P. 1
Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Dekrit Presiden 5 Juli 1959

|Views: 105|Likes:
Dipublikasikan oleh Yunianto Bin Indratmo
Dekrit Presiden Sukarno tahun 1959
Dekrit Presiden Sukarno tahun 1959

More info:

Published by: Yunianto Bin Indratmo on Jul 16, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2013

pdf

text

original

Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
(Dialihkan dari Dekrit Presiden)

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Indonesia yang pertama, Soekarno pada 5 Juli 1959. Isi dekrit ini adalah pembubaran Badan Konstituante hasil Pemilu 1955 dan penggantian undangundang dasar dari UUD Sementara 1950 ke UUD '45. [sunting]

Pranala luar

Konstituante
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
(Dialihkan dari Badan Konstituante)

Konstituante adalah lembaga negara Indonesia yang ditugaskan untuk merumuskan Undang-Undang Dasar atau konstitusi baru. Pada saat pembentukannya, Indonesia masih memiliki UUD Sementara. Pada tahun 1955, Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota-anggota konstituante. Konstituante dibubarkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, setelah lama gagal merumuskan konstitusi yang baru. Kegagalan ini disebabkan karena kesulitan mencapai 2/3 dari para anggota Konsituante untuk menyetujui rumusan UUD yang ada. Kategori: Sejarah Indonesia
Dekrit Presiden 

 
Oleh Alwi Shahab Sampai kini masih bergulir kemungkinan Presiden Abdurahman mengeluarkan dekrit. Kabar terakhir menyebutkan, ia telah memberikan batas waktu satu minggu kepada DPR/MPR untuk merundingkan materi SI MPR agar tidak sampai keluar dekrit. Syaratnya, agar SI MPR nantinya tidak menyinggungmenyinggung hubungan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sejauh ini, mayoritas masyarakat menolak keras dikeluarkan dekrit Presiden, yang oleh banyak pihak dinilai hanya untuk mempertahankan kedudukan Gus Dur. Berlainan dengan situasi ketika Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959. Waktu itu, Bung Karno mengeluarkan dekrit karena tidak punya pilihan lain. Menkopolsoskam Susilo Bambang Yudhoyono sendiri, sebelum diminta mundur oleh

Sementara pemberontakan di daerah-daerah terjadi. ''Berilah bangsa kita satu demokrasi yang tidak jegal-jegalan. Sebelumnya KSAD dan jajaran ABRI lainnya menolak bila diberlakukannya keadaan darurat militer. hanya massa NU. SOB diberlakukan sejak 14 Maret 1957. Forkot. Tapi. rebut merebut. negara dalam keadaan darurat perang (SOB). tanpa akhir dan juga tanpa hasil. karena konstituante tidak mencapai kata sepakat untuk kembali ke-UUD 45. Tuntutan ini didukung oleh PRD. Yang ia namakan 'Tahun Penentuan' (//A Year of Decision//). Dimulai dengan diproklamirkannya PRRI di Padang pada 15 Pebruari 1958. Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia. yang mulai bersidang di Bandung pada 10 Nopember 1956. khususnya Jakarta yang sangat menjauhi PRD dan kelompok mahasiswa 'kiri' lainnya. Yang dikemukakan dalam pidato 17 Agustus 1957. Berlanjut dengan pemberontakan Permesta di Sulawesi. selama hampir tiga tahun gagal menelorkan UU. Ketika itu berlaku UUDS sejak 1950. Anjuran Presiden Soekarno kembali ke UUD 1945 disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia pada 22 April 1959. yang menurutnya. Jauh sebelum mengeluarkan dekritnya. Setahun kemudian (1958) kritiknya makin pedas terhadap demokrasi liberal berdasarkan UUDS. sejak 1950 telah kita khianati.Gus Dur dari jabatannya menganggap tidak perlu sampai dikeluarkannya dekrit Presiden. Sebab demokrasi yang membiarkan seribu macam tujuan bagi golongan atau perorangan akan menenggelamkan kepentingan nasional dalam arus malapeta. tidak mengakibatkan membaiknya keadaan. Bahkan. Sistem yang mengakibatkan kabinet jatuh bangun selama belasan kali. Baiklah. sebenarnya Bung Karno sering mengeluarkan pernyataan untuk kembali ke UUD 45. Saat berlakunya UUD Sementara. Ia menamakan pidatonya itu sebagai 'Tahun Tantangan' (//A Year of . khususnya dari Jawa Timur. Bahkan. hingga terjadi petisi dan demo-demo yang menyatakan dukungan di seluruh Tanah Air. Indonesia menganut sistem demokrasi liberal atau sistem parlementer. jegal menjegal dan fitnah memfitnah. Konstituante seolah-olah menjadi ajang perdebatan yang bertele-tele. Setelah 10 Pebruari 1958 PRRI mengeluarkan ultimatum minta agar kabinet Juanda mengundurkan diri. kita kembali ke situasi negara yang menyebabkan Bung Karno mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945. ia meminta agar semua pihak wajib menghormati proses politik/demokrasi di DPR. yang hingga kini* menuntut dikeluarkannya dekrit Presiden. bubarkan parlemen dan partai Golkar. Kemudian digantikan dengan kabinet Hatta atau Sultan Hamengkubuwono IX. Hasil pemilu dengan parlemen baru yang mewakili 28 partai dibandingkan 20 partai sebelumnya. Dalam kerit dinyatakan bahwa ia dikeluarkan dengan dukungan masyarakat luas dan dalam keadaan terpaksa. Begitu antuasiasnya rakyat menyambut anjuran ini. Sejauh ini. Pada waktu bersamaan masih terjadi gangguan keamanan oleh DI/TII di Jawa Barat dan Ibnu Hajar di Kalimantan. Ketika Bung Karno memberlakaukan dekrit 5 Juli 1959. SOB diberlakukan hanya beberapa jam setelah jatuhnya kabinet Ali II.'' Ujar Bung Karno yang menyatakan ketidak senangannya terhadap demokrasi liberal. Tapi tidak demikian dengan NU di daerah-daerah lain. Dikeluarkan atas usul KSAD Mayjen TNI AH Nasution yang disetujui Presiden. Pokoknya selama lebih dari tiga bulan terjadi berbagai demo besar-besaran menuntut kembali ke UUD 45. Yang dinilai sebagai demokrasi dengan politik rongrong merongrong. . yang akhir-akhir ini hubungannya makin 'mesra' dengan NU. Sementara konstituante (MPR) hasil pemilu pertama. Padahal rakyat berharap melalui Pemilu keadaan negara akan membaik. Sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan negara proklamasi 1945. Yang menyebabkan sebagian besar Tanah Air dalam keadaan tidak aman. kabinet pertama hasil Pemilu 1955. Pamret dll. maka Bung Karno pun mengeluarkan dekrit. Membubarkan lembaga tertinggi negara itu dan menyataka tidak berlaku lagi UUDS.

Setelah kembali ke UUD 1945.Challenge//). Yang dikukuhkan MPRS jadi Manipol. pidato 17 Agustus 1959 dinamakan: 'Penemuan Kembali Revolusi Kita' (//The Rediscovery Our Revolution//). ()  .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->