Anda di halaman 1dari 1

Waspadai si Trouble Maker di Kantor

17 Jan 2002 11:44 WIB

Rasanya hampir di setiap lingkungan kantor ada saja beberapa orang yang selalu membuat ulah atau 'trouble maker'. Mereka selalu membuat masalah yang seharusnya tidak perlu Anda. Karena ulahnya, kehadiran si trouble maker tak jarang membuat konsentrasi karyawan lain terganggu. Mereka yang tergolong trouble maker selalu menjadi hambatan bagi karyawan lainnya. Dia bisa menjadikan masalah apapun menjadi pelik dan penuh konflik. Parahnya, si trouble maker tak pernah kehabisan ide untuk membuat ulah dan menebar masalah. Ia terlalu kreatif dalam menciptakan berbagai problem. Akibatnya, suasana dan lingkungan kerja seringkali tidak nyaman. Lebih jauh hal ini akan membuat proses kerja terhambat. Lalu bagaimana jika di kantor Anda ada si trouble maker? Bagaimana menghadapinya? Bingung? Wajar, karena Anda tidak bisa menghentikan ulahnya secara paksa. Namun memusuhinya juga bukan jalan terbaik. Bersekutu dengannya pun sama sekali tidak baik. Ingat, bagaimanapun si trouble maker adalah bagian dari tim Anda. Anda harus menghadapinya dengan cara yang tepat. Coba ikuti cara-cara berikut ini: Jangan emosi Jaga emosi Anda terhadap si 'trouble maker', jangan sampai kehadiran si trouble maker mempengaruhi pekerjaan Anda. Berpikirlah bahwa dia memang orang yang kurang normal, karena itu emosi Anda harus tetap stabil jika ingin pekerjaan lancar. Dalam hal ini sikap netral akan menguntungkan Anda. Kalau Anda emosi, Anda akan menuai stres. Fokus pada pekerjaan Dia bikin ulah lagi? Kalau urusannya tidak berkaitan dengan pekerjaan, cuekin saja. Tapi jika ulahnya berhubungan dengan pekerjaan, pusatkan perhatian Anda pada masalah kerja. Selesaikan dengan jernih, jangan lari pada masalah-masalah yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Soalnya biasanya si trouble maker suka mengkait-kaitkan masalah pada hal-hal yang tidak relevan. Jaga jarak komunikasi Bukan salah Anda jika Anda nggak suka berdekatan dengan si trouble maker. Pasti yang lain pun bersikap sama, jaga jarak. Tapi bagaimanapun Anda tetap perlu membina komunikasi yang baik dengannya, namun pastikan bahwa komunikasi Anda dengannya sebatas urusan pekerjaan, di luar itu no way..! Anda harus bersikap 'cerdas' dan mengerti kapan Anda harus berkomunikasi dan kapan tidak perlu berkomunikasi dengannya. Selalu waspada Jangan pernah lengah dengan maksud terselubung si pembuat ulah. Ingat, 'trouble maker' juga pandai menyembunyikan niat busuknya dengan berkedok pada sikap manis. Peringatkan selalu diri Anda sendiri untuk mewaspadai tindak-tanduknya. Tapi bukan berarti Anda harus bersikap 'jutek' padanya. Jika ia sedang baik Anda pun harus baik namun selalu 'pasang kuda-kuda' terhadap segala kemungkinan buruk yang diciptakannya. Tularkan sikap positif Meski dianjurkan untuk menjaga jarak, tak ada salahnya jika pelan-pelan Anda mengajarkan hal-hal positif padanya. Lakukan pendekatan konvensional dengan menjadi temannya. Nah kalau ia mulai membuat ulah, sebagai temannya Anda harus berusaha menyadarkan dia tentang kesalahannya. Suntikkan nilai-nilai positif yang membuatnya sadar bahwa selama ini sikapnya hanya merugikan dirinya dan orang lain. Tapi jika cap 'trouble maker' sudah 'kronis' alias sulit banget disembuhkan, apa boleh buat, nggak ada jalan lain kecuali Anda harus bersikap extra hati-hati. Bisa dipastikan, yang lain pun memilih sikap yang sama dengan Anda, yaitu hati-hati menghadapinya. Kalau si trouble maker cukup cerdas, pastilah ia akan sadar bahwa kelakukannya selama ini bukan hanya merugikan orang-orang di lingkungannya tetapi juga dirinya sendiri. Karena hal ini akan menghambat karirnya.