P. 1
laporanNasional Riskesdas 2007

laporanNasional Riskesdas 2007

|Views: 264|Likes:
Dipublikasikan oleh Yeni Erlina

More info:

Published by: Yeni Erlina on Jul 15, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2015

pdf

text

original

Sections

  • BAB 1. PENDAHULUAN
  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007
  • Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel
  • 1.3 Pertanyaan Penelitian
  • 1.4 Tujuan Riskesdas
  • 1.5 Kerangka Pikir
  • 1.6 Alur Pikir Riskesdas 2007
  • 1.7 Pengorganisasian Riskesdas
  • 1.8 Manfaat Riskesdas
  • 1.9 Persetujuan Etik Riskesdas
  • BAB 2. METODOLOGI RISKESDAS
  • 2.1 Disain
  • 2.2 Lokasi
  • 2.3 Populasi dan Sampel
  • 2.3.1 Penarikan Sampel Blok Sensus
  • 2.3.2 Penarikan Sampel Rumah Tangga
  • 2.3.3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga
  • 2.3.4 Penarikan Sampel Biomedis
  • 2.3.5 Penarikan Sampel Iodium
  • 2.4 Variabel
  • (6 variabel);
  • 2.6 Manajemen Data
  • 2.6.1 Editing
  • 2.6.2 Entry
  • 2.6.3 Cleaning
  • 2.7 Keterbatasan Riskesdas
  • 2.8 Pengolahan dan Analisis Data
  • BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • 3.1 Gizi
  • 3.1.1 Status Gizi Balita
  • Tabel 3.5
  • Tabel 3.6
  • 3.1.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)
  • Tabel 3.8
  • Tabel 3.9
  • 3.1.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas
  • Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun, Riskesdas 2007
  • 3.1.4 Konsumsi Energi dan Protein
  • 3.1.5 Konsumsi Garam Beriodium
  • 3.2 Kesehatan Ibu dan Anak
  • 3.2.1 Status Imunisasi
  • 3.2.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita
  • 3.2.3 Distribusi Kapsul Vitamin A
  • 3.2.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
  • 3.3 Penyakit Menular
  • 3.3.1 Prevalensi Filariasis, Demam Berdarah Dengue dan Malaria
  • 3.3.2 Prevalensi ISPA, Pnemonia, Tuberkulosis (TB), dan Campak
  • 3.3.3 Prevalensi Tifoid, Hepatitis, Diare
  • 3.4 Penyakit Tidak Menular
  • Keturunan
  • 3.4.2 Gangguan Mental Emosional
  • 3.4.3 Penyakit Mata
  • 3.4.4 Kesehatan Gigi
  • 3.5 Biomedis
  • 3.5.1 Anemia
  • 3.5.2 Diabetes Mellitus
  • 3.6 Cedera dan Disabilitas
  • 3.6.1 Cedera
  • 3.6.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan
  • 3.7 Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
  • 3.7.1 Perilaku Merokok
  • 3.7.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur
  • 3.7.3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol
  • 3.7.4 Perilaku Aktifitas Fisik
  • 3.7.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS
  • 3.7.6 Perilaku Higienis
  • 3.7.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko
  • 3.7.8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
  • 3.8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
  • 3.8.1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
  • 3.8.2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan
  • 3.8.3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan
  • 3.9 Kesehatan Lingkungan
  • 3.9.1 Air Keperluan Rumah Tangga
  • 3.9.2 Fasilitas Buang Air Besar
  • 3.9.3 Sarana pembuangan air limbah
  • 3.9.4 Pembuangan sampah
  • 3.9.5 Perumahan
  • 3.10 Mortalitas
  • 3.10.1 Distribusi Kasus Kematian
  • 3.10.2 Kematian Semua Umur
  • 3.10.3 Kematian Menurut Kelompok Umur
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN

Riset Kesehatan Dasar

(RISKESDAS) 2007

Laporan Nasional 2007

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Republik Indonesia Desember 2008

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA, kita bisa menyelesaikan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kita persiapkan sejak tahun 2006 dan dilaksanakan pada tahun 2007 di 28 provinsi dan tahun 2008 di 5 provinsi wilayah Indonesia Timur. Perencanaan Riskesdas dimulai tahun 2006, dimulai oleh tim kecil yang berupaya menuangkan gagasan dalam proposal sederhana, kemudian secara bertahap dibahas tiap Kamis-Jum’at di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pembahasan juga dilakukan dengan para pakar kesehatan masyarakat, para perhimpunan dokter spesialis, para akademisi dari Perguruan Tinggi termasuk Poltekkes, lintas sektor khususnya Badan Pusat Statistik, jajaran kesehatan di daerah dan tentu saja seluruh peneliti Balitbangkes sendiri. Dalam setiap rapat atau pertemuan, selalu ada perbedaan pendapat yang terkadang sangat tajam, terkadang disertai emosi, namun didasari niat untuk menyajikan yang terbaik bagi bangsa. Setelah cukup matang, dilakukan uji coba bersama BPS di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk menghasilkan penyempurnaan instrumen penelitian. Selanjutnya bermuara pada “launching” Riskesdas oleh Ibu Menteri Kesehatan pada tanggal 6 Desember 2006. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas dilakukan dua tahap, tahap pertama dimulai pada awal Agustus 2007 sampai dengan Januari 2008 di 28 provinsi, tahap kedua pada Agustus-September 2008 di 5 propinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat). Balitbangkes mengerahkan 5.619 enumerator, seluruh (502) peneliti Balitbangkes, 186 dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Labkesda dan Rumah Sakit serta Perguruan Tinggi. Untuk kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun 36,357 spesimen dari sampel anggota rumah tangga usia satu tahun keatas yang berasal dari 540 blok sensus perkotaan di 270 kabupaten/kota terpilih. Proses editing, entry, dan data cleaning sebagai bagian dari manajemen data Riskesdas dimulai pada awal Januari 2008, yang secara paralel dilakukan pula pembahasan rencana pengolahan dan analisis. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan protes, dari sindiran melalui jargon-jargon Riskesdas sampai protes keras. Dan ini merupakan ujud dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Kini telah tersedia data dasar kesehatan yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Indonesia berupa seluruh status dan indikator kesehatan termasuk data biomedis, yang tentu saja amat kaya dengan berbagai informasi di bidang kesehatan. Kami berharap data itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peneliti yang sedang mengambil pendidikan master dan doktor. Kami memperkirakan akan muncul ratusan doktor dan ribuan master dari data Riskesdas ini. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, para dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Ahli, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas, termasuk mereka yang wafat selama Riskesdas dilaksanakan.

i

Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun sebagai langkah perdana pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas ke-2 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tahun 2010 nanti. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

Jakarta, Desember 2008
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Dr. Triono Soendoro, PhD

ii

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Departemen Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator dan data dasar kesehatan berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dihasilkan melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik daerah, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, data Riskesdas yang menggunakan sampling Susenas Kor 2007, menjadi lebih lengkap untuk mengkaitkan dengan data dan informasi sosial ekonomi rumah tangga. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai angka standar yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia, mengingat sampai saat ini sebagian besar standar yang kita pakai berasal dari luar. Dengan berhasilnya Riskesdas yang baru pertama kali dilaksanakan ini, saya yakin untuk Riskesdas dimasa mendatang dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Karena itu, Riskesdas harus dilaksanakan secara berkala 3 tahun sekali sehingga dapat diketahui pencapaian sasaran pembangunan kesehatan di setiap wilayah, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Untuk tingkat kabupaten/kota, perencanaan berbasis bukti akan semakin tajam bila keterwakilan data dasarnya sampai tingkat kecamatan. Oleh karena itu saya menghimbau agar Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ikut serta berpartisipasi dengan menambah sampel Riskesdas agar keterwakilannya sampai ke tingkat Kecamatan. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada para peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, jajaran Labkesda dan Rumah Sakit, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan.

iii

Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)

iv

RINGKASAN
A. Ringkasan Eksekutif
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan, yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. Indikator yang dihasilkan berupa antara lain status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada konsep Henrik Blum, merepresentasikan gambaran wilayah nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan Riskesdas 2007 adalah: 1. Bagaimana status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota; 2. Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan kesehatan; dan 3. Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik? Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, dirumuskan tujuan antara lain yaitu penyediaan data dasar status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat rumah tangga maupun tingkat individual, dengan ruang lingkup sebagai berikut: 1. Status gizi; 2. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan; 3. Sanitasi lingkungan; 4. Konsumsi makanan; 5. Penyakit menular, penyakit tidak menular dan riwayat penyakit keturunan; 6. Ketanggapan pelayanan kesehatan; 7. Pengetahuan, sikap dan perilaku; 8. Disabilitas; 9. Kesehatan mental; 10. Imunisasi dan pemantauan pertumbuhan; 11. Kesehatan bayi; 12. Pengukuran anthropometri, tekanan darah, lingkar perut dan lingkar lengan atas; 13. Pengukuran biomedis; 14. Pemeriksaan visus; 15. Pemeriksaan gigi; 16. Berbagai autopsi verbal peristiwa kematian; dan 17. Mortalitas. Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat deskriptif. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error, relative standard error, confidence interval, design effect dan jumlah sampel tertimbang menyertai setiap estimasi variabel. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 berhasil mengumpulkan sebanyak 258.366 sampel rumah tangga dan 987.205 sampel anggota rumah tangga untuk pengukuran berbagai variabel kesehatan masyarakat. Riskesdas 2007 juga mengumpulkan 36.357 sampel untuk pengukuran berbagai variabel biomedik dari anggota rumah tangga yang berumur lebih dari 1 tahun dan bertempat tinggal di desa/kelurahan dengan klasifikasi perkotaan. Khusus untuk pengukuran gula darah, berhasil dikumpulkan sebanyak 19.114 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun. Untuk tes cepat yodium, berhasil dilakukan pengukuran pada 257.065 sampel rumah tangga, sedangkan untuk pengukuran yodium di dalam urin, berhasil dilakukan pengukuran pada 8.473 sampel anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di 30 kabupaten/kota dengan berbagai kategori tingkat konsumsi yodium. Hasil pemeriksaan biomedis akan dilaporkan tersendiri. Keterbatasan Riskesdas mencakup non-random error antara lain: pembentukan kabupaten baru, blok sensus tidak terjangkau, rumah tangga tidak dijumpai, periode waktu pengumpulan data yang berbeda, estimasi tingkat kabupaten tidak bisa berlaku untuk semua indikator, dan data biomedis yang hanya mewakili blok sensus perkotaan. Khusus untuk lima provinsi (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT) baru dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008, sementara 28 provinsi lainnya telah selesai dilaksanakan pada tahun 2007.

v

Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan. Dengan 900 variabel, maka hasil Riskesdas 2007 telah dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis lanjut, pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan, penelusuran hubungan kausal-efek, dan pemodelan statistik. Riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan, misalnya prevalensi gizi buruk yang berada diatas rerata nasional (5,4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Namun demikian, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target Millenium Development Goals sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat dicapai pada 2007. Posyandu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78,3%; balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih), ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut adalah 45,4%, 29,1%, dan 25,5%. Sedangkan kegiatan di posyandu untuk pemberian suplemen gizi (47,6%), PMT (45,7%), pengobatan (41,2%) dan imunisasi (55,8%). Secara keseluruhan, cakupan imunisasi pada anak usia 12 – 23 bulan menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86,9%), campak (81,6%), polio tiga kali (71,0%), DPT tiga kali (67,7%) dan terendah hepatitis B (62,8%). Secara keseluruhan, proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11,5% (berdasarkan catatan yang ada), dan ibu hamil yang memeriksaan kehamilan sebanyak 84,5%. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97,1%) dan penimbangan berat badan ibu (94,8%). Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33,8%) dan pemeriksaan urine (36,4%). Khusus untuk provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua ditemukan sebanyak 60% melahirkan bayinya di rumah. Penolong persalinan yang dominan di perkotaan adalah bidan (61,7%), sedangkan di perdesaan yang dominan adalah dukun bersalin (45,9%). Dari pemetaan penyakit menular, tampak keberhasilan program pengendalian malaria di Jawa-Bali (prevalensi <0,5%). Di lain pihak, ketimpangan juga terlihat jelas dengan adanya prevalensi malaria yang mencapai 26,14%, sembilan kali lebih besar dari prevalensi nasional atau 145 kali lebih besar dari prevalensi yang terendah, yaitu 0,18%. Untuk mencegah penyebaran malaria diperlukan program pengobatan yang cepat dan tepat. Riskesdas 2007 menggambarkan kesadaran masyarakat untuk berobat dan akses terhadap obat malaria program secara nasional sebesar 47,7%, walaupun beberapa provinsi sudah menunjukkan tingkat pengobatan malaria dalam 24 jam pertama cukup tinggi. Untuk diare, penggunaan oralit dalam 24 jam pertama juga masih di bawah 50%, kecuali pada kelompok balita –di mana prevalensinya tertinggi- penggunaan oralit sudah di atas 50%. Selain itu, Riskesdas 2007 juga memperlihatkan perubahan epidemiologis penyakit, contohnya demam berdarah dengue, yang prevalensi tertinggi tidak lagi dijumpai pada anak-anak, melainkan pada kelompok dewasa muda (25-34 tahun). Hasil utama Riskesdas 2007 menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik, strok, hipertensi, obese dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan, kemiskinan, dll). Penyakit hipertensi misalnya, tidak berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi (kuintil pengeluaran) seperti pada kuintil 1 (30,5%) dan kuintil 5 (33,0%), dan mulai banyak dijumpai pada kelompok usia muda 15 – 17 tahun (8,3%). Sebaliknya patut diduga penyakit diabetes yang diambil dari 356 kab/kota daerah perkotaan mencakup 24.417 orang (usia > 15 tahun) menunjukkan gambaran lebih tinggi pada kuintil 5 (7,1%) dibanding kuintil 1 (4,1%). Demikian halnya

vi

kejelasan informasi (75. 3 domain seperti ‘waktu tunggu’ tercatat 84.2%).4%. 2001) menjadi 11. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita terendah adalah Kota Tomohon (4.9%).4% dan domain ‘kebersihan ruangan’ (82.3% (SKRT. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%).8% (kuintil 1) Prevalensi disabilitas menunjukkan peningkatan yang berarti.3%).5%) telah tercapai pada 2007. Aceh Barat Daya (39.1%). dari 12. dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13.3% (Riskesdas 2007). dari 10.6%.7%). Maluku. Mamuju Utara (39. Prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11.3%). Demikian halnya dengan perilaku merokok kelompok penduduk >15 tahun cenderung meningkat. Nusa Tenggara Timur. Kota Jakarta Selatan (8. Namun demikian. Kalimantan Barat. Gianyar (6.1%). • Secara nasional. Bantul (7. Ditemukan peningkatan proporsi usia mulai merokok pada umur <20 tahun. Rote Ndao (40. Badung (7. sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional.8% (Asia 5% . Sulawesi Barat.dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31.9% (Riskesdas.2%).8%). Kalimantan Tengah. baik di perkotaan maupun di perdesaan.1 tahun) dibanding periode 2000-2005 (66. Jambi.3%).7% (SKRT 2004) menjadi 21.0% (Susenas 2003) menjadi 33.8%) dan kebersihan ruangan (78. Nusa Tenggara Barat.8%). Keadaan ini lebih baik dibanding dengan hasil Surkesnas 2004 yaitu waktu tunggu (78.4% (Riskesdas. Sumatera Barat.2%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita tertinggi berturut-turut adalah Aceh Tenggara (48.9% dan katarak (1. vii . maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18.7%).3%). Dari ketanggapan rawat inap.5%) dan congenital malformations (18. Kupang (38.8%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5% (kuintil 5).0%).7%). B. Kota Madiun (6. sedangkan untuk usia (728 hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20. Gorontalo. Riau. Tabanan (7. yaitu terbanyak adalah diare (25. Papua Barat dan Papua. dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.4%) dan pnemonia (23.1%).9%). Timor Tengah Selatan (40. kebutaan 0. Tapanuli Utara (38. Maluku Utara.9%) dan premature (32. Sulawesi Tenggara.3%).1%).8%). penyeban kematian yang terbanyak adalah stroke.0%).2% menurut SKRT 2001.6%). Tidak ada perbedaan perilaku merokok antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi.5%). Sedangkan untuk usia > 5 tahun. dan 8. Sulawesi Tengah. 2007). Patut diduga bahwa peningkatan jumlah kasus katarak ini berkaitan erat dengan peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia pada periode 2005-2010 (69.8%) yang meningkat dari 1. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi.2 tahun). ‘kejelasan informasi’ 85. Kota Magelang (8. Simeulue (39. Minahasa (6. Ringkasan Hasil Status Gizi Balita • Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5.2%) dan pnemonia (15. Sumatera Utara. Kepulauan Aru (40.8%. dan Buru (37.8%). masing-masing sebesar 10. 2007) Proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. Terdapat 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.5%).4%). dan Bondowoso (8. Penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35. dari 32. Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran.0%.

Seruyan (41. dan Luwu Timur (21. Kota Tanjung Pinang (19. Kepulauan Riau. Kota Jakarta Selatan (20. Sulawesi Tenggara. Jambi.7%). Sumatera Utara. Kalimantan Timur. Kota Madiun (21. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat.4%). Gayo Lues (59. Nusa Tenggara Barat. Banten. Timor Tengah Utara (59. Kalimantan Tengah. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Barat.2% (wasting-kritis).7%). Maluku dan Papua. Lampung. Maluku Utara.7%). Sulawesi Tengah. Gorontalo. Jawa Timur. Lampung. dan Papua Barat.3%. yaitu DI Aceh. Sumatera Barat. viii . yaitu Sumatera Utara. Kota Salatiga (4. Sumatera Selatan. Sumatera Utara. Nias Selatan (67.6%). Jawa Timur. Seram Bagian Barat (31. Gorontalo. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus tertinggi adalah Solok Selatan (41.0%). dan Aceh Utara (29. Sulawesi Selatan. Kalimantan Tengah. Sorong Selatan (60. Sulawesi Tengah. Riau. Maluku. Bali.3%. Tapanuli Selatan (31. DKI Jakarta. Kalimantan Barat. Manggarai (33. Cianjur (5.6%). yaitu DI Aceh. Banten. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10. Kalimantan Selatan.8%.4% (wasting-serius) dan Balita Sangat Kurus adalah 6. Maluku. prevalensi nasional Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek (stunting) adalah 36. Kepulauan Riau.5%).0%). Jambi. Nagan Raya (30. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus terendah adalah Minahasa (0%). dan Kapuas Hulu (59. • Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional.9%). • Prevalensi nasional Balita Kurus adalah 7. Sulawesi Barat.4%). Kalimantan Timur. Gorontalo. Kota Bogor (4. Kota Tomohon (2.3%). Tapanuli Utara (61.1). dan Papua Barat. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah.8%). • Secara nasional. Kota Sukabumi (3. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek di atas prevalensi nasional. Kota Bekasi (21. • Secara nasional. Bandung (4.0%). Buru ( 30. Jawa Timur. Sumatera Selatan. Bali.0%). • Secara bersama-sama.9%).9%.9%). Kota Batam ( 20. Kota Magelang (5. Sebanyak 18 provinsi mempunyai Balita Gemuk diatas prevalensi nasional. Sulawesi Barat.2%).4%). Jambi.3%).3%). Maluku. dan Papua. Banten. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek tertinggi adalah Seram Bagian Timur (67. Kalimantan Tengah.1%). Kalimantan Barat.9%). Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Selatan.6%).7). Simeulue (63. .9%).2%). Riau. DKI Jakarta.9%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek terendah adalah Sarmi (16.5%). yaitu DI Aceh. Riau.• Prevalensi nasional Gizi Lebih Pada Balita adalah 4.3%).0%). Bengkulu. Sumatera Utara. Bangka Belitung. Sumatera Selatan. Kalimantan Tengah.2%). Kampar (20. yaitu DI Aceh. Papua Barat. Bengkulu. Maluku. Kota Mojokerto (19.1%). Lampung. Aceh Tenggara (66. Banten. Status Gizi Penduduk Umur 6-14 Tahun (Usia Sekolah) • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13. Sumatera Barat.9%). Kalimantan Timur. Riau. • Sebanyak 25 provinsi mempunyai prevalensi Balita Kurus diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. • Prevalensi nasional Balita Gemuk adalah 12. Maluku Utara. Asmat (30. Sulawesi Barat.6%). Sumatera Selatan. Aceh Barat Daya (60. dan Bangka (5. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. dan Maluku Utara. Jambi. Bengkulu. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Lebih Pada Balita diatas prevalensi nasional. DI Yogyakarta. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. Wajo (18. Sumatera Selatan. Sulawesi Barat. Kalimantan Timur.6%).2%.

Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Papua Barat. dan Maluku. dan Papua. Kalimantan Timur. Sumatera Utara. Jawa Barat. DKI Jakarta. Riau. Kalimantan Barat. Lampung. Jawa Tengah.5 kkal. bahwa prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Laki-Laki Umur ≥ 15 Tahun adalah 13. Kalimantan Selatan. • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9. yaitu Riau. Sulawesi Utara. DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara. Riau. Jawa Timur. dan Papua. sedangkan prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Perempuan Umur ≥ 15 Tahun adalah 23. Konsumsi Energi Dan Protein • Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1. Banten. Jambi. DKI Jakarta.5%. Bali.8%. Jambi. Lampung. Sulawesi Utara. Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Jawa Timur. Jambi. dan Papua. Bangka Belitung.• Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. Bengkulu. Jawa Timur. Jawa Timur.735. Bengkulu. dan Maluku. Banten. Sulawesi Tenggara. Jawa Timur. Kalimantan Timur. dan Papua. Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan. Kalimantan Timur. dan Papua. Sumatera Selatan. yaitu DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Barat. Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Kepulauan Riau. yaitu DI Aceh. Nusa Tenggara Timur. Lampung. Papua Barat. Banten. Riau. Jambi. Riau. • Prevalensi nasional Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 18.4%. Kepulauan Riau. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Kalimantan Tengah. DI Yogyakarta. Maluku Utara. Lampung. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung. • Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Lakilaki) diatas prevalensi nasional. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Riau.8%. Bali. Jawa Barat. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6. Sulawesi Selatan. Maluku Utara. Jawa Tengah. Sumatera Utara. DI Yogyakarta. • Berdasarkan perbedaan menurut jenis kelamin menunjukkan. yaitu DI Aceh. Sumatera Selatan.6%. DKI Jakarta. Kalimantan Timur. Jawa Tengah. Kepulauan Riau. Kalimantan Barat. Status gizi Wanita Usia Subur 15-45 tahun • Prevalensi nasional Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13. Nusa Tenggara Barat. Nusa ix . DKI Jakarta. • Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Status Gizi Penduduk Umur ≥ 15 Tahun • Prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 10. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur diatas prevalensi nasional.9%. Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Bali. Jambi. yaitu DI Aceh. Kepulauan Riau. Sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Bengkulu. Banten. Sumatera Selatan. Kepulauan Riau. yaitu Sumatera Utara. yaitu DI Aceh. DKI Jakarta. Maluku Utara. Kalimantan Selatan.3%. yaitu Bangka Belitung. Bangka Belitung. Gorontalo. Papua Barat. DKI Jakarta. Maluku. Maluku. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. • Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Jawa Barat. Bengkulu.

Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Sumatera Barat. Gorontalo. sebanyak 62.1%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Banten. Bali. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa x . yaitu Sumatera Barat. Maluku. Sulawesi Tenggara. Sebanyak 16 provinsi mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Jambi. Kalimantan Tengah.9%. Sulawesi Selatan.1%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Kalimantan Barat. Sumatera Utara. Jawa Barat. Banten. Kepulauan Bangka Belitung.0%. Sumatera Selatan. Karo (99. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Barat.8%.5 gram. Maluku. Bireuen (5. Jawa Timur.9%).4%).5%).Tenggara Barat. Seram Bagian Timur (10. ternyata persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (30-80 ppm KIO3) adalah 24. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Timur. Tolikara (100%).8%). Sulawesi Utara. Siak (100%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Rokan Hulu (99. Maluku Utara. Aceh Utara (12. Gorontalo. Jawa Barat. Sumatera Utara. Kalimantan Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Gorontalo dan Papua Barat.0%). Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. • Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55. Kalimantan Timur. Bengkulu. Kalimantan Selatan. Maluku. Kalimantan Barat. Jawa Barat. Bangka (100%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. • Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 71. yaitu Sumatera Barat. Jawa Tengah. • Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 67. Musi Banyuasin (99.3% rumah tangga Indonesia mempunyai garam cukup iodium. Sulawesi Tengah. DI Yogyakarta.5%). Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah.5%). Kalimantan Barat.7%. dan Sulawesi Barat. Dompu (11. Flores Timur (11. Status Imunisasi • Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 86.7%). Bangka Belitung. Sulawesi Barat. Sulawesi Tenggara. Jeneponto (11. Kalimantan Barat. Waropen (100%). Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Sumatera Utara. Banten.8%). Kalimantan Selatan.5%. Kepualauan Mentawai (100%). Merangin (100%). Rote Ndao (11. • Secara nasional. Banten. • Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 62. • Dari sampel 30 kabupaten/kota. Konsumsi garam beriodium • Secara nasional. Kalimantan Tengah. Bangka Belitung. Sumatera Utara. Sumatera Selatan. Banten. Jambi. Nusa Tenggara Barat. Maluku Utara. Gorontalo. Kalimantan Tengah. dan Sulawesi Barat. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia terendah adalah Pidie (1.8%). Lampung. Tabanan (11. Sulawesi Barat. Sulawesi Barat. DKI Jakarta. Papua Barat dan Papua. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia tertinggi adalah Nagan Raya (100%). dan Bima (12. Sumatera Barat. Jawa Barat.3%). Sebanyak 6 provinsi telah mencapai target Universal Salt Iodization 2010 (90%).

Wonogiri (80. Keerom (86.6%). Wonogiri (84. Semarang (94.1%). dan Kepulauan Seribu (100. Kulon Progo (92. Gorontalo. Labuhan Batu (34.3%). Jawa Barat. Temanggung (93.6%). dan Sulawesi Barat.4%). Bangka Belitung. Bangka Belitung.Tenggara Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Barat.9%). Papua Barat dan Papua. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Tengah. Malinau (78.9%).8%). Sulawesi Barat.5%). • Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 81.6%). Kalimantan Tengah. Bengkulu. Sumatera Barat. Sidenreng Rappang (0.6%).0%). Lampung. Banten. Sulawesi Tenggara. • Secara nasional.6%.3%). yaitu Sumatera Selatan. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak • Persentase nasional Bayi Berat Lahir Rendah (< 2. Sulawesi Selatan. Mamasa (26. Keerom (88. Puncak Jaya (0%). Jawa Barat. Papua Barat dan Papua. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin terendah adalah Maros (0.0%). Berau (79.0%). • Secara nasional.4%). Sulawesi Barat. Kalimantan Barat. Banten.8%). Sulawesi Tengah. Kepulauan Sula (26. Karanganyar (83. Keerom (94.8%). Tolikara (0%). Bangka Belitung. Pinrang (1.6%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A dibawah persentase nasional. Jambi. Bintan (93.8%). dan Jayawijaya (4.1%). Kapuas (32. Pemantauan Pertumbuhan Balita • Persentase nasional Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir adalah 45.500 gram) adalah 11. Asmat (4. Maluku. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A tertinggi adalah Landak (92.5%).0%). Grobogan (85. DI Yogyakarta. Takalar (2. Lampung.3%). yaitu Sumatera Utara. Sumatera Selatan. Riau. Paniai (16. Papua Barat dan Papua. 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%). Tolikara ( 28. Jeneponto (1.5%.9%). Sumedang (92. Sulawesi Tengah. Pegunungan Bintang (2.8%). • Secara nasional.7%).7%).3%). Riau. Sebanyak 19 provinsi mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir dibawah persentase nasional. Sikka (86. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase Bayi Berat Lahir Lahir Rendah diatas persentase nasional. Distribusi Kapsul Vitamin A • Persentase nasional Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A adalah 71. Nusa Tenggara Barat. yaitu Sumatera Utara. Maluku.0%). Bengkulu.8%).5%.2%).5%).1%). Gayo Lues (1.3%). Bangka Belitung. Buru (23. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Anak Umur 659 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A terendah adalah Yahukimo (5. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin tertinggi adalah Kepulauan Seribu (100.9%).4%).0%). Sulawesi Tenggara. Sulawesi Barat. dan Wajo (2.0%).6%).4%. Bone (1. Kepulauan Riau. Sumatera Utara. Badung (81. Kepulauan Riau. xi . Pangkajene Kepulauan (2.7%).2%).9%). Lembata (93. Jambi. dan Mandailing Natal (36.9%). Yahukimo (0%).2%). Sabang (96. Paniai (0%). dan Gunung Kidul (83.7%). Raja Ampat (96. Gowa (1.0%). dan Wonosobo (78. Maluku. Kota Bontang (81.9%). Dairi ( 35. Nusa Tenggara Timur. Maluku. Kalimantan Barat. Papua Barat dan Papua.5%). Banten. Kota Surakarta (93.7%). Sulawesi Selatan. Bantaeng (1. Nias Selatan (4.0%). Maluku Utara. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan.0%).0%). Flores Timur ( 85. Kalimantan Tengah. Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Kota Metro (80.0%).3%). Sumatera Selatan. Kalimantan Barat. Timor Tengah Utara (84.

Jambi. Nusa Tenggara Barat.1%). Sulawesi Tengah. • Secara nasional.8%).3. Gorontalo.3%).3%). Kota Palembang (6. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku Utara. Maluku Utara. • Prevalensi nasional Malaria (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. dan Papua. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi xii . Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua.5%). Kepulauan Riau. Maluku Utara. Bangka Belitung.7%). Bengkulu.8%). Raja Ampat (55.5%). Papua Barat dan Papua adalah di rumah (berkisar antara 65.1%). Papua Barat dan Papua. Sikka (55.1%).13%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63.7%). • Prevalensi nasional Pnemonia (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Maluku. DKI Jakarta. Pegunungan Bintang (59. Maluku. dan Papua.9%). Sumatera Barat. Nusa Tenggara Timur. Riau. • Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah.5%). Manggarai (61. Sumatera Utara.Kalimantan Tengah.0%). Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Udara • Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25.85. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau.85%. Papua Barat. Sorong Selatan (56. Jawa Tengah. • Tempat Melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.4% .4%). Pulang Pisau (6. dan Pontianak (8. Ngada (58. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pnemonia diatas prevalensi nasional. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3. Nusa Tenggara Timur. Papua Barat.11%. Hanya sebagian kecil ibu di 5 provinsi ini memilih tempat melahirkan di polindes/poskesdes (berkisar antara 0. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Kota Denpasar (4.0%). Maluku. Jawa Barat. Gorontalo. Kota Pagar Alam (7. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Papua Barat dan Papua. Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. dan Puncak Jaya (56. Sulawesi Selatan. Gorontalo. Maluku. dan Papua. Maluku Utara.99%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan.8%). Papua Barat dan Papua • Persentase tempat melahirkan tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Penyakit Menular – Ditularkan Vektor • Prevalensi nasional Filariasis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Malaria diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Demam Berdarah Dengue (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Sulawesi Barat.6%). Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Filariasis diatas prevalensi nasional. Maluku Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Langkat (7. Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. Banten.6%). Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Demam Berdarah Dengue diatas prevalensi nasional. Kota Pasuruan (8. Lembata (62. Kalimantan Tengah.50%. Nusa Tenggara Timur. Banten. Papua Barat. Bangkulu. Ogan Komering Ulu (6.62%. Kalimantan Timur. Manggarai Barat (63. Kota Binjai (5. Bengkulu. Kalimantan Barat. Maluku.7%). Sulawesi Tengah.8%). Nusa Tenggara Barat.5% . Gorontalo.1%).

Jawa Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi terendah adalah Yakuhimo (0. Bengkulu. Gorontalo. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat.6%). Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat. Banten. Garut (55. dan Papua Barat. provinsi mempunyai prevalensi Tifoid diatas prevalensi nasional. Sumatera Barat. Gorontalo. Maluku Utara. Sulawesi Selatan. Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua. Bengkulu. Wonogiri (49. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat dan Papua. Kalimantan Tengah. Kalimantan Timur. Sumatera Barat.5%). Majalengka (51. • Prevalensi nasional Campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. yaitu Riau.8%). Jawa Barat. DKI Jakarta. Sulawesi Tengah. Lembata (57. • Secara nasional. dan Sulawesi Barat. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Timur. Kota Payakumbuh (11. Rokan Hilir (47. Bali. Riau. Sulawesi Selatan. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun tertinggi adalah Natuna (53. Jawa Timur. Tasikmalaya (56. Ogan Komering Ulu Timur (10.0%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. xiii . Nusa Tenggara Timur. Penyakit Tidak Menular • Prevalensi nasional Penyakit Sendi adalah 30. Jawa Tengah. Sulawesi Tengah. Tolikara ( 53. Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Makanan dan Minuman • Prevalensi nasional Tifoid (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. • Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 9. Riau.1%). dan Papua. Gorontalo. Kalimantan Selatan. Riau. Kalimantan Selatan.7%). Gorontalo. Sumedang (55. Ogan Komering Ulu (8. Banten. Nusa Tenggara Timur. Kota Makassar (12. Nusa Tenggara Timur.9%). Barito Timur (11. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat.5%). Gorontalo. Jawa Tengah. Katingan (49. dan Jeneponto (51. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Timur..9%).1%).7%). Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun diatas prevalensi nasional.8% (berdasarkan pengukuran). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.00%. Banten.1%). Papua Barat dan Papua. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Campak diatas prevalensi nasional. Sulawesi Selatan. Manggarai (54. Sumatera Barat. Karo (11. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Kalimantan Selatan.60%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Sendi diatas persentase nasional.5%). Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. Jawa Timur. DKI Jakarta.2%). Kota Binjai (10. Nusa Tenggara Barat.9%). • Secara nasional. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi tertinggi adalah Sampang (57.9%). Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Hepatitis diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Hepatitis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0.18%. Jambi.7%).2%).7%). Papua Barat dan Papua.3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). • Prevalensi nasional Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29. Sulawesi Tengah. Mamasa (50.3%).6%). Kalimantan Selatan.Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional. Sebanyak . yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan. Sumatera Barat.5%). Papua Barat. Jawa Barat. Cianjur (56.60%. Sulawesi Tenggara. DI Yogyakarta. Sulawesi Tengah. Riau. DI Yogyakarta. Bangka Belitung.4%). Sulawesi Utara.9%). Siak (9. Banten. Hulu Sungai Selatan (48.6%). Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur.

DI Yogyakarta. Sulawesi Utara. dan Sulawesi Barat. Bangka Belitung.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Tapin (46. Kepulauan Riau. Pegunungan Bintang (13.6%). Bali. Tana Toraja (9. DI Yogyakarta. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Jiwa Berat diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan.2%).7%). Jawa Tengah.6%).3%). Sulawesi Tengah. Sulawesi Tenggara.5%). Sarmi (14. dan Tulang Bawang (15. DKI Jakarta. Kalimantan Timur. Sulawesi Utara. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma tertinggi adalah Aceh Barat (13. Lampung Utara (0. Sumba Barat (11.5%). Bangka Belitung. dan Kota Binjai (0. dan Kota Salatiga (45. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat.6%). Sumatera Barat. • Prevalensi nasional Buta Warna adalah 0. Boalemo (11.0%). Bangka Belitung. Pohuwato (13.9%). Sulawesi Tengah.4% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Tapanuli Selatan (0. • Secara nasional. Gorontalo. Tolikara (12.2%).1%).1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sumatera Barat. Sumatera Barat. Teluk Wondama (9. yaitu Sumatera Barat. Kepulauan Mentawai (11.5% (berdasarkan keluhan responden). Jawa Tengah. Gorontalo.1%). Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Glaukoma diatas prevalensi nasional. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Stroke diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur.6%). Karo (0. dan Papua Barat.6%). Lampung Tengah (). • Prevalensi nasional Penyakit Tumor/Kanker adalah 0. Kediri (0.5% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). dan Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tenggara.6%). DKI Jakarta. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6. Sulawesi Selatan. Jawa Timur.6%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0. yaitu xiv . Seluma (14. • Prevalensi nasional Penyakit Asma adalah 4.6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1. dan Sulawesi Selatan. Sumatera Selatan. • Prevalensi nasional Penyakit Jantung adalah 7. Nusa Tenggara Timur. Riau. Sulawesi Utara. Sorong Selatan (10. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Jantung diatas prevalensi nasional.6%).5%). Kepulauan Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Soppeng (0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.0%). DKI Jakarta.0%). dan Manggarai (9.1%).5%).9%). Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional.5%). Bengkulu Selatan (11. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Langkat (0. Kepulauan Riau. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. dan Papua Barat.5%). DKI Jakarta. Jawa Barat. Sulawesi Tengah.2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Tumor/Kanker diatas prevalensi nasional.Kuantan Senggigi (46. Kaimana (10.7%). Nusa Tenggara Barat. • Prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0. Sumatera Barat. dan Papua Barat. DKI Jakarta.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Jawa Barat. Gorontalo. Riau. • Prevalensi nasional Strok adalah 0.4%). Serdang Bedagai (0.2%). Sulawesi Utara. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Banten. Banjar (9. Sumatera Barat.7%). Buol (13. • Prevalensi nasional Glaukoma adalah 0. DI Yogyakarta.7% (berdasarkan keluhan responden). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta.2%). Jawa Tengah. Bener Meriah (46. Sebanyak 6 provinsi mempunyai prevalensi Buta Warna diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur.5%). Yahukimo (13.8%). Kepulauan Riau. Kalimantan Selatan.

Sidoarjo (1. Jawa Tengah.9%). Lampung. • Prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Utara. Kalimantan Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.6%).4%). DKI Jakarta. Banjarnegara (30. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. Gorontalo. Riau. • Prevalensi nasional Hemofilia adalah 0. Gorontalo. Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. Sumatera Selatan.4%). dan Muaro Jambi (2.7%). Sulawesi Tengah. dan Papua Barat. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah. Maluku Tengah (2. dan Sulawesi Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33. Maluku. Aceh Selatan (32. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Dermatitis diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau.0%). Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Bibir Sumbing diatas prevalensi nasional.9%). Pulang Pisau (1. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. dan Papua Barat.9% (berdasarkan hasil pengukuran.1%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. Jayapura (1. • Prevalensi nasional Talasemia adalah 0. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Low Vision diatas prevalensi nasional.7% (berdasarkan keluhan responden). DI Yogyakarta. Papua Barat dan Papua. Bengkulu.2% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara).0%). Kepulauan Riau. DKI Jakarta. Bangka Belitung. Sumatera Barat. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Sumatera Selatan. Kepulauan Riau. dan Nusa Tenggara Barat. Sumatera Selatan. Bengkulu.4% (berdasarkan keluhan responden). Jawa Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. Boalemo (29. Cirebon (29. DKI Jakarta. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Belitung Timur (31. Kalimantan Tengah. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Timur. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1. Manggarai (32. Sumatera Barat.1%). Tabalong (2. Sumatera Selatan. • Prevalensi nasional Dermatitis adalah 6.4%). Kalimantan Tengah. Jawa Tengah.8% (berdasarkan hasil pengukuran. Sumatera Barat. Jawa Tengah. dan Gorontalo. Kalimantan Selatan. Jawa Timur. Bangka Belitung. dan Gorontalo. DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Rhinitis adalah 2. DKI Jakarta. DKI Jakarta. Sumatera Barat. DI Yogyakarta. • Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 11. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Talasemia diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Kalimantan Selatan.5%). Jawa Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.9%). Bangka Belitung. • Prevalensi nasional Bibir Sumbing adalah 0. dan Gorontalo. visus <20/60 – 3/60).Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa xv . Bengkulu. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Kepulauan Riau. Bengkulu. • Persentase nasional Low Vision adalah 4. Kudus (2.9%).1% (berdasarkan keluhan responden). Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan.9%) dan Kota Malang (29. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Rhinitis diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Utara.6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur.6%). Jawa Barat.4%). Kota Baru (2. Sulawesi Tengah. • Secara nasional. Sulawesi Selatan. visus < 3/60).7%). Purwakarta (32. Sumatera Selatan. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Hemofilia diatas prevalensi nasional. Sulawesi Utara.8% (berdasarkan keluhan responden). Karimun (1.4%). Jawa Tengah.

Kalimantan Tengah.5%). Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur. • Prevalensi nasional Gosok Gigi Setiap Hari adalah 91. • Prevalensi nasional Karies Aktif adalah 43. DI Yogyakarta.6%). dan Maluku. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa adalah 14. Banten. Timor Tengah Utara (36. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan.6%). Jawa Timur. Sebanyak 21 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Maluku Tenggara (38. Jawa Tengah.4%. Bengkulu. Maluku Utara.8%).0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Bangka Belitung. DKI Jakarta. Aceh Barat Daya (41. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. Kalimantan Timur. Jawa Tengah. Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Karo (3. Gorontalo. Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Masalah Gigi-Mulut diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. dan Maluku Utara.00 g/dl. Sumatera Selatan. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Barat. Riau. Sumatera Barat. Boalemo (47.1%). DI Yogyakarta.5%). Kota Magelang (2. Riau. Kota Metro (1. Nusa Tenggara Barat. Jambi. Sebanyak 14 provinsi memiliki prevalensi Karies Aktif diatas prevalensi nasional.6%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional.0%).5%). Maluku.3). Bali. Kalimantan Barat. yaitu Riau.5%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1. Pidie (40. Kalimantan Selatan.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan).2%). Bengkulu. Sulawesi Barat. dan Papua Barat. Papua Barat dan Papua. Lampung.1%. Sumatera Selatan. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53. Sumatera Utara. Bondowoso (3. Kalimantan Tengah. Bengkulu. • Prevalensi nasional Masalah Gigi-Mulut adalah 23. Pasaman (39. Sulawesi Utara. Jambi. Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darusalam. Maluku. Jambi. Kalimantan Tengah. Sumatera Barat. Sumatera xvi . Nusa Tenggara Timur. Sumatera Selatan. Sulawesi Tengah. Jombang (3. Maluku Utara.Barat. Gorontalo. Bali. Jawa Barat. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Mojokerto (3. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. Bali.7%). Sulawesi Tengah. Lampung Utara (3.6%). Karanganyar (2. • Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1.2%). Pengukuran Biomedis (Anemia dan Diabetes Mellitus) • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13. Madiun (2. Sulawesi Utara.5%). Bangka Belitung. dan Luwu Utara (35. Lampung. Maluku.67 g/dl. Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Timur. Di Yogyakarta. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan. • Secara nasional. Nusa Tenggara Barat.6%). Sulawesi Tenggara. Sulawesi Selatan. Kalimantan Barat. • Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18.8%).1%). dan Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Kampar (35. Jambi. Nusa Tenggara Barat.5%.6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Gosok Gigi Setiap Hari dibawah prevalensi nasional. Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Papua Barat dan Papua. Jeneponto (40. Kalimantan Selatan. Sulawesi Barat. yaitu Sumatera Utara. Kalimantan Selatan.

Sulawesi Utara. Gorontalo. dan Papua Barat. • Prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5. yaitu Sumatera Barat. Kalimantan Barat. DI Yogyakarta. dan Maluku Utara. Kalimantan Barat. yaitu Bengkulu. dan Maluku Utara. Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun adalah 12. Jawa Barat. Sulawesi Utara. Sulawesi Tengah. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun adalah 19. Bangka Belitung. Jawa Barat. Jambi. dan gangguan berjalan jauh (11. Sulawesi Tengah. gangguan penglihatan jarak dekat (11. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. Jawa Tengah. Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Bali. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun diatas prevalensi nasional.7%. Bengkulu. Kepulauan Riau.Utara. Bangka Belitung. • Persentase nasional 3 penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (58. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun (berdasarkan International Classification of Functioning.67 g/dl. Jawa Tengah. Sumatera Barat.5% (berdasarkan pengakuan responden. Jawa Tengah. Riau.5%. Jawa Timur. untuk berbagai penyebab cedera). Jawa Timur. Banten. Jawa Tengah. DKI Jakarta. Papua Barat dan Papua. Maluku. bertempat tinggal di perkotaan) adalah 10. Kalimantan Timur. xvii . Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu diatas prevalensi nasional. Sulawesi Utara.6%).5%). Riau. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan. Gorontalo. yaitu Sumatera Barat. DKI Jakarta. Jawa Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Maluku Utara. Kalimantan Tengah. Disability and Health) yang paling menonjol adalah gangguan penglihatan jarak jauh (11. Bangka Belitung. Gorontalo. Jawa Tengah.7%). dan Sulawesi Barat. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.6%). Kalimantan Barat. Cedera dan Disabilitas • Prevalensi nasional Cedera adalah 7. Kalimantan Barat. Sebanyak 14 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun dibawah nilai rerata nasional. Lampung. Bangka Belitung. Jawa Timur. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara. Sumatera Selatan. Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Maluku. Kalimantan Timur. Bangka Belitung. Kalimantan Selatan. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Lampung. Sulawesi Tenggara. • Prevalensi nasional Toleransi Glukosa Terganggu (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun.2%. Banten. Nusa Tenggara Barat.9%) dan terluka benda tajam (20. Riau. Perilaku Merokok • Persentase nasional Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 23. Sulawesi Selatan. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. DI Yogyakarta. Jawa Timur. Sulawesi Tengah. yaitu Sumatera Barat. DI Yogyakarta. Lampung. Kalimantan Selatan. Sulawesi Barat.7%. Jawa Tengah. Maluku Utara. Jawa Timur. Bangka Belitung. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Cedera diatas prevalensi nasional. Banten. Gorontalo. Sumatera Selatan. Gorontalo. dan Papua Barat. kecelakaan transportasi darat (25.0%). Sulawesi Selatan. Sumatera Utara.

Mappi (44.5%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar Flu Burung dibawah prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat. dan Papua Barat. • Secara nasional. Sulawesi Tengah. Pontianak (13. Kota Bukit Tinggi (17.0%). Sumatera Barat. Riau. Langsa (17. Kota Lubuk Linggau (12. Kepulauan Riau.9%).4%). Kepulauan Riau. Kota Samarinda (18. Kalimantan Timur.8%). Sumatera Selatan. Bangka Belitung.7%). Sumatera Utara.0). Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Sedangkan 10 kabupaten/kota mempunyai dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Kota Padang (11. Pegunungan Bintang (35.3%). Ogan Komering Ulu Timur (62.6%. DKI Jakarta.6%).9%). yaitu Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Perilaku Minum Minuman Beralkohol • Prevalensi nasional Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir adalah 4. Sulawesi Selatan. Sulawesi Barat. Jawa Barat.7%).5%). Temanggung (36. Maluku. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. DKI Jakarta.3%). Sulawesi Utara. Kalimantan Barat.9%). Papua Barat.2%. Nusa Tenggara Timur. 85. Sedangkan jenis rokok yang paling diminati adalah kretek dengan filter (64. Kalimantan Barat. Bali. Sulawesi Utara. Sekadau (62.5%). Banten.5%).4%). Sulawesi Utara.4%). dan Maluku Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Lampung.4%). Jawa Barat. Dairi (61. Magetan (63.8%).8%). dan Seram Bagian Barat (19. Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung • Prevalensi nasional Pernah Mendengar Flu Burung adalah 64. Riau. Yapen Waropen (15. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir diatas prevalensi nasional. Sulawesi Selatan. Kalimantan Timur. Maluku Utara.8%).9%).3%). Gunung Kidul (65. Probolinggo (34. Perilaku Aktifitas Fisik • Prevalensi nasional Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 48. Maluku. yaitu Sumatera Utara.2%). Kota Payakumbuh (13. Kota Ambon (15. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Asmat (53.1%). Kepulauan Riau. Jambi. dan Tabalong (15. Melawi (34. DI Yogyakarta. Sulawesi Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.3%). Sidoarjo (14. Kota Tomohon (61. Kalimantan Selatan.0). Wonosobo (34.4%).2%). dan Papua. Gorontalo.9%). dan Lampung Barat (33. Bali. Sulawesi Tenggara. Bangli (62.8%). Jawa Barat. Boven Digul (36. Kota Kupang (11.3%). Kalimantan Tengah. xviii . Maluku. Bali. Sumatera Selatan.6%.2%).3%). Kalimantan Selatan. • Secara nasional. Manokwari (13.2%). dan Sulawesi Tengah.5%). Aceh Timur (19. Nusa Tenggara Timur. Bangka Belitung. Karo (40.6%). Barru (15. Banten.6%). Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.9%). Sumatera Utara.7%. Kota Balikpapan (19. Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur • Prevalensi nasional Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 93.• Secara nasional. Humbang Hasundutan (62.4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.4%). Kepulauan Riau. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Puncak Jaya (8. dan Toba Samosir (61. Buton (15. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Pacitan (68. Bungo (18.

• Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) adalah 78,7%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) dibawah prevalensi nasional, yaitu Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pengetahuan dan Sikap tentang HIV/AIDS • Prevalensi nasional Pernah Mendengar HIV/AIDS adalah 44,4%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar HIV/AIDS dibawah prevalensi nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara. • Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) adalah 13,9%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) dibawah prevalensi nasional, yaitu Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Perilaku Higienis • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar adalah 71,1%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan adalah 23,2%. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Pola Konsumsi Makanan Berisiko • Secara nasional, prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur > 10 tahun adalah Penyedap (77,8%), Manis (68,1%), dan Kafein (36,5%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai penduduk umur > 10 tahun yang mengkonsumsi Penyedap diatas prevalensi nasional, yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Barat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • Prevalensi nasional Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah 38,7%. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau,

xix

Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terendah adalah Raja Ampat (0%), Supiori (0%), Gayo Lues (1,3%), Kepulauan Mentawai (1,4%), Nias Selatan (1,8%), Jayawijaya (2,1%), Paniai (2,1%), Nagan Raya (2,2%), Nias (3,0%), dan Timor Tengah Selatan (3,8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertinggi adalah Klungkung (100%), Badung (100%), Sumedang (68,8%), Kota Batu ( 67,1%), Gianyar (66,7%), Soppeng (64,7%), Kota Tomohon (63,4%), Kota Kendari (62,1%), Sukoharjo (61,3%), dan Kuningan (60,5%). Akses Ke Sarana Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu, Dokter Praktek, Bidan Praktek) • Secara nasional, sebanyak 94,1% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana pelayanan kesehatan dan sebanyak 90,8% rumah tangga dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit. • Sebanyak 18 provinsi mempunyai persentase rumah tangga berada lebih dari 5 km dari sarana pelayanan kesehatan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Akses Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu, Poskesdes, Polindes) • Secara nasional, sebanyak 98,4% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat, dan sebanyak 96,5% rumah tangga dapat mencapai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat kurang atau sama dengan 30 menit. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang berada kurang • atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat diatas persentase nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sebanyak 27,3% rumah tangga memanfaatkan posyandu, 62,5% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu karena tidak membutuhkan, dan 10,3% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu untuk alasan lainnya. Rawat Inap • Secara nasional, persentase tertinggi tempat rawat inap yang dipilih rumah tangga adalah Rumah Sakit Pemerintah (3,1%), Rumah Sakit Swasta (2,0%) dan Puskesmas (0,8%). • Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Rumah Sakit Pemerintah untuk tempat rawat inap dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku.

xx

• Sebanyak 6 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Puskesmas untuk tempat rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat inap adalah Dari Kantong Sendiri (71,0%), Askes/Jamsostek (15,6%), dan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (14,3%). • Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Rawat Jalan • Secara nasional, persentase tertinggi yang dipilih rumah tangga untuk tempat rawat jalan adalah Rumah Sakit Bersalin (14,8%), Tenaga Kesehatan (13,9%), dan Rumah Sakit Pemerintah (1,6%). • Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih tenaga kesehatan sebagai tempat untuk rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Utara, Gorontalo. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat jalan adalah Dari Kantong Sendiri (74,5%), Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (10,8%), dan Askes/Jamsostek (9,8%). • Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Ketanggapan Pelayanan Kesehatan • Secara nasional, 3 aspek Ketanggapan Pelayanan Kesehatan yang memperoleh penilaian baik terendah dari rumah tangga adalah Kebersihan Ruangan (82,9%), Kebebasan Memilih Sarana (84,5%), dan Waktu Tunggu (84,8%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memberikan penilaian baik atas Kebersihan Ruangan dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Air Bersih • Persentase nasional rumah tangga dengan rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter adalah 14,4%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter dibawah persentase nasioal, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat,

xxi

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. Fasilitas buang air besar • Persentase nasional rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri adalah 60,0%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Sarana Pembuangan Air Limbah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah adalah 24,9%. Sebanyak 23 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pembuangan sampah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72,9%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Perumahan • Persentase nasional rumah tangga dengan rumah berlantai tanah adalah 13,8%. Sebanyak 7 provinsi mempunyai persentase rumah tangga dengan rumah berlantai tanah diatas persentase nasional, yaitu Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Pemeliharaan Ternak • Secara nasional terdapat 39,4% rumah tangga yang memelihara unggas, 11,6% memelihara ternak sedang, 9,0% memelihara ternak besar dan 12,5% memelihara binatang jenis anjing, kucing atau kelinci. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10-20% memeliharanya di dalam rumah. Mortalitas • Gambaran nasional selama 12 tahun (1995–2007) menunjukkan bahwa proses transisi epidemiologi telah berlangsung seiring dengan transisi demografi. Transisi epidemiologi ditandai dengan pergeseran penyebab kematian dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Transisi demografi ditandai dengan pergeseran proporsi kematian dari struktur penduduk umur muda ke arah penduduk umur yang lebih tua. • Penurunan proporsi penyakit menular sebagai penyebab dasar kematian tahun 2001-2007 tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (1995-2001). Di lain pihak, peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 19952001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama. Dengan demikian Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan menghadapi beban ganda,

xxii

yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap, serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat. • Selanjutnya, proporsi penyakit/gangguan yang berhubungan dengan kematian maternal serta kematian perinatal tidak berubah dalam periode terakhir (2001-2006). Upaya-upaya peningkatan pelayanan berkualitas untuk kehamilan, persalinan, masa nifas perlu terus menerus ditingkatkan untuk menurunkan kematian maternal dan perinatal.

xxiii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i Sambutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ..............................................iii Ringkasan............................................................................................................. v Daftar isi............................................................................................................ xxiv Daftar Tabel, gambar, dan grafik ..................................................................... xxvii Daftar Singkatan ..................................................................................................xli Daftar Lampiran ................................................................................................. xliv BAB 1. 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 BAB 2. 2.1 2.2 2.3 Pendahuluan ........................................................................................ 1 Latar Belakang......................................................................................... 1 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 .............................................................. 2 Pertanyaan Penelitian.............................................................................. 2 Tujuan Riskesdas .................................................................................... 3 Kerangka Pikir ......................................................................................... 3 Alur Pikir Riskesdas 2007 ........................................................................ 4 Pengorganisasian Riskesdas................................................................... 5 Manfaat Riskesdas .................................................................................. 6 Persetujuan Etik Riskesdas ..................................................................... 6 Metodologi Riskesdas .......................................................................... 7 Disain....................................................................................................... 7 Lokasi ...................................................................................................... 7 Populasi dan Sampel ............................................................................... 8 Penarikan Sampel Blok Sensus ........................................................ 8 Penarikan Sampel Rumah Tangga ................................................... 8 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga ..................................... 8 Penarikan Sampel Biomedis ............................................................. 9 Penarikan Sampel Iodium ................................................................. 9

2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.3.5 2.4 2.5 2.6

Variabel.................................................................................................. 13 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data.............................. 14 Manajemen Data ................................................................................... 18 Editing ............................................................................................. 18 Entry................................................................................................ 18 Cleaning .......................................................................................... 18 xxiv

2.6.1 2.6.2 2.6.3

2.7 2.8 BAB 3. 3.1

Keterbatasan Riskesdas ........................................................................ 19 Pengolahan dan Analisis Data............................................................... 20 Hasil dan Pembahasan ...................................................................... 34 Gizi ........................................................................................................ 34 Status Gizi Balita ............................................................................. 34 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)............... 45 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas .............................. 48 Konsumsi Energi dan Protein.......................................................... 56 Konsumsi Garam Beriodium ........................................................... 60 Status Imunisasi .............................................................................. 66 Pemantauan Pertumbuhan Balita ................................................... 71 Distribusi Kapsul Vitamin A ............................................................. 80 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak................................ 82 Prevalensi Filariasis, Demam Berdarah Dengue dan Malaria ......... 99 Prevalensi ISPA, Pnemonia, Tuberkulosis (TB), dan Campak...... 103 Prevalensi Tifoid, Hepatitis, Diare ................................................. 107 Penyakit Tidak Menular Utama, Penyakit Sendi, dan Penyakit Gangguan Mental Emosional ........................................................ 119 Penyakit Mata ............................................................................... 122 Kesehatan Gigi.............................................................................. 130 Anemia .......................................................................................... 148 Diabetes Mellitus ........................................................................... 156 Cedera .......................................................................................... 160 Status Disabilitas / Ketidakmampuan ............................................ 170 Perilaku Merokok .......................................................................... 174 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur .............................................. 186 Perilaku Minum Minuman Beralkohol ............................................ 189 xxv

3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.3 3.3.1 3.3.2 3.3.3 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.4.4 3.5 3.5.1 3.5.2 3.6 3.6.1 3.6.2 3.7 3.7.1 3.7.2 3.7.3

Kesehatan Ibu dan Anak ....................................................................... 66

Penyakit Menular ................................................................................... 99

Penyakit Tidak Menular ....................................................................... 110

Keturunan .................................................................................................. 110

Biomedis .............................................................................................. 148

Cedera dan Disabilitas......................................................................... 160

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku........................................................ 174

.......10...........9.................10 3...................................... 231 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan ................................4 3.............9.............. 275 Distribusi Kasus Kematian ................................ 211 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan .................................9 3..................7....1 3......................................... 211 Kesehatan Lingkungan ......... 244 Daftar Pustaka .......................................... 266 Pembuangan sampah ....................2 3.........3.... 278 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan........1 3............. 258 Sarana pembuangan air limbah ........5 3.........8.. 275 Kematian Semua Umur........6 3...............................................2 3...................................................................................7........................... 244 Fasilitas Buang Air Besar .........................................................................................8 3.......................... 286 Lampiran.........................................2 3......8..........9............................................ 207 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan .................................3 3............10........................................... 205 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat .........5 3................9.................7 3...... 291 xxvi ...................................8.. 268 Perumahan..........9..........7................. 202 Pola Konsumsi Makanan Berisiko ........ 194 Perilaku Higienis ..10...................................................7............. 192 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS ......................3 Perilaku Aktifitas Fisik ......................... 270 Mortalitas .....1 3......................... 239 Air Keperluan Rumah Tangga........................................ 276 Kematian Menurut Kelompok Umur ....8 3.................4 3...3 3..........................................7....................

DAN GRAFIK Nomor Tabel Tabel 1.13. Tabel 2. 2007 Jumlah Sampel Anggota Rumah tangga (ART) per Provinsi 12 menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.2 Tabel 2.8 Tabel 2. 2007 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari 21 Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan. Tabel 2. Tabel 2.9 Tabel 2. Tabel 2.6 Nama Tabel Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Hal 2 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 10 2007 Jumlah Sampel Rumah tangga (RT) per Provinsi menurut 11 Susenas 2007 dan Riskesdas. Tabel 2.7.1. Tabel 2.1 Tabel 2.11 Tabel 2.DAFTAR TABEL.12 Tabel 2.3.10 Tabel 2.14 xxvii . GAMBAR. Riskesdas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil 22 Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil 23 Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita 24 hasilPengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun 25 hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 26 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 27 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 28 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 29 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 31 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Tabel 2.5.4.

13 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun 56 menurut Karakteristik Responden.16 Tabel 3. 43 Riskesdas 2007 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut 45 Nilai Rerata IMT. 37 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT 51 dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 53 Atas menurut Karakteristik Responden. Umur dan Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 54 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun 55 Menurut Provinsi.11 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) 49 Menurut IMT dan Provinsi.12 Tabel 3. WHO 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut 46 Jenis Kelamin dan Provinsi. 35 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.18 Tabel 3.17 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik 42 Responden.8 Tabel 3. Tabel 3.4. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 52 Atas menurut Provinsi.16 Tabel 3.1.19 xxviii . Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke 50 Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.5 Tabel 3.6 Tabel 3.2. Riskesdas 2007 Tabel 2. 38 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik 39 Responden.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 32 hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 33 Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.9 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik 41 Responden.Tabel 2. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut 47 Karakteristik.3. Riskesdas 2007 Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.7 Tabel 3. Tabel 3. Tabel 3.14 Tabel 3.15 Tabel 3. Tabel 3.10 Tabel 3. Riskesdas 2007 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut 58 Provinsi.

38 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 67 Dasar menurut Provinsi.37 Tabel 3.33 Tabel 3.20 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 73 Terakhir dan Karakteristik Responden.35 Tabel 3. 76 Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik 77 Responden. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.30 Tabel 3.22 Tabel 3.39 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 65 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota.27 Tabel 3.28 Tabel 3. Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup 61 Iodium menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 71 Dasar menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.24 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 75 Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 70 Dasar menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 80 Vitamin A menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium 62 Menurut Karakteristik Responden. 78 Riskesdas 2007 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik 79 Responden.23 Tabel 3.25 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 72 Terakhir dan Provinsi.29 Tabel 3.34 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 74 Terakhir dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 60 Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita .21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 59 Rendah dari Rerata Nasional.32 Tabel 3.31 Tabel 3. Riskesdas 2007 64 Tabel 3. Riskesdas 2007.36 Tabel 3. Riskesdas 2007 xxix .Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam 63 mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 69 Dasar menurut Karakteristik Responden.26 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 83 Karakteristik.44 Tabel 3. Riskesdas 92 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus Responden.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 82 Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 86 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi.53 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi 96 Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.49 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 81 Vitamin A menurut Karakteristik Responden.46 Tabel 3.50 Tabel 3.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 94 Provinsi. Riskesdas 2007 menurut Karakteristik 93 Tabel 3.51 Tabel 3.56 Tabel 3.40 Tabel 3. Malaria dan 101 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.52 Tabel 3.48 Tabel 3. Demam Berdarah Dengue. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 90 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.41 Tabel 3. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 87 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 97 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 88 Kehamilan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 91 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 95 Karakteristik Responden.42 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 85 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 84 menurut Provinsi.54 Tabel 3.47 Tabel 3.43 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 98 dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 89 Kehamilan dan Karakteristik Responden.45 Tabel 3.58 xxx .57 Tabel 3.

123 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. Riskesdas 2007 Tabel 3. Rhinitis. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.62 Tabel 3. dan Campak menurut 104 Provinsi. dan Strok menurut 111 Provinsi. Sumbing. Buta 118 Warna. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 127 Menurut Karakteristik Responden. Hipertensi.73 Tabel 3. Malaria dan 102 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden. Jantung*. Jantung.70 Tabel 3. Demam Berdarah Dengue. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA.60 Tabel 3. Dan Tumor 116 menurut Karakteristik Responden. Diare menurut Provinsi.62 Tabel 3.65 Tabel 3.74 xxxi .66 Tabel 3. Glaukoma. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 128 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.64 Tabel 3.67 Prevalensi Penyakit Persendian. Riskesdas 2007 Diare menurut Karakteristik 109 Tabel 3.Tabel 3. Hepatitis. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma. dan Campak menurut 106 Karakteristik Responden.72 Tabel 3. Diabetes* Dan Tumor** 115 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma*. Hipertensi. Hepatitis. 124 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 125 menurut Provinsi. Diabetes Mellitus. dan Strok menurut 113 Karakteristik Responden.59 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat. Riskesdas 2007 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 120 Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 121 berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. TB.63 Tabel 3. Dermatitis. Pneumonia. Talasemi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Persendian.71 Tabel 3.61 Tabel 3. TB. Pneumonia. Responden. Riskesdas 108 2007 Prevalensi Tifoid.68 Tabel 3.69 Tabel 3.

91 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 144 menurut Provinsi.78 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 142 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.79 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 146 Normal Gigi. M. Anak-anak dan Ibu Hamil.83 Tabel 3.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 129 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.90 Tabel 3. M.Riskesdas 2007 Bermasalah Gigi-Mulut menurut 131 menurut 133 Tabel 3.92 Tabel 3.84 Tabel 3.86 Tabel 3.89 Tabel 3.82 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut 149 Provinsi Riskesdas 2007 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki.Tabel 3. 140 Riskesdas 2007 Komponen D. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 139 Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden.76 Tabel 3. Edentulous.150 laki Dewasa.81 Tabel 3.85 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 136 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Tabel 3. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik 141 Responden. Protesa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk Provinsi. Edentulous. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 135 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.87 Tabel 3.77 Tabel 3.80 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut 143 Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Komponen D. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 138 Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.93 xxxii . Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 137 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 134 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 147 Normal Gigi. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 145 menurut Karakteristik Responden. Protesa dan Provinsi.88 Tabel 3.

107 Tabel 3.102 Tabel 3.103 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.98 Tabel 3. Obesitas Abdominal dan 159 Hipertensi Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah 160 dan Aktifitas Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.104 Tabel 3. 164 Riskesdas 2007 Tabel 3. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut 165 Karakteristik Responden.113 Tabel 3.109 Tabel 3.110 Tabel 3. Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena Karakteristik Responden. DM.99 Tabel 3. Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi. 158 Riskesdas 2007 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua 159 Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.114 xxxiii . Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.108 Tabel 3.101 Tabel 3.106. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut 173 Status dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 dan 167 168 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.96 Tabel 3.111 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut 151 Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun KeatasMenurut 172 Status dan Provinsi.105 Tabel 3. DDM dan UDDM pada penduduk perkotaan 156 di Indonesia Riskesdas 2007 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus 157 menurut Provinsi di Daerah Perkotaan.95 Tabel 3. Riskesdas 2007 Dewasa PerkotaanMenurut 152 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 175 Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.94 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3.112 Tabel 3.97 Tabel 3. Riskesdas 2007.Tabel 3.154 Anak Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain 154 Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 155 2007 Prevalensi TGT. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Provinsi.100 Tabel 3. 169 Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang 170 Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial. 166 Riskesdas 2007.106 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 185 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 195 dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi.Tabel 3.118 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok 177 yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.128 Tabel 3.131 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang 178 Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.123 Tabel 3.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 176 Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 191 menurut Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Tabel 3.120 Tabel 3.Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 186 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 179 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.124 Tabel 3.127 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 187 ke Atas menurut Provinsi.122 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 188 ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 194 menurut Karakteristik Responden.129 Tabel 3.132 xxxiv . Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 181 menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.125 Tabel 3.116 Tabel 3.130 Tabel 3.126 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 180 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.117 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 193 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 196 dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota 184 Rumah Tangga menurut Provinsi.121 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 190 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 183 menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.119 Tabel 3.

137 Tabel 3.136 Tabel 3.138 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap 201 Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 212 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku 208 Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.146 Tabel 3.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 198 Tentang HIV/AIDS dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 214 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 210 Konsumsi Sayur Buah. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 209 Konsumsi Sayur Buah. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 199 Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.142 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh 213 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.147 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 203 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.140 Tabel 3.144 Tabel 3. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.134 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada 200 Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi di Indonesia.133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan 216 Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.141 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 206 Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.145 Tabel 3.139 Tabel 3.143 Tabel 3. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 215 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 204 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Tabel 3.148 xxxv . Kurang Aktifitas Fisik. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 205 Makanan Berisiko menurut.

Riskesdas 2007 xxxvi .149 Persentase Rumah Posyandu/Poskesdes Riskesdas 2007 Tangga Menurut Pemanfaatan 217 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 222 Di Desa Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 221 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.159 Tabel 3.152 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 220 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.162 Tabel 3.154 Tabel 3.155 Tabel 3.164 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 230 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 228 Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan 223 Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.160 Tabel 3.Tabel 3.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan 233 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan 226 Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.157 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 229 Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 227 Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Tabel 3. Riskesdas 2007 Menurut Tempat dan 232 Tabel 3.161 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 219 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.163 Tabel 3.151 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 224 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.153 Tabel 3.156 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 225 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.158 Tabel 3.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 218 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 231 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.

177 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 242 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 246 Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 251 dan Provinsi di Indonesia.166 Tabel 3. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir 236 Menurut Tempat dan Provinsi.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 238 Provinsi.181 Tabel 3.173 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga 250 yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 243 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 253 dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 252 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 235 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan 237 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 244 dan Karakteristik Rumah Tangga.168 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 248 Sumber Air. Riskesdas 2007 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 239 Karakteristik Rumah Tangga.179 Tabel 3.180 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa 249 Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.172 Tabel 3.169 Tabel 3.176 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 234 dan Provinsi. Susenas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 241 dan Provinsi.167 Tabel 3.175 Tabel 3.183 Tabel 3.170 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 247 Sumber Air. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 245 Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi di Indonesia.178 Tabel 3.174 Tabel 3.171 Tabel 3.184 xxxvii .182 Tabel 3.

Riskesdas 2008 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 270 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.191 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 257 dan Provinsi. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 260 Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.193 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 261 dan Provinsi. Susenas 2007 Tabel 3.192 Tabel 3.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 254 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.197 Tabel 3.199 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Provinsi.188 Tabel 3.187 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 262 dan Provinsi di Indonesia. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 259 Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.200 Tabel 3. 271 Kepadatan Hunian dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.202 xxxviii . Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 263 dan Provinsi. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 266 Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.194 Tabel 3.189 Tabel 3.185 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Riskesdas 2007 Tempat 255 Sebelum Tempat 256 Sebelum Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 269 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.195 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 264 dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan 267 Air Limbah dan Provinsi.190 Tabel 3.201 Tabel 3.Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 265 Tinja dan Provinsi.196 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan 268 Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 258 dan Karakteristik Rumah Tangga.198 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke 285 atas enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 Penyakit. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun 282 menurut jenis kelamin.221 Tabel 3.212 Tabel 3.209 Tabel 3.216 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 273 Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.210 Tabel 3.213 Tabel 3.Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun. Riskesdas 2007 281 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis 275 Kelamin. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe 276 Daerah.205 Tabel 3.207 Tabel 3.206 Tabel 3.214 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Jenis Kelamin. 280 Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas 280 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 274 Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.219 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 279 ha Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian 279 Bayi 0-6 hari. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas 285 menurut Jenis Kelamin Tabel 3.211 Tabel 3. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua 278 Umur.Tabel 3.222 xxxix .215 Tabel 3.218 Tabel 3.220 Tabel 3.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan 272 Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun 281 menurut Tipe Daerah.217 Tabel 3.208 Tabel 3.204 Tabel 3.

2 Nama Gambar Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Alur Pikir Riskesdas 2007 Hal 3 5 Nomor Grafik Grafik 3.1 Gambar 1.1 Nama Grafik Penyakit.Nomor Gambar Gambar 1. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Hal Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 xl .

Teeth Daerah Khusus Ibukota Diptheri Pertusis Tetanus Daerah Istimewa Yogyakarta Decay Missing Filling . Disability and Health International Council for the Control of Iodine Deficiency Disorders International Unit Joint National Committee Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat xli .Teeth Departemen Kesehatann Filling Teeth Gejala klinis Hemoglobin International Diabetes Federation Indeks Massa Tubuh International Classification of Functioning.DAFTAR SINGKATAN ART AFP ASKES ASKESKIN BB BB/U BB/TB BUMN BALITA BABEL BCG BBLR BATRA CPITN D DG DM DDM D-T DKI DPT DIY DMF-T DEPKES F-T G HB IDF IMT ICF ICCIDD IU JNC JABAR JATENG JATIM KEPRI KALTIM KALTENG KALSEL KALBAR Anggota Rumah Tangga Acute Flaccid Paralysis Asuransi Kesehatan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Berat Badan Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Tinggi Badan Badan Usaha Milik Negara Bawah Lima Tahun Bangka Belitung Bacillus Calmete Guerin Berat Bayi Lahir Rendah Pengobatan Tradisional Community Periodental Index Treatment Needs Diagnosis Diagnosis dan Gejala Diabetes Mellitus Diagnosed Diabetes Mellitus Decay .

KK Kg KEK KKAL KEP KMS KIA KLB LP LILA mmHg mL MI M-T MTI MDG Malut Nakes NAD NTT NTB O Poskesdes Polindes Pustu Puskesmas PTI POLRI PNS PT PPI PD3I PIN Posyandu PPM RS RSB RTI RPJM Riskesdas SRQ SKTM SPAL Sumbar Sumsel Sulut Sulbar Sulsel Sulteng Kepala Keluarga Kilogram Kurang Energi Kalori Kilo Kalori Kurang Energi Protein Kartu Menuju Sehat Kesehatan Ibu dan Anak Kejadian Luar Biasa Lingkar Perut Lingkar Lengan Atas Milimeter Air Raksa Mili Liter Missing index Missing Teeth Missing Teeth Index Millenium Development Goal Maluku Utara Tenaga Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Obat atau Oralit Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa Puskesmas Pembantu Pusat Kesehatan Masyarakat Performed Treatment Index Polisi Republik Indonesia Pegawai Negeri Sipil Perguruan Tinggi Panitia Pembina Ilmiah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Pekan Imunisasi Nasonal Pos Pelayanan Terpadu Part Per Million Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Required Treatment Index Rencana Pembangunan Jangka Menengah Riset Kesehatan Dasar Self Reporting Questionnaire Surat Keterangan Tidak Mampu Saluran Pembuangan Air Limbah Sumatera Barat Sumatera Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah xlii .

Sultra SD SD SLTP SLTA TB TB TB/U TT TDM TGT UNHCR UNICEF UCI UDDM WHO WUS µl Sulawesi Tenggara Standar Deviasi Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Tinggi Badan Tuberkulosis Tinggi Badan/Umur Tetanus Toxoid Total Diabetes Mellitus Toleransi Glukosa Terganggu United Nations High Commissioner for Refugees United Nations Children's Fund Universal Child Immunization Undiagnosed Diabetes Mellitus World Health Organization Wanita Usia Subur Mikro Liter xliii .

Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) Lampiran 2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877/MENKES/SK/XI/2006 tentang Tim Riset Kesehatan Dasar.1 .DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.2.1.Kuesioner Riset Kesehatan Dasar xliv . Lampiran 1.

Pelaksanaan Riskesdas 2007 mengakui pentingnya komparabilitas. 1 .BAB 1. Penyelenggaraan Riskesdas 2007 dimaksudkan pula untuk membangun kapasitas peneliti di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. kesehatan lingkungan. belum sepenuhnya dibuat berdasarkan informasi komunitas yang berbasis bukti. Data dasar ini. Sampai saat ini belum tersedia peta status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi di tingkat kabupaten/kota. agar mampu mengembangkan dan melaksanakan survei berskala besar serta menganalisis data yang kompleks. reliable dan comparable dari suatu proses pemantauan dan penilaian sesungguhnya dapat berkontribusi bagi ketersediaan evidence pada skala nasional. Pelaksanaan Riskesdas 2007 adalah upaya mengisi salah satu dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. Untuk mewujudkan visi “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. sebagai salah satu unit utama di lingkungan Departemen Kesehatan yang berfungsi menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti. Pengalaman menunjukkan bahwa komparabilitas dari suatu survei rumah tangga seperti Riskesdas 2007 dapat dicapai dengan efisien melalui disain instrumen yang canggih dan ujicoba yang teliti dalam pengembangannya. serta manajemen data yang terkoordinasikan dengan baik. maka kewenangan yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan kini berada di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. Sehingga dapat dikatakan bahwa survei yang ada belum memadai untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota. proses serta luaran sistem kesehatan. asupan. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai survei berbasis komunitas seperti Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah sebuah policy tool bagi pembuat kebijakan kesehatan diberbagai jenjang administrasi. Pada tahap disain. Data dasar yang dihasilkan Riskesdas 2007 terdiri dari indikator kesehatan utama tentang status kesehatan. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based di seluruh Indonesia. perumusan dan pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. informasi yang valid. baik di pusat maupun di daerah. 1. Dengan demikian. perilaku kesehatan. untuk meningkatkan manfaat Riskesdas 2007 maka komparabilitas berbagai alat pengumpul data yang digunakan. Informasi yang valid. Riskesdas 2007 diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Susenas Modul Kesehatan dan Sjurvei Kesehatan Rumah Tangga hanya menghasilkan estimasi yang mewakili tingkat kawasan atau provinsi. sampel yang memadai. Lebih jauh lagi. bukan saja berskala nasional. reliable dan comparable dari Riskesdas 2007 dapat digunakan untuk mengukur berbagai status kesehatan. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Riskesdas 2007 dirancang dengan pengendalian mutu yang ketat. status gizi. selain validitas dan reliabilitas. provinsi dan kabupaten/kota. Departemen Kesehatan RI mengembangkan misi: “membuat rakyat sehat”. tetapi juga menggambarkan berbagai indikator kesehatan minimal sampai ke tingkat kabupaten/kota. Rencana pembangunan kesehatan yang appropriate dan adequate membutuhkan data berbasis komunitas yang dapat mewakili populasi (rumah tangga dan individual) pada berbagai jenjang administrasi. baik untuk tingkat individual maupun rumah tangga menjadi isu yang sangat penting. dan berbagai aspek pelayanan kesehatan.

Pola Mortalitas Nasional S/J/KTI 3. Sanitasi lingkungan -S/J/KTI 6. J: Jawa-Bali. Biomedis --S: Sumatera.3 Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam Riskesdas 2007 dikembangkan berdasarkan pertanyaan kebijakan kesehatan yang sangat mendasar terkait upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. 1. Balitbangkes melaksanakan Riskesdas untuk menyediakan informasi berbasis komunitas tentang status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dengan keterwakilan sampai tingkat kabupaten/kota.000 Nasional Kabupaten Kabupaten Kabupaten Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Nasional 1. Cedera & Kecelakaan Nasional S/J/KTI 8. Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Indikator SDKI SKRT Susenas 2007 280. provinsi dan kabupaten/kota? b. Sampel 35. maka pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui Riskesdas adalah: a. Gigi & Mulut --10.Atas dasar berbagai pertimbangan di atas. Apa dan bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi status kesehatan masyarakat di tingkat nasional.000 10. Riskesdas 2007 menyediakan informasi kesehatan dasar termasuk biomedis. provinsi dan kabupaten/kota? c. Riskesdas 2007 mencakup sampel yang lebih besar dari survei-survei kesehatan sebelumnya. Gizi & Pola Konsumsi -S/J/KTI 5. Dibandingkan dengan survei berbasis komunitas yang selama ini dilakukan. Bagaimana status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. Disabilitas -S/J/KTI 9. KTI: Kawasan Timur Indonesia 1. Perilaku -S/J/KTI 4. Apa masalah kesehatan masyarakat yang spesifik di setiap provinsi dan kabupaten/kota? 2 . dan mencakup aspek kesehatan yang lebih luas.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 adalah riset berbasis komunitas dengan sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga yang dapat mewakili populasi di tingkat kabupaten/kota. tingkat keterwakilan Riskesdas adalah sebagai berikut : Tabel 1.000 2.000 -Kabupaten Provinsi Kabupaten ------ Riskesdas 2007 280. dengan menggunakan sampel Susenas Kor. Penyakit -S/J/KTI 7. Sesuai dengan latar belakang pemikiran dan kebutuhan perencanaan.1.

diukur atau diperiksa adalah sebagai berikut : a. b. c. Status kesehatan mencakup variabel: 3 . Konsep ini terfokus pada status kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara simulatn oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu sama lain. perilaku.5 Kerangka Pikir Pengembangan Riskesdas 2007 didasari oleh kerangka pikir Henrik Blum (1974. pelayanan kesehatan dan keturunan. Menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan termasuk alokasi sumber daya di berbagai tingkat administratif. Bagan kerangka pikir Blum dapat dilihat pada Gambar 1. provinsi dan kabupaten/kota. Menyediakan peta status dan masalah kesehatan di tingkat nasional.1.1.4 Tujuan Riskesdas Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut diatas. Keempat faktor penentu tersebut adalah: lingkungan. 1981). Berbagai indikator yang ditanyakan. maka tujuan Riskesdas 2007 adalah sebagai berikut : a. Menyediakan informasi berbasis bukti untuk perumusan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai tingkat administratif. Gambar 1. d.1. Membandingkan status kesehatan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi antar provinsi dan antar kabupaten/kota 1. Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Pada Riskesdas tahun 2007 ini tidak semua indikator dikumpulkan baik yang terkait dengan status kesehatan maupun ke empat faktor penentu dimaksud.

comparable. berbagai instrumen yang dikembangkan untuk Riskesdas 2007 mengacu pada berbagai instrumen yang telah ada dan banyak digunakan oleh berbagai bangsa di dunia (61 negara). Cakupan program KIA (pemeriksaan kehamilan.• Mortalitas (pola penyebab kematian untuk semua umur) • Morbiditas. namun harus memberikan arah bagi pengembangan pertanyaan kebijakan berikutnya. meliputi tingkat pendidikan. pengukuran lingkar perut untuk penduduk dewasa 15 tahun keatas. reliable. Perilaku konsumsi sayur dan buah. sikap dan perilaku terhadap flu burung. meliputi konsumsi energi. pemeriksaan bayi dan imunisasi). Keenam tahapan ini terkait erat dengan ide dasar Riskesdas untuk menyediakan data kesehatan yang valid. meliputi air minum. Pelayanan kesehatan mencakup variabel: • • • • 1. vitamin dan mineral • Lingkungan fisik. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. hasil Riskesdas 2007 bukan saja harus mampu menjawab pertanyaan kebijakan. HIV/AIDS Akses terhadap pelayanan kesehatan. Untuk menjamin appropriateness dan adequacy dalam konteks penyediaan data kesehatan yang valid. reliable dan comparable. dan pengukuran lingkar lengan atas untuk wanita usia 15-45 tahun) • Kesehatan jiwa b. serta dapat menghasilkan estimasi yang dapat mewakili rumah tangga dan individu sampai ke tingkat kabupaten/kota. Ketanggapan pelayanan kesehatan. maka pada setiap tahapan Riskesdas 2007 dilakukan upaya penjaminan mutu yang ketat. Substansi pertanyaan. termasuk untuk upaya kesehatan berbasis masyarakat. buang air besar) Pengetahuan.2) ini secara skematis menggambarkan enam tahapan penting dalam Riskesdas 2007. Dengan demikian. Dengan demikian. Instrumen dimaksud 4 . Faktor perilaku mencakup variabel: • • • • • • d. perbandingan kota – desa dan perbandingan antar provinsi. tingkat sosial-ekonomi. Perilaku gosok gigi. pengukuran dan pemeriksaan Riskesdas 2007 mencakup data kesehatan yang mengadaptasi sebagian pertanyaan World Health Survey yang dikembangkan oleh the World Health Organization. Perilaku aktivitas fisik. protein. kabupaten/kota c. Perilaku higienis (cuci tangan. meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular • Disabilitas (ketidakmampuan) • Status gizi (berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk semua umur. Perilaku merokok/konsumsi tembakau dan alkohol. Siklus yang dimulai dari Tahapan 1 hingga Tahapan 6 menggambarkan sebuah system thinking yang seyogyanya berlangsung secara berkesinambungan dan berkelanjutan. polusi dan sampah • Lingkungan sosial. sanitasi.6 Alur Pikir Riskesdas 2007 Alur pikir (Gambar 1. Faktor lingkungan mencakup variabel: • Konsumsi gizi.

Statistik • Deskriptif • Bivariat • Multivariat • Uji Hipotesis 3. Indikator • Morbiditas • Mortalitas • Ketanggapan • Pembiayaan • Sistem Kesehatan • Komposit variabel lainnya Policy Questions Research Questions 6. diuji dan dipergunakan untuk mengukur berbagai aspek kesehatan termasuk didalamnya input. Laporan • Tabel Dasar • Hasil Pendahuluan Nasional • Hasil Pendahuluan Provinsi • Hasil Akhir Nasional • Hasil Akhir Provinsi 2.7 Pengorganisasian Riskesdas Riskesdas direncanakan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Gambar 1. process. pemeriksaan • Validitas • Reliabilitas Riskesdas 2007 5. Manajemen Data Riskesdas 2007 • Editing • Entry • Cleaning follow up • Perlakuan terhadap missing data • Perlakuan terhadap outliers • Consistency check • Analisis syntax appropriateness • Pengarsipan 1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan 5 . Pelaksanaan Riskesdas 2007 • Pengembangan manual Riskesdas • Pengembangan modul pelatihan • Pelatihan pelaksana • Penelusuran sampel • Pengorganisasian • Logistik • Pengumpulan data • Supervisi / bimbingan teknis 4. Alur Pikir Riskesdas 2007 1. Disain Alat Pengumpul Data • Kuesioner wawancara.2. pengukuran.dikembangkan. output dan outcome kesehatan.

Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. dan Kalimantan Barat c. antara lain Badan Pusat Statistik. Stratifikasi indikator kesehatan menurut status sosial-ekonomi sesuai hasil Susenas 2007. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877 Tahun 2006. Bali. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Kalimantan Tengah.8 Manfaat Riskesdas Riskesdas memberikan manfaat bagi perencanaan pembangunan kesehatan berupa : • • Tersedianya data dasar dari berbagai indikator kesehatan di berbagai tingkat administratif. pemerintah daerah. dan Papua d. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi DKI Jakarta. Tingkat pusat Tingkat wilayah (empat wilayah) Tingkat provinsi (33 Provinsi) Tingkat kabupaten (440 Kabupaten/Kota) Tim pengumpul data (disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) Pengumpulan data Riskesdas 2007 direncanakan untuk dilakukan segera setelah selesainya pengumpulan data Susenas 2007. c. dan Sulawesi Barat. Tersedianya informasi berkelanjutan. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah. d.9 Persetujuan Etik Riskesdas Riskesdas ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 1. organisasi profesi. dan Kepulauan Riau b. Sumatera Selatan.) : a. Kalimantan Barat. Sulawesi Tenggara. e. Kalimantan Selatan.melibatkan berbagai pihak. perguruan tinggi. Lampung. DI Yogyakarta. b. Maluku. Sulawesi Selatan. pengorganisasian Riskesdas 2007 dibagi menjadi berbagai tingkat dengan rincian sebagai berikut (Lihat Lampiran 1. Jambi. Banten. Sumatera Utara.1. Jawa Barat. Daftar provinsi. Gorontalo. Riau. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). lembaga penelitian. (Lampiran 1. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. Maluku Utara. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi Jawa Timur. untuk perencanaan pembangunan kesehatan yang • 1.2)) 6 . Papua Barat. Bangka Belitung. dan partisipasi masyarakat. koordinator wilayah dan jadwal pengumpulan data per wilayah disusun sebagai berikut: a. Sumatera Barat.Sulawesi Utara.

Riskesdas 2007 menyediakan data dasar yang dikumpulkan melalui survei berskala nasional sehingga hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan kebijakan kesehatan bahkan sampai ke tingkat kabupaten/kota. METODOLOGI RISKESDAS 2. atau dengan data survei lainnya seperti data kemiskinan yang menggunakan metodologi yang sama. confidence interval. 13) Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo). sementara Susenas 2007 sudah mengikuti jumlah kabupaten/kota yang ada. para pembentuk kebijakan dan pengambil keputusan di bidang pembangunan kesehatan dapat menarik manfaat yang optimal dari ketersediaan data Riskesdas 2007.BAB 2. 11) Kabupaten Buton Utara. 6) Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat). Secara singkat dapat dikatakan bahwa Riskesdas 2007 didisain untuk mendukung pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah.1 Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. 5) Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat). dapat menggambarkan masalah kesehatan di tingkat provinsi dan variabilitas antar kabupaten/kota. relative standard error. data Riskesdas 2007 mudah dikorelasikan dengan data Susenas 2007. Sebanyak 16 (enam belas) kabupaten tidak termasuk dalam sampel Riskesdas 2007 karena merupakan pengembangan kabupaten baru yang pada saat perencanaan Riskesdas belum diperhitungkan. 10) Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). Pidie Jaya. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. Dengan demikian. sedangkan di tingkat provinsi. 3) Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). Disain Riskesdas 2007 dikembangkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan teori dasar tentang hubungan antara berbagai penentu yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. 8) Kabupaten Kepulauan Siao Tagolandang Biaro. 2) Kota Subussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam). diukur atau diperiksa.2 Lokasi Sampel Riskesdas 2007 di tingkat kabupaten/kota berasal dari 440 kabupaten/kota (dari jumlah keseluruhan sebanyak 456 kabupaten/kota) yang tersebar di 33 (tiga puluh tiga) provinsi Indonesia. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. 12) Kabupaten Konawe Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). Dengan disain ini. 9) Minahasa Tenggara. dengan catatan sebagai berikut: a. Laporan Hasil Riskesdas 2007 akan menggambarkan berbagai masalah kesehatan di tingkat nasional dan variabilitas antar provinsi. design effect dan jumlah sampel tertimbang akan menyertai setiap estimasi variabel. Lebih lanjut. 7) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Kabupaten dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Kab. 2. secara menyeluruh. akurat dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan di berbagai tingkat administratif. karena metodologinya hampir seluruhnya sama dengan Susenas 2007 (lihat penjelasan pada seksi berikut). 14) 7 . 4) Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan). maka setiap pengguna informasi Riskesdas dapat memperoleh gambaran yang utuh dan rinci mengenai berbagai masalah kesehatan yang ditanyakan.

berdasarkan sampel blok sensus dalam Susenas 2007 yang berjumlah 17. Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 972. jumlah sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota Susenas 2007 adalah 277.1 Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya.134. b. Diluar itu.630 (dua ratus tujuh puluh tujuh enam ratus tiga puluh).225 (satu juta seratus tiga puluh empat ribu dua rtus dua puluh lima) sampel anggota rumah tangga. Kemungkinan sebuah blok sensus masuk kedalam sampel blok sensus pada sebuah kabupaten/kota bersifat proporsional terhadap jumlah rumah tangga pada sebuah kabupaten/kota (probability proportional to size). 2. 2.3. 2.Kabupaten Sumba Barat Daya. Dengan begitu. Pada Riskesdas. 16) Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur). Secara keseluruhan.3.989 individu yang sama dengan 8 .3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga Selanjutnya. sedang Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 258. pada Riskesdas 2007.150 blok sensus dari 438 jumlah kabupaten/kota. yaitu: 1) Kabupaten Puncak Jaya dan 2) Kabupaten Pegunungan Bintang (Provinsi Papua).2 Penarikan Sampel Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 16 (enam belas) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). yang menjadi sampel rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut.2). dalam 438 kabupaten/kota pada Susenas 2007 terdapat 1. Riskesdas menggunakan sepenuhnya sampel yang terpilih dari Susenas 2007. Sebanyak 2 (dua) kabupaten masuk kedalam sampel Riskesdas 2007.357 (tujuh belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) sampel blok sensus.1). Riskesdas berhasil mengunjungi 17. (Lihat Tabel 2. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud.3. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi penghitungan dan cara penarikan sampel untuk Riskesdas 2007 identik pula dengan two stage sampling yang digunakan dalam Susenas 2007. 15) Kabupaten Sumba Tengah. 2. Bila dalam sebuah blok sensus terdapat lebih dari 150 (seratus lima puluh) rumah tangga maka dalam penarikan sampel di tingkat ini akan dibentuk sub-blok sensus. terkumpul 182 rumah tangga tambahan dari dua (2) kabupaten di Papua.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Secara keseluruhan. terdapat 15 blok sensus dari 2 kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas 2007 (Lihat Tabel 2.284 rumah tangga. walaupun tidak masuk kedalam sampel Susenas 2007. seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih dari kedua proses penarikan sampel tersebut diatas diambil sebagai sampel individu. Dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel kabupaten/kota diambil sejumlah blok sensus yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut.

Untuk pengukuran kedua. adalah pengukuran kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga.919. Dari rumah tangga yang terpilih.114 orang. Pada Riskesdas 2007. 9 . dan juga sampel urin dari anak usia 6-12 tahun yang selanjutnya dikirim ke laboratorium Universitas Diponegoro. 2674 sampel garam beriodium rumah tangga dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada garam.3. Pemilihan 30 kabupaten berdasarkan hasil survei konsumsi garam beriodium pada Susenas 2005 dengan memilih secara acak 10 (sepuluh) kabupaten dimana tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga tinggi. 26. Sedangkan pengukuran iodium dalam urin adalah untuk menilai kemungkinan kelebihan konsumsi garam iodium pada penduduk. dipilih secara acak dua (2) rumah tangga yang mempunyai anak usia 6-12 tahun dari 16 RT per blok sensus di 30 kabupaten yang dapat mewakili secara nasional.065 sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota.3). dan 8473 anak usia 6-12 tahun yang dilakukan pengukuran kadar iodium dalam urin. Bogor. yang berasal dari 272 kabupaten/kota dan 540 blok sensus.357 (tiga puluh enam ribu tiga ratus limapuluh tujuh) anggota rumah tangga berusia lebih dari satu (1) tahun. terpilih sampel anggota rumah tangga berasal dari 971 blok sensus perkotaan yang dari 294 kabupaten/kota dalam Susenas 2007. Pengukuran kadar iodium dalam garam dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beriodium. Khusus untuk pengukuran gula darah. dan kedua adalah pengukuran iodium dalam urin. terkumpul 673 sampel anggota rumah tangga. sampel garam rumah tangga diambil. 30 Kabupaten yang terpilih dapat dilihat pada sub.bab. Dalam Riskesdas 2007 dilakukan test cepat iodium dalam garam pada 257. Balai GAKI-Magelang. berhasil digabung dengan sampel anggota rumah tangga Rikesdas sejumlah. dari dua (2) kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas. dan Puslitbang Gizi dan Makanan. (Lihat Tabel 2. 2. Pertama.Susenas. 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga sedang dan 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga rendah. Riskesdas 2007 mengumpulkan 36. 2. Secara nasional. Dari jumlah tersebut. Secara keseluruhan.5 Penarikan Sampel Iodium Ada 2 (dua) pengukuran iodium.4 Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis adalah anggota rumah tangga berusia lebih dari 1 (satu) tahun yang tinggal di blok sensus dengan klasifikasi perkotaan. sampel diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun yang berjumlah 19. Pengukuran kadar iodium dalam garam dilakukan dengan test cepat menggunakan “iodina” dilakukan pada seluruh sampel rumah tangga.5. dan 182 rumah tangga dari dua (2) kabupaten di Papua.3.2.

Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.165 BS berhasil dikumpulkan. Dengan demikian 17.1 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Jml BSSusenas 2007 687 1054 692 434 380 540 342 438 230 230 427 1282 1578 216 1872 304 358 360 608 456 534 494 474 354 388 918 416 210 196 215 209 146 315 17357 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jml BSRiskesdas 2007 683 1045 689 426 379 538 337 424 230 230 409 1267 1576 215 1872 303 357 360 605 455 533 471 461 325 376 909 416 200 191 215 208 144 301 17150 Jml BS yang tidak ada 4 9 3 8 1 2 5 14 0 0 18 15 2 1 0 1 1 0 3 1 1 23 13 29 12 9 0 10 5 0 1 2 14 207 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg. 10 .Tabel 2. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 15 BS.

680 3.864 4.640 8.375 95.861 16.933 6.456 3.134 2.431 91. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 182 RT.0 Indonesia *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.4 Kepulauan Riau 6.7 Sulawesi Tengah 14.5 Jambi 8. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.008 6.647 98.447 87.792 91.0 Sulawesi Barat 3.8 DI Yogyakarta 29.5 Bengkulu 7.578 97.4 Jawa Timur 4.344 2.760 5.359 3.430 94.090 92.420 92.705 88.890 71.664 85.680 3.366. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.952 28.469 94. 11 .543 7.072 10.3 Jawa Tengah 3.728 5.472 5.563 95. 2007 Jumlah Sampel RTSusenas 2007 Jumlah Sampel RTRiskesdas 2007 % Sampel RT Riskesdas /Susenas Provinsi 10.2 Maluku Utara 2.206 94.421 97.2 Kalimantan Tengah 7.634 96.687 13.402 92.821 78.074 81.424 2.959 86.2 Papua Barat 5.078 5.5 Sumatra Selatan 5.904 7.2 Sulawesi Selatan 6.Tabel 2.5 Kalimantan Timur 5.2 Sumatra Utara 11.6 Riau 6.498 95.8 Bali 5.386 97.728 9.208 5.248 24.664 4.329 1.9 Sulawesi Utara 6.9 Jawa Barat 25.021 4.418 94.6 Lampung 3.981 NAD 16. Dengan demikian rumah tangga yang dikumpulkan berjumlah 258.6 DKI Jakarta 20.832 4.1 Bangka Belitung 3.1 Banten 5.0 Gorontalo 3.0 Nusa Tenggara Barat 9.1 Papua*) 277.0 Sumatra Barat 6.806 95.284 93.656 6.241 93.294 6.512 19.6 Nusa Tenggara Timur 7.769 92.064 92.9 Kalimantan Selatan 7.2.8 Kalimantan Barat 8.4 Maluku 3.8 Sulawesi Tenggara 3.578 6.630 258.263 91.490 92.831 94.585 80.9 10.915 87.

898 15.8 82.418 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jumlah Sampel ARTRiskesdas 2007 40.4 85.4 88.021 25.2 92.645 12.435 33.044 23.2 85. 2007 Jumlah Sampel ARTSusenas 2007 46.7 91.532 %Sampel ART Riskesdas /Susenas 88.570 26.603 21.9 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan peg.Tabel 2.4 83.9 84.046 74.553 63.152 9.646 29.358 19.833 13.276 20.410 26.8 89.250 28.624 29.756 31.164 100.512 54.687 14.156 17.148.002 39.2 91.3 86.3.570 14.361 13.5 84.970 68.591 45.892 69.136 16.661 13.056 22.754 21.9 73.637 14.2 81.064 22.966 17.7 89. Dengan demikan ART yang berhasil di wawancarai adalah sejumlah 987.642 11.870 27.0 85.3 85.8 92.519 78.486 1.465 110.4 94.557 28.3 92.4 83.5 83. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 673 ART).349 10.7 67.3 70.2 61.521 95.954 33.514 16.245 10.966 24.530 22.648 47.4 81.205 orang 12 .952 21.048 29.548 45.2 90.085 986.256 42. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.189 6.928 14.460 87.015 25.9 93.848 22. Jumlah Sampel Anggota Rumah Tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.119 10.856 36.297 38.5 81.706 25.397 21.1 60.412 20.269 11.7 87.7 69.4 82.

• Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). Blok X-E tentang disabilitas/ketidakmampuan untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (23 variabel). • Blok VII tentang sanitasi lingkungan (17 variabel).4 Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan kebijakan kesehatan Indonesia dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. b. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. tidak menular. Blok X-I tentang kesehatan reproduksi – pertanyaan tambahan untuk 5 provinsi: NTT.AV1). ii. Blok X-A tentang identifikasi responden (4 variabel). c. dan riwayat penyakit turunan (50 variabel). Kuesioner rumah tangga (RKD07. • Blok V tentang mortalitas (10 variabel). • Blok IV tentang anggota rumah tangga (12 variabel). Papua Barat.2.GIZI). v. vii. • Blok II tentang keterangan rumah tangga (7 variabel). Kuesioner individu (RKD07. viii. • Blok XI tentang pengukuran dan pemeriksaan (14 variabel). • Blok VI tentang akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (11 variabel). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (6 variabel).RT) yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (9 variabel). Blok X-C tentang ketanggapan pelayanan kesehatan Pelayanan rawat inap (11 variabel) Pelayanan berobat jalan (10 variabel iv. vi. Kuesioner gizi (RKD07. 13 . Blok X-G tentang imunisasi dan pemantauan pertumbuhan untuk semua anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan (11 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari (RKD07. • Blok X tentang keterangan individu dikelompokkan menjadi: i. iii. yang terdiri dari: • Blok VIII tentang konsumsi makanan rumah tangga 24 jam lalu.IND). Dalam Riskesdas 2007 terdapat kurang lebih 900 variabel yang tersebar dalam 6 (enam) jenis kuesioner.Maluku Utara. Maluku. d. Blok X-F tentang kesehatan mental untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (20 variabel). yang terdiri dari: • Blok IX tentang keterangan wawancara individu (4 variabel). Blok X-H tentang kesehatan bayi (khusus untuk bayi berumur < 12 bulan (7 variabel). Papua (6 variabel). Blok X-B tentang penyakit menular.

• Blok VIB tentang keadaan ibu (8 variabel). • Blok III tentang autopsi verbal riwayat sakit bayi/balita berumur 29 hari . dengan rincian sebagai berikut: a.< 5 tahun (RKD07. • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). • Blok IVA tentang keadaan bayi ketika lahir (6 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari .RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi 14 . • Blok IVB tentang keadaan bayi ketika sakit (12 variabel).AV2). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel).5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2007 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. e. • Blok V tentang autopsi verbal kesehatan ibu neonatal ketika hamil dan bersalin (2 variabel).RT • Responden untuk Kuesioner RKD07. • Blok IIIA tentang autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (44 variabel). • Blok IIID tentang autopsi verbal untuk laki-laki atau perempuan yang berumur 15 tahun keatas (1 variabel).• Blok III tentang karakteristik ibu neonatal (5 variabel). • Blok IV tentang resume riwayat sakit bayi/balita (6 variabel) f. • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). terdapat dua (2) formulir yang digunakan untuk pengumpulan data tes cepat iodium garam (Form Garam) dan data iodium didalam urin (Form Pemeriksaan Urin). • Blok IIIB tentang autopsi verbal untuk perempuan umur 10 tahun keatas (4 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (RKD07. yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). Catatan Selain keenam kuesioner tersebut diatas. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07.<5 tahun (35 variabel).1 Kuesioner Riskesdas 2007. 2. • Blok IIIC tentang autopsi verbal untuk perempuan pernah kawin umur 10-54 tahun (19 variabel).AV3). • Blok VIA tentang bayi usia 0-28 hari termasuk lahir mati (4 variabel). • Blok IV tentang resume riwayat sakit untuk umur 5 tahun keatas (5 variabel). Lihat Lampiran 2.

Filariasis. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Sendi. Penyakit Jantung. sikap dan perilaku terkait Penyakit Flu Burung. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 10 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai pengetahuan. b. 15 . Pnemonia. aktivitas fisik. • Anggota rumah tangga berumur < 12 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai kesehatan bayi. penyakit tidak menular dan penyakit keturunan sebagai berikut: Infeksi Saluran Pernafasan Akut. HIV/AIDS.AV1. Demam Berdarah Dengue. serta pengukuran berat badan.AV3. Pengumpulan data kematian dengan teknik autopsi verbal menggunakan Kuesioner RKD07. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 30 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Katarak. serta perilaku terkait dengan konsumsi buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar. Tuberkulosis Paru. Campak.AV yang sesuai dengan umur anggota rumah tangga yang meninggal dimaksud.IND • Secara umum. RKD07. Diare. Cedera. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan gigi permanen. • Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular. pengukuran tekanan darah.IND adalah setiap anggota rumah tangga. disabilitas. serta pengukuran lingkar lengan atas (khusus untuk wanita usia subur 15-45 tahun. penggunaan alkohol.AV2 dan RKD07. • Informasi mengenai kejadian kematian dalam rumah tangga di recall terhitung sejak 1 Juli 2004. termasuk ibu hamil). Demam Tifoid. Stroke. c. responden untuk Kuesioner RKD07. Gigi dan Mulut. perilaku higienis. • Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. kesehatan mental. termasuk di dalamnya kejadian bayi lahir mati. penggunaan tembakau. • Anggota rumah tangga berumur > 5 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan visus. • Anggota rumah tangga berumur 6-12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan iodium dalam urin. Hepatitis. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. Tumor / Kanker dan Penyakit Keturunan. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Asma. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kematian yang terjadi dalam 12 bulan sebelum wawancara dilakukan eksplorasi lebih lanjut melalui autopsi verbal dengan menggunakan kuesioner RKD07. Penyakit Tekanan Darah Tinggi.• Dalam Kuesioner RKD07. Malaria. Penyakit Kencing Manis. tinggi badan / panjang badan. pengukuran lingkar perut.RT terdapat verifikasi terhadap keterangan anggota rumah tangga yang dapat menunjukkan sejauh mana sampel Riskesdas 2007 identik dengan sampel Susenas 2007.

Pengumpulan data biomedis berupa spesimen darah dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk di blok sensus perkotaan di Indonesia. Serum segera diperiksa dengan menggunakan alat kimia klinis otomatis.AV1). Khusus untuk responden yang sudah diketahui positif menderita Diabetes Mellitus (berdasarkan konfirmasi dokter). yang keduanya akan dikerjakan oleh dokter reviewer dengan mengacu pada ketentuan International Classification of Diseases 10 (ICD-10) dari WHO. 1999) yang digunakan adalah sebagai berikut: • • • Normal (Non DM) < 140 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) 140 .AV1 – AV3) dirancang untuk mengumpulkan tanda. Pengumpulan data konsumsi garam beriodium rumah tangga untuk seluruh sampel rumah tangga Riskesdas 2007 dilakukan dengan tes cepat iodium menggunakan “iodina test”. Darah didiamkan selama 20–30 menit. Untuk pemeriksaan kadar glukosa darah. kuesioner untuk usia lima (5) tahun ke atas (RKD. gejala sakit sebelum seorang individu meninggal dengan teknik autopsi verbal (AV) melalui wawancara kepada keluarga almarhum/ah yang merawatnya ketka sakit.< 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM) > 200 mg/dl. data dikumpulkan dari anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun. Sampel darah diambil dari seluruh anggota rumah tangga (kecuali bayi) yang menanda-tangani informed consent. Rangkaian pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut: • Dari Blok sensus perkotaan yang terpilih pada Susenas 2007. • Jumlah blok sensus di daerah perkotaan yang terpilih berjumlah 971. dengan melakukan pengumpulan garam beriodium pada rumah tangga bersamaan dengan pemeriksaan kadar iodium dalam urin pada anggota rumah tangga yang sama. Pembagian ini dimaksudkan untuk memenuhi kepraktisan ketika dilakukan wawancara agar tetap terarah pada penyebab kematian secara spesifik pada setiap kelompok usia. Pengambilan darah tidak dilakukan pada anggota rumah tangga yang sakit berat.AV3). Ada tiga (3) macam kuesioner AV yang dipakai yaitu: kuesioner AV1 untuk neonatal berumur 0-<28 hari (RKD. Kuesioner dilengkapi dengan lembar khusus untuk pembuatan resume riwayat patofisiologi perjalanan penyakit sampai terjadi kematian dan penegakan diagnosis penyebab kematian. kuesioner AV2 untuk balita berumur 28 hari-<5 tahun (RKD. Sampel 30 kabupaten/kota dipilih untuk pengamatan ini berdasarkan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga hasil Susenas 2005: 16 . Pengambilan darah vena dilakukan setelah 2 jam pembebanan. Responden terpilih memperoleh pembebanan sebanyak 75 gram glukosa oral setelah puasa 10–14 jam. dipilih sejumlah 15% dari total blok sensus perkotaan. kecuali wanita hamil (alasan etika).536 RT.Model kuesioner Riskesdas-mortalitas 2007 (RKD07. dengan total sampel 15. riwayat perdarahan dan menggunakan obat pengencer darah secara rutin. Pengambilan sampel darah dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga berumur di atas satu (1) tahun dari rumah tangga terpilih di blok sensus perkotaan terpilih sesuai Susenas 2007. Pengamatan tingkat nasional pada dampak konsumsi garam beriodium dinilai berdasarkan kadar iodium dalam urin.AV2). disentrifus sesegera mungkin untuk dijadikan serum. d. hanya diberi pembebanan sebanyak 300 kalori (alasan medis dan etika). f. Nilai rujukan (WHO. e.

Pelatihan dilakukan oleh peneliti dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi dan petugas Labkesda setempat. Kabupaten Jember. Kabupaten Karo. Papua Barat. Kota Kendari. Kabupaten Donggala.January 2008). Kota Metro. d. Kabupaten Sikka. Perubahan kebijakan anggaran internal Departemen Kesehatan pada tahun anggaran 2007 menyebabkan gangguan ketersediaan dana operasional untuk pengumpulan data. Kabupaten Konawe dan Kota Gorontalo). sehingga waktu pengumpulan data pada provinsi di wilayah III dan sangat bervariasi (akhir Juli 2007 . Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur). Kabupaten Grobogan. Kabupaten Klungkung. Catatan Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007 tidak dapat dilakukan serentak pada pertengahan 2007. Petugas dimaksud adalah para analis atau petugas laboratorium dari rumah sakit atau laboratorium daerah. c. sehingga dalam analisis perlu beberapa penyesuaian agar komparabilitas data dari satu periode pengumpulan data yang satu dengan periode pengumpulan data lainnya dapat terjaga dengan baik.• Tinggi – meliputi Kabupaten Blitar. Kabupaten Nganjuk. ketersediaan tenaga pendamping dan ketersediaan biaya operasional yang memadai tepat pada waktunya. Koordinator Wilayah I dan II bisa mencairkan anggaran sebelum terjadinya perubahan kebijakan anggaran dimaksud. sehingga pelaksanaan dari satu lokasi pengumpulan data ke lokasi lainnya memerlukan koordinasi dan manajemen logistik yang rumit. Untuk pengumpulan data biomedis. • Sedang – meliputi Kota Tangerang. Kabupaten Tapin. pelaksanaan pengumpulan data dalam berbagai situasi amat tergantung pada ketersediaan alat transpor. b. Kabupaten Solok Selatan. Kabupaten Toba Samosir. Pelatihan dilaksanakan di tiap provinsi. Maluku. sehingga bisa melaksanakan pengumpulan data lebih awal (akhir Juli 2007). 17 . Kesiapan daerah untuk berperanserta dalam pelaksanaan Riskesdas 2007 amat bervariasi. Kota Pasuruan. Kota Semarang. Di daerah kepulauan dan daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. Kota Salatiga. Kabupaten Karawang. Kabupaten Balangan dan Kabupaten Mappi. Kabupaten Semarang. Sedangkan Koordinator Wilayah III dan IV lebih lambat. pengumpulan data baru dapat dilaksanakan pada Agustus-September 2008. • Buruk – meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah. Kabupaten Katingan. perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk petugas pengambil spesimen dan manajemen spesimen. Bahkan untuk lima (5) provinsi daerah sulit (Papua. Situasi ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: a. Kabupaten Bantul. Kota Dumai. Kondisi geografis dari sampel blok sensus terpilih amat bervariasi. Kabupaten Bondowoso. Kota Tarakan dan Kabupaten Jeneponto.

Fokus perhatian Ketua Tim Pewawancara adalah kelengkapan dan konsistensi jawaban responden dari setiap kuesioner yang masuk. Petugas entry data Riskesdas merupakan bagian dari tim manajemen data yang harus memahami kuesioner Riskesdas dan program data base yang digunakannya. Ketua Tim Pewawancara harus mengkonsultasikan seluruh masalah editing yang dihadapinya kepada Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kabupaten dan / atau Penangung Jawab Teknis (PJT) Provinsi. Di lapangan.6.3 Cleaning Tahapan cleaning dalam manajemen data merupakan proses yang amat menentukan kualitas hasil Riskesdas 2007.6 Manajemen Data Manajemen data Riskesdas dilaksanakan oleh Tim Manajemen Data Pusat yang mengkoordinir Tim Manajemen Data dari Korwil I – IV. outliers amat menentukan akurasi dan presisi dari estimasi yang dihasilkan Riskesdas 2007. Kegiatan ini seyogyanya dilaksanakan segera setelah diserahkan oleh pewawancara. no responses.6. Prasyarat pengetahuan dan keterampilan ini menjadi penting untuk menekan kesalahan entry. 2. Hasil pelaksanaan entry data ini menjadi bagian yang penting bagi petugas manajemen data yang bertanggungjawab untuk melakukan cleaning dan analisis data.6. Buku kode disiapkan dan digunakan sebagai acuan bila menjumpai masalah entry data. Kuesioner yang sama juga banyak mengandung skip questions yang secara teknis memerlukan ketelitian petugas entry data untuk menjaga konsistensi dari satu blok pertanyaan ke blok pertanyaan berikutnya. Tim Manajemen Data menyediakan pedoman khusus untuk melakukan cleaning data Riskesdas. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak data diperoleh dari jawaban responden. Perlakuan terhadap missing values. 2. Peran Ketua tim Pewawancara sangat kritikal dalam proses editing. Kuesioner Riskesdas 2007 mengandung pertanyaan untuk berbagai responden dengan kelompok umur yang berbeda.2.2 Entry Tim manajemen data yang bertanggungjawab untuk entry data harus mempunyai dan mau memberikan ekstra energi berkonsentrasi ketika memindahkan data dari kuesioner / formulir kedalam bentuk digital. memeriksa kuesioner yang telah diisi serta membantu memecahkan masalah yang timbul di lapangan dan juga melakukan editing. pewawancara bekerjasama dalam sebuah tim yang terdiri dari tiga (3) pewawancara dan seorang Ketua Tim. PJT Kabupaten dan PJT Provinsi bertugas untuk melakukan supervisi pelaksanaan pengumpulan data. Ketua Tim Pewawancara harus dapat membagi waktu untuk tugas pengumpulan data dan editing segera setelah selesai pengumpulan data pada setiap blok sensus. 18 . Urutan kegiatan manjemen data dapat diuraikan sebagai berikut.1 Editing Editing adalah salah satu mata rantai yang secara potensial dapat menjadi the weakest link dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. 2.

Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga estimasi jumlah populasi pada periode waktu yang berbeda akan berbeda pula. variabel tanggal pengumpulan data bisa digunakan pada saat melakukan analisis.2) Bisa juga terjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga yang terpilih dan bisa dikunjungi oleh Riskesdas.) Blok sensus tidak terjangkau. sampel rumah tangga. pusat-pusat penelitian.7 Keterbatasan Riskesdas Keterbatasan Riskesdas 2007 mencakup berbagai permasalahan non-random error. Keterlambatan pada fase ini telah menyebabkan keterlambatan pada fase berikutnya.346. c. e. Tercatat sebanyak 159. pada saat pengumpulan data dilakukan tidak ada di tempat. maka informasi mengenai imputasi (proses data cleaning) dapat meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai kualitas data. atau karena kondisi alam yang tidak memungkinkan seperti ombak besar. balai/balai besar. b. Pengorganisasian Riskesdas 2007 melibatkan berbagai unsur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. g. sebagaimana uraian berikut ini: a. Banyaknya sampel blok sensus. tersebar di seluruh kabupaten/kota (Lihat Tabel 2. Pada Riskesdas. Perubahan kebijakan pembiayaan dalam tahun anggaran 2007 dan prosedur administrasi yang panjang dalam proses pengadaan barang menyebabkan keterlambatan dalam kegiatan pengumpulan data. seperti terlihat pada Tabel 2. sehingga tidak menjadi bagian sampel kabupaten/kota Riskesdas (Lihat Sub Bab 2.3). d. Besaran numerator dan denominator dari suatu estimasi yang mengalami proses data cleaning merupakan bagian dari laporan hasil Riskesdas 2007 Bila pada suatu saat data Riskesdas 2007 dapat diakses oleh publik. Meski Riskesdas dirancang untuk menghasilkan estimasi sampai tingkat kabupaten/kota. sampel anggota rumah tangga serta luasnya cakupan wilayah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. karena ketidak-tersediaan alat transportasi menuju lokasi dimaksud.566 anggota rumah tangga yang tidak bisa dikumpulkan datanya (Lihat Tabel 2. 2. loka. f. serta perguruan tinggi setempat. Proses pengadaan logistik untuk kegiatan Riskesdas 2007 terkait erat dengan ketersediaan biaya. tetapi tidak semua estimasi bisa mewakili kabupaten/kota.Petugas cleaning data harus melaporkan keseluruhan proses perlakuan cleaning kepada penanggung jawab analisis Riskesdas agar diketahui jumlah sampel terakhir yang digunakan untuk kepentingan analisis. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga ada kemungkinan beberapa estimasi penyakit menular yang bersifat seasonal pada beberapa provinsi atau kabupaten/kota menjadi under-estimate atau overestimate. Pembentukan kabupaten/kota baru hasil pemekaran suatu kabupaten/kota yang terjadi setelah penetapan blok sensus Riskesdas dari Susenas 2007. Riskesdas tidak berhasil mengumpulkan 207 blok sensus yang terpilih dalam sampel Susenas 2007. 19 .1. Total rumah tangga yang tidak berhasil dikunjungi Riskesdas adalah sebanyak 19.2. Rumah tangga yang terdapat dalam DSRT Susenas 2007 ternyata tidak dapat dijumpai oleh Tim Pewawancara Riskesdas 2007. Berbagai keterlambatan tersebut memberikan kontribusi penting bagi berbagai keterbatasan dalam Riskesdas 2007.

serta kualitas pewawancara untuk bisa menggali penyebab kematian. Untuk data mortalitas. serta wanita usia sunur 1545 tahun. Terbatasnya dana dan waktu realisasi pencairan anggaran yang tidak lancar. yaitu mengeluarkan missing values dan outlier serta dilakukan pembobotan sesuai dengan jumlah masing-masing sampel. ada yang dimulai pada bulan Juli 2007.8 Pengolahan dan Analisis Data Isu terpenting dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007 adalah sampel Riskesdas 2007 yang identik dengan sampel Susenas 2007. Hasil pengukuran yang diperoleh dari two stage sampling design memerlukan perlakuan khusus yang pengolahannya menggunakan paket perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS. Pada laporan ini seluruh analisis dilakukan berdasarkan jumlah sampel rumah tangga maupun anggota rumah tangga setelah missing values dan outlier dikeluarkan.3. bahkan lima provinsi (Papua. Maluku Utara dan NTT) baru melaksanakan pada bulan Agustus-September 2008. dan 3) variabel hasil pengujian garam iodium dirumah tangga. Aplikasi statistik yang tersedia didalam SPPS untuk mengolah dan menganalisis data seperti Riskesdas 2007 adalah SPSS Complex Samples. Papua Barat. Akan tetapi untuk kepentingan analisis kabupaten/kota maka jumlah sampel akhir yang digunakan untuk masing-masing varibel perlu diperhatikan. Maluku. Tabel 2. dewasa ≥ 18 tahun. dewasa ≥ 30 tahun. (Tabel 2.2. beberapa kelemahan menggunakan teknis autopsi verbal akan mempengaruhi kualitas informasi yang diberikan oleh responden. Dengan penggunaan SPSS Complex Sample dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007.terutama kejadian-kejadian yang frekuensinya jarang. estimasi yang dihasilkan hanya mewakili sampai tingkat perkotaan nasional. h.4). dewasa ≥15 tahun.4 mencantumkan jumlah sampel anggota rumah tangga dan rumah tangga berdasarkan: 1) variabel pengukuran dari kelompok umur <5 tahun. anak 6 – 14 tahun. Jumlah sampel Riskesdas 2007 cukup untuk kepentingan analisis yang menberikan gambaran nasional maupun provinsi. tetapi ada pula yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2008. j. 20 . Selain itu kemungkinan under-reporting. anak ≥6 tahun. Disain penarikan sampel Susenas 2007 adalah two stage sampling. Riskesdas yang terdiri dari 6 Kuesioner dan 11 Blok Topik Analisis akan tergantung dari jawaban responden dan jumlahnya terhadap Susenas 2007. Kejadian yang jarang seperti ini hanya bisa mewakili tingkat provinsi atau bahkan hanya tingkat nasional. dan tabel 2. pada akhirnya akan berkurang untuk analisis masingmasing variabel yang dikumpulkan. menyebabkan pelaksanaan Riskesdas tidak serentak. Aplikasi statistik ini memungkinkan penggunaan two stage sampling design seperti yang diimplementasikan di dalam Susenas 2007. Jumlah sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Riskesdas 2007 yang terkumpul seperti tercantum pada tabel 2. 2. i. Hasil pengolahan dan analisis data dipresentasikan pada Bab Hasil Riskesdas. ketepatan waktu kejadian kematian. Khusus untuk data biomedis. maka validitas hasil analisis data dapat dioptimalkan. karena tidak diperolehnya jawaban (missing values) maupun kemungkinan kesalahan hasil pengukuran (outlier) dari rumah tangga atau anggota rumah tangga.ketepatan umur kematian juga akan mempengauhi mutu data yang dikumpulkan. Seluruh variabel Riskedas yang berjumlah hampir 900 pada saat analisis dilakukan prosedur yang sama. Terutama kabupaten/kota dimana jumlah sampel teranalisis pada Riskesdas 2007 kurang dari 80% sampel Susenas 2007. Penyebabnya antara lain. 2) variabel hasil wawancara konsumsi tingkat rumah tangga.

0 129 29.6 105 24.8 77 17.9 129 29.3 59 13.0 20 4.6 98 22.9% 56 12.5 65 14.7 >90% 332 75.2 203 46.9 187 42.5 118 26.4 111 25.6 213 48.7 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 Total Kab/Kota*) 438 *)Total Kabupaten/Kota 438 adalah Kabupaten/Kota Riskesdas 2007 yang sama dengan Sampel Susenas 2007 21 .9 81 18.4 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.8 264 60.3 241 55.5 62 14.5 100 22.2 80-89.5 73 16.4 223 50.16.9% 25 5.3 160 36.2 37 8.7 163 37.3 11 2.5 – Tabel 2.8 73 16. Riskesdas 2007 Variabel Pengukuran/Pemeriksaan pada Riskesdas Pengukuran BB/U (Balita) Pengukuran TB/U (Balita) Pengukuran BB/TB (Balita) Pemeriksaan Visus (Anak >=6 tahun) Pengukuran IMT (Anak 614tahun) Pengukuran IMT (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran Lingkar Perut (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran LILA (Wanita usia15-45 tahun) Pengukuran Tensi (Dewasa >=18 tahun) Pemeriksaan Katarak (Dewasa >=30 tahun) Penilaian Konsumsi Rumah Tangga Penilaian Konsumsi garam Iodium pada Rumah Tangga Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Persen Sampel Teranalisis <70% 25 5.Rincian jumlah kabupaten/kota setiap provinsi menurut jumlah sampel anggota rumah tangga dan sampel rumah tangga yang bisa di analisis Riskesdas 2007 terhadap jumlah sampel Susenas 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.7 47 10.9 60 13.7 50 11.6 95 21.4 45 10.7 106 24.5 327 74.5 58 13.2 87 19.9 103 23. Tabel 2.7 95 21.7 151 34.4 55 12.6 122 27.7 169 38.8 87 19.7 27 6.7 47 10.5 70-79.2 85 19.

Tabel 2.9% >=90% 2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 0 0 0 0 1 4 2 2 5 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 5 0 1 0 0 1 3 4 1 2 1 2 1 2 1 3 5 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 0 5 0 3 0 4 2 1 8 1 1 0 1 1 3 4 17 23 17 9 9 11 4 6 7 5 1 24 34 5 37 4 9 9 11 10 10 12 8 0 9 14 9 4 3 0 1 3 7 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 25 25 56 332 438 22 .5 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.

9% 80-89.9% >=90% 4 2 2 0 0 1 0 3 0 1 3 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 2 4 0 2 0 0 1 7 5 3 6 3 0 0 2 1 2 4 2 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 1 2 4 0 2 4 0 4 1 1 1 0 2 3 3 3 4 1 5 1 2 3 2 0 2 0 3 1 0 3 1 1 1 6 3 3 1 3 1 4 10 2 0 3 1 1 2 4 11 19 16 4 8 9 2 3 7 3 1 22 33 5 34 3 8 8 8 6 7 11 6 0 6 7 7 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 50 47 77 264 438 23 .6 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

7 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 4 1 2 2 0 3 0 3 0 1 4 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 1 2 3 0 1 0 0 2 7 5 3 6 1 1 0 2 2 1 5 2 0 0 1 1 1 0 2 1 0 0 2 2 3 0 2 5 1 1 2 0 0 0 2 4 3 7 7 3 6 1 3 3 3 1 3 0 4 3 0 7 1 1 1 7 3 4 2 3 1 4 4 2 1 3 1 1 1 4 9 16 14 1 7 7 1 2 6 2 1 20 31 5 29 3 8 8 6 5 6 10 6 0 5 17 6 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 55 47 95 241 438 24 .9% 80-89.Tabel 2.

9% >=90% 2 1 3 3 0 1 2 4 0 1 5 5 2 1 1 2 1 0 1 3 2 2 4 7 2 4 0 3 4 6 5 7 14 6 4 11 5 3 3 2 3 3 4 0 12 14 2 13 0 1 1 11 2 5 2 8 2 8 8 7 1 1 1 3 2 3 12 17 4 3 7 5 5 3 3 1 1 8 18 2 23 4 5 8 3 5 7 9 1 0 0 10 3 1 0 1 0 0 0 1 3 1 0 0 5 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 98 151 169 20 438 25 .9% 80-89.Tabel 2.8 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 1 0 2 1 0 1 0 0 0 0 5 1 1 0 0 1 0 0 0 2 3 2 2 2 0 0 0 0 2 5 2 3 9 1 2 0 4 0 0 2 4 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 3 2 1 1 2 6 2 3 0 2 3 1 5 4 5 7 1 3 4 6 4 4 5 1 4 0 5 4 2 8 1 2 1 7 4 5 2 8 1 8 13 4 1 0 2 1 1 3 12 22 14 2 4 9 3 1 6 1 1 18 30 2 29 3 7 8 6 4 5 8 1 0 0 7 6 2 0 0 0 1 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 45 58 122 213 438 26 .9% 80-89.Tabel 2.

9% 80-89.9% >=90% 1 1 2 1 0 0 1 0 0 0 5 1 0 0 0 2 0 0 0 2 2 1 3 5 0 1 0 1 3 6 4 6 11 3 0 1 3 1 1 4 3 2 3 0 4 3 1 2 0 1 0 8 1 4 2 4 3 7 6 4 2 2 1 3 3 5 8 12 8 5 6 4 3 7 0 3 1 19 20 4 23 3 3 1 7 5 6 6 6 1 3 14 4 2 0 1 1 0 1 9 12 8 2 3 9 1 0 5 0 0 1 12 0 13 1 5 8 1 4 2 4 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 59 87 187 105 438 27 .10 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

Tabel 2.9% 80-89.11 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 1 1 4 3 0 1 1 0 0 1 6 1 0 0 0 2 0 0 0 3 2 1 3 4 0 1 0 1 2 6 4 6 11 6 1 1 2 1 1 4 3 0 3 0 3 1 1 1 0 1 0 7 1 2 2 2 4 7 6 3 2 3 2 3 3 5 8 13 7 4 7 4 4 5 2 2 0 19 16 1 12 1 2 1 8 5 7 2 7 1 3 13 5 2 0 0 1 0 1 6 10 7 2 2 8 0 2 5 0 0 2 18 3 25 3 6 8 1 3 3 8 1 0 0 3 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 65 81 163 129 438 28 .

Tabel 2.12 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.9% >=90% 2 1 2 1 0 1 2 1 0 0 5 2 0 0 1 2 0 0 1 3 2 1 2 8 0 1 0 1 3 6 5 6 14 3 3 1 4 2 2 3 5 1 3 0 6 4 2 3 0 1 1 11 1 2 2 4 0 8 9 4 2 2 2 3 3 3 13 16 8 6 6 5 4 4 2 3 1 17 25 3 25 4 2 7 4 6 8 5 7 1 2 12 5 2 0 0 0 0 0 3 5 8 0 2 6 0 0 4 0 0 0 6 0 9 0 6 1 0 2 2 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 73 100 203 62 438 29 .

13 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 3 4 2 4 1 1 2 1 0 1 5 3 4 0 1 2 0 0 2 3 3 3 5 8 6 4 1 2 3 6 6 6 14 3 2 2 1 0 1 4 7 0 3 1 5 4 2 3 1 1 0 11 1 4 1 4 1 4 6 3 3 2 1 1 3 2 6 5 6 5 5 2 3 2 2 2 0 16 24 2 24 3 4 2 3 7 7 5 4 0 0 13 5 0 0 1 1 0 1 9 14 9 1 4 10 0 0 5 0 0 1 3 1 10 0 4 7 0 1 0 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 106 87 160 85 438 30 .Lampiran 2.9% 80-89.

Tabel 2.9% >=90% 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 1 1 3 0 0 0 0 1 5 2 4 7 1 0 2 2 0 1 3 3 0 0 0 3 1 1 1 1 0 0 0 2 1 2 3 5 4 4 1 3 2 1 4 3 6 2 2 4 2 2 3 3 5 2 6 0 11 9 0 8 1 1 0 11 3 5 1 5 1 6 8 5 2 2 1 2 2 3 17 22 12 7 8 10 3 2 5 0 1 10 25 4 29 3 8 9 5 6 6 9 4 0 0 11 4 0 0 1 0 0 2 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 37 60 118 223 438 31 .9% 80-89.14 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

Tabel 2.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 1 2 1 0 2 1 0 0 0 1 5 0 6 1 27 4 3 9 6 1 2 3 5 1 2 0 0 0 0 4 3 6 15 5 3 3 6 6 1 1 0 1 4 1 4 4 3 10 0 5 0 3 3 1 2 7 1 3 3 3 0 2 1 3 3 3 8 11 10 4 2 7 4 1 4 0 0 5 8 1 1 0 1 0 7 5 10 6 1 1 5 11 6 3 2 3 2 0 0 7 9 5 1 0 5 4 9 2 1 0 16 17 0 0 2 0 0 0 3 1 2 0 6 0 9 1 2 1 0 0 0 0 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 111 95 129 103 438 32 .9% 80-89.

9% 80-89.Tabel 2.16 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 3 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1 3 5 2 1 3 1 0 0 2 2 1 1 0 2 2 2 1 1 2 0 2 1 4 0 7 4 7 4 1 1 3 3 3 4 6 18 24 16 9 10 14 7 8 6 5 1 23 33 3 35 4 7 9 14 9 9 12 4 2 3 19 9 3 1 2 4 0 4 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 11 27 73 327 438 33 .

menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U. Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum.0 s/d Z-score <-2. 34 .1 kg.1 Status Gizi Balita HASIL DAN PEMBAHASAN Status gizi balita diukur berdasarkan umur. tinggi badan menurut umur (TB/U). tidak spesifik. berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).0 Perhitungan angka prevalensi dilakukan sebagai berikut: Prevalensi Prevalensi Prevalensi Prevalensi gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100% gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100% gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100% gizilebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100% a. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut : a. tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut. Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0.0 >=-3.BAB 3. yaitu: berat badan menurut umur (BB/U).0 >=-2.0 >2. panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0.1 cm.0 >=-2. Berdasarkan indikator BB/U : Kategori Kategori Kategori Kategori b.1 Gizi 3. Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Kategori Kategori Kategori Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Z-score Z-score Z-score Z-score < -3. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri.0 s/d Z-score <=2.0 >=-3. 3. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita.0 c.0 Z-score >=-2. dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0.1. Untuk menilai status gizi anak.1.0 s/d Z-score <=2.0 Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Kategori Pendek Kategori Normal Z-score < -3. Gizi Gizi Gizi Gizi Buruk Kurang Baik Lebih Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.0 s/d Z-score <-2.1 cm.0 s/d Z-score <-2.0 Z-score >=-3.0 >2. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U Tabel 3. maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006.

5 15.3 3.3 Indonesia *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 5.9 5.1 8.0 4.5 3.0 3.5 12.0 9.3 72. 35 .6 81.2 78.6 Gizi baik 69.1 73.0 11.2 16.1 9.3 12.5 3.0 16.7 11.2 15.0 2.6 Gizi kurang 15.5 4.9 83.9 3.3 75.1 6.8 5. Kepulauan Riau.4 18.3 74.0 2. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.4 13.4 10.5 6.3 80.7 6.2 4.7 69.9 7.0 73.8 6.4 6.7 4.7 24.4 5.6 11.4%.3 2.6 71. maka secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui. Bangka Belitung.3 6.8 13.3 8.0 5.4 8.2 14.6 12.3 6.2 8.7 6.4 14.7 2.8 4.1 11.5 16.2 72.0 4.6 3. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.6 4.2 4.4 64.0 2.1 67.5 80.5 18.1 6.4 4.9 3.7 77.9 12.Tabel 3.7 12.8 5.2 10.5 72. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.1.5 8.5 2.4 73.3 5.2 8.1 16.3 74.4 4.8 75.4 6.2 73.3 13. Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18.3 14.0%.0 79. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.3 Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5.4 85.4 4.4 72. Namun pencapaian tersebut belum merata di 33 provinsi.6 3.4 3.6 3.1 70. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18.0 78.0 77.8 8.7 8.4 75.7 3.4 81.2 5.4% dan gizi kurang 13.5 80.0 9.1 18.0 77.0 8.5 3.0 5.2 4.9 17.7 9.5%.4 3.6 3.3 6.7 5.8 14.9 71. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kategori status gizi BB/U Gizi buruk 10.4 Gizi lebih 4.9 11.3 76.7 4.2 13. Sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi nasional.

Sulawesi Tenggara. Ke 14 provinsi yang telah memenuhi kedua target adalah: Sumatera Selatan. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB Tabel 3.3. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. Lampung. Terdapat 12 provinsi yang memiliki prevalensi balita sangat kurus di bawah angka prevalensi nasional. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U Tabel 3. Kepulauan Riau. Di Yogyakarta. indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Kalimantan Timur. Jawa Timur. Bangka Belitung. Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. Kepulauan Riau. Jawa Timur. Jawa Tengah. perilaku pola asuh yang tidak tepat.1% . Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi melebihi angka nasional. Prevalensi gizi lebih secara nasional adalah 4.2 menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Bangka Belitung. Bengkulu. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3. DKI Jakarta. sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik.15.3%. Delapan belas provinsi menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Kepulauan Riau. DI Yogyakarta.0 SD. c. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker). Banten. Jawa Barat. DKI Jakarta. seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Jambi. Ke 12 provinsi tersebut adalah: Bangka Belitung. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%. Jawa Barat. artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek. Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut. yaitu Sumatera Utara. Jawa Tengah. Kalimantan Barat. Maluku dan Papua. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya.0%. Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13. Bali. Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang 36 . Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. b. Riau. Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek. Bengkulu.Bila mengacu pada target MDG maka 14 provinsi yang sudah melampaui target. Masalah pendek pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10. Sumatera Selatan. sedangkan untuk target RPJM sudah 16 provinsi yang melampaui target. Bali.6%. Bali. Maluku Utara dan Papua.2%.0% (UNHCR). Dua provinsi lainnya yaitu Jambi dan Kalimantan Timur hanya melampaui target RPJM. Sulawesi Selatan. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15.8%. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis.

4 56.9 22.4 18.9 14. dapat dilihat bahwa prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 12.6 16.1 13.8 73.2 17.9 19. 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%).5 63.serius.0 20.5 54.2 20.9 17.0 63.3 64.3 20. 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori kritis (prevalensi kurus >15%).8 60. Pada Tabel 3.5 20. DI Yogyakarta dan Bali.0 19.7 17.2 64.9 25.4 19.6 20.2 61.5 73.3 16.0 69.3 15. Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.4 65. Delapan belas provinsi memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional Tabel 3.9 63.5 12.9 59.8 59.3 58.4 15.5 15.8 19.6 70.2 37 .8 68. Hanya 3 (tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa Barat.0 61.6 19.4 Normal 55.9 21. Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita.5 67.3 64.0 56.2%.3.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pendek 17.5 18.1 17.6 18.2.0 23.1 17.5 17.0 22.6 16.6 16.7 20.8 13.2 18. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Sangat pendek 26.5 72. dari 33 provinsi.3 53.3 16.0 19.4 19.4 13.9 14.6 19.9 20.6 62.4 20.3 Indonesia *) TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 18.7 17.7 13.0 63.2 60.7 27.1 55.1 28.8 11.0 16.7 17.7 18.1 18.0 16. Bahkan.3 19.8 24.5 60.8 18.9 17.2 59.9 25.7 15.9 23.7 57.3 64.6 55.2 17.1 20.1 25.

8 78.4 72.3 76.1 7.3 75.0 68.5 12.6 12.5 76.9 13.8 74.9 7.8 5. telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.9 14.5 9.5 10.1 9.0 8.7 5.7 7.5 8.2 7.6 4.6 13.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurus 9.4 20.5 5.4 8.9 14.2 3.3 76. Status gizi balita menurut karakteristik responden Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U.2 78.4 7.8 6.9 74.9 15.8 68.5 5.8 12.5 5.9 6.4 71.0 Normal 66.9 6.4 8.3.7 6.9 81.6 10.8 7.2 70.8 62.6 3. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Sangat kurus 9.1 8. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.0 8.7 11.2 10.4 70.8 70. jenis kelamin.8 8.4 8.6 11.9 6.1 12.6 7.5 3.9 7.2 7. 38 .9 7. pendidikan KK.4 16.4 14.8 69.6 73.0 9. tempat tinggal dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas).3 12.5 Indonesia 6.9 8.4 12.3 7.4 63.5 8.3 14.5 9.2 7.4 6. TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur.5 15.7 8.3 9.4 7.0 13.9 71.5 73.6 7.4 6. pekerjaan KK.1 9.Tabel 3.0 77.2 *) BB/TB= Berat Badan menurut Tinggi Badan d.8 78.1 10.1 8.5 12.6 7.7 73.2 16.4 5.9 7.9 7.7 10.1 5.3 8.3 8.7 69.8 6.2 9.7 9.9 9.0 75.9 77.2 8.6 10.5 66.1 7.2 9.2 10.1 12.2 9.4 74.9 76.7 3.9 7.3 4.4 10.8 5.6 66.6 70.6 4.1 Gemuk 15.

4 13.7 82. yaitu: a.9 6.6 74.7 5.9 3.7 4.1 6.8 5.7 5.5 4.6 5.1 76.8 9.7 78.7 76.6 4.2 4.2 12. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik Responden.9 3.5 3.3 75.7 4.0 5.4 5.3 4. Tabel 3.9 4.3 78.4 9.9 80.5 4.8 4.9 3.5 4.8 5.8 78.3 14.3 7.4 11.4 77.Tabel 3.4 14.8 4.8 13.8 75.0 79. 39 .9 3.3 12.3 5. sedangkan untuk gizi lebih cenderung menurun.7 4.3 14.9 4.2 4.8 5.4 8.6 3.0 76.2 8.7 7.8 13.9 75.7 4.6 4.5 9.9 4.1 15.1 11.8 80.7 80.0 6.7 76.4. Semakin bertambah umur.2 78.0 6.7 Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Dapat dilihat bahwa secara umum ada kecenderungan arah yang mengaitkan antara status gizi BB/U dengan karakteristik responden.9 11.9 3.8 77.6 12. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/U balita dengan variabel-variabel karakteristik responden.2 78.7 5.1 73.0 5.6 3.2 6.9 3.8 5.0 13.2 4.6 13.9 8.7 75.8 14.2 76.8 12. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 6.7 3.4 3.7 14.8 3.3 11.4.5 14.9 77. prevalensi gizi kurang cenderung meningkat.0 81.7 3.2 8.9 78.

b. b. Tidak tampak adanya perbedaan masalah kurus yang mencolok antara balita laki-laki dan perempuan. sebaliknya terjadi peningkatan gizi baik dan gizi lebih. Semakin tinggi pendidikan KK semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita. Tidak ada pola pada masalah kurus menurut tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. Prevalensi pendek di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. Masalah kurus cenderung semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur. b. Menurut jenis kelamin. Tidak ada perbedaan mencolok antara masalah kurus di daerah perdesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. prevalensi kekurusan relatif lebih rendah dan prevalensi kegemukan relatif tinggi. c. Tidak ada pola yang jelas pada masalah kurus menurut tingkat pendidikan KK. untuk gizi baik dan gizi lebih semakin meningkat.5. kaitan antara status gizi BB/TB dan karakteristik responden menunjukkan kecenderungan yang serupa : a. tidak tampak adanya perbedaan masalah pendek yang mencolok pada balita. baik maupun lebih antara balita laki-laki dan perempuan. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden. Prevalensi kurus balita pada kelompok dengan KK sebagai petani/nelayan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan KK yang memiliki pekerjaan lain. d. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balitanya. Kajian deskriptif kaitan antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden menunjukkan: a. Seperti halnya dengan status gizi BB/U. f. e. c. namun masalah kegemukan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. d.6. f. Tabel 3. Prevalensi pendek cenderung lebih rendah seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. prevalensi pendek relatif lebih rendah dari keluarga dengan pekerjaan berpenghasilan tidak tetap. Pada kelompok keluarga yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Swasta). kurang. e. Kelompok dengan KK berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta) memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang yang relatif rendah. Makin tinggi pendidikan KK prevalensi pendek pada balita cenderung makin rendah. 40 . f. c. d. Tabel 3. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang daerah perkotaan relatif lebih rendah dari daerah perdesaan. tidak tampak adanya pola masalah pendek pada balita. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi TB/U dengan karakteristik responden. Menurut umur. dan sebaliknya. Sedangkan prevalensi balita kegemukan tertinggi ditemui pada kelompok dengan KK yang mempunyai pekerjaan dengan penghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta). Tidak nampak adanya perbedaan yang mencolok pada prevalensi gizi buruk. tetapi pada keluarga dengan KK berpendidikan tamat PT. e.

2 17.8 17.7 13.2 17.0 13.7 19.9 16.3 19.2 22.1 17.6 18.7 14.0 58.5 58.2 15.8 60.8 17.6 59.5 21.9 65.8 14.7 17.2 17.3 15.1 70.8 60.9 18.9 69.9 62.Tabel 3.3 64.0 67.8 15.5 18.7 16.4 60.2 19.0 15.6 68.7 70.9 16.5 20.6 61.5 17.0 20.9 18.0 18.1 65.7 64.2 62.8 17.6 Sangat pendek Pendek Normal 41 .6 17.1 59.3 18.8 67. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 21.2 19.8 14.1 17.3 19.8 65.0 22.5 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik Responden.1 19.6 72.2 19.8 19.8 19.2 19.1 62.3 67.5 61.1 15.3 59.1 22.4 18.5 14.0 20.7 14.1 21.

8 7.5 74. Hanya tiga provinsi.0 7.1 5.6 7.0 7.9 12.8 6.9 15.3 7.5 6.7 77. BB/TB (kurus).0 11.6 6.8 8.2 6.0 7.4 12.3 74.6 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.4 64.4 11.9 72.5 5.8 68.7 di bawah ini menyajikan gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang).1 12.9 73.7 7.3 7.9 7.3 75.9 7.7 14.2 6.8 6.9 11. Tigapuluh provinsi masih menghadapi permasalahan gizi akut dan 18 provinsi menghadapi permasalahan gizi akut dan kronis.6 7.7 7.7 10.8 11.4 73.9 12.4 13.4 12.8 12.0 7.6 5.5 7.9 12.6 11.0 6.9 6.4 7.0 5.6 7.2 10.5 73.9 12.3 74.0 74.9 6.0 76.2 74.0 6.7 6.7 Sangat kurus Kurus Normal Gemuk Tabel 3. 42 .5 7.1 73.7 7.7 7.8 74.4 12.3 73.0 76.8 14.2 73.2 11. TB/U (pendek).4 74.3 73.1 19. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 6.0 11.9 10.0 7.0 7.8 7.7 8.Tabel 3.3 73.9 72.6 6.0 6.9 7.5 4.0 6.1 7.5 7.0 4.2 10.9 15.1 5.7 74.7 72.2 75.2 7. yaitu Jawa Barat. Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut.1 7.3 6.

5 45.2 13.8 41.9 17.6 22.3 17.1 26.4 (Pendek) 44.4 13.3 12.4 25.6 16.4 12.8 (Kurus) 18.0 38.6 17.7 17.7 25. Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.2 26.4 36.7 46.1 36.7 20.5 17.0 11.3 15.5 33.0 9.5 39.6 22.9 15.0 13.9 16.5 13.6 34.5 18.1 40.1 10.2 14.9 31.4 16.0 43.0 15.4 44.8 22.0 16.7 39. Tabel 3.8 13.7 36.2 15.2 16. yang masalah gizi kronisnya lebih kecil dari angka nasional dan masalah gizi akutnya belum mencapai kondisi serius.8 14.8 38.4 27.5 22.7 35.7 16.7 10.5 20.7.0 15.DI Yogyakarta dan Bali.6 43.0 36.7 14. Riskesdas 2007 BB/U Buruk & Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia TB/U Kronis BB/TB Akut Akut* Kronis** Kurang 26.8 17.8 9.8 33.9 44.2 42.4 24.1 19.6 26.2 40.6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB >10% (UNHCR) **Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U di atas prevalensi nasional 43 .2 18.9 16.8 40.8 35.4 16.4 18.2 15.7 14.6 19.7 35.3 15.2 31.2 39.4 27.2 21.6 11.9 18.2 21.0 10.6 36.3 29.8 27.4 12.0 17.3 22.5 24.4 37.8 23.9 10.

10. Secara kasar bisa dipilih indikator dengan prevalensi / persentase yang tidak terlalu sedikit. 9. Contohnya untuk status gizi balita bisa diambil indikator: • Berdasarkan BB/U: underweight (gabungan gizi buruk + gizi kurang berdasarkan BB/U).6% Berdasarkan TB/U (gabungan sangat pendek + pendek). kemungkinan tidak mewakili kabupaten/kota. 8.1% 39. 7.1% 7.5% 59.7% 40. 6. 10. Terburuk Seram Bagian Timur Nias Selatan Aceh Tenggara Simeulue Tapanuli Utara Aceh Barat Daya Sorong Selatan Timor Tengah Utara Gayo Lues Kapuas Hulu 67.4% 7. 4.5% 21.9% 61.3% 38. 9. Sarmi Wajo Kota Mojokerto Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kampar Kota Jakarta Selatan Kota Madiun Kota Bekasi Luwu Timur 16. 5.3% 8. 2. 3. 2.8% 6. 9.5 dapat dilihat jumlah kabupaten/kota dimana data balita untuk status gizi hampir sebagian besar kabupaten/kota dengan jumlah sampel Riskesdas 2007 teranalisis >80% darisampel Susenas 2007. kemudian diambil 10 kabupaten/kota yang terbaik dan terburuk sebagai berikut: Berdasarkan BB/U. 3.8% 6.0% 21. 2.7% 18. 4.0% 19. 5.6% 19. 3. 5.7% 1.5% 8.1% 66. 7.2% 20. 6.6% 59. 8. Terbaik Kota Tomohon Minahasa Kota Madiun Gianyar Tabanan Bantul Badung Kota Magelang Kota Jakarta Selatan Bondowoso 4. 8. 4.0% 37.2% 60.4% 20.4% 67. 5.8% 7.2% 8.0% 44 . Seperti pada tabel 2. setelah dilakukan rangking antar kabupaten/kota. 10. 10. uraian berikut ini mengkaji urutan (rangking) dari yang terbaik sampai yang terburuk terhadap seluruh 440 kabupaten/kota. 4.7% 59. 7.0% 6. daftar 10 kabupaten/kota dengan underweight paling banyak dan paling sedikit adalah: 1. 2. 9.8% 63.9% 60. 3. 6.2% 39.9% 21.3% 20. gambarannya adalah sebagai berikut Terbaik 1. 8.Memperhatikan jumlah sampel balita yang bisa dianalisis sampai tingkat kabupaten/kota.8% 40.1% 38. Terburuk Aceh Tenggara Rote Ndao Kepulauan Aru Timor Tengah Selatan Simeulue Aceh Barat Daya Mamuju Utara Tapanuli Utara Kupang Buru 48. Berdasarkan TB/U: stunting (gabungan antara sangat pendek dan pendek) Berdasarkan BB/TB: wasting (gabungan antara sangat kurus dan kurus) • • Sebagai gambaran.2% 40. 6. 7.7% 1.7% 39. bila diambil gizi buruk saja prevalensinya terlalu kecil.

Terburuk Solok Selatan Seruyan Manggarai Tapanuli Selatan Seram Bagian Barat Asmat Buru Nagan Raya Aceh Utara Bengkalis 41. 9.5 19.3 15.0 Perempuan +2SD 18.5 13.4 22.4% 5.7 20.7 16.1 16.5 13. 2. 2.5 23.0% 30.8% 3. 4. Nusa Tenggara Timur mempunyai prevalensi kurus tertinggi baik pada anak laki-laki (23.7 12.4 16.9% 29. 7.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin.7 12. 5. 3. Sedangkan prevalensi kurus terendah di Bali.5 14.5 Rerata IMT 15.0 13.5 15. 3.0 18.8 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut Nilai Rerata IMT. 7.8 25.2 19.0% 4.3% pada laki-laki dan 10.3% 4. 5.9% pada anak perempuan.3 13. Menurut provinsi. yaitu 8. Tabel 3.1%).8 19.9 15.6% 4.7 24. 8.3 18.3 15.9% 30.9 14.7 16. 8.9) .1 16.0% 2. 10.5% dan perempuan 6. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9.4 15.9 26.6 23.3% 31.1.5 +2SD 19. Umur dan Jenis Kelamin. Terbaik Minahasa Kota Tomohon Kota Sukabumi Kota Bogor Bandung Kota Salatiga Kota Magelang Magelang Cianjur Bangka 0. WHO 2007 Umur (Tahun) 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Laki-laki Rerata IMT 15. 10.9 13.9 -2SD 13.6% 3.0 19.5% 41.5 21.6 21. 45 .3% 30.6% 1.1% 29.7 14.2 13.1 13.6 -2SD 12. secara nasional prevalensi kurus adalah 13.5 18.3% 5.1% 33. (Tabel 3.Berdasarkan BB/TB (gabungan sangat kurus dan kurus) gambaran 10 kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: 1.2 19. apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata. 9.4 14. dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2 SD nilai rerata standar WHO 2007 (Tabel 3. 4.9 17.2 27.9% 31.2% 5.8 20.6 24.5 22.3% pada anak laki-laki dan 6.3 Berdasarkan standar WHO di atas.9 15.8).1 14. 6.4%. 6.9% pada perempuan.6 17. Sebagai rujukan untuk menentukan kurus.9% 5.1%) maupun pada anak perempuan (19.

Kalimantan Tengah (15.6 15.6 11.5 10. 46 .3 10.1%).5 9.6 8.3 3.7 10.4 4.1%).6 7.4 9.0 4.0 10.0 8. Riskesdas 2007 Laki-laki Kurus 14.1 12.7 13.4 Lima provinsi dengan prevalensi kurus tertinggi pada anak laki-laki adalah NTT (23.2 6.8 14.8 4.0 12.0 11.6 10.9%).2 9.8 10.4 9. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 13.9 6.1%).5 6.0 8.2 12.4 16.1 9.8 10.5 14.4 12. Riau (13.7 19. Banten (14.9 10.4 14. Maluku (18.1 12.0 6.2 15.5 3.9%).8 8.8 10.7 BB-Lebih 12.1 4.9 11.0 14. Kalimantan Barat (17. NTB (17.4 9.9 8.4%).9 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.3 17.4 11.8 15.9 6. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NTT (19.6 12.6 4.0 7.9 10.1 8.0 4.8 14.8 6.3 9.5 6.9 13.4 13.8 9.4 BB-Lebih 13.4 13.9 15.Tabel 3.7 11.1 17.1 23.3 9.1 11.2 14.7 9.2 7.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Perempuan Kurus 12.1 9.3 4.0 16.3 11.2 11.4 6.8 5.4%).3 6.5 6.7 7.8 Indonesia 13.5 8.5 8.2 5.2 6.3%).5 10.6 9.8 8.4 6.6 10.6 4.8 12.2 18.1 11.4 13.1 7.2 12.4 11.2 7.2 6.4 9.8 6.6 11.7 9.7 10.7 15.8 6.4 15.3 12.5 13.9 10.6 7.3 6.2%). dan Kalimantan Tengah (16.5 12.2 13.7 10.2 12.9 12.1 9.3 12.5 7.5 11.8%.3 4.8 13.9 13.7 7.5 13.

dan Papua (12.3 12.3 13.3 9. sebaliknya prevalensi BB lebih sedikit lebih tinggi di perkotaan.1 7. Sedangkan prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur.5 Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 14. Papua (9.3 8.7 10.9 13.6 7.7 Perempuan Kurus 10.2 12.6 11.6 14.9%).0 5.4 9.4 11.0 13. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun terendah ditemukan di NTT baik pada anak laki-laki (4. semakin bertambah umur semakin kecil prevalensi BB lebih.9 10.0 Laki-laki Kurus 13.6 8. prevalensi kurus sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.3 13.4 13.7 5.5 13.5 12.1 8. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 12.2%).1 10.5%) Tabel 3. Sumatera Utara (14.8 6.0%) dan untuk anak perempuan di NAD (12.5 2. dan Kepulauan Riau (9. 47 .3 10.0 10.1%).5 BB-Lebih 11.Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di Sumatera Selatan untuk anak laki-laki (16.0 11. Tabel 3.0 9.5 13. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.10 menggambarkan prevalensi kurus dan BB lebih menurut karakteristik responden.7 3.8%).8 5.8 12.0%). sedangkan untuk prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas.9 13. Lima provinsi dengan prevalensi BB-lebih pada anak laki-laki adalah Sumatera Selatan (16%).1 6.1 7.6 4.6 9.5 13.9 6.2 12.0 11. Sumatera Utara (11.6 14.6%) maupun pada anak perempuan (3.7%).1 12.10 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut Karakteristik.8%).7 10. Menurut tipe daerah. Riau (15.2 BB-Lebih 15.8 2.2%).3 Menurut umur tampak adanya kecenderungan.1 10. Tampak adanya kecenderungan positip antara tingkat pengeluaran per kapita dengan BB lebih baik pada laki-laki maupun perempuan.1 9. Sumatera Selatan (11%).3 8.5 1.6 3.8 10.3 12. Bengkulu (14.6 11.4 10.9 12. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NAD (12%).0 8.

9 IMT >=25. Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 . Gorontalo. Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0. Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur.1 cm. DKI Jakarta dan Sulawesi Utara. Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan. Kalimantan Barat.<27.5 . Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0. Maluku Utara. Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut : BB (kg)/TB(m)2.1 cm. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13.9% dan 23. Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas: Kategori kurus Kategori normal Kategori BB lebih Kategori obese IMT < 18.3% obese). a. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) Tabel 3. 48 .45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA).5 IMT >=18.8%).0 Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral.12. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan cenderung semakin tinggi prevalensi obesitas umum.0 . b. Dari tabel ini terlihat bahwa : a.3.1% (8. ini berlaku juga untuk prevalensi BB lebih dan obese.1. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur.<24. Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan.11 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masingmasing provinsi. Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese. Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3. Nusa Tenggara Barat. Prevalensi obesitas umum lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan.8% BB lebih dan 10. Tabel 3. Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional.0 IMT >=27.13 menyajikan hasil tabulasi silang status gizi penduduk dewasa menurut IMT dengan beberapa variabel karakteristik responden.

1 9.9 12.0 10.8 11.2 Normal 69.6 9.2 10.2 14.7 Obese 8.3 72.6 63.4 6.9 7.5 12.3 66.6 72.7 5.2 62.0 17.4 7.5 60.5 9.1 11.5 13.7 8.2 7. Riskesdas 2007 Kategori IMT Provinsi Kurus NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.8 9.4 12.6 14.7 12.0 18.4 9.8 68.3 70.5 7.8 17.9 9.4 7.1 6.7 71.0 7.4 7.9 19.0 8.8 10.0 10.3 7.5 67.0 68.8 64.3 66.1 9.Tabel 3.5 70.5 BB-Lebih 7.0 70.1 15.2 67.2 8.9 67.1 16.6 17.7 60.9 9.3 8.4 64.0 9.2 11.1 68.8 66.6 15.4 11.7 10.7 7.1 6.7 9.3 49 .3 11.2 11.8 11.8 10.4 66.8 69.9 11.11 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.5 8.4 11.6 4.3 14.6 12.8 69.2 7.2 11.7 67.3 8.3 13.9 15.7 11.8 6.5 10.7 64.5 14.9 63.1 7.9 7.9 9.1 9.9 23.1 8.0 12.8 7.2 66.9 10.1 8.6 7.9 64.6 15.7 Indonesia 14.1 73.4 13.6 9.5 7.9 12.3 7.1 6.6 15.3 65.7 10.2 71.3 15.2 67.7 11.0 14.4 7.4 14.1 5.1 16.6 16.

0 18.3 16.5 33.9 27.3 38.5 20.3 15.1 17.7 14.1 26.0 22.Tabel 3.4 19.4 11.6 14.8 10.2 11.7 10.6 19.7 18.9 30.7 23.2 19. Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum (%) Provinsi Laki-laki NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.7 20.0 26.2 14.2 16.9 22.2 22.4 15.8 9.4 10.5 20.9 17.6 12.5 18.9 7.4 19.3 22.2 13.4 23.2 20.9 23.6 20.3 28.7 11.0 15.4 16.0 18.9 10.7 20.3 8.9 23.7 29.9 24.8 26.1 50 .6 15.4 Indonesia 13.8 19.7 20.3 18.1 21.6 18.6 20.0 22.8 18.7 16.4 17.1 Perempuan 20.0 20.5 11.4 13.5 14.1 13.6 24.3 22.0 10.0 22.2 11.6 27.5 25.7 8.6 14.3 14.1 15.3 11.7 14.3 18.5 Laki-laki dan Perempuan 16.3 16.9 16.1 12.1 33.2 22.4 18.9 24.2 15.12 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.4 11.5 20.8 21.9 27.4 29.

3 8.4 7.3 9.0 62. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7.4 7. Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik.7 8.7 11.1 10.14 dan Tabel 3.7 16. 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional (Tabel 3.2 13. Tidak tampak pola kecendrungan antara obesitas sentral menurut tingkat pendidikan.8 68.8 19. Sedangkan menurut pekerjaan.14). prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun.5 9. jenis kelamin dan karakteristik responden. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif.5 13.15 menyajikan prevalensi obesitas sentral menurut provinsi.7 64.6%) dibandingkan daerah perdesaan (15. semakin tinggi prevalensi obesitas sentral.2 67.3 66.9 7. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurus Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe daerah 13.9 8.7 9. 2005).9 Perdesaan Tingkat pengeluaran RT per kapita per bulan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 17.9 67.7 9. Menurut kelompok umur.7%).1 13.9 12.Tabel 3.4 65.13 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden. prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada ibu rumah tangga (Tabel 3.9 7.9 7.8 10.15).5 b.9 Kategori IMT Normal BB-Lebih Obese 67.7%).7 7. Demikian juga semakin meningkat tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.8 7.4 Perkotaan 15.3 67. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP) Tabel 3.2 66. Menurut tipe daerah tampak lebih tinggi di daerah perkotaan (23.8 8. Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18.4 13.3 15.6 15.8 10.6 63.9 63. selanjutnya berangsur menurun kembali.1 7. 51 .8%. Dari 33 provinsi.2 11.8 11.5 15.7 12.

14 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Provinsi.L>90.4 18.0 15.1 18.0 19.1 27.Tabel 3.4 17.2 Indonesia Catatan: *) LP= lingkar perut .2 19.1 15.7 14.0 27.6 13.4 11.9 23.5 23.1 21. 52 .6 19.0 17. P = Perempuan 18.0 19.5 22.2 15.5 31.1 19. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral Provinsi (LP.8 16.8 .6 25.9 15.8 20.1 27.4 19.0 23. L =Laki-laki .1 18.9 10.3 13. P>80) * NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 14.

8 17.L>90.8 7.7 15.9 15. P = Perempuan 8.9 24.1 18.8 10.7 16.8 19.0 17. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral (LP.7 29.3 18.7 20.3 25.15 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.6 15.9 15.4 26.7 23.7 15.9 23. L =Laki-laki .2 Karakteristik Responden 53 .Tabel 3.8 19.0 36. P>80) * Kelompok Umur (Tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Catatan: *) LP= lingkar perut .1 23.0 16.0 19.5 7.0 19.3 20.

72 2.41 54 .78 2.8 24.16 3.8 25. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) Tabel 3.17.6 26.0 25.04 3.3 27.1 26. Tabel 3.1 25.1 27.92 2.0 27.4 24.23 3.35 3.4 27.33 3.35 3. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat.2 27. Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD. Tabel 3.6 24.2 Standar Deviasi (SD) 2.16.3 26.8 26.3 27. yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).4 27.62 2.2 27.2 24.9 26.9 25.2 27. Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.29 3.60 2.0 27.9 27.80 2.18 menyajikan gambaran masalah gizi pada WUS yang diukur dengan LILA.32 3. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut provinsi dan karakteristik responden. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Umur (Tahun 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rerata (cm) 23.7 24.22 3.31 3.17 3.16 menggambarkan prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur.14 3.c.16.4 26.32 3.94 2.98 3.98 2.37 3.6 25.57 2.17 3. Tabel 3.62 2.10 3.4 25. dan Tabel 3.7 26.2 27.37 3.53 2.24 3.

3 7. Papua Barat.5 9. Tabel 3.9 12.1 Indonesia 13.4 12.2 20.0 12. Tabel 3. Jawa Timur.8 10.2 5.6 12.0 17. Jawa Tengah.1 19.2 14.5 14. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Risiko KEK* (%) 12.4 24.3 16.2 10.9 12. Kalimantan Selatan.17 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi.4 9. DI Yogyakarta.8 12.6 12. Sulawesi Tenggara.0 11.6 23. Maluku.17 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas angka nasional (13.Untuk menilai prevalensi risiko KEK dilakukan dengan cara menghitung LILA lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun.1 9.5 15.6 10.1 11.6%) yaitu DKI Jakarta.8 10.6 55 . dan Papua.2 15.9 8.1 8.6 8.9 10. NTT.

Tabel 3.1. c. prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut.4 13.Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi risiko KEK dengan karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 3.6 13.18.5 13. risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT). Secara nasional.0 14. gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4 Kuintil – 5 16. Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK.4 Konsumsi Energi dan Protein Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu.8 12.4 12. menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah. Berdasarkan tingkat pendidikan.5 12. Sedangkan 56 . adalah: a.8 13.18 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden.1 15. b.1 14. Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT dengan konsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita.5 KEK 3.4 11.

Maluku. Jawa Barat.19 disajikan angka rerata konsumsi energi dan protein per kapita per hari. Jambi. NTB.21 menunjukkan bahwa persentase RT di perkotaan dengan konsumsi “energi rendah” lebih tinggi dari RT di perdesaan. dan Papua Barat. Sulawesi Tenggara. Jambi. Bali.21. Pada tabel 3. Kalimantan Timur. Jawa Timur. Persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “ protein rendah” menurut tingkat pengeluaran RT per kapita menunjukkan pola yang spesifik. dan Papua.7 kkal) dan provinsi dengan angka konsumsi energi tertinggi adalah provinsi Jawa Timur (2175.0 %) yaitu Provinsi Riau.5%) yaitu Provinsi Bengkulu. Sulawesi Barat. NTT. Bangka Belitung. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tenggara. Provinsi dengan angka konsumsi energi terendah adalah provinsi Sulawesi Barat (1384. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. Prevalensi RT yang mengkonsumsi energi dan protein di atas rerata konsumsi energi dan protein tidak disajikan. Maluku Utara. Kalimantan Timur.20 dan Tabel 3. Provinsi dengan rerata konsumsi energi di atas rerata nasional sebanyak 11 provinsi yaitu: NAD. Sumatera Utara. Sulawesi Utara.5 Kkal untuk energi dan 55. DKI Jakarta. Jawa Timur. 57 . Maluku Utara. Provinsi dengan rerata konsumsi protein terendah adalah Bengkulu (45. sebaliknya persentase RT di perdesaan dengan konsumsi “protein rendah” lebih tinggi dari RT di perkotaan. Sumatera Barat. Maluku.5 gram untuk protein. dan pada Tabel 3. Sulawesi Utara. Sumatera Utara.8 gram) dan provinsi dengan rerata konsumsi protein tertinggi adalah Kepulauan Riau (69. Banten. Sulawesi Selatan.5 Kkal dan 55. Kalimantan Barat. Lampung. Bangka Belitung. Tabel 3. Riau. Banten. Kalimantan Selatan. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. Kep. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita.RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT dengan konsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. Tabel 3. NTT. Jawa Barat. Sulawesi Selatan.0 gram). Gorontalo. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59.5 %.5 kkal). Sulawesi Tengah. Sumatera Selatan.19 menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735. NTB. Bengkulu. Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi konsumsi “protein rendah” di atas angka prevalensi nasional (58. Papua Barat. Kalimantan Selatan. Maluku Utara. merupakan data prevalensi RT dengan konsumsi ”energi rendah” dan konsumsi ”protein rendah”. Data pada Tabel 3.0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58. Sumatera Barat. dan Papua. Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi “energi rendah” di atas angka nasional (59. Kalimantan Tengah. semakin rendah persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah”. Gorontalo.20 memperlihatkan persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah” yang berarti di bawah angka rerata nasional (1735. Riau. Jawa Tengah. Lampung. Sedangkan provinsi dengan rerata konsumsi protein di atas rerata nasional sebanyak 19 provinsi yaitu: NAD. DI Yogyakarta. Kalimantan Tengah. Bali.5 gram).

3 26.6 1375.2 653.5 691.3 608.Tabel 3.3 65.4 1371.6 615.8 51.9 47.1 29.5 24.1 55.3 45.3 1683.8 22.6 69.7 Protein Rerata SD 69.3 57.6 24.5 26.2 26.2 1504.3 602.5 Indonesia 1735.5 53.0 493.5 24.0 596.8 506.0 20.7 24.7 32.7 1884.1 30.3 615.2 57.8 28.2 610.8 781.6 1828.6 772.6 1594.2 28.1 28.3 1623.1 53.3 50.6 1806.6 45.7 66.3 47.1 28.5 485.1 1865.8 709.8 21.8 1672.6 807.0 460.5 922.6 744.7 1381.6 51.3 27.5 52.4 1451.4 56.3 1861.9 25.9 678.1 618.1 641.7 54.4 62.4 568.2 1362.0 68.9 24.9 30.5 28.3 585.5 28.3 1371.1 26.5 748.2 586.9 1534.6 1823.0 59.7 55.7 705.8 25.2 60.8 56.0 58.5 18.9 1592.9 923.8 677.7 1692.1 28.7 56.7 1703.0 741.4 51.4 1385.6 59.7 53.6 56.6 27.4 58 .7 1532.0 60.7 1682.7 791.5 1644.7 2182.5 1706.6 1803.2 618.6 653.7 1602. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi Rerata SD 1805.3 1764.5 1636.5 58.4 23.19 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi.3 609.3 24.3 24.3 21.1 28.1 1752.1 739.5 27.6 53.

3 78.0 57.4 66.9 60.6 61.9 48.5 56.2 58.9 55.6 42.7 38.3 57.5 gram) dari data Riskesdas 2007 59 .5 kkal) dan Protein (55.3 59.0 51.9 Indonesia 59.8 72.4 50.4 60.2 51.1 65.4 53.9 63.0 59.1 61.4 81.7 63.8 50.5 53.5 71.2 62.8 69.0 57.8 69.20 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional.5 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.3 53.6 55.5 76.8 77.4 80.1 37.7 52.9 Protein 35.2 64.5 39.9 63.8 59.0 58.6 62.8 59.1 75. Riskesdas 2007 Persentase RT Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi 51.6 64.4 80.1 65.Tabel 3.4 82.6 67.9 56.6 61.5 51.9 66.1 74.3 61.9 58.8 54.9 72.6 49.7 53.8 57.1 35.

Jambi.7 48. baru sebanyak 62. dan hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam melalui titrasi serta hasil pemeriksaan urin. Karakteristik Responden Persentase RT Energi Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita 61.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita . Secara nasional.1. 60 . secara nasional juga dikumpulkan sampel garam dari 30 kabupaten/kota yang dkonsumsi oleh rumah tangga untuk dilakukan pengecekan kadar iodiumnya dengan metode titrasi. Tabel 3.1 60.0 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.4 Kuintil – 3 59.3% RT Indonesia mempunyai garam cukup iodium.3 Kuintil – 5 53.4 57. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga menggunakan garam cukup iodium.3 56.Tabel 3. dikumpulkan urin dari anak usia 6-12 tahun untuk dilakukan pengecekan kadar iodium dalam urin.22 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut provinsi.4 55. Gorontalo dan Papua Barat.0 59. Bersamaan dengan sampel garam rumah tangga tersebut.4 Protein Kuintil – 1 64.3 Kuintil – 4 57. Disamping itu. Sumatera Selatan. mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda. Pada penulisan laporan ini yang disajikan adalah hasil tes cepat. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga.5 kkal) dan Protein (55.8 Kuintil – 2 60. dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna.5 Konsumsi Garam Beriodium Informasi mengenai konsumsi garam beriodium pada Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium. Bangka Belitung.5 gram) dari data Riskesdas 2007 3. Riskesdas 2007.9 62. Dari hasil tes cepat yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3).1 66. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua. Ada enam provinsi yang telah mencapai target garam beriodium untuk semua yaitu Sumatera Barat.

1 68.0 69.1 34. persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.0 90.22 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi.3 82.1 83.8 98.3 89.3 61.0 93. Tabel 3.7 45.7 89.3 61 .7 58.9 90.4 45.4 88. Berdasarkan tempat tinggal.8 89.6 82.0 43.23 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (≥30 ppm) menurut menurut karakteristik responden.2 Indonesia 62.5 90.1 46. Riskesdas 2007 Rumah-tangga Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tanggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua mempunyai garam cukup iodium (%) 47.9 86.Tabel 3.2 83.8 94.3 58.7 76.2 45.2 62.0 84.1 27.9 31.7 76.

8 75. semakin tinggi kuintil semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium. Riskesdas 2007 Rumah tangga Karakteristik responden Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang/Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 mempunyai garam cukup iodium (%) 50.1 56. semakin tinggi pendidikan kepala keluarga semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium.3 56.1 70.4 56. Gambaran nasional yang diwakili 30 kabuapten/kota dapat dilihat bahwa kandungan iodium dalam garam yang dikonsumsi RT hanya 24.7 67.8 60.23 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden. Demikian pula menurut pendidikan.5 68.5 70. 62 .3 61.8 64.7 79.1 80. atau 75. Tabel 3.0 Dari hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga dengan metode titrasi dapat dilihat pada tabel 3. persentase yang mempunyai garam cukup iodium pada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS/TNI/Polri/BUMN dan swasta lebih tinggi dibandingkan yang pekerjaannya tidak tetap.9 59.2 75.5% yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI): 30-80 ppm KIO3.5% garam yang dikonsumsi rumah tangga kandungan iodiumnya tidak memenuhi SNI.7 59.24.9 56.Ditinjau dari kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita. Berdasarkan pekerjaan.

Tabel 3.9% anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota dengan ekskresi iodium dalam urine (EIU) atau kadar iodium < 100 µg/L.6 68.7 92.3 100. sebanyak 12.7 96.0 75.3 84.2 76.8 80. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Persentase RT mempunyai Garam Iodium < 30 ppm Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 77.9 75.24 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota.3 66.2 57.0 81. tidak ada satupun dengan persentase kadar iodium urin < 100 µg/L yang mencapai 50%.5 84.7 90.4 41.7 69. Jika lebih 50% anak 6-12 tahun mempunyai kadar iodium urin < 100 µg/L maka pada populasi tersebut kemungkinan besar ada masalah kekurangan iodium.0 63. Kadar iodium dalam urin merupakan petunjuk yang baik dari asupan (konsumsi) iodium terkini.0 86.1 37. 63 .2 69.6 67.8 83.9 57.35 dapat dilihat.3 72.8 50.0 97.7 59.5 75.0 72.5 Dari tabel 3. Dari 30 kabupaten/kota.2 56.

7 8. Sementara itu. nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan diatas 300 µg/L.1 10.1 8. Jeneponto.9 12.7 9.9 5.4 17. Bondowoso.3 22. Catatan khusus untuk Grobogan.9 3. ada 6 kabupaten/kota dengan nilai median kadar iodium urin antara 100-199 µg/L yaitu Bantul.26 menunjukkan bahwa nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota adalah 224 µg/L atau masuk kategori ‘diatas angka kecukupan yang dianjurkan’. tanah dan sumber air minumnya mengandung tinggi iodium.Tabel 3.2 15.1 4. Nilai median antara 100-199 µg/L menunjukkan asupan iodium di populasi tersebut telah dapat memenuhi kecukupan yang dianjurkan sedangkan nilai median diatas 300 µg/L masuk kategori asupan yang berlebih. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA Persentase Anak dengan EIU < 100 µg/L 12.3 8.9 Tabel 3.5 20.7 14.4 6.4 10. Konawe Selatan dan Kota Gorontalo.4 13.4 11. Dari 30 kabupaten/kota.25 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota. 64 .9 12.6 13.3 10.0 10.0 34.5 5.9 23.8 13. Klungkung.4 7.8 23.2 20.5 16.

26 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota.Tabel 3. Riskesdas 2007 NILAI MEDIAN EIU KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA (µg/L) 225 230 221 229 237 290 229 365 244 304 288 192 208 214 164 246 236 186 157 209 296 270 257 219 221 181 213 187 199 211 224 65 .

tiga kali DPT. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan.27 s/d Tabel 3.0%). dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan.9%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi.29 dan 3. catatan dalam Buku KIA tidak lengkap/tidak terisi. DPT tiga kali terendah juga di Sulawesi Barat (47. tiga kali polio.2%) dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: • • • Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui.1 Status Imunisasi Departemen Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi.2.3.2 Kesehatan Ibu dan Anak 3.30). Dalam Riskesdas. 66 . yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak. dan Catatan dalam Buku KIA.9%). cakupan imunisasi menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86. tiga kali DPT. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan.27 dapat dilihat secara keseluruhan.8%). tiga. catatan dalam KMS tidak lengkap/tidak terisi. Tabel 3. DPT tiga kali (67. satu kali imunisasi campak dan tiga kali imunisasi Hepatitis B (HB). Hal ini disebabkan karena beberapa alasan. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS).28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi yaitu BCG. tiga kali HB.27 dan Tabel 3.1%). atau ketidakakuratan pewawancara saat proses wawancara dan pencatatan. campak (81. imunisasi DPT/HB pada bayi umur dua. Program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. Tidak semua balita dapat diketahui status imunisasi (missing). polio tiga kali (71. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut.8%). tidak dapat menunjukkan KMS/ Buku KIA karena hilang atau tidak disimpan oleh ibu.9%) dan tertinggi juga di DI Yogyakarta (89.7%) dan terendah hepatitis B (62. untuk imunisasi BCG yang terendah di Sulawesi Barat (73. imunisasi polio pada bayi baru lahir.6%). dan campak menurut provinsi dan karakteristik responden. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi. ibu lupa berapa kali sudah diimunisasi. Cakupan imunisasi yang lebih bervariasi antar provinsi terlihat pada imunisasi polio tiga kali yaitu terendah di Sulawesi Barat (47.0%). Dari tabel 3. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. Tabel 3. subyek yang ditanya tentang imunisasi bukan ibu balita. tiga kali HB dan satu kali imunisasi campak. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. Bila dilihat masingmasing imunisasi menurut provinsi. empat kali imunisasi polio. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda.30 adalah cakupan imunisasi lengkap pada anak. yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum. tiga kali imunisasi DPT. Cakupan imunisasi pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada empat tabel (Tabel 3. tiga kali polio.

7 100.2 67.4 87.0 46.2 74.8 79.5 83.1 85.3 82.8 85.9 85.2 64.7 93.1 73.8 75.6 42.1 81.4 76.3 89.3 75.1 99.4 89.8 96.5 71.8 62.5 66.9 47.0 68.7 78.4 48.9 57.5 80.7 85.7 67.7 74.8 65.9 84.3 95.2 75.7 94.3 58.7 69.8 51.3 77.6 61.3 71. WHO membuat rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).7 77.1 74.27 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.4 51.3 62.1 94.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Polio 3 63.8 66. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 77.4 84.9 89.7 64.0 59.5 85.0 77.4 70.Tabel 3.7 Indonesia 86.7 90.4 83.9 55.1 DPT 3 58.7 84. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flacid paralysis (AFP) pada tahun 2005.2 88.1 68.3 96.2 73.7 64.8 67.1 77.0 64.8 81.6 76.5 54.0 88.7 56.6 81.2 70.2 81.6 77.1 88.7 64.0 69.1 78.6 71.3 71.2 52.5 54.2 63.7 79.0 64.6 89.3 77.1 78.4 50.7 49.6 66.4 67.9 68.4 71.0 77.5 96.1 83.3 93.3 60.5 95. Pada tahun 2002. PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah.4 65.3 81.8 79.8 93.2 83.3 72.3 83.6 51. Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995.1 73.3 64.3 67.9 59.6 96. 1996.7 85.3 59.8 59.3 68.5 98.1 88.8 70.3 67.1 90.8 79.9 79.6 Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia. PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga 67 .8 58.5 84.7 73.7 56.7 62.5 66.5 Campak 69.9 62.8 62.4 78.8 77.9 72.3 83.9 71.8 68.0 83.9 85.8 95.1 88.6 74.9 65.3 47.5 72.5 HB 3 53.1 60.0 67.0 90.3 83.1 89.3 67. dan 1997.3 87.4 93.5 85.4 65.9 64.0 89.

5%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (99. Tabel 3. Dengan adanya PIN tersebut.5% anak 12-23 bulan yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.7 – 12. Tetapi sejak tahun 2004 hepatitis B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT/HB yang didistribusikan untuk 20% target. Persentase tertinggi anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali adalah di Maluku (21.3%) dan tertinggi di Bali (73. Cakupan imunisasi hepatitis B.7% di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan. Untuk imunisasi campak variasi cakupan juga terjadi menurut provinsi. yaitu jenis imunisasi yang diprogramkan terakhir.2%). Cakupan imunisasi menurut jenis pekerjaan terlihat bahwa untuk tiap jenis imunisasi.2 – 13. Perbedaan cakupan imunisasi anak tingkat pengeluaran per kapita terendah (kuintil 1) dan tertinggi (kuintil 5) antara 8.2%. terendah di Banten (62. Walaupun vaksin DPT/HB sudah didistribusikan untuk seluruh target.0%) dibanding di perdesaan (41. keluarga dan daerah. Bila cakupan imunisasi campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap.2%). Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan. Tetapi WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio.30 menunjukkan cakupan imunisasi lengkap menurut karakteristik anak.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi menurut karakteristik anak. bila dilihat menurut provinsi masih terdapat 12 provinsi yang belum mencapai UCI (Tabel 3. Selain perbedaan yang lebar untuk cakupan imunisasi lengkap antar provinsi. secara keseluruhan Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI). Pada tahun 2006 PIN diulang kembali dua kali/ dosis polio saja yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006. Terlihat bahwa secara keseluruhan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46.28 juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan.1 – 25. cakupan tertinggi bila pekerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI dan cakupan terendah pada kepala keluarga dengan pekerjaan petani/nelayan/buruh.3%. Tabel 3.27) Tabel 3.4% yang imunisasinya tidak lengkap. Oktober. tahun 2005 untuk 50% target. orangtua dan daerah. Tidak terdapat perbedaan cakupan tiap jenis imunisasi menurut jenis kelamin. semakin tinggi cakupan tiap jenis imunisasi.4%) dan tertinggi di Bali (85. dan November. tetapi terdapat perbedaan menurut daerah. 68 . Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi (54.0%) yaitu tidak ada anak umur 12-23 bulan yang belum diimunisasi.2%.3%) dan masih terdapat 11.1% anak 12-23 bulan di perdesaan yang belum diimunisasi sama sekali. hampir sama dengan yang tidak lengkap yaitu sebesar 45. Cakupan untuk tiap jenis imunisasi selalu lebih tinggi antara 7. walaupun masih terdapat 35. Walaupun demikian. tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan tiap jenis imunisasi.9%). dan tahun 2006 mencakup 100% target DPT/HB.29. Terdapat variasi yang lebar antar provinsi. tetapi pelaksanaan di daerah dapat berbeda tergantung dari stok vaksin DPT dan HB yang masih terpisah di tiap daerah.4%. masih terdapat 8. Perbedaan cakupan imunisasi anak menurut pendidikan antara kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga dengan pendidikan perguruan tinggi antara 17.kali/ dosis polio saja pada bulan September. frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya. cakupan imunisasi lengkap terendah di Sulawesi Barat (17. Imunisasi hepatitis B awalnya diberikan terpisah dari DPT. terendah di Sulawesi Barat (42.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (0. Cakupan imunisasi lengkap yaitu semua jenis imunisasi yang sudah didapatkan anak umur 12-23 bulan dapat dilihat pada Tabel 3.

0 81.5 66.3 86.1 78.5 78.1 63.9 69.7 63.0 95.8 72.1 68. makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.2 65.2 83.6 74.7 87.1 71.5 HB 3 63.5 Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Polio 3 71.9%) dan terendah pada kelompok petani/nelayan/buruh (41.7 86.0 59.1 78.9 58.9 64.1%). Tingkat cakupan imunisasi lengkap pada kuintil terendah 41.5 62.4%.6 79.4 67. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.9 57.9 62.1 78.2 76.8 64.Tabel 3.2 86.2 82.9 78.6 68.1 72.9 83.6 93.6 71.3 68.7 66.8 71.5 53.6 74.6 79.2 61.0 85. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 87. 69 .9 63.5%. cakupan imunisasi lengkap terdapat pada kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (57.5 83.1 80.7 69.5 70.7 58.6% dan kuintil tertinggi 53.4 71.9 69.6 77. Tingkat cakupan imunisasi lengkap dengan kepala keluarga berpendidikan terendah 35.8 Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan imunisasi lengkap.8 73. demikian juga makin tinggi pengeluaran per kapita.0 Campak 82.7 82.4 83.3 84.8 85.5 92.0 78.1 65.7 91.9 81.9 77.3 86.2 89. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua.7 91.3 75.1% dan pendidikan tertinggi sebesar 60.0 90.4 83.1 84.5 75.0 70.9 66.0 87.0 57. Menurut pekerjaan kepala keluarga.1 81.2 62.0 66.3 50.8 88.28 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.7 59.8 75.6 83.3 DPT 3 67.0 74.3 62.4 95.6 91.3 88.7 76.1 79.1 54. semakin sedikit anak yang tidak di imunisasi sama sekali. menunjukkan kecenderungan yang sama. Demikian juga menurut tingkat pengeluaran per kapita.3 71.7 57.7 67.6 62.5 71.4 92.1 71.

4 38.3 40.2 17.9 5.2 45.9 15.1 48.5 1. Polio minimal 3 kali.7 9. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap 35.0 7.5 Imunisasi lengkap: BCG.3 49.3 9.3 34.7 60.1 34.5 11. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.1 13.9 57.0 58.8 1.1 13.0 47.8 42.1 50.0 41.5 41.6 46.4 46.9 52.0 38.3 1.2 48.6 43.6 73.2 52.4 44.4 48.3 35.2 44.8 55.3 8.4 45.5 2.3 45.7 30.3 64.8 53. 70 .0 51.2 32.6 24.0 4.5 11. Hepatitis B minimal 3 kali.9 47.3 21.3 32.0 43.4 6.3 17.0 45.7 32.29 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tidak lengkap 52.5 5.7 42.3 5.7 41.0 Tidak sama sekali 13.3 5. Tabel 3.6 59.3 7.3 0.0 15.3 11.6 17.0 53. di daerah perdesaan.4 35.6 2.Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali terbanyak pada kelompok anak yang orangtuanya tidak sekolah.1 31.5 65.7 46.0 43.9 6.4 44.4 55.9 37.4 64.1 7. DPT minimal 3 kali.8 57.9 47.6 54.2 8.4 35.7 36.6 39. Campak.2 14.7 44.8 7.4 47.6 7. dan pada kuintil terendah.9 38. dari kalangan petani/nelayan/buruh.6 Indonesia Catatan: 46.0 62.

7 Tamat SD 41. Hepatitis B minimal 3 kali.0 5.2 Perempuan 45.9 39.5 Wiraswasta 49.0 48.9 9.9 Pekerjaan KK Tidak bekerja 44.7 Kuintil 3 47.5 Catatan: Imunisasi lengkap: BCG.4 44.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya hambatan pertumbuhan (growth faltering) secara dini.9 Tamat SMP 46. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap Tidak lengkap Tidak sama sekali Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki 46.1 49. ditanyakan frekuensi penimbangan dalam 6 bulan terakhir yang dikelompokkan menjadi “tidak pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir”. 3.2 Ibu rumah tangga 51.0 41.1 46.7 PNS/POLRI/TNI 57.2.1 47.7 7.4 46.1 49.7 44. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.2 8.5 6.3 11. puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain. Data pemantauan pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumahtangga yang mengetahui.1 Kuintil 4 49.4 36. Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut.0 41.9 Tipe daerah Perkotaan 54. dan 4-6 kali yang diartikan sebagai “penimbangan teratur”.1 Petani/nelayan/buruh 41.3 44.5 4.0 Tamat PT 60.1 Tamat SMA 54.2 14.7 45.9 4.1 Kuintil 5 53.5 Perdesaan 41.8 7.1 11.9 Tidak tamat SD 39.0 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 41.1 Pendidikan KK Tidak sekolah 35. polindes.3 45. DPT minimal 3 kali.0 9. 71 .3 6.7 11.30 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.5 41.6 45.4 8. Campak.6 47.0 15. penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan. Polio minimal 3 kali.7 2.3 47.Tabel 3.7 46. ditimbang 1-3 kali yang berarti “penimbangan tidak teratur”.6 Lainnya 47.3 44.6 2.1 4. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti posyandu.3 Kuintil 2 43.2 7.6 8. Dalam Riskesdas 2007.

4 24.1 15.3 22.0 37.2 69.7 36.9 34.0 5.3 Tidak pernah 17.1 26.3 8.5 34.5%).6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1-3 kali 35.1%.4 20.7 32.0 60.0 20.5 39.5 62.4 46.6 56.0 33.5%.0 34.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.9 36.3 27.9 16.9 36.0 78.2 30.1 Indonesia 45.5 31.5 Pada Tabel 3. rumah tangga dan daerah dapat dilihat pada tabel 3.2 57.4%.0 34.5 37.6 33.1 35.9 34. dan 25.7 15.5 42.8 39.1 52.6 32.4 36.7 42.4 22.6 30. 29.8 38. Cakupan penimbangan balita menurut karakteristik anak.9 23.5 21.9 35.9 40.6 31.6 35.9 10.1 25. Cakupan penimbangan rutin bervariasi menurut provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (21. 72 .1 14.7 58.8 37.32.9 8.0 13.8 56.4 23.9 31.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (78.8 39.0 27.3 28.8 29.8 37.3 29.5 26.2 38.7 28.0 21.8 39.7 26.7 33.5 28.4 38.0 28.31 terlihat bahwa secara keseluruhan dalam enam bulan terakhir balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).7 30.9 34.5 57.9 29.2 18.4 30.9 28. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut 45.4 29.0 45. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan > 4 kali 47.4 21.3 29.6 14.1 46.Tabel 3.4 29.3 26.1 39.6 16.8 45.2 33.6 57.7 17.6 38.

7 24.5%) dibanding di daerah perdesaan (44.3 44.8 32. 73 .8 36.32 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.0 26.8 28.5 28.8 47.3 25.7 23.9 44.3 30.0 45.2 26. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan (kali) Tidak pernah 8.9 48.5 27.7 33.6% untuk tingkat pengeluaran per kapita. Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula persentase anak yang tidak pernah ditimbang.1 18.5 44. Cakupan penimbangan balita tidak berbeda antar jenis kelamin.1 39.6 22.7 23.3 28.1 31.6 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1-3 kali 23.1 48.4 26.7 48. Cakupan penimbangan rutin (>4 kali dalam 6 bulan) tidak banyak berbeda menurut tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.1 Terlihat ada kecenderungan makin tinggi umur anak.4 28.2 44.5 45.5 39.9 17.0 45.9 27.8 45.7 22.7 16.2 33.1 31.7 28.6 46.8 25. makin rendah cakupan penimbangan rutin (≥ 4 kali).9 25.9 29.6 45.0 29.8 23.6 54.2 30.6 28.9 32.8 29.1 21. tetapi sedikit berbeda menurut tipe daerah dengan cakupan penimbangan empat kali atau lebih dalam enam bulan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan (47.7 25.9 28.7 29.7 31.Tabel 3.3 31.5 44.7% untuk tingkat pendidikan dan 1.1 45.1 42.2 44.3 27.1 46.3 > 4 kali 67.5 26.2 27.1 29.5 19.6 22.0 45. Perbedaan hanya 6.3 29.1%).5 26.1 23.4 52.7 46.

9 75.6 2.2 2.1 11.5 16.4 5.1 78.7 3.7 10.7 4. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 2.1 9.4 4.5 7.2 87.9 66.0 5.2 6.9 61.2 74.3%.1 1.0 3.6 2.9 1.4 2.8 3.3 15.3 65.6 6.2 6.0 13.8 0.2 2.1 2.3 7.6 Polindes 4.4 16.1 4.1 12.3 10.7 6.3 3.6 4.7 4.0 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Puskesmas 11.2 22.1 73.6 82.4 5.9 24.3 60.0 86.1 1.2 1.9 2.7 72.1 1.4 34.0 65.2 2.6 2.5 12.0 6.0 2.9 11.9 85.1 1.2 Posyandu 76.2 81.33 terlihat bahwa posyandu secara keseluruhan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78.3 1.4 6.0 5. Papua (22. Tempat penimbangan selain posyandu yang cukup tinggi antara lain Puskesmas seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah (24.2 2.3 2.0 4.1 1.8 1.6 14.6 74.8 78.33 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.1 2. 74 .6%).3 47.0 Posyandu sebagai sarana penimbangan balita paling banyak terdapat di Maluku Utara (95.4 8.3 6.5 4.6 85.3 3.4 5.8 78.1 9.7 2.3 15.3 89.6 2.9 14.9 18.9 3.0 1.2 2.1 7.8 0.5 4.3 1. Tabel 3.0 0.1 1.5 3.7 1.4 2.4 3.2 5.6 2.8 Lainnya 5.1 6.4 2.9 1.3 5.1 59.1 1.7 2.1 86.5 11.2 2.5 Indonesia 3.2 4.6 83.5%).0 84.5 2.2 2.6 92.1 1.8 2.9 11.5 4.4 13.8 5.0 5.9 14.9 67.1 3.2 1.0 6.9%).Pada tabel 3.8 6.3 0.9 8.8 0.0 12.7 3.8 3.0 67.5 1.1 6.0 12.1 77.8 3.7 9.4 7.9 68.8 3.1 2.2%) dan terendah di Kepulauan Riau (47.9 81.3 8.6 95.4 5.3%).8 91.4 1.8 6.9 7. dan Sulawesi Selatan (18.5 10.2 3.2 8.

6 5.3 7.3 7.4 9.9 8.0 8.7 80.8 7.1 5.1 2.1 8.5 8.2 5.7 4.8 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Puskesmas 8. dan tipe daerah.7 8.0 2.2 3.5 13.1 84.5 Posyandu 78. Namun sebaliknya persentase penimbangan di polindes dan posyandu lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.6 9.6 3.0 8.5 9.0 2. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan persentase penimbangan balita di posyandu. Persentase penimbangan di posyandu pada balita dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai 75 . Pada tabel tersebut terlihat bahwa untuk setiap jenis tempat penimbangan balita tidak ada pola kecenderungan baik menurut umur maupun jenis kelamin.2 80.1 9.1 2.9 3.8 2.9 Polindes 2.0 3.1 2.1 10.3 8.7 5.5 6.4 72.3 83.9 3.3 3.6 2.2 2.2 17.3 77.9 8.2 4.9 83.8 2.7 3.9 2. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 3.6 2.1 5.34 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.0 9.9 2.2 83.8 78.2 6.6 9.3 3.1 1.7 3.8 5.7 9.5 2.3 7.3 2.6 2.4 3.3 7.5 81.1 3.4 76.0 7.7 83.34 menunjukkan tempat penimbangan balita menurut karakteristik anak.1 4.3 6.4 4.7 70.3 2.6 83.5 7.7 3.4 2.3 Lainnya 6.3 80.5 78.3 2.0 1.9 62.0 2.1 3.6 12.6 78.9 7.4 2.3 8.7 8.0 2.8 7.3 74.7 2.2 12.5 8.3 3. rumah tangga.0 2.6 3.0 4.4 3.8 5.5 77.4 Menurut tipe daerah persentase penimbangan balita di RS dan Puskesmas lebih banyak di perkotaan dari pada di perdesaan.5 79.8 2.0 7. Tabel 3.9 10.0 2.Tabel 3.6 3.1 71.2 79.8 8.1 8.6 78.8 68.6 4.7 4.6 1.9 10.8 3.

0 45.6 45.4 41.7 27.8 3 39.5 47.6 49.9 17.8 23.4 36.4 31.0 44. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki KMS 76 .5 28.8 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2 41.1 39.4 52.0 34.6 43.2 22.0 43.6 23.5 18.8 44. sedangkan 41.9 33.2 20.4 22.8 26.9 54.6 16.2%).9 12.6 26.9 45. di mana secara keseluruhan hanya 23.6 46.2 34.0 42.3% balita yang mempunyai KMS dan dapat menunjukkan.2 27.9 22. terendah di Sulawesi Barat (10.8 18.0 * Catatan : 1 = Memiliki KMS dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki KMS.6 22.5 49.4 48.8 18.2 31.5 Indonesia 23.9 44.9 49.1 18.0 22.0% tidak mempunyai KMS.3 29.2 32.3 32.2 49.8 25.8 32. Kepemilikan KMS dan dapat menunjukkan bervarisasi menurut provinsi.1 47.9%) dan tertinggi di DKI Jakarta (39. Tabel 3.6 22.9 16.4 25.4 34.8 34.1 37.1 51.3 10.7% mengatakan punya KMS tetapi tidak dapat menunjukkan.9 22.1 43.4 25.8 38.3 43.8 35.9 25. Sisanya sebesar 35.2 22.8 39.2 29. Riskesdas 2007 Kepemilikan KMS* 1 18.3 24.9 45. Tabel 3.7 55.0 22.3 41.2 32.0 55.35 menunjukkan kepemilikan KMS menurut provinsi.8 32.5 38.8 27.7 35.2 38.35 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.7 45.9 37.2 41.6 37.2 26.5 38.6 41.8 24.6 19.4 24.4 21.6 28.petani/nelayan/buruh atau ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada kepala keluarga dengan jenis pekerjaan yang lain.2 31.9 23.6 31.6 27.

5 34.9 24 – 35 20.8 35.7 38.7 43.9 Perdesaan 20.9 34.5 27.8 41.9 Wiraswasta 25.1 30.4 43.2 41. Menurut tipe daerah.9 49.7 39.9 34.1 Perempuan 23. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut jenis kelamin.6 23.4% pada anak 48-59 bulan.6 28.6%).4 29.0 Tipe daerah Perkotaan 28.0 6 – 11 42.0 43. Tabel 3.9 Tamat SMA 25.8 33.1 Tamat SD 22.4 Petani/nelayan/buruh 20.6 Tidak tamat SD 20.3 48 – 59 12.9 22. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan KMS* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 36.4 46.8 35.1 45.5 31.7 32.3 37.3 45.3 39.6 Kuintil 4 25.3 Kuintil 3 23.3 40.5 40. di perkotaan persentase kepemilikan KMS (28.0 Kuintil 2 22.36 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden.8 Pekerjaan KK Tidak bekerja 25. Menurut kelompok umur persentase kepemilikan KMS lebih tinggi pada anak umur di bawah 12 bulan (36.4 41.9 36 – 47 14.4 43.7 38.5 36.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 21.3 48.3 38.0 40.3 Pendidikan KK Tidak sekolah 18.3 48.Tabel 3.6 35.4 48.0 39.5 * Catatan : 1 = Punya KMS dan dapat menunjukkan 2 = Punya KMS. 77 .4 49.0 Tamat PT 28.7%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (20.4 43.3 31. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya KMS Sedangkan menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dengan kepemilikan KMS.36 menunjukkan karakteristik responden.9 Lainnya 24.7 – 42.5 Ibu rumah tangga 26.9 35.3 12 – 23 30.8 39.0 31.1 38.6 27.4 Tamat SMP 23.0%).2 33.3 39.6 38.3 Kuintil 5 25.4 40.0 40.4 PNS/POLRI/TNI 27. dan hanya 12.0 Jenis kelamin Laki-laki 23.7 19.

3 82.8 9.9 34.7 43.9 19.3 13.6 25.2 29.5 30.2 40.0 78.1 25.0 9.6 7.5 73.2 4.8 3.3 28.1 32.7 22.8 88.3 13.1%.8 22.7 37.3 41. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kepemilikan buku KIA* 1 11.4 73. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut pekerjaan kepala keluarga.2 26.4 21.7 7.5 57.0 32.6 4.8 36.9 61.8 9.1 44.6 11.2 27.2 15.6 18.6 22.1 55.6 * Catatan : 1 = Memiliki Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki Buku KIA.8 2 26.1% dan tingkat pengeluaran per kapita sebesar 4.7 20.5 60.5 22.6 17.3 4.8 3 62.6 50.2 12.9 9.5 2.6 81.0%.4 56.2 18.2 7.0 85.7 16.3 24.2 74.0 24.1 63.5 8.9 8.8 46.8 25.0 27.1 82.37 menunjukkan bahwa kepemilikan Buku KIA lebih rendah dari kepemilikan KMS yaitu sebesar 13.5 21.1 5.4 65.2 33.5 Indonesia 13.3 67.6 57.7 34.8 5.1 5. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki Buku KIA 78 .7 7.1 14.Perbedaan kepemilikan KMS menurut tingkat pendidikan sebesar 10.5 14.0 36.7 11.7 35.9 16.6 76.7 42.3 62.2 17.1 43.3 17.1 33.9 72.5 68.1 25.1 12.5 25. Pada Tabel 3. Tabel 3.0 37.1 51.37 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.2 74.

8 26.7 Perdesaan 12.9 26.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (42.1 24.Kepemilikan buku KIA tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (2.8 62. Pada Tabel 3. 79 . Tidak ada perbedaan kepemilikan Buku KIA menurut tipe daerah. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya Buku KIA Cakupan Buku KIA yang tertinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan (23.2 23.9 23.1 24.1 Tipe daerah Perkotaan 13.9 60.0 Pendidikan KK Tidak sekolah 12.8 * Catatan : 1 = Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Punya Buku KIA.7 63.5 64.8 12 – 23 17.1 59.38 kepemilikan Buku KIA dirinci menurut karakteristik anak.9 23.3 Kuintil 2 13.9 63.5 23.8 66.4 57. Tabel 3.3 Wiraswasta 13.1 62.8 25.2 Tamat PT 13.7 25.5 62.6 Tamat SD 13.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 11.4 26.2 65.4-23. dan tingkat pengeluaran per kapita.1 64.3 29.2 24.8 57.8 60.5 20. pendidikan.1 24.2 Tamat SMA 12.38 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden. rumah tangga dan tipe daerah. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan buku KIA* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 23.2 63.1 61.6 62.1 Petani/nelayan/buruh 12.3 26.8 62.9 58.3 22.4 Lainnya 14.0 36 – 47 8.7 Tidak tamat SD 13.2 6 – 11 23.9 61.2 61.7 26.4 18.0 61.3 Pekerjaan KK Tidak bekerja 14.9 14.3 61.4 48 – 59 5.7 PNS/POLRI/TNI 12.9 63.4 23.8 Jenis kelamin Laki-laki 12.7 24 – 35 11.1 62.6 Kuintil 3 13.3 22.1 Kuintil 5 14.7%).5 67.9 Tamat SMP 12.1 27.6 62.9%).2 Perempuan 13.2 23. pekerjaan kepala keluarga.4 22.0 Kuintil 4 13.7 Ibu rumah tangga 16. tetapi tidak ada perbedaan menurut jenis kelamin.5 24.8 25.

2 74.9 51.3 65.59 bulan sebesar 71.0 73.3 81.5 81.9 73. Tabel 3. sejak anak berusia enam bulan.8 82.5 66.2.7 67.2 82.6 57.0 67.7 79.2 69.9 62.3.2 61.9 Indonesia 71.5% seperti terlihat dalam tabel 3.9 79.1 78.3 84.1 62.4 69.39 Cakupan tersebut bervariasi antar 80 . Kapsul merah (dosis 100.8 71.3 Distribusi Kapsul Vitamin A Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus.39 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi.000 IU) untuk anak umur 12 – 59 bulan.5 Secara keseluruhan cakupan distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6 .7 73.9 77.1 74.5 69.6 79.8 72.2 73.4 65.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.6 59. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Menerima kapsul vitamin A 74.

7%).7 74.7%).4 69.3 71.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (69.1 Tabel 3.4 69.2 66.3%).0 75.2 67.3 73. Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut kelompok umur cukup bervariasi.40 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden.40 menunjukkan perbedaan cakupan distribusi kapsul vitamin A menurut karakteristik anak. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Menerima kapsul vitamin A 66.4 71. Sedangkan menurut jenis kelamin anak tidak nampak adanya perbedaan.4 77.5 70.7 73.5 74. 81 .4 77.2 70. terlihat adanya hubungan positif dengan cakupan kapsul vitamin A. Tabel 3.provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (51. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.8 71.7 64.6 72.8 76. Bila dilihat menurut pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.5 69. makin tinggi cakupan pemberian kapsul vitamin A.5 71.5 74. rumah tangga dan tipe daerah.8 76. Cakupan lebih tinggi terdapat di perkotaan (74.3 70.9 70. nampak cakupan tertinggi pada kelompok umur 12-23 bulan (77.

2 18.1 10.5 20.2 9.4 20.8 72.2 13.3.2 23.9 21. dikumpulkan data tentang pemeriksaan kehamilan.1 27.7 20.7 11.0 71.4 66.4 20.0 10.9 Indonesia 13.2 15.5 10.2 Normal 57.3 7.3 52.8 16.8 14.5 10.7 82.41 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi.1 35. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 18.5 47.0 Besar 24. jenis pemeriksaan kehamilan.4 6.8 15.3 29.2 11.5 61. Tabel 3.8 83.4 5. penimbangan bayi lahir.1 19.8 16.3 21.0 71.2 17.1 14.1 61.6 14.3 10.2.7 57.2 57. Data tersebut dikumpulkan dengan mewawancarai ibu yang mempunyai bayi umur 0 – 11 bulan.0 82 .4 75.5 76.8 11.8 16.7 70.1 69.6 66.6 72.5 14.1 69.8 68.0 73.7 19.3 18.0 19.8 9.9 28.6 68.5 14.8 55.9 71.3 9.2 19.4 65.1 64. pemeriksaan neonatus pada ibu yang mempunyai bayi.5 13.2 17.5 6.1 16.8 18.3 12.7 36.9 14.0 13.7 12.1 20.4 12.7 11.3 18.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dalam Riskesdas 2007.1 13.2 73.4 62. dan dikonfirmasi dengan catatan Buku KIA/KMS/catatan kelahiran. ukuran bayi lahir.1 19.4 73.7 7.6 12.9 76.6 59.8 75.9 78.1 17.2 11.1 14.0 15.

1 14. lebih banyak ibu di perdesaan (14.6 21.9 68.5 67. nampak ada kecenderungan hubungan negatif persepsi yaitu semakin 83 .9 13.5 61.9 13.8 14.5 67. terendah di Maluku (5.3 20. bahwa ukuran bayinya kecil (14.3 65.4 66. Tabel 3.0% mempunyai persepsi ukuran bayinya besar. Namun bila persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga.1 14.4%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21.2 19.41 memperlihatkan persepsi ibu tentang ukuran bayi saat dilahirkan.Tabel 3.0 22.5 20.5%) dibandingkan persentase ibu yang mempunyai bayi laki-laki berukuran (12.4 20.6 12.9 21. Secara keseluruhan terdapat 13. 66.5 13.4% ibu yang mempunyai persepsi bahwa bayi yang dilahirkan berukuran kecil.0%). Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu dapat dilihat pada Tabel 3.7 17. Sedangkan menurut tipe daerah.9 24.3 10. Persentase ukuran bayi kecil bervariasi antar provinsi.2 13.42 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik.5%) yang mempunyai persepsi bayi yang dilahirkan berukuran kecil dibanding di perkotaan (11.3 19.2 19.4%).4 69.6 65.6 66.5 64. walaupun berat badan bayi lahir tidak diketahui. Riskesdas 2007 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 12.0 23. Pada tabel tersebut terlihat bahwa lebih banyak persentase ibu yang mempunyai bayi perempuan menyatakan.7 66.2 11.7 67.0 67.5% mempunyai persepsi ukuran bayi normal dan 20.1 19.9 12.0 20.1 67.2 Besar 21.9 15.8%).6 14.7 Normal 66.6 13.1 11.4 14.5 11.5 18.1 19.0 14.9 15.4 67.2 18.6 67.42.0 65.4 64.0 25.5 17.7 7.0 68.0 65.5 20.2 Persentase persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan pekerjaan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita tidak tampak adanya pola kecenderungan.

8 82. 84 .9 10.2 17.1 74.2 11.5 5.8 7.5 7.6 8.3 13.3 23.0 84.2 12.8 9.8 12.2 6.tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.7 14.7 6.5 11.5 74.8 3.4 7.5 8.9 10.2 3.43 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.0 80.7 0.0 2500-3999 82.9 83.8 2.1 8.2 7. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 11.7 10.5 4.6 4.0 10.4 3.5 75.8 5.7 88. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.3 5.8 27.4 11.5 8.9 5.5 8.5 8.6 11.4% (Tabel 3.43.2 15.0 3.4 80.1 77.3 84. Berat badan lahir dari hasil penimbangan dapat dilihat pada Tabel 3. semakin kecil persentase ibu yang menyatakan ukuran bayi yang dilahirkan kecil.3 16.3 77.4 80.9 15.6 7.1 8.7 69.1 75.2 Indonesia 11. Tabel 3.7 5.5 9.9 84.8 82.4 10.5 85.5 6.8 20.7 9.8 >= 4000 5.6 16.6 78.3 7.5 82.8 14.6 80.3 83.5 87.2 21.6 9.9 84.4 67.7 9.6 7.6 83.0 4.0 83.0 7.2 71.5%.1 85.5 8.3 Secara keseluruhan.9 86.7 2.7 83. Proporsi ini sebanding dengan persentase ibu yang mempunyai persepsi bahwa ukuran bayi pada saat lahir kecil yaitu sebesar 13.5 19.41). Hanya sebagian bayi yang mempunyai catatan berat badan lahir.1 78.3 5.8 2.8 88.

7 11.4 8.8 12.9 78.2%) dibanding di perkotaan (10.7%).3 5. c.1 83.3 10. Tabel 3.44 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13. Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5. dan Kalimantan Barat (16. b.2 6.1 85.0 10.5 2500-3999 82.5%).1 8.8%).0%).9 11.4 81.6 6.8 86.44 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.0 12. Sumatera Selatan (19.6%).3 79. Papua Barat (23.1 80. pemeriksaan tekanan darah.2 7.9 6.2 80.2 80.6 14.6 5.1 9.5 83. Jambi (7.3%).8%).8 8.7 13.0 13. Diidentifikasi ada 8 jenis pemeriksaan kehamilan yaitu : a.0 11.2 13.2 5.6 >= 4000 7.2 80. Menurut karakteristik rumah tangga.3 75. Riau (7.0%). dan Sulawesi Utara (7.5%).1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8. ibu ditanya tentang jenis pemeriksaan kehamilan apa saja yang pernah diterima.3 6. pemeriksan tinggi fundus 85 .4 8.8%).2%).5 5.6 13.8 17.2 5.6 85.7 11.6%).9%). Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.8 12.1 5. NTT (20.6 5.7 81.7 81. proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17.Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.0 83. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 10.8 7.0%) dibanding laki-laki (10.0 11. pengukuran tinggi badan. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12.0 7.0 81.3 5. Pada Tabel 3.4 5. Sulawesi Barat (7.7 83.5 80.5 84.5 6.1 10.3 6.9 Untuk mendapatkan informasi tentang riwayat pemeriksaan kehamilan ibu untuk bayi yang lahir dalam 12 bulan terakhir.

45 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi. pemberian imunisasi TT.0 Indonesia 84.2 83.2 91. penimbangan berat badan.4 69.1 74.(perut). Cakupan pemeriksaan kehamilan terendah di Provinsi Papua (67. pemberian tablet Fe. pemeriksaan urin.1 95.1 90.5% ibu memeriksakan kehamilan.6 90.8 89.9 95.0%) dan tertinggi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta (97.9 95. e. Riwayat pemeriksaan kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi terdapat pada Tabel 3. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Periksa hamil 72. Pemeriksaan hemoglobin.9 71.6 84.1 95.2 81.4 79.4 93.7 75.1 94.5 77. g.0 67.6 97.45 yang memperlihatkan secara keseluruhan 84.2 97.3 87.9 85.8 92.3 71.1%).5 80. dan h.8 92. Tabel 3.9 90.3 90.4 87. d. f.5 86 .5 84.

3 Terdapat kecenderungan hubungan positif antara cakupan pemeriksaan ibu hamil dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan pengeluaran per kapita.4%). 87 .1 75.47.2 82.8%) dan pemeriksaan urine (36.3 89.9 92.46 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden. semakin tinggi pula cakupan pemeriksaan kehamilan. Secara keseluruhan pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97.Menurut karakteristik rumah tangga dan tipe daerah (Tabel 3.4 86.2%). Cakupan periksa kehamilan tertinggi terdapat pada kelompok keluarga dengan perkerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri (92.2 89.5 81.2 94.1%) dan penimbangan berat badan ibu (94.6 90. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33. tampak bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan (94. Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Periksa hamil 94.4 79. Variasi tiap jenis pemeriksaan menurut provinsi dapat dilihat lebih lanjut di Tabel 3.1%) dibanding di perdesaan (78.1 78.4 86.47 menunjukkan delapan jenis pemeriksaan (seperti yang diuraikan sebelumnya) yang dilakukan pada ibu hamil. Tabel 3.9%) dan terendah pada kelompok keluarga petani/nelayan/ buruh (78.46).1%). Semakin tinggi pendidikan kepala keluarga atau semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.9 90.9 87.7 83.8%).1 78.5 85.6 79.

8 94.8 52.3 95.9 87.8 33.9 68.4 94.8 52.1 30.6 g 38.9 90.3 88.5 84.1 100.8 36.7 89.9 89.1 88.5 85.2 95.0 26.9 97.4 92.9 98.7 95.6 93.5 86.8 95.9 39.1 90.5 97.3 98.4 95.1 96.0 35.7 38.9 62.0 41.5 94.2 19.3 88.3 95.5 42.9 41.3 59.7 95.7 98.9 82.6 95.2 39.8 75.7 57.3 97.4 22.1 97.6 56.7 37.9 96.9 47.3 42.7 47.1 51.4 91.0 98.1 85.0 91.48 Secara umum terlihat dalam tabel tersebut bahwa cakupan tiap jenis pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan.0 26.4 48.3 95.9 91.5 32.47 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.1 33.4 95.6 34.1 79.0 37.0 38.6 98.8 52.4 73.1 85.5 95.3 87.5 32.9 Indonesia 58.5 42.6 100.0 85.3 75.5 94.3 67.3 62.5 79.9 44.5 87.2 91.3 94.4 76.5 45.5 89.4 25.1 h 40.5 24.2 66.5 30.9 97.3 97.2 77.0 97.5 94.6 25.8 95.4 56.8 38.2 42.8 89.5 96.3 91.1 27.1 65.5 56.7 38.2 95.0 97.9 93.5 85.4 47.5 92.7 17.2 91. Terdapat kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dan tiap jenis pemeriksaan 88 .1 91.2 93.7 75.3 64.1 19.0 61.1 95.6 34.9 95.7 91.5 97.0 46.4 97.2 86.3 91.7 b 97.0 85.8 66.7 94.1 92.8 98.9 96.3 96.0 96.8 57.7 87.2 80.4 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Jenis pemeriksaan menurut tipe daerah dan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 3.2 94.6 97.3 35.8 98.8 97.9 98.3 84.0 38.2 88.0 96.6 83.7 66.3 96.3 82.4 93.2 57.4 95.7 98.1 96.2 71.1 48.3 98.7 97.7 25.9 65.5 97.4 81.9 97.1 81.0 96.1 98.2 27.9 77.7 99.3 95.4 79.1 96.3 97.7 28.5 e 86.3 92.5 95.6 24.1 96.5 89.3 29.8 83.8 99.2 94.2 95.9 98.2 90.3 91.5 42.5 94.4 95.0 96.2 63. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jenis pelayanan* a 55.6 41.3 94.7 83.2 22.5 96.2 34.2 47.2 d 89.0 97.2 92.6 98.5 86.9 92.2 84.7 86.5 93.5 43.7 86.8 49.2 90.2 88.6 23.8 97.3 14.7 88.1 95.4 69.9 98.9 100.8 78.8 56.8 c 92.1 89.6 93.5 86.Tabel 3.3 94.0 36.7 97.2 f 92.8 87.1 85.2 88.8 26.5 95.5 15.2 45.6 45.5 90.7 86.1 91.2 91.0 54.8 95.4 95.7 13.5 83.

1 38.2 88.4 96.4 88. pemeriksaan hemoglobin dan urine. Demikian juga ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pengeluaran rumah tangga dengan pengukuran tinggi badan. Tabel 3.2 98.1 40. Namun sebaliknya tidak terdapat pola kecenderungan cakupan untuk tiap jenis pemeriksaan kehamilan dengan pekerjaan kepala keluarga.0 87.9 91.2 30.3% ibu menerima 3 – 5 jenis pemeriksaan kehamilan.5 61.8 62.3 29.8 jenis) persentase terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara (41.5 86. dan hanya 2.6 91.7 57.8 90.4 91.8% ibu yang menerima 6-8 jenis pemeriksaan selama kehamilan.0 96.1 b 98.8 25.7 84.1 89.7 41.2 43.6 58.7 91.4 99.5 36.6 d 93.9 e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Semakin banyak jenis pemeriksaan kehamilan yang diterima ibu hamil semakin lengkap pemeriksaan kehamilan yang diterima (Tabel 3.9 90.5 63.1 88.4 57.8% yang hanya menerima 1-2 jenis pemeriksaan selama kehamilan.9 92. Ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan relatif lengkap (6 .48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden.5 95.6 c 89.4 87.9 95.6 33.4 58.0 96.9 60.1 98.5 92.6 97.7 35.0 97.0 94.1 97. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe Jenis pelayanan* a 63.9 86.2 45.7 88.0 68.0 90.2 89.1 25.8 94.4 96.3 85.8 32.6 87.4 97.6 54.kehamilan terutama pada pemeriksaan hemoglobin dan urine.6 95.2 97.4 86.4 85.1 96.5 91.9 96. 35.0 40.3 87.7 48.8 36.9 89.1 32.8 56.0 94.4 90.6 63.0 92.6 g 43.9 56.1 87.3 85.2 86.1 31.5 92.49).6 37.8 56.3 f 97.8 28.6 87.9 88.4 38.8 55.1%).3 59.8 83.8 49.6 38.6 85.2 h 46.0 98.0 59.9 97.5 93.7 96.0 98.3 91.0 29.1 39.6 87.0 85.3 84.2 97.2 88.5 30.8 95.6 85.3 94.9 48.8 94.4 37.0 93. 89 .3 97.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (83.2 94.0 35.7 92.1 41.4 92.2 32.7 97.0 32.9 94.1 93.7 92.7 93. Secara keseluruhan 61.8 27.0 85.1 92.7 39.8 91.4 90.5 93.0 97.8 e 87.1 55.8 28.9 87.5 89.1 37.

1 41.0 76.4 28.0 5.3 61.2 28.5 6-8 jenis 62. 90 .3 21.6 68.5 78.9 58.0 55.2 3.2 39.0 58.Tabel 3.0 21.3 61.6 56.8 2.0 2.8 77.2 7.8 1.0 59.0 60.9 33.2 39.8 46.3 20.0 1.8 50.8 0.5 60.2 48.5 83.8 39.7%).0 3.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi. Riskesdas 2007 Pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3.2 1.6 3.4%) dibanding dengan di perdesaan (55.3 28.9 62.3 58.3 0.2 0.0 2.5 2.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3-5 jenis 34.50 menunjukkan kelengkapan pemeriksaan kehamilan menurut karakteristik daerah dan rumah tangga.6 66.4 2.2 2.9 5.8 33.3 79.8 4.0 2.5 4.3 1.1 28.7 16.6 2.9 26.4 31. Persentase pemeriksaan kehamilan yang lebih lengkap lebih banyak di perkotaan (69.0 68.1 56.4 2.0 1.5 37.8 Indonesia 2.9 37.7 63.8 61.3 75.6 75.7 2.8 35.8 38.4 48.7 60.7 68.5 38.2 76.0 45.0 0.0 37.4 20.3 3.1 2.1 48.8 Tabel 3.6 20.9 31.3 4.8 29.5 3.6 35.1 39.1 71.7 24.9 0.6 24.8 69.1 67.

7 31.6 57.9 31.7 54.5% neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Kalimantan Barat (19.8 35.8 2.3 4.Kelengkapan pemeriksaan kehamilan berhubungan secara positif tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 67.8 3.9 67.6 64.51 terlihat bahwa secara keseluruhan 57.5 63.0 25.9 3.2 58.4 1.7 34.3 34.5 28.8 35.3 60.2 29.6 62.2 4.1 67.6% neonatus umur 0-7 hari dan 33.8 40.9%). yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita semakin besar persentase ibu yang mendapatkan pemeriksaan kehamilan lebih lengkap.8 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 3-5 jenis 28.9 3.5 40.7 64.4 73.2 69.6 1.1 35.1 2.7 1.5 2.7 39.1 33.3 61.7 3.8 38.2 6-8 jenis 69. Tabel 3.2 58.4 55.6 43.8%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.6 3. Dalam Tabel 3.5 61.5 30.1 2.8%).8 38.6 0. 91 .2%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (81. Riskesdas 2007 Skor jenis pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 1.0 2.3 3.4 55.4 2. Pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari terendah di Papua (27.50 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.0 Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.

9 55.5 63.8 Indonesia 57. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi.3 45.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Umur 8-28 hari 36.4 28.8 42.5 35.4 30.9 41.9 70.1 64.8 39.3 64.7 44.2 62.6 68.0 62.7 65.9 34.0 53.3 29.9 33.1 58.0 32.0 41.2 59. Riskesdas 2007 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 56.9 43.1 19.7 49.5 66.3 44.9 54.8 27.8 35.1 25.1 29. Menurut tipe daerah di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan.7 47.2 27.2 22.5 35.6 31.5 Tabel 3.1 28.Tabel 3.6 30.8 63.1 39.2 66.2 50.6 81.4 69.6 33.8 21.7 49.6 37.9 39.0 26.51 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi. tipe daerah dan rumah tangga.5 23. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala 92 .4 45.4 54.2 28.52 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.0 25.0 42.7 50.1 58.7 26.5 58.2 66.

9 Selain penjelasan tersebut di atas.0 69. Papua Barat.1%) dan terkecil di Papua (65.4 50.6 33. khusus pada lima provinsi. Tabel 3.5 63.8 55.9 27. Tabel 3.7 32. Maluku. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.58 memberikan gambaran tentang informasi tersebut.4 36. Polindes/Poskesdes.5 30.7 40.0 59.4 65.2 33.1 Umur 8-28 hari 41.2 28. rumah.5 37.3 54. dan lainnya. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 65. Maluku Utara.9 64.8 24. Tabel 3. RB/RBIA/Klinik.5 62.7 51.2 46.4%).53 sampai dengan Tabel 3.53 menunjukkan pada umumnya di lima provinsi sebagian besar ibu (di atas 60%) melahirkan bayinya di rumah. Puskesmas/Pustu.7 52. Tempat persalinan dikelompokkan menjadi 7 yaitu: RS Pemerintah.5 52.0 58.7 29.3 57. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.2 59. RS Swasta.0 60.9 37. 93 .3 33. dan penolong persalinan.3 46.52 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Karakteristik Responden.5 42.8 41.2 28.8 63.8 65. Riskesdas mengumpulkan data tentang tempat melahirkan. jumlah pemeriksaan kehamilan. yaitu Nusa Tenggara Timur. Persentase terbesar ibu yang melahirkan di rumah adalah di Maluku (85.2 37.1 60. dan Papua.0 37.0 31.

Hal ini menunjukkan penolong persalinan pertama umumnya sama dengan penolong terakhir.0 f 77.0 0. sedangkan pada trimester-2 berkisar antara 15. Selama kehamilan jumlah minimal pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali yaitu minimal 1 kali pada trimestes I.5% .34. Puskesmas/Pustu d.4% . sedangkan menurut anjuran selama trimester-1 dan trimester-2 minimal periksa kehamilian satu kali. famili/keluarga.5 7. Penolong persalinan dikelompokkan menjadi 6 (enam) yaitu: dokter.1 82.2% .55 menunjukkan jumlah pemeriksaan selama kehamilian trimester-1.9 2.6 0.8%.0 Keterangan: a: RS Pemerintah b. Maluku. trimester-3.54 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang besar tempat melahirkan di lima provinsi tersebut menurut tipe daerah. minimal i kali pada trimester II dan minimal 2 kali pada trimester III.0 Maluku Utara 7.9 Maluku 7. RB/RBIA/Klinik dibanding di perdesaan.1 85. RS swasta c.2 c d e 3.5 0. bidan. polindes/ Poskesdes 6.5 3.5% telah melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali seperti yang dianjurkan.8 2. Menurut tipe daerah.0 4.2 3. Sebaliknya tampak ada hubungan negatif antara tempat ibu yang melahirkan di rumah dengan pendidikan KK maupun tingkat pengeluaran per kapita. dan trimester seluruhnya. ibu lebih banyak melahirkan di rumah dan di Polindes/Poskesdes.7 Papua Barat 14. Persentase ibu yang melahirkan di RS Pemerrintah paling banyak kelompok RT dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI. Terdapat hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita dengan RS Pemerintah sebagai tempat ibu melahirkan.9 4.9% -50. Terlihat kecenderungan hubungan positif antara jumlah pemeriksaan kehamilan yang memadai di tiap trimester dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun pengeluaran per kapita.7%. Sedangkan di perdesaan.50.5 1. Terlihat dalam tabel tersebut adanya variasi persentase antar provinsi untuk masing-masing jenis penolong. Namun bila dibandingkan antara persentase penolong persalinan pertama dan penolong persalinan terakhir untuk masing-masing jenis penolong.Tabel 3.4 g 0. Di perkotaan.5 Papua 18.4 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya Pada Tabel 3. Riskesdas 2007 Provinsi Tempat melahirkan a b 2.1 5.2 1.53 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi.0 1. cakupan pemeriksaan kehamilan yang memadai untuk masingmasing trimester dan ketiga trimester menunjukkan lebih banyak ibu periksa kehamilan di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.37.8 1. dukun bersalin.7 0. dan lainnya.9 2. trimester-2.7% ibu yang periksa hamil empat kali atau lebih. RS Swasta.2 65. Terlihat adanya variasi pemeriksaan kehamilan antar provinsi.5 71. Ternyata baru 30. nampak tidak banyak perbedaan.2 3. Di Nusa Tenggara Timur. Pada Tabel 3. Puskesmas/Pustu.56 menunjukkan penolong persalinan pertama dan terakhir pada ibu yang mempunyai balita. Selama trimester-1 ibu yang tidak pernah melakukan pemeriksaan di lima provinsi berkisar antara 25. tenaga kesehatan lain.9 4. dan Maluku Utara penolong persalinan yang dominan adalah dukun bersalin dibanding dengan provinsi 94 . Tabel 3.0 Nusa Tenggara Timur 6.6 0.1 0. Pada trimester-3 sebanyak 24. ibu lebih banyak melahirkan di RS Pemerintah.

6 5.9 84.7 1.5 4.7 Kuintil-4 12.3 Tamat SMP 9.4 6.7 2.4 1.1 5.0 2.4 2.2 1.5 d 2.5 1.6 7.0 8.5 2.3 4.3 Kuintil-2 5.3 Ibu rumah tangga 18.7% dan 45.8 11.7 Tamat SD 4.9 4.7 7.0 1.9 1.6 7.1 5.3 55.6 Wiraswasta 21.Papua Barat da Papua.7 Keterangan: a: RS Pemerintah b. Sebaliknya semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun dan famili/keluarga.1 6.5 5.1 Pekerjaan KK Tidak bekerja 12.5 4. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a b 8.0 7. Pada tabel 3.0 2.6 0.6 2.3 PNS/POLRI/TNI 30. RS swasta c.1 6.6 2.8 Tempat melahirkan c 6.4 56.2 4.3 7.4 2.1 59.4 1.2 85.2 85.6 3.3 .7 Tipe daerah Perkotaan 29.9 Petani/ buruh/ nelayan 3.3 0.1 77.7 3.8 0.3 9.2 1.3 4.0 0.7 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 95 . Di Papua Barat yang dominan adalah bidan. Sedangkan di perdesaan yang dominan baik untuk penolong persalinan pertama maupun terakhir adalah dukun bersalin (masing-masing 43.8 0.4 6.3% dan 61.0 4.5 2.3 1.0 Lainnya 16.7 3.5 3.2 70.8 84.8 0.9 91. Tabel 3.2 1.4 4.5 0.7 f 43.0 2.1 8.6 0. Namun kurang nampak adanya pola kecenderungan menurut tingkat pendidikan KK. nampak ada pola kecenderungan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin sedikit persalinan yang ditolong famili/keluarga.2 6.0 1.2 2.4 2.0 Tidak tamat SD 3.7 42.6 35.3 Kuintil-5 20.2 Tamat PT 35.7 Perdesaan 4.2 2.5 83.2 Tamat SMA 19. Untuk penolong persalinan oleh famili/keluarga.1 71.7%.1 1.5 4.5 1.4 2.9 6. sedangkan di Papua yang dominan dua penolong persalinan yaitu bidan dan famili/keluarga.7 2.4 0.8 60.5 2.0 1.8 0.9%). Bila penolong persalinan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran per kapita nampak adanya pola yang jelas.1 Kuintil-3 8.3 76.2 6.6 2.1 e 8.3 3.2 4.9 0.0 0.57 di lima provinsi terlihat bahwa penolong persalinan baik untuk penolong persalingn pertama maupun terakhir yang dominan di perkotaan adalah bidan (masingmasing 60.1 6. yaitu semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin banyak persalinan yang ditolong oleh dokter dan bidan.9 68. Persentase penolong persalinan oleh bidan dan dukun baik sebagai penolong pertama maupun terakhir lebih besar bila dibanding dengan tenaga penolong jenis lain.4 1.4 1.1 1. Puskesmas/Pustu d: Polindes/ Poskesdes 4.6 g 1.8 1.2 Pendidikan KK Tidak sekolah 2.2 1.6 2.9 Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 5.54 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.2 86.6 2.

8 28.6 20.1 29.9 26.3 36.6 39.2 36.1 66.8 42.8 51.7 47.8 39.8 9.8 32.9 30.8 29.2 56.7 24.7 55.9 6.1 26.5 40.1 23.3 29.7 22.5 22.4 34.3 21.0 34.2 53.9 23.5 41.1 21.8 20.8 36.9 10.6 23.5 23.8 34.2 15.7 26.4 26.8 30.4 49.0 22.6 24.2 51.8 55.2 21.6 50.8 33.0 62.7 36.5 23.6 43.4 19.0 16.0 22.3 33.8 23.9 22.0 29.9 25.2 43.6 26.2 22.0 21.0 38.1 22.2 48.7 33.9 30.7 18.5 32.7 15.8 21.4 28.7 63.2 50.7 39.4 21.3 23.5 49.2 25.4 32.9 33.3 42.7 14.1 25.8 38.3 34.7 19.5 21.7 41.4 5.4 22.9 41.7 41.7 29.2 19.5 61.0 33.9 15.6 52.3 29.4 25.7 38.4 32.3 40.5 11.1 15.5 42.6 49.8 31.0 33.8 48.3 23.2 32.4 28.1 56.8 49.0 50.5 15.9 23.3 17.7 45.7 37.3 50.4 8.9 15.2 13.2 18.3 26.9 34.3 12.8 21.1 37.7 20.1 Trimester-1 Tidak 1 kali > 1 kali Trimester-2 Tidak 1 kali > 1 kali Tidak Trimester-3 1 kali 2 kali > 2 kali Trimester 123 Tidak 1-3 kali > 4 kali 96 .0 31.8 30.3 43.5 29.6 20.6 59.2 12.3 61.3 37.8 36.9 39.5 34.7 8.6 24.1 42.1 65.8 28.2 30.6 21.6 43.6 20.9 29.3 40.3 18.2 21.9 16.2 20.1 37.2 29.3 36.6 29.6 46.6 26.1 50.1 23.9 33.5 6.5 38.0 35.7 14.9 22.3 17.1 49.2 25.1 32.7 33.5 10.4 58.0 29.4 36.1 20.8 28.2 23.2 32.9 26.8 39.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.2 11.5 36.2 21.7 26.7 42.5 27.1 15.1 38.3 53.3 37.1 23.6 19.4 73.9 34.5 39.0 16.0 18.2 63.8 30.3 23.0 34.6 39.4 18.1 3.9 17.0 54.6 24.1 46. Riskesdas 2007 Provinsi/Karakteristik Responden Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 25.0 72.3 25.0 18.3 36.3 28.7 47.0 35.4 7.2 29.9 40.0 33.8 32.4 16.1 34.6 26.0 26.1 40.5 55.5 46.4 37.5 30.6 42.8 35.3 20.9 25.2 17.5 13.3 33.8 19.1 28.6 11.9 15.9 28.2 41.9 16.6 18.8 24.5 8.0 15.1 32.1 37.8 44.3 43.5 21.3 71.4 20.7 13.9 64.8 38.5 38.0 22.9 25.0 24.0 31.4 17.0 4.3 25.9 20.2 19.3 29.5 9.5 21.2 32.5 15.3 12.7 21.6 28.Tabel 3.1 45.6 16.7 20.5 44.0 15.8 24.7 35.2 28.2 17.6 25.6 30.1 13.7 51.6 26.6 20.1 38.9 31.7 61.9 20.3 22.8 17.3 28.

3 50.9 55.0 f 0.0 56.9 32.9 0.8 7.6 1.2 40.4 51.1 2.5 b 36.6 0.2 36.2 a 3.5 1.56 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi.1 19.1 20.7 1.7 1.6 22.9 5.5 0.5 39.9 4. Riskesdas 2007 Penolong persalinan pertama a 4.1 35.5 0.3 0.2 9.6 6.3 Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keterangan: Penolong persalinan terakhir f 0.4 14.7 e 11.7 21.1 e 12.Tabel 3.7 1.6 3.2 56.4 3.0 34.6 2.8 31.3 35.2 0.2 0.3 c 1.4 4.2 b 38.7 2.6 3.7 3.6 10.9 1.1 a: Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 97 .0 d 46.7 47.8 c 1.8 d 43.4 12.4 3.

4 Tamat SMP 4.5 46.2 c 0.5 Penolong persalinan terakhir f 0.5 d 18.2 0.0 0.2 1.9 6.6 1.9 Wiraswasta 9.0 15.0 1.6 1.8 3.0 63.1 20.2 14.6 1.4 2.1 8.3 1.5 1.4 35.4 2.6 2.1 7.2 2.1 48.0 23.1 47.5 0.1 2.2 4.6 13.3 51.1 34.9 10.6 2.9 43.9 60.2 1.7 7.9 29.2 18.0 52.2 0.9 8.9 5.8 53.0 16.5 42.5 12.7 32.5 3.7 0.4 19.6 1.1 11.0 Pekerjaan KK Tidak bekerja 4.7 Keterangan: a : Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 98 .1 Lainnya 6.2 PNS/POLRI/TNI 16.6 62.6 1.3 0.0 37.9 1.5 0.1 41.2 39.0 1.7 15.3 17.9 38.7 18.2 0.8 1.3 0.7 43.9 Kuintil-3 4.3 1.8 46.0 1. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Penolong persalinan pertama a b 60.7 Pendidikan KK Tidak sekolah 1.4 11.6 15.8 13.6 a 13.3 2.6 37.7 2.6 28.2 1.3 48.1 35.6 27.2 38.2 5.3 Perdesaan 2.5 c 1.6 1.5 Petani/ buruh/ nelayan 2.7 37.9 42.2 Tamat PT 20.9 51.4 1.3 10.3 12.3 Ibu rumah tangga 5.1 25.4 e 4.9 21.2 24.4 Kuintil-5 10.2 1.6 1.2 13.7 0.9 17.57 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.1 31.2 1.8 17.3 17.7 45.8 Tidak tamat SD 2.9 1.0 2.6 1.3 34.7 1.8 37.4 18.1 23.6 4.9 51.6 18.8 45.4 1.6 1.1 1.8 1.9 29.8 2.6 d 19.9 21.9 1.6 1.7 50.2 41.4 44.9 Kuintil-2 2.6 1.5 Tamat SMA 10.6 22.0 Tamat SD 2.7 1.8 49.9 40.8 30.5 63.7 1.9 7.9 16.2 37.0 6.2 10.0 30.7 2.9 36.6 5.9 f 0.9 3.9 1.9 1.1 2.7 2.5 15.0 16.4 Tipe daerah Perkotaan 14.1 1.6 8.0 4.8 9.9 Kuintil-4 6.9 32.7 44.4 16.2 6.Tabel 3.6 2.4 1.3 1.8 1.9 30.7 12.2 13.8 43.9 b 61.1 2.3 27.4 2.0 15.2 65.4 1.8 18.0 1.5 38.1 4.6 10.7 e 4.2 28.9 35.3 0.6 2.9 2.6 1.3 1.7 1.0 9.8 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 2.5 1.0 55.5 3.3 65.7 0.3 57.3 31.

99 . serta dapat mengakibatkan kematian. laten atau kronis. dan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. Penyakit ini dapat bersifat akut. sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat antimalaria. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis DBD oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita demam/panas. Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). hepatitis. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi tular vektor yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma. Khusus malaria. mual dan muntah.IND: Blok X no B01-22). Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis. kaki/tangan dingin. sedangkan prevalensi penyakit kronis dan musiman ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir (lihat kuesioner RKD07.3. Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global. 3. Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gejala klinis kronis dan kecacatan. pembengkakan payudara dan pembengkakan tungkai bawah atau atas. Untuk responden yang menyatakan “pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” ditanyakan apakah mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas. lemas. pneumonia dan campak.3 Penyakit Menular Penyakit menular yang diteliti pada Riskesdas 2007 terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vektor. Data yang diperoleh hanya merupakan prevalensi penyakit secara klinis dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner baku (RKD07. sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah penyakit tifoid. pembengkakan alat kelamin. Prevalensi penyakit akut dan penyakit yang sering dijumpai ditanyakan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur. berkeringat.3. Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor adalah filariasis.IND). panas naik turun secara berkala. demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” dalam satu bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin). Demam Berdarah Dengue dan Malaria Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. tanpa konfirmasi pemeriksaan laboratorium. Jadi prevalensi penyakit merupakan data yang didapat dari D maupun G (DG). dan tidak sedikit menyebabkan kematian.1 Prevalensi Filariasis. kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan atau mimisan. Demikian pula diare. berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. ditanyakan lagi apakah pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut (G). selain prevalensi penyakit juga dinilai proporsi kasus malaria yang mendapat pengobatan dengan obat antimalaria program dalam 24 jam menderita sakit (O). sakit kepala/pusing disertai nyeri di ulu hati/perut kiri atas. dan diare. Penyakit ini bersifat musiman yaitu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) hidup di genangan air bersih. Kepada responden ditanyakan apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan (D: diagnosis). Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis filariasis oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan gejala-gejala sebagai berikut: adanya radang pada kelenjar di pangkal paha. dan malaria. dinilai proporsi kasus diare yang mendapat pengobatan oralit (O).

5%.Tabel 3. Jambi. Sulawesi Tenggara (1.0%).5‰). Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.5%). menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir filariasis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi klinis sebesar 1. Nusa Tenggara Timur (2. Bengkulu. Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (<35%) terdapat di provinsi di Jawa. Bengkulu. DI Yogyakarta.2‰). hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit. Sulawesi Tenggara. Kepulauan Riau. Papua Barat. Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47. yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (6.6‰). sebagian besar berada di Indonesia Timur. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Kep Riau. Kalimantan Timur.4‰). Papua (18. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Di Provinsi DKI Jakarta. Sulawesi Tengah.26. Nusa Tenggara Barat. Papua Barat (2. Riau dan Maluku Utara (0. dan Papua). Di NTT.58.6. DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1.1 ‰ (rentang : 0. Bengkulu dan DKI Jakarta (1.0%).8%). Papua Barat. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD.6% (rentang: 0. dan Sulawesi Barat (0. dan Gorontalo (1. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (<10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat serta NAD (1. Kalimantan Barat. Bangka Belitung.7%).1%). Kepulauan Riau (1.2% .5%).9% (rentang: 0.3‰ . Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional.9%). kasus DBD klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi (DG) 0. Kep Riau. Kalimantan Timur. sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria.4%) dan NTT (12. Papua Barat (4. prevalensi malaria klinis nasional adalah 2.1%). Bangka Belitung. walaupun kasus malaria klinis tinggi.5‰).9‰).4‰). Sumatera Selatan. Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam. Sedangkan di beberapa provinsi sebagian besar hanya berdasarkan gejala klinis yaitu Bengkulu. Bangka Belitung.1%). Papua (2. dan Jawa Timur kasus DBD klinis lebih banyak didapatkan berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Nusa Tenggara Barat. Pada 12 provinsi didapatkan prevalensi DBD klinis lebih tinggi dari angka nasional. dan Bengkulu. Papua (0. Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26. Papua. yaitu Nusa Tenggara Timur (2. Riau dan Sulawesi Barat. 100 . Jawa Tengah. Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Hal ini disebabkan gejala klinis DBD menyerupai penyakit infeksi virus lainnya. Di 11 provinsi. Banten.3‰ .0%). Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat.7%. Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Papua. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi (DG) filariasis melebihi angka prevalensi nasional.2. Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali. Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤0.2%).4‰).

23 1.51 0.04 0.07 0.03 0.06 0.20 0.53 36.26 3.41 0.15 0.03 20.10 0.04 0.09 0.15 0.21 0.11 0.70 0.16 0.33 0.07 0.43 0.03 3.79 0.29 D 1.06 0.41 1.04 0.07 0.29 0. Demam Berdarah Dengue.58 Prevalensi Filariasis.08 0.18 0.09 0.23 0.73 1.50 0.12 7.09 1.31 1.09 0.23 26.10 41.01 0.15 0.27 0.45 0.06 0.99 30.12 0.62 36.08 0.46 23.41 0.08 48.17 0.09 0.42 7.10 0.43 0.21 0.05 0.03 0.16 0.78 23.25 0.07 0.16 0.05 Malaria DG 1.04 0.68 101 .88 0.10 39.18 0.32 0.58 0.32 0.27 59.01 0.07 0.08 0.10 0. Riskesdas 2007 Provinsi Filariasis D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.38 1.22 5.45 2.67 2.30 0.03 0.69 60.10 0.04 0.10 0.33 0.01 4.45 0.89 1.66 49.11 0.16 0.96 0.09 0.06 0.41 42.27 0.04 3.62 1.09 0.02 0.05 0.29 1.14 0.87 3.31 3.04 0.37 1.52 0.43 0.30 0.09 0.42 1.78 0.84 0.51 0.04 0.05 0.87 2.41 O 36.01 0.26 0.45 0.07 0.24 0.59 0.34 44.37 47.86 1.82 1.16 2.77 2.27 5.02 0.00 34.09 DG 3.57 43.08 0.14 0.36 1.30 0. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.88 0.15 0.09 0.67 58.03 0.55 42.77 26.06 0.44 24.14 18.18 0.78 53.02 0.57 46.37 1.10 0.03 0.83 28.07 0.08 0.42 0.32 64.37 2.14 1.52 Indonesia 0.93 DG 0.12 0.12 0.11 0.05 0.10 2.04 0.02 0.03 0.31 15.85 1.90 49.41 0.04 0.33 65.33 43.21 0.19 0.10 2.07 0.65 12.06 7.36 39.07 0.58 0.05 0.35 51.81 0.85 47.03 0.03 0.73 1.06 0.01 0.02 0.03 0.02 6.42 0.26 0.41 27.75 12.13 0.65 2.25 0.12 0.00 0.55 0.63 7.66 2.00 0.46 0.39 2.86 2.06 0.04 0.Tabel 3.22 0.14 DBD D 0.32 0.04 0.03 0.60 0.54 0.28 43.35 0.64 0.

23 0.57 1.10 1.22 35.65 0.19 42.38 1.62 0.66 0.06 35-44 0.09 0.53 1.46 3.15 0.70 0.15 0.67 0.80 50.05 Kuintil 3 0.05 Perempuan 0.09 DBD D 0.59 1.61 0.28 1.08 0.57 1.09 3.84 49.95 4.Tabel 3.61 0.17 0.18 0.07 Pekerjaan Tidak kerja 0.31 1.25 41.15 0.51 0.59 0.16 0.88 1.08 65-74 0.74 3.08 43.41 1.69 2.43 1.23 57.73 47.22 1.06 Kuintil 5 0. Demam Berdarah Dengue.16 0.04 15-24 0.10 0.11 0.59 0.19 1.14 0.08 1.27 0.14 0.38 39.24 Malaria DG 0. tidak bekerja dan petani/nelayan/buruh.75 1.56 0.83 2.20 3.14 0.02 2.13 54.90 2.07 0.68 0.72 46.19 0.04 2.10 0.05 Wiraswasta 0.62 3.34 0.14 1.21 0.19 46.53 0.13 0.03 Pegawai 0.56 0.85 46.52 O 57.96 46.11 0.04 45-54 0.29 41.11 0.08 1.17 0.03 Perdesaan 0.01 1-4 0.19 0.85 1.07 0.24 0.66 D 0.19 0.05 2.32 45.83 46.11 0.12 0.57 0.12 0.05 2.25 47.36 1.83 1.12 0.08 53.42 1.83 3.16 0.44 48.06 55-64 0.05 0.63 0.59 Prevalensi Filariasis.63 51.17 0.04 Tamat SMA 0.15 0.06 Tamat SD 0.10 0.10 >75 0.89 46.02 0.05 Tamat SMP 0.68 0.08 Jenis kelamin Laki-laki 0.61 0.69 3.12 0.59 0.14 0.05 Kuintil 2 0.09 0.12 2.50 1.64 0.10 Tidak tamat SD 0.42 2.55 1.05 102 .07 Petani/Nelayan/ 0.19 0.52 0.39 44.18 0.74 49.26 0.97 2.25 0.05 Kuintil 4 0.10 0.16 0. tidak ada perbedaan prevalensi antara laki-laki dan perempuan.30 0.12 0.64 2.19 1. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.48 1.08 Sekolah 0.59 0.20 0.07 Lainnya 0.40 53.05 Ibu RT 0.37 1.54 3.02 5-14 0.09 0.37 1.92 51.08 0. Tabel 3.78 Kelompok umur (tahun) <1 0.57 0.13 2.11 0.87 43.31 1.05 1.35 DG 1.10 0.38 1.74 0.75 3.51 0.61 0. Filariasis klinis dijumpai pada semua kelompok umur dan sudah ditemukan pada kelompok umur ≤5 tahun.65 48.03 47.12 0.62 0.70 2.05 Tipe daerah Perkotaan 0.12 0.66 1.06 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0.78 48.72 2.12 0.59 adalah gambaran Filariasis.20 0. dan tidak ada perbedaan prevalensi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita.47 47.75 1.63 0.56 0.05 Tamat PT 0.12 0.66 2.03 25-34 0. DBD dan Malaria menurut karakteristik responden.83 2. Filariasis klinis lebih tinggi didapati pada responden di perdesaan dan responden yang tidak sekolah.21 0.08 0.20 0.35 1. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Filariasis D DG 0.74 0.14 1.25 0.49 2.06 Pendidikan Tidak sekolah 0.

dan cenderung tinggi pada responden dengan pendidikan rendah. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar. Pnemonia. Hal ini mungkin berhubungan dengan tingkat kesadaran penderita dalam mengenali penyakit dan mencari pengobatan yang lebih baik di kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita yang lebih tinggi tersebut. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 . serta sering mengakibatkan kematian. dapat menjadi pneumonia. namun kasus yang terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan lebih banyak di perkotaan. Kepada responden ditanyakan apakah dalam satu bulan terakhir pernah didiagnosis ISPA/pneumonia oleh tenaga kesehatan. dan Campak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. Kepada responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis campak oleh tenaga kesehatan.2 Prevalensi ISPA. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur. Walaupun diagnosis pasti TB berdasarkan pemeriksaan sputum BTA positif. Temuan yang juga perlu menjadi perhatian adalah DBD klinis relatif lebih banyak ditemukan pada responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat. terutama pada balita. pegawai dan wiraswasta. Walaupun prevalensi malaria klinis pada anak (<15 tahun) relatif lebih rendah dari orang dewasa. 3. Di Indonesia penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama. responden sekolah dan petani/nelayan/buruh. namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa. dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita tinggi. Kepada respoden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan.54 tahun). Tidak terlihat perbedaan prevalensi DBD pada laki-laki dan perempuan. kelompok pendidikan tinggi. Keadaan ini menunjukkan kewaspadaan dan kepedulian penanganan penyakit malaria pada anak sudah cukup baik di mana >50% malaria klinis mendapat obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit. Prevalensi DBD klinis juga cenderung meningkat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita yang lebih tinggi. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global. ditanyakan apakah menderita gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk berdahak bercampur darah.7%) dan terendah pada bayi (0. Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk malaria. 103 .DBD dahulu dikenal hanya sebagai penyakit pada anak-anak.2%). diagnosis klinis sangat menunjang untuk diagnosis dini terutama pada penderita TB anak. tetapi proporsi pengobatan dengan obat malaria program cenderung lebih baik pada anak dibandingkan orang dewasa. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25 . Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan. dan bila tidak. Tuberkulosis (TB). Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. prevalensi pada bayi relatif rendah. Di Indonesia masih terdapat kantong-kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB. ditanyakan apakah pernah menderita gejala ISPA dan pneumonia. DBD klinis relatif lebih tinggi di perdesaan. kelompok petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.3. Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data ISPA ringan dan pneumonia.34 tahun (0. Pengobatan dengan obat malaria program juga relatif lebih baik (≥50%) di daerah perkotaan.

56 0.38 7.15 0.63 1.58 0.31 0.05 0.22 6.41 1.29 0.43 0.44 1.12 1.37 0.19 1.02 0.06 27.41 2.55 28.56 0.73 0.16 0.35 0.75 33.59 5.80 6.87 1.54 10.60 0.42 0.20 0.03 1.28 7.06 0. kecuali di Sumatera Selatan lebih banyak didiagnosis oleh tenaga kesehatan.58 0.08 1.32 0. TB.26 8.74 8.39 1.47 1.78 0.48 18.76 2.53 1.27 1.77 1.94 7.89 Campak DG 1.13 0.31 0.03 27.72 0.11 0.54 29.56 Pneumonia D 1.47 2.52 ISPA DG 36. Prevalensi ISPA satu bulan terakhir di Indonesia adalah 25.50 0.79 3.44 0.10 0.67 2.88 1.22 0.20 36.78 22.77 0.59 1.36 17.5% (rentang: 17.73 29.03 1.40 25.63 0.80 0.10 25.65 20.43 0.42 0.71 0.6%).23 0.28 1.49 26.66 0.90 19.02 0.98 TB D 0.4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional.01 DG 1.67 4.63 Indonesia 8.49 1.44 9.92 2.18 0.54 2.98 1.43 0.40 5.32 25.59 1.11 0.28 1.38 22.97 2.36 0.04 0.37 0.41 1.99 0.50 0.40 0.54 0.14 0.8% .65 2.68 0.39 26.53 1.5.52 0.29 0.58 0.00 0.77 0.95 2.99 0.42 0.29 1.21 0.07 2.00 1.98 2.78 1.81 1.37 0.40 12.24 1.1% (rentang: 0.42 0.01 0.41.99 22.73 9.58 0.60 Prevalensi ISPA.20 0.69 1.06 12.64 22.44 0.82 0.88 9.90 0.76 0.01 0.86 0.53 4.33 2.43 2.26 0.47 0.84 0.70 0.97 24.53 1.78 6.49 0.ditanyakan apakah pernah menderita gejala demam tinggi dengan mata merah dan penuh kotoran.47 0.61 1.75 0.55 1.56 0.56 0.23 0. Prevalensi pneumonia satu bulan terakhir di Indonesia adalah 2.72 0.84 18.73 DG 3.95 8.61 0.60 24.78 1.91 0.26 0.10 10.08 22.31 0.65 0.37 0.40 0.32 0.65 17.43 0.27 1.40 0.84 0.38 0.34 0.23 0.19 2. Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.63 2.98 6.64 0. Pneumonia.13 D 1.62 1.59 5. Tabel 3.22 1.36 0.10 1.37 0.24 0.04 5.60 2.54 0.27 0.06 2.63 0.04 0.24 2.87 22.5% .45 0.47 0.64 5.31 0. dan Campak menurut Provinsi.33 0.25 0.50 1.78 0.38 9.48 1.50 0.81 1.18 0.77 1.18 104 .12 0.36 1.17 2.92 0.34 0.38 0.09 2. serta ruam pada kulit terutama di leher dan dada.47 0.39 0.36 0.58 0.36 1.80 30.85 2.53 0.47 30.22 1. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.50 4.98 5.08 14.71 0.90 22.37 0.52 20.52 28.39 21.45 4.05 5.20 6.52 41.73 0.83 1.07 2.24 0.20 30.75 0.69 1.68 4.13 0.29 1.98 8.36 22.50 2.

Pneumonia cenderung lebih tinggi pada kelompok yang memiliki pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah. DKI Jakarta. Papua Barat.2%. dan Campak menurut karakteristik responden. Empat belas provinsi mempunyai prevalensi lebih tinggi dari angka nasional. dan relatif sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relatif sama. Pneumonia. tertinggi di Provinsi Gorontalo (3. Prevalensi campak lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. sedangkan terendah pada kelompok umur 15 . Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Barat. Prevalensi TB paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Nusa Tenggara Barat. Karakteristik responden pneumonia serupa dengan karakteristik responden ISPA. 105 . Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 1.0%. kecuali di Provinsi Sumatera Selatan.24 tahun. kecuali pada kelompok umur ≥55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi. dan Papua Barat. Nusa Tenggara Timur.3%). Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Prevalensi campak klinis 12 bulan terakhir di Indonesia adalah 1. Maluku Utara. Sulawesi Selatan. Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Prevalensi campak tertinggi pada anak balita (3. Pneumonia klinis terdeteksi relatif lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan. Kalimantan Tengah. Sulawesi Barat. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. Kasus pneumonia pada umumnya terdeteksi berdasarkan diagnosis gejala penyakit. Kalimantan Selatan. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan. Gorontalo.5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0. dan Papua. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.4%) dan masih cukup tinggi ditemukan pada usia di bawah 15 tahun. tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. Tabel 3. Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%). Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional. Pada umumnya kasus campak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. kecuali di Provinsi Bengkulu. Sulawesi Tengah. Bali.2%) dan terendah di Provinsi Lampung dan Bali (0. TB. Sulawesi Tenggara. dan Papua. Banten.61 adalah gambaran ISPA.4%). Prevalensi relatif sama pada laki-laki dan perempuan demikian pula di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.Empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. kecuali di Sumatera Selatan dan Papua. Lampung. antara lain Nusa Tenggara Timur. Maluku. tertinggi di Provinsi Papua Barat (2.

62 0.01 0.27 1.12 2.89 19.59 0.42 0.18 0.77 28.73 0.70 2.18 0.00 1.17 22.00 0.82 23.67 Pekerjaan Tidak kerja 6.30 26.56 0.53 0.39 0.45 1.71 21.11 Kuintil 4 7.99 35.39 0.38 4.61 Prevalensi ISPA.34 1.68 0.17 1.42 3.27 0.72 0.92 42.84 0.40 2.26 0.32 0.37 0.70 0.73 2.64 0.26 2.04 2.56 0.37 0.42 0.17 1.53 0.67 1.21 0.29 0.98 Kuintil 5 7.33 2.73 0.42 1.92 1.58 Wiraswasta 6.27 0.07 1.79 0.96 21.56 0.57 25.06 Perempuan 8.08 2.67 0.80 1.22 1.56 0.60 1. Pneumonia.57 22.40 Tamat SD 6.23 0.38 0.04 1.61 0.89 1.48 0.0 55-64 7.36 0.46 0.65 0.27 0.26 0.34 0.31 0.77 1.15 0.30 0.40 0.62 0.14 0.20 3.37 Petani/Nelayan/ 6.75 18.39 0.1 35-44 6.96 1.17 25.00 Kuintil 3 8.00 Pendidikan Tidak sekolah 7.Tabel 3.85 Lainnya 6.69 5.47 0.58 0.21 2.50 0.27 0.60 0.57 1.68 24. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D ISPA DG Pneumonia D DG D TB DG D Campak DG Kelompok umur (tahun) <1 14.51 23.53 0.55 2.35 0.2 15-24 5.46 1.55 0.43 0.7 65-74 8.91 20.21 0.42 0.49 23.51 0.83 1.76 1.63 2.10 1.21 0.74 0.53 28.79 Tidak tamat SD 7.60 0.48 25.69 0.26 2.83 1.87 27.6 45-54 7.17 1.13 0.61 0.88 0.59 1.50 2.66 0.43 0.09 0.33 0.84 1.01 26.38 0.84 106 .02 0.41 1. TB.98 0.76 0.26 25.40 0.94 0.62 0.60 1.44 3.56 0.77 Ibu RT 6.69 0.91 2.69 2.40 0.40 0.07 22.70 0.73 0.08 1.43 4.55 0.42 Pegawai 6.42 1.61 0.34 0.81 1.26 0.13 2.90 0.99 Sekolah 6.43 0.30 30.09 Kuintil 2 8.32 1.07 20.17 1.67 0.69 0.42 0.20 Tamat SMA 6.47 0.21 Tamat PT 6.9 1-4 16.07 1.01 1.33 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 8.4 >75 9.33 1.75 1.17 0.10 0.13 Perdesaan 8.82 1.45 1.1 5-14 9.60 0.08 0.84 2.94 0.0 Jenis Kelamin Laki-laki 8.49 18.47 0.18 0.86 0.80 0.34 0.46 Tamat SMP 6.60 0.44 0.92 20.49 0.27 0.29 0.59 1.47 24.20 27.21 0.70 1. dan Campak menurut Karakteristik Responden.04 Tipe daerah Perkotaan 8.73 23.44 0.6 25-34 6.49 0.81 17.66 0.36 1.82 0.40 0.04 0.42 0.62 0.60 26.35 0.02 1.62 2.24 0.61 0.81 2.94 1.

Banten. dan Sulawesi Selatan) kasus diare lebih banyak dideteksi berdasarkan gejala klinis. Hanya di tujuh provinsi (Banten. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu. Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya.9%). Nusa Tenggara Barat. Dua belas provinsi mempunyai proporsi pemberian oralit kurang dari proporsi nasional. Sulawesi Utara. Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. tidak nafsu makan. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur. Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional.6% (rentang: 0. Diare Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Jawa Barat. Banten. serta kulit dan mata berwarna kuning. Sumatera Barat. Papua Barat. Jawa Barat. Sulawesi Tenggara. Prevalensi diare klinis adalah 9. Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis. Nusa Tengara Timur. Responden yang menyatakan tidak pernah. Kalimantan Selatan.2%.6% (rentang: 0. Sumatera Selatan. sedang di provinsi lainnya terutama berdasarkan gejala klinis. Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. Papua Barat dan Papua).3.4%). tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat.3. terendah ditemukan di Provinsi Banten (29. Kasus diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian. ditanya apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. 107 .9%). Kalimantan Timur. Jawa Tengah. Gorontalo. proporsi responden diare klinis yang mendapat oralit adalah 42. Di 18 provinsi. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar.3%). Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD. Tabel 3. dan Papua. kencing warna air teh. Kalimantan Tengah. nyeri perut sebelah kanan atas. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. yaitu Provinsi NAD. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual.0% (rentang: 4.3% . Riau.18. Sulawasi Selatan. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis hepatitis dalam 12 bulan terakhir. muntah. Kalimantan Selatan.2% . Hepatitis. Sulawesi Tengah. Prevalensi diare diukur dengan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir.2% . ditanya apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair.1. Responden yang menyatakan tidak pernah. Gorontalo. kasus tifoid sebagian besar terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan.62 menunjukkan bahwa prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1. Kalimantan Selatan. sakit kepala. Secara nasional. tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI Yogyakarta. Dua belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional.3 Prevalensi Tifoid. Bengkulu. kecuali di Provinsi Jawa Timur. Nusa Tenggara Barat. Responden yang menderita diare ditanya apakah minum oralit atau cairan gula garam.

Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 .8 4.14 tahun) yaitu 1.2 0.1 0.39 2.27 2.3 13.58 0.03 1.86 1.67 1.60 0.90 1.1 0.35 1.3 0.3 Diare D 11.5 0.14 1.9 5.9 O 42.2 0.2 0.0 37.1 9.19 1.9%.1 0.0 42.8 3.87 1.75 1. Hepatitis.4 3.3 0.4 9.0 8.3 10.7 30.3 0.93 2.91 1.28 1.2 3.1 0.7 4.6 0.36 0.1 0.2 0.6 5.4 0.60 0.1 0.1 5.61 0.3 4.53 0.5 7.5 7.0 5.2 3.2 Tabel 3.2 0.95 1.7 4.2 40.9 52.79 1.1 0.8 5.8%).6 0.0 29.4 12.6 0.43 0.4 43.90 1.6 5.4 5.1 0.2 6.70 0.31 0.1 49.2 9.65 1.2 4.1 44.1 0.1 5.7 29.7 5.1 0. terendah pada bayi (0.5 43.80 0.0 53.7 44.2 0.0 10.1 8.44 2. dan Diare menurut karakteristik responden.5 0.33 1.3 5.48 1.5 4.1 0.6 39.11 Hepatitis D 0.54 0.8 45.69 0.4 47.9 0.6 2.1 2.5 7.8 0.88 0.7 1.85 Tifoid DG 2.3 0. Diare menurut Provinsi.9 3. Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.3 0.1 6.94 0.8 0.4 0.06 0.0 43.9 7.6 7.5 Indonesia 0.5 0.4 7.8 2.5 2.44 0.2 0.9 9.3 8.3 0.8 9.4 0.98 0.03 1.7 56.1 48.16 1.60 0.9 7.9 5.2 0.2 0.53 0.3 0.80 1.4 35.0 5.9 0.7 1.4 0.2 8.8 1.4 41.9 5.96 0. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.2 0.4 0.62 adalah gambaran Tifoid.3 0.7 4.40 0.7 51.51 1.2 2.1 0.3 36.2 7.44 0.5 0.01 0.4 54.77 1.5 5.Tabel 3.32 2.8 DG 18.2 10.30 0.0 8.8 2.35 0.20 2.6 50.2 0.2 0.2 47.2 0.7 0.5 3.12 0.9 47.4 53.7 1. 108 .9 8.2 0.8 30.96 0.1 0.8 4.25 1.16 0.62 Prevalensi Tifoid.66 0.1 0.3 0.3 0.8 10. Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.3 0.5 9.6 6. dan relatif lebih tinggi di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan.8 DG 1.2 0.42 0.4 16.24 0.46 1.99 1.68 0.4 0.3 0.1 43.2 47.7 0.0 49.87 0.6 4.13 2.3 0.7 41. Hepatitis.56 0.2 11.

3 0.4 39.2 0.9 15-24 0.1 39. Diare menurut Karakteristik Responden.4 5.6 41.4 0.7 1.0 41.5 10.5 1.3 7.7 Tidak sekolah 0.6 7.5 0.2 0.9 Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun.3 0.5 0.9 Perdesaan Pendidikan 0.6 65-74 0.4 1.8 Tamat SMP 0.0 8.1 37.2 0.9 4.3 <1 0.3 5.9 Tamat SD 0.7 0.2 0.3 37.9 52.7 >75 Jenis Kelamin 0.6 5.0 1.5 Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita 0.8 Kuintil -1 0.8 Petani/nelayan/buruh 0.1 5-14 0.5 9.2 1.2 5.8 1.5 16.7 11.1 40.0 40.7 0.2 41.62 Prevalensi Tifoid.4 1.3 5.3 1.2 1.2 0.8 41.7 7.2 0.9 3.5 1.1 0.9 0.7 9.6 4.7 35-44 0.4 1.9 9.2 0.4 0.0 38.7 Tamat PT Pekerjaan 0.2 0.7 36.9 10.6 0.3 0.7 1.9 4.8 55.2 0.2 0.8 0.1 1.9 5.8 1.6 1.6 1.4 8.5 1.4 1.2 0.3 0.5 4.9 Tidak tamat SD 0.6 Ibu RT 0.0 9.9 Laki – laki 0.4 3.7 5.8 1.5 1.2 0.2 4.4 10. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D Tifoid DG D Hepatitis DG D Diare DG O Kelompok umur (tahun) 0.1 7.2 1.1 0.9 Tidak kerja 1.6 0.6 0.1 4.7 42.6 0.8 1.8 4.3 3.3 8.3 5.8 43.7 0.5 42.7 0.4 6.9 Kuintil -2 0.2 0.7 Perkotaan 0.2 0.5 41.5 0.5 38.8 38.8 Kuintil -4 0.0 36.7 0.0 Sekolah 0.5 39.9 4.9 5.0 0.7 Tamat SMA 0. hampir 2 kali lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.2 4.3 37.7 0.7 25-34 0.2 0.8 1.2 0.0 7.6 16.8 4.5 37.8 Perempuan Tipe daerah 0.2 0.6 8.3 0.2 4.6 1.2 5.9 9.8 0.5 1.9 1.7 8.2 7.6 0.9 0.6 1.1 5.8 0.6 0.6 1.6 0.7 55-64 0.9 0.8 Kuintil -5 0.5 43.7 45-54 0.2 0.3 0.1 37.8 41.7 1.6 11.4 8.6 7.5 3.5 1.2 0.2 0.4 9.3 0.1 4.0 4.7 Wiraswasta 0. dan cenderung lebih tinggi pada 109 .0 5.0 37.8 3.8 Kuintil -3 0.7 7.7 0.4 4.0 0.3 0.8 8.2 0.7 Pegawai 0.0 10.1 1.2 7.7 1.9 0.3 0.8 1-4 1.6 37.4 8.3 36.6 0.1 3.8 42. Hepatitis.Tabel 3.4 36.2 0.4 0.

Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16. Untuk kasus penyakit jantung. jantung. asma. Prevalensi diare yang tinggi pada bayi dan anak balita tidak selalu diberi oralit. Dua data pengukuran dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003.8% dan 55. Hipertensi berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan tekanan darah/tensi. dan untuk jenis PTM lainnya kurun waktu riwayat PTM adalah selama hidupnya.7%). Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan. dan dekompensasi kordis. 3.4 Penyakit Tidak Menular 3. bibir sumbing. hipertensi. dan hemofilia dianalisis berdasarkan jawaban responden “pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan” (notasi D pada tabel) atau “mempunyai gejala klinis PTM”. Setiap responden diukur tensinya minimal 2 kali.1 Penyakit Tidak Menular Utama. Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran RT per kapita. riwayat pernah mengalami gejala penyakit jantung dinilai dari 5 pertanyaan dan disimpulkan menjadi 4 gejala yang mengarah ke penyakit jantung. Prevalensi PTM adalah gabungan kasus PTM yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan kasus yang mempunyai riwayat gejala PTM (dinotasikan sebagai DG pada tabel). maka prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensi dihitung hanya pada penduduk umur 18 tahun ke atas. baik berdasarkan diagnosis maupun gejala (D dibagi DG). Data hipertensi didapat dengan metode wawancara dan pengukuran. Tensimeter digital divalidasi dengan menggunakan standar baku pengukuran tekanan darah (sfigmomanometer air raksa manual). buta warna. gangguan jiwa berat.pendidikan rendah. dan Penyakit Keturunan Data penyakit tidak menular (PTM) yang disajikan meliputi penyakit sendi. ditetapkan menggunakan alat pengukur tensimeter digital. jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran pertama. glaukoma. talasemiaa. rinitis. Pengukuran tensi dilakukan pada responden umur 15 tahun ke atas. aritmia. maka dilakukan pengukuran ke tiga.4. Kriteria JNC VII 2003 hanya berlaku untuk usia 18 tahun keatas. Responden dikatakan memiliki gejala jantung jika pernah mengalami salah satu dari 4 gejala termaksud. tumor/kanker. angina. stroke dan asma ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. proporsi yang mendapat oralit pada ke dua kelompok umur tersebut berturut-turut 52. 110 . hipertensi dan stroke ditanyakan kepada responden umur 15 tahun ke atas. sedangkan PTM lainnya ditanyakan kepada semua responden. dermatitis. yaitu penyakit jantung kongenital. hipertensi. Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk 15 tahun ke atas maka temuan kasus hipertensi pada usia 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi. Riwayat penyakit sendi. DM. Penyakit Sendi.5%. Cakupan atau jangkauan pelayanan tenaga kesehatan terhadap kasus PTM di masyarakat dihitung dari persentase setiap kasus PTM yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dibagi dengan persentase masingmasing kasus PTM yang ditemukan. yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Penyakit sendi. stroke.

8 Indonesia 14.1 8.6 5.8 5.4 9.5 4.3 7.6 29.4 27.7 9.2 7.3 Stroke (‰) D 10.1 22.4 37.7 6.8 7.3 28.4 20.2 12.2 11.6 31.2 7.7 2.3 8.6 8.0 9.3 9.4 28.0 35.2 9.4 9.0 3.0 12.5 5.5 29.3 31.6 7.6 9.2 5.3 Catatan : D = Diagnosa oleh Tenaga Kesehatan D/G = Didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit Hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 111 .2 4.5 15.0 10.2 5.2 10.8 37.6 31.9 3.0 28.7 6. dan Stroke menurut Provinsi.1 5.0 8.8 29.9 7.0 14.0 8.2 7.4 6.9 26.7 36.3 5.0 6.9 4.0 5.1 29.7 Hipertensi (%) D 9.5 25.0 29.2 30.1 4.1 7.6 23.8 33.1 9.0 11.4 8.7 26.5 33.1 32. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.4 7.2 34.5 12.8 23.9 31.1 4.0 12.5 8.6 33.3 11.63 Prevalensi Penyakit Persendian.9 7.9 19.9 4.4 7.8 11.6 7.7 12.9 29.3 41.8 19.1 24.2 26.3 28.3 9.2 6.6 5.5 6.6 26.5 5.1 35.5 6.7 20.4 15. Hipertensi.6 29.3 4.6 11.1 7.5 3.4 7.3 6.9 5.0 8.2 2.2 36.6 15.0 10.3 31.6 9.3 7.5 6.4 U 30.1 9.9 8.7 6.7 7.1 37.6 8.0 30.9 12.5 6.4 22.5 6.0 5.0 4.1 30.8 8.2 7.9 3.6 6.4 8.4 7.1 6.3 13.7 5.3 7.5 9.6 31.7 11.5 7.8 29.3 8.4 5.3 8.6 8.7 5.0 9.6 38.9 32.4 7.1 5.2 33.9 30.1 4.0 27.2 29.6 14.6 29.9 38.4 10.8 9.4 8.7 9.1 6.4 8.0 30.6 5.8 27.9 5.3 19.3 6.6 39.1 24.4 10.1 14.8 9.1 13.0 8.8 7.0 26.5 8.7 7.0 6.0 D/G 16.1 5.8 5.9 8.8 4.4 8.0 31.4 5.5 4.4 D/G 34.8 5.2 5.0 6.2 20.1 11.8 23.9 5.1 D/O 10.6 6.4 5.3 17.8 12.6 19.1 14.0 7.3 10.3 7.4 17.7 4.8 27.Tabel 3.6 5.6 7.7 28.8 10.9 28.7 9.7 25.

6%) dan terendah di Papua Barat (20. namun meningkat kembali pada kelompok pendidikan tamat PT.3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. kasus hipertensi berdasarkan hasil pengukuran diberi inisial U. responden juga diwawancarai tentang riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat meminum obat anti-hipertensi.4%). merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di NAD (16. Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24. Hal ini menunjukkan sekitar 72. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8. prevalensi penyakit sendi. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7.5%). hipertensi maupun stroke tampak meningkat sesuai peningkatan umur responden.63) sebesar 30. prevalensi ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. 112 .Selain pengukuran tekanan darah. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39.3 per 1000 penduduk. kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diberi inisial D. Menurut jenis kelamin. Riau. hipertensi. maka terdapat 4050 (8.64 juga dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit sendi. Sedangkan untuk hipertensi dan stroke.7%.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%. Berdasarkan pekerjaan responden. dan Nusa Tengah Tenggara Barat. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. atau dengan kata lain sebanyak 76.4%) responden umur 15-17 tahun yang telah mengalami hipertensi. prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31. prevalensi penyakit sendi pada Petani/Buruh/Nelayan ditemukan lebih tinggi daripada kelompok pekerjaan lainnya.0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis.6‰) dan terendah di Papua (3. prevalensi penyakit sendi tertinggi dijumpai di Provinsi Papua Barat (28. Prevalensi penyakit sendi secara nasional (Tabel 3. Provinsi Jawa Timur. Sedangkan pola prevalensi stroke menurut jenis kelamin tidak tampak perbedaan yang mencolok. DI Yogyakarta. Menurut provinsi. Terdapat 13 provinsi dengan prevalensi stroke lebih tinggi dari angka nasional. Jawa Tengah. Pada Tabel 3. dan gabungan kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dengan kasus hipertensi berdasarkan riwayat minum obat hipertensi diberi istilah diagnosis/minum obat dengan inisial DO. Kalimantan Tengah.2%. Terdapat 11 provinsi dengan prevalensi penyakit sendi lebih tinggi dari angka nasional.0%. Sulawesi Tengah. namun ada kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan peningkatkan tingkat pengeluaran rumah tangga. dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1000 penduduk. Menurut karakteristik responden. baik pola prevalensi penyakit sendi maupun hipertensi dan stroke tampak tidak ada perbedaan yang mencolok. prevalensi penyakit sendi cenderung lebih tinggi pada perempuan.8%) dan terendah di Sulawesi Barat (7. demikian pula prevalensi hipertensi. Cakupan diagnosis penyakit sendi oleh tenaga kesehatan di setiap provinsi umumnya sekitar 50% dari seluruh kasus yang ditemukan.6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0. Menurut provinsi. Sulawesi Barat.1%). dan stroke cenderung tinggi pada tingkat pendidikan rendah dan menurun sesuai dengan peningkatan tingkat pendidikan. Dalam penulisan tabel. Apabila kriteria hipertensi sesuai JNC VII 2003 juga diterapkan untuk penduduk 15-17 tahun. Bangka Belitung. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7.8‰).

6 28.1 7.0 8.1 24.2 9.2 31.8 25.3 7.1 11.4 20.9 8.5 8.4 11.9 23.4 4.1 6.2 4.9 7.2 5.7 13.5 25.8 46.5 30.9 6.6 7.7 7.8 33.3 6.7 19.2 5.7 20.1 37.7 7. dan Stroke menurut Karakteristik Responden.0 7.4 62.4 5.4 0.7 8.9 8.8 8.9 39.6 8.7 9.2 13.5 9.8 17.3 0.5 5.4 8.4 14.5 6.7 9.8 31.5 35.1 5.5 4.1 29.3 0.64 Prevalensi Penyakit Persendian.2 30. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Karakteristik Responden D Umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuinti 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.7 1.1 1.0 7.6 8.0 6.4 7.6 6.6 6.2 5.7 Hipertensi (%) D D/0 U Stroke (‰) D D/G D/G Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita 113 .0 32.3 30.8 9.9 28.3 11.3 7.9 8.5 11.4 16.7 14.4 6.3 23.7 3.1 14.0 7. Hipertensi.Tabel 3.9 8.0 29.5 6.5 31.5 67.6 7.5 5.9 17.3 31.6 9.7 44.2 28.3 4.8 29.7 7.1 15.8 4.5 0.3 8.3 16.5 15.9 33.9 19.1 4.8 12.9 6.9 3.6 7.2 32.0 12.1 7.9 10.2 31.1 5.7 11.1 6.0 15.3 56.4 30.9 2.7 11.6 6.1 0.3 6.8 4.3 20.5 4.6 7.7 15.9 5.6 2.7 13.6 13.8 33.2 6.1 22.8 7.6 18.3 7.8 7.7 14.7 6.2 19.2 32.2 12.7 30.1 28.4 6.0 6.3 1.8 32.9 27.7 63.5 22.2 18.8 13.9 33.0 29.9 15.1 9.9 41.0 9.9 8.7 7.5 11.1 14.8 8.3 2.1 1.9 42.1 13.3 8.9 4.9 65.0 18.4 53.4 31.0 8.6 53.9 2.7 2.0 14.6 1.2 22.2 7.9 31.5 17.0 2.1 25.0 6.7 12.6 32.0 31.6 4.1 5.3 5.6 31.8 33.3 0.

dan tumor menurut provinsi.45 13.3% (D dibagi DG). Penyakit asma ditemukan sebesar 3.5‰ di Maluku hingga 9. dapat pula dilakukan analisis sampai ke tingkat kabupaten/kota.4% di Lampung hingga 2.29 50.2% berdasarkan wawancara.55 49. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi.58 15. Prevalensi DM menurut provinsi. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12. diabetes.Untuk penyakit tidak menular. Terdapat 17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional.5% di Provinsi Lampung hingga 7. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional.6% di DKI Jakarta. sepuluh kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jayawijaya Teluk Wondama Bengkulu Selatan Kepulauan Mentawai Tolikara Yahukimo Pegunungan Bintang Seluma Sarmi Tulang Bawang 6. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0. Sebagai contoh bisa dipilih penyakit hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah.29 46.19 Tabel 3.00 11.74 46.6% di Lampung sampai 12. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung. 114 . Menurut provinsi. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1.96 45.56 49. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0. Setelah ditentukan urutan (ranking) dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak kasus hipertensi untuk usia ≥ 18 tahun.11 12. Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional.38 11.6‰ di DI Yogyakarta.23 47.86 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Terburuk Natuna Mamasa Katingan Wonogiri Hulu Sungai Selatan Rokan Hilir Kuantan Singingi Bener Meriah Tapin Kota Salatiga 53.2% di Gorontalo.5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung.48 48.9%. yaitu dengan membuat urutan (ranking) dari yang terbaik sampai yang terburuk.94 14. berkisar antara 2. prevalensi asma berkisar antara 1. Prevalensi menurut provinsi.3‰. Dalam hal ini harus dipilih indikator kesehatan yang prevalensinya cukup besar. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis asma oleh tenaga kesehatan sebesar 54. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7.76 9.64 13. berkisar antara 0. jantung. berkisar antara 1.5% di Indonesia dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1.6% di NAD.65 menunjukkan prevalensi asma.56 14.1%.9%.09 45.6%.

2 4.8 1.2 2.7 0.1 3.6 0.1 4.3 2.0 3.4 6.6 0.0 3.9 2.9 5.5 0.5 1.65 Prevalensi Penyakit Asma*.1 2.4 4.6 3.7 0.4 3.0 0.2 0.0 1.6 4.3 1.5 0.6 2.8 2.8 5.9 7.6 0.5 0.8 (%) D 2.4 5.6 0.2 2.8 0.6 2.4 3.9 3.8 1.2 1.8 1.6 3.4 Indonesia 1.0 5.4 0.1 2.5 0.5 1.5 0.6 0.4 8.6 1.8 0.0 0.3 1.7 3.4 0.1 9.1 2.0 11.7 0.4 1.6 1.5 0.6 1.4 4.4 1.7 0.7 0.7 0.8 3.3 0.6 0.5 2.5 4.4 Jantung (%) D/G 4.3 7.8 1.8 0.9 6.6 0.6 0.9 2.3 1.5 D 2.1 4.8 1.0 1.7 0.8 0.4 0.8 1.2 11.3 2.8 0.0 2.9 3.1 2.8 3.8 0.3 0.8 4.8 1.9 1.8 0.3 7.3 2.4 8.6 DM (%) Tumor (‰) D/G 1.3 1.0 7.3 0.7 4.6 5.3 3.3 2.8 7.7 0.8 3.8 0.6 7.2 0.3 0.6 1.6 3.7 0.7 1.6 0.7 1.5 8.9 1.1 2.4 1.4 8.4 1.8 0.8 0.2 1.5 1.9 3.1 1.6 11.8 1.4 3.7 3.5 0.8 2.6 3.8 2.0 0.3 1.0 2.6 1. D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.0 1.6 0.8 3.6 3.3 1.7 4.7 5.6 0.1 1. Jantung*.9 0.8 1.6 1.4 1. Riskesdas 2007 Asma Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.3 2.4 2.7 5.2 1.9 4.3 D 1.8 1.5 3.3 1.4 7.1 1.7 4.1 0.7 2.5 1.3 2.8 9.2 8.2 2.3 0.2 0.5 2.4 6. jantung.8 8.2 7.7 5.0 0.3 1.9 1.4 0. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker 115 .8 0.3 5.7 0.7 D/G 12.8 0.8 4.4 6.0 0.1 4.6 5.6 2.8 5. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.7 6.5 0.3 Catatan: D=Diagnosa oleh tenaga kesehatan.1 8.5 4.0 1.0 1.7 2.5 3.7 8.4 0.3 0.Tabel 3.0 3.5 4.5 1.8 1.3 3.5 0.5 0.3 0.9 0.5 0.9 2.0 4.9 1.9 5.7 0.

0 4.4 10.0 3.1 11.9 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.8 2.2 0.3 1.2 2.66 Prevalensi Penyakit Asma.1 10.Tabel 3.4 1.9 1.7 3.8 1.6 2.9 1.2 0.4 2.4 6.5 3.1 4.2 1.8 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) <1 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tempat tinggal 0.3 1.2 5.7 0.66 menunjukkan prevalensi penyakit asma.7 1.2 7.0 0.9 1.2 1.3 10.1 19.8 2.2 1.6 0.1 1.0 1. dan tumor menurut karakteritik responden.9 0.1 3.8 5.6 5.2 3.2 0.8 3.6 1.8 0.8 4.4 3.4 1.3 2.8 2.6 6.4 6.0 0.8 9.0 1.2 1.2 2.2 1.7 1.9 9.1 1.6 1.2 2.8 0.7 3.2 1.3 7.2 1.5 0.5 1.6 1.3 3.8 5.1 4.3 6.9 3.4 1.9 1.2 20.7 1.8 1.8 6.5 3.7 0.4 2.8 7.4 2.3 0.1 4.7 5.2 7.7 0.2 8.0 1.8 1.5 10.5 1.5 4.8 1.4 1.3 1.1 8.7 2.4 3.7 0.4 0.0 3. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.4 0.3 0.4 5.0 4.8 7.0 2.9 1. Jantung.7 4. jantung.5 1.8 2.1 1.1 0.0 1. DM.3 0.3 5.7 6.5 8.5 0.8 Desa 2.8 6.4 0.9 Asma (%) D D/G Jantung (%) D D/G Diabetes (%) D D/G Tumor (‰) D Kota 1.1 14.3 0.6 1.4 2.3 0.9 1.0 0.2 7.7 1.4 2.4 3.5 0.2 1.0 0.2 6.4 12.0 2.4 1.9 1.2 0.3 1.1 1.0 2.2 1 1.2 1. Diabetes Mellitus.9 2.2 1.5 1.8 8.8 1.2 7.1 1.0 2.9 10.1 0.2 0.5 2.2 2.7 6.2 8.7 3.5 1.4 8.0 1.5 16.2 0.6 0.6 1.7 5.8 1.7 2.1 4.8 0.0 1. Tabel 3.5 8.9 5.1 116 .9 6.9 4.4 2.7 2.3 5.6 3.1 2.5 2.3 3.5 3.7 0.4 4.7 8.1 6.7 3.5 3.5 1.3 1.1 7.1 1.7 3.0 8.0 2.1 0.3 12.8 6.3 1.0 2.8 2.

5‰).0‰). Gorontalo (3. dan Sulawesi Barat masingmasing sebesar 0. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20. Sumatera Barat (11.8‰). Prevalensi terendah terdapat di Riau (0. Prevalensi buta warna di Indonesia sebesar 7. Prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 4.4‰. DM.6‰). Kep. Gorontalo (15.9‰ jauh di atas angka nasional (2.7‰). yaitu sebesar 13. Menurut tingkat pendidikan. tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (24.1‰). namun untuk DM prevalensi cenderung menurun kembali setelah umur 64 tahun.Tampak bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dengan menurunnya tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.7‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat (25. Sumatera Barat (16.7‰).4‰). Riau (9. Riau (21. Jawa Barat (36. jantung. Prevalensi terendah 117 . Kalimantan Barat. diikuti Sulawesi Tengah (105.2‰). tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (49. Nusa Tenggara Barat (8.67 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4. Provinsi DKI Jakarta ternyata menduduki peringkat teratas untuk prevalensi bibir sumbing.9‰). sebaliknya prevalensi penyakit jantung.9‰). Prevalensi DM paling banyak terdapat pada kelompok pegawai. Prevalensi rinitis di Indonesia sebesar 24. dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah. Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga. menempati urutan sesudahnya. antara lain Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (13. sedangkan DM dan tumor lebih tinggi di daerah perkotaan. sedangkan prevalensi penyakit jantung dan tumor dijumpai lebih tinggi pada perempuan.9‰).Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma.6‰). Sulawesi Tengah (38.0‰). Prevalensi penyakit asma dan jantung lebih tinggi di daerah perdesaan.6‰). Nusa Tenggara Timur (99.9‰).9‰).8‰). Riau (3.Riau (12.8‰).3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18.1‰). Nusa Tenggara Barat (9. Nanggroe Aceh Darussalam (7. Nanggroe Aceh Darussalam (98. prevalensi asma dan jantung paling tinggi pada kelompok tidak sekolah sedangkan prevalensi DM dan tumor paling tinggi terdapat pada kelompok tamat perguruan tinggi. jantung. disusul kelompok petani/nelayan/buruh.3‰).8‰) dan berturut-turut disusul DI Yogyakarta (40. Prevalensi terendah terdapat di Sumatera Utara(1.1‰).4‰. berturut-turut diikuti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (12. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara (5. Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0. Sumatera Selatan (9.4‰).3‰. Prevalensi dermatitis di Indonesia cukup tinggi (67. Kep. dan tumor meningkat dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.0‰).5‰). Untuk Talasemia.4‰). Nanggroe Aceh Darussalam (15. tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (113.5‰).9‰). DM. DKI Jakarta (37.9‰). Prevalensi asma dan DM tidak berbeda menurut jenis kelamin.2‰). DKI Jakara (12.4‰).6‰). Kep. terdapat 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional.6‰. DM dan tumor meningkat dengan bertambahnya umur. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh dan tidak bekerja. Sumatera Barat (19. Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga. Prevalensi penyakit asma.4‰). Sulawesi Tengah (12.3‰) yang diikuti berturut-turut oleh Provinsi Kep.2‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Jambi.5‰). Menurut jenis pekerjaan utama. DKI Jakarta (99. Sumatera Selatan (5.6‰ dan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (18. prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja.7‰).8‰). sedangkan provinsi lain seperti Sumatera Selatan (10. Tabel 3.

5 0.8 0.1 1.0 1. Talasemi.3 3.3 4.4 0.0 13.4 0.4 0.5 113.7 0.6 Buta warna 15.8 3.4 20.1 5.2 3.5 4.5 0.0 0.5 0.5 Hemofili 5.9 32.5 3.8 49.1 94. talasemia.6 0.8 1.5 0.0 62.8 5.1 0.9 14.3 0.5 73.2 2.5 0.8 6.5 27.3 118 .5 19.6 2.8 8.2 1.5 43.8 0.3 92.7 1.8 12.8 53.2 1.8 40.5 1.4 4.4 0.6 1.5 0.4 1.9 34.4 2.3 0.9 1.4 0.2 1.9 0.9 2.6 1.4 1.9 15.0 2.2 0. Sumbing.1 0.3 2.0 0.4 2.2 1.4 0.7 0.6 0.6 0.3 2.5 24.9 20.7 12.6 39.9 30.2 26.6 0.67 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.8 26.5 0.0 40.9 13.8 0.4 1.2 0.6 3.2 11.3 15.5 0.4 0.3 67.1 0.1‰.8 6.4 5.6 18.8 0.1 2.0 3.0 3.9 6.4 0. Riskesdas 2007 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Catatan: *) Penyakit keturunan ditetapkan menurut jawaban pernah mengalami salah satu dari riwayat penyakit gangguan jiwa berat (skizofrenia).2 29.6 4.1 1.5 67.2 1.8 2.2 105.8 0.0 17.2 2.3 1.5 1.6 11.6 0.1 0.8 0.7 38.3 5.1 0.6 7.8 38.4 22.5 99.5 73.5 3.5 3.9 3. glaukoma.6 0.0 21.4 0. Glaukoma.2 22. Rhinitis.7 36.1 2.7 79.3 2.7 1.2 62.3 3.4 1.5 0.2 25.3 5.0 5.7 0. dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0.2 0.8 21.5 1.2 6.4 8.9 1.9 9.3 0.2 27.2 2.4 16.1 0.8 2.4 21.9 1.5 4.1 0. dermatitis.1 0.6 6.4 90.4 47.4 10.3 2.1 1.3 84.6 1.4 8.5 2.9 9.8 1.5 2.1 99.6 5.6 4.5 37.9 6.0 27.6 12.7 6.9 4.9 39.4 11.4 0. Dermatitis.9 0.1 2.6 Sumbing 7.7 26.5 0. buta warna.2 3.5 0.0 24.6 11.5 9.9 92.2 1.9 7.4 3.4 0.1 2.3 0.3 Talasemi 13.8 3.7 2.4 2.4 9.9 1.3 0.8 5. bibir sumbing.6 0.0 9.8 89.8 35.9 1.4 10.2 0.1 0.3 0.1 0.5 0.7 6.7 7.2 6.7 26. Tabel 3.8 13.3 34. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.4 7. Buta Warna.6 53.1 48.4 0.9 8.4 0.4 13.1 23.3 0.3 7.8 3.0 1.9 6.4 Dermatitis 98.1 5.terdapat di Provinsi Lampung. rinitis.8 1.9 1.0 32.2 18. Kalimantan Barat.8 0.4 1.0 64.5 1.6 0. atau hemofilia Jiwa 18.0 12.4 Glaukoma 12.4 0.8 Rhinitis 49.5 10.3 58.8 0.9 8.

4. kelompok yang memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah. kelompok yang tidak bekerja (19. Sumatera Barat (19. Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut.7%). SKRT 1995 juga menggunakan SRQ sebagai alat ukur. Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14.9‰). Riau (21.6%.1%). maka responden tersebut diindikasikan mengalami gangguan mental emosional. Tabel 3.69 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia. yaitu 21.2‰). dan Nanggroe Aceh Darussalam (15.0%). terutama di Provinsi DKI Jakarta (24.0‰). Riau (5.0%) dan yang terendah terdapat di Provinsi Kep. menunjukkan 140 dari 1000 Anggota Rumah Tangga yang berusia ≥ 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.3‰). tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke atas (33. glaukoma.3%). 119 .2 Gangguan Mental Emosional Di dalam kuesioner Riskesdas. prevalensi tertinggi terdapat di DKI Jakarta yaitu gangguan jiwa berat. tinggal di perdesaan (12.68 di bawah ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun. Prevalensi ini bervariasi antar provinsi dengan kisaran antara 5. bibir sumbing.5‰).6%). Prevalensi terendah di Provinsi Sumatera Utara (1.1% sampai dengan 20. Berdasarkan umur. buta warna. serta pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah (pada Kuintil 1: 12.0% Prevalensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20. Dalam Riskesdas 2007 pertanyaan dibacakan petugas wawancara kepada seluruh responden.Demikian juga prevalensi Hemofilia masih terlihat tinggi.6%). Gorontalo (15. Ke-20 butir pertanyaan ini mempunyai pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. Hasil SKRT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 1995. Kesehatan mental dinilai dengan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang terdiri dari 20 butir pertanyaan. Nilai batas pisah tersebut sesuai penelitian uji validitas yang pernah dilakukan (Hartono. Kep. Individu dinyatakan mengalami gangguan mental emosional apabila menjawab minimal 6 jawaban “Ya” kuesioner SRQ. Tabel 3. Dari tabel ini dapat dilihat bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11.5‰). Badan Litbangkes.1%). pertanyaaan mengenai kesehatan mental terdapat di dalam kuesioner individu F01 –F20. dan hemofilia 3. Pertanyaan-pertanyaan SRQ diberikan kepada anggota rumah tangga (ART) yang berusia ≥ 15 tahun. SRQ memiliki keterbatasan karena hanya mengungkap status emosional individu sesaat (± 2 minggu) dan tidak dirancang untuk diagnostik gangguan jiwa secara spesifik. 1995). Nilai batas pisah yang ditetapkan pada survei ini adalah 6 yang berarti apabila responden menjawab minimal 6 atau lebih jawaban “ya”. Lima dari 8 penyakit keturunan yang ditanyakan.

1 20.5 8.2 16.5 7.0 12.9 9.8 12.1 6.7 7.9 13.1 14.9 13.5 5.68 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Gangguan mental emosional 14.0 13.4 7.Tabel 3.8 10.5 7.9 11.6 12.3 10.7 Kabupaten/kota DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Papua Indonesia *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 11.3 11.1 6.5 9.7 11.8 14.7 10.0 9.0 16.6 120 .3 6.2 9.3 6.8 14.

2 75+ 33.4 Pegawai 6.9 Kuintil 2 12.7 Tidak tamat SD 15.2 Petani/nelayan/buruh 11.2 Lainnya 11.9 65-74 23.0 Tamat SMA 7.1 *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 121 .0 55-64 15.0 Perempuan 14.7 25-34 9.4 Kuintil 3 11.0 Tempat tinggal Kota 10.3 Wiraswasta 9.5 Tamat PT 6.8 Tamat SD 12.0 Tamat SD 9.9 45-54 12.1 Kuintil 5 10.7 Jenis kelamin Laki-laki 9.4 Desa 12.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil1 12.8 Kuintil 4 11.7 Pekerjaan Tidak kerja 19.0 Ibu RT 13.69 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Karakteristik Responden Gangguan Mental Emosional Kelompok umur (tahun) 15-24 8.Tabel 3.6 Sekolah 8.0 Pendidikan Tidak sekolah 21.0 35-44 9.

4%).8%. dengan kisaran 1.3 Penyakit Mata Data yang dikumpulkan untuk mengetahui indikator kesehatan mata meliputi pengukuran tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen (dengan atau tanpa pin-hole).8%). diikuti kelompok petani/nelayan/buruh. Sementara itu proporsi terbesar juga berada pada kelompok penduduk yang tidak bekerja. Tabel 3. sedangkan DG adalah proporsi D ditambah proporsi responden yang mempunyai gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau). tetapi terdistribusi hampir merata di semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.73 adalah proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. dengan kisaran 10. Proporsi low vision dan kebutaan cenderung lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Proporsi low vision dan kebutaan pada penduduk berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan. Delapan dari 33 provinsi masih memperlihatkan proporsi low vision lebih tinggi dari angka nasional.72 memperlihatkan bahwa proporsi penduduk usia 30 tahun ke atas yang pernah didiagnosis katarak sebesar 1. dua kali lipat lebih dibanding kelompok umur 35-44 tahun. tabel 3. dan pemeriksaan segmen anterior mata menggunakan pen-light. tetapi tidak pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Data ini 122 .3. Rendahnya proporsi low vision di Papua berkaitan dengan respons rate individu yang rendah.6% (di Provinsi Sulawesi Selatan).72 dan 3.8% dengan kisaran antara 1. makin rendah tingkat pendidikan makin tinggi proporsinya. masing-masing hampir 3 dan 1. Proporsi low vision dan kebutaan pada perempuan cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki. dan jika visus lebih kecil dari 20/20 dilanjutkan dengan pin-hole. tetapi dilakukan pemeriksaan visus tanpa pin-hole.5 kali lipat angka nasional. riwayat katarak.1% di Provinsi NTT. riwayat glaukoma. Keterbatasan pengumpulan data visus adalah tidak dilakukannya koreksi visus.70 menunjukkan bahwa proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. Sedangkan proporsi penduduk yang mengaku memiliki gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau) ditambah dengan yang pernah didiagnosis dalam 12 bulan terakhir secara nasional sebesar 17.4.1% di Provinsi Sulawesi Barat hingga 3. Secara keseluruhan.71 menunjukkan bahwa proporsi low vision makin meningkat sesuai pertambahan umur dan meningkat tajam pada kisaran umur 45 tahun ke atas.7% (di Provinsi Papua) hingga 10.9% dengan kisaran antara 0.1% (di Provinsi Bengkulu). Prevalensi katarak dihitung berdasarkan jawaban responden berusia 30 tahun ke atas sesuai empat butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner individu.3% (di Provinsi Kalimantan Timur) sampai 2. Terdapat 11 provinsi dengan proporsi lebih tinggi dibanding angka nasional. sehingga pemakaian lensa intra-okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi. Proporsi kebutaan tingkat nasional adalah sebesar 0. Proporsi kebutaan tertinggi di Sulawesi Selatan diikuti oleh Provinsi NTT (1.3%. sehingga proporsi tersebut mungkin tidak mewakili keadaan wilayah provinsi terkait secara keseluruhan. Tabel 3. operasi katarak. Keterbatasan pada pengumpulan data katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata menggunakan alat bantu pen-light. Prevalensi low vision dan kebutaan dihitung berdasarkan hasil pengukuran visus pada responden berusia enam tahun ke atas. diikuti peningkatan proporsi kebutaan. mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding angka nasional. Proporsi low vision tertinggi di Provinsi Bengkulu diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (9. Notasi D pada tabel 3.7% di Provinsi NAD.2% di DI Yogyakarta hingga 28. Proporsi riwayat operasi katarak didapatkan dari responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak dan pernah menjalani operasi katarak dalam 12 bulan terakhir.

1 3.4 0.2 4.1 2.8 0.8 4.70 Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.3 1.7 0.8 4.menggambarkan rendahnya cakupan diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan secara nasional (1.9 0.7 3.7 3.5 0.8 3.9 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 123 .5 0.2 1.8% dari 17.5 0.3 0.9 4.4 3.2 3.7 3.4 3.7 0.6 2.1 0.4 1.9 6.0 1.4 1.0 1.0 0.6 0.0 4.5 4.9 2.4 0. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Low vision* (%) 5.4 2.6 0.6 0.6 0.6 2.5 1.1 3.3 1.2 3.9 10.0 0. Gambaran ini juga tampak di seluruh provinsi.2 2. Tabel 3.4 Indonesia 4.5 0.4 1.5 1.5 4.1 0.1 1.3% atau hanya 1/10nya).5 5.4 5.9 5.7 Kebutaan** (%) 1.6 0.8 0.0 4.3 5.0 0.7 9.9 0.

7 Wiraswasta 4.6 25 – 34 1.Tabel 3.8 Jenis kelamin Laki-laki 4.3 0.0 Kuintil 5 4.4 1.8 0.1 Tipe Daerah Perkotaan 4.8 35 – 44 2.9 0.4 Pendidikan Tidak sekolah 19.8 2.3 Ibu RT 5.1 0.3 6.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 4.2 Perdesaan 5.0 1.7 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 124 .6 Kuintil 2 4.0 Petani/nelayan/buruh 6.6 Tamat SMA 2. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Low vision* (%) Kebutaan* (%) 0.3 0.71 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.7 0.2 Pekerjaan Tidak kerja 11.2 0.0 1.4 Lainnya 6.6 0.3 0.3 0.1 5.7 75+ 37.0 0.2 0.1 55 – 64 14.8 0.6 Tamat SD 4.3 0.8 Kelompok umur (tahun) 6 – 14 1.7 1.0 1.1 Perempuan 5.0 Kuintil 4 5.3 3.7 Tamat PT 3.3 Pegawai 2.8 1.2 0.3 0.5 Sekolah 1.1 Tamat SD 2.5 0.9 1.6 Kuintil 3 5.1 15 – 24 1.1 Tidak tamat SD 6.0 13.7 45 – 54 6.7 65 – 74 27.

4 1.5 3.0 11.6 15.3 *)D = proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.4 2.0 20.2 1.0 23.0 2.7 1.3 1.73 menunjukkan bahwa proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan meningkat sesuai pertambahan usia.0 1.0 16.1 28.0 16.6 1.4 Indonesia 1.7 2.6 28.6 1.3 21. Proporsi katarak menurut umur yang dikelompokkan dengan interval 10 tahun memberikan gambaran adanya kecenderungan 125 .Tabel 3.5 2.6 10.8 17. Tabel 3.7 1.6 1.3 1.8 2.2 12.5 DG** (%) 27.0 19.7 20.5 16.5 13.6 20.2 1.3 11.1 14.3 2.6 2.2 18.2 1.0 16.9 14.5 1.2 17. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D* (%) 3.3 1.3 24.4 18.3 17.4 2.8 2.6 27. **)DG= proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir.2 12.1 1.72 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi.1 1.2 10.4 1.5 17.0 1.0 20.0 1.9 1.1 15.3 2.4 1.5 18.

Proporsi terendah ditemukan di Provinsi Papua Barat (5.peningkatan proporsi katarak untuk tiap kelompok umur kurang lebih dua kali lipat dalam tiap periode 10 tahunan. sehingga visus pasca operasi mendekati normal dan hanya sedikit penderita yang memerlukan kacamata pasca operasi.74 menggambarkann proporsi operasi katarak dan pemakaian kacamata pasca operasi pada penduduk umur 30 tahun ke atas. Tabel 3. Kemungkinan lain adalah hasil operasi katarak yang cukup baik.75 menunjukkan bahwa proporsi operasi katarak makin meningkat sejalan dengan meningkatnyan umur. Seperti halnya low vision dan kebutaan.2%) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (31.1%). Proporsi operasi katarak pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan. tetapi tampak bahwa proporsi diagnosis katarak tertinggi ditemukan pada tingkat pengeluaran tertinggi (2%). Pemakaian kacamata pasca operasi katarak di tingkat nasional adalah sebesar 58.7%). Berdasarkan pekerjaan dan tipe daerah. Secara nasional cakupan operasi ini masih sangat rendah. 126 . Tampak pula bahwa proporsi gejala katarak cenderung menurun pada tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi. terdapat penumpukan kasus katarak pada tahun terkait (2007) sebesar 82%.5%). Tabel 3. Proporsi operasi katarak makin meningkat sesuai dengan meningkatnya lama pendidikan. Pemberian kacamata pasca operasi katarak bertujuan mengoptimalkan tajam penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat. proporsi operasi katarak terbesar dijumpai pada kelompok yang sedang sekolah dan tinggal di daerah perkotaan. Proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan. sehingga tidak semua penderita pasca operasi merasa memerlukan kacamata untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Proporsi katarak berdasarkan riwayat diagnosis cenderung lebih besar pada perempuan (1. proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan lebih besar pada penduduk dengan latar pendidikan enam tahun atau kurang dibanding dengan yang memperoleh pendidikan tujuh tahun lebih. Proporsi operasi katarak dalam 12 bulan terakhir untuk tingkat nasional adalah sebesar 18% dari penduduk yang pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan.1% dengan kisaran terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara (21. proporsi diagnosis katarak pada kelompok penduduk yang tidak bekerja lebih tinggi. Proporsi operasi katarak meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga per kapita.9%) dan sedikit lebih besar di daerah perkotaan (2.4%) dan tertinggi di Provinsi Papua (91. Dari aspek pekerjaan.

3 1.6 1.7 1.2 8.6 18.9 2.3 1.2 28.6 1.6 Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.1 17.8 41.0 127 .2 5.3 17.7 1.3 0.7 18.5 19.0 22.6 19.Tabel 3.7 17.8 17.1 8.6 15.4 1.8 1.1 38.8 D (%) DG (%) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 1. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pendidikan < 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 2.4 11.0 9.3 3.5 1.73 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak Menurut Karakteristik Responden.4 4.9 51.9 2.5 1.8 19.3 16.6 13.4 3.1 1.6 8.6 1.1 1.3 16.1 5.4 0.5 7.9 17.

5 70.4 47.1 21.6 11.3 17.8 Pakai Kacamata Pasca Operasi (%) 55.8 43.0 62.9 20.8 22.2 46.7 63.7 62.Tabel 3.9 10.0 49.0 50.7 31.4 49.9 13.7 Indonesia 18.5 50.9 20.4 65.9 10. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Operasi Katarak (%) 13.4 71.4 65.0 54.9 27.0 23.6 5.1 16.1 20.6 22.9 27.8 66.8 8.9 21.1 25.5 72.74 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.0 50.0 54.2 13.3 21.2 18.8 71.0 58.2 34.1 47.0 76.7 66.0 26.5 8.7 81.1 128 .5 90.2 12.8 14.5 20.3 14.5 20.7 46.9 66.5 61.7 27.7 15.7 91.0 18.1 8.

5 17.7 14.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 129 .3 19.2 11.9 57.5 17.2 15.7 60.4 54 65.1 16.9 58.2 19.9 22.6 65.7 14 24. Riskesdas 2007 Operasi katarak (%) Pakai kacamata pasca operasi (%) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama pendidikan ≥ 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.1 59.8 64.4 19.9 46.5 46.Tabel 3.4 52.6 21.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.3 18.5 56.9 18.7 59.4 50.2 22.3 78.9 72.2 20.3 56.2 48 72 59.7 63.4 21.8 18.5 35.3 17 21.4 66.2 56.8 31.2 55.2 13.2 15.

4 Kesehatan Gigi Menuju target pencapaian pelayanan kesehatan gigi 2010. hilang seluruh gigi asli. baik promotif. dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi. Berbagai indikator telah ditentukan WHO. yaitu: Sehat/Promotif (Prevalensi) Rawan (protektif) (Insiden) Laten/Deteksi dini dan terapi (% dentally Fit) % bebas karies pada umur 5 tahun DMF-T 12 th Expected incidence Kecenderungan DMF-T menurut umur DMF-T 15 th DMF-T 18 th MI CPITN RTI MI RTI PTI % protesa PTI % dentally fit Sakit/kuratif (% keluhan) Cacat/ Rehabilitatif (% 20 gigi berfungsi) % edentulous • • • Sumber WHO. Hasil wawancara dan pemeriksaan gigimulut tersebut dapat terlihat pada tabel-tabel berikut. Penilaian untuk kebutuhan perawatan penyakit periodontal Community periodontal index treatment need (CPITN) tidak dilakukan. telah dilakukan berbagai program.1995). Sedangkan pertanyaan tentang perilaku pemeliharaan kesehatan/kebersihan gigiditanyakan kepada masyarakat 10 tahun keatas. Terdapat lima langkah program indikator terkait penilaian keberhasilan program dan pencapaian target gigi sehat 2010. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T. 130 .4. dan jenis perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. preventif. penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5% (WHO. perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. Wawancara dilakukan terhadap semua kelompok umur. Penilaian dan pemeriksaan status kesehatan gigi-mulut dilakukan oleh pengumpuldata dengan latar belakang yang bervariasi. penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M=0). Pemeriksanan ini dilakukan pada kelompok umur 12 tahun ke atas dengan cara observasi (hanya yang terlihat) menggunakan instrumen genggam (kaca mulut) dengan bantuan penerangan senter. dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤2%. 2005 Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. karena pemeriksaan perlu menggunakan instrumen genggam lengkap. karena untuk penilaian CPITN ini diperlukan alat ( hand instrument ) yang spesifik. Analisis untuk dentally fit tidak bisa dilakukan. Dalam Riskesdas 2007 ini dikumpulkan berbagai indikator kesehatan gigi-mulut masyarakat. protektif. antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies. baik melalui wawancara maupun pemeriksaan gigi-mulut.3. penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan. anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi. meliputi data masyarakat yang bermasalah gigi-mulut. kuratif maupun rehabilitatif.

76 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Provinsi.5 1.6% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.Tabel 3.3 4.2 42.1 1.7 19.6 29.4 29.4 37.6 29.6 131 .8 2.9 2.7 0.8 36.9 0.6 22.1 26.2 21.5 33.6 20.6 1.7 1. dan terdapat 1.4 1.4 21.0 28. Prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir adalah 23.9 21.7 1.1 0.7 18.3 22.9 20.9 20.0 23.7 perawatan dari tenaga medis gigi 44.3 31.1 19.5 23.5 24.76 menggambarkan prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.0 1.0 0.1 20.9 34.1 26.1 24.8 0.6 30.7 2.5 31.0 39.2 2.5 27.1 23.2 2.0 3.7 23.0 Hilang seluruh gigi asli 1.0 25.8 25.5 25.5 2.3 27.2 25.4%.0 24.5 22.1 30.5 16.9 30.2 28.2 0. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut terdapat 29.4 19.7 1.4 30.5 33.1 26.2 25.8 31.6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya.7 1.9 1.8 0.4 Indonesia 23.1 34.0 2.0 23.7 21.5 0.7 0.2 1. Riskesdas 2007 Menerima Provinsi Bermasalah Gigi – mulut NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.1 17.8 23.5 25.4 31.2 39.6 22.4 24.3 25.7 15.3 25.7 35.7 0.6 1.6 0. Tabel 3.4 2.

Prevalensi masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan/pengobatan gigi sedikit lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. yaitu ‘pengobatan’ (87. Aceh (30. 175 bayi mempunyai masalah gigi/mulut. dan Sumatera Selatan (10. Mulai umur 65 tahun ke atas persentase yang melakukan penambalan / 132 . jauh di atas target WHO 2010. dan terendah di DKI Jakarta (74.0%).Lima provinsi dengan prevalensi masalah gigi-mulut tertinggi. tetapi mulai kelompok umur 55 tahun prevalensi masalah gigi-mulut menurun kembali.1%). Tabel 3. semakin besar persentase penduduk yang menerima perawatan/pengobatan gigi. disusul ‘penambalan/pencabutan/bedah gigi’ (38. Dari yang mengalami masalah gigi-mulut. dan pada kelompok umur 65 tahun ke atas hilangnya seluruh gigi mencapai 17. Sulawesi Utara (29.3%). Tabel 3. semakin besar persentase yang melakukan penambalan / pencabutan / bedah gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat.9%).3% dan 4. kecuali dalam hal perawatan/pengobatan gigi. Data tentang persentase pencabutan/penambalan/bedah mulut pada bayi (<1 tahun) sebesar 10.5%). Tetapi ada kecenderungan. 54 diantaranya mendapat perawatan dan 6 yang mendapat perawatan pencabutan/bedah mulut oleh karena sebab yang tidak diketahui.0%) dan Bangka Belitung (3.7%). semakin meningkat umur. Meskipun prevalensi penduduk yang mengalami hilang seluruh gigi asli terlihat relatif kecil 1. Menurut tipe daerah. Provinsi dengan prevalensi gigi-mulut terendah adalah Sumatera Utara (16. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Lampung (18. Konseling perawatan/ kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil.9%). sedangkan menerima perawatan/pengobatan gigi di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan.8%) dan Kalimantan Selatan (29. serta persentase penduduk yang mengalami kehilangan seluruh gigi asli sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.6%). Sulawesi Barat (11. prevalensi masalah gigi dan mulut.8% hilang seluruh gigi asli.6%.. Prevalensi masalah gigi-mulut dan kehilangan gigi asli menunjukkan kecenderungan menurut umur.78 menggambarkan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.77 menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi-mulut bervariasi menurut karakteristik responden. Kepulauan Riau (19.5%). Semakin tinggi umur..5%) dan terendah di Maluku Utara (19. Pemasangan gigi tiruan lepas/cekat terlihat tinggi di tiga provinsi yaitu di Kepulauan Riau (12.6%. semakin meningkat prevalensi masalah gigi-mulut.6%).0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (19. provinsi dengan persentase yang menerima perawatan/pengobatan gigi dari tenaga kesehatan gigi tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (44. Prevalensi masalah gigi-mulut ini tidak menunjukkan hubungan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. pengobatan paling tinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (94.9% (6/54) didapatkan dari 16.747 bayi yang diwawancara (orang tuanya).9%).6% Menurut provinsi. Dapat dilihat bahwa jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut. Penambalan/pencabutan/bedah gigi tertinggi di Kepulauan Riau (55.2%).2%).2%). Tidak ada pola yang jelas jenis perawatan gigi yang diterima menurut kelompok umur. Sumatera Selatan (17.5%). Pada kelompok umur 45-54 tahun sudah ditemukan 1. yaitu Gorontalo (33.9%) dan terendah di NTT (23.1%). Tabel 3.2%).3%).4%). DI. masing-masing sebesar 13. Kesadaran untuk melakukan konseling relatif sedikit di semua provinsi (13. namun terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4.79 menjelaskan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut karakteristik responden. Sedangkan yang menerima perawatan/pengobatan gigi tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur. Sulawesi Tengah (31.

6 1.1 27.5 Kuintil-4 23.8 1.pencabutan gigi mengalami penurunan.8 1.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 22.1 28. Pemasangan gigi tiruan sudah ditemui pada kelompok umur anak sekolah dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Menurut jenis kelamin.4 Kuintil-3 23. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur ( tahun) <1 1 .5 23. Sebaliknya untuk pengobatan.3 Tipe daerah Perkotaan 21. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 30.8 26.6 26.4 1.6 31.3 1.6 1.5 Perempuan 24.1 22. pemasangan gigi tiruan lepasan.7 Kuintil-2 23.8 31.3 29. yang melakukan pengobatan cenderung menurun.5 30.6 1.7 1.9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ 1.9 26.6 133 .1 29. pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat dan konseling perawatan gigi lebih tinggi di perkotaan.7 0 0 0 0 0 0. tidak ada perbedaan persentase pemanfaatan jenis perawatan gigi yang mencolok antara laki-laki dan perempuan.1 6. dan melakukan konseling gigi.6 20.6 29. semakin tinggi persentase penduduk yang melakukan penambalan/pencabutan gigi. jenis perawatan penambalan/pencabutan gigi.9 Perdesaan 24.6 21.4 1.7 32 31.4 1.3 37.7 Kuintil-5 23.5 24.3 30.7 37 25.1 0. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Menurut tipe daerah.9 21.5 26.7 28.8 5. sedangkan pengobatan lebih tinggi di perdesaan.9 17.6 Bermasalah Gigi-mulut Menerima perawatan Hilang seluruh gigi asli Jenis kelamin Laki-laki 22.2 28.4 5 .77 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Karakteristik Responden. Tabel 3.

9 1.8 88.3 84.9 4.2 13.4 46.6 2.3 10.7 25.9 7.6 45.1 3.7 34.Tabel 3.7 89.1 85.1 2.8 28.7 5.6 12.7 7.0 3.8 18.0 2.6 81.0 2.8 0.6 87.2 2.2 2.0 0.8 23.5 2.4 2.6 11.0 86.3 6.9 12.0 5.0 80.6 5.9 32.0 2.3 4.1 47.5 74.2 85.7 42.8 81.2 85.8 91.0 2.6 13.2 13.6 1.6 38.4 83.9 83.1 1.2 5.1 83.8 9.6 86.0 39.3 11.2 89.5 16. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tengga Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pengobatan 94.5 53.3 36.5 10.9 43.2 Pemasangan gigi lepasan / tiruan 4.5 4.2 13.3 6.8 9.5 4.9 11.5 15.6 82.9 2.78 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.3 3.3 2.8 34.7 90.6 Lain nya 0.0 86.6 21.6 6.4 9.0 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 13.3 48.9 4.5 10.0 2.8 52.2 2.0 1.7 10.1 20.7 20.5 88.6 92.5 35.9 1.9 35.5 93.2 36.1 3.0 37.1 39.9 5.2 134 .2 4.3 0.4 16.0 1.5 3.3 4.8 9.9 54.1 Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi 32.9 3.4 4.5 42.8 55.5 2.4 14.7 11.0 2.0 43.9 92.5 21.5 25.0 1.7 91.8 42.3 0.0 81.3 2.2 40.8 5.3 2.6 2.2 87.2 12.8 4.7 14.9 4.0 4.3 44.2 Indonesia 87.9 89.1 4.2 15.0 2.3 85.8 1.4 37.0 1.7 90.9 2.8 6.5 45.9 32.6 12.4 14.5 91.3 22.6 21.6 12.

4 37.6 7.0 4.4 87.5 4.7 41.7 93.2 43.5 13.2 2.5 13.7 1.4 3.4 9.9 12.2 10.1 88.1 12.7 13.7 81.4 2.6 10.7%.6% dan sebelum tidur malam hanya 28. dan kapan waktu menggosok gigi dilakukan. 135 .0 1. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan gigi-mulut.2 2.1 43.2 12.7 29.2 11.6 32.79 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden. Proporsi masyarakat yang menggosok gigi setiap hari sesudah makan pagi hanya 12. Jawa Barat (95.Tabel 3.4 87.6 14.5%).2 4.0 88.4 4.5 84.4 11.2 11.5 88.1 2.0 0.4 4. Tiga provinsi yang mempunyai persentase tertinggi dalam hal menggosok gigi adalah DKI Jakarta (98.8 5.3 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 83.0 2.3 14.8 39.1 2.4 13.6 89.2 15.9 9.7 1.0 1–4 5–9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 + Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 84. Untuk mendapatkan hasil yang optimal.3 2.8 1.5%). menggosok gigi yang benar adalah menggosok gigi setiap hari pada waktu pagi hari sesudah makan dan malam sebelum tidur.7 11.5 2.2 89.7%.0 0.3 2.9 36. Sebagian besar penduduk umur 10 tahun ke atas (91.8%).2 14.6 4. dan Kalimantan Timur (95.0 33.3 2.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.8 2.7%) dan Papua (58.6 30.6 2.4 88.3 87.5 35.9 32.1 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 6.4 13.2 2.8 2.1%) mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari.0 89.8 45.5 2.5 90.4 39.9 87.2 3.7 86.5 44.80 berikut ini menggambarkan perilaku penduduk umur 10 tahun ke atas yang berkaitan dengan kebiasaan menggosok gigi.5 6.0 0.4 46.0 3.4 84.4%). Didapatkan bahwa pada umumnya masyarakat menggosok gigi setiap hari pada waktu mandi pagi dan atau sore 90.8 16.6 4.7 39. Riskesdas 2007 Karakterisktik Responden Pengobatan Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi Pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat 0.8 12. juga adanya wilayah yang masih sulit terjangkau informasi akibat keadaan geografi yang bervariasi. sedangkan yang terendah di Provinsi NTT (74.

2 Sebelum tidur malam 20.2 2.0 6.1 4.3%).6 94.8 18.9 95.6 92.8 86.4 28.9 91.5 1.5 3.4 4.2 17.1 15.7 92.1 Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 88.8 3.7 25.8 94.8 2.7 12.6 3.4 13.3 26.7 1.7 40.5 15.5 6.9 44.9 92.7 32.8 1.6 9.2 4.0 32.1 31.3 30.9 27.0%).9 26.7 13.0 95.5 94.6 22.5 94.3 25.4 28.7%) dan Sulawesi Tenggara (26.80 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.7 23.6 26.4 90.8 15.6 Sesudah bangun pagi 27.7 9.9 16.3 97.8 92.7 1.4 41.7 32.5 74.8 92.7 89.2 12.2 90.5 95.7 Provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi setelah makan pagi adalah Papua Barat (30.7 48.8 44.1 18.2 95.3 80.5 94.8 13.5 35.4 91.6 90.9 2.4 89.6 20.7 20.5 92.3 15.7 6. Sedangkan persentase yang terendah di Provinsi Sumatera Barat (5.4 94.2 24.5 96.4 92.7 19.7 94.0 87.1 31.7 2.4 35.9 84.3 5.0 11.7 74.2 1.0 98. Adapun provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi sebelum tidur 136 .9 3.8 94.9 37.2 88.2 86.2 26.7 93.7 3.0 38.0 94.4 27.9 95.9 14.4 95.1 58.Tabel 3.5 34.1 11.7 88.0 25.6 11.9 31.7 85. Lampung (5.8 14.7 3.2 23.3 19.7 Sesudah makan pagi 10.5 95.4 3.3 10.3 16.6 28.1 40.3 94.8 11.2 20.0 3.7 94.3 22.9 89.9 27.2 94.9 34.3 93.0 84.7 32. Maluku (26.3 25.2 9.8 9.0 95.3 20.1%) dan Sumatera Utara (6.0 88.0 37.9 48.5 2.6 31.1 42.5 90.7 1.7 34.9 1.7 86.8 42.0 92.0 16.2 25.9 96.6 9.5 22.8 94.0 84.2 68.4 26.0 16.4 17.4 2.1 91.5 2.6%).1 2.0 9.0 3. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari 87.7 Lainnya Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.8 2.6 93.4 13.0 5.3%) .3 27.4 2.3 12.9 2.9 24.9 12.6 42.3 86.9 22.8 89.7 31.3 17.2 24.6 34.9 46.9 91.9 50.3 92.

5 22.0 90.1%).9 90.5 26.4 3.7 92.8 89.4 11.4 88.6 11..5 91.5 Sesudah makan pagi 11.3 90.7 10.9 21.9 30.8 13.3 91.7 90.8 25. sedangkan yang terendah Provinsi Lampung (14.5 90.5 18.3 10.5 3.8 13.3 4.5 90.1 92.7 13.2 89. Sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Sulawesi Selatan (48.9 Sebelum tidur malam 25.0 91.5 3.3 3.3 25.0 93.2 85.1 30.9 11. Persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.8 3. Begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 26.0 11.8 3.1 92.7 2.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 88. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 90.4 3. NTT (16.5 28. terutama mulai umur 15 tahun ke atas .6 3.4 Menurut tipe daerah.4 24.9 3.1%).malam adalah Kepulauan Riau (50.81 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.2 28.0 94.2 28.8 38. persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur.8 96.2 58. Bali dan Kalimantan Selatan masing-masing (44. Tabel 3.9 29.0 4.2 12.0 4.8 13. Menurut umur.8 91. Tabel 3.81 menunjukkan perilaku penduduk dalam menggosok gigi bervariasi menurut karakteristik responden.5%). persentase penduduk 137 .6 Sesudah bangun pagi 25.6 38.5 31.0 26.7 89.7 27.0 33.9 25.3 14.2 25.0 27.3 26.0%) dan Jambi (17.9 96.0 91.4 27.2 26.6 80.8 11.3 15.6 Perdesaan 88. hanya kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam terlihat lebih banyak pada perempuan.4%).2 11. persentase penduduk menggosok gigi setiap hari maupun semua jenis waktu menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.8 21.9 3.4%).1 25.0 Lainnya Karakteristik Responden Kelompok umur ( thn) 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan 93.3 95.8 91.5 90.4 27. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi penduduk yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.7 4. terutama di perkotaan.6 31.9 3.

6 8.2 97.82 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.1 8.6 90.7 90.2 97.9 7.0 6.8 8.1 92.8 2.menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.4 88.5 82.5 96.2 17.9 3.0 89. Riskesdas 2007 Berperilaku benar menggosok gigi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ya 4.1 95.5 17.3 Indonesia 7.7 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi setiap hari dengan cara yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).5 92.2 8.1 4.8 84.3 93.7 5.4 91.3 9.2 15.8 91.7 91.2 5.3 9.9 7.2 91.3 94.5 7.7 Tidak 95. 138 .8 82.5 3.4 9.8 94.3 94.9 92.9 89.9 91.8 10.1 10.7 5.9 95.7 87.3 92. Pada Tabel 3.0 93.5 15.9 4.6 11.4 5.1 96.6 95.7 6.82 disajikan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.1 7.0 10.5 84.1 92. Tabel 3.3 12.8 2.2 89.

5 35 – 44 7. 139 .2 15 – 24 8.2 94. Sedangkan menurut jenis kelamin. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 92.4%).Dikategorikan berperilaku benar dalam menggosok gigi bila seseorang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari dengan cara yang benar. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.3%) dan Sulawesi Tenggara (15.3 93. persentase penduduk berperilaku benar menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.0 90.5 Jenis Kelamin Laki-laki 6.4 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).2 93.4 Perempuan 8.6 Perdesaan 5.8 25 – 34 8.6 Kuintil-4 7.6 55 – 64 5.0 Tipe daerah Perkotaan 9.1 89.5 93.8 Kuintil-3 6. terutama mulai umur 15 tahun ke atas.6 setiap hari dengan cara Kelompok umur (tahun) 10 – 14 6. Begitu pula menurut tipe daerah.7%) dan Jambi (3. yaitu dilakukan pada saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam.8 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 5.4 94. Sumatera Barat (2.2 Kuintil-2 5.3%.7 45 – 54 6.4 65+ 3.8 94.1%). ada kecenderungan persentase penduduk berperilaku benar dalam menggosok gigi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur. Sedangkan yang terendah di Provinsi Lampung (2.4 94. Menurut umur. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Berperilaku benar menyikat gigi Ya Tidak 93. Tabel 3. persentase perilaku benar dalam menggosok gigi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki. Provinsi dengan persentase penduduk tertinggi dalam berperilaku benar menggosok gigi adalah Papua Barat (17.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden.83 menggambarkan perilaku benar menggosok gigi menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.8 91. Kepulauan Riau (17. Tabel 3. yaitu 7.2 91.7%).5 92.9%). Tampak persentase penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi masih sangat rendah. semakin tinggi persentase yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.6 96.6 92.9 Kuintil-5 10.

68 3.66 3.08 5.55 3. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang.08 0.27 4.60 4. Tabel 3.83 5.02 0.50 1. Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4.16 4.43 1.04 1.06 0.01 6.11 0.85.05 0.98 4.46 4.38 1.84 menyajikan komponen DMF-T menurut provinsi.52 3.85 140 . dan F-T yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang).06 0.53 6. dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan.25 4.66 2.84 0.66 4.05 4.53 3.05 0. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi.21 2.61 4.47 2.05 0.73 4.53 4.73 3.94 3.00 1.02 0.38 0.60 3. Missing/M (gigi dicabut).84 4.16 0.24 1. M.08 0.92 0. Indeks DMF-T sebagai indikator status kesehatan gigi.05 0.71 4.69 3.83 5.50 1.11 M-T (X) 3.12 0.41 1.00 1.19 Indonesia 1.59 4.82 2.89 1.95 1.05 0.39 3.92 3.85 5.84 Komponen D. dan Filling/F (gigi ditumpat).31 1.36 1.27 0.25 3.09 0.02 5.02 3.77 0.34 4.08 0.05 0.42 1.68 1. M-T.02 0. merupakan penjumlahan dari indeks D-T.08 4.05 Index DMF-T (X) 4.34 1.04 1.28 3.35 1.35 1.35 1.60 3.04 0.08 0.01 2.88 1.92 2.38 5.73 3.93 3.37 3.25 4.43 5.08 0.70 3.60 2.08 0.43 5.86. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3.18 4.22 6.84 3.03 5.19 1.22 3.52 3.18 0.44 3.04 0.06 0.05 0.80 1.06 0.01 5.86 0.05 0.13 1.77 1.06 0.02 0.04 0.08 5.96 F-T (X) 0.01 2.90 3.92 4.09 0.06 1. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D-T (X) 1.11 6.04 0.Tabel 3.

Kalimantan Barat (6.90 0.72 0.79 4.22 3.46). hal ini mungkin berkaitan dengan cara dan alat pemeriksaan yang digunakan.27 buah per orang. yaitu Kalimantan Selatan (6.06 Kuintil-3 1.36 5.38). M-T : Rata2 jumlah gigi dicabut/indikasi pencabutan. yang berarti kerusakan gigi rata-rata 18. dicabut maupun ditumpat).90 0.12 Catatan D-T : Rata2 jumlah gigi gigi berlubang per orang.41 0.DMF-T di lima provinsi sangat tinggi. DMF-T lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.27 3. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita .44).92 4.99 0.10 Perdesaan 1.98).47 0.13 0.16 16. F-T : Rata2 jumlah gigi ditumpat. Dikategorikan karies aktif bila memiliki indeks D-T >0 141 .46 18.13 3.DMF-T hampir sama pada kelompok penduduk dengan semua umur tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.05 Kuintil-2 1.08 65 + 1.02 18 0. dan Sulawesi Tengah (5.3.91 0.07 15 0.33 0.55 5. Pada kelompok umur 35-44 tahun DMFT tinggi (4. Tabel 3. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden. Jawa Timur (6.29 4.85 Komponen D.74 0.86 menyajikan prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.26 3.83%).89 4.22 3.87 4.06 Tingkat pengeluaran/ kapita Kuintil-1 1.08 Kuintil-5 1.85 di atas menunjukkan jumlah kerusakan gigi meningkat seiring dengan peningkatan umur berdasarkan Indeks DMF-T.97 per orang.88 0. 0.14 Jenis Kelamin Laki-laki 1. Bahkan komponen yang terbesar adalah M-T (rata-rata gigi dicabut) sebesar 16. DMF-T yang ditemukan pada Riskesdas ini lebih rendah dari temuan SKRT 1995 sebesar 6.14 1.90 0.04 35 – 44 1.57 0.27.4 dan SKRT 2001 sebesar 5.24 0.44 2.41 4.33 4. DMF-T : Rata2 jumlah kerusakan gigi per orang (baik yg masih berupa decay. bahkan pada kelompok umur di atas 65 tahun DMF-T sudah menjadi 18.91 1.77 Tabel 3.89 0.11 3.15 4.83). 1997 dan Kristanti dkk.57 0. (Kristanti dkk. DI Yogyakarta (6.06 Perempuan 1.07 Kuintil-4 1. Riskesdas 2007 D-T (X) M-T (X) F-T (X) Karakteristik responden Index DMF-T Kelompok umur ( tahun) 12 0. M. 2002) Tabel 3.14 0.13 4.22 4.24 3.09 Tipe daerah Perkotaan 1.

0 43.0 42.2 68.7 49.6 39.4 67.9 54.4 50.9 76.1 58.7 55.4 67. prevalensi karies aktif tertinggi 142 . Tabel 3. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.3 Indonesia 43.0 37.1 67.9 77.3 56.9 62.9 34.6 47.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Karies aktif 41.1%.4 39.5% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72.8 43.4 64.1 52.8 40.1 50.0 51.1 72.86 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.4 48.5 86.5 68.9 78.3 37.6 75.2 61.3 60.8 40.1 71.atau karies yang belum tertangani dan mempunyai pengalaman karies bila indeks DMFT >0. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi karies sebesar 46.2 51.1 41.3 47.2 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.2 49.8 40.5 55.2 58.4 75.0 40.8 37.6 44.5 60.2 55.1 43.4 62. Riskesdas 2007 Pengalaman karies 62.6 40.4 75.8 65.0 34. Menurut provinsi.4 77.6 53.1 70.9 71.0 59.6 30.8 77.8 39.5 83.

4 Kuintil-5 42.Jambi (77. Bangka Belitung (50. dan Jawa Timur (76.1 43.7 66.6 18 41. Menurut kelompok umur. tetapi di perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan di peran.6%).9%).4).5 Tipe daerah Perkotaan 42.8%). adalah Bangka Belitung (86.9%). Sedangkan prevalensi karies tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.2%). . semakin meningkat yang mempunyai pengalaman karies.3%).5 Perdesaan 44.8 35 – 44 53. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50. Tabel 3. Kalimantan Selatan (50.8 36.2 65.8%).0 68.1 15 36.4%. Riau (53. Pengalaman karies sedikit lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.87 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden. Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (57.8 68.7%). Sulawesi Utara (82.7 Perempuan 43..9 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.4%). Yogyakarta (52. Maluku (54.5 94. Sedangkan sepuluh provinsi dengan prevalensi pengalaman karies tertinggi. Kalimantan Timur (76.2 50. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.3%). meningkat sampai umur 35-44 tahun dan menurun kembali pada umur 65 tahun ke atas.8%). Riskesdas 2007 Pengalaman karies Karakteristik responden Karies aktif Kelompok umur ( tahun) 12 29. ada kecenderungan semakin meningkat umur. Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.6 68.8 67.6 Kuintil-2 43. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi pengalaman karies (DMF-T>0) sedikit lebih tinggi pada kelompok perempuan dan di perdesaan.8 80.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.1%).(lebih dari 50%) ditemukan di Jambi (56. Maluku (77.2 Kuintil-3 43. seperti tersaji pada Tabel 3.2%).87. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga. DI Yogyakarta (78. Lampung (54.5 65 + 32. Kalimantan Selatan (84. Kalimantan Barat (78.7%) Kalimantan Timur (50.5%).9%).0 66.6%) dan Kalimantan Tengah (76.7%). ada 143 .4 Jenis Kelamin Laki-laki 43.5 64.5 Kuintil-4 44. Sedangkan prevalensi karies.3 67.

1 65.7 27.7 1.1 1.5 69.0 71.2 1.0 27.6 1.5 28.4 1.3 22.kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang mempunyai pengalaman karies.7 Indonesia 25.1 0.9 0.8 68.9 1.6 1.2 83.2 27. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RTI PTI MTI (D/DMF-T)x100% (F/DMF-T)x100% (M/DMF-T)x100% 23.8 24.3 77.9 71.4 1.1 22.2 0.4 77.3 20.0 1.2 1.6 32.2 75.8 19.6 1.6 76.8 102.7 77.5 26.8 35.6 29.4 72.9 26.8 19.5 32.8 33. Tabel 3.2 0.6 1.7 22.6 67.9 83.0 86.0 35.7 76.1 22.6 81.4 8.8 1.2 21.8 74. sedangkan RTI (besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan 144 .2 76.8 25.6%.8 77.6 0.5 1.9 28.9 80.2 33.8 75.2 35.0 70.2 79. Tabel 3.6 88.1 76.8 24.7 16.0 1.6 4.9 0.7 2.8 1.7 91.7 26.9 1.4 31.7 3.9 25.6 79.2 69.7 1.7 19.3 1.6 Dari tabel di atas tampak PTI (motivasi seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap) sangat rendah hanya 1.88 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi.0 70.3 1.88 di bawah ini menyajikan persentase gigi tetap yang ditumpat dan persentase gigi tetap yang karies menurut provinsi. Namun prevalensi karies tidak menunjukan pola tertentu pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 76.7 2.4 1.2 1.6 0.5 18.6 74.1 92.

.6 33. sedangkan nilai RTI kurang lebih sama.3 Jenis Kelamin Laki-laki 26. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 Kuintil-4 24.5 1.2 28.6 78.3 18 63. Terdapat 20 provinsi yang angka RTI-nya diatas rerata nasional dan terdapat 18 provinsi yang mempunyai nilai PTI di bawah rerata nasional.3 Kuintil-2 26.0 Kelompok umur ( tahun) 12 62.3 15 65. Tabel 3.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 26.9 92. Riskesdas 2007 RTI (D/DMF-T)x100% PTI (F/DMF-T)x100% 0.7 80.2%.8 1.8 Tipe daerah Perkotaan 25. Menurut umur.7 79.9 2.89 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden.9 0.0 Catatan: Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T.6 80. semakin baik motivasi penduduk untuk merawat kesehatan giginya.7 1. sedangkan nilai PTI tinggi pada umur 18 tahun. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi pula nilai PTI.penumpatan/pencabutan) sebesar 25. 145 . Berarti semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 Perdesaan 25.8 Kuintil-5 23.7 Karakteristik responden MTI (M/DMF-T)x100% 26.2 1. Nilai PTI di perkotaan dua kali lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. tetapi semakin menurun nilai RTI-nya.1 Kuintil-3 25.4 78.2 80.4 1.6 2.6 78.3 81.1 1.6 1.2 1.1 79. namun menurun pada umur yang lebih tinggi.8 2. Persentase PTI dan RTI pada tabel 3. RTI pada laki-laki lebih tinggi dan PTI-nya lebih rendah dari pada perempuan. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.0 64.8 Perempuan 23.89 menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.4 1. Sedangkan menurut jenis kelamin.4 35 – 44 32. mulai umur 15 tahun nilai RTI cenderung menurun seiring meningkatnya umur. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T.3 65 + 6.

gigi tetap yang hilang semua (edentulous).8 9.0 2.2 2.Tabel 3.3 95.7 5.1 4.2 2.3 2. Tabel 3.5 91.9 3.3 0.4 1.4 0.9 92.0 4.0 1.6 89.9 5.5 Protesa 4.6 3.3 85.8 2.6 3.9 94.0 91.3 3.8 6.6 12.5 2.0 2.5 2.7 10.0 92.7 0.4 1. Proporsi penduduk dengan fungsi gigi normal tertinggi di Provinsi Banten 146 .9 93. Protesa dan Provinsi.8 5.6 0.0 95.0 0.0 86.9 2.90 di bawah ini menyajikan proporsi fungsi gigi normal.5 0.4 90.0 3.0 91.4 2.3 90.5 91.7 3.2 88.9 11.1 1.5 2.0 2. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Fungsi Normal 92.6 Edentulous 2.0% penduduk umur 12 tahun ke atas memiliki fungsi normal gigi (mempunyai minimal 20 gigi berfungsi). dan penggunaan protesa pada responden yang umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.2 4.5 4.0 5.3 4.6 94.2 84.2 94.1 3.1 86.3 95.9 91.0 1.9 7.5%).9 2.0 4.9 4.7 1.8 4.2 91.0 0.0 2.90 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.6 2. lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (86.0 93.5 3.9 4.5 2.7 0. Edentulous.1 93.8 88.5 94.3 1.4 4.1 92.7 1.9 1.0 Indonesia 91.0 2.9 2.5 88.5 Dari tabel di atas terlihat 91.2 93.3 6.1 91.7 1.2 90.1 0.

lebih tinggi dari target WHO pada tahun 2010 (90%) dan SKRT 2001 (91. Proporsi edentulous atau hilang seluruh gigi sebesar 2.9 4. masih jauh di atas target WHO pada tahun 2010 (5%).0 90. Adapun proporsi edentulous penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 17. Tabel 3.9 147 .5 5.9 95.3 90.0 0.4 91. (95.1 5.9 89.1 2. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Riskesdas 2007 Karakteristik Fungsi Normal Edentulous Protesa Kelompok umur ( tahun) 12 15 18 35 – 44 65 + Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 99.91 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.6%.9 41.2%.9 99.3 6.4 5.4 2.0 5.9 2. Protesa dan Provinsi. namun penggunaan protesa miningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.0 4.2%).1 0.1 90.6 1.6%). Edentulous.91 tampak proporsi responden umur 35 – 44 tahun dengan fungsi gigi normal sebesar 95. Dari tabel 3. Proporsi penduduk yang edentulous dan penggunaan protesa meningkat seiring dengan bertambahnya umur.9 5.0 0.0 0.4%). tertinggi ditemukan di Kepulauan Riau (12.7%).3 1.5 1. Secara umum 4.7 1.4 17.3 89.0%). Proporsi penduduk dengan fungsi normal gigi.3%) dan Sulawesi Barat (11.6 5.9 99. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas hanya 41. masih jauh di bawah target WHO (75%) namun masih lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (30. edentulous dan penggunaan protesa bervariasi menurut karakteristik responden. Edentulous lebih banyak dijumpai pada perempuan dan lebih tinggi di perdesaan. fungsi normal gigi dan edentulous tersebar merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.2 90.0% sedikit lebih rendah daripada hasil SKRT 2001 (2.2%).(95. tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (4.0%) dan Keppulauan Riau (3.2 2. Proporsi fungsi gigi normal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding dengan perempuan.1 2. dan Gorontalo (95.2 2.3 91.2 91.9%.2%).5% penduduk telah memakai protesa atau gigi tiruan lepas atau gigi tiruan cekat.6 14.0 0.7 2.2 4.1%).

dengan perincian 13.93). Secara nasional diperoleh nilai rerata Hb untuk perempuan dewasa sebesar 13. 11. seseorang dikatakan anemi bila Hb nya lebih kecil dari nilai rerata Hb nasional untuk kelompoknya (perempuan dewasa. 1 MCV = Ht/Σ eritrosit MCH = Hb/Σ eritrosit MCHC = Hb/Ht 148 . dan 278 spesimen darah ibu hamil.5 Biomedis 3.972 spesimen darah perempuan dewasa (>15 tahun) yang tidak hamil.92 memperlihatkan hasil pemeriksaan berupa nilai rerata Hb untuk perempuan dan laki-laki dewasa. dan MCHC (mean corpuscular haematocrit concentration). dan ibu hamil 11. Salah satu hasil biomedis adalah data anemia. laki-laki dewasa.1 Anemia Data biomedis diperoleh dari pemeriksaan darah vena yang diambil dari 8% responden penduduk perkotaan.1 Ke tiga nilai yang terakhir ini diukur untuk menentukan jenis anemia. yaitu : Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl Hb perempuan dewasa : >12 g/dl Hb anak-anak : >11 g/dl Hb ibu hamil : >11 g/dl Seseorang dikatakan anemi bila kadar Hb nya kurang dari nilai baku tersebut di atas. ditetapkan rentang nilai Hb normal versi Riskesdas untuk ke empat kelompok di atas (Tabel 3. Pemeriksaan anemia terhadap spesimen darah responden semua umur dilakukan di laboratorium kabupaten/kota setempat.67g/dl. 736a/Menkes/XI/1989.00g/dl.81g/dl.751 spesimen darah anak-anak (<15 tahun). dan anak-anak) dikurangi 1 SD (Χ – 1SD).809 spesimen darah laki-laki dewasa (>15 tahun). Dengan nilai-nilai tersebut di atas dan simpangan baku (standard deviation) untuk masing-masing rerata.67g/dl. yang mungkin dapat memperkirakan penyebab anemia tersebut. Bila menggunakan nilai rerata Hb yang diperoleh dalam Riskesdas. laki-laki dewasa 14. Nilai yang diukur adalah kadar Hemoglobin (Hb). anak-anak 12. Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak. MCV (mean corpuscular volume). 8. Telah diperiksa 34.3. Tabel 3. anak-anak dan ibu hamil di perkotaan menurut provinsi. umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No.810 spesimen darah.5. MCH (mean corpuscular haematocrit).

96 12.78 13.8 13.8 14.1 12.75 13.58 14.43 12.03 14.44 15.73 12.00 11.17 12.41 12.67 8.27 11.82 12.9 13.54 11.15 13.22 12.67 12.77 13.01 15.16 15.972 13.11 12.06 10.54 15.32 14.11 12.79 12.62 13.74 14.45 14.55 12.67 278 11.18 15.21 14.49 12.48 14.76 12.14 13.Tabel 3.79 12.76 12.35 13.97 12.78 12.74 13.87 12.21 14.66 12.37 14.36 13.13 13.17 14.33 13.05 168 533 322 39 157 219 221 305 226 57 485 1471 1617 207 1953 307 736 337 160 182 218 253 331 220 125 483 157 75 58 47 70 28 42 Laki-laki dewasa ∑ specimen Nilai rerata Hb (g/dl) 14.75 12.48 13.59 12.61 12.81 149 .85 15.07 12.809 14.36 14.63 15.86 12.97 12.28 12.06 12.12 12.91 13.56 14.02 14.07 13.69 12.76 13.6 13.79 12.65 12.54 14.82 12.5 13.07 Anak-anak (< 14 tahun) ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 115 433 315 41 77 103 175 199 147 20 366 1136 1075 115 1299 169 556 286 170 173 123 181 323 198 123 396 144 57 66 45 57 44 24 13.1 Ibu hamil ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 1 15 8 1 10 5 2 4 0 0 15 50 37 4 28 5 6 8 4 2 11 11 6 7 1 20 10 0 3 0 3 0 1 Indonesia 13.31 12.06 12.25 13.83 12.25 14.53 12.48 13.53 14.8 14.51 14.751 12.22 14.76 14.26 12.17 12.9 12.53 13.52 15.92 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Perempuan dewasa Provinsi ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 288 691 483 73 178 246 229 313 232 48 685 1631 1841 253 2236 327 833 359 184 239 268 295 405 265 157 594 205 86 70 83 95 41 39 13.23 13.

8% (menurut acuan SK Menkes) dan 11.Tabel 3.26 – 13. dan menurut acuan nilai Riskesdas 39 orang (14.83 – 16.7% untuk anemia perempuan dewasa perkotaan.93 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki-laki Dewasa. Anak-anak dan Ibu Hamil. Selanjutnya dari total 33 provinsi.67 11.09 – 14. Tampak bahwa terdapat perbedaan prevalensi anemia menurut kedua acuan baku di atas. Prevalensi anemi secara umum.00 14.8% dan 9.3% dan 19.55 Rerata ± 1SD (g/dl) 11. menurut provinsi. 150 . 68 orang (24.736a tahun 1989.72 1. serta 12.9% (menurut acuan Riskesdas).94 memperlihatkan prevalensi anemia pada perempuan (tidak hamil) dan lakilaki dewasa serta anak-anak. laki-laki dan anak-anak (adjusted for group). Prevalensi anemia ditemukan sangat tinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara.94).58 1.2% dan 13. 12.36 Tabel 3. Tampak bahwa secara nasional prevalensi anemia sebesar 14. Riskesdas 2007 Kelompok Nilai rerata Hb (g/dl) Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak (< 14 thn) Ibu hamil 13.8% untuk anak-anak. setelah disesuaikan untuk perempuan. Terdapat 20 provinsi yang mempunyai prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional.95.51 11.1% untuk laki-laki dewasa perkotaan.28 – 14. menurut provinsi.25 10.0%) menderita anemia. berdasarkan nilai rerata Riskesdas dikurangi 1SD dan berdasarkan nilai baku SK Menkes No.84 1. Berturut-turut mengacu pada batas nilai normal Riskesdas dan SK Menkes adalah 11. untuk kedua acuan nilai di atas. dapat dilihat pada Tabel 3.81 Nilai SD (g/dl) 1.72 12.67 12. ibu hamil yang menjadi responden biomedis (diambil darahnya) adalah sebanyak 278 orang (tidak tampak dalam Tabel 3.5%) di antaranya menderita anemia menurut acuan nilai SK Menkes.

4 6.6 8.5 7.94 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.7 5. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Anemia (%) SK Menkes <12g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.8 5.5 24.1 5.8 28.5 8.5 16.5 16.5 27.6 8.3 9.0 5.4 9.9 24.5 17.4 8.9 23.3 4.8 15.3 21.6 16.9 8.9 21.6 8.5 17.7 18.8 7.3 10.7 13.2 12.6 18.4 11.7 24.3 4.2 12.2 9.6 16.1 7.7 13.6 19.8 15.9 11.8 7.0 12.9 24.5 5.7 Indonesia 19.1 34.0 18.8 5.4 11.6 6.4 19.3 6.0 29.2 10.2 25.8 9.6 13.1 12.7 11.1 5.1 8.3 7.8 23.3 17.8 27.8 7.8 10.4 22.9 4.7 38.2 17.3 13.4 27.3 14.0 8.2 19.8 15.2 14.4 12.9 14.8 16.83g/dl Anak-anak Anemia (%) SK Menkes <11g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.8 16.1 25.0 13.4 19.4 11.4 10.0 19.0 19.9 8.3 14.7 19.28g/dl Laki-laki Anemia (%) SK Menkes <13g/dl Anemia (%) Riskesdas <12.8 12.9 12.5 12.1 13.7 5.8 5.4 9.3 21.6 13.4 14.4 9.3 9.0 14.3 16.6 19.3 17.8 151 .0 16.4 15.6 17.7 10.3 19.7 11.6 10.0 31.9 43.4 18.0 10.3 13.7 19.2 12.8 8.2 14.3 5.6 8.7 5.0 8.09g/dl NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 20.3 20.8 10.2 8.3 14.1 16.1 9.1 19.9 3.4 2.9 20.6 17.5 10.9 28.4 12.8 26.0 9.8 5.5 18.6 7.1 7.5 10.8 14.9 8.1 13.4 13.1 3.3 25.8 10.0 17.4 21.7 11.2 12.2 7.2 2.6 13.8 13.3 12.6 5.2 17.2 14.9 10.Tabel 3.9 15.4 12.1 16.8 26.1 17.7 5.6 17.6 17.6 4.1 12.9 8.4 12.1 23.0 16.8 20.1 26.5 12.6 9.9 23.1 12.8 20.9 31.5 12.5 25.1 8.4 14.7 11.7 5.5 14.

0 12.6 16.3 24.2 13.6 17.7 13.9 12.7 14.0 8.6 11.9 11.1 14.5 18.8 7.6 12.2 15.1 18.9 Indonesia 14.4 22.6 29.8 12.7 14.8 11.1 6.95 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.4 15.2 10.8 11.7 10.2 19.0 10.6 16.4 21. Riskesdas 2007 Prevalensi anemia (%) (disesuaikan menurut kelompok perempuan dewasa.5 9.4 16.9 4.1 9.2 15.3 9.1 9.0 11.4 10.9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 16.7 17.2 18.0 16.7 25.8 5.5 19.6 18.Tabel 3.9 152 .2 21.0 9.9 13.7 10.3 9.5 23.8 12.5 6.4 17.7 14.0 19.6 15.1 25.9 12.2 15.0 5.2 31. Provinsi laki-laki dewasa dan anak-anak) Menurut SK Menkes Menurut Riskesdas 12.1 19.

juga dilakukan pemeriksaan hematokrit.normokromik biasanya karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut. Anemia mikrositik-hipokromik. Jenis anemia pada ibu hamil sebagian besar adalah anemia mikrositik hipokromik (59% dari ibu hamil yang anemia). anemia mikrositik hipokromik ini lebih besar proporsinya pada anak-anak. Tabel 3.97). Anemia makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12. Anemia normositik. Sebaliknya. eritrosit.96 memperlihatkan jenis anemia terbanyak pada orang dewasa dan anak-anak adalah anemia mikrositik hipokromik (60.Sesuai bentuk dan warna (morfologi) sel darah merah. dikenal beberapa jenis anemia2. Sedangkan anemia jenis normositik normokromik lebih banyak dijumpai pada laki-laki dewasa. penyakit kronis tingkat lanjut. Hasil pemeriksaan Ht dan eritrosit ibu hamil cenderung lebih rendah dibanding kelompok dewasa lainnya.2%). Jika dibandingkan antara anak-anak dan dewasa. atau keracunan timbal. biasanya karena kekurangan zat besi. lekosit dan trombosit (Tabel 3. kadar lekosit ibu hamil cenderung lebih tinggi. yaitu : Perempuan : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Laki-laki : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Perempuan dan laki-laki : Anemia Hipokromik : Anemia Normokromik : Anemia Hiperkromik : MCHC <33 % MCHC = 33 – 36% MCHC >36 % MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl serta kombinasi dari jenis-jenis di atas. Selain kadar Hb dan jenis anemia. 2 Mikrositik = ukuran sel darah merah <normal Normositik = ukuran sel darah merah normal Makrositik = ukuran sel darah merah >normal Hipokrom = warna sel darah merah lebih muda dari normal Normokrom = warna sel darah merah normal Hiperkrom = warna sel darah merah lebih tua dari normal 153 .

7 – 10.8 – 43. tampak bahwa ibu rumah tangga mempunyai prevalensi anemia tertinggi. Menurut pendidikan. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah prevalensi anemia.2 – 5.1 4.3 11.Tabel 3.4 Anemia Makrositik Anemia lainnya *Anemia menurut nilai baku Riskesdas Tabel 3.0 KELOMPOK Eritrosit (juta/µl) Lekosit (ribu/µl) Trombosit (ribu/µl) 38.0 – 10.7 – 11.3 4.4 193.5 187.8 4.0 – 40.5 10.9 Tabel 3. kelompok kuintil 154 .7 – 39.8 30.5 – 4.1 0 4.3 – 9.8 4.0 – 379.5 1. Menurut umur.2 30.3 14.1 – 342.98 menggambarkan prevalensi anemia berdasarkan kelompok umur.2 Anemia Normositik Normokromik 0.1 – 12.4 70.2 27.8 – 444.4 – 5. pendidikan.3 14.0 29. diikuti dengan kelompok usia lanjut (75 tahun ke atas) (17. tertinggi dijumpai pada kelompok usia anak balita yaitu 27.6 – 321.5 6.97 Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Hematokrit (%) Anak 1 – 4 tahun 5 – 14 tahun Dewasa Laki-laki Perempuan Ibu Hamil 31.8 21.3 – 6.1 6.9 174. Menurut pekerjaan.7 33.1 6.1 – 48.7%).1 59 60.2 3.9 20.8 31.9 33.0 – 5.7 5.7%.9 24.2 259.2 – 46. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.96 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak N Kelompok Anemia* Anemia (%) Mikrositik Hipokromik Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Ibu hamil TOTAL 1581 1445 1118 39 4183 59.4 3.5 – 354.7 5. pekerjaan dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.2 221.

9 7.2 6.0 7. Tabel 3.7 10.7 9.9 6.9 5. makin rendah prevalensi anemia.98 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Pendidikan Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Anemia 27.7 10.0 5.3 5. Makin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.0 11 10 9 7.0 6.6 7.1 mempunyai prevalensi anemia tertinggi (11%).6 7.4 6.5 5.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 155 .5 8.1 4.4 8.1 6.4 17.5 6.6 10.

diikuti NTT (1. Angka total DM merupakan gabungan dari persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM. DM. Setelah diambil. Serum (300 µl) segera diperiksa (< 4 jam) untuk mengetahui kadar glukosa darah menggunakan alat kimia klinis otomatis atau fotometri. Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11.2% DDM* 1. Kriteria inklusi pemeriksaan glukosa darah adalah usia 15 tahun keatas. dan persentase responden yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita DM – baru terdiagnosis dalam Riskesdas ini – yang dalam laporan ini disebut Undiagnosed Diabetes Mellitus (UDDM).2% Total DM*** 5.100 menunjukkan prevalensi TGT dan DM pada penduduk urban Indonesia menurut provinsi. Tabel 3. Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat 156 . diikuti Riau (10.< 200 mg/dl > 200 mg/dl : Tidak DM : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) : Diabetes Mellitus (DM) Tabel 3. Prevalensi DM terendah di Papua (1. Prevalensi total DM 5. diberi makanan cair 300 kalori.3.7%. atau dalam laporan ini disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM).8%). Secara umum prevalensi TGT yang didapat dalam penelitian ini hampir dua (2) kali prevalensi DM.7% *DDM = Diagnosed Diabetes Melltus (Responden sudah mengetahui dirinya DM) **UDDM = Undiagnosed Diabetes Mellitus (Responden belum mengetahui dirinya menderita DM.4 %) dan NAD (8.5% UDDM** 4. yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan: < 140 mg/dl 140 . darah didiamkan selama kurang dari 30 menit.99 Prevalensi TGT.5.99 memperlihatkan prevalensi TGT dan total DM pada penduduk perkotaan Indonesia. DDM dan UDDM pada Penduduk Perkotaan.5%). Untuk menegakkan diagnosis DM dipergunakan rujukan menurut WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003. kecuali pasien yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus (DM) (dikonfirmasi oleh dokter koordinator tim laboratorium). Responden dipersiapkan puasa 10 – 14 jam sebelum diambil darah. tetapi responden yang telah mengetahui dirinya menderita DM (DDM) hanya 1.2 Diabetes Mellitus Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada responden usia 15 tahun keatas yang berjumlah 24. Sisa darah dikirim ke Laboratorium Balitbangkes Jakarta untuk pemeriksaan variabel lainnya. tidak hamil (alasan medis dan etika).1%). kemudian diberi pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori).5% (kira-kira 26% dari total DM). Pengambilan darah vena sebanyak 15 cc dilakukan setelah dua (2) jam pembebanan. Riskesdas 2007 TGT Penduduk perkotaan Indonesia 10. baru terdiagnosis saat pemeriksaan Riskesdas) ***Total DM = DDM + UDDM Tabel 3.7%). segera disentrifus dan diambil serumnya.417 responden dari sampel perkotaan saja.

4 3.0%).2 5.7 4.4 4.101 menggambarkan prevalensi TGT dan DM berdasarkan karakteristik responden.5 1.100 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan.1 5.3 9. DM lebih banyak dijumpai pada perempuan (6.0 4.6%).3 8.6 6.4%) dibanding lakilaki (4.9 6.1 10.1 5.7 3.5 12.2 5.5 5.3 4.9.2 17.1 8.1 3.4 6.3 3.7 Tabel 3.8 11.3 8.7 10.3 7.9 21.0 7.8%).6 10.8 11.2 7.0 6.4 5. sedangkan terendah di Jambi (4%).1 10. dan Sulut (17.1 4.2 8.9%) .5 4.6 3.8 6.3%).9 12. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TGT (%) 12.0 6.2 3.0 11.2 6.7 17.(21.3 9. Tabel itu menunjukkan DM dan TGT meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.8 13.1 1.6 4.5 8.2 14.3 6.7 Indonesia 10. diikuti NTT (4.6 4.8 5.5%) lebih tinggi dibanding laki- 157 . diikuti Sulbar (17.8 5.6 3.3 8.4 11.6 10.7 Total DM (%) 8. demikian juga TGT pada perempuan (11.0 7.3 6.3 9. Tabel 3.0 8.8 7.

prevalensi DM danTGT meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.8 65 – 74 21.9 25 – 34 11. Tampak bahwa masih banyak di antara mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.5 4.1 4.3 Tidak tamat SD 10.6 Pegawai 9.1 Kuintil-4 10.9 1.6 Tidak bekerja 6.7%).0 12.5 4.8 5.5 Perempuan Pendidikan 13.5 14.0 5.9 Tamat SMA 9.laki (8.8 9.0 5.6 1.0 10.5 Sekolah 11. Tabel 3.4 Tamat SD 9. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 Kuintil-3 10.7 Laki-laki 11.3 55 – 64 17.0 5.5 13. diikuti pegawai dan wiraswasta.9 Kuintil-2 10.7 75 ke atas Jenis kelamin 8. Riskesdas 2007 Karakteristik TGT (%) Total DM (%) 0.102 memperlihatkan persentase kadar glukosa darah responden yang telh mengetahui dirinya menderita DM.8 45 – 54 15.9 2. Ditinjau dari segi pendidikan.3 5.3 7.3 15 – 24 6.6 Tamat SMP 8.3 Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita per bulan 8.101 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.8 Tamat PT Pekerjaan 12. setelah dua jam pemberian makanan cair 300 kalori. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok tidak sekolah dan tidak tamat SD.0 7.0 4. 158 .9 Tidak sekolah 12.5 35 – 44 12.4 8.4 4.1 Kelompok umur (tahun) 5. yaitu 75.5 Kuintil-5 Tabel 3.9 Wiraswasta 6.8 Kuintil-1 8.7 Ibu rumah tangga 10. atau disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM).9 5.6 6. Menurut jenis pekerjaan.9 6.9 5.0 Petani/nelayan/buruh 10. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja.9 8.9% (kadar glukosa > 140 mg/dl).

2% Tabel 3. Tabel 3.102 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.4 Perut Hipertensi 159 . Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.3 9.103 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT. Obesitas Abdominal dan Hipertensi Karakteristik Responden IMT Kurus Normal BB lebih Obesitas Obesitas sentral Tidak obesitas sentral Hipertensi Tidak hipertensi TGT 10.4 7.3% 24.8% 59. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.3 15.7% >= 200 mg/dl 49.7 4. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok yang mempunyai aktifitas fisik kurang Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Jenis Kelamin < 140 mg/dl Laki-laki Perempuan Total 33.1 9.9 9.0 9. juga pada responden dengan obesitas sentral.< 200 mg/dl 17.3 9.1% 66.4 DM 3. Menurut aktifitas fisik.1 12.8% 15.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.1% Kadar Glukosa Darah 140 .9% 16.0 3.104 menunjukkan prevalensi DM dan TGT kurang lebih sama pada kelompok yang mengkonsumsi sayur buah < 5 dan ≥5 porsi/hari. Tabel 3.1% 17.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.1 15. juga pada responden dengan obesitas sentral.7 4.3 16.1 8.

Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (12.punggung. 160 .7 Aktifitas Fisik Cukup Kurang 3. dada. Prevalensi jatuh paling besar terdapat di Provinsi DKI Jakarta 67.525 orang.5 10. Banten.2% kemudian Provinsi DI Yogyakarta 43. Jawa Tengah. Gorontalo (11. pergelangan tangan dan tangan.104 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Karakteristik Sayur Buah > 5 porsi/hari < 5 porsi/hari TGT 10.5%.0%. Yang dimaksud cedera dalam Riskesdas 2007 adalah kecelakaan dan peristiwa yang sampai membuat kegiatan sehari-hari responden menjadi terganggu. Sulawesi Barat.2 DM 4.105 memberikan gambaran bahwa dari 33 provinsi di Indonesia. Nusa Tenggara Timur. leher.0 4. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensinya rata-rata kecil atau sedikit. Tabel 3.6.8% . diperoleh prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3. Maluku. panggul).2%). siku dan sekitarnya (siku dan lengan bawah). Pembagian katagori bagian tubuh yang terkena cedera didasarkan pada klasifikasidari ICD-10 (International Classification Diseases) yang mana dikelompokkan ke dalam 10 kelompok yaitu bagian kepala.4%. Kalimantan Selatan (12. Sedang prevalensi yang terkecil terdapat di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45.44.1%). Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bengkulu 44. Papua Barat. dan Jawa Barat.6%.0%).0% yang diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur 64.9% dengan rerata 7.3%.9%) sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3.8%. Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12. Sulawesi Tenggara.3 10. Ditemukan prevalensi kecelakaan transportasi di darat antara 14. perut dan sekitarnya (perut.9%.9%).1 Cedera Kasus cedera Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan wawancara.9 5. lutut dan tungkai bawah. Sulawesi Tengah (10.1%).7 5. Ada 18 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional. kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/tumpul. sedang yang terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 14.6 Cedera dan Disabilitas 3. DKI Jakarta (10. selebihnya di bawah 10 %.8%-12. Ada 11 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional yaitu DKI Jakarta. dan Papua Barat (10. Cedera yang ditanyakan adalah yang dialami responden selama 12 bulan terakhir dan kepada semua umur.8%).Tabel 3. Jawa Timur.1 11. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh.1%). bahu dan sekitarnya (bahu dan lengan atas). Responden pada umumnya mengalami cedera di beberapa bagian tubuh (multiple injury). Jumlah responden yang ditanyakan tentang cedera sebesar 973.2% di mana reratanya 25. tumit dan kaki. Rerata penyebab cedera karena jatuh 58.

Penyebab cedera yang sedikit menonjol adalah penyerangan.7%). Akan tetapi prevalensi cedera karena jatuh (58.9%) terdapat pada kelompok umur 15-24 tahun.0%).6%) dan terendah pada ibu rumah tangga (19. Penyebab cedera karena jatuh terdapat pada mereka yang masih sekolah (63. prevalensi cedera merata pada semua tingkat pendidikan hanya sedikit lebih banyak pada responden yang tidak tamat SD.2% terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Papua 4.0%) dan terendah pada mereka yang tamat perguruan tinggi. Prevalensi cedera tertinggi karena kecelakaan transportasi di darat terdapat 161 . Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan besaran prevalensi cedera menurut status ekonomi. Penyebab cedera lain hampir merata di setiap provinsi. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa prevalensi cedera hampir sama atau seimbang tingkat pengeluaran antara kuintil 1 sampai dengan kuintil 5.3% cedera terdapat pada mereka yang masih sekolah dan yang terendah pada ibu rumah tangga (4.0%) dan terendah pada yang bekerja sebagai pegawai 37. Kelompok umur lainnya hampir merata kecuali pada bayi (kelompok umur < 1 tahun). Tabel 3. Prevalensi tertinggi pada responden yang tidak sekolah (64. Prevalensi cedera yang disebabkan oleh kecelakaan transportasi di darat tertinggi pada mereka yang pegawai (53.7% melebihi angka prevalensi Nasional yaitu 20. Prevalensi penyebab karena jatuh tertinggi terdapat pada kelompok umur di bawah 14 tahun kemudian di atas 75 tahun.4%. Namun jika dilihat dari penyebab kecelakaan maka didapatkan bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan transportasi di darat terdapat di kota sekitar 30. Penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pendidikan.4%). Secara umum.6% dan terendah ditemukan di Provinsi DKI Jakarta 8. diperoleh sebanyak 9. Sedang penyebab cedera karena jatuh berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan yaitu semakin meningkat tingkat pendidikan maka prevalensi jatuh semakin menurun. Adapun untuk penyebab cedera jatuh menunjukkan prevalensi meningkat pada umur muda kemudian menurun dan merambat meningkat lagi di umur tua. Jika ditinjau dari lokasi tempat tinggal prevalensi cedera tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara perkotaan dan pedesaan.106 menunjukkan bahwa untuk prevalensi cedera menurut kelompok umur yang menduduki peringkat tertinggi adalah umur 5-14 sekitar 9.9%. Penyebab cedera yang lain hampir sama pada semua tingkat pendidikan. cedera terbanyak pada laki-laki dan penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat juga terdapat pada laki-laki sedangkan penyebab cedera jatuh dan karena benda tajam terbanyak pada perempuan.2% dan terendah pada pegawai 15.9%. Tabel 3.2%) dan terendah pada yang tidak sekolah (13. Prevalensi tertinggi terdapat pada mereka yang tamat perguruan tinggi (50. Jika dilihat dari tingkat pendidikan. menunjukkan angka prevalensi tertinggi sekitar 5.106 juga menampilkan prevalensi cedera menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan.6%) ditemukan pada responden yang bertempat tinggal di desa.5%) dan terluka benda tajam dan tumpul (23.2%) yang diikuti pada mereka yang bekerja sebagai wiraswasta (45. Ada 14 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.5%) dan terendah pada yang tamat perguruan tinggi (36. Prevalensi cedera karena terluka benda tajam atau tumpul tertinggi pada ibu rumah tangga 32.Adapun untuk prevalensi terluka karena benda tajam/tumpul paling tinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah 33.3%). Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam atau benda tumpul terdapat pada mereka yang berpendidikan tamat SD (26. Prevalensi penyebab cedera akibat kecelakaan transportasi di darat mengelompok pada umur antara 15 – 54 tahun dan prevalensi yang lebih tinggi (47. Bila dilihat dari jenis pekerjaan.8%).7%.1% dan diikuti oleh kelompok 15-24 (9.3%. Penyebab cedera lainnya merata pada laki-laki dan perempuan.

8% di Provinsi Nusa Tenggara Barat. prevalensi cedera pada kepala.9%). Perbedaan yang agak menyolok terdapat pada cedera di bagian siku/lengan 20. Prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala.9%).9%. Prevalensi cedera di bagian siku tertinggi diderita oleh responden yang berusia 15-24 tahun dan kelompok umur 5-14 tahun masing-masing 24. bagian lutut dan tungkai bawah 47.4%).7%).6% di Provinsi NAD.3%) dan pada mereka yang bekerja sebagai petani/buruh (9. bagian perut/punggung/panggul 14.6%) dan pinggul (6. Jika dilihat dari tingkat pendidikan ditemukan bahwa prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala (12.107 menunjukkan prevalensi tertinggi bagian tubuh yang terkena cedera berdasarkan provinsi sebagai berikut: bagian kepala 18.0%). (11. Untuk cedera di dada (3. Ditinjau dari lokasi tempat tinggal responden. kelompok umur 15-24 tahun dan yang dialami oleh kelompok 75 tahun ke atas .3%) kebanyakan mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yang diikuti responden yang tamat SMP (11. bagian pinggul/tungkai atas 11. perut (7. tumit dan kaki kebanyakan pada laki-laki dibanding perempuan. Tabel 3. Selanjutnya untuk cedera di bagian pinggul dan tungkai atas kebanyakan diderita oleh kelompok 75 tahun keatas (15. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam/tumpul tertinggi terdapat pada kuintil 2 (21. dada dan perut menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan menunjukkan bahwa untuk kuintil 1 sampai dengan kuintil 5 terlihat hampir seimbang.3% di Provinsi Nusa Tenggara Barat.3%). bagian siku/lengan bawah 29.4%) sedangkan penyebab cedera tertinggi karena jatuh terdapat pada kuintil 1 (63. Sumatra Selatan (16.5%). Prevalensi cedera di kepala tertinggi dialami oleh responden yang bekerja lainnya (13.5%. bahu. Selebihnya provinsi-provinsi yang lain prevalensinya di bawah 15%. bagian bahu/lengan atas 14. leher. bagian pergelangan tangan dan tangan 38. bahu/lengan atas didominasi oleh kelompok umur < 1 tahun masing-masing sebanyak (50.5% di Provinsi Kalimantan Selatan. Untuk dicedera di bagian perut kebanyakan pada responden yang tidak sekolah (11.8%).6%). Adapun untuk cedera di lutut sebagian besar dialami kelompok umur 5-14 tahun (46.1%).8%.0%) diikuti yang tidak bekerja dan wiraswasta. Sedangkan cedera di bagian tangan tertinggi di kelompok 25-34 tahun sebesar 34. perut/punnggung/panggul. leher seimbang antara perkotaan dan perdesaan.5% di Provinsi DKI Jakarta. masing-masing 12. cedera lainnya hampir berimbang di setiap tingkat pendidikan. dada.1%).pada kuintil 5 (34. DI Yogyakarta (16.4% di Provinsi Papua Barat.2%.108 menggambarkan bahwa cedera di bagian kepala. bagian dada 8. (3. bagian tumit dan kaki 30.7%).7%). siku. (15.7%).2%). Papua (16.9%).7%). (6.5% di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). bagian leher 3.1%). Cedera pada dada (3. dada. Cedera pada pinggul/tungkai atas terbanyak pada ibu rumah tangga 36. Tabel 3.6%).0% dan 20.6% di Provinsi Kalimantan Barat.3%). Sedang cedera pada lutut dan tungkai bawah terdapat pada responden yang masih sekolah (43. Leher.1% . Beberapa provinsi yang prevalensi cedera di bagian kepala dan di atas angka prevlensi Nasional adalah Provinsi Kepulauan Riau (18. lutut/tungkai bawah. Prevalensi bagian tubuh yang mengalami cedera di kepala.6% dibanding 14.8%) terbanyak pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sedangkan prevalensi cedera di bagian perut kebanyakan pada ibu rumah tangga (9. Papua Barat (18.7%) dan kelompok umur 1-4 tahun (43. Sulawesi Utara (16.0%).5% di Provinsi Papua.3%) kebanyakan pada responden yang bermukim di perdesaan. Untuk cedera di bahu seimbang antara umur < 1 tahun. Jambi (16.9%). hanya prevalensi tertinggi bagian 162 . pergelangan (28.9% di provinsi Kepulauan Riau.5%). NAD (17.

dan lainnya 1. lebih sering pada laki-laki.3% terdapat pada Provinsi Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. Rerata prevalensi jenis cedera patah tulang 4. Menurut kelompok umur. Sedang prevalensi tertinggi cedera pada pinggul terdapat pada kuintil 3 dan cedera pada lutut pada kuintil 4.4%.8% . dan Papua.4%.tubuh terkena cedera untuk bahu dan siku pada kuintil 5. Ada 5 provinsi yang angka prevalensi jenis cedera benturan di atas angka rerata secara Nasional yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan.0%.8%. Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar relatif kecil yaitu 2. Kejadian keracunan lebih sering dijumpai pada kelompok umur 75 tahun ke atas. Sebanyak 16 provinsi mempunyai angka prevalensi di atas angka rerata Nasional.2%.5%.9%.6%).3%).6%. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu 9. Berdasarkan tabel 3. Tabel 3. prevalensi luka bakar paling banyak dijumpai pada kelompok umur di bawah satu tahun/bayi (3. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet di atas angka rerata Nasional. Rerata prevalensi cedera akibat luka lecet sebesar 50. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan Kepulauan Riau sama-sama 3. Tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 36. 163 . Maluku. Ditemukan sebanyak 14 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka rerata Nasional. Rerata prevalensi jenis cedera yang lain relatif kecil. Gorontalo. Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka sebesar 25. dan lebih banyak di perdesaan.5%.2 % yang terdapat Provinsi Kalimantan Barat. Rerata prevalensi jenis cedera terkilir/teregang 20. keracunan 1. Prevalensi tertinggi sekitar 33. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka prevalensi Nasional. Prevalensi tertinggi 60. Rerata prevalensi jenis cedera anggota gerak terputus (amputasi) 1.1% terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang diikuti oleh Provinsi Maluku (46.0%. Prevalensi jenis cedera karena benturan tertinggi adalah 47.0%.110 menunjukkan jenis cedera berdasarkan karakteritik responden.109 memperlihatkan bahwa rerata prevalensi jenis cedera karena benturan adalah 42.

4 0.5 Jatuh 48.1 3.3 0.0 0.9 4.8 17.7 56.1 0.2 0.3 0.1 51.1 0.6 0.4 62.0 0.4 0.1 56.6 12.4 0.2 0.5 0.8 1.8 1.4 senja ta api 0.9 20.5 0.6 1.9 0.8 0.0 58.1 0.0 0.1 10.2 0.3 0.5 22.7 0.1 0.5 4.9 1.2 0.9 0.0 0.1 0.1 Kontak racun 1.2 0.0 0.6 0.1 0.8 25.7 19.7 22.1 0.2 0.4 31.1 0.4 9.0 0.9 0.0 0.0 0.5 0.1 0.2 0.I Y Jatim Banten Bali N.1 0.2 0.3 3.7 0.2 0.8 0.0 0.8 24.1 0.1 0.3 24.3 0.7 14.5 0.7 2.9 2.5 0.8 1.0 0.6 0.6 1.7 54.1 0.6 23.1 0.9 4.9 1.3 0.1 0.4 0.7 43.8 1.5 1.1 0.0 0.1 0.6 0.2 35.9 10.2 0.1 30.0 0.0 4.4 0.1 0.5 25.4 1.6 29.6 5.2 0.0 4.0 28.8 5.0 0.2 0.3 0.2 Bunuh diri 0.1 0.2 0.1 0.0 0.1 50.1 0.2 0.5 0.2 0.3 4.0 0.3 0.9 0.3 64.2 0.6 0.2 1.1 0.1 Komplikasi 0.5 0.0 6.8 1.2 0.0 3.2 3.1 0.4 0.3 2.8 7.7 30.0 0.0 0.4 0.0 0.8 49.1 0.6 9.6 22.4 67.0 0.5 0.5 1.0 0.2 0.3 0.0 0.0 0.1 0.3 0.5 0.8 62.4 0.5 0.9 laut 0.9 21.0 0.2 1.1 0.B N.7 3.2 0.2 0.9 4.0 0.9 1.0 0.9 55.2 0.8 0.6 0.5 darat 35.7 0.4 1.8 16.2 0.5 0.2 0.7 0.0 0.2 0.7 24.4 1.1 0.6 56.7 57.7 164 .3 31.0 8.2 0.6 Serangan 2.1 0.1 0.0 0.8 17.2 30.0 0.5 64.4 0.0 0.9 30.2 0.6 2.2 8.3 53.1 0.7 2.0 0.0 0.9 0.0 0.4 0.1 0.2 0.2 0.5 1.5 11.4 6.0 0.7 1.1 0.2 0.7 1.3 0.0 27.0 0.9 1.1 9.7 0.7 1.4 7.2 0.1 50.1 0.4 0.4 0.1 7.2 0.1 0.0 4.0 0.0 63.3 6.3 0.0 0.1 0.1 Tenggelam 0.2 2.2 0.0 0.1 25.6 Terbakar 2.2 0.8 27.4 1.4 0.7 1.1 0.1 9.8 61.1 0.T Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Indonesia Penyebab cedera Cedera 5.7 9.1 0.1 53.9 4.1 0.0 0.1 0.1 0.0 0.1 0.5 0.1 0.6 57.5 1.2 0.7 0.0 0.0 0.1 0.1 0.5 0.4 0.7 18.1 0.5 7.8 0.2 3.2 8.2 0.7 9.9 4. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Ba-Bel Kep.1 0.5 1.0 0.4 57.3 15.8 30.1 0.0 2.1 0.1 0.1 0.2 radia si 1.4 21.T.1 0.1 2.1 0.0 0.2 0.1 0.4 31.3 57.0 0.7 12.4 0.1 0.0 0.7 50.2 0.0 0.3 25.2 21.1 0.9 0.0 0.3 0.0 0.4 0.4 1.9 0.1 0.7 4.1 0.9 1.4 10.3 0.9 0.3 1.7 0.0 1.0 0.8 1.0 0.0 0.1 16.3 0.0 0.8 0.1 0.3 0.4 0.3 64.1 0.6 0.3 58.0 0.4 0.1 55.0 0.2 0.1 3.4 1.2 2.4 0.1 0.0 0.9 0.9 0.1 Lainnya 2.2 1.9 24.0 0.0 0.0 0.2 2.7 0.7 27.1 0.1 0.7 1.8 3.5 0.9 0.0 0.1 53.5 31.2 0.2 0.4 0.8 0.7 32.3 3.1 1. Riau DKI Jabar Jaten D.8 1.9 15.2 0.9 3.1 0.0 0.1 7.0 0.2 30.1 0.1 0.2 0.0 16.7 7.9 1.0 1.2 5.4 12.0 2.1 0.0 0.4 1.1 0.2 0.1 0.0 0.1 0.0 0.4 0.2 60.3 1.7 4.3 0.2 udara 1.1 0.8 0.0 0.9 Bencana alam 1.2 0.2 Asfik0.0 0.1 0.7 0.0 0.2 0.6 0.1 0.4 29.4 1.0 0.4 0.3 0.6 58.2 0.8 3.5 0.2 5.7 5.8 0.2 0.2 0.0 0.2 0.2 1.6 0.1 0.6 15.0 0.Tabel 3.8 16.1 1.0 0.0 0.2 3.0 0.3 0.3 0.0 0.0 1.0 0.3 0.0 14.3 5.0 1.0 16.2 0.0 0.2 0.1 0.5 0.6 17.T.2 0.2 0.1 0.1 56.8 29.0 0.3 0.8 23.5 19.0 0.4 0.9 33.1 0.0 0.105 Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.8 9.1 2.9 1.0 0.4 45.9 22.1 0.0 0.3 0.1 4.3 0.2 3.8 1.9 15.9 0.0 0.1 0.6 0.3 0.2 1.2 1.7 61.8 33.1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.2 24.1 19.5 8.1 0.2 0.3 0.6 0.3 1.6 0.3 5.0 12.6 1.1 44.3 0.4 0.3 0.3 0.9 7.0 0.5 7.8 0.0 31.7 0.2 15.1 0.3 0.0 Sajam /tumpul 18.8 0.2 6.4 3.5 0.3 1.

1 0.3 0.6 1.2 0.6 2.5 0.5 1.5 0.1 0.3 4.0 2.1 0.1 0.1 0.1 0.5 0.7 59.4 0.4 19.4 5 – 14 9.1 0.5 Petani/nelayan/b 7.2 0.9 3.5 53.7 1.0 0.2 0.9 24.7 0.7 4.3 0.1 0.1 0.5 1.9 57.1 0.1 0.4 0.2 0.2 0.0 0.6 3.2 0.1 0.9 1.6 1.3 0.4 58.6 4.0 0.5 0.5 0.9 0.2 0.1 0.1 1.5 63.1 0.4 1.2 0.5 2.0 0.0 0.2 0.7 23.1 0.1 0.2 0.3 0.2 0.1 0.1 0.0 0.8 58.1 0.8 0.2 0.4 1.9 37.3 1.7 1.3 0.1 0.4 0.0 0.2 0.0 47.0 19.1 0.9 20.0 52.5 41.1 1.4 42.2 42.3 0.0 0.1 0.3 0.5 0.3 40.2 5.8 3.5 1.2 0.4 42.2 0.4 88.2 0.4 1.1 0.9 1.6 1.7 28.0 0.6 21.8 19.6 Kuintil 4 7.4 14.9 0.0 1.1 1.Tabel 3.3 Tempat tinggal Kota 7.2 0.1 0.9 4.1 Komplikasi medis 0.0 0.1 0.7 54.7 1.0 0.9 19.4 0.1 0.1 0.9 87.8 0.5 3.2 0.2 0.1 1.1 0.5 Perempuan 6.3 1.9 1.1 0.3 1.6 23.2 0.3 34.5 0.6 0.6 Kuintil 5 7.4 27.1 0.3 39.1 0.4 Pegawai 6.9 37.0 0.4 4.1 0.8 0.1 0.1 0.1 36.5 28.0 0.1 0.2 0.2 0.3 1.7 56.3 17.9 0.1 0.6 26.2 0.1 0.2 0.1 0.0 8.1 0.2 0.3 26.7 0.4 4.4 19.4 4.6 0.6 Ibu RT 4.2 0.7 32.3 1.5 0. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden.2 0.1 21.2 4.5 27.6 Tamat SD 7.6 20.2 0.7 15.3 1.1 0.8 0.1 0.4 20.8 165 .4 0.2 0.8 0.1 19.9 4.1 0.1 1.2 0.1 0.9 64.8 1.8 3.3 0.1 0.0 0.1 0.2 0.1 0.1 0.1 0.1 0.3 0.3 0.0 0.4 1.2 31.8 4.0 3.2 0.3 Tamat SMP 7.2 0.8 0.1 0.5 62.2 41.1 0.6 0.0 0.2 0.6 0.6 0.1 0.5 46.0 0.1 0.1 0.1 0.2 45.2 0.9 1.1 0.5 Desa 7.7 1.6 3.9 3.0 1.1 0.0 0.1 0.2 0.3 0.7 30.2 0.8 Jenis kelamin Laki-laki 9.0 0.5 Tingkat Pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil 1 7.1 0.4 58.3 0.6 15.3 0.1 1.3 0.6 25.3 0.0 1.0 0.1 0.6 0.6 0.4 31.6 19.1 0.0 0.4 1.4 0.3 1.3 28.7 1.7 0.7 0.3 0.0 0.4 0.4 1.1 0.2 0.2 0.1 1.8 Pekerjaan Tidak kerja 8.2 0.3 0.106.8 19.3 0.9 4.2 0.3 0.1 0.2 0.1 0.3 51.2 0.2 65 – 74 7.2 11.0 1.0 0.7 62.1 1.2 0.5 3.1 0.0 3.1 0.0 13.4 0.8 0.3 45.9 31.0 0.4 0.3 0.6 42.0 0.5 Lainnya 8.5 0.7 75+ 7.1 0.0 0.8 Wiraswasta 7.7 36.2 4.6 15 – 24 9.1 3.2 0.3 0.4 1.2 1.1 0.9 1.5 0.1 1.3 0.1 0.4 0.7 1.1 0.7 9.7 1.1 0.5 Kuintil 3 7.3 0.2 2.2 0.1 0.6 0.0 0.2 0.1 0.1 0.5 Pendidikan Tidak sekolah 7.2 0.7 0.1 63.0 0.5 0.1 0.2 0.5 0.6 1.9 0.4 Kuintil 2 7.9 76.2 3.3 1–4 7.3 0.7 0.1 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 2.8 1.1 0.1 0.0 0.1 12.9 3.9 0.3 0.1 0.2 18.1 0.2 15.2 0.4 16.1 0.9 1.2 0.8 0.7 4.1 0.2 30.1 0.5 4.5 0.5 0.5 3.4 Tdk tamat SD 8.1 0.0 1.1 0.1 0.2 0.0 49.7 3.2 0.7 0.1 0.1 0.2 0.0 4.5 1.2 28.2 0.5 Sekolah 9.1 1.1 0.5 67.9 Tamat PT 5.2 0.5 1.1 0.2 1.2 0.5 0.2 0.7 1.0 0.1 0.0 0.6 0.2 1.0 0.6 Tamat SMA 6.0 0.9 1.2 0.7 0.0 0.0 0.7 13.0 0.1 1.1 0.6 35 – 44 6.1 0.0 0.5 1.1 0.1 0.4 0.8 29.0 21.0 24.7 0.1 0.1 1.6 49.1 0.0 3.1 0.3 1.5 50.1 0.5 0.2 0.1 0.1 0.1 0.1 0.6 25 – 34 6.0 0.8 1.1 0.3 0.3 0.5 1.0 0.4 0.6 78.1 0.7 18.5 0.8 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Cedera darat laut udara Jatuh Sajam /tumpul Serangan senjata api Penyebab cedera Kontak racun Bencana alam Bunuh diri Tenggelam Terradiasi bakar Asfiksia 0.1 0.2 0.4 55 – 64 6.3 0.3 56.2 0.1 4.5 0.2 0.4 22.9 25.3 1.3 0.6 0.1 0.6 0.7 21.3 18.4 45 – 54 6.4 0.0 1.3 0.5 0.1 0.1 0.4 1.6 1.0 3.2 0.7 1.2 0.3 0.1 1.

2 7.7 1.6 4.8 38.7 21.6 16.3 37.6 8.5 2.0 21.7 9.7 13.8 11.2 22.3 4.1 34.4 26.0 5.4 21.5 6.7 45.3 1.3 27.0 14.7 20.2 1.6 7.6 29.2 35.1 7.5 4.3 3. lengan atas Siku.2 1.7 34.2 4.5 9.3 5.107 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.6 5.5 28.2 7.6 2.Tabel 3.6 39.5 43.6 36.8 27.7 8.1 7.1 7.9 23.4 7.2 11.8 9.5 7.9 11.9 6.4 9.8 1.3 23.5 24.7 23.7 31.9 35.4 11.8 20.4 25.5 6.5 7.0 34.8 11.1 6.0 33.6 7.7 17.7 35.8 6.5 2.3 12. panggul Bahu.6 5.7 21.5 25.1 1.3 8.5 7.4 35.7 30.4 28.6 13.8 1.7 38.1 3.7 29.7 10.3 5.5 3.2 1.2 5.3 4.2 11.4 23.4 0.1 2.3 24.1 4.7 11.1 3.1 15.3 9.1 3.6 28.3 15.6 19.4 166 .6 9.7 26.3 13.1 8.2 11.1 6.0 2.3 8.4 13.1 5.4 9.6 24.5 14.2 3.3 28.6 4.8 11.3 6.7 7.4 25.9 14.9 0.8 26.1 22.8 21.3 4.9 15.6 23. punggung.5 5.9 30.0 16.7 10.0 18.4 1.8 26.0 1.4 21.6 1.5 1.9 6.8 24.8 13.6 1.1 16.3 37.4 5.5 0.2 3.9 5.1 6.1 1.6 3.1 4.0 27.9 5.1 11.8 35.8 13.0 19.7 25.3 26.9 31.1 1.6 17.6 13.8 2.2 6.9 13.7 7.7 14.1 1.2 32.2 18.5 27.4 27.6 6.2 25.9 10.0 4.3 14.4 47.3 12.9 8.2 2.9 27.2 44.5 3.7 31.3 6.0 17.9 11.5 7.5 32.0 1.8 2.0 4.6 8.8 14.8 5.7 5.1 1.1 6.8 2.5 5.9 32.8 22.6 25.5 29.5 5.7 5.7 22.0 36.3 5.3 21.7 7.6 1.8 28.2 1.7 5.7 13.1 18.4 15.4 1.0 12.5 16.1 37.5 23.4 2. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.5 34.5 5.6 10.9 2.0 3.5 7.9 8.4 14.9 25.5 10.1 7.1 24.7 22.8 12.0 5.0 2.2 6.5 5.6 6.6 5.4 11.9 1.5 45.3 24.6 18.9 6.8 6.2 6.7 20.5 21.1 6.5 10.6 6.3 36.0 17.3 28.3 30.4 21.4 19.9 14.3 33.7 15.6 14.2 28.7 2.3 4.0 0.0 0.6 4.2 40.5 5.1 22.2 17.2 36.0 4.0 23.4 4.0 21.7 30.6 15.4 43.4 5.0 23.0 27.7 18.5 24.6 31. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.7 28.8 23.1 18.7 38.5 21.0 13.0 28.7 6.4 9.2 1.6 2.0 15.7 27.8 23.0 3.8 1. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian dan kaki tumit tajam/tumpul NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 17.1 12.0 36.0 4.9 16.3 7.2 15.8 10.2 1.1 0.5 35. Riskesdas 2007.1 5.6 9.3 6.3 11.9 0.8 6.7 17.

1 11.1 3.9 25.3 1.6 Tamat SD 10.7 28.9 31.7 24.9 26.2 27.0 32.0 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 13.2 1. punggung.4 1.8 20.0 29.9 Petani/nelayan/buruh 10.5 3.8 36.1 3.8 18.3 36.0 1.0 6.4 17.2 11.9 6.4 28.6 3.1 2.8 6.6 14.3 1.8 3.0 6.3 6.5 1.6 3.5 1.8 23.2 9.9 1.7 1. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.4 1.9 7.4 26.5 27.2 1.6 6.8 35.7 15.4 35.9 31.5 2.4 33.6 36.8 23.5 3.8 28.9 Pendidikan Tidak sekolah 11.7 3.3 26.6 27. panggul Bahu.1 27.7 7.4 0.6 32.2 1.3 10.6 18.7 8.8 30.8 9.5 1.5 Kuintil 5 13.5 1.5 2.7 5.1 167 .7 9.4 7.2 24.1 32.1 3.7 15 – 24 11.3 26.7 9.6 26.8 27.5 7.0 6.8 35.6 3.0 Tidak tamat SD 10.3 5.1 6.3 6.2 65 – 74 12.4 17.5 Kuintil 2 12.0 6.3 12.5 4.2 20.9 10.3 20.3 Tamat PT 11.4 1.6 38.2 8.6 20.1 5 – 14 12.8 13.6 2.7 24.9 25.2 7. Riskesdas 2007.5 25.3 8.6 1.9 26.2 7.2 17.7 Desa 13.6 15.8 3.9 10.3 9.6 7.8 12.0 6.3 13.5 28.8 8.7 7.1 37.2 18.1 11.5 6.6 7.4 3.9 37.3 5.1 22.1 9.3 1.8 75+ 14.2 Ibu RT 9.3 7.0 26.6 14.1 27.0 17.0 7.4 18.6 19.7 31.5 3.3 7.9 17.4 29.9 2.1 8.7 Tamat SMA 12.9 3.3 13.9 13.9 11.4 25.4 6.6 31.2 9.3 6.3 25.0 21.0 25.3 11.6 27.3 6.5 8.0 28.9 5.6 3.1 9.5 4.6 5.1 34.3 22.4 1.6 6.Tabel 3.0 Kuintil 4 13.0 6.4 55 – 64 11.9 35.8 25 – 34 11.9 6.0 18.3 1.2 2.1 18.0 3.7 11.9 8.7 37.5 43.5 3.4 21.6 9.2 5.5 35.9 20.4 33.3 6.6 Tempat tinggal Kota 13.4 Jenis kelamin Laki-laki 14.4 9.4 0.4 29.4 6.6 3.6 24.8 9.2 10.7 9.3 26.6 2.2 8.2 27.9 5.9 26.8 1.0 1–4 26.9 25.1 9.9 16.2 26.6 6.108 Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden.8 45 – 54 11.5 29.2 3.4 27.3 25.4 1.4 19.0 9.7 11.5 25.5 6.5 35.3 3.3 29.3 43.3 3.8 26.1 3.7 Kuintil 3 13. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.6 Pegawai 12.5 32.4 8.6 14.4 13.9 4.1 6.2 2.0 27.3 5.3 5.5 3.3 8.4 18.3 46.9 21.0 1.3 20.7 10.2 Pekerjaan Tidak kerja 12.5 6.1 35 – 44 10.2 15.3 26.8 26.8 29.4 9. lengan atas Siku.9 7.8 6.4 3.0 7.9 1.4 11.4 wiraswasta 12.5 24.7 36.3 6.9 3.9 8.5 1.8 27.5 1.7 4.1 8.9 30.4 1.9 Sekolah 10.3 35.1 17.8 Tamat SMP 11.6 11.1 27.0 31.6 1.2 3.0 7.5 1.8 27.7 Lainnya 13.7 24.4 26.5 7. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian tumit dan kaki tajam/tumpul Kelompok umur (tahun) <1 50.1 Perempuan 11.2 29.

1 30.1 24.5 35.2 39.8 53.1 19.5 0.2 45.0 37.5 0.0 59.5 59.6 0.6 3.0 3.3 55.5 39.5 21.5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 168 .0 3.4 0.8 2.5 3.9 55.7 12.8 25.4 4.9 22.7 3.1 1.2 29.1 22.3 1.6 0.4 Luka bakar 3.6 35.9 0.5 23.6 2.7 4.4 0.6 1.9 2.9 1.3 0.7 2.7 4.5 20.0 2.5 30.4 1.2 2.3 21.6 46.6 54.0 0.1 52.8 Luka terbuka 23.6 4.0 Keracunan 0.0 2.8 2.4 24.3 51.2 33.7 28.4 24.6 53.2 2.9 0.2 35.3 3.1 2.1 1.0 1.6 53.6 3.2 53.3 49.2 Terkilir / teregang 31.5 35.9 2.2 42.7 0.2 0.0 30.9 22.4 53.7 1.5 0.2 3.4 21.4 31.6 4.2 39.4 60.9 1.0 1.4 9.5 0.1 2.8 2.9 1.7 31.5 38.3 2.0 2.2 35.6 0.1 30.0 0.7 0.2 35.5 5.6 0.0 5.7 47.8 2.7 20.4 0.1 7.3 2.7 0.9 Patah tulang 8.5 0.7 21.2 12.8 46.0 1.6 1.0 7.8 45.8 13.7 13.4 16.6 25.1 14.3 4.6 1.7 2.5 39.4 23.2 2.6 56.8 3.1 19.0 1.3 16.5 2.7 19.5 45.7 1.5 0.5 44.4 47.0 2.8 2.9 4.2 2.0 0.2 1.8 0.4 28. Riskesdas 2007 Provinsi Bentu ran 35.4 0.9 40.3 0.1 23.1 0.0 14.3 .2 1.9 0.6 1.5 58.5 3.4 39.2 19.5 0.6 29.2 3.2 0.1 17.7 29.8 3.1 2.7 0.5 Anggota gerak terputus 1.6 1.6 12.0 0.3 1.6 4.6 14.7 35.7 23.2 0.7 23.0 45.0 28.6 0.1 29.4 0.8 40.6 2.0 49.1 42.1 7.2 39.9 49.1 29.2 6.0 Lainnya 1.0 30.4 27.7 2.6 3.5 56.7 .4 20.Tabel 3.8 1.8 2.3 2.2 23.3 29.1 50.9 2.4 2.7 44.7 1.5 4.1 21.9 2.6 42.4 1.4 0.7 9.0 3.5 0.8 34.6 2.3 1.5 0.7 5.1 4.109 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.1 15.9 2.6 1.7 39.4 Luka lecet 50.1 1.1 31.7 4.4 2.4 0.7 49.9 11.5 2.8 1.3 55.9 28.7 2.6 26.9 1.6 0.0 1.6 2.8 2.1 15.0 3.8 40.2 0.4 39.9 1.6 1.0 24.9 58.5 13.6 0.5 0.8 22.3 3.5 27.2 5.7 35.0 1.3 1.8 3.5 20.0 1.3 1.4 4.4 1.4 0.5 22.1 36.8 23.6 4.2 57.6 1.5 18.0 18.8 19.3 1.7 7.9 4.0 37.

5 21.3 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 37.4 13.4 Desa 36.7 37.4 5.7 34.3 16.7 0.0 0.0 13.7 52.4 26.0 31.4 0.7 21.8 1.0 6.9 25.2 1.1 2.3 0.6 2.6 2.0 36.2 4.7 25.7 0.6 3.8 5.3 28.6 50.1 1.6 2.1 28.8 20.7 39.0 1.1 29.9 2.2 1.1 23.0 2.3 54.1 2.5 30.2 21.7 26.1 2.0 3.2 2.4 38.8 0.8 3.6 1.7 1.1 22.2 13.3 35.5 1.3 7.0 1.8 1.1 1.0 34.0 22.9 0.7 2.4 21.9 2.1 27.3 1.4 36.3 22.2 37.5 3.0 39.7 0.5 2.7 0.8 48.8 8.6 28.4 2.7 3.9 1.4 23.2 22.5 6.5 1.2 4.6 2.7 21.6 0.5 57.4 36.3 1.9 21.5 22.1 4.4 0.8 2.7 1.0 1.1 2.0 1.4 2.5 2.7 27.4 33.7 37.8 0.Tabel 3.1 1.0 2.110 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.3 22.3 6.3 41.1 5.7 2.5 22.0 47.8 1.5 1.6 39.5 4.5 22.0 24.1 28.3 1.8 2.8 3.6 2.0 0.5 2.7 40.1 2.4 4.2 0.4 Tempat tinggal Kota 169 .4 2.8 1.6 1.4 1.8 1.0 0.2 40.4 2.6 25.3 1.1 0.1 3.2 2.0 5.3 26.0 46. teregang Patah tulang Anggota gerak terputus Keracunan Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 1—4 5 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ 49.3 2.6 2.1 0.5 28.4 0.5 51.1 32.1 2.3 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya 38.2 2.4 46.5 41.2 1.8 52.0 0.1 2.0 1.9 1.7 27.0 5.3 2.2 53.3 36.1 24.9 36.9 1.1 0.9 25.1 6.5 2.1 4.3 21.1 27.3 0.2 1.2 2.1 36.8 47.4 4.9 7.8 5.7 0.6 27.6 4.5 5.5 23.8 23.6 20.1 2.7 40.7 2.5 39.9 36.3 38.1 1.0 2.8 62.1 37.2 2.0 23.5 35.7 52.8 0.8 23.6 1.5 0.1 51.8 0.5 25.7 1.8 1.9 5.1 3.8 2.9 20.3 22.4 36.8 22.5 2.9 4.8 39.0 20.1 24.6 42. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Benturan Luka lecet Luka terbuka Luka bakar Terkilir.3 47.3 2.3 49.4 25.4 0.7 0.2 31.2 22.4 27.7 0.4 4.7 58.2 2.5 37.7 0.4 1.4 52.5 2.2 2.3 0.8 44.8 2.5 37.8 2.5 5.3 2.1 33.6 5.5 50.9 36.2 1.6 3.2 20.0 47.8 29.4 2.8 61.2 2.8 28.8 3.3 20.0 51.1 1.9 1.4 2.1 23.5 0.1 0.3 0.

3 11.6.5 5. sehingga memerlukan bantuan orang lain. Disebut “Tidak bermasalah” bila responden menjawab 1 atau 2 pada 20 pertanyaan inti. yaitu “Tidak bermasalah” atau “Bermasalah”. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi oleh penduduk terkait dengan fungsi tubuh.9 8. melakukan aktivitas/gerak atau berkomunikasi. Disebut “Bermasalah” bila responden menjawab 3. dengan pilihan jawaban 1) Ya dan 2) Tidak.9 5. dan 5) Sangat berat. Disability and Health (ICF). bila responden menjawab 3.7 6. Tabel 3. dan 5) Sangat sulit/tidak dapat melakukan. yaitu 1) Tidak ada. Dalam analisis.2 4.5 5. dengan pilihan jawaban sebagai berikut 1) Tidak ada.7 11. 4) Sulit. 2) Ringan.4 atau 5 170 . 3) Sedang. penilaian pada masing-masing jenis gangguan kemudian diklasifikasikan menjadi 2 kriteria.4 atau 5 untuk keduapuluh pertanyaan termaksud.8 11. Responden diajak untuk menilai kondisi dirinya dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan 20 pertanyaan inti dan 3 pertanyaan tambahan untuk mengetahui seberapa bermasalah disabilitas yang dialami responden.8 8.5 5.8 2. Riskesdas 2007 Fungsi Tubuh/Individu/Sosial Bermasalah* (%) 11.3.2 2. Sebelas pertanyaan pada kelompok pertama terkait dengan fungsi tubuh bermasalah.4 6. 2) Ringan.2 10. 3) Sedang.3 8. individu dan sosial.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan Status disabilitas dikumpulkan dari kelompok penduduk umur 15 tahun ke atas berdasarkan pertanyaan yang dikembangkan oleh WHO dalam International Classification of Functioning. Sembilan pertanyaan terkait dengan fungsi individu dan sosial dengan pilihan jawaban sebagai berikut. Tiga pertanyaan tambahan terkait dengan kemampuan responden untuk merawat diri.111 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial. 4) Berat.2 Melihat jarak jauh (20 m) Melihat jarak dekat (30 cm) Mendengar suara normal dalam ruangan Mendengar orang bicara dalam ruang sunyi Merasa nyeri/rasa tidak nyaman Nafas pendek setelah latihan ringan Batuk/bersin selama 10 menit tiap serangan Mengalami gangguan tidur Masalah kesehatan mempengaruhi emosi Kesulitan berdiri selama 30 menit Kesulitan berjalan jauh (1 km) Kesulitan memusatkan pikiran 10 menit Membersihkan seluruh tubuh Mengenakan pakaian Mengerjakan pekerjaan sehari-hari Paham pembicaraan orang lain Bergaul dengan orang asing Memelihara persahabatan Melakukan pekerjaan/tanggungjawab Berperan di kegiatan kemasyarakatan *) Bermasalah.6 5.9 6.6 9.

5%. Kalimantan Timur.8% dan “Bermasalah” 19. dan napas pendek setelah latihan ringan merupakan disabilitas yang menonjol. Sulawesi Tengah (26.5%).6%). dan Sumatera Utara masing-masing 1.9%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” ternyata bervariasi menurut pekerjaan responden. Nusa Tenggara Barat (27.2%).4%).7%). dan mengenakan pakaian hanya sekitar 3%.112) Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas menunjukkan variabilitas menurut karakteristik responden. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tidak berbeda menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Kriteria “Sangat bermasalah” apabila responden menjawab ya untuk salah satu dari tiga pertanyaan tambahan. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” semakin meningkat dengan bertambahnya umur.7%).113) 171 .4%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disabilitas pada laki-laki. Semakin rendah tingkat pendidikan penduduk ternyata diikuti dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” yang semakin tinggi. Jawa Barat (25. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Bermasalah” terendah adalah di Provinsi Maluku Utara dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing sekitar 10%.3%. dan Sulawesi Selatan (2. Prevalensi disabilitas “Bermasalah” tertinggi ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (27. Secara nasional ternyata status disabilitas dengan kriteria “Sangat bermasalah” adalah sebesar 1. merasa nyeri/merasa tidak nyaman. (Tabel 3. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat (2. Dalam menilai status disabilitas kriteria “Bermasalah” dirinci menjadi “Bermasalah” dan “Sangat bermasalah”. penglihatan jarak dekat.111 tampak bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas yang bermasalah dalam hal penglihatan jarak jauh. sedangkan yang terendah pada responden yang sekolah. berjalan jauh.2%). Sedangkan yang bermasalah dalam hal membersihkan seluruh tubuh. Kalimantan Tengah. Gorontalo (2. Nusa Tenggara Barat (2. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat pada responden yang tidak bekerja.3%). Bengkulu (2. (Tabel 3. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” terendah adalah Maluku (1.Dari tabel 3.

0 27.3 17.1 14.1 14.7 19.5 2.6 10.0 21.7 14.3 1.2 1.3 2.8 25.7 Bermasalah (%) 18.6 21.8 19.3 1.4 1.5 2.7 1.9 2.3 1.6 1.9 10.1 1. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Provinsi Sangat Bermasalah (%) 2.Tabel 3.7 1.5 1.9 1.1 18.8 16.9 1.2 1.6 12.1 27.9 2.1 1.0 2.1 21.7 19.9 20.4 2.8 18.3 12.6 23.0 15.9 15.7 1.4 1.1 20.6 26.0 1.6 15.7 21.6 1.7 1.4 22.0 10.1 1.4 1.5 14.4 2.112 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Provinsi.9 1.7 2.2 17.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.4 1.5 172 .9 23.

0 1.7 2.8 18.7 20.1 19.3 50.7 1.113 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.7 5.0 29.0 17.2 7.7 26.8 1.6 20.9 19.8 18. Polri) Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.1 8.0 20.7 1.0 4.9 . Riskesdas 2007 Status Disabilitas Karakteristik Kelompok umur: 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan: Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan: Tidak bekerja Sekolah Mengurus RT Pegawai (Negeri.5 1.7 17.8 19.8 1.2 1.9 3.8 1.1 61.6 1.3 20.Tabel 3.0 1.7 1.4 31.8 1.5 23.0 1.8 62.3 37.5 1.4 10.4 21.4 2.4 47.1 20.1 30.8 1.3 25.2 1.5 2.4 Sangat bermasalah Bermasalah 173 .8 18.8 23.2 1.8 14.2 2. Swasta.9 25.7 30.

Secara nasional prevalensi perokok saat ini 29. selanjutnya adalah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16 batang. 174 .3%). Pada perokok kadang-kadang.8%) dan perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan.3%). Tabel 3. Untuk mendapatkan persepsi yang sama. yaitu yang merokok setiap hari dan merokok kadang-kadang. Prevalensi perokok saat ini tertinggi di Provinsi Lampung (34. DKI Jakarta dan Jawa Tengah masingmasing 9 batang.114 menunjukkan bahwa secara nasional persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok tiap hari 24%. penggunaan tembakau/ perilaku merokok. Hampir separuh (45. ditanyakan berapa umur mulai merokok setiap hari dan berapa umur pertama kali merokok. Sedangkan persentase terendah dijumpai di Provinsi Maluku (19. proporsi tinggi dimulai pada kelompok umur 15-24 tahun (7.8%) dan Jawa Barat (26. Sedangkan mantan perokok proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 75 tahun ke atas (12. Bagi mantan perokok ditanyakan berapa umur ketika berhenti merokok. Pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan penyakit flu burung dan HIV/AIDS ditanyakan melalui wawancara individu. perilaku konsumsi buah dan sayur. Nusa Tenggara Barat.6%).9%).6%). Bali (24.7% dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17%.7 Pengetahuan. sedangkan yang paling sedikit adalah Bali. dan pola konsumsi makanan berisiko. Perokok saat ini adalah perokok setiap hari dan perokok kadang-kadang.1 Perilaku Merokok Pada penduduk umur 10 tahun ke atas ditanyakan apakah merokok setiap hari.116 menunjukkan perilaku merokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap menurut provinsi.0%). Sulawesi Selatan (25. Tidak tampak perbedaan antara rumah tangga yang tingkat pengeluarannya rendah dan tinggi. pada saat melakukan wawancara mengenai satuan standar minuman beralkohol. Sulawesi Barat (25. Sedangkan penduduk kelompok umur 10-14 tahun yang merokok tiap hari sudah mencapai 0. Sikap dan Perilaku Pengetahuan.3.7. merokok kadang-kadang. klasifikasi aktivitas fisik.1%) dan Gorontalo (32. persentase penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun).8%). Pada penduduk yang merokok. kebiasaan buang air besar. Secara nasional.5%) dan Maluku (25. pada laki-laki (9. Juga ditanyakan apakah merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.2%). 3.3%). termasuk penduduk yang belajar merokok. mantan perokok atau tidak merokok. Persentase tertinggi ditemukan di Provinsi Bengkulu (29. Bagi penduduk yang merokok setiap hari. Tabel 3.4%). ditanyakan berapa rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan jenis rokok yang dihisap. diikuti dengan Lampung (28. aktivitas fisik.2%). sikap dan perilaku dalam Riskesdas 2007 ditanyakan kepada penduduk umur 10 tahun ke atas. Provinsi-provinsi yang prevalensinya di bawah angka nasional adalah Provinsi Kalimantan Selatan (24. minum minuman beralkohol. disusul Bengkulu (34. proporsi tertinggi dijumpai pada penduduk tamat SMA (26. Demikian juga perilaku higienis yang meliputi pertanyaan mencuci tangan pakai sabun. dengan rentang rerata 29% sampai 32%. Rerata batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi di NAD (19 batang). dan porsi konsumsi buah dan sayur.5%).115 menggambarkan perilaku merokok penduduk umur 10 tahun ke atas menurut karakteristik responden.9%) 10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (1. Tabel 3. digunakan kartu peraga.2% dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 12 batang per hari. Menurut pendidikan.8%) penduduk laki-laki umur 10 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari.

6 7.0 3.3 7.2 2.1 25. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Provinsi Perokok setiap hari 23.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Nasional 23.8 26.5 4.8 67.1 2.1 21.0 Tidak merokok Mantan perokok 2.5 71.3 3.2 21.5 25.1 20.5 5.4 67.4 Perokok kadangkadang 6.6 5.7 24.8 6.8 20.0 2.0 3.8 24.9 2.5 3.1 4.2 3.2 5.0 3.6 5.1 2.5 4.0 23.6 22.6 24.3 6.5 3.6 4.8 Bukan perokok 68.6 20.4 24.7 65.8 1.3 69.Tabel 3.0 3.6 6.4 67.6 3.5 5.0 5.1 19.2 23.5 2.2 69.6 6.6 71.0 63.5 70.8 27.7 5.1 2.8 67.1 65.9 67.0 69.0 4.2 68.6 69.8 5.7 5.8 2.7 64.6 24.4 71.1 4.3 23.5 5.6 68.7 1.8 24.5 6.1 2.3 25.8 4.6 5.8 175 .9 19.4 4.6 64.4 5.3 2.9 3.8 73.7 6.4 20.8 65.0 6.5 3.4 29.4 24.3 25.5 22.2 69.2 22.8 71.1 65.3 4.5 5.3 1.9 1.7 23.3 64.3 68.8 2.8 4.5 71.9 19.9 6.2 64.5 66.0 5.1 72.0 67.5 28.5 2.4 5.1 20.114 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.3 3.4 6.5 2.7 64.9 3.

3 5.6 4.2 32.4 3.8 20.4 5.8 Tidak merokok Mantan perokok Bukan perokok Perokok setiap hari Perokok kadangkadang Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 45.3 23.2 23.9 1.8 2.0 69.3 1.8 2.1 6.9 12.4 2.0 9.3 5.6 2.1 5.1 1.7 2.4 67.0 4.6 3.6 68.4 3.0 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 21.8 1.3 72.8 28.Tabel 3.3 7.0 62.8 3.5 2.3 21.6 5.6 69.5 2.2 25.4 24.9 66.4 5.6 7.7 5.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.9 23.3 29.5 5.8 5.7 4.3 0.8 27.7 74.0 26.8 4.4 31.8 5.1 3.7 17.2 6.4 0.9 23.9 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 26.9 94.6 5.0 97.8 9.1 67.9 6.7 2.9 176 .3 63.0 30.7 38.6 55.9 3.4 5.6 5.4 24.4 68.7 67.0 65.6 5.6 67.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 0.2 57.5 54.9 55.3 6.5 67.2 61.

7 34. Riskesdas 2007 Perokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rerata jumlah batang rokok /hari 18.5 9.5 14.9 30.0 12.7 13.5 12.7 29.2 25.3 25.4 30.1 34.2 28.4 14.9 14.8 9.2 27.8 32.2 14 saat ini 29.Tabel 3.0 13.3 30.7 28.3 10.2 30.2 26.9 10.5 8.4 11.9 24.8 29.1 10.7 27.4 13.9 11.1 11.1 9.5 14.4 13.1 31.0 177 .4 29.8 30.9 9.4 31.7 15.4 8.3 13.8 30.8 12.3 28.8 Indonesia 29.9 9.0 12.2 24.1 16.1 28.7 25.4 32.4 13.7 30.0 27.9 27.4 11.116 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.6 25.2 12.3 10.5 26.

3 12.5 29.0 36.7 Prevalensi perokok saat ini pada laki-laki 11(sebelas) kali lebih tinggi dibandingkan perempuan (berturut-turut 55.1 12.6 29. tetapi rerata rokok yang dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (16 batang dan 12 batang).1 12.7 15.7 11. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun.6 35.7% dan 4.6 30.6 11.1 55. Riskesdas 2007 Perokok saat ini (%) Rerata jumlah batang rokok /hari 10 12 13 14 13 13 10 13 11.Tabel 3.4%).7 11.117 menggambarkan prevalensi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap per hari menurut karakteristik responden.5 11.6 34.9 12.0 38.7 4.0 27.7 12. Prevalensi perokok saat ini lebih tinggi pada penduduk tamat SMA dan penduduk tidak sekolah.0 37.4 30. Tidak tampak adanya perbedaan antara penduduk dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita tinggi dan rendah.5 28.0 11.0 24.3 30. kemudian menurun pada umur lebih lanjut.9 25.0 29.4 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 2.7 12. 178 .0 26. Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur 15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun.5 34.7 33. walaupun prevalensi hanya 2%. serta di daerah perdesaan.6 12.117 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.6 11. tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16 batang per hari.9 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 29.3 28. Tabel 3.

5 28.5 29.1 27.0 39.1 14.4 13.0 24.4 1.0 3.3 3.5 44.0 18.9 39.3 16.4 27.2 6.7 44.0 38.3 12.4 21.0 0.4 13.8 24. yaitu 36.0 0. 179 .3 3.0 18.3 3.4 5.2 7.0 0.1 17.7 5.8 2.0 0.118 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari.8 19.0 0.7 32.5 46.6 5.0 36.6 19.8 11.0 9.8 2.8 17.9 35.4 20.3 46.8 1.7 59.0 0.9 17.7 1.9 1.6 11.8 36.3 13.5 34.2 35.0 33.3 2.8 7.2 3.6 10.2%).8 3.6 34.5 17.6 33.0 0.9 10.0 0.1 ≥30 2.4 2.4 18.5 52.8 6.5 3.3 35.7 1.0 0.0 0.3 12.2 10-14 6.1 10.3 14.0 0.0 5.0 0.1 14.2 29.1 2.0 12.7 3.0 37.5 1.9 4.6 29.3 1.0 0.4 33.4 3.8 12.9 5.6 36.0 0.0 8.8 14. Tabel 3.7 1.1 3.3 5.0 0. Papua menduduki tempat tertinggi (3.0 0.6 36.2 9.7 15.9 2.7 25-29 3.9 1.2 3. 30 kali lebih besar dibandingkan dengan angka nasional (0.2 2.1 30.4 24.2 30.4 3.8 0.0 15-19 30. Usia mulai merokok tiap hari ini penting diketahui untuk melihat lamanya paparan rokok pada penduduk.4 11.6 1.3%.0 0.3 33.8 10.8 37.5 43.2 8.9 4.0 13.8 5.6 4.9 6.6 9.5 17.4 35.6 9.118 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.7 36.9 15.2 4.5 3.0 13.0 0.2 1. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5-9 0.5 4.2 38.3 36.0 7.9 12.5 29.6 36.1 27.7 24.1 34.8 8.0 18.0 0.0 0.0 Untuk kelompok usia muda (5-9 tahun).9 2.6 0.7 3.6 26.1 34.0 3.2 39.0 12.1 34.7 20-24 17.3 12.4 36.7 2.3 40.1 9.3 4.4 3.6 38.4 6.4 31.5 2.6 33.4 0.2 5.8 6.4 22.4 13. Secara nasional persentase usia mulai merokok tiap hari umur 15-19 tahun menduduki tempat tertinggi.7 1.4 26.1 3.1%).3 6.6 2.3 10.7 39.5 26.7 18.3 2.2 Indonesia 0.5 2.4 8.2 6.2 0.9 11.2 26.3 9.0 0.1 Tidak tahu 39.5 3.0 0.4 3.3 1.6 3.6 4.0 10.5 40.9 5.2 5.4 4.0 0.Tabel 3.0 0.6 18.9 4.0 0.9 4.0 2.9 12.6 28.8 36.8 15.8 2.4 16.3 18.4 10.

5 2.5 16.2 9.1 1.2 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 0.9 29.5 5.6 48.2 4.4 4.6 15.9 19.7 21.6 4.4 7.4 9.1 7.8 9.0 7.8 17.5 6.1 4.6 21.1 7.1 0.4 12.1 0.9 79.1 38.3 29.9 2.0 36.9 6.5 Untuk setiap kelompok usia mulai merokok tiap hari pada umumnya persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.7 7.0 10.9 29.9 36.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 0.1 46.0 33.6 17.0 16. 19% penduduk umur 10-14 tahun sudah mulai merokok tiap hari pada usia 10-14 tahun.1 19.2 10.9 35.0 45.8 37.9 55.7 39.4 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 0.1 3.4 8.1 33.0 30.2 3.4% mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun.1 0.2 0.1 0.9 30.3 14.3 0.1 3.9 14.5 4.9 40.0 43.2 11.3 44.0 0.3 6.0 0.0 57. Tabel 3. Berdasarkan kelompok umur.119 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.1 0.8 0.4 34.6 22.0 4.2 0.5 18.1 18.1 0.7 0.0 3.3 22.4 3.3 3.0 14.3 10.5 16.1 0.9 3.9 2.2 9.119 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari dan karakteristik responden.0 27.1 24.0 5.7 4.2 4.1 8.0 7.0 27.1 35.5 11.2 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 0.5 3.7 55.0 0.0 17.Tabel 3.4 4.1 0.6 18.1 3.3 4.4 3. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 1.2 14.0 3.7 34.1 16.7 10.2 5.0 15.7 28.2 4.3 24.1 7.1 11.6 34.2 4.1 18.6 6.8 2.5 4.6 19.5 21.2 15.4 0.6 10.2 0.6 9.6 5.3 37.8 10.8 7.1 0.5 32.1 0.6 4.3 6. bahkan 1.1 0.1 0.6 19.9 29.7 38. kecuali pada usia 5-9 tahun dan 30 tahun ke 180 .1 0.9 4.2 24.9 6.1 0.4 15.9 0.

8 14.2 1.2 59.8 45.1 13. Usia mulai merokok atau 181 .6 44.6 3.5 32.9 1.1 37.7 1.6 2.9 2.5 10.4 41.7 11.2 3.6 26.5 31.0 4.0 34.2 Tabel 3.9 35.0 11.0 9.1 11.7 25-29 2.9 33.7 9.3 34.5 32.2 42.9 2.4 1.7 1.1 8.5 2.1 31.4 2.0 0.0 27.1 3.2 8.8 Tidak tahu 49.5 1.9 0.4 4.6 2.0 10.3 12.7 1.7 1.4 34.9 2.4 1.Tidak tampak perbedaan usia mulai merokok tiap hari dilihat dari tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.0 3.5 1.1 14.6 2.1 48.7 28.5 1.7 1.8 4.9 0.3 3.8 1.2 40.2 9.1 0.6 10.3 8.6 4.3 10. Tabel 3.6 11.3 10.8 3.0 Nasional 1.3 32.6 7.0 0.1 13.8 1.120 memperlihatkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau.0 32.8 4.3 4.4 34.8 13.5 2.5 8.2 33.6 10.8 39.4 32.6 13.4 33.2 1.4 1.5 43.3 12.4 13.9 3.3 46.9 2.9 11.0 13.6 9.9 44.4 11.1 39.7 38.5 36.3 1.1 31.0 10-14 7.3 1.4 27.6 43.5 1.9 8.2 16.8 34.5 6.9 1.2 35.2 42.9 1.7 11.9 1.7 3.0 40.1 2.2 28.6 32.2 1.9 15-19 26.6 16.5 13.3 6.4 13.3 2.0 7.9 9.1 24.1 1.7 34.5 6.3 2.4 11.6 0.6 33.5 10.2 31.5 13.3 51.0 9.0 8.3 6.8 1.2 1.atas.3 2.0 50.3 0.3 11.2 8.7 5.3 28.4 2.9 1.2 1.1 16.5 33.1 1. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Provinsi 5-9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.0 1.4 11.1 2.5 33.7 3.0 2.9 9.8 10.4 12.1 1.5 12.2 2.1 0.6 0.2 ≥30 2.5 3.7 28.3 0.3 38.9 13.8 1.2 7.6 3.8 4.5 1.6 2.8 3.7 10.5 12.3 3.8 40.9 2.7 14.3 20-24 11.1 42.2 12.6 1.5 6.7 1.7 0.9 1.1 35.8 8.0 4.2 37.2 2.4 1.6 28.4 39.3 1.3 4.8 2.8 3.3 0.6 33.8 35.6 2.0 22.7 1.3 29.2 6.120 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.3 33.9 22.7 4.8 43.

laki-laki lebih dominan pada semua jenis rokok dibandingkan perempuan. 182 . Secara nasional.124).mengunyah tembakau mencakup juga penduduk yang baru pertama kali mencoba merokok atau mengunyah tembakau. Menurut jenis kelamin. demikian juga halnya menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran per kapita (Tabel 3. Menurut pendidikan.1% yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun.4%) dan rokok linting (17. disusul usia 20-24 tahun (11. pada umumnya jenis rokok yang diminati adalah kretek dengan filter. disusul oleh DKI Jakarta (39. persentase mulai merokok tertinggi dijumpai pada kelompok usia 15-19 tahun. Terdapat 18 provinsi dengan prevalensi di atas angka nasional. Menurut provinsi.3%). Tabel 3.121 menggambarkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau dan karakteristik reponden.9%). Sulawesi Utara (39. banyak diminati oleh penduduk berumur 55 tahun ke atas. pendidikan.6%) dan Kalimantan Selatan (12. Jawa Tengah (13. Menurut kelompok umur. perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun tertinggi dijumpai di Bangka Belitung (42.9%).4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.5%). Secara umum jenis rokok yang paling banyak diminati adalah rokok kretek dengan filter (64. persentase tertinggi usia pertama kali merokok terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun (32. selanjutnya Bangka Belitung (16. kemudian kretek tanpa filter (35. 85. Perokok umur 10-14 tahun umumnya mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun (31.7%).0%). tetapi ada 5. Perokok yang mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun terbanyak di Provinsi Sumatera Barat (16.5%) dan Jawa Barat (35. dan tingkat pengeluaran per kapita.9%. Gorontalo (2. Sedangkan perokok dengan umur mulai merokok pada umur 5-9 tahun tertinggi di Papua (4.1%) (lihat Tabel 3. Secara nasional.1%). tertinggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (93. Menurut jenis kelamin. DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masingmasing 1. penduduk tidak sekolah lebih banyak menggunakan rokok linting atau tembakau kunyah dibandingkan jenis rokok lainnya. Bangka Belitung.123).0%). 3%). Demikian juga rokok linting dan tembakau kunyah.9%). tipe daerah. dan pada jenjang pendidikan lainnya didominasi oleh penggunaan kretek dengan filter. kecuali pada kelompok umur 55 tahun ke atas kretek tanpa filter merupakan pilihannya. DKI Jakarta (13.8%). disusul Kepulauan Riau (2.122 menunjukkan prevalensi perokok yang merokok dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga menurut provinsi. Tabel 3.0%).8%).4%). kecuali penggunaan tembakau kunyah pada perempuan 19 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.2%).

0 18.5 42.6 32.2 44.9 11.5 3.6 2.2 25.0 40.1 4.3 10.1 1.0 4.5 2.4 41.3 1.2 12.7 4.6 37.0 0.6 36.5 1.9 6.2 Kuintil-2 1.5 4.3 32.9 38.2 0.2 25.7 1.2 59.6 3.9 3.2 31.4 30.2 Kuintil-5 183 .3 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 1.7 6.2 53.4 0.1 1.0 20.9 11.0 3.5 38.8 2.1 13.1 33.3 36.4 32.4 10.7 1.6 10.2 2.3 11.1 32.1 4.2 Kuintil-1 1.9 10.121 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.6 4.4 1.4 2.0 26.2 14.4 1.3 1.3 33.8 11.1 7.6 1.6 31.3 41.2 1.1 1.8 12.0 3.4 5.3 11.1 3.6 3.2 5.8 17.2 3.2 10.1 10.5 5.Tabel 3.1 1.0 13.7 13.8 12.5 10.8 Kuintil-4 1.5 61.2 17.7 13.1 1.5 33.0 34.1 12.5 3.3 2.3 36.9 10.1 7. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 5.2 3.1 32.8 9.2 1.0 31.0 0.3 47.9 11.7 2.2 0.9 1.4 1.2 0.6 9.1 10.3 13.4 7.0 40.2 9.8 2.4 37.0 49.6 2.9 2.9 38.4 11.8 8.0 2.5 1.1 8.3 1.0 0.6 2.8 34.4 3.5 7.7 2.3 13.0 4.7 0.3 30.7 10.4 6.5 Kuintil-3 1.1 55.8 3.3 31.4 38.6 12.1 3.0 6.5 2.8 19.2 10.2 14.7 3.9 63.

0 83.7 86.7 87.9 86.7 86.4 87.3 90.7 83.4 Indonesia 85. Riskesdas 2007 Perokok merokok Provinsi dalam rumah ketika bersama ART NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 82.3 90.7 92.4 84.1 82.7 89.3 90.8 80.7 77.1 85.5 91.4 78.9 84.1 88.2 89.2 89.4 79.Tabel 3.8 93.2 83.4 184 .7 82.0 88.9 91.0 84.4 86.1 64.122 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi.

5 5.2 16.5 13.4 5.2 28.3 3.7 20.9 Rokok putih 16.7 0.3 0.4 0.2 0.4 25.7 24.4 52.2 0.8 18.2 14.3 0.2 9.2 0.5 5.6 6.3 75.8 55.Tabel 3.4 46.2 30.3 0.8 0.4 13.7 4.9 0.5 0.9 10.7 0.5 10.9 67.3 0.4 14.9 75.8 0.9 77.1 Lain nya 0.2 0.2 0.2 3.2 84.9 43.0 13.0 9.9 60.7 0.0 9.8 74.3 0.7 59.7 9.8 28.2 13.1 1.1 11.1 0.2 11.1 3.9 0.5 20. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Provinsi Kretek dengan filter NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Nusa Tenggara Kalimantan Barat Kalimantan Kalimantan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 55.7 0.0 59.5 0.4 1.5 35.2 70.5 21.4 12.0 Rokok linting 7.4 0.5 20.2 11.4 22.9 1.6 0.1 0.9 12.6 59.9 2.9 60.1 5.4 0.3 0.9 80.3 0.5 1.7 1.7 0.0 16.3 1.4 1.3 0.2 0.7 45.0 0.4 31.3 72.8 14.8 38.3 19.7 80.4 0.2 Indonesia 64.1 33.8 17.9 27.5 51.9 1.0 6.9 24.1 0.8 56.3 0.7 0.5 1.6 18.8 8.0 4.3 3.6 0.4 1.1 12.7 26.4 29.6 22.2 0.7 9.5 0.6 23.7 1.2 0.4 0.6 25.9 2.2 0.2 51.7 10.6 0.8 23.1 4.6 0.9 17.4 0.5 1.6 0.6 0.7 0.2 0.7 0.3 14.2 0.4 69.9 0.7 85.2 0.9 18.1 0.0 0.4 0.5 0.9 1.6 8.1 70.7 1.8 2.5 0.3 2.2 0.1 Cangklong 0.7 0.7 32.5 0.3 72.8 82.0 13.6 0.6 55.2 20.4 1.2 0.3 64.0 63.1 24.3 7.4 1.9 6.0 1.1 0.3 55.3 16.9 30.1 0.4 0.6 3.0 0.6 21.2 7.8 85.3 2.4 0.0 42.9 14.5 0.7 57.6 1.0 1.0 1.6 0.5 0.8 37.3 0.9 21.4 0.9 6.9 14.3 0.3 76.6 4.4 0.123 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi.4 0.7 1.0 2.4 0.5 4.2 0.4 20.0 15.2 21.3 0.5 1.5 0.4 1.4 14.2 3.1 0.7 46.1 14.1 Kretek tanpa filter 38.8 5.1 60.4 185 .3 10.1 46.8 0.1 65.6 6.9 1.8 25.9 26.2 0.7 Cerutu Tembakau dikunyah 6.6 18.2 0.3 62.6 16.2 0.2 0.7 24.9 12.2 16.5 1.5 20.1 3.4 0.6 25.2 0.

3 1.5 0.1 1.4 0.6 0.2 6.5 0.8 15.3 20.4 14.5 19.3 59.7 41.6 0.2 70.3 2.5 18.7 0.6 0.0 0.5 0. 186 .8 38.1 33.4 20.8 4.4 23.3 16.9 1.7 4.3 0.3 0.7 74.5 24.0 7.8 5.5 4.0 37.7 0.0 24.4 38.6 0.6 7.Tabel 3.0 17.6 30.4 8.6 0.8 35.5 0. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas.6 0.7.124 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.7 0.6 74.3 34.2 36.8 17.0 0.8 12.0 14.2 10.7 0.6 19.4 9.8 29.6 0.5 0.6 40.7 3.5 1.3 33.6 0.2 13.3 0.4 0.4 40.0 1.4 0.7 0.7 0.0 12.7 28.7 0.8 0.6 68.2 4.3 0.5 0.9 27.3 15.5 51.9 72.6 44.6 0.9 1.3 12.4 0.9 14.6 0.5 1.5 0.6 0.7 77.7 13.6 3.0 0.3 0.6 0.4 24.5 0.7 66.7 37.3 3.6 66.4 0.4 4.0 63.5 0.6 0.5 0.7 0.5 0.1 31.7 6.8 7.5 33.7 18.8 79. Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu.8 0.7 0.7 9.5 0.4 57.5 1.3 0.6 2.8 35.9 17.9 1.4 20.5 17.5 0.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari.7 0.4 0.5 0.7 2.0 36.8 0.7 0.9 12.6 0.6 4.8 77.9 0.1 37.1 1.8 11.5 37.4 0.7 0.6 31.8 35.6 18.3 9.5 7.4 22.6 0.2 22.6 0.4 10.3 60.9 34.0 5.5 30.6 0.9 0.3 14.8 12.3 41.6 15.7 62.6 41. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Karakteristik responden Kretek dengan filter Kelompok 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Kretek tanpa filter Rokok putih Rokok linting Cangklong Cerutu Tembakau dikunyah Lain nya umur 73.3 62.6 0.3 23.4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 3.7 33.

9 94.4 96.8%. penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93.6 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 187 .Tabel 3.6 96.5 96.7%). masing-masing 97.9 83.2 94.3 89.8 97. dan Lampung (87. Tabel 3.5 96.6 94.1 90.6 96.9 91.2 91.7 96.5%).125 menunjukkan bahwa secara keseluruhan.0 86. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat.4 92.9% dan 97.5 96.1 91.6%.5 93.1%).8 91.7 92. DI Yogyakarta (86.9 93. Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83.1 87. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang makan buah dan sayur*) 95.7 Indonesia 93.5 95.4 97.7 96.4 94.2 92.9 92.125 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.4 96.7 91.

3 Jenis Kelamin Laki-laki 93.5 Perempuan 93.5 55-64 93. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.126 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.8 25-34 93. dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur.9 Kuintil-4 93.6 15-24 93. Sementara berdasarkan pendidikan.0 Perdesaan 94.Pada tabel 3.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 94.6 Kuintil-2 94. Tabel 3.3 Tempat Tinggal Perkotaan 93. Tidak tampak adanya perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan.2 Kuintil-3 93. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang makan buah dan sayur*) Kelompok Umur (Tahun) 10-14 93.3%).9 Tidak tamat SD 94.126 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95.3 Kuintil-5 92. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.3 Tamat SD 94. dengan perkataan lain.7 65-74 94. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan.7 Pendidikan Tidak sekolah 94.4 35-44 93.1 Tamat SMP 93.7 75+ 95.3 45-54 93.4 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 188 . semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur.8 Tamat PT 90.6 Tamat SMA 92.

3. termasuk frekuensi.7%). dan Gorontalo (12. sehingga didapatkan ukuran standar.7% dan 4.4%). jenis minuman dan rata-rata satuan minuman standar. Sulawesi Utara (17.5%.0%. juga diikuti dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam satu bulan terakhir di atas angka nasional.3% pada umur 25-34 tahun. Pada umumnya provinsi dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional. seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (17. prevalensi peminum alkohol lebih besar laki-laki dibanding perempuan. Pada tabel 3.3%). yaitu satu minuman standar setara dengan bir volume 285 mililiter. Karena perilaku minum alkohol seringkali periodik maka ditanyakan perilaku minum alkohol dalam periode 12 bulan dan satu bulan terakhir. Informasi perilaku minum alkohol didapat dengan menanyakan kepada responden umur 10 tahun ke atas. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi minum alkohol tinggi. prevalensi minum alkohol tinggi tampak pada yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SMA. Tabel 3. Prevalensi peminum alkohol di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan. sedangkan yang masih minum dalam satu bulan terakhir 3. Wawancara diawali dengan pertanyaan apakah minum minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir.128 dapat dilihat bahwa prevalensi peminum alkohol 12 bulan dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 15-24 tahun. Sedangkan menurut pendidikan.7. yang selanjutnya meningkat menjadi 6. Menurut jenis kelamin.127 memperlihatkan secara nasional prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir sebanyak 4.5% dan 3. 189 . Untuk penduduk yang menjawab “ya” ditanyakan dalam 1 bulan terakhir. namun kemudian turun dengan bertambahnya umur.6%. Tidak tampak perbedaan prevalensi peminum alkohol menurut tingkat pengeluaran per kapita per bulan.3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol Salah satu faktor risiko kesehatan adalah kebiasaan minum alkohol. Dilakukan kalibrasi terhadap berbagai persepsi ukuran yang digunakan responden. yaitu sebesar 5.

Tabel 3.127 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Konsumsi Provinsi alkohol 12 Bulan terakhir
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1,5 6,1 1,5 3,4 2,7 2,9 2,8 2,2 4,4 5,9 4,0 2,6 2,2 3,2 1,9 1,6 6,4 2,0 17,7 8,8 6,5 1,2 3,4 17,4 8,9 5,9 7,7 12,3 4,0 8,2 7,4 8,1 6,7

Konsumsi alkohol 1 Bulan terakhir
0,4 4,4 0,7 1,3 1,7 2,1 1,8 1,4 2,5 3,7 2,7 1,3 1,1 1,7 1,0 0,9 4,6 1,2 13,5 4,8 3,5 0,5 1,7 14,9 6,4 3,9 5,8 10,7 2,6 5,0 4,4 4,9 4,4

Indonesia

4,6

3,0

190

Tabel 3.128 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia, Riskesdas 2007
Karakteristik Responden Pernah minum alkohol dalam 12 bulan terakhir Masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir 0,3 3,5 4,3 3,7 3,3 2,4 1,7 0,9 5,8 0,4 2,1 2,5 3,0 3,5 3,8 2,4 2,5 3,3 2,9 3,0 3,0 3,0 3,0

Kelompok Umur (Tahun) 10-14 0,7 15-24 5,5 25-34 6,7 35-44 5,5 45-54 4,8 55-64 3,6 65-74 2,6 75+ 1,5 Jenis Kelamin Laki-laki 8,8 Perempuan 0,7 Pendidikan Tidak sekolah 3,1 Tidak tamat SD 3,8 Tamat SD 4,5 Tamat SMP 5,5 Tamat SMA 6,0 Tamat PT 3,9 Tipe Daerah Perkotaan 3,9 Perdesaan 5,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4,4 Kuintil-2 4,7 Kuintil-3 4,6 Kuintil-4 4,7 Kuintil-5 4,7

191

3.7.4 Perilaku Aktifitas Fisik
Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Dikumpulkan data frekuensi beraktifitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. Selain frekuensi, dilakukan pula pengumpulan data intensitas, yaitu jumlah hari melakukan aktifitas ’berat’, ’sedang’ dan ’berjalan’. Perhitungan jumlah menit aktifitas fisik dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktifitas yang dilakukan, di mana aktifitas diberi pembobotan, masing-masing untuk aktifitas ‘berat’ empat kali, aktifitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktifitas ‘ringan’ atau jalan santai. Pada tabel 3.129 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48,2%) kurang melakukan aktifitas fisik. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61,7%) dan Provinsi Riau (60,2%). Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27,3%), Sulawesi Tengah (39,4%), dan Bengkulu (40,1%). Pada tabel 3.130 terlihat bahwa menurut kelompok umur, kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76,0%) dan umur 10-14 tahun (66,9%), dan perempuan (54,5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41,4%). Berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57,6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42,4%), dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik.

192

Tabel 3.129 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang Aktifitas Fisik 53,3 52,1 54,8 60,2 57,8 48,1 40,1 45,3 46,4 53,1 54,7 52,4 44,2 45,3 44,7 55,0 44,6 48,8 27,3 46,9 43,8 49,4 61,7 47,2 39,4 49,1 47,6 47,3 42,7 49,2 48,2 50,4 43,0

Indonesia

48,2

*) Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu

193

Tabel 3.130 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang aktifitas fisik

Kelompok umur 10-14 66,9 15-24 52,0 25-34 42,9 35-44 38,9 45-54 38,4 55-64 44,4 65-74 58,5 75+ 76,0 Jenis Kelamin Laki-laki 41,4 Perempuan 54,5 Pendidikan Tidak sekolah 48,8 Tidak tamat SD 48,1 Tamat SD 43,4 Tamat SMP 47,4 Tamat SMA 52,6 Tamat PT 60,3 Tipe daerah Perkotaan 57,6 Perdesaan 42,4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 44,8 Kuintil-2 45,5 Kuintil-3 47,1 Kuintil-4 49,1 Kuintil-5 53,9

3.7.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS a. Flu Burung
Data mengenai pengetahuan dan sikap penduduk tentang flu burung dikumpulkan dengan didahului pertanyaan saringan: apakah pernah mendengar tentang flu burung. Untuk penduduk yang pernah mendengar, ditanyakan lebih lanjut pengetahuan tentang penularan dan sikapnya apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak. Penduduk dianggap memiliki pengetahuan tentang penularan flu burung yang benar apabila menjawab cara penularan melalui kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang. Penduduk dianggap bersikap benar bila menjawab salah satu : melaporkan kepada aparat terkait, atau membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas sakit, apabila ada unggas yang sakit dan mati mendadak.

194

Tabel 3.131 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Pernah mendengar
61,7 74,6 67,3 74,1 67,8 55,8 66,8 70,2 73,1 81,4 80,9 71,6 68,2 74,7 63,7 63,2 70,8 52,2 35,9 57,8 61,4 69,3 74,6 71,1 66,7 63,1 55,8 51,9 56,9 54,7 41,9 52,1 44,4

Berpengetahuan benar*
81,3 84,8 73,7 77,2 81,7 87,7 80,7 86,2 75,2 81,0 83,6 77,6 79,9 74,6 75,9 83,3 85,7 79,6 69,8 81,3 82,2 71,1 86,7 80,7 70,0 70,6 74,9 79,9 66,2 76,2 63,7 69,0 74,8

Bersikap benar**
88,7 94,2 81,3 87,6 87,6 85,1 87,2 92,2 92,1 91,9 91,4 84,9 86,9 93,6 89,4 87,3 96,1 91,0 85,9 88,6 82,4 74,6 92,5 92,7 83,9 85,8 83,2 85,2 84,5 84,1 82,2 84,2 86,8

Indonesia

64,7

78,7

87,7

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.131 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan provinsi. Secara nasional, 64,7% penduduk pernah mendengar tentang flu burung. Di antara mereka, 78,7% memiliki pengetahuan yang benar dan 87,7% memiliki sikap yang benar. Tiga provinsi yang penduduknya kurang mendengar tentang flu burung adalah Nusa Tenggara Timur (35,9%), Maluku Utara (41,9%) dan Papua (44,4%). Provinsi yang penduduknya mempunyai pengetahuan yang

195

baik tentang flu burung tertinggi di Lampung (86,2%) dan yang sikapnya terbaik Provinsi Bali (96,1%).

Tabel 3.132 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik responden Pernah mendengar Berpengetahuan benar*
73,0 83,1 81,6 79,2 75,6 71,4 64,8 59,2 80,6 76,7 60,9 66,7 74,1 82,2 86,4 90,3 77,1 79,4 75,8 88,7 81,9 73,9 80,4 82,7 75,2 75,5 76,3 77,7 79,4 82,6

Bersikap benar**
82,2 89,7 89,3 88,5 86,9 85,6 82,3 79,1 88,8 86,6 77,7 78,8 84,3 90,2 93,4 95,7 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4 84,4 89,2 91,0 84,9 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4

Umur 10-14 tahun 52,4 15-24 tahun 79,0 25-34 tahun 75,3 35-44 tahun 70,0 45-54 tahun 60,8 55-64 tahun 47,6 65-74 tahun 33,5 75+ tahun 19,7 Jenis kelamin Laki-laki 68,2 Perempuan 61,5 Pendidikan Tidak sekolah 26,3 Tidak tamat SD 44,5 Tamat SD 61,0 Tamat SMP 79,1 Tamat SMA 89,0 Tamat PT 93,7 Pekerjaan Tidak kerja 53,9 Sekolah 65,3 Ibu RT 65,1 PNS/Polri/TNI/BUMN 91,3 Wiraswasta 78,2 Petani/nelayan/buruh 54,6 Lainnya 73,4 Tipe daerah Perkotaan 78,8 Perdesaan 56,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 56,0 Kuintil 2 60,5 Kuintil 3 64,0 Kuintil 4 67,7 Kuintil 5 74,5

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.132 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan karakteristik responden. Kelompok umur 15-24 tahun

196

merupakan kelompok tertinggi untuk kategori pernah mendengar, berpengetahuan benar dan bersikap benar. Persentase laki-laki yang pernah mendengar tentang flu burung lebih tinggi dari perempuan (68,2% dibanding 61,5%), demikian juga lebih banyak laki-laki memiliki pengetahuan dan sikap benar. Menurut tipe daerah, penduduk di perkotaan lebih banyak yang telah mendengar tentang flu burung, dan lebih banyak yang memiliki pengetahuan dan sikap yang benar terhadap flu burung dibanding perdesaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi presentase penduduk yang telah pernah mendengar tentang flu burung, dan yang mempunyai pengetahuan serta sikap yang benar tentangnya.

b. HIV/IADS
Berkaitan dengan HIV/AIDS, penduduk ditanyakan apakah pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Selanjutnya penduduk yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang penularan virus HIV ke manusia (tujuh pertanyaan), pencegahan HIV/AIDS (enam pertanyaan), dan sikap apabila ada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS (lima pertanyaan). Penduduk dianggap berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS apabila menjawab benar masing-masing 60%. Untuk sikap ditanyakan: bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS apakah responden merahasiakan, membicarakan dengan ART lain, mengikuti konseling dan pengobatan, mencari pengobatan alternatif ataukah mengucilkan penderita. Tabel 3.133 menggambarkan persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan provinsi. Secara nasional, 44,4% penduduk sudah pernah mendengar tentang HIV/AIDS; 13,9% di antaranya berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS dan 49,3% berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS. Tiga provinsi yang penduduknya paling sedikit mendengar tentang HIV/AIDS adalah Maluku Utara (28,4%), Sulawesi Barat (29,3%) dan Nusa Tenggara Timur (30,2%). Dari yang pernah mendengar, yang berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS terendah adalah di Jawa Barat (6,2%), disusul Jawa Timur (6,6%) dan Banten (6,9%), sedangkan yang berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS terendah adalah Sulawesi Barat (29,0%), disusul Lampung (37,8%) dan Sulawesi Selatan (38,9%). Tabel 3.134 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan karakteristik responden. Pada umumnya, penduduk usia produktif (15-45 tahun) paling banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Menurut jenis kelamin, laki-laki umumnya lebih banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibandingkan perempuan. Secara umum, tampak adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS seiring dengan peningkatan umur. Dari segi pekerjaan, penduduk yang berpenghasilan tetap lebih banyak yang berpengetahuan benar tentang HIV/AIDS. Sedangkan dari segi tipe daerah, penduduk perkotaan lebih banyak yang sudah mendengar tentang HIV/AIDS dan berpengetahuan benar tentang pencegahan. Selanjutnya semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin baik pengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS.

197

Tabel 3.133 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi Pernah mendengar
44,3 55,2 42,0 55,3 46,0 34,5 49,2 43,2 52,9 71,1 67,8 45,1 42,5 57,4 40,5 41,7 52,1 33,9 30,2 46,6 40,5 44,3 59,2 58,6 38,5 35,3 35,6 33,7 29,3 45,7 28,4 56,4 51,3

Berpengetahuan benar tentang penularan*
17,9 17,1 16,5 14,3 19,5 21,8 10,6 7,2 8,7 17,4 9,2 6,2 12,2 9,4 6,6 6,9 12,8 21,4 29,2 17,7 10,9 7,8 13,3 12,5 7,1 13,7 14,8 14,1 16,1 26,6 15,9 37,1 45,0

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
41,0 40,6 46,6 45,1 40,3 40,4 39,8 37,8 44,5 53,9 61,8 61,2 60,0 64,9 53,6 49,3 61,8 52,7 50,6 46,7 46,1 46,3 47,8 51,9 44,2 38,9 41,0 40,5 29,0 54,9 46,8 53,4 59,9

NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Indonesia

44,4

13,9

49,3

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

198

Tabel 3.134 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik Pernah mendengar Berpengetahuan benar tentang penularan*
11,3 14,2 14,0 14,2 14,4 12,9 11,6 12,0 14,0 13,8 14,4 10,1 9,5 11,8 15,6 26,3 13,2 14,3 11,9 20,9 12,5 11,0 14,2 13,5 14,3 11,0 11,5 12,6 13,7 17,6

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
34,9 50,5 51,4 51,1 48,9 47,4 42,8 34,7 50,1 48,5 32,9 33,4 38,2 47,0 57,4 68,8 48,2 46,9 46,9 64,2 51,9 39,1 53,9 56,6 40,9 43,1 45,3 47,6 50,3 55,2

Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5

21,8 63,2 58,8 49,7 37,3 25,4 14,7 7,1 48,0 40,9 8,7 17,1 33,4 61,2 80,1 89,7 37,2 40,7 44,2 84,6 60,7 30,3 57,1 62,5 33,2 33,0 38,0 42,9 47,9 58,2

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

199

6 34.0 62.0%.9 89.1 19.3 62.5 3.8 5.1 5.2 75.2 87.5%) dan Sulawesi Tengah (18.0 58.3 15.8 50.5 48.2 67.2 6. penduduk yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan apabila ada ART yang menderita HIV/AIDS sebesar 34.9 10.0 51.3 12.9 59.3 5.5 6. sebesar 89.4 28.7 70.3 29.3 64.5 75. Riskesdas 2007 BicaraProvinsi Merahasia-kan kan dgn ART lain NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 33.5 6.8 61.5 51.4%).0 83.3 57.9 93.4 82.5 28.2 5.0 5.1 60.0 8.2 64. Sedangkan melakukan konseling dan pengobatan merupakan persentase tertinggi.4 3.3 7.3 65.6 90.9 34.7 21.2 5.3 70. 200 .7 8.3 Konseling dan pengobatan 84.5 48.8 26.7 76.1 59.7 85.Tabel 3.9 8.4 54.4 58.7 68.4 85.2 85.0 87.9 5.6 6.9 44.3 67.1 89.3 64.2 63.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi.3 Tabel 3.0 76. Provinsi-provinsi yang penduduknya bersikap baik (sedikit yang merahasiakan dan mengucilkan) adalah Sulawesi Barat (12%).1 55.0 76.3 30.8 23.7 5.9 85.1 2.2% dan 6.8 30.7 23.3 57.1 4.8 60.0 24.1 71.4 7.1 61.7 95.7 10.5 92.1 93.7 57.8 27.8 87.0 88.9 76.9 64.3 40.7 68.9 29.9 55.4 Mengucilkan Indonesia 28.4 67.6 6.8 8.9 13.4 65.9 43.3 50. Secara nasional.4 79.2 87.5 24.3 5.7 37.8 60.7 93.3 91.2 5.2 66.7 88.7 60.3 89.1 74.3 35.2 62.7 87.5 88.9 Cari pengobatan alternatif 60.6 9.1 5.0 83.4 85.7 90.1 5.9 92.7 24.3 72.6 52.7 63.0 51.8 64.8 34.8 59.6 63.7 23.8 5.5% (masing-masing 28.8 67.6 6.135 di atas memperlihatkan persentase penduduk di atas 10 tahun menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan provinsi.1 43.5 57. Sulawesi Selatan (17.0 5.8 20.8 67.7 76.7 89.2 86.3 26.2 69.4 56.1 90.2 62.3 5.1 38.7 62.3%).2 73.6 58.7 58.8 19.2 78.4 6.

7 59.5 6.5 91.6 91.3 89.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 29.4 45-54 27.4 6.6 56.3 56.5 90.Sedangkan provinsi yang penduduknya bersikap baik dalam hal akan melakukan konseling dan pengobatan adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah (masing-masing 93.5 Mengucilkan Kelompok umur (tahun) 10-14 29.1 76.9 Perdesaan 27.6 71.7 72.4 60.7 57.7 57.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 27.9 58.2 59.8 68.6 89.7 89.3 6.1 74.6 6.9 87.6 64.6 6.3 Sekolah 29.7 5.0 201 .4 89.9 86.3 6.7 Pekerjaan Tidak bekerja 29.136 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.8 7. Tabel 3.9 6.6 89.7 Wiraswasta 28.3 6.1 35-44 26.1 92.0 68.3 87.3 6.7 Kuintil-3 28.8 5.9 6.2 66.4 5.2 77.8 58.8 Ibu RT 28.4 15-24 30.6 70.7 69.3 Tamat SMA 28.4 25-34 28.2 5.9 7.5 6.0 52.1 Tidak tamat SD 28.6 6.0 6.4 69.5 Lainnya 26.0 55-64 25.8 78.7%) dan Bangka Belitung (93.0 78.8 65-74 25.2 Kuintil-4 28.7 64.9 63.1 Tamat SMP 29.4 6.6 50.8 59.5 58.5 Pendidikan Tidak sekolah 30.3 56.4 60.5 61.9 62.5 59.6 69.8 88.9 93.3 5.3 90.3 Kuintil-5 27.6 59.8 6.9 85.0 Tamat SD 28.1 Cari pengobatan alternatif 49. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Merahasiakan Bicarakan dengan ART lain 58.3 88.0 Jenis Kelamin Laki-laki 28.3 56.0 85.6 6.4 72.8 74.9 57.7 5.0 Tamat PT 26.9 58.5 Kuintil-2 28.2 6.2 69.1 60.7 69.1 66.6 6.9 71.8 90.1 6.7 81.0 60.0 Perempuan 28.4%).4 71.1 Petani/Nelayan/Buruh 27.6 67.2 94.3 52.0 70.5 Tipe Daerah Perkotaan 28.8 75+ 24.7 6.7 85.1 90.7 55.1 69.7 60.5 86.9 6.0 Konseling dan pengobatan 79.6 53.6 55.5 88.7 86.8 58.9 87.0 70.7 58.2 59.5 6.

Menurut tingkat pengeluaran. Menurut pendidikan. semakin muda umur penduduk semakin tinggi persentase sikap merahasiakan dan mengucilkan. petani/buruh/ nelayan memiliki persentase perilaku baik BAB dan cuci tangan terendah (56.1% dan 18. Sedangkan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi persentase perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan.6 Perilaku Higienis Perilaku higienis yang dikumpulkan meliputi kebiasaan/perilaku buang air besar (BAB) dan perilaku mencuci tangan. Semakin tinggi pendidikan. Penduduk perkotaan berperilaku baik lebih tinggi dari perdesaan. setelah buang air besar.7. dan 27. 202 . Perilaku BAB yang dianggap benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban.5%) dan Riau (14. Provinsi Sulawesi Barat (57. semakin tinggi semakin kecil sikap merahasiakan dan mengucilkan ini.6%). sebelum menyiapkan makanan.6%) adalah provinsiprovinsi yang perilaku cuci tangan benarnya rendah. Tabel 3. sebesar 71. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat (8.2%) dan Sumatera Barat (59.1% berperilaku benar dalam hal BAB. DKI Jakarta menduduki tempat tertinggi untuk perilaku baik dalam hal BAB dan cuci tangan. 3. Mencuci tangan yang benar adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.9%. Persentase perempuan yang berperilaku benar dalam BAB dan cuci tangan lebih tinggi dari laki-laki (berturut-turut 71.3%) adalah provinsi-provinsi yang perilaku BAB benarnya rendah.Tabel 3.138 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut karakteristik. Semakin tinggi usia semakin berperilaku benar dalam BAB dan cuci.137 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut provinsi.136 menggambarkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan karakteristik responden.8% dibanding 18.8%). Sumatera Utara (14. Tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan. Tabel 3.2% yang berperilaku cuci tangan benar. Menurut kelompok umur.2% dibanding 70. setelah menceboki bayi/anak. namun hanya 23.4%). demikian pula dengan penduduk perkotaan.4%). semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sikap merahasiakan dan mengucilkan. Dari aspek pekerjaan. tetapi tampak menurun lagi pada umur 55 tahun ke atas. dan setelah memegang unggas/binatang. Dari segi pekerjaan. Secara nasional. Gorontalo (59. perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan semakin tinggi. yang tidak memiliki pekerjaan relatif lebih banyak yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan anggota keluarganya yang menderita HIV/AIDS.

1 32.1 69.9 20. 203 .3 84.6 60.9 73.2 20.137 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.8 24.9 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 16.0 81.8 26.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 71.7 27.5 30.1 72.2 59.5 8.4 20.3 24.3 80.7 60.9 22.6 29.9 15.9 68.2 89.9 29.3 68.4 63.4 15.0 36. dan setelah memegang unggas/binatang.2 57.9 18.Tabel 3.6 79.2 59.7 67.0 14.6 18.7 71.2 25.0 23.0 68.2 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.1 59.1 32.5 73.0 30.3 44.7 59. dan setelah menceboki bayi/anak.9 17. setelah buang air besar.4 43.2 86.0 65.5 19.5 35.4 14.6 14.9 83. sebelum menyiapkan makanan.3 25. Riskesdas 2007 Provinsi Berperilaku benar dalam hal BAB* 61.3 68.6 76.2 72.3 59.8 38.8 72.0 98.1 23.4 82.

1 14. 204 .2 23.8 89. dan setelah memegang unggas/binatang.1 71.2 52.8 17.0 64.1 25. sebelum menyiapkan makanan.3 83.138 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden. dan setelah menceboki bayi/anak.8 29.8 24.9 73.1 18.6 75.5 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 17.9 20.0 70.4 71.4 59.6 21.4 27.5 68.8 24.0 21.7 56.7 69.9 24.1 18.7 58.4 24.4 27.5 22.8 76.6 69.2 72.7 93. Riskesdas 2007 Berperilaku Karakteristik responden benar dalam hal BAB* Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 68.0 36.6 23. setelah buang air besar.1 77.8 19.3 70.7 28.6 68.6 26.7 88.7 19.9 71.6 19.1 18.9 30.9 94.6 73.Tabel 3.7 31.2 59.7 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.8 72.4 22.8 84.8 18.1 65.

3 10.1 4.0 0.3 15.1 0.5 28.7 28.9 8.5 89.7 18.6 23.1 10.2 11.1 25.0 2.5 79.2 87.5 85.9 5.8 27.8 Indonesia 65.9 29.6 1.2 7.7 4.3 1.3 16.7 17.3 85.7 1.5 2.5 8.1 74.4 23.4 16.5 5.2 3.7 85.5 4.1 3.5 25.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko Penduduk yang “sering” makan makanan/minuman manis.7 1.5 2.6 24.9 27.0 5.139 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Provinsi.8 14.3 2.3 72.2 5.2 1.8 205 . makanan minuman makanan penduduk Tabel 3.1 55.2 8.8 39.2 5. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Manis 69. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari.3 84.8 19.7 24.9 69.4 2.8 23.9 6.2 4.4 2.0 79.8 54.0 2.6 2.4 60.8 Berle mak 15.6 13.3 19.2 27.5 82.8 17.8 1.1 9.7 5.0 Diawet kan 6.2 15.4 8.1 21.8 7.2 50.2 Jeroan 3.2 59.4 8.6 1. dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi berisiko.9 7.2 86.1 20.2 81.5 19.5 5.3 87.5 6.0 4.8 63.2 2.4 1.2 24.3 7.0 68.5 1.2 62.0 4.7 7.4 5.4 86.1 6.3 41.0 4.9 79.0 75. makanan asin.0 6.1 59.9 1.2 Asin 22.1 9.8 4.7 14.6 61.6 38.4 4.3 15.2 19.6 77.8 2. makanan dibakar/panggang.1 72.2 3.3 21.0 39.7 3.6 67.2 9.1 56.3 83.5 12.8 52.0 1.3 57.2 11.5 4. berkafein.1 4.9 65.6 70.4 7.6 2.7 2.6 2.9 83.7 47.3 11.1 71.7 Dipang gang 5.6 4.9 Berka fein 45.5 92.4 21.5 77.1 13.8 71.2 10.0 31.3 29.0 29.6 24.6 6.0 8.6 6.4 83.9 60.2 78.5 45.4 8.6 23.3 36.7 8.8 5.6 43.2 11.4 44.7 4.6 45.0 Penyedap 33.6 10. berlemak.4 7.4 2.3 5.9 69.1 1.6 84. makanan yang diawetkan.7 3.2 9.6 9.2 1.6 2.1 22.7 31.3 5.0 46.5 58.6 68.6 5.5 19.3 58.6 2.2 1.8 18.6 30.0 3.4 35.8 34.9 13.6 4.2 68.4 3.3 76. jeroan.8 12.3 3.3 9.0 3.1 64.4 14.0 8.9 59.2 10.1 4.9 2.3 21.8 3.0 76.1 1.8 2.7 47.6 86.6 24.9 38.2 30.4 84.4 2.8 73.7 90.0 79.2 43.0 18.8 89.6 74.7 40.2 80.9 1.6 47.9 7.8 19.4 35.8 11.7.5 89.8 4.7 52.6 55.9 30.1 90.3 71.5 44.1 9.3.6 7.2 34.4 3.7 15.9 4.4 1.

5 25.6%).5 46.5 21.1 65.8 5.5 24.3 78.8% penduduk secara keseluruhan.1 5.6 4.0 4.8%) dan terendah di Provinsi Bangka Belitung (5.5 Berka fein 16.8 24.4 4.4 24.6 26.5 13.4 Kuintil-5 68. tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (92.8 77.9 42.0 Tipe daerah Perkotaan 69.3 6.8 1.3 3. tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (83.2 24.8 65.3 24.2 77.6 26.3 12.5 Tidak Tamat SD 62.0 4.5 3.8 1.8%).6 4.5 2.3 76.6 6.9 74.5%) dan terendah Provinsi Bali (44.8 63.6 6.1 12.4 62. 12.6 14.6 39.7 6. tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan (41.139 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut provinsi.5% penduduk secara nasional.4 13.6%) dan terendah di Provinsi Sulawesi Tengah (5.6%) dan terendah di Provinsi NAD (33.0 Perdesaan 62.3 37.1 2.5 77.0 Tamat SMP 66.3 35. Sedangkan prevalensi sering mengonsumsi makanan asin secara nasional ditemukan 24. Penyedap sering dikonsumsi oleh 77.9 76.6 13.1 2.2%).2 25.7 77.4 25-34 66.7 5.4 12.5 78.7%).2 78. tertinggi di Provinsi Gorontalo (25.8 1.1 2.8 11.6 23.1 38.4 5. Riskesdas 2007 Karakteristik Manis Asin Berle mak 13.7 2.7 46.5 6.3 6.1 1.0%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (11.1 78.7 78.1 66.2 5.0 71.7 36.Tabel 3.0 4.7 14. Secara nasional.4 Kuintil-2 63.4 43.7 72.2 65-74 61.7 1.7 78.4 Pendidikan Tidak Sekolah 57.5 79.5 3.9 Jenis kelamin Laki-Laki 67.1 7.5 21. tertinggi di Provinsi Bali (62.4 63.9 55-64 63.7 35-44 66.7 2.6 31.8 4. Sering mengonsumsi makanan manis dilakukan oleh 65.2 6.5 11.8 37.6 5. Sedangkan kafein sering dikonsumsi oleh 36.5 Perempuan 63.1 Tamat SMA 69.140 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.3 Diawet kan 8.1 45.1 Kuintil-4 66.2 12.2% penduduk Indonesia yang berusia ≥10 tahun.9 2.2%).5%.0 2.4 6.3 28.0 36.0 75+ 60.7 5.9 6.5 4.9 24.3 6.0 4.4 68.5 4.1 Jeroan Dipang gang 5.8 12.8 1.1 24.5 206 .5 76.6 7.8 3.9 45-54 66.4 Tamat SD 64.8% penduduk Indonesia sering mengonsumsi makanan berlemak.1 5.0 1.5 25.4 66.7 62.9 1.1 24. Tabel 3.8 Kuintil-3 65.7 42.1 39.4 5.4 15-24 65.3 75.7 6.9 11.9 1.7 32.1 36.4 35.3 1.8 6.7 4.1 68.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 62.0 37.2 4.7 77.8 1.8 4.2 2.8 Tamat PT 71.3 6.2 79.0 5.1 Penyedap Kelompok umur 10-14 63.9 1.8 11.8 24.0 5.7 23.2 78.9 21.0 10.4 2.1 35.1 13.9 78.9 12.0 2.7 4.5 79.

makanan asin. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. Dalam penilaian PHBS ada dua macam rumah tangga. Sedangkan perilaku sering minum minuman berkafein nampak meningkat sesuai peningkatan usia. Sedangkan untuk konsumsi jenis makanan berisiko lainnya pola prevalensi antara laki-laki dan perempuan hampir sama. Sedangkan pola prevalensi sering mengonsumsi makanan asin. kelompok dan masyarakat. Menurut jenis kelamin. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. untuk meningkatkan pengetahuan. jeroan. dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan.8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Riskesdas 2007 mengumpulkan 10 indikator tunggal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)3 yang terdiri dari enam indikator individu dan empat indikator rumah tangga. penduduk cukup beraktifitas fisik. dengan membuka jalur komunikasi. Sementara pola prevalensi sering minum minuman berkafein. bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. Indikator Rumah Tangga meliputi rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih.Tabel 3. jeroan dan makanan yang dipanggang cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi. dan makanan yang diawetkan ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. sehingga nilai tertinggi adalah 10. Secara nasional. dan rumah tangga dengan lantai rumah bukan tanah. memberikan informasi dan melakukan edukasi. namun setelah usia 55 tahun prevalensi cenderung menurun. Pola yang sama ditemukan untuk konsumsi penyedap makanan menurut umur. dan penyedap makanan nampak berbanding terbalik dengan peningkatan kuintil. sehingga nilai tertinggi delapan (8). minum minuman berkafein dan makanan dipanggang cenderung lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. makanan berlemak. makanan berlemak. Tabel 3. Untuk rumah tangga dengan balita digunakan 10 indikator. PHBS diklasifikasikan “kurang” apabila mendapatkan nilai kurang dari enam (6) untuk rumah tangga mempunyai balita dan nilai kurang dari lima (5) untuk rumah tangga tanpa balita. penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38. sedangkan untuk rumah tangga tanpa balita terdiri dari 8 indikator. demikian halnya perilaku sering mengonsumsi makanan asin. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. yaitu rumah tangga dengan balita dan rumah tangga tanpa balita. laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan minum minuman berkafein dibandingkan perempuan. yaitu 3 Program PHBS adalah upaya untuk memberi pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan. makanan dipanggang dan diawetkan.7%. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.141 memperlihatkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS baik menurut provinsi. Sementara untuk makanan asin dan minum minuman berkafein pola prevalensi berbanding terbalik dengan meningkatnya pendidikan. melalui pendekatan pimpinan. 207 . 3. Sementara pola prevalensi jenis konsumsi lainnya nampak tidak berbeda menurut tempat tinggal. ekonomi. bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif. Sedangkan untuk makanan yang dipanggang. sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat. akses jamban sehat. penduduk tidak merokok. kepemilikan/ketersediaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. Menurut tipe daerah.140 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut karakteristik responden.7. Indikator individu meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Menurut tingkat pendidikan. Menurut umur. diawetkan dan penyedap makanan pola prevalensi menurut tingkat pendidikan nampak tidak beraturan. Terdapat lima provinsi dengan pencapaian di atas angka nasional. perilaku sering mengonsumsi makanan manis cenderung menurun setelah usia 45 tahun. dan penduduk cukup mengonsumsi sayur dan buah. kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (≥8m2/ orang). makanan berlemak. berlemak. keluarga.

9 33. Jawa Tengah (47%).9 32.6 47.4%). Kalimantan Timur (49.2% ).1 33. Riskesdas 2007 RT dengan PHBS Baik 34.4 37. Sedangkan provinsi dengan pencapaian PHBS rendah berturut-turut adalah Papua (24.7 47.7 34.8 51. Tabel 3.3 27.8 30.7% ).2 35.3 33. Nusa Tenggara Timur (26.8 29.8 28.7 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 208 .4 42.0 33.9 34.7 41.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.2 28.8%). Bali (51.4 38.8 32.0 24.8 37.8 46.8%). Riau (28.3 28.8 33.2%).0 40. dan Sulawesi Utara (46.2 45.9 44.4 35.0 58.9% ).6 49.1 26.1%) dan Sumatera Barat (28.DI Yogyakarta (58. Gorontalo (27.8%).

9 91.1 40.3 44.9 19.9 94.4 92.1 54.4 29.2 91.7 96.6 96.5 93.4 61.8 24.0 23.7 96.Tabel 3.4 24.1 21.3 23.2 94.2 45.6 48.7 55.2 39.1 20.8 97.8 20.0 Merokok*** Indonesia 93.7 Kurang aktifitas fisik** 53. Riskesdas 2007 Kurang Provinsi konsumsi sayur buah* NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 95.8 48.6 48.3 52.9 93.2 22.5 95.1 90.9 92.0 23.5 96.8 91.1 87.2 23.2 50.4 44.2 57.2 21.1 54.2 48.6 47.5 28.6 24.0 44.4 97.6 20.1 91.9 19.6 94.4 24.8 24.4 96.7 91.1 45. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.9 83.9 43.7 49.3 89.3 42.4 96.7 24.5 96.5 96.6 22.4 20. Kurang Aktifitas Fisik.4 94.4 49.2 92.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari 209 .8 60.1 19.8 27.6 24.7 47.7 23.142 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.8 26.1 20.1 47.7 92.4 53.1 25.5 25.8 49.2 23.3 25.8 27.6 96.3 46.0 86.7 52.3 46.4 43.3 25.5 22.

0 42.6 26.0 15-24 93.8 52.6 Perdesaan 94.8 29. kanker.7 58. stroke.5 Kuintil-4 93.0 33.9 2.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari Tabel 3.9 35.3 Tamat SMP 93. penyakit paru obstruktif kronik).0 57.6 Kuintil-3 93.4 28.3 Tamat SD 94.4 37.0 45-54 93.8 30.143 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.4 30.3 60.0 Kuintil-2 94.4 42.4 30. diabetes mellitus.0 35-44 93.6 66. kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu) dan merokok setiap hari.0 Tamat PT 90.9 48.9 36.6 34. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.3 48.5 Kuintil-5 92.3 76.9 Tidak Tamat SD 94.6 25-34 93.1 43.5 41.Tabel 3.1 29.4 55.4 53.2 45.5 65-74 94. 210 .5 4.5 38.0 Tipe daerah Perkotaan 93.6 44.3 38.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 94.9 47.3 49.5 29.143 di atas merupakan gabungan dari beberapa perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular.3 27. Riskesdas 2007 Kurang Karakteristik responden konsumsi sayur buah* Kurang aktifitas fisik** Merokok*** Kelompok umur (tahun) 10-14 93.1 25.0 24.1 Jenis Kelamin Laki-Laki 93.0 55-64 93.1 29.6 Tamat SMA 92.5 34.6 47.7 75+ 95.7 54.8 52.7 Perempuan 93.4 38.4 Pendidikan Tidak Sekolah 94.7 44.9 28.142 tabel 3. yaitu perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari).

4%). Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3. puskesmas pembantu. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit.2%).4%). Sulawesi Tenggara (10. Berdasarkan tipe daerah.3. Tabel 3.144 menunjukkan bahwa sebanyak 94. DKI Jakarta (4. dan polindes/bidan di desa. Papua (12. antara lain jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan.0% RT berada lebih dari 5 km. Daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30. Papua (30. dokter praktek dan bidan praktek 2. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan. DI Yogyakarta (4. Sulawesi Barat (17. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8%).8. Dengan demikian secara nasional. Selanjutnya untuk UKBM dikaji tentang pemanfaatan dan jenis pelayanan yang diberikan/diterima oleh rumah tangga/RT (masyarakat). Nanggroe Aceh Darussalam (10. pos obat desa. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4. Kalimantan Barat (19. serta status sosial-ekonomi dan budaya. 211 . termasuk alasan apabila responden tidak memanfaatkan UKBM dimaksud. dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan. proporsi rumahtangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer.9%).1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari sarana pelayanan kesehatan dan hanya 6. warung obat desa.3%). masih ada sekitar 9. puskesmas. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16. Dalam analisis ini.8%).7%). Sulawesi Barat (14.2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.7%). Sulawesi Tenggara (13.2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan.1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor penentu. posyandu.4%) dan Maluku (10. Untuk masing-masing kelompok pelayanan kesehatan tersebut dikaji akses rumah tangga ke sarana pelayanan kesehatan tersebut.7%). Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi. Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yaitu pelayanan poskesdes.6%).9%) Tabel 3. Nusa Tenggara Timur (14.145 menyajikan informasi tentang jarak dan waktu tempuh rumahtangga terhadap sarana pelayanan kesehatan menurut karakteristik rumah tangga.5%). yaitu: 1.8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan 3. sarana pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi dua.0%). Sarana pelayanan kesehatan rumah sakit. Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67.

6 4.2 48.5 1.6 47.7 1.6 31.4 54.4 74.3 3.7 2.5 3.4 69.4 7.8 42.4 47.0 2.2 3.3 66.5 57.7 76.4 8.4 19.5 69.7 2.1 6.8 14.5 3.3 4.0 1.6 1.7 46.4 37.6 1 .5 79.7 67.6 6.5 20.3 41.4 5.6 12.6 5.4 50.5 73.8 4.0 57.4 47.1 0.1 66.6 9.0 27.6 0.2 16.9 31.0 Indonesia Catatan: 47.8 0.7 36.1 47.4 27.8 10.4 1.9 50.3 3.9 48.6 2.7 7. Dokter 212 .2 19.0 20.3 7.5 3.4 52.2 10.3 24.3 6.5 10.9 58.4 52.4 7.5 40.1 3.144 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.6 4.5 52.8 25.8 4.7 40.6 6.7 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 55. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua JARAK KE YANKES < 1 KM 27.5 23.3 16'-30' 31.3 72.5 45.7 5.0 4.6 4.6 57.4 1.4 5.0 67.3 23.5 70.7 22.1 6.3 14.7 47.0 27.5 3.9 24.5 35.6 1.9 20.2 45.6 26.6 >60' 3.1 72.1 5.8 37.6 40.9 6.8 20.8 6.8 23.0 52.0 69.4 58.6 46.2 23.8 1.9 10.7 0.0 65.Tabel 3.9 7.8 36.0 54.4 1.2 2.5 KM 61.2 46.6 19.2 75.3 17.2 29.8 37.6 18. Puskesmas.4 4.6 41.4 61.2 5.5 44.9 17.5 43.6 6.0 48.6 2.7 7.5 2.4 1.6 3.3 5.2 3.4 73.9 6.5 58.7 38.7 45.1 31'-60' 9.9 35.7 6.0 37.3 3.8 36.4 21.2 64.2 50.4 6.0 1.3 2.4 47.7 44.8 12.5 48.1 60.3 44.0 54.2 39.0 76.1 16.1 51.7 > 5 KM 10.6 50.9 44.2 5.2 72.4 17.8 30.4 0.6 74.6 64.2 22.8 7.9 11.7 *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.5 50.9 4.1 39.2 2.4 8.9 6.2 19.0 4.6 42.9 3.0 72.6 24.6 55.1 0.3 75.3 65.8 52.6 6.6 24.0 51.6 3.7 4.2 16.9 49.2 69.8 7.7 52.8 14.4 44.0 3. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.6 2.8 28.6 27.0 76.3 7.8 55.4 7.0 22.0 48.

dan 3.6 6. Poskesdes. dan semakin singkat waktu tempuh ke UKBM.145 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.0 61.4 6. Berdasarkan tipe daerah.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 58.1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit.3%).8 48.8 26.6 2.1 69.6 3. Dari segi jarak. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.3 23.6 39.8 45.8 52. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85.3 3. proporsi rumah tangga dengan jarak ke UKBM >5 kilometer.6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit. nampak bahwa 78.3%) dan Riau (5.Tabel 3.0 46.8 40.5 7.3 1. Sebanyak 11.147) 213 .7 48.5 19.6 4.6 9.4 8. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.146 menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM.4 64.1 0.4 26. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit. Dokter Tabel 3.5 6.5 4. Puskesmas.4%).7 8.1 2. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 60. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6.5 1.1 5.4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit. dan Polindes.6 5.8 22. Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM. disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11.3 18.7 43.0 JARAK KE YANKES < 1 km 1 .6 Puskesmas Pembantu. Praktek dan Bidan Praktek ) 43. tertinggi adalah Provinsi Papua (15.9 50.0 67. meliputi Posyandu.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat Pengeluaran rumahtangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Catatan: * Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.4 47.2 7.4 45.5 2. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.5 48. (Tabel 3.5 25.8 4.4 74.9 78.5% berjarak 1-5 km dari UKBM.6%).

4 0.4 1.7 5.9 29.1 68.4 2.2 8.9 28.1 1.9 92.1 84.6 93.6 83.1 1.8 2.7 1.3 80.1 81.6 70.2 87.6 64.4 87.7 2.9 76.7 81.6 3.1 0.6 2.3 2.3 78.9 89.7 1.6 0.9 4.5 1.8 1.5 23.1 3.7 20.5 0.1 31'-60' 3.5 14.5 0.2 93.2 *) UKBM meliputi Posyandu.1 1.2 74.7 88.3 7.0 11.6 72.3 16.0 5.0 0.8 2.4 0.8 2.5 85.Tabel 3. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia JARAK KE YANKES < 1 km 69.3 1.4 1.2 74.3 91.9 8.0 86.3 20.6 68.4 18.5 0.7 0.8 86.0 81.2 24.2 8.1 7. Poskesdes.5 21.6 2.1 0.7 88.7 3.3 21.1 1.0 7.0 4.9 1.6 19.9 83.7 80.5 25.3 15.3 8.7 75.5 km 27.5 6.2 16.6 0.4 0.9 77.9 4.1 75.1 18.1 3.2 0.7 1.3 2.1 9.3 78.6 6.6 82.9 86.3 22.5 > 5 km 3.2 0.7 9.0 9.7 3.1 1.6 1.0 87.4 12.3 24.4 1.2 27.2 13.2 79.146 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi.2 4.7 11.3 13.5 1.2 7.3 82.2 66.7 13.4 1.4 8.4 1.4 1.4 21.5 2.1 0.2 23.0 2.4 2.3 88.5 3.6 0.6 0.0 62.5 91.2 1.1 84.8 79.5 1.3 6.9 1.4 0.1 2.4 7.7 85.0 3.9 2.6 8.7 6.9 24.3 73.8 67.9 15.1 15.4 >60' 2.3 2.9 11.6 66.9 11.2 1.5 1.8 90.6 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 80.0 3.8 27.9 0.1 0.9 1 .3 0.5 9.2 6.3 13.2 83.1 9.2 1.8 12.3 2.4 2.6 0.0 16.9 69.0 88.4 92.8 0.7 31.7 89.3 88.3 17.9 0.5 0.5 76.9 5.6 1.7 0.1 79.9 86.9 7.7 1.4 3.7 83.7 90.4 2.3 0.7 22.5 0.5 90.4 0.0 14.2 0.4 16'-30' 14.5 74.8 29.6 74.8 22.8 15. Polindes 214 .3 93.5 1.1 91.3 1.9 9.6 0.8 0.0 16.5 9.0 84.2 0.

8%) dan Jawa Barat (5.9%) dan Nanggroe Aceh Darussalam (19. Secara keseluruhan.6 88.3 84.9 11.2 73.0 1. Tampak bahwa persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan. memberikan gambaran persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu atau poskesdes di tiap provinsi selama tiga bulan terakhir.8 2.7 13.148.4 92. seperti tidak ada anggota rumah tangga (ART) yang sakit.149 menggambarkan pemanfaatan posyandu/poskesdes berdasarkan karakteristik rumah tangga. Sedangkan yang sebetulnya membutuhkan tetapi tidak memanfaatkan posyandu atau poskesdes adalah sebanyak 10.7%).1 2.1 3.3% rumah tangga.2 81.3 20.4 0.7 77.4 2.1 11.6 1.5 21.9 10.1 82. di Indonesia sebanyak 27. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/ poskesdes tertinggi adalah Provinsi Maluku (20. tidak ada yang hamil atau tidak mempunyai bayi/balita.9%).7 86.7 1.6 1.5 km > 5 km <15' WAKTU TEMPUH KE UKBM 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 76.1 6. sedangkan terendah di Provinsi Jawa Tengah (5.3% rumah tangga memanfaatkan pelayanan di posyandu atau poskesdes. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 88.7 3. Bila ditinjau dari tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 1.5 12.4 1.5 1.4 24.5 0.8 81.0 *) UKBM meliputi Posyandu.9 10.4 2.4 2. Sebanyak 62.0 85.Tabel 3.5 19. Polindes Tabel 3.1 1.9 79.8%). Poskesdes.6 17.7 JARAK KE UKBM < 1 km 1 .4 9. nampak ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin kurang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes. 215 .8 1.8 0.4 18.9%) dan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (19. Provinsi dengan persentase rumah tangga memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (42.8 78.1 1. Tabel 3.5% rumah tangga menyatakan tidak membutuhkan pelayanan di posyandu atau poskesdes karena berbagai alasan.147 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.4 1.

8 22.3 15.3 42.8 11.0 26.5 13.9 27.3 48.3 11.6 22.1 7.5 10.2 26.8 33.7 11.6 66.1 62.3 62.2 13.0 8.4 68.4 61.8 5.4 25.0 11.4 25.8 31.4 51.4 10.3 42.0 64.4 56.9 27.4 70.4 7.9 9.8 26.6 58.9 30. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.4 8.2 31.3 58.2 12.5 64.7 36.9 5.4 68.5 61.5 60.8 25.6 20.2 60.0 30.9 58.8 20.8 23.1 66.4 28.4 27.2 64.4 24.7 23.8 30.9 33.2 11.6 50.3 216 .6 12.7 27.0 7.5 28.4 59.8 54.0 55.8 7.1 28.4 19.7 65.4 11.2 17.7 64.5 16.3 68.0 6.0 27.9 7.1 60.2 11.7 67.5 57.1 19.Tabel 3.9 5.7 52.9 69.3 Alasan lain Indonesia 27.6 67.9 6.6 12.0 23.5 22.3 25.8 18.148 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.

Sedangkan yang menjawab letak jauh dan tidak ada posyandu persentasenya hampir sama.4 31.3 Tabel 3. Menurut tipe daerah.1 58.150 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir.6%) tidak memanfaatkan pelayanan di posyandu/poskesdes karena dianggap tidak lengkap.4%) dan terendah di 217 .1% dan 24. imunisasi.4 10.3 29.3%.9 59. dan suplemen gizi lebih banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga di perkotaan daripada di perdesaan.0%) dan imunisasi (55. Pada rumah tangga yang sebetulnya membutuhkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir tetapi tidak memanfaatkan diminta untuk menyebutkan alasannya. Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi menjawab ’layanan tidak lengkap’ adalah DI Yogyakarta (88.6%) dan terendah adalah Papua Barat (17.9 18.8%). penyuluhan.1 66.3 10.149 Persentase Rumah Tangga Menurut Pemanfaatan Posyandu/Poskesdes dan Karakteristik Rumah Tangga.3 23.6%). Sebaliknya untuk pelayanan pengobatan dan konsultasi risiko penyakit semakin tinggi tingkat pengeluaran. Sedangkan pelayanan KB dan pengobatan di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan. Tabel 3.1 10. yaitu masing-masing 26. Tabel 3.4 66.8 62.5 54. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga. semakin banyak yang menerima pelayanan tersebut.0 27.0 71.8 11.1%). PMT. PMT dan suplemen gizi. Untuk alasan ’letak posyandu/poskesdes jauh’ tertinggi di Provinsi Riau (52. Tampak secara keseluruhan di Indonesia jenis pelayanan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga adalah penimbangan (85. imunisasi. semakin sedikit yang menerima pelayanan penimbangan.151 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga. untuk pelayanan penimbangan. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 24. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.2 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Per Bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 35.7 8.1 10.7%) dan pelayanan KB (28.1 10. Hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan posyandu/poskesdes untuk konsultasi risiko penyakit (13. Hampir separuh rumah tangga (49.Tabel 3.152 menggambarkan alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir (di luar yang tidak membutuhkan).

9 94.3 33.7 37.2 48.6 50.1 40.4 50.4 67.3 56.1 27.0 14.2 22.0 43.6 62.0 82.6 42.8 28.9 28.2 50.3 60.8 29.5 34.7 9.5 14.8 30.8 37.3 38.5 49.0 24.1 93.2%).5 78.3 65.6 25.0 25.4 55.9 35.2 35.5 56. sedangkan untuk alasan ’tidak ada posyandu/poskesdes’ tertinggi di Papua Barat (71.7 46.9 34.2 17.4 46.8 46.0 10.2 27.2 25.6 62.153 menggambarkan alasan utama (di luar tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan posyandu/poskesdes menurut karakteristik rumah tangga.2 11.5 41.3 33.5 89.1 10.6 16.7 56.6 27.4 59.9 36.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.2 80.9 78.9 56.2 80.9 64.9 38.5 85.0 53.5 42.2 46.2 11.1 30. di perkotaan alasan ’jenis layanan posyandu/poskesdes tidak lengkap’ lebih mendominasi. Riskesdas 2007 Penimbangan Penyuluhan Imunisasi Pengobatan Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit Provinsi KIA KB PMT NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92.4 53.6 30.2 34.3 25.7 79.5 40.2 46.1 83.4 53.6 80.2 32.7 37.3 23.1 50.7 39.7 22.9 48.2 60.0 44.2 35.2 33.8 52.9 46.4 51.1 89.2 10.5 33.7 30.1 43.8 56.6 30.9 58.5 91.3 29.3 85.2 36.2 48.9 30.3 51.4 49. Berdasarkan tipe daerah.9 15.1 54.3 40.1 34.3 49.9 22.9 45.7 16.1 55.5 25.1 46.0 30.2 55.1 36. sedangkan di perdesaan alasan yang banyak dipakai adalah ’letak jauh’.3 50.4 26.Provinsi DI Yogyakarta (5.2 47.3 61.9 19.4 32.6 31.1 18.7 14.2 22.9 33.0 51.0 22.0 36.2 24.5 70.9 48.0 40.3 45.5 32.7 37.1 58.1 88.1 18.2 60.2 15.3 69.0 34. Tabel 3.4 37.1 48.2 84.4 37.9 55.8 38.5 27.3 36.1 67.2 20.9 72.5 46.0 23.7 33.9 35.4 42.2 60.2 36.7 28.6 55.6 28.2 50.6 77.7 37.8 41.7 32.5 12.8 55.2 20.6 59.4 46.9 28.0%) dan terendah DKI Jakarta 218 .5 71.5 28.2 26.2 9.9 40.8 59.6 41.9 68.9 54.0 40.8 64.1 46.1 39.7 76.0 64.5 37.8 51.8 34.1 9.7 24.7 88.6 27.4 47.6 12.9 60.4 31.2 54.0 47.1 52.1 27.7 54.3 40.9 52.8 58.0 56.7 13.5 16.6 24.7 47.0 62.6 38.7 92.2 54.0 34.6 12.0 11.7 28.7 25.3 28.9 25.5 81.3 12.7 42.7 31.4 14.8 92.3 37.5 31.9 32.3 29.5 30.6 17.5 46.3 28.9 61.6 42.8 33.3 10.0 20.8 74.8 55.2%).2 98.4 33.2 42.6 35.1 62.3 94.7 49.7 37.1 90.4 88.9 43.0 32. Tabel 3.3 25.4 35.6 25.3 27.0 24.7 24.0 39.7 39.1 52.9 34.7 39.2 27.5 67.9 46.5 32.9 52.5 51.9 58.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (6.0 24.7 28.3 46.4 16.8 9.2 23. Ketidakberadaan posyandu / poskesdes disebut sebagai alasan untuk tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes oleh rumah tangga dengan persentase yang tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan.7 20.4 27.2 32.6 68.8 96.0 78.2 8.5 13.7 Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa adalah Provinsi Sumatera Barat (34.5 47.5 17.6 85.2 95.0 24.9 24.3 59.

2 51.4 44.6 30.3 35.2 29.2 58.5 40.4 43.155 menggambarkan pemanfaatan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.7 30. Untuk alasan tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.4%).7 12.6 Kuintil 4 83.3 30.6%).8 46.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (15.0 28.7 52.6 47.1 46.7 43.8 30.2 36.7 37.2%).1 54.3 13.9 39.5 45.8 42.8 33.5 39. sedangkan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (13.(6.0 45.6 27.1 44.3 219 .9 15.151 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.6 55.4%).5 14.6 30.8 30.5 Kuintil 3 84. Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang tidak memanfaatkan dengan alasan lain (diluar tidak membutuhkan) adalah Provinsi Papua (55.9 36. Provinsi Gorontalo menempati persentase tertinggi (76.6 Kuintil 2 85.8 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Kuintil 1 87.7 Kuintil 5 81. Secara keseluruhan lebih dari separuh rumah tangga.6 25.9 40.7 13.7 26.1 53.7 Tipe Daerah Perkotaan 89. Sedangkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa di perdesaan (25.2 30. baik yang tinggal di daerah perdesaan maupun perkotaan.0%) dan Papua Barat (54.1 28.7%).4 Perdesaan 82.6 42.7 43.7 35.6 29.2 39. sedangkan terendah adalah Provinsi Papua (30.2 49.4 13. Tabel 3.5 48.2 56. Riskesdas 2007 Tipe Daerah Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit 13. Tabel 3.0 47.2 35.0 37.3%). tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.

7 50.4 11.8 9.3 20.8 58.1 17.0 52.8 27.5 25.0 10.7 71.6 220 .1 posyandu 20.6 32.7 26.9 44.8 25.7 26.2 19.6 60.4 43.7 37.1 23.0 6.8 67.2 8.4 36.9 38.4 26.4 23.9 19.2 41.7 69.5 13.6 39.2 22.9 14.1 42.0 20. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Provinsi posyandu/poskesdes Tdk ada Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 16.3 12.8 51.7 32.2 88.1 24.0 34.4 6.7 54.5 30.3 8.4 8.9 16.6 16.1 51.5 22.9 39.0 17.1 25.6 33.3 43.8 17.8 5.2 29.2 24.0 50.2 52.3 10.1 56.6 50.3 37.1 44.6 30.152 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.3 Layanan tdk lengkap 63.4 16.8 29.6 38.5 21.6 19.6 18.4 38.4 70.9 38.4 35.6 12.5 50.6 55.Tabel 3.7 62.6 31.5 49.1 24.9 61.5 47.3 10.0 37.7 18.0 17.9 27.2 46.1 39.2 20.2 66.1 22.5 60.

0 Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran.3 31. Adapun pelayanan KIA yang terbanyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan bayi/balita (29.4 60.5 26.1%) dan terendah Bengkulu (17.2 25.0%) dan terendah di Bengkulu (11. Untuk pelayanan KIA.4 44.8 41. Tabel 3.9%). pemeriksaan bayi/balita terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (69.7 25. disusul pemeriksaan kehamilan (22. dan pemeriksaan bayi/balita. Menurut provinsi.7%). Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Letak jauh Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15.6%). pemeriksaan ibu nifas dan pemeriksaan neonatus masing-masing di bawah 10%.0 29. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dan semakin banyak yang tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan desa.8 18. pemanfaatan polindes/bidan di desa sebagai tempat pengobatan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (90.3%). yaitu pelayanan KIA dan pengobatan.2 posyandu/poskesdes Tdk ada posyandu Layanan tdk lengkap Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 33.3 22.8 22.5%).7%). Pemeriksaan kehamilan tertinggi dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (97.9 59. jenis pelayanan yang diterima dapat dikelompokkan menjadi dua.Tabel 3. Jenis pelayanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pengobatan (82.6 22.9 24. pemeriksaan ibu nifas.9 50.1%) dan terendah di DKI Jakarta (56. 221 .2%). persalinan. pemeriksaan neonatus.1 24.3 24.3 52.1%) dan terendah di Riau (4.156 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan provinsi. Pertolongan persalinan terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Jambi (42.7 44. Pelayanan KIA meliputi pemeriksaan kehamilan. Dari rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan persalinan.153 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.

8 34.4 11.5 63.3 13.3 44.0 27.9 21. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.9 52.8 21.4 56.8 13.8 54.2 46.4 62.5 24.3 42.1 26.0 52.3 6.4 24.5 45.3 76.7 18.9 30.2 50.9 23.1 54.2 16.6 20.9 25.3 51.7 27.3 48.2 45.6 22.3 24.2 21.4 25.1 17.0 45.154 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi.0 Alasan lain Indonesia 21.9 25.0 14.2 19.7 22.3 26.5 30.0 34.2 17.9 26.7 22.4 34.8 29.4 52.2 13.0 19.9 22.7 25.7 25.0 33.5 15.3 9.2 222 .8 20.4 57.5 45.4 21.9 9.4 49.0 54.3 38.3 55.2 50.8 8.2 31.2 29.4 45.4 32.1 71.9 64.6 56.3 19.5 40.8 14.3 50.1 19.9 58.5 51.7 10.8 21.5 23.6 23.8 46.8 41.7 67.8 29.0 39.2 45.4 43.Tabel 3.3 8.1 27.9 19.

Tabel 3. ’letak jauh’ (8.158 menggambarkan alasan utama rumah tangga (di luar yang tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut provinsi. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15. 223 .3%).8%) yang tidak memanfaatkan polindes/bidan desa dengan alasan ‘letak polindes/bidan di desa jauh’.6 24.7 52.3 27.6 50. dan persentase terendah Provinsi DKI Jakarta (1.0 58.5 54.8 57.8 24.9%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.0 50. Menurut tipe daerah. sedangkan di perdesaan lebih banyak yang memanfaatkan untuk pelayanan pengobatan. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Sedangkan untuk alasan ’layanan tidak lengkap’ persentase tertinggi adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (26.1 Tabel 3.2 25.9 25.155 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.7 49. dan ’layanan tidak lengkap’ (7.8 24. dan semakin meningkat yang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan.1%). Persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ’tidak ada polindes/bidan desa’ tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (77.7%) dan terkecil di Provinsi Jawa Tengah (15.8 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 24.157 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan karakteristik rumah tangga.3%). Tabel 3.1%).4 23. Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi (23. nampaknya rumah tangga di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/bidan di desa untuk pelayanan KIA.6 20. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa untuk pemeriksaan bayi/balita. Alasan utama yang mengemuka meliputi ’tidak ada polindes/bidan di desa’ (39.5%) dan terendah Provinsi Bangka Belitung (2. Rumah tangga yang tidak memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir diminta untuk menyampaikan alasannya.2 25.5 22.6 25.8 16.9%).

2 29.7 72.7 9.6 84.1 69.6 11.1 34.8 24.1 80.2 20.5 14.7 88.3 86.3 9.4 23.1 6.7 13.0 10.6 22.2 6.1 10.7 19.2 15.8 23.8 19.5 85.4 24.3 76.6 6.4 5.6 17.2 72.8 86.7 80.4 23.2 8.8 6.0 16.6 25.8 35.3 20.1 32.6 9.4 68.1 7.1 Indonesia 22.0 11.2 24.156 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.6 16.1 6.3 13.7 26.0 10.6 72.1 5.2 20.8 27.6 85.3 6.8 9.5 24.7 78.3 5.3 77.2 7.8 19.1 45.1 34.0 16.4 6.6 78.7 90.8 39.6 4.9 26.4 17.5 30.1 77.2 21.2 10.6 79.4 77.6 20.8 84.6 16.5 78.5 15.8 10.8 19.8 82.7 6.2 49.5 6.7 12.0 48.4 30.Tabel 3.5 9.6 22.6 8.6 5.9 8.8 56.9 224 .4 25.1 7.3 30.2 11.8 11.5 73.9 24.6 6.6 17.4 30.6 17.3 5.1 28.6 33.6 7.7 15.0 49.9 6.4 5.0 4.8 14.7 78.8 23.9 33.8 75.3 11.9 30.9 3.0 20.7 44.8 5.7 20.4 20.1 11.0 92.2 8.6 9.6 4.9 26.2 34.6 42.2 71.2 38.8 21.8 89.5 36.9 8.5 8.0 29.1 7.8 47.2 10.7 5.3 18.7 39.3 81.3 5.2 23.1 9.3 8.3 27.5 20.7 5.3 40.2 7.4 77.6 4.8 18.8 23.2 15.4 20.3 24.2 4.9 97.4 21.5 4.5 25.1 42.7 15.1 4.1 80.7 29.2 82.2 20.3 7.8 30.7 14.9 86.3 6.9 88.4 4.9 59.3 5.8 10.7 24.1 16.1 40.7 8.8 11.5 38.9 12. Riskesdas 2007 Pemeriksaan Pemeriksaan Persalinan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kehamilan 29.

Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.4 10. semakin sedikit yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’.159 menggambarkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan utama (di luar yang tidak membutuhkan) menurut karakteristik rumah tangga.3%) daripada di perkotaan (8.3 9.6 10.160 menyajikan informasi tentang pemanfaatan Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD) dalam tiga bulan terakhir.6%).7 20.0 32.9 30.4%) dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung (0. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 27.2 8.2 83.5%). Secara keseluruhan sebagian besar rumah tangga (79.7 8.2 28.5 25. 225 .4%).9 8.5 Tabel 3.2 23.2 9.2 9.157 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga. dan semakin banyak yang mengajukan alasan ‘pelayanan tidak lengkap’.7 77.5 8.9 9.0 83. Sedangkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD karena tidak membutuhkan tertinggi di Provinsi Riau (16.6%) tidak memanfaatkan POD/WOD.3 83. persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’ dan ‘layanan tidak lengkap’ lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.7 22. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Menurut tipe daerah.2 8.7%).0 8. Sedangkan alasan ‘tidak ada polindes/bidan di desa’ lebih banyak ditemukan di perkotaan.3 8.3 7. Tabel 3.161 Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD lebih banyak di perdesaan (11.3 9.2 8. Kajian pemanfaatan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga tersaji pada Tabel 3.4 81. semakin tinggi pula persentase rumah tangga yang tidak membutuhkan POD/WOD.9 26.8 Pemeriksaan Kehamilan Persalinan Pemeriksaan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 20.5 26.2 27.5 10.8 33.8%) dan terendah di Lampung (0.8 9.7 9.8 9.1 83. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (24. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1 21.9 84. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan bahwa ada kecederungan.1 10. sebaliknya untuk rumah tangga yang tidak membutuhkan lebih banyak di perkotaan (11.Tabel 3.

3 48.9 Lainnya 26.5 45.5 2.5 46.9 18.3 23.9 7.5 9.7 64.6 1.0 36.1 4.2 2.6 42.4 8.2 4.1 7.0 12.9 9.7 7.9 31.3 20.9 28.1 57.1 5.3 24.1 19.6 20.7 35.0 66.9 7.2 26.7 2. Riskesdas 2007 Alasan Lain Tidak Memanfaatan Poslindes/Bidan PROVINSI Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7.6 12.9 56.0 7.4 39.5 55.7 58.7 5.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.7 28.Tabel 3.2 6.1 70.5 22.7 28.5 6.3 12.6 26.2 10.3 10.0 10.9 54.9 58.3 31.6 9.2 4.0 8.7 7.4 77.8 13.2 33.9 60.2 19.9 2.3 4.3 53.1 19.6 4.5 17.5 56.9 29.7 14.1 81.8 27.6 53.6 5.5 14.3 Layanan tdk lengkap 26.9 7.6 3.0 71.9 39.6 43.8 8.3 6.4 20.5 12.4 1.5 29.0 31.2 4.2 48.3 55.2 5.2 32.5 33.9 6.2 10.1 10.5 7.4 7.1 38.8 19.6 53.3 16.4 15.7 64.7 57.4 3.3 5.7 8.3 12.3 27.6 1.7 7.3 70.8 17.6 38.9 Tidak ada polindes/bidan 39.1 15.8 13.3 15.1 66.9 25.9 226 .5 66.1 6.3 53.8 6.1 9.4 4.2 30.6 37.5 11.3 1.

8 Letak jauh Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/BDD Tidak ada polindes/bidan Layanan tdk lengkap Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11. Kepulauan Bangka Belitung.8 7.8 49.3 42.8%) tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan utama ‘tidak ada POD/WOD’.1%) dan terendah di Lampung.Tabel 3.9 46.4 7.9 6.1 9.163 menyajikan informasi tentang alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga.2%) dan terendah di Papua Barat (90. Alasan utama terbanyak yang dikemukakan adalah tidak adanya POD/WOD.1%). Sebagian besar rumah tangga (94.6 8.159 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.162 menunjukkan rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan ‘letak jauh’ tertinggi Provinsi Riau (3.9 7. DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (masing-masing 0.0 38.7 31.1%).0 8.8 5. Kepulauan Bangka Belitung.0 45. begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tidak tampak perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan dalam hal alasan utama untuk tidak memanfaatkan POD/WOD. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 3.3 Rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD diminta untuk menyebutkan alasannya.8 10. dan DI Yogyakarta (0. Yang menyatakan alasan ‘tidak ada POD/WOD’.9 43.2 39. Sedangkan untuk alasan ‘obat tidak lengkap’.5 39. tertinggi di Provinsi Maluku Utara (7. Tabel 3.7 37.3 7.1 42.5 9.7 40. tertinggi di Provinsi Lampung (98.0 47.6 39.5%) dan terendah di Lampung.4 12. Tabel 3. 227 .0%).

2 88.1 80.7 6.4 12.5 10.9 3.4 7.9 78.7 74.1 9.5 12.2 71.4 21.9 4.6 86.2 79.5 76.0 5.4 7.1 80.2 11.5 14.0 15.2 96.6 6.160 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Provinsi.5 84.4 12.9 85.5 0.4 0.0 18.2 16.1 13.3 76.4 17.5 membutuhkan 11.0 5.3 82.8 10.6 13.3 81.4 0.9 7.3 10. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Provinsi Nanggroe Aceh D.7 8.6 8.0 15.8 11.1 69.0 85.2 85.8 88.2 13.6 7.6 10. Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Memanfaatkan 24.9 15.6 4.1 90.0 3.5 11.6 228 .6 64.4 69.9 4.6 5.2 3.2 7.9 7.1 89.0 92.3 9.4 9.4 9.0 Alasan lain Indonesia 10.7 4.4 14.6 69.1 66.2 75.0 21.3 3.1 77.6 80.6 12.7 15.2 10.6 80.1 5.5 10.1 79.2 3.1 5.1 11.7 10.Tabel 3.0 89.4 11.8 85.1 88.6 7.4 3.6 6.1 9.

4 Kuintil 4 10.3 12.1 9.8 79.2 Kuintil 5 9.4 Kuintil 2 10.Tabel 3.4 79.161 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.3 10.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 10.6 78.5 79. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tidak membutuhkan 11.9 Kuintil 3 10.7 Perdesaan 11.6 229 .2 10.4 Alasan lain Tipe Daerah Perkotaan 8.7 79.5 80.2 9.6 9.0 79.

5 0.1 90.5 Tidak ada POD/WOD 93.0 2.5 2.1 1.4 Lainnya 1.5 0.1 0.6 93.8 2.9 2.8 1.0 0.3 4.2 93.6 93.2 0.9 96.3 89.0 97.5 7.1 0.5 1.3 0.4 0.6 2.8 3.3 96.9 98.6 Obat tidak lengkap 4.3 5.5 0.2 0.7 0.5 1.2 0.8 98.2 1.9 4.8 1.1 97.4 1.0 7.3 2.1 3.9 94.1 96.0 96.7 91.0 0.4 2.1 91.7 4.8 89.0 94.3 0.5 91.6 0.9 3.2 0.3 96.2 97.0 90.6 93.1 0.0 1.8 1.0 2.1 0.8 2.6 0.1 0.4 0.6 0.2 0.5 98.8 0.5 0.6 0.Tabel 3.7 3.2 95.8 1.4 2.0 1.1 0.8 96.2 3.3 0.0 3.0 3.5 0.0 97.2 2.0 0.8 3.5 96.5 Indonesia 1.7 0.2 0.6 3.0 8.5 0.3 2.4 2.5 0.1 230 .7 8.5 0.0 2.1 3.5 2.5 1.2 0.7 0.1 1.7 0.0 1.4 0.7 1.2 2.3 0.8 96. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD PROVINSI Lokasi jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.1 92.0 96.0 3.0 0.3 0.162 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.2 1.0 1.2 1.7 2.1 5.5 0.7 90.2 98.

Sumber biaya dibedakan menjadi sumber biaya sendiri/keluarga.0 95.9 94.2%. dan JPK Pemerintah Daerah).5%.9 3. Pihak-pihak yang menanggung biaya perawatan kesehatan tersebut bisa lebih dari satu. Jamsostek.1 1.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1.8 94.7 2. Pemanfaatan RS Swasta terbesar di Provinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara yaitu masing-masing sebesar 5. dan lainnya.6 Tipe Daerah Perkotaan 0. serta dari mana sumber biaya perawatan kesehatan tersebut. Demikian pula dengan pemanfaatan Rumah Sakit Swasta sebagai tempat rawat inap.0%. Sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 1. Askes Swasta.2 94.0%). Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Karakteristik rumah tangga Lokasi jauh Tidak ada POD/WOD Obat tidak lengkap 0. paling banyak masyarakat masih memanfaatkan RS Pemerintah (3.9 Kuintil 2 1. Persentase terbanyak pemanfaatan RS Pemerintah untuk rawat inap di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua Barat yaitu masing-masing sebesar 5.9% dan 5.5 Perdesaan 1.9 2.9 1. di samping peningkatan derajat kesehatan (health status) dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (fairness of financing). 231 .2 Lainnya 3.7 2.Tabel 3. terdapat 11 provinsi yang persentase pemanfaatan di atas persentase nasional. Asabri.9 1. termasuk penggunaan Askeskin/SKTM yang salah sasaran. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).1% dan 5.0 3. Seluruh penduduk diminta untuk memberikan informasi tentang apakah yang bersangkutan pernah menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. Pada bagian ini dikumpulkan informasi tentang jenis sarana dan sumber pembiayaan yang paling sering dimanfaatkan oleh responden Pembiayaan kesehatan meliputi untuk perawatan kesehatan rawat inap dan rawat jalan.2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Salah satu tujuan sistem kesehatan adalah ketanggapan (responsiveness).0 Kuintil 4 1. Asuransi (Askes PNS.1%) kemudian disusul RS Swasta (2.0 0. Dana Sehat. Mereka yang pernah rawat jalan maupun rawat inap diminta untuk menjelaskan dimana terakhir menjalani perawatan kesehatan.164).0 1.1 3.0 94.4 3.1 95.1 Kuintil 3 1.1 1.8.7 Kuintil 5 0.163 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.1 95. Dari data ini diperoleh gambaran tentang seberapa besar persentase rumah tangga yang telah tercakup oleh asuransi kesehatan. Terdapat 16 provinsi dari 33 provinsi yang memanfaatkan RS Pemerintah sebagai tempat rawat inap masih di bawah persentase nasional. Untuk rawat inap (Tabel 3.

0 0.5 1.6 1.8 3.0 0.1 0.0 0.1 Menurut tipe daerah (tabel 3.1 3.8 2.6 0.1 0.9 0.5 1.0 Lainnya 0.2 0.1 0.4 1.1 4.0 0.0 0.1 0.1 0.9 2.2 0.3 0.1 0.7 93.5 1.1 0.Puskesmas sebagai tempat rawat inap secara nasional menempati urutan ketiga setelah RS Pemerintah dan RS Swasta.1 0.8 0.0 0.0 5.1 3.0 0.1 0.5 96.2 0.2 95.5 2.6 0.8 1.0 0.4 0.0 0.4 0.7 4.6 0.4 1.1 0.4 0.2 0.0 0.4 0.1 0.6 0.9 92.2 3.2 0.1 0.3 0.2 0.0 0.0 0.2 0.7 5.1 0.8 3.2 0.4 0.0 0.1 0.1 2.1 0.9 0.0 0.1 0.4 0.3 0.5 0.5 0.3 91.5 0.1 0.8 0.0 90.8 95.5 2.2 2.8 3.4 0.1 0.3 90.4 0.5 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Pemerintah 2.3 2.9 2.164 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Provinsi.0 0.2 0.1 0.0 0.0 0.1 0.0 0.1 94.1 0.0 0.0 1.2 95.3 Batra 0.5 0.0 0.2 0.1 0.0 0.2 0.1 0.7 0.3 0.1 93.8 2.0 2.0 0.5 0.1 0.1 0.0 RSB 0.0 95.0 0.1 0.9 2.0 96.0 2.0 0.7 3.2 0.0 0.5 0.5%.8 0.7 0.0 0.1 0.2 0.4 0.6 0. Tabel 3.1 0.3 95.0 0.2 87.2 3.5 0.2 1.0 0.0 0.8 5.1 0.2 0.3 0.4 Tidak rawat Inap 94.0 0.3 0.1 0.3 0.1 0.1 0.1 0.7 2.1 RS Swasta 1.7% dan 2.7 RSLN 0.1 0.0 0.9 3.3 0.9 2.0 0.7 1.165).1 5.8 94.5 0.0 0.5 0.3 0.1 0.0 0.6 0.1 0.3 0.0 0.0 0.4 3.1 0.0 0.8 0.0 0.1 0.6 1.2 2.3 0.1 0.1 93.7 0.9 0.1 3.9 93.9 0.0 0.5 0.2 0.8 4.1 0.5 1.1 Puskesmas 0.4 0.1 0.3 91.0 0.5 1.1 0.6 0.1 1.7 4.6 89.6 0.1 0.1 95.3 0.9 0.9 0. RS Swasta.1 3. terlihat bahwa RS Pemerintah.1 0.1 0.7 1.2 0.7 90.2 2.2 0.2 0.2 0.0 0.0 0. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.0 0.1 94.7 Tenaga 0.3 3.0 4.5 92.1 96.0 0.5 0.4 1.9 1.8 0.0 0.0 0.5 0.9 1.4 0.9 91.4 90.8 1.1 0. RS lain.1 0.2 95.1 90.0 0.8 91.0 0.1 0.1 0.3 0.8 3.2 INDONESIA 3.3 3.0 93.8 0.0 93.4 2.2 0.0 0.5 0.8 0.4 0.8 1.0 0.4 0.6 0.8 0. RS Bersalin.1 0.7 0.8 0.7 1.8 0.2 4. masing-masing sebesar 2.2 0.3 0.1 0.2 0.0 0.9 95.2 1. dan tempat praktek tenaga kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh 232 .2 0.

6 2.1 0.8 0.4 0.4 92.5 94.6 0.masyarakat perkotaan. Kalau pembiayaan oleh Askeskin/Jamsostek.166 memperlihatkan bahwa sumber pembiayaan rawat inap secara keseluruhan untuk Indonesia masih didominasi (71.3 0.8 0.3 3.1 0.1 90.3 3. Sebaliknya.0 0.6 94. maka sekitar 30% responden yang pernah rawat inap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah mempunyai ‘sejenis asuransi kesehatan’.4 0.5 0.1 0.9%).4 0. 233 .3%). Sedangkan untuk pembiayaan rawat inap dengan memanfaatkan Askeskin/SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan.4 0.1 93.1 0.0 0.1 0.1 1.9 94.1 0. sedangkan puskesmas lebih banyak dimanfaatkan masyarakat perdesaan. terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak perawatan inap yang dibiayai Askes/Jamsostek.1 0. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Tempat berobat rawat inap RS Pemerintah RS Swasta RS LN RSB Puskesmas Tenaga kesehatan Batra Lainnya Tidak rawat Inap Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 4. Tabel 3.9 0.4 0.3 2.8 0.4 0. Askeskin/SKTM (14.3 2.1 0. Namun apabila dicermati masih ada sekitar 10% masyarakat yang mampu secara ekonomi (kuintil 5 dan 4) masih menggunakan Askeskin/SKTM. Askeskin/SKTM dan Dana Sehat diperhitungkan sebagai ‘sejenis asuransi kesehatan’. semakin rendah tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askeskin/SKTM dan Dana Sehat.8 2.4 2.1 0.1 0.3 1.0%) pembiayaan yang dibayar oleh pasien sendiri atau keluarga (out of pocket’).1 0.7 0.0 0. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 1.5 90.5 0.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.167 memperlihatkan bahwa menurut tipe daerah.3 0.2 1.8 0.6%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 0.1 0.1 0.4 4.9 3.6 0.4 0.4 0. Pemanfaatan sarana lain tersebar hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga. dan Dana Sehat (2.5 0.4 0.0 0. tampak kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintan dan RS Swasta. Tabel 3.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3. pembiayaan rawat inap oleh Askes/Jamsostek lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan.1 0.1 0. kemudian berturut-turut disusul oleh pembiayaan oleh Askes/Jamsostek (15.

6 15.3 5.7 19.3 0.8 76.9 33.9 65.5 25.0 3.166 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi.5 19.7 63.8 17.7 0.0 23.4 10.7 71.5 4.0 4.1 8.9 4.8 18.8 12.2 3. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Provinsi Sendiri/ keluarga 62.3 2.7 14. Askes swasta.4 3.0 1.9 Lainlain 6.8 11.9 7.2 4.5 75.2 7.0 15.1 67.0 75.2 71.4 15.1 19.8 65.2 76.9 1.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.7 6.7 1.1 13.5 72.6 Askeskin/ SKTM 28.6 1.5 17.7 16.4 10.0 9.1 2.2 10.8 5.5 19.0 10.0 73.2 5.5 74.4 17.9 4.8 19.5 1.1 18.7 1.7 14.2 12.0 11.9 5.2 7.9 3.5 68.3 1.5 7.7 14.2 3.3 22.4 5.5 2.3 7.3 Dana Sehat 4.3 6.9 15.1 17.9 74.7 7.0 Askes/ Jamsostek 13.0 1.9 18.4 8.6 11.8 13.0 20.1 3.8 0.1 7.5 17.9 3.1 14.4 67.6 3.9 66.1 11.Tabel 3.9 2.3 5.9 8.0 2.3 5.4 12.6 79.9 13.5 15.5 81.1 76.4 0.0 68.5 0.3 13.8 29.7 10.9 12.4 27.6 4.9 23.3 18.4 19.6 3.9 11.6 10.4 11.4 9.6 67.1 76.1 19.4 25.8 70.8 8.6 58.7 3.8 4.9 10.2 19.5 72.4 15.9 16.6 26.9 17.2 2.3 8.5 68.2 65.2 13.7 49. Asabri.2 3.3 76.5 63.2 12.7 11.0 2.3 3.6 1.1 60. Jamsostek.1 18.9 8.0 1. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 234 .2 5.1 3.0 59.

5 1.8 9. Sedangkan persentase tertinggi pemanfaatan tenaga kesehatan untuk rawat jalan ditemukan di Provinsi Bali (25.5 72.6%) pada urutan ketiga. Asabri.0 Perdesaan 72.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Keterangan : 66.7 3.8%) dan Tenaga Kesehatan (13.8 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Dana Sehat 2.0 6.5 71.4 10. Askes swasta.2 16.5 LainLain 7.5 5.4 3.4 72.2 3.7 12.2 2. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3.167 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga Askes/ Jamsostek Askeskin/ SKTM 10.5 6.7 21. Pemanfaatan Puskesmas (1. Jamsostek.4 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.9 15. 235 .9 6.3%) menempati urutan keempat setelah RS Pemerintah (1.3 Perkotaan 69.8%) dan terendah di Papua (3.5%) dan terendah di Sumatera Utara (7.9%) merupakan sarana kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan untuk rawat jalan.5 4. Persentase pemanfaatan RSB sebagai tempat rawat jalan.0 18.6%).8 5.9 25.3 6.7 6.8 25. tertinggi di Provinsi Papua Barat (38.9 71.9 17.Tabel 3.8 7.9%).168 menunjukkan bahwa secara nasional RS Bersalin/RSB (14.6 11.

0 14.1 0.1 4.1 0.2 0.2 1.6 14.2 11.0 15.2 0.2 0.1 0.7 1.3 0.2 0.8 19.4 2.0 0.6 0.3 0.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 0.7 0.2 14.4 0.4 4.2 0.7 70.1 1.9 0.2 0.3 0.4 0.3 19.2 0.3 70.0 RSLN RSB Puskesmas 1.0 0.4 0.168 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.7 1.1 0.5 0.3 0.3 0.2 62.4 0.1 1.8 11.0 7.8 1.3 0.2 0.2 0.8 0.1 12.6 50.5 35.4 1. 236 .3 1.1 0.0 25.4 68.7 18.8 69.4 0.2 0.1 17. RS Swasta. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah 3.0 1.2 0.0 64.9 1.7 0.9 65.3 2.4 1.6 66.5 0.7 10.7 5.1 0.3 0.4 67.9 19.9 0.6 1.0 0.3 0.2 0.1 0.1 0.4 Menurut tipe daerah (Tabel 3.1 0.2 12.9 0.9 13.8 1.7 1.1 0.5 33.1 0.6 13. tampak kecenderungan responden di perkotaan lebih banyak memanfaatkan RS Pemerintah.8 2.0 11.0 0.0 0.0 12.2 0.4 1.1 1.3 0.8 14.3 0.2 73.7 0.0 0.0 0.9 5.4 0.6 0.6 2.1 67.5 0.3 17.2 1.9 1.0 12.7 20.8 0.3 Nakes Batra Lainnya 0.2 3.4 68.0 1.8 10.3 15.9 0.2 0.5 0.0 0.6 0.3 0.8 19. Tenaga Kesehatan.5 15.4 2.6 0.6 38.0 1.6 14.5 0.0 70.4 0.9 0.1 0.7 0.8 1.5 0.7 0.6 61.0 1.1 4.7 0.1 17.6 14.4 0.3 1.3 0.0 0.6 1.4 0.2 10.5 61.0 4.2 1.9 15.8 11.1 0.3 0.4 Di Rumah 1.7 0.4 0.2 0.3 1.2 1.1 71.0 0.2 0.7 1.5 4.7 5.5 80.0 0.4 0.4 66.8 16.5 0.3 0.7 0.4 1.9 3.4 0.6 17.1 14.0 0.2 0.5 1.0 0.5 0.3 22.7 0.2 0.169).7 0.1 0.1 1.4 1.1 54.8 1.4 1.3 2.9 0.2 13.1 0.1 0.6 RS Swasta 0.1 4.2 0.1 1.2 53.6 1.1 13.0 1.4 1.3 66.1 0.7 Tidak rawat Inap 46.7 1.5 60.3 0.3 1.6 73.6 74.1 7.3 0.2 0.6 0.4 0.3 26.5 0.0 0.0 1.8 11.9 1.5 2.2 0.7 0. dan Puskesmas.7 0.2 0.Tabel 3.2 1.8 0.3 10.1 1.4 1.0 0.0 0.1 12.5 7.7 67.9 11.5 0.6 12.4 0.3 0.7 0.3 0.2 1.3 0.4 19.1 0.7 16.2 2.1 0. dan pengobat tradisional untuk rawat jalan.7 61.4 11.5 0.5 0.8 0.6 9.9 1.4 0.7 1.1 0.9 2.3 0.3 3.1 1.3 3.2 1.2 0.4 0.3 0.4 2.6 1.4 1.1 0.2 0.4 0.3 0.8 1.3 1.6 1.5 16.0 1.3 0.9 14.9 1.0 1.1 0.1 0.5 56.6 54.4 1.4 0.2 4.3 13.6 13.9 1.8 0. Sedangkan responden di perdesaan lebih memanfaatkan RSB.8 0.5 58.1 0.1 0.8 67.9 0.2 2.6 1.0 0.7 17.1 81.8 0.1 0.2 0.2 71.1 2.

237 .8 15.8%) dan terendah di Papua Barat (40.170).3 16. tetapi semakin sedikit yang memanfaatkan RSB untuk rawat jalan.9 1.2 16.7 0.1 1.7 0.2 14 11. di Provinsi Lampung persentase terbesar pembiayaan rawat jalan berasal dari biaya sendiri/keluarga dan yang terendah adalah pembiayaan oleh Askes/Jamsostek.3 12.5 0. Persentase sumber biaya sendiri/keluarga tertinggi ditemukan di Provinsi Lampung (88.9 63.5 0.6 14. Tabel 3.3 0.5 0.3 0.2 1.7 0.9 1.9 0.6%) dan terkecil di DKI Jakarta (2.Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0%). persentase terbesar ditemukan di Provinsi Papua Barat (37.5 0.7 2.2 0.0 0. Secara nasional.3 Perdesaan 1.8 15 16. Puskesmas.1 2.5 1.4 1.5 0.7 0.6 65.7 0.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.7 66.5 0.4 0.8% untuk rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir dan menurut provinsi.4 1.3 12.9 13.2 1.4 65. tampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintah. RS Swasta.5 0.4 0.0 11.8 15.5 0. Sumber biaya dari Askeskin/SKTM secara nasional mencapai 10. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah RS Swasta RSL N RSB Puskesmas Nakes Batra Lainnya Di Rumah Tidak rawat Inap Tipe Daerah Perkotaan 2.4 0.3 1.9 0.4 0.3 0.0 1.8 0.8 13.5 0.8 Gambaran tentang sumber pembiayaan rawat jalan dan rawat inap tampak tidak berbeda (Tabel 3.4 0.6 66. sedangkan di Provinsi Papua Barat persentase tertinggi untuk pembiayaan rawat jalan berasal dari Askeskin/SKTM dan terendah dari biaya sendiri/keluarga.4 0.4%).169 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.5%).3 0.5 0.0 67.6 64.2 0.5 0. dan Tenaga Kesehatan.8 0.8 0. Sumber biaya rawat jalan juga didominasi oleh pembiayaan sendiri/keluarga (74.

8 79.9 11.7 1.8 Askeskin/ SKTM 32.6 17.1 37.9 60.4 78.8 5.4 5.5 11.6 0.1 13.4 15.1 5.9 61.2 83.9 3.5 64.5 6.2 1.4 12.7 2.0 10.9 6.9 9.7 5. Pembiayaan dari Askes/Jamsostek tampak lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan (13.4 70.9 4.2 86.8%).0 5.6 15.3 11.5 3.1 2.Tabel 3.8 8.5 47.6 0.5 Askes/ Jamsostek 6.2 74.8 0.5 75.1 85.7 78.9 2.6 0.6 3.3 5.3 2.1 88.3 77. terbanyak dari biaya sendiri/keluarga.6 12.9 7.4 6.9 13.5 40.1 22.7 7.3 9.5 1.1 2.9 9. Askes swasta.3 7.171).1 2.5 6.8 73.3 3.8 3.2 1.9 9.3 13.3 6.3 10.0 9.6 3.3 8.6 1.9 1.3 88.4 4.8 2.8 Dana Sehat 2.2 16.3 1.6 6. tidak tampak berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan.1 9.5 8.9 0.9 10.1 6.0 80.3 5.7 8.8 4.0 1.0 23.2 1.2 4.1 10.9 4.4 17.9 11.6 1.3 0.9 83.5 7.8 2.7 66. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 58.6 28.4 11.6 1.1 33.9 2.6 2.6 4.6 4.9 1. 238 .6 87.9 3.4 3.3 15.7 3. sebaliknya pembiayaan dari Askeskin/ SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan (12.3 3.4 3.2 21.5 9.9 2.9 2.0 78.1 1.2 0.6%).7 11.4 46.3 15.3 20.4 12.9 4.4 6.6 4.170 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi.8 77.1 10.2 3.7 18.5 6.5 1.0 72.5 5.9 1.3 11.1 8.3 4.2 3.2 4.2 0.5 49. Jamsostek. Asabri.0 71. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan PROVINSI Sendiri/ Keluarga NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.4 Sumber biaya rawat jalan menurut tipe daerah (Tabel 3.1 80.4 5.7 85.2 3.9 6.2 4.5 4.1 81.1 60.2 5.8 84.5 Lain-Lain 5.1 1.

0 4.7 Askeskin/ SKTM 7. Tampaknya Askeskin/SKTM belum sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat tidak/kurang mampu.6 3. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga 73.6 4.9 2.8 7.1 3.5 14.171 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga. Askes swasta.0 6.3 12.0 9.0 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.8 Dana Sehat 1.Tabel 3.4 76. berdasarkan pengalamannya waktu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan untuk rawat inap dan rawat jalan.9 11.1 1.9 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Askes/ Jamsostek 13.6 2. Ada 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.8 Lain-Lain 5.6 7.1 75. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Gambaran sumber biaya rawat jalan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askes/Jamsostek dan sebaliknya Askeskin/SKTM untuk pembiayaan rawat jalan.7 74.8 2.2 7.8 13. 3.3 2.3 5.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 72. Delapan domain ketanggapan untuk rawat inap terdiri dari: • • • • Lama waktu menunggu untuk mendapat pelayanan kesehatan Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara Kejelasan petugas dalam menerangkan segala sesuatu terkait dengan keluhan kesehatan yang diderita Kesempatan yang diberikan petugas untuk mengikutsertakan klien dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis perawatan yang diinginkan 239 .6 75. Jamsostek. Penilaian untuk masing-masing domain ditanyakan kepada responden. Asabri.5 10.0 3.1 4.3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan. Pembiayaan dari Dana Sehat semakin sedikit dimanfaatkan responden dengan tingkat pengeluaran yang makin tinggi.0 74.5 8.8.3 4.

240 . cukup. Masing-masing domain ketanggapan dinilai dalam 5 (lima) skala yaitu: sangat baik. Penduduk diminta untuk menilai setiap aspek ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan di luar medis selama menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. buruk. sangat buruk. Penyajian hasil analisis/tabel selanjutnya hanya mencantumkan persentase yang ’baik’ saja. Tabel 3. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi.• • • • Dapat berbicara secara pribadi dengan petugas kesehatan dan terjamin kerahasiaan informasi tentang kondisi kesehatan klien Kebebasan klien untuk memilih tempat dan petugas kesehatan yang melayaninya Kebersihan ruang rawat/pelayanan termasuk kamar mandi Kemudahan dikunjungi keluarga atau teman. Menurut provinsi. baik. Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87. Untuk memudahkan penilaian aspek ketanggapan rawat jalan dan rawat inap pada sistem pelayanan kesehatan tersebut. dan kebebasan memilih sarana pelayanan.5%) dan ‘keramahan petugas’ (87.0%). turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. WHO membagi menjadi dua bagian besar yaitu ‘baik’ (sangat baik dan baik) dan ‘kurang baik’ (cukup. buruk dan sangat buruk). kerahasiaan informasi. Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu. kecuali domain ke delapan (kemudahan dikunjungi keluarga/teman). Tujuh domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan sama dengan domain rawat inap. tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan.172 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi. Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82.9%).

2 89.6 87.6 80.4 67.8 78.9 92.8 77.5 80.3 82.4 77.5 91.7 85.9 91.3 91.7 82.1 84.9 79.1 90.1 81. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu 84.2 86.8 74.0 83.2 95.5 85.8 92.2 72.3 88.4 82.1 86.6 78.7 84.2 71.8 78.4 86.0 85.4 91.7 78.7 87.2 84.2 94.9 Kebersihan ruangan 78.4 81.0 86.8 85.Tabel 3.6 72.1 88.4 81.4 Keramah an 86.4 77.0 86.3 83.2 88.5 82.9 84.9 89.8 91.7 94.1 81.6 73.9 77.2 83.6 69.1 87.4 90.8 85.0 79.0 81.4 93.0 81. 3.9 85.1 92.7 84.2 91.0 81.2 82.2 79.2 82.1 72.9 85.5 93. 241 .0 83.7 83.2 87.0 72.7 84.6 78.8 87.6 85.8 83.8 79.2 89.0 88.9 90.0 79.4 92.0 72.4 83.1 86.0 75.4 92.8 86.172 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.2 79.9 Kerahasiaan 82.6 82.9 91.5 93.7 91.6 88.4 82.4 90.3 84.1 89.0 80.8 86.4 87.5 93.1 69.8 70.3 84.8 88.2 85.6 87.8 84.6 79.7 80.2 85.5 Tabel.1 81.5 84.0 82.2 72.4 92.6 78.6 86.5 88.6 88.0 84.6 84.9 74.7 92.1 84.5 84.173 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.1 87.8 87.7 92.2 94.9 68.5 80.0 76.4 84.1 83.0 68.5 86.6 81.8 86.5 92.5 80.4 87.0 90.2 84.6 89.7 88.5 87.3 82.0 82.6 85.8 85.8 85.7 88.8 87.8 82.3 89.0 93.2 95.1 88.8 80.0 85.2 84.4 80.2 82.6 84.2 78.5 81.7 Ikut ambil keputusan 81.9 88.6 84.1 84.2 90.0 84.0 83.0 89.1 90.6 83.6 91.1 79.9 90.7 87.2 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 84.7 85.9 86.2 76.5 83.0 82.7 84.4 88.1 81.9 84.4 84.6 Kejelasan informasi 81.5 83.1 86.4 79.4 81.6 88.0 78.7 89.7 80.2 76.1 84.4 91.2 79.5 81.0 85.4 Kebebasan pilih sarana 81.6 74.0 90.0 85.8 80.9 72.8 77.5 86.6 92.4 86.0 81.4 88.7 87.4 84.2 81.8 82.8 86.9 80.4 82.5 85.7 87.5 86.8 88.6 85.7 81.8 83.5 94.6 78.7 87.6 88.7 94.4 86.5 91.8 89.9 84.0 93.0 83.1 89.9 87.0 80.2 86.8 84.9 92.7 92.1 85.7 92.3 Mudah dikunjungi 83.1 87.4 82.

5 84. kerahasian informasi. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85.6 85.5 85.2 83.6 84.2 85.2 85.6 82.7 85.7 85. turut serta dalam p[engambilan keputusan memilih jenis perawatan.4 83.7 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 84.2 86.6 Tabel 3.6 86.4 84.1 84. Menurut provinsi.1%).7 84. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi.5 84. dan kebebasan memilih sarana pelayanan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 88.1 86. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Sedangkan di daerah perdesaan.8 86.7 84. semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan.5 87.175).2 84.173 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan Mudah dikunjungi Karakteristik Reponden Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Tipe Daerah Perkotaan 84. dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman.4 86. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspekaspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki.174 menunjukkan secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90.9 86. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan. 242 .4 87.5 87.6 86. kejelasan informasi. dan kebersihan ruangan.3 86.6 86.9 82.5 84.8 84. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas.5 82. keramahan petugas. semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan.5 86. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.8 83.0 86.7 Perdesaan 85. kerahasiaan informasi.4 86. dan kebersihan ruangan.0 85.2 85. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu.Menurut tipe daerah.7 83. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga.4%). tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam.0 86. Menurut tipe daerah (tabel 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan.7 84.6 84.0 88. kebebasan memilih fasiltas pelayanan.8 87.6 83. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan. Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan. Tabel 3.4 83.3 81.1 82.0 87.2 83.9 87.

6 88.8 85.1 73.4 81.0 92.7 84.8 84.7 87.0 94.3 86.3 94.174 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.5 84.3 95.7 92.0 85.6 93.9 71.9 93.0 67.4 89.6 84.6 95.6 91.1 87.7 68.5 Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana 83.2 83.8 88.9 83.5 90.8 90.7 84.0 87.8 98.7 67.3 84.8 92.0 88.7 92.2 82.1 78.4 83.0 88.3 77.1 92.8 77.3 85.5 84.1 93.5 86.6 94.1 92.1 88. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu Keramahan 89.9 82.7 87.9 77.8 78.5 81.3 81.9 65.1 88.1 86.3 90.9 80.6 91.2 93.2 84.2 79.1 86.8 91.5 78.9 82.8 87.8 85.3 INDONESIA 86.6 91.7 80.6 89.7 85.3 80.8 94.8 91.5 82.1 94.6 86.2 86.9 82.9 80.5 83.5 86.0 88.0 95.4 92.3 Ikut ambil keputusan 84.2 92.5 90.7 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 87.8 83.7 93.3 91.3 83.2 83.1 91.4 83.3 86.1 83.1 91.6 93.4 90.2 92.5 83.7 78.6 93.8 96.4 89.5 83.0 85.5 93.4 Kebersihan ruangan 79.9 83.2 85.1 89.0 88.6 82.2 78.1 65.2 95.0 70.6 84.8 95.6 83.6 86.8 89.2 85.0 93.8 85.0 95.6 93.1 243 .3 94.8 92.4 87.4 88.0 87.0 96.6 93.5 85.1 97.9 94.4 84.3 85.9 91.7 86.Tabel 3.2 91.6 92.3 93.4 94.8 93.7 90.0 85.8 81.4 86.8 89.5 85.2 84.7 95.0 86.3 68.0 95.0 85.4 80.7 88.4 87.2 82.1 96.1 87.3 84.2 94.8 65.6 86.5 83.6 82.2 95.9 90.4 84.7 77.3 84.1 82.4 83.5 88.9 90.2 83.2 81.4 96.2 84.3 88.8 87.9 86.8 90.0 86.1 93.4 95.9 93.9 87.2 88.8 76.0 85.1 84.3 87.3 86.7 92.1 84.2 93.6 81.0 88.5 83.0 87.3 79.9 83.8 93.5 86.5 97.4 93.2 84.0 91.8 92.9 65.2 86.4 87.5 93.1 91.9 79.4 88.2 84.2 Kejelasan informasi 84.0 86.3 70.5 86.

Rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga.8 88.7 84.1 86.9 85.9 85. dan perumahan.9 86.7 85.6 90. sarana pembuangan kotoran manusia.4 84.4 86.7 86. jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan risiko kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan higiene. Data yang dikumpulkan dalam survei ini meliputi data air bersih keperluan rumah tangga.7 86.1 86.2 85.5 87. 244 .9 86. ‘akses kurang’.3 90. sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap kepala rumah tangga dan pengamatan.6 84.1 85. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan 85. kategori tersebut dinyatakan sebagai ‘tidak akses’.1 86.9 Kesehatan Lingkungan Data kesehatan lingkungan diambil dari dua sumber data. Risiko kesehatan masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah (‘tidak akses’ dan ‘akses kurang’) dikategorikan sebagai mempunyai risiko tinggi.1 87. Berdasarkan tingkat pelayanan.3 86.6 86.0 90. Dengan demikian dalam penyajian beberapa tabel kesehatan lingkungan merupakan gabungan data Riskesdas dan Kor Susenas. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa rerata jumlah pemakaian air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga dalam sehari semalam.5 87. yaitu Riskesdas 2007 dan Kor Susenas 2007.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 86.8 87. sarana pembuangan air limbah (SPAL).0 84. dan ‘akses optimal’.5 87. Data tersebut bersifat fisik dalam rumah tangga.1 Air Keperluan Rumah Tangga Menurut WHO. Rerata pemakaian individu ini kemudian dikelompokkan menjadi ‘<5 liter/orang/hari’. 3.4 86.7 86.1 84.6 85.2 87.8 86.9 87. ‘5-19.1 87.9 85.1 87.7 89. ’20-49. ’50-99. pembuangan sampah. ‘akses dasar’.6 87.175 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. ‘akses menengah’.6 90.9 liter/orang/hari’ dan ‘≥100 liter/orang/hari’.9.9 89.0 86.8 84.9 91.9 liter/orang/hari’.Tabel 3.9 liter/orang/hari’.7 3.5 89.8 88.

4 2.4 13.3 2.4 19.9 31.5 41.7 24.4 30.3 30.1 43.7 2.9 31.7 10.6 17.2 4.6 16.5 17.3 1.9 19.7 42.3 0.7 40.2 17.3 31.1 4.5 6.4 33.0 40.1 26.7 11.7 32.5 3.2 9.6 13.2 19.1 12.9 15.9 20-49.Tabel 3.9 25.5 36.7 13.3 28.2 6. Sebesar 245 .9 20.1 8.6 20.7 32.0 per orang per hari (dalam liter) 5-19.4 0.4% tidak akses dan 10.6 0.2 27.176 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi.2 7.2 13.5 36.9 25.2 1.9 23.2 41.1 0.6 21.0 4.9 63.9 21.0 7.5 17.1 17.9 8.7 39.5 14.6 35.3 0.6 34.2 31. Riskesdas 2007 Rerata pemakaian air bersih Provinsi <5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.1 28.2 44. berarti mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan/penyakit.3 11.1 29.8 ≥100 32.5 33.6 0.0 8.2 21.0 22.7 1.1 41.8 26.6 10.9 27.9 7.5 27.7 22.5 23.4 10.1 9.3 21.8 34.6 36.9 31.0 21.6 29.9 13.7 24.6 1.1 47.6 1.3 0.8 43.6 11.0 11. terdapat 16.2 2.0 3.6 32.2 Indonesia 5.9 15.8 10.5 42.5 29.2% rumah tangga yang pemakaian air bersihnya masih rendah (5.0 9.0 50-99.3 31.1 41.6 1.4 32.7 28.8 26.8 26.8% akses kurang).7 19.0 24.4 29.5 22.4 0.9 14.2 13.2 24.7 8.6 27.6 21.0 0.0 23.2 14.6 50.7 8.0 23.1 55.3 0.6 11.2 6.6 23.0 30.1 10.9 0.8 0.6 6.5 17.8 9.7 28.4 37.3 16.6 42.3 0.0 5.5 31.7 31.4 32.4 4.1 15.7 17.7 37.1 12.0 22.2 30.6 Tabel 3.5 4.176 menunjukkan secara nasional.

Hasil tersaji pada Tabel 3.9 4. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 ≥100 Tingkat pengeluaran Rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 6.6 28.6 12. Tabel 3. Riau.7 rumah Rerata pemakaian air bersih per orang per hari (dalam liter) 5-19.9 50-99.0 23.4 26.178 246 . dan 31. NAD.26. Di samping jumlah pemakaian air bersih untuk keperluan rumah tangga. berapa jarak antara rumah dengan sumber air. Provinsi-provinsi yang akses terhadap air bersih masih rendah (di atas 16.6 10. atau mengalami penurunan dibandingkan data tahun 2004 sebesar 88.%).8%. Maluku.3 26.6% akses optimal.0 33. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi akses terhadap air bersih optimal.5 7. Sumatera Barat.7%.8 6.3 29.6 29. rerata pemakaian air bersih per orang per hari menunjukkan perbedaan. baik menurut tipe daerah maupun menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. NTT.9 26. di mana batasan minimal akses untuk konsumsi air bersih adalah 20 liter/orang/hari. Sulawesi Barat.6 38.6 11. dan bagaimana kemudahan dalam memperoleh air bersih.2 Proporsi rumah tangga yang aksesnya rendah terhadap air bersih lebih tinggi di perdesaan (19.9 25.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga.1 8. DI Yogyakarta.5 25.0 23. maka secara nasional akses terhadap air bersih menurut jumlah pemakaian air per orang per hari adalah 83. Sulawesi Utara. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau sumber air bersih pulang pergi.6 39. ditanyakan juga tentang jarak dan waktu tempuh ke sumber air. serta persepsi tentang ketersediaan sumber air. dan NTB. Jawa Barat. dan Jambi.9 10. Sedangkan provinsi yang proporsi akses air bersih optimalnya tinggi adalah DKI Jakarta.177). Bila mengacu pada kriteria Joint Monitoring Program WHO-Unicef.2%) berturutturut adalah Gorontalo.8 25.2 13.3 26. Papua. Sulawesi Tenggara.0 31.4 25. Riskesdas 2007 Karakteristik tangga <5 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 3.0 25.8 5.9 20-49.1 26. Kepulauan Riau.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (11.5 24.0 29.3 4.9% rumah tangga mempunyai akses dasar (minimal). 25. Banten. Dilihat dari karakteristik rumah tangga (Tabel 3.3% akses menengah.2 5.

8 38.4 90.6 99.3 2.7 97.3 0.3 1.0 89.4 0.6 29.0 5.4 97.5 6.2 97. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Provinsi Waktu (mnt) Jarak (km) Mudah sepan>30 jang tahun NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.6 16.0 1.9 96.3 2.2 12.0 89.4 0.7 2.8 98.3 66.8 0.6 94.3 1.1 82. tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (14.4 3.0 90.0 25.1 14.2 2.8 5.4 48.4 6.2 3.4 42.8 89.5 0.5 96.4 73.6 94.6 83.5 2. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi.8 18.6 87.4 59.6 97.6 6.1 ≤30 >1 ≤1 Indonesia 3.1 2.2 93.2 7. Terdapat 16 provinsi dengan persentase di atas 3.5 1.2 4.7 98.1% rumah tangga memerlukan rerata waktu tempuh ke sumber air lebih dari 30 menit.5 72.4 14.4 92.6 2.0 30.2 81.8 1.3 4.8 59.5 74.8 89.8 14.2 3.2 94.3 0.3 40.5 70.7 0.5 87.1 99.7 68.2 10.5 69.7 85.0 32.8 68.9 98.3 0.8 94.8 0.3 97.5 94.3 2.1%.4 1.0 10.9 0.4 4.8 25.5 94.0 1.6 95.178 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.2 2.4 1.3 96.1 72.8 26.6 0.6 85.2 0.2 1.7 84.0 9.1 2.2 1.6 92.9 95.1 4.5 5.1 4.2 Tabel di atas menunjukkan secara nasional sebanyak 3.3 12.0 19.7 93.4 97.9 39.5 26.4 5.0 94.6 99.3 66.9 1.8 87.9 78.3 6.6 9.0 13.1 1.8 97.2 1.7 1.9 57.6 92.9 24.8 70.6 96.6 0.6 30.2 10.3 2.0 10.9 4.8 98.4 89.1 3.3 95.8 97.1 96.2 0.9 99.4 5.9 32.5 95.9 0.6 94.9 0.3 1.5 4.6 93.4 1.6 Sulit sepanjang tahun 1.3 20.7 11.9 25.8 6.4 10.5 85.0 14.3 Ketersediaaan Sulit pada musim kemarau 21.6 97.4 0.4 8.5 97.4 7.4 64.8 26.7 5.4 31.6 10.4 2.4 5.2 5.Tabel 3.7 97.7 1.7 50.4 53.5 0.3 88.2 85.7 97.8 98.3 2.7 3.0 71.1 95.7 0.9 83.6 29.9%).7 99.8 35.8 2.6 2.5 52.7 95.6 28.9 5.2 68.5 3.4 2.8 96.7 93.9 85.3 44.7 72.6 79.8 1.6 2.3 89.6 98.5 93.7 11. disusul oleh NTT 247 .8 95.3 6.6 7.5 98.8 67.1 16.5 15.2 98.8 1.8 97.4 77.

ada kecenderungan proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang waktu mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.2 26. secara nasional terdapat 5.4 Ketersediaaan Sulit sepanjang tahun 0.(10.179 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.4%).8 31.1 94.4 1.5 6.5 24.0 Perdesaan 3.9 Kuintil-3 3. jarak dan ketersediaan air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 78. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Karakteristik rumah Waktu (mnt) tangga >30 Jarak (km) Mudah sepanSulit pada musim kemarau 16.9 5.8 95.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 3. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 97. ada kecenderungan proporsi waktu tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.9%) merupakan dua provinsi yang paling tinggi proporsi rumah tangga dengan ketersediaan air bersih sulit sepanjang tahun.7 Proporsi rumah tangga yang waktu tempuh ke sumber airnya lebih dari 30 menit lebih tinggi di perdesaan (3.6 97.4%). ada kecenderungan proporsi jarak tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.7 1.3%) dan NTT (4.0 5.4 97.4 Kuintil-4 2.0 97.8 68.3 75.8 94.5% rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer.1 0. Terdapat 18 provinsi dengan proporsi ketersediaan air bersih sepanjang tahun lebih kecil dari 72.4 82.8 ≤30 >1 ≤1 jang tahun Tipe daerah Perkotaan 2.179) Tabel 3.8%).0 70.6 6.1 96. disusul oleh Kepulauan Riau (16.4 4. Dilihat dari jarak. Akses air bersih menurut waktu.8%.6 96. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.5%).4 28.0 20.3%) dan Sulawesi Tenggara (14. Proporsi rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer lebih tinggi di perdesaan (6.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (66.7 30.4 1.0%). Begitu pula proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang tahun lebih tinggi di perkotaan (82. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 96. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5%).0 93. 248 .7%).5%) dibandingkan dengan di perkotaan (4.5 93.4 72.1 5.6 94. secara nasional terdapat 72. Dilihat dari ketersediaan air bersih dalam satu tahun.4 66. Provinsi dengan proporsi jarak ke sumber air lebih dari satu kilometer terbesar adalah Provinsi Riau (18.2 1.6 4.2 Kuintil-2 3.8% rumah tangga yang air bersihnya tersedia sepanjang waktu. Kepulauan Riau (6. (Tabel 3.2 Kuintil-5 2.5 96. dan Riau (10.9 1.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (2.

7 44.1 1.7 49.5 44.8 4.6 72.7 0.7 44.9 61.3 2.7 3.4 6.5 47.7 53.180 249 .4 2.1 1.3 48.4 1. ditanyakan siapa yang biasanya mengambil air dalam rumah tangga tersebut.6 51.7 29.9 28.9 2.7 41.1 48.9 2.7 55.2 4. sebagai upaya untuk melihat aspek gender dan perlindungan anak.4 1.4 10.4 47.4 25.2 54.0 64.7 4.0 2.7 34.3 2.2 3.7 65.9 43.6 77.1 6.2 49.2 0.4 0.9 27.0 5.4 7.9 48.7 4.2 43.4 51.8 3.9 19.3 42.6 3. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Dewasa Anak-anak (<12 thn) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 65.4 Indonesia 49.1 49.9 1.3 72.0 23.0 2.2 1.3 47.3 3.5 59.9 1.7 0.8 1.6 2.8 55.1 51.0 4.4 2. Aspek gender dalam pengambilan air bersih dapat dilihat pada Tabel 3.Tabel 3.9 16.6 3.180 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.5 1.0 2.3 52.0 63.4 23.1 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 5.3 1.1 2.8 60.1 2.8 52.3 38.0 Dalam rangka memperoleh air untuk keperluan rumah tangga bila sumbernya berada di luar pekarangan.4 3.5 7.7 46.5 2.0 4.4 2.9 41.2 2.4 38.2 36.0 1.5 1.4 50.8 7.0 54.9 46.1 6.8 5.5 23.8 48.5 2.6 1.8 29.9 4.5 46.7 34.2 57.5 5.2 67.6 4.9 33.3 3.4 60.6 7.0 5.3 2.0 2.7 2.7 3.9 32.6 41.5 48.4 5.4 4.3 40.3 54.6 38.

Provinsi-provinsi di mana anak-anak ikut berperan dalam pengambilan air untuk kebutuhan rumah tangga adalah Papua.181).2 2. (tabel 3.8 3. Kepulauan Riau dan Sumatera Utara. 250 . Data kualitas fisik air untuk keperluan minum rumah tangga dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan. tidak berasa.4 46.2% wanita dan 4.6 49.1%).2 43. Ada 15 provinsi yang proporsi kualitas fisik air minumnya baik di bawah rerata nasional. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin rendah proporsi perempuan dan anak-anak yang bertugas mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga.1% dan 6.2% rumah tangga yang anakanaknya mempunyai beban untuk mengambil air keperluan rumah tangga (3.182 menunjukkan secara nasional.3 3.4 44. Sumatera Barat. terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah (58. proporsi rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar 86.1 51.2 3.181 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.9 2. meliputi kekeruhan. NTT.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (44.3 41. Kategori kualitas fisik air minum baik bila air tersebut tidak keruh. Sedangkan provinsi-provinsi yang pengambilan airnya banyak dilakukan kaum perempuan adalah di Provinsi NTB. tidak berbau. Tabel 3.0% anak laki-laki). NAD.6 42. Maluku. bau.7 2. Proporsi individu yang mengambil air bersih di rumah tangga menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 4. tidak berwarna dan tidak berbusa.2 50.0 4.4 49. warna dan busa. Riskesdas 2007 Perempuan Karakteristik rumah tangga Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 44.0%. Tabel 3.5 50.Tabel di atas menunjukkan.6 3. rasa.6%).9 4.2% dan 7. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 47. Sulawesi Selatan dan NAD.8 41.5 49. secara nasional terdapat 7.1 3.4 3.8 3. NTT.8 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tkt pengeluaran rumah tangga per kapita Tenaga perempuan dan anak-anak yang mengambil air di rumah tangga lebih tinggi di perdesaan (51. Persentase perempuan yang bertanggung jawab dalam pengambilan air di rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.1 3.

1 Berbau 4.8 3.9 6.6 0.1 84.2 9.9 3.6 2. 251 .0 3.6 Baik*) 75.0 3.6 6.9 3.6 2.0 * baik = tidak keruh.5 1.Tabel 3.4 7.3 Berasa 7.5 0.5 2.6 9.0 7.4 3.7 1.3 90.4 0.9 3.182 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.8 7.8 2.5 84.9 82.5 58.5 4.7 0.5 90.5 80.9 1.2 6.3 88.7 3.0 3.8 1.2 10.0 1.4 10.2 9.4 15.8 6.2 10.3 3. (Tabel 3.7 86. Riskesdas 2007 Kualitas fisik air minum Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keruh 17.2 Berbusa 1.1 1.9 11.3 2.7 4.2 5.1 7.6 2.3 7.3 9.2 5.3 0.3 6.8 1.3 0.6 5.6 8.5 0.0 4.7 0.8 2.6 0.2 5.6 1.1 4.7 4. tidak berbusa dan tidak berbau Proporsi kualitas fisik air minum rumah tangga yang baik bervariasi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 6.7 0.3 88.8 3.8 15.6 6.9 1.0 80.5 34.1 4.7 92.8 Indonesia 9.1 86.0 3.2 6.6 6.4 2.8 3.0 11.0 3.1 2.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (84.8 1.7 1.9 4. tidak berasa.4 1.9 1.4 1.4 Berwarna 12.7 0.6 1.3 84.6 89.0 9.7 5.6 2.8 4.4 15.3 10.8 4.7 1.2 81.9 13.9 1.5 95.5 6.7 7.2 11.9 6. Secara umum.1 6.9 6.7 12.8 4.0 5.4 79.5 7.3 1.5 75.4 90.2 84.2 3.8 2.1 8.5 9.6 79.8 3.0 0.5 18.6 5.8 0.9 3.4 1.9 88.8 93.4 22.6 1.6 71.9 1.4 3.1 0.9 4. tidak berwarna.0 6.7 9.5 0.1 3.1 5.3 2. terutama dalam hal kekeruhan dan warna.8 5.8 0.6 7.7 6.5 15.0 6.9 1.0 91.5 8.2 95.7 0.7 1. proporsi rumah tangga dengan kualitas fisik air minum baik di perkotaan sedikit lebih tinggi (88.5 10.5 9.0 92.5 26.6 4.2 9.3 3.3 11.4 87.8 1.4 3.4 3.3%).8 87.4 2.4 3.9 6.0 1.7 1.5 1.2 90.183).9 3.9 89.1 2.4 0.5 2.3 2.0 1.2 17.8 82.

9 4.0%.0 2.6 7.1 1.9 88.1 7.5%). Banten.8 85.3 3. mata air tidak terlindung 5.0 1.1 9.183 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.5 3.0 1.3 1.Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang kualitas fisik air minumnya baik. tidak berbusa dan tidak berbau Data jenis sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga diambil dari data Kor Susenas 2007.4 4.6 5.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 10.2 7. Tabel 3.7 8. Riau.1 * baik = tidak keruh.2 1.9 4. DKI Jakarta.6 11. Provinsi-provinsi yang cakupan air perpipaannya di atas rerata nasional antara lain Kalimantan Selatan.2 5.184 Secara nasional masih banyak rumah tangga yang menggunakan air minum dari sumber tidak terlindung (sumur tidak terlindung 12.3 8. tidak berasa.8% dan lainnya 0. tidak berwarna.7 3.6 84.8%). penggunaan air kemasan di rumah tangga mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat.0 3. Sementara yang menggunakan air perpipaan/ledeng tidak mengalami peningkatan/tetap (masing-masing 17. DKI Jakarta. air sungai 3.7 88.8 6. Papua.4 5.0%. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 6. Bila dibandingkan data Susenas 2004.5 1. yaitu dari 2. Bali.0 85. Jambi.1 5.9 86.9 10.5 Kualitas fisik air minum Keruh Berbau Berwarna Berasa Berbusa Baik*) 3. dan Papua Barat.7 4.0 0.5 6. Pada tabel 3. Provinsi-provinsi yang proporsi penggunaan air kemasannya tinggi antara lain Kepulauan Riau. Provinsi yang banyak menggunakan air hujan sebagai sumber air minum antara lain Kalimantan Barat.3 6.4%. dan Papua Barat. dan DI Yogyakarta. 252 .6% menjadi 6.1 3.3 83.

2 2.5 4.6 5.0 0.6 18.2 0.8 8.5 0.5 0.0 0.3 41.1 0.0 3.7 5.9 34.9 1.4 6.1 2.2 0.0 0.8 7.5 11.8 1.6 15.8 28.2 2.9 0.0 3.5 29.7 0.2 36.2 14.9 0.1 13.7 0.2 8.9 3.2 2.1 24.8 6.9 0.3 0.1 18.1 25.9 0.5 0.7 34.0 3.8 2.4 17.9 1.3 1.0 1.5 21.4 7.2 2.4 57.1 2.0 43.4 11.7 0.8 11.2 2.5 0.2 0.4 3.3 1.5 3.4 10.0 13.6 4.6 40.1 7.8 14.4 1.2 20.1 11.8 9.2 2. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk Terlindung Provinsi Ledeng eceran Air kemasan Air sungai terlindung Mata air terlindung Air hujan 1.5 10.0 3.2 20.2 0.6 11.5 7.5 12.6 2.4 4.2 14.5 10.2 10.4 4.2 8.2 5.1 28.8 2.1 41.6 19.8 19.3 9.4 6.8 9.1 0.8 3.1 8.4 4.0 1.4 0.9 23.4 3.4 9.9 28.3 6.4 0.9 3.0 3.7 1.Tabel 3.6 1.6 0.8 4.0 1.9 22.8 10.0 8.9 12.1 7.3 23.184 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.8 9.6 10.0 5.7 3.1 5.1 0.4 0.3 6.8 13.6 0.7 0.3 13.8 3.5 55.2 0.0 2.9 3.8 15.2 6.7 0.0 4.2 4.2 9.9 10.2 2.9 0.4 1.4 11.3 7.8 11.5 11.9 0.6 5.6 7.5 0.9 16.4 0.3 1.4 3.7 27.2 34.1 1.6 11.9 1.4 .4 2.8 0.6 3.5 5.7 14.0 3.5 0.1 4.4 34.0 8.1 43.4 13.6 5.6 7.4 0.9 7.2 26.9 1.5 5.0 9.3 3.7 25.1 2.6 11.1 49.3 1.7 4.6 0.2 2.9 1.6 34.7 11.7 5.7 0.3 3.5 21.7 1.8 0.8 33.0 14.0 11.3 1.6 0.4 29.1 21.3 5.1 17.8 6.4 13.7 0.2 3.4 7.9 2.1 0.1 30.2 0.9 4.5 0.7 1.3 1.7 13.9 18.2 1.9 29.0 0.7 7.9 11.1 0.3 0.0 0.4 5.3 1.6 1.0 1.0 Indonesia 6.9 3.6 25.4 5.8 meteran NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.9 22.6 3.3 33.9 18.8 11.6 46.2 1.9 2.8 3.7 3.5 5.7 12.3 10.3 0.1 2.7 0.7 9.9 12.4 13.0 1.9 5.6 7.0 0.7 1.1 7.4 0.0 9.7 7.2 2.5 13.9 15.0 28.4 10.3 1.0 2.7 14.4 7.1 8.3 2.2 15.5 .8 21.0 0.8 6.1 10.9 0.0 5.2 0.7 14.8 253 Lainnya 0.6 14.6 6.3 0.7 21.7 7.9 19.1 0.1 0.0 0.2 1.3 5.7 29.3 3.2 5.2 5.3 1.3 5.4 8.9 8.6 6.5 1.2 8.9 0.9 7.1 42.0 7.5 15.3 1.3 0.1 1.9 11.2 15.0 3.9 5.6 0.0 3.6 1.9 12.6 20.6 2.5 0.5 7.7 10.2 1.3 1.5 5.4 2.3 8.5 0.3 3.4 10.8 13.7 2.1 2.9 14.8 17.3 4.7 19.7 1.2 24.6 11.1 15.9 10.1 8.6 16.6 47.9 22.5 3.2 7.1 Ledeng Pompa Sumur 0.2 35.0 21.7 4.

9 0.185) Tabel 3.5 0.9 5.8 11.9 25.2%).7 7.2 17.0 6.4 27. ledeng eceran.3 2.7 30. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Karakteristik rumah tangga Ledeng meteran Ledeng eceran Air kemasan Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk terlindung terlindung terlindung Air sungai Air hujan 2. dan sumur bor lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.9 2.3 4. sedangkan yang menggunakan wadah terbuka sebesar 12.4 16.0 5. dan Sumatera Utara. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan air kemasan.3 13. mata air.7 7.8 12.6 0.8 5.6 9.1 14.2 3. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.2 4.1 12.3 10. ledeng meteran.0%) dan tidak menggunakan penampungan (18.6 0. Tabel 3.7 10.185 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.5 29.6 4.7 3.1 16.1 3.Sebaran proporsi penggunaan jenis sumber air minum bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 16.3 4.1 14. Tempat penampungan air di rumah tangga sebagian besar menggunakan wadah tertutup (69.9 6. Papua Barat.9 3.4 0. dan sumur pompa.5 0.8%. NAD.9 6. Sumatera Barat.2 21.9 4.8 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak terlindung. provinsi-provinsi dengan proporsi penampungan air terbuka tinggi antara lain Papua.1 24.0 7.7 7.2 14.186 menggambarkan jenis tempat penampungan air untuk keperluan minum yang digunakan rumah tangga dan jenis pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum air tersebut dikonsumsi.8 11.4 4.4 Penggunaan air kemasan.2 2.2 30.1 3.0 28.4 0. Bila melihat sebarannya.8 5. (Tabel 3.7 0.8 4. ledeng eceran.9 8.0 31.0 0.5 7. Di daerah perdesaan sumber air minum yang menonjol digunakan dibandingkan di perkotaan adalah jenis sumur (terlindung dan tidak terlindung).3 10.1 8.8 5. 254 Mata air Pompa Sumur Lainnya .4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.3 12.0 5.1 5.3 1.9 13.1 4.2 3.5 2. air sungai dan air hujan.9 7.5 3.

3 7.8 81.6 98.7 4.0 16.5 62.0 2.7 26.3 0.2 96.9 5.6 62.8 0.7 54.9 7.3 5.0 78.3 11.1 10.7 5.8 95.0 12.6 64.0 1.7 1.7 95.6 6.4 10.8 81.5 2.8 19.3 4.5 1.1 0.8 84.4 93.4 14.7 76.3 72.8 0.3 15.9 7.9 0.9 2.2 0.6 33.8 86.9 11.3 12.4 70.8 60.3 94.6 31.1 3.1 70.4 26.2 3.8 1.4 1.5 18.8 7.1 24.1 17.4 8.6 88.2 4.9 34.6 16.2 5.7 84.4 5.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Provinsi.4 96.2 5.8 0.5 14.3 5.6 15.7 12.1 3.4 2.6 48.1 97.0 31.0 12.2 3.8 0.0 30.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 21.1 0.8 69.5 Disaring 12.6 79.7 5.1 5.7 67.4 3.3 9.3 8.4 90.5 0.5 9.5 89.1 8.1 7.3 86.3 7.3 1.7 14.1 69.4 2.8 96.9 2.2 2.5 5.4 0.3 21.7 0.4 1.7 5.7 94.6 55.0 5.8 6.8 0.4 17.7 93.0 4.2 10.0 80.0 78.3 12.6 24.4 5.6 84.0 10.4 13.1 76.2 0.6 27.3 97.8 12.6 5.1 96.9 4.7 0.0 94.2 23.9 10.1 12.3 2.0 5.8 12.1 2.0 77.5 0.7 6.9 94.2 11.6 21.5 4.6 7.6 9.1 9.2 8.7 7.4 8.1 25.0 75.3 5.6 70.6 2.4 1.7 1.7 wadah diminum 37.2 255 .7 96.8 12.1 72.6 0.9 40.1 0.2 16.4 Indonesia 12.3 7.0 41.8 7.1 97.0 8.2 1.3 12.7 12.8 10.1 14.1 56.5 6.3 72.0 92.5 13.7 0.3 9.0 5.2 11.8 93.6 0.3 8.5 1.4 56.1 3.5 95.6 54.9 30. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak 89.2 1.0 5.7 4.1 9.6 4.1 91.5 20.0 18.9 Bahan kimia 0.7 0.9 2.3 2.2 28.7 4.3 69.5 4.8 79.5 0.2 3.1 17.6 7.7 81.7 0.1 2.9 14.8 7.4 0.5 10.0 4.Tabel 3.4 93.3 5.3 7.0 Tempat penampungan Provinsi Tdk ada Wadah terbuka Wadah tertutup 41.4 5.1 2.4 37.3 6.6 14.7 94.9 1.1 92.3 92.7 Lain nya 4.0 6.9 45.1 14.8 23.1 0.0 22.8 11.6 17.5 1.2 8.5 9.3 11.4 4.1 26.1 9.3 5.6 6.0 7.

3 10.5 88.4 12.9 8.0 69. dan air hujan.6 12.2 15.9 68.1 12.1 1. sarana sumber air yang digunakan improved.4 12. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dan sarana sumber air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah. sedangkan data jenis sarana air minum berasal dari Kor Susenas 2007.9 20. Proporsi penggunaan tempat penampungan air dan pengolahan air sebelum dikonsumsi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dan Kalimantan Timur. akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari.9 92.9 1. sedangkan provinsi dengan proporsi pembubuhan bahan kimia tinggi adalah Kalimantan Tengah. mata air terlindung.4 16.6 18.3 9.2 7.8 7. Terdapat 12.2 92.8 92. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin kecil proporsi yang menggunakan wadah terbuka.7 15.1 12.6 6.0 69.8 7.3 2. sumur bor/pompa.8 wadah diminum 22.3%). Dalam hal pengolahan air sebelum dikonsumsi.3 92. Sarana sumber air yang improved menurut WHO/Unicef adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng.4 89. Kalimantan Selatan.1 14.3 3.9 68.9 13.1 2. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak Disaring Bahan kimia Lain nya Karakteristik rumah tangga Tempat penampungan Tdk ada Wadah Wadah terbuka tertutup Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 9.Secara nasional pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum digunakan sebagian besar dengan cara dimasak (91.7 2.8 3.0 91. sedangkan yang tidak menggunakan penampungan lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.3% yang melakukan pengolahan dengan cara penyaringan dan 2. Provinsi dengan proporsi penyaringan tinggi adalah NTT. selain dari itu dikategorikan not improved. Tabel 3.3 13. Maluku dan Jawa Timur.5 7.1 69.9 7. sumur terlindung. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef. sedangkan yang langsung diminum (tanpa pengolahan) lebih tinggi di perkotaan. 256 .0% dengan membubuhkan bahan kimia. tetapi semakin meningkat yang tidak menggunakan tempat penampungan air.7 Proporsi yang menggunakan wadah terbuka lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. (Tabel 3.6 68.9 2.2 2. tampak cara memasak dan disaring sedikit lebih tinggi di perdesaan.9 7.8 12.4 2.1 1.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 12. Data konsumsi air dan jarak ke sumber air berasal dari Riskesdas 2007.187 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Tangga.9 4.4 17.7 17.5 69.2 10.187).

2 65.0 38. 2007). disusul oleh Riau (31.9 39.9 25.2 62. 2007) Berdasarkan kriteria tersebut.2 67.3 61. Provinsi dengan proporsi akses baik terhadap air bersih di bawah rerata nasional sebanyak 18 provinsi.2 65. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 51.7 46. terendah Papua (26.4%).7% yang mempunyai akses baik terhadap air bersih.4 62.8 33.0 31. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.7 38.5 46.3 48.9 73.1 26.0 61.7 48.4 62. tabel 3.5 63.6 37.3%) dan Kepulauan Riau (31.9 56.3 61.8 35.2 68. dari sumber terlindung (Susenas.5 53.1 60.4 31.2 62.3 Baik*) 48.8 55.188 menunjukkan secara nasional terdapat 57.3 53.1 36. 2007).2 44.5 22.8 31.6 50.6 59.1 23.7 *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.188 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi.3 57.9 63.8 34.5 46.Tabel 3.7 38.5 36.9 76.5 77.7%).8 37.3 60.6 68.1 35.1 43.5 53.7 Indonesia 42.8 55.8 37.7 51.1 74.7 39.4 40.0 68.4 49.6 37.3 51.9 64.2 44. 257 .

dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.5 53.5 CATATAN : *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas. semakin tinggi tingkat pengeluaran cenderung semakin besar proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih.9. 2007).189 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga.7 38.4 60. 3.3 61. Tabel 3.4 41.6 39. 2007) Tabel di atas menunjukkan di perkotaan akses baik terhadap air bersih lebih tinggi (67. 258 .1 48.3%). dari sumber terlindung (Susenas. 2007).7 67.Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 51.0 43. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Data ini diambil dari data rumah tangga Kor Susenas 2007.6 58.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (51. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 32.0 56.3 Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 47.2 Fasilitas Buang Air Besar Data fasilitas buang air besar meliputi penggunaan atau pemilikan fasilitas buang air besar dan jenis jamban yang digunakan.

0 .0 14.8 72.5 64.2 8.8 Tabel 3.6 14.4 9.1 12.6 2.7 77.2 23.6 61.8 63.9 36.8 12.8 43.1 19.8 57.2 42. NTB (35.1 9.5 0.5 16.7 1.5 36.2 49.6 60.0 13.190 menunjukkan rumah tangga yang menggunakan/memiliki jamban sendiri sebesar 58.1 28.0 32.2 Tidak ada 32.3 47.4 58.9 27.9 12.4 3.9 23.2 17.2 24.4 25.7 8.5 16.1 12.5 3.5 8.0%).4 42.8 20.1 6. 259 .9 51. Beberapa provinsi dengan proporsi penggunaan jamban sendiri rendah antara lain Gorontalo (31.2 25.8 6.1 4.5 35.8 15.5 32.3 59.7 65.8 27.1 59.3 6.1 18.4 20.6%) dan Maluku Utara (36.2 7.5 36.4 8.1 53.7 13.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 58.4 31.3 65.0 0.5 9.9%.8 58.1 11.2 6.6 11.4 31.3 76.6 Umum 8.8 59.2 47.0 46.1 25.190 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.3 12.6 3.4%).2 19.7 12.9 38.4 8.2 26.3 8.7 3.0 42.4 57.1 18.8%).1 45.4 57.1 60.6 7.0 4.5 13.3 1.9 25.2 71.8 2.4 64. dibandingkan dengan hasil Susenas 2004 mengalami penurunan sebesar 1. Susenas 2007 Jenis penggunaan Provinsi Sendiri 51.6 8.7 31.1 4.4 1.9 16.0 7.1 1.2 3.9 11.7 1.0 7.9 Bersama 8.8 2.5% (tahun 2004 sebesar 60.3 9.8 32.0 12.3 2.0 20.Tabel 3.1 7.7 16.1 79.1 5.0 5.8 7.0 1.4 4.7 4.0 2.2 9.8 49.

3 58.1%).8 11.5 Sendiri Bersama Umum Tidak ada Tingkat pengeluaran rumah tanggaper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 43.9%).9 4. (Tabel 3.2 34.4 37. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3%.2 49.7%).0 12.3 4.8%).0 6. Banten (87.191 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak pakai jamban tinggi antara lain Kalimantan Tengah (14. Dibandingkan dengan data tahun 2004 sebesar 49. Kalimantan Selatan (13.6 Persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di perkotaan lebih tinggi (73. Maluku Utara (84.2 4.2%).9%. Provinsi dengan cakupan penggunaan jamban saniter tinggi antara lain Bali (95.3%).0 75.6 12.0 13. DKI Jakarta (86.2%).192 menggambarkan berbagai jenis sarana pembuangan kotoran.1 25. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi yang menggunakan jamban sendiri. Jenis sarana pembuangan kotoran dianggap ‘saniter’ bila menggunakan jenis leher angsa.191) Tabel 3.5 65.2 3.7%).Cakupan penggunaan jamban sendiri menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.3 10. Susenas 2007 Jenis penggunaan Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 73.2 11.7 3.2 19.3%). Secara nasional rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebesar 68.4%) dan Papua (11.2%). Sulawesi Utara (85.5 2. Gorontalo (87. 260 .8 9.8 11.2%) dibandingkan dengan di perdesaan (49. penggunaan jamban saniter ini mengalami peningkatan yang signifikan.1 30.6 52.9 14. dan DI Yogyakarta (83.

8 6.0 Plengsengan 8.0 1.3 1.5 5.6 6.9 14.3 13.8 12.1 15.5 63.4 4.7 59.2 83.8 11.8 8.0 78.3 7.8 6.5 6.8 22.9 9.3 16.7 9.1 8.3 13.8 68.8 14.0 16.7 79.8 11.6 13.9 4.7 2.4 0. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Provinsi Leher angsa NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 59.8 69.1 87.4 3.9 6.0 43.6 67.5 70.3 11.9 4.0 7.2 9.6 4.6 2.5 85.0 18.1 19.7 5.0 17.9 66.5 Proporsi penggunaan tempat buang air besar bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.0 7.7 0.192 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi.8 6.6 4.8 5.4 10.0 24.3 58.2 Indonesia 68.0 30.1 49.2 2.8 15.7 95.5 18.0 4.7 26.8 1.5 7.2 53.6 2.1 1.6 84.7 0.Tabel 3.193) 261 .3 7.5 9.2 25.2 31.7 5.5 4.6 1.6 9.9 76.0 68.9 0.0 8.9 17.2 7.9 72.6 11.4 1.3 24.4 7.7 0.4 14.4 3.3 5.6 2.5 29.7 87.2 Cemplung/ cubluk 24.4 39.9 2.2 86.4 60.5 6.5 62.1 9.7 8.5 66.4 2.0 6.8 60.9 18.8 4.8 15.6 21.3 67.7 3.2 5.2 13.4 25.6 Tidak pakai 7.1 75.3 12.2 75.7 16.8 24.2 75.6 14.8 4.

3 3.194 dapat dilihat secara nasional rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi sebesar 43. pada tabel 3.0 8.5%) dan Maluku Utara (31.3 73.6 82. terendah adalah Papua (17.2 5.9 56.0%.8 1.6 7.6 2.1 17. Terdapat 18 provinsi dengan akses baik terhadap sanitasi di bawah rerata nasional. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 27.8 10.6 4.8 68.8 26.5 7.4 22.5 13.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (56.5 61.0 7.1 Leher angsa Plengsengan Cemplung/ cubluk Tidak pakai Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Proporsi rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa lebih tinggi di perkotaan (83.9 9.193 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.5 9.4 10.5 11.1%).0 53. disusul oleh Papua Barat (25. akses sanitasi disebut ‘baik’ bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa. Berdasarkan kriteria tersebut.9%).2 8. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi yang menggunakan jamban jenis leher angsa.7 5.Tabel 3. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 83. 262 . Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.0%).

1 40.9 49.0 33.5 22.6 51. jenis latrin (Susenas.4 48.0 50.0 58.1 Baik*) 33.8 31.2 68.2 46.6 41.0 41.3%).7 35.0 70.8 53.9 41.1 50. 2007).3 55.3 57. Susenas 2007 Akses sanitasi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 66.7 55.5 73.7 44.5 55.9 46.195 menunjukkan proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.3 49. di perkotaan lebih tinggi dua kali lipat (63.0 74.0 43.4 29.6 69.6 45.9 44. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 64.0 *) menggunakan jamban sendiri. Menurut tingkat 263 .8 36.7 50.3%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.1 53.Tabel 3.2 63.8 39.0 65.0 25.3 44.5 77.4 31.5 27.5 17.6 70.1 57.4 58.4 55.1 58.9 Indonesia 57.7 42.5 58.0 66.9 42.2 60.5 82.5 44.9 60.1 55.194 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Provinsi.0 30. Tabel 3.5 41.9 54.0 34.0 49.1 46.

Bengkulu.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (30. Kalimantan Tengah.(Tabel 3.3 50. Sulawesi Barat.5 63.5 *) menggunakan jamban sendiri.196) Proporsi penggunaan sarana pembuangan akhir tinja saniter tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta (86.7 49. NTB.5 25. dan pantai/tanah.5%). Jambi. Tabel 3.7 69. (Tabel 3.1 34. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3%). Papua.3%. data diambil dari Kor Susenas 2007. NAD. Kalimantan Barat. Susenas dan Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 36. Maluku. Sumatera Barat. Secara nasional. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan tangki/SPAL.3 30. Provinsi-provinsi yang proporsi pembuangan akhir tinja saniternya di bawah rerata nasional adalah NTT.3 Akses sanitasi Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 74. Proporsi rumah tangga dengan penggunaan tempat pembuangan akhir tinjanya jenis tangki/SPAL (saniter) bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sulawesi tengah. proporsi rumah tangga dengan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki/SPAL (saniter) sebesar 46. Proporsi rumah tangga yang menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinja dua kali lebih tinggi di perkotaan (71.0%) dan Bali (76.pengeluaran rumah tangga per kapita terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.6 42. 2007). dan Gorontalo. kolam/sawah. Tempat pembuangan akhir tinja dikategorikan saniter adalah bila menggunakan jenis tangki/sarana pembuangan air limbah (SPAL).195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. Untuk pembuangan akhir tinja. Lampung.9 65. lobang tanah. jenis latrin (Susenas. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. sisanya dibuang ke sungai/laut.7 63.4 57.197) 264 .5 36. Papua Barat.

6 1.6 6.8 9.0 21.8 16.1 0.0 1.6 2.7 Lainnya 3.9 86.4 26.3 1.9 0.2 22.4 0.3 34.0 0.0 20.2 Sungai /laut 22.0 14.9 22.5 11.6 35.1 4.1 4.1 7.2 1.8 8.7 7.1 28.7 26.0 4.3 43.6 0.1 42.6 0. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Provinsi Tangki/ SPAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 36.7 1.0 1.2 5.0 0.2 5.7 31.4 3.3 33.8 1.7 14.4 1.6 1.0 0.5 1.6 0.6 2.5 49.1 15.1 0.7 14.1 20.9 21.6 0.3 0.6 4.1 7.7 15.4 5.5 Lobang tanah 22.4 11.4 1.1 1.4 54.3 2.7 6.5 31.3 14.6 20.2 Indonesia 46.9 2.2 18.2 6.1 21.2 4.7 22.2 11.4 2.9 22.4 33.0 0.5 11.0 1.8 32.9 15.1 12.1 3.9 3.8 2.7 69.4 42.0 2.6 16.3 15.0 1.9 2.7 2.3 3.6 21.5 2.4 0.4 8.5 38.1 1.1 22.6 40.9 45.7 12.1 30.8 1.5 34.1 6.2 31.6 18.4 18.7 22.7 11.3 16.9 0.6 21.3 23.0 265 .9 22.6 0.7 69.3 8.0 26.3 17.4 0.2 1.7 38.1 57.6 24.0 14.8 4.7 Kolam/ sawah 63.3 33.9 3.0 53.8 24.6 1.1 11.2 14.1 2.2 29.2 20.4 0.Tabel 3.7 39.9 1.3 32.7 Pantai/ tanah 12.5 3.8 61.5 1.9 7.9 12.3 2.7 53.2 2.6 1.4 21.0 0.7 3.0 24.4 36.4 1.1 21.2 55.2 48.1 25.3 0.0 25.4 30.1 0.1 46.3 30.2 13.4 76.3 55.8 2.6 7.4 35.3 1.196 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi.3 1.6 2.7 1.9 46.1 2.8 47.0 25.5 1.3 41.0 49.7 0.1 5.1 50.8 21.2 4.0 1.

6 23.5 21.3 3.1 1. Secara nasional.1 22.198) Terdapat 16 provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak memiliki SPAL lebih tinggi dari rerata nasional.5 2.7 1.8 1.5 4. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 2. proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL hampir tiga kali lipat (42.3 16.5% (Tabel 3. yaitu dari 25.9.7%).5 9. baik SPAL jenis tertutup maupun terbuka. tertinggi adalah NTT (77.2 2.9 6.6 3.5 26.8 20.2 11.3 3. terdapat 67.8 12.3 Kuintil 2 38.7 7.8 2.2 2. Dibandingkan dengan data Susenas tahun 2004.9 Perdesaan 30.8 Kuintil 3 45. semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin rendah proporsi rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.9%). Proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 11.7 11.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 30.8% menjadi 32.3 Sarana pembuangan air limbah Data penggunaan saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga didapatkan dengan cara wawancara dan pengamatan.(Tabel 3.7%) dan Kalimantan Tengah (65.4 24.9 2.7% rumah tangga yang menggunakan SPAL di rumahnya.5 19.199) 266 .3 23. Di daerah perdesaan.4 Kuintil 4 52.2 16. terdapat peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.0 Kuintil 5 65.0 4.6 27.9%).6 3.6 1.2 3. disusul oleh Kalimantan Selatan (75.Tabel 3.1 10.197 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.9%) dibandingkan dengan di perkotaan (15. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Karakteristik rumah tangga Tangki/ SPAL Kolam/ sawah Sungai /laut Lobang tanah Pantai/ tanah Lainnya Tipe daerah Perkotaan 71.

8 10.8 42.6 25.3 25.6 53.3 52.4 17.2 21.3 18.7 Tdk ada 26.1 14.1 24.5 25.5 47.2 17.0 46.Tabel 3.9 43.0 38.2 5.2 32.4 48.5 46.0 27.7 33.6 39.6 46.9 75.5 23.7 23.3 24.1 25.2 Indonesia 42.2 71.1 Tertutup 17.0 16.7 52.3 40.3 16.7 46.1 20.4 47.5 267 .1 52.5 22.7 12.9 44.1 57.3 4.1 27.0 48.1 37.2 10.8 14.7 31.0 49.5 34.3 38.4 30.7 16.1 43.7 20.6 37.6 26.9 8.3 25.5 69.2 34.5 33.0 17.4 42.3 60.1 17.5 41.1 43.7 13.7 4. Riskesdas 2007 Saluran pembuangan air limbah Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Terbuka 56.0 11.6 37.8 6.8 21.7 11.7 27.4 9.7 44.2 48.4 69.6 30.6 51.0 27.9 47.3 77.4 8.5 55.9 41.9 10.3 11.0 50.9 34.198 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.6 65.

9.9% di luar rumah). Tabel 3.9 Perdesaan 42. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang memiliki tempat sampah.0 Kuintil-5 41.2 29.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.1 36.3% dalam rumah dan 56.2 14.5 Kuintil-2 42. Tabel 3. 268 .5 17.5% dalam rumah dan 38.8 Kuintil-3 43.9 42.7 22. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Terbuka Tipe daerah Perkotaan 41.200 menunjukkan secara nasional terdapat 26.4 33.9 40.6 Saluran pembuangan air limbah Tertutup Tdk ada 42.Tabel 3. Proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6% rumah tangga yang memiliki tempat sampah di dalam rumah dan 45. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5% rumah tangga memiliki tempat sampah di luar rumah.201 menunjukkan di perkotaan proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah lebih tinggi (36.4 20.3 35.2% di luar rumah) dibandingkan dengan di perdesaan (20.0 Kuintil-4 42.5 3. baik di dalam maupun di luar rumah.4 Pembuangan sampah Data pembuangan sampah meliputi ketersediaan tempat penampungan/ pembuangan sampah di dalam dan di luar rumah.8 23.199 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.8 28.9 15. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memiliki tempat sampah tertinggi adalah Gorontalo (dalam rumah) dan Kalimantan Selatan (luar rumah).

5 10.7 34.4 66.4 11.8 5.1 66.7 19.2 66.0 80.0 9.9 31.6 23.1 73.0 76.4 8.9 24.5 Tertutup 9.5 55.9 15.0 29.5 8.4 47.1 58.7 13.1 83.9 53.3 7.9 81.3 49.8 22.7 54.2 6.5 37.5 65.1 6.0 29.9 17.1 72.7 26.8 6.4 5.8 58.1 26.0 63.8 24.4 3.2 3.5 3.4 36.9 69.1 32.3 30.2 12.1 36.0 Tidak ada 65.4 14.2 5.3 24.8 6.5 15.8 73.6 68. Riskesdas 2008 Penampungan sampah dalam Provinsi Tertutup NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5.4 5.8 5.3 13.1 8.3 65.1 58.9 11.0 3.4 18.0 11.4 28.3 13.4 80.0 21.9 72.9 5.5 61.2 15.0 42.0 85.9 10.2 54.7 5.3 44.3 7.7 8.4 34.6 2.5 3.4 3.8 7.2 21.0 65.5 37.2 16.9 56.8 Penampungan sampah di luar rumah rumah Terbuka 17.1 75.3 80.8 36.3 65.6 85.3 63.5 7.8 4.0 33.5 14.7 14.4 23.1 71.9 62.200 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.9 42.3 60.9 35.0 Indonesia 8.0 23.6 3.3 63.0 7.1 64.3 72.6 56.8 5.1 34.0 16.3 30.1 34.9 3.8 74.2 37.5 6.1 10.8 4.1 41.3 54.0 29.9 23.2 5.8 6.4 6.5 16.4 35.4 86.0 27.3 14.1 4.6 73.9 64.3 48.4 3.5 8.6 3.5 74.0 11.6 80.2 60.8 83.4 15.9 5.5 269 .5 81.0 2.0 33.5 27.2 77.0 39.1 28.5 7.1 8.3 73.5 18.6 65.0 10.2 17.1 23.8 61.9 8.9 51.7 13.Tabel 3.2 10.6 18.5 59.5 12.5 9.2 77.2 31.6 77.2 54.0 7.7 76.7 Tidak ada 77.5 17.7 7.2 28.8 18.0 17.1 Terbuka 25.3 4.0 11.6 56.0 55.0 8.

202 menunjukkan secara nasional masih terdapat 12.7 76.9 61.7 74. Sedangkan provinsi dengan proporsi hunian padat lebih tinggi dari rerata nasional antara lain Papua (51. ada kecenderungan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang lantai rumahnya tanah dan tingkat huniannya padat.1 57.3 21.0 19.9 15. luas lantai rumah dan jumlah anggota rumah tangga diambil dari Kor Susenas 2007. kepadatan hunian.8%).5%).201 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.3 3.9%).0 Perdesaan 4.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4.0 Tipe daerah Perkotaan 15. sedangkan proporsi rumah dengan kepadatan hunian tinggi tidak menunjukkan perbedaan antara di perkotaan dan perdesaan. 270 . dan keberadaan hewan ternak dalam rumah.4%).5 3.2 52.8 18.0 Kuintil-5 14. Riskesdas 2007 Penampungan sampah dalam rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 63.Tabel 3.6 55.5 40.6% rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan 17.3 17. Tabel 3. Tabel 3.5% dengan tingkat hunian padat. Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi luas lantai rumah dalam meter persegi dengan jumlah anggota rumah tangga.9 13. dan DKI Jakarta (37.8 15. tertinggi NTT (44.9.1 60.4%) dan Papua (27.4 40. Papua Barat (40. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.203 memperlihatkan proporsi rumah tangga dengan jenis lantai tanah di perdesaan lebih tinggi (17.8 36.0 71. Dilihat dari provinsi.0%) dibandingkan dengan di perkotaan (5.5 Perumahan Data perumahan yang dikumpulkan dan menjadi bagian dari persyaratan rumah sehat adalah jenis lantai rumah.3 8.3 16. sedangkan data pemeliharaan ternak diambil dari Riskesdas 2007.2 6.1 34.0 Kuintil-3 7.0 37.4 7.7 79.0%).1 Karakteristik rumah tangga Penampungan sampah di luar rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 43.8 5.0 20. terdapat delapan provinsi dengan proporsi jenis lantai rumah tanah lebih dari rerata nasional.5 Kuintil-2 6.7 46. Hasil perhitungan dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat.7%). Data jenis lantai.1 65. disusul oleh Jawa Tengah (28.5 38.4 79. Proporsi rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan tingkat hunian padat bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. yaitu memenuhi syarat bila ≥8m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila <8m2/kapita (padat).2 Kuintil-4 10.9 35.

3 18.9 23.0 Indonesia 87.0 Tanah < 8 m2/ kapita 20.5 17.1 78.0 88.7 21.3 5.7 2.3 9.4 55.7 82.3 5.9 84.9 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 79.2 83.3 84.2 27.7 4.8 72.0 30.8 62.0 69.3 17.7 94.0 11.3 82.4 10.3 86.3 96.6 20.5 79.3 78.5 271 .3 93.1 13.4 19.9 89.3 4.1 97.8 16.6 3.2 2.4 11.2 71.6 44.7 83.8 9.1 91.8 28.7 96.1 10.8 51.5 3.7 81.1 66.7 15.8 74.3 12.2 90.4 79. Susenas 2007 Jenis lantai Provinsi Bukan tanah NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 86.6 88.2 8.1 10.6 22.7 94.4 3.1 89.1 79.6 72.3 11.6 11.0 5.5 6.2 6.9 89.6 95.9 21.1 15.5 80.6 89.9 20.6 82.8 91.2 25.2 37.5 93.4 27.5 96.9 17.202 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.4 96.9 2.1 7.1 82.6 80.0 94.8 93.7 17.9 21.8 19. Kepadatan Hunian dan Provinsi.8 7.9 8.4 78.7 90.7 6.7 95.2 49.8 97.6 63.5 73.4 4.4 59.3 4.7 13.5 26.9 92.5 19.1 76.4 36.3 16.1 78.2 92.3 97.7 87.6 40.8 15.7 88.Tabel 3.4 12.9 10.4 88.2 80.2 84.9 33.5 20.6 96.

baik jenis unggas. ternak besar.4 34.5 17. ternak besar (sapi. Pada Tabel 3.6 21.4 5.1 84. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10%-20% memeliharanya di dalam rumah.9 85.1 14.4 10. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. Provinsi-provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memelihara ternak tinggi antara lain Provinsi NTT.0 19. dll). Susenas 2007 Jenis lantai Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 94.6 89. maupun binatang kucing.8 94.7 12.4 9.7% rumah tangga yang memelihara unggas. ternak sedang (kambing.2 5. 272 .5 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita < 8 m2/ kapita Bukan tanah Tanah Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Dalam hal pemeliharaan ternak.2 82.9 6. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin sedikit memelihara ternak. kuda. Bila di rumah tangga memelihara ternak.5 17.9 15. kerbau. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.5 83.6 82.0 80.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga. Bali dan Papua. data dikumpulkan dengan menanyakan kepada seluruh kepala rumah tangga apakah memelihara binatang jenis unggas.6 65.1 93.4 78.9% memelihara binatang jenis anjing. babi.8 17. dll) atau binatang peliharaan seperti anjing. kucing dan kelinci.205). 12.6 90.Tabel 3.3% memelihara ternak sedang. kucing atau kelinci. ternak sedang. 8. anjing atau kelinci.3 87. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8% memelihara ternak besar dan 16.204 tampak secara nasional terdapat 41. domba. kemudian ditanyakan dan diamati apakah dipelihara di dalam rumah.

1 Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh 9.0 11.8 47.8 50.9 88.3 0.1 0.8 3.9 13.4 64.9 59.6 8.4 0.5 2.6 89.2 4.1 97.6 4.9 32.2 2.8 26.5 33.3 7.8 54.0 0.5 5.8 0.9 98.0 6.8 5.6 0.9 0.1 1.7 2.2 0.9 9.5 0.3 17.1 5.1 31.4 77.9 94.1 0.4 0.5 2.5 87.5 27.1 7.3 99.6 2.1 12.8 45.7 0.1 95.1 73.1 0.9 Luar rmh 3.9 14.7 77.7 95.3 6.3 26.0 Tdk dipelihara 86.8 29.0 15.2 93.3 0.3 40.6 46.8 33.4 11.1 1.3 Luar rmh 12.0 0.9 22.4 57.0 95.5 Luar rmh 51.7 66.3 0.0 91.7 92.3 23.3 83.9 68.1 54.6 67.9 3.Tabel 3.0 Tdk dipelihara 86.0 14.3 0.4 96.2 6.7 93.5 1.5 1.2 0.1 0.6 7.2 4.7 1.1 61.6 94.4 4.4 0.5 3.8 99.7 4.1 79.1 10.8 31.7 99.6 8.2 Tdk dipelihara 44.8 3.9 12.6 16.8 91.3 4.7 39.1 90.7 3.6 85.4 10.7 67.4 0.7 26.9 8.8 1.0 Luar rmh 11.0 0.4 78.3 6.4 9.1 70.6 90.1 99.4 99.1 83.4 0.4 0.1 16.4 4.8 25.6 91.9 8.6 0.3 90.9 0.9 1.8 23.7 56.2 80.5 83.6 84.6 7.2 13.9 4.2 4.2 3.4 49.2 2.6 10.1 93.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 273 .2 30.9 13.9 66.0 80.3 26.2 0.1 69.0 0.3 29.2 16.0 0.4 2.1 75.8 91.1 36.4 15.8 8.0 82.3 10.2 35.6 94.7 4.4 Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh 1.9 3.2 88.2 25.0 94.6 92.7 94.0 51.6 64.2 2.1 0.8 5.7 76.3 94.8 91.3 1.7 9.7 69.7 14.6 85.3 1.7 4.3 63.0 96.8 4.6 52.1 4.4 62.3 44.0 2.7 3.9 2.0 0.3 48.3 9.9 3.8 2.2 0.8 0.3 57.9 2.0 65.9 96.9 5.0 0.2 4.7 Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh 0.0 3.2 2.3 0.2 1.4 2.4 0.8 2.8 0.1 3.6 57.5 0.1 0.1 83.1 47.3 91.2 7.9 9.2 81.5 83.8 11. Riskesdas 2007 Ternak Unggas Provinsi Dlm rmh 3.9 11.3 29.5 95.5 42.6 11.8 3.1 21.4 40.3 65.5 6.9 2.0 33.5 6.9 18.1 7.7 96.7 11.1 2.3 8.3 0.2 25.1 93.5 58.7 6.0 50.0 5.0 6.0 14.7 17.9 17.1 0.8 6.8 29.6 93.4 85.1 0.2 0.2 0.2 0.6 1.2 99.0 18.0 12.5 96.0 18.0 3.8 2.1 95.7 16.5 78.6 98.8 48.0 0.4 5.0 6.6 83.6 98.7 92.0 94.1 7.4 85.0 13.204 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.9 0.3 94.8 Tdk dipelihara 87.8 36.1 0.1 2.3 84.4 8.7 5.6 83.9 2.3 89.7 0.6 1.8 1.4 0.8 0.9 97.0 0.4 1.0 82.3 12.4 84.5 3.6 69.7 92.3 0.7 95.8 95.4 34.5 6.2 69.7 31.6 0.9 82.9 89.9 3.8 6.7 4.1 8.8 10.7 63.6 3.9 56.8 62.8 2.1 71.8 45.2 3.1 2.4 17.3 13.1 27.5 1.8 52.4 97.5 9.6 71.8 3.3 6.3 10.0 90.6 0.0 2.4 7.8 5.7 3.3 0.3 90.7 5.0 70.5 27.3 1.7 40.5 0.3 5.3 26.9 8.6 2.1 35.8 94.3 0.9 2.1 66.8 19.1 88.7 97.5 5.7 15.2 66.1 87.8 6.

5 1.6 92.2 6.1 27.5 10.0 94.205 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.5 2.2 54. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Ternak Unggas Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 4.3 34.6 12 4.2 0.8 3.2 8.0 4.2 8.5 90.8 89.3 9.4 1.6 9.4 7.8 7.3 1.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.0 6.8 12.6 1.8 53.3 9.4 36.9 59.4 92.4 1.9 67.7 7.6 15.3 274 .2 79.0 84.5 0.8 19.8 6.6 87.4 97.1 82.5 11.6 85.5 10.7 83.4 56.1 11.8 0.8 8.7 39 38.3 47.3 1.7 1.7 6.0 0.2 0.5 86 87.5 9.4 45 76.1 6.2 4.3 7.8 7.6 82.3 7.0 81.6 7.3 1.3 1.8 89.4 89.7 10.6 13.0 89.7 96 82.Tabel 3.

sedangkan pada umur 75 tahun ke atas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.1 20. 275 .552 kasus kematian di atas.7 23.8 1.4 2. sedangkan pada kelompok umur 45-74 tahun di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan.5 6. dan proporsi kematian umur 15 tahun ke atas semakin meningkat. Pada kelompok umur muda (di bawah 15 tahun).206 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada umur di bawah 1 tahun adalah 9.4 Distribusi kematian menurut umur dan jenis kelamin pada tabel 3.207 membandingkan proporsi kematian menurut tipe daerah.1 Distribusi Kasus Kematian Diantara 4. proporsi kematian pada umur 5-14 tahun terendah. yaitu 4.196 (=258. Tabel 3.8 5.014 kasus (88.7 21.0 2.5 rata-rata jumlah ART).9 3. termasuk di dalamnya 75 kasus lahir mati. yang anggota keluarganya berhasil diwawancarai secara lengkap.4 2.5 Total n 354 103 76 137 178 250 511 632 776 922 % 9.552 kejadian kematian. Tabel 3.163. Riskesdas 2007 Kelompok umur Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas Laki-Laki n % 210 55 49 89 89 120 298 381 460 468 9. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1000.488 RT yang berhasil diwawancarai x 4.6 1.0 16. proporsi kematian di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan.2 4.6 2.7 13.2 persen).10 Mortalitas Pewawancara menanyakan kejadian kematian selama kurun waktu tiga (3) tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data.0 4.3.3 13.0%.4 26. Data mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33 provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4.206 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin. 3.10.4 17.5 4.552 per 1.2 12.6 18.0 19. Kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sebelum survei (terletak pada rentang waktu 1 Juli 2006-31 Januari 2008) ditindaklanjuti dengan wawancara kepada anggota keluarga almarhum/ah menggunakan kuesioner AV.5 2.0 5. hanya 4.4 14.0 Perempuan n % 144 48 27 48 89 124 213 251 316 454 8. Proporsi kematian pada umur 45-74 tahun pada laki-laki lebih besar daripada perempuan.2 7.

3 13. Pada tabel 3. dan diare.1 5.4 3.0 2.0 3. dan tumor ganas.8%) dan Cedera (6.6 23. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat. walaupun dalam enam (6) tahun terakhir penurunan hanya sedikit.1 6.3 17.Tabel 3.3 14.8 n 354 103 76 137 178 250 511 631 776 922 Total % 9. Kondisi maternal/perinatal dalam kurun waktu tujuh (7) tahun tidak berubah dan kematian karena cedera tidak mengalami perubahan.6 1.5%). diabetes mellitus.9 15.3 3.7 11.208 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15. menurut empat (4) kelompok penyebab kematian. hipertensi. sedangkan penyakit tidak menular didominasi oleh strok.6 5. Riskesdas 2007 Kelompok umur n Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas 104 31 23 59 84 97 252 295 327 378 Perkotaan % 6.4 3.5%). proporsi penyakit menular telah menurun. tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti dengan transisisi demografi.209 menunjukkan urutan penyakit menular dan tidak menular pada semua umur.9 1.10. Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001.7 23.2 Kematian Semua Umur Tabel 3.8 22.4%).5 4. sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.1 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen. 276 . Proses ini diprediksi akan berjalan terus. Proporsi gangguan maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan. Di lain pihak. yang disusul oleh TB (7.9 n 250 72 53 78 94 153 259 336 449 544 Perdesaan % 11.0 16.7 19. Penyakit menular didominasi oleh TB penyakit hati (termasuk hepatitis kronik).1 2. Hipertensi (6. pnemonia.4 4.9 3. dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen. Grafik 3.3 1.0 19.9 19.5 6.207 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah.

4 7.2 .3 0.1 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit.1 5.6 3.8 3.7 5.3 0. Pola penyebab kematian semua umur.6 0.5 6. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 277 .208.8 0.1 5.7 1.6 1.5 1.5 6. Riskesdas 2007 Penyebab kematian Strok TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi Proporsi kematian (%) 15.0 5.8 6. Grafik 3.5 0.Tabel 3.7 5.1 4.5 0.

10. Terbanyak karena sepsis (20%) (Tabel 3. Di lain pihak.080) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/ ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia 27. yaitu lahir mati ditambah kematian bayi umur 0-6 hari tercatat sebesar 217 kasus kematian.285) % 26.4 13. Proporsi bayi prematur yang meninggal cukup tinggi (32. Kematian Berumur 0-28 hari (Neonatal) Jumlah kematian perinatal di 33 provinsi. Poporsi terbesar disebabkan karena gangguan/kelainan pernafasan (respiratory disorders).6% (75 kematian) dari seluruh kematian perinatal.8% ibu dari bayi perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil. pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut. Bila dibandingkan dengan seluruh kematian neonatal ini. maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil.5%. kematian bayi neonatal dini (0-6 hari) adalah sebesar 78. sebesar 142 kasus kematian. Proporsi lahir mati cukup tinggi yaitu 34. seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan.6 3. Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur. faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya.2 9.209.3 9.2 6.0 4. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir marti secara berturut-turut adalah hipertensi maternal (24%). selanjutnya urutan ke 2 dan 3 disebabkan oleh prematuritas dan sepsis (Tabel 5. yaitu kematian bayi 0-28 hari. Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal.210).8 19.9 12.3 Kematian Menurut Kelompok Umur a.4%) menunjukkan bahwa penanganan bayi prematur belum memuaskan. komplikasi ketika bersalin 278 . Untuk kematian perinatal. atau karena alasan lainnya.2). 96. Kematian bayi neonatal lanjut (7-28 hari) tercatat 39 kasus. yaitu kematian bayi umur 0-6 hari (disebut juga kematian bayi neonatal dini).2 10. Sisanya.4 3.1 1. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil.4 1. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir. jumlah kematian neonatal.9 1.5 3.1 14.2 2.3 10.2 7. tercatat 181 kasus kematian. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari).0 0.Tabel 3. Riskesdas 2007 No Penyakit menular (n=1.2 Strok Penyakit Hipertensi Diabetes mellitus Tumor ganas Penyakit jantung Iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 hari Malformasi congenital Malnutrisi % Penyakit tidak menular (n=2.

6 3. dan pnemonia.6 2.211 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari.6 1.6 2.9 32.9 6.211).3 6.9 5.6 2.0 10. Kematian Berumur 29 hari-4 tahun Kematian bayi postneonatal dan anak balita didominasi oleh penyakit menular.210 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 hari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0-6 hari (n=142) Gangguan/kelainan pernafasan Prematuritas Sepsis Hipotermi Kelainan perdarahan dan kuning Postmatur Malformasi kongenitas % 35.3 1.1 15.4 2.7 12.5%.0 21. Tabel 3.4 12.5 3.(partus macet) sebesar 17.5 18.6 3.5 12.7 3.4 Sepsis 7-28 hari (n=39) Malformasi kongenital Pnemonia Sindrom gawat pernafasan (RDS) Prematuritas Kuning Cedera lahir Tetanus Defisiensi nitrisi Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden infant death) % 20. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lahir mati (n=75) Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Ketuban pecah dini Perdarahan antepartum Cedera maternal Persalinan sungsang Kehamilan ganda Infeksi intrapartum Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran Lilitan tali pusat % 23. dan hipertensi maternal (22%) (Table 3. Untuk bayi postneonatal penyebab kematian yang juga perlu diperhatikan 279 .4 12.0 6.8 0-6 hari (n=142) Ketuban pecah dini Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Kelainan nutrisi maternal Multiple pregnancy Perdarahan antepartum Persalinan sungsang Infeksi intrapartum Lilitan tali pusat Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran % 23.6 2.8 16.6 17.8 1. Sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal berumur 0-6 hari adalah ketuban pecah dini (23%). Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi postneonatal (29 hari-11 bulan) dan anak balita (14 tahun) untuk tiga penyakit terbesar mempunyai pola yang sama yaitu diare.9 5.5 Tabel 3.6 2.7 10.3 5.8 12.1 b.8 2.

sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%.212 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.3 1. hypertensive diseases.8 4.4 4. Kematian Berumur 5 Tahun ke atas Proporsi penyebab kematian tiga terbesar pada kelompok umur lima (5) tahun ke atas di perkotaan adalah penyakit tidak menular yaitu: stroke.8 Diare 1-4 tahun (n=103) % 25.515) % 19. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit jantung iskemik Tumor ganas Penyakit hati NEC Penyakit jantung lain Penyakit saluran nafas bawah kronik Perkotaan (n=1. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 29 hari-11 bulan (n=173) Diare Pnemonia Meningitis/ensefalitis Kelainan saluran pencernaan Kelainan jantung congenital dan % 31.966) % 16.9 2.adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%).strok dan TB menempati urutan pertama dan kedua.1 9.4 9.5 7. Tabel 3.5 5.4 23. diabetes mellitus.1 2.2 1.7 7.8 6.4 5.6 6.9 2.8 9.3 5.3 Hipertensi Penyakit kronik Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik NEC Penyakit jantung lain Diabetes mellitus saluran nafas bawah 7.9 3.6 5.0 5.212).9 c.5 5.5 10.8 5. tenggelam 5%.3 6.8 Pnemonia Necroticans Entero Collitis (NEC) Meningitis/ensefalitis Demam berdarah dengue hidrosefalus 6 7 8 9 10 Sepsis Tetanus Malnutrisi TB Campak 4.1 8.2 15. yaitu sebesar 16% dan 9% (Tabel 3.7 4. Tabel 3.3 6. Proporsi kematian karena TB menempati urutan ke empat di perkotaan.4 280 .9 2.7 8.1 4.2 Campak Tenggelam TB Malaria Leukemia 5.7 Strok TB Perdesaan (n=1.1 6. TB 4% (Tabel 3. Di perdesaan.213).213 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah.

9 Penyakit jantung iskemik Ulkus lambung dan usus 12 jari Strok Tifoid Penyakit kronik saluran nafas bawah 4.4 13.8 Proporsi penyakit penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut tipe daerah menunjukkan bahwa perkotaan dan perdesaan mempunyai pola yang sama yaitu tempat teratas diduduki oleh kecelakaan lalu lintas. Tabel 3.214).5 8.3 Perdesaan (n=53) Diare Pnemonia Malaria Kecelakaan lalu lintas Penyakit hati Jatuh Tenggelam NEC Tifoid Gagal ginjal % 11.0 3.4 9.5 7. payudara. Kematian karena kecelakaan lalu lintas di perdesaan 2 kali lebih besar daripada di perkotaan. Tabel 3.3 4. hati.2 4.8 3.3 4. Pada kelompok umur tersebut. masingmasing sebesar 8% (Tabel 3.9 9. di perdesaan banyak kematian akibat jatuh dan tenggelam.4 Perdesaan (n=325) Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas TB Malaria Tumor ganas (leher rahim. penyakit jantung iskemik sudah cukup tinggi sebagai penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan. sedangkan di perdesaan adalah diare dan pnemonia (masing-masing 11%).2 4. rahim) % 13.3 6 7 8 9 10 Diabetes mellitus Strok Ulkus lambung dan usus 12 jari Hipertensi Penyakit jantung lain 4.1 Di perkotaan. 214 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.215 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah. proporsi kematian karena penyebab obstetrik lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.2 4.3 11.2 3. paru-paru. leher rahim.9 9. rahim.Proporsi kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan berbeda dengan di perdesaan. hati) % 9. Di perdesaan proporsi penyakit infeksi sebagai penyebab kematian sama 281 .5 7.4 10.0 13. Selain itu.5 7.5 3.3 2.0 8.4 7.3 9. penyakit hati dan TB. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 Perkotaan (n=240) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Kematian karena penyebab obstetrik Tumor ganas (payudara.4 5. proporsi penyakit tidak menular seperti strok.0 6. Di perkotaan proporsi kematian yang terbesar adalah demam berdarah dengue (30%).8 5.6 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=23) Demam berdarah dengue Tifoid Meningitis Pnemonia Jatuh Tumor ganas Kecelakaan lalu lintas Campak Infeksi lain dan penyakit parasit % 30.3 4.7 8.0 13.7 3.4 3.

7 7.7 7.1 9. Pada kelompok umur 55-64 tahun. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Laki-Laki (n=298) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Malaria Strok Penyakit jantung iskemik Tifoid Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Jatuh % 16.219).218).7 11.6 7.6 Perempuan (n=261) Penyakit hati TB Penyebab obstetrik lain Tumor ganas leher rahim dan payudara Ulkus lambung dan usus 12 jari Kecelakaan lalu lintas Malaria Diabetes mellitus Hipertensi Tifoid % 9.7 5.0 5. Tabel 3. proporsi kematian karena other direct obstetric deaths di urutan ke tiga sebesar 8% (Tabel 3. Pada perempuan.dengan di perkotaan (19%). Pada perempuan penyakit tidak menular yang terbanyak menimbulkan kematian adalah diabetes mellitus (16 persen). Proporsi tumor ganas pada perempuan secara mencolok lebih besar dari laki-laki (Tabel 3. hipertensi.217). Proporsi TB sebagai penyebab kematian hamper sama di perkotaan maupun di perdesaan (Tabel 3.9 4.3 3. sedangkan pada laki-laki terbesar adalah strok (16%). 8% pada perempuan). penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian. pada laki-laki proposinya sama dengan perempuan. diabetes mellitus. (Tabel 3.6 2.5 4.6 4. keduanya didominasi oleh penyakit tidak menular. proporsi penyebab kematian karena penyakit infeksi pada kelompok umur 45-54 tahun lebih tinggi di perdesaan (25%) dibandingkan di perkotaan (14%). proporsi TB lebih besar di perdesaan. pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda.0 5.215) Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun pada laki-laki maupun perempuan karena tuberculosis masih tinggi (11% pada laki-laki.0 2. Pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki maupun perempuan proporsi penyakit tidak menular lebih tinggi secara mencolok dibandingkan penyakit menular.216). 282 .220). sedangkan proporsi penyakit tidak menular lebih besar di perkotaan (62%) dibandingkan di perdesaan (48%). Untuk penyakit menular. Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok.3 4. Proporsi penyakit TB pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki lebih besar (11%) dari pada pada perempuan (9%). Di perkotaan kecelakaan lalau lintas termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian (Table 3.2 3. Proporsi yang terbesar pada laki-laki adalah kecelakaan lalu lintas.5 Menurut tipe daerah. Penyakit menular yang masih banyak menyebabkan kematian adalah TB.(Tabel 3.216 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin.0 4.2 4.

6 8.1 7.3 5. hati.3 11.3 3.3 283 .9 7.2 4.0 2. leher Perkotaan (n=252) % 15.7 8. 4.3 11.7 Pnemonia Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3.2 payudara.8 TB Strok Perdesaan (n=259) % 12.7 Penyakit jantung lain Penyakit hati 6. prostat) Ulkus lambung Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3.1 payudara.7 7. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Hipertensi Diabetes mellitus Laki-Laki (n=298) % 15.0 Perempuan (n=213) Diabetes mellitus Strok Penyakit jantung iskemik Hipertensi TB Tumor ganas (paru-paru. rahim.218 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin.7 11.Tabel 3. rahim) 7 8 Kecelakaan lalu lintas Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 9 10 Tifoid Ulkus lambung 3.1 8.8 4.8 rahim.8 Hipertensi Penyakit jantung iskemik Penyakit hati Diabetes mellitus Tumor ganas (paru-paru.5 9. hati. % 16.2 8.4 4.0 9.0 9.7 8. leher rahim.8 3.1 6.2 5.0 8.2 4.9 14.217 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah. rahim) 10 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Strok Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik TB Hipertensi Penyakit jantung lain diseases Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas Tumor ganas (payudara.2 Tifoid 3.6 7.8 8.5 5.0 6.

6 5.7 Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit lain Penyakit jantung iskemik Tabel 3.Tabel 3.5 9.8 Proporsi kematian pada umur 65 tahun ke atas karena penyakit tidak menular sedikit lebih tinggi di perkotaan (59.9 saluran pernafasan bawah 5.2 Tumor ganas (hati. leher rahim.8 Perkotaan (n=295) % 26.1 7.6 9 10 NEC Tumor ganas (hati. rahim) Penyakit kronik saluran pernafasan bawah % 20.5 8.1 4. payudara.6 8.4 6. leher rahim.6 8 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 4. leher rahim.7 3. prostat.1 6. prostat) NEC 3.0 5.3 NEC Penyakit jantung iskemik 3.4 6. paru-paru. rahim. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan yang menyebabkan kematian adalah penyakit sistem pernafasan seperti TB.219 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Tipe Daerah.7 3.1 Strok Perdesaan (n=337) % 17.4 10.7 Penyakit jantung lain 3.4 11.3 3.2 8. paru-paru.8 8.5 10. rahim.8 Perempuan (n=251) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit hati Tumor ganas (hati. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 Laki-Laki (n=381) Strok Diabetes mellitus TB Hipertensi Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain % 22.220 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Jenis Kelamin. otak) 3.7 12. prostate) Penyakit lain 2.6 9.4 Penyakit jantung lain Penyakit kronik 9 10 Tumor ganas (hati. 284 . Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 Penyakit jantung lain NEC 4.4 2. payudara.1 5.0 5.8 5. payudara.2 6.0 11.1 7.6 2. paru-paru.5%) dari pada di perdesaan (57%). paru-paru.

5 8.4 3.6 saluran pernafasan bawah Laki-Laki (n=928) % 20.3 Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Pnemonia Penyakit hati 5.0 5. dan pnemonia.5 3.221 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas menurut Tipe Daerah.8 7.6 6.9 10.221).2 9.0 3.0 2.3 5. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan tidak jauh berbeda dengan di perdesaan (Tabel 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok NEC Hipertensi Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 9 10 TB Penyakit jantung lain Penyakit hati Pnemonia 6.9 4. Tabel 3.8 10. Riskesdas 2007 No 1 2 Strok Penyakit kronik 3 4 TB Hipertensi 8.0 6. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Tabel 3. Tabel 3.0 3.8 Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain TB Pnemonia Penyakit hati 6.9 4.1 7.5 Strok Perdesaan (n=993) % 21.6 3.7 NEC Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 5 6 7 8 9 10 NEC Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Penyakit hati Pnemonia 7.222 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin.0 Perkotaan (n=705) % 23.9 5.222).9 5.6 6.5 Strok Perempuan (n=770) Hipertensi % 24.penyakit hati.2 9.5 9.0 7.3 6.0 6.2 9. Pola penyakit sama dibandingkan kelompok umur yang lebih muda.4 4.9 7.5 4.2 285 .4 11.3 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Hipertensi TB NEC Penyakit jantung lain Proporsi penyebab kematian pada umur 65 tahun ke atas pada laki-laki maupun perempuan sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular.

Departemen Kesehatan R. 286 .medicastore. Abas B. Departemen Kesehatan R.I. Atmarita.. Sandjaja. Balitbangkes.htm. Laporan SKRT 2001: Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular. Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. R.I. Status gizi balita di Indonesia sebelum dan selama krisis (Analisis data antropometri Susenas 1989 . 2001 15. Hipertensi. B. Dini Latief. 2000. Disability And Health – A Common Framework For Describing Health States. Departemen Kesehatan R. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 4. 3. Departemen Kesehatan. Idrus Jus'at.Geneva World Health Organization. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.com/penyakit/hiperten. The International Classification Of Functioning.com/MedLB/article_ID=ZZZUKQQ9EPC&sub_cat=73 8/24/2002. 9. Body Posture.I. Bonita R et al. ------------------9/20/2002 Hipertensi. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan. Fasli Jalal. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII.I. R. Summary. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. de Courten M. de Courten. Departemen Kesehatan R. Depression Linked With Increased Risk of Heart Failure Among Elderly With Hypertension. B & Setianto. 2001. Studi Morbiditas dan Disabilitas. Age.klinik http://www.I. T. Past Antihypertensive drugs and Risk of Hypertension : A Rural Indonesia Study. Badan Pusat Statistik.1999). Tahun 2002 10. Jamrozik. Daily Working Load.344-348. Geneva: World Health Organization. 2005 2. Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: The WHO STEP wise approach.htm. Operational Study an Integrated Community-Based Intervention Program on Common Risk Factors of Major Non-communicable Diseases in Depok Indonesia. M. AMA (American Medical Association). Basuki. K. Departemen Kesehatan R. ORC Macro 2002-2003. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 5.DAFTAR PUSTAKA 1. The WHO Stepwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Faktors. Bonita. 8. Bonita R. Laporan SKRT 2001: Studi Kesehatan Ibu dan Anak.com/datatopik /hipertensi.. 13. Dwyer T et al. Laporan SKRT 2001: Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil. http://www. Depkes RI.. Tahun 2002. Herman Sudiman. Jahari. Dwyer.. 12. 6. The WHO STEPwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Factors. p. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas. 11. 2001. 2000 14. Tahun 2002. Jakarta 29 Februari . 2002.2 Maret 2000. Bedirhan Ustun. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2006. http://www. Winkelmann.medem. 7. Geneva: World Health Organization 16. Surveillance Noncommunicable Diseases and Mental Health. Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003. -----------------Faktor Resiko Terjadinya pria. Soekirman.

Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. 31.. May 2002 19. 25.R. Shah S. Mengamati Penelitian Epidemiologi Hipertensi di Indonesia.Depkes RI Jakarta. Department of Health and Human Services. Mohammad A. Bulletin WHO 2001. 79/10: 907. Disability And Health (ICF). Djaja.47:4749-55. Departemen Kesehatan. 1997 28. S.I. Departemen Kesehatan R. 1999. MMWR. Laporan.Depkes RI Jakarta 2004. Geneva.I. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. 29. 35. Hartono IG. Departemen Kesehatan R. 22. Non Communicable Disease. Depkes. International Classification Of Functioning.I. Departemen Kesehatan. 21. Diabetes Care 28: 1182 -1186. Survey Kesehatan Nasional.I. 20.17. et al. Ikewaki K.. Pusat Promosi Kesehatan. Disampaikan pada seminar hypertensi PERKI . Departemen Kesehatan R. Investigative Ophthalmology and Visual Science.. Bagian I.P. 2002. 51 (21) : 456. Vital and Health Statistics. Yagi H. Darmojo. 18. 287 . CDC. Mochizuki S. Survey Kesehatan Nasional. Jakarta: Departemen Kesehatan. CDC Growth Charts for the United State : Methods and Development. CDC. Number 246. Jadoon.. Imamoto S. Mohammad Z.. Series 11. Brotoprawiro. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Program Imunisasi di Indonesia. S dkk. Shibata T.. Depkes RI 24. 1999. Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu. Tomorrow’s pandemic. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2002. MMWR. 2003. George Alberty. Statistik Penyakit Penyebab Kematian. 30. 2001. 2003. Prevalensi Hipertensi pada Karyawan Salah Satu BUMN yang menjalani pemeriksaan kesehatan. B.World Health Organization. 1995 34. State-Specific Mortality from Stroke and Distribution of Place of Death United States. Jakarta: Depkes RI 23. 2005. Tahun 2002 27. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. : 429 . Prevalence of Blindness and Visual Impairment in Pakistan: The Pakistan National Blindness and Visual Impairment Survey. et al.A. Departemen Kesehatan R. Laporan. Kelompok Kerja Serebro Vaskular FK UNPAD/RSHS “ .J. Khan. Dineen B. Tahun 2002 26. State – Specific Trend in Self Report 3d Blood Pressure Screening and High Blood Pressure – United States. Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI. 2001 36. Hashimoto K. 33. Psychiatric morbidity among patients attending the Bangetayu community health centre in Indonesia. 2000.I. Bourne R. 2003. 2002. Departemen Kesehatan R. Departemen Kesehatan RI. Pemantauan Pertumbuhan Balita. 2006. Glucose Intolerance is Common in Japanese Patients With Acute CoronarySyndrome Who Were Not Previously Diagnosed With Diabetes. Jakarta. Johnson G. SKRT 1995. Departemen Kesehatan. 51 (20). Nagasawa H. Direktorat Epim-Kesma. SKRT 1995 32. 1991 – 1999.

2003 55. 54.D.Geneva. Primary Hypertention Phatogenesis In : Clinical Hypertention. 2006.Geneva. Report of WHO.D. Pedoman Pewawancara Petugas Pengumpul Data. World Health Organization. 2004 56. Depkes RI. 48. Pradono J dan Soemantri S. 17-12 May 2004. Report of WHO. The New England Journal of Medicine.surya..17. In:Fiftyseventh World Health Assembly. Jan 18. Analisis Data .Soemantri. http://www.. Dwi Hapsari. 2004 50. How To Keep Your Blood Pressure Under Control. Bisher Kawar. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. Survei Kesehatan Rumah Tangga 41. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Kristanti CM. Policy Paper for Directorate General of Public Health. 39. Obesity and Diabetes in the Developing World — A Growing Challenge 46. 2005 52. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga. 2002 38.phtml. pp 9. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2007 47.D.WHO Framework Convention on Tobacco Control. Muchtar & Fenida. dan Soemantri S. 19-28 May 2003. 49. Diet Obesitas dan hipertensi. Clinicians Pocket Reference. Perkeni. 45.D. Geneva: WHO. Rose Men’s. 2004 43.id /31072002 /10a.. Departemen Kesehatan RI. Perkeni.43. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009. Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang yang berobat di poli Ginjal Hipertensi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. and health. 2007 57. Ph. Clinical Hipertension. World Health Organization. 1999 58. 1997. 2006. pp 9. NY. S. Kaplan NM. Steven A Haist.1. 2006. Mc.37.. News Health Recource. 1998. Kaplan NM.co. Parvez Hossain. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 8th Ed. June 2002 51. Lippincott :Williams & Wilkins 2002. In: Fiftysixth World Health Assembly. M. Resolution WHA57. AS. M. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Sarimawar Djaja. Petunjuk Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal. 44. Vol 356: 213 – 215. Suhardi. Leonard G Gomella. Jakarta: Perkeni. Survei Kesehatan Rumah Tangga 1992. Resolution WHA56. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. International edition.43. Trend Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. M. Hipertensi di Indonesia . 1995. Jakarta: Badan Litbangkes.Global Strategy on diet. Grawhill Medical Publishing division.physical activity. A. Jakarta: Perkeni. Janet. dkk. Geneva: WHO. 2006. 7th Ed. and Meguid El Nahas. 53. 2002. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. 1998 : 41-132 40.Kapita Selekta Kedokteran 1999 :518 – 521. 2001 288 . Mansjoer. 42. Baltimore : Williams and Wilkins Inc. Kristanti CM.

2. S. Saw S-M. The WHO STEPwise approach to Surveillance of Noncommunicable Diseases 2003.. Sudikno.T. Joko Irianto. M. Widjaja D. Canberra: AIHW. Cape town. et al. 1999 65. Cape town. The Journal of the Indonesian Medical Association. 20-22 November 2005. Sandjaja. Cakupan viramin A untuk bayi dan balita di Indonesia.. Ann Intern Med. 61. British Journal of Ophthalmology 2003. 2002. Non-communicable Disease Surveillance and Prevention in South-East Asia Region. 1984 : 44. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Diagnosis. Hipertensi Borderline “White Coat” dan sustained “ : Suatu Studi Komperatif terhadap Normotensi para karyawan usia 18 – 42 tahun di RSUP Dr.8. 2001..59. Sudikno. Dalam: Julian Rosenthal. Depkes R. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI. ISSN: 0854-7971. AIHW Cat. 77. Lisa Mulyono. SKRT 2001. Koh D. Arterial Hypertension. 1997. Laju Konversi Toleransi Glukosa Terganggu menjadi Diabetes di Singaparna. Suradi & Sya’bani. SK Menkes RI Nomor : 736a/Menkes/XI/1989 tentang Definisi Anemia dan batasan Normal Anemia 67. 66. Agustina Lubis.I. 71. Indicators of Health Risk Factors: The AIHW view. Depkes RI. The Risk of Hypertension : Genesis and Detection. Badan Penelitian dan 289 . Cakupan penimbangan balita di Indonesia. Univ. Sobel. Makalah disajikan pada Simposium Nasional Litbang Kesehatan. and Therapy. Sandjaja. Hipertensi. 64. Berkala Ilmu Kedokteran Vol. Sonny P. U. PHE 47. Sarjito Yogyakarta. Pedoman Klinik Diagnosis & Terapy. Gambaran Rumah Sehat di Berbagai Provinsi Indonesia Berdasarkan Data SUSENAS 2001. dalam Naskah Lengkap KOPAPDI VI. Titiek Setyowati. SpringerVerlag.3. Tim survei Depkes RI. Husain R. Jawa Barat. Gazzard G.H. 73. The Australian Institute of Health and Welfare 2003. ISSN: 0125 – 9695 . ISSN 0377-1121 63.1997. Bandung 9 – 13 April 2000 (SX111-1) 70. Laasar. 15 Th. Department of Haematology. B.M. Tan D. Sri Hartini KS Kariadi. 72. & Bakris GL. Jakarta. Haematology: An Aproach to Diagnosis and Management. STEPS Instrument for NCD Risk Factors (Core and expanded Version 1.3. Soemantri. Nomor 3 – 2003. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996. 74. No 8. Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001.Jakarta. Volume 31. No. Prosiding temu Ilmiah dan Kongres XIII Persagi. 60. Bulletin of Health Studies. 1999 : 13 68. Sunyer FX. Penerbit UI-PRESS : 1439. Titiek Setyowati.) 75. No. Medical hazard of obesity. Sarimawar Djaja.W. Pola Sikap Penderita Hipertensi Terhadap Pengobatan Jangka Panjang. BJ.. Syah. 69. 7-8 Desember 2005.. 29 (4). 76. 1984. 1993 : 119. Perjalanan Transisi Epidemiologi di Indonesia dan Implikasi Penanganannya. New York Heidelberg Berlin.87:1075-8. Causes of low vision and blindness in rural Indonesia. Denpasar.ISN = 724 62. P. Disampaikan pada Konggres Nasional ke 5. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. dkk. Analisis lanjut Data Susenas – Surkesnas 2001. Volume 53. Pathogenesis. Sarimawar Djaja dan S.. Sinaga.

86. 85. Surveillance of Major Non-communicable Diseases in South – East Asia Region. 290 . 82. Injuries and Causes of Death. Geneva. WHO. Geneva. World Health Organization.Geneva.1994. p. Report of an Inter-country Consultation. Survei Kesehatan Nasional 78. Oral Health Care. 1999 83. 2003. WHO. April 2004 80. Assessing the iron status of populations: Report of a joint World Health Organization/Centers for Disease Control and Prevention technical consultation on the assessment of iron status at the population level . volume 1. Auser’s guide to the self reporting questionnaire. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. 1995. 1997. Switzerland. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. 81. Based on The Recommendation of The Ninth Revision Conference 1975 and Adopted by The Twenty Ninth WHA. WHO. Jakarta: Badan Litbangkes. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. 2003. The Surf Report 1. WHO-ISH. 2005. Surveillance of Risk Factors related to noncommunicable diseases: Current of global data. Needs of the Community. 1999. 2003 84. The World Health Survey Programme. WHO/SEARO. A Public Health Report. Geneva: WHO. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. World Health Organization: International Classification of Diseases. 1999. World Health Organization.15. (Surkesnas) 2001. Depkes RI. 2001. WHO-ISH.Pengembangan Kesehatan. 79.

LAMPIRAN 291 .

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1179A/Menkes/SK/X/ 1999 tentang Kebijakan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1992 Nomor 100. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1995 Nomor 67. Tahun 1995 tentang 3. bahwa Riset Kesehatan Dasar dapat dimanfaatkan untuk penyediaan informasi berbasis survei Pembangunan Kesehatan menuju pencapaian strategi utama Departemen Kesehatan. tambahan lembaran negara Republik Indonesia Nomor 3609). Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495). . Undang-undang Nomor 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. c. bahwa untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan yang optimal dan mempunyai lingkup nasional yang terintegrasi perlu dilakukan Riset Kesehatan Dasar yang merupakan pengembangan Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas). 2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 791/Menkes/SK/VII/ 1999 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 4. 5. b. bahwa dalam pelaksanaan Riset Kesehatan Dasar diperlukan Tim Riset Kesehatan Dasar Tahun 2006 – 2008 yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2002 Nomor 84.Lampiran 1 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 877/MENKES/SK/XI/2006 TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219).

2. analisis data serta publikasi hasil Riskesdas. Menyusun pedoman kerja dan pengolahan data. 4. Melaksanakan sosialisasi. Tim Pakar sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Memberi rekomendasi untuk meningkatkan keberhasilan dan manfaat pelaksanaan Riskesdas. Tim Teknis sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Membahas berbagai masalah yang terkait dengan pelaksanaan Riskesdas. 7. 5. 3. Merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan Riskesdas. Merumuskan dan menetapkan metodologi. Melaksanakan pelatihan. 3. Mengidentifikasi dan membahas masalah pelaksanaan yang terkait dengan aspek ilmiah dari Riskesdas. a. Menyusun rencana kerja. managemen data. Tim Pengarah.6. Tim Pengarah sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. 3. Melaporkan hasil Riskesdas tahun 2006-2008 kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Litbangkes. Tim Teknis. Permenkes Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. 5. Melaksanakan pengumpulan data dan pengolahan data. Melakukan pengawasan pelaksanaan Riskesdas. MEMUTUSKAN : Menetapkan Kesatu Kedua : : : tentang KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006 – 2008 Tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2006-2008 terdiri dari Tim Penasehat. Tim Pakar. Memberi rekomendasi agar kaidah ilmiah dari Riskesdas tetap ditegakkan. Memberi masukan tentang aspek ilmiah dari proposal dan protokol dan pelaksanaan pengumpulan data. 2. 6. Ketiga : . Melakukan desiminasi dan publikasi Riskesdas. 2. b. dan Tim Manajemen dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. c. 4.

Dengan berlakunya Keputusan ini maka Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 358/Menkes/SK/V/2006 tentang Tim Surkesnas tahun 2004 – 2006 dinyatakan tidak berlaku lagi. 5.dr. Atas nama Menteri Kesehatan Kepala Badan Litbang Kesehatan dapat membentuk Kelompok Kerja dan Tim Riset Kesehatan Dasar pada tingkat Propinsi dan Kab/kota. Menyusun laporan kegiatan.JP (K) . Menyiapkan prasarana Riskesdas. Membuat laporan kegiatan kepada kepada Ketua Tim Pengarah melalui koordinasi dengan Tim Teknis. 3. Departemen Kesehatan dan sumbersumber lain yang tidak mengikat. 2.8. 9. d. Melakukan administrasi ketenagaan Riskesdas. Ditetapkan di Jakarta Pada Tanggal 3 Nopember 2006 MENTERI KESEHATAN RI Kelima : Keenam : Ketujuh : Kedelapan : Dr. Sp. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Keempat : Dalam melaksanakan tugas tim bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 4.Siti Fadilah Supari. Melakukan administrasi keuangan. Biaya kegiatan Riskesdas dibebankan kepada anggaran DIPA Badan Litbangkes. Mendukung administrasi Riskesdas. Melaporkan kegiatan dan hasil kepada Ketua Tim Pengarah. Tim Manajemen sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1.

Inspektur Jenderal Depkes 4. Kepala Badan Pusat Statistik : : : : : : : Dr Triono Soendoro. Badan Pusat Statistik Direktur Statistik Kependudukan. Tim Pengarah Ketua Ketua I Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Anggota . Dirjen Bina Pelayanan Medik 5. Departemen Dalam Negeri Ketua Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan Direktur Statistik Ketahanan Sosial. Sekretaris Jenderal Depkes 3. Menteri Kesehatan RI 2. Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan 8. Ph. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan Direktur Metodologi Statistik Badan Pusat Statistik SAM Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi SAM Bidang Pembiayaan dan Ekonomi Kesehatan SAM Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi SAM Bidang Mediko Legal Kepala Badan Litbang Depdagri. Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan 9. Tim Penasehat : 1. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 10.Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 877/MENKES/SK/XI/2006 Tanggal : 3 Nopember 2006 TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 I. Badan PPSDM Kesehatan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan.D (Kepala Badan Litbangkes) Deputi Statistik Sosial. Badan PPSDM Kesehatan II. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 7. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat 6.

MGO. Kepulauan Riau . Ph. Ph. Dr.. M. KFER Dr. Faizati Karim. Sumbar.D.PH : Dr Julianty Pradono MS : Dr.D.D IV.D. Sumsel. MPH : Direktur Statistik Kesra... Sangkot Marzuki.Sp.III.D. Dr Purnawan Junadi Ph. OG. Susanna Imanuel.PK Dr. Irawan Yusuf. Badan Pusat Statistik : Dr. Trihono. Widjaja Lukita. David Handoyo. M. Sumut.. Dr. SKM.D. Sunarno Ranu Widjojo. MPH (Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator . Dr. MPH. Tim Pakar : - Prof. Herawati Sudoyo.MM : Indah Yuning Prapti. MSc. Tim Teknis Ketua Ketua I Ketua II Ketua III Sekretaris I Sekretaris II Sekretaris III : DR. Dr.D.. PhD. Sp.Kes : Supraptini.. DR. SKM. Bangka Belitung : Dr. Jambi. dr. Ph. Ph.Kes Tim Kerja Wilayah I Area Wilayah Propinsi : NAD. Riau . Yulianto Witjaksono. Soeharsono Soemantri. Prof. Dr. SKM. Sofia Mubarika Prof Bambang Sutisna Prof Razak Thaha dr. Soedarti Soerbakti Dr Pratiwi Sudarmono. Soewarta Kosen. Sp.Ph..PD. Ph.

Lampung. Kalsel. MM (Kepala Pusat Litbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah IV Area Wilayah Propinsi : Jabar. NTT. Kalteng. Gorontalo Koordinator Wakil Koordinator Penanggung Jawab Spesimen Anggota : DR. Jatim. MOH. Jateng. Suwandi Makmur. SKM. DI Jogjakarta. Erna Tresnaningsih.Tim Kerja Wilayah II Area Wilayah Propinsi : DKI Jakarta. Maluku Utara. Bengkulu. Sultra. NTB. Papua : Dr. Ph. MPH (Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan) : Peneliti Badan Litbangkes : Peneliti Badan Litbangkes : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator . Kalbar. Kaltim. Sunarno Ranu Widjojo. Maluku. Banten. Sulut.D (Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Farmasi) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah III Area Wilayah Propinsi : Bali. Papua Barat. Koordinator : Dr. Sulsel.. Sulbar.. Sulteng.

Titte Kabul Adimidjaja.PH Indah Yuning Prapti. Apt Drs. M.Kes Drs. Tim Manajemen Ketua : ketua I : ketua II : Sekretaris I : Sekretaris II : Drg. Muhamad Socheh.V..Sc.Siti Fadilah Supari. Msi. M. Ondri Dwi Sampoerno. SKM. SH MENTERI KESEHATAN RI Dr. Sp.dr. MM Budi Santoso.JP (K) .

Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata... Departemen Kesehatan R.. Jalan Percetakan Negara 29. Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih...I mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280. imunisasi.. 20. email riskesdas@litbang... fax (021) 4209866.000 rumah tangga yang tersebar di 18. cedera. kecacatan dan kesehatan mental... riwayat penyakit turunan....000. Bila Bapak/Ibu/Sdr/Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini. sikap dan perilaku terhadap kesehatan.. konsumsi makanan.... (021) 4261088 ext 146. penyakit menular dan tidak menular. Wawancara meliputi keterangan diri.. tekanan darah. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan – Departemen Kesehatan R...depkes.(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan. ..go. pelayanan kesehatan.. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat..I... Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. MPH (HP 0811848473) atau Keterangan: * Naskah Penjelasan hanya diberikan 1(satu)/ rumah tangga.000 blok sensus..... DR... kesehatan gigi.. sanitasi lingkungan...I. ketidak mampuan. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam. Rumah tangga Bapak/Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya.. Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden . Telp/sms (021) 98264854. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun..... Telp..Lampiran 2 Untuk Responden Kesmas Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R... kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp.. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan – Departemen Kesehatan R. . Sunarno Ranu Widjojo. Akan dilakukan wawancara. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium. kadar iodium dalam garam. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama . lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun.... . Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat. berat badan... Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara.. 2.I Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan... pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan.per keluarga.. pengetahuan. riwayat kematian dalam rumah tangga.. Jakarta 10560.id atau 1.

.. No..I... diukur dan diperiksa Nomor Kode Sampel .Tim pewawancara (1 lbr)...... tetangga atau KetuaRT ........ bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga. kirim ke korwil bersama kuesioner ** Diluar tim pewawancara.PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)* (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan R..... Pernyataan bersedia diwawancara........... Nama Responden Urut ART Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali Nama Saksi** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan: *PSP dibuat 2 rangkap.. untuk: ...........Responden (1 lbr) . Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktuwaktu tanpa sanksi apapun......

Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat dan data biomedis.... sanitasi lingkungan. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama . riwayat penyakit turunan.. termasuk tidak merokok. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara.000... pengetahuan.... Selain itu juga dilakukan pengambilan darah di laboratorium yang ditunjuk guna mengetahui penyakit yang mungkin terjadi berkaitan dengan penyakit menular. Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Yang diambil darahnya adalah semua anggota rumah tangga usia 1 tahun keatas. Darah vena yang akan diambil sebanyak 1 sendok makan (15 ml) pada dewasa. Departemen Kesehatan RI mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280. Akan dilakukan wawancara.. konsumsi makanan... Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun. . Pengambilan darah diawasi oleh tim medis yang berpengalaman disertai peralatan yang memadai... kesehatan gigi. Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih.. Anggota keluarga yang terpilih diambil darahnya... riwayat kematian dalam rumah tangga. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam...000...... kadar iodium dalam garam. sikap dan perilaku terhadap kesehatan. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium. penyakit menular dan tidak menular.000 blok sensus..... tekanan darah.. lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun. tidak menular.. akan mendapatkan uang pengganti transport Rp.. pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga.. 20... Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan. tidak melakukan aktivitas berat.per orang.. ketidak mampuan..(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan.. Dalam pengambilan darah akan ada sedikit rasa nyeri seperti digigit semut....I.. masing-masing 1 sendok teh (5 ml) pada wanita hamil. Pengambilan darah dilakukan oleh petugas pengambil darah yang terlatih.000 rumah tangga yang tersebar di 18.per keluarga.. kelainan gizi dan kelainan bawaan... minum air putih tawar diperbolehkan. anak dan balita tidak perlu puasa. dan disediakan makanan setelah pengambilan darah.. imunisasi. Untuk wanita hamil. kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp. anak dan balita... Untuk orang dewasa (umur > 15 tahun) yang akan diambil darahnya. Bapak/ Ibu/ Saudara akan diberi minuman 1 gelas yang mengandung gula sebelum diambil darahnya. kecacatan dan kesehatan mental.... perlu persiapan puasa 10 – 14 jam sebelum pengambilan darah. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata. Wawancara meliputi keterangan diri.... Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih.Untuk Responden Biomedis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R..... Rumah tangga Bapak/ Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya. 35. pelayanan kesehatan. namun tidak ada risiko yang membahayakan.. berat badan.. tidak sarapan.. . cedera.

id atau 1. Dr.Anda akan mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah.go. (021) 4261088 ext 146. DrPH (HP 0816855887) Keterangan: *Naskah Penjelasan hanya diberikan 1 (satu)/ rumah tangga. darah rutin atau kadar Hb bila peralatan otomatis tidak ada. MPH. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan–DepKes. Endang R. Telp/sms (021) 98264854. MPH (HP 0811848473) 3. email riskesdas@litbang. Bila Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini. Telp. bila perlu dirujuk ke Rumah Sakit dan biaya akan ditanggung oleh Badan Litbang Kesehatan. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan–Departemen Kesehatan R.depkes. Sedyaningsih. fax (021) 4209866. Jika terjadi sesuatu yang memerlukan pertolongan dokter pada saat pengambilan darah maka Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan segera diberi pertolongan.I. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden . Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Jakarta 10560. Jalan Percetakan Negara 29. Sunarno Ranu Widjojo. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat 2. dr.

bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga. tetangga atau KetuaRT .Tim Pewawancara (1 lbr). kirim ke Korwil bersama kuesioner ** bila responden berusia < 15 tahun atau responden sulit berkomunikasi *** Diluar tim pewawancara. Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan saya dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun. dititip pada petugas lapangan/ puskesmas untuk diserahkan kepada petugas lab) . diukur.PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) * (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan RI.Pertinggal di Laboratorium Kesehatan Daerah/ RS/Swasta (1 lbr. diperiksa dan diambil darah Nama Responden Nomor Stiker Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali** Nama Saksi*** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan * PSP dibuat 3 rangkap untuk: . Pernyataan bersedia diwawancara.Responden (1 lbr) .

Nomor sub blok sensus 1. Tdk cukup (biru/ ungu muda) 3. KETERANGAN PENGUMPUL DATA 1 2 3 Nama Pengumpul Data: Tgl. Pengumpulan data: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Pengumpul Data 4 Nama Ketua Tim: Tgl. REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN RISET KESEHATAN DASAR 2007 PERTANYAAN RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU RAHASIA RKD07.Lampiran 3 . Tidak Blok III 1. KETERANGAN RUMAH TANGGA 1 2 3 4 5 6 7 Nama kepala rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga yang diwawancarai: Jumlah balita (umur di bawah 5 tahun): Jumlah kematian ART dlm periode 12 bulan sebelum survei dan dilakukan verbal otopsi: Apakah Rumah tangga menyimpan garam? Lakukan tes cepat Iodium dan catat kandungan Iodiumnya 1. Nomor blok sensus b. Perkotaan 2. RT I. PENGENALAN TEMPAT 1 2 3 4 5 6 Provinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*) Klasifikasi Desa/Kelurahan a. Pengecekan: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Ketua Tim: - - 5 6 - - *) coret yang tidak perlu . Cukup (biru/ungu tua) 2. Tidak ada iodium (Tidak berwarna) SAMPEL GARAM DIAMBIL HANYA UNTUK 30 KAB/ KOTA TERPILIH (LIHAT DAFTAR KAB/ KOTA DI PEDOMAN PENGISIAN) 8 STIKER NOMOR GARAM (RUMAH TANGGA) TEMPEL STIKER DI SINI III. Ya 2. Perdesaan 7 8 9 Nomor Kode Sampel Nomor urut sampel rumah tangga Alamat rumah II.

(2) (3) 1 (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) GUNAKAN LEMBAR TAMBAHAN APABILA JUMLAH ART > 15 ORANG Kode kolom 3 Hubungan dengan kepala rumah tangga 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/ mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya Kode kolom 6 Status Kawin 1 = Belum kawin 2 = Kawin 3 = Cerai hidup 4 = Cerai mati Kode kolom 7 Pendidikan Tertinggi 1 = Tidak pernah sekolah 2 = Tidak tamat SD 3 = Tamat SD 4 = Tamat SLTP 5 = Tamat SLTA 6 = Tamat Perguruan Tinggi Kode kolom 8 Pekerjaan Utama 01 = Tidak kerja 02 = Sekolah 03 = Ibu umah tangga 04 = TNI/Polri 05 = PNS 06 = Pegawai BUMN 07 = Pegawai swasta 08 = Wiraswasta/ Pedagang 09 = Pelayanan Jasa 10 = Petani 11 = Nelayan 12 = Buruh 13 = Lainnya Kode kolom 12 Verifikasi 1= Tidak ada perubahan 2= Ada perubahan 3 = Meninggal 4 = Pindah 5 = Lahir 6 = Anggota baru 7 = Tdk pernah ada dlm RT sampel . 8. 14.IV. 15. Ya 2. 9. Ya 2. Tidak Tahu (1) 1. 12. 2. Tidak ART semalam tidur di dalam kelambu? Jika ya. Tidak 8. Tidak kol. Laki2 Jika umur 2.12 1.≥ 97 thn puan isikan “97” 1. 6. 3. Perem. 5. 11. Ya 2. 13. 4. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA Hubungan dengan kepala rumah tangga Jenis Kelamin Umur (tahun) Status Kawin Khusus ART ≥ 10 tahun Pendidikan Tertinggi Pekerjaan utama Khusus ART perempuan 10-54 tahun Apakah sedang Hamil? [KODE] [KODE] [KODE] 1.12 8. apakah kelambu berinsektisida? Verifikasi No. Tdk Tahu kol. 7. urut ART Nama Anggota Rumah Tangga (ART) [KODE] Jika umur < 1thn isikan “00” 1. 10.

........... Bayi lahir mati p... Malaria f... JIKA TIDAK ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 LANGSUNG KE BLOK VI No.. maka lanjutkan dengan menggunakan kuesioner RKD07.. apakah terjadi pada: 1... Stroke k. Keguguran 3. Diare b.....AV dengan melihat kolom 7 (umur saat meninggal) untuk memilih jenis kuesioner Kode kolom 8 Penyebab Kematian Kode kolom 4 Hubungan dengan kepala RT 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya 01 = Diare 02 = ISPA/radang paru 03 = Campak 04 = TBC 05 = Malaria 06 = Demam berdarah 07 = Sakit kuning 08 = Tifus 09 = Hipertensi/Jantung 10 = Stroke 11 = Kencing manis 12 = Kanker/Tumor 13 = Kecelakaan/Cedera 14 = Hamil/Bersalin/Nifas 15 = bayi lahir mati 16 = penyakit lainnya. Masa nifas (60 hr setelah bersalin) 5. Lainnya... Kanker/ Tumor m. TBC e. Thn Tahun Hari Bulan …… ……...AV2 5 thn ke atas : RKD07. DBD g.. Kecelakaan/ cedera n. . Campak d......... Hipertensi / Jantung j.......... Bln 3. Bln 2. Urut Nama yang Meninggal Hubungan dengan Kepala Rumah Tangga [KODE] Bulan dan Tahun Kejadian Kematian sejak 1 Juli 2004 Jenis kelamin 1.... Sakit kuning h..... Hamil/ Bersalin/ Nifas o.. Lainnya (9) Bln Hari Bulan 1.. Urut ART yang diwawancarai: (lihat Blok IV kol... MORTALITAS Nama ART yang diwawancarai: ... Pr Umur Saat Meninggal ⇒ < 1 th tulis dalam bulan ⇒ < 1 bulan tulis dalam hari ⇒ < 1 hari tulis 00 pada kolom Hari ⇒ Lahir mati tulis 98 pada kolom hari ⇒ ≥ 97 thn tulis 97 pada kolom thn [ISI SALAH SATU BARIS: HARI ATAU BULAN ATAU TAHUN] (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Penyebab Utama Kematian [KODE] Untuk wanita umur 10 . Melahirkan 4...HANYA DALAM RUMAH TANGGA 1 APAKAH ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 KARENA PENYAKIT DI BAWAH INI: (BACAKAN PILIHAN PENYAKIT) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Typhus i.. Jika terdapat kematian dalam periode 12 bulan sebelum survei sampai dengan survei berlangsung... Thn Tahun Hari Bulan …… ……......... Thn Tahun Hari Bulan …… ……. Kolom 7 Umur saat meninggal GUNAKAN KUESIONER: < 29 hari (NEONATAL): RKD07.< 5 thn: RKD07.......AV3 .... ISPA/ Pneumonia c..54 thn yang meninggal......V. Thn Tahun …… ……. Lk 2. Bln 4. Kehamilan 2..... AV1 29 hari .... No... 1) KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 (TERMASUK KEJADIAN BAYI LAHIR MATI) ---. Kencing manis l.

1... apakah alasan utamanya? 1. Tidak membutuhkan 11 . Puskesmas..9 8 e. Suplementasi gizi (Vit A... Pelayanan tidak lengkap 5. Pelayanan tidak lengkap 4....7 ………... Pemeriksaan kehamilan b. Ya 2. KIA e. Multi gizi mikro) i.10 P. Pustu. apakah alasan utamanya? 1.2a) Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes dalam 3 bulan terakhir? Jika ya... jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7= TIDAK BERLAKU a. Polindes)? Apakah tersedia angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat? (berlaku untuk P. Fe.. Tidak ada posyandu 3. AKSES DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN 1a Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit. Pemeriksaan bayi (1-11 bulan) dan/ atau anak balita (1. Ya VII 2.Km ….. Tidak membutuhkan 1.. Poskesdes.. Bidan Praktek)? Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu. Pengobatan LANJUTKAN KE P.. Lainnya: .4 tahun) f. Konsultasi risiko penyakit 6 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes. Lokasi jauh 3...... Poskesdes. Bidan Praktek)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit..... Pemeriksaan ibu nifas d... Pemeriksaan neonatus (<1 bulan) LANJUTKAN KE P... Lainnya: . Persalinan c. Ya 2. Obat tidak lengkap 5... KB f. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7=TIDAK BERLAKU a. Tidak 7 Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa dalam 3 bulan terakhir? Jika ya.. Letak polindes/ bidan desa jauh 2.. Dokter praktek... 2...VI..Km …..... 4... Ya 1.. Pemberian Makanan Tambahan h. Tidak 4 P.. Tidak 2.……meter 1b …….... Penyuluhan c..1a dan P. Penimbangan b. Imunisasi d.. Letak posyandu jauh 2. Dokter praktek...6 5 g. Lainnya: . menit 3 1. Tidak 10 Apakah rumah tangga ini pernah Memanfaatkan pelayanan Pos Obat Desa (POD)/ Warung Obat desa (WOD) dalam 3 bulan terakhir? Jika tidak memanfaatkan POD/ WOD. Pengobatan 9 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa.... Tidak ada polindes/ bidan desa 3.. Pustu. Tidak ada POD/ WOD 4.... menit ………...... apakah alasan utamanya? 1. Puskesmas.……meter 2a 2b ……. Polindes)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu...

Pengharum ruangan (spray) b. Tempat sampah tertutup b.. Tempat sampah terbuka 15... siapa yang biasanya mengambil air untuk keperluan Rumah Tangga 1. liter/hari a. Sulit sepanjang tahun 1.. Anak laki-laki 4. Langsung ke got/ sungai 10. Berwarna c. Jarak .. Sulit di musim kemarau 3. SANITASI LINGKUNGAN 1.. Langsung diminum b. Ya 5.. 5.. Penampungan di luar pekarangan 2.. Saluran tertutup 3. Anak perempuan 5. Tempat sampah tertutup b. Lainnya: . Diberi bahan kimia e. a.. 6.. 2. Dimana tempat penampungan air limbah dari kamar mandi/ tempat cuci/ dapur? 1. 9. Berapa jumlah pemakaian air untuk keperluan Rumah Tangga? Berapa jarak/lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air (pulang-pergi)? …. Ya (mudah) 2. Dimasak c.. Ya 2.. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK 1. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah rumah tangga di luar rumah tersebut? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK Apakah tersedia tempat penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? Bila ya.. Sumber air di dalam pekarangan rumah a. Penampungan tertutup di pekarangan/ SPAL 3. Pembersih lantai d... Pengkilap kaca/ kayu/ logam e. Wadah/tandon tertutup Bagaimana pengolahan air minum sebelum diminum/ digunakan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Tempat sampah terbuka 1.. Apakah di sekitar sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran (air limbah/ cubluk/ tangki septik/ sampah)? Apakah air untuk semua kebutuhan rumah tangga diperoleh dengan mudah sepanjang tahun? Bila sumber air terletak di luar pekarangan rumah. Berbau 7. 4. 8. Berasa d. Orang dewasa laki-laki 3... Wadah/tandon terbuka 3. Tidak P.... 2. Apakah Rumah Tangga ini selama sebulan yang lalu menggunakan bahan kimia yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3) di dalam rumah (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a.. Lama… Menit 3. Orang dewasa perempuan 2. Ya 2.15 13... Tidak P. Berbusa e. Bagaimana kualitas fisik air minum? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. b. Tanpa saluran Apakah tersedia tempat pembuangan sampah di luar rumah? Bila ya. 14. Tanpa penampungan (di tanah) Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/ dapur/ tempat cuci? 1. Disaring d. 11. Tidak ada/langsung dari sumber 2.Km b. Keruh b. Penghilang noda pakaian f.. Apakah jenis sarana/ tempat penampungan air minum sebelum dimasak? 1..13 a.. 12. Racun serangga/ Pembasmi hama . Aki (Accu) g. Spray rambut/ deodorant spray c. Tidak 3. Cat h. Saluran terbuka 2.VII. Penampungan terbuka di pekarangan 4.. Tidak ada sumber air 1.

Ternak sedang (kambing.domba.kerbau. babi) c.kuda) d. Kandang dalam rumah 3. Rumah tanpa kandang 2. burung) b. Tidak ternak berikutnya (1) a.16. Jarak rumah ke sumber pencemaran? JIKA TIDAK TAHU JARAK KE SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”8888” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) JIKA TIDAK ADA SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”9999” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) Sumber Pencemaran (1) a. Terminal/stasiun kereta api/bandara f. Jalan raya/ rel kereta api b. Jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT/ SUTET) h. Kandang luar rumah 4. Ya 2. Luar rumah tanpa kandang (2) 17. Industri/pabrik d. Ternak besar (sapi. Anjing. Apa jenis ternak yang dipelihara? Dipelihara? Ternak/hewan peliharaan 1. Pasar tradisional Jarak (meter) (2) Sumber Pencemaran (1) e. Unggas (ayam. Peternakan/ Rumah Potong Hewan (termasuk unggas) Jarak (meter) (2) CATATAN PENGUMPUL DATA . kelinci Dipelihara di : 1.bebek. kucing. Bengkel g. Tempat Pembuangan Sampah (Akhir/Sementara)/Incinerator/IPAL RS c.

...orang Makan pagi Waktu Makan Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) ...64 > 64 bulan tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun Jumlah 2 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ....RT VIII... urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. JENIS KELAMIN.... KONSUMSI MAKANAN RUMAH TANGGA (24 JAM LALU) 1 KETERANGAN JUMLAH ART DAN TAMU YG MAKAN DALAM RT BERDASARKAN UMUR....29 30 .....orang Jenis bahan makanan Makan Malam . Blok No.18 19 ..49 50 ...................orang Masakan/Menu Makan Siang .RAHASIA RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT Kec Desa/Kel D/K No.........15 16 . DAN WAKTU MAKAN PAGI SIANG MALAM Jumlah ART L P L P L P KELOMPOK (salin dari (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) UMUR Blok IV) ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU 0 – 11 1-3 4-6 7-9 10 – 12 13 .... Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel RKD07..GIZI Prov Kab/ Kota No.

............................................... Masakan/Menu Jenis bahan makanan No Urut ART Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) Nama Anak: Waktu Makan CATATAN PENGUMPUL DATA ...........................3 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN ANAK (0 – 24 BULAN) DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ............

RAHASIA

RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT
Kec Desa/Kel D/K No. Blok No. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel

RKD07.IND

Prov

Kab/ Kota

No. urut sampel RT

Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.RT

IX. KETERANGAN WAWANCARA INDIVIDU
1. 2. Tanggal kunjungan pertama: Tgl -Bln-Thn Tanggal kunjungan akhir: Tgl -Bln-Thn

-

-

3. 4.

Nama Pengumpul data Tanda tangan Pengumpul data

X. KETERANGAN INDIVIDU A. IDENTIFIKASI RESPONDEN
A01 A02 Tuliskan nama dan nomor urut Anggota Rumah Tangga (ART) Untuk ART pada A01 < 15 tahun/ kondisi sakit/ orang tua yang perlu didampingi, tuliskan nama dan nomor urut ART yang mendampingi Nama ART …………………… Nama ART …………………… Nomor urut ART: Nomor urut ART:

B. PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR, DAN RIWAYAT PENYAKIT TURUNAN
[NAMA] pada pertanyaan di bawah ini merujuk pada NAMA yang tercatat pada pertanyaan A01 PERTANYAAN B01-B40 DITANYAKAN PADA SEMUA UMUR INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)/ INFLUENZA/ RADANG TENGGOROKAN B01 B02 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita ISPA oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas disertai batuk berdahak/ kering atau pilek? 1. Ya B03 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

PNEUMONIA/ RADANG PARU B03 B04 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Pneumonia oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai batuk berdahak dan napas lebih cepat dan pendek dari biasa (cuping hidung) / sesak nafas dengan tanda tarikan dinding dada bagian bawah? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Typhoid oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas terutama pada sore malam hari > 1 minggu disertai sakit kepala, lidah kotor dengan pinggir merah, diare atau tidak bisa BAB? 1. Ya B05 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM TYPHOID (TIFUS PERUT) B05 B06 1. Ya B07 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B09 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

MALARIA B07 B08 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Malaria yang sudah dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin), panas naik turun secara berkala, berkeringat, sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat anti malaria? Jika Ya, apakah [NAMA] mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Diare oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dengan kotoran/ tinja lembek atau cair? Apakah pada saat diare, diatasi dengan pemberian Oralit/ pemberian larutan gula garam/ cairan rumah tangga?

B10

B09

DIARE/ MENCRET B10 B11 B12 1. Ya B12 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B13

CAMPAK/ MORBILI B13 B14 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita campak oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai mata merah dengan banyak kotoran pada mata, ruam merah pada kulit terutama pada leher dan dada? 1. Ya B15 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) B15 B16 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita TB Paru oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita batuk ≥ 2 minggu disertai dahak atau dahak bercampur darah/ batuk berdarah dan berat badan sulit bertambah/ menurun? 1. Ya B17 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) B17 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Berdarah Dengue oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita demam/panas, sakit kepala/ pusing disertai nyeri di uluhati/ perut kiri atas, mual dan muntah, lemas kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan/ atau mimisan, kaki/ tangan dingin? 1. Ya B19 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

B18

HEPATITIS/ SAKIT LIVER/ SAKIT KUNING B19 B20 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Hepatitis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B21 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

Dalam 12 bulan terakhir apakah [NAMA] pernah menderita demam, lemah, gangguan saluran cerna, (mual, muntah, tidak nafsu makan), nyeri pada perut kanan atas, disertai urin warna seperti air teh pekat, mata atau kulit berwarna kuning? FILARIASIS/ PENYAKIT KAKI GAJAH B21 B22 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Filariasis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita radang pada kelenjar di pangkal paha secara berulang, atau pembesaran alat kelamin/ payudara/ tungkai bawah dan atau atas (Filariasis/ kaki gajah)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Asma oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami sesak napas disertai bunyi (mengi)/ Rasa tertekan di dada/ Terbangun karena dada terasa tertekan di pagi hari atau waktu lainnya, Serangan sesak napas/terengah-engah tanpa sebab yang jelas ketika tidak sedang berolah raga atau melakukan aktivitas fisik lainnya?

1. Ya B23 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B25 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

ASMA/ MENGI/ BENGEK B23 B24

GIGI DAN MULUT B25 B26 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mempunyai masalah dengan gigi dan/atau mulut? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] menerima perawatan atau pengobatan dari perawat gigi, dokter gigi atau dokter gigi spesialis? 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B28 B28

B27

Jenis perawatan atau pengobatan apa saja yang diterima untuk masalah gigi dan mulut yang [NAMA] alami? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Pengobatan b. Penambalan/ pencabutan/ bedah gigi atau mulut c. Pemasangan gigi palsu lepasan (protesa) atau gigi palsu cekat (bridge) d. Konseling tentang perawatan/ kebersihan gigi dan mulut 1. Ya 2. Tidak e. Perawatan gigi lainnya. Ya, sebutkan…………

B28

Apakah [NAMA] telah kehilangan seluruh gigi asli?

CEDERA B29 B30 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami cedera sehingga kegiatan sehari-hari terganggu? Penyebab cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN p) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kecelakaan transportasi di darat (bus/ truk, kereta api, motor, mobil) b. Kecelakaan transportasi laut c. Kecelakaan transportasi udara d. Jatuh e. Terluka karena benda tajam, benda tumpul f. Penyerangan (benda tumpul/ tajam, bahan kimia, dll) g. Ditembak dengan senjata api h. Kontak dengan bahan beracun (binatang, tumbuhan, kimia) B31 1. Ya 2. Tidak B33

i. Bencana alam (gempa bumi, tsunami) j. Usaha bunuh diri (mekanik, kimia) k. Tenggelam l. Mesin elektrik, radiasi m. Terbakar, terkurung asap n. Asfiksia (terpendam, tercekik, dll.) o. Komplikasi tindakan medis p. Lainnya, Sebutkan ..............................

Bagian tubuh yang terkena cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN j) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kepala b. Leher c. Bagian dada d. Bagian perut, tulang punggung, tulang panggul e. Bagian bahu dan lengan atas f. Bagian siku, lengan bawah g. Bagian pergelangan tangan, dan tangan h. Bagian pinggul dan tungkai atas i. Bagian lutut dan tungkai bawah j. Bagian tumit dan kaki

B32

Jenis cedera yang dialami : (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Benturan/ Luka memar b. Luka lecet c. Luka terbuka d. Luka bakar e. Terkilir, teregang f. Patah tulang g. Anggota gerak terputus h. Keracunan i. Lainnya: ……………

PENYAKIT JANTUNG B33 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit jantung oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] pernah ada gejala/ riwayat: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Jantung berdebar-debar tanpa a. Bibir kebiruan saat menangis atau melakukan sebab aktifitas d. Sesak nafas pada saat tidur b. Nyeri dada/ rasa tertekan berat/ sesak nafas tanpa bantal ketika berjalan terburu- buru/ mendaki/ berjalan biasa di jalan datar/ kerja berat/ jalan jauh 1. Ya B35 2. Tidak

B34

e. Tungkai bawah bengkak

PENYAKIT KENCING MANIS (DIABETES MELLITUS) B35 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita kencing manis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] selama ini pernah mengalami gejala banyak makan, banyak kencing, banyak minum, lemas dan berat badan turun atau menggunakan obat untuk kencing manis? 1. Ya B37 2. Tidak 1. Ya 2.Tidak

B36

TUMOR / KANKER B37 B38 B39 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit tumor/ kanker oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Sejak kapan [NAMA] didiagnosis tumor tersebut? Tahun............... Dimana lokasi tumor/ kanker tersebut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN m) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 7=TIDAK BERLAKU a. Mata, otak, dan bagian susunan syaraf pusat b. Bibir, rongga mulut dan tenggorokan c. Kelenjar gondok dan kelenjar endokrin lain d. Saluran pernafasan (paru- paru) e. Payudara PENYAKIT KETURUNAN/GENETIK B40 Apakah [NAMA] ada riwayat keluhan menderita sebagai berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Gangguan jiwa (schizophrenia)(observasi) b. Butawarna c. Glaukoma d. Bibir sumbing (observasi) e. Alergi dermatitis f. Alergi rhinitis • JIKA ART UMUR ≥ 15 TAHUN • JIKA ART UMUR < 14 TAHUN B41 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN g. Thalasemia h. Hemofilia f. Saluran cerna (usus, hati) g. Saluran kemih h. Alat kelamin wanita: ovarium, cervix uteri i. Alat kelamin pria: Prostat j. Kulit k. Jaringan lunak l. Tulang, tulang rawan m. Darah 1.Ya 2.Tidak B40

PERTANYAAN B41-B50, KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN PENYAKIT SENDI/ REMATIK/ ENCOK B41 B42 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita penyakit sendi/ rematik/ encok oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita sakit/ nyeri/ kaku/ bengkak di sekitar persendian, kaku di persendian ketika bangun tidur atau setelah istirahat lama, yang timbul bukan karena kecelakaan? 1. Ya B43 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

HIPERTENSI/ PENYAKIT TEKANAN DARAH TINGGI B43 B44 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita hipertensi/ penyakit tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah saat ini [NAMA] masih minum obat antihipertensi? 1. Ya B45 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1.Ya B47 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

STROKE B45 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita stroke oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami kelumpuhan pada satu sisi tubuh atau pada otot wajah, atau gangguan pada suara (pelo) secara mendadak? • JIKA ART UMUR ≥ 30 TAHUN • JIKA ART UMUR < 29 TAHUN KATARAK (KHUSUS ART ≥ 30 TAHUN) B47 Dalam 12 bulan terakhir, apakah salah satu atau kedua mata [NAMA] pernah didiagnosis/ dinyatakan katarak (lensa mata keruh) oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B49 2. Tidak 8. Tidak tahu

B46

B47 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN

B48

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mengalami: (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Penglihatan berkabut/ berasap/ berembun atau tidak jelas? b. Mempunyai masalah penglihatan berkaitan dengan sinar, seperti silau pada lampu/pencahayaan yang terang? a. b. C

B49 B50

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah operasi katarak? Apakah setelah operasi katarak [NAMA] memakai kacamata?

1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN Ca. KETANGGAPAN PELAYANAN RAWAT INAP
Ca01 Dalam 5 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani rawat inap terakhir? 1. Rumah Sakit Pemerintah 6. Praktek tenaga kesehatan 2. Rumah Sakit Swasta 7. Pengobat Tradisional 3. Rumah Sakit Di Luar Negeri 8. Lainnya (Sebutkan.....................................) 4. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 9. Tidak Pernah menjalani rawat inap Cb01 5. Puskesmas Berapa biaya yang dikeluarkan untuk rawat inap terakhir (dalam 5 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk rawat inap tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ………………………

Ca02 Ca03

.

.

Untuk pelayanan rawat inap yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Ca04 Ca05 Ca06 Ca07 Ca08 Ca09 Ca10 Ca11 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan rawat inap? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang rawat inap termasuk kamar mandi? Bagaimana [NAMA] menilai kemudahan dikunjungi oleh keluarga atau teman ketika masih dirawat di fasilitas kesehatan?

Cb. KETANGGAPAN PELAYANAN BEROBAT JALAN
Cb01 Dalam 1 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani berobat jalan terakhir? 01. Rumah Sakit Pemerintah 06. Praktek tenaga kesehatan 02. Rumah Sakit Swasta 07. Pengobat Tradisional 03. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 08. Lainnya (Sebutkan.....................................) 04. Puskesmas/ Pustu/ Pusling/ Posyandu 09. Di rumah 05. Poliklinik/ Balai Pengobatan Swasta 10. Tidak Pernah menjalani berobat jalan Cb10a Berapa biaya yang dikeluarkan untuk berobat jalan terakhir (dalam 1 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk berobat jalan tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ……………………

Cb02 Cb03

.

.

Untuk pelayanan berobat jalan yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Cb04 Cb05 Cb06 Cb07 Cb08 Cb09 Cb10 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan berobat jalan? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang pelayanan berobat jalan termasuk kamar mandi? ISIKAN KODE ”7” JIKA TEMPAT MENJALANI BEROBAT JALAN (Cb01) “DI RUMAH” • JIKA ART UMUR 0 - 4 TAHUN • JIKA ART UMUR 5 - 9 TAHUN • JIKA ART UMUR >10 TAHUN G. IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN XI. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN D. PENGETAHUAN, SIKAP dan PERILAKU

Cb10a

D. PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU (SEMUA ART UMUR ≥ 10 TAHUN)
PENYAKIT FLU BURUNG D01 D02 Apakah [NAMA] pernah mendengar tentang penyakit flu burung pada manusia? 1. Ya 2. Tidak Sebutkan melalui apa saja penularan kepada manusia? (POINT “a” SAMPAI “g” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Udara b. Berdekatan dengan penderita c. Lalat d. Kontak dengan unggas sakit e. Kontak kotoran unggas/Pupuk kandang f. Makanan g. Lainnya, sebutkan .............................. D04

D03

Apa yang harus [NAMA] lakukan apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak? (POINT “a” SAMPAI “f” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Mengubur/membakar unggas yang sakit a. Melaporkan pada aparat terkait e. Menjual dan mati mendadak b. Membersihkan kandang unggas d. Memasak dan memakan f. Lainnya: …………………

HIV/AIDS D04 D05 Apakah [NAMA] mengetahui tentang HIV/AIDS 1. Ya 2. Tidak D08

Penularaan virus HIV/AIDS ke manusia melalui : (POINT a SAMPAI DENGAN h TIDAK DIBACAKAN) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK g. Penularan dari ibu ke a. Hubungan seksual d. Penggunaan pisau cukur secara bersama-sama bayi selama hamil b. Jarum suntik c. Transfusi darah e. Penularan dari ibu ke bayi saat persalinan f. Penularan dari ibu melalui ASI h. Lainnya: ……………….

D06

Bagaimana mencegah HIV/AIDS? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Tidak berhubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan tetap b.Tidak berhubungan seksual dengan pengguna narkoba suntik c.Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali d. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual e. Tidak menggunaan jarum suntik bersama f. Tidak menggunaan pisau cukur bersama

D07

Andaikan ada anggota keluarga [NAMA] menderita HIV/AIDS, apa yang akan dilakukan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Merahasiakan b. Membicarakan dengan anggota keluarga lain c. Konseling dan pengobatan d. Mencari pengobatan alternatif e. Mengucilkan

PERILAKU HIGIENIS D08 Apakah [NAMA] mencuci tangan pakai sabun? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN d) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Sebelum makan b. Sebelum menyiapkan makanan D09 Dimana [NAMA] biasa buang air besar? 1. Jamban 3. Sungai/danau/laut 2. Kolam/sawah/selokan 4. Lubang tanah Apakah [NAMA] biasa menggosok gigi setiap hari? Kapan saja [NAMA] menggosok gigi? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Saat mandi pagi dan/ sore b. Sesudah makan pagi PENGGUNAAN TEMBAKAU D11 Apakah [NAMA] merokok/ mengunyah tembakau selama 1 bulan terakhir? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1. Ya, setiap hari 3. Tidak, sebelumnya pernah D16 2. Ya, kadang-kadang D13 4. Tidak pernah sama sekali D18 Berapa umur [NAMA] mulai merokok/ mengunyah tembakau setiap hari ? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Rata-rata berapa batang rokok/ cerutu/ cangklong (buah)/ tembakau (susur) yang [NAMA] hisap perhari? ............... tahun ...........batang c. Sesudah bangun pagi d. Sebelum tidur malam e. Lainnya, sebutkan……….. c. Setelah buang air besar/ Setelah menceboki bayi d. Setelah memegang binatang (unggas, kucing, anjing)

5. Pantai/tanah lapang/ kebun/ halaman 6. Lainnya: ........................... 1. Ya 2. Tidak D11

D10a D10b

D12 D13

.jam ………...jam ………..hari . nyirih.D14 Sebutkan jenis rokok/ tembakau yang biasa [NAMA] hisap/ kunyah: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. 5 hari atau lebih tiap minggu 3... < 1x tiap bulan 3. Tidak D22 D22 D19 D20 Apakah dalam 1 bulan terakhir [NAMA] pernah mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol? 1. [NAMA] berjalan kaki atau bersepeda selama paling sedikit 10 menit terus-menerus setiap kalinya? 1. waktu senggang dan transportasi D22 D23 D24 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik berat. Tidak D28 …………. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali melakukannya? Biasanya berapa hari dalam seminggu. Tembakau dikunyah (susur. sopi)? 1. anggur/ wine. Ya 2. Whiskey/ Vodka 4... Lainnya: ……………… D15 D16 D17 Apakah [NAMA] biasa merokok di dalam rumah ketika bersama ART lain? Berapa umur [NAMA] ketika berhenti/ tidak merokok/ tidak mengunyah tembakau sama sekali? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Berapa umur [NAMA] ketika pertama kali merokok/ mengunyah tembakau? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT . 1 – 3 hari tiap bulan 2.. Rokok linting e.. [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) D25 D26 D27 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik sedang. Ya D17 2. Bir Jenis minuman beralkohol yang paling banyak dikonsumsi: 2. Ya 2.. Ya 2. biasanya berapa rata-rata satuan minuman standar ……….. Ya 2.hari ………….. [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat. Cangklong f. poteng. Tidak D25 …………. dll dan minuman tradisional: contohnya tuak. nginang) h. whiskey. Tidak D17 g. minuman tradisional Ketika minum minuman beralkohol. Tidak D21a D21b Dalam 1 bulan terakhir seberapa sering [NAMA] minum minuman beralkohol? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1... anggur/wine 1..satuan [NAMA] minum dalam satu hari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK TAHU AKTIVITAS FISIK (GUNAKAN KARTU PERAGA) Berikut adalah pertanyaan aktivitas fisik/ kegiatan jasmani yang berkaitan dengan pekerjaan. Rokok putih d. Tidak D31 D28 D29 …………... berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) Apakah [NAMA] biasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu....menit 1. Cerutu 1. 1 – 4 hari tiap minggu 4.. Ya 2.... tahun ALKOHOL Catatan (GUNAKAN KARTU PERAGA): 1 satuan minuman standard yang mengandung 8 – 13 g etanol. misalnya terdapat dalam: 1 gelas/ botol kecil/ kaleng (285 – 330 ml) bir 1 gelas kerucut (60 ml) aperitif 1 sloki (30 ml) whiskey 1 gelas kerucut (120 ml) anggur D18 Apakah dalam 12 bulan terakhir [NAMA] mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol (minuman alkohol bermerk: contohnya bir. tahun .menit 1. Rokok kretek tanpa filter c. Rokok kretek dengan filter b.. vodka. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu...hari …………..

porsi ……hari ……. berapa hari [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D35 Berapa porsi rata-rata [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar dalam sehari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) TANYAKAN D35 TANPA KARTU PERAGA DAN ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. 3 – 6 kali per minggu 5. Makanan berlemak D35a • • d. SEDANG 5. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. Jeroan (usus. seberapa besar [NAMA] merasakan nyeri/ rasa tidak nyaman? E06 Dalam 1 bulan terakhir. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN g. berapa total waktu yang [NAMA] gunakan untuk berjalan kaki atau bersepeda? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) …………. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali obyek sepanjang lengan/ jarak baca (30 cm) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berdiri dalam waktu 30 menit? E05 E11 Dalam 1 bulan terakhir. Makanan/ minuman manis b. RINGAN 4. berapa hari [NAMA] makan buah-buahan segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D33 Berapa porsi rata-rata [NAMA] makan buah-buahan segar dalam satu hari dari hari-hari tersebut? (GUNAKAN KARTU PERAGA) Biasanya dalam 1 minggu. Tidak pernah Biasanya berapa kali [NAMA] mengkonsumsi makanan berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) a. Misalnya naik tangga 12 trap? E07 Dalam 1 bulan terakhir. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN JIKA ART UMUR >15 TAHUN E. > 1 kali per hari 3. 1 kali per hari 4. kecap. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali orang di seberang jalan (kira-kira dalam jarak 20 meter) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sering [NAMA] mengalami gangguan tidur (misal mudah ngantuk.Makanan yang diawetkan JIKA ART UMUR 10 .jam ………. trasi) …… hari …….Bumbu penyedap (vetsin. seberapa besar [NAMA] menderita batuk atau bersin selama 10 menit atau lebih dalam satu serangan? E02 E08 Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan suara normal yang berdiri di sisi lain dalam satu ruangan. sering terbangun pada malam hari atau bangun lebih awal daripada biasanya) Dalam 1 bulan terakhir. Yang dimaksud dengan keadaan kesehatan disini adalah keadaan fisik dan mental [NAMA] E. TIDAK ADA 3. babat. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. SANGAT BERAT 2. 1 – 2 kali per minggu 6. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN (ART UMUR ≥ 15 TAHUN) UNTUK PERTANYAAN E01 – E11. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. dll) h.XI. seberapa sering [NAMA] mengalami masalah kesehatan yang mempengaruhi keadaan emosi berupa rasa sedih dan tertekan? E03 E09 E04 E10 Dalam 1 bulan terakhir.D30 Biasanya dalam sehari. BERAT E01 Dalam 1 bulan terakhir. Makanan asin c. < 3 kali per bulan 2. paru) e. seberapa besar [NAMA] merasakan napas pendek setelah melakukan latihan ringan.Makanan dibakar/dipanggang f.Minuman berkafein (kopi.porsi D35 Sekarang saya akan menanyakan keadaan kesehatan menurut penilaian [NAMA] sendiri.menit PERILAKU KONSUMSI D31 D32 D33 D34 Biasanya dalam 1 minggu. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berjalan jauh sekitar satu kilometer? .14 TAHUN. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan orang lain dalam ruangan yang sunyi.

atau kegiatan lain)? E13 E14 E18 E19 E15 E16 E20 UNTUK PERTANYAAN E21 – E23. pengajian. berjalan dalam rumah atau keluar rumah)? Dalam 1 bulan terakhir. BACAKAN & ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK E21 E22 E23 Dalam 1 bulan terakhir. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk merawat diri (makan. KESEHATAN MENTAL (SEMUA ART UMUR ≥ 15 TAHUN) DITANYAKAN UNTUK KONDISI 1 BULAN TERAKHIR Untuk lebih mengerti kondisi kesehatan [NAMA] kami akan mengajukan 20 pertanyaan yang memerlukan jawaban ”Ya” atau “Tidak”. seberapa sulit [NAMA] dapat memusatkan pikiran pada kegiatan atau mengingat sesuatu selama 10 menit? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] mengenakan pakaian? Dalam 1 bulan terakhir. cemas atau kuatir? Apakah tangan [NAMA] gemetar? Apakah pencernaan [NAMA] terganggu/ buruk? Apakah [NAMA] sulit untuk berpikir jernih? Apakah [NAMA] merasa tidak bahagia? Apakah [NAMA] menangis lebih sering? F11 F12 F13 F14 F15 F16 F17 F18 F19 F20 Apakah [NAMA] merasa sulit untuk menikmati kegiatan sehari-hari? Apakah [NAMA] sulit untuk mengambil keputusan? Apakah pekerjaan [NAMA] sehari-hari terganggu? Apakah [NAMA] tidak mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup? Apakah [NAMA] kehilangan minat pada berbagai hal? Apakah [NAMA] merasa tidak berharga? Apakah [NAMA] mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup? Apakah [NAMA] merasa lelah sepanjang waktu? Apakah [NAMA] mengalami rasa tidak enak di perut? Apakah [NAMA] mudah lelah? PERIKSA KEMBALI.dll) Dalam 1 bulan terakhir. ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK F01 F02 F03 F04 F05 F06 F07 F08 F09 F10 Apakah [NAMA] sering menderita sakit kepala? Apakah [NAMA] tidak nafsu makan? Apakah [NAMA] sulit tidur? Apakah [NAMA] mudah takut? Apakah [NAMA] merasa tegang. PERTANYAAN F01 SAMPAI DENGAN F20 HARUS TERJAWAB LANJUTKAN KE BLOK XI. mandi. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. Kalau [NAMA] kurang mengerti kami akan membacakan sekali lagi. SULIT 5. seberapa sulit [NAMA] dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari? Dalam 1 bulan terakhir. Jika [NAMA] ada pertanyaan akan kita bicarakan setelah selesai menjawab ke 20 pertanyaan. seberapa sulit [NAMA] berinteraksi/ bergaul dengan orang yang belum dikenal sebelumnya? Dalam 1 bulan terakhir. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas/ gerak (misalnya bangun tidur. seberapa sulit [NAMA] dapat melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya sebagai anggota rumah tangga? Dalam 1 bulan terakhir. berpakaian. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk berkomunikasi (berbicara dan dimengerti oleh lawan bicara)? F. SEDANG 4. namun kami tidak akan menjelaskan/ mendiskusikan. TIDAK ADA 2. keagamaan. seberapa sulit [NAMA] dapat memahami pembicaraan orang lain? E17 Dalam 1 bulan terakhir.UNTUK PERTANYAAN E12 – E20. ISIKAN DENGAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. SANGAT SULIT/ TIDAK DAPAT MELAKUKAN E12 Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat memelihara persahabatan? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] membersihkan seluruh tubuh seperti mandi? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat berperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan (arisan. RINGAN 3. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN .

.59 BULAN/ BALITA) G01 a1. Umur [NAMA] dalam bulan b. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a.. Ya 1.. Di RS 2.c 8... Polio 2 d.h 8. Jika Umur [NAMA] < 1 bulan.. Imunisasi BCG terhadap TBC.... Ya .. Tidak tahu G05... Tidak tahu G05. Kali 2.... BCG b.... Tidak pernah imunisasi 8. Tidak tahu G05. Hepatitis B3 / / / / / / / / / / / / ... Imunisasi campak yang biasanya mulai diberikan umur 9 bulan dan disuntikkan di paha serta diberikan satu kali? i. Berapa kali [NAMA] diimunisasi DPT? h. berapa kali [NAMA] ditimbang? JIKA TDK PERNAH DITIMBANG.. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA... Imunisasi polio..... Ya ... Berapa kali [NAMA] diimunisasi Hepatitis B? 1. Ya 2. Tidak 3. Ya 2.../ tahun.. Bulan 1. Posyandu 5..... Bulan 2. Imunisasi Hepatitis B yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di paha? j. Tidak tahu .. Tanggal lahir: (Tgl-Bln-Thn) G02 G03 G04 G05 a2. Tidak 8... IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN (KHUSUS ART UMUR 0 . Kali 2.. Tidak tahu G06 . JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN.. Campak j. Polio 4 f. tanggal... DPT2 h.. Polindes 4. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi... Hari . yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di lengan atas atau paha serta meninggalkan bekas (scar)? b.. Ya. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’. Tidak Apakah dalam 6 bulan terakhir [NAMA] mendapatkan kapsul vitamin A (GUNAKAN KARTU PERAGA) Apakah [NAMA] pernah mendapat imunisasi seperti: (INFORMASI DAPAT DIPEROLEH DARI BERBAGAI SUMBER) a. Pada umur berapa [NAMA] diimunisasi BCG? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) c. Ya 2./ bulan.. Berapa kali [NAMA] diimunisasi polio? f..G....... Tidak G05. Hepatitis B1 k.. Tidak punya G09 2....c .. Polio 1 c... Bulan G06 G07 Di antara imunisasi yang [NAMA] dapatkan dalam dua tahun terakhir apakah ada yang diperoleh pada saat PIN? Apakah [NAMA] mempunyai KMS? (Minta ditunjukkan KMS) G08 1.. Puskesmas/ Pustu 3... Imunisasi DPT yang biasanya disuntikkan di paha dan biasanya mulai diberikan umur 2 bulan bersama dengan imunisasi polio? g. Tidak G06 8.... cairan merah muda atau putih yang biasanya mulai diberikan umur 2 bulan dan diteteskan ke mulut? d. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G09 Salin dari KMS......f 8.. tidak dapat menunjukkan G09 4.……… 1.. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi Hepatitis B? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) k. tuliskan Umur dalam hari KE G04 .. DPT3 i... kali - Dalam 6 bulan terakhir... Lainnya: .. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi.. Tidak G05.. 3..f .h ... Ya. Polio 3 e. Ya 1... Kali 1...... Tidak tahu 2. Ya ... ISI KODE ”88” Dimana [NAMA] paling sering ditimbang? 1.. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi polio? (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK BULAN) e... Hari 1.... DPT1 / / / / / / / / / / / / g. ISI KODE ”00” ATAU JIKA ”TIDAK TAHU”. Tidak G05. Hepatitis B2 l.

. atau perawat? Jika Ya. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN G11a H. Polio 4 f. Ya 2. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA. Kader Posyandu • JIKA ART UMUR 0 – 11 BULAN • JIKA ART UMUR 12 . Campak j. siapakah yang menyimpan KMS/buku KIA tersebut? 1. ./ tahun. Pengukuran tinggi badan b. Tidak H05 2. Pemeriksaan tekanan darah c. Kecil Apakah waktu lahir [NAMA] ditimbang Bila H02=Ya. tidak dapat menunjukkan G11 4. Hepatitis B1 k. Pemberian tablet Fe e. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi 2.. Bidan/ tenaga kesehatan 2. Pemberian imunisasi TT f. Berat Badan [NAMA] ketika lahir : 1. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G11a 3. Ya. Tidak punya Blok G11a G10 Salin dari Buku KIA.. Polio 1 c. Hepatitis B3 / / / / / / 3.. DPT1 / / / / / / / / / / / / g./ bulan. Ya 2. Tidak H07 Apakah ketika ibu mengandung bayi [NAMA] pernah memeriksakan kehamilan pada dokter. DPT2 h. 8 – 28 hari setelah lahir H07 Apakah [NAMA] mendapat pelayanan kesehatan (dikunjungi/ mengunjungi) pada: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN b) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Ya . Pemeriksaan hemoglobin h. Ya. Sangat kecil 2. Pemeriksaan tinggi fundus (perut) d. BCG b.. bidan atau perawat? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. berat lahir [NAMA] dalam ukuran (gram) : Darimana sumber informasi berat [NAMA] lahir: 1..G09 Apakah [NAMA] mempunyai buku KIA? (Minta ditunjukkan Buku KIA) 1. Besar 5. 1 – 7 hari setelah lahir b. Pemeriksaan urin a. Lainnya ……………… / / / / / / G11 Bila tidak dapat menunjukkan. tanggal.. KESEHATAN BAYI (KHUSUS UNTUK BAYI BERUMUR < 12 BULAN) H01 H02 H03 H04 H05 H06 Menurut Saudara. JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN. Pengakuan atau ingatan Ibu/ ART lain 1. Normal 4.59 BULAN LANJUT KE H01 XI. Polio 2 d. Penimbangan berat badan g. b.. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’. Sangat Besar 1. bidan... Buku KIA/ KMS/ catatan kelahiran 3. Polio 3 e. DPT3 i.. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a. Hepatitis B2 l. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. pelayanan kesehatan apakah yang diterima saat memeriksakan kehamilan pada dokter.

. Sistolik 1 b. Berdiri 2. Nadi 3 . Kanan: a. Ya KIRI 2. Kiri: / / CATATAN UNTUK RESPONDEN YANG TIDAK DAPAT MELIHAT KARTU SNELLEN ATAU KARTU E 1. Sistolik 2 e. Jika [NAMA] menggunakan kacamata. Jika [NAMA] tidak menggunakan kacamata tetap lakukan pemeriksaan visus 2. Ya 2. 3 Tekanan darah (mmHg) PEMERIKSAAN 1 a. Ya 1. Tidak 2. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 3 meter TULIS 03/060 2. Tidak 1. 2. Diastolik 1 PEMERIKSAAN 2 d. Tidak 1. Diastolik 2 PEMERIKSAAN 3 Hanya dilakukan bila selisih pengukuran tekanan darah 1 dan 2 > 10 mmHg g. d2.. KHUSUS WANITA USIA SUBUR (15 – 45 TAHUN) TERMASUK IBU HAMIL 5 Lingkar lengan atas (LILA) ….. Jika [NAMA] tidak dapat melihat sinar (BUTA TOTAL) TULIS 00/000 LAKUKAN HITUNG JARI: . Ya a1.... c2. Khusus untuk balita.. Nadi 2 ……. 9. TEKANAN DARAH.. Tidak 2. Berat badan (kg) 2b. Tidak a2... Diastolik 3 c. Pterigium c. Ya 1. Telentang .... Tidak 2.XI.. Tinggi Badan/ Panjang Badan (cm) KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN . Lensa keruh/Katarak 7.. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 1 meter TULIS 01/060 4. Posisi Pengukuran TB/PB 1. Menggunakan kacamata (jauh dan atau dekat)? 1... Jika [NAMA] hanya dapat melihat SINAR SENTER TULIS 01/888 6. lakukan pemeriksaan visus dengan tetap memakai kacamata 8.. Sistolik 3 h. Tidak 2.. c1. DAN LILA SEMUA UMUR 1. Kiri: b.. Nadi 1 4 Lingkar perut f. b2. Kanan: / / b. Ya 1. Parut kornea d. Ya 1. Juling b... PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN PENGUKURAN ANTHROPOMETRI. Tidak 2. d1.. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 2 meter TULIS 02/060 3. Ya 1. cm PEMERIKSAAN VISUS (KHUSUS ART > 5 TAHUN) 6 Apakah mata [NAMA] mengalami gangguan: (LAKUKAN PENGAMATAN] KANAN a. .. cm i. 2a... Tanpa Pinhole Dengan Pinhole a. LINGKAR PERUT.. Jika [NAMA] hanya dapat melihat GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter TULIS 01/300 5. PEMERIKSAAN VISUS: 1. b1. Ya 1. Tidak 2.

13 atau KE CATATAN PENGUMPUL DATA 12.M. atau F pada setiap ruang dentogram di bawah ini: D (decayed) = gigi berlubang M (missing) = gigi telah dicabut/ tinggal akar F (filling) = gigi ditambal CATATAN: JIKA PADA GIGI YANG SAMA TERDAPAT LUBANG DAN JUGA TAMBALAN MAKA TULISKAN “DF” PADA SATU RUANG DENTOGRAM TERSEBUT 8 7 6 5 (I) Kanan 4 3 2 1 1 Kiri (II) 2 3 4 5 6 7 8 8 7 6 III Kanan 5 4 3 2 1 Kiri IV 1 2 3 Kiri (IV) 4 5 6 7 8 (III) Kanan DIISI OLEH PENGUMPUL DATA ∑D-T ∑M-T ∑F-T 1 = Incisivus 1 (gigi seri 1) 2 = Incisivus 2 (gigi seri 2) 3 = Caninus (taring) 4 = Premolar 1 (geraham kecil 1) 5 = Premolar 2 (geraham kecil 2) 6 = Molar 1 (geraham besar 1) 7 = Molar 2 (geraham besar 2) 8 = Molar 3 (geraham besar 3) PEMERIKSAAN DARAH DAN URIN 11. Apakah diambil Urin (khusus ART umur 6 – 12 thn) STIKER NOMOR URIN 1. Tidak KE XI. Apakah diambil spesimen darah 1. Berilah kode D. STIKER NOMOR DARAH TEMPEL STIKER DI SINI 13 14. Tidak KE CATATAN PENGUMPUL DATA TEMPEL STIKER DI SINI CATATAN PENGUMPUL DATA .PEMERIKSAAN GIGI PERMANEN (KHUSUS ART ≥ 12 TAHUN) 10. Ya 2. Ya 2.

Lainnya a. No. 2. Penolong Terakhir JIKA LAHIR MATI (JAWABAN BLOK II P 5A DAN P 5B ADALAH 98) LANJUTKAN KE BLOK V P24 IV. III.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR < 29 HARI I. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a. Sakit 3. Laki-laki 2. Vakum 3. PENGENALAN TEMPAT RKD07. Apakah bayi lahir normal atau dengan bantuan alat atau operasi? 1. Lainnya. Di rumah b. Perempuan 1b.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini Bagaimana kesehatan ibu neonatal saat ini? 1. Normal 1. merintih/menangis lemah atau bergerak? Jika TIDAK BAYI LAHIR MATI. KEADAAN BAYI KETIKA LAHIR 6. apakah bayi ketika lahir sempat bernafas.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan____/ tahun ____ / / / / Jika tanggal lahir dan tanggal yang meninggal sama. Lama/sulit 3. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel No. tuliskan angka 98 pada P5a. Bidan/Tenaga paramedis lainnya 3. Dukun 4. 2 3 4 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal 1. _____________________. KARAKTERISTIK IBU NEONATAL (BILA IBU NEONATAL MENINGGAL. tanya umur bayi saat meninggal TULISKAN “88” BILA TIDAK TAHU 5 6 Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? a. AUTOPSI VERBAL BAYI MENINGGAL BERUMUR 0-28 HARI IVA. 5b Jika YA BAYI LAHIR HIDUP. 4. Di fasilitas kesehatan 2. Sehat 2. Blok No. Bagaimana proses kelahiran bayi? c. a.RT II. keguguran (A) yang dialami ibu? Siapa saja yang menolong ibu ketika melahirkan bayi tersebut? 1. 5. Penolong Pertama G P A 8. TANYAKAN KEPADA ART YANG MERAWAT BAYI/ YANG MEWAKILI) 1. Di perjalanan 4. Operasi 1 . persalinan (P). Family/keluarga 5. Meninggal. Cepat 2. Berapa bulan umur bayi di kandungan? b. _________ hari 3. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Tidak tahu 3. AV1 Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No.urut yg meninggal: _________ Kutip dari RKD07. penyebabnya ____________________ Umur ibu pada saat melahirkan bayi yang meninggal? ______________ tahun Berapa jumlah kehamilan (G). ________ jam 1. Normal ________bulan 2. Dokter 2. b.

Tidak tahu 3. Ya 1. Kemerahan 2. Apakah saluran nafas bayi dibersihkan segera setelah lahir? f. Lainnya (tuliskan) ____________________________ 1. Ramuan daun/abu 8. Ya 1. Kehijauan 8. Tidak P11 4. sesak. muntah. Ya 2. Jernih 2. lainnya) TANYAKAN DAN CATAT LAMANYA SAKIT _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 2 . Tidak 8. Aktif 1. Apakah bayi dibedong segera setelah lahir? 7. Ya 1. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu IVB. Lambat 1. apakah bayi sangat kecil. Sesak nafas 1. Kembar 3. Ya 1. Tidak 2. Ya 1. Jika ya. Apakah kulit bayi terkelupas ? 10. Tidak tahu 3. Jika tidak ditimbang. Ada 2. Tidak ada 1. demam. berapa berat badan bayi? c. a. Tidak 2. Tali pusar diobati dengan apa? 9. Tidak 2. Ya 1. Bokong/kaki 3. Bagaimana warna kulit bayi ketika lahir? 1. Bagian tubuh apa yang pertama keluar ketika bayi lahir? b. Tidak 2. Merintih 8. Silet/pisau 1. lebih besar atau sangat besar? 11. Kebiruan 4.d. Tidak tahu 2. Tidak tahu 8. Benjolan pada dinding perut sekitar pusar (omphalocele) e. Ada. Tidak tahu 3. Lebih kecil dari rata-rata 3. Apakah bayi ditimbang segera setelah lahir? b. Apakah ada trauma lahir sehingga bayi terluka? Sebutkan e. lebih kecil. Sangat besar 8. Tidak 2. Lumpuh/lunglai 8. Keras 2. Ya 1. Ya 3. Tali pusar bayi dipotong dengan apa? b. Segera 2. Tidak bernafas 8. Tidak tahu 8. Apakah warna air ketuban? g. Ceritakan gejala awal dan utama bayi ketika sakit? (kejang. Tidak tahu 8. tubuh dingin. Tidak 2. Tidak ada lubang dubur (atresia ani) f. Bahu/tangan 8. a. Tidak tahu 2. Sangat kecil 2. Apakah tali pusar keluar sebelum bayi lahir? c. a. Tidak tahu P10c 8. Tidak ada tulang kepala belakang (anencephalus) d. apakah suaranya keras/ lemah? c. Tunggal 1. Bibir/langit-langit sumbing b. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 2. Pucat 1. Tidak tahu P9c P9c 1. Tidak 8. Apakah bayi lahir kembar? 8. Gunting 2. Ya 1. Lebih besar 5. Kepala besar (hidrosefalus) c. Alkohol/ betadine 1. a. Kepala 1. Apakah bayi bergerak aktif atau lumpuh/ lunglai? e . Tidak tahu 2. Bambu 8. Ya 1. Jika menangis. Tidak tahu P10c 8. Tidak tahu 3. KEADAAN BAYI KETIKA SAKIT [Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/hari)] 12. Tidak menangis 8. Keruh 1. Normal 2. Tidak diberi apa-apa 2. Apakah ada lilitan tali pusar di leher bayi? d. Apakah bayi segera menangis setelah lahir? b. Rata-rata/normal Apakah bayi dilahirkan dengan cacat bawaan: (Tanyakan satu persatu kepada ibu/keluarga yang mendampingi) a. rata-rata. _________ 2. Bagaimana nafas bayi ketika lahir? d. Tidak tahu 2. Tidak tahu 8. ________ gram 1. Lemah 1. Kuning 3. Tidak tahu 8. Tidak ada 8. Tidak tahu f.

Apakah perut bayi kembung? b. Tidak bisa BAB. Ya. _______hari 1. _______hari 1. Nafas normal 2. ______ hari 1. Air buah 5. _____ hari 1. Ya. Merah muda 2. Tidak tahu P23c 3. Pucat 1. Tidak P23c 2. Air tajin 2. _______hari 1. apakah gangguannya? 2. Tidak bisa mengisap 7. Ya. Susu formula 6. Nafas cepat/ megap-megap . Cairan keruh/nanah 8. Warna kuning. Ya. Tidak 2. _______hari 1. Tidak 2. _______hari 1. ____ hari 1. Apakah bayi demam? b. Kebiruan 4. Bagaimana sifat pernafasan bayi? 2. Apakah mulut bayi mencucu. ____ hari 1. Apakah ubun-ubun bayi menonjol? 14. Apakah ada batuk? c. Tidak tahu 1. Apakah bibir berwarna kebiruan? c. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 1. Ya. _____hari 2. Tidak menangis. Ya. Ya. _____ hari 1. Merah muda 2. Tidak tahu 8. Kuning 3. Tidak P23a 2. Ya. a. _______hari 1. Tidak tahu 8. Kuning 2. Tidak tahu 8. a. Apakah cuping hidung kembang kempis ketika nafas? d. a. _______hari 1. Sehabis minum ASI. Air madu/gula 3. a. Apakah diberi Air Susu Ibu (ASI)? b. Apakah tubuh bayi dingin? 20. Tidak 2. Tidak tahu 8.Tidak tahu P21a b. Tidak 2. gelembung berisi apa? 15. Bagaimana suara tangisan bayi? 1. Bagaimana muntah tersebut terjadinya? 1. Diare. Normal 2. _____hari 8. Ya. Tidak 2. a.13. seperti mulut ikan? b. Tidak tahu 1. Apakah kulit bayi bergelembung? d. Tidak 2. Ya. Lainnya. Tidak tahu P15 b. Kuat 1. Melemah. Tidak 2. Normal. Belekan. Ya. _______hari 1. Apakah bayi mengalami penurunan kesadaran? (bayi dibangunkan tetapi tidur terus) 17. _________ hari 3. Nasi 8. Tidak tahu 8. Tidak P15 8. Tidak P21a 2. Ya. Jika ya. _______hari 1. a. _____ hari 3. Air putih 2. Tidak tahu 8. Pucat 1. Ya. Kebiruan 4. Apakah bayi muntah? b. Apakah warna tubuh bayi? b. Tidak tahu 8. ____ hari 4. _____ hari 2. _______hari 1. Cekung. Tidak 2. ____hari 8. Apakah diberikan minuman/makanan lain sebagai berikut? (jawaban dapat lebih dari satu) 3 . ______hari 8. Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam? 16. Apakah terlihat ada benjolan di perut? 22. Cairan jernih 2. Ya. Apakah bayi kejang? b. ________ 23. Tidak 8. Apakah warna kaki/ tangan bayi? c. _______hari 1. Ya. Tidak tahu 8. Tidak tahu 4. Tidak tahu P23a 21. Tidak Tahu 8. _______hari 1. Menangis dgn suara melengking tiba-tiba dan terus-menerus 8. Ya. Jika ya. Lemah 4. a. Tidak tahu 8. Apakah mengeluarkan air liur terus-menerus? d. a. Bagaimana keadaan mata bayi? 18. Pisang 8. _______hari 1. _______hari 1. Bagaimana bayi mengisap ASI? c. _______hari 1. Tidak tahu 8. Berulang-ulang. Tidak tahu 8. Ya. Ya. Tidak 2. Apakah ada gangguan dalam buang air besar (BAB)? b. Apakah ada luka/bercak putih di dinding rongga mulut? 19. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. _______hari 2. a. Tidak tahu 8. Tidak 3. a.

Tidak 8. Tidak 2. Tidak 2. Ya 1. Tidak 2. Ya 1. Ya 2. Tidak 2. Ya 1. Tidak 2. Nyeri perut hebat d. Nyeri perut hebat g. Ya 1. Tidak tahu VI. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8.V. Kejang l. Tekanan darah tinggi dan atau bengkak b. Tidak tahu 8. Ya 1. Lainnya ________________________________ Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Ya 1. Ibu kurus (kurang energi kronis) f. Tidak tahu Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Ya 1. Ya 1. Tidak 2. Sesak napas. AUTOPSI VERBAL KESEHATAN IBU NEONATAL KETIKA HAMIL DAN BERSALIN 24. Lainnya. Demam h. Tidak tahu 8. lemah. Kejang/ eklampsi e. Tidak tahu 8. sakit jantung h. Ya 1. Demam g. Tidak tahu 8. Radang paru. RESUME RIWAYAT SAKIT VIA. Tidak tahu 8. apakah mengalami komplikasi? a. apakah mengalami komplikasi? a. Tidak 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya 1. asthma. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya 1. Ya 1. Ya 1. Ketuban pecah dini d. Ketika ibu hamil. Sulit ketika melahirkan b. Ya 1. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak tahu 8. Sakit kuning j. Tidak tahu 8. Ya 1.BAYI USIA 0-28 HARI TERMASUK LAHIR MATI (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Jenis kelamin dan umur bayi ketika dikandung: Berat badan lahir: Keadaan waktu lahir dan bagian tubuh yang keluar lebih dulu: Riwayat sakit: 4 . Tekanan darah tinggi f. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya 2. lesu. Perdarahan c. _______________________________ 25. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. kunang-kunang e. Tidak 2. Ya 1. Ya 1. Tidak 2. Perdarahan c. Tidak 2. Cedera/kecelakaan k. Pusing. tuberculosis i. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Sesak nafas i. Tidak tahu 8. Ketika ibu bersalin. Tidak 2.

.. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) _____________________________________________________________________________ b.. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada Rangkaian a-c ________________________________________________________________ .......... Telah diperiksa oleh Ketua Tim... Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. .. 5 ...... Penyakit atau keadaan utama janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ b..... Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ____________________________________________________________________________ d....... Nama:.................VIB. Kode ICD 10 27..... Tanggal: .. .. tetapi tidak berkaitan dengan penyakit/keadaan janin/bayi maupun ibunya: _____________________________________________________________________________ Kode ICD 10 ..... Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 0-6 hari (diisi oleh dokter) a....................................... Tanda tangan:. Penyakit atau keadaan lain janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ c. RESUME KEADAAN IBU (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur ibu ketika melahirkan: GPA: Penolong persalinan: Proses persalinan: Komplikasi kehamilan: Komplikasi persalinan: 26. Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 7 hari – 28 hari (diisi oleh dokter) a... ...... Penyakit/keadaan utama ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ d..................... .................. Penyakit/keadaan lain ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ e............ Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c......... Keadaan relevan lain yang menyebabkan kematian bayi/lain...... .. .

a. _____ bln 1. Pisang 7. ____________________ III.. Lainnya. Apakah [NAMA] ketika lahir kecil atau berat badan kurang dari 2500 gram? b.. Sudah tidak minum ASI 6. No. Sub Desa/Kel D/K Sensus Blok Sensus RKD07.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini b. Ya. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Di perjalanan 4... menyusu Lemah 1.. PENGENALAN TEMPAT No. AV2 Prov Kab/ Kota Kec No Kode Sampel No..hari (<30 hari) 1. Tidak P2c 8. Air madu/gula 3. . dokter) __________________________________________________________________________________________________________ c. Tidak bisa menyusu 4. Jika ya.. Apakah [NAMA] menderita cacat bawaan? b..<5 tahun) Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (hari/bulan) 1. apa penyebab kematian [NAMA]? (termasuk keterangan dari perawat... Air putih 4. Perempuan 1b.. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Ya. a. a.RT II. sebutkan jenis cacatnya 2. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT BALITA (29 hari . Tidak tahu P2c __________ gram 1.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ a.. Di fasilitas kesehatan 2.urut yg meninggal: . Ya 2. Kutip dari RKD07. Ya... Bubur 9. a.. Susu formula 3. Apakah [NAMA] lahir prematur? 1. Tidak P4a ______________________________________ 4. _________________ 1 . Menurut responden. Nasi 10. Jika ya. Tidak tahu P4a 3. Di Rumah / / b. Tidak tahu 8. bidan. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. menyusu kuat 2. Lainnya. Laki-laki 2. Air buah 5. Jenis minuman/ makanan apa lagi yang diberikan? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ 2.. Ya 2. ASI saja 2. berapa berat badan ketika lahir c. Makanan bayi siap saji 8.bulan (< 5 tahun) / / 3. Apakah [NAMA] minum ASI ketika sakit? b. Tidak 8...RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 29 hari . Blok No.< 5 tahun I.

Ya. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 2 . Ya. Tidak 2. Apakah dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal berat badan [NAMA] tidak naik? c. Tidak 2. Tidak tahu P6 5. Ya. _____hr 1. 16. 7. _____hr 1. Negatif 2. Naik turun 1. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] kurang gizi sebelum sakit? b. _____bln 1. 12. Ya 1. 9. apakah sifat batuknya c. Tidak tahu 8. _____hr 1. _____bln 1. Ya. Ya. Tidak 2. Apakah perut [NAMA] membesar/membuncit? a. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. 3. Apakah [NAMA] sesak nafas/ sulit bernafas? Apakah [NAMA] nafas dengan cepat? Apakah dinding dada bagian bawah tertarik ke dalam sewaktu menarik nafas? Apakah [NAMA] sakit di daerah perut? a. usia_______bulan 1. 15. Jika ya. Ya. _____hr 1. Tidak Tahu 8. _____. Ya. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? d. Ya. 22. Kering 2. Bagaimana hasilnya? Jika positif. Apakah [NAMA] muntah-muntah? b. Ya. Tidak tahu 8. Ya. _____hr 1. _____hr ____bln 1. Apakah ada benjolan yang tidak normal di perutnya? 14. Ya. a. Ya. Ya 1. Jika ya. Tidak 2. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] mengalami demam sebelum meninggal? b. _____hr ____bln 1. _____hr ____bln 1. _____hr 1. 10. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. _____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. _____hr 1. Tidak P17 2. Bagaimana sifat demamnya? c. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. 19. Tidak 2. Tidak P8 P6 8. Ya. Apakah pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? Jika ya. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Batuk terus menerus 8. _____hr 1. Tidak P13 2.c. Tidak 2. Tidak 2. _____hr 1. _____hr ____bln 1. 17. Ya. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 2. apakah diberi obat? 6. Ya. 21. Apakah [NAMA] terlihat pucat terutama di bibir atau telapak tangan? d. Tidak P6 2. Ya. Apakah [NAMA] ada parut BCG a. Tidak tahu 8. kapan diperiksa? e. Ya. Ya. Ya. Apakah [NAMA] pernah diimunisasi sebagai berikut: Diptheri. Ya. _______hr 1. Tidak 2. Tidak 8. usia_______bulan 1. Tidak tahu 8. _____hr 1. Tidak tahu 8. Apakah ada benjolan di sekitar leher? b. Tidak 2. Tidak tahu 2. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] diare? b. 11. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya. Terus menerus 2. Tidak tahu P6 8. Tidak tahu P13 8. _____hr 1. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 1. Pertusis. Tidak 2. Tetanus Campak Hepatitis d. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. Positif. Tidak tahu P8 3. Tidak 2. Ya. Apakah [NAMA] luka/sariawan di rongga mulut? 18. usia ____. Berulang disertai keringat malam 2. Tidak tahu P17 8. Berdahak 1. Tidak 8. Apakah [NAMA] batuk? b. kapan obat mulai diberikan? 8. Tidak 2. Tidak Tahu 8. Tidak 2. Ya. _____bulan 1. Tidak tahu 8. _____hr 1. Apakah warna putih mata jadi kuning? Apakah tubuh [NAMA] berwarna biru setelah beraktifitas atau menangis? Apakah muka [NAMA] bengkak. Tidak tahu 8. Tidak Tahu 8. Ya. apakah muntah disertai dengan darah berwarna kehitaman? 13. Apakah [NAMA] kejang? a. Jika positif malaria. Apakah diare disertai lendir dan atau darah? Apakah mata [NAMA] cekung/ haus/ kulit mengkerut/ tidak kencing? a. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. 20. Ya. Menggigil 4. ________ hr 1. Tidak Tahu 8. terutama kelopak mata? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? Apakah pergelangan kaki/persendian lain bengkak? 1. Tidak 2.

Tidak tahu 8. Diagnosis Penyebab Kematian Bayi/ Balita (29 hari ..... Ya. Ya.. Ya..... Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c.. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian.. Tidak tahu P35 _______________________________________________________ 1.. _____hr 1. Tidak tahu IV 35 ________________________________________________________ ________________________________________________________ IV.... _____hr 1. 29.. ular.23.... _____hr 1.. Apakah [NAMA] pernah digigit anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b. _____hr 1. tenggelam.. Tidak 2... Ya. RESUME RIWAYAT SAKIT BAYI/ BALITA (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur balita: ________ Cacat bawaan: Riwayat sakit (tanda. sebut jenis cedera 1... _____hr 1. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a-c ___________________________________________________________________________ Kode ICD 10 .... Ya. kalajengking.. _____hr 1.. Tidak tahu 8... Apakah [NAMA] pernah cedera karena kecelakaan lalu lintas atau lainnya (jatuh.. Ya. gejala... Tidak 2...< 5 tahun) (DIISI OLEH DOKTER) a. _____hr 1. Ya. Tidak 2. Ya.. Tidak 2. Ya...... . 26.. dll)? a... 30.. Tidak tahu 8.... 27.. Tidak tahu 8.. Tidak P35 8. dll)? b. _____hr 1. Tidak IV 8.. 34. 25.. _____hr ____bln 2. Ya.. Tidak tahu 8.. sebut jenis binatang apa (anjing.... Tanggal: _________________________ 3 . Jika ya.. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ___________________________________________________________________________ d. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. Ya.. .. .. lama sakit): Berat badan lahir: ___________gram Prematur/ Cukup bulan:__________________ 36. Ya. 31. Tidak tahu 8.. terbakar. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ___________________________________________________________________________ b. Nama: . 28.. Tanda tangan: ... Tidak tahu 8. Tidak 2... Tidak 2. Tidak tahu 8.... _____hr 1.... Tidak 2.. _____hr 1.. Tidak tahu 8.. Ya. _____hr 2... Tidak 2.. Jika ya. 24. Tidak 2...... Tidak tahu 8.... Jika ya. 33. _____hr 1.. Telah diperiksa oleh Ketua Tim. kera.... Tidak tahu 8.. Apakah [NAMA] menderita campak sebelum meninggal? Apakah ada bintik-bintik merah di kulit? Apakah [NAMA] mimisan? Apakah [NAMA] sering ngantuk bukan pd jam tidur? Apakah [NAMA] kaku kuduk (kaku di leher)? Apakah [NAMA] mengeluh sakit kepala? Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? Apakah [NAMA] mengalami lumpuh satu atau dua tungkai? Apakah [NAMA] mengalami gangguan kencing? Apakah kencing bercampur darah? a... 32. Tidak 2. Tidak 2...

Di perjalanan 4. Kadang-kadang 2. Kutip dari RKD07. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? c.. Tidak P3 8.. Ya. Jika positif malaria. No. 6. Ya. Apakah [NAMA] demam/ panas tinggi sebelum meninggal? a.. Bagaimana hasilnya? Jika positif.. Perempuan 1b. c. Blok Sensus No. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8.. AUTOPSI VERBAL UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/ hari) 1a.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ _______ tahun 1... b. Tidak tahu 8.. Nomor responden (Kutip dari RKD07. Di Rumah / / / / 3. Tidak tahu 8. apa penyebab kematiannya? (termasuk keterangan dari perawat dan dokter)_____________________________________.urut yg meninggal: . Bagaimana sifat demamnya? b. Lainnya ___________________ III. Ya 1. Tidak 2. 2. 5. Positif. Tidak 2. ____hr ____bln 2.hr 1. ____hr ____bln 1..RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini . Sub Blok Sensus No Kode Sampel No. Menurut responden. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: ___________________________________________________________________________________ ____________________________________________________________________________________________________________________________ 1. kapan diperiksa? d. AV3 I. Laki-laki 2. Tidak tahu 8. Di fasilitas kesehatan 2. Ya. ____hr ____bln 1. Naik turun 1.. Tidak tahu P3 3. Naik turun disertai menggigil 4.RT II. Tidak/ Tidak tahu 8. Ya. Tidak tahu 8. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. apakah diberi obat? 1. ______. Ya. 4. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT III A. . Tidak tahu 3. Ya 1. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. Tidak 2. Tidak 2. _____ hr 1. Terus menerus 2. Tidak 8. Apakah [NAMA] sesak nafas ketika melakukan pekerjaan ringan? Apakah [NAMA] sesak nafas ketika tidur sehingga harus diganjal dengan beberapa bantal? Apakah [NAMA] pernah mengeluh jantung berdebar-debar? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? 8.. Negatif 2. Tidak tahu 1 .RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS RKD07. PENGENALAN TEMPAT Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No. Berulang disertai keringat malam 2..

Tidak 2. ____hr ____bln 1. Lainnya. ____bln___thn 1. Tidak tahu 8. Tidak P29 28. Tidak P28 8. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. ____bln___thn 1. minum. Apakah [NAMA] mengalami nyeri perut? b. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Ya. Tidak tahu 2 . Seluruh perut 2. 25. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1.7.bln 1. ____hr ____bln 1. Ya 1. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] kekurangan cairan tubuh? Apakah [NAMA] mengeluh sulit menelan? Apakah [NAMA] sakit kepala? a. Bagaimana sifat nyerinya? 1. 23. Ya. Apakah [NAMA] menderita diare? b. Tidak tahu 8. Ya. di bagian mana? c. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. Di atas 2. 26. Sedikit-sedikit 1. Ya. Ya. Berdahak 1. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. Tidak 2. Ya. Ya 1. Ya. Apakah [NAMA] nafasnya pendek-pendek dan cepat? Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ketika bernafas? Apakah [NAMA] perokok berat? Berapa lama merokok? a. Ya. ____hr ____bln 1. Terus-menerus 2. ______ 2. Kiri 2. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Jika ya. bertahap > 1 minggu 8. Tidak 2. Apakah perut [NAMA] membuncit/ membesar? b. bagaimana timbulnya? 2. Tak dapat BAK 2. ____hr 1. 11. Di bawah 1. ____hr ____bln 1. Ya. Ya. 20. 19. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. ____thn 1. Tidak 2. Ya. Tidak tahu P19 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. 24. Tidak 2. 9. Tidak 2. 21. Apakah [NAMA] nyeri ketika BAK/kencing? Apakah air seninya berwarna merah? Apakah [NAMA] banyak makan. Tidak tahu 8. Ya. Tidak tahu 8. Jika ya. Tidak P12 3. tiba-tiba < 1minggu 2. ____hr ____bln 1. 15. Tidak tahu 8. Apakah pergelangan kakinya bengkak? Apakah persendian lainnya bengkak? Apakah [NAMA] nafasnya berbunyi/ mengi? Apakah [NAMA] batuk lebih dari 2 minggu? Jika ya. Di atas 2. Ya 1. 17. Ngompol 4. Ya. pada perut bagian mana? 3. Tidak tahu P14 8. Ada darah 2. 27. Tidak 2. Jika ya. 10. Tidak P30 29. pada perut bagian mana? 3. Ya. Tidak tahu 8. _____. apakah tinja bercampur dengan darah dan lendir? 18. Ya. Tidak 2. 8. Tengah 3. Tidak 2. Kanan 1. Apakah [NAMA] mengeluh nyeri dada hebat? b. Jika ya. Tidak 2. Di tengah 2. bagaimana sifat batuknya? Apakah [NAMA] pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? a. Apakah ada benjolan di perutnya (tumor)? b. Tidak 14. Ya. Dahak + darah 4. Tidak tahu 8. Tidak 2. dan sering BAK/ kencing? Apakah [NAMA] pernah ada luka yang sulit sembuh? Apakah [NAMA] ada rasa kesemutan di kaki/ tangan? a. 13. Tidak tahu P22 8. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Di bawah 1. 16. Hilang timbul 1. Tidak tahu P22 P19 P12 2. Apakah [NAMA] ada gangguan Buang Air Kecil (BAK)/ kencing? b. Tidak tahu P30 P29 P28 22. Ya 1. Tidak tahu 8. gangguannya apa? 3. Tidak P14 8. a. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. a. Kering 2. 12. Tidak 2. Jika ya. Jika ya. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Ya.

keracunan. Tidak 2. Jika ya. Tidak tahu 8. Ya. a. sebut jenis cedera (patah tulang. Tidak 2. Ya. Apakah [NAMA] tampak pucat? Apakah muka [NAMA] bengkak/ sembab? Apakah mata [NAMA] berubah jadi kuning? a. Jika ya. Ya. Apakah ada kaku kuduk? 35. ____hr 1. Bertahap beberapa hari 2. Tidak tahu 8. bagaimana proses penurunan kesadaran? P33 8. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. a. Tidak 2. kalajengking. Tidak P44 8. Tidak tahu 3 . ____hr ____bln 1. apakah muntahnya campur darah? 1. Tidak tahu P33 2. Ya. Mendadak 2. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 8.kali/ hari 1. Ya. jelaskan gejala yang timbul pada kulit c. 37. Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? b. ditusuk. Apakah ada benjolan di sekitar leher 2. tenggelam. Jika ya. Tidak P36 34. 38. Tidak P38c 8. Ya. ____hr ____bln 1. Ya. Tidak tahu P43 39. Apakah [NAMA] menderita penyakit kulit? b. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] bicara kacau selama sakit parah? a. Tidak 2. Tidak tahu 4. ____hr ____bln 1. Lengan kanan 2. Tidak tahu 8. Ya. ____bln 1. serangga lain) • • • ____________________________________________________ 44 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 Tahun Ke Atas IIIB Jika YANG MENINGGAL adalah Laki-Laki Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 5-9 Tahun atau Laki-Laki Umur 5-14 Tahun III B. anjing. Jika ya. Tungkai kiri 8. Tidak 2.30. Ya. Tidak 2. Tidak tahu P34 33. Ya. Apakah [NAMA] menderita kejang? b. Jika ya. gegar otak dll) ____________________________________________________ ____________________________________________________ 1. Ya.RESUME 45. Jika ya. Tidak tahu 3. ____hr ____bln 2. Tidak P43 8. Ya. berapa kali dalam sehari kejang? 8. Ya. ____hr ____bln 1. dll? b. Ya. 42. sebut jenis binatang (kera. Tidak 2. ____hr ____bln _______. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN UMUR 10 THN KE ATAS IV. a. a. Ya. 46. bagian tubuh mana yang lumpuh? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] muntah-muntah ketika sakit? b. Apakah [NAMA] pernah digigit oleh anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. ____hr 1. 40. Apakah ada bagian tubuh [NAMA] yang lumpuh? b. Ya. Tidak 2. ____hr ____bln 8. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Tidak P31 8. Tidak 2. Tidak tahu P31 31. Tidak tahu P44 43. ____hr ____bln 1. Tungkai kanan 2. Jika ya. Jika ya. Lengan kiri 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Apakah berat badan [NAMA] turun secara mencolok sebelum meninggal? Apakah [NAMA] mengalami sariawan luas di mulut sebelum meninggal? a. Tidak tahu 8. 32. Apakah [NAMA] ada luka atau benjolan pada payudara atau kulit payudara berkerut seperti kulit jeruk dan atau puting payudara keluar cairan kemerahan? Apakah [NAMA] keluar darah berlebihan pada saat datang bulan/ menstruasi? 1. 41. ____hr ____bln 2. ular. Apakah [NAMA] pernah cedera akibat kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan lainnya (jatuh. ____hr ____bln 2. Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? b. Tidak tahu P38c ____________________________________________________ 1. a. Tidak tahu P36 36. Ya. ____hr ____bln 1. Tidak P34 8. terbakar. Tidak 2.

Dengan cara apa bayi dilahirkan? c. 57. a. Tidak 2. Tidak 2. 58. Tidak tahu P52 LANJUTKAN KE P67 52. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Ya 1. Ya. Hidup 2. Tidak 8. Tidak Tahu P66a 3. 63. hari ke ____ 1. Kembar. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. 61. Lengan/ kaki 8. Tidak 2. Ya.54 Tahun PERNAH KAWIN IIIC Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Tidak tahu 8. 62. apakah perdarahan masih terus sampai meninggal? 1. Ya. _____bln 1. Tidak P52 8. Ya. ____hr ____bln 1. 53. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] meninggal setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] kejang setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] perdarahan setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] demam tinggi setelah melahirkan? Apakah ada cairan berbau busuk keluar dr jalan lahir setelah melahirkan? a. Meninggal 3. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] mengalami perdarahan dari jalan lahir di luar siklus menstruasinya? b. Bagaimana kondisi bayi [NAMA] setelah lahir? • • 1. Jika ya. Vakum P66a 1. Ya. 51. 55. Tidak tahu 8. Tidak 2. ____hr ____bln 2. hamil ___bln 2. Tidak tahu 8. hari ke ____ 1. Bidan 1. Dukun 2. 50. hari ke ____ 1. Tidak 2. Bokong 1. 65.67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 55 Ke Atas IIID III C. bagian tubuh mana yang keluar lebih dahulu? 66. Tidak tahu 8. Lahir spontan 2. Apakah [NAMA] melahirkan tunggal atau kembar? b. Ya. Tidak 2. Keluarga 2. hari ke ____ 1. Ya 1. Ya. Tidak tahu P60 LANJUTKAN KE P65a 60. Tidak 2. Siapa saja yang menolong persalinan? b. Ya. Tidak 2. semua bayi meninggal 67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10-14 Tahun IV. Ya 1. Pada waktu bayi lahir. Ya 1. Tidak 2. Tidak 2.RESUME 4 . Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya P67 2. Apakah [NAMA] mengeluarkan cairan tidak normal dari jalan lahir? Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . a. Tidak P60 8. Apakah [NAMA] mengalami keguguran (umur kehamilan < 22 minggu/ 5 bulan) sebelum meninggal? Apakah [NAMA] meninggal pada saat melahirkan? Apakah [NAMA] demam tinggi saat melahirkan? Apakah [NAMA] kejang saat melahirkan? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak sebelum bayi lahir? Apakah [NAMA] sulit/ lama (lebih dari 12 jam) ketika melahirkan? Apakah ari-arinya sulit lahir? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak (lebih dari 3 kain) setelah bayi lahir? 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Kepala 2. 54. Ya. Apakah [NAMA] meninggal ketika sedang hamil? Apakah [NAMA] menderita tekanan darah tinggi ketika hamil (dikatakan oleh tenaga medis) atau kejang ? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan hebat ketika hamil? 1. Tidak tahu P67a 8. Tidak 2. Tidak tahu 4. Tidak tahu 8. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 10-54 TAHUN 49. satu bayi meninggal 4. hamil ___bln 1. Ya. Tidak 3. Ya. 64. Tidak tahu 2. Ya. Kembar 3. Ya 1. Ya 1. ____ jam 1. Kembar. Tidak tahu 48. Tidak tahu 8. Dokter P67 8. Tunggal 1.54 Tahun BELUM KAWIN P. Tidak tahu 8.Opeasi Sectio P66a 8. 56. Tidak 2. hari ke ____ 1. 59.47.

Tidak 2. Tidak 2. ____bln ____thn 1. Kegemukan (Obesitas) i. ____bln ____thn 1. Tidak 2. Tidak 8. Peminum alkohol kronik k. ____bln ____thn 1. Tidak tahu 8. Kencing manis c. Ya. Apakah [NAMA] mempunyai riwayat/ pernah sakit: a. Nama: _____________________ Tanda tangan: _____________________ Tanggal: _____________________ 5 . Tidak tahu 8. Ya. Ya. Diagnosis Penyebab Kematian Umur 5 Tahun Ke atas (diisi oleh dokter) a. ____bln ____thn 1. Tidak 2. ____bln ____thn 2. Tidak tahu 8. . Tidak 2. Tidak tahu 8. Tuberkulosis/ Flek paru g. Ya. Telah diperiksa oleh Ketua Tim. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ________________________________________________________________________ c. Ya. RESUME RIWAYAT SAKIT 5 TAHUN KE ATAS (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur almarhum/ah: Jenis kelamin: Penyakit yang diderita dan lamanya (Blok III D): Riwayat sakit (Blok III A-C. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ________________________________________________________________________ d. Tidak tahu IV. Tidak 2. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. Asthma h. Tidak 2. gejala. lama sakit ): 69.III D. Ya. Ya. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ________________________________________________________________________ b.c ________________________________________________________ Kode ICD 10 . Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. AUTOPSI VERBAL UNTUK LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN YANG BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS 68 . Tidak tahu 8. Tidak 2. Pengguna narkoba suntik atau pil Jika ya. Tidak tahu 8. Ya. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a. Tidak 2. . Tumor/`kanker j. Sakit kuning f. ____bln ____thn 1. Sakit radang sendi (artritis) d. ____bln ____thn 1. Sakit lambung/ maag e. Tidak tahu 8. berapa lama ? 1. ____bln ____thn 1. untuk tanda. ____bln ____thn 1. Ya. Darah tinggi/ sakit jantung b. Ya. Ya. .

6 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->