Riset Kesehatan Dasar

(RISKESDAS) 2007

Laporan Nasional 2007

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, Republik Indonesia Desember 2008

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA, kita bisa menyelesaikan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kita persiapkan sejak tahun 2006 dan dilaksanakan pada tahun 2007 di 28 provinsi dan tahun 2008 di 5 provinsi wilayah Indonesia Timur. Perencanaan Riskesdas dimulai tahun 2006, dimulai oleh tim kecil yang berupaya menuangkan gagasan dalam proposal sederhana, kemudian secara bertahap dibahas tiap Kamis-Jum’at di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pembahasan juga dilakukan dengan para pakar kesehatan masyarakat, para perhimpunan dokter spesialis, para akademisi dari Perguruan Tinggi termasuk Poltekkes, lintas sektor khususnya Badan Pusat Statistik, jajaran kesehatan di daerah dan tentu saja seluruh peneliti Balitbangkes sendiri. Dalam setiap rapat atau pertemuan, selalu ada perbedaan pendapat yang terkadang sangat tajam, terkadang disertai emosi, namun didasari niat untuk menyajikan yang terbaik bagi bangsa. Setelah cukup matang, dilakukan uji coba bersama BPS di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk menghasilkan penyempurnaan instrumen penelitian. Selanjutnya bermuara pada “launching” Riskesdas oleh Ibu Menteri Kesehatan pada tanggal 6 Desember 2006. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas dilakukan dua tahap, tahap pertama dimulai pada awal Agustus 2007 sampai dengan Januari 2008 di 28 provinsi, tahap kedua pada Agustus-September 2008 di 5 propinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat). Balitbangkes mengerahkan 5.619 enumerator, seluruh (502) peneliti Balitbangkes, 186 dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Labkesda dan Rumah Sakit serta Perguruan Tinggi. Untuk kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun 36,357 spesimen dari sampel anggota rumah tangga usia satu tahun keatas yang berasal dari 540 blok sensus perkotaan di 270 kabupaten/kota terpilih. Proses editing, entry, dan data cleaning sebagai bagian dari manajemen data Riskesdas dimulai pada awal Januari 2008, yang secara paralel dilakukan pula pembahasan rencana pengolahan dan analisis. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan protes, dari sindiran melalui jargon-jargon Riskesdas sampai protes keras. Dan ini merupakan ujud dinamika kehidupan yang indah dalam dunia ilmiah. Kini telah tersedia data dasar kesehatan yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Indonesia berupa seluruh status dan indikator kesehatan termasuk data biomedis, yang tentu saja amat kaya dengan berbagai informasi di bidang kesehatan. Kami berharap data itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peneliti yang sedang mengambil pendidikan master dan doktor. Kami memperkirakan akan muncul ratusan doktor dan ribuan master dari data Riskesdas ini. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, para dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Ahli, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas, termasuk mereka yang wafat selama Riskesdas dilaksanakan.

i

Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam menunjukkan karya baktinya. Kami telah berupaya maksimal, namun sebagai langkah perdana pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas ke-2 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tahun 2010 nanti. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

Jakarta, Desember 2008
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Dr. Triono Soendoro, PhD

ii

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Departemen Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator dan data dasar kesehatan berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dihasilkan melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik daerah, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, data Riskesdas yang menggunakan sampling Susenas Kor 2007, menjadi lebih lengkap untuk mengkaitkan dengan data dan informasi sosial ekonomi rumah tangga. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai angka standar yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia, mengingat sampai saat ini sebagian besar standar yang kita pakai berasal dari luar. Dengan berhasilnya Riskesdas yang baru pertama kali dilaksanakan ini, saya yakin untuk Riskesdas dimasa mendatang dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Karena itu, Riskesdas harus dilaksanakan secara berkala 3 tahun sekali sehingga dapat diketahui pencapaian sasaran pembangunan kesehatan di setiap wilayah, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Untuk tingkat kabupaten/kota, perencanaan berbasis bukti akan semakin tajam bila keterwakilan data dasarnya sampai tingkat kecamatan. Oleh karena itu saya menghimbau agar Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ikut serta berpartisipasi dengan menambah sampel Riskesdas agar keterwakilannya sampai ke tingkat Kecamatan. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada para peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, jajaran Labkesda dan Rumah Sakit, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan.

iii

Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2008

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)

iv

RINGKASAN
A. Ringkasan Eksekutif
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan, yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. Indikator yang dihasilkan berupa antara lain status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada konsep Henrik Blum, merepresentasikan gambaran wilayah nasional, provinsi dan kabupaten/kota. Pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan Riskesdas 2007 adalah: 1. Bagaimana status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota; 2. Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan kesehatan; dan 3. Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik? Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut, dirumuskan tujuan antara lain yaitu penyediaan data dasar status kesehatan dan faktor penentu kesehatan, baik di tingkat rumah tangga maupun tingkat individual, dengan ruang lingkup sebagai berikut: 1. Status gizi; 2. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan; 3. Sanitasi lingkungan; 4. Konsumsi makanan; 5. Penyakit menular, penyakit tidak menular dan riwayat penyakit keturunan; 6. Ketanggapan pelayanan kesehatan; 7. Pengetahuan, sikap dan perilaku; 8. Disabilitas; 9. Kesehatan mental; 10. Imunisasi dan pemantauan pertumbuhan; 11. Kesehatan bayi; 12. Pengukuran anthropometri, tekanan darah, lingkar perut dan lingkar lengan atas; 13. Pengukuran biomedis; 14. Pemeriksaan visus; 15. Pemeriksaan gigi; 16. Berbagai autopsi verbal peristiwa kematian; dan 17. Mortalitas. Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat deskriptif. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error, relative standard error, confidence interval, design effect dan jumlah sampel tertimbang menyertai setiap estimasi variabel. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 berhasil mengumpulkan sebanyak 258.366 sampel rumah tangga dan 987.205 sampel anggota rumah tangga untuk pengukuran berbagai variabel kesehatan masyarakat. Riskesdas 2007 juga mengumpulkan 36.357 sampel untuk pengukuran berbagai variabel biomedik dari anggota rumah tangga yang berumur lebih dari 1 tahun dan bertempat tinggal di desa/kelurahan dengan klasifikasi perkotaan. Khusus untuk pengukuran gula darah, berhasil dikumpulkan sebanyak 19.114 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun. Untuk tes cepat yodium, berhasil dilakukan pengukuran pada 257.065 sampel rumah tangga, sedangkan untuk pengukuran yodium di dalam urin, berhasil dilakukan pengukuran pada 8.473 sampel anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di 30 kabupaten/kota dengan berbagai kategori tingkat konsumsi yodium. Hasil pemeriksaan biomedis akan dilaporkan tersendiri. Keterbatasan Riskesdas mencakup non-random error antara lain: pembentukan kabupaten baru, blok sensus tidak terjangkau, rumah tangga tidak dijumpai, periode waktu pengumpulan data yang berbeda, estimasi tingkat kabupaten tidak bisa berlaku untuk semua indikator, dan data biomedis yang hanya mewakili blok sensus perkotaan. Khusus untuk lima provinsi (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT) baru dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008, sementara 28 provinsi lainnya telah selesai dilaksanakan pada tahun 2007.

v

Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan. Dengan 900 variabel, maka hasil Riskesdas 2007 telah dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis lanjut, pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan, penelusuran hubungan kausal-efek, dan pemodelan statistik. Riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan, misalnya prevalensi gizi buruk yang berada diatas rerata nasional (5,4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18,4%. Namun demikian, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%, dan target Millenium Development Goals sebesar 18,5% pada 2015, telah dapat dicapai pada 2007. Posyandu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78,3%; balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih), ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut adalah 45,4%, 29,1%, dan 25,5%. Sedangkan kegiatan di posyandu untuk pemberian suplemen gizi (47,6%), PMT (45,7%), pengobatan (41,2%) dan imunisasi (55,8%). Secara keseluruhan, cakupan imunisasi pada anak usia 12 – 23 bulan menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86,9%), campak (81,6%), polio tiga kali (71,0%), DPT tiga kali (67,7%) dan terendah hepatitis B (62,8%). Secara keseluruhan, proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11,5% (berdasarkan catatan yang ada), dan ibu hamil yang memeriksaan kehamilan sebanyak 84,5%. Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97,1%) dan penimbangan berat badan ibu (94,8%). Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33,8%) dan pemeriksaan urine (36,4%). Khusus untuk provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua ditemukan sebanyak 60% melahirkan bayinya di rumah. Penolong persalinan yang dominan di perkotaan adalah bidan (61,7%), sedangkan di perdesaan yang dominan adalah dukun bersalin (45,9%). Dari pemetaan penyakit menular, tampak keberhasilan program pengendalian malaria di Jawa-Bali (prevalensi <0,5%). Di lain pihak, ketimpangan juga terlihat jelas dengan adanya prevalensi malaria yang mencapai 26,14%, sembilan kali lebih besar dari prevalensi nasional atau 145 kali lebih besar dari prevalensi yang terendah, yaitu 0,18%. Untuk mencegah penyebaran malaria diperlukan program pengobatan yang cepat dan tepat. Riskesdas 2007 menggambarkan kesadaran masyarakat untuk berobat dan akses terhadap obat malaria program secara nasional sebesar 47,7%, walaupun beberapa provinsi sudah menunjukkan tingkat pengobatan malaria dalam 24 jam pertama cukup tinggi. Untuk diare, penggunaan oralit dalam 24 jam pertama juga masih di bawah 50%, kecuali pada kelompok balita –di mana prevalensinya tertinggi- penggunaan oralit sudah di atas 50%. Selain itu, Riskesdas 2007 juga memperlihatkan perubahan epidemiologis penyakit, contohnya demam berdarah dengue, yang prevalensi tertinggi tidak lagi dijumpai pada anak-anak, melainkan pada kelompok dewasa muda (25-34 tahun). Hasil utama Riskesdas 2007 menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik, strok, hipertensi, obese dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan, kemiskinan, dll). Penyakit hipertensi misalnya, tidak berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi (kuintil pengeluaran) seperti pada kuintil 1 (30,5%) dan kuintil 5 (33,0%), dan mulai banyak dijumpai pada kelompok usia muda 15 – 17 tahun (8,3%). Sebaliknya patut diduga penyakit diabetes yang diambil dari 356 kab/kota daerah perkotaan mencakup 24.417 orang (usia > 15 tahun) menunjukkan gambaran lebih tinggi pada kuintil 5 (7,1%) dibanding kuintil 1 (4,1%). Demikian halnya

vi

Tidak ada perbedaan perilaku merokok antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi.8%) dan kebersihan ruangan (78.6%. Kota Magelang (8. Bantul (7.1%).2 tahun).2%).3% (SKRT. Timor Tengah Selatan (40. Jambi. Kota Jakarta Selatan (8. Mamuju Utara (39. penyeban kematian yang terbanyak adalah stroke.4%. Sumatera Barat. dari 12.7% (SKRT 2004) menjadi 21. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Barat. dan 8.5%).8% (Asia 5% .7%).1%). Sulawesi Tenggara.8%). • Secara nasional.4% dan domain ‘kebersihan ruangan’ (82. Aceh Barat Daya (39.9%). sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional. Tabanan (7. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.1%). Sulawesi Tengah. 3 domain seperti ‘waktu tunggu’ tercatat 84.8%). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31. Simeulue (39. Badung (7.0%). Gianyar (6.0%). Ringkasan Hasil Status Gizi Balita • Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5. 2007) Proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. kebutaan 0.3%). Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran. Keadaan ini lebih baik dibanding dengan hasil Surkesnas 2004 yaitu waktu tunggu (78.9% (Riskesdas.4%) dan pnemonia (23.4%). Gorontalo.0% (Susenas 2003) menjadi 33. Sulawesi Barat. masing-masing sebesar 10.7%). Kalimantan Barat.8%). 2007). Riau. Dari ketanggapan rawat inap.9%) dan premature (32.dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT). Kalimantan Selatan.3%). Rote Ndao (40.2%). Maluku Utara. Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi. maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18.2% menurut SKRT 2001.3%). B.8%. Maluku. Prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11. dan Bondowoso (8. Ditemukan peningkatan proporsi usia mulai merokok pada umur <20 tahun. dan Buru (37. Demikian halnya dengan perilaku merokok kelompok penduduk >15 tahun cenderung meningkat.3% (Riskesdas 2007). Nusa Tenggara Timur.2%) dan pnemonia (15. Sedangkan untuk usia > 5 tahun.5%) dan congenital malformations (18.4% (Riskesdas. dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13. vii . baik di perkotaan maupun di perdesaan.9%). dari 10.3%). yaitu terbanyak adalah diare (25. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita tertinggi berturut-turut adalah Aceh Tenggara (48. Kupang (38. Tapanuli Utara (38. Sumatera Utara.0%. Patut diduga bahwa peningkatan jumlah kasus katarak ini berkaitan erat dengan peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia pada periode 2005-2010 (69. Kota Madiun (6. Terdapat 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%). Namun demikian. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita terendah adalah Kota Tomohon (4.8%) yang meningkat dari 1. 2001) menjadi 11. dari penyakit menular ke penyakit tidak menular.3%). Minahasa (6. kejelasan informasi (75.1 tahun) dibanding periode 2000-2005 (66.8%).5%) telah tercapai pada 2007. dari 32. Kepulauan Aru (40.1%).8% (kuintil 1) Prevalensi disabilitas menunjukkan peningkatan yang berarti.6%). Kalimantan Timur.9% dan katarak (1.5% (kuintil 5).7%). Kalimantan Tengah. sedangkan untuk usia (728 hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20.5%).8%). Penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35.2%). ‘kejelasan informasi’ 85.

3%.3%). Kota Batam ( 20. Kalimantan Timur. Gorontalo. Sumatera Utara. Lampung. . prevalensi nasional Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek (stunting) adalah 36.2%). Kalimantan Barat.0%). sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10. dan Luwu Timur (21. Riau. Sumatera Selatan. Sulawesi Tengah. Papua Barat. Nusa Tenggara Barat.6%).9%). Kota Bogor (4.3%. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung. Kota Sukabumi (3.7%).8%). Sumatera Selatan. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. Kota Madiun (21. Banten.6%). Sumatera Selatan. Sumatera Selatan. dan Kapuas Hulu (59. Gayo Lues (59.3%). • Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional. Kalimantan Tengah. Bengkulu. Jawa Timur. Riau. Aceh Tenggara (66. Sumatera Barat. Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur. Simeulue (63.7%). Jambi.1%).5%). Jambi. yaitu DI Aceh. Kota Mojokerto (19. Lampung. Nusa Tenggara Timur. Buru ( 30. Maluku Utara. Bali. Maluku.6%). Sumatera Utara. Lampung. • Sebanyak 25 provinsi mempunyai prevalensi Balita Kurus diatas prevalensi nasional. yaitu Sumatera Utara.0%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus tertinggi adalah Solok Selatan (41.0%).9%.4% (wasting-serius) dan Balita Sangat Kurus adalah 6. Kalimantan Tengah.9%).9%). Banten. Sulawesi Barat. Sorong Selatan (60.7%). • Secara nasional. • Prevalensi nasional Balita Gemuk adalah 12. Kota Jakarta Selatan (20. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Lebih Pada Balita diatas prevalensi nasional. Kalimantan Tengah. Bengkulu. Aceh Barat Daya (60. DKI Jakarta. dan Papua. Asmat (30. Gorontalo.4%). Seruyan (41. Banten. Jawa Timur. Kota Magelang (5. Jawa Timur.7). Nusa Tenggara Timur. dan Bangka (5. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan. Kalimantan Timur. Maluku. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus terendah adalah Minahasa (0%). dan Maluku Utara. Kalimantan Tengah. Sulawesi Barat. Kepulauan Riau. Tapanuli Selatan (31. Riau. Nusa Tenggara Barat. yaitu DI Aceh.5%). Kalimantan Barat. Seram Bagian Barat (31. yaitu DI Aceh. Cianjur (5.4%). Kalimantan Barat. Kalimantan Timur.3%). Manggarai (33. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek tertinggi adalah Seram Bagian Timur (67. Maluku. Bengkulu.6%). Sulawesi Tengah. Kampar (20.2%.2% (wasting-kritis). yaitu DI Aceh.9%). dan Papua Barat. Kepulauan Riau. Sulawesi Tengah. • Prevalensi nasional Balita Kurus adalah 7. Sumatera Barat. Kota Tanjung Pinang (19. Bali.• Prevalensi nasional Gizi Lebih Pada Balita adalah 4.2%). Kota Tomohon (2. Status Gizi Penduduk Umur 6-14 Tahun (Usia Sekolah) • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13. Kalimantan Barat.1). dan Papua Barat. Nias Selatan (67.8%. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. Sulawesi Barat. Wajo (18.6%). • Secara bersama-sama. Kota Bekasi (21. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek terendah adalah Sarmi (16.9%). dan Aceh Utara (29. Tapanuli Utara (61. DKI Jakarta. Sebanyak 18 provinsi mempunyai Balita Gemuk diatas prevalensi nasional. Maluku Utara. Nagan Raya (30.0%). Nusa Tenggara Barat. Bandung (4. Sulawesi Tenggara. Kota Salatiga (4.2%). Sulawesi Tenggara.4%).3%).9%). DI Yogyakarta. Maluku. Sumatera Utara. Kalimantan Timur. Jambi. Timor Tengah Utara (59.9%). Banten. Maluku dan Papua. Sumatera Utara.0%). Jambi.1%). Riau. • Secara nasional. viii . Gorontalo. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek di atas prevalensi nasional.

Sumatera Utara. DKI Jakarta. Kalimantan Timur. • Prevalensi nasional Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 18.5%. • Berdasarkan perbedaan menurut jenis kelamin menunjukkan. yaitu DKI Jakarta. yaitu Bangka Belitung. Jambi. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur diatas prevalensi nasional. Jambi. Bengkulu. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Jawa Timur. DKI Jakarta. Bali. Bengkulu. Banten. Gorontalo.4%. yaitu DI Aceh. yaitu DI Aceh. Sulawesi Tengah. Kepulauan Riau. Status Gizi Penduduk Umur ≥ 15 Tahun • Prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 10. Nusa ix . Sumatera Barat.• Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) diatas prevalensi nasional. Riau. sedangkan prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Perempuan Umur ≥ 15 Tahun adalah 23. Jawa Timur. Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Riau. Banten. Sumatera Selatan. Status gizi Wanita Usia Subur 15-45 tahun • Prevalensi nasional Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13. Sulawesi Selatan. Lampung. Kalimantan Tengah. • Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Lakilaki) diatas prevalensi nasional. yaitu DI Aceh. Maluku.9%. Kepulauan Riau. Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Riau. DKI Jakarta. Kalimantan Barat. DI Yogyakarta. dan Maluku. Sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Jawa Tengah. yaitu DI Aceh. Nusa Tenggara Timur. dan Papua. DI Yogyakarta. • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9. Konsumsi Energi Dan Protein • Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1. dan Papua. Papua Barat. • Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Riau. DKI Jakarta. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6. Jawa Barat. Maluku Utara. Banten. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. dan Papua. Sumatera Selatan. Jambi. Kepulauan Riau. Gorontalo. Sulawesi Utara. Jawa Tengah. Sulawesi Utara.3%. Kalimantan Timur.5 kkal.735. DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah. yaitu Sumatera Utara. Kalimantan Timur. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. bahwa prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Laki-Laki Umur ≥ 15 Tahun adalah 13. Kalimantan Tengah. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Jambi. Maluku. Sumatera Utara. Bengkulu. Sumatera Selatan. dan Papua. Sulawesi Tenggara. yaitu Riau. dan Maluku. Sumatera Selatan. Maluku Utara. Bangka Belitung.6%. Sumatera Selatan. Lampung. Kepulauan Riau. Kalimantan Tengah. Kepulauan Riau. Bali. Jawa Timur. DKI Jakarta. Jawa Barat. dan Papua. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Selatan. Lampung. Papua Barat. Kalimantan Barat. Sulawesi Barat. Jambi. Kalimantan Barat. Jawa Barat.8%. Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Sulawesi Tenggara. Lampung. Papua Barat. Bali. • Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Banten. Riau. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah. Sulawesi Utara. Jawa Timur. Jawa Timur.8%. Kalimantan Barat. Bengkulu. Bangka Belitung.

Status Imunisasi • Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 86. Maluku. Sulawesi Tengah. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional.3% rumah tangga Indonesia mempunyai garam cukup iodium.1%). ternyata persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (30-80 ppm KIO3) adalah 24. dan Rokan Hulu (99. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia tertinggi adalah Nagan Raya (100%). Gorontalo. Sebanyak 16 provinsi mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Bangka Belitung. Gorontalo dan Papua Barat. Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.3%).5%). Sumatera Utara. Jawa Barat.7%. Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah. Sumatera Utara. Bireuen (5. Jawa Tengah. Banten. dan Sulawesi Barat. Maluku Utara. Kalimantan Tengah. yaitu Sumatera Barat. Kalimantan Barat. Maluku.8%). Sulawesi Selatan. Musi Banyuasin (99. Gorontalo. Jawa Barat. Kalimantan Barat. Jawa Timur. Rote Ndao (11. Nusa Tenggara Barat. yaitu Nangroe Aceh Darussalam.5%). Sulawesi Barat. • Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 62. Sulawesi Utara. • Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55. sebanyak 62. Jambi. Sumatera Utara. Kalimantan Tengah. Banten. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Sulawesi Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Sulawesi Utara. • Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 67.7%). Waropen (100%). Sulawesi Barat.5%).5%. Kalimantan Selatan. Maluku Utara. Siak (100%). Gorontalo. Sumatera Selatan. Aceh Utara (12.8%. • Secara nasional. Jambi. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jeneponto (11. Sulawesi Tengah. Karo (99. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Sulawesi Tenggara. Dompu (11. Banten. 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia terendah adalah Pidie (1.8%). Papua Barat dan Papua. Bangka (100%). Sumatera Utara. Lampung. DKI Jakarta. Tolikara (100%). dan Sulawesi Barat. DI Yogyakarta. dan Bima (12. Kalimantan Barat. Papua Barat dan Papua.9%. Flores Timur (11. Jawa Barat. Konsumsi garam beriodium • Secara nasional.4%). Sumatera Barat. Bengkulu. Seram Bagian Timur (10. Sulawesi Selatan. • Dari sampel 30 kabupaten/kota. Maluku. • Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 71. Kalimantan Selatan. Sulawesi Selatan.0%.8%). Sebanyak 6 provinsi telah mencapai target Universal Salt Iodization 2010 (90%).9%). yaitu Sumatera Barat.1%).0%). Sumatera Barat.5 gram. Kepulauan Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Timur. Papua Barat dan Papua. Tabanan (11. Kalimantan Tengah.Tenggara Barat. Sumatera Selatan. Jawa Barat. Kepualauan Mentawai (100%). Bali. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Timur. Merangin (100%). Banten. Nusa Tenggara Barat. Nusa x . Bangka Belitung.

3%). Buru (23.500 gram) adalah 11. dan Wajo (2. Sabang (96. Kalimantan Barat. Sumatera Utara. Kota Surakarta (93. Sulawesi Tenggara.5%).1%). Kalimantan Tengah. Sulawesi Barat. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A dibawah persentase nasional. Kalimantan Barat. yaitu Sumatera Utara. Raja Ampat (96. xi . dan Mandailing Natal (36.8%). Sikka (86. Grobogan (85. Bantaeng (1. yaitu Sumatera Selatan.0%). Takalar (2. Bengkulu. Kota Bontang (81. Jeneponto (1. Riau. Badung (81.5%). Kalimantan Tengah. Bangka Belitung. Banten. • Secara nasional. Sulawesi Selatan.3%). Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak • Persentase nasional Bayi Berat Lahir Rendah (< 2.5%. Semarang (94.4%).7%). Sulawesi Tenggara. Sulawesi Selatan. Dairi ( 35. Kepulauan Riau.9%). Nusa Tenggara Timur. dan Jayawijaya (4.7%). dan Kepulauan Seribu (100. dan Wonosobo (78. Pemantauan Pertumbuhan Balita • Persentase nasional Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir adalah 45.6%).2%). Pangkajene Kepulauan (2. Karanganyar (83.5%. Jambi. yaitu Sumatera Utara.0%). Sulawesi Barat. Sumatera Selatan. Gorontalo. Tolikara ( 28. Sumatera Barat. Bangka Belitung. Sumatera Selatan. Bintan (93.8%).5%).0%). Maluku.3%). Keerom (88.0%). DI Yogyakarta.Tenggara Timur. Kalimantan Selatan. Kepulauan Riau.0%).6%). Mamasa (26.0%). Timor Tengah Utara (84. Maluku.7%). Jawa Barat. Banten. Sumedang (92.0%). Flores Timur ( 85. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Barat. Papua Barat dan Papua.4%).6%). Tolikara (0%). Kota Metro (80. Distribusi Kapsul Vitamin A • Persentase nasional Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A adalah 71.9%). Kapuas (32. dan Gunung Kidul (83. Keerom (86. Kalimantan Tengah. Sidenreng Rappang (0. Sebanyak 19 provinsi mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir dibawah persentase nasional.6%). Jambi. Kulon Progo (92. Asmat (4.7%).9%).9%). Kepulauan Sula (26. Pinrang (1. Kalimantan Barat. Nias Selatan (4. Puncak Jaya (0%). Sulawesi Tengah. Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Malinau (78. Maluku. Labuhan Batu (34.0%). Paniai (0%).0%). Wonogiri (84.2%).1%).7%). Berau (79. Papua Barat dan Papua.3%). • Secara nasional. Bangka Belitung. Paniai (16.6%. dan Sulawesi Barat. Lampung. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93. Maluku Utara.8%). Wonogiri (80.4%. Gayo Lues (1. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin tertinggi adalah Kepulauan Seribu (100. Bone (1. Gowa (1. Temanggung (93.8%).1%).4%).9%).3%). Bangka Belitung. Maluku. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin terendah adalah Maros (0.6%).9%). Riau.2%). Papua Barat dan Papua. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Tengah. Lampung. • Secara nasional. • Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 81. Sulawesi Tengah.9%). Kalimantan Barat. Lembata (93. 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%). Pegunungan Bintang (2. Keerom (94. Yahukimo (0%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A tertinggi adalah Landak (92. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.0%).8%). Banten.0%).5%). 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Anak Umur 659 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A terendah adalah Yahukimo (5. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase Bayi Berat Lahir Lahir Rendah diatas persentase nasional. Papua Barat dan Papua.8%).6%). Bengkulu. Jawa Barat.3%).0%).

Maluku Utara. Maluku. Maluku Utara. Papua Barat.9%). Jawa Tengah. Hanya sebagian kecil ibu di 5 provinsi ini memilih tempat melahirkan di polindes/poskesdes (berkisar antara 0. Sulawesi Tengah. Kota Palembang (6. Bangka Belitung.3%). Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Utara. Pegunungan Bintang (59. Nusa Tenggara Barat. Ngada (58. dan Puncak Jaya (56. dan Papua. Sumatera Barat. Kalimantan Selatan.1%).8%). Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku Utara. Banten. Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Udara • Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25.62%. Nusa Tenggara Timur. Sikka (55. Sulawesi Tengah. Ogan Komering Ulu (6.5%). Papua Barat dan Papua • Persentase tempat melahirkan tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur.99%. Kepulauan Riau. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut diatas prevalensi nasional.8%).3. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi xii .1%). Nusa Tenggara Timur.4%). Kota Pagar Alam (7.13%. Maluku. Sumatera Barat. Papua Barat dan Papua. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. Jambi. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Filariasis diatas prevalensi nasional.0%). Banten. Gorontalo.1%).7%). Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah. Riau. Jawa Barat. Raja Ampat (55. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3.11%. Maluku Utara. Kalimantan Timur. Bengkulu.6%).8%). Manggarai Barat (63. Bangka Belitung. • Prevalensi nasional Pnemonia (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. • Secara nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kota Binjai (5.5%). Sulawesi Tengah. Kalimantan Selatan. Bengkulu. Bangkulu. Maluku Utara. Langkat (7. Maluku Utara.5% . Sulawesi Barat.50%. Nusa Tenggara Timur. Gorontalo. Lembata (62. Kepulauan Riau. • Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0.6%).0%). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pnemonia diatas prevalensi nasional. Kota Denpasar (4. • Prevalensi nasional Malaria (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Tengah. Maluku. yaitu Nangroe Aceh Darussalam.1%). Papua Barat dan Papua adalah di rumah (berkisar antara 65.8%).Kalimantan Tengah.7%).85%. Papua Barat dan Papua.3%). dan Pontianak (8. dan Papua. DKI Jakarta. • Prevalensi nasional Demam Berdarah Dengue (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Penyakit Menular – Ditularkan Vektor • Prevalensi nasional Filariasis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0.5%). dan Papua. Sulawesi Selatan. • Tempat Melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur. Kota Pasuruan (8. Papua Barat dan Papua. Papua Barat.4% . Nusa Tenggara Barat. Papua Barat.7%).85. Maluku. Sorong Selatan (56. Manggarai (61. Maluku. DKI Jakarta. Pulang Pisau (6. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Malaria diatas prevalensi nasional. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Demam Berdarah Dengue diatas prevalensi nasional. Gorontalo.

DKI Jakarta. Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan.60%. Sulawesi Tenggara. dan Jeneponto (51. Mamasa (50. Sulawesi Utara. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Sendi diatas persentase nasional. Jawa Tengah. Jawa Barat. Jawa Tengah. Ogan Komering Ulu (8.1%). • Prevalensi nasional Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29. Kalimantan Timur. Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Makanan dan Minuman • Prevalensi nasional Tifoid (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1.00%. Lembata (57. DI Yogyakarta.6%). Nusa Tenggara Barat.5%). Barito Timur (11. Nusa Tenggara Barat.18%. Kalimantan Selatan.8% (berdasarkan pengukuran). Jawa Timur. Nusa Tenggara Barat. Wonogiri (49.2%). Penyakit Tidak Menular • Prevalensi nasional Penyakit Sendi adalah 30. Nusa Tenggara Timur. Riau. Sumedang (55.1%). Kalimantan Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Banten. Riau. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah. Ogan Komering Ulu Timur (10.9%). Jawa Tengah. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun tertinggi adalah Natuna (53. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi terendah adalah Yakuhimo (0. Bangka Belitung. Karo (11. Jawa Barat. Cianjur (56. Katingan (49. Majalengka (51. Tolikara ( 53. Sulawesi Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Jawa Barat.5%). Papua Barat dan Papua. Kota Makassar (12. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Hepatitis diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. Jambi. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur. Papua Barat. Sulawesi Tengah. Gorontalo. Sulawesi Tenggara. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun diatas prevalensi nasional. Jawa Tengah. dan Sulawesi Barat. Kalimantan Selatan.7%).Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional. Kalimantan Selatan. • Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 9. DKI Jakarta. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Barat. Bengkulu. Garut (55. Gorontalo.8%). Maluku Utara.3%). • Secara nasional. Nusa Tenggara Barat. Bengkulu.7%). Papua Barat dan Papua.3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala).1%). Riau. Siak (9.60%. Sebanyak . Manggarai (54.7%). DI Yogyakarta. • Prevalensi nasional Campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1.0%). Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • Secara nasional. dan Papua Barat.9%). • Prevalensi nasional Hepatitis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Kota Payakumbuh (11.6%). Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat dan Papua. Rokan Hilir (47. yaitu Riau. Banten. provinsi mempunyai prevalensi Tifoid diatas prevalensi nasional. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur.9%).4%). Jawa Tengah.6%).9%).7%). Sulawesi Tengah. Kota Binjai (10. Sumatera Barat.2%). Tasikmalaya (56.9%). Gorontalo. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Banten. Sulawesi Selatan. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi tertinggi adalah Sampang (57. Riau.. Kalimantan Selatan. xiii .5%).5%). Sumatera Barat. Sulawesi Selatan. Sumatera Barat. Bali. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Campak diatas prevalensi nasional. Sumatera Barat. Hulu Sungai Selatan (48. Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Papua. Kalimantan Tengah.

Sorong Selatan (10.0%).6%).5%). Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Glaukoma diatas prevalensi nasional. Sumatera Barat. DKI Jakarta. Serdang Bedagai (0. Kepulauan Riau. dan Nusa Tenggara Barat.6%). Bangka Belitung.5%). Jawa Barat. Gorontalo. Tapin (46. Bangka Belitung. Jawa Tengah.Kuantan Senggigi (46. Nusa Tenggara Timur.2%).6%).9%). Jawa Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Jantung diatas prevalensi nasional. Kaimana (10. dan Papua Barat. yaitu xiv . Jawa Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Selatan. Sumatera Barat. Gorontalo. Bengkulu Selatan (11. Buol (13. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • Prevalensi nasional Penyakit Jantung adalah 7. Teluk Wondama (9.5% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). yaitu Sumatera Barat.2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). DKI Jakarta.6%). Jawa Barat. Gorontalo. Sulawesi Tenggara. dan Papua Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.9%). dan Papua Barat.3%). DKI Jakarta.5%). DKI Jakarta.5%). dan Manggarai (9.8%). dan Tulang Bawang (15.7%). Gorontalo.2%). Sumatera Selatan.5%). Sulawesi Utara.2%). Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Utara. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0.1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). dan Sulawesi Selatan. Pegunungan Bintang (13. Tapanuli Selatan (0.6%). Sumba Barat (11. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma tertinggi adalah Aceh Barat (13. Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat. Sulawesi Utara.6%). Kepulauan Riau. Kepulauan Riau.7% (berdasarkan keluhan responden).6%).0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Nusa Tenggara Timur. Banjar (9. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Selatan. dan Kota Salatiga (45. Sarmi (14.0%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Tumor/Kanker diatas prevalensi nasional.1%). DKI Jakarta.5%). Jawa Barat. • Secara nasional.2%). • Prevalensi nasional Strok adalah 0. Karo (0. DKI Jakarta. Kepulauan Riau. DI Yogyakarta. Sebanyak 6 provinsi mempunyai prevalensi Buta Warna diatas prevalensi nasional.6%). Bener Meriah (46. Lampung Tengah (). Sulawesi Tenggara. Riau. Sumatera Barat. Soppeng (0. Nusa Tenggara Barat. Langkat (0.4%). Kalimantan Timur. Lampung Utara (0. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Jiwa Berat diatas prevalensi nasional.7%). Jawa Timur. Tana Toraja (9. Kediri (0.5%). Kalimantan Selatan.4% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional. Yahukimo (13. Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan. dan Kota Binjai (0.1%).0%). Pohuwato (13. • Prevalensi nasional Penyakit Asma adalah 4. • Prevalensi nasional Glaukoma adalah 0.1%). • Prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0.7%). Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. Banten. • Prevalensi nasional Penyakit Tumor/Kanker adalah 0. Boalemo (11. DI Yogyakarta.6%). Riau. Bali. Seluma (14.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah. DI Yogyakarta. Jawa Tengah.5% (berdasarkan keluhan responden). Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Stroke diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Buta Warna adalah 0. • Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1. Tolikara (12. Sulawesi Utara. Kepulauan Mentawai (11. Sumatera Barat. Kalimantan Selatan.

Jawa Tengah. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Rhinitis diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Timur. Gorontalo. Papua Barat dan Papua. Nusa Tenggara Barat. Belitung Timur (31. Sulawesi Tengah. Karimun (1. Sidoarjo (1. Kepulauan Riau. DKI Jakarta. DKI Jakarta. Gorontalo. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional.7%). Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Talasemia diatas prevalensi nasional. dan Gorontalo. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1. Maluku Tengah (2. Sulawesi Utara. dan Gorontalo. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Jawa Tengah.9%). Bangka Belitung. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Low Vision diatas prevalensi nasional. Boalemo (29. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kepulauan Riau. dan Papua Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Bibir Sumbing diatas prevalensi nasional. dan Gorontalo.5%). • Prevalensi nasional Hemofilia adalah 0. Bengkulu. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Riau. • Prevalensi nasional Rhinitis adalah 2. Sulawesi Tengah. Kepulauan Riau. Sumatera Selatan. Kalimantan Selatan. Jawa Tengah.0%). Kalimantan Tengah.9%) dan Kota Malang (29. Sumatera Barat. Kepulauan Riau.7% (berdasarkan keluhan responden).8% (berdasarkan keluhan responden). visus < 3/60). Jawa Barat. Banjarnegara (30. Kalimantan Tengah. Bengkulu. Sulawesi Utara.4%).6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). Sulawesi Selatan.1%). dan Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur. Jawa Barat. Manggarai (32. Tabalong (2.1% (berdasarkan keluhan responden). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33. Jawa Timur. Maluku. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Gorontalo. Bengkulu.4%). Bangka Belitung. DI Yogyakarta. dan Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan.Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa xv . Nusa Tenggara Barat. DKI Jakarta. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Hemofilia diatas prevalensi nasional. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Dermatitis diatas prevalensi nasional.2% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). Kepulauan Riau.4%). • Prevalensi nasional Dermatitis adalah 6.9%). • Prevalensi nasional Talasemia adalah 0. Sumatera Selatan. DKI Jakarta.4%). DI Yogyakarta. Jawa Timur. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan.7%). Sumatera Selatan. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan. Jayapura (1. DI Yogyakarta.8% (berdasarkan hasil pengukuran. Pulang Pisau (1. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah.4% (berdasarkan keluhan responden). DKI Jakarta.1%). • Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 11. • Prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. dan Papua Barat. Sumatera Utara. Nusa Tenggara Barat.4%). dan Muaro Jambi (2. Sumatera Barat. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Sumatera Barat.9%).6%). Kota Baru (2. • Prevalensi nasional Bibir Sumbing adalah 0. visus <20/60 – 3/60). Bangka Belitung. Sumatera Selatan.9% (berdasarkan hasil pengukuran. Sumatera Barat.6%). Sulawesi Tengah. Jawa Barat. Kudus (2. Bengkulu. Sulawesi Selatan. Purwakarta (32. Lampung.9%). DKI Jakarta. Aceh Selatan (32. Kepulauan Riau.0%). • Persentase nasional Low Vision adalah 4. Nusa Tenggara Timur. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jawa Timur. Cirebon (29. • Secara nasional.

Sebanyak 21 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Kalimantan Timur. Jambi. Bengkulu. Sulawesi Barat.00 g/dl.5%). Sulawesi Tengah. Riau. Bondowoso (3.6%). Nusa Tenggara Barat.1%.Barat. Jeneponto (40. Sulawesi Tenggara.6%). Sulawesi Tengah.1%). Sulawesi Barat. • Prevalensi nasional Karies Aktif adalah 43. Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Bali. Boalemo (47. Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Papua Barat dan Papua. Kalimantan Selatan. Bali.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Gorontalo. • Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18. dan Papua Barat. Jawa Tengah. Gorontalo. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53. Kalimantan Tengah.8%). Riau. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta. Jawa Tengah. dan Maluku Utara. yaitu Sumatera Utara. Sumatera Selatan. Sulawesi Selatan. Jambi. Maluku Tenggara (38. Sulawesi Selatan. Maluku Utara.0%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1. Kalimantan Selatan. Sumatera Utara. Sumatera Selatan. Jambi.1%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%. Bengkulu. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional. Papua Barat dan Papua. Jombang (3. • Secara nasional. Sebanyak 14 provinsi memiliki prevalensi Karies Aktif diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Gosok Gigi Setiap Hari adalah 91. Aceh Barat Daya (41. Pidie (40. Sumatera Barat. Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Masalah Gigi-Mulut diatas prevalensi nasional.8%). Bangka Belitung.5%). Maluku. dan Luwu Utara (35. Pasaman (39. Lampung. Nusa Tenggara Barat. Maluku. Timor Tengah Utara (36. Kampar (35. Jawa Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.2%). Sulawesi Selatan. Kalimantan Tengah.2%). Lampung. Banten.6%). Pengukuran Biomedis (Anemia dan Diabetes Mellitus) • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13.3). Kalimantan Barat. Bengkulu. Jawa Tengah.6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sumatera Barat.6%). Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. Sumatera xvi . • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa adalah 14. Maluku. • Prevalensi nasional Masalah Gigi-Mulut adalah 23. Sulawesi Barat.5%). Madiun (2. Sulawesi Tengah. Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Nusa Tenggara Timur.67 g/dl.5%). Jambi. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional. Karanganyar (2. Kota Magelang (2.5%).6%).7%). DKI Jakarta. Kalimantan Selatan. DI Yogyakarta. Kota Metro (1. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Kalimantan Barat. DI Yogyakarta. • Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1. Mojokerto (3. dan Karo (3. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Gosok Gigi Setiap Hari dibawah prevalensi nasional. Lampung Utara (3. Sulawesi Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Barat.4%. dan Maluku. Sulawesi Tenggara. Di Yogyakarta. Jawa Timur. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Barat. Bali. yaitu Nanggroe Aceh Darusalam. Jawa Tengah. dan Papua Barat. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Utara. yaitu Riau.

Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan. DKI Jakarta.5%). Sumatera Selatan. Jawa Timur.6%). Gorontalo. Sumatera Selatan. Nusa Tenggara Timur. Disability and Health) yang paling menonjol adalah gangguan penglihatan jarak jauh (11. Maluku. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah. dan Sulawesi Barat. DKI Jakarta. Sulawesi Tenggara. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau. Lampung. dan Maluku Utara.7%. Kalimantan Selatan. Bengkulu. Jawa Timur. Kalimantan Selatan. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur. Riau. Jawa Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.67 g/dl.7%). Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. bertempat tinggal di perkotaan) adalah 10. yaitu Sumatera Barat. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun (berdasarkan International Classification of Functioning. Nusa Tenggara Barat. Riau. Sulawesi Barat. Maluku. Nusa Tenggara Barat. kecelakaan transportasi darat (25. gangguan penglihatan jarak dekat (11. dan Papua Barat. Sulawesi Tengah.9%) dan terluka benda tajam (20. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. yaitu Bengkulu. Jawa Timur. Sulawesi Tengah. Jawa Tengah. dan Papua Barat.7%. Bali. Kalimantan Timur. Kalimantan Barat. DI Yogyakarta.6%). Bangka Belitung. • Prevalensi nasional Toleransi Glukosa Terganggu (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun. Jawa Barat. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. DI Yogyakarta. • Persentase nasional 3 penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (58. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5% (berdasarkan pengakuan responden. Gorontalo. yaitu Sumatera Barat. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Cedera diatas prevalensi nasional. • Prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5. dan Maluku Utara. Bangka Belitung. Maluku Utara. Sumatera Utara. Sulawesi Utara. Kalimantan Tengah. Jawa Barat. Jawa Tengah. • Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun adalah 12. Banten. Jawa Tengah. Sulawesi Utara. Banten. Riau. Jawa Barat. Lampung. Kalimantan Selatan. Jawa Timur. Sumatera Barat. • Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun adalah 19.Utara. Kalimantan Barat. Papua Barat dan Papua. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu diatas prevalensi nasional. Lampung. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. Banten. Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah.2%. Jawa Tengah. Gorontalo.5%. Bangka Belitung.0%). Sulawesi Selatan. Bangka Belitung. yaitu Sumatera Barat. Jawa Tengah. Gorontalo. Jambi. Jawa Tengah. Kalimantan Selatan. xvii . Perilaku Merokok • Persentase nasional Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 23. dan Maluku Utara. DKI Jakarta. Gorontalo. Nusa Tenggara Barat. DI Yogyakarta. Sebanyak 14 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun dibawah nilai rerata nasional. Jawa Tengah. dan gangguan berjalan jauh (11. Sulawesi Utara. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. Banten. untuk berbagai penyebab cedera). Cedera dan Disabilitas • Prevalensi nasional Cedera adalah 7.

yaitu Sumatera Utara. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Asmat (53. Kota Bukit Tinggi (17.5%).2%). Sulawesi Selatan.3%). Mappi (44. Papua Barat. Melawi (34. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Pacitan (68. Bali. Kepulauan Riau.2%). Kalimantan Barat. dan Papua Barat. Banten. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. Bungo (18. Sumatera Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota mempunyai dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Kota Padang (11.6%).4%).7%. Sulawesi Selatan. Riau. Boven Digul (36.4%).8%).0). Gunung Kidul (65. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Sulawesi Selatan.2%).4%).4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Kepulauan Riau. Kota Kupang (11.3%).8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Puncak Jaya (8. Jawa Barat. DKI Jakarta. Maluku. • Secara nasional. Sulawesi Tenggara. Temanggung (36. Nusa Tenggara Timur.6%). Maluku.3%).2%). Probolinggo (34. Langsa (17. Sumatera Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Barat. Pontianak (13. Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur • Prevalensi nasional Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 93. Magetan (63.2%.4%). Jambi.3%). Kota Lubuk Linggau (12. Aceh Timur (19. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional.4%). dan Papua.9%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir diatas prevalensi nasional.9%).• Secara nasional. Nusa Tenggara Barat. Kepulauan Riau.8%). xviii . Perilaku Aktifitas Fisik • Prevalensi nasional Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 48.5%). Ogan Komering Ulu Timur (62. Kota Ambon (15. Bangka Belitung. Gorontalo.8%). dan Sulawesi Tengah. Bangli (62. Sulawesi Tengah. Bali.0). Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung • Prevalensi nasional Pernah Mendengar Flu Burung adalah 64. Humbang Hasundutan (62. Riau. Bangka Belitung.9%). Perilaku Minum Minuman Beralkohol • Prevalensi nasional Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir adalah 4. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Seram Bagian Barat (19. Maluku. Kota Tomohon (61. Karo (40. Sidoarjo (14.9%).5%). Sulawesi Utara. Kalimantan Timur.6%. Buton (15.8%). dan Maluku Utara.9%). Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Timur.9%). Kota Samarinda (18.0%). • Secara nasional. Sekadau (62.6%. Jawa Tengah. Maluku Utara. Kepulauan Riau. Bali. Sumatera Selatan. DKI Jakarta.7%). Sumatera Selatan. Yapen Waropen (15. Sulawesi Utara. dan Toba Samosir (61. Kalimantan Timur. Jawa Barat. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar Flu Burung dibawah prevalensi nasional.1%).3%).3%). 85. Dairi (61. dan Lampung Barat (33. Sumatera Utara. Jawa Barat.6%). Kalimantan Selatan.5%). Banten. Manokwari (13. dan Tabalong (15. Kota Payakumbuh (13. Sulawesi Utara. DI Yogyakarta.5%). Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan. Barru (15. Sedangkan jenis rokok yang paling diminati adalah kretek dengan filter (64.7%). Wonosobo (34. yaitu Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional. Kalimantan Barat. Lampung.4%). Kota Balikpapan (19. Sumatera Barat. Pegunungan Bintang (35.

• Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) adalah 78,7%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) dibawah prevalensi nasional, yaitu Sumatera Barat, Riau, Bangka Belitung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pengetahuan dan Sikap tentang HIV/AIDS • Prevalensi nasional Pernah Mendengar HIV/AIDS adalah 44,4%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar HIV/AIDS dibawah prevalensi nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara. • Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) adalah 13,9%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) dibawah prevalensi nasional, yaitu Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Perilaku Higienis • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar adalah 71,1%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan adalah 23,2%. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Pola Konsumsi Makanan Berisiko • Secara nasional, prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur > 10 tahun adalah Penyedap (77,8%), Manis (68,1%), dan Kafein (36,5%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai penduduk umur > 10 tahun yang mengkonsumsi Penyedap diatas prevalensi nasional, yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Barat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • Prevalensi nasional Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah 38,7%. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat dibawah prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau,

xix

Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terendah adalah Raja Ampat (0%), Supiori (0%), Gayo Lues (1,3%), Kepulauan Mentawai (1,4%), Nias Selatan (1,8%), Jayawijaya (2,1%), Paniai (2,1%), Nagan Raya (2,2%), Nias (3,0%), dan Timor Tengah Selatan (3,8%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertinggi adalah Klungkung (100%), Badung (100%), Sumedang (68,8%), Kota Batu ( 67,1%), Gianyar (66,7%), Soppeng (64,7%), Kota Tomohon (63,4%), Kota Kendari (62,1%), Sukoharjo (61,3%), dan Kuningan (60,5%). Akses Ke Sarana Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu, Dokter Praktek, Bidan Praktek) • Secara nasional, sebanyak 94,1% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana pelayanan kesehatan dan sebanyak 90,8% rumah tangga dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit. • Sebanyak 18 provinsi mempunyai persentase rumah tangga berada lebih dari 5 km dari sarana pelayanan kesehatan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bangka Belitung, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Akses Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu, Poskesdes, Polindes) • Secara nasional, sebanyak 98,4% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat, dan sebanyak 96,5% rumah tangga dapat mencapai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat kurang atau sama dengan 30 menit. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang berada kurang • atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat diatas persentase nasional, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sebanyak 27,3% rumah tangga memanfaatkan posyandu, 62,5% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu karena tidak membutuhkan, dan 10,3% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu untuk alasan lainnya. Rawat Inap • Secara nasional, persentase tertinggi tempat rawat inap yang dipilih rumah tangga adalah Rumah Sakit Pemerintah (3,1%), Rumah Sakit Swasta (2,0%) dan Puskesmas (0,8%). • Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Rumah Sakit Pemerintah untuk tempat rawat inap dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku.

xx

• Sebanyak 6 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Puskesmas untuk tempat rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Papua. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat inap adalah Dari Kantong Sendiri (71,0%), Askes/Jamsostek (15,6%), dan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (14,3%). • Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat inap diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Lampung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Rawat Jalan • Secara nasional, persentase tertinggi yang dipilih rumah tangga untuk tempat rawat jalan adalah Rumah Sakit Bersalin (14,8%), Tenaga Kesehatan (13,9%), dan Rumah Sakit Pemerintah (1,6%). • Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih tenaga kesehatan sebagai tempat untuk rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Utara, Gorontalo. • Secara nasional, sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat jalan adalah Dari Kantong Sendiri (74,5%), Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (10,8%), dan Askes/Jamsostek (9,8%). • Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat jalan diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Ketanggapan Pelayanan Kesehatan • Secara nasional, 3 aspek Ketanggapan Pelayanan Kesehatan yang memperoleh penilaian baik terendah dari rumah tangga adalah Kebersihan Ruangan (82,9%), Kebebasan Memilih Sarana (84,5%), dan Waktu Tunggu (84,8%). • Sebanyak 22 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memberikan penilaian baik atas Kebersihan Ruangan dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Air Bersih • Persentase nasional rumah tangga dengan rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter adalah 14,4%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter dibawah persentase nasioal, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat,

xxi

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat. Fasilitas buang air besar • Persentase nasional rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri adalah 60,0%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Sarana Pembuangan Air Limbah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah adalah 24,9%. Sebanyak 23 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Pembuangan sampah • Persentase nasional rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72,9%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah diatas persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Perumahan • Persentase nasional rumah tangga dengan rumah berlantai tanah adalah 13,8%. Sebanyak 7 provinsi mempunyai persentase rumah tangga dengan rumah berlantai tanah diatas persentase nasional, yaitu Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Pemeliharaan Ternak • Secara nasional terdapat 39,4% rumah tangga yang memelihara unggas, 11,6% memelihara ternak sedang, 9,0% memelihara ternak besar dan 12,5% memelihara binatang jenis anjing, kucing atau kelinci. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10-20% memeliharanya di dalam rumah. Mortalitas • Gambaran nasional selama 12 tahun (1995–2007) menunjukkan bahwa proses transisi epidemiologi telah berlangsung seiring dengan transisi demografi. Transisi epidemiologi ditandai dengan pergeseran penyebab kematian dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Transisi demografi ditandai dengan pergeseran proporsi kematian dari struktur penduduk umur muda ke arah penduduk umur yang lebih tua. • Penurunan proporsi penyakit menular sebagai penyebab dasar kematian tahun 2001-2007 tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (1995-2001). Di lain pihak, peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 19952001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama. Dengan demikian Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan menghadapi beban ganda,

xxii

yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap, serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat. • Selanjutnya, proporsi penyakit/gangguan yang berhubungan dengan kematian maternal serta kematian perinatal tidak berubah dalam periode terakhir (2001-2006). Upaya-upaya peningkatan pelayanan berkualitas untuk kehamilan, persalinan, masa nifas perlu terus menerus ditingkatkan untuk menurunkan kematian maternal dan perinatal.

xxiii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i Sambutan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ..............................................iii Ringkasan............................................................................................................. v Daftar isi............................................................................................................ xxiv Daftar Tabel, gambar, dan grafik ..................................................................... xxvii Daftar Singkatan ..................................................................................................xli Daftar Lampiran ................................................................................................. xliv BAB 1. 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 1.9 BAB 2. 2.1 2.2 2.3 Pendahuluan ........................................................................................ 1 Latar Belakang......................................................................................... 1 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 .............................................................. 2 Pertanyaan Penelitian.............................................................................. 2 Tujuan Riskesdas .................................................................................... 3 Kerangka Pikir ......................................................................................... 3 Alur Pikir Riskesdas 2007 ........................................................................ 4 Pengorganisasian Riskesdas................................................................... 5 Manfaat Riskesdas .................................................................................. 6 Persetujuan Etik Riskesdas ..................................................................... 6 Metodologi Riskesdas .......................................................................... 7 Disain....................................................................................................... 7 Lokasi ...................................................................................................... 7 Populasi dan Sampel ............................................................................... 8 Penarikan Sampel Blok Sensus ........................................................ 8 Penarikan Sampel Rumah Tangga ................................................... 8 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga ..................................... 8 Penarikan Sampel Biomedis ............................................................. 9 Penarikan Sampel Iodium ................................................................. 9

2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4 2.3.5 2.4 2.5 2.6

Variabel.................................................................................................. 13 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data.............................. 14 Manajemen Data ................................................................................... 18 Editing ............................................................................................. 18 Entry................................................................................................ 18 Cleaning .......................................................................................... 18 xxiv

2.6.1 2.6.2 2.6.3

2.7 2.8 BAB 3. 3.1

Keterbatasan Riskesdas ........................................................................ 19 Pengolahan dan Analisis Data............................................................... 20 Hasil dan Pembahasan ...................................................................... 34 Gizi ........................................................................................................ 34 Status Gizi Balita ............................................................................. 34 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)............... 45 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas .............................. 48 Konsumsi Energi dan Protein.......................................................... 56 Konsumsi Garam Beriodium ........................................................... 60 Status Imunisasi .............................................................................. 66 Pemantauan Pertumbuhan Balita ................................................... 71 Distribusi Kapsul Vitamin A ............................................................. 80 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak................................ 82 Prevalensi Filariasis, Demam Berdarah Dengue dan Malaria ......... 99 Prevalensi ISPA, Pnemonia, Tuberkulosis (TB), dan Campak...... 103 Prevalensi Tifoid, Hepatitis, Diare ................................................. 107 Penyakit Tidak Menular Utama, Penyakit Sendi, dan Penyakit Gangguan Mental Emosional ........................................................ 119 Penyakit Mata ............................................................................... 122 Kesehatan Gigi.............................................................................. 130 Anemia .......................................................................................... 148 Diabetes Mellitus ........................................................................... 156 Cedera .......................................................................................... 160 Status Disabilitas / Ketidakmampuan ............................................ 170 Perilaku Merokok .......................................................................... 174 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur .............................................. 186 Perilaku Minum Minuman Beralkohol ............................................ 189 xxv

3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.3 3.3.1 3.3.2 3.3.3 3.4 3.4.1 3.4.2 3.4.3 3.4.4 3.5 3.5.1 3.5.2 3.6 3.6.1 3.6.2 3.7 3.7.1 3.7.2 3.7.3

Kesehatan Ibu dan Anak ....................................................................... 66

Penyakit Menular ................................................................................... 99

Penyakit Tidak Menular ....................................................................... 110

Keturunan .................................................................................................. 110

Biomedis .............................................................................................. 148

Cedera dan Disabilitas......................................................................... 160

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku........................................................ 174

....................... 275 Kematian Semua Umur.3... 207 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan ............................ 211 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan .......................... 286 Lampiran..................2 3....1 3........10................................................ 278 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan....................................2 3...........................7 3.1 3...........................10 3...7...............3 3.................................................... 231 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan ........ 202 Pola Konsumsi Makanan Berisiko .........6 3..............2 3.. 266 Pembuangan sampah ................................... 192 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS ............... 244 Fasilitas Buang Air Besar ............................. 239 Air Keperluan Rumah Tangga..9. 194 Perilaku Higienis ...........................................................................................9..... 275 Distribusi Kasus Kematian ................9.......3 Perilaku Aktifitas Fisik .....10.............................8 3........................................ 268 Perumahan......................... 205 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat .............4 3..... 211 Kesehatan Lingkungan .5 3..................................................8......9.......................7......................................................8 3........................................9...........................................10..........7........... 244 Daftar Pustaka .............................5 3.........................................................9 3........8............................7...... 276 Kematian Menurut Kelompok Umur .......................... 291 xxvi ..1 3.................................................. 270 Mortalitas ..........................................................8...................................7.......... 258 Sarana pembuangan air limbah .............4 3...................3 3..

Tabel 2.3. Riskesdas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil 22 Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil 23 Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita 24 hasilPengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun 25 hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 26 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 27 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 28 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 29 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 31 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Tabel 2.9 Tabel 2.12 Tabel 2.7. DAN GRAFIK Nomor Tabel Tabel 1. 2007 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari 21 Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan. Tabel 2.8 Tabel 2. Tabel 2.5.14 xxvii .2 Tabel 2. Tabel 2.4.1. Tabel 2.13.1 Tabel 2. 2007 Jumlah Sampel Anggota Rumah tangga (ART) per Provinsi 12 menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.10 Tabel 2.DAFTAR TABEL. Tabel 2.11 Tabel 2.6 Nama Tabel Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Hal 2 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 10 2007 Jumlah Sampel Rumah tangga (RT) per Provinsi menurut 11 Susenas 2007 dan Riskesdas. GAMBAR.

4. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun 56 menurut Karakteristik Responden.1. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 53 Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut 47 Karakteristik. Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 2. Riskesdas 2007 54 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun 55 Menurut Provinsi.9 Tabel 3. Umur dan Jenis Kelamin.15 Tabel 3.11 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik 42 Responden.18 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.16 Tabel 3.6 Tabel 3. WHO 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut 46 Jenis Kelamin dan Provinsi.19 xxviii .12 Tabel 3.14 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke 50 Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.16 Tabel 3.10 Tabel 3. 43 Riskesdas 2007 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut 45 Nilai Rerata IMT. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 52 Atas menurut Provinsi. 38 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik 39 Responden. Tabel 3. Tabel 3.5 Tabel 3.13 Tabel 3.3.8 Tabel 3.Tabel 2.2. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT 51 dan Karakteristik Responden.17 Tabel 3. 37 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik 41 Responden. Riskesdas 2007 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut 58 Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) 49 Menurut IMT dan Provinsi. 35 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi. Tabel 3.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 32 hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga 33 Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.7 Tabel 3.

Tabel 3.32 Tabel 3.33 Tabel 3.30 Tabel 3.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 59 Rendah dari Rerata Nasional. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 75 Terakhir dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 71 Dasar menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 69 Dasar menurut Karakteristik Responden.29 Tabel 3.39 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 65 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi. Riskesdas 2007.38 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 73 Terakhir dan Karakteristik Responden.36 Tabel 3. 76 Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik 77 Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 67 Dasar menurut Provinsi.28 Tabel 3.22 Tabel 3. 78 Riskesdas 2007 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik 79 Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.20 Tabel 3.31 Tabel 3.37 Tabel 3.26 Tabel 3.27 Tabel 3. Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup 61 Iodium menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi 70 Dasar menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam 63 mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium 62 Menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih 60 Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita . Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 80 Vitamin A menurut Provinsi.23 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan 72 Terakhir dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan 74 Terakhir dan Provinsi.24 Tabel 3.35 Tabel 3.25 Tabel 3. Riskesdas 2007 64 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.34 Tabel 3. Riskesdas 2007 xxix .

Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 86 menurut Provinsi.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 94 Provinsi.57 Tabel 3.54 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan 95 Karakteristik Responden. Malaria dan 101 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 91 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden. Riskesdas 92 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus Responden.46 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis.41 Tabel 3.40 Tabel 3. Demam Berdarah Dengue. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 83 Karakteristik. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 88 Kehamilan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi. Riskesdas 2007 menurut Karakteristik 93 Tabel 3.52 Tabel 3.48 Tabel 3.51 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan 82 Provinsi.58 xxx . Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 85 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan 89 Kehamilan dan Karakteristik Responden.42 Tabel 3.43 Tabel 3.56 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi 96 Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.44 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 97 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi 87 menurut Karakteristik Responden.47 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan 98 dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan 90 menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.49 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul 81 Vitamin A menurut Karakteristik Responden.50 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir 84 menurut Provinsi.Tabel 3.53 Tabel 3.45 Tabel 3.

Pneumonia. TB. Talasemi.62 Tabel 3. Diare menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid.66 Tabel 3. Glaukoma. dan Campak menurut 106 Karakteristik Responden. Buta 118 Warna. Rhinitis. Hepatitis. Dermatitis.61 Tabel 3.73 Tabel 3. dan Strok menurut 111 Provinsi.64 Tabel 3.68 Tabel 3. Dan Tumor 116 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 120 Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk 121 berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.74 xxxi .69 Tabel 3.72 Tabel 3.Tabel 3. TB. Riskesdas 108 2007 Prevalensi Tifoid. Diabetes Mellitus.71 Tabel 3. dan Strok menurut 113 Karakteristik Responden. Demam Berdarah Dengue. 124 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 125 menurut Provinsi. 123 Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. Diabetes* Dan Tumor** 115 menurut Provinsi.62 Tabel 3.60 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 127 Menurut Karakteristik Responden. Hipertensi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma.65 Tabel 3. Riskesdas 2007 Diare menurut Karakteristik 109 Tabel 3.63 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma*. Hipertensi. Malaria dan 102 Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 128 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Persendian. Responden. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.67 Prevalensi Penyakit Persendian. Sumbing. Jantung. Pneumonia. Jantung*.59 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. Hepatitis. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. dan Campak menurut 104 Provinsi.70 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 145 menurut Karakteristik Responden.90 Tabel 3.78 Tabel 3. M. Anak-anak dan Ibu Hamil.81 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 147 Normal Gigi.Tabel 3. 140 Riskesdas 2007 Komponen D.83 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 135 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.Riskesdas 2007 Bermasalah Gigi-Mulut menurut 131 menurut 133 Tabel 3. Protesa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk Provinsi. Riskesdas 2007 Tabel 3.91 Tabel 3.82 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut 143 Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi 146 Normal Gigi.88 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut 149 Provinsi Riskesdas 2007 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan 134 Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.85 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index 144 menurut Provinsi. Protesa dan Provinsi.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 129 yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden. Edentulous. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik 141 Responden.79 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut Karakteristik Responden.77 Tabel 3.93 xxxii . Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 142 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.150 laki Dewasa.89 Tabel 3.87 Tabel 3.92 Tabel 3.80 Tabel 3. Edentulous. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 138 Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.76 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 137 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok 136 Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku 139 Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Komponen D.86 Tabel 3.84 Tabel 3. M.

Tabel 3.108 Tabel 3. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut 165 Karakteristik Responden. Obesitas Abdominal dan 159 Hipertensi Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah 160 dan Aktifitas Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi. Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Dewasa PerkotaanMenurut 152 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut 173 Status dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.100 Tabel 3.101 Tabel 3.112 Tabel 3. 166 Riskesdas 2007.97 Tabel 3.109 Tabel 3.106. DDM dan UDDM pada penduduk perkotaan 156 di Indonesia Riskesdas 2007 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus 157 menurut Provinsi di Daerah Perkotaan.105 Tabel 3. Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.111 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut 151 Provinsi. Riskesdas 2007.103 Tabel 3.102 Tabel 3. 169 Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang 170 Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.114 xxxiii . Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 175 Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.94 Tabel 3.113 Tabel 3.106 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3.154 Anak Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain 154 Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 155 2007 Prevalensi TGT.99 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.104 Tabel 3. Riskesdas 2007 dan 167 168 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.107 Tabel 3. 164 Riskesdas 2007 Tabel 3. DM.95 Tabel 3.98 Tabel 3. 158 Riskesdas 2007 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua 159 Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun KeatasMenurut 172 Status dan Provinsi.110 Tabel 3.96 Tabel 3.

131 Tabel 3.Tabel 3.119 Tabel 3.122 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 183 menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.120 Tabel 3.117 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 196 dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden.121 Tabel 3.124 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 193 menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota 184 Rumah Tangga menurut Provinsi.128 Tabel 3.123 Tabel 3.127 Tabel 3.Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 186 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 191 menurut Karakteristik Responden di Indonesia.118 Tabel 3.129 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok 177 yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 179 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 187 ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 195 dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas 194 menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun 188 ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang 178 Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut 176 Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.126 Tabel 3.125 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 185 menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi di Indonesia.132 xxxiv . Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 180 menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir 190 menurut Provinsi.116 Tabel 3.130 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok 181 menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.

Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap 201 Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 215 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.133 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 210 Konsumsi Sayur Buah.145 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku 208 Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 199 Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.148 xxxv . Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 205 Makanan Berisiko menurut.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan 198 Tentang HIV/AIDS dan Provinsi.136 Tabel 3.140 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi 206 Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang 209 Konsumsi Sayur Buah.146 Tabel 3.139 Tabel 3.141 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada 200 Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi di Indonesia.134 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 212 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh 213 Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.143 Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 204 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.147 Tabel 3.144 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh 214 Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi. Kurang Aktifitas Fisik.142 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar 203 Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan 216 Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.137 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3.138 Tabel 3. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.

163 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 231 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan 233 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 219 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.154 Tabel 3.153 Tabel 3.155 Tabel 3.Tabel 3.149 Persentase Rumah Posyandu/Poskesdes Riskesdas 2007 Tangga Menurut Pemanfaatan 217 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 225 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan 218 Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Menurut Tempat dan 232 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 230 Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 229 Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.152 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan 223 Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Provinsi.158 Tabel 3.161 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan 226 Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 222 Di Desa Menurut Provinsi.162 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 220 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 227 Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 xxxvi .151 Tabel 3.159 Tabel 3. Tabel 3.164 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat 228 Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.157 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak 221 Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.156 Tabel 3.160 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan 224 di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.

178 Tabel 3.168 Tabel 3.179 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 245 Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi di Indonesia.182 Tabel 3.169 Tabel 3. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 252 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.181 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 253 dan Provinsi di Indonesia.176 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 234 dan Provinsi.180 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 242 dan Karakteristik Rumah Tangga.170 Tabel 3.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 248 Sumber Air.177 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan 237 Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Tabel 3.172 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir 236 Menurut Tempat dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum 251 dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 243 dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke 247 Sumber Air. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga 250 yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.167 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan 244 dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 239 Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air 246 Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan 235 dan Karakteristik Rumah Tangga.171 Tabel 3.175 Tabel 3.173 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan 238 Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan 241 dan Provinsi.166 Tabel 3.183 Tabel 3.174 Tabel 3.184 xxxvii . Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa 249 Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.

199 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Provinsi.202 xxxviii . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan 268 Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Tabel 3.190 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan 267 Air Limbah dan Provinsi.187 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 258 dan Karakteristik Rumah Tangga.191 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih 257 dan Provinsi.188 Tabel 3.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum 254 dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.192 Tabel 3.185 Tabel 3.194 Tabel 3.193 Tabel 3.201 Tabel 3.198 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 262 dan Provinsi di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 260 Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 264 dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 265 Tinja dan Provinsi. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas 259 Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir 266 Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.195 Tabel 3. Tabel 3. 271 Kepadatan Hunian dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Riskesdas 2007 Tempat 255 Sebelum Tempat 256 Sebelum Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 269 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi 263 dan Provinsi.197 Tabel 3. Riskesdas 2008 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan 270 Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar 261 dan Provinsi.189 Tabel 3.196 Tabel 3.200 Tabel 3.

Tabel 3.214 Tabel 3.204 Tabel 3. Riskesdas 2007 281 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.208 Tabel 3.217 Tabel 3.212 Tabel 3.221 Tabel 3. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua 278 Umur.215 Tabel 3.213 Tabel 3.207 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Jenis Kelamin. 280 Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas 280 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 Penyakit.Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.216 Tabel 3. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe 276 Daerah.209 Tabel 3.222 xxxix .220 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 279 ha Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian 279 Bayi 0-6 hari.205 Tabel 3.218 Tabel 3.211 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun 283 menurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 274 Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis 275 Kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun 281 menurut Tipe Daerah.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan 272 Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.210 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Jenis Kelamin. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan 273 Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun 284 enurut Tipe Daerah.219 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas 285 menurut Jenis Kelamin Tabel 3.206 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun 282 menurut jenis kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke 285 atas enurut Tipe Daerah.

2 Nama Gambar Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Alur Pikir Riskesdas 2007 Hal 3 5 Nomor Grafik Grafik 3.1 Nama Grafik Penyakit.1 Gambar 1. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Hal Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok 277 xl .Nomor Gambar Gambar 1.

DAFTAR SINGKATAN ART AFP ASKES ASKESKIN BB BB/U BB/TB BUMN BALITA BABEL BCG BBLR BATRA CPITN D DG DM DDM D-T DKI DPT DIY DMF-T DEPKES F-T G HB IDF IMT ICF ICCIDD IU JNC JABAR JATENG JATIM KEPRI KALTIM KALTENG KALSEL KALBAR Anggota Rumah Tangga Acute Flaccid Paralysis Asuransi Kesehatan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Berat Badan Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Tinggi Badan Badan Usaha Milik Negara Bawah Lima Tahun Bangka Belitung Bacillus Calmete Guerin Berat Bayi Lahir Rendah Pengobatan Tradisional Community Periodental Index Treatment Needs Diagnosis Diagnosis dan Gejala Diabetes Mellitus Diagnosed Diabetes Mellitus Decay .Teeth Departemen Kesehatann Filling Teeth Gejala klinis Hemoglobin International Diabetes Federation Indeks Massa Tubuh International Classification of Functioning.Teeth Daerah Khusus Ibukota Diptheri Pertusis Tetanus Daerah Istimewa Yogyakarta Decay Missing Filling . Disability and Health International Council for the Control of Iodine Deficiency Disorders International Unit Joint National Committee Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat xli .

KK Kg KEK KKAL KEP KMS KIA KLB LP LILA mmHg mL MI M-T MTI MDG Malut Nakes NAD NTT NTB O Poskesdes Polindes Pustu Puskesmas PTI POLRI PNS PT PPI PD3I PIN Posyandu PPM RS RSB RTI RPJM Riskesdas SRQ SKTM SPAL Sumbar Sumsel Sulut Sulbar Sulsel Sulteng Kepala Keluarga Kilogram Kurang Energi Kalori Kilo Kalori Kurang Energi Protein Kartu Menuju Sehat Kesehatan Ibu dan Anak Kejadian Luar Biasa Lingkar Perut Lingkar Lengan Atas Milimeter Air Raksa Mili Liter Missing index Missing Teeth Missing Teeth Index Millenium Development Goal Maluku Utara Tenaga Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Obat atau Oralit Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa Puskesmas Pembantu Pusat Kesehatan Masyarakat Performed Treatment Index Polisi Republik Indonesia Pegawai Negeri Sipil Perguruan Tinggi Panitia Pembina Ilmiah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Pekan Imunisasi Nasonal Pos Pelayanan Terpadu Part Per Million Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Required Treatment Index Rencana Pembangunan Jangka Menengah Riset Kesehatan Dasar Self Reporting Questionnaire Surat Keterangan Tidak Mampu Saluran Pembuangan Air Limbah Sumatera Barat Sumatera Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah xlii .

Sultra SD SD SLTP SLTA TB TB TB/U TT TDM TGT UNHCR UNICEF UCI UDDM WHO WUS µl Sulawesi Tenggara Standar Deviasi Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Tinggi Badan Tuberkulosis Tinggi Badan/Umur Tetanus Toxoid Total Diabetes Mellitus Toleransi Glukosa Terganggu United Nations High Commissioner for Refugees United Nations Children's Fund Universal Child Immunization Undiagnosed Diabetes Mellitus World Health Organization Wanita Usia Subur Mikro Liter xliii .

Kuesioner Riset Kesehatan Dasar xliv . Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877/MENKES/SK/XI/2006 tentang Tim Riset Kesehatan Dasar.2.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) Lampiran 2. Lampiran 1.1.1 .

tetapi juga menggambarkan berbagai indikator kesehatan minimal sampai ke tingkat kabupaten/kota. agar mampu mengembangkan dan melaksanakan survei berskala besar serta menganalisis data yang kompleks. Sehingga dapat dikatakan bahwa survei yang ada belum memadai untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota. asupan. 1. 1 . sebagai salah satu unit utama di lingkungan Departemen Kesehatan yang berfungsi menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti. Susenas Modul Kesehatan dan Sjurvei Kesehatan Rumah Tangga hanya menghasilkan estimasi yang mewakili tingkat kawasan atau provinsi. Pengalaman menunjukkan bahwa komparabilitas dari suatu survei rumah tangga seperti Riskesdas 2007 dapat dicapai dengan efisien melalui disain instrumen yang canggih dan ujicoba yang teliti dalam pengembangannya. maka kewenangan yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan kini berada di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. informasi yang valid. Sampai saat ini belum tersedia peta status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi di tingkat kabupaten/kota. Pada tahap disain. belum sepenuhnya dibuat berdasarkan informasi komunitas yang berbasis bukti. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Penyelenggaraan Riskesdas 2007 dimaksudkan pula untuk membangun kapasitas peneliti di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Data dasar ini. baik di pusat maupun di daerah. serta manajemen data yang terkoordinasikan dengan baik. Pelaksanaan Riskesdas 2007 adalah upaya mengisi salah satu dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. proses serta luaran sistem kesehatan.BAB 1. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based di seluruh Indonesia. Dengan demikian. bukan saja berskala nasional. Pelaksanaan Riskesdas 2007 mengakui pentingnya komparabilitas. Informasi yang valid.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah sebuah policy tool bagi pembuat kebijakan kesehatan diberbagai jenjang administrasi. Untuk mewujudkan visi “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. perilaku kesehatan. status gizi. sampel yang memadai. Lebih jauh lagi. reliable dan comparable dari Riskesdas 2007 dapat digunakan untuk mengukur berbagai status kesehatan. selain validitas dan reliabilitas. Rencana pembangunan kesehatan yang appropriate dan adequate membutuhkan data berbasis komunitas yang dapat mewakili populasi (rumah tangga dan individual) pada berbagai jenjang administrasi. untuk meningkatkan manfaat Riskesdas 2007 maka komparabilitas berbagai alat pengumpul data yang digunakan. baik untuk tingkat individual maupun rumah tangga menjadi isu yang sangat penting. kesehatan lingkungan. reliable dan comparable dari suatu proses pemantauan dan penilaian sesungguhnya dapat berkontribusi bagi ketersediaan evidence pada skala nasional. Riskesdas 2007 diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). perumusan dan pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. provinsi dan kabupaten/kota. Data dasar yang dihasilkan Riskesdas 2007 terdiri dari indikator kesehatan utama tentang status kesehatan. Riskesdas 2007 dirancang dengan pengendalian mutu yang ketat. Departemen Kesehatan RI mengembangkan misi: “membuat rakyat sehat”. dan berbagai aspek pelayanan kesehatan. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai survei berbasis komunitas seperti Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia.

Gigi & Mulut --10. 1. Cedera & Kecelakaan Nasional S/J/KTI 8.1. Apa dan bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. provinsi dan kabupaten/kota? c. Dibandingkan dengan survei berbasis komunitas yang selama ini dilakukan. provinsi dan kabupaten/kota? b.Atas dasar berbagai pertimbangan di atas. Sampel 35. Balitbangkes melaksanakan Riskesdas untuk menyediakan informasi berbasis komunitas tentang status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dengan keterwakilan sampai tingkat kabupaten/kota. Sanitasi lingkungan -S/J/KTI 6. J: Jawa-Bali. Gizi & Pola Konsumsi -S/J/KTI 5.3 Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam Riskesdas 2007 dikembangkan berdasarkan pertanyaan kebijakan kesehatan yang sangat mendasar terkait upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Disabilitas -S/J/KTI 9. dengan menggunakan sampel Susenas Kor. Riskesdas 2007 mencakup sampel yang lebih besar dari survei-survei kesehatan sebelumnya. maka pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui Riskesdas adalah: a. Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Indikator SDKI SKRT Susenas 2007 280.000 10. Bagaimana status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. Apa masalah kesehatan masyarakat yang spesifik di setiap provinsi dan kabupaten/kota? 2 .000 2.000 -Kabupaten Provinsi Kabupaten ------ Riskesdas 2007 280. KTI: Kawasan Timur Indonesia 1.000 Nasional Kabupaten Kabupaten Kabupaten Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Nasional 1. Riskesdas 2007 menyediakan informasi kesehatan dasar termasuk biomedis. Biomedis --S: Sumatera. dan mencakup aspek kesehatan yang lebih luas. Pola Mortalitas Nasional S/J/KTI 3. tingkat keterwakilan Riskesdas adalah sebagai berikut : Tabel 1. Perilaku -S/J/KTI 4. Sesuai dengan latar belakang pemikiran dan kebutuhan perencanaan. Penyakit -S/J/KTI 7.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 adalah riset berbasis komunitas dengan sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga yang dapat mewakili populasi di tingkat kabupaten/kota.

4 Tujuan Riskesdas Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut diatas. Menyediakan informasi berbasis bukti untuk perumusan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai tingkat administratif. perilaku.1. Menyediakan peta status dan masalah kesehatan di tingkat nasional.1. Menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan termasuk alokasi sumber daya di berbagai tingkat administratif. Membandingkan status kesehatan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi antar provinsi dan antar kabupaten/kota 1. 1981). Gambar 1. Keempat faktor penentu tersebut adalah: lingkungan.5 Kerangka Pikir Pengembangan Riskesdas 2007 didasari oleh kerangka pikir Henrik Blum (1974. Konsep ini terfokus pada status kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara simulatn oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu sama lain. maka tujuan Riskesdas 2007 adalah sebagai berikut : a. c. pelayanan kesehatan dan keturunan. Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Pada Riskesdas tahun 2007 ini tidak semua indikator dikumpulkan baik yang terkait dengan status kesehatan maupun ke empat faktor penentu dimaksud. Bagan kerangka pikir Blum dapat dilihat pada Gambar 1. d. provinsi dan kabupaten/kota. Berbagai indikator yang ditanyakan. diukur atau diperiksa adalah sebagai berikut : a. Status kesehatan mencakup variabel: 3 .1. b.

6 Alur Pikir Riskesdas 2007 Alur pikir (Gambar 1. hasil Riskesdas 2007 bukan saja harus mampu menjawab pertanyaan kebijakan.2) ini secara skematis menggambarkan enam tahapan penting dalam Riskesdas 2007. reliable dan comparable. namun harus memberikan arah bagi pengembangan pertanyaan kebijakan berikutnya. HIV/AIDS Akses terhadap pelayanan kesehatan. tingkat sosial-ekonomi. meliputi air minum. serta dapat menghasilkan estimasi yang dapat mewakili rumah tangga dan individu sampai ke tingkat kabupaten/kota. meliputi tingkat pendidikan. sikap dan perilaku terhadap flu burung. Dengan demikian. sanitasi. perbandingan kota – desa dan perbandingan antar provinsi. reliable. berbagai instrumen yang dikembangkan untuk Riskesdas 2007 mengacu pada berbagai instrumen yang telah ada dan banyak digunakan oleh berbagai bangsa di dunia (61 negara). pengukuran lingkar perut untuk penduduk dewasa 15 tahun keatas. Keenam tahapan ini terkait erat dengan ide dasar Riskesdas untuk menyediakan data kesehatan yang valid. Dengan demikian. protein. vitamin dan mineral • Lingkungan fisik. Siklus yang dimulai dari Tahapan 1 hingga Tahapan 6 menggambarkan sebuah system thinking yang seyogyanya berlangsung secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Perilaku higienis (cuci tangan. Untuk menjamin appropriateness dan adequacy dalam konteks penyediaan data kesehatan yang valid. meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular • Disabilitas (ketidakmampuan) • Status gizi (berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk semua umur. termasuk untuk upaya kesehatan berbasis masyarakat. Substansi pertanyaan. Faktor perilaku mencakup variabel: • • • • • • d. Perilaku aktivitas fisik. Perilaku gosok gigi. maka pada setiap tahapan Riskesdas 2007 dilakukan upaya penjaminan mutu yang ketat. pengukuran dan pemeriksaan Riskesdas 2007 mencakup data kesehatan yang mengadaptasi sebagian pertanyaan World Health Survey yang dikembangkan oleh the World Health Organization. Ketanggapan pelayanan kesehatan. pemeriksaan bayi dan imunisasi). kabupaten/kota c. Perilaku konsumsi sayur dan buah.• Mortalitas (pola penyebab kematian untuk semua umur) • Morbiditas. Pelayanan kesehatan mencakup variabel: • • • • 1. comparable. dan pengukuran lingkar lengan atas untuk wanita usia 15-45 tahun) • Kesehatan jiwa b. Faktor lingkungan mencakup variabel: • Konsumsi gizi. Cakupan program KIA (pemeriksaan kehamilan. meliputi konsumsi energi. Perilaku merokok/konsumsi tembakau dan alkohol. polusi dan sampah • Lingkungan sosial. buang air besar) Pengetahuan. Instrumen dimaksud 4 . Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan.

Laporan • Tabel Dasar • Hasil Pendahuluan Nasional • Hasil Pendahuluan Provinsi • Hasil Akhir Nasional • Hasil Akhir Provinsi 2. pemeriksaan • Validitas • Reliabilitas Riskesdas 2007 5. output dan outcome kesehatan.dikembangkan. Alur Pikir Riskesdas 2007 1. Statistik • Deskriptif • Bivariat • Multivariat • Uji Hipotesis 3. Disain Alat Pengumpul Data • Kuesioner wawancara.7 Pengorganisasian Riskesdas Riskesdas direncanakan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. process.2. pengukuran. Gambar 1. Pelaksanaan Riskesdas 2007 • Pengembangan manual Riskesdas • Pengembangan modul pelatihan • Pelatihan pelaksana • Penelusuran sampel • Pengorganisasian • Logistik • Pengumpulan data • Supervisi / bimbingan teknis 4. Indikator • Morbiditas • Mortalitas • Ketanggapan • Pembiayaan • Sistem Kesehatan • Komposit variabel lainnya Policy Questions Research Questions 6. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan 5 . diuji dan dipergunakan untuk mengukur berbagai aspek kesehatan termasuk didalamnya input. Manajemen Data Riskesdas 2007 • Editing • Entry • Cleaning follow up • Perlakuan terhadap missing data • Perlakuan terhadap outliers • Consistency check • Analisis syntax appropriateness • Pengarsipan 1.

perguruan tinggi. e.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi DKI Jakarta. Sulawesi Selatan.melibatkan berbagai pihak. Nusa Tenggara Timur. Banten. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877 Tahun 2006. Stratifikasi indikator kesehatan menurut status sosial-ekonomi sesuai hasil Susenas 2007. dan Kalimantan Barat c. Riau. pengorganisasian Riskesdas 2007 dibagi menjadi berbagai tingkat dengan rincian sebagai berikut (Lihat Lampiran 1. dan Papua d. dan Sulawesi Barat. Nusa Tenggara Barat.8 Manfaat Riskesdas Riskesdas memberikan manfaat bagi perencanaan pembangunan kesehatan berupa : • • Tersedianya data dasar dari berbagai indikator kesehatan di berbagai tingkat administratif. dan partisipasi masyarakat. b. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi Jawa Timur. Jawa Barat. Sumatera Barat. Jambi. Daftar provinsi. Maluku. dan Kepulauan Riau b. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. Sumatera Selatan. koordinator wilayah dan jadwal pengumpulan data per wilayah disusun sebagai berikut: a. Bangka Belitung. c. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. Kalimantan Tengah. Tersedianya informasi berkelanjutan. Bali. d.2)) 6 .1. Jawa Tengah. Sumatera Utara. Kalimantan Selatan. Tingkat pusat Tingkat wilayah (empat wilayah) Tingkat provinsi (33 Provinsi) Tingkat kabupaten (440 Kabupaten/Kota) Tim pengumpul data (disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) Pengumpulan data Riskesdas 2007 direncanakan untuk dilakukan segera setelah selesainya pengumpulan data Susenas 2007. untuk perencanaan pembangunan kesehatan yang • 1. antara lain Badan Pusat Statistik. Sulawesi Tenggara. (Lampiran 1. organisasi profesi. Maluku Utara. 1. pemerintah daerah. Papua Barat. Lampung.9 Persetujuan Etik Riskesdas Riskesdas ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. lembaga penelitian. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). DI Yogyakarta. Gorontalo.Sulawesi Utara.) : a.

Lebih lanjut. confidence interval. dengan catatan sebagai berikut: a. 7) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. relative standard error. 3) Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). 6) Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat). Dengan demikian. 12) Kabupaten Konawe Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). METODOLOGI RISKESDAS 2. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Riskesdas 2007 didisain untuk mendukung pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah. secara menyeluruh.2 Lokasi Sampel Riskesdas 2007 di tingkat kabupaten/kota berasal dari 440 kabupaten/kota (dari jumlah keseluruhan sebanyak 456 kabupaten/kota) yang tersebar di 33 (tiga puluh tiga) provinsi Indonesia. 4) Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan). maka setiap pengguna informasi Riskesdas dapat memperoleh gambaran yang utuh dan rinci mengenai berbagai masalah kesehatan yang ditanyakan. 5) Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat). Laporan Hasil Riskesdas 2007 akan menggambarkan berbagai masalah kesehatan di tingkat nasional dan variabilitas antar provinsi. para pembentuk kebijakan dan pengambil keputusan di bidang pembangunan kesehatan dapat menarik manfaat yang optimal dari ketersediaan data Riskesdas 2007. design effect dan jumlah sampel tertimbang akan menyertai setiap estimasi variabel. Disain Riskesdas 2007 dikembangkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan teori dasar tentang hubungan antara berbagai penentu yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. 14) 7 . diukur atau diperiksa. Pidie Jaya. 8) Kabupaten Kepulauan Siao Tagolandang Biaro. 9) Minahasa Tenggara. 11) Kabupaten Buton Utara. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. atau dengan data survei lainnya seperti data kemiskinan yang menggunakan metodologi yang sama. 2. Dengan disain ini. dapat menggambarkan masalah kesehatan di tingkat provinsi dan variabilitas antar kabupaten/kota. 2) Kota Subussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam).BAB 2. Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. akurat dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan di berbagai tingkat administratif. Riskesdas 2007 menyediakan data dasar yang dikumpulkan melalui survei berskala nasional sehingga hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan kebijakan kesehatan bahkan sampai ke tingkat kabupaten/kota. karena metodologinya hampir seluruhnya sama dengan Susenas 2007 (lihat penjelasan pada seksi berikut). 13) Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo).1 Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif. sedangkan di tingkat provinsi. sementara Susenas 2007 sudah mengikuti jumlah kabupaten/kota yang ada. data Riskesdas 2007 mudah dikorelasikan dengan data Susenas 2007. Sebanyak 16 (enam belas) kabupaten tidak termasuk dalam sampel Riskesdas 2007 karena merupakan pengembangan kabupaten baru yang pada saat perencanaan Riskesdas belum diperhitungkan. 10) Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). Kabupaten dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Kab.

Riskesdas berhasil mengunjungi 17.Kabupaten Sumba Barat Daya.150 blok sensus dari 438 jumlah kabupaten/kota.357 (tujuh belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) sampel blok sensus. Sebanyak 2 (dua) kabupaten masuk kedalam sampel Riskesdas 2007.284 rumah tangga.630 (dua ratus tujuh puluh tujuh enam ratus tiga puluh). walaupun tidak masuk kedalam sampel Susenas 2007. pada Riskesdas 2007. Kemungkinan sebuah blok sensus masuk kedalam sampel blok sensus pada sebuah kabupaten/kota bersifat proporsional terhadap jumlah rumah tangga pada sebuah kabupaten/kota (probability proportional to size). Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 972. 16) Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur). jumlah sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota Susenas 2007 adalah 277. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi penghitungan dan cara penarikan sampel untuk Riskesdas 2007 identik pula dengan two stage sampling yang digunakan dalam Susenas 2007. sedang Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 258. (Lihat Tabel 2. Riskesdas menggunakan sepenuhnya sampel yang terpilih dari Susenas 2007.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Dengan begitu. yaitu: 1) Kabupaten Puncak Jaya dan 2) Kabupaten Pegunungan Bintang (Provinsi Papua).3. dalam 438 kabupaten/kota pada Susenas 2007 terdapat 1. seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih dari kedua proses penarikan sampel tersebut diatas diambil sebagai sampel individu. 2. 2. 15) Kabupaten Sumba Tengah.134.225 (satu juta seratus tiga puluh empat ribu dua rtus dua puluh lima) sampel anggota rumah tangga. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel kabupaten/kota diambil sejumlah blok sensus yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut. terkumpul 182 rumah tangga tambahan dari dua (2) kabupaten di Papua. Pada Riskesdas.2 Penarikan Sampel Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 16 (enam belas) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). b. Diluar itu. Secara keseluruhan.989 individu yang sama dengan 8 . Bila dalam sebuah blok sensus terdapat lebih dari 150 (seratus lima puluh) rumah tangga maka dalam penarikan sampel di tingkat ini akan dibentuk sub-blok sensus. Secara keseluruhan. 2.3. berdasarkan sampel blok sensus dalam Susenas 2007 yang berjumlah 17.2).1). terdapat 15 blok sensus dari 2 kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas 2007 (Lihat Tabel 2. 2.3.3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga Selanjutnya.1 Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya. yang menjadi sampel rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud.

Pertama. Dalam Riskesdas 2007 dilakukan test cepat iodium dalam garam pada 257. Riskesdas 2007 mengumpulkan 36.3).357 (tiga puluh enam ribu tiga ratus limapuluh tujuh) anggota rumah tangga berusia lebih dari satu (1) tahun. Dari rumah tangga yang terpilih. Balai GAKI-Magelang. Khusus untuk pengukuran gula darah. yang berasal dari 272 kabupaten/kota dan 540 blok sensus.3. Dari jumlah tersebut. Pengukuran kadar iodium dalam garam dilakukan dengan test cepat menggunakan “iodina” dilakukan pada seluruh sampel rumah tangga.065 sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota. sampel garam rumah tangga diambil. Secara keseluruhan. dan Puslitbang Gizi dan Makanan. dan juga sampel urin dari anak usia 6-12 tahun yang selanjutnya dikirim ke laboratorium Universitas Diponegoro. dan 182 rumah tangga dari dua (2) kabupaten di Papua. Pada Riskesdas 2007. Bogor. Sedangkan pengukuran iodium dalam urin adalah untuk menilai kemungkinan kelebihan konsumsi garam iodium pada penduduk. 2. terpilih sampel anggota rumah tangga berasal dari 971 blok sensus perkotaan yang dari 294 kabupaten/kota dalam Susenas 2007.919. 26. adalah pengukuran kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga.2. berhasil digabung dengan sampel anggota rumah tangga Rikesdas sejumlah. 2674 sampel garam beriodium rumah tangga dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada garam. Untuk pengukuran kedua. Pemilihan 30 kabupaten berdasarkan hasil survei konsumsi garam beriodium pada Susenas 2005 dengan memilih secara acak 10 (sepuluh) kabupaten dimana tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga tinggi. (Lihat Tabel 2. terkumpul 673 sampel anggota rumah tangga.5 Penarikan Sampel Iodium Ada 2 (dua) pengukuran iodium. dipilih secara acak dua (2) rumah tangga yang mempunyai anak usia 6-12 tahun dari 16 RT per blok sensus di 30 kabupaten yang dapat mewakili secara nasional. Pengukuran kadar iodium dalam garam dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beriodium. 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga sedang dan 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga rendah.3.4 Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis adalah anggota rumah tangga berusia lebih dari 1 (satu) tahun yang tinggal di blok sensus dengan klasifikasi perkotaan.5. Secara nasional. 30 Kabupaten yang terpilih dapat dilihat pada sub. 2. dan 8473 anak usia 6-12 tahun yang dilakukan pengukuran kadar iodium dalam urin. sampel diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun yang berjumlah 19.bab.114 orang.Susenas. dan kedua adalah pengukuran iodium dalam urin. dari dua (2) kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas. 9 .

10 .165 BS berhasil dikumpulkan. Dengan demikian 17.1 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Jml BSSusenas 2007 687 1054 692 434 380 540 342 438 230 230 427 1282 1578 216 1872 304 358 360 608 456 534 494 474 354 388 918 416 210 196 215 209 146 315 17357 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jml BSRiskesdas 2007 683 1045 689 426 379 538 337 424 230 230 409 1267 1576 215 1872 303 357 360 605 455 533 471 461 325 376 909 416 200 191 215 208 144 301 17150 Jml BS yang tidak ada 4 9 3 8 1 2 5 14 0 0 18 15 2 1 0 1 1 0 3 1 1 23 13 29 12 9 0 10 5 0 1 2 14 207 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.Tabel 2. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 15 BS. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.

5 Bengkulu 7.344 2.1 Papua*) 277.760 5.359 3.021 4.2 Maluku Utara 2.630 258. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.664 85.6 DKI Jakarta 20.5 Kalimantan Timur 5.469 94.329 1.769 92.904 7.456 3.832 4.687 13.284 93.8 DI Yogyakarta 29.4 Jawa Timur 4.206 94.640 8.9 Kalimantan Selatan 7.8 Bali 5.512 19.420 92.1 Bangka Belitung 3.6 Nusa Tenggara Timur 7.248 24.821 78.263 91.656 6.861 16.4 Maluku 3. 11 .728 5.4 Kepulauan Riau 6.806 95.0 Gorontalo 3.578 6.134 2.074 81.915 87.431 91.952 28.6 Lampung 3.8 Sulawesi Tenggara 3.2 Sulawesi Selatan 6.578 97.0 Indonesia *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.7 Sulawesi Tengah 14.472 5.366.0 Sumatra Barat 6.078 5.090 92.9 10.402 92.664 4.241 93.705 88.1 Banten 5.Tabel 2.430 94.959 86.5 Sumatra Selatan 5.2 Sumatra Utara 11.386 97.6 Riau 6. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 182 RT.728 9.0 Nusa Tenggara Barat 9.2 Kalimantan Tengah 7. 2007 Jumlah Sampel RTSusenas 2007 Jumlah Sampel RTRiskesdas 2007 % Sampel RT Riskesdas /Susenas Provinsi 10.3 Jawa Tengah 3.680 3.418 94.9 Jawa Barat 25.421 97.447 87.0 Sulawesi Barat 3.008 6.072 10.634 96.831 94.294 6.543 7.981 NAD 16.680 3.792 91. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.2.064 92.864 4.8 Kalimantan Barat 8.498 95.375 95.933 6.208 5.2 Papua Barat 5.490 92. Dengan demikian rumah tangga yang dikumpulkan berjumlah 258.424 2.647 98.563 95.5 Jambi 8.585 80.890 71.9 Sulawesi Utara 6.

7 91.512 54.397 21.349 10.966 24.358 19.2 90.4 85.136 16.048 29.2 81.002 39.046 74.4 82.898 15.970 68.085 986.245 10.3 92.435 33.521 95.064 22.4 83.2 61.015 25.205 orang 12 .7 87.570 26.410 26.297 38.250 28.952 21.7 69.8 92.148.954 33.9 84.928 14.548 45.119 10.2 91.4 83.152 9.5 81.486 1.706 25.2 92. 2007 Jumlah Sampel ARTSusenas 2007 46.164 100.557 28.754 21.9 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan peg. Dengan demikan ART yang berhasil di wawancarai adalah sejumlah 987.646 29.9 93.648 47.3 86.848 22.465 110.1 60.7 67.870 27.519 78.591 45.189 6.4 81.570 14.3.2 85.361 13.7 89.Tabel 2.553 63.412 20.856 36.021 25.156 17.833 13.642 11.756 31.892 69.256 42.530 22.044 23.5 84.5 83. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 673 ART).532 %Sampel ART Riskesdas /Susenas 88.418 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jumlah Sampel ARTRiskesdas 2007 40.687 14.4 94.056 22.645 12.460 87.276 20.0 85.637 14.4 88.3 70.8 89. Jumlah Sampel Anggota Rumah Tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.514 16.269 11.3 85. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.9 73.624 29.603 21.661 13.966 17.8 82.

Dalam Riskesdas 2007 terdapat kurang lebih 900 variabel yang tersebar dalam 6 (enam) jenis kuesioner. iii. • Blok XI tentang pengukuran dan pemeriksaan (14 variabel). Blok X-G tentang imunisasi dan pemantauan pertumbuhan untuk semua anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan (11 variabel). yang terdiri dari: • Blok VIII tentang konsumsi makanan rumah tangga 24 jam lalu. v.IND).4 Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan kebijakan kesehatan Indonesia dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. ii. • Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Kuesioner gizi (RKD07. viii.GIZI). Blok X-F tentang kesehatan mental untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (20 variabel).Maluku Utara. Blok X-H tentang kesehatan bayi (khusus untuk bayi berumur < 12 bulan (7 variabel). • Blok II tentang keterangan rumah tangga (7 variabel). vi. c.AV1). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a. Blok X-C tentang ketanggapan pelayanan kesehatan Pelayanan rawat inap (11 variabel) Pelayanan berobat jalan (10 variabel iv. yang terdiri dari: • Blok IX tentang keterangan wawancara individu (4 variabel). tidak menular. 13 . dan riwayat penyakit turunan (50 variabel). Blok X-E tentang disabilitas/ketidakmampuan untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (23 variabel). • Blok VII tentang sanitasi lingkungan (17 variabel). Kuesioner individu (RKD07. Blok X-I tentang kesehatan reproduksi – pertanyaan tambahan untuk 5 provinsi: NTT. Papua Barat. • Blok IV tentang anggota rumah tangga (12 variabel).RT) yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (9 variabel).2. • Blok II tentang keterangan yang meninggal (6 variabel). Papua (6 variabel). • Blok X tentang keterangan individu dikelompokkan menjadi: i. • Blok VI tentang akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (11 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari (RKD07. Kuesioner rumah tangga (RKD07. b. Maluku. vii. Blok X-A tentang identifikasi responden (4 variabel). Blok X-B tentang penyakit menular. d. • Blok V tentang mortalitas (10 variabel).

• Blok IV tentang resume riwayat sakit untuk umur 5 tahun keatas (5 variabel).• Blok III tentang karakteristik ibu neonatal (5 variabel). Lihat Lampiran 2. • Blok VIA tentang bayi usia 0-28 hari termasuk lahir mati (4 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (RKD07.<5 tahun (35 variabel). Catatan Selain keenam kuesioner tersebut diatas. • Blok VIB tentang keadaan ibu (8 variabel). • Blok IIIC tentang autopsi verbal untuk perempuan pernah kawin umur 10-54 tahun (19 variabel). • Blok IIIA tentang autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (44 variabel).AV2). • Blok IVB tentang keadaan bayi ketika sakit (12 variabel). • Blok IIIB tentang autopsi verbal untuk perempuan umur 10 tahun keatas (4 variabel). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel).RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi 14 . • Blok V tentang autopsi verbal kesehatan ibu neonatal ketika hamil dan bersalin (2 variabel).1 Kuesioner Riskesdas 2007. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07.AV3).< 5 tahun (RKD07. dengan rincian sebagai berikut: a. • Blok IIID tentang autopsi verbal untuk laki-laki atau perempuan yang berumur 15 tahun keatas (1 variabel). terdapat dua (2) formulir yang digunakan untuk pengumpulan data tes cepat iodium garam (Form Garam) dan data iodium didalam urin (Form Pemeriksaan Urin). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). • Blok IVA tentang keadaan bayi ketika lahir (6 variabel). • Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel). e. 2. Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari .5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2007 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. • Blok IV tentang resume riwayat sakit bayi/balita (6 variabel) f. • Blok III tentang autopsi verbal riwayat sakit bayi/balita berumur 29 hari .RT • Responden untuk Kuesioner RKD07.

Penyakit Jantung.• Dalam Kuesioner RKD07.AV yang sesuai dengan umur anggota rumah tangga yang meninggal dimaksud. Pnemonia. Stroke. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kematian yang terjadi dalam 12 bulan sebelum wawancara dilakukan eksplorasi lebih lanjut melalui autopsi verbal dengan menggunakan kuesioner RKD07. b. serta pengukuran lingkar lengan atas (khusus untuk wanita usia subur 15-45 tahun. Demam Tifoid. HIV/AIDS. pengukuran lingkar perut. disabilitas. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. • Anggota rumah tangga berumur > 5 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan visus.AV1. Cedera. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Sendi. termasuk ibu hamil). • Anggota rumah tangga berumur < 12 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai kesehatan bayi. • Anggota rumah tangga berumur 6-12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan iodium dalam urin. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan gigi permanen. perilaku higienis. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 30 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Katarak. serta pengukuran berat badan. c. Demam Berdarah Dengue. responden untuk Kuesioner RKD07. Gigi dan Mulut. sikap dan perilaku terkait Penyakit Flu Burung. Penyakit Kencing Manis. 15 . • Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. RKD07. Asma. penggunaan alkohol. • Informasi mengenai kejadian kematian dalam rumah tangga di recall terhitung sejak 1 Juli 2004. Tuberkulosis Paru.IND adalah setiap anggota rumah tangga. Pengumpulan data kematian dengan teknik autopsi verbal menggunakan Kuesioner RKD07. aktivitas fisik. serta perilaku terkait dengan konsumsi buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar. penggunaan tembakau. Diare. termasuk di dalamnya kejadian bayi lahir mati. pengukuran tekanan darah. • Anggota rumah tangga berumur ≥ 10 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai pengetahuan. Campak. • Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular. Penyakit Tekanan Darah Tinggi. tinggi badan / panjang badan. Hepatitis. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. Filariasis.RT terdapat verifikasi terhadap keterangan anggota rumah tangga yang dapat menunjukkan sejauh mana sampel Riskesdas 2007 identik dengan sampel Susenas 2007.AV2 dan RKD07. kesehatan mental.AV3. Malaria. Tumor / Kanker dan Penyakit Keturunan.IND • Secara umum. penyakit tidak menular dan penyakit keturunan sebagai berikut: Infeksi Saluran Pernafasan Akut.

AV1 – AV3) dirancang untuk mengumpulkan tanda.AV3). Pengambilan darah tidak dilakukan pada anggota rumah tangga yang sakit berat. Pengambilan sampel darah dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga berumur di atas satu (1) tahun dari rumah tangga terpilih di blok sensus perkotaan terpilih sesuai Susenas 2007. Serum segera diperiksa dengan menggunakan alat kimia klinis otomatis. data dikumpulkan dari anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun. Sampel 30 kabupaten/kota dipilih untuk pengamatan ini berdasarkan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga hasil Susenas 2005: 16 .AV2).536 RT. Pengambilan darah vena dilakukan setelah 2 jam pembebanan. Pengumpulan data biomedis berupa spesimen darah dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk di blok sensus perkotaan di Indonesia. 1999) yang digunakan adalah sebagai berikut: • • • Normal (Non DM) < 140 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) 140 . f. kecuali wanita hamil (alasan etika). Darah didiamkan selama 20–30 menit. dipilih sejumlah 15% dari total blok sensus perkotaan. d. Rangkaian pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut: • Dari Blok sensus perkotaan yang terpilih pada Susenas 2007. dengan total sampel 15. Sampel darah diambil dari seluruh anggota rumah tangga (kecuali bayi) yang menanda-tangani informed consent. disentrifus sesegera mungkin untuk dijadikan serum. Pengumpulan data konsumsi garam beriodium rumah tangga untuk seluruh sampel rumah tangga Riskesdas 2007 dilakukan dengan tes cepat iodium menggunakan “iodina test”. Khusus untuk responden yang sudah diketahui positif menderita Diabetes Mellitus (berdasarkan konfirmasi dokter). dengan melakukan pengumpulan garam beriodium pada rumah tangga bersamaan dengan pemeriksaan kadar iodium dalam urin pada anggota rumah tangga yang sama. gejala sakit sebelum seorang individu meninggal dengan teknik autopsi verbal (AV) melalui wawancara kepada keluarga almarhum/ah yang merawatnya ketka sakit. hanya diberi pembebanan sebanyak 300 kalori (alasan medis dan etika). Ada tiga (3) macam kuesioner AV yang dipakai yaitu: kuesioner AV1 untuk neonatal berumur 0-<28 hari (RKD. kuesioner AV2 untuk balita berumur 28 hari-<5 tahun (RKD. riwayat perdarahan dan menggunakan obat pengencer darah secara rutin. e. Nilai rujukan (WHO. Pengamatan tingkat nasional pada dampak konsumsi garam beriodium dinilai berdasarkan kadar iodium dalam urin. Kuesioner dilengkapi dengan lembar khusus untuk pembuatan resume riwayat patofisiologi perjalanan penyakit sampai terjadi kematian dan penegakan diagnosis penyebab kematian.AV1). yang keduanya akan dikerjakan oleh dokter reviewer dengan mengacu pada ketentuan International Classification of Diseases 10 (ICD-10) dari WHO. Responden terpilih memperoleh pembebanan sebanyak 75 gram glukosa oral setelah puasa 10–14 jam. kuesioner untuk usia lima (5) tahun ke atas (RKD. Pembagian ini dimaksudkan untuk memenuhi kepraktisan ketika dilakukan wawancara agar tetap terarah pada penyebab kematian secara spesifik pada setiap kelompok usia. • Jumlah blok sensus di daerah perkotaan yang terpilih berjumlah 971.Model kuesioner Riskesdas-mortalitas 2007 (RKD07. Untuk pemeriksaan kadar glukosa darah.< 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM) > 200 mg/dl.

perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk petugas pengambil spesimen dan manajemen spesimen. pelaksanaan pengumpulan data dalam berbagai situasi amat tergantung pada ketersediaan alat transpor. Kabupaten Konawe dan Kota Gorontalo). Kondisi geografis dari sampel blok sensus terpilih amat bervariasi. Petugas dimaksud adalah para analis atau petugas laboratorium dari rumah sakit atau laboratorium daerah. Koordinator Wilayah I dan II bisa mencairkan anggaran sebelum terjadinya perubahan kebijakan anggaran dimaksud. Kabupaten Jember. Kota Tarakan dan Kabupaten Jeneponto. Kabupaten Tapin. Pelatihan dilakukan oleh peneliti dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi dan petugas Labkesda setempat. Kesiapan daerah untuk berperanserta dalam pelaksanaan Riskesdas 2007 amat bervariasi. Kabupaten Sikka. Kabupaten Klungkung. Catatan Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007 tidak dapat dilakukan serentak pada pertengahan 2007. Kota Metro. Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur). Kabupaten Grobogan. Untuk pengumpulan data biomedis. Kabupaten Nganjuk. c.January 2008). sehingga pelaksanaan dari satu lokasi pengumpulan data ke lokasi lainnya memerlukan koordinasi dan manajemen logistik yang rumit. Kota Semarang. Kota Dumai. sehingga bisa melaksanakan pengumpulan data lebih awal (akhir Juli 2007). • Sedang – meliputi Kota Tangerang. Kabupaten Bantul. Kabupaten Toba Samosir. Kabupaten Karo. pengumpulan data baru dapat dilaksanakan pada Agustus-September 2008. sehingga dalam analisis perlu beberapa penyesuaian agar komparabilitas data dari satu periode pengumpulan data yang satu dengan periode pengumpulan data lainnya dapat terjaga dengan baik. Kabupaten Bondowoso. Kota Salatiga. Pelatihan dilaksanakan di tiap provinsi. d. Sedangkan Koordinator Wilayah III dan IV lebih lambat. b. sehingga waktu pengumpulan data pada provinsi di wilayah III dan sangat bervariasi (akhir Juli 2007 . Di daerah kepulauan dan daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. Kota Kendari. 17 . Kabupaten Donggala. Kota Pasuruan. Perubahan kebijakan anggaran internal Departemen Kesehatan pada tahun anggaran 2007 menyebabkan gangguan ketersediaan dana operasional untuk pengumpulan data. Kabupaten Balangan dan Kabupaten Mappi. Papua Barat. Kabupaten Semarang. Maluku.• Tinggi – meliputi Kabupaten Blitar. Kabupaten Katingan. ketersediaan tenaga pendamping dan ketersediaan biaya operasional yang memadai tepat pada waktunya. Kabupaten Karawang. Situasi ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: a. • Buruk – meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah. Bahkan untuk lima (5) provinsi daerah sulit (Papua. Kabupaten Solok Selatan.

6. 2. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak data diperoleh dari jawaban responden.6 Manajemen Data Manajemen data Riskesdas dilaksanakan oleh Tim Manajemen Data Pusat yang mengkoordinir Tim Manajemen Data dari Korwil I – IV. Hasil pelaksanaan entry data ini menjadi bagian yang penting bagi petugas manajemen data yang bertanggungjawab untuk melakukan cleaning dan analisis data. Urutan kegiatan manjemen data dapat diuraikan sebagai berikut. Petugas entry data Riskesdas merupakan bagian dari tim manajemen data yang harus memahami kuesioner Riskesdas dan program data base yang digunakannya. Ketua Tim Pewawancara harus dapat membagi waktu untuk tugas pengumpulan data dan editing segera setelah selesai pengumpulan data pada setiap blok sensus. Kegiatan ini seyogyanya dilaksanakan segera setelah diserahkan oleh pewawancara.2 Entry Tim manajemen data yang bertanggungjawab untuk entry data harus mempunyai dan mau memberikan ekstra energi berkonsentrasi ketika memindahkan data dari kuesioner / formulir kedalam bentuk digital. Buku kode disiapkan dan digunakan sebagai acuan bila menjumpai masalah entry data. Fokus perhatian Ketua Tim Pewawancara adalah kelengkapan dan konsistensi jawaban responden dari setiap kuesioner yang masuk. no responses. outliers amat menentukan akurasi dan presisi dari estimasi yang dihasilkan Riskesdas 2007. 2. Kuesioner yang sama juga banyak mengandung skip questions yang secara teknis memerlukan ketelitian petugas entry data untuk menjaga konsistensi dari satu blok pertanyaan ke blok pertanyaan berikutnya.2. pewawancara bekerjasama dalam sebuah tim yang terdiri dari tiga (3) pewawancara dan seorang Ketua Tim. memeriksa kuesioner yang telah diisi serta membantu memecahkan masalah yang timbul di lapangan dan juga melakukan editing. Ketua Tim Pewawancara harus mengkonsultasikan seluruh masalah editing yang dihadapinya kepada Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kabupaten dan / atau Penangung Jawab Teknis (PJT) Provinsi. PJT Kabupaten dan PJT Provinsi bertugas untuk melakukan supervisi pelaksanaan pengumpulan data. Perlakuan terhadap missing values.6. Kuesioner Riskesdas 2007 mengandung pertanyaan untuk berbagai responden dengan kelompok umur yang berbeda. Prasyarat pengetahuan dan keterampilan ini menjadi penting untuk menekan kesalahan entry. 18 .3 Cleaning Tahapan cleaning dalam manajemen data merupakan proses yang amat menentukan kualitas hasil Riskesdas 2007.1 Editing Editing adalah salah satu mata rantai yang secara potensial dapat menjadi the weakest link dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. 2.6. Di lapangan. Tim Manajemen Data menyediakan pedoman khusus untuk melakukan cleaning data Riskesdas. Peran Ketua tim Pewawancara sangat kritikal dalam proses editing.

sampel rumah tangga. pada saat pengumpulan data dilakukan tidak ada di tempat. variabel tanggal pengumpulan data bisa digunakan pada saat melakukan analisis. c. 19 . Pembentukan kabupaten/kota baru hasil pemekaran suatu kabupaten/kota yang terjadi setelah penetapan blok sensus Riskesdas dari Susenas 2007.2) Bisa juga terjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga yang terpilih dan bisa dikunjungi oleh Riskesdas. Pengorganisasian Riskesdas 2007 melibatkan berbagai unsur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Tercatat sebanyak 159. 2.1. karena ketidak-tersediaan alat transportasi menuju lokasi dimaksud.566 anggota rumah tangga yang tidak bisa dikumpulkan datanya (Lihat Tabel 2. tersebar di seluruh kabupaten/kota (Lihat Tabel 2. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga ada kemungkinan beberapa estimasi penyakit menular yang bersifat seasonal pada beberapa provinsi atau kabupaten/kota menjadi under-estimate atau overestimate. b. seperti terlihat pada Tabel 2. tetapi tidak semua estimasi bisa mewakili kabupaten/kota. g. Pada Riskesdas. sehingga tidak menjadi bagian sampel kabupaten/kota Riskesdas (Lihat Sub Bab 2.Petugas cleaning data harus melaporkan keseluruhan proses perlakuan cleaning kepada penanggung jawab analisis Riskesdas agar diketahui jumlah sampel terakhir yang digunakan untuk kepentingan analisis. d. Keterlambatan pada fase ini telah menyebabkan keterlambatan pada fase berikutnya. serta perguruan tinggi setempat. f. loka. Meski Riskesdas dirancang untuk menghasilkan estimasi sampai tingkat kabupaten/kota. Total rumah tangga yang tidak berhasil dikunjungi Riskesdas adalah sebanyak 19.2.346.7 Keterbatasan Riskesdas Keterbatasan Riskesdas 2007 mencakup berbagai permasalahan non-random error. Besaran numerator dan denominator dari suatu estimasi yang mengalami proses data cleaning merupakan bagian dari laporan hasil Riskesdas 2007 Bila pada suatu saat data Riskesdas 2007 dapat diakses oleh publik. Rumah tangga yang terdapat dalam DSRT Susenas 2007 ternyata tidak dapat dijumpai oleh Tim Pewawancara Riskesdas 2007. sebagaimana uraian berikut ini: a. Berbagai keterlambatan tersebut memberikan kontribusi penting bagi berbagai keterbatasan dalam Riskesdas 2007. sampel anggota rumah tangga serta luasnya cakupan wilayah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007.3). pusat-pusat penelitian. Riskesdas tidak berhasil mengumpulkan 207 blok sensus yang terpilih dalam sampel Susenas 2007. balai/balai besar.) Blok sensus tidak terjangkau. e. Proses pengadaan logistik untuk kegiatan Riskesdas 2007 terkait erat dengan ketersediaan biaya. Banyaknya sampel blok sensus. atau karena kondisi alam yang tidak memungkinkan seperti ombak besar. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga estimasi jumlah populasi pada periode waktu yang berbeda akan berbeda pula. Perubahan kebijakan pembiayaan dalam tahun anggaran 2007 dan prosedur administrasi yang panjang dalam proses pengadaan barang menyebabkan keterlambatan dalam kegiatan pengumpulan data. maka informasi mengenai imputasi (proses data cleaning) dapat meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai kualitas data.

pada akhirnya akan berkurang untuk analisis masingmasing variabel yang dikumpulkan. menyebabkan pelaksanaan Riskesdas tidak serentak. dan 3) variabel hasil pengujian garam iodium dirumah tangga. Maluku. dewasa ≥15 tahun. anak 6 – 14 tahun. serta wanita usia sunur 1545 tahun. Maluku Utara dan NTT) baru melaksanakan pada bulan Agustus-September 2008.ketepatan umur kematian juga akan mempengauhi mutu data yang dikumpulkan.4). serta kualitas pewawancara untuk bisa menggali penyebab kematian. Hasil pengukuran yang diperoleh dari two stage sampling design memerlukan perlakuan khusus yang pengolahannya menggunakan paket perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS. Riskesdas yang terdiri dari 6 Kuesioner dan 11 Blok Topik Analisis akan tergantung dari jawaban responden dan jumlahnya terhadap Susenas 2007. Aplikasi statistik ini memungkinkan penggunaan two stage sampling design seperti yang diimplementasikan di dalam Susenas 2007. tetapi ada pula yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2008.3. Jumlah sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Riskesdas 2007 yang terkumpul seperti tercantum pada tabel 2. ada yang dimulai pada bulan Juli 2007. Untuk data mortalitas. Jumlah sampel Riskesdas 2007 cukup untuk kepentingan analisis yang menberikan gambaran nasional maupun provinsi. 2) variabel hasil wawancara konsumsi tingkat rumah tangga. yaitu mengeluarkan missing values dan outlier serta dilakukan pembobotan sesuai dengan jumlah masing-masing sampel. karena tidak diperolehnya jawaban (missing values) maupun kemungkinan kesalahan hasil pengukuran (outlier) dari rumah tangga atau anggota rumah tangga. Dengan penggunaan SPSS Complex Sample dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007. Papua Barat. Akan tetapi untuk kepentingan analisis kabupaten/kota maka jumlah sampel akhir yang digunakan untuk masing-masing varibel perlu diperhatikan. Khusus untuk data biomedis.terutama kejadian-kejadian yang frekuensinya jarang. dewasa ≥ 18 tahun. j. Terbatasnya dana dan waktu realisasi pencairan anggaran yang tidak lancar. Penyebabnya antara lain. Selain itu kemungkinan under-reporting. Disain penarikan sampel Susenas 2007 adalah two stage sampling. Terutama kabupaten/kota dimana jumlah sampel teranalisis pada Riskesdas 2007 kurang dari 80% sampel Susenas 2007. Aplikasi statistik yang tersedia didalam SPPS untuk mengolah dan menganalisis data seperti Riskesdas 2007 adalah SPSS Complex Samples. Kejadian yang jarang seperti ini hanya bisa mewakili tingkat provinsi atau bahkan hanya tingkat nasional. Seluruh variabel Riskedas yang berjumlah hampir 900 pada saat analisis dilakukan prosedur yang sama. h. bahkan lima provinsi (Papua. Hasil pengolahan dan analisis data dipresentasikan pada Bab Hasil Riskesdas. i. beberapa kelemahan menggunakan teknis autopsi verbal akan mempengaruhi kualitas informasi yang diberikan oleh responden. maka validitas hasil analisis data dapat dioptimalkan.8 Pengolahan dan Analisis Data Isu terpenting dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007 adalah sampel Riskesdas 2007 yang identik dengan sampel Susenas 2007. ketepatan waktu kejadian kematian. dewasa ≥ 30 tahun. 2. 20 . anak ≥6 tahun. Tabel 2. dan tabel 2. estimasi yang dihasilkan hanya mewakili sampai tingkat perkotaan nasional.2. (Tabel 2. Pada laporan ini seluruh analisis dilakukan berdasarkan jumlah sampel rumah tangga maupun anggota rumah tangga setelah missing values dan outlier dikeluarkan.4 mencantumkan jumlah sampel anggota rumah tangga dan rumah tangga berdasarkan: 1) variabel pengukuran dari kelompok umur <5 tahun.

4 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.7 27 6.8 73 16.8 77 17.4 45 10.2 85 19.5 327 74.5 – Tabel 2. Tabel 2.9% 56 12.3 160 36.6 98 22.7 50 11.3 59 13.6 213 48.7 169 38.9 60 13.0 20 4.7 47 10. Riskesdas 2007 Variabel Pengukuran/Pemeriksaan pada Riskesdas Pengukuran BB/U (Balita) Pengukuran TB/U (Balita) Pengukuran BB/TB (Balita) Pemeriksaan Visus (Anak >=6 tahun) Pengukuran IMT (Anak 614tahun) Pengukuran IMT (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran Lingkar Perut (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran LILA (Wanita usia15-45 tahun) Pengukuran Tensi (Dewasa >=18 tahun) Pemeriksaan Katarak (Dewasa >=30 tahun) Penilaian Konsumsi Rumah Tangga Penilaian Konsumsi garam Iodium pada Rumah Tangga Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Persen Sampel Teranalisis <70% 25 5.9 81 18.2 87 19.5 73 16.8 87 19.9 129 29.8 264 60.16.5 58 13.4 223 50.2 37 8.5 65 14.9 187 42.5 100 22.7 106 24.6 122 27.9% 25 5.6 105 24.2 203 46.7 163 37.0 129 29.5 62 14.5 118 26.7 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 Total Kab/Kota*) 438 *)Total Kabupaten/Kota 438 adalah Kabupaten/Kota Riskesdas 2007 yang sama dengan Sampel Susenas 2007 21 .Rincian jumlah kabupaten/kota setiap provinsi menurut jumlah sampel anggota rumah tangga dan sampel rumah tangga yang bisa di analisis Riskesdas 2007 terhadap jumlah sampel Susenas 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.7 95 21.4 111 25.7 >90% 332 75.7 47 10.7 151 34.9 103 23.3 241 55.6 95 21.2 80-89.5 70-79.4 55 12.3 11 2.

9% 80-89.Tabel 2.9% >=90% 2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 0 0 0 0 1 4 2 2 5 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 5 0 1 0 0 1 3 4 1 2 1 2 1 2 1 3 5 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 0 5 0 3 0 4 2 1 8 1 1 0 1 1 3 4 17 23 17 9 9 11 4 6 7 5 1 24 34 5 37 4 9 9 11 10 10 12 8 0 9 14 9 4 3 0 1 3 7 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 25 25 56 332 438 22 .5 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9% >=90% 4 2 2 0 0 1 0 3 0 1 3 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 2 4 0 2 0 0 1 7 5 3 6 3 0 0 2 1 2 4 2 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 1 2 4 0 2 4 0 4 1 1 1 0 2 3 3 3 4 1 5 1 2 3 2 0 2 0 3 1 0 3 1 1 1 6 3 3 1 3 1 4 10 2 0 3 1 1 2 4 11 19 16 4 8 9 2 3 7 3 1 22 33 5 34 3 8 8 8 6 7 11 6 0 6 7 7 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 50 47 77 264 438 23 .Tabel 2.9% 80-89.6 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

Tabel 2.7 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.9% >=90% 4 1 2 2 0 3 0 3 0 1 4 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 1 2 3 0 1 0 0 2 7 5 3 6 1 1 0 2 2 1 5 2 0 0 1 1 1 0 2 1 0 0 2 2 3 0 2 5 1 1 2 0 0 0 2 4 3 7 7 3 6 1 3 3 3 1 3 0 4 3 0 7 1 1 1 7 3 4 2 3 1 4 4 2 1 3 1 1 1 4 9 16 14 1 7 7 1 2 6 2 1 20 31 5 29 3 8 8 6 5 6 10 6 0 5 17 6 4 0 0 0 1 5 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 55 47 95 241 438 24 .

9% >=90% 2 1 3 3 0 1 2 4 0 1 5 5 2 1 1 2 1 0 1 3 2 2 4 7 2 4 0 3 4 6 5 7 14 6 4 11 5 3 3 2 3 3 4 0 12 14 2 13 0 1 1 11 2 5 2 8 2 8 8 7 1 1 1 3 2 3 12 17 4 3 7 5 5 3 3 1 1 8 18 2 23 4 5 8 3 5 7 9 1 0 0 10 3 1 0 1 0 0 0 1 3 1 0 0 5 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 98 151 169 20 438 25 .9% 80-89.Tabel 2.8 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9% >=90% 1 0 2 1 0 1 0 0 0 0 5 1 1 0 0 1 0 0 0 2 3 2 2 2 0 0 0 0 2 5 2 3 9 1 2 0 4 0 0 2 4 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 3 2 1 1 2 6 2 3 0 2 3 1 5 4 5 7 1 3 4 6 4 4 5 1 4 0 5 4 2 8 1 2 1 7 4 5 2 8 1 8 13 4 1 0 2 1 1 3 12 22 14 2 4 9 3 1 6 1 1 18 30 2 29 3 7 8 6 4 5 8 1 0 0 7 6 2 0 0 0 1 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 45 58 122 213 438 26 .Tabel 2.9 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.

Tabel 2.9% >=90% 1 1 2 1 0 0 1 0 0 0 5 1 0 0 0 2 0 0 0 2 2 1 3 5 0 1 0 1 3 6 4 6 11 3 0 1 3 1 1 4 3 2 3 0 4 3 1 2 0 1 0 8 1 4 2 4 3 7 6 4 2 2 1 3 3 5 8 12 8 5 6 4 3 7 0 3 1 19 20 4 23 3 3 1 7 5 6 6 6 1 3 14 4 2 0 1 1 0 1 9 12 8 2 3 9 1 0 5 0 0 1 12 0 13 1 5 8 1 4 2 4 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 59 87 187 105 438 27 .10 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.

9% 80-89.9% >=90% 1 1 4 3 0 1 1 0 0 1 6 1 0 0 0 2 0 0 0 3 2 1 3 4 0 1 0 1 2 6 4 6 11 6 1 1 2 1 1 4 3 0 3 0 3 1 1 1 0 1 0 7 1 2 2 2 4 7 6 3 2 3 2 3 3 5 8 13 7 4 7 4 4 5 2 2 0 19 16 1 12 1 2 1 8 5 7 2 7 1 3 13 5 2 0 0 1 0 1 6 10 7 2 2 8 0 2 5 0 0 2 18 3 25 3 6 8 1 3 3 8 1 0 0 3 2 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 65 81 163 129 438 28 .11 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.

12 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% >=90% 2 1 2 1 0 1 2 1 0 0 5 2 0 0 1 2 0 0 1 3 2 1 2 8 0 1 0 1 3 6 5 6 14 3 3 1 4 2 2 3 5 1 3 0 6 4 2 3 0 1 1 11 1 2 2 4 0 8 9 4 2 2 2 3 3 3 13 16 8 6 6 5 4 4 2 3 1 17 25 3 25 4 2 7 4 6 8 5 7 1 2 12 5 2 0 0 0 0 0 3 5 8 0 2 6 0 0 4 0 0 0 6 0 9 0 6 1 0 2 2 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 73 100 203 62 438 29 .9% 80-89.

9% 80-89.Lampiran 2.13 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% >=90% 3 4 2 4 1 1 2 1 0 1 5 3 4 0 1 2 0 0 2 3 3 3 5 8 6 4 1 2 3 6 6 6 14 3 2 2 1 0 1 4 7 0 3 1 5 4 2 3 1 1 0 11 1 4 1 4 1 4 6 3 3 2 1 1 3 2 6 5 6 5 5 2 3 2 2 2 0 16 24 2 24 3 4 2 3 7 7 5 4 0 0 13 5 0 0 1 1 0 1 9 14 9 1 4 10 0 0 5 0 0 1 3 1 10 0 4 7 0 1 0 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 106 87 160 85 438 30 .

9% 80-89.14 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% >=90% 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 1 1 3 0 0 0 0 1 5 2 4 7 1 0 2 2 0 1 3 3 0 0 0 3 1 1 1 1 0 0 0 2 1 2 3 5 4 4 1 3 2 1 4 3 6 2 2 4 2 2 3 3 5 2 6 0 11 9 0 8 1 1 0 11 3 5 1 5 1 6 8 5 2 2 1 2 2 3 17 22 12 7 8 10 3 2 5 0 1 10 25 4 29 3 8 9 5 6 6 9 4 0 0 11 4 0 0 1 0 0 2 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 37 60 118 223 438 31 .

9% >=90% 1 2 1 0 2 1 0 0 0 1 5 0 6 1 27 4 3 9 6 1 2 3 5 1 2 0 0 0 0 4 3 6 15 5 3 3 6 6 1 1 0 1 4 1 4 4 3 10 0 5 0 3 3 1 2 7 1 3 3 3 0 2 1 3 3 3 8 11 10 4 2 7 4 1 4 0 0 5 8 1 1 0 1 0 7 5 10 6 1 1 5 11 6 3 2 3 2 0 0 7 9 5 1 0 5 4 9 2 1 0 16 17 0 0 2 0 0 0 3 1 2 0 6 0 9 1 2 1 0 0 0 0 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 111 95 129 103 438 32 .9% 80-89.Tabel 2.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9% >=90% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 3 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1 3 5 2 1 3 1 0 0 2 2 1 1 0 2 2 2 1 1 2 0 2 1 4 0 7 4 7 4 1 1 3 3 3 4 6 18 24 16 9 10 14 7 8 6 5 1 23 33 3 35 4 7 9 14 9 9 12 4 2 3 19 9 3 1 2 4 0 4 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 11 27 73 327 438 33 .Tabel 2.9% 80-89.16 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

1 Gizi 3.0 >=-2.0 s/d Z-score <-2. dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0.0 s/d Z-score <=2.0 s/d Z-score <-2.1 Status Gizi Balita HASIL DAN PEMBAHASAN Status gizi balita diukur berdasarkan umur.1 cm. maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita. Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0.0 Z-score >=-2. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U Tabel 3. Untuk menilai status gizi anak.1. Gizi Gizi Gizi Gizi Buruk Kurang Baik Lebih Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.0 >=-3.0 Perhitungan angka prevalensi dilakukan sebagai berikut: Prevalensi Prevalensi Prevalensi Prevalensi gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100% gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100% gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100% gizilebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100% a. 3. panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0.0 s/d Z-score <=2. Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri.0 >=-3. Berdasarkan indikator BB/U : Kategori Kategori Kategori Kategori b.BAB 3.0 Z-score >=-3. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U. tidak spesifik. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).0 Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Kategori Pendek Kategori Normal Z-score < -3. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut : a. Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Kategori Kategori Kategori Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.0 >=-2.1. yaitu: berat badan menurut umur (BB/U).1 kg.0 c. tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut. tinggi badan menurut umur (TB/U).1 cm. Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum.0 s/d Z-score <-2. berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).0 >2. 34 .0 >2.

4 5.4 18.0 16.0 73.6 Gizi baik 69.9 83.5%.2 5.0 77.4 75.4 13.7 2.4 72.5 15.8 6. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18.9 17.7 3.7 9.2 16.0 9.0 79.2 4.7 69.2 8.9 3. maka secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui.8 4.9 12.2 14.7 24. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.3 Indonesia *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 5.3 75.3 12.5 8. 35 .4 10.8 13.7 6.6 81.6 4.2 72.4 4.6 71.1 8.4 85.4 4.3 3.5 3.3 14.0 78.3 6.9 11.1 73.1 67.2 13.2 8.7 12.3 80.5 80.2 78. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.4 81.5 72.5 3. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kategori status gizi BB/U Gizi buruk 10.4 14.6 Gizi kurang 15.4% dan gizi kurang 13.0 9.1 9.7 5.0 4.8 5.0 4. Bangka Belitung.7 8.7 4.4 8.4 3.3 74. Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.2 15.1.1 6.4 3.3 Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5.2 4.1 11.3 6.4 4.6 3.0 3.0 2.5 3.1 6.3 72.0%. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.6 12.5 12.2 10.1 16.0 11.8 5.3 6.8 14.5 4.3 13.6 3.6 3.9 71.2 73.0 8. Namun pencapaian tersebut belum merata di 33 provinsi.7 6.7 77.9 3.4 73.Tabel 3.5 6.3 8.5 18.6 3.0 5.6 11.4 Gizi lebih 4.3 2.4%.5 2.8 8.7 4.0 2.8 75.4 64.7 11.9 7.2 4.0 2.1 70.3 74.0 77.5 80.3 76. Kepulauan Riau.3 5.9 5.1 18.0 5.4 6.4 6.5 16. Sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi nasional.

Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3. Jawa Tengah. dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15. Bali.3%. b. Kalimantan Timur. sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Terdapat 12 provinsi yang memiliki prevalensi balita sangat kurus di bawah angka prevalensi nasional. sedangkan untuk target RPJM sudah 16 provinsi yang melampaui target. Dua provinsi lainnya yaitu Jambi dan Kalimantan Timur hanya melampaui target RPJM. Bengkulu.15. yaitu Sumatera Utara.3. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. Masalah pendek pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36. Sulawesi Utara. Bangka Belitung. Di Yogyakarta. Maluku Utara dan Papua. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB Tabel 3. Banten. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6. Maluku dan Papua. Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. Jawa Tengah. perilaku pola asuh yang tidak tepat. Jawa Timur. Kepulauan Riau.0% (UNHCR).8%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10. Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi melebihi angka nasional. Bengkulu. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan. DKI Jakarta.2%. Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut.6%. Bali. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.Bila mengacu pada target MDG maka 14 provinsi yang sudah melampaui target. Kepulauan Riau. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker). c. Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang 36 . Jawa Timur. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. Riau.0 SD. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U Tabel 3. DI Yogyakarta. Kalimantan Barat. indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Delapan belas provinsi menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Jawa Barat. Lampung. Jawa Barat.1% . artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan. Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13. seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Sumatera Selatan. DKI Jakarta. Bangka Belitung. Prevalensi gizi lebih secara nasional adalah 4. Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%. Bali. Sulawesi Tenggara. Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek. Sulawesi Selatan.2 menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U.0%. Jawa Timur. Jambi. Ke 14 provinsi yang telah memenuhi kedua target adalah: Sumatera Selatan. Ke 12 provinsi tersebut adalah: Bangka Belitung.

4 19.4 65.4 19.9 17.7 18.1 13.6 19.8 68. Hanya 3 (tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa Barat.4 15.1 28.9 14.5 54.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pendek 17. dapat dilihat bahwa prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 12.4 13.5 60.7 57.7 15.8 59.5 20.0 63.4 20.5 12.8 18. 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori kritis (prevalensi kurus >15%). Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Sangat pendek 26.9 22.2 17.5 18.5 15.9 59.9 63.6 16.2 37 .6 16.0 23.3 15.0 16.0 19.serius.1 25.6 19.2 61. DI Yogyakarta dan Bali.9 21.3 19.0 69.1 20.3 64. Delapan belas provinsi memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional Tabel 3.6 16.9 19.9 14.2. Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.7 27.6 62.2 64.8 60.0 61. Bahkan.1 55.4 56.0 22. Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita.0 56.9 17.8 24.8 19.8 13.2 59.3 53.0 20.2 60.8 11.3 20.3 16.4 Normal 55.1 17.7 17.2 17.7 17.7 13.3.6 55.2 18.5 72.7 17.9 20.3 64.9 25.0 19.5 63.0 63.8 73. Pada Tabel 3.6 20.5 67.2 20.6 70.6 18.3 58.3 64.5 17. 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%).5 73.2%. dari 33 provinsi.0 16.4 18.3 Indonesia *) TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 18.9 23.3 16.1 17.9 25.7 20.1 18.

1 7.6 3.7 6.0 75.7 11.1 9.3 4.9 81.3 75.1 12.6 70.Tabel 3.8 68.8 5.7 9.5 5.6 13.7 7.5 15.1 5.9 7.2 9. TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur.7 3.3 8.9 77.5 3.2 10.9 8.8 69.1 8.9 7.4 10.2 9.7 69.8 6.6 4.2 9.6 10.3 8.0 Normal 66.9 15.5 73.0 68.8 70. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Sangat kurus 9.6 66.3 14.4 12.0 13.5 9.4 63.4 71.7 10.5 5.8 74.7 73.4 74.5 5.0 9.4 8.9 76.4 7.1 8.9 6.2 3.8 7.5 10.2 16.1 Gemuk 15.4 8.5 8.4 5.9 71.4 70.6 7.5 Indonesia 6.8 6. pekerjaan KK.6 12.2 10.6 4.2 8.5 12.5 12.4 16. pendidikan KK.4 7.0 8.3 7.2 7.1 10.4 8.3 12.8 12.1 7.6 10.2 7.4 20.9 6.3.8 78.9 14.4 14.8 78.1 12.1 9.9 7.4 6.6 7.6 73. telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.9 9. jenis kelamin.2 78.2 70.9 6.7 8. 38 . Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.7 5. Status gizi balita menurut karakteristik responden Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U.5 66.5 9.3 9.4 72.0 8.2 *) BB/TB= Berat Badan menurut Tinggi Badan d.3 76.4 6.0 77.8 5.9 7.5 8.8 62. tempat tinggal dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas).9 74.9 7.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurus 9.6 11.9 14.6 7.8 8.9 13.2 7.3 76.5 76.9 7.

4 13. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik Responden.9 78.3 78.8 3.7 75.9 3.4 8.4 11.7 80.1 6.0 6.7 7.5 4.5 9.6 4.0 13.1 73.2 8.3 11.7 82.7 5.2 4. yaitu: a.9 80.7 Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Dapat dilihat bahwa secara umum ada kecenderungan arah yang mengaitkan antara status gizi BB/U dengan karakteristik responden.8 5.9 3.3 12.3 4.9 77.9 75.1 11.7 76.9 6.9 8.6 12.8 4.Tabel 3.7 5.9 4.8 13.7 14.4 3.8 77.3 75.4. sedangkan untuk gizi lebih cenderung menurun.0 5.9 3.8 14.3 7. 39 .8 4.2 4.9 3.7 3.6 4. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/U balita dengan variabel-variabel karakteristik responden.3 14.7 4.2 6.9 3.2 12.8 5.8 78.8 80.4 14.9 4.9 4. Tabel 3.6 74.7 4.7 3. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 6. prevalensi gizi kurang cenderung meningkat.8 5.4.8 12.8 9.8 13.6 5.7 76.8 75.0 5.3 5.7 5.0 76.9 11.4 9.7 4.7 4.8 5.2 78.2 8.0 81.6 3.9 3.1 76.0 6. Semakin bertambah umur.6 13.2 78.1 15.5 4.4 77.5 14.3 14.0 79.7 78.4 5.6 3.5 3.2 76.2 4.5 4.

d. d. e. prevalensi kekurusan relatif lebih rendah dan prevalensi kegemukan relatif tinggi. e. f. tetapi pada keluarga dengan KK berpendidikan tamat PT. Menurut umur. Tabel 3. f. Tabel 3. c. f. Menurut jenis kelamin. Kelompok dengan KK berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta) memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang yang relatif rendah. prevalensi pendek relatif lebih rendah dari keluarga dengan pekerjaan berpenghasilan tidak tetap.5. sebaliknya terjadi peningkatan gizi baik dan gizi lebih. c. Seperti halnya dengan status gizi BB/U. baik maupun lebih antara balita laki-laki dan perempuan. untuk gizi baik dan gizi lebih semakin meningkat. Prevalensi pendek cenderung lebih rendah seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. c. b. dan sebaliknya. kaitan antara status gizi BB/TB dan karakteristik responden menunjukkan kecenderungan yang serupa : a. Makin tinggi pendidikan KK prevalensi pendek pada balita cenderung makin rendah. Masalah kurus cenderung semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur. Tidak ada perbedaan mencolok antara masalah kurus di daerah perdesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. Tidak ada pola yang jelas pada masalah kurus menurut tingkat pendidikan KK. e. Semakin tinggi pendidikan KK semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita. Tidak tampak adanya perbedaan masalah kurus yang mencolok antara balita laki-laki dan perempuan. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balitanya. Kajian deskriptif kaitan antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden menunjukkan: a. namun masalah kegemukan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. kurang. Pada kelompok keluarga yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Swasta). tidak tampak adanya pola masalah pendek pada balita. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden. Prevalensi pendek di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. 40 . Tidak nampak adanya perbedaan yang mencolok pada prevalensi gizi buruk.b. Tidak ada pola pada masalah kurus menurut tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. tidak tampak adanya perbedaan masalah pendek yang mencolok pada balita. Prevalensi kurus balita pada kelompok dengan KK sebagai petani/nelayan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan KK yang memiliki pekerjaan lain. Sedangkan prevalensi balita kegemukan tertinggi ditemui pada kelompok dengan KK yang mempunyai pekerjaan dengan penghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta). b. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang daerah perkotaan relatif lebih rendah dari daerah perdesaan. d.6. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi TB/U dengan karakteristik responden.

Tabel 3.5 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik Responden.3 18.0 58.6 68.1 70.1 21.7 70.8 60.7 17.1 62.8 14.0 15.6 18.9 18.7 13. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 21.8 17.9 69.3 59.8 17.4 60.2 19.4 18.9 16.2 19.3 19.6 59.8 65.3 15.6 17.0 18.1 15.8 60.6 61.1 65.0 20.3 19.0 22.2 19.9 65.2 19.8 19.8 17.2 17.5 58.1 17.8 14.7 14.0 20.0 67.3 67.2 62.9 16.6 Sangat pendek Pendek Normal 41 .5 18.5 14.0 13.8 19.1 17.1 19.3 64.7 16.7 14.1 59.9 18.8 15.2 15.5 17.2 22.7 64.2 17.9 62.6 72.7 19.5 20.8 67.1 22.5 21.2 17.5 61.

3 74.4 11. Hanya tiga provinsi.2 75. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Karakteristik Responden Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 6.0 6.2 10.0 11.9 12.8 11.5 73.7 di bawah ini menyajikan gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang).1 12.5 74.9 73.8 8.6 7.8 74. BB/TB (kurus).Tabel 3.5 4.1 7.2 74.0 7.2 6.5 6.9 7.2 6.7 10.9 11.0 6.0 76.3 73.3 75.1 73.9 6.8 7.9 6.0 7.0 7.3 74.6 11.8 14. yaitu Jawa Barat.7 74.7 72.6 7.9 10.0 7.7 77.5 7. Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut. Tigapuluh provinsi masih menghadapi permasalahan gizi akut dan 18 provinsi menghadapi permasalahan gizi akut dan kronis.9 15.6 6.4 13.6 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.3 7. 42 .4 73.9 72.0 6.0 4.2 10.0 11.9 15.9 7.6 7.2 7.3 7.0 7.4 12.8 6.7 7.0 7.9 12.2 73.1 7.5 7.0 76.7 6.1 19.9 72.6 6.8 12.1 5.3 6.1 5. TB/U (pendek).7 7.8 7.7 7.8 6.5 7.0 5.0 6.5 5.4 12.7 Sangat kurus Kurus Normal Gemuk Tabel 3.7 8.3 73.4 64.4 74.4 7.6 5.0 74.7 7.3 73.2 11.7 14.9 12.9 7.9 12.4 12.8 68.

3 12.2 21.6 11.8 23.5 45.7 46.7 10.7 36.4 27.7 35.2 15.0 13.7 14.0 38.2 14.3 22.2 21.8 14.4 36.7 14.8 9. Riskesdas 2007 BB/U Buruk & Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia TB/U Kronis BB/TB Akut Akut* Kronis** Kurang 26.2 39.0 10.4 44.5 17.2 16.0 16.9 44.9 10.4 37.4 13.1 36.3 15. Tabel 3.8 (Kurus) 18.5 18.2 31.2 42.3 17.6 16.4 12.DI Yogyakarta dan Bali.5 39.0 36.7 25.9 31.8 22.4 16.7 20.7 35.3 15.9 17.7 17.4 25.5 24.6 36.2 13.0 9.7 16.6 43.1 26.0 11.8 38.6 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB >10% (UNHCR) **Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U di atas prevalensi nasional 43 .2 15.7 39.4 16.8 13.5 33.0 15.1 10.0 17.9 16.8 27.9 18.6 22.5 13.8 41. Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.2 26.9 15.6 26.1 40.8 17.6 34.6 17.4 12.8 35.3 29.6 19. yang masalah gizi kronisnya lebih kecil dari angka nasional dan masalah gizi akutnya belum mencapai kondisi serius.4 18.1 19.0 43.9 16.2 40.4 27.7.2 18.0 15.8 40.4 24.5 20.8 33.5 22.6 22.4 (Pendek) 44.

gambarannya adalah sebagai berikut Terbaik 1.7% 39.4% 67. 7.4% 20. 5. 4. kemungkinan tidak mewakili kabupaten/kota.1% 39. 10.8% 40. 5. 9.6% 19. 7. Sarmi Wajo Kota Mojokerto Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kampar Kota Jakarta Selatan Kota Madiun Kota Bekasi Luwu Timur 16.7% 18. daftar 10 kabupaten/kota dengan underweight paling banyak dan paling sedikit adalah: 1. 9. 10. 8.1% 38.8% 6. 10. 2. 9. 3. 4.7% 1. Terburuk Seram Bagian Timur Nias Selatan Aceh Tenggara Simeulue Tapanuli Utara Aceh Barat Daya Sorong Selatan Timor Tengah Utara Gayo Lues Kapuas Hulu 67.7% 40.8% 63.9% 60. 5. Secara kasar bisa dipilih indikator dengan prevalensi / persentase yang tidak terlalu sedikit.8% 6. uraian berikut ini mengkaji urutan (rangking) dari yang terbaik sampai yang terburuk terhadap seluruh 440 kabupaten/kota. Seperti pada tabel 2. 7. Terbaik Kota Tomohon Minahasa Kota Madiun Gianyar Tabanan Bantul Badung Kota Magelang Kota Jakarta Selatan Bondowoso 4. Terburuk Aceh Tenggara Rote Ndao Kepulauan Aru Timor Tengah Selatan Simeulue Aceh Barat Daya Mamuju Utara Tapanuli Utara Kupang Buru 48. 8. 2.8% 7. 6.1% 7.2% 39.2% 60.5% 59. Contohnya untuk status gizi balita bisa diambil indikator: • Berdasarkan BB/U: underweight (gabungan gizi buruk + gizi kurang berdasarkan BB/U).0% 44 .3% 20. bila diambil gizi buruk saja prevalensinya terlalu kecil.0% 19.9% 61.7% 1.5% 21.0% 37. 2.9% 21.7% 59. 3.0% 6.3% 38. 4.2% 8. 2. 5.Memperhatikan jumlah sampel balita yang bisa dianalisis sampai tingkat kabupaten/kota. 3.6% Berdasarkan TB/U (gabungan sangat pendek + pendek).1% 66.2% 40.2% 20. 3. 8.0% 21. 7. setelah dilakukan rangking antar kabupaten/kota.4% 7.5 dapat dilihat jumlah kabupaten/kota dimana data balita untuk status gizi hampir sebagian besar kabupaten/kota dengan jumlah sampel Riskesdas 2007 teranalisis >80% darisampel Susenas 2007. kemudian diambil 10 kabupaten/kota yang terbaik dan terburuk sebagai berikut: Berdasarkan BB/U. 8. 6. 6. 10.3% 8. 6. 4. 9.5% 8.6% 59. Berdasarkan TB/U: stunting (gabungan antara sangat pendek dan pendek) Berdasarkan BB/TB: wasting (gabungan antara sangat kurus dan kurus) • • Sebagai gambaran.

apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata.0% 30. Terburuk Solok Selatan Seruyan Manggarai Tapanuli Selatan Seram Bagian Barat Asmat Buru Nagan Raya Aceh Utara Bengkalis 41. Menurut provinsi. 2.6% 4.9% 30. 9.7 12. secara nasional prevalensi kurus adalah 13.9% 5. 9.8 25.8 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut Nilai Rerata IMT.9 13. 10. 5.1% 29.3% 5. 3.7 24.7 16.6% 3.8). 7.6 21. Tabel 3.6 24.9) . Sebagai rujukan untuk menentukan kurus.1% 33. 8.5 19.0 19.4% 5.8 20. yaitu 8. Terbaik Minahasa Kota Tomohon Kota Sukabumi Kota Bogor Bandung Kota Salatiga Kota Magelang Magelang Cianjur Bangka 0.2 19. dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2 SD nilai rerata standar WHO 2007 (Tabel 3.4 22.5 +2SD 19.5 21.3% pada laki-laki dan 10.2 19.3 Berdasarkan standar WHO di atas.9% pada anak perempuan.4 15.0 18.5 14.1 14. 6.0% 2. 2.3 15.5 22.1 13.5 Rerata IMT 15.5 13.3% 4. 7. 4.6% 1. 10.5% 41.9 26.9 15.8% 3.1%) maupun pada anak perempuan (19.4%.9 14. 4.4 16. WHO 2007 Umur (Tahun) 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Laki-laki Rerata IMT 15.5% dan perempuan 6.6 17.7 14.7 20.8 19.1 16.7 12.6 -2SD 12.3% 30.5 15.3% pada anak laki-laki dan 6.3 15. (Tabel 3.1.7 16. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9.0 13.3% 31.9% pada perempuan.5 23. Sedangkan prevalensi kurus terendah di Bali.4 14.2 27.0 Perempuan +2SD 18.9 17.Berdasarkan BB/TB (gabungan sangat kurus dan kurus) gambaran 10 kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: 1. 8.3 18.9% 31.9% 29. 3.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin.9 15. 5. Umur dan Jenis Kelamin.5 18.6 23.0% 4.1 16. 6. 45 .2% 5.1%).3 13.2 13.5 13.9 -2SD 13. Nusa Tenggara Timur mempunyai prevalensi kurus tertinggi baik pada anak laki-laki (23.

1%).4 14.7 11.5 8.2 14.1 17.8 15. Maluku (18.8 6.8 13. Riskesdas 2007 Laki-laki Kurus 14.1 9.2 9.4 9. NTB (17.4 13.4 4.9 10.2 6.9 8.3 4.8 5. Banten (14.3%).0 16.4 6.9%).0 8.9 6.4 9.0 11. Riau (13.5 6. Kalimantan Barat (17.Tabel 3.2 7.1 11.2 15.9%).9 13.7 BB-Lebih 12.6 10.8 Indonesia 13.6 12.5 11.8 10.2 12.9 6.4 13.2%).4%).1%).9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Perempuan Kurus 12. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NTT (19.1 4.1 11.8 4.5 13.1%).9 13.0 10.4 12.1 8.6 8.7 10.8 10.8 8.4 BB-Lebih 13.7 7.8 14.9 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.8 14.4 9.5 6.0 4.3 10.3 9.5 6.3 12.6 4.2 11. Kalimantan Tengah (15.5 9.3 6.2 12.6 15.7 7.1 7.9 10.1 9.5 12.0 6.6 10.8 6.8 8.6 7.1 23.8 9.5 10.4 11.2 6.2 18.9 10.7 10.9 11.4 11.4 6.4 Lima provinsi dengan prevalensi kurus tertinggi pada anak laki-laki adalah NTT (23.4 13.0 8.3 6.0 14.8 6. dan Kalimantan Tengah (16.8%.6 7. 46 .3 17.0 7. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 13.7 10.1 12.3 9.7 9.7 19.5 7.9 12.4 15.5 14.0 4.2 12.5 10.2 13.5 3.4%).6 4.3 11.4 16.1 9.6 11.5 8.2 5.8 12.9 15.7 15.4 9.7 13.6 11.3 4.1 12.3 3.6 9.2 7.7 9.0 12.3 12.2 6.8 10.5 13.

6 3.1 7. Sedangkan prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur. semakin bertambah umur semakin kecil prevalensi BB lebih.5 1.7 3.9 10.6 11. 47 .8%).5 Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 14.0 11.9 13.8%). sedangkan untuk prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas.6%) maupun pada anak perempuan (3.3 13.5%) Tabel 3.3 8. Papua (9.0 Laki-laki Kurus 13.5 BB-Lebih 11.Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di Sumatera Selatan untuk anak laki-laki (16.0 13.0 5.8 12.1%).7 5.2 12. sebaliknya prevalensi BB lebih sedikit lebih tinggi di perkotaan.5 2. dan Kepulauan Riau (9.3 12.7%).7 Perempuan Kurus 10.4 11.6 7. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun terendah ditemukan di NTT baik pada anak laki-laki (4.4 9. Tabel 3.1 6.5 13.0%) dan untuk anak perempuan di NAD (12.9 12. Sumatera Selatan (11%). Bengkulu (14.3 12.7 10.4 13.6 11.9 6. Menurut tipe daerah.10 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut Karakteristik. prevalensi kurus sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.5 13. Lima provinsi dengan prevalensi BB-lebih pada anak laki-laki adalah Sumatera Selatan (16%).5 12.6 9.1 9.1 8.2 BB-Lebih 15. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NAD (12%).3 8.2%). Riau (15.3 Menurut umur tampak adanya kecenderungan.0 10. Sumatera Utara (11. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 12.8 2.5 13. Sumatera Utara (14.1 7.6 14.0%).8 10.3 10.0 8.2%).0 9.7 10.8 5.1 10.6 4.1 10.4 10.2 12.6 14.8 6.9 13.6 8. dan Papua (12.3 9.0 11.9%).3 13.10 menggambarkan prevalensi kurus dan BB lebih menurut karakteristik responden.1 12. Tampak adanya kecenderungan positip antara tingkat pengeluaran per kapita dengan BB lebih baik pada laki-laki maupun perempuan.

Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese.0 IMT >=27.1. Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut : BB (kg)/TB(m)2.12. DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.0 . Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19. Kalimantan Barat. Maluku Utara.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Gorontalo.45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA). Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional.8% BB lebih dan 10.<24.1 cm.1 cm.9 IMT >=25. Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan.11 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masingmasing provinsi. Nusa Tenggara Barat.3% obese).5 IMT >=18. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan cenderung semakin tinggi prevalensi obesitas umum. Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3. a. Dari tabel ini terlihat bahwa : a. 48 . Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 .0 Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral.13 menyajikan hasil tabulasi silang status gizi penduduk dewasa menurut IMT dengan beberapa variabel karakteristik responden. ini berlaku juga untuk prevalensi BB lebih dan obese. Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0. b.9% dan 23.<27. Prevalensi obesitas umum lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) Tabel 3.1% (8. Tabel 3. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13.5 .8%). Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan. Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas: Kategori kurus Kategori normal Kategori BB lebih Kategori obese IMT < 18. Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur.3. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur.

1 5.2 10.2 11.2 11.4 7.5 67.4 7.2 67.3 7.8 7.6 72.2 7.9 63.5 9.0 68.7 Obese 8.1 68.8 10.4 11.3 14.1 8.3 15.0 8.6 63.1 7.8 66.9 9.9 64.2 11. Riskesdas 2007 Kategori IMT Provinsi Kurus NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.5 70.1 16.3 70.8 17.1 9.3 65.1 6.9 9.9 12.4 12.7 71.Tabel 3.1 73.8 9.2 66.7 8.4 66.6 15.1 9.11 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.4 6.2 67.6 9.4 14.6 4.7 5.8 64.7 67.1 16.6 15.2 14.3 72.1 8.5 12.6 17.3 7.7 9.2 8.9 15.4 9.9 12.7 Indonesia 14.4 64.1 11.6 7.6 14.4 7.3 66.1 6.8 10.5 13.7 10.6 15.7 11.4 7.7 60.5 10.7 10.4 13.8 69.9 23.4 11.9 11.2 71.6 9.9 9.5 BB-Lebih 7.5 7.9 7.0 17.3 66.6 12.8 11.9 67.2 Normal 69.2 7.5 14.7 64.0 10.0 70.3 49 .6 16.7 7.1 9.0 10.3 8.5 8.9 19.1 6.0 12.3 8.5 60.3 13.0 18.8 68.9 10.5 7.7 12.3 11.7 11.2 62.8 11.1 15.8 69.8 6.0 9.9 7.0 7.0 14.

4 18.4 17.3 18.9 24.0 22.5 20.4 11.7 16.1 17.2 20.4 11.2 11.9 17.6 27.2 22.9 23.9 10.8 21.6 24.6 18.2 16.3 38.7 20.5 25.1 13.1 21.6 14.6 14.7 8.1 33.0 10. Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum (%) Provinsi Laki-laki NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.2 22.5 14.0 18.3 11.9 30.3 16.7 11.6 15.3 18.6 20.5 33.7 23.8 18.12 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.2 14.5 20.9 27.2 15.2 19.4 19.9 23.3 16.8 10.4 19.5 20.1 12.4 15.4 23.7 29.1 15.5 18.4 Indonesia 13.6 20.9 7.1 26.5 11.9 27.4 10.2 11.0 18.3 22.8 19.5 Laki-laki dan Perempuan 16.8 9.6 12.3 28.3 14.0 22.7 20.7 14.4 16.0 15.9 16.9 24.7 10.9 22.4 13.1 Perempuan 20.0 20.Tabel 3.7 14.4 29.0 26.2 13.8 26.3 15.6 19.3 22.7 20.7 18.0 22.3 8.1 50 .

8 10.9 8. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif.1 7. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP) Tabel 3.7 7. jenis kelamin dan karakteristik responden.7 8. Demikian juga semakin meningkat tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.4 65.2 11. Dari 33 provinsi.1 13. selanjutnya berangsur menurun kembali.9 67.7 11.8 11.7%).5 15.5 9.6 15.3 67.7 16.14).3 8.7 9. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurus Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe daerah 13.4 7. Tidak tampak pola kecendrungan antara obesitas sentral menurut tingkat pendidikan.7 64. Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18. 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional (Tabel 3.8 19.9 7.2 13. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7.14 dan Tabel 3.0 62.7 12.9 12. 51 . Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik. prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada ibu rumah tangga (Tabel 3.8 7. Menurut tipe daerah tampak lebih tinggi di daerah perkotaan (23.3 15.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran RT per kapita per bulan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 17.7%).7 9.3 66. semakin tinggi prevalensi obesitas sentral.9 63.3 9.9 7.8%.4 7.Tabel 3.8 10. Menurut kelompok umur.5 13. prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun.4 Perkotaan 15. Sedangkan menurut pekerjaan.1 10.13 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden.4 13.9 7.15 menyajikan prevalensi obesitas sentral menurut provinsi.6 63. 2005).9 Kategori IMT Normal BB-Lebih Obese 67.2 67.15).5 b.8 68.2 66.6%) dibandingkan daerah perdesaan (15.8 8.

0 23.4 17.9 10.8 .6 19.9 23.4 19.Tabel 3.5 23.6 13.6 25.3 13. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral Provinsi (LP.2 19. P>80) * NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 14.0 15.1 18.2 Indonesia Catatan: *) LP= lingkar perut .9 15.1 27.7 14.1 27. P = Perempuan 18.1 15.2 15.1 21.0 19. 52 .0 19.0 17.1 19. L =Laki-laki .5 31.1 18.L>90.0 27.8 16.4 11.4 18.8 20.5 22.14 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Provinsi.

9 15.0 19.8 10.4 26.2 Karakteristik Responden 53 .L>90.7 15.9 15.5 7.8 7.0 17.8 19.0 36.7 29.1 23.7 16.6 15.0 16. P = Perempuan 8.7 23. P>80) * Kelompok Umur (Tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Catatan: *) LP= lingkar perut .1 18.3 25.8 19.0 19. L =Laki-laki .3 20.9 24.9 23.15 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Obesitas Sentral (LP.Tabel 3.3 18.7 15.7 20.8 17.

04 3.24 3. Tabel 3.33 3.62 2.0 25.9 26.1 26.57 2.37 3.53 2. Tabel 3.0 27.72 2.16 3.60 2.18 menyajikan gambaran masalah gizi pada WUS yang diukur dengan LILA.32 3.3 27.8 25.35 3. dan Tabel 3.7 26.4 24.0 27.4 27.8 26.2 27. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) Tabel 3.17.80 2. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut provinsi dan karakteristik responden.6 26.41 54 . yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).94 2. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat.9 27.2 27.2 24.2 Standar Deviasi (SD) 2.7 24.17 3.4 27.62 2. Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun. Tabel 3.1 25.98 3.6 24.78 2.98 2.31 3.3 27.8 24.3 26.1 27.10 3.2 27.35 3.17 3. Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD.37 3.16.29 3.4 26.16 menggambarkan prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur.16.c. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Umur (Tahun 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rerata (cm) 23.9 25.32 3.14 3.23 3.4 25.92 2.2 27.6 25.22 3.

6 55 .3 7.Untuk menilai prevalensi risiko KEK dilakukan dengan cara menghitung LILA lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun.6 12.4 12.6%) yaitu DKI Jakarta.0 17.8 12. Maluku.9 8. Tabel 3.17 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi.2 15.9 10.17 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas angka nasional (13. DI Yogyakarta.9 12.2 10. Tabel 3.5 9.8 10.6 10.1 8.6 8.2 14.8 10.3 16. Jawa Timur.1 9. Papua Barat.0 12. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Risiko KEK* (%) 12.5 15.0 11.9 12. Kalimantan Selatan.1 Indonesia 13. Sulawesi Tenggara.1 19.6 12.2 5. Jawa Tengah.4 9.6 23.4 24.5 14.1 11. NTT. dan Papua.2 20.

8 13.4 13. menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah. risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT).4 Konsumsi Energi dan Protein Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu.1. Secara nasional.18 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden. c. Sedangkan 56 .8 12. b.5 12.18.5 KEK 3. Berdasarkan tingkat pendidikan.6 13. prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Tabel 3.0 14. Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT dengan konsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi risiko KEK dengan karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 3.4 12. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4 Kuintil – 5 16.1 15. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita.1 14.5 13. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut.4 11. gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). adalah: a. Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK.

Tabel 3. Sumatera Utara. Sumatera Barat. Banten. Sulawesi Utara.5 Kkal dan 55.5 Kkal untuk energi dan 55. Prevalensi RT yang mengkonsumsi energi dan protein di atas rerata konsumsi energi dan protein tidak disajikan. Lampung. Kalimantan Timur. DKI Jakarta.5 gram).20 memperlihatkan persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah” yang berarti di bawah angka rerata nasional (1735. Sedangkan provinsi dengan rerata konsumsi protein di atas rerata nasional sebanyak 19 provinsi yaitu: NAD. Riau.0 %) yaitu Provinsi Riau. Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi “energi rendah” di atas angka nasional (59. Bangka Belitung. Sulawesi Utara. Gorontalo. Jawa Barat.5 gram untuk protein. Sulawesi Barat. Kalimantan Barat. Kalimantan Timur. semakin rendah persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah”. DI Yogyakarta. Sulawesi Tengah. Provinsi dengan rerata konsumsi protein terendah adalah Bengkulu (45. Kalimantan Timur. NTT. Bali.21. Lampung.7 kkal) dan provinsi dengan angka konsumsi energi tertinggi adalah provinsi Jawa Timur (2175. Jawa Tengah.0 gram). Kalimantan Selatan. Maluku Utara. Sumatera Selatan. Sulawesi Selatan. dan Papua. Persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “ protein rendah” menurut tingkat pengeluaran RT per kapita menunjukkan pola yang spesifik. merupakan data prevalensi RT dengan konsumsi ”energi rendah” dan konsumsi ”protein rendah”. dan Papua Barat.19 menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735.8 gram) dan provinsi dengan rerata konsumsi protein tertinggi adalah Kepulauan Riau (69. Jawa Timur. Pada tabel 3.5 kkal).0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58. Kep. NTT. Jambi. Provinsi dengan rerata konsumsi energi di atas rerata nasional sebanyak 11 provinsi yaitu: NAD. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59. Riau. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Maluku. Kalimantan Tengah. Sulawesi Tenggara. Maluku. Gorontalo. Tabel 3. Bangka Belitung. Jawa Barat. dan Papua. 57 . NTB. Sumatera Utara. Kalimantan Barat. Kalimantan Tengah. Jambi. Maluku Utara. Banten. NTB.19 disajikan angka rerata konsumsi energi dan protein per kapita per hari.20 dan Tabel 3.5 %. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah. Jawa Tengah.5%) yaitu Provinsi Bengkulu. Papua Barat. Data pada Tabel 3. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita. Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi konsumsi “protein rendah” di atas angka prevalensi nasional (58. sebaliknya persentase RT di perdesaan dengan konsumsi “protein rendah” lebih tinggi dari RT di perkotaan.21 menunjukkan bahwa persentase RT di perkotaan dengan konsumsi “energi rendah” lebih tinggi dari RT di perdesaan. Sumatera Barat. Maluku Utara. Sulawesi Selatan. DI Yogyakarta. Jawa Timur. Bengkulu.RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT dengan konsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007. dan pada Tabel 3. Bali. DKI Jakarta. Provinsi dengan angka konsumsi energi terendah adalah provinsi Sulawesi Barat (1384.

7 1532.4 1371.3 1683.1 29.6 51.6 807.6 53.Tabel 3.2 586.4 62.1 1865.8 51.6 744.6 45.7 56.9 923.5 52.9 1592.1 28.9 30.0 60.1 53.4 1451.0 68.3 27.3 45.0 58.6 1803.3 26.7 Protein Rerata SD 69.7 1602.2 618.4 56.8 677.8 25.7 54.4 568.0 493.1 28.6 772.3 1371.6 1375.5 1644.4 23.6 1828.8 781.5 24.4 58 .6 1806.8 28.5 28.5 27.5 18.3 50.2 610.7 791.3 47.5 53.3 21.19 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi.3 585.1 28.7 53.5 485.6 69.2 28.8 21.8 709.2 60.5 1636.1 641.0 741.1 26.6 653.2 26.7 66.3 608.5 748.9 47.6 56.0 59.7 705.5 691.1 1752.2 1504. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi Rerata SD 1805.5 58.7 1692.3 24.3 615.3 57.5 28.6 1823.3 1764.3 65.0 460.5 1706.3 609.7 24.2 1362.1 739.3 1861.2 57.7 1381.5 24.7 55.1 28.9 678.7 1884.1 618.6 24.1 55.6 27.2 653.0 596.9 1534.0 20.8 506.6 59.1 30.3 1623.8 22.7 2182.8 56.9 25.7 1682.9 24.5 922.8 1672.3 24.6 615.6 1594.7 32.5 26.4 1385.3 602.4 51.7 1703.5 Indonesia 1735.

8 69.7 53.5 76.8 50.1 37.5 gram) dari data Riskesdas 2007 59 .5 56.6 62.6 61.3 61.2 51.9 60.3 57.5 51.4 53.4 66.8 57.6 61.1 35.9 Protein 35.5 39.7 52.6 55.6 67.1 65.0 57.4 50.9 63.8 72.20 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional.2 64.9 58.3 78.8 59.7 63.0 57.8 69.4 80.5 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.9 66.9 63.4 60.1 75.8 77.9 48.0 51.8 54.Tabel 3.5 71.2 62.6 64.6 42.4 81.7 38.6 49.9 56.0 59.1 61.4 82.9 72.3 53.0 58.5 kkal) dan Protein (55.1 74.5 53.9 Indonesia 59.9 55.8 59. Riskesdas 2007 Persentase RT Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Energi 51.1 65.2 58.3 59.4 80.

Bersamaan dengan sampel garam rumah tangga tersebut. Dari hasil tes cepat yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3). Sumatera Selatan. Ada enam provinsi yang telah mencapai target garam beriodium untuk semua yaitu Sumatera Barat. secara nasional juga dikumpulkan sampel garam dari 30 kabupaten/kota yang dkonsumsi oleh rumah tangga untuk dilakukan pengecekan kadar iodiumnya dengan metode titrasi. dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna.0 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735.3 Kuintil – 4 57.1 66.4 Kuintil – 3 59.9 62.1.3 Kuintil – 5 53.0 59. Gorontalo dan Papua Barat. mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita .8 Kuintil – 2 60. dikumpulkan urin dari anak usia 6-12 tahun untuk dilakukan pengecekan kadar iodium dalam urin.4 55.4 57. 60 .3 56. Bangka Belitung.5 Konsumsi Garam Beriodium Informasi mengenai konsumsi garam beriodium pada Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium. dan hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam melalui titrasi serta hasil pemeriksaan urin.22 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut provinsi. Riskesdas 2007.4 Protein Kuintil – 1 64.7 48. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga. baru sebanyak 62. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga menggunakan garam cukup iodium.5 gram) dari data Riskesdas 2007 3. Secara nasional.3% RT Indonesia mempunyai garam cukup iodium.5 kkal) dan Protein (55. Jambi. Tabel 3. Karakteristik Responden Persentase RT Energi Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita 61. Disamping itu. Pada penulisan laporan ini yang disajikan adalah hasil tes cepat.Tabel 3.1 60. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua.

0 84.8 94.0 90.4 45.6 82.0 69.22 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi. persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.0 93.2 83.4 88.7 58.5 90.3 82.8 98.1 68.23 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (≥30 ppm) menurut menurut karakteristik responden.1 27.9 86.9 90.3 58. Tabel 3.3 61.7 76.3 89.7 89. Riskesdas 2007 Rumah-tangga Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tanggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua mempunyai garam cukup iodium (%) 47.1 83.2 62.3 61 .7 45.9 31.2 Indonesia 62.0 43.7 76.2 45.1 46. Berdasarkan tempat tinggal.8 89.1 34.Tabel 3.

24. atau 75.8 75.7 59.Ditinjau dari kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita.1 56. Tabel 3. 62 .5% garam yang dikonsumsi rumah tangga kandungan iodiumnya tidak memenuhi SNI.7 79.5 70. Demikian pula menurut pendidikan.1 80.5 68. Riskesdas 2007 Rumah tangga Karakteristik responden Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang/Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 mempunyai garam cukup iodium (%) 50.1 70.0 Dari hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga dengan metode titrasi dapat dilihat pada tabel 3.7 67.4 56.2 75.8 60.3 56.9 56. semakin tinggi pendidikan kepala keluarga semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium.5% yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI): 30-80 ppm KIO3. Berdasarkan pekerjaan.23 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden.8 64. semakin tinggi kuintil semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium.3 61.9 59. Gambaran nasional yang diwakili 30 kabuapten/kota dapat dilihat bahwa kandungan iodium dalam garam yang dikonsumsi RT hanya 24. persentase yang mempunyai garam cukup iodium pada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS/TNI/Polri/BUMN dan swasta lebih tinggi dibandingkan yang pekerjaannya tidak tetap.

5 75.0 81.4 41.24 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota.5 84. tidak ada satupun dengan persentase kadar iodium urin < 100 µg/L yang mencapai 50%. 63 .7 59.0 75.9% anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota dengan ekskresi iodium dalam urine (EIU) atau kadar iodium < 100 µg/L. Dari 30 kabupaten/kota.7 92.2 56.8 50.5 Dari tabel 3.0 72.0 86.3 100.35 dapat dilihat.3 72.6 68. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Persentase RT mempunyai Garam Iodium < 30 ppm Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 77. sebanyak 12. Kadar iodium dalam urin merupakan petunjuk yang baik dari asupan (konsumsi) iodium terkini. Jika lebih 50% anak 6-12 tahun mempunyai kadar iodium urin < 100 µg/L maka pada populasi tersebut kemungkinan besar ada masalah kekurangan iodium.0 97.9 75.2 76.8 80.3 84.7 90.Tabel 3.2 57.7 69.0 63.2 69.3 66.9 57.7 96.6 67.8 83.1 37.

3 10.5 16. ada 6 kabupaten/kota dengan nilai median kadar iodium urin antara 100-199 µg/L yaitu Bantul.1 8.1 10. nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan diatas 300 µg/L.9 12. Catatan khusus untuk Grobogan.9 Tabel 3.9 5. Dari 30 kabupaten/kota. Riskesdas 2007 KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA Persentase Anak dengan EIU < 100 µg/L 12.4 10. Konawe Selatan dan Kota Gorontalo.2 20.1 4.0 10.7 9. tanah dan sumber air minumnya mengandung tinggi iodium.26 menunjukkan bahwa nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota adalah 224 µg/L atau masuk kategori ‘diatas angka kecukupan yang dianjurkan’.4 6.5 20.9 12.3 8. Sementara itu.6 13.2 15.3 22.9 3.5 5.Tabel 3.4 11.7 14.8 13. Nilai median antara 100-199 µg/L menunjukkan asupan iodium di populasi tersebut telah dapat memenuhi kecukupan yang dianjurkan sedangkan nilai median diatas 300 µg/L masuk kategori asupan yang berlebih.4 13.4 17. Jeneponto.9 23.4 7.7 8.25 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.8 23. Bondowoso. 64 . Klungkung.0 34.

Tabel 3.26 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 NILAI MEDIAN EIU KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA (µg/L) 225 230 221 229 237 290 229 365 244 304 288 192 208 214 164 246 236 186 157 209 296 270 257 219 221 181 213 187 199 211 224 65 .

Tabel 3. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi.9%) dan tertinggi juga di DI Yogyakarta (89. Cakupan imunisasi pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada empat tabel (Tabel 3. ibu lupa berapa kali sudah diimunisasi. tiga kali polio. tiga kali polio. atau ketidakakuratan pewawancara saat proses wawancara dan pencatatan.27 dapat dilihat secara keseluruhan. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. Dalam Riskesdas.1%).0%). yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum. untuk imunisasi BCG yang terendah di Sulawesi Barat (73. subyek yang ditanya tentang imunisasi bukan ibu balita.30 adalah cakupan imunisasi lengkap pada anak. tiga kali HB.8%). anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. catatan dalam KMS tidak lengkap/tidak terisi.30). tiga kali DPT. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: • • • Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. imunisasi DPT/HB pada bayi umur dua. satu kali imunisasi campak dan tiga kali imunisasi Hepatitis B (HB).1 Status Imunisasi Departemen Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. dan campak menurut provinsi dan karakteristik responden. catatan dalam Buku KIA tidak lengkap/tidak terisi. DPT tiga kali terendah juga di Sulawesi Barat (47. tiga kali imunisasi DPT. tiga kali DPT. ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi.8%).2. Tabel 3. polio tiga kali (71. tiga kali HB dan satu kali imunisasi campak. Tidak semua balita dapat diketahui status imunisasi (missing). Program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG. imunisasi polio pada bayi baru lahir. empat kali imunisasi polio.29 dan 3. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. campak (81. Cakupan imunisasi yang lebih bervariasi antar provinsi terlihat pada imunisasi polio tiga kali yaitu terendah di Sulawesi Barat (47.9%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan.6%).7%) dan terendah hepatitis B (62. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan.3.9%). Dari tabel 3. tiga.2 Kesehatan Ibu dan Anak 3. Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi yaitu BCG. 66 . Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. DPT tiga kali (67. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. Bila dilihat masingmasing imunisasi menurut provinsi.0%).27 s/d Tabel 3. cakupan imunisasi menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86. dan Catatan dalam Buku KIA. tidak dapat menunjukkan KMS/ Buku KIA karena hilang atau tidak disimpan oleh ibu.27 dan Tabel 3.2%) dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100.

4 89.9 55.4 48.7 93.7 85. WHO membuat rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN). Pada tahun 2002.7 69. dan 1997.8 93.8 79.3 89.1 88.4 50.7 90.7 78.2 64.3 95.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Polio 3 63.0 90.6 81.1 81. PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah.9 59.4 51.9 65.3 77.3 83.4 93.1 90.4 83.2 73.9 84.9 89.8 79.5 96.7 74.8 62.8 79.7 56.0 46.6 77.5 83.3 83.2 75.3 68.0 69.3 47.2 52.9 62.7 64.3 62. PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga 67 .8 96.3 71.3 75.2 63.1 60.1 73.7 Indonesia 86.3 87.4 67.5 72. Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995.5 HB 3 53.0 59.0 77.4 78.5 66.6 74.3 96.1 DPT 3 58.5 84.1 88.7 64.6 42.4 76.9 72.4 84.8 68.7 77.5 Campak 69.1 78.2 88.3 82.5 80.9 47.2 70.7 64.1 83.1 73.4 65.8 95.3 71.7 56.1 99.5 71.8 51.7 94.3 81.2 67.0 67. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 77.3 64.9 71.3 59.8 62.2 74.6 71.5 66.6 76.4 70.8 77.9 85.1 74.3 58.3 67.5 54.3 67.3 67.0 64.6 61.4 87.0 68.8 58.8 85.3 93.0 64.9 68.5 95.4 65.3 72.5 98.1 88.1 85.0 88.0 89.7 49.9 64. 1996.7 62.3 83.1 68.6 Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia.9 79.7 85.7 67.8 66.9 57. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flacid paralysis (AFP) pada tahun 2005.7 84.2 83.7 79.6 96.1 89.8 65.5 85.2 81.7 100.Tabel 3.8 67.7 73.8 81.1 78.3 60.8 70.6 89.1 77.0 77.0 83.8 59.27 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.6 51.8 75.3 77.6 66.5 54.4 71.9 85.1 94.5 85.

1 – 25. Tabel 3.5% anak 12-23 bulan yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali. Tabel 3.kali/ dosis polio saja pada bulan September.0%) yaitu tidak ada anak umur 12-23 bulan yang belum diimunisasi.2%. Oktober. tetapi terdapat perbedaan menurut daerah. Perbedaan cakupan imunisasi anak menurut pendidikan antara kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga dengan pendidikan perguruan tinggi antara 17. cakupan imunisasi lengkap terendah di Sulawesi Barat (17. tetapi pelaksanaan di daerah dapat berbeda tergantung dari stok vaksin DPT dan HB yang masih terpisah di tiap daerah. Tidak terdapat perbedaan cakupan tiap jenis imunisasi menurut jenis kelamin. hampir sama dengan yang tidak lengkap yaitu sebesar 45. tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan tiap jenis imunisasi.4%. Cakupan imunisasi hepatitis B. cakupan tertinggi bila pekerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI dan cakupan terendah pada kepala keluarga dengan pekerjaan petani/nelayan/buruh. tahun 2005 untuk 50% target. Bila cakupan imunisasi campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap. frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi menurut karakteristik anak. Cakupan untuk tiap jenis imunisasi selalu lebih tinggi antara 7. masih terdapat 8.2%). Cakupan imunisasi lengkap yaitu semua jenis imunisasi yang sudah didapatkan anak umur 12-23 bulan dapat dilihat pada Tabel 3. Tetapi sejak tahun 2004 hepatitis B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT/HB yang didistribusikan untuk 20% target. Persentase tertinggi anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali adalah di Maluku (21. terendah di Sulawesi Barat (42.7% di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan. semakin tinggi cakupan tiap jenis imunisasi. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi (54.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (0.2%. Cakupan imunisasi menurut jenis pekerjaan terlihat bahwa untuk tiap jenis imunisasi. dan November. orangtua dan daerah.4% yang imunisasinya tidak lengkap.2 – 13.29.3%. Untuk imunisasi campak variasi cakupan juga terjadi menurut provinsi. Imunisasi hepatitis B awalnya diberikan terpisah dari DPT.5%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (99. 68 . dan tahun 2006 mencakup 100% target DPT/HB.27) Tabel 3. walaupun masih terdapat 35. Terdapat variasi yang lebar antar provinsi.7 – 12. Pada tahun 2006 PIN diulang kembali dua kali/ dosis polio saja yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006. bila dilihat menurut provinsi masih terdapat 12 provinsi yang belum mencapai UCI (Tabel 3. Walaupun vaksin DPT/HB sudah didistribusikan untuk seluruh target.9%).3%) dan masih terdapat 11. Perbedaan cakupan imunisasi anak tingkat pengeluaran per kapita terendah (kuintil 1) dan tertinggi (kuintil 5) antara 8. secara keseluruhan Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI). Tetapi WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio.28 juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan.3%) dan tertinggi di Bali (73.30 menunjukkan cakupan imunisasi lengkap menurut karakteristik anak. terendah di Banten (62. Dengan adanya PIN tersebut.1% anak 12-23 bulan di perdesaan yang belum diimunisasi sama sekali.4%) dan tertinggi di Bali (85.2%). yaitu jenis imunisasi yang diprogramkan terakhir. Walaupun demikian.0%) dibanding di perdesaan (41. Selain perbedaan yang lebar untuk cakupan imunisasi lengkap antar provinsi. Terlihat bahwa secara keseluruhan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan. keluarga dan daerah.

1 65.6 74.5 75.5 Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Polio 3 71. makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.8 71.4 83.5 66.5 53.3 71. Menurut pekerjaan kepala keluarga.4 71.6 62.1 72. Tingkat cakupan imunisasi lengkap pada kuintil terendah 41.4 83.0 85.7 91.9 57.6 71.1 79. semakin sedikit anak yang tidak di imunisasi sama sekali.7 66.0 87.5 70.0 81.8 72. cakupan imunisasi lengkap terdapat pada kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (57.0 70.5 92.1 78.5 78. Riskesdas 2007 Jenis imunisasi BCG 87.9%) dan terendah pada kelompok petani/nelayan/buruh (41.7 69.0 95.6 93.5 71.28 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.1 84.8 73.2 65. Demikian juga menurut tingkat pengeluaran per kapita.0 78.6 83. demikian juga makin tinggi pengeluaran per kapita.1% dan pendidikan tertinggi sebesar 60.1 54.6 79.7 91.2 89.9 58.7 76.2 62.4 95.7 57.9 63.7 58.2 86.4%.7 59.7 67.1 81.1 78.8 88.8 Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan imunisasi lengkap.0 59.9 69.9 83.1 71.3 68.4 92.2 76.1 68.6 74.5 62.7 82. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.0 66.0 Campak 82. menunjukkan kecenderungan yang sama.7 87.3 86.1 78.7 63.9 81.3 DPT 3 67.9 66.3 50.1 71.2 61. Tingkat cakupan imunisasi lengkap dengan kepala keluarga berpendidikan terendah 35.3 62.0 57.3 86.8 64.5%. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua.5 HB 3 63.8 85.9 78.5 83.8 75.1%).1 80.4 67.6% dan kuintil tertinggi 53.6 91.7 86.3 88.3 75.6 77.0 74.9 64.1 63.6 79.9 69.9 77.2 82.3 84. 69 .2 83.9 62.6 68.0 90.Tabel 3.

4 55.9 57.6 2.1 50. Campak.4 64.0 7.0 Tidak sama sekali 13.4 44.0 41. di daerah perdesaan. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.1 34.4 44. Hepatitis B minimal 3 kali.9 47.2 45.0 4.0 47.1 31.8 42.1 13.6 43.3 0.2 17.8 53.0 43.0 15.7 30.7 9.7 42.7 41. Polio minimal 3 kali.3 5.1 7.3 11.5 41.0 43.4 6.5 1.7 60.4 48.5 65.3 40.3 34.0 58. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap 35.29 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.5 11.2 44.3 64.3 8.6 46.9 52.6 73.9 38.7 46.2 52. Tabel 3.3 35.5 Imunisasi lengkap: BCG.4 45.0 53.0 62.2 14.7 44.4 35.2 48.0 38.1 13.8 55.4 46.6 39.5 5.6 Indonesia Catatan: 46.3 49.7 32.6 54.2 8.3 32. DPT minimal 3 kali.2 32.3 9.9 15.4 38.3 17.3 21.6 24.Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali terbanyak pada kelompok anak yang orangtuanya tidak sekolah.8 7.4 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tidak lengkap 52.3 5.8 1.6 17.3 1.9 6.5 2.5 11.0 51.9 5.4 35. 70 .6 7.4 47.8 57.7 36.0 45.6 59.9 37.3 7.9 47. dan pada kuintil terendah.3 45. dari kalangan petani/nelayan/buruh.1 48.

9 Pekerjaan KK Tidak bekerja 44.4 36. Data pemantauan pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumahtangga yang mengetahui.3 45.2 Perempuan 45.2 14. dan 4-6 kali yang diartikan sebagai “penimbangan teratur”.0 5.2.9 Tidak tamat SD 39.7 45.1 Kuintil 5 53. ditanyakan frekuensi penimbangan dalam 6 bulan terakhir yang dikelompokkan menjadi “tidak pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir”.1 49.9 4.4 8.6 45.7 2. Hepatitis B minimal 3 kali.30 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.9 39.7 Tamat SD 41.5 4.6 Lainnya 47.0 15. ditimbang 1-3 kali yang berarti “penimbangan tidak teratur”.3 47.7 Kuintil 3 47.3 Kuintil 2 43. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.2 7.5 Catatan: Imunisasi lengkap: BCG.1 49. 3. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti posyandu. Dalam Riskesdas 2007.3 44.8 7.3 11.6 47.3 6.7 46.2 8.0 41.4 44. 71 .1 4. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Lengkap Tidak lengkap Tidak sama sekali Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki 46.6 2. Polio minimal 3 kali. penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan.7 7.5 6.1 Tamat SMA 54. DPT minimal 3 kali.9 9.0 9.0 41.5 41.3 44.2 Ibu rumah tangga 51.9 Tamat SMP 46.0 48. Campak.7 44.5 Perdesaan 41.1 Kuintil 4 49.0 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 41. Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut.7 PNS/POLRI/TNI 57.0 Tamat PT 60.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya hambatan pertumbuhan (growth faltering) secara dini.1 11.5 Wiraswasta 49. polindes.9 Tipe daerah Perkotaan 54.1 46.6 8.4 46.1 Pendidikan KK Tidak sekolah 35.1 Petani/nelayan/buruh 41. puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain.Tabel 3.1 47.7 11.

0 60.9 40.5 39.8 56.5%).6 30.0 27.4 46. Cakupan penimbangan balita menurut karakteristik anak.5 37.0 21.5 57.1 39.4 21.9 36.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.0 20.1 Indonesia 45.8 38.9 29.4 22.5 26.1 26.6 57.1 52.8 39. rumah tangga dan daerah dapat dilihat pada tabel 3. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan > 4 kali 47.7 58.6 38.7 28.8 37.3 27.8 39.7 30.6 56.1 35.3 29.5%.32.9 16.3 Tidak pernah 17. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut 45.4 24.0 34.1 15.1 46.5 28.0 13.6 16.2 33.9 34.9 31.0 45.9 35.5 31.0 34.4 30.9 8.2 18.4 23.7 32.4 38. Cakupan penimbangan rutin bervariasi menurut provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (21.8 37.0 37.31 terlihat bahwa secara keseluruhan dalam enam bulan terakhir balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).6 35.2 57.1 14.0 33.1 25.8 45. dan 25.7 33.4 29.5 21.9 36.3 26.7 26.5 34.7 36.7 17.5 42.1%.7 42.2 30.3 22.5 Pada Tabel 3.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1-3 kali 35.8 29.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (78.0 28.6 32.9 10.5 62.4 20.4%.4 36.7 15.3 29.6 14.9 34.9 23.2 38.2 69. 72 . 29.9 34.0 5.6 33.8 39.3 28.0 78.4 29.3 8.9 28.6 31.Tabel 3.

8 25.4 26.8 32. makin rendah cakupan penimbangan rutin (≥ 4 kali).6 28. tetapi sedikit berbeda menurut tipe daerah dengan cakupan penimbangan empat kali atau lebih dalam enam bulan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan (47.9 44.2 44.1 45.7 16.1 31.5 39.2 30.6 54.2 44.0 45.8 23.4 28.1 23.8 47.1 18.2 27.5 19.7 24.3 25.1 29. Cakupan penimbangan balita tidak berbeda antar jenis kelamin.3 29.9 29.5%) dibanding di daerah perdesaan (44.5 26.1%).7% untuk tingkat pendidikan dan 1.3 27.3 30. 73 .7 25.5 44.9 48.5 26.3 > 4 kali 67.2 26.6% untuk tingkat pengeluaran per kapita.3 31.9 17.9 32.4 52.1 46.7 33.7 28.1 39.1 48.9 28.1 31.1 Terlihat ada kecenderungan makin tinggi umur anak.Tabel 3.6 22.3 44.7 23. Perbedaan hanya 6.9 27.8 29.8 36. Cakupan penimbangan rutin (>4 kali dalam 6 bulan) tidak banyak berbeda menurut tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita. Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula persentase anak yang tidak pernah ditimbang.3 28.7 46.2 33.5 27.1 42.7 48.8 28.6 22.0 26.9 25.6 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1-3 kali 23.5 28.0 45.7 23.1 21.5 45.5 44.6 45.7 31.7 29.6 46.7 22.0 29. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan (kali) Tidak pernah 8.8 45.32 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.0 45.

2 1.7 2.1 77.1 12.8 6.3 5.0 5.0 4.1 59.1 1.1 3.3 0.3 2.9%).0 6. 74 .2 87.5 Indonesia 3.8 0.6 2.4 2.8 2.7 10.0 0.1 1.1 73.1 11.8 6.8 3.8 3.33 terlihat bahwa posyandu secara keseluruhan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78. Papua (22.1 2.1 2.4 8.7 6.4 2.7 4.0 12.Pada tabel 3.6 74.9 68.0 6.5 7.0 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Puskesmas 11.4 2.1 78.9 24.2 2.0 86.6 4.4 5.2 6.0 13.9 61.3 15.8 1.9 85.5 4.1 1.1 1.2 2.4 5.2 5.9 1.5 3.9 14.9 11.1 7.5 16.0 3.1 1.2 2.3 6.8 78. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 2.6%).2 8.0 2.7 4.6 83.5 2.8 0.6 14. Tempat penimbangan selain posyandu yang cukup tinggi antara lain Puskesmas seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah (24.1 6.2 1.0 12.6 95.9 7.5 4.8 Lainnya 5.3 10.0 Posyandu sebagai sarana penimbangan balita paling banyak terdapat di Maluku Utara (95.8 5.4 1.4 4.3 65.7 72.9 1.7 1.5 12.3 3.9 2. Tabel 3.2 6.9 8.0 67.2 2.1 9.6 2.1 6.1 2.7 3.5 1.1 1.4 6.6 2.8 91.4 34.3 15.3%.4 16.8 78.3 60.2 2.9 67.2%) dan terendah di Kepulauan Riau (47.33 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.5 11.9 11.7 9.4 13.4 5.0 65.3 1.1 9.7 3.9 14.4 7. dan Sulawesi Selatan (18.0 5.2 2.1 1.3 47.6 Polindes 4.5 10.3 3.5%).9 81.9 18.2 Posyandu 76.1 4.6 2.2 22.8 0.0 5.5 4.7 2.0 1.3 89.0 84.2 74.9 75.6 82.1 1.8 3.3 1.1 86.2 2.3%).2 81.6 2.6 92.4 3.8 3.3 8.4 5.2 3.6 85.9 66.2 4.3 7.9 3.6 6.

3 7.5 Posyandu 78.5 9.5 8.3 3.6 3.5 79.6 9.2 80.9 2.3 8.5 2.7 8.Tabel 3. dan tipe daerah.1 9.1 3.7 3.8 68.1 2.6 83. Tabel 3.6 4.1 71.0 2.0 2.8 5.9 10.9 62.6 3.6 1.3 7.3 83.2 6.0 3.8 2.6 9.1 3.7 70.0 8.1 4.2 17.9 7.4 3.7 4.4 Menurut tipe daerah persentase penimbangan balita di RS dan Puskesmas lebih banyak di perkotaan dari pada di perdesaan.4 3.4 2. rumah tangga.5 77.1 2.1 1.4 4.1 10.7 83.0 7.34 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.8 7.2 2.3 74.6 2.7 5.6 5.6 12.9 10.9 8.4 72.1 5.1 2.5 81.34 menunjukkan tempat penimbangan balita menurut karakteristik anak.0 2.3 3. Riskesdas 2007 Tempat penimbangan anak RS 3.7 80.1 84.0 2.5 7.3 2.6 2.0 2.5 78.3 8.0 4.3 7.7 3.0 1.8 5.3 Lainnya 6.8 2.7 4.5 13.4 2.1 8.8 8.9 3.9 83.8 78. Pada tabel tersebut terlihat bahwa untuk setiap jenis tempat penimbangan balita tidak ada pola kecenderungan baik menurut umur maupun jenis kelamin.8 3.2 4.8 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Puskesmas 8.9 8.3 77.1 8.7 2.9 Polindes 2.2 3.6 78.2 83.0 8.7 9.9 3.0 9.3 2.3 3.9 2.2 5.3 7.0 7.5 8.6 3. Persentase penimbangan di posyandu pada balita dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai 75 .3 2.7 3.5 6.2 79.4 76.1 5.8 2.3 80.6 78.2 12.0 2. Namun sebaliknya persentase penimbangan di polindes dan posyandu lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.3 6.7 8.6 2. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan persentase penimbangan balita di posyandu.4 9.8 7.

8 34.4 36.6 49.2 26.8 32.0 * Catatan : 1 = Memiliki KMS dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki KMS.3 24. Tabel 3.9 17.2 22.8 27.6 19.5 Indonesia 23.3% balita yang mempunyai KMS dan dapat menunjukkan. Kepemilikan KMS dan dapat menunjukkan bervarisasi menurut provinsi.4 24.1 47.0 44.8 23.4 25.6 16.8 25.8 39.6 26. Sisanya sebesar 35.5 38.0 22.0 34.4 22.6 46.5 47.1 51.2 32. sedangkan 41.6 22.8 44.8 18.2 27.4 25.1 43.5 38.9 37.9 45.2 20.8 38.9 54.6 28.4 48.4 31.9 25.35 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.2 34.0% tidak mempunyai KMS.petani/nelayan/buruh atau ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada kepala keluarga dengan jenis pekerjaan yang lain.6 23.9 16.6 37.3 43.3 41.1 18.8 3 39.2 29.3 10. terendah di Sulawesi Barat (10.9 22.4 52.7% mengatakan punya KMS tetapi tidak dapat menunjukkan.2 31.4 34.1 39.6 27.3 29.7 27.6 31.8 35.0 45.35 menunjukkan kepemilikan KMS menurut provinsi.6 22. di mana secara keseluruhan hanya 23.9 12.7 55.9 33.2 41.1 37. Riskesdas 2007 Kepemilikan KMS* 1 18.2%).6 41.4 21. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki KMS 76 .4 41.8 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2 41.6 43. Tabel 3.9 23.5 49.8 26.3 32.8 18.0 42.2 22.5 28.2 49.8 24.6 45.5 18.0 55.9 45.2 31.9%) dan tertinggi di DKI Jakarta (39.2 38.9 49.9 22.7 45.0 43.0 22.7 35.8 32.9 44.2 32.

3 48.6 28.6 27.9 Tamat SMA 25.7 39.9 35.2 33.0 Tipe daerah Perkotaan 28.4 29.5 40.1 45.3 48.8 39.9 Perdesaan 20.8 33.7 38.7%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (20.4 43.3 Kuintil 3 23. di perkotaan persentase kepemilikan KMS (28.4% pada anak 48-59 bulan.0 Tamat PT 28.8 35.4 Petani/nelayan/buruh 20.3 48 – 59 12.4 43.0 Kuintil 2 22.0 6 – 11 42.6 35.3 38.9 49.6 Tidak tamat SD 20.7 32. dan hanya 12. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan KMS* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 36. Tabel 3.0 43.3 12 – 23 30.4 46.8 Pekerjaan KK Tidak bekerja 25.0 39.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 21.1 Tamat SD 22.4 48.36 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden.3 39. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut jenis kelamin. Menurut kelompok umur persentase kepemilikan KMS lebih tinggi pada anak umur di bawah 12 bulan (36.1 38.7 19.4 49.3 Kuintil 5 25. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya KMS Sedangkan menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dengan kepemilikan KMS.9 22.5 27.3 45.0 31.5 34.3 Pendidikan KK Tidak sekolah 18.4 40.4 41.3 37.5 Ibu rumah tangga 26.3 39.6 38.5 36.7 43.9 36 – 47 14.7 38.2 41.4 Tamat SMP 23.6 23.9 34.8 35.1 Perempuan 23.Tabel 3.6%).1 30. Menurut tipe daerah.9 24 – 35 20.9 34.3 31.5 31.0 Jenis kelamin Laki-laki 23.6 Kuintil 4 25.8 41. 77 .9 Lainnya 24.9 Wiraswasta 25.0%).7 – 42.3 40.0 40.4 43.36 menunjukkan karakteristik responden.4 PNS/POLRI/TNI 27.5 * Catatan : 1 = Punya KMS dan dapat menunjukkan 2 = Punya KMS.0 40.

5 73.Perbedaan kepemilikan KMS menurut tingkat pendidikan sebesar 10.2 29. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki Buku KIA 78 .3 41.6 22.1 25.5 68.5 14.2 7.4 56.1 5.9 8. Pada Tabel 3.0 78.37 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.6 7.1 55.8 9.3 62.1 82.5 2.1 25.2 74.5 25.1 12.8 46.0 85.1 51.2 27.1 14.2 4.2 74.8 3 62.9 9.0 37.6 50.9 61.6 * Catatan : 1 = Memiliki Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki Buku KIA.8 36.7 43.5 Indonesia 13.3 17.2 15.2 40.0 27.3 82.7 16.5 8.6 11.37 menunjukkan bahwa kepemilikan Buku KIA lebih rendah dari kepemilikan KMS yaitu sebesar 13.6 18.8 2 26.1 33.8 3.0 24.1 5.0%.3 13.3 24.2 26.9 19.5 21.0 32.7 37.2 18.2 33.1% dan tingkat pengeluaran per kapita sebesar 4.0 36.8 22.1 63. Tabel 3. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut pekerjaan kepala keluarga.3 28.2 12.3 67.1%.6 57.9 34.4 73.6 25.7 7.8 88.7 35.7 22.5 30.6 81.8 9.8 25.4 21.7 20.5 57.6 17. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kepemilikan buku KIA* 1 11.5 60.7 34.1 43.3 13.1 32.5 22.7 42.0 9.7 7.2 17.7 11.4 65.6 76.9 16.8 5.3 4.1 44.6 4.9 72.

1 24.1 Petani/nelayan/buruh 12.6 Kuintil 3 13.4 57.5 62.4 Lainnya 14. pendidikan.8 62.2 Tamat PT 13.8 25.7 Ibu rumah tangga 16.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 11.3 29.9 23.6 62.1 27.3 22.8 25.0 Kuintil 4 13.9 63.0 61.2 Tamat SMA 12.3 61.7 26.1 64.2 23.7 Perdesaan 12.1 59.8 26.5 24.0 36 – 47 8.3 Kuintil 2 13.2 23. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kepemilikan buku KIA* 1 2 3 Umur (bulan) 0– 5 23.9 Tamat SMP 12.8 57.2 6 – 11 23. Tabel 3.1 62. tetapi tidak ada perbedaan menurut jenis kelamin.1 24.9 58.9 23.8 12 – 23 17.1 Kuintil 5 14. 79 .1 62.7 24 – 35 11.8 Jenis kelamin Laki-laki 12.2 61.5 67.3 22.8 62. Pada Tabel 3.9 60.7 63.8 60.8 * Catatan : 1 = Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Punya Buku KIA.2 Perempuan 13.9 63.4-23. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya Buku KIA Cakupan Buku KIA yang tertinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan (23.4 26.7 25.9%).1 61.1 Tipe daerah Perkotaan 13. dan tingkat pengeluaran per kapita. rumah tangga dan tipe daerah.6 Tamat SD 13.9 26.7 PNS/POLRI/TNI 12.7%).38 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden. pekerjaan kepala keluarga.5 20.9 61.0 Pendidikan KK Tidak sekolah 12.6 62.4 22.38 kepemilikan Buku KIA dirinci menurut karakteristik anak.4 48 – 59 5. Tidak ada perbedaan kepemilikan Buku KIA menurut tipe daerah.Kepemilikan buku KIA tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (2.2 63.3 26.4 23.4 18.7 Tidak tamat SD 13.8 66.2 65.3 Pekerjaan KK Tidak bekerja 14.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (42.5 64.1 24.3 Wiraswasta 13.5 23.2 24.9 14.

Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Menerima kapsul vitamin A 74.3 Distribusi Kapsul Vitamin A Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus.5 66.8 72.3 84.9 73.2.8 82.1 74.3 65.3 81.9 79.5% seperti terlihat dalam tabel 3.7 67.1 62. sejak anak berusia enam bulan.9 62.2 74.39 Cakupan tersebut bervariasi antar 80 .2 82.3.39 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi.4 65.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.7 73.5 69.0 67.5 Secara keseluruhan cakupan distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6 .5 81.9 Indonesia 71.59 bulan sebesar 71.8 71.9 51.2 69.1 78.6 57.6 79.9 77.0 73. Tabel 3.4 69. Kapsul merah (dosis 100.000 IU) untuk anak umur 12 – 59 bulan.7 79.2 61.2 73.6 59.

5 74. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.2 66. terlihat adanya hubungan positif dengan cakupan kapsul vitamin A.2 67. nampak cakupan tertinggi pada kelompok umur 12-23 bulan (77.7 64.4 71.4 69.4 69.4 77.40 menunjukkan perbedaan cakupan distribusi kapsul vitamin A menurut karakteristik anak.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (69.5 70. Bila dilihat menurut pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.7%).provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (51.7 73. Sedangkan menurut jenis kelamin anak tidak nampak adanya perbedaan.40 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden.6 72. Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut kelompok umur cukup bervariasi.8 71.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.2 70.1 Tabel 3.5 74.5 69.3%).8 76. 81 .9 70.3 71. makin tinggi cakupan pemberian kapsul vitamin A.3 73. Tabel 3.5 71.3 70.7%). Cakupan lebih tinggi terdapat di perkotaan (74.7 74.8 76. rumah tangga dan tipe daerah.0 75. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Menerima kapsul vitamin A 66.4 77.

1 14.3 12.8 68.1 20.9 Indonesia 13.8 55.0 15.8 16.8 18.6 72.9 21.7 11.6 66.3 18.0 10. Tabel 3.6 59.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dalam Riskesdas 2007.2 73.5 61.1 14.7 7.5 6.7 19.5 47.9 71.5 10.1 19.6 14.1 27.4 66.5 13.7 82.1 35.0 19.1 69.7 36.7 57.2 18.9 76.3 18.5 14.4 75.0 71.1 69.5 10.7 70.3 7.1 19.3 9.2 57.3.9 28.2 17.8 11.0 82 .8 83.3 10.7 12.2 19.1 17.6 12.4 20.2.4 5.0 Besar 24.8 15.7 11.1 61.2 9. dan dikonfirmasi dengan catatan Buku KIA/KMS/catatan kelahiran.5 14.3 29.0 13.0 73.2 23.5 20.8 14.2 11.2 11. Data tersebut dikumpulkan dengan mewawancarai ibu yang mempunyai bayi umur 0 – 11 bulan.1 13. dikumpulkan data tentang pemeriksaan kehamilan.0 71.4 6.41 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi.1 64.6 68. penimbangan bayi lahir.2 Normal 57.4 20.4 12.2 15.3 21.2 13.1 10.4 62.8 16.8 16. pemeriksaan neonatus pada ibu yang mempunyai bayi.9 78.4 73.8 75. jenis pemeriksaan kehamilan.8 72.1 16.4 65.7 20.8 9.5 76. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 18.2 17. ukuran bayi lahir.9 14.3 52.

9 24.4 67. nampak ada kecenderungan hubungan negatif persepsi yaitu semakin 83 .5 11.4%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21.2 Persentase persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan pekerjaan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita tidak tampak adanya pola kecenderungan.Tabel 3.41 memperlihatkan persepsi ibu tentang ukuran bayi saat dilahirkan.9 68. Namun bila persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga.9 13. Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu dapat dilihat pada Tabel 3.5 20.3 20.7 66.7 17.2 11.2 19.2 18.42 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik.9 21.6 21.0 23.6 14.6 67.4 69.5 20. Pada tabel tersebut terlihat bahwa lebih banyak persentase ibu yang mempunyai bayi perempuan menyatakan.42. Tabel 3.1 67.5%) yang mempunyai persepsi bayi yang dilahirkan berukuran kecil dibanding di perkotaan (11.0% mempunyai persepsi ukuran bayinya besar.0 67.1 14.2 13.9 13.0 25.7 Normal 66.2 19.5 67. Riskesdas 2007 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil 12.7 67.8%). Sedangkan menurut tipe daerah.0 20.9 12.0 65.4 14.6 12.6 13.9 15.7 7.5 18.1 11.2 Besar 21.5 64.6 65.1 14. Persentase ukuran bayi kecil bervariasi antar provinsi.4%).1 19.5%) dibandingkan persentase ibu yang mempunyai bayi laki-laki berukuran (12.9 15.0 22.0 68.4 20.4 66. Secara keseluruhan terdapat 13.6 66.0 65.4% ibu yang mempunyai persepsi bahwa bayi yang dilahirkan berukuran kecil.3 65.5 17.5 67.0%). terendah di Maluku (5. lebih banyak ibu di perdesaan (14.5 61.4 64. bahwa ukuran bayinya kecil (14. walaupun berat badan bayi lahir tidak diketahui.3 10.0 14.8 14. 66.5% mempunyai persepsi ukuran bayi normal dan 20.5 13.1 19.3 19.

0 4.5 8.4 80.1 8.9 86.6 9.43 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.6 78.6 11.5 5.5 19.0 3.0 80.4 3.1 85.8 82.5 82.4% (Tabel 3.5 8.7 69. semakin kecil persentase ibu yang menyatakan ukuran bayi yang dilahirkan kecil.8 2.0 10.7 10. Proporsi ini sebanding dengan persentase ibu yang mempunyai persepsi bahwa ukuran bayi pada saat lahir kecil yaitu sebesar 13. Tabel 3.8 88.2 21.6 80.5 6.5 85.8 9.7 9.8 3.3 16.9 84.3 83.43.3 5.5 75.1 75.8 2.7 83.8 12.3 13.3 7.9 10.8 7. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 11.5 11.7 14.8 27.3 Secara keseluruhan.4 80.6 7.9 83.41).tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.4 10.2 71.3 5.3 23.5 8.2 6.2 12.4 11.5 87.2 15.3 77.1 77.0 2500-3999 82.6 4.0 7.7 0.5 9.5 4.4 67.5 7.1 78.9 15.8 5.5 74.7 2.2 Indonesia 11.3 84.5 8.5%.7 88.5 8.6 8.2 17. Hanya sebagian bayi yang mempunyai catatan berat badan lahir.9 10.0 83.1 74.2 7.1 8.0 84.9 5.9 84.8 >= 4000 5.7 6. 84 .6 7.4 7.2 11.8 82.8 14. Berat badan lahir dari hasil penimbangan dapat dilihat pada Tabel 3.6 16.8 20.7 9. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11.7 5.6 83.2 3.

Papua Barat (23.1 10.2%) dibanding di perkotaan (10.6%). Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.0 81.4 81.3 10. Sulawesi Barat (7.0%). dan Sulawesi Utara (7.7 83.5 83.2 13.3%).6 5.5 80.5 2500-3999 82.2 7.6 6.3 5.4 8.8 12.6 >= 4000 7.Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.5%). ibu ditanya tentang jenis pemeriksaan kehamilan apa saja yang pernah diterima.1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8.6 14.2 5.3 79.5 5.0%). Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5.0 12.2%).3 6.1 5.0 13.6%). pemeriksaan tekanan darah.9 11.8%).7 11.44 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13.7 13.2 80.1 80.1 85.0 7.6 85.5%). proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17.2 6.44 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.3 6.4 8.6 13.8%). Diidentifikasi ada 8 jenis pemeriksaan kehamilan yaitu : a.9 6. Jambi (7.4 5.8 12. Menurut karakteristik rumah tangga.9 78.7 81. Pada Tabel 3.8 17.1 83.8 8.0 83.8%). c.1 9.8 86. Riau (7.5 6.2 5. pemeriksan tinggi fundus 85 . Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 10.2 80.5 84.0%) dibanding laki-laki (10.7 81.8 7. dan Kalimantan Barat (16.3 75.9 Untuk mendapatkan informasi tentang riwayat pemeriksaan kehamilan ibu untuk bayi yang lahir dalam 12 bulan terakhir.6 5.0 10.0 11. pengukuran tinggi badan.7 11.9%).1 8. Sumatera Selatan (19. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12. Tabel 3. NTT (20.7%).3 5.2 80. b.0 11.

7 75.5% ibu memeriksakan kehamilan.3 90. penimbangan berat badan. Riwayat pemeriksaan kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi terdapat pada Tabel 3.1%).1 90.2 91.5 86 .5 84.9 85.9 95. f.4 69.6 97.0%) dan tertinggi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta (97.6 84.9 71. dan h. e. pemeriksaan urin.45 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi.6 90. Tabel 3.5 77.9 90. Cakupan pemeriksaan kehamilan terendah di Provinsi Papua (67.1 94. d.4 87. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Periksa hamil 72.8 92.5 80.1 95.2 81.4 93. pemberian imunisasi TT. Pemeriksaan hemoglobin. pemberian tablet Fe.(perut).1 95.9 95.2 97.1 74.0 Indonesia 84.3 87.3 71.4 79.45 yang memperlihatkan secara keseluruhan 84.0 67.8 92. g.8 89.2 83.

9%) dan terendah pada kelompok keluarga petani/nelayan/ buruh (78.4 86. tampak bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan (94.5 81.7 83.1 78.9 92. Secara keseluruhan pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97.2 82.46 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden.5 85.4 79.6 79. Cakupan periksa kehamilan tertinggi terdapat pada kelompok keluarga dengan perkerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri (92.47 menunjukkan delapan jenis pemeriksaan (seperti yang diuraikan sebelumnya) yang dilakukan pada ibu hamil.4 86. Tabel 3.8%) dan pemeriksaan urine (36.3 Terdapat kecenderungan hubungan positif antara cakupan pemeriksaan ibu hamil dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan pengeluaran per kapita. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Periksa hamil 94.2 89.1 78.Menurut karakteristik rumah tangga dan tipe daerah (Tabel 3.9 90.4%). semakin tinggi pula cakupan pemeriksaan kehamilan.46).47. Tabel 3.2 94.9 87.6 90.2%). Semakin tinggi pendidikan kepala keluarga atau semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33.3 89.8%). Variasi tiap jenis pemeriksaan menurut provinsi dapat dilihat lebih lanjut di Tabel 3.1%) dan penimbangan berat badan ibu (94. 87 .1 75.1%).1%) dibanding di perdesaan (78.

5 96.5 97. Terdapat kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dan tiap jenis pemeriksaan 88 .1 48.9 44.6 97.4 95.5 84.3 42.48 Secara umum terlihat dalam tabel tersebut bahwa cakupan tiap jenis pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan.Tabel 3.3 84.2 84.8 97.2 f 92.7 94.9 92.0 35.7 87.2 71.9 96.2 27.5 32.2 94.7 13.3 88.8 95.2 88.0 41.8 98.2 d 89.8 95.4 69.8 99.5 89.0 38.3 98.6 83.4 92.3 97.8 57.4 22.9 41.6 25.5 94.1 85.1 h 40.3 88.9 68.3 91.3 64.0 96.9 77.6 41.7 75.5 83.5 97.5 94.6 93.9 93.0 96.2 90.4 79.1 88.2 80.9 97.5 96.1 79.5 15.5 86.7 47.6 34.3 14.9 98.3 91.1 81.2 39.1 91.9 91.3 35.8 26.1 96.5 24.2 22.9 89.8 89.4 73.3 29.0 97.8 66.4 95.9 65.8 98.5 42.1 96.3 91.5 85.4 95.3 75.8 36.7 95.2 90.4 81.7 17.3 92.7 91.1 90.6 34.3 95.6 23.3 95.6 98.8 94.2 94.2 91.9 97.9 97.5 42.9 95.6 24.1 96.6 95.7 98.1 95.4 95.4 93.8 52.2 34.4 91.2 47.8 97.5 93.9 82.2 95.0 98.6 93.2 88.5 42.5 95.4 48.0 36.0 96.3 94.0 37.9 Indonesia 58.3 67.0 97.4 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Jenis pemeriksaan menurut tipe daerah dan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 3.3 82.2 19.8 78.3 62.0 85.7 86.3 94.7 b 97.8 33.1 96.1 98.2 88.7 86.5 56.7 83.6 100.0 46.5 87.6 98.8 87.0 26.0 96.1 100.5 95.7 66.0 38.5 e 86.8 52.7 95.9 96.3 95.8 49.2 91.0 54.3 97.8 52.0 61.5 97.2 57.1 19.2 93.7 98.1 65.6 45.3 94.7 99.9 39.3 98.5 95.8 75.9 47.5 90.5 86.7 97.0 26.5 94.7 38.5 45.3 96.2 66.4 94.8 38.7 89.2 45.1 91.1 89.4 47.47 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.5 86. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Jenis pelayanan* a 55.9 90.1 51.5 32.5 94.5 92.6 56.0 97.8 95.4 76.5 85.9 62.4 56.3 87.2 92.8 56.7 86.3 95.1 97.2 86.5 30.2 42.6 g 38.2 95.1 95.9 98.9 100.4 97.3 96.1 85.1 92.4 25.0 85.2 95.8 c 92.3 59.0 91.8 83.5 89.1 30.5 43.5 79.9 98.2 77.7 28.3 97.1 85.9 98.4 95.2 91.7 38.9 87.7 25.7 37.2 63.7 88.7 97.1 27.7 57.1 33.

Secara keseluruhan 61.6 d 93.8 27.4 99.1 87.7 97.8 32.1 93.5 61.8 94.0 96.5 91.4 97.8 49.1 41.0 40. dan hanya 2.0 35.9 90.9 e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Semakin banyak jenis pemeriksaan kehamilan yang diterima ibu hamil semakin lengkap pemeriksaan kehamilan yang diterima (Tabel 3.3% ibu menerima 3 – 5 jenis pemeriksaan kehamilan.4 91.0 92.8 62. Namun sebaliknya tidak terdapat pola kecenderungan cakupan untuk tiap jenis pemeriksaan kehamilan dengan pekerjaan kepala keluarga.6 c 89.8 36.1 97.2 88.4 85.4 38.3 85.5 92.3 91.1 32.6 85.1 89. Demikian juga ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pengeluaran rumah tangga dengan pengukuran tinggi badan.5 95.9 89.9 92.7 84.9 56.1 96.5 93.0 93.0 87.4 58.8 55.6 85.4 92.7 35.5 89.0 59.1 b 98.9 91.8 jenis) persentase terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara (41.5 30.2 97.6 38.8 56.0 68.1 88.7 92.9 48.48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden.4 86.8 e 87.2 30.7 93.8 83.4 87.1 98.7 39.9 60.7 88.2 45.2 97.8 94.0 85. Tabel 3.4 57.7 96.1 92.9 94.6 87.1 31.9 88.0 98.5 63.2 89.9 97.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (83.6 63.8 56.3 94.1 39.0 90. 35.0 85. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe Jenis pelayanan* a 63.0 96.7 57. Ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan relatif lengkap (6 .5 93. 89 .0 29.4 88.1 55.4 96.2 43.8 91.1 38.1 37.2 86.7 48.7 91.6 97.8 28.0 94.6 58.6 91.8 90.6 87.3 f 97.9 95.6 33.0 97.0 94.2 h 46.6 87.2 32. pemeriksaan hemoglobin dan urine.4 96.6 g 43.3 87.0 98.8 28.9 87.4 90.4 37.3 84.8 95.6 37.6 54.49).9 86.8% ibu yang menerima 6-8 jenis pemeriksaan selama kehamilan.1 25.8% yang hanya menerima 1-2 jenis pemeriksaan selama kehamilan.3 29.0 32.2 88.7 92.5 36.1%).8 25.0 97.2 94.5 86.6 95.2 98.4 90.9 96.3 59.3 97.kehamilan terutama pada pemeriksaan hemoglobin dan urine.1 40.3 85.5 92.7 41.

6 75.8 69.1 71. 90 .0 21.3 61.4%) dibanding dengan di perdesaan (55.8 4.4 48.7 68.3 28.3 4.0 59.0 1.3 20.8 35.5 6-8 jenis 62.5 83.8 38.8 39.8 Tabel 3.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.6 24.8 50.0 5.0 3.9 5.8 77.0 37.5 4.0 60.1 28.4 28.8 1.2 2.9 62.0 45.8 61.8 0.1 39.3 58.2 0.5 60.9 33.9 0.6 66.0 58. Persentase pemeriksaan kehamilan yang lebih lengkap lebih banyak di perkotaan (69.3 75.6 35.5 37. Riskesdas 2007 Pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3.2 3.2 1.2 39.6 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3-5 jenis 34.1 48.0 68.50 menunjukkan kelengkapan pemeriksaan kehamilan menurut karakteristik daerah dan rumah tangga.6 20.8 33.5 3.6 3.Tabel 3.0 55.9 58.5 78.3 0.0 2.6 2.8 29.0 76.1 2.3 1.9 26.2 39.2 48.6 68.8 2.3 61.2 76.7 16.0 0.7 60.7%).0 2.0 1.4 2.1 67.9 37.2 7.1 56.4 31.2 28.4 20.3 3.7 24.0 2.5 38.4 2.6 56.8 Indonesia 2.5 2.8 46.9 31.1 41.7 2.3 79.3 21.7 63.

2 4.3 4.8 38.2 58. Riskesdas 2007 Skor jenis pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 1.8 2.6 57.9 3.50 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.2 29. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita semakin besar persentase ibu yang mendapatkan pemeriksaan kehamilan lebih lengkap.9 3.4 55.6 64.9 67.8%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.5 2.8 38.8 40.0 2.1 2.0 25.9%).5 28.8 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 3-5 jenis 28.7 54.2 69.6 0.4 73.7 3.7 1.1 2.3 61.2 6-8 jenis 69. Tabel 3. Pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari terendah di Papua (27.Kelengkapan pemeriksaan kehamilan berhubungan secara positif tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. 91 .6 3.5 30.8%).1 33.6 62.5 61.8 35.4 55.2 58. Dalam Tabel 3.6 67.7 34.7 39.6% neonatus umur 0-7 hari dan 33.3 60.51 terlihat bahwa secara keseluruhan 57. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Kalimantan Barat (19.1 67.5% neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.8 35.7 64.6 1.5 63.6 43.9 31.2%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (81.3 34.1 35.3 3.7 31.4 2.0 Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi.4 1.5 40.8 3.

2 66.6 37.Tabel 3.6 68.4 28.4 45.1 58.8 63.2 59.6 81.6 31. Menurut tipe daerah di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan.5 Tabel 3.4 30.0 42.1 58.8 35.7 44.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Umur 8-28 hari 36.9 43.8 Indonesia 57.0 53.5 35.5 58.3 64.2 62.0 62.7 50.2 66. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi.7 49.52 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.2 27.6 33.9 70.0 26.9 33.5 35.7 47.5 63.6 30.7 65.2 22.8 39.9 55.0 41.5 66.4 54. Riskesdas 2007 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 56.7 26. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala 92 .9 34.3 45.1 64.1 29.51 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi.1 25.1 39. tipe daerah dan rumah tangga.2 28.8 21.3 44.5 23.4 69.9 41.7 49.0 25.0 32.8 42.9 39.8 27.1 28.3 29.9 54.2 50.1 19.

5 52.2 28. dan lainnya. dan Papua.53 menunjukkan pada umumnya di lima provinsi sebagian besar ibu (di atas 60%) melahirkan bayinya di rumah.53 sampai dengan Tabel 3. Puskesmas/Pustu. 93 . jumlah pemeriksaan kehamilan.9 27. dan penolong persalinan.2 33.3 33. Maluku.0 69. Tabel 3.8 65. Riskesdas mengumpulkan data tentang tempat melahirkan.7 29. RB/RBIA/Klinik. yaitu Nusa Tenggara Timur.4 65.1 60.5 37. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari 65.0 60.7 52.8 24.5 62. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.5 63.1 Umur 8-28 hari 41.2 46.52 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Karakteristik Responden.9 37.5 30.3 54.2 59. Tabel 3. Maluku Utara.2 28.0 31. Polindes/Poskesdes.1%) dan terkecil di Papua (65. Persentase terbesar ibu yang melahirkan di rumah adalah di Maluku (85.58 memberikan gambaran tentang informasi tersebut.0 59.8 55.9 Selain penjelasan tersebut di atas. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus. RS Swasta.7 51.0 37.9 64.0 58.7 32.4%).4 36.keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.8 63.5 42.6 33. Tabel 3. Papua Barat. rumah. khusus pada lima provinsi.7 40.3 46. Tempat persalinan dikelompokkan menjadi 7 yaitu: RS Pemerintah.3 57.2 37.8 41.4 50.

RB/RBIA/Klinik dibanding di perdesaan. nampak tidak banyak perbedaan.2% .0 1. Sebaliknya tampak ada hubungan negatif antara tempat ibu yang melahirkan di rumah dengan pendidikan KK maupun tingkat pengeluaran per kapita.37.6 0.0 Nusa Tenggara Timur 6. polindes/ Poskesdes 6. Pada trimester-3 sebanyak 24. Selama trimester-1 ibu yang tidak pernah melakukan pemeriksaan di lima provinsi berkisar antara 25. Ternyata baru 30.2 3.4 g 0.0 4. dan Maluku Utara penolong persalinan yang dominan adalah dukun bersalin dibanding dengan provinsi 94 .9 2. Selama kehamilan jumlah minimal pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali yaitu minimal 1 kali pada trimestes I.7 0. sedangkan pada trimester-2 berkisar antara 15.55 menunjukkan jumlah pemeriksaan selama kehamilian trimester-1. RS Swasta.2 1.7% ibu yang periksa hamil empat kali atau lebih. trimester-2.0 0.9 4.5 0.5% telah melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali seperti yang dianjurkan.9 2.1 82. ibu lebih banyak melahirkan di rumah dan di Polindes/Poskesdes.5 3.2 65.7%. dan lainnya. Terlihat kecenderungan hubungan positif antara jumlah pemeriksaan kehamilan yang memadai di tiap trimester dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun pengeluaran per kapita. dan trimester seluruhnya.9 4. Puskesmas/Pustu. Pada Tabel 3.8%. Riskesdas 2007 Provinsi Tempat melahirkan a b 2.4 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya Pada Tabel 3. minimal i kali pada trimester II dan minimal 2 kali pada trimester III.5 1. Puskesmas/Pustu d.50.1 0. Tabel 3.53 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi.9 Maluku 7. sedangkan menurut anjuran selama trimester-1 dan trimester-2 minimal periksa kehamilian satu kali.5 71. tenaga kesehatan lain.5% .1 85.54 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang besar tempat melahirkan di lima provinsi tersebut menurut tipe daerah. Menurut tipe daerah.2 c d e 3. bidan.5 7.56 menunjukkan penolong persalinan pertama dan terakhir pada ibu yang mempunyai balita. famili/keluarga.9% -50.7 Papua Barat 14.8 1. Di perkotaan. Terlihat adanya variasi pemeriksaan kehamilan antar provinsi. Maluku. Namun bila dibandingkan antara persentase penolong persalinan pertama dan penolong persalinan terakhir untuk masing-masing jenis penolong. Persentase ibu yang melahirkan di RS Pemerrintah paling banyak kelompok RT dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI.Tabel 3.2 3. Penolong persalinan dikelompokkan menjadi 6 (enam) yaitu: dokter.0 f 77. trimester-3. Di Nusa Tenggara Timur.0 Maluku Utara 7.8 2.6 0. Terdapat hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita dengan RS Pemerintah sebagai tempat ibu melahirkan.4% .34. Hal ini menunjukkan penolong persalinan pertama umumnya sama dengan penolong terakhir. ibu lebih banyak melahirkan di RS Pemerintah. dukun bersalin.1 5.5 Papua 18.0 Keterangan: a: RS Pemerintah b. RS swasta c. Terlihat dalam tabel tersebut adanya variasi persentase antar provinsi untuk masing-masing jenis penolong. Sedangkan di perdesaan. cakupan pemeriksaan kehamilan yang memadai untuk masingmasing trimester dan ketiga trimester menunjukkan lebih banyak ibu periksa kehamilan di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.

5 3.4 56. Puskesmas/Pustu d: Polindes/ Poskesdes 4.9 0.2 70.6 g 1.8 84.7 42.6 2.6 5.0 Lainnya 16.8 11.0 7.6 2.5 d 2.7 f 43.8 0.2 1. Sebaliknya semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun dan famili/keluarga.7 2.0 2.1 6.5 0.0 8.7 Perdesaan 4.4 0.3 .2 85.3 3. yaitu semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin banyak persalinan yang ditolong oleh dokter dan bidan.57 di lima provinsi terlihat bahwa penolong persalinan baik untuk penolong persalingn pertama maupun terakhir yang dominan di perkotaan adalah bidan (masingmasing 60.1 e 8.9%).3 PNS/POLRI/TNI 30.1 59.5 4.4 2.3 1.54 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.1 Kuintil-3 8. nampak ada pola kecenderungan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin sedikit persalinan yang ditolong famili/keluarga.8 Tempat melahirkan c 6.3 Kuintil-2 5.2 2. Pada tabel 3.8 1.2 1.7% dan 45.1 5. Persentase penolong persalinan oleh bidan dan dukun baik sebagai penolong pertama maupun terakhir lebih besar bila dibanding dengan tenaga penolong jenis lain. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a b 8.2 1.5 4.3 76.7 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 95 .1 6. RS swasta c.7%.7 3.8 60.3 7.7 Kuintil-4 12.4 2.7 7.2 Tamat PT 35.2 2.Papua Barat da Papua.6 2.6 Wiraswasta 21.2 4.4 6.3 9.2 6.5 2.3 55.2 4.1 5.0 4.9 6.4 2.7 1.9 1.2 6.4 1. Di Papua Barat yang dominan adalah bidan.5 4.1 1.7 Tamat SD 4. Tabel 3.9 68.7 Tipe daerah Perkotaan 29.8 0. sedangkan di Papua yang dominan dua penolong persalinan yaitu bidan dan famili/keluarga.6 7.3 0.0 Tidak tamat SD 3.4 1.0 1.9 91. Bila penolong persalinan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran per kapita nampak adanya pola yang jelas.6 2.6 0.0 1.4 1.7 Keterangan: a: RS Pemerintah b. Sedangkan di perdesaan yang dominan baik untuk penolong persalinan pertama maupun terakhir adalah dukun bersalin (masing-masing 43.8 0.0 0.6 3.3 Kuintil-5 20.3 4.4 6.3% dan 61.5 2.2 Pendidikan KK Tidak sekolah 2.5 1.3 Ibu rumah tangga 18.1 Pekerjaan KK Tidak bekerja 12.1 6.1 1.0 0.2 1.4 4.7 3.2 Tamat SMA 19.3 Tamat SMP 9.9 4.5 5.6 35.6 7.6 0.0 1.1 71.6 2.0 2.9 Petani/ buruh/ nelayan 3.9 84.4 1.4 2.5 1.8 0.5 2. Untuk penolong persalinan oleh famili/keluarga. Namun kurang nampak adanya pola kecenderungan menurut tingkat pendidikan KK.5 83.0 2.1 8.1 77.7 2.2 85.9 Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 5.2 86.3 4.

1 13.9 20.1 46.7 15.1 56.3 34.7 36.3 61.3 20.8 42.3 17.3 50.2 22.5 40.2 29.2 63.5 15.1 38.2 30.2 56.3 25.1 22.0 62.2 32.7 26.7 47.1 42.9 39.0 33.9 34.5 41.5 22.4 21.4 28.2 25.8 48.7 38.7 41.5 23.8 24.9 26.3 33.4 18.8 23.2 21.4 8.7 33.6 24.3 40.5 55.5 38.2 13.8 39.6 20.8 34.1 15.2 53.7 8.4 19.0 15.3 23.9 30.2 32.0 26.4 26.7 61.5 9.3 37.1 23.6 11.1 37.0 54.6 24.1 49.5 36.5 27.2 28.7 42.9 41.1 66.1 37.0 50.2 48.0 33.5 30.8 39.5 39.7 55.3 36.1 29.7 39.7 45.9 16.8 35.2 18.1 28.8 38.3 43.8 28.3 29.5 61.6 20.1 37.2 41.6 43.6 59.9 15.9 34.6 23.8 36.6 19.1 65.0 18.4 5.2 29.3 42.5 42.9 33.6 50.5 15.0 22.7 19.6 43.3 26.5 11.3 17.7 24.2 21.0 35.1 15.6 20.9 23.9 23.9 22.3 22.0 16.5 8.8 36.3 28.8 55.8 38.5 21.5 29.2 20.2 17.8 29.8 33.0 22.8 21.2 21.7 41.2 43.5 6.3 28.8 19.2 19.0 24.8 31.2 36.7 20.1 23.0 72.4 16.8 49.6 30.3 23.2 23.6 25.0 29.7 37.2 12.1 23.1 38.9 10.3 33.5 44.2 17.6 39.9 64.3 43.8 30.2 19.4 32.0 29.5 34.6 28.9 31.3 25.1 Trimester-1 Tidak 1 kali > 1 kali Trimester-2 Tidak 1 kali > 1 kali Tidak Trimester-3 1 kali 2 kali > 2 kali Trimester 123 Tidak 1-3 kali > 4 kali 96 .4 32.0 33.4 37.3 71.6 20.3 12.8 20.6 39.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.7 33.9 15.4 22.9 33.1 20.3 36.5 21.4 49.6 16.6 49.2 50.1 32.4 17.Tabel 3.6 21.7 22.1 21.6 26.6 26.7 13.5 49.9 16.3 37.7 35.6 29.9 22.7 29.7 26.9 40.3 29.2 15.9 17. Riskesdas 2007 Provinsi/Karakteristik Responden Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 25.0 21.9 25.3 36.4 20.4 36.8 30.1 45.3 53.6 26.9 26.9 30.0 34.0 4.7 51.4 25.9 6.7 20.8 17.8 32.6 18.9 20.6 42.8 24.9 29.0 16.0 15.5 23.0 38.3 12.1 32.2 11.1 26.9 25.9 28.1 50.4 34.1 25.6 26.8 21.8 9.6 46.0 18.4 58.2 25.5 13.6 52.0 31.7 47.3 23.5 21.0 34.8 51.0 31.3 29.7 18.1 40.0 35.1 34.8 28.4 73.5 10.2 32.9 25.5 46.8 32.7 14.2 51.7 21.8 30.8 28.3 18.7 14.4 28.9 15.5 38.0 22.3 21.5 32.6 24.1 3.7 63.8 44.3 40.4 7.

9 0.9 32.2 40.8 7.8 31.3 35.6 22.2 0.5 1.4 51.0 d 46.7 1. Riskesdas 2007 Penolong persalinan pertama a 4.0 34.2 9.4 4.7 1.8 c 1.4 3.6 3.9 1.9 55.1 19.6 1.6 2.7 1.1 35.56 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi.2 0.3 c 1.3 Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keterangan: Penolong persalinan terakhir f 0.5 b 36.1 20.9 4.7 47.4 12.0 f 0.5 39.7 e 11.6 0.1 e 12.3 50.6 6.1 a: Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 97 .2 36.2 56.6 3.1 2.2 b 38.2 a 3.8 d 43.7 3.6 10.0 56.3 0.9 5.7 21.5 0.7 2.4 3.Tabel 3.5 0.4 14.

9 f 0.5 3.8 2.0 Tamat SD 2.4 18.9 16.4 1.0 1.6 1.6 2.7 50.6 1.9 17.4 Tipe daerah Perkotaan 14.1 8.8 30.4 2.2 24.4 1.5 0.7 44.4 Tamat SMP 4.9 8.3 57.6 1.3 17.5 d 18.9 5.0 4.9 32.3 0.5 c 1.8 37.8 46.9 21.7 0.6 22.1 2.3 1.4 1.4 16.1 41.6 37.0 16.9 10.1 Lainnya 6.5 46.8 9.2 5.9 2.9 35.1 11.9 1.7 1.2 28.6 5.4 2.2 0.6 1.9 29.3 51.9 38.3 1.9 1.9 21.5 3.8 17.6 1.5 0.6 2.2 4.5 Tamat SMA 10.9 40.7 Keterangan: a : Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 98 .9 1.7 12.9 Wiraswasta 9.2 1.6 18.1 48.1 23.3 34.0 6.6 2.1 34.7 1.0 37.3 1.1 35.2 65.2 13.2 PNS/POLRI/TNI 16.6 1.8 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 2.2 14.0 30.8 18.0 52.8 49.4 11.4 35.0 63.1 2.6 27.57 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.4 19.9 60.9 42.2 0.0 0.6 a 13.6 1.8 45.5 15.7 0.1 4.7 e 4.Tabel 3.2 1.1 25.8 43.7 7.1 31.9 6.7 15.5 Petani/ buruh/ nelayan 2.4 44.9 1.6 13.7 2.5 1.3 0.6 15.8 1.9 36.9 43.1 1.6 1.0 9.4 Kuintil-5 10.3 10.3 48.8 Tidak tamat SD 2.4 e 4.9 3.9 7.2 37.7 2.5 38.6 10.9 b 61.2 1.3 2.3 Ibu rumah tangga 5.9 Kuintil-4 6.1 20.0 1.6 1.9 1.3 1.7 2.6 8.5 Penolong persalinan terakhir f 0.6 1.2 39.6 28.0 1.0 15.8 3.4 2.1 1.7 18.7 37.8 53.3 Perdesaan 2.8 1.3 27.1 47.6 d 19.0 15.5 1.3 0.2 c 0.4 1.2 Tamat PT 20.8 13.6 2.3 12.2 6.5 12.7 32.7 1. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Penolong persalinan pertama a b 60.3 17.6 4.7 1.1 2.9 51.6 1.0 23.2 10.2 1.3 31.9 51.0 16.0 1.2 41.5 63.2 38.9 Kuintil-3 4.7 43.3 65.6 1.7 0.7 Pendidikan KK Tidak sekolah 1.8 1.2 2.2 18.1 7.6 62.0 2.2 13.2 1.9 30.0 Pekerjaan KK Tidak bekerja 4.7 45.0 55.9 29.5 42.9 Kuintil-2 2.2 0.

Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” dalam satu bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin). serta dapat mengakibatkan kematian. tanpa konfirmasi pemeriksaan laboratorium. 99 . Penyakit ini bersifat musiman yaitu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) hidup di genangan air bersih.1 Prevalensi Filariasis. Demam Berdarah Dengue dan Malaria Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. dan tidak sedikit menyebabkan kematian. dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma. sedangkan prevalensi penyakit kronis dan musiman ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir (lihat kuesioner RKD07. dinilai proporsi kasus diare yang mendapat pengobatan oralit (O). sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat antimalaria. mual dan muntah. pneumonia dan campak. Demikian pula diare. sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah penyakit tifoid. sakit kepala/pusing disertai nyeri di ulu hati/perut kiri atas. 3. dan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global.IND). lemas. pembengkakan alat kelamin. Khusus malaria.3. pembengkakan payudara dan pembengkakan tungkai bawah atau atas. Prevalensi penyakit akut dan penyakit yang sering dijumpai ditanyakan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB. kaki/tangan dingin. Data yang diperoleh hanya merupakan prevalensi penyakit secara klinis dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner baku (RKD07. berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis DBD oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita demam/panas. demam berdarah dengue (DBD). Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor adalah filariasis. Penyakit ini dapat bersifat akut.3. kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan atau mimisan.3 Penyakit Menular Penyakit menular yang diteliti pada Riskesdas 2007 terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vektor. Untuk responden yang menyatakan “pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” ditanyakan apakah mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas. hepatitis. panas naik turun secara berkala. selain prevalensi penyakit juga dinilai proporsi kasus malaria yang mendapat pengobatan dengan obat antimalaria program dalam 24 jam menderita sakit (O). Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis filariasis oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan gejala-gejala sebagai berikut: adanya radang pada kelenjar di pangkal paha. Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gejala klinis kronis dan kecacatan. Kepada responden ditanyakan apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan (D: diagnosis). penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi tular vektor yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). dan diare. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis. Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Jadi prevalensi penyakit merupakan data yang didapat dari D maupun G (DG). laten atau kronis.IND: Blok X no B01-22). ditanyakan lagi apakah pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut (G). berkeringat. dan malaria.

0%).1%). Sedangkan di beberapa provinsi sebagian besar hanya berdasarkan gejala klinis yaitu Bengkulu.7%. Sulawesi Tenggara (1. Di 11 provinsi.5%.1 ‰ (rentang : 0. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat.3‰ . Di Provinsi DKI Jakarta. Nusa Tenggara Timur (2.4‰). Hal ini disebabkan gejala klinis DBD menyerupai penyakit infeksi virus lainnya. Kep Riau.8%).2‰). Papua Barat (4. dan Papua). Riau dan Sulawesi Barat. DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1. Papua (0. Kalimantan Timur. Banten. dan Jawa Timur kasus DBD klinis lebih banyak didapatkan berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Papua Barat.2%).4‰). dan Gorontalo (1. Bengkulu. Kalimantan Timur. Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat serta NAD (1. Kepulauan Riau (1.6% (rentang: 0. dan Bengkulu. Bangka Belitung. menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir filariasis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi klinis sebesar 1.4‰). walaupun kasus malaria klinis tinggi. Riau dan Maluku Utara (0.6‰). Papua Barat (2.4%) dan NTT (12. Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Papua.5%).9%). sebagian besar berada di Indonesia Timur.2.26. Pada 12 provinsi didapatkan prevalensi DBD klinis lebih tinggi dari angka nasional. Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Bengkulu dan DKI Jakarta (1.0%). Papua (2. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (<35%) terdapat di provinsi di Jawa. Papua (18.1%). Kalimantan Barat. Bangka Belitung. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Jawa Tengah.58. hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit. Jambi.5‰). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional. Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam. dan Sulawesi Barat (0. Kalimantan Selatan. Papua Barat. Di NTT. yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (6.3‰ . Kep Riau.0%).5%). Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26. kasus DBD klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi (DG) 0.1%). Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤0. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47. Sulawesi Tenggara. Kepulauan Riau. Nusa Tenggara Barat. sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria. Sulawesi Tengah.7%).6.2% . Bengkulu. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi (DG) filariasis melebihi angka prevalensi nasional.Tabel 3.9% (rentang: 0. prevalensi malaria klinis nasional adalah 2. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD. Sumatera Selatan. Papua. DI Yogyakarta. yaitu Nusa Tenggara Timur (2. 100 . Bangka Belitung. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (<10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Kalimantan Timur.5‰). Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali.9‰).

12 0.06 7.31 1.99 30.23 0.16 0.10 0.42 7.31 3.37 2.26 0.42 0.51 0.64 0.18 0.60 0.43 0.05 Malaria DG 1.42 1.10 0.83 28.10 2.58 0.06 0.85 1.73 1.54 0.29 D 1.02 0.35 0.85 47.36 1.06 0.08 48.14 DBD D 0.00 34.32 0.28 43.07 0.04 0.41 O 36.09 0.21 0.11 0.41 27.20 0.55 0.30 0.34 44.55 42.65 2.02 0.84 0.37 1.00 0.33 43.17 0.59 0.73 1.00 0.08 0.86 2.04 0.04 0.41 0.27 5.96 0.37 1.04 0.19 0.15 0.45 0.32 0.89 1.07 0.23 1.16 0.03 3.88 0.07 0.41 0.22 5.45 2.04 0.09 0.18 0.26 0.14 18.78 0.16 0.10 41.42 0.67 58.11 0.69 60.52 0.62 1.43 0.03 0.11 0.07 0.27 59.50 0.15 0.06 0.12 0.26 3.33 65.01 4.04 3.02 6.03 0.78 23.88 0.07 0.46 23.08 0.07 0.27 0.57 43.07 0.38 1.14 1.10 39.16 2.06 0.36 39.63 7.06 0.10 2.32 64.02 0.57 46.03 0.05 0.05 0.10 0.93 DG 0.21 0.07 0.25 0.01 0.81 0.03 0.70 0.37 47.33 0.03 0.02 0.22 0.79 0.07 0.41 42.05 0. Riskesdas 2007 Provinsi Filariasis D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.75 12.46 0.58 0.09 0.09 0.27 0.04 0.10 0.68 101 .87 2.08 0.Tabel 3.66 2.29 0.03 0.04 0.06 0.04 0.53 36.10 0.24 0.01 0.08 0.02 0.14 0.33 0.58 Prevalensi Filariasis.41 0.05 0.43 0.90 49.12 7.25 0.09 0.03 0. Demam Berdarah Dengue.04 0.31 15.45 0.09 1.39 2.12 0.82 1.35 51.41 1.52 Indonesia 0.29 1.16 0.05 0.03 20.30 0.77 26.66 49.18 0.09 DG 3.03 0.78 53.30 0.13 0.03 0.01 0.09 0.23 26.51 0.03 0.15 0.67 2.62 36.04 0.77 2.09 0.21 0.08 0.87 3.09 0.45 0.65 12.12 0.01 0.04 0.06 0.44 24.32 0.86 1.10 0.15 0.14 0. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.

69 2.67 0.95 4.05 1.54 3.83 2.11 0.75 3.09 DBD D 0.16 0.05 102 .35 1.42 1.19 42.48 1.36 1.19 1.37 1.52 O 57.38 1.74 3. Demam Berdarah Dengue.10 0.59 0.09 0.87 43.50 1.10 0.05 2.62 3.04 15-24 0.05 Kuintil 4 0.19 0.04 2.43 1.21 0.10 1.05 Perempuan 0.59 0.53 1.19 0.05 Ibu RT 0.12 0.07 Lainnya 0.31 1.62 0.61 0.14 0.10 >75 0.23 57.65 48.28 1.12 0.04 Tamat SMA 0.72 2.57 0.70 2.66 1.39 44.11 0.83 1.63 0.83 46.31 1.74 49.18 0.56 0.10 0.10 0.52 0.12 0.46 3.05 Tipe daerah Perkotaan 0.61 0.08 0.19 0.07 Pekerjaan Tidak kerja 0.38 39.42 2.34 0.06 Pendidikan Tidak sekolah 0.59 1.57 0.11 0.25 0.84 49.02 2.66 0.68 0.08 0.12 0.64 2.17 0.30 0.38 1. Filariasis klinis dijumpai pada semua kelompok umur dan sudah ditemukan pada kelompok umur ≤5 tahun.61 0.01 1-4 0.14 0.24 Malaria DG 0.02 0.05 Kuintil 2 0. DBD dan Malaria menurut karakteristik responden.20 3.59 adalah gambaran Filariasis.21 0.05 Tamat PT 0.11 0.08 43.78 48.12 0.49 2.97 2.07 0.14 1.07 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Filariasis D DG 0.62 0.59 Prevalensi Filariasis.57 1. Tabel 3.56 0.53 0.17 0.20 0.06 55-64 0.59 0.63 51.12 0.15 0.07 Petani/Nelayan/ 0.24 0.26 0.03 Pegawai 0.59 0.05 Kuintil 3 0.05 Wiraswasta 0.25 41.66 D 0.55 1. tidak ada perbedaan prevalensi antara laki-laki dan perempuan.05 0.09 3.08 1.15 0.40 53.63 0.20 0.85 46.14 0.06 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0.47 47.14 1. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.25 0.13 0.37 1.09 0.65 0.92 51.75 1.66 2.32 45.10 Tidak tamat SD 0.06 Kuintil 5 0.03 47.08 Sekolah 0.83 3. tidak bekerja dan petani/nelayan/buruh.04 45-54 0.83 2.61 0.68 0.51 0. Filariasis klinis lebih tinggi didapati pada responden di perdesaan dan responden yang tidak sekolah.18 0.22 35.08 Jenis kelamin Laki-laki 0.08 65-74 0.16 0.90 2.05 Tamat SMP 0.19 1.23 0.12 0.88 1.15 0.20 0.09 0.74 0.78 Kelompok umur (tahun) <1 0.85 1.03 Perdesaan 0.14 0.05 2.41 1.13 2.89 46.51 0.17 0.Tabel 3.96 46.08 53.73 47.12 0.64 0.19 46.69 3.06 35-44 0.56 0.70 0.35 DG 1.13 54. dan tidak ada perbedaan prevalensi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita.72 46.06 Tamat SD 0.12 2.74 0.19 0.10 0.16 0.29 41.22 1.15 0.02 5-14 0.25 47.57 1.75 1.08 1.80 50.44 48.12 0.03 25-34 0.08 0.27 0.16 0.11 0.

Walaupun prevalensi malaria klinis pada anak (<15 tahun) relatif lebih rendah dari orang dewasa. Walaupun diagnosis pasti TB berdasarkan pemeriksaan sputum BTA positif. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 . Pnemonia. sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar. terutama pada balita. ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global. Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita tinggi. serta sering mengakibatkan kematian. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. dan cenderung tinggi pada responden dengan pendidikan rendah. responden sekolah dan petani/nelayan/buruh. ditanyakan apakah pernah menderita gejala ISPA dan pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama. Pengobatan dengan obat malaria program juga relatif lebih baik (≥50%) di daerah perkotaan. Tuberkulosis (TB). Tidak terlihat perbedaan prevalensi DBD pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan. pegawai dan wiraswasta.34 tahun (0.2%). dapat menjadi pneumonia. namun kasus yang terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan lebih banyak di perkotaan. kelompok pendidikan tinggi. Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk malaria.54 tahun).7%) dan terendah pada bayi (0.DBD dahulu dikenal hanya sebagai penyakit pada anak-anak. 3. Kepada responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis campak oleh tenaga kesehatan. Temuan yang juga perlu menjadi perhatian adalah DBD klinis relatif lebih banyak ditemukan pada responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). ditanyakan apakah menderita gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk berdahak bercampur darah.2 Prevalensi ISPA. dan bila tidak. DBD klinis relatif lebih tinggi di perdesaan. Hal ini mungkin berhubungan dengan tingkat kesadaran penderita dalam mengenali penyakit dan mencari pengobatan yang lebih baik di kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita yang lebih tinggi tersebut. dan Campak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat.3. diagnosis klinis sangat menunjang untuk diagnosis dini terutama pada penderita TB anak. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25 . Di Indonesia penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. tetapi proporsi pengobatan dengan obat malaria program cenderung lebih baik pada anak dibandingkan orang dewasa. prevalensi pada bayi relatif rendah. Di Indonesia masih terdapat kantong-kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB. Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data ISPA ringan dan pneumonia. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur. kelompok petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Keadaan ini menunjukkan kewaspadaan dan kepedulian penanganan penyakit malaria pada anak sudah cukup baik di mana >50% malaria klinis mendapat obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit. Kepada responden ditanyakan apakah dalam satu bulan terakhir pernah didiagnosis ISPA/pneumonia oleh tenaga kesehatan. Prevalensi DBD klinis juga cenderung meningkat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita yang lebih tinggi. Kepada respoden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan. 103 . namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa.

39 26.42 0.64 5.78 22.75 0.41 2.45 0.22 1.99 0.06 0.02 0.5.11 0.28 1.06 2.39 0.20 36.52 0.38 7.78 1.63 Indonesia 8.42 0.78 0. Prevalensi ISPA satu bulan terakhir di Indonesia adalah 25.67 4.48 18.72 0.45 4.78 0.52 28.18 0.20 0.48 1.64 22.98 TB D 0.91 0.03 1.71 0.16 0.98 1.8% .32 0.47 0.27 0.88 9.38 0.01 DG 1.34 0. kecuali di Sumatera Selatan lebih banyak didiagnosis oleh tenaga kesehatan.63 0.32 0.38 0.12 1.24 0.56 0.21 0.08 22.ditanyakan apakah pernah menderita gejala demam tinggi dengan mata merah dan penuh kotoran.18 0.94 7.25 0.58 0.59 5.98 2. Prevalensi pneumonia satu bulan terakhir di Indonesia adalah 2. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.47 0.13 0.26 8.12 0.38 22.50 2.59 5.01 0.24 1.85 2.54 0.29 0.77 0.84 0.29 1.75 0. TB.10 10.65 17.82 0.76 2.37 0.10 1.69 1.49 26.07 2.59 1.65 20.60 24.37 0.11 0.28 7.69 1.22 6.29 0.53 1.73 0.10 0.26 0.23 0.36 1.04 0.56 0.6%).24 0.13 D 1.08 14.49 0.00 0.95 8.50 0.53 0.4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional.98 8.5% (rentang: 17.44 1.52 ISPA DG 36.40 12.41.80 0.24 2.86 0. Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.56 0. dan Campak menurut Provinsi.08 1.95 2.68 4.71 0.98 6.47 0.54 2.29 1.87 22.92 0.76 0.19 2.52 20.62 1.39 1.13 0.56 Pneumonia D 1.22 1.54 0.73 9.99 0.53 4.1% (rentang: 0.78 6.14 0.42 0.5% .44 9.88 1.41 1. Tabel 3.55 1.23 0.43 0.63 2.49 1.31 0.04 0.53 1.47 1.22 0.17 2.43 2.59 1.20 30.00 1.09 2.78 1.31 0.44 0.50 4.28 1. Pneumonia.27 1.47 0.81 1.50 0.77 0.03 27.01 0.39 21.58 0.61 0.58 0.73 0.03 1.77 1.81 1.60 Prevalensi ISPA.61 1. serta ruam pada kulit terutama di leher dan dada.43 0.10 25.40 0.47 30.15 0.31 0.50 1.26 0.89 Campak DG 1.40 25.92 2.43 0.65 2.90 0.66 0.99 22.79 3.36 0.90 19.36 22.50 0.75 33.80 30.52 41.41 1.87 1.37 0.31 0.20 6.33 0.63 1.27 1.37 0.05 0.34 0.84 18.64 0.36 0.53 1.36 1.77 1.36 17.63 0.80 6.07 2.67 2.65 0.37 0.42 0.18 104 .90 22.54 10.83 1.02 0.60 0.40 5.44 0.32 25.54 29.36 0.43 0.33 2.97 2.74 8.19 1.40 0.98 5.23 0.38 9.56 0.05 5.58 0.60 2.73 DG 3.68 0.84 0.40 0.06 27.72 0.55 28.70 0.97 24.04 5.58 0.73 29.35 0.20 0.06 12.37 0.47 2.

Maluku Utara. Sulawesi Selatan. Nusa Tenggara Barat. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan.2%. Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional. 105 . Pneumonia klinis terdeteksi relatif lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan. antara lain Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tenggara. kecuali di Provinsi Sumatera Selatan. tertinggi di Provinsi Papua Barat (2. Pada umumnya kasus campak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Prevalensi relatif sama pada laki-laki dan perempuan demikian pula di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. dan Papua Barat. Karakteristik responden pneumonia serupa dengan karakteristik responden ISPA. Papua Barat. Bali. Lampung. Nanggroe Aceh Darussalam.61 adalah gambaran ISPA.4%) dan masih cukup tinggi ditemukan pada usia di bawah 15 tahun.4%). Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%).2%) dan terendah di Provinsi Lampung dan Bali (0. dan Campak menurut karakteristik responden.3%). Prevalensi TB paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. dan Papua. dan relatif sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita. tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. kecuali di Sumatera Selatan dan Papua. Pneumonia.24 tahun. kecuali pada kelompok umur ≥55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi. Tabel 3. Kalimantan Selatan. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.Empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Pneumonia cenderung lebih tinggi pada kelompok yang memiliki pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah. Prevalensi campak klinis 12 bulan terakhir di Indonesia adalah 1. Maluku. kecuali di Provinsi Bengkulu. Gorontalo. Jawa Barat. dan Papua. tertinggi di Provinsi Gorontalo (3. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi. Sulawesi Tengah. Prevalensi campak lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Kalimantan Tengah. Banten.0%. Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relatif sama. DKI Jakarta.5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0. sedangkan terendah pada kelompok umur 15 . Sulawesi Barat. Kasus pneumonia pada umumnya terdeteksi berdasarkan diagnosis gejala penyakit. Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 1. Prevalensi campak tertinggi pada anak balita (3. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. TB. Empat belas provinsi mempunyai prevalensi lebih tinggi dari angka nasional. Nusa Tenggara Timur.

59 1.55 0.60 26.41 1.56 0.49 23.43 0.02 1.73 0.37 Petani/Nelayan/ 6.04 0.62 0.31 0.62 0.84 2.49 0.53 28. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D ISPA DG Pneumonia D DG D TB DG D Campak DG Kelompok umur (tahun) <1 14.77 28.56 0. dan Campak menurut Karakteristik Responden.61 0.10 0.60 0.11 Kuintil 4 7.81 2.22 1.57 1.20 3.43 0.06 Perempuan 8.42 0.99 35.83 1.18 0.96 1.17 25.90 0.21 Tamat PT 6.17 1.47 0.40 0.26 2.17 1.38 0.04 2.1 5-14 9.17 1.07 22.98 0.6 45-54 7.09 0.00 Pendidikan Tidak sekolah 7.99 Sekolah 6.21 0.38 0.67 0.79 Tidak tamat SD 7.47 24.83 1.71 21.70 2.37 0.75 18.47 0.64 0.43 4.08 0.30 30.33 2.58 Wiraswasta 6.60 1.45 1.86 0.27 0.61 0.07 1.21 0.70 0.08 1.68 0.30 26.92 1.61 0.62 0.53 0.80 0.70 1.85 Lainnya 6.91 2.01 1.60 0.17 0.84 1.0 Jenis Kelamin Laki-laki 8.23 0.21 2.29 0.4 >75 9.88 0.36 1.00 1.01 26.18 0.60 0.76 1.69 5.82 1.39 0.18 0.9 1-4 16.27 0.92 42.24 0.67 0.94 0.70 0.69 0.34 0.46 0.96 21.04 Tipe daerah Perkotaan 8.43 0.61 0.49 18.42 1.89 19.46 Tamat SMP 6.39 0.73 23.04 1.6 25-34 6.69 0.07 20.13 Perdesaan 8.27 0.73 2.26 25.35 0.42 Pegawai 6.73 0.61 Prevalensi ISPA.13 0.80 1.82 0.27 0. TB.33 1.10 1.81 1.34 0.68 24.46 1.87 27.15 0.36 0.51 0.81 17.98 Kuintil 5 7.27 0.56 0.32 0.07 1.33 0.62 0.84 106 .13 2.92 20.00 Kuintil 3 8.30 0.63 2. Pneumonia.42 0.60 1.01 0.48 25.42 1.44 3.79 0.7 65-74 8.44 0.69 0.26 0.56 0.66 0.27 1.82 23.02 0.2 15-24 5.45 1.34 1.20 27.40 2.73 0.48 0.77 Ibu RT 6.34 0.40 0.58 0.12 2.55 0.59 0.21 0.40 0.66 0.67 1.67 Pekerjaan Tidak kerja 6.56 0.40 0.14 0.49 0.55 2.26 2.57 22.51 23.17 22.20 Tamat SMA 6.94 1.62 2.42 0.42 0.65 0.50 0.59 1.42 0.84 0.40 0.1 35-44 6.47 0.89 1.77 1.94 0.74 0.09 Kuintil 2 8.50 2.69 2.53 0.57 25.17 1.26 0.38 4.35 0.44 0.60 0.75 1.21 0.33 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 8.72 0.26 0.Tabel 3.42 3.39 0.76 0.40 Tamat SD 6.37 0.00 0.0 55-64 7.91 20.53 0.32 1.08 2.29 0.

Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD. tidak nafsu makan. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar. Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Nusa Tengara Timur.2% . Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. Jawa Barat.6% (rentang: 0. Nusa Tenggara Barat. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian.1. Gorontalo. Tabel 3. sedang di provinsi lainnya terutama berdasarkan gejala klinis. sakit kepala. Responden yang menderita diare ditanya apakah minum oralit atau cairan gula garam. Hepatitis. Kalimantan Selatan. muntah. Dua belas provinsi mempunyai proporsi pemberian oralit kurang dari proporsi nasional. Secara nasional. Riau. kasus tifoid sebagian besar terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Prevalensi diare diukur dengan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Hanya di tujuh provinsi (Banten. Kasus diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI Yogyakarta. dan Papua. Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Sumatera Selatan. Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. Banten. 107 .3% . kencing warna air teh. Papua Barat dan Papua). tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. ditanya apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. Papua Barat. Dua belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual.3 Prevalensi Tifoid. Responden yang menyatakan tidak pernah. Banten.2%.3. yaitu Provinsi NAD. ditanya apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair.4%). dan Sulawesi Selatan) kasus diare lebih banyak dideteksi berdasarkan gejala klinis. Prevalensi diare klinis adalah 9. Jawa Tengah. Bengkulu. Sulawesi Utara.18. Sumatera Barat.0% (rentang: 4. Diare Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir.6% (rentang: 0. terendah ditemukan di Provinsi Banten (29. Kalimantan Selatan. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis hepatitis dalam 12 bulan terakhir.62 menunjukkan bahwa prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1.2% . nyeri perut sebelah kanan atas.3%). serta kulit dan mata berwarna kuning. Gorontalo. Nusa Tenggara Barat.3. Sulawasi Selatan. Responden yang menyatakan tidak pernah.9%). Kalimantan Tengah. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu. Sulawesi Tengah.9%). Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis. proporsi responden diare klinis yang mendapat oralit adalah 42. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Timur. Di 18 provinsi. kecuali di Provinsi Jawa Timur. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Barat.

2 0.1 0.14 tahun) yaitu 1.80 0.1 0.46 1.8 30.2 7.03 1.7 1.8 2.11 Hepatitis D 0.2 47.8%).8 4.87 0.3 0.0 10.19 1.16 1. Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.0 5.75 1.3 0.13 2.7 4. Hepatitis.48 1.6 0.5 7.7 56.03 1.0 29.2 4.99 1.9 5.1 0.96 0.0 8.2 0.5 0. 108 .1 0.4 16.56 0.0 43.9 8.1 0.80 1.3 0.6 5. Diare menurut Provinsi.70 0.8 0.6 7.31 0.7 1.3 0.86 1.28 1.5 5.7 4.8 45.6 50.1 49.8 DG 18.94 0.5 0.2 0. terendah pada bayi (0.98 0.0 5.8 10.5 3.39 2.66 0.1 0.2 3.9 9.5 0.8 9.3 5.35 0.44 2. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.27 2.4 53.6 5.1 44.2 8.6 0.1 0.9%.2 Tabel 3.0 49.65 1.44 0.3 13.4 0.9 0.6 39.3 0. Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 .3 Diare D 11.77 1.32 2.2 2.53 0.4 9.01 0.2 0.7 4.6 6.9 O 42.Tabel 3.6 0.33 1.8 1.58 0.7 0.7 30.2 9.1 5.7 41.1 8.9 47.51 1.1 0.8 4.12 0.2 0.7 29.4 54.90 1.96 0.3 0.4 5.5 Indonesia 0.6 2.1 9. Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah.16 0.53 0.9 7.7 51.2 0.1 6.4 0.0 42.4 35.2 0.9 52.3 4.85 Tifoid DG 2.4 0.62 Prevalensi Tifoid.5 9.4 7.4 47. dan Diare menurut karakteristik responden.60 0.2 0.3 0.25 1.1 0.35 1.79 1.36 0.1 0.24 0.14 1.61 0.20 2.91 1. Hepatitis.3 0.1 0.8 0.2 10.1 0.0 37.5 7.0 53.2 0.3 0.88 0.2 6.95 1.3 0.54 0.8 5.9 7.3 0.4 3.2 47.1 0.2 3.69 0.30 0.7 1.40 0.62 adalah gambaran Tifoid.90 1.2 0.5 43.60 0.3 0.1 5.3 36.60 0.2 40.5 0.0 8.93 2.4 0.2 0.4 0.1 2.7 5.43 0.4 41.87 1.5 7.4 43.2 0.67 1.8 2.2 0.3 8.2 0.44 0.68 0.4 0.8 3.7 44.9 5.1 43.9 5.2 11.06 0.6 4. dan relatif lebih tinggi di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan.42 0.1 0.4 12.1 48.7 0.9 0.5 2.3 0.5 4.3 10.2 0.9 3.8 DG 1.

4 0.3 0.5 1.0 4. Diare menurut Karakteristik Responden.3 3.4 9.2 0.3 0.4 8.7 9.9 3.5 37.2 4.8 8.1 37.5 38.4 4.8 1.8 4.8 Perempuan Tipe daerah 0.2 0.9 0.8 38.2 41.0 37.5 1.9 Kuintil -2 0.4 3.6 41.8 Kuintil -4 0.0 1.4 0.3 0.7 35-44 0.1 3.8 0.6 0.4 36.3 37.7 1.2 0.3 5.1 7.3 36.5 39.2 5.2 0.0 40.6 4.8 1.4 8.4 1.5 0.0 36.9 4.2 7.7 Perkotaan 0.9 Tidak kerja 1.6 8.4 1.2 0.6 16.7 Tamat SMA 0.2 1.1 37.1 40.8 55.5 0.5 16.5 9.8 Kuintil -5 0.7 45-54 0.9 52.4 6.7 42.5 1.4 5.4 8.6 7.5 1.9 Tidak tamat SD 0.6 1.9 4.3 0.2 0.1 1.6 0.6 0.9 5.3 5.2 4. hampir 2 kali lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.2 0.6 11.2 4.1 5. dan cenderung lebih tinggi pada 109 .8 Tamat SMP 0.6 0.7 0.9 4.8 Kuintil -3 0.0 41.9 Perdesaan Pendidikan 0.Tabel 3.7 7.5 1.8 0.2 0.0 7.9 Tamat SD 0.3 7.3 0.7 7.8 Petani/nelayan/buruh 0.7 36.3 1.3 <1 0.6 0.7 1.5 3.7 5.9 0.2 0.9 10.0 Sekolah 0.5 10.8 42.7 >75 Jenis Kelamin 0.4 10.2 1.8 4.5 4.3 0.6 0.7 0.8 3.8 0.1 1.6 65-74 0.2 0.7 1.3 0.2 0.8 41.2 0.6 1.8 Kuintil -1 0.8 1-4 1.2 0.7 0.8 1.9 1.9 9.1 5-14 0.2 0.0 0. Hepatitis.4 1.9 5.7 0.8 1.0 8.8 41.0 10.2 0.1 4.0 9.6 5.5 Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita 0.6 37. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D Tifoid DG D Hepatitis DG D Diare DG O Kelompok umur (tahun) 0.7 Tidak sekolah 0.4 0.1 39.7 8.6 7.5 41.3 37.7 55-64 0.5 0.1 0.6 1.7 1.1 0.7 Wiraswasta 0.9 Laki – laki 0.3 0.6 0.8 43.2 1.2 0.1 4.2 0.2 0.9 15-24 0.8 1.9 0.2 0.7 Pegawai 0.6 1.9 Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun.4 1.7 0.5 42.0 0.2 5.3 0.9 0.5 1.3 5.7 0.9 9.6 0.7 11.2 0.62 Prevalensi Tifoid.2 7.6 1.2 0.3 8.7 Tamat PT Pekerjaan 0.0 38.7 25-34 0.5 43.6 Ibu RT 0.7 0.2 0.4 39.0 5.

hipertensi. Kriteria JNC VII 2003 hanya berlaku untuk usia 18 tahun keatas. dermatitis. Pengukuran tensi dilakukan pada responden umur 15 tahun ke atas. jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran pertama. Hipertensi berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan tekanan darah/tensi. Prevalensi diare yang tinggi pada bayi dan anak balita tidak selalu diberi oralit. 110 . Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk 15 tahun ke atas maka temuan kasus hipertensi pada usia 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi. asma. cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. maka prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensi dihitung hanya pada penduduk umur 18 tahun ke atas.7%). dan Penyakit Keturunan Data penyakit tidak menular (PTM) yang disajikan meliputi penyakit sendi. gangguan jiwa berat. Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16. Untuk kasus penyakit jantung. ditetapkan menggunakan alat pengukur tensimeter digital.1 Penyakit Tidak Menular Utama. Tensimeter digital divalidasi dengan menggunakan standar baku pengukuran tekanan darah (sfigmomanometer air raksa manual). stroke dan asma ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. DM. buta warna.pendidikan rendah. Responden dikatakan memiliki gejala jantung jika pernah mengalami salah satu dari 4 gejala termaksud. glaukoma. Data hipertensi didapat dengan metode wawancara dan pengukuran. maka dilakukan pengukuran ke tiga. stroke. Setiap responden diukur tensinya minimal 2 kali. yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. dan dekompensasi kordis. 3. Riwayat penyakit sendi. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003. hipertensi. aritmia. baik berdasarkan diagnosis maupun gejala (D dibagi DG). Penyakit sendi. sedangkan PTM lainnya ditanyakan kepada semua responden. talasemiaa.4. jantung. yaitu penyakit jantung kongenital. riwayat pernah mengalami gejala penyakit jantung dinilai dari 5 pertanyaan dan disimpulkan menjadi 4 gejala yang mengarah ke penyakit jantung. dan untuk jenis PTM lainnya kurun waktu riwayat PTM adalah selama hidupnya. Penyakit Sendi.5%. angina. Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan. dan hemofilia dianalisis berdasarkan jawaban responden “pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan” (notasi D pada tabel) atau “mempunyai gejala klinis PTM”.8% dan 55. Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran RT per kapita. proporsi yang mendapat oralit pada ke dua kelompok umur tersebut berturut-turut 52. bibir sumbing.4 Penyakit Tidak Menular 3. tumor/kanker. hipertensi dan stroke ditanyakan kepada responden umur 15 tahun ke atas. Prevalensi PTM adalah gabungan kasus PTM yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan kasus yang mempunyai riwayat gejala PTM (dinotasikan sebagai DG pada tabel). Cakupan atau jangkauan pelayanan tenaga kesehatan terhadap kasus PTM di masyarakat dihitung dari persentase setiap kasus PTM yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dibagi dengan persentase masingmasing kasus PTM yang ditemukan. Dua data pengukuran dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi. rinitis.

1 29.1 4.2 11.2 30.6 38.1 14.6 23.9 26.3 31.6 7. Hipertensi.9 30.5 12.2 5.7 6.2 4.2 26.9 5.8 27.5 6.5 8.6 29.1 35.7 25.5 5.2 7.0 30.3 7. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.1 9.3 6.1 22.3 Catatan : D = Diagnosa oleh Tenaga Kesehatan D/G = Didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit Hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 111 .6 14.7 Hipertensi (%) D 9.9 4.0 8.2 33.1 24.7 5.3 8.8 Indonesia 14.0 8.1 9.7 20.8 7.0 D/G 16.2 2.3 9.4 10.0 7.1 8.0 5.6 31.4 7.7 6.9 4.63 Prevalensi Penyakit Persendian.8 37.2 5.0 12.7 26.4 28.2 29.9 12.4 8.9 5.0 9.7 9.4 7.4 15.8 5.0 8.6 15.0 14.3 Stroke (‰) D 10.2 7.4 9.8 5.1 24.2 7.7 9.Tabel 3.7 5.9 8.3 8.1 6.3 28.6 7.6 31.6 9.2 36.3 13.6 26.5 6.2 7.8 27.2 34.9 3.6 8.8 11.4 D/G 34.3 31.0 6.4 10.4 7.5 9.1 4.0 5.7 12.2 20.2 9.6 6.3 17.3 19.8 7.3 41.3 28.8 5.6 8.9 28.3 5.8 23.9 7.4 5.4 17.0 10.4 37.4 7.4 5.0 4.6 33.4 5.5 5.4 20.5 8.2 12.1 D/O 10.9 19.5 15.7 7.3 6.5 7.0 10.9 3.6 5.9 8.8 9.5 6.6 9.3 4.5 3.3 11.8 19.6 11.8 4.8 12.1 37.2 6.1 5.6 29.1 7.7 11.8 29.5 29.7 7. dan Stroke menurut Provinsi.1 4.9 32.0 27.1 13.7 28.0 6.6 5.3 8.0 35.8 23.1 6.1 11.6 7.7 6.5 6.6 39.9 7.5 4.0 12.0 30.4 8.3 9.9 5.9 31.0 8.4 8.0 9.8 9.4 9.8 29.5 6.7 2.6 5.8 33.4 7.0 28.5 25.1 32.0 26.8 10.1 5.6 19.7 36.4 8.7 9.2 5.1 14.2 10.3 7.4 6.5 33.7 4.5 4.4 27.6 5.3 10.4 8.1 5.3 7.6 31.0 31.8 8.6 6.0 6.9 38.3 7.1 30.4 22.6 29.9 29.0 11.0 3.6 8.4 U 30.0 29.1 7.

Terdapat 11 provinsi dengan prevalensi penyakit sendi lebih tinggi dari angka nasional.3 per 1000 penduduk. Cakupan diagnosis penyakit sendi oleh tenaga kesehatan di setiap provinsi umumnya sekitar 50% dari seluruh kasus yang ditemukan. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7. Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24. kasus hipertensi berdasarkan hasil pengukuran diberi inisial U. hipertensi maupun stroke tampak meningkat sesuai peningkatan umur responden.3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. dan stroke cenderung tinggi pada tingkat pendidikan rendah dan menurun sesuai dengan peningkatan tingkat pendidikan.2%. Sedangkan untuk hipertensi dan stroke. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dan gabungan kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dengan kasus hipertensi berdasarkan riwayat minum obat hipertensi diberi istilah diagnosis/minum obat dengan inisial DO. Bangka Belitung.0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis. prevalensi penyakit sendi pada Petani/Buruh/Nelayan ditemukan lebih tinggi daripada kelompok pekerjaan lainnya. baik pola prevalensi penyakit sendi maupun hipertensi dan stroke tampak tidak ada perbedaan yang mencolok.1%). merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional.Selain pengukuran tekanan darah. Menurut provinsi. demikian pula prevalensi hipertensi. Prevalensi penyakit sendi secara nasional (Tabel 3. Sedangkan pola prevalensi stroke menurut jenis kelamin tidak tampak perbedaan yang mencolok. prevalensi penyakit sendi. Sulawesi Barat. prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31. Apabila kriteria hipertensi sesuai JNC VII 2003 juga diterapkan untuk penduduk 15-17 tahun. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di NAD (16. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39.6%) dan terendah di Papua Barat (20. maka terdapat 4050 (8. Jawa Tengah. prevalensi penyakit sendi cenderung lebih tinggi pada perempuan. Hal ini menunjukkan sekitar 72.64 juga dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit sendi. dan Nusa Tengah Tenggara Barat. Kalimantan Tengah.5%). Pada Tabel 3. Riau. namun ada kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan peningkatkan tingkat pengeluaran rumah tangga. Menurut karakteristik responden.7%.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%. kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diberi inisial D. DI Yogyakarta.4%) responden umur 15-17 tahun yang telah mengalami hipertensi. Berdasarkan pekerjaan responden.8‰).63) sebesar 30.8%) dan terendah di Sulawesi Barat (7. 112 . prevalensi ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja. responden juga diwawancarai tentang riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat meminum obat anti-hipertensi. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7.6‰) dan terendah di Papua (3. Menurut jenis kelamin. Terdapat 13 provinsi dengan prevalensi stroke lebih tinggi dari angka nasional. hipertensi.6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0. dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1000 penduduk. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. prevalensi penyakit sendi tertinggi dijumpai di Provinsi Papua Barat (28. namun meningkat kembali pada kelompok pendidikan tamat PT. atau dengan kata lain sebanyak 76. Dalam penulisan tabel. Provinsi Jawa Timur. Menurut provinsi. Sulawesi Tengah.4%).0%.

3 8.9 8.6 7.4 16.6 31.9 10.9 4.8 4.0 7.7 11.7 8.5 5.5 6.1 37.6 13.2 28.1 0.3 7.6 6.6 28.5 15.2 4.9 33.2 22. Hipertensi.4 5.4 53.9 8.4 7.7 13.7 13.7 11.8 8.0 9.2 5.6 4.1 9.0 29.5 25.5 11.6 1.9 27.1 15.1 1.3 30.1 5.8 29.8 4.3 5.9 19.7 19.3 0.0 8.9 33.5 5.3 0.6 32.1 5.9 65.2 5.9 15.3 23.6 7.3 4.7 44.8 32.9 8.3 56.3 6.3 11.9 6.7 7.1 28.4 20.6 8.2 30.6 2.9 23.2 18.8 8.7 6.3 8.9 2.4 8.1 1.9 6.5 8.2 31. dan Stroke menurut Karakteristik Responden.3 7.Tabel 3.7 9.2 5.8 9.2 9.1 5.5 30.0 15.8 46.7 63.9 28.6 6.7 7.9 2.1 4.2 32.8 13.1 14.5 4.4 11.6 6.2 19.8 33.1 7.3 0.1 11.7 14.9 8.6 9.9 7.7 7.8 25.1 29.0 6.7 14.3 31.0 6.1 14.9 31.1 22.1 24.4 4.3 20.0 8.7 Hipertensi (%) D D/0 U Stroke (‰) D D/G D/G Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita 113 .64 Prevalensi Penyakit Persendian.0 14.5 6.1 6.7 3.7 7.8 31.6 7.2 32.4 30.4 14.2 7.0 32.0 12.7 15.2 6.6 8.8 33.6 53.3 2.5 31.8 7.9 41.9 17.0 31.1 7.5 9.6 7.2 13.1 25.0 29.2 31.3 6.5 11.7 9.0 2.3 16.5 0.3 7.0 7.5 67. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi (%) Karakteristik Responden D Umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuinti 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.9 5.1 13.2 12.7 20.8 12.6 18.9 3.4 31.0 7.8 17.5 22.5 17.7 1.9 42.9 8.0 18.4 0.1 6.4 6.7 12.0 6.4 6.8 33.9 39.4 62.5 4.7 30.7 2.3 1.8 7.5 35.

5‰ di Maluku hingga 9.6% di Lampung sampai 12. Sebagai contoh bisa dipilih penyakit hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah.45 13.58 15.6% di DKI Jakarta.64 13.3‰.76 9.65 menunjukkan prevalensi asma.23 47.2% berdasarkan wawancara.29 46.5% di Provinsi Lampung hingga 7. sepuluh kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jayawijaya Teluk Wondama Bengkulu Selatan Kepulauan Mentawai Tolikara Yahukimo Pegunungan Bintang Seluma Sarmi Tulang Bawang 6. Prevalensi DM menurut provinsi.94 14.Untuk penyakit tidak menular.6‰ di DI Yogyakarta. Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional.3% (D dibagi DG). Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional.2% di Gorontalo.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1.38 11. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63. Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4. yaitu dengan membuat urutan (ranking) dari yang terbaik sampai yang terburuk. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung.5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung.56 14. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional. diabetes.56 49. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7.48 48. berkisar antara 1. jantung. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12. Prevalensi menurut provinsi.96 45.6%. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0.4% di Lampung hingga 2. dan tumor menurut provinsi. prevalensi asma berkisar antara 1. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis asma oleh tenaga kesehatan sebesar 54. 114 . berkisar antara 2. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi.1%.00 11.86 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Terburuk Natuna Mamasa Katingan Wonogiri Hulu Sungai Selatan Rokan Hilir Kuantan Singingi Bener Meriah Tapin Kota Salatiga 53.6% di NAD.09 45. Terdapat 17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional.5% di Indonesia dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1.74 46.9%.29 50. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0. berkisar antara 0. Penyakit asma ditemukan sebesar 3. Setelah ditentukan urutan (ranking) dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak kasus hipertensi untuk usia ≥ 18 tahun.9%. dapat pula dilakukan analisis sampai ke tingkat kabupaten/kota.55 49.11 12. Menurut provinsi.19 Tabel 3. Dalam hal ini harus dipilih indikator kesehatan yang prevalensinya cukup besar.

9 2.0 11.6 3.8 1.5 0. Riskesdas 2007 Asma Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.6 5.5 0.4 Indonesia 1.0 2.0 3.4 0.2 7.8 0.4 1.3 2.4 3.6 5.8 0.4 8.7 0.3 Catatan: D=Diagnosa oleh tenaga kesehatan.4 8.9 2.8 0.6 1.8 1.6 1.9 1.6 DM (%) Tumor (‰) D/G 1.1 4.9 0.4 3.8 8.5 1.7 0.9 2.0 0.7 3.0 0.8 0.6 1. D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.2 0.5 3.4 4.9 1.4 1.3 1.4 1.2 0.4 0.6 0.9 6.8 0.7 0.3 3.3 3.9 3.8 1.5 0.5 0.6 1.8 0.6 3.5 0.8 1.1 2.3 1.1 8.9 5.4 8.6 0.1 2.8 0.6 0.0 7.7 0.3 2.8 2.7 4.8 0.5 4.6 0.5 8.5 1.8 1.8 1.8 0.3 1.4 6.8 7.6 0.9 3.7 D/G 12.4 2.6 0.8 0.6 0.5 4.3 0.5 0.0 2.6 2.6 0.0 1.9 1.7 0.5 2.5 1.6 3.0 1.9 7.8 1.8 2.2 2.4 5.4 6.6 11.8 4.Tabel 3.3 0.6 0.0 3.7 4.8 1.8 4.8 3. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker 115 .4 0.8 0.5 1.3 2.1 1.3 2.8 3.9 5.1 1.4 7.8 9.8 3.7 5.2 8.6 2.3 0.0 3.7 8.5 0.3 1.4 0.3 0.3 1.7 0.0 1.3 0.3 D 1.7 0.5 0.0 0.3 7. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.4 0.8 0.7 4.7 0.4 4.3 1.5 0.1 3.7 0.5 3.1 9.8 (%) D 2.2 4.4 Jantung (%) D/G 4.0 0.3 0.5 0.7 0.5 4.2 0.3 7.6 0.0 0.0 1.7 6.8 1.8 5.3 2.6 3.6 4.4 3.7 2.7 5.1 4. jantung.6 1.7 2.0 4. Jantung*.2 2.2 2.4 1.2 1.7 1.9 4.8 1.4 1.3 0.6 2.2 11.3 5.1 4.65 Prevalensi Penyakit Asma*.2 1.0 1.1 2.6 3.9 1.7 1.9 0.1 2.5 2.7 5.6 0.2 1.3 2.8 2.8 3.1 0.9 3.6 1.5 1.3 1.4 6.1 2.7 3.8 1.8 5.6 7.7 0.5 D 2.3 1.0 5.1 1.5 0.

8 6.7 5.7 0.2 1.2 2.5 3.2 1.7 1. Diabetes Mellitus.1 7.0 1.8 3.7 3.7 2.8 2.5 1.0 2.2 7.0 2.8 1.2 1.8 5.5 8.4 0.0 3. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.4 8.3 12.3 2.7 3.0 4.2 0.4 1.7 1.1 10.9 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.7 6.4 2.5 16.1 1.2 7.2 1.1 2.2 0.4 10.4 0.1 6.9 9.5 8.0 1.5 0.2 3.5 1.6 1.0 1.8 0.8 Desa 2.3 0.4 1.0 1.3 1.2 2.3 3.4 2.7 2.1 0.2 1.6 5.2 5.7 8.1 4.8 1.3 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) <1 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tempat tinggal 0.Tabel 3.1 1.7 1.3 0.0 2.1 3.9 0.8 2.5 1.8 8.6 0.8 2.0 0.5 2.8 1.2 1.4 3.0 0.2 1.8 4.3 1.7 0.4 2.2 0.3 5.1 14.7 1.3 10.5 1.7 0.4 2.9 1.8 0.2 20.0 2.9 1. Tabel 3.4 4.4 1.6 1.3 0.9 5.2 1.3 1.8 2.1 1.8 2.8 1.3 1.7 6.1 1.4 3.66 menunjukkan prevalensi penyakit asma. DM.4 2.3 3.5 3.66 Prevalensi Penyakit Asma.2 1.9 1.3 5.9 1.1 0.3 0.9 3.3 1.2 0.4 6.8 7.3 7.3 6.0 8.0 1.2 1 1.8 6.7 5.5 1.5 2.2 0.5 3.7 0.8 5.7 3.2 1.1 8.0 3.9 6.9 2.4 1.1 1.6 1.4 12.6 6.8 0.0 4.2 2.0 2.4 2.4 1.4 5.0 0. Jantung.2 7.7 4.4 6.8 6.7 3.6 3.2 6.6 1.1 0.1 1.9 1.5 3.5 4.7 2.6 0.1 116 .8 0.9 1.8 1.6 2.0 1.3 1.8 7.1 19.9 Asma (%) D D/G Jantung (%) D D/G Diabetes (%) D D/G Tumor (‰) D Kota 1.8 1.9 1.4 3.2 8.1 4.0 0.2 8.5 10.1 11.5 0.2 0. jantung.2 2. dan tumor menurut karakteritik responden.7 3.6 1.9 4.5 0.7 0.1 4.0 2.8 9.4 0.5 1.9 10.1 4.2 7.

8‰) dan berturut-turut disusul DI Yogyakarta (40.3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18. jantung. Prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 4.9‰).0‰).0‰).7‰).4‰). DM. Prevalensi terendah terdapat di Riau (0. antara lain Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (13. dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah.2‰).8‰). Prevalensi penyakit asma. dan Sulawesi Barat masingmasing sebesar 0. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh dan tidak bekerja. Sumatera Selatan (9.4‰). Jawa Barat (36.9‰). sedangkan provinsi lain seperti Sumatera Selatan (10. Prevalensi penyakit asma dan jantung lebih tinggi di daerah perdesaan. Nusa Tenggara Timur (99.8‰).0‰). Nanggroe Aceh Darussalam (98.6‰. dan tumor meningkat dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.5‰).Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20.6‰).3‰. Riau (21. Prevalensi DM paling banyak terdapat pada kelompok pegawai.6‰).6‰ dan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (18.9‰ jauh di atas angka nasional (2. Tabel 3.1‰).3‰) yang diikuti berturut-turut oleh Provinsi Kep. menempati urutan sesudahnya. Sumatera Barat (16.8‰). Sumatera Selatan (5.7‰). Sulawesi Tengah (12.9‰). disusul kelompok petani/nelayan/buruh.9‰).9‰). Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0. Prevalensi rinitis di Indonesia sebesar 24. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat (25. namun untuk DM prevalensi cenderung menurun kembali setelah umur 64 tahun.6‰).1‰). Sumatera Barat (11. sedangkan prevalensi penyakit jantung dan tumor dijumpai lebih tinggi pada perempuan. prevalensi asma dan jantung paling tinggi pada kelompok tidak sekolah sedangkan prevalensi DM dan tumor paling tinggi terdapat pada kelompok tamat perguruan tinggi. berturut-turut diikuti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (12.4‰). Kalimantan Barat. sebaliknya prevalensi penyakit jantung. sedangkan DM dan tumor lebih tinggi di daerah perkotaan.7‰). tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (24.2‰). Menurut tingkat pendidikan. Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga.4‰.3‰). prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja. Kep. Sulawesi Tengah (38. Kep.5‰).5‰). tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (49. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara (5. Untuk Talasemia.6‰). Sumatera Barat (19. Prevalensi terendah terdapat di Sumatera Utara(1. tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (113. Prevalensi dermatitis di Indonesia cukup tinggi (67. Riau (3.Riau (12. Menurut jenis pekerjaan utama. Nusa Tenggara Barat (8. Provinsi DKI Jakarta ternyata menduduki peringkat teratas untuk prevalensi bibir sumbing. diikuti Sulawesi Tengah (105. terdapat 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional.4‰).2‰).Tampak bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dengan menurunnya tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.5‰). Prevalensi terendah 117 . Nanggroe Aceh Darussalam (15. DKI Jakarta (99. DM.9‰).9‰).4‰). DM dan tumor meningkat dengan bertambahnya umur. Gorontalo (3. DKI Jakara (12.1‰). jantung.8‰). Prevalensi asma dan DM tidak berbeda menurut jenis kelamin. Kep. Riau (9.7‰).67 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4. Prevalensi buta warna di Indonesia sebesar 7. Nanggroe Aceh Darussalam (7. yaitu sebesar 13. Gorontalo (15. Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga. DKI Jakarta (37. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Jambi. Nusa Tenggara Barat (9.4‰.

7 7.0 40.1 99.3 0.8 3.5 0.5 99. Talasemi.4 0.4 0.8 0.3 0.4 8.9 1.5 0.8 2.4 20.9 1.3 5.4 2. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.4 13.4 10.1 48.9 1.3 92.2 1.8 1.9 1.5 0.2 2.4 0.3 0.6 4.7 79.0 2.2 27. Dermatitis.5 0.6 0.3 0.4 5.6 3. buta warna.4 21.5 43.9 20. glaukoma.8 89.3 34.5 113.8 0.3 7.9 6.0 17. dermatitis.2 25.1 0.9 4. rinitis.2 3.4 1.6 0.8 0.8 1. talasemia.0 3.5 0.7 6.1 1.6 2.1 0.3 0.6 53.8 26.2 2.7 2.9 14.2 26. bibir sumbing.1 0. Glaukoma.9 2.5 0.2 2.9 9.4 0.3 15.9 15.2 6.5 3.5 24.2 0.2 0.3 3.1‰.5 37.4 2.0 21.6 Sumbing 7.1 2.7 6.4 0.7 26.4 0.1 5.5 4.0 0.4 8.6 0.0 3.8 0.6 7. Buta Warna.0 64.5 0. atau hemofilia Jiwa 18.2 6.8 8.4 11.4 16.5 0.3 5.1 0.4 10. Tabel 3.2 1.2 0.4 1.3 67.9 0.9 6.4 47.1 0.9 1.8 3.9 30.1 94.1 0.5 1.1 2.4 0.6 Buta warna 15.8 6.9 8.6 0.8 38.9 3.7 1.0 62.0 13.6 4.4 0.terdapat di Provinsi Lampung.0 0.4 7.3 2.2 62.67 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.6 18.9 34.3 2.8 0.8 40.7 0.8 6.6 11.8 13.9 0.9 8.0 32.5 1.6 0.5 0.2 11.8 3.2 22.5 2.6 0.2 1.5 9. Kalimantan Barat.2 18.7 26.8 35.4 0.7 12.5 0.6 11.8 0.5 0.8 1.2 105.4 90.8 49.7 0.4 0.9 9.1 2.8 53.3 2.4 9. Sumbing.9 39.5 3.5 2.9 13.5 1.6 12.1 1.7 36.2 29.5 10.0 12.4 4.6 0.4 0.8 0.5 0.5 Hemofili 5.4 Dermatitis 98.3 58.6 1.9 1.3 84.5 73.3 4.7 1.7 38.9 32.4 0.5 1.6 5.6 0.2 1.7 0.6 39.2 1.6 1.8 5.0 27.5 4. Riskesdas 2007 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Catatan: *) Penyakit keturunan ditetapkan menurut jawaban pernah mengalami salah satu dari riwayat penyakit gangguan jiwa berat (skizofrenia).3 Talasemi 13.1 23.0 24. Rhinitis.6 1.4 22.2 1.4 1.5 3.4 1.8 12.0 1.0 9.3 0.2 3.8 2.4 Glaukoma 12.4 2.5 73.4 0.4 0.1 0.1 0. dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0.8 Rhinitis 49.4 3.1 0.9 7.9 92.5 19.4 1.3 0.8 5.1 5.3 118 .1 1.1 0.2 0.8 21.5 27.9 6.5 67.0 1.6 6.3 1.0 5.3 3.8 0.3 2.1 2.

maka responden tersebut diindikasikan mengalami gangguan mental emosional. Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut.4. Prevalensi ini bervariasi antar provinsi dengan kisaran antara 5. Lima dari 8 penyakit keturunan yang ditanyakan. SKRT 1995 juga menggunakan SRQ sebagai alat ukur. glaukoma.0‰). Dari tabel ini dapat dilihat bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11.68 di bawah ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun. SRQ memiliki keterbatasan karena hanya mengungkap status emosional individu sesaat (± 2 minggu) dan tidak dirancang untuk diagnostik gangguan jiwa secara spesifik.2‰). kelompok yang tidak bekerja (19. Prevalensi terendah di Provinsi Sumatera Utara (1. Kesehatan mental dinilai dengan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang terdiri dari 20 butir pertanyaan. Tabel 3.6%). Sumatera Barat (19.6%.3‰). Dalam Riskesdas 2007 pertanyaan dibacakan petugas wawancara kepada seluruh responden.9‰). Pertanyaan-pertanyaan SRQ diberikan kepada anggota rumah tangga (ART) yang berusia ≥ 15 tahun.6%).1% sampai dengan 20. terutama di Provinsi DKI Jakarta (24. prevalensi tertinggi terdapat di DKI Jakarta yaitu gangguan jiwa berat. pertanyaaan mengenai kesehatan mental terdapat di dalam kuesioner individu F01 –F20.5‰).0%) dan yang terendah terdapat di Provinsi Kep. dan hemofilia 3. buta warna. tinggal di perdesaan (12. menunjukkan 140 dari 1000 Anggota Rumah Tangga yang berusia ≥ 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. 119 . dan Nanggroe Aceh Darussalam (15. Hasil SKRT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 1995. Kep. bibir sumbing. 1995). Berdasarkan umur. Individu dinyatakan mengalami gangguan mental emosional apabila menjawab minimal 6 jawaban “Ya” kuesioner SRQ.2 Gangguan Mental Emosional Di dalam kuesioner Riskesdas. tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke atas (33.Demikian juga prevalensi Hemofilia masih terlihat tinggi. Riau (5.7%). Nilai batas pisah tersebut sesuai penelitian uji validitas yang pernah dilakukan (Hartono.1%). serta pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah (pada Kuintil 1: 12.5‰). Badan Litbangkes. Ke-20 butir pertanyaan ini mempunyai pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. Gorontalo (15. Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14. Riau (21. Nilai batas pisah yang ditetapkan pada survei ini adalah 6 yang berarti apabila responden menjawab minimal 6 atau lebih jawaban “ya”.0% Prevalensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20. yaitu 21. kelompok yang memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah.0%).3%).69 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Tabel 3.1%).

7 7.3 10.3 6.5 8.8 12.1 6.8 14.9 13.2 16.6 120 .9 11.3 11.9 13.5 9.3 6.9 9.8 14.0 9.1 6.7 11.0 12.5 7.6 12.68 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Gangguan mental emosional 14.1 20.5 5.Tabel 3.7 Kabupaten/kota DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Papua Indonesia *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 11.8 10.7 10.4 7.1 14.2 9.0 16.5 7.0 13.

9 45-54 12.2 Petani/nelayan/buruh 11.6 Sekolah 8.7 25-34 9.7 Tidak tamat SD 15.2 75+ 33.1 *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 121 .Tabel 3.0 35-44 9.0 55-64 15.0 Ibu RT 13.0 Perempuan 14.0 Tamat SMA 7.4 Pegawai 6.7 Pekerjaan Tidak kerja 19.8 Kuintil 4 11.2 Lainnya 11.5 Tamat PT 6.0 Tempat tinggal Kota 10.1 Kuintil 5 10.7 Jenis kelamin Laki-laki 9.0 Pendidikan Tidak sekolah 21.69 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Karakteristik Responden Gangguan Mental Emosional Kelompok umur (tahun) 15-24 8.4 Kuintil 3 11.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil1 12.9 65-74 23.8 Tamat SD 12.3 Wiraswasta 9.9 Kuintil 2 12.0 Tamat SD 9.4 Desa 12.

8%). Prevalensi katarak dihitung berdasarkan jawaban responden berusia 30 tahun ke atas sesuai empat butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner individu.3%.8%. Proporsi low vision tertinggi di Provinsi Bengkulu diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (9.1% di Provinsi Sulawesi Barat hingga 3.5 kali lipat angka nasional.72 dan 3.1% di Provinsi NTT. sehingga proporsi tersebut mungkin tidak mewakili keadaan wilayah provinsi terkait secara keseluruhan. makin rendah tingkat pendidikan makin tinggi proporsinya. riwayat katarak. Tabel 3. Keterbatasan pengumpulan data visus adalah tidak dilakukannya koreksi visus. riwayat glaukoma. tetapi terdistribusi hampir merata di semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Notasi D pada tabel 3.2% di DI Yogyakarta hingga 28.8% dengan kisaran antara 1. Proporsi low vision dan kebutaan cenderung lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan.7% (di Provinsi Papua) hingga 10.72 memperlihatkan bahwa proporsi penduduk usia 30 tahun ke atas yang pernah didiagnosis katarak sebesar 1. Terdapat 11 provinsi dengan proporsi lebih tinggi dibanding angka nasional. sehingga pemakaian lensa intra-okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi.7% di Provinsi NAD. tetapi dilakukan pemeriksaan visus tanpa pin-hole.70 menunjukkan bahwa proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4. diikuti peningkatan proporsi kebutaan. Secara keseluruhan. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh. Rendahnya proporsi low vision di Papua berkaitan dengan respons rate individu yang rendah.3. Proporsi low vision dan kebutaan pada penduduk berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan. dan pemeriksaan segmen anterior mata menggunakan pen-light. Proporsi kebutaan tingkat nasional adalah sebesar 0. operasi katarak. Proporsi kebutaan tertinggi di Sulawesi Selatan diikuti oleh Provinsi NTT (1.4. Prevalensi low vision dan kebutaan dihitung berdasarkan hasil pengukuran visus pada responden berusia enam tahun ke atas. Keterbatasan pada pengumpulan data katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata menggunakan alat bantu pen-light.1% (di Provinsi Bengkulu). tabel 3. masing-masing hampir 3 dan 1.9% dengan kisaran antara 0.4%). Sedangkan proporsi penduduk yang mengaku memiliki gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau) ditambah dengan yang pernah didiagnosis dalam 12 bulan terakhir secara nasional sebesar 17. Proporsi riwayat operasi katarak didapatkan dari responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak dan pernah menjalani operasi katarak dalam 12 bulan terakhir.3% (di Provinsi Kalimantan Timur) sampai 2. dua kali lipat lebih dibanding kelompok umur 35-44 tahun. Tabel 3. Delapan dari 33 provinsi masih memperlihatkan proporsi low vision lebih tinggi dari angka nasional.3 Penyakit Mata Data yang dikumpulkan untuk mengetahui indikator kesehatan mata meliputi pengukuran tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen (dengan atau tanpa pin-hole). dengan kisaran 10. Proporsi low vision dan kebutaan pada perempuan cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki.6% (di Provinsi Sulawesi Selatan).73 adalah proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. sedangkan DG adalah proporsi D ditambah proporsi responden yang mempunyai gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau). Data ini 122 .71 menunjukkan bahwa proporsi low vision makin meningkat sesuai pertambahan umur dan meningkat tajam pada kisaran umur 45 tahun ke atas. Sementara itu proporsi terbesar juga berada pada kelompok penduduk yang tidak bekerja. dengan kisaran 1. tetapi tidak pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding angka nasional. dan jika visus lebih kecil dari 20/20 dilanjutkan dengan pin-hole.

70 Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.3 1.1 2.6 0.1 3.4 1.4 0.6 0.1 0.5 5.0 4.8 4.4 3.8 4.6 0.5 0.9 0.8 3. Tabel 3.9 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 123 .0 1.5 1.4 5.5 0. Gambaran ini juga tampak di seluruh provinsi.8 0.3 5.5 0.9 2.1 3.9 6.6 2.3% atau hanya 1/10nya).5 0.8 0.2 3.2 3.1 0.8% dari 17.4 Indonesia 4. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Low vision* (%) 5.4 3.9 0.0 4.7 3.4 1.2 1.3 0.6 0.1 1.2 2.9 5.6 2.9 10.4 0.4 2.5 4.0 0.7 9.5 4.menggambarkan rendahnya cakupan diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan secara nasional (1.6 0.7 0.4 1.7 0.7 Kebutaan** (%) 1.5 1.0 1.9 4.7 3.7 3.3 1.2 4.0 0.0 0.

1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 4.8 Jenis kelamin Laki-laki 4.5 Sekolah 1.8 35 – 44 2.2 0.7 Wiraswasta 4.1 5.3 Pegawai 2.71 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.2 0.1 Tidak tamat SD 6.6 25 – 34 1.3 3.1 15 – 24 1.7 65 – 74 27.8 1.7 1.3 Ibu RT 5.6 Kuintil 2 4.6 Kuintil 3 5.1 Tamat SD 2.1 Perempuan 5.0 1.7 75+ 37.0 13.5 0.9 1.3 0.3 0.0 Kuintil 5 4.2 0.8 2.7 Tamat PT 3.8 0.6 0.2 Pekerjaan Tidak kerja 11.0 1.Tabel 3.2 Perdesaan 5. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Low vision* (%) Kebutaan* (%) 0.6 Tamat SD 4.3 0.7 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 124 .7 45 – 54 6.3 0.4 Pendidikan Tidak sekolah 19.4 Lainnya 6.0 Kuintil 4 5.1 0.9 0.4 1.0 Petani/nelayan/buruh 6.8 Kelompok umur (tahun) 6 – 14 1.8 0.0 1.6 Tamat SMA 2.1 55 – 64 14.3 6.7 0.0 0.3 0.3 0.1 Tipe Daerah Perkotaan 4.

0 11.5 16.2 10.3 1.6 28.1 28.1 1.0 20.2 1.9 1.1 14.8 2. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D* (%) 3.3 24.6 10.0 16.9 14.2 12.0 19.3 1.0 16.0 1.3 21.7 20.5 18.4 18.7 1.6 15.72 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi.5 13.1 15.4 Indonesia 1.73 menunjukkan bahwa proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan meningkat sesuai pertambahan usia.0 1.3 11.2 18.2 1.4 2.5 2.0 1.3 1.2 12.5 3.3 2.3 17.Tabel 3.4 1.3 2.0 23.6 27.0 20.0 16.7 2. Proporsi katarak menurut umur yang dikelompokkan dengan interval 10 tahun memberikan gambaran adanya kecenderungan 125 .3 *)D = proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.6 1.4 2.8 2.6 1.5 1.7 1.8 17.2 1.5 DG** (%) 27.5 17.0 2. **)DG= proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir.6 20.1 1.4 1.6 1.4 1.6 2.2 17. Tabel 3.

9%) dan sedikit lebih besar di daerah perkotaan (2. proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan lebih besar pada penduduk dengan latar pendidikan enam tahun atau kurang dibanding dengan yang memperoleh pendidikan tujuh tahun lebih. Tabel 3. Pemakaian kacamata pasca operasi katarak di tingkat nasional adalah sebesar 58. Tabel 3. Proporsi operasi katarak dalam 12 bulan terakhir untuk tingkat nasional adalah sebesar 18% dari penduduk yang pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan.4%) dan tertinggi di Provinsi Papua (91. Proporsi operasi katarak meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga per kapita.1%). Kemungkinan lain adalah hasil operasi katarak yang cukup baik. Proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan. proporsi diagnosis katarak pada kelompok penduduk yang tidak bekerja lebih tinggi. Tampak pula bahwa proporsi gejala katarak cenderung menurun pada tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi.1% dengan kisaran terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara (21. Pemberian kacamata pasca operasi katarak bertujuan mengoptimalkan tajam penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat.74 menggambarkann proporsi operasi katarak dan pemakaian kacamata pasca operasi pada penduduk umur 30 tahun ke atas.7%). 126 . Proporsi terendah ditemukan di Provinsi Papua Barat (5. Seperti halnya low vision dan kebutaan. sehingga visus pasca operasi mendekati normal dan hanya sedikit penderita yang memerlukan kacamata pasca operasi.5%). Dari aspek pekerjaan. Secara nasional cakupan operasi ini masih sangat rendah. proporsi operasi katarak terbesar dijumpai pada kelompok yang sedang sekolah dan tinggal di daerah perkotaan. Proporsi katarak berdasarkan riwayat diagnosis cenderung lebih besar pada perempuan (1.peningkatan proporsi katarak untuk tiap kelompok umur kurang lebih dua kali lipat dalam tiap periode 10 tahunan.75 menunjukkan bahwa proporsi operasi katarak makin meningkat sejalan dengan meningkatnyan umur. tetapi tampak bahwa proporsi diagnosis katarak tertinggi ditemukan pada tingkat pengeluaran tertinggi (2%).2%) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (31. sehingga tidak semua penderita pasca operasi merasa memerlukan kacamata untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Proporsi operasi katarak pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan. terdapat penumpukan kasus katarak pada tahun terkait (2007) sebesar 82%. Proporsi operasi katarak makin meningkat sesuai dengan meningkatnya lama pendidikan. Berdasarkan pekerjaan dan tipe daerah.

73 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak Menurut Karakteristik Responden.5 1.9 2.6 1.3 0.6 19.3 16.6 1.7 18.8 41.6 18.4 1.3 16.1 38.5 19.7 17.0 127 .8 17.6 Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.1 1.2 5.0 9.6 13.7 1.7 1.1 8.9 51.9 17.4 0.6 15.4 3.8 D (%) DG (%) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 1.8 1.8 19.0 22. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pendidikan < 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 2.3 17.Tabel 3.2 8.6 1.9 2.3 1.4 4.6 8.3 3.1 1.3 1.2 28.4 11.1 17.5 1.1 5.5 7.

9 66.7 62.5 61.8 8.9 13.2 18.4 47.2 34.8 71.5 20.0 18.0 76.2 13.6 11.1 21.1 20.5 8.7 46.9 21.5 72. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Operasi Katarak (%) 13.8 22.9 27.0 49.0 58.0 23.9 20.1 128 .7 31.4 71.7 63.2 46.9 20.9 10.3 14.8 66.7 15.1 47.6 22.5 70.5 50.5 20.4 49.8 14.4 65.8 Pakai Kacamata Pasca Operasi (%) 55.74 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.0 62.7 27.1 25.Tabel 3.1 8.0 54.0 50.7 81.0 26.0 54.7 Indonesia 18.9 27.1 16.7 66.4 65.9 10.7 91.2 12.3 21.3 17.5 90.8 43.6 5.0 50.

3 78.8 64.75 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.9 58.7 59.6 21.1 16.8 31.3 56.7 63.4 54 65.3 19.9 46.8 18.5 46.3 17 21.Tabel 3.1 59.4 52.5 17.3 18.5 17.2 55.4 19.2 19.2 13. Riskesdas 2007 Operasi katarak (%) Pakai kacamata pasca operasi (%) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama pendidikan ≥ 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.7 14.2 15.2 48 72 59.9 57.2 20.9 22.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 129 .7 14 24.2 22.5 35.4 66.6 65.2 56.5 56.7 60.4 50.9 72.2 11.9 18.4 21.2 15.

karena untuk penilaian CPITN ini diperlukan alat ( hand instrument ) yang spesifik. baik promotif. Hasil wawancara dan pemeriksaan gigimulut tersebut dapat terlihat pada tabel-tabel berikut. penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M=0). penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%. hilang seluruh gigi asli. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan. Dalam Riskesdas 2007 ini dikumpulkan berbagai indikator kesehatan gigi-mulut masyarakat. 130 . antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies. yaitu: Sehat/Promotif (Prevalensi) Rawan (protektif) (Insiden) Laten/Deteksi dini dan terapi (% dentally Fit) % bebas karies pada umur 5 tahun DMF-T 12 th Expected incidence Kecenderungan DMF-T menurut umur DMF-T 15 th DMF-T 18 th MI CPITN RTI MI RTI PTI % protesa PTI % dentally fit Sakit/kuratif (% keluhan) Cacat/ Rehabilitatif (% 20 gigi berfungsi) % edentulous • • • Sumber WHO. Penilaian untuk kebutuhan perawatan penyakit periodontal Community periodontal index treatment need (CPITN) tidak dilakukan. Terdapat lima langkah program indikator terkait penilaian keberhasilan program dan pencapaian target gigi sehat 2010. Sedangkan pertanyaan tentang perilaku pemeliharaan kesehatan/kebersihan gigiditanyakan kepada masyarakat 10 tahun keatas. dan jenis perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. Analisis untuk dentally fit tidak bisa dilakukan. penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5% (WHO. telah dilakukan berbagai program. dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤2%. karena pemeriksaan perlu menggunakan instrumen genggam lengkap. Penilaian dan pemeriksaan status kesehatan gigi-mulut dilakukan oleh pengumpuldata dengan latar belakang yang bervariasi. protektif. baik melalui wawancara maupun pemeriksaan gigi-mulut. meliputi data masyarakat yang bermasalah gigi-mulut. kuratif maupun rehabilitatif. Pemeriksanan ini dilakukan pada kelompok umur 12 tahun ke atas dengan cara observasi (hanya yang terlihat) menggunakan instrumen genggam (kaca mulut) dengan bantuan penerangan senter.4. dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T.3. preventif. 2005 Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T.1995). Berbagai indikator telah ditentukan WHO. perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi.4 Kesehatan Gigi Menuju target pencapaian pelayanan kesehatan gigi 2010. Wawancara dilakukan terhadap semua kelompok umur.

7 1.3 25.3 25.7 1.6 0.2 1.5 2.7 35.6 29.7 23.8 23.3 31.4%.5 31.2 25.1 20.7 1.2 39.0 28.1 0.8 2.7 perawatan dari tenaga medis gigi 44.9 0.7 1.0 1.6 1.2 28.5 1.2 0.2 25.0 Hilang seluruh gigi asli 1.1 30.6 1.2 42.1 34.3 22.5 23.7 18.4 1.8 25.4 37.5 25.5 22.6% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.0 23.9 1.5 0. dan terdapat 1.5 16.9 20.4 29. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut terdapat 29.8 31.7 0. Tabel 3.1 24.2 2.4 30.3 27.3 4.4 31.0 3.1 19.2 2.8 0.0 25.76 menggambarkan prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.5 33.76 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Provinsi.7 19.1 26.6 29.1 26.6 20.0 23.7 0. Riskesdas 2007 Menerima Provinsi Bermasalah Gigi – mulut NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.7 0.4 Indonesia 23.6 22.7 2.0 2.4 24.9 34.0 39.Tabel 3.9 20.9 30.2 21.6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya.7 21.0 0.1 1.7 15.8 0.5 25.5 27.6 30.6 22.1 23.5 33.1 26.4 21.4 19.6 131 . Prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir adalah 23.0 24.8 36.4 2.5 24.1 17.9 21.9 2.

5%).9%). yaitu Gorontalo (33. Prevalensi masalah gigi-mulut ini tidak menunjukkan hubungan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. tetapi mulai kelompok umur 55 tahun prevalensi masalah gigi-mulut menurun kembali. Kepulauan Riau (19.3% dan 4. Kesadaran untuk melakukan konseling relatif sedikit di semua provinsi (13. 175 bayi mempunyai masalah gigi/mulut. yaitu ‘pengobatan’ (87.9%) dan terendah di NTT (23.6%. Menurut tipe daerah.7%). provinsi dengan persentase yang menerima perawatan/pengobatan gigi dari tenaga kesehatan gigi tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (44.1%). Dari yang mengalami masalah gigi-mulut. Sulawesi Tengah (31.0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (19.8% hilang seluruh gigi asli.9% (6/54) didapatkan dari 16.5%) dan terendah di Maluku Utara (19.2%).2%).0%).5%). Pemasangan gigi tiruan lepas/cekat terlihat tinggi di tiga provinsi yaitu di Kepulauan Riau (12. Tabel 3. Pada kelompok umur 45-54 tahun sudah ditemukan 1.Lima provinsi dengan prevalensi masalah gigi-mulut tertinggi. Tabel 3. Dapat dilihat bahwa jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut.9%). Aceh (30. dan pada kelompok umur 65 tahun ke atas hilangnya seluruh gigi mencapai 17. Tidak ada pola yang jelas jenis perawatan gigi yang diterima menurut kelompok umur. Provinsi dengan prevalensi gigi-mulut terendah adalah Sumatera Utara (16. Lampung (18. semakin besar persentase penduduk yang menerima perawatan/pengobatan gigi. Tabel 3. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.9%).6%). Mulai umur 65 tahun ke atas persentase yang melakukan penambalan / 132 . Konseling perawatan/ kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil. dan terendah di DKI Jakarta (74. Tetapi ada kecenderungan. Sedangkan yang menerima perawatan/pengobatan gigi tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur.3%)..5%). kecuali dalam hal perawatan/pengobatan gigi.77 menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi-mulut bervariasi menurut karakteristik responden.79 menjelaskan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut karakteristik responden.0%) dan Bangka Belitung (3. prevalensi masalah gigi dan mulut. disusul ‘penambalan/pencabutan/bedah gigi’ (38.6% Menurut provinsi. Prevalensi masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan/pengobatan gigi sedikit lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki.78 menggambarkan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi. Penambalan/pencabutan/bedah gigi tertinggi di Kepulauan Riau (55. pengobatan paling tinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (94. Data tentang persentase pencabutan/penambalan/bedah mulut pada bayi (<1 tahun) sebesar 10. DI. dan Sumatera Selatan (10. Prevalensi masalah gigi-mulut dan kehilangan gigi asli menunjukkan kecenderungan menurut umur.6%). namun terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4.. 54 diantaranya mendapat perawatan dan 6 yang mendapat perawatan pencabutan/bedah mulut oleh karena sebab yang tidak diketahui.6%.8%) dan Kalimantan Selatan (29. Sulawesi Barat (11.3%). semakin meningkat prevalensi masalah gigi-mulut. jauh di atas target WHO 2010. semakin besar persentase yang melakukan penambalan / pencabutan / bedah gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat. sedangkan menerima perawatan/pengobatan gigi di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan.2%). Semakin tinggi umur. serta persentase penduduk yang mengalami kehilangan seluruh gigi asli sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.2%).747 bayi yang diwawancara (orang tuanya).1%). Sumatera Selatan (17. Sulawesi Utara (29. semakin meningkat umur. masing-masing sebesar 13.4%). Meskipun prevalensi penduduk yang mengalami hilang seluruh gigi asli terlihat relatif kecil 1.

6 Bermasalah Gigi-mulut Menerima perawatan Hilang seluruh gigi asli Jenis kelamin Laki-laki 22.2 28.9 26. pemasangan gigi tiruan lepasan.5 23.5 26.6 29.6 1.6 1.1 29.8 5. sedangkan pengobatan lebih tinggi di perdesaan. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur ( tahun) <1 1 .3 1.9 21.9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ 1.6 133 . Sebaliknya untuk pengobatan. Tabel 3. pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat dan konseling perawatan gigi lebih tinggi di perkotaan.4 1.1 6.1 22.6 31.9 17.3 29.8 26.6 1.6 20.3 Tipe daerah Perkotaan 21.4 30.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 22.5 Perempuan 24.7 Kuintil-5 23.4 1.7 0 0 0 0 0 0. jenis perawatan penambalan/pencabutan gigi.3 37.1 28.3 30.9 Perdesaan 24.1 27.4 1.5 30.7 37 25.8 31. yang melakukan pengobatan cenderung menurun. Menurut jenis kelamin. tidak ada perbedaan persentase pemanfaatan jenis perawatan gigi yang mencolok antara laki-laki dan perempuan.pencabutan gigi mengalami penurunan.7 32 31. Menurut tipe daerah. Pemasangan gigi tiruan sudah ditemui pada kelompok umur anak sekolah dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur.7 28.7 1.6 21.77 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Karakteristik Responden.1 0.4 Kuintil-3 23.6 26. semakin tinggi persentase penduduk yang melakukan penambalan/pencabutan gigi.5 Kuintil-4 23.7 Kuintil-2 23.4 5 . semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 24.8 1.8 1. dan melakukan konseling gigi.

9 3.5 2.9 1.5 4.9 54.9 7.8 4.1 3.8 5.0 37.2 2.3 22.8 1.5 2.2 4.9 89.7 34.9 2.3 4.1 47.0 86.5 10.1 4.4 37.5 25.5 93.9 4.7 11.0 2.5 4.2 85.9 4.1 Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi 32.6 87.4 9.7 7.5 3.5 53.5 74.6 21.3 85.2 12.4 4.4 14.8 88.0 86.0 1.4 83.4 2.1 3.7 20.2 36.8 0.2 85.0 81.6 92.Tabel 3.3 11.7 90.6 6.0 1.2 134 .2 89.3 2.3 36.2 15.3 44.2 5.6 5.5 10.9 32.0 1.6 82.8 18.8 81.1 85.5 88.8 6.8 91.2 13.2 Indonesia 87.7 91.3 84.9 92.0 43.5 16.6 Lain nya 0.5 45.6 12.0 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 13.7 89.8 9.0 1.0 2.6 12.3 6.9 43.1 83.8 52.0 4.6 81.7 90.0 2.2 2.4 14.6 45.7 10.6 2.0 2.9 2.0 5.9 32. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tengga Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pengobatan 94.5 15.0 39.9 4.8 9.0 2.5 91.2 40.9 35.3 0.5 42.8 34.78 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.3 48.9 83.3 0.3 2.6 38.1 1.1 2.9 5.2 13.8 42.3 4.8 23.6 2.4 16.7 42.0 80.7 14.6 1.9 12.3 2.7 5.5 35.8 55.6 13.3 3.2 87.1 39.1 20.5 21.8 9.2 13.3 10.6 21.3 6.0 2.0 3.6 12.0 0.7 25.9 1.6 11.8 28.2 2.6 86.9 11.0 2.2 Pemasangan gigi lepasan / tiruan 4.4 46.

4 39.2 4.4 87.5 2.3 14.5%).4 2.1%) mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari.8 1.2 2.5 13.4 13.6 89.8 45.0 0.7 29.0 4.0 0.5 35.6 32.6% dan sebelum tidur malam hanya 28.4 46.5 6.4 88.8 39. Tiga provinsi yang mempunyai persentase tertinggi dalam hal menggosok gigi adalah DKI Jakarta (98.2 14.6 4.3 2.2 12. Didapatkan bahwa pada umumnya masyarakat menggosok gigi setiap hari pada waktu mandi pagi dan atau sore 90. juga adanya wilayah yang masih sulit terjangkau informasi akibat keadaan geografi yang bervariasi.6 10.7 1.7 41.5 90. Jawa Barat (95. 135 .2 11.7 81.7 86.2 11.1 43.2 15.4 13.7 13.4 11.3 2.5 88.5 13. Sebagian besar penduduk umur 10 tahun ke atas (91.2 89.1 12.8 16.3 87.4%).8 12.0 3.9 32. Untuk mendapatkan hasil yang optimal.9 87.5 84.6 30.5 44.6 7.0 1.7 11.2 3.Tabel 3.79 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.5 2.3 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 83.9 36. menggosok gigi yang benar adalah menggosok gigi setiap hari pada waktu pagi hari sesudah makan dan malam sebelum tidur.4 9.1 2.9 9.7 1.1 88.2 43.0 1–4 5–9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 + Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 84.0 2.0 33.2 10.4 4.8%).1 2. Proporsi masyarakat yang menggosok gigi setiap hari sesudah makan pagi hanya 12. dan kapan waktu menggosok gigi dilakukan.4 87.6 14.5 4.2 2.9 12.6 2.7%) dan Papua (58.8 5.7 39.4 37.4 4.7%.6 4.3 2.4 3.8 2.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.80 berikut ini menggambarkan perilaku penduduk umur 10 tahun ke atas yang berkaitan dengan kebiasaan menggosok gigi. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan gigi-mulut.8 2.1 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 6.0 88. Riskesdas 2007 Karakterisktik Responden Pengobatan Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi Pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat 0.0 89. sedangkan yang terendah di Provinsi NTT (74.4 84.5%).2 2. dan Kalimantan Timur (95.7%.7 93.0 0.

9 50.7 19.5 95.7 32.1 31.7 31.80 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.0 84.6%).7 23.5 95.0 38.6 90.5 74.4 94.5 22.2 1.0 84.7 1. Sedangkan persentase yang terendah di Provinsi Sumatera Barat (5.4 17.2 88.3 86.9 27.1 18.9 34.4 90.1 40.7 Lainnya Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.5 2.4 27.1 91.7 86.0 95.3 16.5 34.4 91.9 84.9 16.8 86.8 92.7 25.5 1.5 3.3 5.8 94.3 20.3 94.4 92.8 11.1 4.2 4.0 32.5 90.8 44.9 91.9 89.9 95.0 98.3 12.8 9.4 28.3 93.0 25.5 94.2 95.8 2.7 2.9 91.7 40.4 13.3 15.3 27.2 17.7 85.9 37.0 95.8 89.7 32.0 6.5 2.8 18.6 20.6 9.7 34.2 24.9 2.5 6.0 88.9 96.1 42.5 96.6 11.4 95.6 22.3%).6 Sesudah bangun pagi 27.3 25.7 3.7 94.2 68.9 95.9 22.8 13.7%) dan Sulawesi Tenggara (26.4 3.3 30.0 87.9 26.3 17.4 4.5 15.5 94. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari 87.0 9.0 92.4 2.8 3.1%) dan Sumatera Utara (6.8 14.7 1.4 89.8 42.7 92.7 3.2 12.8 94.4 13.2 86.9 24.7 6.7 89.8 2.4 26.2 24. Maluku (26.3 19.4 41.7 48.6 94.9 27.7 1.Tabel 3.6 31.9 46.0 3.8 1.6 9.2 90.3 97.6 34.2 20.3 26.9 3.2 2.5 35.1 11.9 12.7 Sesudah makan pagi 10.1 15.9 48.7 20.0 5.9 31.4 35.0 94.7 12.3 80.3%) .0%).6 42.6 26.7 74.5 92.6 92. Adapun provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi sebelum tidur 136 .7 13.8 94.6 28.9 2.5 94.7 Provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi setelah makan pagi adalah Papua Barat (30.7 32.2 26.2 94.0 37.4 28.7 94.0 11.9 92.3 22.8 15.2 25.0 16.9 14.1 2.7 9.3 25.9 1.1 Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 88.3 92.1 58.3 10.1 31.7 88.2 23.8 92.4 2. Lampung (5.0 16.6 93.0 3.2 9.7 93.9 44.6 3.2 Sebelum tidur malam 20.

9 3.9 3.0 Lainnya Karakteristik Responden Kelompok umur ( thn) 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan 93.6 3.5 3.4 27.0%) dan Jambi (17.7 13.9 90.9 21.8 89.6 Perdesaan 88.5 90..3 10.8 13.1%). terutama di perkotaan. persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur.0 93.7 90.5 3.0 27.0 91.1 25.1%).6 31. Sulawesi Selatan (48. Sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.8 96.8 11.0 26.9 3.3 15.2 28.9 29.4 11.1 30.7 4.9 11.0 4.5 22.2 11.4%).6 11.2 28.2 12. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi penduduk yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.8 13.1 92.0 91.2 25.6 38.5%).3 4.8 91.8 25.5 90. Bali dan Kalimantan Selatan masing-masing (44.3 91.7 27. Menurut umur.4 24.4 3. sedangkan yang terendah Provinsi Lampung (14. NTT (16.4%).2 26. persentase penduduk menggosok gigi setiap hari maupun semua jenis waktu menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.3 26. Persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.8 3.0 33.2 89.7 92.8 21.7 89.3 90.3 14.0 4.3 3. hanya kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam terlihat lebih banyak pada perempuan.6 80. Begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.81 menunjukkan perilaku penduduk dalam menggosok gigi bervariasi menurut karakteristik responden.8 3.7 10.0 11. Tabel 3.3 95.5 Sesudah makan pagi 11.3 25. Tabel 3. persentase penduduk 137 .0 26.2 58.8 91.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga/kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 88.4 Menurut tipe daerah.81 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.4 27.0 94.malam adalah Kepulauan Riau (50.1 92.5 31.5 28.4 3.5 90.9 30. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 90.5 18.0 90.2 85.6 Sesudah bangun pagi 25.9 Sebelum tidur malam 25. terutama mulai umur 15 tahun ke atas .8 38.7 2.4 88.5 91.8 13.9 25.9 96.5 26.

0 6.1 7.3 92.7 5.5 84.0 89.menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.5 17. 138 .4 5.1 95.9 95. Tabel 3.8 8.82 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.1 96.1 4.82 disajikan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.4 88.5 7.9 91.1 10.4 9.7 Tidak 95.5 82.1 92.8 2.3 12.3 93.6 95.7 91.7 6.3 94.9 92.2 5.7 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi setiap hari dengan cara yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).8 82. Pada Tabel 3.2 8.8 2.7 5.8 84.3 9.5 15.3 9.8 10.0 93.6 90.2 97.8 94.6 11.2 89.0 10.9 4.9 7.1 92.4 91.9 3.5 92.6 8.2 15.5 3.1 8.5 96.3 94.7 87.2 17.9 89.7 90.3 Indonesia 7.9 7. Riskesdas 2007 Berperilaku benar menggosok gigi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ya 4.2 91.8 91.2 97.

2 15 – 24 8.2 91.2 94. terutama mulai umur 15 tahun ke atas.1%).8 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 5.Dikategorikan berperilaku benar dalam menggosok gigi bila seseorang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari dengan cara yang benar. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.5 35 – 44 7.7%) dan Jambi (3.6 Kuintil-4 7.0 90.8 25 – 34 8.9 Kuintil-5 10.5 92. Provinsi dengan persentase penduduk tertinggi dalam berperilaku benar menggosok gigi adalah Papua Barat (17.4 94. Tabel 3.8 91.4 Perempuan 8.3%) dan Sulawesi Tenggara (15. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Berperilaku benar menyikat gigi Ya Tidak 93.6 Perdesaan 5. Tampak persentase penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi masih sangat rendah.0 Tipe daerah Perkotaan 9. 139 . yaitu dilakukan pada saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam.83 menggambarkan perilaku benar menggosok gigi menunjukkan variasi menurut karakteristik responden. ada kecenderungan persentase penduduk berperilaku benar dalam menggosok gigi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur.8 Kuintil-3 6. Tabel 3. Sedangkan yang terendah di Provinsi Lampung (2.7 45 – 54 6.6 96.6 setiap hari dengan cara Kelompok umur (tahun) 10 – 14 6. Kepulauan Riau (17. Menurut umur. yaitu 7.3 93. Sumatera Barat (2.2 93. semakin tinggi persentase yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.9%).8 94.5 Jenis Kelamin Laki-laki 6.6 92.1 89.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 94.6 55 – 64 5.4 65+ 3.2 Kuintil-2 5.7%).4 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).3%.4 92. persentase penduduk berperilaku benar menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. persentase perilaku benar dalam menggosok gigi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki.5 93. Begitu pula menurut tipe daerah.4%). Sedangkan menurut jenis kelamin.

05 0.05 0.08 5.73 4.95 1.42 1.35 1. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D-T (X) 1.41 1.84 Komponen D.05 4.03 5.66 4.05 0.06 0.96 F-T (X) 0.05 0.44 3.Tabel 3.02 0.05 0.28 3.19 1.60 2.02 0.16 4.00 1.08 0.38 5.11 M-T (X) 3.92 0.06 0.83 5.13 1.53 6.25 3.05 0.01 2.50 1.66 2.08 0.77 0.21 2.68 1.71 4.02 0.84 menyajikan komponen DMF-T menurut provinsi.53 3.55 3.04 0.53 4. dan F-T yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang).08 0.37 3.85 140 . dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan.02 3.27 4.34 1.08 0.12 0.04 1.06 0.83 5.08 0.06 1.31 1.22 6. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang.60 3. dan Filling/F (gigi ditumpat).09 0.38 0.93 3.98 4.85 5.06 0.08 0.08 4.36 1.43 5.84 0.11 6.05 0.05 Index DMF-T (X) 4.50 1.38 1.47 2.01 5.61 4.22 3.09 0.84 4.60 3. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3.01 2.05 0. Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4.04 0.04 0.04 0.02 0.82 2.27 0. M.85.08 5.84 3.00 1.69 3.02 5.73 3.92 4.86. M-T.16 0.86 0.59 4.34 4.35 1.25 4. Tabel 3. Indeks DMF-T sebagai indikator status kesehatan gigi.06 0.70 3.68 3.39 3.35 1.43 5.66 3.46 4.52 3.11 0.52 3.92 2.92 3.04 1.01 6.19 Indonesia 1.94 3. Missing/M (gigi dicabut).77 1.73 3.60 4.88 1.25 4.43 1. merupakan penjumlahan dari indeks D-T.90 3. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi.18 0.80 1.24 1.18 4.89 1.

90 0. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden.DMF-T di lima provinsi sangat tinggi. 0. 2002) Tabel 3.92 4.02 18 0.4 dan SKRT 2001 sebesar 5.87 4.22 3. M.13 0.97 per orang. yaitu Kalimantan Selatan (6.77 Tabel 3.90 0.98).24 0.04 35 – 44 1. DMF-T lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.79 4.55 5.16 16. Riskesdas 2007 D-T (X) M-T (X) F-T (X) Karakteristik responden Index DMF-T Kelompok umur ( tahun) 12 0.85 di atas menunjukkan jumlah kerusakan gigi meningkat seiring dengan peningkatan umur berdasarkan Indeks DMF-T.09 Tipe daerah Perkotaan 1.13 3. dicabut maupun ditumpat). M-T : Rata2 jumlah gigi dicabut/indikasi pencabutan.29 4.44 2.22 4.06 Tingkat pengeluaran/ kapita Kuintil-1 1.38).27 buah per orang.14 0.57 0.89 0.DMF-T hampir sama pada kelompok penduduk dengan semua umur tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita .86 menyajikan prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.83%). 1997 dan Kristanti dkk.83).36 5.26 3.27 3.33 0.47 0.57 0. dan Sulawesi Tengah (5. Tabel 3. hal ini mungkin berkaitan dengan cara dan alat pemeriksaan yang digunakan.07 15 0.91 0. Jawa Timur (6.05 Kuintil-2 1.06 Kuintil-3 1.41 0. (Kristanti dkk.12 Catatan D-T : Rata2 jumlah gigi gigi berlubang per orang.08 65 + 1. bahkan pada kelompok umur di atas 65 tahun DMF-T sudah menjadi 18.72 0.91 1.14 Jenis Kelamin Laki-laki 1.89 4. Kalimantan Barat (6.08 Kuintil-5 1.90 0. DMF-T yang ditemukan pada Riskesdas ini lebih rendah dari temuan SKRT 1995 sebesar 6. yang berarti kerusakan gigi rata-rata 18.74 0.46 18.99 0.41 4. F-T : Rata2 jumlah gigi ditumpat.33 4.10 Perdesaan 1. DI Yogyakarta (6.22 3.44). Bahkan komponen yang terbesar adalah M-T (rata-rata gigi dicabut) sebesar 16.3.13 4.11 3.46).85 Komponen D.14 1.88 0. Pada kelompok umur 35-44 tahun DMFT tinggi (4.07 Kuintil-4 1. DMF-T : Rata2 jumlah kerusakan gigi per orang (baik yg masih berupa decay.24 3.15 4. Dikategorikan karies aktif bila memiliki indeks D-T >0 141 .06 Perempuan 1.27.

Riskesdas 2007 Pengalaman karies 62.2 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.8 37.1 70.9 34.3 Indonesia 43.4 75.9 77.2 58.2 51.1 72.4 75.7 55.9 71.0 51.9 62.4 64.1 71.9 54.8 40. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi karies sebesar 46.6 40.6 53.3 56.4 50.5 60.2 68.6 44.9 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Karies aktif 41.5 83.5% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72.4 67. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.8 40.86 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.6 47.1%. Tabel 3.8 39.6 30.6 75.1 50.9 76.2 55.1 43.3 37.1 58.4 67.4 62. Menurut provinsi.0 42.1 41.8 43.4 48.5 68.3 47.4 77.0 34.1 67.0 59.3 60.2 49.1 52.0 40.5 55.5 86.8 40.atau karies yang belum tertangani dan mempunyai pengalaman karies bila indeks DMFT >0.0 43.9 78.8 65.4 39.6 39.2 61.7 49. prevalensi karies aktif tertinggi 142 .8 77.0 37.

8 67.5 65 + 32. seperti tersaji pada Tabel 3.0 68. Kalimantan Selatan (50. Sedangkan prevalensi karies.1 15 36. DI Yogyakarta (78.5 Kuintil-4 44.0 66.7%) Kalimantan Timur (50.7 66.5 64. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50.8 68.7%). Sedangkan prevalensi karies tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.4%).1 43.2%). Menurut kelompok umur.9%).3 67. tetapi di perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan di peran. Pengalaman karies sedikit lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan. Kalimantan Selatan (84. Riskesdas 2007 Pengalaman karies Karakteristik responden Karies aktif Kelompok umur ( tahun) 12 29.8%).2 50. semakin meningkat yang mempunyai pengalaman karies.6 18 41.9%).. meningkat sampai umur 35-44 tahun dan menurun kembali pada umur 65 tahun ke atas. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0. ada kecenderungan semakin meningkat umur.87 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden.8 80.8%).1%).Jambi (77.87. Riau (53. Sedangkan sepuluh provinsi dengan prevalensi pengalaman karies tertinggi.8 35 – 44 53.4). Tabel 3. Maluku (54.7%). Kalimantan Barat (78. Maluku (77.2 65.4 Kuintil-5 42.3%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.(lebih dari 50%) ditemukan di Jambi (56.9 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani. adalah Bangka Belitung (86. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi pengalaman karies (DMF-T>0) sedikit lebih tinggi pada kelompok perempuan dan di perdesaan.4%.2 Kuintil-3 43.5 Tipe daerah Perkotaan 42.5%).2%).6%) dan Kalimantan Tengah (76. Sulawesi Utara (82. dan Jawa Timur (76. Yogyakarta (52. Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (57.6%).5 94.5 Perdesaan 44.7 Perempuan 43.9%). Kalimantan Timur (76. ada 143 .4 Jenis Kelamin Laki-laki 43. Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies menunjukkan variasi menurut karakteristik responden. .6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.3%).8 36.6 Kuintil-2 43.6 68. Bangka Belitung (50.8%). Lampung (54.

6 79.9 83. Tabel 3.7 19.9 0.1 65.4 31.6 67.88 di bawah ini menyajikan persentase gigi tetap yang ditumpat dan persentase gigi tetap yang karies menurut provinsi.9 25.1 22.8 19.8 1.3 1.7 76.0 71.7 16.7 1.1 22.2 83.1 0.8 33.2 1.2 0.7 2.1 1.9 26.2 75.0 27.0 1.3 1.7 26.9 76.8 24.7 1.88 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi.6 4.2 21.8 68.6 1.7 Indonesia 25.7 3.8 102.9 0.6 1.4 1.6 1.6 32.5 18.2 35.7 2.8 19.kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang mempunyai pengalaman karies.2 69.6 76.6 29.3 77.9 71.6 81.8 1.2 79.6 0.2 27.0 70.1 76.2 76.6 88.1 92.6 Dari tabel di atas tampak PTI (motivasi seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap) sangat rendah hanya 1.2 33.8 77.8 35. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RTI PTI MTI (D/DMF-T)x100% (F/DMF-T)x100% (M/DMF-T)x100% 23.9 80.0 70. sedangkan RTI (besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan 144 .8 74.8 25.8 24.0 86.2 1.9 1.6 74.5 69.4 77. Namun prevalensi karies tidak menunjukan pola tertentu pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 1. Tabel 3.9 1.9 28.3 20.4 72.7 91.7 77.4 8.2 1.5 1.7 22.5 32.4 1.0 35.3 22.8 75.0 1.6%.6 1.6 0.2 0.5 26.5 28.7 27.

5 Perdesaan 25.8 Kuintil-5 23.89 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden.6 33. Terdapat 20 provinsi yang angka RTI-nya diatas rerata nasional dan terdapat 18 provinsi yang mempunyai nilai PTI di bawah rerata nasional.3 Jenis Kelamin Laki-laki 26. Nilai PTI di perkotaan dua kali lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. namun menurun pada umur yang lebih tinggi. Riskesdas 2007 RTI (D/DMF-T)x100% PTI (F/DMF-T)x100% 0. sedangkan nilai PTI tinggi pada umur 18 tahun.1 1.2 1.6 78. tetapi semakin menurun nilai RTI-nya.8 1.2 80.2 28.6 80. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi pula nilai PTI. sedangkan nilai RTI kurang lebih sama.3 Kuintil-4 24. semakin baik motivasi penduduk untuk merawat kesehatan giginya.9 2.3 18 63.0 Catatan: Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. Tabel 3.. Menurut umur.6 2.7 80.4 35 – 44 32.3 65 + 6.6 1.2 1.8 Perempuan 23.7 Karakteristik responden MTI (M/DMF-T)x100% 26. mulai umur 15 tahun nilai RTI cenderung menurun seiring meningkatnya umur. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. RTI pada laki-laki lebih tinggi dan PTI-nya lebih rendah dari pada perempuan.7 1. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.3 Kuintil-2 26.9 0.8 2. Persentase PTI dan RTI pada tabel 3.3 81. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T.0 Kelompok umur ( tahun) 12 62. 145 .2%. Berarti semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.89 menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.4 1.4 78.6 78.5 1.1 79.penumpatan/pencabutan) sebesar 25.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 26.8 Tipe daerah Perkotaan 25.7 79.4 1.0 64.1 Kuintil-3 25.9 92.3 15 65. Sedangkan menurut jenis kelamin.

5 2.4 1.5 94.5%).0 86.3 3.4 4.3 0.4 2.5 Dari tabel di atas terlihat 91.3 95.1 92. Edentulous.8 5.2 88.8 4.1 3.0 0.8 2.2 93.9 93.7 3.0 1.9 2.3 85.0 4.0 2.7 1.2 4. lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (86.6 12.4 0.2 94. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Fungsi Normal 92.3 4.9 5.1 1.3 6.9 94.9 3.3 1.2 91.9 1.5 4.0 3.0 0.5 2.2 2.9 2.0 2.3 90.0% penduduk umur 12 tahun ke atas memiliki fungsi normal gigi (mempunyai minimal 20 gigi berfungsi).9 4.9 4.90 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.5 91.5 2.6 0.7 5.7 0.0 2. Tabel 3.6 3.90 di bawah ini menyajikan proporsi fungsi gigi normal.0 Indonesia 91.1 4.8 9.6 94.1 0.7 0.2 84.0 2.9 92.Tabel 3.3 95.5 3.6 3.1 91.1 93.4 1.2 90.7 1.6 2.7 1.0 91.9 11. Proporsi penduduk dengan fungsi gigi normal tertinggi di Provinsi Banten 146 . dan penggunaan protesa pada responden yang umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.1 86. Protesa dan Provinsi.0 1.4 90.8 88.5 88.6 Edentulous 2.2 2.0 4.6 89.5 Protesa 4.7 10.5 0.9 7.0 92.0 2.5 2.0 95.5 91.3 2.9 2. gigi tetap yang hilang semua (edentulous).9 91.0 93.8 6.0 91.0 5.

namun penggunaan protesa miningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.6 1.7 1.5 5.2 2.0 0.2%).0 5.5 1.1%). Adapun proporsi edentulous penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 17.3 90.0%) dan Keppulauan Riau (3.3 91. Proporsi edentulous atau hilang seluruh gigi sebesar 2.2 90. Tabel 3.9 41.1 5.2%). Proporsi penduduk yang edentulous dan penggunaan protesa meningkat seiring dengan bertambahnya umur.2%).2 91.0 0.1 2.5% penduduk telah memakai protesa atau gigi tiruan lepas atau gigi tiruan cekat. Secara umum 4.4 91.9 4.2%.0 0. Proporsi fungsi gigi normal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding dengan perempuan.91 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.9 99.0 0.2 4. Proporsi penduduk dengan fungsi normal gigi. (95. masih jauh di atas target WHO pada tahun 2010 (5%).1 2. Riskesdas 2007 Karakteristik Fungsi Normal Edentulous Protesa Kelompok umur ( tahun) 12 15 18 35 – 44 65 + Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 99.9 89.3 1. lebih tinggi dari target WHO pada tahun 2010 (90%) dan SKRT 2001 (91.0% sedikit lebih rendah daripada hasil SKRT 2001 (2. edentulous dan penggunaan protesa bervariasi menurut karakteristik responden.9 99.6%).7 2.7%).4 17. Dari tabel 3.9 147 .0 4.9 2.9 5.6%. tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (4. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas hanya 41.6 5. Edentulous lebih banyak dijumpai pada perempuan dan lebih tinggi di perdesaan.4 5.3 6.(95.91 tampak proporsi responden umur 35 – 44 tahun dengan fungsi gigi normal sebesar 95.0 90. fungsi normal gigi dan edentulous tersebar merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga. Protesa dan Provinsi.0%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 0.4 2.6 14. masih jauh di bawah target WHO (75%) namun masih lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (30. dan Gorontalo (95.3 89.2 2. tertinggi ditemukan di Kepulauan Riau (12. Edentulous.4%).9%.3%) dan Sulawesi Barat (11.9 95.1 90.

Secara nasional diperoleh nilai rerata Hb untuk perempuan dewasa sebesar 13. laki-laki dewasa 14.92 memperlihatkan hasil pemeriksaan berupa nilai rerata Hb untuk perempuan dan laki-laki dewasa.81g/dl.972 spesimen darah perempuan dewasa (>15 tahun) yang tidak hamil. anak-anak dan ibu hamil di perkotaan menurut provinsi. umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No.00g/dl. Salah satu hasil biomedis adalah data anemia.810 spesimen darah.1 Anemia Data biomedis diperoleh dari pemeriksaan darah vena yang diambil dari 8% responden penduduk perkotaan. dengan perincian 13. yang mungkin dapat memperkirakan penyebab anemia tersebut. Telah diperiksa 34. dan ibu hamil 11. dan anak-anak) dikurangi 1 SD (Χ – 1SD). Bila menggunakan nilai rerata Hb yang diperoleh dalam Riskesdas.5. laki-laki dewasa. dan 278 spesimen darah ibu hamil. 11. Tabel 3. 8. yaitu : Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl Hb perempuan dewasa : >12 g/dl Hb anak-anak : >11 g/dl Hb ibu hamil : >11 g/dl Seseorang dikatakan anemi bila kadar Hb nya kurang dari nilai baku tersebut di atas.67g/dl.1 Ke tiga nilai yang terakhir ini diukur untuk menentukan jenis anemia.3.67g/dl.5 Biomedis 3.751 spesimen darah anak-anak (<15 tahun). 736a/Menkes/XI/1989. Pemeriksaan anemia terhadap spesimen darah responden semua umur dilakukan di laboratorium kabupaten/kota setempat.93). MCV (mean corpuscular volume). Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak. Dengan nilai-nilai tersebut di atas dan simpangan baku (standard deviation) untuk masing-masing rerata. 1 MCV = Ht/Σ eritrosit MCH = Hb/Σ eritrosit MCHC = Hb/Ht 148 . anak-anak 12. dan MCHC (mean corpuscular haematocrit concentration). ditetapkan rentang nilai Hb normal versi Riskesdas untuk ke empat kelompok di atas (Tabel 3. MCH (mean corpuscular haematocrit). seseorang dikatakan anemi bila Hb nya lebih kecil dari nilai rerata Hb nasional untuk kelompoknya (perempuan dewasa.809 spesimen darah laki-laki dewasa (>15 tahun). Nilai yang diukur adalah kadar Hemoglobin (Hb).

67 12.17 14.03 14.54 15.66 12.81 149 .53 12.78 12.97 12.21 14.8 13.97 12.51 14.55 12.76 12.79 12.54 11.18 15.14 13.26 12.36 14.11 12.809 14.Tabel 3.61 12.25 14.58 14.01 15.45 14.972 13.54 14.73 12.53 13.74 14.05 168 533 322 39 157 219 221 305 226 57 485 1471 1617 207 1953 307 736 337 160 182 218 253 331 220 125 483 157 75 58 47 70 28 42 Laki-laki dewasa ∑ specimen Nilai rerata Hb (g/dl) 14.41 12.85 15.75 12.74 13.17 12.22 14.82 12.23 13.96 12.35 13.1 12.52 15.36 13.91 13.33 13.06 12.07 12.43 12.76 14.06 12.87 12.76 13.75 13.48 13.28 12.27 11.8 14.5 13.49 12.25 13.1 Ibu hamil ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 1 15 8 1 10 5 2 4 0 0 15 50 37 4 28 5 6 8 4 2 11 11 6 7 1 20 10 0 3 0 3 0 1 Indonesia 13.06 10.65 12.76 12.07 13.751 12.22 12.67 278 11.16 15.07 Anak-anak (< 14 tahun) ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 115 433 315 41 77 103 175 199 147 20 366 1136 1075 115 1299 169 556 286 170 173 123 181 323 198 123 396 144 57 66 45 57 44 24 13.9 13.12 12.83 12.9 12.63 15.32 14.48 14.56 14.21 14.82 12.11 12.77 13.31 12.6 13.44 15.79 12.67 8.59 12.86 12.17 12.92 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Perempuan dewasa Provinsi ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 288 691 483 73 178 246 229 313 232 48 685 1631 1841 253 2236 327 833 359 184 239 268 295 405 265 157 594 205 86 70 83 95 41 39 13.69 12.48 13.02 14.62 13.13 13.78 13.79 12.15 13.53 14.00 11.8 14.37 14.

7% untuk anemia perempuan dewasa perkotaan. 12.83 – 16.8% (menurut acuan SK Menkes) dan 11.9% (menurut acuan Riskesdas).51 11. Tampak bahwa terdapat perbedaan prevalensi anemia menurut kedua acuan baku di atas.2% dan 13.84 1.93 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki-laki Dewasa.55 Rerata ± 1SD (g/dl) 11.67 12. Anak-anak dan Ibu Hamil. Prevalensi anemi secara umum.94). 68 orang (24.3% dan 19. berdasarkan nilai rerata Riskesdas dikurangi 1SD dan berdasarkan nilai baku SK Menkes No. Berturut-turut mengacu pada batas nilai normal Riskesdas dan SK Menkes adalah 11.58 1.0%) menderita anemia.Tabel 3. Terdapat 20 provinsi yang mempunyai prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional.26 – 13.94 memperlihatkan prevalensi anemia pada perempuan (tidak hamil) dan lakilaki dewasa serta anak-anak.81 Nilai SD (g/dl) 1. dapat dilihat pada Tabel 3.736a tahun 1989. Selanjutnya dari total 33 provinsi. menurut provinsi.8% dan 9. laki-laki dan anak-anak (adjusted for group).36 Tabel 3. menurut provinsi.09 – 14.95. Tampak bahwa secara nasional prevalensi anemia sebesar 14. untuk kedua acuan nilai di atas. 150 .28 – 14. Prevalensi anemia ditemukan sangat tinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara. setelah disesuaikan untuk perempuan. serta 12.72 1.5%) di antaranya menderita anemia menurut acuan nilai SK Menkes.1% untuk laki-laki dewasa perkotaan.8% untuk anak-anak.67 11.72 12.00 14. Riskesdas 2007 Kelompok Nilai rerata Hb (g/dl) Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak (< 14 thn) Ibu hamil 13. ibu hamil yang menjadi responden biomedis (diambil darahnya) adalah sebanyak 278 orang (tidak tampak dalam Tabel 3. dan menurut acuan nilai Riskesdas 39 orang (14.25 10.

6 8.0 9.7 5.8 5.4 11.6 8.6 17.8 16.0 13.9 15.4 9.7 5.6 7.1 9.1 5.0 16.0 17.1 25.4 14.6 4.7 11.6 16.3 13.6 10.8 26.9 3.8 15.0 18.3 21.6 19.2 14.3 14.6 5.8 8.4 6.3 7.3 20.2 9.6 17.3 10.9 11.6 8.1 12.1 16.4 13.94 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.0 19.4 12.5 17.7 13.7 19.5 8.1 16.6 9.5 24.9 14.8 12.4 11.8 9.4 14.8 20.1 8.2 12.83g/dl Anak-anak Anemia (%) SK Menkes <11g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.7 11.09g/dl NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 20.1 3.8 28.7 19.5 27.7 24.8 13.1 34.1 12.3 19.2 12.2 7.5 12.6 16.2 14.9 8.3 21.6 13.8 20.3 13.7 13.8 14.9 8.6 8.4 22.1 19.6 19.3 14.0 8.2 19.4 12.2 10.4 11.2 17.1 13.9 8.2 2. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Anemia (%) SK Menkes <12g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.8 10.9 10.2 14.5 16.1 13.0 12.28g/dl Laki-laki Anemia (%) SK Menkes <13g/dl Anemia (%) Riskesdas <12.9 28.8 5.Tabel 3.0 8.2 12.5 12.3 16.0 29.5 14.4 27.9 21.3 4.0 10.2 17.3 4.3 14.9 24.8 151 .9 23.4 10.3 9.6 6.3 12.6 17.8 7.9 43.9 4.7 5.1 7.5 25.8 7.7 18.5 10.9 8.7 5.7 Indonesia 19.8 16.6 13.8 10.8 5.9 31.9 24.3 17.8 15.0 19.1 7.9 12.2 8.8 26.0 16.5 10.1 17.7 11.7 38.8 5.1 8.0 14.3 25.5 17.5 7.5 12.4 12.5 5.1 23.4 12.0 31.3 5.3 6.8 10.5 18.4 9.4 9.1 5.3 17.7 10.4 18.6 18.1 26.9 23.8 7.3 9.4 8.4 21.4 19.4 19.8 23.8 15.0 5.5 16.4 2.2 12.9 20.7 11.7 5.6 13.1 12.4 15.6 17.8 27.2 25.

0 8.3 24.9 Indonesia 14.1 14.1 9.1 25.4 10. Provinsi laki-laki dewasa dan anak-anak) Menurut SK Menkes Menurut Riskesdas 12.4 22.6 16.0 12.5 19.3 9.9 13.8 5.7 14.7 17.2 15.5 6.7 10.3 9.9 11.7 13.8 11.9 12.7 14.4 17.8 11.2 19.6 12.0 19.5 23.6 11.5 18.1 19.9 12.9 4.6 18.4 15.0 11.7 10.9 152 .6 15.4 16.2 31.7 14.6 29.8 12.0 10.2 13.0 16.9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 16.1 9.5 9.1 6.2 15.2 18.2 10.6 17. Riskesdas 2007 Prevalensi anemia (%) (disesuaikan menurut kelompok perempuan dewasa.1 18.2 15.8 7.0 5.Tabel 3.95 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.7 25.6 16.8 12.4 21.0 9.2 21.

Selain kadar Hb dan jenis anemia.96 memperlihatkan jenis anemia terbanyak pada orang dewasa dan anak-anak adalah anemia mikrositik hipokromik (60. 2 Mikrositik = ukuran sel darah merah <normal Normositik = ukuran sel darah merah normal Makrositik = ukuran sel darah merah >normal Hipokrom = warna sel darah merah lebih muda dari normal Normokrom = warna sel darah merah normal Hiperkrom = warna sel darah merah lebih tua dari normal 153 . Sebaliknya.normokromik biasanya karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut.97). Hasil pemeriksaan Ht dan eritrosit ibu hamil cenderung lebih rendah dibanding kelompok dewasa lainnya. dikenal beberapa jenis anemia2. yaitu : Perempuan : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Laki-laki : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Perempuan dan laki-laki : Anemia Hipokromik : Anemia Normokromik : Anemia Hiperkromik : MCHC <33 % MCHC = 33 – 36% MCHC >36 % MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl serta kombinasi dari jenis-jenis di atas. Anemia mikrositik-hipokromik. Jenis anemia pada ibu hamil sebagian besar adalah anemia mikrositik hipokromik (59% dari ibu hamil yang anemia). atau keracunan timbal. Anemia makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12. eritrosit. biasanya karena kekurangan zat besi. lekosit dan trombosit (Tabel 3. juga dilakukan pemeriksaan hematokrit. kadar lekosit ibu hamil cenderung lebih tinggi. Anemia normositik. anemia mikrositik hipokromik ini lebih besar proporsinya pada anak-anak.2%). Tabel 3. Jika dibandingkan antara anak-anak dan dewasa.Sesuai bentuk dan warna (morfologi) sel darah merah. Sedangkan anemia jenis normositik normokromik lebih banyak dijumpai pada laki-laki dewasa. penyakit kronis tingkat lanjut.

2 Anemia Normositik Normokromik 0.8 30.1 4. pekerjaan dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.8 – 444.7%.4 – 5.7 – 39.9 33.1 59 60.1 – 48.5 187.5 10. Menurut umur. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah prevalensi anemia.1 6.4 Anemia Makrositik Anemia lainnya *Anemia menurut nilai baku Riskesdas Tabel 3.9 Tabel 3.2 3.3 – 9.1 – 12.9 174.2 30.7 33.97 Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Hematokrit (%) Anak 1 – 4 tahun 5 – 14 tahun Dewasa Laki-laki Perempuan Ibu Hamil 31.3 11.3 14.1 0 4.4 70. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 24.0 – 379.8 31. Menurut pekerjaan.3 14.2 221.0 – 10.2 – 46.7 5.2 259.1 6.0 KELOMPOK Eritrosit (juta/µl) Lekosit (ribu/µl) Trombosit (ribu/µl) 38.0 29. kelompok kuintil 154 .96 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak N Kelompok Anemia* Anemia (%) Mikrositik Hipokromik Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Ibu hamil TOTAL 1581 1445 1118 39 4183 59. pendidikan. Menurut pendidikan.8 – 43. tampak bahwa ibu rumah tangga mempunyai prevalensi anemia tertinggi.Tabel 3. tertinggi dijumpai pada kelompok usia anak balita yaitu 27.7%).2 27.0 – 5.3 4.8 4.98 menggambarkan prevalensi anemia berdasarkan kelompok umur. diikuti dengan kelompok usia lanjut (75 tahun ke atas) (17.7 5.7 – 11.5 1.9 20.3 – 6.5 – 354.7 – 10.6 – 321.4 193.1 – 342.4 3.8 4.5 6.0 – 40.5 – 4.2 – 5.8 21.

98 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Pendidikan Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Anemia 27.4 6.7 9.0 11 10 9 7.6 7.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 155 .3 5.6 7.2 6.1 mempunyai prevalensi anemia tertinggi (11%).1 6. Tabel 3.5 6.4 8.7 10.0 7.5 5. makin rendah prevalensi anemia.0 6.9 7.6 10.1 4.0 5.7 10.5 8.4 17. Makin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.9 5.9 6.

8%). atau dalam laporan ini disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). darah didiamkan selama kurang dari 30 menit. Prevalensi total DM 5.< 200 mg/dl > 200 mg/dl : Tidak DM : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) : Diabetes Mellitus (DM) Tabel 3. Prevalensi DM terendah di Papua (1. Serum (300 µl) segera diperiksa (< 4 jam) untuk mengetahui kadar glukosa darah menggunakan alat kimia klinis otomatis atau fotometri. tidak hamil (alasan medis dan etika). Responden dipersiapkan puasa 10 – 14 jam sebelum diambil darah.2% DDM* 1. diberi makanan cair 300 kalori.2 Diabetes Mellitus Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada responden usia 15 tahun keatas yang berjumlah 24. diikuti Riau (10.7%). Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat 156 . Riskesdas 2007 TGT Penduduk perkotaan Indonesia 10. DDM dan UDDM pada Penduduk Perkotaan.2% Total DM*** 5.5% UDDM** 4. Tabel 3. Secara umum prevalensi TGT yang didapat dalam penelitian ini hampir dua (2) kali prevalensi DM. diikuti NTT (1.1%).99 Prevalensi TGT. Setelah diambil. Untuk menegakkan diagnosis DM dipergunakan rujukan menurut WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003.7% *DDM = Diagnosed Diabetes Melltus (Responden sudah mengetahui dirinya DM) **UDDM = Undiagnosed Diabetes Mellitus (Responden belum mengetahui dirinya menderita DM. Sisa darah dikirim ke Laboratorium Balitbangkes Jakarta untuk pemeriksaan variabel lainnya. Angka total DM merupakan gabungan dari persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM.4 %) dan NAD (8.417 responden dari sampel perkotaan saja.5% (kira-kira 26% dari total DM). Pengambilan darah vena sebanyak 15 cc dilakukan setelah dua (2) jam pembebanan.99 memperlihatkan prevalensi TGT dan total DM pada penduduk perkotaan Indonesia. segera disentrifus dan diambil serumnya.5. Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11.3. kecuali pasien yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus (DM) (dikonfirmasi oleh dokter koordinator tim laboratorium). baru terdiagnosis saat pemeriksaan Riskesdas) ***Total DM = DDM + UDDM Tabel 3. DM. dan persentase responden yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita DM – baru terdiagnosis dalam Riskesdas ini – yang dalam laporan ini disebut Undiagnosed Diabetes Mellitus (UDDM). tetapi responden yang telah mengetahui dirinya menderita DM (DDM) hanya 1.100 menunjukkan prevalensi TGT dan DM pada penduduk urban Indonesia menurut provinsi. yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan: < 140 mg/dl 140 .7%.5%). Kriteria inklusi pemeriksaan glukosa darah adalah usia 15 tahun keatas. kemudian diberi pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori).

3 4.2 17.3 6.4%) dibanding lakilaki (4.7 10. DM lebih banyak dijumpai pada perempuan (6.6 4.2 3.3 8.7 3.2 7.8%).8 11.4 4.0 4.3 7.2 14.9. Tabel 3.6 3.7 Indonesia 10.3 8.7 4.1 5. demikian juga TGT pada perempuan (11.1 3.1 10.5 1.4 6.5 12.4 11.9 12.7 Total DM (%) 8.0 7. dan Sulut (17.9%) .8 13.6 10.1 4.1 5. Tabel itu menunjukkan DM dan TGT meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.5 8.3 3.3 6. diikuti NTT (4.1 8. sedangkan terendah di Jambi (4%).8 7.8 5. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TGT (%) 12.4 3.6%).3 9.4 5.8 6.1 1.5 4.3%).9 6.6 6.6 10.9 21.5%) lebih tinggi dibanding laki- 157 .3 9.7 17.2 5.0 6.0 8.8 11.101 menggambarkan prevalensi TGT dan DM berdasarkan karakteristik responden.2 5.0 6.5 5.6 4.100 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. diikuti Sulbar (17.6 3.3 9.2 6.(21.0 11.1 10.7 Tabel 3.2 8.0 7.3 8.0%).8 5.

7 75 ke atas Jenis kelamin 8.101 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.7 Laki-laki 11.9 6.5 Kuintil-5 Tabel 3.9 2. 158 .5 14.3 55 – 64 17.1 4.9 Wiraswasta 6. diikuti pegawai dan wiraswasta.8 Kuintil-1 8.9 1.1 Kelompok umur (tahun) 5.0 5.1 Kuintil-4 10.0 Petani/nelayan/buruh 10.5 13.0 12.4 Tamat SD 9.3 5. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 Kuintil-2 10.0 4.9 Tamat SMA 9.3 Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita per bulan 8.0 7.6 Tamat SMP 8.9 5.9 25 – 34 11.4 Kuintil-3 10.5 Sekolah 11. Ditinjau dari segi pendidikan. setelah dua jam pemberian makanan cair 300 kalori.8 5. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja.9 5.8 Tamat PT Pekerjaan 12.4 8.7%).5 Perempuan Pendidikan 13.7 Ibu rumah tangga 10.9 Tidak sekolah 12. atau disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). Riskesdas 2007 Karakteristik TGT (%) Total DM (%) 0.0 10. Menurut jenis pekerjaan. prevalensi DM danTGT meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.102 memperlihatkan persentase kadar glukosa darah responden yang telh mengetahui dirinya menderita DM. yaitu 75.8 65 – 74 21.4 4.0 5.8 9. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok tidak sekolah dan tidak tamat SD. Tampak bahwa masih banyak di antara mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.laki (8.9 8.6 1.3 Tidak tamat SD 10.5 4.3 15 – 24 6.0 5.6 Tidak bekerja 6.6 Pegawai 9.6 6.9% (kadar glukosa > 140 mg/dl).5 4. Tabel 3.8 45 – 54 15.3 7.5 35 – 44 12.

0 9.4 7.7 4. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.9% 16. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok yang mempunyai aktifitas fisik kurang Tabel 3. Tabel 3.3 15. Menurut aktifitas fisik.Tabel 3.4 DM 3.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas. Riskesdas 2007 Jenis Kelamin < 140 mg/dl Laki-laki Perempuan Total 33.1% 66.1 8.8% 59.3% 24.3 9.3 9.7 4. juga pada responden dengan obesitas sentral. Tabel 3.7% >= 200 mg/dl 49.1 12. juga pada responden dengan obesitas sentral.103 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.< 200 mg/dl 17.1 9.1 15.2% Tabel 3.1% 17.9 9.102 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.0 3.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.8% 15.4 Perut Hipertensi 159 . Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.3 16. Obesitas Abdominal dan Hipertensi Karakteristik Responden IMT Kurus Normal BB lebih Obesitas Obesitas sentral Tidak obesitas sentral Hipertensi Tidak hipertensi TGT 10.104 menunjukkan prevalensi DM dan TGT kurang lebih sama pada kelompok yang mengkonsumsi sayur buah < 5 dan ≥5 porsi/hari.1% Kadar Glukosa Darah 140 .

Jumlah responden yang ditanyakan tentang cedera sebesar 973.5 10.0% yang diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur 64.105 memberikan gambaran bahwa dari 33 provinsi di Indonesia.5%. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensinya rata-rata kecil atau sedikit. Nusa Tenggara Timur.6 Cedera dan Disabilitas 3.punggung.6. sedang yang terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 14.8%).0 4.9% dengan rerata 7. Sulawesi Tenggara.7 5.7 Aktifitas Fisik Cukup Kurang 3. Yang dimaksud cedera dalam Riskesdas 2007 adalah kecelakaan dan peristiwa yang sampai membuat kegiatan sehari-hari responden menjadi terganggu.1%). diperoleh prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3.8%.6%.2%). lutut dan tungkai bawah.4%.3%. Pembagian katagori bagian tubuh yang terkena cedera didasarkan pada klasifikasidari ICD-10 (International Classification Diseases) yang mana dikelompokkan ke dalam 10 kelompok yaitu bagian kepala. panggul). Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh. Maluku. Ada 11 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional yaitu DKI Jakarta. leher. Rerata penyebab cedera karena jatuh 58.9 5.1 11.2% kemudian Provinsi DI Yogyakarta 43. pergelangan tangan dan tangan. Cedera yang ditanyakan adalah yang dialami responden selama 12 bulan terakhir dan kepada semua umur.44. Responden pada umumnya mengalami cedera di beberapa bagian tubuh (multiple injury). perut dan sekitarnya (perut. Jawa Tengah. kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/tumpul.1%).2 DM 4. Papua Barat. Sedang prevalensi yang terkecil terdapat di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45. Tabel 3.1 Cedera Kasus cedera Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan wawancara. Gorontalo (11.525 orang. Sulawesi Tengah (10.0%.1%).9%) sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3.9%. Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12. Sulawesi Barat.0%). bahu dan sekitarnya (bahu dan lengan atas). Prevalensi jatuh paling besar terdapat di Provinsi DKI Jakarta 67.8% .9%). tumit dan kaki. Ada 18 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.8%-12.2% di mana reratanya 25. Ditemukan prevalensi kecelakaan transportasi di darat antara 14.104 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Karakteristik Sayur Buah > 5 porsi/hari < 5 porsi/hari TGT 10.3 10. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (12. selebihnya di bawah 10 %. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bengkulu 44. Kalimantan Selatan (12. 160 . DKI Jakarta (10. Banten. Jawa Timur.Tabel 3. siku dan sekitarnya (siku dan lengan bawah). dan Papua Barat (10. dan Jawa Barat. dada.

Prevalensi tertinggi terdapat pada mereka yang tamat perguruan tinggi (50.7%.0%) dan terendah pada yang bekerja sebagai pegawai 37.2%) dan terendah pada yang tidak sekolah (13. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa prevalensi cedera hampir sama atau seimbang tingkat pengeluaran antara kuintil 1 sampai dengan kuintil 5.6%) ditemukan pada responden yang bertempat tinggal di desa. Prevalensi cedera yang disebabkan oleh kecelakaan transportasi di darat tertinggi pada mereka yang pegawai (53. Akan tetapi prevalensi cedera karena jatuh (58.4%). diperoleh sebanyak 9. cedera terbanyak pada laki-laki dan penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat juga terdapat pada laki-laki sedangkan penyebab cedera jatuh dan karena benda tajam terbanyak pada perempuan.8%).7% melebihi angka prevalensi Nasional yaitu 20.9%) terdapat pada kelompok umur 15-24 tahun. Jika dilihat dari tingkat pendidikan. Prevalensi tertinggi pada responden yang tidak sekolah (64. Sedang penyebab cedera karena jatuh berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan yaitu semakin meningkat tingkat pendidikan maka prevalensi jatuh semakin menurun. Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan besaran prevalensi cedera menurut status ekonomi.9%.6% dan terendah ditemukan di Provinsi DKI Jakarta 8. Penyebab cedera karena jatuh terdapat pada mereka yang masih sekolah (63.3%). Tabel 3.4%. menunjukkan angka prevalensi tertinggi sekitar 5.0%).9%.0%) dan terendah pada mereka yang tamat perguruan tinggi. Jika ditinjau dari lokasi tempat tinggal prevalensi cedera tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara perkotaan dan pedesaan. Tabel 3. Penyebab cedera lain hampir merata di setiap provinsi.2% dan terendah pada pegawai 15. Prevalensi penyebab karena jatuh tertinggi terdapat pada kelompok umur di bawah 14 tahun kemudian di atas 75 tahun. Penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Bila dilihat dari jenis pekerjaan.6%) dan terendah pada ibu rumah tangga (19. Penyebab cedera yang sedikit menonjol adalah penyerangan.5%) dan terluka benda tajam dan tumpul (23.5%) dan terendah pada yang tamat perguruan tinggi (36. Namun jika dilihat dari penyebab kecelakaan maka didapatkan bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan transportasi di darat terdapat di kota sekitar 30. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam atau benda tumpul terdapat pada mereka yang berpendidikan tamat SD (26.106 juga menampilkan prevalensi cedera menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Ada 14 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional. Secara umum. Prevalensi cedera karena terluka benda tajam atau tumpul tertinggi pada ibu rumah tangga 32.7%). Penyebab cedera lainnya merata pada laki-laki dan perempuan. Penyebab cedera yang lain hampir sama pada semua tingkat pendidikan. prevalensi cedera merata pada semua tingkat pendidikan hanya sedikit lebih banyak pada responden yang tidak tamat SD. Prevalensi cedera tertinggi karena kecelakaan transportasi di darat terdapat 161 .Adapun untuk prevalensi terluka karena benda tajam/tumpul paling tinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah 33.2%) yang diikuti pada mereka yang bekerja sebagai wiraswasta (45. Kelompok umur lainnya hampir merata kecuali pada bayi (kelompok umur < 1 tahun).106 menunjukkan bahwa untuk prevalensi cedera menurut kelompok umur yang menduduki peringkat tertinggi adalah umur 5-14 sekitar 9.1% dan diikuti oleh kelompok 15-24 (9.3% cedera terdapat pada mereka yang masih sekolah dan yang terendah pada ibu rumah tangga (4. Adapun untuk penyebab cedera jatuh menunjukkan prevalensi meningkat pada umur muda kemudian menurun dan merambat meningkat lagi di umur tua.2% terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Papua 4.3%. Prevalensi penyebab cedera akibat kecelakaan transportasi di darat mengelompok pada umur antara 15 – 54 tahun dan prevalensi yang lebih tinggi (47.

Perbedaan yang agak menyolok terdapat pada cedera di bagian siku/lengan 20. bahu/lengan atas didominasi oleh kelompok umur < 1 tahun masing-masing sebanyak (50. (15.108 menggambarkan bahwa cedera di bagian kepala. Sedangkan cedera di bagian tangan tertinggi di kelompok 25-34 tahun sebesar 34. (11.3%). kelompok umur 15-24 tahun dan yang dialami oleh kelompok 75 tahun ke atas . dada. Tabel 3.7%). Untuk cedera di dada (3.5%.7%). bagian tumit dan kaki 30. Sulawesi Utara (16. pergelangan (28. tumit dan kaki kebanyakan pada laki-laki dibanding perempuan.2%.1%).8%) terbanyak pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sedangkan prevalensi cedera di bagian perut kebanyakan pada ibu rumah tangga (9.8%.6%).6% di Provinsi Kalimantan Barat. hanya prevalensi tertinggi bagian 162 .5% di Provinsi DKI Jakarta.8%). Adapun untuk cedera di lutut sebagian besar dialami kelompok umur 5-14 tahun (46.9% di provinsi Kepulauan Riau.3% di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Selanjutnya untuk cedera di bagian pinggul dan tungkai atas kebanyakan diderita oleh kelompok 75 tahun keatas (15.6% dibanding 14. bagian dada 8. perut/punnggung/panggul.107 menunjukkan prevalensi tertinggi bagian tubuh yang terkena cedera berdasarkan provinsi sebagai berikut: bagian kepala 18.0%). DI Yogyakarta (16.4%) sedangkan penyebab cedera tertinggi karena jatuh terdapat pada kuintil 1 (63. Selebihnya provinsi-provinsi yang lain prevalensinya di bawah 15%. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam/tumpul tertinggi terdapat pada kuintil 2 (21. perut (7. NAD (17.5% di Provinsi Papua.1%). Cedera pada dada (3. masing-masing 12. siku. Papua Barat (18.6% di Provinsi NAD.7%).9%).9%). Beberapa provinsi yang prevalensi cedera di bagian kepala dan di atas angka prevlensi Nasional adalah Provinsi Kepulauan Riau (18. Sedang cedera pada lutut dan tungkai bawah terdapat pada responden yang masih sekolah (43. leher seimbang antara perkotaan dan perdesaan. Prevalensi cedera di kepala tertinggi dialami oleh responden yang bekerja lainnya (13. bagian pergelangan tangan dan tangan 38. bagian lutut dan tungkai bawah 47. Untuk dicedera di bagian perut kebanyakan pada responden yang tidak sekolah (11.3%).7%). prevalensi cedera pada kepala. bagian leher 3. Papua (16.3%) dan pada mereka yang bekerja sebagai petani/buruh (9. bagian siku/lengan bawah 29. Untuk cedera di bahu seimbang antara umur < 1 tahun.pada kuintil 5 (34.5%). lutut/tungkai bawah. (3.6%) dan pinggul (6. cedera lainnya hampir berimbang di setiap tingkat pendidikan. Cedera pada pinggul/tungkai atas terbanyak pada ibu rumah tangga 36. Sumatra Selatan (16.6%).8% di Provinsi Nusa Tenggara Barat. bagian perut/punggung/panggul 14. Jambi (16. (6.7%).1%).0%) diikuti yang tidak bekerja dan wiraswasta.9%).1% . Prevalensi bagian tubuh yang mengalami cedera di kepala.4% di Provinsi Papua Barat. Leher. Ditinjau dari lokasi tempat tinggal responden.0% dan 20. bahu. bagian bahu/lengan atas 14.9%. Prevalensi cedera di bagian siku tertinggi diderita oleh responden yang berusia 15-24 tahun dan kelompok umur 5-14 tahun masing-masing 24.3%) kebanyakan mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yang diikuti responden yang tamat SMP (11. bagian pinggul/tungkai atas 11.0%).5% di Provinsi Kalimantan Selatan. Jika dilihat dari tingkat pendidikan ditemukan bahwa prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala (12.7%) dan kelompok umur 1-4 tahun (43. dada. leher.9%).3%) kebanyakan pada responden yang bermukim di perdesaan. Prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala. dada dan perut menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan menunjukkan bahwa untuk kuintil 1 sampai dengan kuintil 5 terlihat hampir seimbang. Tabel 3.5%).2%).4%).5% di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Maluku. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu 9. prevalensi luka bakar paling banyak dijumpai pada kelompok umur di bawah satu tahun/bayi (3. Sebanyak 16 provinsi mempunyai angka prevalensi di atas angka rerata Nasional. Tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 36. keracunan 1. Sulawesi Utara. Rerata prevalensi jenis cedera anggota gerak terputus (amputasi) 1. Tabel 3.4%.9%. dan lebih banyak di perdesaan. Prevalensi jenis cedera karena benturan tertinggi adalah 47.tubuh terkena cedera untuk bahu dan siku pada kuintil 5. Kejadian keracunan lebih sering dijumpai pada kelompok umur 75 tahun ke atas. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka prevalensi Nasional. Gorontalo.0%.4%.2%. Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar relatif kecil yaitu 2. Prevalensi tertinggi sekitar 33.2 % yang terdapat Provinsi Kalimantan Barat. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan Kepulauan Riau sama-sama 3. Ada 5 provinsi yang angka prevalensi jenis cedera benturan di atas angka rerata secara Nasional yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan. 163 .8% .8%. dan Papua.3%). Rerata prevalensi jenis cedera yang lain relatif kecil.6%). lebih sering pada laki-laki. Prevalensi tertinggi 60. Berdasarkan tabel 3.6%.110 menunjukkan jenis cedera berdasarkan karakteritik responden.1% terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang diikuti oleh Provinsi Maluku (46. Sedang prevalensi tertinggi cedera pada pinggul terdapat pada kuintil 3 dan cedera pada lutut pada kuintil 4. dan lainnya 1. Rerata prevalensi jenis cedera terkilir/teregang 20.0%. Menurut kelompok umur. Rerata prevalensi cedera akibat luka lecet sebesar 50.5%.3% terdapat pada Provinsi Sulawesi Tengah.5%. Rerata prevalensi jenis cedera patah tulang 4. Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka sebesar 25. Ditemukan sebanyak 14 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka rerata Nasional.0%. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet di atas angka rerata Nasional.109 memperlihatkan bahwa rerata prevalensi jenis cedera karena benturan adalah 42.

2 0.0 0.5 0.8 0.2 1.4 0.1 53.1 0.0 16.1 0.4 0.8 1.1 0.2 0.0 0.5 0.0 0.1 0.6 0.2 0.4 7.8 0.8 61.5 1.1 0.0 14.4 0.4 0.4 0.3 0.3 5.2 0.0 0.1 0.4 1.5 0.2 21.1 0.0 3.3 6.3 0.2 0.3 1.1 3.1 50.1 0.2 0.2 0.8 1.0 28.5 8.4 0.1 0.1 16.2 0.0 0.1 56.8 0.0 0.2 radia si 1.4 0.9 2.2 Bunuh diri 0.8 29.9 0.7 14.3 58.2 0.0 0.0 0.0 0.9 3.0 0.6 1.7 2.9 0.6 0.1 0.7 30.0 0.3 0.3 3.2 0.4 12.1 25.4 1.2 0.9 1.1 0.4 1.5 22.1 0.1 0.3 0.1 0.0 0.0 63.0 0.3 0.2 0.9 20.5 Jatuh 48.1 0.2 0.7 0.1 0.0 0.1 0.0 0.5 0.6 23.5 0.4 0.3 0.4 0.0 0.4 0.9 4.1 0.2 35.0 0.4 45.0 2.9 0.9 0.4 21.1 53.9 4.0 0.5 0.0 0.0 0.0 0.3 57.2 0.1 0.B N.9 22.0 0.0 0.6 0.2 0.0 0.8 0.2 1.0 1.8 0.1 0.2 0.6 22.6 58.6 1.3 0.1 0.9 0.6 0.2 0.3 0.2 0.1 0.6 56.3 0.2 0.0 0.0 0.1 0.5 7.9 55.1 2.0 0.1 1.1 0.1 0.5 7.1 0.7 2.4 0.9 1.8 0.3 0.0 0.1 19.1 0.3 0.0 0.5 11.8 33.7 24.3 0.3 0.9 15.1 0.6 0.2 2.7 19.0 0.6 0.1 0.0 0.2 0.0 0.2 udara 1.3 1.2 0.1 0.4 31.2 24.0 0.5 0.0 0.1 0.3 25.0 0.1 0.4 0.9 4.2 0.0 0.3 0.7 27.0 0.1 0.0 0.2 0.1 0.6 0.1 0.7 1.3 5.5 0.2 0.5 25.1 0.3 0.0 0.3 0.5 64.1 0.9 1.0 0.7 1.2 30.1 0.0 0.1 55.8 0.6 5. Riau DKI Jabar Jaten D.9 0.9 0.2 0.4 6.1 0.3 1.1 0.4 0.1 0.6 Terbakar 2.1 0.7 3.2 0.5 31.9 24.0 0.1 0.5 0.1 0.2 1.9 0.7 0.9 laut 0.8 25.2 3.4 1.0 0.4 57.6 0.7 54.1 0.2 0.1 0.1 0.5 1.0 0.4 senja ta api 0.4 0.1 1.7 0.7 7.1 0.0 1.6 1.9 0.8 62.6 12.5 0.7 50.7 9.7 12.1 0.4 0.8 1.9 7.8 23.0 0.0 0.7 164 .4 0.6 0.1 56.105 Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.8 0.6 0.3 0.0 1.9 4.7 0.8 0.2 60.T.7 4.T Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Indonesia Penyebab cedera Cedera 5.4 0.3 0.1 0.6 15.1 Kontak racun 1.0 4.0 0.5 darat 35.1 2.0 0.1 Tenggelam 0.8 16.3 0.7 57.3 0.2 0.0 0.3 0.1 0.6 0.3 31.3 15.0 0.4 29.1 0.8 17.4 1.1 0.0 16.2 0.2 0.8 5.0 8.1 0.7 0.4 31.2 6.7 1.3 0.0 0.1 44.0 0.7 0.1 0.0 27.2 0.7 0.1 0.2 0.2 0.3 53.3 0.2 0.7 1.2 0.9 0.1 Lainnya 2.4 9.1 Komplikasi 0.0 1.2 0.3 2.2 0.9 4.4 10.1 0.2 0.6 2.1 0.8 0.9 1.7 1.2 30.8 27.7 0.0 0.6 17.0 31.7 4.9 1.5 0.0 0.0 0.1 0.2 0.0 4.8 7.0 0.3 0.2 0.1 0.0 0.3 0.6 57.6 Serangan 2.5 1.1 4.4 0.1 7.1 10.0 0.2 0.8 17.4 0.0 0.6 29.8 1.2 1.0 0.1 0.4 0.3 64.0 0.2 0.1 0.I Y Jatim Banten Bali N.2 0.7 0.0 0.1 0.2 2.9 1.5 4.2 0.0 0.0 0.0 0.1 51.9 33.0 0.3 3.7 61.0 0.0 0.1 0.1 0.8 3.0 0.0 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Ba-Bel Kep.0 0.2 8.0 0.2 1.3 0.1 0.8 1.8 3.2 0.0 58.5 0.7 0.1 0.1 0.2 15.2 0.5 0.0 6.1 0.3 0.4 0.4 1.1 0.0 0.3 0.6 9.1 0.8 9.1 0.1 0.1 0.4 0.1 9.9 30.4 0.7 9.4 1.1 0.3 64.5 0.8 24.2 0.2 5.8 1.2 0.2 0.7 32.1 0.5 0.0 0.0 0.8 1.0 Sajam /tumpul 18.8 1.2 0.2 0.9 10.5 0.5 1.3 0.2 8.2 2.0 0.4 1.T.3 1.9 1.1 9.6 0.1 0.0 0.0 0.2 0.2 3.7 5.1 0.4 0.1 30.0 0.2 3.7 22.0 4.1 0.2 3.4 3.4 62.9 0.8 16.0 0.Tabel 3.0 0.7 18.0 0.2 0.1 0.1 7.2 5.4 67.1 0.2 1.0 2.5 1.1 3.0 0.7 56.8 49.9 0.8 30.2 0.3 4.1 0.5 0.7 43.5 19.1 50.9 15.9 Bencana alam 1.3 24.2 Asfik0.0 12.0 0.9 21.0 0.0 0.0 0.

2 0.4 45 – 54 6.1 0.8 19.9 1.5 1.2 0.9 0.4 0.6 Kuintil 4 7.3 0.0 1.6 0.1 0.6 1.4 0.106.1 0.9 4.4 0.1 1.3 34.3 0.3 51.6 0.9 1.9 0.3 1.2 0.5 0.3 0.1 0.6 0.2 0.4 4.1 1.9 3.1 3.1 0.7 0.5 0.2 0.4 19.0 0.2 0.2 42.1 0.0 52.1 Komplikasi medis 0.2 0.8 29.0 0.0 0.8 0.0 0.5 0.7 0.6 0.3 1.5 2.3 0.1 0.3 Tamat SMP 7.5 0.5 63.1 0.3 1.0 0.5 3.4 0.1 0.2 0.1 0.2 0.3 39.3 1.0 0.6 1.1 0.5 0.2 0.1 0.3 18.5 0.2 0.9 1.6 0.1 0.9 31.8 0.4 1.3 4.6 25.2 0.0 1.5 0.3 40.3 0.0 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Cedera darat laut udara Jatuh Sajam /tumpul Serangan senjata api Penyebab cedera Kontak racun Bencana alam Bunuh diri Tenggelam Terradiasi bakar Asfiksia 0.3 Tempat tinggal Kota 7.6 2.3 17.1 0.5 Perempuan 6.3 56.4 88.7 1.1 0.0 3.1 0.2 0.3 0.1 0.2 0.1 0.9 1.1 0.1 0.6 35 – 44 6.0 1.6 15 – 24 9.3 1.8 58.4 58.2 1.4 0.2 0.7 54.6 1.1 0.5 3.4 5 – 14 9.4 Tdk tamat SD 8.4 1.3 0.0 0.7 32.2 0.1 0.1 0.2 0.1 0.5 41.1 0.2 0.1 0.3 1.0 0.9 20.4 20.4 27.0 0.8 0.2 0.2 0.5 Petani/nelayan/b 7.2 2.1 0.0 0.0 1.6 Tamat SD 7.2 0.5 0.7 4.4 22.2 0.5 0.7 15.2 0.2 0.4 16.1 0.6 4.1 0.0 19.2 1.7 0.1 0.1 0.2 0.2 0.7 56.5 0.1 63.0 0.2 0.0 0.7 28.5 67.0 4.1 0.2 0.9 4.3 0.1 0.0 0.8 0.5 0.2 11.0 47.5 1.2 0.7 36.4 0.1 0.3 28.1 1.1 0.7 1.2 0.7 0.1 0.3 0.2 0.5 Desa 7.2 0.1 0.4 31.1 0.4 1.4 1.1 0.2 0.1 0.2 41.3 0.6 20.7 30.8 Jenis kelamin Laki-laki 9.0 0.7 0.2 30.1 0.1 0.7 1.1 0.6 1.1 0.1 0.1 1.0 0.1 0.1 0.5 0.5 3.7 1.0 0.1 1.1 0.9 37.2 15.2 0.3 0.4 0.7 62.4 0.6 3.6 Ibu RT 4.1 0.0 0.2 3.9 Tamat PT 5.7 75+ 7.1 0.6 25 – 34 6.1 0.8 0.1 0.7 0.2 0.9 1.0 0.1 1.3 0.1 19.6 78.0 0.1 0.2 0.Tabel 3.0 0.0 49.1 4.2 18.2 0.5 53.4 4.3 45.5 1.0 13.5 0.1 0.0 0.6 23.1 0.6 0.0 0.0 0.0 0.1 1.0 0.0 0.1 0.2 0.3 0.7 59.6 1.8 0.1 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 2.7 0.0 8.3 0.1 0.7 21.9 19.2 0.0 0.2 0.7 3.0 1.1 1.9 1.2 28.8 0.8 0.1 1.9 87.1 0.1 0.1 0.5 0.1 0.2 0.1 0.0 21.0 0.0 3.0 0.9 0.5 0.8 1.4 58.7 1. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden.5 1.3 0.4 42.1 1.1 0.1 0.3 1.2 0.8 Wiraswasta 7.0 24.3 0.2 1.4 1.9 3.3 0.4 Kuintil 2 7.0 3.3 0.5 0.7 0.1 0.5 28.3 0.2 5.1 0.2 0.5 62.2 0.1 0.3 26.9 0.6 42.3 0.2 0.1 0.3 1.5 46.5 27.8 3.2 0.5 50.8 0.5 0.2 0.9 76.1 0.1 0.5 0.2 0.9 64.2 0.1 0.4 42.2 0.4 1.0 0.6 Kuintil 5 7.1 0.1 36.4 0.1 1.1 0.3 0.0 0.0 0.3 0.6 0.6 26.4 1.0 0.9 37.2 0.1 0.2 0.3 1–4 7.4 55 – 64 6.7 1.3 0.8 19.1 0.5 Pendidikan Tidak sekolah 7.7 9.1 0.6 0.4 1.2 45.4 0.1 1.1 0.1 0.7 1.4 0.0 3.7 1.1 1.3 0.1 0.5 1.5 4.2 0.2 0.3 0.2 4.1 0.1 0.6 Tamat SMA 6.2 0.0 0.4 4.9 0.0 0.1 21.2 0.2 31.0 0.2 65 – 74 7.5 0.1 0.5 Lainnya 8.4 0.1 0.3 0.3 1.8 1.1 0.1 0.9 25.6 21.1 0.1 0.8 4.2 0.4 0.1 0.0 2.1 0.3 0.0 0.1 0.1 0.9 24.2 0.9 57.8 1.1 0.1 0.6 0.5 Tingkat Pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil 1 7.9 1.1 0.1 12.9 3.2 0.1 0.0 1.2 0.7 1.2 0.6 0.0 0.3 0.2 0.8 3.5 1.1 0.1 0.1 0.8 Pekerjaan Tidak kerja 8.2 0.5 1.2 0.2 4.1 0.7 13.1 0.7 18.3 0.4 14.1 0.6 0.1 0.3 0.1 0.7 0.6 15.1 0.7 4.1 0.6 3.5 Kuintil 3 7.1 0.2 0.1 0.3 0.8 165 .7 23.1 0.9 4.5 Sekolah 9.6 19.6 49.4 19.4 Pegawai 6.

1 6.1 3.1 6.3 4.1 3.1 3.3 5.8 6.9 31.0 17.1 18.9 8.0 36.9 14.8 35.5 27.0 5.6 1.3 12.6 28.1 1.7 31.5 25.4 11.4 1.5 3.4 9.6 10.1 7.8 22.0 18.7 22.3 37.9 15.3 33.5 5.2 35.0 21.1 7.9 23.6 25. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.5 24.0 23.2 28.4 21.4 35.7 13.2 1.7 30.8 26.0 21.4 5.8 1.9 14.5 5.3 28.4 19.2 22.6 6.1 37.6 13.5 1.7 11.7 7.3 21.0 4. Riskesdas 2007.7 10.6 7.2 15.9 5.1 1.5 34. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.6 24.9 5.8 20.9 1.9 27.9 25.7 20.6 5.3 28.5 0.4 25.6 14.1 4.4 14.2 2.9 30.5 10.0 0.1 1.7 34.6 2.8 2.0 34.3 11.5 10.1 5.4 4.5 23.8 11.6 18.6 5.7 9.0 1.2 11.0 23.2 1.7 18.4 1.8 10.5 6.9 11.8 26.8 5.5 7.1 7.8 1.1 11.3 6.Tabel 3.3 15.4 7.6 9.7 5.5 29.7 14.5 43.5 7.5 5.3 26.7 6.6 2.5 21.8 13.9 6. panggul Bahu.4 21.4 13.3 24.7 21.6 3.7 17.5 5.1 7.7 45.9 8.6 15.5 32.7 8.7 35.1 0.2 5.5 3.4 166 .7 7.8 9.8 6.6 1.6 23. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian dan kaki tumit tajam/tumpul NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 17.4 5.8 11.7 38.107 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.9 32.0 4.0 27.7 1.2 32.7 29.0 3.2 17.4 26.6 31.6 16.7 15.0 4.9 2.3 4.8 24.7 27.4 27.9 35.3 37.2 1.0 1.5 16.1 18.1 1.6 9.9 6.5 45.7 28.3 9.1 8.1 15.4 47.5 28.8 21.9 6.6 5.2 6.8 14.7 31.3 8.2 3.7 30.9 0.0 15.9 10.3 24.8 28.2 1.8 38.7 23.0 28.1 22.4 43.0 3.1 16.4 11.8 23.7 2.7 26.3 23.3 5.2 6.6 19.8 6.8 23.1 12.4 9.6 1.6 29.1 2.3 1.3 27.6 4.9 0.8 12.8 2.1 1.1 6.5 7.7 25.5 2.3 14.2 11.3 7.2 25.0 2.7 7.3 6.3 5.6 36.1 4. punggung.3 13.3 4.6 8.3 8.9 16.4 0.1 6.8 1.3 12.3 4.5 21.2 40.0 36.6 6.2 18.2 6.1 34.0 4.5 5.1 5.6 7.2 36.7 5.1 24.3 30.0 2.5 35.2 1.5 7.0 5.4 25.0 17. lengan atas Siku.7 17.8 2.7 13.7 21.5 9.0 13.5 14.8 13.3 3.5 4.7 5.0 27.5 2.6 8.2 7.6 13.6 17.6 4.5 24.4 15.2 7.7 20.7 22.5 5.9 11.4 2.6 6.2 4.0 33.0 19.0 0.8 11.4 9.3 6.3 36.4 28.5 7.4 21.2 44.2 1.1 6.9 13.7 10.6 4.6 39.4 23.2 11.0 12.0 16.0 14.2 3.1 22.8 27.7 38.5 6.

6 7.0 6.3 12.1 6.0 26.3 6.1 32.7 5.5 Kuintil 2 12.5 6.5 28.8 25 – 34 11.2 5.8 45 – 54 11.1 167 .9 21.0 31.9 8.9 10. bawah lengan benda Pergelangan tangan tangan dan Pinggul.6 Tempat tinggal Kota 13.7 10.1 9.9 25.2 17.9 Petani/nelayan/buruh 10.6 3.4 1.9 6.2 9.9 3.9 Pendidikan Tidak sekolah 11.3 1.3 3.6 26.0 7.3 6.9 30.8 Tamat SMP 11.9 31.1 5 – 14 12.7 15 – 24 11.8 9.6 6.7 37.6 3.3 5.1 3.2 27.3 5.9 1.6 14.7 11.7 9.4 28.Tabel 3.8 18.5 27.4 27.9 25.3 26.7 28.5 1.2 29.0 25.8 29.1 Perempuan 11.1 17.6 Pegawai 12.2 26.2 18.4 0.2 1.2 20.5 3.5 8.4 33.4 13.3 5.0 7.1 27.6 3.5 29.4 1.1 8.9 26.4 11.5 1.5 7.3 43.2 3.7 9.1 11.8 20.0 17.9 26.5 7.1 9.3 7.3 6.8 35.2 7. Riskesdas 2007.5 1.3 20.9 10.0 6.108 Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden.5 3.4 29.8 6.9 Sekolah 10.0 1.7 1.7 Tamat SMA 12.5 2.9 16.2 65 – 74 12.6 5.3 6.8 23.4 1.9 11.8 28.4 0.0 9.9 7.5 3.4 Jenis kelamin Laki-laki 14.6 7.8 75+ 14.1 34.4 17.3 6.6 32.4 25.7 4.7 24.7 24.1 8.6 1.4 55 – 64 11.3 35.3 26.0 1–4 26.5 1.8 3.0 Kuintil 4 13.7 Desa 13.0 7.7 3.3 1.7 Lainnya 13.6 14.4 3.9 25. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian tumit dan kaki tajam/tumpul Kelompok umur (tahun) <1 50.4 6.4 1.0 6.4 29.1 22.5 Kuintil 5 13.6 15.8 8.0 32.5 4.3 1.1 3.6 3.6 36.6 2.2 2.6 27.9 5.2 8.3 3.5 2.3 9.6 6.4 33.4 8.8 12.5 25.9 13.8 36.9 1.8 23.9 6.0 3.6 2.3 25.6 18.2 Ibu RT 9.1 27.7 36.6 38.5 35.6 11.0 Tidak tamat SD 10.2 1.5 1.3 11.8 27.4 19.8 13.6 19.7 8.3 6.7 15.6 9.3 20.9 5. punggung. panggul Bahu.3 13.6 1.5 35.1 11.1 2.4 9.8 30.0 27.8 26.7 Kuintil 3 13.9 31.6 14.1 9.3 26.8 9.8 3.3 29.4 18.2 1.9 8.3 36.3 8.2 9.4 9.9 4.9 35.3 8.0 6.4 7.3 5.9 7.6 Tamat SD 10.6 31.2 Pekerjaan Tidak kerja 12.4 35. lengan atas Siku.9 37.0 21.2 3.2 15.1 37.8 35.9 3.3 46.4 wiraswasta 12.3 7. Bagian Tubuh Terkena Cedera Karakteristik Responden Kepala Leher Dada Perut.1 6.9 17.6 20.2 11.5 6.1 27.1 18.0 28.5 32.3 25.0 18.6 24.5 43.1 35 – 44 10.2 10.7 9.4 3.4 18.4 1.6 27.8 6.5 1.8 26.6 3.0 6.0 29.7 31.2 2.2 7.0 6.5 4.5 6.1 3.3 13.7 24.7 7.4 21.2 24.9 20.9 26.3 10.0 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 13.8 27.8 27.4 26.3 1.2 27.7 7.5 3.9 2.4 26.2 8.0 1.5 3.4 17.1 3.3 Tamat PT 11.8 1.4 6.7 11.5 24.5 1.4 1.3 22.6 6.5 25.3 26.

5 2.7 44.4 21.2 2.0 3.2 6.4 0.3 1.5 0.6 1.6 0.3 2.6 53.7 1.3 29.1 29.3 4.7 0.3 .8 3.8 46.5 39.7 49.3 51.9 4.9 22.4 0.8 2.3 49.8 22.4 Luka bakar 3.8 3.2 39.6 46.3 0.2 53.4 47.3 0.9 28.6 4.5 0.1 24.2 23.1 15.6 26.6 3.5 30.6 14.2 2.7 28.1 21.9 1.8 40.0 0.2 29.5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 168 .1 42.6 1.7 2.8 25.4 1.0 18.3 2.2 3.9 40.6 1.7 4.4 39.0 49.7 0.9 49.1 2.8 0.5 45.8 2.0 1.8 3.2 39.6 0.7 31.6 42.9 11.109 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.7 4.3 3.5 2.9 2.8 23.6 0.7 4.3 1.5 0.6 2.1 23.4 0.4 20.7 0.5 Anggota gerak terputus 1.7 20.7 3.0 5.2 0.4 4.5 13.5 0.6 1.6 2.7 7.4 0.0 3.1 7.7 47.2 35.4 24.7 2.6 3.2 1.5 20.9 Patah tulang 8.6 12.7 35.9 1.5 0.0 1.5 4.0 3.7 29.0 7.2 35.1 0.4 0.1 1.4 27.6 0.2 3.5 58.9 4.9 2.6 1.4 2.6 1.0 24.9 0.1 4.8 13.3 16.0 59.8 2.1 19.7 2.4 0.5 27.7 1.7 21.1 2.5 20.0 2.1 22.4 0.8 53.9 2.Tabel 3.2 5.3 55.1 30.2 0.1 15.9 2.5 0.6 2.1 14.0 0.3 2.6 29.5 38.2 19.4 24.5 18.0 37.6 56.8 45.7 35.2 Terkilir / teregang 31.3 1.2 35.4 60.0 1.1 2. Riskesdas 2007 Provinsi Bentu ran 35.0 Keracunan 0.0 2.8 Luka terbuka 23.5 0.6 0.6 4.0 3.7 1.9 2.2 39.4 1.8 2.1 19.5 3.7 .4 39.7 13.5 21.9 58.8 2.6 2.9 1.0 30.7 12.0 1.0 0.6 3.5 22.7 23.0 Lainnya 1.7 5.5 0.0 14.3 3.9 0.4 23.9 0.5 23.1 7.3 21.4 31.5 39.2 2.6 1.8 2.6 4.2 42.1 1.6 25.7 0.5 35.7 2.0 45.0 30.6 54.6 4.5 44.7 9.3 1.8 1.4 9.4 2.1 36.1 1.2 0.7 19.4 0.1 17.0 2.6 1.1 52.3 55.0 28.0 37.2 57.5 35.8 2.2 33.1 50.3 1.5 0.1 31.0 1.1 29.1 30.4 53.0 1.6 0.8 40.6 35.4 28.9 1.0 0.0 2.2 1.2 12.7 23.2 45.4 Luka lecet 50.5 56.6 53.5 5.5 59.0 1.9 55.4 16.8 19.5 0.4 1.4 4.7 39.5 3.6 0.8 34.8 1.9 1.2 2.3 1.2 0.9 22.

1 2.7 1.6 2.4 33.0 3.0 5.5 1.5 2.2 53.2 1.8 0.1 1.2 37.1 36.6 28.5 1.6 39.4 2.1 27.3 26.4 13.8 8.8 0.3 0.0 31.7 37.1 22.8 23.3 2.5 2.0 46.0 5.5 2.0 47.4 2.8 1.9 36.9 25.0 1.7 58.8 52.3 7.1 0.2 2.8 29.5 22.7 0.8 0.5 3.9 0.7 34.9 1.4 26.4 0.4 4.1 23.7 0.0 23.2 2.6 25.6 1.4 4.9 7.3 2.2 31.3 1.2 13.4 25.8 3.6 50.2 40.6 1.0 51.2 2.1 0.1 2.9 20. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Benturan Luka lecet Luka terbuka Luka bakar Terkilir.8 23.1 3.0 13.8 39.4 2.5 37.6 3.8 2.3 21.9 1.9 21.3 6.9 5.1 6.4 0.7 0.8 1.4 38.8 3.7 52.1 2.1 24.2 4.4 52.2 0.9 25.5 30.6 2.5 5.1 29.8 5.1 28.8 20.3 47.0 1.8 0.1 0.1 23.9 36.7 37.4 23.6 2.3 1.3 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 37.3 22.0 47.0 2.1 2.1 1.8 1.5 2.8 5.4 36.3 2.4 1.2 1.4 46.1 1.6 20.0 34.1 5.4 2.9 2.2 20.2 2.1 4.3 0.4 0.5 57.8 1.5 22.1 27.1 28.5 0.5 2.6 42.0 2.3 16.2 2.5 1.3 20.6 2.5 35.2 2.5 37.5 22.6 0.8 47.8 44.1 32.9 1.8 61.3 1.3 0.5 23.8 2.2 1.4 2.7 3.1 2.0 1.1 1.1 24.7 0.3 36.5 4.1 33.5 25.4 Desa 36.7 27.3 38.4 27.7 1.5 28.8 62.8 22.8 2.0 1.9 2.9 4.2 22.3 1.8 48. teregang Patah tulang Anggota gerak terputus Keracunan Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 1—4 5 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ 49.1 51.9 1.7 39.7 0.4 2.1 3.0 36.2 2.5 51.3 54.5 21.4 0.7 40.8 1.4 4.0 0.0 0.6 2.4 21.5 50.7 52.4 36.7 27.7 2.0 2.0 1.8 3.6 1.5 5.1 1.0 39.0 0.9 36.1 4.0 0.7 26.3 49.4 5.5 6.110 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.3 22.1 0.8 2.7 0.0 20.3 2.5 39.1 2.3 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya 38.8 2.7 0.7 2.2 2.6 5.1 2.7 25.2 1.7 0.2 4.7 1.5 41.6 2.7 21.5 0.0 6.1 37.4 36.4 1.2 22.8 28.3 41.2 1.2 21.8 1.6 3.6 27.Tabel 3.0 22.6 4.7 2.3 22.7 21.3 0.1 2.0 24.3 35.7 40.5 2.4 Tempat tinggal Kota 169 .3 28.

yaitu 1) Tidak ada.2 2. Disebut “Tidak bermasalah” bila responden menjawab 1 atau 2 pada 20 pertanyaan inti.6 5. melakukan aktivitas/gerak atau berkomunikasi. yaitu “Tidak bermasalah” atau “Bermasalah”.2 10.3.4 atau 5 170 .9 6. sehingga memerlukan bantuan orang lain.3 11.5 5. Responden diajak untuk menilai kondisi dirinya dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan 20 pertanyaan inti dan 3 pertanyaan tambahan untuk mengetahui seberapa bermasalah disabilitas yang dialami responden.7 11. dengan pilihan jawaban sebagai berikut 1) Tidak ada.6 9. dengan pilihan jawaban 1) Ya dan 2) Tidak.7 6. penilaian pada masing-masing jenis gangguan kemudian diklasifikasikan menjadi 2 kriteria.5 5.5 5. individu dan sosial. dan 5) Sangat berat. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi oleh penduduk terkait dengan fungsi tubuh. Sebelas pertanyaan pada kelompok pertama terkait dengan fungsi tubuh bermasalah. Sembilan pertanyaan terkait dengan fungsi individu dan sosial dengan pilihan jawaban sebagai berikut. Disebut “Bermasalah” bila responden menjawab 3.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan Status disabilitas dikumpulkan dari kelompok penduduk umur 15 tahun ke atas berdasarkan pertanyaan yang dikembangkan oleh WHO dalam International Classification of Functioning. Dalam analisis. 2) Ringan. dan 5) Sangat sulit/tidak dapat melakukan. 2) Ringan.8 8. Riskesdas 2007 Fungsi Tubuh/Individu/Sosial Bermasalah* (%) 11. 3) Sedang. 3) Sedang.8 2.3 8.9 5. bila responden menjawab 3.8 11. Tiga pertanyaan tambahan terkait dengan kemampuan responden untuk merawat diri.4 atau 5 untuk keduapuluh pertanyaan termaksud.2 4. Disability and Health (ICF). 4) Sulit.6.9 8. 4) Berat. Tabel 3.111 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.2 Melihat jarak jauh (20 m) Melihat jarak dekat (30 cm) Mendengar suara normal dalam ruangan Mendengar orang bicara dalam ruang sunyi Merasa nyeri/rasa tidak nyaman Nafas pendek setelah latihan ringan Batuk/bersin selama 10 menit tiap serangan Mengalami gangguan tidur Masalah kesehatan mempengaruhi emosi Kesulitan berdiri selama 30 menit Kesulitan berjalan jauh (1 km) Kesulitan memusatkan pikiran 10 menit Membersihkan seluruh tubuh Mengenakan pakaian Mengerjakan pekerjaan sehari-hari Paham pembicaraan orang lain Bergaul dengan orang asing Memelihara persahabatan Melakukan pekerjaan/tanggungjawab Berperan di kegiatan kemasyarakatan *) Bermasalah.4 6.

Nusa Tenggara Barat (2.4%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disabilitas pada laki-laki. dan Sulawesi Selatan (2. Bengkulu (2. dan mengenakan pakaian hanya sekitar 3%. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” terendah adalah Maluku (1.2%). Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Bermasalah” terendah adalah di Provinsi Maluku Utara dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing sekitar 10%. Sulawesi Tengah (26. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat (2.112) Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas menunjukkan variabilitas menurut karakteristik responden. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Barat (27. Jawa Barat (25.2%). (Tabel 3. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” ternyata bervariasi menurut pekerjaan responden.9%). merasa nyeri/merasa tidak nyaman.Dari tabel 3.111 tampak bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas yang bermasalah dalam hal penglihatan jarak jauh. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat pada responden yang tidak bekerja.6%). dan napas pendek setelah latihan ringan merupakan disabilitas yang menonjol. dan Sumatera Utara masing-masing 1. Kalimantan Timur.7%).3%. Gorontalo (2. penglihatan jarak dekat.5%). Secara nasional ternyata status disabilitas dengan kriteria “Sangat bermasalah” adalah sebesar 1.4%). Dalam menilai status disabilitas kriteria “Bermasalah” dirinci menjadi “Bermasalah” dan “Sangat bermasalah”. (Tabel 3.8% dan “Bermasalah” 19. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tidak berbeda menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Semakin rendah tingkat pendidikan penduduk ternyata diikuti dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” yang semakin tinggi.113) 171 . sedangkan yang terendah pada responden yang sekolah.3%).7%). Sedangkan yang bermasalah dalam hal membersihkan seluruh tubuh. Kriteria “Sangat bermasalah” apabila responden menjawab ya untuk salah satu dari tiga pertanyaan tambahan.5%. Prevalensi disabilitas “Bermasalah” tertinggi ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (27. berjalan jauh.

1 21.7 19.1 1.0 15.2 17.2 1.5 172 .0 1.1 20.1 14.3 2.0 21. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Provinsi Sangat Bermasalah (%) 2.3 1.1 27.7 1.9 20.6 23.6 15.7 14.5 1.3 12.4 1.0 27.9 1.9 15.Tabel 3.2 1.9 1.1 14.8 25.9 23.4 2.7 1.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.112 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Provinsi.5 2.7 19.7 1.6 10.7 Bermasalah (%) 18.1 18.6 1.3 17.3 1.4 1.6 1.5 14.8 18.7 21.0 10.1 1.4 2.6 21.9 1.4 1.4 1.8 16.9 10.6 26.7 2.5 2.1 1.0 2.9 2.3 1.6 12.7 1.8 19.4 22.9 2.

7 1.8 62.8 1.8 1.4 47.0 29.9 25.113 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.7 1.7 1.1 20.7 26.4 Sangat bermasalah Bermasalah 173 .6 20.5 1.3 20.7 5.5 1.4 31.0 1.7 2.4 2.3 50.7 20.0 1.5 2.0 1.1 8. Polri) Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1.8 1.2 2.0 4.6 1.2 7.4 21.7 17.1 30.9 19.8 1.9 .1 61. Swasta.3 37.8 23.9 3.0 17.8 19.8 18.8 18.7 30.8 14. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Karakteristik Kelompok umur: 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan: Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan: Tidak bekerja Sekolah Mengurus RT Pegawai (Negeri.2 1.8 1.3 25.5 23.2 1.0 20.2 1.8 18.4 10.1 19.Tabel 3.

7. 3. Tabel 3. penggunaan tembakau/ perilaku merokok. Pada penduduk yang merokok. Sulawesi Selatan (25. Bagi mantan perokok ditanyakan berapa umur ketika berhenti merokok. selanjutnya adalah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16 batang.8%) dan Jawa Barat (26.2%). Persentase tertinggi ditemukan di Provinsi Bengkulu (29.5%). ditanyakan berapa rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan jenis rokok yang dihisap. digunakan kartu peraga. termasuk penduduk yang belajar merokok. Juga ditanyakan apakah merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.115 menggambarkan perilaku merokok penduduk umur 10 tahun ke atas menurut karakteristik responden.116 menunjukkan perilaku merokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap menurut provinsi. Hampir separuh (45. disusul Bengkulu (34.114 menunjukkan bahwa secara nasional persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok tiap hari 24%. Demikian juga perilaku higienis yang meliputi pertanyaan mencuci tangan pakai sabun. 174 .6%). Nusa Tenggara Barat. mantan perokok atau tidak merokok.8%) penduduk laki-laki umur 10 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari. pada saat melakukan wawancara mengenai satuan standar minuman beralkohol.8%). klasifikasi aktivitas fisik. Rerata batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi di NAD (19 batang). Tabel 3. Bagi penduduk yang merokok setiap hari.4%). Tabel 3. Prevalensi perokok saat ini tertinggi di Provinsi Lampung (34.3%). proporsi tinggi dimulai pada kelompok umur 15-24 tahun (7.7 Pengetahuan. yaitu yang merokok setiap hari dan merokok kadang-kadang. dan porsi konsumsi buah dan sayur.9%) 10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (1. persentase penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun). Secara nasional prevalensi perokok saat ini 29. Pada perokok kadang-kadang. pada laki-laki (9. DKI Jakarta dan Jawa Tengah masingmasing 9 batang. minum minuman beralkohol. Bali (24. proporsi tertinggi dijumpai pada penduduk tamat SMA (26.5%) dan Maluku (25.7% dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17%. Pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan penyakit flu burung dan HIV/AIDS ditanyakan melalui wawancara individu. aktivitas fisik. Sedangkan persentase terendah dijumpai di Provinsi Maluku (19. Sedangkan penduduk kelompok umur 10-14 tahun yang merokok tiap hari sudah mencapai 0.0%).2%). Provinsi-provinsi yang prevalensinya di bawah angka nasional adalah Provinsi Kalimantan Selatan (24. dan pola konsumsi makanan berisiko. Sikap dan Perilaku Pengetahuan. perilaku konsumsi buah dan sayur. Perokok saat ini adalah perokok setiap hari dan perokok kadang-kadang.1 Perilaku Merokok Pada penduduk umur 10 tahun ke atas ditanyakan apakah merokok setiap hari.3%). sikap dan perilaku dalam Riskesdas 2007 ditanyakan kepada penduduk umur 10 tahun ke atas.3. Sulawesi Barat (25. Secara nasional. Menurut pendidikan. ditanyakan berapa umur mulai merokok setiap hari dan berapa umur pertama kali merokok. dengan rentang rerata 29% sampai 32%. kebiasaan buang air besar. Sedangkan mantan perokok proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 75 tahun ke atas (12. Tidak tampak perbedaan antara rumah tangga yang tingkat pengeluarannya rendah dan tinggi.1%) dan Gorontalo (32.3%).9%).6%). merokok kadang-kadang. Untuk mendapatkan persepsi yang sama. sedangkan yang paling sedikit adalah Bali.8%) dan perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan.2% dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 12 batang per hari. diikuti dengan Lampung (28.

6 5.5 25.5 3.1 21.6 68.7 5.5 6.0 6.7 24.1 65.1 2.5 2.3 64.3 6.8 24.6 22.1 25.9 19.8 1.1 2.3 23.5 4.0 69.0 2.8 175 .1 19.3 68.4 5.5 71.8 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Nasional 23.8 20.3 3.5 5.6 7.9 3.6 4.8 65.0 Tidak merokok Mantan perokok 2.6 64.8 67.6 69.4 71.5 66.0 23.8 4.0 67.3 25.3 7.0 4.1 4.6 71.1 20.4 20.0 3.9 6.8 2.6 24.5 4.4 Perokok kadangkadang 6.1 2.6 6.4 5.7 65.2 5.8 2.6 5.2 3.4 67.8 Bukan perokok 68.6 24.9 67.3 3.5 28.0 63.8 6. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Provinsi Perokok setiap hari 23.5 5.9 2.9 19.5 3.7 23.5 70.1 4.0 5.8 26.8 71.4 4.2 68.6 5.7 1.4 6.8 67.2 69.8 27.3 69.0 3.9 3.2 23.6 3.7 64.1 20.3 2.2 2.3 1.5 2.6 20.4 24.8 73.5 5.7 5.2 21.7 64.1 65.Tabel 3.7 6.0 3.8 24.3 25.2 22.5 22.1 72.5 2.9 1.2 69.4 67.114 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.2 64.0 3.5 3.5 5.6 6.8 4.4 24.5 71.4 29.8 5.1 2.3 4.0 5.

0 9.Tabel 3.6 2.8 Tidak merokok Mantan perokok Bukan perokok Perokok setiap hari Perokok kadangkadang Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 45.2 61.4 5.6 3.9 66.8 1.0 97.6 68.0 26.6 55.1 1.5 2.5 5.7 2.8 2.3 1.9 23.5 54.3 63.4 0.1 5.5 2.2 32.9 6.0 4.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.3 5.6 5.6 5.9 3.6 5.3 7.7 38.6 5.0 30.4 31.0 69.8 4.8 2.2 57.8 9.4 24.9 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 26.8 20.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.8 27.6 69.1 6.3 5.4 3.8 28.3 21.3 6.4 3.4 68.0 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 21.4 2.9 176 .7 5.5 67.8 5.4 5.3 0.8 5.9 12.6 4.8 3.3 23.2 6.6 7.2 25.1 3.9 1. Riskesdas 2007 Perokok saat ini Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 0.2 23.4 67.4 5.9 94.6 67.0 65.7 74.9 23.4 24.3 72.7 67.1 67.7 4.3 29.7 17.0 62.9 55.7 2.

7 28.4 13.8 9.116 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.4 29.4 11.4 30.0 177 .7 13.1 34.4 32.5 26.7 27.1 28.2 14 saat ini 29.1 16.9 11.6 25.8 32.1 11.7 34.5 8.5 9.4 11.3 10.3 28.8 30.3 10.2 28.0 13.4 31.8 12.7 29.5 14.2 24.4 8.1 9.Tabel 3.3 30.5 12.2 30.9 9.0 12.7 30.4 13.2 26.3 25.2 12.9 10.1 31.8 29.4 14.7 25.9 9.0 27.5 14. Riskesdas 2007 Perokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rerata jumlah batang rokok /hari 18.9 30.1 10.8 30.8 Indonesia 29.9 24.2 27.9 14.2 25.0 12.4 13.7 15.9 27.3 13.

6 11.7 Prevalensi perokok saat ini pada laki-laki 11(sebelas) kali lebih tinggi dibandingkan perempuan (berturut-turut 55.7 33.0 29.1 12.6 11.1 12.117 menggambarkan prevalensi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap per hari menurut karakteristik responden. Tabel 3.6 29. 178 .4%).Tabel 3.6 35.4 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 2. serta di daerah perdesaan.6 30.0 36.1 55.7 12.0 37. Riskesdas 2007 Perokok saat ini (%) Rerata jumlah batang rokok /hari 10 12 13 14 13 13 10 13 11.7 11.6 12.0 11.7% dan 4. tetapi rerata rokok yang dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (16 batang dan 12 batang).5 29. Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur 15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun.9 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 29.4 30.9 12.5 34. Prevalensi perokok saat ini lebih tinggi pada penduduk tamat SMA dan penduduk tidak sekolah.5 28. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun.7 12.3 28.0 24. walaupun prevalensi hanya 2%.7 11.3 12.7 4.3 30. Tidak tampak adanya perbedaan antara penduduk dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita tinggi dan rendah.9 25.0 27.7 15.0 38. tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16 batang per hari. kemudian menurun pada umur lebih lanjut.0 26.5 11.117 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.6 34.

5 46.0 0. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5-9 0.3 13.7 15.2 6.3 12.6 26.0 0.9 2.2 1.3 1.8 7.1 14.2 5.8 10.5 4.9 4.9 12.8 0.2 0.6 4.0 13.0 12.2 5.9 5.7 20-24 17.1 3.9 4.0 0.8 2.4 21.9 15.8 6.9 4.6 36.2 3.9 11.3 14.0 39.3 33.2 3.0 0.6 10.1%).9 1.7 1.1 30.2 26.9 6.5 1.3 36.3 1.0 0.7 3.3 12.2 2.4 2.6 11.7 1.7 25-29 3.3 16.0 18.7 18.5 2.0 2.1 9.8 1.118 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.7 39.4 18.4 6.4 20.2 35.3 2.1 34.8 37.0 13.0 3.3 35.9 17.6 18.0 24.6 5.5 3. 30 kali lebih besar dibandingkan dengan angka nasional (0.0 10.1 ≥30 2.1 27.1 Tidak tahu 39.5 3.8 17.5 43.6 19.0 0.2 Indonesia 0.7 1.4 4.0 0.1 34.0 36.4 13.5 17.9 2. yaitu 36.0 33.0 0. Tabel 3.3 4.Tabel 3.4 3.4 13.9 10.8 11.9 35.5 3.4 10.4 27.0 18.2%).2 6.4 36.1 3.1 34.8 2.3 3.2 4.8 15.7 24.9 39.5 29.4 16.5 17.7 1.0 18.0 15-19 30.3 2.4 3.8 5.7 5.3 18.0 0.5 26.8 24.6 0.1 17.0 0.0 0.6 33.6 9.0 0.3 3.0 0.7 3.2 29.4 13.8 14.0 12.7 36.3 40.5 52.5 34.7 32.3 9.7 44.8 2.6 36.118 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari.0 8.4 11. Papua menduduki tempat tertinggi (3.1 27.3 10.5 40.8 8.8 19.8 12.7 59.2 39.1 14.4 3.3 6.0 0.0 3.4 24.1 2.4 31.0 0.0 0.6 3.0 38.4 22.0 0.6 33.6 34.2 10-14 6.3 12.8 36. Usia mulai merokok tiap hari ini penting diketahui untuk melihat lamanya paparan rokok pada penduduk.0 9.4 0.4 33.6 28.0 Untuk kelompok usia muda (5-9 tahun).6 36.0 0.9 4.8 36.7 2.2 38.1 10.0 0.6 4.5 29.0 37.8 3.5 2.0 0.0 0.4 26.5 44.6 38.9 5.4 5.8 6.6 29.3 5.4 3.5 28.3 3.0 0.3%.4 35.2 9.9 12. Secara nasional persentase usia mulai merokok tiap hari umur 15-19 tahun menduduki tempat tertinggi.3 46.9 1.2 7.0 7.0 0.2 30.2 8.6 9.4 8. 179 .6 2.0 5.0 0.6 1.0 0.4 1.

7 0.9 14.Tabel 3.0 30.1 0.8 37.5 3.4% mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun.119 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari dan karakteristik responden.1 18.9 30.5 2.0 27.3 10.9 0.8 2.1 3.1 0.6 6.2 4.3 0.5 6.0 0.5 18.3 24.0 27.7 34.3 4.0 10.1 8.9 29.6 15.1 33.6 5.1 0.1 0.2 0.0 7.4 4.1 19.2 0.2 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 0.0 16.4 9.0 0.0 3.7 39.0 45.1 0.6 34.5 4.2 3.8 17.3 29.5 16.5 5.1 7.5 16.1 0.4 34.4 4.2 9.1 35.1 3.3 6.0 4.2 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 0.7 28.1 0.2 9.0 14.1 0.9 6.7 10.2 4.6 48.8 9.119 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden. Tabel 3.9 19.7 38.2 4.5 4.0 0.2 5.1 38.3 3.1 0.4 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 0.1 3.3 44.9 36.4 3.7 55.0 36. Berdasarkan kelompok umur.9 4.9 40.3 22.6 19.6 19.4 3.0 3.4 15.9 2.1 46.2 0.7 4.4 0.1 4.2 24.1 0.1 0.5 11.6 17. 19% penduduk umur 10-14 tahun sudah mulai merokok tiap hari pada usia 10-14 tahun.3 14.1 18.1 11.1 7.2 15.4 7.6 22.5 Untuk setiap kelompok usia mulai merokok tiap hari pada umumnya persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.4 8.2 10. bahkan 1.9 55.9 29. kecuali pada usia 5-9 tahun dan 30 tahun ke 180 .6 4.9 2.3 37. Riskesdas 2007 Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 1.1 1.5 32.1 24.4 12.9 6.6 18.0 57.0 7.2 11.8 0.0 17.9 3.7 21.1 0.1 7.2 4.6 21.1 0.8 7.0 15.9 79.6 4.6 10.8 10.9 35.0 43.5 21.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 0.2 14.6 9.1 0.7 7.9 29.0 5.3 6.1 16.0 33.

7 9.1 42.0 40.2 40.3 1.7 4.4 33.6 10.0 50.3 1.1 2.6 2.6 33.8 45.7 28.6 2.3 12.1 13.7 3.6 3.2 6.4 34.8 13.6 28.0 9.6 1.1 35.1 16. Usia mulai merokok atau 181 .0 1.3 8.2 1.2 35.1 13.9 2.0 11.3 4.9 9.0 10.8 35.5 3.3 1.6 4.8 4.3 10.7 14.4 39.6 0.5 31.3 46.2 28.8 Tidak tahu 49.4 11. Tabel 3.6 7.3 0.5 33.0 34.3 6.5 13.8 1.1 0.0 27.9 35.1 31.9 1.3 33.5 6.4 1.1 11.2 1.8 8.4 1.0 Nasional 1.5 33.4 32.8 1.0 4.5 1.6 2.1 14.0 32.3 2.0 22.9 2.1 3.2 3.6 13.5 12.5 6.0 8.120 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.3 32.2 37.9 15-19 26.9 1.7 34.3 6.2 9.6 26.6 43.8 3.3 20-24 11.6 0.9 1.9 1.5 1.7 25-29 2.2 ≥30 2.7 1.4 27.6 10.1 37.9 1.0 3.1 48.3 34.9 0.6 44.2 33.3 10.1 31.9 22.3 51.2 7.8 34.7 1.9 9.8 2.1 1.1 8.8 10.8 1.7 1.7 11.5 36.2 31.3 2.3 28.9 2.3 0.0 0.8 4.5 2.1 39.4 2.7 38.4 11.5 6. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Provinsi 5-9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.3 12.4 1.8 40.6 3.9 1.9 8.5 10.2 1.7 1.1 2.120 memperlihatkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau.8 39.7 1.8 3.atas.0 13.2 8.5 1.6 11.6 16.2 42.4 13.1 1.Tidak tampak perbedaan usia mulai merokok tiap hari dilihat dari tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.0 0.4 34.2 2.8 3.9 3.2 16.4 13.9 0.4 1.8 4.2 59.5 1.1 1.5 2.4 2.3 2.3 38.4 12.8 43.7 10.5 13.0 7.9 33.5 1.4 41.7 11.0 4.8 1.9 44.3 11.2 1.2 1.5 10.6 9.4 4.8 14.5 32.3 0.2 2.7 3.9 13.3 3.3 29.7 28.7 1.6 2.3 4.5 43.9 11.5 8.6 33.6 32.1 24.9 2.2 8.6 2.7 5.2 12.5 12.7 1.2 42.1 0.7 0.5 32.0 10-14 7.2 Tabel 3.0 2.9 2.3 3.4 11.0 9.

Secara umum jenis rokok yang paling banyak diminati adalah rokok kretek dengan filter (64.4%). dan tingkat pengeluaran per kapita.0%). Perokok umur 10-14 tahun umumnya mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun (31.5%). DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masingmasing 1. Bangka Belitung. kecuali penggunaan tembakau kunyah pada perempuan 19 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.2%). Tabel 3.5%) dan Jawa Barat (35.121 menggambarkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau dan karakteristik reponden.8%). Gorontalo (2.1%). selanjutnya Bangka Belitung (16.9%). disusul usia 20-24 tahun (11. pendidikan. 3%).4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.1% yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun. tertinggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (93.9%).1%) (lihat Tabel 3. 182 . Menurut jenis kelamin. perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun tertinggi dijumpai di Bangka Belitung (42.3%). kecuali pada kelompok umur 55 tahun ke atas kretek tanpa filter merupakan pilihannya. Secara nasional.123). tetapi ada 5. Menurut kelompok umur. disusul Kepulauan Riau (2. laki-laki lebih dominan pada semua jenis rokok dibandingkan perempuan. Demikian juga rokok linting dan tembakau kunyah. Sulawesi Utara (39. Sedangkan perokok dengan umur mulai merokok pada umur 5-9 tahun tertinggi di Papua (4. penduduk tidak sekolah lebih banyak menggunakan rokok linting atau tembakau kunyah dibandingkan jenis rokok lainnya.8%). Secara nasional. 85.9%). tipe daerah.4%) dan rokok linting (17. Menurut provinsi.mengunyah tembakau mencakup juga penduduk yang baru pertama kali mencoba merokok atau mengunyah tembakau. demikian juga halnya menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran per kapita (Tabel 3. Menurut jenis kelamin.9%. dan pada jenjang pendidikan lainnya didominasi oleh penggunaan kretek dengan filter.0%).0%). DKI Jakarta (13. disusul oleh DKI Jakarta (39. Jawa Tengah (13. Tabel 3. kemudian kretek tanpa filter (35.6%) dan Kalimantan Selatan (12. Terdapat 18 provinsi dengan prevalensi di atas angka nasional.122 menunjukkan prevalensi perokok yang merokok dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga menurut provinsi.124). Menurut pendidikan. persentase mulai merokok tertinggi dijumpai pada kelompok usia 15-19 tahun. banyak diminati oleh penduduk berumur 55 tahun ke atas.7%). pada umumnya jenis rokok yang diminati adalah kretek dengan filter. persentase tertinggi usia pertama kali merokok terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun (32. Perokok yang mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun terbanyak di Provinsi Sumatera Barat (16.

8 17.1 32.3 31.2 59.121 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.4 3.4 37.2 12.3 1.4 1.9 11.6 4.2 14.3 10.8 12.4 0.3 36.1 1.7 2.0 3.0 6.5 3.3 32.9 3.7 13.2 1.3 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 1.9 2.1 1.8 9.8 11.2 14.5 1.9 11.9 1.7 0.1 10.0 20.9 10.5 38.8 2.4 41.7 3.0 4.1 7.2 Kuintil-5 183 .4 32.2 10.8 2.1 4.1 10.4 5.9 11.2 25.9 38.5 7.2 9.1 13. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Karakteristik responden 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 Tidak tahu ≥30 Kelompok umur 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 5.0 13.5 61.6 37.6 9.3 36.4 10.1 1.7 10.4 11.1 33.3 41.7 6.0 2.7 4.4 1.0 31.5 10.6 2.8 3.4 38.5 Kuintil-3 1.0 34.4 2.2 31.1 1.0 4.5 1.0 0.0 0.2 3.4 30.5 3.3 47.8 34.1 8.8 19.9 63.6 12.9 10.Tabel 3.6 32.6 31.3 11.5 42.6 1.3 30.2 Kuintil-1 1.2 0.2 Kuintil-2 1.6 2.0 0.2 3.7 2.9 6.2 17.2 0.2 53.3 1.2 2.0 3.3 2.4 6.2 1.5 2.3 1.1 1.1 32.7 1.6 3.1 3.1 4.4 1.5 5.7 1.0 40.6 3.5 4.2 10.3 13.1 12.1 7.5 33.8 8.2 0.3 13.2 5.6 2.9 38.7 13.1 3.1 55.2 44.5 2.0 26.3 11.2 25.6 36.3 33.4 7.0 18.0 49.8 Kuintil-4 1.6 10.0 40.8 12.

8 80.4 87.2 89.0 83.7 86.3 90.9 86.7 89.7 86.9 91.Tabel 3.4 79.4 78.2 83.4 84.1 88.1 64.7 83.4 184 .9 84.2 89.5 91.0 88.7 87.3 90. Riskesdas 2007 Perokok merokok Provinsi dalam rumah ketika bersama ART NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 82.0 84.4 Indonesia 85.7 82.1 82.122 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi.4 86.7 77.1 85.8 93.7 92.3 90.

Tabel 3.3 3.9 30.7 1.6 0.6 55.3 0.5 5.0 15.9 Rokok putih 16.7 80.2 0.9 77.4 46.7 0.5 10.8 8.9 0.3 0.7 0.3 3.7 57.3 62.4 0.5 0.4 0.3 1.4 0.1 3.0 0.9 10.2 0.9 75.8 5.0 42.8 23.6 0.7 1.9 26.2 0.0 Rokok linting 7.4 0.7 24.3 0.5 20.5 1.6 4.5 51.5 0.3 0.8 2.2 3.9 1.2 20.3 14.9 60.2 0.2 3.1 46.4 1.0 63.2 11.9 1.8 28.1 12.4 12.6 21.7 24.9 2.2 0.2 0.3 0.7 9.1 24.2 0.2 0.4 0.2 84.4 0.3 0.2 11.9 0.7 59.1 0.9 6.4 0.4 20.2 0.9 43.7 26.8 56.5 0.6 23.9 21.3 72.2 0.3 55.4 5.0 13.4 29.3 0.7 10.6 25.7 1.6 0.4 69.8 25.9 1.2 16.5 13.6 16.0 59. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Provinsi Kretek dengan filter NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Nusa Tenggara Kalimantan Barat Kalimantan Kalimantan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 55.6 6.3 2.4 1.1 Kretek tanpa filter 38.6 18.4 14.1 0.2 0.9 2.7 32.6 59.9 6.4 1.5 1.3 7.8 17.5 5.2 0.1 0.4 31.7 0.5 0.9 27.4 0.1 0.1 0.2 16.5 35.4 52.9 80.2 Indonesia 64.3 0.1 Cangklong 0.5 4.7 85.5 1.8 55.6 0.2 0.3 0.7 9.6 22.4 1.9 12.8 38.4 0.6 0.0 9.2 0.4 14.7 0.9 60.1 4.2 7.9 12.2 9.6 3.6 8.5 0.5 0.5 20.7 45.2 30.1 5.2 0.2 0.6 0.3 19.3 75.5 1.0 16.9 18.8 18.0 6.1 0.4 0.7 4.8 0.7 0.2 0.0 1.9 14.9 1.2 0.9 24.1 3.9 0.9 14.3 2.4 0.9 67.7 0.5 20.8 74.0 13.3 64.0 1.1 70.5 1.4 13.2 51.1 Lain nya 0.6 25.2 0.5 21.2 21.1 65.5 0.7 1.3 16.4 185 .8 82.7 Cerutu Tembakau dikunyah 6.1 33.4 1.1 1.4 25.7 0.8 0.123 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi.1 14.3 10.7 0.7 0.0 9.2 0.5 0.2 13.8 14.7 20.2 70.1 11.0 0.1 60.3 72.6 0.6 6.5 0.3 76.3 0.9 17.4 0.0 1.6 0.4 0.1 0.8 85.7 46.4 22.2 14.0 2.0 4.6 18.4 0.2 28.3 0.4 1.8 37.6 1.0 0.3 0.8 0.

3 0.1 37.9 34.6 0.6 0.4 23.7 0.3 12.3 62.7 13.5 0.6 0.7 0.6 0.8 15.1 31.5 0.4 0.5 0.3 15.7 0.5 30.3 9.5 0.6 4.5 0.1 33.4 20.7 33.1 1. Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu.5 4.8 35.2 70.8 11.0 0.124 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.5 33.3 23.6 0.5 17.0 37.4 0.5 0.6 41.5 0.9 12.9 27.4 0.4 38.5 7.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari.4 0.5 0.9 14.3 59.5 0.6 0.8 4.2 6.7 4.2 22.7 28.4 20.7 0.6 0.9 1.0 24.0 36.6 15.0 14.7 6.8 17.5 1.4 9.0 63.7 0.3 60.6 44. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Karakteristik responden Kretek dengan filter Kelompok 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Kretek tanpa filter Rokok putih Rokok linting Cangklong Cerutu Tembakau dikunyah Lain nya umur 73.5 37.6 7. 186 .6 0.4 0.4 10.8 0.8 12.6 0.3 14.0 12.1 1.7 66.3 16.3 20.3 0.6 2.8 5.3 0.6 0.8 38.8 29.5 0.0 17.6 0.5 0.0 0.9 1.6 0.2 10.7.8 7.8 77.4 57.8 12.7 0.3 2.6 19.7 41.7 0.5 1.6 0.4 0.8 35.4 14.5 19.0 1.3 0.6 0.0 5.7 0.7 0.8 0.4 24.6 0.5 0.7 74.5 0.4 22.7 0.8 35.6 74.9 1.6 18.0 0.3 33.8 79.4 40.2 36.6 0.5 18.4 4.7 2.6 0.3 0.6 66.0 7.9 0.9 0.6 31.3 1.7 0.9 72.6 0.7 77.6 30.5 1. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas.5 51.7 37.3 41.9 17.2 4.5 0.3 0.7 0.4 0.3 3.7 62.3 34.6 40.2 13.Tabel 3.6 68.4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 3.7 18.8 0.7 3.4 8.5 24.6 3.7 9.

1 90. Tabel 3.7 96.9 83.5%). penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93.2 92.125 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.125 menunjukkan bahwa secara keseluruhan.8%. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat. Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83.5 96.7 Indonesia 93.4 96.6 96. dan Lampung (87.6%.6 94.5 95. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang makan buah dan sayur*) 95.9 94.9 92.7 91.9 93.1 91.8 91.4 94.6 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 187 .7 96.5 96.2 91.9% dan 97. DI Yogyakarta (86.7 92.4 96.4 97.Tabel 3.8 97.2 94.0 86.1%).6 96.1 87.5 96.3 89.7%). masing-masing 97.5 93.9 91.4 92.

5 55-64 93.3 Tempat Tinggal Perkotaan 93.3 Kuintil-5 92.9 Kuintil-4 93.5 Perempuan 93.3 45-54 93.8 25-34 93.0 Perdesaan 94. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita.3 Tamat SD 94.7 75+ 95.Pada tabel 3.9 Tidak tamat SD 94. dengan perkataan lain. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.7 Pendidikan Tidak sekolah 94. Tidak tampak adanya perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang makan buah dan sayur*) Kelompok Umur (Tahun) 10-14 93.1 Tamat SMP 93.3 Jenis Kelamin Laki-laki 93.2 Kuintil-3 93.6 Tamat SMA 92.8 Tamat PT 90. Tabel 3. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.4 35-44 93.126 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.6 15-24 93.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 94.126 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95. Sementara berdasarkan pendidikan.4 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 188 .7 65-74 94.6 Kuintil-2 94. dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur.3%).

yaitu sebesar 5. sehingga didapatkan ukuran standar. Dilakukan kalibrasi terhadap berbagai persepsi ukuran yang digunakan responden.7%). Informasi perilaku minum alkohol didapat dengan menanyakan kepada responden umur 10 tahun ke atas. jenis minuman dan rata-rata satuan minuman standar.7% dan 4. yang selanjutnya meningkat menjadi 6.128 dapat dilihat bahwa prevalensi peminum alkohol 12 bulan dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 15-24 tahun. Pada umumnya provinsi dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional. 189 .0%. Tabel 3. namun kemudian turun dengan bertambahnya umur.6%. Untuk penduduk yang menjawab “ya” ditanyakan dalam 1 bulan terakhir. sedangkan yang masih minum dalam satu bulan terakhir 3. Tidak tampak perbedaan prevalensi peminum alkohol menurut tingkat pengeluaran per kapita per bulan.3% pada umur 25-34 tahun. Karena perilaku minum alkohol seringkali periodik maka ditanyakan perilaku minum alkohol dalam periode 12 bulan dan satu bulan terakhir.4%).5% dan 3. Prevalensi peminum alkohol di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan. juga diikuti dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam satu bulan terakhir di atas angka nasional.3%). Sulawesi Utara (17.127 memperlihatkan secara nasional prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir sebanyak 4. yaitu satu minuman standar setara dengan bir volume 285 mililiter. Menurut jenis kelamin. Sedangkan menurut pendidikan. dan Gorontalo (12.3.5%. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi minum alkohol tinggi. prevalensi minum alkohol tinggi tampak pada yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SMA. termasuk frekuensi.7. Pada tabel 3. Wawancara diawali dengan pertanyaan apakah minum minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir.3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol Salah satu faktor risiko kesehatan adalah kebiasaan minum alkohol. seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (17. prevalensi peminum alkohol lebih besar laki-laki dibanding perempuan.

Tabel 3.127 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Konsumsi Provinsi alkohol 12 Bulan terakhir
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1,5 6,1 1,5 3,4 2,7 2,9 2,8 2,2 4,4 5,9 4,0 2,6 2,2 3,2 1,9 1,6 6,4 2,0 17,7 8,8 6,5 1,2 3,4 17,4 8,9 5,9 7,7 12,3 4,0 8,2 7,4 8,1 6,7

Konsumsi alkohol 1 Bulan terakhir
0,4 4,4 0,7 1,3 1,7 2,1 1,8 1,4 2,5 3,7 2,7 1,3 1,1 1,7 1,0 0,9 4,6 1,2 13,5 4,8 3,5 0,5 1,7 14,9 6,4 3,9 5,8 10,7 2,6 5,0 4,4 4,9 4,4

Indonesia

4,6

3,0

190

Tabel 3.128 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia, Riskesdas 2007
Karakteristik Responden Pernah minum alkohol dalam 12 bulan terakhir Masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir 0,3 3,5 4,3 3,7 3,3 2,4 1,7 0,9 5,8 0,4 2,1 2,5 3,0 3,5 3,8 2,4 2,5 3,3 2,9 3,0 3,0 3,0 3,0

Kelompok Umur (Tahun) 10-14 0,7 15-24 5,5 25-34 6,7 35-44 5,5 45-54 4,8 55-64 3,6 65-74 2,6 75+ 1,5 Jenis Kelamin Laki-laki 8,8 Perempuan 0,7 Pendidikan Tidak sekolah 3,1 Tidak tamat SD 3,8 Tamat SD 4,5 Tamat SMP 5,5 Tamat SMA 6,0 Tamat PT 3,9 Tipe Daerah Perkotaan 3,9 Perdesaan 5,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4,4 Kuintil-2 4,7 Kuintil-3 4,6 Kuintil-4 4,7 Kuintil-5 4,7

191

3.7.4 Perilaku Aktifitas Fisik
Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Dikumpulkan data frekuensi beraktifitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. Selain frekuensi, dilakukan pula pengumpulan data intensitas, yaitu jumlah hari melakukan aktifitas ’berat’, ’sedang’ dan ’berjalan’. Perhitungan jumlah menit aktifitas fisik dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktifitas yang dilakukan, di mana aktifitas diberi pembobotan, masing-masing untuk aktifitas ‘berat’ empat kali, aktifitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktifitas ‘ringan’ atau jalan santai. Pada tabel 3.129 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48,2%) kurang melakukan aktifitas fisik. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61,7%) dan Provinsi Riau (60,2%). Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27,3%), Sulawesi Tengah (39,4%), dan Bengkulu (40,1%). Pada tabel 3.130 terlihat bahwa menurut kelompok umur, kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76,0%) dan umur 10-14 tahun (66,9%), dan perempuan (54,5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41,4%). Berdasarkan tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57,6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42,4%), dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik.

192

Tabel 3.129 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang Aktifitas Fisik 53,3 52,1 54,8 60,2 57,8 48,1 40,1 45,3 46,4 53,1 54,7 52,4 44,2 45,3 44,7 55,0 44,6 48,8 27,3 46,9 43,8 49,4 61,7 47,2 39,4 49,1 47,6 47,3 42,7 49,2 48,2 50,4 43,0

Indonesia

48,2

*) Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu

193

Tabel 3.130 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang aktifitas fisik

Kelompok umur 10-14 66,9 15-24 52,0 25-34 42,9 35-44 38,9 45-54 38,4 55-64 44,4 65-74 58,5 75+ 76,0 Jenis Kelamin Laki-laki 41,4 Perempuan 54,5 Pendidikan Tidak sekolah 48,8 Tidak tamat SD 48,1 Tamat SD 43,4 Tamat SMP 47,4 Tamat SMA 52,6 Tamat PT 60,3 Tipe daerah Perkotaan 57,6 Perdesaan 42,4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 44,8 Kuintil-2 45,5 Kuintil-3 47,1 Kuintil-4 49,1 Kuintil-5 53,9

3.7.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS a. Flu Burung
Data mengenai pengetahuan dan sikap penduduk tentang flu burung dikumpulkan dengan didahului pertanyaan saringan: apakah pernah mendengar tentang flu burung. Untuk penduduk yang pernah mendengar, ditanyakan lebih lanjut pengetahuan tentang penularan dan sikapnya apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak. Penduduk dianggap memiliki pengetahuan tentang penularan flu burung yang benar apabila menjawab cara penularan melalui kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang. Penduduk dianggap bersikap benar bila menjawab salah satu : melaporkan kepada aparat terkait, atau membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas sakit, apabila ada unggas yang sakit dan mati mendadak.

194

Tabel 3.131 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Pernah mendengar
61,7 74,6 67,3 74,1 67,8 55,8 66,8 70,2 73,1 81,4 80,9 71,6 68,2 74,7 63,7 63,2 70,8 52,2 35,9 57,8 61,4 69,3 74,6 71,1 66,7 63,1 55,8 51,9 56,9 54,7 41,9 52,1 44,4

Berpengetahuan benar*
81,3 84,8 73,7 77,2 81,7 87,7 80,7 86,2 75,2 81,0 83,6 77,6 79,9 74,6 75,9 83,3 85,7 79,6 69,8 81,3 82,2 71,1 86,7 80,7 70,0 70,6 74,9 79,9 66,2 76,2 63,7 69,0 74,8

Bersikap benar**
88,7 94,2 81,3 87,6 87,6 85,1 87,2 92,2 92,1 91,9 91,4 84,9 86,9 93,6 89,4 87,3 96,1 91,0 85,9 88,6 82,4 74,6 92,5 92,7 83,9 85,8 83,2 85,2 84,5 84,1 82,2 84,2 86,8

Indonesia

64,7

78,7

87,7

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.131 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan provinsi. Secara nasional, 64,7% penduduk pernah mendengar tentang flu burung. Di antara mereka, 78,7% memiliki pengetahuan yang benar dan 87,7% memiliki sikap yang benar. Tiga provinsi yang penduduknya kurang mendengar tentang flu burung adalah Nusa Tenggara Timur (35,9%), Maluku Utara (41,9%) dan Papua (44,4%). Provinsi yang penduduknya mempunyai pengetahuan yang

195

baik tentang flu burung tertinggi di Lampung (86,2%) dan yang sikapnya terbaik Provinsi Bali (96,1%).

Tabel 3.132 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik responden Pernah mendengar Berpengetahuan benar*
73,0 83,1 81,6 79,2 75,6 71,4 64,8 59,2 80,6 76,7 60,9 66,7 74,1 82,2 86,4 90,3 77,1 79,4 75,8 88,7 81,9 73,9 80,4 82,7 75,2 75,5 76,3 77,7 79,4 82,6

Bersikap benar**
82,2 89,7 89,3 88,5 86,9 85,6 82,3 79,1 88,8 86,6 77,7 78,8 84,3 90,2 93,4 95,7 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4 84,4 89,2 91,0 84,9 86,3 86,9 86,5 95,1 90,4

Umur 10-14 tahun 52,4 15-24 tahun 79,0 25-34 tahun 75,3 35-44 tahun 70,0 45-54 tahun 60,8 55-64 tahun 47,6 65-74 tahun 33,5 75+ tahun 19,7 Jenis kelamin Laki-laki 68,2 Perempuan 61,5 Pendidikan Tidak sekolah 26,3 Tidak tamat SD 44,5 Tamat SD 61,0 Tamat SMP 79,1 Tamat SMA 89,0 Tamat PT 93,7 Pekerjaan Tidak kerja 53,9 Sekolah 65,3 Ibu RT 65,1 PNS/Polri/TNI/BUMN 91,3 Wiraswasta 78,2 Petani/nelayan/buruh 54,6 Lainnya 73,4 Tipe daerah Perkotaan 78,8 Perdesaan 56,1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 56,0 Kuintil 2 60,5 Kuintil 3 64,0 Kuintil 4 67,7 Kuintil 5 74,5

*) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait, membersihkan kandang unggas, atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.

Tabel 3.132 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan karakteristik responden. Kelompok umur 15-24 tahun

196

merupakan kelompok tertinggi untuk kategori pernah mendengar, berpengetahuan benar dan bersikap benar. Persentase laki-laki yang pernah mendengar tentang flu burung lebih tinggi dari perempuan (68,2% dibanding 61,5%), demikian juga lebih banyak laki-laki memiliki pengetahuan dan sikap benar. Menurut tipe daerah, penduduk di perkotaan lebih banyak yang telah mendengar tentang flu burung, dan lebih banyak yang memiliki pengetahuan dan sikap yang benar terhadap flu burung dibanding perdesaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi presentase penduduk yang telah pernah mendengar tentang flu burung, dan yang mempunyai pengetahuan serta sikap yang benar tentangnya.

b. HIV/IADS
Berkaitan dengan HIV/AIDS, penduduk ditanyakan apakah pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Selanjutnya penduduk yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang penularan virus HIV ke manusia (tujuh pertanyaan), pencegahan HIV/AIDS (enam pertanyaan), dan sikap apabila ada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS (lima pertanyaan). Penduduk dianggap berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS apabila menjawab benar masing-masing 60%. Untuk sikap ditanyakan: bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS apakah responden merahasiakan, membicarakan dengan ART lain, mengikuti konseling dan pengobatan, mencari pengobatan alternatif ataukah mengucilkan penderita. Tabel 3.133 menggambarkan persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan provinsi. Secara nasional, 44,4% penduduk sudah pernah mendengar tentang HIV/AIDS; 13,9% di antaranya berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS dan 49,3% berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS. Tiga provinsi yang penduduknya paling sedikit mendengar tentang HIV/AIDS adalah Maluku Utara (28,4%), Sulawesi Barat (29,3%) dan Nusa Tenggara Timur (30,2%). Dari yang pernah mendengar, yang berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS terendah adalah di Jawa Barat (6,2%), disusul Jawa Timur (6,6%) dan Banten (6,9%), sedangkan yang berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS terendah adalah Sulawesi Barat (29,0%), disusul Lampung (37,8%) dan Sulawesi Selatan (38,9%). Tabel 3.134 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan karakteristik responden. Pada umumnya, penduduk usia produktif (15-45 tahun) paling banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Menurut jenis kelamin, laki-laki umumnya lebih banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibandingkan perempuan. Secara umum, tampak adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS seiring dengan peningkatan umur. Dari segi pekerjaan, penduduk yang berpenghasilan tetap lebih banyak yang berpengetahuan benar tentang HIV/AIDS. Sedangkan dari segi tipe daerah, penduduk perkotaan lebih banyak yang sudah mendengar tentang HIV/AIDS dan berpengetahuan benar tentang pencegahan. Selanjutnya semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin baik pengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS.

197

Tabel 3.133 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi, Riskesdas 2007
Provinsi Pernah mendengar
44,3 55,2 42,0 55,3 46,0 34,5 49,2 43,2 52,9 71,1 67,8 45,1 42,5 57,4 40,5 41,7 52,1 33,9 30,2 46,6 40,5 44,3 59,2 58,6 38,5 35,3 35,6 33,7 29,3 45,7 28,4 56,4 51,3

Berpengetahuan benar tentang penularan*
17,9 17,1 16,5 14,3 19,5 21,8 10,6 7,2 8,7 17,4 9,2 6,2 12,2 9,4 6,6 6,9 12,8 21,4 29,2 17,7 10,9 7,8 13,3 12,5 7,1 13,7 14,8 14,1 16,1 26,6 15,9 37,1 45,0

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
41,0 40,6 46,6 45,1 40,3 40,4 39,8 37,8 44,5 53,9 61,8 61,2 60,0 64,9 53,6 49,3 61,8 52,7 50,6 46,7 46,1 46,3 47,8 51,9 44,2 38,9 41,0 40,5 29,0 54,9 46,8 53,4 59,9

NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Indonesia

44,4

13,9

49,3

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

198

Tabel 3.134 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Karakteristik Pernah mendengar Berpengetahuan benar tentang penularan*
11,3 14,2 14,0 14,2 14,4 12,9 11,6 12,0 14,0 13,8 14,4 10,1 9,5 11,8 15,6 26,3 13,2 14,3 11,9 20,9 12,5 11,0 14,2 13,5 14,3 11,0 11,5 12,6 13,7 17,6

Berpengetahuan benar tentang pencegahan**
34,9 50,5 51,4 51,1 48,9 47,4 42,8 34,7 50,1 48,5 32,9 33,4 38,2 47,0 57,4 68,8 48,2 46,9 46,9 64,2 51,9 39,1 53,9 56,6 40,9 43,1 45,3 47,6 50,3 55,2

Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5

21,8 63,2 58,8 49,7 37,3 25,4 14,7 7,1 48,0 40,9 8,7 17,1 33,4 61,2 80,1 89,7 37,2 40,7 44,2 84,6 60,7 30,3 57,1 62,5 33,2 33,0 38,0 42,9 47,9 58,2

* ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan

199

3 5.4 6.3 62.3 Konseling dan pengobatan 84.7 58.6 6.8 5.2% dan 6.1 5. Sulawesi Selatan (17.3 40.5 51.2 75.1 60.2 63.3 5.0 5.7 76.7 8.7 23.0 51. penduduk yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan apabila ada ART yang menderita HIV/AIDS sebesar 34.6 58.1 90.9 Cari pengobatan alternatif 60.8 30.0 87.9 93.2 66.2 87.6 9.5%) dan Sulawesi Tengah (18.2 5.7 90.1 38.0 24.3 5.2 6.5% (masing-masing 28.1 43.6 63.7 23.5 28.8 26.4 82.5 48.5 88.8 23.1 2.1 5.7 88.2 87.3 15.0 83.3 64.5 3.1 55.4 3.8 19.5 24.8 8.9 85.4 54.6 6.1 4.4 58.5 75.7 93.5 6.8 60.0 58.1 71.2 73.8 59.7 70.0 76.3 26.2 86.4 7.1 59.2 5.3 91.3 29.8 50.9 34.5 48.0 5.2 78.4 Mengucilkan Indonesia 28. Provinsi-provinsi yang penduduknya bersikap baik (sedikit yang merahasiakan dan mengucilkan) adalah Sulawesi Barat (12%).1 93.9 5.7 89.0%.3 57.3 30.4 79.4 85.2 5.2 62.0 51.7 57.6 6.7 21.2 62.9 8.9 55.9 44.9 64. Sedangkan melakukan konseling dan pengobatan merupakan persentase tertinggi.3 89.4 28.4 85.4 67.7 24.8 64.7 5.7 87.3 67.7 95.9 13. 200 .7 76.3 70. Secara nasional.4%).6 52.4 65.8 60.7 68.135 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi.5 92.4 56.3 65.9 59.135 di atas memperlihatkan persentase penduduk di atas 10 tahun menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan provinsi.8 61.9 43.2 85.3 7.7 60.3 57.1 19.2 67.6 90.9 29.3%).9 89.0 62.3 35.0 83.3 64.6 34.2 64.9 76.8 5.9 10.8 27.0 76.3 72.Tabel 3.3 50.7 85.5 57.2 69.8 67. sebesar 89.8 20.8 34. Riskesdas 2007 BicaraProvinsi Merahasia-kan kan dgn ART lain NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 33.5 6.3 Tabel 3.7 10.1 61.0 88.3 12.9 92.1 89.1 74.8 87.7 62.0 8.8 67.7 63.7 68.7 37.1 5.

0 Tamat PT 26.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 29.3 90.2 5.5 Kuintil-2 28.6 50.6 6.7 6.7 81.1 76.5 88.2 66.8 7.7 69.6 67.4 15-24 30.6 69.1 Petani/Nelayan/Buruh 27.8 58.1 60.7 57.0 70.9 6.2 94.7 60.4 45-54 27.8 78.3 56.4 69.3 Tamat SMA 28.3 56.Sedangkan provinsi yang penduduknya bersikap baik dalam hal akan melakukan konseling dan pengobatan adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah (masing-masing 93.5 Pendidikan Tidak sekolah 30.136 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.1 Cari pengobatan alternatif 49.8 Ibu RT 28.8 90.9 58.4 6.2 Kuintil-4 28.9 71.6 6.5 6.3 6.0 85.9 6.0 78.5 6.9 85.1 92.6 89.7 5.7 57.4 89.6 89.6 70.0 Tamat SD 28.1 90.0 52.7 55.6 91.5 Tipe Daerah Perkotaan 28.1 66.8 58.4 60.8 5.7 89.9 7.5 59.0 6.7 86.0 68.7 5.5 86.6 71.2 59.4 60.3 52.0 Konseling dan pengobatan 79.3 6.7 69.2 6.1 69.0 70. Tabel 3.5 61.6 56.1 74.8 65-74 25.2 69.9 62.8 59.3 Sekolah 29.2 77.3 5.5 90.7 64.0 60.9 93.1 35-44 26.3 6.4 6.4 25-34 28.9 63. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Merahasiakan Bicarakan dengan ART lain 58.7 59.3 89.1 Tamat SMP 29.3 56.6 6.5 91.8 6.7 85.8 68.3 88.7 Kuintil-3 28.6 64.9 Perdesaan 27.9 6.2 59.9 87.4 72.7 58.9 58.3 Kuintil-5 27.7%) dan Bangka Belitung (93.3 6.1 Tidak tamat SD 28.4 5.3 87.6 6.6 55.7 72.0 Jenis Kelamin Laki-laki 28.6 59.4 71.9 86.6 53.5 58.4%).0 201 .5 Lainnya 26.0 55-64 25.5 Mengucilkan Kelompok umur (tahun) 10-14 29.5 6.9 57.9 87.8 75+ 24.7 Pekerjaan Tidak bekerja 29.1 6.7 Wiraswasta 28.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 27.6 6.8 74.8 88.0 Perempuan 28.

2%) dan Sumatera Barat (59.1% berperilaku benar dalam hal BAB.6%).1% dan 18. DKI Jakarta menduduki tempat tertinggi untuk perilaku baik dalam hal BAB dan cuci tangan. Menurut tingkat pengeluaran. namun hanya 23. dan 27. Penduduk perkotaan berperilaku baik lebih tinggi dari perdesaan.136 menggambarkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan karakteristik responden. perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan semakin tinggi.138 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut karakteristik. Sumatera Utara (14. demikian pula dengan penduduk perkotaan. Persentase perempuan yang berperilaku benar dalam BAB dan cuci tangan lebih tinggi dari laki-laki (berturut-turut 71.8%). Tabel 3. Perilaku BAB yang dianggap benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban. Gorontalo (59.4%). 202 . sebesar 71. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sikap merahasiakan dan mengucilkan.2% yang berperilaku cuci tangan benar.4%).3%) adalah provinsi-provinsi yang perilaku BAB benarnya rendah.7. Menurut kelompok umur.6 Perilaku Higienis Perilaku higienis yang dikumpulkan meliputi kebiasaan/perilaku buang air besar (BAB) dan perilaku mencuci tangan. Dari segi pekerjaan. dan setelah memegang unggas/binatang. Menurut pendidikan. petani/buruh/ nelayan memiliki persentase perilaku baik BAB dan cuci tangan terendah (56.6%) adalah provinsiprovinsi yang perilaku cuci tangan benarnya rendah. semakin tinggi semakin kecil sikap merahasiakan dan mengucilkan ini. setelah buang air besar. yang tidak memiliki pekerjaan relatif lebih banyak yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan anggota keluarganya yang menderita HIV/AIDS. Tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan.9%.5%) dan Riau (14. Sedangkan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi persentase perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan. tetapi tampak menurun lagi pada umur 55 tahun ke atas.Tabel 3. Dari aspek pekerjaan.8% dibanding 18. Mencuci tangan yang benar adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat (8. setelah menceboki bayi/anak. Semakin tinggi pendidikan. 3. Tabel 3.2% dibanding 70.137 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut provinsi. Semakin tinggi usia semakin berperilaku benar dalam BAB dan cuci. Secara nasional. semakin muda umur penduduk semakin tinggi persentase sikap merahasiakan dan mengucilkan. sebelum menyiapkan makanan. Provinsi Sulawesi Barat (57.

6 60.9 83.0 65.9 22.3 84.0 98. dan setelah menceboki bayi/anak.9 17.3 68.7 59.7 27.6 14.3 25.1 23. setelah buang air besar.2 59.6 79.2 59.7 71.2 20.Tabel 3.9 29.5 8.8 72.9 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 16.5 19.9 18.7 67.0 36.2 72.1 32. Riskesdas 2007 Provinsi Berperilaku benar dalam hal BAB* 61.3 59.6 29.8 26.0 81.4 14.2 89.2 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.4 43.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 71.0 14.2 25.9 73.137 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.0 23.5 35.2 57.5 30.1 59.1 72.4 20.3 68.1 69.9 68.9 20.0 68.4 82.0 30.4 63.3 80. 203 .2 86.4 15.3 24.5 73.3 44.1 32.6 76.8 38.8 24.9 15.7 60.6 18. sebelum menyiapkan makanan. dan setelah memegang unggas/binatang.

1 71. dan setelah menceboki bayi/anak.9 24.1 18.2 23.0 70.8 72. setelah buang air besar.4 22.8 24.138 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.9 30.7 31.7 69.1 18.6 26.1 25.6 68.5 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 17.7 56.8 29.4 59.5 22.8 24.8 19. sebelum menyiapkan makanan.9 94.8 17.4 27.1 77.7 19.7 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.4 24. Riskesdas 2007 Berperilaku Karakteristik responden benar dalam hal BAB* Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 68.0 36.5 68.7 58.8 89. 204 .3 83.Tabel 3.6 73.6 21.8 76.3 70.7 28.2 59.8 18.0 21.6 23.0 64.4 71.7 88.9 71.2 72.8 84. dan setelah memegang unggas/binatang.1 18.1 65.4 27.2 52.9 73.1 14.6 69.7 93.6 19.6 75.9 20.

5 2.7 3.6 2.3 83.9 27.6 86.9 38.1 25. makanan asin.8 1.5 44.3 15.0 4.4 2.7 15.8 39. makanan dibakar/panggang.5 25.9 79.2 8.139 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Provinsi.0 4.9 13.2 7.0 2.1 3.4 16.8 205 .1 13.2 11.4 60.1 59.9 Berka fein 45.1 55.8 14.1 4.7 Dipang gang 5.9 69.7 2.7 17.2 3.6 13.0 68.5 45.9 30.8 Indonesia 65.7 47.2 4.1 0.9 69.4 4.4 83.3 21.4 8.6 4.2 9.0 6.6 2.3 76.7 18.5 89.3 3.9 4.4 3.1 21.9 7.6 6.2 15.5 6.6 43.7 8.1 22.4 23.6 1.3 15.6 24.8 73.0 75.2 87.8 19.4 14.2 1.3 87.3 71.9 5.2 78.9 6.2 10.0 5.7 4.9 7.3 29.6 61.4 8.3 41.8 2.8 27.3 5.7 52.1 72.2 81.5 85.6 2.5 79.7 14. makanan minuman makanan penduduk Tabel 3.8 63.3 72.6 6.3 16.4 86. berlemak.8 4.8 23.2 62.2 30.8 18.0 4.2 68.6 47.8 71.6 70.4 7.8 Berle mak 15.6 1.0 3.3 85.2 5.3 58.6 74.6 77.6 24.3 11.3 5.1 74.2 34.8 3.6 5.5 89.0 79.2 1.7 1.1 4.2 24.8 11.1 64.7 40.1 4.6 55.8 17.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko Penduduk yang “sering” makan makanan/minuman manis.5 77.9 83.8 7.8 52.7 3.7 7.8 19.2 50.5 1.0 29.8 4.0 76.4 1.2 9.8 5.6 45.7 90.8 34.0 0.4 3.2 5.0 3.9 1.6 24.5 4.6 4.4 2.6 67.5 5.1 1.5 12.0 2.2 59.0 8.4 44.7 47.8 2.2 11.0 1.7 31.1 90.2 27.4 7.0 Penyedap 33.6 7.0 39.2 43.3 19.9 2.0 46.5 28. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari.2 Jeroan 3. dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi berisiko.1 9.3 84.6 23.7 28.9 29.4 1.3 36.8 54.2 3.4 2.2 Asin 22.0 18.5 92.2 19.7.9 8.6 2.5 58.2 86.7 1.0 8.1 9.5 2.4 5.3 2.4 84.3.5 4.3 57.1 71.5 19.9 1.1 56.5 8.6 84.6 68.6 38.5 19. berkafein.5 5.0 Diawet kan 6.2 80.4 8.1 10.4 35. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Manis 69.3 9.4 35.4 21.6 10.7 4.0 79.6 9.2 10.7 85.1 6.1 1.2 1.6 2.6 30. makanan yang diawetkan.3 1.1 9.4 2.9 60.9 59.6 23.5 82.8 12.3 21.8 89.7 5.1 20.3 7.0 31.7 24.3 10.2 11. jeroan.9 65.2 2.

6 31.8 5.0 Tamat SMP 66.3 28. Riskesdas 2007 Karakteristik Manis Asin Berle mak 13.8 1.6 4.6 14.9 76. tertinggi di Provinsi Gorontalo (25.9 78.0 2.5%.139 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut provinsi.0 4.4 Kuintil-2 63.0 4.3 6.2 79.7 32.3 12.5 25.4 43.8 Tamat PT 71.4 63.7 72.0 1.3 75.9 42.5 76.5 11.6%).0 4.1 36.6 13.8%).9 55-64 63.5 Perempuan 63.5 Tidak Tamat SD 62.4 2.7 77.5 21.3 37.8 65.7 78.4 25-34 66.Tabel 3.6%) dan terendah di Provinsi NAD (33.5 206 .1 68.4 Pendidikan Tidak Sekolah 57. Penyedap sering dikonsumsi oleh 77.1 7.6 5.5 3.3 24.2 2.5% penduduk secara nasional.9 2.9 74.5 6.2 78.2 77.7 36.0 71.8 3.5 25.3 6.7 4.1 45.5 13.5%) dan terendah Provinsi Bali (44.6 7.8 24.0 4.8 11.4 15-24 65.3 6.2%).9 45-54 66.7 62.2 12.2 24.5 77.2%).4 24.9 11. Sedangkan prevalensi sering mengonsumsi makanan asin secara nasional ditemukan 24.8% penduduk secara keseluruhan.2 4.2% penduduk Indonesia yang berusia ≥10 tahun.0 36.7 35-44 66.7 42.9 1.1 13.0 Tipe daerah Perkotaan 69.1 2. Tabel 3. tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (83.8 11.0 10. Sedangkan kafein sering dikonsumsi oleh 36.7 46. tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (92.1 Kuintil-4 66.3 78.3 3.0 75+ 60.9 1.1 2.0 37.1 39.7 78.6 26.1 2.2 6.9 24.4 35.3 35.9 12.8% penduduk Indonesia sering mengonsumsi makanan berlemak.4 Kuintil-5 68.7 4.8 1.1 24.5 46.4 Tamat SD 64.0 Perdesaan 62.1 38.1 5.3 1.4 13.7 77.1 78.1 24.9 1.4 66.8 63.5 2.8%) dan terendah di Provinsi Bangka Belitung (5.7 2.1 66.6 39.1 Penyedap Kelompok umur 10-14 63.0 5.2 78.8 24.8 77.1 5.5 3.2 65-74 61. tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan (41.9 Jenis kelamin Laki-Laki 67.2 5.8 4.6%) dan terendah di Provinsi Sulawesi Tengah (5.5 21.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 62.4 5.8 37.6 4. Sering mengonsumsi makanan manis dilakukan oleh 65.1 65.1 Tamat SMA 69.1 35.7 2.7 23.7 6.9 6.6 6.7 5.7 6.3 6.8 1.8 1. 12.9 21.4 4.7 14.8 4.6 23.5 4.5 4. tertinggi di Provinsi Bali (62.8 1.5 24.5 79.8 12.1 1.0 2.1 Jeroan Dipang gang 5. Secara nasional.8 Kuintil-3 65.4 62.0 5.8 6.140 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.0%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (11.2 25.7 5.4 12.4 5.3 Diawet kan 8.5 79.7%).6 6.5 78.6 26.1 12.4 68.4 6.7 1.5 Berka fein 16.3 76.

Sedangkan perilaku sering minum minuman berkafein nampak meningkat sesuai peningkatan usia. sehingga nilai tertinggi adalah 10. bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. untuk meningkatkan pengetahuan. sehingga nilai tertinggi delapan (8). Indikator Rumah Tangga meliputi rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih. dan penyedap makanan nampak berbanding terbalik dengan peningkatan kuintil. dengan membuka jalur komunikasi. Menurut jenis kelamin. makanan asin. makanan dipanggang dan diawetkan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. yaitu rumah tangga dengan balita dan rumah tangga tanpa balita. Pola yang sama ditemukan untuk konsumsi penyedap makanan menurut umur. Secara nasional.141 memperlihatkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS baik menurut provinsi. akses jamban sehat. PHBS diklasifikasikan “kurang” apabila mendapatkan nilai kurang dari enam (6) untuk rumah tangga mempunyai balita dan nilai kurang dari lima (5) untuk rumah tangga tanpa balita. kelompok dan masyarakat. Sementara pola prevalensi jenis konsumsi lainnya nampak tidak berbeda menurut tempat tinggal. Sedangkan untuk makanan yang dipanggang. minum minuman berkafein dan makanan dipanggang cenderung lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. Dalam penilaian PHBS ada dua macam rumah tangga. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (≥8m2/ orang). penduduk tidak merokok.Tabel 3. Untuk rumah tangga dengan balita digunakan 10 indikator. berlemak. Sementara pola prevalensi sering minum minuman berkafein. makanan berlemak. kepemilikan/ketersediaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. keluarga. Indikator individu meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. jeroan. bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif.7%. Menurut tipe daerah. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. dan penduduk cukup mengonsumsi sayur dan buah. namun setelah usia 55 tahun prevalensi cenderung menurun. 207 . penduduk cukup beraktifitas fisik. Sementara untuk makanan asin dan minum minuman berkafein pola prevalensi berbanding terbalik dengan meningkatnya pendidikan. Sedangkan untuk konsumsi jenis makanan berisiko lainnya pola prevalensi antara laki-laki dan perempuan hampir sama. makanan berlemak. jeroan dan makanan yang dipanggang cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi.7. penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38. sedangkan untuk rumah tangga tanpa balita terdiri dari 8 indikator.8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Riskesdas 2007 mengumpulkan 10 indikator tunggal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)3 yang terdiri dari enam indikator individu dan empat indikator rumah tangga. dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan. perilaku sering mengonsumsi makanan manis cenderung menurun setelah usia 45 tahun. demikian halnya perilaku sering mengonsumsi makanan asin. Menurut umur. Tabel 3. yaitu 3 Program PHBS adalah upaya untuk memberi pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan. ekonomi. melalui pendekatan pimpinan. dan makanan yang diawetkan ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. Menurut tingkat pendidikan. laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan minum minuman berkafein dibandingkan perempuan.140 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut karakteristik responden. memberikan informasi dan melakukan edukasi. Terdapat lima provinsi dengan pencapaian di atas angka nasional. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat. makanan berlemak. diawetkan dan penyedap makanan pola prevalensi menurut tingkat pendidikan nampak tidak beraturan. Sedangkan pola prevalensi sering mengonsumsi makanan asin. 3. dan rumah tangga dengan lantai rumah bukan tanah.

3 33.DI Yogyakarta (58.8%). Kalimantan Timur (49. Jawa Tengah (47%).7 34.8%).7 41.3 28. Gorontalo (27.4 37.2 45. Tabel 3.0 40.1%) dan Sumatera Barat (28.9 34.0 33.4 38.0 24.8 30.9 44.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi. Riau (28.3 27.2%).8 33.1 26.4 42.2% ).9% ).1 33.2 28.7 47.8 28.7 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 208 .2 35.7% ).8%).0 58. Bali (51.8 29. Nusa Tenggara Timur (26.8 32.8 51.8 46.4%).9 33. Sedangkan provinsi dengan pencapaian PHBS rendah berturut-turut adalah Papua (24.8 37. dan Sulawesi Utara (46.6 47.6 49.4 35.9 32. Riskesdas 2007 RT dengan PHBS Baik 34.

5 96. Kurang Aktifitas Fisik.7 24.9 91.7 96.3 25.7 96.2 39.3 46.8 27.1 20.6 20.1 25.7 91.7 Kurang aktifitas fisik** 53.4 49.8 48.8 20.8 24.1 19.5 28. Riskesdas 2007 Kurang Provinsi konsumsi sayur buah* NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 95.142 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.0 86.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari 209 .7 52.8 97.1 90.4 29.4 24.0 44.4 43.2 57.1 54.1 54. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.2 50.6 48.5 95.9 92.5 96.3 42.9 93.6 96.4 44.7 23.Tabel 3.2 94.2 22.9 19.5 93.5 22.2 91.2 92.3 52.9 19.1 40.0 23.3 23.1 45.6 24.0 Merokok*** Indonesia 93.4 20.4 53.4 61.8 27.9 83.1 47.3 46.7 49.7 47.5 96.6 96.6 48.8 26.2 48.3 89.5 25.6 22.7 55.4 96.2 45.6 47.1 91.2 21.8 60.0 23.4 92.2 23.8 91.9 43.4 97.7 92.9 94.2 23.6 94.4 24.6 24.4 96.8 49.8 24.3 44.1 21.3 25.4 94.1 87.1 20.

4 28.9 47. kanker.142 tabel 3.5 65-74 94.3 Tamat SD 94.3 27.5 Kuintil-5 92.3 48.143 di atas merupakan gabungan dari beberapa perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular.8 30.3 60.0 24.1 29.5 29.9 48. Riskesdas 2007 Kurang Karakteristik responden konsumsi sayur buah* Kurang aktifitas fisik** Merokok*** Kelompok umur (tahun) 10-14 93.0 45-54 93. 210 .7 54.7 58.4 42.6 Perdesaan 94.4 30.0 Tipe daerah Perkotaan 93.4 38.8 52.143 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.7 Perempuan 93.1 29.4 53.0 Tamat PT 90.8 29.9 28.9 36.6 34.8 52.1 43.5 34.9 Tidak Tamat SD 94. stroke.Tabel 3.7 75+ 95.6 47.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari Tabel 3.3 76.6 26.0 35-44 93.6 44.4 37.3 Tamat SMP 93.1 Jenis Kelamin Laki-Laki 93.0 15-24 93.6 66.5 Kuintil-4 93.0 42. penyakit paru obstruktif kronik).5 4.0 55-64 93.2 45.9 2.1 25. diabetes mellitus.5 41.9 35.4 30.6 25-34 93. kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu) dan merokok setiap hari.0 33.3 49.0 57.0 Kuintil-2 94. yaitu perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari).4 Pendidikan Tidak Sekolah 94.7 44.6 Tamat SMA 92.5 38.3 38.6 Kuintil-3 93. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 94.4 55.

7%). serta status sosial-ekonomi dan budaya.2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23. dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan. 211 .145 menyajikan informasi tentang jarak dan waktu tempuh rumahtangga terhadap sarana pelayanan kesehatan menurut karakteristik rumah tangga.144 menunjukkan bahwa sebanyak 94. Sulawesi Barat (17. Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3.8%).1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor penentu. termasuk alasan apabila responden tidak memanfaatkan UKBM dimaksud. Sulawesi Barat (14. Kalimantan Barat (19. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak. warung obat desa. Nusa Tenggara Timur (14. Tabel 3. posyandu.4%) dan Maluku (10.4%).2%).9%) Tabel 3. Sarana pelayanan kesehatan rumah sakit.8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan 3. proporsi rumahtangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer. masih ada sekitar 9. puskesmas. Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yaitu pelayanan poskesdes. Nanggroe Aceh Darussalam (10. Berdasarkan tipe daerah. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.0%). Dengan demikian secara nasional.8%).8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4. antara lain jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan.2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan. Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi. Papua (12.3%). yaitu: 1. DI Yogyakarta (4.5%). Sulawesi Tenggara (10.4%).7%). Dalam analisis ini. pos obat desa. dan polindes/bidan di desa.3.6%).1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari sarana pelayanan kesehatan dan hanya 6.9%). Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. sarana pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi dua. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16.8.7%). Selanjutnya untuk UKBM dikaji tentang pemanfaatan dan jenis pelayanan yang diberikan/diterima oleh rumah tangga/RT (masyarakat). Sulawesi Tenggara (13.6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit. Daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30. Untuk masing-masing kelompok pelayanan kesehatan tersebut dikaji akses rumah tangga ke sarana pelayanan kesehatan tersebut. dokter praktek dan bidan praktek 2. DKI Jakarta (4. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Papua (30. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit. puskesmas pembantu.0% RT berada lebih dari 5 km.

4 8. Dokter 212 .6 18.8 10.5 3.9 31.4 27.0 20.7 22.7 0.7 46.2 29.0 1.6 26.7 1.0 72.7 4.6 64.2 50.4 52.1 72.3 24.0 3.0 22.6 1.6 >60' 3.8 36.1 16.5 10.1 51.6 50.1 6.8 30.0 27.7 40.4 17.8 7.0 2.0 65.2 5.2 69.9 4.4 47.0 48.5 52.1 66.9 35.9 24.5 20.7 7.9 48.3 66.4 1.6 24.5 79.4 6.Tabel 3.5 1.1 3.8 1.6 2.2 19.6 57.5 44.9 20.3 5.8 4.5 73.6 2.0 52.9 49.6 42.4 7.3 65.8 7.1 0.6 24.4 58.9 11.4 47.3 3.0 1.8 42.2 23.6 31.2 2.5 48.0 4.7 > 5 KM 10.1 6.4 69.7 47.6 6.2 10.5 43.5 57.6 4.3 7.5 23.9 3.8 4.2 2. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua JARAK KE YANKES < 1 KM 27.4 4.9 44.3 17.7 2.9 17.7 52.5 40.9 6.2 45.4 1.8 12.1 47.4 37.3 75.7 5.2 72.8 28.6 19.2 22.8 14.1 0.3 14.9 6.8 0.3 3.8 14.8 55.1 31'-60' 9.4 5.3 72.6 46.4 61.0 76.4 0.8 20.6 6.6 2.7 6.8 37.4 44.4 73.5 KM 61.7 44.2 75.0 48.6 3.6 4.9 58.4 1.9 50.5 35.0 51.0 57.6 55.6 27.6 12.0 67.6 1 .2 48.0 37.2 3.2 19.4 1.4 19.3 16'-30' 31.7 *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.2 64.5 2.1 60.5 50.9 10.6 47.7 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 55.8 37.4 21.8 6.6 3.5 45.6 41.0 76.2 3.0 69.5 70.5 3.2 5.8 36.2 16.3 41.6 74.6 5.9 6.0 Indonesia Catatan: 47.4 74.2 16.4 54.5 3.1 39.6 9.5 69.4 5.8 25.8 52.8 23.7 45.4 47.7 2.6 6.4 52.6 4.0 4.9 7.4 7.6 1.3 2.3 6.7 76.4 8.6 0.2 39.3 23.3 44. Puskesmas.5 58.5 3.0 54.3 7.144 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.7 36.7 67.6 40.0 27.3 3.7 7.6 6.2 46.1 5.4 50.3 4.7 38. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.0 54.4 7.

0 61.6 2.4 74.4 8.3 23.6 6. dan semakin singkat waktu tempuh ke UKBM.6 4.5 1.5 19.9 50. dan Polindes.147) 213 .145 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga.5% berjarak 1-5 km dari UKBM.6 Puskesmas Pembantu.8 26.1 60. tertinggi adalah Provinsi Papua (15.3 1. Berdasarkan tipe daerah. proporsi rumah tangga dengan jarak ke UKBM >5 kilometer.4 26.1 69. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 58.4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit.4 45.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat Pengeluaran rumahtangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Catatan: * Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.5 25. Praktek dan Bidan Praktek ) 43.8 40.5 48. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.8 52.5 2. Poskesdes. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan. nampak bahwa 78.7 8.5 6. meliputi Posyandu.0 67.6 39.1 2.5 4.1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit.6 9.146 menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM.3 18.3 3.1 0.8 48. disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11.3%). Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 3. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85.8 45.Tabel 3.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19. Sebanyak 11.6 5. Dari segi jarak.4 47. (Tabel 3.6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit.8 4.6%).5 7.4%).0 JARAK KE YANKES < 1 km 1 .1 5.8 22. dan 3.7 43. Dokter Tabel 3. Puskesmas.7 48.3%) dan Riau (5.2 7.9 78. Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM.4 6. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.0 46.4 64. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6.

7 88.7 1.2 74.7 2.5 9.2 1.5 0.1 68.1 75.7 3.1 84.4 1.2 0.0 88.0 5.1 9.6 8.7 89.3 2.9 5.5 0.1 3.2 13.4 2.9 86.1 0.6 6.4 2.0 11.6 0.8 0.7 1.3 80.5 74.6 72.7 83.9 29.5 23.3 78.3 7.7 90.4 0.1 9.0 14.8 2.3 2.0 62.7 20.2 0.4 92.1 1.5 76.2 93.6 1.9 15.1 1.8 0. Polindes 214 .7 31.5 0.4 1.4 1.5 9.5 85.0 86.4 18.8 2.3 2. Poskesdes.9 8.0 3.3 15.5 21.0 4.3 0.5 0.9 0.7 11.9 69.2 1.1 15.2 79.7 3.4 >60' 2.9 24.4 3.9 86.2 0.4 1.8 79.7 0.2 8.1 1.6 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 80.1 81.9 7.1 2.0 87.9 2.6 64.3 93.6 2.1 79.3 17.6 1.7 13.8 86.9 4.0 16.9 0.5 0.8 27.6 0.2 23.7 9.6 66.7 0.9 76.2 87.5 91.6 2.1 31'-60' 3.2 74.2 8.2 24.0 84.5 6.8 15.4 7.6 0.7 80.8 2.4 2. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia JARAK KE YANKES < 1 km 69.1 7.7 6.8 1.7 22.2 4.9 77.7 1.3 16.9 1 .2 1.1 3.3 13.1 0.3 73.7 81.4 0.5 90.4 21.5 1.3 21.6 82.0 7.5 > 5 km 3.3 1.3 88.9 11.2 7.6 83.6 19.146 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi.5 1.4 0.7 5.9 9.2 6.1 1.2 0.0 3.3 82.Tabel 3.3 22.0 2.5 1.3 13.4 0.2 66.9 4.5 25.6 0.3 91.1 0.5 2.7 1.3 2.1 1.2 83.5 3.4 1.3 24.6 70.9 83.2 *) UKBM meliputi Posyandu.4 16'-30' 14.3 6.6 93.0 9.8 12.4 1.8 22.5 km 27.5 14.4 12.6 3.0 16.2 16.9 92.7 75.4 2.6 0.1 18.9 11.6 68.5 1.6 74.1 0.4 87.7 88.3 78.0 0.2 27.8 90.9 1.3 8.3 1.3 88.5 1.4 0.8 29.0 81.1 84.1 91.3 0.6 0.9 89.9 28.4 8.3 20.7 85.9 1.8 67.

8 78.9 10.Tabel 3.0 1.148.5 km > 5 km <15' WAKTU TEMPUH KE UKBM 16'-30' 31'-60' >60' Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 76.0 85.1 3.147 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga. Sebanyak 62. Tabel 3. Poskesdes.9%).4 2.9 11.6 88.4 92.4 18.7 1.3 84.7 3. di Indonesia sebanyak 27.3 20.7 JARAK KE UKBM < 1 km 1 .8 0.5 0.7 13.1 1.9 79. Tampak bahwa persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan.4 2. memberikan gambaran persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu atau poskesdes di tiap provinsi selama tiga bulan terakhir. Sedangkan yang sebetulnya membutuhkan tetapi tidak memanfaatkan posyandu atau poskesdes adalah sebanyak 10.9 10. seperti tidak ada anggota rumah tangga (ART) yang sakit.1 6. Bila ditinjau dari tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 1.4 1. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 88. 215 .5 19.8%) dan Jawa Barat (5.1 82. sedangkan terendah di Provinsi Jawa Tengah (5.6 1.3% rumah tangga.8%).5% rumah tangga menyatakan tidak membutuhkan pelayanan di posyandu atau poskesdes karena berbagai alasan. Secara keseluruhan.4 24.9%) dan Nanggroe Aceh Darussalam (19.1 1.0 *) UKBM meliputi Posyandu.6 17.7 77.4 1.5 1.5 21.149 menggambarkan pemanfaatan posyandu/poskesdes berdasarkan karakteristik rumah tangga.2 73.4 0. tidak ada yang hamil atau tidak mempunyai bayi/balita. nampak ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin kurang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes. Provinsi dengan persentase rumah tangga memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (42.6 1. Polindes Tabel 3.9%) dan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (19.2 81. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/ poskesdes tertinggi adalah Provinsi Maluku (20.5 12.4 2.3% rumah tangga memanfaatkan pelayanan di posyandu atau poskesdes.7 86.8 1.1 11.1 2.8 2.8 81.7%).4 9.

7 27.7 65.8 33.4 25.3 25.2 13.5 10.4 10.9 5.8 31.4 61.1 62.9 33.9 7.7 67.7 64.4 8.6 67.7 23.2 26.1 28.4 70.2 64.1 7.5 13.0 55.8 5.9 6.3 62.4 68.8 30.0 26.9 9.Tabel 3.2 12.6 22.4 25.8 22. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 30.3 Alasan lain Indonesia 27.3 11.8 11.8 7.2 17.148 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.0 27.3 58.8 20.9 30.8 23.6 12.5 64.9 27.8 54.2 60.6 66.9 69.4 56.6 12.4 11.7 36.1 66.4 59.4 68.5 60.7 52.0 30.2 11.3 48.4 28.0 8.0 7.0 64.0 23.2 11.3 42.8 26.8 25.9 27.1 19.5 16.4 24.3 15.4 7.4 27.5 28.1 60.3 68.0 6.9 5.8 18.4 19.7 11.0 11.5 57.6 58.9 58.3 216 .5 22.5 61.4 51.6 50.6 20.2 31.3 42.

PMT.1% dan 24.3 23. Hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan posyandu/poskesdes untuk konsultasi risiko penyakit (13. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.9 18.4 31. imunisasi. Hampir separuh rumah tangga (49.3 29.5 54. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 24.6%) tidak memanfaatkan pelayanan di posyandu/poskesdes karena dianggap tidak lengkap.9 59. penyuluhan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.2 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Per Bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 35. yaitu masing-masing 26. Menurut tipe daerah.1 10.149 Persentase Rumah Tangga Menurut Pemanfaatan Posyandu/Poskesdes dan Karakteristik Rumah Tangga. Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi menjawab ’layanan tidak lengkap’ adalah DI Yogyakarta (88.Tabel 3.151 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.150 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir. untuk pelayanan penimbangan.7 8. semakin banyak yang menerima pelayanan tersebut.8 11. Tampak secara keseluruhan di Indonesia jenis pelayanan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga adalah penimbangan (85.1 66.6%) dan terendah adalah Papua Barat (17.1 10. Sedangkan yang menjawab letak jauh dan tidak ada posyandu persentasenya hampir sama. Sedangkan pelayanan KB dan pengobatan di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan. Tabel 3. dan suplemen gizi lebih banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga di perkotaan daripada di perdesaan. semakin sedikit yang menerima pelayanan penimbangan.3 Tabel 3. Tabel 3.3 10.1 10. imunisasi.4 66.1%).0%) dan imunisasi (55.0 27.152 menggambarkan alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir (di luar yang tidak membutuhkan). Untuk alasan ’letak posyandu/poskesdes jauh’ tertinggi di Provinsi Riau (52. PMT dan suplemen gizi.3%. Pada rumah tangga yang sebetulnya membutuhkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir tetapi tidak memanfaatkan diminta untuk menyebutkan alasannya.6%). Sebaliknya untuk pelayanan pengobatan dan konsultasi risiko penyakit semakin tinggi tingkat pengeluaran.4%) dan terendah di 217 .1 58.0 71.7%) dan pelayanan KB (28.8 62.8%).4 10.

8 59.3 51.5 56.5 49.1 30.6 12.0 44.Provinsi DI Yogyakarta (5.9 36.8 92.2 48.5 89.7 28.1 90.1 18.8 29.2%).2 8.7 32.3 23.4 49.1 52.1 46.3 25.1 36.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.2 46.1 89.9 68.1 40.2 35.9 54.3 69.7 31.1 58.7 42.9 34.2 50.3 36.1 50.3 94.9 94.0 24.2 48.6 68.3 28.5 70.5 81.5 25.1 43.9 52.2 84.0 22.5 14.3 50.3 61.2 36.9 28.0 10.5 40.2 24.6 38.2 23.3 85.2 54.1 52.2 11.8 64.5 85.8 46.2 32.1 18.0 40.8 41.6 77.7 79.6 28.9 38.1 48.7 39.2 26.7 14.7 39.2 25.0 78.8 9.2 95.2 54.8 52.0 24.2 20.0 24.6 80. di perkotaan alasan ’jenis layanan posyandu/poskesdes tidak lengkap’ lebih mendominasi.9 28.5 34.4 46.6 41.3 60.7 16.8 58.5 41.9 43.4 53.0 24.6 17.2 60.2 50.3 33.7 37.9 78.7 37.5 37.3 33.6 25.1 10.7 37.9 55.8 33.5 32.2 36.1 9.5 32.6 85.9 72.0 39.9 52.4 27.4 46.9 46.6 27.3 29.4 32.0 43.2 60.7 54. sedangkan untuk alasan ’tidak ada posyandu/poskesdes’ tertinggi di Papua Barat (71.7 20.6 24.2 22.2 33.4 51.6 62.0%) dan terendah DKI Jakarta 218 .6 31.7 28.1 55.2 80.8 55.2 17.9 32.0 34.5 33.3 46.9 24.3 45.0 11.2 32.1 62.0 36.6 35.1 54.8 96.4 42.0 14.4 14.9 60.3 28.3 49.9 34.3 37.3 29. Berdasarkan tipe daerah.7 37.9 35.7 49.1 83.6 25.8 51.7 37.5 51.2 10.8 38.2 60.0 30.2 80.0 40. Tabel 3.9 33.9 40.7 88.1 27.9 48.4 16.3 38.6 16.4 31.0 53.6 30.7 24.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (6.0 47.2 98.0 56.2 11.3 65.3 59.1 39.2 15.9 64.4 37.3 12.2 47.153 menggambarkan alasan utama (di luar tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan posyandu/poskesdes menurut karakteristik rumah tangga.2 27.2 9.7 76.2%).5 42.9 25.8 56.5 46.0 82.9 15.2 42.8 30. sedangkan di perdesaan alasan yang banyak dipakai adalah ’letak jauh’.3 40.8 74.5 30.7 39.2 20.7 Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa adalah Provinsi Sumatera Barat (34.7 24.0 23.6 42.3 40.5 28. Ketidakberadaan posyandu / poskesdes disebut sebagai alasan untuk tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes oleh rumah tangga dengan persentase yang tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan.7 30.2 34.5 46.7 28. Riskesdas 2007 Penimbangan Penyuluhan Imunisasi Pengobatan Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit Provinsi KIA KB PMT NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92.4 26.3 27.5 91.7 92.2 27.4 37.4 88.5 13.3 56.5 31.0 20.9 58.1 34.4 53.9 45.4 55.7 47.7 25.7 13.4 59.3 10.5 27.6 30.5 16.1 93.9 48.8 55.9 22.6 55.9 35.6 12.7 22.4 67.5 71.6 50.0 25.4 47.7 56.7 33.5 17.0 64.7 46. Tabel 3.1 46.0 51.8 37.2 22.9 19.9 46.6 59.0 34.4 33.2 55.2 35.5 78.9 61.4 35.9 30.2 46.8 34.5 12.1 27.4 50.5 47.6 62.5 67.9 56.1 88.6 27.0 32.3 25.1 67.6 42.7 9.9 58.0 62.8 28.

Sedangkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa di perdesaan (25.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (15.4 13.4 43. Tabel 3.5 45. baik yang tinggal di daerah perdesaan maupun perkotaan. sedangkan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (13.6 42.7 52. Riskesdas 2007 Tipe Daerah Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit 13.6 Kuintil 4 83.4%).6 29.2 49.7 35.9 15.2 51.7 43.1 53.151 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.0 28.1 46.6 30.8 42.3 35.7 13.9 40.6 30.7 Tipe Daerah Perkotaan 89.5 48.3 30.2 58.9 36.2 30.7 Kuintil 5 81.5 Kuintil 3 84.(6.6 47.1 28.2 29.7%).4 44.6 Kuintil 2 85.0 47.2 35.3 219 .9 39.5 40.8 46.7 37.6 25.0 37.7 30. sedangkan terendah adalah Provinsi Papua (30.2 56. Secara keseluruhan lebih dari separuh rumah tangga.2%).5 39.2 36. Untuk alasan tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.3 13.7 26.6%).0 45.4%).7 43.155 menggambarkan pemanfaatan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.7 12.1 54.8 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Kuintil 1 87.5 14. Tabel 3.8 33.0%) dan Papua Barat (54.3%).6 55.8 30.6 27.4 Perdesaan 82.2 39.1 44. Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang tidak memanfaatkan dengan alasan lain (diluar tidak membutuhkan) adalah Provinsi Papua (55. Provinsi Gorontalo menempati persentase tertinggi (76.8 30. tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.

4 36.7 50.4 11.0 10.0 17.7 32.4 8.2 24.4 35.9 44.2 66.5 13.1 22.7 54.4 70.6 55.9 16.5 47.7 71.8 9.3 10.6 19.8 17.152 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.8 51.8 29.7 18.1 44.2 46.9 27.4 23.9 61.8 58.7 26.0 20.9 38.1 25.6 38.5 25.8 5.5 30.2 88.3 43.1 24.0 6. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Provinsi posyandu/poskesdes Tdk ada Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 16.0 17.9 14.2 22.2 52.2 29.1 39.2 20.5 49.6 32.0 34.5 22.1 23.3 Layanan tdk lengkap 63.1 posyandu 20.6 60.3 37.5 50.1 51.8 25.1 56.4 6.8 27.9 38.4 26.6 30.4 38.6 220 .5 60.6 16.3 8.Tabel 3.9 19.3 10.3 20.7 26.1 17.1 24.6 33.7 37.5 21.1 42.7 62.2 8.3 12.2 19.6 39.0 52.0 37.9 39.7 69.4 43.0 50.4 16.6 12.8 67.2 41.6 31.6 18.6 50.

3 22. pemeriksaan bayi/balita terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (69. Pelayanan KIA meliputi pemeriksaan kehamilan.5%).3 24.156 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan provinsi.8 22.1%) dan terendah di DKI Jakarta (56. persalinan.1%) dan terendah di Riau (4.7 25. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Letak jauh Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15.Tabel 3.7%). Jenis pelayanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pengobatan (82.0 29. pemeriksaan ibu nifas. Tabel 3. Untuk pelayanan KIA.2%).8 41.1%) dan terendah Bengkulu (17. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan persalinan.6 22.3 52.2 posyandu/poskesdes Tdk ada posyandu Layanan tdk lengkap Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 33.5 26. Pemeriksaan kehamilan tertinggi dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (97.9 59.0 Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran. 221 . Dari rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir.7%). Adapun pelayanan KIA yang terbanyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan bayi/balita (29.7 44.4 44. Pertolongan persalinan terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Jambi (42. dan pemeriksaan bayi/balita.3 31.9 24.3%).0%) dan terendah di Bengkulu (11.9 50. pemanfaatan polindes/bidan di desa sebagai tempat pengobatan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (90. pemeriksaan neonatus.6%).4 60.9%).8 18. yaitu pelayanan KIA dan pengobatan. pemeriksaan ibu nifas dan pemeriksaan neonatus masing-masing di bawah 10%. disusul pemeriksaan kehamilan (22.1 24.2 25. jenis pelayanan yang diterima dapat dikelompokkan menjadi dua.153 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga. Menurut provinsi. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dan semakin banyak yang tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan desa.

2 222 .8 46.7 25.3 55.8 21.3 38.7 10.4 43.8 34.4 34.7 18.3 6.3 76.1 19.0 45.9 52.1 71.5 63.8 14.0 52.2 50. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Provinsi Memanfaatkan Tidak membutuhkan NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.3 9.0 34.0 54.9 25.4 57.7 25.8 21.8 29.4 56.0 27.0 39.3 50.4 11.2 21.6 23.2 45.2 17.2 29.3 24.7 22.8 13.3 51.0 33.2 19.Tabel 3.3 42.8 41.0 Alasan lain Indonesia 21.3 26.4 49.2 13.9 30.4 21.9 22.9 25.5 23.5 45.6 22.2 45.8 20.7 67.5 40.1 54.2 46.9 21.9 9.9 58.2 31.4 62.3 8.6 56.3 13.4 32.7 27.1 17.4 52.5 45.7 22.8 54.8 8.9 23.3 44.2 50.0 14.5 24.4 25.5 30.5 51.1 27.4 24.9 64.154 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi.3 48.4 45.6 20.1 26.5 15.3 19.2 16.9 26.9 19.0 19.8 29.

2 25.1%).8 57. nampaknya rumah tangga di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/bidan di desa untuk pelayanan KIA.8 24. Sedangkan untuk alasan ’layanan tidak lengkap’ persentase tertinggi adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (26.0 50.6 24. Menurut tipe daerah.9%).4 23. dan ’layanan tidak lengkap’ (7. Alasan utama yang mengemuka meliputi ’tidak ada polindes/bidan di desa’ (39.7%) dan terkecil di Provinsi Jawa Tengah (15.155 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.158 menggambarkan alasan utama rumah tangga (di luar yang tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut provinsi.Tabel 3.8 16.9 25. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 15. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.3%). dan persentase terendah Provinsi DKI Jakarta (1.8 24.8%) yang tidak memanfaatkan polindes/bidan desa dengan alasan ‘letak polindes/bidan di desa jauh’. sedangkan di perdesaan lebih banyak yang memanfaatkan untuk pelayanan pengobatan.1 Tabel 3.9%).2 25. 223 .5 54.6 20. Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi (23.0 58. Persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ’tidak ada polindes/bidan desa’ tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (77. semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa untuk pemeriksaan bayi/balita.3 27.6 50.157 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan karakteristik rumah tangga.8 Memanfaatkan Tidak membutuhkan Alasan lain Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 24.7 52.5 22. ’letak jauh’ (8. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.1%). dan semakin meningkat yang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan.3%).5%) dan terendah Provinsi Bangka Belitung (2.7 49. Tabel 3.6 25. Rumah tangga yang tidak memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir diminta untuk menyampaikan alasannya.

9 24.5 14.6 7.5 78.7 6.7 72.3 6.7 12.1 77.1 69.7 15.7 15.9 26.1 45.2 8.8 14.8 23.3 9.3 81.6 79.8 86.9 6.6 6.9 59.5 9.2 29.6 4.3 5.4 21.4 17.6 6.2 20.2 10.3 20.6 22.7 24.1 80.5 15.9 3.6 33.7 8.4 20.6 16.7 29.8 5.8 11.9 8.6 17.8 9.3 13.2 82.2 7.6 16.2 49.1 5.6 72.8 19.2 24.2 8.4 68.0 11.3 40.1 7.2 72.3 76.8 75.5 6.1 Indonesia 22.4 20.5 4.5 24.4 77.3 5.5 30.7 26.7 13.3 77.1 4.0 10.9 8.8 6.0 29.3 5.6 5.6 84.6 42.6 17.3 18.7 9.7 14.2 6.0 16.8 30.4 6.0 48.0 16.6 9.4 23.8 47.6 9.6 4.6 8.4 5.3 86.156 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.7 80.5 8.1 42.2 23.4 4.6 17.8 10.2 15.1 10.1 80.5 85.5 73.8 24.9 97.7 19.6 78.8 89.2 20.2 38.5 20.0 20.1 11.5 38.9 26.1 40.1 9.6 4.4 23.4 30.2 15.2 20.1 34.3 8.6 85.7 39.4 30.2 10.0 49.8 19.6 22.1 32.6 20.4 5.3 11.6 25.2 11.6 11.7 90.2 71.7 44.8 23.2 34.9 12.Tabel 3.8 84.3 30.8 11.3 7.4 24.1 7.3 27.3 6.1 6.9 88.9 30.8 82.9 33.7 88. Riskesdas 2007 Pemeriksaan Pemeriksaan Persalinan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kehamilan 29.1 6.7 78.8 21.2 4.0 92.5 36.9 86.8 39.5 25.7 20.1 7.7 78.1 16.3 5.2 21.8 23.8 27.1 34.8 35.8 10.3 24.1 28.7 5.2 7.4 77.0 10.8 19.8 18.9 224 .0 4.8 56.7 5.4 25.

159 menggambarkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan utama (di luar yang tidak membutuhkan) menurut karakteristik rumah tangga.8 9.2 9.161 Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD lebih banyak di perdesaan (11.6 10.2 9.7 22.5%).3 9. semakin sedikit yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’.5 10.1 83.3 8.7 20. Sedangkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD karena tidak membutuhkan tertinggi di Provinsi Riau (16. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan.0 8.2 27.2 23.6%) tidak memanfaatkan POD/WOD.4%).2 83.9 26. persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’ dan ‘layanan tidak lengkap’ lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.1 10.3%) daripada di perkotaan (8.4%) dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung (0.8%) dan terendah di Lampung (0.7 8.2 8. Sedangkan alasan ‘tidak ada polindes/bidan di desa’ lebih banyak ditemukan di perkotaan.1 21. sebaliknya untuk rumah tangga yang tidak membutuhkan lebih banyak di perkotaan (11.2 28.7 77.7%).Tabel 3. dan semakin banyak yang mengajukan alasan ‘pelayanan tidak lengkap’.3 83. Kajian pemanfaatan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga tersaji pada Tabel 3. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Menurut tipe daerah.6%).2 8. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.8 33.3 9.5 8.7 9.8 9. 225 .5 Tabel 3.9 9.4 10.3 7.2 8.160 menyajikan informasi tentang pemanfaatan Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD) dalam tiga bulan terakhir.9 30. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 27. Tabel 3.5 25.9 8.4 81. semakin tinggi pula persentase rumah tangga yang tidak membutuhkan POD/WOD.0 83. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan bahwa ada kecederungan.5 26.157 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (24.0 32.9 84.8 Pemeriksaan Kehamilan Persalinan Pemeriksaan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 20. Secara keseluruhan sebagian besar rumah tangga (79.

9 28.6 42.1 66.1 57.9 226 .9 7.1 6.0 66.6 26.3 48.7 28.8 19.2 19.0 31.9 54.7 35.Tabel 3.3 16.9 18.1 5.7 14.8 6.9 7.6 3.5 45.5 33.4 39.0 71.9 31.8 17.9 56.9 39.0 8.9 58.1 81.2 32.6 37.8 13.5 12.0 7.3 Layanan tdk lengkap 26.9 7.3 23.5 2.8 13.5 55.2 48.5 9.3 20.1 19.0 36.3 6.2 5.4 20.8 8.7 7.3 12.6 1.9 25.1 9.9 60.4 77.4 1.6 38.3 24.2 10.3 1.6 5.3 5.9 Lainnya 26.7 64.7 8.3 10.3 70.5 17.5 7.3 27.2 2.9 6.3 31.2 4.5 66.2 4.1 19.5 14.3 55.5 22.2 30.7 58.7 7.2 33.1 38.6 4.5 29.2 26.6 43.7 2.3 53.7 7.1 10.6 53.8 27.7 28.7 57.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.9 Tidak ada polindes/bidan 39.3 12.1 7.3 4.1 15.1 70.0 12.2 6.0 10. Riskesdas 2007 Alasan Lain Tidak Memanfaatan Poslindes/Bidan PROVINSI Letak jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 7.4 4.9 2.4 15.4 8.6 12.5 46.5 56.6 1.2 4.3 53.4 7.2 10.5 11.5 6.9 29.4 3.6 53.6 9.3 15.6 20.1 4.9 9.7 64.7 5.

3 7. 227 .0 47.8 49.4 12. Alasan utama terbanyak yang dikemukakan adalah tidak adanya POD/WOD. Kepulauan Bangka Belitung. dan DI Yogyakarta (0.3 Rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD diminta untuk menyebutkan alasannya.9 6.1 42.5 9.9 43.1%) dan terendah di Lampung.5%) dan terendah di Lampung.8 10. Sebagian besar rumah tangga (94.7 31.0 8.8 7. tertinggi di Provinsi Lampung (98.Tabel 3. begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 7.163 menyajikan informasi tentang alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga.2 39.1 9.8%) tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan utama ‘tidak ada POD/WOD’. Kepulauan Bangka Belitung. DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (masing-masing 0.6 39.2%) dan terendah di Papua Barat (90.9 46.8 Letak jauh Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/BDD Tidak ada polindes/bidan Layanan tdk lengkap Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11. Yang menyatakan alasan ‘tidak ada POD/WOD’.162 menunjukkan rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan ‘letak jauh’ tertinggi Provinsi Riau (3.7 37.5 39.0 38.8 5. Sedangkan untuk alasan ‘obat tidak lengkap’.7 40. Tabel 3.6 8. tertinggi di Provinsi Maluku Utara (7.1%).0 45. Tidak tampak perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan dalam hal alasan utama untuk tidak memanfaatkan POD/WOD.159 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.0%).4 7.1%).3 42. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 3. Tabel 3.

2 11.6 86.5 84.4 9.9 7.1 77.8 11.4 9.4 12.6 228 .5 14.4 3.6 4.3 3.6 10.4 69.1 11.0 Alasan lain Indonesia 10.6 7.6 80.1 5. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Provinsi Nanggroe Aceh D.6 13.6 64.3 76.5 membutuhkan 11.7 4.2 13.2 3.2 96.0 85.9 4.2 88.6 8.1 89.0 3.1 9. Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Memanfaatkan 24.3 10.9 3.1 88.0 21.2 10.5 10.4 7.9 15.8 88.6 12.4 14.4 12.3 9.9 7.Tabel 3.5 10.4 0.8 85.7 15.8 10.2 79.5 12.0 5.6 5.6 6.6 69.4 17.0 15.0 89.6 80.0 5.7 10.1 80.0 15.1 66.0 92.2 71.2 3.4 0.1 69.7 6.2 16.1 5.1 13.2 85.7 74.1 79.1 90.1 9.5 0.4 11.6 7.0 18.2 7.9 4.9 85.3 81.3 82.4 21.6 6.160 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Provinsi.5 11.5 76.1 80.7 8.2 75.4 7.9 78.

5 79.7 Perdesaan 11.3 10.2 9.4 Kuintil 4 10.2 10.4 Kuintil 2 10.4 Alasan lain Tipe Daerah Perkotaan 8.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 10.4 79.8 79.1 9.3 12. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tidak membutuhkan 11.161 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.7 79.5 80.0 79.6 78.6 229 .6 9.9 Kuintil 3 10.Tabel 3.2 Kuintil 5 9.

8 1.4 2.6 93.4 1.0 3.1 0.5 0.0 97.2 2.0 1.1 3.7 2.8 98.0 96.1 0.2 0.7 0.6 93.1 96.1 1.8 2.6 0.0 0.2 0.3 5.8 1.9 3.5 98.7 1.1 230 .0 94.5 0.8 89.7 4.7 8.9 98.3 0.4 0.6 93.2 1.5 2.162 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.0 97.8 3.6 3.5 0.8 3.3 2.9 2.4 0.2 2.0 1.0 1.2 0.5 1.5 1.3 96.1 0.1 0.1 90.5 0.3 89.5 Indonesia 1.8 0.7 0.2 3.0 3.0 96. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD PROVINSI Lokasi jauh NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.4 2.6 2.3 0.5 1.9 94.2 98.3 0.8 2.1 0.0 1.5 7.8 1.2 0.7 90.5 0.1 97.7 0.7 3.2 0.2 97.1 1.1 0.3 96.2 1.3 0.2 1.0 90.3 4.5 91.6 0.4 0.3 0.4 2.1 5.0 3.3 2.2 93.5 0.0 2.2 95.8 96.2 0.9 4.0 0.1 92.5 0.7 91.6 0.0 8.0 2.9 96.0 0.1 3.8 96.5 96.0 2.8 1.0 7.5 Tidak ada POD/WOD 93.5 0.7 0.Tabel 3.0 0.1 91.5 0.4 Lainnya 1.6 Obat tidak lengkap 4.2 0.5 2.6 0.

1 Kuintil 3 1.0 0.163 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Salah satu tujuan sistem kesehatan adalah ketanggapan (responsiveness).0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1.2 Lainnya 3. Pihak-pihak yang menanggung biaya perawatan kesehatan tersebut bisa lebih dari satu.0 3. di samping peningkatan derajat kesehatan (health status) dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (fairness of financing). Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Karakteristik rumah tangga Lokasi jauh Tidak ada POD/WOD Obat tidak lengkap 0. Untuk rawat inap (Tabel 3. serta dari mana sumber biaya perawatan kesehatan tersebut.1% dan 5.9 3. Persentase terbanyak pemanfaatan RS Pemerintah untuk rawat inap di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua Barat yaitu masing-masing sebesar 5.1 1.0 Kuintil 4 1.5 Perdesaan 1. Askes Swasta.1 3.0 1. Sumber biaya dibedakan menjadi sumber biaya sendiri/keluarga.1 1. 231 .4 3. Jamsostek. dan JPK Pemerintah Daerah).9 2. terdapat 11 provinsi yang persentase pemanfaatan di atas persentase nasional.9 1. paling banyak masyarakat masih memanfaatkan RS Pemerintah (3.5%. Asabri.0%).164).9 Kuintil 2 1.1 95.Tabel 3.1%) kemudian disusul RS Swasta (2. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). termasuk penggunaan Askeskin/SKTM yang salah sasaran. Asuransi (Askes PNS. Dana Sehat. Pada bagian ini dikumpulkan informasi tentang jenis sarana dan sumber pembiayaan yang paling sering dimanfaatkan oleh responden Pembiayaan kesehatan meliputi untuk perawatan kesehatan rawat inap dan rawat jalan.7 2.7 Kuintil 5 0.8 94.9% dan 5. Dari data ini diperoleh gambaran tentang seberapa besar persentase rumah tangga yang telah tercakup oleh asuransi kesehatan. Terdapat 16 provinsi dari 33 provinsi yang memanfaatkan RS Pemerintah sebagai tempat rawat inap masih di bawah persentase nasional. Seluruh penduduk diminta untuk memberikan informasi tentang apakah yang bersangkutan pernah menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir.6 Tipe Daerah Perkotaan 0.0 95.2%. Pemanfaatan RS Swasta terbesar di Provinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara yaitu masing-masing sebesar 5.9 94. dan lainnya.0%.2 94. Demikian pula dengan pemanfaatan Rumah Sakit Swasta sebagai tempat rawat inap. Sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 1. Mereka yang pernah rawat jalan maupun rawat inap diminta untuk menjelaskan dimana terakhir menjalani perawatan kesehatan.8.7 2.1 95.0 94.9 1.

2 0.2 0.0 0.0 0.1 0.7 Tenaga 0.1 0.0 0.2 0.7 1.0 96.4 2.8 1.0 0.1 93.9 91.5 0.5 0.2 95.0 0.7 90.1 0.2 87.1 0. RS Bersalin.7 4.4 0.5 0.4 1.7 5.4 0.2 4.1 0.2 0.7 2.3 90.6 1.9 95.0 0.1 0.0 0.0 0.1 3.1 0.0 0.0 0.8 1.1 RS Swasta 1.1 0.1 0.0 90.5 0.0 0.2 0.5 96.2 0.0 RSB 0.1 2.2 0.2 0.2 2.4 0.1 0.6 0.1 0.0 5.164 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Provinsi.8 0.6 0.5 0.9 93.3 0.0 1.2 1.0 0.1 0.1 0.3 0.4 0.5 2.1 0.1 0.3 0.1 0.1 0.0 0.1 0.7 93.4 0.8 94.9 1.0 95.5 0. RS lain.9 0.1 0.0 93.1 0.9 2.1 0.1 0.3 0.7 RSLN 0.2 0.1 0.8 4.8 3.6 0.5 1.1 0.9 0.0 93.5 0.8 0.1 0.1 0.7 4.1 0.4 0.0 0.1 93.9 2.1 0.0 0.1 5.3 3.3 0.Puskesmas sebagai tempat rawat inap secara nasional menempati urutan ketiga setelah RS Pemerintah dan RS Swasta. Tabel 3.0 0.1 94.5 0.1 0.1 0.0 0.3 0.8 3.2 2.8 1.8 2.3 91.0 0.6 1.8 91.3 Batra 0.9 0.1 90. dan tempat praktek tenaga kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh 232 .5 0.8 0.3 0.1 0.2 3.0 0.7 0.0 0.0 0.2 0.1 0.9 2.0 0.1 0.1 3.0 0.0 0.7 0.2 INDONESIA 3.5 1.6 0.5 0.5 0.0 0.5 1.9 0.1 0.6 0.0 0.7 1.6 0.4 Tidak rawat Inap 94.7% dan 2.6 0.1 95.8 0.0 0. RS Swasta.8 2.1 3.7 1.1 0.8 0.0 0.4 0.2 0.3 0.0 0.3 0.0 Lainnya 0.5 1.9 3. masing-masing sebesar 2.0 0.0 0.4 0.2 95.6 0.0 0.3 2. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Pemerintah 2.1 0.1 3.4 0.2 0.8 3.9 92.2 0.1 0.1 0.1 0.4 0.7 0.2 0.2 0.2 1.3 0.0 0. terlihat bahwa RS Pemerintah.1 96.4 0.0 0.2 0.1 0.8 0.2 95.0 0.4 0.4 1.0 0.3 0.8 0.1 4.1 0.2 0.8 5.2 0.1 Menurut tipe daerah (tabel 3.0 0.9 2.3 95.5 0.2 3.2 0.0 0.0 0.4 3.0 2.8 0.5 92.0 4.1 0.5%.1 94.0 0.1 0.1 1.2 0.1 0.2 0.3 3.6 0.9 0.3 0.3 91.0 0.8 0.1 Puskesmas 0.4 90.7 0.1 0.1 0.0 0.1 0.0 2.165).0 0.2 2.8 95.5 1.2 0.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.7 3. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.0 0.0 0.3 0.1 0.5 2.8 0.5 0.3 0.0 0.1 0.0 0.2 0.9 0.6 89.8 3.1 0.9 1.1 0.5 0.4 1.

6 0. terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak perawatan inap yang dibiayai Askes/Jamsostek.4 2.1 90.7 0.6 0. pembiayaan rawat inap oleh Askes/Jamsostek lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan. Sebaliknya.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.3 1.5 94.9%). maka sekitar 30% responden yang pernah rawat inap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah mempunyai ‘sejenis asuransi kesehatan’.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3. Askeskin/SKTM dan Dana Sehat diperhitungkan sebagai ‘sejenis asuransi kesehatan’.8 0. 233 . Kalau pembiayaan oleh Askeskin/Jamsostek.0 0.1 93.5 0.1 0.3 3.4 92. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 2.9 3. dan Dana Sehat (2.5 90.8 0.9 0.1 0. Askeskin/SKTM (14. tampak kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintan dan RS Swasta. sedangkan puskesmas lebih banyak dimanfaatkan masyarakat perdesaan.1 0.masyarakat perkotaan. kemudian berturut-turut disusul oleh pembiayaan oleh Askes/Jamsostek (15.3 2.4 0.4 0.4 0.8 0.4 0.5 0.166 memperlihatkan bahwa sumber pembiayaan rawat inap secara keseluruhan untuk Indonesia masih didominasi (71.1 0.1 0.0%) pembiayaan yang dibayar oleh pasien sendiri atau keluarga (out of pocket’).3%).3 3.1 0.8 2.0 0.1 0.3 0.3 2. Namun apabila dicermati masih ada sekitar 10% masyarakat yang mampu secara ekonomi (kuintil 5 dan 4) masih menggunakan Askeskin/SKTM.0 0.4 4. Pemanfaatan sarana lain tersebar hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.0 0. Tabel 3.4 0.1 1.4 0.1 0.0 0. Tabel 3.1 0.5 0. Sedangkan untuk pembiayaan rawat inap dengan memanfaatkan Askeskin/SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan.4 0.2 1.6 94.1 0.1 0.1 0. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 1.3 0. semakin rendah tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askeskin/SKTM dan Dana Sehat.1 0.6%).1 0.167 memperlihatkan bahwa menurut tipe daerah.9 94.8 0.4 0.1 0.4 0. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Tempat berobat rawat inap RS Pemerintah RS Swasta RS LN RSB Puskesmas Tenaga kesehatan Batra Lainnya Tidak rawat Inap Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 4.

5 7.8 11.5 2.9 8.6 Askeskin/ SKTM 28.0 1.2 3.9 15.2 10.9 10.1 18.8 29.2 4.2 7.9 4.5 19.7 1.9 1.166 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi.1 11.3 5.8 8.8 70.5 68.0 11.6 11.3 7.0 2.1 76.9 3.9 3.6 15.4 17.7 14.0 20.5 19.1 3.2 3.9 2.1 14.7 16.3 76.9 17.8 18.0 75.2 12.5 15.2 13.5 0.9 16.3 5.7 14.5 81.7 10.0 2.1 19.8 19.6 26.1 8.3 1.1 2.Tabel 3.0 15. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Provinsi Sendiri/ keluarga 62.1 67.7 6.3 Dana Sehat 4.0 10.4 12.0 4.4 8.1 76.4 0.9 12.9 33.3 8.6 1.5 68.2 71.5 17.0 68.6 3.1 13.6 1.1 7.9 8.3 18.5 72.2 5.2 5.0 73.2 65.4 5.9 11.9 5.2 19.3 2.4 27.6 67.1 3.3 6. Jamsostek.9 23.5 63.8 0.7 71.6 10.3 5.8 5.4 67.9 65.3 0.5 25.4 10.5 17.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.7 63.9 4.9 13.1 19.9 66.7 7.1 18.8 17.0 23.0 Askes/ Jamsostek 13.9 Lainlain 6.7 14.3 13.6 58.2 2.6 79.7 49.9 7.6 3.4 15.8 13. Askes swasta.4 11. Asabri.4 15.7 1.7 11.9 18.1 17.3 22.2 7.8 4.8 76.9 74.2 3.5 75.3 3.0 3.5 1.5 74.2 12.0 59.8 12.0 1.5 4.4 9.4 25.1 60. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 234 .4 10.7 3.0 9.5 72.0 1.4 3.2 76.4 19.7 0.8 65.7 19.6 4.

Tabel 3.3%) menempati urutan keempat setelah RS Pemerintah (1.168 menunjukkan bahwa secara nasional RS Bersalin/RSB (14.4 3.3 Perkotaan 69.0 18.4 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.5 5.2 2.8 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Dana Sehat 2. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3.2 16. tertinggi di Provinsi Papua Barat (38.9 17.7 6.9 25.0 6.5 LainLain 7.9 15.2 3.4 10. Askes swasta.5 1. 235 . Persentase pemanfaatan RSB sebagai tempat rawat jalan.7 12.9 6.0 Perdesaan 72.3 6. Asabri.5 4.8%) dan Tenaga Kesehatan (13.7 3.8 25.5 71.5%) dan terendah di Sumatera Utara (7. Jamsostek.5 72.9 71.6 11. Pemanfaatan Puskesmas (1.8%) dan terendah di Papua (3.7 21.6%) pada urutan ketiga.8 5. Sedangkan persentase tertinggi pemanfaatan tenaga kesehatan untuk rawat jalan ditemukan di Provinsi Bali (25. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga Askes/ Jamsostek Askeskin/ SKTM 10.5 6.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Keterangan : 66.8 7.9%).8 9.9%) merupakan sarana kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan untuk rawat jalan.4 72.167 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga.6%).

7 Tidak rawat Inap 46.5 33.7 1.1 17.8 0.8 14.6 1.6 50.2 71.4 68.0 1.5 0.3 3.2 0.8 0.3 0.3 0.4 0.3 0.2 0.3 0.2 2.6 14.2 12.1 0.8 19.9 19.0 0.0 0.0 0.7 0.6 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 0.8 19.1 17.3 2.4 0.0 0.2 1.5 0.2 0.3 26.8 16.8 11.8 10.0 0.1 4.0 15.2 0.2 53.3 0.5 4.7 0.1 0.2 0.7 0.5 60.0 1.7 0.5 2.2 0.9 1.3 19.4 0.0 0.7 5.3 0.2 0.9 0.3 0.4 0.1 14.9 15.5 61.8 0.2 0.4 2.9 13.1 0.5 0.4 68.1 0.8 1.4 67.6 1.5 15.2 2.1 0.0 0.3 0.6 38.1 0.7 61.1 0.3 0.5 0.1 7.0 0.4 1.Tabel 3.0 0.2 0.6 RS Swasta 0.9 1.3 22.6 1.1 0.7 70.1 1.4 0.4 19.4 0.1 1.8 11.2 0.1 0.6 66.0 1.6 13.9 1.2 0.5 0.9 2.0 1.7 0.6 0.4 Menurut tipe daerah (Tabel 3.169).3 15.3 70.6 2.1 1.2 0.2 0.4 0.7 17.7 18.6 1.5 7.4 0.8 11.3 2.168 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.8 0.7 1.9 0.1 0.0 64. 236 .1 1.4 0.3 0.3 13.5 56.5 1.9 0.3 10.1 0.2 1.0 0.2 0.7 0.0 0.6 0.4 0.7 0.8 2.2 1.6 1.2 0.8 1.4 Di Rumah 1.0 11.3 0.2 62.1 0.0 1.7 10.5 35.7 1.1 4.0 12.1 0.2 0.0 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah 3.7 67.1 54.4 0.1 12.4 2.7 1.7 0.8 0.9 14.2 0.4 0.8 0.5 0.4 1.0 7.8 1.2 73.2 0. dan pengobat tradisional untuk rawat jalan.1 0.2 13.0 25.7 0.9 5.0 0.6 13.7 5.8 1.6 54.4 0.4 0.4 1.0 0.4 1.3 1.1 4.4 1.7 16.3 3.3 0.7 20.2 0.3 0.1 0.2 0.6 61.9 11.3 66.1 0.2 1.1 13.6 17.1 0.4 1.3 0.4 1.4 2.7 1.6 0.5 0.3 17.0 RSLN RSB Puskesmas 1.1 1.0 0. dan Puskesmas.5 80.9 0.6 0.6 0.4 0.4 0.1 0.6 14.9 0.2 3.9 1.4 1.1 0.5 0.2 14.2 1.2 0.3 0.7 0.1 1.3 0.2 1.8 0.9 1.6 1.3 1.0 4.3 0.0 1.1 67.3 0.2 4.8 1.2 0.2 1.0 70.1 0. Tenaga Kesehatan.2 11.0 0.1 2.0 14.7 0.6 74.6 73.0 1.5 0.9 65.4 0. Sedangkan responden di perdesaan lebih memanfaatkan RSB. tampak kecenderungan responden di perkotaan lebih banyak memanfaatkan RS Pemerintah.8 69.9 0.3 0.3 1.3 0.1 0.3 Nakes Batra Lainnya 0.9 0.3 1.5 0.3 1.3 0.1 1.7 0.4 0.2 0.1 0.4 66.8 67.4 4.1 81.3 0.5 16.6 12.5 0.1 0.0 1.2 10.2 0.4 1.1 71.5 0.4 1.4 11.6 9.7 1.1 0.7 0.0 0.5 58.3 0.0 12.6 14.1 12. RS Swasta.9 3.9 1.2 0.1 0.1 0.

9 0.3 12.8 0.0 1.5 0.8 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah RS Swasta RSL N RSB Puskesmas Nakes Batra Lainnya Di Rumah Tidak rawat Inap Tipe Daerah Perkotaan 2. tampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintah.8% untuk rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir dan menurut provinsi.169 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.2 14 11.2 1.7 66.6 14.8 15 16.5 0.4 0.0%). Sumber biaya rawat jalan juga didominasi oleh pembiayaan sendiri/keluarga (74.9 63.2 0.4%).1 1.2 16.3 0.5 0.6 65. persentase terbesar ditemukan di Provinsi Papua Barat (37.3 Perdesaan 1.5 0.4 1.3 16.0 67. sedangkan di Provinsi Papua Barat persentase tertinggi untuk pembiayaan rawat jalan berasal dari Askeskin/SKTM dan terendah dari biaya sendiri/keluarga.9 1. Sumber biaya dari Askeskin/SKTM secara nasional mencapai 10.7 0.8 15.Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5%).170).4 0.8 13.5 0.3 1.8%) dan terendah di Papua Barat (40.9 0.8 Gambaran tentang sumber pembiayaan rawat jalan dan rawat inap tampak tidak berbeda (Tabel 3.7 0.5 0.4 0.3 12.8 0.2 1.5 0. dan Tenaga Kesehatan.3 0. Persentase sumber biaya sendiri/keluarga tertinggi ditemukan di Provinsi Lampung (88.5 0.5 0. di Provinsi Lampung persentase terbesar pembiayaan rawat jalan berasal dari biaya sendiri/keluarga dan yang terendah adalah pembiayaan oleh Askes/Jamsostek.9 1.4 65.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 1. Tabel 3.1 2.6%) dan terkecil di DKI Jakarta (2.6 64. Secara nasional.5 0.3 0.0 11.5 0.7 2. 237 .4 0.7 0. RS Swasta.2 0.4 1.4 0.5 1. tetapi semakin sedikit yang memanfaatkan RSB untuk rawat jalan.6 66.9 13.4 0.7 0.8 15.0 0.3 0.7 0. Puskesmas.

0 80.1 2.5 49.1 37.6 2.2 4.2 21.8 Askeskin/ SKTM 32.6 4.5 11.8 Dana Sehat 2.7 1.4 46.6 0.7 3.2 1.1 88.6 17.1 81.0 23.6 0.1 22.4 3.0 5.4 5.4 6.8 2.2 1.3 11.9 2.7 66.9 0.3 5.0 71.6 3.5 47. tidak tampak berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan.9 4.3 13.6 12.9 10.6 4.9 2.3 3. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan PROVINSI Sendiri/ Keluarga NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.170 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi.9 60.5 6.9 3.3 6.9 13.4 Sumber biaya rawat jalan menurut tipe daerah (Tabel 3.5 6.9 11.9 9.3 9.1 60.9 11. Jamsostek.Tabel 3.3 1.4 12.6 1.2 16.4 4.6%).1 33.6 3.3 15.5 Lain-Lain 5.8 79.3 77.5 7.9 83.1 13.4 6.6 15.3 5.0 78.8 73.1 85. Asabri.8 4.0 9.9 1.5 3.7 7.9 3.3 2.2 74.9 4.3 11.1 2.9 2.9 9.1 9.5 4.9 6.171).1 6.2 86.9 6.4 78.3 3.7 2.1 10.7 11.9 61.2 3.2 3.4 70.2 4.8 5.0 10.5 1.0 72.8 0.5 8.7 85.6 6.5 40.9 9.3 88.5 5.5 75.4 11.9 1.2 4.3 7.3 15.8 77.6 1. Askes swasta.0 1.3 8.3 20.4 12.7 18. sebaliknya pembiayaan dari Askeskin/ SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan (12.6 28.3 10.1 8.4 17.2 0. terbanyak dari biaya sendiri/keluarga.1 2.2 5.8 2.8%).2 3.6 0.3 4.2 1.6 4.8 3.9 2. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas 58.1 1.9 4.6 1.7 5.1 5. 238 . Pembiayaan dari Askes/Jamsostek tampak lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan (13.2 83.1 10.3 0.8 84.4 5.7 78.8 8.5 Askes/ Jamsostek 6.1 1.4 15.5 64.2 0.9 1.7 8.1 80.5 1.4 3.6 87.9 7.5 6.5 9.

7 74. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Gambaran sumber biaya rawat jalan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askes/Jamsostek dan sebaliknya Askeskin/SKTM untuk pembiayaan rawat jalan.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 72. Tampaknya Askeskin/SKTM belum sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat tidak/kurang mampu. 3.4 76. berdasarkan pengalamannya waktu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan untuk rawat inap dan rawat jalan.5 8.3 4.3 2.3 12.8 2. Ada 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.6 75.0 3.9 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Askes/ Jamsostek 13. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Sendiri/ Keluarga 73.0 9.6 7.3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan. Pembiayaan dari Dana Sehat semakin sedikit dimanfaatkan responden dengan tingkat pengeluaran yang makin tinggi.1 3.6 3.3 5.171 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga. Askes swasta.5 14. Delapan domain ketanggapan untuk rawat inap terdiri dari: • • • • Lama waktu menunggu untuk mendapat pelayanan kesehatan Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara Kejelasan petugas dalam menerangkan segala sesuatu terkait dengan keluhan kesehatan yang diderita Kesempatan yang diberikan petugas untuk mengikutsertakan klien dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis perawatan yang diinginkan 239 .1 75. Jamsostek.8 7.8 Dana Sehat 1.9 11.1 4.0 74.0 6.9 2.0 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.8 Lain-Lain 5.1 1.Tabel 3.6 2. Asabri.8.8 13.5 10.2 7.7 Askeskin/ SKTM 7. Penilaian untuk masing-masing domain ditanyakan kepada responden.6 4.0 4.

Penyajian hasil analisis/tabel selanjutnya hanya mencantumkan persentase yang ’baik’ saja. dan kebebasan memilih sarana pelayanan.5%) dan ‘keramahan petugas’ (87. Penduduk diminta untuk menilai setiap aspek ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan di luar medis selama menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. buruk dan sangat buruk).172 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi. cukup. kecuali domain ke delapan (kemudahan dikunjungi keluarga/teman).0%). Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87. WHO membagi menjadi dua bagian besar yaitu ‘baik’ (sangat baik dan baik) dan ‘kurang baik’ (cukup. sangat buruk. Untuk memudahkan penilaian aspek ketanggapan rawat jalan dan rawat inap pada sistem pelayanan kesehatan tersebut. Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu. turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. Tujuh domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan sama dengan domain rawat inap. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi. buruk. kerahasiaan informasi. Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82.9%). Masing-masing domain ketanggapan dinilai dalam 5 (lima) skala yaitu: sangat baik.• • • • Dapat berbicara secara pribadi dengan petugas kesehatan dan terjamin kerahasiaan informasi tentang kondisi kesehatan klien Kebebasan klien untuk memilih tempat dan petugas kesehatan yang melayaninya Kebersihan ruang rawat/pelayanan termasuk kamar mandi Kemudahan dikunjungi keluarga atau teman. baik. Menurut provinsi. tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan. Tabel 3. 240 .

6 85.9 91.2 84.9 86.8 78.8 85.0 82.4 86.6 82.9 91.4 81.2 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 84.3 83.3 91.5 91.5 81.7 84.1 86.7 89.7 87.6 87.2 83.2 78.7 83.1 90.3 84.5 85.1 83.2 72.0 86.0 76.7 87.4 81.8 86.6 74.6 87.4 90.8 85.8 82.4 86.4 86.4 82.2 71.0 75.1 81.5 84.7 82.1 90.8 84.1 81.2 82.6 69.5 81.8 92.6 Kejelasan informasi 81.8 87.1 87.8 84.2 91.9 Kebersihan ruangan 78.1 88.4 77.2 88.0 83.4 83.0 82.1 92.4 77.6 84.3 82.5 82.5 94.2 94.2 79.9 84.2 86.2 94.3 89.4 Kebebasan pilih sarana 81.0 93.3 84.9 74.6 86.0 85.8 91.7 84.4 88.1 84.6 81.7 78. 241 .0 81.Tabel 3.7 87.1 84.5 87.8 87.2 82.7 84.4 87.1 79.7 81.0 79.1 86.2 79.7 88.1 84.6 78.0 89.7 80.8 85.0 93.6 73.0 72.173 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.6 88.8 83.5 86.0 88.5 86.9 89.1 69.6 80. 3.1 81.7 80.2 89.6 72.9 Kerahasiaan 82.1 72.9 79.0 83.4 67.7 87.8 77.5 91.7 Ikut ambil keputusan 81.9 72.2 84.3 88.2 86.4 84.5 83.6 78.6 78.0 72.4 92.9 84.0 90.2 81.4 82.9 85.5 80.7 85.0 80.172 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.0 81.9 80.2 76.9 85.8 85.5 93.2 95.4 82.1 86.6 84.6 85.8 88.0 85.6 91.5 88.3 Mudah dikunjungi 83.4 93.2 82.2 90.4 81.2 87.4 87.9 68.7 94.0 82.0 78.0 83.4 84.1 88.2 85.9 90.4 91.9 92.6 83.4 80.9 84.8 70.8 86.1 87.4 82.0 81.9 90.6 78.6 88.4 90.8 77.6 88.4 92.5 84.8 74.7 92.4 92.0 85.4 79.5 93.4 84.1 87.2 89.4 Keramah an 86.6 92.0 79.2 76.7 85.6 89.8 87. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu 84.6 84.9 87.8 89.1 85.0 84.7 91.1 81.0 83.8 82.5 80.1 89.7 92.4 88.3 82.8 79.0 80.2 72.8 80.6 88.5 83.7 84.7 94.0 90.0 81.8 83.9 88.5 Tabel.7 92.7 92.7 88.8 88.4 91.0 84.6 85.0 85.8 86.5 92.1 89.1 84.8 78.2 79.5 86.0 86.5 80.8 86.5 93.2 84.0 68.2 95.8 80.9 77.5 85.6 79.9 92.2 85.7 87.

5 82. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85.5 84. Menurut tipe daerah (tabel 3.5 84.6 Tabel 3. kejelasan informasi. turut serta dalam p[engambilan keputusan memilih jenis perawatan.6 86.5 87. semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan.2 85. Menurut provinsi. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga.6 86. tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam.2 85.1 84.175).2 83.4%).7 Perdesaan 85.2 85.8 84.7 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 84.4 84. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu.6 85.Menurut tipe daerah.3 86.0 85.0 86.0 86.6 86.6 82.2 86. Sedangkan di daerah perdesaan. dan kebersihan ruangan.7 85.1%). semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.4 83.5 87. kerahasiaan informasi. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan. 242 .8 83.8 87.9 82. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 84.7 88.4 86. kebebasan memilih fasiltas pelayanan. keramahan petugas. Riskesdas 2007 Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan Mudah dikunjungi Karakteristik Reponden Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Tipe Daerah Perkotaan 84. dan kebersihan ruangan.4 87.7 83. Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan.5 84.0 87.7 84.1 86.0 88.3 81.2 83.6 83.6 84.2 84.174 menunjukkan secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90.9 87.173 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.8 86. dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman.7 84. Tabel 3. kerahasian informasi. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas. dan kebebasan memilih sarana pelayanan.1 82. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspekaspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki.4 86. semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi.7 85. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.7 84. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan.9 86.5 85.4 83.5 86.

8 94.5 85.4 93.2 84.3 84.3 81.1 92.8 90.3 68.2 85.1 78.1 82.0 87.6 91.2 93.1 93.0 85.7 92.3 90.3 77.9 86.4 83.9 82.4 96.1 97.2 Kejelasan informasi 84.0 85.3 94.8 85.2 95.2 92.4 83.7 67.6 92.8 98.6 82.4 Kebersihan ruangan 79.1 65.8 90.9 71.6 95.9 93.0 85.2 81.7 92. Riskesdas 2007 PROVINSI Waktu tunggu Keramahan 89.4 80.5 88.0 85.1 87.0 86.8 87.0 88.7 78.6 91.0 87.1 86.4 90.7 90.Tabel 3.4 88.9 82.2 79.5 90.2 86.6 88.3 87.0 93.5 84.6 93.2 88.4 87.5 83.6 86.6 93.8 87.8 65.3 95.9 83.8 92.5 83.4 88.5 85.5 84.4 84.6 93.6 91.3 86.1 91.9 82.2 82.5 86.6 86.4 95.7 92.7 85.8 88.6 84.0 88.7 87.0 85.7 95.9 93.6 84.9 87.4 94.7 86.7 93.0 92.5 83.7 77.0 95.5 82.1 73.4 84.8 92.4 92.3 70.5 86.2 84.2 86.2 84.4 87.1 91.5 83.6 86.0 94.7 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 87.3 79.0 67.3 94.3 84.3 88.4 89.3 93.8 89.9 83.7 80.2 83.2 92.8 77.4 87.7 84.2 83.8 78.2 84.7 84.3 84.8 93.0 96.3 85.9 80.5 81.9 65.1 88.8 76.5 86.3 91.0 86.174 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.0 88.7 68.0 87.1 96.3 86.8 91.8 96.5 Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana 83.8 93.2 83.5 93.3 83.2 85.8 95.0 88.8 81.2 95.4 86.1 243 .2 82.1 93.3 80.9 77.0 70.3 85.2 84.1 88.5 93.9 83.9 80.0 86.4 81.1 89.1 91.0 95.6 93.5 83.9 91.0 88.6 94.8 85.1 84.1 84.5 78.9 65.5 86.7 88.9 94.1 83.5 97.7 87.2 93.3 Ikut ambil keputusan 84.8 85.6 83.0 95.8 91.8 84.4 83.2 91.1 87.6 93.2 78.8 83.3 86.4 89.0 91.8 92.2 94.9 90.9 79.1 92.3 INDONESIA 86.6 89.1 86.6 81.9 90.5 90.8 89.1 94.6 82.

8 84.5 87.8 88. ’20-49. ‘akses menengah’.9 liter/orang/hari’. jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan risiko kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan higiene.7 89.5 87.7 85. Risiko kesehatan masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah (‘tidak akses’ dan ‘akses kurang’) dikategorikan sebagai mempunyai risiko tinggi.1 87.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 86.1 84.0 86.9 89.9 Kesehatan Lingkungan Data kesehatan lingkungan diambil dari dua sumber data. 244 .8 87.3 86. sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap kepala rumah tangga dan pengamatan.7 3.3 90. ’50-99. Berdasarkan tingkat pelayanan.1 86.Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan 85.175 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.4 86. sarana pembuangan air limbah (SPAL).5 89. yaitu Riskesdas 2007 dan Kor Susenas 2007.9 91. kategori tersebut dinyatakan sebagai ‘tidak akses’.6 85.4 86.7 86.1 87.2 87.1 Air Keperluan Rumah Tangga Menurut WHO.4 84.9 85.9 86. ‘akses dasar’.1 85.6 86. Dengan demikian dalam penyajian beberapa tabel kesehatan lingkungan merupakan gabungan data Riskesdas dan Kor Susenas.0 90. ‘akses kurang’.6 87. Data tersebut bersifat fisik dalam rumah tangga. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa rerata jumlah pemakaian air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga dalam sehari semalam. Rerata pemakaian individu ini kemudian dikelompokkan menjadi ‘<5 liter/orang/hari’. Data yang dikumpulkan dalam survei ini meliputi data air bersih keperluan rumah tangga.9 85.1 87.7 86. pembuangan sampah.9.6 90.2 85.9 liter/orang/hari’ dan ‘≥100 liter/orang/hari’. Rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga. dan perumahan. dan ‘akses optimal’.1 86. ‘5-19.1 86.9 85.6 90.9 86.9 87.0 84.7 86.8 88.9 liter/orang/hari’.6 84. sarana pembuangan kotoran manusia.8 86.5 87.7 84. 3.

1 9.0 5.5 33.8 26.4 4.3 0.1 41.6 20.1 0.0 0.4 33.4 13.3 28.1 12.8 26.4 37.7 28.1 17.6 16.7 24.6 1.9 31.9 15.6 1.1 43.7 24.3 1.9 23.9 13.5 14.6 6.0 per orang per hari (dalam liter) 5-19.9 19.6 34.1 12.6 42.2 6.5 42.0 40.7 40.1 10.2 14.5 31.9 8.6 21.1 29.6 1.3 0.1 47.1 41.2 7.6 0.1 15.7 22.1 4.176 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi.1 26.9 7.3 31.6 11.7 42.9 20-49.5 23.1 28.2 6.0 22.6 35.3 31.7 8.5 6.2 27.9 27.0 21.7 37.0 22.0 50-99.2 Indonesia 5.7 32.9 14.6 10.0 8.1 55.2 44.7 19.2 31.2 9.6 21.6 23.8 10.7 11.7 39.4 32.2 2.Tabel 3.7 1.4 0.0 3.2 41.4 10.5 17.9 25.9 15.6 50.6 13.0 23.9 31.7 13.8 26.9 0.8 34.4 32.3 16.6 27.176 menunjukkan secara nasional.5 36.3 0.3 0. terdapat 16.3 2.3 21.8 43.2 24.2 30.6 Tabel 3.3 30.4% tidak akses dan 10.9 31.2 21.5 17.5 29.0 30.0 24.0 23.4 2.6 32.2 13.5 27.2% rumah tangga yang pemakaian air bersihnya masih rendah (5.5 3.7 28.5 41.0 11.5 17.2 17.6 11.5 22.8 ≥100 32.9 20.2 13.2 1.9 21. Riskesdas 2007 Rerata pemakaian air bersih Provinsi <5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.9 25.5 4.7 32.7 17.7 2.5 36.4 30.2 19.6 0.1 8.8% akses kurang).8 9.3 11.2 4.9 63.0 7. Sebesar 245 .4 29.4 0.0 9.6 36.6 29.3 0.6 17.8 0.7 31.0 4. berarti mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan/penyakit.7 10.4 19.7 8.

Sulawesi Utara. Jawa Barat.2 13. dan NTB. NAD.7 rumah Rerata pemakaian air bersih per orang per hari (dalam liter) 5-19. serta persepsi tentang ketersediaan sumber air.0 23. di mana batasan minimal akses untuk konsumsi air bersih adalah 20 liter/orang/hari. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi akses terhadap air bersih optimal.3 26.6 38.9% rumah tangga mempunyai akses dasar (minimal). Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau sumber air bersih pulang pergi. 25.1 8. Riskesdas 2007 Karakteristik tangga <5 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 3.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga.9 ≥100 Tingkat pengeluaran Rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 6. Maluku. Dilihat dari karakteristik rumah tangga (Tabel 3.0 23.9 26.8%. berapa jarak antara rumah dengan sumber air.4 26.6 12. dan bagaimana kemudahan dalam memperoleh air bersih.0 33. NTT. Sulawesi Tenggara.9 50-99. Di samping jumlah pemakaian air bersih untuk keperluan rumah tangga.3% akses menengah.0 31. Provinsi-provinsi yang akses terhadap air bersih masih rendah (di atas 16.5 25.26. Bila mengacu pada kriteria Joint Monitoring Program WHO-Unicef.8 6.177). DI Yogyakarta.0 25. Riau.9 10. Sumatera Barat. atau mengalami penurunan dibandingkan data tahun 2004 sebesar 88.5 24.9 4.1 26.6 11.6 29.9 25. Papua.8 5.%).5 7.2 Proporsi rumah tangga yang aksesnya rendah terhadap air bersih lebih tinggi di perdesaan (19. Tabel 3. Sedangkan provinsi yang proporsi akses air bersih optimalnya tinggi adalah DKI Jakarta. Kepulauan Riau.2%) berturutturut adalah Gorontalo.6 39.2 5.6 28.7%. Hasil tersaji pada Tabel 3.3 4. Banten.9 20-49. dan Jambi.0 29.3 29.4 25. rerata pemakaian air bersih per orang per hari menunjukkan perbedaan.8 25. ditanyakan juga tentang jarak dan waktu tempuh ke sumber air. dan 31.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (11. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. maka secara nasional akses terhadap air bersih menurut jumlah pemakaian air per orang per hari adalah 83.6 10. Sulawesi Barat. baik menurut tipe daerah maupun menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 26.178 246 .6% akses optimal.

4 1.4 31.5 95.4 14.4 5.8 1.0 89.6 93.5 52.7 11.1 96.8 0.6 92.3 2.4 89.0 1.5 85.3 20.2 68.2 1.3 12.4 48.6 Sulit sepanjang tahun 1.7 97. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Provinsi Waktu (mnt) Jarak (km) Mudah sepan>30 jang tahun NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.2 85.5 2.6 85.9%).3 97.3 4.7 3.3 1.9 78.5 6.2 12.8 98.9 96.7 97.6 94.1 3.8 96.7 95.5 94.0 71.2 3.7 5.5 5.7 97.1 95.2 1.1 16.0 5.3 2.8 6.0 14.7 98.9 95.6 92.4 1.9 1.6 83.5 72.1 72.5 93.9 99.6 16. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi.2 93.6 30.1 2.7 11.3 96.3 0.5 26.9 85.7 0.6 2.5 87.178 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.8 94.2 81.6 9.5 69.7 1.6 95.8 89.0 89.3 0.2 1.5 70.6 98.8 70.9 98.8 87.4 2.5 0.0 19.8 5.8 1.1 1.7 68.0 1.4 1.4 73.4 97.8 26.9 32.1 2.6 29.7 85.7 2.3 6.5 3.7 99.9 39.4 90.2 2. tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (14.8 25.6 28.3 2.7 50. disusul oleh NTT 247 .5 94.5 96.2 7.0 9.4 0.4 42.7 84.8 97.7 0.6 29.4 77.6 7.9 24.6 94.6 99.0 13.0 25.9 0.8 2.3 40.4 0.3 2.7 93.1 4.5 4.4 3.6 6.2 2.Tabel 3.9 83.2 3.4 4.4 59.9 5.5 74.4 0.2 94.6 2.2 10.5 0.8 0.0 30.8 1.0 90.8 89.4 6.6 2.2 10.6 0.1 4.8 95.8 67.6 10.6 96.9 0.3 66.2 98.4 5.4 97.4 8.6 94.9 25.6 97.0 94.1 82.8 98.5 98.9 57.7 72.4 92.3 44.8 14.8 68.4 64.1 ≤30 >1 ≤1 Indonesia 3.8 98.6 0.3 0.9 0.5 15.8 38.3 Ketersediaaan Sulit pada musim kemarau 21.4 10.6 99.6 87.7 1.7 93.2 97.1% rumah tangga memerlukan rerata waktu tempuh ke sumber air lebih dari 30 menit.0 10.3 1.8 97. Terdapat 16 provinsi dengan persentase di atas 3.1 14.4 2.1%.4 7.2 0.8 59.2 Tabel di atas menunjukkan secara nasional sebanyak 3.4 53.2 5.8 35.3 1.8 26.5 97.3 66.3 95.8 18.4 5.0 10.3 2.1 99.3 6.8 97.5 1.6 79.9 4.2 0.0 32.3 88.6 97.2 4.3 89.

4 4.9 1.0 70. ada kecenderungan proporsi jarak tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.5% rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer.7 30.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (66.4 Ketersediaaan Sulit sepanjang tahun 0. Provinsi dengan proporsi jarak ke sumber air lebih dari satu kilometer terbesar adalah Provinsi Riau (18.4 66.8 95.6 96. jarak dan ketersediaan air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Dilihat dari ketersediaan air bersih dalam satu tahun.0 20.1 5.8 94.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (4.5 93.9%) merupakan dua provinsi yang paling tinggi proporsi rumah tangga dengan ketersediaan air bersih sulit sepanjang tahun. Dilihat dari jarak.0%).5%). dan Riau (10.8%.5%).5 6.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (2.7%).4 Kuintil-4 2. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 97.7 Proporsi rumah tangga yang waktu tempuh ke sumber airnya lebih dari 30 menit lebih tinggi di perdesaan (3. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.4%).5 24.8 68.4 28.4 1.9 Kuintil-3 3.6 6.7 1. ada kecenderungan proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang waktu mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.4 72.179) Tabel 3.8 ≤30 >1 ≤1 jang tahun Tipe daerah Perkotaan 2. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 94. 248 .2 26. secara nasional terdapat 5.3 75.1 0.2 1.9 97.8%). secara nasional terdapat 72.4 1.0 Perdesaan 3.0 78.2 Kuintil-2 3. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Karakteristik rumah Waktu (mnt) tangga >30 Jarak (km) Mudah sepanSulit pada musim kemarau 16.9 5.5 96.4%).0 5. (Tabel 3. ada kecenderungan proporsi waktu tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.(10.6 97. disusul oleh Kepulauan Riau (16. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 94. Akses air bersih menurut waktu.3%) dan NTT (4.4 82.4 96. Terdapat 18 provinsi dengan proporsi ketersediaan air bersih sepanjang tahun lebih kecil dari 72.1 96.179 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.6 4.0 93.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 3.2 Kuintil-5 2. Proporsi rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer lebih tinggi di perdesaan (6.8% rumah tangga yang air bersihnya tersedia sepanjang waktu.3%) dan Sulawesi Tenggara (14. Begitu pula proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang tahun lebih tinggi di perkotaan (82. Kepulauan Riau (6.0 97.8 31.

2 1.0 1.0 4.3 3.7 29.0 5.2 36.7 2.8 55.8 1.6 41.3 48.7 4.0 64.3 2.7 44.3 54.9 43.3 3.2 57.Tabel 3.9 33.4 1.7 49.1 6.3 72.6 3.4 Indonesia 49.7 65.6 3.5 44.9 1.9 19.3 42.6 77.7 34.4 1.0 5.6 7.6 1.8 48.2 0.8 52.9 2.7 4.7 53.5 2.9 48.4 50.8 29.9 61.7 34.9 1.5 1.0 54.3 52.5 23.4 4.4 7.1 2.9 41.9 27.0 63.7 0.8 7.2 3.7 44.180 249 .0 Dalam rangka memperoleh air untuk keperluan rumah tangga bila sumbernya berada di luar pekarangan.3 1.4 10.0 2.7 55.4 0.4 23.2 4.5 59.7 3.5 1.9 46.180 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.5 47.1 1.2 54.0 4.3 38.4 2.7 3.5 5.8 5.7 41.9 16.2 49.1 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 5.2 67.0 2.0 2.1 51.2 2.4 60. Riskesdas 2007 Perempuan Provinsi Dewasa Anak-anak (<12 thn) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 65.0 2.3 2.4 6.5 7.1 49.6 38.8 3.7 46.4 2.6 51.3 47. Aspek gender dalam pengambilan air bersih dapat dilihat pada Tabel 3.6 72.1 48.6 4.1 1.4 51.1 2.9 32.9 28.4 2.8 4.9 2.5 46.2 43.4 38.4 47.0 23.9 4.4 25. ditanyakan siapa yang biasanya mengambil air dalam rumah tangga tersebut.3 40.4 3.8 60.4 5. sebagai upaya untuk melihat aspek gender dan perlindungan anak.6 2.5 48.3 2.5 2.7 0.1 6.

9 4.8 3.1 51.181 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.1%).4%) dibandingkan dengan di perkotaan (44. Maluku.4 49. Proporsi individu yang mengambil air bersih di rumah tangga menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.0% anak laki-laki).1% dan 6.4 44. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin rendah proporsi perempuan dan anak-anak yang bertugas mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga.3 4. Kategori kualitas fisik air minum baik bila air tersebut tidak keruh.8 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tkt pengeluaran rumah tangga per kapita Tenaga perempuan dan anak-anak yang mengambil air di rumah tangga lebih tinggi di perdesaan (51.2 2.4 46. Sulawesi Selatan dan NAD. Tabel 3.5 50.181).6 49.3 3. Riskesdas 2007 Perempuan Karakteristik rumah tangga Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 44.2% rumah tangga yang anakanaknya mempunyai beban untuk mengambil air keperluan rumah tangga (3.9 2. Sedangkan provinsi-provinsi yang pengambilan airnya banyak dilakukan kaum perempuan adalah di Provinsi NTB.8 3. Data kualitas fisik air untuk keperluan minum rumah tangga dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan. tidak berwarna dan tidak berbusa.6 42. proporsi rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar 86.0 4. warna dan busa. rasa.6%). secara nasional terdapat 7. NTT.0 47. (tabel 3. Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.0%. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Provinsi-provinsi di mana anak-anak ikut berperan dalam pengambilan air untuk kebutuhan rumah tangga adalah Papua. meliputi kekeruhan. NAD. NTT.1 3. bau.2% dan 7.3 41.8 41.Tabel di atas menunjukkan.2% wanita dan 4.2 3.2 43.6 3.1 3. Persentase perempuan yang bertanggung jawab dalam pengambilan air di rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. tidak berasa. 250 .4 3.7 2. Sumatera Barat.182 menunjukkan secara nasional. Ada 15 provinsi yang proporsi kualitas fisik air minumnya baik di bawah rerata nasional.5 49.2 50. terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah (58. tidak berbau.

4 1.5 0.8 87.7 0.6 2.2 9.2 Berbusa 1.5 0.8 1.6 5.0 1.4 10.9 13.0 4.0 3.0 3.5 34.2 9.7 0.8 4.8 5.3 0.0 6.1 6.3 10.1 1.7 1.5 80.5 95.4 79.8 3.7 1.8 6. Riskesdas 2007 Kualitas fisik air minum Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keruh 17.5 2.8 1.3 3.6 2.1 84.7 6.9 11.0 1.3 2.9 4.1 2.2 6.8 4.8 3.6 71.8 3.6 2.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (84.6 1. tidak berwarna.1 5.0 3.7 0.9 3.7 3.2 81.4 1.9 3.7 12.0 80.1 Berbau 4.7 4.8 7.8 2.2 17.0 91.9 6.8 Indonesia 9.7 1.6 4.4 7.5 75.2 5.6 0.5 10.7 1.4 Berwarna 12.4 2.9 3.0 3.7 5.8 2.8 0.4 1.3 84.5 6.8 2.2 84.4 87.8 82.9 6.5 9.6 0.4 22.4 0. 251 . proporsi rumah tangga dengan kualitas fisik air minum baik di perkotaan sedikit lebih tinggi (88.4 0.9 89.5 7.2 3.1 3.9 1.1 2.7 0.6 79.2 6.6 89.6 Baik*) 75.5 26.3%).182 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.9 4. terutama dalam hal kekeruhan dan warna.7 9.4 3.4 3.9 3.5 0.2 10.3 11.4 3.6 2.6 1.9 3.3 7.9 6.5 1.0 5.183).9 1.1 4.Tabel 3.7 1.5 9.5 1.8 1.2 11.6 6.3 2.0 * baik = tidak keruh.3 Berasa 7.3 90. Secara umum.0 92.8 3.9 1.3 88.4 15.0 9.2 5.0 3.7 86.4 3.6 6.7 6.9 1.2 9.3 88.2 90.5 58.9 82.1 8.6 9. tidak berasa.9 88. (Tabel 3.2 95.8 93.1 4.5 18.9 1.8 1.0 11.8 0. tidak berbusa dan tidak berbau Proporsi kualitas fisik air minum rumah tangga yang baik bervariasi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 0.5 2.4 90.5 15.0 1.8 4.3 3.3 9.2 5.7 92.1 7.5 90.0 7.3 1.2 10.6 5.4 2.7 4.5 4.6 1.6 8.3 6.6 6.9 6.5 8.3 0.1 86.0 0.0 6.8 15.5 84.9 1.6 7.3 2.1 0.7 7.4 3.4 15.

0%.0 85.8%). tidak berbusa dan tidak berbau Data jenis sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga diambil dari data Kor Susenas 2007.6% menjadi 6. Papua.6 11. DKI Jakarta.1 * baik = tidak keruh.1 3. Provinsi-provinsi yang cakupan air perpipaannya di atas rerata nasional antara lain Kalimantan Selatan.4%. Provinsi-provinsi yang proporsi penggunaan air kemasannya tinggi antara lain Kepulauan Riau. air sungai 3.7 4.9 4. Provinsi yang banyak menggunakan air hujan sebagai sumber air minum antara lain Kalimantan Barat. Banten. Bila dibandingkan data Susenas 2004. 252 .5 3.3 3. Bali.3 1.7 3.4 4.7 88.0 0.3 83.0 3.5 6.8% dan lainnya 0. mata air tidak terlindung 5.4 5.9 4.6 5.8 85. Tabel 3.5 Kualitas fisik air minum Keruh Berbau Berwarna Berasa Berbusa Baik*) 3.1 9.5 1.0%. penggunaan air kemasan di rumah tangga mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat.2 5.9 10. dan Papua Barat.2 1.2 7.8 6.5%). dan DI Yogyakarta.0 2.6 84.3 8.1 1.9 86.3 6. tidak berwarna. Jambi.7 8.Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang kualitas fisik air minumnya baik.184 Secara nasional masih banyak rumah tangga yang menggunakan air minum dari sumber tidak terlindung (sumur tidak terlindung 12.9 88.1 5.183 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. tidak berasa.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 10.1 7.6 7. yaitu dari 2. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 6.0 1. dan Papua Barat. Sementara yang menggunakan air perpipaan/ledeng tidak mengalami peningkatan/tetap (masing-masing 17. Pada tabel 3.0 1. Riau. DKI Jakarta.

1 7.9 7.7 0.4 5.7 27.4 10.4 0.5 3.7 4.9 10.6 10.7 1.7 3.6 47.6 0.4 29.6 19.3 5.5 3.8 11.2 8.3 1.8 6.6 11.2 10.2 0.0 2.6 1.6 11.6 20.3 41.5 0.0 1.9 22.5 21.3 7.3 6.0 3.2 5.5 55.7 7.7 4.2 0.0 1.3 1.4 13.4 7.6 15.8 28.6 1.4 11.8 10.0 7.4 3.0 0.0 3.2 6.7 25.9 12.4 11.0 0.184 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.4 7.2 1.4 3.9 0.7 5.9 1.5 0.0 3.3 13.7 2.6 5.2 2.2 34.1 0.5 4.3 0.0 3.0 0.7 14.2 3.5 29.1 21.0 3.3 1.2 0.3 3.9 0.0 3.1 2.9 28.6 6.1 5.9 14.3 1.1 43.3 1.5 7.7 19.8 253 Lainnya 0.6 5.5 5.3 9.9 15.0 13.8 1.6 5.4 2.2 20.0 0.8 6.9 18.6 3.8 0.5 11.2 4.3 8.1 41.5 5.1 8.6 3.1 0.4 57.1 10.7 0.6 7.4 1.8 3.9 5.0 1.9 0.3 0.9 22.1 1.8 4.4 .8 8.0 0.2 8.0 3.9 11.3 3.4 0.1 2.8 3.6 7.8 21.1 0.3 5.6 11.8 15.0 1.7 9.8 17.4 3.8 13.8 6.9 10.4 0.8 11.7 5.1 2.1 4.3 1.6 34.9 1.8 2.2 0.7 1.9 2.8 2.7 10.6 46.5 13.6 25.1 30.2 0.9 0.9 0.2 36.Tabel 3.7 0.9 4.0 5.2 1.4 4.5 5.7 3.6 6.9 22.5 10.1 28.9 34.2 15.7 12.9 3.5 0.0 1.7 1.8 11.2 1.3 5.9 29.8 9.4 0.4 0.2 9.0 14.9 19.2 20.0 8.5 5.5 7.5 15.1 49.8 9.5 0.4 0.3 1.0 21.1 15.9 16.2 14.6 0.9 11.1 0.1 2.0 0.8 0.5 12.2 2.2 2.0 0.4 9.8 meteran NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.9 1.0 9.3 6.2 7.9 0.7 13.1 17.9 0.1 0.9 18.2 24.3 1.2 5.5 0.9 12.9 0.1 25.2 2.2 1.9 23.6 2.5 10.1 13.3 1.4 5.5 .9 5.4 1.2 2.9 3.0 8.1 11.3 1.9 8.7 7.7 14.5 0.6 16.3 10.3 1.4 7.7 34.9 3.9 7.5 11.6 0.3 0.0 3.4 2.4 8.2 5.1 1.8 3.7 0.4 13.9 12.4 34.2 35.4 17.1 0.7 0.1 8.0 Indonesia 6.0 2.2 14.5 0.4 4.8 7.3 3.1 2.6 7.1 7.3 0.3 0.7 1.7 1.3 2.3 4.2 15.8 14.7 0.6 4.8 9.2 2.3 33.7 0.8 13.6 40.7 0.1 0.0 43.0 0.6 14.9 1.1 42.6 0.2 0.1 24. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk Terlindung Provinsi Ledeng eceran Air kemasan Air sungai terlindung Mata air terlindung Air hujan 1.3 3.2 26.6 1.0 28.6 11.6 18.2 2.7 29.0 9.0 11.7 14.4 13.6 2.2 2.9 2.2 0.8 33.1 Ledeng Pompa Sumur 0.2 2.0 4.3 23.4 4.7 11.1 7.1 8.2 8.7 7.9 3.6 0.4 6.1 18.5 0.4 6.4 10.9 1.5 0.5 1.4 10.0 5.7 21.5 21.8 19.

3 13.9 6.9 2. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak terlindung.2 3.8 5.7 7.7 10. Di daerah perdesaan sumber air minum yang menonjol digunakan dibandingkan di perkotaan adalah jenis sumur (terlindung dan tidak terlindung).1 14.9 5.2 30. dan Sumatera Utara.6 4.3 4. Tabel 3.1 24.9 7. mata air.8 4. (Tabel 3. NAD. 254 Mata air Pompa Sumur Lainnya .2 2.1 16.5 29.5 0. air sungai dan air hujan.1 12.2 4. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Karakteristik rumah tangga Ledeng meteran Ledeng eceran Air kemasan Sumur bor / Mata air tdk Terlindung Sumur tdk terlindung terlindung terlindung Air sungai Air hujan 2.8 12.6 0. ledeng eceran.1 3.3 2.4 4. dan sumur bor lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.2 17.5 7.0 31. Papua Barat.6 0.0%) dan tidak menggunakan penampungan (18.4 27.3 1.186 menggambarkan jenis tempat penampungan air untuk keperluan minum yang digunakan rumah tangga dan jenis pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum air tersebut dikonsumsi.9 25.9 8.5 3.9 4.9 13.0 6.0 0.9 3. Tempat penampungan air di rumah tangga sebagian besar menggunakan wadah tertutup (69.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 2.3 4.9 0.4 0.9 6. ledeng meteran.2 14.8 11. Bila melihat sebarannya.185 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.2 21.8 5. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.7 3.1 8.7 7.1 3.3 12.3 10. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan air kemasan.7 30.1 5.3 10.8 11.1 4.Sebaran proporsi penggunaan jenis sumber air minum bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 5.185) Tabel 3.1 16.8%. dan sumur pompa.7 0.2%).2 3.8 5.5 2.1 14.4 16.0 7.0 28.8 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.4 0.0 5.5 0. ledeng eceran.4 Penggunaan air kemasan. sedangkan yang menggunakan wadah terbuka sebesar 12.7 7.6 9. Sumatera Barat. provinsi-provinsi dengan proporsi penampungan air terbuka tinggi antara lain Papua.

3 5.9 1.3 69.7 6.0 41. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak 89.1 14.1 0.9 94.8 86.8 23.3 11.7 67.5 0.9 2.9 Bahan kimia 0.5 0.0 94.5 10.1 8.9 34.6 5.6 7.7 95.6 2.6 70.1 92.8 0.5 2.3 72.7 0.5 5.5 95.4 5.4 90.1 2.2 3.6 17.0 5.6 84.5 1.3 1.9 2.8 7.7 94.9 40.7 93.3 9.Tabel 3.4 0.2 11.1 72.5 14.8 7.5 13.5 4.2 8.6 14.7 1.2 8.0 5.3 7.1 9.6 21.5 62.4 37.5 9.3 12.7 5.8 0.9 7.0 4.3 9.1 2.2 255 .9 10.1 2.4 93.4 2.1 0.4 13.6 4.0 16.7 84.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 21.3 97.5 0.0 8.8 12.2 5.6 33.6 9.5 20.1 91.2 10.1 10.0 92.6 55.4 17.3 2.4 2.8 0.4 26.2 3.3 92.3 72.8 7.4 96.1 69.0 31.9 4.7 54.1 12.2 4.9 11.1 3.1 56.6 54.4 93.4 5.6 31.9 2.7 0.6 0.9 5.3 5.6 24.2 3.7 0.0 22.3 8.8 81.8 6.9 7.6 98.7 81.5 9.6 16.7 5.7 Lain nya 4.5 89.3 5.3 2.6 27.7 4.7 96.4 8.3 86.6 15.1 96.1 0.2 11.1 24.4 56.6 62.4 3.4 1.0 75.8 96.1 17.1 3.4 Indonesia 12.4 1.8 1.2 0.8 12.3 4.8 60.4 70.4 14.4 4.2 5.0 5.7 4.5 4.1 97.8 93.7 0.2 2.6 79.4 5.5 1.1 9.3 5.0 4.7 0.3 94.3 5.3 7.8 69.1 5.1 9.6 0.5 1.4 8.1 3.1 7.1 76.6 64.3 8.7 5.3 12.1 17.9 0.2 1.5 Disaring 12.2 0.2 1.8 12.8 0.2 28.7 wadah diminum 37.3 7.8 0.7 1.3 11.8 19.0 7.1 26.7 76.8 81.4 1.3 7.0 12.3 15.7 14.3 21.0 Tempat penampungan Provinsi Tdk ada Wadah terbuka Wadah tertutup 41.2 16.0 78.7 4.4 0.5 6.0 5.7 7.0 30.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Provinsi.0 80.3 0.1 14.1 25.4 10.2 96.6 48.8 10.7 94.9 14.1 70.8 79.8 84.0 10.3 12.5 18.7 12.0 18.6 6.1 97.0 1.6 88.8 11.0 2.0 12.0 77.2 23.7 12.3 6.8 95.9 45.1 0.9 30.0 6.7 26.6 7.6 6.0 78.

sedangkan data jenis sarana air minum berasal dari Kor Susenas 2007.0 69. Proporsi penggunaan tempat penampungan air dan pengolahan air sebelum dikonsumsi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 12.6 18. (Tabel 3. Kalimantan Selatan.187).0 69.0 91. Dalam hal pengolahan air sebelum dikonsumsi.2 92.5 7. Tabel 3.1 1. 256 .4 89.3%). Provinsi dengan proporsi penyaringan tinggi adalah NTT. Terdapat 12.1 14. sedangkan yang langsung diminum (tanpa pengolahan) lebih tinggi di perkotaan.2 7. Sarana sumber air yang improved menurut WHO/Unicef adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng.9 7. dan air hujan.5 88.9 4. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 10.9 1.8 12. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.9 20.4 17. dan Kalimantan Timur. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin kecil proporsi yang menggunakan wadah terbuka. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak Disaring Bahan kimia Lain nya Karakteristik rumah tangga Tempat penampungan Tdk ada Wadah Wadah terbuka tertutup Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 9. sedangkan yang tidak menggunakan penampungan lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.7 2. mata air terlindung. Data konsumsi air dan jarak ke sumber air berasal dari Riskesdas 2007.8 wadah diminum 22. sumur terlindung.3 92.9 2.7 15.Secara nasional pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum digunakan sebagian besar dengan cara dimasak (91.2 2.6 6.9 8.1 2.7 Proporsi yang menggunakan wadah terbuka lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.1 69.3% yang melakukan pengolahan dengan cara penyaringan dan 2.2 10.6 68.9 92.4 12.9 68.6 12.2 15.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 12.9 13.7 17.4 2.8 7.1 1. sedangkan provinsi dengan proporsi pembubuhan bahan kimia tinggi adalah Kalimantan Tengah.8 3. selain dari itu dikategorikan not improved.3 13. Maluku dan Jawa Timur.8 92.9 7.3 9.4 16.4 12. sumur bor/pompa. tampak cara memasak dan disaring sedikit lebih tinggi di perdesaan. sarana sumber air yang digunakan improved.3 2.8 7.3 3. akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari.1 12.187 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Tangga.0% dengan membubuhkan bahan kimia. dan sarana sumber air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah.9 68. tetapi semakin meningkat yang tidak menggunakan tempat penampungan air.5 69.

3 51.7 46.2 65.6 37.5 63.4 62. 2007).1 26.3 53.0 68.9 63.5 36.7 51.8 55.2 67. disusul oleh Riau (31.0 61.6 68.4%).7 38. 2007).9 76. dari sumber terlindung (Susenas.8 34.5 77.9 56.3 Baik*) 48.2 44.2 62. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 51.1 36.5 22.5 46.7 39.8 31. Provinsi dengan proporsi akses baik terhadap air bersih di bawah rerata nasional sebanyak 18 provinsi.9 73.8 35.4 31.5 53. 2007) Berdasarkan kriteria tersebut.4 49.9 39.4 40. tabel 3.6 50. terendah Papua (26. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.8 33.Tabel 3.7% yang mempunyai akses baik terhadap air bersih.7 Indonesia 42.5 53.3 48.5 46.3%) dan Kepulauan Riau (31.7 48.2 62. 257 .1 23.7 *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.4 62.7%).3 61.8 55.2 44.3 57.9 64.0 38.6 37.1 35.6 59.7 38.8 37.1 74.2 65.0 31.188 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi.3 60.8 37.3 61.1 60.9 25.2 68.188 menunjukkan secara nasional terdapat 57.1 43.

5 53.4 41.7 38.189 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga.Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.4 60. Data ini diambil dari data rumah tangga Kor Susenas 2007.6 39. dari sumber terlindung (Susenas. 2007).2 Fasilitas Buang Air Besar Data fasilitas buang air besar meliputi penggunaan atau pemilikan fasilitas buang air besar dan jenis jamban yang digunakan.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (51. 2007). dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.0 43.6 58.0 56. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 32. 2007) Tabel di atas menunjukkan di perkotaan akses baik terhadap air bersih lebih tinggi (67. semakin tinggi tingkat pengeluaran cenderung semakin besar proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih.3%). 3.9.3 Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 47.3 61.7 67.5 CATATAN : *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.1 48.9 51. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. 258 .

2 19.8 58.7 8.2 9.0 7.2 8.8 6.1 19.1 5.3 47.9%.7 16.6 14.3 6.0 13.0 0.8 63.8 59.9 27.4 58. dibandingkan dengan hasil Susenas 2004 mengalami penurunan sebesar 1.2 17.0 32.0%).1 11.1 4.1 18.1 4.7 65.8 49.4 42.3 1.4 9.9 38.0 5.5 16.4 4.2 49.6 7.4 20.1 7.0 4.7 1.5 36.0 46.4 1. NTB (35.1 28.8 27.3 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 58.0 .7 31.2 23.7 1.8%).0 42.1 9.8 2.4%).1 60.1 6.1 12.2 3.6 3.9 23.9 25.2 42.7 12.1 53.6 61.8 Tabel 3.5 36.4 57.5 3.4 64.1 79.8 2.1 12.4 8.4 25.2 71.2 24.190 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.8 43.0 1.0 14.3 65. Beberapa provinsi dengan proporsi penggunaan jamban sendiri rendah antara lain Gorontalo (31.8 57.3 12.8 15.9 Bersama 8.3 9.3 2.5% (tahun 2004 sebesar 60.2 25.1 45.3 8.9 36.1 1.0 2.6 60.8 12.7 4.6 8.8 32.5 13.0 12.190 menunjukkan rumah tangga yang menggunakan/memiliki jamban sendiri sebesar 58.9 16.5 35.2 7.2 Tidak ada 32.2 26.7 77.5 16.4 31.9 51.6 Umum 8.7 3.7 13.1 18.9 11.0 7. 259 .6%) dan Maluku Utara (36.5 64.Tabel 3.8 7.5 8.2 6.8 20.6 11.3 76.1 25.1 59.2 47. Susenas 2007 Jenis penggunaan Provinsi Sendiri 51.9 12.0 20.5 0.8 72.3 59.4 8.6 2.4 3.5 9.4 31.4 57.5 32.

(Tabel 3.6 12.192 menggambarkan berbagai jenis sarana pembuangan kotoran.6 52. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 14.2%). Provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak pakai jamban tinggi antara lain Kalimantan Tengah (14.9 4.0 12.8%).5 Sendiri Bersama Umum Tidak ada Tingkat pengeluaran rumah tanggaper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 43.2 19.3%. Banten (87. penggunaan jamban saniter ini mengalami peningkatan yang signifikan.1%). Secara nasional rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebesar 68. Dibandingkan dengan data tahun 2004 sebesar 49.6 Persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di perkotaan lebih tinggi (73.2 49.8 11. dan DI Yogyakarta (83.191 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.8 9.1 30.3%).4 37.2 34.2 11.3 58.0 13.2%).7%).3%). Provinsi dengan cakupan penggunaan jamban saniter tinggi antara lain Bali (95.Cakupan penggunaan jamban sendiri menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 6.5 2. Kalimantan Selatan (13.2 4.5 65. 260 .1 25.2%).2%) dibandingkan dengan di perdesaan (49.0 75.4%) dan Papua (11. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi yang menggunakan jamban sendiri. Sulawesi Utara (85.8 11.9%).2 3. Gorontalo (87.191) Tabel 3.9%.7 3.3 10. DKI Jakarta (86. Maluku Utara (84.7%). Susenas 2007 Jenis penggunaan Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 73. Tabel 3. Jenis sarana pembuangan kotoran dianggap ‘saniter’ bila menggunakan jenis leher angsa.3 4.

7 87.2 2.4 3.8 69.8 68.7 95.6 11.7 0.1 75.2 83.6 13.3 13.9 2.9 17.2 53.6 Tidak pakai 7.5 6.8 6.192 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi.7 0.3 24.1 1.7 3.4 14.9 14.4 2.3 11.9 9.0 8.8 8.8 15.2 7.6 14.6 67.0 7. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Provinsi Leher angsa NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 59.4 25.5 66.2 9.3 12.0 24.2 25.8 14.2 5.0 7.7 79.8 12.1 9.2 75.2 Cemplung/ cubluk 24.9 0.8 4.6 84.8 1.4 3.4 39.0 30.7 26.5 63.193) 261 .0 68.8 60.7 8.1 19.5 29.6 2.0 18.5 85.6 1.1 87.7 2.6 9.8 6.5 70.2 86.5 9.9 76.6 21.3 58.Tabel 3.3 7.5 62.7 9.3 16.8 5.7 5.9 66.3 7.3 5.4 7.0 17.5 Proporsi penggunaan tempat buang air besar bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.5 5.4 60.7 5.6 2.5 18.9 18.0 4.7 16.6 4.9 72.9 4.2 13.9 6.2 75.1 49.0 Plengsengan 8.4 1.6 4.3 1.7 0.4 10.2 Indonesia 68.5 7.5 6.8 4.7 59.0 16.8 11.0 6.5 4.2 31.9 4.1 8.4 4.3 13.0 1.8 24.0 43.6 6.8 11.0 78.8 15.8 6.3 67.1 15.4 0.8 22.6 2.

6 2.4 22. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi yang menggunakan jamban jenis leher angsa.8 68.9%).0%.5 9.0 7.1 17.3 3.5%) dan Maluku Utara (31.2 5.9 56.8 1.3 73.193 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.1 Leher angsa Plengsengan Cemplung/ cubluk Tidak pakai Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Proporsi rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa lebih tinggi di perkotaan (83. terendah adalah Papua (17.6 4. pada tabel 3.6 82.7 5.8 10.6 7.5 61.4 10.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (56.5 7.0 8.1%).2 8. akses sanitasi disebut ‘baik’ bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa.0 53.5 11. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.5 27.0%). 262 .5 13. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 83.9 9. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.Tabel 3. Terdapat 18 provinsi dengan akses baik terhadap sanitasi di bawah rerata nasional.8 26. disusul oleh Papua Barat (25.194 dapat dilihat secara nasional rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi sebesar 43. Berdasarkan kriteria tersebut.

0 43.7 44. Susenas 2007 Akses sanitasi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 66. Tabel 3.9 60.3%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.0 *) menggunakan jamban sendiri.9 46.0 66.1 40.4 58.0 49.5 22.0 58.7 55.3 55.9 42. di perkotaan lebih tinggi dua kali lipat (63.0 65.0 50.6 51.4 55.3 57.1 58.1 Baik*) 33.195 menunjukkan proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi. Menurut tingkat 263 .6 41.9 Indonesia 57.0 74.2 46.8 39.194 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Provinsi.0 25.2 68.1 55.7 35.6 69. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 41.5 44.0 41.5 82.4 31.0 33.3%).5 27.1 46.7 42.9 41.5 55.5 73.4 48.8 31.1 50.7 50.2 63.0 34.1 53.2 60.0 70.5 58.8 36. jenis latrin (Susenas.1 57.3 49.Tabel 3.8 53.9 54.5 17.6 45.9 44.9 49.3 64. 2007).4 29.0 30.6 70.5 77.3 44.

5%). Provinsi-provinsi yang proporsi pembuangan akhir tinja saniternya di bawah rerata nasional adalah NTT.3 Akses sanitasi Kurang Baik*) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 74. Tempat pembuangan akhir tinja dikategorikan saniter adalah bila menggunakan jenis tangki/sarana pembuangan air limbah (SPAL). data diambil dari Kor Susenas 2007.7 63.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (30. Maluku. Papua Barat. Kalimantan Tengah. sisanya dibuang ke sungai/laut. Untuk pembuangan akhir tinja.5 36. Secara nasional. proporsi rumah tangga dengan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki/SPAL (saniter) sebesar 46. jenis latrin (Susenas. Tabel 3. NTB.3 30.3 50. Jambi.3%. lobang tanah. Susenas dan Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 36. dan Gorontalo.1 34. (Tabel 3. Lampung.9 65.pengeluaran rumah tangga per kapita terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.(Tabel 3. NAD.5 *) menggunakan jamban sendiri. 2007).5 25. Proporsi rumah tangga dengan penggunaan tempat pembuangan akhir tinjanya jenis tangki/SPAL (saniter) bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.196) Proporsi penggunaan sarana pembuangan akhir tinja saniter tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta (86. kolam/sawah.5 63. Sulawesi tengah.4 57.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. Kalimantan Selatan.7 49. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Papua. dan pantai/tanah.3%).7 69.6 42. Proporsi rumah tangga yang menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinja dua kali lebih tinggi di perkotaan (71. Sulawesi Tenggara. Bengkulu.0%) dan Bali (76. Sulawesi Barat. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan tangki/SPAL. Sumatera Barat. Kalimantan Barat.197) 264 .

Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Provinsi Tangki/ SPAL NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 36.5 31.9 7.7 69.2 18.1 57.5 11.5 1.2 5.5 1.8 21.3 1.6 0.2 31.3 30.0 2.2 13.9 0.9 2.0 25.1 15.6 1.4 76.9 15.5 49.3 16.0 1.1 22.6 35.5 1.7 22.1 0.0 0.6 20.1 0.1 21.4 18.7 38.0 25.2 4.7 1.0 14.8 8.2 6.3 2.7 0.6 7.1 4.1 20.7 31.1 11.4 0.2 5.5 34.6 6.4 1.1 21.4 36.0 0.3 34.3 3.8 2.8 32.3 43.2 4.2 29.6 16.1 2.9 2.5 3.7 Lainnya 3.6 0.4 21.9 86.9 3.0 1.1 1.2 Indonesia 46.2 14.0 1.9 22.3 1.8 9.3 8.3 14.4 35.7 14.8 16.1 3.0 14.3 1.1 46.7 3.7 69.4 42.4 26.7 22.8 1.6 1.6 2.1 2.9 1.7 6.3 33.2 22.8 2.0 20.5 2.7 26.9 0.3 23.7 1.4 30.1 5.7 11.6 21.7 15.4 5.3 33.1 28.0 4.4 3.8 24.2 1.0 265 .6 2.0 49.0 26.6 40.2 55.9 22.0 21.0 24.1 42.7 14.2 11.4 11.2 1.7 2.4 1.3 2.9 21.6 18.1 0.3 0.5 11.9 46.1 30.5 38.1 7.4 0.6 0.6 1.196 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi.2 Sungai /laut 22.3 17.4 33.4 1.4 0.0 1.6 1.6 0.0 53.4 54.1 50.9 3.2 48.3 15.6 4.9 45.1 4.9 22.1 6.6 21.1 25.9 12.8 4.3 32.0 0.5 Lobang tanah 22.7 7.0 0.6 24.7 Pantai/ tanah 12.7 53.8 1.2 20.4 8.6 0.3 55.0 1.3 0.0 0.7 12.4 2.1 12.7 39.Tabel 3.6 2.8 47.1 7.2 2.8 61.7 Kolam/ sawah 63.4 0.3 41.1 1.

Di daerah perdesaan.9 2.8 12.3 16.4 Kuintil 4 52.3 3.Tabel 3.9%) dibandingkan dengan di perkotaan (15.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 30.1 1.5 2.7%).9 6.4 24.5 21.5% (Tabel 3.9%).199) 266 .7 7. terdapat 67.6 1. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 9.2 2.6 3.198) Terdapat 16 provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak memiliki SPAL lebih tinggi dari rerata nasional. semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin rendah proporsi rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.9.0 4.5 26.2 16. Proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. baik SPAL jenis tertutup maupun terbuka.6 27.9 Perdesaan 30. terdapat peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.8% menjadi 32. tertinggi adalah NTT (77. disusul oleh Kalimantan Selatan (75. Susenas 2007 Tempat pembuangan akhir tinja Karakteristik rumah tangga Tangki/ SPAL Kolam/ sawah Sungai /laut Lobang tanah Pantai/ tanah Lainnya Tipe daerah Perkotaan 71.(Tabel 3.2 2.3 23.1 10.7%) dan Kalimantan Tengah (65. Secara nasional.6 23.5 4.2 11.8 Kuintil 3 45. proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL hampir tiga kali lipat (42.3 3.197 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.8 2.8 1.3 Sarana pembuangan air limbah Data penggunaan saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga didapatkan dengan cara wawancara dan pengamatan.7 11.2 3.8 20.1 22.7 1.7% rumah tangga yang menggunakan SPAL di rumahnya.6 3.0 Kuintil 5 65.5 19.9%). Dibandingkan dengan data Susenas tahun 2004.3 Kuintil 2 38. yaitu dari 25.2 2.0 11.

9 34.5 23. Riskesdas 2007 Saluran pembuangan air limbah Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Terbuka 56.7 23.8 42.3 38.3 77.4 47.7 46.1 17.3 11.5 34.0 17.8 21.9 10.7 11.2 71.0 48.4 9.3 24.5 41.5 69.7 31.8 14.9 41.0 46.7 12.3 16.9 43.2 32.1 Tertutup 17.0 27.5 47.7 27.5 25.2 34.6 37.9 8.2 5.0 49.7 44.3 52.4 8.3 25.7 16.3 18.5 55.1 52.3 4.1 37.2 Indonesia 42.7 52.6 25.8 6.5 46.4 30.6 37.0 16.0 27.5 33.2 21.6 30.6 51.2 10.7 13.6 39.7 4.6 46.4 42.7 Tdk ada 26.1 20.1 27.2 17.1 24.8 10.5 267 .3 25.4 17.0 11.7 20.7 33.2 48.0 50.1 25.6 53.3 60.6 26.1 57.9 75.1 43.1 14.6 65.9 47.0 38.4 48.9 44.1 43.4 69.198 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.5 22.3 40.Tabel 3.

4 Pembuangan sampah Data pembuangan sampah meliputi ketersediaan tempat penampungan/ pembuangan sampah di dalam dan di luar rumah.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 42.5 3.201 menunjukkan di perkotaan proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah lebih tinggi (36.5 Kuintil-2 42.9.9 40.4 33. Proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 28.5% rumah tangga memiliki tempat sampah di luar rumah. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang memiliki tempat sampah.0 Kuintil-4 42.9 42.3 35. 268 .9% di luar rumah).6% rumah tangga yang memiliki tempat sampah di dalam rumah dan 45.5% dalam rumah dan 38.2 29.6 Saluran pembuangan air limbah Tertutup Tdk ada 42. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memiliki tempat sampah tertinggi adalah Gorontalo (dalam rumah) dan Kalimantan Selatan (luar rumah).8 23.4 20.0 Kuintil-5 41.199 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Tabel 3. baik di dalam maupun di luar rumah.3% dalam rumah dan 56.9 15.7 22. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 14.8 Kuintil-3 43. Tabel 3.9 Perdesaan 42.5 17.200 menunjukkan secara nasional terdapat 26.2% di luar rumah) dibandingkan dengan di perdesaan (20.1 36.Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Terbuka Tipe daerah Perkotaan 41.

0 7.4 36.1 34.6 68.5 27.5 7.1 26.5 3.5 61.4 3.9 62.3 80.1 64.0 17.4 11.8 4.9 56.8 5.3 60.9 69.5 10.9 51.5 55.6 77.3 13.8 18.2 16.2 37.6 23.0 21.2 3.3 13.3 24.4 8.1 83.2 5.9 35.8 24.6 56.1 4.4 86.4 34.0 11.9 31.2 66.5 18. Riskesdas 2008 Penampungan sampah dalam Provinsi Tertutup NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5.8 7.0 10.8 73.4 35.4 23.2 28.2 77.7 5.0 65.7 76.4 47.3 4.1 71.5 269 .1 66.2 31.3 14.8 6.8 58.8 5.8 6.5 65.6 2.8 74.4 18.3 48.9 24.0 76.6 73.2 17.1 58.2 12.5 15.3 7.3 73.1 73.9 5.4 3.1 58.5 16.4 5.2 54.3 63.200 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.7 34.5 3.3 30.4 66.1 41.2 60.7 54.2 15.9 81.0 3.6 3.6 18.7 26.0 8.1 32.1 6.8 61.3 54.2 77.0 80.0 Indonesia 8.5 12.1 23.8 83.3 72.7 13.0 29.3 63.5 81.4 5.5 37.3 49.3 44.4 6.5 74.5 Tertutup 9.0 27.4 80.4 3.1 34.9 42.0 23.8 Penampungan sampah di luar rumah rumah Terbuka 17.5 6.2 6.6 65.5 7.0 9.0 29.3 65.8 4.1 28.8 5.6 3.0 55.0 11.8 36.9 8.5 14.5 8.7 19.2 5.0 33.0 39.3 7.4 14.1 Terbuka 25.3 30.2 10.0 85.2 54.7 8.7 13.4 15.0 Tidak ada 65.1 8.6 80.Tabel 3.9 17.1 8.4 28.7 7.9 15.1 36.9 5.0 33.5 8.9 11.0 11.8 22.7 14.1 75.7 Tidak ada 77.6 85.5 17.9 3.2 21.5 9.8 6.0 16.9 23.3 65.9 53.0 29.0 42.0 2.9 64.9 72.9 10.1 72.5 37.5 59.0 7.0 63.6 56.1 10.

5 Kuintil-2 6.203 memperlihatkan proporsi rumah tangga dengan jenis lantai tanah di perdesaan lebih tinggi (17.8 18.1 60. Riskesdas 2007 Penampungan sampah dalam rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 63.1 65. Tabel 3. luas lantai rumah dan jumlah anggota rumah tangga diambil dari Kor Susenas 2007. Dilihat dari provinsi.2 Kuintil-4 10.4 7.0%).8%).0 Tipe daerah Perkotaan 15. Sedangkan provinsi dengan proporsi hunian padat lebih tinggi dari rerata nasional antara lain Papua (51. Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi luas lantai rumah dalam meter persegi dengan jumlah anggota rumah tangga.4 79.5 3.8 15.0 Kuintil-3 7.0 71. Data jenis lantai.9%).8 36. terdapat delapan provinsi dengan proporsi jenis lantai rumah tanah lebih dari rerata nasional.Tabel 3.2 52.0 Kuintil-5 14.7%). 270 .5% dengan tingkat hunian padat.4 40. Proporsi rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan tingkat hunian padat bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 34. kepadatan hunian.3 3. Papua Barat (40. dan DKI Jakarta (37.3 8.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4. ada kecenderungan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang lantai rumahnya tanah dan tingkat huniannya padat.4%).9 13.9. Tabel 3. dan keberadaan hewan ternak dalam rumah.3 21.7 46. sedangkan proporsi rumah dengan kepadatan hunian tinggi tidak menunjukkan perbedaan antara di perkotaan dan perdesaan. disusul oleh Jawa Tengah (28.5%).1 57.9 61.5 38.3 17. yaitu memenuhi syarat bila ≥8m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila <8m2/kapita (padat).6 55.9 15.8 5.202 menunjukkan secara nasional masih terdapat 12.201 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga. sedangkan data pemeliharaan ternak diambil dari Riskesdas 2007. tertinggi NTT (44.3 16.5 40.7 79.6% rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan 17.4%) dan Papua (27.0 19.2 6. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0%) dibandingkan dengan di perkotaan (5.0 20.5 Perumahan Data perumahan yang dikumpulkan dan menjadi bagian dari persyaratan rumah sehat adalah jenis lantai rumah.0 Perdesaan 4.7 76. Hasil perhitungan dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat.0 37.7 74.1 Karakteristik rumah tangga Penampungan sampah di luar rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 43.9 35.

8 93.4 78.7 83.8 51.6 20.3 82.0 69.5 17.6 63.1 76.5 20.6 44.4 55.2 25.1 66.7 96.1 7.7 90.0 5.8 7.1 97.3 5.3 97.0 30.3 4.5 73.0 Indonesia 87.2 37.1 15.3 4.2 90.6 89.3 11.3 18.9 89. Kepadatan Hunian dan Provinsi.2 27.2 80.4 19.0 88.3 17.3 12.8 28.8 9.8 16.5 26.4 36.7 13.2 2.6 96.4 12.3 93.2 71.4 59.4 10.9 17.9 10.2 83.9 89.7 82.3 78.1 13.9 21.9 33.9 2.2 84.6 40.8 97.Tabel 3.4 4.4 3.1 91.4 27.2 8. Susenas 2007 Jenis lantai Provinsi Bukan tanah NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 86.3 96.7 94.1 89.202 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.7 88.9 21.0 11.9 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 79.2 92.1 78.8 74.1 79.6 80.6 88.3 86.3 5.5 93.7 2.9 92.6 11.5 96.7 95.4 79.4 96.3 16.1 10.8 72.3 84.7 4.7 17.1 82.5 79.5 6.9 84.7 81.7 6.0 Tanah < 8 m2/ kapita 20.7 15.4 88.1 10.9 8.1 78.2 6.8 19.5 80.0 94.6 22.9 20.6 3.3 9.8 15.8 91.8 62.7 21.7 94.2 49.5 3.6 72.4 11.7 87.5 19.5 271 .6 82.9 23.6 95.

domba.4 34.0 80.5 83. dll).6 82.2 82.2 5. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10%-20% memeliharanya di dalam rumah. kemudian ditanyakan dan diamati apakah dipelihara di dalam rumah. babi.9 6.3% memelihara ternak sedang.1 93. Pada Tabel 3. Bali dan Papua. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 94.4 78. Bila di rumah tangga memelihara ternak. kucing dan kelinci.4 10. 12.5 Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita < 8 m2/ kapita Bukan tanah Tanah Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Dalam hal pemeliharaan ternak. Provinsi-provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memelihara ternak tinggi antara lain Provinsi NTT. data dikumpulkan dengan menanyakan kepada seluruh kepala rumah tangga apakah memelihara binatang jenis unggas.8 17.3 87.7% rumah tangga yang memelihara unggas. 8. kucing atau kelinci. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3. maupun binatang kucing. baik jenis unggas.205).9 85.0 19. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. dll) atau binatang peliharaan seperti anjing. ternak sedang.204 tampak secara nasional terdapat 41.6 65. ternak besar. kerbau. anjing atau kelinci.9 15.8% memelihara ternak besar dan 16.1 14. Susenas 2007 Jenis lantai Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 94. ternak besar (sapi.6 21. 272 .6 89.1 84.9% memelihara binatang jenis anjing.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.5 17.7 12. ternak sedang (kambing.5 17. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin sedikit memelihara ternak.6 90.4 5. kuda.Tabel 3.4 9.

0 0.8 6.8 48.8 3.3 63.4 0.7 96.1 12.8 23.8 29.3 44.0 0.2 3.1 0.1 71.7 16.2 2.8 25.3 13.1 0.7 5.8 3.5 9.2 99.3 0.9 97.4 0.9 8.7 3.9 13.9 94.2 0.7 11.1 83.8 2.7 94.9 82.0 50.0 0.5 96.4 17.0 82.0 14.6 90.0 15.7 69.6 93.1 0.6 94.3 6.0 95.1 97.8 3.8 99.2 2.7 39.1 0.8 19.3 48.1 4.2 0.8 Tdk dipelihara 87.0 6.4 0.3 29.4 0.3 0.9 66.6 57.2 1.4 1.8 62.8 5.3 17.5 58.3 0.1 70.0 3.6 67.9 89.7 77.6 0.1 73.9 2.4 96.2 25.0 82.7 17.0 94.6 8.6 85.1 3.6 16.8 0.204 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.0 0.2 7.8 45.7 95.0 2.9 98.4 4.9 9.5 1.3 90.5 0.4 2.2 80.8 95. Riskesdas 2007 Ternak Unggas Provinsi Dlm rmh 3.7 4.6 85.3 26.7 92.1 61.5 33.7 93.8 29.1 69.6 0.6 0.2 0.6 3.5 78.2 4.3 23.2 4.2 4.8 5.4 8.7 14.1 87.7 40.7 9.9 4.7 92.7 95.5 95.6 64.5 27.3 65.3 10.9 17.8 33.9 9.0 6.2 25.6 83.6 1.7 15.3 91.3 0.3 57.8 6.4 0.3 0.8 54.1 75.8 91.3 12.3 4.1 93.3 5.9 88.7 2.4 77.9 0.4 2.5 3.9 5.8 3.1 54.7 76.4 Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh 1.2 69.2 0.1 7.6 2.4 40.4 97.3 29.1 0.2 13.1 0.9 59.1 7.2 4.7 26.1 83.3 9.0 0.6 2.9 14.1 47.9 18.8 2.1 10.5 87.2 2.1 1.3 40.6 52.1 1.6 0.1 31.9 2.5 83.0 2.9 1.8 1.1 35.8 0.1 79.3 6.1 2.4 62.4 10.0 13.5 5.0 11.7 97.1 95.3 8.3 1.7 99.0 18.2 0.3 94.8 45.4 34.1 2.6 7.1 99.3 0.5 83.5 0.5 3.0 0.1 90.2 0.7 66.4 49.9 0.3 83.1 Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh 9.9 2.3 6.0 12.7 63.3 0.9 12.8 5.8 31.2 0.1 16.6 11.3 0.2 35.3 0.6 4.9 56.2 81.8 52.1 93.0 6.7 92.9 96.2 Tdk dipelihara 44.1 0.2 6.4 85.1 7.6 94.7 67.5 6.9 3.0 33.8 47.5 2.8 0.0 18.1 0.4 0.0 Luar rmh 11.0 Tdk dipelihara 86.8 10.0 0.6 83.2 93.1 5.1 88.3 10.8 50.8 26.4 0.6 98.9 32.0 3.1 27.3 1.3 90.4 64.9 11.8 91.0 51.5 5.1 8.7 4.9 3.7 4.2 2.9 Luar rmh 3.1 2.9 0.8 2.2 66.3 26.9 8.4 15.0 91.0 0.9 68.0 94.4 0.1 36.2 30.8 6.9 13.9 2.8 11.6 69.6 8.7 6.8 1.6 7.1 21.8 94.0 Tdk dipelihara 86.4 78.7 0.0 5.0 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 273 .9 3.8 0.5 42.0 65.3 1.4 5.7 4.3 Luar rmh 12.4 9.7 5.6 10.7 0.7 3.3 26.3 84.4 4.0 80.0 14.6 46.8 91.7 1.7 56.9 2.5 Luar rmh 51.3 94.4 99.0 0.6 98.9 22.3 99.5 1.5 27.6 91.2 88.4 11.0 96.4 57.5 1.4 7.2 3.Tabel 3.3 89.5 6.6 89.1 66.4 85.7 31.9 3.6 71.8 36.1 95.3 7.8 8.6 92.7 Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh 0.2 16.5 6.8 2.5 0.1 0.6 84.5 2.0 70.6 1.4 84.9 8.7 3.0 90.8 4.

7 96 82.7 83.3 1.7 1.6 13.2 0.5 9.3 1.0 81.8 89.0 0.0 4.8 53.0 89.Tabel 3.8 12.7 7.6 15.9 59.3 1.2 0.5 90.4 45 76.6 7.0 94.6 87.0 6.6 12 4.2 54.1 82.8 7.3 1.2 6.3 9.4 56.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.8 7.5 2.4 97.2 8.1 6.3 274 .4 1.4 89.8 6.6 92.8 89.4 7.9 67.3 7.4 36.2 79.5 11.8 19.5 86 87.5 0.4 1.7 39 38.2 4.3 9.6 82.5 10.1 11.6 85.7 6.5 10.6 9.5 1.7 10.205 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.1 27.2 8.6 1. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Ternak Unggas Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 4.3 34.8 3.3 47.8 0.4 92.8 8.3 7.0 84.

0 19.9 3.0 Perempuan n % 144 48 27 48 89 124 213 251 316 454 8.5 4.8 1.7 13.5 6. 275 . Kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sebelum survei (terletak pada rentang waktu 1 Juli 2006-31 Januari 2008) ditindaklanjuti dengan wawancara kepada anggota keluarga almarhum/ah menggunakan kuesioner AV.6 2.0 16.10 Mortalitas Pewawancara menanyakan kejadian kematian selama kurun waktu tiga (3) tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1000.4 14.6 18.552 kejadian kematian.5 rata-rata jumlah ART).0%. Tabel 3.4 2. yang anggota keluarganya berhasil diwawancarai secara lengkap. Tabel 3. Riskesdas 2007 Kelompok umur Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas Laki-Laki n % 210 55 49 89 89 120 298 381 460 468 9.0 4.4 26. hanya 4.4 Distribusi kematian menurut umur dan jenis kelamin pada tabel 3.7 21.1 20.3 13.014 kasus (88. Pada kelompok umur muda (di bawah 15 tahun). sedangkan pada umur 75 tahun ke atas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.2 4.2 7.2 12. proporsi kematian di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan. termasuk di dalamnya 75 kasus lahir mati.206 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.5 2.163.2 persen).4 17. proporsi kematian pada umur 5-14 tahun terendah.8 5.3.206 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada umur di bawah 1 tahun adalah 9. dan proporsi kematian umur 15 tahun ke atas semakin meningkat. sedangkan pada kelompok umur 45-74 tahun di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan.552 kasus kematian di atas.488 RT yang berhasil diwawancarai x 4.5 Total n 354 103 76 137 178 250 511 632 776 922 % 9.0 5.4 2.7 23.0 2. yaitu 4. 3.196 (=258.10. Proporsi kematian pada umur 45-74 tahun pada laki-laki lebih besar daripada perempuan.6 1.552 per 1.207 membandingkan proporsi kematian menurut tipe daerah.1 Distribusi Kasus Kematian Diantara 4. Data mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33 provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4.

pnemonia. Riskesdas 2007 Kelompok umur n Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas 104 31 23 59 84 97 252 295 327 378 Perkotaan % 6. proporsi penyakit menular telah menurun. dan diare. sedangkan penyakit tidak menular didominasi oleh strok.10. Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001.4 3. walaupun dalam enam (6) tahun terakhir penurunan hanya sedikit.7 11.207 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah. 276 .9 15. menurut empat (4) kelompok penyebab kematian. Pada tabel 3.0 19.9 3. Penyakit menular didominasi oleh TB penyakit hati (termasuk hepatitis kronik).1 6. yang disusul oleh TB (7.4 4. tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti dengan transisisi demografi.5 6.5%).9 1. Proses ini diprediksi akan berjalan terus.7 23.0 2.0 16.8 n 354 103 76 137 178 250 511 631 776 922 Total % 9. dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen.3 3.3 1.3 13.7 19.5 4. Di lain pihak. dan tumor ganas.3 17.6 23.209 menunjukkan urutan penyakit menular dan tidak menular pada semua umur.1 5.9 19.6 5. Proporsi gangguan maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan.0 3.6 1.9 n 250 72 53 78 94 153 259 336 449 544 Perdesaan % 11. Hipertensi (6.3 14.8%) dan Cedera (6.2 Kematian Semua Umur Tabel 3.Tabel 3. Grafik 3. Kondisi maternal/perinatal dalam kurun waktu tujuh (7) tahun tidak berubah dan kematian karena cedera tidak mengalami perubahan.4%). diabetes mellitus. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat. hipertensi.1 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen.8 22. sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.5%).208 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15.1 2.4 3.

5 0.8 0.1 5.1 5.208.1 4.6 0.Tabel 3.5 6.1 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit.3 0.5 1.4 7.7 5. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 277 .8 6.5 6.7 5.8 3.0 5. Grafik 3.3 0.5 0.7 1. Riskesdas 2007 Penyebab kematian Strok TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi Proporsi kematian (%) 15.6 1. Pola penyebab kematian semua umur.2 .6 3.

0 4.210). Di lain pihak.8 19.2 Strok Penyakit Hipertensi Diabetes mellitus Tumor ganas Penyakit jantung Iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 hari Malformasi congenital Malnutrisi % Penyakit tidak menular (n=2.3 Kematian Menurut Kelompok Umur a. Bila dibandingkan dengan seluruh kematian neonatal ini.2 9.2 7.285) % 26.Tabel 3.2 6. Kematian bayi neonatal lanjut (7-28 hari) tercatat 39 kasus.9 1. kematian bayi neonatal dini (0-6 hari) adalah sebesar 78.4 3. 96. tercatat 181 kasus kematian.5%.4 1. Proporsi bayi prematur yang meninggal cukup tinggi (32. seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan.080) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/ ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia 27. Kematian Berumur 0-28 hari (Neonatal) Jumlah kematian perinatal di 33 provinsi.4 13. Sisanya. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil.1 14.3 9.2 2.1 1. Terbanyak karena sepsis (20%) (Tabel 3. maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil.9 12. yaitu kematian bayi 0-28 hari.10.5 3.3 10. Proporsi lahir mati cukup tinggi yaitu 34. yaitu lahir mati ditambah kematian bayi umur 0-6 hari tercatat sebesar 217 kasus kematian. pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.0 0.6 3.6% (75 kematian) dari seluruh kematian perinatal.2 10.209. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir marti secara berturut-turut adalah hipertensi maternal (24%). Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur. Poporsi terbesar disebabkan karena gangguan/kelainan pernafasan (respiratory disorders). Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal.4%) menunjukkan bahwa penanganan bayi prematur belum memuaskan. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari). faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya.2). Riskesdas 2007 No Penyakit menular (n=1. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir. sebesar 142 kasus kematian. jumlah kematian neonatal. atau karena alasan lainnya. yaitu kematian bayi umur 0-6 hari (disebut juga kematian bayi neonatal dini).8% ibu dari bayi perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil. komplikasi ketika bersalin 278 . selanjutnya urutan ke 2 dan 3 disebabkan oleh prematuritas dan sepsis (Tabel 5. Untuk kematian perinatal.

1 15.0 21.8 16.211 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari.9 6.210 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 hari No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0-6 hari (n=142) Gangguan/kelainan pernafasan Prematuritas Sepsis Hipotermi Kelainan perdarahan dan kuning Postmatur Malformasi kongenitas % 35. Kematian Berumur 29 hari-4 tahun Kematian bayi postneonatal dan anak balita didominasi oleh penyakit menular.6 2.8 12.4 2.4 Sepsis 7-28 hari (n=39) Malformasi kongenital Pnemonia Sindrom gawat pernafasan (RDS) Prematuritas Kuning Cedera lahir Tetanus Defisiensi nitrisi Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden infant death) % 20. Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi postneonatal (29 hari-11 bulan) dan anak balita (14 tahun) untuk tiga penyakit terbesar mempunyai pola yang sama yaitu diare.(partus macet) sebesar 17.211).6 3.8 0-6 hari (n=142) Ketuban pecah dini Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Kelainan nutrisi maternal Multiple pregnancy Perdarahan antepartum Persalinan sungsang Infeksi intrapartum Lilitan tali pusat Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran % 23. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lahir mati (n=75) Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Ketuban pecah dini Perdarahan antepartum Cedera maternal Persalinan sungsang Kehamilan ganda Infeksi intrapartum Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran Lilitan tali pusat % 23.6 2.3 5.0 6.6 2.7 10.5 18. Tabel 3.4 12.0 10.6 2.7 3.5 3.5 12. dan pnemonia.6 17.9 5.5 Tabel 3.6 1. Sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal berumur 0-6 hari adalah ketuban pecah dini (23%).6 3.9 5.8 2.7 12.4 12. dan hipertensi maternal (22%) (Table 3.6 2.3 6. Untuk bayi postneonatal penyebab kematian yang juga perlu diperhatikan 279 .9 32.1 b.3 1.5%.8 1.

7 4.3 6.5 7.3 6.9 3.9 2. TB 4% (Tabel 3.1 6.2 15. Tabel 3.4 5. yaitu sebesar 16% dan 9% (Tabel 3.5 5.strok dan TB menempati urutan pertama dan kedua.9 2.0 5. Proporsi kematian karena TB menempati urutan ke empat di perkotaan.212).6 5.8 6.4 9.8 Pnemonia Necroticans Entero Collitis (NEC) Meningitis/ensefalitis Demam berdarah dengue hidrosefalus 6 7 8 9 10 Sepsis Tetanus Malnutrisi TB Campak 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit jantung iskemik Tumor ganas Penyakit hati NEC Penyakit jantung lain Penyakit saluran nafas bawah kronik Perkotaan (n=1.5 10.8 5. Tabel 3.8 Diare 1-4 tahun (n=103) % 25. diabetes mellitus.7 Strok TB Perdesaan (n=1.966) % 16.4 4.3 5.2 Campak Tenggelam TB Malaria Leukemia 5.1 4.3 Hipertensi Penyakit kronik Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik NEC Penyakit jantung lain Diabetes mellitus saluran nafas bawah 7. tenggelam 5%.213 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah.9 2.6 6.515) % 19.4 23.8 4.212 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.1 9.7 7.213).5 5. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 29 hari-11 bulan (n=173) Diare Pnemonia Meningitis/ensefalitis Kelainan saluran pencernaan Kelainan jantung congenital dan % 31. hypertensive diseases. Di perdesaan.3 1.4 280 . Kematian Berumur 5 Tahun ke atas Proporsi penyebab kematian tiga terbesar pada kelompok umur lima (5) tahun ke atas di perkotaan adalah penyakit tidak menular yaitu: stroke.9 c.1 2.7 8. sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%.8 9.1 8.2 1.adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%).

3 6 7 8 9 10 Diabetes mellitus Strok Ulkus lambung dan usus 12 jari Hipertensi Penyakit jantung lain 4.Proporsi kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan berbeda dengan di perdesaan.5 7.4 13. Tabel 3. proporsi penyakit tidak menular seperti strok.0 6.6 4. sedangkan di perdesaan adalah diare dan pnemonia (masing-masing 11%).0 8.5 7. penyakit hati dan TB.215 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah.0 13.9 9.3 Perdesaan (n=53) Diare Pnemonia Malaria Kecelakaan lalu lintas Penyakit hati Jatuh Tenggelam NEC Tifoid Gagal ginjal % 11.0 3.2 4.2 4.2 4. hati.3 4.3 4.8 3. Selain itu.8 Proporsi penyakit penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut tipe daerah menunjukkan bahwa perkotaan dan perdesaan mempunyai pola yang sama yaitu tempat teratas diduduki oleh kecelakaan lalu lintas.7 3.5 7.4 7.4 9. paru-paru. hati) % 9. masingmasing sebesar 8% (Tabel 3.0 13.3 2.214). leher rahim.3 4.4 5. proporsi kematian karena penyebab obstetrik lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.5 8.1 Di perkotaan.8 5. Di perdesaan proporsi penyakit infeksi sebagai penyebab kematian sama 281 .5 3. Kematian karena kecelakaan lalu lintas di perdesaan 2 kali lebih besar daripada di perkotaan. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 Perkotaan (n=240) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Kematian karena penyebab obstetrik Tumor ganas (payudara.3 11. rahim) % 13.4 3. Tabel 3. 214 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.9 Penyakit jantung iskemik Ulkus lambung dan usus 12 jari Strok Tifoid Penyakit kronik saluran nafas bawah 4.4 10.7 8. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=23) Demam berdarah dengue Tifoid Meningitis Pnemonia Jatuh Tumor ganas Kecelakaan lalu lintas Campak Infeksi lain dan penyakit parasit % 30.2 3.9 9. di perdesaan banyak kematian akibat jatuh dan tenggelam. payudara. penyakit jantung iskemik sudah cukup tinggi sebagai penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan. Di perkotaan proporsi kematian yang terbesar adalah demam berdarah dengue (30%).4 Perdesaan (n=325) Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas TB Malaria Tumor ganas (leher rahim. Pada kelompok umur tersebut.3 9. rahim.

(Tabel 3.215) Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun pada laki-laki maupun perempuan karena tuberculosis masih tinggi (11% pada laki-laki. Pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki maupun perempuan proporsi penyakit tidak menular lebih tinggi secara mencolok dibandingkan penyakit menular.5 4. keduanya didominasi oleh penyakit tidak menular.2 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Laki-Laki (n=298) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Malaria Strok Penyakit jantung iskemik Tifoid Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Jatuh % 16.6 Perempuan (n=261) Penyakit hati TB Penyebab obstetrik lain Tumor ganas leher rahim dan payudara Ulkus lambung dan usus 12 jari Kecelakaan lalu lintas Malaria Diabetes mellitus Hipertensi Tifoid % 9. Di perkotaan kecelakaan lalau lintas termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian (Table 3. Proporsi TB sebagai penyebab kematian hamper sama di perkotaan maupun di perdesaan (Tabel 3. hipertensi. proporsi penyebab kematian karena penyakit infeksi pada kelompok umur 45-54 tahun lebih tinggi di perdesaan (25%) dibandingkan di perkotaan (14%). diabetes mellitus.0 5.3 4.9 4.dengan di perkotaan (19%). 8% pada perempuan). pada laki-laki proposinya sama dengan perempuan. Untuk penyakit menular. Pada perempuan.3 3.7 7. Proporsi tumor ganas pada perempuan secara mencolok lebih besar dari laki-laki (Tabel 3. penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian. Proporsi yang terbesar pada laki-laki adalah kecelakaan lalu lintas.7 5.5 Menurut tipe daerah. Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok.218).0 4.6 2.0 2. proporsi kematian karena other direct obstetric deaths di urutan ke tiga sebesar 8% (Tabel 3.1 9. proporsi TB lebih besar di perdesaan. sedangkan proporsi penyakit tidak menular lebih besar di perkotaan (62%) dibandingkan di perdesaan (48%). Penyakit menular yang masih banyak menyebabkan kematian adalah TB. Tabel 3.7 7.217). 282 .220). Proporsi penyakit TB pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki lebih besar (11%) dari pada pada perempuan (9%).2 3.7 11. pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda.216 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin. (Tabel 3. Pada kelompok umur 55-64 tahun. Pada perempuan penyakit tidak menular yang terbanyak menimbulkan kematian adalah diabetes mellitus (16 persen). sedangkan pada laki-laki terbesar adalah strok (16%).219).0 5.6 4.216).6 7.

7 Penyakit jantung lain Penyakit hati 6.0 9.8 8.0 9.1 7. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Strok Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik TB Hipertensi Penyakit jantung lain diseases Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas Tumor ganas (payudara. rahim.218 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin. prostat) Ulkus lambung Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3.217 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah.3 3. rahim) 7 8 Kecelakaan lalu lintas Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 9 10 Tifoid Ulkus lambung 3.7 11.2 payudara. hati. rahim) 10 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3.7 Pnemonia Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 3.3 11.7 8. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Hipertensi Diabetes mellitus Laki-Laki (n=298) % 15.7 8.2 Tifoid 3.5 9.3 5. 4. % 16.2 5.7 7. leher rahim.8 4.1 payudara.8 Hipertensi Penyakit jantung iskemik Penyakit hati Diabetes mellitus Tumor ganas (paru-paru.2 8.1 8.2 4.6 7.8 TB Strok Perdesaan (n=259) % 12.0 6. leher Perkotaan (n=252) % 15.9 14.3 283 .5 5. hati.9 7.1 6.8 3.2 4.Tabel 3.0 Perempuan (n=213) Diabetes mellitus Strok Penyakit jantung iskemik Hipertensi TB Tumor ganas (paru-paru.6 8.3 11.4 4.0 8.8 rahim.0 2.

paru-paru. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 Laki-Laki (n=381) Strok Diabetes mellitus TB Hipertensi Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain % 22. payudara.219 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Tipe Daerah.7 Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit lain Penyakit jantung iskemik Tabel 3.6 8 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 4.8 8.6 9.4 2.6 8.4 Penyakit jantung lain Penyakit kronik 9 10 Tumor ganas (hati.9 saluran pernafasan bawah 5. rahim. payudara.0 11.8 Proporsi kematian pada umur 65 tahun ke atas karena penyakit tidak menular sedikit lebih tinggi di perkotaan (59. leher rahim. rahim) Penyakit kronik saluran pernafasan bawah % 20. rahim. 284 .2 8.5 8. paru-paru. paru-paru.1 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 Penyakit jantung lain NEC 4.0 5.220 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Jenis Kelamin. payudara.2 Tumor ganas (hati.6 5.4 10.8 Perempuan (n=251) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit hati Tumor ganas (hati.5 9.1 7. paru-paru. prostat.4 11.1 5.8 Perkotaan (n=295) % 26.1 6.1 Strok Perdesaan (n=337) % 17.7 12.4 6.5%) dari pada di perdesaan (57%).6 2. prostate) Penyakit lain 2. leher rahim.Tabel 3.0 5.7 Penyakit jantung lain 3.3 NEC Penyakit jantung iskemik 3.7 3. leher rahim.2 6. prostat) NEC 3.5 10.1 7.3 3. otak) 3. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan yang menyebabkan kematian adalah penyakit sistem pernafasan seperti TB.8 5.4 6.6 9 10 NEC Tumor ganas (hati.7 3.

222).6 saluran pernafasan bawah Laki-Laki (n=928) % 20.6 3. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Strok NEC Hipertensi Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 7 8 9 10 TB Penyakit jantung lain Penyakit hati Pnemonia 6.2 285 . Riskesdas 2007 No 1 2 Strok Penyakit kronik 3 4 TB Hipertensi 8.9 4.3 5.4 4. dan pnemonia.0 2.9 5.2 9. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan tidak jauh berbeda dengan di perdesaan (Tabel 3.4 3.penyakit hati.0 Perkotaan (n=705) % 23.3 6. Tabel 3.9 4.9 5. Pola penyakit sama dibandingkan kelompok umur yang lebih muda.6 6.9 10.221).0 6.0 6.4 11.0 3.9 7. Tabel 3.0 3.0 7.222 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin.3 Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Hipertensi TB NEC Penyakit jantung lain Proporsi penyebab kematian pada umur 65 tahun ke atas pada laki-laki maupun perempuan sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular.7 NEC Penyakit saluran pernafasan bawah kronik 5 6 7 8 9 10 NEC Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Penyakit hati Pnemonia 7.8 10.5 4.5 Strok Perempuan (n=770) Hipertensi % 24.1 7.8 Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain TB Pnemonia Penyakit hati 6.2 9.5 Strok Perdesaan (n=993) % 21.2 9.5 3.3 Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Pnemonia Penyakit hati 5.5 9. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Tabel 3.221 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas menurut Tipe Daerah.5 8.0 5.8 7.6 6.

T. Depression Linked With Increased Risk of Heart Failure Among Elderly With Hypertension. Studi Morbiditas dan Disabilitas. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Past Antihypertensive drugs and Risk of Hypertension : A Rural Indonesia Study. Basuki. Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas. ------------------9/20/2002 Hipertensi.com/penyakit/hiperten. Balitbangkes.. ORC Macro 2002-2003. Daily Working Load. Atmarita. 3. de Courten. Surveillance Noncommunicable Diseases and Mental Health. 2006. Tahun 2002. Dwyer T et al. Age.Geneva World Health Organization. Departemen Kesehatan R. 13. de Courten M. 2001. Departemen Kesehatan. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan.I.DAFTAR PUSTAKA 1. Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: The WHO STEP wise approach.I. Badan Pusat Statistik. 6. R. 8. 4. Geneva: World Health Organization 16. 2005 2. -----------------Faktor Resiko Terjadinya pria.htm.. 286 . Departemen Kesehatan R. Body Posture.1999). Jahari. Abas B.. Bonita. Summary.344-348. 2000. Jakarta 29 Februari . Hipertensi. Tahun 2002 10. Operational Study an Integrated Community-Based Intervention Program on Common Risk Factors of Major Non-communicable Diseases in Depok Indonesia. Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. http://www. Idrus Jus'at. Status gizi balita di Indonesia sebelum dan selama krisis (Analisis data antropometri Susenas 1989 . Depkes RI.2 Maret 2000. Disability And Health – A Common Framework For Describing Health States. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. B & Setianto. Fasli Jalal. The International Classification Of Functioning. K. http://www. Bedirhan Ustun. p. Bonita R.. 2002.I. 2001 15.medem. Laporan SKRT 2001: Studi Kesehatan Ibu dan Anak. Departemen Kesehatan R. Dwyer. Departemen Kesehatan R. AMA (American Medical Association). Winkelmann. Soekirman. The WHO Stepwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Faktors. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Bonita R et al. 9. M. B.I. Laporan SKRT 2001: Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil. Laporan SKRT 2001: Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular. 5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.klinik http://www. 2000 14. Departemen Kesehatan R. Sandjaja. Herman Sudiman. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. 12.medicastore. 2001. R.com/datatopik /hipertensi.htm. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.I. Dini Latief. Jamrozik. Tahun 2002. 11.com/MedLB/article_ID=ZZZUKQQ9EPC&sub_cat=73 8/24/2002. 7. Geneva: World Health Organization. The WHO STEPwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Factors.

2003.I. Depkes. Jakarta: Departemen Kesehatan. Diabetes Care 28: 1182 -1186. Mochizuki S. 2006. Disability And Health (ICF). Kelompok Kerja Serebro Vaskular FK UNPAD/RSHS “ . Departemen Kesehatan.R. Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu. Department of Health and Human Services.17. Laporan. Mohammad A. Glucose Intolerance is Common in Japanese Patients With Acute CoronarySyndrome Who Were Not Previously Diagnosed With Diabetes. May 2002 19. Darmojo. 1991 – 1999. Shah S.World Health Organization. 2005. Pusat Promosi Kesehatan. Departemen Kesehatan R. Departemen Kesehatan R. et al.J. Imamoto S. Survey Kesehatan Nasional. 1999. 30. Hashimoto K. 51 (21) : 456.P. Program Imunisasi di Indonesia. Ikewaki K. Depkes RI 24. CDC. Vital and Health Statistics. Yagi H. Johnson G. George Alberty. Statistik Penyakit Penyebab Kematian. Khan. Number 246. Prevalence of Blindness and Visual Impairment in Pakistan: The Pakistan National Blindness and Visual Impairment Survey. Hartono IG. 21. B.. SKRT 1995. Departemen Kesehatan. Tahun 2002 26. Brotoprawiro. 1995 34. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. 51 (20).A. Nagasawa H.. 25.. Non Communicable Disease. Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI. 1999. 31. Psychiatric morbidity among patients attending the Bangetayu community health centre in Indonesia. Investigative Ophthalmology and Visual Science.I. Mengamati Penelitian Epidemiologi Hipertensi di Indonesia. Departemen Kesehatan RI. 18. Mohammad Z. Departemen Kesehatan. 2001. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.I. Djaja. Departemen Kesehatan R. Tomorrow’s pandemic.. Laporan. 2003. 22. Departemen Kesehatan R. Geneva. Survey Kesehatan Nasional.47:4749-55. 287 . S dkk.I. 2002. State-Specific Mortality from Stroke and Distribution of Place of Death United States. CDC Growth Charts for the United State : Methods and Development. Pemantauan Pertumbuhan Balita.. CDC.Depkes RI Jakarta. Direktorat Epim-Kesma. Jadoon.. SKRT 1995 32.Depkes RI Jakarta 2004. Departemen Kesehatan R. Shibata T. International Classification Of Functioning. Disampaikan pada seminar hypertensi PERKI . : 429 . S. 2001 36. 20. Bourne R. MMWR. Prevalensi Hipertensi pada Karyawan Salah Satu BUMN yang menjalani pemeriksaan kesehatan. Jakarta: Depkes RI 23. Bagian I. 2000. MMWR. 2002. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. 2003. 33. State – Specific Trend in Self Report 3d Blood Pressure Screening and High Blood Pressure – United States. 2002. 79/10: 907. 29.I. Jakarta. 35. et al. Series 11. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Bulletin WHO 2001. Dineen B. Tahun 2002 27. 1997 28.

Kaplan NM.. Perkeni. 1999 58. pp 9.Kapita Selekta Kedokteran 1999 :518 – 521. How To Keep Your Blood Pressure Under Control. Muchtar & Fenida. Diet Obesitas dan hipertensi. 44.Geneva. Geneva: WHO. 1995. Trend Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Jakarta: Perkeni. Vol 356: 213 – 215. Kristanti CM. 1998 : 41-132 40. The New England Journal of Medicine. Dwi Hapsari. Lippincott :Williams & Wilkins 2002. S. Jakarta: Badan Litbangkes. M. Mc. M. Mansjoer. Primary Hypertention Phatogenesis In : Clinical Hypertention.D. Policy Paper for Directorate General of Public Health. Bisher Kawar. 2007 47. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009. 42. 39. 2007 57. 2002. dan Soemantri S. Grawhill Medical Publishing division.Soemantri. Resolution WHA57. Report of WHO. Clinical Hipertension. 2006. 2004 43.D. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006.D. Sarimawar Djaja. Analisis Data . 2001 288 . World Health Organization. Perkeni. Jakarta: Perkeni. pp 9. 2003 55. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. and health.. Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang yang berobat di poli Ginjal Hipertensi. Petunjuk Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal. World Health Organization. Obesity and Diabetes in the Developing World — A Growing Challenge 46. International edition. 1998.co. Suhardi.phtml. http://www.D. M. Rose Men’s. Kaplan NM. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. dkk. Depkes RI.Geneva. Resolution WHA56. Geneva: WHO. 2004 50. Pedoman Pewawancara Petugas Pengumpul Data. Ph. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia.1. Steven A Haist. Kristanti CM.. 17-12 May 2004. 45. Survei Kesehatan Rumah Tangga 1992. 2005 52. 2006. 49. Hipertensi di Indonesia . Departemen Kesehatan RI. 8th Ed. Baltimore : Williams and Wilkins Inc. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.37.43. In: Fiftysixth World Health Assembly. NY.43. 54. Report of WHO. Leonard G Gomella. June 2002 51. News Health Recource. A. and Meguid El Nahas. Survei Kesehatan Rumah Tangga 41. Jan 18. Janet. Pradono J dan Soemantri S. 48. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Clinicians Pocket Reference.surya. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.Global Strategy on diet.. Parvez Hossain. In:Fiftyseventh World Health Assembly. 7th Ed. 2004 56. AS. 2006. 2002 38. 19-28 May 2003.WHO Framework Convention on Tobacco Control. 53. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga.17.physical activity. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 1997.id /31072002 /10a. 2006.

S. BJ. Titiek Setyowati. Laju Konversi Toleransi Glukosa Terganggu menjadi Diabetes di Singaparna. Gambaran Rumah Sehat di Berbagai Provinsi Indonesia Berdasarkan Data SUSENAS 2001. 20-22 November 2005.Jakarta. Agustina Lubis. 76. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Sarjito Yogyakarta. Syah. Makalah disajikan pada Simposium Nasional Litbang Kesehatan. et al. Joko Irianto. Non-communicable Disease Surveillance and Prevention in South-East Asia Region. Denpasar. Depkes RI. Pathogenesis.) 75. 29 (4). Indicators of Health Risk Factors: The AIHW view. Sandjaja. Tim survei Depkes RI.. The Australian Institute of Health and Welfare 2003.2. 1984. Titiek Setyowati. SK Menkes RI Nomor : 736a/Menkes/XI/1989 tentang Definisi Anemia dan batasan Normal Anemia 67. Sarimawar Djaja. dalam Naskah Lengkap KOPAPDI VI.ISN = 724 62. Sudikno. Causes of low vision and blindness in rural Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. SpringerVerlag. Saw S-M. Hipertensi. 72. 77.. Jakarta. 61. SKRT 2001.. Depkes R. Suradi & Sya’bani. Berkala Ilmu Kedokteran Vol. Sri Hartini KS Kariadi. Nomor 3 – 2003. Penerbit UI-PRESS : 1439.3.H.87:1075-8. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996.T. 2002. Arterial Hypertension. Volume 53. Tan D. British Journal of Ophthalmology 2003. 7-8 Desember 2005. ISSN 0377-1121 63. No. Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001. The Journal of the Indonesian Medical Association. Sarimawar Djaja dan S. Jawa Barat. Haematology: An Aproach to Diagnosis and Management. Cape town. U. Bulletin of Health Studies. Medical hazard of obesity. Perjalanan Transisi Epidemiologi di Indonesia dan Implikasi Penanganannya. Koh D. 1999 65. Prosiding temu Ilmiah dan Kongres XIII Persagi. 60. dkk. Laasar. Widjaja D. M. Husain R. The WHO STEPwise approach to Surveillance of Noncommunicable Diseases 2003. Sunyer FX. Diagnosis. Department of Haematology. Sudikno. Cakupan viramin A untuk bayi dan balita di Indonesia. ISSN: 0125 – 9695 . Badan Penelitian dan 289 . Ann Intern Med. No. Volume 31. Sinaga.8. 1993 : 119. 1999 : 13 68. B. Soemantri. No 8.M. 1984 : 44. Canberra: AIHW. 69. Pedoman Klinik Diagnosis & Terapy. Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. 64.I. 15 Th. Bandung 9 – 13 April 2000 (SX111-1) 70.W. PHE 47. Sonny P. Univ.3. 2001. Sandjaja.. STEPS Instrument for NCD Risk Factors (Core and expanded Version 1. and Therapy. Hipertensi Borderline “White Coat” dan sustained “ : Suatu Studi Komperatif terhadap Normotensi para karyawan usia 18 – 42 tahun di RSUP Dr. Analisis lanjut Data Susenas – Surkesnas 2001. 73. Pola Sikap Penderita Hipertensi Terhadap Pengobatan Jangka Panjang. P. New York Heidelberg Berlin.. AIHW Cat. Disampaikan pada Konggres Nasional ke 5. Cape town. Lisa Mulyono. Dalam: Julian Rosenthal. & Bakris GL. 74. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI. Sobel. 1997. The Risk of Hypertension : Genesis and Detection. 71.. ISSN: 0854-7971. Cakupan penimbangan balita di Indonesia. 66. Gazzard G.59.1997.

1999. 79. 2003. WHO. Geneva. (Surkesnas) 2001. 2003. World Health Organization.1994. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Auser’s guide to the self reporting questionnaire. 86. 2003 84. Surveillance of Risk Factors related to noncommunicable diseases: Current of global data. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. 1999. 85. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. Oral Health Care. World Health Organization: International Classification of Diseases. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. April 2004 80. The World Health Survey Programme. Report of an Inter-country Consultation. Jakarta: Badan Litbangkes. Assessing the iron status of populations: Report of a joint World Health Organization/Centers for Disease Control and Prevention technical consultation on the assessment of iron status at the population level . Based on The Recommendation of The Ninth Revision Conference 1975 and Adopted by The Twenty Ninth WHA. WHO-ISH.Geneva. WHO-ISH. 1995. 82. 2005. 2001. Depkes RI.15. volume 1. WHO. Injuries and Causes of Death. 1999 83. p. 81. Geneva. World Health Organization. 290 . Survei Kesehatan Nasional 78. The Surf Report 1. Switzerland. Geneva: WHO. A Public Health Report. 1997. WHO. Needs of the Community.Pengembangan Kesehatan. Surveillance of Major Non-communicable Diseases in South – East Asia Region. WHO/SEARO.

LAMPIRAN 291 .

bahwa dalam pelaksanaan Riset Kesehatan Dasar diperlukan Tim Riset Kesehatan Dasar Tahun 2006 – 2008 yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. Tahun 1995 tentang 3. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2002 Nomor 84. b. Undang-undang Nomor 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. bahwa untuk memenuhi kebutuhan informasi kesehatan yang optimal dan mempunyai lingkup nasional yang terintegrasi perlu dilakukan Riset Kesehatan Dasar yang merupakan pengembangan Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas). Mengingat : 1. c. 5. . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1179A/Menkes/SK/X/ 1999 tentang Kebijakan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1992 Nomor 100. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 791/Menkes/SK/VII/ 1999 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.Lampiran 1 KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 877/MENKES/SK/XI/2006 TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 Menimbang : a. 2. 4. tambahan lembaran negara Republik Indonesia Nomor 3609). bahwa Riset Kesehatan Dasar dapat dimanfaatkan untuk penyediaan informasi berbasis survei Pembangunan Kesehatan menuju pencapaian strategi utama Departemen Kesehatan. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1995 Nomor 67. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219).

Tim Teknis sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Tim Pakar. 2. dan Tim Manajemen dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini. 3. 5. Tim Pengarah. 4. Melaporkan hasil Riskesdas tahun 2006-2008 kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Litbangkes. 2. managemen data. Ketiga : . 7. Melaksanakan pelatihan.6. analisis data serta publikasi hasil Riskesdas. Tim Teknis. 6. Memberi masukan tentang aspek ilmiah dari proposal dan protokol dan pelaksanaan pengumpulan data. 2. Mengidentifikasi dan membahas masalah pelaksanaan yang terkait dengan aspek ilmiah dari Riskesdas. a. Membahas berbagai masalah yang terkait dengan pelaksanaan Riskesdas. 3. Memberi rekomendasi untuk meningkatkan keberhasilan dan manfaat pelaksanaan Riskesdas. Menyusun pedoman kerja dan pengolahan data. Merumuskan dan menetapkan metodologi. Melaksanakan pengumpulan data dan pengolahan data. Merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan Riskesdas. Menyusun rencana kerja. 4. MEMUTUSKAN : Menetapkan Kesatu Kedua : : : tentang KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI TENTANG TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006 – 2008 Tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2006-2008 terdiri dari Tim Penasehat. Permenkes Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. c. Melakukan desiminasi dan publikasi Riskesdas. Tim Pengarah sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. 5. b. Tim Pakar sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Melaksanakan sosialisasi. Memberi rekomendasi agar kaidah ilmiah dari Riskesdas tetap ditegakkan. 3. Melakukan pengawasan pelaksanaan Riskesdas.

Dengan berlakunya Keputusan ini maka Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 358/Menkes/SK/V/2006 tentang Tim Surkesnas tahun 2004 – 2006 dinyatakan tidak berlaku lagi. Menyiapkan prasarana Riskesdas.Siti Fadilah Supari. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.8. Departemen Kesehatan dan sumbersumber lain yang tidak mengikat. Sp. Menyusun laporan kegiatan. 9. Ditetapkan di Jakarta Pada Tanggal 3 Nopember 2006 MENTERI KESEHATAN RI Kelima : Keenam : Ketujuh : Kedelapan : Dr. Melakukan administrasi ketenagaan Riskesdas. 5. Keempat : Dalam melaksanakan tugas tim bertanggung jawab kepada Menteri Kesehatan melalui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 3.JP (K) . d. Melaporkan kegiatan dan hasil kepada Ketua Tim Pengarah. Tim Manajemen sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua bertugas : 1. Biaya kegiatan Riskesdas dibebankan kepada anggaran DIPA Badan Litbangkes. 4. 2. Melakukan administrasi keuangan. Membuat laporan kegiatan kepada kepada Ketua Tim Pengarah melalui koordinasi dengan Tim Teknis. Atas nama Menteri Kesehatan Kepala Badan Litbang Kesehatan dapat membentuk Kelompok Kerja dan Tim Riset Kesehatan Dasar pada tingkat Propinsi dan Kab/kota.dr. Mendukung administrasi Riskesdas.

Tim Pengarah Ketua Ketua I Ketua II Sekretaris I Sekretaris II Anggota . Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat 6. Badan PPSDM Kesehatan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan Direktur Metodologi Statistik Badan Pusat Statistik SAM Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi SAM Bidang Pembiayaan dan Ekonomi Kesehatan SAM Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi SAM Bidang Mediko Legal Kepala Badan Litbang Depdagri. Badan Pusat Statistik Direktur Statistik Kependudukan. Badan Pusat Statistik Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan. Departemen Dalam Negeri Ketua Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan Direktur Statistik Ketahanan Sosial. Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan 9. Menteri Kesehatan RI 2. Ph.Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 877/MENKES/SK/XI/2006 Tanggal : 3 Nopember 2006 TIM RISET KESEHATAN DASAR TAHUN 2006-2008 I. Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan 8. Kepala Badan Pusat Statistik : : : : : : : Dr Triono Soendoro. Tim Penasehat : 1. Dirjen Bina Pelayanan Medik 5. Badan PPSDM Kesehatan II. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional 10. Inspektur Jenderal Depkes 4. Sekretaris Jenderal Depkes 3. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 7.D (Kepala Badan Litbangkes) Deputi Statistik Sosial.

Ph. Ph.PH : Dr Julianty Pradono MS : Dr.D. Prof.Kes : Supraptini. Dr. Bangka Belitung : Dr. SKM. Tim Pakar : - Prof. Tim Teknis Ketua Ketua I Ketua II Ketua III Sekretaris I Sekretaris II Sekretaris III : DR.PK Dr.. Herawati Sudoyo.MM : Indah Yuning Prapti. Sumbar. MGO.. Badan Pusat Statistik : Dr..D IV. Ph. Ph.D. Irawan Yusuf. Widjaja Lukita. Dr.PD.. Sangkot Marzuki. M. Soeharsono Soemantri. PhD. MPH. Kepulauan Riau ...D. Sunarno Ranu Widjojo. OG. Soedarti Soerbakti Dr Pratiwi Sudarmono. KFER Dr. dr. Dr. Ph. David Handoyo. Sumsel. Jambi.D. Sp. Yulianto Witjaksono. MPH (Kepala Pusat Litbang Ekologi dan Status Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator .. Dr.D.III. Dr. Riau .D. Susanna Imanuel.Kes Tim Kerja Wilayah I Area Wilayah Propinsi : NAD. M. Sp. Trihono. MPH : Direktur Statistik Kesra. DR. Sumut. Soewarta Kosen.Sp. Dr Purnawan Junadi Ph. SKM. Sofia Mubarika Prof Bambang Sutisna Prof Razak Thaha dr. SKM. MSc. Faizati Karim. Ph.

MPH (Kepala Pusat Litbang Gizi dan Makanan) : Peneliti Badan Litbangkes : Peneliti Badan Litbangkes : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Koordinator . Sulut. NTT. Suwandi Makmur. Jatim. Maluku Utara... Sulbar. Kaltim. Jateng. SKM. Papua Barat. MM (Kepala Pusat Litbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah IV Area Wilayah Propinsi : Jabar. Koordinator : Dr. Sulsel. NTB. Kalsel. Papua : Dr. Erna Tresnaningsih. Bengkulu. Ph. Gorontalo Koordinator Wakil Koordinator Penanggung Jawab Spesimen Anggota : DR. Kalbar. DI Jogjakarta. Sulteng. Banten. Lampung.Tim Kerja Wilayah II Area Wilayah Propinsi : DKI Jakarta. Kalteng.D (Kepala Pusat Litbang Biomedis dan Farmasi) Wakil Koordinator : Peneliti Badan Litbangkes Penanggung Jawab Spesimen : Peneliti Badan Litbangkes Anggota : Kepala Dinkes Propinsi Kepala BPS Propinsi Peneliti Badan Litbangkes Direktur Poltekkes Tim Kerja Wilayah III Area Wilayah Propinsi : Bali. Sunarno Ranu Widjojo. Maluku. Sultra. MOH.

MM Budi Santoso. Msi. Muhamad Socheh. Tim Manajemen Ketua : ketua I : ketua II : Sekretaris I : Sekretaris II : Drg. SH MENTERI KESEHATAN RI Dr. Titte Kabul Adimidjaja. M. M.Sc.dr. Ondri Dwi Sampoerno.Siti Fadilah Supari. SKM.Kes Drs. Sp.V.PH Indah Yuning Prapti.. Apt Drs.JP (K) .

... sanitasi lingkungan.depkes.. kadar iodium dalam garam. MPH (HP 0811848473) atau Keterangan: * Naskah Penjelasan hanya diberikan 1(satu)/ rumah tangga.. dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan – Departemen Kesehatan R... .... konsumsi makanan.. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan....... 2.I. Bila Bapak/Ibu/Sdr/Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini.. ketidak mampuan. Telp.. Sunarno Ranu Widjojo. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat..go.. pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga. Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih.per keluarga. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan – Departemen Kesehatan R... berat badan. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium.. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat.(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan.. Telp/sms (021) 98264854. 20. Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Departemen Kesehatan R..... Rumah tangga Bapak/Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya...id atau 1. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam.... Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata. kesehatan gigi.. DR.000 rumah tangga yang tersebar di 18. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun... .Lampiran 2 Untuk Responden Kesmas Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R. tekanan darah. sikap dan perilaku terhadap kesehatan.I.. Jalan Percetakan Negara 29... dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden ... pelayanan kesehatan.. riwayat kematian dalam rumah tangga.. fax (021) 4209866. riwayat penyakit turunan.... penyakit menular dan tidak menular..000.. imunisasi.000 blok sensus. email riskesdas@litbang. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara. lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun... kecacatan dan kesehatan mental. (021) 4261088 ext 146. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama . Jakarta 10560. Akan dilakukan wawancara. . kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp.. pengetahuan. Wawancara meliputi keterangan diri.I mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280..I Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. cedera.

......Tim pewawancara (1 lbr).............. Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktuwaktu tanpa sanksi apapun... tetangga atau KetuaRT ... Pernyataan bersedia diwawancara... kirim ke korwil bersama kuesioner ** Diluar tim pewawancara......Responden (1 lbr) .. diukur dan diperiksa Nomor Kode Sampel ..I.. Nama Responden Urut ART Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali Nama Saksi** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan: *PSP dibuat 2 rangkap...PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)* (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan R.. No....... bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga...... untuk: .

. Rumah tangga Bapak/ Ibu juga termasuk dari sebagian rumah tangga yang akan diperiksa kadar iodiumnya....... dan disediakan makanan setelah pengambilan darah.... kecacatan dan kesehatan mental. Selain itu juga dilakukan pengambilan darah di laboratorium yang ditunjuk guna mengetahui penyakit yang mungkin terjadi berkaitan dengan penyakit menular. sikap dan perilaku terhadap kesehatan. tidak melakukan aktivitas berat.. Waktu yang dibutuhkan untuk wawancara.... berat badan...000 blok sensus. pengetahuan..... ..000. ketidak mampuan. tidak sarapan.. kelainan gizi dan kelainan bawaan...Untuk Responden Biomedis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan R. Dalam pengambilan darah akan ada sedikit rasa nyeri seperti digigit semut. riwayat kematian dalam rumah tangga. Jalan Percetakan Negara 29 Jakarta 10560 RISET KESEHATAN DASAR 2007 NASKAH PENJELASAN* Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.I. sanitasi lingkungan... penyakit menular dan tidak menular... minum air putih tawar diperbolehkan.. 20. Departemen Kesehatan RI mulai bulan Juli s/d Desember 2007 akan melakukan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di 33 Propinsi di Indonesia yang mencakup 280. Bapak/ Ibu/ Saudara akan diberi minuman 1 gelas yang mengandung gula sebelum diambil darahnya. Pengambilan darah diawasi oleh tim medis yang berpengalaman disertai peralatan yang memadai.. tekanan darah. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran tinggi badan..... anak dan balita. pengukuran dan pemeriksaan dalam satu rumah tangga adalah sekitar 2 jam.. Sasaran riset ini adalah rumah tangga dan anggota rumah tangga yang terpilih. kesehatan gigi.000 rumah tangga yang tersebar di 18. riwayat penyakit turunan. Untuk orang dewasa (umur > 15 tahun) yang akan diambil darahnya. Untuk wanita hamil. cedera..per orang.. termasuk tidak merokok. Partisipasi Bapak/Ibu/Sdr/Sdri adalah sukarela dan bila tidak berkenan sewaktu-waktu dapat menolak tanpa dikenakan sanksi apapun... 35.. namun tidak ada risiko yang membahayakan. Akan dilakukan wawancara. Untuk itu perlu dikumpulkan contoh garam yang digunakan sehari-hari untuk memasak sebanyak 3 sendok makan dan contoh urin (air seni) dari anak Bapak/ Ibu bernama .. imunisasi.... pengukuran dan pemeriksaan pada kepala rumah tangga dan semua anggota rumah tangga... Pengambilan darah dilakukan oleh petugas pengambil darah yang terlatih... perlu persiapan puasa 10 – 14 jam sebelum pengambilan darah. Yang diambil darahnya adalah semua anggota rumah tangga usia 1 tahun keatas.. Anggota keluarga yang terpilih diambil darahnya. anak dan balita tidak perlu puasa. masing-masing 1 sendok teh (5 ml) pada wanita hamil.... kami akan memberikan penggantian waktu sebesar Rp. konsumsi makanan. Hanya dibacakan untuk responden yang akan diambil sampel urin dan contoh garam untuk pemeriksaan iodium.. lingkar perut untuk dewasa dan lingkaran lengan atas untuk wanita umur 15-54 tahun.. kadar iodium dalam garam. Wawancara meliputi keterangan diri.. pelayanan kesehatan. Pemeriksaan meliputi ketajaman penglihatan mata. ..per keluarga. Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan mengetahui keadaan kesehatan dan sebagai tanda terima kasih. tidak menular. akan mendapatkan uang pengganti transport Rp...000..(usia 6-12 tahun) sebanyak 3 sendok makan. Darah vena yang akan diambil sebanyak 1 sendok makan (15 ml) pada dewasa. Riset ini bertujuan untuk mendapatkan berbagai data kesehatan masyarakat dan data biomedis..

dapat menghubungi Badan Litbang Kesehatan–Departemen Kesehatan R. Telp. email riskesdas@litbang. darah rutin atau kadar Hb bila peralatan otomatis tidak ada. Jika terjadi sesuatu yang memerlukan pertolongan dokter pada saat pengambilan darah maka Bpk/Ibu/Sdr/Sdri akan segera diberi pertolongan. fax (021) 4209866.I.depkes. Jalan Percetakan Negara 29. (021) 4261088 ext 146. dapat dibacakan beberapa kali untuk masing-masing responden . Telp/sms (021) 98264854.go. Semua informasi dan hasil pemeriksaan yang berkaitan dengan keadaan kesehatan Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri akan dirahasiakan dan disimpan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan–DepKes. MPH (HP 0811848473) 3. Sedyaningsih. Jakarta 10560.id atau 1. Sunarno Ranu Widjojo. Endang R. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat 2. MPH.Anda akan mendapatkan hasil pemeriksaan gula darah. bila perlu dirujuk ke Rumah Sakit dan biaya akan ditanggung oleh Badan Litbang Kesehatan. DrPH (HP 0816855887) Keterangan: *Naskah Penjelasan hanya diberikan 1 (satu)/ rumah tangga. dr. Dr. Bila Bapak/ Ibu/ Sdr/ Sdri memerlukan penyelasan lebih lanjut mengenai riset ini. Jakarta dan hanya digunakan untuk pengembangan kebijakan program kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

diukur. diperiksa dan diambil darah Nama Responden Nomor Stiker Tgl/bln/thn Tanda tangan/ Cap jempol diri sendiri Tanda tangan/ Cap jempol Wali** Nama Saksi*** Tgl/bln/thn Tanda Tangan Keterangan * PSP dibuat 3 rangkap untuk: . dititip pada petugas lapangan/ puskesmas untuk diserahkan kepada petugas lab) . Pernyataan bersedia diwawancara. bisa orang yang mempunyai hubungan keluarga.Tim Pewawancara (1 lbr).Responden (1 lbr) . kirim ke Korwil bersama kuesioner ** bila responden berusia < 15 tahun atau responden sulit berkomunikasi *** Diluar tim pewawancara. tetangga atau KetuaRT .Pertinggal di Laboratorium Kesehatan Daerah/ RS/Swasta (1 lbr. Saya mengerti bahwa partisipasi saya dilakukan secara sukarela dan saya dapat menolak atau mengundurkan diri sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) * (INFORMED CONSENT) Saya telah mendapatkan penjelasan secara rinci dan mengerti mengenai Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Badan Litbangkes–Departemen Kesehatan RI.

Pengumpulan data: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Pengumpul Data 4 Nama Ketua Tim: Tgl. Nomor sub blok sensus 1. RT I. Ya 2. Pengecekan: (tgl-bln-thn) Tanda tangan Ketua Tim: - - 5 6 - - *) coret yang tidak perlu . Tidak ada iodium (Tidak berwarna) SAMPEL GARAM DIAMBIL HANYA UNTUK 30 KAB/ KOTA TERPILIH (LIHAT DAFTAR KAB/ KOTA DI PEDOMAN PENGISIAN) 8 STIKER NOMOR GARAM (RUMAH TANGGA) TEMPEL STIKER DI SINI III. Tidak Blok III 1. REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KESEHATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN RISET KESEHATAN DASAR 2007 PERTANYAAN RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU RAHASIA RKD07. Perdesaan 7 8 9 Nomor Kode Sampel Nomor urut sampel rumah tangga Alamat rumah II. Tdk cukup (biru/ ungu muda) 3.Lampiran 3 . Nomor blok sensus b. KETERANGAN PENGUMPUL DATA 1 2 3 Nama Pengumpul Data: Tgl. Cukup (biru/ungu tua) 2. Perkotaan 2. KETERANGAN RUMAH TANGGA 1 2 3 4 5 6 7 Nama kepala rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga yang diwawancarai: Jumlah balita (umur di bawah 5 tahun): Jumlah kematian ART dlm periode 12 bulan sebelum survei dan dilakukan verbal otopsi: Apakah Rumah tangga menyimpan garam? Lakukan tes cepat Iodium dan catat kandungan Iodiumnya 1. PENGENALAN TEMPAT 1 2 3 4 5 6 Provinsi Kabupaten/Kota*) Kecamatan Desa/Kelurahan*) Klasifikasi Desa/Kelurahan a.

13. 7. Perem. Laki2 Jika umur 2. 3. 4.IV. Ya 2. KETERANGAN ANGGOTA RUMAH TANGGA Hubungan dengan kepala rumah tangga Jenis Kelamin Umur (tahun) Status Kawin Khusus ART ≥ 10 tahun Pendidikan Tertinggi Pekerjaan utama Khusus ART perempuan 10-54 tahun Apakah sedang Hamil? [KODE] [KODE] [KODE] 1. 9.12 8. apakah kelambu berinsektisida? Verifikasi No. 10. Tidak kol. Tidak 8. 2. Tdk Tahu kol. urut ART Nama Anggota Rumah Tangga (ART) [KODE] Jika umur < 1thn isikan “00” 1. Ya 2. Tidak ART semalam tidur di dalam kelambu? Jika ya.12 1. 14. (2) (3) 1 (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) GUNAKAN LEMBAR TAMBAHAN APABILA JUMLAH ART > 15 ORANG Kode kolom 3 Hubungan dengan kepala rumah tangga 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/ mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya Kode kolom 6 Status Kawin 1 = Belum kawin 2 = Kawin 3 = Cerai hidup 4 = Cerai mati Kode kolom 7 Pendidikan Tertinggi 1 = Tidak pernah sekolah 2 = Tidak tamat SD 3 = Tamat SD 4 = Tamat SLTP 5 = Tamat SLTA 6 = Tamat Perguruan Tinggi Kode kolom 8 Pekerjaan Utama 01 = Tidak kerja 02 = Sekolah 03 = Ibu umah tangga 04 = TNI/Polri 05 = PNS 06 = Pegawai BUMN 07 = Pegawai swasta 08 = Wiraswasta/ Pedagang 09 = Pelayanan Jasa 10 = Petani 11 = Nelayan 12 = Buruh 13 = Lainnya Kode kolom 12 Verifikasi 1= Tidak ada perubahan 2= Ada perubahan 3 = Meninggal 4 = Pindah 5 = Lahir 6 = Anggota baru 7 = Tdk pernah ada dlm RT sampel .≥ 97 thn puan isikan “97” 1. Ya 2. 8. 12. 5. Tidak Tahu (1) 1. 6. 11. 15.

. Jika terdapat kematian dalam periode 12 bulan sebelum survei sampai dengan survei berlangsung. AV1 29 hari . Keguguran 3...... MORTALITAS Nama ART yang diwawancarai: .AV3 .. Thn Tahun …… …….. Bayi lahir mati p. Malaria f....... Lainnya (9) Bln Hari Bulan 1.....AV dengan melihat kolom 7 (umur saat meninggal) untuk memilih jenis kuesioner Kode kolom 8 Penyebab Kematian Kode kolom 4 Hubungan dengan kepala RT 1 = Kepala rumah tangga 2 = Istri/suami 3 = Anak 4 = Menantu 5 = Cucu 6 = Orang tua/mertua 7 = Famili lain 8 = Pembantu rumah tangga 9 = Lainnya 01 = Diare 02 = ISPA/radang paru 03 = Campak 04 = TBC 05 = Malaria 06 = Demam berdarah 07 = Sakit kuning 08 = Tifus 09 = Hipertensi/Jantung 10 = Stroke 11 = Kencing manis 12 = Kanker/Tumor 13 = Kecelakaan/Cedera 14 = Hamil/Bersalin/Nifas 15 = bayi lahir mati 16 = penyakit lainnya. Stroke k.. Diare b.... Thn Tahun Hari Bulan …… ……........ Kehamilan 2... Lainnya.. Bln 3.. .. ISPA/ Pneumonia c.. Lk 2..... 1) KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 (TERMASUK KEJADIAN BAYI LAHIR MATI) ---... Urut ART yang diwawancarai: (lihat Blok IV kol. Melahirkan 4.. Campak d.... DBD g.54 thn yang meninggal. Typhus i.. Kolom 7 Umur saat meninggal GUNAKAN KUESIONER: < 29 hari (NEONATAL): RKD07. Thn Tahun Hari Bulan …… ……... Urut Nama yang Meninggal Hubungan dengan Kepala Rumah Tangga [KODE] Bulan dan Tahun Kejadian Kematian sejak 1 Juli 2004 Jenis kelamin 1.... Hipertensi / Jantung j.< 5 thn: RKD07.. Kecelakaan/ cedera n...... Bln 4........AV2 5 thn ke atas : RKD07...... Masa nifas (60 hr setelah bersalin) 5.... JIKA TIDAK ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 LANGSUNG KE BLOK VI No..HANYA DALAM RUMAH TANGGA 1 APAKAH ADA KEJADIAN KEMATIAN SEJAK 1 JULI 2004 KARENA PENYAKIT DI BAWAH INI: (BACAKAN PILIHAN PENYAKIT) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Sakit kuning h. Hamil/ Bersalin/ Nifas o.... Thn Tahun Hari Bulan …… ……. Kencing manis l. Bln 2.... maka lanjutkan dengan menggunakan kuesioner RKD07.. No...... TBC e.. Kanker/ Tumor m... Pr Umur Saat Meninggal ⇒ < 1 th tulis dalam bulan ⇒ < 1 bulan tulis dalam hari ⇒ < 1 hari tulis 00 pada kolom Hari ⇒ Lahir mati tulis 98 pada kolom hari ⇒ ≥ 97 thn tulis 97 pada kolom thn [ISI SALAH SATU BARIS: HARI ATAU BULAN ATAU TAHUN] (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Penyebab Utama Kematian [KODE] Untuk wanita umur 10 .....V. apakah terjadi pada: 1....

Suplementasi gizi (Vit A. Pemberian Makanan Tambahan h... Tidak membutuhkan 11 . Penyuluhan c........ AKSES DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN 1a Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit. apakah alasan utamanya? 1.... Bidan Praktek)? Berapa jarak yang harus ditempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu..... Tidak ada POD/ WOD 4.. KB f. Lokasi jauh 3.. Imunisasi d.. Puskesmas.……meter 1b ……...... Penimbangan b. Poskesdes.Km …... Fe....... apakah alasan utamanya? 1. Pustu. Pustu.6 5 g. KIA e.. Pelayanan tidak lengkap 4.. Tidak ada polindes/ bidan desa 3. Pemeriksaan ibu nifas d. Tidak 2.. Ya 1. Pengobatan 9 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa.. Letak polindes/ bidan desa jauh 2. Pengobatan LANJUTKAN KE P. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7=TIDAK BERLAKU a... 1... Letak posyandu jauh 2. Ya 2....... Lainnya: .. jenis pelayanan apa saja yang diterima: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA 2=TIDAK 7= TIDAK BERLAKU a.. Tidak ada posyandu 3. Tidak 10 Apakah rumah tangga ini pernah Memanfaatkan pelayanan Pos Obat Desa (POD)/ Warung Obat desa (WOD) dalam 3 bulan terakhir? Jika tidak memanfaatkan POD/ WOD. Polindes)? Apakah tersedia angkutan umum ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat? (berlaku untuk P. Pelayanan tidak lengkap 5.. Tidak 7 Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Polindes/ Bidan Desa dalam 3 bulan terakhir? Jika ya... Bidan Praktek)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Rumah Sakit. Pemeriksaan neonatus (<1 bulan) LANJUTKAN KE P.. Polindes)? Berapa waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan terdekat (Posyandu.4 tahun) f. menit 3 1.. apakah alasan utamanya? 1.2a) Apakah rumah tangga ini pernah memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes dalam 3 bulan terakhir? Jika ya.. Persalinan c.. Lainnya: . Tidak 4 P.. Pemeriksaan kehamilan b... Konsultasi risiko penyakit 6 Jika tidak memanfaatkan pelayanan Posyandu/ Poskesdes. menit ……….Km …. Puskesmas.. Poskesdes. 4.. Dokter praktek. 2.. Ya VII 2..9 8 e.. Pemeriksaan bayi (1-11 bulan) dan/ atau anak balita (1. Ya 2. Multi gizi mikro) i..7 ………..1a dan P. Lainnya: .. Dokter praktek.. Obat tidak lengkap 5.VI. Tidak membutuhkan 1..10 P.……meter 2a 2b …….

Anak laki-laki 4.. Pengkilap kaca/ kayu/ logam e... Wadah/tandon terbuka 3. b. Orang dewasa perempuan 2. Jarak . Tempat sampah terbuka 15. Langsung diminum b.. Racun serangga/ Pembasmi hama . 4.. Anak perempuan 5. Orang dewasa laki-laki 3.. 8. 9. Tempat sampah tertutup b. Wadah/tandon tertutup Bagaimana pengolahan air minum sebelum diminum/ digunakan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a.. Berwarna c. Lainnya: . Ya 2.... Penghilang noda pakaian f.13 a.. Tidak ada/langsung dari sumber 2. 12. Berbusa e. Penampungan terbuka di pekarangan 4. Tanpa saluran Apakah tersedia tempat pembuangan sampah di luar rumah? Bila ya. Berasa d.. Berapa jumlah pemakaian air untuk keperluan Rumah Tangga? Berapa jarak/lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air (pulang-pergi)? …. SANITASI LINGKUNGAN 1. Cat h. Berbau 7.VII. Spray rambut/ deodorant spray c. 6. Aki (Accu) g.. siapa yang biasanya mengambil air untuk keperluan Rumah Tangga 1. Pengharum ruangan (spray) b. Apakah di sekitar sumber air dalam radius <10 meter terdapat sumber pencemaran (air limbah/ cubluk/ tangki septik/ sampah)? Apakah air untuk semua kebutuhan rumah tangga diperoleh dengan mudah sepanjang tahun? Bila sumber air terletak di luar pekarangan rumah. Tidak P.. 11. 2.15 13. Penampungan tertutup di pekarangan/ SPAL 3. Diberi bahan kimia e. Pembersih lantai d.. apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK 1. Tidak P... Langsung ke got/ sungai 10. Dimasak c..Km b. Tempat sampah tertutup b. Disaring d... Tidak 3. Tempat sampah terbuka 1... Apakah jenis sarana/ tempat penampungan air minum sebelum dimasak? 1. Penampungan di luar pekarangan 2. Lama… Menit 3. liter/hari a. Sulit sepanjang tahun 1. a... Dimana tempat penampungan air limbah dari kamar mandi/ tempat cuci/ dapur? 1. Saluran terbuka 2... apa jenis tempat pengumpulan/ penampungan sampah rumah tangga di luar rumah tersebut? (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK Apakah tersedia tempat penampungan sampah basah (organik) di dalam rumah? Bila ya. 2. Sulit di musim kemarau 3. 14.. Ya (mudah) 2. 5. Tidak ada sumber air 1.. Apakah Rumah Tangga ini selama sebulan yang lalu menggunakan bahan kimia yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya dan beracun (B3) di dalam rumah (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Ya 2.. Saluran tertutup 3. Sumber air di dalam pekarangan rumah a. Ya 5. Bagaimana kualitas fisik air minum? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Keruh b. Tanpa penampungan (di tanah) Bagaimana saluran pembuangan air limbah dari kamar mandi/ dapur/ tempat cuci? 1.

domba. Luar rumah tanpa kandang (2) 17. Industri/pabrik d. Peternakan/ Rumah Potong Hewan (termasuk unggas) Jarak (meter) (2) CATATAN PENGUMPUL DATA . burung) b. Apa jenis ternak yang dipelihara? Dipelihara? Ternak/hewan peliharaan 1. Unggas (ayam. Kandang dalam rumah 3.kuda) d. Pasar tradisional Jarak (meter) (2) Sumber Pencemaran (1) e. Jalan raya/ rel kereta api b. Rumah tanpa kandang 2. Ya 2. Jarak rumah ke sumber pencemaran? JIKA TIDAK TAHU JARAK KE SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”8888” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) JIKA TIDAK ADA SUMBER PENCEMARAN ISIKAN ”9999” PADA KOLOM (2) JARAK (METER) Sumber Pencemaran (1) a. kelinci Dipelihara di : 1. Ternak besar (sapi. Tidak ternak berikutnya (1) a. Terminal/stasiun kereta api/bandara f.bebek.16. kucing. Anjing. babi) c. Jaringan listrik tegangan tinggi (SUTT/ SUTET) h.kerbau. Kandang luar rumah 4. Bengkel g. Tempat Pembuangan Sampah (Akhir/Sementara)/Incinerator/IPAL RS c. Ternak sedang (kambing.

.. JENIS KELAMIN.49 50 ..orang Makan pagi Waktu Makan Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) ..........RT VIII. Blok No...........GIZI Prov Kab/ Kota No......18 19 .15 16 ...64 > 64 bulan tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun tahun Jumlah 2 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU ..... Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel RKD07...orang Jenis bahan makanan Makan Malam ...orang Masakan/Menu Makan Siang ...... DAN WAKTU MAKAN PAGI SIANG MALAM Jumlah ART L P L P L P KELOMPOK (salin dari (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) (orang) UMUR Blok IV) ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU ART TAMU 0 – 11 1-3 4-6 7-9 10 – 12 13 ....29 30 . urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.......RAHASIA RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT Kec Desa/Kel D/K No. KONSUMSI MAKANAN RUMAH TANGGA (24 JAM LALU) 1 KETERANGAN JUMLAH ART DAN TAMU YG MAKAN DALAM RT BERDASARKAN UMUR.

........................................ Masakan/Menu Jenis bahan makanan No Urut ART Banyaknya yg dikonsumsi Ukuran Rumah Tangga Berat (gram) Nama Anak: Waktu Makan CATATAN PENGUMPUL DATA .........................3 KETERANGAN JUMLAH KONSUMSI MAKANAN ANAK (0 – 24 BULAN) DALAM 1 HARI (24 JAM) YANG LALU .....................

RAHASIA

RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) PENGENALAN TEMPAT
Kec Desa/Kel D/K No. Blok No. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel

RKD07.IND

Prov

Kab/ Kota

No. urut sampel RT

Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.RT

IX. KETERANGAN WAWANCARA INDIVIDU
1. 2. Tanggal kunjungan pertama: Tgl -Bln-Thn Tanggal kunjungan akhir: Tgl -Bln-Thn

-

-

3. 4.

Nama Pengumpul data Tanda tangan Pengumpul data

X. KETERANGAN INDIVIDU A. IDENTIFIKASI RESPONDEN
A01 A02 Tuliskan nama dan nomor urut Anggota Rumah Tangga (ART) Untuk ART pada A01 < 15 tahun/ kondisi sakit/ orang tua yang perlu didampingi, tuliskan nama dan nomor urut ART yang mendampingi Nama ART …………………… Nama ART …………………… Nomor urut ART: Nomor urut ART:

B. PENYAKIT MENULAR, TIDAK MENULAR, DAN RIWAYAT PENYAKIT TURUNAN
[NAMA] pada pertanyaan di bawah ini merujuk pada NAMA yang tercatat pada pertanyaan A01 PERTANYAAN B01-B40 DITANYAKAN PADA SEMUA UMUR INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)/ INFLUENZA/ RADANG TENGGOROKAN B01 B02 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita ISPA oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas disertai batuk berdahak/ kering atau pilek? 1. Ya B03 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

PNEUMONIA/ RADANG PARU B03 B04 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Pneumonia oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai batuk berdahak dan napas lebih cepat dan pendek dari biasa (cuping hidung) / sesak nafas dengan tanda tarikan dinding dada bagian bawah? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Typhoid oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas terutama pada sore malam hari > 1 minggu disertai sakit kepala, lidah kotor dengan pinggir merah, diare atau tidak bisa BAB? 1. Ya B05 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM TYPHOID (TIFUS PERUT) B05 B06 1. Ya B07 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B09 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

MALARIA B07 B08 Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Malaria yang sudah dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin), panas naik turun secara berkala, berkeringat, sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat anti malaria? Jika Ya, apakah [NAMA] mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Diare oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 1 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dengan kotoran/ tinja lembek atau cair? Apakah pada saat diare, diatasi dengan pemberian Oralit/ pemberian larutan gula garam/ cairan rumah tangga?

B10

B09

DIARE/ MENCRET B10 B11 B12 1. Ya B12 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B13

CAMPAK/ MORBILI B13 B14 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita campak oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita panas tinggi disertai mata merah dengan banyak kotoran pada mata, ruam merah pada kulit terutama pada leher dan dada? 1. Ya B15 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

TUBERKULOSIS PARU (TB PARU) B15 B16 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita TB Paru oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita batuk ≥ 2 minggu disertai dahak atau dahak bercampur darah/ batuk berdarah dan berat badan sulit bertambah/ menurun? 1. Ya B17 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) B17 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Demam Berdarah Dengue oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita demam/panas, sakit kepala/ pusing disertai nyeri di uluhati/ perut kiri atas, mual dan muntah, lemas kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan/ atau mimisan, kaki/ tangan dingin? 1. Ya B19 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

B18

HEPATITIS/ SAKIT LIVER/ SAKIT KUNING B19 B20 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Hepatitis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B21 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

Dalam 12 bulan terakhir apakah [NAMA] pernah menderita demam, lemah, gangguan saluran cerna, (mual, muntah, tidak nafsu makan), nyeri pada perut kanan atas, disertai urin warna seperti air teh pekat, mata atau kulit berwarna kuning? FILARIASIS/ PENYAKIT KAKI GAJAH B21 B22 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Filariasis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita radang pada kelenjar di pangkal paha secara berulang, atau pembesaran alat kelamin/ payudara/ tungkai bawah dan atau atas (Filariasis/ kaki gajah)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita Asma oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami sesak napas disertai bunyi (mengi)/ Rasa tertekan di dada/ Terbangun karena dada terasa tertekan di pagi hari atau waktu lainnya, Serangan sesak napas/terengah-engah tanpa sebab yang jelas ketika tidak sedang berolah raga atau melakukan aktivitas fisik lainnya?

1. Ya B23 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1. Ya B25 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

ASMA/ MENGI/ BENGEK B23 B24

GIGI DAN MULUT B25 B26 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mempunyai masalah dengan gigi dan/atau mulut? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] menerima perawatan atau pengobatan dari perawat gigi, dokter gigi atau dokter gigi spesialis? 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak B28 B28

B27

Jenis perawatan atau pengobatan apa saja yang diterima untuk masalah gigi dan mulut yang [NAMA] alami? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Pengobatan b. Penambalan/ pencabutan/ bedah gigi atau mulut c. Pemasangan gigi palsu lepasan (protesa) atau gigi palsu cekat (bridge) d. Konseling tentang perawatan/ kebersihan gigi dan mulut 1. Ya 2. Tidak e. Perawatan gigi lainnya. Ya, sebutkan…………

B28

Apakah [NAMA] telah kehilangan seluruh gigi asli?

CEDERA B29 B30 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami cedera sehingga kegiatan sehari-hari terganggu? Penyebab cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN p) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kecelakaan transportasi di darat (bus/ truk, kereta api, motor, mobil) b. Kecelakaan transportasi laut c. Kecelakaan transportasi udara d. Jatuh e. Terluka karena benda tajam, benda tumpul f. Penyerangan (benda tumpul/ tajam, bahan kimia, dll) g. Ditembak dengan senjata api h. Kontak dengan bahan beracun (binatang, tumbuhan, kimia) B31 1. Ya 2. Tidak B33

i. Bencana alam (gempa bumi, tsunami) j. Usaha bunuh diri (mekanik, kimia) k. Tenggelam l. Mesin elektrik, radiasi m. Terbakar, terkurung asap n. Asfiksia (terpendam, tercekik, dll.) o. Komplikasi tindakan medis p. Lainnya, Sebutkan ..............................

Bagian tubuh yang terkena cedera: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN j) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Kepala b. Leher c. Bagian dada d. Bagian perut, tulang punggung, tulang panggul e. Bagian bahu dan lengan atas f. Bagian siku, lengan bawah g. Bagian pergelangan tangan, dan tangan h. Bagian pinggul dan tungkai atas i. Bagian lutut dan tungkai bawah j. Bagian tumit dan kaki

B32

Jenis cedera yang dialami : (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN i) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Benturan/ Luka memar b. Luka lecet c. Luka terbuka d. Luka bakar e. Terkilir, teregang f. Patah tulang g. Anggota gerak terputus h. Keracunan i. Lainnya: ……………

PENYAKIT JANTUNG B33 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit jantung oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] pernah ada gejala/ riwayat: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Jantung berdebar-debar tanpa a. Bibir kebiruan saat menangis atau melakukan sebab aktifitas d. Sesak nafas pada saat tidur b. Nyeri dada/ rasa tertekan berat/ sesak nafas tanpa bantal ketika berjalan terburu- buru/ mendaki/ berjalan biasa di jalan datar/ kerja berat/ jalan jauh 1. Ya B35 2. Tidak

B34

e. Tungkai bawah bengkak

PENYAKIT KENCING MANIS (DIABETES MELLITUS) B35 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita kencing manis oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah [NAMA] selama ini pernah mengalami gejala banyak makan, banyak kencing, banyak minum, lemas dan berat badan turun atau menggunakan obat untuk kencing manis? 1. Ya B37 2. Tidak 1. Ya 2.Tidak

B36

TUMOR / KANKER B37 B38 B39 Apakah [NAMA] selama ini pernah didiagnosis menderita penyakit tumor/ kanker oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Sejak kapan [NAMA] didiagnosis tumor tersebut? Tahun............... Dimana lokasi tumor/ kanker tersebut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN m) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 7=TIDAK BERLAKU a. Mata, otak, dan bagian susunan syaraf pusat b. Bibir, rongga mulut dan tenggorokan c. Kelenjar gondok dan kelenjar endokrin lain d. Saluran pernafasan (paru- paru) e. Payudara PENYAKIT KETURUNAN/GENETIK B40 Apakah [NAMA] ada riwayat keluhan menderita sebagai berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Gangguan jiwa (schizophrenia)(observasi) b. Butawarna c. Glaukoma d. Bibir sumbing (observasi) e. Alergi dermatitis f. Alergi rhinitis • JIKA ART UMUR ≥ 15 TAHUN • JIKA ART UMUR < 14 TAHUN B41 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN g. Thalasemia h. Hemofilia f. Saluran cerna (usus, hati) g. Saluran kemih h. Alat kelamin wanita: ovarium, cervix uteri i. Alat kelamin pria: Prostat j. Kulit k. Jaringan lunak l. Tulang, tulang rawan m. Darah 1.Ya 2.Tidak B40

PERTANYAAN B41-B50, KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN PENYAKIT SENDI/ REMATIK/ ENCOK B41 B42 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita penyakit sendi/ rematik/ encok oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah menderita sakit/ nyeri/ kaku/ bengkak di sekitar persendian, kaku di persendian ketika bangun tidur atau setelah istirahat lama, yang timbul bukan karena kecelakaan? 1. Ya B43 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

HIPERTENSI/ PENYAKIT TEKANAN DARAH TINGGI B43 B44 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita hipertensi/ penyakit tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Apakah saat ini [NAMA] masih minum obat antihipertensi? 1. Ya B45 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak 1.Ya B47 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

STROKE B45 Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah didiagnosis menderita stroke oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah mengalami kelumpuhan pada satu sisi tubuh atau pada otot wajah, atau gangguan pada suara (pelo) secara mendadak? • JIKA ART UMUR ≥ 30 TAHUN • JIKA ART UMUR < 29 TAHUN KATARAK (KHUSUS ART ≥ 30 TAHUN) B47 Dalam 12 bulan terakhir, apakah salah satu atau kedua mata [NAMA] pernah didiagnosis/ dinyatakan katarak (lensa mata keruh) oleh tenaga kesehatan (dokter/ perawat/ bidan)? 1. Ya B49 2. Tidak 8. Tidak tahu

B46

B47 KE BAGIAN C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN

B48

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] mengalami: (BACAKAN POINT a DAN b) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Penglihatan berkabut/ berasap/ berembun atau tidak jelas? b. Mempunyai masalah penglihatan berkaitan dengan sinar, seperti silau pada lampu/pencahayaan yang terang? a. b. C

B49 B50

Dalam 12 bulan terakhir, apakah [NAMA] pernah operasi katarak? Apakah setelah operasi katarak [NAMA] memakai kacamata?

1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

C. KETANGGAPAN PELAYANAN KESEHATAN Ca. KETANGGAPAN PELAYANAN RAWAT INAP
Ca01 Dalam 5 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani rawat inap terakhir? 1. Rumah Sakit Pemerintah 6. Praktek tenaga kesehatan 2. Rumah Sakit Swasta 7. Pengobat Tradisional 3. Rumah Sakit Di Luar Negeri 8. Lainnya (Sebutkan.....................................) 4. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 9. Tidak Pernah menjalani rawat inap Cb01 5. Puskesmas Berapa biaya yang dikeluarkan untuk rawat inap terakhir (dalam 5 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk rawat inap tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ………………………

Ca02 Ca03

.

.

Untuk pelayanan rawat inap yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Ca04 Ca05 Ca06 Ca07 Ca08 Ca09 Ca10 Ca11 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan rawat inap? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang rawat inap termasuk kamar mandi? Bagaimana [NAMA] menilai kemudahan dikunjungi oleh keluarga atau teman ketika masih dirawat di fasilitas kesehatan?

Cb. KETANGGAPAN PELAYANAN BEROBAT JALAN
Cb01 Dalam 1 tahun terakhir, dimana [NAMA] menjalani berobat jalan terakhir? 01. Rumah Sakit Pemerintah 06. Praktek tenaga kesehatan 02. Rumah Sakit Swasta 07. Pengobat Tradisional 03. Rumah Sakit Bersalin/ Rumah Bersalin 08. Lainnya (Sebutkan.....................................) 04. Puskesmas/ Pustu/ Pusling/ Posyandu 09. Di rumah 05. Poliklinik/ Balai Pengobatan Swasta 10. Tidak Pernah menjalani berobat jalan Cb10a Berapa biaya yang dikeluarkan untuk berobat jalan terakhir (dalam 1 tahun terakhir sebelum survei)? Rp. ……………….. Darimana sumber biaya untuk berobat jalan tersebut? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN l) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Biaya sendiri b. PT ASKES (pegawai) c. PT ASTEK/ Jamsostek d. ASABRI e. Askes Swasta f. Dana Sehat/ JPKM g. Askeskin h. Jaminan Kesehatan Pemda i. Kartu Sehat j. Penggantian biaya oleh perusahaan k. Surat Keterangan Tidak Mampu/ SKTM l. Sumber lain, Sebutkan ……………………

Cb02 Cb03

.

.

Untuk pelayanan berobat jalan yang terakhir, berilah penilaian dalam berbagai aspek dengan pilihan jawaban sbb: 1. SANGAT BAIK 2. BAIK 3. SEDANG 4. BURUK 5. SANGAT BURUK Cb04 Cb05 Cb06 Cb07 Cb08 Cb09 Cb10 Bagaimana [NAMA] menilai lama waktu menunggu sebelum mendapat pelayanan berobat jalan? Bagaimana [NAMA] menilai keramahan dari petugas kesehatan dalam menyapa dan berbicara? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman mendapatkan kejelasan tentang informasi yang terkait dengan penyakitnya dari petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai pengalaman ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang perawatan kesehatan atau pengobatannya? Bagaimana [NAMA] menilai cara pelayanan kesehatan menjamin kerahasiaan atau dapat berbicara secara pribadi mengenai penyakitnya? Bagaimana [NAMA] menilai kebebasan memilih fasilitas, sarana dan petugas kesehatan? Bagaimana [NAMA] menilai kebersihan ruang pelayanan berobat jalan termasuk kamar mandi? ISIKAN KODE ”7” JIKA TEMPAT MENJALANI BEROBAT JALAN (Cb01) “DI RUMAH” • JIKA ART UMUR 0 - 4 TAHUN • JIKA ART UMUR 5 - 9 TAHUN • JIKA ART UMUR >10 TAHUN G. IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN XI. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN D. PENGETAHUAN, SIKAP dan PERILAKU

Cb10a

D. PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU (SEMUA ART UMUR ≥ 10 TAHUN)
PENYAKIT FLU BURUNG D01 D02 Apakah [NAMA] pernah mendengar tentang penyakit flu burung pada manusia? 1. Ya 2. Tidak Sebutkan melalui apa saja penularan kepada manusia? (POINT “a” SAMPAI “g” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Udara b. Berdekatan dengan penderita c. Lalat d. Kontak dengan unggas sakit e. Kontak kotoran unggas/Pupuk kandang f. Makanan g. Lainnya, sebutkan .............................. D04

D03

Apa yang harus [NAMA] lakukan apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak? (POINT “a” SAMPAI “f” TIDAK DIBACAKAN). ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK c. Mengubur/membakar unggas yang sakit a. Melaporkan pada aparat terkait e. Menjual dan mati mendadak b. Membersihkan kandang unggas d. Memasak dan memakan f. Lainnya: …………………

HIV/AIDS D04 D05 Apakah [NAMA] mengetahui tentang HIV/AIDS 1. Ya 2. Tidak D08

Penularaan virus HIV/AIDS ke manusia melalui : (POINT a SAMPAI DENGAN h TIDAK DIBACAKAN) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK g. Penularan dari ibu ke a. Hubungan seksual d. Penggunaan pisau cukur secara bersama-sama bayi selama hamil b. Jarum suntik c. Transfusi darah e. Penularan dari ibu ke bayi saat persalinan f. Penularan dari ibu melalui ASI h. Lainnya: ……………….

D06

Bagaimana mencegah HIV/AIDS? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN f) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Tidak berhubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan tetap b.Tidak berhubungan seksual dengan pengguna narkoba suntik c.Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali d. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual e. Tidak menggunaan jarum suntik bersama f. Tidak menggunaan pisau cukur bersama

D07

Andaikan ada anggota keluarga [NAMA] menderita HIV/AIDS, apa yang akan dilakukan? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Merahasiakan b. Membicarakan dengan anggota keluarga lain c. Konseling dan pengobatan d. Mencari pengobatan alternatif e. Mengucilkan

PERILAKU HIGIENIS D08 Apakah [NAMA] mencuci tangan pakai sabun? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN d) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Sebelum makan b. Sebelum menyiapkan makanan D09 Dimana [NAMA] biasa buang air besar? 1. Jamban 3. Sungai/danau/laut 2. Kolam/sawah/selokan 4. Lubang tanah Apakah [NAMA] biasa menggosok gigi setiap hari? Kapan saja [NAMA] menggosok gigi? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN e) ISIKAN KODE JAWABAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Saat mandi pagi dan/ sore b. Sesudah makan pagi PENGGUNAAN TEMBAKAU D11 Apakah [NAMA] merokok/ mengunyah tembakau selama 1 bulan terakhir? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1. Ya, setiap hari 3. Tidak, sebelumnya pernah D16 2. Ya, kadang-kadang D13 4. Tidak pernah sama sekali D18 Berapa umur [NAMA] mulai merokok/ mengunyah tembakau setiap hari ? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Rata-rata berapa batang rokok/ cerutu/ cangklong (buah)/ tembakau (susur) yang [NAMA] hisap perhari? ............... tahun ...........batang c. Sesudah bangun pagi d. Sebelum tidur malam e. Lainnya, sebutkan……….. c. Setelah buang air besar/ Setelah menceboki bayi d. Setelah memegang binatang (unggas, kucing, anjing)

5. Pantai/tanah lapang/ kebun/ halaman 6. Lainnya: ........................... 1. Ya 2. Tidak D11

D10a D10b

D12 D13

Tidak D17 g.. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) D25 D26 D27 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik sedang. Rokok kretek tanpa filter c.. Tidak D31 D28 D29 ………….. nyirih..... biasanya berapa rata-rata satuan minuman standar ………. dll dan minuman tradisional: contohnya tuak. Ya 2.. Ya 2. berapa total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) Apakah [NAMA] biasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda kayuh yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu..D14 Sebutkan jenis rokok/ tembakau yang biasa [NAMA] hisap/ kunyah: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. 5 hari atau lebih tiap minggu 3. Ya D17 2.. minuman tradisional Ketika minum minuman beralkohol. Tembakau dikunyah (susur.hari .menit 1.jam ………. whiskey..satuan [NAMA] minum dalam satu hari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK TAHU AKTIVITAS FISIK (GUNAKAN KARTU PERAGA) Berikut adalah pertanyaan aktivitas fisik/ kegiatan jasmani yang berkaitan dengan pekerjaan. tahun ALKOHOL Catatan (GUNAKAN KARTU PERAGA): 1 satuan minuman standard yang mengandung 8 – 13 g etanol. Tidak D25 …………... Rokok kretek dengan filter b. Cerutu 1. [NAMA] berjalan kaki atau bersepeda selama paling sedikit 10 menit terus-menerus setiap kalinya? 1... Cangklong f. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya? Biasanya berapa hari dalam seminggu. Lainnya: ……………… D15 D16 D17 Apakah [NAMA] biasa merokok di dalam rumah ketika bersama ART lain? Berapa umur [NAMA] ketika berhenti/ tidak merokok/ tidak mengunyah tembakau sama sekali? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT Berapa umur [NAMA] ketika pertama kali merokok/ mengunyah tembakau? ISIKAN DENGAN ”88” JIKA RESPONDEN MENJAWAB TIDAK INGAT . vodka.... 1 – 3 hari tiap bulan 2.. Tidak D21a D21b Dalam 1 bulan terakhir seberapa sering [NAMA] minum minuman beralkohol? (BACAKAN PILIHAN JAWABAN) 1.. < 1x tiap bulan 3. yang dilakukan terus-menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali melakukannya? Biasanya berapa hari dalam seminggu.. Tidak D28 ………….jam ………. [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik sedang. Rokok putih d.hari …………. sopi)? 1. waktu senggang dan transportasi D22 D23 D24 Apakah [NAMA] biasa melakukan aktivitas fisik berat. anggur/ wine. tahun . Ya 2... Bir Jenis minuman beralkohol yang paling banyak dikonsumsi: 2... anggur/wine 1. Whiskey/ Vodka 4. [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat tersebut? Biasanya pada hari ketika [NAMA] melakukan aktivitas fisik berat. misalnya terdapat dalam: 1 gelas/ botol kecil/ kaleng (285 – 330 ml) bir 1 gelas kerucut (60 ml) aperitif 1 sloki (30 ml) whiskey 1 gelas kerucut (120 ml) anggur D18 Apakah dalam 12 bulan terakhir [NAMA] mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol (minuman alkohol bermerk: contohnya bir.. Ya 2.... Ya 2. poteng.menit 1. nginang) h.hari …………. Tidak D22 D22 D19 D20 Apakah dalam 1 bulan terakhir [NAMA] pernah mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol? 1. 1 – 4 hari tiap minggu 4. Rokok linting e.

Makanan/ minuman manis b. seberapa sering [NAMA] mengalami gangguan tidur (misal mudah ngantuk. Makanan asin c.menit PERILAKU KONSUMSI D31 D32 D33 D34 Biasanya dalam 1 minggu. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan orang lain dalam ruangan yang sunyi. seberapa sering [NAMA] mengalami masalah kesehatan yang mempengaruhi keadaan emosi berupa rasa sedih dan tertekan? E03 E09 E04 E10 Dalam 1 bulan terakhir. ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. seberapa besar [NAMA] merasakan nyeri/ rasa tidak nyaman? E06 Dalam 1 bulan terakhir.porsi D35 Sekarang saya akan menanyakan keadaan kesehatan menurut penilaian [NAMA] sendiri. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. berapa hari [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D35 Berapa porsi rata-rata [NAMA] mengkonsumsi sayur-sayuran segar dalam sehari? (GUNAKAN KARTU PERAGA) TANYAKAN D35 TANPA KARTU PERAGA DAN ISIKAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. 1 – 2 kali per minggu 6. Tidak pernah Biasanya berapa kali [NAMA] mengkonsumsi makanan berikut: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) a.14 TAHUN. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN JIKA ART UMUR >15 TAHUN E. berapa hari [NAMA] makan buah-buahan segar? (GUNAKAN KARTU PERAGA) JIKA JAWABAN ”0” D33 Berapa porsi rata-rata [NAMA] makan buah-buahan segar dalam satu hari dari hari-hari tersebut? (GUNAKAN KARTU PERAGA) Biasanya dalam 1 minggu. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali orang di seberang jalan (kira-kira dalam jarak 20 meter) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa besar [NAMA] merasakan napas pendek setelah melakukan latihan ringan. seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berjalan jauh sekitar satu kilometer? . seberapa besar [NAMA] mengalami kesulitan berdiri dalam waktu 30 menit? E05 E11 Dalam 1 bulan terakhir. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. RINGAN 4.Minuman berkafein (kopi. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN (ART UMUR ≥ 15 TAHUN) UNTUK PERTANYAAN E01 – E11. < 3 kali per bulan 2. Jeroan (usus. kecap.D30 Biasanya dalam sehari. 1 kali per hari 4. sering terbangun pada malam hari atau bangun lebih awal daripada biasanya) Dalam 1 bulan terakhir. paru) e.Makanan dibakar/dipanggang f. seberapa sulit [NAMA] melihat dan mengenali obyek sepanjang lengan/ jarak baca (30 cm) walaupun telah menggunakan kaca mata/ lensa kontak? Dalam 1 bulan terakhir. babat. dll) h. 3 – 6 kali per minggu 5.porsi ……hari ……. > 1 kali per hari 3. TIDAK ADA 3. seberapa sulit [NAMA] mendengar orang berbicara dengan suara normal yang berdiri di sisi lain dalam satu ruangan. seberapa besar [NAMA] menderita batuk atau bersin selama 10 menit atau lebih dalam satu serangan? E02 E08 Dalam 1 bulan terakhir. SEDANG 5. walaupun telah menggunakan alat bantu dengar? Dalam 1 bulan terakhir. SANGAT BERAT 2.XI. Makanan berlemak D35a • • d.jam ……….Makanan yang diawetkan JIKA ART UMUR 10 . Misalnya naik tangga 12 trap? E07 Dalam 1 bulan terakhir.Bumbu penyedap (vetsin. BERAT E01 Dalam 1 bulan terakhir. DISABILITAS/ KETIDAKMAMPUAN g. trasi) …… hari ……. Yang dimaksud dengan keadaan kesehatan disini adalah keadaan fisik dan mental [NAMA] E. berapa total waktu yang [NAMA] gunakan untuk berjalan kaki atau bersepeda? (ISI DALAM JAM DAN MENIT) ………….

dll) Dalam 1 bulan terakhir. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas/ gerak (misalnya bangun tidur. ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK F01 F02 F03 F04 F05 F06 F07 F08 F09 F10 Apakah [NAMA] sering menderita sakit kepala? Apakah [NAMA] tidak nafsu makan? Apakah [NAMA] sulit tidur? Apakah [NAMA] mudah takut? Apakah [NAMA] merasa tegang. cemas atau kuatir? Apakah tangan [NAMA] gemetar? Apakah pencernaan [NAMA] terganggu/ buruk? Apakah [NAMA] sulit untuk berpikir jernih? Apakah [NAMA] merasa tidak bahagia? Apakah [NAMA] menangis lebih sering? F11 F12 F13 F14 F15 F16 F17 F18 F19 F20 Apakah [NAMA] merasa sulit untuk menikmati kegiatan sehari-hari? Apakah [NAMA] sulit untuk mengambil keputusan? Apakah pekerjaan [NAMA] sehari-hari terganggu? Apakah [NAMA] tidak mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat dalam hidup? Apakah [NAMA] kehilangan minat pada berbagai hal? Apakah [NAMA] merasa tidak berharga? Apakah [NAMA] mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup? Apakah [NAMA] merasa lelah sepanjang waktu? Apakah [NAMA] mengalami rasa tidak enak di perut? Apakah [NAMA] mudah lelah? PERIKSA KEMBALI. SEDANG 4. namun kami tidak akan menjelaskan/ mendiskusikan. RINGAN 3. PERTANYAAN F01 SAMPAI DENGAN F20 HARUS TERJAWAB LANJUTKAN KE BLOK XI. Jika [NAMA] ada pertanyaan akan kita bicarakan setelah selesai menjawab ke 20 pertanyaan. keagamaan. ISIKAN DENGAN KODE PILIHAN JAWABAN: 1. BACAKAN PERTANYAAN & ALTERNATIF JAWABAN. SULIT 5. Kalau [NAMA] kurang mengerti kami akan membacakan sekali lagi. seberapa sulit [NAMA] dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari? Dalam 1 bulan terakhir. SANGAT SULIT/ TIDAK DAPAT MELAKUKAN E12 Dalam 1 bulan terakhir. BACAKAN & ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK E21 E22 E23 Dalam 1 bulan terakhir. berjalan dalam rumah atau keluar rumah)? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] membersihkan seluruh tubuh seperti mandi? Dalam 1 bulan terakhir. atau kegiatan lain)? E13 E14 E18 E19 E15 E16 E20 UNTUK PERTANYAAN E21 – E23. seberapa sulit [NAMA] dapat memusatkan pikiran pada kegiatan atau mengingat sesuatu selama 10 menit? Dalam 1 bulan terakhir. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN . apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk merawat diri (makan. seberapa sulit [NAMA] mengenakan pakaian? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya sebagai anggota rumah tangga? Dalam 1 bulan terakhir. seberapa sulit [NAMA] dapat memelihara persahabatan? Dalam 1 bulan terakhir. KESEHATAN MENTAL (SEMUA ART UMUR ≥ 15 TAHUN) DITANYAKAN UNTUK KONDISI 1 BULAN TERAKHIR Untuk lebih mengerti kondisi kesehatan [NAMA] kami akan mengajukan 20 pertanyaan yang memerlukan jawaban ”Ya” atau “Tidak”. mandi. apakah [NAMA] membutuhkan bantuan orang lain untuk berkomunikasi (berbicara dan dimengerti oleh lawan bicara)? F. seberapa sulit [NAMA] berinteraksi/ bergaul dengan orang yang belum dikenal sebelumnya? Dalam 1 bulan terakhir. TIDAK ADA 2. berpakaian. pengajian.UNTUK PERTANYAAN E12 – E20. seberapa sulit [NAMA] dapat berperan serta dalam kegiatan kemasyarakatan (arisan. seberapa sulit [NAMA] dapat memahami pembicaraan orang lain? E17 Dalam 1 bulan terakhir.

. kali - Dalam 6 bulan terakhir..... BCG b... yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di lengan atas atau paha serta meninggalkan bekas (scar)? b.f .. Tidak tahu G06 ..... Ya. Hari 1.59 BULAN/ BALITA) G01 a1. cairan merah muda atau putih yang biasanya mulai diberikan umur 2 bulan dan diteteskan ke mulut? d. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G09 Salin dari KMS.f 8. Tidak G05.G.. Berapa kali [NAMA] diimunisasi polio? f. Campak j. Lainnya: .. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a... Ya 1. Berapa kali [NAMA] diimunisasi Hepatitis B? 1.... Imunisasi polio..... dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi. Ya 2... Hepatitis B2 l. 3.. Tidak tahu . IMUNISASI DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN (KHUSUS ART UMUR 0 . Hepatitis B3 / / / / / / / / / / / / .h 8. Tidak 3. Tidak G06 8... Imunisasi Hepatitis B yang biasanya mulai diberikan umur 1 hari dan disuntikkan di paha? j.. Ya . Tanggal lahir: (Tgl-Bln-Thn) G02 G03 G04 G05 a2.... tidak dapat menunjukkan G09 4.c . Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi Hepatitis B? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) k. Ya.. Ya 2. Tidak 8. Tidak tahu G05... JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN.. Pada umur berapa [NAMA] pertama kali diimunisasi polio? (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK BULAN) e.... Jika Umur [NAMA] < 1 bulan.... Imunisasi BCG terhadap TBC. Imunisasi DPT yang biasanya disuntikkan di paha dan biasanya mulai diberikan umur 2 bulan bersama dengan imunisasi polio? g. Pada umur berapa [NAMA] diimunisasi BCG? (ISI HARI ATAU BULAN) (JIKA TIDAK TAHU ISIKAN KODE ”88” UNTUK HARI DAN BULAN) c....h . Bulan G06 G07 Di antara imunisasi yang [NAMA] dapatkan dalam dua tahun terakhir apakah ada yang diperoleh pada saat PIN? Apakah [NAMA] mempunyai KMS? (Minta ditunjukkan KMS) G08 1... Bulan 1. Kali 2. Polio 3 e.. ISI KODE ”88” Dimana [NAMA] paling sering ditimbang? 1.. Berapa kali [NAMA] diimunisasi DPT? h..... Tidak punya G09 2.. berapa kali [NAMA] ditimbang? JIKA TDK PERNAH DITIMBANG.. Polindes 4. Hari . Tidak tahu G05.. Puskesmas/ Pustu 3. Tidak G05./ bulan.. Tidak Apakah dalam 6 bulan terakhir [NAMA] mendapatkan kapsul vitamin A (GUNAKAN KARTU PERAGA) Apakah [NAMA] pernah mendapat imunisasi seperti: (INFORMASI DAPAT DIPEROLEH DARI BERBAGAI SUMBER) a... imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. Di RS 2..... Imunisasi campak yang biasanya mulai diberikan umur 9 bulan dan disuntikkan di paha serta diberikan satu kali? i.. Polio 4 f... Tidak pernah imunisasi 8........ Bulan 2.. Tidak G05...... Ya ..... Polio 2 d. Tidak tahu 2.……… 1... DPT3 i. tuliskan Umur dalam hari KE G04 ... Polio 1 c... DPT1 / / / / / / / / / / / / g./ tahun. Umur [NAMA] dalam bulan b. DPT2 h. Kali 1. tanggal.... Hepatitis B1 k.. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’. ISI KODE ”00” ATAU JIKA ”TIDAK TAHU”..... Ya 2.. Ya .. Posyandu 5. Tidak tahu G05.. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA.. Ya 1. Kali 2.c 8.

. Hepatitis B2 l. Sangat kecil 2. TULIS ‘99’ JIKA IMUNISASI TIDAK DIBERIKAN a. Bidan/ tenaga kesehatan 2. Polio 2 d. Tidak H05 2. Buku KIA/ KMS/ catatan kelahiran 3.59 BULAN LANJUT KE H01 XI. Hepatitis B1 k.. Berat Badan [NAMA] ketika lahir : 1. Pemberian imunisasi TT f. DPT3 i. Ya 2. atau perawat? Jika Ya. Pemeriksaan hemoglobin h.. Kecil Apakah waktu lahir [NAMA] ditimbang Bila H02=Ya. Besar 5. b. tidak dapat menunjukkan G11 4. bidan atau perawat? (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN h) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK ATAU 8=TIDAK TAHU a. Pengukuran tinggi badan b. JIKA KARTU MENUNJUKKAN BAHWA IMUNISASI DIBERIKAN. berat lahir [NAMA] dalam ukuran (gram) : Darimana sumber informasi berat [NAMA] lahir: 1. dapat menunjukkan tanpa catatan imunisasi G11a 3. dapat menunjukkan dengan catatan imunisasi 2. PENGUKURAN dan PEMERIKSAAN G11a H. Polio 1 c... Polio 3 e. DPT1 / / / / / / / / / / / / g.. . Pemeriksaan tekanan darah c. Pemeriksaan tinggi fundus (perut) d. Campak j. Polio 4 f. TULIS ’88’ DI KOLOM ’TGL/BLN/THN’. TETAPI TANGGAL/ BULAN/ TAHUN -NYA TIDAK ADA. siapakah yang menyimpan KMS/buku KIA tersebut? 1. Ya 2. 1 – 7 hari setelah lahir b. 8 – 28 hari setelah lahir H07 Apakah [NAMA] mendapat pelayanan kesehatan (dikunjungi/ mengunjungi) pada: (BACAKAN POINT a SAMPAI DENGAN b) ISIKAN DENGAN KODE 1=YA ATAU 2=TIDAK a. Tidak punya Blok G11a G10 Salin dari Buku KIA. Penimbangan berat badan g. imunisasi untuk setiap jenis imunisasi. Ya .G09 Apakah [NAMA] mempunyai buku KIA? (Minta ditunjukkan Buku KIA) 1.. Lainnya ……………… / / / / / / G11 Bila tidak dapat menunjukkan. Pengakuan atau ingatan Ibu/ ART lain 1. DPT2 h... Pemberian tablet Fe e. Ya. Hepatitis B3 / / / / / / 3. KESEHATAN BAYI (KHUSUS UNTUK BAYI BERUMUR < 12 BULAN) H01 H02 H03 H04 H05 H06 Menurut Saudara. Normal 4. Pemeriksaan urin a. Ya.. Sangat Besar 1. Kader Posyandu • JIKA ART UMUR 0 – 11 BULAN • JIKA ART UMUR 12 . pelayanan kesehatan apakah yang diterima saat memeriksakan kehamilan pada dokter. Tidak H07 Apakah ketika ibu mengandung bayi [NAMA] pernah memeriksakan kehamilan pada dokter. BCG b./ tahun.. bidan./ bulan. tanggal.

Ya KIRI 2. Posisi Pengukuran TB/PB 1... Nadi 3 . 9. Tanpa Pinhole Dengan Pinhole a.. Kanan: a.. Ya 1.. Berdiri 2. Sistolik 3 h. . Khusus untuk balita. Tidak 2. Tidak 1. PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN PENGUKURAN ANTHROPOMETRI. Nadi 1 4 Lingkar perut f.. b2. 2. Sistolik 1 b.. lakukan pemeriksaan visus dengan tetap memakai kacamata 8. Jika [NAMA] menggunakan kacamata. Jika [NAMA] tidak menggunakan kacamata tetap lakukan pemeriksaan visus 2.. DAN LILA SEMUA UMUR 1. Tidak 2. Tidak 2... Jika [NAMA] tidak dapat melihat sinar (BUTA TOTAL) TULIS 00/000 LAKUKAN HITUNG JARI: . Jika [NAMA] hanya dapat melihat SINAR SENTER TULIS 01/888 6... Menggunakan kacamata (jauh dan atau dekat)? 1. Kiri: / / CATATAN UNTUK RESPONDEN YANG TIDAK DAPAT MELIHAT KARTU SNELLEN ATAU KARTU E 1... Tidak 2... Ya 1.. Kiri: b. Berat badan (kg) 2b. d1. Ya 1. Ya 2... 2a. Tidak 2. Nadi 2 ……... c1. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 1 meter TULIS 01/060 4. Lensa keruh/Katarak 7. Tidak 2. KHUSUS WANITA USIA SUBUR (15 – 45 TAHUN) TERMASUK IBU HAMIL 5 Lingkar lengan atas (LILA) …. b1.. TEKANAN DARAH. Tidak a2. Diastolik 2 PEMERIKSAAN 3 Hanya dilakukan bila selisih pengukuran tekanan darah 1 dan 2 > 10 mmHg g. cm PEMERIKSAAN VISUS (KHUSUS ART > 5 TAHUN) 6 Apakah mata [NAMA] mengalami gangguan: (LAKUKAN PENGAMATAN] KANAN a. d2... Ya 1.XI.. Tinggi Badan/ Panjang Badan (cm) KHUSUS ART UMUR ≥ 15 TAHUN ... 3 Tekanan darah (mmHg) PEMERIKSAAN 1 a. Parut kornea d. Kanan: / / b. Ya 1. c2. Diastolik 1 PEMERIKSAAN 2 d. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 2 meter TULIS 02/060 3. Jika [NAMA] dapat melihat HITUNG JARI pada jarak 3 meter TULIS 03/060 2. Diastolik 3 c. Ya 1. cm i. Jika [NAMA] hanya dapat melihat GOYANGAN TANGAN pada jarak 1 meter TULIS 01/300 5. PEMERIKSAAN VISUS: 1. LINGKAR PERUT. Telentang . Ya a1. Pterigium c. Juling b. Tidak 1. Sistolik 2 e.

Tidak KE CATATAN PENGUMPUL DATA TEMPEL STIKER DI SINI CATATAN PENGUMPUL DATA . Ya 2. Ya 2.PEMERIKSAAN GIGI PERMANEN (KHUSUS ART ≥ 12 TAHUN) 10. Berilah kode D. STIKER NOMOR DARAH TEMPEL STIKER DI SINI 13 14. Apakah diambil spesimen darah 1. Tidak KE XI.13 atau KE CATATAN PENGUMPUL DATA 12. Apakah diambil Urin (khusus ART umur 6 – 12 thn) STIKER NOMOR URIN 1. atau F pada setiap ruang dentogram di bawah ini: D (decayed) = gigi berlubang M (missing) = gigi telah dicabut/ tinggal akar F (filling) = gigi ditambal CATATAN: JIKA PADA GIGI YANG SAMA TERDAPAT LUBANG DAN JUGA TAMBALAN MAKA TULISKAN “DF” PADA SATU RUANG DENTOGRAM TERSEBUT 8 7 6 5 (I) Kanan 4 3 2 1 1 Kiri (II) 2 3 4 5 6 7 8 8 7 6 III Kanan 5 4 3 2 1 Kiri IV 1 2 3 Kiri (IV) 4 5 6 7 8 (III) Kanan DIISI OLEH PENGUMPUL DATA ∑D-T ∑M-T ∑F-T 1 = Incisivus 1 (gigi seri 1) 2 = Incisivus 2 (gigi seri 2) 3 = Caninus (taring) 4 = Premolar 1 (geraham kecil 1) 5 = Premolar 2 (geraham kecil 2) 6 = Molar 1 (geraham besar 1) 7 = Molar 2 (geraham besar 2) 8 = Molar 3 (geraham besar 3) PEMERIKSAAN DARAH DAN URIN 11.M.

Normal 1. Normal ________bulan 2. Cepat 2. PENGENALAN TEMPAT RKD07. Lama/sulit 3.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini Bagaimana kesehatan ibu neonatal saat ini? 1. Meninggal. b. Dokter 2.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan____/ tahun ____ / / / / Jika tanggal lahir dan tanggal yang meninggal sama. ________ jam 1. Operasi 1 .RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR < 29 HARI I. Di rumah b. merintih/menangis lemah atau bergerak? Jika TIDAK BAYI LAHIR MATI. AV1 Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No.urut yg meninggal: _________ Kutip dari RKD07. KEADAAN BAYI KETIKA LAHIR 6. Bagaimana proses kelahiran bayi? c. penyebabnya ____________________ Umur ibu pada saat melahirkan bayi yang meninggal? ______________ tahun Berapa jumlah kehamilan (G). Di perjalanan 4. keguguran (A) yang dialami ibu? Siapa saja yang menolong ibu ketika melahirkan bayi tersebut? 1. III. _____________________. 5. 5b Jika YA BAYI LAHIR HIDUP. persalinan (P). Di fasilitas kesehatan 2. Lainnya. apakah bayi ketika lahir sempat bernafas. Laki-laki 2. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Perempuan 1b. No. KARAKTERISTIK IBU NEONATAL (BILA IBU NEONATAL MENINGGAL. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Vakum 3. Dukun 4. Penolong Pertama G P A 8. tanya umur bayi saat meninggal TULISKAN “88” BILA TIDAK TAHU 5 6 Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? a. a. Sub Sensus Blok Sensus No Kode Sampel No. AUTOPSI VERBAL BAYI MENINGGAL BERUMUR 0-28 HARI IVA. _________ hari 3. 2. Penolong Terakhir JIKA LAHIR MATI (JAWABAN BLOK II P 5A DAN P 5B ADALAH 98) LANJUTKAN KE BLOK V P24 IV. tuliskan angka 98 pada P5a. 2 3 4 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal 1. TANYAKAN KEPADA ART YANG MERAWAT BAYI/ YANG MEWAKILI) 1. Apakah bayi lahir normal atau dengan bantuan alat atau operasi? 1. Lainnya a. Tidak tahu 3. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a. 4.RT II. Sakit 3. Blok No. Family/keluarga 5. Sehat 2. Berapa bulan umur bayi di kandungan? b. Bidan/Tenaga paramedis lainnya 3.

Jika tidak ditimbang. Tidak 8. Bahu/tangan 8. tubuh dingin. Lebih kecil dari rata-rata 3. Tidak tahu 3. Tidak tahu 2. Kepala 1.d. Bagaimana nafas bayi ketika lahir? d. Tidak tahu P9c P9c 1. Kebiruan 4. Apakah ada lilitan tali pusar di leher bayi? d. Tidak tahu 8. rata-rata. Lambat 1. Tidak 2. Tidak 2. apakah suaranya keras/ lemah? c. Tali pusar diobati dengan apa? 9. KEADAAN BAYI KETIKA SAKIT [Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/hari)] 12. Segera 2. a. Jika ya. Tidak tahu 8. Ramuan daun/abu 8. Apakah bayi dibedong segera setelah lahir? 7. Lumpuh/lunglai 8. Bibir/langit-langit sumbing b. Tidak 2. Tidak ada 1. lebih kecil. berapa berat badan bayi? c. Ya 2. Apakah bayi segera menangis setelah lahir? b. Silet/pisau 1. muntah. Tidak tahu 8. Apakah bayi bergerak aktif atau lumpuh/ lunglai? e . Tidak tahu 2. Ceritakan gejala awal dan utama bayi ketika sakit? (kejang. Apakah tali pusar keluar sebelum bayi lahir? c. Tidak 8. Sangat besar 8. Tidak tahu IVB. Kemerahan 2. Tidak menangis 8. a. Benjolan pada dinding perut sekitar pusar (omphalocele) e. Jika menangis. Ya 1. Kembar 3. Tidak tahu 8. Tidak tahu 2. Gunting 2. Ada 2. Apakah kulit bayi terkelupas ? 10. Sesak nafas 1. Tidak tahu 2. Merintih 8. Tidak P11 4. a. Lainnya (tuliskan) ____________________________ 1. Lebih besar 5. Bambu 8. Apakah bayi ditimbang segera setelah lahir? b. Tidak ada lubang dubur (atresia ani) f. ________ gram 1. demam. Tidak tahu 8. Lemah 1. Tidak ada tulang kepala belakang (anencephalus) d. Ya 1. Sangat kecil 2. Apakah warna air ketuban? g. lainnya) TANYAKAN DAN CATAT LAMANYA SAKIT _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ 2 . Ya 1. Tidak tahu P10c 8. Tidak tahu 3. Tidak 2. Apakah bayi lahir kembar? 8. Kehijauan 8. Tidak tahu 3. Tidak tahu 8. lebih besar atau sangat besar? 11. Alkohol/ betadine 1. apakah bayi sangat kecil. Tidak bernafas 8. Tidak tahu f. Bagaimana warna kulit bayi ketika lahir? 1. Ya 1. Tidak ada 8. Ya 1. Tali pusar bayi dipotong dengan apa? b. Ya 1. Keruh 1. _________ 2. Jernih 2. Kepala besar (hidrosefalus) c. Tidak tahu 2. Bagian tubuh apa yang pertama keluar ketika bayi lahir? b. Tidak 2. Tidak tahu 8. Apakah ada trauma lahir sehingga bayi terluka? Sebutkan e. Ya 1. Tidak tahu P10c 8. Ya 1. Tidak 2. Ada. sesak. a. Kuning 3. Tidak 2. Keras 2. Bokong/kaki 3. Ya 1. Tidak tahu 3. Tunggal 1. Aktif 1. Tidak tahu 8. Pucat 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak diberi apa-apa 2. Ya 3. Rata-rata/normal Apakah bayi dilahirkan dengan cacat bawaan: (Tanyakan satu persatu kepada ibu/keluarga yang mendampingi) a. Apakah saluran nafas bayi dibersihkan segera setelah lahir? f. Normal 2.

_______hari 1. Ya. Tidak tahu 1. Jika ya. Bagaimana suara tangisan bayi? 1. Ya. Pucat 1. Apakah mulut bayi mencucu. ____ hari 4. Tidak P23a 2. Bagaimana bayi mengisap ASI? c. Tidak P15 8.13. Ya. Tidak 2. Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam? 16. Tidak tahu 4. _______hari 1. _______hari 1. Tidak bisa BAB. Apakah bayi mengalami penurunan kesadaran? (bayi dibangunkan tetapi tidur terus) 17. Kebiruan 4. Tidak P23c 2. _____ hari 2. Ya. Tidak tahu 8. Ya. _______hari 1. Apakah mengeluarkan air liur terus-menerus? d. Apakah bibir berwarna kebiruan? c. Tidak tahu 8. Tidak 2. Bagaimana keadaan mata bayi? 18. Susu formula 6. Tidak tahu 8. _____ hari 3. Diare. Air buah 5. Ya. Merah muda 2. Bagaimana sifat pernafasan bayi? 2. a. _____hari 2. Apakah ada luka/bercak putih di dinding rongga mulut? 19. Ya. Nasi 8. Tidak tahu 8. _______hari 1. Apakah terlihat ada benjolan di perut? 22. Lainnya. _______hari 1. Pisang 8. Normal. _______hari 1. Tidak 2. _____hari 8. Tidak 2. Ya. a. Kuat 1. ____ hari 1. _______hari 1. Berulang-ulang. Tidak P21a 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Kebiruan 4. Tidak 2. Nafas normal 2. Nafas cepat/ megap-megap . Tidak 2. Merah muda 2. a. Air madu/gula 3. _______hari 1. Tidak tahu 8. a. _______hari 1. a. Tidak tahu 8. ________ 23. _____ hari 1. Apakah diberi Air Susu Ibu (ASI)? b. Tidak tahu 8. Kuning 2. gelembung berisi apa? 15. Air putih 2. Apakah bayi muntah? b. _______hari 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu P15 b. Tidak tahu 1. Kuning 3. Lemah 4. Tidak Tahu 8. a. _______hari 1. a. Ya. Apakah warna tubuh bayi? b. Ya. _______hari 1. Menangis dgn suara melengking tiba-tiba dan terus-menerus 8. Tidak 2. seperti mulut ikan? b. Apakah perut bayi kembung? b. Apakah kulit bayi bergelembung? d. Bagaimana muntah tersebut terjadinya? 1. a. Apakah ada batuk? c. Tidak bisa mengisap 7. Normal 2. Apakah cuping hidung kembang kempis ketika nafas? d. ____hari 8. Cekung. Cairan keruh/nanah 8. Tidak tahu 8. ______hari 8. Melemah. Tidak tahu P23a 21. _______hari 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu P23c 3. _______hari 1.Tidak tahu P21a b. _____ hari 1. Ya. _________ hari 3. Apakah bayi kejang? b. Apakah warna kaki/ tangan bayi? c. Tidak 3. Apakah tubuh bayi dingin? 20. Tidak 8. Ya. _______hari 2. Tidak menangis. Belekan. ____ hari 1. Ya. Sehabis minum ASI. Tidak 2. apakah gangguannya? 2. ______ hari 1. Ya. Apakah diberikan minuman/makanan lain sebagai berikut? (jawaban dapat lebih dari satu) 3 . Ya. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. Ya. Warna kuning. a. Ya. Apakah ada gangguan dalam buang air besar (BAB)? b. Tidak tahu 8. Air tajin 2. Apakah ubun-ubun bayi menonjol? 14. a. Tidak tahu 8. Tidak tahu 1. Jika ya. Pucat 1. Apakah bayi demam? b. Tidak 2. Cairan jernih 2.

Tekanan darah tinggi dan atau bengkak b. Tidak 8. Ya 2. Ya 1. Tidak tahu 8. Lainnya ________________________________ Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. Ibu kurus (kurang energi kronis) f. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya 1. Sakit kuning j. Tidak 2. Tidak tahu 8. Sulit ketika melahirkan b. Tidak 2. Ketuban pecah dini d. Ya 1. Tidak tahu 8. Perdarahan c. Ya 1. Tidak 2. sakit jantung h. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya 1. Tidak tahu VI. Tidak tahu 8. Ya 1. Ya 1. Tidak 2. Ya 1. Ya 1. Tidak tahu 8. asthma. Tidak tahu 8. Ya 1. Demam g. kunang-kunang e. Ya 1. Kejang l. lemah. Tidak 2. Tidak tahu 8. Nyeri perut hebat d. Ketika ibu hamil. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak tahu 8. Lainnya. Perdarahan c.V.BAYI USIA 0-28 HARI TERMASUK LAHIR MATI (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Jenis kelamin dan umur bayi ketika dikandung: Berat badan lahir: Keadaan waktu lahir dan bagian tubuh yang keluar lebih dulu: Riwayat sakit: 4 . Tidak 2. Tidak tahu 8. Tekanan darah tinggi f. Tidak tahu 8. Kejang/ eklampsi e. Ya 1. AUTOPSI VERBAL KESEHATAN IBU NEONATAL KETIKA HAMIL DAN BERSALIN 24. Tidak 2. Ya 2. Ya 1. Tidak 2. Ketika ibu bersalin. Ya 1. Sesak nafas i. Tidak tahu Tanyakan satu persatu gangguan/komplikasi di bawah ini 1. RESUME RIWAYAT SAKIT VIA. Radang paru. Tidak 2. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Demam h. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak 2. Sesak napas. Tidak 2. Cedera/kecelakaan k. _______________________________ 25. Tidak 2. tuberculosis i. Tidak 2. Tidak 8. Tidak tahu 8. Ya 1. apakah mengalami komplikasi? a. Tidak tahu 8. Ya 1. Pusing. Tidak 2. Tidak 2. apakah mengalami komplikasi? a. lesu. Nyeri perut hebat g.

. tetapi tidak berkaitan dengan penyakit/keadaan janin/bayi maupun ibunya: _____________________________________________________________________________ Kode ICD 10 ............... Tanda tangan:........ ........... ... Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) _____________________________________________________________________________ b..... . .................. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c.......... .................. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian.. Penyakit/keadaan utama ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ d...... Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 0-6 hari (diisi oleh dokter) a... Nama:. RESUME KEADAAN IBU (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur ibu ketika melahirkan: GPA: Penolong persalinan: Proses persalinan: Komplikasi kehamilan: Komplikasi persalinan: 26.......... Telah diperiksa oleh Ketua Tim.... ........ 5 ... tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada Rangkaian a-c ________________________________________________________________ .. Keadaan relevan lain yang menyebabkan kematian bayi/lain.... Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ____________________________________________________________________________ d... Kode ICD 10 27...............VIB.. ........... Penyakit/keadaan lain ibu yang mempengaruhi kematian bayi _____________________________________________________________________________ e... Tanggal: .... Penyakit atau keadaan utama janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ b.. Penyakit atau keadaan lain janin/bayi yang menyebabkan kematian: _____________________________________________________________________________ c................ Diagnosis Penyebab Kematian Bayi Usia 7 hari – 28 hari (diisi oleh dokter) a.

_____ bln 1. No.. Jika ya. berapa berat badan ketika lahir c. Air buah 5. Di perjalanan 4.. Ya. Tidak tahu P2c __________ gram 1.. PENGENALAN TEMPAT No.. _________________ 1 . Sub Desa/Kel D/K Sensus Blok Sensus RKD07. Lainnya. .bulan (< 5 tahun) / / 3. Blok No... Laki-laki 2. Air putih 4.. Tidak 8. Jenis minuman/ makanan apa lagi yang diberikan? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. Apakah [NAMA] ketika lahir kecil atau berat badan kurang dari 2500 gram? b.. Jika ya. Susu formula 3. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07. Apakah [NAMA] lahir prematur? 1. Makanan bayi siap saji 8.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 29 hari .< 5 tahun I.<5 tahun) Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (hari/bulan) 1.. Di fasilitas kesehatan 2. a. Ya.RT II.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini b.hari (<30 hari) 1. Tidak P2c 8. sebutkan jenis cacatnya 2.. KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. a.. apa penyebab kematian [NAMA]? (termasuk keterangan dari perawat. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT BALITA (29 hari .urut yg meninggal: . Di Rumah / / b. Apakah [NAMA] menderita cacat bawaan? b. Tidak P4a ______________________________________ 4.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun____ a.. Tidak bisa menyusu 4.. a. Nasi 10. menyusu Lemah 1. Menurut responden. Apakah [NAMA] minum ASI ketika sakit? b. Perempuan 1b.. Air madu/gula 3. menyusu kuat 2. Tidak tahu P4a 3. Lainnya. Ya 2.. Kutip dari RKD07. ASI saja 2. a.. ____________________ III. Nomor urut responden (Kutip dari RKD07. Bubur 9. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________________________________________________ 2. dokter) __________________________________________________________________________________________________________ c.. Ya. AV2 Prov Kab/ Kota Kec No Kode Sampel No. Sudah tidak minum ASI 6. Pisang 7. bidan. Ya 2. Tidak tahu 8..

_______hr 1. _____hr ____bln 1. Terus menerus 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. Ya 1. Tidak Tahu 8. Apakah [NAMA] pernah diimunisasi sebagai berikut: Diptheri. Tidak 2. Tidak 8. _____hr 1. Apakah [NAMA] ada parut BCG a. Tidak 2. Tidak P17 2. Apakah [NAMA] terlihat pucat terutama di bibir atau telapak tangan? d. Tidak 2. Tidak tahu 8. _____hr 1. Tidak tahu 8. Ya. Apakah dalam beberapa bulan terakhir sebelum meninggal berat badan [NAMA] tidak naik? c. Ya. Ya. Tidak tahu 8. _____hr ____bln 1. Ya. Tidak 2. _____. Tidak P8 P6 8. Tidak 2. 9. Ya. Tidak tahu 8. _____hr 1. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? d. Berulang disertai keringat malam 2. Ya. Tidak tahu 8. Ya. _____hr ____bln 2. Tidak 2. Tidak Tahu 8. _____hr 1. apakah sifat batuknya c. Tidak 2. Tidak 2. Apakah [NAMA] mengalami demam sebelum meninggal? b. Ya. Apakah [NAMA] luka/sariawan di rongga mulut? 18. Tidak tahu 8. Tidak 2. _____hr ____bln 1. Ya. Ya 1. Jika ya. Ya. Tidak tahu P6 5. _____hr ____bln 1. 3. Tidak tahu 2 . 21. Tidak P6 2. Ya 1. _____hr ____bln 1. apakah muntah disertai dengan darah berwarna kehitaman? 13. Apakah ada benjolan yang tidak normal di perutnya? 14. Berdahak 1. Tidak 2. _____hr 1. Tidak 8. Ya. 19. Tidak Tahu 8.c. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. _____hr 1. 12. Tidak 2. Tidak tahu 8. usia_______bulan 1. Ya. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Tidak 2. Jika positif malaria. Jika ya. Tidak tahu 8. 17. Apakah pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? Jika ya. kapan diperiksa? e. a. Ya. Tidak tahu 8. terutama kelopak mata? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? Apakah pergelangan kaki/persendian lain bengkak? 1. Batuk terus menerus 8. Tidak tahu P17 8. Tidak 2. _____hr 1. 11. Ya. _____hr 1. Tetanus Campak Hepatitis d. Ya. _____bln 1. Apakah ada benjolan di sekitar leher? b. Positif. usia ____. Tidak tahu 2. apakah diberi obat? 6. _____hr ____bln 1. Tidak tahu P6 8. Bagaimana sifat demamnya? c. 16. Tidak 2. kapan obat mulai diberikan? 8. usia_______bulan 1. _____bln 1. _____hr 1. Ya. Tidak tahu P8 3. 20. Apakah [NAMA] muntah-muntah? b. Pertusis. Ya. Apakah [NAMA] kejang? a. Naik turun 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya. Apakah [NAMA] sesak nafas/ sulit bernafas? Apakah [NAMA] nafas dengan cepat? Apakah dinding dada bagian bawah tertarik ke dalam sewaktu menarik nafas? Apakah [NAMA] sakit di daerah perut? a. Ya. _____hr 1. Tidak tahu 8. Apakah diare disertai lendir dan atau darah? Apakah mata [NAMA] cekung/ haus/ kulit mengkerut/ tidak kencing? a. Negatif 2. _____bulan 1. 10. Tidak 2. Tidak tahu P13 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Bagaimana hasilnya? Jika positif. Tidak P13 2. Ya. ________ hr 1. 7. _____hr 1. Tidak tahu 8. Apakah [NAMA] diare? b. Ya. Kering 2. _____hr ____bln 1. 22. Apakah [NAMA] batuk? b. Tidak tahu 8. Apakah perut [NAMA] membesar/membuncit? a. Tidak Tahu 8. Ya. _____hr ____bln 1. Ya. Menggigil 4. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya 1. _____hr 1. Ya. Tidak 2. Ya. Ya. Tidak 2. Apakah [NAMA] kurang gizi sebelum sakit? b. 15. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Apakah warna putih mata jadi kuning? Apakah tubuh [NAMA] berwarna biru setelah beraktifitas atau menangis? Apakah muka [NAMA] bengkak.

....... _____hr 1. 27.. Ya...... Apakah [NAMA] pernah digigit anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b... kalajengking.. kera. Tidak tahu 8.. Tidak tahu IV 35 ________________________________________________________ ________________________________________________________ IV. 32... Tidak 2.. 28. _____hr 1. Tidak 2. Tidak tahu P35 _______________________________________________________ 1.. 33. _____hr 1. Ya.... Tidak tahu 8........ Tidak tahu 8.. Tidak tahu 8...23.. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c..... tenggelam. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a-c ___________________________________________________________________________ Kode ICD 10 . Apakah [NAMA] menderita campak sebelum meninggal? Apakah ada bintik-bintik merah di kulit? Apakah [NAMA] mimisan? Apakah [NAMA] sering ngantuk bukan pd jam tidur? Apakah [NAMA] kaku kuduk (kaku di leher)? Apakah [NAMA] mengeluh sakit kepala? Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? Apakah [NAMA] mengalami lumpuh satu atau dua tungkai? Apakah [NAMA] mengalami gangguan kencing? Apakah kencing bercampur darah? a... RESUME RIWAYAT SAKIT BAYI/ BALITA (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur balita: ________ Cacat bawaan: Riwayat sakit (tanda... 24... Ya... _____hr 1.. Ya.. .. Tidak tahu 8. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ___________________________________________________________________________ d.. Tidak 2. 29. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. Nama: ... Tidak 2. Tidak 2. Ya. sebut jenis cedera 1. Ya.. Tanda tangan: . Tidak tahu 8... Tidak 2. Tidak tahu 8. _____hr 1. ular. 26.. Apakah [NAMA] pernah cedera karena kecelakaan lalu lintas atau lainnya (jatuh... Diagnosis Penyebab Kematian Bayi/ Balita (29 hari .. dll)? b... _____hr 1.. Tidak 2.. gejala. 34.... Ya. 25. dll)? a.. Tidak P35 8... Jika ya. sebut jenis binatang apa (anjing.... Tidak IV 8. _____hr 1... Tanggal: _________________________ 3 . terbakar. 31. Tidak tahu 8. 30. Ya. Ya.. Ya. _____hr 1. Jika ya... Tidak tahu 8... Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ____________________________________________________________________________ c.... Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ___________________________________________________________________________ b.. Telah diperiksa oleh Ketua Tim.... lama sakit): Berat badan lahir: ___________gram Prematur/ Cukup bulan:__________________ 36. Ya..< 5 tahun) (DIISI OLEH DOKTER) a.... Tidak 2.. _____hr 2. Tidak 2... _____hr ____bln 2. Tidak tahu 8... _____hr 1. Jika ya. Ya. _____hr 1. _____hr 1. Tidak tahu 8. .. Tidak 2.. Ya.. Tidak 2.

Kutip dari RKD07.. Ya. Tidak tahu 8. Ya 1. 2. Tidak tahu 8. PENGENALAN TEMPAT Prov Kab/ Kota Kec Desa/Kel D/K No. Tidak 2. apakah diberi obat? 1. Bagaimana hasilnya? Jika positif.RT Blok V kolom 2 Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ Tanggal ____/ bulan ____/ tahun ____ _______ tahun 1. Naik turun disertai menggigil 4. Kadang-kadang 2.RT II. Tidak tahu 8. Negatif 2. No. 4. Ya. Tidak 2. Laki-laki 2. Nomor responden (Kutip dari RKD07. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 3.. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. ______. Lainnya ___________________ III. Sub Blok Sensus No Kode Sampel No. Tidak 8.. Tidak 2.urut yg meninggal: . Jika positif malaria. Apakah [NAMA] demam/ panas tinggi sebelum meninggal? a. Tidak tahu 8.. Bagaimana sifat demamnya? b. b. Tidak 2. 5. Blok Sensus No..hr 1. Di perjalanan 4. kapan diperiksa? d. Tidak tahu 1 . Terus menerus 2. Di fasilitas kesehatan 2. Apakah [NAMA] pernah periksa darah utk mengetahui sakit malaria? c. Di Rumah / / / / 3.. Naik turun 1. AUTOPSI VERBAL RIWAYAT SAKIT III A. Ceritakan riwayat sakit sebelum meninggal: ___________________________________________________________________________________ ____________________________________________________________________________________________________________________________ 1... KETERANGAN YANG MENINGGAL 1a 2 3 4 5 6 Nama yang meninggal Jenis Kelamin Tanggal Lahir Tanggal meninggal Umur saat meninggal Di mana tempat meninggal? 1. c. apa penyebab kematiannya? (termasuk keterangan dari perawat dan dokter)_____________________________________. ____hr ____bln 2. AV3 I.. Apakah [NAMA] sesak nafas ketika melakukan pekerjaan ringan? Apakah [NAMA] sesak nafas ketika tidur sehingga harus diganjal dengan beberapa bantal? Apakah [NAMA] pernah mengeluh jantung berdebar-debar? Apakah seluruh tubuh [NAMA] bengkak? 8. AUTOPSI VERBAL UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS Jelaskan secara rinci SIFAT dan LAMA SAKIT (jam/ hari) 1a. Tidak tahu P3 3.RISET KESEHATAN DASAR (RISKESDAS 2007) RAHASIA KUESIONER AUTOPSI VERBAL (AV) UNTUK UMUR 5 TAHUN KE ATAS RKD07. Menurut responden.. Ya 1. Perempuan 1b. Ya. Tidak/ Tidak tahu 8. Positif. urut sampel RT Kutip dari Blok I PENGENALAN TEMPAT RKD07.. ____hr ____bln 1.RT Blok IV Kolom 1) Isikan 00 jika responden tidak tinggal di rumah tangga ini . Ya. Ya. . Tidak P3 8. Berulang disertai keringat malam 2. 6.. _____ hr 1.

Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Apakah [NAMA] menderita diare? b. Jika ya. Tidak tahu P19 8. 23.7. Ya. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. pada perut bagian mana? 3. 27. Tidak 2. tiba-tiba < 1minggu 2. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tengah 3. Tidak 2. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. Lainnya. Ya. Ya. Tidak tahu 8. Di atas 2. 20. 21. 8. Kanan 1. Tidak tahu 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Tidak 2. 11. Tidak tahu 2 . Kering 2. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Tidak P30 29. ____hr ____bln 1. bagaimana timbulnya? 2. Jika ya. 24. Ya. Ya. Tidak P14 8. Ada darah 2. Apakah [NAMA] kekurangan cairan tubuh? Apakah [NAMA] mengeluh sulit menelan? Apakah [NAMA] sakit kepala? a. ____thn 1. Ya. dan sering BAK/ kencing? Apakah [NAMA] pernah ada luka yang sulit sembuh? Apakah [NAMA] ada rasa kesemutan di kaki/ tangan? a. Ya 1. Ya. Tidak 2. Di tengah 2. ______ 2. Apakah pergelangan kakinya bengkak? Apakah persendian lainnya bengkak? Apakah [NAMA] nafasnya berbunyi/ mengi? Apakah [NAMA] batuk lebih dari 2 minggu? Jika ya. ____hr ____bln 1. 16. Jika ya. Ya. Tidak tahu 8. Jika ya. bagaimana sifat batuknya? Apakah [NAMA] pernah minum obat anti TBC yang menyebabkan air seni berwarna merah? a. Ya. a. a. Tidak tahu 8. Apakah perut [NAMA] membuncit/ membesar? b. Tidak 2. di bagian mana? c. Apakah [NAMA] mengalami nyeri perut? b. Apakah [NAMA] nyeri ketika BAK/kencing? Apakah air seninya berwarna merah? Apakah [NAMA] banyak makan. Ngompol 4. Tidak 2. 13. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Di atas 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu P22 8. Jika ya. 15. Ya. Tidak 2. 12. Apakah [NAMA] mengeluh nyeri dada hebat? b. Bagaimana sifat nyerinya? 1. Di bawah 1. minum. ____hr ____bln 1. Seluruh perut 2. Hilang timbul 1. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. ____hr ____bln 1. 19. Dahak + darah 4. 26. Tidak 2. Ya. gangguannya apa? 3. Tidak tahu P14 8. Tidak tahu 8. Apakah ada benjolan di perutnya (tumor)? b. Tidak tahu 8. Ya 1. Tidak 2. 25. Tidak tahu P30 P29 P28 22. Tidak P29 28. Tidak tahu 8. Kiri 2. Tidak 14. Tidak 2. ____hr 1. ____hr ____bln 1. bertahap > 1 minggu 8. Tidak tahu 8. Di bawah 1. Tidak 2. 17. Tidak tahu P22 P19 P12 2.bln 1. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Jika ya. Tidak P28 8. 9. Tidak tahu 8. ____bln___thn 1. ____hr ____bln 1. Ya. Ya. Sedikit-sedikit 1. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] ada gangguan Buang Air Kecil (BAK)/ kencing? b. _____. Tidak P12 3. Tidak tahu 8. Terus-menerus 2. pada perut bagian mana? 3. Ya 1. apakah tinja bercampur dengan darah dan lendir? 18. Tak dapat BAK 2. Ya. ____hr ____bln 1. ____bln___thn 1. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. 10. Ya. Ya. Berdahak 1. Apakah [NAMA] nafasnya pendek-pendek dan cepat? Apakah ada tarikan dinding dada bagian bawah ketika bernafas? Apakah [NAMA] perokok berat? Berapa lama merokok? a.

____hr ____bln _______. Tidak 2. Tidak P43 8. Apakah [NAMA] pernah cedera akibat kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan lainnya (jatuh. sebut jenis cedera (patah tulang. Ya. Tidak tahu P43 39. Tungkai kanan 2. 42. Ya. a. a. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] mengalami penurunan kesadaran? b. Jika ya. Tidak tahu 8. Tidak 2. Ya. 38. Jika ya. Bertahap beberapa hari 2. Jika ya. Tidak tahu 8. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 3. apakah muntahnya campur darah? 1. ____hr ____bln 1. Tidak tahu P44 43. Apakah [NAMA] ada luka atau benjolan pada payudara atau kulit payudara berkerut seperti kulit jeruk dan atau puting payudara keluar cairan kemerahan? Apakah [NAMA] keluar darah berlebihan pada saat datang bulan/ menstruasi? 1. tenggelam. Tungkai kiri 8. Tidak tahu P33 2. Ya. ____hr ____bln 2. Tidak tahu 8.RESUME 45. a. keracunan. Ya. a. Apakah ada benjolan di sekitar leher 2. Tidak tahu 8. 40. Tidak 2. berapa kali dalam sehari kejang? 8. Tidak P38c 8. ____hr ____bln 1. Tidak tahu 3 . Ya. 41. Apakah berat badan [NAMA] turun secara mencolok sebelum meninggal? Apakah [NAMA] mengalami sariawan luas di mulut sebelum meninggal? a. Ya. jelaskan gejala yang timbul pada kulit c. Apakah [NAMA] bicara kacau selama sakit parah? a. Tidak tahu 8. Ya. Apakah ada kaku kuduk? 35. ____hr ____bln 1. Tidak P31 8. Jika ya. Tidak P36 34. Tidak 2.30. Apakah [NAMA] menderita kejang? b. sebut jenis kecelakaan dengan rinci c. Ya. Apakah ada bagian tubuh [NAMA] yang lumpuh? b. Tidak P44 8. Ya. Tidak tahu P38c ____________________________________________________ 1. Tidak tahu P34 33. Apakah [NAMA] muntah-muntah ketika sakit? b. terbakar. Ya. Apakah seluruh tubuh [NAMA] kaku? b. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN UMUR 10 THN KE ATAS IV. Ya. ____hr 1. ____hr ____bln 2. bagaimana proses penurunan kesadaran? P33 8. gegar otak dll) ____________________________________________________ ____________________________________________________ 1. Tidak tahu 8. Ya. ____hr ____bln 2.kali/ hari 1. ____hr ____bln 1. Jika ya. ____bln 1. sebut jenis binatang (kera. Lengan kiri 1. Tidak 2. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. a. ____hr ____bln 8. ____hr ____bln 1. Tidak 2. serangga lain) • • • ____________________________________________________ 44 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 Tahun Ke Atas IIIB Jika YANG MENINGGAL adalah Laki-Laki Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 5-9 Tahun atau Laki-Laki Umur 5-14 Tahun III B. 32. 46. Mendadak 2. ditusuk. Apakah [NAMA] menderita penyakit kulit? b. bagian tubuh mana yang lumpuh? (jawaban dapat lebih dari satu) 1. Ya. Tidak 2. Tidak 2. Tidak P34 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Ya. Apakah [NAMA] pernah digigit oleh anjing 6 bulan sebelum meninggal atau oleh binatang lainnya? b. Ya. Tidak tahu 4. Ya. Jika ya. Tidak tahu P36 36. Lengan kanan 2. ular. anjing. 37. Ya. Apakah [NAMA] tampak pucat? Apakah muka [NAMA] bengkak/ sembab? Apakah mata [NAMA] berubah jadi kuning? a. Jika ya. ____hr ____bln 1. ____hr ____bln 1. Tidak 2. Tidak tahu 8. ____hr 1. kalajengking. dll? b. Tidak 2. Jika ya. Tidak tahu P31 31. Ya. Tidak 8. Tidak tahu 8.

____hr ____bln 2. Tidak 2. Tunggal 1. Tidak tahu 8. Lahir spontan 2. Keluarga 2. hari ke ____ 1. hari ke ____ 1. Kepala 2. 51. ____hr ____bln 1. Apakah [NAMA] mengalami keguguran (umur kehamilan < 22 minggu/ 5 bulan) sebelum meninggal? Apakah [NAMA] meninggal pada saat melahirkan? Apakah [NAMA] demam tinggi saat melahirkan? Apakah [NAMA] kejang saat melahirkan? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak sebelum bayi lahir? Apakah [NAMA] sulit/ lama (lebih dari 12 jam) ketika melahirkan? Apakah ari-arinya sulit lahir? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan banyak (lebih dari 3 kain) setelah bayi lahir? 1. Tidak 2. Ya. Tidak 2. Meninggal 3. satu bayi meninggal 4. Tidak 2. 53. 57. Ya. Dengan cara apa bayi dilahirkan? c. _____bln 1. Tidak tahu 4. Tidak 2. hari ke ____ 1. Ya 1. Tidak tahu P67a 8. a. Tidak tahu 8. ____ jam 1.54 Tahun BELUM KAWIN P.47. Pada waktu bayi lahir. Ya 1. Tidak tahu P52 LANJUTKAN KE P67 52. Bagaimana kondisi bayi [NAMA] setelah lahir? • • 1. Dokter P67 8. Tidak 2. Tidak tahu 8. Hidup 2. Tidak 3. Apakah [NAMA] mengalami perdarahan dari jalan lahir di luar siklus menstruasinya? b. Apakah [NAMA] meninggal ketika sedang hamil? Apakah [NAMA] menderita tekanan darah tinggi ketika hamil (dikatakan oleh tenaga medis) atau kejang ? Apakah [NAMA] mengalami perdarahan hebat ketika hamil? 1. Tidak tahu 2. Ya. hari ke ____ 1. Vakum P66a 1. 54. Siapa saja yang menolong persalinan? b. 50. 65. Ya. Tidak 2. Ya.Opeasi Sectio P66a 8. Tidak Tahu P66a 3. Bokong 1. a. 61. Tidak tahu 8. Tidak tahu 48.RESUME 4 . Apakah [NAMA] melahirkan tunggal atau kembar? b. AUTOPSI VERBAL UNTUK PEREMPUAN PERNAH KAWIN UMUR 10-54 TAHUN 49. Ya 1. 63. Apakah [NAMA] mengeluarkan cairan tidak normal dari jalan lahir? Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Tidak tahu 8. Kembar. Tidak tahu 8. bagian tubuh mana yang keluar lebih dahulu? 66. Kembar. Ya 1. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya. Tidak 2. Jika ya. semua bayi meninggal 67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 15 Tahun Ke Atas IIID Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10-14 Tahun IV. Ya 1. Ya. hari ke ____ 1. Ya 1.54 Tahun PERNAH KAWIN IIIC Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 10 . Bidan 1. 55. Tidak 2. Ya. Lengan/ kaki 8. Tidak tahu 8. Tidak P52 8. Apakah [NAMA] meninggal setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] kejang setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] perdarahan setelah ari-ari keluar sampai 60 hari? Apakah [NAMA] demam tinggi setelah melahirkan? Apakah ada cairan berbau busuk keluar dr jalan lahir setelah melahirkan? a. Ya. Ya. Tidak 2. Kembar 3.67 Jika YANG MENINGGAL adalah Perempuan Umur 55 Ke Atas IIID III C. 56. Ya P67 2. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. 59. Tidak tahu P60 LANJUTKAN KE P65a 60. 58. Tidak tahu 8. Tidak 2. ____hr ____bln 1. Tidak P60 8. Ya. Dukun 2. Tidak 2. Tidak 2. Ya. hamil ___bln 1. Tidak 2. Tidak 8. hamil ___bln 2. Tidak tahu 8. 64. 62. Tidak 2. apakah perdarahan masih terus sampai meninggal? 1. Tidak tahu 8.

Asthma h. Tidak 2. Tidak 2. Ya. Tidak tahu 8. Sakit radang sendi (artritis) d.III D. Ya. Tidak tahu 8. . Ya. Tidak 2. Peminum alkohol kronik k. Pengguna narkoba suntik atau pil Jika ya. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. tetapi tidak berhubungan dengan penyakit pada rangkaian a. . Tidak tahu 8. untuk tanda. ____bln ____thn 1. Ya. ____bln ____thn 1. Telah diperiksa oleh Ketua Tim. Tidak tahu 8. Tidak tahu 8. Ya. Penyakit penyebab kematian langsung (Direct Cause) ________________________________________________________________________ b. RESUME RIWAYAT SAKIT 5 TAHUN KE ATAS (DIISI OLEH PEWAWANCARA) Umur almarhum/ah: Jenis kelamin: Penyakit yang diderita dan lamanya (Blok III D): Riwayat sakit (Blok III A-C. Tuberkulosis/ Flek paru g. ____bln ____thn 1. Penyakit perantara (Intervening antecedent cause) ________________________________________________________________________ c. Darah tinggi/ sakit jantung b. Kegemukan (Obesitas) i. Tumor/`kanker j. ____bln ____thn 1. Tidak 2. Tidak tahu IV. Ya. Apakah [NAMA] mempunyai riwayat/ pernah sakit: a. ____bln ____thn 1. ____bln ____thn 1. Ya. Tidak tahu 8. Ya. gejala. AUTOPSI VERBAL UNTUK LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN YANG BERUMUR 15 TAHUN KE ATAS 68 . Ya. Tidak tahu 8. Penyakit penyebab utama kematian (Underlying cause of death) ________________________________________________________________________ d. Tidak 2. Ya. Tidak 2. Tidak 2. ____bln ____thn 2. Tidak 2. Kencing manis c. Diagnosis Penyebab Kematian Umur 5 Tahun Ke atas (diisi oleh dokter) a. Nama: _____________________ Tanda tangan: _____________________ Tanggal: _____________________ 5 .c ________________________________________________________ Kode ICD 10 . Ya. Sakit lambung/ maag e. ____bln ____thn 1. Tidak tahu 8. Sakit kuning f. Tidak tahu 8. Tidak 2. lama sakit ): 69. Tidak 2. Penyakit yang berkontribusi terhadap kematian. Tidak tahu 8. ____bln ____thn 1. . Tidak 8. berapa lama ? 1.

6 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful