Anda di halaman 1dari 15

Case Report Session

Sindrom Gawat Nafas


Oleh : DEREVIE HENDRYAN MOULINA

Preseptor : Dr. Iskandar Syarif, SpA (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG 2011

BAB I TINJAUAN PUSTAKA


Distress respirasi atau gangguan nafas merupakan masalah yang sering dijumpai pada hari-hari pertama kehidupan BBL, ditandai dengan takipnea, napas cuping hidung, retraksi interkostal, sianosia dan apnu. Gangguan nafas yang paling sering ialah TTN ( Transient Tachypnea of the Newborn), RDS ( Respiratory Distress Syndrome) atau PMH (Penyakit Membran Hialin) dan Displasia bronkopulmonar. I. Definisi Gangguan nafas adalah suatu keadaan meningkatnya kerja pernafasan yang ditandai dengan : 1. Takipnea 2. Retraksi : frekuensi nafas > 60-80 kali/menit : cekungan atau tarikan kulit antara iga (interkostal) dan atau di

bawah sternum (sub sternal) selama inspirasi 3. Nafas cuping hidung : kembang kemois lubang hidung selama inspirasi 4. Merintih atau grunting : terdengar merintih atau menangis selama inspirasi 5. Sianosis : sianosis sentral yaitu warna kebiruan pada bibir (berbeda dengan biru lebam atau warna membran mukosa). Sianosis sentral tidak pernah normal, selalu memerlukan perhatian dan tindakan segera. Mungkin mencerminkan abnormalitas jantung, hematologik atau tindakan segera. 6. Apnu atau henti nafas : harus segera dinilai dan dilakukan tindakan segera 7. Dalam jam-jam pertama setelah lahir, empat gejala distress respirasi (takipnea, retraksi, nafas cuping hidung dan grunting) kadang juga dijumpai pada BBL normal tapi tidak berlangsung lama. Gejala ini disebabkan karena perubahan fisiologik akibat reabsorbsi cairan dalam paru bayi dan masa transisi dari sirkulasi fetal ke sirkulasi neonatal. pernafasan yang harus dilakukan

8. Bila takipnea, retraksi, cuping hidung dan grunting menetap pada beberapa jam setelah lahir, ini merupakan indikasi adanya gangguan nafas atau distress respirasi yang harus dilakukan tindakan segera. II. Epidemiologi Penyakit membran hialin (PMH) diperkirakan merupakan penyebab dari 30% kematian neonatus. PMH terutama terjadi pada bayi prematur. PMH 60-80% terjadi pada bayi yang umur kehamilannya kurang dari 28 minggu, 15-30% pada bayi antara 32 dan 36 minggu, sekitar 5% pada bayi yang lebih 37 minggu dan jarang pada bayi cukup bulan. Kenaikan frekuensi dihubungkan dengan bayi dari ibu diabetes, persalinan sebelum umur kehamilan 37 minggu, kehamilan multi janin, persalinan sectiosesarea, persalinan cepat, asfiksia, stress dingin dan adanya riwayat bahwa bayi sebelumnya terkena. Insidens tertinggi pada bayi pre-term laki-laki atau kulit putih. III. Etiologi dan Faktor Predisposisi Etiologi : 1. Obstruksi jalan nafas Obstruksi dpat terjadi di nasal atau nasofaringeal, rongga mulut, leher, laring 2. Trakea, trakeomalasia, fistula trakeoesofagus, stenosis trakea dan stenosis bronkial 3. Penyebab pulmonal Aspirasi mekonium, respiratory distress syndrome, Atelektasis, TTN, Oneumonia 4. Penyebab non pulmonal Gagal jantung kongestif, asidosis, hipoglikemia, syok, polisitemia, hipotermia. Faktor predisposisi : Bayi Kurang Bulan : Paru bayi masih imatur dengan kekurangan surfaktan yang melapisi rongga alveoli Depresi neonatal (Kegawatan neonatal) : aspirasi mekonium, pneumotoraks Bayi dari ibu DM : terjadi respirasi distress akibat kelambatan pematangan paru

Bayi lahir dengan operasi sesar : bayi yang lahir dengan operasi sesar dapat mengakibatkan keterlambatan absorpsi cairan paru (TTN) Bayi yang lahir dari ibu yang menderita demam, ketuban pecah dini atau air ketuban yang berbau busuk dapat terjadi pneumonia bakterialis atau sepsis Bayi dengan kulit berwarna seperti mekonium mungkin mengalami aspirasi mekonium

IV. Klasifikasi Gangguan Nafas Gangguan Nafas Berat frekuensi nafas > 60 kali/menit DENGAN sianosis central DAN tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi Frekuensi nafas > 90 kali/menit DENGAN sianosis central ATAU tarikan dinding dada ATAU merintih saat ekspirasi Gangguan Nafas Sedang Frekuensi nafas < 30 kali/menit DENGAN atau TANPA gejala lain dari gangguan nafas frekuensi nafas 60-90 kali/menit DENGAN tarikan dinding dada ATAU merintih saat ekspirasi TANPA sianosis sentral Frekuensi nafas > 90 kali/ menit TANPA tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau Gangguan Nafas Ringan sianosis sentral Frekuensi nafas 60-90 kali/menit TANPA tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi atau sianosis Kelainan Jantung Kongenital sentral Frekuensi nafas 60-90 kali/menit DENGAN sianosis sentral TANPA tarikan dinding dada atau merintih

Evaluasi gawat nafas dengan skor Downes

Pemeriksaan Frekuensi nafas Retraksi Sianosis Air entry Merintih

0 < 60 kali/menit Tidak ada retraksi Tidak ada sianosis Udara masuk Tidak merintih

1 2 60-80 kali/menit > 80 kali/menit Retraksi ringan Retraksi berat Sianosis hilang Sianosis menetap dengan O2 Penurunan walaupun diberi O2 ringan Tidak ada udara didengar

udara masuk masuk Dapat didengar Dapat dengan stetoskop

tanpa alat bantu

Skor total 1.3 4.5 6 V. Patofisiologi

Diagnosis Sesak nafas ringan Sesak nafas sedang Sesak nafas berat

Asfiksia intrapartum Prematuritas Predisposisi familial Surfaktan kurang Gangguan metabolisme seluler Hipoperfusi alveolus Vasokonstriksi paru Atelektasis progresif Hipoventilasi (Gangguan V/Q) pCo2 meningkat, pO2 menurun, PH menurun Shock hipotensi Hipovolemia VI. Manifestasi Klinik Merintih atau grunting tetapi warna kulit masih kemerahan, merupakan gejala yang menonjol

Sianosis Retraksi Tanda obstruksi aluran nafas Air ketuban bercampur mekonium atau pewarnaan hijau-kekuningan pada tali pusat Abdomen mengempis (scaphoid abdomen)

VII. Pemeriksaan Penunjang Analisa gas darah Elektrolit : hipoksia, asidosis : kenaikan kadar serum bikarbonat

Pemeriksaan jumlah sel darah : polisitemia karena hipoksemia kronik Pemeriksaan radiologik atau pencitraan : gambaran retikulo granular yang difus bilateral atau gambaran air bronchogram dan paru yang tidak berkembang

VIII. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan : 1. Anamnesis 2. Pemeriksaan fisik 3. Pemeriksaan penunjang IX. Tata laksana 1. Ventilasi : balon resusitasi dan sungkup, pemberian O2 bila ada indikasi 2. Sirkulasi : Pemberian transfusi darah atau pemberian cairan volume pengganti darah bila ada tanda hipovolemik atau anemia 3. Koreksi asidosis metabolik 4. Jaga kehangatan suhu bayi berkisar 36,5-36,8oC (suhu aksiler) untuk mencegah vasokonstriksi perifer 5. Cari penyebab distress respirasi 6. Terapi pemberian surfaktan X. Prognosis

- Tergantung pada latar belakang etiologi gangguan nafas - Prognosis baik bila gangguan nafas akut dan tidak berhubungan dengan keadaan Hipoksemia yang lama

BAB II ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS PASIEN Nama bayi Jenis kelamin Suku bangsa Alamat Umur : By M : Laki-laki : Minangkabau : Simpurut Atas Batu Sangkar : 1 hari

ANAMNESIS Seorang neonatus laki-laki dirawat di Perinatalogi RSUD Dr. M. Ahmad Muchtar Bukit Tinggi pada tanggal 26 Desember 2010 dengan : Keluhan utama : bayi sesak nafas 5 jam sebelum masuk rumah sakit RPS :

NBBLR 2400 gr, PB 48 cm, lahir SC atas Plasenta Previa, ibu baik ketuban jernih, A/S 6/7, partus luar, TM 34-36 minggu

Sesak nafas sejak 5 jam yang lalu Demam tidak ada Muntah tidak ada Riwayat tersedak tidak ada Vitamin K belum diberikan Anak kiriman Klinik bersalin dengan keterangan bayi merintih sejak lahir

Riwayat kehamilan sekarang : G2 P2 A10 H2 Pemeriksaan antenatal HPHT : Dilakukan secara teratur ke Dokter spesialis dan ke bidan. : April 2010 , Taksiran partus : Januari 2010.

Komplikasi kehamilan

: Perdarahan pada Usia kehamilan 31 Minggu

Pemeriksaan terakhir waktu hamil : TD 110/80 mmHg, suhu 370C. Kualitas dan kuantitas makanan selama hamil : kurang cukup.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Frekuensi jantung Frekuensi nafas Suhu Sianosis Ikterik Kepala UUB UUK : 1 X 1 cm : x cm : sakit berat :140 x/menit : 85 x/menit : 360C : tidak ada : tidak ada

Jejas persalinan : tidak ada Mata Telinga Hidung Mulut Leher Thorak : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : tidak ditemukan kelainan : nafas cuping hidung ada : sianosis sirkum oral tidak ada : tidak ditemukan kelainan : normochest, simetris, retraksi ada , intercostal, epigastrium

jantung irama teratur, bising tidak ada suara nafas bronkovesikuler, ronki tidak ada, wheezing tidak ada Abdomen : permukaan datar, kondisi lemas, hati teraba x , limpa tidak teraba Tali pusat Umbilikus Genitalia Ekstremitas Kulit Anus : tali pusat segar : tidak ditemukan kelainan : testis undesensus : akral hangat, refill kapiler 2 detik : kemerahan, sianosis tidak ada, ikterik tidak ada : ada

Tulang-tulang : tidak ditemukan kelainan Reflek neonatal : morro (+), rooting (+), isap (-), pegang (+) Ukuran : lingkar kepala : 30 cm lingkar dada : 28 cm

lingkar perut : 26 cm simpisis-kaki : 17 cm panjang lengan : 11 cm panjang kaki : 16 cm

kepala-simpisis : 31 cm

Diagnosis : - SGN ec susp. HMD - NBBLR 2400 gram

10

- Undesensus testis Th/ : - O2 head Box L/menit Neo K 1 mg iv IVFD D 10% 60 cc/ kg/hari Cefotaxim 2X12 mg Gentamicin 1X10 mg Sementara puasa

Rencana: cek laboratorium darah FOLLOW-UP Tgl 27 desember 2010 Tatalaksana O2 head box 5l/I Neo k 1 mg iv Cefotaxim 2 x 120 mg Gentamicin 1 x 12 mg IVFD D 10 % 60 cc/kg/hari Muntah tidak ada Sesak napas ada Kebiruan tidak ada HR : 140 cmRR : 80x/menit T:38 C Thorak :cor dan pulmo dalam batas normal, retraksi dinding dada ada Mata : tidak anemis dan tidak ikterik Abdomen : distensi tidak ada, Bu (+) normal Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

Pemeriksaan laboratorium :

11

Hb : 13,7 gr/dl Leukosit : 11.500/mm3 Tgl 28 desember 2010 Tatalaksana NCPAP FiO2 40 % PEEP : 5 Cefotaxim 2 x 120 mg Gentamicin 1 x 12 mg IVFD Coctail 80 cc/kg/hari Muntah tidak ada Sesak napas ada Kebiruan tidak ada HR : 140 cmRR :90x/ menit T:36,2 Thorak :cor dan pulmo dalam batas normal, retraksi dinding dada ada Mata : tidak anemis dan tidak ikterik Abdomen : distensi tidak ada, Bu (+) normal Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

Tgl 29 desember 2010 Muntah tidak ada Sesak napas ada Kebiruan tidak ada HR : 190 cm RR : 80 Suhu : 36 Thorak :cor dan pulmo dalam batas normal, retraksi dinding dada ada Mata : tidak anemis dan tidak ikterik Abdomen : distensi tidak ada, Bu (+) normal Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik 12

Tatalaksana NCPAP FiO2 45 %, PEEP 5 Cefotaxin 2 x 120 mg Gentamicin 1 x 12mg IVFD cocktail 90 cc/kg/hr Aminofuchsin 1 gr/kg/hr Tropic feeding 8x 2cc Tgl 30 Desember 2010 Tatalaksana NCPAP: FiO2 25 % PEEP 5 Cefotaxim 2 x 120 mg Gentamicin 1 x 12 mg IVFD coctail 100 cc/kg/hr Aminofuchsin 1 gr /kg/hr ASI tropic feeding 8 x 2 cc Muntah tidak ada Sesak napas ada Kebiruan tidak ada HR : 162x/menit RR : 70x/menit T: 38,3 C Suhu : 36 Thorak :cor dan pulmo dalam batas normal, retraksi dinding dada ada Mata : tidak anemis dan tidak ikterik Abdomen : distensi tidak ada, Bu (+) normal Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

13

DISKUSI
Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki umur 1 hari dengan diagnosa NBBLR 2400 gr, SGN ec susp. HMD, undesensus testis. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Dari anamnesis didapatkan keluhan utama bayi sesak sejak 5 jam sebelum masuk rumah sakit, NBBLR 2400 gr, PB 48 cm, lahir SC atas plasenta previa, ibu baik, ketuban jernih, A/S 6/7, partus luar, TM 34-36 (SMK), sesak nafas sejak 5 jam yang lalu, demam tidak ada, muntah tidak ada, riwayat tersedak tidak ada, Vit.K belum diberikan, mekonium sudah keluar, anak kiriman Klinik bersalin dengan keterangan merintih sejak lahir. Dari pemeriksaan fisik didapatkan bayi sakit berat, HR 140x/menit, RR 85x/menit, T 36oC, sianosis tidak ada, ikterus tidak ada. UUB 1 X 1 cm, UUK 0,5 X 0,5 cm, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, nafas cuping hidung (+), sianosis sirkum oral (-), retraksi ada suprasternal,intercostal,epigastrium, jantung irama teratur, bising (-), suara nafas bronkovesikuler, rh-/-,wh-/-, hepar teraba 1/4-1/4 tajam,kenyal,rata, limpa tidak teraba, tali pusat segar, testis undesensus, ekstremitas akral hangat perfusi baik, reflek moro (+), isap (-), rooting (+), pegang (+).Hasil laboratorium didapatkan Hb 13,7 gr/dl, leukosit 11500/mm3. Pasien diterapi O2 head box 5l/I ,Neo k 1 mg Cefotaxim 2 x 12 mg, Gentamicin 1 x 12 mg, IVFD D 10 % 60 cc/kg/hari , .

14

DAFTAR PUSTAKA
Kosim, M.sholeh. Gangguan nafas pada bayi baru lahir, dalam : Buku Ajar Neonatologi Edisi Pertama, M.Sholeh Kosim, dkk, editor. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2008: 126-146. Kliegman, Robert M. Gangguan saluran pernpasan, dalam : Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15, Prof.DR.dr.A.Samik Wahab,SpA(K), editor. Jakarta: EGC. 1999:591-599.

15