P. 1
Standar SOP Gizi Buruk

Standar SOP Gizi Buruk

|Views: 25|Likes:
Dipublikasikan oleh Misty Olida
Gizi Buruk
Gizi Buruk

More info:

Published by: Misty Olida on Jul 15, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2014

pdf

text

original

Standar Operasional Gizi Buruk

Prosedur

(SOP)

Penanganan

Gizi Buruk sangat berhubungan dengan kemiskinan, terutama keluarga miskin dengan ketersediaan pangan di rumah tangga yang tidak cukup untuk konsumsi hariannya. Terjadi juga ketidak mampuan akses pelayanan kesehatan. Akibatnya anak-anak balita yang tumbuh dan berkembang pada keluarga miskin tersebut mengalami kesakitan dan kekurangan gizi, bukan hanya terjadi pada satu anak tetapi juga terjadi pada anak-anak lainnya diwilayah terjadinya gizi buruk tersebut. Secara keseluruhan wilayah tersebut sebenarnya banyak keluarga miskinnya dengan ketersediaan pangan yang terbatas dan akses pelayanan gizi dan kesehatan yang sangat jelek, maka seharusnya setiap Kasus Gizi buruk yang ditemukan dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB), Namun sangatlah disayangkan ketika satu kasus gizi buruk itu ditemukan para petugas kesehatan terutama petugas gizi———– tanpa instruksi yang jelas pada tingkat pengelola dan pengambil keputusan ———- ragu untuk melakukan investigasi dan intervensi standar Operasional-KLB-Gizi Buruk terhadap kasus gizi buruk yang ditemukan. Para petugas hanya melakukan intervensi pada kasus gizi buruk tersebut, tetapi tidak melakukan investigasi dan intervensi terhadap anak-anak balita lainnya diwilayah dimana terjadi kasus gizi buruk. Sehingga tidak mengherankan belum tuntas penanganan gizi buruk yang pertama, pada tempat (wilayah posyandu) yang sama muncul kemudian kasus gizi buruk berikutnya Berikut ini salah satu prosedur investigasi dan intervensi atau tepatnya Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Gizi Buruk yang ditemukan di masyarakat untuk dapat digunakan pada pengelola dan pengambilan keputusan dalam menyingkapi terjadinya kasus gizi buruk : Ketika ada laporan gizi buruk (satu gizi buruk saja) maka tangani gizi buruk tersebut dan selanjutnya lakukan investigasi dan intervensi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1. Apakah telah terjadi penurunan N/D dan BGM? Bila tidak terjadi penurunan N/D (balita yang Naik Berat Badanya) dan tidak terjadi peningkatan BGM (anak dengan pertumbuhan Berat Badan di Bawah Garis Merah pada Kartu Menujuh Sehat (KMS-Balita) maka lakukan

2. Pemantapan posyandu harus juga segera dilakukan karena satu gizi buruk yang ditemukan di posyandu tersebut telah menunjukkan bahwa pengelolaan posyandu telah kurang dapat memaksimalkan pelayanan tumbuh kembang balitanya. Dan jika terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin maka lakukan intervensi tingkat IV. Dan bila terjadi penurunan N/D dan peningkatan BGM maka lakukan pengecekan Pola Konsumsi. setelah mendapat data individu secara lengkap beserta sebab-musababnya kemudian kasus dirujuk serta nyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sebagai bahan untuk rekomendasi tindak lanjut pengecekan anak-anak balita dan keluarganya di sekitar wilayah (posyandu) kasus gizi buruk ditemukan. Apakah terjadi Perubahan Pola Konsumsi? Bila tidak terjadi perubahan pola konsumsi maka lakukan intervensi tingkat kedua.intervensitingkat pertama. Bila terjadi perubahan pola konsumsi maka lakukan pengecekan jumlah keluarga miskin. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Pertama (INTERVENSI PERTAMA) 2. lakukan pengecekan pada anak-anak balita lainnya diwilayah posyandu dimana ditemukan kasus gizi buruk. Cek N/D dan BGM ! Kedua : Selanjutnya ada dua hal yang harus dilakukan ketika hasil pengecekan (investigasi) penurunan berat badan dan adanya sejumlah balita yang BGM-KMS yaitu 1. Konseling (KIE) dapat juga dilakukan semua stakeholder wilayah terjadinya kasus gizi buruk. Apakah Telah terjadi peningkatan Keluarga Miskin? Jika tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin maka lakukan intervensi tingkat III. Jika terjadi jumlah kasusnya naik (anak balita dengan Berat Badan Turun dan ada balita BGM-KMS) maka yang dilakukan adalah pengecekan pola konsumsi keluarga anak balita tersebut. Penjelasan keseluruhan dari 3 (tiga) pertanyaan tersebut adalah Jika telah terjadi kasus gizi buruk atau ada laporan gizi buruk maka yang harus dilakukan adalah : Laporan Gizi Buruk ! Pertama : Melakukan investigasi kasus gizi buruk tersebut. apakah anak-anak tersebut telah terjadi penurunan berat badan dan diantara mereka ada yang berat badannya turun sampai di bawah garis waspada (garis merah KMS). Jika tidak terjadi penurunan Berat Badan Balita dan tidak adanya BGM-KMS maka tidak perlu dilakukan investigasi lebih lanjutnya terhadap keluarga balita. Yang dilakukan hanya Intervensi dengan mengaktifkan secara maksimal konseling (KIE) pada keluarga balita yang datang di posyandu maupun keluarga balita yang tidak datang di posyandu. Cek Pola Konsumsi ! . Untuk mencegah timbulnya kasus gizi buruk baru. 3.

Pola konsumsi yang dimaksud disini adalah pola makan balita atau keluarga balita yang normalnya adalah dalam sehari harus makan 3 kali (pagi-siang dan malam) jika tidak terjadi perubahan pola konsumsi (makan) dalam sehari maka intervensi yang dilakukan hanya dalam bentuk konseling (KIE).Ketiga : Ada dua hal juga yang harus dilakukan terhadap pengecekan pola konsumsi keluarga anak balita yaitu apakah telah terjadi perubahan pola konsumsi atau tidak terjadi Perubahan Pola Konsumsi? 1. Yang menjadi ukuran keluarga miskin disini adalah yang berhubung langsung dengan terjadi kekurangan gizi yaitu ketersediaan pangan (makanan) ditingkat rumah tangga dan adanya penyakit pada keluarga serta beberapa aktifitas lainnya yang terhenti akibat penurunan pendapatan keluarga. disebut juga sebagai Standar Operasional Prosedur Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk (SOP-KLB-Gizi Buruk) sebagai salah satu standar kompotensi yang harus difahami dengan baik dan benar oleh para pengelola gizi dan pengambil keputusan dalam melaksanakan program perbaikan gizi masyarakat. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Kedua (INTERVENSI KEDUA). pemberian PMT penyuluhan dan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan. . bantuan pangan darurat dan pengobatan. Cek Keluarga Miskin ! Keempat : Pengecekan Keluarga Miskin. Untuk indicator adanya penyakit pada keluarga yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengakses pelayanan kesehatan dapat dilihat adanya penyakit yang diderita dan tidak mendapat pelayanan kesehatan. Investigasi dan Intervensi Gizi Buruk adalah prosedur pelacakan dan alternative intervensi setiap kasus gizi buruk yang ditemukan. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Keempat (INTERVENSI KEEMPAT) . pemantapan posyandu. 2. Intervensi yang dilakukan jika tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin adalah Konseling (KIE). Jika telah terjadi perubahan pola konsumsi atau makan sudah dibawah 2 kali se hari maka yang dilakukan adalah pengecekan Keluarga Miskin. pemantapan posyandu. ada dua langkah yang dilakukan yaitu apakah telah terjadi peningkatan jumlah Keluarga miskin atau tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin? 1. Ketidak tahuan akan SOP-KLB-Gizi Buruk mengakibatkan kasus-kasus gizi buruk akan selalu muncul. Secara sederhana ketersediaan pangan (makanan) ditingkat rumah tangga yang ditandai dengan pola makan yang kurang dari 2 kali sehari. pemantapan posyandu. PMT pemulihan (total). 3. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Tiga (INTERVENSI TIGA) 4. Sementera itu Intervensi yang dilakukan jika terjadi peningkatan keluarga miskin adalah Konseling (KIE). Untuk serta beberapa aktifitas lainnya yang terhenti akibat penurunan pendapatan keluarga dapat dilihat dari kepala keluarga tidak mempunyai pekerjaan tetap. 2. PMT pemulihan terbatas dan cakupan pelayanan kesehatan kesehatan ibu dan anak.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->