Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap hari anak pasti melakukan aktifitas penting yang disebut belajar. Baik belajar di sekolah ataupun dirumah. Dalam proses belajar tersebut haruslah didukung dengan alat-alat indra yang baik, agar proses pembelajaran tersebut dapat dipahami dan di aplikasikan kehidupan sehari-hari. Namun apabila ada salah satu dari panca indra tersebut yang mengalami kerusakan ataumun kelainan, maka proses pembelajaran pun akan sulit dilakukan dan pasti akan mengalami kesulitan dan menbutuhkan penanganan khusus. Begitupula dengan indra pendengaran, apabila indra tersebut mengalami kerusakan, proses belajar pun akan sangat sulit. Sedini mungkin sebaiknya orangtua harus memeriksakan pendengaran anak, apakan anak tersebut memiliki kecacatan/kelainan atau tidak. Dengan pengetesan sedini mungkin, orangtua dapat meminimalisir kesulitan yang akan dihadapi anak nantinya. Pengetesan pendengaran biasanya dilakukan menggunakan alat yang bernama audiometer, orang yang mengetes anak tersebut dinamakan audiometris dan hasil diagram dari proses pengetesan tersebut dinamakan audiogram. Makalah ini berisi tentang proses pengetesan, hasil audiogram dan hasil pengetesan klien, yang disimpulkan diakhir apakah klien tersebut mengalami kelainan pada pendengarannya atau tidak.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana proses dan cara pemeriksaan pendengaran menggunakan audiometer?
1

2. Bagaimana hasil audiogram dari pemeriksaan pendengaran yang dilakukan terhadap klien? 3. Bagaimana hasil pemeriksaan pendengaran klien?

C. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah 1. Memahami bagaimana proses dan cara pemeriksaan pendengaran menggunakan audiometer 2. Mengetahui bagaimana hasil audiogram dari pemeriksaan pendengaran yang dilakukan terhadap klien 3. Mengetahui bagaimana hasil pemeriksaan pendengaran klien

BAB II LANDASAN TEORI A. Tunarungu Moores (1982: 6) mengemukakan orang yang tuli adalah seorang yang mengalami ketidak mampuan mendengar (biasanya pada tingkat 70 dB atau lebih) yang menghambat pemahaman bicara melalui pendengarannya dengan atau tanpa menggunakan alat bantu dengar. Sedangkan orang yang kurang dengar adalah seseorang yang mengalami ketidakmampuan mendengar (biasanya pada tingkat 35 69 dB) sehingga mengalami kesulitan, tetapi tidak menghambat pemahaman bicara melalui pendengarannya, tanpa atau dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aid). Nelly (1982:95-96) The Conference of Executives of American School for The deaf : A deaf person is one whose hearing disability is so great that he or she can not understand speech through the use of the ear alone, with or without a hearing aid. A hard of hearing person is one whose hearing disability makes it difficult to hear but who can, with or without the use of hearing aid, understand speech. Hallahan dan Kauffman (1991:266) menyatakan Hearing impairment; a generic term indicating a hearing disability that may range in severity from mild to profound it includes the subset of deaf and hard of hearing. Deaf person is one whose hearing disability precludes successful processing of linguistics information through audition with the or without a hearing aid. A hard of hearing is who generally with the use of hearing aid, has residual hearing sufficient to enable successful processing linguistics information audition. Poerwadarminta, (1983:1104). Secara etimologi kata tunarungu berasal dari bahasa Jawa yang berarti tuli atau tidak dapat mendengar. Dengan

demikian, pengertian tunarungu dapat berarti tuli atau tidak mendengar sama sekali. Dari pengertian tersebut dapat ditarik makna sebagai berikut. 1. Tidak dapat mendengar semua intensitas nada suara/bunyi. Keadaan ini bias disebut tuli total atau tidak dapat mendengar sama sekali (tidak berfungsinya alat pendengaran walaupun dengan atau tanpa alat bantu dengar (Deaf). 2. Tidak dapat mendengar hanya pada intensitas tertentu dari satu nada suara /bunyi. Keadaan seperti ini dapat disebut sebagai kurang mendengar atau tuli sebagian. Hal itu berarti masih memiliki sisa pendengaran, karena alat pendengarannya masih berfungsi walaupun dengan tanpa alat bantu dengar (Hard of hearing). Selanjutnya dijelaskan Easterbrrooks dalam Mahmud (2003:3) adalah sebagai berikut. Ketunarunguan adalah suatu istilah umum yang

menggambarkan semua tingkat dan jenis keadaan ketulian (deafness) terlepas dari penyebabnya dan usia kejadiannya. Sejumlah variabel (tingkat, jenis, factor penyebab dan usia) bergabung di dalam diri seorang anak tunarungu mengakibatkan dampak yang unik terhadap perkembangan personal, sosial, intelektual dan pendidikannya, yang pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi pilihan gaya hidupnya pada masa dewasanya (terutama kelompok sosial dan pekerjaan). Akan tetapi, sebagaimana hanya dengan kehilangan indra lainnya, ketunarunguan terutama bila tidak disertai kecacadan lain pada dasarnya merupakan permasalahan sosial dan tidak mesti merupakan suatu ketunaan (disability) kecuali jika lingkungan sosial tempat tinggal individu itu membuatnya demikian. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah tunarungu digunakan untuk orang yang mengalami gangguan pendengaran yang terdiri dari tuli (deaf) dan kurang dengar (Hard of hearing). Orang yang tuli (deaf) adalah orang yang mengalami ketidak mampuan mendengar bunyi/suara pada intensitas tinggi sekitar 70 dB atau lebih akan

mengakibatkan kesulitan dalam memproses informasi bahasa melalui pendengarannya sehingga ia tidak dapat memahami pembicaraan orang lain baik dengan memakai maupun tidak memakai alat bantu dengar (hearing aid). Sedangkan orang yang kurang dengar (hard of hearing) adalah orang yang mengalami kekurang mampuan mendengar bunyi/suara pada intensitas sedang sekitar 35 s/d 69 dB yang biasanya memakai alat bantu dengar (hearing aid) untuk memproses informasi bunyi/suara yang masuk sehingga bias memahaminya. Ada juga beberapa label/istilah gangguan pendengaran (ketunarunguan) dalam Bahasa Inggis antara lain : 1. Tunarungu ringan (Mild Hearing Impairment), yaitu Kelainan

pendengaran yang masih mampu mendengar bunyi dengan intensitas antara 20-40 dB. Biasanya kelompok ini mengalami kesulitan dalam percakapan dan sering tidak menyadari bahwa dia sedang diajak bicara. 2. Tunarungu sedang (Moderate Hearing Impairment), yaitu Kelainan pendengaran yang masih mendengar bunyi dengan intensitas 40-65 dB. Kelompok ini biasanya mengalami kesulitan dalam kecakapan tanpa memperhatikan wajah pembicara, sulit mendengar dari kejauhan atau dalam suasana gaduh, tetapi dapat dibantu dengan alat Bantu dengar (hearing aid). 3. Tunarungu agak berat (Severe Hearing Impairment), yaitu Kelainan pendengaran hanya mampu mendengar bunyi yang memiliki intensitas 5695 dB. Kelompok ini hanya memahami sedikit percakapan pembicara apabila melihat wajah pembicara dan dengan suara keras, tetapai untuk percakapan normal, praktis mereka tidak dapat mengikuti, hanya mereka masih dapat dibantu dengan alat bantu dengar (hearing aid). 4. Ketunarunguan berat (Profound Hearing Impairment), yaitu Kelainan pendengaran hanya dapat mendengar bunyi dengan intensitas di atas 95 dB ke atas. Percakapan normal tidaklah mungkin bagi mereka, alat bantu juga kecil kemungkinan dapat membantu mereka, mereka sangat tergantung dengan komunikasi verbal atau isyarat.

B. Audiometer Ahli-ahli elektronika menciptakan alat yang dapat membangkitkan nada-nada murni dan dengan alat yang sama juga keras nada-nada itu dapat diatur dengan tepat. Nama alat elektronika itu adalah audiometer. Pasien dapat mendengar nada-nada murni lewat headphones untuk air conduction dan lewat vibrator khusus untuk bone conduction.

BAB III PEMBAHASAN A. Riwayat Anak 1. Identitas Anak : a. Nama : Sahibul Wafa Tajul Arifin

b. Tempat dan tanggal lahir/umur : Pontianak, 6 Juni 1994 c. Jenis kelamin d. Agama e. Status anak f. Anak ke dari jumlah saudara g. Nama sekolah h. Kelas i. Alamat 2. Riwayat Kelahiran : a. Perkembangan masa kehamilan : Normal b. Penyakit pada masa kehamilan c. Usia kandungan d. Riwayat proses kelahiran e. Tempat kelahiran f. Penolong proses kelahiran g. Gangguan pada saat bayi lahir h. Berat bayi i. Panjang bayi :: 10 bulan (Dokter) : Normal : Rumah Sakit Soedarso : Dokter : Tidak ada ::: Laki-laki : Islam : Kandung : Dua dari Empat : Universitas Sebelas Maret : IV : Jl.R. Wajok Hilir, Siantan, Pontianak

j. Tanda-tanda kelainan pada bayi : -

3. Perkebangan Masa Balita : a. Menyusui ibunya hingga umur b. Minum susu kaleng hingga umur c. Imunisasi (lengkap/tidak) d. Pemeriksaan/penimbangan rutin/tdk : e. Kualitas makanan f. Kuantitas makan g. Kesulitan makan (ya/tidak) : Baik : Baik : Tidak : 4 th : 10 th : lengkap

4. Perkembangan Sosial : a. Hubungan dengan saudara b. Hubungan dengan teman c. Hubungan dengan orangtua d. Minat khusus : Sangat Baik : Baik : Baik : Teknik Informatika

5. Perkembangan Pendidikan : a. Masuk TK umur b. Lama Pendidikan di TK c. Kesulitan selama di TK d. Masuk SD umur e. Kesulitan selama di SD f. Pernak tidak naik kelas : Tidak pernah : : : 5 Tahun :: Tidak

g. Pelayanan khusus yang pernah diterima anak : h. Prestasi belajar yang dicapai i. Mata Pelajaran yang dirasa paling sulit : : Matematika

j. Mata Pelajaran yang dirasa paling disenangi : Keterampilan k. Keterangan lain yang dianggap perlu :

B. Proses Penggunaan Audiometer Proses Asesmen audiologi dilakukan menggunakan alat audiometer. 1. Proses tindakan a. Persiapan Alat Audiometer 1 Kursi

b. Persiapan Tempat Tempat yang digunakan harus kedap suara. Agar tidak

mengganggu pada saat proses pemeriksaan dilaksanakan. Namun, pada saat proses pemeriksaan pada klien dilakukan di ruang kelas biasa yang berakibat tidak heningnya ruangan tersebut. c. Persiapan Kllien Menjelaskan kepada klien proses yang akan dilakukan hingga benar-benar paham Berkan sedikit terapi pernapasan agar klien tidak tegang dan menjadi rileks Apabila klien telah rileks dan siap, lakukan proses tesnya.

d. Pelaksanaan Pasang headphone ke kepala klien dengan tepat dan pas Merah sebelah kanan, dan biru sebelah kiri Pengetesan pertama dilakukan pada telinga kanan klien Dimulai pada frekuensi 1000hz, 750hz, 500hz , 250hz, 125hz, kemudian kembali lagi ke 1000hz, 1500hz, 2000hz, 3000hz, 4000hz, 6000hz, 8000hz. Disetiap Hz diberi nada awal mulai dari 40db Di setiap ambang, dilakukan pengulangan minimal 3x

Kemudian menulis setiap hasil audiogramnya (lihat di table 1.1) Lalu lakukan tes pada telinga kiri klien Langkah selanjutnya sama dengan langkah yang dilakukan pada saat pemeriksaan telinga kanan

Kemudian buatlah hasil kesimpulan dari data audiogram tersebut

C. Hasil Audiogram

40 35 30 25 20 15 10 5 0 -5 -10

dB

Hz
125 20 15 250 25 25 500 35 30 750 25 20 1000 1500 2000 3000 4000 6000 8000 15 15
Tabel 1.1

T Kanan T Kiri

15 5

15 5

5 -5

5 -5

5 5

5 -5

Julmah dB T Kanan = 170 Jumlah dB T Kiri = 105

170/11= 15.45455 dB 105/11= 9.54545 dB

D. Hasil Pengetesan Pendengaran Moores (1982: 6) mengemukakan orang yang tuli adalah seorang yang mengalami ketidak mampuan mendengar (biasanya pada tingkat 70 dB atau lebih) yang menghambat pemahaman bicara melalui pendengarannya dengan
10

atau tanpa menggunakan alat bantu dengar. Sedangkan orang yang kurang dengar adalah seseorang yang mengalami ketidakmampuan mendengar (biasanya pada tingkat 35 69 dB) sehingga mengalami kesulitan, tetapi tidak menghambat pemahaman bicara melalui pendengarannya, tanpa atau dengan menggunakan alat bantu dengar (hearing aid). Dari data audiogram diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendengaran telinga kanan klien berada di tingkat 15.45455 dB dan telinga kiri klien berada pada tingkat 9.54545 dB. Menurut Moores (1982: 6) orang yang tuli tidak dapat mendengar pada tingkat 70dB keatas, sedangkan orang yang kurang dengar adalah orang yang mempunyai tingkat pendengaran 35-69dB. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa pendengaran klien termasuk masih normal, dan belum terjadi kecacatan apapun.

11

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Dari data diatas, dapat disimpulkan bahwa 1. Proses yang dilakukan dalam pengetesan klien merupakan proses yang tepat, walaupun ada sedikit kesalahan dalam proses tersebut, seperti tempat yang tidak kedap suara. Namun yang lainnya bagus. 2. Hasil audiogram yang dibuat sangat baik, dan dengan hasil audiogram tersebut dapatlah disimpulkan apakah pendengaran klien termasuk normal atau tidak 3. Hasil dari pengetesan tersemut menunjukkan bahwa klien merupakan anak normal yang tidak memiliki kecacatan pada pendengarannya.

B. Saran Saran-saran saya adalah sebagai berikut 1. Saran penulis untuk klien adalah jagalah pendengaran tersebut, sebelum pendengaran semakin berkurang. Janganlah sering-sering menggunakan headphone dengan suara yang keras. Telinga merupakan titipan dari-Nya, jadi jagalah sebaik mungkin titipan tersebut. 2. Saran bagi audiometris adalah sabarlah dalam melakukan tes audiometer ini, usahakan agar anak memahami dahulu instruksi yang diberikan, agar pada saat pengetesan tidak terjadi kesalahan komunikasi antara audiometris dan anak.

12

DAFTAR PUSTAKA Fotokopian Audiometri yang diberikan di awal pembelajaran audiometri Makalah Pengembangan Program Bimbingan Karir Bagi Siswa Tunarungu Di Slb-B Yp3atr Bandung / Dudi Gunawan

13