Anda di halaman 1dari 1

Hasil wawancara kulap TMK Narasumber: Pak Memet Marhasit (perwakilan LPM) Lokasi: Jatisari, Desa Jatiroke RT 003

RW 001 Jumlah produksi yg dihasilkan sekarang belum tau. Kalo dulu 5-10 truk (@6-7 kubik). Itu pas tahun 2011. Rute angkutan pemasaran: Dijual per truk untuk bahan bangunan. Pertambangan ini dapet ijin dari Pertamina dan kabupaten. Tergolong PT, yang mengelola adalah pihak desa. Supplier-nya Cipaganti. Harga produksi per kubik: per truk 300rb. 300rb itu dibagi dua, buat desa sama gaji pekerja. Penjualan terjauh: UNPAD, Tanjung Sari. Pokoknya sekitar area Jatinangor. Penjualan terbesar di Jatiroke. Penghasilan dari pertambangan ditujukan untuk pembangunan fasilitas desa. Manajemen pertambangan: batunya digali abis itu dipecah pake alat (bengko bukan namanya...?) Potensi kecelakaan nggak ada. Safety & health tool nggak ada. Alat yg dipake dalam pertambangan: palu, martil, cangkul, linggis. Alat angkut: truk (jumlahnya ratusan) Luas wilayah pertambangan: 3 hektar. Ditambah luas wilayah desa jadinya 13 hektar. Modal nggak ada. Jumlah pekerja kurang dari 10 orang. Upahnya berdasarkan penghasilan. Buat yang bongkar muat beda lagi. Pertambangan ini baru dibangun tahun 2011. Tujuan pertambangan: untuk pembangunan lapangan, tidak ada rencana menambang di tempat lain. Respon masyarakat positif Tidak ada kerjasama dengan toko material. Berakhir tidaknya proyek ini tergantung kepala desa. Kontrak bengko 10 juta per bulan. Jam kerja pukul 07.00-16.00. Kerjanya sukarela.