Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pemicu Seorang pengendara motor mengalami kecelakaan lalu lintas, kepalanya membentur aspal ketika jatuh dari motor karana tergelincir di jalan yang licin oleh hujan. Dia terbaring dalam posisi tengkurap, banyak darah membasahi kepala dan pakaiannya, dia juga tidak bergerak sama sekali. Sayangnya, pengendara motor ini juga tidak mengenakan helm. Anda menyaksikan kecelkaan tersebut dan menyadari bahwa orang-orang hanya memindahkan korban ke tepi jalan kemudian berkerumun tanpa melakukan pertolongan apa-apa. Apa yang kan anda lakukan? 1.2 Klarifikasi dan definisi 1. Kecelakaan : kejadian yang menyebabkan orang celaka 2. Jatuh : turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi 3. Darah : suatu jaringan ikat khusus yang terjadi dari komponen sel dan plasma 4. Terbentur : terlanggar, tertumbuk 5. Tengkurap : merebahkan diri dengan muka ke bawah

1.3 Kata Kunci Kepala membentur aspal Pengendara motor Tidak menggunakan helm Terbaring dalam keadaan tengkurap Darah membasahi kepala

1.4 Rumusan Masalah Bagaimana pertolongan pertama yang tepat pada pengendara motor yang mengalami kecelakaan?

1.5 Analisis Masalah Pengendara motor tidak memakai helm

Kecelakaan lalu lintas

Trauma kepala -

pengertian Jenis-Jenis

Kepala membentur aspal Terbaring dalamkeadaan tengkurap Mengalamiperdarahan

Pertolongan pertama

Definisi

Observasi

Pemeriksaan fisik

Tindakan

1.6 Hipotesis Pertolongan pertama yang dapat kita lakukan dengan melakukan prinsip-prinsip pengelolaan kegawatdaruratan.

1.7 Pertanyaan Diskusi 1. Apa saja jenis-jenis trauma kepala? 2. Bagaimana tindakan pertama pada korban? 3. Anatomi kepala? 4. Pertolongan: - definisi - observasi ( pemeriksaan dan tindakan) 5. Kapan kita menerapkan prinsip ABCDE? 6. Kapan waktu dan cara pemindahan korban ketempataman? 7. Resiko apa yang dapat terjadi dengan waktu pemindahan korban yang tidak tepat? 8. Bagaiman prinsip-prinsip pengelolaan kegawatdaruratan? 9. Jenis tindakan apa saja yang dpat dilakukan sebagai orang awam terhadap korban? 10. Kapan waktu yang tepat untuk menghubungi tenaga medis? Bagaima? 11. Syok: - definisi - jenis - tanda awal - penatalaksanaan 12. Perdarahan: - jenis - tanda awal - penatalaksanaan

13. Bgaiamana perbedaan dalam pertolongan petama pada kecelakaan pengguna motor yang memakai helm dan yang tidak memakai helm? 14. Bagaimana perbedaan pertolongan antara korban yang dapat bernafas spontan dengan yang tidak? 15. Cedera kepala apa yang dapat terjadi pada korban? 16. Bagaimana langkah-langkah resusitasi? 17. Bagaimana memberi komando pada masyarakat yang berkerumun (cara mengontrol situasi)?

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Trauma Kepala 2.1.1 Definisi Trauma kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.1

2.1.2 Klasifikasi cedera kepala Rosjidi (2007), trauma kepala diklasifikasikan menjadi derajat berdasarkan nilai dari Glasgow Coma Scale ( GCS ) nya, yaitu; a. Ringan 1.) GCS = 13 15 2.) Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit. 3.) Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma. b. Sedang 1.) GCS = 9 12 2.) Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. 3.) Dapat mengalami fraktur tengkorak. c. Berat 1.) GCS = 3 8 2.) Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. 3.) Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.

2.1.3 Jenis jenis trauma kepala : a) Fraktur Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat 4 jenis fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture, depressed fracture, compound fracture.2 Pengertian dari setiap fraktur adalah sebagai berikut: Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus tanpa depresi, distorsi dan splintering. Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak. Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural

b) Luka memar (kontosio) Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital. Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar. Pada kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang di sebut edema. Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat kesadaran.2

c) Laserasi (luka robek atau koyak) Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan olehbenda bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi pada kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya pada penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut.2 d) Abrasi Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial. Luka ini bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak ujungujung saraf yang rusak.2 e) Avulsi Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah kecederaan.2 2.2 Pertolongan Pertama Pada Korban Pertologan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan metode pertolongan ABC (airway, breathing, circulation). Dalam beberapa keadaan lakukan metode DRSABCD.3 Danger selalu cek keamanan untuk diri sendiri, penolong lain dan juga korban. Pastikan untuk tidak membawa diri sendiri ke dalam bahaya saat memberikan pertolongan.

Response apakah korban sadar? Cek kesadaran korban dengan cara memanggil korban dan mengajak bicara korban. Send for help hubungi bantuan. Airway periksa jalan napas. Jika pasien sadar, memberikan respon saat diajak bicara, dan tidak ditemukan jalan napas yang tertutup maka periksalah bagian tubuh lain apakah terdapat cedera. Jika pasien tidak sadar dan tidak merespon, periksalah jalan napas dengan cara membuka mulut dan perhatikan posisi lidah korban. Jika jalan napas korban tidak tertutup, lakukan head tiltchin lift agar korban dapat bernapas dengan baik. Jika jalan napas pasien tertutup maka baringkan korban secara miring, buka mulut korban dan buka jalan napas yang tertutup kemudian lakukan head tilt-chin lift dan cek jalan napas dengan baik.

Breathing cek pergerakan dada (pergerakan ke atas dan ke bawah). Dengarkan pernapasan dengan meletakkan telinga pda bagian hidung dan mulut korban. Rasak pernapasan dengan tangan pada bagian dada bawah. Jika korban sadar tetapi tidak bernapas, baringkan korba secara miring, hati-hati dengan pergerakan kepala, leher, dan spinal. Awasi jalan napas hingga ambulans datang.

CPR jika korban tidak bernapas, baringkan korban secara merata dan lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sebanyak 5 siklus secara berulang hingga ambulans datang atau sampai pasien memberikan respon.

Defibrilator gunakan alat ini pada korban dewasa yang tidak sadarkan diri dan tidak bernapas.

2.3 Anatomi Kepala 2.3.1 Kulit Kepala (scalp)13 Kulit kepala menutupi cranium/tengkorak yang terdiri dari lima lapis jaringan yaitu kulit (skin), jaringan ikat (connective tissue), galea

aponeurotica (aponeurosis epicranialis), jaringan ikat jarang (loose connective tissue), dan pericranium. 2.3.2 Tengkorak Otak13 Terdiri dari tulang-tulang yang dihubungkan satu sama lain oleh tulang bergerigi yang disebut sutura banyaknya delapan buah dan terdiri dari tiga bagian, yaitu : a. Gubah tengkorak, terdiri dari: 1. Tulang dahi (os frontal) 2. Tulang ubun-ubun (os parietal) 3. Tulang kepala belakang (os occipital) b. Dasar tengkorak, terdiri dari : 1. Tulang baji (os spheinoidale) 2. Tulang tapis (os ethmoidale) c. Samping tengkorak, dibentuk dari tulang pelipis (os temporal) dan sebagian dari tulang dahi, tulang ubun-ubun, dan tulang baji. 2.3.3 Selaput Otak (Meningen) 13 Selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang,melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan serebrospinal), memperkecil benturan atu getaran. Terdiri dari tiga lapisan yaitu: a. Lapisan Dura mater (selaput otak keras) Lapisan dura mater terdapat di bawah tulang tengkorak dan diantaranya terdapat ruangan yang disebut Epidural/Extradural space. Pembuluh arteri meningen media berjalan pada ruangan ini dan mempunyai peranan penting untuk terjadinya Epidural Hemorrhagi. b. Lapisan Arachnoidea (selaput otak lunak) Lapisan arachnoidea terdapat di bawah dura mater dan mengelilingi otak serta berhubungan dengan sumsum tulang belakang. Ruangan diantara duramater dan arachnoidea disebut subdural space. Pada ruangan ini

10

berjalanpembuluh-pembuluh bridging vein yang menghubungkan system vena otakdan meningen. Gerakan kepala dapat membuat venavena ini trauma danmenimbulkan subdural hemorrhagi, karena venavena ini sangat luas. c. Pia mater Lapisan ini melekat erat dengan jaringan otak dan mengikuti gyrus dari otak. Ruangan diantara arachnoidea dan pia mater disebut

subarachnoidea. Cairan cerebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang berjalan pada ruangan ini. 2.3.4. Otak13 Otak adalah pusat pengendali tubuh. Otak terletak dalam rongga tengkorak yang terdiri dari 3 bagian, yaitu : a. Otak besar (cerebrum) Bagian terluas dan terbesar dari otak. Bertanggung jawab atas berkembangnya inteligensi pada manusia. Otak besar dibelah dua dari depan ke belakang. Belahan kanan otak mengendalikan otot dari sisi kiri tubuh dan belahan kiri otak mengendalikan otot dari sisi kanan tubuh. Lapisan luar otak besar disebut korteks serebri yang terdiri dari bahanbahan sel interneuron yang berwarna kelabu (substantia grisea) dan lapisan cerebrum di bawah korteks disebut substantia alba (berwarna putih). Di sebelah dalam otak besar terdapat thalamus (menyampaikan rangsangan sensoris ke korteks serebri) dan hipotalamus (mengatur kebutuhan dasar tubuh, seperti suhu badan, tidur, pencernaan, dan pelepasan hormon). b. Batang Otak (truncus cerebri) Struktur yang menghubungkan cerebrum dengan medulla spinalis, terdiri dari medulla oblongata, pons, dan otak tengah. Medula oblongata adalah pusat pengendali beberapa fungsi kehidupan seperti bernafas, tekanan darah, denyut jantung, dan menelan. Pons adalah berkas serat

11

saraf yang menghubungkan cerebrum dengan cerebellum dan belahan kanan otak dengan belahan kiri otak, membantu mengendalikan gerak mata dan mengatur pernafasan. Otak tengah adalah kelompok saraf yang mengendalikan gerak involunter seperti ukuran pupil dan gerak mata. Semua saraf cranial kecuali saraf I (olfactorius) dan II (opicus) muncul dari batang otak. c. Otak kecil (cerebellum) Bagian otak yang mengkoordinasikan otot yang digerakkan, seperti berlari dan berjalan. Terdapat di bawah dan di belakang cerebrum dan mengkoordinasikan arus rangsangan saraf dari tubuh dan cerebrum. Mengatur gerak otot menurut kehendak, mengendalikan keseimbangan badan, dan mempertahankan sikap tubuh. 2.4 Pertolongan Pertama 2.4.1 Definisi Pertolongan petama merupakan bantuan sementara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan nyawa seseorang pada situasi gawat darurat, dalam hal ini adalah kecelakaan yang dapat mengancam nyawa. Pertolongan pertama adalah pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cidera yang memerlukan bantuan medis dasar. Medis dasar yang dimaksud di sini adalah tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki orang awam. Pemberian medis dasar ini dilakukan oleh penolong yang pertamna kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis.4 2.4.2 Obsevasi, Pemriksaan Fisik dan Tindakan Penolong bisa menggerakkan korban perlahan sambil memanggil korban. Bila sadar korban akan bisa menggerakkan tubuhnya, mengelurakan suara atau menjawab pertanyaan sebagai bentuk reaksi yang diberikan. Jika tidak

12

ada gerakan anggota tubuh atau reaksi, bearti korban tidak sadar maka yang harus dilakukan adalah sebagai berikut5: 1. Minta bantuan orang lain untuk memanggil pertolongan. 2. Baringkan korban dan berlututlahdisebelahnya, tegak lurus dengan bahu korban. 3. Lakukan prinsip-prinsip pengelolaan kegawat daruratan.

2.5 Penerapan Metode ABCD Metode pertolongan pertama ABCD dilakukan atau diterapakan segera setelah kita mendapati adanya korban/pasien dalam kondisi apapun. Untuk dapat melakukan prinsip ABCDE harus mendahulukan4 : 1. Menghubungi bantuan 2. Pastikan tempat untuk melakukan ABCD aman 3. Jika tidak aman pindahkan ketempat yang aman (memindahkan dengan cara pemindahan korban cedera spinal) 4. Pastikan alas untuk melakukan ABCD merupakan tempat yang keras 5. Melakukan penilaian respon (menepuk bahu, tanyakan nama) 6. Cek pernapasan dan nadi. 2.6 Waktu dan Cara Pemindahan Korban Teknik-teknik ini harus dilakukan dengan menarik korban melalui garis lurus untuk menghindari tertekuknya sumbu tulang belakang.6 1. Teknik pertama disebut shirt drag. Teknik ini dapat dilakukan kepada korban yang bajunya masih cukup kuat. Cengkeram bagian baju di sekitar bahu korban dan tarik. Baju yang tertarik harus bertumpu pada ketiak korban, bukan pada leher korban supaya korban tidak tercekik. Jangan lupa

13

amankan

terlebih

dahulu

kepala

korban

dengan

menyokongnya

menggunakan badan anda. Sokong kepala korban dengan lengan anda. 2. Teknik kedua disebut shoulder drag. Sama seperti shirt drag, bedanya yang anda tarik adalah bahunya dengan cara melingkarkan tangan di bawah ketiak korban. Ingat untuk tetap menyokong kepala korban dengan bagian siku lengan anda.

Shoulder Drag

3. Teknik ketiga adalah yang paling aman. Teknik ini disebut blanket drag. Tarikan dilakukan dengan menggunakan selimut atau kain seadanya. Dengan teknik ini korban akan terhindar dari goresan dan sumbu tubuh korban dapat dijaga tetap lurus.

14

Blanket Drag Teknik di atas adalah teknik-teknik yang digunakan untuk memindahkan korban dalam jarak pendek. Untuk jarak yang jauh, sangat disarankan untuk menggunakan alat bantu supaya tidak terlalu menguras tenaga. Keselamatan penyelamat tetap menjadi prioritas utama.6 2.6.1 Resiko Waktu dan Pemindahan yang Kurang Tepat Resiko yang dapat terjadi dengan waktu pemindahan korban yang tidak tepat adalah Berupa bahaya dari lalu lintas yang ada jikalau korban sedang berada ditengah jalan yang merupakan korban kecelakaan lalu lintas,

bahaya api jikalau korban yang ditangani adalah korban kebakaran, bahaya asap beracun jikalau korban yang ditangani merupakan korban kebakaran pabrik tekstil. Hal-hal tersebut dapat membahayakan korban maupun penolong. Namun jikalau hal tersebut tidak ada, sebaiknya berikan pertolongan pertama ditempat korban berada sambil menunggu bantuan datang.5

15

2.7 Prinsip-prinsip Pengelolaan Kegawatdaruratan Prinsip kegawatdaruratan: Persiapan : pra-rumahsakit & rumahsakit Triase : pemilihan berdasarkan kebutuhan terapi Primary Survey (ABCDE) Resusitasi Tambahanpada primary survey danresusitasi Rujukan Secondary survey Tambahanpada secondary survey Re-evaluasi Penanganandefinitif 2.8 Pertlongan Pertama yang Dapat Dilakukan Orang Awam Tindakan yang dapat dilakukan sebagai orang awam jikalau melihat korban seperti pada pemicu adalah pertama-tama segera meminta bantuan karna hal itu merupakan hal yang sangat penting. Jangan pernah tinggalkan korban kan sendirian. Kirim orang lain untuk segera mencari pertolongan . Bila anda satusatunya orang yang berada ditempat kejadian dan bantuan tidak kunjung hadir, anda bisa pergi tinggalkan korban untuk mencari pertolongan. Hubungi rumah sakit atau fasilitas medis terdekat. Pesan yang diberikan kepada layanan gawat darurat harus singkat: dimana lokasi korban, kondisi korban dan berapa banyak korban.5

16

2.9 Menghubungi Tenaga Medis (Bantuan) Dasar pertolongan petama yang digunakan adalah menggunakan metode DRSABCD. Untuk menghubungi tenaga medis atau bantuan lainnya (send for help) dapat kita lakukan segera setelah kita melakukan poin D (danger) dan R (response).3 Hubungi tenaga medis jika ditemukan : 1. Korban tidak sadarkan diri 2. Serangan jantung 3. Korban sulit untuk bernapas 4. Hemorrhagi (perdarahan major) 5. Bleeding (perdarahan yang tidak berhenti setelah 10) 6. Korban tenggelam Ketika menghubungi tenaga medis atau bantuan lain, bersiaplah untuk memeberikan informasi dibawah ini dengan tenang dan jelas.7 1. Lokasi kecelakaan. Berikan alamat, nama jalan, dan informasi lokasi lain, jika memungkinkan. 2. Berikan nomor ponsel anda dan nama anda. Ini untuk mencegah kesalahan dalam menghubungi anda kembali. 3. Berikan informasi tentang apa yang terjadi. Beri tahu status korban terhadap tenaga medis. 4. Berikan informasi atas jumlah korban yang butuh pertolongan dan jelaskan kondisi korban.

17

2.10 Syok 2.10.1 Definisi Syok adalah suatu keadaan dimana pasokan darah tidak mencukupi untuk kebutuhan organ- organ di dalam tubuh. Shock juga didefinisikan sebagai gangguan sirkulasi yang mengakibatkan penurunan kritis perfusi jaringan vital atau menurunnya volume darah yang bersirkulasi secara efektif. Pada hewan yang mengalami syok terjadi penurunan perfusi jaringan, terhambatnya pengiriman oksigen, dan kekacauan metabolisme sel sehingga produksi energi oleh sel tidak memadai. Apabila sel tidak dapat menghasilkan energi secara adekuat, maka sel tidak akan berfungsi dengan baik sehingga pada gilirannya akan menimbulkan disfungsi dan kegagalan berbagai organ, akhirnya dapat menimbulkan kematian. Pada syok yang kurang parah, kompensasi tubuh dapat berupa peningkatan laju jantung dan konstriksi pembuluh darah perifer (keduanya secara refleks), sehingga hal tersebut dapat memelihara tahanan perifer dan aliran darah ke organ-organ vital. Ketika syok bertambah parah, kompensasi ini akan gagal.8

2.10.2 Tipe Syok Syok secara klasik dibagi menjadi tiga katagori, yaitu kardiogenik, hipovolemik, dan distributif syok. 1. Syok kardiogenik terjadi apabila jantung gagal berfungsi sebagai pompa untuk mempertahankan curah jantung yang memadai. Disfungsi dapat terjadi pada saat sistole atau diastole atau dapat merupakan akibat dari obstruksi. Kegagalan sistole atau pengaliran darah. dapat diakibatkan oleh kardiomiopati terkembang (dilated cardiomyopathy) yang menyebabkan buruknya kontraktilitas, atau toksin/obat yang menyebabkan depresi atau

18

kerusakan miokardium. Kegagalan diastole atau pengisian jantung dapat diakibatkan oleh kardiomiopati hipertropik yang mengakibatkan buruknya preload, regurgitasi seperti pada cacat katup, tamponad atau fibrosis perikardiaum yang mengakibatkan rendahnya preload, atau aritmia parah yang mengakibatkan buruknya preload dan kontraktilitas takefisien. 2. Syok hipovolemik terjadi apabila ada defisit volume darah 15%, sehingga menimbulkan ketidakcukupan pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan dan penumpukan sisa-sisa metabolisme sel. Berkurangnya volume intravaskular dapat diakibatkan oleh kehilangan cairan tubuh secara akut atau kronik, misalnya karena oligemia, hemoragi, atau kebakaran. 3. Syok distributif disebabkan oleh maldistribusi aliran darah karena adanya vasodilatasi perifer sehingga volume darah yang bersirkulasi secara efektif tidak memadai untuk perfusi jaringan. Vasodilatasi perifer menimbulkan hipovelemia relatif. Contoh klasik dari syok distributif adalah syok septik. Akan tetapi, keadaan vasodilatasi akibat faktor lain juga dapat menimbulkan syok distributif, seperti pacuan panas (heat stroke), anafilaksis, syok neurogenik, dan systemic inflamatory response syndrome (SIRS). Syok septik merupakan komplikasi umum yang dijumpai pada praktik hewan kecil dan dilaporkan merupakan penyebab kematian yang paling umum pada unit perawatan intensif bukan kardium. Tipe-tipe syok tersebut bervariasi dalam etiologi, tanda klinik, dan penanganan. Seringkali terjadi lebih dari satu tipe syok pada seekor pasien; hewan yang mengalami syok distributif juga akan mengalami hipovolemi. Syok distributif dan hipovolemik dapat menimbulkan syok kardiogenik.8

2.10.3 Etiologi Etiologi spesifik dari syok tidak diketahui, tetapi syok dapat terjadi karena stres yang serius, misalnya karena trauma yang hebat, kegagalan jantung,

19

perdarahan, terbakar, anestesi, infeksi berat, obstruksi intestinal, anemia, dehidrasi, anafilaksis, dan intoksikasi.8

2.10.4 Tanda Klinik Tanda klinik syok bervariasi tergantung pada penyebabnya. Secara umum, tanda kliniknya dapat berupa apatis, lemah, membrana mukosa pucat, kualitas pulsus jelek, respirasi cepat, temperatur tubuh rendah, tekanan darah rendah, capillary refill time lambat, takikardia atau bradikardia (kucing), oliguria, dan hemokonsentrasi (kecuali pada hemoragi). Tekanan arteri rendah, membrana mukosa pucat, capiilarity refill time (CRT) lambat (>2 detik), temperatur rektal rendah atau normal, takipnea, dan ekstremitas terasa dingin merupakan tanda klinik syok kardiogenik dan hipovolemik. Untuk membedakan syok kardiogenik dengan syok hipovolemik dibutuhkan anamnesis lengkap dan evaluasi jantung. Pasien yang mengalami syok septik awal, membrana mukosanya mungkin masih merah, CRT cepat (<1 detik), takikardia, demam, dan terasa hangat saat disentuh. Pada perkembangan selanjutnya, membrana mukosa tampak keruh, CRT bertambah lambat (>2 detik), pulsus menjadi lemah, dan ekstremitas menjadi dingin. Gambaran unik terjadi pada syok distributif pada kucing yang seringkali menunjukkan bradikardia daripada tekikardia.8 2.10.5 Pertolongan Pertama Pada Syok Pertolongan pertama terhadap korban syok adalah sebagai berikut3: 1. Ikuti metode DRSABCD 2. Jika pasien tidsk sadar, rebahkan korban usahakan berikan keadaan yang hangat pada korban agar korban merasa nyaman. Jika memungkinkan angkat kaki korban ke atas sebatas torso dan kepala untuk mengimpruvisasi aliran darah ke otak, jantung, dan peru-paru. Jangan angkat kaki jika ada cedera spinal dan fraktur.

20

3. Tangani perdarahan eksternal. Bersihkan lukadan tkan pada bagian luka untuk menghentikan perdarahan dengan kassa atau kain biasa. Jika perdarahan merembes pada kassa atau kain, tambahkan kassa atau kain di atas kassa pertama. Jika perdarahan merembes hingga kassa kedua, maka ganti kassa kedua dengan yang baru. 4. Jangan beri korban makan atau minum. 5. Tenangkan korban dan sarankan untuk istirahat atau tetap terjaga hingga ambulans datang. 2.10.6 Penanganan Tujuan penanganan syok tahap awal adalah mengembalikan perfusi dan oksigenasi jaringan dengan mengembalikan volume dan tekanan darah. Pada syok tahap lebih lanjut, pengembalian perfusi jaringan saja biasanya tidak cukup untuk menghentikan perkembangan peradangan sehingga perlu dilakukan upaya menghilangkan faktor toksik yang terutama disebabkan oleh bakteri. 8 Pemberian oksigen merupakan penanganan yang sangat umum, tanpa memperhatikan penyebab syok. Terapi lainnya tergantung pada penyebab syok. Terapi cairan merupakan terapi yang paling penting terhadap pasien yang mengalami syok hipovolemik dan distributif. Pemberian cairan secara IV akan memperbaiki volume darah yang bersirkulai, menurunkan viskositas darah, dan meningkatkan aliran darah vena, sehingga membantu memperbaiki curah jantung. Akibat selanjutnya adalah meningkatkan perfusi jaringan dan memberikan pasokan oksigen kepada sel. Terapi awal dapat berupa pemberian cairan kristaloid atau koloid. Pada hewan yang mengalami hipovolemik dengan fungsi jantung normal, cairan Ringer laktat atau Ringer asetat diberikan dengan cepat. Dosis yang direkomendasikan untuk syok adalah 90 ml/kg IV untuk anjing dan 60 ml/kg IV untuk kucing. Seperempat dari jumlah tersebut diberikan selama 5-15 menit pertama dan bersamaan dengan itu

21

dilakukan evaluasi terhadap respon kardiovaskular (kecepatan denyut jantung, warna membrana mukosa, kualitas pulsus, dan CRT). Koloid atau plasma pada dosis 22 ml/kg pada anjing dan 10-15 ml/kg pada kucing digunakan untuk resusitasi syok. Kecepatan dan volume terapi cairan harus dapat ditoleransi oleh individu pasien. Kecepatan dan jumlah pemberian cairan dimonitor pada tekanan vena sentral dan pengeluaran urin. Apabila perfusi jaringan berkurang karena kehilangan banyak darah, secara ideal harus dilakukan transfusi darah dengan kecepatan tidak melebihi 22 ml/kg secara IV dan kontrol perdarahan harus dilakukan dengan baik. Bila PCV menurun secara akut menjadi di bawah 20%, transfusi padatan sel darah merah (packed red blood cells) atau darah total secara nyata memperbaiki tekanan darah dan penghantaran oksigen ke jaringan. 8 Pada syok kardiogenik, terapi cairan yang terlalu cepat dapat berakibat fatal karena akan meningkatkan beban kerja jantung dan selanjutnya membahayakan sirkulasi. Terapi syok kardiogenik tergantung pada penyebabnya. Jika syok disebabkan oleh kontraktilitas miokardium yang jelek, disarankan penanganan dengan beta-agonist. Dobutamin merupakan betaagonist yang mampu meningkatkan curah jantung dan penghantaran oksigen, tanpa menyebabkan vasokonstriksi, merupakan obat yang paling umum digunakan untuk meningkatkan fungsi jantung. Jika hewan sedang diberikan obat yang menekan miokardium (misalnya anestesia), maka pemberian obat tersebut harus dihentikan.

Perikardiosentesis harus dilakukan jika efusi perikardium cukup banyak dan menyebabkan tamponad. 8 Pada syok distributif apabila hipotensi tetap terjadi walaupun telah dilakukan terapi cairan yang cukup maka dibutuhkan pemberian vasopresor. Oleh karena curah jantung dan tahanan pembuluh darah sistemik mempengaruhi penghantaran oksigen ke jaringan, maka pada

22

pasien hipotensi harus dilakukan terapi untuk memaksimalkan fungsi jantung dengan terapi cairan dan obat inotropik, dan/atau memodifikasi tonus pembuluh darah dengan agen vasopresor. 8 Penggunaan glukokortikoid untuk menangani syok masih kontroversial. Namun apabila digunakan, glukokortikoid harus digunakan pada penanganan awal dan tidak diulang penggunaannya. Prednisolon direkomendasikan pada dosis 22-24 mg/kg secara IV. Glukokortikoid kerja cepat (rapid-acting glucocorticoid) yang lain yang tersedia dalam bentuk parenteral adalah deksametason sodium fosfat, direkomendasikan pada dosis 2-4 mg/kg secara IV. 8 Syok septik sering kali berkaitan dengan bakteri gram negatif, dan antibiotik yang cocok untuk itu misalnya sepalosporin atau

aminoglikosida dan penisilin. Apabila menggunakan aminoglikosida, hewan harus dalam kondisi hidrasi yang baik, karena aminoglikosida dapat mengakibatkan nefrotoksik. Hewan yang sedang mendapatkan penanganan syok harus terus dimonitor. Dua faktor yang sangat penting untuk dimonitor adalah tekanan dan volume darah. Sebagai petunjuk dalam pemberian terapi dapat digunakan parameter kardiovaskuler (kecepatan denyut jantung, warna membrana mukosa, kualitas pulsus, CRT, tekanan vena sentral), kecepatan pernapasan, hematokrit, dan pengeluaran urin. Untuk mengevaluasi terapi cairan pada syok karena perdarahan sangat penting dilakukan pengukuran PCV (packed cell volume) dan TS (total solid). Tekanan gas dalam darah sangat penting dalam penentuan dan memonitor keseimbangan asambasa. 8 temperatur,

23

2.11 Perdarahan 2.11.1 Jenis-jenis Perdarahan Perdarahan yg terjadi akibat rusaknya dinding pembuluh darah yg dpt disebabkan oleh ruda paksa (trauma)/penyakit. Perdarahan dapat dibedakan menjadi dua yaitu perdarahan eksternal dan perdarahan internal. Perdarahan eksternal adalah perdarahan yang berasal dari luka terbuka sehingga dapat dilihat. Sedangkan perdarahan internal adalah perdarahan yang terjadi pada luka tertutp sehingga sulit untuk di identifikasi. 9 Perdarahan eksternal, ciri perdarahan eksternal mudah untuk diketahui karena pada jenis perdarahan ini terdapat luka terbuka yang dapat dilihat. Terdapat beberapa jenis luka terbuka yaitu9: 1. Luka Gores/ Abrasi Bagian kulit lapisan atas terkelupas sehingga hanya sedikit kehilangan darah 2. Laserasi Bagian kulit yang terpotong bergerigi 3. Insisi Kulit terpotong rata seperti potongan pisau 4. Pungsi Cedera benda tajam yang menembus permukaan kulit 5. Avulsi Kulit yang terpotong masih menggantung di bagian lainnya 6. Amputasi Terpotongnya bagian tubuh

24

2.11.2 Tanda awal Perdarahan internal, terdapat beberapa tanda-tanda terjadinya perdarahan internal antara lain yaitu9: 1. Memar 2. Area yang terdapat nyeri tekan 3. Muntah ataupun batuk darah 4. Feses berwarna hitam atau mengandung darah merah terang

2.11.3 Penatalaksanaan Perawatan untuk perdarahan eksternal, perawatan ini meliputi kontrol perdarahan dan melindungi luka dari cedera selanjutnya. berikut adalah langkah-langkah pertolongan pertama perdarahan eksternal 1. Gunakan APD (Alat Pelindung Diri), minimal sarung tangan. 2. Ekspos luka dengan cara merobek atau melepaskan pakaian untuk menemukan sumber perdarahan. 3. Beri pembalut atau kasa pada sumber perdarahan dan tekan dengan tangan anda secara langsung (tindakan ini dapat menghentikan sebagian besar perdarahan) 4. Jika perdarahan terjadi di sekitar lengan atau tungkai, maka tinggikan bagian tersebut di atas tinggi jantung. 5. Agar dapat menangani cedera lain anda dapat menggunakan perban tekan untuk menahan pembalut pada luka. 6. Jika darah masih merembes hingga kasa dan perban di penuhi darah, maka jangan angkat perban atau pembalut tersebut. Lebih baik gunakan kasa tambahan dan perban di ats titik tekan yang sama.

25

7. Jika perdarahan masih belum dapat dikontrol maka beri tekanan pada titik tekan ( TT brakhial pada kedua lengan atas dan TT femoral dapa lipatan paha) sambil tetap menjaga tekanan pada luka. Untuk lebih mempermudah mengingat penanganan pada

perdarahan eksternal maka kita singkat pertolongan perdarahan eksternal dengan TET (Tekan, Elevasi, dan Titik Tekan).9

Perawatan yang diberikan saat terjadi perdarahan internal adalah sebagai berikut, 1. Mengistirahatkan area yang cidera 2. Kompres bagian yang cidera denagn es atau kantung dingin 3. Tekan bagian yang cidera menggunakan perban kompresi 4. Tinggikan bagian yang cidera apabila tidak terjadi fraktur Untuk mempermudah mengingat penanganan perdarahan internal ini dengan singkatan RICE (Rice, Ice, Compress dan Elevasi).9 Untuk meminimalisir perdarahan di kepala, dapat dilakukan11 : 1. Bagian tubuh yaitu kepala yang mengalami perdarahan ditinggikan dari bagian tubuh lain 2. Tekan arteri yang menyilang pada tulang kepala 3. Tekan nadi yang yang terletak antara tempat perdarahan dengan jantung 4. Luka dibersihkan 5. Dibalut jangan terlalu keras 6. Jika darah masih merembes balut lagi di atas balutan sebelumnya 7. Korban dibawa kerumah sakit

26

2.12 Perbadaa Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan dengan Korban yang Memakai Helm dan Tidak Perbedaan dalam pertolongan petama pada kecelakaan pengguna motor yang memakai helm dan yang tidak memakai helm sebenarnya tidak ada, karena menurut penelitian yang dilakukan Woro Riyadina dan Ita Puspitasari Subik mengenai Profil keparahan cedera pada korban kecelakaan sepeda motor di Instalasi Gawat Darurat RSUP Fatmawati tingkat keparahan pengguna motor yang memakai helm justru memiliki tingkat yang sangat tinggi dibanding dengan pengguna motor yang tidak menggunakan helm. Keparahan cedera dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya meliputi faktor eksternal (faktor lingkungan) dan faktor internal seperti manusia. Faktor lingkungan fisik meliputi jenis dan kondisi jalan, cuaca dan waktu kejadian. Adapun faktor internal antara lain yakni perilaku pengendara seperti pemakaian helm, kecepatan mengendarai dan konsumsi alkohol. Lingkungan fisik disini adalah sarana fisik yang meliputi kondisi jalan tempat lalu lintas kendaraan, cuaca dan waktu pada saat terjadi kecelakaan.11

2.13 Perbadaa Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan dengan Korban yang Dapat Bernapas Spontan dan Tidak Jika pasien sadar, memberikan respon saat diajak bicara, dan tidak ditemukan jalan napas yang tertutup maka periksalah bagian tubuh lain apakah terdapat cedera. Jika pasien tidak sadar dan tidak merespon, periksalah jalan napas dengan cara membuka mulut dan perhatikan posisi lidah korban. Jika jalan napas korban tidak tertutup, lakukan head tilt-chin lift agar korban dapat bernapas dengan baik. Jika jalan napas pasien tertutup maka baringkan korban secara

27

miring, buka mulut korban dan buka jalan napas yang tertutup kemudian lakukan head tilt-chin lift dan cek jalan napas dengan baik.3 2.14 Langkah-langkah Resusitasi Langkah-langkah resusitasi dilakukan dengan cara sebagai berikut3: 1. Tempatkan slah satu tangan dibagian dada korban 2. Tempatkan tangan lainnya diatas tangan pertama untuk mengunci jari-jari tangan. 3. Lakukan kompresi sebanyak 30 kali (1/3 kedalaman dada) 4. Ventilasi sebanyak 2 kali dari mulut ke mulut. Buka jalan napas korban dengan cara head tilt-chin lift-jaw throast, tutup lubang hidung korban kemudian beri udara melalui mulut sebanyak 2 kali pernapasan 5. Rasio kompresi dan vetilasi tetap 30 kali dan 2 kali secara berurutan walaupun dilakukan sendiri atau dibantu oleh asisten 6. Kompresi sebanyak 100 kali per menit 7. Lanjutakan hingga pasien memberi respon atau sampai ambulans datang. Upaya resusitasi dilakukan pada keadaan mati klinis, yaitu bila denyut nadi besar (sirkulasi) dan napas berhenti dan diragukan apakah kedua fungsi spontan jantung dan pernapasan telah berhenti secara pasti/irreversible, misalnya pada kematian mendadak.13 Upaya resusitasi darurat ini dapat diakhiri bila: a. Diketahui kemudian, bahwa sesudah dimulai resusitasi, pasien ternyata berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi atau hamper dapat dipastikan bahwa pasien tidak akan memperoleh kembali fungsi cerebralnya, yaitu sesudah 1 jam, terbukti tidak ada nadi pada normoternia tanpa resusitasi jantung baru.13

28

b. Terdapat tanda-tanda klinis mati otak, yaitu sesudah resusitasi, pasien tetap tidak sadar, tidak timbul napas spontan dan tidak ada reflex, pupil tetap dilatasi selama paling sedikit 15-30 menit.13 c. Terdapat tanda mati jantung yaitu asistole listrik membandel (garis datar pada EKG) selama paling sedikit 30 menit, meskipun telah dilakukan resusitasi dan pengobatan optimal.13 d. Penolong terlalu lalah sehingga tidak dapat melanjutkan upaya resusitasi.13 2.15 Cara Mengontrol Situasi Bagaimana memberi komando pada masyarakat yang berkerumun adalah dengan segera membagi tugas, meminta seseorang segera menghubungi rumah sakit atau fasilitas medis, meminta untuk memberi ruang kepada korban dengan tidak berkerumun agar sirkulasi udara bagi korban ada dan segera memberi pertolongan pertama.5

29

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Hipotesis diterima, Pertolongan pertama yang dapat kita lakukan dengan melakukan prinsip-prinsip pengelolaan kegawatdaruratan dengan mengutamakan call for help, primary survey (ABCDE), dan resusitasi.

30

DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddarth. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa. EGC: Jakarta. 2002. 2. Iskandar J.SpBS. Cedera Kepala. Jakarta: BIP. 2004. 3. Anonim. First Aid Basics. http://www.betterhealth.vic.gov.au. 2013. Diakses pada tanggal 11 Juli 2013. 4. Tim RSUA. P3K dengan Prinsip A-B-C. RSUA. 2013 5. Yayasan IDEP. Panduan Kecil Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat (PBBM). Diunduh dari www.idepfoundation.org/pbbm pada tanggal 8 Juli 2013 6. Karren KJ, Hafen BQ, Limmer D. First Responder: A Skills Approach. In: Dickinson ET, editor. New Jersey: Prentice-Hall Inc.; 1998. p. 364.

7.

Jones & Bartlett Learning. First Aid, CPR, and AED. American College of Emergency Physicians: Jones and Bartlett Publisher. 2005.

8. Kirby, R. Shock and shock resuscitation. In Proceedings of the Societa Culturale Italiana Veterinari Per Animali Da Compagnia Congress. Rimini, Italy. 2007. 9. Thygerson, Alton. 2011. First Aid Pertolongan Pertama. Jakarta: Penerbit Erlangga
10. Koesmadji W, dkk. 2004. Teknik Laboratorium. FMIPA Universitas

Pendidikan Indonesia. 11. Woro Riyadina dan Ita Puspitasari Subik.Profil keparahan cedera pada korban kecelakaan sepeda motor di Instalasi Gawat Darurat RSUP Fatmawati. Universa Medicina Vol.26 No.2. 2007, 26: 64-72 12. Hanifah, Jusuf. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan.Jakarta: EGC, 2009

31

13. Moore, KL, Agur, AM, 2002. Anatomi Klinis Dasar. Alih Bahasa: H. Laksman. Penerbit Hipokrates, Jakarta.