Anda di halaman 1dari 398

Mengapa Takut Tantangan?

Publikasi: 18/03/2005 08:28 WIB

eramuslim - Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan, seorang instruktur mengajukan


sebuah kasus yang kelihatannya sederhana kepada para peserta. Andaikan Anda seorang
nelayan (modern) yang harus berminggu-minggu di tengah laut menangkap ikan, apa
yang akan Anda lakukan agar sesampainya di darat ikan hasil tangkapan tetap segar?
Beberapa peserta nampak tergugah dan terjadilah dialog yang makin lama makin seru
dengan instruktur pelatihan.

"Masukkan saja ikan-ikannya dalam freezer,"


"Itu telah dilakukan. Tapi kesegarannya tetap akan berkurang, karena ketika sampai di
darat ikan telah mati cukup lama,"
"Kalau begitu, supaya tetap hidup, perlu disediakan semacam tangki air untuk
menyimpan ikan,"
"Itu pun telah dilakukan. Tapi karena terlalu lama berada dalam tangki, ikan-ikan itu
tetap saja mati atau lemas dan tidak segar lagi ketika dijual ke konsumen. Padahal
konsumen menginginkan ikan yang masih segar,"

Menit-menit berlalu, tak satu solusi pun tampak sesuai sasaran. Akhirnya instruktur
memberikan suatu jawaban yang cukup mengejutkan, yang tak pernah terpikirkan sedikit
pun di benak peserta, mungkin juga Anda.

"Solusi yang pernah dicoba dan ternyata berhasil adalah memasukkan seekor ikan hiu ke
dalam tangki ikan,"

Peserta nampak keheran-heranan mendengar solusi yang bagi mereka tak masuk akal itu.

"Bukannya ikan hiu itu justru akan memakan habis ikan-ikan lainnya?"
"Ya, memang ada ikan yang dimakan ikan hiu itu, tapi jumlahnya sangat sedikit. Ikan-
ikan lainnya tetap hidup sampai saatnya tiba di darat dan dijual ke konsumen dalam
keadaan tetap segar,"
"Mengapa demikian?"
"Jawabannya adalah karena ikan-ikan itu mendapat tantangan dengan dikejar-kejar ikan
hiu. Ternyata dengan adanya tantangan, kemampuan ikan dalam mempertahankan
kelangsungan hidupnya semakin tinggi. Ikan-ikan tersebut justru mampu bertahan hidup
lebih lama dengan adanya ikan hiu di sekitar mereka. Itulah hukum alam."
***

Ilustrasi di atas dapat dianalogikan pada manusia. Kita akan menjadi manusia yang
lemah, malas bekerja keras bahkan segan beribadah, dan cenderung santai jika tidak
mendapat tantangan yang besar dalam hidup ini. Tantangan akan meningkatkan
kecerdasan, kompetensi atau kemampuan diri dalam berusaha menyelesaikan masalah.
Bayangkan bila kita tidak merasa ditantang, kita tidak akan pernah terlatih untuk
menghadapi masalah, apalagi mau menyelesaikannya. Namun demikian, kadang kala
sebuah tantangan bisa menjadi suatu hambatan untuk maju, manakala kita tidak berani
menghadapinya, sehingga menjadikan kita seorang looser. Dalam kasus di atas ibaratnya
ikan kecil yang kurang gesit, sehingga dapat dimakan oleh ikan hiu.

Sesungguhnya Allah lah yang menciptakan tantangan kepada manusia di dunia ini dan
sekaligus menyediakan balasannya (reward and punishment), sebagai sarana peningkatan
kualitas ketaqwaan. Kadar tantangan-Nya sudah ditakar sangat akurat sesuai dengan
kemampuan kita masing-masing, sebagaimana tercermin dalam QS. Al Baqarah 286:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan/tindakan buruk) yang dikerjakannya".

Kemampuan dalam menghadapi masalah sebagian besar tidak kita dapatkan di bangku
sekolah. Sekolah hanya mengajarkan alat dan metoda yang bisa kita gunakan untuk
menyelesaikan masalah. However, a man behind the gun will mostly determine to win a
war, kemampuan kitalah yang lebih menentukan. Kemampuan akan lebih meningkat jika
kita terus mengasahnya di dunia nyata (pekerjaan, rumah tangga, lingkungan sosial).
Semakin kita berhasil melewati tantangan akan menumbuhkan semangat baru untuk
menyelesaikan tantangan-tantangan berikutnya

Suatu ketika umat Islam mendapat sebuah tantangan. Pada saat itu Rasulullah SAW dan
kaum muslimin dikepung oleh pasukan kafir yang bersekutu sehingga jumlahnya berlipat
ganda dalam perang Ahzab. Namun ketika sedang memecahkan batu dan menggali parit
perlindungan, tiba-tiba dengan izin-Nya Rasulullah SAW mendapat 'gambaran' mengenai
masa depan Islam. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW mengatakan:

"Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan nampak olehku
dengan nyata istana-istana negeri Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan
bahwa umatku akan menguasai semua itu. Allahu Akbar! Aku telah dikaruniai kunci-
kunci negeri Romawi, dan tampak olehku dengan nyata istana-istana merahnya, dan
bahwa umatku akan menguasainya." Pada saat itu Persi dan Romawi adalah dua
imperium besar yang mengelilingi jazirah Arab dan menjadi simbol kekuatan tak
terkalahkan selama berabad-abad.

Ini adalah sebuah tantangan Allah yang digulirkan oleh Rasulullah kepada kaum
Muslimin. Dengan lecutan tantangan ini, Rasulullah dan para sahabatnya kembali
bersemangat dan berhasil memenangkan perang Ahzab (Khandaq) walaupun jumlah
pasukannya sangat sedikit. Dan tantangan yang dikatakan Rasulullah dalam hadits
tersebut juga menambah semangat syiar Islam dan kelak berhasil diwujudkan pada masa
Khulafaur Rasyidin dan Kekhalifahan Utsmaniyah. Begitulah, apa yang pada masa itu
tampaknya tidak mungkin terjadi, pada kenyataannya bisa terwujud di kemudian hari.

Suatu tantangan tidak harus datang dari luar, namun kita bisa menciptakannya dari diri
kita sendiri. Tantangan dalam pekerjaan, keluarga, ataupun dakwah dapat diwujudkan
sebagai suatu target pencapaian yang harus dibuat lebih tinggi dari kondisi sekarang.
Jangan pikirkan itu sesuatu yang tidak bisa dicapai. Justru dengan tingginya suatu target,
kita menjadi terpacu untuk lebih maju, bekerja lebih keras dan berfikir lebih kreatif.
Tentu saja suatu target apakah akan dapat terwujud, tertunda untuk sementara waktu, atau
bahkan tidak terwujud itu merupakan hak prerogatif Allah semata.

Wallahu 'alam bishshowab.

***
M. Asmeldi Firman
asmeldi.firman@gmail.com
Cikarang-Frankfurt am Main, Maret 2005

Pujian

Publikasi: 17/03/2005 08:10 WIB

eramuslim - Di sebuah ruang chatting internet, ada seorang teman menyampaikan


kajiannya tentang pujian. Kajiannya ini diawali dengan kisah Imam Ali r.a. ketika
mendapat teguran dari orang yang ia mintai pendapatnya mengenai ceramahnya itu.
Seperti yang kita ketahui, Imam Ali r. a. sangatlah piawai dalam berpidato, sehingga
setiap kali beliau berpidato selalu memberikan efek yang membuat para pendengarnya
menangis. Mendapat pertanyaan itu, orang yang ditanya langsung menegurnya dan
mengingatkannya bahwa jika saja ia (Imam Ali) tidak bertanya seperti itu maka
amalannya itu tidak akan rusak. Begitulah kira-kira ceritanya.

Menurut makalah yang saya terima ketika saya menghadiri sebuah seminar Public
Relation tahun lalu, senang memuji adalah salah satu dari nilai-nilai plus yang
membentuk self-PR yang kuat. Bisa kita bayangkan bila orang sudah mau memuji orang
lain berarti dia secara tidak langsung mengakui kelemahan diri dan mengakui kelebihan
orang lain. Suatu tindakan yang menunjukkan kerendahhatian bukan? Dalam hal ini kita
pasti sudah bisa membedakan mana pujian yang perlu dan tulus serta pujian yang
menjilat.

Dulu saya pernah membaca sebuah kisah orang alim yang selalu dipuji orang karena
kealimannya. Dia sungguh merasa tersiksa, karena dia khawatir dengan segala pujian itu
dirinya akan terjebak ke dalam perbuatan riya. Maka suatu hari dia melakukan perbuatan
buruk seperti mencuri dan sebagainya yang membuat aneh dan kecewa orang-orang yang
dulu suka memujinya. Setelah semua orang mencaci dirinya, barulah dia merasa aman
karena setelah itu dia merasa tenang menjalankan ibadah tanpa gangguan ketakutan
berbuat riya karena pujian.

Apa sebenarnya yang harus kita lakukan ketika kita dipuji agar kita tidak terjebak ke
dalam kesombongan ataupun melecehkan orang yang memuji kita? Apalagi hanya karena
ingin tenang beribadah sehingga kita rela membuat orang lain menjadi berburuk sangka
(kotor hati) terhadap kita, bukankah itu merupakan suatu keegoisan?

Memang dalam menanggapi pujian, ucapan yang paling baik dan tepat adalah dengan
mengucapkan 'Alhamdulillaah' (segala puji bagi Allah) karena memang Dialah yang
pantas untuk dipuji. Kita pintar, kita cantik, kita ganteng, kita sukses dan sebagainya,
tidak lain karena kepintaran,kecantikan, kegantengan dan kesuksesan itu adalah karena
anugerah dari-Nya, semuanya itu adalah ciptaan-Nya.

Selain dari itu, ucapan Alhamdulillah menunjukkan rasa syukur kita kepada-Nya atas
semua anugerah yang telah diberikan, juga merupakan wujud rasa terima kasih kita
kepada orang yang memuji kita. Kita harus menghargai orang yang telah mau
merendahkan hatinya memuji kita. Bisa jadi orang memuji kita malah lebih layak untuk
dipuji. Seperti dalam firman Allah dalam surat An-Najm: 32, "Janganlah kamu merasa
sudah bersih, Dia Allah lebih mengetahui siapa yang bertaqwa." Juga dalam hadist
riwayat Muslim, "Bertawadhulah (merendah dirilah) sehingga seseorang tidak
menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap
lainnya."

Dalam beberapa hal pujian sangatlah bermanfaat, seperti pujian seorang ahli kepada
orang yang sedang belajar, pujian seorang guru kepada muridnya, pujian orang tua
kepada anak-anaknya atas perbuatan baik dan prestasi yang dicapai, juga pujian seorang
teman kepada temannya yang selalu tidak percaya diri dan menganggap dirinya seorang
"never do well" person. Semua pujian itu niscaya akan membangkitkan semangat mereka
dan memandang dirinya sangatlah berharga, sehingga kepercayaan diri akan tumbuh
untuk berbuat yang lebih baik.

Kalau pujian dianggap sebagai penyebab kesombongan, kita pun harus ingat bahwa
penyebab kesombongan tidaklah hanya pujian. Banyak hal lain yang bisa membuat kita
terjebak ke dalam perbuatan sombong, seperti hak jawab ketika mendapat kritikan
terutama dari orang yang tidak kita sukai atau bersebrangan pandangannnya dengan kita
lantas kita memamerkan segala kehebatan kita, merendahkan orang lain hanya karena
mereka belum memakai busana muslimah, dan sebagainya. Dalam surat Al-A'raf: 47
Allah berfirman, "Apakah mereka yang kamu katakan tidak bakal mendapat rahmat,
tiba-tiba kini diperintahkan : Masuklah kamu ke sorga, dengan tiada rasa takut atau
sedih."
Semoga kita semua bisa melatih diri kita menjadi orang yang selalu rendah hati, sehingga
setiap pujian yang kita terima lebih membuat kita bertambah kagum kepada-Nya.
Aamiin.

***
Iswanti
onetea03@yahoo.com

Sebuah Kepergian

Publikasi: 16/03/2005 07:58 WIB

eramuslim - Kali itu Abu Bakar mengasingkan diri ke dalam rumah. Ia mengunci pintu
akibat murung dan sedih yang sangat. Sesuatu yang nyeri terasa menusuk ulu hati. Pada
saat yang nyaris sama, di jalan-jalan semua orang justru hiruk pikuk akibat gembira.
"Agama kita telah sempurna!" seru mereka, sumringah luar biasa.

Hari itu Padang Arafah dilanda muram. Di atas untanya seorang lelaki di usia ke-63
terhenyak dikunjungi malaikat utusan. "Pada hari ini Aku (Allah) telah sempurnakan
bagimu agamamu, Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku rela Islam menjadi
agamamu." Seayat wahyu terakhir telah disampaikan, dan Allah telah mengakhiri misi
suci Jibril, sang penyampai firman.

Islam telah mencapai puncak kesempurnaan. Kabar gembira lekas tersebar. Tapi tidak
bagi seorang Abu Bakar. Tergesa-gesa sekumpulan sahabat mendatangi Abu Bakar,
mencari sebab terciderainya hati. Ia menjawab, "Kamu semua tidak tahu bencana yang
kelak menimpa kita. Apakah kamu tidak paham, bahwa bila telah sampai titik
kesempurnaan, maka telah bermula sebuah kemunduran dan kemerosotan. Telah
terbayang perpecahan yang akan menimpa kita, dan nasib Hasan dan Husein yang
menjadi yatim, serta para isteri Nabi yang menjadi janda."

Semua yang hadir tersentak oleh kesadaran yang datang tiba-tiba. Mereka kini paham,
ayat itu menjadi isyarat sebuah kepergian. Dan sepenjuru Madinah lekas-lekas berubah,
dari gembira menjadi gelanggang air mata. Cinta mereka yang tak berbatas kian menemui
kedalamannya menjelang perpisahan.

***

Menginjak milenium ketiga yang miskin solidaritas, krisis kepemimpinan, dan


demoralisasi yang kronis, membuat sosok seorang Muhammad SAW, lelaki agung itu
lebih serupa dengan mitos. Padahal, ia sosok yang nyata, dari kalangan manusia biasa.
Sukar untuk membayangkan, seorang penguasa yang duduk di singgasana tikar belukar.
Ia menjadi yang pertama di antara orang-orang yang lapar, dan terakhir untuk mencapai
kenyang. Bajunya ia tambal sendiri, tungkunya kerap tak berasap, dan biasa menyapu
sendiri lantai rumahnya. Tak alpa, bersama 'Aisyah, sang isteri, ia sering dijumpai berlari
pagi. Kewibawaan besarnya tak membatasi diri dari kesediaan melimpahi kemesraan
mengagumkan.

Sekali waktu iringan jenazah datang dari kejauhan. Muhammad SAW, berdiri dengan
sikap penuh hormat. Ketika prosesi mendekat, seorang sahabat berujar memberi ingat,
"Tapi, itu jenazah orang Yahudi!" Namun, sang Nabi tetap tegak. Lembut ia berucap,
"Jika ada iringan jenazah lewat, berdirilah."

Kini, semua orang memang harus belajar dari sebuah keteladanan tentang penghormatan
terhadap semua sisi kemanusiaan--sejauh apapun perbedaan ras, golongan, dan bahkan,
agama. Kemanusiaan yang sama tanpa batas.
Ia mendampingi peristiwa kematian, bencana, kesedihan, dan juga, mungkin,
kegembiraan.

Kesadaran adalah matahari, demikian Rendra di suatu kali. Kesadaran seorang


Muhammad, SAW, mewarisi benih yang indah tentang budi yang luhur--dalam
pengertian reason dan moralitas. Sebuah Das Sein (realita) yang tak berbeda dari Das
Sollen (idealita). Ia adalah kapital besar yang memiliki kesanggupan mengatasi benci dan
amarah.

Dalam prasangka-prasangka yang keruh, sisi kemanusiaan yang diajarkan sang Nabi
menjadi sumber terang profetik yang melegakan.

***

Ibnu Abbas mengisahkan. Menjelang wafatnya, Rasulullah memberi kesempatan pada


semua yang pernah teraniaya olehnya untuk membalas. Seorang lelaki berdiri. 'Ukasyah
ibn Mukhsin namanya. Ia bercerita bahwa dalam perang Badar Rasulullah pernah
mencabuknya tak sengaja. Rasul pun memerintah Bilal mengambil cemeti di rumah
Fatimah. Tapi itu tak cukup. 'Ukasyah menambahkan, saat itu pada badannya tak terlapisi
kain sehelai benang pun. Maka sang Nabi pun menggelontorkan pakaian. Sebagian
sahabat menjadi geram, dan sebagian lainnya menangis tak sanggup menatap orang yang
dicintainya akan menerima cambuk. Tapi, sekelebat kemudian 'Ukasyah menubruk dan
memeluk Rasulullah dalam tangis terisak, "Siapa pula yang tega hati meng-qishas
engkau? Aku berbuat demikian hanya agar tubuhku dapat bersentuhan dengan tubuhmu."

Cinta agape dipentaskan jaman. Demikianlah kisah sang Nabi yang mencintai ummatnya
begitu dalam. Menjelang mautnya, ia tak berpikir tentang diri sendiri dan kebahagiaan
menjumpai Sang Penguasa Akhir Zaman. Dari bibir lelaki itu Anas bin Malik hanya
mendengar sebuah gelisah, "Ummatku, ummatku, ummatku..."

***
Anggi Aulina Harahap
Danka_center11@yahoo.com

Menjadi Pilar

Publikasi: 15/03/2005 08:22 WIB

eramuslim - Bukan tak mungkin ada seseorang yang tak bisa menjadi pilar.
Keberadaannya yang diharapkan dapat menjadi penyangga yang tangguh bagi atap di
atasnya, dan juga mengokohkan tiap jengkal bahan baku yang menyelimutinya, adalah
sia-sia bila si pilar tak bersedia untuk berdiri.

Pilar itu adalah kekuatan. Bayangkan saja, ia harus berdiri tegak sepanjang bangunan itu
ada. Bayangkan saja, bila sebuah pilar harus permisi dan mengundurkan diri barang
sedetik, maka tak ayal bangunan itu harus rela kehilangan satu penopangnya dan perlahan
menjadi rapuh. Mudah runtuh. Sebab, pilar adalah penahan segala dan penguat tegaknya.

Pilar adalah kegagahan. Walaupun keberadaannya tertutup oleh lapisan batu, semen, cat,
dan sekian banyak lagi yang menyembunyikan perannya. Ia pun menyendiri, walau tak
mungkin pula hanya sebuah yang berdiri, namun tetap sepi. Sebab tegaknya yang gagah
itu tak berada berhimpitan. Hingga tak heran, bila ia kesepian. Tugasnya seolah ia
laksanakan seorang diri, padahal tak sedikit pilar-pilar lain yang merasakan hal yang
sama.

Tak semua orang bisa menjadi seorang pemimpin? Memang benar. Tapi ternyata tak juga
semua bisa menjadi seorang anggota. Menjadi pemimpin yang memberikan instruksi dan
perintah memang tak mudah, sebab ia pun harus mengatur dan mengendalikan sekian
banyak orang di bawahnya. Tetapi, ternyata tak kalah sulitnya menjadi seorang yang
tugasnya menjalankan perencanaan yang telah dibuat dan menguatkan barisan agar makin
melangkah maju ke depan. Tak kalah sulitnya, bahkan untuk mengatasi sebuah kejenuhan
akan tugas-tugas yang terasa membosankan, butuh sebuah kekuatan.

Menjadi pilar, adalah menjadi penentu kuat rapuhnya sebuah bangunan. Bila ia enggan
berdiri, maka tak mungkin lah bangunan tersebut dapat berdiri gagah dan indah. Bila ia
bosan dan memutuskan untuk lari, maka bangunan itu akan kehilangan keseimbangan,
goyah, dan bisa-bisa hancur rubuh terpecah-pecah. Jadi, bukankah menjadi sebuah pilar
adalah menjadi sebuah kekuatan besar? Pilar yang tak gentar melawan hingar bingar
cobaan yang menghajar, akan dengan setia menyandang sampai bangunan itu tak
diperlukan lagi ada. Namun pilar yang selalu kalut dan takut menghadapi angin ribut,
akan dengan mudah minggir atau terpinggirkan.

Setiap diri kita adalah seumpama sebuah pilar. Di manapun kita berada, pasti akan
berhadapan dengan seseorang lain yang menjadi pemimpin dan bertugas mengarahkan
gerak yang kita lakukan, juga bersinggungan dengan sekian aturan dan perencanaan-
perencanaan untuk setiap aktivitas keseharian. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kampus,
di tempat kerja....

Menjadi pilar adalah bertahan. Ketika pondasi yang terletak menginginkan kekokohan
penyangga, ketika rangka dan bahan baku lainnya membutuhkannya sebagai penunjang
terwujudnya keindahan, ketika atap yang menaungi tak mungkin terbentang tanpa
ditopang olehnya. Dan harus tetap tegak walau tak disokong oleh kualitas kulit luar dan
bahan baku yang baik, walau kian banyak keropos yang menggerogoti tubuh bangunan.

Mengalami kejenuhan akan aktivitas keseharian yang lama-lama terasa monoton, adalah
suatu hal yang biasa. Sukses mengatasinya dan tidak menyerah begitu saja terhadap
kejenuhan, barulah luar biasa. Seringkali, seseorang yang tak memiliki daya tahan yang
kuat terhadap rasa jenuh, memilih untuk pergi meninggalkan segala tugas-tugasnya atau
rutinitas yang dirasa membosankan itu, untuk mendapatkan sesuatu hal yang baru. Bukan
semata-mata untuk mencari sebuah tantangan, melainkan menyerah sebab tak
menemukan cara untuk bertahan. Bila saja mau meluangkan waktu untuk mengasah diri
ini menjadi lebih kreatif, maka tiap jenak kebosanan itu akan digantikan oleh berbagai
ragam aktivitas lainnya, sebagai penawar. Menjadikan kegiatan-kegiatan sampingan
selain aktivitas rutin, seperti mengikuti sebuah organisasi sosial dan melakukan aktivitas
yang digemari, sebagai 'obat' bagi rasa jenuh yang selalu berusaha 'mematahkan'
semangat diri kita untuk menyelesaikan tugas dengan baik.

Bertahan sebagai seorang anggota dengan berbagai keterbatasannya memang tidak


mudah. Diri kita akan dibatasi oleh berbagai aturan, sejumlah hak dan kewajiban yang
harus dipenuhi, dan berbagai hal lain yang seakan mengekang kebebasan untuk
berekspresi sekehendak hati. Tetapi, bukankah di setiap jalan kehidupan membutuhkan
aturan untuk memastikannya berjalan lancar minim hambatan? Dan bukankah aturan-
aturan tersebut akan membantu anggota yang satu dengan yang lainnya agar mudah
berkomunikasi dan bekerja sama? Menjadi sebuah pilar, tidaklah ringan sebab ia
memegang peranan penting. Dan sesungguhnya setiap diri kita adalah seorang pilar bagi
setiap komunitas kecil maupun besar yang kita masuki.

Maka, seberapa kuatkah 'model' pilar yang kita mainkan bagi sebuah bangunan yang
sedang kita topang?

***

Untuk teman-teman tersayang dan diri sendiri


dh_devita@yahoo.com
Titik Terakhir

Publikasi: 14/03/2005 08:02 WIB

eramuslim - Adakah permasalahan yang membuat Anda gelisah, dan Anda tidak dapat
tidur semalaman? Sedih, takut, kemarahan yang meluap-luap, itu semua sering memaksa
kita susah tidur. Saya yakin setiap manusia dewasa pernah merasakan tidak bisa tidur
semalam karena masalah-masalah itu. Tak terkecuali saya. Sayang, sering kali
permasalahan yang membuat bola mata kita terus terjaga itu adalah permasalahan dunia :
harta, wanita, saingan kerja, dan masih banyak lagi.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3.00 pagi hari. Tapi matanya teramat jauh dari
kantuk. Andai saat itu ada orang yang menjual rasa kantuk, tentu sangat mahal harganya.
Sebenarnya ia biasa tidak tidur malam, karena malam-malam sebelumnya pun ia sibuk
begadang. Tak jelas apa yang dikerjakannya? Namun malam ini lain, malam ini ia merasa
bau kematian amat dekat dengan dirinya. Ya, saat itu ia sangat takut akan kematian. Ia
sadar, penyebabnya ia baru saja berbuat dosa. Dosa yang ia tahu larangannya. Ia tidak
menceritakan kepada saya dosa apa yang diperbuatnya. Baru pertama sepanjang
hidupnya ia merasakan takut mati. Sehingga kasur empuk di kamarnya kosong ditinggal
tuannya. Ia sibuk berzikir dan memohon ampun atas segala dosa-dosanya. Setelah
sebelumnya ia shalat sunah dua rakaat. Ia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Airmata dan sajadah merahnya menjadi saksi pertaubatan itu.

Azan subuh pun menggema, segera ia melaksanakan shalat berjamaah di mesjid samping
kos-nya. Usai shalat subuh ia berzikir lagi di atas sajadah dengan warna yang sama. Tapi
kali ini, ia menyerah. Kelopak matanya menutup, tak lama suara dengkuran halus muncul
dari tengorokannya yang sedikit tersumbat. Ia tidak ingat lagi apakah benar-benar ia telah
di jemput oleh kematian.

Jam 8.00 pagi, alarm Casio di pergelangannya berbunyi. Ia tersentak dari duduknya, ia
segera bersujud, bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan hidup. Bersama
matahari yang menerangi jendela kamarnya.
"Betapa bodohnya aku saat itu!"
"Memangnya kenapa?" saya balik bertanya.
"Jika Allah mau, bisa saja Ia mengambil nyawaku saat berbuat dosa itu."

***

Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk sering-sering mengingat pemutus


kenikmatan. Yaitu mati. Sahabat dan Tabi'in mereka adalah orang-orang besar yang
gemar melakukannya. Bahkan mereka pun mengadakan majlis-majlis zikir yang oleh
Muhammad Ahmad Rasyid disebut 'madrasah kematian'. Khalifah ke empat Ali Bin Abi
Thalib menaruh perhatian besar dalam masalah ini, pada suatu hari di masa
kepemimpinannya, ia mengumpulkan rakyatnya di mesjid ibukota Kufah. Kemudian ia
berkata:

"Sungguh yang aku takutkan terjadi pada kalian hanya dua, panjang angan-angan dan
mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan membuat lupa akhirat, sedang mengikuti
hawa nafsu membuat orang menolak kebenaran."

Atau dengarkanlah kata-kata indah seorang zahid Tabi'in 'Uwais Al Qarni, "Hendaklah
kalian berbantal kematian ketika tidur, dan jadikanlah kematian penyangga tubuh ketika
kalian berdiri.

Hal paling nyata bagi orang-orang yang selalu mengingat kematian kata seorang ulama
pergerakan DR. Abdullah Nashih 'Ulwan adalah ia akan merasakan manisnya iman.
Karena dengan itu, ia akan berusaha terus menerus mengumpulkan bekal agar sampai ke
negeri akhirat dengan selamat. Negeri yang di janjikan oleh pencipta jagat raya ini. Islam
tidak melarang kita untuk kaya dalam hal dunia, bahkan itu dianjurkan. Karena kaidah
agama ini adalah bekerja untuk dunia seakan kita hidup selamanya, dan beribadah untuk
akhirat seperti kita akan menemui kematian esok hari.

Kehidupan orang-orang terdahulu dari umat ini memberi kita warna lain, tidak ada
habisnya untuk terus-menerus kita teladani. Abu Hurairah r.a seorang sahabat terkemuka
perawi hadist Nabi, ketika menjelang wafatnya ia menangis tersedu-sedu. Seseorang
bertanya kepadanya:
"Apa yang menjadikan Anda menangis?"
"Aku tidak menangis karena dunia yang kalian tempati ini, tetapi karena jauhnya
perjalanan yang aku tempuh dan sangat sedikit bekal yang aku bawa. Sungguh aku akan
berjalan di suatu tempat yang tinggi, turunnya di surga atau neraka. Sedangkan aku
tidak tahu surga atau neraka tempat kembaliku?"

***

"Anda di mana?"
"Saya sedang di pemakaman Duwaiqah." Jawabnya singkat. Saya langsung berpikir,
bahwa kawan yang bercerita di atas tadi sedang mencari hal-hal baru yang
mengingatkannya akan kematian. Maka ia pergi ke pekuburan. Pekuburan yang setiap
hari kami lewati dalam perjalanan ke kampus Al Azhar.

Ada banyak cara untuk selalu mengingat kematian. Salah satunya pergi ke pemakaman,
bayangkanlah saat kita di tandu dan pelan-pelan diturunkan ke liang lahat. Lain dari itu,
kisah seorang tabi'in Rabi' Bin Khaitsam sungguh unik, ia menggali lubang kubur dan
masuk ke dalamnya setiap hari, lalu mengingat-ingat penuh perasaan apa yang
dilakukannya itu.

Tapi, kita mungkin belum mampu untuk menirunya. Cukuplah saat-saat kita benar-benar
sibuk, dan segala urusan telah melupakan kematian. Berhentilah sejenak, tarik nafas, dan
ingat bahwa semua yang Anda lakukan saat ini pasti ada akhirnya. Nafas yang tadi Anda
tarik suatu saat akan berhenti tepat pada waktunya, saat itulah kita di jemput kematian.

Putaran waktu dan roda-roda perjalanan adalah lembaran hidup yang sedang kita tulis.
Kita akan menemukan banyak 'tanda baca' di sana. Yakinkan dalam hati, kita akan
menemui titik terakhir. Dimana kita tidak bisa lagi menulis lembaran itu. Titik terakhir
itu adalah kematian. Dan semua makhluk bernyawa tidak ada satu pun yang tahu kapan
akan menemui titik itu.

***

Negeri Para Nabi, 100305, M. Yayan Suryana


gaizka_kaka@yahoo.com

Satu Pelajaran dari Pohon Kelapa

Publikasi: 10/03/2005 09:44 WIB

Sebuah pepatah dari Ranah Minangkabau berbunyi, "Alam takambang jadi guru". Ini
bisa diterjemahkan bahwa alam semesta bisa berperan sebagai guru bagi kita, manusia.
Dia mengajarkan kita akan banyak hal tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai
hamba Allah. Alam semesta -salah satu wujud ayat kauniyah dari Ilahi- tidak tersurat
seperti halnya ayat-ayat qouliyah yang kita baca dalam Al Quran. Pelajaran yang
diberikannya tidak tertulis dalam bentuk jilid buku dan tidak pula disampaikan pada
suatu komunitas belajar, tapi berupa hikmah tersirat yang diperlihatkan melalui
fenomena-fenomena alam.

eramuslim - Ada satu jenis tanaman yang menjadi khas di daerah pesisir. Rasanya
keelokan alam pesisir belum lengkap tanpa kehadirannya. Dia adalah pohon kelapa, Si
Nyiur melambai di tepi pantai. Selain memberi keindahan, sebenarnya kelapa punya
keunggulan tersendiri. Untuk mengetahui itu, mari kita kenali lebih dekat.

Ahli taksonomi mengklasifikasikan kelapa ke dalam kelas monokotil (tumbuhan biji


berkeping satu) dan suku Palmae. Dengan demikian, ciri utama batang kelapa adalah
tidak bercabang. Batangnya cukup kokoh dan luas penampangnya juga relatif besar.
Fakta inilah yang membuat batang kelapa menjadi pilihan utama sebagai tiang rumah
atau bahan konstruksi jembatan tradisional yang masih sering kita temui di pedesaan.

Sekarang kita perhatikan bagian lainnya, yaitu daun. Ketika menghadiri resepsi
pernikahan, kita sering melihat hiasan yang biasa disebut janur kuning pada gerbang
gedung atau rumah tempat penyelenggaraan acara. Itu dibuat dari daun kelapa. Untuk
menyambut hari raya atau acara besar lainnya, tidak jarang kita menemukan ketupat
sebagai salah satu hidangan. Kemasan ketupat itu pun dianyam dari daun kelapa. Selain
itu, para perangkai bunga juga sering menggunakan daun kelapa untuk melengkapi
kesempurnaan kreasinya.

Tunggu dulu, masih ada bagian dari daun yang sering kita gunakan, lidi. Dalam
keseharian, lidi bisa dijumpai sebagai tusuk sate, sapu lidi, ataupun sebagai salah satu
bahan untuk membuat prakarya.

Beralih ke buah. Siapa yang tidak pernah merasakan segarnya es kelapa muda? Bahan
bakunya adalah air dan daging buah dari kelapa yang masih muda. Dengan
menambahkan es, susu, sirup, biji selasih, ataupun bahan makanan lain, kita bisa
menghidangkan minuman yang nikmat ini. Di samping itu, air kelapa juga bisa diproses
menjadi nata de coco atau ditambahkan ke dalam adonan cabe yang sedang digoreng
untuk mendapatkan sepiring dendeng balado yang lezat.

Daging buah dari kelapa yang sudah tua bisa diparut kemudian diperas untuk
mendapatkan santannya. Santan ini bisa digunakan sebagai salah satu bahan baku
makanan dan bisa juga diolah menjadi minyak kelapa. Ampas dari perasan parutan
kelapa tadi dapat digunakan untuk membersihkan lantai semen supaya lebih mengkilap.

Masih bagian dari buah, yaitu tempurung kelapa. Bagian ini bisa digunakan untuk
membuat vas bunga, jepitan rambut, dan aneka kerajinan tangan. Bisa juga diolah
menjadi arang yang dipakai untuk membakar sate atau sebagai sumber panas pada setrika
tradisional. Tempurung kelapa ini bahkan juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan
katalis sebuah reaksi hidrogenasi pada industri petrokimia.

Masih ada lagi, sabut kelapa! Lihatlah, dengan memintalnya kita bisa memperoleh seutas
tali tambang yang kuat. Untuk menyalakan perapian, kita juga bisa menggunakan sabut
kelapa ini bersama pelepah daun kelapa dan kulit terluar buah kelapa.

Subhanallah! Betapa mengagumkan si kelapa ini. Setiap bagian kecil tubuhnya pun bisa
digunakan untuk berbagai keperluan. Uraian di atas hanyalah sedikit bukti manfaat
kelapa bagi manusia, belum termasuk kegunaannya bagi hewan dan tumbuhan lain.
Perjalanan waktu selanjutnya akan melahirkan bukti-bukti lain betapa bermanfaatnya
makhluk Allah yang bernama kelapa ini. Dan sadarilah, ini pelajaran penting yang
diberikan kelapa kepada kita, yaitu menjadi makhluk yang bermanfaat banyak bagi
makhluk lain.
Teman,
Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim).
Masing-masing kita dikaruniai keunikan yang dijadikan modal untuk bergelut di lahan
yang diminati. Yang patut digarisbawahi, bagaimanakah kita menggunakan semua
titipan-Nya itu selama ini?

Memang, kita mungkin tidak pernah menyia-nyiakan semua pemberian-Nya itu. Kita
bahkan selalu bekerja keras untuk menggunakan semua potensi yang kita miliki itu
seoptimal mungkin. Namun, seringkali kita memanfaatkannya untuk menghasilkan
karya-karya yang hanya berorientasi pada diri sendiri. Tak jarang kita hanya berkutat
dengan kepentingan diri sendiri dan merasa tidak perlu untuk menghasilkan sesuatu yang
bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak, apalagi untuk alam semesta dalam skala
yang lebih besar.

Bukankah Allah SWT berfirman, "Dan tidaklah kamu diutus melainkan sebagai rahmat
bagi semesta alam" (QS. Al Anbiyaa [21] : 107)
Menjadi rahmat bagi semesta alam adalah peran yang diamanahkan oleh Allah kepada
seluruh manusia. Dan Allah takkan memberi amanah tersebut jika kita tak mampu
melaksanakannya. Masing-masing kita sebenarnya sudah dibekali-Nya modal dan potensi
untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi makhluk lain. Entah itu berupa harta,
tenaga, ilmu, pikiran atau yang lainnya. Dengan izin-Nya, semua itu bisa kita kelola
supaya memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi makhluk yang lain.

Renungkanlah perkataan Sayyid Quthb ketika ia menghadapi kematiannya di tiang


gantungan, "Kebahagiaan yang sesungguhnya aku rasakan adalah ketika aku merasa
yakin bahwa aku telah meninggalkan sesuatu yang berharga bagi penerusku".
Perkataannya bukan tiada bukti. Lihatlah, begitu banyak orang yang memperoleh manfaat
banyak dari karya-karyanya, terutama Tafsir Fi Zhilalil Quran yang kerapkali dijadikan
rujukan untuk mendalami Islam.

Ingatlah Asy-Syahid Yahya Ayyash, sang insinyur elektro kelahiran Rafat, Palestina.
Dengan kecerdasannya, lulusan Universitas Beir Zeit ini mampu merakit bom yang susah
dicari tandingannya. Bisa dikatakan bahwa ia adalah otak di balik aksi bom syahid
HAMAS. Semangat jihadnya yang menggebu-gebu memberi dukungan psikologis yang
besar untuk rekan-rekan seperjuangannya. Pada waktu syahidnya 5 Januari 1996 silam,
Palestina menangis. Diperkirakan seperempat juta rakyat Palestina turun ke jalanan
menyusun iring-iringan sepanjang 40 km untuk mengantar jenazahnya. Mereka tentu
tidak akan merasa kehilangan sampai seperti itu jika sepak terjang sang insinyur tidak
memberi arti yang sangat penting bagi perjuangan mereka.

Dan teladanilah Rasulullah SAW. Penduduk Makkah tidak akan melupakan solusi
jeniusnya ketika meletakkan Hajar Aswad kembali pada tempatnya setelah perbaikan
Ka'bah. Pertumpahan darah antar kabilah Quraisy terhindarkan. Bukan hanya itu! Gelar
Al Amin juga membuat tetangga sekitarnya mempercayakan harta mereka kepada beliau
untuk dijaga. Kepiawaiannya dalam memimpin tidak hanya dirasakan oleh ummat Islam,
tapi juga oleh orang beragama lain yang merasa nyaman dengan kebijaksanaannya.
Menjelang akhir hayatnya, beliau masih sempat berpesan pada istrinya, Aisyah ra. untuk
menginfakkan uangnya yang berjumlah 7 dinar kepada fakir miskin di kalangan
Muslimin. Dan sampai saat ini, segala perilakunya dijadikan contoh teladan bagi kita
semua.

Saudaraku,
Hidup sebagai manusia adalah sebuah takdir. Tapi menjalani hidup yang bermanfaat bagi
orang lain adalah sebuah pilihan. Bukanlah sembarang pilihan, tapi pilihan yang sangat
disukai Allah. Kita-lah yang memilih apakah kita hanya akan berjibaku dengan diri
sendiri atau memiliki orientasi yang diridhai-Nya, yaitu menjadi rahmat bagi semesta
alam. Kita juga yang menentukan jalan penggunaan tenaga, harta benda, ilmu, pikiran,
dan nikmat-nikmat lainnya sebagai sesuatu hal yang bermanfaat banyak, tidak hanya
untuk diri kita, tapi juga bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Dan tidakkah kita
berkeinginan untuk masuk ke dalam golongan terbaik dari ummat Nabi Muhammad
SAW?

"Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang
lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau kelapa saja bisa memberi manfaat banyak bagi sekitarnya, apalagi kita, makhluk
yang diciptakan-Nya dengan sebaik-baik bentuk?

Allahu a'lam bish-showab,

***
Sri Susanti
Sri.Susanti@gmail.com
Taktakan, 9 Januari 2005

Anugerah Hikmah di Balik Musibah

Publikasi: 08/03/2005 08:41 WIB

eramuslim - Parno, begitu kami biasa memanggilnya, tetangga saya waktu kecil dulu.
Dia lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Anak ke empat dari enam
bersaudara. Seperti kebanyakan anak-anak lain, hidupnya biasa-biasa saja. Sekolah dan
bermain dilalui dengan suka cita bersama teman-teman sebayanya. Selepas pulang
sekolah, bersama teman-temannya pula dia membantu orang tua mencari rumput di
lapangan desa untuk seekor lembu yang dipelihara keluarganya. Setelah itu dia bermain
bola atau layang-layang kesukaannya sampai sore.
Seingat saya dia anak yang tidak pernah absen pergi ke masjid sebelum adzan Magrib
berkumandang dengan atributnya yang khas, sarung batik sedikit kedodoran dan peci
yang agak kebesaran. Pulang selepas Isya. Waktu antara Magrib dan Isya dilaluinya
untuk belajar membaca Al quran atau hanya dihabiskan dengan bermain petak umpet di
halaman masjid yang luas.

Malang tak dapat di tolak untung tak dapat diraih. Jika Allah sudah berkehendak tak ada
satupun manusia yang bisa berdalih. Hidupnya jadi luar biasa ketika tiba-tiba sebuah
musibah menghampirinya. Umurnya 12 tahun waktu itu. Pada suatu malam di bulan
Ramadhan telapak tangan kanannya hancur karena petasan yang dinyalakannya. Dengan
berbekal uang seadanya segera dia dilarikan oleh kakak tertua dan bapaknya ke rumah
sakit di kota.

Satu bulan, dua bulan lukanya tak kunjung mambaik. Bau yang menyengat menandakan
lukanya sudah mulai membusuk. Seiring dengan berjalannya waktu, pembusukan mulai
merambat ke atas. Teman-temannya mulai mengejeknya dengan memanggilnya si bacin
yang dalam bahasa Indonesia berarti busuk, bahkan ada yang tidak mau bermain lagi
bersamanya. Beberapa kali saya melihat dia berlari sekancang-kencangnya ketika hinaan
temannya sudah kelewatan. Dia selalu berusaha untuk tidak menumpahkan mendung di
matanya di depan teman-teman yang mengejeknya. Hingga pada akhirnya dia sama sekali
tidak mau sekolah lagi kerena merasa malu meskipun guru dan kepala sekolahnya
berkali-kali datang membujuk.

Diantara keterbatasan akan biaya, untuk menghindari semakin meluasnya pembusukan di


tangannya, akhirnya orang tuanya setuju dilakukan amputasi sebatas siku. Sedih sekali
ketika dia tahu satu tangannya telah hilang. Bahkan dia sempat mengamuk meminta
tangannya dikembalikan seperti semula. Dengan perlahan orang-orang di sekitarnya
membesarkan hatinya yang terguncang hingga akhirnya dia bisa menerima keadaan
meskipun terpaksa.

Setelah sembuh, dia kembali lagi bersekolah karena usaha keras dari orang-tua, saudara,
guru dan teman-teman yang berusaha membujuknya. Terbayang bagaimana dia berusaha
mengoperasikan tangan kirinya untuk mengerjakan semua tugas tangan kanannya yang
sudah hilang. Menulis, makan, menyabit rumput dan lain sebagainya. Terbayang
bagaimana dia pertama kalinya melangkahkan kaki ke sekolah hanya dengan satu tangan,
hampir semua mata memandang satu tangannya yang telah hilang. Dan bagaimana dia
menyiapkan hati untuk mendengar ejekan teman-temannya.

Seiring dengan berjalannya waktu, dia berusaha bangkit kembali membangun rasa
percaya diri yang terkoyak oleh keadaan. Ejekan teman-temannya yang memanggil
namanya dengan buntungpun tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan
berusaha. Prestasi akademisnya tidak berubah, masih tetap ranking satu di kelasnya
hingga tamat SD.

Seperti kakak-kakaknya yang lain, setelah tamat SD diapun tidak berencana melanjutkan
sekolah ke SMP karena keterbatasan biaya. Namun salah satu guru SD-nya yang bisa
membaca potensi yang ada dalam dirinya meminta ijin kepada orang tuanya untuk
membiayai sekolahnya di kota. Dia juga dikirim ke Rehabilitation center (RC), yang
menangani anak-anak cacat, di kota Solo. Di RC itulah dia menemukan dunia baru,
keluarga, orang tua, guru, saudara dan teman-teman senasib. Bermain, belajar, olahraga
dilakukan dalam kebersamaan. Saling membantu dan menguatkan disaat masalah
melanda dan ketika krisis percaya diri menghampiri.

Ejekan, cemoohan, cibiran dan pandangan sinis akan kecacatan dirinya menjadi santapan
sehari-hari, yang semakin mencambuk semangatnya untuk terus berusaha. Terbukti
rangking pertama di sekolah masih terus dipegangnya.

Masalah serius timbul ketika kelas satu SMA di akhir semester pertama. Entah karena
apa, orang yang selama ini manopang hidupnya tidak bersedia lagi membantunya.
Otomastis setelah itu tidak ada lagi yang membiayai hidupnya. Dia berencana bekerja
sepulang sekolah. Keluar masuk toko, bengkel dan restoran mulai dijalaninya untuk
mendapatkan pekerjaan. Tapi mana ada orang yang percaya dengan hasil kerja seorang
anak bertubuh kurus yang hanya mempunyai tangan satu seperti dirinya. Semua
menjawab "Sedang tidak butuh tambahan tenaga" atau "Tidak ada lowongan kerja".
Untuk minta pada orang tuanya tak mungkin dilakukan. Sawah satu petak yang dijadikan
tumpuan harapan hidup sekeluarga sudah terjual separohnya untuk biaya amputasi tangan
kanannya.

Dalam kepasrahan, pada Yang Kuasa dia berdoa. Mohon diberikan jalan untuk mengatasi
persoalan hidupnya. Di batas ambang putus asa, dia bercerita pada seorang teman
baiknya di sekolah, mengutarakan niatnya untuk pulang ke kampung kembali kepada
orang tua dan saudara-saudara yang dicintainya, meninggalkan sekolahnya. Dia ceritakan
juga masalah yang sedang menghimpitnya.

Sungguh Allah Maha Pengatur atas segalanya. Hanya selisih tiga jam sejak dia bercerita,
tiba-tiba temannya tadi datang menemuinya di rumah kos, tidak jauh dari RC. Mengikuti
langkahnya seorang laki-laki setengah tua berbadan tegap yang akhirnya diketahui
sebagai penyelamat masa depannya. Seorang pengusaha kaya yang tidak lain adalah
bapak dari sahabatnya itu. Sujud syukur tanpa ditunda dilakukannya. Tak kuasa menahan
haru di hatinya hingga butir-butir bening menetes dari kedua sudut matanya. Segera dia
jabat dan cium tangan kedua laki-laki di hadapannya. Tak ketinggalan dia sampaikan rasa
terimakasih yang teramat sangat atas kebaikannya.

Begitulah. Hingga akhirnya dia lulus dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan.
Masuk perguruan tinggi negeri favorit di kota Yogykarta tanpa tes. Proses untuk
mendapatkan gelar sarjana dilaluinya dengan lancar, hampir tidak ada hambatan yang
berarti. Cemoohan, ejekan dan cibiran berganti dengan decak kagum akan prestasi yang
diraihnya.

Selepas kuliah, setelah melewati jalan yang berliku, akhirnya dia diterima bekerja di
salah satu perusahan swasta di kota kami. Sekarang dia tahu kenapa Allah mengambil
kembali tangan kanannya hingga dia bertemu orang-orang dermawan yang
menghantarkan langkahnya mengejar masa depan. Sudah saatnya dia menikmati buah
atas penderitaan dan usaha kerasnya selama ini. Memetik hikmah atas musibah yang
telah menimpanya.

Kini dia menjadi tumpuan hidup keluarga, Bapak, ibu, adik-adik dan seorang kakaknya
yang sudah menjanda beserta anak tunggalnya. Dia juga yang menanggung biaya sekolah
adik-adik dan keponakannya. Ada satu keinginan yang belum didapatkannya, anak yang
banyak dari istri yang setahun lalu dinikahinya. Kepada mereka akan diajarkan
bagaimana cara bersyukur, menghargai dan menghormati orang lain tanpa melihat status
sosial dan juga kelengkapan fisik. Bukankan Allah Yang Maha Penyayang tidak pernah
membeda-bedakan umatnya hanya karena hal tersebut. Hanya iman di dadalah yang
membedakan kita di mataNya.

***
Fitri Budiadi
fitribudi@yahoo.com

Ia yang Selalu Berbagi Kasih

Publikasi: 07/03/2005 08:26 WIB

The origin of the child is a mother and is a woman. One shows a man what love, sharing
and caring its all about

Asal mula seorang anak adalah seorang ibu yang juga merupakan seorang wanita,
seseorang yang mengajarkan seorang anak manusia tentang makna kasih sayang, sosok
manusia yang senantiasa membagi dan menjaga seluruh kasihnya.

eramuslim - Untaian kalimat yang kubaca dalam sebuah majalah sekitar delapan atau
sepuluh tahun yang lalu itu masih terpatri dalam ingatan meskipun aku sudah lupa siapa
wanita yang mengucapkannya. Kalimat itu kuanggap penting karena kalimat singkat itu
telah mengajarkanku betapa berartinya sosok seorang ibu.

Keberartian sosok seorang ibu juga telah berulang kali digambarkan dalam beberapa
buah hadits. Sebuah hadits Muttafaq Alaihi menggambarkan situasi pada saat Asma' binti
Abi Bakar R.A menanyakan perihal kedatangan ibunya yang masih musyrik pada masa
Rasulullah. Lalu Asma meminta petunjuk kepada Rasulullah seraya berucap, "Ibuku telah
datang dengan penuh harapan kepadaku, apakah aku harus menyambung hubungan
dengan ibuku itu?"
Beliau menjawab, "Benar sambunglah hubungan dengan ibumu!"

Pada suatu ketika pernah datang kepada Ibnu Abbas R.A seorang laki-laki dengan
mengatakan , "Aku telah melamar seorang wanita, tetapi wanita itu menolak untuk
menikah denganku. Lalu dia dilamar oleh laki-laki lain dan dia senang untuk menikah
dengannya, kemudian aku cemburu dengannya dan membunuh wanita itu. Apakah aku
masih dapat bertaubat?" Beliau bertanya, "Apakah ibumu masih hidup?" Dia menjawab,
"Tidak!" Selanjutnya beliau mengatakan , "Bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla dan
mendekatkan diri kepada-Nya semampu kamu!". Atha' bin Yasar berkata, "Hadits ini
diriwayatkan dari Ibnu Abbas" lalu aku menemui Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya,
"Mengapa engkau menanyakan mengenai hidup ibunya?" Ibnu Abbas pun menjawab,
"Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu amalan yang lebih dekat dengan Azza wa
Jala selain berbakti kepada ibu" (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Adabul
Mufrad).

Seorang psikoanalis barat bernama Erich Fromm pun tidak melepaskan pembahasan
tentang cinta kasih ibu dalam beberapa bagian bukunya. Ia dengan indahnya
mengungkapkan bahwa cinta ibu adalah peneguhan tanpa syarat terhadap hidup dan
kebutuhan seorang anak. Cinta ibu akan mengajarkan tentang makna pemeliharaan dan
tanggung jawab yang tentunya sangat penting bagi kelanjutan hidup dan perkembangan
anak. Cinta ibu pulalah yang akan menanamkan rasa syukur pada Tuhan dalam diri setiap
anak atas kehidupan yang diterimanya, atas jenis kelaminnya, dan atas kelahirannya di
muka bumi. Rasa syukur setiap anak tersebut pada akhirnya akan membuat ia mencintai
kehidupan dan bukan hanya berkeinginan untuk tetap hidup.

Ibu seringkali dilambangkan sebagai tanah atau alam, oleh karena itu muncul istilah,
mother land atau mother nature. Hal ini terjadi karena ibu adalah sosok yang subur
seperti halnya tanah dan alam yang menawarkan kelimpahan susu dan madu. Susu
merupakan simbol pemeliharaan dan peneguhan kasih ibu. Sedangkan madu
melambangkan kecintaan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Banyak ibu yang dapat
memberikan susu pada anak-anaknya, namun hanya sedikit yang mampu memberikan
madu. Untuk dapat memberikan madu, seorang ibu tidak hanya harus menjadi ibu yang
baik, namun harus menjadi sosok pribadi yang penuh kasih sayang. Yakni sosok
perempuan yang lebih berbahagia dalam memberi dibandingkan menerima, serta sosok
yang betul-betul kukuh berakar pada eksistensinya. Sehingga ia tidak lagi menginginkan
apa-apa untuk dirinya sendiri.

Al-Quran juga telah mengingatkan keutamaan ibu dengan menggambarkan penderitaan


yang dirasakannya dalam dua periode kehidupan (mengandung dan menyusui).

"Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya.
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang
tuamu. Hanya kepada-Ku kamu kembali." (Luqman:14)
Cinta kasih ibu memang sulit untuk dicapai, karena cintanya yang bersifat sangat altruis
dan tanpa syarat. Cinta dalam keadaan di mana satu pihak memerlukan segala bantuan
dan pihak lainnya memberikan segalanya. Namun ketulusan dan kesabaran ibu dalam
mencintai semua anak-anaknya telah membuat cintanya dikategorikan sebagai jenis cinta
yang tertinggi dan sebagai suatu ikatan emosional yang paling luhur.

Dan jika saja ada yang bertanya apakah yang ingin kusampaikan pada ibu, mungkin
penggalan kalimat dari Gus TF Sakai, seorang penulis dari Sumatera Barat ini dapat
sedikit mewakili perasaanku "...Bu kupandang hidup ini dari segala sesutu yang pernah
kudengar dari mulutmu. Kuterjemahkan ia dalam langkahku, dan kususun dalam baris-
baris kalimat di mana aku belajar memahami sesuatu. Sesuatu yang harus kutemui dan
yang bisa mengantarkanku, bukankah begitu?..."

***
Sri Rahayu
Special for my dearest mother

Resolusi

Publikasi: 04/03/2005 10:40 WIB

eramuslim - Saya punya kebiasaan baru saat bangun pagi hari. Mengambil selembar
(atau berlembar-lembar) Post It, menulisinya dengan kalimat pendek dan
menempelkannya di lemari kayu, di sebelah kepala tempat tidur saya. Kertas berwarna
kuning itu cukup mencolok dengan tulisan tangan menggunakan pulpen warna warni dan
ber-glitter.

"No more complaining on every thing!"


"No more telling every body about your misery!"
"Staying cool in any situation!"

Aha, tiga kalimat itu sudah beberapa hari bertengger disana dan saya senang
membacainya kembali setiap kali. Kalimat-kalimat itu menjadi resolusi harian saya, yang
saya usahakan pegang kuat-kuat dan semaksimal mungkin saya laksanakan. Resolusi.
Apa sih artinya? Selama ini kata ini tersebut lebih kita kenal sebagai sebuah istilah untuk
sikap resmi yang diambil badan dunia PBB terhadap situasi dunia atau negara yang
diawasi PBB. Menurut Concise Oxford Dictionary, Resolusi atau resolution adalah a firm
decision that is a formal expression of opinion or intention agreed on by a legislative
body. Hmm, tidak jauh beda.

Tapi dalam banyak hal, resolusi biasa digunakan sebagai istilah personal yang dapat kita
terapkan bagi diri kita pribadi untuk mendapatkan suatu capaian tertentu. Biasanya
resolusi dibuat saat tahun baru, ulang tahun atau momen-momen khusus lainnya. Namun
bisa juga dibuat resolusi harian. Misal, "tahun ini saya harus Lulus dengan rata-rata nilai
A". Atau "Saya tidak akan merokok lagi hari ini". Dan saya lebih suka menggunakannya
untuk membuat resolusi harian, terutama untuk menghentikan kebiasaan/karakter negatif.
Pagi kemarin resolusi saya adalah "No more complaining on everything" karena selama
ini saya sering mengeluh dan menggugat banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan
saya. Setiap kali saya mulai mengeluh, saya teringat dan diingatkan oleh resolusi itu
sehingga saya berhenti mengeluh. Pagi yang lain resolusi saya adalah "stay cool ini any
situation" karena selama ini saya gampang sekali panik jika ada hal yang tak beres.
Resolusi itu mengingatkan saya untuk tetap bersikap kalem dan tenang meskipun ada
masalah besar di depan mata.

***

Rasulullah mengajarkan kita untuk memuhasabah diri setiap malam atau kapan pun
dalam kehidupan kita. Melihat mana yang buruk untuk ditinggalkan dan mana yang baik
untuk dipertahankan dan ditingkatkan.
Rasulullah juga menyatakan bahwa orang-orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin
maka dia beruntung. Yang hari ini sama dengan kemarin maka dia merugi. Dan yang hari
ini lebih buruk daripada kemarin maka dia terlaknat. Resolusi dapat kita tetapkan setelah
kita memuhasabah diri. Dan insya Allah ia akan membantu kita tampil lebih baik hari
dibanding kemarin.

Pagi ini, tempelan di lemari kayu saya bertambah lagi:


"Easy Going aja lah. Jangan terlalu serius menyikapi segala hal!"

Aha, saya juga senang membacanya. Menyimpannya dalam benak dan berusaha
memaksimalkannya. Resolusi itu saya tetapkan setelah seorang teman berkomentar saya
terlalu serius dan mendramatisir masalah yang sebenarnya (mungkin) sederhana. Selamat
mencoba memberi resolusi bagi diri sendiri!

***

(Azimah Rahayu jelang makan siang) azi_75@yahoo.com

Laksana Ragam Bunga

Publikasi: 03/03/2005 07:48 WIB

eramuslim - Lihatlah betapa indahnya taman bunga. Beragam jenis warna dan bau
wewangian ada di sana. Ada yang merah, putih, kuning, ungu, dan lain sebagainya. Ada
pula yang besar namun banyak juga yang kecil. Semuanya mempesona untuk menghiasi
dunia. Betapa Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan dengan menciptakan
taman bunga justru dari beragam hal-hal yang berbeda. Berpadu menyemburatkan nuansa
indah, menggoda mata untuk meliriknya.
Coba pula amati keindahan kuntum bunga yang sedang berkembang. Mekar mewangi
menengadahkan kelopaknya ke langit. Dengarlah simfoni alam yang mengalunkan tasbih
dan tahmid, tatkala bulir-bulir embun di ujung daun jatuh ke tanah. Rasakan juga
kelembutan sinar mentari yang diselingi tiupan semilir angin.

Indah...
Semua begitu indah mempesona. Mengalunkan untaian senandung kesyukuran kepada
Sang Pencipta.

Hmm...
Bukankah kehidupan kita pun laksana ragam bunga di taman? Penuh dengan segala fitrah
perbedaan. Namun itulah yang membuat hidup ini menjadi penuh warna dan makna.
Bahkan, mestinya sebuah perbedaan justru harus menjadi pelajaran. Tentang bagaimana
kita menghadapi, dan memetik hikmah dari semua perbedaan yang terjadi.

Namun sayang...
Terkadang kita semua bukanlah laksana taman bunga yang dengan segala perbedaannya
menimbulkan keindahan. Masing-masing kita seumpama sekuntum bunga yang ingin
menyeruak sendirian. Berupaya agar kuntumnya saja yang terlihat cantik, indah dan
menawan. Padahal, andaikan semua kuntum bunga itu mekar bersama, tentu akan
menimbulkan keindahan yang lebih menakjubkan.

Betapa di zaman sekarang ini umat Islam sedang dalam kehinaan, sedangkan kita masih
saja larut dengan kesibukan mempermasalahkan perbedaan khilafiyah. Bahkan, tak jarang
hingga melepaskan ikatan tali persaudaraan. Kadang kita pun lupa dengan saudara kita
sendiri yang juga berjuang untuk kemuliaan Islam. Buruk sangka dan saling
menjatuhkan, sehingga yang terjadi adalah perpecahan.

Sesungguhnya, ide dan gagasan dakwah yang beragam itu adalah kekuatan. Semua akan
menjadi sebuah gerakan terorganisir, rapih, solid dan militan yang Insya Allah mengubah
kondisi ummat hingga tak ada lagi fitnah atas Islam. Menciptakan sebuah taman yang
indah, dari beragam bunga, sehingga bukan kita saja yang menikmatinya. Namun, akan
menjadi taman bunga yang mengundang semua orang dari segala penjuru dunia untuk
bersama menikmati keindahannya. Bukankah seorang mujahid Islam, Hasan Al-Banna,
pun pernah mengatakan bahwa perbedaan itu bukanlah suatu kemustahilan. Tetapi yang
diharapkan, walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi
kepentingan bersama untuk menegakkan qalam illahi di muka bumi.

Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah!

Kita lah ruh dan jiwa baru itu. Yang mengalir di tubuh ummat, menghidupkan tubuh yang
mati dengan Al-Quran. Siap menjadi anak-anak panah yang dilepaskan dari sebuah
busur, pedang-pedang tajam untuk menebas musuh,
atau laksana dahsyatnya butir peluru yang ditembakkan dan melaju.
Wujudkan seluruh kemampuan untuk kemuliaan Islam hingga jihad fi sabilillah menemui
kita. Karena setiap dirimu pun laksana sekuntum bunga dari sekian banyak ragam bunga
di dunia. Tumbuh dan mekarlah dengan khas wewangian-mu. Sirami selalu dengan
aqidah dan akhlak terbaik, hingga tiba saatnya kita bersama menghiasi dunia ini dengan
keindahan ajaran Islam.

Kemenangan yang dijanjikan itu akan tiba, percayalah!

Semoga tak akan ada lagi di antara kita yang merasa jamaahnya saja yang terbesar, paling
benar, terbanyak pengikutnya atau telah banyak berbuat untuk Islam. Siapkan diri,
rapatkan barisan, luruskan shaf, rajut ukhuwah Islamiyah di antara kita.

Siapapun engkau, apapun namanya dirimu, jangan pedulikan. Karena yang terpenting
kita semua adalah bunga-bunga Islam yang siap sedia menyebarkan wanginya ke segala
penjuru dunia.

Galang persatuan dan kesatuan, bersama tegakkan Al-Islam.

Allahu Akbar!

Wallahu a'lamu bish-shawaab.

***
-Abu Aufa-

Berjuang Melawan Nafsu Diri

Publikasi: 02/03/2005 08:17 WIB

eramuslim - Beberapa waktu lalu, pembantu rumah tangga, sebelah majikan saya,
disuruh pulang oleh majikan perempuannya. Padahal ia belum genap dua tahun bekerja di
Brunei. Permasalahan yang saya dengar, dia menjalin hubungan asmara dengan
majikannya yang laki-laki.

Seminggu kemudian, seorang pekerja restoran, yang setiap hari saya kirimi mie, tidak
kelihatan bekerja. Dari temannya saya tahu jika ia ternyata sudah pulang. Saya kaget lagi.
Informasi selanjutnya yang saya peroleh, dia baru saja menggugurkan kandungan di
sebuah rumah sakit. Dan tubuhnya terlalu lemah. Hingga akhirnya terpaksa ia pulang.
Rupanya selama bekerja di negeri orang, ia berpacaran lagi dengan seorang lelaki
restoran sebelah. Padahal di rumah ia sudah punya suami dan satu anak.

Terakhir, teman saya, seorang sopir di sebuah warung makan, terpaksa harus cepat-cepat
kawin, karena perempuan yang dipacarinya sudah dua bulan tidak haid. Dan lagi-lagi,
terpaksa, keduanya harus pulang ke tanah air.

Belum lupa dengan tiga kabar tersebut, suatu malam, majikan saya memberi tahu, kabar
yang dibacanya di koran memberitakan, polisi menangkap dua pekerja Indonesia. Mereka
seorang lelaki dan perempuan. Keduanya tertangkap basah ketika sedang bercinta di
suatu tempat.

Satu persatu peristiwa-peristiwa yang menimpa sahabat-sahabat saya bermunculan. Dan


itu akan terus disusul dengan berita-berita lain tentunya. Ada yang lucu, unik, tapi ada
juga yang sangat serius jika kita lihat dari sudut pandang keimanan. Mengapa tidak?
Seorang muslim, yang sedang merantau jauh ke negeri orang, ternyata harus terhempas
oleh pernik-pernik nafsu setan.

Akhir-akhir ini, saya sering mendapat surat, telepon dan juga email, dari sahabat,
tetangga dan juga saudara-saudara saya. Mereka menanyakan pada saya bagaimana
caranya bekerja di luar negeri. Atau beberapa teman malah ingin dicarikan kerja di
Brunei, karena katanya di Jakarta gajinya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan.

Saya berusaha menerangkan kepada mereka dan sedikit memberi rambu-rambu. Sebab
proses bekerja di luar negeri tidak seperti yang dibayangkan. Saya juga memberikan
saran agar hati-hati berhubungan dengan PJTKI, atau orang-orang yang mencari tenaga
kerja di kampung-kampung. Sebab jika tidak berhati-hati bisa terjerumus sendiri. Banyak
sahabat-sahabat kami yang terlunta-lunta di perbatasan, karena ternyata visa kerjanya
belum ada. Seperti di sebuah kota kecil di perbatasan Indonesia-Malaysia, Singkawang.

Bekerja di luar negeri sah-sah saja. Mereka mungkin tergiur dengan kesuksesan
tetangganya. Yang setelah bekerja di luar negeri mampu memperbaiki rumah,
menyekolahkan anak, beli tanah dan bisa membeli kebutuhan lainnya. Sehingga kerja di
luar negeri seolah sangat indah. Seperti indahnya sebuah gunung yang dilihat dari
kejauhan. Atau mungkin karena betapa susahnya mencari penghidupan di sebuah negeri
yang bernama Indonesia. Sebab bagi sebagian orang, seperti saya, bisa diandaikan seperti
ayam yang sekarat di dalam lumbung padi. Permasalahannya, negeri yang makmur, kata
para komponis lagu kebangsaan, negeri belahan sorga, kata Cak Nun, itu masih belum
bisa memberikan semacam kesejahteraan pada sebagian rakyatnya. Sehingga mereka
beranggapan, bahwa di luar negeri sedang hujan emas, sedang di tanah air sendiri sedang
hujan batu.

Dan tak lupa saya juga tekankan pada sahabat saya, jika proses medical check sudah
selesai, bukanlah selesai segala-galanya. Ada sesuatu yang maha penting di samping
kesehatan fisik, yaitu kekuatan iman. Sebab di luar negeri banyak godaan, seperti saya
ceritakan di atas tadi.
Sebelum kita berjuang melawan hal-hal lain, seperti mungkin akan menemui majikan
keras, mungkin gaji tak terbayar, job kerja tidak sesuai, atau masa kerja yang tidak sesuai
dengan aturan buruh, maka hal terpenting yang harus diperhatikan adalah sejauh mana
kekuatan iman untuk melawan diri sendiri. Kata Rasulullah, justru perjuangan melawan
diri sendirilah yang terberat sebelum terjun ke kancah perjuangan yang lain. Bahkan lebih
berat dari perang Badar.

Saya bukan lagi sok alim. Atau sedang bergaya kesufi-sufian. Sama sekali tidak. Bahkan
saya pun tentu masih belepotan dengan daki-daki dosa. Saya hanya tergerak dengan
firman Allah: Bahwa kita harus saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran.
Kenapa ini penting? Karena banyak sekali kejadian-kejadian di sekitar saya, yang intinya
sebenarnya adalah lemah iman.

Berbekal iman, saya yakin tidak akan rugi. Bahkan akan menuai keuntungan yang sangat
besar.

Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang yahudi, orang-orang nasrani, orang-


orang shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al
Baqarah 62)

Sebab belum lama ini, saya juga mendapat suatu kejadian juga. Seorang teman, memberi
saya nomor HP. Setelah saya hubungi, tenyata nomor itu milik seorang perempuan.
Sebelum saya bicara banyak, ia telah nyerocos bicara terlebih dahulu. Ia menawari saya
untuk jumpa di mana. Jam berapa. Ia siap bertemu kapan dan di mana saja. Dan terakhir
ia juga siap diajak ke mana saja jika saya mau. Termasuk tidur bersama. katanya. Na
'udzubillahi mindzalik.

Saya kaget. Pikiran saya menerawang. Ternyata di negeri yang orangnya hampir semua
haji ini, ada juga praktek 'jual diri'. Selama ini saya tidak pernah membayangkan. Sebab
memang tidak terang-terangan seperti di negeri saya, Indonesia.

Sejurus, saya ingat kata-kata Umar bin Khattab: "Seandainya tidak ada akhirat, saya
akan nikmati dunia ini sepuas-puasnya."

Kalimat dari sahabat nabi yang gagah berani itu, seolah menyiram tubuh saya dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Tentu saja, kalimat itu sangat menyejukkan. Karena keluar
dari seorang manusia yang roh imannya sudah begitu kuat. Sehingga menambah sedikit
benteng pertahanan nafsu dunia saya.

Maka kepada sahabat saya yang ingin kerja di luar negeri itu, saya menyarankan agar
berlatih terus menerus untuk berjuang melawan diri. Melawan nafsu pribadi. Sehingga
kelak setelah di luar negeri akan menang melawan siapapun. Apalagi hanya sekedar
tawaran manis dari bibir-bibir perempuan. Sebab maaf-maaf saja, Depnaker maupun
PJTKI, saat ini belum mengingatkan hal semacam itu. Kecuali hanya "Kuatkan Fisik
Anda Sebelum Kerja di Luar Negri". Itu saja yang terpampang di kantor-kantor
Depnaker, maupun kantor-kantor PJTKI.

***
Sus Woyo
woyo72@yahoo.com
(Sebuah catatan kecil untuk seorang sahabat yang ingin kerja di negeri seberang, Brunei
Darussalam)

Waktu Seperti Pedang

Publikasi: 01/03/2005 08:16 WIB

eramuslim - Zaman semakin modern, banyak orang merasa sangat sibuk. Baginya,
waktu adalah uang. Kontras dengan itu, tidak sedikit pula manusia yang menghambur-
hamburkan waktunya. Mereka memiliki motto: "Waktu muda hura-hura, waktu tua kaya
raya, kalau mati masuk surga". Namun pandangan mereka mungkin akan berubah kalau
saja mereka bisa meresapi makna sebuah sya'ir Arab yang menggambarkan karakter sang
waktu: Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha'haa qath'aka (Waktu laksana pedang, jika
kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebasmu).

***

Waktu adalah salah satu dimensi dalam hidup manusia. Karakternya, waktu senantiasa
berpacu secara cepat, tanpa terasa, dan tiba-tiba menghujam. Tidaklah heran mengapa
masyarakat Arab mengkiaskan cepatnya waktu dengan kilatan pedang menyambar. Agar
dapat meresapi cara mengatur waktu yang baik agaknya kita perlu belajar dari seorang
ksatria mengenai teknik memainkan sebilah pedang. Saya teringat kisah kepiawaian
sahabat nabi, Khalid bin Walid dalam bermain pedang. Begitu piawainya ia sampai-
sampai dijuluki Saifullah (pedang Allah).

Suatu saat Khalid memimpin pasukan Islam bertempur sengit di Yarmuk (wilayah
perbatasan dengan Syria) melawan pasukan Romawi di bawah panglima Gregorius
Theodore. Berkat kepandaiannya bermain pedang, banyak pasukan musuh terbunuh. Lalu
terjadilah sebuah peristiwa yang mengesankan.

Gregorius ingin menghindari jatuhnya banyak korban di pihaknya dengan menantang


Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena
sabetan pedang Khalid. Gregorius lalu mengambil sebilah pedang besar. Ketika
berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya
berperang dan kaitannya dengan Islam. Terkesan oleh jawaban Khalid, di hadapan
ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius akhirnya menyatakan diri masuk
Islam. Ia lalu belajar Islam sekilas, sempat menunaikan salat dua rakaat, bertempur di
samping Khalid dan akhirnya mati syahid di tangan mantan pasukannya sendiri.

Apa rahasia kesuksesan Khalid? Ternyata kepandaiannya mengibaskan pedang dilandasi


dengan iman kepada Allah SWT. Akibatnya lawan yang berhasil ditebasnya hanya
musuh-musuh Islam. Sama halnya dengan waktu, berbagai aktivitas untuk mengisinya
perlu juga didasari dengan iman yang kuat sehingga menjadi amal shaleh. Sebuah
pelajaran yang menarik, bahwa berbuat baik saja ternyata tidak cukup tanpa dilandasi
dengan iman dan sesuai dengan syariat-Nya.

Allah SWT pun sering mengingatkan manusia dalam berbagai firman-Nya mengenai
pentingnya kedua kunci manajemen waktu tersebut. Bahkan dalam QS. Al-Ashr, Dia
menambahkan dua kriteria lagi untuk menghindari kerugian yaitu saling nasehat-
menasehati dalam kebaikan dan ajak-mengajak dalam kesabaran.

Manusia yang bisa memanfaatkan karunia waktu secara fitrah akan mencapai kesuksesan
seperti Khalid bin Walid. Namun jika manusia lengah barang sedetik pun, pedang lawan
bisa menghunusnya dan berakhir dengan penyesalan.

***

Sikap seorang Muslim terhadap waktu dapat diibaratkan dengan sikap seorang ksatria
terhadap pedang andalannya. Semakin sering berlatih dan bertempur, maka ia akan
semakin berpengalaman dan semakin berkualitas permainannya, akhirnya semakin sulit
dikalahkan. Namun demikian menjadi ksatria andalan tidak menjadikannya terlena,
lengah, sombong, dan mengurangi latihan. Justru sebaliknya, ia makin meningkatkan
kewaspadaan dan tekun berlatih di waktu senggang agar selalu tangguh.

Ia tidak segan-segan mengevaluasi dirinya agar kualitas permainannya terus teruji.


Seorang ksatria yang berilmu padi justru mempergunakan kepiawaiannya sesuai dengan
porsi yang dibutuhkan, mengikuti aturan yang digariskan-Nya untuk membela
Diennullah. Itu semua ia lakukan karena sangat paham bahwa kepandaiannya akan
dimintai pertanggung-jawaban oleh Yang Maha Kuasa di akhirat kelak.

Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan Mu'adz bin Jabal, "Tidak akan tergelincir
(binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya 4
perkara, usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan,
hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, ilmunya dan apa-apa yang
ia perbuat dengannya." (HR. Bazzar dan Thabrani).

Demikianlah, seorang muslim harus menyatukan sang waktu ke dalam jiwanya yang
beriman sebagaimana pedang Khalid bin Walid yang berpadu dengan kemahirannya.
Bukankah motto hidup seorang muslim seharusnya adalah "Hayatuna kulluha 'ibadah."
(Hidup seluruhnya untuk ibadah).

***

Vita Sarasi
vitasarasi@yahoo.com
Morfelden-Walldorf, Jerman, 19 Februari 2005

Manusia-Manusia Malam

Publikasi: 28/02/2005 08:34 WIB

eramuslim - Malam bagi sebagian orang yang merasakannya, ada nuansa tersendiri
untuk jiwa. Dalam waktu dua belas jam itu segala aktivitas yang biasa terjadi siang hari
terhenti. Dan ketika kegelapan menutupi jagat maha luas berdiameter 4,9 exp 9 pc ini,
saat itulah keluar binatang malam pertanda dimulai kehidupan lain. Kehidupan malam.
Saat terindah bagi sang zahid menghitung-hitung, dan menimbang-nimbang potongan-
potongan kehidupannya.

Pukul 15.30 menit waktu Kairo ketika ia dihubungi via SMS. Usai shalat Ashar di
perempatan mesjid Rab'ah El Adawea. Fisiknya masih lelah, ia baru saja pulang kuliah.
Tapi, percikan air wudhu tadi cukup memberinya kesegaran baru, dan shalat Ashar yang
baru ditunaikannya menambah energi jiwanya. Sendi-sendinya kembali segar untuk
melakukan aktivitas baru.

"Nanti malam usai shalat Isya, kita bertemu untuk qiyamul lail" begitu bunyi SMS itu.

Ia menghela nafas panjang. Sesaat memutar otaknya ke janji pertemuan yang lain. Ia
teringat, tadi di kuliah ia bertemu kawannya satu grup sepak bola. Olah raga rutinnya
setiap minggu. Kawannya itu mengajak bertanding di stadion Syabab, Abbasea. Dekat
asrama internasional Al-Azhar. Sebuah stadion yang biasa disewakan kepada pelajar
asing. Tawaran itu begitu menggiurkannya, karena akan bertanding di malam hari. Usai
shalat Isya. Sesuatu yang belum pernah dirasakannya, bermain di bawah lampu tembak
dengan ribuan watt. Selama ini hanya melihatnya di layar televisi, ketika ada
pertandingan yang benar-benar bagus. Dan besok libur akhir pekan.

Pikiran jernihnya lebih memilih untuk ikut acara perkumpulan itu. Acara yang sederhana,
tapi dari sana ia menemukan kenikmatan seperti malam-malam yang lalu. "Main bola
bisa lain waktu, yang ini lebih penting," gumamnya pelan menjawab protes hawa
nafsunya untuk datang ke stadion.
Dalam ruang berukuran cukup luas itu berkumpul beberapa anak muda. Dari berbagai
aktivitas dan hobi. Mereka duduk bersama, wajah-wajah mereka terlihat cerah. Seakan
beban-beban siang yang menghimpit hilang begitu saja. Mereka akan menjumpai menit-
menit yang mahal itu.

Seseorang diantara mereka berkata halus, sepertinya yang mengetuai anak-anak muda itu.
Ia mengutip perkataan Muhammad Ahmad Rasyid seorang da'i pergerakan dari Irak :
"Sujud dalam mihrab, beristigfar ketika menjelang subuh, dan air mata saat munajat
merupakan ketinggian yang harus dikumpulkan orang-orang yang beriman. Jika ada
kecenderungan dengan gemerlap surga dunia berupa uang, wanita, atau sebuah istana
yang megah. Ketahuilah, sungguh surga seorang mukmin itu berada di mihrabnya"

***

Suatu waktu ia membaca kisah pemimpin besar yang dicatat sejarah. Biografi Al Faruq
Umar Bin Khattab. Otaknya bertanya-tanya apa yang dilakukan lelaki tegas itu di waktu
malam, disimaknya beberapa riwayat Umar dalam qiyamul lail.

Seorang imam ahli tafsir Al Hafidz Ibnu Katsir berkisah tentang malamnya Umar: "Ia
sholat Isya berjamaah, lalu masuk ke rumahnya dan melanjutkan shalat sampai waktu
fajar tiba."

Ia terdiam. Kagum, haru, dan dalam diam ia bertanya, sanggupkah aku menirunya? Umar
sebagai kepala negara, suami, murabbi, dan ayah untuk anak-anaknya, masih
menyempatkan diri untuk shalat malam. Ia yakin kesibukan dirinya bukan apa-apa
dibanding kesibukan khalifah kedua itu. Ia belum puas, ia simak lagi riwayat lain.

Umar pernah berkata kepada sahabat Mu'awiyah Bin Khadij-yang heran karena melihat
dirinya jarang tidur: "Jika aku tidur siang hari maka aku akan menelantarkan rakyatku,
dan jika aku tidur di malam hari aku menelantarkan diriku. Bagaimana aku bisa tidur
dengan dua keadaan ini?" inilah jawaban sederhana dari sosok pemimpin besar, yang
setan pun takut berjumpa dengannya.

Pemuda ini pemimpin sebuah persatuan pelajar asing. Ia juga seorang yang mandiri
dalam ekonomi. Masih muda, baru dua puluh dua tahun. Dengan antrian aktivitas yang
panjang. Tapi ia selalu merasa bukan apa-apa. Bukan pujian dari orang-orang yang ingin
ia terima karena sukses sebagai aktivis, atau sorak sorai penonton sepak bola saat ia
mencetak gol. Bukan, bukan itu kemuliaan. Dulu memang ia sangat menikmati 'fasilitas
dunia' itu, tapi ia merasa berjalan sendiri. Hampa seperti kapas yang ditiup angin. Ia
merasa lemah untuk memimpin diri sendiri. Cukuplah ia merasa bahagia jika di malam
yang gelap gulita ia terbangun, lalu mendirikan shalat untuk mengadukan segala
kepenatan hidup.

"Anda di sini juga?" tanyanya setengah percaya. Kawan yang disapanya itu adalah yang
tadi mengundangnya bertanding sepak bola.
"Iya. Ini lebih penting." Sambil memutarkan pandangannya mengenali seluruh yang ada
dalam ruangan itu. Ia merasa kecil sendiri. Malu. Pemuda-pemuda yang ada bersamanya
sekarang adalah orang-orang yang kesibukannya lebih banyak darinya. Tapi mereka
masih menyempatkan untuk datang.

Seribu empat ratus tahun lalu Rasulullah SAW bersabda, "Kenikmatan seorang hamba
Allah adalah ketika ia shalat di waktu malam." Dan katanya lagi, "Shalat yang terbaik
adalah shalat Daud AS, tidur sampai pertengahan malam dan bangun di sepertiganya."

Setiap muslim mengenal Nabi Daud AS, pemimpin kerajaan terbesar Bani Israel
sepanjang sejarah. Kelak ia pun mendapat keturunan pemimpin besar yang rakyatnya
bukan saja manusia, namun dari bangsa Jin dan binatang-binatang patuh kepadanya.
Seorang Nabi juga, Sulaiman AS.

Lamat-lamat dalam keheningan malam di temani bau debu gurun dan samar cahaya
rembulan, terdengar seseorang melantunkan Ayat Quran. "Sesungguhnya orang-orang
yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil
mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan-nya. Sesungguhnya mereka
sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur
di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)."
(Adz Dzariyat 15-18)

***

Seribu Menara, 250205


M. Yayan Suryana,gaizka_kaka@yahoo.com
Untuk siapa saja yang pernah 'kehilangan' malam.

Saat Bintang Meredup

Publikasi: 25/02/2005 08:20 WIB

Bukan karena ku berubah lemah,


Saat aku menangis di pangkuanmu ibu Bukan pula ku jadi pengecut,
Saat aku adukan semua kesal dalam dadaku Bukan pula ku tlah munafik,
Saat aku tak mampu jadi pahlawan...

eramuslim - Benar apa yang dikatakan ustadz Anis Matta, tak selamanya pahlawan
berkubang dalam keemasan di setiap detik hidupnya. Bahkan mungkin hanya ada satu
momen besar dalam hidupnya. Sisanya... berkisar kesedihan, jatuh, tertekan atau
mungkin hidup yang datar saja. Karena itulah manusia. Hamba yang diciptakan Allah
penuh dengan keluh kesah dalam hidupnya. Bila ujianNya berhasil dilalui layaklah dia
menjadi bintang, atau paling tidak tergores namanya di sudut-sudut langit.

Seorang penulis terkenal misalnya. Dengan lentik-lentik jemarinya yang menari diatas
tuts keyboard komputer, dia bisa merayu manusia menuju kebaikan, dia mampu kobarkan
semangat jihad para pejuang, bahkan diapun dapat meruntuhkan jiwa-jiwa pendosa. Tapi,
suatu ketika kelak mungkin, dalam hidupnya hamba hadir cobaan hingga jiwa yang
begitu tinggi di mata pembaca menjadi lemah di hadapan seorang teman sejati. Naifkah?

Apakah kita hendak mengukur kehebatan pahlawan dari sisi manusianya? Bila kita
memandangnya sebagai manusia, itu adalah sebuah kewajaran karena manusia adalah
seorang hamba. Seorang yang kadar keimanannya bisa naik bisa turun.

Apakah kita hendak mengukur kehebatan pahlawan dari sisi ilmunya? Bila kita
memandangnya sebagai seorang ulama, itu adalah sebuah kewajaran karena ulama adalah
manusia. Makhluk yang bernama manusia yang adalah seorang hamba.

Dari sisi manapun pahlawan adalah manusia, hamba yang penuh dengan sisi-sisi
kekurangan yang di bekali Allah Subhanallahu Wa Ta'ala sebagai saudara dari kelebihan.
Begitu pula dengan kadar keimanan makhluk yang jiwanya ada diantara jemariNya,
mudah berubah.

Lalu, saat kita hendak mengadili bintang karena sinarnya yang tak lagi terang, sebenarnya
sudah adilkah kita hingga pantas untuk mengadilinya?

Saat cahaya bintang itu meredup mungkin kabut terlalu tebal melingkupinya hingga dia
perlukan pundak seorang sahabat untuk meluruhkan mendung dalam hatinya. Ataukah
bintang itu sebenarnya hanya butuh waktu bertapa sejenak dari kebisingan dunia hingga
jiwanya kembali tersucikan setelah khalwat dengan pemilik cahaya abadi. Barangkali
bintang itu sebenarnya ingin mengungkapkan semua rahasia tapi malu karena dia adalah
bintang, hingga hanya goresan-goresan kalimat tidak jelas menghiasi buku hariannya.

Di balik itu dalam Al-quran disebutkan bahwa setiap muslim adalah bersaudara. Atau ada
ungkapan di balik lelaki yang sukses ada seorang istri yang hebat. Intinya semua hasil
tidak bisa terwujud hanya karena satu, diri. Apalagi tanpa melibatkan pemilik semesta.
Selain Allah Subhanallahu Wa Ta'ala, tempat memohon pertolongan dan berharap,
hamba butuh seorang teman sejati yang mengingatkan ke mana harus berjalan menuju
tempat pelabuhan hakiki. Sahabat sejati dapat berwujud suami/istri, orang tua, sahabat
ataukah bahkan buku/ilmu.

Merekalah penyelamat saat bintang tak mampu berdiri sendiri, saat lelah menyapa hingga
saat kesedihan membunuhnya. Merekalah jiwa-jiwa yang diturunkah Allah sebagai
Tangan-tanganNya yang penuh kasih.
...bukan karena apa ataukah apa
hanya saja ini adalah masanya
...

***

Fatiya Al qudsy
Batu Aji, 20 feb 05
alqudsy_muhajirin@yahoo.ie

Dialektika Cinta

Publikasi: 22/02/2005 07:57 WIB

"Samudera kan ku sebrangi"


"Gunung-gunung kan ku daki"
"Belantara kan ku jelajahi"
"Bara Api kan ku tapaki"
"Tuk buktikan, Cinta ini padamu jua"

eramuslim - Inikah gerangan ungkapan sosok arjuna yang sedang mabuk kepayang
dengan unga-bunga kehidupan bernama cinta?

Kekuatan cinta senantiasa menjadi misteri, karena yang lemah tiba-tiba menjadi kuat,
yang penakut tiba-tiba menjadi berani, yang bercerai-berai tiba-tiba menjadi bersatu dan
yang tadi-nya mahal seketika menjadi murah.

Inilah kekuatan cinta, ketika semua mata mengarah memandang, ketika suasana hati
menjadi terwarnai, tidak mengenal negara dan bahasa, kekuatan cinta adalah milik
semua.

Ketika Aceh bergetar dan lautan meluap, segenap cinta pun tercurah, mengundang
pejuang cinta dari berbagai pelosok bumi untuk menumpah ruahkan bahasa cinta mereka
di bumi rencong.
Entah muslim dari Turki, Mesir, Saudi, Eropa, Pakistan, India, Amerika, Kanada,
Malaysia dan pelosok lainnya , walaupun tak fasih mereka mengucap "Aku Cinta Kamu
Karena Allah" (dalam bahasa indonesia) tapi cita rasa-nya tetap terasa, rasa-nya rasa
cinta!

Karena memang cinta tak melulu harus diungkapkan dengan verbal, terkadang lebih
pekat rasa-nya jika cinta dibuktikan dengan amal.

Gustav Le Bon, seorang filusuf dan ahli psikologis dari perancis menyimpulkan bahwa
manusia pada umum-nya kesulitan mencerna sesuatu yang abstrak dibanding sesuatu
yang nyata.

Jadi, jika ungkapan verbal cinta adalah abstrak, maka amal cinta adalah nyata!
Subhanallah wa Allahmdulillahi wa la Ilaha ila Allah wa Allahu Akbar!!

Di ujung barat bumi pertiwi, Allah buktikan cinta-Nya dengan nyata, disyahidkan-Nya
sekian banyak mujahid dan mujahidah da'wah. Dibuktikan cinta-Nya kepada para
syuhada dengan jasad tetap terjaga rapih aurat-nya hingga bersamayam ke dalam lahat,
ditebarkan wangi kesturi keluar dari jasad mereka, dan dibiarkan masjid-masjid itu tetap
kokoh berdiri.

Sebagai bukti cinta, bagi para pencari cinta sejati.

Namun inilah yang disebut suka duka dalam bercinta, tak selama-nya cinta bersambut,
terkadang hanya bertampuh di sebelah tangan, sebuah cinta yang tak berbalas, tak
berbalas oleh bukti cinta. Sebuah ironi cinta.

Entah mengapa cinta itu mudah terucap, ketika diperlihatkan kebesaran Allah,
"Alhamdulillah, Subhanallah" semua bahasa verbal cinta menjadi teramat mudah terucap,
namun sayang bukti cinta-nya tak kunjung ada. Hampa! layak-nya baris-baris jama'ah di
masjid-masjid yang tersisa.

Entah mengapa warung-warung kopi dan kedai-kedai mie goreng itu bisa menjadi lebih
menarik, padahal seumur-umur kedai-kedai tersebut tak pernah mengungkapkan cinta
kepada para pengunjungnya, apalagi hingga (mampu) membuktikannya.

Rupa-nya cinta telah berlari ke lain hati, ironi cinta, cinta yang tak berbalas.

Layak-nya dialektika cinta Syaikh Abdul Mu'iz Abdus Sattar, ketika beliau diutus Al
Ikhwanul Muslimin pada tahun 1946 selama 2 bulan penuh ke Palestina untuk
menyadarkan bahaya zionis bagi eksistensi muslim Palestina.

Didapati oleh Syaikh Abdul Mu'iz kondisi Masjidil Aqsha yang senyap dari para pencari
cinta, ketika situasi ini ditanya kepada para jama'ah, jawab mereka kepada Syaikh Abdul
Mu'iz. "Sholat itu berat bagi mereka, tapi bila mereka diseru untuk berperang mereka
pasti segera memenuhi seruan secepat kilat."
***

Renungan cinta yang tak pupus oleh waktu,

"76 tahun berjalan sudah..."


"59 tahun Indonesia mengisi kemerdekaannya"
"57 tahun sejarah perjuangan Palestina"
"20 tahun lebih bunga tarbiyah bersemi"
"Aceh.... 6 tahun berjalan sudah..."
"Sayang Aceh?... 2 bulan berlalu sudah"

bagai dialektika cinta kekal Sang Khaliq kepada mahluk...

"Mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat" (QS Al Baqarah: 45)

***

Syamsul Bachri
<syams at gmx dot de<
Keep the spirit to help aceh ! Don't give up bro-sis ! Ishbir wastaqimu...!

Take it or Lose it

Publikasi: 21/02/2005 11:42 WIB

Eramuslim-Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos


kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar, ada
juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam
kelas itu, dua puluh orang.

Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan
kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya
berikan.

Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada
yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan.
Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh
semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.

Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang
pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang
meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil.

Lalu saya katakan kepada mereka, "Inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia
atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang
lain yang melakukannya".
Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya
sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang 'wajib' memberinya tempat
duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk.
Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini, orang lain lah yang
melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini.

Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang
yang lelap tertidur meski matahari sudah terik. "Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam
tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu. Dan entah kenapa hingga detik ini saya
tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa
orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk
mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau
bahkan bermalas-malasan, terdapat kemungkinan kehabisan rezeki.

Contoh kecil, datanglah terlambat dari jam kantor Anda yang semestinya. Perusahaan
tidak hanya akan mengurangi gaji Anda akibat keterlambatan Anda, bahkan kinerja Anda
dianggap minus dan itu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap Anda. Bisa jadi
Anda tidak mendapatkan promosi tahun ini, sementara rekan Anda yang tak pernah
terlambat lebih berpeluang.

Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan
orang lain, "Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya
bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan, saya yakin
Anda bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat Anda terus
berbicara dan tak melakukan apa pun. Sementara orang-orang di luar sana langsung
berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika Anda sanggup! Terus berbicara dan
mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat Anda diakui keberadaannya.
Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya.

Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk
urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan
mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan
kualitas ibadahnya itu sendiri. Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai
anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya
yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka
mungkin saja awal dari cinta. Semoga.

Bayu Gautama

Janji untuk Ibu

Publikasi: 18/02/2005 08:08 WIB


eramuslim - Pautan dua cinta yang terikat kuat antara ibu dan anak sepertinya takan
pernah putus. Tetapi kekokohannya bukan tidak mungkin usang dan kendur. Dan selalu
anak yang mengendurkan tali kasih itu. Ibu, rasanya terlalu mulia untuk dituduh
mengusangkan kekokohan pautan cinta suci yang berakar di hatinya.

Ibu tidak pernah mengumbar janji untuk menyayangi anaknya. Derai air mata dan
cucuran peluhnya jauh lebih nyaring mengatakan "sayang" ketimbang janji manis atau
bahkan omelannya ketika si anak berulah. Baginya cinta dan sayang selalu ada untuk
anak-anaknya, hingga ia tak perlu lagi janji, karena janji hanya untuk sesuatu yang belum
tersedia.

Tetapi janji adalah suara sehari-hari yang sampai ke telinga seorang ibu dari mulut anak-
anaknya. Dan sering kali janji itu jauh lebih memekakan telinga daripada menjernihkan
mata karena melihat bukti dari janji-janji itu.

Seorang anak yang merasa sudah cukup sukses suatu ketika berucap janji kepada ibu
yang disayanginya. "Ibu, kalau sudah punya cukup uang saya ingin sekali mengongkosi
ibu dan ayah naik haji." Ibunya tersenyum. Dari ujung matanya kristal-kristal bening
meleleh. Didekapnya buah hati yang memiliki niat baik itu. Tanpa suara. Hanya dadanya
yang bergemuruh memikul haru yang begitu besar. Bayangan masa-masa kecil anaknya
yang menyimpan banyak kenangan manis lalu pun hadir. Disusul bayangan kerinduan
yang sangat untuk berziarah ke baitullah. Dalam hatinya ia berucap, "Semoga niat
sucimu terkabul, sayang." Dan sebuah kecupan mendarat di dahi puterinya yang cantik
itu.

Waktu pun berlari menyisakan hitungan hari, hingga pada suatu saat keberuntungan
berpihak pada puteri cantik pemilik niat baik itu. Bersama suami dan anak-anaknya ia
kembali ke tanah air dari tugas dinas suaminya. Tentu di kantong keluarga kecil itu telah
terkumpul cukup uang. Hal ini dipahami oleh sang ibu. Seketika hatinya berbunga
menyambut kepulangan anak, mantu, dan cucunya.

Namun meski demikian, pantang bagi si ibu untuk mengungkit janji yang pernah
diucapkan puterinya tentang naik haji itu. Ia tak ingin selaksa amalnya terkotori oleh
sedikit pun pamrih. Namun, puterinya yang cantik itu seperti lupa dengan janji yang
diucapkannya. Seminggu, sebulan, dua bulan, dalam hati, seorang bunda menunggu-
nunggu anaknya yang mungkin akan memberikan buku ONH (Ongkos Naik Haji) atas
namanya dan suaminya. Waktu pun berlalu tanpa suara, seperti tak berani janji kapan
peristiwa itu akan terjadi. Hingga tibalah suatu hari, hati seorang bunda pecah dalam
diam ketika anaknya itu membeli sebidang tanah seharga tiga kali ongkos haji untuk
dibuat kolam ikan dan tempat peristirahatan keluarga kecilnya bila pulang ke desa.

Tak tahu sebesar apa gemuruh yang bergelombang di dada ibu, hanya dia yang tau,
karena ia tetap tersenyum di depan semua anaknya. Tak terkecuali di depan puterinya
yang cantik itu. Ia tak pernah menagih janji anaknya, bahkan sekedar mengungkit pun
tidak. Tapi, entah isyarat apa ketika ikan-ikan di kolam anaknya tak pernah menghasilkan
keuntungan. Rumah peristirahatannya pun menjadi hanya sebatas rumah kosong yang
tidak banyak memberi manfaat. Lalu, entah isyarat apa ketika anak-anak yang lain yang
ikut menggunakan uang anak perempuan ibu itu untuk berbagai usaha, tak satu pun dari
mereka yang sukses. Alih-alih, sebuah kesalah-pahaman keluarga terjadi meretakan
keharmonisan keluarga ibu yang diingkari janji itu.

Entah isyarat apa. Apakah itu akibat sakit hati ibu karena anaknya sendiri telah
mengingkari janji untuknya? Hanya "mungkin" jawabannya. Karena senyum ibu tidak
pernah berubah untuk semua anaknya; do'a ibu tidak pernah berganti untuk semua buah
hatinya, selalu untuk kebaikan; dan pangkuan serta pelukannya selalu terbuka untuk
seluruh belahan jiwanya. Tapi apakah seorang ibu tidak bisa sakit hati? itu juga
pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Karena ibu juga manusia biasa, tapi sangat luar
biasa jasanya. Terlalu mahal semua jasanya untuk ditukar dengan janji-janji kosong.
Mungkin kekebalan hati seorang ibu telah mampu menyembunyikan sepedih apapun
sakit hatinya, namun Allah tetaplah Dzat yang Maha Adil yang telah mentakdirkan
Rasul-Nya bersabda: "Keridhoan Allah ada dalam keridhoan kedua orang tua, dan
kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan Allah."

Mungkin lautan kasih sayang ibu terlalu dalam untuk sekedar menenggelamkan sebesar
apapun kesalahan anak-anaknya hingga tak muncul kepermukaan. Tetapi sebagai
anaknya, kita harus memahami sifat manusiawi ibu kita, bahwa beliau juga punya hati
yang sakit jika tergores. Dan yang pasti Allah adalah Dzat yang Maha Adil, dan tidak
pernah lupa dengan janji-janji yang tertuang dalam ajaran-ajaran Rasul-Nya. Jadi,
berhati-hatilah memelihara janji yang pernah diucapkan di hadapan bunda.

Wallahu a'lam.

***

Zamzam M. Ma'mun
<zetth_two at yahoo dot com>
Seketika setelah mendengar teteh menjanjikan ongkos naik haji untuk Umi dan Apa.
"Teh, Semoga Allah memberi taufiq untuk menepati janjimu pada Umi dan Apa."

Berbeda itu Indah

Publikasi: 17/02/2005 08:23 WIB


eramuslim - Saat engkau bertemu saudara yang berbeda rupa, kulit, bangsa ataupun
bahasa apa yang engkau pikirkan? Apalagi dia berkulit hitam yang kalau tersenyum
hanya gigi putihnya saja yang kelihatan? Tak perlu keluar negeri, di dalam negeri kita
sendiri ada banyak yang berbeda bukan? Pertama mungkin kita berkata dalam hati "ah
dia bukan asli sini" atau "bukan orang kampungku" dan sebagainya. Dan bila kebetulan
berada di negeri orang yang notabene tempat berkumpulnya orang berbagai negara
mungkin jadi " hmm bukan dari Asia, atau bukan Eropa, atau bukan Amerika, dan bla...
bla..." kata bukan tadi berarti sudah menyebut suatu beda. Berbeda dari kita.

Ya terus terang saya sering dibuat terkejut ketika malam-malam sedang asyik di depan
komputer asrama tiba-tiba disapa seorang Kenya, ataupun Sudan "Haii... How are you!",
pertama kali terus terang saya takut melihat wajah hitam mereka. Maklum, belum
terbiasa mungkin. Hingga akhirnya saya pun bersahabat dengan mereka. Saya mengenal
Kansly, Musa negro yang muslim, Shako yang baik hati dan otaknya cerdas, dan
semuanya yang begitu ramah serta lebih bisa menerima perbedaan dibanding saya yang
orang Asia.

Saya setuju dengan kata beda itu indah, dia merupakan sinergi yang bisa memberi warna
dalam hidup. Bisa membuat kesombongan luruh, memahami kesejatian hidup, menepis
segala bentuk rasa prasangka untuk lebih toleran terhadap sesama. Apalagi dengan aneka
bahasa verbal dan non verbal yang mendukung terciptanya kolaborasi warna pelangi.
Karena yang dinilai bukanlah kebagusan rupa, keindahan wajah, kekayaan yang
melimpah tapi satu adalah siapa dari kita yang paling takwa. Subhanallah, Duhai Yang
Mencipta Indah dan Perbedaan.

Tepatlah kiranya Allah mengatakan Al-Qur'an surat Al-Hujurat: 9, "Hai manusia,


sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan,
dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang lebih
bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal."

Dalam hadits pun disebutkan HR Imam Muslim, Shahihul Muslim, tafsir Ibnu Katsier juz
7 hal 322, "Sesungguhnya Allah tidak akan melihat bentuk-bentuk tubuhmu dan harta
kamu tetapi akan melihat isi hati kamu dan amal-amalmu".

HR Imam Ahmad tafsir Ibnu Katsier juz 7 hal 322 Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw
bersabda kepadanya, "Lihatlah, engkau tidak lebih baik dari yang berkulit merah dan
pula dari yang berkulit hitam melainkan jika engkau mengunggulinya dengan taqwa
kepada Allah.".
HR Imam Muslim, Terjemahan Shohih Muslim dari Yahya bin Hushain r.a., dari
neneknya Ummul Hushain, katanya dia mendengar neneknya bercerita, "Aku pergi
menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah SAW ketika Haji Wada'. Ketika itu beliau
berkhutbah panjang lebar. Antara lain aku mendengar beliau bersabda, "Seandainya
pejabat yang kuangkat dalam pemerintahan seorang budak pontong hidung, mungkin
yang dimaksud nenek, budak hitam, tetapi dia memerintah kamu dengan Kitabullah,
maka hendaklah kamu patuh dan setia kepadanya."

Berbeda itu indah. namun semoga ini bisa mencambuk kita untuk lebih mendekat
padaNya, sang Pencipta Beda.

***
Aridaistia, Kampoeng Soshigaya
<arida_bi at yahoo dot com>

Ketika Cinta Berbuah Dilema

Publikasi: 17/01/2005 09:29 WIB

eramuslim - Suatu hari Fatimah binti Rasulullah Saw, berkata kepada Sayidina Ali,
suaminya. "Wahai kekasihku, sesunguhnya aku pernah menyukai seorang pemuda ketika
aku masih gadis dulu."
"O ya," tanggap Sayidina Ali dengan wajah sedikit memerah. "Siapakah lelaki terhormat
itu, dinda?"
"Lelaki itu adalah engkau, sayangku," jawabnya sambil tersipu, membuat sayidina Ali
tersenyum dan semakin mencintai isterinya.

Percakapan romantis Siti Fatimah dengan Sayidina Ali di atas mungkin sudah menjadi
hal biasa bagi para suami isteri. Tetapi tidak bagi mereka yang belum menikah.
Percakapan-percakapan romantis yang sering ditemukan dalam buku-buku pernikahan itu
sungguh sangat imajinatif bagi para lajang yang sudah merindukan pernikahan, sekaligus
juga misteri, apakah ia bisa seromantis Siti Fatimah dan Sayidina Ali?

Alangkah bahagianya, seorang pemuda yang sejak lama memimpikan obrolan-obrolan


romantis akhirnya sampai di terminal harapan, sebuah pernikahan suci. Apa yang selama
ini menjadi imajinasinya saat itu akan ia ungkapkan kepada isterinya. "Wahai kekasihku,
ada satu kata yang dari dulu terpenjara di hatiku dan ingin sekali kukatakan kepadamu,
aku mencintaimu."

Tetapi, kebahagiaan ini hanya milik mereka yang telah dikaruniai kemampuan untuk
mengikat perjanjian yang berat (mitsaqan ghalidha), pernikahan itu. Bagi mereka yang
masih harus melajang, semuanya masih hanya mimpi yang terus menggoda.

Terkadang, ada pemuda yang tidak kuat melawan godaan imajinasinya. Keinginan untuk
mengungkapkan cinta itu tiba-tiba sangat besar sekali. Tetapi kepada siapa perasaan itu
harus diungkapkan? Sementara isteri belum punya, kekasih pun tidak ada. Karena kata
pacaran sudah lama dihapus dalam kamus remajanya. Tapi, dorongan itu begitu besar,
begitu dahsyat.

Awalnya, kuat. Sampai tibalah sebuah perjumpaan. Sebuah rapat koordinasi di organisasi
kemahasiswaan atau dalam tugas kelompok dari sekolah telah mempertemukan dua
pesona. Imajinasi itu kembali menari-nari.
"Nampaknya, dibalik jilbabnya yang rapi ia adalah gadis yang kuimpikan selama ini."
"Oh, ketegasannya sesuai dengan penampilannya yang kalem, dia mungkin yang
kuharapkan."
Dan cinta itu hadir.

Tetapi, sudahkah saatnya cinta itu diucapkan? Padahal mengikat perjanjian yang berat
belum sanggup dilakukan. Lalu apa yang harus dilakukan ketika dorongan untuk
mengatakan perasaan semkain besar, teramat besar? Hingga perjumpaan dengannya jadi
begitu mengasyikkan; menerima sms-nya menjadi kebahagiaan; berbincang dengannya
menjadi kenikmatan; berpisah dengannya menjadi sebuah keberatan; ketidakhadirannya
adalah rasa kehilangan.

Indah. Tapi ini adalah musibah! Interaksi muslim dan muslimah yang semakin longgar
telah menggiring mereka kepada dua dinding dilema yang semakin menyempit dan
begitu menekan. Cinta terlanjur hadir. Meski indah tapi bermasalah. Mau menikah,
persiapan belum cukup atau kondisi belum mendukung. Menunggu pernikahan,
seminggu saja serasa setahun. Melepaskan dan memutuskan komunikasi, cinta terlanjur
bersemi. Menjalani interaksi seperti biasa, semuanya membuat hati semakin merasa
bersalah.
Apa yang bisa dijadikan solusi? Jawabannya akan sangat panjang lebar jika yang
dijadikan landasan adalah realita dan logika. Tetapi, marilah kita bicara dengan nurani
dan keimanan, agar semua bisa terselesaikan dengan cepat dan tuntas.

Tanyakan kepada nurani tentang keimanan yang bersemayam di dalamnya? Masihkah


memiliki kekuatan untuk mempertahankan Allah sebagai nomor satu dan satu-satunya?
Dengan kekuatan iman, cinta kepada Allah bisa mengeliminir cinta kepada seseorang
yang telah menjauhkan dari keridhaan-Nya. Cinta macam apa yang menjauhkan diri dari
keridhaan Allah? Untuk apa mempertahankan cinta yang akhirnya membuahkan benci
Dzat yang sangat kita harapkan cinta-Nya?

Tanyakan pada keimanan dan nurani, siapa yang lebih dicintai, Allah ataukah "dia"?

"Qul Aamantu Billahi tsummastaqim!" (al-Hadits)

Wallahu a'lam.

***
Special untuk mereka yang sedang terjebak dalam lorong-lorong dilema bernama
"cinta". Buat kawan-kawan seperjuangan di Kairo, Tafahna al-Asyraf, dan Zaqaziq,
Mesir, kuatkan hatimu! Jadilah pemenang melawan sisi lain hatimu! Bersama doa dan
cintaku.

Zamzam muharamsyah
zetth_two@yahoo.com

Kepedihan itu Ternyata Pertolongan-Nya

Publikasi: 14/01/2005 08:59 WIB

eramuslim - Hampir selama tujuh bulan saya berada dalam kesedihan mendalam.
Bagaimana tidak, majikan tempat saya bekerja, sangat tidak baik. Keras, judes, salah
sedikit 'ngamuk', dan banyak lagi sifat yang sesungguhnya seringkali membuat hati ini
miris. Saya tidak menyangka jika bekerja di luar negeri ternyata tidak seperti yang saya
duga sebelumnya. Minimal itu yang terjadi pada diri saya.
Namun, Alhamdulillah, sedikit demi sedikit saya bisa banyak belajar menghadapi
keadaan ini. Ada hal lain yang ternyata lebih menyedihkan saya mengenai perlakuan
majikan. Sesuatu yang berhubungan dengan sejauh mana kekuatan keimanan saya selama
ini.

Kami bekerja lima orang. Semua dari Indonesia. Sayalah orang yang paling baru. Jadi,
jika ada apa-apa saya harus menurut pada mereka yang sudah senior. Termasuk masalah
makanan sehari-hari. Kami berlima masak sendiri. Yang menjadikan saya sedih adalah
bahan-bahan yang kami makan ternyata sesuatu yang diambil dari tempat kerja kami.
Dan itu tanpa sepengetahuan sang majikan. Jika majikan tahu, entah apa yang terjadi
pada kami.

Bertahun-tahun saya belajar agama. Bertahun-tahun saya bergaul dengan mereka-mereka


yang sangat taat dengan aturan Allah. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang halal, haram
dan tentu juga syubhat. Mengalami keadaan yang seperti ini, tentu hati saya sangat
berontak. Retak.

Tapi mau bagaimana, saya tidak bisa melawan kawan-kawan yang sudah lama. Ingin
sekali pindah, namun tak mudah, sebab ini bukan negeri sendiri. Ingin pulang kampung,
dan itu juga lebih parah, sebab saya ingat betapa susah proses untuk bisa bekerja di luar
negri. Di samping biayanya mahal, ada banyak liku-liku yang saya alami dengan PJTKI
di sana.

Akhirnya, setiap hari saya selalu berada dalam kebingungan dan kesedihan. Saking
bingungnya, saya menulis banyak email kepada seorang penulis yang tulisannya sering
saya baca di rubrik oase iman ini. Saya mohon kepadanya untuk didoakan agar saya bisa
keluar dari jerat syubhat ini.

Suatu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan yang penuh berkah, terjadi sebuah
peristiwa yang menimpa diri saya. Minuman yang saya buat, untuk dijual ke konsumen,
tercemar minyak solar. Konsumen itu mengadu kepada kami. Kami mencoba untuk
mengatasi hal ini, tapi ternyata terdengar majikan. Tanpa kompromi lagi, saya dimarahi
habis-habisan. Hari itu juga tempat kerja saya dipindah. Semua alat untuk membuat
minuman dibawa semua. Saya tidak lagi bekerja bersama empat kawan saya. Saya
bekerja sendiri dari pagi sampai petang tidak ada yang menemani. Kecuali pelototan mata
majikan yang sangat tidak bersahabat.
Seperti dipenjara, hari-hari saya bekerja dikelilingi tembok yang membatasi dengan dunia
luar. Semua masalah saya hadapi sendiri. Tidak seperti ketika kami masih berlima.
Kesedihan itu datang lagi.

Namun , setelah saya renungkan, ternyata ini adalah sebuah pertolongan besar dari Allah
SWT. Karena, walaupun saya diasingkan, ternyata saya justru dapat menghindari
makanan tidak halal selama ini. Yang jika boleh saya katakan adalah hasil curian milik
majikan. Saya mendapat jatah makanan dari majikan, walaupun kadang sisa-sisa
makanan keluarga mereka. Tapi sungguh ini jauh lebih baik. Yang terpenting ada
kehalalan di dalamnya. Dan yang paling mengharukan, saya bisa shalat berjamaah
tarawih di masjid, sedang teman-teman yang lain terikat dengan order kerja yang sangat
banyak.

Duh, Allah.., di awal Ramadhan kemarin, saya akhirnya meyakini, ternyata kepedihan
yang menimpa bukan sekedar perih dan nyeri tapi jauh lebih dari itu, sebuah anugerah,
sebuah pertolongan. Bahwa Allah terrnyata sayang pada hambanya, bahwa Allah tidak
rela keberkahan Ramadhan ternodai dengan ketidakhalalan dan Ia memberikan sebuah
solusinya. Allah Maha Besar!

***

woyo72@yahoo.com
Suswoyo

(Ketika) Empati Telah Mati

Publikasi: 13/01/2005 07:53 WIB

eramuslim - Seorang anak penyapu gerbong berusia tak lebih dari sembilan tahun
sempat membuat dua mahasiswi berteriak hingga mengalihkan perhatian hampir seluruh
penumpang di gerbong tersebut. Mahasiswi itu merasa kaget karena anak itu manarik-
narik bagian bawah celana jeans-nya untuk meminta uang. Serta merta seorang pria
dewasa berbadan kekar yang tak jauh dari dua mahasiswi itu melayangkan punggung
tangannya tepat di bagian belakang kepala anak itu. Tidak hanya sekali, tapi beberapa
kali.
"Keluar kamu, kurang ajar!" tangannya terus melayang hinggap di kepala anak tersebut.
Tidak cukup di situ, ditambah tendangan keras ke bagian tubuh anak yang tubuhnya
hanya sebesar paha si penendang. Saya yang melihat kejadian itu langsung berteriak dan
meminta pria itu menghentikan aksi kekerasannya.

"Dia ini kurang ajar pak, dari gerbong sebelah sudah kurang ajar." Ia membenarkan
aksinya.

"Tapi dia juga kan manusia, apa pantas diperlakukan seperti itu?" tanya saya. "Dan apa
tindakan bapak itu sebanding dengan kesalahannya? Tak perlu berlebihan seperti itu
lah..."

Episode berakhir dengan turunnya anak tersebut di stasiun selanjutnya. Sementara pria
berbadan tegap itu berdiri dekat pintu gerbong sambil berbincang dengan beberapa
penumpang lainnya, lagi-lagi mencoba membenarkan tindakannya.

Tiga tahun lalu di Stasiun Kalibata, Jakarta, seorang pria setengah baya babak belur
dihajar massa hingga koma. Kondisinya mengenaskan, wajahnya hancur, satu tangannya
patah. Di sisa-sisa nafasnya yang tersengal satu persatu, saya menangkap rintihannya,
"Saya bukan copet..."

Pria tersebut dijadikan tersangka pencopetan ketika seorang mahasiswi secara refleks
berteriak "copet" saat tasnya tersenggol pria yang sudah nyaris mati tersebut. Secara
serempak, dibarengi emosi yang tinggi puluhan pria langsung menggerebek dan
mendaratkan kepalan tangan, juga ayunan kakinya berpuluh-puluh kali kepada pria
tersebut. Padahal di belakang kerumunan tersebut, mahasiswi yang tadi refleks berteriak
itu meminta orang-orang yang sudah terlanjur beringas itu menghentikan aksinya, karena
ternyata, ia tak kehilangan satu apa pun dari dalam tasnya.

Tak satu kata pun bisa keluar dari mulut saya menyaksikan peristiwa itu. Bagaimana
dengan mereka yang telah terlanjur memukul?

Orang bersalah memang harus dihukum, tapi terlalu sering seseorang mendapatkan
hukuman yang tak setimpal. Kasus copet-copet yang dibakar misalnya, sebagian orang
mudah saja berkata "Bakar saja, atau lempar dari kereta yang melaju cepat, biar jadi
pelajaran bagi copet yang lain..."
Satu pertanyaan saja, bagaimana jika copet itu adik, kakak atau saudara Anda? Kalimat
itu juga kah yang akan keluar dari mulut Anda? Atau bahkan bila copet itu Anda sendiri?
Anda pasti meminta orang-orang menghukum Anda sewajarnya bukan? Anda bisa begitu
mudah bertindak berlebihan menghukum atau memberikan balasan atas kesalahan orang
lain. Bagaimana jika Anda yang berada pada posisi si bersalah? Relakah jika orang lain
memperlakukan Anda secara tidak adil? Ya, begitu pula dengan orang-orang itu. Saya
setuju mereka diberi hukuman atas kesalahannya, tapi memberikan hukuman lebih dari
tingkat kesalahannya, jelas saya tidak setuju.

Seperti kejadian di kereta itu, saya harus berdebat dengan pria berbadan tegap itu dengan
mengatakan bahwa tindakan kasarnya -menempeleng dan menendang- sangat tidak
sebanding dengan kesalahan yang dilakukan anak itu. Saya juga tak mengerti kenapa
nyaris semua orang di gerbong itu terdiam menyaksikan ketidakadilan berlaku di depan
mata mereka? Sebagian besar orang yang ada di depan gerbong itu para karyawan,
mahasiswa, orang-orang berpendidikan, tapi mengapa mereka hanya menutup mata?
Bahkan seorang bapak di samping saya sempat berkata, "Anak itu juga seharusnya jangan
kurang ajar..."

Saya katakan, cara anak itu meminta uang kepada penumpang (mungkin) memang salah.
Tapi itu hanya tindakan kecil yang tak pantas dibalas dengan tempelengan dan tendangan
keras berkali-kali ke tubuhnya. Kepada mereka yang terdiam dan tak berusaha melarang
pria tegap itu melakukan aksi kekerasan, akankah Anda diam jika anak itu adalah anak,
adik, keponakan, atau bahkan diri Anda sendiri?

Contoh sederhana, kita sering berharap orang lain memberikan tempat duduknya untuk
isteri kita yang tengah mengandung atau menggendong si kecil. Tapi nyaris setiap hari
kita tak pernah tergerak untuk berdiri dan merelakan tempat duduk kita untuk mereka
yang lebih berhak, kemudian berpura-pura tidur. Adilkah?

Mungkin empati sudah mati, atau telah pergi entah ke mana.

***

Bayu Gautama

Menangislah...

Publikasi: 11/01/2005 08:08 WIB


eramuslim - Pernahkah engkau mendengar cerita tentang kota-kota? Ketika ia
menumpahkan dahaganya dan memburu fatamorgana, lalu bertarung dalam kebisingan
dan kendati dengan kesombongannya ia hanya mampu menggigit jari?

Pernahkah engkau mendengar cerita tentang nenek moyang kita yang pelaut, menantang
ganasnya ombak agar dapat memberikan kepada cakrawala sebuah garis baru. Dan ketika
kegelapan mulai sirna di ujung fajar, sesungguhnya cakrawala terlalu luas untuk dihela
oleh sepotong garis?

Pernahkah engkau mendengar cerita tentang bumi yang diguncangkan dengan


guncangannya yang dahsyat, mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya,
hingga manusia bertanya-tanya, "Mengapa bumi jadi begini?"

Di sini. Dalam perenungan, kamu dapat menjawabnya selama kamu jauh dari panca
indramu. Dalam perenungan, nilai-nilai kehidupan terekam baik-baik, dan kamu niscaya
akan menemukan dirimu menjadi makhluk lain, yang tidak menyerupaimu. Aku berkata-
kata pada diriku sendiri sambil mengedarkan pandanganku ke sekeliling, tercekat duduk
di sebuah kursi kecil di sebuah kantin, suara televisi menjeratku ke sana. Memaksa kedua
belah mataku terpaku ke arah deretan bocah-bocah kecil yang berbaris tertidur dengan
tenang. Beralaskan dan berselimutkan kain seadanya, memanjang menutupi tubuh-tubuh
letih mereka dari kaki hingga leher. Sebuah realitas digelar, sebagain besar korban adalah
anak-anak. Padahal di mataku bocah-bocah kecil itu tampak begitu suci. Bahkan lebih
suci dari cahaya fajar yang tiap hari menyinari negeri ini.

Cahaya Fajar? Mungkin mereka tidak lagi mengenalnya ketika ratap tangis yang ada akan
menggelayuti mata-mata ibu, ayah dan saudara-saudara yang ditinggalkan. sementara
mata mereka terkatup untuk selamanya.

Ada juga bocah lain. Dia hanyalah seorang bocah kerempeng, kurus kering. Usianya
belum sepuluh tahun. Di wajahnya yang kurus tampak sepasang mata yang cekung oleh
kelelahan. Tangannya memerah karena dingin, namun lembut kendali luka-luka
memenuhi telapaknya. Tubuhnya mengigil, tapi sulit membedakan apakah ia kedinginan
atau sedang ketakutan Dengan pakaian yang basah kuyup ia menatap wajah-wajah asing
di sekelilingnya. Lama dalam diam, saat matanya terus memelototi kekosongan dalam
kebisuan. Saat yang keras dalam keheningan berlalu, ketika ia mencoba mengingat-ingat
nama itu. Akan tetapi secepat kilat kenangannya membawanya menerawang jauh ke
belakang. Dia tidak bicara. Siapakah keluarganya? Bahkan ketika ditanya dalam bahasa
Aceh sekalipun. Kebisuannya cukup mewakili seluruh perasaannya yang memang sudah
tanpa rasa lagi. 'Mute' total. Ini sudah lebih dari sekedar jawaban.

Pemandangan itu pantaskah membuat air mata menetes? Hampir seratus ribu lebih tubuh
terbujur kaku, sementara yang lain mengungsi tanpa persediaan makan dan air bersih.
Membangkitkan emosi kesedihan, tanpa kata-kata, lebih dari sekedar menangis. Awan
gelap kelabu menyelimuti negri ini, saat ia mencuri celak hitam dari mata langit. Ada
peristiwa yang tidak pernah terbayangkan di pagi itu, bahkan dalam kekayaan imaji
kanak-kanak ribuan bocah kecil yang pulas itu. Sebuah gempuran membahana di gerbang
negeri yang bisu, saat yang keras dalam keheningan pagi berlalu. Ketika tangis mereka
bersimfoni dengan derasnya air, ratap mereka dengan syahdu disenandungkan lewat
acara berkabung nasional, digubah dari relung kegelapan ombak laut yang mengalir
dengan cepatnya. Deras. Teriakan menyayat hati yang mampu mengimbangi.

"Kenapa harus Aceh?" Pertanyaan ini mewakili sanubarinya. Aku menoleh sekilas.
Seorang lelaki dengan kepala bulat - seperti telur yang sedang dinikmatinya bergumam
dalam geram. Di kantin ini, ia masih bisa makan, dan aku juga masih bisa makan. Ada air
bersih di sini, ada makanan lezat siap santap.

"Kenapa harus Aceh?" Aku mengulangi tanyanya, entah dengan maksud apa.

"Ya, kenapa harus Aceh? Kenapa tidak Jakarta?" Dia memandangku tajam. Kau tahu?
Masyarakat Aceh sudah kenyang dengan penderitaan, teror karena konflik GAM, dan
kini bencana alam dan entah nanti apalagi. Sementara daerah lain? kenyang dengan
kemaksiatan. Tapi argumen itu tidak cukup, kita tetap tidak akan pernah bisa menjawab,
kenapa harus Aceh? Masyarakat Aceh, Sumut, mereka bukan sekedar bagian bangsa kita,
tapi bagian dari jantung hati kita yang berdetak di tempat lain.
"Jakarta bukan tsunami, tapi meteor jatuh di laut Jawa," seseorang tidak menjawab, tapi
memberikan argumen lain.

Aku menyahut "Tidak perlu ada bencana. Seharusnya bukan semuanya..." bahwa
kemudian kalimatku berhenti begitu saja, menggantung di langit-langit tenggorokanku,
ketika teringat kisah kaum Nabi Nuh. Seharusnya tidak perlu ada kata 'Seharusnya' jika
segala sesuatu telah digariskan oleh Nya. Sambil bertanya-tanya, mungkinkah hidup
mundur sejauh ini?
Di zaman yang berwarna-warni ini, potret bangsa kita terluka dalam cermin sebagai
gambaran yang hitam pekat. Ada mereka yang setiap hari sibuk berpikir apa yang tersisa
untuk dimakan. Menyeret langkahnya satu persatu di tengah teriknya panas atau
sembilunya dingin malam. Tak tersisa kesempatan untuk berfikir istirahat dengan tenang.
Bagi mereka hidup adalah usaha keras memeras keringat hingga bencana alam menutup
akhir kisah perjalanan hidup mereka. Di luar itu semua, dalam realitas sosial di waktu
yang sama, maksiat tetap ditawarkan dengan megah dan gempita. Bahkan terkadang
harus bayar mahal untuk itu. Kasus rusaknya generasi dengan data-data yang
mencengangkan begitu akrab di telinga dan mata lewat layar televisi, surat kabar dan
selebaran-selebaran yang bertebaran di pinggir jalan. Mungkinkah?

Inikah jawaban mengapa Allah mengambil anak-anak agar mereka tidak perlu tumbuh
menjadi remaja yang disuguhi tayangan 'BCG', 'Virgin', dan semacamnya. Bukankah
Allah menjamin anak-anak yang meninggal sebelum baligh akan masuk surga tanpa
dihisab? Sementara kelebihan lain diungkapkan Rasulullah SAW dalam sabdanya , dari
Abdurrahman bin Samurah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "...Aku melihat
seorang dari ummatku (pada hari akhir) ringan timbangannya. Namun afrathnya (anak-
anaknya yang meninggal masih kecil) mendatanginya dan memberatkan timbangan
itu..."

Lewat catatan negeri ini yang digelar layar televisi, beberapa berita ditampilkan.
Pemerintah mengumumkan dana 50 miliar rupiah untuk ratusan ribu korban bencana
Tsunami yang dijanjikan dijaga dengan ketat agar tidak dikorupsi, sementara dalam
waktu yang bersamaan seorang bupati di Jawa timur dituduh mengkorupsi dana 63 miliar
selama jabatannya. Di Aceh, setelah kejadian bencana ada yang meneriakkan air agar
masyarakat lari ketakutan dan mereka dengan bebas menjarah barang-barang berharga
yang tersisa. Sementara di ujung daerah lainnya, ada pula pihak-pihak yang
memanfaatkan nama lembaga penyalur bantuan dana dengan tujuan untuk memasukkan
uang ke nomor rekening pribadi mereka. Lucu. Siapa bilang bangsaku ini tidak punya
selera humor, bahkan dalam keadaan genting sekalipun?

Sedih rasanya ketika aku meninggalkan kantin dan keluar dengan disambut hujan deras.
Sudah beberapa hari ini hujan turun dengan derasnya, tapi aku tau pasti apa yang
dibisikkan hujan padaku hari ini, lewat tetes-tetes airnya yang tiada berhenti membasahai
tanah pertiwi. Bahkan ketika malam tahun baru menjelang, hujan masih membasahi
negeri ini. Senandung tangis keseharian menggema dan menggema lagi, sementara segala
kenangan terbang jauh. Jauh menembus batas negeri yang terkoyak-koyak, melewati
auman kata dan tatapan yang perkasa oleh pembangkangannya. Lembaran-lembaran
kisah lama, sejumlah panorama kehidupan yang terbentang dalam masa dan kenangan
yang berbeda. Semuanya hidup kembali. Seketika terasa ada sesuatu yang ganjil, kala
bisikan menembus jiwa negriku sendiri, "Menangislah Indonesiaku, menangislah
Negeriku".

Menangislah, karena kita memang pantas untuk mengakui betapa besar dosa-dosa kita
dibandingkan besarnya gelombang air yang telah diperlihatkanNya. Menangislah untuk
mengakui betapa lemahnya kita di hadapanNya, sementara ampunanNya jauh lebih luas
dari lautan itu. Betapa Maha Besar Allah yang menunjukkan kebesarannya di Aceh lewat
rumah-rumahNya yang masih berdiri kokoh di antara bangunan yang porak-poranda.
Mungkin Ia kembali ingin mendengar keluhan-keluhan kita. Keluhan tulus yang kita
sampaikan dengan penuh pengharapan. Seperti lagu yang disenandungkan Ebiet G Ade
yang samar-samar kudengar saat aku meninggalkan kantin, mengakhiri berita yang
ditayangkan layar televisi itu.

Ini bukan hukuman


Hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah

Bila kita kaji lebih jauh


Dalam kekalutan
Masih banyak tangan yang rela berbuat nista
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang kita perbuat

Kemana lagi kita kan sembunyi?


Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang dapat, bisa menolong
Hanya kepadaNya kita tunduk, sujud padaNya

***

<Aathierah at yahoo dot fr>


Posko Bantuan NAD dan Sumut, H-1 menjelang keberangkatan para relawan.
Andunisia, Andalusia, dan Lelaki Muda

Publikasi: 10/01/2005 10:53 WIB


Cuaca sembab di penghujung petang. Sejak pagi angin bertiup kencang, disertai
terbangan debu yang memerihkan mata. Matahari hilang entah ke mana. Aku masih setia
duduk menanti trem kota yang membawaku pada tujuan.

Satu jam berlalu, namun trem kota yang menjadi sahabat karibku belum juga muncul.
Aku sibuk merapikan syal yang melilit leher rapat-rapat. Dingin semakin membeku.
Orang-orang yang senasib denganku hanya beberapa. Mungkin lantaran cuaca muram,
orang-orang jadi malas keluar rumah. Kalau bukan hal ihwal mendesak, aku tak keluar
pula. Lebih baik berdiam melahap buku-buku atau berselingkup di balik selimut tebal.

Tiba-tiba seorang lelaki muda berusia 30-an mengajak bercakap. Setelah basa-basi
sekedarnya, kami terlibat pembicaraan. Aku pikir, di negeri ini basa-basi masih berperan
penting. Sehingga, kalau awak tak kuasai barang sedikitpun, tak bakal diperhatikan.

Bukan lantaran aku tertarik pada basa-basinya. Karena bagiku, basa-basi sangat
menjemukan. Ia mengisahkan perjalanannya ke negeri-negeri Timur Jauh. Ia mengaku
pernah menjenguk Cina, Jepang dan Korea. Banyak hal aku belajar dari mereka. Bangsa-
bangsa tadi sangat menghargai waktu dan berdisiplin tinggi. Sehingga satu detik sangat
berharga sekali.

Tak seperti trem listrik yang tengah kami nanti. Satu jam lebih berlalu tak terasa.
Sedangkan cuaca semakin memburuk. Tak lupa ia menanyakan tentangku. Aku katakan
padanya. Ana min Andunisia? Min Jazirah Sumathrah? Biasanya, setiap kukatakan 'Min
Sumathrah' selalulah mereka langsung paham. Apalagi dalam pelajaran geografi mereka,
jazirah ini pernah disinggung. Apalagi kalau mengingat pengembaraan Ibnu Baitutah
yang pernah mencatat kesultanan Islam yang menyerucup di pulau sebesar Inggris
tersebut.

Kalau kita menyimak dalam masterpiece 'Rihlah Ibnu Baitutah' antara lain dicatat tentang
kesultanan di Aceh. Aku memang belum menamatkan kitab 'Rihlah Ibnu Baitutah' secara
tuntas. Cuma, ketika aku menukil selintas, bagaimana sejarawan dan penjelajah Qordova
tersebut mencatat setiap hal yang ditemuinya di pulau tersebut. Karena tertawan
keindahan pulau itu, ia lantas menyebut "Andalusia fi Syarqiah" (Andalus di Timur).
Seorang penjelajah Eropa berkebangsaan Italia, Marcopolo, pernah bertandang ke pulau
perca tersebut. Ia juga mencatat setiap peristiwa yang ditemui dan ditulis dalam sebuah
buku. Sayangnya, aku belum pernah memiliki bukunya.

Tapi bukan lantaran sejarah yang kami singgung dalam percakapan tadi yang menarik
hatiku. "Kadang aku berpikir, aku sudah mendatangi negeri-negeri jauh, namun sekejap
pun aku belum pernah mendatangi Baitullah di Mekkah." Aku pikir hanya basa-basinya
lagi. Rupanya bukan, dengan penuh keterharuan ia ceritakan harapannya mengunjungi
tanah suci tersebut.

"Terus terang aku tidak tahu banyak tentang haji. Kalau kau berbaik hati, di manakah
bisa aku dapatkan tentang haji," katanya.

"Kau bisa dapatkan di buku-buku manasik haji, bukankah banyak ulama telah
mencucurkan penanya membahas rukun Islam satu ini? Kalau kau tertarik, kau bisa beli
karya Syeikh Nashiruddin Albani, Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz dan alim-ulama lainnya.
Di setiap maktabah, akan kau dapatkan dengan mudah. Insya Allah secara panjang lebar
telah dijelaskan alim-ulama itu," ujarku.

"Apakah kau sudah pergi haji?" tanyanya.

"Alhamdulillah, aku sudah menunaikan ibadah haji dua tahun lepas. Tepatnya tahun 2002
lalu."

"Bisa tidak kau kisahkan padaku tentang hajimu? Sungguh, aku sama sekali tak tahu
tentang haji. Kalau kau tak keberatan, berceritalah tentang tawaf, hajar aswad, maqam
Ibrahim As, Hijr Ismail, Zamzam, sai antara safa-marwah hingga selesai."

Aku pun berkisah tentang ibadah haji panjang lebar. Aku ceritakan semua padanya.
Untuk memudahkan bayangannya, aku keluarkan secarik kertas dan pena. Aku terangkan
mana posisi Ka'bah, hajar aswad, hijr Ismail, rukun Iraqi, rukun Yamani, maqam
Ibrahim dan sebagainya. Ia menyimak dengan tekun.

"Apakah Maqam Ibrahim itu memang benar-benar makamnya?" tanyanya. "Bukan!"


ujarku. "Itu hanya bekas telapak kakinya berpijak ketika mendirikan Ka'bah bersama
anaknya Ismail a.s. Dulu bekas tapak-tapak dalam bangunan sangat merepotkan bagi
jemaah haji yang bertawaf. Seiring pengembangan Masjidil Haram, maka untuk
memudahkan jemaah haji yang mau bertawaf, akhirnya jejak-jejak yang membekas
dalam batu tersebut diletakkan dalam sekotak kaca beratap yang bisa dilihat dari seluruh
penjuru."

Panjang lebar kami membicarakan tentang haji. Tiba-tiba ia bertanya, "Apakah haji
membekas padamu?" Aku terdiam beberapa saat, sambil melebarkan daun telinga dan
menajamkan pendengaran. "Apa katamu tadi?" tanyaku. "Ya, apakah orang-orang yang
sudah menunaikan haji memiliki bekas tersendiri?" tanyanya. Kembali aku terdiam.
"Tentang satu ini, maaf, aku tak bisa jawab". Selang sesaat azan maghrib memenuhi
langit. "Mohon izin, aku mau ke masjid dulu," kataku.

Habis sholat maghrib, ketika hendak keluar masjid, seorang perempuan muda bertanya
padaku, "Di manakah tempat sholat kaum perempuan?" "Di atas sana," kataku, sambil
menunjuk pintu masuknya. Hatiku terasa sejuk. Tapi mana lelaki muda, kawan satu
tujuanku tadi. Ah, agaknya ia telah pergi bersama trem listrik yang datang saat aku
tengah sholat tadi. Sampai akhir pembicaraan tadi, kami tak saling berkenalan. Hanya
aku tahu, ia satu tujuan denganku dan kebetulan bertemu di mahattah (halte) yang sama.

Lagi-lagi aku ingat haji. Aku berdoa pada Allah, agar hajiku lalu diterimanya sebagai
Hajjan Mabruuran. Agar segala salah silap dosaku diampuni Allah. Biar aku terasa
'dilahirkan' kembali. Agar selanjutnya, hidupku meniti tuntunan-Nya.

Minggu lalu aku baca tulisan guru sastraku yang selalu muncul tiap pekan dengan judul
'Partir' dan 'Sujud' tentang pengalaman hajinya. Tiba-tiba aku ingat lelaki muda tadi.
Kawan sepercakapan, namun tak saling kenal.

Besoknya, aku dapat kabar, seorang kawan mudaku tak dapat Paspor dan Visa Hajinya.
Sabarlah, Dek!

Ahmad David Kholilurrahman


*Mahasiswa Universitas Al-Azhar-Mesir.

Acehku, Bersabarlah!

Publikasi: 07/01/2005 08:24 WIB


eramuslim - Walaupun saya bukan orang Aceh, tapi nama propinsi paling ujung di
Republik ini tidak begitu asing di telinga. Sejak masih duduk di bangku TK di tahun
delapan puluhan sampai sekarang, saya merantau di negeri orang, nama tanah rencong
selalu melekat di benak.
Dulu, manakala saya senang bermain dan bernyanyi dengan guru taman kanak-kanak,
saudara dan tetangga berangkat ke Aceh, ikut program transmigrasi PIR (Perkebunan Inti
Rakyat) di ladang kelapa sawit. Sehingga hampir dua bulan sekali, ayah selalu mendapat
kabar dari saudara dan tetangga-tetangga yang sudah mukim di propinsi Serambi Makkah
itu.

Ketika duduk di bangku kelas tiga SD, paman saya yang menjadi guru, membelikan saya
sebuah buku tentang pahlawan nasional. Setiap kali membuka buku tersebut, saya selalu
berhadapan pertama kali dengan Teuku Umar dan Cut Meutia, dua tokoh pemberani dari
bumi Aceh yang Darussalam itu.

Kemudian di kelas enam SD, saya diingatkan lagi dengan Aceh, saudara saya waktu itu
pulang kampung, karena di Aceh tidak aman, dan selalu dapat ancaman dari GPK,
Gerakan Pengacau Keamanan. Waktu itu belum populer dengan istilah GAM seperti
sekarang. Mereka meninggalkan perkebunan kelapa sawit, yang bertahun-tahun mereka
rawat. Dan sudah bisa menghasilkan uang.

Lantas, di bangku SLTP, saya juga tidak bisa lepas dari nama Aceh, karena guru ngaji
menganjurkan saya untuk membeli kamus bahasa Arab-Indonesia, karangan Prof.
Mahmud Yunus yang kelahiran Aceh.

Waktu terus berjalan, di SMU saya dengan izin-Nya tentu saja, saya justru lebih banyak
bergulat dengan apa-apa yang berbau Aceh. Dari guru sejarah saya yang menganjurkan
agar kami membuat kliping tentang DOM (Daerah Operasi Militer) yang diterapkan di
sana, pembahasan keagamaan yang mengambil sumber dari karya-karya Prof. Hasybi
Assydiqi, yang ulama besar itu, pembacaan puisi sufistik Nurrudin Ar-Ranniri, si penyair
Aceh, sampai dengan perburuan saya terhadap tulisan-tulisan Fachri Ali, sang kolumnis
sosial keagamaan, yang juga putra Aceh.

Aceh, Aceh dan Aceh. Sampai detik ini, ketika saya bekerja di Brunei Darussalam pun,
saya tidak bisa terlepas dari nama itu. Sehabis shalat Maghrib bersama di sebuah masjid
mewah , kami sesama TKI, termasuk seorang teman dari Aceh, biasanya berkumpul di
beranda masjid sambil menunggu datangnya Isya. Kami bercerita apa saja. Kami berbagi
pengalaman-pengalaman yang kami alami tentang kerja di negeri orang. Bahkan tak
ketinggalan kami juga sealu membahas isu-isu baik yang terjadi di Brunei maupun di
negri kami. Dari soal affair seorang PRT Indonesia dengan sang majikan, sampai
penganiayaan sang majikan pada pembantunya. Dari soal pilpres, sampai tsunami yang
melanda sebagian Asia termasuk Aceh.

Ada yang hilang dari pandangan kami selama ini, Ismail, pemuda hitam yang bekerja
menjadi sopir itu sekarang entah ke mana. Ia sudah lama tidak terlihat berjamaah di
masjid. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengeluh tentang susahnya berkirim surat,
apalagi uang ke kampung halamannya. Ya, karena daerah konflik. Mudah-mudahan ia
tidak menjadi korban dalam musibah besar itu.

Dan hari-hari ini, ketika saudara-saudara kami sedang diuji oleh Sang Penguasa Alam,
telingaku selalu akrab dengan suara serak-serak basah milik Ustadz Ismuhadi Abdullah.
Orang Aceh yang sudah lama tinggal di Brunei . Alumni sebuah universitas Islam di
Pakistan dan Arab Saudi itu memang sekarang jadi da'i kondang di Negeri Sultan
Hassanal Bolkiah. Hampir setiap hari ia tampil di radio dan televisi Brunei. Beliau pun
tak kalah sedihnya atas peristiwa tsunami yang melanda tanah kelahirannya.

Acehku, tak ada yang bisa saya sumbangkan untukmu. Hanya sebuah syair, dari lagu
legendaris Ebiet G Ade, yang ditulis tahun tujuh puluhan, dan rupanya masih akrab
dengan telinga kami.

Anugrah dan bencana adalah kehendakNYA


Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil, agar kita sadar
Adalah Dia diatas segalanya..

Anak menjerit-jerit
Hasrat panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih

Ini bukan hukuman


Hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah

Bila kita kaji lebih jauh


Dalam kekalutan
Masih banyak tangan yang rela berbuat nista
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang kita perbuat

Kemana lagi kita kan sembunyi?


Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang dapat, bisa menolong
Hanya kepadaNya kita tunduk, sujud padaNya

Malam itu, sejam menjelang pergantian tahun 2005, saya bersama teman, sesama pekerja
Indonesia, mengambil air wudhu, kemudian menghadap Allah, untuk mendirikan sholat
Ghaib, untuk saudara-saudara kami yang meninggal dihempas gelombang tsunami, yang
pusatnya tak jauh dari Nangro Aceh Darussalam. Dengan iringan do'a, semoga Aceh
lebih darussalam, aman dan damai.

Acehku, bersabarlah!

***
Sus Woyo
woyo72@yahoo.com

Negeri yang (Kembali) Terluka

Publikasi: 06/01/2005 08:07 WIB


eramuslim - Aceh yang dulu saya kenal adalah Aceh yang kaya. Melimpahnya sumber
gas bumi di Aceh pulalah yang mendorong saya untuk memilih bidang ilmu yang saya
tekuni sekarang. "Siapa tahu nanti setelah lulus dapat bekerja di sana, tentu akan bisa
berdekatan dengan kerabat di Sumatera", demikian pikiran lugu -yang saat itu saya masih
SMA- berbisik. Kendati tidak jadi berkarir di LNG Arun, saya masih terus terkagum-
kagum, begitu banyaknya karunia Allah untuk negeri sejuta ulama itu. Tercatat beberapa
proyek vital negera dibangun di sana. Arun dan gas buminya beserta beberapa pabrik
pupuk dan pabrik kertas yang merupakan industri penopang hajat hidup orang banyak. O
iya, yang jarang diberitakan media, Aceh adalah salah satu penghasil minyak Nilam
terbesar di dunia. Minyak Nilam merupakan minyak atsiri yang sangat diperlukan di
industri Fragrance dan Perfumery. Kabarnya minyak ini tidak diolah dengan muatan
teknologi yang memadai, melainkan langsung diekspor 'mentah-mentah' ke Singapura.
Meski dengan pengolahan yang sangat sederhana, ternyata sudah cukup untuk
menghidupi banyak petani Nilam tradisional.
Aceh yang saya kenal adalah negeri para pemberani, itu pasti diakui setiap anak negeri,
jika mereka 'sempat' belajar sejarah nasional Indonesia. Aceh adalah sedikit dari bangsa
di dunia, yang tidak pernah dijajah, kebanggaan yang mungkin cuma dimiliki Thailand.
Daftar nama pahlawan kita yang mulia, didominasi oleh para mujahid dari negeri
rencong. Sebutlah nama-nama jalan utama di kota anda, sederetan nama pejuang Aceh
tercantum harum di sana. Kesetiaan Aceh untuk republik ini tak berbanding, sehebat
ikatan cinta di atas cinta. Kita tentu masih ingat sejarah, cikal bakal armada pesawat
AURI Seulawah RI-001 adalah sumbangan rakyat Aceh. Kontribusi itu tentu belum
seberapa dibandingkan simbahan peluh, darah serta air mata putra-putri terbaik Aceh
yang disumbangkan untuk mengusung kibaran merah putih di bumi pertiwi ini. Entah
harus bagaimana semestinya negara memperlakukan Aceh. Yang jelas, Aceh semestinya
memiliki tempat terhormat di tanah air kita.

Orang-orang Aceh yang saya kenal pun jauh dari kesan biasa-biasa saja. Ada Novri dan
Rusdha yang menjadi bintang di kampusnya. Pak Gun, akademisi yang lurus, jujur dan
murah senyum. Juga ada Pak Ery, kandidat doktor Teknik Fisika yang juga guru ngaji.
Shalih, lurus dan cerdas; mungkin tipikal karakter dari putra-putri Serambi Makkah itu.
Didikan agama yang kental, tertanam sejak belia, membuat mereka mampu mewarnai
kehidupan sekitar, di manapun mereka merantau. Belum lagi anugerah keindahan fisik
yang juga milik mereka.

Terlepas dari kekayaan dan potensinya, miris rasanya membaca pemberitaan media
massa tentang Aceh, -sejak Indonesia merdeka sampai sebelum periode otonomi daerah-
kekayaan alamnya nyaris tersedot ke pusat. Itu belum cukup. Tiada henti-hentinya berita
duka dari provinsi ini menjadi tajuk utama. Mulai dari gerakan separatis yang memakan
korban tiada henti sampai dengan berita tentang pejabat daerahnya yang didakwa
menyulap dana helikopter. Mulai dari issue pelanggaran HAM -saat menyandang stempel
Daerah Operasi Militer (DOM)- hingga kabar pelaksanaan syariat Islam yang setengah
hati.

Ahad, 26 Desember lalu, satu lagi musibah menambah derita rakyat Aceh. Gempa
terbesar dalam 50 tahun terakhir, disusul tsunami, membuat hujan air mata di negeri
Darussalam itu semakin menjadi-jadi. Ribuan tubuh ringkih hilang ditelan sapuan ombak
yang datang tiba-tiba. Rasulullah bersabda, barang siapa yang meninggal karena
tenggelam dapat tergolong syahid (HR Muslim), semoga para korban yang wafat,
dibariskan dalam kelompok syuhada. Jeritan anak yang kehilangan orang tua maupun
kerabat yang lenyap tanpa berita, membingkai liputan demi liputan. Ancaman penyakit
menular di depan mata. Drama pengungsian kembali meluruhkan nurani kita. Pengungsi
akibat konflik territorial belum tertangani, kini muncul gelombang dhuafa yang lebih
massal. Saya tidak ingin ikut-ikutan menyalahkan lemahnya 'early warning system' dari
instansi yang terkait. Pun, saya belum mampu berbuat apa-apa, ketika membaca berita
maraknya penjualan anak kecil di tengah musibah nasional ini. Saya mungkin hanya
mampu menarik nafas, ketika bantuan untuk mereka terancam ditelikung.

Untungnya sebagian bangsa ini masih punya hati. Ternyata perlu tangisan pengungsi
untuk meruntuhkan petak-petak sosial di kepala kaum muslimin. Butuh tsunami untuk
merekatkan ukhuwah. Saat ini adalah saatnya bagi budayawan dan seniman untuk
menggelar malam dana. Ini masanya insinyur untuk menyediakan air bersih. Ini giliran
pakar geologi dan geofisika untuk mensosialisasikan pengetahuan mereka, setidaknya
untuk masyarakat pantai. Ini kewajiban para dermawan untuk menyediakan ransum.
Salam takzim untuk para relawan yang sudah memobilisasi dana atau bahkan menjadi
sukarelawan, terjun langsung ke lokasi bencana. Beliau-beliau adalah mukmin terpilih,
sungguh keputusan yang tidak gegabah untuk menjadi relawan, karena kita tahu betapa
banyak mayat membusuk dapat menularkan penyakit dan menyebabkan kematian.

****

Ya Arhamar Rahimin,
Semoga ini cobaan yang akan mengangkat derajat kami Bukan adzab yang akan
menambah luka

Yaa Muallifal Qulub Satukan hati-hati kami

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uuna.


Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa.

***

Mu. Abdur Razzaq


<omurazza at yahoo dot com>

Nalar Tak Sampai

Publikasi: 05/01/2005 07:50 WIB


eramuslim - Ada pengalaman yang mengerikan sekaligus meninggalkan sebuah
pertanyaan di hari ke tiga anak saya di rawat di rumah sakit karena Typhus. Saat itu
adzan Maghrib berkumandang dan hujan tengah rintik-rintik, ketika Izrail menjemput
seorang anak berusia empat tahun di kelas tiga, kelas sebelah anak saya yang dirawat di
kelas dua. Segera tangis mengurai di seluruh sudut bangsal, ibu sang anak langsung
pingsan tak berdaya menerima kenyataan, sementara ayahnya menatap pilu wajah mungil
yang terbujur kaku di hadapannya.

Malam itu sangat mencekam, bukan karena hujan tak reda, bukan pula karena semua
penunggu pasien nampak termenung melihat kejadian sore tadi. Entah karena apa. Tiba-
tiba sekitar pukul 01.15 dini hari, kembali tangis meledak di ruang yang sama. Seorang
anak berusia kurang dari delapan tahun harus menghadap Allah. Yang membuat bingung,
anak tersebut baru kurang dari dua jam lalu masuk bangsal tersebut dan ditempatkan di
tempat tidur bekas anak yang meninggal sore tadi.

"Izrail masih di ruangan ini," ujar seorang ibu lirih sambil menutupi wajah anaknya
dengan telapak tangannya berharap Izrail tak melirik anaknya. Maklum tempat tidurnya
hanya berjarak satu lirikan saja dari tempat anak yang baru saja meninggal.

Tentu saja ungkapan "Izrail masih di sini" kuranglah tepat. Karena, Izrail tentu bisa ada
di mana saja. Karena tak berapa lama pembantu Allah itu menjemput dua anak di bangsal
RS itu, ia langsung berada di Aceh untuk menghantarkan ratusan ribu warga korban
Tsunami untuk bertemu Rabb mereka. "Tidakkah Izrail lelah?"

Ah, dasar kita memang manusia. Takkan pernah bisa memahami kehendak dan kekuatan
Allah. Saat Dia menurunkan hujan, kita meminta matahari segera bersinar. Saat kemarau
berkepanjangan, beramai-ramai kita sholat untuk meminta hujan. Saat rezeki berlimpah
menghampiri, kita bertanya-tanya, "mimpi apa semalam?" Tetapi ketika Dia mengambil
satu saja dari sekian nikmat yang kita miliki, kita pun marah, "Tuhan, apa dosa saya?"

Manusia selalu bertanya, gerangan apa yang dikehendaki Allah dari semua peristiwa
yang terjadi. Setiap kali kita mencoba mencari jawabannya, selalu diembeli kata
'mungkin'. Tak pernah ada yang pasti, karena tak satu pun kita bisa tahu pasti rencana
Allah. Cara Dia memberi sesuatu, dan cara Dia mengambilnya kembali dari kita, juga tak
pernah bisa kita mengerti. Nalar ini tak pernah sanggup mengurai satu persatu kehendak-
Nya.
Tak ada yang bisa menjawab kenapa di usia senja Allah belum juga memberi kita jodoh.
Tak ada yang tahu rahasia Allah tak juga menganugerahi keturunan di belasan tahun usia
pernikahan kita. Sama tidak mengertinya kita saat Dia tak menyegerakan datangnya
rezeki meski selaut tangis dan pinta kita layangkan kepada-Nya. Atau ketika Dia justru
menanamkan janin di sebuah rahim yang si empunya belum berkehendak untuk
mengandung. Dan adakah yang sanggup menjawab pertanyaan, kenapa kita masih
menghirup segarnya udara di pagi hari ini?

Nalar manusia takkan pernah mampu menjangkau kehendak Allah. Kemampuan berpikir
manusia tak pernah berhasil mengurai rencana Allah terhadap hamba-hamba-Nya.
Sebagian orang mencoba mengerti dan memahami setiap apa yang terjadi di muka bumi
ini, meski saya tak pernah benar-benar yakin mereka tak menyisakan satu tanya,
mengapa?

Seperti halnya musibah di Aceh, Sumatera Utara dan beberapa negara di Asia. Semua
bilang Allah tengah murka. Sungguh, saya tak benar-benar yakin Allah tengah murka.
Mungkin itu hanya sebuah peringatan saja. Murka Allah begitu besar, begitu hebat.
Gelombang tsunami yang baru saja terjadi bukanlah murka Allah, itu tak sebanding
dengan semua dosa dan kesalahan yang kita perbuat di muka bumi ini. Kalau Allah mau
murka, kenapa harus Aceh (saja)? Padahal yang berbuat salah tidak hanya orang-orang
Aceh, yang bergelimang dosa mungkin lebih banyak di daerah lain. Jika Allah mau
murka, mungkin seluruh negeri ini akan luluh lantak di hantam badai laut, angin, gunung
dan segala yang Allah punyai.

Lagi-lagi, nalar kita tak sampai --dan takkan pernah bisa-- mengurai semua kehendak-
Nya. Karena kita cuma manusia. Makhluk yang dengan segala kekerdilannya mencoba
memahami jalan Allah. Yang selalu takkan pernah mampu mengerti mengapa Dia
mengambil semua yang pernah Dia berikan sebelumnya. Siapkah kita menghadapinya?
Ah, jangan coba-coba menjawab dengan nalar lagi.

Pagi harinya, masuk lagi seorang anak dengan penyakit yang sama parahnya dan
ditempatkan di tempat tidur yang sama bekas dua bocah sebelumnya meninggal. Tapi
sampai kepulangan anak saya dari rumah sakit, anak itu berangsur sehat. Mungkin Izrail
memang tidak di ruangan itu, mungkin ia tak sedang mengunjungi kita, atau anak kita,
tapi pasti ia akan datang. Itu pasti, untuk yang satu ini, saya tak perlu menalar, ia pasti
datang, suatu saat.
***

Bayu Gautama

Mengenang Seorang Sahabat

Publikasi: 04/01/2005 08:48 WIB


eramuslim - Sahabat, masih ingatkah dengan sebuah tulisan "Ketika Tuhan Bertanya -
Maka Nikmat Tuhan Kamu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" yang pernah dimuat
di rubrik Oase Iman ini sebulan yang lalu? Tulisan itulah yang telah kembali membuka
kenangan lama saya bersama almarhumah ibunda tercinta karena ayat tersebut
merupakan bagian dari surat Ar-Rahman kesukaan beliau yang hampir setiap malam
dilantunkan setelah melaksanakan shalat tahajud.

Maka, izinkan saya untuk berdo'a agar Allah masih mengekalkan ingatan kita semua.
Karena pada kesempatan ini saya ingin kembali mengajak anda mengenang kebaikan-
kebaikan sang penulis, ketekunan dan keikhlasannya di dalam beribadah kepada Allah,
kekuatan semangat dakwahnya yang tiada lekang ditelan kejemuan hidup di alam fana
ini.

Keusuma Izzati adalah sang penulis tersebut dan para sahabatnya lebih akrab dengan
nama kecilnya "Nanda". YISC Al-Azhar, adalah organisasi pemuda masjid Al-Azhar,
Jakarta tempat di mana dia dulu melarutkan dirinya sebelum akhirnya kembali ke tanah
kelahirannya - Aceh.

Seminggu yang lalu tepatnya pada tanggal 25 Desember 2004 jam 11:23 AM Nanda telah
melantunkan sebuah bait do'a penuh makna, "Semoga Tuhan tunjukkan jalan terbaik
dalam setiap langkah hidupku, dalam peran apapun yang harus aku emban, dan dalam
suka maupun dukaku. Karena aku sangat yakin, Allah tidak akan membiarkan aku terus
dalam kesendirian...".

Sahabat, sungguh kita tidak pernah tahu bahwa do'a itulah mungkin kata-kata terakhirnya
untuk kita para sahabatnya karena Nanda adalah salah seorang korban gempa bumi dan
hempasan gelombang dahsyat tsunami yang memporak-porandakan tanah rencong
kelahirannya yang terjadi keesokan harinya pada tanggal 26 Desember 2004 di pagi hari,
yang juga mungkin telah memusnahkan seluruh anggota keluarganya, atau bahkan
mungkin juga telah merenggut nyawanya sendiri. Tsunami telah membawanya kembali
kepada sang Pencipta - Allah Robbul 'Alamin.
Do'anya mungkin telah terkabul bahwa Allah tidak akan membiarkannya terus dalam
kesendirian. Benar, Allah lebih mencintainya daripada kita sehingga Allah
mengambilnya lebih cepat dari dugaan kita sebelum ini. Dan kini kita menyadari bahwa
antara hidup dan mati memang sangat tipis jaraknya dan kita tidak pernah tahu kapan
kematian itu akan datang menjemput.

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang
kamu dustakan?. (QS Ar-Rahman: 26-28)

Satu minggu sudah kami tidak pernah lagi mengetahui keberadaannya. Di manakah
jasadnya bila memang dia telah tiada pun kami tidak pernah tahu. Hanya berita-berita
sedih dan menyayat hatilah yang telah mengisi kehidupan hari demi hari. Betapa
banyaknya saudara-saudara kita yang meninggal, yang telah kehilangan anak-anaknya,
yang kehilangan orang tuanya, yang kehilangan kakak dan adiknya, paman dan bibinya,
tetangga dan kerabatnya, guru-guru dan sahabat-sahabatnya, dan semua orang-orang
yang dicintainya, juga tempat tinggal, harta dan kekayaannya yang selalu dibanggakan
sebelum ini. Sungguh betapa besar kerugian yang harus ditanggung umat manusia di
penghujung tahun ini.

Tragedi tsunami dan gempa bumi telah membawa kita pada kebinasaan namun kita selalu
yakin bahwa Allah tidak akan menurunkan sesuatu kecuali dengan hikmahnya. Ya
hikmahnya yang baik.

Kini kita bisa melihat sebuah pemandangan indah yang sangat menakjubkan, persatuan
umat manusia sedunia! Yang dulu selalu kita impikan, mereka bahu membahu satu sama
lain dengan penuh keikhlasan, mengulurkan tangannya tanpa peduli keringat dan darah,
mengeluarkan sedekahnya hingga hampir menghabiskan seluruh gajinya. Dari Jawa
hingga ke Afrika. Tiada lagi perbedaan agama, suku, warna kulit dan ideologi. Semua
orang berlomba mencari posisi terdepan sebagai volunteer seolah mengejar sebuah
jabatan strategis, hanya untuk satu tujuan bersama "Bantuan kemanusiaan bagi para
korban tragedi tsunami". Padahal dulu betapa sulitnya kita mengumpulkan sumber daya
manusia sebanyak itu, mengumpulkan lembaran demi lembaran uang kertas untuk
keperluan bahan-bahan pokok atau hanya sekedar mengumpulkan pakaian bekas yang
masih layak pakai untuk hal yang sama juga, menyantuni anak yatim, membantu fakir
miskin dan lain sebagainya.
Nanda, sahabat terbaik kami, istirahatlah dengan tenang bila memang Allah telah
menemani kesendirianmu. Seruan shalat ghaib pun telah dikumandangkan di seluruh
negeri, dan kami telah mendirikannya.

Kini seluruh dunia tertunduk layu menyambut bergantinya tahun di antara tragedi
tsunami dan gempa bumi.

Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. (QS Ar-Rahman: 37-38)

Sahabat, inilah bait-bait puisi terakhir Nanda "Kutitipkan Rahasia Hatiku Padamu" yang
dibuat pada tanggal 9 Desember 2004 - dua minggu menjelang tragedi.

Sudahlah...
satu rintangan terlewati kini

satu teka-teki terjawab kini

satu angan terpupuskan kini

tapi ada satu asa yang masih melangkah

walau dalam remang

mencoba memijakkan kaki tetap di atas bumi

dengan tangan menengadah ke langit

Ya Allah...
pantulkanlah cinta untukku

dari cermin hati hambaMu

yang terpapar cahaya cintaMu


Beningkanlah hati kami

agar tiada redup pelita kasihMu.

9 Desember 2004 Keusuma

*Allah selalu punya cara untuk membuat kita kembali kepadaNya.

***

Selamat jalan Nanda dan tersenyumlah bahwa raudhatul jannah sedang menunggumu.
Insya Allah.

Nugraha Prasidha
<nprasidha at elazhar dot net>

Ketika Bangsaku Tidak Egois Lagi

Publikasi: 03/01/2005 08:27 WIB


eramuslim - Suatu saat, seorang pembaca tulisan-tulisan saya mengkritik saya habis-
habisan. Dia bilang, saya tidak nasionalis karena menjelek-jelekkan bangsa sendiri.
Ketika itu saya memang membuat beberapa tulisan tentang korupsi dan keegoisan orang-
orang Indonesia yang tidak peduli pada peraturan, dan juga orang lain.

Bagaimana tidak egois kalau orang-orang menyeberang seenaknya di jalanan? Motor-


motor naik ke trotoar menyerobot hak pejalan kaki? Mobil-mobil mewah sampai angkot
berebut dalam kemacetan, tak peduli jalur berlawanan atau pun lampu merah hingga
malah menyebabkan terkuncinya kemacetan di tengah-tengah? Bagaimana tidak egois
jika begitu banyak rumah mewah di balik tembok kompleks dan sekitarnya adalah rumah
kardus? Bagaimana tidak egois kalau orang-orang berduit dan berilmu malah membabat
hutan, membangun vila di bukit-bukit dan menyebabkan daerah di bawahnya kebanjiran?
Bagaimana tidak egois jika para pejabat hingga bawahan memasukkan harta negara ke
perutnya sendiri sementara rakyat kelaparan? Bagaimana tidak egois jika kantor
pelayanan publik hingga yang paling bawah dijadikan sarana mendapat penghasilan
tambahan bagi para petugasnya? Bagaimana tidak egois jika orang-orang di
pemerintahan, juga swasta bahkan LSM sosial me-mark-up anggaran agar mereka dapat
bagian padahal mereka sudah digaji untuk pekerjaan itu? Bagaimana tidak egois jika
orang-orang dari level atas sampai pelaksana melakukan praktek percaloan, memalak
orang-orang yang membutuhkan hingga jualan di pasar, di pinggir jalan, mau naik bajaj
dan taksi pun kena pungli juga. Bagiamana..., jika diteruskan, satu halaman ini hanya
akan terdiri dari satu paragrap yang berisi bukti dan realitas orang-orang Indonesia yang
egois. Dan semua pelakunya adalah kita: sebagian saya & anda, warga Indonesia.

Kepada kenalan itu saya berkata justru karena saya nasionalis, saya menyatakan semua
ini. Justru karena saya nasionalis, saya menyakiti diri sendiri dengan mengungkap semua
itu. Sebab saya juga orang Indonesia. Seorang yang nasionalis semestinya mengakui
semua kenyataan tentang bangsanya, buruk atau pun baik, bukan menutup-nutupinya atau
membela membabi buta. Jika buruk perlu dilakukan otokritik untuk perbaikan, jika baik
perlu dipuji dan dipertahankan serta disebarluaskan.

Dan kali ini, saya ingin menyatakan kebanggaan saya: Orang Indonesia tidak sepenuhnya
egois. Mereka peduli. Mereka penolong. Mereka penuh kasih. Mereka...

Hari ini, ketika berita bencana aceh makin mengharu biru. Hari ini ketika kondisi aceh
makin pilu. Hari ini ketika warga ujung barat negeri ini meratap sendu. Seorang anak
kecil minta berangkat ke Aceh untuk menolong teman-temannya. Seorang balita
memecah celengannya untuk disumbangkan. Seorang pemuda pengangguran yang suka
mabuk-mabukan menyumbangkan dua celana panjangnya, Seorang tukang cuci
menyumbangkan sedikit uang miliknya. Para pengusaha, instansi pemerintah dan
perusahaan-perusahaan menyumbang milyaran rupiah. Para pejabat menyerahkan
setengah gajinya, hingga sopir angkot dan pembantu rumah tangga pun merelakan
sebagian dari penghasilannya. Sekolah-sekolah, kampus-kampus, LSM-LSM, masjid-
masjid, kantor-kantor, media informasi, dan lain sebagainya: semua mendirikan posko
bantuan. Dari rumah ke rumah, di jalan-jalan, di kampung dan kompleks, aksi
penggalangan dana dilakukan. Dari ibu kota Jakarta hingga pelosok desa. Dari provinsi
kaya hingga yang juga baru bangkit dari bencana. Semua berlomba menolong. Semua
ikut berbagi. Semua ingin berpartisipasi. Semua mengulurkan tangan untuk Aceh yang
menderita di ujung barat sana.

Dan ini adalah bukti nasionalisme kita, ukhuwah kita, persatuan dan kesatuan kita. Satu
bagian tubuh terluka, seluruhnya merasakan sakitnya. Acehku, semoga lukamu menjadi
titik tolak bagi kami semua anak bangsa, bahwa masih banyak luka lain bangsa ini yang
terlupakan. Semoga dukamu menjadi pengingat bagi seluruh penghuni negeri, ada banyak
lagi saudaranya yang tenggelam dalam nestapa.
***
Azimah Rahayuazi_75@yahoo.com
@azi, pagi hari ke-4: saatnya airmata dikeringkan & lengan baju disingsingkan

Tafakur Hening di Ujung Tahun

Publikasi: 30/12/2004 09:29 WIB


"Wahai anak cucu Adam,
engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari yang terhitung.
Bila berlalu satu hari berarti hilanglah sebagian darimu.
Jika hilang sebagian darimu maka bertambah dekatlah saat kematianmu.
Kalau engkau sudah mengetahui hal itu Maka segeralah berbuat!
(Beramal, bersiap dan berbekallah)."
( Hasan al-Bashri )

eramuslim - Hari Ahad kemarin mungkin hari yang menyenangkan. Bukankah hari libur
selalu menjadi hari untuk sejenak lepas dari rentetan deadline pekerjaan.

Hari Ahad kemarin bisa jadi hari yang indah, karena biasanya kita bebas bersantai di
rumah tanpa harus menikmati kemacetan jalan, bercengkrama dengan keluarga atau pergi
jalan-jalan untuk sebentar melupakan jerat rutinitas kantor.

Oh iya, hari Ahad kemarin, hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Eci, teman kantor
saya. Karena hari itu ia melangsungkan pernikahan. Hari yang paling ditunggunya. Hari
paling berbahagia dalam kehidupannya.

Tapi ternyata hari Ahad kemarin adalah hari yang paling menakutkan, bagi saudara kita
di bumi Aceh sana. Ternyata hari Ahad kemarin adalah hari paling kelam yang
meninggalkan trauma kepedihan bagi hampir semua penduduk Serambi Mekkah. Hari itu
tak sedikitpun mereka kira akan menjadi hari sepenuh duka dan luka.

Pagi, di hari itu, semuanya masih terasa sama. Arakan awan putih, pohon hijau melambai,
ibu-ibu pergi ke pasar, anak-anak bermain ceria, bahkan di sebuah lapangan tengah kota
sebuah perlombaan lari tengah di gelar, udara bertiup sejuk. Sampai tiba saat itu. Dalam
sekejap semua tak lagi sama. Ujud tanah rencong terkoyak hampir sempurna.

Dan bapak itu berkisah, rumahnya berada di pesisir pantai. Ia tengah di dalam rumah,
ketika tiba-tiba saja hingar gemuruh singgah di telinga. Bergegas ia ke luar, dan sejenak
ia seperti berada dalam mimpi. Sejauh mata memandang, ia tak melihat setetes pun air
laut yang biasanya membiru. Ia bersama yang lainnya menuju ke arah pantai. Mereka
tertegun penuh decak kagum. Ternyata laut tak hendak berbagi suka. Air yang surut itu
datang. Bergulung-gulung. Tinggi sekali. Ombaknya menjelma tangan yang rindu dan
memberikan songsongan kepada kekasihnya. Ia berlari. Sempat ia melihat para
tetangganya tenggelam tersapu air yang datang tiba-tiba. Dan ia pingsan. Ketika siuman,
sebuah kenyataan membuat hatinya memar. Puluhan ribu nyawa saudaranya terenggut air
laut yang juga mengerjarnya tanpa henti.

***

Saya tidak sendirian tercenung di depan televisi. Ruang tengah itu hening. Kami tak
mampu berkata-kata. Betapa tidak, puluhan jenazah balita berjejer terbujur diam di antara
ratusan jenazah dewasa lainnya. Hampir semua berbalut kain yang ujudnya sudah tak
layak pakai. Ah, anak-anak polos itu. Ribuan jenazah lainnya masih berserak, di antara
tumpukan sampah kayu, di tengah jalan, di mana-mana. Betapa mudah bagi Allah
merenggut puluhan ribu nyawa dalam waktu satu jeda. Sangat mudah.

"Duh Allah, sedemikian bebalkah saya, hingga harus diingatkan dengan tsunami
sedahsyat ini," ucapan kakak ipar terdengar samar. Saya diam. Mendengar ucapannya,
saya tersenyum miris. Yah, betapa bebal jiwa ini, hingga Allah harus menegur dengan
begitu keras. Sudah membatu seperti apa hati ini, hingga untuk menyentuhnya Allah
harus menggeserkan dasar lautan dan terjadilah gempa disertai tsunami.

"Ya Ghaffar, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami tersalah. Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Allah, janganlah Engkau
pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami,
Ampunilah kami."

***

Di ujung hening, ada yang di gumamkan ke angkasa diam-diam. Malu-malu. Karena


betapa banyak karat dosa yang telah dilakukan.

Wahai Yang Maha Lembut pengasihnya, perkenankan kami, menengadah menjemput


cahaya keagungan Mu, meski Engkau tau betapa legamnya jiwa-jiwa ini.
Subhanaka Ya Allah, kami tahu betapa hati-hati ini telah ditumbuhi banyak ilalang tinggi
bahkan berduri. Kami teramat sering melupakan Engkau dan mencintai dunia. Kami
sembah kesenangan, kami agungkan kekayaan. Kami lupa berbagi. Kami lupa memberi.

Yang Maha Asih dan Sayang, perkenankan kami kembali belajar. Belajar saling
mencinta. Belajar menelagakan kembali gemericik ukhuwah di antara kami.

Sahabat, bersyukurlah, kita masih diizinkan Sang Pencipta, untuk memasuki pagi dan
petang. Bersyukurlah jika kita masih diperkenankan melihat mentari tahun baru.
Bersyukur masih ada porsi usia. Itu berarti bahwa kita masih diberi jeda untuk bertaubat
dan berbuat yang terbaik. Jangan pernah menyia-nyiakannya.

Sahabat, renungkan petikan email yang saya terima kemarin siang. Penulisnya
menganalogikan dosa sebagai pohon berduri :

"Di dalam hati kita pohon berduri itu tumbuh saat kita melakukan keburukan kepada
Tuhan, diri dan sesama. Jangan menunggu waktu, karena tiap detik adalah kesempatan
mengakarkan, mengokohkan pohon itu di sekujur tubuhmu. Ambillah kapak imanmu
segera sebelum terlambat untuk menumbangkannya. Penundaan hanyalah melahirkan
ketakberdayaan. Kelak saat kapak imanmu tidak lagi tajam, tubuhmu pun sudah
kehilangan kekuatan. Belantara pohon berduri itu bahkan kelak menusuk mata, telinga
dan hatimu. Sebelum telingamu bernanah oleh cemoohan, matamu menangis oleh
kedukaan tak berujung, dan hatimu berdarah oleh himpitan derita dan adzab, tebaslah
pohon berduri itu. Janganlah berani melawan waktu, karena waktu selalu menertawakan
keringkihanmu."

Allah, perkenankan kami pulang, kami ingin menebas pohon berduri itu.

***

Mari hantar sepenuh doa untuk semua saudara kita yang terkena bencana. Semoga Allah
menerima semua yang pergi menghadap-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan
diberikan keikhlasan dan kesabaran. Semoga setiap kita diberikan kemampuan untuk
mengambil pelajaran dari bencana kemarin.

Tiada Kata Kalah Sebelum Nyata di Depan Mata!

Publikasi: 28/12/2004 08:34 WIB


eramuslim - Dua laki-laki anak beranak bertampang keren itu menyeringai jahil, tampak
cerdik dan penuh percaya diri. Mereka memang pantas untuk itu. Tiga tantangan
sebelumnya telah mereka lalui dengan mulus dan sempurna. Bahkan mereka
memenangkan babak bonus berupa liburan keluarga selama satu minggu. Dan kini, di
babak final, hadiah utama telah menunggu. Keduanya merasakan bahwa kemenangan itu
sudah dalam genggaman mereka. Tinggal selangkah lagi. "Kami laki-laki! Kami kuat,
kami gesit, kami kompak dan kami cerdik. Kami akan memberikan patokan yang sangat
baik dan membuat lawan kami tertekan hingga tak dapat mengejarnya. KAMI AKAN
MENANG!"

Dua perempuan anak beranak yang menjadi lawannya tak berkata apa-apa. Raut wajah
cemas nyata sekali membayang di mereka. Tapi mereka tahu, mereka tak mungkin
menghindar atau mundur. Betapapun, tantangan ini harus tetap mereka hadapi. Mereka
senang karena tidak mendapat giliran pertama, meski itu sekaligus dapat berarti mereka
akan merasa tertekan mendapati hasil yang dibukukan pria ganteng dan cowok kecilnya
itu.

Ini adalah kompetisi final, memperebutkan hadiah utama senilai hampir setengah milyar
dari sebuah reality show produk Amerika yang ditayangkan salah satu stasiun televisi
swasta. Dan jauh tinggi di atas permukaan laut, empat tabung kaca yang digantung
membujur telah menunggu. Para peserta harus merangkak di dalam tabung itu, kemudian
pindah ke tabung berikutnya menggunakan alat bantu yang disediakan. Dari tabung
pertama ke kedua, mereka harus berayun menggunakan tali layaknya Tarzan. Dari tabung
kedua ke ketiga, mereka harus meniti tangga terbalik dengan mengayunkan tangan dari
satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Kemudian mereka harus mencapai tabung
empat dengan berayun menggunakan ayunan sebatang kayu yang diikat dengan tali
layaknya pemain sirkus beraksi. Terakhir, mereka harus terjun ke laut dan berenang
menuju perahu karet dan mencabut bendera yang diletakkan di sana.

Pertandingan pun dimulai. Pria atletis berusia tengah tiga puluhan itu memberikan
instruksi-instruksi dan motivasi mental kepada anak lelakinya yang berusia 10 tahun.
Mereka benar-benar memiliki strategi matang untuk menyelesaikan tantangan itu. Benar
saja! Si anak yang mendapat giliran pertama bergerak secepat kilat bahkan meluncur
dalam tabung, melewati tali, tangga dan ayunan dengan sempurna dan akhirnya terjun
dan berenang menuju perahu karet. Dia berhasil!!! Bapaknya pun menyusul dengan tak
kalah cepat. Dan akhirnya, mereka menyelesaikan tantangan itu dalam perolehan waktu
yang fantastis, dan sempurna tanpa cacat. Dua menit dua puluh satu detik!!!

Menyaksikan bagaimana lawan mereka beraksi benar-benar membuat si ibu dan gadis
kecil sebelas tahun-nya jiper. Mereka benar-benar shock. "Saya hanya ingin
menyelesaikan dan melewati tantangan ini," kata sang ibu. Dan si gadis kecil hanya
menjawab "Yeaah" dengan suara lemah ketika sang pembawa acara menyemangatinya.
Wajahnya tampak hendak menangis, sampai-sampai si pembawa acara harus berkali-kali
mengeluarkan kalimat-kalimat dukungan hingga ledekan karena si kecil tampak betul-
betul sudah hopeless. Mereka kalah sebelum bertanding. Betapa menyedihkan! Bahkan,
ketika ibu dan anak itu sudah di atas sana, si gadis kecil benar-benar menangis. Dia
sangat ketakutan, meski sang ibu sebisa mungkin memotivasinya. Dan si kecil pun
memulai aksinya dengan wajah terguyur air mata. Saya menahan napas. Ikut-ikutan
tegang!

Tapi lihat! Dia bergerak dengan cepat. Saat menarik tali untuk berayun, O...o, tali itu
sempat terlepas kembali. Sungguh membuang-buang waktu. Dia kemudian juga tampak
kesulitan meniti tangga terbalik. Tapi si gadis menyelesaikan semua tantangan dengan
catatan waktu yang cukup baik. Ibunya pun segera menyusul dengan cepat. Sayang,
ketika berayun dengan tali, dia sempat mental kembali. Nyaris saja dia gagal mencapai
tabung kedua. Namun dengan susah payah, dia berhasil meraihkan kakinya ke tabung
dua. Saya berteriak-teriak menyemangati meski tahu tak akan mengubah apa yang terjadi
di layar kaca. Gerakannya meniti tangga terbalik juga diperlamban oleh berat badannya,
dan waktu kembali terbuang saat tali yang digunakan untuk menarik ayunan terlepas dari
tangannya. Tapi si ibu terus bergerak. Cepat sekali. Dia mengerahkan kekuatannya saat-
saat terakhir berenang menuju perahu karet. Dan mereka berhasil! Setelah upaya yang
demikian keras dan membuat kesalahan beberapa kali hingga nyaris gagal, dua
perempuan itu menyelesaikan tantangan final tersebut. S-e-p-u-l-u-h detik lebih cepat
dari si bapak keren dengan anak lelakinya! Saya berteriak histeris atas kemenangan
mereka. Benar-benar fantastis. Luar biasa!

***

Berapa sering saya merasa gagal? Dan, lebih buruk lagi, berapa sering saya merasa gagal
bahkan sebelum bertanding? Berapa sering saya merasa kalah bahkan sebelum memulai?
Sering! Teramat sering! Dan intensitas itu diperparah dengan data pengalaman masa lalu
yang tersimpan di memori saya: Berkali-kali saya gagal dalam seluruh bidang kehidupan
saya. Kegagalan-kegalan yang membuat saya teramat sering bersedih, pedih, dan hancur
saat evaluasi karena menyadari semua kegagalan itu adalah karena kenaifan saya yang
hanya berbekal semangat dan ketulusan namun sering kali kurang sadar atas kondisi
realitas dan kurang mengukur kapasitas diri.

Dan semua pengalaman itu, akhirnya membuat saya ragu untuk mencoba lagi, takut,
tidak percaya diri dan gamang. Dan akhirnya membentuk pemikiran saya untuk selalu
melakukan sesuatu tanpa berharap banyak, dan lebih banyak mempersiapkan diri
menghadapi kemungkinan terburuk. Lebih banyak berpikir tetang kondisi realitas yang
saya miliki dan kira-kira seberapa besar prosentase saya untuk berhasil. Membuat saya
kalah sebelum memulai! Dan seringkali mundur sebelum mencoba.

Namun tayangan televisi tadi menunjukkan, berbekal semangat dan ketulusan pun
tidaklah selamanya naif. Bisa jadi semangat dan ketulusan akan menjadi kekuatan yang
tak terlihat. Bisa jadi semangat dan ketulusan akan mampu mencuatkan pontesi
terpendam, dan memberikan energi luar biasa untuk mengalahkan sebuah tantangan.

Sesungguhnya kekalahan tidak pernah benar-benar terjadi sampai detik terakhir Allah
menunjukkan takdir-Nya. Sesungguhnya kegagalan tidak akan pernah benar-benar
terwujud sampai nyata di depan mata. Sesungguhnya, setiap kemungkinan dalam sebuah
pertarungan hidup -gagal atau berhasil- selalu tercipta meski hanya sepersekian detik ke
depan. Semua itu mengajarkan pada saya, bahwa sesungguhnya saya pun mampu. Saya
bisa! Saya hanya harus terus bernapas, terus berusaha dan tak berhenti hanya karena
merasa sudah terlambat. Hanya karena merasa sudah kalah. Hanya karena merasa sudah
gagal. Hanya karena merasa sudah tidak ada harapan.

Apapun kondisinya, saya hanya harus terus berusaha dan menjalani prosesnya, sesakit
apa pun itu, sesedikit apa pun kesempatannya. Tak lebih dan tak kurang. Dan pada
akhirnya, saya tahu, bahwa sebagaimana kompetisi ibu-anak dan bapak-anak tadi hanya
sebuah permainan, hidup ini pun hanyalah sebuah permainan. Tak perlu bersedih jika
gagal, karena sesungguhnya, saya akan tetap menjadi pemenang selama saya menjalani
prosesnya dengan benar!

Azimah Rahayu
(@azi, 27des bakda subuh: Spesial untuk diri sendiri dan semua yang pernah gagal di
dunia ini)

Maafkanlah...

Publikasi: 27/12/2004 08:53 WIB


eramuslim - Pada hakikatnya, manusia terlahir sebagai makhluk pribadi dan sosial.
Dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial, manusia harus berinteraksi dengan
manusia lain. Interaksi ini tentunya tidak selalu berjalan mulus seperti yang diinginkan.
Karena friksi tujuan dan harapan, seringkali menimbulkan riak-riak kecil yang
kadangkala berubah menjadi ombak besar sehingga bisa memperkeruh suasana hati dan
sulit dijernihkan lagi seperti sediakala.

"Aku memaafkanmu". Ini teramat mudah diucapkan di ujung bibir, namun sangat susah
dikukuhkan dalam hati. Sulit sekali memaafkan orang yang telah menzalimi kita. Bahkan
kadang-kadang kita malah ingin melihat orang itu merasakan hal yang sama.
Astaghfirullah, apakah kita pernah seperti itu? Jika pernah, sekali-kali jangan pernah
terulangi lagi dan jangan pula mendoakan hal yang buruk padanya. Goresan luka
memang meninggalkan bekas, akan tetapi bukankah sakitnya cuma sebentar? Apa
keuntungan yang kita peroleh dengan mengungkit-ungkit kesalahan yang telah berlalu?

Adalah Ali bin Abi Thalib r.a. yang gagah berani, sepupu Rasulullah SAW yang tangguh
bagai singa dalam peperangan ini ternyata memiliki hati yang lembut dan sangat pemaaf.
Ketika Abdurrahman bin Muljam -yang menyebabkan kepalanya luka parah dan akhirnya
menghantarkannya ke ajal- berhasil ditangkap dan dihadapkan kepadanya, Ali melihat
dendam dan kebencian di mata Hasan dan Husain r.a., kedua putranya serta karib
kerabatnya. Tahukah kita apa yang diucapkannya saat itu,

"Perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya.


Hormati martabatnya sebagai manusia.
Kalau aku masih hidup, maka akulah yang lebih berhak atasnya.
Apakah akan menuntut qishash atau memaafkannya.
Dan kalau aku mati, maka biarkanlah ia menemaniku, untuk kuhadapi di hadapan
pengadilan Rabbul 'Alamin.
Janganlah kalian membunuh selainnya karena menuntut balas atas kematianku.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Sekarang marilah kita kenang hari pembebasan Makkah. Setelah kaum kafir Quraisy
melanggar Perjanjian Hudaibiyah, tidak ada alasan lagi untuk menahan Rasulullah dan
pasukan Muslimin menduduki Makkah. Penduduk Mekkah kala itu dirundung ketakutan
yang teramat sangat mengingat apa yang telah mereka lakukan terhadap Rasulullah.
Bukankah mereka yang selama ini menganggapnya orang gila dan telah menghasut
orang-orang untuk memusuhinya? Bukankah mereka yang mengejeknya, melempari
dengan batu dan kotoran unta? Bukankah mereka yang telah memboikot dia dan
keluarganya, Bani Hasyim yang dianggap membangkang dari agama leluhur? Bukankah
mereka pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadapnya? Dan bukankah mereka
juga yang telah mengusirnya dari kota kelahirannya ini? Mereka pernah menggempurnya
habis-habisan dalam berbagai peperangan. Dan di antara mereka juga ada dalang
pembunuhan dan penganiayaan keji atas pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Rasanya tak ada lagi alasan untuk membela diri. Sekarang, nyawa mereka terletak pada
keputusan dan wewenang Muhammad SAW putra Abdullah atas ribuan balatentara yang
bersenjatakan lengkap dan siap meluluhlantakkan Makkah. Mari kita dengar keputusan
itu,

"Pergilah kamu sekalian! Kamu sekarang sudah bebas!"

Dibebaskan? Bukan itu saja! Rasulullah juga melarang keras pasukannya berbuat
semena-mena terhadap penduduk Makkah walaupun di antara mereka ada yang
menyimpan rasa sakit hati terhadap perlakuan orang Makkah dahulu.

Subhanallah! Betapa mudahnya orang-orang ini membuka pintu maaf. Ali bukanlah
malaikat. Rasulullah, walaupun diberi beberapa keistimewaan oleh Allah SWT pada
dasarnya tetap manusia biasa. Seperti kita, mereka juga punya amarah. Betapa mudah
sebetulnya Ali menyuruh Hasan atau Husain r.a. untuk mendera Ibnu Muljam dengan
derita. Toh, Ibnu Muljam juga mengaku ingin menghabisinya. Melihat kebencian yang
membara di mata anak-anak dan teman-temannya, suami Fathimah r.a. ini sudah
membayangkan bagaimana nasib Ibnu Muljam seandainya dia meninggal nanti. Maka
timbullah keinginan untuk melindungi pembunuhnya itu dari qishash yang bisa saja
berlebihan dan menyimpang dari ajaran agama Islam.

Dan renungkanlah, ahli sejarah mencatat, hari pembebasan Makkah adalah kemenangan
besar yang diraih kaum muslimin yang sedikit sekali menelan korban jiwa dan kerugian.
Kenapa bisa demikian padahal kita tahu bahwa orang-orang Mekkah itu yang paling
bersemangat memusuhinya? Bahkan Hindun binti 'Uthbah, istri Abu Sufyan yang
menjadi arsitek pembunuhan Hamzah juga dibiarkan hidup begitu saja. Peristiwa pada
Hari Pembebasan Makkah hanyalah salah satu dari sekian banyak bukti pemaafnya.
Beliau memang tidak mengenal permusuhan dan selalu bersikap sabar atas perlakuan
musuh. Tapi itu tidak berarti lari dan berdiam diri jika diserang oleh kaum kafir. Allah
memperbolehkan perang asalkan di jalan Allah dan tidak melampaui batas. Oleh karena
itu, Rasulullah tidak pernah memulai peperangan dan tidak pernah menyerang musuh
sebelum diserang terlebih dahulu. Beliau juga tidak pernah membunuh orang yang sudah
menyerah kalah.

Kita tentu pernah membaca cerita tentang guru sekolah yang menyuruh murid-muridnya
membawa kentang sebanyak orang yang mereka benci. Selama seminggu, kentang-
kentang itu harus dibawa ke manapun mereka pergi, bahkan juga ke toilet. Hari berganti
hari kentang-kentang pun mulai membusuk. Murid-murid mulai mengeluh, selain berat,
baunya juga tidak sedap. Pada hari ke-7, murid-murid tersebut merasa lega karena
penderitaan mereka bisa berakhir.
Suasana hati kita bisa dianalogikan dengan cerita kentang di atas. Jika hati tidak
dibersihkan dari kebencian, kita tidak akan bisa menjalani hidup dengan tentram dan
selalu merasa ada beban yang menghimpit. Air susu memang tidak boleh dibalas dengan
air tuba. Air tuba pun jangan sampai dibalas dengan air tuba, akan lebih baik dibalas
dengan air susu. Betapa indahnya hidup ini tanpa ada perasaan dendam dan benci yang
menyelinap di dalam hati.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang luput dari satu kesalahan pun. Jika
kita disakiti, anggaplah itu sebagai ujian kesabaran dari Allah yang akan mengangkat kita
ke derajat yang lebih tinggi. Terimalah permintaan maaf itu dengan keikhlasan yang
bermuara pada Allah semata. Allah Maha Adil pada ciptaan-Nya dan tentu membalas
semua perbuatan baik kita dengan balasan yang setimpal. Bukankah kita menginginkan
ridha-Nya sebagai balasan itu? Adakah yang lebih membahagiakan dibandingkan
memperoleh ridha Allah?

"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah."
(Asy-Syura: 40)

Teman, apakah kita masih membawa 'kentang busuk' hari ini? Lebih baik dibuang saja.

Maafkanlah...

Allahu a'lam bish-showab.

Sri Susanti
iko_5411@yahoo.com

Menciptakan Perbedaan

Publikasi: 24/12/2004 07:49 WIB


eramuslim - Belum lama saya berkenalan dengan dua wanita hebat di Stasiun Gambir,
Jakarta Pusat. Keduanya adalah bagian dari relawan yang memberikan pelajaran baca
tulis kepada anak-anak jalanan dan juga anak-anak pemulung di beberapa tempat di
Jakarta. Secara pribadi, saya–yang pernah besar di jalan- sangat tertarik dengan aktivitas
para relawan ini. Tidak sekadar mengisi waktu sisa, tak juga sebatas aktualisasi diri. Tapi
saya yakin, lebih dari semua itu, apa yang mereka lakukan juga membedakan mereka
dengan kebanyakan orang di muka bumi ini yang tak peduli dengan masa depan dan
pendidikan anak-anak jalanan.

Persaingan hidup, kadang menjebak kita pada rutinitas harian yang melelahkan. Bahkan
hampir-hampir tak ada waktu tersisa selain untuk mengisi keperluan dan kebutuhan
pribadi. Bangun pagi, sarapan kemudian berangkat ke kantor bekerja hingga sore bahkan
larut. Kembali ke rumah dan merapatkan diri di pembaringan. Kalau pun ada aktifitas
lain, ya masih bagian dari kepentingan diri, ibadah, jalan-jalan dengan keluarga, belanja,
dan sebaris jadwal lainnya, yang kesemuanya: pribadi.

Jika itu yang kita lakukan, tentu kita tak bedanya dengan milyaran manusia di belahan
bumi mana pun. Yang terus menerus terjebak dengan rutinitas hidup demi pemenuhan
kebutuhan individu. Kita, tak bedanya dengan orang biasa yang mengejar prestasi
pribadi, yang hasilnya pun hanya dirasakan sendiri. Padahal jika hanya demikian, sekali
lagi, kita tak bedanya dengan milyaran kepala di bumi ini.

Nilai hidup tidak ditentukan oleh berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan di
tabungan pribadi. Tidak juga diukur dari tingkat dan gelar pendidikan yang sudah diraih.
Dan saya sendiri tak pernah ‘angkat topi’ melihat jabatan di kartu nama seseorang yang
baru saja saya kenal. Hidup akan memiliki nilai jika ada peran serta kita terhadap
kehidupan orang lain. Semakin banyak orang lain yang tersentuh oleh keberadaan kita,
semakin besarlah nilai hidup kita.

Apapun bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup ini bernilai. Semakin banyak yang bisa
kita perbuat untuk orang lain, tentu hidup ini akan semakin berarti. Semangat inilah yang
kemudian membaluri seluruh sendi dan aliran darah di tubuh saya untuk menciptakan
perbedaan dengan mencoba lebih banyak berbuat untuk orang lain, tentu dengan cara
saya sendiri. Dan saya yakin, setiap manusia di muka bumi ini bisa dengan mudah
menciptakan perbedaan itu untuk menambah nilai hidupnya.

Seperti dua sahabat baru saya di Stasiun Gambir itu, jejak langkahnya yang seringan
kapas, kesabarannya mengajar takkan pernah bisa terlupakan oleh anak-anak jalanan itu.
Mereka telah menciptakan sebuah perbedaan dengan apa yang mereka lakukan itu. Tentu
tanpa perlu bertanya, saya yakin, hidup mereka jauh lebih berarti. Tak sekadar berarti
untuk diri sendiri, atau keluarga. Tapi teramat berharga bagi orang-orang yang pernah
disentuhnya.

Kini, saya pun selalu mengenang sebuah momentum di tahun 1983 ketika kakek saya
meninggal dunia. Rumah keluarga besar kami tak hanya dipenuhi dengan keluarga,
sahabat maupun kerabat dekat kakek. Ratusan anak yatim piatu dari beberapa panti
asuhan ikut berjejal dan berebut untuk mencium wajah bersih kakek saya dan
menghantarkan jasadnya ke tempat terakhir.
Teramat banyak daftar orang-orang yang telah menciptakan perbedaan dan
membubuhkan nilai untuk hidupnya. Sehingga pada saat hidupnya berakhir, kenangan
tentang dirinya takkan pernah berakhir, sampai kapan pun. Itu bisa dibuktikan dengan
seberapa banyak orang yang antri untuk ikut sholat jenazah.

Inilah yang menjadi cita-cita terakhir saya, semoga.

Bayu Gautama

Ibuku, Tangguh!

Publikasi: 23/12/2004 08:48 WIB


eramuslim - Pernah suatu sore, ibu pulang dengan tapak kaki berdarah. "Tertusuk
kerikil," terangnya. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan semenjak pagi, wanita
yang kasihnya tak terbilang nilai itu mengakhirinya dengan sedikit ringisan, "Tidak apa,
cuma luka kecil kok," tenang ibu.

Padahal, baru dua hari lalu beberapa orang warga yang tak satu pun saya mengenalnya
membopong ibu dalam keadaan pingsan. Ternyata ibu kelelahan hingga tak kuat lagi
berjalan. Bermil-mil ia mengetuk pintu ke pintu rumah orang yang tak dikenalnya untuk
menawarkan jasa mengajar baca tulis Al-Qur'an bagi penghuni rumah. Tak jarang suara
hampa yang ia dapatkan dari dalam rumah, sesekali penolakan, dan tak terbilang kata,
"Maaf, kami belum butuh guru mengaji." Tapi ibu tetap tersenyum.

Sejak perceraiannya dengan ayah, ibu yang menanggung semua nafkah lima anaknya.
Pagi ia berjualan nasi dan ketupat bermodalkan sedikit keterampilan memasak yang ia
peroleh selagi muda dulu. Menjelang siang ia memulai menyusuri jalan yang hingga kini
takkan pernah bisa kuukur, menawarkan jasa dan keahliannya mengajar baca tulis Al-
Qur'an. Selepas isya' kami ke lima anaknya menunggu setia kepulangan ibu di pinggir
jalan.

Sempat saya bertanya dalam hati, lelahkah ia?

Biasanya kami berebut untuk menjadi tukang pijat ibu, saya di kepala, abang di kaki,
sementara kedua tangan ibu dikeroyok adik-adik. Kecuali si cantik bungsu, usianya
kurang dari empat tahun kala itu. Bukannya ibu yang tertidur pulas, justru kami yang
terlelap satu persatu terbuai indahnya nasihat lewat tutur cerita ibu.

Tengah malam saya terbangun, melihat ibu masih duduk bersimpuh di sajadahnya. Ia
menangis sambil menyebut nama kami satu persatu agar Allah membimbing dan menjaga
kami hingga menjadi orang yang senantiasa membuat ibu tersenyum bangga pernah
melahirkannya. Saya ternganga sekejap untuk kemudian terlelap kembali hingga
menjelang subuh ia membangunkan kami.
Selepas subuh, wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah itu
meneruskan pekerjaanya menyiapkan dagangan. Sementara kami membantu ala
kadarnya. Tak pernah saya melihat ia mengeluh meski teramat sudah peluhnya.

Satu tanyaku kala itu, kapan ia terlelap?

Pagi hari di sela kesibukannya melayani pembeli, ia juga harus menyiapkan pakaian
anak-anak untuk ke sekolah. Sabar ia meladeni teriakan silih berganti dari kami yang
minta pelayanannya. Wanita yang namanya diagungkan Rasulullah itu, tak pernah marah
atau kesal. Sebaliknya dengan segenap cinta yang dimilikinya ia berujar, "Abang sudah
besar, bantu ibu ya."

Ingin sekali kutanyakan, pernahkah ia berkesah?

***

Kini, setelah berpuluh tahun ia lakukan semua itu, setelah jutaan mil jalan yang ia susuri,
bertampuk-tampuk doa dan selaut tangisnya di hadapan Allah, saya tak pernah, dan
takkan pernah bertanya apakah ia begitu lelah. Karena saya teramat tahu, Ibuku tangguh!.

Bayu Gautama

Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi!

Publikasi: 22/12/2004 09:28 WIB


Cintamu padaku,
Berakar di sukma Rindangnya memenuhi jiwa Sepanjang masa
(sebuah sumber)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik)


kepada kedua orang ibu bapaknya,
Ibunya telah mengandungnya
Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah,
...."
(QS Luqman : 14)

eramuslim - Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat
syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja
bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang
kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus Al-
Qur'an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda
kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan
beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.
Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku
pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi
luruh. Duh, mengapa lama sekali petugas itu memanggil dan menyerahkah obat yang
akan aku tebus. Bunda, aku takut.

Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang
seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulir-
bulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. "Bunda yakin,
Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah
menakarnya. Kamu yang harus yakin."

Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh
di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada
Allahu Rabbana. "Semoga anak bunda jadi anak yang shalihah, pintar dan mendapat
pendamping hidup yang shalih", "Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang
berkah".

Bunda, sungguh gembira tak terkira bila kau ada di sini sekarang, hingga dengan bebas
aku meminta kesediaanmu untuk membaluri jiwa dengan param hangat doa-doa ikhlasmu
hingga ketenangan itu menjulang. Bunda betapa ingin ku raih itu semua sekarang juga.
Dada ini bunda, seperti diterjang beribu gempa.

Tahukah bunda, dokter yang memeriksaku barusan memberitahu bahwa janin yang
tengah ku kandung tidak bergerak. Aku melihatnya bunda. Gumpalan kecil itu terlihat di
layar monitor jelas sekali. Aku melihatnya bunda. Si kecil yang Allah amanahkan di
dalam rahim. Dokter mengguncang-guncang alat itu agar si kecil bergerak. Berkali-kali.
Lagi dan lagi. Ia diam bunda. Senyap. "Allah, janin kecilku."

"Bu, saya masih belum yakin dengan keadaan janin ibu. Dua minggu yang akan datang,
kontrol lagi yah, untuk kepastiannya," suara dokter sayup-sayup singgah di telinga. Ia
menuliskan resep dan dengan senyuman tulus mengangsurkan kertas itu ke hadapan.
"Sabar ya bu, banyak berdo'a," tambahnya menenangkan.

Bunda, kecemasan ini begitu kental. Aku merasakannya sekarang perkataan bunda di
waktu lalu. "Nak, jangan buat bunda cemas, hati bunda seperti belah ketika kau belum
datang juga, lain kali telpon jika akan menginap", "Nak, makanlah, agar sakitmu segera
sembuh, bunda tak bisa tidur melihatmu berbaring lemah, bunda cemas nak, sungguh!".
Duh bunda, aku tahu khawatir itu saat ini.

Dua bulan yang lalu dokter memberi tahu bahwa aku resmi menjadi seorang ibunda. Dan
sejak saat itu, aku mulai merasakan perasaan yang tumbuh berganti-ganti. Kesayangan,
kebahagiaan, kecemasan hingga perasaan tanpa nama. Bunda, betapa tidak mudah
ternyata menyandang gelar itu. Lelah berhari-hari karena mual dan pusing. Menghindari
banyak makanan dan menelan obat dan vitamin agar janin yang dikandung sehat. Aku
juga harus berhati-hati dalam banyak hal. Dan semuanya, segalanya, demi sesosok cinta
di dalam sana.
Bunda, seperti ucapanmu bahwa do'a seorang bunda seperti tuah, seperti bisa, selalu
ampuh. Maka aku memohon kepadamu, do'akan agar amanah Allah yang tengah ku
kandung baik-baik saja. Pintakan kepada Allah, agar si kecil tumbuh dengan sempurna.
Aku juga selalu berdoa untuk amanah ini, do'a yang bunda sendiri ajarkan,

"Ya Allah, lindungilah ia yang berada di rahim hamba, jadikanlah ia dalam keadaan
baik, bentuk yang sempurna, rupa yang elok, dan teguhkanlah kelak dan hatinya
keimanan kepada Mu, mengikuti sunnah Rasul Muhammad, berikanlah kebaikan
untuknya di dunia dan akhirat."

Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang
cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera
penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding
semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda,
bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang
membalas itu semua. Surga.

Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung
tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di
setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini
di gendang telinga mu "Bunda, rindu ini melangit lagi!"

***

Husnul Mubarikah

*Untuk semua bunda di seluruh dunia, "Selamat Hari Ibu!".


*Untuk yang tadi subuh menelpon dan mengingatkan QS Luqman:14

Uzur

Publikasi: 21/12/2004 07:52 WIB


eramuslim - Seperti apa rasanya menjadi uzur? Pertanyaan itu bergaung dalam kepala
saat saya menyaksikan lelaki renta itu berjalan tertatih-tatih sepanjang gerbong KRL
Jakarta-Bogor. Keriput menghias seluruh kulitnya. Putih kelabu mewarnai seluruh
rambutnya. Ketika kemudian dia mengemis sambil mengumpat tak jelas, diam-diam saya
menyimpan tangis dalam dada. Ke mana keluarganya? Seperti apa kehidupannya di
waktu muda hingga seperti ini masa tuanya? Betapa meyedihkan terlunta-lunta tanpa
sanak saudara. Pun, tanpa ketenangan batin pula. Bapak tua itu terus menerus marah-
marah. Wajahnya yang sudah berkerut-merut, menjadi makin tak sedap dipandang karena
aura marah, jengkel dan benci membayang di sana.

Menyaksikan si bapak tua membawa pikiran saya terbang jauh ke kampung halaman.
Seorang lelaki renta juga menghuni rumah saya hingga setahun yang lalu. Dia adalah
kakek saya, seorang pria lanjut usia yang tak lagi perkasa. Pendengarannya sudah sangat
jauh berkurang. Penglihatannya pun mungkin tak lagi dapat menemukan bentuk benda
yang sesungguhnya. Bahkan untuk berjalan beberapa langkah, ia harus segera duduk
kembali beristirahat. Hari-harinya ia habiskan di tempat tidur. Kadang saya prihatin
menyaksikannya. Teman-teman sebayanya rata-rata sudah meninggal. Istri, adik dan
kakaknya juga sudah meninggal, meski ada beberapa adiknya yang masih hidup namun
juga dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Dia tampak sering kesepian, sendirian,
sedang orang-orang dewasa di sekelilingnya sibuk mencari penghidupan.

Namun saya tahu, kakek saya masih beruntung. Dia memiliki bapak saya, anak laki-
lakinya yang berbakti. Bapak saya seorang laki-laki paruh baya yang penuh kasih sayang
terhadap orang tuanya. Selama bertahun-tahun, sejak kakek tak lagi dapat melakukan
segala sesuatunya sendiri, kakek tinggal bersama kami. Dan selama itu pula bapak saya
yang mengurusnya. Tentu saja termasuk kami: ibu, adik, dan saya jika sedang di rumah.
Namun bapak saya memiliki perhatian yang lebih. Beliau yang mencucikan baju-baju
kakek saya. Menemaninya jalan-jalan. Mengajaknya ngobrol. Menenangkannya jika
kakek mengigau tengah malam. Memijitinya jika kakek sakit. Dan sebagainya. Dan
seterusnya.

Bahkan ketika setahun terakhir kakek tak lagi tinggal bersama kami dan pindah ke rumah
pak dhe saya di kampung sebelah, bapak saya rajin menengoknya, minimal sehari sekali,
sekedar duduk berdua dalam diam. Sekedar membenahi selimutnya jika dia tengah tidur.
Sekedar menanyakan apakah dia sudah makan atau belum. Sekedar membawakan
makanan kecil, ubi-ubian kesukaan kakek. Atau memandikannya jika keluarga pak dhe
tidak sempat memandikannya. Seperti lebaran kemarin, ketika dia memandikan kakek
saya dan memakaikannnya baju terbaik untuk menyambut anak cucu.

***

Mereka berdua duduk bersama dalam diam. Tak ada kata-kata. Tak ada percakapan
sebagaimana layaknya dua orang sedang bercengkerama. Tapi saya tahu ada
perbincangan di antara batin mereka. Tapi saya tahu ada kasih sayang mengalir dari dada-
dada mereka. Tapi saya tahu ada kehangatan dalam hati mereka. Mereka, dua laki-laki
yang tengah bercengkerama dalam diam dengan suasana lebaran kemarin itu adalah anak
beranak. Bapak dan kakek saya.

Saya berdoa, semogalah kakek saya menjadi orang yang beruntung karena memiliki anak
yang berbakti. Dan semoga bapak saya ketika tiba masanya nanti, selain pahala yang
semoga sudah disimpan Allah disisi-Nya untuk hari akhir nanti, akan mendapat bakti
yang selayaknya pula dari kami anak-anaknya sebagaimana dia berbakti kali ini.

Azimah Rahayu
azi_75@yahoo.com
(@azi, persembahan untuk bapak menjelang hari ibu: kini engkau pahlawanku, seperti
juga ibu)

Refleksi
Publikasi: 20/12/2004 09:49 WIB
Eramuslim - Refleksi. Kata ini sering terdengar dan sering terbaca, hanya untuk kali ini
ada baiknya kita coba cermati lebih lanjut. Refleksi atau pantulan. Begitu banyak alat
yang telah dikreasikan manusia sehubungan dengan refleksi. Sebuah mikroskop bisa
membantu kita melihat organisme karena adanya refleksi, begitu juga teropong dan
kamera. Kemudian hasilnya akan terlihat jelas oleh mata kita sehingga kita bisa berkata,
"O, ternyata klorofil itu warnanya memang hijau, sel darah itu pecah atau pohon di atas
bukit itu ternyata rantingnya patah" atau "Ops, ternyata waktu di foto itu senyum kita
ternyata miring". Itu hasil dari refleksi.

Kemudian kita lanjutkan dengan pertanyaan, ke mana kita harus membawa diri ini
sehingga muncul sebuah refleksi yang bisa kita nilai keberadaannya? Jawabannya hanya
satu! Allah Subhanahu wa ta'ala adalah media untuk mewujudkan refleksi diri. Ketika
akan melakukan sesuatu atau bahkan ketika kita sedang berniat melakukan sesuatu. Allah
yang Maha Melihat dan Maha Segalanya, akan memperhatikan gerak demi gerak yang
terjadi.

Di saat kita meyakini ini maka hasilnya: perbuatan kita adalah refleksi dari penglihatan
Allah dengan mengandalkan nurani. Nurani yang bersih akan memantulkan penglihatan
Allah sesuai dengan semua hal yang disukai Allah dan sebaliknya. Jika peristiwa ini
terjadi, maka akhlak yang baik pasti melekat pada diri kita secara otomatis. Bila ternyata
perbuatan kita masih di luar kebenaran yang digariskan oleh Allah, berarti kita belum
berhasil menjadikan Allah sebagai media refleksi atau media refleksi kita dikaburkan
oleh benda-benda lain. Kamera akan memperlihatkan gambar yang kabur kalau kita tidak
memperlakukannya dengan benar atau tumbuh jamur di sekitar lensanya atau lemah
baterainya dan masih banyak faktor lain.

Begitu juga dengan diri kita. Gagalnya kita menjadi refleksi penglihatan Allah bisa jadi
karena hati kita yang berfungsi sebagai lensanya kabur tertutup segala noda penyakit hati
atau kita gagal memperlakukannya karena tidak membaca petunjuk yang telah diberikan-
Nya yaitu Alquran dan sunnah atau mungkin juga telah kita baca, tapi kita kurang punya
semangat untuk merealisasikannya (seperti kamera yang lemah baterai).

Begitu banyak alat di sekitar yang bisa membantu kita agar bisa menampilkan gambaran
yang jelas tentang refleksi diri yang kita inginkan, salah satunya: ilmu pengetahuan,
dengan membaca, tersurat ataupun tersirat.

Mohon doanya agar tulisan saya ini memacu saya untuk bisa melihat gambaran yang
jelas tentang diri saya tanpa harus ditutupi oleh rasa malu dengan pantulan yang
dihasilkannya. Semoga Allah mendengarkan doa kita semua.

Sungguh saya sangat tergelitik dengan pertanyaan Jakob Sumardjo dalam bukunya
"Orang Baik Sulit dicari (1997)", dituliskan mengapa orang baik sulit dicari, baik pada
masa kini, masa lampau, dan mungkin juga masa datang. Kualitas apa saja yang perlu ada
dalam pribadi seseorang sehingga ia dapat disebut orang baik?
Yah, pertanyaan ini kadang juga muncul pada diri kita, bahkan pertanyaan itu tidak
sengaja pernah kita ajukan untuk diri sendiri, "Apakah saya ini termasuk orang baik?"

Saya setuju dengan pendapat Joko yang mengatakan bahwa kebaikan, keindahan,
kebenaran, keadilan itu sulit dirumuskan ukurannya. Kita hanya dapat menyebut
seseorang itu baik berdasarkan persetujuan hati nurani kita. Kebaikan, keindahan,
kebenaran, keadilan seolah sesuatu "transendental", sesuatu yang berasal dari luar kodrat
manusia sendiri, sesuatu yang bersifat abadi, kekal, mengatasi ruang dan waktu.

Benar, kemudian perlu kita lanjutkan dengan sebuah kepastian bahwa kebaikan itu
berasal dari Allah, Sang Pencipta. Kalau saja kita meluangkan waktu sebentar saja,
benarkah kita yang telah baik karena memang kita sendiri yang mengerti akan arti
kebaikan? atau karena ibu kita telah mengajarkan kebaikan itu jauh hari sebelum kita
dilahirkan? Kedua hal itu juga benar. Lalu, dari mana asalnya sehingga ibu, nenek sampai
moyang kita dulu mengerti arti kebaikan? Ternyata harus dengan ikhlas kita mengakui
semua itu datangnya dari Allah yang Maha Sempurna perhitungannya.

Mulai dari diciptakannya manusia pertama yang bernama Adam, Allah telah
mengajarkan bahwa kebaikan itu adalah segala yang diridhai-Nya. Ketika Adam
dihukum Allah dengan disuruh turun dari surga, kita dapat mengatakan bahwa Adam
telah melakukan sebuah kesalahan dan kesalahan adalah suatu hal yang tidak baik.
Kemudian ketika "persembahan" Habil diterima oleh Allah, maka kita dapat mengatakan
bahwa mempersembahkan benda-benda terbaik yang kita miliki dengan cara terbaik
adalah suatu kebaikan.

Namun tidak semua hal itu kita dapat dari membaca. Banyak kebaikan-kebaikan lain
yang hanya nurani kita yang bisa menilainya. Tidakkah kita menjadi bertambah yakin,
kalau hati kita telah mengikat perjanjian dengan aturan-aturan dan larangan-larangan
Allah sehingga kita bisa menilai sesuatu itu baik atau buruk? Kenapa hati nurani kita
tidak mengatakan memaki itu adalah suatu kebaikan? Hal itu bisa saja terjadi kalau dari
awalnya aturan kebaikan itu ditentukan Allah demikian. Untuk urusan kebaikan saja,
rasanya tidak henti-hentinya lidah ini memuja keagungan dan kebijaksanaan Allah.
Begitu sempurnanya Alquran diturunkan dengan bahasa yang sangat santun.
Subhanallah. Apa lagi alasan kita untuk bersombong diri dengan tidak bersyukur?

Berikut ini ada kisah dari hamba yang telah berhasil menjadikan Allah sebagai media
refleksi. Adalah seorang Abid dari Bani Israil (Imam Al-Ghazali dalam bukunya Di Balik
Ketajaman Mata Hati, terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan tahun 1997) yang
mempunyai banyak keluarga. Dia sedang dilanda kelaparan sampai kondisinya sangat
terjepit, disuruhlah istrinya untuk mencari sesuatu untuk keluarganya. Maka
berkunjunglah ia ke rumah seorang saudagar dan meminta sesuatu yang dapat dimakan
oleh keluarganya. Saudagar kaya itu berkata, "Ya, asal kamu menyerahkan tubuhmu
kepadaku," Perempuan itu diam dan pulang ke rumahnya. Dia melihat anak-anaknya
berteriak, "Ibu, ibu ! Kami akan mati karena kelaparan, berilah kami apa saja yang bisa
kami makan," Perempuan itu kembali lagi kepada saudagar dan menceritakan padanya
mengenai anak-anaknya. Saudagar itu berkata, "Adakah keinginanku kau penuhi ?"
Perempuan itu
mengangguk, "Ya". Waktu saudagar itu hanya berdua dengannya, gemetarlah semua
persendian perempuan itu, seakan-akan semua anggota tubuhnya lepas dari tempatnya.
Saudagar itu berkata, "Ada apa kau ini?" Dia menjawab, "Sesungguhnya aku takut
kepada Allah," Maka berkatalah saudagar itu, "Engkau dengan keadaan fakir seperti ini
masih takut kepada Allah, apalagi aku harus lebih takut daripada engkau".

Perempuan dan saudagar itu berhasil mewujudkan penglihatan Allah ke dalam


perbuatannya. Sebuah refleksi yang indah. Wallaahu a’lam.

Farah Adibah
farah_adibah@yahoo.com
dalam rangka muhasabah diri sendiri

Breaking The Wall

Publikasi: 17/12/2004 09:08 WIB


eramuslim - Rapat sore itu agak sedikit muram. Sang pimpinan membuka rapat dengan
banyak istighfar, "Yah inilah konsekuensinya jika perusahaan kita ini ingin berkembang.
Kita harus berani ambil resiko seperti ini. Sekarang atau tidak sama sekali!" tegasnya.

"Tapi bos, investasinya lumayan besar. Bagaimana kita mengatasinya?" Rekan saya
bertanya.

"Kita berdo'a saja kepada Allah. Kita hanya berusaha tapi Dia yang menentukan.
Lagipula kita punya misi untuk mendukung aktifitas ke-Islaman dari hasil usaha kita.
Masak sih do'a kita tidak didengar," katanya meyakinkan kami semua.

"Iya Bos, kalau kita punya modal cukup sih, tidak masalah. Persoalannya darimana dana
sebesar itu harus kita siapkan. Lagipula masih banyak proyek kita yang belum selesai.
Wah berat sekali, Bos."

"Saya juga belum tahu. Tapi percayalah, kita sudah sering ditolong oleh Allah di saat-saat
genting. Mari kita perkuat keyakinan kita, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan." Sang
Bos berusaha menasehati dan memberikan semangat.

Ternyata apa yang dikatakan Sang Bos benar-benar terjadi. Keyakinannya menjadi
kenyataan. Semua persoalan dilalui dengan sangat berat, tapi semua itu berganti menjadi
kemudahan karena keyakinannya.

***

Itulah sepenggal cerita dari seorang rekan saya yang bekerja di sebuah perusahaan yang
sedang berupaya keras mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya. Sebuah langkah
yang fenomenal diambilnya, bayangkan dalam kondisi perusahaan yang sedang sulit saja,
dia tetap mengambil keputusan beresiko tinggi tanpa ragu sedikit pun. Dia sebenarnya
sedang menantang dirinya untuk melakukan hal di luar batas kemampuannya. Keberanian
yang patut diacungi jempol. Saya yakin dia adalah salah seorang pebisnis tangguh yang
akan membawa perusahaannya menuju kesuksesan.

Saya jadi ingat dengan kata-kata yang dibuat oleh Reza Syarief seorang supertrainer:
Never put any limitation at your start, but if you have done you know your limit. Kita
tidak pernah tahu sejauh mana keterbatasan yang kita miliki, hingga kita mencobanya.
Banyak orang yang memiliki kemampuan mengagumkan tapi hidupnya tidak beranjak
maju disebabkan dia tidak pernah mendobrak tembok keterbatasan dirinya. Ada seorang
sahabat dekat punya kemampuan seni luar biasa. Dia mampu melukis, mencipta lagu dan
wajahnya lumayan ganteng. Tapi ternyata ketika ditanya kenapa sampai saat ini dia
belum juga menikah, jawabannya seribu satu alasan dari mulai ekonomi yang belum
mapan sampai urusan mental yang belum siap. Padahal jika mau, dia pasti mampu.

Keterbatasan yang melingkupi kita disebabkan oleh cara pandang kita terhadap
kehidupan yang sudah terlanjur terkotak-kotak. Waktu kuliah di kampus, kita
ditempatkan pada ruangan yang berbeda sesuai jurusan pilihan kita. Sehingga ketika lulus
kita hanya mempunyai sudut pandang dari apa yang kita pelajari. Rumah tinggal kita
dibangun atas ruangan-ruangan sehingga mempersempit pandangan kita. Akhirnya
membuat kita menjadi orang-orang dengan pikiran sempit. Padahal dunia ini terhampar
luas tanpa batas, coba anda tengok ke langit. Subhanallah seakan tanpa batas.

Lantas, bagaimana caranya mendobrak keterbatasan cara berfikir kita? "Kenali dirimu
maka kau takkan terkalahkan. Kenali lawanmu maka tak ada lawan yang tak bisa
dikalahkan," Demikian Tsun Zu seorang ahli strategi perang memberikan pandangan
termasyhurnya tentang memenangkan peperangan. Kuncinya ada di dalam diri kita
sendiri. Mengenali sisi-sisi kelemahan diri, mengakuinya kemudian menantangnya
dengan gebrakan-gebrakan kecil. Lalu mulai memfilter apa saja perkataan orang yang
bisa mempengaruhi pola fikir kita.

"Buat apa begitu, kamu pasti gagal. Itu susah tahu!"

"Kamu kan lulusan teknik sipil, nggak mungkin jadi pedagang?"

"Saya nggak mampu deh kalo diberi pekerjaan seperti itu."

Jika boleh disimpulkan apa yang dikatakan Tsun Zu, pertama sekali yang harus kita
lakukakan adalah mengalahkan diri kita sendiri kemudian mengoptimalkannya untuk
mengenal siapa musuh kita. Sehingga setangguh apapun musuh yang dihadapi maka
kemenangan akan berada di tangan kita.

Rasulullah SAW ketika usai perang Badr mengatakan, "Kita baru meninggalkan jihad
kecil, menuju jihad besar." Para sahabat yang mengalami sendiri begitu besarnya perang
Badr terheran-heran mendengarkan pernyataan ini. Nabi pun menjelaskan jihad yang
paling besar adalah jihad untuk menundukkan hawa nafsu.
Kalau saja apa yang dilakukan oleh bos teman saya itu semata hanya dilandasi oleh hawa
nafsu, tentu sulit membayangkan dia akan dapat mengobarkan semangat kepada para
karyawannya untuk terus maju membangun bisnisnya. Sulit juga dimengerti kenapa ia
mengambil keputusan seperti itu. Menggarap proyek tanpa dukungan modal yang
memadai. Bagaimana kalau gagal? Bukankah lebih aman jika menyelesaikan proyek
yang masih belum selesai? Tapi pilihan-pilihan mudah dan enak itu dia abaikan. Filosofi
breaking the wall yang ditunjukkannya berakar dari pemahamannya akan keterbatasan
yang dimilikinya kemudian dia mendobraknya dengan keyakinan bahwa segala sesuatu di
dunia ini jika Allah berkehendak maka tidak ada yang mustahil. Jadi kapan giliran kita?.

***

Inspired by PINK FLOYD

Abu Sayyeed
asayyeed@yahoo.com.sg
Dec 15, 2004

* Buat rekan-rekan seperjuangan, Insya Allah kita akan mampu memecahkan tempurung
kelapa yang melingkupi kita dan pasti akan bertemu tempurung yang lebih besar. Akan
selalu terus begitu. Namun jika kita tetap solid dan membersihkan niat, sesungguhnya
pertolongan Allah sangat dekat.

Energi Positif

Publikasi: 16/12/2004 08:04 WIB


eramuslim - Beberapa pekan lalu, saya berkesempatan mengunjungi seorang sahabat di
rumah sakit. Tak ada yang aneh dengan orang sakit, dinding putih teman setia, selimut
bergaris biru muda, senampan buah segar bawaan penjenguk yang datang silih berganti,
dan sisa makanan pagi yang belum sempat diangkat petugas.

Ya, tak ada yang aneh dengan sahabat saya yang sakit kecuali pasien yang satu kamar
dengannya. Seorang bapak berusia 60-an tampak iri dengan kehadiran saya beserta
beberapa sahabat lain saat menjenguk sahabat saya, pasien sekamarnya. Binar matanya
menyiratkan kerinduan akan seseorang seperti halnya sahabat saya yang tak hentinya
dijenguk keluarga, kerabat maupun sahabat.

Segera saya hampiri ia dan menyapanya. Belum satu kata keluar dari mulut saya ketika
tiba-tiba ia menangkap tangan saya dan menariknya perlahan ke dadanya. Sebulir air
jatuh dari sudut matanya yang memendam sepi, beberapa kata pun mengalir dengan
paraunya. Kepada saya ia bercerita, sudah tiga hari anaknya tidak menjenguknya karena
anak tunggalnya itu harus berdagang lebih giat untuk mengumpulkan biaya berobat.
Isterinya telah lama meninggal sehingga ia hanya hidup berdua dengan anaknya.

Tidak ada keluarganya di Jakarta, kerabat pun tak ada yang menjenguknya. Sahabat?
Mungkin sudah terlalu lama ia tak lagi mengenal arti sahabat. Setidaknya, dalam tiga hari
ini. Selain anaknya tak ada lagi yang diharapkannya untuk sekadar tahu keadaannya di
rumah sakit.

Saya teringat saat ikut serta salah satu kegiatan Kelompok Kerja Sosial (KKS) Melati di
RS Fatmawati. Atas seizin pihak rumah sakit, kami, para relawan Melati mengunjungi
paviliun anak dan mendongeng untuk anak-anak yang tengah menjalani masa perawatan.
Ada ceria, dan tawa, juga tangis selama acara itu berlangsung. Betapa anak-anak yang
mulai bosan dengan suasana rumah sakit, jenuh dengan perawat-perawat yang serba
putih, atau bahkan wajah orang tua mereka yang tampak muram, hari itu terceriakan. Satu
persatu para relawan mendatangi anak-anak yang tidak bisa turun dari pembaringannya,
sementara beberapa relawan mengumpulkan anak-anak lainnya di aula untuk diajak
bermain dan mendongeng.

Ada bening air yang siap tumpah di setiap pelupuk mata para relawan, menyaksikan
wajah-wajah muram orang tua yang berhari-hari menunggu anaknya yang tak kunjung
sembuh. Tak sedikit yang menangis ikut meresapi penderitaan anak-anak itu, sangat
tergambar betapa menderitanya mereka, dari tangisnya, dari sorot matanya yang polos,
dari keluh rintihnya menahan sakit, juga dari lunglai tubuhnya.

Saya dan juga rekan-rekan relawan lain sangat yakin, bahwa kesembuhan seseorang
disebabkan oleh tiga faktor, Allah, dokter yang merawatnya, dan satu lagi yang tak kalah
pentingnya adalah semangat untuk sembuh dari si pasien. Dan hal kecil yang kami
lakukan pada hari itu hanyalah sedikit energi positif untuk menyalakan semangat hidup
anak-anak itu. Setidaknya, semangat untuk sembuh.

Kepada bapak tua yang sekamar dengan sahabat saya itu, saya terus merapatkan diri
untuk bisa lebih dekat mendengarkan suaranya yang makin parau. Harap saya, semoga
hal kecil yang saya lakukan itu bisa memberikan energi positif baginya. Terlebih ketika
serombongan sahabat saya memberinya salam dan doa sebelum kami meninggalkan
kamar tersebut. Tak lupa, buah tangan yang kami niatkan untuk sahabat kami, dialihkan
kepada 'sahabat' baru kami.

Dalam banyak kesempatan, tentu kita bisa memberikan energi positif kepada siapapun di
lingkungan kita. Seperti halnya saya berharap, tulisan ini pun bisa memberikan energi
positif bagi siapa saja yang membacanya.

Bayu Gautama

Atas Nama Cinta?

Publikasi: 15/12/2004 07:48 WIB


eramuslim - Seorang pakar cinta dari dataran Cina bernama Mo Tzu, yang hidup sekitar
(470 s/d 391 sebelum Masehi) mengajarkan sebuah ajaran cinta kepada dunia. Salah satu
kalimatnya tentang cinta berbunyi:
"Seorang yang mengaku taat kepada kehendak langit maka dia akan menebar cinta secara
mondial, sedang siapa yang ingkar terhadap kehendak langit dipastikan akan bercinta
secara parsial."

Alhamdulillah kita lahir dan besar sebagai muslim, salah satu karakteristik agama Islam
di antara agama langit (samawi) adalah dia bersifat universal. Tak peduli akan ras,
bahasa, dan benua, Islam adalah agama yang Allah peruntukkan untuk dunia dan Insya
Allah juga akan (kembali) menyatukan dunia.

Sehingga berkesan sekali refleksi Asy-Syahid Hasan Al-Banna tentang kesatuan dunia,

"Yang membedakan antara kaum muslimin dan pejuang nasionalis adalah bahwa paham
nasionalisme kaum muslimin berdasarkan aqidah Islam. Misalnya, mereka berjuang
untuk negara Mesir dengan mati-matian, sebab Mesir adalah bagian dari dunia Islam dan
pemimpinnya adalah ummat Islam. Tetapi mereka tidak berhenti sampai di situ saja.
Mereka juga berbuat demikian terhadap setiap tanah dan negara Islam yang lain.
Sedangkan para pejuang nasionalis berjuang untuk bangsanya saja,"

Begitu kuat pengaruh cinta kepada dunia, sehingga atas nama cinta seorang Khalid bin
Walid, laki laki besar dalam sejarah Islam, bisa 'takluk' kepada dunia.

Berkata Khalid, hanya karena cintanya terhadap dua hal sajalah yang sanggup
membuatnya 'betah' berada di dunia, yang pertama cintanya yang menelaga terhadap istri
tercinta, dan yang ke dua cintanya untuk berjihad membela agama Allah.

Bahkan atas nama cinta, Allah menjamin 2 golongan dari 7 yang dijamin-Nya akan
memperoleh naungan-Nya di saat tidak ada naungan selain Naungan Allah, yaitu seorang
yang di masa mudanya mencintai masjid dan dua pasang kekasih yang saling mencinta
karena Allah.

Secara global Imam Syafi'i menggambarkan sosok orang yang terbukti sedang jatuh cinta
dengan, "Seseorang akan mencintai apa apa yang dicintai oleh orang yang dicintainya."

Lebih konkrit, gerakan perjuangan Palestina menggambarkan karakterisitk orang yang


telah teruji cintanya dan imannya dengan parameter shalat berjamaah di masjid untuk
penilaian kelulusan pelaksanakan amanah mulia berupa aksi mengejar syuhada.

Dan atas nama cinta, Zaid bin Tsabit berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda, "Duhai alangkah baiknya negeri Syam itu (Palestina), duhai alangkah baiknya
negeri Syam itu." Para shahabat kemudian bertanya, "Ya Rasulullah, kenapa Engkau
memuji Syam seperti itu?" "Para malaikat membentangkan sayapnya atas kota Syam
tersebut," jawab Nabi selanjutnya. (HR Tirmidzi dan Ahmad)

Jadi kira kira apa bukti cinta orang-orang yang berkata, "Aku Bicara Atas Nama Cinta"?

Abu Syahidah
Ketulusan Itu (Bukan) Milik Kita

Publikasi: 14/12/2004 07:44 WIB


eramuslim - Kebaikan hati seolah telah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk kita
miliki dan temui saat ini. Memilikinya ibarat menyimpan bara dalam genggaman.
Kebaikan hati akan membuat kita tidak 'competitive' dalam dunia yang keras ini. Hati
yang lembut dan lebih 'manusiawi' hanya akan menghambat kita dalam meraih sukses.
Sebaliknya, hati yang 'tegaan' dan lebih 'rasional' dianggap akan lebih melapangkan jalan
keberhasilan.

Menemui kebaikan kini juga seolah semakin sulit. Kita semakin suka berprasangka atas
kebaikan yang kita lihat. Tidak ada kebaikan yang tulus, semua pasti ada 'sesuatu' di
baliknya. Tidak ada makan siang yang gratis. Bahkan kebaikan hati kini sering dituding
sebagai penyebab keterpurukan dan nasib sial. Ketika seorang teman ngemplang tidak
membayar hutang, orang-orang mempersalahkan saya. Saya dianggap 'terlalu baik' dan
tidak berhati-hati sehingga mudah tertipu tampilan luar seseorang. Dan tidak ada
seorangpun yang mempersalahkan teman yang ngemplang tersebut!

Berbagai kejahatan dari kelas teri hingga kelas kakap yang kita saksikan sehari-hari di
media cetak dan televisi, semakin membekukan hati kita. Selalu waspada dan jangan
pernah lengah. Berbaik hati hanya akan menurunkan kewaspadaan dan membuat kita
tertipu dan celaka. Saya pun larut dalam arus besar itu.

Sampai suatu ketika di akhir November lalu saya menonton sebuah acara reality show di
salah satu stasiun televisi swasta. Di acara tersebut seorang aktor akan berlakon sebagai
orang yang membutuhkan pertolongan. Lalu ia akan meminta tolong pada semua orang
yang ditemuinya secara acak. Orang yang memberi pertolongan akan mendapatkan
hadiah. Semua kejadian di rekam oleh kamera tersembunyi sehingga diyakini bahwa
orang yang menolong itu benar-benar tulus.

Pada edisi itu, ditampilkan seorang nenek tua yang kumal dan lusuh penampilannya, dan
diskenariokan meminta minyak tanah ala kadarnya untuk memasak. Sang nenek pun
berkeliling dari pintu ke pintu, lengkap sambil menenteng kompor dan jerigen minyak
yang juga tak kalah kumalnya dengan penampilan si pemilik. Bertemu orang pertama,
sang nenek ditolak secara halus. Berikutnya, di sebuah warung kelontong yang cukup
besar dan ramai, sang nenek kembali ditolak. Si pemilik warung terlihat waspada dan
'menginterogasi' si nenek, curiga si nenek adalah penipu. Berikutnya di sebuah rumah
sederhana, sang nenek kembali ditolak, bahkan dengan kasar.

Sampai akhirnya sang nenek bertemu dengan seorang lelaki setengah baya pengecer
minyak tanah yang sedang mengisi stok minyak di sebuah warung. Seorang lelaki yang
gigih. Kerasnya kehidupan tampak jelas tergurat di wajahnya yang hitam berpeluh.
Namun wajah itu terlihat ramah dengan senyum. Seperti sebelumnya, tanpa basa basi,
sang nenek menghampiri dan meminta minyak tanah kepada si penjual itu. Si penjual
minyak tanah tampak sabar dan tekun menyimak penjelasan si nenek. Selesai sang nenek
bercerita, tanpa berkata apa-apa, si penjual minyak langsung mengambil jerigen si nenek
dan mengisinya. Tetap dengan wajah ramahnya. Tak ada sedikitpun rona kecurigaan,
apalagi pertanyaan-pertanyaan 'interogasi'. Bahkan ketika sang nenek 'ngelunjak'
meminta kompor bututnya diperbaiki pula, si penjual minyak tetap melayaninya dengan
ramah. Tak ada sedikitpun perubahan rona di wajahnya. Benar-benar tulus, tanpa
prasangka!

Jadilah si penjual minyak 'pemenang' di acara tersebut. Ketika berikutnya sang pemenang
diwawancara, semakin terkuaklah 'mutiara' itu. Pengecer minyak tanah itu ternyata cacat.
Slamet, lelaki setengah baya itu, terlahir dengan kedua kaki yang cacat dan sebelah mata
buta!. Setiap hari ia mencari nafkah berjualan minyak berkeliling perumahan, keluar-
masuk kampung, menyusuri jalan raya, dengan sebuah sepeda tua yang dikayuh dengan
sebelah tangannya! Dan mengalirlah kemudian kisah tentang sebuah ketegaran jiwa,
ketulusan menjalani garis hidup, kegagahan menghadapi kerasnya ombak zaman, dari
seorang Slamet. Dan wawancara diakhiri dengan sebuah kalimat yang begitu
menggetarkan dari Slamet, "Saya percaya Tuhan itu Maha Adil".

Seketika itu, runtuhlah semua kesombongan diri, hancur berkeping diterjang gelombang
kesederhanaan. Musnah semua arogansi intelektualitas, tenggelam dalam kebeningan
perasaan. Lepas segala ambisi dan nafsu duniawi, jatuh tersungkur di hadapan ketulusan
seorang hamba, hamba yang begitu tulus menjalani hidupnya. Dengan semua ujian hidup
yang begitu berat, dia tetap tersenyum ramah kepada siapapun, menolong semua tanpa
membeda-bedakan walau hanya dalam batas kemampuannya, tak ada iri dan dengki
terhadap sekelilingnya yang hidup jauh lebih beruntung, dan dengan ikhlas berkata:
Tuhan Maha Adil!.

Saya tergugu. Betapa buruknya kita di hadapan seorang Slamet. Kita yang intelek dan
terpandang, dipenuhi dengan berbagai nikmat, namun masih merasa tidak cukup.
Seringkali protes ketika hanya mendapat sebuah ujian. Menjadi bebal dan keras hati oleh
berlimpahnya materi dan kedudukan.

Hati yang tulus dan lembut masih ada bahkan banyak, bertebaran memenuhi persada.
Memeliharanya memang sulit namun bukan sesuatu yang mustahil. Dunia yang keras dan
culas tidak cukup menjadi alasan bagi kita untuk menumpulkan dan membekukannya.
Karena kebaikan dan kelembutan hati bukanlah suatu hal bodoh dan sia-sia dalam dunia
yang bergetah ini.

Terima kasih Mas Slamet!

Yusuf Wibisono
yusuf_w@yahoo.com

* Munjul, 12 Desember 2004

Kisah Indah Sang Khalifah


Publikasi: 13/12/2004 08:11 WIB
Siang di bumi Madinah, suatu hari. Matahari tengah benderang.

Teriknya sungguh garang menyapa hampir setiap jengkal kota dan pepasir lembah.
Jalanan senyap, orang-orang lebih memilih istirahat di dalam rumah daripada bepergian
dan melakukan perniagaan. Namun tidak baginya, lelaki tegap, berwajah teduh dan
mengenakan jubah yang sederhana itu berjalan menyusuri lorong-lorong kota sendirian.
Ia tidak peduli dengan panas yang menyengat. Ia tak terganggu dengan debu-debu yang
naik ke udara. Ia terus saja bersemangat mengayun langkah. Sesekali ekor matanya
berkerling ke sana ke mari seperti tengah mengawasi. Hatinya lega, ketika daerah yang
dilewatinya sentosa seperti kemarin.

Hingga ketika ia melewati salah satu halaman rumah seorang penduduk, tiba-tiba ia
berhenti. Langkahnya surut. Pandangannya tertuju pada anak kecil di sana. Ditajamkan
pendengarannya, samar-samar ia seperti mendengar suara lirih cericit burung. Perlahan ia
mendatanginya dan dengan lembut ia menyapa bocah laki-laki yang tengah asyik
bermain.

"Nak, apa yang berada di tanganmu itu?" Wajah si kecil mendongak, hanya sekilas dan
menjawab.

"Paman, tidakkah paman lihat, ini adalah seekor burung," polosnya ringan. Pandangan
lelaki ini meredup, ia jatuh iba melihat burung itu mencericit parau. Di dalam hatinya
mengalun sebuah kesedihan, "Burung ini tentu sangat ingin terbang dan anak ini tidak
mengerti jika mahluk kecil ini teraniaya."

"Bolehkah aku membelinya, nak? Aku sangat ingin memilikinya," suaranya penuh harap.
Si kecil memandang lelaki yang tak dikenalnya dengan seksama. Ada gurat kesungguhan
dalam paras beningnya. Lelaki itu masih saja menatapnya lekat. Akhirnya dengan agak
ragu ia berkata, "Baiklah paman," maka anak kecil pun segera bangkit menyerahkan
burung kepada lelaki yang baru pertama kali dijumpainya.

Tanpa menunggu, lelaki ini merogoh saku jubah sederhananya. Beberapa keping uang itu
kini berpindah. Dalam genggamannya burung kecil itu dibawanya menjauh. Dengan hati-
hati kini ia membuka genggamannya seraya bergumam senang, "Dengan menyebut asma
Allah yang Maha Penyayang, engkau burung kecil, terbanglah...terbanglah..."

Maka sepasang sayap itu mengepak tinggi. Ia menengadah hening memandang burung
yang terbang ke jauh angkasa. Sungguh, langit Madinah menjadi saksi, ketika senyuman
senang tersungging di bibirnya yang seringkali bertasbih. Sayup-sayup didengarnya
sebuah suara lelaki dewasa yang membuatnya pergi dengan langkah tergesa. "Nak,
tahukah engkau siapa yang membeli burung mu itu? Tahukah engkau siapa lelaki mulia
yang kemudian membebaskan burung itu ke angkasa? Dialah Khalifah Umar nak..."

***
Malam-malam di kota Madinah, suatu hari.

Masih seperti malam-malam sebelumnya, ia mengendap berjalan keluar dari rumah petak
sederhana. Masih seperti malam kemarin, ia sendirian menelusuri jalanan yang sudah
seperti nafasnya sendiri. Dengan udara padang pasir yang dingin tertiup, ia menyulam
langkah-langkah merambahi rumah-rumah yang penghuninya ditelan lelap. Tak ingin
malam ini terlewati tanpa mengetahui bahwa mereka baik-baik saja. Sungguh tak akan
pernah rela ia harus berselimut dalam rumahnya tanpa kepastian di luar sana tak ada bala.
Maka ia bertekad malam ini untuk berpatroli lagi.

Madinah sudah tersusuri, malam sudah hampir di puncak. Angkasa bertabur kejora. Ia
masih berjalan, meski lelah jelas terasa. Sesekali ia mendongak melabuhkan pandangan
ke langit Madinah yang terlihat jelita. Maka ia pun tersenyum seperti terhibur dan
memuja pencipta. Tak terasa Madinah sudah ditinggalkan, ia berjalan sudah sampai di
luar kota. Dan langkahnya terhenti ketika dilihatnya seorang lelaki yang tengah duduk
sendirian menghadap sebuah pelita.

"Assalamu'alaikum wahai fulan," ia menegur lelaki ini dengan santun.

"Apakah yang engkau lakukan malam-malam begini sendirian," tambahnya. Lelaki itu
tidak jadi menjawab ketika didengarnya dari dalam tenda suara perempuan yang
memanggilnya dengan mengaduh. Dengan tersendat lelaki itu memberitahu bahwa
istrinya akan melahirkan. Lelaki itu bingung karena di sana tak ada sanak saudara yang
dapat diminta pertolongannya.

Setengah berlari maka ia pun pergi, menuju rumah sederhananya yang masih sangat jauh.
Ia menyeret kakinya yang sudah lelah karena telah mengelilingi Madinah. Ia terus saja
berlari, meski kakinya merasakan dengan jelas batu-batu yang dipijaknya sepanjang
jalan. Tentu saja karena alas kakinya telah tipis dan dipenuhi lubang. Ia jadi teringat
kembali sahabat-sahabatnya yang mengingatkan agar ia membeli sandal yang baru.

"Umm Kultsum, bangunlah, ada kebaikan yang bisa kau lakukan malam ini," Ia
membangunkan istrinya dengan nafas tersengal. Sosok perempuan itu menurut tanpa
sepatah kata. Dan kini ia tak lagi sendiri berlari. Berdua mereka membelah malam. Allah
menjadi saksi keduanya dan memberikan rahmah hingga dengan selamat mereka sampai
di tenda lelaki yang istrinya akan melahirkan.

Umm Kultsum segera masuk dan membantu persalinan. Allah Maha Besar, suara tangis
bayi singgah di telinga. Ibunya selamat. Lelaki itu bersujud mencium tanah dan kemudian
menghampirinya sambil berkata, "Siapakah engkau, yang begitu mulia menolong kami?"

Lelaki ini tidak perlu memberikan jawaban karena suara Ummi Kultsum saat itu
memenuhi lengang udara, "Wahai Amirul Mukminin, ucapkan selamat kepada tuan
rumah, telah lahir seorang anak laki-laki yang gagah."

***
Sahabat, betapa terpesona, mengenang kisah indah Khalifah Umar bin Khatab. Ia adalah
seorang pemimpin negara, tapi sejarah mengabadikan kesehariannya sebagai orang
sederhana tanpa berlimpah harta. Ia adalah orang yang paling berkuasa, tapi lembaran
kisah hidupnya begitu penuh kerja keras dalam mengayomi seluruh rakyatnya. Ia adalah
orang nomor satu tapi siang dan malamnya jarang dilalui dengan pengawal. Ia seorang
penyayang meski kepada seekor burung. Ia sanggup berlari tanpa henti demi menolong
seorang perempuan tak dikenal yang akan melahirkan. Dan ia melakukannya sendiri. Ia
melakukannya sendiri.

***
Husnul Mubarikah
* Syukran bah, atas banyak cintanya

Mendengarkan dengan Hati

Publikasi: 10/12/2004 07:44 WIB


eramuslim - Pekan lalu, satu lagi sahabat saya menikah. Setelah melalui berbagai
pertimbangan yang sempat memberatkannya, dengan penuh keyakinan ia jalani dengan
mantap tekadnya untuk mengakhiri masa sendirinya.

Sore hari beberapa bulan yang lalu, saya menemuinya dalam keadaan tak bersemangat.
Pasalnya, orang tua, kakak, adik, tante dan nyaris semua orang yang sejak awal
diharapkan memberikan dukungan dan restunya atas rencana pernikahannya justru
menentang dengan berbagai alasan.

"Dengan penghasilan yang masih pas-pasan, mau dikasih makan apa isteri kamu nanti..."
satu pertanyaan pamungkas dari ibunya. Sebelumnya, ayahnya menilai sahabat saya itu
belum waktunya menikah, masih ada beberapa adiknya yang membutuhkan bantuan
biaya pendidikan. Belum lagi alasan lain yang terlontar dari anggota keluarga yang lain.
Semua itu membuatnya semakin bingung, resah sekaligus merasa tertekan, sementara di
sisi lain hasratnya untuk menikah semakin kuat.

Tidak hanya pada saat seperti yang dialami sahabat saya tersebut. Setiap orang, sebagian
dari mereka bahkan orang-orang terdekat kita, pernah mengalami satu posisi di mana ia
berdiri di bibir jurang sementara di belakangnya juga terdapat bibir jurang yang tak kalah
lebar ternganganya. Segunung keraguan bertengger di pundaknya. Segunung keraguan
yang sebagian kecil datang dari dalam dirinya, sebagian besarnya justru ia dapati dari
orang-orang maupun keadaan sekitarnya.

Bayang-bayang kegagalan dari sejarah masa lalu yang pernah tercatat, yang terus
menerus ia dapati dari seluruh referensi, cemoohan dan setumpuk kata juga alasan negatif
dari orang-orang yang semestinya memberikan dukungan, seperti merantai kuat kedua
kakinya sehingga tak mampu melangkah sedikit pun untuk maju. Di saat seperti itu, ada
dua kemungkinan yang akan dipilih, mundur yang artinya ia mungkin akan jatuh lebih
dalam dari jurang yang ada di depannya atau mengurungkan niatnya, duduk terdiam dan
menunggu mukjizat datang menghampirinya. Sementara kekuatan untuk melangkah lebih
jauh tak berani dicobanya.

Saya pernah mengalami masa seperti itu, dan dalam hati terbersih saya, saya yakin
sebagian besar orang di atas bumi ini juga pernah menghadapi situasi yang demikian. Tak
berani maju karena jurang menganga, mundur pun berarti terjerumus lebih dalam. Di
detik-detik terakhir sebelum akhirnya setiap kita kehabisan energi di ambang putus asa,
di saat itulah kita berpasrah kepada Allah berharap ia mengirimkan seseorang yang bisa
membantunya keluar dari masalah.

Di detik terakhir, seorang sahabat menepuk pundak saya dan meminta saya duduk
menenangkan diri menceritakan semua yang saya alami. Tidak ada yang ia lakukan
kecuali mendengarkan setiap huruf yang keluar dari mulut saya. Tak ada bantahan, tak
ada selaan, tak ada kernyit dahi, juga mata yang melengah darinya. Yang ada hanya
tatapan mata penuh perhatian, telinga yang terbuka seluas langit dan senyum yang
menyiratkan kasih.

Tahukah Anda apa yang terjadi setelah itu? Sebuah jembatan seperti terbentang antara
bibir jurang di sedepa langkah saya dengan tanah pijakan di seberang yang sebelumnya
tak mampu tertangkap oleh mata. Ya, ternyata yang saya butuhkan hanyalah seseorang
yang mau mendengarkan -sekali lagi, mendengarkan- dengan hatinya. Dan saya yakin,
dia lah sahabat yang dikirimkan Allah dari sepenggal doa saya di ambang keputusasaan.

Kepada sahabat saya yang tampak murung menghadapi kesulitan dengan rencana
pernikahannya, saya hanya menyediakan hati saya untuk mendengarkannya. Saya ingin
membangun sebuah jembatan baginya. Sungguh, saya hanya menepuk pundaknya dan
mendengarkan apa pun yang keluar dari mulutnya hingga tak satu pun huruf tersisa.

Wallaahu 'alam.

Bayu Gautama

Fitnah Itu Bernama Teroris (Milad 17 Tahun Intifadhah, 8 Desember 1987)

Publikasi: 09/12/2004 09:35 WIB


eramuslim - Pada akhir bulan Jumadil Akhir 1424 tahun yang lalu, tersebutlah seorang
sahabat bernama Abdullah bin Jahsy Asady.

Bersama dengan dua belas sahabat dari kalangan muhajirin berangkatlah ia menjalankan
sebuah operasi intelejen rahasia, ikut dalam rombongan tersebut Sa'ad bin Abi Waqqash
dan 'Utbah bin Ghazwan.

Beliau dititipi sepucuk surat oleh Rasulullah SAW, dengan amanah, baru boleh dibuka,
untuk dibaca, dan ditaati serta dilaksanakan sekiranya mereka telah berjalan selama dua
hari penuh.
Ketika saat itu tiba, sang komandan perjalanan Abdullah bin Jahsy pun membuka isi surat
tersebut, yang ternyata berisi sebuah perintah:

"Berangkatlah menuju Nikhlah, antara Mekkah dan Tha'if. Intailah keadaan orang orang
Quraisy di sana dan laporkan kepada kami keadaan mereka"

Selepas membaca surat ini Abdullah bin Jahsy berucap, "Kutaati perintah ini!"

Kemudian diceritakanlah isi surat Rasulullah tersebut kepada para sahabatnya yang lain
seraya berkata, "Rasul Allah telah melarang aku memaksa seorang pun dari kalian. Siapa
yang ingin mati sebagai pahlawan syahid, marilah berjalan terus bersama aku, dan siapa
yang tidak menyukai hal tersebut hendaklah dia pulang...!"

Seruan ini disikapi para sahabat dengan sambutan untuk terus melanjutkan ekspedisi
hingga tuntas. Hingga terjadilah sebuah peristiwa, unta yang dikendarai secara bergantian
oleh Sa'ad dan Utbah hilang, menyebabkan keduanya tertinggal oleh rombongan.

Tiba di Nikhlah berpapasanlah rombongan Abdullah bin Jahsy dengan kafilah Quraisy
yang dipimpin oleh Amr bin Al Hadharamy. Pertempuran pun tak terhindari, Amr tewas
sedangkan dua orang dari mereka berhasil tertawan. Dengan membawa tawanan dan
rampasan kafilah, kembali Abdullah bin Jahsy menuju Madinah.

Tanpa disadari oleh para sahabat ternyata peristiwa peperangan tersebut terjadi sesudah
masuk bulan Rajab, di mana pada bulan tersebut tidak boleh terjadi peristiwa
permusuhan, pembunuhan dan peperangan.

Tanpa dikomando segeralah berita tentang insiden di Nikhlah memenuhsesakkan wacana


obrolan dan pembicaraan masyarakat Madinah, corong-corong Yahudi, satelit-satelit
Quraisy dan para munafik Madinah sibuk memelintir dan mencemooh nama-nama
sahabat yang tersangkut insiden Nikhlah tersebut.

Tidak cukup pada sahabat yangg tekena langsung dampak skandal tersebut, hingga
Rasulullah pun namanya ikut diseret ke dalam kasus Nikhlah, nama beliau dicap dengan
berbagai macam istilah dan slogan, serta digeneralisasi bahwa umat islam tidak memiliki
etika pada bulan haram.

"Muhammad telah menghalalkan bulan haram, padahal bulan itu orang penakut saja
merasa aman dan semua orang bisa bekerja dengan tenang".

Luar biasa fitnah dan sesaknya kondisi pada saat itu, hingga Rasulullah sendiri menolak
kedatangan rombongan Abdullah bin Jahsy beserta ghanimah dan tawanan yang dibawa
dari Nikhlah, dan menegur mereka, "Aku tidak memerintahkan kalian berperang dalam
bulan haram".

Hingga fitnah dan wacana yang memojokkan sebagian sahabat pada saat itu diklarifikasi
Allah SWT dengan menurunkan ayat 217 surat Al Baqarah:
"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah,
'Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar'."

"Tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi
masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar
(dosanya) di sisi Allah."

"Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh."

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan


kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup."

"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam
kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan
mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

Walau telah diklarifikasi Allah hingga hari ini pun fitnah-fitnah tersebut tak pernah
berhenti mengalir dari corong-corong kebathilan, berbagai macam cap dan istilah mereka
berikan kepada orang-orang yang menjalankan keyakinan beragama-Nya.

Kalau dulu mereka mencap Inlaender Extrimist kepada ulama salih pertiwi yang berjuang
dan senantiasa menggelorakan perlawanan jihad fi sabilillah untuk kemerdekan tanah air
Indonesia, maka hari ini mereka pun tidak kunjung lelah memberikan gelar teroris bagi
rakyat, anak-anak dan remaja-remaja Palestina yang terus istiqomah berjuang merebut
kembali tanah suci Al-Aqhsa.

Jika dulu mereka menodai kemerdekaan bangsa Indonesia dengan agresi militer di bulan
suci Ramadhan, maka hari ini mereka ulangi kembali tabiat jahat mereka, denga
menginjak-nginjak kesucian rumah-rumah, dan tanah-tanah Allah di Iraq, juga pada
bulan suci Ramadhan.

Tidak cukupkah kita umat Islam mengambil pelajaran dari klarifikasi Allah terhadap
insiden Nikhlah?

Kini saatnya umat Islam harus bersatu padu membela kehormatan agamanya menarik
garis besar untuk jelas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

Dua bulan setelah Insiden Nikhlah, Allah SWT mentakdirkan sebuah klarifikasi tegas
akan semua fitnah yang mewacana.

Hari itu adalah Al-Yaumul Furqon, dimana jelas di atas tanah Badar semua dipertaruhkan
dan semua induk fitnah diklarifikasi, dan terjawab sudah klarifikasi fitnah tersebut hingga
hari ini, mana sebenarnya golongan haq dan mana pihak yang mengusung kebathilan.
Fitnah hari ini adalah istilah teroris, maka katakan kepada umat Islam di seantero dunia:
"Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh" (QS 2:217) dan lawanlah
wacana-wacana dan makar-makar bathil mereka, hingga jelas siapa teroris sebenarnya!

Kita yang berjuang untuk kedaulatan dan kemerdekaan tauhid? Atau mereka yang
(tabiatnya) senantiasa menjajah kita dalam beragama, mengusir kita dari tanah suci milik
Allah dan kafir terhadap Allah ?

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata
untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha
Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS 8:39)

Abu Syahidah
syams@gmx.de

Meraih Tempat Mulia

Publikasi: 08/12/2004 08:31 WIB


eramuslim - Seringkali kita bingung memikirkan bagaimana caranya agar mampu
mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah. Tak jarang kita merasa sulit sekali
memikirkan usaha untuk berada di posisi tersebut. Padahal kalau saja kita mengetahui
begitu mudahnya untuk mendapatkan tempat yang mulia itu, Insya Allah mungkin
sebagian besar dari kita akan berada di sana.

Ternyata, hanya dengan mencintai dan mempersaudarakan karena Allah kita bisa
mencapai posisi yang selalu kita impikan itu. Membina hubungan dengan saudara dan
teman di atas fondasi ukhuwah karena Allah, merupakan ikatan yang paling luhur antara
dua insan, baik seorang muslim maupun muslimah. Karena ikatan ini merupakan ikatan
iman yang dijadikan Allah antar orang beriman.

Renungi dengan sepenuh sungguh firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang


beriman itu bersaudara." (QS Al-Hujurat: 10)

Bahkan kita sering mendengar, salah satu cara agar kita bisa merasakan lezatnya iman
adalah bila kita dapat mencintai seseorang semata-mata karena Allah.

"Di manakah mereka yang saling mencintai karena kebesaran-Ku? Pada hari ini Aku
naungi mereka dalam naungan-Ku, hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku."
(HR Muslim)

Subhanallah, sungguh besar kemuliaannya! Betapa tinggi kedudukan mereka yang saling
mencintai karena Allah dan semata-mata bertujuan mencari ridha-Nya, hingga Allah
menyediakan sebuah naungan di hari paling berat itu. Memang sangat berat dan sulit
untuk mendapatkannya, kecuali orang yang bersih jiwanya, suci rohaninya dan
memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya dan murah.
Tapi harus ada kata permulaan, harus ada perbuatan awal karena kalau tidak, selamanya
kita akan mengatakan kalau hal itu sulit sekali dan kita tidak akan mampu untuk
melakukannya. Maka sekaranglah masanya. Mulailah untuk mengungkapkan rasa cinta
dan sayang kepada sesama, bukan hanya dengan perbuatan saja tapi ungkapkan dengan
bahasa yang indah yang mampu mengungkapkan semua rasa cinta kita yang tentu saja
semuanya karena Allah. Lalu seperti apa cara menumbuhkan cinta kepada orang lain?,
Nabi SAW telah memberikan contoh yang nyata kepada kita.

"Demi Allah yang Jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai
kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sehingga kalian saling mencintai. Tidak
maukah kamu kutunjukkan suatu amal yang jika kamu melakukannya, kamu menjadi
saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu." (HR Muslim)

Salam. Subhanallah ternyata begitu mudah untuk memasuki surganya Allah, hanya
mengucapkan salam setiap bertemu dengan semua saudara-saudara kita.

Tapi apakah dalam prateknya semudah teori di atas? Insya Allah, jika ada kasih sayang
dalam hati serta bersihnya jiwa dan tentu saja senyum yang ikhlas yang benar-benar
tulus, menyebarkan salam bukanlah hal yang sulit dan tentu saja dengan berdoa, "Ya
Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada Mu dan bersyukur kepada Mu, dan tolonglah
aku dalam melakukan ibadah secara baik kepada Mu."

Insya Allah keinginan untuk berada di tempat yang mulia di sisi Allah bukan hanya
sekedar impian belaka. Doaku selalu terucap agar kita bisa berada di sana bersama-sama.
Amin.

Allah Azza wa Jalla berfirman, "Orang-orang yang saling mencintai karena


kebesaranKu, akan mendapat mimbar dari cahaya, di mana para Nabi dan syuhada iri
kepadanya (ingin mendapatkannya)." (HR Mu’adz bin Jabal RA)

Akhirnya, "Aku benar-benar mencintaimu karena Allah saudaraku!"

Amda Usnaka
usnaka@yahoo.com

Cinta Sang Duta Pertama

Publikasi: 07/12/2004 09:10 WIB


Kupunya sekeping hati yang ditebari cinta
Karena cinta dia rela menghadapi bertubi derita
Cinta merebut dirimu dengan pengorbanan jiwa
Kan kutebus pula dengan sesuatu diatas jiwa
(Ekspresi cinta para sahabat untuk Al-Musthafa, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)
eramuslim - Ia, bagaikan mawar di rerimbunan suku Quraisy. Wajahnya tampan, begitu
masyhur di udara Makkah. Cemerlang pemikirannya bukan lagi rahasia, ia sosok cerdas
yang menjadi kebanggaan. Tak sampai di situ, ia anak dari seorang bangsawan dengan
gemerlap kekayaan. Sejarah menorehkan anugerah panggilan terhadapnya "Penduduk
Makkah yang sangat mempesona". Ia tumbuh menjadi anak kesayangan sang ibunda,
anak manja begitu para karibnya menyebut sang pemuda. Namun, apakah mungkin jika
selanjutnya kisah kehidupan sang pemuda menjadi sebuah legenda keimanan yang begitu
agung gaungnya? Allah sebaik-baik penentu lika-liku kehidupan seseorang. Mush'ab bin
Umair.

***

Bukit Shafa, Makkah, senja hari.

Mush'ab gelisah menyusuri setapak jalanan. Sesekali ia menengok kiri dan kanan,
memastikan tak ada orang yang mengikutinya. Sampai di rumah Arqam bin Arqam, ia
berhenti. Sudah dibulatkan tekadnya untuk menjumpai seseorang yang kelak akan dicinta
sampai nafas terhembus dari raga. Perlahan Mush'ab membuka pintu, dan di sana telah
duduk sosok yang selama ini hanya mampu ia dengar. Ruangan begitu hening, sementara
gemerisik pepasir sahara terdengar mengalun dihantarkan angin. Sesaat kemudian
Mush'ab terpaku, lantunan syair syahdu yang begitu indah menyapa merdu gendang
telinganya. Mush'ab terbuai, hatinya melembut. Sejenak, Mush'ab serasa mengangkasa,
terpesona. "Apakah itu, duhai Muhammad?" tanya Mush'ab setelah bibir manis
Rasulullah tak lagi bersuara.
"Tadi, adalah Al-Qur'an, firman Allah yang maha benar." "Ya Muhammad, bagaimana
caranya aku bisa masuk ke dalam agama yang tengah engkau bawa?"

Saat itu betapa berbunga hati manusia pembawa cahaya pada dunia. Pertanyaan yang
dilontarkan Mush'ab begitu menggembirakan Al-Musthafa. Akan bertambah pengikutnya
satu kepala. Senyuman sang Penerang mengembang, dengan mantap ia bertutur,
"Bersaksilah bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah benar utusanNya."

Dan beberapa pasang mata menyaksikan sumpah setia sang pemuda berparas jelita.
Mush'ab bersyahadat. Mush'ab nampak berbeda, sebuah keharuan menjelma. Dadanya
turun naik, Nabi bersegera menujunya. Tangan Al-Musthafa terulur ke dada Mush'ab,
meredam gejolak cinta yang kian berdentang. Dan ajaib lubuk hatinya kini damai.
Keduanya kini berpandangan disaksikan langit yang juga bersuka cita. Mush'ab bin
Umair, pemuda gagah keturunan seorang bangsawan Quraisy kini sempurna menjadi
seorang muslim.

Sejarah mengisahkan betapa Al-Amin mempercayakan kepadanya sebuah emban.


Mush'ab dipilih menjadi seorang utusan. Seorang duta pertama dalam Islam. Ada amanah
indah yang harus segera ia tunaikan. Tugasnya mengajarkan tentang Islam kepada kaum
Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di Aqabah. Sebuah misi yang
tentu saja tidak mudah. Saat itu telah 12 orang kaum Anshar yang beriman.
Mush'ab juga mengemban misi yang lain yaitu mengajak kabilah lain untuk masuk Islam
dan mempersiapkan penyambutan hijrah Rasulullah. Ia sungguh tahu betapa berat
amanah itu ditanggung. Namun, titah ini terucap dari bibir manis manusia yang ia cinta,
yang dipercayainya dan telah melimpahi hatinya cahaya terang benderang. Berbekal
cinta, ia menjadi seorang duta kekasihnya, ke Yastrib.

***

Mush'ab memang pemuda kebanggaan, ia berhasil merengkuh hati para penduduk


Madinah. Sifat yang ditampakkannya, kejujuran, kezuhudan dan ketulusan telah
mengikat banyak perhatian. Ia begitu memahami tugasnya dengan baik. Ia datangi
kabilah-kabilah yang bertebaran di Madinah. Setiap rumah, tempat pertemuan, penduduk
laki-laki, perempuan, tak luput dari seru syahdu sang Pemuda. Namun tentu bukan tidak
ada rintang.

Tak lama berselang, Allah yang Maha Akbar memperlihatkan hasil sebuah usaha
sungguh-sungguh Mush'ab bin Umair. Berduyun-duyun manusia berikrar mengesakan
Allah dan mengakui Rasulullah sebagai utusan Allah. Jika saat ia pergi ada 12 orang
golongan kaum Anshar yang beriman, maka pada musim haji selanjutnya umat muslim
Madinah mengirim perwakilan sebanyak 70 orang laki-laki dan 2 orang perempuan ke
Makkah untuk menjumpai Nabi yang Ummi. Madinah semarak dengan cahaya.

Duta pertama pilihan Al-Musthafa sukses tanpa tandingan. Sungguh sebuah keberhasilan
yang gemilang.

Di Madinah, sebuah persembahan cinta disematkan untuk Mush'ab bin Umair, karena
jasa tak terbilangnya sebagai duta. Dari bibir para penduduk Madinah, setiap guru agama
akan disapa sebagai "Al-Mush'ab" bukan lagi al-Ustadz.

***

Kemilau kehidupan Mush'ab berakhir di sebuah bukit. Akhir kehidupannya menjelma


semerbak kisah yang menjadi pelengkap sejarah kebanggaan kaum Muslimin. Siapkan
hatimu, dan petik banyak hikmah, agar engkau meneladani ekspresi kecintaannya kepada
Nabi. Inilah kisah kepergiannya:

Bukit Uhud dalam kecamuk perang.

Mush'ab tampil pemberani di sana. Ketika pasukan muslim lengah dan tercerai berai, dan
Rasulullah menjadi sasaran setiap kepala pasukan Quraisy, Mush'ab menjelma sebenar-
benar pencinta. Ia mengangkat panji itu setinggi-tingginya dan menggemakan takbir ke
jauh angkasa. Tujuannya satu, para kafir itu beralih kepada dirinya. Ia memberi isyarat
kepada Rasulullah untuk segera pergi. Mush'ab mengerahkan utuh tenaganya. Melompat,
berlari, berputar dan menghujamkan sebilah pedang. Seperkasa apapun Mush'ab, ia
tetaplah sendirian. Ujung mata tombak itu menembus dadanya. Mush'ab jatuh direngkuh
pepasir Uhud.
Jasad pemberani Mush'ab terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah, seolah-olah
wajahnya tak berani melihat bencana yang kan menimpa sosok yang teramat dicintanya
atau mungkin karena ia malu mati terlebih dahulu sebelum memastikan keselamatan raga
nabinya. Allah yang maha Mengetahui.

Sungguh saat itu Al-Musthafa berdiri tegak di samping tubuh yang telah sunyi. Wajah
rembulan Rasulullah berkabut. Ke dua kelopak matanya terselubungi bening cinta untuk
sang duta pertama. Ada luruh air mata dan untaian senandung ketulusan untuk Mush'ab
yang kini pergi. Sejenak, Rasul Allah terdiam, namun tak seberapa lama, dari bibir
semanis madu itu terungkap sekuntum firman Allah,
"Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur..." (QS 33: 23).

Uhud senyap, banyak jasad yang tak lagi sempurna. Di sana Mush'ab bin Umair
menyambut syahidnya. Wajah yang mempesona sebelumnya itu kini berdarah-darah.
Tubuh tegap yang dulu selalu berpakaian indah dan jelita, sekarang hanya berbalut kain
lusuh yang tak lagi utuh. Ada banyak luka di sana, hunjaman tombak, sayatan pedang,
tusukan anak panah. Ke dua tangan pemegang panji kebanggaan Islam tak lagi ada,
tangannya begitu sempurna dibabat pongah pedang para kafir Quraisy. Dan rambut
Mush'ab, rambut kebanggaan yang dahulu selalu wangi misk dan hitam berkilat itu kini
hanya terlihat masai. Rasulullah mengenang pemuda tampan kebanggaannya. Pemuda
cerdas duta pertamanya.

Di ujung hening, kesedihan kaum Muslim begitu memulun. Pepasir bukit Uhud,
merengkuh begitu banyak para syuhada. Al-Musthafa termenung, ia berjalan perlahan
melewati para pemberani yang kini telah disambut para bidadari. Detik itu terpetik
sebuah sabda indah untuk mereka yang telah melangkah di jalan Allah, sebuah jaminan
pasti untuk mereka,
"Rasulullah akan menjadi saksi dihari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di
sisi Allah."

Dan selanjutnya kekasih Allah memanggil semua sahabat yang masih hidup untuk
sejenak berkumpul. Banyak kepala tertunduk menatap pepasir uhud yang kini berujud
merah. Pandangan mereka mengabur karena tersaput selaput basah yang begitu mudah
hadir. Sesak dada mereka atas banyak kepergian. Sementara dengan agung, Sang Tercinta
melantunkan sebuah alunan permintaan,
"Hai manusia, ziarahilah mereka, datangilah mereka dan ucapkanlah salam. Demi
Allah, tidak seorang muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka
kecuali mereka membalasnya."

Aduhai Mush'ab bin Umair, salam cinta kami untuk engkau. Keberkahan untukmu
Mush'ab yang baik. Kedamaian juga untuk engkau, wahai pencinta Al-Musthafa.
Sejahtera atas engkau, wahai Sang Duta pertama. Kami sampaikan salam, semoga engkau
mulia di sisi Nya. Amin.
***
Husnul Mubarikah
untuk seseorang yang berkata, "Bunda, rindu ini melangit lagi".

Ketulusan dalam Kesederhanaan

Publikasi: 06/12/2004 11:40 WIB


eramulim - Perempuan tua itu tampak bermenung, menunggui kios bensinnya yang sepi
ketika seorang pemuda keren dan trendi menghampiri sambil menuntun motornya.
Setelah bercakap-cakap sejenak, si ibu mengambil jerigen bensinnya dan mengisi tangki
motor pemuda itu. Gratis! Tanpa bayar.

Seorang sopir delman memarkir delmannya di pinggir jalan dan melompat turun. Dengan
sigap dia memanjat pohon tempat dua biji balon tersangkut dan mengambilnya. Seorang
nenek dan cucunya yang tidak ia kenal samasekali, menungguinya di bawah.

***

Anda seperti pernah melihat fragmen di atas? Mungkin saja. Karena cerita tersebut saya
ambil dari tayangan sebuah reality show di salah satu stasiun televisi. Saat menonton
fragmen yang pertama, saya dan teman nonton saya pun berandai-andai, apa kira-kira
yang akan kami lakukan jika kami ada dalam posisi si perempuan tua. Mungkin kami
akan memandangi si pemuda keren dari atas sampai bawah, kemudian bertanya, "Kok
bisa cowok sekeren ini tidak punya uang?" Jika dia menjawab lupa, kami mungkin akan
kembali beralasan, "Kalo lupa tidak bawa uang, cari akal dong supaya bisa tetep beli
bensin. Jual sepatu kek atau apa!"

Setelah itu kami berdua tertawa getir, mentertawakan diri sendiri. Kami
memproklamirkan diri sebagai muslimah kaffah, yang 'semestinya' lebih baik dari orang
kebanyakan. Namun ternyata 'kelebihan' yang kami miliki tidak membuat kami lebih
tulus. Paradigma dan ilmu yang ada membuat kami melakukan penyaringan, bukan hanya
terhadap keburukan, tetapi juga ketika hendak melakukan kebaikan. Melihat dulu
alasannya, untuk apa dan mengapa kami harus dan tidak harus melakukan sesuatu,
bahkan ketika sesuatu itu adalah menolong orang lain yang tampak sedang dalam
kesulitan.

Kemudian kami membandingkan sikap kami dengan mereka yang dalam tayangan itu
menolak permintaan tolong itu karena berbagai alasan. Seorang gadis menolak mengantar
ibu tua ke seberang jalan karena dia sedang tergesa-gesa dan tidak searah dengan si ibu.
Seorang pemuda menolak meniupkan balon bagi sesosok bocah kecil karena ia
mengatakan sedang puasa, takut tidak kuat. Banyak laki-laki bersedia menolong seorang
wanita muda cantik mengangkatkan barangnya, (coba saya tebak alasannya: karena
perempuan itu cantik!) sementara seorang wanita paro baya harus berkali-kali menerima
penolakan atas permintaan tolongnya, karena dia tidak memiliki 'nilai tambah' bagi
penolongnya. Meski mungkin alasannya berbeda secara moral, namun pada
kenyataannya kami juga mungkin akan melakukan seleksi dan berpikir-pikir ketika
hendak memberikan pertolongan.

Lantas? Tak selalu salah mengambil keputusan berbuat baik pada orang lain pada alasan
tertentu, namun fragmen-fragmen itu memberi banyak pelajaran bahwa menolong orang
lain kadang tidak perlu bertanya mengapa mesti menolong. Pekerjaan menolong itu
kadang perlu dilakukan 'hanya' karena ada yang sedang membutuhkan pertolongan
sementara kita ingin dan bisa menolong. Betapapun sederhana cara berpikir dan
keseluruhan hidup orang-orang 'biasa' itu, mereka memiliki ketulusan yang luar biasa.

***

Seorang laki-laki dengan kaki cacat dan mata buta sebelah, mengayuh gerobak khususnya
dengan tangan, berkeliling menjual minyak tanah. Ketika seorang nenek dengan kompor
di tangan minta minyak yang menjadi sandaran hidupnya itu untuk memasak, ia tanpa
banyak kata memberi dengan senyum terukir di wajahnya. Bahkan ketika si nenek juga
minta tolong ia membenahi sumbu kompor dan menutupkan kembali, ia pun
mengerjakannya tanpa tampak keberatan sedikit pun.

Seorang nenek penjual duren di pinggir jalan dengan dagangan duren yang hanya
beberapa buah. Seorang bapak dengan pakaian guru menawar hendak membeli durennya
dan mengaku hanya punya uang lima ribu sedang harga duren itu puluhan ribu. Dengan
ringan dia melepas benda jualannya itu, bahkan memberikan yang terbaik kepada si
bapak. Padahal duren itu adalah satu-satunya sarana ia mengais rejeki dengan modal
cukup besar dan untung tak seberapa.

Seorang kakek tua dengan senang hati mengantar perempuan hamil tua ke rumah sakit
tanpa bayar, padahal jalanan menanjak dan jarak yang ditempuh cukup jauh.

Seorang...

Dan fragmen-fragmen lain pun tertayang, memberikan pelajaran berharga bagi siapa pun
yang berkehendak mengambilnya.

Azimah Rahayu
(@azi, sepenuh takzim untuk para manusia perkasa itu)

Seandainya Aku Bisa Terbang

Publikasi: 09/09/2004 10:01 WIB

eramuslim - Teman, Aku ingin bercerita. Di salah satu dahan pohon yang rindang,
terdapat sebuah sarang dimana hidup sepasang burung bersama seekor anak mereka yang
baru menetas dari telur beberapa hari lalu. Sepasang Ayah dan Ibu burung itu nampak
berbahagia sekali dengan kehadiran si burung kecil. Setiap pagi, sang ayah pergi mencari
cacing untuk makan si burung kecil. Setiap hari, sang ibu menemani si burung kecil di
sarang, menghangatkan tubuhnya dan melindunginya dari dinginnya desir angin yang
kencang. Si burung kecil pun merasa nyaman dalam dekapan ibunya. Kalau perut terasa
lapar, ia tinggal mencicit saja, semua dapat diperolehnya dengan mudah.

Hari berganti hari, tak terasa si burung kecil pun mulai bertambah usianya. Bulu-bulu di
sekujur tubuhnya mulai tumbuh, si burung kecil sudah punya sepasang sayap mungil.
Lalu, sang ayah berkata padanya : "Nak, kini sudah saatnya engkau belajar terbang,
mengepakkan sayap yang telah Tuhan berikan padamu... Ayah dan Ibu akan
mengajarimu terbang".

Tetapi si burung kecil nampak ketakutan, dia merasa belum mampu untuk terbang
dengan sayapnya sendiri. Beberapa pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya.
Bagaimana nanti kalau sepasang sayapku ternyata tak bisa dikepakkan? Aku takut jatuh
dari ketinggian. Bagaimana nanti kalau aku lapar? Aku harus mencari makanan kemana?
Bagaimana...? Si burung kecil pun berkata pada Ayah-Ibunya: "Ayah, Ibu, aku ingin
tetap tinggal disarang saja, aku tak mau terbang sendiri, aku takut...", ucap si burung kecil
lirih.

Lalu, sang Ayah burung mendekap tubuh si burung kecil dengan penuh kasih sayang,
seraya berkata, "Nak, hilangkan semua kekhawatiran dan ketakutan yang menghantui
benakmu itu. Engkau mempunyai sayap untuk terbang kemanapun engkau ingin pergi.
Lihatlah dunia di luar sana Anakku, engkau akan bertemu dengan burung-burung lain,
engkau akan menjumpai banyak pengalaman hidup yang akan memperkaya dirimu.
Jangan pernah engkau risaukan tentang makanan, karena Tuhan telah menyediakan
semuanya di alam sana, asalkan engkau mau berusaha menjemputnya Nak".

Si burung kecil mendengarkan nasehat Ayahnya dengan sungguh-sungguh, dia


termenung sesaat, kemudian dengan semangat dia berkata, "Iya Ayah, aku akan belajar
terbang sekarang, aku tidak akan takut." Lalu, si burung kecil mulai mencoba
mengepakkan sayapnya perlahan... agak cepat... semakin cepat... dan kemudian... "Aku
bisa terbang!", teriak si burung kecil gembira. Ayah dan ibunya tersenyum bahagia
menyaksikan usaha anaknya.

Kini, siburung kecil itu sudah menjelma menjadi seekor burung besar yang gagah. Ia
sudah bisa mencari makan sendiri, ia sudah menjalani banyak perjalanan hidup yang
menjadikannya mandiri seperti sekarang, bahkan ia sudah menemukan seekor burung
betina cantik menjadi pasangannya. Si burung itu bergumam, "semua ini tidak akan aku
dapatkan seandainya aku tak mau belajar terbang"

Teman,
Dahulu, kita adalah burung-burung kecil itu, yang sangat bergantung pada ayah dan ibu
kita. Namun Teman, mari lihatlah dengan seksama diri kita di cermin saat ini. Kita bukan
lagi anak kecil yang masih harus selalu di 'suapi' oleh ayah dan ibu seperti dahulu, kita
bukan lagi bocah kecil yang harus berdiam diri keenakan menanti 'subsidi' rutin setiap
bulan masuk ke rekening tabungan kita dari Ayah dan Ibu.

Cobalah Teman, perhatikan sekali lagi sosok pada cermin di hadapanmu itu. Ya Tuhan,
ternyata kita sudah dewasa, tak terasa usia sudah merangkak ke angka 24 tahun lebih.
Tapi, mengapa diri ini tak ubahnya seperti si burung kecil tadi yang masih ingin terus
berdiam di sarang, karena tak mau susah memikirkan harus mencari makan.

Teman, mari sejenak kita layangkan ingatan kita pada Rasulullah SAW yang sudah
mandiri sedari Beliau kecil. Malu sekali rasanya diri ini, malu pada kedua orangtua,
terlebih lagi malu kepada-Mu Ya Rabb. Teman, Kemanakah perginya taujih Imam
Syahid Hasan Al Banna, bahwa salah satu karakter (muwashoffat) seorang kader da'wah
adalah Qodiirun 'alal kasbi (mampu mencari nafkah sendiri alias mandiri). Apakah hanya
menjadi baris-baris kalimat tak bermakna dalam catatan agenda kita? Semoga tidak.

Teman, Apakah kita tak memperhatikan kedua orangtua kita yang sudah mulai lanjut
usia, lihatlah kerutan yang mulai menghiasai wajah mereka, lihatlah tenaga mereka sudah
tak sekuat dulu lagi. Lalu, Apakah begini bakti kita terhadap mereka? Kita masih 'tega'
membiarkan mereka membanting tulang untuk membiayai kuliah dan kebutuhan kita
sehari-hari. Teman, padahal sudah saatnya kita menunjukkan pada mereka bahwa kita
sudah bisa mandiri seperti si burung kecil tadi.

Teman, mari kepakkan 'sayap' mu sekarang juga. Jangan takut dengan kencangnya angin
di luar sana, jangan takut dengan ganasnya kehidupan disana. Karena itu akan membawa
kita pada sebuah kedewasaan diri akan hakikat hidup sesungguhnya.

"Berapa lamakah kau kan tetap menggelepar menggantung di sayap orang. Kembangkan
sayapmu sendiri dan terbanglah lepas seraya menghirup udaraBebas di taman luas".
(Muh Iqbal)

Eka Satriana
eka_satriana@yahoo.com

Menjadi Seekor 'Angsa'

Publikasi: 06/09/2004 12:25 WIB

Pada suatu hari seorang petani menemukan sebutir telur angsa di halaman rumahnya dan
memasukkan telur tersebut ke dalam kandang ayam di antara telur-telur ayam yang
sedang dierami. Beberapa minggu kemudian telur angsa itu menetas dan karena berada di
lingkungan ayam, sang anak angsapun berperilaku seperti ayam. Anak angsa tersebut
makan seperti ayam, berkokok seperti ayam dan berkumpul di tengah-tengah para ayam.

Ketika sedang bermain-main di tengah hutan, tak jarang sang anak angsa memandang iri
kepada kerumunan para angsa yang sedang berenang di tengah danau dan berharap di
dalam hati seandainya saja ia mampu berenang dan menikmati indahnya danau seperti
para angsa tersebut. Hingga suatu hari, para pemburu liar yang mengejar mangsa
buruannya ke tengah hutan melepaskan tembakan dan membuat panik para warga hutan.
Sang anak angsa berlari dengan kencang hingga ia terhenti di tepi danau dan dengan
kesedihan yang mendalam hanya mampu menyaksikan gerombolan para angsa berenang
menyeberangi danau untuk menyelamatkan diri. Ia menyesal terlahir sebagai seekor
ayam yang tidak mampu berenang. Di tengah-tengah kepanikan, kesedihan serta
ketidakberdayaannya, sebutir peluru pemburu bersarang di tubuh sang anak angsa
tersebut. Anak angsa itupun mati tanpa pernah mengetahui bahwa ia seekor angsa dan
bahwa ia sebenarnya mampu survive dari kejaran pemburu tersebut.

Ilustrasi di atas adalah gambaran umum dari kondisi para pemuda, khususnya para
pemuda Islam, sekarang ini. Banyak di antara kita yang merasa cukup puas dengan apa
yang telah kita raih, tanpa menyadari bahwa sebenarnya dengan potensi yang kita miliki
dan dengan izin Allah s.w.t kita mampu untuk menjadi sesuatu yang lebih dahsyat. Dan
tidak sedikit di antara kita yang bahkan tidak pernah mengetahui potensi diri kita
sesungguhnya, karena kita sudah merasa nyaman dengan tidak menjadi apa-apa. Kita
hanya mampu memandang takjub dengan kegemilangan orang lain, tanpa pernah
menyadari bahwa mungkin kita memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih dari orang
tersebut.

Abu Tammam, seorang penyair hikmah dari tanah Arab pernah mengatakan, "Tidak ada
aib yang kutemukan dalam diri manusia melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi
sempurna, namun tidak menjadi sempurna."

Perubahan bukanlah sesuatu yang datang dari luar. Perubahan itu adalah suatu bagian
integral dari eksistansi manusia dan hanya dapat dicapai dengan arah dari dalam ke luar.
Perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Allah s.w.t berfirman, bahwa Ia tidak akan
mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri. Kitalah
pengemudi kendaraan perubahan itu dengan Allah swt sebagai penunjuk arahnya.

Stephen R. Covey, dalam bukunya yang terkenal 7 Habits of Highly Effective People,
mengemukakan tentang konsep lingkaran pengaruh. Bayangkanlah dua buah lingkaran,
lingkaran dalam dan lingkaran luar. Lingkaran dalam meliputi segala sesuatu yang dapat
kita kendalikan seperti diri sendiri, sikap kita, respon kita dan pilihan kita. Lingkaran luar
mencakup segala hal yang berada di luar pengaruh kita.

Memang, ada hal-hal di dunia ini yang tidak dapat kita kendalikan karena berada di
lingkaran luar dari pengaruh kita. Kita tidak dapat menentukan jenis kelamin kita, orang
tua yang melahirkan kita, waktu kematian kita, lingkungan tempat kita dibesarkan, cara
kita dididik oleh orangtua kita dan sebagainya Tapi kita senantiasa dapat
mengoptimalkan pengaruh dari lingkaran dalam yang mampu kita kendalikan. Kita dapat
memilih respon, tindakan serta sikap kita dalam menghadapihal-hal yang berada di luar
pengaruh kita. Respon kita terhadap hal-hal tersebutlah yang akan menentukan nasib kita.
Hal-hal yang berada di luar pengaruh kita tersebut hanya akan mampu mempengaruhi
kita tapi tidak dapat menentukan nasib kita!

Kesadaran akan hal tersebut akan mampu mengubah paradigma kita dalam memperkokoh
izzah Islam yang sebagian besar ditopangkan di pundak kita sebagai seorang pemuda.
Kesadaran akan hal tersebut juga akan mampu menghancurkan tembok-tembok di sekitar
kita yang menghalangi kita dalam menemukan potensi diri kita menjadi seseorang yang
lebih baik dan membawa kemaslahatan bagi ummat.

Keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki bukanlah suatu alasan untuk menghindari


tanggung jawab moral kita sebagai seorang pemuda yang menjadi tumpuan harapan
ummat. Tirulah semangat Buya Hamka, yang dengan keterbatasan ruang geraknya karena
ia berada di dalam penjara ia justru mampu menghasilkan beberapa buku yang menjadi
karya terbaiknya. Tirulah semangat Beethoven, yang walaupun dengan keterbatasannya
sebagai seorang tuna rungu pada akhir-akhir hayatnya, ia malah mampu menciptakan
melodi-melodi indah yang dianggap sebagai sebuah karya jenius oleh para musisi.
Tirulah semangat Stephen Hawking, yang walaupun ia terpaksa harus duduk di kursi roda
karena kelumpuhan anggota tubuh total yang dideritanya, ia mampu mengoptimalkan
bagian dari tubuhnya yang masih dapat berfungsi dengan normal , yaitu otaknya,
sehingga ia mampu menciptakan suatu teori kosmologi yang mementahkan konsep
Einsten tentang relativitas. Dan teladanilah Rasulullah saw, yang dengan segala
keterbatasannya sebagai seorang manusia biasa, walaupun ia diberi beberapa
keistimewaan oleh Allah s.w.t., ia mampu mengubah kejahiliyahan menjadi suatau
kecemerlangan. Ia mampu menjadikan segala sesuatau yang tidak mungkin dalam logika
manusia normal menjadi mungkin dan ia juga mampu menjadi penerang bagi ummat
hingga kini, bahkan tanpa kehadiran jasadnya sekalipun ia tetap hidup di hati ummatnya.

Bukankah tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu perubahan ke arah yang
lebih baik. Rasulullah saw bersabda dan merupakan peringatan terutama bagi para
pemuda, "Gunakanlah yang lima sebelum datangnya lima perkara, usia mudamu sebelum
datang usia tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kekayanmu sebelum datang
fakirmu, hidupmu sebelum datang kematianmu dan kelapanganmu sebelum datang
kesibukanmu." (Al-Hadits)

Dengan menjadikan Allah s.w.t. sebagai satu-satunya ghayyah, mulailah menjadi bagian
dari perubahan itu sekarang juga dengan berusaha mengenali dan menggali potensi yang
kita miliki. Bukan tidak mungkin alur ceritanya akan berubah di mana sang anak angsa
akhirnya menyadari bahwa ia adalah seekor angsa dan mulai membentangkan sayapnya
berenang melintasi danau sehingga ia terhindar dari tembakan sang pemburu.

Wallahu a'lam bishawaab.

Ihdina Sukma Dewi


<aprilmop82 at bdg dot centrin dot net dot id>

Einsten, Ali, Barghouti dan Perjalanan ke Dalam Hati

Publikasi: 14/09/2004 09:21 WIB

eramuslim - "Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati tuhan." Kata-kata
jujur itu terlontar dari mulut Albert Einsten puluhan tahun yang lalu. Besso, sang sahabat
yang selalu menyediakan waktunya untuk mendengar ide-ide Einsten, hanya mampu
terperangah kaget mendengar ungkapan hati sahabatnya itu. Ia selalu terpesona pleh
ambisi-ambisi Einsten. Dalam usianya yang ke-26 saja, Einsten telah menyelesaikan tesis
Ph.D, satu tulisan ilmiah tentang photon dan satu tulisan tentang gerak Brownian.

Proyek baru yang sedang dikerjakan oleh Einsten kini adalah konsepsi tentang relativitas
waktu. Besso sama sekali tidak pernah menduga bahwa dibalik apa yang selama ini telah
diraih oleh sahabatnya itu, ternyata Einsten masih menyimpan satu pencarian batin, yang
ia tahu tidak akan pernah dapat dipecahkan secara empiris oleh sahabatnya itu.
Keheningan menyelimuti kedua sahabat itu. Besso tidak tahu bagaimana ia harus
menanggapi ungkapan hati sahabatnya. Besso hanya bisa berpaling ke arah bawah
jembatan tempat mereka berada. Ia memandangi perahu berwarna keperakan dalam
kemilau matahari senja di sungai Aare. Namun, raut wajah kerinduan untuk mendekati
tuhan di wajah Einsten membuyarkan pemandangan indah senja itu. Besso merasa ganjil.
Bagaimana mungkin orang yang selama ini terbiasa menyendiri dan sangat tertutup
seperti Einsten memiliki kerinduan untuk mendekati Tuhan?

Setting cerita berpindah dari pemandangan dua orang sahabat pada suatu senja di
jembatan sungai Aare, Jerman, ke suatu siang di tanah pertanian seluas 35 hektar di
Berrien Springs, Michigan, puluhan tahun kemudian. Hari itu tanggal 11 September
2001. Muhammad Ali, sang petinju legendaris dan pemilik tanah pertanian tersebut
sedang duduk di halaman rumahnya menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang
diajukan seorang wartawan dari majalah Reader's Digest, salah satu majalah beroplah
tertinggi di dunia. Kejadian yang menyentak rakyat Amerika tadi pagi, runtuhnya WTC
dan dituduhnya teroris muslim yang terlibat dalam aksi tersebut, membuat Muhammad
Ali menerima begitu banyak tawaran wawancara. Pendapatnya sebagai seorang muslim
tiba-tiba menjadi begitu penting dalam menanggapi kejadian tersebut.

RD : "Orang-orang muslim dituduh bertanggung jawab dalam penyerangan ke WTC pagi


ini, bagaimana pendapat anda?"

Ali : "Saya marah karena orang-orang menuduh Islam yang menyebabkan kehancuran
yang disebabkan oleh fanatik rasis ini. Pelakunya bukan orang-orang muslim, karena
Islam adalah negara yang mencintai kedamaian. Islam sama sekali tidak mengajarkan
terorisme ataupun membunuh orang."

RD : "Bagaimana anda menjalani hidup sebagai seorang muslim di Amerika? Apa artinya
keyakinan tersebut bagi anda?"

Ali : "Menjalani kehidupan sebagai seorang muslim di Amerika tidaklah mudah. Pertama
kali saya mengumumkan keislaman saya, orang-orang berfikir itu adalah sesuatu yang
lucu. Saya mengerti mereka berpendapat demikian karena perubahan drastis yang saya
lakukan terhadap hidup saya. Namun, Islam bagi saya adalah sebuah tiket ke surga. Kita
semua akan mati dan akan ada hari pembalasan. Adanya hari pembalasan tersebut dan
keyakinan bahwa Tuhan selalu mengawasi apapun yang saya lakukan membuat saya
lebih berhati-hati dalam melangkah dan memperlakukan orang lain. Saya selalu
membawa sebungkus korek api kemanapun saya pergi. Setiap kali saya terdorong untuk
melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya menurut keyakinan agama saya, saya
menyalakan korek api tersebut dan merasakan panasnya api korek tersebut di jari-jari
saya sampai saya kesakitan. Setelah itu, saya meyakinkan diri saya bahwa api neraka
lebih panas daripada apa yang baru saya rasakan dan sifatnya abadi. Sayapun urung
melakukan perbuatan dosa yang akan saya lakukan."

Setting cerita berpindah lagi ke Timur Tengah, tepatnya di kota Ramallah, Palestina, pada
tanggal 15 April 2002. Kota Ramallah dikejutkan oleh berita tertangkapanya sang tokoh
Intifadah, Marwan Barghouti, oleh Israel. Bukan hanya kota Ramallah, seluruh Palestina
dikejutkan oleh berita ini. Bahkan di Lebanon, kelompok Hizbullah bereaksi keras
dengan memperingatkan Israel agar memperlakukan Barghouti secara manusiawi.

Bahkan, faksi yang berhasil mengusir Israel dari Lebanon Selatan pada Mei 2000 lalu itu,
mengancam jika Barghouti disakiti, mereka akan membidik balik Sharon.

Marwan Barghouti, ayah tiga orang putra dan satu orang putri ini adalah seorang tokoh
utama gerakan intifadah. Barghouti adalah pengganti Khalid Al-Wazir, alias Abu Jihad,
seorang pendiri gerakan intifadah yang tewas diberondong peluru tentara Israel pada
April 1988. Barghouti, seorang doktor di bidang politik kelahiran 1959 dan juga pengajar
di Universitas Al-Quds ini, telah berjuang untuk bangsanya sejak ia masih muda. Bahkan
Israel pernah menjebloskannya ke penjara sebelumnya selama enam tahun. Sejak 1978,
berbagai upaya penangkapan dan pembunuhan telah dilancarkan Israel terhadap
Barghouti, sampai akhirnya mujahid ini tertangkap 15 April lalu. Sampai sekarang tidak
jelas apakah Barghouti masih hidup atau tidak, tetapi satu yang jelas bahwa gerakan
intifadah di tanah Palestina tidak surut oleh tertangkapnya Barghouti.

Coba cermati. Tiga cerita diatas, walaupun memiliki setting, waktu, pelaku, bahkan alur
yang berbeda, tetapi memiliki sebuah persamaan yang signifikan. Para pelaku dari ketiga
cerita di atas memiliki suatu motor penggerak di dalam hati mereka masing-masing yang
mendorong mereka untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan hati nurani mereka.
Masing-masing dari mereka, Einsten, Ali dan Barghouti, menciptakan suatu karya
fenomenal, melakukan suatu perubahan yang mengejutkan dan berjuang dengan
mempertaruhkan nyawanya karena suatu alasan yang mereka anggap layak dan tepat.
Mereka memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu semua.

Albert Einsten, mampu melahirkan suatu karya fenomenal yang membuatnya tetap
dikenang hingga kini, yaitu Teori Relativitas, karena dorongan hatinya untuk lebih
mengenal dan mendekat pada tuhan. Alasan ini cukup menyentuh, mengingat Einsten
adalah seorang yahudi. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu alasan utama dibalik
keberhasilan Einsten dan Teori Relativitasnya tersebut. Ataukah hal ini memang sengaja
ditutup-tutupi dan disembunyikan? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Dan hanya Allah
jugalah yang mampu mengetahui apakah ia telah berhasil menemukan pencarian batinnya
tersebut sebelum ia meninggal. Bukankah hanya Allah lah yang memiliki kuasa untuk
membolak-balikkan hati manusia? Ia akan memberikan hidayahNya hanya kepada orang-
orang yang Ia anggap layak untuk menerima hidayah tersebut.

Muhammad Ali, yang bermetamorfosa dari seorang Cassius Clay yang identik dengan
dunia glamour dan penuh kesenangan yang bersifat duniawi menjadi seorang muslim
yang survive di negara dimana hedonisme berkiblat, yaitu Amerika dan kemudian
melakukan perubahan yang luar biasa terhadap kehidupannya karena suatu alasan yang
kuat. Ia berubah karena ia yakin telah menemukan kebenaran yang hakiki, yaitu islam,
yang membawanya menemukan kedamaian. Ia dan korek api yang selalu ia bawa
kemanapun ia pergi telah cukup menggambarkan kepada kita keyakinannya terhadap
keberadaan Allah dan terhadap adanya hari pembalasan.
Barghouti dan gerakan intifadahnya juga telah membuktikan bahwa rasa cinta terhadap
Sang Khalik mampu mendorong seseorang untuk melakukan apa saja. Rasa cintanya
tersebut ia anggap cukup layak untuk ia jadikan alasan melakukan suatu pengorbanan
bahkan pengorbanan terbesar seperti mengorbankan nyawanya sekalipun. Kisah hidup
tokoh intifadah ini menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan cinta, sehingga rasa
cinta tersebut mampu menjadi suatu motor penggerak dalam kehidupan manusia.

Mudah-mudahan kita semua tidak terlalu arogan untuk mau sejenak bercermin terhadap
ketiga kisah diatas dan mencoba untuk menata kembali rencana-rencana yang telah kita
buat untuk memanfaatkan sisa hidup kita. Jangan pernah merasa enggan untuk bercermin
dan mencoba berkata jujur kepada diri kita masing-masing, bahkan terhadap seorang
yahudi seperti Einsten sekalipun. Bukankah filosofi Ibnu Sina mengajarkan kepada kita
agar menggunakan pendekatan banyak arah untuk mencapai kebenaran? Lalu mengapa
kita masih saja suka mempertahankan filosofi "kacamata kuda" Rene Descartes yang
berpandangan satu arah?

Lakukanlah perjalanan ke dalam hati kita masing-masing dan coba tengok sejenak
apakah yang selama ini telah memotivasi kita untuk melakukan segala aktivitas kita
adalah murni karena Allah? Ataukah kita memberikan kavling yang lebih luas terhadap
popularitas, gengsi, materi dan segala sesuatu selain Allah lainnya untuk menempati hati
kita dan menjadi motor penggerak kehidupan kita? Hanya kitalah yang mampu menjawab
pertanyaan tersebut. Cobalah untuk mendengarkan kata hati kita dan meluruskan kembali
niat kita. Bukankah selama hidupnya Rasulullah juga lebih banyak mendengarkan
daripada berbicara. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah hampir tidak pernah berceramah.
Khutbahnyapun tidak pernah lama. Lalu mengapa kita tidak coba meniru Rasulullah
dengan mulai menjadi pendengar yang baik terhadap sesuatu yang sangat dekat dengan
kita, yaitu hati nurani kita. Wallahu'alam bishawaab.

Ihdina Sukma Dewi


aprilmop82@bdg.centrin.net.id

Amal Pembayar

Publikasi: 10/09/2004 08:58 WIB

eramuslim - Ketika permasalahan hidup membelit dan kebingungan serta kegalauan


mendera rasa hati. Ketika gelisah jiwa menghempas-hempas. Ketika semua pintu solusi
terlihat buntu. Dan kepala serasa hendak meledak: tak mengerti apalagi yang mesti
dilakukan. Tak tahu lagi jalan mana yang harus ditempuh. Hingga dunia terasa begitu
sempit dan menyesakkan.

Ketika kepedihan merujit-rujit hati. Ketika kabut kesedihan meruyak, menelusup ke


dalam sanubari. Atas musibah-musibah yang beruntun mendera diri. Apalagi yang dapat
dilakukan untuk meringankan beban perasaan? Apalagi yang dapat dikerjakan untuk
melepas kekecewaan?

Ketika kesalahan tak sengaja dilakukan. Ketika beban dosa terasa menghimpit badan.
Ketika rasa bersalah mengalir ke seluruh pembuluh darah. Ketika penyesalan
menenggelamkan diri dalam airmata kesedihan. Apa yang dapat dilakukan untuk
meringankan beban jiwa ini?

Allah berfirman,"Barangsiapa bertakwa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengadakan


baginya jalan keluar."

Rasulullah bersabda,"Ikutilah kesalahan dengan amal baik, niscaya ia akan menghapus


dosa-dosamu."

Seperti Ibnul Jauzi bilang, "aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah
dan galau berlarut-larut. Kupikirkan dan kucari solusi dengan segala cara dan usaha. Tapi
aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar darinya, hingga kutemukan ayat itu.
Maka kusadari, bahwa jalan satu-satunya keluar dari segala kegalauan adalah ketakwaan.
Dan ketika jalan ketakwaan itu kutempuh, tiba-tiba Allah sudah lebih dulu menurunkan
penyelesaian. Maha suci Allah".

***

Dengan keyakinan, ku coba jalankan titahNya. Tertatih, kucoba mengikuti sunnah Sang
Nabi. Saat diri berhadapan dengan permasalahan yang memepatkan rasa, hingga tak
terlihat jalan keluarnya, kucoba lebihkan amal-amal dari yang biasa. Berinfaq lebih
banyak.

Tersenyum lebih banyak. Memaafkan lebih banyak. Menolong orang lebih banyak.
Menambah ibadah harian lebih banyak. Dengan semua itu akan memberikan energi
positif bagi kondisi fisik dan psikologis, hingga ketenangan pun tercipta dan pikiran
jernih pun terasa.

Pada gilirannya, jalan keluar mulai tampak ujungnya. Dan Allah menurunkan
kemantapan hati dalam memilih langkah penyelesaian. Saat kesedihan menyelimuti dan
rasa bersalah menyesaki, kucoba ikuti sunnah nabi dengan disertai doa: Semoga Allah
mengampunkan segala dosa.

Silaturahmi. Ya, silaturahmi lah yang saya lakukan. Sebuah tindakan paling realistis yang
saya temukan saat itu. Saya mengunjungi semua kerabat, kawan dan handai taulan,
saudara-saudara, orang-orang saleh, para guru, tetangga sekitar dan lain-lain yang selama
ini saya terlupakan oleh kesibukan. Dan ketenangan pun sedikit demi sedikit tercipta.
Meredakan gelisah jiwa. Membersihkan noda-noda dalam dada. Sesudahnya, kutemukan
jalan menuju taubat dan kutemukan kafarat pembayar dosa dan duka.

Azimah Rahayu
azi_75@yahoo.com

Mengapa Kita Tak Pandai Bersyukur?

Publikasi: 08/09/2004 08:20 WIB


eramuslim - Pagi hari, seperti biasa aku mengawali kegiatan dengan bebenah rumah.
Cuci piring, menyapu lantai, cuci pakaian dan setumpuk pekerjaan rutin lainnya. Untuk
menemaniku bekerja, kuambil sekeping kaset nasyid anak-anak, kumasukkan ke dalam
tape recorder yang sudah butut, dan... klik:

Ajarilah, aku ya Allah


Mengenali, karunia-Mu
Begitu banyak yang, Kau beri
Begitu sedikit yang, kusadari

Ajarilah, aku ya Allah


Berterima kasih, pada-Mu
Supaya aku dapat slalu
Mensyukuri nikmat-Mu

Sayup-sayup kudengar alunan sebuah lagu, mengalun merdu dari bibir-bibir mungil
anak-anak yang kira-kira masih berusia balita. Hatikupun bergetar, air mata menetes
membasahi pipi, menyadari betapa pelitnya diri ini mengucap syukur atas segala karunia
yang telah dilimpahkan oleh-Nya. Serta-merta, bibir ini berucap, "astaghfirullahal
'adziim" seraya menghapus air mata.

Sejurus kemudian hati ini berbicara, mencoba mengurai satu-persatu nikmat yang telah
terkecap.

Di pagi yang cerah, ketika sinar mentari menghangati tubuh, sungguh ada sebuah nikmat
yang begitu indah terasa. Lalu, ketika kupandangi tubuh ini satu demi satu masih tetap
utuh seperti sedia kala, mata yang mampu melihat dengan sempurna, tangan yang mampu
memegang dan mengerjakan berbagai aktivitas, kaki yang bisa melangkah, kulit yang
mampu merasakan sentuhan angin yang lembut, dan hidung yang mampu menghirup
udara segar. Sungguh, inipun merupakan nikmat yang begitu besar. Semakin lama
kucoba mengurainya, semakin banyak nikmat yang kurasa. Demikian banyak, dan
teramat banyak hingga aku tak mampu menghitung satu persatu, karena memang tak
terhingga jumlahnya. Persis seperti yang Allah kabarkan dalam firman-Nya: "Dan Dia
telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan
kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari
(nikmat Allah) (QS. Ibrahim:31)". Astaghfirullahal 'adziim, lidahkupun menjadi kelu, tak
sanggup lebih banyak berucap.

Segalanya Allah anugerahkan kepada diri ini dengan cuma-cuma. Tak serupiahpun Allah
menetapkan tarifnya, tak secuilpun Allah mengharap imbalannya. Namun mengapakah
aku tak pandai bersyukur? Padahal Allah SWT berjanji : "...la in syakartum la
aziidannakum, wala in kafartum inna 'adzaabi lasyadiid (Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih)".

Dan janji Allah selalu benar adanya, tak pernah salah dan tak pernah lupa.
***

Akupun mencoba merenung, apakah gerangan yang membuat diri ini tak pandai
bersyukur? Dalam pandangan masyarakat umum yang kufahami selama ini, segala
sesuatu dianggap sebuah nikmat adalah ketika kita memperoleh sesuatu yang
menyenangkan. Harta yang banyak, rumah yang indah, teman yang selalu setuju dan
menyokong pendapat kita, sehingga kita dapat memenuhi segala keinginan yang ada
dengan segala fasilitas yang mudah didapat tanpa harus bersusah payah bekerja.

Seringkali pula kita tidak menyadari bahwa, mata yang mampu melihat secara sempurna
ini adalah nikmat, tangan yang mampu memegang dan melakukan segala aktivitas adalah
nikmat, kaki yang mampu melangkah adalah nikmat, kesehatan kita adalah nikmat,
oksigen yang melimpah ruah dan bebas kita hirup adalah nikmat, hidayah Islam yang
mengalir dalam diri kita ini adalah nikmat yang teramat mahal harganya, kasih sayang
orang tua yang mampu mengalahkan segalanya demi membimbing dan membesarkan
kita adalah nikmat, dan entah berapa banyak kenikmatan yang lain yang tidak kita sadari.
Padahal, kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita tak terhingga banyaknya. Masya
Allah, astaghfirullahal 'adziim, semoga Allah berkenan mengampuni kita dan
membimbing kita menjadi hamba-hamba yang pandai bersyukur.

Berikutnya, seringkali kita merasa iri dengan kesenangan/kenikmatan yang dimiliki oleh
orang lain. Ketika kita melihat orang lain bahagia, bukannya kita ikut bersyukur atas
kebahagiaannya. Sebaliknya, kita justru mencibirkan bibir dan menuduh yang tidak-tidak.
Membuat berbagai analisa, darimanakah gerangan mereka memperoleh kesenangan.
Berprasangka buruk dan menyebarkan bermacam berita, sehingga perilaku tersebut.
Menjauhkan diri kita dari rasa syukur kepada Allah. Astaghfirullah wa na'udzubillahi min
dzaalik.

Tak jarang pula, dalam diri kita terjangkit penyakit "wahn (terlalu cinta dunia, dan takut
mati)", hanya kesenangan dan kesenangan yang ingin kita raih, tak sedikitpun ingin
merasakan sebuah penderitaan. Sehingga ketika Allah berkenan memberikan sebuah
cobaan, diri kita tak sanggup menanggung. Merasa diri menjadi orang yang paling
sengsara di dunia, dan bahkan ada yang sampai berani menghujat dan menghakimi Allah
sebagai penguasa yang tidak adil. Na'udzubillaahi min dzaalik, astaghfirullahal'adziim.

Disisi lain, Allah jua yang berkenan menciptakan kita sebagai makhluk yang senang
berkeluh kesah. "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia
amat kikir. (QS. Al Maariij: 19-21). Bila sifat ini tidak kita kelola dengan baik, maka
tidak menutup kemungkinan bila pada akhirnya diri ini tumbuh menjadi makhluk yang
tak pernah mampu bersyukur.

***

Karenanya, amat baiklah sekiranya kita mampu melatih diri, mensyukuri apa saja yang
ada pada diri kita. Apapun yang Allah berikan kepada kita, haruslah kita yakini bahwa
itulah pilihan terbaik yang Allah kehendaki. Tak perlu iri dan dengki terhadap nikmat
orang lain, hingga kita mampu menjadi seorang mu'min seperti yang digambarkan oleh
Rasulullah Muhammad SAW: "Amat mengherankan terhadap urusan mu'min, seandainya
baik hal itu tidak terdapat kecuali pada orang mu'min. Bila ditimpa musibah ia bersabar,
dan bila diberi nikmat ia bersyukur" (HR. Muslim).

Terakhir, marilah senantiasa mengamalkan do'a Nabi Sulaiman as. dalam kehidupan kita.
Agar kita senantiasa terbimbing, memperoleh ilham dari Allah SWT, sehingga kita
menjadi makhluk yang pandai bersyukur pada-Nya.

"Robbi awzi'nii an asykuroo ni'matakallatii an'amta 'alayya wa'alaa waalidayya wa an


a'mala shoolihan tardhoohu wa ad khilnaa birohmatika fii 'ibaadikashshoolihiin".

Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal
shaleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan
hamba-hamba-Mu yang shaleh. (QS. An Naml : 19). Aamiin.

Wallaahu a'lam bishshowwab.

Ummu Shofi
ari_aji_astuti@yahoo.com

Mengambil Jatah

Publikasi: 07/09/2004 09:08 WIB

eramuslim - Urusan mengambil jatah memang bukan hanya milik para binatang yang
berebut makan siang dan saling bunuh untuk kelangsungan hidup. Sejak dulu, makhluk
yang bernama manusia pun meramaikan arena balap-membalap, salip-menyalip, dan
tikung-menikung tersebut. Mengambil jatah di sini maksudnya adalah menarik paksa apa
yang sudah menjadi milik orang lain atau sesuatu yang sebenarnya bukan diperuntukkan
untuk diri kita.

Demi kepuasan, demi kesenangan pribadi, tak peduli apakah orang lain itu rela atau
menderita. Tak jelas mengapa, padahal Ia telah "menjatah" rizqi tiap makhluk-Nya tanpa
terlewati.

Seperti kepayahan para pengungsi di berbagai tempat pengungsian yang tak mendapatkan
jatah bantuan makanan atau apapun yang telah diberikan oleh berbagai pihak, akibat
serakahnya oknum-oknum tertentu yang juga menginginkan bagian.

Seperti mirisnya nasib ibu-ibu rumah tangga, yang setiap hari tak habis mengomel,
mengeluh, mungkin juga merutuki naiknya harga-harga barang. Hingga tak tersisa uang
bulanan untuk menabung, sedikit bersenang-senang, apalagi merasakan mewahnya
masakan rumah. Mereka tak tahu, tak peduli, atau bahkan tak lagi sempat memikirkan,
bahwa jatah mereka diambil oleh tamaknya orang-orang yang ingin merasakan
nikmatnya berada di pucuk kekuasaan. Orang bilang, itu korupsi. Ibu-ibu itu bilang, ini
penderitaan.
Seperti protes ratusan mahasiswa dan calon mahasiswa yang mungkin terancam tak bisa
melanjutkan kuliah atau gagal masuk universitas idaman. Sebab uang masuk kian
melambung sampai jumlahnya bisa dipakai untuk biaya kuliah hingga lulus para
mahasiswa sebelum mereka. Sebab penguasa kampus kini makin kreatif mendulang uang
demi kenikmatan mereka sendiri.

Seperti preman jalanan yang mengaku sebagai bos bagi para anak-anak jalanan,
mengambil jatah uang hasil keringat mereka yang telah lelah seharian bermodalkan suara
sumbang sedikit serak dan botol air minum yang diisi pasir atau beras. Tak peduli ia,
apakah anak-anak di bawah umur itu sempat makan dari kerja payah mereka. Bagaimana
mereka dicaci-maki sejumlah penumpang bus dan mikrolet yang merasa terganggu.
Bahkan ada yang mati tergeletak di jalanan, terjatuh dari pintu bus.

Mengambil jatah memang bukan urusan sepele. Caranya bisa mudah, bisa pula sukar
perlu strategi. Kadang kala, untuk melakukannya tak perlu otak dengan IQ tinggi.
Tinggal main rebut, ambil, dan nikmati. Seperti yang dilakukan para hewan di dunia
binatang. Tapi manusia pun bisa jadi binatang, bila ia berlaku sesuka hati. Tak perlu
pejabat, penguasa, atau petinggi. Tukang copet, tukang jambret, dan tukang todong selalu
mengambil rizqi orang lain tanpa permisi.

Mengambil jatah tak pernah menjadi urusan sepele. Bahkan kini sebagian besar manusia
telah paham dan maklum dengannya. Awalnya coba-coba, ketagihan karena enak, hingga
terbiasa jadi aktivitas sehari-hari. Mulai dari urusan rumah tangga, kerjaan di kantor,
sampai urusan negara. Mulai dari listrik curian, korupsi karyawan, sampai mengambil
jatah kawan. Tak usah heran, bila yang enak makin enak, yang susah tambah payah.

Saya tidak tahu, apakah perlu dibuat pemberitahuan dan pengumuman lekas-lekas.
Supaya kita semua awas, pada si pengambil jatah. Sebab kalau tidak, bisa-bisa kita
tertular penyakitnya.

Atau kita perlu vaksinasi, supaya imun dari virus yang sudah menyebar ini. Karena kita
tidak pernah tahu kapan ia menghampiri. Hati-hati.

Coba tanyakan pada diri sendiri, jatah siapa yang sudah kita ambil hari ini?

D.H. Devitadh_devita@eramuslim.com

Bulan Tertusuk Ilalang

Publikasi: 03/09/2004 08:58 WIB

eramuslim - Malam menyelimuti, berganti peran karena takdir hari berputar dengan
membawa kebaikan dan kejelekan. Tiada yang menyatakan terjadinya hari itu selain
Allah (An Najm:58). Selamat tinggal dunia, bagi orang yang dangkal hatinya. Dia
sebenarnya sudah mati walaupun masih di anggap hidup. Harapan palsu masih
meninggalkan prasangka. Mesti tiada yang lebih indah daripada sekadar harapan dari
mata air imajinasi. Bukanlah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya? (Az-
Zumar:36)
Ketika sinar mentari lama pergi menembus malam menjelang senja, akan banyak yang
bernapas lega. Sebab, Dialah yang menjadikan malam pakaian, dan tidur untuk istirahat
(Al Furqon:47). Tak perlu ada kedustaan, ketika pintu peraduan telah terbuka untuk
jangka waktu yang lama. Ketika semua manusia terbuai dalam naungan penjaga alam
semesta. Ketika angin lembut menyapa, menghantarkan setiap insan pada mimpi yang
lelap.

Mungkin sepenggal cerita bagi orang-orang yang terjaga, yang menekuri malam untuk
mengagungkanNya. Seperti malam itu. Udara sejuk, lembut dan wangi. Sinar rembulan
merembes ranting dedaunan, membiaskan cahaya kuning pucat pada kaki seorang lelaki
paruh baya. Ia bersandar di bawah setanggul pohon tua. Di matanya denting keletihan
hidup pecah bergelombang, lalu melebur membentuk pusara harapan bagi buah hatinya
seorang. Ada beragam bacaan kehidupan yang ditekuri. Ia tak bisa memahami hakikat
kata yang aneh dan mustahil. Meski ia dapat menelan kebisuannya bersama daun-daun
pohon yang melambai membentuk bayang-bayang aneh menari-nari. Serentak
menyenandungkan simfoni ganjil malam hari.

Gadis kecilnya berdiri tak jauh dari situ. Berjalan pelan-pelan, menikmati desir angin
yang membelai hamparan ilalang. Ia mengenakan gaun beludru biru pekat berenda putih
yang menghiasi kulitnya yang pucat, terpantulkan cahaya bulan. Embun membuat rumput
berkilau-kilau. Sepasang kaki mungilnya menjejak dan mendesak-desak, tenggelam di
rerumputan yang basah. Sebelum membungkuk dan melepas sepatu hitam yang terbuat
dari kulit. Sepatu dipegang erat dengan satu tangannya. Ia tahu kalau ia masuk rumah
dengan kaki kotor, seperti biasa ibunya akan marah. Lalu mengeluh, "betapa susah
menasehati anak kecil." Namun ia bangga menjadi anak kecil, karena ia dapat menelan
kebisuan tanpa kedustaan.

Jadi malam itu lilin-lilin kedustaan sudah ia padamkan dalam hati. Di ujung sana
Ayahnya hanya melihat langkah-langkahnya yang ringan seakan terbang melayang.
Entah berkejar dengan apa. Mungkin sesuatu yang tidak terlihat indra, sesuatu yang
membuatnya ceria, imaji kanak-kanaknya. Ketika ia bertanya;

"Apa ayah benar-benar melihatnya?"

Ayahnya hanya tersenyum, sekalipun ia sebenarnya terperanjat, lalu ia bertanya sambil


meneruskan bacaannya.

"Kamu bicara apa, nak?"

"Bulan itu. Apakah Ayah melihatnya?"

Ia menunjuk ke atas. Ayahnya tersenyum lagi. Kerena tak begitu mengerti maksudnya,
Ayahnya hanya menyahut;

"Ayah tak bisa melihatnya dari bawah pohon".

"Tak apa", katanya. "Akan kupindahkan bulan, sehingga Ayah dapat melihatnya"
Rona wajah Ayahnya berubah dalam sekejab. "Kamu tidak bisa memindahkan bulan. Ia
terlalu tinggi untukmu"

"Tentu saja aku bisa" ia bicara dengan keras, menyentak-nyentakkan kakinya ke tanah.
Kedustaan macam apa yang dibuat oleh orang dewasa, ketika mereka merasa asing
terhadap dirinya sendiri. Mimpi-mimpi apakah yang dapat menembus wajah-wajah renta
ini, yang mencari alasan untuk terus bersembunyi atas nama sepotong realita yang selalu
menghantui. Realita yang telah membuat mereka kehilangan jati diri.

"Lihat ini," ia berjalan menyusuri rerumputan sambil menengadah ke langit, yang


menurutnya, itu menarik bulan menjauh dari pohon.

"Bulan itu mengikutiku" ujarnya merasa yakin.

Seketika Ayahnya terhenyak dan berdiri dari duduknya, berjalan menjauhi pohon. Ia
nyadari kekeliruannya. Inilah untuk kesekian kali anaknya menunjukkan warna-warni
imajinasi dengan pensil keluguan. Ia menatap nanap wajah anaknya.

"Ya, Ayah dapat melihatnya sekarang"

Senja hari itu indah. Bulan hampir penuh, menyisakan satu sisi yang masih tertutup
bayangan.

"Mengapa bulan itu selalu mengikutiku, Yah?" ia bertanya dengan penuh percaya diri.
Ayahnya tidak menjawab, membisu tertegun gagu. Hanya sebuah tatapan beku yang
tenggelam dalam alam bawah sadar yang absurb, seribu jawab membentur dinding-
dinding hatinya. Lalu terpantul kembali dan tenggelam ke lubuk hatinya yang terdalam.
Ia sadar tidak mungkin menjelaskan logika paradigma pada putri bungsunya yang baru
berumur 5 tahun.

Kata Einstein, Jika kau ingin anakmu pintar ceritakan dongeng untuknya, dan jika kau
ingin mereka pintar, ceritakan lagi dongeng untuknya.

"Bulan itu menunggu untuk kau tangkap" jawab Ayahnya pada akhirnya. Gadis kecil itu
mengerutkan kening, lalu bertanya lagi, "Apakah aku bisa menangkapnya?"

Ayahnya langsung menyahut. "Tentu saja bisa." Hhhh, bola mata anaknya membulat.
"Benarah? bagaimana caranya Yah?"

"Coba lihat kemari," Ayahnya menuntun tangan mungilnya perlahan-lahan. Lihat ilalang
itu, ia tidak lebih tinggi darimu kan?" ia mengangguk. "Tapi ilalang itu sanggup
menggapai bulan" Ayahnya berkata dengan bangga.

"Sini...sini...,coba lihat kemari" Lalu Ayahnya merunduk dan mengajaknya tenggelam


dalam rumpun ilalang yang menjulang. Ia mengikuti saja tanpa sepenuhnya mengerti apa
maksud sang Ayah.
Tapi, Dia tahu sekarang, dia percaya Ayahnya. Di sini, di balik rimbunan ilalang ini, ia
hanya melihat sepotong bulan di atas langit yang kelam, dan ilalang yang menjulur-julur
menusuknya dari bawah.

Ayahnya tersenyum dan berkata, "Sekarang kau percaya kan?"

Ia menatap wajah Ayahnya, seolah membenarkan. Kemudian Ayahnya mengajaknya


berdiri lagi dan menganggkat tubuhnya yang mungil di bahunya, dan menggendongnya.
Dia biarkan gadis kecilnya itu duduk di bahunya untuk beberapa lama, lalu ia berkata :

"Anakku... jika kau besar nanti, kau harus mempunyai sebuah impian. Impian yang tinggi
dan tinggi sekali, seperti bulan itu. Seolah-olah engkau tidak bisa mencapainya, tapi
sebenarnya engkau bisa."

Gadis kecilnya mengangguk-angguk, entah mengerti entah tidak. Ayahnya melanjutkan.


"Nanti, engkau akan melihat banyak orang menyangsikanmu untuk menggapainya.
Seperti engkau menyangsikan ilalang itu, tapi percayalah sebenarnya engkau bisa" ia
berhenti sejenak, "Anakku, Ayah tidak tahu berapa lama lagi Ayah bisa menemanimu
dan terus membantumu mennggapai impianmu, namun kalaupun nanti kau sendiri, kau
harus kuat. Kau harus yakin bahwa kau bisa menggapainya, meski tanpa Ayah. Kau
mengerti kan? Coba ulurkan tanganmu ke atas"

Di atas mereka langit sangat luas, hanya sepotong bulan yang tersisa. Ketika menengadah
dan menjulurkan tangan di atas bahu Ayahnya, sekali lagi ia tahu: Ayahnya benar.

"Aku percaya Yah, Aku bisa manangkap bulannya... Aku bisa menangkap bulannya!!!"

Ia berteriak-teriak kegirangan.

Jauh sebelum semua diungkap, Ayahku telah mengajarkan perspektif dan persepsi.
Mengasah ketajaman bashirah hati, menangkap keabstrakan paradigma deklaratif. Dan
aku masih tetap di sini melihat bulan, meski tanpa Ayahku. Sama seperti enam belas
tahun yang lalu. Bulan yang sama yang kusaksikan di saat kecilku, yang sama yang
disaksikan orang di seluruh dunia. Dan mungkin juga disaksikan oleh seseorang yang
jauh di belahan bumi sana atau yang dekat di sini.

Bulan terang sepenuh lingkaran. Cahanya indah menantang kita keluar malam, untuk
menatap. Dia sangat memikat, dan aku sungguh tercekat. Hingga terbentur pada sebuah
paradigma yang diajarkannya. Yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana cara kita
memandang hidup. Sesuatu yang terlihat tinggi, sebenarnya tidak terlampau tinggi untuk
dicapai. Semua tergantung dari sudut mana kita memandangnya, itu pesan Ayah. Seperti
bulan itu, kucoba membaca cerita kehidupan yang dilukis olehnya, saat purnama kuning
pucat terangi kami dengan pendar-pendar imajinasi enam belas tahun yang lalu. Biarkan
kami bangkit dari tidur kami yang lelap. Melerai mimpi menuai kehidupan. Karena di
sana kami menyaksikan : Bulan tertusuk ilalang.
Salam cinta buat Ayah yang telah memberi banyak cerita di masa kecilku. Ayah,
terimalah ungkapan terima kasihku yang terdalam, yang tak kan pernah cukup untuk
membalas segala jasa yang engkau berikan.

Aathierah Azzahra
aathierah@yahoo.fr

Kado Istimewa

Publikasi: 02/09/2004 09:40 WIB

eramuslim - Bisa jadi saya anak yang paling malang di antara anak-anak lain di
kampung. Bukan hanya karena ibu jarang memberi uang untuk jajan di sekolah, sehingga
saya sering menghabiskan waktu istirahat sekolah untuk mereka-reka berapa uang jajan si
Adi, apa yang selalu dibeli Rena, atau memperhatikan nikmatnya es doger di tangan
Sukma. Bahkan untuk merayakan hari ulang tahunku yang setahun sekali pun ibu tak
melakukannya.

Tidak ada tepuk meriah teman-teman, tidak juga tiupan lilin di atas kue tart yang selalu
saya saksikan di setiap perayaan ulang tahun Rommy, Hilda, juga Siska. Tidak ada balon,
hiasan khas ulang tahun, dan yang pasti, tidak mungkin saya berharap ada kado ulang
tahun. Siapa yang mau ngasih? Tak ada pesta, ya tak ada kado.

"Ibu yang akan kasih kamu kado..." sapa ibu mengagetkan lamunanku. Sejenak kemudian
saya masih terdiam membayangkan gerangan kado apa yang akan diberikan ibu. Sampai
akhirnya, sebuah doa terajut dari mulutnya disertai kecupan hangat di kening dan pipiku.

Seketika, sebalut kehangatan terasa menelusup ke setiap aliran darahku. Doa ibu, jauh
lebih indah dari hiruk pikuk tepuk tangan, tak bisa dibandingkan dengan kue tart termahal
sekalipun. Lilin merah dengan api menyala, balon dan hiasan ulang tahun jelas tak
seindah doa ibu. Untaian kalimat pinta yang dirajut ibu, bahkan lebih sempurna dari gaun
ulang tahun milik siapapun.

Kehangatan kecupan ibu jelas lebih sejuk dari jutaan ucapan selamat dari siapapun. Tak
ada satupun bingkisan ulang tahun yang mampu menandinginya, kecupan ibu adalah
kado termahal yang pernah kuterima.

Kemarin, saya terjatuh saat pertama kali belajar naik sepeda. Saya menangis karena dua
sebab, kaki saya memar dan sedikit berdarah tepat di lutut kanan, dan kemudi sepeda
saya bengkok. Bapak segera mengangkat sepeda sementara ibu langsung mendekapku.
Tak ragu, ibu mengusap air mataku dan memberikan satu kecupan pada luka di kakiku.

Kecupan ibu juga yang mengantarku masuk ke ruang kelas saat hari pertama sekolah.
Mulanya saya takut, mungkin ini juga yang dirasakan setiap anak yang baru pertama kali
masuk sekolah. Dalam pandanganku, bangku-bangku sekolah dasar, papan tulis, juga
meja belajar itu lebih mirip makhluk aneh yang siap menerkamku. Guru dan teman-
teman baru itu, lebih terlihat seperti monster menyeramkan bagiku. Tapi, dengan sekali
kecupan di ubun-ubunku, ibu berkata, "Masuklah, anak ibu kan jagoan..."
Selang sepekan hari sekolah, tepat di pekan kedua, seharusnya saya kembali masuk
sekolah. Tapi demam yang menyerangku sejak malam tak kunjung reda di pagi harinya.
Saya sedih tidak bisa sekolah hari itu, sedih juga karena tak bertemu teman-teman baik di
kelas, dan yang paling menyedihkan tentu saja saya harus tertinggal pelajaran di kelas.
Namun ternyata bukan hanya saya yang sedih saat itu, tepat di pinggir tempat tidurku
sesosok anggun terlelap lelah setelah semalaman terjaga menungguku, memberiku obat,
mendengarkan setiap keluhanku, membetulkan selimutku dan mendekapku erat saat
tubuh ini menggigil kedinginan. Di sudut matanya, masih tersisa bekas air mata semalam.

Kini, saya sadari, doa dan kecupan ibu lah kado yang paling kuharapkan di setiap hari
ulang tahunku. Dan tentu saja, kehadiran ibu senantiasa lebih kuinginkan dari sekadar
ratusan undangan lengkap dengan ratusan kadonya.

Bagi saya, ibu adalah kado terindah di setiap ulang tahunku. Terima kasih Allah yang
masih memberikan kesempatan saya untuk bersama ibu di hari terindah ini. Dan saya
selalu berharap, di tahun depan ibu masih tetap menjadi kado istimewa.

Ibu, Semakin kumengerti hadirmu

Bayu Gautama

Sepenggal kisah tersisa di hari jadi ke enam


Spesial buat Raudhatul Ula Kamalia, ponakan Uwak yang ulang tahun ke enam hari ini.

Belajar untuk Belajar

Publikasi: 01/09/2004 08:22 WIB

eramuslim - Hakikatnya hidup ini merupakan rangkaian proses belajar dan menempa diri
agar menjadi lebih baik senantiasa. Sungguh, begitu banyak hal dapat disarikan dari
perjalanan detik demi detik kehidupan kita. Hal-hal yang kita rasakan, kita lihat, kita
dengar, kita keluarkan melalui lisan, semuanya bisa menjadi sesuatu yang sarat makna
dan dapat memperkaya khazanah pengalaman kita untuk selanjutnya dijadikan modal
bagi proses perbaikan diri, jika kita mau tentunya.

Little things mean a lot, ya, banyak hal kecil yang sesungguhnya memiliki makna yang
begitu besar, jika saja kita mau sedikit lebih memperhatikan, sedikit melihat lebih ke
dalam, dan sedikit saja berpikir. Ketika kita hanya memandang sesuatu dengan cara
biasa, semuanya akan tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, seakan memang
demikianlah seharusnya.

Ketika peristiwa-peristiwa yang kita temui atau kita jalani hanya lewat begitu saja, maka
ia hanya akan menjadi masa lalu hampa nilai yang tidak dapat memberikan pengaruh
apa-apa. Padahal jika kita mau sedikit saja menggali lebih dalam, mungkin tidak sedikit
bekas-bekas berharga yang tertinggal di sana. Sebagaimana halnya mutiara, sebelum ada
yang mengeluarkannya dari cangkang sang kerang, tidak ada yang dapat merasakan
pancaran keindahannya.
Menjadi pembelajar sejati, hal yang cukup sulit dilakukan saya rasa. Bagi saya, seorang
pembelajar sejati akan selalu mencoba mencari celah pembelajaran dari setiap kejadian
yang dialaminya maupun kejadian yang dialami oleh orang lain. Sungguh saya ingin
menjadi orang seperti itu: yang senantiasa dapat memaknai hidup dari sudut pandang
positif, yang mampu melihat nilai-nilai yang belum tersingkap, serta mampu
memunculkan keberhargaan walaupun begitu tersembunyi adanya. Siapa yang tahu di
dalam cangkang kerang yang gelap tersimpan mutiara yang begitu indah jika tidak ada
yang mencoba menyelam ke dasar lautan dan mendapatkannya. Ya, mutiara itu akan
tetap ada, terlepas dari apakah ada yang berusaha membuka cangkang kerang tempatnya
bersemayam atau tidak.

Belajar, belajar, dan belajar, menunjukkan bahwa manusia benar-benar makhluk yang
memiliki banyak kelemahan dalam dirinya. Belajar, bagi saya merupakan bagian dari
proses menyaya (diambil dari istilah seseorang dalam sebuah tulisan *meng-aku),
menjadi saya, saya yang benar-benar saya, saya yang benar-benar dapat memberikan
banyak manfaat bagi orang lain, semoga. Dan proses ini belum akan berhenti sampai ajal
menjelang, dan maut datang menjemput. Saat itulah saya baru dapat menunjukkan dan
mengatakan "Inilah saya, saya seutuhnya, saya yang sesungguhnya".
ftz12@yahoo.com

Cintai Aku Hari Ini

Publikasi: 31/08/2004 08:40 WIB

Hari ini mungkin akan ada tangis lagi.


Walau sampai habis air mata, tapi tak mengapa.
Karena aku mengiba cinta.

eramuslim - Pernah merasakan kerinduan yang teramat sangat? Kerinduan untuk


mendapatkan cinta. Saat itu seolah hati merana tak berjiwa. Seperti hampa. Tak berdaya.
Namun kehidupan ini memaksanya untuk tetap ada.

Kemarin, saya melihat seorang anak menangis di hadapan ibunya. Ia sepupu saya sendiri.
Beberapa menit sebelum tangisannya, si ibu memarahinya. Dan hampir juga memukuli.
Baru kutahu bahwa si ibu telah meninggalkannya seharian penuh. Entah ke mana. Ia
ditinggal di rumah hanya berdua dengan pembantu. Seperti biasa setiap kali ibunya pergi.
Ibunya berkata, ia makin hari makin nakal. Baginya, bila ia telah sanggup menyampaikan
rasa, hari itu ia rindu ibu.

Setiap diri kita pasti butuh cinta. Dan kebutuhan itu terlihat nyata dari perilaku kita,
ataupun tersembunyi lewat kata. Entah dinyatakan secara jelas, entah sekedar tersirat
hadirnya. Mungkin pula hanya berupa rasa rindu yang menggelora tanpa kuasa meminta.
Cinta itu fitrah adanya.

Beberapa waktu lalu, saya pernah berselisih dengan seorang sahabat yang telah saya
kenal semenjak sepuluh tahun lamanya. Menurut saya, ia telah melakukan kesalahan, dan
saya menegurnya. Menurutnya, ia hanya mengikuti kata hatinya, dan tak rela atas teguran
saya.
Saat itu saya berpikir, kalau hari itu tak saya tegur ia, maka saya telah berdosa karena
telah membiarkannya larut dalam perasaannya sedang ia tak memperhatikan lagi batas
perilakunya. Saya tak lagi sempat berpikir bahwa mungkin saja ia telah salah menangkap
maksud saya. Padahal saya hanya ingin memberitahunya sesuatu, bahwa saya cinta.
Semua perkataan saya, adalah cinta saya kepadanya.

Seringkali tak sanggup diri kita untuk memperhatikan lagi rambu-rambu dalam bercinta.
Oleh sebab perasaan itu telah kuat adanya. Otak ini serasa beku tak kuasa, sedang hati
telah terguratkan olehnya.

Ada seorang istri yang marah pada suaminya. Setiap kalimat yang keluar darinya, tak lain
hanyalah cercaan belaka. Ia berkata, tak lagi ada rasa percaya. Kita yang mendengarnya,
mungkin akan berpikir bahwa ia tak lagi cinta. Tetapi nyatanya tak seperti itu. Sebab
waktu akan membuktikan bahwa rasa itu tetap ada. Saat suaminya jatuh sakit, terlihat
dari kecemasannya. Saat suaminya terlelap lelah dalam tidurnya, ia memperhatikan dan
setia di sampingnya.

Kadangkala, kalimat yang kita ucapkan tak melulu mewakili perasaan yang sebenarnya.
Seringkali hati lah yang bisa berbicara, namun mulut ini tak sanggup mengutarakannya.
Keinginan untuk dicintai itu telah terpendam jauh di pelosok kalbu.

Kepada manusia, kita telah melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta. Dari ayah dan
ibu kita, teman dan sahabat, suami, anak, istri, dan siapa saja yang dekat dengan diri kita.

Kepada Sang Pencipta, apakah kita berlaku hal yang sama? Andaikan begitu lemah kita
menyampaikan rasa, bagaimana kita meminta kepada-Nya? Bukankah segala pinta
tersampaikan lewat doa?

Walau hanya sebatas satu kalimat yang terlantunkan dari hati,


Ya Allah, cintai aku hari ini...

DH. Devita

dh_devita@eramuslim.com

Apple for an Angel

Publikasi: 30/08/2004 09:23 WIB

"Pada berbagai tahap kehidupan kita, tanda-tanda cinta yang kita temui itu beragam:
ketergantungan, daya tarik, kepuasan, kecemasan, kesetiaan, kesedihan, tetapi di dalam
hati, sumbernya selalu sama. Manusia mempunyai sedikit sekali kemampuan untuk saling
berhubungan dengan sesamanya, mensyukuri apa adanya.".

eramuslim - Dia berjalan dengan mata menatap ke bawah, kepala tertunduk. Ketika dia
melihatku, dia bicara, dan aku menangkap pandangannya. Dia lusuh dan kumal, tak ada
cahaya di matanya. Dia berkata, "Assalaamu 'Alaykum." Begitu sopannya dia.
Dengan lembut aku menjawab salamnya, "Wa 'Alaykum salaam." Aku terus berjalan
dalam kesunyian, pemuda ini -yang tak kuketahui siapa namanya- telah membawa hatiku
pergi jauh, entah ke mana.

Aku menatap pada kedua matanya, mengamati sebuah harapan yang pernah sirna, kataku
dalam hati, "Bagaimanakah perasaan ibu yang melahirkannya? Bagaimanakah perasaan
ibu yang telah menyaksikan putranya tumbuh seperti ini?". Beberapa waktu kemudian
kudapati jawaban itu tak akan pernah ada, ibunya telah meninggal -tidak beberapa lama
setelah ia lahir. Rupanya ia seorang piatu!

Kemudian, aku selalu dikejutkannya pada hari-hari yang lain, dengan salamnya yang
tulus dan dengan ekspresi wajahnya yang malu-malu. Ketika sengaja menatap ke dalam
kedua bola matanya kali ini, aku kembali dikejutkan dengan binar mata yang sekarang
hadir. Aku bersyukur, Semoga saja itu memang karena aku tidak mengabaikannya meski
hanya dengan sebuah senyuman.

Aku ingat ketika aku pertama kali mengamatinya dengan teliti. Pikiranku mengembara
entah ke mana. Antara terharu, iba dan rasa kasihan yang tak terkira. Kupikir sudah
seharusnya ada sisa-sisa penghargaan pada seorang anak yang terlahir sebagai seorang
manusia dengan kerusakan mental yang parah. Tidak hanya itu, ia juga memiliki mata
yang jauh lebih besar dari ukuran normal, tanpa naungan alis yang enggan tumbuh di
atasnya. Kulitnya kasar dan bersisik, rambutnya merah seperti rambut jagung, giginya
besar-besar, hitam, jarang-jarang dan terlalu maju ke depan pada rahang atas. Hal itu
membuatnya tampak seperti menyeringai jika tersenyum. Hal itu akan membuat anak-
anak kecil akan berlari-lari dan mengolok-oloknya dari jauh.

"Assalaamu 'Alaykum wa RohmatuLlaahi wa Barokaatuh." Suatu hari ia mengucapkan


salam dengan sempurna begitu aku lewat. Seingatku Ini pertama kali ia mengucapkan
salam dengan lengkap. Aku baru sadar ia sangat bahagia hanya karena aku selalu
menjawab salamnya. Maka pagi itu, aku ikut-ikutan menjawab salam tanpa kusingkat
sedikitpun. Sejujurnya jawaban salamku hanya sebetik rasa kasihan. Mengapa Allah
menciptakan makhluk yang jauh dari sempurna seperti ini, tanyaku dalam hati. Biarlah,
Allah Maha Tahu. Tapi ya Allah, betapa pilu ketika aku melihat ia juga mengucapkan
salam pada setiap orang, tapi tak seorangpun yang menanggapinya.

Rupanya ini alasannya. Rupanya ini yang membuatnya bahagia jika bertemu denganku.
Sebuah pengakuan. Pengakuan sebagai manusia meskipun jauh dari kesempurnaan fisik
dan mental yang seharusnya dimiliki.

Ini memang sangat menyedihkan. Aku menyelami perasaannya, tapi aku juga tahu
mengapa orang-orang yang lewat mengacuhkannya. Apakah perlu menjawab seorang
pemuda cacat mental dengan kedewasaan seperti anak-anak yang bahkan belum pantas
terdaftar pada sekolah dasar? Mungkin itu pikiran kebanyakan orang. Tapi aku tidak.

Aku berusaha menjawab salamnya, selalu dan sebisaku. Belakangan ini ia justru
menyadarkanku tentang hakikat salam yang seharusnya. Jika ia mengucapkan salam
padaku lebih dulu, aku menjawabnya dengan lengkap dan tanpa sadar membuatku
berpikir. Berpikir tentang makna salam itu sendiri. "Wa 'Alaykum Salaam wa
RohmatuLlaah wa Barokaatuh" -Dan salam kesejahteraan juga bagimu dengan Rahmat
Allah dan Barokah Allah, doaku dalam hati. sepanjang hidupku, telah banyak kulakukan
perbuatan tercela pada orang lain. Aku sadar mengapa salam menjadi hak seorang
muslim atas saudaranya. Barangkali doa dalam salam itu berfungsi untuk menghapuskan
dosa-dosa yang ada. Ia adalah kebaikan yang mudah diberikan kepada saudara-saudara
kita. Sebuah doa, bukan semata-mata ungkapan formalitas tanpa makna.

Rupanya aku baru menyadari mengapa Allah menciptakan pemuda cacat ini,
kehadirannya bukan tidak berguna seperti dugaanku. Tapi menyadarkan orang-orang
sepertiku tentang arti bersyukur pada nikmat Allah yang mudah terlihat tapi sukar di
lihat. Nikmat kesempurnaan fisik, kesehatan mental, dan kenikmatan iman.

Terima kasih Jo, kataku dalam hati. Jo adalah nama pemuda itu. Akhirnya aku tahu ia
tinggal di sebuah kamar petak tidak jauh dari kost-kostanku. Ia rajin pergi ke masjid
sebelah rumah kostku, belajar mengaji bersama anak-anak kecil dengan usia minimal 10
tahun di bawah usianya. Aku diberi tahu anak-anak itu -yang tak lain adalah murid-murid
ngajiku dulu. Mereka mengatakan bahwa Jo tidak pernah naik dari Iqro 4. Meski begitu
ia rajin sekali hadir. Aku sendiri belum pernah melihatnya sewaktu mengajar, atau karena
aku tidak memperhatikan saja? Entahlah, kesibukan kuliahku di tingkat akhir membuatku
jarang lagi mengajar anak-anak kecil itu. Semoga Allah mengampuniku atas amanah
yang telah kulalaikan.

Suatu hari aku terkejut mendapati Jo berdiri di depan pintu rumah kostku. Gayanya malu-
malu, kemudian ia mengucap salam seperti biasa. Aku baru saja selesai membenahi
semua barang-barangku dan mengepaknya dalam beberapa kardus besar. Hari ini aku
pindah kost.

"Teteh mau pindah?" ia bertanya. Aku menjawab dengan sebuah anggukan. Dalam
sekejab tatapan matanya menjadi sayu, seolah-olah sangat sedih mendengar berita itu.
Hatiku trenyuh.

"Teteh ..." ia berkata lagi. Dikeluarkannya sebutir apel lusuh dari balik kantong bajunya
yang kumal. Apel besar berwarna hijau masih lengkap dengan tempelan merk
Switzerland. Itu apel yang hanya bisa di dapat di departmen store, pikirku. Sungguh, Aku
tidak bisa menduga maksud ia menunjukkan apel itu padaku.

"Saya memecah celengan ayam saya buat beli apel ini, ini buat teteh." Dia berkata.
Diangsurkannya apel itu padaku. Oh, Aku bertanya-tanya dalam hati "Apakah ini tidak
salah?"

Meski begitu, kuterima saja apel itu dengan tatapan penuh tanya, ia hanya tersipu malu
lalu berkata pelan-pelan, "Ustadz bilang, di surga ada banyak bidadari yang baik.
Bidadari itu juga hanya makan makanan yang baik-baik di surga, di sana banyak buah-
buahan..."

Aku menatapnya lebih dalam. Berusaha mencari makna dibalik kata-kata yang belum
kupahami.
"Kata ustadz lagi, bidadari surga itu juga ada di dunia dalam bentuk wanita sholihah.." di
sini kalimatnya berhenti, ia tersenyum malu-malu dan menundukkan kepalanya dalam-
dalam, lalu melanjutkan "kata ustadz juga, wanita sholihah itu salah satu cirinya baik hati
dan berjilbab rapih seperti teteh ..."

Aku terharu mendengar penjelasannya yang sederhana namun sarat makna. Tanpa sadar
meremas-remas ujung jilbabku, kuingat Nabi Muhammad SAW bersabda : "Jangan
anggap remeh suatu perbuatan baik, bahkan jikapun kamu bertemu saudaramu dengan
muka tersenyum (karena itu adalah perbuatan yang berat timbangan kebaikannya)."

Kemudian, sewaktu aku menatap kembali ke dalam bola matanya, aku tahu bahwa karena
pemuda buruk rupa yang cacat mental ini, aku tidak hanya telah diajak ke dalam dunia
perenungan dan kesunyian yang aneh -aku telah diberi kesempatan untuk menghargai
orang secara terbuka untuk pertama kalinya dan untuk 'mengenang hal-hal yang baik
dalam diri orang lain', sekecil apapun itu. Setelah hari itu, tampaknya jauh lebih mudah
untuk memuji dan meluhurkan Allah atas semua yang kuterima dalam hidupku yang
'benar, mulia, dan adil' -termasuk sebutir apel dari seorang pemuda cacat mental seperti
Jo. Mungkin baginya hadiah terbesar yang bisa dipersembahkannya kepadaku adalah apel
itu.

Bukan masalah soal harganya, namun nilai makna yang terkandung dalam apel itu
membuatku terharu. Pikirannya memang sangat sederhana, tapi itu justru membuatnya
mudah menyerap nilai-nilai kebaikan yang diberikan orang kepadanya. Dengan seulas
senyum saja, ia telah memberiku predikat seseorang yang baik-hati. Dengan hanya
menjawab salamnya saja ia telah mensejajarkanku dengan bidadari surga! Aku sungguh
terharu!

Tak akan kulupa dia, saat dia mengiringi kepindahanku dengan tatapan matanya, karena
dia telah memberiku sesuatu yang tak akan pernah bisa kubayar. Dia berikan padaku
kesempatan untuk memberi yang kumampu, kesempatan untuk menunjukkan cinta pada
mereka yang tersingkir --kesempatan untuk sekedar tersenyum dan menjawab salam
ketika tak seorang pun bersedia -- kesempatan untuk menjadi manusia istimewa,
kesempatan untuk melakukan kebaikan.

Aku akan selalu berterima kasih pada pemuda cacat mental itu karena menunjukkan
padaku cinta dalam seuntai doa, untuk memberiku kesempatan menjadi seseorang yang
memiliki kepekaan hati lebih banyak, untuk memberiku kesempatan menjawab
ketukannya di pintu kalbuku.

Kau tahu, aku bukanlah bidadari, meski aku ingin sekali menjadi salah satunya. Aku telah
melukai banyak orang dengan menjadi diriku, dan orang ini, orang yang cacat ini, yang
tidak mengabaikan diriku, untuk sejenak melepaskan seorang bidadari untuk terbang
bebas.

Aathierah
aathierah@yahoo.fr

Back to The Floor


Publikasi: 26/08/2004 09:53 WIB

eramuslim - "Wah gawat!..." cetusku. Hari ini teman-teman satu timku tidak ada di
kantor. Arif baru saja kecelakaan, tangannya patah dan harus beristirahat di rumah. Andre
dan Ade cuti nikah, Rully sedang dinas luar dan Anto "Bajuri" tugas ke Batam bersama
Pak Heri, sedangkan hari ini ada persiapan tender di Pertamina Balikpapan yang harus
diselesaikan hari ini juga.

Satu persatu dokumen kupersiapkan sesuai dengan persyaratan. Setelah dirasa cukup
lengkap langkah selanjutnya adalah membuat copy salinannya, nah disinilah masalahnya
muncul. Di kantor itu yang biasa fotocopy si Mr Kumis alias Ade from Sumedang, but
unfortunately Ade tidak ada. Walhasil dengan penuh percaya diri saya coba untuk meng-
copy dokumen yang cukup tebal itu sendirian, karena pengalaman meng-copy satu dua
lembar tidak ada masalah.

"Ada pegawai baru nih..." ledek Deni, rekan satu kantor dari divisi lain.

"Yah habis gimana, kalo nggak dikerjakan sendiri siapa lagi dong yang mengerjakan"

"Kenapa tidak suruh Edi saja?"

"Dia itu kan office boy dan sepengetahuan saya dia nggak bisa fotocopy"

"Tapi kan bisa suruh dia ke tukang fotocopy, biar efisien"

"Gak usah ah, kalo cuma fotocopy aja sih gampang kok"

Tapi ternyata, baru 5 lembar saja saya sudah merasa sangat kerepotan, berbagai masalah
timbul dari posisi kertas yang tidak tepat, kertas habis, sampai karena terlalu panik kertas
yang dipakai salah ukuran jadi harus diulang. Begitu cepat rasa percaya diri saya hilang
dan yang timbul adalah rasa salut saya dengan Ade. Kenapa? Karena ia bisa begitu
gesitnya jika mendapat tugas fotocopy, mungkin jika tumpukan dokumen yang saya
pegang ditangani oleh Ade hanya memerlukan waktu 10 menit sedang saya sudah hampir
15 menit belum ada tanda-tanda selesai.

Memang kita manusia ini masing-masing punya kemampuan unik dalam menjalani
hidupnya dan satu sama lain saling membutuhkan. Tapi sayangnya terkadang kita kurang
mau memahami posisi orang lain. Padahal jika kita berada dalam posisi orang lain belum
tentu kita bisa lebih baik dari orang tersebut. Kita hanya bisa menuntut dari orang kerja
yang lebih cepat dan sempurna tanpa mau mengerti bahwa terkadang di dalam prosesnya
banyak kendala yang terjadi. Bukannya kita bantu tapi malah kita mengumpat, kesal dan
marah. Bahkan bukan tidak mungkin jika orang itu adalah bawahan kita lalu kita pecat
dia.

Saya jadi teringat dengan sebuah acara reality show di sebuah stasiun TV swasta yang
berjudul Back to the floor. Dalam acara tersebut seorang pimpinan perusahaan ditantang
untuk melakukan pekerjaan bawahannya dan jika dia berhasil menyelesaikannya dengan
baik maka dia akan mendapatkan hadiah yang cukup besar. Menarik sekali acara ini,
mungkin saja kita juga perlu melakukannya.

Buat seorang suami apa salahnya jika ada kesempatan menggantikan posisi istrinya
memasak makanan untuk keluarga. Atau jika kita punya pembantu, kenapa tidak
mencoba suatu hari meliburkan si pembantu dan mengerjakan pekerjaannya sehingga kita
bisa memahami begitu berat tugas sang pembantu. So, berani mencoba?

MZ Omar
omar@akk.co.id

Keterangan: Tender=lelang

Mengemas Rindu

Publikasi: 24/08/2004 08:39 WIB

eramuslim - Biasanya, para pencinta selalu mengemas rindu mereka. Pencinta untuk apa
dan siapa saja, rindu yang bagaimana saja. Kerinduan, adalah sebuah harta milik kita
yang sederhana, namun artinya tak lebih sempit dari luas samudera. Kerap membawa
keinginan tak sekadar beredar di khayalan. Namun kekuatan tekad untuk menjadikannya
nyata. Mengemas rindu, menjaga cinta.

Kerinduanku, adalah akan hadirnya cinta. Seperti milik nabi Ibrahim, saat akan
menyembelih anaknya. Seperti milik Ismail, yang mempersembahkannya hanya untuk
Tuhannya. Seperti milik Yusuf, yang tak tergoyahkan oleh Zulaikha. Seperti milik
mereka, dan mereka yang lain yang juga pencinta.

Kerinduanku, adalah akan kekalnya cinta. Tak seperti mereka yang menjualnya lantas
mengatakan bahwa itu adalah pengorbanan. Tak seperti mereka yang menjadikannya
harta namun diam-diam merusaknya. Tak seperti mereka yang menginginkannya hadir
namun tak peduli lantas meninggalkannya.

Biasanya, para pencinta tak pernah lupa mengemas rindu mereka. Sebab pintu hati selalu
terbuka kapan saja tanpa bisa dipegang kuncinya. Karena kita tak kuasa. Sebab bila tidak,
ia akan mudah tergantikan begitu saja. Tanpa tahu alasannya.

***

Sebagai manusia, seringkali kita korbankan waktu dan tenaga sia-sia, untuk mengemas
rindu yang tak ketahuan adanya, yang bukan rindu sebenarnya. Kerinduan itu disimpan
baik-baik dalam hati, tak ingin ia lekas pergi. Sebab bila kerinduan itu hilang, maka cinta
yang selalu diharap itu tak pula datang.

Kerinduan akan tahta, mengantarkan kita untuk menghamba pada dunia. Tak pernah
puas, walau sudah melibas semua yang tertindas.
Kerinduan akan harta, menyebabkan kita buta. Tak peduli mengambil punya siapa, yang
penting diri tak menderita.

Kerinduan akan cinta manusia, membawakan sengsara. Sebab yang ada hanya kecewa,
kalau cinta tak dibalas cinta.

Bagaimana dengan milik kita?

Kalau setiap harinya selalu kita memuja yang fana. Tanpa menyadari bahwa Ia ada,
melihat apa yang tak kita lihat, mengetahui apa yang tersembunyi, menguasai seluruh isi
hati.

Kalau setiap saat kita tak pernah lalai mempersembahkan cinta, bukan untuk-Nya,
melainkan untuk sesuatu yang tak bisa memberikan apa-apa. Juga tak punya kuasa.

Kalau hidup ini kita persembahkan untuk melayani mereka yang tak bisa memberi. Kalau
rindu itu kita persembahkan untuk sesuatu yang hanya bisa menyakiti.

Lalu, untuk siapa kita mengemas rindu? Pernahkah kita mengemas rindu ini untuk-Nya?
Apakah kita selalu menjaga cinta ini agar selalu berlabuh pada-Nya? Sedangkan hati ini
selalu penuh akan sesuatu, entah apa itu.

Lantas, rindu itu untuk siapa?

DH Devita
dh_devita@eramuslim.com

Pagi ini Takkan Kembali

Publikasi: 23/08/2004 07:41 WIB

eramuslim - Pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Mendung tiba-tiba menggarang.
Hujan deras yang turun seolah menahan langkah kaki untuk beranjak menuju tempat
kerja. Mau tidak mau harus kutunggu dengan sisa kesabaran ini. Kemeja rapi, backpack,
sepatu licin, rambut kelimis pasti seratus meter juga basah semua.

Kucoba duduk tenangkan diri di beranda kostku. Sesekali kutatap display HP, sudah pasti
terlambat. Kulayangkan pandangan ke seberang jalan setapak di depan rumah. Ternyata
hujan tidak bisa bertelepati dengan kepentinganku, dan mungkin kepentingan semua
orang pagi itu, deras dan kian deras. Payah.

Tiba-tiba sesosok kakek melangkah di depanku tanpa atasan, hanya dibalut celana tuanya
membuyarkan lamunanku seketika. Tetesan pagi itu tak pelak menghujani tubuhnya yang
sudah kelihatan berumur. Aku sempat kaget karena dengan tubuh rentanya dia berani
beraktivitas di bawah guyuran hujan.

"Pak, nggak dingin Pak? Apa nggak tunggu reda dulu?"


"Apa ?"

"Ya, nggak tunggu reda dulu," jawabku lebih lantang tanpa mengurangi rasa hormatku
padanya. Karena memang derasnya mengganggu pembicaraan, selain itu juga memang
pendengarannya sudah agak berkurang.

Dia bapak kostku, seorang betawi tulen pemilik tanah di sekitar rumahnya. Pekerjaannya
sehari-hari hanya beternak ayam kampung di depan rumah, mengurusi kebun pisangnya
di belakang sana, entah dimana belum pernah kulihat tempatnya, dan melakukan
beberapa pekerjaan sederhana lainnya sekedar untuk mengisi kekosongan waktunya. Dan
yang membuatku salut, selama dua tahun aku kost, memang dia tidak pernah mengeluh
sakit apapun.

"He he, kerja nggak kerja ni ujan nggak bakalan reda. Jangan tungguin ujan, udah turun.
Basah bisa dikeringin ini. Waktu nggak bisa balik lagi, he he he".

Senyum renyahnya tetap menghiasi kerutan wajahnya yang telah merekam banyak cerita.
Dia tahu banyak hal. Mungkin ini salah satu pengalaman berharga yang ia dapat
sepanjang hidupnya bahwa pagi ini tidak akan kembali.

Aku hanya bisa tersenyum membalas kalimatnya yang terakhir. Segera kusadarkan dan
kugerakkan diri, doing something dude! Kuambil segera raincoat dan kurapikan diri
kembali di kamar. Kali ini kupersiapkan mode hujan. Dan ketika aku kembali ke beranda
siap dengan segala perlengkapan. Reda!.

Aih, ternyata tidak perlu kita berkompromi dengan hujan, cukup niat kita untuk
melakukan yang terbaik dan Dia Sang Pemilik Hujan akan memberikan jalan yang
terindah.

"Mari Pak berangkat dulu, udah reda Alhamdulillah. Assalamu'alaikum!" pamitku kepada
bapak kost. What a wonderful morning. Pagi ini banyak yang bisa aku lakukan dengan
atau tanpa halangan.

Feli Alfalahfeli@indosatm2.com

yang mencoba memahami pagi-pagi terindah

Pesona Bunda

Publikasi: 20/08/2004 10:30 WIB

Bunda adalah kejora,


Karena setiap geriknya benderang sayang
Bunda adalah bunga
Selalu berseri, berwarna dan mempesona
Bunda adalah surga
Helai nafasnya tidak hanya cinta tapi juga doa
Dalam semesta,
Tak ada yang lebih kemilau menyala
Kecuali bunda
(Bunda, mahabbah12)

eramuslim - Bogor suatu hari.


Hari masih belia. Udara sejuk jelas terasa. Dan sesosok ibu tengah berjongkok di depan
putri kecilnya yang terus saja menangis. Ada banyak rengkuhan yang dipersembahkan,
dan saya yakin hangatnya mengalahkan sinar mentari yang bersinar saat itu. Si kecil
terdiam, bola matanya merajuk sang bunda. Mulut mungilnya mengerucut sesaat.

"Ma, adek takuuttt..." perlahan suaranya terdengar samar, ia hampir berbisik di


pendengaran.

"Ooh, adek takut ya, nanti mama bilang sama bu guru supaya nemenin adek," binar itu
menelaga. Tangan bunda membelai lagi punggung itu, sebelum merapikan topi dan dasi
yang sejak dari tadi sudah rapi. Ia akan berdiri namun urung.

"Mama kasih sun dulu deh..." dua buah kecupan segera singgah di pipi si kecil. Barulah
ia berdiri, menggenggam erat tangan itu dan beranjak menuju gerombolan anak-anak
seusianya.

"Nah, sebelum ketemu bu guru sekarang adek berbaris dulu yah, mama di sini ngeliatin
adek," titah bunda terdengar membujuk. Si kecil nampak ragu, namun ketika dilihatnya
bundanya berdiri tak jauh darinya, ia menurut. Sesekali si kecil berpaling mencari
bundanya, dan selalu binar yang menelaga yang dijumpainya. Bahkan terakhir bundanya
mempersembahkan sun jauh ke arahnya. Si kecil tersenyum dan membalas sun jauh itu
lebih mesra. Subhanallah. Saya yang sejak tadi memperhatikan keduanya mengagungkan
nama Allah secara spontan. Sang ibu menoleh ke arah saya.

"Wah bu, pake kiss bye segala," Saya tersenyum ke arahnya dan mendekatinya. Dan
seketika semburat merah itu nampak.

"Eh..eh kirain ngga ada yang merhatiin, jadi malu"

"Iya tuh, anak saya apa-apa minta di sun. Kalo udah ada sun dari mamanya dia biasanya
tenang dan nurut," tambahnya ringan. Saya mengangguk-angguk dan melihat si kecil itu.
Dan benar saja ia tak lagi terlihat gelisah. Bahkan untuk selanjutnya ia seperti larut dalam
keceriaan anak-anak seusianya.

Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Kebetulan saya disuruh kakak untuk
menunggu keponakan yang baru naik ke kelas dua SD karena ia sendiri harus
mengantarkan anak bungsunya yang baru masuk TK. Maka sayapun melahap banyak
kejora ibunda.. Seperti kisah seorang ibu yang membujuk anaknya yang baru masuk kelas
satu dengan kiss bye tadi.
Saat itu, ingatan ini hinggap pada Aufa, keponakan saya yang baru berusia satu setengah
tahun. Entah kenapa ia juga berlaku seperti si kecil tadi. Aufa akan merasa nyaman
ketikan kecupan sang ummi menjumpainya. Ketika kepalanya terbentur, maka
tangisannya berhenti saat kecupan sayang bundanya singgah di bekas benturan. Ketika
tangannya gatal-gatal, amukannya segera surut kala sun cinta ibunda melekat di
tangannya. Bahkan jeritan Aufa bisa langsung pupus, ketika iming-iming kecupan bunda
didengarnya, padahal saya tengah menggodanya tanpa ampun.

Ah, adapakah dengan kecupan ibunda. Kesayangankah? Ketulusankah? Kekuatankah?


Kedamaiankah? Surgakah?

Apapun, itu adalah pesona.

***

"Aduhh."

Kosakata itu sudah menggema beberapa kali pagi. Saya bisa memastikan ia pasti tengah
mendekap bayi mungilnya dengan wajah keruh. Pasalnya menurut saya sepele. Adek
bayinya digigit nyamuk lagi dan bekasnya menjadi titik merah yang ukurannya kecil saja.
Tapi baginya tidak demikian. Ia sungguh tidak rela. Dan ekspresinya terjelmakan dengan
marah-marah.

Maka malam-malamnya adalah waspada. Demi menyelamatkan bayi yang umurnya


masih bisa dihitung dengan bilangan jari di tangan, maka ia rela melewatkan tidurnya
untuk meronda. Ia sudah melakukan banyak cara. Kemarin sebuah kelambu ukuran besar
menjadi aksesori kamar. Malam sebelumnya ia telah memproteksi si kecil dengan sarung
tangan, sarung kaki dan memakaikan topi. Tapi tetap saja, bekas merah itu dijumpainya
lagi pagi ini.

Maka sayapun menyeringai mendengar keluhan panjangnya. Apa lagi yang akan
dilakukannya nanti malam, pikir saya.

Dan malam itu, ia terlihat lain. Dengan kostum tidur yang sungguh ?seksi ? ia berbaring
di sebelah bayi mungilnya yang tengah terlelap. Saya bukan terpesona dengan kostum
tidurnya yang menyeramkan. Saya hanya terpesona dengan jawaban atas pertanyaan saya
kenapa ia memakai kostum demikian padahal ia bisa saja masuk angin.

"Umminya masuk angin ga pa pa asal adek selamat, biar tubuh umminya saja yang
digigit nyamuk," jawabnya kalem.

Duh, hati saya hening. Mencerna. Demikian mempesona ikhtiar seorang bunda. Padahal
ia baru menyandang gelar itu beberapa hari yang lalu.

***
Sahabat, saya yakin pesona bunda telah seringkali menyapa dan menjumpaimu setiap
saat. Bisa jadi lewat doa, rengkuhan, kecupan, senyuman bahkan menu makanan yang
terhidang. Lalu pernahkah kita membuat ibunda terpesona? Hmmm...

Husnul Rizka Mubarikah


<mahabbah12 at yahoo dot com>

*Cisanggiri, pertama kali. Sun sayang buat Mamah.

Hari Bumi Diperintahkan Hancur

Publikasi: 19/08/2004 10:31 WIB

eramuslim - Selalu ada gidik roma untuk setiap nama kiamat. Huru Hara Akhir Zaman?
Best seller. Produk-produk lain pun telah bernasib (mirip) sama: Dajjal dan Segitiga
Bermuda, Jesus Will Return, The Day After Tomorrow, Armageddon. Isu akhir zaman
merk dagang yang menjanjikan. Untuk film, untuk buku. Laris manis ditonton, dibaca,
diresapi orang-orang.

Uang bukan selalu momok alasan. Saya yakin, ada sense lebih bila bicara hal ini. Dooms
Day sudah diprediksi sejak dulu: era kerasulan, analisa para ilmuwan sampai peramal-
peramal ilmu setan tak jelas. Headline yang (seringkali) berhasil menyedot perhatian
massa dalam jumlah besar. Tentu saja. Bermain-main dengan apa yang manusia pikirkan
selalu menarik: ketakutan, harapan, ingin tahu. Berdoa semoga saja kiamat masih jauh.

Semoga saja kita sudah mati sebelum itu terjadi. Kiamat: Ya, Allah, semoga masih satu
abad lagi!

Aneka ria reaksi meletup, bermunculan. Macam-macam, tapi satu keyakinan: manusia
tidak siap kehidupannya diganggu jeritan sangkakala. Sangkakala yang akan berbunyi
begitu tiba-tiba: saat manusia-manusia berani berzina di pinggir jalan tanpa malu seperti
sepasang keledai. Hidup dunia terasa sangat nyaman; bokek maupun tidak bokek--hey,
kenapa bisa begitu sih? Semua orang lalu beramai-ramai melupakan kiamat bila
mendengar siapapun bicara kiamat. Sangat takut. Betul kecut.

Membayangkannya saja kerut: gunung-gunung dihambur-hamburkan, langit pecah retak,


bumi berguncang luar biasa richter, asap merah berembus, manusia-manusia memutus
pita suara mereka dengan berteriak minta tolong--mencari perlindungan yang mungkin
juga tengah berteriak mencari perlindungan. Belum lagi bicara hari kebangkitan, hari
perhitungan, hari lewati jembatan rambut tujuh belahan: berpenampang neraka yang
apinya berwarna-warna: merah, hitam, putih (karena telah Allah siapkan demikian
lamanya).

Saya sama seperti orang-orang: takut, ngeri. Apa jadinya bila saya mengalami itu semua?
Apa saya siap? Apa saya mampu? Apa saya akan selamat?!

Blep. Kosong. Saya tidak punya jawaban. Saya kasihan terhadap diri saya sendiri, dan
semua orang; kita. Kita yang cuma mampu menduga-duga nasib kelak di kampung
akhirat. Mungkin begini, mungkin begitu. Astaga, siapa sih yang tidak bergetar
memikirkan itu semua?! Abu Bakar saja menangis. Rasul saja menangis. Kita? Hoho, ada
yang terlalu angkuh untuk melakoni itu semua. Padahal tidak ada jaminan sedikitpun dari
Allah, layaknya Nabi Muhammad atau assabiqunal awwalun. Ibadah sedikit, sering tidak
khusyuk. Sholat bertabur riya dalam setiap ruku sujud tuma'ninahnya. Sekalinya ikhlas,
dirusak dengan menceritakannya pada orang-orang; serta tidak lupa busungkan dada,
berharap terlihat gagah dan sholeh/ah. Pelit sedekah, gampang marah-marah. Enggan ukir
prassati kebajikan, bahkan untuk diri sendiri.

Kalau sudah demikian, jawablah dengan lantang: atas alasan yang mana kita harus masuk
surga? Jangan katakan Allah tidak menciptakan neraka untuk kita. Ah, tidakkah kalian
tahu jika itu mungkin saja? Mungkin, neraka memang diciptakan untuk membakar kita.
Menghanguskan, mendebukan jasad kita--tulang jadi debu, darah jadi debu; habis.
Disiksa air mendidih, disembelih parang besar milik malaikat berwajah garang--yang
bahkan berwajah masam pada Rasulullah. Tidakkah itu menakutkan? Tidakkah itu sedikit
saja membuat kita berpikir untuk menyudahi kepura-puraan kita? Bersandiwara seolah
amnesia, seolah lupa nyawa kita akan berakhir di liang kuburan dan dibangkitkan
kembali untuk mempertanggungjawabkannya.

Mungkin, kebaikan-kebaikan yang kita lakukan tidak akan membawa kita terbang
melewati neraka. Mungkin tidak akan cukup untuk membayar tiket ke surga. Malah, bisa
saja, kebaikan itu yang menyeret kita ke bibir jurang nestapa dan melemparkan kita ke
dalamnya. Skeptis memang, tapi itulah masa depan.

Akhirat masih misteri untuk seluruh makhluk hidup. Segalanya bisa saja terjadi. Penyeru-
penyeru dakwah bernasib sial. Pendosa-pendosa melenggang lintasi gerbang kesyahduan;
surga yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya. Segala tergantung Allah, Rabb
penguasa alam--yang menggenggamnya dengan tiada kepayahan sezarrah saja. Yang tahu
setiap hati, yang tahu setiap niat yang terbersit. Segalanya masih teka-teki. Akhir hidup
kita, ujung nyawa kita. Saya kira benar dugaan saya: saya dan Anda belum tentu masuk
surga. Mungkin... malah sebaliknya. Silahkan ketakutan. Silahkan menggigil sampai gila.

Hanya ada dua pilihan: surga atau neraka. Kita akan berakhir di salah satunya. Selamanya
meneguk kenikmatan atau menangis sepanjang waktu, yang pedihnya tiada berujung lagi
sesudah itu.

Ada baiknya mulai sekarang kita bersujud. Mengingat Allah sepenuhnya. Mohon ampun
dan berazzam jadi hamba yang tawakkal. Ada baiknya kita juga saling mendoakan.
Saling menyelamatkan. Atas nama cinta, atas nama kasih sayang. Sebab Allah Maha
Pengasih, Maha Penyayang. Yang memiliki ampunan dan cinta lebih besar dari angkara-
Nya terhadap kezaliman. Dia menyukai orang-orang yang berbuat baik, yang menebar
kebaikan. Orang-orang yang merelakan harta, jiwa, dan tenaganya guna membela dien-
Nya. Orang-orang yang tahu apa itu ukhuwah dan menyemainya di hati peradaban.
Bukankah risalah telah mengatakan: ridho Allah membentang pada manusia yang saling
mencintai karena-Nya?
Tengadahkan tangan, dan mulailah rangkai munajat. Saat sholat, setiap ingat. Untuk
saudara-saudara kita. Agar selamat dunia, agar selamat akhirat. Cepat. Jangan ditunda-
tunda, sebab tak ada cukup dalih untuk menunda-nunda. Para ustadz sudah berceramah.
Tanda-tanda zaman telah gamblang berkomentar: wanita lebih banyak dari pria, para
gembala berlomba membangun gedung-gedung pencakar langit, AIDS-sindrom/penyakit
yang belum pernah ditemui pada masa sebelum ini dan tiada obatnya. Saya mohon...
jangan tunggu Dajjal muncul lebih cepat dan mengatakan kalau kiamat itu sudah dekat.

Asa Mulchias
<asamulchias at yahoo dot com>

Secepat Angin

Publikasi: 18/08/2004 09:19 WIB

eramuslim - duh,
memang manusia seolah tak pernah bisa bersyukur atas apa yang ia miliki dan apa yang
sedang ia alami. Yang kaya akan merasa masih miskin, yang miskin tak pernah merasa
kaya. Yang senang selalu berkeluh seolah menunggu susah, yang menderita tak pernah
membuka mata.

duh,
waktu seperti berjalan lambat-lambat kala hal yang tak diinginkan sedang bersama, dan
ia seolah berlari secepat angin bila senang hati mengalami hari.

Mari berbicara mengenai rasa syukur. Hari ini, saya menyadari bahwa tak pernah ada
sesuatu yang benar-benar bisa memuaskan hati seorang manusia. Entah karena memang
hal yang diperolehnya tak sempurna, entah karena memang serakah adalah sifatnya. Tak
memiliki harta, ia tak puas. Setelah diberi, tak pernah tercukupi. Dan hari ini saya
menyadari, saya pernah dan mungkin masih menjadi bagian dari golongan serakah itu,
hingga kini.

Mari lihat seberapa besar seorang manusia bisa mensyukuri. Kala ia senang, berteriak,
melonjak, berseru gembira, berhura-hura, lalai, lupa, semua seakan tak ada habisnya.
Namun bila hadirlah duka, maka tak lupa ia mengumpat, memaki, mencaci, menyesali,
meratapi, seolah ia lah manusia yang paling menderita dan nyaris mati.

Pernahkah kita semua, sekejap saja, sekedar mengucapkan syukur untuk keberkahan yang
telah hadir hari ini? Apabila kita lupa untuk melakukannya kemarin, andaikan kita takut
untuk menjadi manusia yang lupa diri. Lakukanlah hari ini, saat ini, sekarang juga. Sebab
kita tak pernah tahu, kapankah terbersit keserakahan itu lagi. Kapankah syetan akan
menyelip di sela hati, hingga mengikis habis amal yang telah dengan lelah dilakukan
selama ini.

Beberapa hari lalu, tak sabar rasanya ingin menikmati komputer di tempat kerja idaman
hati ini.
Kedua belah tangan serasa gatal tak henti,
dan otak ini menyuruh-nyuruh saya untuk segera mengetik setiap ide yang terlintas di
kepala. Takut ia lekas pergi.

Kini, benda itu sudah di hadapan, namun mengapa otak terasa kosong, sepi, senyap,
empty, tak ada inspirasi.

Maka, keluarkan selalu rasa syukur dari hati. Bahwa setiap jengkal kenikmatan yang
telah kita peroleh, ataupun ia yang masih mengawang sebagai mimpi, kelak akan sampai
juga bila Ia menghendaki. Maka tetaplah menjadi seseorang yang selalu mensyukuri,
sebab kita tak pernah tahu sampai kapan kenikmatan itu akan dilalui. Bisa jadi ia cepat
pergi, seperti angin yang berhembus dan berhenti tanpa permisi.

DH Devita

dh_devita@hotmail.com

Berapa Nilai Dirimu, Saudaraku?

Publikasi: 16/08/2004 09:27 WIB

eramuslim - Kita makhluk yang paling mulia yang telah diciptakan oleh Allah SWT,
makhluk yang paling kuat karena ternyata dari sekian ratus ribu sel sperma yang berjuang
untuk hidup, kita lah pemenangnya. Pernahkah kita berpikir untuk memberikan berapa
nilai dari diri kita? Apakah harga diri kita hanya sebatas dunia yang ingin kita kuasai,
emas dan perak yang ingin kita miliki?

Padahal jelas – jelas Rasulullah bersabda, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi : “Dunia ini
terkutuk, semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah, hal-hal yang
bersangkutan dzikir, seorang ‘alim dan seorang pelajar.” Dunia dengan emas dan
peraknya, kekuasan dan jabatan yang selalu ingin kita kejar, kemewahan dengan rumah
megahnya, sama sekali tidak berhak mengalirkan setetes pun air mata kita. Terkadang
kita melupakan bahwa dunia ini hanyalah titipan buat kita. Demikian yang dikatakan oleh
Labid,

Harta dan keluarga tak lain adalah barang titipan, dan suatu saat barang titipan itu
akan dikembalikan

Tapi sekali lagi, terkadang kita benar-benar melupakannya, selalu setiap bergantinya hari
yang kita pikirkan hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan,
bukan apa yang kita perlukan, dan pernahkah kita berpikir, apakah saudara-saudara kita
di luar sana membutuhkan bantuan kita hanya untuk sekedar makan hari ini?, pernahkah
terbersit sedikit saja dipikiran kita bahwa mereka sebenarnya meminta bantuan kita,hanya
saja kita selalu membutakan mata dan menulikan telinga kita untuk mereka?

Lalu, apakah kita juga mengetahui kalau setiap jiwa mukmin itu lebih berharga dari dunia
dan seisinya?, Dan pernahkah kita sedikit saja merenung, bahwa semua kekayaan dan
kedudukan yang kita miliki bisa menangguhkan bahkan menghambat maut dari kita,
dapat menolong kita dari siksa dan azabnya Allah?, Jika kita tahu jawabannya tidak, lalu
kenapa kita masih selalu saja menghargai diri kita hanya sebatas harta, emas dan perak?

Demi hidupmu, kekayaan takkan memberi manfaat kepada seorang pun ketika dada
sudah tersengal dan sesak (Hatim Ath-Thai)

Pertanyaannya adalah seberapa besarkah nilai kita sebagai seorang manusia yang mulia
dan manusia yang terpilih?

Hasan Al-Bashri mengatakan, ”Jangan tentukan harga dirimu kecuali dengan surga. Jiwa
orang yang beriman itu mahal, tapi sebagian dari mereka justru menjualnya dengan harga
yang murah.”

Sayangnya, hanya sebagian kecil dari kita yang menyadari kalau jiwa kita sebagai
makhluk yang beriman sangatlah mahal, atau mungkin kita selalu berpikir kalau harta
dan dunia ini lebih berharga dan lebih mahal dari sebuah jiwa yang beriman, sehingga
yang sering kita tangisi adalah di saat kita kehilangan uang, kebakaran rumah yang
mewah, kehilangan pekerjaan, kita tidak pernah merasa menyesal dan menangis ketika
hati kita mulai terasa mati dan jauh dari Allah, tidak pernah ada air mata ketika kita
mengingat semua dosa-dosa yang telah kita perbuat, lalu jika sudah seperti ini, apa lagi
yang bisa kita harapkan untuk membantu kita di hari akhir nanti?, dan jika ketaatan
kepada Rabb sudah tidak ada lagi, maka dapatkah terwujud untuk mendapatkan cinta-
Nya dan bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik?

Subhanallah, ketika menuliskan artikel ini pun, saya berusaha untuk menjawab semua
pertanyaan-pertanyaan yang ada, akankah keinginan untuk memiliki sebuah rumah di
syurga-Nya dan engkau menjadi tetangga saya ya saudaraku, dapat terwujud? Insyaallah,
Amin

Amda Usnaka
Stt Telkom
usnaka@yahoo.com

Rasanya Baru Kemarin

Publikasi: 13/08/2004 08:37 WIB

eramuslim - Rasanya baru kemarin pohon mangga di depan rumah kutanam. Saya
mengambilnya dari kebun liar selagi ia masih sebesar daun ketela yang masih muda.
Hati-hati saya membawanya dengan setangkup tangan yang terus merapat sampai ke
rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menanamnya di halaman depan,
memagarinya, memberinya pupuk, menyiraminya setiap pagi dan sore, menghalau setiap
unggas yang berupaya memaruh daunnya.

Tapi, kemarin sore kami terpaksa menebang pohon mangga itu setelah sekian tahun tak
lagi berbuah. Daun-daunnya yang mulai rontok, badannya yang besar tak sanggup lagi
kurangkul. Masih bertengger di persimpangan dahan besarnya sebuah rumah kayu kecil
yang dulu menjadi tempat saya membaca buku.
Rasanya belum lama, saya masih senang berpangku di pelukan ibu, bermanja mengharap
dongeng pengantar tidur darinya. Ibu mengerti, saya tak akan pernah tidur sebelum ia
mengusap lembut punggungku selama beberapa menit sambil menggumamkan
senandung nina bobo atau sholawat nabi.

Tapi hari ini, tangan lembut ibu yang biasa membelai punggungku itu sudah keriput,
walau masih terasa halus tatkala kuangkat dan kulekatkan ke pipiku, atau saat aku
menciumnya sebelum berangkat kerja.

Sore itu, rasanya baru saja saya menanggalkan pakaian merah putih seragam Sekolah
Dasar untuk bergegas bermain sepak bola dengan teman-temanku. Masih terngiang
sangat jelas di telinga ini makian ibu sepulang saya main bola lantaran tak terlebih dulu
merapihkan seragam sekolah dan menggantungnya di belakang pintu kamar. Atau karena
kaos yang berlumur tanah dan memberatkan ibu mencucinya.

Tapi pagi ini, seperti pagi sebelumnya, saya mencium pipi ibu sebelum berangkat ke
kantor meminta ridhanya. Hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu ibu menangis bangga
melihat anaknya di wisuda.

Rasanya belum terlalu lama, saya mulai mengenal lawan jenis. Padahal saat itu saya
masih bercelana pendek warna biru setiap ke sekolah. Ada seorang teman wanita yang
menaruh hati karena satu hal, saya sering jadi partner belajarnya sehingga kami sering
meraih ranking kelas bergantian.

Pagi menjelang subuh tadi, sebuah kecupan hangat dari istriku membangunkanku dari
mimpi. Dan seperti biasa setiap minggu pagi saya mengajak dua putri cantik saya ke
depan istana Bogor untuk melihat dan memberi makan rusa dari balik pagar besi istana
itu. Jika masih tersisa waktu, kami sempatkan untuk beristirahat di kebun raya dan
membiarkan dua peri cantik itu berlari ke sana kemari mengukur luasnya kebun.

Dan ini benar-benar, rasanya baru semalam seorang sahabat meneleponku dan
berbincang lama tentang apapun. Seakan tak ada waktu lagi esok hari sehingga ia rela
menghabiskan pulsanya untuk berjam-jam ngobrol denganku.

Pagi ini teleponku berdering. Di ujung telepon sana, seorang wanita menangis memberi
kabar tentang kepergian suaminya menghadap Allah. Dan suaminya itu, sahabat yang
semalam meneleponku.

Sahabat, demikian cepat waktu berlalu. Sementara, sekian banyak waktu itu terbuang
tanpa banyak hal yang kita perbuat menjelang ajal yang datangnya pasti. Mungkin besok.
Wallahu a’lam.

Bayu Gautama.
Mengenang seorang sahabat. “Rid, mungkin hari ini, besok atau lusa kita bertemu”

Yang Malu kepada Allah

Publikasi: 11/08/2004 08:34 WIB


Allahu Rabbana,
Tak pantas aku menjadi penghuni surga,
Namun tak juga kuat hamba dalam bara neraka,
Maka perkenankan jiwa meminta,
Ampunan atas khilaf dan nista
Sebab hanya Engkau, pengampun yang paling Maha
(Abu Nawas)

eramuslim - Adalah seorang perempuan datang menghadap Rasulullah dengan wajah


menatap tanah. Masih dalam keadaan tertunduk, perlahan terdengar nafas beratnya keluar
satu satu. Sebuah isyarat bahwa ia seperti tengah dihimpit bertubi masalah. Dia masih
saja diam. Tak ada untaian kata-kata. Hening. Rasulullah menunggu. Manusia berparas
indah dan mempesona ini seolah tahu, seorang perempuan datang ke hadapannya selalu
dengan satu perlu. Dalam beberapa jeda, Rasululah membiarkan perempuan ini dalam
diamnya, memberinya kesempatan untuk mempertimbangkan apa yang hendak
disampaikan. Dalam kegundahan yang jelas terasa, berkata juga sang perempuan.

“Wahai manusia terbaik, dengan apa kubahasakan malu ini pada Allah Yang Maha
Kuasa. Haruskah dengan isak yang menyesak? Dengan kata yang menyemesta? Dengan
keluhan-keluhan panjang?”

“Apakah gerangan yang terjadi?” Rasulullah bertanya.

“Demi engkau yang dijaga dari segala khilaf, ingin kusampaikan bahwa aku telah
melakukan sebuah dosa besar. Wahai Rasulullah, betapa malu kumenghadapkan diri
kepada Allah. Betapa tersiksa, ketika hamba menengadah mengharapkan benderang Nya.
Obati jiwa ini wahai kekasih Nya” perempuan ini mengucapkannya dengan gemetar. Kini
isakannya perlahan terdengar. Rasulullah mendengarkan keluh perempuan dengan haru
yang menyatu. Betapa perempuan ini malu kepada Allah Yang Maha Pengampun. Betapa
perempuan ini tak mampu menengadahkan pinta kepada Allah Yang Maha Asih dan
Maha Sayang. Hingga ia sekarang bersimpuh peluh di hadapannya untuk memohon
penawarnya. Dari bibir manis Nabi yang Ummi terucap sebuah titah.

“Bertaubatlah kepada Allah, wahai perempuan yang melakukan dosa besar!”

“Hamba teramat ingin melakukannya, tapi bumi telah menjadi saksi semua dosa yang
telah diperbuat, dan bukankah kelak bumi akan menjadi saksi di hari kiamat?” pedih
perempuan ini sambil menangis.

“Bumi tidak akan menjadi saksimu” tukas Rasul Allah. Selanjutnya beliau melafalkan QS
Ibrahim : 48 “Hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain..”. Perempuan itu masih
saja terlihat sedih. Perkataan Nabi hanya singgah di telinga, tapi tidak di hatinya.
Selanjutnya dengan kelu lidah perempuan ini berujar parau.

“Wahai kekasih Nya, Dari atas, langit juga telah menyaksikan dosa hamba, kelak ia akan
menjadi saksi pula”. Mendengar ini, Rasulullah segera menjawab, berharap bahwa
perempuan dihadapannya segera tenang dan tidak gelisah.
“Allah akan melipat langit. Bukankah Ia sendiri telah berfirman dalam surat Al-Anbiya
104, Hari ketika Kami menggulung langit bagai menggulung lembaran kitab ..”.
Perempuan ini tersenyum mendengar tutur penyeru dari manusia paling indah. Betapa ia
juga merasakan bahwa Rasulullah tengah meredakan kegundahannya. Namun, senyuman
itu surut ketika tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Ia pun berseru.

“Duhai Nabi, bukankah para malaikat pencatat segala amalan juga mencantumkan dosa
besar itu dalam buku mereka. Bagaimana ini?” rintihnya putus asa.

“Allah telah berfirman, Sesungguhnya amal baik dapat menghilangkan amalan buruk (QS
Hud :114)” Nabi melanjutkan “Orang yang bertaubat itu seperti orang tak lagi punya
dosa”. Kali ini perempuan mengangguk-angguk lega, namun tak seberapa lama
kepalanya menggeleng keras, ragu itu kembali menderas.

“Lalu bagaimana dengan firman Nya yang menyebutkan “Hari ketika lidah mereka,
tangan mereka dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka
kerjakan” (QS An-Nur 24) tutur perempuan kepada Nabi. Rasulullah kembali menjawab
dengan suara yang fasih. Untaiannya begitu merdu meyakinkan perempuan yang
bertanya.

“Allah telah berfirman kepada bumi, juga segenap anggota tubuhnya : “Tahan dirimu,
jangan tunjukkan kepada orang yang diterima taubatnya, keburukan selama-lamanya”.
Suasana hening. Udara menghantarkan ketenangan. Perempuan semakin tertunduk. Ada
banyak gumpalan perasaan yang tak bernama. Allah Maha Pemurah. Terakhir perempuan
ini berujar “Benar, wahai Rasulullah, itulah hak orang yang bertaubat. Tetapi gemetar
karena malu di hari kiamat, dan rasa malu itu juga adalah dari Allah. Mungkinkah
seorang hamba menanggungnya? Padahal engkau pernah bersabda ‘Sesungguhnya orang
yang berdosa pada hari kiamat akan menyebut dosa-dosanya lalu malu kepada Allah.
Keringat, dosanya, mengucur karena malu. Air keringat akan mengambang hingga
menutup lututnya, ada sebagian yang menutup pusarnya dan ada pula yang hingga
menutup kerongkongannya”. Tanpa menunggu Rasulullah pun bertutur.

“Maka wahai orang yang beriman, kenanglah hari itu, jangan pernah melalaikannya.
Bertaubatlah kepada Allah, mendekatlah kepada Nya. Sesungguhnya Allah, Yang Maha
Tinggi adalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang”

Dan seketika perempuan ini menangis, air mata yang tak lagi sama seperti semula.
Bening air mata yang tumpah bukan lagi karena gundah. Bening air mata yang terjelma
bukan lagi karena lara. Bening itu karena gundahnya reda. Bening itu karena laranya
sirna. Ia mematrikan setiap kuntum ucap dari sabda Nabi yang Mulia di kedalaman jiwa.
Betapa Allah Maha penerima taubat. Betapa Allah Maha Welas atas semua hamba.
Sepenuh bumi ia sudah melakukan dosa, sebanyak buih di laut ia pernah berbuat khilaf,
serta seberserak pasir di pantai ia bernista maka hanya dengan taubat semuanya dapat
tertebus. Dan dengan rahmat Nya yang agung, Allah merengkuh hamba yang kembali.
Jua, karena cinta Nya yang paripurna, Allah akan segera menghampiri seorang anak
manusia yang kembali pada Nya meski dengan tertatih ringkih.
***

Sahabat, dalam setiap detik yang berdetak. Dalam menit yang berhamburan tak kenal
ampun. Juga dalam bilangan jam yang menukik tak terhentikan. Diamlah sejenak.
Lihatlah di kedalaman jiwa. Tengok sebentar ujud hatimu. Adakah rupanya bersinar
ataukah kau temukan ujud yang legam?. Dan pabila rupa yang kedua yang kau jumpai,
maka seperti ucapan perempuan yang bersimpuh peluh di hadapan RasulNya tentang
dosa-dosanya, kita juga perlu mengadospsi perkataannya sebagai manifestasi malu
“Dengan apa kubahasakan malu ini pada Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah dengan isak
yang menyesak? Dengan kata yang menyemesta? Dengan keluhan-keluhan panjang?”

Tapi pernahkah kita malu dengan bebukit dosa yang diperbuat. Pernahkah merasa enggan
bertemu Allah, karena malu atas segala salah yang tak akan luput dari pernglihatan Nya?.
Malulah dari sekarang. Malulah dengan sebenar-benar malu, dengan sepenuh malu.
Terlalu sering kita berada di sudut yang gelap karena keluar dari orbit benderang Nya.
Terlalu mudah kita ingkari nikmat Nya yang agung, hingga kita benar-benar tidak tahu
malu. Sekali lagi, Malulah kepada Tuhanmu.

Malu adalah sebagian dari iman, itu adalah sabda Rasulullah. Tapi malu yang seperti
apa?. Dari Abdullah Ibn Mas’ud r.a, diriwayatkan bahwa Nabi bersabda “Orang yang
malu kepada Allah dengan sepenuh malu adalah orang yang menjaga kepalanya dari
isinya, menjaga perutnya dari segala rezeki tidak halal, selalu mengingat kematian,
meninggalkan kemewahan dunia dan menjadikan perbuatan akhirat sebagai hal yang
lebih utama. Sesiapa yang melakukan semua itu, maka ia telah malu kepada Allah dengan
sepenuh malu”.

Dan, tahukah kalian apa yang Allah berikan sebagai imbalan kepada orang yang malu
kepada Nya? Sebuah perlindungan tanpa tanding. Itu janji Nya.

Husnul Rizka Mubarikahmahabbah12@yahoo.com

*Garut, akhir juli. Untuk diri sendiri yang tidak tahu malu.

Dengarlah: Ada Orang Baru Mati

Publikasi: 09/08/2004 08:49 WIB

eramuslim - Apa yang terjadi bila manusia mendengar kabar kenalannya telah
meninggal dunia? Saya tak pernah menyangka harus mengalaminya secepat ini.
Seseorang kenalan saya telah dikabarkan meninggal dunia, Jumat, 30 Juli yang lalu.
Tepat setahun setelah kelulusannya dari STM Pembangunan, Jakarta. Ya, dia baru lulus
satu tahun. Namanya: Yusna. Yusna Dianto.

Dia, adik kelas saya-terpaut hanya satu tingkatan. Umurnya? Ah, dia belum setua saya.
Mungkin umurnya belum genap 21 tahun. Untuk itu saya banyak diam. Yusna telah pergi
di usianya yang masih sangat muda. Seperti Nike Ardilla, Marilyn Monroe. Juga seperti
Ade Irma Suryani. Muda, mati.
Sebelum ini -entah kenapa- saya selalu yakin: orang-orang Jakarta -yang saya kenal- akan
mati karena usia. Di Jakarta tidak sedang perang seperti di Palestina, atau di Irak. Satu-
satunya peperangan yang terjadi di sini adalah peperangan kekuasaan. Mungkin,
keyakinan saya itu terlalu konyol. Orang bisa mati karena apa saja, bukan? Karena
tertimpa batu, kecebur sumur, ditusuk penodong dalam bis, jatuh dari tangga, keracunan,
atau tertabrak mobil saat menyeberang jalan.

Tapi, tidakkah kita semua -tanpa sadar- tengah percaya pada keyakinan yang sama? Saya
bukannya tidak tahu orang mati bisa karena apa saja, tapi kenapa, ya, pengetahuan itu
seolah lenyap dari jati diri keseharian kita? Bukankah hanya orang-orang yang punya
keyakinan seperti itu yang hidup tanpa beramal baik setiap harinya?!

Lihat saja kita sekarang. Pergi pagi, pulang senja. Kerja, kerja, kerja. Habis waktu untuk
mencari uang. Subuh kesiangan, Zuhur habis buat makan siang, Ashar tanggung sedikit
lagi pulang, Maghrib ada di jalan, Isya berbaring tidur kecapekan -persis lagu sindiran
pengamen jalanan. Kalaupun ada waktu untuk berbuat amal, itu harus seijin rasa malas di
hati kita.

Padahal... ah, rasanya kok, ya, percuma saja. Bicara mati pada orang kota itu sangat
susah. Harusnya mereka sendiri yang mengalaminya. Harusnya mereka sendiri yang
disadarkan dengan kematian salah satu kerabatnya. Kalau hanya lewat tulisan, besar
kemungkinan mereka akan melewatkannya dengan sebelah mata. Sudah mati rasa bila
bicara hal semenyeramkan itu. Mungkin mereka masih -terus- percaya: orang-orang
Jakarta akan mati bila usia mereka sudah tua. Mereka begitu yakin: mati nanti bila usia
telah tua. Dan kini, ketika mereka masih muda, tak perlu risaukan maut dengan banyak
beribadah. Kelak mereka akan melakukannya; bila sudah renta, bila ajal semakin nyata di
depan mata. Kalau begitu, bila mereka masih percaya itu keyakinan yang tak berguru itu,
saya yakin mereka tak akan pernah betul-betul sadar: orang mati bisa kapan saja.

Asa Mulchiasasamulchias@yahoo.com

Untuk Yusna: Yus, maafkan saya selama ini. Maaf atas segala kesalahan, atas segala
kekhilafan. Maafkan segera, sebelum saya menyusulmu kesana... Ah, Yus... sedikit lagi,
kan, bulan puasa....

Semangat Berbagi

Publikasi: 05/08/2004 13:09 WIB

eramuslim - Senja, menjelang maghrib, kesibukanku dimulai lagi. Seperti biasa setiap
sore ibu telah nenyiapkan beberapa mangkuk penganan berbuka puasa untuk dibagikan
kepada para tetangga terdekat. Berbeda dengan kemarin, sore ini ibu membuat kacang
hijau. Hmm, dari aromanya pastilah nikmat sekali. Tapi, apapun makanan buatan ibu
sudah pasti saya suka.

Hantaran pertama, ke rumah bu Citro, tetangga sebelah rumah yang temboknya jadi satu
dengan tembok rumah kami. Kalau malam, bu Citro –nenek berusia 74 tahun- pasti
sering terganggu oleh suara gaduhku dan adik-adik yang hiruk pikuk bercanda hingga
larut malam.

Mangkuk kedua, saya yang ditemani adik mengantarkan kacang hijau buatan ibu ke
rumah pak Mamo. Pak Mamo itu dulu bekas sopir ayah yang kini sudah tak lagi menjadi
sopir karena matanya tak lagi seawas dulu ketika masih muda. Ia kini tinggal bersama
anaknya. Istrinya,sudah empat belas tahun yang lalu berpulang.

Setelah dari rumah pak Mamo, mangkuk berikutnya kami hantarkan ke rumah bu Lastri,
tetangga kami yang rumahnya paling besar di kampung. Bu Lastri ini sebenarnya
termasuk yang paling pelit, dan kepelitannya itu bahkan sudah terkenal pula warga RW
sebelah. Saya sempat bertanya, “Ibu kok ngirim ke bu Lastri sih, kan bu Lastri nggak
pernah ngasih apa-apa ke kita.”

Kata ibu, “Memberi ya memberi saja, nggak perlu harus dilihat dia itu siapa dan pernah
ngasih apa ke kita, nanti disangkap pamrih.” Untuk anak usia 6 tahun sepertiku, kata-kata
ibu itu hanya ditanggapi dengan kata, “Ooh gitu”.

Mangkuk berikutnya, ini sebenarnya yang paling berat, karena saya harus mengantarnya
ke rumah bu Iyak. Pasalnya, Sakti, anak bu Iyak itu adalah musuh bebuyutanku. Dibilang
musuh bebuyutan bukan dalam artian bahwa kami ini selalu berkelahi kalau bertemu.
Hanya saja, dalam setiap permainan Sakti tidak akan pernah mau satu tim denganku,
begitupun juga denganku, lebih senang untuk beradu jago dengannya. Rasanya, ada
kepuasan tersendiri jika bisa mengalahkan Sakti dengan timnya, misalnya dalam
permainan bola sepak.

“Kamu aja deh dik yang nganter ya, abang tunggu di luar,” kataku kepada adikku yang
mengangguk saja memenuhi permintaanku. Tapi, suara ibu dari dapur menggagalkan
niatku, “Abang langsung temuin bu Iyak ya, bilang nanti malam ibu ada perlu dengannya
sepulang sholat tarawih”.

Tibalah untuk waktunya mengantar mangkuk terakhir ke rumah bu Asih. Sampai di


rumahnya, ibu Asih tidak ada di tempat. Hanya ada mbok Sumi pembantunya. Diikuti
langkah kecil adikku, saya urung memberikan kacang hijau itu ke mbok Sumi. Dan
kembali ke rumah.

“Loh, kok dibawa pulang?” tanya ibu.

“Bu Asih-nya nggak ada bu, yang ada cuma mbok Sumi. Makanya abang bawa pulang
lagi…”

“Ya nggak apa-apa abang, kasih aja ke mbok Sumi, kan sama aja,” lanjut ibu.

“Abang nggak mau. Abang kan harus bilang langsung ke bu Asih kalau kacang hijau ini
dari ibu…”

“Ya ampuun abang. Kalau memberi itu ya nggak perlu pake nyebut-nyebut nama segala
dong. Kalau kita ikhlas, Allah lebih senang,” terang Ibu.
“Ooh gitu…”

***

Saya tidak pernah menyadari, bahwa kenangan bulan Ramadhan 24 tahun yang lalu itu
masih membekas hingga sekarang. Dulu, saya tak pernah mengerti mengapa ibu selalu
repot-repot setiap sore menyediakan beberapa mangkuk makanan berbuka untuk para
tetangga. Kini, saya mengerti, saat itu ibu tengah menanamkan semangat berbagi kepada
anak-anaknya.

Dulu, 24 tahun yang lalu, saya juga tak mengerti kenapa bu Iyak keesokan harinya
mengantarkan semangkuk sup ke rumah. Atau ketika bu Lastri tiba-tiba datang
membawakan sekantong es campur buatannya sendiri.

Atau ketika bu Asih mengetuk pintu dan berkata, “Terima kasih ya kiriman bubur kacang
hijaunya. Dari rasanya, dan mangkuknya, saya tahu itu kiriman dari ibu. Tidak ada yang
bisa membuat kacang hijau seenak buatan ibu”.

Bayu Gautama.
Special for Relawan 1001buku dan KKS Melati

Tak Semahal Conello

Publikasi: 21/07/2004 08:09 WIB

eramuslim - Anak saya, Hufha, makin semangat mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al
Qur'an) Masjid dekat rumah kami. Pasalnya, ia memiliki teman yang setia menjemputnya
setiap sore. Ia tampak senang berangkat bersama Sita, yang usianya hanya tiga bulan
lebih tua darinya. Mereka berdua belum bersekolah, untungnya, TPA tersebut membuka
kelas untuk anak-anak seusia Hufha dan Sita. Namun ada yang membuatnya kelihatan tak
bersemangat beberapa hari ini, dan setelah saya selidiki, penyebabnya adalah karena Sita,
tak bisa mengaji lagi.

Sudah hampir satu pekan Sita tak mengaji, saya mencoba menghibur Hufha untuk tetap
semangat mengaji walaupun temannya tak lagi mengaji, "Yang pinter nanti juga kan
kamu nak, sebaiknya kamu tetap mengaji meski teman yang lain tidak mengaji," bujuk
saya suatu kali. Tak seperti dugaanku, ternyata ia tetap tak bersemangat, meski ia tetap
berangkat ke TPA.

Sita, anak tetangga rumah kami itu merupakan teman bermain Hufha. Hampir tak ada
hari yang terlewatkan oleh mereka berdua untuk bermain bersama. Saya cukup senang,
karena kami yang merupakan warga baru di wilayah tersebut nampaknya diterima dengan
baik oleh masyarakat sekitar, termasuk Hufha yang cepat mendapatkan teman, Sita salah
satunya. Tak banyak yang saya ketahui tentang anak tersebut kecuali ia adalah anak
yatim. Ayahnya meninggal saat ia masih berumur satu tahun akibat sebuah kecelakaan.
menurut cerita para tetangga, Pak Sahid, ayah Sita yang sehari-harinya bekerja sebagai
tenaga angkut sayuran di pasar, tertabrak sebuah angkutan umum selepas subuh saat ia
tengah menuju pasar tempatnya mengais rezeki. Kasihan Sita, anak seusianya sudah
harus kehilangan ayah sekaligus lelaki pencari nafkah keluarganya.

Untuk menghidupi Sita dan dua kakaknya, Ibu Sahid mendapatkan upah dari mencuci
pakaian para tetangganya. Itupun tak seberapa, sehingga ia masih harus melakukan
beberapa pekerjaan lainnya, antara lain menjadi pembantu paruh waktu di salah satu
rumah tak jauh dari tempat mereka tinggal.

Sepengetahuan saya juga, keluarga mereka termasuk keluarga yang taat beribadah,
sehingga agak mengherankan bagi saya kalau ibunya membiarkan Sita tak lagi mengaji di
TPA. Jelas bukan soal uang infaq TPA yang menjadi penyebabnya, karena TPA tersebut
justru membebaskan anak-anak yatim seperti Sita dari infaq atau dana apapun.

Malam itu, Hufha buka suara. Sambil mengemas dua pasang sandalnya yang tak pernah
lagi disentuhnya, ia mengatakan bahwa Sita masih sangat ingin mengaji. Yang menjadi
masalah adalah, Sita malu kalau harus pergi mengaji tak menggunakan alas kaki.
Sandalnya hilang beberapa waktu yang lalu sepulang mengaji, dan Sita tak berani
meminta kepada ibunya untuk membelikan sepasang sandal baru.

Mendengar cerita anakku, tubuhku langsung lemas. Bagaimana mungkin saya bisa lalai
untuk hal sepele seperti itu. Mungkin yang dibutuhkan Sita bukanlah sandal cantik
berhias bunga melati diatasnya, atau selop merah muda berpita halus seperti yang
dipunyai Hufha. Untuk bisa berangkat ke TPA -bersama anak saya- mungkin Sita hanya
butuh sandal jepit yang harganya tak separuh harga Ice Cream Conello yang biasa
dimakan Hufha.

Bayu Gautama
<bayugautama at yahoo dot com>

Lapar

Publikasi: 15/07/2004 13:48 WIB

eramuslim - Enaknya kalau punya anggota keluarga banyak itu, kita bisa bergilir
mengunjungi mereka satu per satu. Makanya aku 'sedih' melihat Keluarga Berencana
(KB) di kalangan umat Islam 'berhasil'. Sementara umat 'tetangga' kita membengkak tak
terkontrol.

Apalagi kalau saudara-saudari kita sudah mapan semua. Aku jadi 'malu' sendiri bila mau
mengingat apa yang sudah saya lakukan dulu. Ibu memang nggak selalu mampu
menyediakan makanan ekstra untuk anak-anaknya. Empat orang dari tujuh kakakku
sudah berkeluarga. Kebetulan tempat tinggal mereka tidak jauh dari rumah kami. Jadilah
saya 'manfaatkan' kesempatan ini, utamanya jika 'kebutuhan' perut ini meningkat.

Maklum, masa anak-anak biasanya semego (doyan-doyannya nasi) orang Jawa bilang.
Diantara anggota keluarga, hanya saya yang tergolong tidak sungkan-sungkan untuk
persoalan yang satu ini. Masuk rumah kakak, langsung minta makan. Biasanya saya terus
terang tanya kepada siapapun kakak yang saya kunjungi. 'Peduli' amat dengan kakak-
kakak iparku! Toh mereka pikir aku masih anak-anak. “Bikin makanan apa Mbak?”
Begitu tanyaku bila berkungjung ke rumah mereka. Barangkali aku memang tipe ndableg
(kurang tahu aturan). Bisa saja bukan hanya saya pelakunya. Kalau kebutuhan perut ini
mendesak, yang namanya aturan sopan-santun atau etika pergaulan, akan menjadi
persoalan kedua. Yang penting kenyang!

Selama enam bulan ini salah seorang keponakanku yang baru menikah, saya suruh untuk
menempati rumahku BTN, itung-itung dari pada kontrak. Sebulan terakhir ini, karena ia
sering harus kerja keluar kota, sering pulang terlambat. Mereka berdua tidak bisa
menempati rumah tersebut. Diputuskannya untuk tinggal bersama mertuanya di pusat
kota. Minggu lalu, saya dapat kabar dari adik saya, meteran air rumah BTN tersebut
diambil orang tanpa ijin si empunya alias mencuri. Yang menjadi pertanyaan saya adalah
sedemikian parahkah tingkat kelaparan perut sebagian masyarakat kita, sehingga untuk
memenuhinya harus mencuri barang-barang apa saja yang penting bisa diuangkan? Dari
jauh, saya ikut prihatin memperhatikan nasib bangsa ini.

Lebih prihatin lagi kata Pak Zulkarnaen, seorang koordinator sebuah perusahaan
konstruksi terkenal di Jakarta, bahwa tingkat pengangguran yang sudah diatas angka
sepuluh juta ini mengakibatkan banyak orang (konon), kalaupun mau mencuri, yang
dicuripun tidak ada. Begitu kisahnya yang terjadi di sebuah daerah di Jawa Tengah.
Makanya, selama kampanye beberapa minggu lalu, jangan heran kalau beberapa orang
yang menemani Pak Amien Rais dalam perjalanan beliau menuju Kampus Universitas
Indonesia, HP mereka dicopet. Bukan hanya mereka, salah seorang anggota Tim Sukses
Susilo B. Yudhoyono, juga 'kehilangan' HP Communicator nya. Astaghfirullah!

Kelaparan dalam arti fisik (baca: perut!) ternyata bisa mempengaruhi tingkah laku
seseorang. Contoh-contoh di atas membuktikan, jika tidak pandai mengontrol, cenderung
mengesampingkan nilai-nilai agama, sosial dan budaya. Tidak semuanya memang orang
pinter mengatasi kelaparan ini. Ada mereka yang sangat bijaksana sekali, misalnya
dengan melaksanakan puasa, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan perut
keluarganya sehari-hari. Sahabat-sahabat Rasulullah SAW tidak sedikit yang melakukan
kebiasaan ini.

Ada seorang sahabat yang, karena tidak adanya makanan yang cukup ini, terpaksa
menyuruh istrinya menggoreng kerikil hanya karena ingin 'menghibur' anak-anaknya
yang sedang tidur sementara kelaparan. Bahkan dalam riwayat lain diceriterakan, ketika
mereka sedang menerima tamu pun, hanya lentera redup yang dinyalakan karena tidak
ingin tamunya mengetahui makanan yang tersedia yang ternyata cuma cukup untuk sang
tamu. Padahal sang tuan rumah tidak menikmati secuil makananpun di atas piringnya.
Subhanallah!

Tingkatan iman kita tidak bisa disamakan dengan derajat keimanan para sahabat
Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, saya sebenarnya sedih melihat betapa selama pampanye
kemarin, begitu banyak kertas-kertas berwarna yang menurut hemat saya, mahal
harganya. Pembuangan yang mubadzir. Belum lagi media kampanye dalam bentuk lain
semisal kain, plastik, papan kayu, aluminium, balon udara serta media elektronika.
Adakah ini kemewahan semu? Hanya karena ingin predikat 'wah', ditempuhnya cara-cara
kamuflase. Layaknya sebuah Bunglon.

Semuanya harus dibayar mahal. Coba seandainya segala ongkos media-media kampanye
tadi ditukar dalam bentuk rupiah dan dimanfaatkan untuk mengatasi kesengsaraan warga
kita? Saya yakin, sebagian dari empat puluh juta rakyat Indonesia yang berada dibawah
garis kemiskinan akan bisa terselamatkan. Jutaan manusia Indonesia yang sedang
kelaparan, membutuhkan gula, menutupi uang sekolah, membeli beras, dan lain-lain.
akan terpenuhi kebutuhannya.

Ada yang berpikir, kampanye hendaknya dijajakan tidak dengan kemasan murahan.
Apalah artinya kualitas jika realitasnya sebagian besar rakyat kita menderita. Pendidikan
mahal, kesehatan tak terjangkau, pekerjaan jadi langka, kejahatan merajalela. Lihat India
yang katanya miskin! Saya lihat ijazah Abdul Samad, pemegang sarjana ekonomi, hanya
terbuat dari selembar kertas buram. Namun nilainya? Tidak kalah dengan ijazah-ijazah
kita yang berpenampilan keren dan mahal kertasnya.

Untuk mendapatkan selembar ijazah kita sesudah lulus, dibutuhkan ratusan ribu rupiah.
Mungkin lebih. Belum termasuk uang wisuda. Apa arti semua ini jika akhirnya guna
memperoleh pekerjaan sesudah lulus ternyata jauh lebih susah dibanding mencari mutiara
di lautan? Rasulullah SAW tidak menyukai pemborosan.

Acapkali, karena kelaparan dalam artian fisik ini pula, orang jadi carnivora. Mereka
'memakan' sesamanya. Kalangan atas melalap kalangan bawah. Pejabat ngapusin rakyat.
Mereka makan hak-hak saudaranya. Mereka rampas milik orang lain. Mereka kunyah
sesuatu yang tidak layak. Asalkan masuk perut, tidak jadi masalah. Dalam kelas rendah,
mereka bisa jadi 'pemakan segala'.

Dalam artian fisik, tengoklah, misalnya, ratusan pengemis yang setiap hari gorek-gorek
tempat sampah, mencari sesuatu yang bisa dimakan di Kedung Kandang, pusat
pembuangan sampah terbesar di Kotamadya Malang. Berapa jumlah anak-anak usia
sekolah yang setiap pagi bongkar-bongkar kotak sampah di jalan-jalan Surabaya dan
Jakarta? Padahal mata kita lewat di depannya. Kita sumbangkan ratusan ribu hingga
jutaan rupiah untuk kampanye politik, dengan membuka mata lebar-lebar. Tapi kita
berusaha menutup mata rapat-rapat kala melihat kaum dhuafa ini.

Padahal kita bilang ada di pihak mereka. Kita janjikan akan junjung keadilan bagi
mereka! Kita akan angkat tinggi-tinggi hak-hak mereka! Nyatanya? Level kesadaran kita
masih rendah. Kita lupakan naluri kemanusiaan kita! Menginginkan manusia-manusia
sekitar untuk berpihak kepada kita secara politis, namun kita abaikan kebutuhan mereka
yang paling mendasar.
Kondisi kita tidak beda dengan kondisi rakyat-rakyat yang lapar ini. Bedanya, perut kita
sudah penuh! Kita 'hanya' secara moral, budaya, ekonomi, politik, moral, sosial dan
mungkin sekali secara spiritual 'kelaparan'. Keadaan inilah yang justru membuat kita
lebih para dibanding pengemis-pengemis jalanan tadi. Bagi si pengemis sedikit uang atau
makanan bisa puas. Sedangkan bagi sebagian besar kita tidaklah demikian.
Penghasilan anggota DPR atau DPRD memang 'kecil' katanya Pak Zulkarnaen. Tapi
komisi mereka? Ber M-M (milyar-milyar) masuk saku tanpa pajak. Menurut Gatra.com
(22 Juni 2004), sebanyak 43 Anggota DPRD Sumatera Barat (Sumbar) dinyatakan
bersalah menyelewengkan duit APBD sebesar Rp. 5.9 Milyar. Menurut Indonesian
Corruption Watch (ICW), borok parlemen sudah mewabah. Saat ini ada 270 anggota
DPRD yang sedang diperiksa, kata Bambang SH, Ketua Dewan Kode Etik ICW
(Gatra.com, 22 Juni 2004). Bukankah ini membuktikan bahwa pejabat-pejabat negara
kita juga sedang 'kelaparan'?

Kelaparan memang tidak harus berarti fisik. Dalam bahasa Inggris disebut 'Hunger', bisa
berarti 'to feel or suffer hunger; to have an eager desire; a craving or urgent need for
food or a specific nutrient' (Webster's New Collegiate Dictionary, 1996). Sekalipun
secara harfiah kata 'hunger' ini kita artikan 'kelaparan', tapi tidak menutup kemungkinan,
dilihat dari definisi menurut Webster's yang kedua, 'kelaparan' bisa berarti luas. Tidak
terkecuali kondisi sebagian para petinggi negara kita yang haus akan pemenuhan
kepentingan pribadi dibanding rakyat banyak.

Perbuatan pejabat-pejabat DPR diatas, jika dikaitkan dengan pengertian kelaparan, masuk
kategori yang mana? Lapar kekuasaan, lapar kejujuran, lapar ekonomi, lapar politik, lapar
sosial, lapar kegamaan, atau kombinasi dari berbagai jenis kelaparan ini? Karena
kelaparan ini, hingga yang namanya malu, harga diri, martabat bangsa, nilai moral dan
agama, serta predikat positif sosial lainnya tidak pernah mendapatkan tempat dalam hati
ini untuk dijadikan bahan pertimbangan mana yang baik dan mana yang buruk. Begitu
melihat uang dan kekuasaan, 'kelaparan' merajalela! Astaghfirullah!

“Ana kerja di sebuah pabrik!” kata Mukhsin, seorang ikhwan di Jakarta. “Antum
beruntung sekali, karena jutaan saudara-saudara kita di negeri ini yang tidak memiliki
kesempatan seperti antum. Sepanjang pekerjaan itu halal, patut bersyukur!” kataku jujur.

Di negeri ini sudah terlalu banyak orang yang terjangkit penyakit yang satu ini:
kelaparan. Dalam ruang lingkup internasional, kelaparan perut akan bisa ditangani
dengan campur-tangannya badan dunia misalnya UNICEF atau UNHCR bagi kasus-
kasus pengungsi. Namun bagaimana dengan kelaparan sosial, moral, spiritual, politik,
budaya dan ekonomi yang melanda bangsa ini?
Bangsa-bangsa lain hanya mampu menjadi penonton, melihat betapa 'cerdik'nya orang-
orang kita dalam mempermainkan warga sendiri. Pedihnya, sebagian besar warga kita
belum terlalu 'cerdik' mengamati fenomena kelaparan ini. Sudah dalam kondisi lapar,
nyatanya kita masih 'mau' dimanfaatkan oleh orang-orang yang 'kelaparan' kekuasaan.
Kejujuran belum mendapat tempat yang layak di hati masyarakat kita.

Di tengah-tengah menjamurnya kejanggalan-kejanggalan kehidupan yang ada, kita masih


bisa terlena dengan 'makanan' yang bersifat sementara mengenyangkan. Makanan yang
kita kunyah belum sanggup memberikan kepuasan dalam arti Holistik, suatu pendekatan
yang memperlakukan manusia seutuhnya, dari berbagai pandangan fisik, psikologis,
sosial, dan spiritual.
Kelaparan akan mudah ditangani apabila menyerang perut. Sebaliknya, kelaparan akan
kompleks sekali sifatnya bila menjalar ke segala sendi kehidupan manusia. Layaknya
kebutuhan umat Islam akan sholat wajib. Betapa laparnya kehidupan spiritual ini
sekiranya kaum Muslimin hanya sholat seminggu sekali (hari Jum'at) saja. Betapa
laparnya kehidupan sosial seorang Muslimin, apabila tidak pernah terlibat dalam jamaah.
Betapa laparnya kaum Muslimin yang tidak mau menyalurkan aspirasi politiknya dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lapar memang beda dengan kelaparan. Lapar masih dalam batas konotasi 'positif'. Dalam
kondisi normal, orang yang lapar perutnya, akan cepat kenyang dan pulih kondisinya
hanya dalam hitungan menit. Akan tetapi kelaparan bertendensi 'negatif'. Malah bisa jadi
penyakit menahun jika tidak segera terobati. Orang yang kelaparan butuh waktu
berbulan-bulan hingga tahunan guna menormalisasi keadaan.

Selagi kita merasa lapar dalam aspek sosial, politik, psikologis ataupun spiritual, akan
mungkin sekali dengan mudah terobati. Namun jika sudah terjangkit penyakit kronis
yang namanya 'kelaparan' ini, bukan hanya kita sendiri yang bakal jadi korban. Orang
lain pun bisa dibikin hancur, turut menanggung dampak komplikasinya, gara-gara teknik
pengobatan kita yang kurang profesional. Segala cara diterobos: no speed limit!

Syaifoel Hardy
shardy at emirates dot net dot ae

Puncak Sebuah Prestasi

Publikasi: 08/07/2004 07:12 WIB

eramuslim - Sore tadi di website-nya Departemen Kesehatan saya dapatkan, masih di


halaman pertama, tiga puluh satu dokter yang mengeluh dengan diberlakukannya PTT
(Pegawai Tidak Tetap). PTT adalah sebuah peraturan yang mewajibkan dokter yang baru
lulus untuk mengabdi ke pemerintah, pengabdian masyarakat. Peraturan tersebut
kenyataannya ditemui oleh banyak dokter muda sebagai suatu kebijakan yang terlalu
birokratis bahkan menyulitkan. Salah seorang dokter ada yang mengatakan, dari pada
mengikuti program PTT gaji kecil dan tidak ada jaminan jadi pegawai negeri, lebih baik
jadi satpam di Bank luar negeri saja gajinya bisa mencapai dua juta rupiah!

Jangankan profesi lainnya. Dokter pun, sebagai sebuah profesi yang boleh dibilang paling
bergengsi, saat ini sudah banyak yang cemas. Menganggur bagi kalangan dokter muda
bukan suatu yang aneh sekarang ini. Kecemasan yang menjurus kepada anxiety
merambat dimana-mana. Sumpah setia profesinya tinggal sumpah di atas kertas semata,
karena dokter pun sudah banyak yang beralih profesi. Begitu salah satu tulisan yang
tertera. Pendidikan yang menjanjikan kedudukan terhormat ini ternyata tidak seindah
prasangka orang-orang awam! Justru sesudah melaksanakan ujian yang paling ditunggu-
tunggu penyandang sarjana kedokteran, dokter, pada akhirnya bisa dibuat bingung oleh
kelangkaan pekerjaan di jaman moderen ini!

Adakah ini 'puncak' sebuah prestasi?


Lima anak yang biasa berkumpul bersama Bu Lia, guru di sebuah sekolah lanjutan atas
itu, ternyata bukan anak-anak kandungnya. Itu dikatakannya dihadapan saya dengan
linangan air mata bertahun-tahun lalu. “Mereka bukan anak kami Dik! Mereka putera-
puteri kakakku, ayah mereka yang meninggal sejak anak-anak masih kecil!” kata wakil
kepala sekolah yang waktu itu akan memasuki usia pensiun. “Kepada siapa lagi anak-
anak ini harus bertumpu? Kecuali kepada kami, karena ibu mereka juga tidak bisa
bekerja.”

Anak-anak tersebut kini sudah besar-besar dan mereka pisah dengan ibunya. Rumah
besar yang ditempatinya juga sudah dijual. Bu Lia dan suaminya yang kini berusia lanjut,
tidak lagi sanggup merawat rumah sebesar itu. Mereka menempati rumah baru di sebuah
kota besar. Bu Lia yang tergolong 'punya', tidak sulit kalau hanya untuk membeli rumah
baru. Saya lihat suami Bu Lia, seorang kontraktor, memiliki beberapa buah rumah.

Sementara Bu Subur, ibu ke-lima anak-anak itu, yang semula hidup bersama dengan Bu
Lia ketika anak-anak masih kecil, sekarang ikut puteri bungsunya yang sudah berputera
dua. Sayangkah saya terhadap harta Bu Lia yang sedemikian banyak hartanya hanya
karena dia tidak dikaruani anak oleh Allah SWT? Saya melihatnya beda! “Bu Lia
beruntung. Banyak orang yang punya anak, namun mereka nakal-nakal dan tidak berbakti
kepada orangtuanya. Keponakan Bu Lia begitu baik pada Ibu, jadi bersyukurlah!”
Demikian hiburku, menirukan ucapan A.A.Gym.

Hari-hari yang penuh tawa ceria, ketika anak-anak itu masih kecil, musnah sudah. Bu Lia
dan suaminya kini 'sendirian' di rumah. Biarpun rumahnya 3 buah, yang ditempati hanya
satu! “Ah, harta!” Begitu gumamku, saat sebelum sholat di lantai atas rumah yang baru
ditempatinya.

Anak-anak yang dulu lucu-lucu, kini sudah mengurusi keluarganya sendiri-sendiri.


Kadang kala saja mereka menengoknya. Sejak kepulangannya dari Tanah Suci tiga tahun
lalu, hari-hari Bu Lia dan suaminya hanya diisi dengan kegiatan yang tidak lebih dari
'pekerjaan rumah' semata.

Inikah 'puncak' sebuah prestasi?

Sore hari menjelang Maghrib tadi aku menelepon teman lama yang sedang sakit. Dia
menderita penyakit yang 'paling' ditakuti manusia: kanker! Kabar terakhir yang saya
dengar, dari hasil pemeriksaan, bekas rekan kerja beberapa tahun lalu itu kini sedang
mengalami penjalaran Kanker Payudara ke Lever nya. Astaghfirullah! Padahal ibu satu
anak yang belum genap empat tahun usianya ini tidak setua Bu Lia.

Penyakit memang tidak mengenal belas kasih, tua atau muda, miskin atau kaya. Dalam
perbincangan kami, di tengah 'kicauan' Meme, sang anak, yang terdengar di telepon, dia
masih sempat ketawa-ketawa kecil, seolah menutupi penderitaannya selama ini.

Mbak Yati. Begitu saya biasa memanggilnya, kata teman-teman, sudah mulai 'putus asa'
dengan hasil pemeriksaan selama ini. Dia rajin berobat rutin sebulan sekali ke rumah
sakit spesialis kanker guna melihat 'perkembangan' terapinya. Bagi kalangan orang-orang
kesehatan, bukan suatu yang 'baru' lagi kasus ini. Dari sekian kasus yang ada, tidak
banyak yang bisa dilakukan oleh penderita kecuali menunggu 'keajaiban'. Tingkat
keberhasilan terapi terhadap kanker ini amat kecil. Saya percaya, Mbak Yati sadar betul
akan keadaan ini. Yang saya bayangkan hanyalah, bagaimana dia menjelaskan semua ini
kepada si Meme yang masih balita?

“Mbak Yati yang sering-sering minum air putih pagi hari sesudah bangun tidur ya?” Aku
mencoba memberikan saran sebagaimana yang pernah saya dapat dari seorang rekan di
Bandung, bahwa minum air putih sebanyak satu setengah liter bisa membantu
meringankan beban penderita kanker, sebagai pengobatan yang disebut Hydro Therapy.
“Aku nggak sakit koq!” Kata Mbak Yati, sedikit ketawa. Sambil mengayunkan langkah
kakiku ke masjid, aku terenyuh sekali mendengarnya. Kutekan tanda switch off HP ku.
Andai saja engkau seorang muslimah, do'a ku insyaallah tidak akan sia-sia.

Padahal Mbak Yati dulu sehat wal afiat. Padahal dia selalu menjaga makanan. Padahal
dia selalu berusaha untuk berbaik budi dengan orangtua dan anggota keluarganya.
Hampir semua adik-adiknya, dia yang membeayai kuliah mereka hingga selesai. Bahkan
pernikahan mereka Mbak Yati yang membeayai. Mbak Yati pula yang membangun
rumah orangtuanya. Kini, dia harus lebih banyak tidur karena pengaruh obat-obat yang
sudah seonggok diminumnya. Mulai dari konservatif hingga alternatif.

Ketika Mbak Yati bersama suaminya berkunjung menemui salah seorang rekan saya,
Abdi, katanya rambut Mbak Yati sudah banyak yang rontok. Anak Abdi, yang belum
genap dua tahun, katanya ketakutan sekali begitu mengetahui wajah Mbak Yati sekarang.
Tidak perlu saya sebutkan bagaimana perubahan wajah itu terjadi akibat kanker. Padahal
beberapa bulan sebelumnya tidak demikian. Subhanallah... Kalau sudah begini
keadaannya, kekuatan mana lagi yang sanggup memperbaiki kondisi fisiknya? Hanya
kepada Pamilik Kehidupan lah segala sesuatunya bisa digantungkan.
Adakah ini 'puncak' sebuah prestasi?

Hari ini aku memang ketiban banyak berita. Sedih juga duka. Mendengar berita tentang
Halim, salah seorang teman mendapatkan kerjaan baik, aku turut suka sebenarnya. Malah
dia dapatkan pekerjaan yang terbaik diantara kami se-profesi. Gaji besar, rumah
disediakan, tunjangan sekolah buat anak-anak hingga tiga orang jatahnya, bahkan
perabotan rumah tangga juga ada tunjangannya, selain...tiket, pulang pergi ke negara asal
untuk sekeluarga. Betapa bahagianya dia....

Agaknya Halim akan memetik buah kebaikan yang dia tanamkan selama ini.
Alhamdulillah.

Kami bertemu sekitar tiga jam sesudah berita itu hadir di telinga saya. Halim tersenyum.
Kami berpelukan. Dalam hati saya juga sedih. Halim dan istrinya adalah sosok yang aktif
dalam kegiatan dakwah kelompok kami. Diterimanya Halim di tempat kerja yang baru
akan membuat kami kehilangan mereka, orang-orang yang begitu tulus berjuang demi
tegaknya Agama Allah SWT. “Do'a anda terkabul!” kataku, yang dijawabnya
“Alhamdulillah! Berkat bantuan do'a kalian semua juga!”

Adakah ini 'puncak' prestasinya?


Aku pun ingat pesan AA Gym. 'Orang yang sehat adalah yang turut gembira atas
kebahagiaan yang menimpa orang lain'. Sedangkan, bila sebaliknya, kita sakit hati
manakala melihat orang lain yang berbahagia, itulah aib pribadi!

Lahir, sekolah, kerja, nikah, dan mati. Itulah lima urutan kejadian kehidupan yang
dialami oleh rata-rata umat manusia. Sebagian umat manusia ada yang kurang beruntung
tidak menjalani sebagian dari rangkaian proses tersebut. Ada yang tidak mampu untuk
bersekolah maupun bekerja, ada pula yang bisa sekolah namun sulit mendapatkan
kesempatan kerja. Ada yang sudah kerja tanpa mengenyam pendidikan formal apapun,
ada pula yang sudah sekolah, dapat kerja, tetapi gagal dalam kehidupan rumah tangga.
Beberapa golongan manusia sengaja tidak menikah guna 'menyucikan diri', tidak sedikit
pula manusia yang menikah dengan status pengangguran!

Ada yang kesulitan mencari kerja meskipun tinggi tingkat pendidikannya, sebagaimana
dokter-dokter diatas, ada pula yang mudah mendapat rejeki tanpa bersusah payah. Ada
yang punya harta banyak, tetapi tidak dikaruniai anak olehNya seperti keluarga Bu Lia,
ada pula yang beranak banyak tanpa harta. Ada yang masih muda, namun terserang
penyakit 'ganas' seperti yang sedang menimpa Mbak Yati, ada pula yang menikmati
rahmat yang berlimpah, seperti yang dialami Halim.

Kelima proses kehidupan diatas memang penuh dinamika. Dari orang-per-orang tidak
sama dalam menjalani dan menyikapinya. Sudah tentu ada beberapa faktor yang
melatarbelakanginya. Sebagian menyalahkan sejarah hidup masa lalu, tidak kurang yang
menganggap itulah garis hidup!

Yang sama adalah kesempatan. Semua manusia memperoleh kesempatan yang sama
untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak hatinya. Apapun bentuknya! Sekalipun
hakekatnya-oleh karena sejumlah faktor dan latar belakang yang berbeda, terlepas dari
kurang dan lebihnya manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio dan spiritual-setiap orang
punya kehidupan 24 jam sehari, 7 hari per minggu, dan 12 bulan per tahun. Akan
diapakan waktu yang dipunyai selama hidupnya? Allah SWT memberikan 'kebebasan'
kepada manusia sepanjang menjalani proses diatas.

Rangkaian hidup ini bisa kita isi dengan berbagai variasi kegiatan. Kita lah pengambil
keputusannya! Ambillah contoh pada saat anda membaca tulisan ini. Bukankah kalau
mau, anda pun bisa berhenti sejenak kemudian makan, minum, menelepon teman,
memperbincangkan orang lain, berdoa, membaca buku, dsb?
Satu hal yang perlu disadari adalah, diluar kebebasan itu, ternyata terdapat dua hal yang
kita tidak kuasa mengendalikannya: yakni awal dan akhir dari proses diatas. Dua kejadian
itu adalah kelahiran dan kematian. Keduanya tidak ada yang bisa mengatur ataupun
mampu menolaknya. Kapan mulainya dan kapan berakhirnya proses kehidupan ini?
Keduanya adalah rahasia Allah SWT.

Segala kejadian yang menimpa ditengah-tengah dua peristiwa sebagai Rahasia Allah
SWT ini, tidak lebih dari sebuah ujian hidup kita. Seperti Firman Allah SWT dalam Surat
Ali Imran: 186, yang artinya: “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan
dirimu!” Punya anak atau tidak, harta menumpuk atau miskin, sehat atau sakit, mapan
dengan pekerjaan atau pengangguran, semuanya akan menjadi 'sederhana' sekiranya
belajar memahami bahwa semua ini hanyalah 'cobaan' yang diujikan oleh Allah SWT.

Prestasi akan kita raih bilamana kita sanggup mengatasi segala persoalan diatas. Biarpun
sukses merebut kursi kepresidenan, sebutan martabat tertinggi di negeri ini, apabila kita
tidak berhasil menyikapinya sebagai sebuah ujian (Baca: amanah), hakekatnya gagal lah
kita dalam mencapai puncak prestasi.

Ada baiknya kita memang tidak perlu terlalu resah. Apapun yang terjadi pada diri ini,
cobalah kita kembalikan semua persoalannya kepada Zat Yang Maha Menguasai segala
permasalahan hidup, agar supaya kehidupan ini menjadi 'mudah'. Itulah 'puncak' prestasi
yang sebenarnya. Firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah: 155: yang artinya : “Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-
orang yang sabar.” Wallahu a'lam!

Syaifoel Hardy
shardy at emirates dot net dot ae

Membalut Duka, Mengemban Amanah

Publikasi: 22/06/2004 10:14 WIB

'Beruntung' para pengemis di negeri kita tidak dilarang oleh pemerintah untuk meminta-
minta. Coba seandainya mereka dilarang, akan ke mana mereka meminta sebagian dari
'hak-hak' mereka?

Sejak terpuruknya bangsa kita enam tahun lalu, jumlah pengemis memang bukannya
semakin berkurang. Di desa kami, per hari, tanpa melebih-lebihkan, tidak kurang dari
lima pengemis akan mendatangi setiap rumah, khususnya yang tidak berpagar, dan...
tentu saja kelihatan 'punya'. Hari Jum'at, lebih ramai lagi. 'Ladang' beramal? Itu bagi kita
yang menyadari.

Sayangnya, tidak sedikit para pengemis ini yang menjadikan pekerjaannya sebagai
sebuah 'profesi'. Begitu kata sementara orang. Bagi mereka yang punya duit, akan
dibangun rumah besar dan bertembok tinggi. Kalau mungkin, akan tertulis di depan pintu
'Dilarang Parkir'. Maksudnya kira-kira begini: para pengemis hendaknya jangan dekat-
dekat!

Di Dubai-United Arab Emirates, dalam dua tahun terakhir ini 'kebijakan' pemerintah
terhadap para pengemis memang ketat sekali. Kasarnya, tidak ada kata 'maaf' untuk
mereka. Jika tertangkap oleh petugas, karena para pengemis ini biasanya para pendatang,
konsekuensinya tidak tanggung-tanggung: dibawa ke kantor polisi, kemudian dideportasi.
Maklum, sebagai sebuah negara kaya, apalagi Pemerintah Dubai tengah berupaya
menarik wisatawan sebanyak mungkin sebagai the hub of the Middle East, mereka
berusaha menciptakan suasana kota yang 'bersih'. Tidak terkecuali dari para peminta-
minta ini.
Tapi lepas sholat Maghrib tadi aku menyaksikan sebuah pemandangan lain. Dua orang,
sepasang suami istri tengah duduk di atas sebuah becak, katakanlah begitu karena di sana
tidak ada angkutan jenis ini. Terkesan rakitan sendiri. Ketikaaku keluar melangkahkan
kaki dari masjid, terlihat seorang Arab tengah merogoh kantongnya, kemudian sedikit
membungkukkan badannya. Didekatinya mereka dan ditaruhnya kejumlah dirham ke atas
telapak tangan yang tengah menengadah.

Tangan itu milik seorang ibu berjilbab, mengenakan abaya berbunga-bunga, warna-warni
biru, kuning dan putih, tapi lusuh. Ibu yang saya perhatikan menutup semua anggota
badannya ini hanya kelihatan dua belah matanya, sebagaimana umumnya pola berpakaian
sebagian muslimah di UAE. Dari penampilan sang suami, nampaknya mereka
berkebangsaan Pakistan. Sesudah orang Arab pertama yang memberikan sejumlah duit
pada perempuan tersebut, saya lihat jamaah-jamaah yang baru saja keluar dari masjid
melakukan hal yang sama.

Tahu kenapa mereka begitu tergerak mendermakan sebagian rejekinya kepada sepasang
suami istri ini? Terlepas dari kekuatiran saya akan ditangkapnya mereka oleh petugas
pemerintah, si perempuan setengah baya yang sedang menengadahkan kedua tangannya
itu ternyata hanya memiliki separuh anggota badan!

Saya melihatnya, apa yang mendorong mereka melakukan pekerjaan ini lebih didasari
oleh barangkali niat besar sang suami dalam menjaga amanah yang diberikan oleh Allah
SWT kepadanya dalam memelihara istrinya yang tanpa kedua belah kaki. Subhanallah...
betapa beruntungnya kita yang memiliki anggota tubuh yang lengkap. Sayangnya,
kebanyakan dari kita kurang pandai bersyukur atas nikmat besar ini. Astaghfirullah...

Dalam perjalanan ke rumah, selepas Maghrib tersebut, pikiranku jadi melayang jauh ke
nasib yang menimpah seorang rekan saya. Tentu saja dia bukan seorang pengemis. Dia
bahkan secara materi boleh dikata punya. Yang hampir sama adalah, apa yang dialami
oleh mendiang salah seorang putera rekan saya. Dia lumpuh total! Anggota badannya
lengkap, akan tetapi sang anak tidak kuasa bahkan untuk mengangkat kepalanya sendiri.
Dan itu sudah berlangsung selama tujuh belas tahun! Subhanallah...

As you know, I left Dubai purely because of my disabled child's health weakening.
Everything Allah knows, and days are leaving behind me only to make prayers to Allah
for my son's day after-Paradise.

Demikian bunyi bait kedua surat dari Abdul Azeem, ayah anak cacat tersebut, rekan saya,
yang saya terima tanggal 13 November 2003 lalu. Waktu itu bertepatan dengan bulan
suci Ramadhan. Dia tinggalkan Dubai, balik ke kampung halamannya di sebuah negara
bagian Kerala, India. Sedangkan surat pertama yang saya terima darinya kurang lebih
empat bulan sesudah kepulangannya ke India. Saya tidak sempat menemuinya karena
ketika dia berangkat ke India, saya sedang cuti tahunan.

Abdul Azeem, 52 tahun, ayah 4 orang anak, yang saya kenal adalah orang yang taat
beribadah, straight forward, jujur, dan suka menepati janji. Itulah beberapa karakter mulia
yang saya ketahui tentang dia. Kepribadian dan perilaku baik ini yang membuat saya
tidak bisa melupakannya sebagai seorang teman. Apalagi pada jaman sekarang di mana
sulit mencari teman. Seperti kata Rhoma Irama dalam lagu lamanya, teman hanya
mendekat bila uang melekat.

Namun lain halnya dengan orang setengah tua yang satu ini. Pada awal kami bertemu,
katanya, saya mengingatkan dia akan seorang kenalannya asal Singapore. Maklum,
Singapore dan Indonesia kan satu rumpun, jadi penampilan fisik antara temannya dan
saya banyak kesamaan, seperti halnya orang India dan Pakistan. Hal itu dituangkannya
dalam suratnya:

You perhaps are planning to leave the UAE. Earlier, I had a Singaporean friend, named
Abdul Hameed, who worked for Armed Forces-Dubai as Aeronautical Engineer. Very
nice friend, very co-operative, pious. But later, he left to the States for higher studies.
Alhamdulillah he is now in Australia working for some airlines company. For a
prolonged period we were in touch. But finally, I don't know. How I missed him and his
whereabout, I have no idea...!

Seperti yang saya kemukakan diatas, kepulangannya ke India memang semata-mata


karena kondisi kesehatan anak lelaki yang ketiga yang semakin memburuk. Sementara di
rumah hanya istrinya yang merawat. Kecuali yang satu ini, ketiga anak-anaknya,
alhamdulilah sehat, mereka sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Saya pernah menyarankan
bagaimana jika menyewa seorang baby sitter saja guna membantu istrinya merawat
puteranya yang memang membutuhkan bantuan penuh. Dengan begitu beban berat sang
istri bisa lebih ringan. Nampaknya sang istri keberatan dengan usulan ini.

Keberadaan Abdul Azeem sendiri yang jauh di luar negeri bukannya tanpa alasan.
Sebagai seorang kepala keluarga, dialah yang bertanggungjawab memikul beban finansial
keluarganya, termasuk beaya sekolah ketiga anaknya yang mulai membengkak. Oleh
sebab itu, dia dihadapkan kepada dilema yang berat sekali. Tinggal di luar negeri
memberikan keuntungan kepada keluarganya dari segi keuangan. Namun nun jauh di
sana, anak lelakinya yang ketiga, membutuhkan perawatan penuh.

Abdul Muhymin namanya, terlahir dengan cacat bawaan yang membuat dia lumpuh.
Dalam usia yang ke dua belas, ketika pertama kali saya kenal Abdul Azeem, dari fotonya,
penampilan Abdul Muhymin tidak ubahnya anak umur 2 tahun yang tidak mampu
bergerak sama sekali, kecuali menangis apabila kencing atau buang air besar.

Saya mengetahuinya ketika beberapa saat sesudah kami kenal, Abdul Azeem meminta
saya untuk menemaninya mencari beberapa perangkat peralatan anak-anak cacat. Saya
sendiri dibuat agak heran sebenarnya waktu itu. Akhirnya saya ketahui manakala dia
beberkan semuanya.

Sebagai seorang teman, saya cukup terharu dibuatnya. Abdul Muhymin memang pernah
tinggal di Dubai bersamanya. Hanya saja, biaya perawatan fisioterapi yang semakin
mahal membuat Abdul Azeem memutuskan dikirimkan anaknya ke India dimana beaya
pengobatan lebih murah. Sementara dia sendiri pada akhirnya kontrak, gabung dengan
bujangan-bujangan lainnya. Itung-itung sambil menghemat pengeluaran.
Setiap bulan Abdul Azeem selalu mengirim paket-paket kebutuhan anak-anaknya. Mulai
dari sabun mandi, susu, pakaian, hingga pampers. Layaknya kaum lelaki India lainnya,
merekalah yang mengurusi sebagian besar kebutuhan rumah tangga. Sementara sang istri
tinggal di rumah, sang suami yang berangkat ke pasar, belanja sayur-mayur, lauk-pauk,
hingga kebutuhan konstruksi bangunan. Ini mereka lakukan dengan alasan tidak aman
jika kaum wanita yang harus keluar rumah. Makanya tidak heran, jika setiap akhir bulan,
istrinya mengirim catatan kebutuhan yang diperlukan.

Abdul Azeem, yang aktif dalam kegiatan dakwah di Islamic Cultural Centre, tidak kalah
sibuknya dengan sang istri. Meski jauh dari keluarga, perhatian yang diberikan terhadap
anak-anaknya, tidak bedanya dengan perhatian dan kegiatan istrinya. Yang membedakan,
mereka tidak tinggal bersama.

Pagi itu, entah apa yang mendorong, saya coba ubungi dia lewat telepon. "He is out!"
suara disana, kedengarannya dari salah satu anak lelakinya, menjawab. "I will call
again!" saya coba meyakinkan.

Tiga hari kemudian, saat saya sedang bekerja, telepon berdering. Innalillahi wa inna ilaii
raji'un. Berita yang saya terima: putera Abdul Azeem berpulang ke rahmatullah! Abdul
Muhymin, anak berusia 17 tahun yang tidak pernah mengenal arti keindahan permainan
anak-anak, bahkan tidak pernah tahu pula perbedaan hitam dan putih, biru atau hijau,
menyisahkan kenangan yang tidak akan pernah bisa dilupakan bagi kehidupan Abdul
Azeem. Setidaknya demikianlah yang bisa saya tangkap lewat surat yang saya terima
sekitar dua minggu sepeninggal puteranya.

Sorry. Due to my son's demise, I could not reply your letter as decided. However, you
understand my situation. To console my wife is little bit difficult, as you know she is the
only lone person to support him 24 hours casualty. Please pray for my late son, Abdul
Muhymin, rest in peace!

Amanah yang diberikan Allah SWT kepada kita memang bermacam-macam bentuknya.
Adakalanya sebuah kenikmatan berupa harta kekayaan, martabat, atau anak-anak. Tidak
jarang pula, malah sebaliknya, berupa cobaan hidup. Kehidupan itu sendiri adalah sebuah
amanah, apakah didalamnya kita kaya, miskin, bahagia atau menderita. Amanah tidak
hanya berlangsung satu dua minggu atau dalam hitungan bulan saja. Bisa bertahun-tahun,
tidak jarang pula seumur hidup. Yang menjadi persolan bukanlah bentuk dan lamanya.
Akan tetapi bagaimana menyikapi amanah ini.

Apa yang telah dihadapi oleh Abdul Azeem diatas adalah salah satu bentuk amanah.
Allah SWT memberikan cobaan kepadanya dengan menghadapi buah hatinya sendiri,
selama 17 tahun didera nestapa. Sebuah kurun waktu yang tidak singkat. Secara pribadi,
apabila saya dihadapkan kepada persoalan yang serupa, bisa saja membuat emosi ini
tidak lagi stabil, misalnya mudah tersinggung, marah, dsb. Manusia memang lemah!

Duka yang membalut Abdul Azeem dan keluarganya, saya melihatnya sebagai sebuah
hikmah. Dibalik segala derita yang menimpa mereka, hakekatnya betapa besar
sebenarnya limpahan kasih sayang Allah SWT, dengan memberikan cobaan, sekaligus
kesempatan beramal 24 jam sehari, selama 17 tahun! Buahnya, kini Allah SWT telah
'mengambil' hak milikNya, Abdul Muhymin, kembali menghadapNya. Kembali ke Atas
sana, sebagai bunga Surga. Isyaallah!

Syaifoel Hardy
shardy at emirates dot net dot ae

Mimpi Indah di Atas Awan

Publikasi: 15/06/2004 16:15 WIB

eramuslim - Seperti biasa, saya ayunkan kaki ke ruang kerja saya. Lalu tak lama
berselang, kunyalakan komputer dan aktifitas rutin pun mulai menggeliat. Kala itu jarum
jam telah mulai beranjak dari angka 8. Sementara itu, dering telepon mulai bersahutan,
air putih tampak nongol di atas baki si petugas, dan obrolan khas pengamat jadi-jadian
pun mengalir dari mulut-mulut yang penuh cemas dan harap. Cemas akan calon presiden
dan wakilnya yang buruk niat dan buruk akhlak, harap akan calon presiden dan wakilnya
yang jujur, sederhana dan adil. Klise memang.

Tiba-tiba, seseorang mengejutkanku. “Kamu sudah lihat koran hari ini, De,” sapa
atasanku. Terang saja saya penasaran. “Memangnya ada apa, Pak?” sahutku. “Coba lihat
gambar ini, dech” pintanya. Lalu kulihat dan saya baca. ‘Seorang cawapres tampak
terlelap di kursi pesawat pribadinya usai melakukan kampanye’. Demikian tulisan surat
kabar itu.

Selintas berita itu tak ada yang aneh, alias biasa-biasa saja, gumamku. Toh tak ada
salahnya ia punya pesawat pribadi senilai miliaran rupiah seperti kaum jet set di Amerika
atau Eropa sana, atau seperti Emir-Emir Arab si raja minyak yang tak punya empati lagi
terhadap saudara-saudara searab mereka di Palestina dan Irak yang tengah hidup melarat.
Lagi pula burung besi pribadi itu dibeli dengan uang mereka.

Tapi tunggu dulu, meminjam gaya bahasa Al-Quran, meski dalam konteks yang sama
sekali berbeda, “Farji’il basharo”. Maka lihatlah berulang-ulang. Maka kita akan
temukan pesan moral yang teramat memilukan dan menorehkan luka sangat dalam bagi
mereka yang masih memiliki sensitifitas dan kepekaaan sosial, atau bahasa pinternya
sense of crisis.

Sesungguhnya luka kepedihan hati ini sudah lama menganga, oleh sebab gelombang
kerakusan, ketamakan dan nafsu kekuasaan yang makin menggurita. Bagaimana tidak,
Indonesia kita tercatat sebagai negara paling korup nomor 6 di dunia dan terkorup nomor
2 di kawasan ASEAN, parahnya lagi, seperti tak ingin ketinggalan kereta, para anggota
dewan yang terhormat pun ikut latah berkorupsi secara berjamaah. Aji mumpung. Itulah
prinsip mereka.

Barangkali, bapak cawapres yang terlelap di pesawat pribadinya tengah berpikir dalam
mimpinya: bagaimana korupsi ditumpas habis, 35 juta orang miskin kian berkurang,
setiap bayi yang lahir tak lagi punya hutang Rp 8 juta, perampokan hutan tak terdengar
lagi, 10 juta orang pengangguran dapatkan pekerjaan, bocah-bocah tak perlu lagi bunuh
diri lantaran malu tak mampu bayar SPP, dan seterusnya…

Tapi sayang itu sebatas terkaan saja, mimpi lagi. Faktanya, ketika gong kampanye mulai
ditabuh, maka kekayaan para capres dan cawapres tak ubahnya angka-angka yang
membuat rakyat mengernyitkan dahi, dari yang ratusan miliar sampai ratusan juta rupiah.
Bahkan, sang kiai, yang juga kandidat wapres mempunyai kekayaan layaknya pejabat, Rp
7 miliar lebih. Luar biasa. Belum lagi dana kampanye yang jor-joran, sampai-sampai satu
pasangan telah menghabiskan Rp 4,5 miliar!

“Ahh…andai saya hidup di zaman Abu Bakar atau Umar Bin Abdul Aziz, betapa
bahagianya aku, saya tak perlu lagi ambil pusing melihat tingkah mereka yang
menyakitkan, tak perlu lagi mencari-cari ‘kepekaan sosial’, yang semakin hari semakin
langka saja pada diri para pejabat kita,” khayalku.

Tiba-tiba ingatanku mundur ke belakang, 1.400 tahun lalu. Tersebutlah putra mahkota
Yaman tiba di Madinah dengan pakaian mewahnya. Lalu dilihatnya sang presiden Abu
Bakar hanya mengenakan dua lembar kain warna cokelat, yang selembar menutupi
pinggang dan selembar lainnya menutupi sisa badannya. Putra mahkota itu menangis dan
langsung melempar pakaian mewahnya sembari berkata, “Dalam Islam, saya tidak
menikmati kepalsuan ini.”

Pada suatu malam, ketika maut menjemput, sang presiden Abu Bakar bertanya pada
putrinya Aisyah, berapa jumlah kain kafan Nabi. Aisyah menjawab, “Tiga.” Abu Bakar
langsung menyuruhnya untuk lekas mencuci dua kain yang tengah ia pakai, dan
disuruhnya Aisyah membeli sisa satu kain. Tetes air mata Aisyah tak terbendung lagi.
Pasalnya, sebenarnya sang ayah tak semiskin itu. Tapi Abu Bakar malah berkata, kain
yang baru lebih berguna untuk orang yang hidup ketimbang untuk orang yang telah
meninggal.

Lalu, lembar puncak kesahajaan itu kembali bersinar. Adalah Umar Bin Abdul Aziz yang
menolak kendaraan dinas kerajaan yang serba wah pada zamannya ketika ia dinobatkan
sebagai presiden. Ia berkata, “Aku tak memerlukannya. Jauhkanlah kendaraan itu dariku.
Bawalah keledaiku ke sini. Itulah kendaraan yang cocok untukku”.

Akhirnya, tahukah Anda, Umar Bin Abdul Aziz sang penguasa negara adidaya kala itu
ternyata tak punya cukup dana untuk menunaikan ibadah haji, sampai suatu ketika asisten
beliau mengatakan bahwa jumlah uang hasil gajinya sebagai presiden telah cukup untuk
biaya perjalanan haji. Namun Umar menjawabnya, “Telah lama kami pergunakan uang
ini, sekarang umat Islam berhak menikmatinya.” Lalu ia memasukkan hasil
pendapatannya ke kas negara. Subhanalloh.

Dan saya pun menghela napas sembari bergumam, andai kita hidup di zaman mereka,
tentulah tulisan tentang pesawat sang cawapres ini tak perlu. Tapi nyatanya kita memang
tengah hidup dengan mereka yang menyebalkan, atau meminjam istilah Eef Syaifulloh
Fatah-Bangsaku Yang Menyebalkan.
Surat kabar itu kutatap kembali, tampak dengan santainya ia terlelap di atas awan tengah
dimanjakan oleh pesawat pribadinya, sementara nun jauh di bawah sana, bocah itu tak
lagi riang berteriak, “Kapal… kapal… minta duit, dong.” Asal tahu saja, kini bocah itu
telah tiada karena bunuh diri. Pasalnya, ia tak mampu lagi bayar SPP. Dan kini, hanya
satu kata yang tersisa: selamat mimpi indah di atas awan sana. Wallahu ‘Alam

Abu Walad
lias76 at maktoob dot com

Morning

Publikasi: 09/06/2004 10:40 WIB

Mentari Iizuka menyapa ramah, sinarnya menyelinap dari awan-awan yang bergelayut
manja. Cericit suara burung, kepakan lembut sayap kupu-kupu dan bunga yang
tersenyum merekah, laksana goresan sebuah lukisan pagi yang indah. Desir angin pun
bertiup semilir mendayu, merayu sisa-sisa embun yang berjuntaian laksana kilauan intan
berlian.

Pagi mengawali denyut nadi kehidupan, menggerakkan jiwa dan raga untuk menganyam
helai demi helai berjuta harapan. Bekerja dan berusaha demi masa depan, bagaikan
sebentuk cinta yang ngejawantah bagi setiap manusia.

Sepasang kakiku pun melangkah, menyusuri sebuah jalan kecil beraspal. Dari balkon
lantai dua kokusai kouryuu kaikan, lambaian istri dan anak masih terlihat jelas,
memberikan kekuatan cinta untuk meraih cita-cita. Tangan lalu terangkat dan membalas
lambaian, tak lupa muaah... penuh kemesraan.

"Hmm... mereka lagi," berkata dalam hati seraya tersenyum saat melihat dua sosok tubuh
berjalan mendekat. Mereka adalah obachan dan buah hatinya yang pernah memberikan
siluet keajaiban cinta seorang ibunda.

Lelaki itu masih saja berjalan goyah, mengikuti gerak kepalanya yang berukuran besar
dan dicukur botak untuk turut pula bergoyang seirama. Matanya sipit dan turun, serta
dagu yang kecil membuat lidah terlihat menonjol keluar. Tubuh pendeknya berbalut kaos
berwarna biru dengan nomor punggung 51. Mungkin ia mengidolakan pemain baseball
Ichiro Suzuki yang kini bermain di Seattle Mariners itu.

"Ohayou gozaimasu," aku menyapa seraya sedikit membungkukkan tubuh.

"Morning," balas anak laki-laki itu dengan ramah walaupun nada suaranya terdengar
gagap. Aku tersenyum lebar karena balasan sapaannya.

Mereka terus berjalan, sementara aku masih saja mengamati sambil terus tersenyum
mengingat sapanya barusan. Kemudian mereka terlihat melambai-lambaikan tangan
sambil tertawa-tawa kecil kepada istri dan anakku yang masih berdiri dari atas balkon.
Perlahan, senyum berganti haru.
Laki-laki itu memang anak istimewa, walaupun terlahir dengan tubuh yang kurang
normal. Namun sikap yang ramah kepada siapa saja, bahkan kepada orang asing yang tak
pernah dikenal menunjukkan kebeningan hatinya. Hati yang lembut itu pula yang pernah
ku lihat membelai-belai seekor kucing liar dengan binar mata penuh kasih sayang,
walaupun dengan koordinasi gerakan tangan yang tampak lemah. Kekurangan yang
tampak pada raga seseorang, memang tak akan pernah dapat menyembunyikan
kelembutan yang terpancar dari jiwanya.

Dengan cacat tubuhnya, ia mungkin tak akan pernah bisa membuat origami yang indah
dan beraneka ragam bentuknya. Ia pun mungkin harus melupakan ramainya sorak-sorai
tepukan dan cucuran keringat saat undoukai. Bahkan harus dikuburnya impian untuk
menjadi pemain baseball terkenal seperti sang idola.

Ia juga tak pernah mengenal indahnya ajaran Islam, bahkan aku yakin ia pasti tak percaya
dengan adanya Tuhan. Namun dengan melihatnya, ia bisa membuatku tersenyum karena
keramahan tegur sapa dan tingkah lakunya. Bukankah banyak orang yang terlahir normal
namun belum tentu mau bertegur sapa dan bersikap ramah terhadap sesamanya?

Lelaki itu memang tercipta dengan segala kekurangan, namun melihatnya membuat siapa
saja akan memuji keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan dengan keistimewaan
yang ada pada dirinya, ia memancarkan hikmah yang indah bagaikan mutiara.

Lalu, dapatkah orang lain pun ingat dan memuji kebesaran-Nya saat melihat diri kita?

SubhanaLlah...
Maha Suci diri-Mu ya Allah. Dari beragam ciptaan,
Engkau ajarkan pula berjuta hikmah.

WaLlahua'lam bi shawab.

-Abu Aufa-

Catatan:
- Iizuka: nama sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah Fukuoka Prefecture,
Pulau Kyushu, Jepang (http://www.city.iizuka.fukuoka.jp/english/).
- Kokusai kouryuu kaikan: International House.
- Obachan: wanita berumur, setengah tua.
- Ohayou gozaimasu: selamat pagi.
- Origami: seni melipat kertas yang berasal dari awal abad ke-8 di Jepang.
- Undoukai: pesta olahraga yang biasa dilakukan di sekolah-sekolah.

Mujahid Ngampar

Publikasi: 01/06/2004 08:40 WIB

"A, ini ada surat dari saya, tapi jangan dibuka, nanti saja dibacanya setelah Aa tiba di
Bandung."
Demikian ucapan yang diucapkan teman saya, mengutip ucapan istrinya yang saat ini
sedang ada di Tangerang di rumah orang tuanya, mengawali perbincangannya dengan
saya beberapa hari yang lalu, ketika kami bertemu di acara kajian rutin pekanan.

Maka setelah di Bandung, dibacalah surat tersebut yang merupakan surat dari istrinya
yang sedang menunggu saat-saat kelahiran anak pertama mereka.

"A, bila Allah menakdirkan saya meninggal pada saat melahirkan nanti, saya rela
meninggalkan dunia ini asal anak kita selamat. A, bila saya meninggal nanti, titip anak
kita, jaga dia dengan baik," demikian salah satu isi surat dari istrinya itu.

Maka menangislah si Aa tadi setelah membaca surat dari istrinya. Air mata seorang
lelaki, air mata seorang suami, air mata seorang calon bapak yang sedang menunggu
dengan harap-harap cemas akan kelahiran anak pertamanya, akan keselamatan istri
tercintanya yang baru satu tahun dia nikahi. Karena dia tahu bahwa proses kelahiran anak
pertama adalah sangat beresiko, bahkan setiap proses melahirkan anak, nyawa ibu dan
bayi adalah taruhannya

Demikian sekelumit cerita dari teman saya, ketika akhirnya dia bercerita tentang kondisi
terakhir dirinya. Sangat terharu saya mendengar ceritanya. Saya bisa membayangkan
bagaimana kalau saya menjadi dia, walaupun saya belum pernah menikah.

Kemudian dia melanjutkan ceritanya, "Akhi... sekarang saya sedang berusaha mencari
tambahan uang, untuk biaya persalinan istri saya nanti. Sekarang saya beralih sementara
berjualan kantong kresek, mengedarkan ke toko-toko kecil. Alhamdulillah kelihatannya
cukup prospektif, walaupun belum laku banyak," ungkapnya.

"Mmm...," guman saya dalam hati.

Yang saya tahu bahwa dia berprofesi sebagai pedagang keliling, berjualan dari satu
tempat ke tempat lainnya, dari satu emperan jalan ke emperan jalan lainnya, dari satu
emperan masjid ke emperan masjid lainnya, dengan menghamparkan tikar dan kemudian
menggelar barang dagangannya.

Dia cukup senang ketika kami memanggilnya dengan sebutan "Mujahid Ngampar".

Pahamlah saya kemudian bahwa dia sedang kesulitan mencari bekal buat persalinan
istrinya yang tinggal dalam hitungan hari. Pahamlah saya kemudian ketika beberapa
waktu yang lalu dia menawar-nawarkan VCD Player bututnya pada kami. Pahamlah
kemudian saya ketika dia menawar-nawarkan topi rimba-nya, yang kemudian saya beli
dengan harga 5.000 perak. Pahamlah kemudian saya bahwa itu semua dilakukannya
untuk mengumpulkan bekal buat persalinan istrinya, di samping tentunya untuk
menyambung hidupnya sekeluarga, walaupun untuk makan ala kadarnya.

"Ya Allah, sungguh Engkau telah memberikan pelajaran berharga bagi saya lewat cerita
teman saya ini."
Terkadang saya merasa paling menderita ketika tidak makan 3 kali sehari, padahal
baginya makan roti seharga 500 perak sehari sekali adalah hal yang lumrah . Terkadang
saya merasa susah hati ketika tidur bantalnya sedikit tidak empuk, padahal dia tidur di
mesjid beralaskan lantai yang dingin sangatlah sering.

Kadang saya merasa bangga sudah berdakwah dengan mengirimkan SMS berisi
penggalan Hadist atau kutipan ayat al-Qur'an, yang belum tentu sudah saya amalkan.
Padahal dia, kesulitan ekonomi tidak menghalanginya untuk berdakwah secara real di
masyarakat, bahkan cukup banyak dia memiliki binaan dakwah, padalah usianya masih
cukup muda, 23 tahun.

Kadang saya... ahhhh... malu rasanya untuk mengungkapkan semuanya.

Ya Allah... Saya takut kenikmatan yang Engkau berikan saat ini adalah untuk membalas
sedikit amal yang pernah saya lakukan, dan di kemudian hari ketika nyawa ini dicabut,
sudah impas, tidak memiliki amal kebaikan, hanya setumpuk dosa yang saya bawa
sebagai beban di kemudian hari nanti.

Astagfirullah... Ya Allah, ampunillah dosaku.

Sangat mungkin kondisi teman saya tadi adalah cara Allah untuk menghapus dosanya,
sehingga kemudian ketika dia meninggal nanti, dia sudah tidak punya dosa lagi, hanya
tumpukkan amal kebaikan yang dia bawa nanti. Allahu a'lam

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami;
ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami
terhadap kaum yang kafir." (Al Baqarah-286) (ish)

~ IdE ~
a_hadiana at yahoo dot com.

(untuk seorang al-Akh, saudaraku... yang sedang menunggu kehadiran buah hati
pertamanya, semoga Allah melancarkan proses kelahiran anaknya, menyelamatkan istri
dan anaknya)

Mari Berhenti Sejenak

Publikasi: 31/05/2004 10:45 WIB

Perjalanan hidup ini melelahkan, ya sangat melelahkan. Betapa tidak, di saat idealisme
kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam corak dan warnanya, kita harus
bertahan karena kita tidak ingin tujuan hidup ita yang jauh ternodai dengan kepentingan
sesaat. Ini bukan soal halal atau haram terhadap dunia dengan segala keindahannya, tapi
soal menyikapinya agar tidak tergiur dan terpedaya olehnya.
Gambaran ini dapat kita rasakan di saat harus mengatakan "tidak" di hadapan mereka
semua yang berkata "iya". Ketika ramai-ramai orang bicara ini dan itu dengan segala
argumentasinya, tuntutan idealisme kita membisikkan kita untuk "diam", tatkala orang
lain menilai bahkan mengecam kita dengan tuduhan ini dan itu, idealisme kitapun hanya
mengisyaratkan kita untuk sekedar senyum tanpa kata-kata. Di saat orang beretorika
dengan segala keahlian bahasanya, idealisme kitapun hanya meminta kita untuk
membaca pikiran di balik pikiran. Dan ketika orang ramai-ramai memperbincangkan
dunia dengan segala kenikmatannya, idealisme kitapun hanya mengalunkan satu kata,
"qonaah". Itulah idealisme kita di hadapan mereka.

Terkadang tanpa terasa idealisme kita tergeser lantaran pikiran kita terbawa arus yang
kita tidak menyadarinya. Belum lagi kondisi jiwa kita yang terus bergejolak
mempengaruhi pikiran kita. Pikiran-pikiran itu selalu datang silih berganti tanpa kenal
henti seiring dengan perjalanan hidup ini.

Memang, ini semua kita pahami sebagai sunnah kehidupan. Gelombang dan badai harus
dipahami sebagai ladang ujian, problematika hidup merupakan hal tidak bisa dipisahkan
dari hidup, pahit getir menjadi bumbu yang harus dirasakan oleh setiap kita, jatuh bangun
adalah tangga yang harus dilalui dalam menggapai sebuah cita-cita.

Letih, lelah itulah yang sering kita rasakan, kita sering merasakan kejenuhan, bosan
bahkan tidak peduli dengan kondisi. Namun jangan pernah ada perasaan pesimis apalagi
putus asa karena di balik semua itu pasti ada sesuatu yang dapat kita jadikan pengalaman
yang berarti. Dan yang kita perlukan adalah berhenti sesaat. Berhenti bukan berarti
selesai atau sampai di sini. Berhenti untuk merenungi kembali perjalanan yang telah kita
lalui, berhenti untuk memompa kembali semangat beramal, berhenti untuk mencas batrei
keimanan kita agar tidak redup.

Kita butuh waktu untuk melihat kondisi jiwa kita agar tetap stabil dan tahan dalam
menghadapi segalanya. Kita terkadang lupa bahwa ada yang harus kita tengok dalam diri
kita, "ruhiyah" kita. Kondisi ruhiyah kita yang selalu membutuhkan suasana yang teduh,
tenang sehingga ia menjadi kekuatan yang akan melindungi jiwa kita dari berbagai
rintangan yang akan menghalangi kita. Kita memerlukan nuansa ruhiyah yang nyaman
agar dapat berpikir jernih dan tetap semangat menjalani hidup ini. Kita butuh ketegaran
jiwa dalam menghadapi hiruk pikuk hidup.

Inilah yang senantiasa diajarkan oleh Muadz bin Jabal RA kepada sahabatnya dengan
ungkapannya yang menyejukkan hati "mari duduk sesaat untuk beriman". Berhenti
sejenak untuk menengok kembali kondisi keimanan agar tetap terjaga. Karena segala
yang kita alami dalam hidup harus dihadapi dan bukan lari darinya, ingatlah bahwa lari
dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah itu, bisa jadi justru akan menambah
masalah baru. Memperbaharui keimanan akan membawa kita untuk memahami hakekat
hidup ini dengan segala problematikanya. Mari kita sempatkan untuk selalu
memperbaharui keimanan kita ditengah kesibukan dan hiruk pikuk kehidupan

Adih Amin, Lc.


adihamin at arabia dot com.
Senja di Nasr City, Kairo, 29 Mei 2004

Hadiah Kesabaran

Publikasi: 24/05/2004 12:07 WIB

Rumah yang mereka tempati sederhana. Sesederhana penghuninya. Bukan milik mereka
berdua, namun rumah dinas. Shaila, perempuan yang tengah hamil tua itu tersenyum
menyambut kedatangan kami berlima, tamunya. Kami memang sudah lama tidak bersua,
bahkan semenjak Shaila belum menikah dengan Rais, yang masih kuliah hingga
sekarang.

"Alhamdulilah kami bisa menempati rumah ini!" kata Shaila mengawali bincang-bincang
kami, sementara saya melihat-lihat sudut-sudut ruangan yang nampaknya belum selesai
dibersihkan. Maklum baru ditempati.

Sambil melemparkan pandangan kesana-kemari, dalam hati saya berpikir, betapa


beratnya membersihkan rumah yang lama nampaknya tidak ditempati ini. Rumah dinas
itu konon sudah lebih dari sepuluh tahun tidak dihuni. Bisa dibayangkan betapa beratnya
kalau kita harus membersihkan dan merapikan perabotan dalam bulan-bulan pertama.
Kelelahan yang saya bayangkan ini ternyata tidak tergambar dalam raut muka si empunya
rumah. Sebaliknya, Shaila dan Rais justru penuh senyuman yang membuat kami makin
betah tinggal disana. "Rumahku Surgaku". Barangkali begitu prinsip mereka!

Pertemuan Shaila dan Rais terjadi karena si Rais aktif mengurusi pengajian kelompok.
Demikian pula Shaila. Ada 5 orang pemuda sebaya Rais yang barangkali karena
semangatnya sebagai pemuda dan pelajar, sehingga urusan pengajian menjadikan
sebagian kegiatan yang menyenangkan. Tinggal di luar negeri, belajar sambil beribadah,
mengurusi pengajian kelompok masyarakat mereka.

Rais dan Shaila dipertemukan oleh Allah SWT karena kegiatan positif ini. Tidak ada satu
kekuatanpun yang mampu menghalangi yang satu ini, jodoh, jika sudah dikehendaki
olehNya. Meski si Shaila sudah bekerja dan Rais masih sekolah. Meski keduanya belum
bisa dikatakan siap secara finansial. Meski si Shaila waktu itu diliputi kebingungan kelak
akan tinggal di mana jika sudah menikah. Dan masih banyak "meski-meski" lainnya.
Allah SWT-lah yang menentukan. "Kun..! (Jadilah!)" maka, jadilah mereka sepasang
suami-istri yang sah. Subhanallah!

Shaila semula tinggal di sebuah asrama bujangan milik pemerintah. Dua kamar dalam
satu flat. Sesudah pernikahannya dengan Rais, Shaila memang belum mampu untuk
pindah keluar dari asrama dan mencari pondokan sendiri. Sementara Rais yang masih
sekolah, juga tinggal di asrama pelajar. Jadi sebagai suami-istri, mereka "mencuri-curi"
kesempatan.

Shaila menyadari bahwa jikalau Rais datang ke asramanya, meski mereka sudah
menikah, teman se-flat Shaila nampaknya kurang senang. Naluri kewanitaan Shaila yang
membaca suasana ini. Sehingga Rais hanya datang di kala teman Shaila sedang bertugas
atau tidak ada di rumah. Kalaupun terpaksa, biasanya Shaila melarang Rais untuk tidak
keluar kamar selagi teman Shaila ada di kamar sebelah. Entah apa yang membuat Shaila
sepertinya takut sekali terhadap rekan sekerja di asramanya. Yang jelas Shaila memang
tidak ingin menyakiti hatinya, sekalipun Rais adalah suami Shaila yang sah.

Waktupun terus berlalu. Nampaknya teman se-flat Shaila, sebut saja Ira namanya tidak
betah melihat "pemandangan" di depannya. Shaila menyadari betul situasi ini. Kamar
yang ditempatinya memang bukanlah disediakan untuk keluarga. Adalah ilegal jika
keluarga tinggal di dalam asrama. Shaila tahu betul akan peraturan yang satu ini. Hanya
saja, karena Shaila sudah berumah-tangga, sementara sang suami juga tinggal di asrama
pelajar, satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi hal ini adalah harapan Shaila terhadap
rekan se-flatnya untuk mengerti akan keadaannya. Ternyata harapan Shaila tak tersambut.

Perang dingin pun terjadi. "Kan sudah aku kasih tahu, kenapa mau juga masih bawa
suamimu ke sini," tanya Ira suatu hari. Menyadari akan kesalahan ini, Shaila hanya diam.
"Kalau kamu masih ulangi lagi, saya akan laporkan, bahwa kamu membawa orang lain ke
kamar!" ancam Ira terhadap Shaila.

Shaila yang penakut, semakin gelisah mengingat ancaman-ancaman dan sikap yang
semakin tidak bersahabat dari Ira semenjak pernikahannya dengan Rais. Padahal dulu
sikap Ira tidaklah demikian. Bahkan kala menyelenggarakan pengajian bulanan atau
arisan bersama, mereka selalu nampak rukun dan bekerja sama menangani segala
kebutuhan kelompok. Apa yang menyebabkan si Ira begitu berbeda adalah di luar
jangkauan Shaila. Makanya Shaila amat sedih dibuatnya.

"Bagaimana jika kita pindah saja dari sini? Apapun yang terjadi, barangkali itu lebih baik
ketimbang hubungan saya dan Ira semakin keruh!" begitu keluh Shaila kepada Rais suatu
hari. "Tapi pindah ke mana? Status saya tidak memungkinkan, apalagi saya tidak
memiliki penghasilan, kecuali uang saku yang teramat sedikit jumlahnya jika
dibandingkan dengan jumlah kebutuhan bulanan kita," si Rais mencoba menjelaskan
sekali lagi kepada Shaila tentang keadaannya, sekalipun Shaila sebenarnya sudah
mengerti.

Shaila mendengar berita bahwa kisah suaminya yang sering menginap di asrama puteri
sudah sampai "ke atas". Artinya, ada orang yang melaporkan ke sana, yang membuat
hatinya semakin sedih. Sebelum Shaila menerima surat peringatan akan hal ini, dia
berharap segera mendapatkan jalan keluar.

Beberapa saat sesudah itu, Rais ketemu Zulkarnaen, rekan sepengajian. Sebagaimana
biasa, perbincangan mereka dari yang sifatnya umum, merambat kepada persoalan rumah
tangga. Hingga sampailah kepada permasalahan kamar mereka. "Bagaimana kalau
tinggal di tempat kami saja? Biar aku tinggal di kamar sebelah bersama rekan." Begitu
ungkap Zulkarnaen mencoba menwarkan jasa baiknya.

Rais terdiam, antara senang dan susah. Sebegitu besar pengorbanan mereka. Demikian
batinnya. Dalam hati dia tidak ingin menyusahkan temannya, namun dilain pihak, dia
juga tidak tega melihat sang istri Shaila menderita batin di asrama manakala Rais
mengunjunginya. Lagi pula, sebagai suami-istri mereka tidak selalu bisa bertemu setiap
hari karena kendala yang selama ini mereka alami.

Semula Rais berharap-harap cemas atas berita yang akan disampaikan oleh Zulkarnaen
hari itu. Rais tahu betul sifat Zulkarnaen yang jika membantu seseorang tidak sebedar di
bibir. "Subhanallah. Terimakasih Zul...!" kata Rais ketika Zulkarnaen menyampaikan
berita bahwa rekan se-flatnya tidak keberatan akan niat baik Zulkarnaen, yang pula
tinggal di apartemen milik pemerintah, untuk bujangan pria. Akhirnya Shaila dan Rais
pindah ke flat tempat Zulakrnaen. Legalah perasaan mereka. Di sinipun mereka tinggal
gratis. Rais berpikir toh mereka tidak akan selamanya tinggal disana.

Rupanya kepindahan mereka kali inipun belum menjanjikan perbaikan nasib. Karena
selang beberapa minggu kemudian, mereka mendapatkan berita "buruk". Bahwa pada
dasarnya mereka tidak memiliki izin tinggal di asrama tersebut. Ada orang yang kurang
senang yang melaporkan kejadian tersebut ke kantor pusat yang mengurusi pemondokan
itu.

Batin Shaila kembali menangis. Shaila bingung sekali menghadapi kenyataan ini.
Bingung karena harus pergi ke mana. Si Rais, meski sebagai suami, namun belum mapan
ekonominya, juga dihadapkan pada persoalan yang amat pelik. Tidak pindah ini
melanggar hukum dan dapat tekanan, mau pindah ini uang dari mana untuk beaya sewa
rumah? Apa yang dikuatirkan kemudian terjadi. Sepasang suami-istri ini kemudian
menerima surat panggilan dari dinas, yang mengurusi pemondokan mereka, termasuk
Shaila.

Dalam kegaduhan yang tidak menentu, mereka esoknya menemui sang manager. "Orang-
orang kamu ini bagaimana sih? Yang melaporkan kamu ini juga orang-orang dari
bangsamu sendiri, bukanya orang lain!" Kata sang manager, menyatakan bahwa laporan
yang diterimanya adalah dari orang-orang yang tidak lain adalah rekan-rekan kerja Shaila
sendiri. Rasanya malu sekali Shaila mendengarnya.

Rais dan Shaila makin bergetar hati menunggu vonis yang bakal mereka terima nanti
sebagai konsekuensi tinggal mereka yang tanpa izin. Namun betapa mereka terkejut
ketika sang manager memberikan sebuah kunci, dan "Mulai besok, kamu harus keluar
dari apartemen Zulkarnaen. Ini kunci rumahnya, dan kamu bisa tinggal di sana mulai
besok. Tolong dibersihkan, karena rumah tersebut sudah lama tidak ada penghuninya!"

"Subhanallah!" Begitu ungkap Rais dan Shaila menerima berkah dari Allah SWT.
Mereka semula sangat takut. Namun, siap menerima sangsi yang bakal diberikan. Hari
ini, bukannya hukuman yang mereka terima, tetapi hadiah. Shaila menangis! Terharu
menghadapi semua kenyataan ini.

Shaila jadi ingat ketika suatu hari Rasulullah SAW bersama Umar r.a sedang melayat, di
tengah jalan mereka ketemu seorang Yahudi, Zaid Bin Su'nah namanya. Tiba-tiba ghamis
Rasulullah SAW ditarik dengan keras olehnya, sambil berkata kasar "Hai Muhammad,
kembalikan hutangmu..!" sementara itu, leher Rasulullah, karena tarikan keras
ghamisnya, membekas kemerahan. Melihat sikap kasar tersebut, nyaris Umar r.a.
membabat leher si Zaid. "Kalau bukan karena Rasulullah melarang, sudah aku tebas
kepalamu!" kata Umar. "Umar, mestinya aku dan dia lebih membutuhkan perkara yang
lain!" kata Rasulullah, maksudnya nasihat. Rasulullah SAW membutuhklan nasihat untuk
melunasi hutangnya dan si Zaid membutuhkan nasihat untu meminta hutangnya dengan
baik. "Umar, berikan hak-haknya, dan tambahkan dua puluh sa' kurma!" perintah
Rasulullah SAW kepada Umar r.a.

Melihat Umar membawa serta hutang ditambah 20 sa' kurma, sang Zaid terkejut. "Ada
apa ini Umar?" "Rasulullah memerintahkan saya untuk memberikan ini kepadamu
sebagai imbalan kemarahanmu!"

"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu berbuat demikian kasar terhadap Rasulullah?"
kata Umar. "Saya Zaid bin Su'na. Pendeta Yahudi. Saya sudah mengamati sejak dari dulu
tanda-tanda kenabian yang ada pada Muhammad, kecuali dua hal: kesabarannya bisa
memupus kejahilan dan kejahilan yang ditujukan kepadanya bisa menambah kemurahan
hatinya. Karena itu ketahuilah ya Umar, aku bersaksi bahwa tiada Tuha selain Allah dan
Muhammad adalah Rasulullah."

Esok harinya Shaila dan Rais berkemas menuju rumah "baru" mereka, sebagai "hadiah"
kesabaran yang selama ini mereka jalani. Rumahnya kotor sekali. Perabotan-perabotan
yang ada di dalamnya sudah banyak yang rusak. Shaila merapikan perabotan-perabotan
tersebut. Bahkan korden pun dia lipati karena kuatir ada orang lain yang memilikinya.
Meja kursi pun banyak yang patah kakinya. Sepasang suami istri ini menggotong
bersama barang-barang tersebut ke tepi. Karpet rumah juga sudah tidak lagi layak
dipakai. Debunya barangkali bisa diukur dalam hitungan centimeter.

Hari kedua sesudah mereka bersihkan rumah, sang manager datang lagi. Kali ini bukan
melihat hasil bagaimana mereka membereskan rumah yang tidak dihuni selama sepuluh
tahun tersebut. Sebaliknya dia membawa barang-barang kebutuhan rumah, termasuk
meja-kursi baru, korden, karpet, dan sebagainya, untuk pasangan muda tersebut.

Subhanallalah. Melihat Rais dan Shaila saya jadi teringat betapa kita kadang tidak pernah
sabar dalam menghadapi sebuah cobaan. Bukannya syukur yang terungkap namun
cemoohan. Padahal Allah SWT selalu akan menggantikannya dengan yang jauh lebih
baik. Mungkin saja tidak sekarang tapi nanti. Dan itu pasti!

Sebagaimana kisah Rasulullah SAW dan Pendeta Yahudi Zaid yang diriwayatkan oleh
Hadist Riwayat (HR) Hakim diatas, ternyata sabar selalu berbuah positif bahkan mampu
memupus kejahilan. Tidak ada kamus kalah-menang untuk urusan yang satu ini. Dan,
sekiranya kesabaran diterapkan sebagai sebuah ibadah, seperti yang dialami Rais dan
Shaila, tidak ada istilah kesengsaraan dalam lembaran-lembaran kehidupan. Yang ada
hanyalah kenikmatan yang tertunda!

Syaifoel Hardy
shardy at emirates dot net dot ae

Kepada Mereka Para Pejuang


Publikasi: 12/05/2004 07:27 WIB

Kawan,
Tatkala kita merujuk kepada perjalanan kehidupan Rasurullah, ada hamparan cakrawala
maha luas yang terbentang sebagai tempat belajar yang tidak pernah menjemukan,
apalagi membosankan.

Kawan,
Di sana ada gambaran konkrit tentang kerja yang beliau laksanakan dalam membangun
puncak peradaban Islam.

Kawan,
Siapapun Engkau, kewajiban menyeru manusia jangan sebatas lisan, ini adalah hakekat
kehidupan, karena uswah dan qudwah telah memberikan bukti konkrit dalam bentuk
aktivitas, bukan terbatas pada lembaran sejarah, rangkaian kata, apalagi sekedar diskusi
pada seminar dan simposium klasik seperti yang biasa kita lakukan.

Kawan,
Kerja mentarbiyah ummat tidak bisa dilakukan hanya dengan improvisasi. Ia adalah kerja
besar yang menghajatkan adanya manhaj yang baku dan shahih, Al-Quran dan As-
Sunnah adalah manhaj baku tersebut, yang mesti teraplikasi dalam segenap aspek
kehidupan termasuk di dalamnya aspek pembinaan ummat.

Kawan,
Bentang cakrawala, tepis kemalasan, lepas belenggu dungu. Tunjukan semangat bagai
singa membaja. Tidak ada lagi waktu untuk bermalas durja. Bawalah Islam
membumbung tinggi
Dengan kepal tanganmu. Dalam setiap tarikan nafasmu.

Angin,
Sampaikanlah salamku kepada mereka para pejuang. Biar ku ikuti tapak kokoh kaki
mereka. Walau lemah ku berjalan.

Malam,
Lerai lelap tidurku. Manjakan qalbu ku dengan munajat. Biar bicara bisu hati ku pada
gelap malam. Walau berat air mata ku mengalir.

Embun,
Teteskanlah kesejukan iman ke dalam rongga dada ku. Biar dapat kupetik mawar Islam.
Yang akan mengaharumkan taman hatiku. Walau nafas ku mulai tersenggal. Karena
lelahnya ku berjalan.

Yesi Elsandra

Wajah-Wajah Bercahaya

Publikasi: 11/05/2004 07:04 WIB


eramuslim - Wajah-wajah di hadapan saya itu tampak bercahaya. Setiap mata
menyambut kedatangan kami dengan penuh persahabatan.
"How are you brother?",
"How is life?",
"Bagaimana keimanan anda hari ini?",
"Bagaimana keadaan keluarga, pekerjaaan dan lingkungan anda?".

Pertanyaan-pertanyaan tulus tersebut sangat menyejukan. Berkhasiat bagai multivitamin,


yang efektif meredakan kepenatan jiwa setelah satu pekan beraktivitas. Ditambah dengan
percakapan yang ramah tanpa intrik. Sungguh, sebuah perkumpulan yang meneduhkan
hati.

Setidaknya kesan itu yang saya tangkap, saat memenuhi undangan seorang sahabat, untuk
menghadiri pengajian rutinnya di suatu sudut kota Rotterdam. Dalam hingar-bingar kota
yang menjanjikan mimpi dan kemewahan, pengajian itu justru menawarkan ketentraman
dengan cara yang lebih elegan. Rutinitas duniawi yang menjadi nyawa kota pelabuhan
terbesar di Eropa itu, tidak mampu menganggu kekhusyuan mereka untuk mencari ilmu
agama.

Saya tergugah oleh kecerahan spiritual yang dipancarkan sahabat-sahabat baru saya
tersebut. Majlis dzikir itu mampu menyegarkan ruhiyah, bak oase di padang pasir. Dalam
ganasnya persaingan hidup di negara sekuler, saya terhibur oleh suasana persaudaraan
yang begitu hebat. Padahal, mereka bukanlah siapa-siapa bagi saya. Mereka bukan
kerabat dekat. Bahkan, bukan saudara sebangsa.

Para pemilik lisan-lisan, yang selalu bertasbih itu, tampak beragam. Nuansa internasional
sungguh terasa disana. Selain muslim Eropa, terlihat juga wajah-wajah Afrika, Asia
Tengah dan tentu ada tampang melayu seperti saya.

Ikatan ukhuwah yang mereka tawarkan sungguh mengusik hati. "Kok ukhuwah seperti
ini, mulai sulit saya dapati di negeri sendiri".

Berbagai pengajian yang sama-sama mengaku mengejar ridho dan cinta Rabb mereka,
terlihat tidak sinergis. Ormas Islam yang memiliki massa puluhan juta, sepertinya tak
pernah akur. Dalam Pemilu 2004 lalu misalnya, partai yang ber-label Islam terlihat
berjalan sendiri-sendiri dengan agenda dan kepentingan mereka masing-masing. Wajar
jika partai Islam menjadi kurang diminati.

"Bagaimana mungkin kita akan mempercayai partai politik yang sudah terjerat nafsu
berkuasa dan mengusung kepentingan mereka saja, tanpa pernah mau mengalah untuk
kesatuan umat", demikian komentar seorang rekan yang galau dengan kecilnya perolehan
suara partai Islam dalam pemilu kemarin.

Seorang sahabat yang lain, juga kesal dengan pertikaian yang mewabah di kalangan elit
organisasi islam. "Apakah ini sunah dalam perjuangan? Apakah kumpulan-kumpulan
yang berserakan itu akan mengundang pertolongan-Nya".
Sepertinya, rekan saya itu benar. Allah lebih mencintai perjuangan dari hamba-Nya yang
bersatu-padu. "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya
dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun
kokoh." (Ash-Shaff [61:4]).

Bukankah, tali ukhuwah harus lebih ditinggikan diatas kepentingan politik dan fanatisme
golongan. "Seorang mu'min dengan mu'min lainnya seperti satu bangunan yang tersusun
rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain." (HR Bukhari). Dalam hadist yang
senada, Rasul Saw berpesan, "Perumpamaan kaum mu'minin dalam cinta-mencintai,
sayang-menyayangi dan menaruh rasa simpati, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota
tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut sakit juga, dengan demam
dan tidak bisa tidur".

Sayangnya, "manajemen perbedaan" kita masih semrawut. Perbedaan yang semestinya


menjadi rahmat, malah menjadi perangkap. Konflik dianggap sebagai harga mati dari
sebuah perbedaan. Dengan alasan itu, sah-sah saja kalau dua saudara tidak berteguran
karena beda partai. Dengan alasan yang sama, wajar saja, bila persahabatan merengang
karena beda pengajian. Dalam konteks serupa, "anak gaul" cenderung menjauh dari "anak
ngaji". Sebagaimana generasi bapak mereka yang sudah terpisah oleh dikotomi "kaum
abangan versus santri".

Terlepas dari perbedaan budaya dan fikrah. Sebenarnya, pertikaian-pertikaian tersebut


tidak perlu terjadi. Yang sangat disayangkan adalah fakta bahwa perselisihan umat itu
justru menjadi warisan turun-temurun. Perselisihan terkesan seperti "dipelihara".
Perbedaan antar Ormas; misalnya NU-Muhammadiyah, selalu menjadi komoditas politik
para elit negeri. Sementara itu, polemik antar pengajian yang berbeda aliran, sengaja
dilestarikan agar umat ini tak pernah hidup rukun, agar bangsa ini tidak sempat duduk
bermufakat.

****

Jika melihat ukhuwah yang mulai terabaikan dan pertikaian yang mewabah, saya jadi
ingat persaudaraan yang ditawarkan majlis dzikir itu. Terbayang hati-hati mereka yang
berhimpun dan bertaut oleh tauhid. Untuk menghibur diri, saya akan berusaha mengingat
kembali wajah-wajah tulus tersebut. Sambil bermimpi indah akan kembalinya persatuan
umat. Semoga, kelak... ini bukan cuma mimpi.

Oki Omuraza
omurazza at yahoo dot com
TU Delft, The Netherlands

Menoreh Wajah Lusuh

Publikasi: 06/05/2004 11:51 WIB

eramuslim - Setiap kali Najiah bertugas, selalu saja yang dia temui wajah yang sama.
Gadis desa berpakaian kumuh layaknya tak terawat itu dengan setianya menunggui
perempuan tua kaya yang sedang sakit itu.
Sudah lebih dari dua minggu nenek tua tersebut berbaring diatas tempat tidur kelas satu
di rumah sakit (RS) umum itu. Nampaknya dari keluarga kaya. Dari beberapa orang yang
mengunjunginya bisa dilihat pola hidup mereka. Nenek jompo itu kini tiada berdaya.
Berbaring dengan ditemani oleh salah seorang pembantunya, Salma namanya.

Orang menyangka bahwa seluruh kerabat, anak-anak dan cucu-cucunya menyayanginya.


Bukti yang nyata di depan mata ini tidak dapat dikelabuhi. Tapi kenapa nenek itu ternyata
sendirian? Begitu jam kunjung selesai, bukan lagi anggota keluarga dekatnya yang
merawatnya, namun para perawat-perawat RS, tidak terkecuali sister Najiah. Keluarga
sang nenek membeli jasa mereka, merawat orang yang dulu dengan setia mengasuh dan
membesarkan anak-anaknya.

Sayang sekali, begitu giliran si ibu yang beranjak usianya, tua lenta, dan kini tidak
berdaya, oleh anak-anak yang dulu dicintainya kini dikirimkannya ke RS untuk dirawat
orang lain. Macam-macam alasan anak-anaknya yang semakin pintar karena lulusan
perguruan tinggi terkenal. Mereka semuanya sibuk sekali dengan urusan profesi dan
bisnisnya. Untuk berkunjung menemui sang ibu renta di pembaringan RS saja, harus
mengatur waktu yang nampaknya padat sekali. Mereka sepakat untuk bergiliran. Dari
empat orang anak yang ada, setiap hari, pagi dan malam, hanya seorang secara bergantian
menengoknya. Sang ibu yang sudah tidak lagi jernih penglihatannya, tidak bisa berbuat
banyak, kecuali harus menerima apa adanya. Toh si Salma ada di sebelahnya, gadis desa
yang lugu itu nyaris berada disana terus, sepanjang dia berbaring di temapt tidur RS.

Si Salma, pembantu rumah tangga (PRT) asal desa itu dibayar tadinya bukan untuk
menunggu sang nenek. Namun berhubung akhir-akhir ini beliau sakit dan harus mondok
di RS, tidak ada cara lain, kecuali menugaskannya disana. Penampilannya? Siapa mau
peduli? Mana yang perhatian dengan seorang PRT? Cantik atau tidak, necis atau kumuh,
toh tetap seorang PRT. Barangkali itu yang ada di benak si Salma. Tapi bisa juga salah
perkiraan ini. Bisa jadi si Salma ingin tampil apa adanya. Kalau memang dia tidak
memiliki pakaian yang cukup baik untuk dikenakan, lantas apa yang mau dipakai?
Demikian pula dengan make-up. Kenapa dia harus bersaing dengan nyonya-nyonya
rumah juragannya untuk urusan yang satu ini.

Jadilah si Salma sebagaimana adanya. Dia tampil seperti halnya sebelum bekerja sebagai
PRT. Tampak terlalu lugu bagi mereka yang belum pernah mengenalnya. Pakaian yang
dikenakan kayaknya juga itu-itu saja. Baju panjang kembangan biru yang sudah agak
usang, dengan jilbabnya yang tidak nampak rapi. Ah! Salma, bikin orang malas
melihatnya.

Pagi itu sister Najiah bertugas. Dia tidak kenal Salma, namun dia tahu siapa dia. Tidak
sulit untuk menerka, mana si juragan dan mana si PRT. Sister Najiah sebenarnya juga
tidak terlalu mau tahu urusan yang satu ini. Toh bukan pekerjaannya untuk campur
tangan urusan orang lain. Beberapa kali dia harus menemui nenek tua di kamar nomor
lima itu. Pertama kali dia harus melihat satu persatu pasiennya memang. Yang kedua dia
harus membantu mengganti linen tempat tidur. Yang ketiga, mengganti lagi karena sang
nenek (maaf) buang air kecil. Keempat, menemani sang dokter yang mengobati si nenek.
Dan masih juga belum jam 10 pagi waktu itu, dia harus kembali menemui nenek itu lagi
untuk memberikan obat yang baru saja diresepkan.

Lima kali ke kamar lima berarti lima kali pula sister Najiah ketemu Salma. Setiap kali
Najiah kesana, setiap kali itu pula dilihatnya Salma hanya duduk, seolah tanpa pekerjaan.
Padahal sebenarnya Salma dibebani tanggungjawab. Itu berarti Salma mengerjakan
sesuatu, hanya saja Najiah barangkali kurang memperhatikannya. Kalaupun saat Najiah
datang, ditemuinya Salma sedang duduk dan hanya memperhatikan bagaimana dia
bekerja, itulah memang pekerjaannya. Bisa saja Salma hanya dibebani pekerjaan untuk
mengamati sang nenek. Kalau ada apa-apa yang terjadi dengannya, si Salma harus
melaporkannya. Barangkali itulah tanggungjawabnya. Melihat bukan berati tidak bekerja!
Satu hal ini yang kayaknya belum dimengerti sister Najiah. Itulah yang bikin dia agak
"jengkel".

Pada dasarnya sister Najiah cukup baik. Dia supel dan santun kepada pasien-pasiennya.
Ramah serta cukup sabar, selain cukup cekatan dalam menyelesaikan tugas-tugas
keperawatannya. Kadangkala dia sibuk, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk merawat
pasien yang berjumlah 20 orang, bersama 3 atau 4 perawat lainnya, bisa saja kurang,
utamanya bila si pasien kurang bisa diajak kooperatif. Seperti kasus si nenek di kamar
lima.

Kelihatannya sister Najiah kurang simpatik dengan melihat penampilan Salma yang
begitu lusuh. Dia memahami keadaan gadis desa yang hanya bekerja sebagai PRT itu.
Hanya saja, waktu Najiah tidak kuasa menahan perasaannya untuk terus menerus
disembunyikan, sehingga "Mbak... mbok ya kalau kami ini sedang bekerja, membantu
mandiin si nenek atau memberikan makan, dan lain-lain, diperhatikan lah....!? begitu
ungkap sister Najiah, dengan suara agak berat, menyembunyikan kedongkolannya
terhadap sikap pasif Salma.

Salma diam. Entah apa yang dipikirkan. Siapa yang memang tidak jengkel melihat orang
yang berada di depan kita diam saja sementara kita lagi repot bekerja. Itulah konflik yang
dihadapi sister Najiah. Dia pendam saja perasaan itu. Toh kasus semacam ini bukan yang
pertama kali ditemui. Banyak orang-orang yang tidak peka akan pekerjaan. Bahkan tidak
tahu. Jangankan seorang PRT, rekan-rekan dia sendiri yang mengaku profesional ternyata
banyak pula yang cuek dengan pekerjaan rekan-rekan sekolega nya, padahal mereka
benar-benar sibuk. Eh...yang ini kok enak-enakan ngobrol dengan seseorang lewat
telepon genggamnya. Kalau yang profesional saja demikian, bagaimana dengan yang
hanya seorang PRT. Begitulah pikiran Najiah yang mencoba menetralisasi keadaan.
Untungnya dia tidak ceritera siapa-siapa.

Kejadian serupa berulang kali terjadi. Sister Najiah yang pada dasarnya kurang senang
disebut sebagai sister yang cerewet, tidak mau banyak bicara. Nggak baik kan? Begitu
pikiran yang ada pada diri Najiah setiap kali ingin menyampaikan sesuatu sebagaimana
yang pernah dikemukakannya kepada Salma. Sebetulnya bagi dia, itu sudah cukup kasar.
Harapannya, dia tidak perlu harus mengulanginya, untuk mengutarakan maksudnya.
Tanpa berterus terang. Maklum, orang Jawa.
Rupanya sister Najiah tidak betah untuk tidak mengatakannya langsung. Pagi itu, ketika
dia mengunjungi pasien di kamar lima, si nenek yang tidak bisa leluasa berpindah posisi,
menuntut Najiah untuk membantunya. Usai membantu memiringkan si nenek yang kini
kurus tersebut, dia berkata kepada Salma "Mbak...mbak....kalau kami kerja mbok ya
dilihat, biar suatu saat Mbak bisa bantu. Kami kan nggak selalu datang tepat waktu untuk
merawat pasien? Apa salahnya sih kalau Mbak juga ikut serta....?" Tanpa menyebut
namanya sister Najiah mencoba memberikan saran kepada Salma.

Rupanya Salma menyadari sikapnya selama ini, yang membuat sister-sister, khususnya
Najiah, jadi tidak enak. Sambil dirapikan posisi jilbabnya, dia berdiri, dan berkata "Sister,
sebetulnya saya sangat ingin sekali membantu sister merawat nenek ini. Hanya saja saya
memang diperintah oleh juragan untuk tidak ?menyentuh? nenek, saya memang dilarang
oleh mereka, kecuali sister!" dia utarakan suaranya perlahan.

Plaak!!! Seperti ditampar muka si Najiah. Sister yang juga ibu satu anak ini tidak pernah
menyangka bahwa dugaannya tentang Salma selama ini keliru. Dia malu sekali. Dia tidak
tahu harus berbuat apa untuk menutupi kekeliruannya tentang Salma selama ini. Tentu
saja mukanya rada merah karena berbagai perasaan yang campur baur jadi satu. Benci
dan marah terhadap diri sendiri, malu, merasa bodoh, sok merendahkan orang lain, dan
yang paling menyentuh hatinya adalah menilai Salma karena penampilan fisiknya.
Padahal penampilan fisik Salma selama ini tidak seburuk yang dibayangkannya. Apalagi
ketika Najiah melihat diatas meja pasien, tempat Salma biasa menyandarkan tangannya,
tergeletak beberapa buku.

Jadi selama ini Salma juga membaca? Begitu tanya sister Najiah kepada dirinya sendiri.
Padahal dia pikir si Salma pemalas dan jauh dari kegiatan apalagi yang namanya baca-
membaca ini. Dilihatnya sekilas buku-buku karangan AA Gym juga ada disana.
Diantaranya adalah "AA Gym: Apa Adanya". "Maafkan saya ya Allah atas kekeliruan
saya selama ini!" Begitu batin si Najiah yang segera menyadari prasangka buruknya
terhadap Salma.

Sesudah kejadian tersebut, dia merasa tidak enak sama sekali. Setiba di rumah dia
berceritera kepada suaminya : "Ba... Selama beberapa hari ini saya telah berbuat tercela!"
Begitu akunya, yang membuat sang suami agak terkejut. "Kenapa?" kata suaminya. "Aku
telah terlalu berprasangka jelek kepada sesorang hanya karena wajahnya nya yang tidak
cantik dan pakaiannya yang lusuh!" sang suami diam, memahami perasaan bersalah sang
istri. "Aku maluuu... sekali karena selama ini justru dia yang menurut saya malas,
ternyata justru melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia tidak membantu kami di RS
karena memang begitulah yang telah diperintahkan kepadanya oleh majikannya. Dibalik
penampilan yang kurang mengesankan ini ternyata dia seorang pembantu yang rajin
belajar tentang Islam! Ini aku sempat dipinjami salah satu bukunya".

Sambil ditunjukan buku milik Salma kepada sang Suami, sepertinya Najiah tidak pernah
habis-habisnya menyesali sikapnya selama ini. Bahwa Salma yang hitam, Salma yang
pendiam, Salma yang nampak kotor, memiliki kepribadian mulia yang nilainya jauh lebih
mahal dibanding segunung mutiara di lautan.
Begitulah. Kita terkadang seringkali dikelabuhi oleh pandangan mata kita sendiri, bahwa
apa yang nampak di depan mata ini tidak selalu mengekspresikan wajah aslinya. Bahwa
yang hitam tidak selalu identik dengan kegelapan dan yang putih tidak harus sama
dengan kesucian. Jika kita selalu menuruti apa kata bahasa mata, apa ungkapan
penampilan atau kelembutan sebuah rabaan, membuat kita tidak jarang justru tergelincir.
Masuk dalam lorong panjang yang melahirkan penyesalan yang amat dalam.

Syaifoel Hardy
<shardy _at emirates dot net dot ae>

Cinta Lelaki Mulia

Publikasi: 03/05/2004 16:46 WIB

eramuslim - Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya
pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu
melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah
seruan untuk mengesakan Allah. "Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan
apapun." Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut
khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu.

Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada


umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap
mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan
bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah, berilah kaumku hidayah, sebab mereka
belum tahu.”

***

Di Bukit Uhud, pribadi pilihan itu kembali terluka. Wajah Rasulullah SAW terluka, gigi
seri beliau patah, serta topi pelindung beliau hancur. Fatimah Az-Zahra, putri beliau,
bersusah payah untuk menghentikan pendarahan tersebut. Dua pelindungnya terakhir, Ali
ra dan Thalhah ra juga terluka parah.

Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan pahit itu. Pasukan pemanah yang diperintahkan
menjaga bukit, dijangkiti gila dunia. Silaunya harta rampasan menggerogoti keikhlasan
mereka. Akibatnya, pasukan kaum muslimin porak-poranda dan Rasul pun terluka. Meski
kembali disakiti, cinta lelaki mulia itu tetap bergema, “Ya Tuhanku! Berilah ampunan
kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

***

Thaif dan Uhud merupakan hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada
berbanding. Iltizam terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman itu.
Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta
kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi
yang juga sangat mencintainya. Cinta yang diperlihatkan Zaid bin Haritsah di Thaif
ketika menjadi tameng bagi rasulnya. Cinta yang dibuktikan Abu Dujanah, Hamzah dan
Mush'ab bin Umair di bukit Uhud. Tapi, adakah generasi terkini masih mencintainya?
Apakah umatnya sekarang tetap menyimak sunnah yang diwariskannya?

Sejarah berbicara, semakin panjang umur generasi umatnya, semakin menjauh pula
generasi itu dari risalahnya. Umatnya saat ini, cenderung mencemooh segelintir mukmin
yang masih menghidupkan sunnah. Buku-buku sunnah mulai terpinggirkan. Kitab
Bukhari-Muslim harus bersaing dengan textbook dan diktat yang lebih menjanjikan
keahlian dan masa depan. Serial sirah nabawiyah hampir menghilang dari tumpukan
handbook dan ensiklopedia yang biasanya menjadi asksesoris di ruang tamu keluarga
muslim.

Aspek sunnah dalam ber-penampilan dan berpakaian, ramai dikritisi dengan alasan tidak
praktis. Contoh dari Rasul dalam keseharian, pun semakin dihindari. Sunnah dianggap
simbol yang sifatnya tentatif, bukan sebagai panduan kehidupan (minhaaj al-hayaah).

Apatah lagi aspek syar'i. Begitu banyak argumen yang dihembuskan sebagai
'pembenaran' untuk berkelit dan menghindari aspek syar'i dari sunnah. Wabah 'ingkar
sunnah' ini mulai terjangkit dalam komunitas yang mengaku sebagai pengikutnya.

Keutamaan ber-shalawat kepada nabi pun nyaris terlupakan. Padahal Rasul berjanji untuk
menghadiahkan syafaat bagi umatnya. “Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan.
Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR
Muslim).

Jurang antara umat dengan warisan risalah Nabinya ini tentu merugikan. Kecemerlangan
pribadi Rasul nyaris tak dikenali umatnya. Padahal, dalam pribadinya ada teladan yang
sempurna. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab (33): 21).

Merujuk kepada sunnah yang diwariskan Rasulullah adalah ungkapan kecintaan


kepadanya. Cinta pada Rasul yang lahir dari keimanan kepada Allah. “Katakanlah jika
kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali
Imran (3): 31).

Mencintai manusia mulia itu, berarti meneladani sirah nabawiyah sebagai panduan dalam
mengarungi kehidupan. Kecintaan yang akan meluruskan langkah kita untuk ittibaa'
(mengikuti) dan mewarisi komitmen untuk menyampaikan risalah kepada masyarakat.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang hamba tidak beriman sebelum aku
lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR Muslim)

Omurazza-Delft, Rabiul Awwal, 1425 H

Mereka Sebenarnya Mengajarkan Kita

Publikasi: 14/04/2004 10:24 WIB


eramuslim - Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia
berdusta padamu. Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya. Saat kau
memberikan perhatian, dia tidak menghargainya. Hal yang sangat mengecewakan adalah
kau dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan.

Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu! Sebenarnya hal-hal yang kau
alami sedang mengajarimu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya
padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan, sebenarnya dia telah
mengajarimu agar kau tidak berperilaku seperti dia.

Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah
mengajarimu untuk menjadi orang yang arif dan santun, kau telah membantunya saat dia
dalam kesulitan.

Hal yang menyakitkan adalah saat kau mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak
mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan
pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang mengajarimu untuk RIDHA menerima takdir-
Nya.

Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan
orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa
tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak
diperdulikan/dicuekin, atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut
sedang mengajarimu uuntuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi
orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu.

Mungkin ALLAH menginginkan kau bertemu orang dalam berbagai macam karakter
yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan
dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana erterimakasih atas karunia itu
yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.
yenni@kan.co.id

Bidadari Kecil Itu Tak Pernah Sendiri

Publikasi: 12/04/2004 10:28 WIB

eramuslim - Matanya bulat, cantik dan jernih seolah tak berdosa. Tawanya pun selalu
lepas, sehingga menambah keceriaan di wajah. Usianya memang telah dewasa, namun ia
berprilaku bagaikan balita yang polos dan tak banyak meminta. Kelembutan yang
terpancar dari jiwa, juga telah menghapus kesempatannya untuk berbuat nakal dan dosa.

Ia adikku, Dian namanya. Limpahan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjadikan


dirinya ditakdirkan terlahir dengan keterbelakangan mental. Chromosome 15 Trisomy
Syndrome yang diderita membuatnya bagaikan seorang kanak-kanak. Namun, tak pernah
sekalipun ia terlihat menyesali nasibnya.

Dian memang anak istimewa. Selain cacat mental, menjelang akhir hayatnya ia juga
menderita sakit ginjal, diabetes, kelainan jantung, lalu lumpuh dan isu. Bahkan beberapa
hari sebelum maut menjemput, kebutaan pun merampas penglihatannya. Tangis
ketakutan yang kekanak-kanakan, akan membuat siapapun yang mendengar giris hatinya.

"Ma... ma... aku takut, gelap ma. Mama di sini sama aku ya ma," terdengar rengekannya
yang pernah membuat air mata mamaku tumpah. Beliau lalu mengajak Dian berdzikir
dan membaca do'a-do'a.

Apa yang diderita Dian pernah membuatku dan saudara-saudara yang lain berburuk
sangka kepada-Nya, "Ya Allah, mengapa Engkau timpakan penderitaan sepedih ini
kepada adik kami?" Pertanyaan itu sering kali menyeruak, dan bertubi-tubi menghujani
hati ini.

Kami pun pernah sedih karena memikirkan Dian yang tak pernah hidup normal seperti
layaknya saudara-saudaranya yang lain. Tumbuh dewasa, menikah,
lantas merasakan kebahagiaan berumah tangga. Namun, bukankah Allah Yang Maha
Pencipta tentu lebih tahu segalanya. Mungkin IA hanya tersenyum bijaksana, menatap
kesalahpahaman kami semua.

Dian memang cacat fisik dan mental, tapi tidak hatinya. Tubuh yang penuh tutulan obat
merah danperban karena koreng bernanah, bahkan sebagian hidupnya yang harus dijalani
dengan kursi roda, tak mampu menutupi keistimewaan yang ada pada dirinya.

Suatu peristiwa saat ia berusia 5 tahun, menampilkan sosok jiwanya yang begitu lembut.
Ia tak pernah tega walaupun terhadap semut-semut yang mengerubungi piring nasinya. Ia
hanya menjerit-jerit, "Ma... nyamut,
nyamut ma!" karena saat itu ia tidak bisa membedakan antara nyamuk dan semut.

Lalu aku yang saat itu mendengar tergopoh-gopoh menghampirinya, "Jangan menangis
Dian, ini kan cuma semut. Pukul saja, ntar juga semutnya pergi." Lalu uusir semut-semut
itu, dengan tepukan tangan di lantai teras depan rumah kami.

Allah Yang Maha Pengasih memang sangat mencintai Dian. Betapa tidak?
Kelahirannya disambut dengan penuh kebahagiaan, dan kematiannya di usia 30 tahun
adalah peristiwa terindah yang pernah kudengar.

Ketika itu, menjelang malaikat maut hendak menjemput, mamaku meminta Dian untuk
selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta'ala sambil membelai-belai lembut epalanya,
"Dian, nyebut ya sayang, ya Allah... gitu nak. Ya Allah... Allahu Akbar!"

Lalu mama membaca surah Yaa siin di pinggir tempat tidur, sedangkan bapak melakukan
sholat Ashar, tak jauh dari sisi tempat tidur Dian.

Lidah Dian mulai sulit bergerak. Namun orangtuaku dengan tabah berusaha
membimbingnya mengucapkan "Allahu Akbar, ya Allah." Hingga suatu saat, ketika
mama membisikkan kalimat itu, Dian menggenggam tangannya dengan kuat dan
bergumam lirih, "Aaaaaahhhhhh..."
Air bening pun bergulir dari sudut mata Dian yang telah buta. Mungkin sebagai isyarat
permintaan maaf, dan mohon kerelaan karena ia sebentar lagi akan erpulang kepada Sang
Pencipta.

"Pulanglah Dian ke haribaan Allah..." kata mama dengan tabah di sela isakan tangisan.
Lalu dengan tenang Dian meninggalkan kami semua dengan hembusan nafas terakhirnya.

Di saat penguburan, mama mengecup telapak tangannya sendiri kemudian melambai ke


pusara Dian. "Selamat jalan, bidadari kecilku. Tunggu mama di sana ya, nak," katanya
seraya menatap lubang peristirahatan terakhir Dian yang mulai ditutupi tanah merah oleh
para sanak saudara dan sahabat.

Adikku Dian memang benar-benar anak istimewa, bahkan teristimewa di antara saudara-
saudaranya. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala pun mengirim bapak untuk pulang
menyertai Dian, tak lama setelah kepergiannya. Mungkin sebagai jawaban kepada bapak
yang memang selalu merindukan anak istimewanya.

Sekarang bidadari kecil kami tak perlu takut sendirian, karena bapak telah berada di sana
untuk menemaninya.

Dian, adikku tersayang... Jangan takut untuk kembali kepada Allah ya sayang.
Engkau tahu, engkau tak sendirian. Mama pun selalu berkata, engkau tak akan pernah
sendirian, karena do'a dan segenap cinta kami selalu bersama dirimu, adikku tercinta.

Kembali kepada Allah adalah sesuatu yang indah. Bahkan teramat indah dari apa yang
mungkin pernah engkau bayangkan. Selamat jalan sayang, selamat tinggal adikku yang
teristimewa. Engkau memang bidadari kecil yang tak pernah sendirian.

WaLlahua'lam bi shawab.

Abu Aufa

Seperti yang dituturkan ibu Sri Lawson,


Highland-Michigan, tentang adiknya almarhumah Rr. Dian Tri Wulandari

Catatan:
Chromosome 15 trisomy: usually a lethal form of chromosomal aberrations. Most
surviving infants have mosaic trisomy 15 and exhibit multiple congenital omalies
involving the craniofacial, limb,
cardiovascular, and other structures.
(Online Congenital Multiple Anomaly/Mental Retardation Syndromes, 1999)

Renungan Penyesalan

Publikasi: 12/04/2004 09:46 WIB

eramuslim - “Penyesalan selalu datang terlambat”, kata-kata ini seakan sudah menjadi
hukum yang disepakati bersama. Jarang sekali pendapat “sesal dulu pendapatan, sesal
kemudian tak berguna” bisa diejawantahkan. Hal ini bisa terjadi karena kita belum bisa
menyeimbangkan tiga perangkat penting yang dianugerahkan Allah kepada kita : akal,
perasaan dan kecerdasan spiritual. Tiga komponen ini adalah satu kesatuan yang tak
mungkin dipisahkan.

Sulit sekali memang ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan atau pilihan, kita
“bertanya” dengan apik kepada ketiga komponen yang kita miliki tersebut. Terkadang,
perasaan lebih dominan hingga akal terkalahkan. Jadilah keputusan yang dibuat jauh dari
cara pandang secara umum. Atau sebaliknya, akal lebih menguasai hingga kita jadi
seorang makhluk yang tak punya rasa empati. Lebih parah lagi ketika kita sama sekali
tidak melirik pada kecerdasan spiritual yang kita punyai, dan kitapun tidak terlalu cerdas
untuk yang satu ini.

Maafkan saya sahabat. Penyesalan menjadi penting untuk dibahas, karena kecerobohon
demi kecorobohan yang saya lakukan akhir-akhir ini. Spiritual yang tak terasah telah
membuat saya melaju menjadi seorang hamba yang sombong, mengabaikan sunatullaah,
kehilangan rasa empati dan sering mengeluh. Pertolongan Allah serasa sulit digapai,
Syair lagu Bimbo “Aku jauh.. Engkau jauh… Hati adalah cermin.. tempat pahala dan
dosa bertarung.. “ seringkali terngiang tapi tak satupun perubahan yang saya lakukan.
Saya merasa “stag”, tak bisa bergerak, tak bisa berbuat apa-apa, bahkan menangis pun tak
bisa, tak ada yang bisa menyentuh perasaan terdalam padahal saya adalah seorang wanita.

“Tangis adalah senjata seorang wanita” tidak berlaku sama sekali. Hati ini terasa begitu
gersang. Saya merasa ngeri dengan diri sendiri, berada di “negeri lain” dan tak
menghiraukan dunia yang sudah ada. Saya tidak peduli dengan pandangan teman-teman,
saya tidak peduli dengan lingkungan, tidak bisa membedakan hak dan kewajiban,
mencampuradukkan benar dengan salah, dan tak ingin berpikir yang membuat lelah. Saya
lelah lahir batin. Norak ya sobat ?

Bacaan-bacaan penggugah semangat juga tak mempan. Perjuangan tak kenal lelah dari
Siti Khadijah dalam mendampingi Rasulullah, kesabaran Siti Hajar mencari mata air
untuk puteranya ketika terdampar di Padang Pasir, ketegaran Al-Khansa mengantarkan
puteranya syahid, kesetiaan para sahabat kepada Rasulullah lewat begitu saja, tak
berbekas ! Nasehat demi nasehat dari orang terdekat hanya melintas di telinga untuk
sekejap..

Hingga suatu hari, Allah mendatangkan seorang pemuda dari dunia penuh “kerlipan”,
dunia selebritis dengan kekayaan yang bisa menggoda iman. Dia berada di puncak
kejayaan. Usianya masih sangat muda. Grup band yang diusungnya menempati tiga besar
di jajaran panggung hiburan Dengan tampilan bersahaja, ia datang untuk berdiskusi. …
“Mba, jiwa saya gelisah, saya ragu apakah Allah ridha dengan apa yang saya perbuat saat
ini ? Saya ingin mencintai-Nya seutuhnya. Tahukah mbak? tidak jarang ketika azan
berkumandang, saya sedang sibuk berjingkrak-jingkrak dalam kalimat yang tak pantas.
Jauh dalam hati saya menangis, ingin berontak…” Kalimat sederhana itu merobohkan
semua tiang keangkuhan yang sedang meraja. Subhaanallaah…dia masih sempat ingat
Allah dalam dunianya yang hingar-bingar, dia ingin disayang Allah… sementara saya
menampik semua kasih sayang itu. Betapa tak bersyukurnya… Saya malu ya Allah..
benar-benar malu..

Dalam hati, saya teriak dan menangis.. hingga curhat-curhatnya yang lain tak sempat
saya dengarkan dengan seksama. Saya rasakan “tamparan demi tamparan” Allah merasuk
dalam hati, sejuk sekali.. Kasih sayang Allah serasa menjalar di setiap pembuluh darah.

Penyesalan selalu datang terlambat. Tiga bulan, cukup lama untuk sebuah kekecewaan
dan kemalasan, cukup lama untuk tidak istiqomah dalam melaksanakan amalan sunnah,
cukup lama untuk tidak khusyu shalat dan cukup lama untuk mengabaikan sesama. Tiba-
tiba rasa takut menyelinap.. andaikan Allah memanggil dalam keadaan terburuk itu,
sanggupkah saya menghadap-Nya ? Astaghfirullaah..

“Ya Rabb, jadikan penyesalan ku ini sebagai penyesalan terakhir. Beri aku kemampuan
untuk mengerahkan semua instrument yang Kau anugerahkan sebagai kompas untuk
penuntun langkah dalam setiap detak kehidupan, hingga tiada lagi penyesalan tak
berguna. Ijinkan aku menitipkan cinta untuk semua makhluk yang telah Kau hadirkan tuk
belajarku. Pandu aku untuk bisa selalu bermuhasabah. Ampuni aku ya Allah. Makasih
telah ajari aku cintai-Mu lewat jalan yang Kau sukai”

farah_adibah@yahoo.com

Aku dan Rabbku

Publikasi: 06/04/2004 09:46 WIB

eramuslim - “Basahilah lidahmu dengan dzikir” duh.. sudah berapa kali saya denger
hadist ini tapi …waktu yang digunakan untuk berdzikir masih sedikit, padahal Allah
berfirman “AKu bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku”. Allahu Akbar. Luar
biasa, mencoba untuk melakukan variasi dalam berdzikir kenapa tidak ? La illahaillallah
adalah sebaik2 dzikir …wueshh pikiranpun mulai menerawang balasan apa yang akan
Allah kasih jika saya mengucapkan Laillahailallah 1x apakah senilai uang 1 juta,10 juta
atau 100 juta, lebih, pasti lebih dari itu di hadapan Rabbul Izzati. Subahannallah.
Rugiii…..berapa sudah waktu yag hilang, uang yang hilang, istana yang tertunda di surga
nanti – InnaLillahiwainaillaihi’irojiun. Ga papa kan berdagang dengan Allah.

Imam Al Ghazali dalam risalahnya Al Asma Al Husna menuliskan kecintaan kepada


Allah bisa ditingkatkan dengan tiga cara ; (i) mengingatnya (ii) mempercayainya (iii)
mempertahankannya. Begitu pula Pak Ary Ginanjar dalam bukunya “Rahasia
membangun kecerdasan Emosional dan Spiritual” beliau menulis bahwa seorang hamba
bisa menjadi manusia yang luar biasa jika mau meneladani sifat-sifat Allah dengan cara
mengingat-ingatnya dan meneladani sifat-sifat-Nya.

Sesungguhnya antara hamba dengan Rabbnya ada 2 panghalang ; (i) ilmu dan (ii) ego
(Aku). Perasaan jenuh, bosen, mandek atau tidak ada peningkatan terkadang datang pula,
tapi ingat pesan “yang mencari akan menemukan” ada secercah harapan untuk mencari
lagi, baik itu dari buku, artikel baik itu di majalah atau di internet, seminar , maupun
taklim - apa saja. Alhamdulillah masih ada rasa haus yang belum terpuaskan dengan
minuman yang standard. Mencoba untuk flash back ke zaman para sahabat yang
memiliki tingkat keimanan yang mempesona dan berdecak kagum setiap kali membaca
kisahnya, sudah tentu pengetahuan mereka tentang surga, neraka, negri akhirat dan segala
sesuatu yang terjadi didalamnya berbeda dengan pengetahuan saya dan itu mungkin yang
membuat tingkat keimanan saya seolah tak bergerak. Ego, Aku “barang siapa yang
mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa yang mengenal
dirinya maka tidak ada waktu untuk mencari kesalahan orang lain”. Ada perasaan aneh
menghampiri ketika mencoba berlama-lama bercermin. sudah berapa jauh saya mengenal
diri saya dengan baik dan sudah berapa lama saya menyadari begitu sangat rentannya
melakukan kesalahan setiap detik.

Menjadi milik-Nya bukan sebaliknya menjadikan Allah sebagai milik saya dan mengikuti
semua keinginaan saya – Naudzubillahiminzalik, kebodohan apalagi yang saya lakukan
berlarut-larut. STOP. “Ya Rabb biarkan aku menjadi milik-Mu selamanya…menyatu
bersama-Mu, biarkan jiwa ini terbakar oleh cahaya-Mu..cinta-Mu”.

Teringat kembali firman Allah SWT “Sesungguhnya Aku mengikuti perasaan hamba-Ku
terhadap-Ku” kenapa tidak saya coba untuk mengatakan ke diri saya sendiri dengan
menggunakan 3 metode dari imam Al Ghazali diatas : “saya selalu bersamaMu ya Allah”
( bukannya saya ingin bersamaMu), “saya selalu mencintaiMu ya Rabb” (bukannya saya
ingin mencintai-Mu), “saya selalu merindukan-Mu ya Tuhanku”. Ada perasaan puas yang
mengalir, seolah-olah sesuatu yang sudah tercapai dan tinggal menikmati saja perjalanan
hidup bersama Al Malik, Al Aziz. Perasaan tenang, aman, damai, bahagia yang selama
ini dicaripun mulai rajin menjenguk orang pesakitan seperti saya.

WaLlahua'lam bi shawab.
yudha_bs@yahoo.com.sg

Tak Ada Milik yang Sempurna

Publikasi: 01/04/2004 09:29 WIB

eramuslim - Rencana. Hidupku penuh rencana. Meskipun belum semuanya bisa aku
rencanakan. Tapi pasti bukan hanya aku yang punya rencana. Aku yakin semua orang
juga punya rencana.

Bagiku, memiliki rencana berarti harus sekaligus mempersiapkan alternatif-alternatif.


Mungkin sama dengan yang dimaksud para pelaku bisnis Ada plan A, plan B, plan C dan
seterusnya. Tetapi menurutku itu saja tak cukup. Harus ada plan Z. Artinya, harus ada
kesiapan ketika semua yang ada di kepala tidak bisa berlaku lagi. Seperti pesimisme.
Mungkin. Tetapi bukannya segala bisa terjadi atas kehendak-Nya. Maha besar Dzat yang
segala berada di tangan-Nya.
Ku pasang target-target. Dengan begitu otomatis aku menyusun rencana agar target
tersebut bisa tercapai. Berusaha, yah, hanya dengan berusaha. Berusaha maksimal. Tak
boleh ada kata putus asa. Aahh, begitu besar semangatku.

Kalau dengan usaha maksimal kita tidak bisa mencapai target? Ya itulah plan Z.
Menyerah? Bukan! Masih ada harapan. Ditangan-Nya lah semua yang tak mungkin
terjadi bisa terjadi. Bahagianya, masih mempunyai tempat berharap. Kalau yang terjadi
tidak seperti yang kita inginkan? Ya itulah takdir. Terlalu sombong kita bila ingin
memaksakan keinginan kita melampaui kehendak-Nya. Qona’ah. Mungkin itulah istilah
yang lebih tepat.

Kita hanya bisa memohon agar apa yang diberikan-Nya kepada kita menjadi hal terbaik
demi keselamatan kita di tempat yang abadi. Bukankah kita sering tidak melihat apa
hikmah di balik peristiwa yang tidak kita kehendaki? Bukankah kita tidak bisa melihat,
kecuali hanya sedikit? Begitu rapi teori itu tersusun di kepalaku. Kalau ada teman
bertanyapun mudah sekali menjelaskan alurnya. Tapi bisakah menghadapinya?

Demikianlah, termasuk berumah tanggapun aku targetkan. Dengan berbagai


pertimbangan, aku ingin menikah pada usia 25, setelah menyelesaikan studiku dan tentu
saja bekerja. Kukira keinginan semacam ini hanyalah cita-cita sederhana. Mungkin
hampir semua orang juga memilikinya. Bukan hal yang luar biasa.

Ketika usiaku menginjak 23 dan aku belum juga mempunyai calon. Meski beberapa kali
ada yang mengutarakan keinginannya menikah denganku, entahlah, tidak ada diantara
mereka itu yang sesuai dengan kriteriaku. Belum ada yang bisa membuatku jatuh cinta.
Jatuh cinta? Apa pula artinya? Sangat mungkin berbeda dengan orang lain. Tetapi bagiku
cukup sederhana untuk mengukur apakah aku jatuh cinta atau tidak: yaitu perasaan bisa
menerima dia apa adanya tanpa ada tuntutan-tuntutan lagi. Dengan kata lain, semua
kriteriaku sudah terpenuhi. Yah, aku belum pernah jatuh cinta.

Maka aku bersiap-siap mencari calon. Pro-aktif. Tentu dengan kriteria-kriteria yang telah
kutetapkan. Tabu kata orang timur? Mengapa? Tapi bagaimanapun aku juga menyadari
hidup dalam masyarakat timur, yang mau tak mau masuk ke dalam norma-normanya.
Kukira tabu yang mereka maksudkan tidak berseberangan dengan syariat Islam. Bahkan
mungkin dalam hal tertentu bisa dikatakan mendukung. Di sisi lain, bagiku semua orang
diwajibkan berusaha. Jadi bisakah istilah tabu tersebut direkayasa?

Yang pasti, bukan pertanyaan itu yang menggelayuti pikiranku. Tapi apa yang bisa
kulakukan untuk mencapai targetku. Silaturahim? Memperbanyak wawasan?
Perprasangka baik? Memperbaiki akhlak? Semua ingin kulakukan demi mencapai target
dengan kriteriaku tersebut.

Sampai suatu sore yang begitu cerah dan lengang. Tenang mungkin istilah yang tepat.
Awan-awan putih menyibak ketepi mengiringi matahari yang pelan-pelan bergerak
semakin condong ke peraduannya. Tenang. Hatikupun terasa bening. Luas. Terasa luas
dengan menyibaknya awan-awan putih ke tepi langit. Yang pasti begitulah sore itu.
Tapi sepertinya bukan hanya suasana sore itu yang membuat hatiku bening. Aku sedang
menyadari bahwa aku sedang jatuh cinta. Indah rasanya menemukan seseorang yang kita
inginkan. Kurasa betapa ini semua adalah nikmat yang agung. Dua puluh empat tahun,
dan aku belum pernah mempunyai perasaan semacam ini. Ah, sungguh indah.

Dalam lubuk hatiku menggelitik kemungkinan-kemungkinan dan harapan- harapan.


Bisakah aku mencapai target yang satu ini. Yang jadi masalah adalah bahwa dia tidak
tahu perasaanku ini. What to do? Menunggu? Waktu segera memisahkan. Begitulah,
karena sore itu adalah akhir sebuah program yang mengikutsertakan kami.

Berharap? Ternyata aku tidak berani berharap banyak. Aku cukup mensyukuri
mempunyai perasaan yang indah ini. Jujur, aku merasa tidak harus memilikinya.
Do something! Yah, tapi aku harus melakukan sesuatu. Terlalu indah untuk dilewatkan.
Terlalu indah untuk mempunyai perasaan ini. Bahkan aku tak yakin akan memiliki yang
ke dua kalinya. Maka di sore yang bening itu. Kutulis sehelai puisi. Hanya untuk
menyampaikan perasaan ini.

Maafkan aku harus menyampaikan semua ini. Kau telah melelehkan hati yang selama ini
membeku, kaku, membatu. Tapi aku hanya ingin kau tahu. Kau tak harus mempunyai
perasaan yang sama.

Begitulah kira-kira isinya. Dengan hati bening pula kusampaikan padanya dalam sebuah
amplop dan kuminta dibacanya ketika sampai di rumah. Bukan di tempat itu.

Begitulah, rasanya nyaman bisa menyampaikan perasaan indah ini. Tanpa harapan sama
sekali? Bohong kalau kukatakan begitu. Ada, meskipun tidak banyak. Logikanya,
mungkin juga dia mempunyai perasaan yang sama, tapi tidak berani menyampaikan.
Who knows? Tapi juga harus diakui bahwa harapanku memang tidak menggebu-gebu.

Benar ternyata logikaku. Keesokan harinya dia mencariku dan mengatakan bahwa dia
telah mempunyai perasaan yang sama jauh sebelum aku mengatakannya. Oh, bisa
dibayangkan, sebuah keindahan yang hampir sempurna. Bagaikan gayung bersambut.
Sayang kami tidak mempunyai waktu bersama lagi. Sayang? Tidak juga. Justru takut juga
dengan kebersamaan. Takut fitnah. Takut zina mata, lidah dan lainnya.

Hari-hari aku lewati dengan rencana-rencana selanjutnya. Dan pertemuan beberapa kali
kami gunakan untuk bicara tentang masa depan dan makna hidup. Sungguh-sungguh
indah.

Sampai setelah kami tidak bertemu beberapa waktu, dia harus menyampaikan- nya
padaku. “Sayang ya dik, tidak ada sesuatupun yang bisa mutlak kita miliki. Hanya
Allahlah pemilik yang sempurna,” katanya seperti biasa, bijaksana, dan ini adalah salah
satu yang aku kagumi padanya. “Ya, tidak ada milik yang sempurna,” jawabku
menyetujui pendapatnya, “Eh, tapi apa sebenarnya maksudmu”.

“Maafkan aku. Tapi aku harus mengatakannya padamu. Terlalu indah memiliki semua
perasaan ini. Tapi aku harus jujur padamu. Aku juga tidak menghendakinya, tapi itulah
yang terjadi,” katanya panjang. Aku sudah tak sabar dengan apa yang ingin dikatakannya.
“Maksudmu?” “Kau tahu kenapa aku tidak menyampaikan perasaanku terhadapmu sejak
dulu? Karena….karena sebenarnya aku sudah dijodohkan,” katanya perlahan. Aku tak
tahu apa yang harus kukatakan. “Menurutmu apakah orang tuaku salah?” tanyanya
kemudian. Aku masih diam.

“Ibuku hanyalah seorang janda yang harus menghidupi dan menyekolahkan anak-
anaknya. Dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Begitulah dik, aku tidak bisa
menyalahkan ibuku juga, meskipun jujur aku tidak mencintai gadis itu”.

Kuhela nafas dalam-dalam. Sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan. Tak percaya
dengan apa yang dikatakannya? Tak ada alasan untuk percaya atau tidak. Tetapi kurasa
aku tak perlu berburuk sangka dengan tidak mempercayainya. Dia yang kukenal selama
ini lebih menguatkan prasangka baikku itu. Tapi sungguh aku tak bisa bicara sepatahpun.
Percakapan itu terasa membakar semua harapanku, meskipun tidak mengurangi
perasaanku padanya.

Akhirnya kukatakan pula dengan segenap kekuatan hatiku agar dia memilih yang terbaik
menurutnya. Berat ternyata, tidak semudah teori yang kutata di kepala.

Begitulah, semua kami akhiri dengan sehelai surat cinta. Dengan setengah kesadaran,
setengah patah semangat.

Plan Z. Aku masuk ke plan Z. Biarlah Allah yang memutuskan. Dia maha tahu yang
terbaik untukku. Meskipun dia tak boleh jadi milikku, perasaan itu tetap masih menjadi
milikku, kecuali dia berubah menjadi seseorang yang tidak lagi berada dalam kriteriaku.

Selamat jalan kekasihku. Semoga kita mendapatkan yang terbaik bagi dunia dan akherat
kita kelak. Bukankah kita hanya sedikit melihat. Dan Allahlah yang Maha mengetahui
segalanya dan maha berkehendak. Benar katamu, tidak ada milik yang sempurna.
Allahlah pemilik mutlak atas segala. Orang tua kita, saudara kita, anak-anak kita,
suami/istri kita, kekasih kita, kekayaan kita, semua milik-Nya. Ketika Allah
mengambilnya, siapa yang bisa bilang tidak.

tanti sutrisno
tantitan2003@yahoo.com

Dia Yang Tidak Sekedar Bicara

Publikasi: 25/03/2004 09:49 WIB

eramuslim - Ada dua pokok topik pembicaraan yang umumnya digemari remaja.
Pertama bagaimana kelak, dimasa depan, mendapatkan pekerjaan atau kedudukan yang
enak, dan yang kedua bagaimana bisa memperoleh harta yang banyak. Lumrah kan? Ya!
Karena hampir setiap orangtua, dengan bangganya selagi putera-puteri mereka masih
kecil, pertanyaan yang sering dilontarkan adalah, sebagai contoh, “Anak mama besok
mau jadi apa? Dokter ya?” sebuah paparan ideal. Pokoknya kalau tidak jadi dokter,
ya...insinyur. Padahal mereka tidak menyadari bahwa kedua profesi tersebut, untuk saat
ini, tidak sedikit yang berpredikat, maaf, pengangguran.

Ceritera lama kah ungkapan tersebut diatas? Tidak juga! Meski banyak lulusan
kedokteran yang pada akhirnya tidak kerja, ataupun insinyur yang akhirnya jadi buruh
pabrik, kedua profesi itu di sebagian besar belahan bumi lain tetap menjadi profesi yang
bergengsi. Hal ini disebabkan, menyandang gelar sebagai dokter atau insinyur identik
dengan kemapaman secara sosial dan finansial. Jarang sekali orangtua yang memimpikan
anaknya kelak, misalnya, jadi ‘imam besar’, atau cendekiawan Islam, meski yang satu ini
tidak boleh dikatakan bahwa secara finansial nanti akan lebih rendah dibanding kedua
profesi dokter atau insinyur. Di negara-negara Arab misalnya, jangankan menjadi seorang
imam masjid, cukup jadi muadzin nya saja bisa hidup ‘enak’! Jadi yang berada di jalur
madarasah, jangan berkecil hati!

Tapi teman saya yang satu ini, Salimin, memang lain. Maklum orang desa, yang murni
lugu dalam menyikapi kehidupan. Itu terjadi dua puluh tahun lalu, ketika kami masih di
bangku sekolah lanjutan atas. Kami biasa omong-omong kosong di sore hari, sambil
menunggu saat Maghrib tiba. Desa kami agak masuk sekitar satu kilometer dari jalan
raya utama di pesisir pantai Laut Jawa, atau daerah Pantura (Pantai Utara) orang
mengistilahkan. Pagi dan sore hari banyak orang-orang dari desa kami yang mayoritas
nelayan, berlalu-lalang melewati jalan makadam tersebut. Obrolan kami tidak berfokus,
kesana-kemari, tapi tidak membicarakan kejelekan orang lain.

Ditengah-tengah obrolan tentang orang-orang yang ‘berseliweran’ di depan mata kami,


Salimin, entah apa yang mendorongnya, tiba-tiba berucap: “Jika suatu saat nanti aku
punya sepeda motor, akan aku boceng orang-orang yang mau ke jalan raya sana!”.

Saya tidak pernah menganggap pembicaraannya serius. Layaknya remaja lain, yang suka
‘menggombal’, walaupun Salimin tidak bisa saya samakan dengan mereka. Salimin amat
sederhana. Dari keluarga kurang mampu. Untuk melanjutkan sekolah saja saya tidak
terlalu optimis akan bisa dilakukan. Tanpa bermaksud merendahkannya, barangkali yang
paling mungkin waktu itu adalah meneruskan profesi ayahnya sebagai pelayan, bertani
garam, atau menjual ikan ke kota.

Sebagian masyarakat kami berlayar mencari ikan. Sebagian lagi mengolah garam. Taraf
sosial ekonomi mereka tidak bisa dibilang cukup, namun juga tidaklah kekurangan.
Sehari-hari hanya dunia bisnis laut itulah yang kami lakukakan. Saya sendiri tidak terlalu
paham dengan kedalaman nilai-nilai Islam waktu itu. Wayang dan minuman keras adalah
sebagian dari hiburan sebagian masyarakat kami. Saya tidak bisa menyalahkan mereka.
Bagaimana saya mau menyalahkan kalau saya tidak punya modal sama sekali tentang
apa-apa yang harus saya sampaikan. Demikian pula dengan angan-angan Salimin
barangkali. Pemuda semacam Salimin merupakan sosok langka di desa kami. Jumlah
musholah yang hanya dua buah di desa kami, hanya dikunjungi oleh orang-orang
disekitar musholah saja, termasuk si Salimin.

Benar apa yang menjadi dugaan saya. Selepas SLTA, Salimin tidak mampu melanjutkan
sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Saya agak beruntung. Belum tergolong
kaya, namun dengan bekerja sebagai guru SD, Bapak saya masih mampu untuk
membeayai kuliah saya yang setingkat program diploma tiga. Alhamdulillah.

Sejak saat itulah hubungan kami, saya dan Salimin, ‘terputus’. Hubungan kami memang
tidak terlalu dekat sebenarnya. Hanya kesempatan-kesempatan seperti halnya obrolan
menjelang Maghrib sebagaimana yang saya kemukakan diatas, yang membuat kami bisa,
boleh dikatakan, melahirkan rasa persaudaraan sesama muslim.

Tahun-tahun berikutnya membuat saya ‘beda’. Ya! Beda karena lingkungan tempat saya
tinggal, belajar, berteman, semuanya amat berpengaruh terhadap perkembangan saya baik
sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dikemudian hari. Apalagi sesudah saya
bekerja, juga dituntut untuk memenuhi tuntutan perkembangan sebagai anggota profesi.
Tentu saja waktu-waktu yang tersita untuk pemenuhan kehidupan saya sebagai kombinasi
‘ketiga makhluk’ tersebut, yaitu pribadi, profesi dan anggota masyarakat’, membuat saya
tidak lagi larut dalam kehidupan saya sebagaimana di desa waktu itu. Salimin pun tidak
lagi pernah saya temui. Musholah dekat rumah kami juga paling banter hanya bisa saya
kunjungi sebulan sekali, karena saya tidak lagi tinggal di desa yang sama. Urban ke kota.

Dua puluh tahun sudah berlalu. Tidak terasa sama sekali. Beberapa kali saya berganti
pekerjaan. Dari kota satu ke lainnya hingga ke luar negeri. Komunikasi dengan keluarga
hanya bisa saya lakukan lewat surat. Ditengah banjirnya sarana telekomunikasi dan
komputerisasi, sayangnya desa kami tetap tertinggal. Listrik meski sudah masuk, tapi
hanya beberapa tahun terakhir ini saja. Telepon belum bisa sambung sampai ke desa.
Padahal jarak ke jalan raya tidak terlalu jauh. Telepon genggam juga suaranya tidak
begitu jelas di daerah kami. Singkatnya, desa kami masih tetap ketinggalan. Dari dulu
hingga sekarang tidak berubah: nelayan,ikan dan garam! Itulah kehidupan kami, meski
sudah dua puluh tahun silam saya meninggalkannya, kondisinya sama!

Setiap tahun saya pulang ke desa. Namanya juga ketinggalan! Biar semaju apapun yang
saya temui kehidupan di luar negeri, saya tetap prihatin juga melihat kehidupan sebagian
teman-teman yang masih tetap menggeluti ketiga dunia yang saya sebutkan diatas.
Sayangnya setiap saya pulang, karena suatu dan lain hal, tidak selalu bisa ketemu dengan
Salimin. Sebenarnya tidak ada niat untuk melupakan, tapi entah kenapa yang namanya
upaya mengingatnya juga tidak ada. Wallahu’alam! Bisa saja karena, yang namanya kami
sekeluarga yang jarang ketemu, apalagi teman-teman selama kuliah dan kerja dulu juga
rasanya ‘menuntut’ untuk ditemui. Jadi, itulah, nama Salimin tidak pernah tercantum
dalam ‘agenda’ liburan saya. Hingga suatu hari.....

Saya heran, sekalipun para nelayan desa kami memberikan sumbangsih yang tidak sedikit
buat kemajuan negeri ini, dengan ikan dan garam, tetapi jalan raya masuk ke desa kami
tidak pernah becus bangunannya. Dua puluh tahun sudah berlalu, masih juga tetap
‘makadam’ saja. Memang yang sekarang ini sudah beraspal, tapi ya... itu.... Maksudnya,
biar aspal, tapi tetap makadam. Dengan kata lain, aspal ternyata tidak membuat jalan jadi
mulus, alias tetap geronjalan. Jadi apa bedanya?

Orang kita kadang aneh!


Ditengah jumlah populasi desa yang membengkak dan krisis ekonomi, alhamdulillah
semakin banyak ternyata jumlah penduduk desa kami yang memiliki sepeda motor. Saya
kalau sedang pulang biasanya juga meminjam kendaraan bermotor milik kakak atau Pak
Lik yang kebetulan punya.

Suatu hari ketika saya sedang mengendarai sepeda motor, dari rumah ke jalan raya
utama, kebetulan di dekat rumah ada seorang ibu yang mungkin saja sedang menunggu
Ojek, atau apa, saya tidak terlalu perhatian. Saya mengenalnya. Saya sempat pula
menyapanya, tidak lama, karena saya sedang berada diatas sepeda motor, boncengan
bersama adik saya. Kemudian saya pamit padanya untuk meluncur duluan. Ibu tersebut
mengiyakan.

Saya terkejut sekali ketika sesampai di mulut jalan raya, kok ibu tersebut sudah berada
duluan di depan saya. Ketika saya tanya kepada beliau bagaimana bisa sampai datang
duluan, dijawabnya “Saya diboceng Pak Salimin, imam musholah kami!”

Byaaarrr.....! Ingatan saya seperti dihantam halilintar untuk menengok kembali apa yang
dulu pernah kami, saya dan Salimin bicarakan. Bahwa kelak jika dia punya sepeda motor,
dia akan antarkan orang-orang desa menuju jalan raya sana. Saya yakin ini bukan suatu
kebetulan!

Subhanallah. Salimin. Saya tidak pernah menyangka bahwa apa yang dikemukakan
kepada saya dulu bukan omong kosong. Tidak sekedar basa-basi dan tanpa makna.
Salimin yang dulu ternyata sama dengan yang sekarang saya temui, apalagi dia
menduduki posisi lebih mulia kali ini, imam masjid.

Saya sadar bahwa ditengah arus globalisasi ini orang sudah banyak yang mulai enggan
perhatian terhadap nasib yang menimpa sesamanya kecuali jika memberikan keuntungan.
Artinya, setiap kebaikan yang dilakukan sebagian besar umat manusia yang katanya
moderen ini, lebih bersifat ‘riya’, alias bermakna ganda. Kita hanya mau melakukan
kebaikan karena mengharapkan imbalan.

Apa yang dilakukan Salimin benar-benar menggugah kesadaranku. Salimin memiliki


kepedulian yang tidak banyak dimiliki oleh sebagian besar umat manusia. Salimin telah
mengajarkan sebuah kebajikan yang kemudian diimplementasikan dan menghasilkan
produk yang bagi sementara orang nampaknya simpel sekali. Padahal tidak!

Kebanyakan kita memang hanya pandai membuat janji, tapi tidak cukup pandai untuk
menepatinya. Dan, kebanyakan kita hanya pintar berangan-angan hanya selagi dilanda
kemiskinan. Tapi bukan bagi Salimin, sosok kebanyakan.

Syaifoel Hardy

shardy@emirates.net.ae

Artikel ini diilhami oleh ceramah Sdr. Noor Hadi di Ajman, UAE 12/3/2004
Aku Menyaksikan Tangismu…

Publikasi: 20/03/2004 15:02 WIB

eramuslim - Dia menelungkup, membenamkan wajahnya pada kedua tangan yang dilipat
di atas meja, kemudian menangis tanpa suara. Sesaat hening, samar-samar Raihan
bersenandung puji-pujian melalui speaker komputer. Kami bertiga duduk berhadapan
dalam sebuah laboratorium kedap suara.

“Kapan kejadiannya?” tanyaku setengah berbisik. Dia mengangkat wajah dan menerima
selembar tissue yang disodorkan ikhwan.

“Kamis malam” katanya pendek. Bagaimana mungkin? Kemarin dia terlihat ceria seperti
biasanya, alangkah pandainya dia menutupi semua kesedihannya, kataku dalam hati.

“Lalu apa yang terjadi?” ikhwan bertanya. “Aku menahan tangan ayah yang sudah
mengangkat meja, aku tidak mungkin
membiarkan Ibu dipukuli meja kayu.” jawabnya “Kejadiannya cepat, dan aku hilang
kontrol, aku tidak bisa menahan diri seperti biasanya, aku akan memukul Ayah, tapi
adikku menghalangi Kami, dan menjerit-jerit.” lanjutnya.

“Aku ditarik Ibu masuk kamar, Kami berdua mengunci pintu, Ibu menggigil ketakutan,
Ayah menggedor-gedor pintu, berteriak-teriak memaki, kemudian berusaha mendobrak
masuk., tapi tidak berhasil”.

Dia menghela napas “Ayah mulai memecahkan kaca-kaca, bahkan kaca di atas pintu
kamar, pecahannya jatuh menancap hanya satu senti dari tanganku. Ayah lalu berteriak-
teriak dan mengancam akan membakar rumah.”

“Apa?” aku dan ikhwan berseru kaget. “Ya, tapi alhamdulillah tiba-tiba nenek datang,
beliau langsung menjerit-jerit karena ternyata adikku pingsan, jadi perhatian Ayah
langsung teralihkan. Aku dan Ibu akhirnya keluar setelah nenek mengetuk pintu.”
Jawabnya, “Tentu saja ayah menyalahkanku karena kejadian ini, dia memaki aku di
hadapan saudara-saudaraku yang datang kemudian. Akhirnya adikku siuman jam 6 pagi.
Aku pergi kerja setelah didesak Ibu, aku sempat berpesan pada Ibu untuk pergi dari
rumah kalau Ayah berusaha menyakitinya lagi”.

“Apa Ayahmu melakukannya lagi?” Tanya ikhwan “Tidak, kemarin dia pergi, entah
kemana, mungkin berjudi lagi, Ayah baru pulang larut malam.” Katanya “Ugh
menyebalkan” kataku tanpa sadar, “Mestinya Ayahmu diadukan ke Asosiasi Pembelaan
Perempuan, biar dipenjara.”

“Yaaa mesalahnya keadaan tidak sesederhana itu kan..” kata ikhwan. Tiba-tiba dia
tersenyum, lalu bangkit “Terima kasih ya kalian sudah mendengarkan, terima kasih.”
sebelum melangkah ke luar ruangan dia berkata, “ Semoga suatu saat keadaan membaik.”

Aku dan Ikhwan termenung.


Aku memandang gerimis lewat kaca jendela kamar, mengingat kejadian tadi siang. Baru
pertama kali aku menyaksikan ia menangis setelah 2 tahun aku berteman dengannya. Aku
tidak pernah menyangka bahwa masalah yang ia hadapi begitu berat, sampai ia
memutuskan untuk menceritakannya pada
diriku dan Ikhwan. Kami bertiga bersahabat baik, hampir sebaya. Tiba-tiba aku
menangis, air mataku jatuh satu-satu…

Kata-katanya tadi siang masih terngiang :


Ayahku pemarah…
Ayahku dulu sering selingkuh…
Sekarang tidak, tapi dia suka berjudi..
Dia sering memaki Ibu..
Dia sering menyakiti Ibu..
Padahal Ibu lah yang bekerja keras..
Padahal aku yang membiayai adikku sekolah..
Tapi Ayah tetap tidak perduli..
Dia tetap menyakiti kami…
Dan Ayah mengancam Ibu..

Dia tidak sanggup lagi berkata…lalu dia menangis….dan aku menyaksikan tangisnya..

Sekarang aku mengerti….mengapa dia melewatkan begitu banyak kesempatan kerja di


luar kota, padahal gaji yang akan diperoleh lebih dari apa yang telah dia dapatkan di
perusahaan tempat kami bekerja… karena dia tidak mungkin meninggalkan Ibunya, dan
belum mampu membawa serta Ibunya dengan kondisi keuangan seperti saat ini..

Sekarang aku mengerti…mengapa dia menunda untuk menikah, karena saat ini dia hanya
ingin mencintai Ibunya..Ibunya yang sudah sebatang kara dan sering disakiti Ayahnya…

Sekarang aku mengerti....mengapa dia begitu peka terhadap segala sesuatu yang
berhubungan dengan seorang Ibu..
Sekarang aku mengerti…dia telah mengorbankan semuanya….Untuk melindungi dan
memuliakan Ibunya..

Aku teringat jawaban Rasulullah saw saat seorang sahabat bertanya tentang orang yang
mesti dimuliakan..”Ibumu..ibumu…ibumu…, setelah itu baru
Ayahmu..”

Di luar, gerimis telah menjadi hujan lebat…

Maret 2004
pinka@eramuslim.com

Hidup di Negeri Orang, Indahkah?

Publikasi: 18/03/2004 08:52 WIB


eramuslim - Tergambar ketika harus pergi ke negeri sebrang. Tidak sedikit orang yang
memandang dengan rasa bangga, kagum, iri, entah apalagi. Seakan hal-hal yang
membahagiakanlah yang tersirat dalam benak mereka. Dalam beberapa hal mungkin
mereka tidak salah. Tetapi dalam satu hal yang justru sangat prinsip, pandangan itu tidak
bisa dianggap benar.

Alhamdulillah kita hidup di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan
pemerintahan yang tidak mempersulit kehidupan beragama kita. Apalagi dengan adanya
lembaga-lembaga seperti MUI dan tentu masih banyak lagi yang membela kepentingan
umat sehingga pelaksanaan ibadah kita tidak dipersulit, kita pantas memanjatkan syukur
berlipat-lipat .

Berbeda bila kita hidup di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim atau
bahkan jumlah muslim belum masuk dalam hitungan statistik karena dianggap tidak
signifikan. Dengan tingkat kesulitan membedakan yang halal dari yang haram, yang
boleh dilakukan dan yang tidak tentu dengan parameter norma-norma Islam, mudahkan?

Kita pantas berdecak kagum melihat muslim yang masih taat menjaga akidahnya.
Bayangkan bagaimana dia bergaul dengan teman-temannya. Bagaimana dia setiap kali
menolak ajakan minum alkohol dan makan serba haram yang sudah menjadi budaya
mereka. Meskipun, tentu saja, ini adalah contoh klise yang sangat sederhana. Masih
seabrek lagi contoh lain. Paling tidak dari contoh ini, tebakan berikutnya adalah: dia pasti
dikucilkan dari lingkungannya. Ini adalah social judgment yang mau tak mau langsung
dirasakan. Ketika orang lain bisa dekat dengannya pasti dia telah melakukan banyak
social bargaining. Jadi kalau ada seseorang semacam itu, tentu dia mempunyai ketahanan
mental yang luar biasa.

Dengan ilustrasi semacam itu apa yang lebih mungkin terjadi pada muslim yang hidup di
lingkungan semacam itu. Kalaupun keislaman masih diakui, ada dua kemungkinan: ikut
arus atau berdiri di sudut. Artinya menjadi muslim dengan ketahanan mental yang luar
biasa tersebut atau menjadi muslim yang tidak Islami. Tetapi kecenderungan bisa di
prediksi. Ketika muslim dalam lingkungan yang kondusif untuk menjalankan tuntunan
rasulullah s.a.w. saja tidak bisa dikatakan taat, apa yang akan terjadi bila dia hidup di
negara orang.

Bagaimanapun, ini hanyalah logika sederhana. Hidayah dan kekuatan sepenuhnya ada di
tangan Allah ta’ala. Dan itu yang kita harapkan. Yaitu adanya muslim-muslim yang
bermental baja dalam memperjuangkan kebahagiaan yang lebih abadi dan
mengesampingkan kesenangan duniawi yang sementara. Yang lebih baik membiarkan
dirinya, dalam beberapa hal, terlempar dari pergaulan sesamanya, tetapi merasakan
kedamaian karena penuh harapan akan masa depan yang lebih menjanjikan.

Tentu saja pembedaan diatas hanyalah merupakan dua kutub dalam suatu kontinum. Di
antaranya masih banyak sekali variasi, baik yang lebih cenderung ke kutub satu atau
lainnya karena berbagai variable yang menurut mereka syah. Lepas dari hal-hal tertentu
yang sifatnya khilafiyah. Dalam beberapa hal situasi yang tidak kondusif dalam
lingkungan semacam ini oleh banyak orang dianggap keadaan yang darurat. Wallahu
a’lam.

Riri, sebut saja begitu, seorang anak SD, lebih fleksibel bergaul dengan teman lainnya
dibanding Vina karena dia menjalani kehidupan yang lebih menyatu dengan teman-
temannya tersebut. Sedang Vina tidak diperkenankan makan makanan tak halal semeja
dengan makanan temann-temannya dan orang tuanya lebih baik membekalinya dengan
makanan yang mirip tetapi halal. Ia hanya boleh memakan yang sama bila kebetulan
makanan tersebut halal. Ini adalah perbedaan.

Dan dimata teman-temannya ini aneh. Tidak seharusnya begitu. Mungkin itulah pikiran
sederhana mereka. Ini adalah sebuah konflik yang kelihatannya kecil, tetapi bagi Vina
merupakan masalah yang tidak bisa dibilang kecil, karena resiko yang ditanggungnya.
Seorang anak, meskipun tahu kenapa dia dilarang oleh orang tuanya, tidak mampu
menjelaskan dengan kata-kata yang bisa diterima teman-temannya. Karena mereka juga
tidak bisa mengerti dengan mudah mengapa harus begitu. Tapi begitulah semuanya
berjalan seperti yang ada. Riri dan Vina, dua anak muslim dengan perilaku yang berbeda.

Bisa terbayang perbedaan sikap orang tua yang tercermin dari perilaku anak-anak
mereka. Hal-hal yang sifatnya memudahkan sering dianggap syah-syah saja. Yang
demikian itu merupakan pendidikan kecil yang bisa beresiko besar sekali. Karena anak
akan cenderung menganggap kemudahan-kemudahan yang lainpun harus didapatkannya.
Yang terjadi selanjutnya adalah pencampur-adukkan aturan. Antara yang boleh dan yang
tidak, yang memang sering tipis, sekarang sudah tidak bisa dibedakan lagi. Bagaimana
harus menjelaskan kepada orang lain dengan logis? Bunuh diri. Bunuh diri karena yang
tipis yang karena tipisnya harus dipilah dengan hati-hati dicampur-adukkan begitu saja,
sehingga ketika dipertanyakan tidak ada lagi jawaban yang bisa diterima akal sehat.
Inilah kenyataan yang sering terjadi.

Bagi muslim yang hidup dalam lingkungan semacam itu untuk sementara waktu saja,
masih lebih banyak harapan akan memperbaikinya bila lingkungan tersebut ditinggalkan.
Sedang bagi sebagian yang hidup permanen keimanannya bisa terkikis dari hari ke hari.
Dan akhirnya? Bisa tergadai. Naudzubillahi min dzalik.

Oleh karenanya kita sangat urgen untuk bergandengan tangan. Bersama-sama memilih
dan memilah yang haq dari yang bathil. Saling ingat mengingatkan. Saling menyiram
jiwa yang rentan. Tidak perlu harus dengan kritik. Kritik kadang-kadang justru
menakutkan bahkan menjijikkan bagi sementara orang. Dan ini justru beresiko dijauhi.
Kasih sayang harus lebih banyak ditebar. Meski kadang harus mengesampingkan
nyerinya goresan. Masya alloh. Bahagialah jiwa-jiwa yang besar.

Inya Alloh, hal sekecil ini menjadi jihad bagi mereka yang masih berusaha menegakkan
akidahnya. Insya allah nilai pahalanya lebih dari yang hidup dilingkungan yang kondusif.
Terutama bagi mereka yang karena perkawinan harus tinggal di negeri orang yang
demikian itu. Bagaimanapun, akidah adalah urusan masing-masing pribadi. Suami/istri
kita? Jadilah pintu hidayah bagi mereka. Bukan sebaliknya, mengalir dalam arus yang tak
jelas. Ini adalah tugas yang luar biasa berat.
Meski dimulai dari hal yang kelihatannya kecil dengan menciptakan diri kita menjadi
diri-diri bermental baja yang tentu tidak mudah. Tidak semudah memilih hitam putih.
Tapi usaha kita insya alloh menjadi jihad kita.

Bagaimana dengan membiarkan keluarga kita bekerja atau hidup di negeri orang?
Ilustrasi di atas mudah-mudahan bisa menjadi pertimbangan. Kesiapan dan resikonya ?
Di sinilah bisa dilihat bahwa hidup di negara orang atau menikah dengan orang asing bisa
dibilang bukan sesuatu yang membanggakan. Melainkan menyedihkan.

Sepintas terasa berat. Tetapi tidak ada yang berat segala sesuatu yang dikerjakan dengan
ikhlas lillahi ta’ala. Wa nusyuki wa mahyaya wa mamati, lillahi rabbil’alamin. Semua
menjadi ringan. Indah, semua bisa menjadi indah. Dengan memahami bahwa kebahagian
dunia hanyalah sementara, dimanapun kita hidup akan terasa indah. Siapkah kita?
tantitan2003@yahoo.com

Life Is Beautiful

Publikasi: 12/03/2004 03:31 WIB

eramuslim - 8 Maret 2003, boleh jadi adalah hari paling membahagiakan dalam hidup
saya. Hari itu, saya iseng mengikuti bakti sosial di kampus karena kebetulan tidak ada
kuliah. Kali ini kunjungannya ke panti asuhan anak-anak dengan cacat ganda. Mula-mula
biasa saja tanpa kesan. Saat briefing, para peserta kunjungan sosial cuma diberi petunjuk
membuat origami sambil dibagi per kelompok. Saya pun berpikir kunjungan ini akan
biasa-biasa saja.

Di depan RS Al Ikhsan, angkot yang kami tumpangi berhenti. Bangunan di depan kami
biasa saja. Sekilas tampak tak terawat dengan papan nama yang pasti akan terlewatkan
begitu saja kalau tak kita perhatikan benar-benar.

Saat menapaki tangga masuk, telinga saya dikejutkan dengan teriakan-teriakan yang
datang dari beberapa anak penghuni panti. Sungguh, baru pertama kali saya mendengar
teriakan-teriakan seperti itu. Mereka tampak sangat senang dan itu diluapkan dengan
menjerit, bersorak, dan memegang tangan kami dengan antusias.

Buat saya, ini pertama kalinya saya berdekatan dengan anak-anak cacat seperti itu. Dalam
kelompok-kelompok itu kami membuat kapal-kapalan, topi bajak laut, pesawat dan lain-
lain. Di sana saya mengenal mereka.

Ada Heni, kepalanya besar seperti penderita Hydrocepallus. Dia mengingatkan saya pada
Gutomo, tetangga saya di rumah.

Ada Dewi, yang gemuk, lucu, dan pintar menyanyi. Kadang ia berteriak memekakkan
telinga, tapi ia selalu mengundang tawa.

Ada Osa, anak ini pendiam dan tampak normal tapi tak terlalu cerdas dibanding yang
lain. Saat kami pandu membuat origami lipatannya tak serapi Heni.
Ada Titin yang paling antusias menyambut kami. Jika ada orang datang, ia yang paling
depan berlari.

Ada Sri yang tampak paling parah. Gerakannya tak terkontrol dengan air liur yang selalu
menetes. Sri tak bisa berjalan, ia hanya bisa pakai kursi roda.

Ada Maya yang sebenarnya cantik meski kadang tampak seperti cowok. Ia juga tak bisa
berjalan. Kemana-mana ia ngesot jika tak ada kursi roda.

Ada Pipik yang subhanallah, berjilbab dan hapal lagu-lagu nasyid terbaru. Di sana, ia
bahkan sempat menunjukkan kebolehannya itu di depan kami.

Anak-anak ini dikaruniai kemampuan menahan sakit yang hebat. Saat acara itu, di dekat
saya ada seorang anak yang kukunya lepas. Ketika saya tanya, dia bilang itu karena
terkena jarum. Ketika diobati, wajahnya tampak biasa saja seperti tak merasa kesakitan,
padahal hati saya sudah miris melihatnya. Ibu pengasuh di situ menjelaskan bahwa
kemampuan mereka menahan sakit memang luar biasa.

Ketika acara nyanyi-nyanyi dimulai, suasana jadi sangat seru dan meriah. Saat itulah saya
baru benar-benar merasakan apa itu gembira, apa itu bahagia. Melihat mereka tertawa,
bernyanyi, bertepuk tangan, dan bersorak, rasanya semua masalah di kampus lenyap,
semua kepenatan kuliah hilang entah kemana. Saya jadi merasa kembali seperti anak-
anak.
Di sana, salah seorang teman berkata bahwa mereka -anak-anak dengan keterbatasan--
inilah calon penghuni surga, sementara kami yang diciptakan sempurna boleh jadi malah
lebih pantas masuk neraka karena justru dengan kesempurnaan itulah kami jadi punya
kesempatan untuk berbuat dosa kapan saja.

Ah... saya jadi malu dengan ucapannya. Malu dengan keadaan diri yang cengeng, manja,
dan pengeluh, bahkan untuk hal-hal sepele. Keterbatasan mereka tak cuma dalam hal
fisik dan mental, tapi juga fasilitas hidup. Asrama anak-anak ini cukup membuat hati
saya terenyuh. Cucian kotor yang bertumpuk, kamar mandi yang seadanya dan nyaris
terbuka menunjukkan bahwa mereka masih butuh banyak bantuan dari kita. Belum lagi
jika membayangkan mereka dilepas di dunia luar panti. Fasilitas umum yang tersedia
untuk penderita cacat di negeri kita sangat terbatas, nyaris tak ada malah.

Dan subhanallah, mereka dengan segala keterbatasannya tetap semangat menapaki hidup.
Allah, betapa selama ini saya selalu menutup mata dengan keadaan di luar, betapa saya
tak tahu bersyukur Sesudah sholat, kami bersiap-siap untuk pulang. Rasanya waktu jadi
singkat sekali. Berat rasanya berpisah dengan mereka. Saya yakin mereka juga
merasakan hal yang sama.

Saat hampir pulang, saya tatap salah satu dari mereka. Bentuk kepalanya yang lonjong,
jempol kakinya yang bengkok dan proporsi tubuhnya yang aneh membuat saya tersadar
akan beragamnya ciptaan-Nya. Dan saya sadar seperti apa pun keadaannya, ia tetap
makhluk Allah. Ia manusia, sama seperti saya, anda, kita. Itu pula yang membuat saya
tersenyum kepadanya. Tulus.
Ada Cita yang tampak sangat kehausan kasih sayang, berkali-kali ia pindah dari
gendongan peserta satu ke peserta lain. Cita yang paling tampak berat melepas kami.
Maya sebaliknya, ia menyuruh kami cepat-cepat pulang. “Keburu hujan” katanya.

Pulangnya, saya masih tercenung. Ketika menulis di diary, saya baru sadar ada 1 hal lagi
yang patut saya syukuri. Ya, hari-hari penuh makna yang diberikan Allah dalam
kehidupan saya. Betul sekali film Roberto Benigni itu. Betul sekali bahwa hidup itu
indah, life is beautiful, la vita e la bella, saya setuju itu!

Fatma
ngangeni@yahoo.com

Inilah Hidup

Publikasi: 08/03/2004 11:00 WIB

eramuslim - Hidup ini memang menyajikan berbagai cerita dan berbagai fenomena yang
menakjubkan. Tak terbayangkan. Seorang ayah yang dia hanya bisa bekerja dan bekerja
bagi keluarga, kemiskinan yang menimpa mereka itu adalah garis hidup yang mustahil
diubah (anggapan mereka).

Di sisi lain, seorang remaja yang hanya memikirkan bagaimana tampil cantik dan
menarik. Mereka tak berpikir bahwa hidup ini menuntut orang untuk berjuang, dan ada
orang di luar sana yang hanya bisa merenungi dan menerima nasib menjadi orang yang
tidak beruntung. Ada juga orang yang hanya bisa memperhatikan, mengamati dan
berusaha menghibur mereka yang merasa kurang beruntung.

Inilah hidup. Sekali lagi, inilah hidup. Dunia memang aneh. Allah menciptakan semua ini
pasti memberikan pelajaran yang berharga, bagi orang-orang yang berpikir. Islam
mengajarkan umat manusia untuk berzuhud terhadap dunia, qonaah (menerima) dan
istiqomah sebagai napak tilas di jalan surga. Inilah salah satu fenomena hidup yang
sempat terekam oleh mataku…..

Ketika kutelusuri jalan menjelang maghrib, kulihat laki-laki 40-an sedang


mendendangkan sebuah lagu di sebuah restoran mewah. tampak orang-orang di sana ada
yang acuh, ada sedikit memberi perhatian. Pernahkah kalian bayangkan bagaimana
perasaan laki-laki itu tatkala melihat orang-orang yang kelihatannya lebih sukse dari dia?
Pernahkah terpikir oleh kalian apa yang terlintas dalam benaknya takala menyadari
mereka lebih beruntung darinya? Aku juga tak tau itu. aku juga tak tahu seberapa besar
kekuatan kesabaran, keikhlasan dan kepasrahan yang ada di benaknya. Aku juga tak tahu
di mana di menyimpan keping-keping kesonbongan dan rasa malu. Aku rasa di sudah
mampu berdamai dengan takdir. Dia orang yang tegar di jalan kehidupan. Ya….
Merekalah pahlawanku masa kini.

Kata orang pahlawan adalah orang yang rela mengorbankan harta, jiwa dan darah yang
dimiliki untuk kepentingan bangsa dan Negara. Pahlawan adalah orang yang tidak
membebani Negara dan mampu mengangkat derajat bangasa di mata dunia.
Tapi entah kenapa menurutku pahlawan di masa bukan seperti definisinya tepatnya untuk
kasus yang satu ini. Pahlawan masa kini bukan lagi orang yang rela mengangkat senjata
dan mengorbankan nyawa. Pahlawanku bukan pula para politikus, pejabat pemerintahan
ataupun pe-men, batman dan supermen. Pahlawanku adalah pahlawan yang rela pergi
pagi pulang sore. Dengan berbekal keikhlasan dan keyakinan bahwa nanti sore dia akan
membawakan sesuatu untuk keluarganya. Merekalah pahlawna masa kini ku. Yang hidup
sederhana, tanpa embenani orang lain. Yang hidup pas-pasan tanpa membebani Negara
dan tak mengemis surat pembebasan utang pada Negara .

is_ismi@yahoo.com

Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)

Publikasi: 19/02/2004 09:42 WIB


eramuslim - Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh.
Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri
mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena
besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan. Alhamdulillah, ada
adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput.

Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera
menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap
pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes
Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua
kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.

“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju
mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita
tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet
kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya.

Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya


yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat
mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah
rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu
mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah
menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!

Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama
Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun,
kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini.
Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun
kita.

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu,


Muhammad SAW.

Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga
untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah.
Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki
kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini,
Insya Allah.

Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts
keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang
kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya
tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )

Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun.
Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus
meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha
Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa
upaya perbaikan yang kontinyu?

Ikhwah,
FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling
kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi
dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan
amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan
kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah
optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang
kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan
manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar
pertanyaan sebanyaknya!

Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang
washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh
dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus
kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini
kurang tepat guna?

Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!


Ikhwah,
Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana
sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka
jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh
jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh
indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-
sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak
pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.

‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama
mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para
warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di
bumi ini?

SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO


ILAHI …………………….

Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang
utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang
semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.

Bayangkan ……………..

Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah
memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri
anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum
mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail
antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang
syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang
sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng
akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau
sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai
‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.

Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam


‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah,
zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal
adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa
rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali
menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis,
seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga
sebelah kiri rumah antum.

Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina
ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang
membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.
Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi
pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah
menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan
bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai
belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan
harta, tenaga, dan jiwa mereka.

Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti
walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!!
Dalam tiap ritme perjuangannya.

Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena
antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri
dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh
air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah
SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannhNya semakin membuncah.

Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali
langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus
berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam :
“assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana
kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum
sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!

Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan
terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem
qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua
fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum
muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!

Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun
‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan
hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN
LIL ‘ALAMIN.

Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam
dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua
… yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI
Rabbani, Salam, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah,
dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA
IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!

Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung.
Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-
langkah abadi,
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah
menanti

Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang!
Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!

Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya.
Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan
teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan
perjuangan itu. AllahuAkbar!!!

syahidah01@plasa.com

Antum = Kalian.
Ana=Saya.
Izzah=Kemuliaan.
Ikhwan=Saudara Muslim Laki-laki.
Akhwat=Saudara Muslimah Perempuan.
Ikhwah=Teman-teman.
Akhi=Saudaraku (untuk laki-laki).
Ukhti=Saudaraku (untuk perempuan).
Afwan=Maaf.
Taushiyah=Nasihat.
Ghiroh=Semangat.
Wasilah=Sarana.
Wajihah=Organisasi.

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu

Publikasi: 16/02/2004 09:49 WIB


eramuslim - Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali.
Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak
sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh…sungguh semua itu
tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada
setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk
melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan
mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang
manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap
yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak
mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak
orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus
bahagia atau harus-harus yang lain.
Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah
hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan
sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak
tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak
terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memeng menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti
akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa
miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang
demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan
supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-
Hadid ;22-23)

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh.Kadang kita tak sadar mendikte
Allah tentang jodoh kita,bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi
benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku
sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan
pakasa.Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik.
Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya
dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah :

“…. Boleh jadi kalian membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi
kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian.Allah Maha mengetahui
kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan
terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-
apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan
harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia
tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak!

Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

Jazakallah khairan to Akh Salim atas taujihnya. It’s means a lot!


shafiyah83@yahoo.com

Karena Itu Aku Bangga

Publikasi: 11/02/2004 11:14 WIB


eramuslim Aku bangga dengan anakku, Asy Syifa...

Bangga dengan tangisannya yang melengking tajam, gelembung-gelembung ludah yang


dibuatnya, gigitan gusinya saat menggigit jariku dengan kuat, atau jeritan girangnya saat
aku pulang malam menjelang waktu tidurnya.

Aku pun bangga dengan pelukannya yang erat dan manja saat kudekap, serta kaki dan
tangannya yang selalu bergerak lincah kemana-mana. Ia belum genap 8 bulan, karena itu
aku bangga.

Aku bangga dengan abangnya, Aufa...

Bangga dengan ketegarannya saat banyak jarum infus menusuk tubuhnya, keberaniannya
tidur sendirian di kotak inkubator karena sakit yang diderita, dan bangga ia bisa
menunjukkan rasa sayangnya sehingga denyut nadinya membaik saat kudekap.

Aku bangga dengan wajahnya yang tampan, sosok tubuhnya yang gagah dan
senyumannya yang ikhlas hingga menjelang detik-detik terakhir di pelukanku serta
umminya. Ia begitu tegar dalam umurnya yang sangat singkat, karena itu aku bangga.

Aku bangga dengan anak-anak Indonesia...

Bangga dengan Abdurahman Faiz dan Sri Izzati, mereka bisa menghasilkan buah pena
yang hebat tanpa kehilangan masa kecilnya. Dari kesederhanaan dan kejujuran kata,
begitu banyak hikmah yang ditebarkan sehingga membuat pesona dan menyentuh hati
nurani orang dewasa.

Aku tak kalah bangga dengan anak-anak jalanan yang tidur di kolong jembatan,
bukankah mereka begitu kuat?

Tak dirasakannya gigitan dingin yang menusuk tulang atau pun patukan panas yang
meradang. Semangat mereka mencari sedikit uang untuk makan membuatku selalu
bangga, walaupun terkadang hanya bermodalkan kecrekan dan alunan nada sumbang.
Dengan kaos dekil yang penuh bolongan dan kaki telanjang, wajah-wajah kotor beringus
itu adalah jagoan-jagoan yang siap menentang hardikan, bahkan pukulan di kerasnya
kehidupan jalanan.

Aku pun sungguh bangga pada anak Indonesia, mereka masih bisa bermain, berlarian,
bergulingan dengan riang gembira dan suara yang ramai, menikmati masa kecilnya di
tengah kekalutan masa depan yang suram, karena itu aku bangga.

Aku bangga dengan anak-anak Palestina...

Mereka begitu tangguh, berani dan gagah. Wajah-wajah mungil itu berbalur asap mesiu
dan darah, siap menentang kecongkakan, kekerasan, kekejaman dan kebengisan penjajah-
penjajah la'natuLlah. Teriakan mereka lantang meninju langit, gegap gempita memenuhi
ruang udara, Khaibar-Khaibar ya, Yahud! Ja'isyu Muhammad saufa Ya'uud!

Masa kecilnya jauh dari kesenangan, tapi semua dijalani dengan penuh ikhlas dalam
derap langkah barisan HAMAS. Mereka sungguh berbeda dengan anak-anak di belahan
bumi lainnya, karena tekad menjadi syuhada begitu membahana di dada. Batu-batu dan
katapel mereka adalah jiwa intifadah, karena itu aku bangga.

Namun...

Aku tak kalah bangga dengan anak-anak yang hanya bisa tergeletak lemah tak berdaya
dengan tatapan mata kosong tanpa makna. Bangga, karena mereka masih bisa tersenyum,
tertawa dengan mata yang berbinar-binar menikmati masa gembiranya di sekolah luar
biasa, sementara demi kesemuan martabat dan kehormatan orangtuanya, mereka telah
dicampakkan dari keluarga.

Anak-anak yang terlahir yatim piatu juga membuatku bangga, bukankah seseorang akan
diberikan jalan untuk menjadi mulia karena mereka? Usapan di kepala mereka akan
melembutkan hati manusia yang keras, bahkan memelihara mereka dengan baik akan
menjadikan kedudukannya di surga dekat dengan Rasulullah Sallallaahu Alayhi
Wasallam, bagaikan jari telunjuk dan jari tengah.

Mereka semua masih anak-anak, tapi dalam usia muda telah menjadikan dirinya sebagai
ladang amal dan teladan kepada yang mengenal mereka.

Anakku Asy Syifa dan abangnya, almarhum Aufa, kalian adalah amanah dari-Nya,
semoga kelak kuterima ganjaran surga karena pengorbananku sebagai orangtua. Dik Faiz
dan Izzati, terima kasih ya, karena telah mengajarkan bahwa pena dan kesederhanaan
kata pun dapat menuai pahala.

Anak-anak jalanan, yatim piatu serta cacat mental, bukankah karena rasa kasih sayang
dan cinta yang diberikan akan memudahkan jalanku ke surga? Dan anak-anak Palestina,
mereka telah mengajarkan caranya mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala daripada selalu
berdebat atau berfatwa.

Sampaikan...

Aku begitu bangga kepada mereka semua, karena aku tak tahu apakah diriku masih ada
atau telah dipanggil-Nya saat mereka telah mengerti apa yang kutuliskan.

Allahu a'lam bi shawab.

Abu Aufa.

ferryhadary@yahoo.com
Karunia Allah Mana Lagi yang Kita Dustakan?

Publikasi: 09/02/2004 16:25 WIB


eramuslim - Perasaan memang susah dimengerti. Kadang ingin ini, kadang ingin itu.
Tapi selalu saja tidak pernah puas. Namun apa yang terjadi, apabila perasaan kita merasa
jauh dari Sang Pencipta, betapa sangat menyesal diri ini, sendiri seorang diri ditengah
hiruk pikuk keramaian yang ada disekeliling kita. Sedih tiada yang mengobati, namun
tertawa tiada berguna. Hidup serasa hampa apabila kita jauh dariNya , janganlah menjadi
mahkluk yang merasa bisa hidup tanpa bimbinganNya, kita hanyalah seonggok sampah
tanpa bimbinganNya. Tanpa hidayahNya kita tak lebih dari seorang yang bodoh dan tak
ingin belajar. Pergi kesana kemari tanpa tujuan, tanpa tekanan bagaikan angin yang
bertiup. Namun kita adalah seorang khalifah yang harus mengatur dunia ini, bukan diatur
oleh dunia…”Dunia negara fana penuh dengan tipu daya” berusahalah untuk menjadi
yang terbaik dalam beribadah kepadaNya, bukan karena ingin dipuji oleh mahklukNya.

Engkau bisa mencapai dunia dengan bekal yang ringan,


karena engkau akan segera meninggalkannya
menuju alam yang dijanjikan. Jangan tatap dunia dengan segala tindak-tanduk
penghuninya, karena dunia takkan mempedulikanmu, maka hiasilah ia dengan kebajikan

Bersikap zuhudlah terhadap kenikmatan dunia sebisa-bisanya,


karena berjihad melawan hawa nafsu adalah sebaik-baik jihad Dunia hanyalah taman
bermain yang menggoda,dan angan-angan pendek para penghuninya akan berakhir jua.

D U N I A…

Kadang terlihat indah, namun sesungguhnya itulah kelebihannya. Membuat setiap orang
yang melihatnya, merasakan keindahannya yang menyesatkan dan menyengsarakan.
Namun kadang terlihat pucat dan minta untuk dikasihani oleh siapa saja yang telah sekian
lama merasakan, bahwa dunia ini memang hanyalah tempat singgah yang hanya sesaat.
Sungguh dunia ini hanyalah tipu daya, tapi tipu daya itu bukan terletak pada dunia itu
sendiri, sesungguhnya dunia ini tidak mutlak tercela, ia terpuji bagi orang-orang yang
mengerti dan berbekal dari dunia untuk kehidupan akhiratnya. So, what you waiting
for… lets pray to Allah SWT.

Sunyi… sepi… hidup ini tanpa perlindunganNya, kita pastilah tambah tak berarti bila
kita jauh dariNya. But, don’t worry. Allah Maha Pengasih danMaha Penyayang, tapi
apakah pantas pabila kita ingin dikasihi tetapi selalu menyakitiNya. Kita selalu lalai
menjalankan perintahNya, tapi disatu sisi kita rajin melanggar laranganNya. Ya Allah,
dosaku mungkin telah atau bahkan melebihi tingginya gunung. Tapi ku tahu, bahwa
pengampunanMu seluas langitMu. Ya Rabb, sinarilah jiwa dan raga hambaMu ini dengan
sinar cahaya hidayahMu. Ikhlaskanlah dan tuluskanlah niat hambaMu ini dalam
beribadah kepadaMu ya Rabb.

“Sungguh teramat sulit bagi diriku, untuk selalu berjalan di jalanMu ya Rabb.”
“ Kalau kita selalu berada dijalanNya, maka malaikat akan turun dan bersalaman dengan
kita,” ucap salah seorang saudaraku, ketika aku berkeluh kesah terhadap permasalahan
yang sedang aku hadapi.

Kata-katanya memang sangatlah sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Bagaimana


mungkin, kita dapat selalu berada dijalanNya. Sehingga malaikat dapat bersalaman
dengan kita, emang kita malaikat juga. Itulah yang ingin disampaikan oleh saudaraku,
bagaimana kita bisa selalu berbuat baik dan terus beribadah kepadaNya. Sedangkan kita
hanyalah seorang manusia biasa.

Tapi kita juga jangan terlalu pesimis apabila kita sedang jauh dariNya sehingga kita akan
selalu berusaha segera bertaubat kepadaNya. Siapa lagi yang dapat mengampuni
tumpukan dosa-dosa kita?

Pernahkah kita berpikir, begitu banyak nikmat dan rezki yang telah diberikanNya kepada
kita ?!

“Sesungguhnya Kami telah Menempatkan kamu sekalian di muka bumi itu (sumber)
Penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
(QS. Al-A’raf: 10)

Sungguh… Kalau kita mau jujur, tak akan sanggup kita menghitung segala nikmat yang
telah diberikanNya. Namun, sering kali kita tidak bersyukur atas segala nikmatNya. Dan
barulah disaat tertimpa musibah, kita berputus asa. Ditambah lagi, kita sering kali lupa
untuk berterima kasih. Atas segala nikmat yang telah diberikan, sebelum kita tertimpa
musibah.

“Dan jika Kami Rasakan kepada manusia suatu Rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian
Rahmat itu Kami Cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima
kasih.” (QS. Hud: 9)

So, stay away from sin. And lets pray together.

To all muslim and muslimah all around the world. What you waiting for ! Lets make your
life to be a good muslim or muslimah then tomorrow.
triz3z@eramuslim.com

Belajar dari Pak Tino

Publikasi: 23/01/2004 08:36 WIB


eramuslim - Bagus... bagus... Iih, bagus apaan??? Segitu aja dibilang bagus, dalam hati
kesal. Diambilnya lagi sebuah gambar, kali ini tentang pemandangan sebuah desa, ada
pegunungan, awan yang berhiaskan burung elang, sawah, ... begitu sederhana, namun
lagi-lagi ia berkata, "Ini juga karya teman kalian, bagus... bagus..." sambil mengangguk-
anggukkan kepalanya.
Ah... Kalau saja kita yang berada di tivi itu, mungkin kritikan atau malah cemoohan yang
terlontar, "Mestinya, bisa lebih baik lagi dong!!! Masa' sih gambar jelek gini dikirim ke
sini? bla... bla... bla..." Sadis? Kalo gak gitu gimana mereka bisa maju?

Namun hari demi hari, acara itu selalu mempesona setiap generasi anak-anak. Mereka
duduk asyik di depan tivi berbekalkan kertas-kertas dan pinsil warna, asyik dengan
kesibukannya.

"Tarik garis melengkung ke atas, juga ke bawah, lalu beri satu titik hitam, tidak perlu
takut-takut ya. Kita beri warna merah, kuning juga boleh, nah... jadi gambar apa ini adik-
adik? Iya benar, seekor ikan," kemudian sambungnya lagi, "Menggambar itu mudahkan."
Bagai para prajurit perang, anak-anak itu begitu patuh pada perintah. Mereka ikuti
komandonya kata demi kata.

Dan, begitu orang yang selalu berkaca mata dengan bingkai hitam dan bertopi itu
menutup acaranya, "Sampai jumpa minggu depan," lalu mereka berhamburan, berteriak-
teriak untuk memamerkan gambarnya kepada siapa saja dengan bangga, "Adek udah bisa
gambar ikan!!!" jerit mereka kegirangan. "Lho, ini gambar ikan? Ikan apaan?"

Deg!!!

Belajar menghargai orang lain, kadang teramat berat buat sebagian kita, apalagi bila itu
berbentuk lontaran pujian. Padahal menurut ilmu psikologi, manusia lebih suka menerima
pujian daripada celaan.

Seorang ahli psikologi Jess Lair, di dalam bukunya I Ain't Much Baby, But I'm All I've
Got berpendapat, "Pujian laksana cahaya yang menerangi semangat manusia. Kita tidak
mampu berkembang dan membesar tanpanya. Kebanyakan manusia hanya bersedia
memberikan kritikan kepada seseorang, tetapi enggan untuk menyatakan pujian
kepadanya."

Ahli pendidikan, John Dewey juga berpendapat, dorongan yang paling kuat dalam diri
manusia adalah keinginan untuk dianggap penting. "Pujian akan menimbulkan perasaan
berharga, perasaan mampu, dan percaya diri."

Tentu saja yang dimaksud disini adalah pujian yang sewajarnya. Apakah lalu dalam
Islam tidak boleh mengkritik? Bukankah khalifah Abu Bakar radiyallahu 'anhu dan Umar
bin Khatab radiyallahu 'anhu lebih mencintai kritikan? "Jika aku bertindak salah,
luruskanlah," kata Abu Bakar radiyallahu 'anhu saat pidato pertamanya sebagai khalifah,
tegas. Bahkan seorang rakyat dengan berani menghunus pedangnya apabila Umar bin
Khatab radiyallahu 'anhu nanti bertindak salah, dan beliau hanya tersenyum saja.

Kritikan sangat berbeda dengan celaan. Kritikan yang baik akan membuat orang lain
bangkit dari kekhilafan, tetapi celaan akan dilihatnya sebagai tantangan yang akan
memancing lagi sikap kerasnya.
Sayang... sungguh teramat sayang, kadang kita lebih senang mengendus-endus kesalahan
saudara kita, lalu menggunjingkannya di mana-mana. Menghina, menganggap remeh
pendapat serta kerja mereka, gampang menilai orang lain tak punya kemampuan, hingga
dengan ringan melontarkannya dari lidah-lidah yang memang tak bertulang.

AstaghfiruLLAH al 'adzim...

Pujian yang ikhlas sebenarnya akan memberikan gugusan rang keyakinan, dan ia adalah
sebuah perasaan yang terpendam di lautan jiwa yang terdalam. Pun layaknya seperti
tanaman, ia-nya akan tumbuh subur apabila ada daya lain yang menumbuhkan, dan salah
satunya adalah pujian. Karena pujian adalah motivasi untuk membina jatidiri seseorang.

Karena itu pula Aa' Gym pernah berkata, "Belajarlah untuk senang dengan kesenangan
orang lain, belajarlah untuk memuji dan menghargai prestasi orang lain, belajarlah untuk
menjadi bagian dari kesuksesan orang lain, serta belajarlah untuk menikmati bagaimana
diri kita menjadi bagian dari keutamaan dan kemuliaan orang lain, insya Allah hidup
akan lebih nikmat, tentram dan bahagia."

Almarhum Pak Tino Sidin, telah banyak mengajarkannya pada masa kecil kita.

Dari sebuah kata sederhana, "Bagus... bagus..." mungkin tiada makna, tapi sebenarnya ia
adalah sebuah mutiara yang berbentuk ungkapan penghargaan, lahir dari hati yang bersih
dan jiwa yang besar.

ALLAHua'lam bi shawab.

Abu Aufa
(Yang harus lebih banyak belajar untuk berjiwa besar)

Bisikan Hati Seorang Amerika

Publikasi: 20/01/2004 08:27 WIB

“Hello…! You ? Oh my, why did you never call me for along time?” Suara itu datang
dari jauh di seberang sana, San Antonio, negara bagian Texas, Amerika Serikat.
Pemiliknya, Eduard Longoria. Pria berusia 62 tahun, seorang guru, staf pengajar sebuah
sekolah menengah di Eagle Pass. Dari nada suara yang saya tangkap, seolah-olah dia
tidak yakin bahwa sayalah peneleponnya. Setahun ini kami memang nyaris tidak lagi
pernah kontak. Sebenarnya saya sudah berusaha beberapa kali mencoba hubungi lewat
ponsel dan emailnya, tetapi saya ketahui kemudian keduanya tidak lagi aktif. Dering
telepon diawal tahun ini paling tidak membuat dia lega, bahwa saya tidak melupakannya
sebagai seorang teman. Ya! Kami sudah berteman, distance friendship, tidak kurang dari
15 tahun terakhir ini. Selama itu pula kami tidak pernah ketemu, kecuali pada awal
pertama ketika saya kenal dengannya sebagai seorang pasien, dan enam bulan
sesudahnya.
Mulanya dugaan saya pasien yang satu ini orang Arab Libanon, karena penampilannya
mirip-mirip orang Libanon yang ke-eropa-an. Kulit kemerahan, rambut pirang, sebagian
nampak beruban, bermata biru, kumis tebal, dan postur tubuh sedang. Siapa pernah
menyangka orang Amerika tiba-tiba muncul di rumah sakit, di tengah-tengah orang
Arab? Kehadirannya di depan counter, bangsal dimana saya bekerja, pagi hari itu,
mengotomatiskan sapaan umum saya, sebagai petugas kesehatan kepada pengunjung.
“Inta marid...?” (Anda pasien?) sapaku dalam Bahasa Arab. “I don’t speak Arabic!”
jawabnya ringan. “Sorry..!” Kataku mohon maaf. Saya tunjukkan tempat tidurnya di
sudut bangsal. Dengan hanya berbekal sebuah tas kecil berisi sejumlah buku bacaan dia
segera membaringkan diri di kamar pojok tersebut. Eduard mengalami gangguan sistem
perkencingan.

Ada darah Spanyol mengalir pada tubuh pria ini. Prasangka awal saya membenarkan, dari
namanya, sekalipun dilahirkan di bumi Paman Sam. Pertemuan kami terjadi di Kuwait,
sesaat sesudah Perang Teluk, antara Irak-Kuwait. Eduard mengikuti program rekrutmen
guru di Texas untuk ditempatkan sebagai tenaga pengajar pada American School of
Kuwait. Selama rawat tinggalnya, disela-sela kekosongan waktu yang ada, misalnya
dinas sore atau malam, saat Eduard terjaga, nampaknya dia butuh teman berbicara, saya
menemuinya. Banyak obrolan yang bermanfaat diantara kami. Katakanlah sharing,
berbagai topik. “Orang Amerika tidak seperti apa yang anda lihat di film-film!” katanya
suatu saat ketika saya bertanya tentang kondisi lingkungan tempat tinggalnya di Texas.
Ada nilai-nilai sosial yang mereka tetap junjung tinggi, baik itu soal penggunaan etika
berbahasa maupun pergaulan. Hanya saja, sebagaimana akar budaya yang berbeda, apa
yang berlaku di negeri lain, belum tentu bisa diberlakukan disana. Apa yang tabu di
negeri kita, tidak mesti tabu di Amerika Serikat.

Misalnya, pada satu kesempatan Eduard memberitahu saya, dia diundang oleh temannya,
sepasang guru yang akan meninggalkan Kuwait. Saya ditawari pula. Diajak serta
memenuhi undangan makan malam di sebuah restoran di down town, Kuwait City. Tentu
saja saya senang. Hanya saja yang tidak saya mengerti, ketika sebelum berangkat Eduard
memberikan sejumlah uang kepada saya untuk pembayaran bill makan malam nanti.
“Katanya diundang makan? Koq menyiapkan duit pembayarannya segala?” tanya saya
dalam hati. Keraguan saya terjawab ketika kami berempat selesai makan. Ternyata, meski
kita diundang, harus bayar sendiri-sendiri. Bayangkan jika itu terjadi di negeri kita?
Memang beda kan?

Gangguan kesehatan yang menimpa Eduard, tepatnya pada prostatnya, tidak bisa
diharapkan bakal pulih dalam waktu yang singkat. Beberapa kali dia harus pulang balik
ke RS, hal yang membuat kami pada akhirnya lebih akrab. Kadang saya diundang ke
apartemenya, dikenalkan kepada sesama guru asal AS, diantaranya Ms.Carole dan Mr.
Keith. Sejauh pengetahuan saya, orang-orang Amerika ini memang tidak seperti mereka
yang ada di film-film, apalagi seperti George W. Bush yang pandangannya ‘miring’
tentang Islam. Mereka baik sekali dalam menjamu tamu, terbuka, dan sopan sebagaimana
profesinya, guru. Bergaul bersama mereka memberikan wawasan dan pengkayaan
pengalaman hidup yang tersendiri bagi saya.
Berbagai persoalan hidup sempat kami diskusikan, tidak cuman terbatas pada kesehatan
dan sosial budaya saja, juga agama. Sekali saya menyinggung soal Spanyol, yang
dulunya dikenal sebagai Andalusia, negeri nenek moyang Eduard, yang dijawab dengan
anggukan kepala ketika saya kemukakan bahwa mereka adalah orang-orang Islam yang
terkhianati.

Dalam sebuah buku yang berjudul The Story of Islamic Spain, karya Syed Azizur
Rahman (2001), disebutkan bahwa kaum Muslim Andalusia lenyap dari sana sesudah
mengukir salah satu peradaban yang paling besar dalam sejarah Eropa. Keturunan mereka
kini tidak lagi eksis di Spanyol, dimana selama berabad abad mereka tinggal, saling
mengasihi sesama, berani bertarung dengan musuh, menciptakan keindahan, dan
menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Walaupun begitu, sisa-sisa keberadaan mereka
masih tetap bisa dirasakan hingga kini. Eduard, sebagai seorang guru yang tahu sejarah,
diam saja menyimak, saat sejarah kebesaran perjuangan Islam ke Spanyol yang dipimpin
Tariq Ibn Ziyad pada tahun 711 sesudah Masehi ini saya singgung. Tanda setuju?
Wallauhu’alam!

“I know Islam is a good religion!”, pernyataan itu keluar ketika saya katakan bahwa
agama yang dianutnya selama ini bukanlah agama yang benar. Saya tunjukkan beberapa
buah buku-buku kecil karya Ahmed Deedat yang saya harapkan bisa turut mewarnai
bacaan-bacaan novel petualangan yang berjajar di rak bukunya. Saya berikan pula kopiah
hitam dan sebuah sarung Samarinda sebagai kenangan. Dari wajahnya saya ketahui apa
yang dikatakannya adalah pernyataan jujur, tidak sekedar membuat lawan bicaranya
‘senang’. Nilai-nilai positif inilah yang membuat saya, sebagai orang asing dimatanya,
cukup kagum, terutama keterbukaannya terhadap kebenaran sebuah agama. Dia pernah
katakan “It is still very difficult for me to apply Islam to be my religion among my own
people!” Saya paham betul apa yang dikatakan, karena pindah agama, tidak semudah
membalik tangan!

Pernyataan Eduard tentang Islam ternyata bukan hanya terbatas di mulut. Beberapa bulan
sebelum kami kenal dia malah sudah belajar Bahasa Arab di Islamic Propagation Center
(IPC) Kuwait City. Dia bilang, dia satu-satunya orang Amerika yang mengikuti kursus
disana. Saya lihat buku-buku kursus Arabnya. Dia belajar menulis dan merangkai mulai
dari Alif, Baa, Tha...hingga Ya’.....! Gaya tulisannya mengingatkan saya ketika baru
belajar mengaji pada bulan-bulan pertama di rumah Kyai Arif di kampung kami. Tahu
gaya tulisan Arab anak-anak kan? Sebagai pemula, penuh coretan, layaknya belajar
menulis pertama kali. Eduard tertawa kecil ketika saya kemukakan bagaimana anak-anak
di Indonesia belajar menulis arab di madarasah. Coba saja saya seorang ustadz,
barangkali saya bisa bantu mengajarinya.

“Saya tahu, Nabi Isa bukanlah Tuhan” katanya. “Saya tidak menyembahnya!” lanjutnya.
“Kenapa kamu tidak masuk Islam saja?” Tanyaku ingin tahu lebih dalam. Kelihatannya
saya sudah ‘masuk’ terlalu dalam ke sisi kehidupan pribadinya yang bagi kebanyakan
orang-orang Barat sebenarnya bersifat personal dan kita orang luar tidak perlu campur
tangan. Sekali lagi, niat saya bukan mencampuri urusan pribadinya. Sebagai umat Islam
saya tidak ingin orang semacam dia yang pada dasarnya mau membuka hatinya untuk
menerima kebenaran, terperosok lebih jauh kedalam kesesatan. Barangkali dia sedikit
butuh ‘encouragement’. Yang saya sadari adalah kendati hidayah hanya datang dari Allah
SWT, tugas kita adalah menyampaikan pesanNya, betapapun hanya satu ayat.

Sayangnya niat saya tidak kesampaian. Eduard keburu balik ke negeri asalnya. Terbang
bersama KLM, transit di Filipina sebelum meneruskan perjalanannya ke Los Angeles,
pangkalan dimana dia harus mendarat pertama kali sebelum melanjutkan lagi ke Texas.
Selama di Filipina, sebulan disana, koresponden kami berlangsung terus. Setidaknya dua
kali surat yang saya terima dari Baougio, kota sejuk tujuan wisata di negerinya
Mrs.Arroyo. Disana Eduard berkisah tentang masih dirasakannya gangguan saluran
perkencingan yang dialaminya, dimana beberapa kali terjadi perdarahan.

Usianya saat ini tergolong tua, katakanlah kakek buat ukuran rata-rata orang kita. Faktor
umur ini tidak membuat minat Eduard surut untuk melanjutkan studinya. Semangat
belajar dan membacanya tinggi. Itu saya ketahui disaat-saat senggang. Bahkan pada saat
memasak di dapur, ataupun mencuci (tentu saja dengan washing machine), sambil
membaca. Sebuah nilai positif lagi yang bisa saya petik darinya.

Yang mengharukan adalah, ketika diceriterakannya dia harus pisah dengan sang istri. Dia
merasa dikhianati wanita asal Mexico beberapa tahun sebelum berangkat ke Kuwait.
Meski begitu, “I am strong enough!” katanya tanpa ekspresi sombong. Orang Amerika
umumnya memang tidak segan-segan menunjukkan kelebihannya yang bagi orang kita
tabu. Hidup sendiri di apartemenya tidak menjadi masalah, semua kerjaan dilakukannya
sendiri. Anaknya, Jefrey, saat ini tinggal bersama bekas istri dan mertuanya. Seminggu
sekali Eduard mengunjungi Jefrey, biasanya weekend.

Perbedaan agama yang ada diantara kami tidak menjadikan penghalang untuk terus
berteman tanpa harus menjaga jarak sebagai sesama manusia, umatNya. Hampir 15 tahun
sudah kami berteman, selama itu pula saya tidak pernah mengirimkan Kartu Natal, Tahun
Baru ataupun ucapan Selamat Ulang Tahun kepada Eduard. Dia sangat menghormati
keyakinan saya, bahwa di dalam Islam kami dilarang memberikan ucapan-ucapan
tersebut yang pada intinya adalah doa. Padahal untuk menerapkan perlakukan yang sama
di Indonesia konsep gaul antar umat beragama semacam kami bisa saja akan sulit.
Keterusterangan itu kadang terasa pahit!

Sewaktu dia sudah berada di Amerika, saya kirimkan beberapa brosur-brosur tentang
Islam. Sebagai imbalannya, saya juga dikirimin ‘Bible’ King James Version, sekedar
menambah wawasan saya tentang ajaran Katolik yang dianutnya. Ketika Eduard meminta
saya untuk mendoakan perbaikan kondisi sistem perkecingannya yang memakan waktu
bertahun-tahun, sempat saya katakan “Ya!”. Saya katakan ‘ya’ dalam arti saya memohon
kepada Allah SWT agar dibukakan pintu hati Eduard olehNya. Agar dia mendapatkan
hidayahNya. Agar suara hati Eduard terhadap Islam selama ini segera menyeruak.

Setahun sesudah kepulangannya dari Kuwait dan tinggal di AS, dia berangkat lagi ke
Saudi Arabia, tepatnya di Dammam. Jadi, harapan saya tidaklah berlebihan. Eduard
sudah belajar banyak tentang kehidupan orang-orang Islam di tanah Arab, mempelajari
Bahasa Arab, membaca buku-buku Islam, dan mengenal pula sejumlah muslim. “Anak-
anak Arab nakal-nakal. Tapi di Amerika murid-murid kami jauh lebih nakal” katanya
ketika mengomentari perbandingan sebagian pengalaman mengajarnya antara di AS,
Kuwait dan Saudi. “However I’ve seen many good moslems”, akunya tanpa
memperlihatkan ekspresi pujian. Orang-orang Amerika di tanah Arab umumnya
mendapatkan perlakuan yang ‘lebih’. Pelayanan kesehatan gratis, pemondokan rumah
tanpa bayar, dan tax-free salary adalah sejumlah fasilitas yang bisa saja malah sulit
didapatkan di AS. Subhanallah! Sebuah alasan yang wajar jika mereka betah di Timur
Tengah.

Sayangnya, serangkaian pengalaman ini tidak cukup bisa kita gunakan sebagai landasan
bahwa Eduard lantas akan memeluk Islam. Bagi saya pribadi, minimal, dari sanalah saya
bisa berasumsi bahwa gambaran Eduard terhadap Islam adalah jauh dari kesan negatif.
Dua kali keberangkatannya ke Timur Tengah dari AS nyatanya bukan semata didasari
oleh faktor finansial. Jika hanya karena uang, di Amerika Eduard juga gajinya besar.
Sebaliknya, itu suatu pertanda positif, bahwa orang-orang diluar Islam semacam dia
justru menaruh ‘simpati’, merasa dilindungi dan dihargai hak-haknya oleh kaum
muslimin kala dia tinggal diantara mereka. Siapa tahu pengalaman yang telah dipetik
Eduard bisa ditularkan kepada teman-temannya, murid-muridnya, dan orang-orang
Amerika lainnya. Bahwa Islam sebagai agama yang cinta damai, tidak identik dengan
aneka ragam terorisme yang selama ini banyak digembar-gemborkan oleh media masa
Amerika Serikat.

Syaifoel Hardy

Shardy@emirates.net.ae

Inferiority Complex

Publikasi: 09/01/2004 11:12 WIB


eramuslim - Inferiority Complex. Apaan tuh? Perasaan malu (shyness), kehilangan
kepercayaan diri (diffidence), sifat takut/malu-malu (timidity), atau istilah trendnya anak
muda sekarang MINDER dan NGGAK PD. Kok bisa gitu ya? Pertanyaan itu melintas
dikepalaku. Kenapa minder dan nggak pd? Kita kan Muslim.

Sebelum kita nyari obatnya, tentu kita bakalan cari dulu sebabnya. Kalo aku pikir-pikir,
akar permasalahannya adalah datang dari keimanan. Kita mengalami “erosi”
iman,....bahkan bukan lagi erosi, namun sudah menjadi “longsor”. Perkembangan
teknologi, kemajuan zaman, globalisasi, modernisasi, semua ibarat air hujan yang sedikit
demi sedikit mengikis keimanan, bahkan dibeberapa kasus ibarat air bah yang
mengakibatkan terjadinya longsoran iman, membawa semua keimanan itu dalam aliran
bah.

Seiring terkikisnya dan hilangnya keimanan itu, kita mulai meraba-raba, mata mulai
melirik, telinga mulai dipertajam, akal pikiran dimainkan. Buat apa? Buat mencari
pijakan dan pegangan. Dan decak kagum pun muncul, ketika mata menemukan fokus
yang indah, yang lebih maju dari segi peradaban dan teknologi, namun miskin dari segi
rohani, dunia barat. Barat menjadi kiblat, identitas ditunjukkan dengan meniru stylenya
barat, gaya hidup berputar 180 derajat. Otakpun mulai melakukan perbandingan dan
hitungan matematis, yang sudah pasti persentasenya selalu lebih di barat. Hasilnya, barat
adalah “kiblat” dan “figure” yang patut diikuti.

Trus, hubungannya dengan inferiority complex itu apa? Sudah pasti ada. Kalau kita
mempelajari Islam, yakin akan keislaman kita, keagungan ajaran Islam, inferiority
complex nggak bakalan terjadi. Tapi kondisi sekarang, sepertinya cenderung
menganggap bahwa Islam itu sendiri kolot dan terbelakang, sehingga melahirkan
perasaan minder dan nggak pede tadi untuk mengakui keislaman kita.

Sebenarnya, anggapan itu keluar, karena kita tidak mau melihat kembali sejarah Islam itu
sendiri. Karena kalau dibandingkan dengan masa kejayaan Romawi dan Yunani,
kejayaan Islam adalah yang terpanjang dalam sejarah, bahkan perkembangan barat yang
diilhami dengan era renaissance pun mengalami fase kekosongan (vacuum).

Kita lihat saja betapa banyak ilmu pengetahuan yang lahir dari pemikiran para ahli-ahli
muslim. Dibidang kedokteran, yang kita memandang dunia barat itu sangat maju, padahal
banyak sekali konstribusi ahli-ahli kedokteran Islam dari zaman dahulu. Sebut saja, Al
Zahrawi (976-1013) yang bukunya menjadi standar bagi Eropa dalam ilmu bedah dan
juga anatomi selama berabad-abad, atau Ibn al Quffi (630-1286) yang bukunya itu
mengetengahkan permasalahan traumatologi serta ilmu bedah dari kepala hingga kaki.
Konstribusi ahli-ahli kedokteran Islam ini meliputi keseluruhan aspek kedokteran. Atau
Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang dikenal sebagai bapak kimia, Ibn Sina (981-1037)
yang konstribusinya diberbagai bidang, mulai dari kedokteran, filosofi, eksiklopedia,
matematika dan juga astronomi. Siapa lagi? Ada Ibn Rusyd, Ibn Khuldun, Umar Al-
Khayyam, dan masih banyak lagi.

Kemampuan para ilmuwan islam ini menjadikan sebutan ilmuwan rangkap atau
eksiklopedia, karena penguasaan mereka terhadap beragam keilmuan. Jadi, apa yang
membuat kita minder dan nggak pede dengan sekian banyak kekayaan islam itu sendiri.

Gimana dengan zaman sekarang? Bagi yang masih ingat dengan Abdus Salam, peraih
nobel fisika tahun 1979, yang penelitian-penelitiannya tidak terlepas dari keyakinannya
akan ilmu Allah, dan keyakinannya bahwa Al Quran adalah penuntun dalam segala ilmu.

Kalo aku sih, memandang ke barat itu boleh saja, tapi kita hanya memandang, sedangkan
pegangan kita tetap pada 2 pusaka kita, Al quran dan Hadist.

”Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang kafir".” (QS 3:32)

”Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS 3:132)
Barat itu memang maju secara peradaban dan teknologi, tapi rohaninya miskin. Lihat saja
negara-negara Eropa yang dari segi tatanan sosial lebih bagus. Tapi, kemiskinan rohani
membuat mereka lelah untuk hidup dan memilih meninggalkan dunia dengan paksa
dengan jalan bunuh diri.

Dari data WHO, The world health report 2001, disebutkan bahwa di Eropa sendiri,
penyebab kematian tertinggi kedua adalah bunuh diri. Di Amerika serikat sendiri, kisaran
19 – 20-an persen masih mewarnai angka korban bunuh diri. Kenapa? Toh mereka sudah
maju, peradaban maju dan teknologi nggak kurang modern. Tentu saja statistik itu saja
nggak cukup, namun aku cuma mau memperlihatkan bahwa kemiskinan iman gampang
sekali mendorong kita ke hal-hal seperti itu.

”..... Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.”(QS 4:29)

Aku pikir, yang bisa kita jadikan perbandingan dan cambuk buat kebangkitan kita itu
adalah bagaimana mereka bisa maju, tatanan sosial mereka yang harmonis, perekonomian
mereka yang bagus, pendidikan yang baik, dan sebagainya. Namun, jangan salah, kalau
kita mau mempelajari Islam, sebenarnya semua itu sudah ada di dalam Al Quran dan
Hadists, berikut pula dengan buktinya, yaitu sejarah kejayaan Islam.

Jadi, jangan lagi berpikiran bahwa orang yang memegang teguh syari’at itu kolot, pergi
ke pengajian dianggap kuno, nggak ngeceng di mall disebut kuper, dan sebagainya. Aku
yakin banget, dengan pemahaman tentang keislaman secara baik akan menghapus segala
rasa minder dan nggak pede itu, inferiority complex, dan menjadikan kita bangga sebagai
muslim. Jadi jangan seperti lirik lagunya Arie Wibowo, Singkong dan Keju.

...Bajumu dari Paris.


Sepatumu dari Italy.
Semua demi gengsi.
Semua serba luar negeri....

Ade’
d355y_1978@yahoo.com
Gothenburg

Sesungguhnya Inilah Aku Adanya

Publikasi: 07/01/2004 18:09 WIB


eramuslim - Sesungguhnya aku dapati diriku dalam keadaan telanjang, kemudian Dia
beri aku pakaian.

Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebodohan, kemudian Dia beri aku lentera ilmu.

Sesungguhnya aku temui diriku dalam kelemahan iman, fisik dan mental, kemudian Dia
beri aku keteguhan dan kekuatan
Sesungguhya aku dapati diriku dalam kesesatan dan kejahiliyahan, kemudian Dia
memberi aku petunjuk.

Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kegelapan, kemudian Dia beri aku cahaya.

Sesungguhnya aku dapati diriku dalam kebingungan, kemudian Dia beri aku jalan keluar.

Sesungguhnya aku dapati dirku dalam kehinaan dan kerendahan, kemudian Dia beri aku
kemuliaan dan izzah serta iffah.

Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan
hakekat kemanusiaanya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan
kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang lebih baik bagi tanah air di
bawah naungan Islam yang hanif.

Mimpi-mimpiku hari ini adalah kenyataan hari esok. Yang akan aku wujudkan dengan
kerjasama dan azzam yang mantap. Kemudian bumi yang merana ini akan aku cerahkan
dengan kesegaran embun fikrah yang aku miliki. Yang berkuasa tidak akan selamanya di
pucuk pimpinan. Yang lemah tidak akan selamanya di bawah. Yang berjuang akan
menuai hasil gemilang dan berkah, aku pun terus bersiap untuk turut ambil bagian dalam
perjuangan itu.

Fikrahku ini akan menang jika kita memiliki iman kuat, tulus dan ikhlas, serta semangat
yang berkobar dalam berjuang. Seorang pejuang memiliki empat ciri khas, yaitu iman,
ikhlas, semangat dan amal. Dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas adalah hati
yang suci murni, landasan semangat adalah perasaan yang kuat, sedangkan amal adalah
tekat yang selalu segar.

Akan kupegang terus azzamku ini, karena sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku
hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada
yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah
diri.

Inilah aku, sedangkan kamu, kamu siapa?

Yesi Elsandra
(Inspirasi dari untaian nasehat Hasan Al-Bana)

Pencarian Makna

Publikasi: 06/01/2004 13:13 WIB


eramuslim - ”Kamu kenapa banyak sekali sholatnya? Apa tidak capek, kan itu
mengganggu ritme kerja”, tanya Berti, temanku dari Jerman. Itu kira-kira diskusi awal
kami tentang sholat. Berbagai pertanyaan muncul, dan butuh jawaban. Kadang beberapa
pertanyaan menimbulkan perdebatan, jawaban yang menurutnya kurang logis akan
mengalami penolakan, dan tentu saja gak mudah menghadirkan jawaban yang bisa
mereka cerna.

”Kenapa ya, setiap saya bertanya sama beberapa orang Islam, mereka selalu menjawab
bahwa itu perintah Allah, udah ada dalam Al Quran, dan Hadist?”, itu pertanyaan yang
biasa dilontarkan beberapa temanku yang non muslim dan datang dari negara-negara
maju.

Aku mikir juga, padahal jawaban mereka itu bener lho. Toh secara mendasar desain
hidup manusia menurut Allah memang untuk beribadat, dan yang pasti gak bisa ditawar.
Wama a Khalaqtul Jinna wal Insa Illa liya’buduun. Tapi kenapa jawaban itu gak
memuaskan mereka? Menurutku, karena mereka sudah terbiasa berpikir logis, jadi kita
mesti memberikan jawaban yang sejalan dengan pikiran mereka.

Kalo aku ngeliat harfiah kita sebagai manusia, yang diberikan akal, berarti Allah udah
menyuruh kita untuk berfikir, menggali semua potensi langit dan bumi (QS. 55:33)

”Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit
dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”.

Dan ayat-ayat-Nya yang sarat dengan makna yang perlu digali. Toh, Allah sendiri juga
gak suka dengan muslim yang hanya membawa-bawa kitab-Nya tapi gak tahu maknanya.

Walo kita tahu kalau sikap kita terhadap perintah Allah adalah sami'na wa atha'na sesuatu
yang gak bisa ditawar lagi. Trus, kenapa kita masih mencari makna? Karena manusia
diberi akal untuk berpikir, dan dengan berpikir itu melanjutkan proses keimanan agar
meningkatkan ketaqwaan. Jadi, pencarian makna itu semata-mata menambah keimanan
dan ketaqwaan.

Kultur kita yang sebagian besar membentuk keislaman kita. Masyarakat Islam kita
sebagian besar terlahir sebagai muslim, dan mereka menjalani hidup dengan tetap
berpredikat sebagai muslim, namun yang membedakan apakah mereka menjalankan
islam keturunan dan kewajiban, atau menjalankan islam dengan mencari dan memahami
islam itu sendiri. Beberapa yang hanya ”islam KTP” toh akhirnya dengan mudah
dipengaruhi dan meninggalkan Islam demi sebuah pernikahan, pekerjaan, dan
sebagainya.

Dan kita juga tahu kalo seorang berilmu, yang menggali makna untuk meningkatkan
ketaqwaannya, punya nilai lebih dibanding dengan ahli ibadah yang seharian membaca al
quran dan menegakkan sholat, namun tidak tahu maknanya.

Dengar saja lirik lagunya Bimbo, Anak Bertanya:

Ada anak bertanya pada bapaknya.


Buat apa berlapar-lapar puasa.
Ada anak bertanya pada bapaknya.
Tadarus tarawih apalah gunanya.

Dari lirik itu secara mudah kita simpulkan, bahwa perintah dan larangan Allah itu pasti
ada makna dibaliknya. Aku kadang jadi miris juga, denger jawaban orangtua ke anaknya
yang menanyakan hal diatas,”Hus, kerjakan saja. Itu udah perintah Allah, jadi tinggal
dijalankan saja kalau gak nanti berdosa”. Dengan bekal seperti itu dari kecil, bagaimana
generasi berikutnya? Bagaimana mereka tidak menjadi gamang dalam menjalankan
keislamannya, sementara dari kecil mereka tidak pernah diperkenalkan dengan makna
keislaman itu sendiri.

Lapar mengajarmu rendah hati selalu.


Tadarus artinya memahami kitab suci.
Tarawih mendekatkan diri pada Illahi.

d355y_1978@yahoo.com

Perenungan

Publikasi: 23/12/2003 10:44 WIB


eramuslim - Perenungan. Kata yang mudah diucapkan namun susah dimaknai. Suara Pak
Ismail masih mengiang ditelingaku, padahal sudah tiga tahun lewat aku mengikuti
training ini.

Siapa anda? aku gelagapan saat ditanya seperti itu, semua mata memandang ke aku.
Spontan kujawab,"Saya manusia, abdi sang Khalik". Pak Is, begitu beliau disapa,
melangkah kearahku. "Apakah benar anda manusia? Apakah benar anda berpikir,
bertindak dan berlaku sebagai manusia? Apa anda memang menempatkan diri sebagai
abdi Sang Khalik?". Rentetan pertanyaan mengalir dari mulut beliau.

Saat itu, aku benci....benci banget ikut pelatihan ini. Aku benci sama beliau. Semua yang
ikut sudah tua, jauh diatas aku. Apalagi, baru duduk sudah disuguhi pertanyaan yang
bikin puyeng. Sungguh hari yang ngeselin.

***

Hari kedua, duduk ditempat yang sama. Pak Is membagikan kertas putih dan meminta
kami menggambarkan wajah kami disana. Just peace a cake. Saatnya memperlihatkan
keahlian menggambar.

Gambar itu, yang dipuji disana-sini, ditempelin dan diberi nomor didepan meja masing-
masing. Waaahhh...gile. Ternyata aku itu emang penuh potensi, keren gitu hasilnya.
Hi...hi...yang laen ...ancur.

Pak Is menghentikan kesenanganku. Beliau membagikan lembaran-lembaran soal dan


kertas jawaban. Ah....paling cuma test psikologi. Gampang ini.
Hari kedua, aku lewati dengan sedikit perasaan senang, udah bisa unjuk gigi sih.

***

Hari ketiga, keempat dan kelima, dilalui dengan permainan, diskusi, debat dan segala
macam yang menarik. Eh, ternyata asyik juga ya .

***

Hari keenam. Pak Is berdiri didepan dengan dua orang asistennya. Kertas-kertas
dibagikan, hasil-hasil dievaluasi.

Bantahan bermunculan, penolakan disana-sini. Toh, ini hanya selembar kertas, tidak bisa
dijadikan bukti otentik. Masa aku, tidak kenal diriku, masa perlu orang lain untuk
mengenalkan aku,......non sense. Boong semua, apaan ini.

Pulang kerumah, dengan setumpuk kertas dan pr membuat surat. Kupandangi lekat
kertas-kertas bertinta merah dan biru, dengan grafik serta kurva yang melintas saling
memotong. Apaan sih ini, ......kayanya perlu dibaca ini penjelasannya.

Sombong, overconfidence, nggak punya target, pengambil resiko, dsbnya. Masa sih, aku
seperti itu? gila aja. Mataku tidak bisa terpejam mengingat kertas-kertas itu. Kenapa aku
sombong? padahal aku kan dikenal supel, banyak teman, pergaulan luas? Over
confidence? kok bisa ya.......

Segala macam pertanyaan dan jawaban bersiliweran dibenakku. Tak terasa, subuh
menjelang, teng.....aku tersentak. Satu malam aku terjaga memikirkan hasil kemaren.

***

Pak Is masuk ke kelas dengan senyum khasnya. Dan begitu beliau mengucapkan salam,
semua berebutan mengajukan pertanyaan. Dan semua pertanyaan sama, apakah benar
saya ini seperti ini?

Pak Is tersenyum, dan dengan bijaknya berkata,"Ada satu hal yang bersemayam didalam
hati manusia, ego pribadi. Perasaan itu melahirkan kesombongan, yang menutupi hati
sehingga hati tidak lagi bisa melihat, hati tidak lagi bisa memberikan penilaiannya, hati
cendrung disekap oleh kesombongan. Lalu, si ego meneriakkan pernyataan ini saya, dan
otak berpikir, saya tahu dan kenal siapa saya. Itulah rentetannya."

Beliau terdiam, lalu bertanya,"Sekarang, siapa dari hadirin sekalian yang tidak menolak
penilaian tersebut?". Beliau memutar pandangannya kesekeliling, tak satupun yang
menunjukkan tangan.
"Itulah manusia, terlalu cepat menilai, terlalu cepat memvonis, sebelum mengerti dan
paham duduk persoalannya. Kembali si-ego bertindak, kembali si-ego menutupi hati dan
pikiran".

"Sekarang, coba hadirin sekalian beri waktu setengah jam saja, duduk, relaks dan mulai
berpikir apa benar ini saya? lihat hasil saudara, renungi hasil itu. Memang itu hanya
selembar kertas, tapi itu adalah gambaran sepintas tentang anda sekalian".

Hari keenam pun berakhir.

Malam semakin larut. Aku duduk dalam perenunganku. Aku tidak tahu lagi berapa
banyak perenungan yang sudah aku lakukan. Ya, inilah aku, insan yang sombong dan
buta hati. Memang benar, Allah saja menyatakan bahwa manusia itu sombong dan tinggi
hati.

Teringat kembali, saat aku mebacakan surat untuk saudara kembarku, diriku sendiri,
rentetan perjalan hidup, yang penuh suka dan duka, yang jarang aku syukuri. Alunan lagu
Ebiet G. Ade masing terngiang dikepalaku....

Perjalanan ini...
Terasa sangat menyedihkan ....
Tubuhku terguncang.
Dihempas batu jalanan.
Hati tergetar menatap.
kering rerumputan.
Perjalanan ini pun.
Seperti jadi saksi.
Gembala kecil.
Menangis sedih.

ADE
d355y_1978@yahoo.com

Kedewasaan Made In India

Publikasi: 09/12/2003 10:52 WIB


eramuslim - Usai sholat Dzuhur kami langsung menuju kediaman Bapak Konsul
Jenderal RI, memenuhi undangan makan siang bersama, masih dalam suasana Lebaran.
Tanpa diliputi rasa ‘sungkan’ ikut bersama saya dua orang rekan asal India, Mohammad
Thufail dan Abdul Karim, yang sengaja saya ajak untuk mengenal sebagian rasa ‘Inilah
Indonesia ku’! Bersalam-salaman, kemudian....makan! Itulah acara intinya.

Kebetulan di ruang makan hanya ada kami bertiga, karena yang lainnya sudah selesai
makan dan berada di ruangan depan. Kami, cowok semua, memasuki ruangan, sementara
di ruang sebelah, disaat saya menjelaskan sebagian bahan dasar makanan yang tersaji
kepada dua orang ini, terdengar berulang kali “Ha...ha.....ha....hi..hiii...hiii.!”, suara ibu-
ibu, mbak-mbak, tertawa. Entah apa obyek pembicaraannya. Saya sendiri, karena
terbiasa, tidak ‘risih’ mendengarnya. Tetapi dua orang India yang bersama saya,
ekspresinya lain. Mohammad Thufail sering memalingkan pandangannya ke saya
bilamana ‘geeerrrrr....’ terdengar. Akupun tersenyum. Maklum!

“Kenapa perempuan Indonesia kok bicaranya tidak bisa pelan dan tertawa seperti itu?”
Aku tersentak oleh pertanyaannya. Tersinggung? Tentu saja “Ya!” Apalagi pertanyaan
(Baca: pernyataan!) Thufail adalah bentuk generalisasi, karena tidak semua perempuan
Indonesia bersikap seperti di ruang sebelah. Mereka di sana memang omongannya keras
dan tertawanya ‘cekikikan’ orang Jawa mengistilahkan. Padahal lebih dari separuh
diantara mereka berjilbab? Lantas apa hubungannya jilbab dan omongan serta ketawa
yang keras ini? Barangkali itulah batasan yang dimengerti oleh Mohammad Thufail.
Bahwa muslimah dan omongan keras ini erat sekali kaitannya.

Sebagai ‘tuan rumah’, aku ingin ‘membela’ mereka, betapapun yang diungkapkan
Mohammad Thufail adalah nyata dan benar. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa
hendaklah perempuan-perempuan itu tidak mengeraskan suaranya..... Mohammad Thufail
secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa sikap perempuan-perempuan yang
berbicara keras dan tertawa lebar tidak dibenarkan. Itu singkatnya! Namun untuk
berbicara langsung seperti itu, kayaknya ‘kasar’. Makanya, pada hemat Thufail, dari pada
mendiagnosa, lebih baik bertanya, lebih ‘sopan’. Tapi bagi saya, keduanya tidak beda,
bertanya atau mendiagnosa, intinya sama! Setali tiga uang!

“Perempuan Indonesia biasanya memang berbicara dan tertawa keras....tetapi mereka


tidak membicarakan orang lain Thufail! Tidak seperti perempuan India, mereka berbicara
pelan-pelan, namun menggunjingkan orang lain....we call it ‘ngrumpi’!” Gurauku, yang
dijawab Thufail pula dengan tawa. Kami pun tertawa (Baca: ha..ha..ha...), namun tidak
sekeras di ruangan sebelah, melupakan obyek diskusi segar siang itu.

Beberapa kali saya ikut pertemuan, katakan temu publik, dimana laki-laki dan wanita
juga kumpul, terpisah tempatnya, diantara orang-orang India. Bagi orang kita, campur
baur tidak ‘masalah’. Apa yang ditemui Mohammad Thufail diantara kami yang bukan
hanya terjadi pada perempuan-perempuan Indonesia, tanpa melebih-lebihkan, nyaris
tidak saya temui diantara komunitas India. Mereka begitu rapi, teratur, padahal
jumlahnya tidak sedikit. Tentu yang ini jangan bandingkan dengan gambaran orang India
yang ada pada film-film yang beredar di Indonesia!

Saya pernah menghadiri pertemuan Indian Muslim Association di Dubai, yang diikuti
tidak kurang dari 3000 peserta. Para peserta begitu tertib, tidak gadau, dan
subhanallah.....menyiapkan makanan untuk 3000 orang kan tidak sedikit? Meski
demikian, terkesan teratur. Mereka adalah kumpulan dari berbagai organisasi Islam India,
yang tidak terkesan mengenal adanya perbedaan. Mereka bahu-membahu, mulai dari
menggelar tikar hingga mengemasi sampahnya. Sementara masyarakat kita...
masyaAllah.... padahal waktu itu bulan puasa, sekitar 200 orang hadir. Usai berbuka,
Ta’jil, hanya sebagian yang melaksanakan sholat Maghrib, yang lainnya ngobrol,
merokok, seolah tidak sholat bukan menjadi persoalan. Astaghfirullah! Pemandangan itu
ada di depan mata Mohammad Ashraf, orang India lainnya yang kebetulan istrinya
seorang warga Indonesia di Dubai.

Barangkali saya yang terlalu berburuk sangka terhadap orang kita sendiri, dan terlampau
berbaik hati kepada India. Mungkin saja saya orang Indonesia yang ‘sok’ India. Wallahu
‘alam!

Kalau mau jujur, orang India memang banyak juga yang buruk perangainya, karena
sebagian besar penduduknya yang saat ini sudah mencapai angka diatas satu miliar jiwa,
didominasi oleh orang-orang Hindu. Hampir setiap hari kekerasan, pembunuhan,
perkosaan, perampokan, bencana alam, kelaparan, dan lain-lain musibah kemanusiaan
terjadi di daratan Asia Selatan ini akibat ulah orang India. Tapi bukankah fenomena yang
sama juga terjadi di Indonesia?

Kembali lagi. Kalau mau jujur, kita lebih baik mencari kebaikan mereka, tidak perlu
dinventarisasi kejelekannya. Tapi kita harus pula inventarisasi kejelekan diri sendiri
supaya ada upaya untuk memperbaikinya. Kita ambil hikmahnya, agar kita menjadi umat
Islam yang berkualitas. Sudah begitu banyak contoh-contoh kebaikan yang bisa jadi
‘prestasi’ orang-orang India yang kita belum mampu menandinginya dalam banyak segi
kehidupan.

Kita mulai dari segi pendidikan? Cendekiawan kita Nur Cholis Majid mengungkapkan
perbandingan jumlah lulusan S2 kita dengan India, yang konon miskin, ternyata 1:60.
Jadi jika ingin kualitas pendidikannya seperti mereka, kita masih harus belajar 60 kali
lebih giat! Padahal peranan pendidikan ini penting guna meningkatkan kualitas manusia.
Dari segi teknologi, hingga saat ini hanya orang asing asal India yang bisa duduk
setingkat dengan orang Amerika Serikat di NASA. Hotmail.com, penemunya orang
India, Sabir Bhatia namanya. Bos Microsoft Bill Gates sampai akhirnya tertarik untuk
menanamkan modalnya di India, negara pengeskpor tenaga kerja komputer terbesar dari
Asia, utamanya dari kota Hyderabad, pusat pendidikan komputer negara tersebut.

Perdagangan? India berada di peringkat kedua pengkespor terbesar di Timur Tengah,


sementara Indonesia di posisi 10. Sampai-sampai penyiar TV BBC pun orang India!
Film? Tanpa melihat kualitasnya, mereka mampu memproduksi 1000 film dalam setahun,
jauh melebihi Hollywood. Film India jadi tuan rumah di negeri sendiri. Film kita? ‘Boro-
boro’ jadi tuan rumah dan kualitas. Sudah bisa diproduksi saja sudah lebih dari untung!

Kebugaran? Yoga bermula dari India yang sekarang sudah mendunia. Obat-obatan? India
hanyalah satu negara disamping Cina yang memiliki sejumlah perguruan tinggi dimana
adalah fakultas kedokteran tradisionalnya. University of Hyderabad menyelenggarakan
program doktoral untuk Ayurvedic Medicine, pengobatan tradisional India. Padahal Jamu
Nyonya Menir, yang sudah puluhan tahun belum juga menyelenggarakan kursus yang
diakui Departemen Pendidikan Nasional sebagai lembaga pendidikan resmi yang
tingkatannya sejajar dengan keperawatan atau kedokteran.
Tenaga kerja? Dimana di dunia ini yang tidak ada orang India nya? Amerika, Inggris,
Afrika Selatan, Jepang, Malaysia, Singapore, Australia, bahkan mereka mampu
menembus jaringan televisi Indonesia. Mereka menyebar ke berbagai bidang lapangan
pekerjaan, mulai dari bawah tanah hingga luar angkasa. Mereka yang bekerja di hotel
tadinya sebagai pelayan, tidak akan berhenti berjuang sebelum menjadi manager. Tekun
dan ulet sekali! Tenaga kerja kita? Lebih dari 90 % yang kita ‘ekspor’ rata-rata tenaga
kerja yang tidak atau kurang terampil.

Bahasa? Pada jaman Orde Baru kita sempat diajarkan untuk bangga dengan istilah-istilah
Sansekerta, mulai dari Eka Prasetya Panca Karsa hingga Purna Karya Nugraha. Padahal
isitilah-istilah tersebut berasal dari bahasa Sanskrit, India, yang sebenarnya kita
‘pinjam’dari mereka. Suatu hari, rekan saya, Mohammad Koya, orang India Selatan
bertanya kepada saya, “Kamu tahu artinya Megawati? Itu diambil dari bahasa kami!”
katanya ringan. Lho? Jangankan kata megawati, kata-kata lainnya seperti ‘Apem, Karena,
Sampurna, Surya’ dan masih banyak lagi...ternyata....aslinya milik orang India! Kalau
ingin tahu nama negara yang paling bangga dengan bahasa dan tulisannya sendiri tanpa
harus ketinggalan berbahasa internasional, Inggris, India lah jawabnya! Bahasa kita?
Bahasa dan huruf Jawa saja sudah lama ditinggalkan, dan huruf-huruf ABC sampai Z
masih harus pinjam kan?

Agama? Buku-buku Islam kondang banyak yang dihasilkan oleh maulawi-maulawi asal
India. Indonesia ‘pandai’ menterjemahkannya. The Holy Quran English version,
standard, yang dipakai di dunia Islam adalah terjemahan karya Abdullah Yusuf Ali yang
asal India. The Nobel Quran and The Interpretation juga karya Muhammad Muhsin
Khan, dosen di Madinah University. Ahli Perbedaan Agama Ahmed Deedat yang
berwarga negara Afrika Selatan juga aslinya India. Ihya Ulumuddin karya Imam Al
Ghozali dikemas dalam Bahasa Inggris oleh Maulana Fazlul Karim. Dan masih banyak
lagi contoh-contoh prestasi mereka yang membuat kita iri. Sementara ribuan lulusan
IAIN dan Al Azhar-Cairo kita bukan apa-apa jika dibanding dengan prestasi ulama-
ulama India dalam kaitannya dengan penerbitan buku berkelas internasional. Karena
buku-buku kita, yang sudah mahal, ternyata hanya muatan lokal, alias untuk mereka yang
mampu berbahasa Indonesia!

Jika ingin berhasil dalam bisnis di Timur Tengah, ‘pekerjakan orang India’, ungkapan itu
tertanam kuat dalam dunia bisnis disana. Namun bukan hanya segi bisnis duniawi saja.
Dalam persoalan bisnis ukhrawi, keagamaan, kita juga butuh banyak belajar dari mereka.
Pusat Jamaah Tablig terbesar di dunia ada di daerah yang disebut Nizamuddin, New
Delhi. Padahal umat Islam di Indonesia lebih banyak ketimbang di India kan?

Keuletan mereka dalam berorganisasi, dedikasi mereka terhadap organisasi, tidak


diragukan. Abdul Azeem, sekarang sudah balik ke India, 17 tahun lamanya setiap minggu
mengedarkan buletin organisasinya, ke sekitar 10 orang langganan dibawah
koordinasinya, hanya untuk memperoleh Dhs 2 per eksemplarnya (sekitar Rp 4000). Dia
juga rajin mengumpulkan sadaqah orang-orang di desanya setiap bulan sekali secara tetap
tidak kurang dari 10 tahun. Masih banyak azeem-azeem lainnya yang saya temui yang
melakukan kegiatan serupa.
Orang India paling bangga dengan hasil produksinya sendiri. Mereka yang terjun di
organisasi-organisasi Islam, tanpa melihat kualitas buletinnya, terpanggil untuk
membelinya secara rutin sebagai pelanggan agar secara finansial organisasinya tetap
eksis. Mereka tidak akan berpikir dua tiga kali untuk membeli buku-buku Islam yang
terpajang di meja-meja kantor organisasi Islamnya. Mereka khusyuk setiap kali
mendengarkan khotbah-khotbah yang disampaikan oleh dai-dai, meskipun kelasnya tidak
seperti Aa Gym. Orang kita? Akan menganggap khotbah ‘berkualitas’ jika banyak
dibumbuhi oleh lawakan-lawakan segar. Subhanallah!

‘Belomba-lombalah kamu mencari kebajikan!’Begitu perintah Allah SWT. Ada banyak


hal yang perlu kita pelajari dari orang India. Sekiranya Malaysia dan Singapura tidak
perlu menyeberang dari tempat kita, ingin rasanya teman-teman saya ajak untuk melihat
dari dekat bagaimana muslim India disana hidup dan menghidupkan Islam. Sehingga
tidak perlu harus jauh-jauh ke negeri asalnya, anak benua Asia Selatan, apalagi harus ke
Timur Tengah.

Apa yang terpampang dalam film-film India memang banyak yang tidak pantas kita tiru,
karena muatannya tidak lebih dari budaya kehidupan bebas, sebagaimana umumnya film-
film kita. Namun demikian dari uraian diatas, sudah jelas bahwa kita masih harus
menimba ilmu banyak dari mereka, agar lebih dewasa lagi. Tidak sekedar menghindari
tawa dan berbicara keras saja. Kita perlu belajar banyak supaya bisa dewasa seperti
halnya orang-orang Islam kita dulu yang berguru mendapatkan kedewasaan tentang Islam
kepada Maulana Malik Ibrahim, salah satu sunan Walisongo kondang yang makamnya
berada di Gresik-Jawa Timur. Tahukah anda dari mana asal beliau?

Syaifoel Hardy
shardy@emirates.net.ae

Parade Jiwa-jiwa

Publikasi: 01/12/2003 08:59 WIB


Sudut perkantoran di bilangan pusat Jakarta, 10.00 wib.

Sesosok gagah menenteng handphone model terbaru di tangan kanannya dan laptop di
tangan kirinya. Klimis, berdasi dan berjas rapi parlente dengan kepala sedikit terangkat.
Sesekali menjawab suara dari hp-nya yang tak henti berdering. Mencoba mentafakkuri
segala aktivitas yang disebutnya sebagai ‘the executive life-style’. Menghabiskan waktu
dari satu kafe ke kafe lainnya di tengah gemerlap malam, mencoba memborjukan diri
dalam gelimang kehidupan yang tak lepas dari modernitas yang sedikit bablas.

Jalan Raya Kuningan , 12.00 wib.

Kaki kecil gesit berlari menghampiri deretan kendaraan yang berhenti kala lampu merah
menyala. Bibirnya mencoba melantunkan sepenggal nada tak beraturan yang
dianggapnya nyanyian. Menggoyang-goyangkan kecrekan yang sejak tadi berada dalam
genggaman, mengiringi suara sumbang yang lebih mirip rintihan kelaparan. Mengetuk-
ketuk setiap kaca taksi, BMW, Altis, Peugeot dan beragam pameran kemewahan yang
digelar gratis di jalan-jalan, berharap akan terbuka dan terulur sekeping-dua keping
logam recehan.

Kembali ia ke pinggir trotoar di bawah jembatan hitam, mendekati sosok tua ringkih yang
sama lusuhnya. Menyerahkan segenggam rupiah dengan wajah pias harap-harap cemas.
Dan segera diterimanya caci-maki, sumpah-serapah yang tidak semestinya. Telah
menguap nurani bunda yang dulu melahirkan dan kini membesarkannya dalam keras
hidup yang damainya tak lagi berpihak. Telah menghilang kasih sayang yang seharusnya
melimpah ruah saat usianya menginjak kanak seperti sekarang. Dan tangan berbungkus
kulit keriput itu membentur permukaan halus yang dengan seketika dibanjiri air mata.
Perih. Sakit. Nyaris tak percaya sang bocah menatap perempuan yang kini tak beda
dengan ibu tiri yang sering ia dengar dari kisah klasik jaman dahulu kala.

Pelataran depan Gedung DPR-MPR RI, 14.49 wib.

Hilir mudik ratusan biru, merah, kuning, hijau dan abu-abu almamater berjalan di bawah
sengat surya yang garang. Tetes-tetes keringat tak dihiraukan kala teriakan penuh
semangat dilepaskan. “Perjuangkan nurani! Perjuangkan kebenaran!”. Menggapai
idealisme yang tampak terlalu melangit dan tak mudah dibumikan.

Satu-satu bergilir di podium menajamkan hakikat perjuangan. Menggedor paksa batu-


batu bertajuk hati yang kerasnya tak ubah cadas. “Apa gunanya?” tanya mereka yang tak
jua paham. “Toh orang-orang di atas sana tak mau dengar,”. Peduli apa. Kami hanya
berusaha ketimbang diam tak berdinamika.

Melompat-lompat semangat, berteriak-teriak menentang kezhaliman. Membakar emosi


agar membumi ke dasarnya, mencoba resapi arti ketertindasan dan keteraniayaan yang
menjadi makanan beratus juta jiwa Indonesia. Pahami hakikat empati dengan sebenar-
benar maknanya.

“Ganyang korupsi! Hancurkan arogansi!”

Bara mentari kian didihkan darah yang terus bergejolak. Legam wajah tak dihiraukan,
lelah tubuh telah direlakan. Reformasi nyaris mati dan karam kini. Dan jiwa-jiwa
pengusungnya tak rela pertiwi terpuruk lagi.

Perbatasan Gaza, 23.59 waktu setempat.

Bayang seseorang tampak tunduk terpekur dalam keheningan malam. Mencoba mencari
dan menyusun kekuatan pada sumber Yang Teramat Kuat, mencoba mengais iba pada
Zat Tunggal Yang Maha Perkasa. Tersengguk disekanya tetes-tetes yang menggenang
dipelupuk kedua mata. Bukan! Bukan tangis kedukaan! Tetapi keterharuan yang
memuncak dalam impian akan perjumpaan dengan wajah Kekasih yang dirindukan. Pun
pada wangi kesturi kenikmatan jannah Sang Raja Yang Maha Menundukkan.
Diucapkannya basmalah, dan ditanggalkannya berlapis-lapis riya’ yang mungkin masih
terpasung di alam bawah sadarnya. Bangkit ia bergegas menyambut seruan Tuhan, dan
menggumam perlahan, “Ini untuk ayah-bundaku, adik-kakak-ku, teman-teman
seperjuanganku, untuk Al Aqsho, untuk Palestina, untuk Al Islam!”. Mengeras rahangnya
menahan degup dendam suci atas tercabiknya tanah kehormatan. Berkilat mata elangnya
menyiratkan tekad penuh kesungguhan dan keberanian tak kenal gentar.

Mengendap. Berkelibat di bawah bayang-bayang purnama yang tersaput awan.

Begitu mudah memasuki perbatasan yang dijaga ketat budak-budak hina, sosok-sosok
kera berwujud manusia.

Aman sudah. Dan…, “Dduuaaaarrrrrr!!!!!”. Keping-keping usus terburai, cairan tubuh


berlelehan, merah darah memuncrat, daging-daging menjadi potongan kecil serupa
cincangan.

Jasad itu musnah sudah. Namun ruhnya melayang mengangkasa, djemput cantik bidadari
yang tak sempat ditemuinya di dunia. Merengkuh kesucian yang lama dicita-citakan. Dan
Sang Cinta Tertinggi beserta singgasana yang mengalir sungai-sungai di bawahnya telah
menanti datangnya jiwa. Dunia tidaklah seberapa.

Sudut Kamar dengan Biru Aura, 24. 33 wib

Kututup lembar hari yang baru berakhir. Rebahkan kepala dan mencoba pejamkan mata.
Mengenang bergilirnya episode hidup dan kehidupan yang terus berjalan. Dinamis dan
tak pernah statis. Meski kadang ia pelangi, atau guntur yang menakutkan terjadi.

Parade jiwa-jiwa hari ini kusaksikan. Dan kupejamkan mata kuat-kuat, menyesali
kehidupan sosok muda penuh fatamorgana, berbungkus glamour kesemuan yang
memperdaya.

Meraup duka dari ratusan sosok mungil yang bertebaran di jalan-jalan karena terpaksa
atau bahkan dipaksa. Menganyam empati atas rasa kehilangan ceria di masa kecil
terindah yang harus tiada.

Mengencangkan semangat dan membakarnya demi tegak nurani dan sepadannya perilaku
dan kata. Melantangkan kebenaran di hadapan kezholiman penguasa. Bukan menjadi
sosok-sosok apatis yang sibuk berkutat di dunia mininya dengan segudang buku
bermilyar halaman, atau yang masih bangga dengan klasiknya semboyan , “Buku, Pesta
da Cinta”.

Meresap azzam dan cita para syuhada yang tak pernah rela Al Quds ternoda.
Mengumpulkan asa dan keberanian yang tiada terkira. Menjemput maut demi prjumpaan
dengan Robb-nya semata.

Kembali kupejamkan mata. Sepenggal parade jiwa-jiwa hari ini usai sudah.
01.00dinihari, 18.11.03

Detik-detik I’tikaf dalam Ramadhan yang Begitu Cepat Melesat..

Fathy_farahat@yahoo.com

Terlambat Bukan Berarti Tidak Sama sekali

Publikasi: 17/11/2003 17:37 WIB


eramuslim - Kaki ini meniti lemah anak tangga diantara gelap Masjid-Mu. Malam ini
sudah masuk 10 malam terakhir ramadhan, malam ke 22 dari untaian malam berkah. Hati
berseru takbir dengan kepalan jari-jari lemas terurai lagi. Allah ijinkanlah aku
menjumpaimu pada malam-malam terakhir ini, setelah sekian malam aku hanya bergulat
dengan dunia. Seharian dikejar amanah kegiatan bukan hal yang lumrah bagiku. Malam
ini saatnya aku bercumbu penuh khusyu dengan-Nya dengan tubuh ini diselimuti gigil
ngilu.

Tilawahku tertinggal waktu. Malu pada jam yang tetap istiqomah berputar, tapi amalanku
tak pernah mau untuk istiqomah berjalan. Tarawih dan Qiyamullail semau gue-ku,
apakah Engkau terima ? Hanya Engkau yang Maha Menentukan hasil dari semua usaha,
aku tak sanggup mendengarkan hasil perhitungan-Mu saat ini. Amalanku yang dijejali
riya semoga Engkau ampuni. Berapa kali shadaqahku ? ah, lagilagi malu pada kotak
shadaqah, pada tangan kanan dan kiri yang selalu saling melihat ketika kurogoh sisa uang
saku.

Ramadhan kali ini menyisakan sayatan pilu diruhaniku. Aku tak mampu menghisab diri
dari kebaikan dan keburukan, dari amalan dan dosa, apalagi dari ikhlas dan riya. Bukan
terlalu banyak, tapi terlalu kecil dan tak terindera. Semuanya aku kembalikan pada-Mu.
22 hari kulewati tanpa makna secuilpun yang tergores di kalbu. Bukan ini mauku. Bukan
ini tujuanku. Tapi inilah yang sudah kudapat sampai saat ini. Sebuah keterlambatan.

Allah, terangkanlah padaku tentang makna keterlambatan. Semuanya sudah berjalan jauh
tapi aku masih berlari kecil di tempat. Lelah ini kulahap sendiri. Ingin rasanya berlari
sekencang mungkin untuk menyusul mereka yang telah jauh. Ternyata terlambat bukan
berarti tidak samasekali. Masih ada waktu. Masih ada jalan. Manfaatkanlah arti dari
kesempatan.

Sekarang ijinkanlah hamba-Mu ini memulai lagi. Merangkai malam-malam sunyi


menjadi parade dzikir untuk-Mu. Mencuci diri dari noda, yang entah dari mana harus
kumulai membersihkannya. Merangkak menggapai uluran maghfirah-Mu. Ramadhan
masih tersisa beberapa hari lagi. Dan masih ada Lailatul Qadar yang setia menunggu
jelmaan manusia-manusia yang Dia ridloi. Aku sangat menyadari betapa tidak pantasnya
diri ini menerima anugerahmu itu. Tapi, apakah salah jika manusia dungu ini
menginginkan syurga-Mu.
Ijinkanlah aku menapaki keterlambatan dengan beribu semangat juang. Agar aku bisa
sampai kehadirat-Mu seperti juga mereka yang telah sampai mendahuluiku. Ijinkanlah
aku mendapatkan anugerah Lailatul Qadar-Mu, mungkin untuk yang pertama kali, dan
mungkin sekali-kalinya dalam hidup ini. Karena aku tidak tahu apakah tahun depan bisa
berjumpa Ramadhan lagi, dan berjuang bersama mendapatkan anugerah-Mu itu.
feli@indosatm2.com

Dari yang tertatih di putaran terakhir Ramadhan

Sentuhan Berkah

Publikasi: 17/11/2003 10:58 WIB


eramuslim - Sungguh seorang yang menghamba pada Yang Maha Mulia akan ikut
mulia. Karena Yang Mulia memberikan kemuliaan-Nya dengan berkah kasih sayang dan
cinta serta ampunan-Nya terhadap kesalahan dan kekhilafan.

Di awal bulan istimewa-Nya Allah menurunkan kasih sayang untuk para pemburu cinta-
Nya. Saat sepuluh hari pertama lewat dan seandainya Dia mengumumkan daftar nama
orang-orang yang dirahmati-Nya, apakah nama kita termasuk di dalamnya? Kita pun
segera memasuki peluang hari berikutnya untuk memburu ampunannya, mencari
maghfirah-Nya.

Sepuluh hari kedua pun telah lewat. Seandainya Allah mengumumkan list nama-nama
yang diampuni oleh-Nya, apakah nama kita ada di sana? Tak ada yang berani
menjawabnya.

Saat ini, kita memasuki etape terakhir pembekalan ini. Rute tersulit yang di dalamnya–
kadang–orang telah kehilangan konsentrasi. Sebagian justru jauh berpikir duniawi ke
depan, bagaimana mempersiapkan keadaan setelah puasa. Padahal Ramadhan belum
benar-benar meninggalkan kita.

Ini merupakan babak final yang menjadi akibat dari dua level sebelumnya. Rahmah dan
kasih sayang Allah membawa ampunan untuk para hamba-Nya. Seandainya ia merasa
belum maksimal merasakannya, ia akan memburu ampunan tersebut. Dan ampunan
tersebutlah yang membawa pembebasan dari kemurkaan-Nya yang dahsyat. Pembebasan
dari api neraka.

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan". (QS.


97:1)

Allah menurunkan Al Qur'an pada sebuah malam yang mulia yang "lebih baik dari seribu
bulan" . (QS. 97:3)

Mengapa Allah begitu mengistimewakan malam itu. Malam yang hanya sebagian saja
dari waktunya dijadikan Allah sebagai fasilitator turunnya Kalam-kalam suci itu dari lauh
mahfuzh-Nya.
Malam yang hanya bersentuhan sesaat saja dengan Al Qur'an, nilainya digandakan Allah
lebih baik dari 30.000 malam yang tidak bersentuhan dengan lailatul qadr tersebut.

Betapa beruntungnya malam itu. Lebih beruntung lagi, bagi mereka yang menggunakan
kesempatan ini. Bagi para pemburu kebaikan seribu bulan, pasti dijadikan sebuah
peluang emas untuk menutupi keterbatasan dua etape sebelumnya di 20 hari yang telah
lewat.

Lantas bagaimana dengan seorang mukmin yang tenggorokannya dilewati oleh huruf-
huruf Al Qur'an. Tentu tenggorokan tersebut lebih baik dari tenggorokan-tenggorokan
lainnya. Satu hurufnya saja diberi insentif ukhrawi berupa sepuluh kebaikan. Ada berapa
huruf di dalamnya. Telinga yang mendengarkannya, lebih baik dari telinga yang menjauh
darinya. Mata yang membacanya, lebih baik dari mata yang menghindarinya. Dan mata
ini menjadi akumulasi ketiganya, ia meneteskan air mata karena mendengarkan, melihat
dan membacanya. Air mata kesyahduan. Ada ketakutan di sana. Ada pengharapan. Ada
kenikmatan. Ada seribu ada, tak terungkap dengan kata-kata. Sungguh, tetesan itu hanya
dinikmati oleh mereka yang sanggup meneteskan air mata; sedang orang disekelilingnya
keheranan mengapa hal itu bisa terjadi.

Itulah kenikmatan bersentuhan dengan keberkahan. Bagaimana seorang mukmin yang


seluruh hidupnya selalu bersentuhan dengan Al Qur'an. Dadanya menjaga dan
menghafalnya. Perilakunya mencerminkan keberkahan itu. Sungguh, orang seperti ini
lebih baik dari seribu orang yang tak pernah bersentuhan dengan keberkahan itu.

Abu Musa al Asy'ari meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. "Perumpamaan seorang


mukmin yang membaca Al Qur'an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya
enak. Sedang orang mukmin yang tak suka membaca Al Qur'an bagaikan buah Tamr, tak
ada baunya dan rasanya manis…." (HR. Bukhari Muslim)

Menurut berbagai riwayat malam keberkahan tersebut terjadi di sepuluh hari terakhir ini,
di etape terakhir madrasah pembekalan ini. Ibunda Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq
ra. meriwayatkan sabda Rasulullah, "Carilah lailatul qadr pada hari-hari ganjil di sepuluh
hari terakhir pada bulan Ramadhan" (HR. Bukhari Muslim)

Pada sepuluh hari terakhir, Rasulullah Saw. meningkatkan ibadahnya melebihi 20 hari
yang telah lewat. Ali bin Abi Thalib ra. meriwayatkan, "Rasulullah Saw. ketika telah
memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarung dan membangunkan
keluarganya" (HR.Ahmad)

Kegigihan Rasulullah Saw. hendak memberi contoh kepada kita betapa siapapun dia, jika
tak menggunakan peluang ini akan sangat merugi dan menyesal di kemudian hari.
Apakah dia telah memiliki tabungan yang banyak sehingga ia malas menggunakan
peluang yang sulit terulang lagi. Karena tak ada jaminan hal ini akan didapatinya di tahun
depan. Semuanya serba ghaib. Atau bagi mereka yang hari-hari sebelumnya penuh
dengan kekhilafan dan dosa serta kelalaian. Saat inilah kebangkitan hakiki itu.
Pemburu seribu bahkan tiga puluh ribu keberkahan…

Syeikh Mubarakfuri mempunyai analisis yang bagus, berkenaan dengan malam


keberkahan tersebut. Di hari ke berapakah Al Qur'an turun pertama kali kepada
Rasulullah Saw.?

Suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, mengapa beliau sering berpuasa pada hari Senin.
Beliau menjawab karena pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku menerima
wahyu dari Allah untuk pertama kali.

Sudah menjadi kesepakatan ulama, bahwa al Qu'ran diturunkan pada bulan Ramadhan,
sebagaimana yang dinashkan Al Qur'an dan Hadits. Allah telah mengabadikan hal itu
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-
penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…".
(QS. 2:185). Berikutnya Allah menegaskan lagi, "Sesungguhnya Kami menurunkannya
pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi
peringatan". (QS. 44:3)

Pada bulan Ramadhan tahun itu, hari Senin terulang sebanyak empat kali. Yaitu pada
tanggal ke 7, 14, 21, dan 28. Dalam hadits-hadits nabawi dianjurkan untuk mencari
lailatul qadr pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bahkan ada yang lebih
spesifik lagi, yaitu pada hari-hari ganjil. Dengan demikian, lailatul qadr terjadi pada
malam ke 21. Karena 7, 14 dan 28 tidak memenuhi kriteria sebagaimana yang disebutkan
dalam gabungan hadits-hadits yang ada. Lantas benarkah, malam keberkahan tersebut
terjadi pada hari itu. Allahu a'lam. Sangat banyak pendapat yang mengatakannya. Ada
yang menjadikan bulan Ramadhan secara umum. Ada yang mengkhususkan pada sepuluh
hari terakhir. Ada yang mengkhususkan lagi pada hari-hari ganjil di sepuluh hari tersebut.
Ada yang berpendapat pada hari 27. Ada ….

Mengapa Allah merahasiakan malam keberkahan itu.

Sungguh hikmah Allah Swt. demi keseriusan hamba-hamba-Nya dalam berusaha.


Kesungguhan dalam mencari malam keberkahan tersebut. Seandainya hijab dibuka dan
malam tersebut diketahui siapa saja, kemungkinan besar hari-hari dan malam-malam lain
akan ditinggalkan mereka yang malas.

Kesungguhan beribadah pada malam keberkahan tersebut tak lain adalah pemaknaan
kepasrahan yang dalam dari seorang hamba yang menyerahkan segala-Nya pada Sang
Pencipta.

Penghambaan yang terefleksi dalam kesungguhan beribadah dan totalitas penjiwaan di


dalamnya. Ada kekhusyukan. Ada ketakutan. Ada pengharapan. Ada…

Kepasrahan dalam menerima cinta dan kasih sayang-Nya serta berharap atas keampunan-
Nya terhadap kekhilafan manusiawi yang dilakukannya.
Masihkah setelah ini ada keraguan? Atau bahkan keputusasaan?

Sungguh, saatnya lah sekarang bagi kita untuk memburu hari pembebasan kita dari
kemurkaan dan kemarahan Allah. Ya, karena kita telah memiliki cinta-Nya. Yakinlah itu.
Kita sedang memburu ampunan-Nya. Dan kemudian pembebasan itu benar-benar
diberikan kepada kita. Saatnya sudah dekat. Jangan kita jauhkan dengan kelalaian,
kesalahan bersikap, keteledoran dan berbagai kebodohan. "Wahai pemburu kebaikan
gunakan kesempatan ini, wahai pemburu dosa berhentilah".

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan". (QS. 55:13)

Saiful Bahri saiful_elsaba@yahoo.com

Sesuatu Yang Tak Ternilai

Publikasi: 12/11/2003 15:02 WIB


eramuslim - “Hujanlah sesukamu, toh rinainya akan kami tanggung semua” (Harun Al
Rasyid). Kalimat yang terucap dari bibir sang Khalifah tersebut begitu singkat dan
sederhana. Sang Khalifah seperti tidak peduli akan hujan turun tiada henti atau bahkan
berhenti turun. Itu semua tidak berpengaruh terhadapnya. Meskipun ia pun sadar akan
konsekuensi rinai yang muncul saat hujan turun, ia tak tergoyahkan. Tidak ada ketakutan
ataupun kekhawatiran akan resiko yang muncul. Ia sadar segala sesuatu sudah diatur
dengan cermat dan teliti. Ada zat yang berkuasa atas segalanya. Zat yang ketentuannya
tak bisa ditolak ataupun dihindari.

Terdapat ketabahan, keberanian, dan juga prasangka baik atas apapun yang terjadi. Ini
didasari atas keyakinan bahwa apapun yang ditetapkan Alloh adalah suatu kebaikan.
Maka bagi orang-orang yang sangat kuat keyakinannya dan sangat dalam cintanya,
apapun yang terjadi pada dirinya tidak sampai mengubah prasangka baiknya kepada
Alloh. Tidak ada yang ia takuti. Hari ini ataupun esok. Alloh sajalah tumpuan terakhir,
harapan yang tak akan pernah mengecewakan, dan Sang Penghitung yang Maha Teliti
tiada dua.

Ada sebuah permata di hati orang-orang beriman yang saat ia terasa kelezatannya,
segalanya terlihat begitu indah. Permata itu adalah iman. Saat iman meraja, tak ada lagi
duka dan derita. Ini bukan karena tidak ada luka dan perih, bukan. Ada duka dan luka.
Tapi luka yang ada tidak lagi terasa sakit tertutupi kesadaran akan kenikmatan yang akan
diperoleh kelak sebagai hadiah tak terukur dari Alloh. Apabila ini terpatri, seorang hamba
akan mampu berteriak lantang menyuarakan kebenaran, berjalan tegap diatas bara celaan
orang, gigih membela kebenaran dan keadilan. Ia tak akan gentar akan terpaan
gelombang yang menggila, duri, dan amukan badai kehidupan.

Iman adalah bekal seorang mukmin untuk mengarungi kehidupan. Mencuat dari lubuk
hati, iman merupakan bentuk kesadaran yang sederhana akan kehidupan. Bahwa setiap
kehidupan dan kematian berada di tangan Alloh. Termasuk juga didalamnya rizqi dan
pengalaman hidup yang akan muncul, baik berupa kesenangan ataupun kesusahannya.
Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasululloh SAW pernah bersabda akan tiga kunci
merasakan kelezatan iman: cintai Alloh dan Rasul-Nya diatas segalanya, cintai seseorang
hanya karena Alloh semata, dan membenci kekufuran untuk dirinya seakan neraka
terletak dihadapannya jika ia melakukannya.

Alloh adalah zat yang paling layak untuk dicintai. Ia pantas untuk dinomorsatukan.
Karena ia adalah Sang Pencipta, Maha Pemurah yang memiliki cinta yang tak bermusim.
Alloh juga memiliki ampunan dan rahmat yang tiada batas. Bagaikan samudra tak
berpantai. Tak bertepi. Cintailah Alloh saja karena ia akan membalas berlipat dan tak
akan membuat kecewa, sedih dan sakit. Sementara Rasulullah adalah sosok yang lembut,
berahlaq mulia, penyantun, dan sangat dalam kasihnya untuk segenap umat. Beliau
berpribadi sempurna dan pembawa suluh penerang penjuru alam raya.

Cintailah juga saudara kita hanya karena Alloh, karena sifat cinta kita lemah. Kita butuh
Alloh untuk menjaga selalu perasaan itu. Tiada keabadian tanpa izin dan kemurahan
Alloh. Kita diciptakan dengan segala keterbatasan diri. Cinta saudara karena Alloh akan
sangat mengagumkan manakala kita mengaca kepada hubungan kaum Anshar dan
Muhajirin. Berbagai kisah yang menyentuh menggambarkan ketulusan dan sikap itsar
yang luar biasa. Hinnga ada diantara mereka yang bersedia memberikan istri untuk
saudaranya. Cinta karena Alloh akan membuat segalanya tampak sederhana dan penuh
makna.

Membenci kekufuran adalah syarat ketiga untuk merasakan lezatnya iman. Memang tidak
mudah karena iman adalah sesuatu yang tak ternilai. Tak ternilai karena tidak didapatkan
secara percuma. Kecuali Alloh berkehendak lain. Tapi yakinlah bahwa hanya dengan
iman saja jiwa akan terbebas dari sifat-sifat buruk dan menghiasinya dengan sifat-sifat
mulia. Muhammad Iqbal melukiskan dengan heroik dalam puisinya gambaran jiwa yang
tercelup iman dan terhiasi keberanian yang menggelora:

Gema seruan kita terdengar melintasi gereja-gereja di Britania.


Sebelum skuadron membebaskan negeri-negeri.
Mengapa kau lupakan Afrika.
Jangan kau lupakan hamparan saharanya.
Bumi itu mendayung laksana pijar bola api.
Bentengkan dada kita sebagai pedang.
Mengapa kita gentar saat kezaliman menggila.
Kesewenangan merajalela.
Laksana kilatan kelewang yang hanya menerpa bunga-bunga terkubur rumput liar.
Mengapa sirna nyali kita pada penguasa bengis yang hendak memerangi kita?

najwasaja@yahoo.com

Persimpangan Cinta

Publikasi: 07/11/2003 09:49 WIB


eramuslim - Perputaran waktu yang terjadi–sungguh–sangat cepat. Belum lama kita
menyambut kedatangan tamu Allah, Ramadhan Mubarak. Kini telah berlalu sepertiga
dari waktu yang ditentukan Allah untuk kita menemaninya.

Ya, berlalu sepertiga berarti takkan lama lagi ia akan berlalu. Dan hari-hari indah itu
hanya tinggal kenangan.

“Sepertiga pertamanya rahmah” demikian kata Rasulullah Saw. menjelaskan karakteristik


bulan barakah ini.

Rahmah menjadi permulaan kebaikan yang kita lakukan “Dengan menyebut asma Allah
yang Rahman dan yang Rahim”. Rahmah yang menjadi kata di awal persuaan dua orang
mukmin,”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Rahmah yang menjadi sebab
kelembutan Rasulullah Saw. dalam berdakwah. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah
kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka…”. (QS. 3:159) Dalam Al Qur’an pun Ar
Rahman menjadi satu-satunya nama surat Al Qur’an yang menggunakan salah satu dari al
asma’ al husna.

Betapa besar nilai sebuah rahmah. Apalagi rahmah dari Allah yang merefleksikan cinta
dan kasih sayang-Nya.

Dan hari ini kita berada dipersimpangan cinta dan rahmah-Nya. Marilah kita bersama-
sama muhasabah.

Sudahkah kita menjadi orang yang penyayang terhadap yang lemah. Pengasih terhadap
yang fakir. Lembut terhadap orang lain. Pemaaf terhadap kekhilafan saudara kita.
Mencintai orang-orang yang mencintai kita. Memberikan cinta kepada Allah dan Rasul-
Nya, kepada orang-orang yang mencintai-Nya serta segala sesuatu yang dapat
mendekatkan kita kepada cinta-Nya. Menebarkan cinta kepada orang-orang yang
membenci kita. Menyambung tautan persaudaraan kepada mereka yang memutusnya
karena ketidaktahuan atau karena kesalahpahaman yang dibesar-besarkan.

Sudahkah kita mencintai kaum muslimin. Mencintai sesama manusia. Menyayangi


makhluk-makhluk Allah. Sekalipun seekor ikan dalam akuarium yang ada di ruang tamu
kita. Sekalipun seekor kucing yang berada dalam rumah kita. Sekalipun seekor burung
yang ada di depan rumah kita. Atau tanam-tanaman yang menghias halaman rumah kita.

Sudahkah benar-benar kita menghayati sepuluh hari yang penuh cinta ini? Sehingga kita
menjadi orang yang benar-benar penyayang dan pengasih terhadap siapa saja. Terutama
terhadap saudara kita, sesama kaum muslimin. Masih adakah setelah itu kedengkian.
Kebencian. Iri dan dengki. Atau bahkan permusuhan?

“Sayangilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka
yang di langit”… dan malaikat pun akan menyayangi kita.
“Barang siapa yang tidak menyayangi takkan pernah disayangi”. Bila kita tak pernah
mengasihi dan menyayangi orang lain bagaimana mungkin kita berani ‘mengemis’ cinta-
Nya. Sungguh, sangat malu.

Sebelum kita menyayangi dan mengasihi serta mencintai orang lain, kita cintai diri kita
sendiri. Mencintai diri sendiri dengan menanamkan kecintaan terhadap cinta.
Menanamkan cinta berarti mencabut dengki dan permusuhan. Menyemaikan kasih
sayang berarti membuang iri dan buruk sangka. Menyuburkan cinta dan kasih sayang
berarti memupuk kebaikan terhadap diri kita untuk mempergunakan waktu yang
disediakan Allah dengan mengoptimalkan potensi dan kesempatan. Mentadabburi ayat-
ayat-Nya, menyentuhkan kening kita dengan sepenuh cinta, menguraikan air mata cinta
pada-Nya, menolong sesama dengan cinta-Nya, bahkan mengeluhkan segalanya kepada
Dzat yang selalu memiliki cinta. Dzat yang sayang-Nya takkan berbilang. Dzat yang
kasih-Nya tiada pernah pilih kasih. Lautan cinta-Nya tanpa batas dan tak bertepi.

Adakah alasan setelah ini untuk berputus asa?

Hanya mereka yang benar-benar telah kehilangan rasa cinta terhadap dirinya yang
berputus asa.

“Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya.Setiap waktu Dia dalam
kesibukan”.(QS.55:29)

Allah Maha Mengetahui. Meski setiap detik dan setiap waktu berbagai permohonan
diajukan kepada-Nya. Mereka yang memohon ampunan dan cinta-Nya. Mereka yang
memohon rizki yang halal dan berkah. Mereka yang memohon anak yang shalih. Mereka
yang memohon kelulusan dalam ujian. Mereka yang memohon pekerjaan. Mereka yang
mohon dimudahkan jodohnya. Mereka yang memohon kesembuhan dari penyakit.
Mereka yang mohon keselamatan dalam perjalanannya. Mereka yang memohon
diselamatkan dari mara bahaya. Mereka yang memohon perlindungan dari godaan nafsu
dan syeitan. Mereka yang memohon perlindungan dari kejahatan perampok dan tipu daya
pencuri.

Dan Allah Maha Mendengar. Selalu mendengar rintihan fakir miskin dan anak yatim.
Mendengar keluhan orang-orang tertindas yang dizhalimi. Mendengar kepanikan mereka
yang dikejar-kejar kezhaliman. Mendengar keluh kesah orang-orang lemah.

Disamping itu Dia tetap menghidupkan dan mematikan, memberi rizki dan menahannya.

Namun, bosankah Allah mendengar itu semua? Pernahkah Dia kuwalahan menerima
semuanya? Pernahkah Dia kehilangan stok cinta? Apakah kita belum yakin akan janji-
Nya,”… Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-
Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. 2:186)
Dan karunia berharga berupa bulan Ramadhan ini telah benar-benar ada di hadapan kita.
Bahkan telah bersama kita sepertiga waktunya. Benarkah kita menjadi orang-orang yang
dirahmati. Benarkah kita merasakan adanya rahmah Allah dalam diri kita. Bersama, kita
renungkan dan bayangkan. Seandainya saat ini Allah menunjukkan kepada kita daftar
orang-orang yang bernar-benar dikasihi dan dicintai-Nya selama sepuluh hari pertama di
bulan ini, bisakah kita menjawab pertanyaan berikut: Apakah kita termasuk di dalam
daftar tersebut. Berada pada urutan berapakah?

Bila kita tak mampu menjawabnya. Takut… sungguh sangat takut kita menjawabnya.
Karena keterbatasan kita. Karena kelengahan kita. Maka beristighfarlah. Segera bangun
dari kelalaian. Allah telah membuka persimpangan cinta-Nya dengan karunia baru.

“… dan tengahnya adalah maghfirah” demikian Rasulullah Saw. menyambung


keterangan beliau tentang karakteristik bulan ini. Ada sepuluh hari berikutnya. Maka
segera kita gunakan untuk memperbaiki hari kita yang telah lewat. Dengan sepenuh cinta.
Karena tiada jaminan kita akan menyelesaikan sepuluh hari ke depan. Semuanya serba
ghaib dan menjadi rahasia Allah.

“Ya Rahman karuniailah kami cinta-Mu. Karuniailah kami kecintaan kepada kebaikan-
Mu, kekuatan melakukan kebaikan, serta kemampuan menebarkan kebaikan di sekeliling
kami. Ya Ghafur, ampunilah segala kekhilafan kami dalam mempergunakan hari-hari-
Mu. Memanfaatkan peluang cinta yang Kau beri. Ampunilah kami dan masukkanlah
kami ke dalam golongan mereka yang disayangi dan dicintai serta diampuni dosanya dan
dibebaskan dari api neraka-Mu”

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:13)

Saiful Bahri
saiful_elsaba@yahoo.com

Layakkah Kita Mendapat 'Sanjungan' dari Allah?

Publikasi: 06/11/2003 15:41 WIB


“Kalian adalah umat terbaik,menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar dan beriman kepada Allah….”(Ali Imran: 110)

Apa yang terbersit di hati kita saat ayat tersebut sering kita dengar? Tersanjung atau
justru merasa harus berintrospeksi? Allah menurunkan ayat-ayatnya sebagai kabar
gembira namun juga tak jarang sebagai sebuah ‘teguran’ bagi manusia pada umumnya
dankhususnya pada orang-orang yang beriman.

Ayat-ayat Allah tak jarang menimbulkan perasaan gembira dan bangga (terutama bagi
orang-orang hatinya masih diberi kesempatan untuk mengecap hidayah) sebab janji
Allah, baik yang menyenangkan maupun yang pedih adalah benar adanya.
Ayat diatas dapat bermakna ganda apabila kita mau dan mampu menyelaminya lebih
dalam dan kritis. Di sana Allah ‘menyanjung’ kita (seluruh umat Islam) sebagai umat
yang terbaik. Tentu saja ini membuat kita merasa lega. Makna pertama dari sanjungan ini
adalah sesuatu yang niscaya. Dan sudah menjadi suatu kelayakan bahwa sanjungan ini
terutama ditujukan pada para sabiquunal awwalin, Rasulullah dan para sahabat.

Pada saat itu jelas bahwa hanya ada dua kubu: Muslim dan kafir. Dan sebaik-baik kurun
adalah kurun Rasulullah dan para sahabatnya. Umat terbaik saat itu, yang diwakili oleh
Rasulullah dan para sahabat, memiliki karakter yang disebut diselanjtnya: ya’muruuna bil
ma’ruf, wa tanhauna ‘anil munkar, wa tu’minuuna billah (menyeru kepada kebaikan,
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah). Semua karakter itu telah
dilakukan Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabi’u tabi’in. Nah? Wajar bukan dengan
karakter tersebut mereka mendapat ‘sanjungan’ dari Allah?

Pemaknaan kedua ayat ini, berlaku bagi umat Islam saat ini. Bahwa untuk mendapatkan
predikat umat terbaik, Allah telah menggariskan aktivitas-aktivitas sebagai syarat.
Standar umat terbaik menurut ayat ini bukan standar-standar kelayakan yang berpegang
pada hal-hal yang nampak dan bukan pula berstandar pada penundukan diri pada dunia
dan seisinya.

Untuk menjadi mulia dan meraih predikat umat terbaik, maka haruslah ada aktivitas-
aktivitas sebagai berikut,pertama, mengajak kepada yang ma’ruf (baik, benar,mulia),
bahwa karakteristik umat yang terbaik selalu mengajak pada hal-hal yang bermanfaat dan
selau dalam kerangka kebenaran mereka tidak jemu dan tidak surut melakukannya hatta
orang-orang yang mengikutinya tidak banyak. Disinilah semangat kepeloporan
disyaratkan oleh Allah jika ingin meraih predikat ‘umat terbaik’.

Kedua, mencegah dari yang mungkar, sudah jama’ apabila aktivitas-aktivitas mencegah
kemunkaran lebih sulit dan berat daripada mengajak pada kebaikan. Disinilah pemaknaan
yang begitu dalam dapat kita ambil, bahwa untuk menjadi umat terbaik, kita semestinya
konsisten terhadap kebenaran dan ajaran-ajaran kebaikan dan tidak ‘bertoleransi’ pada
hal-hal munkar yang akan merusak dan menodai kebenaran yang telah kita serukan tadi.
Konsistensi dan keteguhan memerangi kemunkaran akan menjadikan kita survive. Lihat
saja, bagaimana untuk aktivitas ini Rasulullah dan para sahabat menelan banyak
penderitaan, pengorbanan.

Ketiga,beriman kepada Allah, bahwa untuk meraih kemuliaan, umat Islam harus
melandaskan semua aktivitasnya karena iman kepada Allah. Ciri-cri iman: diyakini
dalam hati, dilafadzkan oleh lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan. Maka tanpa iman
yang teguh ,mustahail seseorang memiliki visi kedepan untuk menjadikan dirinya dan
masyarakatnya menjadi umat terbaik. Maka… seandainya penduduk negeri ini beriman,
niscaya Kami turunkan rahmat, begitu janji Allah.

Demikianlah.. Allah memberikan kemuliaan pada siapapun yang dikehendaki-Nya . Pun


begitu, ada sebab-sebab dhohir yang perlu kita tempuh agar layak mendapatkan apa yang
Allah janjikan. Standar umat terbaik telah jelas dipaparkan oleh Allah. Standar itu bisa
berlaku untuk semua bangsa,semua masyarakat yang mendambakan kebaikan. Dan telah
jelas pula bahwa Rasulullah dan para sahabat menempuhnya sebalum meraih
kemenangan dan kemuliaan. Maka jika kita, umat Islam saat ini enggan menjadi pelopor
untuk menyuarakan kebenaran, takut mencegah kemunkaran dan kehilangan keimanan
kepada Allah, layakkah kita menyandang predikat ‘Khoiro ummah’?

Wallahu a’lam bisshawwab

Robi’ah al-Adawiyah.
r_aladawiyah@yahoo.com

Mhs. FH Univ Negeri Sebelas maret (UNS) Solo

Negthink

Publikasi: 31/10/2003 14:09 WIB


eramuslim - Seorang teman, sebutlah namanya A, marah-marah karena permintaan
konfirmasi dari perusahaan rekanan belum dikirim juga. Padahal penanggungjawabnya
adalah B, sahabatnya sendiri. Berkali-kali dia menghubungi ke kantor, yang bersangkutan
tidak ada di tempat. Telpon ke HP tidak diangkat, sms tidak dibalas. Berbagai pikiran
menyerbu benaknya. Ini orang tidak bertanggungjawab. Dia tidak becus kerja. Tidak
professional.

Termasuk hubungan pribadi terbawa-bawa. Apa sih maunya si B ini? Sengaja mau
menghancurkanku? Dan lain-lain.
Semuanya bernuansa negatif. Bahkan akhirnya dia nekat mengirim sms ultimatum. “Tak
ada lagi persahabatan setelah semua ini”.

Detik-detik terakhir, saat kemarahannya berada pada puncaknya, Hpnya berbunyi. Nama
si B terpampang di yar. A sudah siap menyembur dan meledak. Namun mendadak kelu,
ketika yang terdengar adalah suara tak di kenal, “Mbak, Saya C kolega B di kantor. B
sedang di UGD, tadi siang kecelakaan. Untuk sementara HP B saya pegang, juga semua
urusan”.

A tertegun, merasa seluruh tulangnya dilolosi. Kemarahannya menguap, berganti dengan


sedih, sesal dan malu teramat sangat. Kalau saja sms terakhirnya bisa di undo. Andai pula
waktu bisa diputar ulang. Ingin dia segera terbang, menjenguk sang sahabat dan meminta
maaf saat itu juga atas prasangkanya.

***
Mungkin kita pernah mengalami dan merasakan kondisi seperti di atas. Dalam skala kecil
maupun besar. Dalam kondisi sadar, namun mungkin lebih banyak yang tak sadar. Coba
kita tengok ke dalam hati dan benak kita.

Apa pikiran spontan yang muncul di benak kita saat,


misalnya, orang-orang terdekat cuek-cuek saja pada hari jadi kita? Mereka tidak sayang
kita. Dia tidak peduli. Ternyata dia bukan sahabat yang baik, tanggal lahir teman sendiri
dilupakan. Barangkali pertanyaan dan pernyataan itu yang kemudian menghuni.

Apa pula yang langsung muncul di benak, saat seseorang yang telah membuat janji
dengan kita, tidak hadir atau terlambat? Dasar si X selalu molor, tidak tepat janji dsb.
Mungkin prasangka itu yang bersemayam di dada, disertai dengan kekesalan
menggunung. Padahal, bukankah sebenarnya begitu banyak kemungkinan bisa menjadi
penyebabnya? Padahal, jika kita pikir, kecil kemungkinan seorang dekat ‘sengaja’
menyakiti kita?

Bukankah, misalnya, sebagai orang dekat -alih-alih erprasangka-, si A mestinya bisa


meyakinkan diri bahwa si B tidak akan mengabaikannya apalagi mencelakainya? Atau
bisa pula sebaiknya si A mencemaskan kondisi si B karena sulit dihubungi, khawatir ada
apa-apa dengannya? Bisa jadi, orang-orang dekat kita tidak mengirim do'a hari lahir
karena memang mereka tidak biasa melakukannya atau sedang sibuk sekali, bukan karena
tidak sayang pada kita? Mungkin saja, seseorang gagal memenuhi janji karena terjebak
macet, demo atau ada urusan mendadak yang harus diselesaikan? Begitu banyak alas an
‘pembenaran’ bisa dicari, namun, sekali lagi, biasanya yang muncul adalah su’udzan,
prasangka buruk, negatif thinking.

***

Itu hanya contoh sederhana dan berkaitan dengan hubungan antar pribadi. Negthink juga
muncul dalam kaitannya terhadap diri sendiri dan juga Allah Sang Pencipta. Banyaknya
kasus bunuh diri akhir-akhir ini adalah contoh ekstrim. Mereka mengakhiri hidup karena
berputus asa terhadap kondisi dirinya, dan juga, mungkin tanpa sadar, menyalahkan Dia
yang telah memberikan ‘takdir’. Barangkali kita tidak seekstrim itu, tapi tak ada salahnya
kita tengok: Apa yang kita sangkakan saat kegagalan demi kegagalan menimpa diri? Saat
musibah demi musibah tak henti menyapa? Saat harapan tak sesuai kenyataan?

Bahkan dalam ruang yang lebih luas, negthink sampai memakan korban. Berapa kali kita
mendengar berita pembantaian warga oleh warga karena sangkaan ‘dukun santet’?
Berapa banyak tawuran antar sekolah dan antarwarga karena saling mengira pihak lawan
yang memulai?
Karena seorang warga mengira warga sebelah meludah di hadapannya dengan sengaja?

Tanpa sadar, budaya Negthink telah menjadi karakter yang melekat dalam hidup kita.
Sehingga nyaris dalam tiap kondisi, pikiran pertama yang muncul di benak adalah
sesuatu yang bernada negatif. Terhadap orang lain, terhadap diri sendiri, bahkan terhadap
Allah!
***

Jika saat ini di sekeliling kita banyak peristiwa besar terjadi yang disebabkan oleh
su’udzan, prasangka buruk dan negthink, mungkin tiba waktunya bagi setiap diri kita
untuk bercermin: Apakah persepsi yang muncul secara spontan dalam benak saya lebih
sering negatif jika melihat suatu fenomena, mendengar berita, menghadapi masalah?

Setelah menemukan jawabnya, kita layak merenungkan pernyataan Ibnul Qayim Al


Jauziyah: “Segala amal dan perilaku diawali dari persepsi dan pandangan seseorang”.
Jika paradigma dan persepsi spontan kita lebih lebih banyak negatifnya sangat logis jika
kemudian juga menghasilkan perilaku dan amal yang negatif pula. Maka, upaya merubah
budaya Negthink merupakan upaya utama yang perlu dilakukan oleh setiap kita. Dari hal
yang paling kecil. Dalam kedudukan yang paling awal. Yaitu memulai berpikir positif
terhadap diri sendiri.

Insya Allah, pada gilirannya, kita akan dapat menjiwai firman Allah dalam QS Al
Hujurat 12: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka,
sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa”. Dan semoga, dengan demikian
akan banyak persoalan besar akan terselesaikan.

Azimah Rahayu
revisi kesekian kali

Bila Dia Yang Kita Cintai

Publikasi: 23/10/2003 08:49 WIB


Kira-kira apa perasaan Anda, ketika diberitahu bahwa Anda akan segera kedatangan tamu
yang akan menginap di rumah Anda untuk beberapa saat? Seneng ataukah sebaliknya,
merasa terganggu atau biasa-biasa saja.

Jawabannya sih tergantung siapa tamunya. Kalau tamunya biasa-biasa saja, barangkali
kita juga biasa-biasa saja. -Padahal kita diperintahkan untuk memuliakan tamu- Tapi coba
bayangkan. Jika yang akan mendatangi kita adalah orang-orang yang kita cintai dan kita
hormati, misal bapak dan ibu, mertua, guru atau temen dekaaat kita atau orang yang
pernah berjasa dalam hidup kita. Gimana coba?

Sudah barang tentu kita akan dengan senang hati menyambutnya. Tak perlu ditanya akan
berapa lama mereka di rumah kita. Kita pun akan segera menyiapkan sebuah kamar
terbagus untuk mereka. Merapikan dan menghiasnya. Kemudian menyediakan jamuan
istimewa untuk mereka. Siap memenuhi segala kebutuhan mereka, siap mengantar
mereka kemana pun mereka hendak pergi. Dan bila saat-saat perpisahan itu datang, duh
rasanya hati ini khawatir apakah service kita mengecewakan tamu tercinta kita. Dan, …
pokoknya sedih dah!

Demikian halnya, kita saat ini. Kita sedang berada di gerbang seribu bulan. Bulan yang
dimuliakan Allah. Bulan yang ibadah wajibnya dilipatkan Allah hingga 70 kali lipat dan
ibadah sunnahnya disamakan dengan ibadah wajib di bulan lain. Bulan penuh berkah,
rahmat dan pengampunan serta pembebasan dari nafsu dan belenggu syeitan. Bulan yang
didalamnya terdapat sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Bulan Suci Ramadhan akan mendatangi kita.

Pertanyaannya sederhana saja: Apakah kita gembira, bahagia dan senang dengan
kedatangan bulan ini?

Apakah pertanyaan di atas bukan bid’ah yang diada-adakan. Apakah ada hubungannya
kecintaan dan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan dengan amalan kita di dalamnya.
Kita tak hendak mendiskusikan ini. Karena ada nilai dan pesan normatif yang lebih
penting dari itu.

Bila kita menjawabnya:Ya, seneng dan gembira. Maka ilustrasi di atas akan membuka
cakrawala bagaimana kita menyambut tamu yang kita hormati sekaligus kita cintai.

Pertanyaan berikutnya: Apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya. Apa yang kita
punyai untuk menyambutnya. Seberapa jauh kita siap dan mempersiapkan keluarga kita
untuk menyambutnya?

Pertanyaan berikutnya: Salah satu tujuan puasa Ramadhan adalah tercapainya


ketaqwaaan. Kira-kira kita yang sudah berpuasa selama 10-20 tahunan atau lebih
kurang… sejak kapan kita merasa telah mencapai target taqwa tersebut.

Barangkali kita kesulitan untuk merasa, kapan kita mencapai target taqwa. Pertanyaan
sederhana berikutnya: Bagaimana dengan Ramadhan tahun kemarin? Bila jawabannya
ternyata belum juga, maka… kita punya kesempatan untuk merealisasikannya tahun ini.
Ya… insya Allah kita mampu, asal ada kekuatan azam dan niat yang kuat. Kesempatan
untuk mengukir prestasi.

Dan bila jawabannya sudah. Maka alangkah sedihnya jika pada tahun ini prestasi kita
menurun. Sungguh merugi. Sangat merugi.

Ada empat golongan dan tipe manusia serta sikap mereka dalam menyambut Bulan
Ramadhan:

Mukmin yang sungguh-sungguh. Mereka adalah orang-orang yang menganggap bulan ini
adalah peluang untuk melejitkan prestasi di hadapan Allah. Maka kita selalu menjumpai
orang seperti ini senantiasa merasakan detik-detik Ramadhan sangat berharga. Mereka
selalu berada dalam ketaatan. Kalau tidak sedang shalat, baca Al-Qur’an, dzikir, saling
menolong dan menasehati, memenuhi kebutuhan saudaranya dsb. Tak ada waktu terlewat
kecuali untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat.

Segolongan orang yang niatnya baik, tapi himmah dan azamnya lemah. Orang ini berniat
menargetkan berbuat sesuatu di bulan Ramadhan. Mereka punya tekad berbuat baik. Tapi
karena azamnya lemah, maka hanya bertahan pada awal-awal bulan saja. Kemudian
mereka tidak merasakan kehadiran tamu ini. Baik hanya di awalnya saja setelah itu
ketahuan aslinya. Orang yang biasa-biasa saja. Artinya kedatangan Ramadhan tidak
memberi bekas sama sekali. Kalau ibarat tamu, ia dicuekin. Sedih!

Orang-orang yang tidak menyukai kedatangan Ramadhan. Karena mereka menganggap


Ramadhan sebagai penghalang bagi mereka untuk memuaskan nafsu dan segala
keinginan. Mereka dengan terpaksa menerima kedatangan tamu ini tapi sesungguhnya
mereka membencinya. Lebih parah dari pada ini. Orang yang tidak menghormati sama
sekali adanya bulan Ramadhan. Dengan sangat ringan menginjak-injak kesucian dan
kehormatannya.

Kembali kita tanya diri kita sendiri. Kita berada di bagian mana dari ke empat tipe di atas.
Jangan sampai kita berada dalam suatu keadaan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah
saw. “Rugi dan merana lah orang yang menjumpai Ramadhan sedang dosanya belum
diampuni”.

Sedang para sahabat Rasul saw. Setengah tahun setelah berpisah dengan Ramadhan
mereka berdoa: “Ya Allah terimalah puasa dan amalan kami di Bulan Ramadhan”.
Setengah tahun berikutnya mereka berdoa: “Ya Allah smapaikan –umur- kami hingga
kami menjumpai Ramadhan”. Ya, karena mereka tahu penting dan berharganya
Ramadhan karenanya berharap sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan. Karena mereka
sangat mencintai Ramadhan. Gembira ketika tamu Agung itu datang.

Bagaimanakah kita? Tak perlu kita jawab sekarang. Masih ada waktu untuk
merenungkannya dengan diri kita.

Bersegeralah sebelum kita menyesal!


saiful_elsaba@yahoo.com

Menjadi Apapun Dirimu.....

Publikasi: 20/10/2003 13:09 WIB


eramuslim - Menjadi karang-lah, meski tidak mudah. Sebab ia ‘kan menahan sengat
binar mentari yang garang. Sebab ia ‘kan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa
tanpa kenal lelah. Sebab ia ‘kan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa
dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia ‘kan menahan hempas badai yang
datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia ‘kan
kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.Sebab ia ‘kan berdiri tegak
berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.

Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia ‘kan tatap
tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia ‘kan meliuk halangi
angin yang bertiup kasar. Sebab ia ‘kan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir.
Sebab ia ‘kan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia ‘kan menahan gempita
hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia ‘kan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan
mengenyangkan. Sebab ia ‘kan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang
singgah di dahannya. Sebab ia ‘kan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-
daunnya.

Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan
menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya ‘kan menakutkan musuh yang coba
mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.

Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia
harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk
mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru.
Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang
dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa.
Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.

Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia ‘kan tebar harum wewangian
tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut
hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya
basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah
malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada
anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab
ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.

Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang
dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu
berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam
di kubangan yang hitam.

Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses
sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia
bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba
saat untuk keluar.

Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan
menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk
terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Paus akan menggetarkan samudera hanya
dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun
selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas ‘tuk selalu menerima keadaannya, meski tak
terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha
bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski
pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.

Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan
lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat
dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia
hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru
terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimanapun ia terletak,
dimanapun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang
dalam kesendirian.

Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu.
Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu.

Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang
dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-
kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari kehambaanmu.

Oct 17, 2003. 15.32 wib.

SebuahTaushiyahUntukDiriSendiri
fathy_farahat@yahoo.com

Suara Mungil nan Merdu itu Masih Terus Mengalun

Publikasi: 15/10/2003 13:47 WIB


Audzubillahiminassyaitonirrojim………..
Bismillahirrohmanirrohim………
Yaaayyuhalladzinaamanu kutiba ‘alaikumussiyamu kama……..

Suara mungil nan merdu itu mulai berkumandang dihadapanku, disebuah panggung
sederhana. Kau begitu anggun dengan balutan busana muslim, dengan jilbab & kopiah
dikepala.Suara mungilmu terdengar begitu merdu meskipun tak semerdu suara para artis,
mengalunkan Ayat-ayat Allah. Bacaanmu begitu menyentuh kalbu meskipun tak sefasih
Hj. Sarini Abdullah Sang Qoriah International idolaku.

Malam ini kau tampil didepanku, didepan teman-teman, didepan kedua orang tuamu, dan
didepan semua orang, mengumandangkan ayat-ayat Allah. Betapa indahnya……!
Seminggu yang lalu, saat kami memasukkan namamu sebagai peserta lomba dengan
malu-malu kau menolak, karena gak yakin dengan kemampuanmu. Bahkan orang tuamu
selalu menyakan pada kami “ Bisakah kamu mengaji?”, mereka sendiri nggak tau dan
nggak yakin dengan semua itu.

Tapi malam ini keraguan orang tuamu hilang sudah, yang tersisa adalah sinar kebanggan
terlukis diwajah-wajah mereka.

Suara merdumu masih terus mengalun meskipun terkadang harus curi-curi nafas……..
Rasanya baru kemarin kami mengajarimu mengucapkan satu persatu huruf
alif…ba…tsa….perlahan….

Dengan penuh kesabaran kami didik kamu agar menjadi insane Qur’ani, insane yang
selalu mencintai Al Qur’an dan mengamalkan isinya dalam kehidupanmu.Ah….kau
masih terlalu kecil untuk melakukan itu semua. Tapi bukan berarti nggak bisa. Kami
terus berusaha menanamkan dalam diri kalian.
Walaupun terkadang kesabaran kami hilang melihat kenakalanmu, tak jarang kami
memarahi kamu, mendaratkan tangan kami ketelinga kamu…..,tapi kamu gak pernah
menjadikan itu sebagai alas an untuk tidak pergi mengaji. Tapi kami selalu berusaha
memahami kamu bahwa kenakalan adalah bagian dari setiap anak.

Kami terus mengajarimu dengan segala yang kami miliki, meskipun kami nukanlah
seorang Guru, bukan seorang yang menyandang gelar Drs, Dra, ataupun Spd. Kami terus
mendidikmu dan berusaha menyelami jiwamu agar jiwa kita bisa menyatu, meskipun
kami bukanlah seorang Psikolog. Kami terus menuntunmu agar selalu mencintai Allah
dan Rosul Nya meskipun kami bukanlah keluargamu, kakakmu, bahkan Orang tuamu.
Kamu lebih dari itu…….

Kami sadar ilmu yang kami miliki tidaklah banyak, tidak seluas lautan, tidak juga
setinggi gunung.Tapi kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik buat kalian,
dan selalu berdoa agar kalian bisa lebih baik dari kami kelak. Menggantikan kami
mengamalkan ilmu yang kalian miliki pada generasi selanjutnya, kelak jika kami telah
tiada.

Suara merdumu masih terus mengalun, meski kadang tersendat…………

Kulihat orang tuamu melihatmu tanpa kedip. Sesaat sebelum kau menaiki panggung
sederhana itu, kulihat wajahmu yang pucat karena takut. Ini penampilan pertamamu
diatas panggung. Segera kuhampiri kau dan kuyakinkan bahwa “kaulah yang terbaik”
bagi kami.

Suara merdumu masih terus mengalun …….mengumandangkan Ayat-ayat Allah!

Ada kebanggan terselip didada ini, didada teman-teman, melihatmu mengumandangkan


Ayat-ayat Allah dipanggung sederhana itu.dada ini dan dada teman-teman dan mungkin
juga dada orang tuamu dan teman-teman sepengajianmu terus berdebar mengiringi
alunan suaramu.
Shodakollohul’azim………

Ah..akhirnya selesai juga kau membacakannya. Dengan malu-malu kau melangkah turun
dari panggung menuju ketempat kami. Kulihat bening kristal diwajah orang tuamu saat
memelukmu.dipeluknya engkau erat, begitu eratnya. Kami tahu apa yang ada didalam
hati orang tuamu.

Ada kebanggaan tersendiri didada kami…..


Terima kasih Ya Allah……

Uchi_friends@yahoo.com

Tak Selalu Seindah Pelangi


Publikasi: 07/10/2003 08:56 WIB
eramuslim - Sore hari di lapangan ujung desa. Keriuhan terdengar dari bibir anak-anak
yang sedang bermain. Ada yang bermain voli, atau hanya berkejar-kejaran. Dua ekor
kerbau dibiarkan saja merumput. Seoragn anak mengendap-endap mendekati seekor
kerbau. Dan … hap ia berhasil mendarat aman di punggung si kerbau. Si kerbau dengan
acuh tak peduli dan meneruskan merumput dengan tenang. Sang surya mulai condong di
langit barat. Angin bertiup lembut membawa sekumpulan mendung. Tiba-tiba gerimis
hadir. Turun dengan pelan membasahi bumi. Anak-anak tak beranjak pulang. Mereka
tetap saja bermain dan malah bersorak saat melihat warna-warni indah muncul di kaki
bukit. Semburat bianglala mewarnai angkasa. Penuh warna.

Gerimis berhenti beberapa saat kemudian. Sayangnya ia turut membawa pergi si


bianglala. Hilang begitu saja. Seakan-akan ia tak pernah ada. Sorak sorai anak-anak pun
berhenti saat ia pergi. Mereka berharap bisa menyaksikan pelangi itu lebih lama tapi ia
keburu lenyap saat gerimis mereda.
Dalam menjalani hari, tak jarang sesuatu yang tidak diharapkan terjadi itu hadir. Seorang
petani yang menabur benih padi di sawah berharap hanya menuai padi saja di akhir
musim. Begitu tanaman itu tumbuh, berbagai tanaman lain bermunculan. Meskipun si
petani tidak menanamnya. Tapi rumput, semanggi, dan mungkin bahkan enceng ikut
meramaikan ladangnya.

Saat rencana untuk bepergian sudah matang, sesuatu terjadi dan menggagalkannya. Tepat
di hari-H beberapa peserta tidak bisa hadir. Ada kepentingan lain yang mendadak datang
dan tidak bisa dihindari. Kekecewaan menyebar saat acara tak terlaksana. Di waktu yang
berbeda, sekelompok anak berjanji untuk bertemu. Tempat dan hari sudah disepakati.
Tapi ternyata apa yang terjadi sama sekali diluar dugaan. Mereka baru bisa bertemu saat
sinar merah menerangi langit barat. Saat lampu-lampu taman menyala. Padahal mereka
berada di tempat yang sama. Di gedung yang sama. Pada waktu yang sama. Jarak yang
memisahkan mereka hanya setinggi 3 m antara lantai 1 ke lantai 2. Tapi begitulah,
mereka baru bisa berkumpul saat sepenggal hari hendak berganti.

Sungguh apapun yang terjadi menunjukkan bahwa Alloh itu ada. Ia berkuasa atas
segalanya. Dan telah bertindak sekehendak-Nya. Tidak jarang ketentuan-Nya sangat
berbeda dengan apa yang kita harapkan. Mengecewakan atau bahkan membuat kita
berduka. Tapi saat kita sedih, kecewa, marah, ataupun terluka ketentuan yang telah Alloh
tetapkan takkan berubah. Matahari tetap terbit di ufuk timur. Pasang surut air laut tetap
terjadi. Hari-hari terus bergulir. Waktu terus berjalan dan tak pernah kembali. Kita tidak
bisa menghentikannya sesuai kehendak kita. Meskipun apa yang terjadi tak selalu seindah
mimpi. Tak selalu seindah pelangi.

Tapi kita bisa mewarnai hati ini dengan menerima dengan ikhlas dan rela atas ketentuan-
Nya itu. Itu akan membantu menyembuhkan segala rasa. Menutup kekecewaan yang ada.
Dan bahkan mungkin diantara badai hati kita akan muncul seberkas pelangi yang indah di
sana. Bagaimanapun kita hanyalah hamba dan Allohlah yang berkuasa.

When Your Dream Comes True ….


Publikasi: 06/10/2003 09:54 WIB
eramuslim - Kutatap layar komputer tak berkedip. Serasa tak percaya. It’s there … on
the list. Is that real?, ucap batinku. Kupandangi sekali lagi. Yes …. Namaku ada disana.
Alhamdulillah … keinginanku tercapai sudah. Tak terasa pandangan mataku mengabur
dan wajahku basah. Ya Alloh, sebuah impian akan segera menjadi kenyataan. Semoga
Engkau menjadikannya sebagai ni’mat dan bukannya fitnah atas diriku. Terima kasih
sudah mewujudkannya untukku.

Pergi ke “Big Apple-nya” Indonesia adalah impianku sejak lama. Dan aku tak pernah
mengira kesempatan itu datang sekarang. Saat aku dewasa dan seakan sudah
“terprogram” dengan seksama. Bahagia rasanya saat sebagian mimpi indah kita jadi
nyata. Mungkin cara kita mengungkapkannya berbeda. Tidak seriuh loncatan
Schumacher di atas podium saat merebut juara pertama, tapi mungkin juga tidak
se”dingin” Arsene Wenger beberapa tahun lalu saat timnya menang. Pokoknya just
bahagia saja. Tidak bisa diungkapkan tapi bisa dirasakan.

Impian seperti fatamorgana di alam bawah sadar. Sangat rapuh dan seperti khayal. Tapi
karena impianlah yang mendorong orang untuk menjelajahi dunia baru, berpetualang,
menundukkan pucak-puncak tertinggi dunia, menyeberangi lautan, dan bergulat dengan
canda dan tangisnya kehidupan. Impian jugalah yang menguatkan hati seseorang
menapaki dunia dakwah yang penuh tantangan. Impian terindah untuk bisa meraih
keridhoan-Nya dan menatap wajah-Nya dengan mesra.

Saat impian itu itu terwujud, betapa bahagianya. Kerja keras para mahasiswa selama
berbulan-bulan akan lumer dan tertiup angin saat wisuda. Keringat dan peluh para
pekerja yang membasahi tubuh akan segera mengering saat hari terima gaji tiba.
Pekerjaan yang pernah memberati pundak-pundak kita akan segera terlupa saat kita
meraih prestasi dan dipromosikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Impian apapun yang mengisi hati dan fikiran kita akan segera menghilang saat keinginan
itu teraih. Selanjutnya impian baru mungkin akan segera terbentuk dan ada tekad untuk
berusaha mewujudkannya lagi. Impian. Satu kata dengan 3 huruf konsonan dan 3 huruf
vokal yang mengandung doa yang tersembunyi dan lautan rasa yang tumpah saat menjadi
nyata. Namun saat impian tidak terwujud belum tentu itu tidak akan pernah terjadi. Bisa
jadi Alloh menyimpan sesuatu yang manis untuk kita di lain hari. Bukankah Alloh sudah
berjanji tidak akan mengecewakan hamba-hambanya. Dan tidak ada satu zat pun yang
paling menepati janji selain Alloh. Tetaplah berusaha neraihnya dengan doa dan usaha.
Simpanlah selalu di hatimu dan berharaplah Alloh akan mewujudkannnya untukmu.

[untuk sahabat-sahabat yang kusayang -yang akan wisuda di bulan Oktober, semoga
Alloh segera mewujudkan impianmu yang lain]

Bening Hati Berbalas Surga

Publikasi: 02/10/2003 17:01 WIB


eramuslim - Suatu hari, Rasulullah sedang duduk di masjid dikelilingi para sahabat.
Beliau tengah mengajarkan ayat-ayat Qur’an. Tiba-tiba Rasulullah berhenti sejenak dan
berkata,”Akan hadir diantara kalian seorang calon penghuni surga”. Para sahabat pun
bertanya-tanya dalam hati, siapakah orang istimewa yang dimaksud Rasulullah ini?.
Dengan antusias mereka menunggu kedatangan orang tersebut. Semua mata memandang
ke arah pintu.

Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki melenggang masuk masjid. Para sahabat
heran, inikah orang yang dimaksud Rasulullah? Dia tak lebih dari seorang laki-laki dari
kaum kebanyakan. Dia tidak termasuk di antara sahabat utama. Dia juga bukan dari
golongan tokoh Quraisy. Bahkan, tak banyak yang mengenalnya. Pun, sejauh ini tak
terdengar keistimewaan dia.

Ternyata, kejadian ini berulang sampai tiga kali pada hari-hari selanjutnya. Tiap kali
Rasulullah berkata akan hadir di antara kalian seorang calon penghuni surga, laki-laki
tersebutlah yang kemudian muncul.

Maka para sahabat pun menjadi yakin, bahwa memang i-laki itulah yang dimaksud
Rasulullah. Mereka juga menjadi semakin penasaran, amalan istimewa apakah yang
dimiliki laki-laki ini hingga Rasulullah menjulukinya sebagai calon penghuni surga?

Akhirnya, para sahabat pun sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk
mengamati keseharian laki-laki ini. Maka pada suatu hari, sahabat yang diutus ini
menyatakan keinginannya untuk bermalam di rumah laki-laki tersebut. Si laki-laki calon
penghuni surga mempersilakannya.

Selama tinggal di rumah laki-laki tersebut, si sahabat terus-menerus mengikuti kegiatan si


laki-laki calon penghuni surga. Saat si laki-laki makan, si sahabat ikut makan. Saat si
sahabat mengerjakan pekerjaan rumah, si sahabat menunggui. Tapi ternyata seluruh
kegiatannya biasa saja. “Oh, mungkin ibadah malam harinya sangat bagus,” pikirnya.
Tapi ketika malam tiba, si laki-laki pun bersikap biasa saja. Dia mengerjakan ibadah
wajib sebagaimana biasa. Dia membaca Qur’an dan mengerjakan ibadah sunnah, namun
tak banyak. Ketika tiba waktunya tidur, dia pun tidur dan baru bangun ketika azan subuh
berkumandang.

Sungguh, si sahabat heran, karena ia tak jua menemukan sesuatu yang istimewa dari laki-
laki ini. Tiga malam sang sahabat bersama sang calon penghuni surga, tetapi semua tetap
berlangsung biasa. Apa adanya.

Akhirnya, sahabat itu pun pun berterus terang akan maksudnya bermalam. Dia bercerita
tentang pernyataan Rasulullah. Kemudian dia bertanya,“Wahai kawan, sesungguhnya
amalan istimewa apakah yang kau lakukan sehingga kau disebut salh satu calon penghuni
surga oleh Rasulullah? Tolong beritahu aku agar aku dapat mencontohmu”.

Si laki-laki menjawab,” Wahai sahabat, seperti yang u lihat dalam kehidupan sehari-
hariku. Aku adalah seorang muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun da satu
kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu.
Setiap menjelang tidur, aku berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang
yang menyakitiku dan ubuang semua iri, dengki, dendam dan perasaaan buruk epada
semua saudaraku sesama muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta
ikhlas. Barangkali itulah yang menyebabkan Rasulullah menjuluki demikian.”

Mendengar penjelasan itu, wajah sang sahabat menjadi erseri-seri. “Terima kasih kawan
atas hikmah yang kau berikan. Aku akan memberitahu para sahabat mengenai hal ini”.
Sang sahabat pun pamit dengan membawa pelajaran berharga.

***
Kawan, kisah di atas barangkali tak lagi asing. Namun tiada rugi untuk ditutur kembali.
Surga bukan hanya hak para wali, nabi, syuhada dan ulama. Jika kita merasa hanyalah
orang kebanyakan, itu tak berarti kita tak berhak atas nikmat surga. Karena amalan kecil
pun bisa menjadi kunci masuk surga. Dan ternyata kebersihan hati itu sangat besar
nilainya.

Jangan pernah berputus asa atas rahmatNya. Sungguh Dia Maha Pemberi Karunia.
InsyaAllah, jika kita ikhlas, tulus dan mengerjakan penuh cinta, Dia takkan menyia-
nyiakan hambaNya. Wallahu a’lam

Azimah Rahayu

Kotak Surat Malaikat

Publikasi: 29/09/2003 10:29 WIB


eramuslim - Sekali lagi, aku mendapat kesempatan untuk menangani satu kelas di
sekolah musim liburan anak-anak jalanan di Kota Kembang, Bandung. Seorang teman
memintaku untuk bergabung dan menangani satu kelas karena dua alasan, ia tahu aku
memiliki tidak sedikit pengalaman mengelola kelas di berbagai pelatihan, dan satu lagi,
salah seorang tenaga pengajar di sekolah tersebut absen untuk musim liburan kali ini.

Mengelola kelas anak jalanan, dari mulai pengemis, pedagang asongan, tukang semir,
pengamen, dan bahkan anak-anak yang tidak mengerti bahwa mereka dieksploitasi untuk
melakukan tindak kejahatan, meski bukan hal biasa, tapi juga bukan yang pertama
bagiku. Ya, satu setengah tahun yang lalu, di kota yang berbeda, pernah bahkan setiap
akhir pekan bersama dengan beberapa rekan LSM menangani sekolah gratis anak jalanan,
selama hampir tiga bulan. Namun yang membuatku terkejut begitu memasuki kelas,
adalah usia rata-rata yang masuk dalam daftar kelas itu memaksaku sedikit
membelalakkan mata. Untuk beberapa menit, tak satu katapun keluar dari mulutku
setelah sekilas menangkap mata-mata jernih dan penuh tanya yang menatap kehadiranku.
Usia rata-rata mereka tak lebih dari tujuh tahun, terdiri dari hanya belasan anak.

“Jangan kaget masuk kelas istimewa itu” temanku mengingatkan sebelum kami
memasuki kelas masing-masing. Jadi, inikah yang dimaksud kelas istimewa? Belasan
anak bernasib kurang beruntung yang semestinya di usia seperti mereka, masih bermanja-
manja dengan kedua orang tua mereka. Tetapi hidup yang mereka jalani menghadirkan
mereka di bising kota, deru kendaraan dan lalu lalang pejalan kaki. Merah, hijau dan
kuning traffic light seolah menjadi lampu start mereka berhamburan menyerbu bis kota,
atau mobil-mobil pribadi untuk mengayunkan krecek dan menyanyikan lagu-lagu yang
tak semuanya terhapal dengan baik. Sebagian lain menjajakan rokok, permen serta tissue
dari satu bis ke bis kota yang lain, tak peduli beberapa teman mereka yang lain pernah
terpelanting dari atas bis ketika hendak turun dari sebuah bis bertepatan dengan nyala
lampu hijau.

Tak mengherankan, kerasnya kota dan bising jalanan membentuk pribadi-pribadi lembut
itu menjadi sosok yang keras, tak teratur, dan terkesan liar. Padahal anak-anak sebayanya,
pasti nampak menyenangkan untuk dilihat, didekati, dan diajak bercengkerama, karena
lebih sopan dan lembut, bisa diatur, dan aroma yang jelas lebih bersahabat. Tapi
nyatanya, di hari pertama, aku berdiri di depan mereka seperti orang yang salah kostum.
Kemeja putih bersih dengan aroma Bvlgari for men yang menyegarkan. Akibatnya, satu
persatu bergantian mereka mendekat hanya untuk menghirup aromaku dan kembali,
beberapa menit kemudian hal itu mereka lakukan. Senang? Tentu tidak. Aku merasa
mereka menerimaku hanya karena aroma itu, bukan diriku yang seutuhnya.

Hari kedua dan berikutnya, aku sedikit membenahi penampilanku agar tidak ada
perbedaan yang mencolok. Aku pernah membaca sebuah buku, untuk bisa diterima di
sebuah komunitas, jika perlu seseorang mesti meminimalisir perbedaan dengan
komunitas tersebut sehingga dirasakannya seseorang yang baru hadir itu juga bagian dari
komunitas. Kemudian hal itu kuartikan, setidaknya, untuk menyeragamkan penampilanku
agar tidak terlihat perbedaan.

Banyak hal yang tak terduga dalam menangani kelas ini, bisa dibayangkan, aku baru
bertemu mereka sejak hari pertama, tak satupun yang kutahu karakter dan tingkah laku
masing-masing. Begitu juga Sissy, asisten pengajar yang bersamanya aku bahu membahu
menangani kelas tersebut. Sehingga dua pekan pertama kami habiskan untuk mengenal
karakter, sikap dan tingkah laku masing-masing. Ini sejalan dengan materi yang
diamanahkan kepada kami, Budi Pekerti.

Dua pekan yang mengagumkan, bisa langsung berinteraksi dengan segala kebandelan
(sengaja tak menggunakan kata ‘nakal’ untuk menggambarkan perilaku mereka), tata
tertib yang dibuat hanya diingat di hari pertama karena hingga hari terakhir pekan ketiga,
tak satupun ketertiban dipatuhi. Memberikan sanksi kepada anak-anak itu, tentu bukan
hal tepat. Materi ‘Budi Pekerti’ yang tergetnya agar anak-anak itu bisa bersikap lebih
manis setelah selesai program kelas yang hanya satu bulan ini, nampaknya harus kami
kubur dalam-dalam. Hampir saja kami putus asa sebelum, Dani, tukang koran berusia
enam setengah tahun bertanya polos, “Kak, pernah nggak liat malaikat? Katanya di dalam
dada kita ada malaikat…”

Satu pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan sempurna. Namun melahirkan satu ide
yang ‘menyelamatkan’ kami dari kegagalan merubah –meski sedikit- perilaku mereka.
Hari pertama di pekan terakhir, aku bercerita tentang malaikat yang selalu mengirimkan
surat untuk anak-anak yang berperilaku baik di setiap hari. Sebelumnya, aku merayu
Sissy untuk mau berdandan seperti malaikat, dan jadilah Sissy, malaikat cantik sepanjang
pekan terakhir itu, berjubah putih panjang, lengkap dengan tongkat berujung bintang di
lengan kanan, serta sebuah kotak surat di kiri.

Sebelum pulang, setelah makan siang dan sholat dzuhur, di depan kelas, aku membagikan
kertas-kertas ukuran setengah kwarto yang sudah dipotong-potong kepada anak-anak itu.
Mereka diminta untuk menulis tentang kebaikan apapun yang dilakukan oleh teman
mereka sepanjang hari itu. Jika menurut mereka terdapat lebih dari satu teman yang
melakukan hal baik, ia boleh menambah kertas lain untuk ditujukan buat teman yang lain
itu. Setelah semua selesai menuliskan, mereka lalu memasukkannya ke kotak surat milik
malaikat cantik. Ketentuannya, mereka hanya boleh menuliskan nama teman yang dituju
tanpa perlu mencatatkan nama mereka sebagai pengirim.

Sore, setelah semua anak-anak itu kembali ke dunianya masing-masing, aku dan Sissy
masih punya tugas lain, membicarakan perkembangan anak-anak, efektifitas metode
pembelajaran, dan satu tugas baru, membaca satu persatu surat mereka. Terdapat puluhan
surat di hari pertama, diantaranya, untuk Yanti, gadis kecil yang hari itu rambutnya lebih
rapih dari hari-hari sebelumnya. Surat lain, untuk Dodo, karena tak membuang ludah
sembarangan di dalam kelas. Ada surat untuk Dini, yang hari itu tak menangis. Dini
adalah anak paling cengeng dan tak melewatkan satupun harinya di program ini dengan
menangis. Ada beberapa anak yang tak mendapat surat, seperti Kholik yang masih terus
senang memukul teman-temannya, atau juga zaenudin yang tak henti membuat
kebisingan dengan ukulele-nya.

Begitu seterusnya, di hari selanjutnya di pekan terakhir itu, surat demi surat masuk ke
dalam kotak untuk dibagikan keesokan harinya. Kami bisa menyaksikan kebanggaan
anak-anak yang mendapatkan surat dari malaikat. Kami tanamkan satu keyakinan,
semakin banyak mendapatkan surat berarti ia semakin baik di mata malaikat dan Tuhan.
Sehingga hari demi hari, semakin sering kami dapati perkembangan mengagumkan dari
perilaku mereka. Meski berbeda rasa bangga yang diperlihatkan, di hari terakhir semua
anak di kelas itu memegang surat-surat catatan kebaikan dari malaikat. Khalik, meski
cuma satu surat yang didapatnya, seulas senyum mampir di mata kami yang mulai
tergenangi sebulir air. Kupeluk satu persatu mereka di hari perpisahan yang mengharukan
itu. (Bayu Gaw)

To: Malaikat Cantik. Dimana kini dirimu?

Sebuah Mutiara

Publikasi: 24/09/2003 12:25 WIB


eramuslim - "Nama saya Rita mbak, umur 23 tahun. Anak saya umurnya udah 5 tahun
sekarang, ditinggal di Indonesia. Saya ingin belajar islam yang benar..."

"Insya Allah...," sahutku sambil menatap di kedalaman matanya yang tulus dan berbinar
binar. "Memangnya selama ini islamnya bagaimana mbak?" sahutku pelan. Bagian lain
dari diriku masih bingung, takjub dan terheran-heran. Usianya cuma setahun lebih tua
dariku, tapi sudah dikaruniai buah hati sebesar itu, kisah hidupnya pasti luar biasa,
bisikku dalam hati.

"Saya sholat dan juga berpuasa, tapi saya belum pernah benar-benar masuk Islam karena
agama yang diturunkan orangtua bukan islam..., saat ini saya benar-benar ingin jadi
muslimah sejati... karena...," ucapnya terhenti, ada bening di dua sudut matanya.

Aku cuma diam membiarkan keheningan menyelimuti kami. "Karena... karena saya ingin
punya anak anak yang sholeh mbak..." lirihnya pelan.

Subhanallah... sebaris kalimat sederhana dan datar, tapi cukup menyentakkan hatiku saat
itu. Keharuan merayapi ruang-ruang hatiku. Cerita hidupnya yang berliku kemudian
mengalir deras. Cerita-cerita yang tak akan pernah kita dengar di sinetron Indonesia yang
penuh mimpi. Cerita hidup sarat perjuangan yang seakan menyadarkanku dari lamunan
panjang bahwa beragam kisah terbentang di luar sana. Menunggu untuk dicermati dan
dijadikan pelajaran.

Diusir dari keluarga karena menikah dengan seorang muslim. Belajar Islam otodidak dan
merangkak. Bekerja di negara sekuler dan mendapat majikan keluarga muslim yang tidak
pernah sholat. Tapi hidayah Allah memang maha indah, justru dari lingkungan yang tidak
kondusif inilah beliau merasakan nikmatnya berislam dan keinginan itu semakin besar
ketika dikait-kaitkan dengan si buah hati. Berapa banyak diantara kita yang ingin menjadi
muslim/muslimah sejati dengan tujuan mulia agar kelak nantinya bisa membentuk anak-
anak yang sholeh dan menjadi rahmatan lil 'alamin? Sudahkah keinginan semulia itu
mendapat tempat khusus di hati kita? Anak sholeh, investasi abadi dunia akhirat,
subhanallah, siapa yang tidak merindukannya.

"Saya ingin belajar sholat yang benar mbak, saya merasa sholat saya selama ini tak
pernah benar karena kan belajar sendiri," lanjutnya dengan logat melayu yang kental.
"Rasanya saya ingin sholat sesering mungkin, menurut saya sholat itu kebutuhan, bukan
kewajiban..." lanjutnya mantap.

Jleb.. lagi lagi kalimat ajaib meluncur dari mulutnya. Aku terpana. Aku menjelaskan
rukun-rukun sholat, dan hal-hal lainnya tentang pelaksanaan sholat, tapi sesungguhnya
batinku tidak disana. Aku serasa disindir habis-habisan. Pernahkah terfikir olehku konsep
pemahaman sholat seindah yang dimilikinya. Sudahkah selama ini aku menganggap
sholat sebagai suatu kebutuhan. Aku yang dilahirkan dari keluarga muslim. dibesarkan
dalam lingkungan yang sangat islami. Rasanya aku menjadi tidak ada apa-apanya
dibanding dia.

Berkali-kali dia menyatakan rasa rendah dirinya karena statusnya sebagai PRT di sini,
tapi dimataku dia sungguh wanita yang sangat mulia. Dirinya bagai mutiara yang
tersimpan di tengah lumpur hitam pekat. Hari ini cerita hidupnya, dan kalimat-kalimat
tulusnya telah kucatat baik-baik dalam hati ini. Akan kusimpan di salah satu bagian
paling penting dalam memori hatiku, dan tak kan kulupakan selamanya. Insya Allah.

Saudariku, percayalah... satu satunya pembeda manusia di hadapan Allah hanyalah


taqwanya.

uNi
i_rheen@yahoo.co.uk

Teguran itu...

Publikasi: 17/09/2003 15:19 WIB


eramuslim - Masih lekat dalam ingatan saya ketika mahluk yang tak nampak secara
kasat mata, virus, tepatnya corona virus, penyebab SARS (severe acute respiratory
sindrome) membuat heboh dunia. Tercatat China, Hongkong, Singapura, dan Canada
negara-negara yang terjejas cukup parah. Hingga pada saat yang sama genderang perang
Irak-AS terkalahkan gaungnya dengan kehadiran makhluk misterius yang belum
diketahui pasti obat penangkalnya.

Masih jelas dalam benak saya bagaimana 'gentingnya' negeri mungil yang dalam bola
dunia hanya nampak bagai titik, Singapura, menghadapi ulah virus ini. Sekolah setingkat
TK sampai SMU diliburkan beberapa minggu ketika salah satu murid terinfeksi olehnya.
Ada perguruan tinggi yang mengambil sikap sama, juga perusahaan yang mencutikan
pegawainya ketika salah seorang dari mereka didiagnosa positif SARS. Pusat
perbelanjaan diserbu. Orang-orang memborong masker, termometer, vitamin, antiseptik
baik yang berbentuk cair atau aerosol. Kegundahan merebak ketika salah satu pusat pasar
grosir yang menyuplai sayur-sayuran ke market-market di Singapura ditutup selama dua
minggu sewaktu diketahui salah satu pembeli terjangkiti virus ini dan dampaknya lebih
dari 2000 orang dikarantina selama sepuluh hari.

Bisa dibayangkan kerugian yang dihasilkan dari penutupan pasar tersebut? Dan
pemerintah Singapura mengeluarkan dana yang sangat tidak sedikit untuk mengatasi hal
ini. Bagaimana mungkin negeri yang mahsyur karena kebersihan ini bisa terjejas?
Sedangkan meludah dan merokok di tempat tertentu ada dendanya. Makan, minum
bahkan membawa durian ke dalam bus, train, tidak diperkenankan. Jadi jarang sekali
sampah ditemui apalagi sampah yang menumpuk-numpuk. Lalu mengapa virus SARS
dengan lincahnya menular kesana kemari?

Teguran dan peringatan atau ujiankah ini, setidaknya bagi saya? Hidup dengan segala
kemudahan, rasa aman, ketertiban, ketentraman, keteraturan, kedisiplinan adalah
kenikmatan. Segala fasilitas di negeri ini ditujukan bagi kenyamanan masyarakatnya.
Sarana transportasi bersih, tertib dan nyaman tak pernah ditemukan, ada yang
bergelantungan di bus atau kereta. Jarang ditemui kemacetan terlebih pedagang asongan
dan kaki lima apalagi demonstrasi.

Ber-handphone ria di transporatasi umum, di jalan-jalan, di keramaian atau tempat sepi,


siang atau malam tak perlu khawatir. Kebutuhan sembako selalu terpenuhi karena harga
yang terjangkau oleh uang rakyat sehingga mal-mal kecil sampai mewah bukan milik
mereka yang berduit saja. Dan nenek saya bercerita, selama 40 tahun bermukim disini tak
pernah merasakan mati lampu, seret air atau kehabisan gas untuk memasak. Namun
ternyata segala kemudahan tersebut melenakan diri ini. Ibadah mulai kendor. Shalat tak
tepat waktu lagi, tilawah sudah semakin jarang, qiyamullail kadang iya kadang bablas,
hafalan qur'an menguap, dzikir ma'tsurat kalau ingat, shaum sunnah tak sekalipun,
membaca buku terbengkalai. Sebaliknya hari ke hari diisi dengan cuci mata dari satu mal
ke mal yang lain.

Lalu datanglah SARS. Penyakit yang nampak sepele karena gejalanya hanya seperti flu
biasa namun mematikan. Allah menegur, mengecam diri ini. Ketakutan menghantui diri,
kecemasan melanda jiwa bagai sedang perang hanya musuhnya tak nampak bahkan
setiap orang berpotensi menjadi musuh karena setiap saat mereka dapat terjangkit dan
menjangkiti. Keputusasaan menjalari diri hingga saya ingin lari sejauh-jauhnya namun
kaki terasa berat, badan meringkuk bagai udang rebusan dan saya menangis sejadi-
jadinya.

Ternyata hanya Allah yang mampu menolong saya, menenangkan saya. Allah yang
selama ini telah saya abaikan. Kesadaran itu terbit, jiwa rindu kembali pada-Nya,
memperbaiki kesalahan diri, mengubur kelalaian, mengenyahkan kemalasan dan kesia-
siaan. Mengejar ketertinggalan saya di hadapan-Nya. Tak ingin alpa untuk kedua kalinya.
Perlahan ketakutan sirna terlebih sejak WHO menyatakan dunia bebas SARS Juni lalu.

Tapi bukan manusia namanya jika tak mengalami pasang surut keimanan. Begitupun diri
ini, tiga bulan tanpa SARS ternyata cukup untuk melenakan hati yang belum sungguh-
sungguh taubat kepada-Nya. Sampai empat hari yang lalu, mata saya terbelalak ketika
reporter televisi memberitakan "... seorang lelaki, 27 tahun, dinyatakan positif SARS dan
keluarga serta 25 orang yang pernah berhubungan dengannya dikenakan perintah
karantina di rumah..."

Tiba-tiba dingin menjalari tubuh saya. Oh, diri yang terpedaya mengapa harus menanti
teguran kedua untuk berpaling pada-Nya dengan kesungguhan?

Ummi Nida
yudithfabiola@yahoo.com.sg

Salam Cinta Ini Untukmu

Publikasi: 16/09/2003 10:04 WIB


eramuslim - Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya ada seorang yang bertanya
kepada Rasulullah Saw: Bagaimanakah Islam yang baik itu?” Beliau menjawab, “Yaitu
mau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan
kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR. Bukhari Muslim).

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Salam itu tak lagi terdengar


sumbang di telinga, karena ia nyaris sudah menjadi budaya. Kini nyaris semua orang
menjadikannya sebagai salam pembuka, mengawali teks pidato, memulai ceramah,
mengantarkan pembicaraan dan sapaan kesopanan. Hingga ia pun terdengar lumrah,
seperti halnya selamat pagi, kulonuwun, punten, permisi….

Namun mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda,
bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana
diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap
salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal…

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Ucapan ini sudah sedemikian


akrab di lidah ummat muslim. Tiada kagok orang mengucapkannya. Baik yang memang
setiap hari menyebutnya minimal lima kali sehari di akhir shalat, maupun mereka yang
hanya membasahi lidah dengan salam di acara-acara resmi.

Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta? Sebagaimana kabar yang
disampaikan Abu Hurairah ra? Ia bberkata: Rasulullah Saw bersabda, ”… Maukah kamu
sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian
akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian”. (HR Muslim).

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, Sungguh kalimat ini amat mudah


diucapkan. Hingga kadang orang meremehkan. Bahkan ada yang hendak
menggantikannya dengan selamat pagi, atau sapaan lokal dan teritorial lainnya. Tidakkah
teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi
‘alaihissalaam bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah
makanan, hubungkanlah tali peraudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang
tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi).
Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. ‘Cukup’ dengan
menyebarkan salam.

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Betapa cinta Rasulullah dengan


untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan.
Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga
kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok
anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun
indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam
sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian
meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam. Bahkan beliau pernah bersabda:
“Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia
mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon,
dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam
lagi”. (Disampaikan oleh Abu Hurairah, HR Abu Dawud).

Maka tak heran, jika Abdullah bin Umar suka pergi ke pasar, meski tak hendak membeli
sesuatu. Kepada Tufail bin Ubay bin Ka’ab yang pernah menemaninya ia berkata,
”Wahai Tufail, mari ke pasar. Kita sampaikan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.
Maka berpuluh kali kalimat itu meluncur sejuk dari mulutnya, kepada para pedagang,
pembeli, para kuli, tukang rombengan hingga warga papa.

Maka sungguh indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati
dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabat-
sahabatnya: Salaam Allah ‘alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh. Sungguh damai dan
nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta’abbudan (ibadah) dan mahabbah
(kecintaan), bukan sekedar kebiasaan. Salaam Allah yaa Ikhwatii, ya khalilii, wa
rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan
barakahNya untukmu saudaraku, sahabatku). Doa tulus ini kupersembahkan untukmu.
(Azimah Rahayu, tengah malam, saat hati meluap dengan gelora rindu)
Azi_75@yahoo.com

Create Successfully

Publikasi: 12/09/2003 07:50 WIB


eramuslim - Manusia diciptakan penuh dengan keterbatasan. Ingin rumah luas uang
tidak punya untuk membuatnya, ingin sekolah tinggi motivasi tidak ada, ingin menikah
keberanian sirna, ingin hidup tenang tapi terus saja gundah gulana, ingin sukses tapi misi
dan visi hidup tidak beres.

Sungguh Maha Adil Allah yang telah mencipta, dengan segala keterbatasan yang ada,
manusia menempati tempat tertinggi dibanding makhluk Allah lainya. Dia beri kita akal
untuk menyempurnakan keterbatasan yang kita miliki, Dia beri kita hati nurani yang
tidak pernah berdusta, Dia beri kita jasad yang indah lagi sempurna.

"Kenapa hidup saya selalu tersiksa begini, gagal dan tidak berarti?"
"Akankah ada hari esok penuh ceria untuk saya yang nestapa?"
"Masihkan ada ampunan Allah untuk saya yang bergelimang maksiat?"
"Kapankah datangnya belahan jiwa yang akan menentramkan hati?"

Pertanyaan di atas senantiasa saja ada pada setiap jiwa. Keinginan besar untuk hidup
tenang, bahagia, sukses adalah impian kita semua. Keinginan untuk mencapai
kesuksesan, prestatif, inovatif, produktif terletak pada seberapa besar kita mampu
menempatkan diri pada Zat yang telah menciptakan kita dengan segala keterbatasan ini.
Kita tidak pernah mampu menahan maut yang menjemput. Kita tidak pernah bisa
bertindak saat usaha telah maksimal ternyata kita masih juga menemui kegagalan. Tidak
pula bisa kita tunda saat umur senantiasa bertambah. Apa yang bisa kita lakukan?

Rendah hati, qolbu yang bersih, bekerja keras, berdoa, dan tawakal adalah kunci
keberhasilan jika kita ingin mejadi pribadi sukses. Allah adalah satu-satunya tempat kita
bergantung, karena hanya Dialah yang mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya.
"Allah adalah pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan dari kegelapan
kepada cahaya" (QS. Al-Baqarah: 27)
Lia's Gallery menuliskan beberapa prinsip yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi
pribadi sukses. Saya mencoba mencoba mengadopsinya untuk kemudian menjadi prinsip
kita bersama, agar kita menjadi pribadi sukses dengan limpahan Rahman dan Rahim
Allah.

1. Bekerjalah karena Allah, bukan karena pamrih kepada orang lain. Maka Anda akan
memiliki integritas yang tinggi, yang merupakan sumber kepercayaan dan keberhasilan.

2. Jangan berinspirasi pada yang selain Allah. Jangan berprinsip pada sesuatu yang labil
dan tidak pasti seperti harta, nafsu hewani, kedudukan, penghargaan orang lain atau
apapun selain Allah. Hal ini akan membuat mental Anda lebih siap menghadapi
kemungkinan apapun yang akan terjadi pada diri Anda.

3. Lakukan sesuatu dengan sungguh-sunguh dan sebaik-baiknya karena Allah dan


ingatlah selalu Allah yang Maha Tinggi. Maka Anda akan mendapatkan hasil yang jauh
berbeda dan jauh lebih baik.

4. Berpedomanlah selalu pada sifat-sifat Allah, seperti ingin selalu maju, ingin selalu adil,
ingin selalu memberi kasih sayang, ingin selalu kreatif dan inovatif, ingin selalu
bijaksana, ingin selalu memelihara, berfikir jernih, mau belajar sungguh-sungguh.

5. Bangun kepercayaan dari dalam diri, jangan karena penampilan fisik, tetapi iman
andalan yang akan memancarkan kharisma.

6. Bangun motivasi Anda, karena Anda adalah makhluk Allah yang sempurna dan Anda
adalah wakil Allah. Raihlah cita-cita dan harapan dengan kemauan yang kuat membara.
Wallahu 'a'lam bishshowaab.

Yesi Elsandra

Teman Terbaik

Publikasi: 11/09/2003 12:30 WIB


eramuslim - Kawan, ingin aku bercerita tentang teman terbaik yang pernah kumiliki.
Ayah mengenalkan aku dengannya di tiga tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti,
aku masih ingat kata-katanya, “Kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu,
insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya.
Kemana pergi selalu kuajak serta. Ia bukan saja teman terbaik bagi diriku, tapi juga
teman terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibu.

Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan
keberadaannya kemanapun kaki melangkah. Senantiasa memberi jawaban atas semua
tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan
gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga
menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia selalu
menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. Ikuti jalannya jika mau
selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua
resikonya. Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya.

Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Maha Pujangga dibalik


untaian goretan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada
pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya,
senantiasa ingin membawanya serta kemanapun. Tak peduli siang, malam, terik ataupun
mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak
terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga satu masa, aku begitu
mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta teman terbaikku ini.

Sebegitu dekatnya kami berdua, sehingga melewati satu hari pun tanpanya, hati akan
kering, gersang dan merinduharu. Ada kegetiran yang terasa menyayat saat tak
bersamanya, bahkan pernah aku tersesat, sejenak kemudian aku teringat pesan-pesannya,
hingga aku terselamatkan dari kesesatan yang menakutkan. Di waktu lain, aku berada di
persimpangan jalan yang membuatku tak tahu menentukan arah melangkah, berkatnyalah
aku menemukan jalan terbaik. Entah bagaimana jika ia tak bersamaku saat itu.

Kawan, maukah mendengarkan betapa kelamnya satu masaku tanpa teman terbaikku itu?

Mulanya hanya lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat
yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir, untuk ke tempat yang satu ini,
saya merasa tak pantas membawanya serta. Saat itu saya lupa pesan ayah, “jika tak
bersamanya, keselamatanmu terancam”. Esok hari dan seterusnya, entah lupa entah sudah
terbiasa teman terbaik itu tak pernah lagi kuajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari
bersandar di salah satu sudut kamarku. Satu minggu, bulan berlalu dan tahun pun
berganti, aku semakin lupa kepadanya, padahal ia senantiasa setia menungguku dan
masih di sudut kamar hingga berdebu.

Hingga satu masa, bukan sekedar lupa. Bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya.
Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang
semestinya. Tapi aku tidak perduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari
teman terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Kubilang, ia cerewet! Terlalu
mencampuri urusanku.

Begitulah kawan, Anda pasti sudah tahu akibatnya. Langkahku terseok-seok, pendirianku
goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak
mampu lagi membedakan hitam dan putih. Semakin dalam aku terperosok, tanganku
menggapai-gapai, nafasku sesak oleh lumpur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku
masih menangkap sesosok kecil sarat debu, disaat kurebahkan tubuh di kamar.

Ya! Sepertinya aku pernah mengenalnya. Teman yang pernah dikenalkan ayah kepadaku
dulu. Ia yang pernah untuk sekian lama setia menemaniku kemana aku pergi. Teman
terbaik yang pernah kumiliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin
berdebu. Kuhampiri, perlahan kusentuh kembali. “Jangan ragu, kembalilah padaku. Aku
masih teman terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi” kuat seolah ia berbisik kepadaku
dan menarik tanganku untuk segera menyergapnya. Ffwuhhh…!!! kuhempaskan debu
yang menyelimutinya dengan sekali hembusan. Nampaklah senyum indah teman
terbaikku itu.

Ingin kumenangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika
kita menghendakinya. Kini, bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. Aku tak
ingin lagi terperosok, tersesat, terseok-seok hingga jatuh ke jurang yang pernah dulu aku
terjatuh. Jurang kesesatan. Bersamanya, hidupku lebih damai terasa. Satu pesanku
untukmu kawan, kuyakin masing-masing kita memiliki teman terbaik itu. Jangan pernah
meninggalkannya, walau sesaat. Percayalah. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab. (Bayu Gaw)

Sepenuh Hati

Publikasi: 09/09/2003 08:05 WIB


eramuslim - Air hujan turun membasahi bukit. Ia mengalir melintasi tebing dan cerukan
sempit. Sesekali menabrak batu dan akar pohon yang menjuntai. Membawa bersama
partikel hidrogen dan oksigen. Menyelisihi daun kering yang jatuh ke bumi sambil
berbisik, “Ku kan membuatmu segar kembali setelah angin dan waktu membuatmu
letih.” Ia terus mengalir dan mengalir hingga bertemu “kawan” lain. Membentuk aliran
ke hilir hingga jadi sungai yang mengalir ke laut.

Dengan segala kerendahan diri untuk mengalir jatuh air telah menghidupkan bumi setelah
kering. Membasuh dan membawa harapan baru untuk segenap mahluk. Si sumber
kehidupan ini menyimpan kelembutan dan kekuatan sekaligus. Sang Pencipta Tertinggi
telah memberinya kekuatan untuk bergerak menerobos celah sempit, meluncur jatuh,
membentuk aliran sungai, atau tetap diam diatas bumi dan menjadi danau.

Dengan hanya tetesan, ia mampu melubangi batu dan memecahnya. Meski memakan
waktu sekian jam atau bahkan hari. Tapi sekeras apapun batu ia tetap bisa melakukannya.
Bermula dari setetes saja. Terus menerus. Setetes demi setetes. Hingga batu berlubang,
retak dan terbelah. Saat tetesan berhenti, batu tak lagi tertandai.

Sesosok mahluk lain di belahan bumi yang berbeda telah berusaha untuk membuat
sesuatu yang berguna. Ia berusaha untuk menyimpan listrik dan mengalirkannya menjadi
cahaya. Edison telah berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu mencoba membuat
impiannya terwujud. Untuk berhasil menyalakan sebuah bolam, ia telah menghabiskan
lebih dari seribu empat ratus bolam. Ke semua bohlam itu pecah saat tak mampu
menahan panas aliran listrik. Hingga akhirnya sebuah bolam berhasil menyala. Menyala
dan hampir tak pernah lagi padam hingga saat ini. Dan pemadaman lampu resmi pertama
dilakukan di seluruh kota pada hari ia meninggal untuk menghargai kerja kerasnya itu.

Tetesan air yang membelah batu ataupun usaha Edison membuat bola lampu adalah
cerminan pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Andai mereka berhenti
bergerak dan diam, tak ada yang berubah. Takkan ada yang dihasilkan. Batu takkan
pecah saat tetesan berhenti sebelum waktunya. Atau tak ada lampu penerang saat hari
gelap. Tetapi kedua mahluk berbeda ini terus bekerja. Terus bekerja hingga aliran sungai
muncul, membasahi bumi, mengairi sawah dan menjadi sumber minum bagi mahluk
Allah yang lain. Terus bekerja hingga ada cahaya saat gelap dan penerang bagi kehidupan
seluruh manusia hingga hari ini. Seluruhnya bukanlah pekerjaan setengah hati. Memulai
pekerjaan yang baru tidak mudah. Butuh keberanian dan semangat tinggi. Tapi itu
bukanlah yang tersulit. Yang paling sulit adalah menyelesaikan apa yang telah dimulai itu
dengan kebaikan. Karena lebih banyak pengorbanan dan kegigihan yang diberikan. Dan
kesungguhan hati yang berbicara pada akhirnya.

Janganlah khawatir untuk mengakhiri segala pekerjaan dengan kebaikan, karena


sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Dan ternyata
banyak hal yang berguna dengan bekerja sepenuh hati.

Yupik Astuti
najwasaja@yahoo.com

Tamu Terakhir

Publikasi: 08/09/2003 08:07 WIB


eramuslim - Pagi ini aku sudah tiba di kantor bahkan sebelum office boy tiba, sesaat
setelah Pak Satpam membukan pintu gerbang depan. Sejak semalam sudah kusiapkan
berkas-berkas yang dibutuhkan oleh tamu yang akan datang ke kantor pagi ini. Mereka
adalah klien baru yang semoga saja bisa mendatangkan keuntungan lumayan besar jika
terdapat kesepakatan diantara kami. Kupilih kemeja yang paling bagus dengan setelan
celana dan sepatu yang match, tidak lupa dasi, agar lebih terlihat profesional. Semua
proposal dari mereka sudah kupelajari sehingga ada keyakinan aku bisa menguasai
seluruh pembicaraan selama pertemuan nanti.

***

Begitulah satu contoh persiapan yang mungkin pernah kita lakukan ketika hendak
menerima tamu. Banyak contoh lain yang bisa diketengahkan, misalkan, biasanya kita
akan segera merapihkan semua hal berantakan dan membenahi apapun yang nampak tak
sedap dipandang di sekitar ruang tamu saat seseorang hendak bertamu ke rumah.
Kesibukan akan lebih terlihat jika tamu yang datang tak terlebih dulu mengkhabari
kedatangannya. Bisa jadi, saat mereka tiba, kita belum mandi, masih banyak sisa
makanan dan sampah yang tercecer bekas malam tadi, termasuk lantai yang kotor dan
belum sempat dibersihkan. Tentu saja, sebagai tuan rumah, kita akan malu jika kedapatan
belum mempersiapkan apapun untuk menyambut tamu tersebut.

Fenomena lain bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Soal makanan misalnya, seorang tuan
rumah akan menyediakan makanan, bisa membuat atau membeli, yang terasa spesial buat
tamu. Setidaknya, makanan yang biasanya tak pernah tersaji di rumah, jika ada tamu
yang akan datang, begitu cepat tersedia. Dan bahkan, tidak jarang tuan rumah harus
berhutang untuk sekedar memberikan pelayanan lebih atau biasa disebut dengan
‘menghormati’ tamu. Adalah hal wajar seseorang menerima dengan penuh sukacita dan
kebaikan setiap tamu yang datang bersilaturahim ke rumahnya.
Namun tentu tidak semua tamu bisa dilayani seperti itu. Kita tentu pernah mendengar
istilah ‘tamu tak diundang’. Mereka bisa jadi, tukang kredit, penagih hutang, atau cuma
seorang teman yang biasa meminjam uang. “Bapak tidak ada di rumah,” atau “Bapak
sedang istirahat” adalah basa-basi yang biasa terlontar lewat pembantu atau anak kita
kepada mereka yang mungkin masih berdiri di luar pagar. Jika di kantor, sekretaris atau
resepsionis akan berkata sopan, “Bapak sedang keluar kantor”, bila yang datang adalah
tamu atau klien yang tidak diharapkan. Intinya, sikap dan pelayanan yang diberikan oleh
seorang tuan rumah akan tergantung siapa dan tujuan apa yang dibawa oleh tamunya. Ia
bisa saja menerima dengan tulus dan senang hati, menunda dan memintanya menunggu
beberapa saat agar kita bisa bersiap dan berbenah, atau menolak kedatangannya, bila
perlu dengan bantuan Satpam.

Tamu. Siapapun dia, adalah mereka yang pasti berniat atau mempunyai kepentingan
tertentu dengan kita. Yang paling sederhana adalah sekedar bersilaturahim dan
menyambung-eratkan hubungan persaudaraan. Semestinya, sebagai tuan rumah yang baik
kita menyambutnya dengan hati yang senang, dan tak memperlihatkan ketidaksukaan,
menutupi ketidaksiapan dalam penerimaannya. Jika perlu, konflik maupun pertengkaran
yang tengah berlangsung antara anggota keluarga, antara suami dengan istri, dihentikan
agar tamu tak menjadi penonton peperangan. Semestinya diupayakan agar mereka tak
pernah tahu ada perselisihan, konflik, atau ketidakakuran di keluarga kita. Itulah
sekelumit hal yang biasa terjadi. Kita berupaya tampil sebaik mungkin menyambut
kedatangan tamu. Terlebih jika yang datang adalah tamu yang dihormati, bisa pejabat,
atasan di kantor, atau siapapun yang posisinya lebih diatas kita.

Sejak kecil, bahkan sejak baru terlahir, seorang manusia sudah terbiasa menerima tamu.
Bisa jadi, hampir setiap hari tamu tak henti-hentinya mengetuk pintu rumah. Khabar yang
dibawa tentu bermacam-macam, sekali lagi, bisa hal baik atau hal buruk, sesuatu yang
sudah biasa didengar, atau mungkin berita yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka.
Jadi, adalah hal biasa kita mendengar ketukan di pintu rumah untuk menerima
kedatangan tamu.

Namun, pernahkah kita sadar jika siang nanti, esok pagi atau mungkin sedetik setelah
membaca pesan ini, ada ketukan yang terdengar di depan, dan ketika kita tahu bahwa
yang datang dan berdiri di hadapan kita adalah ‘tamu terakhir’? tamu yang sama yang
pernah hadir di hadapan orang-orang yang telah mendahului kita. Tamu yang datang
dengan kabar baik atau buruk tergantung seberapa banyak persiapan dan bekal yang
terkumpul untuk hidup di hari kemudian. Tamu terakhir yang tak mungkin kita
memintanya untuk menunggu meskipun sedetik agar kita bisa bersiap dan membenahi
diri. Tamu terakhir yang mungkin tidak pernah diharapkan kehadirannya, tetapi tak
seorang pun bisa membantu kita untuk menolak kehadirannya. Tentu saja, kita akan
tersenyum menerima kehadirannya, jika saat tamu terakhir itu datang, semua bekal yang
diperlukan sudah dipersiapkan. Bagaimana jika belum? Wallaahu ‘a’lam bishshowaab
(Bayu Gaw)

Dan Gerbong Kereta Pun Bersaksi


Publikasi: 04/09/2003 09:56 WIB
eramuslim - “Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula
kau… mau jadi manusia macam apa kau nak…” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya
yang baru berusia sekitar delapan tahun.

“Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula
itu kan rejeki…” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen
dagangannya.

“Hey … apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang
menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya,
mungkin esok kau tak seberuntung hari ini…”.

Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang
kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Pasar Minggu,
Jakarta, tak seberapa masa menjelang Maghrib. Ada gemuruh yang menderu di dalam
dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang
lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya
yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun,
meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau
perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu
membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun KA Pasar Minggu.
Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan
permen di gerbong KA Jabotabek.

Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita
sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk
mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang
sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak
berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat
pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering
bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang
keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki
keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang
dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.

Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi
manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah
mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan
hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.

Kemudian mari tengok diri ini. Di pagi hari tak perlu memanggul karung dan dus yang
berat, untuk menggelarnya terpal di emperan manapun. Kita hanya perlu naik kendaraan
menuju kantor, duduk di kursi yang empuk, mungkin tak ada peluh yang harus dibasuh
karena seharian bekerja di ruangan ber-AC, dan tidak jarang masih mendapatkan
pelayanan khusus dari office boy.
Namun dengan kondisi yang demikian lebih baik, tidak jarang dzuhur dan ashar
tertinggal, minimal sholat dzuhurnya menjelang ashar. Itu pun jika sempat. Seringkali
kesibukan dan terlalu banyak pekerjaan menjadi alasan untuk tak melafazkan barang satu
ayatpun kalimah-Nya. Tak mengertikah kita bahwa mungkin saja Dia yang maha
mengatur rizki itu tak lagi memberikan kita semua kesibukan yang hari ini menjadi
alasan untuk tak mendekati-Nya?

Sungguh, enggankah kita membiarkan semua pekerjaan, komputer, meja kerja, kursi
empuk, telepon yang berdering-dering itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa
mereka pernah ditinggal oleh pemiliknya di waktu-waktu tertentu saat kita bermunajat
pada-Nya?

***

Adzan Maghrib pun berkumandang, kuikuti punggung-punggung mereka yang menuruti


langkah-langkah kecil menuju mushola. (Bayu Gaw)

Kekuatan Doa

Publikasi: 03/09/2003 09:06 WIB


eramuslim - Dahiku mengernyit ketika menatap angka-angka di rekeningafschriften –
laporan saldo bank yang biasa kuterima dua pekan sekali itu. Gawat! Bisa gagal rencana
pulang kampung. Dengan jumlah sekian euro tentu tak cukup membeli tiket pesawat
untuk kami bertiga, bahkan dengan jadwal last minute dari maskapai yang termurah
sekalipun. Padahal sudah sebulan ini bayangan wajah orang tua, dan sanak keluarga di
kampung sudah menghiasi mimpi-mimpi tidurku. Rindu. Mereka pun ingin melihat
cucunya yang lahir jauh di rantau.

Rasa-rasanya sejak aku tidak lagi menerima beasiswa, aku dan suamiku telah berusaha
untuk menekan biaya hidup dengan mengandalkan gaji guru suamiku yang berada
dibawah UMR-nya Belanda. Tapi memang dasarnya biaya hidup disini semakin hari
semakin tinggi, apalagi sejak peralihan mata uang gulden ke euro, harga-harga jadi makin
menggila.

***

“….Gimana Neng, jadinya pulang bulan apa?” suara Mamah terdengar berlapis-lapis
dalam jarak belasan mil diujung sana, di pinggir kota Bandung. Maklum, untuk
menghemat pulsa aku menggunaan kartu telepon interlokal yang termurah, dengan resiko
kualitas suara yang rendah tentunya. “Belum jelas, Mah. Nantilah Eneng kasih tahu lagi.
Mah, udah dulu ya. Rauda mulai nangis nih … Assalamualaikum !” terburu-buru aku
memutuskan hubungan telpon dengan Mamah, bukan karena tangis Rauda, tetapi takut
Mamah tahu kalau suaraku mulai tersekat menahan tangisku. Aku menghambur ke
tempat tidur, menutup wajah ini erat dalam bantal, menumpahkan kegalauan hati yang
tertahan sejak tadi. Sementara Rauda, bayiku yang berumur 5 bulan, menatapku dengan
heran dan gelisah, sebentar kemudian diapun ikut menangis…
***

“Ayah, coba lihat nih rekeningafschriften-nya. Gimana ini, kita nggak bisa pulang dengan
sisa uang segini. Ayah… Ayah ngetik apa sih dari kemarin nggak selesai-selesai,
dengerin dong kalo Bunda lagi bicara!” nada suaraku meninggi. “Ehm…” gumam
suamiku, yang masih tampak asyik mengetik di komputer tua kami. “Kenapa sih Ayah
nggak pernah mikirin gimana kita pulang. Coba dong Ayah cari kerja sampingan,
schoonmaak, loper koran, cuci piring di restoran atau apa aja deh… atau kita jual lah
beberapa barang-barang kita ke tweedehands… dari dulu Bunda kan bilang…” bla-bla-
bla aku mulai meracau, dan akhirnya menangis. Suamiku menghampiriku, dengan lembut
dia membelaiku dan berbisik, “Istighfar Bunda, yang sabar... Insya Allah, kalau niat kita
pulang kampung adalah karena ingin menyambung tali silaturahmi dengan sanak
keluarga dan memang ada rezekinya si Rauda, Allah pasti berkenan memudahkannya.
Perbaiki kualitas doa kita selama ini, karena apapun kesulitan kita tidak ada yang mampu
menolong kecuali atas izinNya.

Ayah sedang membuat beberapa artikel dan berusaha mengirimnya ke beberapa surat
kabar.” Dia melihat ke arah jam dinding, sudah masuk waktu maghrib meskipun tanpa
ditandai suara adzan. “Mari kita sholat,” ajak suamiku. Kami sholat berjama'ah dan sesaat
kemudian tenggelam dalam dzikir dan doa - bermunajat kepadaNya.

***

Beberapa hari kemudian, aku menangis lagi. Kali ini bukan tangis kesal atau kecewa, tapi
tangis bahagia. Dalam pelukan suamiku, tak putus-putusnya aku bertasbih, mengucapkan
rasa syukurku pada Allah Swt. Pulang mengajar tadi, suamiku datang dan membisikkan
kabar gembira itu ke telingaku. Dia mendapat tugas mengikuti penataran guru di Jakarta
akhir bulan ini, dan segala biayanya ditanggung oleh sekolah tempat suamiku mengajar.
Meskipun tanggungan biaya itu hanya untuk satu orang, akan tetapi setelah menghitung–
hitung tabungan kami, ternyata cukup memungkinkan bagi kami untuk pulang ke
kampung halaman bersama-sama. Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan doa-doa
kami, sehingga kami dapat dipertemukan dengan sanak keluarga. Aku merasakan,
sungguh, betapa besar sebuah kekuatan doa. Laa haula walakuwwata illa billah.

Melati Salsabila
Den Haag - The Nederlands

Takkan Pernah Sebanding

Publikasi: 02/09/2003 09:25 WIB


eramuslim - Sobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini?
Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal
berdua. Tak ada lagi putera-puteri yang tersisa. Semuanya berada dalam radius yang
sangat jauh, menempuh episode kehidupan masing-masing. Betapa sepinya mereka.
Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin
sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga
kotoran kita ikut tertelan Ibu ketika kita buang “pup” di saat ibu sedang makan. Ibu juga
tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat
penting karena tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah
henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.

Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan Ibu menerima pembangkangan demi
pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-
teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali sekali kita mau
menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika
kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum.

Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan Ibu dalam
doanya seperti yang pernah aku dengar?

Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu Ayah dan
ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau
mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita? Astaghfirullaahal
‘adziim.

Pernahkah kita berterimakasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik
karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan? Pernahkah kita menghargai
patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena
mereka tidak sengaja memecahkan kristal kecil hadiah ulang tahun dari teman kita?
Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?

Ah, Sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih
sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih
bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia). Lalu?
Mungkinkah kita bisa seperti Ismail as yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung
demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa as yang dihanyutkan ketika bayi?

Ternyata kita masih sangat jauh...


Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?

Sobat, bantu aku agar optimis! Ya, masih banyak waktu untuk membahagiakan mereka.
Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah: tak mengatakan “tidak” ketika mereka
menyuruh atau menginginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan
agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka
dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia! Bahagiakan ayah, bahagiakan Ibu!
Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan. Walau takkan pernah
sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir
nanti.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka
sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. Jadikan kami termasuk anak-anak
yang shaleh ya Allah hingga doa-doa kami termasuk doa-doa yang Engkau ijabah.
Aamin.

farah_adibah@yahoo.com

Buku merah itu…

Publikasi: 01/09/2003 08:53 WIB


eramuslim - Kubaca kembali lembar pertama buku lusuh dihadapanku. Seperti tak
percaya kubalik lembar demi lembarnya, untuk memastikan kembali isinya. Ya Allah,
memang benar ini tulisanku!!!

Buku merah itu kutemukan di tumpukan paling bawah, di laci meja belajarku. Sejak pagi
hari tadi, hingga sekarang pukul 11 siang, aku sibuk membereskan kamarku yang
berantakan tak terurus. Penyebab utamanya tak lain karena kesibukanku di kantor yang
memuncak beberapa bulan ini.

Kembali kuamati buku yang ujungnya telah termakan kutu buku. Masing-masing
halamannya hanya terbagi dalam tiga kolom. Pertama, kolom hari dan tanggal,
selanjutnya aktivitas, dan terakhir keterangan. Kucermati baris pertamanya. Jumat, 14
Juli 2000. Sholat subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya’. Sholat sunnah: tahajud, rawatib
dan dhuha. Baca Al Qur’an: 3 juz, wirid: istighfar 500 kali, Tasbih, Tahmid dan Tahlil,
masing-masing 100 kali, Al Ma’tsurat pagi dan sore, Surat Yaasin, Waqiah dan Ar
Rahman. Selanjutnya, kulihat kolom keterangan. Tampak semua tanda centang berada di
kolom ”terlaksana”, yang merupakan bagian dari kolom keterangan. Lalu, tanganku yang
kotor oleh debu, refleks membalik lembar demi lembarnya yang tak menampakkan
perbedaan, selain menampakkan peningkatan aktivitas ibadah, dari hari ke hari. Dan buku
itu, berakhir ditulis pada tanggal 24 Agustus 2000. Subhannallah… mataku nanar, dan
setetes air beningnya tak bisa kutahan lagi.

***

Otakku berputar untuk mengingat tahun berapa saat ini. Robb, sudah tiga tahun hamba
berpaling dari-Mu. Dan aku seperti tak merasakannya. Kesibukan yang kemudian
berubah menjadi rutinitas dan membuat hatiku mengeras karena malah menyukainya,
telah mengungkungku selama ini. Mungkin banyak orang berkata, bahwa catatan
ibadahku tadi bukan apa-apa karena amalan sunnahnya hanya beberapa. Namun bagiku,
saat itu adalah puncak kedekatanku dengan-Nya. Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena
berikutnya, aku menjauh dan semakin menjauhi-Nya. Astaghfirullahal adziim.

Ingatanku kembali menyusuri tiga tahun yang tak berasa. Aku ingat, kejauhanku dengan
Robb-ku diawali dengan beratnya melaksanakan ibadah wajib tepat waktu. Lantas
bersambung ke ibadah sunnah yang mulai hilang satu-satu. Ujungnya, sholat lima waktu
hanya sekedarnya. Sekedar menggugurkan kewajiban. Sementara berdoa, bukan lagi
kurasakan sebagai sarana komunikasi dengan Allah Yang Maha Pemurah, melainkan
hanya aliran kata-kata yang tak pernah kuresapi maknanya. Air mata pun tak pernah lagi
mengucur deras, saat tangan ini menengadah. Apalagi wirid, karena seusai salam kubaca,
mukena pun langsung kulepas. Astaghfirullahal adziim…

***

Ya Allah, tiga tahun yang sia-sia. Kerugian yang tiada terhitung. Tuhanku, hamba ingin
bangkit. Terlalu banyak titik dosa yang terukir di lembaran hidup hamba, tak sebanding
dengan amalan kebajikan yang hamba lakukan. Robb, beri hamba kekuatan untuk bangkit
menuju-Mu… agar hati ini kembali tenang. Agar segala yang hamba lakukan mendapat
ridho-Mu… Hidup hamba gersang, Tuhanku. Tak ada air sejuk yang mengaliri jalan yang
hamba tempuh… tak ada tempat mengadu seperti dulu Ya Allah… hamba terlalu
memanjakan diri hamba untuk tidur semalaman, hanya karena alasan terlalu lelah.
Padahal, kelelahan yang sesungguhnya adalah saat ini, saat hamba jauh dari-Mu. Ya
Allah… ampunkan dosa hamba, Robb. Terima hamba kembali Ya Allah… jangan
biarkan hamba jauh dari nur-Mu Yaa Rohim. Hamba ingin sekali kembali, berkhalwat
dengan-Mu setiap malam dan menunaikan segala perintah-Mu seperti dulu lagi. Hamba
rindu kepada-Mu Ya Allah… teramat rindu.

***

Sayup-sayup kudengar suara Emha, dari tape Bapak kostku…

Ya Allah Gusti
Nyuwun pangaksami
Sampun dangu kulo
Ninggalke agami
Infaq, shodaqoh lan kitab suci
Nyuwun tuntunan Ilahi Robbi

(Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong
kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada
kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi
(karunia)". (QS Ali Imran:8)
antariksa@eramuslim.com

Satu Menit?

Publikasi: 30/08/2003 09:32 WIB


eramuslim - Satu menit? Sepertinya tak bermakna, mungkin karena tak berasa. Lewat
begitu saja. Hanya enam puluh ketukan, jika satu ketukan itu bernilai satu detik. Benar-
benar tak terasa, hingga akhirnya tak dimaknai. Seringkali kumpulan menit itu kita
perlakukan seperti air, mengalir begitu saja. Tanpa kita berikan arah, tanpa kita tetapkan
tempat berakhir. Mengalir, mengalir dan mengalir…
Seringkali himpunan menit itu kita perlakukan seperti gelas, kita isi dan nikmati tanpa
kita sadari khasiat dari isi gelas itu sendiri. Yang penting lezat, segar dan mengusir rasa
haus kita.

Padahal satu menit, enam puluh ketukan itu bisa membawa kita kepada dua pilihan
tempat berakhir. Keindahan atau kepedihan. Karena enam puluh ketukan itu ternyata
bernilai, sangat bernilai dimata Sang Pemilik waktu, Sang Maha Penghenti waktu.
Karena satu menit itu tak pernah luput dari penglihatan dan pengawasan Sang Maha
Bijak, Sang Maha Pemberi ganjaran. Karena satu menit itu memiliki arti bagiNya, atas
keputusan yang ditetapkan untuk kita.

Dia akan menghargai satu menit yang dimiliki dalam hidup ini dengan berlipat
penghargaan yang tak terbayangkan oleh kita. Karena Dia-lah sebaik-baiknya pemberi
penghargaan bagi manusia yang tak pernah lelah mencari perhatianNya.

Satu menit saja, tak lebih, dapat bermakna, jika kita mau. Satu menit saja, hanya satu
menit, dapat bernilai, jika kita tahu. Karenanya satu menit itu tak layak kita buang.

Dalam satu menit, kita bisa melakukan banyak kebaikan dan kebahagiaan. Dalam satu
menit kita bisa mendendangkan al-Faatihah dengan penuh cinta sebanyak tiga kali.
Hanya tiga kali memang, tapi menurut orang-orang bijak, dengan membaca al-Faatihah
satu kali saja, Allah memberikan 600 kebaikan. Dalam satu menit, kita dapat
membisikkan surat al Ikhlaas dua puluh kali, tak perlu bersuara, hanya berbisik. Allah
menilai bisikan penuh makna itu sama seperti kita membaca sepertiga kitabNya.

Dalam enam puluh ketukan itu, kita bisa membaca sedikit saja ayat-ayat dari kalimatNya
yang dirangkai dalam Al Qur’an. Dalam satu menit itu, kita bisa mencoba menghafal
ayat-ayatNya untuk senantiasa mengingatnya dan mengiri langkah-langkah kita.

Dalam satu menit, kita bisa mengaturkan dzikir, Laa ilaaha illallaah wahdahu laa
shariikalah,lahu'l-mulk wa lahu'l-hamd wa huwa 'ala kulli shay'in qodiir. Dalam satu
menit kita bisa mengirimkan puji Subhaanallaahi wa bi hamdihi sebanyak seratus kali.
Allah akan mengampuni dosa-dosa kita meski dosa itu sebanyak buih di lautan.

Dalam satu menit kita bisa membalas cintaNya dengan mengucap Subhaan allaahi wa bi
hamdihi Subhaanallaahil-'Aziim sebanyak lima puluh kali. Allah mencintai manusia yang
mengucapkan dua kata ini dari bibirnya, demikian yang tertulis dalam hadits riwayat
Bukhari Muslim. Rasul berkata, “Saat aku mengucapkan 'Subhaanallaah, wa'l-hamdu
Lillah, wa laa ilaah ill-Allaah, wa Allaahu Akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi
Allah, Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar), maka cintaNya berhamburan
untukku (hadits riwayat Muslim). Dalam satu menit, kita dapat mengucapkan itu
sebanyak delapan belas kali. Karena kata-kata ini senantiasa dicintaiNya, kata-kata
terbaik penuh dengan makna.

Dalam satu menit, kita bisa menyatakan Tidak ada kekuatan dan kekuasaan selain
milikNya, Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah. Kata-kata ini adalah satu dari
kekayaan dari surga, seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari-
Muslim. Kata kata ini membuat Allah mengangkat kesulitan yang ada dan membantu kita
meraih yang kita inginkan.

Dalam satu menit, kita bisa menegaskan kembali pernyataan kita terdahulu, sebelum kita
lahir ke dunia ini, Laa ilaaha ill-Allaah sebanyak lima puluh kali. Ini adalah kata-kata
terbesar milikNya. Karena dengan memaknai kata-kata ini dalam hati, sudah cukup bukti
bahwa kita mengakui keberadaanNya.

Dalam enam puluh ketukan kita bisa membaca Subhaanallaah wa bi hamdih, 'adada
khalqihi, wa ridaa nafsihi, wazinata 'arshihi, wa midaada kalimaatihi (Maha suci Allah,
sebanyak apa yang diciptakanNya, sebanyak keridhoanNya, seberat Arasy-Nya dan
sebanyak tinta kata-kataNya).

Dalam satu menit, kita dapat memohon ampunanNya dengan membaca Astaghfir-Allaah
sebanyak seratus kali. Dengan kesadaran sepenuhnya atas berjuta dosa yang kita lakukan.
Dalam satu menit, kita dapat mengirim doa untuk junjungan kita Nabi besar Muhammad
Saw, dengan mengucap Sallallaahu 'alayhi wasallam (Semoga Allah memberkati dan
memberinya kedamaian). Dengan doa itu Allah akan memberikan lima ratus kebaikan.

Dalam satu menit, kita bisa memotivasi hati kita dengan menghaturkan terima kasih
padaNya, MencntaiNya, hanya berharap padaNya, takut atasNya, dan tetap melanjutkan
hidup hanya karenaNya. Ini bisa kita lakukan saat kita merebahkan tubuh kita untuk
beristirahat atau mungkin saat kita berjalan menuju suatu tempat.

Dalam satu menit, kita bisa membaca lebih dari dua halaman dari buku yang bermanfaat
bagi kita, dan membuat kita lebih memaknai hidup. Dalam satu menit, kita bisa
mencurahkan kerinduan, berbincang dengan teman lama yang terikat karena cinta Allah.
Dalam satu menit kita bisa menengadahkan tangan dan memanjatkan doa atas apa yang
kita harapkan bagi diri ini.

Dalam satu menit kita bisa mengucapkan salam, mendoakan orang lain atas
keselamatannya. Dalam satu menit kita bisa sedikit merenung, mengusir bisikan setan
yang senantiasa tak pernah bosan mengganggu kita untuk berpaling dariNya.

Dalam satu menit kita bisa menikmati sesuatu dengan penuh rasa syukur, bahwa kita
masih punya waktu menikmatinya. Dalam satu menit kita bisa memberikan kata-kata
berharga bagi saudara kita, sekedar saling mengingatkan ke-alfaannya, menunaikan
haknya untuk selalu diingatkan. Dalam satu menit kita bisa membuang sesuatu yang
berbahaya ditengah jalan.

Hanya satu menit, dan semoga berarti bagiNya.

Ami Ruchjat
amiruchjat@yahoo.com
Perkenankanlah Aku MencintaiMu Semampuku

Publikasi: 28/08/2003 13:58 WIB


Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada

Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam


Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…

Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghibaMu:
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintaiMu,
Semampuku
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu
Sebisaku
Dengan segala kelemahanku

Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya
dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya
Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000
ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus
perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita
tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan
sederhana yang terkirim ke handai taulan.

Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat
NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya
Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba
kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan
dunia.

Robbii, aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh
malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam
satu-dua rekaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas
kepasrahan tidurku.

Yaa, Maha Rahmaan,


Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan
kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui
selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Rahiim
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi
tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu.
Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan
pengorbanan untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit
pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela
tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka
izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan
mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia
dan alam semesta.

Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii


Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

Azimah Rahayu
azi_75@yahoo.com

(29Agustus 2003, tertatih meniti cinta dalam 28 tahun waktu yang Kau berikan)
cat: Judul diatas dipinjam dari judul sebuah puisi karya A Musthofa Bisri

Dan, Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya

Publikasi: 27/08/2003 10:01 WIB


Ketika Al-Musthafa berada dihadapan
Ku pandangi pesonanya dari ujung kaki hingga kepala,
Tahukah kalian apa yang terjelma?
Cinta!
(Abu Bakar ra)

eramuslim - Nabi demam kembali, kini panasnya semakin tinggi. Lemah ia berbaring,
menghadapkan wajah pada Fatimah anak kesayangan. Sudah beberapa hari terakhir,
kesehatannya tidak lagi menawan. Senin itu, kediaman manusia paripurna didatangi
seorang berkebangsaan Arab dengan wajah rupawan. Di depan pintu, ia mengucapkan
salam "Assalamu’alaikum duhai para keluarga Nabi dan sumber kerasulan, bolehkah saya
menjumpai kekasih Allah?". Fatimah yang sedang mengurusi ayahnya, tegak dan berdiri
di belakang pintu "Wahai Abdullah, Rasulullah sedang sibuk dengan dirinya sendiri".
Fatimah berharap tamu itu mengerti dan pergi, namun suara asing semula kembali
mengucapkan salam yang pertama.

"Alaikumussalam, hai hamba Allah" kali ini Nabi yang menjawabnya.

"Anakku sayang, tahukah engkau siapakah yang kini sedang berada di luar?"

"Tidak tahu ayah, bulu kudukku meremang mendengar suaranya"

"Sayang, dengarkan baik-baik, di luar itu adalah dia, pemusnah kesenangan dunia,
pemutus nafas di raga dan penambah ramai para ahli kubur". Jawaban nabi terakhir
membuat fatimah jatuh terduduk. Fatimah menangis seperti anak kecil.

"Ayah, kapan lagi aku akan mendengar dirimu bertutur, harus bagaimana aku
menuntaskan kerinduan kasih sayang engkau, tak akan lagi ku memandang wajah
kesayangan ayahanda" pedih Fatimah. Nabi tersenyum, lirih ia memanggil " Sayang,
mendekatlah, kemarikan pendengaranmu sebentar". Fatimah menurut, dan Kekasih Allah
itu berbisik mesra di telinga anaknya, "Engkau adalah keluargaku yang pertama kali
menyusul sebentar kemudian". Seketika wajah fatimah tidak lagi pasi tapi bersinar.

Lalu kemudian, Fatimah mempersilahkan tamu itu masuk. Malaikat pencabut maut
berparas jelita itu pun kini berada di samping Muhammad.

"Assalamu’alaikum ya utusan Allah" dengan takzim malaikat memberi salam.

"Salam sejahtera juga untukmu pelaksana perintah Allah, apakah tugasmu saat ini,
berziarah ataukah mencabut nyawa si lemah?" tanya nabi. Angin berhembus dingin.
"Aku datang untuk keduanya, berziarah dan mencabut nyawamu, itupun setelah engkau
perkenankan, jika tidak Allah memerintahkanku untuk kembali"

"Di manakah engkau tinggalkan Jibril? Duhai izrail?"

"Ia ku tinggal di atas langit dunia".

Tak lama kemudian, Jibril pun datang dan memberikan salam kepada seseorang yang
juga dicintanya karena Allah.

"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat ini" pinta Al-Musthafa.

Terdengar Jibril bersuara pelan di dekat telinga manusia pilihan, "Sesungguhnya pintu
langit telah di buka, dan para Malaikat tengah berbaris menunggu sebuah kedatangan,
bahkan pintu-pintu surga juga telah di lapangkan hingga terlihat para bidadari yang telah
berhias menyongsong kehadiran yang paling ditunggu-tunggu".

"Alhamdulillah, betapa Allah maha penyayang" sendu Nabi, wajahnya masih saja pucat
pasi.

"Dan Jibril, masukkan kesenangan dalam hati ini, bagaimana keadaan ummatku nanti".

"Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah
mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan
Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih
dahulu memasukinya" Jawaban Jibril itu begitu berpengaruh. Maha suci Allah, wajah
Nabi dilingkupi denyar cahaya. Nabi tersenyum gembira. Betapa ia seperti tidak sakit
lagi. Dan ia pun menyuruh malaikat izrail mendekat dan menjalankan amanah Allah.

Izrail, melakukan tugasnya. Perlahan anggota tubuh pembawa cahaya kepada dunia satu
persatu tidak bergerak lagi. Nafas manusia pembawa berita gembira itu semakin
terhembus jarang. Pandangan manusia pemberi peringatan itu kian meredup sunyi.
Hingga ketika ruhnya telah berada di pusat dan dalam genggaman Izrail, nabi sempat
bertutur, "Alangkah beratnya penderitaan maut". Jibril berpaling tak sanggup
memandangi sosok yang selalu ia dampingi di segala situasi.

"Apakah engkau membenciku Jibril"

"Siapakah yang sampai hati melihatmu dalam keadaan sekarat ini, duhai cinta," jawabnya
sendu.

Sebelum segala tentang manusia terindah ini menjadi kenangan, dari bibir manis itu
terdengar panggilan perlahan "Ummatku… Ummatku….". Dan ia pun dengan sempurna
kembali. Nabi Muhammad Saw, pergi dengan tersenyum, pada hari senin 12 Rabi'ul
Awal, ketika matahari telah tergelincir, dalam usia 63 tahun.
Muhammad, Nabi yang Ummi, Kekasih para sahabat di masanya dan di sepanjang usia
semesta, meninggalkan gemilang cahaya kepada dunia. Muhammad, pemberi peringatan
kepada semua manusia, menorehkan dalam-dalam tinta keikhlasan di lembaran sejarah.
Muhammad, yang bersumpah dengan banyak panorama indah alam: "demi siang bila
datang dengan benderang cahaya, demi malam ketika telah mengembang, demi matahari
sepenggalah naik", telah membumbungkan Islam kepada cakrawala megah di angkasa
sana. Ia, Muhammad, menembus setiap gendang telinga sahabatnya dengan banyak
kuntum-kuntum sabda pengarah dalam menjalani kehidupan. Ia, Muhammad, yang di
sanjung semua malaikat di setiap tingkatan langit, berbicara tentang surga, sebagai
tebusan utama, bagi setiap amalan yang dikerjakan. Ia, Muhammad yang selalu
menyayangi fakir miskin dan anak yatim, menggelorakan perintah untuk senantiasa
memperhatikan manusia lain yang berkekurangan. Dan Ia, Muhammad, tak akan pernah
kembali lagi.

Sungguh, Madinah berubah kelabu. Banyak manusia terlunta di sana.

Dan Aisyah ra, yang pangkuannya menjadi tempat singgah kepala Rasulullah di saat
terakhir kehidupannya, menyenandungkan syair kenangan untuk sang penerang, suaranya
bening. Syahdunya membumbung ke jauh angkasa. Beginilah Aisyah menyanjung sang
Nabi yang telah pergi:

Wahai manusia yang tidak sekalipun mengenakan sutera,


Yang tidak pernah sejeda pun membaringkan raga pada empuknya tilam
Wahai kekasih yang kini telah meninggalkan dunia,
Ku tau perut mu tak pernah kenyang dengan pulut lembut roti gandum

Duhai, yang lebih memilih tikar sebagai alas pembaringan


Duhai, yang tidak pernah terlelap sepanjang malam karena takut sentuhan neraka Sa’ir

Dan Umar r.a yang paling dekat dengan musuh di setiap medan jihad itu, kini menghunus
pedang. Pedang itu menurutnya diperuntukkan untuk setiap mulut yang berani menyebut
kekasih kesayangannya telah kembali kepada Allah. Umar tatap wajah-wajah para
sahabat itu setajam mata pedangnya, meyakinkan mereka bahwa Umar sungguh-sungguh.
Umar terguncang. Umar bersumpah. Umar berteriak lantang. Umar menjadi sedemikian
garang. Ia berdiri di hadapan para sahabat yang terlunta-lunta menunggu kabar manusia
yang dicinta.

Dan Abu Bakar, sahabat yang paling lembut hatinya, melangkah pelan menuju jasad
manusia mulia. Langkahnya berjinjit, khawatir kan mengganggu seseorang yang tidur
berkekalan, pandangannya lurus pada sesosok cinta yang dikasihinya sejak pertama
berjumpa. Raga berparas rembulan itu kini bertutup kain selubung. Abu bakar hampir
pingsan. Nafasnya berhenti berhembus, tertahan. Sekuat tenaga, ia bersimpuh di depan
jasad wangi al-Musthafa. Ingin sekali membuka penutup wajah yang disayangi arakan
awan, disanjung hembusan angin dan dielu-elukan kerlip gemintang, namun tangannya
selalu saja gemetar. Lama Abu bakar termenung di depan jenazah pembawa berkah.
Akhirnya, demi keyakinannya kepada Allah, demi matahari yang masih akan terbit, demi
mendengar rintihan pedih ummat di luar, Abu bakar mengais sisa-sisa keberanian.
Jemarinya perlahan mendekati penutup tubuh suci Rasulullah, dan dijumpailah, wajah
yang tak pernah menjemukan itu. Abu bakar memesrai Nabi dengan mengecup kening
indahnya. Hampir tak terdengar ia berucap, "Demi ayah dan bunda, indah nian hidupmu,
dan indah pula kematianmu. Kekasih, engkau memang telah pergi". Abu bakar
menunduk. Abu Bakar mematung. Abu Bakar berdoa di depan tubuh nabi yang telah
sunyi.

Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya selalu memenuhi udara Madinah dengan lantunan
adzan itu, tak lagi mampu berseru di ketinggian menara mesjid. Suaranya selalu hilang
pada saat akan menyebut nama kekasih ‘Muhammad’. Di dekat angkasa, seruannya
berubah pekik tangisan. Tak jauh dari langit, suaranya menjelma isak pedih yang tak
henti. Setiap berdiri kukuh untuk mengumandangkan adzan, bayangan Purnama Madinah
selalu saja jelas tergambar. Tiap ingin menyeru manusia untuk menjumpai Allah,
lidahnya hanya mampu berucap lembut, "Aku mencintaimu duhai Muhammad, aku
merindukanmu kekasih". Bilal, budak hitam yang kerap di sanjung Nabi karena suara
merdunya, kini hanya mampu mengenang Sang kekasih sambil menatap bola raksasa
pergi di kaki langit.

Dan, terlalu banyak cinta yang menderas di setiap jengkal lembah madinah. Yang tak
pernah bisa diungkapkan. Semesta menangis.

***

Sahabat, Sang penerang telah pergi menemui yang Maha tinggi. Purnama Madinah telah
kembali, menjumpai kekasih yang merindui. Dan semesta, kehilangan pelita terindahnya.
Saya mengenangmu ya Rasulullah, meski hanya dengan setitik tinta pena. Saya
mengingatimu duhai pembawa cahaya dunia, meski hanya dengan selaksa kata. Dan saya
meminjam untaian indah peredam gemuruh dada, yang dilafadzkan Hasan Bin Tsabit,
salah seorang sahabat penyair dari masa mu:

Engkau adalah ke dua biji mata ini


Dengan kepergianmu yang anggun,
Aku seketika menjelma menjadi seorang buta
Yang tak perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati mengikutimu
Biarlah ia pergi menemui ajalnya,
Dan Aku,
Hanya risau dan haru dengan kepergian terindah mu

Sahabat, kenanglah Nabi Muhammad Saw, meski dalam kelengangan yang sempurna,
agar hal ini menjadi obat ajaib, penawar dan penyembuh kegersangan hati yang kerap
berkunjung. Agar, di akhirat kelak, dengan agung Nabi memanggil semua manusia yang
senantiasa merindukan dan mencintainya. Adakah yang paling mempesona dihadapanmu,
ketika suara suci Nabi menyapamu anggun, menjumpaimu dengan paras yang tak pernah
kau mampu bayangkan sebelumnya. Adakah yang paling membahagiakan di kedalaman
hatimu, ketika sesosok yang paling kau cinta sepenuh jiwa dan raga, berada nyata di
dekatmu dan menemuimu dengan senyuman yang paling manis menembusi relung kalbu.
Dan adakah di dunia ini yang paling menerbangkan perasaanmu ke angkasa, ketika
jemari terkasih menggapaimu untuk memberikan naungan perlindungan dari siksa pedih
azab neraka. Adakah sahabat???

Jika saat ini ada yang bening di kedua sudut kelopak matamu, berbahagialah, karena
mudah-mudahan ini sebuah pertanda. Pertanda cinta tak bermuara. Dan, ketika kau tak
dapati air mata saat ini, kau sungguh mampu menyimpan cinta itu di dasar hatimu.

Salam saya, untuk semua sahabat. Mari bersama bergenggaman, saling mengingatkan,
saling memberikan keindahan ukhuwah yang telah Rasulullah tercinta ajarkan. Mari
Sahabat!

Husnul R Mubarikah
mahabbah12@yahoo.com

Bapak Tua Itu ...

Publikasi: 26/08/2003 09:53 WIB


eramuslim - Jalanan Jakarta seperti biasa, panas dan berdebu, walau pagi ini belum juga
beranjak menjadi siang. Aku nyalakan tape dan AC di mobilku, sambil bernyanyi-nyanyi
kecil untuk menghilangkan kejenuhan, karena jalan menuju kantor seperti pagi-pagi
lainnya, penuh dan macet. Ternyata nyanyian itu tidak membuat hatiku menjadi tenang.
Batinku merasa lelah, hatiku mengeluh. Jenuhnya aku dengan suasana rutinitasku sehari-
hari, belum lagi urusan kantor yang tidak ada habis-habisnya. Sampai-sampai aku sendiri
tidak menikmati lagi apa yang dulu menjadi kenikmatan tersendiri, bekerja di kantorku.

Di tengah kemacetan, tiba-tiba kaca mobilku diketuk oleh seorang tua dengan matanya
yang sayu. Dia tersenyum padaku dan menawarkan makanan kecil yang dijualnya.
“Neng, lima ratus per bungkus Neng.” ujarnya. Tanpa pikir panjang apakah aku suka
dengan makanan yang dijualnya aku menjawab “Ya sudah Pak, beli 10 ya.”. Matanya
berbinar-binar senang. “Alhamdulillah Neng, penglaris”. Subhanallah betapa senangnya
aku melihat bapak tua itu tersenyum bahagia sekaligus mensyukuri rizkinya. Betapa
indahnya berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Rasanya pagi itu yang serba
membosankan berubah menjadi pagi yang indah untukku.

Astaghfirullaahal’azhim…. Rabb baik sekali memberikan kesempatan kepadaku untuk


langsung berkaca pada diriku sendiri. Aku yang lebih beruntung dari Bapak tua itu, yang
dapat duduk enak di kantor yang dingin, masih mengeluh atas kejenuhanku. Kalau saja
mataku lebih terbuka, banyak orang-orang yang lebih tidak beruntung, tetapi mereka
mencari nafkah dengan gembira, mensyukuri rizki yang diberikan Allah kepada mereka,
sedikit apapun. Bapak tua itu, contohnya. Mungkin keuntungan dari penjualan makanan
kecil yang diasongnya hanya mampu untuk menghidupinya hari itu, untuk esok, beliau
harus bergulat dengan kerasnya Jakarta, begitu tiap harinya. Ya Allah, semoga Bapak tua
dan orang-orang lain yang kurang beruntung diberi keikhlasan dalam menjalani hidup
mereka, berikan mereka nikmat syukur dan nikmat rizki-Mu, berikan mereka ketabahan,
tunjukkan mereka selalu jalan menuju istiqamah, Ya Allah, tolong kabulkan, hanya do'a
yang dapat aku berikan untuk menolong mereka.

Maharani Arrahman

maha_rid@yahoo.com

Hanya Ingin Jadi Orang Baik

Publikasi: 25/08/2003 09:36 WIB


eramuslim - Hari ini aku lelah fisik dan batin. Seharian tadi aku melangkahkan kaki
untuk mencari barisan kata penyampai fakta. Tak mudah. Aku harus berlari, berkejaran
dengan waktu dan debu. Aku harus berlomba, beradu dengan manusia, sekedar untuk
mendapat rangkaian kalimat yang keluar dari mulut sang pejabat. Sekedar meminta
ucapan dari sekumpulan orang yang mengaku orang baik. Padahal, sejarah memaparkan,
sebagian mereka adalah pembual. Pembual besar.

Kadang aku harus sedikit merayu dan memaksa. Bukan apa-apa, tanpa rayu dan paksaan,
ada narasumberku yang enggan membuka mulutnya. Padahal dari kalimatnya lah aku
mendapat upah. Padahal dari ceritanya lah aku mendapat penghargaan. Sekedar ucapan,
“berita kamu bagus.”

Tak jarang aku harus berpura-pura iba, mengumbar senyum dan seolah ikut merasai
mereka yang memikul duka. Padahal kutahu luka mereka bukan sembarang luka. Luka
mereka adalah luka teramat dalam yang tak akan pernah hilang. Luka yang tak pernah
kering oleh panasnya matahari. Luka yang tak pernah bisa diterbangkan oleh angin.

Namun aku malah memaksanya kembali mengingat dan memaparkan lukanya. Tanpa
hatiku memaknai, merasakan lukanya. Tanpa tanganku menawarkan, melingkarkan
sebuah pelukan, memberikan sedikit rasa nyaman. Lagi-lagi demi sebuah pujian, demi
sebuah kekaguman.

Pernah aku dihadapkan pada pilihan. Saat aku harus memutuskan satu saja dari dua. Saat
kulihat luka menganga disekitarku, aku harus memilih. Mencoba mengobati luka mereka
sesegera atau mendahulukan membuat cerita dari luka itu. Dan aku memilih mendapat
acungan jempol, karena cerita ku memampangkan luka itu.

Seringkali aku memaksa membuka memori mereka. Kenangan yang tak ingin dibuka.
Dan aku memaksanya membuka atau memaksaku membukanya. Tanpa seijin
pemiliknya, tanpa merasai akibatnya. Dan itu demi sebuah cerita. Cerita yang membuatku
dikejar kalimat berbunga.
Waktu lalu, aku juga pernah menjual kata-kata manis. Seolah aku adalah peri yang bisa
membantu si kecil. Padahal tak lain itu adalah bagian dari strategi. Berpura-pura simpati.
Kepura-puraan untuk mulusnya penyusunan sebuah kisah. Kisah sejati dan mengharukan.
Demi tetesan air mata pendengar cerita. Indikator keberhasilan penyajian cerita duka.

Pernah aku menatap bencana dengan datar. Karena itu bukan bencanaku. Bencana itu
milik tokoh dalam kisahku. Aku hanya sekedar menyampaikan bencana itu dengan kata-
kata haru. Tambahan pemanis disana-sini. Menuntun si tokoh untuk berekspresi sesuai
dengan skenarioku.

Seolah itu adalah fiksi, bukan nyata. Tak perlu dimaknai, tak perlu dihargai. Hanya
dibungkus. Untuk santapan mata dan kuping sekumpulan orang yang dinamakan
penonton. Penonton cerita. Makin banyak mereka, makin baguslah aku.

Tapi, hari ini aku lelah.

Hari ini, aku tiba-tiba saja ingin merenung. Merenungi makna hidupku, merasai peranku
dalam perjalanan sang waktu. Kali ini aku merasa tak lagi berhati. Kali ini di kepalaku
hanya ada obsesi. Obsesi dihargai manusia dan diimbali deretan angka di rekeningku
setiap bulan berganti.

Hari ini aku hanya ingin mengingat. Merindui masa saat aku bercita sederhana. Menjadi
orang baik. Orang yang memberi arti bagi orang lain. Tak pernah melukai, meski setitik.
Tak pernah menyakiti, meski senoktah.

Padahal aku tak pernah ingin berpura-pura dalam hidupku. Aku ingin menjadi aku.
Dengan idealismeku dulu. Menyampaikan apa yang perlu kusampaikan. Tak perlu
menyampaikan kepalsuan. Aku ingin menyampaikan kebenaran. Jika kepalsuan itu harus
disampaikan, semata untuk membuat si palsu terkuak. Aku ingin menjadi orang baik.

Padahal aku ingin, dengan peranku aku memberi secercah harap. Seberkas asa. Bagi
mereka, Tuhan. Mereka yang dihempas duka, mereka yang terluka, mereka yang
menahan jerit. Meski sekedar uluran tangan. Pelukan seorang saudara. Sekedar
menenangkan. Meski hanya sementara. Menjadi orang baik.

Padahal, dengan peranku, aku bisa tulus berbagi dengan mereka. Membiarkan mereka
membagi luka, memberi sedikit kehangatan. Dengan ikhlasku, dengan kerelaanku.
Sebagai saudara, sebagai teman, sebagai tempat berbagi. Menjadi orang baik.

Padahal dengan peranku, aku tak usah berpura-pura. Aku bisa lebih memaknai senyumku
untuk menghadiahkan sedikit bahagia dihati mereka. Dengan simpati yang tak lagi palsu.
Sebenar-benarnya simpati.

Padahal dengan peranku, dengan kelurusan niatku, aku ingin membuat cerita-ceritaku
bermakna. Membuat kisah-kisah dari tanganku dapat merubah dunia. Membuat manusia
lain lebih merasa dan berterimakasih atas takdir mereka yang lebih. Membuat mereka
berlomba menjadi orang baik.

Padahal dengan peranku, aku bisa mengungkap dusta dan mengusir si durjana. Dengan
keteguhan dan keberanianku, aku bisa menghapus kotoran-kotoran dunia. Menuntut
mereka untuk menjadi orang baik.

Wahai Penguasa Dunia, Penguasa Diriku…..

Ampuni aku yang telah menutup hati dan mengebalkan rasa. Ampuni aku yang tidak
memaknai peranku. Aku mencintai peranku, Yang Maha Perkasa. Aku ingin lelah fisik
dan batinku memberi arti, hanya bagiMu, Penulis Skenario sesungguhnya, bukan sekedar
kekaguman para ciptaanmu.

Penguasaku, luruskan langkahku. Untuk menjadi ciptaanmu yang tak sia-sia. Yang tak
terlupa oleh kecantikan fana. Yang tak membuat peranku, amanahMu, mengantarku pada
amarahMu. Yang selalu diingatkan untuk menjadi orang baik. Seperti cita sederhanaku
dulu.

Raja Dunia, tetapkan niatku untuk memaknai setiap detik peranku. Merasainya,
menikmatinya, mensyukurinya sebagai sebuah kepercayaan-Mu padaku. Kuatkan aku
untuk melangkahkan kakiku dan menghargai keringatku dengan harapan hanya balasan-
Mu. Menjadi orang baik.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah
padaKu.” (Adz Dzariyaat:56)

Ami Ruchjat
amiruchjat@yahoo.com

Aku Memanggil Kalian...,

Publikasi: 21/08/2003 11:57 WIB


Berkali-kali aku memanggilnya,
Berkali-kali aku menyebutnya,
Berkali-kali
Berkali-kali
Muhammad,
Ya Muhammad,
Sang Kekasih
Rahasia Cinta
Ruh Kasih
(Emha Ainun Nadjib)

eramuslim - Sahabat, apa kabar semuanya? Mudah-mudahan engkau diberikan limpahan


kasih sayang Nya yang tak berhingga. Aamiin. Saya ingin meminjam waktumu sebentar.
Ada seseorang yang ingin bertutur kepada kita. Ada seseorang yang ingin mengisahkan
selaksa kehidupan yang mungkin sering kita dengar. Beginilah lantunannya. Simak baik-
baik ya… Mudah-mudahan bermanfaat.

Bismillah, Assalamu’alaikum….

Perkenalkan!
Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu
nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di
sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan
sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya.
Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli
pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan
perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun
yang disukainya.

Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani
majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan
nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku
selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu
menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan
akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya.
Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan
belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera
menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah
seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali.
Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad... ahad”.
Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat,
seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah
minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi
Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh,
namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin
mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku
cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua
sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat
muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh
cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi
rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi
saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu
tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh
badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran
sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan
hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu
bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak,
orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”,
demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk
dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa
terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian
istimewa.

Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah
Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya
melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan
ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika
terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang
sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah
merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah
berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas,
mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku
inginkan selain hal ini.

Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga
dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini
dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras
membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji
hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia,
hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima
kasih. Tentu saja kami melambung.

Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada
yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim
dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan
berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk
memanggil orang-orang.

“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.


“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“Jika terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”

Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-
pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu
muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai
suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-
malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin
menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih
pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.

“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk
berdoa...” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan
memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru
manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.

Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa,
lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk
memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di
sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya,
apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta.
“Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau
persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin
tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus
duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar
tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada
senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.

Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak
kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu”
Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n
Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku
kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam
lama.

Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat,


menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar
dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-
wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar
di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon
petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “
Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan
memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku
berseru :

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar


Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Mencapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.

Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama
Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong
begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku,
ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”.

Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin
pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan
dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk
shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah,
telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku
akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

Hingga suatu saat,

Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama
Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah
kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur
yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata
ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii…
ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi
memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai
kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan
shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh,
betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi
mendatanginya.

Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat
ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi
ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan
sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh
namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun,
adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia
pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami
kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian… memanggil kalian dengan cinta. Jika
kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia
pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil
kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan
shalat.

Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.

Wassalamu’alaikum

***

Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang
memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah,
hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat
sebuah kata mutiara yang dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD
“Husnul, shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika
direnungkan dalam-dalam.

Husnul Rizka Mubarikah


mahabbah12@yahoo.com

Mengangkasa Sendiri

Publikasi: 20/08/2003 08:15 WIB


eramuslim - Malam belum larut saat sebuah cahaya lemah bergerak. Sebuah bintang
kecil melaju tenang membelah langit malam. Melewati deretan bintang lain yang terpaku.
Pelan tapi pasti ia bergerak. Gerakan yang terlihat pelan dalam keanggunannya, meski
dalam perhitungan matematik bisa jadi lebih cepat dari Titanic sekalipun.

Sungguh kekuatan yang luar biasa yang mampu mengerek bintang “kecil” di angkasa
yang luas. Sumber energi yang tiada pernah habis. Tenaga yang tak akan lekang dan
berkurang. Allah lah pemilik energi itu. Bintang yang terlihat sebagai berkas cahaya kecil
dianugerahi Allah energi untuk berpindah. Dan tanpa membantah ia pun patuh. Ia hijrah
dari tempatnya semula menuju tempat lain yang asing. Meski ia tak tahu harus berhenti
dimana, tapi itu tak menyurutkan langkahnya. Dengan ketaatan penuh ia melaju hingga
berkas cahayanya menghilang di kerimbunan dedaunan. Ketaatan penuh sebagai seorang
hamba.

Hamba Allah lainnya tercatat pernah melakukan perjalanan yang sama. Ibrahim alaihi
salam pernah melakukan perjalanan amat panjang bersama Luth alaihi salam dan Sarah,
istrinya. Mereka menyusuri gurun tandus yang membentang luas di tepi Asia hingga
Afrika. Melintasi perbatasan Yerusalem, Syiria, Mekah, hingga ke Mesir. Terselimuti
debu padang pasir dan terjangan terik mentari yang menyengat. Namun dengan teguh
mereka patuh. Berbagi suka dan duka bersama tiupan angin gurun.

Semangat yang luar biasa. Tercelup keimanan kental menghapus segala rintangan
menjadi jalan meraih cinta Illahi. Banyak sudah peristiwa yang terjadi. Bentuk-bentuk
ketaatan yang tercermin pada pribadi mempesona. Penuh pelajaran. Bagai cermin tempat
memandang dan menilai diri sendiri. Hijrahnya Ibrahim as diteruskan hingga Utsman bin
Affan ra contoh nyata akan jiwa-jiwa yang tersibghoh keimanan kepada Allah. Allah
pemilik segala kuasa. Maha Penyantun. Sebaik-baik pemberi rizki. Kepada-Nyalah segala
bentuk ketaatan dipersembahkan. Apapun yang kita alami adalah skenario dari Nya. Baik
itu sesuatu yang baik ataupun yang buruk dalam pandangan kita. Yakinlah selalu tak ada
yang sia-sia. Ada hikmah di setiap peristiwa. Tak ada satupun yang terlewati. Karena tak
ada pemberi balasan yang paling baik selain Allah. Dia-lah yang memiliki alam ini
sendirian. Dan sesungguhnya karena Dia pulalah yang mengangkasa sendiri.

Yupik Astuti
najwasaja@yahoo.com

Khalilie, Yang Tersendiri

Publikasi: 19/08/2003 07:41 WIB


Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.
(Azimah Rahayu)

eramuslim - Lembah Ar-Ra’badzah senyap. Deru angin hanya terdengar dari jauh.
Debu-debu menari dikeheningannya. Lengang berkelindan sejak tadi. Sayup terdengar
isak pedih anak manusia. Seorang perempuan ternyata. Kedua kelopak matanya terlihat
lelah, pelupuknya tergenang oleh bening saripati duka. Sungguh tubuhnya kerontang
seperti sahara, berbalut ghamis yang hitamnya telah memudar. Ia terus berdesis, menahan
sedu sedan dalam rongga dada. Sosok yang berbaring di hadapannya kini bergerak,
digapainya tangan perempuan itu lembut. Perlahan paraunya terdengar “Istriku,
mengapakah engkau menangis, sedang kematian pasti kan menjelang”. Sunyi beberapa
saat. “Suamiku, aku tahu engkau sekarat, bukan hal ini yang membuat lara begitu berat”
nafas sang istri tertahan. “Aku tidak mempunyai kain untuk mengkafani engkau” isak
sang istri kembali terdengar.

“Tenanglah perempuan penyabar, aku pernah mendengar Kekasih Allah bersabda


diantara para sahabat “Salah seorang dari kalian akan wafat di padang pasir dan
disaksikan oleh beberapa orang mukmin”, Semua yang duduk disana sudah meninggal,
kecuali si lemah ini. Insya Allah beberapa orang mukmin akan segera datang. Demi
Allah, aku tidak bohong dan tidak dibohongi” paparnya. Nafasnya satu-satu terhembus
berat. Senyap kembali hinggap.
Benar saja, derap langkah kabilah samar mulai terdengar. Titik-titik hitam dari kejauhan
perlahan mendekat, kepulan debu membumbung. Banyak sosok manusia mengarah ke
tempat itu, mereka adalah kabilah yang dipimpin Abdullah Ibnu Mas’ud salah seorang
sahabat Nabi yang Mulia. Keharuan menyeruak seketika, mereka menyadari sosok yang
sedang sekarat itu, dialah Abu Dzar Al Ghiffary. Abu Dzar wafat dalam keheningan,
disaksikan beberapa mukmin. Seseorang berujar lirih “Rasulullah benar, kamu akan
berjalan seorang diri, wafat seorang diri dan dibangkitkan masih saja seorang diri”.

Waktu seperti berlari kembali ke masa Rasulullah. Simak baik-baik:

Tabuk. Sebuah tempat yang sangat jauh dari Madinah, di sinilah pasukan Romawi
dengan sekian banyak artileri hebatnya berkumpul, bersiap menyerang perbatasan tanah
Arab sebelah utara. Berita ini tentu saja menggelisahkan sang Nabi. Rasulullah menyuruh
kaum muslimin untuk menahan serangan ganasnya pasukan Romawi, di tabuk. Itulah
mengapa peperangan yang terjadi, digoreskan sejarah sebagai perang tabuk.

Ketika itu, musim panas belum berakhir. Teriknya menggentarkan setiap manusia yang
akan bepergian merajut sahara. Saat-saat seperti ini membuat semua kepala harus berfikir
berulang kali untuk menempuh lautan pasir yang butiran jelitanya siap membakar. Maka
ketika Rasul pilihan menabuhkan genderang ajakan kepada kaum Muslimin untuk maju
berjihad ke Tabuk sebagai upaya menahan serangan Romawi, Muslim terbagi menjadi
dua golongan. Yang pertama menyambut seruan dengan hati bersemarak cahaya,
sedangkan lainnya berberat langkah, mencari-cari alasan dan meniupkan kekhawatiran
pada para sahabat bahwa pertempuran sungguh akan berat.

Pada saat pemberangkatan pasukan, debu-debu mengepul menari di udara, suara


ringkikan kuda menyambangi setiap telinga. Para wanita Madinah melepas kepergian
mereka dengan tengadah jemari kepada yang Maha Perkasa. Dan, diantara para
pemberani itu, adalah Abu Dzar yang menunggangi seekor keledai tua. Selanjutnya
Rasulullah dan pasukannya semakin jauh berbahtera. Lapar dan dahaga belumlah
seberapa dibandingkan dengan panas bara tandus sahara. Banyak dari para sahabat yang
akhirnya tercecer dibelakang rombongan. Setiap itu pula laporan kepada Rasulullah
menggema: “Wahai Rasul, Fulan telah tertinggal”

“Biarkanlah, andai ia berguna, Allah akan menyusulkannya kepada kita” ujar Nabi
pendek. Dan barisan terus maju menyusuri lembah demi lembah.

Hingga pada suatu saat, Abu Dzar sedikit demi sedikit juga tertinggal. Keledainya
semakin tak bertenaga melangkah. Di halaunya keledai kuat-kuat, namun tunggangan itu
semakin diam. Akhirnya Abu Dzar pun turun dan memutuskan menyusul para pemberani
dengan berjalan kaki. Ia berlari membelah padang pasir, namun tak didapatinya
rombongan. Ia terus berpacu dengan kerinduan membela Islam bersama manusia yang
dicinta, Al Musthafa. Sungguh sebuah usaha yang tidak mudah, menelusuri jejak-jejak
yang telah terhapus pasir yang diterbangkan angin. Namun, karena jatuh cintanya kepada
gemerlap keridhaan Allah lah yang membuatnya tidak berhenti. Para sahabat yang
menyadari kehilangan Abu Dzar segera melaporkannya kepada Nabi. Dan jawaban sama
seperti semula tetap terlontar.

Hingga akhirnya, usaha Abu Dzar tidak sia-sia. Para sahabat yang melihat titik hitam
bergerak cepat mengarah kepada mereka berseru memberi tahu Nabi. “Ya Rasul Allah,
ada seorang musafir berjalan seorang diri”. Rasulullah memandang ke kejauhan dan
berujar gembira “Mudah-mudahan itu Abu Dzar”. Benar saja, sesosok manusia bermandi
peluh itu tiada lain adalah Abu Dzar. Banyak dari mereka yang terpesona, dan
menyenandungkan pujian diam-diam. Saat itulah dari bibir manis kekasih Allah terpetik
sebuah sabda: “ Semoga Allah, meluapkan limpahan rahmatNya kepada Abu Dzar. Ia
berjalan seorang diri, meninggal seorang diri dan dibangkitkan jua seorang diri…”.

***

Dari sejarah kita tahu, pada saat mendatangi Makkah, Abu Dzar menghadap Nabi
seorang diri untuk bersyahadat. Dalam lembaran sejarah selanjutnya beliau adalah salah
satu sahabat terdekat dan dimesrai Nabi begitu tinggi. Berbeda dengan sahabat yang lain,
Ia memanggil anggun kekasih Allah dengan sebutan khalilie (Sahabatku yang akrab),
hingga Rasul pilihan juga memanggilnya demikian. Kemilau kecintaan Abu Dzar kepada
Nabi begitu benderang. Kristal kerinduannya kepada Kekasih Allah selalu saja jelita.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan pada sebuah kesempatan Nabi mengajaknya berjalan-
jalan ke luar kota dengan mengendarai unta. Abu Dzar diperintahkan Nabi untuk duduk
dibelakangnya. Berlinang air mata Abu Dzar menerima kehormatan ini, gemetar
menahan haru Abu Dzar menaiki unta dan menurutnya apakah yang paling
membahagiakan selain berdekatan dengan kekasih yang dicinta. Abu Dzar merasa paling
beruntung di seluruh semesta. Berboncengan mereka berkendara, dan terlihatlah
keakraban yang mempesona. Pada saat-saat seperti itu, Abu Dzar mereguk langsung mata
air hikmah dan nasehat yang disabdakan Al-Musthafa. Banyak kuntum-kuntum pesan
yang selalu saja semerbak di hati Abu Dzar, meski Nabi sudah telah lama wafat. Salah
satunya adalah untuk selalu hidup bersahaja dan mencintai kaum fakir miskin. Itulah
mengapa dibeberapa sumber sejarah ia dikenal sebagai Bapak kaum fakir miskin dan
Bapak sosialis Islam.

Pada masa kekhalifahan Ustman, ia beroposisi karena menurutnya pemerintahan saat itu
terlalu royal dengan uang negara untuk kepentingan para penguasa dan keluarganya. Ia
sendirian begitu berani mendengungkan peringatan kepada para penguasa untuk tidak
menumpuk-numpuk harta. Ia selalu terkenang sosok-sosok penguasa yang dicintanya.
Sang purnama Madinah, Rasulullah, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi, wafat dalam
keadaan baju besi perangnya masih tergadai. Ia merindui sosok pemurah dan berhati
lembut, Abu Bakar, yang berwasiat untuk dikafani dengan kain paling sederhana, Siti
Aisyah yang memprotesnya mendengar jawaban indah “Anakku, kafan hanya untuk
nanah dan tanah”. Dan kenangannya beralih pada Umar, khalifah kedua ini pernah
kulitnya menghitam karena selalu menyantap minyak zaitun dan sedikit roti sebagai bukti
tulus kesayangannya kepada rakyat.
Abu Dzar Al-Ghiffary memulai usahanya di Syiria yang di Gubernuri Muawiyah bin Abi
Sofyan. Di sana beliau mendengungkan begitu nyaring satu peringatan untuk para
penguasa pencinta kemewahan dunia: “Beritahukan kepada mereka para penumpuk emas
dan perak, bahwa harta yang mereka banggakan, akan segera menyetrikanya dalam
neraka”. Perkataan Abu Dzar bergaung dimana-mana. Melihat hal ini, Muawiyah
memprediksikan akan terjadi pemberontakan dari rakyat yang sangat membahayakan
posisinya. Untuk menghindari bahaya ini, Muawiyah menulis surat kepada Khalifah
Ustman. Dan Abu Dzar pun dipanggil pulang ke Madinah.

Di Madinah, Abu Dzar betemu sahabatnya Ustman bin Affan yang menjadi Khalifah
yang dihormatinya. Mereka berdiskusi dalam sebuah suasana yang lengang. Ustman
sangat menyadari bahwa Abu Dzar merupakan seorang yang sangat sederhana dan
bersahaja. Ustman menawarinya untuk tinggal disisinya, seperti dugaan sebelumnya Abu
Dzar dengan tegas menolaknya. Dan selanjutnya Abu Dzar menyatakan keinginannya
yaitu memilih pergi menuju sebuah tempat sunyi. Lembah Ar-Rabadzah.

Melihat perjuangannya membumbungkan Islam ke cakrawala terindah dengan ketajaman


lidahnya al-Musthafa menyanjungnya dengan “Di bawah langit, tidak akan pernah
muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”.

***

Sahabat, ketika dunia begitu enteng engkau dapatkan, kenanglah ksatria ini, hingga
mudah-mudahan engkau dengan mudah melihat ke bawah, para anak yatim yang terlunta
di jalanan, janda-janda tua di Aceh sana, atau mereka yang sudah tak sanggup lagi
menjumpai nasi. Ketika engkau, wahai sahabat, menjadi si beruntung karena dikaruniai
Allah rezeki yang lapang, ingatlah sosok bersahaja Abu Dzar, hingga mudah-mudahan,
kedermawanan menjadi pakaian kemuliaan. Dan mereka yang tak seberuntung dirimu
menyunggingkan senyum kesyukuran atas derma yang kau ulurkan.

Dan sahabat, semoga Allah yang maha Asih, selalu membimbing hati-hati ini meneladani
denyar cahaya para ksatria. Allahumma Aamiin.

Husnul RM

mahabbah12@yahoo.com

Berani Hidup

Publikasi: 13/08/2003 10:33 WIB


eramuslim - Aktivitas harian kadang menghadirkan rasa bosan sampai ke tingkat jenuh.
Badan malas bergerak dan otak jadi malas mikir. Sangat tidak produktif! Yah, hari itu
giliran saya mengalami entah untuk yang keberapa kalinya. Walau telah banyak buku
teori yang dibaca sebagai penangkal, masih saja gagal.

Bermalas-malasan menjadi satu-satunya pilihan sambil berusaha merangkai khayalan


yang indah tentang segala obsesi yang belum tercapai. Silih berganti dengan berandai-
andai yang tanpa sadar membawa kepada rasa putus asa, "andai saja…" dan sederet rasa
penyesalan yang tak kunjung usai. (Jauh sekali dari ummat dambaan Rasulullah: seorang
mukmin yang kuat).

Kuasa Allah mengalihkan khayalan itu jadi sebuah perenungan yang panjang. Suara hati
berebutan dalam proses penyadaran.

"Kamu Pengecut, kamu tidak berani hidup! Orang yang berani hidup akan memanfaatkan
waktu sebaik-baiknya, karena hidup yang sekarang hanyalah sementara. Dia takkan
menyia-nyiakannya, dia ingin hidup bahagia selamanya disamping Rabbul Izzati”

“Bukankah kamu pernah membaca? Rasulullah bersabda “dunia adalah sebaik-baik


kendaraan menuju akhirat". Dengan caramu sekarang, jangan harap deh kamu bisa
menghasilkan yang terbaik".

"Wake up donk! Atau kamu ingin bergabung bersama mereka yang bunuh diri hingga
kamu tidak perlu lagi capek di hari esok atau kamu akan biarkan syarafmu tegang terus
jadi tidak berfungsi hingga esok hari tidak usah berpikir lagi?”.

“Allah kuasa memberi peringatan dalam bentuk apapun. Kenapa harus menunggu
peringatan itu datang kalau akal sehat masih mampu memperbaiki kesalahan yang
terjadi? Menurut berita terbaru, 3 dari 1000 orang di Indonesia sakit jiwa. Kamu ingin
menambah panjang daftar itu?”

Na’udzubillaahi min dzalik. Saya sadar... kemalasan telah 'mengecilkan' keberadaan Sang
Khalik yang telah mempersembahkan semua yang terbaik untuk hamba-Nya. Awan
beraneka rupa, tak pernah sama dari hari ke hari. Dihadirkan-Nya duka agar saya bisa
merasakan indahnya bahagia, dihadiahi-Nya rasa gagal agar saya bisa memanjatkan
syukur yang tak berhingga ketika berhasil. Sayalah yang menjadikan hidup terasa
menjemukan. Astaghfirullahal’adziim. Sesungguhnya Allah tidak pernah zalim kepada
hamba-hambaNya. Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazhaalimin.

Ya, segala hal yang bersifat manusiawi selalu bisa jadi alasan hingga kita permisif dalam
menyikapi kemalasan dan kejenuhan. Bukan berarti, kita harus memaksakan diri dalam
melakukan suatu pekerjaan. Bukan! Masih banyak alternatif lain untuk menjadikan hidup
bermakna. Hobi tidak pernah mendatangkan rasa jenuh bukan? Namanya juga hobi –hal-
hal yang disukai dan disenangi. Bagi yang hobi memasak, segera bangkit dari tempat
tidur, masak makanan terbaik dan suguhkan untuk keluarga tercinta. Bagi yang hobi
jalan-jalan, simaklah keagungan ciptaan-Nya dan ajaklah anak yatim, bahagiakan hati
mereka. Percayalah, kebahagiaan itu menular! Bagi yang hobi membaca, bacalah
sebanyak-banyaknya buku, cari hikmahnya dan ceritakan kepada yang lain. Tanpa
disadari, kita sudah berdakwah. Atau langkahkan kaki ke rumah sahabat lama, guru atau
orang yang pernah menyakiti kita sekalipun. Yakinlah, silaturahmi bisa merubah suasana
hati. Dan jika memang terlalu lelah, berdzikirlah dalam diam... rasakan bahwa Dia begitu
dekat... dekaaaat sekali...

Ah, ternyata dunia ini sungguh indah. Kunci menghilangkan rasa jenuh, ternyata sangat
sederhana: BERGERAK! Hingga kita akhirnya hanya punya dua pilihan: ingin hidup
seratus tahun lagi untuk berkarya atau ingin mati besok karena kita yakin hidup kita
selama ini telah mengantongi cukup bekal dalam menyongsong kehidupan hakiki di
surga-Nya. BERANI HIDUP!!! Wallaahu 'a'lam.

farah_adibah@yahoo.com

Membincang Tentang Sumur, Danau dan Laut

Publikasi: 08/08/2003 09:08 WIB


eramuslim - Analisa Sederhana Sastra Islam dan Religius

Agaknya, boleh dibilang saya terlalu berani jika mengajak membincang tentang definisi
Sastra Islam v.s. Sastra Religius. Pembaca yang saya hormati, saya tidak sedang –istilah
Jawanya-- keminter dengan memberanikan diri menghidangkannya di meja untuk kita
perbincangkan, kita rasakan... dan kita nikmati. Barangkali –kalau mungkin--, atas
hidangan itu kita bisa menuliskan komponen-komponennya atau malah resepnya
sekalian. Ya, siapa tahu....

Kalaupun saat ini saya berani, itu tak lebih saya berangkatkan dari seringnya hal ini
dipertanyakan dalam forusm-forum kepenulisan. Pun, kalau kemudian saya
membincangkannya, bukanlah dalam arti saya hendak menawarkan batasan tentang sastra
Islam ataupun sastra religius –atau apalah yang lain...—sebab saya sama sekali bukan
orang yang tepat untuk merumuskan.

Di sini, saya hanya hendak sedikit berkesah sekaligus mengajak Anda –pembaca—
mengarifi sastra dan korelasinya terhadap dakwah. Mudah-mudahan bukan menjadi tema
basi yang berusaha untuk diutak-atik lagi.

Beberapa saat lalu, utamanya dalam konteks wawasan saya yang sederhana ini, muncul
dua kosa kata baru, yakni sastra religius dan sastra Islami. Entah mengapa, dalam sebuah
session dialog di sebuah forum kepenulisan –forum FLP—oleh seorang audiens, dua hal
ini seperti dipertentangkan.

“Seperti apakah batasan sastra Islami itu? Apakah dia merupakan bentuk eksklusifisme
Islam dalam wilayah sastra religius?”

Duh, mendengar pertanyaan dengan bahasa keriting begitu, kening saya ikut keriting.
Maklum, saya tak begitu akrab dengan bahasa-bahsa rumit semacam ini. Cuma, sekilas
tadi kok saya merasa dua hal tersebut seperti dipersaingkan dan berebut daerah
kekuasaan... begitu.

Yang saya bicarakan ini masih ada kaitannya dengan verbalisasi pesan dan universal
yang saya perbincangkan pada sub judul yang lain. Jujur, kali ini saya agak susah
memulai perbincangan.

Paling tidak, sepenangkapan saya, ada beberapa kalangan yang merasa khawatir jika
pesan-pesan verbal dalam sastra Islami diganti dengan yang lebih cair dan humanis, maka
akan timbul kerancuan antara sastra Islam dan sastra religius.

Oya, sebelum agak jauh, saya sekadar ingin mengingatkan Anda pada ‘pendapat saya’
sebelumnya bahwa mengutip ayat Al Quran atau kalimat-kalimat thayyibah lainnya
bukan suatu kemutlakan dalam sastra Islam. Menurut saya, islami atau tidaknya sebuah
karya sastra tidak terletak pada dicantumkan atau tidaknya kalimat-kalimat thayyibah
tersebut.

Saya memang menyesalkan kecenderungan penulis ‘Islami’ kita (baca FLP) terutama
yang sebelumnya dibesarkan oleh media non-Annida (and her or his gang), merasa
cerpennya telah Islami dengan mencantumkan kata “Assalamu'alaikum,” “Allahu
Akbar,” dan sebagainya, akan tetapi tema ceritanya justru mengajak pada sesuatu yang
tidak Islami. Mereka telah cukup merasa islami dengan mencantumkan ayat-ayat tersebut
namun mengabaikan sisi pesan dan isi.

Sebagai contoh, saya pernah menemukan sebuah novel yang diusulkan penerbitannya ke
Syaamil, bercerita tentang dua orang (pemuda dan pemudi) yang bertemu untuk (maaf)
pacaran, masing-masing mereka mengucap salam terlebih dahulu. Ini benar-benar
kejadian, lho. Ada pula yang mengirim foto close up setan (?) berikut fiksi tentangnya
yang disertai kutipan ayat dan hadits... tetapi pesan di dalamnya justru berisi tentang
khurafat dan takhayul yang membahayakan akidah umat.

Dalam konteks yang lain, bolehlah kita ingat bahwa banyak jampi-jampi dan perdukunan
memakai tulisan Arab sebagai jimat, tak jarang malah ayat-ayat Al Quran dan shalawat
untuk Rasulullah. Ayat Al Quran itu (sepanjang tidak diubah-ubah, dicampur aduk,
dipotong sana sambung sini, atau dibaca terbalik) tetaplah ayat Allah yang padanya
terletak kebenaran. Yang salah itu adalah amalannya. Membaca Yasiin pada malam
Jumat, sampai kapan pun, Yasin bukanlah surat bid’ah. Ia bagian dari Al Quran. Tapi
mengkhususkan pada malam jumatnya itu yang bid’ah.

Entahlah, tiba-tiba saya teringat pada buku “Roman Sejarah: Muhammad Sang
Pembebas.” Buku yang ditulis dengan gaya roman dan berkisah tentang seorang lelaki
bernama Muhammad putra Abdullah ini tidak lain adalah penulisan ulang terhadap Sirah
Nabawiyah. Akan tetapi, dalam buku yang cukup tebal dengan font mungil-mungil itu,
tak akan ditemukan satu pun ayat Al Quran maupun hadits. Bahkan tidak sekalipun
penulis menyebut Muhammad bin Abdullah dengan Rasulullah, atau mendeskripsikan
tentang penurunan wahyu Al Quran dari Jibril kepadanya.
Dalam kata pengantar buku tersebut, penulis menyebut alasan dari gaya tulisnya yang
demikian adalah untuk memperluas spektrum pengaruh. Penulis buku tersebut berharap
pembacanya akan menerima kebenaran Islam melalui proses nalar dan logika. Yakni
bahwa apa yang bisa dicapai oleh Muhammad pasti juga bisa dicapai oleh setiap yang
bernama ‘manusia.’ Penulis juga berharap pembacanya yang nonmuslim tidak perlu
merasa terbatasi dari tokoh dalam buku tersebut karena di dalamnya dicantumkan ayat
(sesuatu yang --mungkin-- bertentangan dengan keyakinan mereka) dimana akan
merangsang tumbuhnya sikap apriori, sentimen pribadi, dan membatasinya dari interaksi
terhadap si tokoh.

Lantas, betapa kemudian saya ingat dengan sebuah prosa klasik yang menceritakan
tentang tokoh bernama Dante. Saya membacanya di buku karangan Aoh Kartahadimaja.
Saya hanya membaca cuplikannya tetapi saya bisa membayangkan betapa dahsyat karya
ini mengobrak-abrik akidah tauhid umat Islam, kendati di dalamnya disebut-sebut tentang
Nabi Muhammad saw.

Cuplikan kisah Dante tersebut berusaha mendekontruksi peristiwa Isra’ Mi’raj, namun...
di dalamnya diajarkan tentang Trinitas.

Jadi, jelaslah bahwa kalimat thayibah ataupun ikon-ikon keagamaan yang lain belum bisa
menjadi standart islami atau tidaknya sebuah karya. Islami atau tidaknya karya itu
tergantung pada substansinya, pada pesannya, pada apa yang terkandung di dalamnya.
Tentu lucu kalau menyebut pakaian yang Islami adalah pakaian yang bergambar masjid.
Boleh jadi sebuah jilbab bergambar donald bebek atau spider man. Sepanjang itu
digunakan untuk melaksanakan perintah Allah tentang menutup aurat, maka itu jilbab
namanya: pakaian yang islami.

Beberapa saat yang lalu, ada yang salah menafsirkan kesimpulan dan pendapat saya itu.
Jujur, saya bukan tidak setuju atau anti terhadap pencantuman kalimat thayibah. Akan
tetapi, dalam konteks saya sebagai penulis fiksi, kalimat thayibah dalam karya fiksi itu
adalah bagian yang hidup dan memiliki napas, bukan sesuatu yang dipaksakan ada.

Taruhlah contoh ketika kita memutuskan memakai tokoh ‘seorang haji’ dalam fiksi kita.
Tentu saja kalimat thayibah –dengan diwakili oleh Pak Haji tersebut—akan banyak
ditulis. Tetapi, harap diingat, kalimat thayibah yang diucapkan oleh Pak Haji bukan
dalam rangka mengislamikan sicerpen, tetapi sekadar memperkuat karakter. Memang
begitulah karakter seorang haji.

Saya lebih menyorot kepada pemakaian kalimat thayibah yang berlebihan dan terkesan
tempelan. Bayangkan saja jika pada sebuah novel, sepanjang cerita, setiap si tokoh
bertemu orang lain, ia akan mengucap, “Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa
barakatuh,” dan kemudian lawan bicaranya menjawab sama lengkap,
“Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.”

Lagi-lagi ini kejadian nyata. Pernah ada naskah usulan semacam ini di meja saya. Iseng,
saya kumpulkan kalimat salamnya, ternyata hampir 50%. Seharusnya, kebiasaan yang
sudah sekaligus dipahami, tidak usah ditulis lagi. Seperti misalnya kita menulis “bangun
tidur aku terus mandi,” maka kita akan segera memahami bahwa sesudah bangun tidur, ia
turun dari tempat tidur, melangkah keluar kamar, membuka pintu kamar mandi, dan
barulah aktivitas mandi itu dilakukan. Bagian yang sduah menjadi pemahaman umum
semacam ini juga bukan hal yang salah kalau ditulis. Hanya saja....

Kembalinya adalah proporsional saja.

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang kopi dkk.. Saya pikir sah-sah saja dan enak-
enak saja baik tulisan yang verbal maupun universal. Ibaratnya, kalau partai verbal dan
partai universal ini masuk menjadi kontestan pemilu, saya akan nyoblos dua-duanya.

Kalau kita hanya menghalalkan yang universal, maka tak akan ada pendalaman dalam
ruhiyah kita. Seperti saya katakan, saya memerlukan pekik “Allahu Akbar!” dalam fiksi
sekadar untuk membangkitkan kembali ingatan saya atas orang-orang yang telah
mendahului saya dengan jihad. Saya perlu juga menghibur diri untuk sekadar cengar-
cengir dengan membaca fiksi-fiksi ringan yang tetap tak kehilangan pesan dan napas
islamnya.

Bagaimanapun, universal atau tidak, dua hal itu hanyalah kemasan saja. Jika memang
segmennya khusus semacam kalangan ikhwah dan lain-lain., tentu akan lebih menyukai
tulisan kental nuansa harakah dan aroma tarbiyah. Begitu juga sebaliknya.

Akan tetapi kalau kita hanya “menghalalkan” yang verbal saja, maka kita akan
kehilangan jembatan yang menghubungkan seorang du’at dengan kaum ammah. Kita
hanya berkutat dengan objek-objek yang telah mampu ‘menelan’ bahasa-bahasa ayat dan
sunah, sementara orang-orang di luar itu akan menganggap fiksi Islam (yang hanya
verbal saja) adalah fiksi tentang negeri di awan. Orang-orang yang di luar garis itu
cenderung terabai.

Mungkin dalam hal ini ada baiknya saya cantumkan falsafah yang cukup umum dikenal.
Selalu berbeda antara sumur, danau, dan laut, kendati ketiganya sama-sama berisi air.
Sumur: penampangnya kecil, tapi dalam. Ini adalah seumpama dengan tulisan yang
membahas hal kecil (penampang), namun pembahasannya begitu detil dan mendalam.
Danau: luas tetapi dangkal. Pembahasan ringan, namun menyeluruh. Bukan hal yang
salah dan remeh juga, sebab masing-masing menempati fungsinya sendiri-sendiri. Lantas,
laut: luas tetapi dalam.

Islam –sebagaimana kita tahu—bukanlah sekadar aturan-aturan untuk shalat, menyembah


kepada Tuhan dan ruang-ruang sempit bermerk religi. Definisi ‘ibadah’ dalam Islam
lebih luas dari itu, bahkan bersenyawa dengan setiap desahan napas. Amal pun juga
bukan sekadar menyerahkan harta ke majelis ibadah, menyumbang untuk panti asuhan
dan lain sebagainya. Saya pikir, kekhawatiran seorang saudara akan kerancuan antara
Sastra Islam dan Sastra Religius yang sempat terlontar di acara milad lalu, kurang
beralasan. Sastra Religius adalah sastra yang napasnya ketuhanan, atau agama. Karena
agama yang menjadi napasnya, maka sudah seharusnya menjadi bagian dari sastra
religius itu adalah sastra islami, sastra kristiani, sastra yahudi, dan lain-lain.

Kalau sastra Islam dibatasi ‘hanya’ yang memuat kalimat-kalimat thayibah, maka kita
akan kehilangan banyak kapling di wilayah sastra religius. Jika kita hanya membatasi diri
dengan itu, maka... dengan terpaksa kita harus mencoret banyak karya sastra yang
sebenarnya memiliki ruh Islam. Termasuk (barangkali) dalam daftar yang harus kita coret
adalah... Roman Sejarah: Muhammad Sang Pembebas, juga cerpen “Lelaki Kabut dan
Boneka” yang legendaris itu.

Dan dengan kata lain... kita juga harus rela memasukkan novel Dante sebagai bagian dari
sastra Islam. Padahal... walaupun ikon tentang Islam termuat di sana, namun secara tema,
novel ini jelas menganjurkan untuk berpaling dari islam.

Innalillahi... betapa banyak kapling yang harus hilang. Betapa banyak nanti sastra
religius tanpa alamat (religi yang mana) karena tema-tema yang diangkatnya cenderung
humanis. Sebab, pada kenyataannya, banyak unsur-unsur nilai ketuhanan yang diakui
secara umum oleh semua agama, sekaligus diakui secara pribadi oleh masing-masing
agama. Contohnya: menolong orang yang dalam kesulitan. Semua agama akan
mengklaim itu sebagai ajaran agamanya. Wallahu 'a’lam bishawab.

Sakti Wibowo
sakti@syaamil.co.id

Kenapa Tidak Minta Yang Terbaik?

Publikasi: 06/08/2003 08:30 WIB


eramuslim - Manusia memang tidak pernah luput dari yang namanya “menyesal”.
Setelah menyesal, barulah dia merasa sedih dan memohon ampun pada Sang Khalik.
Memang seperti itulah kodratnya. Tetapi bagi hamba yang telah mencapai titik keimanan
yang lebih, tentunya ia tidak akan mengalami hal seperti diatas, dia akan pasrah kepada-
Nya, dan menerima semua keputusan-Nya dengan lapang dada, sehingga tidak tampak
penyesalan di wajahnya.

Manusia memang diberi nafsu oleh Allah Swt. Jika nafsu itu bisa dikelola dengan baik,
artinya apa yang diinginkannya semata-mata adalah untuk mencapai keridhoan-Nya,
maka apapun hasilnya, insya Allah, akan menyenangkan. Lain halnya jika manusia
bernafsu akan suatu hal, tetapi ia tidak mengelolanya dengan baik, maka hasil apapun
yang diberi Allah dianggapnya sebagai suatu tanda bahwa Allah tidak sayang lagi
padanya.

Manusia hanya manusia pemikir, begitu kata teman saya, semuanya akan kembali kepada
Allah juga. Ketika usaha sudah kita lakukan dengan segenap kemampuan kita, sudah
sepatutnya semua hasilnya pun kita serahkan pada Allah, tidak lantas memaksa Allah
untuk mengabulkan apa maunya kita sendiri. Allah Maha Tahu segalanya, apa yang ada
di hati kita Dia tahu, apa yang terbaik untuk kita jelas Dia sangat tahu. Kenapa masih saja
kita memaksakan suatu keinginan kepada-Nya?

Seringkali kita baca ayat yang menyebutkan bahwa, apa yang baik menurut kita belum
tentu baik menurut Allah, dan apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut
Allah, tapi kenapa pula kita seringkali tidak merealisasikan ayat tersebut?

Banyak rahasia Allah yang tidak kita ketahui, mungkin dibalik apa yang buruk menurut
kita, Allah menyimpan suatu keberhasilan untuk kita di kemudian hari. Atau sebaliknya,
mungkin dibalik apa yang baik menurut kita tersimpan suatu kegagalan di hari depan,
sehingga tidak Ia kabulkan apa yang kita minta tersebut.

Sudah sepantasnya kita ber-husnudzon kepada Allah. Tidak berat rasanya di setiap do’a
kita meminta Allah memberikan yang terbaik untuk hari depan kita, beratkah
mengucapkan sebaris kata-kata itu? Mungkin berat karena hati kita masih dikuasai oleh
nafsu. Nafsu yang menyelimuti hati punya porsi lebih besar dari kepasrahan kita kepada-
Nya. Coba kita latih untuk bisa mengucapkan kalimat itu di hadapan-Nya, setiap kita
berdo’a. Jika kita sudah mampu mengatakannya, insya Allah, hati kita telah pasrah
kepada-Nya dan insya Allah hasil apapun yang Allah berikan akan dapat kita terima
dengan ikhlas dan lapang dada. Allah pun, insya Allah, akan memberikan pahala buat
kita. Amiin.

Berdo’a apa saja memang Allah anjurkan, asalkan itu adalah kebaikan. Tapi tidak ada
salahnya jika di setiap akhir do’a kita sisipkan kata-kata itu, sehingga hati lebih tentram.
Saya yakin hasil apa pun yang akan Allah berikan akan dapat kita terima dengan ikhlas
dan menjalaninya pun akan dengan senang hati.

Mulailah untuk dapat meminta yang terbaik kepada Allah, jangan sampai kita
terbelenggu oleh nafsu kita sendiri. Ingat, Allah Maha Tahu dan akan memberi yang
terbaik untuk hamba-Nya yang beriman. Wallahu’alam bishowab.

Terimakasih ya Allah, hamba tahu inilah yang terbaik untuk hamba.

Azkia_Salsabila

Boneka_kecil@eramuslim.com

Seorang Kawan Bernama Yatiman

Publikasi: 31/07/2003 08:59 WIB


eramuslim - Tahun 1997 adalah tahun yang luar biasa berat untuk saya. Sebuah tragedi
besar terjadi dalam hidup saya oleh sebuah pengkhianatan dan fitnah yang dilakukan
teman dekat saya. Tahun itu, saya baru saja terkena PHK akibat krisis moneter yang
memorak porandakan perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya. Saya terdampar di
sebuah pabrik bakery yang manajemennya masih tradisional.
Saya tak hendak berkisah tentang siapa dia dan apa yang dilakukannya. Permasalahannya
telah membaur dan berkelindan dengan masalah-masalah lain yang membuat keadaan
bertambah keruh.

Akibat kejadian itu berikut kondisi-kondisi psikologis yang kurang baik, saya sempat
mengidap penyakit semacam insomnia selama setahun lebih. Saya sangat sulit tidur.
Dalam sehari, tak jarang saya hanya mampu lelap selama lima belas menit. Kadang-
kadang, saya berangkat tidur jam delapan malam, namun belum juga bisa tidur hingga
adzan shubuh. Ada kalanya tidur selama setengah jam di awal malam dan selebihnya,
sampai pagi, jangan harap bisa pejam ini mata. Saat itu, yang saya butuhkan adalah
teman ngobrol. Saya ingin ada orang yang bisa saya ajak berbagi.

Suatu sore, saya melihat ada karyawan baru, namanya Yatiman. Pertama kali saya
melihatnya, langsung tumbuh perasaan benci. Kenapa? Dia sangat mirip dengan teman
saya yang baru saja mengkhianati dan memfitnah saya. Tidak hanya wajahnya yang
mirip, tetapi juga tutur katanya, suaranya, bahkan cara berjalannya. Potongan rambutnya
pula, rambut lurus gaya mandarin ala Andy Lau.

Jujur, setiap melihatnya, saya lantas teringat dengan teman saya tersebut, dan karenanya,
saya menjadi sangat benci. Apa lacur, kendati saya berusaha menjaga jarak, dia justru
‘ditakdirkan’ lebih sering berada di dekat saya. Ia berada dalam satu group dengan saya.
Bahkan, di mess, ia berada tepat di samping saya. Ini berarti, ia lebih sering tidur di
samping saya.

Seiring dengan waktu, saya mulai berusaha menata hati dan memperbaiki sikap padanya.
Apalagi, saya tak melihat sedikit pun hal buruk padanya. Ia jujur, jenaka, dan ramah.
Hampir setiap malam, sebelum tidur, seraya bertelekan pada lengannya, ia bertanya dan
bercerita macam-macam kepada saya. Potongan-potongan hidup dan episode masa
lalunya menjadi puzzle yang semakin kita bisa menghubungkan, maka semakin
menariklah itu. Pun, saya jadi mengenal Yatiman dari cerita-ceritanya yang beranjak
usang.

Lama-lama, sikap saya mencair. Tanpa sadar, kami menjadi teman ngobrol yang bahkan
tak jarang mengusik tidur teman lain dan membuat mereka menghardik, “Ssst… Sudah
malam! Jangan berisik!”

Yang saya suka dari Yatiman adalah sikapnya yang empatik. Yatiman adalah seorang
teman yang istimewa untuk saya. Kendati lelah setelah bekerja seharian, ia tak bosan
mendengar cerita saya dengan gaya empatiknya yang luar biasa. Ia mau bersabar
mendengar cerita-cerita saya, keluhan-keluhan saya yang saya ulang-ulang hampir setiap
malam. Volume suara saya yang semula tinggi berangsur-angsur turun –karena khawatir
mengganggu yang lain– hingga akhirnya berubah menjadi bisik-bisik. Kadang-kadang
dalam keadaan setengah lelap setengah terjaga, ia masih menyempatkan diri menanggapi
dengan “oo… jadi begitu?”, “Terus?”, “Wah… hebat!”, “Mm… jadi gitu, ya?”
Terus terang, saya merasa nyaman. Humor-humornya kadang garing dan agak-agak
gagap, tetapi saya tertawa dan terhibur. Tahun 1999, ia pindah kerja ke Lampung. Proses
pepindahannya terbilang mendadak. Saya menangis. Saya tak bisa membayangkan
bagaimana sepinya jika dia tak ada. Alangkah panjang malam-malam saya karena tak ada
teman cerita. Toh, seperti ia katakan, hanya jasad kami berpisah, sedangkan hati tetap
dekat.

Saat berpisah, kami berpelukan lamaaa… tanpa mampu saling berucap. Suara kami cekat
di tenggorokan. Saat itu, saya mati-matian menahan linangan air mata. Barulah setelah
mobil yang membawanya berlalu, saya menghambur ke kamar mandi dan menuntaskan
isak di sana. Lamaaa…. Hampir dua jam saya menangis tanpa suara di kamar mandi.
Teman-teman yang lain maklum dan tidak berusaha menghentikan tangis saya. Tak juga
mereka mengetuk pintu kamar mandi. Mereka tahu saya sedang bersedih dengan
kesedihan yang luar biasa.

Sesudah hari itu, cukup lama saya melupakan kesedihan. Setiap melihat bekas lemari
pakaian Yat, hati saya terserobot rasa haru dan rindu. Setiap makan siang, saya selalu
terkenang makan bersamanya seraya ngobrol banyak hal. Kendati masih ada teman-
teman yang lain, namun rasanya semua jadi tak lengkap.

Darinya, sungguh, saya belajar banyak cara memberi perhatian pada orang lain. Saya
selalu berharap bisa menjadi ‘dirinya untuk saya’ pada setiap orang yang saya kenal.
Saya ingin… selalu menjadi teman yang istimewa untuk semua orang di mana hal itu bisa
dilakukan dengan hal-hal sederhana, sesederhana yang dilakukan Yatiman pada saya.

Yat, dengan rindu untukmu.

Sakti Wibowo

sakti@syaamil.co.id

Setiap Manusia Punya Kelebihan

Publikasi: 28/07/2003 14:11 WIB


eramuslim - Debu-debu terminal ditingkahi terik matahari dan deru mesin kendaraan
siang itu berhasil membungkam mulutku dan teman-teman yang biasanya tak pernah
absen mengeluarkan suara. Bertepatan dengan jam kepulangan siswa-siswa siang itu,
terus terang penantian itu menghadirkan rasa bosan. Haus, panas, lelah dan sederet keluh
lainnya dilantunkan oleh hati diam-diam, mungkin juga oleh empat orang temanku itu,
sepertinya mereka juga sibuk dengan suara hati masing-masing. Hampir empat puluh
lima menit penantian ini berlangsung, bus kota yang datang secepat kilat penuh.
Bagaikan kawanan lebah, calon penumpang langsung menyerbu ketika bus yang
ditunggunya datang. Aku dan teman-teman seperti kehilangan energi untuk mengikuti
langkah mereka.
Tiba-tiba ada yang tersenyum padaku dari kejauhan, satu blok dari tempatku duduk. Ups!
Bukan kepadaku ... tapi pada gadis yang berdiri di sampingku. Dia bukan saja tersenyum
sobat! Pemandangan itu begitu memukau ... mereka sedang asyik bercerita dan bercanda.
Subhaanallaah, begitu sempurna kebesaran-Mu Allah. Canda dua orang gadis tuna rungu
itu tidak terpengaruh sedikitpun oleh deru mesin yang sungguh tidak bersahabat.
Walaupun aku tidak mengerti bahasa isyarat tapi aku bisa mengetahui kalau mereka
sedang berbagi cerita yang indah. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang seringkali
tertawa.

Pikiranku menerawang, secuplik renungan hadir ... Begitu adilnya Allah, disaat aku dan
teman-teman gusar tidak bisa bicara karena kalah bersaing dengan deru mesin disaat itu
pula Allah memperlihatkan keindahan ciptaan-Nya, dua orang gadis tuna rungu itu tidak
terganggu sama sekali! Mungkin saja karena keterbatasannya, mereka tidak pernah
“ngegosip” karena memang mereka tidak bisa mendengarkan percakapan orang-orang
normal seperti diriku yang kerap “ngomongin” orang sadar atau tidak. Pastinya, telinga
mereka tidak pernah tersentuh oleh musik-musik maksiat atau kata-kata kotor dari corong
televisi yang sering singgah di pendengaranku.

Ya Allah, alangkah bijak-Nya Engkau menegur hambamu ini. Aku malu… masih ada
sederet keluh kesah lagi yang bersarang di hatiku dan Engkau Maha Tahu waktu yang
tepat untuk mengingatkanku. Ampuni hamba ya Allah. Segala keterbatasanku
mengharapkan ke-Maha Sempurnaan-Mu. Muliakan mereka dengan keberadaannya.
Aamiin.

Semoga setiap kejadian bisa membawa hikmah kepada kita semua. Allah sangat
menyayangi kita dan kasih sayang itu bisa berwujud apa saja, tergantung kegigihan kita
untuk mengakuinya. Wallaahu a’alam.

farah_adibah@yahoo.com

Lutut dan Kewajiban Untuk Sujud

Publikasi: 26/07/2003 15:21 WIB


eramuslim - Sesungguhnya penciptaan makhluk –termasuk di dalamnya manusia –selalu
sesuai dengan kapasitas tugas dan kewajibannya. Itulah yang saya tangkap dari mutiara
ceramah Bapak F.X. Rusharyanto di Yogya beberapa tahun yang lalu.

Terus terang saja, itu untuk pertama kalinya saya tersedak; antara terharu, tersenyum, dan
termenung. Keterpakuan yang membuat kalimat-kalimat beliau terasa terus berngiang-
ngiang di telinga saya.

“Saya mendapatkan hidayah dan masuk Islam,” katanya, “lewat mimpi.”

Waktu itu, saya tak begitu respek. Entahlah, saya selalu berpendapat dangkal pada orang-
orang yang masuk Islam lewat mimpi; bertemu (katanya) Rasulullah, orang berjubah
putih, dan pengalaman-pengalaman supranatural lainnya. Tentu saja –menurut saya-- hal
ini tidak realistis. Saya pikir, saat seseorang menentukan langkahnya, haruslah berproses
dalam pemikiran yang ilmiah.

Tetangga saya masuk Islam gara-gara (katanya) mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Hanya
sebegitu saja. Bertemu thok. Boro-boro kalau sempat berkenalan atau bertukar alamat,
berjabat tangan, apalagi ngobrol. Cuma bertemu sebentar. Katanya, Sunan Kalijaga
mengenakan jubah warna hijau kesukaan beliau dan sedang berjalan entah ke mana.
Paginya, dia masuk Islam.

Alangkah mudahnya berganti akidah. Kalau dipikir, apa korelasi antara bertemu Sunan
Kalijaga dengan memeluk agama Islam? Toh, zaman dulu banyak orang yang bertemu
Sunan Kalijaga –malah –secara wadag.

Beruntung saat itu dia mimpi bertemu Sunan Kalijaga. Bagaimana kalau dia bertemu
Hitler... atau Syeikh Siti Jenar? Wheladalah... bagaimana kalau dia bertemu dengan Dewa
Wisnu yang –walaupun kulitnya hitam arang- namun gantengnya ngudubilah setan itu?
Kalau besok dia ngelindur ketemu Dewi Kwan Im, jangan-jangan terus memeluk
Konghucu, atau lebih parah, menjadi pengikut Sun Go Kong.

Kalau seseorang memutuskan memeluk Islam setelah pergulatan pikiran, nimbang-


nimbang, mencari kebenaran... dan seterusnya yang akhirnya membawanya pada
pemahaman yang proporsional sekaligus mantap, maka –menurut saya –keislamannya
tidak perlu disangsikan. Saya acung jempol untuk orang-orang semacam itu.

Apa istimewanya mimpi? Dijadikan patokan beli nomor buntut saja masih suka ngaco,
apalagi untuk urusan besar yang berkait langsung dengan akhirat. Lha kok.... Karenanya,
saya selalu memandang remeh ‘dalam tanda kutip’ untuk orang-orang seperti ini. Tapi,
saya juga tidak ngoyoworo. Contoh gampang saja, tetangga saya yang mimpi bertemu
Sunan Kalijaga itu nyatanya sampai sekarang –walaupun Islam –tidak shalat. Kalau
shalat tarawih sih iya, grubyag-grubyug pas malam bulan Ramadhan. Mungkin karena
lingsem atau bagaimana, yang jelas, hidungnya sering nampang di masjid kalau bulan
Ramadhan.

Saya tidak mengatakan bahwa agama terbebas dari hal-hal irrasional semacam itu. Toh,
takdir dan rezeki adalah sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara letterlijk. Ruh,
malaikat, jin... adalah mata pelajaran nonwadag dalam kerangka kegaiban yang menjadi
komponen kelengkapan iman. Tapi bukan dalam arti juga agama adalah sesuatu yang
mutlak irrasional. Semuanya mesti ada dimensi-dimensinya. Cuma, kok ya masih susah
juga saya memaklumi orang yang masuk Islam karena ketemu orang berjubah putih dan
memakai sorban.

Kembali pada materi ceramah Ustadz tadi. Singkat cerita, setiba beliau pada kalimat yang
menyatakan proses masuk Islamnya, saya langsung melengos merasa tak begitu tertarik.
Seperti saya katakan tadi, apa korelasi antara mimpi bertemu bertemu Sunan Kalijaga
dengan masuk Islam?
Ooo... tapi tidak. Dalam ceramah yang saya ikuti dengan ogah-ogahan itu, ternyata
akhirnya saya harus tertohok pada pengembaraan pemikiran yang menembus sisi-sisi
ruhiyah saya. Dengarlah, mimpi apa yang begitu dahsyat telah mengubah kemudi seorang
F.X. Rusharyanto ini.

“Saya mimpi bertemu ayam,” katanya.

Ayam? Benar-benar ayam? Kok, bukan Sunan siapa gitu atau kalau berani lebih heboh,
ketemu Rasulullah. Ayam sehebat apa yang bisa membuat beliau masuk Islam?

“Benar-benar ayam,” lanjutnya. “Jangan dulu tertawa dengan mimpi saya yang aneh.
Benar, ayam. Saya tidak bermimpi bertemu dengan Rasulullah, orang berjubah putih,
atau gadis cantik yang pakai jilbab.”

Lantas, apa istimewanya ayam ini? Masih mendingan kalau mimpinya ketemu gadis
memakai kerudung seperti yang suka dipajang pada bandrol jilbab.

“Ayam ini bisa ngomong.”

Ooo... bisa ngomong. Kayak film kartun, dooong? Terus, apa kaitannya dengan Islam?

“Ayam itu berkata pada saya, ‘bacalah ayat-ayat Tuhan yang ada pada lututmu.’”

Entahlah, mungkin karena agak-agak seperti dongeng fabel ini, maka saya menjadi
tertarik.

“Lutut?” lanjut sang Ustadz. “Tidak ada ayat apa pun dalam lutut saya,’ begitu bantah
saya pada si ayam. Lantas, ayam itu melanjutkan kalimatnya, ‘Tidakkah kauperhatikan
perbedaan antara lutut ayam dan lutut manusia? Perhatikanlah wahai manusia dan
bacalah. Tempurung lutut kalian diciptakan Tuhan dan diletakkan di depan, berbeda
dengan lutut ayam yang diletakkan di belakang. Itu disebabkan kalian tidak diperintah
Tuhan untuk mengeram. Ayam diperintahkan untuk mengeram sehingga tubuhnya
disempurnakan untuk melaksanakan tugas itu.’ Cukup lama saya memikirkan kalimat
ayam itu sebelum kemudian saya bertanya, ‘Lantas, apa yang diperintahkan pada
manusia yang memiliki lutut di depan?’”

Nah, ini yang membuat saya mulai tertarik. Kenapa? Lantas apa jawaban si ayam?

“Ayam itu,” lanjut beliau, “mengatakan, ‘kepada manusia, Tuhan memerintahkan untuk
rukuk dan sujud. Itulah kenapa lutut kalian diletakkan di depan, bentuk kesempurnaan
penciptaan di mana susunan yang demikian adalah untuk melaksanakan perintah rukuk
dan sujud.”

Subhanallah... betapa saya selama ini tak pernah membaca ayat yang begini indah.
Lantas, berapa banyak lagi ayat yang belum dan tidak terbaca oleh pikiran saya yang
lemah ini?
Sungguh, ilmu dan ayat Allah tak akan selesai ditulis kendati laut diubah menjadi tinta
dan digunakan untuk menulisnya, bahkan jika didatangkan satu laut lagi sebagai tinta,
dan satu laut lagi sebagai tinta, dan....

Allah, pandang-Mu sajalah pandang yang tak terhalang. Ilmu-Mu saja ilmu yang tak
berujung. Setiap yang didapati pada manusia, hanyalah sepersekian debu-Mu. Ampunilah
kesombongan dan kelemahan kami. Amin.

Sakti Wibowo
sakti@syaamil.co.id

Yang Paling Mempesona Imannya

Publikasi: 23/07/2003 10:04 WIB


Ya Allah, taburkanlah wangian
Diatas kubur nabi yang mulia
Dengan semerbak shalawat
Dan salam sejahtera
(Makrifat Daun, Kuntowijoyo)

eramuslim - Malam sudah sampai ditengah-tengah, suara jalanan pun telah lengang. Dan
kantuk itu tidak datang seperti biasanya. Ada yang menderu dalam relung dada. Ada yang
bergemuruh. Sebuah buku yang masih terbuka di pangkuan, penyebabnya. Buku yang
saya maksudkan agar mendatangkan lelap lebih mudah, ternyata malah berkebalikan.
Biasanya belum sampai 2 halaman, mata ini pasti sudah rapat-rapat menutup begitu pula
dengan bukunya.

Lembar demi lembar saya telusuri samudera aksara bermakna, tak lelah mata membaca,
fikiran mencerna dan seringnya hati senut-senut. Saya ingin membaginya dengan kalian.
Mudah -mudahan saya mampu.

***

Madinah Al-munawarah, pada dini hari. Membran malam perlahan tersingkap, berganti
dengan subuh syahdu. Lengang berpulun dengan udara dingin menggigit. Dan deru
sahara hanya terdengar dari jauh. Cerlang fajar sebentar lagi nampak. Shalat subuh
hampir tiba, Rasulullah Saw dan para sahabat menyemut pada satu tempat, masjid.
Semua hendak bertemu dengan yang di cinta, Allah. Namun sayang, air untuk berwudhu
tidak setetes pun tersedia. Tempat mengambil air seperti biasanya kini kerontang.

Dan para sahabat pun terdiam, bahkan ada beberapa yang menyesali kenapa tidak
mencari air terlebih dahulu untuk keperluan kekasih Allah itu berwudhu. Rasululllah pun
bertanya kepada para sahabat "Adakah diantara kalian membawa kantung untuk
menyimpan air?". Berebut para sahabat mengangsurkan kantung air yang dimilikinya.
Lalu, Nabi yang begitu mereka cintai itu meletakkan tangannya diatasnya. Tidak
seberapa lama, jemari manusia pilihan itu memancarkan air yang bening. "Hai Bilal,
panggil mereka untuk berwudhu" sabda nabi kepada Bilal.

Dan para sahabat pun tak sabar merengkuh aliran air dari jemari sang Nabi. Di basuhnya
semua anggota wudhu, ada banyak gumpalan keharuan dan pesona yang menyeruak.
Bahkan Ibnu mas'ud mereguk air tersebut sepenuh cinta.

Shalat subuh pun berlangsung sendu, suara nabi mengalun begitu merdu. Ada banyak
telinga yang terbuai, hati yang mendesis menahan rindu. Selesai memimpin shalat, nabi
duduk menghadap para sahabat. Semua mata memandang pada satu titik yang sama,
Purnama Madinah. Dan di sana, duduk sesosok cinta bersiap memberikan hikmah, seperti
biasanya.

"Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?" Al-
Musthafa memulai majelisnya dengan pertanyaan.

"Malaikat ya Rasul Allah" hampir semua menjawab.

Dan nabi memandang lekat wajah para sahabat satu persatu. Janggut para sahabat masih
terlihat basah. "Bagaimana mungkin, malaikat tidak beriman sedangkan mereka adalah
pelaksana perintah Allah."

"Para Nabi, ya Rasul Allah" jawab sahabat serentak.

"Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung turun untuk
mereka".

"Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah" pada saat menjawab ini
banyak dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu.

"Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa yang
mereka saksikan".

Selanjutnya mesjid hening. Semua bersiap dengan lanjutan sabda nabi yang mulia.
Semua menunggu, sama seperti sebelumnya pesona sosok yang duduk ditengah-tengah
mereka mampu menarik semua pandangan laksana magnet berkekuatan maha. Dan suara
kekasih Allah itu kembali terdengar. "Yang paling mempesona imannya adalah kaum
yang datang jauh sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, meski tak pernah satu jeda
mereka memandang aku. Mereka membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak
sedetikpun mereka pernah melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan
mereka tanpa ragu mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu.
Mereka membelaku sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Alangkah inginnya aku
berjumpa dengan para ikhwanku itu".

Semua terpekur mendengar sabda tersebut. Kepada mereka nabi memanggil sapaan
sahabat, sedang kepada kaum yang akan datang, nabi merinduinya dengan sebutan
"Saudaraku". Alangkah bahagia bisa dirindui nabi sedemikian indah, benak para sahabat
terliputi hal ini.

Dan terakhir nabi, mengumandangkan QS Al Baqarah ayat 3: "Mereka yang beriman


kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang kami
berikan kepada mereka".
***

Memang, tiada yang lebih indah, dirindui nabi seperti demikian. Kang Jalaluddin
Rakhmat menyebutkan, keistimewaan sebutan 'saudara' ini disebabkan beberapa hal.

Pertama: Para sahabat menyaksikan langsung sosok nabi Muhammad, menjumpainya


dalam keseharian, menemaninya dalam setiap kesempatan. Para sahabat bertemu
langsung dengan beliau, memperhatikan segala perilaku indahnya. Para sahabat beriman
kepada Nabi secara lahir. Sedangkan para ikhwan (saudara) mempercayai Rasulullah
setelah membaca dan mendengar perilaku beliau.

Kedua: Para sahabat mengenal nabi secara langsung, berada di depan mata. Para sahabat
melihat mukjizat seperti tadi, bukan dari cerita atau kisah. Para sahabat mengalaminya
sendiri. Sedangkan para ikhwan mengenal nabi secara tidak langsung, hanya berdasarkan
bukti-bukti yang rasional. Dan hal ini memerlukan pembelajaran yang tidak mudah,
karena lebih abstrak. Dan fitrah manusia selalu mengedepankan hal-hal yang dilihat
secara nyata.

Selanjutnya kang Jalal menghimbau, Cintailah Rasululullah, maka ia akan menjadi pusat
perhatian. Kapan saja ia diperbincangkan maka kita akan selalu semangat menyimak.
Cintailah Rasulullah maka kita akan meniru perilakunya dengan hasil baik. Dan yang
lebih dahsyat lagi, cintailah Rasulullah maka beliau akan menganggap kita sebagai
saudara (ikhwan) dan janji Allah dalam QS. Annisa: 69, seorang pencinta Rasul akan
digabungkan dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yaitu Para nabi, para
shidiqin, para syahid dan orang-orang shaleh.

***

Tak ada salahnya, pabila saat ini saya mengenang sosok yang hanya saya tahu ciri-cirinya
dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering saya mengabaikan teladan sempurna ini.
Bahkan, terlalu jauh saya terlontar dari sunnahnya. Padahal, engkau ya Rasul Allah,
begitu memperhatikan kami, hingga kami disebut pada saat-saat terakhir kehidupanmu.
Ketika maut menjemput, nafas satu-satu dan detik-detik penghabisan di dunia sebelum
dengan anggun engkau dipanggil Allah.

Maafkan saya, ya nabi pilihan Allah, shirahmu saya baca tetapi saya hanya mengemasnya
dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan saya sampaikan
kepada yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk membelamu, padahal
saya sama sekali tidak berbuat apapun. Engkau rindui sosok-sosok yang mencintaimu
dengan segenap jiwa, dan saya tidak tahu apa bukti kecintaan yang telah saya
persembahkan meski hanya sekuntum saja. Betapa malunya saya wahai Rasulullah.

Meski demikian, perkenankan saya menyampaikan salam, salam cinta dan salam
kerinduan. Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah yang mulia.
Inilah si lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang, menyampaikan salam
pekat kerinduan. Inilah si dungu, meski dengan tubuh penuh dengan karat dosa, dengan
mata yang seringkali tak terarah, dengan mulut yang kerap menghina dan berdusta,
dengan telinga yang sering tuli terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri
menyapamu dalam kesendirian.

Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya jiwa ini
untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya engkau mencintai
para pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada, mengkristalkan haru yang tiada tara.
Betapapun besar rasa malu ini, terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia.

Betapapun buruk rupa jiwa ini,


Betapapun kerdil pikiran ini,
Betapapun kelu lidah ini berucap,
Ingin saya sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa:
Shallaallaahu ala muhammad, shallalhu alaihi wasallam...
Salam bagimu ya Rasul Allah.

Sahabat, telah sering kita mengucapkan shalawat terhadap junjungan nabi Mulia, bahkan
mungkin disetiap jeda yang kita punya, salam untuk sang tercinta tak lupa kita ungkap.
Namun apakah salam yang kita sampaikan benar-benar salam yang ikhlas, salam tanda
cinta kita, ataukah salam yang refleks keluar dari mulut kita tanpa ada makna? Wallahu
'A'lam.

mudah-mudahan saat ini dalam dadamu ada yang bergemuruh juga.

Husnul
mahabbah12@yahoo.com

Cobalah Mencintai-Nya

Publikasi: 21/07/2003 09:42 WIB


eramuslim - Cinta mungkin sebuah kata agung yang paling sering membuat seseorang
tergugu di hadapannya. Segala teori dan argumentasi yang dilontarkan akan lumpuh
begitu saja saat kita sendiri yang mengalami bagaimana hebatnya cinta itu mempengaruhi
diri kita. Mungkin sulit dipahami bagi orang yang sedang tak mencinta, bagaimana rasa
cinta itu menjelma menjadi ratusan ribu pulsa telepon, berlimpahnya waktu untuk
menunggu yang terkasih walau kita sedang dalam deadline ketat, terbuka lebarnya mata
mengerjakan tugas-tugas demi membantu yang tersayang. Bongkahan pengorbanan yang
tak rela dipecahkan…
Merasakan cinta seperti merasakan hangatnya matahari. Kita selalu merasa kehangatan
itu akan terus menyirami diri. Setiap pagi menanti mentari, tak pernah terpikirkan akan
turun hujan atau badai karena kita percaya semua itu pasti akan berlalu dan mentari akan
kembali, menghangati ujung kaki dan tangan yang sedikit membeku. Mentari ada di sana,
dan dia pasti setia.

Terkadang kita lupa, matahari yang hidup dan mengisi hidup itu adalah hamba dari
Penguasa kehidupan, kehidupan kita, kehidupan matahari. Satu waktu matahari harus
pergi, walau ia tak pernah meminta, walau pinta tak pernah kita ucapkan. Jadi, ia akan
pergi, apapun yang terjadi. Karena ini adalah kehendak-Nya. Segala yang ada di dunia ini
tidak pernah abadi, karenanya ia bisa pergi. Selamanya, bukan sementara. Inilah dunia.
Senang atau tidak, kita hanya bisa terima. Mungkin kita ingin protes, ingin teriak; betapa
tak adilnya! Tapi kita cuma akan dijawab oleh tebing karang yang bisu, atau lolongan
anjing dari kejauhan yang terdengar mengejek. Mungkin kita kecewa dan ingin
mengakhiri hidup. Mungkin kita begitu ingin memukul, tapi cuma angin yang bisa
dikenai. Sekarang coba dulu lihat, apakah itu mengubah apa pun? Tak ada yang berubah
kecuali semakin dalamnya rasa sakit itu.

Maka ketika kuasa-Nya yang mutlak menjambak cinta sementara kita pada matahari, kita
bisa apa? Karena kita cuma hamba, kita cuma budak! Kita hanya bisa menelan kepahitan
yang kita ciptakan sendiri.

Mungkin yang perlu kita jawab; mengapa kita melabuhkan cinta begitu besarnya pada
manusia? Padahal kita tahu tak ada yang abadi di dunia ini. Mengapa?

Allah menciptakan cinta di antara manusia. Dia yang paling hebat, paling tahu bagaimana
cinta itu, bagaimana mencintai, bagaimana dicintai. Kenapa kita begitu sok, merasa
paling mencintai, merasa paling dicintai, merasa memiliki segalanya dengan cinta.
Padahal cinta itu cuma dari manusia, untuk manusia. Dan suatu hari cinta itu akan hilang.
Mungkin tak cuma pupus, tapi tak berbekas, tak berjejak. Hanya cinta yang begitukah
yang kita inginkan?

Kenapa kita tak mencoba raih matahari cintanya Allah, yang tak pernah tenggelam dan
tak pernah sirna. Tak pernah usang, tak hancur, dan tak akan pernah sia-sia. Mencintai
Allah? Terlalu abstrak, terlalu aneh. Masa’? Itu karena kita tak pernah merasa dekat, tak
pernah berusaha mendekati-Nya. Allah menjadi asing karena kita memposisikan Allah
sebagai sesuatu yang berada di langit yang tinggi dan tak mungkinlah kita mencapainya.
Jangankan mencintai, membayangkan untuk mendekatinya saja tak mungkin.

Tahukah kamu, Dia menawarkan cinta-Nya untuk kita. Hebat ‘kan? Kita? Manusia yang
hina dina yang berasal dari setetes sperma yang hina? Ditawarkan cinta dari pembuat
cinta? Cck… ckk… Apa nggak salah, nih? Kemudian kita malah menolak dan menjauh?
Wah… wah… betapa bodohnya ...

Kalau cinta seperti itu tertolak, cinta apa lagi yang kita harapkan? Cinta yang membawa
pada kekecewaan, rasa sakit, atau derita? Cinta yang hanya mekar semusim lalu luruh tak
berbekas, bahkan wanginya. Percayalah… cinta yang ditawarkan-Nya tak pernah
menguncup, mekar, atau luruh. cinta-Nya abadi, mekar selamanya. Dan Dia akan
memberi kita cinta dari manusia. Mentari itu terus di sana, kapan dan di manapun kita
ingin merasakan hangatnya. Kita punya cinta dari Allah.

Apakah kita tak berniat membalas ketulusan cinta itu?

al Birru
emine_mm@maktoob.com
GIP Depok, 10 Juli 2003

Kawan, Pernahkah Seberdosa Ini?

Publikasi: 18/07/2003 15:18 WIB


Smakin kutahu
Jika pepohonan dijadikan pena
Dan laut menjadi tinta
Niscaya takkan pernah cukup
Tuk menuliskan semua nikmat-Nya

eramuslim - Lelah. Rasanya terlalu lelah untuk terus berdo’a kepada Allah. Hari ini
entah sudah kesekian kalinya aku meminta, tapi tak jua Dia mengabulkan permintaanku.
Pekan lalu, saat ku membutuhkan pertolongan Nya, Ia tak segera mengulurkan
tanganNya. Ah, jangankan yang baru-baru ini, puluhan bahkan ratusan pintaku bulan-
bulan sebelumnya, juga tahun sebelumnya, kalau kuingat-ingat, belum juga terkabulkan.

Tapi, apa salahnya malam ini ku mencoba berdialog kembali dengan Nya, semoga saja ia
mau mendengar. Baru saja kususun jemari ini, belum sempat baris kata-kata yang
sebelumnya sudah kurangkai indah di dalam benakku deras terburai keluar dari mulutku,
mataku menangkap tajam jemariku yang bergerak …

Astaghfirullaah … seketika dadaku sesak. Berdegub kencang. Ingin kuhapus kata-kataku


diatas. Tapi sudah terlanjur tumpah. Aku malu telah lancang kepadaNya dan menihilkan
semua yang telah diberikan-Nya.

Sedetik kemudian, seiring dengan menggenangnya air di pelupuk mata ini yang siap
tumpah bagai gelombang yang menunggu perintah menghantam karang, benakku sudah
disesaki dengan jutaan tanya …

Pernahkah aku meminta kepada Nya untuk memberikan kepadaku jemari yang lengkap
dan indah ini, sehingga aku bisa banyak berbuat dengan kesempurnaan penciptaan ini.
Aku tak pernah meminta sebelumnya agar Ia melengkapi tanganku ini dengan jemari, aku
juga tak pernah berdo’a untuk berbagai kesempatan hingga detik ini aku masih bisa
menggerakkan, dan menyentuh dengan jemariku ini. Tapi sampai detik ini, Dia masih
memberikannya kepadaku …
Harus kusentuh lagi beberapa anggota tubuh ini. Kemudian aku berdiri, subhanallah, aku
masih bisa berdiri. Padahal aku tak pernah sebelumnya meminta agar terus ditetapkan
memiliki dua kaki sempurna, tapi Dia masih terus memberikannya. Kupandangi, ups…
sebelum kulanjutkan … dengan apa aku memandang? Pernahkah aku meminta Dia
menganugerahiku sepasang mata indah ini? Sehingga semua terasa begitu indah untuk
dinikmati, semua alam dan lukisan semesta menjadi penghibur hati dengan adanya dua
mata ini. Kuyakin juga –aku tak pernah lupa- tak pernah memohon kepada-Nya untuk
tetap memberiku dua telinga dengan fungsi pendengaran yang baik. Tapi kenapa aku
masih bisa mendengar?

Test … test … satu, satu, dua tiga ….

Sengaja aku mengetes suaraku. Masih jelas terdengar. Tapi, bukankah Dia
memberikannya begitu saja kepadaku tanpa pernah aku memintanya? Lalu aku berjalan,
Alhamdulillah aku masih bisa berjalan. Keluar kamar, ke ruang tengah, kulihat masih
terlihat sederet makanan di meja makan, kucicipi sepotong tahu. Enak, ya enak. Tapi
kenapa aku masih bisa merasakan nikmatnya sepotong tahu? Juga segarnya menyeruput
sebotol juice buah yang kuambil dalam kulkas? Yang pasti, tak pernah barisan kata pinta
terucap tuk sekedar memohon agar tetap diberikan kemampuan merasa …

Kuterus berjalan. Ke kamar mandi. Ada air. Kusentuh segarnya air itu. aah, sejak kapan
aku merasakan kesegaran ini. Mungkinkah ketika terlahir dulu sempat aku meminta
kepadaNya agar dikaruniakan kesegaran macam ini? atau … hhhhhh, kuhirup udara
malam yang sejuk. Eh, apa pernah aku minta Dia tak menyetop pasokan udara untukku?
Bahkan … aku masih hidup, aku masih hiduuup (teriakku) … siapa yang tahu dan bisa
menerka sampai kapan aku masih bisa menikmati hidup. Tapi yang jelas tak pernah
sekalipun keluar dari mulut ini rangkaian kata: “Tuhan, terima kasih atas semua nikmat
Mu, sampai hari ini.” (Bayu Gaw)

Inspirasi

Publikasi: 14/07/2003 07:55 WIB


eramuslim - Suatu ketika Mohamdas Karamchand Gandhi akan berangkat dari Durban
menuju Pretoria, Afrika Selatan untuk membantu sahabatnya, Dada Abdulla dalam suatu
kasus persidangan. Saat itu Gandhi adalah seorang pengacara terkenal di Afrika Selatan.
Ia sudah terkenal di kalangan penduduk India dan penduduk lokal di Afrika Selatan.
Tatkala menunggu kereta berangkat, Gandhi mencoba untuk membaca buku yang
diberikan Dada Abdulla. Baru sampai pada halaman pertama, Gandhi dikejutkan oleh
suara lantang dari petugas kereta api. "Hei, Kuli", begitu panggilan seorang Inggris
terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan. "Kamu tidak seharusnya berada di sini."
Gandhi memang berada di gerbong kelas eksekutif yang biasanya ditempati oleh
bangsawan-bangsawan Inggris kelas atas. Gandhi menjawab, "Saya sudah membayar
tiket kelas eksekutif ini, jadi saya berhak dan sudah seharusnya mendapat pelayanan yang
sama dengan penumpang di gerbong ini." Memang pada saat itu perbedaan antara
penduduk lokal maupun pendatang dari India dengan penduduk berkulit putih khususnya
Inggris sangat terasa. Mereka yang berkulit hitam sering mendapat perlakuan semena-
mena walaupun dari kalangan terpelajar sekalipun.

Apa daya, walaupun Gandhi bersikeras untuk tetap duduk di kursi kelas eksekutif,
petugas kereta api itu memaksa dengan kekerasan agar Gandhi duduk di kelas biasa.
Akhirnya Gandhi yang bertubuh kecil tidak bisa melawan kekerasan dari petugas kereta
api yang badannya jauh lebih besar. Ia ditendang keluar dari kereta, semua barangnya
pun dihamburkan begitu saja keluar dari kereta. "Jangan lupa bawa bukumu ini, Kuli",
demikian kata petugas kereta api membuang buku yang diberikan sahabat Gandhi, Dada
Abdulla. Buku itu dilempar dan mengenai kepala Gandhi sehingga terjatuh di
sampingnya. "Apakah nasib kami akan terus seperti ini?", pikir Gandhi meratapi
nasibnya. Ketika merapikan barangnya Gandhi secara tidak sengaja membaca satu bagian
halaman yang terbuka dari buku yang tadi mengenai kepalanya tadi. Bagian itu berbunyi:

"Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang utusan pada tiap-tiap bangsa untuk
menyerukan: "Sembahlah Allah, dan jauhilah godaan shaitan", maka di antara umat itu
ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-
orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan
perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
(QS. An Nahl:36)

Ternyata buku yang diberikan sahabat Gandhi adalah Quran. Sejak membaca penggalan
ayat tersebut, Gandhi mulai tergerak hatinya untuk mengajak kaum tertindas di Afrika
Selatan dan akhirnya India untuk melawan penjajah. Konon sejak saat itu, Gandhi selalu
membaca Qur'an sebagai salah satu referensi penting dalam perjalanan hidupnya,
terutama dalam meraih kemerdekaan India dengan cara damainya. Subhanallah!

***

Kejadian di atas, penulis ambil dari film "The Making of Mahatma", sebuah film tentang
perjalanan hidup Gandhi. Bagian dimana Gandhi membaca Qur'an sangat berbekas dalam
ingatan ini. Qur'an menjadi sumber inspirasi penting dari dimulainya perjuangan
menegakkan kebenaran dan keadilan. Kita pun akan ingat bagaimana seorang yang keras
dan selalu berprinsip semua permasalahan diselesaikan dengan pedang seperti Umar bin
Khattab, bisa luluh hatinya oleh bacaan Qur'an dan terinspirasi untuk ikut serta dalam
menyebarkan ajaran Islam.

Inspirasi dari Allah juga diberikan oleh Allah kepada siapa yang mau mengamati
ciptaannya. Kita ingat bagaimana Salman Al Farizi terinspirasi untuk membuat parit di
sekeliling kota Madinah, karena melihat keadaan geografis yang menguntungkan pasukan
Muslim jika menghadapi serangan. Kita juga ingat bagaimana Jabal Al Thariq yang
terinspirasi untuk membakar kapal pembawa mereka dari dataran Maghribi ke Spanyol
untuk membakar semangat para pasukannya. "Tidak ada jalan ke belakang lagi, hanya
ada satu jalan yaitu terus maju ke depan, Allahu akbar!", demikianlah kata-kata yang
dilontarkan Jabal Al Thariq untuk memberi inspirasi kepada pasukannya.
Allah memberikan kita berbagai macam inspirasi lewat berbagai ciptaannya. Tinggal
bagaimana kita bisa menangkap inspirasi itu untuk dijadikan sebagai pemicu dalam
berbuat sesuatu yang besar, sesuatu yang dapat memberikan inspirasi lagi bagi anak cucu
kita. Wallahu'alam bishshawab.

Zulfikar S. Dharmawan

zulfikar@ukhuwah.or.id

Mimpi

Publikasi: 11/07/2003 08:50 WIB


eramuslim - Dia Cantik. Meskipun wajahnya telah dihiasi kerut merut. Rambutnya
hampir separoh telah memutih, dan sepertinya itu asli, bukan dicat. Gaya berpakaiannya
cukup trendi. Kadang-kadang mengenakan rok atau celana jeans sedengkul. Kaos masa
kini dilengkapi dengan vest denim pendek. Sepatu kets putih dan kaos kaki. Rambutnya
kadang diikat di atas tengkuk, kadang dikepang dengan pita-pita banyak. Hampir setiap
pagi, saat saya berangkat ke kantor saya bertemu dengannya. Kadang-kadang sore juga.

Beberapa kali saya lihat dia duduk di atas mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bergaya
ala fotomodel, sambil mengisap rokok yang terselip diantara jari-jemarinya. Kadang dia
sibuk memunguti batu-batu dan memasukkanya ke kantong plastik. Kadang dia berjalan
dengan tentengan di kiri kanan, sedang bahunya menyandang tas trendi pula. Ingin saya
menyapanya, tapi niatan itu tak pernah kesampaian. Dia selalu tampak sibuk dengan
dunianya sendiri. Pernah saya bertanya pada tukang warung rokok di pinggir jalan tempat
perempuan itu biasa mangkal. Dimana rumahnya? Apa yang terjadi dengannya? Tapi tak
seorang pun tahu. Yang mereka tahu adalah, wanita itu gila. Hilang ingatan, meski tak
sepenuhnya. Hingga saya jadi sering mengira-ngira, ada apakah dengannya?

Melihat tingkah lakuknya, saya menduga, mungkin dulu ia pernah bermimpi menjadi
seorang bintang, fotomodel, peragawati atau apapun yang berbau selebritis. Terlihat dari
pakaiannya yang selalu trendi dan gayanya yang bak fotomodel. Atau mungkin juga ia
dulu bercita-cita menjadi seorang aktifis, terlihat dari sikapnya yang selalu sibuk dan
sibuk. Atau juga,… entahlah!

***

Mimpi. Siapa sih manusia di dunia ini yang tak memiliki mimpi? Sesederhana apa pun -
dan meskipun orang tak menyebutnya dengan mimpi- saya yakin setiap kita punya
mimpi. Punya keinginan yang suatu saat ingin diwujudkan. Memiliki harapan dan cita-
cita, yang kita berusaha semaksimal mungkin untuk menggapainya.

Dulu ketika kecil saya suka membayangkan menjadi anak orang kaya, memiliki rumah
megah seperti rumah sahabat saya. Impian itu sering saya imajinasikan saat bermain
rumah-rumahan dari tanah. Saya bangun rumahnya seperti impian saya, dan saya buat
kehidupan penghuninya seperti cerita yang saya inginkan, yang saya impikan
sebagaimana saya lihat di tipi.

Ketika saya menginjak remaja, saya bermimpi menjadi selebriti, meskipun sekadar
menjadi selebriti tingkat kelas, atau anak gaul sekolah yang dikenal teman-teman. Saat
memasuki bangku kuliah, saya iri dengan teman-teman yang aktif di senat maupun di
Unit Kegiatan Mahasiswa Islam. Saya berusaha keras untuk bisa masuk dan aktif dalam
jajaran mereka. Saat saya selesai kuliah, belasan impian, juga idealita, saya miliki dan
menjadi obsesi.

Namun jika saya telusuri, nyaris semua kenyataan hidup yang saya jalani berbeda jauh
dan bertolak belakang dengan impian dan idealita saya. Mengapa?

Ada tiga pelajaran besar yang saya peroleh. Satu, bisa jadi saya kurang kuat berusaha,
kurang tekun menjalani, kurang sabar melewati tantangan. Mudah capek, mudah
ngambek, mudah patah arang. Padahal, mungkin saja usaha saya belum ada apa-apanya
dibanding mereka yang berhasil meraih impiannya. Bahasa ilmiahnya, kurang memiliki
motivasi berprestasi. Kedua, bisa jadi impian saya yang terlalu tinggi sementara modal
dan pemahaman pas-pasan, tidak sesuai dengan kapasitas. Modal semangat saja tidaklah
cukup untuk meraih mimpi. Alih-alih dapat merealisasikan impian, semangat yang terlalu
besar menjadikan kita ambisius dan terobsesi kemudian stress. Hal ini sering disebut
dengan upaya mengenali potensi: potensi otak, potensi jiwa dan potensi materi/biaya.
Ketiga, takdir! Apa yang saya impikan adalah apa yang saya ketahui baik untuk saya
pada waktu itu, menurut batas pengetahuan saya, menurut paradigma saya. Namun
semestinya saya menyadari, Allah jauh lebih tahu apa yang baik bagi saya dan apa yang
tidak. Allah telah menetapkan sesuatu bagi hambaNya, sesuai ukuran dan kapasitas. Kita
hanya diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin. Usaha itu tidak sia-sia, karena
ia akan dinilai sebagai amal, meskipun kita tidak memperoleh hasil dari usaha itu.

Dan ketika Allah telah menampakkan realitas hidup, tibalah masanya kita berdamai
dengan hati, berdamai dengan kenyataan. Tawakkal, berserah diri. Agar tak seperti gadis
trendi yang saya temui setiap hari, selalu terobsesi sehingga akhirnya terpaksa hidup
dalam dunia mimpi.

Azimah Rahayu
azi_75@yahoo.com

Mencari Surga?

Publikasi: 10/07/2003 10:55 WIB


eramuslim - Dan butiran pepasir itu pun menangis saat rintihan Yasir bergelung di langit
menahan pedihnya siksaan. Langit mendung tak kuasa menahan murungnya ketika
Sumayyah merapatkan kedua bibirnya, sesaat kemudian gerigi atasnya mencengkeram
kuat-kuat bibir bawahnya. Setetes air mata tak nampak dari sudut matanya meski ribuan
tetes darah menghiasi nyaris seluruh raganya. Satu persatu nafas Yasir dan Sumayyah
meninggalkan jasad ringkihnya, senyum kemenangan kedua orangtua sahabat Amr bin
Yasir itu melambaikan tangan menyambut panggilan lembut para bidadari Surga.
Beberapa hasta dari dua jasad mewangi itu, seorang pemuda belia tengah menghadapi
maut untuk menapaki langkah-langkah kedua orangtuanya. Bibirnya bergetar dengan tak
henti menyebut nama agung Tuhannya. Ya, Amr bin Yasir, meski sebagian orang sempat
meragukan keimanannya, di kemudian hari ia justru menjadikan dirinya sebagai tameng
Rasulullah di berbagai kesempatan.

Menjelang perang Uhud dimulai, bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan kedua
putranya, Habib dan Abdullah, ia keluar ke bukit Uhud. Lalu Rasulullah Saw bersabda
kepada mereka, "Semoga Allah memberikan berkah kepadamu semua." Setelah itu
perempuan bidadari perang Uhud itu berkata kepada beliau, "Berdo'alah kepada Allah
semoga kami dapat menemani engkau di surga kelak, ya Rasulullah!" Lalu Nabi Saw
berdo'a, "Ya Allah jadikanlah mereka itu teman-temanku di Surga." Maka perempuan
itupun berkata lantang, "Aku tidak akan mempedulikan persoalan dunia menimpa diriku."

Dialah Ummu Amarah, Nusaibah binti Ka'ab Al Maziniay. Rasulullah menobatkannya


sebagai bidadari surga karena perannya membela Rasulullah saat pasukan muslimin
terdesak pada perang Uhud. Bersama Mush'ab bin Umair -yang kemudian menemui
syahid setelah mendapatkan puluhan tusukan di tubuhnya- Nusaibah menghadang
Qam'ah, orang yang dipersiapkan membunuh Rasulullah dalam perang tersebut. Dua
belas tusukan dan salah satunya mengenai leher Nusaibah. Bilah-bilah pedang yang satu
persatu menghujam tubuhnya, ujung-ujung cadas tombak, dan barisan anak panah yang
menghias tubuhnya, dirasainya sebagai sentuhan lembut para penghuni Surga. Darah
mengalir dari setiap inci tubuhnya, air matanya menjadi saksi tak terbantahkan untuk
memuluskan jalannya ke surga Allah. Dan debu bukit Uhud pun terharu menerima
dentuman tubuhnya, tak henti-hentinya milyaran debu itu bersaksi akan harumnya wangi
surga dari tubuh perempuan mulia itu.

Adalah Mush’ab bin Umair, aroma mewangi sudah tercium persis di depan hidung meski
pemuda tampan itu masih berada puluhan meter jauhnya. Pakaiannya terbaik, terbagus
dan termahal dari yang pernah dimiliki siapapun di tanah Makkah. Ketampanannya tak
terkira, siapa memandang pasti terpesona, bahkan para lelaki pun iri. Siapa yang tak
mengenalnya, pemuda perlente anak seorang bangsawan yang kesohor. Tetapi bukan itu
yang membuatnya tercatat dalam sejarah manusia mulia pengikut Muhammad. Begitu
terucap dari mulut wanginya kalimat Syahadat, bertambah wangi lah setiap sisi rongga
mulutnya, wajah yang tampan semakin bersinar penuh cahaya kemuliaan meski tak lagi
ia mengenakan gamis kebangsawanan, walau ia menanggalkan semua atribut yang
menjadi simbol-simbol kebesaran. Mush’ab tetap tampan, kharismatik, dan menjadi
teladan bagi pemuda dan remaja dimasanya, terlebih saat ia dipercaya sebagai duta
pertama Rasulullah ke Madinah. Cita-citanya untuk tetap bersama Rasulullah di Surga
kelak, di amin-kan oleh seluruh isi langit dan bumi, karena seorang pemuda kaya raya
nan tampan itu syahid dengan tubuh penuh lubang dan sayatan. Ia menjadi tameng
Rasullullah pada perang Uhud. Meski darah dan debu membaluti wajah dan tubuhnya,
siapa yang bisa melepaskan bayang-bayang kharismanya?
Ada seorang budak hitam legam berasal dari Negeri Habasyah (Negeri Ethiopia yang
yang hingga kini terus dicengkeram kelaparan). Bertahun-tahun menjadi budak, diinjak-
injak, dicaci, diludahi, bahkan dihalalkan darahnya untuk dibunuh oleh sang majikan.
Namun Allah mengangkat derajat Bilal bin Rabbah dengan Islam. Hidayah Allah justru
turun kepada manusia yang dihinakan oleh manusia lainnya, budak hitam yang orang
mensebandingkan hitamnya seperti pantat kuali itu, sesungguhnya putih berseri serta
memancarkan kemilauan di mata Allah, Rasulullah dan orang-orang beriman. Saat sang
majikan, Suhail, menindihkan batu besar dan panas diatas tubuh budak itu, hanya kata,
“Ahad, Ahad …” yang keluar dari mulutnya hingga kemudian seorang sahabat
membebaskannya. Jika boleh dan bisa batu itu berbicara, mungkin ia akan berteriak
lantang menolak menindih tubuh mulia itu, atau bahkan memilih hancur berkeping-
keping ketimbang harus menjadi perantara tangan Suhail untuk menyentuh kulit kasar
namun indah itu. Adakah alasan surga tak menginginkan budak hitam ini menjadi salah
satu penghuni terhormatnya?

***

Dan batu-batu pun iri, debu pun menangis, para cemeti itu menjadi cermin keikhlasan.
Bilah-bilah pedang menampung tetes air mata dan darah yang kelak sebagai pemulus
jalan membentang menuju surga, bahkan ujung tombak dan mata anak panah bersaksi,
betapa orang-orang itu mulia karena perjuangan dan keteguhannya. Mereka tak pernah
mencari surga, karena justru surga betul-betul menanti mereka untuk menyinggahi setiap
singgasananya, mengarungi riak-riak sungai kautsar yang diatasnya berbagai buah segar
dan menawan menanti untuk dinikmati. Tak lupa, bidadari-bidadari cantik nan bermata
jeli, membuka tangannya menyambut kehadiran manusia-manusia yang seluruh penghuni
langit memujinya.

***

Berjalan di muka bumi, sama dengan berjalan diatas batu kerikil tajam yang setiap saat
akan siap menghunus telapak kaki ini. Jika tak lengkapi diri dengan kesiapan dan
ketahanan yang luar biasa, tentu takkan jauh jalan yang bisa ditapaki. Hidup pasti akan
selalu beriringan dengan kesulitan, tetapi tak pernah Allah menciptakan kesulitan tanpa
diciptakannya pula pintu keluarnya. Bukan maksud Allah membuat sulit hidup manusia,
karena Allah juga memberikan petunjuk-petunjuknya. Tapi sekali lagi, mengikuti
petunjuk itu pun bukan tanpa cobaan. Hanya dengan keteguhan dan perjuangan, semua
akan bermuara pada kebahagiaan. Masalahnya, sedikit sekali dari kita yang kuat bertahan
pada cobaan. Adakah butir-butir debu yang menangis karena melihat kesungguhan
perjuangan hidup kita? Ah, nampaknya justru kita lah yang terlalu cengeng.

Tidak jarang, untuk meniti jalan kebenaran, teramat banyak pengorbanan yang mesti
dilakukan. Tetapi dasar manusia, lebih banyak promosi dan koarnya ketimbang
pengorbanannya yang belum seberapa, padahal kita sama sekali belum diuji. Belum,
bahkan belum tiba ujian sesungguhnya. Yang saat ini kita hadapi dan jalani baru riak-riak
di pinggir pantai sebelum kita benar-benar mengarugi lautan yang penuh ombak serta
karang yang menghancurkan. Coba periksa, di bagian mana dari tubuh ini yang tercabik-
cabik penuh darah sebagai bukti besarnya pengorbanan dalam meniti kebenaran? Hmm..
bahkan kita masih enggan untuk menukar sedikit saja yang kita miliki dengan keagungan
cinta-Nya.

Ini belum terbukti! Hingga satu saat kita dihadapkan pada satu pilihan, mati dengan
torehan tinta emas kemuliaan atau tetap hidup diatas perisai hina. Nanti akan terbukti!
Hidup ini akan berakhir pada ketetapan atas kebenaran, atau sebaliknya, disaat
kehormatan pun berpaling. Adakah neraka Allah tak menerima manusia tampan, cantik,
kaya raya namun berakhir pada kenistaan? Wallahu ‘a’lam bishshowaab. (Bayu Gaw)

Dari Langit Mengenal Allah

Publikasi: 27/06/2003 17:07 WIB


"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan"
(QS. Adz-Dzariat:7)

eramuslim - Seorang sahabat baru saja mengirimi saya e-card, bergambar gugusan
galaksi dengan pesan singkat sarat makna: "Semoga semakin menambah keyakinan kita
tentang keberadaan Allah". Ingatan saya langsung terbang ke sebuah masa. Dulu saya
pernah bimbang tentang hal ini, parah-parahnya saat SMU kelas 3. Teman karib juga,
bahkan dia pernah tidak shalat beberapa waktu. Saya sering berfikir kalau Allah ada,
seperti apa wujudnya. Suatu malam kepala saya pening memikirkannya. Akhirnya saya
datangi seorang ulama, tetangga dekat, tanggapannya pertama kali "dasar anak nakal".
Tahu saya tidak main-main, akhirnya seperti seorang ayah dengan lemah lembut beliau
membimbing. Kami berbincang sangat lama, meski sebetulnya dari pertemuan itu, saya
masih tidak puas. Setan memang pintar.

Hingga pada saat hari pertama UMPTN tiba. Sudah jauh-jauh hari saya bersiap, insya
Allah saya sudah merasa maksimal belajar. Bagi saya UMPTN adalah hal yang besar.
Ketika pengawas membagikan lembar soal, saya duduk tenang dan berkonsentrasi.
Sekitar sepuluh menit setelah ujian dimulai, tiba-tiba saja saya mengalami kram perut,
tangan sampai gemetar, pandangan berkunang-kunang, keringat dingin keluar, saya tidak
mampu berfikir. Kalau di rumah, mungkin saya sudah menangis. Seorang pengawas
menghampiri, "jangan tegang dik, berdo'a kepada Allah, semoga dimudahkan," katanya,
seulas senyum dihadiahkannya kepada saya.

Saat itulah saya merasa, saya harus berdoa. "Nak, ketika suatu saat manusia mengalami
keadaan yang sangat sulit, ketika manusia lain tidak ada yang mampu menolong, kepada
siapa kamu akan memohon pertolongan, paling tidak berdo'a," kalimat ulama kembali
terngiang. Hati saya teriris, "Ya Allah......". Dalam kertas ujian saya tulis tebal-tebal
"Allah, maafkan saya". Ruangan hening, perut masih terasa kram. Saya terus
beristighfar, lambat laun sakitnya reda. Saya sudah kehilangan waktu hampir 15 menit.
Ketika, saya sudah mampu membaca, dalam hati saya mengucap "Hamba menyebut
nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang". Alhamdulillah, saya masih bisa
berusaha. Ketika pengawas itu mengambil jawaban, saya berkata kepadanya "Terima
kasih sudah mengingatkan saya". mbaknya hanya tersenyum dan berlalu.
Kini saya mengingat-ingat bimbingan ulama tadi. Dengan serius beliau menyebutkan,
untuk membentuk pemuda yang shaleh, hal pertama yang harus ditanamkan kepadanya
adalah tentang "Eksistensi Allah". Setelah percaya, maka seseorang akan tertarik untuk
mengenal dan ketika sudah mengenal, cinta tumbuh, berputik dan berbunga dengan
sendirinya. Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Aqidah adalah hal pertama
yang harus terhujam.

"Bagaimana bisa mengenal Allah?" tanya saya. Selanjutnya, beliau yang sudah hafal Al-
qur'an sejak usia 11 tahun ini, terdiam. Kedua mata yang sudah tidak berfungsi itu
menerawang. "Apa yang kau sukai dari semesta raya?," beliau bertanya. Saya berfikir,
banyak sekali yang saya kagumi. Gunung Cikuray, Gunung Putri, Gunung Ciremai dan
bebukitan yang selalu menemani saya merenung saya suka. Sawah yang menghampar di
belakang rumah, tempat saya berjalan mencari angin segar setiap sore, saya juga suka.
Apalagi saat menyaksikan Curug Citiis yang airnya jatuh bertenaga. Tapi akhirnya saya
memutuskan Langit.

"Baiklah, dengarkan!" pintanya. Saya memasang telinga, sambil menatap gunung


Ciremai yang begitu megah, saya menyimak.

"Salah satu jalan untuk mempercayai bahwa Allah itu ada, lihatlah semesta, itu firman
Allah dalam Al-qur'an. Tapi jangan hanya melihat, gunakan akal dan pikiran selanjutnya
tafakuri. Hanya melihat saja semua orang juga bisa. Beruntunglah orang-orang yang
menggunakan akal. Tidakkah keberuntungan bagi orang-orang yang menggunakan
akalnya? Seperti Allah berfirman, ".... Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran
kecuali orang-orang yang berakal". (2:269).

"Siapa yang mencipta, semua? Baca Al-qur'an! sumber yang tak dapat diragukan lagi
kebenarannya. Subhanallah, Allah menciptakan bumi lengkap dengan perkakasnya,
semesta indah beserta manusia. Mengurusi semua mahluk tanpa sejeda pun lelah dan
mengantuk. Subhanallah yang Maha Perkasa sekaligus Maha Lembut, demikian megah
dunia dan alam raya. Adakah patut kita memandang biasa semua itu. Beruntunglah kamu
diberi alat pembeda dengan binatang dan tumbuhan serta semua mahluk belahan dunia
manapun. Akal. Dengannya kamu akan terampil memikirkan dan mentafakuri semua."
"Arahkan pandanganmu ke atas, adalah yang bernama langit terbentang kokoh diatas
sana. Bersyukur kamu masih bisa melihat. Biasakah kamu memandangnya. Ya tentu saja,
bukankah kamu suka. Selanjutnya, siapakah yang menciptakan dan memberikan nama
langit tanpa retak sedikitpun kepada pemayung bumi?. Tentu saja Allah, "Dan Langit itu
Kami bangun dengan kekuasaan Allah..." (51:47). Jika kita sudah terampil menggunakan
akal, apa hikmah dibalik penciptaan langit? Banyak persepsi tentu saja."

"Pernahkah kamu berfikir, bahwa Allah menciptakan warna langit sesuai dengan
kekuatan mata kita. Birunya langit terbukti dapat menghilangkan pepat yang menggayuti
hati, coba bayangkan jika langit itu merah menyala. Rasakanlah bahwa dengan
memandang langit yang biru menawan memberikan kenikmatan dan kesegaran tersendiri.
Lepaskanlah pandangan kita saat kita bosan dan sedih, lihat betapa Allah
membentangkannya untuk manusia. Adakah batas yang dapat kita tangkap. Adakah
penyangga?"

"Jika malam telah tiba, ada apakah dilangit sana? Tegaklah berdiri dan saksikanlah layar
biru dengan gemerlap bintang. Apakah itu biasa saja. Sungguh jika hati kita merasa berat,
langit seperti demikian adalah obat penawar segala kegundahan. Jika kita benar-benar
mentafakurinya, langit bisa menghantarkan kita untuk mengenali penciptanya. Allah.
"Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (51:7). Para ahli tafsir menyebutkan bahwa
jalan (Al-Hubuk) ialah jalan yang bisa membawa kita kepada kesadaran betapa Allah
Maha Sempurna dalam berkreasi tanpa cacat. Langit sebagai petunjuk yang jelas yang
menunjukkan adanya sang pencipta. Langit salah satu bukti luasnya ilmu Allah."

"Al-Ghazali menyebutkan manfaat yang didapat dari langit antara lain: Mengurangi
kegundahan dan bimbang yang menggelayut, Mengingatkan kepada Allah, Melapangkan
hati dalam membesarkan Allah, Menghibur hati yang keras, Menyenangkan hati orang-
orang yang cinta kepada Allah, Memberi manfaat kepada orang yang terkena flek hitam
pada hatinya, sebagai kiblat do'a orang-orang yang sedang berdo'a. Lihat, betapa langit
sangat berguna bagi manusia. Maha Suci Allah yang tidak pernah menciptakan segala
sesuatunya dengan sia-sia. Padahal Itu baru langit, belum perkakas alam semesta
lainnya."

"Jika sudah yakin bahwa Allah itu ada. Ingatlah bahwa Allah selalu menatapmu,
mengawasimu dari setiap waktunya. Pada saat kita terlelap, berada di sekolah, diam di
rumah. Tak pernah ada yang luput dari pengawasannya. Dan kamu tidak bisa memikirkan
dzatnya seperti apa, karena akal yang dianugerahkan Allah terbatas, akalmu tidak akan
pernah sampai."

"Sekarang, pikirkan saja Maha pengasihnya, nikmat tak berhingganya. Bagaimana


membalasnya?" Saat itu saya mengangguk, tentu saja saya tahu. "Jika hatimu gundah,
sebutlah nama-Nya, hadirkan hatimu ketika berdo'a. Sesungguhnya Allah sangat dekat,
lebih dekat dari nadi lehermu sendiri". Saya terpekur, lama, sesak rasanya. "Jika masih
belum berhasil, tak usah malu menemui Saya, kita bahas lagi".

Sampai sekarang, saya belum pernah menemuinya untuk masalah tadi, kecuali
menjenguknya karena kesehatan yang dimilikinya tidak lagi sempurna.

mahabbah12@yahoo.com

Jejak Indah Sang Pemimpin

Publikasi: 25/06/2003 09:45 WIB


eramuslim - Malam telah pekat, selimut-selimut semakin dirapatkan para pemiliknya
untuk menambah lelap. Angin sahara menderu akrab ditelinga, dingin menusuk,
kesunyian hadir sejak tadi. Dia mengendap-endap keluar dari petak rumah sederhana,
menyusuri setiap lorong perkampungan Madinah. Jubah kumal bertambalan itu
menemaninya pergi. Ditajamkannya pendengaran, adakah rakyatnya menyelami derita
yang luput dari perhatian. Diawaskannya mata, terdapatkah rakyat alami duka akibat
kepemimpinannya. Jika dia berlalu dan mendengar dengkuran halus pemilik rumah,
senyuman menemaninya berpatroli.

Sendirian, dia memamah malam, langkahnya berjinjit khawatir mengganggu istirahat


rakyat yang begitu dicintai. Dari setiap detik yang mengalir, selalu kecemasan yang
membayang di wajah pemberaninya, jangan-jangan di rumah ini ada janda dengan anak-
anak yang kelaparan, atau khawatir di rumah selanjutnya orang tua terkapar kesakitan
tanpa sanak saudara, adakah di rumah itu yang sakit hati karena pajak terlalu tinggi.
Sendirian dia menikmati paruh malam, menyulam harapan keadaan rakyat sentosa
senantiasa, merajut do'a agar rakyat dibawah naungan perlindungannya dilingkupi pilinan
kedamaian.

Langkahnya terhenti, ketika beberapa wanita terdengar bersenandung, dari bilik sebuah
rumah:

Adakah jalan untuk minuman memabukkan,


Dan aku akan meminumnya
Atau adakah jalan,
Kepada Nashr bin Hajjaj?

Saat itu, dia berdiam lama, menghafal sebuah nama asing dalam hatinya, Nashr bin
Hajjaj. Selanjutnya patrolinya dilanjutkan, hingga waktu fajar sebentar lagi menjemput.

Pagi harinya, dia mencari tahu nama yang didapatinya tadi malam. Salah seorang
pembantunya menghadapkan seorang laki-laki dari suku Sulaym, Nashr bin Hajjaj.
Berdiri tegap sang pemuda. Dia memandangnya lekat. Pemuda yang menakjubkan,
ketampanannya mempesona, rambutnya indah. Dia mengingat syair wanita semalam.
Akhirnya sang pemuda diperintahkan untuk memotong rambut, ketika kembali, Nashr
tampak lebih tampan, dia pun menyuruhnya mengenakan ikat kepala, kali ini pun Nashr
terlihat lebih mempesona. Khawatir menimbulkan banyak fitnah dan kemudharatan di
tempat berdiamnya selama ini, Dia pun mengamanahkan Nashr tugas mulia, menjadi
anggota pasukan tentara dengan jaminan kehidupan yang lebih baik. Wajah Sang pemuda
pun berbunga.

Siapakah dia, yang sangat khawatir terjadi kerusakan akhlak para wanita hingga
memikirkan solusi terbaik dengan memindahkan Nashr? Tebak, siapa pemimpin yang
begitu tulus mencintai rakyatnya dengan berjalan dari satu lorong ke lorong yang lain
untuk mencari tahu adakah rakyatnya yang tidak dapat tidur nyenyak? Ya, saya sepakat
denganmu sahabat, Dia adalah Umar Bin Khattab, khalifah kedua bergelar amirul
mu'minin, pemimpin bagi orang-orang mu'min. Begitu Mahsyur.

Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab,
mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering,
tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam
seperti abu.
Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan
kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama.
Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari diinstruksikan menyembelih
onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-
bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan
menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, "Ya Allah, jangan sampai
umat Muhammad menemui kehancuran ditangan ini".

Sejarah menorehkan kisah Umar yang mengharamkan daging, samin dan susu untuk
perutnya, khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu hanya
menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan
kepada pembantunya ia berkata "Kurangilah panas minyak itu dengan api". Minyak pun
dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah
demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, "Berkeronconglah sesukamu,
dan kau akan tetap menjumpai minyak, hingga rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan
wajar".

Tahun abu pun berlalu. Daerah kekuasaan Islam bertambah luas, pendapatan negara
semakin besar. Masyarakat semakin makmur. Apakah umar berhenti berpatroli? Masih
dengan jubah kumal, umar didampingi pembantunya berkeliling merambahi rumah-
rumah berpelita. Kehidupan keluarga umar, masih saja pas-pasan. Padahal para gubernur
di beberapa daerah hidup dalam kemewahan. Para sahabat, mulai berkasak-kusuk,
mereka mengusulkan untuk memberi tunjangan dan kenaikan gaji yang besar untuk
Umar. Namun, para sahabat tidak berani menyampaikan usul ini langsung kepada umar.
Lewat Hafsah putri Umar, yang juga janda Rasulullah, usul ini disampaikan. Sebelumnya
mereka berpesan supaya tidak disebut nama-nama mereka yang mengusulkan.

"Siapa mereka yang mempunyai pikiran beracun itu, akan ku datangi mereka satu persatu
dan menamparnya dengan tanganku ini," berangnya kepada Hafsah. Selanjutnya
tatapannya meredup, dipandanginya putri kesayangan itu, "Anakku, makanan apa yang
menjadi santapan suamimu, Rasulullah?" Hafsah terdiam, pandangannya terpekur di
lantai tanah. Ingatan hidup indah bersama sang purnama Madinah, tergambar. Terbata
Hafsah menjawab, "Roti tawar yang keras, ayah. Roti yang harus terlebih dahulu dicelup
ke dalam air, agar mudah ditelan".

"Hafsah, pakaian apa yang paling mewah dari suamimu," seraknya masih dengan nada
kecewa. Hafsah semakin menunduk, pelupuk mata sudah tergenang. Terbayanglah tegap
manusia sempurna, yang selalu berlaku baik kepada para istrinya. "Selembar jubah
kemerahan, ayah, karena warnanya memudar. Itulah yang dibangga-banggakan untuk
menerima tamu kehormatan". Pada saat menjawab, kerongkongan Hafsah tersekat,
menahan kesedihan.

"Apakah, Rasulullah membaringkan tubuh diatas tilam yang empuk?" pertanyaan ini
langsung dipotong Hafsah "Tidakk!" pekiknya. "Beliau berbantal pelepah keras kurma,
beralaskan selimut tua. Jika musim panas datang, selimut itu dilipatnya menjadi empat,
supaya lebih nyaman ditiduri. Lalu kala musim dingin menjelang, dilipatnya menjadi dua,
satu untuk alas dan bagian lainnya untuk penutup. Sebagian tubuh beliau selalu berada
diatas tanah". Saat itu meledaklah tangis Hafsah.

Mendengar jawaban itu, Umar pun berkata, "Anakku! Aku, Abu Bakar dan Rasulullah
adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Mengapakah jalan yang harus
kutempuh berbeda? Musafir pertama dan kedua telah tiba dengan jalan yang seperti ini."
Selanjutnya Umar pun menambahkan "Rasulullah pernah berkata: Kita adalah kaum yang
menangguhkan kesenangan untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia
seperti orang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon,
kemudian berangkat meninggalkannya".

Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu'Lu'a, budak Mughira bin
Syu'bah, ringan ia bertutur, "Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang
muslim". Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk
selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi
Raajiiun.

Madinah berduka, sebuah syair menghantarkan kepergiannya:

Allah membalas kebaikan kepada Imam


Memberi berkah ke kulit bumi yang terkoyak
Kau raih kemilau sejarah gemilang
Kau tinggalkan retak-retak belum selesai
Siapa terbang di sayap burung unta
Akan terkejar apa yang sudah berlalu sebelumnya?
Setelah pembunuhan di Madinah
Dunia pun gelap
Pohon-pohon tersentak bergetar,
Dan tidak kuharapkan
Kematiannya dikuku singa
Bermata biru, kepala merunduk
(Muzarrad bin Dzirar)

Pemilu, tinggal menunggu hitungan bulan, sungguh saya merindukan sosok pemimpin
yang meneladani Umar dalam mengayomi rakyatnya.

mahabbah12@yahoo.com

Mata Sehat dan Afiat

Publikasi: 11/06/2003 08:13 WIB


eramuslim - Seorang pakar dalam sebuah seminar, menyebutkan bahwa mata adalah
jendela jiwa kepada dunia. Mata menghantarkan pemiliknya untuk menikmati sekian juta
pemandangan semesta raya. Matalah yang menyantap kuning mentari yang begitu syahdu
mengelupasi membran kepekatan sisa malam. Jutaan manik-manik bintang sungguh
sempurna di layar biru raksasa, mengenyangkan mata pada malam hari. Dengan mata,
seorang suami mampu memilihkan warna baju baru untuk menggembirakan istri tercinta.
Untuk menerka apakah hari akan hujan, seseorang mengarahkan mata ke atas, warna
langit kelabu atau biru cemerlang.

Memiliki mata sehat memang menyenangkan. Mata yang berfungsi secara sempurna,
melihat dengan baik dan juga bisa melotot. Seorang teman dekat sempat iri karena saya
tidak berkaca mata, meskipun selalu berada di depan layar komputer. Dia harus
mengganti kaca mata ketika minusnya bertambah, belum lagi anjuran mamanya agar dia
selalu menuntaskan dahaganya dengan juice wortel tak peduli harus pencet hidung plus
ekspresi menyedihkan ketika meminumnya. Obat suplemen untuk kesehatan mata pun
tak lupa dikonsumsinya. Demi sepasang mata yang sehat.

Tetapi, apakah mata sehat saja sudah cukup?


Dalam sebuah buku tafsir, ternyata sehat saja masih jauh dari cukup. Selain sehat, mata
juga harus afiat. Betapa sering kita mendengar kata yang satu ini bukan? Ya kata yang
kita sertakan setelah sehat ketika seseorang menanyakan kabar kita.

Dalam kamus bahasa Arab, kata afiat diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-
Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Afiat juga dapat diartikan sebagai
berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Jadi mata yang sehat adalah ketika mata dengan baik dapat melihat maupun membaca.
Sedangkan mata yang afiat adalah mata yang dapat melihat dan membaca segala sesuatu
yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari segala sesuatu yang terlarang, karena
itulah fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata.

Pernah suatu waktu, saya berada dalam ruangan mungil bersekat triplek putih, di sebuah
warung internet. Sedang asik-asiknya browsing, tiba-tiba saja suara-suara aneh terdengar
persis dari bilik sebelah, laki-laki dan perempuan. Tadinya saya tidak ambil pusing, tapi
lama kelamaan suara-suara itu jadi tambah menyeramkan, belum lagi "jedak-jeduk" ke
dinding triplek tempat saya bersandar. Apakah gerangan yang mereka lakukan?

Saya tidak mau memikirkannya lebih jauh. Tapi saya jadi bersu'udzan bahwa mereka
sedang mengakses situs yang membuat dengkul keropos. Daripada tidak nyaman terus-
terusan, akhirnya saya gedor juga dinding penyekat cukup keras, ah tawakkal saja kalo
mereka terusik dan mendatangi saya. Tetapi setelah menunggu agak lama, kekhawatiran
itu tidak terjadi. Ffuihh ... Legaaa .... Saya yakin mata mereka sehat, saya melihat
keduanya tidak buta dan tidak berkacamata, namun sayang mata mereka tidak afiat.

Dilain kesempatan, "Mbak pinjam, speaker komputernya dong" pinta adik manis
penghuni kamar bawah suatu waktu. Speaker sudah digenggamnya, sumringah dia
menuruni tangga. "Mbak nggak curiga buat apa?" tanya seseorang dibawah. Saya
menajamkan pendengaran. Suara pintu kamar ditutup, terdengar. Kos-an sepi. Tak lama
waktu pun berselang.
"Terima kasih ya mbak," adik itu lagi. Kali ini wajahnya aneh, sedikit shock sepertinya.
"Lho udah dek? kalo boleh tau, buat apa sih?" tanya saya hati-hati. "Ng... nng... nonton
mbak, tapi speakernya nggak jadi dipake," terbata dia menjawab. "Film bisu dong, emang
enak nontonnya?" Dia tersenyum kecut, dan merebahkan diri di tempat tidur. Nafas
beratnya keluar paksa satu persatu. Saya yang lagi membaca, menoleh. "Mbak, saya
sudah berdosa" lirihnya, matanya dipejamkan kuat-kuat. "Mbak jangan bilang yang lain
yah, please, sumpah yah mbak" tambahnya memelas. Dia diam lagi. "Barusan kami
nonton VCD Itenas, saya nggak tau sebelumnya, mbak-mbak itu cuma bilang mau
nonton, gitu aja, kalo saya tau saya bisa cari alasan komputernya rusak," paparnya.
Sebentar kemudian air matanya keluar. Saya beristighfar keras-keras.

Kesempatan selanjutnya saya menatap pemilik mata-mata itu. Sehat, tapi sekali lagi
sayang tidak afiat.

Khusus untuk anda-anda yang mempunyai banyak kesempatan mengakses internet,


tentunya harus hati-hati agar mata tidak saja selalu sehat tapi juga afiat. Terlalu banyak
halaman-halaman "menyeramkan" yang dengan gampang bisa dikunjungi. Apalagi situs-
situs super laknat bertebaran dimana-mana. Tinggal mengetikkan sebuah alamat kita
dengan kilat pergi kesana, tak peduli rentang jarak. Bahkan ketika seseorang tidak faham
alamatnya, sebuah fasilitas search engine menjadikan 'misi' tadi menjadi begitu mudah.
Pernah dalam sweeping jaringan komputer sebuah perusahaan yang terhubung ke fasilitas
internet, banyak bapak-bapak yang keberatan komputernya dibersihkan tetapi akhirnya
menyerah juga dengan tersenyum malu-malu, gambar-gambar porno yang disimpannya,
itulah alasannya.

Membuat mata sehat relatif lebih mudah dibanding menjadikan mata yang afiat. Padahal
ketika mata tidak afiat dalam arti ketika mata tidak difungsikan sesuai dengan harapan
pencipta-Nya maka bisa-bisa menjadikan pemiliknya hina dan merugi, sesuai firman
Allah tentang sifat para penghuni neraka "Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka
Jahannam kebanyakan dari Jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak
dipergunakan untuk memahami (Ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi
tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda (kekuasaan Allah) dan mereka
mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah.
Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-
orang yang lalai". (Al-A'raf :179).

Saudaraku, setan bin iblis beserta kaki tangannya, tak pernah lelah berdiri disamping kita
bahkan mengalir di setiap pori-pori. Ketika mata kita seringkali tak terarah, cepatlah
beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jangan menganggapnya remeh, karena
dari mata lah semuanya bisa bermula. Anas ra berkata, "Kalian melakukan dosa mata
seolah-olah dosa itu sehalus helai rambut. Sedangkan kami dimasa Rasulullah telah
menganggapnya sebagai dosa besar, sedang dosa besar itu sungguh membinasakan".

Apakah setiap kita ingin binasa? Ibnu Qayyim menuliskan, "Dosa membuat berhentinya
ilmu. Hati menjadi terhimpit, kehidupan sulit, badan menjadi lemah dan ketaatan kepada
Allah pun menurun. Bahkan barokahnya tercabut, sebaliknya keburukan bermunculan,
dosa-dosa yang lainpun menjelang lalu menjadi manusia yang tak peduli pada
masyarakat dan lingkungan. Binatang-binatang mengutuknya, kehinaan menjadi bajunya,
hatinya keras dan doanya tertolak. Kedurhakaannya meliputi bumi dan lautan. Hilang
segala rasa, musnah semua kenikmatan. Jiwanya diliputi ketakutan, syaitan-syaitan
mudah menjerat, dan akhirnya semua miliknya binasa".

Saudaraku, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, sebaik-baik manusia adalah
bukan yang tidak pernah salah, tetapi ketika dia salah dan menyadarinya, segera dia
bertaubat dengan taubat sebenar-benarnya. Meskipun susah sungguh.

Tak terhitung manusia menjauh dari agama Allah, maksiat terhidangkan dimana-mana,
tayangan televisi, majalah dan tabloid porno, bahkan internet lebih canggih lagi. Walau
begitu, Allah maha Kasih dan Sayang, Dia tidak akan menghentikan kemilau hidayah
kepada umatnya. Jemputlah hidayah itu, dengan membekali diri oleh pemahaman agama
dan ilmu. Sungguh, rengkuhlah hidayah dengan menghadiri banyak majelis dzikir,
menafkahi keluarga dengan cara yang halal, mencari teman yang berakhlak baik,
menyantuni anak yatim, berbakti kepada orangtua.

Boleh jadi sekian waktu kita terjerembab di lembah kehinaan, berkubang dosa dan
kemaksiatan. Boleh jadi kitalah si pemilik mata-mata yang tidak afiat itu. Tetapi, tidak
usah berlama-lama untuk segera bertaubat. Saudaraku, ketika niat untuk memperbaiki
sudah bulat, seringkali hati terasa gamang, gundah... adakah harapan bisa membersihkan
diri sementara dosa terasa membumbung? Kita ingin taubat, tetapi terasa tak mungkin.

Jangan takut saudaraku, Allah berfirman dalam hadist qudsi, "Wahai anak Adam jika
kamu meninta kepada-Ku dan mengharap ampunan, niscaya Aku ampuni semua dosa-
dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu mencapai ujung
langit yang paling tinggi kemudian kamu meminta ampun kepada Ku, niscaya Aku
ampuni dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam jika kamu datang kepada Ku
dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian menemuiku dengan tidak mensekutukan
Aku dengan sesuatu pun, nicaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi
pula". (HR Tirmidzi).

Betapa Allah maha penerima taubat. Sungguh berbahagia mempunyai mata sehat wal
afiat. Saya sampaikan dengan tulus, 'selamat kepada anda yang memiliki keduanya'.
"Allahumma Afinii fi bashorii...".

mahabbah12@yahoo.com

7 Ciri 'Sok Tahu'

Publikasi: 10/06/2003 14:20 WIB


eramuslim - 'Sok tahu' pada dasarnya adalah "merasa sudah cukup berpengetahuan"
padahal sebenarnya kurang tahu. Masalahnya, orang yang sok tahu biasanya tidak
menyadarinya. Lantas, bagaimana kita tahu bahwa kita 'sok tahu'? Mari kita mengambil
hikmah dari Al-Qur'an. Ada beberapa ciri 'sok tahu' yang bisa kita dapatkan bila kita
menggunakan perspektif surat al-'Alaq.

1. Enggan Membaca
Ketika disuruh malaikat Jibril, "Bacalah!", Rasulullah Saw. menjawab, "Aku tidak bisa
membaca." Lalu malaikat Jibril menyampaikan lima ayat pertama yang memotivasi
beliau untuk optimis. Adapun orang yang 'sok tahu' pesimis akan kemampuannya.
Sebelum berusaha semaksimal mungkin, ia lebih dulu berdalih, "Ngapain baca-baca teori.
Mahamin aja sulitnya minta ampun. Yang penting prakteknya 'kan?" Padahal, Allah
pencipta kita itu Maha Pemurah. Ia mengajarkan kepada kita apa saja yang tidak kita
ketahui.

Disisi lain, ada pula orang Islam yang terlalu optimis dengan pengetahuannya, sehingga
enggan memperdalam. Katanya, misalnya, "Ngapain baca-baca Qur'an lagi. Toh udah
khatam 7 kali. Mending buat kegiatan lain aja." Padahal, Al-Qur'an adalah sumber dari
segala sumber ilmu, sumber 'cahaya' yang tiada habis-habisnya menerangi kehidupan
dunia. Katanya, misalnya lagi, "Ngapain belajar ilmu agama lagi, toh sejak SD hingga
tamat kuliah udah diajarin terus." Padahal, 'ilmu agama' adalah ilmu kehidupan dunia-
akhirat.

2. Enggan Menulis
Orang yang sok tahu terlalu mengandalkan kemampuannya dalam mengingat-ingat dan
menghafal pengetahuan atau ilmu yang diperolehnya. Ia enggan mencatat. "Ngerepotin,"
katanya. Seolah-olah, otaknya adalah almari baja yang isinya takkan hilang. Padahal,
sifat lupa merupakan bagian dari ciri manusia. Orang yang sok tahu enggan mencatat
setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, ceramah, dan sebagainya. Padahal, Allah
telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia.

Di sisi lain, ada pula orang yang kurang mampu menghafal dan mengingat-ingat
pengetahuan yang diperolehnya, tapi ia merasa terlalu bodoh untuk mampu menulis.
"Susah," katanya. Padahal, merasa terlalu bodoh itu jangan-jangan pertanda kemalasan.
Emang sih, kalo nulis buat orang lain, kita perlu ketrampilan tersendiri. Tapi, bila nulis
buat diri sendiri, bukankah kita gak bakal kesulitan nulis 'sesuka hati'? Apa susahnya
nulis di buku harian, misalnya, "Tentang ciri sok tahu, lihat al-'Alaq!"?

3. Membanggakan Keluasan Pengetahuan


Orang yang sok tahu membanggakan kepintarannya dengan memamerkan betapa ia
banyak membaca, banyak menulis, banyak mendengar, banyak berceramah, dan
sebagainya tanpa menyadari bahwa pengetahuan yang ia peroleh itu semuanya berasal
dari Allah. Ia mengira, prestasi yang berupa luasnya pengetahuannya ia peroleh berkat
kerja kerasnya saja. Padahal, terwujudnya pengetahuan itu pun semuanya atas kehendak-
Allah.

Mungkin ia suka meminjam atau membeli buku sebanyak-banyaknya, tetapi


membacanya hanya sepintas lalu atau malah hanya memajangnya. Ia merasa punya cukup
banyak wawasan tentang banyak hal. Ia tidak merasa terdorong untuk menjadi ahli di
bidang tertentu. Kalau ia menjadi muballigh 'tukang fatwa', semua pertanyaan ia jawab
sendiri langsung walau di luar keahliannya. Ia mungkin bisa menulis atau berbicara
sebanyak-banyaknya di banyak bidang, tetapi kurang memperhitungkan kualitasnya.

4. Merendahkan Orang Lain Yang Tidak Sepaham


Bagi orang Islam yang sok tahu, siapa saja yang bertentangan dengan pendapatnya,
segera saja ia menuduh mereka telah melakukan bid'ah, sesat, meremehkan agama, dan
sebagainya. Bahkan, misalnya, sampai-sampai ia melarang orang-orang lain melakukan
amal yang caranya lain walau mereka punya dalil tersendiri. Ia menjadikan dirinya
sebagai "Yang Maha Tahu", terlalu yakin bahwa pasti pandangan dirinyalah satu-satunya
yang benar, sedangkan pandangan yang lain pasti salah. Padahal, Allah Swt berfirman:
"Janganlah kamu menganggap diri kamu suci; Dia lebih tahu siapa yang memelihara diri
dari kejahatan." (an-Najm [53]: 32)

Muslim yang sok tahu cenderung menganggap kesalahan kecil sebagai dosa besar dan
menjadikan dosa itu identik dengan kesesatan dan kekafiran! Lalu atas dasar itu dengan
gampangnya ia mengeluarkan 'vonis hukuman mati'. Padahal, dalam sebuah hadits shahih
dari Usamah bin Zaid dikabarkan, "Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallaah, maka
ia telah Islam dan terpelihara jiwa dan hartanya. Andaikan ia mengucapkannya lantaran
takut atau hendak berlindung dari tajamnya pedang, maka hak perhitungannya ada pada
Allah. Sedang bagi kita cukuplah dengan yang lahiriah."

5. Menutup Telinga dan Membuang Muka Bila Mendengar Pendapat Lain


Orang yang sok tahu tidak memberi peluang untuk berdiskusi dengan orang lain. Kalau
toh ia memasuki forum diskusi di suatu situs, misalnya, ia melakukannya bukan untuk
mempertimbangkan pendapat yang berbeda dengan pandangan yang selama ini ia anut,
melainkan untuk mengumandangkan pendapatnya sendiri. Ia hanya melihat selayang
pandang gagasan orang-orang lain, lalu menyerang mereka bila berlainan dengannya. Ia
tidak mau tahu bagaimana mereka berhujjah (berargumentasi).

Di samping itu, orang yang sok tahu itu bersikap fanatik pada pendapat golongannya
sendiri. Seolah-olah ia berseru, "Adalah hak kami untuk berbicara dan adalah kewajiban
kalian untuk mendengarkan. Hak kami menetapkan, kewajiban kalian mengikuti kami.
Pendapat kami semuanya benar, pendapat kalian banyak salahnya." Orang yang terlalu
fanatik itu tidak mengakui jalan tengah. Ia menyalahgunakan aksioma, "Yang haq adalah
haq, yang bathil adalah bathil."

6. Suka Menyatakan Pendapat Tanpa Dasar Yang Kuat


Muslim yang sok tahu gemar menyampaikan pendapatnya dengan mengatasnamakan
Islam tanpa memeriksa kuat-lemahnya dasar-dasarnya. Ia suka berkata, "Menurut Islam
begini.... Islam sudah jelas melarang begitu...." dan sebagainya, padahal yang ia ucapkan
sesungguhnya hanyalah, "Menurut saya begini.... Saya melarang keras engkau begitu...."
dan seterusnya. Kalau toh ia berkata, "Menurut saya bla bla bla....", ia hanya
mengemukakan opini pribadinya belaka tanpa disertai dalil yang kuat, baik dalil naqli
maupun aqli.
7. Suka Berdebat Kusir
Jika pendapatnya dikritik orang lain, orang yang sok tahu itu berusaha keras
mempertahankan pandangannya dan balas menyerang balik pengkritiknya. Ia enggan
mencari celah-celah kelemahan di dalam pendapatnya sendiri ataupun sisi-sisi kelebihan
lawan diskusinya. Sebaliknya, ia tekun mencari-cari kekurangan lawan debatnya dan
menonjol-nonjolkan kekuatan pendapatnya. Dengan kata lain, setiap berdiskusi ia
bertujuan memenangkan perdebatan, bukan mencari kebenaran.

Demikianlah beberapa ciri orang yang sok tahu menurut surat al-'Alaq dalam
pemahamanku. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, semoga kita masing-masing dapat
melakukan introspeksi dan memperbaiki diri sehingga kita tidak menjadi orang yang sok
tahu. Aamien.

Aisha Chuang

ac4x3@yahoo.com

(Karena) Kesendirian Adalah Himpunan Duka Cita

Publikasi: 09/06/2003 16:26 WIB


Akan merasa sunyi seorang yang tidak memiliki sahabat, dan sia-sia orang yang
menahan diri untuk tidak mencarinya. Lebih sia-sia lagi, orang yang telah mendapatkan
sahabat, kemudian ia menyia-nyiakannya.
(Hilal bin 'Ula Al-Raqy)

eramuslim - Matahari sudah condong ke sebelah barat. Berdua dengan Sari, saya
menyusuri jalan menuju stasiun. Pengumuman kereta akan segera datang telah terdengar,
kami berdua semakin mempercepat langkah. Alhamdulillah masih bisa dikejar. "Kamu
sudah beli karcis belum," tanya Sari. "Nggak sempat, nanti kucing-kucingan saja kalau
ada petugas," jawab saya ringan, kaki sudah hampir masuk ke gerbong, tapi Sari malah
menarik saya menjauhi kereta. Kereta berangkat. "Kenapa ngga beli karcis dulu," kali ini
mukanya agak keruh. "Kan ngga sempat, lihat tuh, mana antri lagi, males," mata saya
mengarah ke tempat penjualan karcis. "Ya sudah tunggu disini."

Sari bergegas pergi, dan dengan tidak enak hati saya memandangi punggungnya yang
menjauh. "Berapa lama, waktu antri untuk membeli karcis," katanya ketika tiba di
hadapan saya, tangannya menyodorkan karcis. "Sepuluh menit" singkat saya. "Gara-gara
sepuluh menit, kamu bisa jadi antri di neraka". Drrrrr, gemetar juga ditembak telak
seperti itu. "Dan saya nggak mau ikut-ikutan antri disana, gara-gara nggak ngingetin
kamu," tambah Sari. Saya diam, kena setrum sepertinya. "Sudahlah, lain kali jangan
curang!" perintahnya, kali ini dia memandang saya penuh arti.

Kalau terkenang dengan peristiwa tadi, saya selalu bergumam "Alhamdulillah... saya
mempunyai sahabat".
"Eh ada yang kangen ingin berjumpa dengan mu lho, mendengar rayuan mautmu,
melihatmu mengemis memohon cinta. Ayo bangun. Tahajud euyy!!!" itu isi SMS dari
seseorang yang baru saya kenal beberapa bulan. Pesan yang terus menerus dikirimnya
selama hampir 1 minggu, pada jam 03.00 pagi, tidak kurang. Sebuah SMS yang
sebelumnya diawali dengan misscall beberapa kali. Awalnya saya sempat merasa
terganggu dan menyembunyikan HP dibawah bantal agar bunyinya tidak terdengar.

Ketika saya membalas SMS-nya dengan "Tidak sayang pulsa tuh, mengganggu
ketenangan orang", SMS-nya pun datang, "lho katanya kamu sedang punya banyak
masalah". Sangat singkat, mengingatkan bahwa 2 hari yang lalu saya curhat kepadanya.

Sekarang, kala mengingatinya, juga selalu hati ini berujar "Alhamdulillah, saya memiliki
sahabat yang demikian....".

Ini kisah yang saya dengar dari seorang muslimah. Suatu ketika, dia dan alumni pengurus
Rohis SMA, berkumpul. Salah seorang rekan dari pengurus semasa Rohis (sebut saja A)
baru saja meninggal, dan mereka baru tahu keadaan ekonomi keluarganya ketika melayat
ke rumah A. Ternyata A ini tulang punggung ekonomi keluarganya, selain yatim, ibunya
hanya berjualan ala kadarnya. Ibunya bercerita, salah seorang adiknya hampir mau ujian
tapi karena tidak ada biaya, akhirnya gagal merampungkan sekolah.

Dibahaslah solusi untuk meringankan beban ibunda A, dengan sebelumnya beberapa


rangkaian taushiyah bergulir. Semua yang hadir larut, banyak air mata di sana. Air mata
cinta. Diakhir pertemuan, terkumpullah materi yang tidak sedikit, perhiasan, uang, sepeda
motor, sepeda, dan sepasang sepatu baru. Kita pasti tahu kisah selanjutnya, si ibu tak
henti menangis, dan hampir tersungkur di hadapan mereka. Allahu Akbar.

Sungguh kisah tadi seperti pesan yang disampaikan seorang ulama "Persahabatan antara
orang-orang mukmin, menyatunya kalbu mereka, dan kecintaan yang terjalin diantara
mereka merupakan karunia Allah bahkan juga termasuk taqarrub, dalam ketaatan yang
paling agung" Dan Alhamdulillah, Almarhum A ini mempunyai sahabat seperti mereka...

Dunia menjadi penuh makna ketika kita mempunyai banyak sahabat. Dunia menjadi
berpelangi tatkala banyak sahabat mengelilingi kita. Kahlil Gibran menyebut
"Kesendirian adalah himpunan duka cita". Tentu saja, karena manusia dicipta untuk
hidup dalam kebersamaan, seperti firman Allah "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya
Kami telah menciptakan kamu sekalian (terdiri dari jenis) laki-laki dan perempuan, dan
Kami menciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling
mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang
paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat:13).

Sekali lagi, banyak hikmah yang dapat kita reguk dari persahabatan. Dan juga perlu
diingat, kita harus cerdik pula dalam memilihnya. Dalam era sekarang ini, ketika
'fenominul' begitu menyesakkan hati umat Muslim, menjamurnya narkoba, pesta muda-
mudi, sepertinya kita butuh filter ampuh untuk memilih sahabat. Dan filter itu bisa begitu
ampuh ketika kita mempunyai sahabat yang mampu mendekatkan diri kita kepada
pemilik dari segala filter, Allah.

Memilih sahabat bukan berarti membeda-bedakan manusia. Memilah sahabat berarti kita
menilainya dari karakter dan sifat yang dimilikinya. Sebuah persahabatan yang nantinya
akan terjalin juga tidak seharusnya didasarkan pada parameter-parameter duniawi saja.
Sungguh, ketika kita berjumpa dengan seorang yang berakhlak baik, menjaga shalatnya,
maka itulah parameternya. Dan itulah yang dilakukan orang-orang shalih terdahulu dalam
menimbang siapa saja yang pantas menjadi sahabat baginya.

Ayo, pikatlah sahabat sebanyak yang kita mampu. Sahabat yang tidak menjadikan kita,
manusia yang disebut-sebut Al-Qur'an, "Pada hari si zhalim menggigit kedua tangannya
seraya berkata: Ah, seandainya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Malang nian,
mengapa dulu aku menjadikan si fulan menjadi sahabat akrabku". (Al-Furqan 27-28)

Dan jangan lupa, "shalih sendiri" juga tidak bermanfaat, jadi pikatlah sahabat yang ketika
dia mengenang kita, dia akan berujar "Alhamdulillah, saya mempunyai sahabat
sepertimu..."

Akhirnya, saya sampaikan salam keselamatan untukmu yang berkenan membaca tulisan
ini. Izinkan saya menyebutmu sebagai "sahabat". Saya ingin menggelarimu "sahabat",
panggilan mesra Nabi al-Musthafa pada generasi setia di zamannya, sapaan akrab
terdengar begitu merdu. Sebuah kosa kata indah yang saya temukan dalam buku "Berbagi
cinta dengan para Sufi" sebagai kiasan bertubi untuk orang yang paling mempunyai
makna. Dan sekarang, saya ingin mengadopsinya untuk anda yang sekali lagi berkenan
membaca tulisan ini. Sahabat, semoga Anda membendaharakan kata ini juga untuk saya.
Dan ketika anda menjadi sahabat, tak akan pernah jengah anda memperingatkan, ketika
saya salah melangkah.
mahabbah12@yahoo.com

Jagalah Makananmu Maka Allah Akan Menjagamu

Publikasi: 23/05/2003 09:14 WIB


eramuslim.

MasyaAllah, Sebanyak ini….?

Kuamati kembali daftar dzat halal dan haram yang tertera di dalam majalah tersebut. Aku
benar-benar shock karena makanan yang selama ini masuk dalam tubuhku mengandung
dzat haram. Ingin rasanya aku keluarkan kembali semua isi perutku tapi hal itu tidaklah
mungkin. Penyesalan tidak ada gunanya justru saat inilah seharusnya aku banyak
bersyukur kepadaNya. Dia Yang Maha Tahu telah mengingatkan aku betapa pentingnya
menjaga setiap tetes dzat yang masuk ke dalam tubuh. Dia Yang Maha Tahu pula yang
telah mengajariku bahwa dengan menjaga makanan kita, maka kita telah menjaga
keimanan.
Saat ini, di negeri orang yang mayoritas penduduknya non muslim, aku merasakan betapa
pentingnya arti makanan. Disaat yang lain makan dengan lahap, sementara kita harus
teliti membaca kandungan dzat makanan kita. Disaat yang lain bebas memilih makanan
kesukaan kita, sementara kita harus menahan rasa lapar yang mendera. Dan semua tidak
semudah seperti yang aku bayangkan sebelumnya karena dzat-dzat itu tidak hanya
menyeretku ke jurang kemalasan dan ke lembah kehinaan tetapi menutup semua jalan
yang ingin aku lewati. “Ya” Aku jadi malas beibadah kepadaNya, dan Allah tidak
memperkenankan aku bermunajat kepadaNya di malam hari karena tanpa aku sadari telah
begitu banyaknya dzat haram yang masuk kedalam tubuh ini. Belum lagi urusan-urusan
tiba-tiba jadi sulit untuk aku tembus.

“Kenapa dzat? Kenapa tidak langsung khamr, daging babi dan yang lainnya?“

Karena yang besar dan terlihat secara fisik biasanya lebih mudah untuk dihindari. Justru
yang kecil dan tidak terlihat yang sulit sekali dihindari dan kita mudah terjebak. Pada
awalnya, aku hanya mengetahui dzat 472e saja yang haram. Setiap kali membeli sesuatu,
aku selalu mengeceknya dan semua berjalan lancar. Ibadah harian yang biasa aku
kerjakanpun tidak ada masalah berarti. Sampai akhirnya aku menyadari “ada sesuatu
yang tidak beres.” Aku sangat sulit… sekali bangun malam walaupun aku sudah
mencoba berbagai macam strategi. Dan akhirnya aku menemukan daftar itu di sebuah
majalah Islam. Aku bersihkan semua makanan yang mengandung dzat-dzat tersebut dan
mulai saat itu aku memilih tidak makan kalau kandungan dzatnya tidak jelas atau
meragukan. Subhanallah kini aku bisa bangun malam kembali, bermunajat kepadaNya,
dan melaksanakan ibadah yang lain dengan lebih khusyuk. Allahpun membuka begitu
banyak jalan kemudahan untukku dan segala urusan menjadi lancar. Alhamdulillah
segala Puji Hanya Untuk Allah Yang Mencintai kebaikan dan hanya menerima sesuatu
yang baik.

Ada kebiasaan hidup yang hampir sama antara Rasulullah, para sahabat, dan orang–orang
sholeh, mereka selalu menjaga makanan mereka. Menggalakan puasa demi penyucian
diri dan kedekatan dengan RobbNya.

Masih segar dalam ingatan kita kisah seorang pemuda yang menemukan apel di sungai,
kemudian ia memakannya. Ditengah menikmati apel itu, ia tersadar bahwa apa yang ia
makan bukanlah miliknya. Setelah mencari dan mencari, akhirnya ia dapat menemukan
sang pemilik buah apel itu. Akhir cerita, sang pemilik pohon apel, menikahkan pemuda
itu dengan salah seorang anaknya. Bukti keimanan terpancar dalam diri pemuda tersebut.
Ia sangat menyadari bahwa setiap tetes makanan yang masuk kedalam tubuh pasti akan
mempengaruhi kecintaannya pada Allah. Karena setiap output pasti tergantung dengan
input maka makanlah makanan yang halal, cek dzat-dzat yang terkandung didalamnya,
jangan remehkan yang kecil, karena kita bisa selamat dengannya atau bahkan terpuruk
dilembah kehinaan karenanya. Jagalah makananmu, maka Allah akan menjagamu.
Wallahu'a’lam bishshowab (nnf@eramuslim.com)

Merasa dan Dirasa


Publikasi: 22/05/2003 10:32 WIB
eramuslim - Perjalanan menggunakan kereta api jabotabek seringkali menimbulkan
kekesalan. Berhimpit dan berdesakan setelah sebelumnya berebut dan saling sikut dengan
penumpang lain, sepatu terinjak-injak setelah dipoles mengkilat di rumah, baju yang
lecek dan basah oleh keringat. Belum lagi bermacam aroma saling berebut berkelebatan
di depan hidung. Namun bukan berarti tak ada yang menyenangkan, setidaknya bagi
saya, ada satu hal. Berkenalan dengan Sudarmaji, 51 tahun, pagawai swasta di Jakarta
yang kebetulan selalu berbarengan saat berangkat maupun pulang kantor.

Pria yang tinggal di Depok ini selalu nampak riang dan nothing to lose saat menghadapi
semua keadaan yang mesti dihadapinya. Entah itu macet, berdesakan, wajahnya yang
tersikut secara tak sengaja, kaki yang terinjak dan bermacam kejadian yang tidak jarang
membuat kesal dan panas hati. 1-0 skor buatnya dan saya merasa kalah karena seringkali
tak bisa menahan emosi. Satu hal lagi yang ternyata semakin membuat saya kalah telak
dengan skor yang tak lagi terhitung, yakni satu pelajaran penting darinya tentang
bagaimana merasai perasaan dan pikiran sendiri.

Anda yang seringkali menonton tayangan-tayangan mistik di TV, suatu saat di tengah
malam berjalan sendiri, akan merasa ‘ngeri’, was-was, bahkan takut. Paranoia segera
menghantui, setiap mendengar suara langkah di belakang, seolah ada sesuatu makhluk
yang mengikuti sehingga Anda sering-sering menengok ke belakang. Dan bersamaan
dengan itu, langkah Anda semakin cepat dan sesekali berlari. Namun saat itu juga, Anda
merasa sesuatu yang Anda kira makhluk dari dunia lain itu juga mempercepat
langkahnya. Padahal itu hanyalah suara-suara langkah Anda sendiri yang karena
persesuaian suara dan perubahan tempat seringkali suara apapun yang Anda hasilkan bisa
sedikit tertinggal di belakang walaupun jaraknya teramat tipis sepersekian detik. Jika ada
bunyi daun jatuh atau batu yang tersepak oleh kaki sendiri, lalu Anda merasa makhluk itu
akan berbuat jahat.

Kita seringkali tertipu oleh perasaan-perasaan dan pikiran kita sendiri. Hanya karena
terlalu sering menonton tayangan yang menggambarkan bentuk-bentuk hantu, lalu di
benak ini tersimpan tajam bahwa bentuk hantu itu seperti yang kita saksikan di TV.
Padahal bisa jadi, semua itu hanya rekaan manusia, walaupun kita meyakini keberadaan
makhluk lain yang gaib. Misalnya saja, gambaran hantu orang Indonesia sangat berbeda
dengan gambaran hantu yang dibuat oleh orang-orang di negara lain. Di AS kita
mengenal Zombie misalnya, yang tidak pernah ada di Indonesia, atau juga Vampire di
Rumania, sementara mereka tak pernah mengenal kuntilanak.

Pak Dar, pria paruh baya itu, awalnya nampak tak menyenangkan karena ia selalu
menegur dan berbicara apa saja kepada siapa saja. Laki-laki, perempuan, tua, muda, ia
tak peduli, semua orang yang berada didekatnya akan selalu disapanya. Begitu juga
dengan saya, mula-mula ia tersenyum, dan saya membalasnya dengan senyum yang
terkesan dipaksakan. Lalu ia menyapa, tanya ini tanya itu, dan lain sebagainya. Tidak
berhenti disitu, ia akan melanjutkannya dengan berbicara banyak hal, soal sampah di
sepanjang kereta api, gerbong-gerbong yang kotor, penumpang yang tidak beli karcis,
termasuk petugas KA yang mencari keuntungan pribadi dari penumpang yang ketahuan
tidak membeli karcis itu, sampai soal politik, anggota dewan yang korup dan pemerintah
yang menurutnya tidak becus. Pusing? Ya, kadang-kadang kalau sedang tidak mood
untuk ngobrol, pasti sebal mendengarkan ocehannya. Tapi ia tak peduli, ia tak pernah
sakit hati jika kemudian, banyak ‘teman ngobrol’nya minggir satu persatu, ia juga tak
pernah merasa diacuhkan atau tidak dihormati, apalagi dihargai, jika omongannya tak ada
yang menanggapi.

Pernah saya tanya, bapak tidak memilih dulu siapa yang harus disapa, atau melihat
terlebih dulu orang yang hendak diajak bicara, apakah ia senang atau tidak? Pak Dar
malah tersenyum. Karena menurutnya, kebanyakan orang sering terbiasa memperturutkan
perasaannya kepada orang lain, misalnya, seseorang tidak ingin menegur orang lain
hanya karena khawatir orang tersebut marah jika ditegur. Seorang lelaki malas memberi
tempat duduk kepada wanita khawatir disangka punya niat lain dibalik ketulusannya. Dan
seterusnya, setiap orang saling curiga terhadap orang lainnya atas dasar pengalaman,
penglihatan dari kejadian, dan lintasan peristiwa yang dilaluinya.

Banyak orang merasa curiga dengan orang-orang berjanggut dan berpakaian model
Timur Tengah hanya karena TV-TV sering menayangkan profil Osama bin Laden atau
bahkan Amrozi. Orang yang tampak celingak-celinguk di dalam bis kota, bisa jadi
dicurigai sebagai copet, padahal mungkin saja ia orang baru dari desa yang tidak tahu
Kota Jakarta sehinga bingung mencari alamat yang dituju, atau mungkin tengah
terkagum-kagum melihat banyaknya jembatan tinggi tanpa sungai dibawahnya. Seorang
peminta sumbangan yang sesungguhnya dicurigai penipu karena terlalu banyak penipu
sesungguhnya berkedok peminta sumbangan dengan kotak-kotak amal dan amplop
bertuliskan yayasan dan pesantren tertentu. Ada lagi pengamen-pengamen yang harus
menanggung nasib dipalingimuka oleh penumpang karena banyak ‘perampok’ yang
mengaku baru keluar penjara dan meminta uang dengan suara-suara yang menyalak
kasar.

Kembali ke Pak Dar, ia tak pernah ambil pusing dengan semua perasaan dan pikiran
orang lain. Ia akan tetap menegur dan menyapa orang lain tanpa peduli orang itu suka
atau tidak. Akan tetap memberi sumbangan tanpa merasai ini petugas masjid atau
pesantren sungguhan atau hanya orang-orang yang mencari uang dari menyamar sebagai
peminta sumbangan. Kalau ada rezeki hendak memberi recehan kepada pengamen, ya
diberinya tanpa bertanya dulu mau ngamen atau mau nyanyi sambil maksa. Tidak perlu
mencurigai orang karena penampilan dan gerak-geriknya yang aneh. Karena, lagi-lagi
Pak Dar membuat saya terpojok, “Apa Anda yakin dengan penampilan Anda seperti ini
tidak pernah ada yang mencurigai Anda?” “Anda yakin orang akan merasa aman berada
didekat Anda?”

Sejak kemarin, saya tidak pernah marah orang lain menginjak sepatu mengkilap saya
karena bisa jadi saya juga pernah menginjak kaki orang lain. Saya tak tersinggung dengan
omongan kasar orang lain sambil terus mengingat-ingat omongan kasar yang mungkin
pernah keluar dari mulut ini. Kalau ada yang menyikut muka saya, cukup dengan senyum
saya membalasnya. Dan saya sadar, mungkin aroma saya tak sesedap wewangian yang
dijual di etalase toko, jadi saya tak perlu merasa tertindas dengan aroma tak sedap dari
sudut-sudut tertentu tubuh orang lain. Saya terus berpikir, banyak orang yang begitu
menyebalkan, jangan-jangan saya juga termasuk yang menyebalkan buat orang lain.
Benarkah? Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Berkaca Pada Alam

Publikasi: 19/05/2003 10:03 WIB


eramuslim - Jika kita perhatikan batu-batu yang bertengger dipinggiran sungai,
terkadang kuyup oleh sentuhan genit air-air sungai yang menghampiri walaupun mereka
terus berjalan. Namun untuk beberapa lama batu-batu itu mengering oleh sinaran
matahari yang menembus dari celah-celah dedaunan. Silih berganti air dan matahari
menyapa bebatuan yang tak pernah bergeser dari tempatnya, sebelum perubahan alam
atau tangan manusia yang menghendakinya berpindah. Kemudian jika terlihat satu sisi
dari batu itu yang terus menerus lembab, yang kemudian lumut hijau nan cantik
menghiasi seluruh sisi permukaan itu, artinya sinar matahari tak pernah singgah
diatasnya. Batu, air sungai dan sinar matahari itu mengajarkan kepada kita tentang
banyak hal. Kepasrahan batu-batu menerima air dan sinar matahari, adalah cermin
keikhlasan. Dan keteguhannya untuk tetap ditempatnya, adalah kesabaran. Lumut hijau di
sisi batu yang tak tersinari matahari adalah petunjuk arah jalan.

Mendakilah lebih tinggi, kita akan menemukan jenis tumbuhan, warna daun dan buah
yang berbeda. Jalan semakin terjal dan sempit, hanya akar-akar besar dari pohon tua yang
terkadang menjadi perantara menuju undakan berikutnya. Sesaat beristirahatlah dan
perhatikan semuanya. Tumbuhan, daun dan buah dengan warna yang lebih mencolok dan
lebih khas, mengajarkan kepada kita, bahwa Allah Maha Adil dengan menempatkan
setiap makhluknya pada keadaan dan tempat dimana ia bisa beradaptasi dan hidup. Satu
hal bagi manusia, teruslah bergerak mencari kehidupan, karena Allah akan senantiasa
menuntun kita kepada tempat kehidupan terbaik. Namun jika pada akhirnya kita berhenti
disatu tempat yang Allah kehendaki setelah semua usaha yang dilakukan, disitulah kita
meletakkan prinsip qonaah dan sabar, serta bersyukur atas ketetapan Allah.

Saatnya senja menyambut hari. Sinar merah kekuningan yang menyejukkan masih bisa
kita nikmati dari celah-celah ranting dan daun, sesekali ia seperti berkedip dan terus
memandangi semua makhluk yang terus bergerak. Seperti mengikuti, matanya terus
menatap dan mengawasi sementara sinarnya semakin lama semakin redup digantikan
malam. Tinggallah menunggu rembulan. kemudian kita terus bergerak, mencari jalan
dengan menggunakan mata bathin, penerangan hanya alat bantu karena sesungguhnya
kita lebih mempercayai mata bathin dan kontak yang tak pernah putus dengan mata kaki.
Senja hanya sesaat, namun kahadirannya begitu memukau dan terasa manfaatnya. Tidak
hanya indah, senja senantiasa menebarkan pesona keanggunan kepada siapapun yang
menatapnya. Kepada hidup, kepada makhluk dan kepada Allah, semestinya manusiapun
seelok, sebermanfaat dan semenyenangkan senja. Karena mungkin, besok tak lagi
tersedia waktu untuk melakukan semua itu.

Dan bila malam tiba, kabut pekat menutup jarak pandang kita, sementara angin kebekuan
menyelimuti kulit tipis kita yang tak henti bergerak. Sejenak berhenti sesungguhnya
hanya menambah tebal selimut kebekuan itu walaupun waktu yang sejenak itu untuk
sekedar menyeruput air hangat dari tungku batu. Tak banyak yang bisa dilakukan, tak
banyak pilihan selain terus bergerak keatas agar lebih cepat mendapati fajar. Ingin mata
terpejam sekedar menghela nafas dan mengaturnya satu persatu agar tak saling menyusul,
tapi kehendak kuat yang menggebu untuk segera tiba di puncak seolah tak bisa
kompromi. Rembulan hanya mengintip di kejauhan. Sedangkan kita terus bergerak,
mencari jalan dengan menggunakan mata bathin, penerangan hanya alat bantu karena
sesungguhnya kita lebih mempercayai mata bathin dan kontak yang tak pernah putus
dengan mata kaki. Terkadang sering kita mendapat satu kondisi dimana tak lagi
mempunyai pilihan untuk berbuat banyak, namun masih ada satu dalam dada ini yang
masih kita percayai karena ianya tak pernah berdusta. Ialah mata hati dan nurani.
Berhenti bukan jalan yang tepat apalagi kembali ke belakang, padahal jalan tinggal
selangkah. Tanyalah pada hati, niscaya kebenaran yang kita dapat.

Dan pada akhirnya, setelah semua perjuangan, lelah, juga peluh yang hampir tak bedanya
dengan embun dipucuk dahan, sebuah tanah mengering pada pijakan terakhir membuat
nafas menjadi lega. Hilang semua lelah, lepas semua keputusasaan yang menghantui
selama perjalanan, karena mentari pagi menyambut kehadiran kita di puncak perjalanan.
Tersenyum adalah kepastian, kepuasan adalah kewajaran dikala seperti tak ada lagi jarak
antara kita dengan Sang Pencipta dari puncak ini. Ingin rasanya berteriak meminta
kepada-Nya, namun ditempat ini, berbisik pun Dia pasti mendengarnya, karena kita
begitu dekat. Perjalanan takkan pernah berujung, namun sudah pasti ada masanya kita
kan berhenti. Teruslah mendaki agar kita semakin dekat pada-Nya. Teruslah bergerak,
namun jika telah sampai di puncak semua keinginan, jangan pernah lupa bahwa kita
pernah dibawah, dan pasti akan kembali ke bawah. Esok atau nanti. Wallaahu ‘a’lam
bishshowaab (Bayu Gautama)

Bintang-Bintang di Langit

Publikasi: 15/05/2003 12:10 WIB


eramuslim - Pernahkah engkau di suatu malam yang cerah memandangi bintang-bintang
di langit? Subhanallah, sungguh indah bukan? Bagaikan permata yang menghiasi langit
malam. Tetapi, pernahkah terpikir olehmu, untuk apa diciptakan bintang-bintang di langit
itu? Apa hikmahnya?

Ketahuilah, bahwa segala penciptaan di langit dan di bumi ini pasti ada hikmahnya.
Hikmah penciptaan bintang-bintang itu telah diberitahukan Allah dalam Al-Qur'an dalam
Ssurat Al-Mulk ayat 5 : "Dan sungguh Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan
bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan."

Demikian pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya, bahwa
Qotadah rahimahullah mengatakan: Allah menciptakan bintang-bintang ini, untuk tiga
hikmah yaitu sebagai hiasan di langit, sebagai alat pelempar syaithon, dan sebagai tanda-
tanda untuk penunjuk (arah dan sebagainya). Karena itu, barang siapa dalam masalah ini
berpendapat selain tersebut, maka dia telah salah dan menyia-nyiakan nasibnya serta
membebani diri dengan hal yang di luar batas kemampuannya.
Juga sebagaimana dalam Surat Ash-Shaaffaat ayat 6-8: "Sesungguhnya Kami telah
menghias langit yang terdekat dengan hiasan yaitu bintang-bintang, dan telah
memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaithon yang sangat durhaka, syaithon-
syaithon itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka
dilempari dari segala penjuru."

Demikianlah,hikmah keindahan bintang-bintang di langit... Semoga indahnya bintang-


bintang di langit menjadi lebih bermakna. Wallahu 'a'lam bishshowab. (elok dwi rra
/elokdwi@yahoo.com)

Email Dari Rasul

Publikasi: 13/05/2003 10:23 WIB


eramuslim - Malam sudah cukup larut, namun mata ini masih tak bisa terpejam. Semua
tugas-tugas kantor yang kubawa pulang sudah selesai, tak lupa kusediakan setengah jam
sebelum pukul 23.00 untuk membalas beberapa email yang baru sempat terbaca malam
ini. Nyaris saja kupilih menu ‘shut down’ setelah sebelumnya menutup semua jendela di
layar komputer, tiba-tiba muncul alert yahoo masuknya email baru. “You have 1 new
message(s)...”. Seperti biasanya, aku selalu tersenyum setiap kali alert itu muncul, karena
sudah bisa diduga, email itu datang dari orang-orang, sahabat, saudara, kerabat, intinya,
aku selalu senang menunggu kabar melalui email dari mereka. Tapi yang ini ... Ooopss ...
ini pasti main-main ... disitu tertulis “From: Muhammad Rasul Allah”

Walaupun sudah seringkali menerima junkmail atau beraneka spam, namun kali ini aku
tidak menganggapnya sebagai email sampah atau orang sedang main-main denganku.
Maklum, meski selama ini sering sekali teman-teman yang ‘ngerjain’, tapi kali ini,
sekonyol-konyolnya teman-teman sudah pasti tidak ada yang berani mengatasnamakan
Rasulullah Saw. Maka dengan hati-hati, kuraih mouse-ku dan ... klik ...

“Salam sejahtera saudaraku, bagaimana khabar imanmu hari ini ...


Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini
...”

Aku tersentak ... degub didada semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus
meningkat cepat. Kuhela nafas dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa
ditohok teramat keras hingga menyesakkan. Tiga pertanyaan awal dari “Rasulullah” itu
membuatku menahan nafas sementara otakku berputar mencari dan memilih kata untuk
siap-siap me-reply email tersebut. Barisan kalimat “Rasulullah” belum selesai, tapi
rasanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Antara takut dan penasaran bergelut hingga
akhirnya kuputuskan untuk membacanya lagi.

“Cinta seorang ummat kepada Rasulnya, harus tercermin dalam setiap perilakunya.
Tidak memilih tempat, waktu dan keadaan. Karena aku, akan selalu mencintai ummatku,
tak kenal lelah. Masihkah kau mencintaiku hari ini?”
Air menetes membasahi pipiku, semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya,
semakin deras air yang keluar dari sudut mataku.

“Pengorbanan seorang ummat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum


Allah menghendaki untuk berhenti. Dan kau tahu, kehendak untuk berhenti memberikan
pengorbanan itu, biasanya seiring dengan perintah yang diberikan-Nya kepada Izrail
untuk menghentikan semua aktifitas manusia. Sampai detik ini, pernahkah kau berkorban
untuk Allah?”.

Kusorot ketengah halaman ....

“Sebagai Ayah, aku contohkan kepada ummatku untuk menyayangi anak-anak mereka
dengan penuh kasih. Kuajari juga bagaimana mencintai istri-istri tanpa sedikit melukai
perasaannya, sehingga kudapati istri-istriku teramat mencintaiku atas nama Allah. Aku
tidak pernah merasakan memiliki orangtua seperti kebanyakan ummatku, tapi kepada
orang-orang yang lebih tua, aku sangat menghormati, kepada yang muda, aku mencintai
mereka. Sudahkah hari ini kau mencium mesra dan membelai lembut anak-anakmu
seperti yang kulakukan terhadap Fatimah? Masihkah panggilan sayang dan hangat
menghiasi hari-harimu bersama istrimu? Sudahkah juga kau menjadi pemimpin yang
baik untuk keluargamu, seperti aku mencontohkannya langsung terhadap keluargaku?.

Satu hentakkan pagedown lagi ...

“Aku telah memberi contoh bagaimana berkasih sayang kepada sesama mukmin,
bersikap arif dan bijak namun tegas kepada manusia dari golongan lainnya, termasuk
menghormati keberadaan makhluk lain dimuka bumi. Saudaraku ...”

Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih
tersisa panjang isi email dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa
tidak kuat. Aku tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat
tahu semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti
semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku.

Kuhela nafas panjang berkali-kali, tapi justru semain sesak. Tiba-tiba pandanganku
menjadi gelap, entah apa yang terjadi. Sudah tibakah waktuku? Padahal aku belum
sempat me-reply email Rasulullah itu untuk memberitahukan kepada beliau bahwa aku
tidak akan menjawab semua emailku dengan kata-kata. Karena aku yakin, Rasul lebih
senang aku memperbaiki semua kesalahanku hari ini dan hari-hari sebelumnya, dari pada
harus bermanis-manis mengumbar kata memikat hati, yang biasanya tak berketerusan
dengan amal yang nyata.

Pandanganku kini benar-benar gelap, pekat sampai tak ada lagi yang bisa terlihat. Hingga
... nit... nit... alarm jam tanganku berbunyi. 00.00 WIB. Ah, kulirik komputerku, kosong,
kucari-cari email dari Rasulullah di inbox-ku. Tidak ada. Astaghfirullaah, mungkinkah
Rasulullah manusia mulia itu mau mengirimi ummatnya yang belum benar-benar
mencintainya ini sebuah email? Ternyata aku hanya bermimpi, mungkin mimpi yang
berangkat dari kerinduanku akan bertemu Rasul Allah. Tapi aku merasa berdosa telah
bermimpi seperti ini. Tinggal kini, kumohon ampunan kepada Allah atas kelancangan
mimpiku. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Kertas Hitam Putih

Publikasi: 07/05/2003 08:34 WIB


eramuslim - Disuatu kelas, guru agama di sekolah itu meminta murid-muridnya
mengeluarkan dua lembar kertas berwarna hitam dan putih, sesuai dengan perintah
kemarin agar membawa kertas tersebut. Tidak lupa, para murid itu juga sudah
menyiapkan pinsil warna yang juga hitam dan putih. Kemudian guru tersebut meminta
murid-muridnya untuk menuliskan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dari yang
terkecil hingga kesalahan yang besar diatas kertas putih dengan menggunakan pinsil
hitam. Sedangkan kertas hitam, para murid diminta menuliskan hal-hal baik yang pernah
dikerjakannya dengan menggunakan pinsil berwarna putih.

Satu jam berselang, para murid hampir selesai menuntaskan tugasnya menuliskan semua
kesalahan di kertas putih yang menggunakan pinsil warna hitam. Bahkan karena terlalu
banyaknya kesalahan yang diperbuat, mere