Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

LATAR BELAKANG Di era globalisasi saat ini kebanyakan manusia memerlukan mobilisasi cepat dalam kehidupannya sehari hari. Salah satu dampak yang ditimbulkannya berupa trauma, yang dapat terjadi dari semua aktivitas kehidupan sehari hari baik dalam bekerja, olahraga, lalu lintas dan lain-lainnya. Trauma yang terjadi dapat berupa trauma tumpul, trauma tajam atau trauma lainnya. Pada saat ini trauma merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang tinggi dimasyarakat. Dalam jam jam awal setelah trauma, merupakan periode emas, dimana pada waktu ini risiko kematian dan kecacatan dapat dicegah dengan penanganan yang cepat dan tepat. Kematian yang terjadi akibat trauma kebanyakan terjadi pada jam jam awal trauma, sedangkan kematian yang terjadi beberapa minggu akibat trauma biasanya diakibatkan oleh komplikasi lambat dan mengalami kegagalan organ multiple. Trauma pada ekstremitas atau trauma musculoskeletal adalah salah satu trauma yang tidak jarang menjadi penyebab dari ancaman nyawa dan ancaman kehilangan ekstremitas itu sendiri. Maka dari itu sangatlah penting untuk mengetahui pemeriksaan awal dan pengelolaan penderita trauma ekstremitas (musculoskeletal) yang dapat mengancam nyawa dan ancaman kehilangan anggota gerak. Trauma ekstremitas dapat menyebabkan disfungsi struktur di sekitarnya dan struktur yang dilindungi atau disangganya serta kerusakan pada otot, pembuluh darah dan saraf. Secara umum dikenal dalam bentuk fraktur dan dislokasi. Selama survey primer khususnya pada trauma ekstremitas, perdarahan sebaiknya dihentikan. Cara yang dianjurkan dan paling mudah dilakukan adalah dengan melakukan bebat tekan langsung pada area perdarahan. Selanjutnya dapat dipasang bidai atau imobilisasi yang bertujuan untuk mengurangi pergerakan sehingga akan mengurangi nyeri, perdarahan dan kerudakan jaringan lunak lebih lanjut. Pada penderita.pada patah tulang terbuka digunakan balut steril. Pemberian cairan secara intravena juga dianjurkan untuk mengembalikan volume perdarahan yang hilang. 1.2. RUMUSAN MASALAH a. Bagaimana konsep penyakit fraktur trauma emergency ekstremitas? b. Bagaimana konsep penyakit dislokasi trauma emergency ekstremitas? c. Bagaimana asuhan keperawatan trauma ekstremitas?

1.3.

TUJUAN 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui konsep dari Trauma emergency ekstremitas. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui konsep penyakit fraktur trauma emergency ekstremitas. b. Untuk mengetahui konsep penyakit dislokasi trauma emergency ekstremitas. c. Untuk mengetahui asuhan keperawatan trauma ekstremitas.

1.4.

MANFAAT a. Bagi Pembaca Bagi pembaca diharapkan dapat memahami Trauma emergency ekstremitas. b. Bagi Mahasiswa Mahasiswa mampu memahami konsep dari Trauma emergency ekstremitas yang nantinya berguna pada kehidupan praktik, pendidikan, dll.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. KONSEP PENYAKIT FRAKTUR 1. DEFINISI Fraktur menurut Mansjoer (2000) adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Fraktur menurut smeltzer (2002) adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dikenal dengan istilah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi disebut lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia A, Price, 1999). Tulang mempunyai daya lentur (elastisitas) dengan kekuatan yang memadai, apabila trauma melebihi dari daya lentur tersebut maka terjadi fraktur (patah tulang). Penyebab terjadinya fraktur adalah trauma, stres kronis dan berulang maupun pelunakan tulang yang abnormal 2. ETIOLOGI Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang melebihi kemampuan tulang dalam menahan tekanan. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik, tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal, tekanan sepanjang aksis tulang yang menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi atau fraktur dislokasi, kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah, misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle pada anak-anak (Arif muttaqin, 2008). Fraktur disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Smeltzer, 2002).

Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu : a. Cedera traumatic Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. b. Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. c. Secara spontan : Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran. 3. KLASIFIKASI FRAKTUR a. Menurut jumlah garis fraktur Simple fraktur (terdapat 1 garis fraktur) Multiple fraktur (terdapat lebih dari 1 garis fraktur) Comminutive fraktur (banyak garis fraktur/fragmen kecil yang lepas)

b. Menurut luas garis fraktur

Fraktur inkomplit (tulang tidak terpotong secara langsung) Fraktur komplit (tulang terpotong secara total) Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada perubahan bentuk tulang).

c. Menurut bentuk fragmen Fraktur transversal (bentuk fragmen melintang). Fraktur obligue (bentuk fragmen miring). Fraktur spiral (bentuk fragmen melingkar). Fraktur terbuka (fragmen tulang menembus kulit), terbagi 3 : Pecahan tulang menembus kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka < 1 cm. Kerusakan jaringan sedang, resiko infeksi lebih besar, luka > 1 cm. Luka besar sampai 8 cm, kehancuran otot, kerusakan neurovaskuler kontaminasi besar. Fraktur tertutup (fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar) Fraktur Traumatik. Akibat trauma tiba-tiba Fraktur Patologis. Terjadi karena kelemahan tulang akibat adanya kelainan patologi pada tulang. Fraktur Stress. Akibat trauma yang terus menerus pada suatu daerah tertentu. e. Menurut etiologis

d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar

Gambaran skematis secara klinis dari fraktur

f.

Menurut Gambaran radiologis

Keterangan:

Transversal Spiral dan Segmental Segmental Spiral dan Segmental Kommunitif Depresi

4. PATOFISIOLOGI FRAKTUR
Trauma Langsung Trauma tidak langsung

Fraktur Nyeri

Diskontinuitas Tulang

Pergeseran Fragmen tulang

Perubahan jaringan sekitar


Pergesrean fragmen tulang

Spasme Otot

Laserasi kulit

Peningkatan tek.kapiler

deformitas

Terputusnya vena/arteri perdarahan

Pelepasan histamin Protein plasma hilang oedema

Gangguan fungsi ekstremitas Gangguan Mobilitas Fisik

Kehilangan banyak darah Syok Hipovolemik

Penekanan pembuluh darah

Kerusakan Integritas kulit

Penurunan perfusi jaringan

Gang.perfusi jaringan 7

5. MANIFESTASI KLINIS Menurut Smeltzer & Bare (2002), manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut: (1) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. (2) Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritasnya tulang tempat melekatnya otot. (3) Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci). (4) Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat. (5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera. Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan justru tidak ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak satu sama lain). Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan Radiologi 1) X-ray Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan xray harus atas dasar indikasi ray: Bayangan jaringan lunak. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang harus dibaca pada x-

2) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya. 3) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. 4) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa. 5) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. b. Pemeriksaan Laboratorium 1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. 2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.

3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase penyembuhan tulang. c. Pemeriksaan lain-lain

(LDH-5),

Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap

1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. 2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi. 3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. 4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan. 5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang. 6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. (Ignatavicius, Donna D, 1995) 7. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan medis menurut Chaeruddin Rosjad, 1998. Sebelum menggambil keputusan untuk melakukan penatalaksanaan definitive. Prinsip penatalaksanaan fraktur ada 4 R yaitu : (1) Recognition : diagnosa dan penilaian fraktur Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis, pemeriksaan klinis dan radiologi. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan : lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan tehnik yang sesuai untuk pengobatan, komplikasi yang mungkin terjadi selama pengobatan. (2) Reduction Tujuannya untuk mengembalikan panjang & kesegarisan tulang. Dapat dicapai yang manipulasi tertutup/reduksi terbuka progresi. Reduksi tertutup terdiri dari penggunaan traksimoval untuk menarik fraktur kemudian memanupulasi untuk mengembalikan kesegarisan normal/dengan traksi mekanis. Reduksi terbuka diindikasikan jika reduksi tertutup gagal/tidak memuaskan. Reduksi terbuka merupakan alat frusasi internal yang digunakan itu mempertahankan dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid

10

seperti pen, kawat, skrup dan plat. Reduction interna fixation (orif) yaitu dengan pembedahan terbuka kan mengimobilisasi fraktur yang berfungsi pembedahan untuk memasukkan skrup/pen kedalam fraktur yang berfungsi untuk menfiksasi bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan. (3) Retention Imobilisasi fraktur tujuannya mencegah pengeseran fregmen dan mencegah pergerakan yang dapat mengancam union. Untuk (ektrimitas merupakan yang salah mengalami fraktur) adalah mempertahankan dengan traksi. reduksi Traksi

satu pengobatan dengan cara menarik/tarikan pada bagian deformitas, tubuh dan

tulang-tulang sebagai kekuatan dngan kontrol dan tahanan beban keduanya untuk menyokong tulang dengan tujuan mencegah reposisi spasme otot, mengurangi nyeri, mempertahankan anatomi mengurang fraktur dan dislokasi, mempertahankan ligamen tubuh/mengurangi mengimobilisasi area spesifik tubuh. Ada 2 pemasangan traksi yaitu : skin traksi dan skeletal traksi. (4) Rehabilitation, mengembalikan aktiftas fungsional seoptimal mungkin.

8. KOMPLIKASI a. Komplikasi Awal 1. Kerusakan Arteri Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan. 2. Kompartement Syndrom Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat. 3. Fat Embolism Syndrom Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi

11

pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam. 4. Infeksi System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada traumaorthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat. 5. Avaskuler Nekrosis Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan adanya Volkmans Ischemia. 6. Shock Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur. b. Komplikasi Dalam Waktu Lama 1. Delayed Union Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang. 2. Nonunion Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang. 3. Malunion Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik. nekrosis tulang dan diawali dengan

12

2.2 KONSEP PENYAKIT DISLOKASI 1. DEFINISI Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Dislokasi adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis, atau Keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera. 2. ETIOLOGI Dislokasi disebabkan oleh : a. Trauma: jika disertai fraktur, keadaan ini disebut fraktur dislokasi. - Cedera olahraga Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain. - Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga. Benturan - Terjatuh Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin b. Kongenital Sebagian anak dilahirkan dengan dislokasi, misalnya dislokasi pangkal paha. Pada keadaan ini anak dilahirkan dengan dislokasi sendi pangkal paha secara klinik tungkai yang satu lebih pendek dibanding tungkai yang lainnya dan pantat bagian kiri serta kanan tidak simetris. Dislokasi congenital ini dapat keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.

13

bilateral (dua sisi). Adanya kecurigaan yang paling kecil pun terhadap kelainan congenital ini mengeluarkan pemeriksaan klinik yang cermat dan sianak diperiksa dengan sinar X, karena tindakan dini memberikan hasil yang sangat baik. Tindakan dengan reposisi dan pemasangan bidai selama beberapa bulan, jika kelainan ini tidak ditemukan secara dini, tindakannya akan jauh sulit dan diperlukan pembedahan. c. Patologis Akibatnya destruksi tulang, misalnya tuberkolosis tulang belakang. Dimana patologis: terjadinya tear ligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital penghubung tulang 3. KLASIFIKASI a. Dislokasi congenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan. b. Dislokasi patologik : Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang. c. Dislokasi traumatic : Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan sistem vaskular. 4. MACAM DISLOKASI a. Dislokasi Sendi Jari Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong dengan segera sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat mengalami dislokasi ke arah telapak tangan atau punggung tangan.

14

b. Dislokasi Sendi Siku Jatuh pada tangan dapat menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior. Reposisi dilanjutkan dengan membatasi gerakan dalam sling atau gips selama tiga minggu untuk memberikan kesembuhan pada sumpai sendi.

c. Dislokasi Pergelangan tangan (Dislocation of the Lunate) Dislokasi pergelangan tangan adalah suatu kondisi dimana permukaan sendi dari tulang pembentuk sendi pergelangan tangan mengalami pergeseran atau penguluran baik secara langsung maupun tidak langsung. (1) Dislokasi tulang lunatum Dislokasi ini jarang ditemukan, berupa dislokasi ke anterior. Dislokasi tulang lunatum terjadi bila jatuh dengan pergelangan tangan dalam keadaan dorsoflexy, dan tulang lunatum terdorong ke arah palmar dan

15

mengalami rotasi 900 pada carpar tunnel. Terdapat pembengkakan pada daerah pergelangan tangan, nyeri apabila jari-jari diekstensikan. Bisa didapatkan gejala lesi nervus medianus. Pada dislokasi yang baru, dilakukan reposisi di bawah pembiusan umum dengan melakukan penekanan pada tulang lunatum. Pada dislokasi yang lama, reposisi tidak bisa dilakukan dan perlu dilakukan eksisi. (2) Dislokasi perilunatum Seluruh korpus mengalami dislokasi ke arah dorsal kecuali tulang lunatum masih tetap bersama-sama tulang radius. Pengobatan dilakukan reduksi tertutup. Bila gagal, dilakukan reduksi terbuka.

d. Dislokasi Regio Bahu (Shoulder Dislocation) Pada regio bahu terdapat beberapa sendi yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, yaitu sendi sternoklavikular, sendi akromioklavikular, dan sendi glenohumoral. Hubungan skapulothorakal bukan merupakan sendi melainkan suatu hubungan muskuler antara dinding thoraks dan skapula. Melalui keempat hubungan ini yang terdiri atas tiga persendian dan satu hubungan muskular ini terjadi gerakan ke segala arah di gelang bahu. Dislokasi regio bahu ini adalah tipe dislokasi bahu anterior. Stabilitas sendi bahu tergantung dari otot - otot dan kapsul tendon yang mengitari sendi bahu. Sedangkan hubungan antara kepala humerus dengan cekungan glenoid terlalu dangkal. Oleh karena itu pada sendi glenohumoral sering terjadi dislokasi, baik akibat trauma maupun pada saat serangan epilepsi. Melihat lokasi kaput humeri terhadap glenoidalis, dislokasi paling sering ke arah anterior dan lebih jarang ke arah posterior. Pada waktu terjadinya dislokasi yang pertama mengalami kerusakan atau avulasi dari fibrocarltilage antara kapsul sendi dengan glenoidalis di bagian anterior dan inferior. Dengan adanya robekan tadi, maka sendi bahu akan mudah mengalami dislokasi ulang bila mengalami cedera lagi.

16

(1) Dislokasi bahu anterior Sering terjadi pada usia dewasa muda, kecelakaan lalu lintas ataupun cedera olah raga. Dislokasi terjadi karena kekuatan yang menyebabkan gerakan rotasi ekstern (puntiran keluar) dan ekstensi sendi bahu.

(2) Dislokasi bahu posterior Dislokasi ini jarang terjadi, mekanisme biasanya penderita jatuh dimana posisi lengan atas dalamkedudukan adduksi atau internal rotasi.

17

(3) Dislokasi bahu inferior (Luxatio Erecta) Kaput humerus terperangkap dibawah kavitas glenoidale sehingga terkunci dalam posisi abduksi. Karena robekan kapsul sendi lebih kecil dibanding kepala humerus, maka sangat susah kepala humerus ditarik keluar, hal ini disebut sebagai efek lubang kancing (Button hole effect)

e. Dislokasi Regio Panggul (Hip Dislocation)

18

Dislokasi panggul lebih jarang dijumpai daripada dislokasi bahu atau siku. Mekanisme terjadinya dislokasi yaitu saat kaput yang asetabulum, kemudian segera berpindah ke dorsum illium. terletak di belakang

f.

Dislokasi Sendi Lutut Dislokasi pada sendi lutut biasanya terjadi pada trauma yang berat ,yang langsung mengenai sendi lutut. Mekanisme terjadinya dislokasi pada sendi lutut biasanya melalui hiperekstensi dan torsi pada sendi lutut. Dislokasi akut pada sendi lutut sering disertai dengan kerusakan pada pembuluh darah ataupun persarafan pada popliteal space. Gambaran klinis dijumpai adanya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan, nyeri dan hamartrosis serta deformitas.

19

5. PATOFISIOLOGI DISLOKASI Trauma benturan Trauma kecil berulang Trauma ekstensi atau eksorotasi

DISLOKASI

Sendi terlepas ekstensi

Kerusakan struktur sendi

Saraf di sekitar sendi terjepit Jaringan di sekitar Merangsang organ dislokasi reseptor nyeri tidak teraliri darah Nyeri ketika bergerak Gangguan Mobilitas Fisik Nyeri Akut

Aliran Darah terganggu

Gangguan Perfusi Jaringan Nekrosis Persyarafan Gangguan Kelumpuhan Jaringan Citra juga20 mengalami Tubuh

6. MANIFESTASI KLINIS Nyeri Perubahan kontur sendi Perubahan panjang ekstremitas Kehilangan mobilitas normal Perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi bengkak Terbatasnya gerakan atau gerakan yang abnormal Dislokasi sendi bahu Sendi bahu tidak dapat digerakkan korban mengendong tangan yang sakit dengan yang lain korban tidak bisa memegang bahu yang berlawanan kontur bahu hilang, bongkol sendi tidak teraba pada tempatnya

Tanda-tanda korban yang mengalami dislokasi sendi bahu, yaitu:

Dislokasi sendi panggul kaki pendek dibandingkan dengan kaki yang tidak mengalami dislokasi

21

kaput femur dapat diraba pada panggul setiap usaha menggerakkan pinggul akan menghasilkan nyeri

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan Fisik Tampak adanya perubahan kontur sendi pada ekstremitas yang mengalami dislokasi Tampak perubahan panjang ekstremitas pada daerah yang mengalami dislokasi Adanya nyeri tekan pada daerah dislokasi Tampak adanya lebam pad dislokasi sendi b. Pemeriksaan Diagnostik Foto X-ray : Untuk menentukan arah dislokasi dan apakah disertai fraktur Foto rontgen : Menentukan luasnya degenerasi dan mengesampingkan malignasi Pemeriksaan radiologi : Tampak tulang lepas dari sendi Pemeriksaan laboratorium : Darah lengkap dapat dilihat adanya tandatanda infeksi seperti peningkatan leukosit 8. PENATALAKSANAAN DISLOKASI Penatalaksanaan dislokasi sebagai berikut :
o Lakukan reposisi segera. o Dislokasi sendi kecil dapat direposisi di tempat kejadian tanpa anestesi,

misalnya: dislokasi siku, dislokasi bahu, dislokasi jari pada fase syok), sislokasi bahu, siku atau jari dapat direposisi dengan anestesi loca; dan obat penenang misalnya valium.
o Dislokasi sendi besar, misalnya panggul memerlukan anestesi umum. o Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan

anastesi jika dislokasi berat.


o Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke

rongga sendi.
o Sendi kemudian diimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan

dijaga agar tetap dalam posisi stabil. Beberapa hari sampai minggu setelah

22

reduksi

dilakukan

mobilisasi

halus

3-4x

sehari

yang

berguna

untuk

mengembalikan kisaran sendi


o Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan

9. KOMPLIKASI Komplikasi Dislokasi Komplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain :. a. Komplikasi Dini : 1) Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut 2) Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak 3) Fraktur disloksi b. Komplikasi lanjut : 1) Kekakuan sendi bahu: Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun. Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi 2) Dislokasi yang berulang: terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid 3) Kelemahan otot Komplikasi Fraktur a. Komplikasi dini Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca trauma, sedangkan apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut 1) Pada Tulang a) Infeksi, terutama pada fratur terbuka b) Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union bahkan non union. Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering terjadi pada fraktur terbuka atau pasca operasi yang melibatkan sendi sehingga

23

terjadi

kerusakan

kartilago

sendi

dan

berakhir

dengan

degenerasi. 2) Pada Jaringan Lunak a) Lepuh, kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisisal karena edema. Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan melakukan pemasangan elastik. b) Dekubitus, terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh karena itu perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol. 3) Pada Otot Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut terganggu. Hal ini terjadi karena serabut otot yang robek melekat ada serabut yang utuh, kapsul sendi dan tulang. Kehancuran otot akibat trauma dan terjepit dalam waktu cukup lama akan menimbulkan sindroma crush atau trombus. 4) Pada pembuluh darah Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus. Sedangkan pada robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami retraksi dan perdarahan berhenti spontan. Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis. Trauma atau manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat menimbulkan tarikan mendadak pada pembuluh darah sehingga dapat menimbulkan spasme. Lapisan intima pembuluh darah tersebut terlepas dan terjadi trombus pada kompresi arteri yang lama seperti pemasangan torniquet dapat terjadi sindroma crush. Pembuluh darah vena yang putus perlu dilakukan repair untuk mencegah kongesti bagian distal lesi. 5) Pada saraf Berupa kompersi, neuroprsksi, neurometsis (saraf putus), Setiap trauma terbuka aksonometsis b. Komplikasi Lanjut (kerusakan akson).

dilakukan eksplorasi dan identifiasi nervus.

24

Pada tulang dapat berupa mal union, delayed union atau non union. Pada pemeriksaan terlihat deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau pemanjangan. 1) Delayed union Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. Pada pemeriksaan radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung-ujung fraktur. Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Lebih dari 20 minggu dilakukan cancelus grafting (12-16 minggu). 2) Non Union Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan. 3) Mal Union Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbulkan deformitas. Tindakan refraktur atau osteotomi koreksi. 4) Osteomielitis Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada fraktur tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union sampai non union. Imobilisasi anggota gerak yang mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi tulang berupa osteoporosis dam atropi otot. 5) Kekakuan sendi Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama, sehingga terjadi erlengketan peri artikuler, perlengketan intraartikuler, perlengketan antara otot dan tendon.

2.3 ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA EKSTREMITAS A. PENGKAJIAN Aktivitas/Istirahat Tanda : keterbatasan gerak/kehilangan fungsi motorik pada bagian yang terkena (dapat segera atau sekunder akibat pembengkakan/nyeri). Adanya kesulitan dalam istirahat-tidur akibat nyeri. Sirkulasi

25

Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (hipovolemia). Takikardi (respon stress, hipovolemia). Penurunan/tak teraba nadi distal, pengisian kapiler lambat, kulit dan kuku pucat/sianosis. Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cidera. Neurosensori Gejala : Hilang gerak/sensasi, spasme otot. Kebas/kesemutan (parestesi). Tanda : Deformitas local, pemendekan, rotasi, krepitasi, spasme otot, kelemahan/hilang fungsi. Agitasi berhubungan dengan nyeri, ansietas, trauma lain. Nyeri/Kenyamanan Gejala : Nyeri berat tiba-tiba saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/kram otot (setelah imobilisasi). Keamanan Tanda : Laserasi kulit, perdarahan dan perubahan warna kulit. Pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba). Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum : baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti: (a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien. (b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. (c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. 2. Secara sistemik dari kepala sampai kelamin : (a) Sistem Integumen Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.

26

(b) Kepala Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala. (c) Leher Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada. (d) Muka Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema. (e) Mata Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan) (f) Telinga Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan. (g) Hidung Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung. (h) Mulut dan Faring Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat. (i) Thoraks Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris. (j) Paru i. Inspeksi Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru. ii. Palpasi Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama. iii. Perkusi Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya. iv. Auskultasi Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan

27

lainnya seperti stridor dan ronchi. (k) Ektremitas Terdapat dislokasi sendi, adanya krepitasi, nyeri saat digerakkan, keterbatasan gerak. 3. Keadaan Lokal Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler 5 P yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan) . Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah: a. Look (inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain: Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi). Cape au lait spot (birth mark) Fistulae Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal). Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)

b. Feel (palpasi) Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Yang perlu dicatat adalah: Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Capillary refill time Normal 3 5 Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian. Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, atau distal).

28

Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya. c. Move (pergerakan terutama lingkup gerak) Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstremitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan dan pasif. (Reksoprodjo, Soelarto, 1995) B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2. 3. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif Nyeri akut b.d agen cidera biologi Kerusakan integritas jaringan kulit b.d faktor mekanik berupa sayatan dan deformitas pada ekstremitas musculoskeletal ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif

C. INTERVENSI 1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, volume cairan kembali adekuat. Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal (TD=90-120/80-100 mmHg, N=60100x/menit, RR= 16-20x/menit, T=37,5C) Masukan cairan adekuat (minimal 1 2 cc / Kg BB / jam) Kesadaran penuh (compos mentis)

29

INTERVENSI 1. Monitor intake dan output cairan 2. Monitor tekanan darah, RR, dan status pernafasan (ABC adekuat) 3. Monitor status hidrasi meliputi kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, dan tekanan darah ortostatik 4. Monitor hemodinamik termasuk CVP 5. Pemberian cairan 24 jam sesuai order 6. Pemasukan produk darah sesuai resep dokter 2. Nyeri akut b.d agen cidera biologi Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 jam, nyeri klien berkurang. Kriteria hasil : vital dalam batas normal (RR=12-20x/menit, N=60Tanda-tanda 100x/menit) Klien mengkomunikasikan secara verbal bahwa skala nyeri menurun (0-4) Klien tenang dan tidak cemas

INTERVENSI 1. Kaji lokasi nyeri, karakteristik, onset atau durasi, frekuensi, kualitas atau keparahan nyeri dan factor presipitasi. 2. Observasi respon non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya kegagalan komunikasi secara efektif. 3. Meningkatkan istirahat/tidur yang adekuat untuk mengurangi nyeri 4. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk memberikan edukasi dalam management nyeri dan cara mengatasi nyeri secara mandiri. 5. Edukasi tentang teknik non farmakologi seperti teknik relaksasi, hypnosis, teknik lima jari, music, distraksi/pengalihan dilakukan sebelum/sesudah dan jika nyeri timbul saat beraktivitas. 6. Memastikan pemberian analgesic sesuai indikasi

30

3. Kerusakan integritas jaringan kulit b.d faktor mekanik berupa sayatan dan deformitas pada ekstremitas ekstremitas musculoskeletal Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 bulan gangguan integritas jaringan dapat teratasi ditandai dengan struktur musculoskeletal, fungsi fisiologis kulit dan mukosa jaringan baik. Kriteria hasil : vital dalam batas normal (RR=12-20x/menit, N=60- Tanda-tanda

100x/menit, TD=90-120/80-100 mmHg, T=37,5C) - Proses penyembuhan luka baik dan sesuai tahapan - Tidak ada komplikasi yang terjadi seperti infeksi dan trauma organ lain - Klien dapat berkerja sama dalam proses penyembuhan luka - Fungsi ekstremitas klien dapat bekerja dengan baik INTERVENSI 1. Monitor tanda-tanda infeksi ( misalnya nyeri, demam) dan komplikasi post operasi 2. Monitor warna, suhu, CRT dan turgor kulit. 3. Perawatan luka dengan teknik aseptik 4. Pertahankan kulit tetap kering, bersih dan bebas dari tekanan 5. Masase area injuri 6. Bantu latihan rentang gerak pasif aktif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien. 7. Pemberian antibiotic topical untuk mencegah terjadinya infeksi

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Berdasarkan dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa : a. Trauma ekstremitas adalah trauma yang mengakibatkan cedera pada ekstremitas. Trauma ekstremitas dapat menyebabkan disfungsi struktur di sekitarnya dan struktur yang dilindungi atau disangganya serta kerusakan pada otot, pembuluh darah dan

31

saraf. Secara umum dikenal dalam bentuk, antara lain Fraktur dan Dislokasi dengan etiologi, klasifikasi / tingkatan, hingga patofisiologi yang berbeda. b. Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna. Pada dislokasi terdapat ciri khas manifestasi pembeda, yaitu ada rasa sendi keluar. c. Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada trauma ekstremitas diantaranya pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan penunjang seperti X-Ray. d. Adapun penatalaksanaan trauma ekstremitas pada fraktur terdapat 4 prinsip (recognition, reduction, retention, dan rehabilitation), pada dislokasi didasarkan pada klasifikasi dislokasi. e. Komplikasi trauma ekstremitas dapat terjadi misalnya deformitas ektremitas, keganjilan pada sendi, hingga sindrom kompartemen. f. Untuk asuhan keperawatan secara umum pada trauma ekstremitas, beberapa diagnosis keperawatan yang kemungkinan muncul, diantaranya gangguan perfusi jaringan, nyeri, hambatan mobilitas fisik, dan kerusakan integritas kulit. 3.2 Saran Diperlukan searching literature yang lebih mendalam lagi terkait trauma ekstremitas, Terutama dari text book tentang keadaan gawat darurat. Adakah perbedaan antara penanganan keasaan trauma ekstremitas saat gawat darurat dan pada kondisi tidak gawat darurat. Diharapkan literatur yang disarankan oleh dosen ditambah lagi referensinya.

DAFTAR PUSTAKA Arif, Mansjoer, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta : Medica Aesculpalus, FKUI. Ignatavicius, Donna D. 1995. Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach , W.B. Saunder Company. Lukman Nurna Ningsih. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.

32

Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC. Smeltzer, S. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Volume 3. Jakarta: EGC. Sylvia A, Price. 1999. Patologi. Jakarta: EGC

33