Anda di halaman 1dari 18

Obat Kardiovaskuler yaitu :

1. Obat Obat Untuk Gangguan Jantung


Tiga kelompok obat yaitu Glikosida jantung, Antiagina, dan Antiaritmia. Obat obat dalam kelompok ini mengatur kontraksi jantung, frekuensi, irama jantung, dan aliran darah ke miokardium (otot jantung).

A. Glikosida Jantung
Digitalis, salah atu dari obat obat tertua, di pakai sejak tuhan 1200, dan sampai kini masih terus dipakai dalam bentuk yang telah dimurnikan. Digitalis dihasilkan dari tumbuhan foxglove ungu dan putih, dapat bersifat racun. Pada tahun 1785, William Withering dari Inggris menggunakan digitalis untuk menyembuhkan sakit bengkak, yaitu edema pada ekstremitas akibat insufisiensi ginjal dan jantung. Preparat digitalis efektifuntuk mengobati payah jantung kongestif (PJK). Sedangkan Withering tidak menyadari bahwa sakit bengkak merupakan akibat dari payah jantung. Jika mekanisme kompensasinya gagal dan jaringan perifer serta paru paru mengalami pembendungan, keadaan ini disebut Payah Jantung Kongestif. Preparat digitalis juga dipakai untuk memperbaiki Fibrilasi Atrial (aritmia jantung dengan kontraksi miokardium aritmia yang cepat dan tidak terkoordinasi) dan Flutter Atrial (aritmia jantung dengan kontraksi yang cepat 200 300 denyut per menit [dpm]). Glikosida Jantung juga disebut sebagai glikosida digitalis. Kelompok obat ini menghambat pompa natrium kalium; sehingga akan meningkatkan kalsium intraselular, yang menyebabkan serabut otot jantung berkontraksi lebih efisien. Preparat digitalis mempunyai tiga khasiat pada otot jantung yaitu: 1. Kerja Inotropik positif (meningkatkan kontraksi miokardium) 2. Kerja Kronotropik negatif (memperlambat denyut jantung) 3. Kerja Dromotropik negatif (mengurangi hantaran sel sel jantung) a. a. Klasifikasi Glikosida Jantung Digitalis Masa Kerja Cepat Digoksin (Lanoxin) Dosis : D : PO : mula mula 0,5 1 mg dalam 2 dosis R : 0,125 0,5 mg/hari 1. Jenis Obat

Lansia : 0,125 mg/hari A (2-10th) : PO : 0,02 0,04 mg/kg dalam dosis terbagi R : 0,012 mg/kg/hari dalam dosis terbagi 2 D : IV : sama seperti oral A : IV : dosis bervariasi Pemakaian dan Pertimbangan : a) Untuk PJK, aritmia atrial. b) Denyut nadi yang lambat menunjukkan toksisitas digitalis. c) Kadar terapeutik serium adalah 0,5 2 ng/mL. d) Pengikatan pada protein adalah 25%; t adalah 30 45 jam b. Deslanosid (Cedilanid-D) Dosis : D : IV : 1,2 1,6 mg/hari dalam dosisterbagi 1- 2 Pemakaian dan Pertimbangan : Untuk digitalisasi cepat; diikuti dengan digoksin atau digitoksin oral; t adalah 36 jam. b. Digitalis Masa Kerja Panjang a. Digitoksin (Crystodigin) Dosis : R : D : PO : 0,05 0,3 mg/hari Pemakaian dan Pertimbangan : a) Untuk PJK. b) Kadar terapeutik serum adalah 15 30 ng/mL. c) Pengikatan pada protein sebesar 95%; t adalah 5 7 hari c. a. Inotropik Positif : Bipiridin Amrinon (Inocor) Dosis : D : IV : DP : 0,75 mg/kg dalam 2 3 menit D : IV : M : 5 10 g/kg/menit (tidak melampaui 10 mg/kg/hari) Pemakaian dan Pertimbangan : Untuk PJK jika digoksin dan diuretik tidak efektif Keteranagan :

D : PO : IV : mula mula 0,8 1,2 mg/hari, sama seperti DP

D : dewasa, A : anak anak, PO : per oral, IV : intravena, DP : dosis pembebanan, R : dosis rumitan, t : waktu paruh, PJK : payah jantung kongestif 2. Interaksi : Obat : diuretik yang mengeluarkan kalium Elektrolit : hipokalemia, hipomagnesemia, dan hiperkalsemia Makanan : makanan berserat tinggi 3. Efek Terapeutik : a. c. a. Meningkatkan kontraksi jantung Meningkatkan perfusi jaringan Anoreksia b. Meningkatkan sirkulasi 4. Efek Samping : b. Mual 5. Reaksi Yang Merugikan : a. c. Muntah Ilusi penglihatan Toksisitas Digitalis Overdosis atau akumulasi digoksin dapat menyebabkan toksisitas digitalis. Tanda tanda dan gejala gejalanya adalah Anoreksia, Diare, Mual dan muntah, Bradikardia (denyut nadi kurang dari 60 kali per menit(dpm)) dan Takikardia (>120dpm), Kontraksi ventrikel prematur, Aritmia jantung, Sakit kepala, Amalise, Penglihatan kabur, Ilusi penghilatan (halo putih, hijau, kuning di sekitar objek), Bingung, dan Delirium. Orang lanjut usia lebih rentan terhadap toksisitas. b. Aritmia d. Penglihatan kabur

B. Antiangina
Obat obat antiangina dipakai untuk jantung mengobati Angina Pektoris (nyeri jantung yang mendadak akibat tidak cukupnya aliran darah karena adanya sumbatan pada arteri koroner yang menuju jantung). Angina Pektoris adalah kondisi yang paling sering melibatkan iskemia jaringan di mana obat obat vasodilator digunakan. Angina Pektoris pertama kali dijelaskan sebagai suatu penyakit klinis tersendiri oleh William Heberden di akhir pertengahan abad ke 18. Pada pertengahan kedua abad ke 19

ditemukan bahwa amil nitrit memberikan penyembuhan yang sementara. Tetapi, pengobatan yang efektifterhadap serangan akut angina pektoris baru mungkin setelah diperkenalkan nitrogliseri pada tahun 1879. Sebagian besar pasien angina pektoris diobati dengan beta-bloker atatu antagonis kalsium. Meskipun demikian, senyawa nitrat kerja singkat, masih berperan penting untuk tindakan prefilaksis sebelum kerja fisik dan untuk nyeri dada yang terjadi sewaktu istirahat.

a.

Golongan nitrat Senyawa nitrat bekerja langsung merelaksasi oto polos pembuluh vena, tanpa bergantung pada sistem persarafan miokardium. Dilatasi vena menyebabkan alir balik vena berkurang sehingga mengurangi beban hulu jantung. Selain itu, senyawa nitrat juga merupakan vasodilator koroner yang poten

Gliseril trinitrat, kodenya 7-240 Isosorbid dinitrat, kodenya 7-242 Isosorbid mononitrat, kodenya 7-242 Pentaeritritol tetranitrat, kodenya 7-241 Antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat influks ion kalsium transmembran, yaitu mengurangi masuknya ion kalsium melalui kanal kalsium lambat ke dalam sel otot polo, otot jantung dan saraf. Berkurangnya kadar kalsium bebas di dalam sel-sel tersebut menyebabkan berkurangnya kontraksi otot polos pembuluh darah (vasodilatasi), kontraksi otot jantung (inotropik negatif), serta pembentukan dan konduksi impuls dalam jantung (kronotropik dan dromotropik negatif).

b. Golongan antagonis kalsium

c.

Amplidipin besilat Diltiazem hidroklorida Nikardipin hidroklorida Nifedipin Nimodipin Golongan beta-bloker Obat-obat penghambat adrenoseptor beta (beta-bloker) menghambat adrenoseptor-beta di jantung, pembuluh darah perifer, bronkus, pankreas, dan hati. Saat ini banyak tersedia beta-

bloker yang pada umumnya menunjukkan efektifitas yang sama. Namun, terdapat perbedaanperbedaan diantara berbagai beta-bloker, yang akan mempengaruhi pilihan dalam mengobati penyakit atau pasien tertentu. Beta-bloker dapat mencetuskan asma dan efek ini berbahaya. Karena itu, harus dihindarkan pada pasien dengan riwayat asma atau penyakit paru obstruktif menahun. Propranolol hidroklorida, kodenya 7-138 Asebutolol, kodenya 7-138 Atenolol Betaksolol Bisoprolol fumarat Karvedilol Labetalol hidrklorida, kodenya 7-268 Metoprolol tartrat, kodenya 7-208 Nadolol Oksprenolol hidroklorida, kodenya 7-201 Pindolol Sotalol hidroklorida, kodenya 7-208 http://yoyoke.web.ugm.ac.id/download/farmakologi.pdf/11/Desember/2010

C. Antidisritmia
Distritmia (aritmia) jantung didefinisikan sebagai setiap penyimpangan frekuensi atau pola denyut jantung yang normal; termasuk denyut jantung terlalu lambat (bradikardia), terlalu cepat (takikardia), berbeda. Disritmia atrium mencegah pengisian yang tepat dari ventikel dan penurunan curah jantung sebanyak sepertiga. Disritmia ventikel bisa membahayakan jiwa karena pengisian ventikel yang tidak efektif menyebabkan curah jantung berkurang atau habis sama sekali. Disritmia jantung seringkali diikuti oleh infark miokardium (serangan jantung) atau dapat timbul dari hipoksia (kekurangan oksigen pada jaringan tubuh), hiperkapsia (meningkatnya kerbon dioksiada dalam darah), kelebihan katekolamin, atau ketidakseimbangan elektrolit. Kerja yang diharapkan dari obat antidisritmia adalah pemulihan irama jantung, yang bisa dicapai dengan berbagai cara. atau tidak teratur. Istilah disritmia (irama jantung yang terganggu) dan aritmia (tidak ada irama) seringkali dipakai berganti ganti, walaupun artinya sedikit

Mekanisme Kerja : a. c. e. a. Menghambat perangsangan adrenergik dari jantung. Menurunkan kecepatan hantaran pada jaringan jantung. Menekan otomatisitas (depolarisasi spontan untuk memulai denyutan) Klasifikasi Antidisritmia IA : Penghambat Rantai (Natrium) Cepat I Dosis D : PO : 200 400 mg, t.i.d. atau q.i.d. A : PO : 30 mg/kg atau 900 mg/m2 dalam dosis terbagi 5 a. c. Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia artium, ventikel, dan supraventrikel Kadar terapeutik serum : 2 6 g/mL b. Menekan eksitabilitas dan kontraktilitas dari miokardium. d. Meningkatkan masa pemulihan (repolarisasi) dari miokardium.

1) Jenis Obat a) Quinidin Sulfat (Cin-Quin)

b. Kategori kehamilan C d. Interaksi obat : meningkatkan kerja digoksin; t : 8 jam b) Prokainamid (Pronestyl, Procan) Dosis D : O : 250 500 mg, setiap 4 6 jam SR : 250 mg 1 g, setiap 6 jam atau 50 mg/kg dalam dosis terbagi 4 a. c. Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia atrium dan ventrikel Pengikatan pada protein sebanyak 20%; t : 3,5 jam

b. Mempunyai efek hipotensi yang lebih ringan daripada quinidin d. Kbagiadar terapeutik serum : 4 8 g/mL c) Disopiramid (Norpace) Dosis D : PO : 100 200 mg, setiap 6 jam A (4-2 th) : PO : 10 -15 mg/kg dalam dosis ter Pemakaian dan Pertimbangan

a) Untuk disritmia ventrikel b) Kategori kehamilan C c) Dapat menyebabkan gejala gejala antikolinergik; t : 8 jam d) Kadar terapeutik serum : 3 8 g/mL b. IB : Penghambat Rantai (Natrium) Cepat II a) Lidokain (Xylocaine) a. c. a. c. a. c. Dosis D : IV : dosis bervariasi Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia ventrikel pada keadaan gawat Batas terapeutik serum ; 1,5 6 g/mL Dosis Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia ventrikel akibat digitalis Kadar serum <20 mikrogram/mL Dosis D : PO : 400 mg, setiap 8 jam Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia ventrikel, terutama (KVP) kontraksi ventrikel prematur Pengikatan pada protein sebanyak 15%; t : 11 15 jam

b. Kategori kehamilan B; t : 1,5 jam b) Fenitoin (Dilantin) D : IV : 100 mg, setiap 5 10 menit sampai disritmia berhenti; dosis maksimum adalah 1000 mg

b. Tidak disetujui oleh FDA sebagai obat disritmia c) Tokainid (Tonocard)

b. Serupa dengan lidokain kecuali dalam bentuk oral d. Kadar serum terapeutik : 4 10 g/mL d) Meksiletin (Mexitil) a. Dosis D : PO : 200 400 mg, setiap 8 jam Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia ventrikel, tetapi dapat menimbulkan disritmia ventrikel baru

b. Kategori kehamilan B c. Disetujui oleh FDA pada keadaan yang mengancam jiwa Dosis Pemakaian dan Pertimbangan e) Enkandin (Enkaid) D : PO : 2 mg, setiap 8 jam; dapat ditingkatkan sampai 50-75 mg setiap 8 jam a) Untuk disritmia ventrikular, tapi dapat menyebabkan disritmia ventrikular baru b) Kategori kehamilan B c) Disetujui FDA untuk situasi yang mengancam jiwa c. a. II : Penghambat Beta Propranolol (Inderal) Dosis D : PO : 10 30 mg, t.i.d., q.i.d. (setiap 6 8 jam) Bulos IV : 0,5 3 mg pada 1 mg/menit Pemakaian dan Pertimbangan : Untuk disritmia ventrikel, takikardia artial paroksismal, dan denyut ektopik atrium dan ventrikel b. Asebutolol (Sectral) a. c. Dosis Pemakaian dan Pertimbangan Terutama untuk kontraksi ventrikel prematur Kategori kehamilan B D : PO : 200 mg, b.i.d., dosis dapat dinaikkan secara bertahap

b. Penghambat yang baru mempengaruhi reseptor 1pada jantung d. Dapat menyebabkanbradikardia dan merununkan curah jantung d. III : Obat obat yang Memperpanjang Repolarisasi a. Bretilium (Bretylol) Dosis D : IM : 5 10 mg/kg, setiap 6 8 jam IV : 5 10 mg/kg, ulangi dalam 15 menit, tetes IV atau bolus IV Pemakaian dan Pertimbangan a) Untuk takikardi dan fibrilasi ventrikel (untuk mengubah menjadi ritme sinus yang normal) b) Dipakai jika lidokain dan prokainamid tidak efektif

b. Amiodaron (Cordarone) Dosis D : PO : DP : 400 1600 mg/hari dalam dosis terbagi R : 200 600 mg/hari a. c. e. a. Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia ventrikel yang mengancam nyawa Kadar serum : 1 2,5 g/mL IV : Penghambat Rantai (Kalsium) Lambat Verapamil (Calan) Dosis D : PO : 240 480 mg/hari dalam dosis terbagi 3 4 IV : 5 10 mg IV yang didorong a. c. 2) a. c. Pemakaian dan Pertimbangan Untuk disritmia supraventrikel Kadar terapeutik serum : 80 300 ng/mL atau 0,08 0,3 g/mL Interaksi Warfarin Simertidin

b. Mula mula dosis lebih besar dan kemudian diturunkan

b. Kategori kehamilan C

b. Fenitoin d. Obat obat Antihipertensi 3) Efek Terapeutik a. Melambatkan hantaran jaringan jantung b. Megubah efek katekolamin pada jantung mengurangi eksitabilitas 4) Efek Samping a. c. a. Letih Pusing Hipotensi b. Sakit kepala 5) Reaksi Yang Merugikan b. Blok AV

c.

Dispnea

d. Rentensi urin

2. Diuretik dan Obat Obat Antihipertensi A. Diuretik


Diuretika golongan tiazid digunakan untuk mengurangi edema akibat gagal jantung dan dengan dosis yang lebih rendah, untuk menurunkan tekanan darah. Diuretika kuat digunakan untuk edema paru akibat gagal jantung kiri dan pada pasien dengan gagal jantung yang sudah lama dan kombinasi diuretika mungkin selektif untuk edema yang resisten terhadap pengobatan dengan satu diuretika, misalnya diuretika kuat dapat dikombinasi dengan diuretika hemat kalium. a. Diuretika golongan tiazid Tiazid dan senyawa-senyawa terkaitnya merupakan diuretika dengan potensi sedang, yang bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi natrium pada bagian awal tubulus distal. Mula kerja diuretika golongan ini setelah pemberian peroral lebih kurang 1-2 jam, sedangkan masa kerjanya 12-24 jam. Lazimnya tiazid diberikan pada pagi hari agar diuretika tidak mengganggu tidur pasien. Bendrofluazid, kodenya 7-434 Klortalidon, kodenya 7-430 Hidroklortiazid, kodenya 7-433 Indapamid Metolazon Xipamid Diuretika kuat digunakan dalam pengobatan edema paru akibat gagal jantung kiri. Pemberian intravena mengurangi sesak nafas dan prabeban lebih cepat dari mula kerja diuresisnya. Diuretika ini juga digunakan pada pasien gagal jantung yang telah berlangsung lama. Frusemid, kodenya 7-431 Bumetanid, kodenya 7-438 Torasemid

b. Diuretika kuat

Klasifikasi Diuretika Kuat a) Asam Etakrinat (Edecrin) Dosis

D : PO : 50 200 mg/hari D : IV : 0,5 1 mg/kg/dosis A : PO : 25 mg/hari a. Pemakaian dan Pertimbangan Untuk edema paru paru dan perifer akibat PJK

b. Dosis ulangan tidak dianjurkan b) Furosemid (Laxis) Dosis D : PO : 20 80 mg/hari IV : 20 40 mg, disuntikan perlahan lahan selama 1 2 menit Maks : 600 mg/hari a. Pemakaian dan Pertimbangan Untuk edema paru paru dan perifer akibat PJK, hipertensi, payah ginjal tanpa anuria, dan hiperkalsemia. b. Furosemid meningkatkan ekskresi kalsium. c) Bumetanid (Bumex) Dosis D : PO : 0,5 2 mg/hari Maks : 10 mg/hari D : IV : 0,5 0,1 mg/dosis, dapat diulangi 2 4 jam kemudian A : PO : 0,015 mg/kg/hari a. c. Pemakaian dan Pertimbangan : Sama seperti furomesid. Diuretika hemat kalium Amilorid dan triamteren merupakan diuretika yang lemah. Keduanya menyebabkan retensi kalium dan karenanya digunakan sebagai alternatif yang lebih efektif daripada memberikan suplemen kalium pada pangguna tiazid atau diuretika kuat. Suplemen kalium tidak boleh diberikan bersama diuretika hemat kalium. Juga penting untuk diingat bahwa pemberian diuretka hemat kalium pada seorang pasien yang menerima suatu penghambat ACE dapat menyebabkan hiperkalemia yang berat. Amilorid hidroklorida, kodenya 7-450

b. Obat lebih kuat dari fuorsemid.

a.

Antagonis aldosteron, kodenya 7-443 Sprironolakton, kodenya 7-443 Diuretik Agen-Tunggal Dosis D : PO : 5 10 mg/hari Pemakaian dan Pertimbangan : Untuk edema dan hipertensi Dosis D : PO : 25 200 mg/hari dalam dosis terbagi A : PO : 3,3 mg/kg/hari dalam dosis terbagi

Klasifikasi Diuretika Hemat Kalium a) Amilorid (Midamor)

b) Spironolakton (Aldactone)

Pemakaian dan Pertimbangan

a) Untuk edema dan hipertensi b) Dosis untuk hipertensi biasanya sedikit lebih rendah dari yang di gunakan untuk edema c) Mempunyai masa kerja yang panjang c) Triamteren (Dyrenium) Dosis D : PO : 100 mg, b.i.d., tidak melebihi 300 mg/hari Pemakaian dan Pertimbangan a) Untuk edema akibat PJK, sirosis, nefrosis, dan edema akibat steroid b) Obat diminum bersama makanan c) Diuretik masa kerja sedang b. Kombinasi Diuretik a) Amilorid dan Hidroklorotiazid (Moduretic) Dosis D : PO : Sesuai dengan resep Pemakaian dan Pertimbangan : Setiap tablet mengandung amilorid HCl 5 mg dan hidroklrorotiazid 25 mg atau 50 mg b) Spironolakton dan Hidroklorotiazid (Aldacazide) Dosis D : PO : 100 mg/hari

Pamakaian dan Pertimbangan : Tersedia dalam dua kekuatan ; spironolaktin 25 mg atau 50 mg dan hidroklrorotiazid 25 mg atau 50 mg

c) Triamteren dan Hidroklorotiazid (Dyazide, Maxzide) Dosis D : PO : Dyazide 1-2 kap, b.i.d., p.c. Pemakaian dan Pertimbangan a) Dyazide : setiap tablet mengandung triamiteren 50 mg dan hidroklrorotiazid 25 mg. b) Maxzide tersedia dalam dua kekuatan : triamteren 37,5 mg atau 75 mg dan hidroklrorotiazid 50 mg atau 75 mg. d. Diuretika merkuri Meskipun efektif, diuretika merkuri sekarang hampir tidak pernah digunakan karena efek nefrotoksisitasnya. Mersalil harus diberikan lewat injeksi intramuskuler. Penggunaan intravena dapat menyebabkan hipotensi berat dan kematian mendadak. Obat ini sudah absolete dan telah diganti dengan loop diuretic yang jauh lebih aman. e. Mersalil, kodenya 7-402 Diuretika osmotik Diuretika golongan ini jarang digunakan pada gagal jantung karena mungkin meningkatkan volume darah secara akut. Manitol, kodenya 7-441 Klasifikasi Diuretik Osmotik a) Mannitol (Osmitrol) Dosis D : IV : (TIK,TIO : 1,5 2,0 g/kg dari larutan 15 25 %, diinfus dalam 30 60 menit IV : pencegahan oliguria : 50 100 g dari larutan 5 25 % Pengobatan oliguria : IV : 300 400 dari larutan 20 % atau 25% Pemakaian dan Pertimbangan a) Untuk menurunkan TIK dan pada oliguria untuk mencegah gagal ginjal akut. b) Dipakai pada glaukoma sudut sempit. b) Urea (Ureaphil) Dosis D : IV : 1,0 1,5 g/kg dari larutan 30 % A (> 2 th) : IV : 0,5 1,5 g/kg dari larutan 30 %

Pemakaian dan Pertibangan

a) Sama pemakaian seperti pada mennitol. b) Bukan merupakan obat pilihan. c) Dipakai pada operasi yang berlangsung lama untuk mencegah gagal ginjal akut. f. Diuretika penghambat enzim karbonik anhidrase Diuretika penghambat enzim karbonik anhidrase (asetazolamid) merupakan diyretika yang lemah dan jarang digunakan berdasarkan efek diuretikanya. Obat ini digunakan untuk profilaksis mountain sicknesstetapi tidak menggantikan aklimatisasi. Asetazolamid, kodenya 7-420 Dorzolamid

Klasifikasi Penghambat Anhidrase Karbonik a) Azetolamid (Diamox) Dosis D : PO : 250 mg, b.i.d atau q.i.d IV : 250 500 mg/hari ; dosis bervariasi Pemakaian dan Pertimbangan a) Untuk glaukoma sudut terbuka. b) Dapat meningkatkan kadar gula darah, asam urat, dan kalsium. c) Dapat timbul asidosis metabolik Dosis D : PO : 100 mg/setiap 12 jam R : 25 50 mg, b.i.d., t.i.d. Pemakaian dan Pertimbangan : Untuk glaukoma terbuka Dosis D : PO : 50 100 mg, b.i.d. atau t.i.d. Pemakaian dan Pertimbangan : Untuk glaukoma Disamping penambahan satu golongan diuretika pada diuretika yang lain, kekhawatiran terjadinya hipokalemia atau ketidakpatuhan pasien meningkatkan penggunaan kombinasi dengan g. Kombinasi diuretika c) Metazolamid (Neptazane) b) Diklorfelamid (daranid)

diuretika hemat kalium. Bila digunakan untuk hipertens, perhatian khusus harus dicurahkan pada dosis tiazidnya, dimana dosis yang lebih rendah lebih dianjurkan.

B. Antihipertensi
Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arteri melebihi normal dan kenaikan ini bertahan. Menurut WHO, tidak tergantung pada usia. Hipertensi mungkin dapat diturunkan dengan terapi tanpa obat (non-farmakoterapi) tau terapi dengan obat (farmakoterapi). Semua pasien, tanpa memperhatikan apakah terapi dengan oabt dibutuhkan, sebaiknya dipertimbangkan untuk terapi tanpa obat. Caranya dengan mengendalikan bobot badan, pembatasan masukan sodium, lemak jenuh, dan alkohol serta pertisipasi dalam program olah raga dan tidak merokok. a. Penghambat saraf adrenergik Obat dolongan ini bekerja dengan cara mencegah pelepasan noradrenalin dari pasca ganglion saraf adrenergik. Obat-obat golongan ini tidak mengendalikan tekanan darah berbaring dan dapat menyebabkan hipotensi postural. Karena itu, obat-obat ini jarang digunakan, tetapi mungkin masih perlu diperlukan bersama terapi lain pada hipertensi yang resisten. Debrisokuin, kodenya 7-260 Reserpin, kodenya 7-261 Sebagai alfa-broker, prazosin menyebabkan vasodilatasi arteri dan vena sehingga jarang menimbulkan takikardi. Obat ini menurunkan tekanan darah dengan cepat setelah dosis pertama, sehingga harus hati-hati pada pemberian pertama. Untuk pengobatan hipertensi, alfa-broker dapat digunakan bersama obat antihipertensi lain. c. Deksazosin Indoramin, kodenya 7-138 Prasozin Hidroklorida, kodenya 7 268 Terazosin Penghambat enzim pengubah anglotensin (penghambat ACE) Pengambat ACE bekerja dengan cara menghambat pengubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Obat-obat golongan ini efektif dan pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Obat-obat golongan ini terutama diindikasikan untuk hipertensi pada diabetes tergantung insulin dengan nefropati, dan mungkin untuk hipertensi pada semua pasien diabetes. Kaptopropril Benazepril

b. Alfa-broker

Delapril Enalapril maleat Fisonopril Perinopril Kuinapril Ramipril Silazapril Sifatnya mirip penghambat ACE, bedanya adalah obat-obat golongan ini tidak menghambat pemecahan bradikin dan kinin-kinin lainnya, sehingga tampaknya tidak menimbulkan batuk kering parsisten yang biasanya mengganggu terapi dengan penghambat ACE. Karena itu, obat-obat golongan ini merupakan alternatif yang berguna untuk pasien yang harus menghentikan penghambat ACE akibat batuk yang parsisten.

d. Antagonis reseptor angiotensin II

e.

Losaktan kalium Valsatran Obat-obat untuk feokromositoma Fenoksibanzamin adalah alfa-broker kuat dengan banyak efek samping. Obat ini digunakan bersama bata-bloker untuk pengobtan jangka pendek episode hipertensi berat pada feokromositoma. Fentolamin adalah alfa-broker kerja pendek yang kadang-kadang juga digunakan untuk diagnosis feokromositoma.

f.

Fenoksibanzamin, kodenya 7-134 Fentolamin, kodenya 7-130 Obat antihipertensi yang bekerja sentral. Kelompok ini termasuk metildopa, yang mempunyai keuntungan karena aman bagi pasien asma, gagal jantung, dan kehamilan. Efek sampingnya diperkecil jika dosis perharinya dipertahankan tetap dibawah 1 g.

Klobidin hidroklorida, kodenya 7-263 Metildopa, kodenya 7-262 Guanfasin http://yoyoke.web.ugm.ac.id/download/farmakologi.pdf/11/Desember/2010

Interaksi Obat Obat Yang Secra Klinis Bermakna


Kelompok Obat Dapat Berinteraksi Dengan Obat Mekanisme Interaksi dan Efeknya

1. Antihipertensi Antidepresan Trisiklik Penghambatan efek hipotensi 2. Tipe Adrenergik blokking : a. Bethadine Debrisoquine Metaraminol, Peningkatan efek presor dari Ephedrine. Phenylephrine, Pseudoephedrine, simpatomimetika. Penurunan pembalikan efek hipotensi Phenylpropanolamin dalam obat flu. Obat antiobesitas (kecuali Peningkatan tekanan darah Fenfluramin) MAO Inhibitor Antagonisme : peningkatan tekanan b. Clonidine darah Beta blokker Penambahan efek hipotensi. Hentikan Clonidine sebelum terapi dengan Beta blokker Antidepresan trisiklik Antagonisme. Kemungkinan efek sentrl Penambahan efek hipotensi Propenolol c. Methyldopa Hilangnya kontol tekanan darah (pening, MAO Inhibitor hipertensi) 3. Glikosuta Jantung Mengurangi bioavailabilitas Digoxin Antacida gel a. Digoxin Digitoxin Peningkatan bermakna kadar serum b. Lanatoside C Digoxin dengan bahaya terjadi Antiaritmia (Quinidine, Amiodarone) intoksikasi. Peningkatan bermakna kadar serum Calcium anatgonis, terutama Digoxin Verapamil Mengikat pada Digoxin, menghambat Cholestryramine, Colestipol absorpsi dan reabsorpsi dari usus Meningkatan sensitivitas terhadap Obat obat yang menyebabkan Digitalis karena hipokalemia. Dapat deplesi Kalium : Diuretika (Frusemide, menyebabkan keracunan Digitalis Ethacrynic acid, Chlorthalidone). Penggunanan laksans yang berlebihan, Cortikosteroid, Carbenoxolone

Daftar Pustaka
Ruhyanudin, Faqih, S.Kep.,Ners. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Edisi Revisi. Malang: UMM Press. Lee, Joyce L. dan Hayes, Evelyn R.. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC Katzung, Bertram G.. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: EGC

Joenoes, Nanizar Z.. 2002. ARS Prescribendi Resep Yang Rasional. Edisi 3. Surabaya: Airlangga University Press http://yoyoke.web.ugm.ac.id/download/farmakologi.pdf/11/Desember/2010