Anda di halaman 1dari 9

KONSEP TEORITIS

A. Pengertian Difteri adalah suatu infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh corynebacterium diphtheriae dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan atau mukosa Difteri adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh corynebacterium diphteriae yang berasal dari membran mukosa hidung dan nasofaring, kulit dan lesi lain dari orang yang terinfeksi. Difteri adalah suatu penyakit infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Difteri adalah toksiko infeksi yang disebabkan oleh Corynebacteryum diphtheriae. Difteria adalah suatu infeksi akut yang mudah menular dan yang diserang terutama saluran pernafasaan bagian atas dengan tanda khas timbulnya pseudo membran. Difteria adalah suatu infeksi akut yang mudah menular,sangat berbahaya pada anak anak terutama menyerang saluran pernafasan bagian atas,penularannya melalui percikan ludah dari orang yang membawa kuman ke orang lain yang sehat. Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksik (racun) Corynebacterium diphteriae. Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae dengan bentuk basil batang gram positif

B. Etiologi Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembangbiak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksin yang sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak.
Menurut Staf Ilmu Kesehatan Anak FKUI dalam buku kuliah ilmu kesehatan anak, sifat bakteri Corynebacterium diphteriae :

a. b. c. d. e.

Gram positif Aerob Polimorf Tidak bergerak Tidak berspora Disamping itu bakeri ini dapat mati pada pemanasan 60 C selama 10 menit, tahan beberapa minggu dalam es, air, susu dan lendir yang telah

mengering.Terdapat tiga jenis basil yaitu bentuk gravis, mitis, dan intermedius atas dasar perbedaan bentuk koloni dalam biakan agar darah yang mengandung kalium telurit. Basil Difteria mempunyai sifat: a. Mambentuk psedomembran yang sukar dianggkat, mudah berdarah, dan berwarna putih keabu-abuan yang meliputi daerah yang terkena.terdiri dari fibrin, leukosit, jaringan nekrotik dan kuman. b. Mengeluarkan eksotoksin yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan setelah beberapa jam diserap dan memberikan gambaran perubahan jaringan yang khas terutama pada otot jantung, ginjal dan jaringan saraf.
Menurut tingkat keparahannya, Staff Ilmu Kesehatan Anak FKUI membagi penyakit ini menjadi 3 tingkat yaitu :

a. Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya nyeri menelan. b. Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyaring sampai faring (dinding belakang rongga mulut), sampai menimbulkan pembengkakan pada laring. c. Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralysis (kelemahan anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal). C. Manifestasi Klinis Tergantung pada berbagai faktor, maka manifestasi penyakit ini bisa bervariasi dari tanpa gejala sampai suatu keadaan atau penyakit yang hipertoksik serta fatal. Sebagai faktor primer adalah imunitas penderita terhadap toksin diphtheria, virulensi serta toksinogenesitas (kemampuan membentuk toksin) Corynebacterium diphtheriae, dan lokasi penyakit secara anatomis. Faktor-faktor lain termasuk umur, penyakit sistemik penyerta dan penyakit-penyakit pada daerah nasofaring yang sudah ada sebelumnya. Masa tunas 2-6 hari. Penderita pada umumnya datang untuk berobat setelah beberapa hari menderita keluhan sistemik. Demam jarang melebihi 38,9o C dan keluhan serta gejala lain tergantung pada lokasi penyakit diphtheria : a. Diphtheria Hidung Pada permulaan mirip common cold, yaitu pilek ringan tanpa atau disertai gejala sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinous dan kemudian mukopurulen mengadakan lecet pada nares dan bibir atas. Pada pemeriksaan tampak membran putih pada daerah septum nasi. b. Diphtheria Tonsil-Faring Gejala anoroksia, malaise, demam ringan, nyeri menelan. dalam 1-2 hari timbul membran yang melekat, berwarna putih-kelabu dapat menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula dan palatum molle atau ke distal ke laring dan trachea. c. Diphtheria Laring Pada diphtheria laring primer gejala toksik kurang nyata, tetapi lebih berupa gejala obstruksi saluran nafas atas.

d. Diphtheria Kulit, Konjungtiva, Telinga Diphtheria kulit berupa tukak di kulit, tepi jelas dan terdapat membran pada dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Diphtheria pada mata dengan lesi pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membran pada konjungtiva palpebra. Pada telinga berupa otitis eksterna dengan sekret purulen dan berbau. D. Patofisiologi
Basil hidup dan berkembangbiak pada traktus respiratorius bagian atas terutama bila terdapat peradangan kronis pada tonsil, sinus, dan lain-lain.Selain itu dapat juga pada vulva, kulit, mata, walaupun jarang terjadi. Pada tempat-tempat tersebut basil membentuk pseudomembran dan melepaskan eksotoksin. Pseudomembran timbul lokal kemudian menjalar kefaring, tonsil, laring, dan saluran nafas atas. Kelenjar getah bening sekitarnya akan membengkak dan mengandung toksin. Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan menyebabkan miokarditis toksik atau jika mengenai jaringan saraf perifer sehingga timbul paralysis terutama otot-otot pernafasan. Toksin juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati dan ginjal, yang dapat menimbulkan nefritis interstitialis. Kematian pasien difteria pada umumnya disebabkan oleh terjadinya sumbatan jalan nafas akibat pseudomembran pada laring dan trakea, gagal jantung karena miokardititis, atau gagal nafas akibat terjadinya bronkopneumonia. Penularan penyakit difteria adalah melalui udara (droplet infection), tetapi dapat juga melalui perantaraan alat atau benda yang terkontaminasi oleh kuman difteri. Penyakit dapat mengenai bayi tapi kebayakan pada anak usia balita. Penyakit Difteri dapat berat atau ringan bergantung dari virulensi, banyaknya basil, dan daya tahan tubuh anak. Bila ringan hanya berupa keluhan sakit menelan dan akan sembuh sendiri serta dapat menimbulkan kekebalan pada anak jika daya tahan tubuhnya baik. Tetapi kebanyakan pasien datang berobat sering dalam keadaan berat seperti telah adanya bullneck atau sudah stridor atau dispnea. Pasien difteria selalu dirawat dirumah sakit karena mempunyai resiko terjadi komplikasi seperti mioarditis atau sumbatan jalan nafas (Ngastiyah, 1997).

a. Kuman berkembang biak pada saluran napas atas(vulva, kulit, mata jarang terjadi). b. Kuman membentuk psudo membrane melepaskan eksotoksin. c. Eksotoksin bila mengenai otot jantung akan mengakibatkan terjadinya miokarditis dan timbul paralysis otot-otot pernapasan bila mengenai jaringan saraf. d. Sumbatan jalan nafas terjadi akibat dari fungsi pseudo membrane pada laring dan trachea dapat menyebabkan kondisi fatal. E. Komplikasi Racun difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, sistem saraf, ginjal ataupun organ lainnya : a. Miokarditis bisa menyebabkan gagal jantung b. Kelumpuhan saraf atau neuritis perifer menyebabkan gerakan menjadi tidak

terkoordinasi dan gejala lainnya (timbul dalam waktu 3-7 minggu) c. Kerusakan saraf yang berat bisa menyebabkan kelumpuhan d. Kerusakan ginjal (nefritis) F. Pengobatan Tujuan mengobati penderita difteri : a. Menginaktivasi toksin yang belum terikat secepatnya b. Mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal c. Mengeliminasi Corynebacterium diphtheriae untuk mencegah penularan d. Mengobati infeksi penyerta dan penyulit difteri Umum: Istirahat mutlak selama kurang lebih 2 minggu pemberian cairan serta diit yang adekuat Khusus pada diphtheria laring dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan nebulizer Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan pernafasan yang progresif hal-hal tersebut merupakan indikasi tindakan trakeostomi. Khusus: Antitoksin Serum anti diphtheria (ADS) Dosis serum anti diphtheria ditentukan secara empiris berdasarkan berat penyakit,tidak tergantung pada berat badan penderita,dan berkisar antara 20.000-120.000 KI. Antimikrobial Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/BB/hari selama 7-10 hari, bila alergi bisa diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari. Kortikosteroid kortikosteroid diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik. Pengobatan penyulit Pengobatan terutama ditujukan terhadap menjaga agar hemodinamika penderita tetap baik oleh karena penyulit yang disebabkan oleh toksin pada umumnya reversibel. Pengobatan Carrier Carrier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai reaksi Schick negatif tetapi mengandung basil diphtheria dalam nasofaringnya. Pengobatan yang dapat diberikan adalah penisilin oral atau suntikan, atau eritromisin selama satu minggu. Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi atau adenoidektomi.

a. b. c. d.

a.

b.

c.

d.

e.

G. Pencegahan Umum Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit ini bagi anak-anak. Pada umumnya setelah menderita penyakit diphtheria kekebalan penderita terhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu imunisasi. Khusus Terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier. H. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium Apusan tenggorok terdapat kuman Corynebakterium difteri b. Pada pemeriksaan darah terdapat penurunan kadar hemoglobin dan leukositosis polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit, dan kadar albumin. Pada urin terdapat albuminuria ringan c. Pemeriksaan bakteriologis mengambil bahan dari membrane atau bahan di bawah membrane, dibiak dalam Loffler, Tellurite dan media blood d. Lekosit dapat meningkat atau normal, kadang terkadi anemia karena hemolisis sel darah merah e. Pada neuritis difteri, cairan serebrospinalis menunjukkan sedikit peningkatan protein f. Schick Tes Tes kulit untuk menentukan status imunitas penderita, suatu pemeriksaan swab untuk mengetahui apakah seseorang telah mengandung antitoksin. Dengan titer antitoksin 0,03 ml satuan permilimeter darah cukup dapat menahan infeksi difteri. Untuk pemeriksaan ini digunakan dosis 1/50 MLD (Minimal Letal Dose) yang diberikan intrakutan dalam, bentuk larutan yang telah diencerkan sebanyak 0,1 ml. Bila orang tersebut tidak mengandung antitoksin, akan timbul vesikel pada bekas suntikan dan akan hilang setelah beberapa minggu. Pada orang yang mengandung titer antitoksin yang rendah, uji shick dapat positif pada orang dengan imunitas atau mengandung anti toksin yang tinggi. Positif palsu dapat terjadi akibat reaksi alergi terhadap protein antitoksin yang menghilang dalam 72 jam.Tes ini tidak berguna pada diagnosis dini, baru dapat dibaca beberapa hari kemudian (Buku kuliah ilmu kesehatan anak FKUI, 1999 ). g. Apabila pasien mengalami komplikasi kejantung (miokarditis),pada pemeriksaan EKG hasilnya :Low voltage, depresi segment S

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian 1. Biodata Umur : Biasanya terjadi pada anak-anak umur 2-10 tahun dan jarang ditemukan pada bayi berumur dibawah 6 bulan dari pada orang dewasa diatas 15 tahun Suku bangsa : Dapat terjadi diseluruh dunia terutama di negara-negara miskin Tempat tinggal : Biasanya terjadi pada penduduk di tempat-tempat pemukiman yang rapat-rapat, higine dan sanitasi jelek dan fasilitas kesehatan yang kurang 2. Keluhan Utama Klien marasakan demam. 3. Riwayat Kesehatan Sekarang Klien mengalami demam yang tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, sakit kepala, anoreksia, lemah. 4. Riwayat Kesehatan Dahulu Klien mengalami peradangan kronis pada tonsil, sinus, faring, laring, dan saluran nafas atas dan mengalami pilek dengan sekret bercampur darah. 5. Riwayat Penyakit Keluarga Adanya keluarga yang mengalami difteri 6. Pola Fungsi Kesehatan a. Pola nutrisi dan metabolisme Jumlah asupan nutrisi kurang disebabkan oleh anoraksia b. Pola aktivitas Klien mengalami gangguan aktivitas karena malaise dan demam c. Pola istirahat dan tidur Klien mengalami sesak nafas sehingga mengganggu istirahat dan tidur d. Pola eliminasi Klien mengalami penurunan jumlah urin dan feses karena jumlah asupan nutrisi kurang disebabkan oleh anoreksia 7. Pemeriksaan Fisik a. KU, Kesadaran TTV TD : Menurun Nadi : Meningkat RR : Meningkat Suhu : Kurang dari 38C b. Pada diptheria tonsil faring

Malaise Suhu tubuh < 38,9 c Pseudomembran ( putih kelabu ) melekat dan menutup tonsil dan dinding faring Bulneck c. Diptheriae laring Stridor Suara parau Batuk kering Pada obstruksi laring yang berat terdpt retraksi suprasternal, sub costal dan supraclavicular d. Diptheriae hidung Pilek ringan Sekret hidung serosanguinus mukopurulen Lecet pada nares dan bibir atas Membran putih pada septum nasi. 8. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan terhadap apus tenggorokan dan dibuat biakan di laboratorium b. Untuk melihat kelainan jantung, bisa dilakukan pemeriksaan EKG 9. Penatalaksanaan Penderita diisolasi sampai biakan negatif 3 kali berturut-turut setelah masa akut terlampaui. Kontak penderita diisolasi sampai tindakan tindakan berikut terlaksana : a. Biakan hidung dan tenggorok b. Seyogyanya dilakukan tes Schick (tes kerentanan terhadap diphtheria) c. Diikuti gejala klinis setiap hari sampai masa tunas terlewati. Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster dengan toksoid diphtheria. B. Diagnosa Keperawatan a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan edema laring. b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia c. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi. d. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan keadaan orang terdekat sakit dan kurang pengetahuan terhadap kondisi anak. e. Kecemasan keluarga berhubungan dengan perubahan status kesehatan anaknya. f. Kurang pengetahuan mengenai penyebab proses,prognosis penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi. g. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan proses penyakit.

h. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. C. Rencana Asuhan Keperawatan 1. Pola nafas napas tidak efektif berhubungan dengan edema laring. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam diharapkan pola nafas pasien kembali normal Kriteria Hasil : a. Frekuensi pernafasan normal b. Irama nafas sesuai dengan yang diharapkan c. Pengeluaran sputum pada jalan nafas. d. Tidak ada suara nafas tambahan e. Bernafas mudah f. Tidak ada dyspnea Intevensi a. Bersihkan mulut hidung dan secret trakea b. Pertahankan jalan nafas yang paten c. Monitor aliran oksigen d. Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi e. Monitor adanya suara nafas tambahan Rasional a. Mencegah obstruksi atau aspirasi, suction dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret b. Mencegah terjadinya sesak napas c. Membantu mengoreksi hipoksemia yang terjadi skunder hipoventilasi dan penurunan permukaan alveolar paru d. Akumulasi seckret atau pengaruh jalan napas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan. e. penurunan bunyi napas dpat menunjukan atelektasis,ronkhi,mengi menunjukan akumulasi sekret atau ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan. 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan Anoreksia Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperwatan selama 1 x 24 jam diharapkan nafsu makan meningkat sehingga kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : f. Klien dapat meningkat berat badan sesuai tujuan g. Klien tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi Intervensi 1. Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan 2. Berikan perawatan mulut sering dan sebelum makan

3. 4. 5. 6.

Berikan makanan sedikit dan sering Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori Timbang berat badan sesuai indikasi Jaga keamanan saat memberikan makanan pada pasien, seperti tinggikankepala tempat tidur selama makan atau selama pemberian makan lewat selang NGT 7. Tingkatkan kenyamanan, lingkungan yang santai termasuk sosialisasi saat makan. Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai pasien 8. Kolaborasi dengan ahli gizi Rasional 1. Faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan 2. Pasien cenderung mengalami luka dan atau perdarahan gusi dan rasa tak enak pada mulut dimana menambah anoraksia 3. Meningkatkan asupan nutrisi 4. Memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan atau defisiensi 5. Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 6. Menurunkan resiko regurgitasi dan atau terjadinya aspirasi 7. Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makan 8. Untuk mengidentifikai kebutuhan kalori (nutrisi tergantung pada usia, berat badan, ukuran tubuh, dan keadaaan penyakit)