Anda di halaman 1dari 316

$eriTelnit

INDUSTRI PETROKIMIA DAN DAMPAK LINGKUI{GANNYA


Untuk: Mahasiswa Politeknik Manufaktur

Oleh:

Ir. Maraudin Pandjaitan, Dipl.Ing.Petro.

GADJAH MADA UNN'ERSITY PR.ESS

a..-_

/gPP/t/(zwo

Hok Ciplo @ 2006 CV Kreosi Anugroh Seioti, Komp. Migos 44 No. 42 Kemonggison, Jokorto Borol 11480. (Desoin Grofis: Okto Berlionto M). Terdotlor podo Deporlemen Kehokimon don Hok Asosi Monusio Rl No. 021987, tonggol 28 Februori 2001 Hok penerbilon podo GADJAH MADA UNIVERSIW PRESS P.O. Box I4, Buloksumur, Yogyokorto.
E-moil: gmupress@ugm.oc.id

home poge: http://www.gmup.ugm.oc.id

Dilorong mengulip don memperbonyok lonpo izin lertulis dori penerbii, sebogion olou seluruhnyo dolom bentuk opo pun, boik celok, photoprint, microfilm don sebogoinyo. Mei2002 Celokon perlomo Cetokon keduo (revisi) Jonuori2006
r

32r .05.0r .06


PRESS

Dilerbitkon don dicelok oleh:


GADJAH MADA UNIVERSITY

Anggoto llGPl 0510186-cl E


tsBN 979-420-610-5

PENGANTAR CETAKAN KEDUA (REVISI)


dimaksudkan agar Mahasiswa Politeknik Manufaktur dalam menyusun karya tulis dapat mendasarkan pada penelitian ilmiah, sehingga pokok-pokok bahasan pada buku ini mencakup bagaimana merumuskan masalah, mengumpulkan data,

Revisi buku

ini

menganalisa dan melaporkannya dapat teratasi. Dibandingkan dengan cetakan pertama Mei 2002, pada cetakan kedua ini terdapat perubahan-perubahan berikut ini. Secara umum cetakan kedua (revisi) ini meliputi uraian tambahan materi yang tidak ada pada cetakan sebelumnya. Uraian tambahan materi tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi perekonomian, perkembangan pembangunan Industri Manufaktur di Indonesia yang terjadi selama tahun 1998 hingga 2003. Perubahan penambahan uraian tersebut terutama dalam Bab Itr, Bab IV dan Bab

V, sebagai berikut: 1. Pada Bab-III tentang: (1) Realisasi ekspor pupuk Urea pada tahun 1996 s/d 1999 perNegara-Negara tujuan; (2) Ciri khas "deterjen", yang menjadi salah satu faktor "keunggulannya" jika dibanding dengan bahan pencuci lainnya (dengan sabun biasa); (3) Keunggulan penggunaan "deterjen (surfaktan) jenis lunak"jika dibanding dengan "deterjen (surfaktan) jenis keras" dan (4) Pembangunan "Proyek Aromatik Senter" di Tuban (Jawa-Timur) dengan kapasitas produksi sebesar: 341.000 ton Benzene per-

2.

tahun. Pada Bab-IV tentang: Rekayasa./Manufaktur Produk dasar Petrokimia menjadi Produk

jadi, meliputi: (1) Rekayasa./Manufaktur Produk jadi Pipa PVC dan (2) Rekayasa/ Manufaktur Produk jadi Busa Plastik/Jok Mobil PUR. 3. Pada Bab-V tentang: (1) Produk khusus "Methanol" sebagai Bahan Bakar Mobil Listrik Fuel Cell (DMFC); (2) Produk khusus "Polimer Emulsi" untuk Penanggulangan Banjir dan Tanah-longsor/erosi; dan (3) Produk khusus "Polimer Pol.isiloksan" untuk Kulit Sintetik dan Operasi Plastik. Akhir kata, penulis tak lupa mengucapkan terimakasih kepada; (1) Isteriku: St. Netty Simandjuntak; (2) Semua anak-anakku; (3) Semua menantuku dan (4) Cucu-

cucuku: Reyno Hasiholan dan Gerald Hasudungan, karena dorongan dan pengorbanan merekalah yang memungkinkan persiapan dan penulisan revisi buku ini bisa terlaksana. Scrnoga buku ini bermanfaat bagi kita semua !

Jakarta, Agustus 200-5

PENLiI.E

lr"-

KATA PENGANTAR
1.

LATAR BELAKANG PENULISAN


Buku "INDUSTRI PETROKIMIA DAN DAMPAK LINGKUNGANNYA", ini

merupakan lanjutan dari buku PETROKIMIA oleh penulis yang sanra yang telah diterbitkan oleh AKAMIGAS/ Pusat Pengembangan Tenaga Perminyakan dan Gas Bumi. Cepu tahun 1994 sebagai "edisi pertama" dan oleh Museum Minyak dan Gas Bumi "Graha Widya Patra" Taman Mini lndonesia lndah Jakarta pada tahun 1998 sebagai "edisi kedua". Ketiga penulis menulis "edisi pertama" buku PETROKIMIA ini, tujuan penulis adalah untuk menghasilkan "buku ajar" atau "buku pegangan" yang mampu menangani

mata kuliah PETROKIMIA untuk satu tahun perkuliahaan pada jurusan Teknik Pengolahan lndustri Tingkat I,II dan m AKAMIGAS Pola Berjenjang. Begitu juga ketiga menulis "edisi kedua" buku PETROKIMIA ini, tujuan penulis adalah untuk melengkapi khasanah pustaka Museum Minyak dan Gas Bumi yang enak
dibaca oleh pengunjungnya serta memperluas cakrawala pemikiran pembacanya, mulai dari asal mula PETROKMIA, peranannya pada peradaban manusia, hingga dampaknya terhadap lingkungan hidup. Untuk beberapa saran dan masukan yang diterima, penulis telah berhasil mencapai tujuan penulisan tersebut, respon pemakai "edisi pertama" dan "edisi kedua" buku ini
memuaskan.

Meskipun penulis telah melakukan banyak pengubahan kecil dan telah menata penyajian ulang disana-sini, penyusunan dasar "edisi ketiga" ini sama dengan penyusunan "edisi pertama" dan "edisi kedua". Kebanyakan pengubahan/penambahan materi sudah dilakukan, seperti penambahan
pengertian mengenai "polimer" (dalam

arti luas) pada Bab-I dengan maksud untuk

membantu para pembaca, pelajar/mahasiswa dan kalangan pengusaha industri, agar dapat membedakan rurna yang disebut bahan polimer alamiah atau "bahan polimer buatan alam" dan mana yang disebut "bahan polimer sintetis" atau "bahan polimer buatan manusia'. Perubahan lain dalam buku "edisi ketiga" ini terutama dalam Bab-II, Bab-III, Bab-V dan Bab VI, mecakup penambahan materi sebagai berikut: (l) Pada Bab-[I tentang penyediaan Bahan Baku Industri Petrokimia di Indonesia, yaitu dengan melengkapi data-data ketersediaan bahan baku-bahan baku: (1) cadangan gas

(2)

C++], (2) kondensat [C5 - Crr+], (3) nafta [Cu - Crr+] dan (4) residulLSWR; (LSWR = Low Sulfur Waxy Residue). Pada Bab-ltr tentang (1) pengadaan produk hilir "Gas Sintetis" di Indonesia, yang

bumi [C,

v1r

mencakup pengadaan produksi pupuk urea, produksi metanol dan carbon black (2)
pengadaan produksi hulu "Olefin Senter" dengan kapasitas produksi sebesar 375.000 ton Etilene/tahun di Cilegon (Jabar), (3) pengadaan produk hilir "Termoplastik" (4)

pengadaan produk hulu "Aromatik Senter" di Cilacap (Jateng) dan Lhokseurnawe (Aceh) masing-masing dengan kapasitas produk sebesar 123.000 ton Benzene/tahun dan 321.000 ton Benzene/tahun dan (5) pengadaan produk hilir "Serat-serat Sintetis dan Resin-resin Sintetis".

(3) (4)

Pada Bab-V tentang produk-produk khusus petrokimia, yang terdiri dari produk khusus "methmix" dan produk khusus "additif/minyak pelumas".

Pada Bab-VI tentang kualitas air limbah, yang dapat diukur dengan metoda pengukuran B.O.D, C.O.D dan T.O.C. Perubahan lain dalam buku "edisi ketiga" ini yaitu penambahan "naskah Bab-VII' yang khusus dirancang untuk bahan "Evaluasi" yang berisikan "Soal-soal Latihan".

2. RUANG

LINGKUP PENULISAN

(1) Penyusunan materi dasar/desain kebijakan buku "Industri Petrokimia dan Dampak Lingkungannya" ini, telah penulis sesuaikan dengan Rencana/Program Pemerintah dalam Pembangunan Industri Petrokimia di Indonesia Dalam Jangka Panjang (25 tahun) Tahap-tr atau telah disesuaikan dengan rencana pernbangunan yang populer disebut pembangunan dalam kurun waktu "Pembangunan Jangka Panjang Tahap-tr (PJPT-U)", yang telah dimulai pada bulan april L994 sampai dengan berakhir pada bulan Maret tahun 2019. Desain kebijakan pembangunan Industri Petrokimia tersebut yang menitikberatkan pembangunannya pada kebijakan "subtitusi import" yang mana sampai sekarang ini sebahagiaan besar kebutuhan akan produk-produk petrokimia tersebut masih kita import dari luar. (2) Selanjutnya mengenai "Isi Buku" ini terdiri atas 7 (tujuh) Bab. Pada Bab-I dikemukakan "Pendahuluan", yang mengisahkan latar belakang mengenai riwayat perkembangan "industri petrokimia di dunia", yaitu sejak pertama kali berhasil dibuat bahan produk petrokimia "iso-propanol" dari gas kilang minyak yaitu dari "gas-propilena" pada dasawarsa l920-an. Juga pada Bab-I ini, dijelaskan juga peningkatan pemakaian dan pemanfaatan produk-produk petrokimia yang seiring dengan kemajuan teknologi dibidang industri yang memanfaatkannya. Pada Bab-II, dijelaskan pengertian tentang "Bahan Baku Industri Petrokimia" dan cara-cara untuk mendapatkan "bahan baku" tersebut. Juga tidak ketinggalan dijelaskan tentang "ketersediaan bahan baku petrokimia" tersebut di Indonesia, seperti ketersediaan bahan baku cadangan gas bumi dengan 'Jalur olefin" atau dengan 'Jalur-aromatik" untuk mendapatkan produk-produk petrokimiayang dikehendaki. Juga pada Bab-Itr ini dijelaskan bahwa melalui jalur-jalur yang digunakan untuk mendapatkan produliproduk petrokimia tersebut, dijelaskan pula mengenai pengadaan produk hulu .{"m pengadaan produk hilirnya di Indonesia. seperti: (1) dengan'Jalur ga*. sisl,::'"

vlll

dijelaskan mengenai pengadaan produksi pupuk urea, metanol dan carbon black; (2) dengan "jalur olefin", dijelaskan mengenai pengadaan hulu "Olefin Senter" dan pengadaan produk hilirnya 'Termoplastik", (3) dengan 'Jalur aromatik", dijelaskan mengenai pengadaan produk hulu "Aromatik Senter" dan pengadaan produk hilirnya "Serat Sintetis dan Resin-resin Sintetis".

Selanjutnya pada Bab-IV dijelaskan secara terperinci "penggunaan dan


pemanfaatan produk-produk petromia" untuk berbagai sektor industri di Indonesia, yang dapat dibagi atas 8 (delapan) sektor industri pemakai, yaitu: (1) tndustri Pupukdan Pestisida (2) Industri Serat Sintetis dan Tekstil

Kimia Khusus Khusus dalam penggunaan dan pemanfaatan pada sektor industri bahan-bahan plastik, secara terperinci dijelaskan cara-carl penggunaan "Teknologi Pemerosesan Plastik-plastik" yang teknologinya sudah dikenal dan sudah diterapkan di Indonesia yaitu antara lain: (1) proses 'Extrusion" (proses pencetakan plastik-plastik dengan cara ekstrusi) (2) proses "Injection Moulding" (proses pencetakan plastik-plastik dengan cara injeksi) (3) proses "Blow Moulding" (proses pencetakan plastik-plastik dengan cara meniup)

(3) (4) (5) (6) (7) (8)

Industri Industri Industri Industri Industri Industri

bahan-bahan plastik

Adhesive Resin bahan baku catlCoating

Deterjen/pencuci Elastomer/I(aret Sintetik

(4)

dan proses "Calendering" (proses pencetakan plastik-plastik secara berkala)

Pada Bab-V dijelaskan secara terperinci penggunaan dan pemanfaatan produkproduk petrokimia untuk sektor industri tertentu/industri khusus, seperti penggunaan produk khusus "Methmix", untuk industri pengisian minyak pesawat terbang dan produk khusus "additif,' untuk industri pelumasan mesin-mesin. Bab-VI khusus menjelaskan secara terperinci mengenai "limbah buangan industri petrokimia yang sehari-harinya disebut "Limbah Petrokimia atau "Limbah./Buangan Industri" saja. Limbah petrokimia ini dalam satu unit industri didapat dengan sangat banyak jurnlah dan macamnya./jenisnya, - joga tidak ketinggalan dalam Bab-VI ini dijelaskan mengenai "cara-cara pengendalian dan penanggulangan pencemaran lingkungan" yang disebabkan limbah buangan industri petrokimia, yang mana bagi setiap operator industri yang sudah sadar terhadap masalah lingkungan harus mengetahui
bagaimana cara-cara menanggulanginya.

Selanjutnya pada bab terakhir yaitu Bab-VII, khusus dirancang untuk bahan "Evaluasi", yang berisikan "soal-soal latihan" yang penulis susun berurutan mengikuti urutan Bab pada buku ini, yang selanjutnya dapat dipergunakan sebagai bahan evaluasi
untuk panduan belajar.

lx

3. UCAPAN

TBRIMA KASIH

Terimakasih penulis sampaikan kepada: (1) Direktur Museum Minyak dan Gas Bumi "Graha Widya Patra" Sdra. k. R.M. Sadono; (2) Tim Editor Museum Minyak dan Gas Bumi "Graha Widya Patra" Taman Mini Indonesia Indah yang terdiri-dari: (l) Sdra. Dr. H. Margono M. Amir, Msc. (ketua), (2) Sdri. Ir. Esti Sugiarto (sekretaris), (3) Sdra. Ir. I. Musu (anggota), dan (4) Sdra. Drs. H. Musirin (anggota); yang telah banyak memberikan saran dan masukan terhadap penerbitan "edisi kedua" buku ini, sehingga atas dorongan saran-saran dan masukan dari saudara-saudari tersebut dapat membantu penulis dalam penulisan buku "edisi ketiga" ini. Akhir kata, penulis sadar bahwa penulisan buku ini masih banyak kekurangannya, baik dari segi isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, segala saran, kritik dan maSukan untuk perbaikan pada edisi berikutnya sangat penulis harapkan. Semoga buku yang sangat sederhana ini berguna untuk pembangunan nusa dan bangsa kita.

Jakarta, September 2000 Penulis

DAFTAR SINGKATAN

AB ABS ABS AG B-B BBG BBM BR BTU BTX CARB


C-X (=CHX)

= = = = = = = = = =

Alkylbenzen Acrylonitrile-butadiene-styrene untuk polimer Alkyl-benzene-sulfonate untuk deterjen Aromatic gasoline (pirolisis gasolin)
Butan-butadiene residu Bahan bakar gas Bahan bakar minyak Butadiene rubber = karet sintetis butadiene

British thermal unit


Benzene, toluene, xylene = simboUnarna-narna unsur kimia penyusun ikatan aromatik

= = DEG = DMFC = DMT = DOP = DPG = DTC = E = EG (=MEG) = EO = EDC = EFI = EPA = EPR = EPS = EVA = FG = FO = FRP = GPPS = HDPE = HIPS = ICE =

California-air-resources-board
Cyclohexane

Di-ethylene glycol Direct methanol fuel cell

Di-methyl terephthalate Di-octyl phathalate Di-phenyl guanidines Di-thio carbamates Ethylene Ethylene glycol = monoethyleneglycol Ethylene oxide Ethylene di-chloride Electronic fuel injection Environmental protection agency Ethylene propylene rubber Expandable polystyrene Ethylene vinyl acetate copolymer Fuelgas Fuel oil Fiber reinforced plastic General purpose polystyrene High density polyethylene High impact polystyrene Internal-combustion-engine

xl

ICP IR IPA LAB LDPE LEV LNG LPG LSR LSWR MBT MBTS MEK MFCVs MIGAS MTBE

= = = = = = = = = = = = = = = = (M-xylene) = NBR = NG = NGL = NMOG = NR = (O-xylene) = PA = PE = PET = PMA = PONA = PP = PS = PTA = PUR = PVA = PVC = (P-xylene) = SBR = SM = SULEV = TA (=1P4; = TDI = TEG = TEt, =

lnternational-crude-price = Harga minyak mentah internasional Isoprene rubber Isophtalic acid = asam iso-ftalat Linear alkylbenzene untuk deterjen Low density polyethylene Low emession vehicle Liquified natural gas Liquified petroleum gas Low sulfur residue Low sulfur waxyresidue Mercapto benzo thiazole Mercapto benzo thiazole sulfidamides Methyl ethyl ketone Methanol fuel cell vehicles Minyak dan gas bumi Methyl tertiary butylether (= bahan pencampur bensin pengganti TEL) Meta-xylene Nitril rubber Natural gas Natural gas liquid
Non-meth-ane organic gases

Natural rubber Ortho-xylene Phtalic anhydride Polyethylene Polyethylene terepthalate


Penanaman modal asing

Parafin-olefin-naftene-aromatic (untuk analisis) Polypropylene


Polystyrene

Purified terepthaliclacid Poly urethane (= busa plastik yang empuk)

Polyvinyl acetate Polyvinyl chloride


Para-xylene Styrene butadiene rubber Styrene monomer Super ultra low emission vehicle Terepthalic acid Toluene di-isocyanate

Tri-ethylene glycol Tetra-ethyl-lead (= bahan pencampur bensin)

./ )

/' -/ )/

r
xll
TLEV TNT VCM
Total low emission vehicle Tri-nitro-toluene (= bahan peledak) Vinyl chloride monorner

DAFTAR KONVERSI

l.

Konvei,;i I-ii,-uran dan Bobot:

I Metric Ton (mt)

I Kilometer
1 1

Ton of Oil Equivalent (TOE)

Barrel of Oil (BBL) I Cubic Meter (mr) 1 Cubic Foot (CF) MCFD

MMCF l Kilovolt 1 Kilowatt-hour (kWh)

Megawatt (Mw) I Gigawatt-hour (gWh)


1

1,000 Kilograms (kg) 2,2M6 Pounds (lb) 0,9842 Long Ton = 1.1023 Short Ton 0.62 Miles 10 million kilocalories 39.68 million BTU 0.15899 Cubic Meter 6.289 Barrels O.O2832 Cubic Meter Thousand Cubic Feet per Day Million Cubic Feet 1,0ffi Volt 1,000 Watt-hours 1.340 Horse power hour {i'.{irir; 3.411BTU 859.6 kilocalories 1,080 kilowatts (Kw) 1,000,000 kilowatt-hours (kWh)

2.

Faktor Konversi Energi: Fuel (Bahan Bakar) - Liquid Fuel (barrels)


Crude Oil Coal Liquids Residual Fuell Oil

Physical Units per BOE/1*)


1

Distillate Fuel Oil


Gasoline

0.88 0.92 0.99


1,10

Natural Gas Liquids (NGL) Ethanol Methanol

r,44
1.56

t.99

.-2

7
xlv

Natural Gas (1,000 Cu.ft)


Coal (tonnes) Indonesian Coal Coal (bituminou s/Export TCE (Ton of Coal Equivalent)

5.79 0.238

0,256
0.201

Electricity (Mwh) Biomassa Fuel (tonnes) Firewood


Charcoal

r.70
0.39 0.19

Notes: 1. *)
Sumber

data:

TOE =7.33 BOE (= with 7.33 barrel of Oil taken as average) Report of the joint TINDP/lVorld Bank Energy Sector Issues and Options in the Energy Sector Report No.3543-IND, November 1981
1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR/CETAKAN KEDUA (REVISI) DAFTAR SINGKATAN
v

DAITAII KO}IVERSI
DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

xiii
xix xxii

BAB-I PENDAHIILUAN

1.1 Pengertian Umum Tentang Bahan/Produk Petrokimia dan Bahan/


Produk Polimer....
1

L.2 Riwayat Pembuatar Produk Petrokimia dari Migas 1.3 Pemanfaatan Produk-produk Petrokimia .............
BAB-tr BAHAN BAKU PETROKIMIA

2
3

2.1 2.3

Jenis Bahan Baku Industri Petrokimia

2.2 Cara-caramendapatkan

Bahan Baku Industri Petrokimia Penyediaan Bahan Baku Petrokimia di Indonesia

6
8

BAB -M PRODIIK-PRODUK PETROKIMIA

3.1 3.2

Jenis Produk Petrokimia

l8
19 L9

Jalur-jalur dalam pembuatan Produk-produk Petrokimia ............... 3.2.t Jalur Gas Sintetis Amonia dan "Carbon Black"

3.2.L.1 Cara Memproduksi Gas Sintetis 3.2.1.2 Produ.k Hilirnya dan Reaksi-reaksi untuk menghasilkan-

19 23 26 35 36 37

nya........
3.2.1.3
3.2.2
Pengadaan Produk Hilirnya di

Jalur Olefin/Jalur Olefin

3.2.2.1 Olefin dengan Bahan Baku Nafta 3.2.2.2 Olefin dengan Bahan Baku Etana 3.2.2.3 Produk Hilirnya dan Reaksi-reaksi untuk menghasilkannya38 3.2.2.4 Contoh-contoh Reaksi untuk menghasilkan Produkproduk Hilir....

Senter

Indonesia

39

xvl

3.2.2.5 3.2.2.6

Pengadaan Produk Hulu "Olefin Senter"

di

Indonesia

Pengadaan Produk

3-2.3

Jalur Aromatik/Jalur Aromatik Senter 3.2.3.1 Aromatik dengan Bahan Baku Nafta 3.2.3.2 Produk Hilir Jalur Aromatik 3.2.3.3 Contoh-contoh reaksi untuk mendapatkan Produk Hilir......... 3.2.3.4 Pengadaan Produk Hulu "Aromatik Senter" di Indonesia....... 3.2.3.5 Pengadaan Produk Hilir "Serat-serat Sintetis dan Resin-resin

Hilir "Thermoplastik" di

Indonesia ..

44 44 45
45 48 48 58

6t

BAB-TV PENGGI.]NAAN
PETROKIMIA

DAN

PEMANFAATAN PRODI.IK-PRODUK

4.1

Penggunaan dan Pemanfaatan Menurut Sektor 4.1.1 Penggunaan dalam Industri Pupuk dan Pestisida 4.1.2 Penggunaan dalam Industri Serat 4.I.3 Penggunaan dalam Industri Bahan 4.1.4 Penggunaan dalam Industri Adhesive Resin 4.1.5 Penggunaan dalam Industri Bahan Baku Cat (Coating Industry) 4.I.6 Penggunaan dalam Industri Deterjen 4.1.7 Penggunaan dalam Industri Elastomer

lndustri ............... Sintetik Plastik .........

115
1

15

115

116

II7
118

119
119 119

4.1.8 Penggunaan dalam Industri Kimia, Khusus Industri Zat Pewarna


4.2

(Dyestuff Industry) Industri Pemrosesan Plastik

t2t
t2t
t22
123 125

4.2.1 Prosedur Untuk Mendapatkan Produk Jadi Plastik yang Berkualitas Tinggi 4.2.2 Proses yang digunakan dalam Industri Plastik untuk Meningkatkan
Kualitas

4.2.2.1 4.2.2.2 4.2.2.3 4.2.2.4


4.3

Prosesekstrusi
Proses "Injection Moulding" Proses "Blow Moulding" Proses "Ca1endering"................

126

r27
138

Rekayasa./Manufaktur Produk Dasar menjadi Produk Jadi ........... 4.3.1 Rekayasa/Manufaktur Produk Jadi Pipa Paralon PVC 4.3.2 Rekayasa/Nlinufaktur Produk Jadi Busa Plastik/Jok Mobil-PLIR .........

t39
144

BAB-V

PRODUK-PRODIIK KHUSUS PETROKIMIA DAN PENGGUNAANNYA


160 160

5.1

Produk Khusus "Methmix" 5.1.1 Pembuatan "Methmix

xvll

5. 1.2

Prosedur Penggunaan/Penyaluran/Penyerahan dan Pengisian

5.2
5.3

"Methmix"
Produk Khusus "Additif/I\4inyak Pelumas"

165

5.2.1 Sifarsifat dan Penggunaan 177 5.2.2 Cara-cara/Proses Pembuatan Additif Produk Khusus "Methanol" sebagai bahan bakar mobil listrik "Fuel Cell" .... 184 184 5.3.1 Prinsip Kerja "Direct Methanol Fuel Cell" (DMFC) 184 DMFC 5.3.2 Tinjauan Ekonomi Penggunaan LEV Kendaraan 5.3.3 Perbandingan Emisi Gas Kendaraan FCVs dengan

Additif

t74 t74

5.4

5.5

5.3.4 Proyeksi Penjualan Kendaraan FVCs pada tahun 2010-2020""""""""" 185 185 Produk Khusus "Polimer Emulsi" untuk Penanggulangan Banjir 186 5.4.1 Proses Pembuatan "Polimer Emulsi"...... " 186 5.4.2 Efektivitas Penggunaan "Polimer Emulsi" dengan Tanah 187 "Polimer Emulsi"...... MetodelCara-caraPenggunaan 5.4.3 188 Emulsi".... 5.4.4 Penggunaan Lain "Polimer 188 ......... Plastik Produk Khusus "Polisiloksan" untuk Kulit Sintetik dan Operasi 5.5.1 Proses/Reaksi-reaksi Pembuatan "Polimer Polisiloksan"....................... 189 190 5.5.2 Jenis-jenis Polimer untuk Pembuatan Kulit Sintetik """"""" I92 .......'....... 5.5.3 Efektivitas Penggunaan Kulit Sintetik

standar

185

BAB

-VI MASALAH LINGKUNGAN INDUSTRI PETROKIMIA

6.1

205 Limbah Petrokimia dan Sumbernya .........-... 205 6.1.1 Jenis Limbah Petrokimia 206 Petrokimia Limbah 6.1.2 Sifarsifat dan Karekteristik Produk Pemanfaatan 6.2 Aspek Lingkungan Hidup Akibat Pengoperasian dan 206 produk Petrokimia 206 6.2.1 Rona Lingkungan Industri Petrokimia 2lO 6.2.2 Dampak Lingkungan HiduP 6.3 Cara Pengendalian dan Penanggulangan Pencemaran Ling kungan Limbah

Petrokimia

2I2

6.4 7.1 7.2

6.3.1 Contoh Cara Penanggulangan Pencemaran Akibat Limbah Gas '.'.'...... 212 6.3.2 Contoh Cara Penanggulangan Pencemaran Akibat Limbah Cair........'... 212 6.3.3 Contoh Cara Penanggulangan Pencemaran Akib#Limbah Padat ........ 213 " 214 6.3.4 Kualitas Air Limbah
Kesimpulan dan

Saran

214

BAB-VII EVALUASI
,)'ta

Kata Pengantar Cara Mengevaluasi 7.2.1 Latlhan Soal-soal Pokok Bahasan

xvlll

7.2.2 ContohlatihanSoal-soalUjianSemesterAKAMIGA

..........

233

LAMPIRAN-I

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tentang Pengendalian Pencemaran Ai

.............. ..

239

LAMPIRAN-2. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup


Nomor Keputusan: I<LHlWlggl Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan
yang Sudah

03iIvIEN

270 270 293

Beroperasi

DAFTAR

PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR
Gambar

I-l

Proses Pemisahan Bahan Baku Petrokimia dari Hasil-hasil

Kilang
Gambar II-1 Gambar tr-2 Gambar [I-3 Gambar II4 Gambar III-1 Gambar Itr-2 Gambar III-3 Gambar III4 Gambar III-5 Gambar III-6 Gambar III-7 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar

Ekstraksi Etana dengan Proses Ekstrasi Kriogenik Pemisahan Gas Etana dan Gas Metana (LNG) dari Gas Bumi

t4
15

Absorpsi .............. Pemisahan Benzena, Toluena dan Xilena (BTX) dari Hasil
dengan Cara

Kilang
Peta Potensi Cadangan Gas Bumi di Indonesia

16 L7

Tahap Proses Pengolahan Bahan Produk Migas menjadi Produk Petrokimia Asal-Usul Produk Petrokimia serta Aplikasinya .......... Diagram Proses "Ammonia-Gas Synthesis"
Diagram Proses Pembuatan

95

96
97 98 99 100
101

Metanol .,

Diagram Proses Pembuatan Urea dengan "Total Recycle

Process"..... Process"

Diagram Proses Pembuatan OlefinalEtilene dengan "Tubular

Bagan Alir Proses Suatu Kilang Olefina Perban-dingan Antara Kapasitas dan Produks
Diagram Proses Pembuatan PE dengan Tekanan

III-8 trI-9 III-10 III-11 III-12 ltr-13 III-14 III-15 III-16 [II-17 III-18 III-19 Itr-20 ltr-21

Diagram Proses Pembuatan


Diagram

LDPE Proses Pembuatan HDPE

Tinggi

.......

102 102
103

Diagram Proses Pembuatan PE dengan "Low Pressure


Ziegler Process".....
Diagram Proses Pembuatan PE dengan "Philips Process" .... Diagram Proses Pembuatan PP ............. Diagram Proses Pembuatan Tetramer Propilena Diagram Proses Pembuatan Karet Polibutena .......... Diagram Proses Pembentukan Monomer VCM serta Konsumsi Bahan Bakunya Diagram Proses Pembuatan Monomer Stirena Proses-proses Pembuatan Polistirena (PS) Bagan Alir Pembuatan Aromatik BTX serta Neracanya ........ Diagram Proses Pembuatan Deterj en Alkilat/Alki I Benzena...

t04
105

106

t07 r07
108 109

llt lt:

110

Diagram Proses Pembuatan "Ftalik Anhitride (Phtalic

Gambar

N-22

Anhydride) Diagram Proses Pembuatan Serat Poliester/Proses TPA dari

113

Mobil
Gambar [V-1 Gambar IV-2 Gambar [V-3 Gambar Bagan Industri Tekstil Indonesia

tt4
t29
130
131

Pipa-pipa Plastik yang dilapisi Plat Krom hasil Proses


Ekstrusi

Diagram Proses Pembuatan Lembaran Plastik dalam


Instalasi yang Menggunakan Sistem "Extrusion-Line"...........

[V4

Alat

Pembuatan Barang Plastik dengan Proses Ekstrusi

Lanjut
Gambar IV-5 Gambar IV-6 Gambar IV-7 Gambar IV-S Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar

t32
Proses 133

Diagram Pembuatan Barang Plastik dengan

Pencetakan (Extrucion Molding Process) Ban Karet Termoplastik Hasil Proses "lnjection Molding" ...

t33
\34
134
135 135

Alat Pembuatan Barang Plastik dengan Proses "lnjection


Molding"
Contoh botol-botol Plastik yang dibuat dengan Proses "Blow

Molding"
IV-9 IV-10 [V-11
Cara Kerja Proses "Blow Molding"
Juga Cara Kerja Proses "Blow Molding".... Bagan Proses "CaIendering"...............

136

lY-12
IV-13

Gambar IY-14 Gambar IV-15 Gambar fV-16 Gambar IV-17 Gambar tV-18 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar

Tiga Tipe lnstalasi "Calendering Process" Lembar Kegiatan Siswa SMU - Kerjasama Museum MIGAS "Graha Widya Patra" Lembar Kegiatan Biologi "Plakton Fossil" sebagai Petunjuk
adanya MIGAS Lembar Kegiatan Fisika sebagai Prinsip Kerja Eksplorasi Pencarian MIGAS Lembaran Kegiatan Geografi untuk melihat Misteri dan Sensor Didalam Perut Bumi Lembar Kegiatan Pemetaan untuk mengamati Peta Lapangan Utama MIGAS di Indonesia Lembar Kegiatan Kilang Pengolahan MIGAS untuk menghasilkan BBM dengan Proses-proses Kimia Rekayasa Produk jadi pipa PVC Rekayasa Produk jadi busa plastik/jok mobil PUR ................ Spesifi k Grafi ty "Methanol Mixture" 45 I 5 5 I O....... Prosedure Pengisian'Methmix" ke pesawat udara Prinsip Kefa "Direct Methanol-Fuel Cell (DMFC) Proyeksi Kebutuhan "Methanol untuk FCVs Proyeksi Penjualan FCVs Efektivitas Penggunaan "Polimer Emulsi" dengan Tanah Penyemprotan "Tanah-tanah ErosilBanjir" dengan "Cairan

r37
152
153

t54
155

156
157 158

IV-19 lY-zO

V-l
V-2 V-3

t59 t70
173 194 196
197
198

V4
V-5

V-6 V-7

xxl

Gambar V-8

Gambar V-9 Gambar V-10 Gambar VI-l Gambar VI-2 Gambar VI-3 Gambar

Kulit Sintetik .............. Aplikasi/Penggunaan Kulit Sintetik dan Operasi Plastik ....... Bagan Alir Alat Lindungan Lingkungan Terhadap Emisi Gas Dengan Cara Absorbsi ............... Pengolahan Limbah Secara Biologis @robik dan Aerobik) ... Pengolahan Limbah Botol Plastik Bekas dengan Proses Daur
pada Pembentukan

Polimer Emulsi"/dengan menggunakan "mobil truk" ............ Penyemprotan "Tanah-tanah Erosi/Banjir" dengan "Cairan Polimer Emulsi"/dengan menggunakan "alat pipa penyemprot" ................ Hubungan antara Matriks Polimer dengan .Struktur Kulit

199

200

20r
202
223

224
225 226

Ulang

VI4

Pengolahan Limbah Plastik Bekas dengan Cara Pirolisis .......

DAFTAR TABEL
Tabel

tr-l

Tabel II-2 Tabel tr-3 Tabel Itr-l

Karakteristik/I(ualitas Gas Bumi di Indonesia Kualitas Gas Bumi di Indonesia


Produksi Kondensat, Nafta dan Residu/LswR ................ Posisi Realisasi Pasok Kebutuhan lndustri Petrokimia Tahun 19951999 dan Perkiraan Pasok Kebutuhan Produk Industri Petrokimia

9
10
13

Tahun 2W-2003
Tabel Itr-2

64
91

Tabel Itr-3 Tabel III4


Tabel

V-l

Tabel V-2 Tabel V-3


Tabel

V4

Tabel V-5
Tabel V-6

Tabel V-7
Tabel VI-1

Realisasi Kebutuhan Industri Petrokimia Tahun 1995-1999 dan Proyeksi Tahun 2N0-2W3Dunia dan Indonesia Realisasi Impor Kebutuhan Serat Tekstil Tahun 1995-1999 Realisasi Produksi dan Kapasitas Produksi Industri Tekstil di Indonesia dalam tahun 1995- 1999............ Spesifikasi'Methanol Murni"........ Spesifikasi "Air Denim" .................. Spesifikasi "Methmix 45 1 55 10" (Case-I) Spesifikasi'Methmix 451 5510" (Case-II) Karakteristik Berbagai Additif/Pelumas .......... Penggunaan Additif Dalam Berbagai Pelumas Perbandingan Emisi Gas Kendaraan "Fuel Cell"dengan LEV

93 94

r63 r69

I7I
203

204 204
195

Tabel VI-2 Tabel VI-3


Tabel VI-4 Tabel VI-5

Asalnya Petrokimia Baku Mutu Udara Emisi untuk Sumber Tak Bergerak Baku Mutu Udara Ambien Baku Mutu Air Limbah
Jenis Limbah Petrokimia dan Sumber Karakteristik dan Kualitas Air Limbah

Standar

2t6 2I8
220
221 222

BAB I

PENDAITULUAN
Berdasarkan strategi yang sudah digariskan oleh Pemerintah bahwa dalam kurun waktu Pembangunan Jangka Panjang Tahap-tr (PJPI-tr) dari April Tahun 1994 sldMaret Tahun 2019, peranan minyak dan gas bumi (migas) sebagai sumber energi dan sebagai bahan baku (feedstock) industri petrokimia masih akan besar. Sementara itu produksi minyak bumi Indonesia sangat terbataslkecil, sehingga pada satu saat apabila tingkat produksi minyak bumi di Indonesia lebih rendah dari pemakaianya, maka Indonesia akan menjadi pengimpor minyak netto. untuk itu maka peranan pengembangan energi pengganti migas seperti sekarang ini harus ditingkatkan. Kebutuhan energi pengganti migas ini dapat kita penuhi dari sumber-sumber energi altematif lainnya, seperti batu bara, tenaga air, panas bumi, biomassa, gambut, tenaga surya dan energi terbarukan lainnya.

Dengan demikian maka migas hanya akan dimanfaatkan untuk memenuhi


kebutuhan energi yang tidak dapat digantikan peranannya oleh energi lain serta untuk memenuhi peranannya sebagai sumber bahan baku untuk industri petrokimia saja (lihat Gambar I-1). Selanjutnya akan dijelaskan bagaimana pertama kali dalam sejarah produk petrokimia itu ditemukan/dihasilkan dari migas, cara-cma memperoleh bahan baku petrokimia dan produk-produk petrokimia apa saja dapat dihasilkan dari migas. Selain itu

akan dibahas sampai sejauh mana produk-produk petrokimia itu dimanfaatkan dan dipergunakan cleh umat manusia, sehingga pemakaian dan penggunaan produk-produk petrokimia itu sudah merajai dan menguasai peradaban/kehidupan manusia modern didunia saat ini (lihat Gambarfr-Z).

1.1 PENGERTIAN TIMUM TENTANG BAHAN/PRODUK PETROKIMIA DAN BAHAN/PRODUK POLIMER


Untuk membedakan apa yang disebut bahan/produk petrokimia dan apa yang
disebut bahan/produk polimer akan dibuat batasan sebagai berikut:

1. Bahan/produk petrokimia ialah segala bahan atau produk kimia yang dibuat/dihasilkan secara sistetik dari bahan baku migas atau komponen-komponennya/fraksi-fralainya,
seperti:

a) Pakaian, produk kosmetik dan parfum yang kita kenakan sehari-hari. b) Kantong-kantong plastik, botol-botol plastik dan barang-barang plastik leiryre
yang sering kita gunakan sehari-hari.

7
2

c)

Jendela pesawat terbang, payung penerjun, interior dan cat dinding, lapisan teflon pada penggorengan, sikat rambut, Sikat gigi, katup jantung untuk operasi, "container", "fiber glass", dan lain-lain yang sering kita pakai sehari-hari.

2. Bahan/produk polimer adalah

segala bahan atau produk kimia baik yang terbentuk secara proses alamiah di alam (yaitu yang disebut polimer alamiah atau polimer buatan alam) maupun yang terbentuk secara sistetik dengan proses polimerisasi dari migas (yaitu yang disebut polimer sintetik atau polimer buatan manusia). Pengertian polimer dalam arti sempit adalah suatu molekul raksasa (dengan berat molekul berkisar antara 104-107) yang terbentuk melalui proses polimerisasi. Molekul raksasa ini disebut juga makromolekul. Maka berdasarkan proses pembentukannya, bahan/produk polimer dapat dibagi atas 2 bagian, yaitu: a) Produk polimer alamiah atau polimer alam, misalnya: . Polisakarida (pati dan bahan selulosa) . Protein alam (serat sutera, serat otot dan enzim) . Karet alam dan asam-asam nukleat b) Produk polimer sintetik atau produk polimer buatan manusia, yang mencakup

semua produk petrokimia yang dihasilkan secara sintetik dengan proses


polimerisasi dari migas, misalnya: . Plastik-plastik sintetik . Serat-serat sintetik . Karet-karet sintetik, dll.

1.2 RIWAYAT PEMBUATAN PRODUK PETROKIMIA DARI MIGAS


Sampai dengan masa berakhirnya Perang Dunia I pada tahun 1918, sebahagian besar produk kimia organik diperoleh melalui 3 jalur pengolahan, yaitu: 1. Fermentasi bahan-bahan organik 2. Ekstraksi dari senyawa-senyawa yang terdapat di alam terutama batu-bara. 3. Transformasi/konversi dari minyak dan gemuk nabati

Sejak pada dasawarsa tahun 1920-an, yaitu sejak iso-propanol sebagai produk petrokimia berhasil dibuat untuk pertama kalinya dari gas kilang/dari gas propelina, maka pembuatan sebahagian besar produk kimia organik telah mampu disubstitusikan pembuatannya dengan jalur proses petrokimia, sehingga industri petrokimia mulai berkembang. Dalam masa Perang Dunia-II antara tahun 1939-1945, perkembangan industri petrokimia dipacu oleh kebutuhan-kebutuhan material keperluan perang dalam jurnlah besar dan dalam waktu yang singkat, sehingga pada waktu itu di U.S.A oleh "Du Pont Company" dikembangkan teknologi pembuatan karet sintetik, karena kawasan Asia Tenggara sebagai penghasil utama karet alam sudah jatuh ke tangan Jepang. Faktor lain yang sangat menunjang peningkatan perkembangan industri petrokimia adalah bahwa harga minyak bumi pada kurun waktu itu sampai sebelum tahun 1970 relatif
rendah./murah.

1.3

PEMANFAATAN PRODUK.PRODUK PETROKIMIA

Kemajuan yang dicapai dalam bidang teknologi ini menunjukkan kecenderungan pengurangan pemakaian bahan logam oleh industri dan di substitusikannya dengan
bahan-bahan bukan logam berupa bahan-bahan plastik produk petrokimia, sehingga bahan-bahan yang dari semula di buat dari logam secara berangsur-angsur diganti dengan bahan bukan logam.

1. Dalam industri kenderaan bermotor dan industri transportasi, suku cadang tertentu seperti bemper mobil yang semula dibuat dari logam, mulai dibuat dari bahan plastik poliuretan. Begitu juga propeller pesawat terbang mulai dibuat dari bahan "fiber
glass".

2. Dalam industri

kemasan (packing), bahan logam "tinplate" (kaleng) dan aluminium

mulai tergeser oleh plastik-plastik produk petrokimia.

Tidak mengherankan bila pemakaian produk-produk petrokimia itu sudah merajai


dan menguasai peradaban/kehidupan manusia modern didunia pada saat sekarang ini.

Dinegara maju seperti Amerika, Eropa dan Jepang yang berlombaJomba saling mengungguli kemajuan teknologi dalam bidang industri ini, produk-produk petrokimia
terutama dimanfaatkan oleh: a) Industri super komputer dan penginderaan jarak jauh b) Industri robotiks, dan c) Industri bio-teknologi atau bio-engineering.

z't

Motor Fuel

Middle Distilates

Gambar I-1. Proses Pemisahan Bahan Baku Petrokimia dari hasil-hasil kilang.

BAB

II

BAHAN BAKU PETROKIMIA


Dengan kemajuan teknologi, maka bahan Uutu p"tlonmia yang berasal dari minyak dan gas bumi, sumbernya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: 1. Yang berasal dari kilang minyak 2. Yang berasal dari lapangan gas bumi, baik yang langsung maupun yang dari
komponen-komponennya setelah diadakan pemisahan.

2.1 JENIS

BAHAN BAKU INDUSTRI PETROKIMIA

1. Yang berasal dari kilang minyak:

Melalui proses pengolahan dalam kilang minyak berupa distilasi minyak bumi pada tekanan atmosfer biasa (lihat Gambar I-l) akan didapat hasil-hasil pengilangan minyak yang disebut "minyak intermediate". Produk ini sangat cocok untuk dipakai sebagai bahan baku petrokimia, akan tetapi pemamfaatannya lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak, seperti:

a) "Fuel gas" (bahan bakar gas untuk kilang). b) Gas propana dan Gas butana (dicampurkan
LPG).

sebagai gas penyusun utama bahan bakar

c) "Mogas" (sebagai
d) Nafta

bahan bensin/premiun). (CoHr+-CrzHzo), bahan baku petrokimia

ini baik untuk industri olefin

dan

e)

f)

g) h) "Short-residueAilaxy-residue" (untuk bahan bakar minyak residu lain juga untuk bahan baku industri petrokimia "Coke" dan "Carbon black" ataupun untuk industri
olefin).

aromatik. Kerosin atau minyak tanah, yang kalau diekstrasi akan menghasilkan n-parafin yaitu bahan baku pembuatan sabun deterjen. "Gas-oil" (untuk bahan bakar minyak solar). "Fuel oil" (minyak bakar).

Di Indonesia bahan baku petrokimia tersebut dapat dihasilkan dikilang-kilang minyak Cilacap, Balongan, Dumai, Musi, Balikpapan, dll.
2.Yangberasal dari lapangan gas bumi: Komponen-komponen gas bumi yang dapat dipergunakan sebagai bahan hak:

--.1 A

petrokimia yang berasal lapangan gas bumi adalah: a) Metana (CI{4) Gas ini sekitar 6O7o-80% volume gas bumi yang dihasilkan sesuatu lapangan gas, dan dapat dipergunakan sebagai bahan baku gas sintetis CO dan Hz
yang selanjutnya dapat dipergunakan untuk pembuatan amonia./urea, metanol, 'tarbon

black", dll.

b) Etana (Czllr), dapat dijadikan bahan baku untuk industri olefin untuk menghasilkan
bahan-bahan sistetik seperti plastik, sabun deterjen, bahan kosmetik, dll.

c) Propana (C:Hs), yang dalam industri olefin dapat dijadikan bahan baku
mengl asilkan polipropilen, suatu bahan plastik sintetik. butadiena.

untuk

d) Butana (n-Cdlro), yang merupakan bahan baku untuk pernbuatan karet sintetik e) Kondesat (CsHrz-CrrHz), yang disebut juga sebagai 'hatural gasoline" yang mempunyai sifarsifat seperti minyak/nafta dan dapat dipergunakan untuk bahan baku
dalam industri olefin atau industri aromatik.

Di Indonesia, bahan baku petrokimia tersebut banyak dihasilkan lapanganlapangan gas bumi yang mempunyai cadangan gas yang cukup besar, sehingga pemanfaatannya dapat dipusatkan didalam suatu area yang luas, seperti: a) Lapangan gas Arun, yang memanfaatkan gas bumi untuk pembuatan LNG (Liquefied Natural Gas) dan untuk pupuk urea./amonia di Aceh. b) Lapangan gas Badak/Bontang, yang memanfaatkan gas bumi untuk pembuatan LNG, pupuk uera./amonia dan LPG (Liquefied Petroleum Gas) di Kalimantan Timur. c) Lapangan-lapangan lainnya yang masih dalam rencana seperti lapangan gas Natuna di Riaull-aut Cina Selatan.
2.2 CARA.CARA MEIYDAPATKAN BAHAN BAKU INDUSTRI

PETROKIMIA

Sepanjang perkembangan teknologi industri migas yang sudah terbukti


keberhasilannya, maka bahan baku petrokimia berupa minyak dan gas bumi, baik yang berbentuk gas-gas ringan yang bersifat jenuh (seperti gas propana), maupun yang berbentuk cairan (seperti nafta dan kondesat), dapat diperoleh dari kilang minyak/kilang BBM maupun dari lapangan gas yang berproduksi secara besar-besaran. Cara memperoleh bahan baku petrokimia/industri petrokimia tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1.

Gas rnetana (CI{4). Dapat diperoleh secara langsung dari pengeboran gas

di lapangan,

dari kotoran-kotoran yang tidak di inginkan. Sebaliknya, gas metana yang dihasilkan kilang BBM (disebut juga sebagai "off-gases"), tidak
setelah dipisahkan

ekonomis untuk dipakai sebagai bahan baku petrokimia, sehingga dijadikan gas buangan/gas "flare".

2.

Gas etana (CzFIr). Lazimnya diperoleh dari lapangan gas bumi yang berproduksi

ini terlebih dulu harus gas nretana, propana, gas lainnya seperti dipisahkan dari komponen-komponen
secara besar-besaran (seperti lapangan gas Arun di Aceh). Gas

butana dan kondesat dengan cara ekstraksi dan absorpi. Proses pemisahannya dapat dilihat pada Gambar II-1 & Gambar tr-2.

4.

Gas etilena (CrI{4). Merupakan gas yang tidak jenuh dan pada lazimnya dapat dihasilkan dari gas etana, nafta dan kondesat dengan cara proses "cracking" (perengkahan). Proses perengkahan untuk mendapatkan gas etilena ini dapat dilihat pada Gambar Itr-1 dan Gambar Itr-2. Gas propana (C:Ha). Merupakan gas jenuh dan dapat dihasilkan dari gas bumi suatu lapangan atau gas kilang, yaitu dengan cara ekstraksi dan absorpsi. Lihat Gambar tr1 dan

Gambar[-2.

5.

Gas propilena (C:tIo). Merupakan gas tidak jenuh dan lazimnya dapat dihasilkan dari gas etana, propana, nafta dan kondesat dengan cara cracking (lihat Gambar Itr-l dan

Gambar Itr-2). Gas butana (n-C+tlro). Dapat diperoleh dari hasil pemisahan gas kilang BBM yaitu dengan cara ekstraksi dan absorpsi (lihat Gambar tr-L dan Gambar Itr-2)'
7.

Kondesat (CsHrz-CrrH2). Berbentuk cairan dan mempunyai sifat-sifat sama dengan nafta yang berasal dari kilang BBM. Kondesat ini seperti juga gas-gas jenuh lainnya

(gas metana, etana, propana dan butana) dapat dihasilkan dari gas bumi suatu lapangan dengan cara ekstrakti dan absorpsi (lihat Gambar tr-1 dan Gambar Itr-2). Benzena, Toulena, dan Xilena (Xylene atau BTX-Aromatik). Bahan baku petrokimia aromatik ini sangat banyak digunakan untuk menghasilkan produk petrokimia seperti serat-serat sintetik, resin-resin sintetik, bahan plastik sintetik, bahan sabun deterjen, bahan pewarna cat dan lainlain. BTX-Aromatik ini dapat dihasilkan dari bahan baku nafta atau kondesat melalui proses "catalytic reforming" atau proses pembentukan dengan katalis (lihat Gambar II-3 dan Gambar ltr-2).
9.

10.

Nafta (CoHr rCrzElzd-Komposisinya sama seperti kondesat. Nafta banyak dipergunakan sebagai bahan baku dalam industri petrokimia aromatik atau olefin. Nafta berbentuk cair dan dapat dihasilkan dari kilang BBM melalui proses distilasi biasa (lihat Gambar I-1 dan Gambar Itr-2). Kerosin (CrzHzo). Kerosin dapat dihasilkan kilang BBM dengan cara distilasi atmosferik (lihat Gambar I-1) dan dapat dipergunakan untuk menghasilkan bahan baku sabun deterjen. Melalui proses klorinasi terhadap kerosin yang dilanjutkan dengan alkilasi dan sulfonasi akan dihasilkan bahan baku sabun deterjen yang disebut "sodium dodecyt benzene sulfonate surfactant", dengan formula (CtzHzsCoH+SO:Na).

11.

"Short-residue/waxy-residue" dapat dihasilkan kilang BBM setelah melalui beberapa tingkatan proses terhadap minyak bumi yang mengandung "paraffin-wax". "Waxi'residue" ini sangat bermanfaat untuk menghasilkan produk petrokimia seFel!

,,.

"carbon-black" dan "cokes". Melalui proses "thermal cracking" dan "delayedcoking" terhadap "waxy-residue" akan dihasilkan "carbon-black" dan "cokes". Melalui proses "thermal black" dan "cokes" yang kegunaanya sangat diperlukan pada industri ban dan industri peleburan aluminium.

2.3

PENYEDIAAN BAHAN BAKU INDUSTRI PETROKiiVSIA DI INDONESIA

1. Keterscdiaan cadangan gas bumi (Cr-Cr):

Dalarn hal ketersediaan gas bumi untuk bahan baku industri petrokimia di
Indonesia, yangmana sekitar 60-80Vo volume gas yang dihasilkan dari suatu lapangan gas adalah gas metana, dapat dilihat bahwa karakteristildkualitas gasnya cukup memenuhi persyaratan (ini dapat dilihat pada Tabel II-1 dan Tabel II-2), begitu juga mengenai potensi cadangan gasnya (ini dapat dilihat pada Gambar II4) cukup tersedia dimana s'rmber-sumber gasnya menyebar hampir merata dapat menjangkau daerah-daerah yang

pldat dengan pemukiman penduduk dan pusat-pusat industri, seperti daerah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Irian Jaya.
2. Ketersediaan bahan baku kondensat (Cs-Crr):

Sama halnya dengan bahan baku nafta, ko:nponen-komponen penyusun gas kondensat kadar kandungannya dapat diukur dengan analisis PONA (Parafin, Olefin, Naftene, dan Aromatik), dimana jika kandungan parafin dan olefin-nya lebih besar, maka kondensat tersebut lebih bermanfaat dipakai untuk bahar baku industri dengan jalur "Olefin-senter" dan sebaliknya apabila kandungan naftene dnn aromatiknya lebih besar, lebih bermanfaat dipakai untuk bahan baku industri dengan jalur "Aromatik-senter". Produksi kondensat dalam negeri selama ini masih di ekspor ke luar untuk mendatangkan devisa, sedangkan ketersediaan produksinya untuk dipakai sebagai bahan baku industri petrokimia di lndonesia, dapat dilihat pada Tabel II-3.
3. Ketersediaan bahan baku nafta (C6-Crz):

Bahan baku nafta adalah bahan baku minyak berbentuk cairan, yang banyak dipakai untuk bahan baku industri petrokimia di dunia baik yang memakai dengan jalur "Olefin-senter" maupun dengan jalur Aromatik-senter", karena pegangkutan mudah dilakukan biarpun dengan jarak jauh seperti pengangkutan untuk minyak mentah lainnya. Minyak nafta ini dalam negeri diperoleh dari hasil Kilang Cilacap dan Kilang Balikpapan, yang selama ini produksinya masih di ekspor ke luar untuk mendatangkan devisa. Dalam hal ketersediaan produksinya untuk dipakai sebagai bahan baku industri petrokimia di Indonesia, dapat dilihat pada Tabel II-3.
4. Ketersediaan bahan baku residu/Low Sulfur Waxy Residu (LSWR):

Bahan baku minyak residu/LSWR cukup tersedia didalam negeri, yang dapat

;go:''iti
.l+
-b

rr

fo-, 1;.

ir- '

f lfi.r;i

:r *r

didatangkan dari Kilang Dumai, Sungai Pakning dan Exsor-I Balongan, dan selama ini minyak residu/LSWR tersebut masih di-ekspor ke luar untuk mendatangkan devisa. Dalam hal ketersediaan produksinya untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri petrokimia di Indonesia, dapat dilihat pada Tabel II-3.

Tabel II-1. Karakteristik/Kualitas Gas Bumi di Indonesia


Perusahaan/Daerah Sumber Gas Bumi

Komposisi (Vo mole)

Mobil OiU Arun


3,34

Wampu Medan
2,68

PTSY
Sumsel

Cilamaya/
Jakarta 1,94 1.04

ARBNY
Kangean

Kaltim/
B. Papan 2,55
o,7
78,

Sul-Sel/ Walanga

coz
N2

6,09
0,51 85,53

2,68
1,80 88,19 3,88 2,13 0,93

4,W
68,87

0,07 74,04
10,96 5,93

CI
C2
C3

90,t2
5,86 0,95 0,06 0 0
100,0

ls

94,89 3,47 0,82


0,81 0,01

I1,0
6,20
3,68

4,88
1,59

9,48
6, 15

C4 C5 C6+
Jurnlah
S.g.

3,96 r.53
0,83 100,0

0,84 0,58 0
100,0

2,W
0,68
0,2 100,0

2,82 0
100,0

0,39
0 100,0

0
100,0

o,8364

0.7950

0.7220

0.6253

0.6480

0,7390

0,5779

Nilai Kalori
-BTU/SCF -Mjoule/}vl3 297,6
43,44 323,0

)77 ,0
36,05

027,0 33,60

057,0

t97,0
40,07

n.a n.a

M,29

3s,39

Sumber: Team Koordinasi Pengembangan Pemakaian BBG-Migas

T I

Tabel II-2. Kualitas Gas Bumi di Indonesia. FIELD CALCUTED S.G


GAS COMPOSITION

No.

COMPANY

CI
C2 C3 68,87

C4+

ACEH & N. SUMATERA I1,00


6,20 6,50
1,60

l,59
2,60 0,30

- MOBIL OIL ASEMERA

Arun
0,84 80,60 6,50
1,60 0,75

Alur C
96,30 96,30 2,50
12,20

Geundondong 0,59
0,68 0,88 62,50 63,70
85,

4,20
13,70

1,00

Julo Rayeu 86,80 Tualang

2,90 9,80 8,70 2,00


1,70

1t,20
23,00 0,20 2,00
18,40 10,00

Lee Tabue
0,83 Rantau

.UEPI
0,82 0,66 94,70 58,20 76,30 60,50 77,00 62,80

l0

2,20
1,80 12,30

0,30
1,00

P. Panjang 'P.Teb. Tinggi Gebang


0.91

l,t9
0;76 0,90 0,76
0,85

4,00

7.ta
17,40 10,20 16,20 13,00

1,90

P.Tab.Timur P.Tab.Barat Wampu

2,7,0 5,60
I r,{i0

2.10

I,90

Bt.Mandi
Rambutan

2.

SOUTH SUMATERA
0,83

34,30
85,53

2,66
4,88

6,40
1,59

- PTSI

4,86 0.39 0,77 0,92


0,63

-UEPIIKPS
\.E.Teras
Benuang

38,10 80,50 0,80


0,63

12,80 8,30

26,60 6,80

6,30

Betung Gn.Kemala Limau

t,30

7l,50
89,70

12,50

11,60

1,70

5,80

3.20

o,rlo

Tabel II-2. Kualitas Gas Bumi di Indonesia. (lnnjutan)


GAS COMPOSITION

- PERTAMINA UEP II
Sengeti

JAMBI
52,80
15,80

t7,20
6,48

3,90

WEST JAVA Krishna


8,66 43,24

- II APCO

7\ )q
80,32

1,45

. ARCO

Arjuna

2,80

1.22

PERTAMINA UEP III


Cemara Sindang 12,60

4,40

Poleng
Cemara Selatan Cemara Barat Cemara Timur

4,89

Tugu Barat Kdnghr Tim


PSJ

32,00

5,37 57,50
9 1,10

9,67
10,40 16,20

2,48 89,50
15;70

1,25

Gantar

2,35

11)

Haurgeulis STN
Jatibarang Randengan Sindang

,qo

0,40

4,57 4.29

Tabel II-2. Kualitas Gas Bumi di Indonesia. (lt,njutan) FIELD CALCUTED S.G
GA.C

No.

COMPANY

UOMPOSITION
C3

CI

c2
2,44
1,04

C4+

4.

EAST KALIMANTAN
Bunyu 0,56 88,60 0,16

- PERTAMINA UEP IV

- TESORO Badak 41,00 2,40

- HUFFCO

l,l0

0,40

- TOTALIND.
Sembakung

- ARCO Kerindingan 94,00 79,90 2,02


5,23

- UNION

2,60 3,59

I,l9
N

Lawi-Lawi
Kp. Baru
0,58

5.

SOUTH SUMATERA 94,50 94,80 2,97 3,47 o,25 o,02

- BRITISH PLT
Walanga
0,58

- NATUNA SEA 'eri

- CONOCO

t,34

17,20

0.67

0,09

0,02

Sumber: Direktorat E/P-Pertamina

Tabel Il-3. Produksi Kondensat. Nafla dan Residu/LSWR Ci lndonesia 1991n992


1992/1993 1993/1994 Ribu BBL Ribu BBL Ribu BBI-/D Ribu BBUD

No.

JENIS PRODUKSI

Ribu BBL
243,0
372,2
6t.8'7 5,2

Ribu BBUD
r,02
169.52

l.
234,2

KONDENSAT
0,64 0,67
169.17 0,38 169,22 37,69
108,6 r

'Pertamina 65.768,4
180,19 0,37

KPS 61.578,5 r32,3 66.'t34,9 61.959,9


13.758,0

KK
r38,4

146,0

0,40

JUMLAH
9.824,0 47.790,0
130.93

l8l,20
26,94 39.643.0

62.393,4
15.'729,0

t70.94
43,10 45.322.0

2.

{AFTA

IESIDU/LSWR

t24,t7

Catatan:
(lJ

1.

2. 3.

KPS KK BBUD 4. LSyR

= Perusahaan Minyak "Kontrak Produksi Shering" = Perusahaan Minyak "Kontrak Karya" = Barrel Minyak per hari (British Barrel per Day) = Low Sulfur Waxy Residu 5. Tahun produksi adalah pada tahun PELITA V berjatan.

Sumber: Direktorat P/P-Pertamina

GC,

'"i
-6

<u =c do u u.t J> Oul

DEMETHANIZER

Ethane extraction by cryogenic erpandet

Gambar II-1. Ekstraksi etana dengan proses ekstraksi kriogenik.

15

LEGEND

T
m

UNCHANGED MODIFIED

BUTANE REFRIGERANT RECYCLE MAKE UP

Butane absorption scheme

SCRUB COLUMN

LEGEND:

REFRIGERANT MAKE UP

tr,
ml
llil t.t
'
Cryogenic expansion scheme

Gambar II-2. Pemisahan gas etana dan gas metana (LNG) dari gas bumi dengan cara absorbsi

7 !

c{ c6, To GASOLINE

AROMATICS.FREE RAFFINATE TO GASOLTNE

BENZENE TOLUENE

MXED
XYLENES

cI
and
>

TO GASOLINE
(1) (3)

o\
REFORM NAPHTHENES INTOAROMARTICS

REMOVES SULFUR

HEART.CUT

(2) MAKEA c6, c7, c.

(4) SEPARATES AROMATICS FROM NAPHTHENES AND PARAFFINS

(5) SEPARATES THE AROMATICS STREAMS INTO CHEMICAL.GRADE MATERIAL

To obtaln benzene from a petroleum reflnery by reformlng, use lhls typlcal proceaslng scheme

Gambar II-3. Pemisahan bcnzena, toulena, dan xilena (BTX) dari hasil kilang.

ACEH Cadangan

terbukti
Total

14,1 TSCF

KETERANGAN: Cadangan terbukti : 76,16 TSCF Cangan potential : 22,16 TSCF

cadangan : 98,32 TSCF

SUMTENG

Cadangan

terbukti

0,9 TSCF

Cadangan

Cadangan

Cadangan

terbukti
6,2 TSCF

terbukti
0,6 TSCF

terbukti
0,2 TSCF

Sumber : Devisi Gas E/P-Pertamina

Gambar

II-4.

Peta Potensi Cadangan Gas

Bumi di Indonesia (per 01.01.1993)

BAB III

PRODUK-PRODUK PETROKIMIA
3.1

JEMS PRODUK PETROKIMIA


Industri petrokimia dapat dibag i atas Zbagian besar, yaitu:

1. Industri petrokimia hulu atau "upstream petrochemical industry", yaitu industri yang menghasilkan produk petrokimia yang masih berupa produk dasar atau produk primer dan produk antara atau produk setengah jadi (masih merupakan bahan baku untuk produk jadi)

2. Industri petrokimia hilir atau "downstream petrochemical industry", yaitu industri


yang menghasilkan produk petrokimia yang sudah berupa produk akhir danlatau produkjadi.
Oleh karena itu, maka produk petrokimia berdasarkan proses pembentukannya dan pemanfaatannya dapat dibagi atas 4 jenis, yaitu:

(1) Produk dasar. Yang (2) Produk antara.

termasuk produk dasar petrokimia antara lain adalah gas CO danHrsintetik, etilena, propilena, butadiena, benzene, toluene, xilena dan n-parafin.

Yang termasuk produk antara, antara lain adalah amonia, metanol, carbon black, urea, etil alkohol, etilklorida, kumen (cumene), propilen-oksida), butil alkohol, isobutilena, nitrobenzena, nitrotoluena, PTA (purified terephthalic acid), TPA (terephthalic acid), DMT (dimethyl terephthalate), kaprolaktam (caprolactam), LAB (liner alkyl benzene), dll.

(3) Produk akhir antara lain adalah (4) Produk jadi.

urea, carbon black, formaldehida, asetilena, poli etilena, poli propilena, poli vinil klorida, poli stirena, TNT (trinitro toluena), poli ester, nilon, poli uretan, "LAB-sulfonate" (surfactant) dll.
Pada umuflrnya berupa barang-barang atau bahan-bahan yang dalam kehidupan kita sehari-hari banyak dipakai di rumah tangga seperti: plastik-plastik untuk produk-produk elektronik dan telekomunikasi (radio, tv, film alat-lat

komputer, kabel-kabel telefon, kabel-kabel listrik), plastik-plastik untuk rumah tangga (ember plastik, kantonglkarung plastik, botol-botol/kemasan plastik), peralatan plastik untuk industri mobil dan pesawat terbang (bemper mobil, jok/busa mobil, jok/busa kapal terbang, ban pesawat terbang). Baju dan kaus kaki yang kita pakai dibuat dari benang poliester dan nilon, ban mobil dari bahan campuran karet dan carbon black, sabun bubuk deterjen dibuat dari "LAB-sulfonate" dan lain
sebagainya.

19

3.2

JALUR.JALUR DALAM PEMBUATAN PRODUK.PRODUK PETROKIMIA

Proses pembuatan produk petrokimia yang lebih ekonomis dapat ditempuh dengan jalur/lintasan utama (lihat Gambar III-1 dan III-2), yaitu: 1. Jalur gas sintetik yaitu dengan pembentukan gas CO dan Hz dari bahan baku gas

bumi/(CFI+).

2. Jahx olefin yaitu dengan


butena./butadiena).

pembentukan gas-olefin (gas etilena, propilena dan

3.

Jalur aromatik yaitu dengan pembentukan fraksi-fraksi aromatik (benzena, toulena dan

xilena).
3.2.1 Jalur Gas Sintetik, Amonia, dan "Carbon Black" Gas sintetik (gas CO dan H2) termasuk produk dasar petrokimia yang dibuat dari gas alam (ClI4), yang penggunaan utamanya untuk menghasilkan amonia, metanol dan carbon black. 3.2.1.1 Cara memproduksi Gas Sintetik

Dilihat dari segi proses produksinya, maka gas sintetik dapat diproduksi melalui (tiga) cara yaitu:

1. Reaksi "steam reforming" (lihat Gambar Itr-3) untuk pembentukan amonia yang reaksinya berlangsung dengan bantuan katalis Ni pada suhu 1.400-1.600" F dan
tekanan operasi 400-500 psi. Reaksi-reaksi yang terjadi sebagai berikut: Pada pembuatan ammonia dengan mereaksikannya dengan gas N, (dari udara luar) dan dengan pertolongan katalis campuran antara FezO: dan AIzO:, pada suhu +7000F dan tekanan 250 atm. Reaksinya adalah sebagai berikut:

3H, + N,

------>

2 NH3

Secara keseluruhan, mulai dari gas sintetik sampai terbentuknya amonia sintetik, reaksi pembentukan amonia adalah sebagai berikut:

2CHo+ Or+ 2HrO + Nz

-------)

2CO, + 4NH,

2. Reaksi "steam reforming" pada pembentukan metanol (lihat Gambar

lil4)

yang

berlangsung dengan menggunakan 2 (dua) macam proses pembentukannya, yaitu: - Dengan Proses Tekanan Tinggi, disebut juga "Lurgi High Pressure Process:, dan - Dengan Proses Tekanan Rendah, disebut juga "ICI Low Pressure Process" a) Dengan Proses Tekanan Tinggi/Proses Lurgi:

/;

20

Proses ini dilakukan atau nihil.

jika kadar

CO2 di dalam bahan baku gas alam sangat kecil

Prosesnya berlangsung pada tekanan 230-330 atmosfir dan pada suhu 370-

400')c.
Menggunakan katalisator campuranZn} (907o) dan Cr2O3 Q07o). Hasil konversinya adalah sebesar: 60-707a. Reaksi yang terjadi:
CHo + HrO

(uap/steam) (steam)

CO +

2H,

-------->

CO

+ZHr+H,

------------>
----->

CH3OH

CHo + H2O

CHrOH + H,

Disamping terjadi "methanol" sebagai produk utamanya, terjadi pula "gas/II2" sebagai hasil sampingnya. Gas Hz ini dapat dipisahkan dan digunakan untuk pembuatan gas amoniak (NH3) yang selanjutnya merupakan bahan baku pada pembuatan pupuk urea [CO(NHz)z].

b)

Dengan Proses Tekanan Rendah/Proses ICI: - Proses ini dilakukanjika kandungan CO2 di dalambahan baku gas alam sebesar

6-107o atau lebih. Prosesnya berlangsung pada tekanan 50-100 atmosfir dan Suhu 200-280'C.

Menggunakan katalisator-dasar tembaga (Cu).

Hasil konversinya sebesar 10-80Vo Reaksi yang terjadi


3 CH4

+CO2+2HrO (steam)

4CO+8H,
3 CH4 + CO2+

------->

4 CO + 8 H,

4CH3OH

2HrO

(steam) ------>

4 CH3OH

Pada Proses ini dengan pemakaian gas CO2 yang terkandung dalam bahan bakunya/dalam gas alam dapat menaikkan aktivitas katalisatornya sehingga

angka konversinya akan naik (salah satu keunggulan Proses

ini jika

dibandingkan dengan Proses Tekanan Tinggi/Proses Lurgi). Reaksi kimia yang terjadi pada Proses Tekanan Rendah ini tidak menunjukkan adanya hasil samping gas H2 seperti yang terjadi pada Proses Tekanan
Tinggi/Proses Lurgi. Reaksi kimia yang terjadi pada Proses Tekanan Rendah ini tidak menunjukkan

adanya hasil samping gas H2 seperti yang terjadi pada Proses

ini jika

dibandingkan dengan Proses Tekanan Tinggi/Proses Lurgi. Dengan konversi rata-ratanya sebesar 75Vo, maka untuk menghasilkan 1 metric

2t

ton methanol diperlukan bahan baku Gas alam sebesar 1,333 Nm3 atau sebesar
47,085 SCF. Reaksi oksidasi parsial pada pembentukan gas sintetik yang dilanjutkan dengan reaksi pirolisis (pada pembentukan 'tarbon black") yang berlangsung pada suhu operasi 1300-1500"C dan tekanan 100-150 atm. Reaksi-reaksi yang terjadi adalah

a) Reaksi oksida untuk pembentukan

gas sintetik dan gas asetilena (CzHz):

2CH4+02
4 CH4+ Oz

*----*

ZCO+4H,
2 C2H2+ 6 HrO

--)untuk pembentukan carbon black (C): b) Reaksi pirolisis zc2H,


ZCO +a
Pirolisis

4C+zH,
2C +ZH,6

H, --@>

+2H,

c)

Secara menyeluruh, mulai dari gas sintetik sampai terbentuknya carbon black, akan didapat hasil reaksi sebagai berikut: 6 CH4 + 4

O,

------->

6 C + 8 H2O

4}{,

d) Di

samping dihasilkan carbon black sebagai produk utama, dihasilkan juga gas Hz dan uap air (H2O) yang masih dapat dipergunakan sebagai hasil samping untuk keperluan lain.
sesuai dengan teknologi untuk memproduksi atau proses pembuatannya, carbon black dapat digolongkan atas 3 jenis, yaitu: (1) Channel black, (2) Thermal black, (3) Furnace black, dengan perincian sebagai

e) Penggolongan hoduksi Carbon Black

berikut:
L) Channel black: (a) Proses pembuatannya dengan Channel proses, menggunakan bahan baku gas alam dengan konversi sbb.: setiap penggunaan 500 cuft gas alam akan menghasilkan 1 1b (= 1 Pound) C'b (b) Produksi C.b inilah yang pertarna sekali dipakai untuk campuran penguat ("for reinforcing") dengan karet alam dan usia prosesnya sudah tua yang diketemukan pada tahun 1872. (c) Diameter partikelnya (d.part.) lebih besar sehingga memberikan struktur partikel-nya rendah/struktur yang tidak kuat, karena reaksi pengumpulannya dengan karet kurang sempurna/kurang kompak. (d) Derajat keasaman permukaannya (=acidic surface pH) tidak aktif dan tidak

dipakai lagi dalam vulkanisasi karet karena bahan ban yang dihasilkan

,3

22

(e)

pennukaannya tid4k tahan terhadap reaksi asam, sehingga bannya mudah kempes/pecah.
Pada saat ini poduksinya sudah ditutup, karena sudah ridak ekonomis lagi.

2) Thermal black:

(a) untuk membuatnya

(b) Diameter partikel

menggunakan Thermar proses dengan bahan baku gas alam ataupun minyak cairlminyak residu.

tinggi (= elongation") atau pada campu.un ku."i.y*g ;;h;;lo."ru, (= ..hight abrasion") yaitu pada industri kabel untuk isolasi. (d) Acetyline black. c.b ini termasuk tipe c.bbahan jenis Thermal brack dan dapat dihasilkan/dibuat dari bahan baku gas aram denga n cara oksidasi, kemudian gas acetyrene (=czHu) yang dihasirkal dikenakan reaksi pyrosilisis pada suhu anrara 650-750;c, J"rrirgg, i".t"ntut bahan carbon black (= C), dengan reaksi pembentukan sbb:
1) Reaksi yang terjadi:
5 CH, +

(c)

produknya (=d. part.) besar, sehingga memberikan struktur partiker yang rendah/struktur yang tidak kuat terhadap karet. Baik dipakai pada campuran karet yang ,,hight tahan lenturan

o.
pirolisis

oksidasi

CrHr+ 3CO + 6H, + 3H,O

CzH,

2C +H,

2)

Pen

ggun;;:t":;'"';"

(1) (2) (3) (a)

fff"",

pesawat terbang,, yang anti sambaran petir Bahan genteng atap rumawasues yang anti korsele itl atau atap penyimpanan peluru yang tahan terhadap sambaran petir

Sebagai bahan baku khusus untuk campuran pembuatan ..ban

Untuk ..drycells',/pengisian batery

3) Furnace black:

Untuk membuatnya menggunakan Furnace proses dengan bahan baku gas alam ataupun minyak residu (b) Kalau memakll gas alam, setiap penggunaan gas aram sebesar 1000 cuft akan menghasilkan C.b sebesar iorU poriA; i=ro d;;;ut* menggunakan bahan baku mi,nyak^.:._i91, setiap penggunaan (satu) 1.b minyak residu I akan menghasilkan 0,55 1.b carbon (c) Diameter partikel produknya (= blaci. d.part.) kecil, sehingga mempunyai

23

struktur yang sangat kuat (= "high structure") atau mempunyai struktur


yang sangat kuat terhadap campuran dengan karet. (d) Derajat keasaman (= pH) permukaanya (= acidic surface pH) sangat aktif, sehingga pada vulkanisasi karet sangat banyak/sangat baik dipakai karena bahan ban yang dihasilkan permukaanya sangat tahan terhadap reaksi asam. Derajat keasaman (=pH) permukaannYa (=acidic surface pH) sangat aktif, sehingga vulkanisasi karet sangat banyak/sangat baik dipakai karena bahan ban yang dihasilkan permukaannya sangat tahan terhadap reaksi
asam.

Dengan jenis struktur partikel yang sangat kuat tersebut yaitu "high structure", maka pada karet-karet sintetis dengan "specific stereo rubber" menghasilkan l00%o polybutadiene (SBR) tires/ban. (0 Karena memiliki sifat-sifat/keunggulan-keunggulan tersebut pada butir (3) sampai dengan butir (5) diatas, maka jenis C.b dengan tipe "Furnace black" inilah jenis C.b yang dimaksud/yang dipakai untuk industri ban dan otomotif yang akan dibahas dalam tulisan ini. (e) Dalam dunia perdaganganldipasaran dikenal dengan 7 jenis nama atau 7 tipe C.b ini, yaitu: 1. Jenis SAF = Super Abrasion Furnace 2. Jenis ISAF - Intermediate Super Abrasion Furnace 3. Jenis HAF = High Abrasion Furnace 4. Jenis FEF = Fash Extrusion Furnace
(e)

5. 6. 7.

Jenis Jenis
Jenis

GPF = SRF = HMF =

General Purpose Furnace Semi Reinforcing Furnace High Modulus Furnace

3.2.1.2 Produk Hilir dan Reaksi-Reaksi untuk Menghasilkannya


Selain amonia, metanol dan "carbon black", produk petrokimia hilir yang didapat melalui jalur gas sintetik ini antara lain adalah pupuk amonium nitrat, pupuk amonium sulfat, formaldehida, metil tetra butil eter (methyl tetra butyl ether atau MTBE), dan pupuk urea yang memiliki rumus molekul sebagai berikut:

NH"
,/z

:o
hilir tersebut diatas, adalah
sebagai

\*,,
Contoh reaksi pembentukan produk petrokimia

berikut:

,-4

1. Reaksi pembentukan pupuk urea Tahap-l berupa pembentukan amonia karbamat (ammonium carbamate atau NHo
COONH2) yang masih berbentuk bubur cair sebagai berikut:
2 NH3 +

CO2

NH4 COONH2

Tahap-2 ialah pengkristalan ammonium carbamate di dalam "prilling tower" (lihat Gambar III-5) menjadi urea dengan cara pemanasan, sebagai berikut:
NH2

NH4 COONH

z --;- C=o \*r,

HzO

(Kristal padat urea)

Reaksi pembentukan formaldehida (CH2O) sebagai berikut:

+250t dan dengan pertolongan katalis dasar tembaga (Cu), maka metanol akan teroksidasi menjadi formaldehida, sebagai berikut:
Melalui reaksi oksidasi pada suhu
2CHTOH +

O,
t = 250'C

2CH2O

+2HrO

3.

Reaksi pembentukan Urea fornaldehyde Gunanya urea-fomaldehyde adalah sebagai bahan perekat pada industri perkayuan/ plywood industry, yang dapat diproduksi dengan mereaksikan/mencampurkan "IJrea" dengan "fornaldehyde" membentuk "dinethylol-urea", selanjutnya dengan reaksi

"polymerisasi" atau "poly kondensasi" untuk memisahkan "air-nya" sehingga terbentuk "I-Irea-fornaldehyde resin", dengan reaksi pembentukannya sebagai berikut:

c<_ o
(lJrea)

_/.

NH,

\-n2\J L\U

-,,- NHr-CHTOH

NH,

(lbmaldehl-de)

- NH,-CH,OH
polymerrsasr

""r"1
I

-ycH, NcH.

&| kg*".",|
O

I n.o .----l +.r,o


+

ln

(Urea formaldehyde)

25

4. Reaksi pembentukan DMT

(dengan esterifikasi).

.A

cooH
+

cooH.

ll I
V:?RI,
-

cH.oH---->
(DMT)

+ HrO

cooH.

Penggunaannya untuk:

Polyesterfibers/serat-serat sintetis

Polyesterresin/film

5.

Reaksi pembentukan Methylamines,

t = 250oC

CH3OH +

CHTNH, -------->
2NH

(CH3) rNH + HrO (CH3) rN + HrO

CH3OH + (CH3)

-----)

Penggunaan untuk:

Surfactans/pembasmihama Solvent/pelarut/campuran karet

6.

Reaksi pembentukan Methyl halides:


t = 350'C

CH3OH +

HCL

CH3 CL + HrO

P=latm cH3oH + HBr


t= 350'C cH3 Br + Hro

Penggunaannya untuk:

Fumigaant/pengasapan/disinfeksi

Silikonresin/TML/TEL

26

3. 2. t

Pe

ngadaan Produk Hilirnya di Indone sia.

1. Pengadaan Produksi Pupuk Urea di Indonesia: a) Dengan semakin disadari manfaat pupuk guna menunjang pertanian secara nasional serta ditunjang dengan ketersediaan bahan baku gas alam yang tersebar di lapangan perminyakan di tanah air, maka sejak tahun 1972 sld, 1993 secara
berturut-turut Pemerintah membangun dan memperluas pabrik pupuk urea sebagai berikut; PUSRI-tr dengan kapasitas produksi 380.000 ton urea per-tahun (atau sebesar 1.150 ton urea per-hari dan 660 ton ammonia per-hari), PUPUSRI-II dan PUSRI-IV dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 570.000 ton urea pertahun (atau sebesar 1.725 ton urea per-hari dan 1.000 ton ammonia per-hari), PUPUK KUJANG di Cikampek dengan kapasitas produksi 570.0m ton urea pertahun, Pupuk ASEAN Aceh di Lhokseumawe, dengan kapasitas 570.000 ton urea
per-tahun, Pupuk ISKANDAR MUDA di Lhokseumawe dengan kapasitas 570.000 ton urea per-tahun, Pupuk KALTIM-I, KALTIM-tr diBonatng dengan kapasitas

produksi masing-masing sebesar 570.000 ton urea per-tahun dan PUSRI-IB (sebagai pengganti PUSRI-I yang tidak efesien lagi) dengan kapasitas sebesar
570.000 urea per-tahun.

b) Oleh karena itu, terjadi perkembangan kapasitas terpasang produksi urea di


Indonesia sampai tahun 1993, sebagai berikut:

(1)Kapasitas terpasang sampai pada tahun 1986.


Kebutuhan Gas Alam
No.
1.

Kapasitas

Unit Produksi
PT. PUSRI-I PT. PUSRI-II PT. PUSRI-II PT. PUSRI.IV

(MMSCFD/]VIBTU)
12.500 40.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000

(tor/tahun)
100.000

Tahun Produksi Komersial


1963

380.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 5.400.000

1974 1976
1977 1978 1983 1985 1984
1985 1988

2.
J.

PT. Pupuk Kujang PT. Pupuk ASEAN PT. Pupuk Iskandar Muda
PT. Pupuk PT. Pupuk PT.

4. 5.

KALTIM-I

KALTIM-II Pupuk KALTIM-III

Total Kapasitas terpasang (ton/tahun)


Sumber: APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia), Jakarta

1986

27

(2)Kapasitas terpasang sampai pada tahun 1993


Kebutuhan Gas No.
Kapasitas

Unit Produksi
PT. PUSRI-I PT. PUSRI-II PT.

Alam (MMSCFDA,IBTU)
60.000 ,!0.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000 60.000

(ton/tahun) 570.000 380.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 570.000 5.870.000

Tahun Produksi Komersial 1995

t974
1976
1977

PUSRI.II

PT. PUSRI-IV
2. 3.

PT. Pupuk Kujang PT. Pupuk ASEAN PT. Pupuk Iskandar Muda PT. Pupuk PT. Pupuk PT. Pupuk

1978
1983

4.
5.

r985
1984 1985 1988

KALTIM-I

KALTIM-II KALTIM-III

Total Kapasitas terpasang (tor/tahun)


Sumber: APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia), Jakarta

1993

Pupuk urea (yang dihasilkan oleh PT. PUSRI dan yang dipasarkan di dalam negeri serta yang diekspor ke luar negeri) mengandung unsur hiua nitrogen (N2) sebesar 467o dan merupakan pupuk yang mudah larut dalam air, alkohol dan benzene, sedikit larut dalam ether serta tidak larut dalam chloroform. Oleh karena mudah larut dalam air, maka pemakaian pupuk ureanya dapat pula disemprotkan. Juga karena mudah mengisap air (bersifat higroskopis), maka sebaiknya disimpan pada tempat yang kering dan tertutup rapat. Hal tersebut dapat dilihat sesuai dengan spesifikasi urea yang dihasilkan di Indonesia sebagai berikut:
No. Nitrogen (N2), Spesifikasi Pupuk Urea Produksi Indonesia Kandungan
1

Toleransi Kemumian

7o

Wt

2 J 4
5

Air (H2O), % Wt
Biuret (NH2 CO NH CONH2:, 7o Wt
Besi (Fe). ppm

min. 46,0 max. 0,3 max. 0,5 m:x. 1,0


mix.
150,0

Ammonia (NH2) bebas, ppm Abu. ppm Ukuran butir:

6 7

(l)

6-18 Mesh (US), 7o Wt


7o

(2) 25 Mesh (US) lolos,

Wt

m:x. 15,0 min. 95,0 max. 2,0

Sumber: APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia), Jakarta

c) Menurut APPI, realisasi produksi Pupuk Nasional (produksi pupuk Urea, TSP dan ZA) pada sepuluh tahun terakhir ini (dari tahun 1988 s/d 1998) adalah sebagai

berikut:

.rl

28

Tahun/Produksi
988 989

Urea

TSP*) t.205
t.198

ZA*)
574 634 660
575

Total (103 ton) 5.936


6.692

990 991

4.157 4.860 5.050 4.973

i.280
.087

992
993 994 995

4.950
5.133

.298
.140 .177 867 986

5.289 5.894
6.189

614 526 612


679

6.994 6.635 6.862 6.799 7.078 7.440


7.815

996
997 998

@0
438

6.291
6. r -5-5

789 612

324

7.521 7.091

Sumber: APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia), Jakarta

Catatan:

*) -

Pupuk

rsP

dan ZA, adalah jenis-jenis pupuk yang diproduksi oleh pr.

Petrokimia - Gresik.

Pupuk TSP (Triple Super Pospate), adalah pupuk pospate yang mengandung unsur hara (P) cukup tinggi yaitu sebesar 46Vo. p2O5 yang gunanya untuk memacu pertumbuhan akar dan pembentukan akar tanaman sehingga tanaman
sehat dan kuat.

Pupuk ZA (Ammonium Sulfat), pupuk yang mengandung unsur hara N (2lEo) dan S (24Va) untuk membantu pertumbuhan dan pembentukan butir hijau daun
pada tanaman.

d)

di atas tersebut, sebahagian besar dikomsumsikan/dipasarkan di dalam negeri dan sebahagian lagi (khususnya pupuk urea) dipasarkan/diekspor ke berbagai negara yang realisasi pemasaran keduaduanya (untuk domestik dan ekspor) dari tahun 1995 Yd 1998 dapat dilihat pada table di bawah ini, sebagai berikut;

Dari sejumlah realisasi produksi Nasional

i)

Realisasi pemasaran dalam negeri tahun 1995 s/d 1998 (dalam 103 metrik ton) Produksi Nasional
Tahun/Pemasaran 1995 Urea 4.081,2

TSP
1.069

ZA
653 688
351

Total (103 ton)


5.803,2

1996
1997

1998

4.262 3.781 4.769

900 664
869

408

5.850 4.796 6.046

Sumber: APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia), Jakarta

2) Realisasi total ekspor pupuk Urea tahun 1995 s/d 1998 (dalam 103 metrik ton) tanpa melihat negara tujuan:
Tahun

/ Ekspor

1995

r996
1.546

t99'7

r998
1.571

Total (103 ton)

1.970

2.361

Sumber: APPI (Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia), Jakarta

29

3. Realisasi ekspor pupuk Urea tahun 1996 s/d 1999 (dalam 103 metrik ton)
Produksi Nasional per-Negara Tujuan, sbb:
No
I Nega'a Qiuan
199,6 1997 1998

1989

\&trtam
Taiwart

896,9 65,5
132,8

1.496,00

t.0u,20
72,5
61,5

t.u23,N
t29,9
313,4 r52,1

)
3

93,4
156,4 85,1

F&pina

4
5

ltarlrtd
Pakbtan Mahysia

67

82,4

0
97,4
15.6 35

9,6
r35,1

0
44,4

0
130,9 106,9

6
7
8

Myamrnr
Jepang

75,6
71.9 46.4 45,6

1))
49,2

69.r
4,8

Kenla Horgkorg Sirppore


Australia

l1 53,2 27

t0
1l

0
14,5

0,8
16,8

5.6
t1

t2 t3 t4

13,r
18,5

4,6

0,2 0,1
19

Fiii
Nepal

33,5

0
r0,8
52,6

37.4

0 t2,9
10,5

l5
t6 t7

Irdia Anenka Serkat


Korea Sehtan Korea Utara Srihrgka
China

0 0
0 r3,3

0 25,4 71,4

0
37,3
8

t4.l
0
9,6

l8
19

u,7
52,6
24,7

l0
92.3

22,8 5,4

20

0
0
47

2l
22 23 24 25

chti
Barghdesh

0 22,8 0 0 t3,9
1.546,00

0
31,7

0 0
0

New Za"brd

0
0
1,7

0
0 0
2.257,5

Tinnr-timn
I-airFhin

t,9
1.571.00

TO

TAL

2.361,N

Sumber: APPI (Assosiasi Produsen Pupuk Indonesia)' Jakarta

30

2. Pengadaan Produksi Methanof di Indonesia:

a) Dalam rangka memanfaatkan gas alam di Pulau Bunyu Kalimantan Timur, oleh
PERTAMINA telah dibangun Pabrik Methanol berkapasitas 330.000 ton per-tahun (1000 ton per-hari) yang berproduksi sejak awal tahun 1986. Sasaran penxrsarannya adalah untuk konsumsi di dalam negeri terutama diarahkan pada pembuatan formal-dehyde (sebagai zat perekat bagi industri kayu lapis) dan selebihnya untuk ekspor. Akhir-akhir ini karena terbatasnya supplay gas alam di Pulau Bunyu ditambah persoalan-persoalan tekno mekanik Pabrik Methanol itu sendiri, maka Pabrik Methanolnya sampai awal tahun 1990-an tidak mencapai kapasitas optimalnya dan hanya dapat mencapai kapasitas produksi sebesar
180.000-200.000 ton methanol per-tahun.

b) Juga dalam rangka memanfaatkan gas alam di Bontang-Kalimantan Timur, oleh PT. KALTIM Methanol Indonesia (PT. KMI) milik Perusahaan HUMPUS Group
pada pertengahan Januari 1995 telah diresmikan pemerintah pembangunan Pabrik Methanol dengan kapasitas produksi sebesar 660.000 ton methanol per-tahun (atau sebesar 2.000 ton per-hari) serta rencana akan berproduksi pada akhir tahun 1997. Sasaran penasarannya untuk komsumsi di dalam negeri sebesar + 40Vo (yang digunakan untuk pembuatan MTBE (methyl tertiary buthyl ether) yang berfungsi

sebagai pengganti TEL, yaitu suatu bahan campuran yang dapat meninggikan
kadar/angka oktan bahan bakar minyak (seperti "premix) dan selebihnya (+ 607o lagi) untuk pasaran ekspor ke luar negeri terutama negara-negara ASEAN, akan tetapi sampai di akhir tahun 1999 rencana pembangunan pabrik Metanol tersebut belum terlaksana karena situasi ekonomi di dalam negeri tidak menunjang.

c) Perkembangan
pada Tabel

Pemakaian Methanol di Indonesia dalam Pelita-IV serta Proyeksi Kebutuhan dan Pasok Produksi Methanol pada Pelita-V dan VI dapat kita lihat

trI-l

dan Tabel III-2.

3. Pengadaan Produksi Carbon black di Indonesia:

a) Impor C.b Untuk Memenuhi Komsumsi Dalam Negeri/untuk Industri Ban

dan

Otomotif: 1) Untuk memenuhi kebutuhan C.b untuk industri ban dan otomotif di dalam negeri, sampai sekarang masih didatangkan/diimpor dari luar negeri. Kalau dilihat dari tahun ke tahun pertumbuhan impornya naik rata-rata sebesar + L07o setiap tahunnya sejak tahun 1979, menurut data BPS (=data dari Biro Pusat Statistik) Jakarta, besarnya komsumsi C.b di dalam negeti yang kebutuhannya secara keseluruhan masih diimpor tersebut adalah sbb.:
Tahun
1979 1980

Jrnl Impor C.b


(dalam sat. ton)

Tahun 1987 1988 1989 1990

Jrnl tmpor C.b


(dalam sat. ton)

4.950
5.400 6.500 7.700 9.100

40.'too
44_'t

to

l98r
t982
1983

48.740

54/N
58.500

l99l

31

2) Dart data impor C.b tersebut diatas dapat dilihat bahwa dengan kenaikan komsumsi C.b di dalam negeri sebesar +l0Vo pertahun, menunjukkan bahwa
pada tahun 1991 saja kalau pabrik C.b-nya dibuat di Indonesia dengan kapasitas produksinya sebesar impornya tersebut yaitu sebesar 58.500 ton/ tahun, sudah

jauh melebihi kapasitas produksi "minimum economic sizenya" yaitu yang


hanya sebesar 10.000 ton"/ tahun, sehingga kalau dibuatkan pabrik C.b-nya di Indonesia untuk substitusi impornya dengan kapasitas sebesar + 60.000 ton/tahun, sudah pasti akan menguntungkan, karena bahan bakunya yang merupakan "minyak residu" tersedia di lndonesia dan hasil produksinya/produk C.b-nya dapat dijual dengan hargayang lebih murah dari harga impornya.
b) Taksiran Komsumsi Carbon black di lndonesia untuk PELITA VlVsampai Tahun l99l s1d2005.

VI dan REPELITA

1) Dengan asumsi perhitungan (sesuai data BPS dan Dep. Perindustrian), yaitu kenaikan komsumsi Carbon black pada PELITA VI sampai REPELITA Vtr meningkat setara dengan laju perkembangan pertumbuhan Industri sebesar 107o pertahun, sehingga dengan dasar perhitungan tersebut diatas didapat daftar/tabel prakrraar/taksiran komsumsi C.b untuk tahun 1991 s/d2005, sebagai berikut: 2) Kalau dibandingkan konsumsi C.b dalam Negeri pada awal tahun PELITA V (tahun 1990) yang besarnya 54.400 ton/ tahun dengan konsumsi C.b pada akhir REPELITA VII (pada konsumsi C.b pada akhir REPELITA VII tahun 2005 nanti) yang diperkirakan sebesar 222.L50 tor/tahun, maka kenaikan konsumsi C.b selama 3 (tiga) kali PELITA/REPELITA dan pada akhir REPELITA VII, naik sebesar lebih dari 4 kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa lndonesia sudah memasuki era industrialisasi, dimana pertumbuhan konsumsi akan bahan industri petrokimia bagi konsumen Indonesia sudah tinggi, karena kenyataan menunjukkan tingkat kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa dapat diukur dari tingkat keberadaan dan konsumsi industri petrokimianya.
c) Keadaan Produksi C.b Sampai Akhir Tahun PELITA Y 199311994: 1) Sekitar tahun 1969/197A-an di Indonesia sudah ada pabrik C.b dengan kapasitas produksi + 7.000 ton C.b pertahun (atau sebesar 20 ton C.b per hari) yang berlokasi di Rantau/Pertamina Unit I Sumut, dengan menggunakan bahan baku gas alam yang dihasilkan dari sekitar Lapangan Rantau. Gas alamnya diproses menjadi C.b dengan menggunakan "Channel Proses". Proses ini usianya sudah tua (diketemukan pada tahun l872,jadi sudah lebih dari 100 tahun yang lalu),

sehingga pada saat kemajuan industri Petrokimia belakangan ini dengan diketemukannya proses baru untuk memproduksi C.b (seperti "Furnace Process") dimana produksi C.b yangdihasilkan dengan proses ini kualitas produksinya sangat memenuhi untuk dipakai pada industri ban dan otomotif. oleh karena itu kualitas produksi C.b yang dihasilkan dengan "Channel Process" tersebut kalah bersaing dan produksi C.b-nya tidak laku lagi dijual dipasaran. sehingga pada tahun I974 pabrlk C.b tersebut berhenti berproduksi.

32

2) Sejak saat itu/sejak peng-operasian pabrik C.b tersebut diatas dihentikan, sampai akhir tahun PELffA V/tahun 199311994 belum ada pabrik C.b yang
didirikan atau yang berproduksi di lndonesia.
d) Keadaan Produksi/Rencana Produksi C.b pada PELITA VI: 1) Menurut data yang didapat dari Departemen Perlndustrian RI, oleh salah satu Perusahaan Swasta Nasional yaitu PT CABOT INDONESIA sejak tahun 1993 sedang membangun 2 (dua) unit pabrik carbon black di Cilegon Jawa Barat, dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 30.000 Ton/tahun. Rencana produksi secara komersial dijadwalkan mulai pada semester kedua tahun 1995, sehingga pada akhir tahun 1995 dijadwalkan kedua unit pabrik C.b-nya sudah berproduksi penuh dengan total kapasitas produksi 60.000 ton/tahun, dengan catatan bahwa seluruh produksi C.b-nya sebesar 60.000 to per tahun tersebut diperuntukkan untuk konsumsi industri ban dan otomotif di dalam negeri. 2) Dengan sudah berproduksinya pabrik carbon black ini, maka dapat diperkirakan sejak akhir tahun 1995 sampai akhir PELITA VVtahun 1999 total produksi C.b di Indonesia masih tetap sebesar 60.000 ton/tahun (hal ini disebabkan oleh beberapa faktor/permasalahan di dalam negeri seperti kredit bermasalah beberapa bank yang dilikuidasi belakangan ini, yang menghambat Pengembangan Industri Petrokimia di Indonesia, sehingga akibatnya pemodaV investor luar negeri enggan menanamkan modalnya di Indonesia dalam pengertian lain selama periode tersebut tidak ada penambahan produksi C.b. di dalam negeri dan untuk menutupinya dengan terpaksa masih mengimpornya dari luar negeri. 3) Kekurangan komoditi/produksi C.b. Ini sehingga mengharuskan mengimpornya lagi dari luar negeri, dapat digambarkan dalam tabel berikut ini:

Tahun/kurun waktu

PELITA VI

K=Konsumsi/Kebutuhan P=Pasok/produksi S=Surplus prod.

I=Impor/Devisit

Jumlah komoditi C.b (dalam sanran ton) 77.860

K
1994
P
S

I
K
1995 P
S

77.860 85.650 30.000 55.650 94.220 60.000 34.220

I K
1996
P
S

33

K
1997 P
S

r03.640 60.000 43.&O

I
K
1998 P
S

I14.000
60.000

I
K

54.0m

t25.4N
60.000 65.400

t999

P
S

4) Gambaran pada tabel butir (3) menunjukkan bahwa angka-angka prediksi impor C.b tersebut mendekati kenyataan/ mendekati angka realisasi, yang dapat dilihat pada angka realisasi impor pada 3 tahun belakangan yaitu dari tahun 1997 sampai 1999 yang angka impornya masih tetap tinggi seperti terlihat pada tabel berikut:
No.
Jenis komoditi Realisasi impor (tor/tahun) 1997 Carbon black (C.b) Sumber: Biro Pusat Statistik, lakarta 1998 1999

48.205

48.424

55.735

e) Prospek Pengembangan Produksi C.b di Indonesia, C.q:

Ketersediaan Minyak Residu/LSWR Untuk Bahan Baku Carbon Black: 1) Untuk rencana pengembangan produksi C.b ini bahan baku minyak residu diharapkan cukup tersedia dari hasil pengilangan dalam negeri yaitu yang dapat didatangkan dari Kilang Dumai, Sungai Pakning dan Exor-I Balongan (Kilang Exor-I Balongan sudah berproduksi tahun 1994 ini). Kilang minyak tersebut masrng-masing mengolah minyak mentah jenis "Minas" dan "Duri" yang kandungan residu di dalam minyak mentah yang diolah sebesar + 607o volume. Dengan demikian minyak residullSWR yang tersedia dapat ditaksir/dihitung secara kasar dari ketiga kilang tersebut, sebagai berikut:
Nama Kilang

Kapasitas

Hasil Residu

(BiD)
120.000

LSWR(B/D)

l.

Dumai

72.W
30.000 75.000
177.000

2. S. Pakning 3. Exor-I Balonean

50.000
125.000

Total

295.000

Catatan: B/D=Barel minyak per hari

34

2) Dalam buku "Petrochemical Industry Market and Economics" tulisan Albert Van Hahn dinyatakan bahwa untuk setiap penggunaan bahan baku minyak residu sebanyak I lb akan dihasilkan carbon black sebanyak 0,55 lb.
Berdasarkan data konversi tersebut, maka untuk menghasilkan 1 ton C.b (1 ton - 22lj/l_ lb) dibutuhkan bahan baku minyak residu sebanyak

(2200Ib) I ton) minyak (2200tb) (0,55) = L ,82 ton minyak residu


Direncanakan kapasitas produksi pabrik C.b yang akan dibangun untuk 1 unit minimum sebesar = 30.000 ton/tahun. Jadi untuk pembangunan 1 Unit/ patrrik C.b dengan kapasitas produksi sebesar 30.000 ton per tahun, dibutuhkan bahan baku minyak residu sebanyak = 30.000 x 1,82 ton/tahun = 54.600 ton/tahun atau sebanyak+ 7 x 54.600 Bly- = 382.2N B/tahun. 3) Kalau dianggap dalam 1 (satu) tahun pabrik atau kilang minyak tersebut dapat

beroperasi selama 330 hari, maka dalam satu tahun beroperasi dapat menghasilkan minyak residu/LSWR sebanyak 330 x 177.000 barrel per tahun =
58.4 1 0.000 baneU tahun.

Dari "Buku Laporan RAKER Dep. P & E" tahun 1992, disebutkan bahwa untuk proyek-proyek kilang petrokimia yang akan datang mengenai pemanfaatan LSWR, maka dari sejumlah LSWR yang dihasilkan dari kilang minyak di dalam negeri sebanyak 60.000 B lD LSWR (=19.8000.000 barreVtahun) direncanakan akan dimanfaat-kan untuk bahan baku Pabrik Olefin Center-Il di Balongan atau di Cilacap untuk menghasilkan Polypropylene sebanyak 160.000 ton/tahun, sedangkan selebihnya akan diekspor untuk menambah devisa negara. Dari penjelasan tersebut diatas berarti bahwa untuk masa-masa mendatang minyak residu/LSWR yang dapat diharapkan untuk bahan baku C.b ini masih tersedia sebanyak (58.410.000 barrel/tahun 19.800.000 barreVtahun) 3

8.6 I 0.000 barrel/tahun.

Sesuai dengan taksiran/perhitungan diatas, maka untuk 1 (satu) Unit pabrik C.b dengan kapasitas produksi sebesar 30.000 ton/tahun, membutuhkan bahan baku

minyak residullSWR sebanyak 382.2N bareVtahun, ini berarti bahwa dari sebanyak 38.610.m0 barreUtahun minyak residu/LSWR yang masih tersisa./yang masih komoditi ekspor tersebut, kalau dimanfaatkan untuk bahan baku Carbon black untuk maksud tersebut diatas, akan cukup dipakai untuk
sebanyak:

= 38.610.000 x 1 unit pabrik C.b 382.200 = 101 Unit Pabrik C.b


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari segi penyediaan bahan baku mrnyak residu/LSWR untuk C.b ini tidak ada masalah atau dengan perkataan lain

35

'Jauh dari mencukupi" karena dapat memenuhi kebutuhan untuk "10r unit
Pabrik Carbon black" di Indonesia

f;

Usaha-usaha Pengembangan Produksi Carbon black Dalam Negeri dan kendalakendala yang dihadapi.

1) Seperti sudah dijelaskan terdahulu pada awal tahun PELEA VI ini sedang dibangun 2 (dua) unit pabrik C.b di Cilegon (Jawa Barat) dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 30.000 toMahun dan yang akan berproduksi pada pertengahan tahun 1995 yang akan datang ini. Sekalipun pabrik tersebut sudah berproduksi nanti, tetapi kebutuhar/ komsumsi C.b di dalam negeri
secara keseluruhan belum dapat dipenuhi.

pengembangan produk-sinya di dalam negeri, masih banyak menghadapi kendala-kendala antara lain: kenaikan konsumsinya yang cukup tinggi yang naik lebih dari I07o setiap tahunnya tidak dapat diimbangi atau dipenuhi dengan laju pertumbuhan penyediaan produksinya (termasuk penyediaan investasi untuk mendirikan pabriknya) di dalam negeri, sehingga untuk memenuhi komsumsi di dalam negeri, masih harus mengimpor dari luar negeri. Pada akhir REPELITA VIVpada tahun 2005 besarnya impor tersebut akan membengkak menjadi (222.15M0.000 tor/tahun) atau sebesar 162.150 ton/tahun (dengan catatan: belum adanya penambahan unit produksi C.b nya di dalam negeri untuk mensubstitusi impornya pada periode tersebut. 3) Untuk mengantisipasi per-masalahan tersebut diatas, sehingga dapat mencapai sasaran pembangunan seperti yang digariskan pada GBHN 1993 untuk PJPT II, yaitu terwujudnya salah satu kondisi kemandirian bangsa dengan terpenuhinya kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri, maka Pemerintah perlu memperluas atau mem-perbanyak pembangunan pabrik di dalam negeri, sehingga negara kita tidak lagi tergantung dari negara lain. Untuk menutupi

2) Dalam

kekurangan konsumsi C.b tersebut. Pemerintah perlu membangun pabriknya di Indonesia sebanyak:

lagi

menambah

= 162.150 x 1 Unit Pabrik


30.000

= 5 Unit Pabrik
dengan perkataan

lain paling sedikit harus dibangun lagi 5 Unit Pabrik C.b

dengan kapasitas produksi masing-masing sebesar 30.000 ton/tahun.

3.2.2 Jalur Olefin (Jalur Olefin Senter)

Olefin adalah suatu senyawa hidrokarbon tidak jenuh, yang mempunyai ikathn rangkap terbuka (seperti etilena, propilena, butilena/butadiena) yang sangat reaktif, sehingga dengan mudah dapat berpolimerisasi antara satu dengan yang lainnl,a membentuk bahan/produk polimer.

36

Jalur olefin ini akan menghasilkan etilena, propilena dan butilena/butadiena sebagai hasil utama (produk dasar) dari perengkaharlcracking bahan baku nafta atau
etana.

Dilihat dari proses produksi terutama dari aspek penyediaan bahan bakunya, maka
gas olefin dapat diproduksi dengan 2 cara, yaitu: Olefin dengan bahan baku nafta 2. Olefin dengan bahan baku etana.

l.

3.2.2.1 Oleftn dengan Bahan Baku Nafia

Dengan proses perengkahan (lihat Gambar Itr-6) yang berlangsung di dalam reaktor berbentuk "tubular furnaces" (dapur pipa-pipa baja), operasi berjalan pada suhu dan tekanan tinggi (370-400oC dan 10-25 atm.) Proses cracking dapat berjalan terusmenerus sampai akhirnya terbentuk "cokes" dan ter atau "tar".

1.

Kalau bahan baku nafta fraksi berat (crs-cza) dan dari jenis minyak parafin, mengalami proses cracking, akan terbentuk campuran molekul-molekul antara parafin (P) dan olefin (O), dengan reaksi-reaksi yang terjadi sebagai berikut:

cztHce
nafta

crackins

(P)

t t

caHra + cr5-H3o

(P)

(1)

(O)

CrsH:o

crackins

CrH, + CnHzz (P) (diolefin)

(2)

2.

Reaksi cracking dapat bedalan terus hingga akhirnya terbentuk "cokes"

ctzHzz

---lT-

Cz\ +
(P/etana)

CroHro
(tri olefin)

(3)

c,oH,o

-trf-lT-

CzH+ + CaHrz (etilena) (teuaolefin)

csH'z
CoH+

2CH4+ CuHo

(s)

CHo+5C
(cokes)

(6)

Di samping terbentuknya

cokes, pecahannya molekul-molekul tidak selalu berjalan

sebagaimana tertera pada reaksi-reaksi (1) s/d (6) di atas.

Banyak sekali kemungkinan yang dapat terjadi, seperti terbentuknya ter atau "tar" dari hasil dimerisasi dan kopolimerisasi olefin sebagai berikut:

37

3. Dimerisasi dari CroHro


CroHra +

hasil reaksi (3):


CzoHzz

CroHru C,rHro

(7)

4. Hasil reaksi
CzoHsz+

(7) tersebut mengadakan kopolimerisasi dengan CrsHso hasil reaksi (1):

Css*z
(ter atau "tar")

(8)

Dalam proses cracking fraksi minyak berat, ter atau "tar" tersebut "di-recycle" (didaur ulang) agar dapat mengalami proses cracking lagi.
3.2.2.2 Oleftn dengan Bahan Baku Etana

Kalau bahan baku yang dipergunakan adalah gas etana, akan terjadi reaksi-reaksi cracking (lihat Gambar III-7) sebagai berikut:

czF*
(P/etana)

crackins,

zcrHn+
(olefin/etilena)

H2

(1)

Hasil cracking tersebut mengalami reaksi cracking dan hidrogenasi lebih lanjut, sebagai berikut:

(2)

Pada reaksi cracking (1) di atas hasil reaksinya lebih menarik, karena umpannya berupa etana (Cztlr) langsung dipecah menjadi olefin/etilen (CzH+) dan gas H2. Sedangkan pada reaksi cracking (2), di samping olefinnya sendiri mengalami perengkahan (cracking) lebih lanjut, terjadi juga reaksi-reaksi samping (seperti: hidrogensasi, kondensasi dan polimerisasi) yang akan menghasilkan aromatik dan coke berbentuk senyawa Co, Cs, C+, C:, Cz dan C. Karena di dalam umpan/bahan baku yang menggunakan etana (Czllr) terkandung juga propan (C3H6), maka terjadi juga reaksi-reaksi cracking, sebagai berikut:

38

C:Hr
(P/propana)

CsH6

+ Hz '
(O/propilena)

C:Ha
(P)

------->

CzHa
(etilena)

CII+ (1)

2CtHz
(P) (P)

C+IIg + 2CH4
(butilena) (P)

2CzHe

'

CzHs + Cz[Ie +
(P) (propilena)

clI4
(P)

Hasil cracking tersebut akan mengalami reaksi cracking dan hidrogenasi lebih
lanjut sebagai berikut: 3 CH4 C:II. + 3H2 --) c4, c5, cu + H, czHa _______>

(2)

Dalam proses cracking di atas, fraksi minyak berat berupa aromatik (senyawa C6) dan fraksi minyak cair lainnya berupa senyawa C+ dan C5 akan didaur-ulang lag\, agar dapat mengalami proses cracking lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih
banyak.

Setelah proses cracking, hasil-hasilnya didinginkan dengan mencampurkannya dengan air pendingin. Hal ini dilakukan untuk mencegah pembentukan coke lebih lanjut dan mencegah pembentukan ter atau "tar" atau senyawayang lebih berat dari fraksi Cro.

Kemudian gas-gas hasil cracking (berupa etilena, propilena dan butilena) dilewatkan untuk dimurnikan melalui kolom-kolom fraksionasi, yang terdiri dari kolom
"demethanizer", "deethanizet", "depropanizer" dan "debutanizer", guna memisahkan gasgas hasil cracking tersebut dari gas-gas buangan (gas

"flare") lainnya.

3.2.2.3 Produk

Hilir ilan Realwi-Reaksi untuk Menghasilkannya Produk petrokimia hilir yang dihasilkan melalui jalur olefin ini adalah berbagai

jenis bahan baku plastik berupa "resin plastik'. Ada yang berbentuk bubuk, butir, atau kristal padat. 1. Yang berasal dari etilena, antara lain adalah: polietilena (PE), polivinilklorida (PVC), polistirena (PS), etilen glikol (EG), etilen asetat (EA). 2. Yang berasal dari propilena, antara lain adalah: polipropilena (PP), isobutilasetat, akrilat, fenol, karet etilen propilena. 3. Yang berasal dari butilena./butadiena: polibutadiena (karet sintetik pengganti karet alanr untuk industri ban).

39

3.2 2.4 Contoh-Contoh Reaksi untuk Menghasillmn Produk


1.

Hilir

Polietilena (PE)

Melalui reaksi polimerisasi, etilena sebagai monomer pada suhu (t) dan tekanan (p) tertentu dan dengan bantuan katalis (kat) tertentu akan membentuk polimer sederhana dan menjadi resin plastik polietilena (PE). Reaksinya adalah sebagai berikut:
n CH, =

cHz

Etilena (monomer)

,,p ;-L

__

_CH2_CH 2_CH2_CH2___CH._CHr_
polietilena

(polimer)

),

Di mana: n = bilangan bulat, sehingga rumus molekul polietilena adalah:

() l-cH"--{H-L ' t
yaitu:

)"

Berdasarkan kondisi operasi pembuatannya maka PE dapat dibedakan atas 2jenis,

a) "Low Density Polyethylene"

(LDPE): yaitu PE yang dihasilkan dengan "High

Presure Process" (proses tekanan dan suhu tinggi). Cara pengoperasiannya dapat dilihat pada Gambar Itr-8 dan III-9. Proses ini berlangsung pada suhu 100-300'C,

tekanan 1000-3000 kglcnf dan bantuan katalis peroksida (HzOz) yang dapat berfungsi sebagai "initiator/activator". Density atau kerapatan (bj.) LDPE yang didapat dari proses tersebut adalah sekitar 0,915-{,930 gltcflf dengan titik didih 100"C. Karena jenis plastik LDPE ini termasuk jenis plastik yang ringan, maka banyak digunakan sebagai kantong plastik/pembungkus dan film plastik.

b)

"High Density Polyethylene" (HDPE): yaitu PE yang dihasilkan dengan "Medium or Low Pressure Process" (proses tekanan menengah atau tekanan rendah). Proses tekanan rendah ini sering disebut sebagai "Ziegler Low Pressure Process" karena menggunakan katahs Ziegler yang dibuat dari bahan campuran antara alkil
aluminium dan titanium klorida. Proses tekanan menengah sering disebut sebagai "Phillips Process" dan menggunakan katalis campuran yang terbuat dari bahan "Chromina-Silica-Aluminium". Cara pengoperasian dan jalannya proses dapat dilihat pada Gambar III-10, Itr-l1 dan III-12. Kondisi operasi adalah sbb:

Ziegler: suhu = tekanan = . Proses Phillips: suhu = tekanan =


Proses

80-100"C,

7-IOkg/crt
130-160"C, 15-30 kg I cm2.

Dengan menggunakan salah satu proses tersebut di atas, polietilena yang dihasilkan akan mempunyai density sebesar sekitar 0,940-O,g7O grm/cm3 dan titik didih sekitar = r22-L3l'C, sehingga di pasaran disebut sebagai "High Density Polyethylene" (HDpE).

z)

40

Resin plastik jenis I{DPE ini banyak dipergunakan untuk pembuatan botol-botol plastik, kaleng/ember plastik dan kontainer, serta barang-barang plastik lainnya.
2. Polipropilena (PP)

Melalui proses polimerisasr, monomer propilen membentuk polimer sederhana dan menjadi resin plastik polipropilen dengan bantuan katalis stereospecific aluminium alkyl, suatu sistem katalis "ziegler-natta". Rumus molekul polimer yang terbentuk adalah sbb.:

[-o"-]n

u,uu

[-"",-,
CH:

Proses pembuatannya dapat dilihat pada Gambar Itr-13 dan III4. Pada kilangkilang minyak, gas propilen yang dihasilkan dari "cracked gas C3 dan Cc olefin", selain dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan polimer/polipropilen, dapat juga dimanfaatkan

berdampak negatif terhadap lingkungan. Resin plastik "PP" ini adalah jenis bahan plastik yang paling ringan dengan density

untuk menghasilkan "propilen tetramer" (lihat Gambar Itr-14). Selanjutnya propilen tetramer ini bersama benzena dapat digunakan untuk pembuatan sabun deterjen jenis lunak yaitu linear alkyl benzene sulfonate (LAS) dengan struktur formula: R-CotI+-SOaNa di mana R = Cz - Cro. Deterjen jenis lunak ini tidak menimbulkan polusi, sehingga tidak

0,90grlm3 dan

titik didih sekitar 168-171'C. Oleh karena keringanannya

itu,

penggunaannya sangat luas di berbagai sektor industri seperti barang-barang plastik rumah tangga, peralatan industri otomotif, film, kabel, pipa-pipa, pembungkus/ coating, mainan anak-anak, alat-alat kedokteran, kontainer dan lain-lain.
3.

Karet Polibutadiena (polybutadrene rubber atau PBR)

Diagram proses pembuatannya dapat dilihat pada Gambar III-15, dengan reaksi pembuatannya (melalui proses polimerisasi), sebagai berikut:
n CH, =

(butadiena/monomer)

CH-CH-CHz t,p \ ( -CEr-CH2=CH2-CH2-l L polibutadiena/polimer) ), =;-7

Dengan demikian, maka rumus molekul sintetik karet "(PBR)" adalah: |

-"r.L cH.' = cH." - cH.-] ")n

di mana n = sejumlah bilangan bulat.

4t

Kalau ingin mendapatkan karet sintetik yang lebih baik mutunya dan yang banyak dipakai pada industri pembuatan ban, maka diperlukan reaksi copolimerization (kopolimerisasi), yaitu penggabungan 2 atau lebih produk monomer yang tidak sama bentuknya, sehingga membentuk produk akhir yang disebut kopolimer. Sebagai contoh, karet sintetik SBR (Styrene Butadiene Rubber) dapat dibuat dari.stirena,(monogrgq-1) dan butadiena (monomer-2) dengan reaksi kopolimerisasi sebagai berikut:
n C6H5

CH = CH, + n CH, = CH

stirena (monomer-l)

CH = CHz butadiena (monomer-2)

(Cus,

)
H2--*H2_-CH = cH-

L-h4. Polivinil

(kopolimer stiren butadiena atau SBR sintetik)

.rr-) ,
peradaban

Klorida (polyvynil chloride atau PVC) Resin plastik PVC ini sangat banyak digunakan dalam kehidupan

manusia modern dewasa ini, sehingga penggunaan bahan-bahan logam atau plat-plat logam, plat-plat kaleng dan plat-plat timah/aluminium di sektor konstruksi, bangunan, industri transportasi dan seklor lain-lainnya, hampir tergeser penggunaannya oleh bahan plastik PVC ini. Bahan ini secara luas banyak digunakan untuk menghasilkan barangbarang dari plastik, seperti PVC Leather, PVC pipe (pipa-pipa air minum), PVC'hose (selang/pipa air), PVC sheet (plat-plat atau lembaran-lembaran plastik atau kertas-kertas dinding plastik), PVC film (film plastik) dan produk-produk jadi dari bahan plastik

lainnya seperti sandal, botol-botol plastik, stop kontak listrik/alat-alat listrik dan
sebagainya. Sesuai dengan penggunaannya, terdapat 2jenis PVC, yaitu:

a) "Rigid" PVC (keras dan mudah pecah) yang banyak dipergunakan di sektor bangunan
dan konstruksi.

b) "Flexible" PVC (lunak) yang banyak dipergunakan pada industri kulit imitasi dan
industri kemasan.
Proses pembuatan PVC dilakukan secara bertahap dengan menggunakan etilena (CzH+) sebagai bahan baku yang terlebih dahulu dijadikan monomer vinil klorida (vinyl

chloride monomer atau VCM) sebagai monomernya. Melalui reaksi polimerisasi, maka VCM akan menjadi PVC. (lihat Gambar III-16). Tahapan reaksinya adalah sebagai berikut:

Tahap-l: Reaksi klorinasi langsung terhadap gas etilena untuk membentuk etilen
diklorida (ethylene dichloride atau EDC) yang tidak stabil.

42

CH2= CH, + CIz

(=*

CH2

CfI2

ll CI
VCM:

CI

Tahap'Z: Reaksi pirolisis atau "thermal cracking" terhadap EDC untuk membentuk

CI

ilr4u, (EDC)

tt

CI

cH2 = cH

cI +

HCI

lvCM)

Tahap-3: Reaksi polimerisasi terhadap monomer VCM sehingga terbentuk polirner PVC
sebagai hasil akhir.

n cH2 =

CH_cr *;*

t'

(_.:g^"c- cHCr

[-",,r1,"r*iu.-j,

-)

5. Polistirena (polystyrene atau PS)

Resin plastik PS merupakan resin sintetik termoplastik dengan rumus molekul: (Colls-CH=CI{z), Resin plastik ini dibentuk dari 2 bahan baku utama, yaitu etilena (CzFI+) dan benzena (C6H6). Selanjutnya proses pembuatannya dilakukan melalui tingkatan atau
tahapan sebagai berikut (lihat Gambar Itr-17):

Tahap-l: Berupa reaksi alkilasi

antara etilena dengan benzena untuk membentuk etil-

benzena (C6I{5-C2H5), dengan menggunakan katalis

AICIr atau

H3POa:

cHz-cH, ,*v

+o

kat

*-

c6Hs-c2Hs

Tahap-2: Berupa reaksi dehidrogenasi (dengan steam/uap) terhadap etilbenzena,


sehingga terbentuk monomer stirena (CoHs-CH = CH2) sebagai berikut:

CeHs-CzHr

steam Z-'\
'l'

Hz

--)\_.|LCU=CHz

43

Tahap-3: Berupa reaksi polimerisasi atas monomer stirena sehingga terbentuk resin
plastik PS, sebagai berikut:

kat. [- con, al - cHz - cHr-] -)" n\AcH=cHz t "iotisttr"na


stirena
(polimer)
(monomer) Secara komersial ada 3 (tiga) macam proses polimerisasi untuk pembuatan PS (lihat Gambar III-18), yaitu: a) Polimerisasi dengan massa (bulk polymerization). b) Polimerisasi dengan suspensi (suspension polymerization). c) Polimerisasi dengan emulsi (emulsion polymerization). Berdasarkan hasil pembuatan resin plastik PS dengan cara tersebut di atas, dalam dunia perdagangan dikenal ada 4jenis bentuk PS, yaitu: a) Jenis GPPS (general purpose polystyrene), yaitu PS yang dihasilkan dengan proses

polimerisasi massa,

b) Jenis MIPS (middle impact polystyrene), yaitu PS yang dihasilkan dengan proses
polimerisasi suspensi, c) Jenis HIPS (high impact polystyrene), yaitu PS yang juga dihasilkan dengan proses polimerisasi suspensi, d) Jenis EPS (expandable polystyrene - jenis PS yang dapat mengembang), yaitu PS yang dihasilkan dengan proses polimerisasi emulsi.
Karena PS mempunyai sifarsifatya,ng khusus, yaitu resin plastik berbentuk "rigid" (padat dan kuat) dan dapat dibuat dalam bentuk papan atau dinding yang tipis atau dalam bentuk lapisan yang empuk yang dapat mengembang maka penggunaan resin plastik PS ini sangat luas. Dengan sifat-sifat yang dimilikinya itu, maka resin plastik PS dapat dibuat menjadi bentuk lembaran, plat, batang, busa yang mengembang, dan sebagainya. Untuk menambah daya tahannya terhadap benturan dan panas, resin plastik PS dicampur dengan karet atau "fiberglass". Berdasarkan pengenalan 4 bentuk produk PS tersebut di atas, maka penggunaan masing-masing jenis adalah sebagai berikut:

a) Jenis GPPS, pada umumnya digunakan untuk pembuatan ballpoint, rumah


stoples, mainan anak-anak/boneka dan alat-alat rumah tangga lainnya.

kaset,

b) Jenis MIPS dan HIPS, karena mengandung campuran karet, mempunyai sifat yang kuat, sehingga digunakan untuk kabinet TV dan radio, badan lemari es, kontainer dan

c)

lain-lain. Jenis EPS, karena mempunyai sifat yang empuk dan mudah mengembang, banyak digunakan sebagai pembungkus/pelapis yang berupa gabus berwarna putih. Gabus ini dapat juga dipakai sebagai pelapis bagian dalam tudung kepala./helm, isolator listrili isolator pipa, kontainer penyimpanan ikan dan kontainer-kontainer lainnya.

3.2.2.5 Pengadaan Produk

Hulu "Oletin Senter' di Indonesia

1. PT. CHANDRA ASRI salah satu Perusahaan Swasta Nasional, sejak pertengahan tahun 1993 telah masuk ke Industri Petrokimia hulu, yaitu dengan membangun/ mendirikan Pusat Industri Olefin yang disebut "Industri Petrokimia Olefin Senter Chandra Asri" di Merak Jawa Barat. Pabrik Petrokimia Olefin Senter ini memanfaatkan bahan baku nafta yang didatangkan dari Kilang PERTAMINA Cilacap, semula direncanakan berproduksi pada pertengahan tahun 1996, akan tetapi karena situasi ekonomi yang tidak mendukung sampai tahun 1999 ini belum berproduksi. Kapasitas produksi direncanakan sebesar 375.000 ton ethylene/ tahun, dengan investasi US$ 1,5 milyar serta dengan hasil utamanya, sbb:

. . . . . . . .
a
a

Ethylene
Propylene

Polyethylene (PE) Polypropylene (PP) Ethylene Oxyde (EO) Mono Ethylene Glicol (MEG) Di-Ethylene Glicol (DEG) Tri Ethylene Glycol (TEG)

375.000 220.OW 300.000 180.000 100.000 125.000 12.000

ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun 600 ton/tahun

serta hasil samping (by-products), sebagai berikut: Gas Hydrogen (H2)

a a

Butadiene/Butaness Pyrolysis Gasoline

Fuel Oil (F.O)

15.000 120.000 400.000 340.000

ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun

2. Dengan berproduksinya

Industri Petrokimia hulu Olefin Senter ini, maka penyediaan bahan baku untuk sebagian besar Industri Petrokimia hilir (seperti untuk industri plastik-plastik LDPE, HDPE, PP dan PVC, serta untuk industri sabun deterjen yang menggunakan bahan baku berupa ("alpha - olefin" dan "propylene - tetramer") {iharapkan nanti kebutuhannya sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri tanpa
mengimpornya lagi.

3. Proyeksi kebutuhan dan pasok produk-produk

"olefin senter" di Dunia dan Indonesia pada akhir PELITA-IV dan PELITA-V dapat dilihat pada tabel III-3.

3.2.2.6 Pengadaan Produk

Hilir "Thermoplastik" di Indonesin.

1. Hampir seluruh kebutuhan Thermoplastik (meliputi Polyethylene (PE), Polyprophylene (PP), Polyvinylchloride (PVC), Polystyrene (PS), dan Polyvinylacetate (PAC) dalam negeri masih diimpor yang jumlahnya sejak tahun 1978 sampai dengan 1980
(dalam satuan Ton) sbb:

45

Jenis Plastik

1978
t04.7

t9'79

980 98.749 98.078 22.554


15.792
16.69'7

Polyethylene (PE)
2 J. 4.
-5.

t6

102.368 83.309 9.822 14.259 18.809 228.466

Polvpropylene (PP)

48.187
10.13
1

Polvvinvlchloride (PVC)
Polvstvrene (PS) Polyvinylacetate (PAC) Jumlah (ton/tahun)

r0.009 r3.815
186.873

251.840

Sumber: Biro Pusat Statistik, Jakarta

Data tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan impor

bahan

Thermoplastik mengalami kenaikan l5-2O 7o per tahun dari tahun 1978 s.d. tahun 1980, akan tetapi dibandingkan dengan keadaan 3 tahun belakangan ini yaitu dari tahun 1997 s.d. 1999, impor bahan Thermoplastik tersebut mengalami kenaikan yang menurun menjadi + l07o pertahun seperti terlihat pada tabel berikut:
,,1o.

Jenis komoditi

Realisasi impor (ton/tahun)

t997
I
2. 3.

1998

1999

Polvethvlene (PE) Polvoroovlene (PP) Polvvinvlchloride (PVC) Polvstvrene (PS) Polvvinvlacetate (PAC) Jumlah (ton/tahun)

49.030
1

t93.7 56 180.758 33.338 39.303 8.674

175.618
8.8

166.952 247.584
14..705 t9.7'7
1

l8

4. 5.

22.478

43.20t
409.145

46.539
495.551

455.829

Sumber: Biro Pusat Statistik. Jakalta

Semuanya di serap oleh industri-industri bahan plastik (plastik wares) yang jumlahnya sekitar 550 perusahaan.

Beberapa di antara perusahaan tersebut dalam bentuk patungan dengan perusahaan luar negeri, tetapi sebagian besar adalah perusahaan milik swasta nasional, mulai dari industri rumah tangga (yang jumlah tenaga kerja kurang dari 20 orang) sampai pada industri sedangiukuran menengah. Menurut Dit. Jen Aneka Industri, dari jumiah tersebut 175 perusahaan berada di DKI Jakarta, sebanyak 145 perusahaan di Jawa Timur, dan sisanya tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera. Jumlah perusahaan yang membuat kantong/ karung plastik dari PE dan PP sekitar 125 buah perusahaan. Kira-kira 160 perusahaan yang menghasilkan "moulded plastics", sebagian besar di antaranya dengan cara sederhana dan hanya beberapa perusahaan yang menggunakan teknologi modern antara lain seperti PT. Pioneer.
Pengadaan Produksi

2. Khusus

terdapat hanya

perusahaan memproduksi PVC yaitu:

PVC sampai dengan akhir tahun 1990 di Indonesia (2 Perusahaan Swasta Nasional) yang sudah

46

a) FT. Eastern Polymer, lokasi pabriknya di Tanjung Priuk, Jakarta dengan kapasitas
produksi 18.000 ton/tahun.

b) PT. Standar Toyo Polymer (Statomer) lokasi pabriknya di Merak, Jabar,


kapasitas produksi 36.000 ton/tahun.

dengan

Bahan baku vinylclhorida monomer (VCM) untuk kedua pabrik PVC tersebut seluruhnya masih diimpor.

3. Posisi realisasi pasok kebutuhan industri petrokimia tahun 1995-1999


III-1 dan Tabel III-2.
3.2.3 Jahtr Aromatik (Jalur Aromatik Senter)

dan perkiraan pasok kebutuhan produk industri petrokimia tahun 2000-2003 dapatdilihat pada Tabel

Senyawa aromatik adalah suatu senyawa hidrokarbon tidak jenuh yang mempunyai rangkaian ikatan atom C secara siklis berupa ikatan atom antara Co-Cs, seperti benzena, toluena, xilena, dan lain-lain, yang sangat reaktif sehingga dengan mudah bereaksi atau berpolimerisasi antara satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk produk polimer. Jalur aromatik akan menghasilkan benzena, toluena, xilena (atau BTX) sebagai

hasil utama (produk dasar) dan sikloheksana (cyclohexane atau CHX) sebagai hasil
samping dari proses reformasi (reforming) dengan bahan baku nafta atau kondensat.
3.2.3.1 Aromatik dengan Bahan Baku Nafta

Hidrokarbon aromatik (BTX) dihasilkan melalui proses "catalytic reforming"


(proses reformasi katalitik) yang berlangsung dalam reforming unit, dengan menggunakan nafta sebagai bahan baku dan serbuk platina (Pt) sebagai katalis pada suhu 450-500'C (lihat Gambar II-3 dan Gambar III-19). Reaksi-reaksi yang terjadi dalam unit reforming adalah dehidrogenasi, isomerisasi dan reaksi-reaksi lain. Tahapan reaksi yang terjadi, dapat diuraikan sebagai berikut:

1.

Reaksi pembentukan benzena (B) Reaksi ini berupa reaksi dehidrogenasi hidrokarbon sikloparafin
detridroeenasi=

3
CeHrz (sikloheksana)

o
ini

+ 3}J2
CuHu (benzena)

2.

Reaksi pembentukan toluena (T)

Reaksi

berupa isomerisasi hidrokarbon dimetil siklopentana disusul dengan

dehidrogenasi.

r-JH3

!,Lr,

..-

[.... 1 .H,

.,- z\ l-il .r,

+3H2

C5H6 (CH3)2 (dimetil siklopentana) CuH,,CH, (metil sikloheksana) CuHrCH, (toluena)

47

3. Reaksi pembentukan orto, meta dan para (o,m,p) xilena.

Reaksi

ini merupakan isomerisasi hidrokarbon trimetil siklopentana disusul dengan

dehidrogenasi.

.::Ujrtj:'d
(timetil
(dinEtil

,,i'-Q.
CHr
(m-xilena)

#.6'.,,.,
CH,

siklopeirwra) sikloheksana)

(c'xllcna)

Gxilena)

(etilbenzena)

Setelah proses reforming selesai, dan senyawa aromatik/BTX terbentuk, maka benzena, toluena dan xilena dipisahkan. Karena titik didih benzena, toluena dan xilena hampir sama (lihat Tabel-l) maka pemisahan sukar dilakukan dengan distilasi. Dengan demikian maka pemisahan dilaksanakan dengan cara ekstraksi, yaitu dengan memasukkan zat pelarut tertentu ke dalam unit ekstraksi BTX. Larutan ekstraksi yang biasa dipakai adalah "sulfolane".
HzC
HzC

CHz

("sulfolane")
CHz
S=Oz

Fraksi benzena akan keluar sebagai rafinat, sedangkan toluena dan xilena sebagai ekstrak. Dari unit ekstraksi, ekstrak disalurkan ke unit alkilasi yang menggunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai katalis. Dengan demikian akan dihasilkan toluena sebagai alkilat ringan dan (o,m,p) xilena dengan spesifikasi yang tertera dalam Tabel III-1.
Tabel III-1. Spesifikasi hidrokarbon aromatilc/BXT
Nama bahan benzena Rumus C^H^
C,HO

Berat Jenis

Titik lebur, "C


5.4

Tirik didih.'c
80,4
I r0,3

0.87 8s 0.87 95 0.88 50 0.88 50 0.88 50 0.88 60

toluena o-xilena m-xilena p-xilena etil benzena

97

-98

CoH,
COH'
COH

-28
-53
3

142 r38.9
138

C"H

135

136

r
48

Hilir Jalur Aromatik Sama halnya seperti pada jalur olefin, maka produk hilirnya yang dihasilkan melalui jalur aromatik adalah berbagai jenis produk resin yang masih harus
3.2.3.2 Produk

diproses/diolah lebih lanjut untuk menghasilkan produk jadi yang kualitasnya sudah lebih trnggi dari produk semula, yaitu: i. Yang berasal dari benzena antara lain adalah: melaic anhydride, polistirena, deterjen/surfaktan, fenol, akrilonitril, sikloheksana, kloro-benzena, dan lain-lain. 2. Yang berasal dari toluena, antara lain ialah: tolilen diisosianat dan poliuretan. 3. Yang berasal dari: o,m,p xilena, antara lain ialah: anhidrida ftalat (phtallic anhydride atau PA), asam tereftalat (terephthalic acid atau TPA), dimetil tereftalat (dimethyl terephthalate atau DMT), polietilen tereftalat (polyethylene terephthalate atau PET) dan asam isoftalat (isophthalic acid atau IPA).
3.2.3.3 Contoh-Contoh Reaksi untuk Mendapatkan Produk
1.

Hilir

Anhidrida Melaik (melaic anhydride) Melalui reaksi oksidasi atas benzena yang berlangsung pada suhu 425"C dan bantuan katalis campuran antara V2O5 dan MoO: akan dihasilkan anhidrida melaik.

Ofufi @enzena)
lainnya.

[Q:".H2o+co2
(anhidridamelaik)

Selanjutnya, anhidrida melaik ini dapat digunakan untuk pembuatan poliester tidak jenuh, asam fumarat (fumaric acid), pestisida, resin alkida (alkyd resin) dan bahan pelarut

2. Deterjen Perbedaan pengertian antara bahan pencuci deterjen (surfaktan) dan bahan pencuci sabun biasa (soap), adalah sebagai berikut:

a) Deterjen adalah suatu zat atau bahan yang mengandung unsur aktif pembersih
permukaan yang disebut surfaktan sebagai unsur utamanya. yang dibuat secara sintetik

b)

dari fraksi-fraksi minyak bumi atau hidrokarbon. Sabun biasa (soap): dibuat dari minyak tumbuh-tumbuhan atau minyak hewan dan tidak mengandung surfaktan sebagai unsur aktif pembersih permukaan.
Rumus umum deterjen adalah:

R - SO3Na.
Dala.yr molekul deterjen ada 2 (dua) gugusan yang saling tarik-menarik antara yang satu dengan yang lain. r'aitu:

49

a) Gugus R- (gugus alkil) yang merupakan bagian non polar (non-ionik) yang bersifat hidrofob dan berfungsi menarik kotoran yang melekat pada kain cucian atau pada kulit
badan kita.

b)

Gugus -SO3, merupakan bagian polar (anionik/kationik) yang bersifat hidrofil yang berfungsi menarik molekul air.

Berdasarkan gugus R- yang terdapat dalam deterjen, maka terdapat 2 jenis, yaitu deterjen jenis keras dan deterjenjenis lunak.

a) Deterjen jenis keras memiliki gugus R- antara


yang bercabang atau melingkar.

Crz

Cp dengan ikatan rantai karbon

Contoh:

R=C12H25{

Gugus ini sukar mengalami degradasi atau sukar dihancurkan oleh mikroba yang terdapat di dalam air atau di dalam tanah, sehingga deterjen jenis keras ini dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Tahap-tahap reaksi pembuatannya adalah sebagai berikut:

Tahap-l:
CrzHza

Reaksi klorinasi terhadap kerosin:

(kerosin) ff
Tahap-Z:

Clz

sinar
I

CrzHzsCI + HCI tLtoro aoaeUnul

Hasil tahap-l direaksikan dengan benzena (CoHo) dengan penambahan katalis AICI::

CI2H25CI +

C6H6

---^+ kat 'lt

C12H25-C6H,
(alkil benzena)

+ HCI

Tahap-3:

Reaksi sulfonasi dengan H2SO4:

Cr2H25-C6H, +

HrSOo
O3H+NAOH

CI2H2'-C6H4-SO3H + HrO

Tahap-4:
C 12}i.21-C

Netralisasi dengan NaOH:

6Ha-S

---)

C 1 2H25 -C6Ha-S

O3Na + HrO

(natrium-alkil benzen sulfonat)

Surfaktan yang dihasilkan dengan reaksi-reaksi pembentukan di atas yaitu "Alk7l benzene sulfonat (ABS) adalah termasuk deterjen jenis keras. Dan lebih dari 90Q surfaktan dewasa ini yang digunakan di Indonesia untuk pembuatan deterjen adalal

50

Alkyl benzene sulfanat dengan rantai/ikatan karbon bercabang (atau yang disebut dodecyl benzene sulfanat) dengan struktur molekulnya mempl.ryai ikatan karbon, sebagai berikut:

tl c--c--c--c__c__c__c
SOr - Na*

CC

I
-C--

ikatan atom C rantai

bercabangdenganrumus molekul:
I

{/
ctzHzs

Sor-Na*

"Surfaktan" ini- berasar dari "hydro karbon rantai bercabang,, [dengan berat molekul yang lebih tinggil", jika di dalam air atau di dalam ranah sisa limbahnya sukar mengalami proses degradasi/ sukar dihancurkan oleh bakteri, lseiinggal surfaktan jenis keras ini dapat menimbulkan dampalc/permasalahan lingkunganf Maka untuk mengatasilmengurangi dampak/p".murujahun lingkungai ters"ebut ai atas lebih baik dibuat/dihasilkan "surfaktanlenis lunak", yuitu dlngan ,n"-itit bahan baku hydrokarbon yang bersumber dari ..hydro karton yuri-"o,frryui rantai karbon, pada gugus alkyl "merupakan raniai rurus: [yaitu hidro karbon dengan berat molekul yang rebih rendahf seperti: normar decane (croHzz), d"""n"
(CroHzo), decene (CroHzo) dan decanol (CrgH2rOH).

b) Deterjen jenis lunak: memiliki gugus R- antara cz-Cro (senyawa orefin) dengan
atau C1sH26) dan dekanol

ikatan rantai karbon yang lurus seperti normal dekana (decane atau c1sH22), dekena (decene

menyebabkan pencemaran lingkungan. Reaksi pembuatannya dan tahapan prosesnya adalah sebagai terlihat pada Gambar

Karena ikatan atom c rantai lurus ini mudah dapat terpisah dan dihancurkan oleh mikroba yang terdapat di dalam air atau tanah, maka deterjen jenis Iunak ini tidak

(C,ottlOtt)

20.

III-

Tahap-1: Reaksi klorinasi terhadap olefin (decane):

C,oH.. + CL --C,H.rCI + HCI ^> (dekana) 'lt (monokloro dekana)

i dengan benzena dengan penambahan katalis (AICI3) croH2lCI + CuHu kat' , c,oHr, _ coH, + HCI
(dekana benzen)

T ahap -2: Reaks

51

Tahap-3: Reaksi sulfonasi dengan H2SOa:

C,oHr, - CuH, +

HrSOo ---

\-

C,oHz, - CeI{o -

SO3H + H2O

(dekana benzen sulfonat)

Tahap4: Reaksi netralisasi dengan NaOH


C,oHr, - CuH* - SO3H + NaOH
______=.

C,rHr, - CuHo - SOrNa + HrO


(natrium dekana benzen sulfonat)

Natrium dekana benzen sulfonat merupakan deterjen jenis lunak berbentuk bubuk yang struktur molekulnya dapat digambarkan sebagai berikut:
ikatan atom C rantai lunrs dengan rumus molekul, sbb:
I I I

-c--c--c--c--c- -c-C

-)

croHzrOso3'Na*
(2.1) Ada beberapa sifat atau ciri khas yang menjadi salah satu faktor "keunggulandeterjen" jika dibanding dengan bahan pembersih lainnya/dengan sabun biasa, yaitu: (1) Resisten/tahan terhadap air keras, terhadap asam dan busa/alkalis, sedang sabun biasa tidak (2) Mudah larut dalam air dengan menimbulkan busa yang banyak, sedang sabun biasa tidak (3) Mudah dan sanggup membuat pembersihan yang cepat dan mencuci sendiri didalam air bersih, sedangkan sabun biasa tidak dapat (4) Tidak menimbulkan pengaruh jelek dan tidak merusak pada pakaian yang dicuci

(2.2)

Sedangkan karakteristik/ciri khas pemakaian berbagai jenis "Surfaktan" sebagai "deterjen" dapat ditunjukkan dari tabel berikut ini:

52

Pen ggunaan untrt</kualihsnya

No.

Nana/Jenis Deterjen

Sfuktur Formula

Ala2 Dapur
Linear Alkyl Benzene
1

Bahan Tekstil

Shanpoo

Sufonab

R-CoHs-SOsNa

Sangat bagus

Bagus

Kurang

AlkylSufonab

R-0-SOsNa R-CH=CH-[CH2]n-

Bagus

Sangat Bagus Sangat Bagus

O - Olefn Sulbnab

CHz - S0sNa

Bagus

Sangat Bagus

Bagus

R=Crs-Crg
4

AlkylSulbnate

R-0-SOsNa
R=Cr+-Crz
Bagus Bagus Bagus

Poly Oxyetrylene

R-0-[CzH+O]n-H
R=Crz-Cr+
R-CoH+-SOsNa
Bagus Bagus Kurang

Al$lEher

Nafium Dekana
Benzene Sulfonate

R=Cz-Cro

Sangat bagus

Sangat Bagus

Sangat Bagus

3. Fenol (Phenol)

Benzena merupakan bahan dasar pembuatan fenol yang selanjutnya dengan aseton akan menghasilkan bisfenol-A (bisphenol-A). Bisfenol-A ini dapat digunakan sebagai bahan pembuatan "polycarbonate" dan "epoxy resin" atau "phenolic resin". Epoxy reiin dalam penggunaan sehari-hari disebut sebagai lem-plastik. Reaksi dan tahap proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

Tahap-l: Benzen direaksikan dengan HCI dalam udara panas serta bantuan katalis
campuran Cu dan Fe pada suhu 200oC:

cut
O+Hcr+ua,.uh'
Tahap-Z: Hasil tahapl direaksikan dengan dengan bantuan katalis SiOr:

O-cI

* H,o

air dengan dipanaskan sampai suhu 500.C

53

-o*,,offi'O-o'.,",
Tahap-3: Mereaksikan

hasil tahap-2 dengan aceton pada suhu 50oC dengan bantuan

katalis HCI untuk menghasilkan bisfenol-A:

oH+

o
cHr -lb

-.rr-$-,

(aseton)

(bisfe nol-A)

ib
cHr

oH

+H20

4. Sikloheksana (Cyclohexane atau C6H12) Melalui reaksi hidrogenasi kataltik terhadap benzen akan dihasilkan sikloheksana, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan adipic acid yang merupakan bahan dasar pembuatan serat Nilon 66 dan kaprolaktam yang merupakan
bahan dasar dalam pembuatan serat Nilon-6 atau "polyamide fibers"' Reaksi dan tahap proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

Tahap-l:

+3

H,---+ i: 2000C
p:34

kat.PI.AI

atn

(sikloheksana

o
o

Tahap-Z: Berupa reaksi oksidasi langsung (direct oxydation process) terhadap


sikloheksana dengan katalis tembaga (Cu) untuk menghasilkan sikloheksanon (cyclohexanone).

sikloheksana)

-+ *Oz

kat

(si kloheksanon)

+ HzO

Tahap-3: Sikloheksanon yang terbentuk kemudian direaksikan dengan cara "oximation" yang menggunakan campuran amonia dan hidroksilamin sulfat (hydroxylamine sulfate) sebagai pereaksi untuk menghasilkan oksim siklo heksana (cyclo hexane oxime) yang selanjutnya dapat diproses lagi dengan
penambahan katalis H2SO4 untuk menghasilkan kaprolaktam.

54

,4.
(,

+NH3+(NH2oH)2

+H2Soa# sulfat)
f'' ''t H.t "1" nrF i*
I

(,

.4.., +(NHn),so4 +H2O

(sikloheksanon) (hidroksilamin

(olcim sikloheksana)

N-oH
4
H2SO4

(oksim siklo

heksana)

urb-c:o
(kaprolaktam)

Selanjutnya kaprolaktam dimanfaatkan dalam pembuatan serat sintetik nilon. Ada beberapa cara atau jalur proses yang dipergunakan untuk menghasilkan seratserat nilon, antara lain adalah "Du PonVAllied Process (USA)", "Snia Viscosa Process" (Italia), dan "Toyo Rayon Process" (Jepang). Jalur/proses yang digunakan tergantung pada bahan baku awal untuk menghasilkan kaprolaktam yang dipakai sebagai dasar untuk menghasilkan produk akhir serat-serat

nilon. Bahan baku awal yang lazim dipakai untuk menghasilkan kaprolaktam
heksanon dan oksim.

dapat

berupa benzena, fenol, sikloheksana, sikloheksanon, toluena, asam benzoat, nitrosiklo-

Untuk menghasilkan serat nilon, tinggal memilih penggunaan proses mana yang
akan dipakai:

a)

Untuk menghasilkan nilon-6, dilakukan reaksi polimerisasi dengan "spun" yang


kontinyu sampai terjadi serat-serat, sebagai berikut:

,"t l"
- ,,'l^ Y n,rP
HrC-C=O
ftaprolaktam)
I

H,C-CH,

Polimerisasit

l-s
L-,u

tt*'u

(nilon-6)

?l 1,

Karena mempunyai daya tahan terhadap goresan maka nilon-6 banyak dipergunakan untuk membuat perlengkapan otomotif, payung penerjun udara dan secara ekslusif digunakan sebagai "safety belts" dan penggunaan lainnya seperti sebagai bahan kebaya, pakaian dalam dan stockings (kaus kaki).

55

b)

Dalam proses pembuatan nilon-66 melalui reaksi polimerisasi, polimer yang dihasilkan dipadatkan terlebih dulu. Caranya adalah polimernya diuapkan dengan uap air, kemudian dipotong-potong menjadi bentuk chips lalu dipanaskan lagi di dalam "net-spinning", dilewatkan melalui filter (saringan) dan kemudian dilewatkan ke "spinnerets" untuk dijadikan bentuk filament (benang) yang disebut polyamide
atau nilon-66, sebagai berikut:

" xf-f

:fl^
H2C-C:O

fiffir,[,,,,-l*, ffi*'r*"*I,

t",

(kaprolaktam)

(poliarnida

/ nilon{6)

Karena mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap minyak, maka nilon-66 ini dalam industri banyak dipergunakan untuk membuat saringan atau filter, conveyors, tali-temali dan untuk penggunaan lainnya seperti untuk pembuatan berbagai bahan tekstil, benang ban, jala ikan, dsb.
5. Toluena di-isosianat (toluene di-isocyanate atau TDI) TDI dapat dibuat melaluijalur toluena dengan tahapan proses sebagai berikut:

Tahap-l: Reaksi nitrasi

terhadap toluena dengan bantuan katalis H2SO4, dengan hasil

reaksi sebagai berikut:

d.^*oo''
9H,

eiJ"*o'*x}*o'
(807o)
(2,6 dinitrotoluem) QV/o)

(2,4dinitro toluena)

Tahap-2: Terhadap hasil reaksi tahap-l kemudian dilakukan hidrogenasi dengan


bantuan katalis (AICI3), sebagai berikut:

CH,
i:z
oo

QHr
rc-"'[3:*ffi1i,,ffi)a

Q;"r',-okQJ'r:"o*'
(2,6 diunine torucna)

lr,

Tahap-3: Hasil reaksi tahap-Z di atas, kemudian direaksikan seciua fosgenase pada suhu 200'C dengan penambahan pereaksi campuran antara COCI2 dan dichlorobenzene (DCB) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

56

V*,, *

x"H.H.NAFNH.

QHr

(/%# G;".o".x!*'o
(campuranTDI)

QHr

TDI dapat dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan busa poliuretan (polyurethane foams) yang fleksibel (seperti karet), karena itu banyak dipakai untuk bahan bantalan, seperti busa mebel, busajok mobil, busajok kapal terbang, sebagai bahan pelapis yang empuk, bahan isolasi listrik, bahan penyimpanan/kontainer dan bahan
perekat/"adhesives".

Ikatan -NCO pada struktur campuran TDI di atas disebut sebagai ikatan isosianat
atau "isocyanate group".

6. Anhidrida Ftalat (phtalic anhydride atau PA)

Bahan baku pembuatan PA adalah o-Xilena. Pertama-tama dilakukan reaksi oksidasi atas o-Xilena dalam fase cair (lihat Gambar III-21) untuk menghasilkan PA.

Hasil yang terbentuk kemudian diuapkan dan terakhir rektifikasi/dimurnikan sampai didapat kadar PA yang setinggi-tingginya (maksimum 99,997o) yang berupa kondensat.
Berikut adalah reaksinya.

CH,

CHr

uap

53 c:o
(anhidrida ftala0

PA ini dapat dipergunakan sebagai bahan pelarut atau sebagai bahan baku untuk industri tekstil, serat sintetik, plastik dan zat pewarna.
7. Asam Isoftalat (isophtalic acid atau IPA) Untuk pembentukan IPA dipergunakan bahan baku m-xilena. Pada tahun 1956 di

California/UsA, IPA untuk pertama kali diproduksi dengan menggunakan proses Chevron Chemical Company, yaitu dengan mengoksidasikan m-xilena dengan sulfur (S) di dalam "sistem aqua.NH3" pada suhu 250-300"C dan tekanan sebesar 1000-2000 psig, sehingga menghasilkan isoftalamida (isophthalamide). Hasilnya kemudian direaksikan dengan "aqua H2SO," sehingga menghasilkan asam isoftalat (isophtalic acid atau IPA)
dan akhirnya disaring/dijernihkan.

Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

57

Tahap-1:

tA ' ocVf 6.,,,


aq.NHs

O=CH

r-25G3

o0

-oNH,

(isofralamida) Tahap-2:

o-cH

O = C-Oaq.H2SOo

o*,
o
(isoftalamida) Penggunaan IPA kapal-kapal angkutan. terephthalate atau DMT)

d,.,
(asarn isoftalat)

ini adalah untuk menghasilkan poliester tidak jenuh yang dapat "thermoset menghasilkan resin". Poliester tidak jenuh dan poliester IPA dapat juga digunakan pada pembuatan plastik fiberglass untuk tempat penyimpanan BBM pada 8. Asam Tereftalat (terephthalic acid atau TPA) dan dimetil tereftalat (dimethyl
Bahan baku yang dipergunakan untuk membuat TPA/DMT adalah p-xilena. Selanjutnya TPA/DMT bersama etilen glikol (EG) merupakan bahan baku utama untuk pembuatan serat poliester. Dalam industri tekstil, serat poliester dapat digunakan untuk menggantikan serat alam terutama kapas, dalam, pembuatan bahan tekstil. Adapun proses pembentukan serat poliester dan tahapan prosesnya (lihat Gambar lIJ-22) adalah sebagai berikut:

Tahap-l:

Reaksi oksidasi dalam fase cair terhadap p-xilena untuk menghasilkan TPA.

(o)

oksidasi

q
cooH
(lPA)

(p.xilena)

r
58

Tahap-Z: Kemudian reaksi esterifikasi terhadap TPA untuk menghasilkan DMT:


COOH

0
,

(cHr oH)
esterifikasi

cooH
crPA)

d*'
coocH3
(DMT)

Tahap-3: Akhirnya DMT direaksikan dengan cara "kopolimerisasi" untuk menghasilkan


kopolimer serat poliester.

f i,,**e
(DMT)

.,"-"'-"'^T'l t- r)u-zu(rL" dE:I".",..,,o_, \,1I v coocH2cH2oH cooH3 L_a = o


,

[(5,,"t'l
(serar poliester)

(EC)

_1"

9. Polietilen Tereftalat (polyethylene terephthalate atau PET)

penggunaanya sangat banyak dalam industri film, tekstil, dan sebagainya. Reaksi pembentukannya adalah sama seperti di atas, yaitu dengan mereaksikan DMT dengan EG pada suhu +150-200"C sehingga menghasilkan PET yang disebut juga sebagai "bis (hydroxyethyl) terephthalate":
kemasan plastik seperti botol plastik untuk kemasan air minum, untuk kertas

Bahan petrokimia resin PET

ini

coOCH3 I
COOCH3

CooCH.cH,oH

<)'"ffi*ffi d-'i',.*",
(DMr)
COOCH2CH2OH

eEr)

3.2.3.4 Pengadaan Produk

Hulu "Aromatik Senter" di Indonesin

Dibanding dengan pengembangan Industri Petrokimia Olefin Senter di dalam Negeri, Industri Petrokimia Aromatik Senter sudah lebih dahulu dikembangkan, yang ditandai dengan berdirinya Pabrik Petrokimia Aromatik Senter PERTAMINA di Cilacap yang telah yang telah berproduksi sejak Agustus 1990, dengan memanfaatkan bahan baku "nafta" dari hasil kilang BBM setempat. Dengan kehadiran Industri Pusat Aromatik ini pulalah yang turut mendorong perkembangan industri antara dan industri hilir aromatik di dalam negeri dengan perkembangan keadaannya di Indonesia sebagai berikut:

59

1.

Pada bulan Agustus 1990 telah dibangun dan telah beroperasi. Pabrik Petrokimia Aromatik Senter di Cilacap dengan investasi US$ 0,4 Milyar, serta dengan produk utama (dengan kapasitas produksi besar 270.000 ton para-xylene/tahun dan 123.000 ton benzene/tahun. Sasaran pemasaran produk Aromatik Senter ini masih terikat

perjanjian dengan Chevron (kontraktor dari AS) yaitu + 507o produknya untuk pasaran ekspor dan sisanya untuk menutupi konsumsi di dalam negeri, sehingga sampai sekarang impor kedua produk Aromatik Senter tersebut (para-xylene dan benzene) dari tahun ke tahun melonjak terus dan tetap tinggi, misalnya; (1) impor para-xylene pada tahun 1990 sebesar 81.779 ton meningkat menjadi 115.575 ton pada 1994; (2) impor benzene pada tahun 1990 sebesat 33.296 ton menjadi 40.572 ton pada tahun 1994. Hal ini berarti, meskipun Pabrik Aromatik Senter ini sudah berproduksi dengan kapasitas penuh, belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku para-xylene dan benzene di dalam negeri.
Pada bulan

2.

Juli 1995 oleh Pemerintah./Ketua BKPM telah meletakkan batu pertama dimulainya Proyek PT..HUMPUS Aromatik Senter di Lhokseumawe-Aceh Utara dengan investasi sebesar US$ 1,275 Milyar. Proyek Humpus Aromatik Senter ini berstatus Penanaman Modal Asing (PMA) dan akan memanfaatkan bahan baku "kondesat" sebesar 70.000 barels/hari yang didatangkan dari Kilang LNG Arun
setempat.

Pabrik Petrokimia Humpus Aromatik Senter ini semula direncakan mulai berproduksi pada awal tahun 1997, akan tetapi karena situasi ekonomi yang tidak mendukung sampai tahun 1999 ini belum berproduksi, dengan rencana kapasitas produksi sebagai berikut:

a) Produksi

utarnanya: Benzene

Toluena

Meta-xylene Ortho-xylene
Cyclohexane Heavy aromatic Refinate
Gas Oil

321.000 20.000 217.000 40.000 180.000

ton/tahun

tor/tahun
ton/tahun ton/tahun ton/tahun

b) Hasil samping:

676.W ton/tahun LSR 250.000 ton/tahun Fuel Gas c) Pemasaran produk-produknya: Pemasaran produk-produknya diutamakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan selebihnya untuk diekspor terutama ke negara-negara Asean.
3.
Proyek Aromatik Tuban:

. -

7.700 tor/tahun 286.000 ton/tahun 719.000 ton/tahun

(1)

Menurut informasi dari Kantor Ditjen Migas (sebagai sumber data) menjelaskan bahwa Proyek Aromatik Tuban adalah Proyek Petrokimia yang dibangun oleh

60

Konsorsium Asing dan Indonesia, yang membutuhkan Modal Investasi sebesar us$ 1 Miliard. Pihak Indonesia diwakili oleh PT. Tirtamas Majutama (L\vo), pihak Asing diwakili oleh Trans Pasifik Petrochemical LtdiBritish Virgin Island (607o, Siam Cement Group Thailand (20Vo), Nissho Iwai-Singapore (5Vo) dan
Itochu-Jepang (5Vo).

(2) Konstruksi Proyek Aromatik ruban ini pada awal tahun 1998 sempat berhenti pada saat jumlah dana yang dikucurkan telah melampaui uS$ 650 Juta dan pada waktu itu juga sebahagian peralatan untuk unit konstruksi BBM dan Aromatik telah berada di lokasi Proyek dengan kemajuan konstruksi 657o. (3) Semula proyek ini dijadwalkan dilanjutkan pada awal September 2N2, menyusul tuntasnya restrukturisasi utang grup Tirtamas dan adanya kesediaan Pertamina menyuntikkan modal Us$ 400 Juta berupa pemasukan bahan baku "kondesat" (senilai harga penjualan Pertamina berupa "propylene" sebesar 2,7 luta ton per tahun kepada pihak lain). Namun kemudian proyek ini baru dapat dilanjutkan lagi pada bulan Maret 20[J3, dengan rencana suplai bahan baku dan kapasitas produksi sebagai berikut: (a) Lokasi Proyek Tanjung Awar-awar Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban,
Jatim.

(b)

Bahan

Baku:

Kondensat total sebesar 98.000 bbl/hari (yang disuplai dari Pertamina sebesar 66.000 bbUhari dengan harga ICP dan sebanyak 321.000 bbl/hari berasal dari import

(c)Produksi utamanya:

(d)

(e)

Hasil samping (berupa produksi BBM): - Reformat = 358.000 ton/tahun - Kesosine = 637.000 ton/tahun - Diesel Oil = 164.000 ton/tahun
Pemasaranproduk-produknya:

Senter : - Ethylene = - Propylene = 2. Aromatic Senter : - P.xylene = - Benzene = - Toluene = - O-xylene =


1. Olefin

700.000 382.000 500.000 341.000 75.000 80.000

ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun ton/tahun

Produk-produk Petrokimia Olefin Senter dan Aromatic Senternya, terutama akan dipasarkan didalam negeri untuk memperoleh nilai tambah yang lebih besar (karena produk Petrokimia yang dihasilkan dari hasil pengolahan migas berupa "kondesat tersebut" adalah produk Olefin (ethylene dan propylene) yang merupakan bahan baku untuk industri plastik, industri sandang/sintetis polyester, dll. didalam negeri) dan sebahagiaan kalau ada kelebihan baru dieksport, sedangkan hasil sampingnya berupa BBM dipasarkan di dalam
negeri.

61

3.2.3.5 Pengodaan Produk

Hilir

"Serat-serat Sintetis dan Resim-Resim Sintetisu di

Indonesia:

1.

PengadaanProdukSerat Sintetis: a) Sekitar 30Vo dari kebutuhan serat sintetis pada tahun 1980-an masih diimpor, yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa selama 3 tahun terakhir pada tahun 1980-an terdapat kenaikan impornya sekitar ll%oltahun yang jumlahnya (dalam ton) dapat dilihat sebagai berikut:
Jenis serat vane diimDor 1979 10.350 1980

l98r
5.525 12.050
598

I
2.

Filament Polvester
Staole Polvester

9.969

2.291
4.5',13

I1.358 r.580

J. 4.

Filament Nvlon

Acrylics
Jumlah (ton)

4.306 22.s20

2S92
25.899

11.61I 29.784

Sumber: Biro Pusat Statistik, Jakarta

b) Realisasi impor serat tekstil secara keseluruhan dari tahun 1995-1999 dapat

c) hoduksi

dilihat pada Tabel Itr-3. serat sintetis dalam negeri dimulai pada tahun 1973 oleh PT Indonesia Toray Synthetics (ITS) dengan membuat nylon dengan kapasitas produksi 2.200 ton per-tahun. Sejak itu produksi serat sintetis dalam negeri berkembang dengan cepat karena beberapa pabrik menyusul dibangun. Pada tahun 1977 produksi serat sintetis telah meningkat menjadi 61.971ton, tahun 1979 menjadi74.762 ton dan pads tahun 1981 menjadi 1L4.595 ton, yang berarti peningkatan produksi rata-rata sekitar l7%o per-tahun dengan kenaikan produksi 3 tahun terakhir (dalam ton) sebagai berikut:
Jenis serat vans dioroduksi t
2. 3.

1979
r

1980

1981

Filament PolYester
Staole Polvester

5.361

9.969
11.358 10.159

48.065
55.771 10.759

50.270
9.13
1

Filament Nylon Jurnlah (ton)

74.t31

93.334

114.595

Sumber: Dit. Jen. Aneka, Jakarta

d) Produsen serat Sintetis dan kapasitas produksi dalam negeri tahun 1982 (dalam
ton/hari) sertajenis serat sintetis yang diproduksi, sebagai berikut:

62

No.

Perusahaan/Produsen

Polyester Filament

Polyester
Staple 40

Nylon
Filament
20

PT. Indonesia Toray Sinthetics OTS)

)
3.

PT. Indonesia Asahi Chemical Industries ONDACI)

l3
60 60

PT. Teijin Indonesia Fiber Corporation


(TIFICO) PT. Kuraray Manunggal Fiber Industries (KUMA FIBER)
PT. Texmaco Taman Sintetics PT. Yasinta

4.

4t
30 60 30 60
180

5.

6
7.
8.

PT. Sulinda
PT. Tri Remooa Junrlah (ton)

20t

33

Sumber: Dit. Jen. Aneka Industri, Jakarta

Dewasa ini industri yang menggunakan DMT untuk membuat polyester diarahkan agar segera menggunakan "pure TPA", agar mempunyai kaitan yang

lebih erat dengan industri hulu Aromatik Center PERTAMINA tersebut; PT. Teijin Indonesia Fiber Corporation (TIFICO) telah merencanakan untuk menggunakan pure TPA pada tahun 1983 dengan kebutuhan sebesar 43.000 ton TPA per-tahun
e) Realisasi produksi dan kapasitas produksi industri tekstil dalan negeri tahun
1995-1999 dapat dilihat pada Tabel III-4.
2.

Pengadaan Produk Resin Sintetis:

a) Pada tahun 1993 oleh PT Bakrie Brothers (BB) salah satu "holding company" dalam kelompok Perusahaan Swasta Nasional BAKRIE, berpatungan dengan Perusahaan Jepang Mitsubishi Kasei Corporation (MKC), bergabung dengan nama perusahaan patungannya PT. Balcrie Kasei Corporation (BKC), telah membangun Pabrik PTA (purefied terepalic acid) di Merak Jawa Barat, dengan total kapasitas produksi sebesar 600.000 ton PT.A per-tahun, serta dengan investasi sebesar US$ 540 juta. Pabrik PTA ini memanfaatkan bahan baku paraxylene yang didatangkan dari kilang PERTAMINA dengan sasaran pemasaran
produksinya adalah untuk menutupi kebutuhan serat-serat polyester untuk tekstil di dalam negeri dan sebagian lagi dimanfaatkan untuk bahan baku PET resin (polyethylene teraphthalate resin), yaitu untuk pembuatan botol-botol kemasan plastik, disebabkan situasi ekonomi tidak mendukung sampai tahun 1999 ini Pabrik BKC tersebut belum berproduksi. b) Pada pertengahan tahun 1993, juga oleh perusahaan patun PT. Bakrie Kasei

Corporation (BKC) merencanakan akan membangun pabrik PET resin (polyethylene teraphthalate resin). Lokasi Pabrik PET resin ini di Merak-Jawa

63

Barat dengan memanfaatkan bahan baku PTA dari pabrik/industri hulunya (dari Pabrik PTA-Bakrie Kasei Corporation) Kapasitas produksi sebesar 45.000 ton PET resin/tahun dengan Pembangunan Pabrik PET resin ini sudah dimulai pada tahun 1995 dan merupakan antisipasi dari keperluan resin PET dalam negeri yang

kebutuhannya meningkat setiap tahun, seiring dengan peningkatan dan pembangunan industri kemasan plastik di Indonesia dan di Asia Tenggara akhirakhir ini. Oleh karena itu, dari kapasitas produksi sebesar 45.000 ton resin PET/tahun tersebut, pemasarannya nantinya + 65Vo untuk memenuhi kebutuhan kemasan plastik (botol-botol kemasan plastik) di dalam negeri dan 35Vo lagi untuk di ekspor terutama ke negara-negara ASEAN. c) Sedangkan Pabrik Bakrie Dia Foil (BDF) yang akan memproduksi PET Film pada Maret 1996 dengan kapasitas sebesar 45.000 ton P.ET film/tahun dan investasi sebesar US$ 36,4 juta. Produksi PET Film ini akan dipergunakan memenuhi kebutuhan di dalam negeri untuk memproduksi "magnetik film", "tape", dan "pita komputer". PET Film yang diproduksi oleh BDF ini menggunakan teknologi DHC (=Diafoil Noechst Co. Ltd') Jerman, akan tetapi karena situasi ekonomi tidak mendukung sampai tahun 1999 ini Pabrik BDF

d)

tersebut belum berproduksi. Juga sejak pertengahan tahun 1993 Pemerintah cq. Badan Koordinasi Penanaman Modal BKPM) telah memberikan rjin usaha kepada PT Unggul Indah Corporation GIIC) untuk membangun "Pabrik Alkyl benzene" (Alkyl ben zene yaitu bahan baku untuk pembuatan sabun deterjen) di Merak-Jawa Barat, dengan kapasitas produksi sebesar 110.000 ton Alkyl benzeneltahun. Akan tetapi sampai pertengahan tahun 1999 rencana pembangunan Pabrik Alkyl benzene tersebut belum terlaksana, karena situasi ekonomi di dalam negeri tidak mendukung.

J.

Posisi realisasi pasok kebutuhan industri petrokimia (termasuk produk serat-serat sintesis) tahun 1995-1999 dan perkiraan pasok kebutuhan produk industri petrokimia tahun 2000-2003 dapat dilihat pada Tabel Itr-l dan Tabel III-2.

r'

::
11;;,,:::..

Tabel

III.I.
1996
1997 1998

Posisi Realisasi Pasok-Kebutuhan Industri Petrokimia Tahun 1995-1999 dan Perkiraan Pasok-Kebutuhan Produk Industri Petrokimia Tahun 2000-2003. (unit: ton/tahun)
1999 2000 2001

No.

JENTS INDUSTRI

1995

2002

2003

PETROKIMIA HULU

I
520.000 382.000
198.530

ETHYLENE
520.000 465.000 205.307 520.000 423.000 434.506
18.840 23

Kapasitas

520.000

Produksi

189.000

Impor 39.0r0
802.103 595.907

520.000 515.000 545.000 t.123.977


-663.997 88

520.000 460.000 664.000

s20.000 515.000 671.100


28

520.000 508.000 333.063 38.960

74.400
-130.907
89

520.000 515.000 702.000 0

Ekspor Demand 541.420 -159.420 -294.103


98

t.185.972
-670.972
99

Balance 36 73

354.809 53.500 490.309 -301.309 838.s66 -415.566

Utilitas Kapasitas (7o) 5r0.000


374.000
139.000 150.000 1.437

8l
s30.000 382.000 530.000 482.000

28 1.o59.972 -544.9'.12 99

r.217.000 -702.000
99

2.

PROPYLENE
530.000 472.040
148.000 0

Kapasitas

510.000

Produksi

530.000 512.000
128.000

530.000 512.000
158.000

o\

5
0 640.000

Impor
522.563
-

147.000 135.000

Ekspor Demand
-58. 80 70

510.000 408.000 58.000 1.829 464.171

l18.000
600.000
-1 18.000

Balance 29

19.921 262.079 -115.079

l7l

510.000 359.000 98.000 r9.900 437.100 -78.100 0 521.000 -139.000


72

0 620.000 -148.000

0 570.000 -158.000

Utilitas Kapasitas (7o)


0 93.361

148.563 73

9t
175.000

89

128.000 97

97

TOLUENE
0 0 0 0
49. I 89

Kapasitas

t75.000 113.750
199 0

Produksi

r3I.250
0 0

175.000 148.750

175.000

Impor
0 93.361
-93.361

0 0 0 49.189
-49. r 89

r75.000 0

0
113.949 -199 ERR
65

Ekspor Demand ERR

t31.250
0
75

148.750

Balance

0
85

r75.000 0
100

Utilitas Kapasitas (7o)

0 92.253 0 92.263 -92.263 ERR

0 0 95.593 0 95.593 -9s.593 ERR

0 0 87.022 0 87.022 -87.022 ERR

Tabel

III-1. (lanjutan)
l99s
1996
1998 0

No. 0 0
0 0

JENIS INDUSTRI
1999 2001

t997
0 0 80.000 40.000
150.350

2000 80.000 44.000

2002

2003

4.

ORTHO XYLENE 0 88.244


0 0 0 r 8.950

Kapasitas

Produksi

80.000 50.000

Impor
0
13

l3
48.562
0

216.t50
33.600 226.550
-182.5.50 55

29t.370
35.280
3 16.090

Ekspor 48.562
-48.562 -88.244 18.950 18.950

32.000

88.244 ERR ERR

Demand Balance -13

-256.090
75

Utilitas Kapasitas (7o)


270.OOO 2'.70.000

0 0 0 0 ERR

ERR

ERR

0 0 65.463 0 65.463 -65.463 ERR


168.350 - 128.350 50

5.

P-XELENE
229.200 270.000 288.200 270.000 303.710

Kapasitas

1.250.000

1.250.000

Produksi

810.000
1.198.540

994.500

1.250.000 1.021.480

Impor
0 4'7'7.606

270.000 233.700 207.165

8l 1.398
0
1.099.598 -8 r 1.398
10'7

t.141.470
0 1 .445. 1 80

l.078.690
348.080 283.500 t.'725.040
-9 l 5.040

1.309.

0l
112.470

Ekspor '/68.131 -538.931


85 88

270.000 211.900 26s.'106 0


538.931 0

o Ul
t.725.r to
-730.610
-

2.2t8.020
r.196.540 112
65 80 82

Demand Balance

440.865 -207.165 -265.706


78 87

238.000 706.324 0 944.324 -706.324

r.141.470

Utilitas Kapasitas (7o)


123.000 123.000

6.

BENZENE
123.000

Kapasitas

1.173.000

Produksi

96.900
165.',?65

437.000 423.000
104.381

523.000 452.650
65.72'7

997.050

1.523.000 1.446.850

Impor 't8.826
84.000
160.035 140.462

123.000 109.400 109.888

123.000 l 13.800 130.235

4t.388.
62.985
199.680

26.062
148.970 -102.780

I t4.000 85.307 0
199.307

l7l.9l0
129.090 398.291 866.528
93 19 24.'.l09 89 369.407 83.243 55 130.522 85

Ekspor Demand

95.260 47.885 67.578 75.567

198.390 1.2'71.522

Balance 89 85

t9.693
-31.062

-46.235

-85.307

172.328
95

Utilitas Kapasitas (%)

Tabel
L996
1997 2001 1998

Ill-1.
t999
2000

(lanjutan) 2002
2003

No.

.II.]NIS INDUSTRI

1995

METHANOL
990.000 330.000
r

Kapasitas 105.895 14.508

990.000 990.000 594.000 176.069 523.826 533.699 206.809


5 19.19
1

192.675 1.500 0 54.541 1.700 482.841

e90.000 726.000 990.000 858.000 20.310 539.040 339.270


5

Produksi Impor Ekspor 438.200 -228.200 -152.841

232.800

990.000 210.000 228.200 990.000 990.000 39.810 549.870 479.940 510.060

Demand Balance

423.975 -231.300

70.t74
18.730
87 100

990.000 990.000 28.440 544.420 474.020 5 r 5.980

990.000 990.000 56.730 555.370 490.360 499.640

Utilitas Kapasitas (7o)


r
r

t9
21

33

60

73

r00

100

8.

CARBON BLACK
t3-s.000 100.740

Kapasitas

135.000

35.000

r
r

l3-5.000

l3-5.000

Produksi
36.672 46.212
13 8.5

85.000 454
67
161 .687

35.000 8s.000
135.000 135.000 13s.000 135.000

lLg.290
112.760 72.560 690
175.040 184.630

Impor
161.363

Ekspor -30.567 -26.687


100 100

r08.000 36.r31 5.564 34.309 7.622 -26.363 26.943 s80 51.190 620 r51.310 -50.570
75

35.000 06.580 69. I l0 650 -68.460


-19

76.t90
740 r94.740
-7

o\ o\ t.970
84

r20.2t8
63

-35.218 63 80

Demand Balance Uti titas Kapasitas (7o)

4.186 127.026 -42.026

-'75.150 88

().

BUTADENE
0
0 0

Kapasitas

0
6.605

0 0

0 0

0 0

0
0

0 0

0
0

3.298
0

17.498
0

t7.439

40.104
0

60.8 60.8

l6
0

Produksi Impor Ekspor 0 6.605


-6.605

Demand Balance ERR

3.298 -3.298 ERR -13.084 ERR

0 0 13.084 0 13.084

17.498 -17.498
ERR

0 17.439 17.439

26.446 0 26.446 -26.446 ERR


E,RR

40.104 -40.104
ERR

l6
-60.816 ERR

Utilitas Kapasitas (7a)

92.226 0 92.226 -92.226 ERR

Tabel
1995 0 0 0

III-1. (lanjutan)
1996
2000

No. 0
0 0

JENIS INDUSTRI
1998

t997
2001 2002

t999

2003

t0.

N. BUTENE

Kapasitas

Produksi

Impor
15.206
0
I
-

0 0 13.070

9.692
0

12.021 3.880 ERR -14.090 ERR ERR

Ekspor
13.070 - 13.070 -9.692 13.880

0 0 13.880 0

0 0 14.7 40 0 0 0 14.520 0 14.520 -14.520


ERR

Demand Balance

0 9.692 ERR 4.220.000 15.206 -15.206 ERR 12.021 -12.021 ERR

0 0 14.090 0 14.090

0 0 14.300 0 14.300 - 14.300

t4.740
-14.740 ERR 4.220.000
s.2-50.000

Utilitas Kapasitas (7o)


4.220.000
4.086. 150 287 0

ERR

ll
4.37r.600
269 52.741 4.220.000 4.008.245 4.220.000 4.410.000 4.220.000 4.353.375 324

AMONIAK
4.220.000 0
1.000.000
4. r

Kapasitas

Produksi 126 291.161

Impor 555.2t7
3.798.482
554.893
103 105

.5.330.000 0

Ekspor

{
80.000
1.000.000
105 105 101

3.'t95.1t5
4.3t9.128
52.472

Demand Balance

29r.035

464.110 3.624.422 544.893


97

440.000 3.970.000 440.000

4.220.000 4.410.000 0 440.000 3.970.000 440.000

4.220.000 4.410.000 0 380.000 3.970.000 380.000

Utilitas Kapasitas (7o)

9l
to4

865.000 4.435.000 865.000 102

il
0 0 0

PETROKIMIA ANTARA
0
0

12.

PROPYLENE TETRAMER Kapasitas

0
0 0 0 0 0 0 0

Produksi 0 264.808
0 -137.475

Impor
t37.4'75 0 t3'7.475 ERR 61.408 -61.408 ERR

0 61.408

0 0 3'7.448

90.960
0

0 0 210.430 38.350 0
138.350 138.350
E,RR

Ekspor

Demand

210.430

Balance

-2t0.430
ERR

Utilitas Kapasitas (7o)

264.808 -264.808 ERR

0 37.448 -37.448 ERR

32.320 0 32.320 -32.320 ERR

58.800 0 58.800 -58.800 ERR

90.960 -90.960 ERR

Tabel

III-1. (laniutan)
r996
1998 0

No. 0
0 0 0 0 0 0 0

JENIS TNDUSTRI

1995

t997
1999
2000 2001

2002

2003
0

13.

ACETIC ACID
0 0 18.900

Kapasitas

Produksi

Impor
0
0 0 0
17 I

2t.255
69.123
0

0 126.480

0 0 l7 I .090 231.430
0

0 313.060
3

Ekspor

2r.255

0 0 49.264 0 49.264

69.t23

23t.430
-231.430
ERR

Demand Balance

-69.t23
ERR
ERR

Utilitas Kapasitas (7o)

18.900 - 18.900 ERR

-21.255 ERR

-49.264 ERR

93.503 0 93.503 -93.503 ERR 126.480 -126.480 .090 - l7 I .090 ERR

0 13.060

-313.060 ERR

t4 0
0 0 0

METHYL
0
0 0 0 0 0

METHARCYLATE
0

Kapasitas

Produksi

Impor
0

0 9.508

0 0 7.293

9.336
0

9.560
0

9.790
0

Ekspor

10.260 0

o\
9.790
r

0 0 8.498 0 8.498

8.745 0 8.745
0 9.508

9.336
-9.336
ERR

0 0 10.020 0 10.020

0.260 9.560 -9.560


ERR

Demand Balance

-8.498
ERR

-8.745

-10.020 -9.790 ERR


E,RR

10.260

Utilitas Kapasitas (7o)


110.000 I t0.000
I 10.000

ERR

-9.508 ERR

7.293 -7.293 ERR

ERR

15.

ETHYL BENZENE (EB) Kapasitas

il
0.000 73.870

110.000

l10.000
l r0.000 97.900
5.8

il0.000
99.000
101.200 103.400

80.100

96.350

110.000 105.600

t3.255
0

89.400 20.089

30.t26
0
126.476

t9.328
0

t0
r

3.850
4.'130 0

3.130
0

2.550
0 03.730
0 105.050
106.-530

Produksi Impor Ekspor 93.355


0 109.489

93.198

108.150

Dcmand Balancc

-t3.255
73

-20.089

-30.t26
88

-t9.328
67

0 r 03.710 -5.810
89

-3.850
-4.'130 90 92

Utilitas

Kapasitas (7o)

8t

-3. r30 94

-2.550
96

Tabel III-1. (lanjutan)


1995

No.

JENIS INDUSTRI

t996
t997
1998

1999 2000
2001

2002

2003

16.

ETHYLENE DICHLORIDE (EDC)


308.400 317.946 467.000 467.000 467.000 333.83s 467.000 345.580

Kapasitas

Produksi

4t3.430 43s.730
r5.310 12.070

Impor
28
5 1.951

467.000 280.200 9.519


167.742

467.000 483.990

Ekspor

82.240 235.134

467.000 392.280 9.519 80.40r

24.620
207.970 300.640

t01.960 t29.3tO

t12.661

Demand Balance

82.2t2
167.539 70.882
84 89 60
103

96.753 237.087 96.748 98.400 249.131 96.449

32t.398
323.540 89.890

32t.730
114.000 93

467.000 459.230 19.420 163.990 314.660

Utilitas Kapasitas (Zo)


74

7t
0

t44.570
98

183.350 104

11.

CUMENE 0
0
99 9
1.051

Kapasitas

Produksi

0 0 0 0 0 0

0 0

Impor 2.118
0

0 4.250
0 17.320

0 0

Ekspor 0
99 9

34.9r0
0
17.320

o\ \o
0
34.910

Demand Balance

0 0 522 0 522

2.t18
-2.118
ERR

Utilitas Kapasitas (7o)


ERR ERR

-99 ERR -9 ERR

-522

1.051 - 1.051

4.250 -4.250
ERR

0 0 8.590 0 8.590 -8.590 ERR

-17.320
ERR

-34.910
ERR

18.

PROPYLENE OXIDE (PO) Kapasitas

Produksi

0 0

0 0

Impor

8.072
0

0 0 30.327 0 30.327

0 0 22.810 0

M.480
8.072
-8.072 ERR

0 60.040

0 22.810
-22.810 ERR

0 0 27.370 0 27.370

Ekspor Demand Balance


-30.327

0 0 34.210 0 34.210

-27.370
ERR

Utilitas Kapasitas (%)


ERR

0 0 17.215 0 17.215 -17.215 ERR 0 0 30.666 0 30.666 -30.666 ERR

-34.2t0
ERR

0 44.480 -44.480 ERR

60.040 -60.040 ERR

Tabel III-1. (lanjutan) 1996


1997 1998 2001

No. 1999 2000

JENIS INDUSTRI 2002

1995

2003

19.

PROPYLENE GLYCOL (PG) 0 0 0 0 0 0 0 0


13.850
I 1.504

Kapasitas 13.811

Produksi

0 0 0 0 13.716

0 0

Impor
0
0

r0.256
0
13.850 - 13.850

r7.990

0
13.811

0 25.990 0
25.990

Ekspor Demand

t3.716
-13.716 ERR ERR

Balance

11.504 l 1.504

-13.81I
ERR

22.490 0 22.490 -22.490


ERR

-25.990
ERR

Utilitas Kapasitas (7o)


32.OOO

ERR

0 0 6.239 0 6.239 -6.239 ERR 0 10.256 -10.256 ERR 0 17.990 -17.990 ERR

20. POLYOL
32.000 25.875 14.145

Kapasitas

Produksi
6.723

25.980 9.566
24.624 23.137 2.843
8.873 10.599

32.000 25.450
11.710
r 3.550 26.700

32.000 28.540

32.000 3 r .390
15.450 17.160

32.000

32.000

32.020

32.980
26.91O

Impor 4.162
38.858 -9.983

{
29.680 20.390 21.730 30.680

Ekspor

Demand Balance

32.000 33.400 12.714 4.086 42.028 -8.628 32.000 31.700 20.040 6.397 45.343

27.520 32.370 L840


1.7

-t3.643
99

t.826
83

l0
89 98

610
1.340 100
103

Utilitas Kapasitas (7o)

81

to4

8l

21. ACRYLIC ACID


60.000
19.000

Kapasitas

Produksi

Impor 0
3.1 84

0 0 3.184 0 0 0 0

5.1l0
0
5.1 10 -5. l l0

60.000 r5.000 3.149


14.500

60.000 r8.000

60.000 20.000

60.000 40.000

2.070
14.800

2.230
16.000 3.649
1

2.530
16.700

Ekspor

4.341 0

5.270
1.35 r

5.230 t2.730
ERR
25 30
13.7',t0

5.830

2.630 20.200 22.430 t4.170


32 33

Demand Balance

Utilitas Kapasitas (7o)

0 0 5.029 0 5.029 -5.029 ERR

-3.184
ERR

4.341 -4.341 ERR

17.570
67

Tabel III.1. (lanjutan)


1995

No. 1996
1997 1998 1999

JENIS INDUSTRI
2000 20.000
r

2001
20.000 r5.000 20.000
17.000 1.000

2002

2003
20.000 18.000
1.000

22.

ETHYLACRYLATE
0 0 20.000 7.000

Kapasitas

Produksi
1.000 1.000 1.000

r.000 r.000
8.750

Impor
0
1.000

Ekspor 6.950
50 35 55

r.050
8.200 3.800

Demand Balance

Utilitas Kapasitas (7o)

0 0 1.756 0 1.756 -1.756 ERR 0 0 1.768 0 1.768 -1.768 ERR 0 0 2.779 0 2.779 -2.779 ERR

7.200

7.250 7.750
75

9.100 8.900 8.1 00


85

-1.000 ERR

9.300 9.700 8.300 90

23.

BUTYLACRYLATE
0 0
10.000

Kapasitas

Produksi
0 10.000 10.000

Impor
0

0 0 7.000

Ekspor

0 0 6.000 0

40.000 28.000 4.000 120 40.000 28.500 3.000

40.000 32.000 4.000

3.200
28.300

3l.880
-3.880
70

r0.800 25.200 200


6.800

{
7l
73 75 80

Demand Balance

-r0.000
ERR -10.000 ERR

Utilitas Kapasitas (7o)

7.000 -7.000 ERR

0 0 9.000 0 9.000 -9.000 ERR

40.000 29.000 3.000 6.000 26.000 3.000

40.000 30.000 4.000 8.000 26.000 4.000

24.

2-ETHYLHEXYL ACRYLATE
0
0

Kapasitas

40.000
10.000

40.000

40.000

Produksi 4.437
0

Impor

r.000
6.500 4.500 5.500

14.000 1.000

18.000

2.000 7.500

40.000 34.000 2.000 s.900

Ekspor Demand Balance 4.437 -4.437 ERR

Utilitas Kapasitas (7o)

0 0 3.474 0 3.474 -3.474 ERR

0 0 3.486 0 3.486 -3.486 ERR

0 0 3.245 0 3.2452 .3.245

.ERR

6.800 8.200 5.800


25 35

12.500

27.100
5.500
45

40.000 26.000 2.000 7.800 20.200 5.800


65

6.900
85

Tabel
1996
1997 1998 2001

[I-1.
t999
2000

(lanjutan) 2002 0 0
0 0
I 1.930

No.

JENIS II{DUSTRI
0
0
0

1995 0 0 0 0
8.343

2003

25. ACRYLONITRILE

Kapasitas

Produksi

Impor
0 0 0
8.343

5.t77
10.590

4.966 0 4.966 -4.966 -r3.434


ERR ERR ERR -8.343 ERR 10.590 -10.590 ERR

0 4.238
0

0 0 13.434 0

0 0 13.450

0 l L930 I1.930
ERR

Ekspor Demand
-5.177

0 5.177

Balance

4.238 -4.238

t3.434

Utilitas Kapasitas (7o)

ERR

0 0 9.400 0 9.400 .9.400 ERR

13.450 -13.450 ERR

26.

2-ETHYLHEXANOL
0
100.000 100.000 100.000

(2-EH) r00.000
116.000 14.300

Kapasitas

100.000

Produksi

Impor
I 1.951

0 34.755 600

20.000 40.479

31.088 12.969 94.000

I19.000
12.530 31.200

100.000 124.000

t6.312
16.299

r00.000 r33.000 9.630


10.980 32.160

{ N
toz.220
34.300 108.330
100.330 18.670

29.714
100.586

Ekspor Demand
34.155

10.668 49.81 1

Balance

-29.81t
20

32.106 -1.018

15.414

2t.780

24.670

Utilitas

Kapasitas (7a)

0 0 27.640 300 27.340 -27.640 ERR -34.155 ERR

3l

94.O13 -13 94

ll6

ll9
20.000
15.000 19.903

t24
20.000
17.000

133

2'1.

N-BUTANOL
0 0 20.000 7.000
10.120 1.050 1.584

Kapasitas

20.000
19.000

Produksi

20.000 20.000 r6.458 5.950 13.579 6.650

Impor
0

4.956 4.956
r6.070 -9.070
35

20.000 t0.77 t 7.905

I1.369 27.508
25.O29 -1.O29

Ekspor

0 0 4.950 0 4.950

7.000 24.369 17.o92 -6321


54

Demand Balance

-4.950
ERR

20.000 13.000 23.826 4.550 32.276 -19276


65

5.250 29.553 -14.553


75

-10.508
85

-4.369
96
100

Utilitas Kapasitas (7o)

-4.956 ERR

Tabel III-1. (lanjuran)


1995

No. 0
12.000
r

.IENIS INDUSTRI
L996
1997 12.000 12.000 12.000 10.200
136

1998

1999
2000

2001

2002 2.000

2003

28.
0 0

ISO-BUTYL ALCOHOL Kapasitas

r2.000
10.800

Produksi
12.'792 6.2'77

4.200
7.856
1.806

12.000 8.400

9.000
500

Impor 4.430
4.930 3.470 2.700 6.800 2.200
0 12.792 0 10.876

6.676

960

'il
3.4'70

3.890 6.866
6.981

Ekspor Dcmand

9.600 260 3.070 6.790

Balance
F,RR

-t2.792
-6.676
35 70 75

0 15.018 0 15.018 -15.018

2.8r0
80

3.334
85

3.819
90

Utilitas Kapasitas (7o)

ERR

3.385 4.47 t 65

29. 30.000 29.437 30.000 40.705 70.000 54.500


5.907 I 1.163 19.1'19

PHTHALIC
70.000 58.700 30.853
8.272 33.'754

ANHYDRIDE (PA)
70.000
59. I 50 6.1 l0

Kapasitas

70.000

Produksi

lmpor
4.588 24.866

t'l
t4
46.484
5'7.r97
803
83

70.000 58.000 7.469

6l .530 4.990
15.610

70.000 63.e80 4.090

70.000 67.190 3.340

{
t2.3to
49.560 9.500
85
l -5.360

UJ

Ekspor 8.016
78 84

18.8 10

52.710
11.270
88

sl.720
54.210 7.320 15.470

Demand Balance

7.560 33.059 7.646

24.946

Utilitas
0
0 0

Kapasitas (7o)

4.57 | 98
136

9l
0

96

30 0 0
5. 133

CARBON METHYL
0 0 0
3.507 0 3.507 ERR 0 0

Kapasitas

0
0

0
0

Produksi

Impor
0
0 0
5.1 33

4.704 4.704
-4.704 ERR -5.123 ERR

5.t23
s.123

4.150
0
4.1 50

0 6.220 4.980 0 4.980 -3.507 ERR -4.150 ERR


-4.980 ERR 0

'7.'.780

Ekspor Demand
-5. l 33

0 7.780

Balance ERR

0 4.579 0 4.579 -4.579

-7.780
ERR

Utilitas Kapasitas (7o)

6.220 -6.220 ERR

Tabel III-1. (lanjutan)


1996
1998 1999 2000

No.
0 0 0 0 0
5.1 33

JENIS INDUSTRI t997


2001 2002 0 0 40.730
0 35..r20 0 0 0 0 0 0 0

1995

2003

3l
0
0 0 894

CYCLOHEXANE
0

Kapasitas

906
0 0 '748 0 0

718 32.200 -32.200


ERR ERR

30.666 35.420 -35..t20

32.200

0 48.880
0

Produksi Impor Ekspor


0

0
894

5.r33
-5. 133

Demand Balance

-894
ERR ERR

Utilitas Kapasitas (%)


r20.000
120.000
1.19.900

ERR

906 -906 IlRR -748

30.666 30.666 tlRR

40.730 -40.'730 ERR

48.880 --r8.880 ERR

32. t20.000
0
t'7.19'7 4.48'7

ALKYL BENZENE (AB) r20.000 t49. r00


0 l-s7.660 0

Kapasitas 0
63.32'7
12.1.0-55

120.000 124.500 50

r20.000

I r9.250
t36.-500 0 14.545

t20.000 166.720
0

120.000

r20.000

t]6.290
1.t90
0 520

186.420 0
16.5.530
t7

Produksi Impor Ekspor 2.310


ls-5.350
2.3 r0
'72

r32.r03 t44.613
4.487
(r8

Dernand Balance
104

16.342 48.208 46.292


14.545 63 17.191 68

5.610 620
1.190 16 80

320 t86.100

{ J:
320
85

Utilitas Kapasitas (%)


I I.000
r 1.000

55.923 63.327 99

3-3

FORMIC ACID l 1.000


7..100 9-l l

Kapasitas
10.783

I r.000

I 1.000

l 1.000
6.400
674
1.47
t

l r.000
l 1.000 9.270
893
1.890

Produksi

I t.429
1.5-56

Illt-30
1.150

l
2.430 9.950

t.3-s0

lmpor

l.2l-5

I 1.000 7.100 994


891

t.620
3.120 9.850

I t .q20 1.950

2.91|
2t036
10.949 9.087

7.203
- 103

418 '7.923

4.010 9.860 -523


67 5.603 797
5B

Iikspor l)crnand llal ancc

t.696
480
104

Utilitas Krpasitas

(% )

98

8.273 997 84

l. 180

l0l

l.-s00 r03

2.060
r08

Tabel III-1. (lanj utan\


199s 1998 1999

No. 1996
l1)97

JENIS INDUSTIII
2000
2001

2$02

2003

34. 89.000 89.000


80.770 8.230 66.'150

HYDROGEN PEROXIDE (HrO?)


29.000 24.000 5.842 29.000 29.s00 r 0.812 89.000 23.494 26.724
0

Kapasitas

89.000 35.982 5.5't2


0

89.000 88.840
9.3'70
3

89.000
90.6 t0 10.670

Produksi Impor Ekspor


146 0

6.350 23.363 28.270 60.730 20.040

Demand Balance
-5.5'72 83

29.696 -5.696 40.312 50.218


.5.54

4l
40 49.137 17.013 75 18.460 82

89.000 73.420 7.230 25.690 54.960

r.090 67.120

Utilitas Kapasitas (7o)


20.000 20.000 70.000
11.133
15.001 10.49 l

-r0.812 t02
-26.'724 26

2t.720

9l

t00

34.200 67.080 23.530 102

35.

ME,I-AMINF,
15.500

Kapasitas

Produksi 19.464
6.048 8.321 26.'743

70.000 40.000 70.000 50.000 21.788 34.260

70.000 33.910
8.700 37. I l0 5.500

Impor

70.000 50.000 9.830


51.1-s0

70.000 73.720

l l. 100 70.5 r0
14.3 I 0

{ (,rl
28.4t0
JJ 48

Ekspor Dcmand -11.143 44.510 -4.510

Balance 78
-56

25.563 3.'t82 32.914 -21.781

t5.740

70.000 23.000 7.700 26.930 3.780 19.220

8.680 41.320

59.410

Utilitas Kapasitas (7o)

51

7l
0

15.600 6.828 19.537 2.89 I 12.709 22

7l
120.000 120.000

l0-5

36.

CAPROLACTAM
0 0 0 0 0 0 0
72.OOO

Kapasitas

Produksi

Impor
0 0
35.1
1

35.u3
26.280 26.280 -26.280
E,RR
3

38.s26
0

33.584
0

r20.000 48.000 35.720


'1.200

Ekspor
-35.1 t3

0 0 35.323 0

36.850
14.400

t20.000 96.000 38.000 24.000 38.526 -38.526


ERR

ll0.000
33.584 -33.584
ERR

Demand Balancc

24.000 34.640 2.400 56.240 -32.240


20

76.530 -28.530
40

94.450 -22.450
60

r4.000
80

Utilitas Kapasitas (%)

ERR

35.323 -35.323 ERR

Tabel III-1. (laniutan)


1996
1997 0 0 0 0 0

No. 0
0 0

,IENIS INDUSTRI
1999 2000

1995

r998

200r
2002 2003

3'7

PENTAERYTHRYTOL
0 0 0 0 0

Kapasitas

Produksi

0
1.986

Impor
0 0

4.026
4.379
0 0

4.t89
4.590 0
1.986
-

5.320
0

Ekspor

0 5.542 0

4.026
4.1 89 -4. 189

5.542
r.986
ERR ERR

Demand Balance

Utilitas Kapasitas (7o)

-4.026 ERR
ERR

-5.542 ERR

4.379 -4.319 ERR

4.590 -35.590

5.320
-5.320 ERR

0 4.830 0 4.830 -4.830 ERR

0 5.070 0 5.070 -5.070 ERR

38.

VINYL ACETATE
0
0 0 0 0 0 0 0

MONOMER
0 33.635 35.214
0 0
3

Kapasitas

Produksi 0
17.776

Impor
0
16.306 - 16.306
3.63 5

0 0 17.776

0 0 16.306

20.950
0

22.770
0

Ekspor 35.214

0 0 17.730 0

o.\

{
-19.2'70

17.730

0 0 t9.270 0 19.270

Demand Balance

-35.2r4
ERR ERR

-11.776 ERR

-t7.730
ERR

20.950 -20.950 ERR


ERR

Utilitas Kapasitas (7o)


0 0

0 29.'791 0 29.797 -29.791 ERR -33.635 ERR

22.7't0 -22.770 ERR

39.

ETHYL ACETATE,
0
0 6.8.54

Kapasitas

0
0

0 9.827

0 0
I

0 0
r

0 0.730
I t.050 0 0 10.120 0 0

0 t2.792 3.566
0 l 3.563
- 13.-563

0 I3.563
0

0 0 10.420 9.827
-9.827

Produksi Impor Ekspor


0 t2."792 0 13.566 13.566

0 6.854 -6.854
ERR

r0.r20
-10. r20 E,RR

0 10.420

Dcnrand Balancc

-to.420
ERR

I t.050 I 1.050

Utilitas Kapasitas (7a)

-12.792 ERR ERR ERR

ERR

0.730 - r0.730 ERR

E,RR

Tabel III-1. (lanjutan)

tlo.

JENIS INDUSTRI t99s t996


1997 1998

1999 2001
0

2000

2002

2003 0

t0.

BUTYLACETATE
0 0 6.500 0 0
0

Kapasitas

Produksi

0 0 0

Impor
0

6.874 2.320
0 0

9.6r0

Ekspor 6.500 -6.500 ERR

Demand Balance

6.874 2.320
-2.320 ERR -6.874 ERR -3.865 ERR

3.865 0 3.865

Utilitas Kapasitas (%)

0 1.770 0 1.770 -1.770 ERR

0 0 1.445 0 1.445 -1.445 ERR 0 0 3.720 0 3.720 -3.720 ERR 0 0 5.980 0 5.980 -5.980 ERR

0 9.610 -9.610 ERR

ETHYLENE VINYL ACETATE


0 0 48.459 0 0
0 0 0 49.667 0 49.667

Kapasitas

Produksi 0 -49.667 ERR


-35.432

Impor

Ekspor Demand 48.459 -48.459 ERR ERR

3s.432 0 35.432

0 36.810 0
36.8

\t

{
r0
-36.810 ERR

Balance

Utilitas Kapasitas (7o)

0 0 47.800 0 47.800 -47.800 ERR 0 0 37.564 0 37.564 -37.564 ERR 0 36.120 0 36.120 -36.120 ERR

0 0 37.530 0 37.530 -37.530 ERR

0 0 38.250 0 38.250 -38.250 ERR

t2.

MALEIC ANHYDRIDE (MA)


2.000
14.000 835 6.729

Kapasitas

Produksi 0
0

2.000 975 2.000 820 5.060


104

14.000

14.000

14.000

r4.000 8.400 1.448 9.100


1.660

14.000 9.800
1.890 10.500

Impor 7.704
-6729
49

6.800 1.266

2.160

l.140
7.962
-1.162
49

Ekspor Demand 5.880 -5.060

786 9.062
-662 60

r.4N
9.620
-520
65

t0.220
-420
75

1.840 10.820

l1.200 2.470 2.240 I1.430


-320 -230
75 80

Balance

Utilitas Kapasitas (7o)

3.870 0 4.705 -3.870 42

4t

Tabel III-1. (lanjutan)


L996

No.

JENIS INDUSTRI
0

1995

t997
1998 L999

2000

2001

2002
2003

43. METHYLETHYL
0
,l

KETONE (MEK)
0
0

Kapasitas

0
0

Produksi
10.780

0
16.590

0 0 0

Impor
0
0 10.780 - 10.780

0 0 14.960

13.302 0
16.590 - 16.590

r9.080
0
19.080

Ekspor

0 0 21.940 0

0 17.529 0 t'7.529

13302
-13.302 ERR -15.080 ERR ERR

1s.080 0 15.080

21.940
-19.080 ERR -21.940 ERR

Demand Balance -17.529

Utilitas Kapasitas (7o)


0
0

0 14.960 -14.960 ERR ERR ERR

0 0 16.182 0 16.182 -16.182 ERR

44. PHENOL
0 0

Kapasitas

0
0 44.640

Produksi 27.028
0 0

Impor
34.625 -34.625
-33.635 ERR

34.625

0 0 49.060

0 53.920

-1 oo 0
0 0

Ekspor Demand 28.791 -28.791 ERR ERR

0 0 28.',l91 0

0 0 33.635 0 33.63s

Balance

49.060 -49.060 44.640 -44.640 ERR


E,RR

Utilitas Kapasitas (7o)


r00.000
100.000 1c0.000 104.000 100.000

27.028 -27.028 ERR

0 0 76.965 0 36.965 -36.965 ERR

0 0 40.620 0 40.620 -40.620 ERR

53.920 -53.920 ERR

45.

STYRENE MONOMER
90.000

Kapasitas

100.000

220.000
102.000

220.OOO

220.O00

t3.255
20.089 0
120.089

215.000 83.040 212.000 51.110 2.000


0

Produksi Impor Ekspor 4.000 99.255 -9.255 -20.089


100

83.000 19.328 9.961 92.367


-9.367 83

261.llO
-49. l

220.A00 215.000 75.490 0 290.490

Demand Balance 90

l0
96

-75.490
98

298.040 -83.040
98

220.000 215.000 87.190 0 320. I 90 -87.190 32.413 7.000 127.413 -25.413 46


98

Utilitas Kapasitas (7o)

30.125 0 134.125 -30.125 104

Tabel III-1. (lanjutan)

No. L996
1997 2000 1998

JENIS INDUSTRJ
1999 2001

t99s
2002

2003

46. VINYLCHLORIDE 260.000 260.000


170.000

MONOMER (VCM)
400.000 206.000 500.000 390.000 316.547
37. I 58

Kapasitas 149.000 108.313 0

Produksi 162.523
0 138.835 1.515

Impor
257.313 -108.313 343.320 384.489
5.51 I '78

Ekspor 332.523 -162.523

Demand Balance

-137.320
52 84 50

500.000 2s0.000 23.659 113.954 159.70s 90.295 500.000 420 30.000 420.000 30.000 390.000 500.000 450.000 60.000 480.000 60.000 420.000
90

s00.000 480.000 60.000 480.000 60.000 420.000


95

Utilitas Kapasitas (7o)


0
0 0 0 0 0

57

65

500.000 480.000 50.000 480.000 60.000 420.000 96

47.

EPOXY RESIN
50.000

Kapasitas

Produksi

42.500
6.060
0

Impor
0
0 5.028 -5.028

Ekspor

0 0 6.208 0 6.208

0 0 5.028 0

3.0t4
3.466

3.980

50.000 27.500 5.270

{ \o
7.720
40.840
1.800 45 1.750 55 1.660 85

0 0 7.255 0 7.255

3.0t4
3.466 -3.466
ERR -3.014 ERR

50.000 22.500 4.580 6.380 20.700 3.980 -3.980 ERR

7.020 25.7s0

Demand Balance

-6.208 -7.25s
ERR ERR ERR

Utilitas Kapasitas (7o)


0

48. 0 0

CYCLOHEXANONE

Kapasitas

.0
0
985

Produksi 2.548 0

0 0

0 0

0 0

0 936
0 0
1.010 1.100

Impor 2.548
-2.548 ERR
ERR

0
985

1 l90 0

Ekspor Demand

Balance

Utilitas Kapasitas (7o)

0 0 2.211 0 2.211 -2.211 ERR 0 2.593 0 2.593 -2.593 -985 ERR

936
-936 ERR

1.010

l.100
-1.010 ERR -1.100 ERR

l.r90
-1.190 ERR

1.290 0 1.290 -1.290 ERR

Tabel III-1. (lanjutan) r995


1996
1998

No. 2000
2001

JENIS INDUSTRI
1999

t997
2002
0 0 0 0 0
0

2003

49.

ADIPIC ACID
0 0 0 0

Kapasitas

Produksi

Impor
0 0 0

2.900 2.270 3.260 3.260


-3.260 ERR

4.400

Ekspor

2.900

2.415 0 2.415

Demand Balance

0 0 727 0 727 -727

-2.9N -2.4r5
ERR ERR ERR

2.270 -2.270

Utilitas Kapasitas (7o)


180.362
192.500 192.500
r

ERR

0 0 2.548 0 2.548 -2.548 ERR 0 4.400 -4.400 ERR 0 0 5.950 0 5.950 -5.950 ERR

0 0 8.030 0 8.030 -8.030 ERR

50.

AB SULFONATE
192.500
162.601

Kapasitas

Produksi

r92.500 t41.357
357 32

192.500

t92.500
128.700
160.880

t92.500 0 0
35.000
125.880

Impor
20

0 t41.682
57.792

Ekspor
162.581 20 84

96.320 0 38.528 38.528


50

201.100 0

34.490
35.520 93.180 35.520
53 67

o
35.000
84

Demand Balance

Utilitas

Kapasitas (7o)

155.399 0 1.000 154.399 1.000 86

77.808 0 310 177.498 310 -325


92

192.500 102.960 0 36.040 66.920 36.040

166.610 34.490
104

IJ

51.

SLS/SLELS 8.162 7.019


7.183
103

&
8.L62
7.101
1.788

DERIVATNYA
8.162 8.162
6.938 78

Kapasitas

8.t62
7.266

8.162 7.440

8.162 7.520

8.162 7.6tO

4.t92
205

8.030

tt.t20
210
22

15.390

Produksi Impor Ekspor 5.240


1.775

4.434
2.688 6.193
908 87

2.696

3.028 203
10.008

tt.253
-2.825
88 -3.987 89

15.260

230 22.770 -7.820


18.420 -10.900 -15.160

Demand Balancc

5.162
85

4.33t
86

Utilitas Kapasitas (7o)

8.162 7.350 5.800 208 12.942 -5.592 90

9l

92

93

Tabel III-1. (lanj utan)


1995

No. 60.000
3

JENIS INDUSTRI
1997 1998

L996 60.000 60.000 34.460 60.000 36.960


1.890 60

L999

2000
2001

2002

2003

52. 1.800

NITRO CELLULOSE
60.000 34.200

Kapasitas

Produksi 4.865
3"7

32.t10
2.700
50

60.000 39.6@
1.660

Impor
73 30

60.000 34.800 4.038


3.262 47

60.000 36.600 4.393

60.000 29.936 2.829

2.t60
36.570

Ekspor 36.628 40.920

55 38.783

38.790
-

Demand Balance

-4.828
-3.983
58 53

-4.320

37.415 -4.320

32.735 -2.799

40 34.540 -2.340

-2.tt0
57

1.830

Utilitas Kapasitas (7o) l.?80.000


1.342.97'.1

6t
50 54

6l I
780.000
1.780.000 1.780.000

62

70 41.250 -1.590 66

53.

ADHESIVE RESIN
1.780.000 1.048.084 1.780.000 1.423.442

Kapasitas

1.780.000

Produksi
4'18
1.23',7

I 325.359
1.259.09t
545 1.036

1.227.610
560

I 780.000 I 314.770
1.2s2.160 570 590
1.090

1.780.000 1.406.800

Impor 902
1.258.',l34 357
71

1.043

610

Ekspor
-

992
1.227.178 432
69

229 1.424.450
1.008 80

1.25t.640
520
70

Demand Balance 59 72

0 1.048.562 -478 0 1344.A20 -1.043

1.200 I 3 14.160

t.320
1.406.090 710 610 74
79

Utilitas Kapasitas (7o)


3.000
1.050 1.650

663 325.732 -373 74

54. HEXAMINE 3.000 3.000

Kapasitas

1.000

11.000

11.000

r 1.000

l r.000

Produksi 4.350
1.708 3.901 1.631

2.250

7.700

9.900

Impor
4.292

6.250
15.410

11.000 7.1 50 5.081 5.057

Ekspor Demand

4.488 444 5.094

7.174
-24
65

5.295 6.320 6.675


1.025

8.250 5.520 7.890 5.880

8.800 5.750 9.870 4.680

Balance 3s 55 75

-4.0M

-2.642

4.620 -2.370

2.310
70
75

4.120
80

9.350 5.990 12.330 3.010 6.340


85

740
9.160 90

Utilitas Kapasitas (%)

Tabel III-1. (lanj utan)


1995

Yo.

.IENIS INDUSTRI
1996
1997 1998

1999 2000 2001

2002
2.000
1.700

2003 2.000
1.800

t5.

FUMARIC ACID
0 0
0

Kapasitas

2.000 2.000 2.000


1.600

Produksi

2.000 900

r.500
0

Impor
0 0

0 0
1.000 0

Ekspor

200
400 700 200 300 700 300

0 500
1.100

0 600
1.100

0 700
1.100

Demand Balance

l.100
400 500
80 70

Utilitas Kapasitas (%)


45 50

0 0 0 ERR 0 0 ERR

0 0 0 0 0 0 ERR 600
85

700
90

IU

PETROKIMIA TIILIR

t6.

ALKYD RESIN
67.550 13.876 67.550 67.550 33.2s9 67.550 44.510
54 311 18.570 538 1.475

Kapasitas

Produksi

67.550

Impor
587 773 13.690 186

Ekspor 17.633
937 27

67.550 59.560 50

6l.350

67.550 64.420
30

oo
NJ

rs.790
43.820

Demand Balance

Utilitas Kapasitas (7o)

67.550 24.852 418 4.873 20.397 4.455 9.215 24.355 8.904 8.280 36.284 8.226
66 49

2t
3t

t5.740
88

40 30.100 31.290 30.060

31.010 33.440 30.980

67.550 68.290 20 32.560 35.750 32.540

9t

95

l0l
173.860 173.860

17.

SINTETIK RESIN
67.800
49.517 10.806

DISPERSION 67.800 54.421 173.860 72.240 79.400 173.860 87.260

Kapasitas

Produksi 29.173 3 l. 150


18.367

Impor

5.644
43.240 16.825 37.596
80

7.110
34.220
33.763
45.1 30

7.390

7.540

Ekspor

Demand Balance 60 56

67.800 40.995 32.755 30.117 43.633 -2.638 67.800 45.055 12.713 29.179 28.589 16.466

r73.860 59.81I 6.209 32.257 26.048


34

65.730 6.705 32.900 39.s35 26.195


38

27.110
42

Utilitas Kapasitas (7o)

t)

36.270 50.520 28.880 46

39.170 s5.630 31.630


50

Tabel III-1. (lanjutan)


1995

No.

JENIS INDUSTRI
1997 1998

t996
1999

2000

200t
2002

2003

58. 0 0 0 0

METHYLTERTIARY BUTYL ETHER (MTBE) 0


0 0 0
2.'.142

Kapasitas

Produksi 226
0
9.9',10

0 0

Impor
0 97
-97

0 208 5.220
0 0

0 1.438
0 1.438

0 0 9.970

0 0 36.230 0 0 19.000 0
19.000 0

Ekspor Demand 208 -208


ERR

9't 0 -1.438 ERR 0 2.742 -2.742 ERR 5.220 -5.220 ERR -9.970 ERR

Balance

Utilitas

Kapasitas (7o)

ERR

226 -226 ERR

-19.000 ERR

36.230 -36.230 ERR

59.

ETYLENEGLYCOL
220.000 95.500
283.531 11.015

Kapasitas

220.OOO

Produksi

Impor
348.779

220.000 205.000 329.458

220.000 210.190 279.390


8.038

223.150 279.390
10.010

220.000 229.930 279.390


I 1.170

80.000 99.000 252.301 2.522 7.000 372.031 -276.779 523.443 -318.440


93 93 43

oo U)

Ekspor Demand
-208.1'.73

80.000 75.910 226.014 t'7.841 284.083


95

481.542

Balance

220.000 204.000 350.508 7.203 547.305 -343.305

-27t.352
96

220.000 216.570 279.390 8.970 486.990 270.420


98

492.530 -269.380
101

498.150 -268.220
105

Utilitas Kapasitas (7o)

-249.779 124

60.
82-5.000

PURIFIED TEREPTHALIC
1.200.000

Kapasitas

r.800.000
1.012.045 183.006

r.800.000
1.080.000

1.800.000
1.

1.800.000

r.800.000

Produksi

l.306.000
60.958 251.937
889.021

r.800.000 1.512.820 78.530 304.840


1.080.490
89. I 30

1.653.

r00
101.160

Impor
1.035.246

Ekspor Demand

444.538 253.461 41.616 656.383

r.700.000 910.753 249.346 124.853 -124.493


54

Balance 54 43

-zrt.845

515.017 311.392 46.240 780.169 -265.152

287.080 907.971 104.074


56

190.979
50

r88.000 s9.190 277.130 980.060 207.940


66

225.310
73

335.330 1.256.620 246.200


83

368.860 1.385.400 267.700


92

Utilitas Kapasitas (%)

Tabel

lll-1. (lanjuran)
l99s
1996
1997

No.

JENIS INDUSTRI
r998
1999 2000
2001

2002
2003 r5.000
15.060 1.860

6t.
15.000 15.000 15.000 15.000

AB STYRENE
15.000 4.500 7.500 12.750
10.481
r

Kapasitas 16.139 9.505

Produksi

Impor 3.r48 2.128


3.628
19.603

12.500 r 6.300

15.000 l 3.133 1s.000 13.660

15.000 14.340

r5.960
1.210
10. l 80

4.420 2.870

Ekspor 23.857 26.672

Demand Balance

0 20.639 -16.139

6.806 7.665 12.271 8.230 9.850 3.810


859 88

9.480

-14.t72
-6.8s3
85 83

Utilitas Kapasitas (%)


0 20.000 20.000 20.000
16.800 16.000 0

30

-16.3s7 50

9l
20.000
17.810

8.830 8.380 5.960 96

7.440 7.520 r00

6.990 8.970 r06

62.

PROPYLENE OXrDE (PO)

Kapasitas

Produksi 7.745

20.000 7.000

r3.000
2.931 3.577
3.605 12.326

20.000 19.230

20.000 20.580

Impor
0 998

5.822

2.950

2.430
10.890

2.Ot0
19.790

1.650

Ekspor

0 0 6.774 0 6.774

tt.824
-4.824
674
65 80

3.296 16.28t
-281

35.960

6 A
r.450
9.350 3.040
84 84

t3.730
34.3 r0

Demand Balance -6.774

Utilitas Kapasitas (7o)


35

7.745 -7.745 ERR ERR

5.990 13.760 3.040

17.780 96

103

63. 97.200 55.500


1.296

DIOCTYL
9'1.200

PHITHALATE (DOP)
67.200 58.480 5.590
1.92',7

Kapasitas

Produksi

97.200 58.320 50.400 941 20.150


3

97.200
53. I 80

Impor
62.143 -3.563
87 57

Ekspor

97.200 74.600 1.255 27.881

7t0

9'1.2W 58.040 390

97.200 72.900 290 27.220

29.t60

Demand Balance 85

67.200 57.120 2.981 7.750 52.351 4.769 3.297 53.499 2.001

47.974
26.626
77

r.l8l
19.219
52

530 25.270 38.440 23.330 35.700 22.620 50

41.2t0
24.740
65

25.830
70

44.030 28.870
75

Utilitas Kapasitas (7o)

Tabel III-1. (laniutan)


1995 2000 0 0 0 2001 0 0 0 0

No.

.IENIS INDUSTRI

t996
1997 1998 1999

2002

2003

64. BISPHENOL.A 0 0
1.310
0
1.3

Kapasitas

Produksi
38

0 0 201 2.s50
0 0 645 0

0 0

Impor
0
38

Ekspor 378
-378

378 0

0 5.380
0

201

645

l0
2.550 -2.550
ERR

0 0 10.910 0 10.910

Demand Balance -38

318 0 318 -318

-1.3l0
ERR

-10 910
ERR

Utilitas

Kapasitas (7o)

ERR ERR ERR

-201 ERR

-645 ERR

5.380 -5.380 ERR

65

TOI-UENE DISCYANATE (TDI)


0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Kapasitas

0
0

Produksi 21.665
0 0

Impor
0
I -5.

2t.197
12.698 12.698
169

0 0 15.169

17.320
0

Ekspor

0 0 19.770 0

25.770
0

Oo
L..I

2t.665

Demand Balance

-2t.665
12.698 ERR
E,RR

Utilitas Kapasitas (7o)

0 21.197 -21.197 ERR

28.238 0 28.238 -28.238 l-5.I69


ERR

t9.770
-19.770 ERR

17.320 t'7.320

0 22.570 0 22.570 -22.570 EI{R


ERR

ERR

2s.770 -25.'770 ERR

66.
15.000 14.275

STYRENE BUTADIENE

LATEX (SBL) 45.000 32.176


12.52't
1.038

Kapasitas

Produksi 22.110
92

4s.000 41.500

93.000 28.428

93.000 25.690

Impor

9.282

2.2t8
48.654

1t.428 4.578
35.278 -6.850

7.3s't
8.497

93.000 29.160 5.590

93.000 34.460 4.240

93.000 46.230

17.8t4
24.550 t'7.536

93.000 39.920 3.220 41.086


37.35 r 1.349

2.450
45.195

Ekspor Demand 36.293 43.665


-

2.054

3.485

Balance 95 72

-22.0t8
r 1.489

-7.154
92

Utilitas Kapasitas (7o)

3l

1.140 28

12.224 32

33.lll
37

3"7.866 43

42.745
50

Tabel III-1. (lanjutan)


1995 1997 1998 1999 2000 2001
20112

No.

.IENIS INDUSTRI

t996

2003

67.

STYRENE A(]RYLONITRILE LATEX (SAL) Kapasitas

s.000 2.039 5.000 4.597 5.000 4.642


-s.000 -5.000 -5.000

.5.000

3.670 4.920 4.250 r60

Produksi Impor Ekspor


878

5.000 3.528 320

s.000 5.700
80 1.770

6.600
60
2.1 80

0
0
I

729 0 499 0 229 918

t20
1.430

.150

Demand Balance 2.917 -878

5.326 -729
-5.

l4l
3.8,18

2.98t
3.260 3.610 t.3 r0
98 990 85 689
73

4.010
1.690

-499 -320
93

4.480

Utilitas Kapasitas (7o)


92

4t

"il

2.t20

l4
(r0.000

t32

68. 0 0

STYRENE I]TJTADIENE RUBBER (SI]R) Kapasitas

(r0.000
,15.000

60.000
(r0.000
dJ

Produksi Impor Ekspor 53.666


0

0 0 55.551 0

60.000 20.s00 36.499 715 60.000 21.000 38.124

.ll
63.720

O1

E60

2.s69
.59.645 -35.6,15

60.000 26.400 40.010 2.690 -37.320

45.920 5.180 3 700 85. t()()

Demand Balancc

53.666 -53.666
5-5.551

0 0 57.372 0 57.372

s6.284
-35.784
31 40

-57.372
ERR

Utilitas Kapasitas (%)


ERR

-55.551 ERR

30.000 41.890 2.960 68.930 -38.930


44 50

-40

1(r0

100.740 -,1().140
75

t00

69.
0

PARA AMINOPHE,NOL 2.000

(PAP)

Kapasitas 0
-560

2.000
600

2.000 800
1.,13E

2.000 I.000

2.000

2.000

2.000

2.000

Produksi Impor Ekspor 208


0 208
593

l. t90

1.430

97 64

226
0 826

) 14)
0

2.040
5.230 0

9.970
2.238
- 1.438

0 3.742

1.170 19.01 0 0

36.240
0

Dcmand Balancc

-208 -226
30 ERR 28

.JJ

6.420 -2.742 40
50
.5.230

0 I 1.400

20.120 -9.970
50 72
- 19.8

l8
71

38.280 -36.240

Utilitas Kapasitas

(%,)

t02

Tabel III-1. (lanjutanl


1995

No.
7997 l()()() 2000 2$02

JENIS INDUSTRI
1996

l99n
20t)l

2(m3

70

NYLON FILAMENT
22.000
19.900 17.380
6. l0-5 -5.480
-5.20t)

YARN (NFY)
22.000 21."1t2 22.000 20.020 37.800
I 1.840
3

Kapasitas

22.000 17.600 42.000 37.800


12.060
3.8 72

22.000
5.787
t

,12.000

42.000 37.800
4.67{t

7.t70
9.070
8.378 10.785

Produksi lnrpor Ekspor

t't.157 1.62t
t.440
6.360 90 l-t. r 60

t2.520
29.950 7.850

Dernand 3.615 99 90

r8.097 5.834
4.3 I_5 13.285 80

Balancc

20.592 -692

30.940 6.860
90

42.000 37.800 4.930 12.290 30.450 7.360


90

Utilitas Kapasitas (%)

I 1.,106 12.079 5.30 r 79

9l

100

1t
33.000
33.000
38. r 90 .10.020

NYLON TIRE CORD (NTC)


33.000
9.025 838
r

Kapasitas
6.3,16
10.78-5

33.000
33.000 31.650 510
32.9-50

Produksi 7.466
8.378
8. l-57 8.-190

33.000 28.050 32.200 6.191 r4.020 29.904

33.000 30.400

33.000 31.020

33.000 32.290

oo

-l

Impor
23.611
30.888

3r0
r7.970

130

il0
r8.230 r 4.830
17.50;l 15.400 16.890 98 18.120

Ekspor

t] .2lE
1

Demand Balance

4.430
9.132

31.268 912

2.296
98

3.1 82

Utilitas Kapasitas (7c)


5s0.000
49-5.000
183.7 64

85

il6

l2l

92

16.560 14.460 94

l-5.980 15.980 15.670 96

100

'72

POLYE,THYLENE
550.000
.185.000
1,16.000

Kapasitas

550.000
548.000
I 81.000 208.000

550.000 5s0.000 509.000


170.000 (r79.000

Produksi
6.1.000

s50.000 474.000

550.000 742.000
180.000

lmpor
61.000 434.000
- r 36.000

550.000 298.000 200.000

Ekspor

t86.220 I06.000
554.220 -80.220
86

219.000
501 .000 4-5.000
'71
6-s '73

6t7.764
-122.764
90

-560.000

239.000 683.000 49.000


.59.000

550.000 39 r.000 l4 I .984 172.000 360.984 30.0r 6

t89.000 442.000 43.000

r80.000 230.000 529.000 50.000

Dernand Balancc Uti I itas Kapasitas 54

(o/o)

8l

9l

99

Tabel III-1. (lanj utan)


L996
1997 2000 2001 1998

No. 1999 570.000 506.000


182.000 162.000
-50.000

JENIS IN'DUSTRI 2002


600.000 371.000 600.000 535.000 50.000

1995

2003

73

POLYPROPYLENE
600.000 510.000 r78.000
108.000

Kapasitas

Produksi

600.000 575.000
134.000

Impor r27.000
561 .000

Ekspor -55.000
-.50.000 0
83
6'7

520.000 295.000 208.000 9.000 494.000 580.000 -70.000 545.000 - r 0.000


89 85 62

Demand Balance
5'7

199.000 89

127.000 406.000 -3s.000

600.000 400.000 96.000 46.000 450.000 600.000 496.000 66.000 66.000 496.000
96

600.000 575.000 74.000 50.000 599.000 -24.000

50.000 659.000 -84.000


96

Utilitas Kapasitas (7o)


422.000
422.OOO

74.

PVC RESIN
453.000 313.000 2.000
193.000

Kapasitas

Produksi
168.000
257.OOO

608.000 530.000
10.000

608.000
-530.000

Impor
122.000
184.000

Ekspor
5

357.000 357.000 2.000 53.000 306.000 608.000 412.000 2.000 230.000 228.000
68

608.000 420.000 5.000

r0.000

608.000 500.000 8.000 200.000 308.000


163.000 69 192.000 82

2t2.000
328.000 202.000
87

2 12.000

oo oo

Demand Balance 1.000


100 100

357.000 357.000 3.000 57.000 303.000 54.000 5.000 49.000 378.000 44.000

r9r.000
69

328.000 202.000
87

Utilitas Kapasitas (7o)


104.000

r00

15.

POLYSTYRENE
r30.000
104.000 104.000 130.000 I 17.000 128.000

Kapasitas Produksi 8.000

80.000 80.000

85.000 80.000
40.487 10.656
109.83 r

76.000 4.788

r2.000
10.000
r

Impor Ekspor

l r.000
'77.000

85.000 85.000 39.323 6.542

tl7.78t
-32.781
100

89.000 70.000 22.478 20.336 72.142

r2.000 r0.000 06.000

l19.000

Dcmand Balancc 3.000


r

-29.83

-2.t42
79

r04.000 90.000 r4.000 8.000 86.000 4.000


23.96'7 56.821 19.179 73
87

-2.000
100

-2.000
90

8.000 5.000 r31.000 -3.000


98

Utilitas Kapasitas (%)

100

94

Tabel III-1. (lanjutan)


1995

No.
1997 1998

.IENIS INDUSTRJ
2000

t996
t999
200r 2002

2003

76. 103.300 166.000 166.000 166.000 166.000 166.000

POLYETHYLENE TEREPTHALATE
166.000

Kapasitas

Produksi
1

77.874
3.1 50

tt4.tt6
t27.8rO
16.279

Impor 76.686 90.0r4


103.516 119.043 57.417

166.000 105.576 38.491

t2t.4t0
37.660 139.620 36.840

166.000 160.570 35.270


136.900

97.841 r r.533 78.273


31.101

t74.650

Ekspor Demand 67.403


60.407 77 59 73

23.398 67.928

16.920 57.058 73.978


40. I 38

58.940
101,630

33.760 157.435 50.975

Balance 76 59

9.948
66.740

55.s54 65.856 82.203


84

t23.675
97
105

Utilitas Kapasitas (7a)

54.053 51.523 64

77.

POLYVYNIL
0
0
931

ACETATE (PV/Ac)
0
0 1.427 1.095

Kapasitas

Produksi 0
931 -931 -1.427

0 0 0
1.095 - 1.095

0 0

oo

\o
7.790 0 7.790 -7.790

Impor
0

Ekspor Demand

Balance ERR

Utilitas Kapasitas (7o)

0 0 1.433 0 1.433 -1.433 ERR

0 0 252 0 252 -252

t.427
ERR ERR

0 0 1.790 0 1.790

-t.790
ERR

ERR

0 2.922 0 1 oaa -2.922 ERR

0 4.770 0 4.770 -4.770


ERR

ERR

78. POLYVYNIL
0
0 5.775

ALCOHOL(PVA)
0 0 0 0 0 0 0 0

Kapasitas

0 7.790
10.520

Produksi

Impor

3.t69

4.278
0 4.278

0 14.210 0 5.775 0 7.790

0 0
19.180

0
10.520

0 -4.278
ERR
-5.775

0
19.180

Ekspor Demand Balance

Utilitas

Kapasitas (7o)

0 0 7.753 0 7.753 -7.753 ERR 0 3.169 -3.169 ERR

0 0 2.347 0 2.347 -2.347 ERR

-7.790
ERR ERR

-10.520 ERR

14.210 -14.210 ERR

.19.r80
ERR

Tabel III-1. (lanjutan)

No.
1997 1998

JEMS INDUSTRI

1995

t996
1999 2000 2001

2002

2003

79. 0 0 0 0
0

POLYCARBONATE
0
0 0

(PC) 0 0

Kapasitas 7.183

Produksi

Impor
0 0
5.56',7 7.1 83

4.942

Ekspor -7.183 ERR ERR

0 0 5.s67 0
-5.567

6.104
0

6.574
0

6.104

6.574

Demand Balance

Utilitas Kapasitas (7o)


17.000 17.000

0 0 6.817 0 6.817 -6.817 ERR

0 0 8.334 0 8.334 -8.334 ERR

4.942 -4.942
ERR

0 0 4.885 0 4.885 -4.885 ERR 5.261 0 5.261 -5.261 ERR

-6.t04
ERR

-6.574 ERR

80.

POLYURETHANE r7.000
13.600 17.000 12.810 17.000 13.350

Kapasitas

Produksi 5.009 5.607


87 18.330 39 17.829
7

lmpor

l1.900 4.120
12.750 4.900

r7.000 r2.810 5.300 5.930


150 18.820

17.000 13.300

17.000 13.550

17.000 13.880

6.220

6.640
570

Ekspor
16.013

43 17.607

5l
-5.249
74 75

7.O20 1.060

\o
t9.620

Demand Balance

-4.113 -4.857
75 80

r8.570 -4.970
-5.520

-5.770
77

300 19.290 -5.970


78

-6.070
80

19.760 -5.960

Utilitas Kapasitas (7o)

70

8l

Catatan Hitungan:

Suplai Demand
& Impor dari
BPS

Produksi+Impor (Produksi+Impor)-Ekspor

Produksi/Kapasitasxl007o

= = UtilisasiKapasitas = Balance =

Ekspor-Impor

Sumber Data: AB Plastik, Depperindag, Ekspor

Tabel
2003

III-2.
1996
1997 1998

Realisasi Kebutuhan Industri Petrokimia Tahun 1995-1999 dan Proyeksi Tahun 2000-2003 Dunia dan

Indonesia. (unit: tor/tahun) 1999 2000


2001

JENIS INDUSTRI
80.345

1995

2002

ETHYLENE - Dunia
88.378
'765

73.040
665

97.216

97.r00
695 680

109.857

- Indonesia

7ll
702
44.300
437

99.870 680

120.842 114

126.884

750

PROPYLENE - Dunia
41.019
405 415 398

73.290

48..730

52.142

72..443
409

76.064
429

- Indonesia

370

s9.870 390

65.857 390

BENZENE
32.754
93

29.777
85

36.030

43.200
88 80

47.380

52.1

60.196
80

- Dunia - Indonesia

t02

39.273 92

57.329 84

88

\o
32.524

r5.490
25 27

t8.743

2s.600

28.160

30.976

TOLUENE - Dunia - Indonesia


17.039 27

20.242 20

22.266 20

l8

l8

t9

20

P-XYLENE - Dunia
10.996 I 1.095
187

12.205
180

13.325
180

15.690

18.984

t9.934
170 Yt.259 170
178 187

- Indonesia

8.955 170

r87

32.032
180
185 185

35.235

38.758

45.543 41.860 170


165

55.443
50.403 160
160

60.987
168

CHELOHEXANE - Dunia - Indonesia

@.037 176

Tabel III-2. (lanj utan)


1996
L997 1998

JENIS II\IDUSTRI
1999 2000 2001

1995

2002

2003

POL"ETHLENE
38.5,14

- Dunia - Indonesia 45.438 49.982 60.016 66.017


273 275 275

35.090 290 41.686 300 54.560 260

280 260

69.318

286

ETHYLENEGLYCOL
9.317 10.062

- Dunia - Indonesia

8.410

l1.960
150 12.605 140 13.865 140

15.250
147

160

160
165

11.068 150

16.014 154

POLYPROPYLENE - Dunia
13. I 89

l1.990
14.376
19.600

- Indonesia

200

zto
210
170

15.813 190

17.078 r85

2t.560 r70

23.716 178

24.90t
187

Sumber: Ditjen IKAHH Deperindag/Dit. IKM Industri Kimia Dasar.

\o
N)

Tabel III-3. Realisasi Impor Kcbutuhan Serat tekstil Tahun l9g5-lgg9 Unit: Kg/Tahun
1997 1998 1995

No. 1996 1999 636.744.0L6 s00.849.636


463.580.281 454.4'16.524 492.'182.552 98.651 3.477.'757

COMODITY
6t4.453.446
620.213.892 411.593.070 459.527.505
-58.681

I'IBERS 1.I. NATURAL FIBERS


606.674.511 480.441.6s9 468.163.328

a. Cotton

9.1't0
65.445
2.758.1"15

b. silk c. Wool J. Others

2.62t.294
9.385.590 4.490.676
r

3.922.404 8.052.757
6.280.13'7

615.928.001 465.389.419 456.733.400 434.352 1.522.295 6.699.3't2

I.2. SYNTHETIC FIBERS


35.894.380
21. I I 8.901

r4:860.376
126.526.852 28.331.707

a. Polyester

b. Nylon

6l
1.507

r56.663.611 34.3't3.3s8 345.676


103. 160.36 l 216.731.2t5

c.

Acrylic
82.04t.472 1t.332.368
4.203.780

150.538.s92 48.998.180 308.547 85.176.072


12.373.197 2.0s3.00
r

d. Rayon 77.694.853
10.572.227

e. Others

41.026.469 396.574 87.805.836 12.309.258 4.322.239 429.258 92.321.612 16.782.040 5.242.569 65.947.871 8.714.989

3.682.s96 62.184.110
())

2.

YARNS

2 I Spun Yarn

66.080.4r5 13.959.449
26.003.5 r 8 r4.836.04-s 9.7 15.733

17.331.0t9
23.441.397
10,355.070

27.99r.ils
22.509.t94
1

26 323.421
8.55 l .41 5 15.048.308

66.054.440 15.220.654 22.489.833 16.'7 43.865


9.102.611 58.605

9.t72.t78
91.864 2.438.872 123.137.889
10.661.347 1.473.806

20.516
1.

2.2. Rayon 2.3. Polyester 2.4. Nylon 2 5. Acrylic 2.6. Othhers


12.011.163 919 886.008 103.449

167.r38

l.l
t02.779.755
7.734.564 112.476.542 3.003.846 8.857.874
95.04-5.191

17.308

-').

FABRICS 3.I Grey


119.910.058 9.399.076
110.510.982

3.2. Finish 1.286.970 4.824.824


11 949.807

127.400.039 11.773.214 115.626.825 2.103.403 6.877.853 31.418.875

117.898.191 12.466.337 105.431.854

GARMI]NTS

2.154.292

6.007.363

CARPET

5.14t.023
20.969.810

2.837.477

6.

OT[IERS
846.609.939

14.74t.243
863.002.076 828.698.370

31.304.478

7.

P.E.B.T
811.140.620 836.159.630

TOTAL

Sumber: Dit.Jen ILMEA/Dit.Jen. Aneka Industri. Jakarta

Tabel III-4. Realisasi Produksi dan Kapasitas Produksi Industri Tekstil di Indonesia Ta hun 1995-1999 Unit: Ton/Tahun
1998 1995

No. 1996
1997

COMODITY
1999

I'IBERS A
322.600,00
26r.9'.75.00

l.
B

Rayon viscose

2.

Polyester staple

A
B
3

200.000.00 196.618,00 314.320,00 279.657.00 210.000,00 208.094.00 350.000,00


15.035.00

475.220.00 355.685.00 797.820.00 617.660.00 856.700.00 746.835.00

322.600,00 266.145,00 534. r 00 480.690,00

362.600,00 316.148.00 543.100,00 523.418.00 90s.700,00 839.566.00 47.250.00


40. 163,00

Sub Total

A B
514.320.00 476.275.00 560.000,00 523.t29,00

J.

YARNS Nylon Filament A B A


39.000,00 37.070,00 680.000.00
522.'.745,00

4.

Polyester Filament B

29.400,0a 34.995,00 472.240,00 360.230,00 47.250.00 37.800,00 680.000,00 528.984,00


1.210.000.00 1.017.394.00 93'7.250.00 584. 178,00

5.

Spun Yarn

A t.12t.250,00
947.407.00 1.622.890.00 929.000,00 582.749.00 1.342.632,00
1.210.000,00 1.022.934,00

680.000,00 612.000,00
t .3"19.'.l 57

\o
,00 1.260.322,00

B A
B

47.250.00 40. I 63.00 680.000,00 612.000.00 1.347.063,00 l. r 3 1.533.00

5
2.074.3t3.00
1.783.696.00 I.610.200,00 2.10't.007.00 1.912.485.00

Sub Total

FABRICS
1.490.018,00
1.0.54.9s9.00 1.140.058,00
| .147

6.

Woven Fabric

7.

Knit Fabric
1.555.500,00
r.

A B A B
1.345.500,00 939.230.00 210.000,00 165.720,00 1.470.895,00 1.027.t44.00 230.000,00 I 8l .040,00 1.700.895,00
1.208.
r

262.944.00 r 86.178,00
1.752.962.00

284.153
201 . I 87.00

1.619.932.00 .049,00 284. r 53,00 201 . I 87.00 r.894.353,00 84.00 t.241.137.00


1.341.245.00 1.904.085,00

Sub Total 104.950,00

t.346.236.O0 469.000,00 427.740,00 36.390.00 25.473.00 486.062,00 460.365.00 36.390.00 23.653,00 564.900.00 535.034,00 36.390,00 21.834.00 572.026,00
543. I 50,00

8.

GARMENTS
441.168,00 402.460.00 36.390.00 27.292.00 B A
B

A B A

9.

Other Textile Product

38.s78.00 22.534,00

Catatan: A= Kapasitas, B= Produksi. Sumber: Dit.Jen. ILMEA/Dit.Jen. Aneka Induslri, Jakarta

PRODUK JADI

.
Etilena

Produk-Produk elektronika, telekomunikasi, rumah tangga Film, karung, produk perkemasan Pipa, alat listrik Produk olektronika, perkemasan, kosmetik Bahan peledak Tekstil uiluk Eandang Bahan / Industi sandang Pupuk Ban dan berbagai ienis produk karet

Cracking + dehidrogenisasi

.
Polietilena Polipropilona
Poli vinil klorida

Propilena Bulena
Butiadina

Benzena Polistirena T.N.T Kapmlaktam Poliesler


U16a

. .

Toluena p.Xilena "Carbon black' Amonia Metanol Stirena


Etil benzena "Linear AIkyl Benzene"

\o (,.t

'Carbon black'
"Lab-sulfonate"

. r . r . .

Berbagai jenis detergon

Gambar

tII-l.

Tahap proses pengolahan bahan produk migas menjadi produk petrokimia

96

BAHAN BAKU

PRODUK DASAR

PRODUK ANTARA

PRODUK AKHIR

LINGKUP INDUSTRI NONMIGAS Karet, Ban, l-inta Molding, Perekal Octane booster Cat, Plaslik Tekstil, Filamen Akrilik Pupuk
Rayon Pelarut

Carbon black

-----.----.-.---

-----.-----.----

AMONTA

------------->

Hidrogen sianida Amonium sulfat Karbon disulf]da

Astilen _ _ _

ETTLKLORTDA-------| TEL_ _ _ _ _ _ Octane booster f Triklor etana _ _ Pembe6ih logam Pipa plastik ETILEN DIKLORIDA-}< PVC Lpe*i6r6 etitmJ - Pelarut Astaldehida _ _ Farmasi Etil astat _ _ _ Pelarul ETIL ALKOHOL .--}

----.-.-.------ETILEN

LDPE _____ MDPE__--Etilenglikol ___


Oietilen

Film

OKSIDA-}

ETIL BENZENA.----I
K
I

Trietilen glikol Polietilen glikol _ Resin, Tekstil Polistirena Mainan, Furniture

glikol _

Pipa plastik Poliester _ Bahan lekstil _ Pelarut untuk kilang

rFenc
KUME NA

---------------){

Perekat plys/ood
Pelarut

LA*ron

AKROLON
N

Glierin _ _ -}

Kosmelik
Panel

Resin Poliesler PRoPtLEN

oKSTDA+{ takjenuh _ _ _
Poliester poliol_

Bus

uretan

PROPANA

o
L E F
I

. Dietil ftalal ----=---+ N, BUTILALDEHIDA-}{


ASAIV AKRILAT

ISoBUTIL ALDEHIDA-> lsobutil alkohol

Polipropilena _

Fiber, Filament

Parfum, Pelarut Plastik Pelarut Tekslil


Ban mobil

-----)

LButil asetat Aktilat _


propilena

Karel elilen
35?tiif,l

BUTADT

NA

--------#{
.
BUTIL

ALKOHOL

LPotibutadiena Vinil elil kelon

iT

Ban mobil

__

Karet Ban mobil Pelarut Pelarut Adiiif lube oil Vinyl resin, Plastik Furniture

BUTILENA4

rsoeulLeN,q- ->{5:i:li,Tl. - - Butil benzil ftalat

TOLUENA

z BENZIL KLoRIDA+ -+{LDINITRoToLUENA-)

Bu*poliurelan

_ _

Polimer poliester_ Serat poliester Poliurelan _ _ _ Elastomer

Nilon _____
LABSulfonat _
Carbon

Seratnilon

Detergen

black

Karel ban Pupuk

Calcined @ke I Green coke_ _

Anoda peleburan aluminium

Gambar

III-2.

Asal-usul produk petrokimia serta aplikasinya

Desulfurizer

converter
Condonsale

shtft

Natural gas

Waste haat boiler

\o

Condensate

Nru synthssis gas

Methanator

COzstripPr

CO, ab6orbor

Gambar III-3. Diagram proses "amonia gas synthesis" ("steam reforming")

Off gases

Natural gas

CO2 removal system

Dimethyl ether

@
Compressor

Gambar III-4. Diagram proses pembuatan metanol

decomposer
decomposer

Compressor

\o

Gambar III-S. Diagram proses pembuatan urea dengan "total recycle process"

Quench

Hydrocarbon feed stock

tower

compressor ge6erjtor
CO: removal

Feeo

Acetvlene
hv6ro_

Ethylene and propylene

Water surge tank

Ethylene fractionator Deethanizer Ethylene C: and Demethanizer

fractionator

Depropanizer

,iJf,j|"j:,

Debutanizer

C4

and heavier

C5and heavier

Propylene

Gambar III-6. Diagram proses pembuatan olefina/etilena dengan "tubular process"

(2,050) 97.900 (83,200)

PVC Plant 140,000


453,200

(153,000)

F
I

N P

L
N

Unit : Vy, Capacity (Production)

Gambar

III-7.

Bagan alir proses suatu kilang olefina serta perbandingan antara kapasitas dan produksi

t02

Gambar III-8. Diagram proses pembuatan P.E. dengan tekanan tinggi

Gambar III-9. Diagram proses pembuatan LDPE

Catalyst

Polyethylene (10@ kg)

(})

Solvent

Gambar III-10. Diagram proses pembuatan HDPE

Catalyst reactivator

5
Quench vessel

Solvent recovery system

Polyethylene
to finshing

Gambar III.11. Diagram proses pembuatan P.E. dengan low pressure Ztegler

Purified ethylene Cyclohexane make up

Ul
Centrifuge

Flash drum

\ bste
.

Spent Catalyst

Regenerated cataly5lRegene6llon

Gambar III-12. Diagram proses pembuatan P.E. dengan "Philips process"

Catalyst

o\

Solvent

Gambar III-13. Diagram proses pembuatan PP

107

Gambar III-14. Diagram proses pembuatan tetramer propilena

Gambar III-15. Diagram proses pembentukan karet polibutena

6
Unit consumption /ton VCM Ethylene Chlorine Oxygen For the production of VCM 110,000 Uy
51,40O Ay

467 kg 592 kg

65,100 Uy

142kg
1,000 kg
(1

't5,600 uy
1't0,000 uy

Vinyl chloride

By-product
Hydrochloric Acid 5%)
Uy = ton per year

't20 kg

13,20aily

Gambar III-16. Diagram proses pembentukan monomer vinil klorida (vynil chloride monomer atau VCf,l) serta konsumsi bahan bakunya

Benzene recycle

Benzene column

Ethylbenzene
colrimn

Ethvlbenzene

Superheatea
steam

\o

Dehydrogenation reactor

Gambar III-17. Diagram proses pembuatan monomer stirena

1. Mass (bulk) polyrnerization

Styrene monomer (SM)

2.

Suspension polymerization

3.

Emulsion polymerization

Gambar

III-IE.

Proses-proses pembuatan polistirena (PS)

F;l
11.740

.+
Cyclohexane plant 22,090 1,020

lrw"r-l

61,200)

L
210

I "* I ,lo'780) l*-"-l

83'eoo)
X:137,430
lsomerization FX separation

r"** I

I *l
l^*r""1

1""."*l

Gambar III-19. Bagan alir pembuatan aromatik

Bfi

serta neracanya dalam

toMatrun

To vacuum

N)

Gambar III-20. Diagram proses pembuatan deterjen alkilat/akil benzena

Steam
Condensate

Heal-transfer oil

Mollen-salt heal exchanger

(J)

Heal-lransfer

oil

Pretreatment vessel

Gambar III-21. Diagram proses pembuatan ftalik anhidrida (phtalic anhydride)

Reactor feed tank Reactor (s) Surge tank Crude TFA separation

Slurry tank

Recycle acetic acid from solver* recovcry

5
To leach syrtem

Recycle organics from solvent recovory

Recycle mother liquor from solvent recovery

Gambar III-22. Diagram proses pembuatan serat poliester/Proses TPA dari Mobil

BAB IV

PENGGT]NAAN DAN PEMANFAATAN PRODUK.PRODUK

PETROKIMIA
4.1 PENGGT'NAAN DAN PBMAIYFAATAN MEI{URUT SEKTOR INDUSTRI
Industri petrokimia merupakan penghasil utarna bahan baku bagi sektor industri lainnya karena produk-produk akhirnya kebanyakan masih merupakan "interrnediate products" (produk antara) atau produk-produknya kebanyakan masih merupakan bahan
baku bagi industri-industri lain. Penggunaan produk-produk petrokimia untuk industri yang semakin meningkat, sesuai kebutuhan industri di Indonesia, dapat dibagi dalam 8 sektor industri pemakai,

yaitu:

1. lndustri pupukdan pestisida. 2. Industri serat sintetik. 3. Industri bahan plastik. 4. Industri adhesive resin. 5. Industri bahan baku catlcoating. 6. Industri detergenUpencuci. 7. Industri elastomerlkaret sintetik. 8. Industri kimia khusus.
4.1.1 Penggunaan dalam Industri Pupuk dan Pestisida

Produk petrokimia amoniak/urea yang dihasilkan di dalam negeri sebagian besar dipergunakan sebagai pupuk untuk pertanian. Selain itu, penggunaan urea sebagai bahan baku industri semakin meningkat seperi dalam industri plywood dalam bentuk adhesive urea formaldehyde dan sebagai campluan dalampembuatan porselen. Kini industri pestisida di dalam negeri sebagai penunjang dalam bidang pertanian telah berkembang. Sebagian besar bahan aktif pestisida, pelarut dan aditifnya merupakan produk akhir industri petrokimia seperti senyawa-senyawa carbamate, thiocarbamate, surfaktan organilg organofosfor, organochlorida, alkohol dan sebagainya.
4.1.2 Penggunaan dalam Industri Serat Sintetik

Dalam rangka penyediaan bahan baku industri tekstil guna menunjang program pengadaan sandang nasional, maka industri serat sintetik dalam negeri telah cukup

116

berkembang. Menurut penelitian yang diadakan Dep. Perindustrian pada tahun

199ltl992

saja sudah terdapat 7 pabrik serat sintetik yang beroperasi dengan rincian kapasitas sebagai berikut: . "Polyester filament" : 53.600 ton/tahun. . "Polyester staple fibre" : 62.500 ton/tahun. . "Nylon filament" : 11.800 ton/tahun. Komposisi serat tekstil yang diolah industri pemintalan di lndonesia adalah sebagai berikut:
Sumber Serat Kapas Rayon

Komposisi (7o volume)


45,82
14.12

Poliester

38.t7
r.32
0.05
52

Akrilik
Wol Nilon/lain-lain

Peran serat sintetik (serat poliester, serat akrilik dan serat nilon/serat lainJain), dalam industri pertekstilan di Indonesia cukup menonjol, yaitu sebesar x.4O 7o dari seluruh pengadaan sandang nasional. Untuk lebih jelasnya lihat Gambar IV-I. Selain sebagai bahan baku untuk industri tekstil, maka serat sintetik dapat pula dikembangkan untuk keperluan non-tekstil seperti ban berbagai jenis kendaraan dan jala ikan. Produk petrokimia yang dipergunakan sebagai bahan baku untuk industri serat sintetik tersebut ialah: ' TPA ("terephthalic acid"), . DMT ("dimethyl terepthalate"), . PTA ("purified terephthalic acid"), . Kaprolakam. Pada awalnya, bahan baku tersebut sebagian besar masih diimpor. Akan tetapi dengan telah beroperasinya Pabrik Pusat Aromatik PERTAMINA di Cilacap pada bulan Agustus 1990 dan di Lhokseumawe (Status PMA) yang rencana semula akan berproduksi Maret 1998, maka sebagian dari bahan baku tersebut dapat dihasilkan di dalam negeri.
4.1.3 Penggunaan dalam

Industri Bahan Plastik

Pemakaian barang-barang plastik di dalam negeri yang terus meningkat telah mendorong produksi bahan plastik seperti: poli etilena (PE), poli propilena (PP), poli vinil klorida (PVC) dan poli stirena (PS). PE dan PP terutama digunakan untuk produksi "woven bags" yaitu untuk kantong plastik dan karung plastik dan dengan demikian menunjang pengembangan industri
pengepakan.

tr7

Dewasa ini terdapat 2 perusahaan di dalam negeri yang telah menghasilkan bahan plastik PVC, menggunakan monomer vinil Horida (VCM) sebagai bahan baku, yang hingga dewasa ini masih diimpor. Bahan plastik PVC digunakan untuk menghasilkan berbagai barang jadi seperti pipa, sepatu, kulit tiruan, karpet, kertas dinding dan sebagainya. Dengan telah dibangunnya Pabrik Polipropilen (POLITAM) PERTAMINA di Plaju pada tahun 1978, Pabrik Pusat Olefin di Merak Jabar oleh Perusahaan Swasta Nasional PT. CANDRA ASRVPT. BARruO PASIFIC Group, yang rencana semula akan berproduksi pada pertengahan tahun 1996, maka bahan plastik PP dan PE serta bahan baku VCM untuk PVC telah dihasilkan di dalam negeri. Stirena monomer sebagai bahan baku PS, belum dihasilkan di dalam negeri dan masih harus diimpor. 4.1.4 P enggunaan dalam

Industri Adhesive Resin

Industri adhesive (zat perekat) urea formaldelyde telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, khususnya guna menunjang produksi industri kayu lapis (plywood) yang juga berkembang dengan pesat. Jika pada tahun 1982 kapasitas terpasang industri plywood sebesar 1,8 juta m3ltahun maka pada tahun 1985 menjadi 4,5 juta m3/tahun. Sebagian besar produksi plywood adalah untuk keperluan ekspor. Dalam pemakaian/penggunaan sehari-hari, maka setiap m3 plywood memerlukan 'selanjutnya dalam pengembangan industri 63-75 kg "adhesive urea formaldehyde". perekat diusahakan untuk menghasilkan perekat yang berkwalitas tinggi yaitu perekat jenis melamin formaldehida dan fenol formaldehida. Sebagai bahan perekat dalam industri kayu lapis dan "particle board" digunakan
resin: 1. Urea formaldehida untuk jenis interior. 2. Melamin formaldehida untuk jenis eksterior. 3. Fenol formaldehida untuk jenis eksterior dan marine.

Perkiraan kebutuhan masing-masing bahan perekat yang dipergunakan untuk memproduksi kayu lapis dan "particle board" adalah sebagai berikut: 1. Kayu lapis yang diproduksi di dalamnegeri terdiri dai857o jenis interior, l27o jenis eksterior dan 37o jenis marine. Kandungan resin perekat dalam kayu lapis sebesar 2,57o men:urtt volume kayu lapis. 2. "Particle board" yang diproduksi terdiri dari 857o jenis interior, LSVo jenis eksterior dan 0 7o jenis marine (enis ini belum diproduksi di Indonesia). Kandungan resin perekat dalam particle board sebesar 8,5 Vo berdasarkan volume.
Dengan menggunakan data produksi kayu lapis dan particle board tahun 1985 juta m3, maka masing-masing bah4n perekat yang dipergunakan adalah sebagai berikut:
sebesar 4,5

118

1. Resin urea formaldehida sebesar 80.625 ton.

2. 3.

Resin melamin formaldehida sebesar 13.500 ton. Resin fenol formaldehida sebesar 3.375 ton.

4.1.5 Penggunaan dalam

Industri Bahan Baku Cat (Coating Industry) di dalam negeri antara lain

Beberapa jenis bahan baku cat yang telah dihasilkan

adalah jenis polivinil asetat (polyvynil acetate atau PAC), resin alkida (alkyd resin), resin poliakrilat (polyacrylic resin atau epoxy resin) dan poliuretan. Hasil produksi industri bahan baku cat dijual kepada para produsen cat yang hasil produksinya dimanfaatkan untuk berbagai industri seperti industri kendaraan bermotor, produksi ala!-alat rumah tangga seperti lemari es, kipas angin, cat untuk keperluan rumah tangga dan lain-lain. Di Indonesia terdapat sekitar 10 pabrik cat ukuran sedang sampai ukuran besar. Selain itu juga terdapat sejumlah organisasi./ perusahaan lebih kecil mulai dari produsen industri rumah tangga, sampai produsen pabrik kecil. Pemakaian cat yang paling besar

adalah untuk dekorasi.

Cat jenis ini yang menggunakan solvent sebagai pelarut didominasi oleh "oil modified alkyds", sedangkan yang menggunakan air untuk pelarut seperti halnya dengan "cat latex", didominasi oleh emulsi polivinil asetat. Untuk cat jenis "heavy duty" sering digunakan poliuretan yang penggunaannya relatif masih kecil, sedangkan anti karat kebanyakan menggunakan "epoxy resin". Pembahasan berikut akan terbatas pada: 1. "Alkyd resin", 2. "Epoxy resin",

3. 4.

Poliuretan, PAC.

Berdasarkan data yang diperoleh, konsumsi keempat bahan cat tersebut dalam tahun 1981 adalah sebagai berikut:

1. "Oil modified alkyd resin" sekitar 10.000 ton per tahun, yang sebahagian besar diproduksi dalam negeri walaupun hampir seluruh bahan bakunya diimpor. Perusahaan-perusahaan yang membuat resin tersebut adalah PT. Raung Nusa Chemicals, PT. Pardic Jaya dan ICI Paints Ltd. Kenaikan kebutuhan cat jenis ini selama ini rata-rata sekitar 10 7o per-tahun. 2. "Epoxy resin" sekitar 10.000 ton per-tahun yang seluruh bahan bakunya diimpor. Perusahaan catyangmenggunakan resin ini adalah PT. Hempelindo, Nippon Paint dan
PT. Pacific Paint.

Disamping sebagai bahan cat, anti karat (primers) untuk otomotif dan bahan konstruksi lainnya, epoxy resin juga digunakan sebagai "decorative laminates", sebagai bahan perekat spesial dengan daya rekat yang sangat tinggi dan untuk keperluan militer. Kenaikan kebutuhan jenis cat inirata-rata sebesar 107o per-tahun.

3. Poliuretan digunakan untuk "heavy duty" dengan konsumsi sekitar 2000 ton

per-

tt9
tahun. Di masa depan, kebutuhannya diperkirakan akan sama dengan kenaikan kebutuhanjenis cat lainnya yaitu sebesar l0%o per tahun. 4. PAC digunakan untuk cat latex dan bahan perekat dengan konsumsi sekitar 35.000 ton per tahun yang seluruh bahan bakunya masih diimpor. Laju kenaikan konsumsinya per tahun diperkirakan akan sama dengan konsumsi kenaikan bahan cat lainnya secara keseluruhan yaitu sebesar I0Vo per tahun. 4.1.6 Penggunaan dalam fnaustri Deterjen
Meningkatnya pemakaian deterjen di dalam negeri telah mendorong produksi dan pemakaian bahan deterjen seperti alkil benzena, alkil benzen sulfonat (ABS), selulosa karboksi metil (carboxy methyl cellulose atau CMC). Di samping 4 perusahaan besar dewasa ini, industri deterjen di lndonesia sebagian besar merupakan industri rumah tangga yang menggunakan 61.000 ABS ton/tahun. Dengan asumsi setiap ton pemakaian ABS akan menghasilkan 5 ton deteden, maka produksi deterjen pada tahun 1985 diperkirakan sebesar 305.000 ton. Dari 4 perusahaan terbesar penghasil bahan deterjen ABS tersebut, 2 perusahaan yang membuat deterjen bubuk (powder) adalah PT. Unilever Indonesia (dengan merek RINSO) dan PT. Dino Indonesia (dengan merek DINO), sedangkan perusahaan lainnya menghasilkan deterjen dalam bentuk cream/pasta. Berpedoman pada data Departemen Perindustrian selama tiga tahun terakhir, maka laju pertumbuhan konsumsi deterjen secara keseluruhan di Indonesia untul: masa depan rata-rata naik sebesar l0%o per tahun. Dengan beroperasinya Pabrik Pusat Aromatik PERTAMINA di Cilacap dan Pabrik Pusat Olefin CANDRA ASRI di Merak, maka produksi benzena untuk menghasilkan bahan baku deteden alkil benzena atau alkil benzen sulfonat sudah dapat dilaksanakan di dalam negeri.

4.I.7 Penggunaan dalam Industri Elastomer


Bahan elastomer (karet sintetik, seperti butadiena, isobutan), merupakan salah satu hasil industri petrokimia hilir yang penting namun belum berkembang di Indonesia. Di dalam negeri, dengan semakin berkembangnya industri ban kendaraan bermotor dan industri karet lainnya yang praktis lebih banyak menggunakan karet sintetik dari pada karet alam, maka kebutuhan akan karet sintetik akan terus meningkat. Karet sintetik yang dipergunakan terdiri dari jenis SBR + 807o (untuk produksi ban luar) dan dari jenis karet butil + 20Vo (untuk produksi ban dalam). Berbagai jenis polimer dan kopolimer karet sintetik yang dipakai dan yang masih diimpor dapat dirinci sebagai berikut:

l.

Sis-l,4-poli isoprena (cis-1,4-polyisoprene atau IR) Sis-l,4-poli isoprena secara kimia identik dengan karet alam dan penggunaannya terutama untuk ban kendaraan bermotor, serta untuk barang-barang jadi seperti sepatu

120

peredam getaran mesin, karet penghapus, selang dan lain-lain.


2.

Karet Polibutadiena (polybutadiene rubber atau BR) Karet sintetik BR terutama dipakai untuk telapak ban, karena sifatnya sangat baik menahan abrasi dan terhadap temperatur tinggi dan rendah serta sangat kuat. Juga banyak digunakan sebagai campuran bahan plastik polistirena (PS) untuk memperoleh "high-impact-polystyrene". Selain itu juga dipakai untuk selang, "sealant", bola-golf, insulasi karet dan lain-lain. Karet Stiren Butadiena (styrene butadiene rubber atau SBR) SBR bersifat "general purpose" dan terutama banyak digunakan untuk ban karena sifat-sifatnya lebih baik dari karet alam. Juga digunakan untuk keperluan otomotif, mesin-mesin, latex dan lainlain. Karet Nitril (nitrile rubber atau NBR) Karena sifatnya yang tahan minyak dan bahan kimia, maka NBR terutama banyak dipakai untuk oil seal, pelapis tanki-tanki, selang bensin, gasket, sepatu keselamatan, "printing rolls" dan lain-lain. selain itu, latex NBR digunakan untuk impregnasi kertas, "tieatment" kulit dan tekstil serta bahan adhesif. Karet Butil (butyl rubber atau BR) BR memiliki sifat "air-retention" yang sangat baik, sehingga karet ini
terutama

J.

4.

5.

digunakan untuk ban "tubeless" ban dalam dan produk-produk ban pada umunmya. Juga digunakan untuk "sealant", pelapis silo, reservoir, dll.
6.

Karet Neoprena (neoprene rubber atau CR) Karena tahan terhadap "ozone" dan iklim, tahan terhadap minyak dan abrasi bersifat liat serta kuat, maka banyak digunakan untuk "belts", "conveyor", selang, selubung
kabel, sealant adhesif, coating, dll.

7.

Karet Etilen Propilena (ethylene propylene rubber atau EPR) dan Karet Terpolimer Etilen Propilena (ethylene propylene terpolymer rubber atau EPT) atau monomer etilen propilen diena (ethylene propylene diene monomer atau EPDM) Karet jenis ini telah mulai dikenal juga sebagai "general purpose", bersifat tahan
terhadap abrasi, ozone, oksidasi, peroksida dan terutama digunakan untuk ban sepeda, suku cadang otomotif, dan lainJain yang menyerupai karet neoprena dan nitril.

8.

Karet Sintetik Lain Di samping jenis karet sintetik di atas, masih ada jenis-jenis karet sintetik lain seperti karet silikon (silicone rubber), elastomer polisulfida (polysulphide elastomer) dan karet flourokarbon (flourocarbon rubber) yang sangat sedikit jumlahnya atau kemungkinan belum dipakai di Indonesia.

t2r

4.1.8 Penggunaan dalam Industri Kimia, Khusus Industri Zat Pewarna atau DyestuffIndustry
Beberapa jenis industri petrokimia

hilir yang dapat dikategorikan sebagai Industri

Kimia Khusus yang sudah mulai berkembang adalah industri zatpewama atau dyestuff seperti phthalic anhydride (bahan pewarna untuk industri tekstil), dan "carbonblack" (bahan pewarna dan campuran untuk ban kendaraan). Bahan untuk industi zat pewarna
tersebut kebanyakan masih diimpor. Di samping phthalic anhydride (bahan pewarna untuk tekstil), juga digunakan resin untuk tekstil jenis amino resin (yaitu urea formaldehida dan melamin formaldehida), yang berfungsi sebagai "crease proofing chemicals", terutama untuk jenis tekstil katun agar tidak kusut dan melipat. Dengan digunakannya amino resin ini, maka tekstil katun dapat bertahan statusnya menghadapi persaingan yang berat dari serat sintetik yang mempergunakan resin anhidrida ftalat. Kandungan resin untuk tekstil katun sekitar 4-57o

dari berat serat katun. Penggunaan amino resin terbatas pada bahan-bahan yang berwarna. Karena ketahanannya terhadap klorida sangat rendah, maka warnanya dapat berubah menjadi kekuning-kuningan. Di Indonesia terdapat 2 perusahaan yang membuat amino resin khusus untuk tekstil, yaitu PT. Pulosynthetics (di Jakarta) dan PT. Dumaco (di Bandung) yang dalam tahun 1985 memerlukan 4.500 ton resin urea formaldehida dan 1.000 ton resin melamin formaidehida.

4.2

II\DUSTRI PEMROSBSAN PLASTIK

Industri pemrosesan plastik menggunakan bahan polimer sebagai bahan baku. Kualitas suatu produk jadi plastik, tergantung dari segi penampilan permukaannya. Kualitas ini akan sangat menurun bila terdapat kerusakan atau cacat pada struktur produknya akibat timbulnya "anisotropi" pada waktu pemosesan karena terjadi penyimpangan dari sifat-sifat plastiknya itu sendiri dan tidak stabil alirannya pada saat
dipanaskan.

4.2.1 Prosedur untuk Mendapatkan Produk Jadi Plastik yang Berkualitas Tinggi Untuk mendapatkan produk jadi plastik yang berkualitas tinggi, maka di dalam pemrosesannya perlu ditambahkan bahan aditif ke dalam bahan baku. Aditif ini sering juga disebut sebagai "ingredient" atau bahan pencampur. Da{am bentuk aslinya, tidak banyak resin plastik yang dapat digunakan secara langsung. Oleh karena itu perlu direkayasa bentuk yang lebih baru yang memiliki karakteristik yang lebih unggul dari bentuk aslinya yaitu dengan menambahkan bahan aditif ke dalam resin plastik. Bahan aditif untuk resin plastik yang berfungsi menaikkan kualitas produk jadi
plastik sesuai penggunaannya adalah sebagai berikut:

122

1. "Filler" (bahan pengisi) a) Kanji kayu, serbuk gergajian, bubuk kertas kayu, benang sisaVjute, sellulosa, mika atau batu mika untuk pembuatan "bulk" dan kontainer besar. b) Kapas, kertas, atau serat-serat sintetik sebagai penguat yang tahan banting dan tahan api, pada pembuatan "glass fiber", serat asbestos, serat selulosa. c) Piknren anorganik, oksida bubuk mineral, logam metalik, grafit, silika atau serbuk
logam, yang berfungsi sebagai pengeras (hardener).

d) Tanah "diatomaceous", oksida keramik, atau silika untuk mengisolasi panas. e) "Glass fiber", serat sintetik, grafit atau oksida logam untuk meningkatkan daya

tahan terhadap zat kimia. Pikmen, zat pewarna, carbon black, bubuk metal, atau mineral yang berfosforesensi untuk pajangan atau dekorasi.

2. "Plasticizer"
Untuk membuat bahan plastik menjadi lebih elastis, penampilannya lebih menarik dan sifat-sifat alirannya dalam keadaan mendidih dapat dikendalikan, maka ke dalam resin plastik perlu ditambahkan lagi bahan "plasticizer".Tanpa penambahan bahan plasticizer ini, maka bahan resin plastik tidak akan dapat dibuat menjadi produk jadi dalam bentuk seperti pipa, tabung, botol, lembaran atau film. Bahan "plasticizer" yang banyak digunakan adalah dioktil ftalat (dioctyl phthalate), diheksil sebakat (dihexyl sebacate), dilauril adipat (dilauryl adipate), diamil maleat (diamyl maleate), 2-etil heksil suksinat (2-ethyl hexyl succinate), asetil tributil sitrat (acetyl tributyl citrate), dibutil fenil fosfat (dibutyl phenyl phosphate) dan butoksi etil stearat (butoxy ethyl stearate) yang pada umumnya dibuat dari senyawa "ester" dan "amide".

3. "Colorant"
lain.

(bahan pewarna) Bahan pewarna yang sring digunakan adalah pikmen (pigment), zatpewarna dan lain(bahan penolong lainnya)

4. "Miscellaneous"

Yang termasuk kelompok ini adalah "stabilizer", "inhibitor", "hardener", katalis dan lain-lain.

4.2.2 Proses yang Digunakan dalam Industri Plastik untuk


Kualitas
Pemrosesan plastik ("processing

Meningkatkan

butir, kristal padat atau kristal cair menjadi bentuk akhir berupa produk jadi
permintaan pasar.

mengkonversikan plastik bentuk bubuk, butirdari dasar atau mentranformasikan berbagai bentuk bahan
sesuai

of plastics") berfungsi untuk

Prinsip dasar/cara kerjanya adalah sebagai berikut:

1. Resin plastik yang sudah diramu dengan bahan pencampur seperti tersebut di atas
dipanaskan.

123

2. Plastik yang sudah mencair atau yang sudah lunak ditekan dengan menggunakan mesin (seperti: mesin-mesin "roll", "die", "mold", "extruder", "blower", dll.) menjadi
bentuk yang diinginkan.

3. Barang plastik yang sudah memiliki bentuk

yang diinginkan, tetapi masih panas dan lunak, perlu dikeraskan atau dipadatkan lagi dengan cara "polimerisasi lebih lanjut" yang disebut "cure stage" guna meningkatkan mutu untuk mememuhi "thermoplastic material standard" sebelum dipasarkan. Ada beberapa metode atau proses untuk mengkonversikan atau mentransfor-

masikan bentuk bahan baku plastik menjadi plastik dalam bentuk produk

jadi, yaitu

"Extrusion" "Injection Molding" "Blow Molding" "Calendering" "Casting" "Laminating" "Compression Molding" "Jet Molding" "Post Forming" "Shell Molding" "Sheet Forming" "Slush Molding" "Transfer Molding" dan "VacuumForming" Dari seluruh proses konversiltransformasi plastik tersebut di atas, tidak semuanya dapat dijelaskan di sini. Hanya proses yang terpenting dan yang lazim digunakan di Indonesia akan dibahas di sini, yaitu proses "extrusion", "injection molding", "blow molding" dan "calendering".
4.2.2.

. . . . . . . . . . . . . .

dengan proses:

"Extrusion process"/proses ekstrusi

Bahan baku plastik dapat dibuat menjadi produkjadi dalam bentuk yang panjang, dalam potongan-potongan yang memanjang dan melingkar untuk berbagai-bagai keperluan, seperti pipa plastik air, plastik batangan, benang filamen, plastik lembaran dan berbagai bentuk arsitektur barang plastik yang dikehendaki, dapat dibuat dengan proses ekstrusi. (lihat Gamb ar IY -2). Biasanya tahap permulaan proses ekstrusi dijalankan dengan cara pengeringan yang disebut "dry extrusion", di.mana "feed" berupa bahan baku plastik berbentuk bubuk

dimasukan ke dalam "extruder" untuk dikeringkan dan selanjutnya didinginkan. Selanjutnya plastik lunak yang sudah dicampur dengan bahan pencampur dimasukan ke dalam mesin cetak (molding) untuk penyelesaian lebih lanjut. Ada 3 jenis proses ekstrusi yaitu:

t24

l. Proses ekstrusi sederhana yang disebut juga sebagai "direct extrusion" atau "extrusion-line". Bagan instalasi dengan cara ekstrusi ini dapat dilihat pada Gambar IV-3. Instalasi ini terdiri dari "extruder-die", "vacuum calibrator/polishing rolls",
"hauloff rolls/conveyor-pull rolls", "cutter/saw atau shear" yang tersusun dalam satu
garis lurus (online).
2. Proses

-r.

ekstrusi dengan proses lanjut yang disebut juga sebagai "semi positive extrusion". Gambar proses ekstrusi ini dapat dilihat pada Gambar fV4. Yang perlu dikontrol adalah "forming die" atau proses pembentukan material pada "die". Pencetakan (molding) baru bisa dilakukan sesudah material atau hasilnya keluar dari "extruder". Dalam tahapan proses ini, pencetakan/ molding belum bisa dilakukan. Proses ekstrusi pencetakan yang disebut juga sebagai "positive extrusion" atau "extrusion molding". Proses ini merupakan lanjutan proses di atas. Dalam tahap ini material sudah boleh dicetak (lihat Gambar IV-5). Dalam proses ini semua permukaan alat dilengkapi dengan sebuah alat cetak (mold) yang secara otomatis mencetak material yang keluar dari mesin "extruder".
Contoh flow diagram pembuatan dengan proses ekstrusi. a) Proses pembuatan pipa plastik PVC Raw material

[-l

Measuring

-+lBlending/I\4ixinp

Extruding
rx

Cuttine HlnspectionH
Crushing
and recycle

Markine

Packins
Product

b)

Proses pembuatan plastik pembungkus kawat listrik dengan PVC

Diameter

Controller

t25

c) Proses pembuatan monofilament/benang plastik


Pellet/Raw material Stretching

roll unit-l

4.2.2.2 Proses Injection Molding

1. Pada pemrosesan plastik yang menggunakan bahan baku yang baru meleleh pada temperatur tinggi dan sukar mengalir, maka proses ekstrusi biasa tidak dapat dipergunakan. Untuk mengatasi masalah ini suatu cara baru telah dikembangkan yaitu proses "injection molding". Ban plastik merupakan contoh produk yang dibuat dengan proses injection molding (lihat Gambar IV-6). 2. Proses injection molding secara luas dipakai untuk menghasilkan material
termoplastik yang kuat dan tahan panas, seperti ban plastik yang tahan terhadap panas. Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut (lihat GambarIY-7):

a) Bahan baku plastik yang masih berbentuk bubuk atau berbentuk butir-butir b)
diumpankan secara perlahan-lahan ke dalam "hopper", kemudian dimasukkan ke dalam "cylinder pemanas". Apabila bahannya sudah meleleh, maka dengan bantuan alat penyedot udara yang disebut "plunger" dilewatkan melalui "nozzle" yang terbuka, akhirnya dimasukan ke dalam lobang alat pencetak (mold) untuk dicetak. Jadi prinsip kerjanya sama dengan pasta gigi, yaitu dengan cara menekan, pasta gigi dapat masuk atau keluar tabung. Sesudah alat pencetaknya terisi, material plastik panas disedot dengan alat penyedot untuk didinginkan (chilling) supaya bahan plastiknya menjadi lebih padat dan kemudian dimasukkan ke dalam lubang alat pencetak untuk diberi bentuk yang dikehendaki.

3.

Bagan alir proses injection molding adalah sebagai berikut: a) Proses pembuatan 'busa plastik' dengan injection molding

t26

Pigment

Blending

Injection molding

Surface

Finishing (Coating)

b)

Proses pembuatan alat-alat fitting dengan injection molding

Material/
carry
i11

Blending/

Mixing
Finishing Injection molding

Extruding

lnspection

Palleting

4.2.2.3 Proses "Blow Molding"

1. "Blow molding" adalah cara pembentukan material termoplastik di dalam


bentuk cekung berlobang dengan menggunakan tekanan udara dan pemanasan.

suatu

Prinsip kerjanya sama dengan pada industri gelas dan botol yaitu dengan cara
meniupkan udara ke dalam bahannya dan setelah melalui proses yang lebih lanjut akan didapat hasilnya berupa botol atau gelas. Botol plastik yang dihasrlkan melalui proses ini dapat dilihat pada Gambar IV-S.

2. Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut: a) Bahan plastik lunak yang sudah mendidih yang berbentuk ballon tipis ditiupkan ke dalam alat "blowing". Proses ini dikerjakan di luar pintu masuk alat pencetak
(mold).

b) Kemudian bahan plastik panas dialirkan ke dalam alat pendingin udara untuk didiginkan (chilling) dan hasilnya dipadatkan. Untuk lebih jelasnya, proses ini
dapat dilihat pada Gambar IV-S, IV-9 dan IV-11.

3. Diagram alir pembuatan botol plastik PVC dengan proses "blow molding" adalah
sebagai berikut:

t27

Material blending

Extrusion

4.2.2.4 Proses "Calendering"

1. "Calendering" adalah cara untuk menghasilkan barang-barang plastik dalam bentuk film dan lembaran (plastic sheet) dengan menggunakan alat pemanas dan alat
penggulung yang dapat berputar-putar.

2. Proses ini secara terbatas dipakai untuk bahan termoplastik guna mengubahnya menjadi lembaran-lembaran/film-film plastik secara terus menerus dan untuk
membungkus (coating) tekstil, kertas atau barang-barang pendukung lainnya. Untuk jelasnya proses ini dapat dilihat pada Gambar IV-10 dan IV-12. Tampak bahwa bahan plastik dilunakkan dengan pemanas dan kemudian dilewatkan antara sederetan pasangan gulungan (roll) yang berputar, sehingga didapat lembaran-lembaran/filmfilm plastik dengan ketebalan tertentu sesuai dengan yang diinginkan.

3. Berikut adalah contoh diagram alir pembuatan lembaran plastik dengan proses
"calendering".

a)

Proses pembuatan lembaran (sheet) plastik PVC

Material carry in

Blending

& mixing

x)

Packing

Cutter Stacker

./j' !

r28

b)

Proses pembuatan atap asbes plastik

pVC

Benburv

mixer
Ingredient

Material x)

Y)

Calender roll No.3

SERAI (PENDEK)
FILAMEN (BENANG)

t: t: l+
r----------------

Iti -------l-IH
I
I

IE
I
I

IE
POLIESTER NILON

Itr ._----r--

KAPAS

RAYON + AKRILIK

RAYON

N)

Sumber: Dit.Jeh Aneka lndustri KONPEKSI / PAKAIAN JADI IMPOR PAKAIAN JADI

DAI-Al\.ll I

NEGERI

Gambar

IV-l.

Bagan industri tekstil Indonesia

130

Gambar IV-2. Pipa-pipa plastik yang dilapisi plat krom plastik hasil proses ekstrusi

r-t

9,,

oq

o
@

(D

3
F)

7!'

ID

(Ia

o
oc 0c

!)

x-

o
G X

IgI

EXTRUDER BARREL

TACHOMETER DRIVE HYDRAULIC MOTOR SCREEW DRIVE SYSTEM

STANDARD EXI-RUDER HEAD EXTRUDER SCREEW

.-*THRUST
BEARING

u)
N)

NON-RETURN

INJECTION CHAMBER HYDRAULIC INJECTION CYLINDERS

FLOWVALVE

AIR LIFT FOR SCREW REMOVAL

ASSEMBLY

PULL-IN CYLINDER

Gambar IV-4. Alat pcmbuat barang plastik dengan proses ckstrusi lanjut

IJJ

MOLOING POWOER HEATING UNtT

MECHANICAL SREW

STRAINER

o''

EXTRUDED PLASTIC

Gambar IV-S. Diagram pembuatan barang plastik dengan proses pcncetakan (extrusion molding process)

Gambar IV-6. Ban karet tennoplastik hasil proses "injection molding"

134

GUIDE PIN I\4OLDED PIECE GATE RUNNER SPRUE EJECTOR PLATE

I\,lOLDING POWDER

EJECTOR ROD SPRUE LOCK PIN EJECTOR PIN

NOZLE
ORIFICE COOLING CHANNEL COLD SLUG WELL

Gambar IV-7. Alat pembuat barang plastik dengan "injection molding"

Gambar IV-8. Contoh botol-botol plastik yang dibuat dengan proses "blow molding"

t35

EXTRUDED PARISONMOLD OPEN

FINISHED BOTTLE MOLD CLOSED BOTTLE BLOWN REMOVED FROM MOLD

&

Gamtrar IV-9. Cara kerja proses "blow molding"

PLASTIC

TAKE OFF ROLL

SHEETING ROLLER

CALENDERING

Gambar IV-10. Bagan proses "calendering"

136

Position

Position ll

EQU
a
Position lll

Gambar IV-1L, Juga cara kerja proses "b1ow molding"

t37

PLASTICS MASS (BANK)

STRIPPER ROLL SECTION

Gambar IY-12. Tiga tipe instalasi "calendering process"

138

4.3 REKAYASAA,IANUFAKTUR PRODUK DASAR

MENJADI PRODUK JADI

1. Dunia pendidikan tuntut mutu SDM (Sumber Daya Manusia) dan dunia kerja tuntut keterampilan dan profesionalisme. Kondisi pendidikan politeknik rekayasa./manufaktur di Indonesia masih ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Pendidikan tersebut di Indonesia hanya sampai tahap pengembangan SDM dalam tingkat merakit, bukannya merancang sampai memproduksi berbagai jenis peralatan industri. Padahal, pasar industri di Indonesia termasuk 10 besar di Asia. Untuk menopang permasalahan-permasalahan tersebut dalam dunia perminyakan, maka Museum Minyak dan Gas Bumi "Graha Widya Patra" yang terletak dalam Taman Mini Indonesia Indah, merupakan Museum Ilmu Pengetahuan dan Keterampilan dalam Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi di Indonesia (lihat pada Gambar IV-13 s/d IV-18). Museum ini yang merupakan tujuan wisata sekaligus sebagai wahana pendidikan, telah ditata sedemikian rupa agar dapat dinikmati dan enak ditonton oleh pengunjungnya. Untuk dapat melaksanakan fungsi tersebut, maka "Graha Widya Patra" harus dilengkapi dengan peraqaan tentang "keajaiban ilmu pengetahuan minyak dan gas bumi" ("the wonder of petroleum sciences") yang menarik, serta khasanah
pustaka yang enak dibaca oleh pengunjungnya.

2. Penelitian menunjukkan bahwa secara rata-rata seorang pengunjung museum akan meluangkan watunya tidak lebih dari l-2 menit untuk mengamati sebuah "benda koleksi" yang diperagakan. Nerasi antara label yang panjang-panjang saat ini
cenderung diabaikan oleh pengunjurg, sehingga banyak museum mulai menggantikannya dengan sekedar judul atau "headlines". Untuk memenuhi kebutuhan pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sesuatu benda koleksi, maka judul tersebut dilengkapi dengan penjelasan yang lebih rinci dalam bentuk "leaflet"
atau langsung dibawahnya berupa label/narasi.

3.

Cara lain terutama bagi mereka yang melakukan "penelitian" atau menyusun "karya tulis ilmiah populer" seperti bagi para siswa SMU atau para Mahasiswa yang sedang melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi yang ingin mengetahui "benda koleksi" apa lagi kalau sesuatu benda koleksi tersebut berupa "produk jadi petrokimia" (seperti pipa paralon PVC, busa plastiVjok mobil PUR dan lain-lain), maka untuk mempermudah para pembaca./para pengunjung museum mengikuti "hasil penelitiannya/isi cerita ilmiahnya" dalam merancang atau merekayasa/pabrikasi produk jadi petrokimia tersebut, perlu dipandu/dipertunjukkan dengan foto-foto nyata (seperti pada Gambar IV-19 dan Gambar N-zO terlampir), serta dengan tambahan penjelasan-penjelasan yang merupakan "suatu jalan cerita hidup yang disusun sedemikian rupa" dengan 'Jawaban-jawaban yang ilmiah" serta dengan "susunan pertanyaan-pertanyaannya" sebagai berikut: "Siapakah AKU"? "AK(J" berasal dari minyak dan gas bumi! Bagaimana caranya "AKIJ" diolah atau "direkayasa menjadi bahan "produk jadi petrokimia" yang sangat berguna untuk kehidupan manusia modern di dunia pada dewasa ini, dapat kita ikuti pada 2 (dua) macam contoh

139

rekayasa produk

jadi petrokimia tersebut, yaitu (1) pipa paralon PVC dan (2)

busa

plastik/jok mobil PUR berikut ini:

4.3.1 Rekayasa/lVlanufaktur Produk Jadi Pipa PVC:


Siapakah AKU
?

(1)

Fungsi dan kegunaanKu adalah untuk mengalirkan air dan gas bagi kesejahteraan umat manusia melalui produksi pipa-pipaKu yang berkwalitas tinggi. Oleh karena itu, siapakah Aku dan dari manakah asalKu ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, kawan-kawan "AKIJ" adalah pipa PVC, ingin berceritera bagaimana asal mula Aku dibuat atau direkayasa dari minyak dan gas bumi yang semula bentukKu berbentuk cairan atau gas, setelah diolah atau direkayasa Aku menjadi zat padat berbentuk pipa-pipa yang dapat digunakan untuk mengalirkan air dan gas. Kawan-kawan untuk keterangan lebih terperinci, ikutilah cerita berikut ini. Karena Aku berasal dari minyak dan gas bumi, maka Aku juga adalah produk petrokimia. Aku terbentuk dari 2 (dua) unsur atau 2 (dua) senyawa kimia, yaitu dari senyawa hydrokarbon {gas ethylene (CzFI+)} dan senyawa Chloride (Cl2), sehingga setelah berpolymerisasi, Aku mempunyai rumus kimia: [CH2 = CHCll". Aku merupakan produk homopolimer dari monomer vinyl chloride (VCM), yang semula berupa butiran atau serbuk berwarna putih yang selanjutnya disebut

PVC resin. Aku mempunyai sifat-sifat yang istimewa, yaitu tahan terhadap perbedaan cuaca, kelembaban dan terhadap pengaruh berbagai jenis asam lemak, jamur, mudah dicampur dan diwarnai dengan bahan kimia lain serta dapat dibentuk menjadi kaku (rigid) yang keras, sehingga aplikasiKu sangat bagus ddadikan pipapipa air minum dan gas diperkotaan.

(2)

Pabrikasi dan rekayasaKu: Selanjutnya kawan-kawan ikutilah ceritaKu berikut ini:


Proses pembuatanKnada4 tingkatan atau4 tahap, yaitu:

Tahap-l: yaitu

proses pembuatan bahan bakuKu olefin (berupa gas ethylene) dari

pengolahan minyak (minyak naphta) atau dari gas bumi (gas ethane), dengan proses perengkahan katalitik (proses catalytic cracking), yang dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut: minyak (naptha)
atau gas bumi (gas etahane)

Kondisi unitKu beroperasi pada:

1. Suhu(t) 2. Tekanan(p) 3. Katalist (kat.)

= 370-400' = 10-25atm
=
Pt (platina)

r40

Setelah proses perengkahan, reaksi-reaksi kimia atas pembentukKu adalah sebagai berikut:

2C2H6C2Ho

cracking 2C2Ho
I

2Ht

2H2 (Hydrogenasi) - 2CH4

2C2H6
(gas

crackins

+T++ ethane) -r-*

C2H4 +

2CH4

(gas ethylene) (gas mbthane)

Yang selanjutnya, gas ethylene hasil proses perengkahanKu inilah yang dipakai sebagai bahan baku pembuatanKu untuk tahap-tahap berikutnya.

Tahap-Z: yaitu proses pembuatan bahan bakuKu vinyl cholorida monumer (vcM) dari gas ethylene dan gas chloride, dengan proses dehydrochlorinasi dan proses perengkahan (cracking) yang dapat digambarkan dalam proses
diagram sebagai berikut:
gas

ethylele ( CzHr )

EDC (ethylene dichlorida)

gas chloride

oClz

) -

t
HCI

Kondisi operasi dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi dengan tahapan


proses pembentukanKu sebagai berikut:

1. Reaksi dehydrochlorinasi atau reaksi langsung gas ethylene (CztI+) dengan choloride (Clr) untuk pembentukan EDC (ethylene
dichloride).

CzHq 2.

Cl2

CH2CICH2CI

-I-----D,
Reaksi pembentukan monumerKu VCM (vinyl chloride monomer) dengan reaksi pemecahan (cracking) terhadap EDC pada suhu tinggi (+ 300'C) yang dilakukan pada cracking unit.

cH2cl

- cH2cl crTk

't

o cH2cHCl +

HCl

(EDC)

t:3000c

(vcM)

t4l
Selanjutnya VCM hasil proses cracking inilah yang dipakai sebagai
bahan baku untuk tahap-3 pembentukanKu berikut ini:

Tahap-3: yaitu proses pembentukanKu dari VCM berbentuk cairan kental menjadi
berbentuk resin yang padat dan rapuh (PVC resin) yaitu dengan proses polymerisasi massa dalam keadaan kering (tanpa adanya air), yang dapat digambarkan dalam proses diagram sebagai berikut:

VCM
( Hzoz )

VCM lnitiator
( Hzoz )

VCM
PVC
Polimerisasi - 2

PVC resin

Reaksi polymerisasi pembentukanKu adalah sebagai berikut:

n.CH2:CH-Cl
(vcM)

Ir-

.+ frr:CH (PVC)

Proses polymerisasi massa ini dilakukan tanpa adanya air (HzO) sebagai pelarut. Jadi pada permulaan reaksi harus ditambahkan zat organik aktif sebagai zat aktif "pemrakarsa atau initiator" berupa zat peroxyde (HzOz) berbentuk bubuVkristal. Penambahan bahan baku

initiator dilakukan dalam

reaktor polymerisasi

(2

tahap reaksi

polymerisasi) dengan kinerja atau konversi sebagai berikut: tahap-l polimerisasi pada reaktor-1 yang bekerja pada suhu 75"C mengubah VCM menjadi PVC sebesar 7-107o, kemudian setelah dialirkan dan daur-ulang kedalam reaktor-Z yang juga beroperasi pada suhu 75'C dapat mengubah VCM menjadi PVC sebesar 85-90Vo. Pada akhir proses pembentukanKu sebagai PVC resin berbentuk kering, didapat hasil dengan kwalifikasiKu sebagai berikut: - (Jkuran partikelKu antara 2-10 u (2-10 mikron) dengan kejernihan
yang sangat baik.

(KV) sebesar 600-1300 dan derajat temperatur mencair (melting point) untuk polymer agar dapat masuk mengalir kedalam mesin extrusionn line untuk dibentuk atau dicetak menjadi pipa ("extrudate temperature needed to extrude")
Derazat polimerisasi
sebesar 185-195'C.

142

Spesifikasi gravity/bulk desinty sebesar 0,6 - 0,61 grtctf - Untuk tahap selanjutnya Aku dibentuk bukan lagi berdasarkan proses kimia (teknologi kimia) melainkan dibentuk dengan teknologi yang lebih canggih lagi yaitu dengan teknologi pemrosesan plastikplastik ("plastics processing") seperti dijelaskan berikut ini:
bahan

Tahap4: Proses pembuatan dan pembentukanKu berupa pipa PVC dari

bakuKu berupa PVC resin, yaitu dengan teknologi pemrosesan plastikplastik ("plastics processing") terutama dengan proses "ekstrusi line" (proses pencetakan plastik-plastik), dapat digambarkan pada proses diagramKu sebagai berikut:

Mesin Pencampur Blending Extrusion line

Mesin Penghancur Recycling

Mesin Penghancur Recycling

Sebelum Aku dibentuk menjadi bentuk pipa-pipa pada mesin pencetak (pada mesin "Die" yang terletak didalam "Unit Extrusion line", terlebih dahulu Aku diramu atau dicampurkan dengan bahan-bahan tambahan/additif pada Unit pencampur (blending). Penambahan additif

sangat berguna untuk menambah daya tahan dan daya saingKu terhadap dunia luar. Adapun bahan-bahan ramuan/additif yang ditambahkan atau yang dicampurkan kepadaKu terdiri dari:

ini

(1)

(- hydrous tri basic lead sulfate) adalah bubuk logam putih yang berwarna berfungsi untuk menjaga ketahananKu terhadap
3 PbO.PbSO+.HzO
panas bersuhu tinggi.

t43

(2) (3) (4) (5)

Ca (CrsHlsOz)z (= calcium stearate) adalah bubuk semen berwarna putih yang berfungsi untuk menambah ketahanan/daya tahanKu Wax atau lilin: bubuk kristal-kristal putih yang juga menambah daya
tahan dan untuk mengkilatkan Aku supaya licin.

Carbon black (C): bubuk berwarna hitam yang berfungsi sebagai cat pewarna dan juga menambah daya tahanKu. TiOz (= titanium oksida), bubuk logam berwarna antara hitam dan putih yang berfungsi sebagai cat pigmen dan juga untuk mengeraskan/
menambah daya tahanKu.

Setelah Aku dengan ramuanKu bercampur sempurna, kemudian dipanaskan/dilelehkan pada pipa pemanas yang bekerja pada suhu dan tekanan tinggi (pada suhu 185 - 195'C dan tekanan sebesar 2N - 210 kglcrr{-), kemudian dalam keadaan meleleh Aku mengalir dan masuk kedalam "Unit Extrusion line" yang didalamnya ada mesin "Die" (mesin pencetak) untuk mencetak dan membuatKu menjadi berbentuk pipa-pipa' Kemudian pipa-pipa produkKu didinginkan dengan teknik pendinginan

evaporasr udara yang disirkulasikan dengan air pendingin, setelah mendingin lalu pipa-pipaKu dipotong-potong sesuai dengan standar/ ukuran yang dikehendaki pasaran, kemudian masuk ke gudang penyimpanan untuk dipasarkan dengan nalRa merek dagangKu: "pipa PVC". selanjutnya kawan-kawan, yang sangat perlu untuk kawan-kawan ketahui dalam penyusunan penulisan "karya tulis" disekolahnya nanti, adalah mengenai kwalifikasi/spesifikasiKu sebagai penghasil pipa-pipa PVC, produksKu harus mengikuti Standar Intemasional yang sudah ditentukan, yaitu harus mengikuti standar ISO/TC-138 dimana produk pipa PVC ini telah diuji ketahanannya pada keadaan cuaca (suhu kerja) antara suhu 2060.C, didapat hasil pengujian bahwa produk pipa PVC ini dapat bekerja pada tekanan yang sangat tinggi tanpa mengalami kebocoran atau pecah dan tahan dipakai terus menerus (umur pipa) selama 50 tahun, dengan kwalifikasi yang dapat digambarkan dalam tabel sebagai berikut:
Ukuran Pipa Diameter (D) 2,5 Ketebalan (t) 0,4 Tekanan Kerja Berat Jenis Pipa (b.

j)

kgcm2 (atm)
I

Specific grafity (s.g)

-20 cm

0,5 cm

l0 kglcm2 (l l0 atm)

1.30 1,33

- r,32 - 1,41

20-60cm

0,6-0,'7 cm

lz3kgcnf 023 atm)

t44

4.3.2 REKAYASAA{ANUFAKTUR PRODUK JADI BUSA PLASTIIVJOK


MOBIL PUR:
Siapakah AKU?

(1)

Fungsi dan kegunaanKu adalah sebagai alat pengaman berupa bantalan pelindung yang empuk untuk kesejahteraan hidup manusia didalam bertransportasi, melalui produksi busa-busa plastikKu yang empuk dan berkualitas tinggi. Oleh karena itu siapakah Aku dan dari manakah asalKu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kawan-kawan "AKIJ" adalah "busa plastik PUR (= busa yang fleksibel Polyurethane ) yang empuk, ingin bercerita tentang "asal mula bagaimana Aku dibuat", dimana yang semula bentukKu berbentuk cairan atau gas. Setelah diolah dan direkayasa, Aku menjadi zat padat berbentuk busa-busa plastik yang empuk, yang dapat digunakan sebagai bantalan tempat duduk dalam industri rumah tangga & transportasi (seperti busa mebel, busa jok mobil, busa jok
kapal terbang, dll).

Kawan-kawan untuk keterangan yang lebih lanjut, ikutlah ceritaKu berikut ini: karena "AKIJ" berasal dari minyak dan gas bumi, maka "AKU" juga adalah "produk petrokimia". Aku terbentuk dari 2 (dua) unsur atau 2 (dua) senyawa hydrokarbon, yaitu (terutama) dari senyawa "isocyanate" atau senyawa:

r CH,
toluene diisocyanate =

-'r

lO,-*l LNCO J
l-

dan senyawa Polyol

[ HO

-R-

OH],

sehingga setelah berpolymerisasi

jadi busa polyurethane, Aku mempunyai struktur

kimia:

Catatan:

\/ t N-coH

I n|-ry-coH; o-R-o + I
_1"

cn.

Rn= (2)

ikatanalkylhydrokarbon sejumlah bilangan/molekul yang berpolimerisasi

Pabrikasi dan rekayasaKu: Selanj utnya Kawan-kawan ikutlah ceritaku berikut: Proses pembuatanku ada 4 tingkatan atau 4 tahapan, yaitu:

Tahap-l: yaitu proses pembuatan bahan utamaKu berupa "Aromatik-BTX (= 3 benzene, T = toluene, X = xylene), terutama berupa toluene (= CoHsCH:) dari pengolahan minyak ( naptha ) atau gas bumi (gas kondensat). Dengan melakukan proses "Catalic Reforming" atau proses "Pemben-

t45

tukan dengan Katalyst" terhadap minyak naptha atau gas kondensat pada Unit Reforming, akan dihasilkan "Produk" aromatik BTX (terutama T = tolune yang merupakan bahan baku untuk proses selanjutnya) dan yang dapat digambarkan dalam diagram proses sebagai berikut:
B = benzene (CoHo)

Unit Distilasi
atau gas kondensat

T: X:

toluene (C6Hs-CH3)

xylene (C6H5-C2H5)

Kondisi operasi pada Unit Reforming, bekerja pada suhu (t') = 450'= 10-30 atm dan menggunakan katalist (kat.) (=platina), serbuk Pt maka pada kondisi operasi seperti tersebut diatas terbentuklah bahan baku-bahan baku Aromatik-BTx dipisahkan satu persatu dari fraksi-fraksinya. Yang untuk selanjutnya, yang perlu kawan-kawan kita bahas dalam uraian berikut ini adalah: reaksi-reaksi kimia yang terjadi atas pembentukan bahan bakuKu yaitu pembentukan toluene (C6H5-CH3) dengan reaksi isomerisasi dari CzAromatik hydrokarbon sebagai berikut:

500'C tekanan (p)

HrC- C-CH. H,C C-CH. - \ ./t


CH2 N

isomensasr
----------------

HrCl -lt-

t2\CH,

lsomensast
----------------

H,C C,-CH" -\ ,/"


CHz

(dimethyl- cyclopentene)

ll

CH,
I

3Hz

HCzc
I

tcn
CH

HC.

\./

CH

ftolr"rr"

C6H5-CH3]

Toluene (= CeHs-CH3) hasil proses pembentukanKu inilah yang dipakai sebagai bahan baku pembentukanKu untuk tahap-Z
berikutnya.

Tahap-Z: proses pembuatan bahan baku utamaKu berupa TDI (= toluene diisocynate) dari "toluene (= CoI{s-CHr)" melalui tahapan proses-proses

t46

"nitrasi", "hydrogenasi" dan "phosgenese" sehingga menghasilkan TDI,


yang dapat digambarkan dalam proses diagram sebagai berikut:

cocl2
Unit Hydrogen 2,4 dlamine- Unit PhosgenKat.

AlCl:

-ese

Kondisi operasi dan reaksi-reaksi kimia yang terjadi dengan tahapan


proses pembentukanKu adalah sebagai berikut:

1) Reaksi Nitrasi terhadap bahan baku "toluene" (dengan bantuan katalist.HzSOa), menghasilkan 2,4 dinitro toluene, sebagai berikut:
CH3

(toluene)

+ 2HNo.*kat.
(nitrasi)

H2O

NOz

(2,4 dinitro toluene)

2) Reaksi Hydrogenasi terhadap bahan baktt "2,4 dinitro toluene" (dengan bantuan katalist AlCl3), menghasilkan bahan bakt "2,4
diamine toluene", sebagai berikut:

cH3 flNoz \,/ NOz

(Hydrogenasr)

6 Hr + kat otZ;NHz

cH3

4HzO

NHz toluene di-isocyanate)


dengan dengan

(2,4 diarnine toluene)

(:

3) Reaksi "Phosgenese" pada suhu (t) = 200'C yaitu penambahan pereaksi "campuran antara COCI2

dichlorobenzene (DCB), menghasilkan bahan baku utamaKu TDI (= toluene di-isocyanate ), sebagai berikut: CHr

o*n'
NHz

+ 2 COCIz (phosgenese)o a1-NCO + 4HC1


r

CH:

: 200'c

\-/

NCO
toluene di-isocyanate )

(2,4 diamine toluene)

(:

Catatan: Pada struktur "toluene di-isocyanate" atau struktur TDI tersebut, maka

ikatan atom atau molekul-NCO- disebut "ikatan atom atau molekul isocyanate". Kalau ikatan atom atau molekul toluene kita sebut

r47

sebagai

Rl dan digambarkan dengan struktur =f

LOI

fft'r

maka untuk selanjutnya ikatan atom atau molekul TDI ini dapat digambarkan dengan struktur kimia: oCN-R1-NCO. Selanjutnya TDI hasil proses phosgenese inilah yang dipakai sebagai bahan baku untuk
tahap-3 berikutnYa.

Tahap-3: yaitu proses pembentukanKu dari bahan baku utamaKu TDI berbentuk cairan kental/resin kental, yaitu dengan proses polymerisasi bertingkat (dengan proses "prepolymerisasi" (pada Reaklor-l)" dan (semipolymerisasrlpada Reaktor-2"), yang dapat digambarkan dalam proses
diagram sebagai berikut:

resm

Reaksi-reaksi polymerisasi pembentukanKu adalah sebagai


berikut:

1) Pada Reaktor-l, proses prepolymerisasi berlangsung dengan mencampurkan bahan bakuKu TDI dengan bahan pelarut Polyol atau polyether. hoses berlangsung pada suhu (to) antara
produk: "Prepolymer" yang belum stabil dan yang masih harus disempurnakan lagi sampai bahan polymerKu mendapatkan berat

110-120"C, sehingga

Aku

terbentuk berupa

molekul yang lebih tinggi dan lebih stabil lagi pada proses polymerisasi berikutnya. Reaksi-reaksi kimia yang terjadi
adalah sebagai berikut:

1.

TDI + Polyol

t = ll0-l20oC. Prepolymer '-------T-.+

atau:

2. OCN-R'-NCO

HO-R.OH

t:

ll0-l20oC

(:

TDI )

(:

Prepolymer )

148

2) Pada Reaktor-2, proses semi polymerisasi berlangsung dengan mencampurkan produk "PrepolymerKu" dengan "Air" dan
dengan bantuan katalist pada suhu reaksi antara 130-140'C, sehingga reaksi dengan "Air" ini aku terbentuk berupa "PIIR resin kental" dan sudah mempunyai berat molekul yang lebih

tinggi dan yang lebih stabil. Reaksi kimia yang terjadi


pembentukanKu adalah sebagai berikut:

atas

Prepolymer
atau:

HzO,

PUR resin

CO2

OCN-RI-NCO

(:

ool oCN-Rr-NH-t-o-n-o-t-NH-R'-N-C-o +-----------lt


|

TDI

t:110-l2O"Co | (: Polyol )
HO-R-OH

(: Prepolymer )

Kerapan (desinty) dari resin kental PIIR yang terbentuk ini, dapat dikontrol dengan terbentuknya sejumlah CO2 yang dapat digunakan sebagai "Blowing agent" pada proses tahap berikutnya. Untuk tahap selanjutnya sampai Aku dibentuk berupa "busa plastik PI-IR (= PUR foams flexible) yang empuk, bukan lagi berdasarkan proses kimia semata-mata melainkan, dibentuk dengan teknologi pemrosesan plastik-plastik (plastics processing), seperti yang akan dijelaskan berikut ini:

Tahap-4: Proses pembuatan dan pembentukanKu menjadi/berupa "busa-busa plastik PIIR" yang empuk dari bahan bakuKu berupa PUR resin kental yaitu dengan teknologi pemrosesan plastik-plastik (plastics processing) terutama dengan proses "blowing" (proses pembusaan dengan cara meniupkan bahan dan "injection molding" (proses pencetakan bahan plastik dengan cara injeksi), yang dapat digambarkan pada proses
diagramKu sebagai berikut:

149

Bahan-Bahan
Bahan Baku

Addirif
LVlgsllt rElrugku(

PUR Resin kentbl


Flehqn l{imio Fh
rPur

Blowing Agent

Blending

-l Injection Molding

Pemeriksa Mutu Inspection

Alat Pemotong Lapisan


Coating

Pembuat Merek

Mesin Pembungkus Packing

Produk busa jok plastik PUR

Marking

Sebelum Aku dibentuk menjadi bentuk "busa-busa" bantalan cetakan atau busa-busa jok cetakan (pada mesin "Die" yang terletak didalam. "Unit Mesin Pencetak/Injection Molding", terlebih dahulu Aku diramu atau dicampurkan dengan bahan kimia "blowing agent" dan bahan-bahan tambahan lainnya/additif pada "Unit Pencampur (blending). Pencampuran bahan-bahan kimia ini dilakukan pada suhu pemanasan antara 35-110'C selama 34 menit/putaran, yaitu sampai terjadinya reaksi pembusaan (terbentuknya gumpalan busa) dengan sempurna. Penambahan bahan-bahan additif ini dimaksudkan untuk menambah daya tahan dan daya saingKu terhadap dunia luar. Adapun bahan-bahan ramuanKu/additif yang ditambahkan atau yang dicampurkan kepadaKu terdiri darildan berfungsi, sebagai berikut:

(1)

Disamping gas CO2, bahan kimia "blowing agent" yang efektif untuk pembentukan busa PUR adalah "Chlorofluorometanes-ll dan 12" atau "CCI3F dan CCI2F2". Penambahan bahan-bahan kimia ini sangat berguna karena fungsinya
disamping mempercepat terj adinya pembusaan/penggumpalan busa", juga membuatkan "busa yang sudah berbentuk produk jadi nanti, lebih tahan terhadap panas/yang bersuhu tinggi. Karena bahan kimia ini termasuk gas-gas yang sudah larut dan tidak merusak lingkungan (terutama tidak merusak lapisan "ozon" dan efek rumah kaca), maka pemakaian CCI3F dan CClzFz ini sangat disukai pada pembuatan busa bantalan empuk pada alat-alat transportasi

r50

(2) Bahan katalist DMEA (= Dimethylethanol amine) dan DABCO (= Diaminobicyclooctane), mempercepat reaksi air untuk membentuk terjadinya busa kentaUgumpalan busa (3) Silicone surfactan, bahan

kimia perekat yang dibuat dari campuran silikon dan methyl chloride, yang selanjutnya

menghasilkan "Silicone Surfactan" dengan nama kimianya: methyl chlorosilicones (= (CH:)z - SiCl2). Bahan additif yang ditambahkan ini berfungsi untuk menstabilkan terjadinya busa dan juga dapat mengaktifkan permukaan busa, sehingga
membantu penyebaran

inti udara pada permukaan busa. Juga

dapat menjaga permukaan busa dalam keadaan panas glcbal yang stabil, sehingga membuatkan busanya tahan terhadap
oksidasi dan terhadap kehancuran yang disebabkan perubahan

iklim lainny
(4) Bahan pengisi/filler dan pigment: untuk menambahkan kekuatan/daya tahan busa terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan terjadinya kebakaran dan kerusakan lainnya,

perlu ditambahkan bahan additif/sebagai bahan pengisi seperti: potongan-potongan kecil benang nilon atau benang polyester dan butiran-butiran kecil/pecahan-pecahan
"fibreglass".
35110'C dan dipanaskan sampai bercampur sempurna/sampai terjadinya busa kental yang stabil, kemudian dipanaskan lagi/dilelehkan pada dapur pemanas/pada oven yang bekerja pada suhu (t) = l7O-175"C dan tekanan (p) pada 5 kglcri. Kemudian dalam keadaan meleleh Aku mengalir dan masuk kedalam "Unit Mesin Pencetak/Injection Molding" yang didalamnya ada mesin

Setelah Aku dengan ramuanKu dipanaskan pada suhu

(t) =

mencetak, memproses dan "busa berbentuk bantalan/jok mobil yang menjadi membuatKu empuk". Kemudian busa bantalan/jok yang empuk produkKu tersebut didinginkan, setelah mendingin masuk lagi kedalam "Unit/Alat Pemotong Lapisan atau Coating yaitu untuk memperbaiki dan menyempurnakan lapisan permukaan dari busa bantalan/jok mobil produkKu tersebut, supaya seslrai dengan standar/ukuran yang dikehendaki pasaran kemudian masuk ke gudang penyimpanan untuk dipasarkan dengan nama merek dagangKu" busa bantalan/jok plastik PLIR" (lihat fotocopy gambar-gambar busa/jok mobil PUR sampul luar terlampir). Selanjutnya kawan-kawan yang sangat perlu untuk kawan-kawan

"Die" (mesin pencetak) untuk

151

ketahui dalam penyusunan penulisan "karya tulis" di sekolah nanti, adalah mengenai kwalifikasi/spesifikasiKu sebagai penghasil busa-

busa bantalan plastik PUR untuk "tempat dudulc/jok mobil,


produksiKu tersebut harus mengikuti standar InternasionaVStandar ISOffC-138 sebagai berikut:
Spesifikasi "busa plastik Polyurethane (PUR flexible foam untuk tempat duduVjok mobil )
Ukuran per lembar
busa,/foam

Kerapatan

Daya rentang

Daya tegang

Daya koyakan

Lrbar (width)
(meter)

Tebal (thickness)

Desinty

Bogation

Tensile strenght Tear strenght

G9m1

(%rl:ur.)

(kN/m2min)

(N/mmin)

(mm)
0,3G-1,3 m 2G-40 mm

35-60 kg/m3 I lG-150 kNm

75-120
kN/m2min

134

333 Nm

Catatan: Tinjauan ekonomi karena kerapan (density) busa plastik ini hanya 213
dari kerapatan (density) busa karet (kerapatan (density) busa karet sehsar 80-110 kglrn') dalam perkataan lain: busa plastik PUR jauh lebih ringan dari busa karet, maka meskipun harga busa plastik PUR/satuan berat lebih mahal dari busa karet, tetapi karena busa plastik PUR lebih ringan persatuan volunrc, akhirnya dari segi komersialisasi pemakaian busa plastik PUR harganya menjadi lebih rendah/menjadi lebih murah dari busa karet. Sehingga pada era globalisasi sekarang ini, pemakaian busa plastik PUR sangat atau lebih diminati dunia, sedangkan busa karet pemakaiannya sudah kalah bersaing dengan busa plastik PUR ini.

Cukup sekian dulu kawan-kawan untuk kali ini dan sampai bertemu lagi pada penulisan "karya tulis ilmiah: "Siapakah Aku" untuk yang akan datang ini dan selamat mengikuti.

152

Gambar fV-13. Lembar Kegiatan Siswa SMU Kerjasama Museum MIGAS "Graha Widya Patra" dan Departemen P dan K - Dit.Jen.PD. dan M.

153

{&*{s,H h&ir|ds {sn {'d$ s}ft$ .!&r$l** s&i,$ PEN',I"

tb*r.q$N.$ri$${$l Ss(ll*\stN} ll**$i &slt r&;.{. Ssh

$w*,tnns\

$*r.*o$Lm sMr liirtsJdsll*sn

Thi$t

S!!!f

d Fs$"1Ld.'

&rr

s\.$)' d s

Gambar IV'14. Lembar Kegiatan Biologi "Plankton dan Fossil sebagai Petunjuk Adanya MIGAS di Perut Bumi"

r54

il*$S%$ffi,, dt" ffi r:,fl"qqIF,

q*'ffii"#

Ofo*-(ma d\rs{dt$n d* *{4ffi hsyrlla .*ifidhc, F*nil*.n tMro*r,

b*t*Lrr fu"rml*n Mt}(rgsfi

ll!N,*$We

ffir{

Gambar IV-15' Lembar Kegiatan Fisika Sebagai Prinsip Kerja Eksplorasi Pencarian MIGAS

155

{'{*us&rr

l&Me l**fiF*if*ff*l

f&tp*ee

S{S &l.!*

$ffitsmee

f,fr.W -xrrW g*flru.n fk#

$1s0&ih#fl

{*r itesils*il*
d*it $l\lf*{ryf,\

YM$I

fiMt]tl Stt{}]ier Ursx.dft {.liT rn

Gambar IV-16. Lembar Kegiatan Geografi Untuk Melihat Misteri dan Sensor di Dalam Perut Bumi

156

.!rHIu, (.apr ?, /(cl*.r I

LAPANCiI-\ UTAMA \tINYAK llAI (.;AS tttil.Il DI LtrPAS PANI}{t INDONESIA

'ftlGAs
Arh.rti lxltil lapa::girn ularna rrrinv;rk tlan gas bnmj Inclonesia hr:rikur ini.
I

. Tuljskan
lnd<lnr:sia

pada;:cra !r^lln-noJll& lnpirogan rrrir-virk rl:rn girs hunri di kpas patrrai : I. Kahrrp f lrut Cinet .Sel ). .]. Sinta ( larrr Jau,a ). 2. T.IdiLng ( lirut Cina .gel ). 4. Alirrna ( .lltur.larv:r ).

fT,,,-*-^".'i ." n**"


t- '

,1

I-^,PANCAIf I,JTA]V{A }IINY,,I,K I)AN (}AS TIUNII tNIXJNESI. .

Gambar IV-17. Lembar Kegiatan Pemetaan untuk Mengamati Peta Lapangan Utama MIGAS Indonesia (Sumber: Museum MIGAS "Graha Widya Patra" - TMII)

i
I

157

ffii**{iNr l&$&&,iki} $d{ Srdis


r{&*,,r* tr&sd& Pxt*r

{}slMq$rs' &rr*sh*t l1r lGtt$qdn


I!$de,$d -i&i*ile*$i'lrh$dr{i${*e

tMdS*

Tf,!}I

N{st*$$ei}

tls{fBp8{ ISMtN*il}. $#,!NWsl Xi{rr$t

{M W

Gambar IV-l8. Lembar Kegiatan Kilang Pengolahan MIGAS untuk Menghasilkan BBM dengan berbagai Proses Kimia

158

Fruduk fetr*kfu*ix

Gambar IV-19. Produk-Jadi Petrokimia Pipa PVC

t59

FR$lltrK PI:TR$KINIA llu*;r illimtlk {jerk nrtrhil f t} }t

ffiffi

#ffi

mrur-ltjK rffiTR*fi[h{iA

ms$si$ $l$srfur ls|$,s d&n iek!**jx

ms{rj*dik$* Wn6sr$,idi l&rh


ny*rnr*n kwh*ru$er*

Gambar IV-20. Produk-Jadi Busa Plastik / jok mobil PUR

BAB V

PRODUK.PRODUK KHUSUS PETROKIMIA DAN PENGGUNAANNYA


5.1 PRODUK KHUSUS METHMIX
"Methanol mixture" yang disingkat dengan kata "Methmix" adalah bahan kimia campuan antara methanol, air demin dan pencegah korosi dalam satuan perbandingan volume (7o vol) tertentu. Pencampuran ini dibuat sesuai dengan keperluan dan kebutuhan jenis mesin pesawat udara pemakai bahan tersebut. Penggunaan Methmix pada pesawat udara berfungsi sebagai pendingin ruang bakar mesin, sehingga dengan pendinginan ini memungkinkan masa oksigen lebih rapat, dengan demikian pembakaran akan menjadi lebih sempurna dan tenaga yang dihasilkan menjadi lebih besar. Hal ini akan menambah tenaga dorong pada saat pesawat tinggal landas ("take-off';. Methanol dan air demin sebagai komponen utama Methmix harus memenuhi persyaratan mutu, yaitu menurut spesifikasi BS: 506: 1966 (British Standard Specification) untuk methanol dan DERD 2491 untuk air demin. Penambahan zat pencegah korosi dimaksudkan untuk menghambat atau mencegah terjadinya korosi pada pipa saluran dan ruang bahan bakar mesin. Tidak semua jenis "Methmix" menggunakan zat pencegah karat, dengan demikian komponen utama Methmix terdiri hanya dari methanol murni dan air demin. Perbandingan campuran yang dikenal hingga dewasa ini menggunakan perbandingan methanoVair demin/inhibitor sebagai berikut: 1. Untuk mesin-mesin piston: 60140ll;50/5011dan 50/50/0 2. Untuk mesin turbin: 45155/0. Catatan: Menurut sumber data dari PDN-PERTAMINA, pada saat ini Pertaminahanya memproduksi Methmix dengan perbandingan 45 I 5 5 10.

5.1.1

Pembuatan Methmix

Komponen dasar methanol mixture terdiri dari methanol murni dan air demin.

5.1.1.1 Methanol murni Methanol murni ("pure methanol") sebagai komponen dasar methmix diperoleh dari produksi dalam negeri (lokal) maupun yang diimport dan harus memenuhi spesifikasi persyaratan mutu berdasarkan spesifikasi BS: 506: 1966 seperti terlampir (Lihat pada

161

Tabel

V4:

Spesifikasi Methanol murni Lampiran).

1. Pada setiap penerimaan methanol murni hasil produksi dalam negeri maupun import, harus disertai dokumen jaminan mutu berupa "release note" dan "sertifikat mutu"
serta "test report" pengujian laboratorium dari instansi pemasok.

2. Dilakukan pengambilan contoh untuk pengujian laboratorium terhadap methanol murni dari produk import. Apabila hasil uji laboratorium memenuhi spesifikasi, methanol murni tersebut dapat diterima dan jika hasil uji laboratorium tersebut tidak baik, harus ditolak karena tidak memenuhi standar mutu untuk dipakai sebagai
komponen dasar methmix.

3. Pada penerimaan methanol mumi produksi lokal melalui "mobil tangki"


pengangkutnya, maka langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut: a) Periksa kelengkapan dokumen jaminan mutu seperti diatas. Apabila dokumennya tidak jelas/lengkap, produk methanolnya tidak dapat diterima. b) Bila petunjuk atasan supaya diperiksa secara visual, lakukan hal-hal sebagai

berikut: 1) Dilakukan pengendapan selama + 10 menit dan periksa segel. 2) Diambil contoh dari saluran pengeluaran untuk pemeriksaan visual. Jika hasil visual baik (terlihat larutannya jernih dam tidak ada endapan), maka methanol murni dapat diterima dan jika hasil visual tidak baik, methanolnya tidak dapat diterima/dikembalikan.

4.

Pada penerimaan methanol murni dengan "drum" baik terhadap produksi lokal,

rurupun produk import, perlu dilakukan langkahJangkah pemeriksaan sebagai


berikut: a) Diperiksa kelengkapan dokumen jaminan mutu seperti diatas. b) Periksa "drum" menurut nomor "batch seri pembuatannya" dan juga kondisi fisik setiap drum. Drum yang cap "sealnya" rusak, bocor serta berkarat sehingga isinya

diragukan, tidak dapat diterima dan drum yang kondisi fisiknya baik dapat diterima.

5. Penimbunan methanol murni: Pada umumnya penerimaan melalui "mobil tangki",


langsung dibongkar ditangki penimbun dan khususnya penerimaan dengan "drum" apabila langsung digunakan untuk pencampuran (blending) dapat ditimbun dalam "tangki penimbun" maupun ditimbun dalam "drurn".

a)

Penimbunan methanol murni dalam "tangki penimbun", harus memenuhi persyaratan dasar, sebagai berikut: 1) Terminal tangki harus dari besi baja/stainless steel, perunggu atau logam
campuran.

2) Blla logam lunak dapat dipakai tetapi harus dilapisi dengan "epicoat"
pembungkus.

3) Tangki

harus dilengkapi dengan "PV valve".

162

4) "Tank Cleaning" harus dilakukan

setiap tahun, tetapi apabila kondisi tangki "tank pembersihan, cleaning" dapat dilakukan sebelumnya. memerlukan maka

b)

Penimbunan methanol murni dalam "drum" dilaksanakan sebagai berikut: 1) Drum ditimbun dalam posisi tidur dengan alas balok sehingga tutup drum membentuk garis sejajar serta berada dibawah permukaan bahan, sehingga jika ada kebocoran dapat segera diketahui. 2) Penimbunan dapat dilakukan dengan cara menyusun drumnya berjejer keatas dengan pola 4, 3,2, I atau berderet sebanyak tiga lapis.

6.

Pengawasan mutu methanol mumi dalam penimbunan. Setiap methanol murni yang ditimbun dalam penimbunan (dalam tangki atau drum) harus dilakukan pengawasan mutunya, sebagai berikut:

a)

Pengawasan mutu dalam tangki penimbun, yang dilakukan secara "harian" atau

"berkala/bulanan", sebagai berikut:

1) Pemeriksaan "harian": (a) Setiap pagi diambil contoh dari saluran pengeluaran/ saluran pengurasan untuk pemeriksaan visual. (b) Lakukan pengukuran "electrical conductivity". Bila hasil "electrical conductivity'Lnya baik, maka methanol murni dapat dipakai sebagai komponen dasar dan bila tidak baik, methanol murni tersebut tidak bisa dipakai sebagai komponen dasar. (c) Apabila "electrical conductivity'Lnya lebih tinggi dari 10 cu, methanol murni dapat dipakai sebagai komponen dasar. Apabila dalam hal ini "electrical conductivity" dari air demin harus lebih rendah dari 10 cu, sehingga "electrical conductivity" campuran (methmix) tidak melebihi dari 11 cu.

2)

Pemeriksaan "berkala./bulanan": (a) Setiap bulan diperiksa PV. valve-nya, jika kotor harus dibersihkan. (b) Diambil contoh dari semua lapisan ("all level sample") sebanyak 2 x 1.000 cc untuk uji laboratorium. (c) Bila hasil pengujian laboratorium memenuhi spesifikasi, maka methanol murni dapat dipakai sebagai komponen dasar dan jika tidak memenuhi spesifikasi, tidak bisa dipakai sebagai komponen dasar. Pemeriksaan "harian". (a) Setiap pagi periksa kondisi drum. Bila terdapat kebocoran, pindahkan isi drumnya ke drum yang lebih baik. (b) Kemudian dilakukan pe-meriksaan visual dan "electrical conductivity".

b)

Pengawasan mutu dalam "drum" penimbun.

1)

Bila hasilnya tidak baik methanol murni tidak dapat dipakai

sebagai

(c)

komponen dasar. Setiap pagijuga diperiksa kondisi "cap seal". Bila "cap sealnya" rusak,

lakukan pemeriksaan visual dan "electrical conductivity". Apabila

r63

2)

hasilnya baik dapat digunakan sebagai komponen dasar dan pada drum dipasang "cap seal baru", atau dapat segera dipakai untuk "blending" dengan air demin. Pemeriksaan "berkala". Setiap 3 (tiga) bulan ambil contoh random untuk pengujian di laboratorium. Diperiksa lagi apa memenuhi spesifikasinya untuk dapat dipakai sebagai
komponen dasar.

5.1.1.2 Air Demin (Demin water)

digunakan sebagai komponen Methmix sama halnya dengan methanol murni harus selalu terjamin mutunya. Dalam hal pembuatannya, perlu adanya Unit Air Demin untuk mendukung penyediaan air demin pada Unit Blending Methmix. Dengan demikian air demin dapat disediakan dengan mudah. Berikut ini akan diuraikan pembuatan dan penangannya.

Air demin yang

1. Pembuatan Air Demin/Unit Air Demin: Unit Air Demin untuk membuat/memproduksi air demin terdapat di DPPUPERTAMINA Produksi air demin di unit ini disesuaikan dengan jumlah produksi yang diperlukan untuk pembuatan Methmix. Bahan baku "air jernih" berasal dari sumber air terdekat dari lokasi yang memenuhi syarat yaitu yang sesuai dengan persyaratan air minum PAM dan mempunyai "electrical conductivity" serendah mungkin. Di unit ini bahan baku air yang diterima/yang datang dari "air sumber"dihilangkan impurities/ionion mineralnya dengan menggunakan methode "ion exchange resin" sehingga dihasilkan "air demin" yang sudah mempunyai "electrical conductivity" yang
sudah rendah. 2. Pengawasan Mutu Air Demin. a) Pada Unit Air Demin.

1) Jika unit yang baru dioperasikan, dioperasikan kembali setelah "ion exchange resin" dicuci, maka terhadap produk harus dilakukan pengukuran "electrical conductivity" dengan mengamati indikator yang terpasang pada unit air demin. 2) Bila hasilnya memenuhi spesifikasi maka dilanjutkan dengan pemeriksaan
"appearance|visual".

3) Setelah pembuatan air demin selesai, maka diambil contoh untuk diuji laboratorium lengkap meliputi "visual electrical conductivity", "acidity" dan
"Si/kandungan silikon". 4) Jika hasil pengujian tidak memenuhi spesifikasi, maka air demin tersebut tidak dapat digunakan sebagai komponen Methmix (Lihat spesifikasilstandard mutu air Demin pada Tabel V-2 Lampiran).

b)

Pada/sebelum digunakan sebagai komponen Methmix:

1) Jika air demin akan digunakan sebagai komponen Methmix, maka sebelum

tu
digunakan dilakukan pengujian "appearance" dan "electrical conductivity".

2) Bila hasilnya baik dan "electrical conductivity"nya memenuhi spesifikasi, maka


air demin dapat digunakan sebagai komponen Methmix, tetapi bila sebaliknya, air demin tidak dapat digunakan.
5.1.1.3 Cara-cara PencampuranlProsedur Kerja Blending Unit Methmix
Pencampuran methanol murni dengan air demin di Unit Blending diatur dengan ketentuan-ketentuan yang ketat. Sebelum pencampuran dilakukan, komponenkomponennya harus baik dan memenuhi spesifikasi/standar mutu, sbb.:

1. Prosedur Pencampuran Methanol dan Air Demin. Pencampuran dilakukan dalam "Unit blending" dan hasilnya dimasukkan ke dalam
tangki penimbun. Hal-hal yang harus diperhatikan selama pencampuran adalah: a) Volume mehtanol murni dan air demin yang dibutuhkan harus diukur secara

terpisah sebelum pencampuran. Hal

ini

dimaksudkan untuk mencegah

b)

c)

penyusutan volume yang terjadi selama pencampuran. Pastikan bahwa spesifik gravity (s.g.) dari campuran berada dalam batas-batas yang aman/yang diperbolehkan (Lihat pada Gambar V-l Lampiran) Campuran harus jernih dan bening, campuran yang tampak keruh dan kedap cahaya dinyatakan rusak. diantara "electrical conductivity" kedua komponen dan tidak boleh melebihi 11 cu. Setelah selesai pembuatan Methmix, dibuat nomor tumpuk baru kemudian diambil contoh untuk uji lengkap laboratorium. Setelah dapat basil yang memenuhi spesifikasi (lihat contoh spesifikasi standar mutu pada Tabel V-3 dan V-4 Lampiran), maka Methmix siap untuk diserahkan.

d) "Electrical Conductivity" dari campuran harus diukur. Nilainya harus berada e)

2. Penimbunan Methmix: Sarana penimbun berupa "Tangki penimbun" dan "drum penimbun" harus terbuat

dari bahan yang khusus, yaitu terbuat dari "stainless steel", "mild steel" yang telah dilapisi dengan sejenis "epicoat phenolic stoving laquer", "high density polyethylene"' untuk melindungi sarana penimbunnya dari perkaratan/dari kebocoran oleh karena
perkaratan. - Penimbunan dengan tangki: Persediaan Methmix harus disesuaikan dengan kebutuhan dengan prosedur penimbunan, sebagai berikut: a) Methmix selama penirnbunan harus dilakukan pengawasan mutu berkala. b) Semua keranan pemasukan dan pengeluaran harus ditutup dan disegel. c) Pada tangki penimbun harus diberi tanda penge nal jenis yang jelas dam mudah

terlihat.

165

5.1.2

Prosedur Penggunaan/Penyaluran/Penyerahan

dan Pengisan Methmix

1. Penggunaan Methmix: - Seperti sudah disinggung pada pendahuluan bahwa penggunaan methmix pada pesawat udara adalah sebagai pendingin ruang bakar mesin pesawat. Dengan
terjadinya pendinginan pada ruang bakar mesin ini massa oksigen menjadi lebih yang .rapat atau padat sehingga pembakaran akan terjadi sempurna dan tenaga dihasilkan menjadi lebih besar yang selanjutnya akan menambah tenaga dorong yang sangat diperlukan pada saat pesawat tinggal landas (take-off).

2.

Prosedur PenyaluranlPenyerahan Methmix: Penyerahan "Methmix" ke pesawat udara dapat disalurkan melalui "refiller" dan drum (Lihat pada Gambar V-2 Lampiran). Adapun prosedur penanganannya dapat diuraikan sbb.:

a) Dengan melalui "Refiller"

1)

2) 3)

4)
5)

Sebelum pengisian methmix ke "refiller", yakinkan bahwa tangki tersebut dalam keadaan bersih dan methmix-nya dalam kondisi yang baik Pengisian Methmix ke "refiller" dilakukan melalui "top filling". Selesai pengisian saluran pemasukan "refiller" ditutup dan disegel, kecuali pada "nozzle" selanjutnya "refi ller" siap untuk penyerahan. Sebelum pengisian ke pesawat udara diambil contoh 1 x 100 cc dari "drain" untuk pemeriksaan "appearance" dan "spesifik gravity (s.9.)". Apabila hasil pemeriksaan baik, maka diambil contoh untuk dimasukkan kedalam botol bening, ditutup dan disegel sebagai "retained sample". Selama

pengambilan contoh disaksikan

oleh pihak

penerbang

yang

ikut

6)

menandatangani "label sample". "Retained Sample" disimpan di DPPU selama

2x24iam.

b) Dengan Drum. - Penyaluran/penyerahan Methmix dengan "drum" dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Isikan drum dengan methmix dan methmix yang diisikan adalah yang sudah
"release".

2)

Selanjutnya dengan pengisian drum tadi dapat digunakan sebagai sarana penyaluran/penyerahan untuk pihak ketiga (konsumen).

c) Pengisian Drum Milik PERTAMINA.


Sebelum Pengisian. 1) Periksa bagian dalam drum dengan lampu pemeriksa.

2) Drum yang kotor harus dicuci dengan air demin dan dibilas dengan
methmix. Pencucian dilakukan dengan menggunakan mesin pencuci drurn

Drum yang bocor, berkarat atau lapisan terkelupas tidak boleh diisi
methmix.

166

3) Diambil contoh dari titik pengisian (nozzle) untuk pemeriksaan visual. Apabila hasil visual baik, maka pengisian kedalam drum dapat
dilaksanakan.
Setelah Pengisian:

1) Tutup drum dengan "packing" 2)

baru dan disegel dengan "cap seal" yang berkode PERTAMINA AVIATION. Berikan tanda sebelah atas pada setiap drum yang meliputi jenis bahan, nomor tumpuk tanggal bulan tahun pengisian, kode PPM, bulan tahun dimana produk dalam drum harus dicuci kembali, kapasitas drum dan jenis
drum. Setelah hal-hal tersebut diatas dipenuhi, dibuat dokumen penyerahan dan drum siapuntuk diserahkan.

3)

d) Pengisian Drum Pihak Ketiga (Konsumen):


Pengisian methmix kedalam drum kepunyaan pihak ketiga (konsumen), sebagai berikut:

1) Sebelumpengisian:

Pemeriksaan drum dengan lampu pemeriksa.

Drum bekas pakai atau kotor harus dicuci dengan methmix yang akan diisikan kedalamnya. Biaya pencucian sepenuhnya dibebankan kepada pihak konsumen. Drum yang bocor dan berkarat tidak boleh dipakai untuk
pengisian Methmix. Ambil contoh dari titik pengisian/nozzle untuk pemeriksaan visual. Konsumen diminta untuk ikut melihat saat pengambilan dan pemeriksaan contoh sekaligus menandatangani "release note/pengesahan bahwa methmix tersebut siap untuk diserahkan.

2)

Setelah pengisian:

Tutuplah drumdengan baik.

Apabila dipasang "cap seal", digunakan "cap seal blanko", biaya


pemasangan ditanggung oleh pihak konsumen. Bubuhi drum dengan tanda disebelah atas dengan menyebutkan jenis bahan, nomor tumpuk (batch), tanggal bulan, tahun pengisian dan uji ulang serta

kode PPM. Harus disertai dengan dokumen l'release note" yang lengkap, jelas dan tepat. Tanggung jawab PERTAMINA hanya sampai ujung "nozzle".

e) Penyerahan Drum Kepada Pihak Ketiga (Konsumen).


Penyerahan kepada pihak ketiga harus disertai dengan kelengkapan dokumen. Nota penyerahan Methmix dalam drum dapat langsung diserahkan kepada pelanggan apabila: l) Belum melewati masa uji pengawasan mutu berkala terhitung semenjak 3 bulan dari tanggal pengisian.

t67

2) Fisik drum dalam

keadaan baik dan tersegel.

Penyerahan Langsung ke Pesawat Udara.

penyerahan ke pesawat udara langsung dari drum, hanya dilaksanakan jika dalam keadaan terpaksa, dengan prosedur pelaksanaannya, sebagai berikut: 1) Perhatikan butir-butir pada e) di atas. 2) Drum tersebut dibuat Lerdiri dengan tutup katup di atas. miringkan dengan alat bantu sedemikian pula sehingga tutup yang terbesar tepat berada diatas titik terendah cairan di dalam drum. Diamkan selama + 10 menit' 3) Buka tutup drum, ambil contoh dari dasar drum dengan alat bantu berupa pipa

plastik dan tempatkan pada gelas beaker yang bersih dan bening. Kemudian iakukan pemeriksaan visual, apabila hasilnya baik, maka methmix siap untuk

4)
5) g)

diserahkan. Penyerahan ke pesawat udara dilakukan melalui alat pompa yang dapat dibawa (pompa tangan atau listrik) dan dilengkapi dengan "miko-filter"' Pipa tetap yang dipakai untuk menyedot methmix dari dalam drum harus diberi sekat pada dasarnya dan bergerak + 4 Cm dari dasar drum'

Pengawasan Mutu Methmix: 1) Pada Tangki Penimbun:

Untuk menjamin mutu Methmix selama dalam penimbunan harus dilakukan pengawasan mutu berkala. Bila hasil baik, methmix dapat digunakan, tetapi bila tidak baik methmix-nya harus diblokir atau dilakukan evaluasi dan apabila dilakukan "treatment" sampai memenuhi spesifikasi methmix (Lihat Tabel V-3 dan Tabel V4 Lampiran). Bila tidak mungkin di "treatment" kembali, maka methmix tidak dapat digunakan sebagai "power booster"' Harian: Lakukan pemeriksaan visual setiap pagi. Contoh diambil sebanyak 1000 cc dari saluran pengurasan, dimasukkan dalam gelas beker. Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati "appearance", spesific gravity (s.g.) dan pengukuran "electrical conductivity". Bila terjadi perubahan (s.g.), maka dilakukan sirkulasi untuk menghomogenkan methmix' Berkala: Setiap bulan dilakukan pengambilan contoh sebanyak 1000 cc dari saluran p"ngoiuru, dimasukkan dalam botol berwarna coklat/gelap untuk
pengujian laboratorium lengkaP.

2) PadaDrum: - Methmix dalam drum setiap 3 (tiga) bulan diambil contoh gabungan sebanyak 2 x 1000 cc dalam botol berwarna untuk uji lengkap laboratorium. - Drum yang digunakan untuk pengisian adalah ya,r;'g sudah dilapisi.

Pemakaian drum baru dibatasi maksimal untuk 3 kali pengisian' Apabila drum tersebut drum bekas, methanol murni, maka batas maksimal pemakaian hanya diijinkan untuk 2 kali berikutnya.

168

3)

Pada Refiller:

"Refiller" dilakukan pe-meriksaan visual dan pengukuran "electrical conductivity" waktu tertentu, diantaranya:
Pada
Setiap pagi. Setiap hujan Sesudah pencucian refiller Sebelum pengisian ke pesawat udara. Pada setiap sore/selesai kegiatan operasi dilakukan "penyegelan" terhadap sarana yang harus disegel, dengan menggunakan kode PPM yang bertugas pada sore hari tersebut.

Tabel V-1. Spesifikasi "Methanol Mumi" (Sumber: PERTAMINA-PDN)

@
Dit.PDN
No. PROPERTIES

SPESIFICATION

METHANOL

BS 506 1966

LIMITS 0,7924,795
Shal not exceed 15 Hazen

l.

Relative Density zVCl2trC

Colour
-).

Distilation Range
Residue on Evaporation

@,545,5"C
Not more than 10 ppm

4.

Miscibility with Water


Acidity (Free acid as Acetic Acid)
7. 8.

Shall not show any opalescence when mixed with destilled water
Shall not contain more than 30 Not more than l0 ppm by mass Shall not cause the colour of a standard potassium permanganate solution to fade

Sulphur and Sulphur Compounds


Potassium Permanganate Test

sufficiently in 20 minutes to match or be lighter than the matching solution

9.

Aldehydes and Ketones

mass

Shall not contain more than 0,015 by of aldehydes and ketones. Ketones

calculated as aceton

CH3-{HH3

t69

Tabel V-2. Spesifikasi "Aii' Demin" (Sumber: PERTAMINA-PDN)

SPESIFICATION AIR DEMIN


Dit.PDN
TEST
Appearance

DERD 2491
ISSTIE 2

NOV. 1987
TESTMETHOD

LIMITS
Visually clear and free from
solid matter

PH Value mln
max 5.0 7.5
10

Appendix A

EITHER

Total solida at 103"C, ppm


max

Appendix B

Specification Conductance
20

at 11

t50 C mhos, cm
max

106

Appendix A

AND
Silica Content, ppm
max J

Note

4:

The determination oi specific conductance and silica content may be used in lieu of the determination of total solida but in cases of doubt, the total solida shall be the reforce methods.

r70

@
Dit.PDN

PENGENDALIAN BBM DAN NON BBM PENERBANGAN


SUB BAB: METHANOL MIXTURE

III- I07
10.89

o.=

e
E

o< o1

0'l

(U6, lursao ro O0tn0t - Alsuoo oulsou

Gambar V-1. Spesifik Gravity (SG) Methanol Mixture 45/5510 (Sumber: PERTAMINA-PDN)

t7t
Tabel V-3. Spesifikasi Methmix 45155/0 (Case-l) (Sumber: PERTAMINA-PDN)

SPESIFICATION METHANOL MXTLIRE 45/55


DiI.PDN
TEST
Appearance

DERD 2491

ISSIIE 2 NOV. 1987

LIMITS
AL-28 Visual clear and free from solid matter

TESTMETHOD

Acidity, calc, as Formic Acid,

ppmwt
max
13

Appendix E

Speciirc Gravity at 60"/60'F

run
max

0.9412
0.9445

IP 160

Total Solid, at 103'C. ppm


max

l0

Appendix B

'

172

Tabel V.4. Spesiflkasi Methmix 4515510 (Case-II) (Sumber: PERTAMTNA-PDN)

@
Dit.PDN

SPESIFICATION METHANOL MIXTTIRE

DERD 2491
45 I 55

iSSI'E 2 NOV. 1987

Note

1:

Where laboratory facilities are not available for the determination of acidity or total solids, the following field
tests may be applied in lieu.
TEST

LIMITS
AL.28
Blue Coioration

TESTMETHOD
Appendix F Appendix C

A,cidity, CFA Tesr

thos,

pecific conductance at 20/5"C, cm-l max

l1-6x I0

Note2: In

cases where the specific condurtance is 11 x 10-6 or above and acidity is less than 18 ppm fr:r AL-24 or 13 ppm for AL-28 or is blue by the fieid test, th* total solids shall be determined. The total solids shali always be the referee method.

Note

3:

At temperatures other than 60oF, the specific gravity must


be within the limits given in Figs 1 andZ.

t73

PENGENDALIAN BBM DAN NON BBM PENERBANGAN


SUB BAB: METHANOL MIXTURE
Dit.PDN
!

m z c)

= OE <E n

=l !I

FErrroEtB -lz.
6 = a =

;l
!

5i

m z.
@

z. z.

!!

.HE

mm

*ffi 1

lfli

zz m> T= >=

t>

m
G)

F z.
c)

Et*t&

l1

Gambar V-2. Prosedur Pengisian Methmix ke pesawat udara (Sumber: PERTAMINA:PDN)

t74

5.2
1.

PRODUK KHUSUS ADDITIF/NIINYAK PELUMAS

"Additif'atau "Additive" adalah

suatu bahan kimia atau senyawa kimia yang apabila

ditambahkan (additive) ke dalam cairan/larutan dasar atau minyak dasar (base Oil) akan memperbaiki karakteristik minyak dasarnya dan sekaligus menaikkan mutu
kerj a/kinerj a campurannya.
2.

itu merupakan bahan khusus yang memiliki sifat yang jauh lebih unggul dari sifat yang dimiliki minyak dasar. Sedangkan kemampuannya maksud penambahan additif itu adalah untuk meningkatkan kemampuan dasar dari sifat yang dimiliki minyak dasar. Sebagai contoh: additif "anti oksidant" (seperti: phenyl B-naphthylamine), additif ini memiliki "pencegahan oksidasi" yang lebih baik dari larutan dasar "SBR latex" pada "vulkanisasi karet" atau dari "minyak dasar" pelumas. Bahan additif ini ditambahkan kedalam larutan dasar "SBR latex" pada vulkanisasi karet atau kedalam "minyak dasar pelumas pada pelumasan mesinJadi bahan additif
mesin/logam-logam", dengan maksud untuk mencegah terjadinya oksidasi yang dapat menghalangi terjadinya reaksi "pengumpulan" pada vulkanisasi karet atau terjadinya

"perkaratan" logam-logam pada pelumasan, yang mana sifat-sifat pencegahan oksidasi", belum dimiliki minyak dasarnya semula. Demikian pula dengan bahan-bahan additif lainnya seperti, additif plasticizer, additif detergent, additif emulsifier dan sebagainya.
J.

Bahan additif sangat banyak dipergunakan pada industri pelumasan mesinmesin/industri otomotif, industri pertanian dan perkebunan, industri zat warna dan
pencelupan/industri tekstil, industri plastik, industri makanan dan wangi-wangian dan lainJain.

5.2.1 Sifat-sifat dan Penggunaan Additif


Berdasarkan sifat-sifat dan penggunaannya additif, dapat dibedakan atas beberapa macam dengan unjuk kerja/kinerja masing-masing additif sebagai berikut:

1.

Additif anti oksidasi atau "anti oksidant":


Bahan anti oksidant ditambahkan dengan maksud untuk mencegah terjadinya proses oksidasi Cari pada cairan karet atau latex (pada vulkanisasi karet) atau pada minyak pelumas (pada pelumasan mesin-mesin). Apabila proses oksidasi terjadi, maka akan terbentuk zat-zat kimia seperti peroksida-peroksida, asam, asam-asam hydroksida, ester, anhidrida, laktan, keton, aldehyde, alkohol dan olefin. Zat-zat yang terbentuk ini akan bereaksi dengan cairan karet atau latex sehingga tidak terjadi pengumpulan karet (pada vulkanisasi karet) atau bereaksi dengan logam-logam mesin, sehingga

mengakibatkan terjadinya karat (pada pelumasan mesin-mesin). Selain

itu

asam-

asam hidroksida membentuk lumpur yang dapat menghalangi aliran minyak pelumas. Akibatnya, pelumasan menjadi tidak sempurna, sehingga menyebabkan
keausan.

175

2.

Additif "detergent-dispersant": Additif untuk mencegah terjadinya endapan

atau

kotoran pada permukaan logam-logam atau mesin-mesin. Pembakaran yang terjadi pada mesin akan menghasilkan kotoran. Bila terkumpul kotoran tersebut dapat menghambat aliran minyak pelumas kemseluruh bagian mesin. Detergent sebagai bahan additif yang ditambahkan dapat berfungsi menyebarkan partikel-partikel kotoran, sehingga terkumpulnya kotoran dapat dihindari. Sedangkan dispersant adalah bahan additif yang dapat mendispersikan endapan yang terjadi pada suhu rendah dalam mesin yang sangat mengganggu jalannya mesin dan harus dihilangkan. Sebagai dispersant dipakai antara lain: amida-amida dan poly-amida dengan berat molekul yang tinggi atau ester dan polyester dengan berat molekul yang tinggi.
3.

Additif "extreme pressure" (EP). Additif ini untuk mengurangi dan menyederhanakan sifat-sifat gesekan dari logamlogam. Suatu lapisan akan terbentuk bila dua mesin yang bergerak diberi pelumas. Bila lapisan itu terkena tekanan atau kecepatan tinggi, pelumasan menjadi terganggu. Hal itu akan merugikan karena dua bagian yang bergerak itu akan saling bergeseran dan akibatnya, bagian-bagian pada mesin itu menjadi aus. Penambahan additif "EP"
akan bereaksi dengan permukaan logam. dan membentuk film yang akan melekat pada permukaan logam. Lapisan itu akan mengontrol gesekan sehingga kontak
langsung antara dua bagian mesin yang bergerak dapat terhindarkan.

4.

Additif "inhibitor korosi". Additif untuk menghambat perkaratan/korosi. Korosi yang disebabkan oleh atmosfir atau sebagai hasil dari oksidasi menunjukkan perlunya additif. Korosi dari logam dapat dikurangi dengan penambahan inhibitor korosi. Inhibitor korosi ini umumnya bersifat polar, yang mana akan melekat dengan kuat pada permukaan logam membentuk lapisan film yang tipis. Additif "metal passivator".
Umumnya logam dapat bereaksi dengan udara maupun minyak pelumas. Reaksi ini dapat diperlambat dengan suatu zat yang dinamakan "passivator". 7at ini akan mengakibatkan permukaan logam menjadi pasif, sehingga tidak mudah bereaksi.

5.

6.

Additif "emulsifier". Zatini digunakan untuk mempertahankan emulsi minyak dengan air. Karena apabila air terlepas dari emulsinya, maka air akan dapat kontak langsung dengan logam,
akibatnya logam mudah mengalami korosi.

7.

Additif "anti foam". Apabila pada sirkulasi minyak pelumas, udara masuk kedalam minyak dalam volume besar dan dengan kecepatan yang tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya "buih" atau "pembuihan" yang disebabkan oleh ketidak sanggupan dari minyak untuk melepaskan gelembung-gelembung udara. Maka untuk itu perlu digunakan zat "anti foam" untuk merusak dengan cepat gelembung-gelembung udara yang terdapat
dalam minyak.

t76

8.

Additif "viscosity index improver" (VI Improved). Index viskositas adalah satu angka yang menunjukkan besarnya perubahan kekentalan suatu minyak pelumas bila terjadi perubahan suhu. Apabila suhu naik maka kekentalan minyak pelumas akan turun. Dengan penambahan additif "viscosity index improver", akan mencegah pengenceran minyak pelumas bila terjadi kenaikan
suhu.

9.

Additif "pour point depressant". "Porrr point depressant" adalah cairan yang ditambahkan pada minyak pelumas
untuk nerendahkan "pour point/titik tuangnya" dari minyak parafin. Merendahkan "pour point/titik tuangnya" bukanlah pengenceran oleh fraksi ringan, tetapi diit<uti oleh pencegahan terbentuknya kristal wax. Maka untuk itu, kedalam minyak pelumas perlu ditambahkan suatu "pour point depressant" yaitu suatu hasil kondensasi dari wax atau lilin yang mempunyai berat molekul tinggi (seperti napthalene atau phenol atau polymethacrylat atau alkylstyrene).

10

Additif "plasticizers". "Plasticizers" adalah bahan additif yang khusus untuk plastik yang ditambahkan kepada bahan-bahan polymer (ditambatrkan kedalam bahan polimer plastik pada waktu plastiknya masih berbentuk "pellet"), sehingga dengan penambahan bahan "plasticizers" ini plda proses teknologi plastik "moulding", "extrusion,,, dan lainlain akan didapat hasil bahan plastik yang mempunyai sifat fleksibilitas yang kuat dan kompak serta hasil plastiknya (setelah barang jadi) dapat diobah-obah bentuknya sesuai dengan selera kita (plastiknya bisa dijadikan berbentuk pipa, botol, sandal, sepatu dan lainlain tergantung dari teknologi plastiknya). Sebagai contoh: Untuk plastik PVC (yang sifatnya rigit/berbentuk kasar) dulu
plastiknya dapat dipakai hanya untuk pembuatan pipa-pipa dan asbes (atap tahan api rumah saja, akan tetapi setelah ditemukannya additif "plasticizers" khusus untuk bahan-bahan polimer/bahan plastik, maka penggunaan bahan plastik pvC sudah menjadi meningkat, sudah dapat digunakan pada saat ini (disamping untuk pipa-pipa dan atap tahan api rumah) untuk pembuatan botol-botol plastik, untuk pembuatan sandal/sepatu dan tas-tas/dompet-dompet dari imitasi kulit/plastik. Ada beberapa jenis additif "plasticizers" untuk PVC antara lain: phosphate esters, chlorinated waxes, chlorinated diphenyls, polymeric esters dan phthalic esters (lebih dari 907o produksi phthalic ester digunakan sebagai "plasticizer)". * Di Indonesia oleh PT. Eternal Buana chemical Industries (ETERINDO Group) telah memproduksi plastizicers, terutama DoP (Dioctyl Phthalate) yang banyak digunakan sebagai additif untuk pelembut bahan plastik pipa-pipa pVC.

11.

Additif "vulcanization accelerators". Additif ini khusus dipakai pada vulkanisasi karet yang ditambahkan untuk mempercepat terjadinya reaksi penggumpalan (coagulation) dari karet. Dahulu dengan menggunakan "vulkanisasi sulfur (S2) yang biasa" dilakukan terhadap karet,

177

kurang ekonomis karena reaksi penggumpalannya berjalan dengan lambat, akan tetapi dengan diketemukannya additif "vulcanization accelerators" ini yang dapat mempercepat reaksi penggumpalan karetnya, reaksinya bertambah menguntungkan. Adapun bahan additif "vulcanization accelarators" yang sering digunakan pada dewasa ini adalah: MBT (Mercaptobenzothiazole), MBTS (Mercaptobenzothiazole sulfenamides), DPG (Diphenylguanidines) dan DTC (Dithiocarbamates). Dengan menggunakan additif "accelators" pada vulkanisasi karet tersebut diatas, kegunaannya bukan hanya "mempercepat" terjadinya reaksi penggumpalan dari karetnya, akan tetapi additifnya juga (seperti DPG dan DTC additif tersebut) berfungsi sebagai "activators", yang dapat membuat hasil akhir/barang-barang karetnya menjadi lebih elastis ("high modulus") dan menjadi lebih tahan terhadap
udara panas atau uap panas.

L2. Dan lain-lain lagi additil (seperti yang dipergunakan pada industri pertanian
perkebunan, yaitu additif "pesticides" (indecticide, herbicide, fungi side).

dan

5.2.2 Cara-cara/Proses Pembuatan

"Additif '

Pada umumnya bahan additif itu terbuat atau terbentuk dari senyawa-senyawa kimia (dengan reaksi-reaksi kimia) yang bahan penyusunnya dapat berupa bahan organik (seperti senyawa: Olefin, poly olefin, aromatik, phenol amina, ester, asam organik, alkohol dan senyawa polimer yang mempunyai BM (Berat Molekul) tinggi dan bahan senyawa Organik dan Anorganik (seperti: phosphat organik, senyawa nitrogen, sulfonat logam, senyawa khlorin, senyawa sulfur, polymer silikon, dan asam-asam), sebagai berikut:

1.

Additif "Anti Oxidant". a). Untuk minyak pelumas, "Additif anti oksidasi" yang biasa dipakai dewasa ini ialah senyawaZDTP (Zinc Dialkyl Dithiophosphates). Additif golongan ini pada dasarnya dapat dibuat melalui reaksi "alkohol" atau "alkyl phenol" dengan "phosphor penta sulfida", dengan tingkatan reaksinya sebagai berikut:

l)

Reaksi pembentukan asam:

4 ROH + P2S5------> RO-tr

(alkohol)

),f-sH+H2s RO/ S
(asam)

2). Reaksi neuteralisasi (pembentukan) ZDTP

SS RO:- ll

ROr ll ll z-OR >P-SH+ZnO---> )P-S-Zn-S-P(\ + HzO RO,RO-OR

t78

DTP

"alkyl" yang dimilikinya dan garam "Zrr" yang umum digunakan senyawa-senyawa molekul struktur
dipasaran dibedakan atas gugusan
sebagai ZDTP adalah sebagai berikut:

fI I I

----------i
Senyawa/ZnDTP

I t I

slrulturisu?::::1iill^3
i

t-

1. Secondary Alkyl

HOC
I

--4.,4'-C
I

crI3

2. Primary Alkyl

O HrC

.r -

Hz-'

3. Aryl

--CeHs

Ketiga jenis DTP diatas tersebut memberikan unjuk kerja/daya guna yang berbeda-beda dan dapat dilihat terhadap karakteristik setiap jenis DTP dalam tabel dibawah inilsebagai berikut:

Sifat dan Fungsi

Alkyl
Sekunder Bagus Basus

Alkyl
Primer
Bagus Bagus

Gugus

Aryl

I
2.
J.

Penshambat Oksidasi

Basus

Proteksi EP/ Proteksi gesekan Stabilitas Thermal Stabilitas Hidrolitik Uniuk keria oada mesin benstn

Baik/Sedane
Basus Baik/Sedanp Baik/Sedane Bagus

Cukup
Baeus Bazus

Baik/Basus
Bagus Bagus

4.
5.

Unjuk kerja pada mesin

Baik/Sedang

Baik/Bagus

Oleh karena itu, senyawa ZDPT tersebut mempunyai banyak kegunaan atau multi fungsi, disamping digunakan sebagai bahan additif "anti oxidant", dapat juga dipakai sebagai: additif "inhibitor/anti korosi" dan additif "proteksi EP/anti wear" pada pelumasar/ dengan minyak pelumas.

b) Untuk "vulkanisasi karet". Jenis additif "antioxidant" yang dipakai pada vulkanisasi karet

adalah:

Alkyl-phenol, styrenephenol dan phenyl B-napthylamine' Jenis/senyawa phenyl B-napthylamine, disamping dipakai sebagai anti oksidasi pada vulkanisasi karet, dapat juga dipakai sebagai anti oxidasi pacia industri lain/pada pelumasan/industri

179

pelumasan dengan minyak pelumas. Pada industri/vulkanisasi karet, additif anti

oksidasi

ini ditambahkan/dicampurkan kepada "latex blending tank' pada

saat

sebelum terj adi "coagulation/reaksi penggumpalan karet".

(senyawa phenyl B-napthylamine dapat dibuat/dibentuk dari reaksi pembentukan antara "aniline" dengan "B-naphthol",
sebagai berikut: NHz

Additif anti oksidasi

ini

,1(aniline)

OH

(B-naphthol)

(phenyl B-naphthyl-amine)

2. Additif

"detergent-dispersant". a). Senyawa kalsium sulfonat adalah

aditif "detegent" logam yang paling

banyak

digunakan. Senyawa

ini diproduksi dari asam sulfonat "mahogany" yang larut pelumas. dalam minyak Asam sulfonat ini dapat diperoleh dari pengilangan minyak dasar (base oil) dan sulfonasi alkyl benzene syntetik. Anggota paling
sederhana dari additif "detergent" logam adalah "alkyl benzene sulfonat" netral yang gugus "allqrl-nya" mempunyai atom C antara 18 sampai 20 atat R = Crs -

Cro, sehingga b.m. (berat molekulnya) mencapai 450 atau lebih, dengan reaksi pembentukannya reaksi alkylasi antara "benzene" dengan "propylene tetramer", sebagai berikut:

(benzene) (propylenetetramer) -

0.

ftQll

CHz --------+
RCHzCHz

(alkylbenzene)

HzSOI
NaOH R-H2CCH2

---------+

Q'o'*'
RCH2CH2

HzO

(alkyl benzene sulfonat)

Sulfonat-sulfonat lain yang umum dipakai sebagai additif "detergent" adalah sulfonat sedikit basa dan sulfonat basa. Sebagai tambahan dari additif "detergent" logam (seperti sulfonat netral di

7-

180

atas), formula pelumas modern mengandung senyawa "Logam sulfonat


basa".

Manfaat dari additif "detergent" jenis di atas ini adalah menetralkan asam, melindungi korosi akibat serangan asam serta menghambat oksidasi.

b) Additif "dispersant/ashless dispersant". Banyak dipakai untuk mengendalikan pembentukan endapan, struktur molekul utamanya memiliki "ekor" yang larut dalam minyak pelumas dan "kepala" yang bersifat polar. "Ekor" tersebut terbuat dariltersusun atas "polybutena" dengan b.m'
antara700-3000 sedangkan "kepalanya" terbuat dari polyamina atau polyol. Ada 3 (tiga) macam tipe additif "dispersant" yang banyak digunakan saat ini, yaitu: 1) Suksinimida

2) Suksinat dan 3) Alkyl phenolmina, dengan reaksi-reaksi pembuatan masing-masing,


berikut:

sebagai

a) Reaksi pembuatan Suksinimida.


o

,n-ru/

)" ar-aoo
(maleic anhydride)

ll

+ H2N

{CH2 CHzNH}
(Polyamina)

-l
/ -r'o

CH;] CHT T ll \l c cs.-)c-.l_ cH; -]- cH, ",/

CHz
ll

cH{ L

cHrl

I Ix
x: ll

cH2

-cH ll
cH: -

'*[r^,.",*J, g-" Jx L

(suksinimida), harga

- 52.

b) Reaksi pembuatan suksinat:

v CH ]H-C.
.27

t\ \o lll.t CH ]H.C\ \\o


CH: ]H: CH

C [CH2 OH]a

(Polyol)

(mr anhydriite) at maleic an

rrl
'
: ll

CHz
I

7
L\

cr,)c
CH{

-C )HzCHz

-]-,CHz -C-CHz CHcHzlHr CH ,r-1"


I

^/o -oH
\o
C

C-- O-CHr-

(CHzoH):

(suksinat), harga X

- 52

181

c)

Reaksi pembentukan alkyl phenol amina. Dengan menggunakan "Reaksi Mannich" dibentuk antara "formal dehyde" dengan poly alkylen dan polyamina, sebagai berikut:

oHg

V R
-

+H-3-

"

+ H2N -(cHz

cH2-

*,I* H-------+

(formal-dehyde)

(polyamina)

(polyol)

OHH

/-rrr,

R (alkylphenol - amina)

-,,l,- (cH:

cH2

NH)'H

3. Additif "Viscosity index improver".


Untuk meningkatkan "viscosity index" minyak pelumas, digunakan "viscosity index improver" dan minyak pelumas tersebut disebutkan "multiviscosity" atau "viskositas tinggi". Pelumas "multiviscosity" dibuat dengan menambahkan bahan polymer pada pelumas viskositas rendah, sehingga viskositas minyak pelumas tersebut akan naik. Besarnya kenaikan viskositas hasil penambahan polymer tersebut berbeda antara suhu tinggi dan suhu rendah. Additif "Viscosity index improver" adalah polymer dengan b.m. antara 200.000 hingga 1.000.000, terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu: a) "Viscosity index improver non-dispersant" Dibuat hanya khusus untuk mengurangi
perubahan harga viskositas akibat perubahan suhu)

b) "Viscosity index improver dispersant" Selain untuk mengurangi perubahan

harga

viskositas juga dibuat untuk memadukan manfaat dari nitrogen (Nz) dalam "amina" dan "pyrolidin", sebagai penambah sifat "dispersant" polymer yang ditambahkan itu. Dibawah ini ada beberapa contoh "struktur molekul" dari jenis "Viscosity index improver nondispersant" yaitu dengan type polymer "alkylmetha crylate":

.I o* -[E cooR__l* L
Lamine
I

.isobutyrene',

+8] c__l*
L

dan jenis "Viscosity index improver dispersant" dengan struktur molekul: type polymernya "aminated ethylene-propylene" dengan struktur:

-c-c-c-g-c-c-c-g-c-c-c 91 +c-c-c-g t.J C C C

r82

dan "mixed alkyl metha crylate-vinyl pyrolidone" dengan struktur:

I ic.q-+ -f.S .;r L _i. L U),


4. Additif
"Pour Point Depressant" Meskipun telah diolah melalui proses "MEK Dewaxing", minyak dasar pelumas masih mengandung sedikit Wax parafinik yang mudah mengkristal di daerah dingin sehingga pelumas tidak dapat mengalir. Untuk itu additif "pour point depressant" akan memodifikasi perkembangan struktur "lattice" dari kristal wax, sehingga pelumas akan tetap mampu mengalir meskipun pada suhu rendah. Additif "pour point depresant" yang umum digunakan adalah jenis polymer dari Alkyl metha crylate, vinyl ester dan alkyl styrene, yang salah satu (untuk alkyl styrene/reaksi pembuatannya, sebagai berikut:
Dengan reaksi alkylasi:

(Styrene)

CH

CHZ

at\CH
\-/
RCHz

+ RCH = CHz ---+


(propylene-tetramer)

tt

= cHr

CHz

(Akyl styrene)
5.

Additif "Anti foam". Additif ini berfungsi dengan baik pada konsentrasi 1 sampai 50 ppm. Pada konsentrasi tinggi additif ini dapat menyebabkan timbulnya busa yang lebih banyak lagi, serta menambah udara yang terjebak didalam busa. Additif yang umum dipakai sebagai "anti foam" adalah polysiloksan (silikon), poly akrylat, ester asam lemak dan
kopolimer organik.

Rangkuman "sifat-sifat dan fungsi/karakteristik" berbagai additif untuk minyak pelumas dapat dilihat pada Tabel V-5, sedangkan rangkuman 'spenggunaan additif dalam berbagai minyak pelumas" dapat dilihat pada Tabel V-6.
6.

Additif "Plasticizer".
Seperti sudah dijelaskan sebeluflrnya, additif ini banyak digunakan pada "proses industri plastik" atau pada "technology plastic processing" dan dari beberapa additif yang ada dewasa ini, yang paling banyak digunakan ialah senyawa "phthalic ester" yang dapat dibuat dari hasil reaksi "phthalic anhydride" dengan "alkohol", sebagai berikut:

183

O::
(0-Xylene)

^ =40 +o2....>O :>o

u\o

+H:o

(phthalic anhydride)
0

c-'\0

,11 U+

ROH -------+
(alkohol)

C\n

lr

OH

c\-oR
(phthalic ester)

7. Additif "Vulcanization

accelerators,,.

a) Additif "Accelerators", yaitu ',thia


pembentukannya dengan oksidasi:
IIHo

pembuatannya, sebagai berikut:

additif "accelerators", perlu juga diiambahkan additi"f


zore accelerators

seperti juga sudah dijelaskan didepan, untuk mendapatkan, ..unjuk kerja,, atau ,.daya guna" pada "proses vulkanisasi kaiet,, yang lebih meningkat, disamping ditambahkan
..activators,,

yang reaksi

(MBT atau MBTS),,, reaksi

\?
'

-/,\ -l

+cSz+s

----*->

azs

+(\z*-i-

(Aniline)

\Ar/
..!1r..'

,,
)

(MBr

e()"

O} ;;,,:,'<lO

b) Additif "Activators",. yaity DpG yang berfungsi sebagai ,,activator,, untuk .,thia zole accelerators"
pada vurkanisasikar"et, yang dapat dibuat dari reaksi berikut

.,llXI;;;;O-0
(aniline) (DPG)

r84

5.3 PRODUK KHUSUS "METANOL'' SEBAGAI BAHAN BAKAR MOBIL LISTRIK "FUEL CELL"
ini penelitian tentang metanol sebagai bahan bakar mobil listrik "direct methanol fuel cell vehicles (DMFCVs)" atau yang lebih dikenal dengan sebutan "fuel cell vehicles (FCVs) sudah sangat maju. Metanol yang selama ini hanya digunakan
Sampai sekarang
sebagai bahan baku untuk berbagai macam produk petrokimia, bahan sintetis kimia dan dan bahan bakar mesin pembakaran internal (sebagai produk khusus methmix). Sekarang metanol akan mulai diterapkan sebagai bahan bakar mobil listrik fuell cell (DMFC)

5.3.1 Prinsip Kerja DMFC (Direct Methanol Fuel Cell):


Sesuai dengan "Artikel Harian Kompas - Jakarta terbitan 24 Agustus 2OO2 tentang "Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" menjelaskan bahwa: Mesin FCVs dapat merubah secara langsung metanol menjadi energi listrik melalui suatu reaksi kimia. Prinsip

kerjanya lihat pada Gambar V-3 terlampir, sbb:

(1) (2) (3)

Dengan mengalirkan secara langsung bahan bakar metanol (dengan kadar campuran 977o metanol dan air 37o)ke kumparan "anoda", maka pada "anoda" metanol dan air bereaksi menghasilkan karbondioksida (CO:), proton dan elektron.

Selanjutnya proton berpindah melalui elektrolit polimer menuju "katoda" lalu


bereaksi dengan oksigen (Oz) dari udara dan menghasilkan air (HzO), sementara itu "elektron" mengalir dari "anoda" ke "katoda" menghasilkan "listrik". Pada umumnya DMFC beroperasi pada suhu sekitar 80"C dengan efisiensi sekitar
40-507o.

5.3.2 Tinjauan Ekonomis Penggunaan DMFC Sampai sekarang masih terdapat berbagai kelemahan penggunaan DMFC, baik dari segi biaya produksi maupun dari segi teknik sebagai berikut:

(1)

Berdasarkan data tahun 1999, biaya pembangkitan listrik DMFC per-lKw masih sekitar 550 US$. Ongkos produksi yang tinggi ini terus ditekan agar mencapai harga 50 US$ atau lebih kecil lagi dari itu sehingga cukup kompetitif dengan mesin pembakaran internal ICE (= Internal Combustion Engine) diharapkan pada kurun waktu antara tahun 2000-2003 akhir, akan dapat mencapai nilai 50 uS$ per kw.

(2)

Kelemahan teknis yang masih menjadi kendala ialah adanya "metanol" yung melintas melalui "polimer elektrolit" menuju "katoda", yang secara langsung akan menurunkan efisiensi dan unjuk kerja DMFC.
pengembangan sekarang sedang difokuskan untuk mendapatkan bahan penghalang yang lebih maju untuk membendung "metanol" yang melintas menuju katoda.

(3) Untuk mengurangi

kelemahan teknis

ini, penelitian dan

185

5.3.3 Perbandingan Emisi Gas Kendaraan "Fuel cell" dengan Emission Vehicle) Standar: (lihat pada Tabel V'7), sbb:

LEV (-Low

(1) FCVs merupakan mobil masa depan yang sangat menjanjikan dengan berbagai keunggulan dibanding dengan mobil konvensional ICE.
2)

Dari hasil penelitian California Air Resources Board (CARB), mobil FCVs sangat ramah lingkungan, karena sangat sedikit melepaskan gas karbon oksida (CO), NMOG (=Non Methane Organic Gases) dan NOx ke lingkungannya. Hasil ini menunjukkan mobil "fuel cell" jauh lebih baik dibandingkan dengan jenis mobil I CE yang khusus didesain dengan emisi sangat rendah, seperti TLEV (=Tcital Low Emission Vehicle), LEV (=16'ev Emission Vehicle), ULEV (=t}ltra Low Emission Vehicle) dan SIILEV (=Super Ultra Low Emission Vehicle)'
-

(3) Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Argone National Laboratory, diperkirakan bahwa mobil "fuel cell" mempunyai efisiensi energi 2,I-2,6 kali lebih besar dari mobil ICE sedangkan data menurut "The Pembina Institute" diperkirakan I,76 kali lebih besar dari sistem ICE (4) Biaya operasional mobil "fuel cell" lebih murah dibandingkan dengan mobil bensin. Sebagai gambaran untuk menempuh 1 mil 1=1,6 km), MFCVs cukup membutuhkan biaya 3,65 Sen US$, sementara untuk mesin ICE dengan bahan bakar bensin memerlukan biaya 4,21 Sen US$. Hal ini berarti bahwa MFCVs lebih ekonomis dalam penggunaan bahan bakar dibanding dengan mobil
bensin ICE. 5.3.4 Proyeksi Penjualan FCVs

(1)

Seperti terlihat pada Gambar V-5, Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) mernperkirakan bahwa penjualan FCVs akan berjumlah sekitar I,37o dari jurnlah pasarmobil baru pada tahun 2010 dan8,24Vo pada tahun 202O. Japanese Institute of Energy Economics memperkirakan bahwa pangsa pasar mobil baru FCVs di Jepang, akan naik secara cepat dari O,IVo pada tahun 2010 menjadi 33,5Vo pada tahun 2020. Diperkirakan untuk pertamakalinya FCVs akan diluncurkan kepasaran sekitar tahun 2004 dengan jumlah sekitar 9.950 unit atau sekitar 0,02Vo dari seluruh penjualan mobil baru tahun tersebut (60 Juta unit). Proyeksi penjualan mobil FCVs tahun 2010 sekitar 500.000 unit dan pada tahun 2020 sekitar 1,5 Juta unit. Dengan dimulainya penjualan FCVs diperkirakan jumlah mobil diseluruh dunia akan naik dari 600 Juta saat ini menjadi I milyar pada sekitar tahun2015-202O.
Jika diasumsikan masing-masing FCVs menempuh perjalanan 12.000 mil tiap tahun dengan mengkonsumsi metanol sekitar 436 gallon, maka pada tahun 2010 (penjualan FCVs = 500.000 unit), akan ada peningkatan kebutuhan metanol dunia sebesar 218 Juta gallon (lihat pada Gambar V-4) atau sekitar 2Vo dad, kapasitas produksi saat ini (=12,5 milyar gallon). Sepuluh tahun kemudian (ahun 2020) perrnrntaan itu akan meningkat menjadi 4,883 milyar gallon atau sekitar 33Vo dat', produksi tahun 2000. Hal ini berarti jurnlah kebutuhan metanol untuk seluruh FCVs sampai dengan tahun

(2)

186

2010 adalah 230,186 Juta gallon dan pada tahun 2020 akan mencapai 34,175 milyar gallon atau hampir 3 kali lebih besar dari kapasitas produksi metanol dunia saat ini. (3) Pada masa depan metanol akan mempunyai peranan yang sangat penting dan posisi yang strategis seperti halnya minyak bumi saat ini.

(4) Pada era mobil

listrik "fuel cell" tidak ada lagi pengelompokan mobil

dengan

merujuk volume mesin bakar seperti 1800 cc, 2OO0 cc, 4000 cc, dan tidak lagi dikenal istilah seperti "karburator","efi" (electronic fuel injection), "piston", "ring" dan "oli mesin". Kita tidak akan mendengarkan lagi "deru mesin mobil" dan "asap hitam" yang mengepul di udara.
(s) Kendaraan bermotor FCVs mengesampingkan itu semua. Pengelompokan mobil akan didasarkan pada besarnya "daya listrik" yang dibangkitkan oleh mesin DMFC
seperti 2HP,4bP,5HP 1=66.." power = teng;9a kuda) dan seterusnya.

5.4 PRODUK KHUSUS "POLTMER EMULST'

Usaha penanggulangan banjir dan tanah longsor di Tanah Air Kita tidak hentihentinya dilakukan pemerintah hampir sepanjang tahun, silih berganti antara daerah yang satu dengan daerah lainnya terjadi tanah longsor yang disebabkan oleh turunnya hujan dan banjir. Dibeberapa daerah usaha penanggulangan banjir yang sudah dilakukan oleh Pemda (Pemerintah Daerah) setempat ialah dengan membangun tanggul semen disekitar

tebing-tebing yang mengalami banjir. Usaha penanggulangan

ini,

selain

akan

memerlukan biaya yang sangat besar, juga akan memerlukan waku pekerjaan yang cukup lama. Usaha penanggulangan lainnya, dengan menanam pohon-pohon di pinggirpinggir tanggul sungai, juga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk memetik hasilnya. Polimer emulsi salah satu produk polimer berbentuk cairan yang dapat disemprotkan untuk penanggulangannya dan sekaligus yang dapat memberikan solusi yang tepat dan cerdas terhadap masalah banjir dan tanah longsor ini.
5.4.1 Proses Pembuatan Polimer Emulsi
Sesuai dengan artikel Harian Kompas - Jakarta, terbitan 3 Mei 2003 tentang Pengetahuan dan Inspirasi" menjelaskan bahwa:

"Ilmu

(1)

Proses pembuatan polimer emulsi pertarna kali dilakukan pada saat Perang Dunia ke2. Terancamnya pasokan karet alam dari negara-negara ke-3 (dari negara-negara penghasil karet alam, seperti Indonesia, Malaysia, dll) mengakibatkan beberapa

negara seperti Amerika dan sekutunya serta Jepang berlomba-lomba untuk membuat karet alam sintetis.

(2)

Polimer emulsi yang pertama kali disintetis oleh manusia adalah poli (1.3 butadiene yang berkopolimerisasi dengan styrene (monomer-l), membentuk karet sintetis yang

187

mirip dengan getah karet (latex), sehingga dipasaran dunia produk polimer-polimer emulsi sering juga dikenal dengan sebutan "latex" yaitu produk polimer yang sifatsifatnya "elastomer"/yang bersifat elastis seperti karet dan merupakan substansi
polimer berdiameter antara 0,05u - 5u atau I d = 0,05 - 5 mikron ].

(3) (4) (5)

Proses pembuatan polimer emulsi adalah dengan polimerisasi radikal bebas. Komponen-komponen yang terlibat dalam polirirerisasi emulsi, adalah "monomer, inisiator, air, surfaktan dan aditif'. Dewasa ini produk-produk polimer emulsi banyak digunakan sebagai: "lem perekat (adhesive)", "penge-cat (coating)" dan untuk "bahan pencampur/pewarna pada tekstil yang berfungsi sebagai pengeras (hardener)".
Disamping penggunaan tersebut, fungsi utama dari polimer emulsi adalah sebagai "pengikat (binder)". Partikel-partikel tanah pada dasarnya tidak terikat dengan kuat antara satu dan lainnya. Akar dari tanaman akan meningkatkan ikatan dari partikelpartikel tersebut. penebangan liar atau sebab yang lain mengakibatkan partikel-partikel tanah menjadi sangat rentan dan mudah untuk dipisahkan. Apalagi jika tanah yang rentan tersebut dikenai oleh beban yang sangat besar (misalnya aliran sungai yang sangat deras) atau hujan yang sangat lebat.
sangat mudah merusak dan menghancurkan ikatan partikelpartikel tanah, yang mengakibatkan akan terjadi tanah longsor atau erosi.

(6) Hilangnya pohon dari tanaman akibat

(7) Aliran air akan dengan

5.4.2 Efektivitas Penggunaan Ikatan Partikel-Partikel Polimer Emulsi Dengan Tanah


Dapat kita lihat pada Gambar V-6 dengan penjelasan, sbb:

(1) Polimer emulsi, terutama dari jenis poli (vinil acetate yang berkopolimerisasi dengan acrylic) atau poli (vinil acetate yang berkopolimerisasi dengan veona), dapat berfungsi sebagai "soil stabrlizer (yaitu tanah yang cukup stabil yang dapat berfungsr sebagai pencegah banjir). Polimer emulsi jenis ini akan meningkatkan ikatan partikel-partikel tanah sehingga akan mencegah pergerakan dari partikel-partikel tersebut serta akan mencegah "terdispersenya"lterurainya partikel-partikel tanah oleh air dan udara. (2) Material-material lain yang dapat berfungsi sebagai "soil stabilizet'' adalah "garamgaram chlorin, resin emulsi organik, minyak emulsi organik, petroleum resin emulsi,

liqnin sulfonate dan enzym-enzyrrf'. Akan tetapi, material-material

tersebut

mempunyai banyak kelemahan jika dibanding dengan polimer emulsi, kelemahankelemahan tersebut antara lain bersifat korosip terhadap logam, tanah menjadi licin jika basah, ikatan antara padkel tidak kuat, menjadikan tanah dan air tanah menjadi hangat, lapisan menjadi mudah patah ("britle") jika kering, lapisan tanah memiliki bau yang menyengat, mudah terlarut dan proses aplikasinya yang sulit.

188

(3)

Keunggulan-keunggulan dari "polimer emulsi" jika dibandingkan dengan material yang lain, antara lain adalah: menciptakan lapisan yang "flexible", aman terhadap lingkungan, tidak korosif, tidak mudah terlarut, tanah tidak licin jika basah, tahan air ("water proof'), tidak mudah terbakar (non-flammable), tidak menimbulkan bau, mengikat partikel-partikel tanah dengan kuat, aplikasinya yang singkat dan mudah, tahan terhadap sinar matahari (sinar ultraviolet) dan alkali, serta biayanya yang
murah.

5.4.3 Metode Penggunaan "Polimer Emulsi":

Lihat pada Gambar V-7 dan V-8 dengan penjelasan, sbb

(1)

Polimer emulsi jenis poli (vinyl acetate ber-kopolimerisasi dengan acrylic) atau poli (vinyl acetate ber-kopolimerisasi dengan veona) sebagai "soil stabilizer" sudah dilakukan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Belum lama juga diujicobakan di Malaysia dan Thailand dan menunjukkan hasil yang menggembirakan.. Polimer emulsi ini berbentuk cairan berwarna putih susu ("milky white"), memiliki pH yang sesuai dengan pH tanah dan memiliki viskasitas yang rendah. Metode/cara penggunaannya adalah dengan menyemprotkan cairan polimer pada tanah-tanah yang rentan terhadap erosi seperti pinggiran sungai, tanah-tanah gundul, daerah pertambangan, dan lain-lain. Cara penyemprotannya dapat melalui: "selang",

(2) (3)

"mobil truk" atau "helikopter".

(4) (5) (6)

Polimer emulsi yang telah disemprotkan akan "berdifusi"/berbaur" kedalam tanah sampai kedalaman 2 (dua) cm dan akan mengikat setiap partikel tanah dengan kuat. Polimer ini akan membentuk "fiIm" dalam waktu antara 2hingga 16 jam tergantung darijenis tanahnya. Setelah kering dan membentuk "lapisan fiIm", maka tanah akan menjadi terlindung dari "erosi" dan "longsor" terutama erosi yang disebabkan "hujan deras" dan "banjir" (7) Lapisan '.film" dari polimer emulsi ini tidak akan merusak bibit-bibit ("seeds") tanaman, bahkan akan mencegah terlarutnya atau hilangnya pupuk dari tanah. Kedalaman "fikn" yang hanya 2 (dua) cm dari permukaan tanah tidak akan menggangu unsur-unsur hara didalam tanah dan air tanah (8) Struktur polimer yang mempunyai gugusan fungsi yang "hidrofob" akan mengakibatkan tanah tahan terhadap air, sehingga tidak menjadi licin jika basah.

5.4.4 Penggunaan Lain Dari Polimer Emulsi:

(1)

Polimer emulsi jenis poli (vinyl acetate yang ber-kopolimerisasi dengan acrylic) atau poli (vinyl acetate yang ber-kopolimerisasi dengan veona) dapat pula digunakan sebagai "dust polluatlve". EPA (Environmental Protection Agency) menyatakan

bahwa "debu (dust) mengandung 108 bahan berbahaya, diantaranya dapat

189

menyebabkan penyakit asma, kanker, alergi dan penyakit karena virus.

(2)

(3)

EPA memperkirakan setiap tahun terjadi "emisi debu" sebanyak 25 m ton. Polimer emulsi yang disemprotkan kedalam tanah, akan mencegah terjadinya polusi yang disebabkan oleh debu (dust pollution), karena pol emulsi akan mencegah terdispersinya partikel-partikel tanah oleh udara. Dengan demikian selain dapat diaplikasikan di pinggir-pinggir sungai sebagai material pencegah erosi, polimer emulsi juga dapat diaplikasikan pada daerah perkotaan seperti "taman kota", tanah lapang, daerah pertambangan, daerah pertanian, pinggir jalan raya, landasan pesawat terbang, dll. untuk menghindar dari berbagai jenis penyakit.

5.5 PRODUK KHUSUS POLIMER "POLISILOKSAI\T' UNTUK KULIT


SINTETIK (KULIT BUATAN) DAN OPERASI PLASTIK
Polisiloksan adalah produk polimer sejenis kulit buatan yang sifat-sifatnya mirip dengan kulit manusia asli. Produk polimer ini adalah perpaduan antara kopolimer "polieter dan poliestet'' yang mengandung unsur kimia sebagai pengikat yaitu unsur silikon (Si), Oksigen (Oz) dan gugus alkil (=p;, dengan struktur molekulnya (yang berat molekulnya terendah) yaitu: R2SiO, dimana gugus alkil (R) biasa dihargai = CHr, tetapi dalam struktur "polisiloksan" ini harga alkilnya (R) bisa juga H atau = C2H5 atau = CoHs

(siklis), sehingga strukturnya bisa-bisa lebih kompleks lagi seperti tabel berikut:

(n)
I
2
3

No:

Nama Polimer/sebutannya

Struktur formulanya
R2SiO

Mono-siloksan Disiloksan Trisiloksan Poli organosiloksan: poli methylsiloksan

H:SiO

H3Si-O-SiH3

H3Si-O-SiH2-O-SiH3

[.rsio],*[o - {t - o - it - o - pl,

Akan tetapi yang terpenting diingat bahwa "polisiloksan" mempunyai B.M (= Benat Molekul) yang tinggi, sehingga komposisi strukturnya dapat ditulis: (R2SiO)n seperti diatas. Ini adalah "poliorganosiloksan" atau "polimethyl siloksan", yang mempunyai ikatan atom antara silikon (Si) dengan Oksigen (O2) (seperti tabel diatas), yaitu dengan ikatan valensi atom silikon (Si) yang terbuka dapat bergabung atau tarik menarik dengan hydrokarbon (R) grup, atau ada juga perubahan sebaliknya yang

190

bergabung antara silikon (Si) dengan oksigen (Oz) pada perubahan yang kedua kali dan

seterus mengakibatkan terjadinya kopolimerisasi

dari "poliether" dan

poliester

(Penggabungan antara atom silikon (Si) dengan R grup, dimana harga R = CzHs atau = C6H, akan terbentuk "poliester" sedangkan penggabungan antara methyloksid ( RzO- ) dengan hydroksil

akan terbentuk "polieter", sehingga terjadi perpaduan antara kopolimer "poliether dan poliester").

( OH- )

5.5.1 Proses/Reaksi Pembentukan "Polisiloksan".

(1)

Pertama-tama mempersiapkan "larutan sintetik silikon surfaktan" yaitu larutan silikon yang mempunyai 2 (dua) permukaan yang aktif berdaya tarik menarik yaitu dengan reaksi radikal langsung antara silikon (Si) dengan Methyl Chloride (CH3 Cl) menghasilkan "4 macam campuran larutan methyl chlorosilane" yang belum stabil
bentuknya, yang terdiri dari:

(a) (c)

(CH3)z Si Cl2 G757o);


CH3 HSi Clz(XBVo);

(b) (d)

CH3 Si

Clr(+

I27o);

(CHr)r Si Cl (t57o).

dan pada saat kondisi

ini perubahan reaksi berhenti.

(2)

Kemudian dengan proses distilasi dan hidrolisa dengan H2O, campuran larutan terse.birt diatas dipisahkan, menghasilkan "silanol (SiOH)" yang kemudian berkondensasi menjadi "siloksane", dengan reaksi-reaksi sbb:

2-Si-Cl +2HrO+ zHCl+ 2- Si- OH*


I
l(silanol)

kondensasi

-Si-O-Si-

l1

+H2O

t
(3)

fsiloksane)

Selanjutnya di "kohidrolisis" campuran larutan "chlorosilane" yang terbentuk dengan larutan "siloksane" yang berat molekulnya rendah dari ikatan siklis (dari "dichlorosilane"). Campuran larutan tersebut pada reaksi keseimbangan dipanaskan pada suhu 100'C dengan menggunakan katalist asam, apabila "silanol" sudah selesai mengalami kondensasi dan hubungan/sambungan ikatan antara Si - O - Si sudah putus, hal ini berarti reaksi pembentukan "siloksane" telah terbentuk dan reaksinya sudah stabil, sbb:

19r

( CH:

h Si Cl + nCl2 Si,

.#

Cst

)r-'l

(cH,):,,"(i;iL-T'"F"l
(4)
pembentukan Selanjutnya jalan alternatif lain yang umum dipakai pada reaksi "siloksan polimer blok" adalah:

cr{"\sict\

1", o, +t

(cHt'}r sict"r I n,o

cH3si (oEt)3

[{cnry, sio]o
KOH katalis

(sikris)

i
cH3 si

([

7l(CH)z

'[

SiO l* OEt (cHr)z sio ]y oEt (cHr)z sio ], oEt

(5) "Ethoxy ( E O- )"

mengahiri reaksi terbentuknya "dimethyl polisiloksan") yang selanjutnya bereaksi dengan hydroksil ( OH- ) membentuk "polyether" sebagai hasil akhir terbentuknya surfaktan "polisiloksan/polimer siloksan" tersebut sbb:

a) Tidak terhidrolisa ( Si - C ):

Si-H+CHz:CH-CH2OR
si (cH2)3 oR b) Dapat terhidrolisa ( Si - O - C ):
Si -

OE + R - OH

---------

Si - O - R + E, OH,

c)

Sehingga struktur "surfaktan silikon" yang disebut "polisiloksan" yang lazim dipakai sbb:

cH,-si-o+si-olI si-o'

9H, l9r,l

tr,

.r,

[9r, * I
I pori"rt.rl*

9H, si - cH3
CH:

-ln

t92

(6)

Sfruktur "surfaktansilikon polimer" (yang disebut dalam istilah petrokimia produk

jadi yang terbentuk inilah yang disebut "polisiloksan", yang mempunyai sifat-sifat seperti "kulit sintetiK' lainnya, yaitu sifat lembut, elastis dan kenyal/kuat serta tahan
terhadap pemanasan suhu tinggi. 5.5.2 Jenis-jenis Polimer untuk pembuatan

Kulit Sintetik

Sesuai dengan "Artikel Harian Kompas - Jakarta terbitan 24 luni 2003 tentang "Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" menjelaskan bahwa (Lihat pada Gambar V-9 terlampir:

(1)

Polimer-polimer yang digunakan sebagai "contoh pilihan" atau matriks" harus mempunyai sifat "bio compatible" yaitu sifat yang dapat diterima oleh sistem biologis tubuh. Matrik polimer yang paling banyak digunakan adalah "kopolimer dari poliester dan poliether serta polimer poli-L-laktida.
Pengujian sifat "bio compatible" polimer tersebut dilakukan dengan c:ra penanaman (implantasi) matrik polimer pada binatang.

(2) (3) (4)

Sebelum proses implementasi dilakukan, terlebih dahulu proses pembedahan


dilakukan pada jaringan kulit binatang percobaan.
Setelah implementasi dilakukan pengamatan kemungkinan terjadinya reaksi-reaksi yang tidak diinginkan pada matrik polimer. Baik poli (ether kopolimer ester) maupun poli-L-laktida tidak menunjukkan pengaruh yang negatif pada binatang, sehingga matriks polimer tersebut memungkinkan digunakan pada manusia.

(5)

Penelitian-penelitian terus dilanjutkan untuk mendapatkan matriks polimer yang lebih sesuai baik itu dari "polimer alam (seperti selulosa)" maupun "polimer sintetik (seperti polisiloksan)". Para peneliti di MIT telah menemukan kopolimer "Collagen glycosaminoglycan" dan peneliti di NAS Washington, DC juga telah menemukan "polimer sintetik polisiloksan", sedangkan peneliti di Virginia telah meneliti penggunaan "selulosa-polimer alam" yang sangat melimpah di dunia untuk membuat

kulit buatan.

(6)

Selain sifat "biocompatible", kekuatan ("strength") adalah sifat penting lainnya yang harus diperhatikan dalam memilih matriks polimer.

5.5.3 Efektifitas Penggunaan

Kulit Sintetik:

(1)

Seperti sudah dijelaskan diatas, kulit sintetik "polisiloksan" adalah produk polimer yang mengandung unsur-unsur silikon (Si), oksigen (OJ, dan gugusan alkil (R). Polimer sejenis ini memberikan sifat lembut, elastis dan kenyal. Oleh karena sifatsifat kelembutannya tersebut, sebelumnya silikon (Si) banyak digunakan sebagai senyawa untuk memperbesar dan mempercantik payudara serta identik dengan
sebutan yang dinamakan Operasi Plastik. Sekarang

(2)

ini kulit sintetik banyak digunakan untuk penyembuhan korban luka bakar

t93

Gambar V-10 terlampir).

yang hebat dan untuk mereka yang ingin mempercantik diri dengan cara mempermak bagian-bagian tubuhnya yang kurang indah (hal ini dapat kita aihat pada

(3) Dalam kasus luka bakar,

.uru .,p"ng"rutan". Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit dan dapat mengakibat ,,cacat,, pada kulit. penderitanya juga akan semakin tidak nyaman bila luka bakar ini terjadi &wajah. (4) Sel-sel kulit manusia yang asli tidak selalu tersedia untuk proses pencangkokan
berusaha menutup luka bakar tersebut dengan

jika tidak ditangani

dengan cepat, maka tubuh akan

kulit sipasien itu sendiri yang sudah barang tentu membutuhkan waktu lama. (s) Kulit sintetik dapat digunakan sebagai pembalut (..bandege',) interaktif yang menutupi luka sampai proses pencangkokan kulit yang asli beihasil menutupi iukal Kulit sintetik akan "berinteraksi" dengan jaringan tubuh agar proses tumbuhnya ,.selsel kulit baru" dapat berlangsung dengan cepat dan ."*p,r*u.
(6) Dalam waktu 7-14 hari akan tumbuh sel-sel kulit baru yang asli dan akan menutupi luka secara utuh. Setelah jaringan fungsional kulit tumbuh d"ngun sempurna maka pembalut dapat dihilangkan dan penyembuhan kulit luka bikar teriebut telah
berjalan dengan sempurna..

("'grafting") dan proses penyembuhan sel-sel tersebut harus ditumbuhkan dari sel-sel

19.i

(iamhar 1'-.1 !'r'in-sip Krrja "Direct \4etitantrl Fuel Ceil"


S,.rmher:

ilanln

Kompt.-r -'lir;ru

Pe

iisetahuan dan Inspirasi" 2:l Agustus 2002t

195

Tabel V-7. Perbandingan Emisi Cas

KENDARAAN..FUEL CELL', DENGAITI LEV STAN.DAR zuiSItE/il{)

TIPEHB{D.q8.LqN BERMOIOR
X"

HMffi
rl 156
ililq

ttt

l\Ti}f
4,2
,{'f

TLET
LH,T

rl6
0,1

i. IILEV
+
SLTLETJ

r'l r'155

JI

ilil/ Iil t./ il ilil./1

IIIII ililtl#1

+ I'r{FCV
X. Dh4FCV

Iil ilh

0.0u01

Sumber: Harian Kornpas

"llmu Pengetahuan dan Inspirasi" 24 Agustus 2002

t96

UNTUK FCVs fiuta galon)


5.000 4.000 3.000 2.000 1.000
0

Gambar Y-4. Proyeksi Kebutuhan Metanol untuk FCVs


Sumber: Harian Kompas "Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" 24 Agustus 2002

r97

Gambar V-5. Proyeksi Penjualan FCVs


Sumber: Harian Kompas

"Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" 24 Agusnrs 2002

198

@@ @@ 9@ @q @ l_/
\) /

Polymer chain

Protected vinyl acetate

1
VeoVa

Gambar V-6. Efektivitas penggunaan ikatan partikel-partikel "polimeremulsi"


dengan tanah proyek percontohan

Sumber: Harian Kompas "Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" 03 Mei 2003

t99

Gambar Y-7. Penyemprotan "tanah-tanah tanggul" cairan "polimer emulsi" dengan alat penyemprot menggunakan "mobil truk" Sumber: Harian Kompas "Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" 03 Mei 2003

200

Gambar Y-8. Penyemprotan "tanah-tanah yang rentan terhadap erosi" dengan menyemprotkan cairan "polimer emulsi" melalui "selang penyemprot" Sumber: Harian Kompas " Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" 03 Mei 2003

Iuetuls trlny uulnluaqrued

nurll, s?duro) u?LEH :reqruns 002 Iunf ?z .,ls?rldsul u?p uBngBleSuod BpBd tIIn) rnD{ruls uP8uep lelullod slHl"htr BrBlIre uu8unqnH

'6'A rBqrue9

IOZ

202

Gambar V-10. Aplikasi Penggunaan Kulit Sintetik dan Operasi Plastik Sumber: Harian Kompas "Ilmu Pengetahuan dan Inspirasi" 24 Jwi2003

)03

Tabel V-5. Karakteristik Berbagai Additif Pelumas (Sumber: PERTAMINA-PDN) Tipe


Dispersant, Detergents

Fungsi Menghindarkan lumpur, deposit karbon dan deposit-deposit awal lainnya yang terlarut dalam pelumas Menetralisasi Asam. Menghindarkan korosi karena serangan asam Menghindarkan dan mengendalikan oksidasi pelumas, pembentukan vamish, lumpur, dan senyawa korosif lainnya, serta membatasi kenaikan viskositas Membentuk lapisan film pelindung pada mesin, mengurangi wear, menehindarkan lecet/ goresan Mengurangi/memodifikasi gesekan, menaikkan ekonomi konsumsi bahan bakar Menghindarkan pembentukan rust pada permukaan logam melalui
pembentukan lapisan

Senyawa

Suksinimida, Sulfonat [,ogam Netral. Detergen Polimerik. Senvawa Amina Sulfonat I-ogam Sangat Basa

Corrosion Inhibitor Oxidation Inhibitor

ZDTP, Amina Aromatik

Extreem Pressure/

Antiwear Friction Modifiers

T i- cr esyl Phosphat, Phosphat Organik, Senyawa Klorin, dan Senvawa Sulfur

ZDTP,

Senyawa polar rantai panjang misalnya Amida, Phosphat, Phosohit. dan Asam

Rust Inhibitor

Additif

Basa

Tinggi, Sulfonat,

film atau

Phosphat, Asam Organik/ Ester, dan Amina

menetralisasi asam

VI Improver

Mengurangi besamya perubahan vis kositas akibat perubahan suhu, mengurangi konsumsi bahan bakar, mengurangi penguapan pelumas, dan
menambah kemudahan penyalaan mesin pada suhu rendah

Poliisobutilen, Metacrylat, Polimer Acrylat, Kopolimer Olefin, dapat


bergabung dengan gugus dispersant

Metal Deactivators

Membentuk lapisan hlm sehingga permukaan logam tidak menjadi katalis terhadao oksidasi oelumas Menurunkan titik tuane pelumas Mengurangi foam pada crankcase

ZDTP, Phenat t ogarn, Senyawa


Nitrogen Organik Metacrvlat BM Rendah Polimer Silikon

Pour Point Depressant Antifoamants

Tabel V-6. Penggunaan Additildalam Berbagai Peiumas (Sumbcr: PERTAMINA-PDN) Anti


Pour Point Extrcme
Rush
Pressure

Tipe Pelumas
Oksidan Depressant
,r

VI
Anti
Foaming Improver Oitlines Agent

Emulsi-ller

Detergcnt Dispersant

Inhibitor

Spindle Oil

Refiiserator Oil

Dynar ro

Oil

Turhine C)il

Marinc Diesel Engine Oil


i<

Gasoline Engine Oil

Diesel Engine Oil

Gear Oil

*
I'J

Cuttinc Oil

J\

Aircratl Reciorocatins Eneine Oil

Hidraulic Oil
*

Comori-'ssor Oil

Instrument Oil

BAB VI

MASALAH LINGKUNGAN INDUSTRI PETROKIMIA


Seiring dengan kemajuan teknologi dalam sektor industri pada umumnya dan dalam industri petrokimia pada khususnya, serta dengan cukup tersedianya sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi, maka pengembangan industri petrokimia di Indonesia perlu ditingkatkan lagi. Manfaat yang dapat diharapkan dengan dikembangkannya suatu industri petrokimia antara lain adalah: 1. Memberi kesempatan kerja yang lebih luas kepada para calon tenaga kerja, sehingga
dapat membantu pemerintah memecahkan masalah pengangguran.

2. Dapatmenaikkan taraf hidup masyarakat di sekitar lokasi industri. 3. Dapat menambah jumlah tenaga terampil yang berarti makin
kemampuan tenaga berteknologi tinggi.

meningkatnya

4.

Secara Nasional dapat menambah devisa untuk pembangunan negara.

Namun di samping manfaat-manfaat tersebut, ada kalanya kehadiran sesuatu industri dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungannya. Dampak negatif tersebut akan terasa lebih parah lagi apabila dari industri tersebut dikeluarkan bahanbahan buangan pencemar atau limbah pencemar tanpa dilakukan pengolahan limbah
terlebih dahulu.

Industri petrokimia di Indonesia yang kini telah mulai berkembang merupakan salah satu tulang punggung dalam mengisi dan menunjang pertumbuhan industri-industri lainnya, juga perlu memperhatikan masalah-masalah dampak negatif lingkungan yang ditimbulkannya.

6.1

LIMBAH PETROKIMIA DAN ST]MBERNYA

6.1.1 Jenis Limbah Petrokimia


Pada umumnya industri petrokimia mempunyai 3 jenis limbah buangan yang dapat

menimbulkan pencem,uan terhadap lingkungannya. Ketiga jenis limbah pencemar akibat industri petrokimia tersebut adalah:

1. Limbah pencemar gas atau limbah gas, yaitu gas-gas buangan proses, seperti gas CO2,
CO, HzS, SOx, NOx, dan jelaga/partikel-partikel.

2. Limbah pencemar cair atau limbah cair, yaitu air buangan atau air

yang berbentuk

206

larutan buangan proses.

3. Limbah

pencemar padat atau limbah padat, yaitu limbah padat buangan atau yang berbentuk larutan buangan proses, seperti plastik-plastik dan resin-resin buangan proses, logamJogam berat dan katalis buangan proses (seperti: Pb, Hg, Cd, Fe, Cu, Ba, Se, Zn, dll.), garam-garaman anorganik yang terbuang dan lumpur organik padat buangan proses.

6.1.2 Sifat-sifat dan Karakteristik Limbah Petrokimia

Ada beberapa sifat dan karakteristik atau ciri khas yang menjadi
belakangpengendalian dampak lingkungan hidup industri petrokimia antara lain:

latar

1. Industri petrokimia (industri petrokimia hulu) di dalam operasinya menggunakan


hidrokarbon atau migas sebagai bahan bakunya, yang pada pengolahan selanjutnya (yang disebut juga industri petrokimia hilir) akan menghasilkan produk-produk petrokimia berupa produk dasar atau produk primer, produk antara atau produk setengah jadi atau produk intermediate dan produk akhir atau produk jadi.

2. Di samping itu, industri petrokimia ini mempunyai sifat dan karakteristik yang lain lagi, yaitu bahan bakunya yang berupa hidrokarbon beberapa kali mengalami
perubahan bentuk mulai dari produk dasar menjadi produk antara, yang akhirnya berubah menjadi produk akhir/produk jadi. Pada saat setiap tahapan proses produksi diperlukan:

a) Proses dasar yang berlainan. b) Bahan pelarut kimia serta bahan katalis yang berlainan. c) Air dalam jumlah yang relatif besar dengan jumlah yang berbeda pada setiap tahapan proses, sehingga "limbah buangan proses" atau "limbah petrokimia" berupa bahan-bahan kimia pencemar yang dihasilkan, jumlah dan macamnya sangat banyak (lihat Tabel VI-l). 3. Besarnya pencemaran yang disebabkan suatu industri petrokimia sulit ditentukan
mengingat proses produksi, bahan baku dan cara pengoperasiannya sangat beragam. Namun demikian, pengukuran BOD (biological oxygen demand) dan COD (chemical oxygen demand) dapat menunjukkan besarnya zat pencemar organik dalam air limbah atau sungai pembuang. (Lihat Tabel VI-2). Cara yang terbaik adalah mengukur semua junrlah zatpencemar yang ada serta debit air limbah dan sungai pembuang.

6.2 ASPEK LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT PENGOPERASIAN DAN PEMAN.


FAATAN PRODUK.PRODUK PETROKIMIA
6.2.1 Rona Lingkungan

Industri Petrokima

Sama halnya seperti Rona Lingkungan lndustri, maka dengan Rona Lingkungan Petrokimia dimaksudkan: "Bagaimana cara membangun proyek industri petrokimia yang

207

berwawasan lingkungan sejak awal". Gambaran ini meliputi aspek fisik, kimia, biologis, sosial ekonomi dan sosial budaya manusia yang potensial berada di sekitar proyek dan dalam suatu wilayah yang secara ekonomis relevan dengan kegiatan proyek. Materi yang dibahas terutama dititik-beratkan pada parameter-parameter yang cukup penting dan diperkirakan memberikan dampak lingkungan yang dominan.
6.2. l. 1 Keadaan

Lingkungan Fisika-Kimia

l.Iklim
Gambaran mengenai iklim dapat diperoleh dari data hasil pemantauan stasiun meteorologi yang terdekat. Stasiun meteorologi ini mencatat dan mengumpulkan data antara lain mengenai temperatur udara, temperatur tanah, kecepatan dan arah angin,
kelembaban udara, curah hujan, penguapan, penyinaran matahari serta keadaan udara. 2. Kwalitas Udara Penentuan kwalitas udara dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang batasan konsentrasi dari limbah gas-gas di atas kawasan proyek dan sekitarnya sebagai akibat enrisi kegiatan suatu proyek ataupun sumber-sumber yang lain. Hasil penentuan kwalitas

kemudian dibandingkan dengan Kep. Men. 02ilIENKLlyYt988 (Lihat Tabel VI-3 dan Tabel VI-4).

udara

ini

KLH Nomor

KEP-

3. Kebisingan

Kebisingan merupakan parameter yang harus diamati di lapangan. Penyebaran kebisingan dipengaruhi oleh sejumlah faktor fisik yang mengakibatkan penerusan dan pengurangan kebisingan. Faktor yang berpengaruh antara lain adalah meteorologi, suhu dan karakteristik permukaan tanah yang bersama-sama akan mengabsorbsi atau meneruskan suara. Arah angin yang dominan yang akan mempengaruhi pola penyebaran kebisingan pada jarak tertentu. Suhu mempunyai pengaruh yang sama, apabila penurunan
suhu berlangsung secara lambat, maka gelombang suara akan ke atas.

4. Fisiografi
Gambaran mengenai fisiografi ini antara lain menampilkan topografi lokasi dan morfologi proyek tersebut. Dari sini dapat diketahui apakah wilayah proyek tersebut merupakan daerah dataran tinggi, rendah atau pantai, jarak wilayah dengan pantai, ketinggiannya dari permukaan laut dan kemiringan tanahnya. 5. Geologi

Gambaran mengenai geologi daerah di mana proyek akan didirikan dan daerah sekitarnya, secara umum meliputi jenis-jenis formasi bantuan, jenis jenis tanah dan gerakan-gerakan tanah. Keadaan geologi ini dalam penampilannya dilengkapi dengan peta geologi untuk memberikan gambaran formasi lateral yang ada di sekitar wilayah lokasi dan juga stratigrafi kolom yang menggambarkan urutan-urutan vertikal kelompok batuan sebagai hasil evaluasi pemboran sumur dan studi geologi permukaan.

208

Hidrologi Uraian tentang hidrologi dapat ditekankan pada kelakuan fisik keadaan hidrologi setempat (sungai, danau, laut dsb). Kelakuan fisik ini antara lain meliputi penyebaran air tanah, pola aliran sungai, daerah resapan air permukaan dan air tanah, sifat aliran, fluktuasi pasang surut, perkiraan debit drainase, sedimentasi dan erosi, sumber air bersih untuk mandi, cuci, dan keperluan lainnya serta karakteristik air tanah untuk mengetahui potensinya. Keadaan hidrologi dapat diperjelas dengan menampilkan peta hidrologi, peta
6.

penyebaran air tanah atau peta daerah aliran sungai. 7. Hidro-oceanografi

Pola hidrodinamika laut dapat ditampilkan melalui pengukuran parameter seperti pasang surut, gelombang dan arus, interaksi pola hidrodinamika dengan cuaca, interaksi pola hidrodinamika dengan sedimentasi dan erosi.
8.

Kualitas air

a) Kualitas air permukaan PP 20 tahun 1990 golongan B merupakan dasar untuk penilaian terhadap kualitas air permukaan (sungai). Penggunaan baku mutu golongan B dalam analisis ini
karena fungsi sungai di daerah belum ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

Dalam Peraturan Pemerintah tersebut dinyatakan bahwa setiap sungai yang belum ditetapkan fungsinya oleh pemerintah, secara otomatis diatur oleh PP tersebut. Kualitas air permukaan dianalisis berdasarkan sifat fisik-kimia serta logam berat yang terkandung di dalamnya. Sifat fisik air ini meliputi temperatur, warna, kekeruhan,
daya hantar listrik, salinitas dan muatan padatan tersuspensi. Parameter tersebut secara umum digunakan untuk menentukan status kualitas iir suatu perairan. Semua sifat fisik ini merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia perairan serta fungsi fisiologis dalam organisme perairan. Sifat kimia air ini meliputi: pH, CO2 bebas, alkalinitas total, kesadahan - Ca Mg - total, DO, nitrat, amonia, ortofosfat, silikat, sulfat, sulfida, BOD-j, detergen, fenol, HC-total, pestisida. Sifat kimia ini mencakup parameter-parameter yang mempengaruhi nilai daya guna air bagi kehidupan organisme, rumah tangga, perikanan dan pertanian. Parameter-parameter ini dapat berupa gas-gas yang terlarut, padatan tersuspensi, garam-garam organik atau anorganik. LogamJogam berat yang dianalisis meliputi Ca, Mg, K, Na, Fe, Cd, Cr, Mn, Zn,Pb, dan Hg. b) Kualitas air

laut

Penilaian terhadap kualitas air laut (pantai, muara sungai, perairan pantai) didasarkan pada Baku Mutu Air Laut menurut Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-02A4ENKLI{/F/1988 untuk biota laut. Kualitas air laut untuk biota laut dianalisis berdasarkan sifat fisik kimia serta logam berat yang terkandung di dalamnya. Sifat fisik meliputi temperatur, warna, kekeruhan, daya hantar listrik, salinitas dan muatan padatan tersuspensi. Sifat kimia meliputi: pH, Co2 bebas, Do

209

nitrit, amonia, sulfida, sulfat, BOD-5, COD, detergen, fenol, HC-total. Logam-logam berat yang dianalisis meliputi Ca, Mg, K, Na, Fe, Cd, Mn, Ni, Zn, Cv, Pb dan Hg.
kesadahan total, nitrat, ortofosfat, silikat,

c). Kualitas air tanah Penilaian terhadap kualitas air tanah didasarkan pada Baku Mutu Air menurut PP. 20 tahun 1990 golongan B. Parameter-parameter yang dianalisis baik untuk sifat fisik-kimia maupun unsur logam berat adalah sama dengan parameter-parameter kualitas air permukaan. d) Kualitas air limhah Penilalan terhadap kualitas air limbah didasarkan pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-2/IVIEN.KLIilI/1988 mengenai Baku Mutu Air Limbah (Lihat Tabel VI-5) dan KEP-3/IvIEN.Kl-HllJ/lggl mengenai Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Proyek yang Sudah Beroperasi (Lihat Lampiran 2).
6.2. 1 .2 Keadaan 1.

Lingkungan Biologi

Flora Untuk setiap pembangunan proyek, pada awalnya harus diketahui keadaan daerah yang akan dijadikan lokasi proyek dan peruntukan daerah tersebut. Bila daerah hutan, harus diketahui dengan jelas, hutan tersebut hutan apa. Apakah hutan lindung, hutan
produksi, hutan suaka alam atau taman nasional. Apabila hutan tersebut merupakan hutan primer, maka harus diinventarisasi dulu jenis-jenis pohon dan tumbuhannya yang ada, apakah terdapat tumbuhan khusus/langka yang sudah dilindungi, untuk dapat menyelamatkan tumbuhan tersebut. Apabila daerah tepi pantai banyak tanaman bakau (mangrove), maka tanaman bakau ini harus dilestarikan. Fungsi tanaman bakau ini merupakan komponen yang penting untuk biologi di daerah pantai, antara lain memberikan kestabilan daratandaratan lumpur dan saluran-saluran pasang surut, tempat cari makan dan bertelur bagi ikan/biota laut serta tempat perlindungan terhadap organisme akuatik dan darat terutama perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang penting. Di samping itu, tanaman bakau ini juga
merupakan pelindung pantai. 2. tr'auna

Di samping flora yang tersebut di atas, perlu diinventarisasi pula hewan-hewan yang ada di lokasi dan sekitar wilayah proyek. Apakah pada lokasi yang akan dipakai proyek tersebut merupakan tempat berkembang biak, tempat mencari makan, tempat perlindungan bagi hewan-hewan tersebut. Hal ini sangat penting untuk mempersiapkan tempat perpindahan lingkungan tersebut pada tempat/lokasil daerah yang dapat menjamin kelangsungan generasinya. Selain hewan-hewan tersebut perlu diinventarisasi organisme yang ada di perairan, antara lain mikro organisme (phyloplankton, zooplankton) dan
makro benthos.

2t0

6.2.2 Dampak Lingkungan Hidup

Pengoperasian proyek industri petrokimia, yaitu pengolahan atau penggunaan bahan baku hidrokarbon/"minyak dan gas bumi", dapat menimbulkan dampak negatif.
6.2.2.1 Dampak Negatif yang Timbul

Pemanfaatan minyak dan gas bumi sebagai bahan bakar dalam industri petrokimia akan menimbulkan emisi bahan buangan limbah berupa co2, co, cI{. Nox, HzS, sox dan jelag : (partikel) yang dapat mempengaruhi kualitas udara sekirarnya. Tetapi apabila kita perhatikan spesifikasi atau karakteristiknya, maka minyak dan gas bumi Indonesia termasuk jenis yang cukup rendah kandungan belerangnya, sehingga pencemaran oleh gas SOx dan HzS tidak perlu dikhawatirkan.

dari industri petrokimia hilir dapat mempengaruhilmencemari kualitas kehidupan di sekitamya. Begitu juga ceceran-ceceran minyak dalam pabrik dapat menaikkan suhu perairan yang dijadikan tempat pembuangan limbah cair tersebut. Ini semua akan mengakibatkan/mengganggu kehidupan beberapa jenis flora dan fauna yang ada di
sekitarnya. 6.2.2.2 Dampak Negatif Umum
1.

Selain limbah gas pencemar tersebut, limbah cair pencemar seperti air buangan aiau cairan berbentuk larutan buangan proses dan limbah pada pencemar sebagai akibat Luangan proses seperti resin-resin/plastik-plastik, logam-logam berat, garam-garam o.'ganik dan sisa-sisa katalis, baik yang dihasilkan dari Industri petrokimia hulu maupun

lang Timbul

Fisika

- Kimia

a) Iklim Mikro
Perubahan iklim mikro dapat terjadi akibat perubahan habitat hutan-hutan primer/sekunder yang menjadi lokasi proyek, lahan pemukiman pegawai./karyawan maupun untuk pertanian akibat adanya migrasi, serta pembuangan bahan berbentuk gas lewat cerobong yang dibakar sehingga memancarkan panas ke sekeliling tempat
proyelc/ tapak proyek.

b) Kualitas Udara
sehingga berpengaruh terhadap manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya. Pencemaran udara dapat merusak tanah, air, hasil pertanian, tanaman lain, hewanhewan maupun benda-benda yang berada di sekitar kawasan sumber pencemar. Di

kimia dalam konsentrasi yang cukup .tinggi (di atas normal/ambient)

Pencemaran udara adalah suatu keadaan udara yang mengandung senyawa

samping

itu,

pencemaran udara dapat mengurangi kenyamanan hidup. serta

mengganggu kesehatan manusia. Dengan beroperasinya proyek industri petrokimia tersebut, maka akan terjadi emisi bahan buangan limbah gas dan partikel dari proses tersebut. Emisi dari proses pembakaran adalah so2, co, HC, HzS, coz dan jelaga

partikel-partikel.

ztt
c) Kebisingan
Kebisingan ini timbul sebagai akibat bunyi mesin-mesin pembangkit listrik, pompa-pompa, kompressor, dan sebagainya. Apalagi bila nilai ambang batas kebisingan telah terlewati, maka kebisingan dapat menimbulkan gangguan kesehatan kepada pekerja/ pegawai./karyawan atau penduduk setempat dan bahkan mengusik satwa-satwa yang hidup di sekitar proyek.

d) Kualitas Air Permukaan/Air Laut Terjadinya pencemaran air permukaanlair laut sebagai akibat pembuangan
limbah cair dan panas yang dapat mencemari dan menaikkan suhu air permukaan dan air laut sehingga mengganggu kehidupan beberapa jenis flora dan fauna perairan yang tidak tahan terhadap suhu tinggi maupun polutan. Di samping limbah cair dari proyek industri petrokimia, air permukaan atau air laut juga dapat tercemar oleh limbah domestik atau buangan penduduk setempat, rumah-rumah pegawai/karyawan, juga oleh adanya ceceran minyak/oli bekas dari proyek industri petrokimia tersebut.

e) Air Tanah
Apabila proyek menggunakan air tanah sebagai sumber air kebutuhan proyek, maka dalam penggunaan air tanah harus diperhitungkan kemampuan alam dalam penyediaan air tanah untuk proyek industri petrokimia tersebut.
2. Biologis

a) Flora
Pembukaan lahan untuk proyek dapat menimbulkan hilangnya vegetasi langka

atau hilangnya fungsi hutan (sebagai hutan wisata, hutan produksi,


pclutan.

suaka

margasatwa./suaka alam, taman nasional). Begitu juga dengan adanya polutan yang dihasilkan oleh proyek dapat mengurangi vegetasi tertentu yang tidak tahan terhadap

b) Fauna
Pencemaran air dapat mengakibatkan kematian atau menurunnya populasi biota

air. Pembukaan daerah pantai yang kaya akan tanaman bakau (mangrove), dapat mengakibatkan biota air maupun darat tertentu kehilangan tempat tinggal, tempat
berlindung, tempat mencari makan, tempat berkembang biak dan sebagainya
3. Sosial - Ekonomi

Budaya

Pembebasan lahan akan mengakibatkan perubahan tataguna dan kepemilikan lahan. Hal ini sering menimbulkan konflik antar pernrakarsa proyek dan masyarakat.

a) Banyaknya pendatang baru yang mempunyai keahlian lebih dari pada masyarakat setempat dan pada umulnnya memiliki tingkat kehidupannya lebih tinggi dapat
menyebabkan terj adinya perbedaan sosial.

b) Kecemburuan sosial dapat timbul apabila penduduk setempat tidak ikut


menggunakan/merasakan manfaat adanya proyek.

212

Dengan adanya pendatang baru yang mempunyai keanekaragaman sifat dan adat istiadat dapat mengakibatkan kemungkinan timbulnya perkelahian, pencurian/kejahatan
yang menyebabkan keamanan penduduk terusik.

6.3 CARA PENGEI\DALIAN DAN PENANGGULANGAN PENCEMARAN LINGKUNGAN LIMBAH PETROKIMIA


Ca-a yang paling baik melakukan pencegahan pencemaran limbah Industri petrokimia adalah melakukan pencegahan pencemaran pada "sumber-sumber pencemar" di dalam area pabrik, seperti: 1. Penyempurnaan metode proses serta peralatan yang dipakai. 2. Menlaga kebersihan dari tumpahan/ceceran bahan kimia sdrta ceceran lainnya. 3. Menambah unit pemanfaatan hasil samping. 4 ' Penggunaan kembali air buangan proses (daur ulang) serta usaha-usaha lain yang tidak menimbulkan gangguan terhadap peralatan, manusia./karyawan serta lingkungannya. 6.3.1 contoh cara Penanggulangan Pencemaran Akibat Limbah Gas
Pencemaran akibat buangan gas d6pat diatasi dengan cara absorbsi (lihat Gambar garam sitrat sebagai penyerap/absorber. Cara kerjanya adalah sebagai berikut: Steam/uap panas dipompakan ke dalam kolom stripper/kolom absorber, sehingga gas pencemar (gas-gas SO2) akan terserap dan bereaksi dengan garam sitrat sehingga terbentuk garam sulfat dan asam sitrat sebagai hasil samping (by product) yang tidak menimbulkan masalah pencemaran lagi. Kedua hasil samping ini dapat dipergunakan untuk keperluan lain.

VI-l) yaitu dengan menggunakan

6.3.2 contoh cara Penanggulangan.Pencemaran Akibat Limbah zat Cair Ada beberapa cara penanggulangan pencemaran akibat buangan limbah organik
cair, yaitu antara lain:

1. Secara fisika, seperti dengari sedimentasi, yaitu berupa pemisahan secara gravitasi (seperti pemisahan air berminyak), flotasi, penguraian (stripping), absorbsi, ekstrasi
dan lain-lain.

a) Absorbsi. Dalam cara ini digunakan karbon aktif yang sering dipakai untuk menanggulangi limbah yang mengandung zat kimia organik, seperti pestisida, benzena, fenol dan hidrokarbon yang telah mengalami klorinasi (chlorinated
hydrocarbon).

b) Ekstrasi. Dalam cara ini digunakan pelarut yang cocok untuk bahan pencemar
yang akan dipisahkan.

zt3

2. Secara kimia. Cara penanggulangan pencemaran ini dipakai secara luas

dalam mengolah air buangan industri, yaitu dengan cara netralisasi, koagulasi, presipitasi dan oksidasi. a) Netralisasi. Cara ini dipakai untuk menanggulangi bahan-bahan pencemar akibat

pencucian bahan-bahan buangan asam atau basa dari proses-proses alkilasi, sulfonasi, nitrasi dan pembuangan katalis yang bersifat asam. b) Koagulasi. Cara ini dipakai untuk menanggulangi buangan bahan pencemar berupa air bercampur minyak, emulsi atau logam berat dengan bantuan kapur dan ferosulfat sebagai bahan koagulan. c) Oksidasi. Oksigen (udara) atau bahan kimia pengoksidasi digunakan dengan atau tanpa katalis untuk menanggulangi COD. Salah satu contoh proses oksidasi yang banyak diketemukan adalah pengolahan buangan domestik secara "air stripping".

3.

Secara biologis

a) Secara anerobik (tanpa udara). Proses ini dilakukan di dalam suatu reaktor di mana bakteri anerobik akan mengubah bahan limbah cair organik menjadi gas metana (CH+) atau bio-gas. Gas metana atau bio-gas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas untuk pembangkit listrik. Untuk jelasnya

b)

ini dilakukan di dalam suatu reaktor di mana limbah organik cair akan teroksidasi oleh pertolongan bakteri erobik dan pemanasan dari luar, sehingga diolah menjadi air (HrO) (dan CO/CO, dengan meirgalirkan udara ke dalam reaktor (lihat Gambar YI-Z).

dapat dilihat pada Gambar VI-2. Secara erobik (dengan adanya udara). Proses

Penanggulangan secara biologis dengan pertolongan bakteri telah berkembang dengan pesat dan telah banyak digunakan untuk mengolah limbah buangan yang mudah terurai secara biologis.

6.3.3 Contoh Cara Penanggulangan Pencemaran Akibat Limbah ZatPadat

Ada beberapa cara pengendalian/penanggulangan pencemaran akibat


pirolisa (pembakaran).

buangan

limbah pencemar zat padat (seperti bahan pencemar botol-botol minuman bekas plastik dan resin-resin/plastik-plastik lain) yaitu dengan proses recycling (daur ulang) dan proses

1. Proses daur ulang dapat dilakukan terhadap bahan botol-botol plastik bekas seperti PVC dan PET (Polietilen tereftalat) dan sekaligus memanfaatkan bahan bekas botol plastik tersebut menjadi bahan berguna yaitu dengan proses penambahan bahan
kimia/reduksi sehingga dapat diolah menjadi produk-produk petrokimia dalam bentuk

cair yaitu bahan baku botol plastik (lihat Gambar VI-3) dan sekaligus mengatasi
masalah pencemaran lingkungan.

2.

Proses pirolisa dapat dilakukan terhadap limbah buangan plastik bekas atau limbah polimer bekas dengan cara mengolah limbah polimer bekas tersebut menjadi

2t4

"fueloil"/bahan bakar minyak (lihat Gambar VI-4) dan sekaligus mengatasi masalah
pencemaran lingkungan. 6.3.4 Kualitas

Air Limbah (Lihat juga Tabel VI-2 dan Tabel VI-5)

Untuk mengetahui jumlah limbah pencemaran di dalam air atau di dalam sungai penampungannya, dapat diukur dengan methoda/cara, sebagai berikut: 1. B.O.D = Biological Oxigen Demand (= mg/l) = Kebutuhan oxigen secara biologi kehidupan. 2. C.O.D = Chemical Oxigen Demand (= mg/l) = Kebutuhan oxigen secara kimia. T.O.C 3. = Total Organic Carbon. = Jumlah carbon organik, sebagai berikut: . Limbah dalam air dikeringkan, kemudian dibakar pada suhu tinggi. Kadar CO,

yang terbentuk dari hasil pembakaran tersebut dianalisa dengan sinar inframerah, didapat harga T.O.C nya. Reaksi penguraian senyawa karbon dalam air dapat berlangsung dengan cara: a) Aerob (= dgn 02) dan

b) Anaerob (= tanPa Oz).

Yaitu dengan pertolongan bakteri, sebagai berikut:


Bakteri Aerob
Reaksi

Bakteri Anaerob
Reaksi

Hasil
CO/COz

Hasil
CHa @io-gas) NH3

C) N) P) S)
.

HN03
H3PO4
H2SO4

C) N) P) S)

PH:
HzS

Penguraiafl secara Anaerob dapat menyebabkan/mengeluarkan bau busuk yang merangsang (= bau busuk H2S, bau NH3), dan apabila air tercemar sampai bau busuk, maka didalam air tersebuj kadar O2-nya sudah tidak adalagi/aimya sudah cukup tercemar (Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran-l Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air).

6.4 KESIMPULAN DAN SARAN

6.4.1 Kesimpulan

1. Dengan meningkatnya kegiatan pembangunan industri pada umumnya dan kegiatan


pembangunan industri petrokimia pada khususnya, yang sudah banyak dilakukan oleh

215

para pengusaha swasta belakang ini, maka pembangunan proyek-proyek industri petrokimia di Indonesia sudah semakin harus memperhatikan dampak-dampaknya terhadap lingkungan di sekitarnya.
2. Pengendalian

limbah pencemar industri petrokimia mudah ditangani dan tidak akan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap lingkungan hidup di sekitarnya, asalkan dari semula dampak negatif yang akan ditimbulkannya dapat diwaspadai atau dengan perkataan lain kalau dari semula para petugas yang menanganinl'a di lapangan sudah tanggap terhadap permasalahan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkannya.
di masyarakat, diperlukan daya dukung lingkungan hidup seperti: a) Koordinasi antara instansi yang terkait dalam upaya mencegah dan menangani berbagai masalah lingkungan hidup perlu ditingkatkan. b) Perlu ada kelembagaan hukum untuk menangani lingkungan hidup. Dengan adanya U.U.L.H (Undang-Undang Lingkungan Hidup) maka diperlukan lebih banyak peraturan guna mengatur penanganan limbah pencerulr beserta sangsinya. c) Sumber daya manusia merupakan sisi penting dalam menangani dan mencegah kerusakan lingkungan. Untuk itu perlu adanya ahli teknis lingkungan untuk membuktikan adanya pencemaran lingkungan. Guna menyidiki kerusakan lingkungan diperlukan polisi lingkungan yang handal, begitujuga diperlukanjaksa dan hakim yang tahu banyak persoalan lingkungan hidup, sehingga untuk masa-masa mendatang persoalan kerusakan lingkungan hidup diharapkan sudah dapat diatasi.

3. Untuk menanggulangi permasalahan lingkungan hidup secara menyeluruh dan terpadu

6.4.2 Saran-saran 1.

Dari

contoh-contoh cara pengendalian/penanggulangan pencemaran limbah petrokimia tersebut di atas, bahan pencemaran air merupakan bahan buangan yang paling penting untuk ditanggulangi dari seluruh bahan buangan Industri petrokimia. Maka untuk menanggulangi hal semacam ini, sebaiknya setiap industri petrokimia dilengkapi dengan Unit-Unit Pengolahan Air Buangan maupun Unit-unit
Pengendalian/Penanggulangan buangan pencemar/limbah lainnya.

2. Meskipun untuk melengkapi sarana pengolahan limbah tersebut memerlukan tambahan biaya investasi yang cukup tinggi, akan tetapi hal tersebut tidak akan menjadi hambatan bagi para pengusaha, sebab tambahan biaya tersebut dapat
dimasukkan ke dalam harga jual produknya. Apalagi belakangan ini pihak konsumen sudah mulai sadar tentang kelestarian lingkungan, dengan kata lain, konsumen sudah

mau membeli berapapun harga suatu produk yang ditawarkan, asal


pembuatannya sudah bersahabat dengan lingkungan.

proses

216

Tabel

VI-l.

Jenis Limbah Petrokimia dan Sumber Asalnya

Nama Proses
I

Sumber Polutan

enis Li mtrah,/Poluta n

Alkilasi benzena
Produksi NH3

Alkilasi etil benzena

. . .

2.

. . '

Demineralisasi
Regenerasi dan proses kondensasi Dapur pembakaran

Tar, asam hidroklorik, kaustik soda. fuel oil/ minvak baka Berbagaijenis garam asam dan
basa.

Amonia (NH3)

CO, dan CO
Hidrokarbon aromatik Pelarut SO, dan dietllen glikol. Katalis yang terbuang, sisa-sisa katalis (silika, alumina, hidrokarbon, nitrogen monoksida dan oksida). Katalis (seperti: Pt, Mo), hidrokarbon aromatik. H,S
Garam-garam anorganik, tumpahan minyak, cairan

.)_

Produksi aromatik Catalytic cracking

4.

Ekstraksi air Pemurnian pelarut


Regenerasi katalls

5.

Cataiytic reformin
Proses pengolahan minyak

Zat-zat kondensat
Pencucian pengolahan

. . . . . . .

6.

bumi
7.

minyak bumi

Produksi sianida

Air buangannya/ "water


slops"

8.

Dehidrogenasi . Produksi butadiena dari n-butana dan butilena . Produk keton . Produk stirena dad etii benzena

Air buangan proses /


"quench waters" Zat-zat distllat I "distillation slop" Katalis kondensat dari kolum pemisah

minyak. Hidrogen sianida (HCN) dan bahan yang tidak larut dalam hidrokarbon.. Gas residu, tar, tumpahan minyak dan larutan hidrokarbon Polimer hidrokarbon. hidrokalbon yrng terchlorinasi. gliserol dan NaCl. Sisa katalis (Fe, Mg, K, Cu, Cr,
ZnO).

Hidrokarbon aromatik, stirena.

9. 10.

Desulfurisasi Ekstraksi dan pemurnian: . Isobutilena . Butilena . Stirena . Absorpsi butadiena

. Asam dan sisa NaOH . Larutan dan pencuci . .


NaOH Logam dasar/ "Still bottoms"
Lan-rlan

. ' . . .

etil benzena dan tar H,S dan merkaptan.


H2S0a, Ca - hidrokarbon, NaOH.

Aseton, oil, Ca - hidrokarbon. Tar fraksi berat. "Copper amonium acetate", Cahidrokarbon. oil.

l1
12.

Distilasi ekstraktif
Halogenasi,/klorinasi Penambahan untuk

Larutan Pemisah/separator HCI absorber, scrubber

Furfural, Ca

hidrokarbon

. . .

olefin
Subtitusi

. . . . .

Sisa NaOH.

Hipoklorinasi Hidroklorinasi

Dehidrohalogenasi Hidrolisa tar "Surge tank"

Klorin, HCI, sisa hidrokarbon, hasil-hasil klorinasi dan oil. Polutan larutan garam. CaCl2, garam-garam organik yang terlarut, Sisa katalis. alkilhalida.

2t7

Tabel

VI-l. (lanjutan)
Nama Proses Sumber Polutan Jenis Limbah./Polutan Hidrokarboksilasi Hidrokarboksilasi lproses

l3

t4.
15.

. "Still sloos" . "Still slops"

.
.

Larutan hidrokarbon. aldehida Larutan Garam-garam sianida, organik dan anorganik.

oxo)
Hidrosianasi (untuk acrylonitrile adipic acid, dll) Isomerisasi/Nitrasi: . Parafin . Aromatik

. Yang mempengaruhi
proses/ "process

effluents"

t6.

Sisa-sisa proses/ "process wastes"

. . . . . . . . . . . . . .

Hidrokarbon, alifatik, aromatik


dan derivat tar. Hasil samping dari keton aldehida, asam-asam, alkohol,

olefin, CO2
H,SO". HNO" dan aromatik. CaCl2, polimer hidrokarbon, etilen oksida, glikol diklorida. Aseton, formaldehida, asetaldehida, metanol dan asam organik tinggi. Anhidrida aromatik dan asamasam.

17.

Oksidasi:

. . . . .

Buangan

Etilen oksida & produk

proses/'process slop"
Buangan proses Kondensat buangan

18.

Aldehida" alkohol & asam-asam dari hidrokarbon . Asam & anhidrida dari oksidasi aromatik . Fenol & aseton dari oksidasi aromatik . Produksi carbon black Polimerisasi dan alkilasi Polimerisasi polietilena: . Butyl rubber Copoiymer rubber

glikol

logam/still slop
Sisa-sisa

proses/"decanter" Air pendingin proses dan air pencuci produk

Bubur-kue/'pitch"
Asam formiat. hidrokarbon Carbon black, partikel-partikel zat Dadat terlarut Sisa asam katalis (sisa H3PO4) AICI1. Cr, Ni, Co, Mo. Oil dan hidrokarbon ringan. Butadiena, stiren4 lumpur lunak. Produk oksidasi sikloheksan4
asam suksinat, asam adipat, asam glutarat, heksametilen4

. . . . .

Buangan katalis Buangan katalis Buangan/sisa-sisa proses Buangan/sisa-sisa proses Buangan/sisa-sisa proses

19.

'

Nilon-66

20.
21.
22.

Sufonasi olefin

. . .

Buangan proses

. . .

diamin, adiponitril, aseton, metil etil keton (MEK). Alkohol, polimer hidrokarbon,
Na2S0a,

dll.

Sulfonasi aromatik Thermal cracking olehn termasuk fraksinasi dan

Air pencuci NaOH


Buangan dari dapur pembakaran dan pencucian dengan

Sisa-sisa NaOH Asam-asam, H2S, merkaptan, larutan hidrok arbonl zat- zat y ang terlarut, hasil-hasil polimer sisasisa NaOH, produk fenolik, gassas residu. tar dan minvak berat.

purifikasi

NaOH
23.

Utilities

Boilerpecah, cooling sistem pecah dan air jemih.

Garam-garam fosfat, lignin, uap panas, sejunrlah zx padat yang

terlarut, kromat, algisida Ca

Cl,. H,SO, dan H,COI

r218

.abel VI-2. Karakteristik dan kualitas Air Limbah Perrokimia


No.

Produk-produk Dasar Phtalic anhydride, maleic anhydride plasticizers

BOD (mg/l)

COD (men)

SS

a
(mg/det)

(mgn) 24

2@ 200
1

0,002
0,001

2. 3.

Gas

kimia untuk perang plat chrom

100

Terephalic acid (TPA), isophthelic acid, dimethyl


terephthalate (DMT)
B rtadiene, styrene, polyethylene, olefins

9800

i0600

5,36
1,68

4. 5. 6. 7. 8.
9.
10.

Phenol, ethylene

300

1200

300 239

2,0

Acrylonitrile
Fatty acids, esters, glyserol Regenerated cellulose 10000

tzffi
14000

o3a2
0.10
1.41

Acetylene
Dyes, pigments, inks 227 93 1760 I 160

0,452
0,94 5,0

1i
12.

Azo & Anthraquinine dyes Anthraquinine Ethylene, alcohols, phenol


Benzene, enthylene, butylrubber, butadiene, xylene isoprene

352
300
1700
91

152

t3.
14.

3600
273

610

5,9 14,7

15.

Acrylonitrile, acetonitrile, hydrogen cyanida


Terephtalic acid (TPA) Glycerine, various glycols
2810

830 4160

t06

0,335

t6
17.
18.

0,49
0.075

31m

Methyl & ethyl parathion


Methyl isocyanate, phosgene diphenol
Urea, NH3, HNO3, dan NH4NO3 Butadiene, stryrene, polyolefin, adipic acid

tt46
105

50000 3420

80

0,543 0,65 r.38

19.

20. 21.
22.

5630
1870

t40
r230 t525
1380

225

2,0
3,605

Butadiene, maleicacid, fumenic acid tetrahydrophathalic anhydride Diphenol carbonate, D-nitro phenol, benzene quinolin, H2SO4, tear gas, dithitrobenzoic acid
Organo phosphates, esters, resins, phosphorous

959 650
845

23.
24.

0.098 322
1,2

20r',0

chlorides 25. 26.


27. Phenols 500 different products

6600
360

t3200, 500
673

0,215
3,2
2,1

Organic & inorganic chemicals Additives for lubricatin oils

r00 46s
1050

28.

250

0,20

219

Tabel YI-2 (lanjutan) No.


29.

Produk-produk Dasar Polyethylene, ethylene oxide, ethane, polypropylene Acrylates, insecitisides, enzymes, formal dehydes,
amines

BOD (mg/l)
1385

COD (men) 2842 2660

SS

a
(mdde0
2,1

(mgn)

30.

1960

80

1,06

31. 32.

Ethylene, propylene, butadiene, benzene, toluene Acids, formaldehyde, acetone, methanol, ketones,
HNO3, nylon acetate, acetaldehyde Isocyanates, urethane foam

500
530 10130
160

0,228
3.46

JJ.

421

1200

50

0,57

34.
35.

Acetaldehyde Produk Petrokimia lainnya

20000

s(n(n

2N

I,t5

Keterangan:

2. COD ( Chemical Oxygen Demand ) = 3. SS ( = Suspended Solids) = 4. Q ( = DebirAlir ) -

l.

BOD ( Biologicat Oxygen Dernand

) =

Kebutuhan Oksigen secara Biologis (=mg/I) Kebutuhan Oksigen secara Kimia (=mdD Zat Padat tersuspensi (=mgi/I) Kecepatan alir air limbah (=mdde0

220

Tabel

VI-3.

Baku Mutu U@ra Emisi untuk Sumber Tak Bergerak

No
I

PARAMETER
A Kabut asam sulfat atau sulfur trioksida atau keduanya 0,20

BAKU MLiTLJ EMISI


B

KETERANGAN

0.25

0.30

l. 2.

gm S03/Nm3 dari buangan


gas

buangan gas yang bebas dari kabut vans oersisten.

2.

Oksida nitrogen (NO-) Karbon monoksida CO Partikel padat (operasi lainnva) Hidrogen sulhda (H,S) Metil merkaotan (CH"SH) Amonia (NH")
Gas

t,70
1,00

4,60
1,00

4,60
1.00

buangan gas yang tidak berwama s/Nm3


gm/I.{m3

3.

4.
5. 6.

0,40 5,00 0,002


I

0,50 5.00

0.60
6.25

gmlNm3 ppm (v/v) ppm ppm

0,0r
5

7
8.
9. 10.

Klorin

0.20 0,40 0.02


0.025

0,25 0,50 o,o2 0,025 6.00 0.10 0,0r 0.015 0,025 0.025

0,30 0,60 0,02 0.04 7.50


0.15

gmHCI/Nm3
em HCYNm3 gm asam hidro fluorida gas buansan

Hidrogen Klorida (HCI) Fluor, asam hidrofluorida atau senyawa organik fluor Timah hitam (Pb)
Gas-gas asam Sene (Zn)

/ Nm3

ll
12.
13.

srr/Nm3
gm/l.lm3

3,50 0,10
0,01 0.015

sr/Nm3
gm/llIm3 smlNm3
gm/l',Im3

14.
15.

Air raksa (He)


Cadmium (Cd) Arsen (As) Antimon (Sb) Radio nuklida
Asap

0.02 0,025 0.04 0.04

16.

0,025
0,025

17.
18.

smlNm3

19.

= Rinslemann no.2

(Sumber: SK Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.: Kep.02l MENKLfyylg8S
Tanggal 19 Januari 1988)

Keterangan

A B C

= baku mutu ketat = baku mutu sedang = baku mutu ringan

221

Tabel
No.

VI-4.

Baku Mutu Udara Ambien

Parameter Sulfur dioksida (S02)

Waktu
Pengukuran

Baku Mutu

Metoda Analisis*)
Pararosanilin

Peralatan*)
Spectrophotometer

24 6 24 I 24 24
30

jam jam jam jam


iam

0,10 260

ppm
us/m3

2.

Karbon monoksida

20
2.260

ppm
us/m3

NDIR
Saltzman

NDIR
Analyzer Spectrophotometer

(so)
J.

Oksida nitrogen (NO2) Ozon (O3) Debu Timah hitam (Pb)

4.

0,05 92,50 0,10 0,26 0,06

ppm
us/m3

ppm
us/m3 ug/m3

Chemiluminescence

Spectrophotometer

2OO us/m3
5. 6.

Gravimetric Gravimetric

Hi - Vol

jNn

Hi-Voh AAS

Ekstraktil
nensabuan
7.

Hidrogen sulfida (H2S) Amonia (NH3) Hidrokarbon

menit

0,03

ppm
ug/m3

Mercurythiocyanate

Spectrophotometer

52
8.

24 3

jam jam

2
1.360

ppm
us/m3

Nessler Flame ionization

Spectrophotometer G.C

9.

0,24 160

ppm
us/m3

(Sumber:

SK Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.: Kep.02i MENKLfyyl988


Tanggal 19 Januari 1988)

Keterangan:

* * , * {. * .i.

Yang dimaksud dengan "Waktu Pengukuran" adalah waktu perataan ("Averaging time"), dan untuk pengukuran tiap jam yang dilakukan perhitungan secara "geometrical mean". Standar H2S tidak berlaku untuk daerah yang mengandung H2S secara alami. +) : yang dianjurkan NDIR : Non - dispersive infrared Hi - Vol : High Volume Sampling Method AAS : Atomic Absorption Spectrophotometer : Gas Chromatograph GC

222

Tabel

VI-5. Bl*u Mutu Air


PARAMETER

Limbah

COLONCAN BAKU MUTU AIR SATUAN


I

NO.

LIMBAH

II
-.r

III
40 4.000 200

T\/

FISIKA
1.

2.

3.

Temperatur Zat padat terlarut Zat padat tersuspensi

.C
(S S)

35

45

mg/L mg/L

1.500
100

2.000 200

5.000
500

KIMIA l.
2.

3. 1.
5. 6. 1 8.

9.
10. 11.

pH Bcsi terlarut (Fe) Mangan terlarut (Mn) Barium (Ba) Tembaga (Cu) Seng (Zn) Khrom Heksavalen (Cr6+) Khrom total (Cr) Cadmium (Cd) Raksa (Hg)

6-9

6-9
5 2

6-9
10
5 J

mg/L
mg/L mg/L

5-9 20

0,5
1

i0
5 5

2 2
5

mg/L mg/L
mg/L mg/L

10

l5
1

0,05
0,1

0,1

0,5
1

0,5

mg/lmC/L

Timbal(Pb)
Stanum (Sn)

mg/l,
m-e/L

t2.
13.

14.

Arsen (As) Selenium (Se)

mg/L

0.01 0,001 0,03 I 0,05


0,01 0.1

0,0s

0,1

o5
0,0r
2
5
1

0,042
0.1 2

0,005

I
3

0,r
0,05

mg/L

r5.
16.
1',7.

Nikel (Ni)
Kobalt (Co) Sianida (Cn) Sulfida (H2S) Fluorida (F)

mglL
mg/L mg/L mg/L

o)
0,02 0,01
1,5

o)
0,4 0,05 0,05
2
1

0.5 0.5 0,5

I
1

0,6
0.5

18. 19.

0,r
J 2
5

I
5
5

mgllmg/L mg/L mg/L


mg/L rng/L

20. 21.
22. 23. 24. 25. 26.
27.

Klorin bebas (CI2) Amoniak bebas (NH3-N) Nitrat (N03-N) Nitrit (N02-N)
Kebutuhan oksigen biologik (BOD) Kebutuhan oksigen kimia (COD) Senyawa aktif biru metilen Fenol

0,5 0.02

I
20

20 50
5

t0

30
J 150

mg/L
mC/L

20 40 0.s

0.06
I I
1

I
50
100
5

300

300

600
15

mg/L

o.or

l0
I
10

0,5
I

28.
29. 30. 31.

Minyak nabati Minyak mineral


Radioaktivitas
Pestisida termasuk PCB

mg/L

mglL
mg/L

1I

ll

5 10

20
100

50

mglL

(Sumber: SK Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.: Kep.02l MENKL1Vy1988
Tanggal 19 Januari 1988)

Steam SO

Absorbent Compressor
te heat Exchanger
IJ
t.J

Flue Gas

Prescruber

Purge Absorber

Stripper

Makeup reagent

Sodium sulfate

Gambar VI-1. Bagan alir alat lindungan lingkungan tcrhadap cmisi gas dengan mcnggunakan cara abttrsi

Stabilized sludge

Basis: 100 kg COD influent


10 kg COD

100 kg COD

lnfluent (2ooc)
lnfluenl

(20oc)

Effluent
N) N)

5
Methane 3't m3

Electrical power (for aeration)

Aerobic treatment

Anaerobic treatment

Gambar VI-2. Pengolahan limbah secara biologis (erobik dan anerobik)

$te enr .-;*- ;-_-t i'crvclnylene

Sulfuric
acid Rotary

lert;f;hlhaialei
drum filter
o

Polyethylene terephflralate reactor Acidification reactor

I r----n t--*/ [nttle:. -.r-|l I\ VVii,-,r I t--.-=l/ i j --.-+


i,
lmpurities

Atrrr)olriitt-,.t

--

--}__-*--_).1 --)----__rj ilyciroxide

-r-'-ri I

rn,akr:un ,I

l+-

Cair;iirnr hvdroxide ___1

t.-Gypsum filter

N) I\) (Jl

(la,rbar vI-3.

Pcngolahan irrnhah

h.krl plastik

bckas dcngan pr.scs daur-ulang

Fluidizing air blower Atmospheric exhaust

Condenser

Waste plastic Clean sand discard


Flash

distilation Pressure control Reaction coil Preheated combustion air

NJ

N)

o\

Fuel gas from condensor Heavy hydrocarbons

Gambar VI.4. Pengolahan limbah plastik bekas dengan cara pirolisis

BAB VII

EVALUASI
7.1 PENGANTAR
Proses Belajar Mengajar tidak hanya terbatas di lingkungan sekolah atau kampus saja, akan tetapi di luar kampus pun proses ini akan tetap berlangsung.

Pada Proses Belajar Mengajar mutlak dilakukan evaluasi, dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan Proses Belajar Mengajar itu pada suatu periode tertentu. Untuk mengevaluasi sesuatu Program Pengajaran, perlu adanya alat evaluasi dan salah satu bentuknya adalah soal-soal latihan/soal-soal ujian. Tidak selamanya evaluasi harus dilakukan oleh guru atau dosgn, bahkan mahasiswa itu sendiri pun dapat melakukan evaluasi Proses Belajar Mengajar. Terdorong

oleh permasalahan itu semua maka sebagai dosen dalam "Ilmu Petrokimia" kami
memandang perlu adanya alat evaluasi yang tidak hanya dipakai oleh guru atau dosen, melainkan dapat pula dipakai oleh para mahasiswa dan para orang tua mahasiswa itu

sendiri. Oleh karena itu, kami menyajikan "Evaluasi Petrokimia" ini dalam satu "Bab Khusus yaitu "Bab VII" guna membantu para mahasiswa terutama para orang tua mahasiswa itu sendiri dalam mengevaluasi Proses Belajar Mengajar tersebut.

7.2 CARA MENGEVALUASI


Evaluasi petrokimia ini dibagi dalam 2 (dua) kelompok utama menurut materi yang berurutan tiaptiap Bab, dan (2)Latihan soal-soal ujian semester/kenaikan tingkat. Semoga Evaluasi Petrokimia ini bermanfaat bagi kita semua demi memajukan Pembangunan Nusa dan Bangsa.

7.2.I Latihan Soal-soal Pokok Bahasan


Jawablah pertanyaan-pertanyaan/soal-soal berikut ini dengan baik dan benar.

Bab-I: Pendahuluan 1. Apa yang dimaksud dengan "bahan/produk petrokimia" dan berikan contoh-contoh
dari bahan/produk petrokimia itu?

2.

Apa pula yang dimaksud dengan "bahan/produk polimer" dan jelaskan juga perbedaan

228

beserta contoh-contohnya antara produk polimer buatan alam dengan produk polimer buatan manusia itu?

3.

Coba Saudarajelaskan dan berikanjuga contoh-contohnyajawaban Saudara, mengapa dengan kemajuan/perkembangan teknologi pemanfaatan produk petrokimia plastikplastik yang sangat pesat kemajuannya, sehingga sudah menggeser kedudukan penggunaan pemakaian bahan-bahan plat logam oleh industri belakangan ini!

Bab-II: Bahan Baku Petrokimia

4. Apa

yang dimaksud dengan "bahan baku" petrokimia itu dan sebutkan 2 sumber asal pengelompokan bahan baku tersebut beserta dengan contoh-contohnya?

5. Bagaimana

itu dan sebutkan dengan petrokimia tersebut untuk baku penggunaan bahan contoh-contoh serla dengan
cara-cara mendapatkan bahan baku petrokimia keperluan apa saja?

Bab-III: Produk-Produk Petrokimia

6. 7. 8. 9.

Produk Petrokimia/Industri Petrokimia dapat dibagi atas 2 bagian besar, sebutkan


dan jelaskan mengapa demikian?

Apakah yang disebut: (a) produk dasar, (b) produk antara, (c) produk akhir (d) produk jadi? Berikan (paling sedikit 5 macam produk) contoh-contoh produk petrokimia tersebut!
Proses pembuatan produk petrokimia yang lebih ekonomis dapat ditempuh dengan 3

jalur lintasan utama, sebutkan dan jelaskan/ dengan contoh-contoh


produk-produk dasar dari setiap jalur/lintasan utama tersebut!

pembentukan

Dengan jalur gas sintetik, akan didapat "produk hulu" atau "produk dasar" apa saja dan "produk hilir" atau "produk akhir/produk jadi" apa saja, sebutkanlah nama-nama dan tulislah rumus molekul/struktur molekul produk-produk petrokimia tersebut beserta dengan reaksi-reaksi pembentukan produknya, coba jelaskan!

i0.

jalur Olefin (alur Olefin Senter), sebutkanlah molekul/ struktur molekul produk-produk rumus nama-nama dan tuliskanlah petrokimia tersebut besefta dengan reaksi-reaksi pembentukan produknya, coba
Sama dengan soal no.9 diatas, dengan

jelaskan

11. Sama dengan soal no.9 dan no.10 di atas, dengan jalur Aromatik (alur Aromatik
Senter), sebutkanlah nama-nama dan tuliskanlah rumus molekul/struktur molekul produk-produk petrokimia tersebut beserta reaksi-reaksi pembentukan produknya, coba jelaskan!

12. Pada pembuatan/pabrikasi pupuk Urea dari gas alam, di samping proses/reaksi "Steam reforming" untuk pembentukan amonia, dikenal juga proses/reaksi "total recycle" atau "proses daur ulang secara keseluruhan" untuk pembentukan Urea,

229

selanjutnya dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: a) Coba dijelaskan cara kerja "Proses Total Recycle" tersebut!

b) Apakah yang disebut "Larutan Carbamate"

itu dan untuk apa kita

c)
13.

mengontroUmenjaga agar konsentrasi pelarutan tersebut tetap dijaga maksimum sebesar 757o Urea? Tuliskan berbagai macam penggunaan Urea atau penggunaan pupuk Urea!

Pada pabrikasi/pembentukan Metanol dari gas alam, dikenal ada 2 macam proses/reaksi yang dipakai untuk menghasilkan produknya, selanjutnya jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut: a) Sebutkanlah nama-nama proses pembuatan Metanol tersebut b) Apa untung-ruginya kita mengetahui (dari semula) komposisi/ kandungan gas CO2 dari gas alam yang dimanfaatkan untuk menghasilkan Metanol pada suatu lokasi Pabrik Metanol? Bandingkan dengan lokasi Pabrik Metanol di pulau Bunyu pada saat beroperasinya pabrik (sudah beroperasi./berproduksi sejak tahun 1986) yang ternyata belum bisa berproduksi penuh l00Vo sampai sekarang ini, coba dijelaskan di mana letak ketidaksempurnaan pengoperasian Pabrik Metanol

c) Jelaskan

di atas yang efektif dan efisien dipakai untuk proses reaksi/menghasilkan produk Metanol I d) Tuliskan reaksi-reaksi pembentukan Metanol yang sesuai dengan pemilihan kedua proses tersebut di atas!
14, Dalam industri, urea dan metanol banyak dimanfaatkan sebagai bahan pelarut atau

tersebut dan mengapa sampai terjadi hal-hal sedemikian? batas-batas kandungan gas CO, dari gas alam tersebut

bahan pencampur, sehubungan dengan itu jawablah dengan jelas pertanyaanpertanyaan berikut: a) Tuliskanlah contoh-contoh reaksi penggunaan/pemanfaatan urea dan metanol itu! b) Jelaskan penggunaan-penggunaan produk hilir/produk akhir hasil reaksi-reaksi tersebut di atas!
15.

a) Dalam industri Petrokimia, coba jelaskan pengertian tentang Carbon black (C.b) itu dan juga dalam hal ini coba jelaskan perbedaan-perbedaannya dengan Carbon
aktif (C.a) yang diproduksi dari biomasa!

b) Sesuai dengan teknologi/proses pembuatannya, C.b dapat digolongkan atas

jenis/tipe, sebutkan masing-masing tipe tersebut ! c) Khusus dalam penggunaan C.b dalam industri ban dan otomotif, jenis atau tipe C.b yang mana yang paling baik/ paling cocok dipakai dan jelaskan alasannya mengapa jenis atau tipe C.b tersebut yang terbaildpaling cocok?
16, a) Acetylene black [C2H2], termasuk tipe C.b yangmana? b) Tuliskan reaksi-reaksi pembentukannya dari tipe C.b di atas!

c) Dibanding dengan penggunaan C.b tipe yang lainnya, C.b Acetylene ini mempunyai penggunaan untuk hal-hal yang khusus, coba sebutkan penggunaan-

230

penggunaan untuk hal-hal khusus tersebut!

t7. Untuk mendapatkan bahan polimer/produk

bawah ini, jelaskan cara-cara pembentukan proses/teknologi apa yang dipergunakan dan masing-masing bahan polimer/produk hilir plastik-plastik tersebut serta penggunaan
masing-masing jenis plastik tersebut dalam kehidupan sehari-hari:

hilir plastik-plastik di

a) LDPE (Low Desinty Polyethylene) dan HDPE (Hight Desinty Polyethylene) b) PP (Poly Propylene)

c) PBR (Poly Butadiene Rubber) d) PVC (Poly Vinyl Chloride) e) PS (Polystyrene)


18.

Di dalam proses pembuatan bahan baku plastik: a) PP pada kilang-kilang minyak, gas propilen yang dihasilkan dari "Cracked gas C3 dan C+ - Olefin", selain dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan polimer/PP dapat juga dimanfaatkan untuk menghasilkan "propilen tetramer" dan selanjutnya untuk keperluan pembuatan apa dipergunakan "propilen tetramer" tersebut serta jelaskan pula dampak positif yang ditimbulkan atas penggunaan "propilen tetramer" tersebut terhadap lingkungannya ! b) Begitu juga di dalam proses pembentukan bahan plastik PP sebagai hasil reaksi "polimerisasi" dari bahan baku "propilena", dijumpai juga reaksi "kopolimerisasi" dari bahan baku "etilena", sehingga sering terjadi reaksi samping yang tidak diinginkan yang dapat membentuk "atactic polymer" dan "isotactic polymer". Dalam proses pembentukan bahan plastik PP tersebut di atas, coba jelaskan apayang dimaksud dengan "atactic polymer" dan "isotactic polymer"!

t9. Coba jelaskan proses/reaksi apa yang dipakai untuk mendapatkan produk hilir "melaic anhydride" dari jalur aromatik senter (BTX) dan selanjutnya coba jelaskan
berbagai keperluan/penggunaan produk "anhidrida melaik" tersebut beserta reaksireaksi pembentukannya!

20. a) Apa yang Saudara ketahui tentang "detergen" dan jenis/ tipenya b)

ada

2 macam,

coba sebutkan/jelaskan ! Apakah perbedaan antara "sabun detergen" dengan "sabun biasa (soap)"? Coba
sebutkan/j elaskan
!

Sampai sekarang ini, jenis detergen apakah yang terbanyak dipakai/dikonsumsi di Indonesia? d) Coba jelaskan proses dasar yang dipakai untuk meramu dan untuk mendapatkan detergen yang berkualitas baik! e) LangkahJangkah awal apa yang harus ditempuh untuk menanggulangi dampak negatif yang disebabkan pembuangan air limbah detergen yang terpusat di satu daerah/di satu lokasi tertentu sehingga tidak mencemari lingkungan di sekitarnya?

c)

21. "Epoxy-resin" atau "phenolic resin" dalam penggunaan sehari-hari disebut sebagai
"lem-plastik", selanjutnya coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

231

a) Dibuat dan diramu dari bahan dasar-bahan dasar apa sajakah "epoxy-resin" atau "lem-plastik" itu? b) Jelaskan bagaimana cara-cara meramunya beserta dengan reaksi-reaksi
pembuatannya!

22.

Dalam dunia perdagangan ada 3 (tiga) kelompok besar jenis serat-serat sintetis/seratserat sintetis industri tekstil. a) Coba tuliskan ketiga macam jenis serat sintetis tersebut beserta jenrs-jenis bahan baku apa yang dipakai untuk menghasilkan serat-serat sintetis tersebut! b) Dari tiga macam serat sintetis tersebut, jenis serat sintetis apa yang paling banyak dipakai untuk industri tekstil di Indonesia? c) Coba gambarkan sket bagan Industri Tekstil di Indonesia! beberapa macam proses pembuatan/ pembentukan serat sintetis yang satu sama lainnya berbeda-beda proses atau reaksi

23. Dalam industri serat sintetis, dapat dijumpai

pembentukannya. Dari beberapa macam proses pembentukan tersebut, coba dituliskan proses pembuatan dari serat-serat sintetis di bawah ini: a) untuk serat Arcylic dan penggunaannya untuk apa? b) untuk serat Nylon dan penggunaannya c) untuk serat Polyester dan penggunaannya.

24. a)

Coba jelaskan mengenai Serat-serat Nylon atau Polyamede Fibers

b) Apa perbedaan antara Nylon-6 dengan Nylon-66A{ylon-616 dan sebutkan penggunaan-penggunaan beserta keunggulan-keunggulan masing-masing serat-serat nylon tersebut!

Bab-IV: Penggunaan/Pemanfaatan Produk-Produk Petrokimia

25. a) Apa dan

bagaimana pengertian Saudara tentang "Industri Petrokimia Hulu" dan "Industri Petrokimia Hilir" ? b) Apa pula yang disebut "produk antara" atau "intermediate produk" itu? c) Sesuai dengan kebutuhan/komoditi industri di dalam negeri, dapat dibagi atas berapa sektorkah penggunaan dan pemanfaatan produk-produk petrokimia untuk Industri di Indonesia? Sebutkan juga nama-nama Sektor Industri tersebut! d) Berikan juga contoh-contoh penggunaan/pemanfaatan produk-produk petrokimia tersebut pada setiap sektor/unit industri tersebut di atas!

26.

Jelaskan cara-cara kerja/prosedur kerja yang ditempuh pada "Industri Pemrosesan Plastik-Plastik untuk mendapatkan produk akhir/produk jadi plastik-plastik yang

berkwalitas tinggi!

27.

Jelaskan apa yang Saudara ketahui tentang Teknologi Pemerosesan Plastik-Plastik

berikut ini:

. .

proses extrusion/proses ektrusi; proses injection molding;

232

. o

proses blow molding dan proses calendering.

28. Berikan juga contoh-contoh

"proses pembuatannya" (dalam blok diagram) masingmasing dengan menggunakan keempat proses dalam soal (27) di atas!

Bab V: Produk-Produk Khusus Petrokimia dan Penggunaannya

29. a) Apa dan bagaimana pengertian


pesawat udara!

Saudara tentang produk khusus "methmix" dan "air demin"? b) Coba dijelaskan prosedur penggunaan dan penyaluran/ pengisian "methmix" ke

c) Untuk

dapat dipergunakan dan disalurkan ke pengisian pesawat udara tersebut, maka "methmix" itu harus memenuhi spesifikasi seperti apa?

30. a) Apa dan bagaimana pengertian Saudara tentang produk khusus "additif/minyak
pelumas" itu dan di dalam industri apa saja dipergunakan bahan "additif/minyak pelumas" tersebut serta berikan contoh narna-narna bahan additif/minyak pelumas dan penggunaannya dalam setiap industri tersebut di atas! b) Ada salah satu jenis "bahan additif' yang mempunyai "multi fungsi" pada pelumasan mesin-mesin industri, sebutkan! c) Sebutkan jenis fungsi-fungsi yang dapat dilakukan oleh bahan additif tersebut di
atas!

d) Tuliskan
di atas!
Bab

serta jelaskan cara-cara pembentukan/pembuatan bahan additif tersebut

VI: Masalah Lingkungan Industri Petrokimia


Saudara ketahui tentang "Rona lingkungan" dan untuk keperluan apa digunakan rona lingkungan itu? sebutkan
sumber terjadinya masing-masing jenis Limbah pencemar tersebut!

31. Apa yang

32. Limbah pencemar Petrokimia menurut jenisnya ada beberapa jenis dan 33.
Jelaskan dengan contoh:pontoh (masing-masing

jenis limbah dengan satu contoh skets/gambar) cara pengolahan dan perlindungan lingkungan yang disebabkan limbah buangan industri !
cara"/metode pengukuran yang terpenting mengenai "kualitas air yang limbah" disebabkan oleh Industri!

34. a) Jelaskan 3

b) Tuliskan juga reaksi-reaksi perubahan/penguraian yang disebabkan oleh "bakterinya" sehingga dapat dipastikan/dibuktikan bahwa" air buangannyalair
sungai penampungannya sudah tercemar!

35. Apakah "Baku Mutu Lingkungan" itu dan kriteria-kriteria


untuk mengukur sesuatu bahan apakah sudah cukup tercemar?

apa saja yang dipakai

)33

7.2.2

Contoh Latihan Soal-Soal Ujian Semester "AKAMIGAS"

7.2.2.1 Latihan Soal Ujian "AKAMIGAS" Semester Matakuliah Jur./Tkt. Hari/tanggal Petrokimia Teknik Pengolahan Industri / Jumat, 18 Pebruari 1994
8.00 - 11.00

II

II

Waktu
Dosen

wIB

(3 jam)

Ir. M. Pandjaitan, Dipl.Ing.Petro.

1.

Lapangan Gas Walongan/Sulawesi Selatan memproduksi Gas Alam dengan karakteristik sebagai berikut: Komposisi (7o mol): Nz=0, CO:-O, C1=Q{,$9, Cz=3,47, Cz=0,82, C+=0,81 dan C5 +=0,01, S.g=0,5779 serta Hv= + 1000 Btu/SCF, dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: a) Selaku Saudara seorang perencana yang ahli dibidangnya ingin mendirikan/ membuat Pabrik Methanol dengan memanfaatkan bahan baku gas alam produksi lapangan Walonga/Sulawesi Selatan tersebut, proses apa yang hendak Saudara pilih digunakan untuk menghasilkan Methanol tersebut? b) Jelaskan reaksi-reaksi pembentukannya beserta keunggulan-keunggulan ataupun kerugian-kerugian proses di atasjika ada! c) Tuliskan contoh-contoh reaksi penggunaanlpemanfaatan methanol dan jelaskan penggunaan-penggunaan produk akhir hasil reaksi-reaksi tersebut !

2.

a) Coba jelaskan apa yang Saudara ketahui mengenai Carbon black b)

serta jelaskan

penggunaannya dalam Industri ! Jelaskan pengenalan khusus/karakteristik dari masing-masing tipe Carbon-black yang Saudara ketahui beserta proses-proses, apa bahan baku-bahan baku yang

c) Acetylene (C2H) black termasuk jenis


ini!

dipakai untuk memproduksi Carbon-black tersebut? Carbon black yang bagaimana? Tuliskan reaksi-reaksi pembentukannya, sertajelaskan penggunaan Carbon-black

3.

a) Apa yang Saudara ketahui mengenai Aromatik Senter atau Pabrik Aromatic/
BTX?

b) Bahan baku "NAPTHA" adalah bahan baku Petrokimia yang baik dipakai

pada

c)

proses/Unit Catalytic Reforming ataupun pada proses/Unit Platforming, karena dapat menghasilkan "Bahan Petrokimia Aromatik/BTX" ataupun "bahan bakar Gasoline" dengan kadar oktane yang lebih tinggi. Selaku Saudara seorang yang ahli dibidangnya, bahan baku "NAPTHA" yang bagaimana yang Saudara pilih untuk menghasilkan "Bahan Petrokimia Aromatik/BTX" pada proses/unit reforming tersebut? Sebutkan reaksi-reaksi pembentukan yang terjadi pada proses/Unit Reforming dan tuliskan reaksi-reaksi beserta nama reaksi pembentukan masing-masing BTX

234

tersebut!

d) Tuliskan "salah satu" contoh reaksi penggunaan/pemanfaatan/pernakaian B (Bezene), T (Toluene) dan X (o. m, p, Xylene) dalam industri serta jelaskan
penggunaan produk akhir dari hasil reaksi tersebut!

4.

a) Limbah pencemar Petrokimia menurut jenisnya b)

c)

ada beberapa jenis dan sebutkan sumber terjadinya masing-masing jenis Limbah Petrokimia tersebut! Jelaskan contoh-contoh (masing-rnasing jenis limbah dengan satu contoh) cara pencegahan dan perlindungan lingkungan yang disebabkan Limbah Petrokimia tersebut! Jelaskan 3 cara./metode pengukuran yang terpenting mengenai kualitas air limbah yang disebabkan oleh Industri Petrokimial

7.2.2.2 l-atihan Soal Uiian "AKAMIGAS" Semester Matakuliah Jur./Tkt. HariiTanggal Petrokimia Teknik Pengolahan Industri /

II

III

Waktu
Dosen

Jumat. 24 Pebrtari 1995 8.15-11.15 wIB (3 jam) Ir. M. Pandlaitan, Dipl.Ing.Petro.

Selaku Saudara seorang perencana dan pelaksana yang ahli di bidangnya, ingin membuat/mendirikan Pabrik Petrokimia beserta Lab. Unit kontrolnya di Indonesia. maka untuk itu terlebih dahulu Saudara dipersilahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan baik: 1. Apa yang dimaksud den-ean bahan baku Petrokimia/industri petrokimia, bal-ran petrokimia dan bagaimana cara-cara mendapatkan bahan baku petrokimia tersebut
beserta dengan contoh-contohnya?

2.

Berdasarkan proses pembentukannya, "Bahan Polimer" terbagi atas 2 bagian besar, sebutkan beserta contoh-contohnya serta keunggulan-keunggulan masing-masing polimer tersebut kalau ada. Selanjutnya bahan polimer sentetis sesuai dengan sifat-

sifatnya terbagi atas 3 kelompok besar, sebutkan ke 3 kelompok tersebut besarta


contoh-contohnya.

3. Apa yang Saudara ketahui a. LDPE DAN HDPE b. PP/Polytam

mengenai bahan-bahan polimer dan sebutkan penggunaan masing-masing "bahan-bahan polimer" di bawah ini:

c. SBR d. PVC e. PS

f.

TPA/PTA dan DMT

235

g. Coprolactam, dan h. Acrylonitrile ?

4.

Lapangan Gas Alam Kangean-ARBNVJawa Timur dan Walonga/Sulawesi Selatan memproduksi Gas Alam dengan karakteristik (komposisi) dalam 7o molr sebagai berikut:
Komposisi

Lap. Kangean-ARBNI 2,68


1,80 88,19
3,BB

Lap. Walonga/Sulsel

co"
N,

94,89 3,47 0,82


0,81 0,01 0

2,13 0,93
C,
C^+

0,39
0

S.g Hv(BTU/SCF)

0,6480
t1 057

0,5779

t1100

a) Kalau Saudara ingin rnembuat/mendirikan Pabrik Methanol di masing-masing/di


kedua lokasi dengan memanfaatkan bahan baku gas alam tersebut, proses apa yang lebih tepat Saudara pilih untuk menghasilkan methanol? b) Jelaskan reaksi-reaksi pembentukannya beserta keunggulan keunggulan atau

c) Tuliskan contoh-contoh reaksi-reaksi


5.

kerugian-kerugian prosesnya jikalau ada ! penggunaan/pemanfaatan methanol serta jelaskan penggunaan-penggunaan produk akhir hasil reaksi-reaksi tersebut !

a) Tuliskan/jelaskan pengenalan khusus/karakteristik dari masing-masing tipe


Carbon-black yang Saudara ketahui, beserta proses-proses apa/bahan baku-bahan baku apa yang dipakai untuk memproduksi Carbon-black tersebut? b) Acetylene (C:H:) black termasuk jenis Carbon-black yang bagaimana? Tuliskan reaksi-reaksi pembentukan dari jenis carbon-black ini !

6.

a) Bahan baku "Naphtha" adalah bahan baku Petrokimia yang baik dipakai pada proses Catalytic Reforming ataupun pada proses Platforming, karena dapat
menghasilkan "produk petrokimia aromatik/BTX" ataupun "produk bahan bakar

Gasoline" dengan kadar oktan yang lebih tinggi. Untuk proses Reforming tersebut, jenis bahan baku "Naptha" yang bagaimana yang hendak Saudara pilih

b) Tuliskan contoh reaksi penggunaan/pemanfaatan/pemakaian B (Bezene), T (Toluene) dan X (o, m, p, Xylene) dalam industri serta jelaskan penggunaan
produk akhir dari hasil reaksi-reaksi tersebut!

untuk dipergunakan?

236

7. 8.

a) Apakah yang Saudara ketahui tentang "Methmix" (Methanol mixture) dan untuk b)
keperluan apa dipergunakan Methmix tersebut? Jelaskan secara singkat "Prosedur" pengisian "Methmix" ke pesawat udara!

a) Ada salah satu jenis "bahan additif' yang mempunyai "multi fungsi" pada pelumasan mesin, apa nama jenis bahan additif tersebut dan sebutkan jenis
fungsi-fungsi yang dapat dilakukan oleh bahan additif tersebut!

b) Tuliskan/j

el

askan car a-car a pembentukan/pembuatan additif tersebut

9.

a) Apakah yang saudara ketahui tentang "deterjen/detergent"? Ada


deterj en, sebutkan/j elaskan
!

macam

b) Langkah-langkah awal apa yang harus kita tempuh untuk menanggulangi permasalahan dampak lingkungan negatif yang disebabkan pembuangan air
limbah deterjen yang terpusat di satu daerah atau di satu tempat?

10. a) Cara-cara kerja/prosedur kerja apa yang ditempuh terhadap bahan baku plastik
pada industri pemrosesan plastik untuk mendapatkan produk akhir/produk jadi plastik-plastik yang berkualitas ringgi? Jelaskan! b) Jelaskan apa yang Saudara ketahui tentang Teknologi Pemrosesan Plastik-Plastik berikut ini; . Proses ExtrusionlProses Ektrusi . Proses Injection Molding

. Proses Blow Molding, dan . Proses Calendering ?


7.2.2.3 Latihan Soal Ujian "AKAMIGAS" Semester Matakuliah Jur./Tkt. Hari/Tanggal Petrokimia Teknik Pengolahan Industri /

II

III

Waktu
Dosen

Jumat, 24Pebruari 1995 8.15-11.15 WIB (3 jam) Ir. M. Pandjaitan, Dipl.Ing.Petro.

Selaku Saudara seorang perencana dan pelaksana yang ahli di bidangnya, ingin membuat/mendirikan Pabrik Petrokimia di Indonesia, maka untuk itu Saudara terlebih dahulu dipersilahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik:

1. 2.

Apa yang dimaksud dengan (1) bahan baku petrokimia; (2) bahan petrokimia dan; (3) bagaimana cara-cara mendapatkan bahan baku petrokimia tersebut beserta
dengan contoh-contohnya?

Untuk mendapatkan "bahan petrokimia/polimer di bawah ini, proses atau teknologi apa yang dipergunakan dan sebutkan penggunaan dari masing-masing bahan-bahan petrokimia/polimer tersebut : a. TPA/PTA dan DMT

237

b. Coprolactum c. Acrylonitrile d. LDPE dan HDPE e. PP/Polytam

f.

SBR

g. PVC h. PS!
J.

Lapangan Gas Alam PTSVSumatra Selatan dan Kangean/ PangerunganARBNVJawa Timur memproduksi Gas Alam dengan karakteristik (komposisi)
dalam 7o mol. sebagai berikut:
okasi Lapangan PTSI-Sum-Sel CO, N, 6,09
0,51

Kangean/PangeruanARBN|Jatim 2,68
1,90 88,19

c,

85,53 4,88
1,59

c, c,
co cu

3,88 2,13 0,93 0,39

0,84

o,:u
100,0

cr+
Jumlah
S.g 100,0

0,7220

0,6480

Hv(BTU/SCF)

xl077

tl057

a) Kalau Saudara ingin membuat/mendirikan Pabrik Methanol di kedua lokasi yang

I apangan Gas Alam tersebut, proses apa yang lebih tepat pilih untuk menghasilkan methanol? b) Apa untung-ruginya kita mengetahui kandungan gas CO2 pada Gas Alam yang dimanfaatkan untuk menghasilkan methanol seperti pada lokasi tersebut di atas dan jelaskan batas-batas kandungan gas COz yang efektif dipergunakan
berdekatan dengan
Saudara

katalisatornya untuk menghasilkan methanol

4.

a) Khusus untuk penggunaan dalam industri dan otomotif, jenis atau tipe Carbon black mana yang paling baik dipakai dan jelaskan alasannya mengapa jenis/tipe

Carbon black tersebut yang paling baik!

b) Begitu

penggunaan dalam industri ban pesawat terbang dan penyimpan bahan tahan apilbahan isolasi, jenis atau tipe Carbon black mana yang paling baik dipakai dan jelaskan alasan-alasannya mengapa jenis atau tipe Carbon black tersebut yang terbaik untuk penggunaan tersebut!

juga untu!

238

5.

dan jelaskan persyaratan-persyaratan/ karakteristik bahan baku "Naptha" yang dipilih/dipergunakan untuk menghasilkan Aromatilc/BTX tersebut! b) Sebutkan (masing-masing paling sedikit satu contoh) penggunaan/pemanfaatan/ penggunaan produk petrokimia Aromatik B (Benzene), T (Toluene) dan X (o, m, p, Xylene) dalam industri!

a) Apa yang Saudara ketahui mengenai Aromatik Senter/Pabrik AromatiVBTX itu

6.

a) Limbah pencenur Petrokimia menurut jenisnya b)

c)

ada beberapa jenis dan sebutkan sumber terjadinya masing-masing jenis limbah Petrokimia tersebut! Tuliskan/jelaskan (dengan Skets/dengan gambar skema./secara ringkas masingmasing jenis limbah dengan satu contoh) , cara-cara, pencegahan dan perlindungan lingkungan yang disebabkan limbah buangan Industri petrokimia! Tuliskan/jelaskan secara ringkas, ada 3 caralmetode pengukuran yang terpenting

terhadap "kualitas Petrokimia!

air limbah" yang disebabkan oleh limbah buangan Industri

LAMPIRAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 20 TAHT]N 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang:

a.

b. c.
Mengingat: 1.

bahwa air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hidup orang banyak, sehingga perlu dipelihara kualitasnya agar tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya' bahwa agar air dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan perlu dilakukan pengendalian pencemaran air; bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas dipandang perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah Tentang Pengendalian Pencemaran Air;
Pasal

2. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960


3.

5 ayat(2) Undang-undangDasar !945; tentang: Pokok-pokok Kesehatan

(Lembaran Negara Tahun 1960 Nornor 131, Tambahan Lembaran Negara


Nomor 2063); Undang-undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene (Lembaran Negara Tahun 1966 Nomor 22,Tambahan Lembaran Negara Nomor 2084); Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046); Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1971 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);

4. 5. 6.

7. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1981 tentang


8. 9.

Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor Z2,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274); Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299); Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1982 tentang: Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3225);

l0.Peraturan Pemerintah Nomor

29 Tahun 1986

tentang Analisis Mengenai

240

Dampak Lingkungan (Irmbaran Negara Tahun 1986 Nomor 42, Tambahan

lrmbaran Negara Nomor 3338);

MEMUTUSKAN
Menetapkan:

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG


PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: l. Air adalah semua air yang terdapat di dalam dan atau berasal dari sumber air, dan terdapat di atas permukaan tanah, tidak termasuk dalam pengertian ini adalah air yang terdapat di bawah permukaan tanah dan air laut; 2. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau

komponen lain ke dalam

4'

3.

air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya;

Pengendalian adalah upaya pencegahan dan atau penanggulangan dan atau pemulihan

Baku mutu air adalah batas atau kadar makhluk hidup, zat energ| atau komponen lain yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam air pada sumber air
tertentu sesuai dengan peruntukannya;

5. Beban 6.
7. 8.

pencemaran adalah jumlah suatu pararneter pencemaran yang terkandung dalam sejurnlah air atau limbah; Daya tarilpung beban perrcemaran adalah kemampuan air pada sumber air menerirna beban pelrcemaran linabah tanpa mengakibatkan turunnya kualitas air sehingga melewati baku mutu air yang ditetapkan sesuai dengan peruntukannya; Baku mutu limbah cair adalah batas kadar dan jumlah unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam limbah cair untuk dibuang dari suatu jenis kegiatan tertentu; Menteri adalah Menteri yang ditugasi mengelola lingkungan hidup.

BAB

II

INVENTARISASI KUALITAS DAN KUALITAS AIR Pasal2


Gubernur menunit'k instansi teknis di daerah untuk melakukan inventarisasi kualitas dan kuantitas air untuk kepentingan pengendalian pencemaran air.

241

Pasal 3

(1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, menetapkan prioritas pelaksanaan inventarisasi kualitas dan kuantitas air (2) Apabila sumber air berada atau mengalir melalui atau merupakan batas dari dua atau lebih Propinsi Daerah Tingkat I, prioritas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di bawah koordinasi Menteri.
Pasal 4

(1) Pada kualitas dan kuantitas air disusun dan didokumentasikan pada instansi teknis yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah. (2)Data kualitas dan kuantitas air sebagaimana dimaksud dalam ayat (l) diolah oleh instansi teknis yang bersangkutan dan laporannya disampaikan kepada Menteri dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan, sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
Pasal 5

(1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I mengidentifikasi surnber-sumber pencemaran air. (2) Berdasarkan hasil identifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Gubemur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan menetapkan tindak lanjut pengendaliannya'
Pasal 6

Data kualitas dan kuantitas air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dipakai sebagai:

a. dasar

pertirnbangan penetapan peruntukan

air dan baku mutu air pada sumber air

yang

bersangkutan;

b. dasar perhitungan daya tarnpung beban pencemaran air pada sumber air yang telah ditetapkan; c. dasar pe.nilaian tingkat pencemaran air.
BAB III
PENGGOLONGAN AIR

(l)

Penggolongan air menurut peruntukannya ditetapkan sebagai berikut: Golongan A : Air yang dapat digunakan sebagai air minurn secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu; Golongan B : Air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum; Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan petemakan; GolonganD : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, pembangkit listrik tenaga air. (2) Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan perluasan pemanfaatan air di luar penggolongan air sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ayat (1).

242

Pasal 8 (1) Ketetapan tentang baku mutu air untuk golongan air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini. (2) Dengan Peraturan Pemerintah dapat ditetapkan penambahan parameter dan baku mutu untuk parameter tersebut dalam baku mutu air sebagaimana dimaksud dalam ayat (l). (3) Penilaian kualitas air yani menyangkut parameter yang belum tercantum dalam baku mutu air sebagaimana dimaksud dalarn ayat (1) dilakukan dengan merujuk kepada fungsi dan guna air serta atau kepada ilmu pengetahuan.

Pasal 9

Metode analisis untuk setiap parameter baku mutu air dan baku mutu limbah cair ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 10

(1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I rnenetapkan:

a.

Peruntukan air sesuai dengan penggolongan air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (l), kecuali kemudian ditentukan lain oleh Menteri;

b. Baku
huruf

mutu air untuk peruntukan air menurut penggolongan sebagaimana dimaksud dalam
a.

(2) Peruntukan air dan baku mutu air yang berada atau mengalir melalui atau merupakan batas dari dua atau lebih Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan oleh para Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan di bawah koordinasi Menteri. (3) Peruntukan air dan baku mutu air pada sumber air yang berada di bawah wewenang pengelolaan suatu badan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 11

Tahun 1974 tentang Pengairan ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang
pengairan setelah berkonsultasi dengan Menteri. Pasal I I

Apabila kualitas air lebih rendah dari kualitas air menurut golongan yang telah ditetapkan,
Gubemur, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menetapkan program peningkatan kualitas air. Pasal 12

Apabila kualitas air telah memenuhi kualitas menurut penggolongan sesuai yang telah ditetapkan,

Gubernur kepala Daerah Tingkat


peruntukannya.

menetapkan program peningkatan penggolongan

243

BAB IV UPAYAPENGENDALIAN
Pasal 13

(l)

Pengendalian pencemaran air di daerah dilakukan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. (2) Pengendalian pencemaran air pada sumber air yang berada di atau mengalir melalui wilayah lebih dari satu Propinsi Daerah Tingkat I dilakukan oleh para Gubernur Kepala Daerah Tingkal I yang bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri.

Pasal 14 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menentukan daya tampung pencemaran.

Pasal 15

(I) Menteri setelah berkonsultasi dengan Menteri lain dan atau Pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen yang bersangkutan menetapkan baku mutu limbah cair. (2) Untuk melindungi kualitas air, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I setelah berkonsultasi dengan Menteri dapat menetapkan baku mutu limbah cair lebih ketat dari baku mutu limbah cair
sebagaimana dimaksud dalam ayat

(l).

Pasal 16

Baku mutu air, daya tampung beban pencemaran dan baku mutu limbah cair ditinjau
berkala sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun.

secara

Pasal 17

(l)Setiap orang atau badan yang membuang limbah cair wajib menaati baku mutu limbah cair
sebagaimana ditentukan dalam izin pembuangan limbah cair yang ditetapkan baginya. (2) Setiap orang atau badan yang membuang limbah cair sebagaimana ditetapkan dalam izin pernbuangannya, dilarang melakukan pengenceran.

Pasal 18

Pembuangan limbah dengan kandungan bahan radioaktif diatur oleh Pimpinan lembaga pemerintah yang bertanggung jawab di bidang tenaga atom setelah berkonsultasi dengan Menteri.
Pasal 19

Pembuangan limbah penelitian.

cair ke tanah dapat dilakukan dengan izin Menteri berdasarkan

hasil

e{
244

Pasal 20

Penanggung jawab kegiatan wajib membuat saluran pembuangan limbah cair sedemikian rupa, sehingga memudahkan pengambilan contoh dan pengukuran limbah cair di luar areal kegiatan.

Pasal 21

(l)Pembuangan limbah cair ke dalam air dikenakan pembayaran retribusi.

(Z)Tatacara dan jumlah retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I. Pasal22
Dalam hal Pemerintah Daerah menyediakan Tempat dan atau sarana pembuangan dan pengolahan limbah cair, Pemerintah Daerah dapat memungut retribusi.

Pasal23
Upaya pengendalian pencemaran air yang disebabkan oleh masuknya limbah cair atau bahan lain tidak melalui sarana yang dibuat khusus untuk itu dan atau yang bukan berupa sumber yang tertentu titik masuknya ke dalam air pada sumber air diatur oleh Menteri atau Pimpinan lembaga pemerintah non departemen yang bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri.

Pasal24
menetapkan dan mengumumkan sumber air dan salurannya yang dinilai tercemar dan membahayakan keselamatan umum.

Gubernur Kepala Daerah Tingkat

BAB V
PERIZINAN
Pasal 25

Baku mutu limbah cair yang diizinkan dibuang kedalam air oleh suatu kegiatan ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I berdasarkan baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalamPasal 15.

Pasal26
(l)Pembuangan limbah cair ke dalam air dilakukan dengan izinyarrg diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. (2)Izinsebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dicantumkan dalam izin Ordonansi Gangguan. (3) Izin pembuangan limbah cair yang dicantumkan dalam izin Ordonansi Gangguan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus menyebutkan: a. jenis produksi, volume produksi dan kebutuhan air untuk produksi; b. kualitas dan kuantitas limbah cair dan atau bahan lain yang diizinkan untuk dibuang ke

245

dalam air serta frekuensi pembuangannya;

c. tata letak saluran pembuangan limbah cair; d. sumber dari air yang digunakan dalam proses produksi
e.

atau untuk menyelenggarakan

f.

kegiatannya, sertajumlah dan kualitas air tersebut; larangan untuk melakukan pengenceran limbah cair; sarana dan prosedur penanggulangan keadaan darurat.

Pasal2T (l)Pembuangan limbah rumah tangga diatur dengan peraturan Daerah. (2) Pembuangan limbah cair ke laut diatur dengan peraturan tersendiri.
Pasal 28 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, maka persyaratan dan kewajiban yang tercantum dalam rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan bagi kegiatan tersebut wajib dicantumkan sebagai syarat dan kewajiban dalam izin Ordonansi Gangguan bagi kegiatan yang bersangkutan. (2) Apabila analisis mengenai dampak lingkungan bagi suatu kegiatan mensyaratkan baku mutu limbah cair yang lebih ketat dari baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 maka untuk kegiatan tersebut ditetapkan baku mutu limbah cair sebagaimana disyaratkan oleh Anilisis Mengenai Dampak Lingkungan.

(l)Untuk kegiatan yang wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan

Bab VI

PENGAWASAN DAN PEMANTAUAN Pasal29

(l)Setiap orang yang mengetahui atau menduga terjadinya pencemaran air, berhak melaporkan
kepada:

a. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau aparat Pemerintah b. Kepala Kepolisian Resort atau aparat Kepolisian terdekat.

Daerah terdekat, atau

(2) Aparat Pemerintah Daerah terdekat yang menerima laporan tentang terjadinya pencemaran air
wajib segera meneruskan kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Aparat Kepolisian terdekat yang menerima laporan tentang terjadinya pencemaran air wajib segera melaporkan kepada kepala Kepolisian Resort yang bersangkutan untuk keperluan penyidikan. (4) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I segera melakukan penelitian tentang laporan terjadinya
pencemaran air.

(5) Apabila hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) membuktikan terjadinya pencemaran air, Gubernur Kepada Daerah Tingkat I segera melakukan atau memerintahkan dilakukannya tindakan penanggulangan dan atau pencegahan meluasnya pencemaran.

t
246
Pasal 30 (l)Pengawasan kualitas air dilakukan oleh Gubenur Kepala Daerah Tingkat I. (2) Dalam melaksanakan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat Kepala Daerah Tingkat I dapat menunjuk sebuah instansi di daerah. (3) Tugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi: a. pemantauan dan evaluasi baku mutu limbah cair pada tempat yang ditentukan b. pemantauan dan evaluasi perubahan kualitas air; c. pengumpulan dan evaluasi data yang berhubungan dengan pencemaran air;

(l)

Gubernur

d. evaluasi

laporan tentang pembuangan limbah cair dan analisisnya yang dilakukan oleh

penanggungj awab kegiatan.

(4) Pelaksanaan pengawasan dilakukan secara berkala dan sewaktu-waktu apabila dipandang perlu. (5) Apabila hasil pengawasan menunjukkan terjadinya pencemaran air, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I memerintahkan dilakukannya penanggulangan dan atau pencegahan meluasnya pencemaran. (6) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I melaporkan hasil pengawasan kualitas air kepada Menteri dan Menteri lain yang terkait. (7) Gubenur Kepala Daerah Tingkat I menetapkan tata lakunya pengawasan di daerah.

Pasal

3l

(l)Dalam rangka melaksanakan tugasnya, petugas dari instansi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 30 ayat(2) berwenang: a. memasuki lingkungan sumber pencemaran; b. memeriksa bekerjanya peralatan pengolahan limbah dan atau peralatan lain yang diperlukan untuk mencegah pencemaran lingkungan; c. mengambil contoh limbah; d meminta keterangan yang diperlukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas limbah yang dibuang, termasuk proses pengolahannya. (2) Setiap penanggungjawab kegiatan wajib: a. mengizinkan petugas sebagaimana dimaksud ayat (l) untuk memasuki lingkungan kerjanya dan membantu terlaksananya tugas petugas tersebut; b. memberikan keterangan dengan benar, baik secara lisan maupun tertulis, apabila hal itu

diminta.
Pasal 32

(l)Setiap penanggungjawab kegiatan wajib menyampaikan kepada Gubernur Kepada Daerah


Tingkat I: a. laporan tentang pembuangan limbah cair dan hasil analisisnya sekurang-kurangnya sekali
dalam 6 (enam) bulan.

bahwa laporan yang telah disampaikan adalah benar mewakiii kualitas limbah cair yang sebenarnya dibuang. (2) Pedoman dan tata cara pelaporan ditetapkan oleh Gubenur Kepala Daerah Tingkat I atau instansi yang dituniuk untuk itu.

b. pernyataan

241

Pasal 33

(1) Apabila pembuangan limbah cair melanggar ketentuan baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan dalam Pasai 15, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I mengeluarkan surat peringatan kepada penanggunglawab kegiatan untuk memenuhi persyaratan baku mutu limbah cair dalam waktu yang ditetapkan. (2) Apabila pada akhir waktu yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1), pembuangan limbah dau belum mencapai persyaratan baku mutu limbah maka Gubernur Kepala Daerah Tingkat I mencabut izin pembuangan limbah cair.
Pasal

3.1

(1) Menteri menunjuk laboratorium tingkat pusat dalam rangka pengendalian pencemaran air. (2) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menunjuk laboratorium di daerah untuk melakukan analisis kualitas air dan kualitas limbah cair dalam rangka pengawasan dan pemantauan pcncemaran air.

BAB VII PEMBIAYAAN


Pasal 35

(i)

Pembiayaan inventarisasi kualitas dan kuantitas

air

sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 2

dibebankan pada anggaran daerah yang bersangkutan. (2) Pembiayaan pengawasan pcncemaran air dibebankan pada anggaran daerah masing-masing.

Pasal 36

(1) Biaya pencegahan, penangguiangan dan pemulihan pencemaran


dibebankan kepada penanggung-jawab kegiatan yang bersangkutan'

air akibat suatu kegiatan

(2) Apabila penanggungjawab kegiatan lalai melaksanakan penanggulangan pencemaran air sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atau melaksanakan tidak sebagaimana mestinya, maka Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dapat melakukan atau memerintahkan untuk melakukan penanggulangan pencemaran air tersebut atas beban pembiayaan penanggurig jawab kegiatan (3) Apabila dipandang perlu Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II, atas nama Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, dapat mengambil tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) atas beban pembiayaan penanggunglawab kegiatan yang bersangkutan.
yang bersangkutan.

fr''
I

BAB VIII
SANKSI
Pasal 37

(l)Barang siapa melanggar ketentuan dalam Pasal 17, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 32 peraturan

(2)

Pemerintah Tingkat II.

ini dikenakan

tindakan administratif oleh Bupati/lValikotamadya Kepala Daerah

Tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) tidak menutup

kemungkinan dikenakan tindakan hukum lainnya.

BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 38

Apabila untuk suatu jenis kegiatan belum ditentukan baku mutu limbah cairnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, maka baku mutu lirnbah cair yang boleh dibuang ke dalam air oleh kegiatan tersebut ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I setelah berkonsultasi dengan Menteri.
Pasal 39

Apabila pada saat diundangkannya Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan baku mutu limbah yang dibuang ke dalam air oleh suatu kegiatan lebih ketat dibandingkan dengan perhitungan menurut baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, maka untuk kegiatan
tersebut tetap berlaku baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan itu.

Pasal 40

Apabila pada saat diundangkannya Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan baku mutu cair yang dibuang ke dalam air oleh suatu kegiatan lebih longgar dibandingkan dengan perhitungan menurut baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, maka baku mutu limbah cair kegiatan tersebut wajib disesuaikan dengan baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dengan Pasal 16 dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu tahun terhitung sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah ini.
pasat

+t

Peraturan Pemerintah ini, harus sudah memperoleh Kepala Daerah Tingkat I.

Bagi kegiatan yang sudah beroperasi, maka dalam waktu satu tahun setelah dikeluarkannya izin pembuangan limbah cair dari Gubernur

249

Pasal42

(l)Apabila pada saat diundangkannya Peraturan Pemerintah ini penggolongan air menurut peruntukannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Peraturan Pemerintah ini belum ditetapkan, maka golongan air pada badan air tersebut dinyatakan sebagai air golongan B sampai ada penetapan lebih lanjut oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I sesuai dengan ketentuan Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini dinyatakan sebagai air golongan B sampai ada
penetapan lebih lanjut oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I sesuai dengan ketentuan Pasal l0 Peraturan Pemerintah ini. (2) Air pada badan air sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini ditetapkan sebagai golongan A, apabila: a. memenuhi kualitas air golongan A sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Peraturan

b. berada c. berada

Pemerintah ini, atau di kawasan hutan lindung, atau di sekitar sumber mata air.

BAB X KETENTUAN PENUTUP


Pasal 43 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 5 Juni 1990 PRESIDEN REPUBLIK

INDONESIA
ttd SOEHARTO

FZ-/ Y
V
I

250

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 5 Juni 1990

MENTERYSEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA


rrd.

MOERDIONO

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1990 NOMOR 24


Salinan sesuai dengan asiinya

SEKRETARiAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan

ub.
Kepala
B

agian Administrasi Perundang-undangan,

H.R. Silitonga S.H.

PENJELASAN ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHIIN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

UMUM Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu
dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara
bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan mendatang.

Agar air dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan, maka pengendalian pencemaran air menjadi sangat penting. Pengendalian pencemaran air merupakan salah satu segi pengelolaan lingkungan hidup.

1. Pencemaran air selalu berarti turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Hal ini berarti
bahwa perlu ditetapkan baku mutu air yang berfungsi sebagai tolok ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran, dan peruntukan air itu sendiri. Dalam pengertian pencemaran air, baku mutu air akan selalu terkait dengan peruntukan air. Baku mutu air di satu pihak merupakan suatu tingkat mutu air yang dikehendaki bagi suatu peruntukan, dan di lain pihak
merupakan arahan dan pedoman bagi pengendalian pencemaran air.

Dengan ditetapkannya baku mutu arr untuk setiap peruntukan dan memperhatikan kondisi airnya akan dapat dihitung berapa beban zat pencemar yang dapat ditenggang adanya oleh air penerima sehingga air dapat tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Beban pencemaran ini merupakan daya tampung beban pencemaran bagi air penerima yang telah ditetapkan
peruntukannya.

2.

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hahwa perlindungan lingkungan hidup dilakukan berdasarkan baku mutu lingkungan yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. Baku mutu lingkungan ini dapat berbeda untuk setiap lingkungan, wilayah atau waktu mengingat akan
perbedaan tata gunanya.

Selanjutnya Undang-undang Nomor: 4 Tahun 1982 menetapkan kewajiban setiap orang untuk

memelihara lingkungan hidup

menanggulangi kerusakan dan pencemarannya disamping hak setiap prang atas lingkungan hidup yang balk dan sehat.

dan mencegah serta

252

Undang-undang' Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian menetapkan lebih lanjut kewajiban-kewajiban bagi perusahaan industri untuk melaksanakan upaya keseimbangan dan kelestarian sumberdaya alam serta melakukan pencegahan timbulnya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan industri yang dilakukannya. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan industri pada suatu tempat dapat berupa gangguan kerusakan dan bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat di sekelilingnya antara lain oleh pencemaran air. Tercemarnya air akan dapat menimbulkan akibat negatif terhadap derajat kesehatan anggota masyarakat. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan menetapkan hak setiap warga negara untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Hal ini berarti pula bahwa lingkungan hidup harus memenuhi syarat kesehatan. Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan untuk melaksanakan tujuan yang tercantum dalam perundang-undangan tersebut. Di samping itu, Peraturan Pemerintah ini berkaitan sangat erat pula dengan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1980 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

3.

Pengendalian pencemaran air merupakan kegiatan yang mencakup:

a. inventarisasi
pengairan;

kualitas dan kuantitas air pada sumber air menurut sistem wilayah tata

b. penetapan golongan

c.

air menurut peruntukannya, baku mutu air dan baku beban pencemaran untuk golongan air tersebut, serta baku mutu limbah cair untuk setiap jenis kegiatan; penetapan mutu limbah cair yang boleh dibuang oleh setiap kegiatan ke dalam air pada sumber air, dan pemberian izin pembuangannya; pemantauan perubahan kualitas air pada sumber air dan mengevaluasi hasilnya;
penataan peraturan pengendalian pencemaran air, termasuk penataan mutu limbah cair, serta penegakan hukumnya.

e. pengawasan terhadap

PASAL DEMI PASAL


Pasal

Istilah yang dirumuskan dalam pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Peraturan Pemerintah ini dan peraturan pelaksanaannya lebih lanjut. 1. Rumusan ini diturunkan dari pengertian air sebagaimana dirumuskan dalam Pasal I angka 3
Undang-undang Nomor 1l Tahun 1974 terftang Pengairan. Dalam Peraturan Pemerintah ini pengertian "air" dibatasi pada air yang terdapat di atas permukaan tanah. Hr* ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pendeka@n pengendalian pencemaran air yang terdapat di atas
permukaan tanah adalah berbeda dengan pengendalian pencemaran air yang terdapat di bawah permukaan tanah dan air laut.

2. 3.

Rumusan ini diturunkan dari pengertian pencemaran lingkungan sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 angka 7 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Cukupjelas.

253

4.

diturunkan dari pengertian baku mutu lingkungan sebagaimana dirumuskan dalam pasal I angka 6 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan
Rumusan
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Yang dimaksud dengan "ditenggang adanya" dalam rumusan pengertian ini adalah batas atau kadar parameter pencemaran dalam air secara alami dan dinilai berdasarkan ilmu pengetahuan masih dapat difungsikan sesuai dengan peruntukannya. Baku mutu air merupakan dasar bagi perlindungan air dan sebagai kriteria pencemaran air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan penjelasan Pasal l5 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Beban pencemaran dinyatakan dalam satuan, jumlah parameter penerimaan biasanya sebagai satuan berat, atau untuk aliran air atau limbah dinyatakan dalam satuan jumlah parameter pencemaran per satuan waktu.

ini

5.

Beban pencemaran dapat ditentukan dengan mengukur kadar parameter pencemaran dan volume atau debit aliran air atau limbah yang bersangkutan. Nilai beban pencemaran tersebut
dihitung dengan perkalian antara kadar dan volume atau debit aliran setelah satuan volumenya disesuaikan.
Contoh perhitungan:

Dari pengukuran didapat konsentrasi padatan tersuspensi adalah


limbah sebesar 10 meter kubik/menit.

mg/liter dan debit aliran


1000 liter/menit (karena

Debit aliran limbah setelah penyesuaian satuan volume adalah: lm3 = 1000liter)

l0 x

Maka beban pencemaran padatan tersuspensi dari limbah tersebut adalah: = l0 x 1000 (literimenit) x I (mg/liter)

6.

= 10.000 mg/menit. Daya tampung beban pencemaran ditentukan dengan teknik dan metode tertentu berdasarkankan data kondisi kualitas dan kuantitas air serta baku mutu air pada suatu sumber
air tertentu.

Daya tampung beban pencemaran dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam perizinan pembuangan limbah-limbah cair ke sumber air yang bersangkutan; jika beban pencemaran dari limbah-limbah yang dibuang melebihi daya tampung beban pencemaran air pada sumber air tersebut maka besar kemungkinannya air tersebut akan mengalami
pencemaran.

7. Yang dimaksud
8.

dengan "ditenggang adanya" dalam rumusan pengertian administratif dan berdasarkan perhitungan rasional. Cukupjelas.

ini

adalah secara

Pasal 2

Yang dimaksud dengan instansi teknis dalam pasal


peraturan perundang-undangan yang berlaku.

ini

adalah yang ditetapkan berdasarkan

Inventarisasi kualitas dan kuantitas air diperlukan untuk mengetahui kondisi air dan kecenderungan berubahnya pada sumber air dalam rangka pengolahan kualitas air dan pengendalian

254

pencemaran arr.

Yang dimaksud dengan kualitas air adalah sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, atau energi, atau komponen lain dalam air. Kualitas air dinyatakan sebagai parameter kualitas air, misalnya pH, warna temperatur, hantaran listrik, konsentrasi zat kimia, konsentrasi bakteri, dan sebagainya. Yang dimaksud dengan kuantitas air adalah jumlah atau debit aliran air pada sumber air.

Pasal 3

Ayat (1)
Cukup jelas Ayat (2)

Yang dimaksud dengan sumber air dalam ayat ini adalah sama dengan pengertian sumber air sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentatg Pengairan, yang
dapat berupa antara lain sungai, danau, dan rawa.

Pasal 4

Ayat (1)
Cukup jelas Ayat (2)

Laporan yang disampaikan merupakan hasil pengolahan data yang dilakukan oleh instansi teknis yang isi laporan meliputi analisis data kondisi dan kecenderungan kualitas dan kualrtitas
air, sumber-sumber pencemaran, kesimpulan dan saran.

Pasal 5

Ayat

(l)

Yang dimaksud dengan identifikasi sumber-sumber pencemaran adalah untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang berpotensi mencemarkan air serta kemungkinan jenis dan besaran
pgncemarannya. Ayat (2)

Tindak lanjut pengendalian bertujuan agar pembuangan limbah dari

pencemaran termasuk memenuhi kebutuhan baku mutu limbahnya sehingga limbah yang bersangkutan memenuhi baku mutu air yang diinginkan.
Pasal 6 Cukup jelas

sumber-sumber air penerima

Pasal 7

Ayat

(l)

Cukup jelas

255

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan perluasan pemanfaatan golongan air adalah pemanfaatan air di luar
dari penggolongan air seperti yang ditetapkan pada Pasal 7 ayat (1) Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 8

Ayat (1)
Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas

Ayat (3) Rujukan kepada ilmu pengetahuan diperlukan bila diduga ada parameter yang tidak atau belum
tercakup dalam baku mutu air.

Pasal 9

Penetapan metode analisis dimaksudkan untuk menggunakan rujukan yang sama dalam pengukuran rujukan yang sama dalam pengukuran dan penilaian parameter pencemaran dalam
baku mutu air baku mutu limbah cair termaksud.

Pasal 10

Ayat (1) Karena peruntukan air dan baku mutu air menyangkut kepentingan umum maka untuk setiap air pada sumber air perlu ditetapkan peruntukan dan golongannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Dalam hal kondisi mutu air tidak memenuhi kriteria mutu untuk peruntukan yang seharusnya, tidak boleh kemudian golongannya ditetapkan sesuai dengan kondisi mutu tersebut yang diperlukan adalah program agar kondisi mutu air tersebut dapat memenuhi kriteria mutu untuk
peruntukan yang seharusnya. Ayat (2) Cukup jelas

Ayat (3)

Yang dimaksud dalam ayat ini adalah wewenang suatu badan pengelola seperti otorita dan
sebagainya.

Pasal

11

Program peningkatan tersebut bertujuan agar kualitas air tersebut mencapai tingkat sesuai dengan penggolongan peruntukannya dalam jangka waktu tertentu atau bahkan menaikkan sampai kualitas
yang lebih baik lagi.

256

Pasal 12

Yang dimaksud dengan peningkatan penggolongan peruntukannya adalah agar

air

yang

bersangkutan dapat ditetapkan sebagai golongan air dengan tingkat kualitas air yang lebih baik.

Pasal l3

Ayat (1)
Cukup jelas

Ayat (2) Dalam hal sumber air menjadi batas propinsi atau mengalir melalui dua atau lebih propinsi, para Gubernur yang bersangkutan perlu berkonsultasi terlebih dahuiu dengan Menteri sebelum menetapkan pengendalian pencemarannya agar dapat ditempuh keterpanduannya/pengendalian
pencemaran terhadap sumber air tersebut.

Pasal 14

l)aya tampung beban pencemaran digunakan

sebagai salah satu dasar pertimbangan dalanr

perizinan pembangunan iimbah cair ke sumber air. Informasi tentang daya tampung beban pencemaran ini bersifat terbuka untuk diketahui setiap
orang"

Pasal l5

A)'at (1) Baku mutu limbah cair ditetapkan untuk setiap jenis kegiatan. rnisalnva baku mutu limbah cair untuk industri pupuk. tapioka, kelapa sawit dan set egaini,a. Baku mutu limbah cair tersebut dilengkapi dengan pedoman penerapannya. Ayut ll) Mengingat kondisi air pada sumber air dan tingkat teknologi pengolahan limbah ditiap daerah dapat berbeda, maka Gubernur delam rangka pengen<lalian pencem&ran air dapat menetapkan baku mutu limbah cair yang lebih ketat bagi daerahnye.

Pasal

l6

Baku mutu air dipengaruhi oleh perkemhangan keadaan. Baku mutu lirnbah criir yang antara hin ijidas:rrkan pada tingkat kemarnpuan teknologi i,ang dapat berubah ciengrn perkembangan rvaktu. Seriangkan Caya tampung beban pencemaran dipen-earr:hi oieh bal<u mlitu air yang ciitetapkan dan l.ondisi :iir peda sumber lir i'ang bersangkutan. K;rrenr" itu. baku nruirr lir, d;-1,a tari.ipur:g beban pencemaran. dan baku niutu limbah cair periu ditiniau secara berkalrr. Iangila urlk-tu lirna tahun i.liparrdang selraga,i ll'aktu yang lryak untuk melakukan penin-i:luirn kembaii ter"sebut.

257

Pasal

l7

Ayat (1)

Baku mutu limbah cair membatasi kadar dan beban pencemaran yang dibuang ke air pada
sumber air.

Baku mutu limbah cair tersebut berlaku untuk pernbuangan limbah cair ke dalam air dan ke air
taut.

Ayat (2)
Pengenceran limbah

cair tidak mengurangi beban pencemaran, tetapi hanya memperbesar air bekas pendingin ke dalam aliran

volume limbah cair sehingga mengecilkan kadarnfa. Pengenceran disini termasuk mencampurkan buangan pembuangan limbah cair.

Pasal 18 Cukup jelas

Pasal 19

cair ke tanah dapat menimbulkan pencemaran tanah dan pencemaran air tanah. Namun dengan teknologi tertentu limbah cair dapat diolah dengan cara menempatkan limbah cair di tanah, sebagai contoh adalah antara lain yang dikenal dengan cara "spray
Pembuangan limbah

irrigation", tetapi untuk penerapannya perlu penelitian agar tidak menimbulkan pencemaran dan
kerusakan lingkungan.

Pasal 20

Tempat pengambilan contoh harus dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang memudahkan pihakpihak yang berkepentingan untuk pengambilan contoh dari saluran limbah dan pengukuran debit
limbahnya.

Fasilitas yang dimaksud misalnya tersedianya sarana jalan, sarana bak kontrol, karangan bagi
aliran limbah bertekanan dan sebagainya.

Pasal 21

Ayat

(l)

Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas

158

Pasal22
Pungutan retribusi oleh Pemerintah Daerah hanya dikenakan terhadap pemakai sarana pengolahan

limbah cair yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. Adapun besarnya pemungutan retribusi
ditentukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pembuangan atau pengolahan limbah, dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah sendiri dapat diserahkan kepada pihak swasta. Pasal23 Yang dimaksud dalam pasal ini dengan pencemaran air oleh masuknya limbah cair atau bahan lain tidak melalui sarana yang dibuat khusus untuk itu adalah misalnya pencemaran air yang diakibatkan oleh masuknya bahan pencemar ke dalam air karena misalnya terbawa oleh air hujan, erosi, atau penggerusan; contohnya adalah masuknya sisa bahan pestisida dan pupuk dari lahan
pertanian ke dalam air.

Pasal24
Yang dimaksud dengan sumber air yang membahayakan keselamatan umum adalah antara lain air yang mengandung misalnya bahan kimia yang berbahaya dan beracun seperti logam beracun. Pengumuman ini dimaksudkan untuk mencegah penggunaan sumber air tersebut yang dapat
membahayakan keselamatan, termasuk kesehatan, penggunaannya sementara upaya pengendalian

dilakukan.

Pasal 25 Cukup jelas

Pasal26
Ayat (1)
Cukup jelas Ayat (2)

Izin ordonansi gangguan yang diberikan harus mengacu kepada izin pembuangan limbah cair
/ang dikeluarkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Ayat (3) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan dimana terjadi kesalahan dalam proses operasi sehingga menimbulkan beban pencemaran yang jauh lebih besar dari keadaan normal. Untuk itu penanggung jawab kegiatan harus menyediakan sarana dan menyusun prosedur untuk keadaan tersebut, misalnya sarana penampuirgan sementara limbah cair yang dihasilkan pada keadaan darurat tersebut untuk selanjutnya diolah sehingga limbah cair yang dibuang tetap memenuhi baku mutu limbah sebagaimana ditentukan dalam izinnya.

259

Pasal2T Ayat (1)


Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas

Pasal 28

Ayat (1)
Cukup jelas

Ayat (2)

Dari studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dapat diketahui tingkat mutu limbah cair suatu kegiatan yang bila dibuang tidak mencemarkan air penerimanya. Bisa terjadi dari hasil
studi tersebut didapatkan bahwa kegiatan tersebut mampu mencapai tingkat mutu limbah cair yang lebih baik dari baku mutu yang Iebih ketat dari peraturan baku mutu limbah cair yang
ditetapkan.

.
Ayat (1)

Pasal29

Ketentuan ayat
Ayat (2) Cukup jelas

ini

dimaksudkan untuk memberikan kejelasan bahwa setiap orang dapat

melaporkan tentang terjadinya pencemaran lingkungan, dan mengetahui tata laksananya.

Ayat (3)

Tugas pejabat kepolisian sebagai pejabat penyidik untuk melakukan penyelidikan tentang
adanya unsur pidana dalam kasus pencemaran air yang dilaporkan padanya.

Ayat (4)
Cukup jelas

Ayat (5)

Bentuk tindakan tersebut antara lain dengan menghentikan masuknya limbah cair ke tempat
tersebut dari sumbernya dan atau melokalisir pencemaran.

Pasal 30

Ayat

(l)

Cukup jelas Ayat (2)

Jika pada saat Peraturan Pemerintah ini ditetapkan belum ada instansi teknis di daerah yang khusus bertugas untuk itu, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dapat menunjuk instansi lain di
Daerah.

Ayat (3)

,l

260

Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas

Ayat (6)
Cukup jelas

Ayat (7)

Tata laksana yang akan ditetapkan oleh Gubernur meliputi antara lain tanda pengenal, surat
tugas pengawasan dan sebagainya.

Pasal 31

Ayat (1)
Petugas yang memasuki areal kegiatan sumber pencemaran bertugas memeriksa antara lain bekerjanya peralatan pengolahan limbah, mengambil contoh limbah dan memeriksa saluran pembuangan limbah. Ayat (2) Penanggung jawab kegiatan yang menghalangi atau tidak mengizinkan petugas menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dapat dikenakan ketentuan pidana

yang antara lain diatur dalam Pasal 216 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Memasuki
lingkungan kerja harus diartikan sedemikian rupa bahwa petugas harus dapat segera menuju ke
tempat sasaran tugasnya.

Pasal32
Ayat (1)
Pernyataan tentang kebenaran laporan harus ditandatangani oleh penanggungjawab kegiatan dan atau diketahui oleh pemilik atau penanggungiawab perusahaan. Ayat (2) Cukup jelas

Pasal 33

Ayat (1)
Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas

Pasal 34

Ayat (1)
Cukup jelas

261

Ayat (2)

Penunjukan satu laboratorium oleh Gubernur dimaksudkan agar terdapat kepastian data hasil analisis kualitas dan kuantitas limbah.

Pasal 35

Ayat

(l)

Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas

Pasal 36

Ayat (1)
Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas.

Ayat (3;
tindakan segera untuk mencegah meluasnya pencemaran. pasal 37

Yang dimaksud dengan "dipandang perru" adarah keadaan yang mengharuskan diambil

Ayat (1) pencabutan

saluran pembuangan limbah cair atau berupa tindakan lainnya yang ditentukan dalam izin. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas
Pasal 40

Bentuk tindakan administratif yang dimaksud dalam ayat ini antara lain dapat berupa izin pembuangan limbah, penghentian sementara kegiatan, penyegelan

semua

Cukup jelas
Pasal 41

Cukup jelas

262

Pasal 42

Ayat

(l)

Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas

Pasal 43

Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3409.

263

LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1990 TANGGAL 5 JUNI 1990

I. DAFTAR KRITERIA KUALITAS AIR GOLONGAN A


PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN

FISIKA

i.

Bau Jumlah zat padat

Tidak berbau mg/L


Skala NTU 1000
5

tertarut (TDS)

2. Kekeruhan 3. Rasa 4. Suhu 5. Warna


KIMIA
a.

Tidak berasa oc
Skala TCU

Suhuudarat3"C
15

KIMIA ANORGANIK
mg/L
0,001
0,2

2. Aluminium 3. Arsen 4. Barium 5. Besi 6. Fluorida 7. Kadmium 8. Kesadahan CaC03 9. Klorida


10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.
Kromium, valensi 6 Mangan
Natrium

l.

Air raksa

mgllmgll-

0,05
1,0 0,3

mgI, mg[mgllmcfimgllmg/L
mglI,

o5
0,005 500

250
0,05
0,1

mg/Img/L

200

Nitrat, sebagai N Nitrit, sebagai N


Perak

mgll-

l0
1,0

ffiglL
mS/L

pH

0,05 6,5 - 8,5

Merupakan Batas minimum dan maksimum

17. Selenium 18. Seng 19. Signida

mgllmgllmgllmClL
H2S

0,01
5

0,1

20. Sulfat 21. Sulfida, sebagai 22. Tembaga 23. Timbal

mgll mgllmg/|,

400 0,05
1,0

0,05

264

PARAMETER b.

SATUAN

KADARMAKSIMUM KETERANGAN

KIMIA ORGANIK

Aldrin dan dieldrin Benzena Benzo (a) pyrene Chlordane (total Isomer)
Chloroform
2,4

mgll
mgllmgllmg/I-

0.0007
0,0
r

mgllmgll-

-D

DDT
Detergen

mgll-

0,00001 0,0003 0,03 0,10 0,03


0,5

mgL
mgllmC/L

1,2-Dichloro-ethane
1-Dichloro-ethena Heptachlor dan
1,

0,0r
0,0003 0.003 0,00001 0,04 0,03
0,01 0,1

Heptachlor epoxide
12. Hexachlorobenzene

t3. Lindane
14. Methoxychlor 15. Pentachlorophenol 16. Pestisida total 17. 2, 4,6 Trichlorophenol
18.

mgllmgllmgllmgllmglL mgllmg/L

0,01
IO

Zatorganik (KMNO+)

mglL

MIKROBIOLOGIK

1. Koliform tinja

2. Totalkoliform
RADIOAKTIVITAS

Jumlah per 100 ml Jumlah per 100 ml

l.

Aktivitas Alpha (Gross


Alpha
Beta

2. Aktivitas Beta (Gross

Activity)

BCfiBq/L

0,1
1,0

activity)
miiigram

Keterangan:

mg mL L Bq

Nephelometric Turbidity Units True Colour Units Logam berat merupakan logam terlarut

= = = = NTU = TCU =

mililiter
liter
Bequerel

265

2. DAFTAR KRITERIA KUALITAS AIR GOLONGAN B


NO PARAMETE,R

SATUAN

KADARMAKSIMUM KETERANGAN

FISIKA
1.

Suhu

06
mgll-

Suhu air normal


1000

2.

Zatpadat terlarut

KIMIA
a.

KIMIA ANORGANIK
raksa

1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. 9. I0.
-5.

Air

mg/lmg/I-

Amoniak bebas
Arsen

mg/L

0,001 0,5 0,05


1

Barium
Besi

mgll,
mClL

Fluorida Kadmium

mgfi-

1,5

rngll,
mgllmgll-

Klorida
Kromium, valensi 6
Mangan

0,01 600 0,05


0,5

mgllmgllrngll-

11. Nitrat, sebagai N 12. Nitrit, sebagai N 13. Oksigen terlarut (DO)

l0
I

mgll-

* Air permukaan dianjurkan lebih


besar atau sama dengan 6

14. pH 15. Selenium 16. Seng


1'l

mgll,
mgllmg/lmClL

5-9 0,01
6 0,1

18. Sulfat 19. Sulfida, sebagaiH2S 20. Tembaga 21. Timbal


b. KIMIA ORGANIK

Sianida

400
0,1
1

mg/lmgfi-

mgll-

0,1

1. 2. 3. 4. 5. 6. 1.

Aldrin dan dieldrin Chlordane DDT


Endrine
Fenol

mgfimg/l-

0,017 0,003

mgll-

0,042
0,001 0,002 0,018 0,5

mgllmg/I-

Heptachlor dan
heptachlor epoxide

mgllmg/I-

Karbon kloroform ekstrak

266

NO.

PARAMETER

SATUAN

KADARMAKSIMUM KETERANGAN
0,056 0,035

8. 9.
10. 11. 12. 13. 14.

Lindane Methoxychlor Minyak dan lemak Organofosfat & carbamate PCD Senyawa aktif biru metilen
(surfaktan) Toxaphene

mglL mgllmgll-

nihil
0,1

mg[,
mgllmgll-

nihil
0,5 0.005

mgL

MIKROBIOLOGIK
t.
2.

Koliform tinja
Total koliform

Jumlah per Jumlah per

2000
100 mL 10.000 100 ml

RADIOAKTIVITAS

l. Aktivitas Alpha
2.

Bqll,
BqlI-

0,1 1.0

(Gross Alpha Activity) Aktivitas Beta (Gross Beta Activity)

Keterangan:

mg mL L Bq

Nephelometric Turbidity Units True Colour Units Logam berat merupakan logam terlarut

= = = = NTU = TCU =

miligram

mililiter
liter
Bequerel

267

3. DAFTAR KRITERIA NO

KUALITAS AIR GOLONGAN C


SATUAN KADAR

PARAMETER

MAKSIMUM

KETERANGAN

FISIKA

1. 2.

Suhu

0g
mgll-

Suhu air normal + 3"C


1000

Zatpadat terlarut

KIMIAWI
a.

KIMIA ANORGANIK
Air raksa
Amoniak bebas Arsen Fluorida Kadmium

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

mgll-

mgllmgllmgll-

0,002 0,02
1

1,5

mgll
mgllmgllmgll-

0,01

Klorin bebas
Kromium, valensi 6

Nitrit,

sebagai N

0,003 0,05 0,06

Oksigen terlarut (DO)

mgll-

'<
6-9 0,05 0,02 0,02 0,002 o,o2 0,03

* Disyaratkan lebih
besar dari 3

10. 11. Selenium 12. Seng 13. Sianida 14. Sulfida, sebagai 15. Tembaga 16. Timbal
pH
b.

mgfi'
mg/|,
mg/IH2S

mgllmgllmClL

KIMIA ORGANIK
BHC DDT
Endrine
Fenol

1. 2. 3. 4. 5. 6.
7

mgllmgll-

0,2r
0,002 0,004

mgllmgllmgfi-

0,00r

Minyak dan lemak


Organofosfat tiara
carbamate Senyawa aktif biru metilen (surfaktan)

I
0,1

mgllmgll-

0.2

268

NO. PARAMETER
RADIOAKTIVITAS

SATUAN
BqlIBqlI-

KADARMAKSIMUM

KETERANGAN

1. 2.

Aktivitas Aktivitas

Alpha Beta

0,1 1.0

(Gross Alpha Activity) (Gross Beta Activity)

Keterangan:

Nephelometric Turbidity Units True Colour Units Logam berat merupakan logam terlarut

= = = = NTU = TCU =

mg mL L Bq

miligram

mililiter
liter
Bequerel

4. DAFTAR KRITERIA KUALITAS AIR GOLONGAN D

NO. PARAMETER
FISIKA

SATUAN mhos/cm Q50 q g

KADARMAKSIMUM

KETERANGAN

l.

Daya hantar

listrik

2250

Tergantung dengan

jenis tanaman. Kadar


maksimum tersebut

untuk tanaman yang tidak peka.


Suhu air normal 2000
Sesuai dengan

2. Suhu 3.
Zatpadat

terlarut

mgll-

kondisi setempat.
Tergantung dengan

jenis tanaman. Kadar


maksimum tersebut untuk tanaman yang

tidak peka.

KIMIA
a.

KIMIAANORGANIK

1. Air raksa 2. Arsen

mg/L mgll

0,005

269

NO.

PARAMETER

SATUAN mglT-

KADAR
1

MAKSIMUM KETERANGAN

10. 11. 12. 13.

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Boron Kadmium Kobalt Kromium, valensi 6


Mangan Na (garam alkali)

mgll-

mgll
mg/I-

0,01 0,2

I
2

mglL
Vo

60
0,5

Nikel
pH
Selenium
Seng

mgfimg/l-

5 -9 0,05
2 18

mg[-

Sodium Absorption Ratio

Tergantung dengan

(sAR)

jenis tanaman. Kadar maksimum tsb


untuk tanaman yang kurang peka.

14. Tembaga 15. Timbal


Keterangan:

mglL
rngll-

0,2 I

mg mL L Bq

= = = = NTU = TCU =

miligram

mililiter
liter
Bequerel

Nephelometric Turbidity Units True Colour Units Logam berat merupakan logam terlarut

LAMPIRAN
KEPUTUSAN

MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: KEP-034{ENKL[YIV1991 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN YANG SUDAH BEROPERASI

MENTERI NEGARA KEPENDUDIIKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP


air sebagai sumberdaya alam harus dapat dimanfaatkan untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, oleh karenanya perlu dipelihara kualitasnya agar tetap bermanfaat bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya; b. bahwa untuk menjamin terpeliharanya kualitas air tersebut maka perlu dilakukan pengendalian terhadap pembuangan limbah cair; c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi kegiatan yang sudah beroperasi. Mengingat: l. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12,
Menimbang:
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 3. Undang-undang Nomor 5 tahun 1984 tentang Perindustrian;

a. bahwa

4. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986


5.

tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 42, Tambahan

Lembaran Negara Nomor 3338); Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran

6.

(Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3409); Keputusan Presiden RI Nomor 25 Tahun 1983 tentang kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Serta Susunan Organisasi Staf Menteri
Negara; Keputusan Presiden Rl Nomor 64llVI Tahun 1988 Tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan V;

Air

7.

271

MEMI-NUSKAN
MCNCTAPKAN

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN

DAN BAGI CAIR LIMBAH MI.]TU LINGKUNGAN HIDUP TENTANG BAKU KEGIATAN YANG SUDAH BEROPERASI. Pasal I

1)

j.

Baku mutu limbah cair untuk industri: a. Soda kostik adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran I; b. Pelapisan logam adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran II; c. Penyamakan kulit adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran III; d. Pengilangan minyak adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran IV; e. Minyak sawit adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran V; f. Pulp dan kertas adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran VI; g. Karet adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran VII; h. Gula adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran VIII; i. Tapioka adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran IX;

k.

l.
n.

Tekstil adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran X; Pupuk Urea adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran XI; Ethanol adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran XII;

m. Mono Sodium Glutamate adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran XIII;

Z)

Kayu lapis adalah sebagaimana tersebut dalam lampiran XIV; Untuk parameter yang belum tercantum dalam buku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Gubemur Kepala Daerah Tingkat I dapat menetapkan parameter tersebut dan kadar maksimumnya setelah mendapat persetujuan dari Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

Pasal2

l) 2) 3) 4)

Dalam pembuangan limbah cair atau dalam memberikan izin pembuangan limbah cair, ditetapkan kadar maksimum setiap parameter dan debit limbah cair maksimum yang tidak boleh dilampaui, kecuali memenuhi persyaratan pada ayat 2 pasal ini. Kadar maksimum setiap parameter atau debit limbah cair maksimum hanya diperbolehkan
dilampaui, sepanjang beban pencemaran maksimum tidak dilampaui. Penetapan debit limbah cair maksimum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada produksi bulanan senyatanya dari industri yang bersangkutan. Penjelasan tentang perhitungan debit limbah cair maksimum dan beban pencemaran maksimum adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran XVI.

Pasal 3

1)

Pengambilan contoh dan pemeriksaan kualitas limbah cair dilakukan secara periodik oleh laboratorium yang ditunjuk oleh Pemerintah, sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan,

F.7

272

atas biaya penanggung jawab kegiatan.

2)

Hasil pemeriksaan kualitas limbah cair sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan
kepada instansi yang bertanggungjawab di bidang pemantauan lingkungan.

Pasal 4

Apabila dipandang perlu, instansi yang bertanggung jawab

di

bidang pemantauan lingkungan

melakukan pemantauan kualitas dan debit limbah dari setiap jenis industri.

Pasal 5

1) 2)

Setiap penanggung jawab kegiatan diwajibkan memasang peralatan pengukuran debit aliran pembuangan limbah cair, dan melakukan pencatatan debit aliran pembuangan limbah cair harian.

Catatan debit aliran pembuangan limbah cair sebagaimana dimaksud dalam ayat (l) disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pemantauan kualitas
lingkungan sekurang-kurangnya satu kali dalam enam bulan.

Pasal 6

Pemerintah dapat membantu kegiatan industri rumah tangga dalam upaya memenuhi ketentuan mutu limbah cair ini.

Pasal 7

1) 2)

Dengan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup akan ditetapkan lebih lanjut baku mutu limbah cair bagi industri yang belum disebut dalam ketentuan pasal 1 ayat (l) Keputusan ini. Untuk industri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku pedoman sebagai berikut: 1. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menetapkan baku mutu limbah cair dengan berpedoman pilihan alternatif baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalam Lampiran XV keputusan ini. 2. Baku mutu limbah cair sebagaimana dimaksud dalam butir 1 ayat ini ditetapkan dengan memperhitungkan beban maksimum yang dapat diterima air pada sumber air. 3. Untuk setiap kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini yang membuang limbah cair kedalam air pada sumber air ditetapkan mutu limbah cairnya dengan pengaturan: a. mutu limbah cair yang dibuang ke dalam air pada sumber air tidak melampaui baku limbah cair yang telah ditetapkan, dan b. tidak mengakibatkan turunnya kualitas air pada sumber air penerima limbah tersebut.

273

Pasal 8

Setiap penanggung jawab kegiatan wajib memasang peralatan pengukuran debit aliran pembuangan limbah cair sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 selambat-lambatnya tiga bulan
sejak tanggal ditetapkannya keputusan ini.

Pasal 9

Baku mutu limbah cair ini berlaku bagi kegiatan yang sudah beroperasi yaitu kegiatan yang pada limbah saat ditetapkannya keputusan ini telah mempunyai izin tetap. Ketentuan tentang baku mutu
cair bagi kegiatan baru akan ditetapkan kemudian.

Pasal 10

Bagi kegiatan yang melakukan perluasan lebih dari 3OVo dari kapasitas semula, dikenakan
ketentuan tentang baku mutu limbah cair yang baru.

Pasal I

Bagi kegiatan yang telah ditetapkan baku mutu limbah cairnya sebelum keputusan ini berlaku,
diberlakukan ketentuan baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan tersebut.
Pasal 12

Baku mutu limbah cair ini berlaku secara umum dan dalam pelaksanaannya Gubernur dapat menetapkan ketentuan yang lebih ketat dengan dasar pertimbangan untuk pengendalian
pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Pasal 13

Untuk mencegah pembuangan kejutan (shock loading) pada sistem pengolahan limbah atau kepada sumber air, setiap pabrik harus mengadakan suatu sistem untuk mencegah agar beban pencemaran limbah tidak boleh lebih tinggi lOOTo daribeban pencemaran limbah cair rata-rata setiap bulan.
Pasal

l4

Dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian pencemaran Air (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 24,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3409), ketentuan dalam Bab II serta Lampiran I dan Lampiran II Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor Kep-02/NIENKL}VIU198S tentang Pedoman
Penetapan Baku Mutu Lingkungan tertanggal 19 Januari 1988 dinyatakan dicabut.

v
274

Pasal 15 Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya.

Ditetapkan
Pada

di : Jakarta Tanggal : 1 Pebruari 1991

Menteri Negara
Kependudukan dan Lingkungan hidup

EMIL SALIM

275

LAMPIRANI

SLTRAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR : TANGGAL :

KEP-03/lvfENKLfYIYl99l lPebruari 1991

BAKU MT]"TU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI SODA KOSTIK


Debit Limbah Maksimum sebesar 10 M3 per ton produk Soda Kostik
PROSES RAKSA (Hg) PROSES MEMBRAN/

DIAFRAGMA

PARAMETER

KADAR

MAKSIMUM
COD
Padatan tersuspensi Total 150 mg/L 50 mg/L

BEBAN PENCEMARAN

KADAR MAKSIMUM
150 mg/L 50 mg/L

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
1,5 kg/ton

MAKSIMUM
1,5 kg/ton

0,5 kglton 0,05 gram/ton

0,5 kg/ton

Hg (Raksa) Cu (Tembaga)
Pb (Timbal)

0,005 mgll-

3,0mglL
0,3 mglL

0,03 kglton 0,003 kg/ton


0,02 kg/ton

Zn (Seng) pH
Catatan:

2,0mg/l6-9

6-9

1.

2.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap pararneter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram p.fameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam Kg atau gram parameter per ton produk Soda Kostik.

.1

'r276

LAMPIRANII: SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN

NOMOR

LINGKLINGAN HIDUP : KEP-03/MENKL}YIV1991

TANGGAL : l Pebruari 1991


BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM
Debit Limbah Maksimum sebesar 19

y3

per ton produk Pelapisan Logam

PARAMETER

PELAPISAN TEMBAGA (CU)

PELAPISAN NIKEL (Ni)

KADAR MAKSIMUM
Padatan Tersuspensi Total

BEBAN PENCEMARAN

KADAR MAKSIMUM
60 mg/L

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM

MAKSIMUM
6,0 graml M2
0,005 gram/ M2 0,05 gram/ M2 0,8 gram/ M2

60mglL
0,05 mg/L 0,5 mg/L
8,0 mgll3,0 mg/L

6,0 grarn/ M2
0,005 gram/ M2 0,05 gram/ M2,

Cd (Kadmium) CN (Sianida) Metal (logam) Total Cu (Tembaga)

0,05 mg/L
0,5 mg/L 8,0 mg/L

0,8gran/ M2
0,3 gram/ M2

Ni (Nikel)
pH

5,0 mgtL

0,5 grarnl M2

6-9

6-9

Debit Limbah Maksimum sebesar 16 pt3 per ton produk Pelapisan Logam

PELAPISAN KROM (Cr) PARAMETER

PELAPISAN & GALVANISASI SENG (zn)

KADAR MAKSIMUM
60 mg/L

BEBAN PENCEMARAN

KADAR MAKSIMUM
60 mglL
0,05 mg/L

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
Padatan Tersuspensi Total

MAKSIMUM
6,0 grarn/ M2
0,005 gram/ M2 0,05 gram/ M2 0,8 gram/ M2

6,0 granl M2
0,005 gram/ M2 0,05 gram/ M2 0,Sgram/ M2

Cd (Kadmium) CN (Sianida) Metal (logam) Total Cr(Krom) Total

0,05 mg/L 0,5 mg/L


8,0 mg/L

0,5 mg/L
8,0 mg/L

2,0mg/L
0,3 mg/L 2,0 mgll-

Cr+6 (Krom
heksavalen)

O,O3 grarnt

0,2 grarn/ M2 M2 0,2 Erarn/ MZ

Zn (Seng) pH
Catatan:

6-9

6-9

1.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel

parameter per liter air limbah.

2.

di

atas dinyatakan dalam gram

parameter per Mz produk pelapisan logam.

277

LAMPIRAN

III

STIRAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDT]DUKAN DAN


LINGKUNGAN HIDUP
KEP-03/]\{ENKL}VIU1991

NOMOR : TANGGAL :

lPebruari

1991

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

Debit Limbah Maksimum sebesar 70 M3 per ton bahan baku kulit


PARAMETER

KADARMAKSIMUM

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5 COD
Padatan Tersuspensi Total 150 mg/L
10,5 kg/ton

300 mg/L
150 mgll1,0

21,0 kg/ton
10,5 kglton 0,07 kg/ton

Sulfida (H2S) Cr (Krom) Total Minyak dan Lemak

mg/L

2,0 mgll5.0 mglL


10,0 mg/L

0,14 kg/ton
0,35 kg/ton 0,70 kg/ton

NH: - N (AmoniaTotal)
pH
Catatan:

6-9

1.

2.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram parameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam Kg parameter per ton bahan baku kulit.

278

LAMPIRANIV: SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN


LINGKUNGAN HIDTIP

NOMOR : TANGGAL :

KEP-03/IvIENKL[VIUI99I

lPebruaril99l

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PENGILANGAN MINYAK

Debit Limbah Maksimum sebesar 1200 M3 oer 1000 M3 bahan baku minvak
PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5 COD
100 mgll120 granr/M3

200 mg/l25 mgll,

240 gram/M3
30 gram/M3

Minyak dan Irmak


Sulfida (HzS)
Phenol Total

l,0mgtL l,0mglL
0,5 mg/L
10.0 mg/L

1,2 grun/M3 1,2 gram/M3

6.+6 (krom Heksavalen)


NH3 - N (AmoniaTotal) pH
Catatan:

0,6 grarnlM3 l2,O grun/M3

6-9

l. 2.

Kecuaii pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram
parameter per liter air limbah.

Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel


pararneter per M3 bahan baku minyak.

di

atas dinyatakan dalam gram

279

LAMPIRANV

SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR : KEP-03/IvIENKLFVIYI99I TANGGAL : lPebruari 1991


BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI MINYAK SAWIT

Debit Limbah Maksimum sebesar 6143 per ton produk


PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5 COD
Padatan Tersuspensi Total

250mg|I,
500 mg/L
300 mg/L 30 mg/L

1,5 kg/ton

3,0 kglton
1,8 kg/ton

Minyak dan l,emak

0,18 kg/ton

NH3 - N (AmoniaTotal)
pH
Catatan:

2OmglL

O,l2kglton

6-9

l. 2.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setup parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram parameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter fada tabet di atas dinyatakan dalam kg parameter per ton produk minyak sawit.

./

7'

280

LAMPIRAN

VI :

TANGGAL : lPebruaril99l
BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PULP DAN KERTAS
Pabrik Pulp
Parameter

NOMOR :

SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP KEP-03/IMENKLI{/IU1991

Pabrik Kertas Kadar Maksimum


125 Behan pencemaran

Pabrik Pulp dan Kertas Kadar Maksimum


150 mg/L 350 mg/L 150 mg/L 6-9 170 M3 per ton produk kerra kering udara Beban pencemaran

Kadar Maksimum
150

Beban pencemaran

maksimum BOD5 COD


Padatan Tersuspensi

maksimum

maksimum
25,5 kg/ton 59,5 kg/ton 25,5 kg/ton

mg/L

15 kg/ton

mgL

10

kgil

350 mg/L 200 mg/l6-9


100

35 kg/ton 20 kg/ton

250 mg/L 125 mg/l6-9

2OkglL

Total pH Debit Limbah Maksimum Sebesar

l0 kg/L

M3 per ton pulp kerin;


udara

56 143 per ton produk kertas kering udara

Catatan:

l. 2. 3.

parameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada label di atas dinyatakan dalam Kg parameter per ton produk pulp dan kertas kering udara. Khusus untuk kertas tipis, debit limbah maksimum 200 M3/ton procluk kertas.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram

28t

LAMPIRANVII

SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN


LINGKLINGAN HIDUP
KEP-03i]vIENKLIVIV1991

NOMOR : TANGGAL :

lPebruari1991

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI KARET


Debit Limbah Maksimum sebesar 40 M3 per ton produk karet
PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
6,0 kg/ton

BOD5 COD
Padatan Tersuspensi Total

150 mg/L

300 mg/L
150 mg/L
10

t2,0 kg/ton
6,0 kg/ton

NH3-N (Amonia Total) pH


Catatan:

mgil
6-9

0,4 kg/ton

1.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram
beban p"ni.1n*un maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam Kg parameter per ton produk karet.

parameter per liter air limbah.

2.

,-82

LAMPIRAN

VIII :

SI]RAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDLIP


KEP-03/IVIENKLI{/IU1991

NOMOR : TANGGAL :

lPebruari1991

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI GULA

Debit Limbah Maksimum sebesar 40 M3 per ton produk gula


PARAMETER

KADAR MAKSIMUM
100 mgll-

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5 COD
Padatan Tersuspensi Total 4,0 kg/ton 10,0 kg/ton 7,0 kg/ton 0,04 kg/ton

250 mg/L
175 mg/L
1,0

Sulfida (H2S)

mg/L
6-9

pH
Catatan:

1.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel


parameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel per ton produk gula.

di

atas dinyatakan dalam miligram

2.

di atas dinyatakan dalam Kg parameter

283

LAMPIRANIX

SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN


LINGKLTNGAN HIDUP KEP.O3/IVIENKLII/IUI991

NOMOR : TANGGAL :

lPebruari1991

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI TAPIOKA


Debit Limbah Maksimum sebesar 66 \il3 per ton produk
PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BODs COD
Padatan Tersuspensi Total

200mglL
400

12,0 kg/ton produk

mgll,

24,0kglton produk
9,0 kg/ton produk 0,03 kg/ton produk

150 mg/L

CN (Sianida) pH
Catatan:

0,5 mglL 6-9

l. 2.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram parameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam Kg parameter
per ton produk tapioka.

.1

,T
284

LAMPIRANX: SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN


LINGKUNGANHIDUP

NOMOR : TANGGAL :

KEP-03/MENKLI{/IYI991 lPebruari1991

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI TEKSTIL


Debit Limbah Maksimum sebesar 150 M3 per ton produk Tekstil
PARAMETER

KADAR MAKSIMUM

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5 COD
Padatan Tersuspensi Total Phenol Total 85 mg/L

I2,75 kg/ton
37,5 kg/ton 9,0 kg/ton

25Omg/L 60 mg/L
1,0

mg/L

0,15 kg/ton
0,30 kg/ton 0,75 kg/ton

Cr (Krom) Total

2,0 mg/L
5,0 mg/L 6-9

Minyak dan Lemak


nH
Catatan:

l. 2.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram
pararneter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel per ton produk tekstil.

di atas dinyatakan dalam Kg parameter

285

LAMPIRANXI: SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN


LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR : TANGGAL :

KEP-O3/IvIENKL}VIU1991

lPebruari

1991

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PUPUK UREA


Debit Limbah Maksimum sebesar 15 143 per ton produk pupuk Urea
PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5
100 mg/L
1,5

kg/ton

COD
Padatan Tersuspensi Total

25OmglL
100 mgll-

3,75 kg/ton
1,5 kg/ton

Minyak dan kmak


NH3-N (Amonia Total)

25 mgll50 mg/L

0,4 ky'ton 0,75 kg/ton

pH
Catatan:

6-9

l. 2.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel di atas dinyatakan dalam miligram
parameter per liter air limbah. Beban pencenuran maksimum untuk setiap parameter pada tabel per ton produk pupuk urea.

di atas dinyatakan dalam Kg parameter

,r
286

LAMPIRANXII: SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN


LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR

KEP-O3/IVIENKLWIU1991

TANGGAL : lPebruaril99l
BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI ETHANOL
Debit Limbah Maksimum sebesar 79 143 per ton produk Ethanol
PARAMETER

KADAR MAKSIMUM

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5
Padatan Tersuspensi Total 150 mg/L 10,5 kg/ton 28,0 kg/ton

4OOmgtL 6-9

pH
Catatan:

l. 2.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel


parameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel per ton produk Ethanol.

di

atas dinyatakan dalam miligram

di

atas dinyatakan dalam

Kg parameter

287

LAMPIRAN

XIII :

SI.]RAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR : TANGGAL :

KEP-03/MENKLWIYI99I lPebruari 1991

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI MONO SODIUM GLI]-TAMAT (MSG)
Debit Limbah Maksimum sebesar 120 M3 per ton produk MSG
PARAMETER

KADAR MAKSIMUM

BEBAN PENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5 COD
Padatan Tersuspensi Total

lO0 mg/L 250 mglL


100 mg/L

12 kglton produk MSG

30 kg/ton produk MSG

12kgtonproduk MSG

pH
Catatan:

6-9

1.

Kec.uali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel


parameter per liter air limbah. Beban pencemaran maksimum untuk setiap parameter pada tabel per ton produk produk MSG.

di

atas dinyatakan dalam miligram

2.

di

atas dinyatakan dalam

Kg parameter

v
288

LAMPIRAN

XIV

SI]RAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP


KEP.O3i]V1ENKL}YIUI99I

NOMOR : TANGGAL :

lPebruaril99l

BAKU MUTULIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI KAYU LAPIS


Debit Limbah Maksimum sebesar 2,8 M3 air limbah per M3 produk kayu lapis
PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBANPENCEMARAN

MAKSIMUM
BOD5 COD
Padatan Tersuspensi Total Phenol Total 100 mg/L 0,28 kg/ M3 0,70 kg/ 0,28 kg/

25OmgtL
100 mg/L

M3 M3

l,0mgtL
6-9

2,8kgM3

pH
Catatan:

l.

Kecuali pH, kadar maksimum untuk setiap parameter pada tabel


parameter per liter air limbah. Beban pencemzuan maksimum untuk setiap parameter pada tabel parameter per M3 produk kayu lapis.

di

atas dinyatakan dalam miligram

2.

di atas dinyatakan dalam Kg atau gram

3. 1000 M2 produk = 3,6 M3 produk dengan ketebalan 3,6 milimeter. 4. 2,8 M3 air limbah per M3 produk = 10 M3 air limbah per 3,6 fy[3 produk
milimeter.

dengan keteba]an 3,6

t_

't
289

LAMPIRAN

XV:

STIRAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

NOMOR : KEP-03/IvIENKLII/IV199l TANGGAL : lPebruaril99l


BAKU MUTU AIRLIMBAH *)
No.

PARAMETER

SATUAN

COLONCAN BAKU MUTU AIR LIMBAH

Urut

III

III

IV

FISIKA
Temperatur Zat padat terlarut Zat padat tersuspensi

06
mg/L mg/L

40 38 35 1500 2000 4000 200 400 100

45 5000 500

KIMIA
1.

pH
Besi terlarut (Fe)

6-9

2.
J.

4. 5. 6. 7.
8.

Mangan terlarut Barium


Tembaga
Sen_s

(Mn)
(Ba) (Cu)

mg/L mg/L mg/L mg/L

0,5
1

I
2

(zn)
(C16+1

ng/L
mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L
mg/L

Krom Heksavalen
Krom total Cadmium
Raksa

0,05
0,1

(Cr)

9.
10. 11.

(cd)
(He)
(Pb)

0,01 0,001 0,03

Timbal
Stanum

t2.
13.

(sn)
(As)
(Se)

I
0,05 0,01
0,1

t4.
15.

Arsen Selenium

mg/L

mglL
mg/L

16. 17.
18.
19.

Nikel Kobalt
Sianida Sulfida Fluorida

(Ni)

(co)
(CN)

mglL
mg/L mg/L

0,2

0,02
0,01
1,5

(Hzs)
(F)

mglL
mg/L

20.

Klorin bebas
Amoniak bebas

(clz)
(NH3-N)

0,5

2t.
22. 23. 24.

mglL
mg/L mg/L mg/L

0,02

Nitrat

Nitrit
BOD5 COD

(No3-N) (No2-N)

t0
0,06
20 40 0,5 0,01

25.
26. 27.

mglL
mg/L

r00

6-9 6-9 10 5 25 23 23 l0 5 0,5 0,1 I 0,5 0,05 0,I 0,002 0,005 0,1 23 0.5 0,1 0,05 0,5 0,5 0,2 0,6 0,4 0,05 0,5 0,05 0,I 23 t2 15 30 20 l3 150 50
1

5-9 20
10 5
5

15
1

0,5

0,0r
2
5
1

I
I
1

I
5
5

20 50
5

300

300

600
15

Senyawa aktif biru metilen Fenol

mg/L

510 0.5

/
290

No.

PARAMETER

SATUAN
mgL
mglL PCB***)

GOLONGAN BAKU MUTU AIR LIMBAH

Urut

II
Minyak nabati Minyak mineral
Radioaktivitas*+)
Pestisida termasuk
5

ilI
10

tV
20 100

28.
29. 30.

l0

50

31.
Catatan:

*)

**) **)

Kadar bahan limbah yang memenuhi persyaratan baku mutu air limbah tersebut tidak diperbolehkan dengan cara pengenceran yang airnya secara langsung diambil dari sumber air. Kadar bahan limbah tersebut adalah kadar maksimal yang diperbolehkan kecuali pH yang meliputi juga kadar yang minimal. Kadar radioaktifitas mengikuti peraturan yang berlaku. Limbah pestisida yang berasal dari industri yang memformulasi atau memproduksi dan dari konsumen yang mempergunakan untuk pertanian dan lain-lain tidak boleh menyebabkan pencemaran air yang
mengganggu pemanfaatannya.

LAMPIRANXVI
NOMOR TANGGAL

: : :

SURAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKI-INGAN HIDUP


KEP-O3/MENKLFVIV199l I Pebruari l99l

PENJELASAN TENTANG PERHITUNGAN DEBIT LIMBAH CAIR MAKSIMUM DAN BAHAN PENCEMARAN MAKSIMUM

1. DebitLimbah Cair Maksimum


Penetapan Baku Mutu Limbah Cair pada pembuangan limbah cair melalui penetapan Debit Limbah Maksimum, sebagaimana tercantum dalam Lampiran I s/d XIV untuk masing-masing industri, didasarkan pada tingkat produksi bulanan yang sebenarnya. Untuk itu digunakan perhitungan sebagai berikut:

DM=DmxPb
Keterangan:

DM = debit limbah cair Dm = Pb =

maksimum yang dibolehkan bagi industri yang bersangkutan,

dinyatakan dalam M3/bulan.

debit limbah cair maksimum sebagaimana tercantum dalam ketentuan pada Lampiran I s/d XIV yang sesuai dengan industri yang bersangkutan, dinyatakan dalam M3 limbah
cair per satuan produk. produksi sebenarnya dalam sebulan, dinyatakan dalam satuan produk yang sesuai dengan yang tercantum dalam Lampiran I s/d XIV untuk industri yang bersangkutan.

29r

Debit Limbah Cair yang sebenarnya dihitung dengan cara berikut:

DA=DpxH
Keterangan:

DA = Dp = H =

debit limbah cair sebenarnya, dinyatakan dalam M3/bulan. hasil pengukuran debit limbah cair, dinyatakan dalam M3/hari. jumlah hari kerja pada bulan yang bersangkutan.

Dengan demikian penilaian debit adalah: - DA tidak boleh lebih besar dari DM

2.

Beban Pencemaran

Penerapan Baku Mutu Limbah Cair pada pembuangan limbah cair melalui penetapan Beban Pencemaran Maksimum sebagaimana tercantum dalam Lampiran I s/d XIV untuk masing-masing industri didasarkan pada jumlah unsur pencemar yang terkandung dalam aliran limbah cair. Untuk itu digunakan perhitungan sebagai berikut:

a.

BPM = (CM)j x Dm x
Keterangan:

BPM

(Cm)j = Dm =

Beban Pencemaran Maksimum per satuan produk, dinyatakan dalam Kg parameter per satuan produk. Kadar maksimum unsur pencemar j, dinyatakan dalam mg/I. debit limbah cair maksimum sebagaimana tercantum dalam ketentuan pada Lampiran I s/d XIV yang sesuai dengan industri yang bersangkutan, dinyatakan dalam m3 hmbah cair per satuan produk.

faktorkonversi
1/1000

= 10001 x M3

1Kg
1.000.000 mg

Beban pencemaran sebenarnya dihitung dengan cara berikut

BPA =
Keterangan:

(CA)jxDA/Pbxf
beban pencemaran sebenarnya, dinyatakan dalam Kg parameter per satuan produk" kadar sebenarnya unsur pencemar j, dinyatakan dalam mg/I.

= DA = Pb =
(CA)j

BPA =

debit limbah cair sebenamya, dinyatakan dalam M3/bulan. produksi sebenarnya dalam sebulan, dinyatakan dalam satuan produk yang sesuai dengan yang tercantum dalam Lampiran I s/d XIV untuk industri yang bersangkutan.

faktor konversi = 1/1000

292

b. BPMi = BPM x Pb/I{ Keterangan:

BPMi

Pb H =

Beban Pencemaran Maksimum perhari yang dibolehkan bagi industri yang bersangkutan, dinyatakan dalam Kg parameter per hari. produk sebenarnya dalam sebulan, dinyatakan dalam satuan produk yang sesuai dengan yang tercantum dalam l,ampiran I s/d XIV untuk industri yang bersangkutan. jumlah hari kerja pada bulan yang bersangkutan.

Beban Pencemaran Maksimum yang sebenarnya dihitung dengan cara berikut:

BPAi=(CA)jxDpxf
Keterangan:

BPAi

Beban pencemaran per hari yang sebenarnya, dinyatakan dalam Kg parameter per
hari. kadar sebenarnya unsur pencemarj, dinyatakan dalam mg/l hasil pengukuran debit limbah cair, dinyatakan dalam M3/hari

CA)j =

Dp = f -

faktor konversi = l/1000.

Dengan demikian penilaian beban pencemaran adalah:

- BPA tidak boleh lebih besar dari BPM. - BPAi tidak boleh lebih besar dari BPMi.

>.

DAFTAR PUSTAKA
Albert V. Hahn, The Petrochemical Industry, Market and Economics, Mc. Graw Hill Book Company. N.Y., 1970. Anonymous, Artikel-artikel tentang "Pembangunan Ekonomi dan Industri di Indonesia yang diterbitkan oleh Harian Suara Perubaruan dan Bisnis Indonesia, Jakarta,
Tahun 1992,1993, 1994, 1995 dan 1996. Anonymous, Artikel-artikel tentang "Ilmu Pengetahuan dan InspirasT" yang diterbitkan oleh "Harian Kompas" Jakarta, Tahun 1991, 1998,1999,2000,2001,2002 dan
2003

Anonymous, Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia, Jakarta 1995, tentang Produksi dan
Distribusi/Pemasaran Pupuk Nasional. Anonymous, Laporan Rapat Kerja Depar-tement Peftamben. beserta BUMN-nya, Dit. Jen. Minyak dan Gas Bumi. Jakarta 1992 dan 1993. Anonymous, Mendorong Tumbuhnya Industri Petrokimia Hilir, Symposium Badan Kej uruan Kirni a P. I. I. Proceeding Symposium, Jakart a, 1982 Anonymous, Pokok-pokok Pikiran Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Tahap-II (PJPT-II). GBHN-1993 dan Repelita-Vl Sektor Pertambangan dan


Energi, Jakarta 1991. Anonymous , PVC and Heolth. A Background Statement Issued by the Society of Plastics Industry Irc. N.Y.. April 1976. Anonymous, Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Nomor Kep.O2/Men.KLFVV1988 tentang Baku Emisi Mutu Lingkungan. Anonymous, The Republic of Indonesia Survey Report, on Petrochemical Industry Development. JICA/UNICO International Corpo r ation., 197 4. Arthur and Elizabeth Rose, "The Condensed Chemical Dictionary", Reinhold Publishing Corporation, New York 1968. Arthur M. Brownstein, US-Petrochemicals, The Petroleum Publishing Company, N'Y., t972. Conway R.A. & Richard D Ross, "Hand Book of Industrial Waste Disposal", Van Nostrand Reinhold Coy, New York - Toronto - London, 1980. David S. Gubrud. Blctwing Agent Alteruotiyes for Sprayed Polyurethane Foctru, ICI Polyurethanes, New Jersey, USA, 1987. F. Gunarwan Suratmo. Analisis Mengenai Dantpak Lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1998. Gotham K.V. and Hitch. M.J. Design Consideration for Fatique in Unplasticised PVC Pressure Pipe, Pipes and Pipelines, USA, Feb 1975.

/, /
294

Harry Du Bois, Y. and Frederick. W. lobn, Plastics. Van Nostrand Reinhold Publishing Company, N.Y., 1974. Herbert R. Simonds and James M. Church, A Consise Guide to Plastics, Van Nostrand Reinhold Publishing Company, N.Y., 1973. Johnston C.W., Encyclopaedia of PVC, Marcel Dekkers s, N.Y., 1976. Pandjaitan, Maraudin, Industri Petrokimia. untuk Jurusan Pengolahan Tingkat I, tr dan III AKAMIGAS Pola Berjenjang, PPT. Migas-Cepu, 1994. Pandjaitan, Maraudin, Petrokimia. Museum Minyak dan Gas Bumi Graha Widya Patra TMII, Jakarta 1998. Plumb, J.B. and Atherton, "Copolymers containing Polysiloxane-block", kr Allport D.C. and Janes, W.H, "Block Copolymess" Applied Science, Publishing Ltd., 306-30, Washington D.C.,1973. Prepelka D.J. and Metzger H.5., Advances in Reaction Injection Molding, Adyances in Urethanes Science and Technology,Technomic Publishing, USA, 1976. Richard Greene, Process Technology and Flowsheet Volume II/ Chentical Engineering, Mc.Graw Hill Publications Co. N.Y., 1983. Robert V. Milby, Plastics Technology, Van Nostrand Reinhold Publishing Company, N.Y., tgg3. Waiter E. Becker, Developments in the Use of Urethane Polymers in the Transport Industry, Mobay Chem. Corporation, USA., 1977. Woods G. The ICI Polyurethane Book, John Wiley & Sons, N.Y, 1987.

oooOOOooo

TENTANG PENULIS

Tornagodang

Setelah pada bulan Agustus 1959 lulus SMA bagian B Negeri Soposurung di Balige, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik UGM Yogyakarta dan pada bulan Juni 1965 lulus sebagai Sarjana Teknik Kimia (S1), dari bulan Desember 1965 sampai dengan Juni 1972 ia bekerja sebagai Staff Ahli Teknik pada Dit' Jen. Minyak dan Gas Bumi, Departemen Pertambangan dan Energi. Dalam kurun waktu inilah ia mendapat tugas belajar (Program UNESCO) pada Institute Petroleum E.N.I., Milan - Italy, dan pada bulan Juli 1968 meraih gelar kesarjanaan 52 yaitu Dipl. lng. on Petrochemical Engineering. Dari bulan Juni 1972 s/d Februari 1979 ia diangkat sebagai Kepala Seksi Petrokimia pada Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. Selanjutnya dalam bulan Februari 1979 sld Desember 1992 ia dipromosikan menjadi kepala Sub Direktorat Bina Usaha./Energi Pedesaan pada Dit. Jen. Listrik dan Pengembangan Energi, Dep.

Ir. Maraudin Pandjaitan, Dipl.Ing.Petro. dilahirkan di - Tapanuli Utara pada tanggal 25 Desembet 1939.

Pertambangan dan Energi. Kemudian sejak Januari 1993, menjadi Tenaga Dosen/Widyaiswara pada AKAMIGAS/PusaI Pengembangan Tenaga Perminyakan Gas Bumi di Cepu dan mengajar mata ajaran "Petrokimia dan Analisis Dampak Lingkungan". Selama masa kerjanya ia telah diangkat sebagai konsultan pada berbagai proyek, mengikuti seminar dan konferensi baik di dalam maupun di luar negeri serta telah mengikuti berbagai training di luar negeri terutama di Italia, Australia dan Amerika Serikat. Selain itu ia telah menulis beberapa buku dan karya tulis ilmiah yang bertemakan Petrokimia. Atas darmabakti dan kesetiaannya sebagai pegawai negeri selama 30 tahun, maka pada tanggal 17 Agustus 1996 Presiden Republik Indonesia telah menganugerahkan "Bintang Penghargaan Kelas Satu" kepadanya.