Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KIMIA ANALISIS II PERMANGANATOMETRI

Disusun Oleh: Anisa Alawiyah Anggi Normalia Gilang Hendrawan Kris Yanuarti Muarif Ramadhani P. M. Anwar Rasyid Umar Bahari P. Winda Dewi I. 062111015 062111067 062111082 062111070 062111003 062111064 062111017 062111020

PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PAKUAN 2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, karunia serta hidayah-Nya yang telah dilimpahkan, saya dapat menyelesaikan Makalah Kimia Analisis II Permanganatometri . Makalah ini disusun untuk menambah wawasan mahasiswa mengenai Kimia Analisis mengenai metode titrasi/volumetri secara permanganatometri beserta aplikasinya. Pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, terutama kepada dosen Kimia Analisis yaitu Ibu Ade Heri M., M.Si yang telah banyak membantu dalam memberikan materi mengenai Kimia Analisis II. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat untuk penulis khususnya dan untuk rekan-rekan pembaca pada umumnya. Terima kasih.

Bogor, Juli 2013

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe2+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti: 1. Ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan. 2. Ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+dioksidasi oleh khromat tersebutdan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4. Permanganometri adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi redoks. Dalam reaksi ini, ion MnO4-bertindak sebagai oksidator. Ion MnO4- akan berubah menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam. Teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukan kadar oksalat atau besi dalam suatu sample. Pada permanganometri, titran yang digunakan adalah kalium

permanganat. Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Setetes permanganat memberikan suatu warna merah muda yang jelas kepada volume

larutan dalam suatu titrasi. Warna ini digunakan untuk menunjukkan kelebihan pereaksi. B. Rumusan Masalah 1. Pengertian titrasi permanganometri ? 2. Bagaimana cara kerja dari titrasi permanganometri ? 3. Apa manfaat dan kegunaan dari titrasi permanganometri ? 4. Apa kelebihan dan kekurangan dari titrasi permanganometri ?

BAB II PEMBAHASAN A. Tinjauan Pustaka Permanganometri adalah penetapan kadar zat berdasarkan hasil oksidasi dengan KMnO4. Metode permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam, netral dan alkalis. Reaksinya adalah: MnO4- + 8H+ + 5e Mn 2+ + 4H2O Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator, jadi titrasi permanganometri ini tidak memerlukan indikator, dan umumnya titrasi dilakukan dalam suasana asam karena karena akan lebih mudah mengamati titik akhir titrasinya. Namun ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana netral atau alkalis contohnya hidrasin, sulfit, sulfida, sulfida dan tiosulfat. Reaksi dalam suasana netral yaitu: MnO4 + 4H+ + 3e MnO4 +2H2O Kenaikan konsentrasi ion hidrogen akan menggeser reaksi kekanan. Reaksi dalam suasana alkalis : MnO4- + 3e MnO42MnO42- + 2H2 O + 2e MnO2 + 4OHMnO4- + 2H2 O + 3e MnO2 +4OHReaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas penangas uap selama satu/dua jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser. Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan

atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta bahwa banyak reaksi permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh, permanganat adalah agen unsur pengoksida, yang cukup kuat untuk mengoksida Mn(II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan: 3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O 5MnO2 + 4H+ Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat. Mangan dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan

permanganate. Jejak-jejak dari MnO2 yang semula ada dalam permanganat. Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agenagen produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristal-kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MnO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan. Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan kalium permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran. Titrasi ini didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks. Kalium permanganat telah digunakan sebagai pengoksida secara meluas lebih dari 100 tahun. Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer. Permanganat bereaksi secara beraneka, karena mangan dapat memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan +7 (Day, 1999). Dalam suasana asam atau [H+] 0,1 N, ion permanganat mengalami reduksi menjadi ion mangan (II) sesuai reaksi : MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O Eo = 1,51 Volt Dalam suasana netral, ion permanganat mengalami reduksi menjadi mangan dioksida seperti reaksi berikut :

MnO4- + 4H+ + 3e- MnO2 + 2H2O Eo = 1,70 Volt Dan dalam suasana basa atau [OH-] 0,1 N, ion permanganat akan mengalami reduksi sebagai berikut: MnO4- + e- MnO42- Eo = 0,56 Volt Asam sulfat adalah asam yang paling sesuai, karena tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer. Dengan asam klorida, ada kemungkinan terjadi reaksi : 2MnO4- + 10Cl- + 16H+ 2Mn2+ + 5Cl2 + 8H2O dan sedikit permanganat dapat terpakai dalam pembentukan klor. Reaksi ini terutama berkemungkinan akan terjadi dengan garam-garam besi, kecuali jika tindakan-tindakan pencegahan yang khusus diambil. Dengan asam bebas yang sedikit berlebih, larutan yang sangat encer, temperatur yang rendah, dan titrasi yang lambat sambil mengocok terus-menerus, bahaya dari penyebab ini telah dikurangi sampai minimal. Pereaksi kalium permanganat bukan merupakan larutan baku primer dan karenanya perlu dibakukan terlebih dahulu. Pada percobaan ini untuk membakukan kalium permanganat ini dapat digunakan natrium oksalat yang merupakan standar primer yang baik untuk permanganat dalam larutan asam (Basset, 1994). Untuk pengasaman sebaiknya dipakai asam sulfat, karena asam ini tidak menghasilkan reaksi samping. Sebaliknya jika dipakai asam klorida dapat terjadi kemungkinan teroksidasinya ion klorida menjadi gas klor dan reaksi ini mengakibatkan dipakainya larutan permanganat dalam jumlah berlebih. Meskipun untuk beberapa reaksi dengan arsen (II) oksida, antimoni (II) dan hidrogen peroksida, karena pemakaian asam sulfat justru akan menghasilkan beberapa tambahan kesulitan. Kalium pemanganat adalah oksidator kuat, oleh karena itu jika berada dalam HCl akan mengoksidasi ion Cl- yang menyebabkan terbentuknya gas klor dan kestabilan ion ini juga

terbatas.Biasanya digunakan pada medium asam 0,1 N. Namun, beberapa zat memerlukan pemanasan atau katalis untuk mempercepat reaksi. Seandainya banyak reaksi itu tidak lambat, akan dijumpai lebih banyak kesulitan dalam menggunakan reagensia ini (Svehla, 1995).

B. Kelebihan dan Kekurangan Titrasi Permanganatometri Kelebihan dari titrasi permanganometri ini lebih mudah digunakan dan efektif, karena reaksi ini tidak memerlukan indikator, hal ini dikarenakan larutan KMnO4sudah berfungsi sebagai indicator, yaitu ion MnO4-berwarna ungu, setelah diredukdsi menjadi ion Mn-tidak berwarna, dan disebut juga sebagai autoindikator. Adapun kekurangan dari titrasi permananatometri ini adalah terdapat sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4 pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2+. MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air. H2C2O4 + O2 H2O2+ 2CO2 H2O2 untuk titrasi H2O + O2. yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan permanganometri yang dilaksanakan. C. Manfaat dari Titrasi Permanganatometri Untuk mengetahui kadar dari zat-zat yang bilangan oksidasinya masih dapat dioksidasi. Contoh manfaat dari titrasi dengan metode

permanganatometri dapat diaplikasikan ke dalam penetapan sebagai berikut:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Penetapan kadar MnO2 dalam batu baerai Penetapan kadar Fe2+ dalam garam tunjung Penetapan kadar Ca2+ dalam batu kapur Penetapan kadar H2O2 dalam pewarna rambut Penetapan kadar NO2 dalam NaNO2 Penetapan kadar total zat organik (TOM) dalam air limbah Penetapan kadar zat organic (bilangan permanganate) Contoh tersebut di atas merupakan beberapa contoh aplikasi dari titrasi

cara permanganatometri dan akan dibahas dalam makalah ini. Tapi sebelum membahas tentang aplikasi dari titrasi ini, akan dibahas terlebih dahulu yaitu cara pembuatan dan standarisasi larutan permanganat. Karena laruan permanganat merupakan bahan baku sekunder maka diperlukan standarisasi untuk menentukan normalitas dari KMnO4. 1. Cara Pembuatan Larutan KMnO4 0,1 N a. Ditimbang 3,2 gram KMnO4 b. Dilarutkan dengan air suling dalam wadah 1 liter sampai larut semua kemudian encerkan c. pindahkan ke botol berwarna, diamkan sampai 7 hari d. Disaring dengan penyaring kaca masir. Lalu larutan bisa distandarisasi e. Jika larutan ingin cepat dipakai, sebelum dipindahkan ke dalam botol berwarna, panaskan hingga hampir mendidih, diamkan 1 jam f. Setelah dingin, disaring dengan penyaring kaca masir g. Pindahkan ke botol berwarna gelap. 2. Standarisasi larutan KMnO4 0,1 N a. Dengan As2O3 Pertama-tama timbang 0,2 gr As2O3 ke dalam erlenmeyer 250 ml, kemudian bubuhi 10 ml NaOH 20%, lalu biarkan selama 10 menit sambil dikocok hingga larut seluruhnya, setelah itu tambahkan 100 ml air suling dan tambahkan 10 ml HCl pekat dan 1 tetes KI 0,00225 M, kemudian titar dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu seulas (titik akhir). Reaksinya adalah sebagai berikut:

2 KMnO4 + H2SO4 K2SO4 + 2 MnSO4 + 3 H2O + 5 On As2O3 + 2 NaOH 2 NaAsO2 + H2O 2 NaAsO2 + 2 HCl 2 NaCl + 2 HAsO2 2 HAsO2 + 2 On + H+ 2 H3AsO4 Perhitungannya adalah:

b. Dengan Asam Oksalat Pertama-tama ditimbang 500 mg asam oksalat terhablur, kemudian larutkan ke dalam labu ukur 100 ml, lalu dipipet 25 ml larutan asam oksalat ke dalam erlenmeyer 250 ml dan Encerkan hingga 100 ml dengan air suling. Setelah itu tambahkan 5 ml H2SO4 4 N lalu Panaskan hingga 700 C, kemudian Titar dengan KMnO4 hingga larutan berwarna merah muda seulas (TA). Reaksinya adalah sebagai berikut: 2 KMnO4 + H2SO4 + 5 H2C2O4 K2SO4 + 2 MnSO4 + 3H2O + 5 CO2 Perhitungannya adalah:

D. Aplikasi Titrasi Permanganatometri 1. Penetapan Kadar MnO2 dalam Batu Baterai Dasar penetapan: Fe2+ yang ditambahkan secara berlebih dan terukur akan dioksidasikan oleh MnO2 dalam suasana asam menjadi Fe3+. Kelebihan Fe2+ akan dititar oleh KMnO4. Setelah semua Fe2+ dioksidasi oleh KMnO4, titik akhir didapatkan warna larutan merah muda seulas. Reaksi: 3 MnO2 + 6 FeSO4 + 4 H3PO4 Fe2(SO4)3 + 3 FePO4 + 3 MnSO4 2 KMnO4 + 4 H3PO4 + 6 FeSO4 Fe2(SO4)3 + 4 FePO4 + 3 MnSO4 + K2SO4 + 6 H2O + O2 Alat dan Bahan yang Digunakan: a. Erlenmeyer b. Buret coklat c. Pipet volume d. Teklu e. Kasa asbes f. Kaki tiga g. Kaca arloji h. Neraca analitik i. Air suling j. Batu Baterai k. Larutan Fe2+ l. Larutan H3PO4 pekat m. Larutan KMnO4 Cara Kerja: a. Blanko 1) Sebanyak 25 ml Larutan Fe2+ dipipet kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer.

2) Lalu sebanyak 50 ml air suling ditambahkan ke dalam erlenmeyer tersebut. Lalu ditambahkan Larutan Fe2+ sebanyak 25 ml dan 50 ml air suling 3) Larutan dipanaskan sampai kira-kira volume larutan di

erlenmeyer berkurang setengahnya. 4) Setelah itu, ditambahkan 3-5 ml H3PO4 pekat ke dalam larutan yang telah dipanaskan. 5) Kemudian dititar dengan larutan KMnO4 hingga larutan di erlenmeyer berubah menjadi warna merah muda seulas. b. Sampel Batu baterai 1) Sampel batu baterai ditimbang sebanyak 0,1 gram. 2) Kemudian dimasukkan langsung ke dalam erlemenyer, lalu ditambahkan 25 ml Larutan Fe2+ dan 50 ml air suling. 3) Kemudian larutan dipanaskan hingga volume larutan menjadi setengahnya dari volume awal. 4) Larutan yang telah dipanaskan kemudian ditambahkan 3-5 ml H3PO4 pekat. 5) Larutan dititar dengan KMnO4 hingga larutan di erlenmeyer berubah menjadi warna merah muda seulas. Perhitungan:

2. Penetapan Kadar H2O2 dalam Pewarna Rambut Pewarna rambut Pewarna rambut adalah kosmetika yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan warna rambut asalnya atau warna lain. Warna rambut manusia bermacam-macam, hitam, merah, cokelat, keemasan (pirang) bergantung pada jenis pigmen yang terdapat di dalam korteks rambut. Bila sudah mencapai usia lanjut, warna rambut berubah menjadi putih, yang kurang disukai keberadaannya. Pewarna dari bahan sintetik organik berdasarkan kemampuan bertahannya di rambut: a. Pewarna Azo Pewarna Azo bersifat sementara. Banyak dibuat dari para-hidroksiazo-benzena (para-hydroxyazobenzene). Molekul zat pewarnanya besar dan tidak dapat melewati celah imbrikasi selaput rambut guna masuk ke kulit rambut dan hanya melapisi selaput rambut saja. b. Pewarna Nitro Pewarna nitro bersifat semi-permanen. Banyak dibuat dari bahan nitro-fenelen-diamina yang menghasilkan warna merah dan kuning atau dari bahan antrakuinon yang menghasilkan warna biru. c. Pewarna Oksidasi Pewarna oksidasi bersifat permanen. Molekul pewarnanya mulamula sangat kecil dan mampu melewati celah imbrikasi selaput rambut untuk masuk ke kulit rambut. Melalui proses oksidasi yang kebanyakan menggunakan larutan hidrogen peroksida. d. Pewarna Logam Pewarna logam melapisi batang rambut dengan kuat dan dikategorikan sebagai pewarna permanen serta sering dipasarkan sebagai color restorer atau pengembali warna semula. Pewarna jenis ini menggunakan bahan dasar logam, seperti timah yang

menghasilkan warna hitam-lembayung, perak menghasilkan hitamkehijauan, dan tembaga menghasilkan warna hitam pekat. Penggunaan Hidrogen Peroksida sebagai Pewarna Rambut Hidrogen peroksida memiliki peranan pada saat melakukan pewarnaan rambut. Hidrogen peroksida terkandung dalam bahan kimia suatu kosmetik pewarnaan rambut. Senyawa yang terkandung didalam Hidrogen Peroksida merupakan bahan kimia anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat. Suatu kosmetik pewarna rambut terdapat kandungan Hidrogen Peroksida karena sifat senyawa Hidrogen Peroksida yang tidak berwarna, berbau keasaman, dan larut dengan baik dalam air. Hidrogen peroksida sangat berguna dalam pembuatan kosmetika penataan rambut seperti yang tersebut berikut ini: a. Sebagai bahan penambah dalam larutan pengeriting dan bahan cat rambut untuk memudahkan meresapnya bahan-bahan tersebut ke dalam korteks rambut. b. Sebagai bahan untuk menghilangkan atau memudakan warna pigmen rambut (bleaching). Di dalam bahan kosmetika untuk pengeritingan rambut, hidrogen peroksida digunakan untuk meregangkan hubungan antara sirip-sirip kutikula rambut dan menghentikan daya kerja larutan pengeriting dengan memulihkan ikatan antara molekul-molekul tanduk. Efek Hidrogen Peroksida dalam Pewarna Rambut Karena pewarnaan rambut bisa menimbulkan efek negatif bagi kesehatan. Beberapa dampak negatif pewarnaan rambut bagi kesehatan antara lain: 1. Iritasi kulit dan alergi Beberapa orang yang rentan mengalami alergi sebaiknya melakukan tes terlebih dahulu sebelum menggunakan pewarna rambut apapun. Jika dalam waktu 48 jam tidak menimbulkan reaksi apapun, maka pewarna tersebut aman. Tapi bagi orang yang rentan, ia akan

mengalami alergi kulit saat menggunakan pewarna rambut. Gejala yang muncul adalah kemerahan, gatal mendadak, sensasi terbakar di kulit dan rasa tidaknyaman. Jika timbul keluhan tersebut sebaiknya hentikan proses pewarnaan segera. 2. Kerusakan rambut Rambut yang sering menerima berbagai prose kimia termasuk pewarnaan bisa memicu terjadinya kerusakan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan rambut kusam, rapuh, kasar dan rusak. Ujung rambut yang bercabang juga menunjukkan bahwa rambut tidak sehat. 3. Perubahan warna kulit Bahan kimia dalam rambut akan mempengaruhi protein dalam rambut, kulit dan kuku. Karenanya sangat penting menggunakan sarung tangan untuk perlindungan dan menggunakan krim di sekitar garis rambut. 4. Masalah kesehatan serius Penelitian terbaru menunjukkan keracunan timah bisa terjadi ketika seseorang melakukan pewarnaan rambut, meski masih ada yang memperdebatkan masalah ini. Hal ini karena bahan utama dalam pewarna rambut warna gelap adalah timbal asetat yang sangat beracun, sehingga berbahaya bagi kesehatan tubuh dan memicu masalah kesehatan serius. Cara Kerja Penetapan H2O2 dalam Pewarna Rambut 1. 10 ml contoh di pipet ke dalam labu ukur 100 ml dan di encerkan dengan air suling sampai tanda garis. 2. kemudian 10 ml larutan ini di pipet ke dalam erlenmeyer 300 ml, di encerkan sampai 100 ml. 3. di tambahkan 25 ml H2SO4 4 N dan dan selanjutnya dititar dengan larutan KMnO4 sampai berwarna merah muda seulas. 4. penetapan ini diulangi 2-3 kali.

Perhitungan % H2O2 = Keterangan : V = ml KMnO4 yang diperlukan N = kenormalan KMnO4 Bst H2O2 = 17 Fp = Faktor pengencer 3. Penetapan NO2 dalam NaNO2 Dasar Teori: Titrasi permanganometri merupakan salah satu jenis titrasi oksidasi reduksi dengan mengunakan garam kalium permanganat (KMnO4) sebagai larutan standard. Kalium permanganat telah digunakan sebagai zat pengoksidasi secara meluas. Reagensia ini mudah diperoleh, murah dan tidak memerlukan indikator kecuali jika digunakan larutan yang sangat encer. Permanganat dalam keadaan asam berwarna jernih dana berwarna ungu pada keadaan basa. Permanganat dapat bereaksi secara beraneka ragam karena mangan memiliki keadaan oksidasi yaitu +2, +3, +4, +6, dan +7. Larutann standard KMnO4 bukan merupakan larutan standard primer sehingga sebelum digunakan harus distandarisasi terlebih dahulu dengan larutan strandar primer. Larutan standart yang dapat digunakan untuk standarisasi larutan KMnO4 adalah zat-zat reduktor seperti : As2O3, Na2C2O4, dll. Reaksi: 2 NaNO2 + H2SO4 Na2SO4 + 2 HNO2 2 KMnO4 + 5 HNO2 + 3 H2SO4 K2SO4 + 2 MnSO4 + 2 H2O + 5 HNO3 Alat dan Bahan yang digunakan a. Neraca analitik b. Kaca arloji x 100 %

c. Labu ukur 100ml d. Batang pengaduk e. Corong f. Buret 50ml g. Erlenmeyer 250ml h. Pemanas listrik i. Contoh KNO2 j. Larutan KMNO4 0,1 N k. Larutan H2SO4 pekat l. Aquades Cara Kerja 1. Disiapkan alat bahan yang diperlukan. 2. Ditimbang contoh garam Natrium Nitrat sebanyak 850 mg dengan menggunakan kaca arloji. 3. Contoh dilarutkan dalam labu ukur 100 mL hingga tanda batas. 4. Larutan contoh dimasukkan kedalam buret 50 mL (sebagai titran). 5. Dipipet 25 mL larutan KMNO4 ke dalam Erlenmeyer 250 mL kemudian ditambahkan H2SO4 pekat sebanyak 2 mL. 6. Larutan KMNO4 dalam Erlenmeyer kemudian dititar dengan larutan contoh hingga titik akhir tercapai (warna merah jambu hilang). Perhitungan N KMnO4 =
( )

4. Penetapan Kadar Ca dalam Batu Kapur Dasar: Kation Ca2+ dapat diendapkan sebagai (COO)2Ca. Setelah disaring dan dicuci, endapan dilarutkan dengan H2SO4 kemudian menghasilkan (COOH)2 bebas. (COOH)2 yang dibebaskan dapat dititar dengan larutan KMnO4, sehingga kadar Ca dapat dihitung. Reaksi: CaCO3 + 2HCl CaCl2 + H2O + CO2

CaCl2 + (COONH4)2 (COO)2Ca + 2NH4Cl (COO)2Ca + H2SO4 (COOH)2 + CaSO4 5(COOH)2 + 2KMnO4 + 3H2SO4 K2SO4 + 2MnSO4 + 8H2O + 5CO2 Alat dan Bahan yang digunakan: a. Gelas beaker b. Penyaring kurs c. Gelas ukur d. Penangas air e. Batang pengaduk f. Erlenmeyer g. Termometer h. Pipet. Volumetrik 5 ml, 10 ml, 20 ml i. Neraca analitik j. Botol semprot k. Kaca arloji l. Pipet tetes m. Buret n. Labu ukur o. Contoh batu kapur p. Larutan KMnO4 0,1 N q. Larutan CH3COOH 5 N r. Larutan (COONH4) 4 % s. Larutan HCl 4 N t. Larutan H2SO4 4 N u. Larutan NH4OH 5 N Cara Kerja: a. Ditimbang 150 gram contoh batu kapur dengan teliti. b. Dimasukkan ke dalam piala gelas 400 ml. c. Ditambahkan 5 ml HCl 4 N dan dihangatkan sampai seluruh contoh larut.

d. Didihkan sebentar larutan tersebut untuk menghilangkan semua CO2, kemudian diencerkan sampai 200 ml. e. Dipanaskan sampai suhu 90oC dan ditambahkan 2 tetes indikator MM. f. Ditambahkan 20 ml larutan (COONH4)2 setetes demi setetes sambil diaduk, kemudian ditambahkan larutan NH4OH 5 N sampai terjadi perubahan warna. g. Endapan dipanaskan di atas penangas air selama 1 jam, kemudian disaring, dan dicuci dengan air yang dibubuhi beberapa tetes CH3COOH 5 N. h. Setelah edapan bersih, endapan kemudian dilarutkan ke dalam Erlenmeyer dengan larutan H2SO4 4 N panas. i. Dititar asam oksalat yang dibebaskan dengan larutan KMnO4 0.1 N pada suhu 70oC. j. Diulangi percobaan minimal dua kali (duplo). Perhitungan

Kadar Ca

VKMnO4 x N KMnO4 x bst Ca mg contoh

x 100%

V = ml KMnO4 yang diperlukan N = Normalitas KMnO4 20 = Bobot setara Ca 5. Penetapan kadar Fe(II) dalam garam mohr Dasar: Dalam suasana asam, garam garam besi (II) dapat dioksidasikan menjadi besi (III) oleh KMnO4. Dititrasi sehingga diperoleh warna titik akhir merah muda seulas. Tanpa menggunakan indikator dan menggunakan air bebas O2. Reaksi: (NH4)2SO4.FeSO4.6H2O (NH4)2SO4 + FeSO4 + 6H2O

2 KMnO4 + 8 H2SO4 + 10 FeSO4 K2SO4 + 2 MnSO4 + 5 Fe2(SO4) + 6 H2 O Alat dan bahan: a. Kaca Arloji b. Neraca c. Labu Ukur 100 ml d. Erlenmeyer 250 ml e. Buret 50 ml f. Statif g. Kassa Asbes h. Teklu i. Kaki tiga j. Contoh garam Mohr (NH4)2SO4.FeSO4.6H2O k. Larutan KMnO4 0,1 N l. Larutan H2SO4 4N m. Air bebas O2 Cara kerja: a. Ditimbang 3,92 g garam Mohr b. Dimasukkan kedalam Labu Ukur 100 ml c. Ditambahkan 5 ml H2SO4 4N dan dihimpitkan dengan air bebas O2 d. Dipipet 10 ml larutan kedalam erlenmeyer 250 ml e. Ditambahkan 10 ml H2SO4 4N dan dilarutkan dengan 100 ml air bebas O2 f. Dipanaskan hingga suhu 70 C g. Dititar dengan KMnO4 0,1 N hingga TA yaitu larutan berwarna merah muda seulas. Perhitungan:

Kadar Fe

x 100%

6. Penetapan Kadar Total Zat Organik (TOM = Total Organic Matter) Dasar: Zat organik terlarut dalam air dapat dioksidasikan oleh KMnO4 berlebih dalam suasana asam. Sisa KMnO4 direduksikan oleh asam oksalat yang ditambahkan berlebih, kemudian kelebihan asam oksalat tersebut dititar olehlarutan baku KMnO4 hingga didapat sebuah titik akhir dari warna merah menjadi merah muda seulas. Reaksi: 5CaHbOc + 3MnO4-(berlebih)+ 9H+ 5CO2+ + 3Mn2++7H2O 2MnO4-(sisa) + C2O42-(berlebih) + 16H+ 10CO2+ 2Mn2++8H2O 2MnO4-+ 5C2O42- (Sisa)+ 16H+ 10CO2+ 2Mn2++ H2O Alat dan Bahan: a. Labu semprot b. Pipet volume c. Erlenmeyer d. Gelas ukur e. Teklu f. Kaki tiga g. Kasa asbes h. Corong i. Buret j. Klem dan statif k. Piala gelas l. Cover glass m. Sampel air limbah n. H2SO4 4N o. KMnO4 0,01N p. (COOH)2.2H2O 0,01N q. Air suling

Cara Kerja: a. Pembebasan labu Erlenmeyer dari zat organic 1) Diambil 50 ml air kran dan memasukkan ke dalam labu erlenmeyer. 2) Ditambahkan 2,5 ml H2SO4 4 N. 3) Ditambahkan tetes demi tetes KMnO4 0,01 N hingga cairan berwarna merah muda. 4) Dipanaskan di atas hot plate dan dibiarkan mendidih 5) Ditambahkan larutan KMnO4 0,01 N, jika selama pendidihan warna merah muda hilang sampai tidak hilang lagi. 6) Dibuang cairan dalam erlenmeyer. b. Penentuan Kadar total zat organic 1) Diambil sampel air limbah yang telah di sampling sebanyak 50ml ke dalam erlenmeyer. 2) Ditambahkan 2,5ml Asam Sulfat 4N. 3) Ditambahkan 5ml KMnO4 0,01N. 4) Dipanaskan 70-80 derajat celcius selama 5 menit. 5) Ditambahkan asam oksalat 0,1N berlebih terukur hingga jernih ( 15 ml) 6) Dititar dengan KMnO4 0,01N Hingga TA Merah Muda Seulas c. Penentuan factor ketelitian KMnO4 zat organic 1) Dimasukkan 5 ml larutan asam oksalat pada labu Erlenmeyer. 2) Dititrasi dengan larutan KMnO4 0,01 N sampai larutan berubah warna merah muda dan dicatat banyaknya larutan KMnO4 0,01 N yang digunakan. Perhitungan: Faktor Ketelitian Faktor Ketelitian = Total Organic Matter (TOM) TOM = 1000 x (a + b x c a) x N KMnO4 x BE KMnO4 Volume sampel

Ket : a = Vol. KMnO4 (penambahan pereaksi) b = Vol. KMnO4 (titrasi) c = Faktor Ketelitian Satuan TOM = mg/L KMnO4 7. Penetapan Kadar Zat Organik (bilangan permanganate) Adanya zat organik dalam air menunjukan bahwa air tersebut telah tercemar oleh kotoran manusia ,hewan atau oleh sumber lain.zat organik merupakan bahan makanan bakteri atau mikroorganisme lainnya . Makin tinggi kandungan zat organik didalam air,maka semakin jelas bahwa air tersebut telah tercemar . Bilangan permanganat adalah jumlah mg KMnO4 yang diperlukan untuk mengoksidasi zat organik yang terkandung didalam satu liter contoh air dengan pendidihan selama 10 menit. Penentuan zat organik dengan cara oksidasi dapat dilakukan dalam suasana asam atau basa . Metode asam untuk air yang mengandung ion Cl < 300 ppm Metode basa untuk air yang mengandung ion Cl >300 ppm Dasar: Metode asam: Zat organik didalam sampel dioksidasi oleh KMnO4 berlebih dalam keadaan asam dan panas. Sisa KMnO4 direduksi dengan larutan asam oksalat berlebih. Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan KMnO4. Metode basa: Sampel dididihkan terlebih dahulu dengan NaOH selanjutnya dioksidasi oleh KMnO4 berlebih. Sisa KMnO4 direduksi oleh asam oksalat berlebih. Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan KMnO4. Gangguan: a. Ion sulfida dan nitrit , untuk menghilangkan harus di panaskan dengan H2SO4 encer sampai H2S dan nitrit hilang. b. Garam ferro dapat di hilangkan dengan penambahan beberapa tetes KMnO4 sebelum dianalisa sampai larutan tepat merah muda.

c. Bila harus disimpan lebih dari satu hari, lebih baik diasamkan kurang dari 5 (pH <5) Alat dan Bahan: Buret Labu Erlenmeyer Labu ukur Asam Sulfat 2 N bebas zat organic H2C2O4 0,01 N KMnO4 0.01 N Prosedur Kerja a. Pencucian alat dari zat organik 1) Sebelum analisa di mulai, Erlenmeyer yang akan digunakan untuk analisa harus di bersihkan dari sisa zat organik yang menempel pada dinding Erlenmeyer. 2) Pipet 100,0 ml aquades ,masukan kedalam Erlenmeyer,ditambah beberapa tetes KMnO4 0,01 N smpi merah muda .tambahkan 5 ml asam sulfat 8 N panaskan sampai mendidih. Cairan dibuang dan Erlenmeyer siap digunakan (jangan di bilas lagi dengan aquades ) b. Penetapan bilangan permanganate 1) Pipet 50,0 ml contoh air, masukan ke dalam Erlenmeyer 250 ml.tambahkan 5 ml H2SO4 2 N dan beberapa batu didih,panaskan hingga mendidih.selanjutnya tambahkan 10,0 ml KMnO4 0,01 N anaskan kembali hingga mendidih selama 10 menit. 2) Tambahkan 10,0 ml H2C2O2 0,01 N,pemanasan dilanjutkan sampai warna merah muda hilang 3) Titrasi dalam keadaan panas dengan KMnO4 0,01 N sampai terjadi warna merah muda mantap selama 10 detik c. Penetapan bilangan permanganate (metode basa cara schulzon) 1) Pipet 100,0 ml sampel,masukan kedalam labu ukur Erlenmeyer 250 ml,tambahkan KMnO4 0,01 N tetes demi tetes sampai warna merah muda . tambahkan beberapa tetes asam sulfat 8 N panaskan cepat

hingga mendidih, jika timbul bau sulfida pendidihan diteruskan sampai beberapa menit. 2) Tambahkan 10 ml KMnO4 0,01 N (alkalis) dan dilanjutkan pemanasan sampai mendidih . Pendidihan dilakukan hati hati selama 10 menit tambahkan 5 ml H2SO4 8 N 10,0 ml H2C2O4 0,01 N dengan hati hati . 3) Titrasi dalam keadaan panas KMnO4 0,01 N sampai terjadi warna merah muda yang mantap selama 10 detik. 4) Jika memerlukan KMnO4 0,01 N (alkalis) lebih dari 7 ml ,maka penetapan diulangi dengan voleme sampel yang lebih kecil dan diencerkan dengan aquades sampai volume 100 ml. Perhitungan 1000 : Vol.Sampel x [(10 + a) b ( 10 x c ) x 31,6 ] = .. mg KMnO4 Keterangan : a. = ml KMnO4 0,01 untuk titrasi b. = NormalitasKMnO4 c. = Normalitas H2C2O4

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Titrasi permanganometri merupakan titasi yang menggunkan

KMnO4 sebagai titran. Titrasi permanganometri harus dilakukan dalam lingkungan asam sehingga terjadi rekasi sebahgai berikut: MnO4-(aq) + 6H+(aq)+5H2C2O4(aq) 2Mn2+(aq)+8H2O(l)+10CO2(g) Pada titrasi permanganometri tidak diperlukan indikator karena perubahan warna KMnO4 telah menandakan titik akhir.

DAFTAR PUSTAKA Hariyanto, et al. 2010. Pengantar Kimia Analisis II . Sekolah Menengah Analis Kimia: Bogor. Sutanto. 2003. Kimia Analisis Kuantitatif Klasik. Universitas pakuan : Bogor. SNI 13-3496-1994. Bahan galian, Cara preparasi contoh secara umum untuk analisis kimia dan uji sifat fisik di laboratorium. http:/www.scribd.com. Titrasi Metode Permanganatometri.

Anda mungkin juga menyukai