Anda di halaman 1dari 6

Sigap Hadapi Banjir

Oleh: Pipin Noviati Sadikin

Kualitas alam dan lingkungan yang semakin menurun sejalan dengan meningkatnya aktivitas manusia, seringkali menyisakan masalah-masalah lingkungan. Padahal ketergantungan manusia terhadap keberadaan lingkungan sangat tinggi. Apa jadinya apabila manusia tidak melakukan tindakan preventif untuk mencegah kerusakan lingkungan? Bencana alamlah yang akan kita terima sebagai sebuah konsekuensi yang logis. Berikut ini adalah sebuah tulisan tentang bencana banjir dan upaya penanggulangannya. Dengan demikian, kita dapat bersiap-siap menghadapi bencana banjir dan bisa meminimalkan kerugian yang ditimbulkan akibat banjir. Bencana alam selalu menyisakan kesedihan dan duka yang mendalam bagi masyarakat. Belum lagi kerugian yang harus ditanggung. Bencana alam memang merupakan takdir Tuhan. Akan tetapi, bencana alam terjadi sedikit banyak karena ulah manusia juga. Manusia membakar hutan, membuat hutan beton di atas resapan air, hutan ditebang dan digunduli secara tak terkendali, ekosistem laut dibom hingga terumbu karang hancur dan ikan habis, dan lain sebagainya yang menjadi pemicu terjadinya bencana alam. Salah satu akibat perilaku buruk manusia terhadap alam adalah bencana banjir. Bencana banjir terjadi karena tanah tidak mampu lagi menyerap air hujan. Penyebab lainnya adalah system saluran air yang buruk, sampah yang memenuhi sungai hingga mampet, hutan-hutan yang semakin menurun jumlahnya akibat: pembabatan hutan secara liar, pembakaran hutan untuk membuka ladang, atau pengalihan fungsi hutan menjadi area pemukiman, bisnis, pertambangan, maupun perkotaan. Semua ini ditambah lagi dengan buruknya sikap dan perilaku kita sebagai manusia dalam menangani lingkungan kita sendiri.

Di Indonesia, hanya dikenal dua musim yaitu musim kering dan musim hujan. Ketika musim hujan tiba, banjir seringkali menjadi langganan di daerah-daerah tertentu di Indonesia. Meskipun demikian, adakalanya tidak ada peningkatan kualitas tata kelola lingkungan yang baik dan benar dari pemerintah dan masyarakat. Banjir adalah genangan air yang meluap dan memenuhi daratan yang biasanya kering. Terjadinya banjir karena air memenuhi dan melebihi daya tampung dalam tanah, selokan, saluran air, sungai, danau, bahkan laut. Penyebab banjir bermacam-macam, diantaranya adalah aktivitas manusia (1). Misalnya pembangunan untuk pengembangan pemukiman, penggundulan hutan, pengalihan fungsi lahan untuk industry, pengelolaan sampah yang buruk. Sementara itu, ada banjir yang terjadi karena kondisi alamnya yang bersifat tetap (2). Misalnya letak geografis daerah banjir memang merupakan daerah yang sering terkena badai atau siklon, seperti di Bangladesh dan Philipina. Penyebab banjir yang lain adalah, karena terjadinya peristiwa alam yang dinamis(3). Misalnya karena musim hujan yang panjang dan terjadi hujan deras selama berhari-hari, terjadinya arus balik pada pertemuan dua sungai besar, permukaan muka tanah yang ambles, dan pendangkalan dasar sungai. Penyebab kesatu adalah akibat perbuatan manusia yang sering bersikap egois dan mencari kenyamanan hidup dengan cara mengeksploitasi dan merusak lingkungan. Sementara penyebab kedua dan ketiga merupakan peristiwa alam yang statis dan dinamis, sehingga merupakan tantangan bagi manusia untuk mencari solusi penanggulangannya seperti apa. Jenis Banjir itu sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu (1) Banjir Bandang, biasanya terjadi karena hujan terjadi terus menerus dan curah hujan yang sangat tinggi. Biasa terjadi di dataran rendah, dan air sudah tidak dapat ditampung oleh daerah itu. Banjir ini senantiasa datang tiba-tiba dan sangat cepat, terjadi dalam hitungan detik; (2) Banjir Sungai, biasanya terjadi karena curah hujan yang tinggi di daerah

DAS/Daerah Aliran Sungai karena sungai tidak mampu lagi menampung air hujan yang meluap. Banjir sungai ini biasanya menjadi banjir besar secara perlahan dan tergolong banjir musiman; (3) Banjir Pantai, terjadi karena adanya badai tropis berupa angin puyuh atau taifun. Banjir ini berasal dari luapan air hujan dan semakin parah karena dipicu oleh angin badai yang kencang di sepanjang pantai. Kemudian air garam akan membanjiri daratan akibat dampak gelombang pasang, badai atau tsunami. Setelah itu, luapan air laut pun akan membanjiri lembah-lembah pesisir yang mendekati muara sungai. Beberapa peristiwa banjir besar di Indonesia: Banjir Jakarta 2007, Banjir Karawang, Banjir bandang di Yogyakarta 2010, dll. Di pulau Lombok sendiri, terjadi banjir pada tahun 2006 di Lombok Timur, tahun 2009 di Desa Banyumulek dan Labuapi, tahun 2010 di Desa Senteluk, tahun 2011 di Sambelia. Tentu banyak kerusakan dan masalah akibat banjir yang terjadi akibat banjir, misalnya kerusakan fisik seperti rumah yang roboh dan hancur, rusaknya prasarana seperti jalan, saluran air, jaringan listrik dan komunikasi, berhentinya kegiatan ekonomi dan menurunnya kualitas lingkungan. Selan itu, tentu saja korban jiwa karena kematian dan kehilangan anggota keluarga, atau cidera berat. Wabah penyakit pun mengintai seperti malaria, kolera, diare, dan infeksi virus, terutama di tempat yang mudah menularkan penyakit seperti tempat pembuangan limbah dan sampah yang terbuka, system pengairan yang tercemar dan sanitasi atau system kebersihan yang buruk. Karena dampak yang ditimbulkan oleh peristiwa banjir sangat besar dan merugikan, maka perlu ada upaya persiapan dan pencegahan (mitigasi) menghadapi banjir. Upaya ini terdiri dari (1)

Mendeteksi banjir dan membangun system peringatan, (2) Mengadakan penyuluhan tentang bahaya banjir, (3) Mengembangkan manajemen tanah daratan, serta (4) Membuat peta bahaya banjir. Banjir sebenarnya merupakan fenomena alam yang bisa diramalkan. Ramalan ini terlihat melalui pola-pola musiman, kapasitas kolam dan saluran drainase untuk mengalirkan air ke badan air atau

daerah resapan air, pemetaan tanah dataran, serta survey udara dan daratan. Dengan terdeteksinya banjir maka bisa disebarkan informasi bencana dan peringatan melalui system peringatan dini. Misalnya dengan sirine berkepanjangan, siaran radio dan TV, komunikasi gabungan tim masyarakat dll. Selain peringatan dini, juga perlu diadakan penyuluhan tentang bahaya banjir bagi masyarakat dan jajaran pemerintah. Sehingga setiap orang memiliki pemahaman tentang bahaya banjir dan cara penanggulangannya. Denga demikian diharapkan resiko kerugian material dan korban jiwa bisa dikurangi, karena masyarakat sudah mempersiapkan diri, dan sudah tahu apa yang harus dilakukan bila terjadi bencana banjir, dan lebih mudah menentukan tindakan penyelamatan. Adapun upaya masyarakat dan pemerintah di dataran terdiri atas kegiatan fisik dan non fisik. Kegiatan fisik berupa pembangunan sarana dan prasarana pengendali banjir sehingga membentuk system pengendali banjir seperti waduk, tanggul dan kanal yang sesuai, interkoneksi sungai dll. Sementara kegiatan non fisik berupa penerapan konservasi tanah dan air, melakukan penghijauan, pengaturan bangunan dan tata ruang pembangunan, membentuk tim ronda dan peringatan dini, melakukan pengamanan jika terjadi banjir menurut masing-masing institusi swasta atau pemerintah, dan kelompok masyarakat, pembuatan peta wilayah banjir, penegakan hukum tentang tataruang dan pola pembudidayaan dataran banjir dan DAS hulu, serta sempadan sungai, penyuluhan dan pendidikan memlaui berbagai media untuk meningkatkan pemahaman, kepedulian dan peran masyarakat, serta penanggulangan kemiskinan karena masyarakat miskin perkotaan seringkali tinggal di bantaran sungai yang membahayakan, atau masyarakat petani lahan kering di DAS hulu melakukan pola bercocok tanam yang tidak menunjang konservasi tanah dan air. Upaya yang bisa dilakukan masyarakat dan perorangan untuk mitigasi bahaya banjir, misalnya membuat bangunan di daerah aman dan bukan di bantaran atau pinggir sungai, bergotong-royong mengeruk lumpur dan sampah di sungai dan selokan secara rutin, selalu menjaga kebersihan lingkungan

dan membuang sampah pada tempatnya, juga mengurangi sampah, tidak menebang pohon di hutan sembarangan hingga hutan menjadi gundul, hindari pola peladangan berpindah tanpa menanam pohon pengganti, melakukan penghijauan di tanah-tanah gundul dan di perkotaan untuk melindungi diri dari bahaya banjir, serta membangun kesepakatan tentang peringatan dini bahaya banjir. Untuk peta bahaya banjir, sebaiknya menggambarkan situasi wilayah desa/kota dan wilayah sekitarnya sejelas mungkin, termasuk daerah rawan atau potensi banjir. Proses pembuatan peta ini merupakan tanggung jawab masyarakat, pemerintah setempat dan juga instansi terkait secara partisipatif. Selain data wilayah juga cantumkanlah data penduduk, data sarana pertolongan pertama, jalur bantuan dan pengungsian dll. Bagi perorangan atau keluarga, persiapan menghadapi bencana misalnya menyimpan suratsurat penting dalam plastic dan mudah dibawa, titipkan fotokopi dokumen dan surat penting pada saudara yang tidak tinggal di daerah banjir, naikan panel dan alat listrik ke tempat yang lebih tinggi, pastikan ada pelampung untuk seluruh keluarga, pastikan ada persediaan makanan dan obat-obatan yang cukup, miliki nomor kontak ketua RT/RW, polisi, rumah sakit, pemadam kebakaran dll, selalu mengikuti informasi tentang perkembangan cuaca dari radio, TV dan Koran, serta ikutilah komando perintah evakuasi dari petugas. Untuk menjaga kesehatan selama ada bencana, buatlah pagar di sekeliling penampungan air bersih, kelola sampah rumah tangga dan jangan buang air sembarangan di dekat tempat air bersih. Apabila kemudian terjadi banjir, maka pahamilah tanda-tanda kondisi non darurat dan kondisi darurat. Dalam kondisi non darurat, masih ada waktu bagi keluarga untuk mempersiapkan diri dan keluarga untuk mengungsi, misalnya persiapkan transportasi dan sarana yang dibuthukan, matikan listrik dan gas elpiji, kuncilah rumah, bawalah barang seperlunya, bawalah ternak jika memungkinkan.

Dalam kondisi darurat, larilah ke tempat yang lebih aman bersama keluarga, selamatkan diri dan keluarga tanpa perlu memikirkan harta benda kecuali yang menempel di badan. Ketika terjadi bencana banjir, periksalah diri anda terlebih dulu, baru kemudian memeriksa keluarga dan orang lain apakah ada yang terluka, dan berikanlah pertolongan pertama. Ingatlah untuk menolong bayi, anak-anak, lanjut usia dan orang cacat. Jangan minum air kecuali yang sudah dimasak karena air banjir mengandung kotoran dan limbah berbahaya. Selalu memperhatikan sanitasi dengan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih ketika memasak, makan, setelah buang air, dan setelah menangani apapun yang telah tecemar karena banjir. Jagalah peralatan makan dari air banjir. Jaga pula agar anak-anak tidak bermain di air banjir, dan tetap tinggal dan di tenda atau tempat pengungsian. Waspadalah terhadap informasi darurat dan ikutilah rencana darurat di lingkungan bencana. Bersabarlah dalam pengungsian dan banyak berdoa, karena dalam kondisi darurat ini, akan banyak tekanan yang terjadi tetapi tetaplah tenang agar bisa tetap berpikir untuk mendapatkan solusi yang terbaik. Referensi: Kristianto, Arief. 2010. Banjir: Tanggap Bencana Alam. Penerbit Angkasa. Bandung ***