Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan dasar bagi kemajuan dan kelangsungan individu. Melalui pendidikan, individu memperoleh informasi dan pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada. Pendidikan bertujuan menyiapkan siswa menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik yang dapat menerapkan dan

mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Pendidikan harus memberikan dampak yang positif bagi kehidupan masyarakat dan kebudayaan nasional (Depdikbud, 1992:149). Pernyataan tersebut menyiratkan arti pendidikan yang merupakan unsur penting dalam membangun masyarakat, kebudayaan dan perkembangan bangsa. Penegasan dari tujuan pendidikan, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Bab 2 Pasal 3 diamanatkan sebagai berikut : Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Salah

satu

kunci

dari

definisi

pendidikan

di

atas

adalah

berkembanganya potensi siswa. Peran pendidik adalah memfasilitasinya menjadi prestasi. Fasilitas tersebut ditujukan agar individu mengenali, menemukan, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Proses pembelajaran merupakan usaha strategis untuk mewujudkan tujuan pendidikan, karena di dalamnya terdapat program dan aktivitas belajar untuk memfasilitasi siswa dalam mencapai perkembangan yang optimal, yaitu situasi dimana siswa telah dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang terdapat di dalam dirinya. Dalam mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut maka peran bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan. Guru bimbingan dan konseling adalah pendidik dan bertugas menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Hal ini sesuai dengan PP No 17 Tahun 2010, Pasal 171 yang menyatakan bahwa konselor (guru BK) sebagai pendidik profesional memberikan pelayanan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Dalam hal ini, guru bimbingan dan konseling harus mampu mengembangkan dan melaksanakannya sesuai dengan fungsi

kontrolnya sebagai penanggung jawab layanan bimbingan dan konseling di sekolah, yang bermuara pada terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian siswa secara optimal dengan hakekat kemanusiaannya sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai makhluk individu, dan makhluk sosial dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta. Sasaran dari pelayanan

tersebut adalah siswa, dimana siswa dikembangkan segenap potensi dan kemandiriannya. Siswa merupakan peserta didik dan juga bagian dari masyarakat dituntut dapat berkomunikasi dengan orang lain di lingkungan siswa berinteraksi. Lingkungan yang dimaksud diantaranya adalah sekolah. Karena hampir sebagian waktu siswa, banyak digunakan untuk berinteraksi di sekolah. Tugas siswa di sekolah yaitu belajar, dengan belajar siswa akan memperoleh perubahan yang positif dan dapat berkembang secara optimal, baik ranah kognitif, afektif, dan psikomotoriknya sehingga siap melaksanakan perannya dimasa yang akan datang, tentunya dalam interaksi sosial tersebut siswa diharapkan mampu berperilaku asertif, baik dalam menyampaikan pendapat maupun dalam berkomunikasi dengan lingkungannya sesuai dengan tugas perkembangan yang ada pada dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Lazarus (1971:138) yang mengemukakan bahwa perilaku Asertif adalah perilaku dimana individu mengekspresikan perasaan (baik yang positif maupaun negatif) dan pikirannya secara tegas dan bebas dengan tetap memperhatikan perasaan orang lain. Zastrow (dalam Nursalim, 2005: 24) juga mengemukakan ciri-ciri interaksi individu yang asertif yaitu: individu menjawab dengan spontan, berbicara dengan nada dan volume yang layak, melihat kearah lawan bicara, berbicara pada isu, mengekspresikan perasaan dan pendapat dengan terbuka, melihat dirinya sama dengan orang lain, tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Perilaku asertif perlu diketahui sejak dini oleh individu, terutama para siswa SMP yang sedang berada pada masa remaja awal. Kepada remaja perlu disampaikan mengapa pentingnya berperilaku asertif dalam berkomunikasi. Fensterheim dan Baer (1980: 167) mengemukakan bahwa para siswa terutama yang berumur 13-15 tahun perlu belajar berperilaku asertif, karena beberapa manfaat sebagai berikut: 1) sikap dan perilaku asertif akan memudahkan

remaja tersebut bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan lingkungan terutama sesama usianya maupun di luar lingkungannya secara efektif. 2), dengan kemampuan untuk mengungkapkan diinginkannya menghindari apa yang dirasakan dan

secara langsung, terus terang, maka para siswa bisa munculnya ketegangan dan perasaan tidak nyaman akibat

menahan dan menyimpan sesuatu yang ingin diutarakannya. 3), dengan memiliki sikap asertif, maka para siswa dapat dengan mudah mencari solusi dan penyelesaian tentang berbagai kesulitan atau permasalahaan yang

dihadapinya secara efektif, sehingga permasalahaan itu tidak akan menjadi beban pikiran yang berlarut-larut. 4), asertif akan membantu para siswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasannya tentang

lingkungan dan tidak mudah berhenti pada suatu yang tidak diketahuinya. 5) asertif terhadap orang lain yang bersikap atau berperilaku kurang tepat bisa membantu remaja yang bersangkutan untuk lebih memahami kelemahan atau kekurangnnya sendiri dan bersedia memperbaiki kelemahan atau kekurangan

tersebut. Beberapa manfaat perilaku asertif tersebut di atas mengindikasikan perlunya proses pembelajaran perilaku ini sejak dini bagi para siswa. Asertifitas bukan merupakan sesuatu yang lahiriah, Willis & Daisley (1995: 112) menyatakan bahwa asertif merupakan perilaku yang dipelajari, sebagai reaksi terhadap berbagai situasi sosial yang terjadi dalam lingkungan. Perilaku asertif sejalan dengan perjalanan usia seseorang sehingga penguasaan perilaku asertif pada periode-periode awal perkembangan akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan periode selanjutnya. Jika perilaku asertif ini tidak dipelajari sejak dini, maka siswa akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain secara asertif. Kesulitan siswa menunjukkan perilaku asertif dalam berkomunikasi dengan orang lain sangat terkait dengan adanya berbagai tuntutan perubahan yang sedang 1993:19). Perilaku siswa yang kurang asertif dipandang sebagai perilaku yang kurang ideal karena dapat menimbulkan dampak buruk bagi diri siswa sendiri maupun lingkungan sosialnya. Oleh sebab itu, diperlukan peran dari Guru bimbingan dan konseling untuk mengembangkan perilaku asertif siswa. Bentuk-bentuk perilaku asertif yaitu dapat menolak sesuatu yang bertentangan dengan dirinya (mampu mengungkapkan perasaan baik positif maupun negatif), menghormati hak-hak orang lain, dapat mengungkapkan ide atau pendapat yang tepat tanpa rasa malu, langsung dan tegas, serta berani menentukan sikap yang bertanggung jawab. (Rini, J. 2001: 15) dihadapinya (Sparatkin,

Menurut Spratkin, dkk (1993: 25), kemampuan

asertif seseorang

tampak melalui serangkaian perilaku, berawal dari perilaku yang sederhana hingga ke perilaku yang kompleks. Perilaku-perilaku dimaksudkan meliputi: memperjuangkan hak ( standing up for you rights), membantu orang lain (helping others), memberi arahan (giving instructions), menyampaikan keluhan (making a complaint), menanggapi keluhan (answering a complaint) ,

negosiasi (negosiation), kontrol diri (self control), mempengearuhi/meyakinkan (persuasion), menanggapi bujukan atau pengaruh ( responding to persuasion), serta mengelola tekanan kelompok (dealing with pressure). Untuk lebih mengetahui realita yang terjadi terkait masalah sikap asertif peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan guru bimbingan dan konseling di SMP Negeri 13 Padang pada tanggal 7 Mei 2012. Berdasarkan wawancara dengan Guru bimbingan dan konseling diperoleh data bahwa terdapat 30 siswa yang menunjukkan perilaku yang kurang asertif dari 9 kelas VIII yang ada di SMP 13 Padang. Siswa yang masih ragu-ragu dalam menyampaikan pendapat serta komunikasi siswa yang tidak efektif, baik dengan teman maupun guru. Hal ini terlihat dari beberapa kasus siswa dalam berinteraksi antara teman yang satu dengan yang lain yaitu tidak bisa menolak ajakan teman seperti tidak bisa menolak ketika diajak untuk mengobrol di dalam kelas ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran, keluar pada saat jam pelajaran, mengeluarkan baju kemeja bagi siswa laki-laki, dan tidak mengerjakan PR, siswa tersebut kurang bisa untuk mengungkapkan keberatan

kepada teman serta kesulitan untuk memberi keputusan atau membuat pilihan, di dalam kelas siswa tersebut kurang berani untuk mengungkapkan pendapat/ bertanya tentang materi yang kurang di pahami, bicara dengan pelan dan tampak ragu-ragu. Menurut keterangan dari Guru bimbingan dan konseling, siswa yang kurang asertif cenderung mudah terpengaruh karena mereka memiliki solidaritas dengan teman sebaya yang sangat tinggi. Di lapangan masih banyak siswa yang belum dapat berperilaku asertif. Menurut Alberti & Emmos ( 1995 : 35) Perilaku yang kurang asertif dapat menyebabkan penurunan prestasi akademis siswa. Hal ini terjadi karena siswa tersebut tidak bisa menolak atau mengungkapkan keberatan terhadap ajakan temannya untuk melakukan sesuatu yang bersifat negatif dan dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Jika kegiatan belajar terganggu secara otomatis prestasi akademis siswa akan mengalami penurunan. Hal ini di dukung juga dengan data yang peroleh peneliti selama melaksanakan pembinaan professional (binfes) PPK di sekolah yang dimulai pada tanggal 2 April 2012, yang peneliti jumpai dilapangan dari 9 kelas tersebut, terdapat siswa yang masih kurang dalam mengembangkan perilaku asertif, hal ini di tunjukkan dengan perilaku siswa yang ketika maju ke depan kelas masih ragu-ragu dalam menyampaikan pendapatnya, tidak mampu menyampaikan kata tidak ketika temannya mengajaknya mengobrol ketika guru sedang mengajar, komunikasi yang kurang asertif baik dengan teman maupun dengan guru. Dengan adanya kasus dan masalah berkaitan dengan

perilaku asertif siswa maka peneliti tertarik untuk mendalami lebih jauh dan melakukan penelitian yang berjudul Perilaku Asertif Siswa dan Peran Guru Bimbingan dan Konseling di SMP Negeri 13 Padang B. Identifikasi Masalah Berdasarkan pengamatan peneliti, perilaku asertif sangat baik sekali untuk di kembangkan pada peserta didik, karena dengan perilaku asertif, siswa mampu bertindak tegas terhadap pendapat dan haknya tanpa menyakiti perasaan orang lain dan mampu menyatakan tidak, dan juga mengembangkan komunikasi yang asertif baik dengan teman maupun guru. Guru bimbingan dan konseling melalui program layanan bimbingan dan konseling dapat memberikan pelayanan yang bertujuan untuk

mengembangkan perilaku asertif siswa, karena perilaku asertif bukan bawaan dari lahir namun hasil yang diperoleh dari belajar. Berdasarkan informasi awal yang peneliti temui di lapangan, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah yang muncul diantaranya: 1. Siswa tidak bisa menolak ajakan teman seperti tidak bisa menolak untuk keluar kelas ketika aktivitas belajar sedang berlangsung. 2. Siswa mengobrol di dalam kelas ketika guru sedang menjelaskan materi pelajaran 3. Siswa kurang bisa mengungkapkan keberatan kepada teman ketika di ajak untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

4. Siswa kesulitan untuk memberikan keputusan atau membuat pilihan. 5. Siswa kurang berani untuk mengungkapkan pendapat/ bertanya tentang materi yang kurang di pahami. 6. Siswa bicara dengan pelan dan tampak ragu-ragu ketika ditanya oleh guru. 7. Komunikasi yang kurang asertif, baik dengan teman maupun dengan guru.

C. Pembatasan Masalah Berdasarkan masalah penelitian di atas dan luasnya masalah yang ada, maka penulis membatasi masalah penelitian ini pada hal-hal yang berkaitan dengan : 1. Perilaku asertif siswa meliputi : a. Kemampuan menyatakan tidak. b. Kemampuan membuat pernyataan/permintaan. c. Kemampuan mengekspresikan perasaan baik positif maupun negatif, dan d. Kemampuan membuka dan mengakhiri percakapan. 2. Peran guru bimbingan dan konseling dalam mengembangkan perilaku asertif siswa di SMP N 13 Padang.

10

D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah penelitian, maka masalah pokok dalam penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, sebagai berikut: 1. Sejauh mana gambaran umum perilaku asertif siswa? dilihat dari aspek : a. Kemampuan siswa menyatakan tidak. b. Kemampuan siswa membuat pernyataan/permintaan. c. Kemampuan siswa mengekspresikan perasaan baik positif maupun negatif, dan d. Kemampuan membuka dan mengakhiri percakapan 2. Bagaimana peran guru bimbingan dan konseling dalam

mengembangkan perilaku asertif siswa di SMP N 13 Padang? E. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara umum bertujuan mengungkap dan mendapatkan gambaran umum mengenai perilaku asertif siswa dan peran guru bimbingan dan konseling di SMP N 13 Padang. Secara khusus tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan dan menganalisis data empiris tentang : 1. Gambaran umum perilaku asertif siswa dilihat dari aspek : a. Kemampuan siswa menyatakan tidak. b. Kemampuan siswa membuat pernyataan/permintaan.

11

c. Kemampuan mengekspresikan perasaan baik positif maupun negatif. d. Kemampuan membuka dan mengakhiri percakapan. 2. Bagaimana peran guru bimbingan dan konseling dalam

mengembangkan perilaku asertif siswa di SMP N 13 Padang? F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan teori tentang perilaku asertif siswa, dan dapat dijadikan sumber informasi pendidikan bagi mahasiswa Pascasarjana Program Studi Bimbingan dan Konseling khususnya tentang perilaku asertif siswa di sekolah. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling Guru bimbingan dan konseling dapat merencanakan program layanan bimbingan dan konseling untuk mengembangkan perilaku asertif siswa sehingga siswa dapat berperilaku secara asertif baik dalam berkomuniksi maupun bersikap. b. Bagi Personil Sekolah (Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Guru Mata Pelajaran)

12

Dapat memberikan pengetahuan, pemahaman, atau visi tentang perilaku asertif dan pengembangannya. c. Bagi siswa Agar siswa dapat mengetahui dan memahami bahwa perilaku asertif sangatlah baik dimiliki bagi setiap individu, baik dalam berpendapat maupun dalam berkomunikasi, terutama siswa dalam menyampaikan hak dan pendapatnya tanpa menyakiti perasaan orang lain.

13

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Perilaku Asertif Untuk dapat lebih memahami pengertian perilaku asertif, perlu kiranya dipahami terlebih dahulu arti dari perilaku. Menurut Reber (1985:84) perilaku adalah a generic term covering acts, activities , reactions, movement, process, operation, etc., in short, any measurable response of organism. Andi Mappiare (2006:30) mendefinisikan perilaku sebagai suatu gerak kompleks yang dilakukan individu terhadap situasi tersedia. Edwin G. Boring (dalam Andi Mappiare, 2006:30) menyatakan bahwa perilaku merupakan kumpulan respon yang menjadi sangat kompleks yang selalu berkaitan dengan situasi, sebagaimana sebuah respons selalu terkait dengan stimulus. Sedangkan J. Chaplin (2008:53), behavior (tingkah laku, kelakuan, perilaku, tindak tanduk, perangai) adalah satu perbuatan atau aktivitas. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah dinamika gerak individu berupa aksi, aktivitas, gerakan, operasi, proses, bersifat kompleks, terkait dengan situasi dan terukur.

14

Istilah asertif berasal dari kata bahasa inggris to assert yang artinya menyatakan, menegaskan. Jika dikaitkan dengan perilaku (assertive behavior) diartikan sebagai tingkah laku yang tegas. Dari istilah tersebut kemudian

diartikan secara lebih luas oleh para ahli berikut ini. Selanjutnya pendapat ahli tentang pengertian perilaku asertif, diantaranya Rich & Schoedar (dalam Nursalim, dkk, 2005:128) merekomendasikan suatu definisi fungsional perilaku asertif dengan menyatakan bahwa perilaku asertif adalah keterampilan untuk menemukan, mempertahankan, dan meningkatkan penguat (reinforcement) dalam suatu situasi interpersonal melalui suatu ekspresi perasaan atau keinginan, dimana ekspresi tersebut mengandung resiko kehilangan penguat bahkan memberikan konsekuensi hukuman. Rich dan Schroeder

memformulasikan bentuk perilaku asertif sebagai kecakapan mengekspresikan emosi baik secara verbal maupun non verbal. Lawrence (dalam Nursalim, dkk, 2005:128) mengembangkan definisi fungsional yang diajukan oleh Rich dan Schoedar tersebut dengan mengajukan suatu definisi operasional yaitu suatu perilaku asertif merupakan ketrampilan yang dipelajari untuk menyesuaikan perilaku seseorang dengan tuntutan situasi interpersonal guna menemukan, mempertahankan, dan meningktkan penguat atau mengurangi resiko memperoleh hukuman atau kehilangan penguat. Menurut Jakuwboski & Lange (dalam Nursalim, dkk, 2005:125) mendefinisikan perilaku asertif sebagai perilaku yang dapat membela kepentingan pribadi, mengekspresikan perasaan dan pikiran baik yang positif

15

maupun negatif secara jujur dan langsung tanpa mengurangi hak-hak atau kepentingan orang lain. Dari pendapat yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah suatu perilaku verbal dan non verbal yang mengekspresikan penghargaan, hak atau kepentingan baik pribadi maupun orang lain, dan keterbukaan diri. Menurut Lazarus (Fensterheim, l980: 75), pengertian perilaku asertif mengandung suatu tingkah laku yang penuh ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dan keadaan efektif yang mendukung yang antara lain meliputi : menyatakan hak-hak pribadi, berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut, melakukan hal tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi. Lazarus (dalam Nursalim, 2005:128) mengemukakan definisi

operasional dari perilaku Asertif yang ia samakan dengan empat kemampuan interpersonal yaitu : 1) kemampuan menyatakan tidak, 2) kemampuan membuat pernyataan/permintaan, 3) kemampuan mengekspresikan perasaan baik positif maupun negatif, dan 4) kemampuan membuka dan mengakhiri percakapan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah tingkah laku interpersonal yang mengungkap emosi secara terbuka, jujur, tegas dam langsung pada tujuan sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi dan dilakukan dengan penuh keyakinan diri dan sopan.

16

a. Aspek-aspek Perilaku Asertif Alberti & Emmons (1995: 42) menyebutkan ada sepuluh pokok kunci yang merupakan aspek-aspek yang harus ada pada setiap perilaku asertif yang dimunculkan oleh seseorang. Kesepuluh pokok kunci tersebut adalah :1) Pengungkapan diri, 2) Penghormatan terhadap orang lain, 3) Jujur, 4) Langsung, 5) Tidak membedakan, menguntungkan semua pihak, 6) Verbal, termasuk isi pesan (perasaan, hak-hak, fakta. Pendapat-pendapat, permintaan-permintaan dan batasan-batasan), 7) Nonverbal, termasuk gaya dan pesan (kontak mata, suara, postur, ekspresi muka, gesture, jarak, waktu, kelancaran dan mendengarkan), 8) Bukan suatu yang universal, 9) Bertanggung jawab secara sosial, 10) Dipelajari, bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir b. Ciri-ciri Perilaku Individu dengan Perilaku Asertif Lange dan Jakubowski (1978: 30) mengemukakan lima ciri-ciri individu dengan perilaku asertif. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1) Menghormati hak-hak orang lain dan diri sendiri berarti menghormati hakhak yang mereka miliki, tetapi tidak berarti menyerah atau selalu menyetujui apa yang diinginkan orang lain. Artinya, individu tidak harus menurut dan takut mengungkapkan pendapatnya kepada seseorang karena orang tersebut lebih tua dari dirinya atau memiliki kedudukan yang lebih tinggi, 2) Berani mengemukakan pendapat secara langsung yaitu perilaku asertif memungkinkan individu mengkomunikasikan perasaan, pikiran, dan

17

kebutuhan lainnya secara langsung dan jujur, 3) Kejujuran, yaitu bertindak jujur berarti mengekspresikan diri secara tepat agar dapat

mengkomunikasikan perasaan, pendapat atau pilihan tanpa merugikan diri sendiri atau orang lain, 4) Memperhatikan situasi dan kondisi, yaitu semua jenis komunikasi melibatkan setidaknya dua orang dan terjadi dalam konteks tertentu. Dalam bertindak asertif, seseorang harus dapat memperhatikan lokasi, waktu, frekuensi, intensitas komunikasi dan kualitas hubungan, 5) Bahasa tubuh, yaitu dalam bertindak asertif yang terpenting bukanlah apa yang dikatakan tetapi bagaimana menyatakannya. Bahasa tubuh yang menghambat komunikasi, misalnya: jarang tersenyum, terlihat kaku, mengerutkan muka, berbicara kaku, bibir terkatup rapat, mendominasi pembicaraan, tidak berani melakukan kontak mata dan nada bicara tidak tepat. Zastrow (dalam Nursalim, 2005: 121) mengemukakan ciri-ciri interaksi individu yang asertif yaitu: 1) Individu menjawab dengan spontan, 2) Berbicara dengan nada dan volume yang layak, 3) Melihat kearah

lawan bicara, 4) Berbicara pada isu, 5) Mengekspresikan perasaan dan pendapat dengan terbuka, 6) Melihat dirinya sama dengan orang lain, 7) Tidak menyakiti diri sendiri maupun orang lain

18

c. Manfaat Perilaku Asertif Menurut Alberti & Emon (dalam Nursalim, 2005:131)

mengemukakan bahwa, sebagai hasil dari perilaku asertif individu dapat : a)Meningkatkan self esteem dan percaya diri dalam mengekspresikan diri sendiri, b) Mengurangi rasa cemas, c) Mengatasi depresi, d) Memperoleh respek/ penghargaan lebih besar dari orang lain, e) mencapai tujuan hidup, f) Meningkatkan level Lebih pemahaman dapat diri, g)

Meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi lebih efektif dengan orang lain 2. Peran Guru Bimbingan dan Konseling/ Konselor a. Peran Menurut Teori Peran (role theory) peran adalah sekumpulan tingkah laku yang dihubungkan dengan suatu posisi tertentu (Sarbin & Allen, 1968; Biddle & Thomas, 1966 dalam Yamin Setiawan, 2008 online akses 7 Mei 2012). Menurut teori ini peran yang berbeda membuat jenis tingkah laku yang berbeda pula. Tetapi apa yang membuat tingkah laku itu sesuai dalam situasi dan tidak sesuai dalam situasi lain relative independent (bebas) pada seseorang yang menjalankan peranan tersebut." Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2008: 1155) kata peran berarti pemain.Sedangkan kata peranan berarti bagian yang dmainkan seorang pemain. Sedangkan kata peranan berarti bagian yang dmainkan seorang pemain atau fungsi seseorang atau sesuatu dalam kehidupan.

19

Menurut J.P Chaplin (2008:439) role (peranan) adalah fungsi individu atau peranannya dalam satu kelompok atau institusi. Sedangkan menurut Andi Mappiare (2006:284) role adalah tingkah laku yang dianggap layak bagi kedudukan, jabatan, atau status seseorang dalam masyarakat. Menurut Keith Davis dan John W. Newstronm (1982:32) menyatakan pengertian peran sebagai berikut: A role pattern of actions person in activities involving others. Role of reflects a persons position in social system, with its accompanying right and abligation, power and responspility, ini order to be able to interact with each other, people need some way to ancipate others behavior. Berdasarkan pernyataan tersebut, peran diartikan sebagai pola tindakan yang diharapkan dari sesorang yang melibatkan orang lain. Peran mencerminkan posisi seseorang dalam berinteraksi, bersentuhan dengan system social, hak dan kewajiban, kekuasan dan disertai dengan tanggung jawab. Menurut Oemar Hamalik (2009:33) yang di maksud sebagai peran ialah pola tingkah laku tertentu yang merupakan ciri-ciri khas semua petugas dari pekerjaan atau jabatan tertentu. Peran dapat diartikan sebagai perilaku yang diatur dan diharapkan dari seseorang dalam posisi tertentu (Veithzal Rivai dan Sylviana Murni, 2009:745). Sedangkan menurut J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (2006:158) peran (role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Khusus dalam konseling. Ditunjukkan oleh C. Gilbert Wrenn, bahwa peran konselor terdapat dalam

20

latar mana pun dia bekerja, namun fungsinya adalah bidang aktivitas khas konselor professional (Andi Mappiare, 2006:284). Dari beberapa sumber di atas dapat disimpulkan bahwa peran (role) lebih banyak menunjuk pada fungsi, artinya seseorang menduduki suatu posisi tertentu dalam masyarakat dan menjalankan suatu peran. Peran guru bimbingan dan konseling adalah kedudukan seseorang guru bimbingan dan konseling dalam menampilkan unjuk kerjanya karena berkaitan dengan kemampuan, kekuasaan, hak, dan kewajiban serta tanggung jawab dalam melaksanakan pelayanan konseling secara professional, didukung dengan keterampilan, pengetahuan, pemahaman, dan wawasan untuk memberikan bantuan sehingga sehingga memenuhi kebutuhan siswa. Peran guru bimbingan dan konseling yang dimaksudkan adalah beberapa aktivitas atau kegiatan yang dilakukan guru bimbingan dan konseling sebagaimana posisi guru bimbingan dan konseling di sekolah. Sedangkan perannya dalam mengembangkan perilaku asertif pada siswa di SMP Negeri 13 Padang aalah beberapa aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam membantu siswa mengembangkan perilaku asertif yang ada pada dirinya.

b. Tugas dan Tanggung Jawab Guru Bimbingan dan Konseling Proses pendidikan di sekolah tidak bisa berjalan dengan baik apabila semua personil, baik kepala sekolah, guru bimbingan dan

21

konseling, orang tua, dan siswa saling berkerja sama dalam menjalankan fungsi dan perannya masing-masing, terutama guru bimbingan dan konseling yang mempunyai peran penting dalam menjalankan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Menurut Oemar Hamalik (2009:34) menjelaskan sehubungan dengan peranannya sebagai pembimbing, seorang guru harus: a) Mengumpulkan data tentang siswa, b) mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehari-hari, c) Mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus, d) mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orang tua siswa, baik secara individu maupun secara kelompok, untuk memperoleh saling pengertian tentang pendidikan anak, e) berkerjasama dengan masyarakat dan lembagalembaga lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa, f) membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik, g) menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu, h) berkerjasama dengan petugas-petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan permasalahan siswa, i) menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan petugas bimbingan lainnya, j) meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah. Menurut Peraturan Pemerintah nomor 74 Tahun 2008, tugas guru bimbingan dan konseling yaitu membantu peserta didik dalam: 1.Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai bakat dan minat. 2.Pengembangan kehidupan social, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan social dan industrial yang harmonis, dianmis, berkeadilan, dan bermartabat. 3.Pengembangan kemapuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan sekolah/ marasah secara mandiri.

22

4.Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.

Pasal 39 Ayat 2 undang-undang no 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan: Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengeabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Semua pendidk, termasuk di dalamnya guru bimbingan dan konseling melakukan kegiatan pembelajaran, penilaian, pembimbingan, dan pelatihan dengan berbagai muatan dalam ranah belajar kognitif, afektif, psikomotor, serta keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana telah diutarakan diatas, guru bimbingan dan konseling adalah tenaga professional yang bertugas: 1) merencanakan dan menyelenggarakan proses pembelajaran, 2) menilai hasil pembelajaran, 3) serta melakukan

pembimbingan dan pelatihan. Arah pelaksanaan pembelajaran yang dimaksud adalah melaksanakan pelayanan BK berupa berbagai jenis kegiatan pendukung serta berbagai keterkaitannya. Guru bimbingan dan konseling mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan untuk membantu siswa dalam upaya menemukan dirinya,

23

penyesuain terhadap lingkungan serta dapat merencanakan masa depannya. Prayitno (2004:3) menyebutkan bahwa pada hakekatnya pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah utuk mencapai tri sukses, yaitu sukses bidang akademik, sukses dalam persiapan karir, dan sukses dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Menurut Syamsu Yusuf, (2006:35) mengemukakan tugas guru bimbingan dan konseling, yaitu: 1) memahami konsep-konsep bimbingan dan konseling, serta ilmu bantu lainnya, 2) memahami karakteristik pribadi siswa, khususnya tugas-tugas perkembangan siswa dan factor-faktor yang mempengaruhinya. 3) mensosialisasikan program layanan bimbingan dan konseling, 4) merumuskan perencanaan program layanan bimbingan dan konseling, 5) melaksanakan program layanan bimbingan dan konseling, yaitu: layanan dasar bimbingan, layanan responsive, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan system. 6) mengevaluasi program hasil (perubahan sikap dan perilaku siswa, baik dalam aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir), 7) menindaklanjuti (follow up) hasil evaluasi, 8) menjadi guru dan kesulitan bagi guru dan orang tua siswa, 9) berkerjasama dengan pihak-pihak lain yang terkait, 10) mengadministrasikan program layanan bimbingan, 11) menampilkan diri secara matang, baik menyangkut aspek emosional, sosial, maupun spiritual, 12) memiliki kemauan dan kemampuan untuk senantiasa mengembangkan model layanan bimbingan seiring dengan kebutuhan dan masalah siswa, 13) Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada kepala sekolah. Dari beberapa sumber diatas,dapat disimpulkan bahwa guru bimbingan dan konseling memiliki peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah secara professional dan terprogram yang dilaksanakan dalam bentuk nyata melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

24

Guru bimbingan dan konseling sebagai salah satu pelaksana pendidikan di sekolah memiliki tugas khusus untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada semua siswa, terutama dalam membantu siswa dalam mengatasi masalah yang dihadapinya dan upaya memandirikan serta mengembangkan segenap potensinya. Hal ini sesuai dengan fungsi pelayanan bimbingan dan konseling sebagaimana dikemukakan Prayitno dan Erman Amti (1999:197) bahwa fungsi pelayanan BK meliputi: 1) Fungsi pemahaman, 2) Fungsu pencegahan, 3) Fungsi pengentasan, Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, 5) Fungsi advokasi. Fungsi pelayanan bimbingan dan konseling tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai jenis layanan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling dengan berpedoman pada pola BK 17 Plus yang didasarkan pada satu wawasan dan pengetahuan yang menetap tentang bimbingan dan konseling. Adapun konsep BK 17 Plus yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Enam bidang bimbingan, terdiri dari: a) Bidang bimbingan pribadi adalah bimbingan yang membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mandiri, serta sehat jasmani dan rohani. b) Bidang bimbingan sosial adalah bidang bimbingan yang membantu siswa mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.

25

c) Bidang bimbingan belajar adalah bidang bimbingan yang membantu siswa mengembangkan diri, sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk meguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan serta menyiapkan melanjutka n pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. d) Bidang bimbingan karir adalah bidang bimbingan yang memantu siswa mengenal dan memahami serta menemukan dan mengembangkan masa depan karirnya. e) Bidang bimbingan kehidupan berkeluarga adalah bidang bimbingan yang membantu siswa dalam memahami kehidupan berkeluarga dan

mempersiapkan mental untuk menghadapinya. f) Bidang bimbingan kehidupan keagamaan adalah bidang bimbingan yang membantu siswa memahami aspek-aspek keagamaan untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. 2) Sepuluh jenis layanan, terdiri dari dari: a) Layanan Orientasi, b) Layanan Informasi), c) Layanan penempatan dan penyaluran, d) layanan penguasaan konten, e) Layanan konseling individual, f) Layanan bimbingan kelompok, g) layanan konseling kelompok, h) Layanan konsultasi, i) Layanan Advokasi. Mediasi, j) Layanan

3) Enam kegiatan pendukung terdiri dari: a. Aplikasi instrumentasi,

26

b. c. d. e. f.

Himpunan data, Konfrensi kasus, Kunjungan rumah, Tampilan pustaka, Alih tangan kasus. Pelayanan bimbingan dan konseling pola 17 plus tersebut hendaknya

betul-betul dilaksanakan oleh guru bimbingan dan konseling di sekolah dengan mempertimbangkan berbagai asas dan tingkat kebutuhan serta permasalahan yang dialami oleh siswa. Hal ini sebagamana dikemukakan Prayitno dan Erman Amti (1999:128) mengungkapkan bahwa seringkali terjadi, untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. Masalah yang tampaknya sama setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakikatnya berbeda, sehingga dierlukan cara yang berberda untuk

mengatasinya. Guru bimbingan dan konseling hendaknya memberikan pelayanan bimbingan dan konseling kepada siswa disesuaikan dengan keunikan dan kebutuhan masing-masing siswa. Karena pada dasarnya setiap individu itu berbeda, sehingga dalam menangani masalah siswa, guru bimbingan dan konseling harus menyesuaikan dengan pribadi siswa.

27

c. Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Mengembangkan perilaku asertif siswa di SMP N 13 Padang Layanan bimbingan dan konseling di sekolah ditujukan kepada siswasiswa yang ada di sekolah yang bertujuan membantu siswa dalam mengembangkan dirinya agar menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Poses mengembangkan diri siswa ini dilakukan dalam pertemuan tatap muka antara guru bimbingan dan konseling dengan siswa. Bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan dengan melakasanakan setiap layanan yang efektif kepada siswa agar siswa secara aktif dan mandiri melihat dan menemukan masalahnya sehingga

berkembangnya KES dan terhindarnya siswa dari KES-T yang bertujuan pada optimalisasi proses perkembangan dan belajar siswa. Seorang guru bimbingan dan konseling di dalam menjalankan tugasnya dituntut untuk memiliki kemampuan untuk selalu bisa berperan sebagai fasilitator dalam membangkitkan semangat belajar siswa, mengidentifikasikan kesulitan belajar, mengidentifikasikan factor-faktor penyebab kesulitan belajar, memberikan layanan konseling akademik, berkerjasama dengan guru tenaga pengajar lainnya dalam penngajaran remedial, dan membuat rekomendasi/ refrensi kepada pihak yang lebih kompeten untuk menyelesaikan permasalahan anak didik (Akur Sudianto dan A. Juntika, 2005:12). Mengingat pentingnya peranan layanan bimbingan serta peranan guru bimbingan dan konseling dalam menuntaskan hambatan-hambatan yang

28

dialami dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dan mengembangkannya, maka perlu kiranya seorang guru bimbingan dan konseling memahami dan mendalami perilaku asertif terkait dengan perilaku asertif yang di miliki oleh siswa sehingga siswa tidak berperilaku pasif ataupu agresif. Sebagaimana guru bimbingan dan konseling pahami, siswa merupakan individu yang sedang berkembang dan unik yang berbeda satu dengan lainnya, perbedaan ini tidak hanya bersifat fisik namun juga psikologis. Perbedaan inilah yang terkadang menimbulkan berbagai konflik yang terjadi dalam setiap hubungan yang terjadi antara masing-masing individu yang satu dengan yang lainnya dalam situasi hubungan sosial yang terjadi si sekolah jika perilaku yang timbul kurang asertif. Kurangnya pemahaman dan penghargaan siswa bahkan lingkungan dimana siswa berada, terhadap perbedaan individual inilah yang menyebabkan siswa menjadi kurang asertif baik dalam menyatakan pendapat maupun dalam berkomuniksi dengan baik di lingkungannya. Oleh karena itu dibutuhkan peran guru bimbingan dan konseling dalam memberikan pelayanan untuk dapat mengembangkan perilaku asertif siswa, karena perilaku asertif bukan merupakan bawaan dari lahir namun di dapat dari hasil belajar, terutama dalam lingkungan sosialnya. Dari pembahasan di atas tergambar bahwa perilaku asertif sangat baik sekali untuk dikembangkan pada diri setiap siswa, agar siswa menjadi pribadi

29

yang mandiri da tegas baik dalam menyampaikan penaapatnya mapun dalam berkomunikasi di lingkungannya terutama pada lingkungan sekolah. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam mengembangkan perilaku asertif di sekolah, sesuai dengan fungsi dari layanan bimbingan dan konseling itu sendiri menurut prayitno (1997-23-24), yaitu: 1. Fungsi pemahaman, yaiu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik; pemahaman itu meliputi: a. Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru bimbingan dan konseling. b. Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk di dalamnya lingkungan keluarga da sekolah), terutama oleh siswa sendiri, orang tua, guru pada umumnya, dan guru bimbingan dan konseling. c. Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (termasuk di dalamnya informasi pendidikan, informasi jbatan pekerjaan, dan informasi sosial dan budaya/nilai-nilai), terutama oleh siswa. 2. Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terhindarnya siswa dari permasalahan yang mungkin timbul, yang dapat mengganggu, menghambat serta menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian perkembangannya. tertentu dalam proses pembelajaran dan

30

3. Fungsi pengentasan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalaha yang dialami siswa. 4. Fungsi pemelliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpelihara dan berkembangnya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui penyelenggrAan berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung di dalam masing-masing fingsi itu. Menurut Prayitno (2007:5-7) bidang pelayanan bimbingan yang harus dijalankan oleh guru bimbingan dan konseling adalah: a. Bidang pengembangan kehiupan pribadi yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dala memahami, menilai dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistic. Dalam bidang bimbingan pribadi guru bimbingan dan konseling bertugas membantu siswa sehingga menjadi pribadi beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta sehat jasmani dan rohani. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling adaalah: menunjukkan kepada siswa tentang kepekaan dan kepedulian terhadap perkembangan pribadi peserta didik, termasuk kegiatan

31

keagamaan mereka serta mengembangkan kompetensi kehidupan pribadi peserta didik dengan cara mengembangkan hubungan dan komunkasi pribadi dengan peserta didik, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait terutama guru dan orang tua dalam mengembangkan pribadi peserta didik. b. Pengembangan kehidupan sosial yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat daan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. Hal yang harus dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling adalah menunjukkan kepekaan terhadap kepedulian terhadap kehidupan dan hubungan sosial peserta didik serta mengembangkan kompetensi hubungan sosial peserta didik dengan cara mengembangkan hubungan sosial yang positif da dinamis dengan sesame peserta didik yang menjai tanggung jawabnya dengan menggunakan instrument yang tepat, berkerjasama dengan pihak terkait, terutama guru dan orang tua guna mengembangkan kegiatan hubungan sosial peserta didik, terutama dalam penelitian ini mengembangkan perilaku asertif siswa. c. Pengembangan kegiatan kemampuan belajar, hal yang harus dilakukan guru bimbingan dan konseling adalah menunjukkan kepekaan dan kepedulian terhadap kegiatan dan kemampuan belajar peserta didik serta menyelenggarakan pelayanan konselingn untuk meningkatkan kegiatan dan kemampuan belajar peserta didik.

32

Menurut Dewa Ketut Sukardi (2000:43-46) materi jenis-jenis layanan yang perlu dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling adalah: a. Layanan Orientasi, dalam hal ini guna membantu siswa untuk mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolahnya, guru bimbingan dan konseling hendaknya mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap siswa untuk dapat memahami lingkungan sekolahnya, guna mempermudah dan memperlancar berperannya siswa dalam lingkungan sekolahnya materi layanan yang perlu diberikan adalah: pengenalan lingkungan dan semua fasilitas sekolah, peraturan serta hak dan kewajiban siswa, organisasi dan wadah yang mampu membantu dan meningkatkan hubungan sosial siswa, kurikulum dengan seluruh aspek-aspeknya serta peran pelayanan bimbingan dan konseling dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan yang dihadapi siswa. b. Layanan Informasi, adapun materi layanan informasi yang perlu diberikan kepada peserta didik adalah: informasi tentang tugas-tugas perkembangan masa remaja berupa kemapuan dan perkembangan pribadi, informasi tentang nilai-nilai sosial dan cara berperilaku dan berkembang dalam lingkungan masyarakat, usaha untuk mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan teman sebaya dan orang lain serta informasi tentang cara belajar yang baik di rumah dan disekolah.

33

c.

Layanan penguasaan konten, adapun materi khusus untuk layanan penguasaan konten ini adalah kegiatan pengembangan motivasi, sikap dan kebiasaan yang baik, keterampila belajar, program pengayaan.

d. Layanan Konseling Individual, yang harus dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dalam hal ini dapat berupa pengenalan dan pemahaman permasalahan yang dihadapi siswa, memberikan analisis yang tepat. Melakukan aplikasi dan pemcahan masalah terhdap permasalahan siswa, mengevaluasi konseling yang diberikan baik di awal maupun akhir, yang terakhir adalah tindak lanjut, materi yang dapat diberikan antara lain: 1) Pemahaman sikap, kebiasaan, kekuatan diri dan kelemahan, bakat dan minat serta penyalurannya. 2) Pengentasan kelemahan diri dan pengembangan kekuatan diri. 3) Mengembangkan kemampuan berkomunikasi , menerima dan

menyampaikan pendapat, baik dirumah, sekolah, dan masyarakat. 4) Mengembangkan sikap kebiasaan belajar yang baik, disiplin, serta pengenalan belajar sesuai dengan kemampuan, kebiasaan dan potensi diri. 5) Pengambilan keputusan sesuai dengan kondisi pribadi, keluarga, dan sosial. e. Layanan Konseling Kelompok, pada hakikatnya layana ini adalah suatu proses komunikasi antar pribadi yang dinamis, terpusat pada pikiran dan perilaku yang disadari, dibina dalam suatu kelompok kecil

34

mengungkapkan diri kepada sesama anggota dan guru bimbingan dan konseling. Dimana komunikasi antar pribadi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan diri terhadap nilai-nilai kehidupan dan segala tujuan hidup serta untuk belajar perilaku tertentu kea raj yang lebih baik dari sebelumnya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran guru bimbingan dan konseling menjadi sangat penting dalam membantu siswa dalam

mengembangkan perilaku a sertifnya, terutama dilingkungan sekolah, agar siswa dapat berperilaku asertif ketika mengemukakan pendapat serta dalam berkkomunkasi di lingkungan sekitarnya, siswa dapat menjadi pribadi yang percaya diri, ceria, mampu beradaptasi dengan lingkungannya, menghargai orang lain dan dirinya, berpikir jernih, bisa mengembangkan potensi yang ada pada dirinya ditengah masyarakat. Agar kegiatan pelayanan benar-benar menunjukkan hasil yang baik, perlu disusun dan dirumuskan program layanan sedemikian rupa sehingga benar-benar dirasakan manfaatnya serta meningkatkan kualitas siswa yang menerima bantuan tersebut. Idealnya seluruh layanan bimbingan dan konseling yang akan diselenggarakan kepada siswa harus disusun sedemikian rupa berdasarkan need assessment dan ketentuan yang ada, baik program

mingguan, bulanan, semesteran dan program tahunan.

35

B. Kerangka Pemikiran Berdasarkan uraian tentang latar belakang, kajian pustaka, kondisi sementara dilapangan dan permasalahan penelitian, maka secara singkat penelitian ini berusaha untuk mengungkap permasalahan yang berkaitan dengan perilaku asertif siswa dan peran guru pembimbing dalam mengembangkannya.

Permasalahan ini sangat menarik untuk diteliti, dalam penelitian ini seorang konselor atau guru pembimbing di lingkungan sekolah mengetahui,

mengungkapkan dan mengembangkan perilaku asertif siswa. Lebih jelas penulis kemukakan perilaku asertif siswa dan peran guru pembimbing dalam mengembangkan dalam skema kerangka gambaran berikut ini:

Perilaku Asertif siswa a. Kemampuan menyatakan tidak. b. Kemampuan membuat pernyataan/permintaan. c. Kemampuan mengekspresikan perasaan baik positif maupun negatif, dan d. Kemampuan membuka dan mengakhiri percakapan

Peran Guru BK dalam mengembangkan perilaku asertif Layanan Bimbingan Konseling a. Layanan Informasi b. Layanan Penguasaan Konten c. Layanan Konseling Peroranngan d. Layanan Konseling Kelompok

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Hakikatnya pendidikan adalah menyediakan lingkungan yang

memungkinkan setiap peserta didik mengembangkan bakat, minat, dan kemampuannya secara optimal dan utuh yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

36

Guru BK adalah pendidik dan menyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan tugas pokok guru BK di sekolah. Dalam hal ini, guru BK harus mampu mengembangkan dan melaksanakannya sesuai dengan fungsi kontrolnya sebagai penanggungjawab layanan bimbingan dan konseling di sekolah, yang bermuara pada terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian siswa secara optimal dengan hakekat kemanusiaannya sebagai hamba Tuhan YME, sebagai makhluk individu, dan makhluk sosial dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta. Dalam mengembangkan perilaku asertif siswa diperlukan peran aktif dari guru BK sebagai seorang pendidik yang memberikan layanan, agar siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam menyatakan tidak, membuat pernyataan/ permintaan, mampu mengekspresikan perasaan baik positif maupun negatif, dan mampu membuka dan mengakhiri percakapan sehingga berimplikasi pada perilaku siswa yang asertif. C. Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Esti Trisnaningtyas dan Mochamad Nursalim (2009) yang berjudul Penerapan Latihan Asertif untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Interpersonal Siswa. Penelitian ini mengungkap bahwa penerapan latihan asertif dapat meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Liza Marini dan Elvi Andriani (2005) yang berjudul Perbedaan Asertivitas Remaja Ditinjau dari Pola Asuh

37

Orang Tua. Penelitian tersebut menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam asertivitas remaja ditinjau dari pola asuh orang tua. Subjek dengan pola asuh authoritative lebih asertif daripada subjek dengan pola asuh authoritarian, permissive, dan uninvolved.

38

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan mixing method yang berupaya untuk memadukan metode penelitian kuantitatif dan metode kualitatif dalam mengungkapkan gambaran perilaku asertif siswa secara deskriptif analitik. Data kuantitatif diperoleh melalui sejumlah alat pengumpul data dan dianalisis dengan rumus statistik, sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara dan datanya dianalisis secara naratif untuk mendeskripsikan berbagai hal yang menjadi inti penelitian (Julia Brannen, 2004:19-20). Selanjutnya A. Muri Yusuf, (2005:83) memperjelas bahwa penelitian dengan metode deskriptif analitik adalah penelitian yang bertujuan

mendeskripsikan secara sistematik, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara mendetail apa adanya. Tujuan utama penelitian ini adalah menggambarkan secara cermat dan sistematis subjek yang diteliti dengan menggunakan data kuantitatif. Data dikumpulkan dengan sejumlah instrumen yang diolah dengan bantuan statistik program SPSS 17.

39

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Menurut A. Muri Yusuf (2005:183) populasi adalah keseluruhan manusia yang terdapat dalam seluruh area yang telah ditetapkan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP N 13 Padang berjumlah 323 orang, terdiri dari 167 orang laki-laki dan 156 orang perempuan yang terdaftar pada tahun ajaran 2011/2012. Selain itu guru bimbingan dan konseling yang berjumlah 8 orang juga menjadi populasi dalam penelitian ini. Adapun rincian dalam penelitian ini terdapat pada tabel 1 berikut ini: Tabel. 1 Jumlah Populasi Penelitian NO KELAS JUMLAH 36 36 36 36 36 36 36 36 36 323

1 VII.1 2 VII.2 3 VII.3 4 VII.4 5 VII.5 6 VII.6 7 VII.7 8 VII.8 9 VII.9 JUMLAH

(Tabel 1) (Sumber: Dokumentasi TU SMP N 13 Padang)

40

2. Sampel Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa jumlah siswa sebagai populasi penelitian sebanyak 323 orang. Populasi tersebut cukup banyak, oleh sebab itu perlu dilkukan penarikan sampel. Sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili dari populasi tersebut (A. Muri Yusuf, 2007:186). Sampling yang dilakukan mempertimbangkan ketentuan-ketentuan dalam pengambilan sampel, yaitu sampel harus dapat mewakili populasi dan karakteristiknya. Penarikan sampel penelitian merupakan prasyarat untuk menganalisis data dalam penelitian ini. Penarikan sampel dilakukan secara stratified random sampling, yang merupakan suatu prosedur menentukan sampel dengan membagi populasi atas beberapa strata sehingga tiap strata menjadi homogen dan tidak tumpang tindih dengan kelompok lain (A. Muri Yusuf, 2007:198). Untuk menentukan jumlah sampel yang akan digunakan, maka dipakai rumus Solvin (dalam Riduwan, 2005:65) yaitu:

Keterangan:

n = jumlah sampel N = jumlah populasi e = presesi kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel (ditetapkan 5%)

41

dengan menggunakan rumus tersebut, maka diperoleh jumlah sampel penelitian yaitu 179 siswa. Untuk menarik sampel pada sub kelompok, maka di ambil dengan rumus sederhana (A. Muri Yusuf, 2005: 202) berikut : Sampel Sub Kelompok Dengan menggunakan rumus tersebut, maka sampel masing-masing kelas adalah sebagai berikut: Tabel 2. Sampel Penelitian NO KELAS JUMLAH SAMPEL 20 20 20 20 20 20 20 19 20 179

1 VII.1 2 VII.2 3 VII.3 4 VII.4 5 VII.5 6 VII.6 7 VII.7 8 VII.8 9 VII.9 JUMLAH

42

C. Defenisi Operasional Menghindari terjadinya interpretasi yang berbeda-beda dan kerancuan pemahaman tentang aspek-aspek yang menjadi variabel penelitian, maka berikut disajikan penjelasan defenisi operasional masing-masing variabel, teknik serta skala pengukurannya. 1. Perilaku Asertif Perilaku merupakan suatu gerak kompleks yang dilakukan individu terhadap situasi tersedia, Sedangkan perilaku Asertif adalah perilaku yang menyatakan ketegasan baik verbal maupun non verbal dalam

mengekspresikan penghargaan, hak atau kepentingan baik pribadi maupun orang lain, dan keterbukaan diri. Pada prinsipnya perilaku asertif adalah kecakapan orang untuk berkata tidak, untuk meminta bantuan atau minta tolong orang lain, kecakapan untuk mengekspresikan perasaan-perasaan positif maupun negatif, kecakapan untuk melakukan inisiatif dan memulai pembicaraan dengan menjaga hak dan perasaan orang lain. Indikator perilaku Asertif adalah sebagai berikut: 1) kemampuan menyatakan tidak, 2) kemampuan membuat pernyataan/permintaan, 3) kemampuan mengekspresikan perasaan baik positif maupun negatif, dan 4) kemampuan membuka dan mengakhiri percakapan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah tingkah laku interpersonal yang mengungkap emosi secara terbuka, jujur,

43

tegas dam langsung pada tujuan sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi dan dilakukan dengan penuh keyakinan diri dan sopan.

2. Peran Guru Bimbingan dan Konseling Peran guru bimbingan dan konseling adalah menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai guru bimbingan dan konseling, dalam hal ini berdasarkan kemampuan, kekuasaan, hak dan kewajiban serta tanggung jawab dalam melaksanakan pelayanan konseling secara professional, didukung dengan keterampilan, pengetahuan, pemahaman, dan wawasan untuk memberikan bantuan dalam mengembangkan perilaku asertif siswa, sehingga siswa mampu berkomunikasi secarara efektif, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.

D. Pengembangan Instrumen 1. Instrumen yang digunakan Instrumen pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini sesuai dengan subjek penelitian pada siswa dan guru bimbingan dan konseling. Instrumen yang digunakan untuk mengungkapkan perilaku asertif siswa adalah angket. Sedangkan untuk mengetahui peran guru bimbingan dan konseling dalam mengembangkan perilaku aserif siswa digunakan pedoman wawancara. Angket berisi sejumlah pernyataan yang diajukan pada siswa dalam bentuk 5 (lima) alternatif jawaban yang disesuaikan dengan tujuan dari

44

pernyataan tersebut. Pola ini menurut para ahli sesuai untuk menyatakan pendapat seseorang mengenai suatu objek tertentu, seperti yang di ungkapkan oleh Sugiyono (2008:93). Dalam skala Likert disajikan satu seri pertanyaan-pertanyaan

sederhana, kemudian responden di ukur sikapnya untuk menjawab dengan memilih salah satu jawaban diantara lima pilihan jawaban yang telah disediakan, yaitu: 1) Selalu, 2) Sering, 3) Kadang-kadang, 4) Tidak Pernah (Sugiyono, 2008:93). Angket disusun berpedoman pada kisi-kisi yang telah dibuat berdasarkan teori dengan menentukan variabel, sub varibel, dan indikator. 2. Uji Validitas Instrumen yang disusun sebelumnya. Validitas adalah seberapa jauh instrumen itu mengukur apa yang hendak diukur (A. Muri Yusuf, 2005:11), sehingga untuk mendapatkan construct validity yang tinggi adalah ketepatan, kesesuaian dan kebenaran construct yang disusun sebelumnya. Konsep angket yang telah disusun kemudian dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan di timbang oleh tiga orang ahli lainnya untuk melihat construct dan face vaidity-nya. Dalam konsultasi dibahas bentuk, isi, bahasa, fenomena dan lay out yang dipakai dalam angket. Apabila para ahli yang menimbang atau memandang bahwa instrumen tersebut sudah mencerminkan wilayah isi dengan memadai, maka instrumen tersebut dapat dikatakan telah memadai (valid). Setelah ditimbang dilakukan beberapa perubahan dan

45

perbaikan sehingga instrumen dapat diujicobakan sesuai dengan fokus penelitian tentang perilaku asertif siswa. Reliabilitas pada instrument penelitian ini mengacu kepada sejauh mana konsistensi suatu alat ukur yang digunakan dalam mengukur apa yang hendak diukur. Menurut A. Muri Yusuf (1996:26) Reliabilitas adalah konsistensi atau kestabilan skor suatu instrumen penelitian terhadap individu yang sama dan diberikan dalam waktu yang berbeda. Teknik yang digunakan dalam menentukan konsistensi angket adalah metode test-retest. Menurut Grounlund (1977:138) The test-retest method requires administering the same form of the test to the same group with some intervning time interval. Dengan demikian metode test-retest dilakukan dengan cara mengadministrasikan instrumen yang sama kepada subjek yang sama dalam waktu yang berbeda. A. Muri Yusuf (2005:101) mengistilahkan metode test-retest dengan coefficient of stability yakni bagaimana tingkat kestabilan skor setiap individu apabila dilakukan pengujian dalam waktu yang berbeda dengan perlengkapan yang sama.

46

E. Teknik Pengumpulan Data Beberapa data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data tentang perilaku asertif siswa, baik dalam menyampaikan pendapat maupun dalam berkomunikasi dengan teman dan guru di SMP Negeri 13 Padang, dan peran guru bimbingan dan konseling dalam mengembangkan perilaku asertif siswa. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini disesuaikan dengan subjek penelitian (siswa dan guru bimbingan dan konseling). Instrumen disebarkan pada siswa dengan mengisi angket yang telah disiapkan oleh peneliti dan untuk guru bimbingan dan konseling dilakukan dengan wawancara.

F. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan salah satu langkah dalam kegiatan penelitian yang sangat menentukan ketepatan dan kesahihan hasil penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden terkumpulkan. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data variabel yang telah diteliti, melakukan perhitungan untuk menguji

hipotesis yang telah diajukan (Sugiyono, 2010:207). Deskripsi data tentang perilaku asertif siswa dianalisis dengan menggunakan rumus persentase. Menurut Sudjana (2002:50) persentase dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

47

x 100 Keterangan: P : Persentase f : Frekuensi Jawaban N : Jumlah Responden Sedangkan, untuk mengetahui peran guru bimbingan dan konseling tentang perilaku asertif siswa dilakukan dengan wawancara.