. terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah (58. Tabel 3.2 43.1%).4%) dibandingkan dengan di perkotaan (44.6 42.2 3.1% dan 6.4 3. 250 .3 3.0 4. Tabel 3.182 menunjukkan secara nasional.6%).2 50. NTT.181 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.0%. proporsi rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar 86. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0% anak laki-laki). bau.2% wanita dan 4. Kategori kualitas fisik air minum baik bila air tersebut tidak keruh. secara nasional terdapat 7. warna dan busa. rasa. meliputi kekeruhan.4 46. Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.2 2. Sedangkan provinsi-provinsi yang pengambilan airnya banyak dilakukan kaum perempuan adalah di Provinsi NTB. NAD.4 49.2% rumah tangga yang anakanaknya mempunyai beban untuk mengambil air keperluan rumah tangga (3.8 41. Ada 15 provinsi yang proporsi kualitas fisik air minumnya baik di bawah rerata nasional.8 3. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin rendah proporsi perempuan dan anak-anak yang bertugas mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga.7 2.9 4.1 51. Maluku.5 49.3 41.6 3. Data kualitas fisik air untuk keperluan minum rumah tangga dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan.1 3.Tabel di atas menunjukkan. tidak berwarna dan tidak berbusa.2% dan 7. (tabel 3.9 2. Proporsi individu yang mengambil air bersih di rumah tangga menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.

8 1.0 80.0 6.9 6.5 9.1 84.7 3.2 17.0 1.1 86. 251 .8 5.8 3.2 6.7 12.1 6.5 84.6 5.2 5.3 84.0 91.4 1.2 6.0 6.4 0.2 84.5 7.4 22.3 88.2 9.7 4.6 2.7 1.4 90.8 4.8 1.9 3.2 10.0 7.2 Berbusa 1.1 3.1 1.6 1.9 6.2 5.0 3.4 Berwarna 12.7 0.3 6.6 6.9 13.6 9.5 15.4 3.9 1.8 3.4 3.2 11.7 4.5 18.5 58.7 1.1 2.5 0.7 86.8 2.2 5.4 1.6 2.2 95.8 7.3 10.5 2.9 1.5 8.4 15.0 1.8 2.7 1.1 5.0 11.7 6.6 0.4 87.8 15.0 4.3 1.8 0.3 90.6 5.6 71.9 82.8 2.4 3.3 2.8 93.5 0.8 87.0 * baik = tidak keruh.1 2.3 11.7 9.5 26.6 7.9 88.9 6.8 3. (Tabel 3.4 79.6 1.6 89.9 1.183).9 1.5 34.5 6.9 6.4 10.2 9.2 90.7 92.5 75.6 6.6 2.3 2.5 1.0 0.7 0.2 81.8 1.8 Indonesia 9. tidak berbusa dan tidak berbau Proporsi kualitas fisik air minum rumah tangga yang baik bervariasi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 1.9 1.7 0.3 88.182 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.9 89.6 1.5 80.8 1. tidak berasa.1 7.0 3.9 3.8 0.1 4.5 4.0 5.0 3.6 Baik*) 75.3%).6 2.3 2.2 3.5 9.3 3.5 90.0 3.5 10.5 2.0 3. Secara umum.3 0.1 0.9 1.6 0. Riskesdas 2007 Kualitas fisik air minum Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keruh 17.2 10.6 79.9 3. proporsi rumah tangga dengan kualitas fisik air minum baik di perkotaan sedikit lebih tinggi (88.7 0.3 9.5 95.4 1.6 8.4 2.0 92. terutama dalam hal kekeruhan dan warna.5 0.8 4.4 0.3 7.0 9.3 Berasa 7.9 3.4 3.9 3.9 4.1 8.4 3.6 6.4 7.0 1.8 82.1 4.Tabel 3.4 15.7 6.8 3.6 4.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (84.8 4. tidak berwarna.3 3.4 2.5 1.9 11.7 1.3 0.1 Berbau 4.2 9.9 4.7 0.7 7.7 5.8 6.

Jambi. tidak berwarna.3 8.184 Secara nasional masih banyak rumah tangga yang menggunakan air minum dari sumber tidak terlindung (sumur tidak terlindung 12.1 9. Provinsi yang banyak menggunakan air hujan sebagai sumber air minum antara lain Kalimantan Barat.0 2. DKI Jakarta. yaitu dari 2.5 Kualitas fisik air minum Keruh Berbau Berwarna Berasa Berbusa Baik*) 3.1 7. Provinsi-provinsi yang proporsi penggunaan air kemasannya tinggi antara lain Kepulauan Riau.0 0.0 1. tidak berasa.9 88.Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang kualitas fisik air minumnya baik.9 10.0 85.9 86. penggunaan air kemasan di rumah tangga mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat. 252 .0 1. tidak berbusa dan tidak berbau Data jenis sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga diambil dari data Kor Susenas 2007.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 10. dan DI Yogyakarta.3 83.6 7.5%).5 3.7 4.1 3.4 5.7 8. Pada tabel 3.5 6.6 84.8 6. mata air tidak terlindung 5. dan Papua Barat.1 1.9 4.5 1.4%.6 11. Sementara yang menggunakan air perpipaan/ledeng tidak mengalami peningkatan/tetap (masing-masing 17.0 3.3 6.7 88.4 4. Riau.3 3.6 5.2 5.2 1.2 7. DKI Jakarta. Bila dibandingkan data Susenas 2004.183 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Papua.0%. Tabel 3.0%. air sungai 3.9 4.6% menjadi 6.8% dan lainnya 0.1 5. Bali.1 * baik = tidak keruh.7 3.3 1. Provinsi-provinsi yang cakupan air perpipaannya di atas rerata nasional antara lain Kalimantan Selatan.8 85. Banten. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 6. dan Papua Barat.8%).

0 8.0 3.4 3.5 7.7 1.4 0.8 7.3 6.3 41.6 4.3 1.2 5.6 0.0 13.4 10.4 6.0 0.7 5.9 0.6 5.6 0.7 9.2 7.0 1.1 42.9 15.2 0.0 9.6 15.3 0.1 10.6 14.1 2.0 8.6 18.9 1.7 0.1 0.8 11.6 2.2 20.0 0.0 5.8 33.2 2.6 46.9 1.4 10.4 2.0 5.2 2.1 5.7 34.4 7.3 7.9 0.4 5.9 8.6 7.3 23.7 3.0 3.9 12.0 0.5 5.1 2.0 0.2 6.4 5.2 2.3 3.3 5.184 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.6 6.0 7.8 15.5 5.7 0.5 11.3 9.1 7.1 1.4 0.6 47.9 22.2 14.1 43.4 8.9 12.5 10.0 3.5 0.8 0.4 0.7 27.6 11.9 19.5 .0 3.2 9.3 1.3 2.0 3.8 2.6 7.8 3.4 1.5 3.8 11.6 0.1 28.8 13.4 3.5 21.4 13.2 2.6 0.8 13.0 0.1 8.1 8.6 40.7 4.9 1.5 13.7 11.4 57.6 2.9 0.9 5.2 2.2 8.9 18.3 1.4 29.3 0.9 0.8 6.6 20.7 14.Tabel 3.4 4.6 19.3 33.6 10.7 1.5 4.0 9.2 0.8 17.3 13.1 2.4 7.9 12.8 3.3 1.3 0.0 0.7 0.2 2.2 1.1 0.0 0.2 1.5 0.1 24.7 7.9 23.3 0.9 3.1 4.9 0.2 5.9 11.9 0.8 9.4 1.9 22.0 1.2 26.1 21.3 5.2 8.6 11.5 7.5 0.8 1.7 3.2 35.6 5.5 29.6 1.4 7.1 7.1 41.4 13.4 17.7 29.4 13.6 5.3 1.9 7.4 6.1 1.5 5.7 12.6 6.9 1.7 1.7 0.1 8.9 10.1 11.9 2.7 2.3 1.7 7.2 24.0 3.6 1.2 5.7 0.6 3.1 0.6 1.2 4.3 1.2 0.0 1.7 14.5 10.5 21.4 3.4 2.8 19.7 1.2 36.9 3.9 34.6 11.2 20.8 0. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk Terlindung Provinsi Ledeng eceran Air kemasan Air sungai terlindung Mata air terlindung Air hujan 1.0 28.7 7.4 34.4 0.3 6.3 1.9 3.9 3.9 14.8 meteran NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.9 2.6 16.3 3.8 21.4 4.8 6.9 4.2 8.7 4.5 0.8 2.1 Ledeng Pompa Sumur 0.4 11.8 6.0 21.6 11.1 0.1 2.7 0.4 .8 3.6 7.5 12.7 21.0 11.9 1.3 3.2 0.5 0.6 0.0 1.3 8.2 10.6 34.9 28.8 4.6 25.0 2.1 2.0 43.2 1.1 15.1 30.8 8.3 5.1 13.0 3.4 11.8 28.1 0.2 2.2 34.8 14.5 1.9 5.1 0.3 3.2 0.1 0.1 17.6 3.7 13.3 1.0 4.7 0.9 0.3 4.3 1.7 25.9 29.7 10.2 0.0 1.5 3.5 0.9 16.5 0.3 10.1 49.5 11.7 14.7 0.8 11.8 9.9 0.0 Indonesia 6.5 0.1 18.2 3.8 253 Lainnya 0.7 5.9 11.5 0.0 0.4 0.4 10.0 3.2 14.9 10.3 0.9 7.7 19.9 18.2 15.5 5.1 7.1 25.0 14.3 1.2 0.2 1.4 4.5 55.8 10.5 15.8 9.4 0.4 9.2 2.0 2.2 15.9 22.7 1.2 2.

1 24. ledeng eceran.3 13.1 16.1 8.185 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.0 31.0%) dan tidak menggunakan penampungan (18.2%). Susenas 2007 Jenis sumber air minum Karakteristik rumah tangga Ledeng meteran Ledeng eceran Air kemasan Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk terlindung terlindung terlindung Air sungai Air hujan 2.1 14.9 6. Bila melihat sebarannya.8 11. Papua Barat.8 5.8 11.6 9.7 30. dan Sumatera Utara.9 13.2 30.4 0.5 7.3 2.3 4.9 0.2 4. mata air.9 8. dan sumur bor lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.0 0.7 7.3 4.9 7. NAD.7 7.8 5.5 0. provinsi-provinsi dengan proporsi penampungan air terbuka tinggi antara lain Papua.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.6 0. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan air kemasan.185) Tabel 3. Sumatera Barat.2 2.2 17. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak terlindung.9 3.9 2.8 4.186 menggambarkan jenis tempat penampungan air untuk keperluan minum yang digunakan rumah tangga dan jenis pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum air tersebut dikonsumsi.4 0.9 4.8 12.1 16.1 3.Sebaran proporsi penggunaan jenis sumber air minum bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dan sumur pompa. ledeng meteran.0 28.7 10.1 4. (Tabel 3.1 14.2 21. sedangkan yang menggunakan wadah terbuka sebesar 12.1 5.4 4.6 0.4 Penggunaan air kemasan.3 1.5 29.4 16.9 6.4 27.9 25. ledeng eceran. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.3 12. air sungai dan air hujan.1 3.0 7.1 12.0 6.7 7.7 0.9 5.5 2.5 3.8 5.3 10.0 5. Tempat penampungan air di rumah tangga sebagian besar menggunakan wadah tertutup (69.5 0.2 3.6 4. 254 Mata air Pompa Sumur Lainnya .3 10.8 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.2 3.7 3. Tabel 3.2 14. Di daerah perdesaan sumber air minum yang menonjol digunakan dibandingkan di perkotaan adalah jenis sumur (terlindung dan tidak terlindung).0 5.8%.

3 69.6 79.3 94.5 13.9 1.5 2.5 20.4 93.1 56.3 9.4 26.1 9.7 81.3 0.3 7.7 5.5 4.3 4.8 12.4 93.3 6.9 2.3 12.5 95.4 13.7 14.5 4.1 5.6 0.7 67.2 5.8 7.3 7.7 94.6 0.1 14.9 7.3 21.7 Lain nya 4.0 31.8 7.0 5.3 9.8 81.5 5.7 wadah diminum 37.6 48.0 5.8 86.6 16.3 72.0 4.6 2.3 15.7 84.1 2.1 2.4 8.3 11.3 5.7 0.4 5.9 4.0 Tempat penampungan Provinsi Tdk ada Wadah terbuka Wadah tertutup 41.3 2.6 84.8 6.6 21.9 0.6 88.7 54.5 6.6 64.7 5.7 6.3 1.0 22.1 97.7 96.3 5.9 2.1 72.6 24.8 7.5 1.3 86.4 56.2 3.1 9.2 11.7 12.3 7.8 12.2 96.0 12.1 3.9 34.7 76.3 8.8 0.7 94.9 2.1 3.4 96. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak 89.0 5.1 0.6 31.0 4.5 89.6 6.5 10.2 28.6 15.9 45.0 2.4 1.3 11.4 1.3 5.6 17.2 5.4 17.0 77.1 10.6 4.3 72.4 37.0 10.9 11.8 81.4 0.0 6.1 3.7 5.4 3.6 9.6 33.0 80.1 0.2 10.5 0.0 94.6 5.9 40.0 1.1 2.1 17.5 1.1 97.5 62.7 4.1 91.7 12.1 12.2 16.8 0.5 Disaring 12.7 0.7 0.1 69.1 26.2 3.2 255 .7 26.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Provinsi.7 95.7 0.4 4.1 17.5 18.9 30.8 69.8 19.0 41.5 9.1 25.0 92.0 78.1 14.4 5.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 21.3 12.6 7.6 7.3 2.3 5.8 12.2 0.9 14.5 14.7 7.8 1.2 4.4 8.0 7.3 12.0 30.5 0.3 97.4 0.0 78.0 16.2 2.2 3.1 9.4 2.8 60.1 24.6 62.9 94.5 1.2 11.8 95.6 27.2 8.0 18.9 5.9 7.4 14.7 1.8 0.4 5.8 84.4 10.8 93.1 0.7 4.3 7.7 93.6 14.5 0.4 70.8 10.5 9.1 7.6 70.3 5.2 8.4 90.1 76.0 5.2 23.4 2.7 4.3 92.1 96.8 11.1 70.0 75.1 92.8 0.9 10.2 1.4 1.0 8.7 1.8 0.8 96.6 55.1 8.2 1.6 98.8 79.9 Bahan kimia 0.6 6.3 8.7 0.2 0.Tabel 3.8 23.0 12.6 54.4 Indonesia 12.1 0.

1 14.1 1. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak Disaring Bahan kimia Lain nya Karakteristik rumah tangga Tempat penampungan Tdk ada Wadah Wadah terbuka tertutup Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 9. sedangkan yang langsung diminum (tanpa pengolahan) lebih tinggi di perkotaan.7 2.3 2.7 17. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef. sedangkan provinsi dengan proporsi pembubuhan bahan kimia tinggi adalah Kalimantan Tengah.4 16.3 10.2 7.187).7 15. dan air hujan.4 2.Secara nasional pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum digunakan sebagian besar dengan cara dimasak (91.0 91. Sarana sumber air yang improved menurut WHO/Unicef adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng.1 1.8 7.9 92. sarana sumber air yang digunakan improved.8 wadah diminum 22. akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari.2 15.9 68.9 20.3 13. sumur terlindung.1 12.9 7. dan sarana sumber air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Terdapat 12.4 17. 256 .187 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Tangga. Data konsumsi air dan jarak ke sumber air berasal dari Riskesdas 2007.6 18. Provinsi dengan proporsi penyaringan tinggi adalah NTT. dan Kalimantan Timur.9 2.8 92.2 10.5 69.9 13. mata air terlindung.6 68. tetapi semakin meningkat yang tidak menggunakan tempat penampungan air. Kalimantan Selatan.9 1.8 7. Dalam hal pengolahan air sebelum dikonsumsi.1 69.2 2. tampak cara memasak dan disaring sedikit lebih tinggi di perdesaan.9 8.6 12.4 12.9 68.3 92.5 7.9 4. sedangkan data jenis sarana air minum berasal dari Kor Susenas 2007.0 69.8 3.8 12. sedangkan yang tidak menggunakan penampungan lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.2 92.3%).3% yang melakukan pengolahan dengan cara penyaringan dan 2.3 9.4 89.9 7.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 12. Tabel 3. sumur bor/pompa.6 6.4 12. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin kecil proporsi yang menggunakan wadah terbuka.7 Proporsi yang menggunakan wadah terbuka lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.5 88. (Tabel 3.1 2.1 12. Proporsi penggunaan tempat penampungan air dan pengolahan air sebelum dikonsumsi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Maluku dan Jawa Timur.0 69. selain dari itu dikategorikan not improved.0% dengan membubuhkan bahan kimia.3 3.

8 37.2 44.Tabel 3.3 Baik*) 48. 257 .1 35.0 61.3 61.9 76.4 62.4%).8 35. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 51.8 34.7 48.0 38. dari sumber terlindung (Susenas.9 63.6 59.8 55.4 31.2 67.9 56.2 65.5 46.7 Indonesia 42.2 62.3 60.8 33.7 38.1 36.6 37.7 46. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.8 31. 2007) Berdasarkan kriteria tersebut.2 68.188 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi.4 49.4 62.7 38.4 40.0 31.2 65.8 37.5 53.6 37.3%) dan Kepulauan Riau (31.9 25.2 62.1 60.5 46.7% yang mempunyai akses baik terhadap air bersih.1 43.1 26.3 48. 2007).9 73.8 55.5 53. Provinsi dengan proporsi akses baik terhadap air bersih di bawah rerata nasional sebanyak 18 provinsi.6 50.7%).7 39.7 51.7 *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.1 23.1 74.5 22.3 53. tabel 3.9 64.5 36. terendah Papua (26. 2007). disusul oleh Riau (31.3 61.9 39.2 44.188 menunjukkan secara nasional terdapat 57.0 68.3 57.3 51.5 77.5 63.6 68.

Tabel 3.3%). 3. dari sumber terlindung (Susenas.9. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 43. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 32. semakin tinggi tingkat pengeluaran cenderung semakin besar proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih.5 CATATAN : *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.3 Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 47.9 51.4 41. 258 . 2007) Tabel di atas menunjukkan di perkotaan akses baik terhadap air bersih lebih tinggi (67.0 56. 2007).6 39.189 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga.7 38.4 60.5 53. 2007). Data ini diambil dari data rumah tangga Kor Susenas 2007.6 58.Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 48.7 67.2 Fasilitas Buang Air Besar Data fasilitas buang air besar meliputi penggunaan atau pemilikan fasilitas buang air besar dan jenis jamban yang digunakan.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (51. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.3 61.

1 4.2 26. NTB (35.3 8.8 32.2 6.8 43.9 51.4 31.0 20.8 6.5 35.4%). Susenas 2007 Jenis penggunaan Provinsi Sendiri 51.2 24.6%) dan Maluku Utara (36.1 7.4 64.4 42.1 60.4 8.2 23.3 6.9 38.8 2.0 42.5 16.3 1.9 23.7 4.2 9.Tabel 3.3 12.2 47.0 5.0%).0 4.8 27.6 Umum 8.9 12.1 6.5 36.1 19.0 0.5 9.6 60.6 8.5 36.0 14.1 45.5% (tahun 2004 sebesar 60.4 9.2 8.5 64.1 53.8 58.8 2.0 13.5 13.8 15.1 9.190 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.0 1.8%).7 31.9 27.7 16.9%.0 7.1 12.1 4.8 49.5 32.8 63.8 72.6 61.2 7.0 46.2 3.4 1. Beberapa provinsi dengan proporsi penggunaan jamban sendiri rendah antara lain Gorontalo (31.3 9.8 57.1 18.7 77.4 20.4 25.9 36. 259 .1 1.0 32.1 28.4 31.7 1.4 4.0 .2 71.6 2.7 3.1 25.3 59.9 11.8 Tabel 3.1 18.3 65.2 25.4 57.9 16.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 58.0 12.1 5.8 59.7 12.4 58.2 Tidak ada 32.7 65.6 14.2 42.7 1.9 25.5 0.6 11.4 8.3 76.6 7.5 8.6 3.1 12.3 2.1 59.1 79.5 16.0 7.8 20.9 Bersama 8.4 3.2 49.2 17.5 3.4 57.8 12.1 11.2 19.0 2. dibandingkan dengan hasil Susenas 2004 mengalami penurunan sebesar 1.3 47.7 13.7 8.8 7.190 menunjukkan rumah tangga yang menggunakan/memiliki jamban sendiri sebesar 58.

8%). Maluku Utara (84.9%.2%). dan DI Yogyakarta (83. Dibandingkan dengan data tahun 2004 sebesar 49.2 11.6 12. Banten (87.9%).Cakupan penggunaan jamban sendiri menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 3.2%).7%).2%).191 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.9 14. Secara nasional rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebesar 68. Gorontalo (87.8 11. Provinsi dengan cakupan penggunaan jamban saniter tinggi antara lain Bali (95.5 Sendiri Bersama Umum Tidak ada Tingkat pengeluaran rumah tanggaper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 43.0 6.0 12.1 25. Jenis sarana pembuangan kotoran dianggap ‘saniter’ bila menggunakan jenis leher angsa.2 49.0 13.2 19.4%) dan Papua (11.191) Tabel 3.5 65. Susenas 2007 Jenis penggunaan Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 73. DKI Jakarta (86. penggunaan jamban saniter ini mengalami peningkatan yang signifikan.3 58.1 30.3 4.7%).1%). 260 . Sulawesi Utara (85.3%.9 4. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak pakai jamban tinggi antara lain Kalimantan Tengah (14.4 37. Kalimantan Selatan (13. (Tabel 3.2%) dibandingkan dengan di perdesaan (49.8 9.192 menggambarkan berbagai jenis sarana pembuangan kotoran.5 2.3%). ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi yang menggunakan jamban sendiri.2 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3%).2 4.3 10.2 34.0 75. Tabel 3.8 11.6 Persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di perkotaan lebih tinggi (73.6 52.

5 62.9 0.6 11.4 10.8 24.9 66.Tabel 3.5 85.5 63.6 13.3 11.5 Proporsi penggunaan tempat buang air besar bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.8 4.6 21.7 59.7 87.1 49.8 60.1 8.2 Cemplung/ cubluk 24.0 68.8 6.6 4.6 84.6 2.6 1.7 16.3 24.6 Tidak pakai 7.1 75.4 3.5 9.2 7.0 16.6 2.3 16.5 6.9 4.192 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi.5 5.0 7.1 87.3 67.0 24.0 6.0 Plengsengan 8.9 2.2 Indonesia 68.9 72.3 13.3 7.9 18.3 12.2 9.9 9.4 1.1 1.2 53.9 17.4 39.8 12.7 2.0 17.0 8.4 14.4 2.6 9.9 6.2 31.0 4.8 11.3 7.6 14.2 2.6 67.4 4.7 95.7 0.8 4.4 0.2 5.7 8.8 22.8 8.9 4.0 1.0 43.5 66.0 30.8 14.8 15.9 14.5 4.7 5.8 11.6 2.8 6.0 18.4 3.5 29.7 0.3 13.4 60.4 25.8 1.7 79.9 76. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Provinsi Leher angsa NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 59.3 1.1 19.193) 261 .2 75.1 15.8 69.7 5.7 3.8 5.3 58.2 83.2 13.2 75.7 26.2 86.6 6.7 0.8 6.3 5.5 70.1 9.5 18.4 7.7 9.8 15.5 7.0 78.6 4.5 6.0 7.8 68.2 25.

5 13.5 11. Terdapat 18 provinsi dengan akses baik terhadap sanitasi di bawah rerata nasional.9%). Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 83.4 22. terendah adalah Papua (17.1 17. disusul oleh Papua Barat (25. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi yang menggunakan jamban jenis leher angsa.9 9.0 53.0 7.193 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia. 262 .6 2.5 9.194 dapat dilihat secara nasional rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi sebesar 43. akses sanitasi disebut ‘baik’ bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa.9 56.5 61.0%.5 7.1 Leher angsa Plengsengan Cemplung/ cubluk Tidak pakai Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Proporsi rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa lebih tinggi di perkotaan (83.2 5. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.6 4.0%). pada tabel 3.2 8.8 1.8 26.3 73.8 68.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (56. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 82.1%).5 27.3 3.8 10.Tabel 3.5%) dan Maluku Utara (31.6 7. Berdasarkan kriteria tersebut.4 10.0 8.7 5.

2007).0 30.4 58.8 39.0 58. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 44.2 60.7 50.8 31.0 *) menggunakan jamban sendiri.7 42.6 51.Tabel 3.7 44.1 46.8 36.4 48.0 34.6 69.0 49.6 45.3%). Susenas 2007 Akses sanitasi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 66.4 31.0 66.9 41.0 41.1 Baik*) 33.3 44. di perkotaan lebih tinggi dua kali lipat (63.5 77.5 17.195 menunjukkan proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.1 40.0 65.1 50.4 29.5 82.0 33.0 70.5 41.8 53.6 70.5 27.0 43.2 68.9 54.5 55. Tabel 3. jenis latrin (Susenas.9 Indonesia 57.1 55.3 57.194 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Provinsi.9 49.6 41.1 58. Menurut tingkat 263 .3 64.9 60.2 63.7 35.3 49.7 55.4 55.0 50.3%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.5 73.2 46.1 53.0 74.3 55.9 42.9 46.5 58.5 22.0 25.1 57.5 44.

jenis latrin (Susenas.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.3%).5 63.7 63.6 42.197) 264 . Kalimantan Selatan. Susenas dan Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 36.pengeluaran rumah tangga per kapita terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi. Papua. Untuk pembuangan akhir tinja.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. Secara nasional.5 36.0%) dan Bali (76. Proporsi rumah tangga yang menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinja dua kali lebih tinggi di perkotaan (71. Provinsi-provinsi yang proporsi pembuangan akhir tinja saniternya di bawah rerata nasional adalah NTT. Sulawesi tengah. dan pantai/tanah. sisanya dibuang ke sungai/laut. 2007).5 25. Sumatera Barat. lobang tanah.3 30. Jambi. Lampung. Sulawesi Tenggara.1 34.3 Akses sanitasi Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 74. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Proporsi rumah tangga dengan penggunaan tempat pembuangan akhir tinjanya jenis tangki/SPAL (saniter) bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.7 69. Sulawesi Barat. dan Gorontalo. Maluku. proporsi rumah tangga dengan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki/SPAL (saniter) sebesar 46. NTB.3%.5 *) menggunakan jamban sendiri.7 49. (Tabel 3. NAD.3 50. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan tangki/SPAL.5%). Bengkulu.(Tabel 3. Kalimantan Barat. Kalimantan Tengah.4 57.9 65. Tempat pembuangan akhir tinja dikategorikan saniter adalah bila menggunakan jenis tangki/sarana pembuangan air limbah (SPAL). kolam/sawah.196) Proporsi penggunaan sarana pembuangan akhir tinja saniter tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta (86. Papua Barat. data diambil dari Kor Susenas 2007.

4 0.6 1.2 2.3 15.9 86.6 18.6 7.0 1.8 24.2 55.7 26.7 39.4 11.9 3.3 0.3 3.0 20.2 1.1 11.1 30.196 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi.5 34.7 11.4 2.7 Kolam/ sawah 63.7 1. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Provinsi Tangki/ SPAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 36.4 3.4 30.3 1.7 Pantai/ tanah 12.7 2.4 26.5 11.1 0.7 7.5 1.2 22.8 2.6 1.7 6.0 1.6 0.7 22.2 48.0 26.2 4.0 1.4 54.2 13.5 Lobang tanah 22.6 35.4 18.5 3.0 4.2 Sungai /laut 22.2 20.8 61.4 21.1 2.1 2.9 2.3 8.9 22.6 2.2 14.2 6.6 0.0 0.3 23.0 25.5 31.1 25.3 2.1 15.1 3.7 Lainnya 3.3 33.7 31.7 15.7 38.2 5.6 40.5 49.1 4.5 11.7 53.8 4.6 2.6 0.2 29.0 21.1 50.0 24.1 57.0 265 .9 3.3 34.6 2.5 1.9 0.0 53.4 8.6 0.7 3.5 2.3 17.1 21.6 21.9 0.2 31.3 0.1 46.4 33.6 21.1 21.9 12.6 24.0 0.8 9.4 1.0 2.8 47.4 1.2 1.4 42.5 1.1 20.3 1.6 16.4 0.7 69.4 35.0 49.3 2.3 43.1 42.2 18.0 14.9 7.0 0.8 16.9 45.3 14.4 0.3 33.1 6.5 38.4 5.3 16.7 0.2 Indonesia 46.1 12.8 21.3 30.6 6.0 0.4 1.2 4.1 22.9 21.1 28.3 32.3 41.4 0.4 76.2 5.1 1.3 55.9 46.7 1.1 7.7 22.9 15.0 14.6 1.9 1.7 69.1 5.6 4.7 12.4 36.8 32.0 0.9 22.8 2.1 4.6 0.2 11.9 22.8 8.9 2.7 14.1 7.7 14.1 0.8 1.1 1.6 1.6 20.0 1.Tabel 3.0 1.1 0.0 25.8 1.3 1.

Secara nasional.(Tabel 3. yaitu dari 25.2 2.2 3.197 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.9 Perdesaan 30.6 1.8 12.5 9.3 23.9%) dibandingkan dengan di perkotaan (15.0 11.8 2.7%) dan Kalimantan Tengah (65.3 Kuintil 2 38.8 20.0 Kuintil 5 65.3 3.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 30.8 1.4 24.5 21. Dibandingkan dengan data Susenas tahun 2004.5 2.7%). disusul oleh Kalimantan Selatan (75.5 26.7 11.9 2. terdapat 67.5% (Tabel 3.9%). Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Karakteristik rumah tangga Tangki/ SPAL Kolam/ sawah Sungai /laut Lobang tanah Pantai/ tanah Lainnya Tipe daerah Perkotaan 71. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9.5 4.Tabel 3.1 10.2 16. baik SPAL jenis tertutup maupun terbuka. terdapat peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.3 Sarana pembuangan air limbah Data penggunaan saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga didapatkan dengan cara wawancara dan pengamatan.4 Kuintil 4 52.3 3.198) Terdapat 16 provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak memiliki SPAL lebih tinggi dari rerata nasional.6 27.7 1. Di daerah perdesaan.1 22.6 3.3 16.2 2.8 Kuintil 3 45. proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL hampir tiga kali lipat (42.7% rumah tangga yang menggunakan SPAL di rumahnya. Proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 23. semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin rendah proporsi rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.2 11.9 6.1 1.8% menjadi 32.5 19. tertinggi adalah NTT (77.6 3.0 4.199) 266 .7 7.2 2.9%).

8 21.8 42.7 11.7 27.5 25.7 12.1 25.1 52.3 52.0 27.7 44.6 37.3 60.9 41.0 46.0 27.0 16.7 46.4 47.4 17.0 50.198 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.2 32.1 17.1 57.6 37.3 16.Tabel 3.3 38.6 51.9 10.1 Tertutup 17.2 71.2 10.8 10.7 31.6 39.5 23.4 30.0 49.0 11.7 16.1 43.6 46.5 267 .7 33.9 44.7 4.3 25.3 25.3 40.1 43.0 17.6 26.3 77.2 34.7 52.4 42.2 17.1 37.0 48.3 11.4 8.3 18.5 41.9 43.8 6.5 46.6 30. Riskesdas 2007 Saluran pembuangan air limbah Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Terbuka 56.7 13.6 65.9 75.9 47.8 14.5 33.6 53.2 5.4 69.0 38.7 20.2 48.1 14.1 20.5 55.2 21.1 24.3 24.9 8.5 34.7 23.2 Indonesia 42.4 9.5 22.7 Tdk ada 26.5 69.9 34.5 47.3 4.1 27.4 48.6 25.

2% di luar rumah) dibandingkan dengan di perdesaan (20. baik di dalam maupun di luar rumah.Tabel 3.5 Kuintil-2 42.6 Saluran pembuangan air limbah Tertutup Tdk ada 42. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang memiliki tempat sampah.4 33.200 menunjukkan secara nasional terdapat 26. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.199 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memiliki tempat sampah tertinggi adalah Gorontalo (dalam rumah) dan Kalimantan Selatan (luar rumah). Tabel 3.2 14.3% dalam rumah dan 56.3 35. Tabel 3.4 20. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Terbuka Tipe daerah Perkotaan 41.201 menunjukkan di perkotaan proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah lebih tinggi (36.9 Perdesaan 42.6% rumah tangga yang memiliki tempat sampah di dalam rumah dan 45.0 Kuintil-4 42.8 28.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.2 29.0 Kuintil-5 41.9 40.7 22.1 36.5% dalam rumah dan 38.5% rumah tangga memiliki tempat sampah di luar rumah.5 3.4 Pembuangan sampah Data pembuangan sampah meliputi ketersediaan tempat penampungan/ pembuangan sampah di dalam dan di luar rumah.8 Kuintil-3 43.5 17.9.9 15.9 42.9% di luar rumah).8 23. Proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. 268 .

5 3.3 13.5 8.5 6.3 48.6 3.2 6.4 3.0 29.6 23.7 14.1 66.7 34.5 10.9 23.4 6.9 64.0 39.9 42.5 74.3 14.1 41.7 Tidak ada 77.9 62.3 13.8 6.9 56.2 28.9 3.1 73.9 69.5 81.2 15. Riskesdas 2008 Penampungan sampah dalam Provinsi Tertutup NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5.6 56.6 56.5 269 .4 3.8 73.0 3.3 65.9 5.8 4.9 5.0 Tidak ada 65.9 24.3 7.3 60.7 76.4 86.5 Tertutup 9.2 77.0 76.8 6.9 53.6 65.8 74.4 15.0 23.5 18.0 33.5 12.4 18.2 60.4 34.4 3.3 80.1 72.9 51.2 54.6 85.5 15.4 23.0 17.1 34.8 5.2 5.1 28.5 7.2 16.6 3.4 5.7 26.0 2.1 4.0 Indonesia 8.1 10.6 2.3 54.0 29.3 4.7 7.5 3.4 36.0 11.1 83.3 24.2 37.Tabel 3.0 11.3 63.7 13.5 9.2 3.9 8.1 32.0 9.3 44.8 24.2 77.5 7.0 29.1 6.8 5.2 54.9 81.3 65.0 27.0 7.3 73.0 7.6 73.8 4.7 8.7 5.8 58.1 71.8 5.2 31.8 Penampungan sampah di luar rumah rumah Terbuka 17.1 36.4 47.1 58.9 11.0 42.0 8.0 65.5 37.2 17.7 19.9 15.0 33.5 16.5 17.9 35.1 64.7 54.200 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.5 65.5 59.2 66.6 68.6 18.8 18.7 13.9 72.8 83.8 6.5 27.0 63.6 80.2 21.1 26.0 11.1 34.8 22.1 8.1 58.3 7.5 55.2 10.4 5.5 61.0 21.4 66.3 30.4 14.6 77.0 16.4 35.0 10.5 14.1 Terbuka 25.3 63.5 8.4 11.8 7.9 31.8 36.0 80.3 72.3 30.4 28.1 8.4 8.1 23.1 75.8 61.0 85.9 17.5 37.3 49.2 12.2 5.4 80.9 10.0 55.

6 55. sedangkan data pemeliharaan ternak diambil dari Riskesdas 2007.5 40. Papua Barat (40.9%).1 65. Dilihat dari provinsi.9.3 3.1 57.0 Kuintil-5 14.5 Kuintil-2 6.9 61. sedangkan proporsi rumah dengan kepadatan hunian tinggi tidak menunjukkan perbedaan antara di perkotaan dan perdesaan. Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi luas lantai rumah dalam meter persegi dengan jumlah anggota rumah tangga.5 38.6% rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan 17.Tabel 3. disusul oleh Jawa Tengah (28. kepadatan hunian. Hasil perhitungan dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat.7%). Sedangkan provinsi dengan proporsi hunian padat lebih tinggi dari rerata nasional antara lain Papua (51.0 Perdesaan 4.3 21.4%).5 3.201 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.0 37.5%). Tabel 3.5% dengan tingkat hunian padat.7 46.9 35.4%) dan Papua (27. Proporsi rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan tingkat hunian padat bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4.0%). luas lantai rumah dan jumlah anggota rumah tangga diambil dari Kor Susenas 2007. Data jenis lantai.7 76. terdapat delapan provinsi dengan proporsi jenis lantai rumah tanah lebih dari rerata nasional.202 menunjukkan secara nasional masih terdapat 12.4 40.8 15. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0%) dibandingkan dengan di perkotaan (5.2 52.203 memperlihatkan proporsi rumah tangga dengan jenis lantai tanah di perdesaan lebih tinggi (17.8 36. tertinggi NTT (44.4 7.0 19.0 20.3 8. dan keberadaan hewan ternak dalam rumah. ada kecenderungan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang lantai rumahnya tanah dan tingkat huniannya padat.0 71.0 Tipe daerah Perkotaan 15.3 17.1 Karakteristik rumah tangga Penampungan sampah di luar rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 43.1 60. Tabel 3.8 5.9 13.4 79. yaitu memenuhi syarat bila ≥8m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila <8m2/kapita (padat).7 74. 270 .9 15. Riskesdas 2007 Penampungan sampah dalam rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 63.3 16.0 Kuintil-3 7. dan DKI Jakarta (37.8 18.2 6.1 34.5 Perumahan Data perumahan yang dikumpulkan dan menjadi bagian dari persyaratan rumah sehat adalah jenis lantai rumah.7 79.2 Kuintil-4 10.8%).

1 10.0 5.5 26.9 33.9 8.202 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.3 9.3 82.1 97.3 97.3 78.5 73.3 12.6 82.0 88.1 76.3 86.7 2.7 94.2 71.9 10.4 79.2 49.1 89.7 21.2 84.7 88.4 10.8 74.7 4.8 91.6 80.7 96.8 16.9 2.9 21.1 79.1 78.9 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 79.2 90.4 12.1 7.8 28. Susenas 2007 Jenis lantai Provinsi Bukan tanah NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 86.7 17.4 96.3 17.4 3.8 62.5 6.2 83.5 96.2 8.0 94.2 25.4 4.9 23.6 40.8 19.8 97.4 36.3 93.4 78.1 13.7 82.5 271 .2 27.4 59.7 95.0 30.1 91.1 15.7 13.8 7.7 90.9 92.4 27.5 93.8 93.2 6.3 84.3 5.3 11.9 20.0 Indonesia 87.9 89.6 11.3 96.8 72.6 3.6 96.9 17.3 5.1 66.6 20.7 6.4 19.7 83.2 80.0 69.8 15.7 15.8 51.6 89.5 17.5 20.3 18.6 22.6 88.5 80.1 10.1 78.6 44.2 92.2 2.Tabel 3.7 94.4 11. Kepadatan Hunian dan Provinsi.0 11.5 3.3 4.8 9.2 37.6 63.3 16.7 81.9 21.5 19.4 88.0 Tanah < 8 m2/ kapita 20.4 55.7 87.5 79.9 84.6 95.1 82.9 89.3 4.6 72.

8 94.9 85. 272 .9 6. kucing dan kelinci. maupun binatang kucing. kuda. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3. ternak besar (sapi. 12.1 93.2 5.4 34. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin sedikit memelihara ternak. dll). dll) atau binatang peliharaan seperti anjing. Pada Tabel 3.5 17.3% memelihara ternak sedang.6 89. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Bali dan Papua. data dikumpulkan dengan menanyakan kepada seluruh kepala rumah tangga apakah memelihara binatang jenis unggas.3 87. kucing atau kelinci.4 9.205).5 17. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.Tabel 3. ternak besar. kerbau.5 83. domba.4 5.204 tampak secara nasional terdapat 41.8% memelihara ternak besar dan 16.4 10. Provinsi-provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memelihara ternak tinggi antara lain Provinsi NTT.2 82.4 78. anjing atau kelinci.0 80. 8.6 90.9 15.1 84.8 17. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10%-20% memeliharanya di dalam rumah. ternak sedang (kambing.0 19.6 82. Susenas 2007 Jenis lantai Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 94.7 12. Bila di rumah tangga memelihara ternak. baik jenis unggas. kemudian ditanyakan dan diamati apakah dipelihara di dalam rumah. babi.1 14.6 65.9% memelihara binatang jenis anjing. ternak sedang.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.5 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita < 8 m2/ kapita Bukan tanah Tanah Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Dalam hal pemeliharaan ternak.6 21.7% rumah tangga yang memelihara unggas.

8 91.9 Luar rmh 3.5 96.9 96.7 96.0 6.6 7.2 69.1 1.0 6.0 51.7 93.8 52.6 98.7 3.8 99.4 4.4 84.0 70.6 10.2 2.9 0.2 99.9 14.7 26.5 1.0 11.9 8.8 2.1 7.2 2.3 26.7 95.3 0.8 8.7 9.2 0.2 2.2 66.8 3.4 0.8 6.3 6.4 57.0 5.6 1.3 84.8 5.8 6.2 1.8 91.3 1.2 3.4 17.7 5.8 62.5 0.8 0.1 36.9 68.3 40.2 4.9 2.9 9.4 Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh 1.1 10.3 0.1 5.4 2.0 82.9 2.1 0.9 13.1 66.4 2.2 7.6 83.5 6.1 75.9 98.4 96.9 59.8 3.1 2.3 89.9 3.7 4.3 13.6 7.6 1.2 4.8 2.6 71.2 Tdk dipelihara 44.9 0.2 13.4 0.8 31.8 10.7 67.Tabel 3.2 0.3 5.3 23.7 76.7 63.1 21.9 2.2 81.6 98.7 69.5 1.5 5.4 85.0 12.2 0.9 9.0 50.5 87.6 64.0 6.7 6.8 5.1 0.8 91.4 0.5 83.8 3.2 0.0 82.0 3.5 3.6 93.4 49.6 84.0 Tdk dipelihara 86.0 2.5 0.2 0.3 29.6 0.3 6.4 64.8 33.3 0.1 0.3 0.7 66.9 82.0 0.4 11.3 90.8 48.3 26.6 52.9 18.8 1.8 95.0 80.9 13.7 95.8 36.3 0.3 57.8 29.3 0.8 4.3 Luar rmh 12.2 16.0 90.8 54.1 95.5 2.9 3.3 44.0 13.0 Tdk dipelihara 86.6 2.1 99.9 2.1 7.9 0.8 29.3 83.4 8.5 6.6 90.9 94.3 9.6 0.7 16.2 30.8 0.0 2.4 0.9 5.1 0.1 70.9 3.7 56.9 11.1 Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh 9.1 87.1 2.7 4.6 2.8 23.3 17.1 16.4 15.4 99.5 3.1 3.6 0.5 9.1 2.2 88.0 94.4 5.0 3.4 85.1 7.0 0.3 0.8 0.1 0.1 47.0 0.7 97.3 10.4 0.7 15.1 8.7 4.0 0.0 0.4 78.7 5.4 97.5 83.3 0.6 89.1 73.1 35.4 1.4 0.0 14.4 0.8 5.3 26.7 3.3 8.1 1.3 99.1 83.8 11.1 93.2 25.1 93.8 6.0 65.7 39.1 90.5 0.6 57.3 0.4 34.7 11.3 4.0 91.6 4.3 1.7 1.5 5.6 0.0 15.9 12.5 78.0 18.5 Luar rmh 51.3 48.3 91.6 92.7 92.8 50.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 273 .204 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.5 27.3 94.6 16.9 89.8 19.3 94.3 7.3 65.9 2.1 54.2 0.9 1.9 66.0 0.9 4.0 14.3 6.7 0.8 45.2 93.0 0.7 4.9 8.1 95.6 8.5 95.6 85.1 71.9 3.6 8.9 97.6 69.1 79.0 96.8 94.1 31.6 67.3 12.0 0.7 40.4 40.7 92.4 9.9 56.6 94.8 3.9 17.0 Luar rmh 11.7 77.5 58.7 92.6 85.4 10.8 0.8 Tdk dipelihara 87.8 2.2 6.1 27.8 47.5 1.8 2.2 35.5 6.9 88.1 0.2 80.2 25.6 83.6 3.9 8.7 14.4 4.2 4.0 0.2 4.0 18.8 26.7 94.3 10.6 11.5 42.3 90.7 99.5 27.2 2. Riskesdas 2007 Ternak Unggas Provinsi Dlm rmh 3.9 22.1 61.7 17.6 91.0 95.1 12.0 33.7 31.9 32.4 7.4 62.8 25.3 63.3 1.0 94.1 88.1 0.3 29.2 3.7 Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh 0.5 2.1 0.1 97.2 0.7 2.7 3.4 77.8 45.1 0.1 4.6 94.7 0.5 33.4 0.1 69.8 1.6 46.1 83.

3 1.4 36.4 7.5 11.0 81.8 19.3 47.8 89.7 6.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.6 1.8 3.2 0.0 89.8 12.3 1.6 85.8 53.Tabel 3.2 8.2 8.5 9.0 4.2 79.7 10.3 7.0 84.7 96 82.2 6.4 92.6 12 4.6 7.5 2.6 13.2 0.0 6.8 89.1 11.3 9.5 90.1 6.8 8.205 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.1 82.5 0.6 15.8 0.7 1.6 87.0 94.5 10.3 1.8 6.9 59.4 89.2 4.4 1.2 54.6 92.0 0. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Ternak Unggas Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 4.5 86 87.5 10.3 9.3 274 .3 34.1 27.4 1.6 82.8 7.8 7.9 67.7 39 38.3 1.6 9.4 97.3 7.4 45 76.7 7.7 83.4 56.5 1.

6 18. termasuk di dalamnya 75 kasus lahir mati.10.0 5.8 5. Riskesdas 2007 Kelompok umur Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas Laki-Laki n % 210 55 49 89 89 120 298 381 460 468 9.206 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.4 26.1 20. 3.2 7.0 2. Pada kelompok umur muda (di bawah 15 tahun).1 Distribusi Kasus Kematian Diantara 4.5 rata-rata jumlah ART).2 4.7 21. yang anggota keluarganya berhasil diwawancarai secara lengkap.0 19. sedangkan pada umur 75 tahun ke atas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.0 4. Tabel 3.5 Total n 354 103 76 137 178 250 511 632 776 922 % 9. Proporsi kematian pada umur 45-74 tahun pada laki-laki lebih besar daripada perempuan. Data mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33 provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4. Kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sebelum survei (terletak pada rentang waktu 1 Juli 2006-31 Januari 2008) ditindaklanjuti dengan wawancara kepada anggota keluarga almarhum/ah menggunakan kuesioner AV.0 Perempuan n % 144 48 27 48 89 124 213 251 316 454 8.4 14.552 kasus kematian di atas. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1000.6 2.8 1.3 13. proporsi kematian pada umur 5-14 tahun terendah.4 2. proporsi kematian di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan.014 kasus (88.196 (=258.2 12.5 2.9 3.2 persen).488 RT yang berhasil diwawancarai x 4.0 16.5 6. hanya 4. sedangkan pada kelompok umur 45-74 tahun di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan.206 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada umur di bawah 1 tahun adalah 9.0%.163. yaitu 4.552 per 1.4 2.207 membandingkan proporsi kematian menurut tipe daerah. 275 .5 4.10 Mortalitas Pewawancara menanyakan kejadian kematian selama kurun waktu tiga (3) tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data.6 1.4 17. dan proporsi kematian umur 15 tahun ke atas semakin meningkat.552 kejadian kematian.3.7 23.4 Distribusi kematian menurut umur dan jenis kelamin pada tabel 3. Tabel 3.7 13.

dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen. yang disusul oleh TB (7.8 n 354 103 76 137 178 250 511 631 776 922 Total % 9. dan tumor ganas.9 n 250 72 53 78 94 153 259 336 449 544 Perdesaan % 11.0 19.5 6.2 Kematian Semua Umur Tabel 3.3 14.8 22. Pada tabel 3. tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti dengan transisisi demografi. Proporsi gangguan maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan.Tabel 3.9 1. sedangkan penyakit tidak menular didominasi oleh strok.9 3. pnemonia. dan diare.207 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah.7 23.4 3.9 15.4 3.9 19.5 4.5%).3 13.6 5. diabetes mellitus.1 2.8%) dan Cedera (6. Di lain pihak.209 menunjukkan urutan penyakit menular dan tidak menular pada semua umur.0 2. walaupun dalam enam (6) tahun terakhir penurunan hanya sedikit. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat.6 23. Grafik 3. Proses ini diprediksi akan berjalan terus.1 5.1 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen. menurut empat (4) kelompok penyebab kematian.4%).3 3.1 6. Penyakit menular didominasi oleh TB penyakit hati (termasuk hepatitis kronik).0 16. hipertensi. 276 .3 1. Kondisi maternal/perinatal dalam kurun waktu tujuh (7) tahun tidak berubah dan kematian karena cedera tidak mengalami perubahan.7 11. Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001.6 1.5%).4 4. Riskesdas 2007 Kelompok umur n Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas 104 31 23 59 84 97 252 295 327 378 Perkotaan % 6.0 3. sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.3 17. proporsi penyakit menular telah menurun.7 19. Hipertensi (6.10.208 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15.

0 5.6 3.4 7.1 5.5 0. Grafik 3.1 4.7 1.5 1.5 0.7 5.2 .Tabel 3.8 3. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 277 . Riskesdas 2007 Penyebab kematian Strok TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi Proporsi kematian (%) 15.6 0.1 5.7 5. Pola penyebab kematian semua umur.3 0.6 1.208.5 6.8 6.3 0.5 6.1 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit.8 0.

Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur. tercatat 181 kasus kematian.0 0.1 14.2 7.2 2. Proporsi bayi prematur yang meninggal cukup tinggi (32. Kematian Berumur 0-28 hari (Neonatal) Jumlah kematian perinatal di 33 provinsi.6 3. yaitu kematian bayi umur 0-6 hari (disebut juga kematian bayi neonatal dini).2 6.9 1.5 3. maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil.4%) menunjukkan bahwa penanganan bayi prematur belum memuaskan.2 Strok Penyakit Hipertensi Diabetes mellitus Tumor ganas Penyakit jantung Iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 hari Malformasi congenital Malnutrisi % Penyakit tidak menular (n=2. 96. Proporsi lahir mati cukup tinggi yaitu 34.2).8 19. pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.6% (75 kematian) dari seluruh kematian perinatal. Di lain pihak.285) % 26.1 1.2 10.10. selanjutnya urutan ke 2 dan 3 disebabkan oleh prematuritas dan sepsis (Tabel 5. Sisanya.080) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/ ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia 27.4 13.2 9. yaitu kematian bayi 0-28 hari. faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya. Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal.3 10.5%.4 1. komplikasi ketika bersalin 278 . atau karena alasan lainnya. Kematian bayi neonatal lanjut (7-28 hari) tercatat 39 kasus.Tabel 3.3 Kematian Menurut Kelompok Umur a.209.9 12. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir marti secara berturut-turut adalah hipertensi maternal (24%). Bila dibandingkan dengan seluruh kematian neonatal ini. yaitu lahir mati ditambah kematian bayi umur 0-6 hari tercatat sebesar 217 kasus kematian.8% ibu dari bayi perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil.3 9.0 4. sebesar 142 kasus kematian. seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan. kematian bayi neonatal dini (0-6 hari) adalah sebesar 78. jumlah kematian neonatal. Terbanyak karena sepsis (20%) (Tabel 3. Untuk kematian perinatal. Poporsi terbesar disebabkan karena gangguan/kelainan pernafasan (respiratory disorders).210).4 3. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari). Riskesdas 2007 No Penyakit menular (n=1. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir.

6 2.8 12.0 6. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lahir mati (n=75) Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Ketuban pecah dini Perdarahan antepartum Cedera maternal Persalinan sungsang Kehamilan ganda Infeksi intrapartum Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran Lilitan tali pusat % 23.5 3. dan pnemonia.210 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 hari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0-6 hari (n=142) Gangguan/kelainan pernafasan Prematuritas Sepsis Hipotermi Kelainan perdarahan dan kuning Postmatur Malformasi kongenitas % 35.6 1.5%.5 18.0 10.8 2.9 6.3 1. Untuk bayi postneonatal penyebab kematian yang juga perlu diperhatikan 279 .4 12.6 2.6 3.6 3.5 Tabel 3. dan hipertensi maternal (22%) (Table 3.8 16.211).6 17.9 32. Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi postneonatal (29 hari-11 bulan) dan anak balita (14 tahun) untuk tiga penyakit terbesar mempunyai pola yang sama yaitu diare.3 6.8 0-6 hari (n=142) Ketuban pecah dini Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Kelainan nutrisi maternal Multiple pregnancy Perdarahan antepartum Persalinan sungsang Infeksi intrapartum Lilitan tali pusat Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran % 23.6 2.4 12.3 5.9 5.8 1.5 12.7 3.4 Sepsis 7-28 hari (n=39) Malformasi kongenital Pnemonia Sindrom gawat pernafasan (RDS) Prematuritas Kuning Cedera lahir Tetanus Defisiensi nitrisi Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden infant death) % 20.7 12.211 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari. Sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal berumur 0-6 hari adalah ketuban pecah dini (23%).0 21.7 10. Tabel 3.6 2.1 b.6 2.1 15. Kematian Berumur 29 hari-4 tahun Kematian bayi postneonatal dan anak balita didominasi oleh penyakit menular.(partus macet) sebesar 17.4 2.9 5.

1 6.9 c. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit jantung iskemik Tumor ganas Penyakit hati NEC Penyakit jantung lain Penyakit saluran nafas bawah kronik Perkotaan (n=1.3 6.9 2.strok dan TB menempati urutan pertama dan kedua.1 9.8 Pnemonia Necroticans Entero Collitis (NEC) Meningitis/ensefalitis Demam berdarah dengue hidrosefalus 6 7 8 9 10 Sepsis Tetanus Malnutrisi TB Campak 4.6 6.9 2.5 5.515) % 19.adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%).2 15.213 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah. Kematian Berumur 5 Tahun ke atas Proporsi penyebab kematian tiga terbesar pada kelompok umur lima (5) tahun ke atas di perkotaan adalah penyakit tidak menular yaitu: stroke.3 5.212 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.3 6.7 8. Di perdesaan.4 9.7 Strok TB Perdesaan (n=1. Tabel 3.5 7.4 23.4 280 .8 9.2 Campak Tenggelam TB Malaria Leukemia 5. Tabel 3. tenggelam 5%.1 4.2 1. diabetes mellitus.5 10.8 5.0 5.9 3.966) % 16. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 29 hari-11 bulan (n=173) Diare Pnemonia Meningitis/ensefalitis Kelainan saluran pencernaan Kelainan jantung congenital dan % 31. TB 4% (Tabel 3.5 5.213).8 6.7 7.4 4.3 1.212).1 8.6 5.8 Diare 1-4 tahun (n=103) % 25.4 5.9 2. sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%.7 4.8 4.1 2. hypertensive diseases. Proporsi kematian karena TB menempati urutan ke empat di perkotaan.3 Hipertensi Penyakit kronik Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik NEC Penyakit jantung lain Diabetes mellitus saluran nafas bawah 7. yaitu sebesar 16% dan 9% (Tabel 3.

3 2.2 4.0 3.3 4.4 Perdesaan (n=325) Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas TB Malaria Tumor ganas (leher rahim.0 13.1 Di perkotaan.3 4.214). di perdesaan banyak kematian akibat jatuh dan tenggelam.0 13.5 7.4 5.215 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah.4 13. rahim.5 7.9 9. Kematian karena kecelakaan lalu lintas di perdesaan 2 kali lebih besar daripada di perkotaan.0 8.5 3. paru-paru. masingmasing sebesar 8% (Tabel 3.5 8.8 5. payudara.3 Perdesaan (n=53) Diare Pnemonia Malaria Kecelakaan lalu lintas Penyakit hati Jatuh Tenggelam NEC Tifoid Gagal ginjal % 11.4 10. 214 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah. Selain itu. hati.2 4.Proporsi kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan berbeda dengan di perdesaan.7 3.9 9.3 4. Di perkotaan proporsi kematian yang terbesar adalah demam berdarah dengue (30%).7 8.3 9. leher rahim. penyakit hati dan TB.2 3.3 11. Tabel 3. proporsi penyakit tidak menular seperti strok.3 6 7 8 9 10 Diabetes mellitus Strok Ulkus lambung dan usus 12 jari Hipertensi Penyakit jantung lain 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 Perkotaan (n=240) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Kematian karena penyebab obstetrik Tumor ganas (payudara.9 Penyakit jantung iskemik Ulkus lambung dan usus 12 jari Strok Tifoid Penyakit kronik saluran nafas bawah 4.4 3. hati) % 9. Tabel 3.8 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=23) Demam berdarah dengue Tifoid Meningitis Pnemonia Jatuh Tumor ganas Kecelakaan lalu lintas Campak Infeksi lain dan penyakit parasit % 30.4 9.5 7. Di perdesaan proporsi penyakit infeksi sebagai penyebab kematian sama 281 . penyakit jantung iskemik sudah cukup tinggi sebagai penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan. sedangkan di perdesaan adalah diare dan pnemonia (masing-masing 11%).0 6. Pada kelompok umur tersebut.6 4. rahim) % 13.2 4.8 Proporsi penyakit penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut tipe daerah menunjukkan bahwa perkotaan dan perdesaan mempunyai pola yang sama yaitu tempat teratas diduduki oleh kecelakaan lalu lintas. proporsi kematian karena penyebab obstetrik lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.4 7.

218). pada laki-laki proposinya sama dengan perempuan.0 5.1 9. sedangkan pada laki-laki terbesar adalah strok (16%).5 4.219). Proporsi yang terbesar pada laki-laki adalah kecelakaan lalu lintas.0 2.0 4. hipertensi.6 7.7 7. diabetes mellitus. 8% pada perempuan). (Tabel 3.220). Proporsi tumor ganas pada perempuan secara mencolok lebih besar dari laki-laki (Tabel 3. Tabel 3.2 4. Pada perempuan penyakit tidak menular yang terbanyak menimbulkan kematian adalah diabetes mellitus (16 persen). Proporsi penyakit TB pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki lebih besar (11%) dari pada pada perempuan (9%). 282 . penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian.dengan di perkotaan (19%).3 4. proporsi penyebab kematian karena penyakit infeksi pada kelompok umur 45-54 tahun lebih tinggi di perdesaan (25%) dibandingkan di perkotaan (14%).6 Perempuan (n=261) Penyakit hati TB Penyebab obstetrik lain Tumor ganas leher rahim dan payudara Ulkus lambung dan usus 12 jari Kecelakaan lalu lintas Malaria Diabetes mellitus Hipertensi Tifoid % 9. Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok. Proporsi TB sebagai penyebab kematian hamper sama di perkotaan maupun di perdesaan (Tabel 3.216 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin. proporsi TB lebih besar di perdesaan.6 2.9 4. Di perkotaan kecelakaan lalau lintas termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian (Table 3.0 5. Pada perempuan.216). Penyakit menular yang masih banyak menyebabkan kematian adalah TB.2 3.7 11. Untuk penyakit menular.3 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Laki-Laki (n=298) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Malaria Strok Penyakit jantung iskemik Tifoid Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Jatuh % 16. keduanya didominasi oleh penyakit tidak menular.7 7.5 Menurut tipe daerah. proporsi kematian karena other direct obstetric deaths di urutan ke tiga sebesar 8% (Tabel 3.(Tabel 3.7 5. sedangkan proporsi penyakit tidak menular lebih besar di perkotaan (62%) dibandingkan di perdesaan (48%).215) Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun pada laki-laki maupun perempuan karena tuberculosis masih tinggi (11% pada laki-laki. Pada kelompok umur 55-64 tahun.6 4. Pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki maupun perempuan proporsi penyakit tidak menular lebih tinggi secara mencolok dibandingkan penyakit menular.217). pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda.

2 5.1 6.1 payudara.0 9. hati.5 9.3 3.3 11.9 14.0 Perempuan (n=213) Diabetes mellitus Strok Penyakit jantung iskemik Hipertensi TB Tumor ganas (paru-paru.1 8.0 8.2 payudara.6 8.0 6. 4.0 9.3 5.8 TB Strok Perdesaan (n=259) % 12. hati.9 7.3 283 . % 16. leher rahim.7 8. rahim. rahim) 10 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3.7 7.2 4.5 5. rahim) 7 8 Kecelakaan lalu lintas Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 9 10 Tifoid Ulkus lambung 3.2 8.Tabel 3.217 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah.0 2.6 7. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Hipertensi Diabetes mellitus Laki-Laki (n=298) % 15.7 11.7 8.8 4.3 11.8 rahim.1 7.7 Penyakit jantung lain Penyakit hati 6.4 4.7 Pnemonia Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Strok Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik TB Hipertensi Penyakit jantung lain diseases Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas Tumor ganas (payudara.8 3. prostat) Ulkus lambung Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3. leher Perkotaan (n=252) % 15.8 8.2 4.8 Hipertensi Penyakit jantung iskemik Penyakit hati Diabetes mellitus Tumor ganas (paru-paru.218 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin.2 Tifoid 3.

4 10.6 5. payudara.6 2.6 8 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 4. rahim.6 8. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan yang menyebabkan kematian adalah penyakit sistem pernafasan seperti TB.1 7. paru-paru.2 8.4 2.5%) dari pada di perdesaan (57%).8 Perempuan (n=251) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit hati Tumor ganas (hati.9 saluran pernafasan bawah 5.4 6.1 7.7 Penyakit jantung lain 3.3 3.0 5.8 Perkotaan (n=295) % 26.1 6.5 8. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 Laki-Laki (n=381) Strok Diabetes mellitus TB Hipertensi Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain % 22.8 Proporsi kematian pada umur 65 tahun ke atas karena penyakit tidak menular sedikit lebih tinggi di perkotaan (59. prostate) Penyakit lain 2.220 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Jenis Kelamin. 284 .4 6. leher rahim.6 9.Tabel 3.2 6. otak) 3. paru-paru.4 Penyakit jantung lain Penyakit kronik 9 10 Tumor ganas (hati. prostat) NEC 3.7 3. payudara.219 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Tipe Daerah. paru-paru.7 3. payudara.1 Strok Perdesaan (n=337) % 17.5 9.7 Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit lain Penyakit jantung iskemik Tabel 3.1 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 Penyakit jantung lain NEC 4.0 5.2 Tumor ganas (hati. leher rahim.8 5.4 11. paru-paru.5 10.6 9 10 NEC Tumor ganas (hati.7 12. prostat. rahim.3 NEC Penyakit jantung iskemik 3.0 11. rahim) Penyakit kronik saluran pernafasan bawah % 20. leher rahim.1 5.8 8.

penyakit hati.4 4.0 2.0 Perkotaan (n=705) % 23.5 Strok Perempuan (n=770) Hipertensi % 24.4 3.6 6.3 6.2 9.7 NEC Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 5 6 7 8 9 10 NEC Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Penyakit hati Pnemonia 7.5 Strok Perdesaan (n=993) % 21.1 7.9 5.5 8.221 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas menurut Tipe Daerah.5 9. Riskesdas 2007 No 1 2 Strok Penyakit kronik 3 4 TB Hipertensi 8.221).0 3.6 saluran pernafasan bawah Laki-Laki (n=928) % 20.2 285 .9 5.222). dan pnemonia. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok NEC Hipertensi Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 9 10 TB Penyakit jantung lain Penyakit hati Pnemonia 6.0 6.8 Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain TB Pnemonia Penyakit hati 6.3 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Hipertensi TB NEC Penyakit jantung lain Proporsi penyebab kematian pada umur 65 tahun ke atas pada laki-laki maupun perempuan sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan tidak jauh berbeda dengan di perdesaan (Tabel 3.5 4.8 10.6 3.3 Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Pnemonia Penyakit hati 5.0 3.8 7. Tabel 3.9 4.0 5.5 3.0 6.2 9. Pola penyakit sama dibandingkan kelompok umur yang lebih muda. Tabel 3.0 7.9 7.9 4.2 9.6 6. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Tabel 3.222 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin.3 5.9 10.4 11.

Bedirhan Ustun. Atmarita. 2001.I. The WHO STEPwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Factors. B.1999). The International Classification Of Functioning. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2000. Operational Study an Integrated Community-Based Intervention Program on Common Risk Factors of Major Non-communicable Diseases in Depok Indonesia.com/penyakit/hiperten. 2001 15. Herman Sudiman. AMA (American Medical Association). Disability And Health – A Common Framework For Describing Health States. The WHO Stepwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Faktors.I. Sandjaja. Abas B. Fasli Jalal. 2000 14. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Hipertensi. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan.htm. Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: The WHO STEP wise approach. Departemen Kesehatan.. 6. de Courten M. M. 13. 286 . 12. B & Setianto. Tahun 2002. 4.2 Maret 2000. 8. 7. Bonita. Laporan SKRT 2001: Studi Kesehatan Ibu dan Anak. Depression Linked With Increased Risk of Heart Failure Among Elderly With Hypertension.344-348. Jahari. 2006. Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. Age. T. ------------------9/20/2002 Hipertensi. Geneva: World Health Organization. 2005 2. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas. Daily Working Load. http://www.com/datatopik /hipertensi. Studi Morbiditas dan Disabilitas. Summary. Badan Pusat Statistik. 9. Past Antihypertensive drugs and Risk of Hypertension : A Rural Indonesia Study. Status gizi balita di Indonesia sebelum dan selama krisis (Analisis data antropometri Susenas 1989 . Idrus Jus'at. Bonita R.. K.. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. R. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Dwyer T et al.htm. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Body Posture. Geneva: World Health Organization 16.Geneva World Health Organization.I.. 5.I. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 3. Departemen Kesehatan R. http://www.I. Departemen Kesehatan R. R. Dini Latief. Balitbangkes. Bonita R et al. Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003.DAFTAR PUSTAKA 1. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII.com/MedLB/article_ID=ZZZUKQQ9EPC&sub_cat=73 8/24/2002. 11. p. Jakarta 29 Februari .medem. Dwyer. Departemen Kesehatan R. Laporan SKRT 2001: Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil. Soekirman. Departemen Kesehatan R. Laporan SKRT 2001: Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular. 2001. -----------------Faktor Resiko Terjadinya pria. ORC Macro 2002-2003. Jamrozik. Tahun 2002 10. Winkelmann. 2002. Tahun 2002. Basuki.medicastore. Surveillance Noncommunicable Diseases and Mental Health. Depkes RI. Departemen Kesehatan R.klinik http://www. de Courten.

21. Departemen Kesehatan R. Khan. May 2002 19. Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Depkes RI 23.. Departemen Kesehatan R. Departemen Kesehatan R. 2003. Survey Kesehatan Nasional. Direktorat Epim-Kesma. 2002. 2002. Shibata T. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat.I. Prevalence of Blindness and Visual Impairment in Pakistan: The Pakistan National Blindness and Visual Impairment Survey.. 1995 34. Number 246. Investigative Ophthalmology and Visual Science. 2003. 22. Bulletin WHO 2001. 2000.I. State-Specific Mortality from Stroke and Distribution of Place of Death United States. Bagian I. Tomorrow’s pandemic. Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu. CDC Growth Charts for the United State : Methods and Development. 35.J. Glucose Intolerance is Common in Japanese Patients With Acute CoronarySyndrome Who Were Not Previously Diagnosed With Diabetes. Mohammad A. Tahun 2002 26. Departemen Kesehatan R. 287 . et al. Departemen Kesehatan. Series 11. Laporan. Ikewaki K. Pemantauan Pertumbuhan Balita. S dkk. Departemen Kesehatan. Psychiatric morbidity among patients attending the Bangetayu community health centre in Indonesia. 31.World Health Organization. 1991 – 1999. Pusat Promosi Kesehatan. 30. B. Bourne R. Prevalensi Hipertensi pada Karyawan Salah Satu BUMN yang menjalani pemeriksaan kesehatan. 51 (21) : 456. Jakarta. Brotoprawiro.I.. Darmojo.. 2006.Depkes RI Jakarta 2004. CDC. MMWR. Depkes RI 24. 2002. Mengamati Penelitian Epidemiologi Hipertensi di Indonesia. Mochizuki S. Geneva. Imamoto S.I. Disability And Health (ICF). Nagasawa H. 1999. 1997 28. Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI.47:4749-55. 20. MMWR.R. Mohammad Z.I. et al. Non Communicable Disease.17. Survey Kesehatan Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan. Hashimoto K. Laporan. Program Imunisasi di Indonesia. Jadoon. 2001.P.Depkes RI Jakarta. Depkes. CDC. Diabetes Care 28: 1182 -1186. International Classification Of Functioning.A. 2005. Departemen Kesehatan. : 429 . Kelompok Kerja Serebro Vaskular FK UNPAD/RSHS “ . SKRT 1995 32. Hartono IG. 33. 51 (20). 18. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. State – Specific Trend in Self Report 3d Blood Pressure Screening and High Blood Pressure – United States. George Alberty. 25. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. S. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. 79/10: 907. Djaja. 29. SKRT 1995. Vital and Health Statistics. Statistik Penyakit Penyebab Kematian.. Department of Health and Human Services. Disampaikan pada seminar hypertensi PERKI . Tahun 2002 27.. Johnson G. 2001 36. 2003. Dineen B. Departemen Kesehatan R. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Shah S. Yagi H. 1999.

Geneva: WHO. Analisis Data . Kristanti CM.D. pp 9. AS. World Health Organization.co. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Resolution WHA57.Global Strategy on diet. 45.WHO Framework Convention on Tobacco Control. Geneva: WHO. 17-12 May 2004. 1999 58. and health. Report of WHO.. M.Kapita Selekta Kedokteran 1999 :518 – 521.phtml.. June 2002 51. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009. Pradono J dan Soemantri S. Resolution WHA56.surya. M. 2004 56. pp 9. Perkeni. 2004 50. 39.Geneva. http://www. Departemen Kesehatan RI. Petunjuk Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal. Dwi Hapsari. Sarimawar Djaja.D.id /31072002 /10a.. Clinical Hipertension. 1998 : 41-132 40. Rose Men’s. dan Soemantri S. 44. Diet Obesitas dan hipertensi.17. dkk. Trend Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. 42. 2002 38. 7th Ed. 1998. 53. 1995. 1997. Muchtar & Fenida. World Health Organization.43. Jakarta: Perkeni. Pedoman Pewawancara Petugas Pengumpul Data. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. Jakarta: Badan Litbangkes. Steven A Haist. 2004 43. News Health Recource. Vol 356: 213 – 215. 48. Perkeni. 2003 55.43. 2006. Ph. Survei Kesehatan Rumah Tangga 41. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Depkes RI. Jan 18. International edition. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. Bisher Kawar.D. Primary Hypertention Phatogenesis In : Clinical Hypertention. Baltimore : Williams and Wilkins Inc. Kristanti CM. In:Fiftyseventh World Health Assembly. Parvez Hossain.1. 2001 288 . Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2006. The New England Journal of Medicine. Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang yang berobat di poli Ginjal Hipertensi. Kaplan NM. Policy Paper for Directorate General of Public Health. Suhardi. 2006. S. 2006. 8th Ed. A. How To Keep Your Blood Pressure Under Control. Leonard G Gomella. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007.Soemantri. Janet. 54. 49. Jakarta: Perkeni.37. Lippincott :Williams & Wilkins 2002.. Mansjoer. Report of WHO. Clinicians Pocket Reference. 2007 57. 2002. and Meguid El Nahas. NY. In: Fiftysixth World Health Assembly. 2007 47. Grawhill Medical Publishing division. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga.physical activity. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. 19-28 May 2003. Mc. Obesity and Diabetes in the Developing World — A Growing Challenge 46. M. Kaplan NM. 2005 52.Geneva. Hipertensi di Indonesia . Survei Kesehatan Rumah Tangga 1992.D.

73. 61. Soemantri.8. Univ. 64.87:1075-8. Prosiding temu Ilmiah dan Kongres XIII Persagi. 1984 : 44. Sandjaja. New York Heidelberg Berlin. Pathogenesis. Saw S-M. Laasar. 2001. Depkes R. Arterial Hypertension. Husain R. Titiek Setyowati. British Journal of Ophthalmology 2003. Canberra: AIHW. Perjalanan Transisi Epidemiologi di Indonesia dan Implikasi Penanganannya. Pedoman Klinik Diagnosis & Terapy. Medical hazard of obesity.Jakarta. Badan Penelitian dan 289 .. Non-communicable Disease Surveillance and Prevention in South-East Asia Region. & Bakris GL. The WHO STEPwise approach to Surveillance of Noncommunicable Diseases 2003.M. 1999 65. 72. 77.H. The Journal of the Indonesian Medical Association. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI. Ann Intern Med.ISN = 724 62. ISSN: 0125 – 9695 . Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001. P. Cape town. 1999 : 13 68.59. Sarimawar Djaja. Koh D. dkk. Sarimawar Djaja dan S. Gazzard G. Causes of low vision and blindness in rural Indonesia. Jawa Barat.. Cakupan viramin A untuk bayi dan balita di Indonesia. 76. dalam Naskah Lengkap KOPAPDI VI. 2002. Hipertensi. Laju Konversi Toleransi Glukosa Terganggu menjadi Diabetes di Singaparna.3. Pola Sikap Penderita Hipertensi Terhadap Pengobatan Jangka Panjang. Department of Haematology. Jakarta. S. Sri Hartini KS Kariadi. 1993 : 119. No. Bulletin of Health Studies.. The Australian Institute of Health and Welfare 2003. Sudikno. No 8. Syah. 7-8 Desember 2005. Gambaran Rumah Sehat di Berbagai Provinsi Indonesia Berdasarkan Data SUSENAS 2001. Suradi & Sya’bani. ISSN 0377-1121 63. Joko Irianto. STEPS Instrument for NCD Risk Factors (Core and expanded Version 1. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. No. Volume 31. Makalah disajikan pada Simposium Nasional Litbang Kesehatan. B. et al. Volume 53.1997. Sandjaja. Denpasar. Lisa Mulyono. Penerbit UI-PRESS : 1439.W. Depkes RI. 69. Berkala Ilmu Kedokteran Vol. Widjaja D. Sarjito Yogyakarta. Sonny P. 60. Disampaikan pada Konggres Nasional ke 5. U. 66. Tim survei Depkes RI. M. 74.. SKRT 2001.T. Sudikno. Analisis lanjut Data Susenas – Surkesnas 2001.3. Indicators of Health Risk Factors: The AIHW view. Dalam: Julian Rosenthal. Cape town. Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Tan D. BJ. Haematology: An Aproach to Diagnosis and Management. Titiek Setyowati..2. The Risk of Hypertension : Genesis and Detection. Hipertensi Borderline “White Coat” dan sustained “ : Suatu Studi Komperatif terhadap Normotensi para karyawan usia 18 – 42 tahun di RSUP Dr. 1984. AIHW Cat. Diagnosis. 20-22 November 2005. PHE 47. Sunyer FX.) 75. 29 (4). 1997.. 71. Cakupan penimbangan balita di Indonesia. and Therapy. Sobel. SpringerVerlag. Nomor 3 – 2003. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996.I. ISSN: 0854-7971. 15 Th. Sinaga. SK Menkes RI Nomor : 736a/Menkes/XI/1989 tentang Definisi Anemia dan batasan Normal Anemia 67. Bandung 9 – 13 April 2000 (SX111-1) 70. Agustina Lubis.

WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. WHO-ISH. 1995. 86. 2005.15. 1999. The Surf Report 1. Geneva. Geneva. April 2004 80. Surveillance of Major Non-communicable Diseases in South – East Asia Region. World Health Organization. The World Health Survey Programme. Report of an Inter-country Consultation. volume 1. Depkes RI. WHO-ISH. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. Based on The Recommendation of The Ninth Revision Conference 1975 and Adopted by The Twenty Ninth WHA. 290 . Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Oral Health Care. Injuries and Causes of Death.Geneva. World Health Organization: International Classification of Diseases. World Health Organization. Jakarta: Badan Litbangkes. 1999. p. WHO. 85. WHO.Pengembangan Kesehatan. 1997. 81. Surveillance of Risk Factors related to noncommunicable diseases: Current of global data. 79. (Surkesnas) 2001. 2001. Switzerland.1994. 2003 84. Geneva: WHO. Needs of the Community. 2003. 1999 83. 2003. WHO. Auser’s guide to the self reporting questionnaire. 82. A Public Health Report. Assessing the iron status of populations: Report of a joint World Health Organization/Centers for Disease Control and Prevention technical consultation on the assessment of iron status at the population level . Survei Kesehatan Nasional 78. WHO/SEARO.

LAMPIRAN 291 .

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1992 Nomor 100. c. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1179A/Menkes/SK/X/ 1999 tentang Kebijakan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 5. tambahan lembaran negara Republik Indonesia Nomor 3609). 2. bahwa Riset Kesehatan Dasar dapat dimanfaatkan untuk penyediaan informasi berbasis survei Pembangunan Kesehatan menuju pencapaian strategi utama Departemen Kesehatan. b. Undang-undang Nomor 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2002 Nomor 84. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). bahwa untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan yang optimal dan mempunyai lingkup nasional yang terintegrasi perlu dilakukan Riset Kesehatan Dasar yang merupakan pengembangan Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas). 4.Lampiran 1 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 877/MENKES/SK/XI/2006 TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 Menimbang : a. Mengingat : 1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 791/Menkes/SK/VII/ 1999 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. . Tahun 1995 tentang 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495). bahwa dalam pelaksanaan Riset Kesehatan Dasar diperlukan Tim Riset Kesehatan Dasar Tahun 2006 – 2008 yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1995 Nomor 67.

Tim Teknis. Melaksanakan sosialisasi. Melakukan desiminasi dan publikasi Riskesdas. managemen data. Tim Pengarah sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. b. 7. MEMUTUSKAN : Menetapkan Kesatu Kedua : : : tentang KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006 – 2008 Tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2006-2008 terdiri dari Tim Penasehat. Memberi rekomendasi untuk meningkatkan keberhasilan dan manfaat pelaksanaan Riskesdas. Merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan Riskesdas. Menyusun pedoman kerja dan pengolahan data. Melaksanakan pelatihan. Tim Teknis sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. 2. Memberi masukan tentang aspek ilmiah dari proposal dan protokol dan pelaksanaan pengumpulan data. Merumuskan dan menetapkan metodologi. 5. Tim Pakar sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Menyusun rencana kerja. Mengidentifikasi dan membahas masalah pelaksanaan yang terkait dengan aspek ilmiah dari Riskesdas. 3. Memberi rekomendasi agar kaidah ilmiah dari Riskesdas tetap ditegakkan. 2. 6. 3. analisis data serta publikasi hasil Riskesdas. 4. a. Permenkes Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. 5. Tim Pengarah. c. dan Tim Manajemen dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. Tim Pakar.6. 4. Membahas berbagai masalah yang terkait dengan pelaksanaan Riskesdas. 2. Melaporkan hasil Riskesdas tahun 2006-2008 kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Litbangkes. 3. Melakukan pengawasan pelaksanaan Riskesdas. Melaksanakan pengumpulan data dan pengolahan data. Ketiga : .

JP (K) . Menyiapkan prasarana Riskesdas. 5. Atas nama Menteri Kesehatan Kepala Badan Litbang Kesehatan dapat membentuk Kelompok Kerja dan Tim Riset Kesehatan Dasar pada tingkat Propinsi dan Kab/kota. 3. Keempat : Dalam melaksanakan tugas tim bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. d.Siti Fadilah Supari. 4. Sp.8. Membuat laporan kegiatan kepada kepada Ketua Tim Pengarah melalui koordinasi dengan Tim Teknis. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Melakukan administrasi ketenagaan Riskesdas. Melaporkan kegiatan dan hasil kepada Ketua Tim Pengarah. 2. Dengan berlakunya Keputusan ini maka Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 358/Menkes/SK/V/2006 tentang Tim Surkesnas tahun 2004 – 2006 dinyatakan tidak berlaku lagi. Departemen Kesehatan dan sumbersumber lain yang tidak mengikat. Biaya kegiatan Riskesdas dibebankan kepada anggaran DIPA Badan Litbangkes. Mendukung administrasi Riskesdas.dr. Menyusun laporan kegiatan. Tim Manajemen sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Melakukan administrasi keuangan. 9. Ditetapkan di Jakarta Pada Tanggal 3 Nopember 2006 MENTERI KESEHATAN RI Kelima : Keenam : Ketujuh : Kedelapan : Dr.

Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan 8.Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 877/MENKES/SK/XI/2006 Tanggal : 3 Nopember 2006 TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 I. Dirjen Bina Pelayanan Medik 5. Departemen Dalam Negeri Ketua Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan Direktur Statistik Ketahanan Sosial. Ph. Kepala Badan Pusat Statistik : : : : : : : Dr Triono Soendoro. Badan PPSDM Kesehatan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Sekretaris Jenderal Depkes 3.D (Kepala Badan Litbangkes) Deputi Statistik Sosial. Tim Penasehat : 1. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat 6. Badan Pusat Statistik Direktur Statistik Kependudukan. Tim Pengarah Ketua Ketua I Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Anggota . Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 7. Badan PPSDM Kesehatan II. Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan 9. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 10. Menteri Kesehatan RI 2. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan Direktur Metodologi Statistik Badan Pusat Statistik SAM Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi SAM Bidang Pembiayaan dan Ekonomi Kesehatan SAM Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi SAM Bidang Mediko Legal Kepala Badan Litbang Depdagri. Inspektur Jenderal Depkes 4.

MPH : Direktur Statistik Kesra. dr. Tim Teknis Ketua Ketua I Ketua II Ketua III Sekretaris I Sekretaris II Sekretaris III : DR. M. MPH (Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator . Susanna Imanuel. PhD. KFER Dr. David Handoyo.D IV. Tim Pakar : - Prof.D.D. Sunarno Ranu Widjojo. Sp... Soeharsono Soemantri.. SKM. MPH. Ph. Yulianto Witjaksono.. Riau .D. Bangka Belitung : Dr. MGO. Dr.PD. Dr.PH : Dr Julianty Pradono MS : Dr. Faizati Karim. Soedarti Soerbakti Dr Pratiwi Sudarmono. Soewarta Kosen. Irawan Yusuf.D. Badan Pusat Statistik : Dr..D. Sumbar.Ph. Ph. Dr. Dr. Sp. M. Herawati Sudoyo..Sp. SKM. Kepulauan Riau . Ph.. Sangkot Marzuki. Jambi. Widjaja Lukita.D. Dr. Sumut. Sofia Mubarika Prof Bambang Sutisna Prof Razak Thaha dr.PK Dr.Kes : Supraptini. Ph. Dr Purnawan Junadi Ph. SKM. OG.III.Kes Tim Kerja Wilayah I Area Wilayah Propinsi : NAD. DR. Prof. MSc. Sumsel.MM : Indah Yuning Prapti. Trihono. Ph.

Erna Tresnaningsih. Sultra. MOH. Sunarno Ranu Widjojo. NTT.. Papua Barat. Sulteng. Lampung. Bengkulu. MM (Kepala Pusat Litbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah IV Area Wilayah Propinsi : Jabar. Ph.Tim Kerja Wilayah II Area Wilayah Propinsi : DKI Jakarta. Sulbar. NTB. Kalsel. Jateng. DI Jogjakarta.. Kalbar. Maluku Utara. Papua : Dr. Maluku. Banten. Koordinator : Dr. Sulsel. Gorontalo Koordinator Wakil Koordinator Penanggung Jawab Spesimen Anggota : DR. SKM. Jatim. Sulut. Kalteng.D (Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Farmasi) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah III Area Wilayah Propinsi : Bali. MPH (Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan) : Peneliti Badan Litbangkes : Peneliti Badan Litbangkes : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator . Suwandi Makmur. Kaltim.

Sc. SKM. M.. Apt Drs. M. Ondri Dwi Sampoerno. Tim Manajemen Ketua : ketua I : ketua II : Sekretaris I : Sekretaris II : Drg. Titte Kabul Adimidjaja.PH Indah Yuning Prapti.dr. Msi. MM Budi Santoso.JP (K) . Sp.V.Kes Drs.Siti Fadilah Supari. SH MENTERI KESEHATAN RI Dr. Muhamad Socheh.

. Telp.. . Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun. 2...id atau 1. riwayat kematian dalam rumah tangga......depkes...(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan.. konsumsi makanan.000 rumah tangga yang tersebar di 18. berat badan..... sikap dan perilaku terhadap kesehatan. Telp/sms (021) 98264854. cedera. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat. email riskesdas@litbang.. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium.. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan – Departemen Kesehatan R. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden . pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga..I mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama ... pengetahuan.I Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. . imunisasi. Akan dilakukan wawancara.. pelayanan kesehatan.... Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. MPH (HP 0811848473) atau Keterangan: * Naskah Penjelasan hanya diberikan 1(satu)/ rumah tangga. Jakarta 10560. ketidak mampuan... penyakit menular dan tidak menular. 20... kesehatan gigi.Lampiran 2 Untuk Responden Kesmas Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R.I.per keluarga..... (021) 4261088 ext 146...I. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam.. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. sanitasi lingkungan..... Bila Bapak/Ibu/Sdr/Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini.000 blok sensus.go.000. DR. kadar iodium dalam garam.. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan – Departemen Kesehatan R. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan. fax (021) 4209866. Jalan Percetakan Negara 29.. riwayat penyakit turunan..... Departemen Kesehatan R. kecacatan dan kesehatan mental. Wawancara meliputi keterangan diri.. kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp. Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih. Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan...... lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun. Rumah tangga Bapak/Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya. Sunarno Ranu Widjojo.. tekanan darah. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara. .

I.. bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga...........Responden (1 lbr) .PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)* (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan R........ untuk: .... kirim ke korwil bersama kuesioner ** Diluar tim pewawancara. Nama Responden Urut ART Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali Nama Saksi** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan: *PSP dibuat 2 rangkap........Tim pewawancara (1 lbr).... Pernyataan bersedia diwawancara...... diukur dan diperiksa Nomor Kode Sampel ... Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktuwaktu tanpa sanksi apapun........ tetangga atau KetuaRT . No...

Anggota keluarga yang terpilih diambil darahnya. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun. dan disediakan makanan setelah pengambilan darah.. tekanan darah.. Rumah tangga Bapak/ Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya......... kesehatan gigi.... imunisasi.000 blok sensus. anak dan balita tidak perlu puasa. penyakit menular dan tidak menular.Untuk Responden Biomedis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R... Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat dan data biomedis.000 rumah tangga yang tersebar di 18.. kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp.. ... Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. akan mendapatkan uang pengganti transport Rp. tidak melakukan aktivitas berat. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam.. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan. pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga.. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama .. sikap dan perilaku terhadap kesehatan.. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium. tidak menular.. perlu persiapan puasa 10 – 14 jam sebelum pengambilan darah. riwayat kematian dalam rumah tangga.. Yang diambil darahnya adalah semua anggota rumah tangga usia 1 tahun keatas.. Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih.. Bapak/ Ibu/ Saudara akan diberi minuman 1 gelas yang mengandung gula sebelum diambil darahnya.. tidak sarapan. Untuk wanita hamil. Untuk orang dewasa (umur > 15 tahun) yang akan diambil darahnya. Departemen Kesehatan RI mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280.(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan. termasuk tidak merokok. Darah vena yang akan diambil sebanyak 1 sendok makan (15 ml) pada dewasa..... Selain itu juga dilakukan pengambilan darah di laboratorium yang ditunjuk guna mengetahui penyakit yang mungkin terjadi berkaitan dengan penyakit menular.. masing-masing 1 sendok teh (5 ml) pada wanita hamil. 35... berat badan....I.. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata.per orang.. kecacatan dan kesehatan mental. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara. Akan dilakukan wawancara. pelayanan kesehatan.. kelainan gizi dan kelainan bawaan. 20. riwayat penyakit turunan.. Pengambilan darah dilakukan oleh petugas pengambil darah yang terlatih.. Pengambilan darah diawasi oleh tim medis yang berpengalaman disertai peralatan yang memadai..000.000.per keluarga.. anak dan balita. pengetahuan.. ketidak mampuan.. namun tidak ada risiko yang membahayakan. konsumsi makanan. sanitasi lingkungan..... . Dalam pengambilan darah akan ada sedikit rasa nyeri seperti digigit semut.. kadar iodium dalam garam.. Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan... Wawancara meliputi keterangan diri. cedera... minum air putih tawar diperbolehkan. lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun....

I. Sunarno Ranu Widjojo. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden . Telp.Anda akan mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah. Telp/sms (021) 98264854. DrPH (HP 0816855887) Keterangan: *Naskah Penjelasan hanya diberikan 1 (satu)/ rumah tangga. MPH (HP 0811848473) 3. bila perlu dirujuk ke Rumah Sakit dan biaya akan ditanggung oleh Badan Litbang Kesehatan. Endang R. Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. email riskesdas@litbang.depkes. Bila Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan–Departemen Kesehatan R. Dr. MPH.go. darah rutin atau kadar Hb bila peralatan otomatis tidak ada. Sedyaningsih. Jakarta 10560. (021) 4261088 ext 146. Jalan Percetakan Negara 29. fax (021) 4209866.id atau 1. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan–DepKes. dr. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat 2. Jika terjadi sesuatu yang memerlukan pertolongan dokter pada saat pengambilan darah maka Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan segera diberi pertolongan.

Pertinggal di Laboratorium Kesehatan Daerah/ RS/Swasta (1 lbr. tetangga atau KetuaRT . diperiksa dan diambil darah Nama Responden Nomor Stiker Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali** Nama Saksi*** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan * PSP dibuat 3 rangkap untuk: . dititip pada petugas lapangan/ puskesmas untuk diserahkan kepada petugas lab) . bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga. Pernyataan bersedia diwawancara.PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) * (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan RI. kirim ke Korwil bersama kuesioner ** bila responden berusia < 15 tahun atau responden sulit berkomunikasi *** Diluar tim pewawancara.Responden (1 lbr) . Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan saya dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun. diukur.Tim Pewawancara (1 lbr).

Ya 2. Nomor sub blok sensus 1. Perkotaan 2. REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN RISET KESEHATAN DASAR 2007 PERTANYAAN RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU RAHASIA RKD07.Lampiran 3 . KETERANGAN PENGUMPUL DATA 1 2 3 Nama Pengumpul Data: Tgl. Tidak ada iodium (Tidak berwarna) SAMPEL GARAM DIAMBIL HANYA UNTUK 30 KAB/ KOTA TERPILIH (LIHAT DAFTAR KAB/ KOTA DI PEDOMAN PENGISIAN) 8 STIKER NOMOR GARAM (RUMAH TANGGA) TEMPEL STIKER DI SINI III. Pengecekan: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Ketua Tim: - - 5 6 - - *) coret yang tidak perlu . KETERANGAN RUMAH TANGGA 1 2 3 4 5 6 7 Nama kepala rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga yang diwawancarai: Jumlah balita (umur di bawah 5 tahun): Jumlah kematian ART dlm periode 12 bulan sebelum survei dan dilakukan verbal otopsi: Apakah Rumah tangga menyimpan garam? Lakukan tes cepat Iodium dan catat kandungan Iodiumnya 1. Tidak Blok III 1. Perdesaan 7 8 9 Nomor Kode Sampel Nomor urut sampel rumah tangga Alamat rumah II. Pengumpulan data: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Pengumpul Data 4 Nama Ketua Tim: Tgl. Nomor blok sensus b. Cukup (biru/ungu tua) 2. RT I. Tdk cukup (biru/ ungu muda) 3. PENGENALAN TEMPAT 1 2 3 4 5 6 Provinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*) Klasifikasi Desa/Kelurahan a.

Perem. Ya 2. (2) (3) 1 (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) GUNAKAN LEMBAR TAMBAHAN APABILA JUMLAH ART > 15 ORANG Kode kolom 3 Hubungan dengan kepala rumah tangga 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/ mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya Kode kolom 6 Status Kawin 1 = Belum kawin 2 = Kawin 3 = Cerai hidup 4 = Cerai mati Kode kolom 7 Pendidikan Tertinggi 1 = Tidak pernah sekolah 2 = Tidak tamat SD 3 = Tamat SD 4 = Tamat SLTP 5 = Tamat SLTA 6 = Tamat Perguruan Tinggi Kode kolom 8 Pekerjaan Utama 01 = Tidak kerja 02 = Sekolah 03 = Ibu umah tangga 04 = TNI/Polri 05 = PNS 06 = Pegawai BUMN 07 = Pegawai swasta 08 = Wiraswasta/ Pedagang 09 = Pelayanan Jasa 10 = Petani 11 = Nelayan 12 = Buruh 13 = Lainnya Kode kolom 12 Verifikasi 1= Tidak ada perubahan 2= Ada perubahan 3 = Meninggal 4 = Pindah 5 = Lahir 6 = Anggota baru 7 = Tdk pernah ada dlm RT sampel . 3. 10.≥ 97 thn puan isikan “97” 1. 7. 9. Tidak kol. Laki2 Jika umur 2. Tidak Tahu (1) 1.IV. 12. 5. Tidak 8. 2. urut ART Nama Anggota Rumah Tangga (ART) [KODE] Jika umur < 1thn isikan “00” 1. 8. Ya 2. 14. 6. 11. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA Hubungan dengan kepala rumah tangga Jenis Kelamin Umur (tahun) Status Kawin Khusus ART ≥ 10 tahun Pendidikan Tertinggi Pekerjaan utama Khusus ART perempuan 10-54 tahun Apakah sedang Hamil? [KODE] [KODE] [KODE] 1.12 1. 4. Tidak ART semalam tidur di dalam kelambu? Jika ya. 15. apakah kelambu berinsektisida? Verifikasi No. Tdk Tahu kol.12 8. 13. Ya 2.

...AV3 .. Diare b.V. Stroke k... JIKA TIDAK ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 LANGSUNG KE BLOK VI No.. Keguguran 3...... Thn Tahun Hari Bulan …… …….......... Typhus i. Kehamilan 2.....< 5 thn: RKD07. Thn Tahun Hari Bulan …… ……. Kecelakaan/ cedera n............ Lainnya... Bln 3. Lk 2. .....AV2 5 thn ke atas : RKD07.. maka lanjutkan dengan menggunakan kuesioner RKD07.... Jika terdapat kematian dalam periode 12 bulan sebelum survei sampai dengan survei berlangsung. Urut Nama yang Meninggal Hubungan dengan Kepala Rumah Tangga [KODE] Bulan dan Tahun Kejadian Kematian sejak 1 Juli 2004 Jenis kelamin 1.. Malaria f.54 thn yang meninggal......... Urut ART yang diwawancarai: (lihat Blok IV kol. 1) KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 (TERMASUK KEJADIAN BAYI LAHIR MATI) ---. AV1 29 hari . Kolom 7 Umur saat meninggal GUNAKAN KUESIONER: < 29 hari (NEONATAL): RKD07... Pr Umur Saat Meninggal ⇒ < 1 th tulis dalam bulan ⇒ < 1 bulan tulis dalam hari ⇒ < 1 hari tulis 00 pada kolom Hari ⇒ Lahir mati tulis 98 pada kolom hari ⇒ ≥ 97 thn tulis 97 pada kolom thn [ISI SALAH SATU BARIS: HARI ATAU BULAN ATAU TAHUN] (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Penyebab Utama Kematian [KODE] Untuk wanita umur 10 .. Hipertensi / Jantung j. Bln 2.. ISPA/ Pneumonia c. Melahirkan 4.. Bayi lahir mati p.... Kencing manis l... Campak d.. TBC e...... Thn Tahun Hari Bulan …… ……. Hamil/ Bersalin/ Nifas o.. Lainnya (9) Bln Hari Bulan 1. MORTALITAS Nama ART yang diwawancarai: ...... No... DBD g...AV dengan melihat kolom 7 (umur saat meninggal) untuk memilih jenis kuesioner Kode kolom 8 Penyebab Kematian Kode kolom 4 Hubungan dengan kepala RT 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya 01 = Diare 02 = ISPA/radang paru 03 = Campak 04 = TBC 05 = Malaria 06 = Demam berdarah 07 = Sakit kuning 08 = Tifus 09 = Hipertensi/Jantung 10 = Stroke 11 = Kencing manis 12 = Kanker/Tumor 13 = Kecelakaan/Cedera 14 = Hamil/Bersalin/Nifas 15 = bayi lahir mati 16 = penyakit lainnya. apakah terjadi pada: 1.. Masa nifas (60 hr setelah bersalin) 5..HANYA DALAM RUMAH TANGGA 1 APAKAH ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 KARENA PENYAKIT DI BAWAH INI: (BACAKAN PILIHAN PENYAKIT) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a..... Thn Tahun …… ……... Kanker/ Tumor m. Bln 4... Sakit kuning h.....

KB f.. Bidan Praktek)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit. Penimbangan b.1a dan P.4 tahun) f.. Suplementasi gizi (Vit A.... menit 3 1.. Imunisasi d.. Tidak ada posyandu 3. Ya 2. Tidak ada POD/ WOD 4.. Tidak membutuhkan 11 .. Pelayanan tidak lengkap 5. menit ………. Persalinan c..... Poskesdes.. Pemberian Makanan Tambahan h.. Tidak 10 Apakah rumah tangga ini pernah Memanfaatkan pelayanan Pos Obat Desa (POD)/ Warung Obat desa (WOD) dalam 3 bulan terakhir? Jika tidak memanfaatkan POD/ WOD. Pemeriksaan kehamilan b. Lainnya: .. Ya VII 2... Pustu.10 P.. 4..2a) Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes dalam 3 bulan terakhir? Jika ya. Pengobatan 9 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa. apakah alasan utamanya? 1.. Dokter praktek. Letak polindes/ bidan desa jauh 2. Tidak membutuhkan 1.. AKSES DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN 1a Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit...……meter 2a 2b ……. Lainnya: .……meter 1b …….... 2..9 8 e. KIA e. apakah alasan utamanya? 1. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7=TIDAK BERLAKU a. Tidak 4 P. Pemeriksaan neonatus (<1 bulan) LANJUTKAN KE P.... Konsultasi risiko penyakit 6 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes... apakah alasan utamanya? 1..... Penyuluhan c..... Lokasi jauh 3. Poskesdes... Pemeriksaan ibu nifas d... Puskesmas.Km …. Fe. Obat tidak lengkap 5. Pelayanan tidak lengkap 4. Pengobatan LANJUTKAN KE P. Pustu... Ya 2.VI..Km ….... Ya 1. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7= TIDAK BERLAKU a..6 5 g. Polindes)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu. Tidak 7 Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa dalam 3 bulan terakhir? Jika ya.... Lainnya: . Tidak 2... Tidak ada polindes/ bidan desa 3.. Multi gizi mikro) i... Pemeriksaan bayi (1-11 bulan) dan/ atau anak balita (1... Bidan Praktek)? Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu.. 1. Dokter praktek.7 ………. Puskesmas... Polindes)? Apakah tersedia angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat? (berlaku untuk P... Letak posyandu jauh 2..

Sulit sepanjang tahun 1. Pengkilap kaca/ kayu/ logam e.. 14. Tidak ada sumber air 1... siapa yang biasanya mengambil air untuk keperluan Rumah Tangga 1. Apakah di sekitar sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran (air limbah/ cubluk/ tangki septik/ sampah)? Apakah air untuk semua kebutuhan rumah tangga diperoleh dengan mudah sepanjang tahun? Bila sumber air terletak di luar pekarangan rumah. Wadah/tandon tertutup Bagaimana pengolahan air minum sebelum diminum/ digunakan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a.15 13.. Ya 5.. Ya 2. Cat h. 6. Tempat sampah terbuka 1. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK 1. Wadah/tandon terbuka 3. Tidak P. Dimana tempat penampungan air limbah dari kamar mandi/ tempat cuci/ dapur? 1. 2. Ya 2. 2. a. Apakah jenis sarana/ tempat penampungan air minum sebelum dimasak? 1. Tempat sampah terbuka 15.. Berbusa e. Berwarna c..VII.. Tidak 3. Orang dewasa laki-laki 3. Lainnya: . liter/hari a. Lama… Menit 3. Sulit di musim kemarau 3. Orang dewasa perempuan 2. Tanpa penampungan (di tanah) Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/ dapur/ tempat cuci? 1. Pembersih lantai d.. 11.13 a. 8. Berasa d. Bagaimana kualitas fisik air minum? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a.. 5.. Keruh b... 4. 9. Berapa jumlah pemakaian air untuk keperluan Rumah Tangga? Berapa jarak/lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air (pulang-pergi)? ….. Dimasak c. Diberi bahan kimia e. 12. Sumber air di dalam pekarangan rumah a. Tidak ada/langsung dari sumber 2. Langsung diminum b. Penghilang noda pakaian f.... apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah rumah tangga di luar rumah tersebut? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK Apakah tersedia tempat penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? Bila ya. Tempat sampah tertutup b.... Anak perempuan 5. Aki (Accu) g. Racun serangga/ Pembasmi hama . Tempat sampah tertutup b. Penampungan di luar pekarangan 2. Anak laki-laki 4. Tanpa saluran Apakah tersedia tempat pembuangan sampah di luar rumah? Bila ya. Tidak P. SANITASI LINGKUNGAN 1... Penampungan terbuka di pekarangan 4.... Ya (mudah) 2. Saluran tertutup 3. Jarak . Berbau 7. Langsung ke got/ sungai 10. Apakah Rumah Tangga ini selama sebulan yang lalu menggunakan bahan kimia yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3) di dalam rumah (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a... Saluran terbuka 2. b.. Disaring d. Spray rambut/ deodorant spray c. Pengharum ruangan (spray) b.Km b. Penampungan tertutup di pekarangan/ SPAL 3..

Jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT/ SUTET) h.bebek. Bengkel g. Ya 2.kuda) d. Ternak sedang (kambing. Tidak ternak berikutnya (1) a. Apa jenis ternak yang dipelihara? Dipelihara? Ternak/hewan peliharaan 1. Rumah tanpa kandang 2. Terminal/stasiun kereta api/bandara f. Kandang luar rumah 4. Tempat Pembuangan Sampah (Akhir/Sementara)/Incinerator/IPAL RS c.16. Jarak rumah ke sumber pencemaran? JIKA TIDAK TAHU JARAK KE SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”8888” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) JIKA TIDAK ADA SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”9999” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) Sumber Pencemaran (1) a. Peternakan/ Rumah Potong Hewan (termasuk unggas) Jarak (meter) (2) CATATAN PENGUMPUL DATA . Ternak besar (sapi. Anjing.kerbau. Pasar tradisional Jarak (meter) (2) Sumber Pencemaran (1) e. kelinci Dipelihara di : 1. kucing. Kandang dalam rumah 3. Industri/pabrik d. Luar rumah tanpa kandang (2) 17. babi) c. Jalan raya/ rel kereta api b. Unggas (ayam.domba. burung) b.

.. JENIS KELAMIN.. KONSUMSI MAKANAN RUMAH TANGGA (24 JAM LALU) 1 KETERANGAN JUMLAH ART DAN TAMU YG MAKAN DALAM RT BERDASARKAN UMUR...29 30 .. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel RKD07......... urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.18 19 ........orang Jenis bahan makanan Makan Malam ...... DAN WAKTU MAKAN PAGI SIANG MALAM Jumlah ART L P L P L P KELOMPOK (salin dari (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) UMUR Blok IV) ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU 0 – 11 1-3 4-6 7-9 10 – 12 13 ........64 > 64 bulan tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun Jumlah 2 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU .....orang Makan pagi Waktu Makan Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) .......49 50 .GIZI Prov Kab/ Kota No. Blok No......RT VIII.orang Masakan/Menu Makan Siang ...RAHASIA RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT Kec Desa/Kel D/K No.15 16 ..

......................................................... Masakan/Menu Jenis bahan makanan No Urut ART Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) Nama Anak: Waktu Makan CATATAN PENGUMPUL DATA ..............3 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN ANAK (0 – 24 BULAN) DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ...............

RAHASIA

RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT
Kec Desa/Kel D/K No. Blok No. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel

RKD07.IND

Prov

Kab/ Kota

No. urut sampel RT

Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.RT

IX. KETERANGAN WAWANCARA INDIVIDU
1. 2. Tanggal kunjungan pertama: Tgl -Bln-Thn Tanggal kunjungan akhir: Tgl -Bln-Thn

-

-

3. 4.

Nama Pengumpul data Tanda tangan Pengumpul data

X. KETERANGAN INDIVIDU A. IDENTIFIKASI RESPONDEN
A01 A02 Tuliskan nama dan nomor urut Anggota Rumah Tangga (ART) Untuk ART pada A01 < 15 tahun/ kondisi sakit/ orang tua yang perlu didampingi, tuliskan nama dan nomor urut ART yang mendampingi Nama ART …………………… Nama ART …………………… Nomor urut ART: Nomor urut ART:

B. PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR, DAN RIWAYAT PENYAKIT TURUNAN
[NAMA] pada pertanyaan di bawah ini merujuk pada NAMA yang tercatat pada pertanyaan A01 PERTANYAAN B01-B40 DITANYAKAN PADA SEMUA UMUR INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)/ INFLUENZA/ RADANG TENGGOROKAN B01 B02 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita ISPA oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas disertai batuk berdahak/ kering atau pilek? 1. Ya B03 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

PNEUMONIA/ RADANG PARU B03 B04 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Pneumonia oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai batuk berdahak dan napas lebih cepat dan pendek dari biasa (cuping hidung) / sesak nafas dengan tanda tarikan dinding dada bagian bawah? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Typhoid oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas terutama pada sore malam hari > 1 minggu disertai sakit kepala, lidah kotor dengan pinggir merah, diare atau tidak bisa BAB? 1. Ya B05 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM TYPHOID (TIFUS PERUT) B05 B06 1. Ya B07 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B09 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

MALARIA B07 B08 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Malaria yang sudah dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin), panas naik turun secara berkala, berkeringat, sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat anti malaria? Jika Ya, apakah [NAMA] mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Diare oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dengan kotoran/ tinja lembek atau cair? Apakah pada saat diare, diatasi dengan pemberian Oralit/ pemberian larutan gula garam/ cairan rumah tangga?

B10

B09

DIARE/ MENCRET B10 B11 B12 1. Ya B12 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B13

CAMPAK/ MORBILI B13 B14 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita campak oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai mata merah dengan banyak kotoran pada mata, ruam merah pada kulit terutama pada leher dan dada? 1. Ya B15 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) B15 B16 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita TB Paru oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita batuk ≥ 2 minggu disertai dahak atau dahak bercampur darah/ batuk berdarah dan berat badan sulit bertambah/ menurun? 1. Ya B17 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) B17 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Berdarah Dengue oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita demam/panas, sakit kepala/ pusing disertai nyeri di uluhati/ perut kiri atas, mual dan muntah, lemas kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan/ atau mimisan, kaki/ tangan dingin? 1. Ya B19 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

B18

HEPATITIS/ SAKIT LIVER/ SAKIT KUNING B19 B20 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Hepatitis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B21 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

Dalam 12 bulan terakhir apakah [NAMA] pernah menderita demam, lemah, gangguan saluran cerna, (mual, muntah, tidak nafsu makan), nyeri pada perut kanan atas, disertai urin warna seperti air teh pekat, mata atau kulit berwarna kuning? FILARIASIS/ PENYAKIT KAKI GAJAH B21 B22 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Filariasis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita radang pada kelenjar di pangkal paha secara berulang, atau pembesaran alat kelamin/ payudara/ tungkai bawah dan atau atas (Filariasis/ kaki gajah)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Asma oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami sesak napas disertai bunyi (mengi)/ Rasa tertekan di dada/ Terbangun karena dada terasa tertekan di pagi hari atau waktu lainnya, Serangan sesak napas/terengah-engah tanpa sebab yang jelas ketika tidak sedang berolah raga atau melakukan aktivitas fisik lainnya?

1. Ya B23 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B25 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

ASMA/ MENGI/ BENGEK B23 B24

GIGI DAN MULUT B25 B26 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mempunyai masalah dengan gigi dan/atau mulut? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] menerima perawatan atau pengobatan dari perawat gigi, dokter gigi atau dokter gigi spesialis? 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B28 B28

B27

Jenis perawatan atau pengobatan apa saja yang diterima untuk masalah gigi dan mulut yang [NAMA] alami? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Pengobatan b. Penambalan/ pencabutan/ bedah gigi atau mulut c. Pemasangan gigi palsu lepasan (protesa) atau gigi palsu cekat (bridge) d. Konseling tentang perawatan/ kebersihan gigi dan mulut 1. Ya 2. Tidak e. Perawatan gigi lainnya. Ya, sebutkan…………

B28

Apakah [NAMA] telah kehilangan seluruh gigi asli?

CEDERA B29 B30 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami cedera sehingga kegiatan sehari-hari terganggu? Penyebab cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN p) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kecelakaan transportasi di darat (bus/ truk, kereta api, motor, mobil) b. Kecelakaan transportasi laut c. Kecelakaan transportasi udara d. Jatuh e. Terluka karena benda tajam, benda tumpul f. Penyerangan (benda tumpul/ tajam, bahan kimia, dll) g. Ditembak dengan senjata api h. Kontak dengan bahan beracun (binatang, tumbuhan, kimia) B31 1. Ya 2. Tidak B33

i. Bencana alam (gempa bumi, tsunami) j. Usaha bunuh diri (mekanik, kimia) k. Tenggelam l. Mesin elektrik, radiasi m. Terbakar, terkurung asap n. Asfiksia (terpendam, tercekik, dll.) o. Komplikasi tindakan medis p. Lainnya, Sebutkan ..............................

Bagian tubuh yang terkena cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN j) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kepala b. Leher c. Bagian dada d. Bagian perut, tulang punggung, tulang panggul e. Bagian bahu dan lengan atas f. Bagian siku, lengan bawah g. Bagian pergelangan tangan, dan tangan h. Bagian pinggul dan tungkai atas i. Bagian lutut dan tungkai bawah j. Bagian tumit dan kaki

B32

Jenis cedera yang dialami : (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Benturan/ Luka memar b. Luka lecet c. Luka terbuka d. Luka bakar e. Terkilir, teregang f. Patah tulang g. Anggota gerak terputus h. Keracunan i. Lainnya: ……………

PENYAKIT JANTUNG B33 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit jantung oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] pernah ada gejala/ riwayat: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Jantung berdebar-debar tanpa a. Bibir kebiruan saat menangis atau melakukan sebab aktifitas d. Sesak nafas pada saat tidur b. Nyeri dada/ rasa tertekan berat/ sesak nafas tanpa bantal ketika berjalan terburu- buru/ mendaki/ berjalan biasa di jalan datar/ kerja berat/ jalan jauh 1. Ya B35 2. Tidak

B34

e. Tungkai bawah bengkak

PENYAKIT KENCING MANIS (DIABETES MELLITUS) B35 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita kencing manis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] selama ini pernah mengalami gejala banyak makan, banyak kencing, banyak minum, lemas dan berat badan turun atau menggunakan obat untuk kencing manis? 1. Ya B37 2. Tidak 1. Ya 2.Tidak

B36

TUMOR / KANKER B37 B38 B39 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit tumor/ kanker oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Sejak kapan [NAMA] didiagnosis tumor tersebut? Tahun............... Dimana lokasi tumor/ kanker tersebut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN m) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 7=TIDAK BERLAKU a. Mata, otak, dan bagian susunan syaraf pusat b. Bibir, rongga mulut dan tenggorokan c. Kelenjar gondok dan kelenjar endokrin lain d. Saluran pernafasan (paru- paru) e. Payudara PENYAKIT KETURUNAN/GENETIK B40 Apakah [NAMA] ada riwayat keluhan menderita sebagai berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Gangguan jiwa (schizophrenia)(observasi) b. Butawarna c. Glaukoma d. Bibir sumbing (observasi) e. Alergi dermatitis f. Alergi rhinitis • JIKA ART UMUR ≥ 15 TAHUN • JIKA ART UMUR < 14 TAHUN B41 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN g. Thalasemia h. Hemofilia f. Saluran cerna (usus, hati) g. Saluran kemih h. Alat kelamin wanita: ovarium, cervix uteri i. Alat kelamin pria: Prostat j. Kulit k. Jaringan lunak l. Tulang, tulang rawan m. Darah 1.Ya 2.Tidak B40

PERTANYAAN B41-B50, KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN PENYAKIT SENDI/ REMATIK/ ENCOK B41 B42 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita penyakit sendi/ rematik/ encok oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita sakit/ nyeri/ kaku/ bengkak di sekitar persendian, kaku di persendian ketika bangun tidur atau setelah istirahat lama, yang timbul bukan karena kecelakaan? 1. Ya B43 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

HIPERTENSI/ PENYAKIT TEKANAN DARAH TINGGI B43 B44 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita hipertensi/ penyakit tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah saat ini [NAMA] masih minum obat antihipertensi? 1. Ya B45 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1.Ya B47 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

STROKE B45 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita stroke oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami kelumpuhan pada satu sisi tubuh atau pada otot wajah, atau gangguan pada suara (pelo) secara mendadak? • JIKA ART UMUR ≥ 30 TAHUN • JIKA ART UMUR < 29 TAHUN KATARAK (KHUSUS ART ≥ 30 TAHUN) B47 Dalam 12 bulan terakhir, apakah salah satu atau kedua mata [NAMA] pernah didiagnosis/ dinyatakan katarak (lensa mata keruh) oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B49 2. Tidak 8. Tidak tahu

B46

B47 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN

B48

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mengalami: (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Penglihatan berkabut/ berasap/ berembun atau tidak jelas? b. Mempunyai masalah penglihatan berkaitan dengan sinar, seperti silau pada lampu/pencahayaan yang terang? a. b. C

B49 B50

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah operasi katarak? Apakah setelah operasi katarak [NAMA] memakai kacamata?

1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN Ca. KETANGGAPAN PELAYANAN RAWAT INAP
Ca01 Dalam 5 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani rawat inap terakhir? 1. Rumah Sakit Pemerintah 6. Praktek tenaga kesehatan 2. Rumah Sakit Swasta 7. Pengobat Tradisional 3. Rumah Sakit Di Luar Negeri 8. Lainnya (Sebutkan.....................................) 4. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 9. Tidak Pernah menjalani rawat inap Cb01 5. Puskesmas Berapa biaya yang dikeluarkan untuk rawat inap terakhir (dalam 5 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk rawat inap tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ………………………

Ca02 Ca03

.

.

Untuk pelayanan rawat inap yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Ca04 Ca05 Ca06 Ca07 Ca08 Ca09 Ca10 Ca11 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan rawat inap? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang rawat inap termasuk kamar mandi? Bagaimana [NAMA] menilai kemudahan dikunjungi oleh keluarga atau teman ketika masih dirawat di fasilitas kesehatan?

Cb. KETANGGAPAN PELAYANAN BEROBAT JALAN
Cb01 Dalam 1 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani berobat jalan terakhir? 01. Rumah Sakit Pemerintah 06. Praktek tenaga kesehatan 02. Rumah Sakit Swasta 07. Pengobat Tradisional 03. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 08. Lainnya (Sebutkan.....................................) 04. Puskesmas/ Pustu/ Pusling/ Posyandu 09. Di rumah 05. Poliklinik/ Balai Pengobatan Swasta 10. Tidak Pernah menjalani berobat jalan Cb10a Berapa biaya yang dikeluarkan untuk berobat jalan terakhir (dalam 1 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk berobat jalan tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ……………………

Cb02 Cb03

.

.

Untuk pelayanan berobat jalan yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Cb04 Cb05 Cb06 Cb07 Cb08 Cb09 Cb10 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan berobat jalan? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang pelayanan berobat jalan termasuk kamar mandi? ISIKAN KODE ”7” JIKA TEMPAT MENJALANI BEROBAT JALAN (Cb01) “DI RUMAH” • JIKA ART UMUR 0 - 4 TAHUN • JIKA ART UMUR 5 - 9 TAHUN • JIKA ART UMUR >10 TAHUN G. IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN XI. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN D. PENGETAHUAN, SIKAP dan PERILAKU

Cb10a

D. PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU (SEMUA ART UMUR ≥ 10 TAHUN)
PENYAKIT FLU BURUNG D01 D02 Apakah [NAMA] pernah mendengar tentang penyakit flu burung pada manusia? 1. Ya 2. Tidak Sebutkan melalui apa saja penularan kepada manusia? (POINT “a” SAMPAI “g” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Udara b. Berdekatan dengan penderita c. Lalat d. Kontak dengan unggas sakit e. Kontak kotoran unggas/Pupuk kandang f. Makanan g. Lainnya, sebutkan .............................. D04

D03

Apa yang harus [NAMA] lakukan apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak? (POINT “a” SAMPAI “f” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Mengubur/membakar unggas yang sakit a. Melaporkan pada aparat terkait e. Menjual dan mati mendadak b. Membersihkan kandang unggas d. Memasak dan memakan f. Lainnya: …………………

HIV/AIDS D04 D05 Apakah [NAMA] mengetahui tentang HIV/AIDS 1. Ya 2. Tidak D08

Penularaan virus HIV/AIDS ke manusia melalui : (POINT a SAMPAI DENGAN h TIDAK DIBACAKAN) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK g. Penularan dari ibu ke a. Hubungan seksual d. Penggunaan pisau cukur secara bersama-sama bayi selama hamil b. Jarum suntik c. Transfusi darah e. Penularan dari ibu ke bayi saat persalinan f. Penularan dari ibu melalui ASI h. Lainnya: ……………….

D06

Bagaimana mencegah HIV/AIDS? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Tidak berhubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan tetap b.Tidak berhubungan seksual dengan pengguna narkoba suntik c.Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali d. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual e. Tidak menggunaan jarum suntik bersama f. Tidak menggunaan pisau cukur bersama

D07

Andaikan ada anggota keluarga [NAMA] menderita HIV/AIDS, apa yang akan dilakukan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Merahasiakan b. Membicarakan dengan anggota keluarga lain c. Konseling dan pengobatan d. Mencari pengobatan alternatif e. Mengucilkan

PERILAKU HIGIENIS D08 Apakah [NAMA] mencuci tangan pakai sabun? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN d) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Sebelum makan b. Sebelum menyiapkan makanan D09 Dimana [NAMA] biasa buang air besar? 1. Jamban 3. Sungai/danau/laut 2. Kolam/sawah/selokan 4. Lubang tanah Apakah [NAMA] biasa menggosok gigi setiap hari? Kapan saja [NAMA] menggosok gigi? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Saat mandi pagi dan/ sore b. Sesudah makan pagi PENGGUNAAN TEMBAKAU D11 Apakah [NAMA] merokok/ mengunyah tembakau selama 1 bulan terakhir? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1. Ya, setiap hari 3. Tidak, sebelumnya pernah D16 2. Ya, kadang-kadang D13 4. Tidak pernah sama sekali D18 Berapa umur [NAMA] mulai merokok/ mengunyah tembakau setiap hari ? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Rata-rata berapa batang rokok/ cerutu/ cangklong (buah)/ tembakau (susur) yang [NAMA] hisap perhari? ............... tahun ...........batang c. Sesudah bangun pagi d. Sebelum tidur malam e. Lainnya, sebutkan……….. c. Setelah buang air besar/ Setelah menceboki bayi d. Setelah memegang binatang (unggas, kucing, anjing)

5. Pantai/tanah lapang/ kebun/ halaman 6. Lainnya: ........................... 1. Ya 2. Tidak D11

D10a D10b

D12 D13

.hari . misalnya terdapat dalam: 1 gelas/ botol kecil/ kaleng (285 – 330 ml) bir 1 gelas kerucut (60 ml) aperitif 1 sloki (30 ml) whiskey 1 gelas kerucut (120 ml) anggur D18 Apakah dalam 12 bulan terakhir [NAMA] mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol (minuman alkohol bermerk: contohnya bir. Rokok putih d...... waktu senggang dan transportasi D22 D23 D24 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik berat. Ya 2... Tidak D25 …………..jam ………. poteng. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) Apakah [NAMA] biasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu.jam ………....D14 Sebutkan jenis rokok/ tembakau yang biasa [NAMA] hisap/ kunyah: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a.. Tidak D31 D28 D29 …………... Tidak D17 g. vodka... berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) D25 D26 D27 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik sedang.satuan [NAMA] minum dalam satu hari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK TAHU AKTIVITAS FISIK (GUNAKAN KARTU PERAGA) Berikut adalah pertanyaan aktivitas fisik/ kegiatan jasmani yang berkaitan dengan pekerjaan. [NAMA] berjalan kaki atau bersepeda selama paling sedikit 10 menit terus-menerus setiap kalinya? 1. nyirih. biasanya berapa rata-rata satuan minuman standar ……….. Cerutu 1.. anggur/wine 1. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali melakukannya? Biasanya berapa hari dalam seminggu. Tidak D22 D22 D19 D20 Apakah dalam 1 bulan terakhir [NAMA] pernah mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol? 1.. dll dan minuman tradisional: contohnya tuak. Tidak D28 …………. Rokok linting e. [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang. Ya D17 2. Ya 2. tahun .. Lainnya: ……………… D15 D16 D17 Apakah [NAMA] biasa merokok di dalam rumah ketika bersama ART lain? Berapa umur [NAMA] ketika berhenti/ tidak merokok/ tidak mengunyah tembakau sama sekali? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Berapa umur [NAMA] ketika pertama kali merokok/ mengunyah tembakau? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT . < 1x tiap bulan 3. 1 – 3 hari tiap bulan 2. Ya 2. Whiskey/ Vodka 4.menit 1. Rokok kretek dengan filter b. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu. [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat. anggur/ wine. tahun ALKOHOL Catatan (GUNAKAN KARTU PERAGA): 1 satuan minuman standard yang mengandung 8 – 13 g etanol.hari ………….. Ya 2. 5 hari atau lebih tiap minggu 3...menit 1.... Cangklong f.hari …………. Bir Jenis minuman beralkohol yang paling banyak dikonsumsi: 2. Tembakau dikunyah (susur. Tidak D21a D21b Dalam 1 bulan terakhir seberapa sering [NAMA] minum minuman beralkohol? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1.. Rokok kretek tanpa filter c. Ya 2. 1 – 4 hari tiap minggu 4. sopi)? 1. whiskey. minuman tradisional Ketika minum minuman beralkohol.. nginang) h.

Makanan berlemak D35a • • d. kecap. berapa hari [NAMA] makan buah-buahan segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D33 Berapa porsi rata-rata [NAMA] makan buah-buahan segar dalam satu hari dari hari-hari tersebut? (GUNAKAN KARTU PERAGA) Biasanya dalam 1 minggu. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan suara normal yang berdiri di sisi lain dalam satu ruangan. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali orang di seberang jalan (kira-kira dalam jarak 20 meter) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. BERAT E01 Dalam 1 bulan terakhir. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir.menit PERILAKU KONSUMSI D31 D32 D33 D34 Biasanya dalam 1 minggu.14 TAHUN. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berjalan jauh sekitar satu kilometer? . Tidak pernah Biasanya berapa kali [NAMA] mengkonsumsi makanan berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) a.jam ………. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. seberapa sering [NAMA] mengalami masalah kesehatan yang mempengaruhi keadaan emosi berupa rasa sedih dan tertekan? E03 E09 E04 E10 Dalam 1 bulan terakhir. babat.Makanan dibakar/dipanggang f. SEDANG 5. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali obyek sepanjang lengan/ jarak baca (30 cm) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. paru) e. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN JIKA ART UMUR >15 TAHUN E. Yang dimaksud dengan keadaan kesehatan disini adalah keadaan fisik dan mental [NAMA] E. 3 – 6 kali per minggu 5.XI. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN g. seberapa besar [NAMA] merasakan napas pendek setelah melakukan latihan ringan. TIDAK ADA 3.Bumbu penyedap (vetsin. berapa hari [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D35 Berapa porsi rata-rata [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar dalam sehari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) TANYAKAN D35 TANPA KARTU PERAGA DAN ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. > 1 kali per hari 3.Makanan yang diawetkan JIKA ART UMUR 10 . RINGAN 4. ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. SANGAT BERAT 2. seberapa sering [NAMA] mengalami gangguan tidur (misal mudah ngantuk. Jeroan (usus.porsi ……hari ……. dll) h.porsi D35 Sekarang saya akan menanyakan keadaan kesehatan menurut penilaian [NAMA] sendiri. 1 kali per hari 4. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN (ART UMUR ≥ 15 TAHUN) UNTUK PERTANYAAN E01 – E11. seberapa besar [NAMA] merasakan nyeri/ rasa tidak nyaman? E06 Dalam 1 bulan terakhir. trasi) …… hari ……. Misalnya naik tangga 12 trap? E07 Dalam 1 bulan terakhir. Makanan/ minuman manis b. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan orang lain dalam ruangan yang sunyi.Minuman berkafein (kopi. < 3 kali per bulan 2. seberapa besar [NAMA] menderita batuk atau bersin selama 10 menit atau lebih dalam satu serangan? E02 E08 Dalam 1 bulan terakhir. Makanan asin c. 1 – 2 kali per minggu 6.D30 Biasanya dalam sehari. sering terbangun pada malam hari atau bangun lebih awal daripada biasanya) Dalam 1 bulan terakhir. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berdiri dalam waktu 30 menit? E05 E11 Dalam 1 bulan terakhir. berapa total waktu yang [NAMA] gunakan untuk berjalan kaki atau bersepeda? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) ………….

apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas/ gerak (misalnya bangun tidur. BACAKAN & ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK E21 E22 E23 Dalam 1 bulan terakhir. SULIT 5. keagamaan. RINGAN 3. seberapa sulit [NAMA] dapat melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya sebagai anggota rumah tangga? Dalam 1 bulan terakhir. cemas atau kuatir? Apakah tangan [NAMA] gemetar? Apakah pencernaan [NAMA] terganggu/ buruk? Apakah [NAMA] sulit untuk berpikir jernih? Apakah [NAMA] merasa tidak bahagia? Apakah [NAMA] menangis lebih sering? F11 F12 F13 F14 F15 F16 F17 F18 F19 F20 Apakah [NAMA] merasa sulit untuk menikmati kegiatan sehari-hari? Apakah [NAMA] sulit untuk mengambil keputusan? Apakah pekerjaan [NAMA] sehari-hari terganggu? Apakah [NAMA] tidak mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup? Apakah [NAMA] kehilangan minat pada berbagai hal? Apakah [NAMA] merasa tidak berharga? Apakah [NAMA] mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup? Apakah [NAMA] merasa lelah sepanjang waktu? Apakah [NAMA] mengalami rasa tidak enak di perut? Apakah [NAMA] mudah lelah? PERIKSA KEMBALI. ISIKAN DENGAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. berjalan dalam rumah atau keluar rumah)? Dalam 1 bulan terakhir. namun kami tidak akan menjelaskan/ mendiskusikan. seberapa sulit [NAMA] dapat memahami pembicaraan orang lain? E17 Dalam 1 bulan terakhir.dll) Dalam 1 bulan terakhir. atau kegiatan lain)? E13 E14 E18 E19 E15 E16 E20 UNTUK PERTANYAAN E21 – E23. pengajian. SEDANG 4. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk merawat diri (makan. seberapa sulit [NAMA] dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari? Dalam 1 bulan terakhir. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN . seberapa sulit [NAMA] berinteraksi/ bergaul dengan orang yang belum dikenal sebelumnya? Dalam 1 bulan terakhir. mandi. seberapa sulit [NAMA] dapat berperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan (arisan. Jika [NAMA] ada pertanyaan akan kita bicarakan setelah selesai menjawab ke 20 pertanyaan. ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK F01 F02 F03 F04 F05 F06 F07 F08 F09 F10 Apakah [NAMA] sering menderita sakit kepala? Apakah [NAMA] tidak nafsu makan? Apakah [NAMA] sulit tidur? Apakah [NAMA] mudah takut? Apakah [NAMA] merasa tegang. seberapa sulit [NAMA] dapat memelihara persahabatan? Dalam 1 bulan terakhir.UNTUK PERTANYAAN E12 – E20. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk berkomunikasi (berbicara dan dimengerti oleh lawan bicara)? F. seberapa sulit [NAMA] dapat memusatkan pikiran pada kegiatan atau mengingat sesuatu selama 10 menit? Dalam 1 bulan terakhir. SANGAT SULIT/ TIDAK DAPAT MELAKUKAN E12 Dalam 1 bulan terakhir. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. seberapa sulit [NAMA] membersihkan seluruh tubuh seperti mandi? Dalam 1 bulan terakhir. PERTANYAAN F01 SAMPAI DENGAN F20 HARUS TERJAWAB LANJUTKAN KE BLOK XI. seberapa sulit [NAMA] mengenakan pakaian? Dalam 1 bulan terakhir. TIDAK ADA 2. berpakaian. Kalau [NAMA] kurang mengerti kami akan membacakan sekali lagi. KESEHATAN MENTAL (SEMUA ART UMUR ≥ 15 TAHUN) DITANYAKAN UNTUK KONDISI 1 BULAN TERAKHIR Untuk lebih mengerti kondisi kesehatan [NAMA] kami akan mengajukan 20 pertanyaan yang memerlukan jawaban ”Ya” atau “Tidak”.

.. Tidak punya G09 2... Campak j....... IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN (KHUSUS ART UMUR 0 .... Imunisasi campak yang biasanya mulai diberikan umur 9 bulan dan disuntikkan di paha serta diberikan satu kali? i.. Polindes 4.... Hepatitis B3 / / / / / / / / / / / / . Ya 1. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’.... Bulan G06 G07 Di antara imunisasi yang [NAMA] dapatkan dalam dua tahun terakhir apakah ada yang diperoleh pada saat PIN? Apakah [NAMA] mempunyai KMS? (Minta ditunjukkan KMS) G08 1... Tidak tahu .f 8. Ya 2. Tanggal lahir: (Tgl-Bln-Thn) G02 G03 G04 G05 a2.. Hari .. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi Hepatitis B? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) k.……… 1. Tidak Apakah dalam 6 bulan terakhir [NAMA] mendapatkan kapsul vitamin A (GUNAKAN KARTU PERAGA) Apakah [NAMA] pernah mendapat imunisasi seperti: (INFORMASI DAPAT DIPEROLEH DARI BERBAGAI SUMBER) a...../ tahun.. Hari 1. Ya.. Polio 4 f...h ... tanggal. BCG b.. Tidak tahu G05. Hepatitis B2 l. Ya 2.. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. Berapa kali [NAMA] diimunisasi DPT? h. Berapa kali [NAMA] diimunisasi Hepatitis B? 1.f .. Tidak tahu G05.c . Ya . Tidak tahu G06 .. Bulan 1.. kali - Dalam 6 bulan terakhir... Pada umur berapa [NAMA] diimunisasi BCG? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) c. Ya 1.. JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN. cairan merah muda atau putih yang biasanya mulai diberikan umur 2 bulan dan diteteskan ke mulut? d. Polio 1 c./ bulan. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi.. Imunisasi Hepatitis B yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di paha? j..G.. ISI KODE ”00” ATAU JIKA ”TIDAK TAHU”. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a.. Tidak tahu 2...... Berapa kali [NAMA] diimunisasi polio? f. Umur [NAMA] dalam bulan b.. Hepatitis B1 k.. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi polio? (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK BULAN) e.. DPT3 i.. tidak dapat menunjukkan G09 4.. Kali 2. berapa kali [NAMA] ditimbang? JIKA TDK PERNAH DITIMBANG... Di RS 2.... Tidak 3.. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G09 Salin dari KMS. Polio 2 d... Tidak tahu G05.. ISI KODE ”88” Dimana [NAMA] paling sering ditimbang? 1.. Kali 1.... Tidak 8.. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA.. Lainnya: ..... Ya .... DPT1 / / / / / / / / / / / / g.h 8.. Imunisasi polio.c 8.. Imunisasi DPT yang biasanya disuntikkan di paha dan biasanya mulai diberikan umur 2 bulan bersama dengan imunisasi polio? g.. Ya. Ya ... Polio 3 e.. Imunisasi BCG terhadap TBC... yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di lengan atas atau paha serta meninggalkan bekas (scar)? b. Bulan 2.. tuliskan Umur dalam hari KE G04 .. Tidak G06 8.... Posyandu 5.. Tidak G05.. Jika Umur [NAMA] < 1 bulan. Kali 2. 3.. DPT2 h.59 BULAN/ BALITA) G01 a1.. Tidak pernah imunisasi 8..... Puskesmas/ Pustu 3.. Tidak G05. Tidak G05.. Ya 2.

Polio 1 c. Pemeriksaan urin a. Kader Posyandu • JIKA ART UMUR 0 – 11 BULAN • JIKA ART UMUR 12 . b. . Sangat Besar 1.. Buku KIA/ KMS/ catatan kelahiran 3. Ya. Normal 4. 8 – 28 hari setelah lahir H07 Apakah [NAMA] mendapat pelayanan kesehatan (dikunjungi/ mengunjungi) pada: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN b) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Campak j. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi 2. Polio 4 f.. Tidak H07 Apakah ketika ibu mengandung bayi [NAMA] pernah memeriksakan kehamilan pada dokter. siapakah yang menyimpan KMS/buku KIA tersebut? 1. tidak dapat menunjukkan G11 4. Sangat kecil 2. Hepatitis B2 l. KESEHATAN BAYI (KHUSUS UNTUK BAYI BERUMUR < 12 BULAN) H01 H02 H03 H04 H05 H06 Menurut Saudara. Polio 3 e. Tidak punya Blok G11a G10 Salin dari Buku KIA.. JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN. DPT3 i. DPT1 / / / / / / / / / / / / g. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN G11a H. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G11a 3. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a. Lainnya ……………… / / / / / / G11 Bila tidak dapat menunjukkan. DPT2 h. Ya 2. 1 – 7 hari setelah lahir b. Pemeriksaan tinggi fundus (perut) d... Kecil Apakah waktu lahir [NAMA] ditimbang Bila H02=Ya. Pemberian tablet Fe e.. Pemeriksaan tekanan darah c. Pemberian imunisasi TT f.. Polio 2 d. pelayanan kesehatan apakah yang diterima saat memeriksakan kehamilan pada dokter. Ya 2.. Tidak H05 2. Pemeriksaan hemoglobin h../ tahun. Pengakuan atau ingatan Ibu/ ART lain 1.G09 Apakah [NAMA] mempunyai buku KIA? (Minta ditunjukkan Buku KIA) 1. Besar 5. Hepatitis B1 k. Pengukuran tinggi badan b. bidan atau perawat? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. Ya. berat lahir [NAMA] dalam ukuran (gram) : Darimana sumber informasi berat [NAMA] lahir: 1. tanggal. atau perawat? Jika Ya. Ya . TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA.. Bidan/ tenaga kesehatan 2. Penimbangan berat badan g. bidan. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’. Hepatitis B3 / / / / / / 3../ bulan. Berat Badan [NAMA] ketika lahir : 1.59 BULAN LANJUT KE H01 XI. BCG b.

Ya 1. Kiri: b. d1.. cm i. Berdiri 2.. Jika [NAMA] hanya dapat melihat GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter TULIS 01/300 5. Diastolik 1 PEMERIKSAAN 2 d. TEKANAN DARAH. lakukan pemeriksaan visus dengan tetap memakai kacamata 8.. PEMERIKSAAN VISUS: 1.. Berat badan (kg) 2b. b1.. d2.. Ya 1.. Tidak 2. Jika [NAMA] hanya dapat melihat SINAR SENTER TULIS 01/888 6. Kanan: a. Ya 1.. Tidak 2.. Khusus untuk balita. Tidak 1. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 3 meter TULIS 03/060 2. . Ya 1. Tidak 2. Tinggi Badan/ Panjang Badan (cm) KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN . Kanan: / / b.. cm PEMERIKSAAN VISUS (KHUSUS ART > 5 TAHUN) 6 Apakah mata [NAMA] mengalami gangguan: (LAKUKAN PENGAMATAN] KANAN a. PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN PENGUKURAN ANTHROPOMETRI. Pterigium c. KHUSUS WANITA USIA SUBUR (15 – 45 TAHUN) TERMASUK IBU HAMIL 5 Lingkar lengan atas (LILA) ….. Nadi 1 4 Lingkar perut f. Tidak 2. Diastolik 3 c. Ya KIRI 2..... Posisi Pengukuran TB/PB 1. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 2 meter TULIS 02/060 3. DAN LILA SEMUA UMUR 1..XI... Tanpa Pinhole Dengan Pinhole a. Tidak 1. 9. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 1 meter TULIS 01/060 4. Sistolik 3 h. Nadi 3 .. Ya 1. b2.. Sistolik 1 b. Jika [NAMA] tidak dapat melihat sinar (BUTA TOTAL) TULIS 00/000 LAKUKAN HITUNG JARI: .. Parut kornea d. Kiri: / / CATATAN UNTUK RESPONDEN YANG TIDAK DAPAT MELIHAT KARTU SNELLEN ATAU KARTU E 1. 2a. Ya 1. Juling b. Tidak 2. c2.. 2. Diastolik 2 PEMERIKSAAN 3 Hanya dilakukan bila selisih pengukuran tekanan darah 1 dan 2 > 10 mmHg g.. Tidak 2. Ya a1.. Telentang . c1. Menggunakan kacamata (jauh dan atau dekat)? 1.. Sistolik 2 e. Lensa keruh/Katarak 7.. Tidak a2. Jika [NAMA] menggunakan kacamata.. 3 Tekanan darah (mmHg) PEMERIKSAAN 1 a. Ya 2. Nadi 2 ……. LINGKAR PERUT. Jika [NAMA] tidak menggunakan kacamata tetap lakukan pemeriksaan visus 2.

13 atau KE CATATAN PENGUMPUL DATA 12. atau F pada setiap ruang dentogram di bawah ini: D (decayed) = gigi berlubang M (missing) = gigi telah dicabut/ tinggal akar F (filling) = gigi ditambal CATATAN: JIKA PADA GIGI YANG SAMA TERDAPAT LUBANG DAN JUGA TAMBALAN MAKA TULISKAN “DF” PADA SATU RUANG DENTOGRAM TERSEBUT 8 7 6 5 (I) Kanan 4 3 2 1 1 Kiri (II) 2 3 4 5 6 7 8 8 7 6 III Kanan 5 4 3 2 1 Kiri IV 1 2 3 Kiri (IV) 4 5 6 7 8 (III) Kanan DIISI OLEH PENGUMPUL DATA ∑D-T ∑M-T ∑F-T 1 = Incisivus 1 (gigi seri 1) 2 = Incisivus 2 (gigi seri 2) 3 = Caninus (taring) 4 = Premolar 1 (geraham kecil 1) 5 = Premolar 2 (geraham kecil 2) 6 = Molar 1 (geraham besar 1) 7 = Molar 2 (geraham besar 2) 8 = Molar 3 (geraham besar 3) PEMERIKSAAN DARAH DAN URIN 11. Apakah diambil Urin (khusus ART umur 6 – 12 thn) STIKER NOMOR URIN 1. STIKER NOMOR DARAH TEMPEL STIKER DI SINI 13 14.PEMERIKSAAN GIGI PERMANEN (KHUSUS ART ≥ 12 TAHUN) 10.M. Berilah kode D. Tidak KE CATATAN PENGUMPUL DATA TEMPEL STIKER DI SINI CATATAN PENGUMPUL DATA . Ya 2. Apakah diambil spesimen darah 1. Tidak KE XI. Ya 2.

Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Vakum 3. _____________________.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan____/ tahun ____ / / / / Jika tanggal lahir dan tanggal yang meninggal sama. Dokter 2.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR < 29 HARI I. a. tanya umur bayi saat meninggal TULISKAN “88” BILA TIDAK TAHU 5 6 Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? a. Bagaimana proses kelahiran bayi? c.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini Bagaimana kesehatan ibu neonatal saat ini? 1. TANYAKAN KEPADA ART YANG MERAWAT BAYI/ YANG MEWAKILI) 1. Lainnya a. Penolong Terakhir JIKA LAHIR MATI (JAWABAN BLOK II P 5A DAN P 5B ADALAH 98) LANJUTKAN KE BLOK V P24 IV. KEADAAN BAYI KETIKA LAHIR 6. ________ jam 1. apakah bayi ketika lahir sempat bernafas. PENGENALAN TEMPAT RKD07. persalinan (P). Family/keluarga 5. Dukun 4.RT II. 2. AUTOPSI VERBAL BAYI MENINGGAL BERUMUR 0-28 HARI IVA. tuliskan angka 98 pada P5a. Sehat 2. b. Perempuan 1b. Laki-laki 2. Di perjalanan 4. Blok No. Lainnya. Sakit 3.urut yg meninggal: _________ Kutip dari RKD07. Apakah bayi lahir normal atau dengan bantuan alat atau operasi? 1. Penolong Pertama G P A 8. KARAKTERISTIK IBU NEONATAL (BILA IBU NEONATAL MENINGGAL. No. Lama/sulit 3. 5. Berapa bulan umur bayi di kandungan? b. Tidak tahu 3. Cepat 2. Di fasilitas kesehatan 2. 2 3 4 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal 1. Normal 1. penyebabnya ____________________ Umur ibu pada saat melahirkan bayi yang meninggal? ______________ tahun Berapa jumlah kehamilan (G). III. 4. Normal ________bulan 2. Di rumah b. keguguran (A) yang dialami ibu? Siapa saja yang menolong ibu ketika melahirkan bayi tersebut? 1. Bidan/Tenaga paramedis lainnya 3. 5b Jika YA BAYI LAHIR HIDUP. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a. Meninggal. AV1 Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel No. _________ hari 3. Operasi 1 . merintih/menangis lemah atau bergerak? Jika TIDAK BAYI LAHIR MATI.

Sangat besar 8. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak diberi apa-apa 2. Bambu 8. Ya 1. Apakah ada trauma lahir sehingga bayi terluka? Sebutkan e. Tidak tahu 3. Apakah ada lilitan tali pusar di leher bayi? d. KEADAAN BAYI KETIKA SAKIT [Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/hari)] 12. Kembar 3. Tidak tahu 2. Kebiruan 4. apakah suaranya keras/ lemah? c. Benjolan pada dinding perut sekitar pusar (omphalocele) e. Tidak 8. a. Tidak 8. Kepala besar (hidrosefalus) c. Normal 2. Lumpuh/lunglai 8. sesak. Tidak tahu 8. Ada. Bagian tubuh apa yang pertama keluar ketika bayi lahir? b. Gunting 2. Tidak tahu 2. Kemerahan 2. Ya 1. Silet/pisau 1. Tidak tahu P10c 8. Lemah 1. Tidak tahu f. Lebih kecil dari rata-rata 3. Tunggal 1. apakah bayi sangat kecil. Jika ya. lebih besar atau sangat besar? 11. Lainnya (tuliskan) ____________________________ 1. Lambat 1. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Kepala 1. Tidak 2. Sesak nafas 1. Lebih besar 5. rata-rata. Ada 2. Pucat 1. Apakah bayi segera menangis setelah lahir? b. Apakah warna air ketuban? g. Tidak tahu 2. Bagaimana warna kulit bayi ketika lahir? 1. Tidak P11 4. Tidak 2. Jika menangis. Aktif 1. _________ 2. Tidak ada 1. Apakah saluran nafas bayi dibersihkan segera setelah lahir? f. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu P10c 8. Tali pusar bayi dipotong dengan apa? b. Kuning 3. a. Tidak ada tulang kepala belakang (anencephalus) d. Tidak tahu 8. Rata-rata/normal Apakah bayi dilahirkan dengan cacat bawaan: (Tanyakan satu persatu kepada ibu/keluarga yang mendampingi) a. Jernih 2. Tidak 2. tubuh dingin. ________ gram 1. berapa berat badan bayi? c. Apakah kulit bayi terkelupas ? 10. Tidak tahu 3. Ramuan daun/abu 8. Segera 2. Tidak 2. Ya 1. Tidak bernafas 8. lainnya) TANYAKAN DAN CATAT LAMANYA SAKIT _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 2 . Keras 2. Tidak ada lubang dubur (atresia ani) f. muntah. Ceritakan gejala awal dan utama bayi ketika sakit? (kejang. Apakah bayi dibedong segera setelah lahir? 7. demam. Ya 1. Tidak ada 8. Tidak tahu IVB. Ya 1. Tidak tahu 8. Apakah bayi ditimbang segera setelah lahir? b. Jika tidak ditimbang. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Apakah tali pusar keluar sebelum bayi lahir? c. Sangat kecil 2. a. a. Keruh 1. Apakah bayi lahir kembar? 8. Ya 3. Bibir/langit-langit sumbing b. Tidak tahu 8.d. Apakah bayi bergerak aktif atau lumpuh/ lunglai? e . Tidak tahu 8. Tidak menangis 8. Merintih 8. Bokong/kaki 3. Tidak tahu P9c P9c 1. Tidak tahu 3. Tidak 2. Tali pusar diobati dengan apa? 9. Tidak tahu 2. Bagaimana nafas bayi ketika lahir? d. Ya 2. Tidak tahu 3. Alkohol/ betadine 1. Tidak tahu 2. lebih kecil. Bahu/tangan 8. Kehijauan 8. Ya 1.

Apakah bayi muntah? b. Ya. Merah muda 2. Apakah terlihat ada benjolan di perut? 22. _____ hari 1. Merah muda 2. Apakah warna tubuh bayi? b. _______hari 1. Menangis dgn suara melengking tiba-tiba dan terus-menerus 8. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 1. Ya. ____ hari 4. Susu formula 6. Air buah 5. Kuning 2. Ya. Normal. _______hari 1. Tidak Tahu 8. Kuat 1. Lemah 4.13. Tidak tahu 8. Sehabis minum ASI. _______hari 2. Tidak 2. Ya. gelembung berisi apa? 15. _______hari 1. Tidak 2. Tidak 8. Ya. _______hari 1. Apakah ada luka/bercak putih di dinding rongga mulut? 19. Diare. _________ hari 3. Ya. a. _______hari 1. Pisang 8. a. ____ hari 1. Nafas normal 2. Air tajin 2. Ya. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. _____ hari 3. Cairan keruh/nanah 8. Tidak 2. ______hari 8. Cekung. Ya. Tidak 2. Apakah tubuh bayi dingin? 20. seperti mulut ikan? b. apakah gangguannya? 2. Tidak tahu 8. Tidak P15 8. _____ hari 2. Tidak bisa mengisap 7. Tidak tahu 8. _______hari 1. Air putih 2. Tidak tahu P15 b. Nafas cepat/ megap-megap . Ya. Tidak 3. ____ hari 1. Normal 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. ________ 23. _______hari 1. Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam? 16. Apakah ada batuk? c. Bagaimana muntah tersebut terjadinya? 1. ______ hari 1. Apakah mengeluarkan air liur terus-menerus? d. Ya. a. Apakah perut bayi kembung? b. Tidak tahu P23a 21. Pucat 1. Kebiruan 4. Apakah bayi mengalami penurunan kesadaran? (bayi dibangunkan tetapi tidur terus) 17. Tidak menangis. Tidak tahu 4. a. Kuning 3. Jika ya. ____hari 8. a. Lainnya. Melemah. _______hari 1. Apakah mulut bayi mencucu. Ya. Ya. a. Bagaimana suara tangisan bayi? 1. Tidak tahu 1. Tidak tahu 8. a. _____hari 2. Tidak tahu P23c 3. Ya. Nasi 8. Apakah diberikan minuman/makanan lain sebagai berikut? (jawaban dapat lebih dari satu) 3 . Tidak tahu 8. _______hari 1. _______hari 1. Kebiruan 4. Pucat 1. Cairan jernih 2. Tidak 2. Bagaimana sifat pernafasan bayi? 2. Apakah ada gangguan dalam buang air besar (BAB)? b. Bagaimana keadaan mata bayi? 18. Tidak tahu 8. Bagaimana bayi mengisap ASI? c. Ya. Apakah warna kaki/ tangan bayi? c. Warna kuning. Jika ya. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 1. Tidak bisa BAB. Apakah cuping hidung kembang kempis ketika nafas? d. Tidak P21a 2. Apakah bayi demam? b. Apakah bayi kejang? b. _____hari 8. a. Ya. Apakah ubun-ubun bayi menonjol? 14. Apakah kulit bayi bergelembung? d. _____ hari 1. _______hari 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. _______hari 1. _______hari 1. Belekan. Apakah bibir berwarna kebiruan? c. a. Ya. a. _______hari 1. Tidak 2. _______hari 1. Tidak tahu 8. Ya. Apakah diberi Air Susu Ibu (ASI)? b.Tidak tahu P21a b. Ya. Berulang-ulang. Tidak P23c 2. Air madu/gula 3. Tidak 2. Tidak P23a 2. Tidak tahu 8.

lesu. Ya 1. Ya 1. Tidak tahu Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Tidak 2. Kejang/ eklampsi e. Tidak tahu 8. Ibu kurus (kurang energi kronis) f. Demam g. Ketuban pecah dini d. Nyeri perut hebat g. Nyeri perut hebat d. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya 1. tuberculosis i. Sakit kuning j. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Sulit ketika melahirkan b. Demam h. Tidak 8. Ya 1. Kejang l. Tidak tahu 8.V. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya 1. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya 1. Ya 1. apakah mengalami komplikasi? a. RESUME RIWAYAT SAKIT VIA. Ya 2. Tidak 2. Tekanan darah tinggi f. sakit jantung h. AUTOPSI VERBAL KESEHATAN IBU NEONATAL KETIKA HAMIL DAN BERSALIN 24. Tidak tahu 8. Ya 1. Ya 1. Ya 1. Tidak tahu 8. Ketika ibu hamil.BAYI USIA 0-28 HARI TERMASUK LAHIR MATI (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Jenis kelamin dan umur bayi ketika dikandung: Berat badan lahir: Keadaan waktu lahir dan bagian tubuh yang keluar lebih dulu: Riwayat sakit: 4 . Ya 1. Tidak 2. Ya 2. Tidak 2. Perdarahan c. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak tahu 8. Ya 1. lemah. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Radang paru. Tekanan darah tinggi dan atau bengkak b. asthma. apakah mengalami komplikasi? a. Cedera/kecelakaan k. Lainnya ________________________________ Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Tidak 2. Tidak 8. Tidak tahu 8. kunang-kunang e. Tidak tahu 8. Sesak nafas i. Pusing. Lainnya. _______________________________ 25. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Sesak napas. Tidak tahu 8. Tidak tahu VI. Tidak 2. Ya 1. Ya 1. Ya 1. Tidak 2. Perdarahan c. Tidak 2. Ketika ibu bersalin.

....... Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c... Penyakit/keadaan lain ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ e........... Penyakit/keadaan utama ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ d... Penyakit atau keadaan utama janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ b......... .. Nama:... tetapi tidak berkaitan dengan penyakit/keadaan janin/bayi maupun ibunya: _____________________________________________________________________________ Kode ICD 10 ... Kode ICD 10 27.............. Telah diperiksa oleh Ketua Tim............................ ......... . Keadaan relevan lain yang menyebabkan kematian bayi/lain. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ____________________________________________________________________________ d........ Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 7 hari – 28 hari (diisi oleh dokter) a....... . ... tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada Rangkaian a-c ________________________________________________________________ ...... Tanda tangan:.... ... Penyakit atau keadaan lain janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ c... Tanggal: .... Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian.. 5 .......................VIB..... ................... Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) _____________________________________________________________________________ b..... Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 0-6 hari (diisi oleh dokter) a.. RESUME KEADAAN IBU (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur ibu ketika melahirkan: GPA: Penolong persalinan: Proses persalinan: Komplikasi kehamilan: Komplikasi persalinan: 26.

Pisang 7.. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. ____________________ III.... Nasi 10. dokter) __________________________________________________________________________________________________________ c.. Ya 2.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini b. . Air madu/gula 3. berapa berat badan ketika lahir c. Apakah [NAMA] lahir prematur? 1. Tidak tahu P2c __________ gram 1. Di Rumah / / b. Ya.. AV2 Prov Kab/ Kota Kec No Kode Sampel No.... Sudah tidak minum ASI 6. Tidak 8. Tidak tahu P4a 3. a. Apakah [NAMA] ketika lahir kecil atau berat badan kurang dari 2500 gram? b.. No. PENGENALAN TEMPAT No.RT II.. Apakah [NAMA] menderita cacat bawaan? b.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ a. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ 2.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 29 hari .. Perempuan 1b. Laki-laki 2. Kutip dari RKD07. bidan. Tidak P2c 8.. Air putih 4. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Sub Desa/Kel D/K Sensus Blok Sensus RKD07. a. Bubur 9.. a. Ya. menyusu Lemah 1. Tidak P4a ______________________________________ 4. Air buah 5. Apakah [NAMA] minum ASI ketika sakit? b. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. Lainnya.. Jika ya.< 5 tahun I. menyusu kuat 2. Ya.. Susu formula 3.. Di fasilitas kesehatan 2. Makanan bayi siap saji 8. Blok No. Tidak tahu 8. Lainnya.. Tidak bisa menyusu 4.hari (<30 hari) 1. Jika ya. Jenis minuman/ makanan apa lagi yang diberikan? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. a.<5 tahun) Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (hari/bulan) 1. Di perjalanan 4.urut yg meninggal: .bulan (< 5 tahun) / / 3. apa penyebab kematian [NAMA]? (termasuk keterangan dari perawat. _________________ 1 . Ya 2. Menurut responden. ASI saja 2. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT BALITA (29 hari . sebutkan jenis cacatnya 2. _____ bln 1.

Ya. Tidak 2. Ya. usia_______bulan 1. Tidak 2.c. Kering 2. Ya. 10. _____hr 1. _____hr ____bln 2. Tidak tahu 8. Tidak P13 2. _____hr 1. 16. Berdahak 1. Tidak 2. 7. _____hr 1. Apakah [NAMA] ada parut BCG a. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? d. Bagaimana hasilnya? Jika positif. apakah sifat batuknya c. Tidak tahu 8. kapan diperiksa? e. Apakah [NAMA] sesak nafas/ sulit bernafas? Apakah [NAMA] nafas dengan cepat? Apakah dinding dada bagian bawah tertarik ke dalam sewaktu menarik nafas? Apakah [NAMA] sakit di daerah perut? a. Ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu 2 . Tidak 8. Tidak 2. Apakah [NAMA] diare? b. 11. Bagaimana sifat demamnya? c. Ya. Ya. Tetanus Campak Hepatitis d. Tidak tahu P13 8. Tidak Tahu 8. Jika ya. Ya. usia ____. Tidak tahu 8. terutama kelopak mata? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? Apakah pergelangan kaki/persendian lain bengkak? 1. 15. Tidak 2. _____hr 1. _____hr 1. Tidak tahu P17 8. Ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Jika positif malaria. Tidak 2. ________ hr 1. Apakah [NAMA] kejang? a. Tidak 2. Tidak tahu 8. _____hr 1. Tidak 8. Apakah dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal berat badan [NAMA] tidak naik? c. Apakah diare disertai lendir dan atau darah? Apakah mata [NAMA] cekung/ haus/ kulit mengkerut/ tidak kencing? a. Tidak Tahu 8. Tidak tahu 8. a. Tidak tahu 8. Tidak 2. Apakah ada benjolan di sekitar leher? b. Tidak tahu 8. Negatif 2. Pertusis. Tidak P17 2. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. _____hr 1. 12. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Tidak Tahu 8. _____bulan 1. _____bln 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. Apakah perut [NAMA] membesar/membuncit? a. Tidak P8 P6 8. Ya. Ya. Positif. Ya. Apakah [NAMA] muntah-muntah? b. Tidak 2. Tidak 2. Apakah warna putih mata jadi kuning? Apakah tubuh [NAMA] berwarna biru setelah beraktifitas atau menangis? Apakah muka [NAMA] bengkak. Ya 1. Ya. Tidak tahu 8. Ya. 17. Ya 1. Berulang disertai keringat malam 2. _____hr 1. Tidak 2. Ya 1. Ya. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. _____hr 1. Apakah [NAMA] mengalami demam sebelum meninggal? b. Jika ya. Ya. Ya. Menggigil 4. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya. Tidak tahu P6 8. Ya. Ya. Tidak 2. Tidak tahu 2. Terus menerus 2. Tidak 2. Ya. Apakah [NAMA] luka/sariawan di rongga mulut? 18. Apakah [NAMA] terlihat pucat terutama di bibir atau telapak tangan? d. Tidak 2. Tidak tahu 8. apakah muntah disertai dengan darah berwarna kehitaman? 13. apakah diberi obat? 6. Batuk terus menerus 8. usia_______bulan 1. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 1. 22. Ya. 21. Tidak tahu P6 5. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Apakah pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? Jika ya. 20. Apakah [NAMA] kurang gizi sebelum sakit? b. _____hr 1. Tidak 2. _____hr ____bln 1. _____. _____hr 1. Tidak Tahu 8. 3. Naik turun 1. Tidak tahu P8 3. _____hr 1. 19. 9. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] batuk? b. Ya 1. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Ya. kapan obat mulai diberikan? 8. Tidak 2. Tidak P6 2. _____hr ____bln 1. Tidak 2. Ya. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. _____bln 1. Apakah ada benjolan yang tidak normal di perutnya? 14. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya. _______hr 1. Tidak 2. _____hr ____bln 1. Ya. Apakah [NAMA] pernah diimunisasi sebagai berikut: Diptheri.

Tidak tahu 8... Jika ya...... _____hr ____bln 2. _____hr 1.... _____hr 1. Tidak P35 8. 25.... Telah diperiksa oleh Ketua Tim. Tanda tangan: . Tidak tahu P35 _______________________________________________________ 1. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a-c ___________________________________________________________________________ Kode ICD 10 .... 28.... Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ___________________________________________________________________________ d... Tidak tahu 8. kalajengking... Ya. _____hr 1.. ..... Apakah [NAMA] pernah cedera karena kecelakaan lalu lintas atau lainnya (jatuh. 32. 29.. _____hr 1. Ya. 34. Tidak tahu 8. _____hr 1. Ya.. Ya. .. Tidak tahu 8. kera. lama sakit): Berat badan lahir: ___________gram Prematur/ Cukup bulan:__________________ 36.. _____hr 1. 33.. 30.. Tidak IV 8. Ya... Tidak tahu IV 35 ________________________________________________________ ________________________________________________________ IV.. Tidak 2. Tidak 2. gejala. Tidak 2. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian.. Tidak 2. Ya... _____hr 1.. sebut jenis binatang apa (anjing. _____hr 1...... dll)? a. Tanggal: _________________________ 3 .. Tidak tahu 8... 24. _____hr 1. _____hr 1.... tenggelam. Ya. _____hr 2.. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. Ya... Tidak tahu 8.. 31.. terbakar..... Tidak 2.. Tidak 2.. Tidak tahu 8..... Tidak tahu 8... Jika ya.. Tidak tahu 8.... Ya.23. Ya.... RESUME RIWAYAT SAKIT BAYI/ BALITA (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur balita: ________ Cacat bawaan: Riwayat sakit (tanda........ dll)? b. Apakah [NAMA] menderita campak sebelum meninggal? Apakah ada bintik-bintik merah di kulit? Apakah [NAMA] mimisan? Apakah [NAMA] sering ngantuk bukan pd jam tidur? Apakah [NAMA] kaku kuduk (kaku di leher)? Apakah [NAMA] mengeluh sakit kepala? Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? Apakah [NAMA] mengalami lumpuh satu atau dua tungkai? Apakah [NAMA] mengalami gangguan kencing? Apakah kencing bercampur darah? a. Tidak 2.. Tidak 2. sebut jenis cedera 1. Tidak 2. Tidak 2.< 5 tahun) (DIISI OLEH DOKTER) a. Tidak tahu 8.... Jika ya.... 27.. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ___________________________________________________________________________ b. Ya. 26. Tidak 2.. _____hr 1. Ya.. . ular.. Diagnosis Penyebab Kematian Bayi/ Balita (29 hari ... Ya. Nama: ... Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] pernah digigit anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b.

. Tidak tahu 3.. Perempuan 1b.. Tidak tahu 8.hr 1. Ya 1.. Bagaimana sifat demamnya? b. 5. apakah diberi obat? 1.. c. ______. Apakah [NAMA] sesak nafas ketika melakukan pekerjaan ringan? Apakah [NAMA] sesak nafas ketika tidur sehingga harus diganjal dengan beberapa bantal? Apakah [NAMA] pernah mengeluh jantung berdebar-debar? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? 8. Terus menerus 2. Tidak/ Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. _____ hr 1. Nomor responden (Kutip dari RKD07.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini . Ya. ____hr ____bln 1. Negatif 2. Di Rumah / / / / 3.. ____hr ____bln 2. AUTOPSI VERBAL UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/ hari) 1a. 6. Ya 1. Ya.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ _______ tahun 1. kapan diperiksa? d. Tidak 2. Lainnya ___________________ III. Tidak tahu 8. Naik turun 1. Ya. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? c. Menurut responden. Berulang disertai keringat malam 2. Tidak P3 8. b.. Ya. Di fasilitas kesehatan 2. Tidak tahu P3 3. Kadang-kadang 2. . Bagaimana hasilnya? Jika positif. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] demam/ panas tinggi sebelum meninggal? a. Positif. Ya.RT II. Jika positif malaria. apa penyebab kematiannya? (termasuk keterangan dari perawat dan dokter)_____________________________________. AV3 I. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: ___________________________________________________________________________________ ____________________________________________________________________________________________________________________________ 1.. Tidak 2. Tidak 8. PENGENALAN TEMPAT Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No.. Kutip dari RKD07.urut yg meninggal: . Tidak tahu 1 ... Tidak 2. Sub Blok Sensus No Kode Sampel No. Naik turun disertai menggigil 4. Tidak 2. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Tidak tahu 8. Blok Sensus No. 4. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT III A. Di perjalanan 4.. No. Laki-laki 2.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS RKD07. 2. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1.

16. ____hr ____bln 1. Tidak 2. ____bln___thn 1. 25. bagaimana timbulnya? 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Berdahak 1. Tak dapat BAK 2. Tidak 2. Ya. ____bln___thn 1. Tidak tahu 8.bln 1. Dahak + darah 4. Tidak 2. Tengah 3. Tidak tahu P30 P29 P28 22. Hilang timbul 1. Ya. Jika ya. 27. gangguannya apa? 3. Jika ya. Tidak 2. Tidak 14. 13. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. Apakah [NAMA] mengeluh nyeri dada hebat? b. 19. Tidak tahu P19 8. Ya 1. Tidak 2. 23. apakah tinja bercampur dengan darah dan lendir? 18. Ya. a. 20. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Di bawah 1. Tidak 2. Tidak tahu 2 . ____hr ____bln 1. Terus-menerus 2. dan sering BAK/ kencing? Apakah [NAMA] pernah ada luka yang sulit sembuh? Apakah [NAMA] ada rasa kesemutan di kaki/ tangan? a. tiba-tiba < 1minggu 2. Ya. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak tahu 8. Di atas 2. ____hr ____bln 1. Tidak 2. pada perut bagian mana? 3. Lainnya. Apakah [NAMA] menderita diare? b. Ya. Kiri 2. Tidak tahu 8. Ya 1. 21. Apakah [NAMA] mengalami nyeri perut? b. Ya. bertahap > 1 minggu 8. Tidak tahu 8. Jika ya. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Ya. Bagaimana sifat nyerinya? 1. 24. Tidak tahu 8. minum.7. Tidak 2. Ya. Tidak 2. Ya. Tidak P14 8. ____thn 1. ____hr 1. Ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Apakah perut [NAMA] membuncit/ membesar? b. Apakah pergelangan kakinya bengkak? Apakah persendian lainnya bengkak? Apakah [NAMA] nafasnya berbunyi/ mengi? Apakah [NAMA] batuk lebih dari 2 minggu? Jika ya. 26. Tidak P29 28. Di tengah 2. Jika ya. Ya. Ya. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak P28 8. Ngompol 4. Kering 2. 11. Tidak tahu 8. Ya. 12. Tidak 2. Tidak tahu P22 P19 P12 2. Apakah ada benjolan di perutnya (tumor)? b. Jika ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu P22 8. Ya. Tidak tahu 8. Ya. _____. Di atas 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Seluruh perut 2. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Ya. 17. a. 10. Di bawah 1. Sedikit-sedikit 1. Tidak P30 29. Apakah [NAMA] nyeri ketika BAK/kencing? Apakah air seninya berwarna merah? Apakah [NAMA] banyak makan. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Kanan 1. Apakah [NAMA] kekurangan cairan tubuh? Apakah [NAMA] mengeluh sulit menelan? Apakah [NAMA] sakit kepala? a. Tidak P12 3. bagaimana sifat batuknya? Apakah [NAMA] pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? a. ____hr ____bln 1. Ada darah 2. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. 9. Ya. 8. Tidak tahu 8. Jika ya. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] nafasnya pendek-pendek dan cepat? Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ketika bernafas? Apakah [NAMA] perokok berat? Berapa lama merokok? a. Ya. ____hr ____bln 1. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Tidak tahu P14 8. 15. ______ 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] ada gangguan Buang Air Kecil (BAK)/ kencing? b. Tidak tahu 8. di bagian mana? c. pada perut bagian mana? 3. ____hr ____bln 1.

Ya. Apakah [NAMA] tampak pucat? Apakah muka [NAMA] bengkak/ sembab? Apakah mata [NAMA] berubah jadi kuning? a. Tidak tahu P31 31. ____hr ____bln 2. Ya. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Tidak 2. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN UMUR 10 THN KE ATAS IV. ditusuk. Apakah [NAMA] bicara kacau selama sakit parah? a. Tidak 2. Ya. Ya. ____hr ____bln 1. Tidak tahu P43 39. Ya. ____hr ____bln 1. tenggelam. Apakah [NAMA] ada luka atau benjolan pada payudara atau kulit payudara berkerut seperti kulit jeruk dan atau puting payudara keluar cairan kemerahan? Apakah [NAMA] keluar darah berlebihan pada saat datang bulan/ menstruasi? 1. 40. a. Tidak tahu 8. kalajengking. anjing. 38. Tidak tahu P33 2. 32. ____bln 1. Tidak P31 8. Tidak P43 8. berapa kali dalam sehari kejang? 8. Ya. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 2. Tidak P44 8. ____hr ____bln _______. Apakah [NAMA] muntah-muntah ketika sakit? b. ____hr ____bln 1. Ya. Tidak 2. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. sebut jenis binatang (kera. ular.kali/ hari 1. Tidak 2. Jika ya. Tidak P34 8. a.RESUME 45. Apakah berat badan [NAMA] turun secara mencolok sebelum meninggal? Apakah [NAMA] mengalami sariawan luas di mulut sebelum meninggal? a. Jika ya. Tidak tahu 8. Tidak 8. serangga lain) • • • ____________________________________________________ 44 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 Tahun Ke Atas IIIB Jika YANG MENINGGAL adalah Laki-Laki Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 5-9 Tahun atau Laki-Laki Umur 5-14 Tahun III B. Jika ya. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Ya. sebut jenis cedera (patah tulang. terbakar. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu P38c ____________________________________________________ 1. 41. ____hr ____bln 2. Apakah [NAMA] menderita kejang? b. ____hr ____bln 1. ____hr 1. Tidak P38c 8. keracunan. Jika ya. Tidak tahu 8. Tidak P36 34. Tidak 2. 37. Apakah [NAMA] pernah cedera akibat kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan lainnya (jatuh. Tidak 2. Ya. Ya. Tidak tahu P44 43. gegar otak dll) ____________________________________________________ ____________________________________________________ 1. Apakah [NAMA] menderita penyakit kulit? b. ____hr ____bln 1. 42. Lengan kiri 1. Jika ya. Jika ya. Tidak tahu 8. Ya. Apakah ada bagian tubuh [NAMA] yang lumpuh? b. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. a. Ya. a. Tungkai kiri 8. Apakah ada benjolan di sekitar leher 2. Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? b. Tidak 2. Tidak tahu P36 36. Tidak tahu 4. Tidak 2. ____hr 1. 46. Apakah [NAMA] pernah digigit oleh anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b. bagaimana proses penurunan kesadaran? P33 8. Tidak 2. Ya. Lengan kanan 2. Tidak tahu P34 33. a. jelaskan gejala yang timbul pada kulit c. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 3 . ____hr ____bln 8. Bertahap beberapa hari 2. Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? b. Ya. dll? b. Jika ya. Tidak tahu 8. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. Tidak tahu 3. Tungkai kanan 2. Ya.30. Ya. bagian tubuh mana yang lumpuh? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. apakah muntahnya campur darah? 1. Ya. Tidak tahu 8. Mendadak 2. Jika ya. Ya. Tidak 2. Apakah ada kaku kuduk? 35.

54 Tahun PERNAH KAWIN IIIC Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Tidak 3. Pada waktu bayi lahir. Tidak 2. Apakah [NAMA] meninggal ketika sedang hamil? Apakah [NAMA] menderita tekanan darah tinggi ketika hamil (dikatakan oleh tenaga medis) atau kejang ? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan hebat ketika hamil? 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. Apakah [NAMA] mengeluarkan cairan tidak normal dari jalan lahir? Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Tidak 2. 64. 61. 57. Ya 1. Ya. 58. 50. Tidak tahu 8. Ya 1. Jika ya. hari ke ____ 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. 62. Tidak 2. Vakum P66a 1. 56. Ya. Tidak tahu 2. Tidak tahu P60 LANJUTKAN KE P65a 60. a. Tidak 2. Bidan 1. Siapa saja yang menolong persalinan? b. Ya. Tidak tahu P52 LANJUTKAN KE P67 52. 53. ____ jam 1. Ya. Lengan/ kaki 8. ____hr ____bln 1. Ya 1. Keluarga 2. Tidak 2. Tidak tahu 48. semua bayi meninggal 67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10-14 Tahun IV. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya. Tidak tahu 4. Tidak tahu 8. 63. Tunggal 1. Tidak 2. Bokong 1. apakah perdarahan masih terus sampai meninggal? 1. Ya. Kepala 2. Tidak 8. hari ke ____ 1. Tidak tahu 8. satu bayi meninggal 4. hari ke ____ 1. Ya 1. Apakah [NAMA] mengalami keguguran (umur kehamilan < 22 minggu/ 5 bulan) sebelum meninggal? Apakah [NAMA] meninggal pada saat melahirkan? Apakah [NAMA] demam tinggi saat melahirkan? Apakah [NAMA] kejang saat melahirkan? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak sebelum bayi lahir? Apakah [NAMA] sulit/ lama (lebih dari 12 jam) ketika melahirkan? Apakah ari-arinya sulit lahir? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak (lebih dari 3 kain) setelah bayi lahir? 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. Ya. Apakah [NAMA] mengalami perdarahan dari jalan lahir di luar siklus menstruasinya? b. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak P60 8. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 10-54 TAHUN 49. Bagaimana kondisi bayi [NAMA] setelah lahir? • • 1. ____hr ____bln 2. Hidup 2. Lahir spontan 2. Tidak 2. Dokter P67 8. Ya. Dukun 2. Kembar. hari ke ____ 1.RESUME 4 . Kembar 3. Tidak 2. 59. Apakah [NAMA] meninggal setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] kejang setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] perdarahan setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] demam tinggi setelah melahirkan? Apakah ada cairan berbau busuk keluar dr jalan lahir setelah melahirkan? a. Tidak 2. hamil ___bln 2. bagian tubuh mana yang keluar lebih dahulu? 66. Kembar. Ya. Tidak tahu P67a 8. Tidak tahu 8.47.67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 55 Ke Atas IIID III C. a. Apakah [NAMA] melahirkan tunggal atau kembar? b.54 Tahun BELUM KAWIN P.Opeasi Sectio P66a 8. Tidak tahu 8. Meninggal 3. 55. _____bln 1. 51. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. hamil ___bln 1. Tidak 2. Dengan cara apa bayi dilahirkan? c. Ya P67 2. Tidak P52 8. Ya. 65. hari ke ____ 1. 54. Tidak Tahu P66a 3.

____bln ____thn 2. . Tidak tahu 8. Ya. Tidak 8. Ya. Tidak 2. Tidak 2. ____bln ____thn 1. Ya. Pengguna narkoba suntik atau pil Jika ya. Tidak 2. AUTOPSI VERBAL UNTUK LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN YANG BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS 68 . Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. gejala. Tidak 2. untuk tanda. lama sakit ): 69. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a. Asthma h. Telah diperiksa oleh Ketua Tim. Peminum alkohol kronik k. ____bln ____thn 1. Tuberkulosis/ Flek paru g. berapa lama ? 1. Tidak tahu IV. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] mempunyai riwayat/ pernah sakit: a. Ya. Tumor/`kanker j. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ________________________________________________________________________ b. Sakit radang sendi (artritis) d. Sakit kuning f. Tidak 2. Ya. ____bln ____thn 1. Tidak tahu 8. Darah tinggi/ sakit jantung b. Tidak tahu 8. Ya. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ________________________________________________________________________ d. Tidak tahu 8. Sakit lambung/ maag e. . Ya. RESUME RIWAYAT SAKIT 5 TAHUN KE ATAS (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur almarhum/ah: Jenis kelamin: Penyakit yang diderita dan lamanya (Blok III D): Riwayat sakit (Blok III A-C. ____bln ____thn 1. Kencing manis c. Ya. Ya.III D. ____bln ____thn 1. Tidak tahu 8. Nama: _____________________ Tanda tangan: _____________________ Tanggal: _____________________ 5 . Tidak 2. Ya. ____bln ____thn 1. Kegemukan (Obesitas) i. . ____bln ____thn 1. Tidak 2.c ________________________________________________________ Kode ICD 10 . Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Diagnosis Penyebab Kematian Umur 5 Tahun Ke atas (diisi oleh dokter) a. Ya. Tidak 2. Tidak tahu 8. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ________________________________________________________________________ c. Tidak 2. Tidak 2. ____bln ____thn 1.

6 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful