Anda di halaman 1dari 60

NAMA PESERTA DIDIK : KELAS : NOMER ABSEN :

....................................... .................. ....................................... .................. ....................................... ..................

SMK
KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK GAMBAR BANGUNAN

MENGGAMBAR KONSTRUKSI TANGGA

KODE MODUL 004.KK.09 DISUSUN OLEH SIH LIBERTI, S.Pd

BAB I PENDAHULUAN

A. Deskripsi Dalam modul ini Anda mempelajari mengenai pengenalan tangga hingga merancang dan menggambar konstruksi tangga yang terangkum dalam mata pelajaran Gambar Konstruksi Tangga dalam mata pelajaran ini mencakup materi mengenai definisi, pengertian dan pemahaman tangga, langkah kerja dalam mendesain dan menggambar tangga baik tangga beton maupun tangga kayu. Apabila anda telah mempelajari serta menguasai modul ini, diharapkan anda mampu melakukan pekerjaan desain dan perancangan konstruksi tangga secara baik dan benar. B. Prasyarat Dalam mempelajari modul ini, Anda harus mampu mendesain dan menggambar konstruksi tangga dengan baik dan benar sesuai prosedur yang telah ditentukan. C. Petunjuk Penggunaan Modul Sebelum Anda membaca dan mempelajari modul ini, perhatikan hal-hal berikut ini: 1. Setiap peserta didik wajib mempelajari Modul ini sesuai dengan Kegiatan Belajar yang bersangkutan atau sesuai dengan petunjuk guru. 2. Setelah selesai kegiatan belajar yang bersangkutan, setiap peserta didik menjawab soal-soal latihan dan menyelesaikan tugas mandiri atau menurut petunjuk. 3. Peserta didik dianjurkan untuk melengkapi referensi seperti Internet, Koran, buku sumber lain yang relevan/sesuai dengan pembahasan kalau memang diperlukan. 4. Bila tes hasil belajar belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan guru, maka siswa yang bersangkutan harus mengikuti program remedial sampai mencapai KKM. 5. Siswa yang tuntas boleh dilakukan pengayaan dengan melanjutkan pelajaran kepada kegiatan belajar berikutnya. D. Tujuan Akhir Setelah Anda membaca dan mempelajari modul ini Anda mampu : 1. Mendiskripsikan konstruksi tangga 2. Merncang konstruksi tangga 3. Menggambar konstruksi tangga beton 4. Merancang konstruksi tangga kayu

5. Merancang konstruksi tangga kayu 6. Menggambar konstruksi tangga kayu

E. SILABUS
NAMA SEKOLAH MATA PELAJARAN KELAS/SEMESTER STANDAR KOMPETENSI KODE ALOKASI WAKTU : : : : : : SMK Negeri 2 Kraksaan Konstruksi Tangga XI/Genap 9. Menggambar Konstruksi Tangga Beton 04.KK.09 32 Jam @ 45 Menit

ALOKASI WAKTU KOMPETENSI DASAR INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN Pengertian tangga Fungsi tangga Rencana letak tangga Bahan pembuat tangga Bagian-bagian tangga KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN
TM Tes subyektif Observasi 4 PS 0 PI 0

SUMBER BELAJAR

KARAKTER

9.1

Mendeskripsi Memahami k- an konstruksi pengertian tangga tangga Menyebutkan fungsi tangga Menjelaskan rencana letak tangga Menyebutkan bahan pembuat tangga Menyebutkan bagianbagian tangga

Membaca modul Mendeskripsikan pengertian tangga Menjelaskan fungsi tangga Menjelaskan rencana letak tangga Menyebutkan bahan pembuat tangga Menyebutkan bagianbagian tangga

Modul konstruksi tangga

Jujur Disiplin Kerja keras

ALOKASI WAKTU KOMPETENSI DASAR INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN Syarat umum tangga Perhitungan lebar tangga, tinggi trap, jumlah anak tangga, ukuran ruang tangga KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN
TM PS 6 (12) PI

SUMBER BELAJAR

KARAKTER

9.2 Merancang Konstruksi tangga

Menjelaskan syarat umum tangga Menghitung lebar tangga, Menghitung tinggi trap tangga, Menghitung jumlah anak tangga Menghitung ukuran ruang tangga Menyebutkan keuntungan konstruksi tangga beton Menyebutkan kerugian konstruksi tangga beton Menyebutkan macammacam bentuk tangga beton Menggambar konstruksi tangga beton

Membaca modul Menjelaskan syarat umum tangga Menghitung lebar tangga, Menghitung tinggi trap tangga, Menghitung jumlah anak tangga Menghitung ukuran ruang tangga

Tes tertulis Observa si PT merenca nakan tangga

Konstruks
i Bangunan Gedung Bertingka t Rendah, UAY, 1996

Jujur Disiplin Kerja keras

9.3 Menggambar

konstruksi tangga beton

Keuntungan konstruksi tangga beton Kerugian konstruksi tangga beton Macam-macam bentuk tangga beton

Membaca modul Menjelaskan keuntungan


konstruksi tangga beton Menjelaskan kerugian konstruksi tangga beton Menyebutkan macam-macam bentuk tangga beton Menggambar konstruksi tangga beton

Tes subyektif.

8 (16)

PT membu at makalah macam2 bentuk tangga beton

Modul konstruk si Tangga

Religius Kerja keras Kreatif Gemar membaca

ALOKASI WAKTU KOMPETENSI DASAR TOTAL INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN
TM PS PI

SUMBER BELAJAR

KARAKTER

10

14

NAMA SEKOLAH MATA PELAJARAN KELAS/SEMESTER STANDAR KOMPETENSI KODE ALOKASI WAKTU

: : : : : :

SMK Negeri 2 Kraksaan Konstruksi Tangga XI/Genap 10. Menggambar Konstruksi Tangga Kayu 04.KK.09 32 Jam @ 45 Menit ALOKASI WAKTU SUMBER BELAJAR

KOMPETENSI DASAR
10.1 Merancang Konstruksi tangga

INDIKATOR

MATERI PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN
TM PS 6 (12) PI

KARAKTER

Menjelaskan syarat umum tangga Menghitung lebar tangga, Menghitung tinggi trap tangga, Menghitung jumlah anak tangga Menghitung ukuran ruang tangga

Syarat umum tangga Perhitungan lebar tangga, tinggi trap, jumlah anak tangga, ukuran ruang tangga

Membaca modul Menjelaskan syarat umum tangga Menghitung lebar tangga, Menghitung tinggi trap tangga, Menghitung jumlah anak tangga Menghitung ukuran ruang tangga

Tes tertulis Observa si PT merenca nakan tangga

Konstruks
Gedung Bertingka t Rendah, UAY, 1996

Jujur Disiplin i Bangunan Kerja keras

ALOKASI WAKTU KOMPETENSI DASAR


1.1

INDIKATOR

MATERI PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN
TM Tes subyektif Observasi 4 PS 0 PI 0

SUMBER BELAJAR

KARAKTER

Mendeskripsi Memahami k- an pengertian tangga konstruksi Menyebutkan tangga fungsi tangga Menjelaskan rencana letak tangga Menyebutkan bahan pembuat tangga Menyebutkan bagianbagian tangga

Pengertian tangga Fungsi tangga Rencana letak tangga Bahan pembuat tangga Bagian-bagian tangga

Membaca modul Mendeskripsikan pengertian tangga Menjelaskan fungsi tangga Menjelaskan rencana letak tangga Menyebutkan bahan pembuat tangga Menyebutkan bagianbagian tangga

Modul konstruksi tangga

Jujur Disiplin Kerja keras

E. Cek Kemampuan Awal Peserta Diklat No. 1. 2. 3. Pertanyaan Apakah anda mengetahui tentang pekerjaan survey dan pemetaan? Apakah anda mengetahui jenis-jenis pekerjaan dasar survey dan pemetaan? Apakah anda mengetahui peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan dalam pekerjaan survey dan pemetaan? 4. Apakah anda mengetahui dan pemetaan ? 5. Apakah anda mengetahui menghitung, pemetaan ? menggambar, langkah-langkah dan membuat langkah-langkah penggunaan peralatan dalam pekerjaan survey Ya Tidak Ket

laporan hasil pekerjaan dasar-dasar survei dan

BAB II PEMBELAJARAN

A. Rencana Belajar Peserta Diklat Standar Kompetensi : 1. Memahami Dasar-Dasar Survey dan Pemetaan 2. Melaksanakan Pekerjaan Dasar-Dasar Survei dan Pemetaan KD (Kompetensi Dasar) 1.1 Mendiskripsikan pelaksanaan pekerjaan dasar-dasar survei 1.2 Mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan dasar survei dan pemetaan 2.1 Mendiskripsikan pelaksanaan pekerjaan dasar-dasar survei 2.2 Melaksanakan pekerjaan dasar-dasar survei dan pemetaan 2.3 Menghitung, menggambar, dan membuat laporan hasil pekerjaan dasar-dasar survei dan pemetaan 12 x 45 menit 14 x 45 menit 4 x 45 menit 4 x 45 menit 6 x 45 menit Tanggal Waktu Pembelajaran Tempat Belajar Tandatangan Instruktur

B. Kegiatan Belajar

KEGIATAN BELAJAR I a. Tujuan Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa mampu : Memahami devinisi dan pengertian survey dan pemetaan dengan benar Menjelaskan ruang lingkup pekerjaan survey dan pemetaan secara konseptual Menjelaskan tujuan pengukuran survey dan pemetaan dengan benar Mengidentifikasi peralatan pengukur jarak dengan benar. Mengidentifikasi peralatan pengukur beda tingggi dengan benar. Mengidentifikasi peralatan pengukur sudut dengan benar.

b. Uraian Materi Survey dan Pemetaan didefinisikan sebagai suatu seni pengukuran, pencatatan titik di muka bumi, kemudian menghubungkan titiktitik tersebut, dipindahkan pada kertas dengan skala tertentu. Seperti yang dapat anda lihat pada Gambar.1.1 yaitu gambar seorang pria sedang melakukan pekerjaan pemetaan. Seseorang yang sedang melakukan kegiatan pemetaan disebut surveyor.
Gambar 1.1 Surveyor

Tugas surveyor secara umum adalah : 1. Mengambil keputusan, dengan melakukan seleksi metode survey, mengetahui tabiat alat dan mengetahui titik kritis di lapang 2. Kerja lapangan, yaitu mengukur dan mencatat data di lapang. 3. Menghitung proses data, yaitu menghitung data yang ada di lapang baik yang secara manual maupun menggunakan alat canggih. 4. Membuat peta ; menggambar peta baik secara manual ataupun dengan peralatan yang canggih. 5. Menentukan batas ; menentukan batas kerja dari hasil pemetaan. 6. Interppretasi peta ; mengungkapkan, menganalisa citra yang ditujukan oleh peta. Pekerjaan survey dan pemetaan menghasilkan produk berupa peta yang merupakan gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam bidang datar dengan skala tertentu. Sedangkan ilmu yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta adalah Kartografi, mulai dari sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta.

Lalu apa fungsi dan tujuan pembuatan peta? Kenapa diperlukan adanya beberapa maksud dari pembuatan sebuah peta. Fungsi pembuatan peta antara lain: 1. Dengan adanya peta dapat menunjukkan posisi atau lokasi relatif yang hubungannya dengan lokasi asli dipermukaan bumi. 2. Peta mampu memperlihatkan ukuran. 3. Peta mampu menyajikan dan memperlihatkan bentuk. 4. Mengumpulkan dan menyeleksi data dari suatu daerah dan menyajikan diatas peta dengan simbolisasi. Sedangkan tujuan pembuatan peta yaitu: 1. Untuk komunikasi informasi ruang 2. Media menyimpan informasi. 3. Membantu pekerjaan. 4. Membantu dalam desain. 5. Analisis data spatial. Dari fungsi dan tujuan diatas, maka peta bukan hanya berguna dalam menentukan lokasi namun juga dalam berbagai bidang. Selain itu, pembuatan peta bukan semata-mata hanya karena untuk memperoleh uang, namun juga sangat berguna bagi hajat hidup masyarakat yang luas dalam keruangan. Apabila dilihat berdasarkan isinya, dikenal berbagai macam peta, yaitu : 1. Peta Hidrologi ; peta ini memuat gambaran keadaan dasar laut, kedalaman air, dan keterangan-keterangan lainnya. 2. Peta Geologi ; peta ini memuat informasi geologi suatu daerah, bahan-bahan yang membentuk lapisan tanah. 3. Peta Hedaster ; peta ini memuat informasi tentang batasan-batasan pemilikan tanah, kelas tanah dan lain-lain. 4. Peta Irigasi ; peta ini memuat informasi tentang jaringan pembawa maupun saluran-saluran pembuang serta bangunan-bangunan irigasi yang ada. 5. Peta Jalan ; peta ini memuat tentang jaringan informasi mengenai jalan. 6. Peta Kota ; peta ini memuat jaringan jalan, bangunan yang terdapat di kota dan keteranngan lain menurut kebutuhan. 7. Peta Relief ; peta ini memuat gambaran bentuk permukaan tanah serta kandungannya. Dalam proses pemetaan harus melalui beberapa tahapan mulai dari penyusunan ide hingga peta siap digunakan. Kesemua itu harus dilakukan dengan penuh hati-hati dan ketelitian agar diperoleh peta yang baik dan benar sera memiliki dilai artistik atau seni sehingga pengguna mampu menggunakan peta dengan maksimal dan pembuat dapat menghasilkan peta yang baik sehingga terjadi timbal balik antar pengguna dengan pembuat peta.

Dalam pemberian simbol pada peta juga harus diperhatikan agar peta mudah diketahui dan dipahami isi dan maksud peta tersebut. Pemberian simbol ini juga menentukan nilai keartistikan sebuah peta sehingga peta tersebut enak dipandang dan lebih jelas. Ilmu Ukur Tanah atau seurvey dan pemetaan merupakan cabang keilmuan dari ilmu yang lebih luas, disebut Geodesi, ilmu geodesi merupakan ilmu yang bertujuan untuk menentukan permukaan bumi dengan membuat bayangan yang dinamakan peta dari sebagian besar ataupun sebagian kecil permukaan bumi. Pekerjaan dalam membuat bayangan dari sebagian besar ataupun sebagian kecil permukaan bumi yaitu pemetaan, seperti yang telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya, pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dibagi dalam dua perinsip, yaitu: 1. Plan Surveying ; merupakan ilmu, seni dan tekhnologi untuk menyajikan bentuk bumi baik unsur alam maupun unsur buatan manusia pada bidang yang dianggap datar. Bidang pada permukaan bumi dapat dianggap datar apabila memiliki luas maksimum 0,5 derajat x 0,5 derajat atau 55 km x 55 km. 2. Geodetic Surveying ; merupakan ilmu, seni, dan teknologi untuk menyajikan informasi kelengkungan bumi atau pada kelengkungan bola, pada bidang melengkung / ellipsoda atau bola. Pada dasarnya bumi bukan berbentuk bulat sempurna seperti bola, namun berbentuk oval yang pepat pada kedua kutubnya, hal ini dibuktikan dengan lebih panjangnya jarak lingkar equator bumi, dibandingkan dengan jarak lingkar yang melalui kutub utara dan kutub selatan bumi, agar lebih jelas, perhatikan gambar di bawah ini !

Gambar 1. 2 Ellipsodal Bumi

Garis merah yang membagi bumi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan selatan disebut garis lingkar paralel atau garis lintang, sedangkan garis yang memanjang dari kutub utara hingga kutub selatan bumi disebut garis bujur atau garis lingkar meridian. Dengan adanya bukti bahwa garis lingkar equator lebih panjang dari garis lingkar meridian, menunjukkan bahwa bumi berbentuk ellips atau ellipsodal. Bidang ellipsodal ini memiliki beberapa komponen seperti berikut

Ku

b
E

o a
Ks
Gambar 1.3 Bidang Ellipsodal

Keterangan : o a adalah sumbu setengah pendek atau jari-jari equator, o b adalah setengah sumbu pendek atau jari-jari kutub, o o adalah pusat bumi (pusat ellipsoda bumi) o Ku adalah Kutub Utara bumi, o Ks adalah Kutub Selatan bumi, o Ek adalah ekuator bumi Ditentukannya garis lingkar paralel dan garis lingkar meridian oleh para ahli bukannya tanpa alasan, garis-garis ini memiliki banyak fungsi yang digunakan dalam keseharian kita. Garis lintang digunakan untuk menentukan perbedaan iklim wilayahwilayah yang ada di bumi, serta menentukan letak atau lokasi. Sedangakan garis bujur berguna dalam menentukan atau membagi waktu berdasarkan wilayah, garis bujur 0 o dimulai dari kota Greenwich di UK (GMT), setiap pertambahan 10 suatu wilayah dengan wilayah lainnya mempunyai perbedaan waktu selama 15 menit, garis lingkar meridian digunakan pula untuk menentukan lokasi suatu wilayah. Walaupun pada kenyataannya bumi berbentuk agak lonjong, namun pendekatan bentuk bumi sebagai bola sempurna masih cukup relevan dengan sebagian besar kebutuhan, termasuk penentuan kedudukan dengan tingkat presisi yang relatif rendah. Untuk menyajikan permukaan bumi dalam bidang datar, bentuk ellipsode bumi akan dikupas sehingga bentuknya mengalami perubahan atau distorsi karena ada bagian speroid yang tersobek, untuk mengatasi hal ini dilakukan pendekatan dengan perantara bidang proyeksi. Bidang proyeksi ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu o Bidang proyeksi bidang datar disebut perantara azimuthal dan zenithal o Bidang perantara yang berbentuk kerucut disebut bidang perantara conical, o Bidang proyeksi yang menggunakan bidang perantara berbentuk silinder disebut bidang perantara cylindrical Dengan bidang perantara proyeksi ini akan memudahkan para ahli dalam membuat peta, bidang perantara yang memproyeksikan geometris bumi secara

matematis ke dalam bidang datar yang berhubungan dengan luas disebut proyeksi equivalent. Apabila berhubungan dengan jarak ( jarak di permukaan bumi sama dengan jarak pada bidang datar dalam perbandingan skalanya) dinamakan proyeksi equidistance. Sedangkan yang berhubungan dengan sudut ( sudut di permukaan bumi sama dengan sudut di bidang datar ) dinamakan proyeksi conform.

Gambar 1.4 Peta BPN

Gambar 1.5 Peta Dinas Perhubungan

Gambar 1.6 Peta Navigasi Udara

Contoh aplikasi yang mempertahankan proyeksi equivalent adalah peta yang digunakan oleh BPN (Badan Pertahanan Nasional) pada Gambar 1.4 , proyeksi equivalent menggambarkan luas yang sebenarnya dengan perbandingan skala, Pada Gambar 1.5 disajikan contoh aplikasi yang mempertahankan proyeksi equidistance yang digunakan oleh dinas perhubungan, proyeksi equidistance menunjukkan jarak sebenarnya yang diperkecil dengan skala tertentu, dengan adanya peta ini, akan membantu dinas perhubungan dalam menghitung jarak dari satu titik ke titik yang lain. Sedangkan pada gambar 1.6 disajikan contoh aplikasi yang menggunakan proyeksi conform yaitu mempertahankan perbandingan sudut antara kenyataan (yang sebenarnya) dengan peta, peta navigasi udara ini banyak dimanfaatkan oleh maskapai penerbangan guna menentukan rute penerbangan. Dalam proses pembuaatan peta atau dapat disebut pemetaan, dapat dicapai dengan melakukan pengukuran-pengukuran diatas permukaan bumi yang memiliki

bentuk-bentuk tidak beraturan. Pada dasarnya Ilmu Ukur tanah memiliki tiga bagian besar metode pengukuran, yaitu 1. Pengukuran kerangka dasar Vertikal, yaitu pengukuran-pengukuran tegak guna mendapatkan hubungan-hubungan tegak antara titik-titik yang diukur 2. Pengukuran kerangka dasar Horisontal, yaitu pengukuran-pengukuran yang mendatar guna mendapatkan hubungan-hubungan antara titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi. 3. Pengukuran titik-titik detail Kerangka dasar pemetaan untuk pekerjaan rekayasa teknik sipil pada kawasan yang tidak luas, sehingga permukaan bumi dianggap datar. Pengukuran atau pemetaan lahan dalam rekayasa teknik sipil biasanya merupakan satu paket dengan perencanaan dan perancangan bangunan sipil. Titik- titik kerangka dasar pemetaan yang akan ditentukan tebih dahulu koordinat dan ketinggiannya itu dibuat tersebar merata dengan kerapatan tertentu, permanen, mudah dikenali dan didokumentasikan secara baik sehingga memudahkan penggunaan selanjutnya. Dalam perencanaan bangunan Sipil misalnya perencanaan jalan raya, jalan kereta api, bendung dan sebagainya, Peta merupakan hal yang sangat penting untuk perencanaan bangunan tersebut. Untuk memindahkan titik - titik yang ada pada peta perencanaan suatu bangunan sipil ke lapangan (permukaan bumi) dalam pelaksanaanya pekerjaan sipil ini dibuat dengan pematokan/ staking out, atau dengan perkataan lain bahwa pematokan merupakan kebalikan dari pemetaan.

Gambar 1.7 Staking Out (Pematokan)

Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titiktitik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. Bidang ketinggian rujukan ini biasanya berupa ketinggian muka air taut rata-rata (mean sea level - MSL) atau ditentukan lokal. Beberapa contoh pengukuran kerangka dasar vertikal diantarannya seperti di bawah ini: 1. Metode sipat datar prinsipnya adalah mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di lapangan menggunakan rambu ukur.

2. Pengukuran Trigonometris prinsipnya adalah Mengukur jarak langsung (Jarak Miring), tinggi alat, tinggi, benang tengah rambu, dan suclut Vertikal (Zenith atau Inklinasi). 3. Pengukuran Barometris pada prinsip-nya adalah mengukur beda tekanan atmosfer. Metode sipat datar merupakan metode yang paling teliti dibandingkan dengan metode trigonometris dan barometris. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan teori perambatan kesalahan yang dapat diturunkan melalui persamaan matematis diferensial parsial. 1. Metode Sipat Datar Metode sipat datar prinsipnya adalah mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di lapangan menggunakan rambu ukur. Hingga saat ini, pengukuran beda tinggi dengan menggunakan metode sipat datar optis masih merupakan cara pengukuran beda tinggi yang paling teliti. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (KDV) dinyatakan sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar pergi dan pulang.

Gambar 1.8 Pengukuran Sipat Datar Optis

Maksud pengukuran tinggi adalah menentukan beda tinggi antara dua titik. Beda tinggi h diketahui antara dua titik a dan b, sedang tinggi titik A diketahui sama dengan Ha dan titik B lebih tinggi dari titik A, maka tinggi titik B, Hb = Ha + h yang diartikan dengan beda tinggi antara titik A clan titik B adalah jarak antara dua bidang nivo yang melalui titik A dan B. Umumnya bidang nivo adalah bidang yang lengkung, tetapi bila jarak antara titik-titik A dan B dapat dianggap sebagai bidang yang mendatar. Untuk melakukan dan mendapatkan pembacaan pada mistar yang dinamakan pula Baak (Rambu Ukur), diperlukan suatu garis lurus, Untuk garis lurus ini tidaklah mungkin seutas benang, meskipun dari kawat, karena benang ini akan melengkung, jadi tidak lurus. Bila diingat tentang hal hal yang telah di bicarakan tentang teropong, maka setelah teropong dilengkapi dengan diafragma, pada teropong ini di dapat suatu garis lurus ialah garis bidik. Garis bidik ini harus di buat mendatar supaya dapat

digunakan untuk menentukan beda tinggi antara dua titik, ingatlah pula nivo pada tabung, karena pada nivo tabung dijumpai suatu garis lurus yang dapat mendatar dengan ketelitian besar. Garis lurus ini ialah tidak lain adalah garis nivo. Maka garis arah nivo yang dapat mendatar dapat pula digunakan untuk mendatarkan garis bidik di dalam suatu teropong, caranya; tempatkan sebuah nivo tabung diatas teropong. Supaya garis bidikmendatar, bila garis arah nivo di datarkandengan menempatkan gelembung di tengah-tengah, perlulah lebih dahulu. Garis bidik di diafragma teropong, dibuat sejajar dengan garis arah nivo. Hal inilah yang menjadi syarat utama untuk semua alat ukur penyipat datar. Dalam pengukuran Sipat Datar Optis bisa menggunakan Alat sederhana dengan spesifikasi alat penyipat datar yang sederhana terdiri atas dua tabungterdiri dari gelas yang berdiri dan di hubungkan dengan pipa logam. Semua ini dipasang diatas statif. Tabung dari gelas dan pipa penghubung dari logam di isi dengan zat cair yang berwarna. Akan tetapi ketelitian membidik kecil, sehingga alat ini tidak digunakan orang lagi. Perbaikan dari alat iniadalah mengganti pipa logam dengan slangdari karet dan dua tabung gelas di beri skala dalam mm. Cara menghitung tinggi garis bidik atau benang tengah dari suatu rambu dengan menggunakan alat ukur sifat datar (waterpass). Rambu ukur berjumlah 2 buah masing-masing di dirikan di atas dua patok yang merupakan titik ikat jalur pengukuran alat sifat optis kemudian di letakan ditengah-tengah antara rambu belakang dan muka .Alat sifat datar diatur sedemikian rupa sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu dengan mengetengahkan gelembung nivo. Setelah gelembung nivo di ketengahkan barulah di baca rambu belakang dan rambu muka yang terdiri dari bacaan benang tengah, atas dan bawah. Beda tinggi selang tersebut pada dasarnya adalah pengurangan benang tengah belakang dengan benang tengah muka. Berikut ini adalah syarat-syarat untuk alat penyipat datar optis : Garis arah nivo harus tegak lurus Benang mendatar diagfragma harus tegak lurus pada sumbu kesatu Garis bidik teropong harus sejajar dengan garis arah nivo 2. Metode Pengukuran Barometris Pengukuran Barometris pada prinsip-nya adalah mengukur beda tekanan atmosfer. Pengukuran tinggi dengan menggunakan metode barometris dilakukan dengan menggunakan sebuah barometer sebagai alat utama. Seperti telah di ketahui, Barometer adalah alat pengukur tekanan udara. Di suatu tempat tertentu tekanan udara sama dengan tekanan udara dengan tebal

tertentu pula. Idealnya pencatatan di setiap titik dilakukan dalam kondisi atmosfer yang sama tetapi pengukuran tunggal hampir tidak mungkin dilakukan karena pencatatan tekanan dan temperatur udara mengandung kesalahan akibat perubahan kondisi atmosfir. penentuan beda tinggi dengan cara mengamati tekanan udara di suatu tempat lain yang dijadikan referensi. dalam hal ini misalnya elevasi 0,00 meter permukaan air laut rata-rata.

Gambar 1.9 Barometris

3. Metode Pengukuran Trigonometris

Gambar 1.10 PengukuranTrigonometris

Pengukuran kerangka dasar vertikal metode trigonometris pada prinsipnya adalah perolehan beda tinggi melalui jarak langsung teropong terhadap beda tinggi dengan memperhitungkan tinggi alat, sudut vertikal (zenith atau inklinasi) serta tinggi garis bidik yang diwakili oleh benang tengah rambu ukur. Alat theodolite, target dan rambu ukur semua berada diatas titik ikat. Prinsip awal penggunaan alat theodolite sama dengan alat sipat datar yaitu kita harus mengetengahkan gelembung nivo terlebih dahulu baru kemudian membaca unsur-unsur pengukuran yang lain. Jarak langsung dapat diperoleh melalui bacaan optis benang atas dan benang bawah atau menggunakan alat pengukuran jarak elektronis yang sering dikenal dengan nama EDM (Elektronic Distance Measurement). Untuk menentukan beda tinggi dengan cara trigonometris di perlukan alat pengukur sudut (Theodolit) untuk dapat mengukur sudut sudut tegak. Sudut tegak dibagi dalam dua macam, ialah sudut miring m clan sudut

zenith z, sudut miring m diukur mulai ari keadaan mendatar, sedang sudut zenith z diukur mulai dari keadaan tegak lurus yang selalu ke arah zenith alam. Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal Untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi maka perlu dilakukan pengukuran mendatar yang disebut dengan istilah pengukuran kerangka dasar Horizontal. Jadi untuk hubungan mendatar diperlukan data sudut mendatar yang diukur pada skala lingkaran yang letaknya mendatar. Bagianbagian dari pengukuran kerangka dasar horizontal adalah : 1. Metode Poligon 2. Metode Triangulasi 3. Metode Trilaterasi 4. Metode kuadrilateral 5. Metode Pengikatan ke muka 6. Metode pengikatan ke belakang cara 7. Collins dan cassini Pada point nomer 1,2 dan 3 adalah metode pengukuran kerangka dasar horizontal yang akan kita pelajari pada modul ini, 1. Metode Poligon Poligon digunakan apabila titik-titik yang akan di cari koordinatnya terletak memanjang sehingga tnernbentuk segi banyak (poligon).

Gambar 1.11 Pengukuran Poligon

Pengukuran dan Pemetaan Poligon merupakan salah satu pengukuran dan pemetaan kerangka dasar horizontal yang bertujuan untuk memperoleh koordinat planimetris (X,Y) titik-titik pengukuran. Pengukuran poligon sendiri mengandung arti salah satu metode penentuan titik diantara beberapa metode penentuan titik yang lain. Untuk daerah yang relatif tidak terlalu luas, pengukuran cara poligon merupakan pilihan yang sering di gunakan, karena cara tersebut dapat dengan mudah menyesuaikan diti dengan keadaan daerah/lapangan. Penentuan koordinat titik dengan cara poligon ini membutuhkan, Koordinat awal

Bila diinginkan sistem koordinat terhadap suatu sistim tertentu, haruslah dipilih koordinat titik yang sudah diketahui misalnya: titik triangulasi atau titik-titik tertentu yang mempunyai hubungan dengan lokasi yang akan dipatokkan. Bila dipakai system koordinat lokal pilih salah satu titik, BM kemudian beri harga koordinat tertentu dan tititk tersebut dipakai sebagai acuan untuk titik-titik lainya. Koordinat akhir Koordinat titik ini di butuhkan untuk memenuhi syarat Geometri hitungan koordinat dan tentunya harus di pilih titik yang mempunyai sistem koordinat yang sama dengan koordinat awal. Azimuth awal Azimuth awal ini mutlak harus diketahui sehubungan dengan arah orientasi dari system koordinat yang dihasilkan dan pengadaan datanya dapat di tempuh dengan dua cara yaitu sebagai berikut : 1. Hasil hitungan dari koordinat titik -titik yang telah diketahui dan akan dipakai sebagai tititk acuan system koordinatnya. 2. Hasil pengamatan astronomis (matahari). Pada salah satu titik poligon sehingga didapatkan azimuth ke matahari dari titik yang bersangkutan. Dan selanjutnya dihasilkan azimuth ke salah satu poligon tersebut dengan ditambahkan ukuran sudut mendatar (azimuth matahari). Data ukuran sudut dan jarak Data ukuran sudut dan jarak sudut mendatar pada setiap stasiun dan jarak antara dua titik kontrol perlu diukur di lapangan. Data ukuran tersebut, harus bebas dari sistematis yang terdapat (ada alat ukur) sedangkan salah sistematis dari orang atau pengamat dan alam di usahakan sekecil mungkin bahkan kalau bisa ditiadakan. Berdasarkan bentuknya poligon dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu : Poligon berdasarkan visualnya 1. Poligon Tertutup

2. Poligon Terbuka

3. Poligon Bercabang

Poligon berdasarkan geometriknya 1. Poligon terikat sempurna 2. Poligon terikat sebagian 3. Poligon tidak terikat Untuk mendapatkan nilai sudut-sudut dalam atau sudut-sudut luar serta jarak jarak mendatar antara titik-titik poligon diperoleh atau diukur di lapangan menggunakan alat pengukur jarak yang mempunyai tingkat ketelitian tinggi. Poligon digunakan apabila titik-titik yang akan dicari koordinatnya terletak memanjang sehingga membentuk segi banyak (poligon). Metode poligon merupakan bentuk yang paling baik di lakukan pada bangunan karena memperhitungkaan bentuk kelengkungan bumi yang pada prinsipnya cukup di tinjau dari bentuk fisik di lapangan dan geometrik-nya. Cara pengukuran polygon merupakan cara yang umum dilakukan untuk pengadaan kerangka dasar pemetaan pada daerah yang tidak terlalu luas sekitar (20 km x 20 km). Berbagai bentuk poligon mudah dibentuk untuk menyesuaikan dengan berbagai bentuk medan pemetaan dan keberadaan titik titik rujukan maupun pemeriksa. Tingkat ketelitian sistem koordinat yang diinginkan dan kedaan medan lapangan pengukuran merupakan faktor-faktor yang menentukan dalam menyusun ketentuan poligon kerangka dasar.Tingkat ketelitian umum dikaitkan dengan jenis dan atau tahapan pekerjaan yang sedang dilakukan. Sistem koordinat dikaitkan dengan keperluan pengukuran pengikatan. Medan lapangan pengukuran menentukan bentuk konstruksi pilar atau patok sebagai penanda titik di lapangan dan juga berkaitan dengan jarak selang penempatan titik.

2. Metode Triangulasi Triangulasi digunakan apabila daerah pengukuran mempunyai ukuran panjang dan lebar yang sama, maka dibuat jaring segitiga. Pada cara ini sudut yang diukur adalah sudut dalam tiap - tiap segitiga. Metode Triangulasi. Pengadaan kerangka dasar horizontal di Indonesia dimulai di pulau Jawa oleh Belanda pada tahun 1862. Titik-titik kerangka dasar horizontal buatan Belanda ini dikenal sebagai titik triangulasi, karena pengukurannya menggunakan cara triangulasi. Hingga tahun 1936, pengadaan titik triangulasi oleh Belanda ini telah mencakup pulau Jawa dengan datum Gunung Genuk, pantai Barat Sumatra dengan datum Padang, Sumatra Selatan dengan datum Gunung Dempo, pantai Timur Sumatra dengan datum Serati, kepulauan Sunda Kecil, Bali dan Lombok dengan datum Gunung Genuk, pulau Bangka dengan datum Gunung Limpuh, Sulawesi dengan datum Moncong Lowe, kepulauan Riau dan Lingga dengan datum Gunung Limpuh dan Kalimantan Tenggara dengan datum Gunung Segara. Posisi horizontal (X, Y) titik triangulasi dibuat dalam sistem proyeksi Mercator, sedangkan posisi horizontal peta topografi yang dibuat dengan ikatan dan pemeriksaan ke titik triangulasi dibuat dalam sistem proyeksi Polyeder. Titik triangulasi buatan Belanda tersebut dibuat berjenjang turun berulang, dari cakupan luas paling teliti dengan jarak antar titik 20 - 40 km hingga paling kasar pada cakupan 1 - 3 km. Selain posisi horizontal (X Y) dalam sistem proyeksi Mercator, titik-titik triangulasi ini juga dilengkapi dengan informasi posisinya. dalam sistem geografis (j,l) dan ketinggiannya terhadap muka air laut rata- rata yang ditentukan dengan cara trigonometris. Triangulasi dapat diklasifikasi menjadi primer, skunder dan tersier. Bentuk geometri triangulasi terdapat tiga buah bentuk geometrik dasar triangulasi, yaitu : Rangkaian segitiga yang sederhana cocok untuk pekerjaan-pekerjaan dengan orde rendah untuk ini dapat sedapat mungkin diusahakan sisi-sisi segitiga sama panjang. Kuadrilateral merupakan bentuk yang terbaik untuk ketelitian tinggi, karena lebih banyak syarat yang dapat dibuat. Kuadrilateral tidak boleh panjang dan sempit. Titik pusat terletak antara 2 titikyang terjauh dan sering diperlukan. 3. Metode Trilaterasi Trilaterasi digunakan apabila daerah yang diukur ukuran salah satunya lebih besar daripada ukuran lainnya, maka dibuat rangkaian segitiga. Pada cara ini

sudut yang diukur adalah semua sisi segitiga. Metode Trilaterasi yaitu serangkaian segitiga yang seluruh jarak jaraknya di ukur di lapangan.

Gambar 1.12 Jaring-Jaring Segitiga

Pada jaring segitiga akan selalu diperoleh suatu titik sentral atau titik pusat. Pada titik pusat tersebut terdapat beberapa buah sudut yang jumlahnya sama dengan 360 derajat. Pengukuran Titik-Titik Detail Untuk keperluan pengukuran dan pemetaan selain pengukuran Kerangka Dasar Vertikal yang menghasilkan tinggi titik-titik ikat dan pengukuran Kerangka Dasar Horizontal yang menghasilkan koordinat titik-titik ikat juga perlu dilakukan pengukuran titik-titik detail untuk menghasilkan yang tersebar di permukaan bumi yang menggambarkan situasi daerah pengukuran. Dalam pengukuran titik-titik detail prinsipnya adalah menentukan koordinat dan tinggi titik-titik detail dari titik-titik ikat. Metode yang digunakan dalam pengukuran titik-titik detail adalah metode offset dan metode tachymetri. Namun metode yang sering digunakan adalah metode Tachymetri karena Metode tachymetri ini relatif cepat dan mudah karena yang diperoleh dari lapangan adalah pembacaan rambu, sudut horizontal (azimuth magnetis), sudut vertikal (zenith atau inklinasi) dan tinggi alat. Hasil yang diperoleh dari pengukuran tachymetri adalah posisi planimetris X, Y dan ketinggian Z. 1. Metode Pengukuran Offset Metode offset adalah pengukuran titik-titik menggunakan alat alat sederhana yaitu pita ukur, dan yalon. Pengukuran untuk pembuatan peta cara offset menggunakan alat utama pita ukur, sehingga cara ini juga biasa disebut cara rantai (chain surveying). Cara offset biasa digunakan untuk daerah yang relatif datar dan tidak luas, sehingga kerangka dasar untuk pemetaanyapun juga dibuat dengan cara

offset. Peta yang diperoleh dengan cara offset tidak akan menyajikan informasi ketinggian rupa bumi yang dipetakan. Cara pengukuran titik detil dengan cara offsetada tiga cara: x Cara siku-siku (cara garis tegak lurus), x Cara mengikat (cara interpolasi), x Cara gabungan keduanya. 2. Metode Pengukuran Tachimetri Metode tachymetri adalah pengukuran menggunakan alat-alat optis, elektronis, dan digital. Pengukuran detail cara tachymetri dimulai dengan penyiapan alat ukur di atas titik ikat dan penempatan rambu di titik bidik. Setelah alat siap untuk pengukuran, dimulai dengan perekaman data di tempat alat berdiri, pembidikan ke rambu ukur, pengamatan azimuth dan pencatatan data di rambu BT, BA, BB serta sudut miring . Metode tachymetri didasarkan pada prinsip bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi yang sepihak adalah sebanding. Kebanyakan pengukuran tachymetri adalah dengan garis bidik miring karena adanya keragaman topografi, tetapi perpotongan benang stadia dibaca pada rambu tegak lurus dan jarak miring "direduksi" menjadi jarak horizontal dan jarak vertikal.

Gambar 1.13 Pengukuran Titik Detail Tachimetri

Pada gambar, sebuah transit dipasang pada suatu titik dan rambu dipegang pada titik tertentu. Dengan benang silang tengah dibidikkan pada rambu ukur sehingga tinggi t sama dengan tinggi theodolite ke tanah. Sudut vertikalnya (sudut kemiringan) terbaca sebesar a. Perhatikan bahwa dalam pekerjaan tachymetri tinggi instrumen adalah tinggi garis bidik diukur dari

titik yang diduduki (bukan TI, tinggi di atas datum seperti dalam sipat datar). Metode tachymetri itu paling bermanfaat dalam penentuan lokasi sejumlah besar detail topografik, baik horizontal maupun vetikal, dengan transit atau planset. Di wilayah-wilayah perkotaan, pembacaan sudut dan jarak dapat dikerjakan lebih cepat dari pada pencatatan pengukuran dan pembuatan sketsa oleh pencatat. Tachymetri "diagram' lainnya pada dasarnya bekerja atas bekerja atas prinsip yang, sama sudut vertikal secara otomatis dipapas oleh pisahan garis stadia yang beragam. Sebuah tachymetri swa-reduksi memakai sebuah garis horizontal tetap pada sebuah diafragma dan garis horizontal lainnya pada diafragma keduanya dapat bergerak, yang bekerja atas dasar perubahan sudut vertikal. Kebanyakan alidade planset memakai suatu jenis prosedur reduksi tachymetri. c. Rangkuman Survey dan pemetaan, adalah suatu seni pengukuran, pencatatan titik di muka bumi, kemudian menghubungkan titik-titik tersebut, dipindahkan pada kertas dengan skala tertentu. Surveyor adalah seseorang yang melakukan kegiatan survey dan pemetaan. Peta merupakan gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam bidang datar dengan skala tertentu. Ilmu yang mempelajari tentang peta, baik sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta disebut Kartografi. Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dapat dibagi 2, yaitu : a. Geodetic Surveying b. Plan Surveying Geodetic surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas > 55 km x 55 km) atau (>0,5 derajat x 0,5 derajat) Plan Surveying merupakan ilmu seni dan teknologi untuk menyajikan informasi bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas < 55 km x 55 km) atau (<0,5 derajat x 0,5 derajat) Ilmu ukur tanah pada dasarnya terdiri dari tiga bagian besar yaitu : a. Pengukuran kerangka dasar Vertikal (KDV) b. Pengukuran kerangka dasar Horizontal (KDH) c. Pengukuran Titik-titik Detail

Kerangka dasar vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran kumpulan titiktitik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadapbidang rujukan ketinggian tertentu. Pengukuran kerangka Dasar vertical pada dasarnya ada 3 metode, yaitu : a. Metode pengukuran kerangka dasar sipat datar optis; b. Metode pengukuran Trigonometris; dan c. Metode pengukuran Barometris. Pengukuran kerangka dasar horizontal adalah untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di atas permukaan bumi maka perlu dilakukan pengukuran mendatar. Bagian-bagian dari pengukuran kerangka dasar horizontal adalah : a. Metode Poligon b. Metode Triangulasi c. Metode Trilaterasi d. Metode kuadrilateral e. Metode Pengikatan ke muka f. Metode pengikatan ke belakang cara Collins dan cassini Alat ukur tanah dapat dibedakanmenjadi dua, berdasarkan fungsinya, yaitu Theodolite sebagai alat ukur sudut, dan alat penyipat datar. Selain Theodolite dan Waterpass, digunakan juga alat berupa meteran, kompas, statif dan tripod.

MODEL DIAGRAM ALIR PENGANTAR SURVEY DAN PEMETAAN

Gambar 1.14 Diagram Alir Pengantar Survey dan Pemetaan

Ilmu, seni dan teknologi untuk menyajikaninformasi bentuk permukaan bumi baik unsuralam maupun buatan manusia di bidangdatar (luas < 55

Ilmu, seni dan teknologi untuk menyajikaninformasi bentuk permukaan bumi baik unsuralam maupun buatan manusia di bidang lengkung (luas >

0,5derajat x 0,5 derajat)

0,5derajat x 0,5 derajat)

d. Tugas Pelajari materi pada kegiatan belajar I, kemudian tuliskan kembali (rangkum) materi yang telah dipelajari. e. Tes Formatif Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat ! 1. Jelaskan pengertian dari pekerjaan Survey dan Pemetaan ! 2. Jelaskan fungsi dari Survey dan Pemetaan ! 3. Apakah yang dimaksud dengan surveyor? Jawab : ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ...................................................................................................................................

Diskusikan dengan kelompok anda, kemudian jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat! Pertanyaan untuk kelompok 1,3,5 SOAL A 1. Apakah yang dimaksud dengan plan surveying? (20) 2. Jelaskan perbedaan plan surveying dengan geodetic surveying ! (30) 3. Apakah yang dimaksud dengan pemetaan? a (20) b a
0

Pertanyaan untuk kelompok 2,4,6 SOAL B 1. Apakah yang dimaksud dengan geodetic surveying? (10) 2. Perhatikan gambar dibawah ini ! (20) Ku

E Ks

Jelaskan bagian yang ditandai 4. Perhatikan gambar diatas ! garis yang ditandai dengan huruf a adalah ...... (10) 5. apakah fungsi dari lingkar meridian? (20) dengan a,b,Ks,Ku,Ek 3. Apakah yang dimaksud dengan lingkar equator? (20) 4. Apakah fungsi dari lingkar equator? (20) 5. Jelaskan beberapa bukti bahwa bumi berbentuk oval atau ellipse ! (30)

Jawab : ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ...................................................................................................................................

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat ! 1. Apakah yang di maksud dengan Proyeksi? 2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis proyeksi berdasarkan bidang proyeksinya ! 3. Apakah yang dimaksud dengan : a. Proyeksi Equivalent b. Proyeksi Equidistance c. Proyeksi Conform 4. Berikan masing-masing contoh peta yang memanfaatkan proyeksi pada soal nomer 3 ! 5. Sebutkan pekerjaan dasar pengukuran tanah !

Jawab : ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ...................................................................................................................................

KEGIATAN BELAJAR 2 1. Tujuan Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa mampu : Menjelaskan jenis-jenis pekerjaan dasar survey dengan benar. Melaksanakan jenis-jenis pekerjaan dasar Survey dan Pemetaan untuk pekerjaan teknik sipil dengan benar. 2. Uraian Materi Pada kegiatan belajar dua, anda akan mempelajarai materi mengenai pekerjaan dasar survey, di lapangan ilmu ukur tanah dimanfaatkan dalam perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan pekerjaan, pekerjaan jalan raya, system perhubungan, bangunan gedung, trowongan, terusan, saluran irigasi, bendungan dan pengkavlingan. Untuk dapat melakukan pekerjaan ukur tanah, kita harus tau alat apa yang digunakan, bagaimana pengoprasian alat-alat tersebut, serta bagamana melakukan analisis atau penghitungan data yang telah kita peroleh. Namun sebelum mempelajari itu semua, terlebih dahulu kita mempelajari mengenai dasar-dasar kegiatan survey dan pemetaan ini. Pekerjaan mengukur tanah dan pemetaan (Survei dan pemetaan) meliputi pengambilan/ pemindahan data-data dari lapangan ke peta atau sebaliknya. Pengukuran yang akan dipelajari dibagi bagi dalam pengukuran mendatar dari titik titik yang terletak diatas permukaaan bumi , dan pengukuran tegak guna mendapatkan beda tinggi antara titik titik yang diukur diatas permukaan bumi yang tidak beraturan ,yang pada akhirnya dapat digambar diatas bidang datar (Peta).Ilmu ukur tanah merupakan ilmu sebagai dasar dalam melaksanakan pekerjaan survey atau ukur mengukur tanah. Manfaat pekerjaan survei dan pemetaan yang ditemui dalam kehidupan 1. Pengukuran untuk mencari luas tanah Luas tanah sangat diperlukan untuk keperluan jual beli, penentuan pajak, dan untuk perencanaan pengembangan daerah, rencana jalan, rencana pengairan dan rencana transmigrasi. 2. Pengukuran untuk mengetahui beda tinggi tanah Sebelum suatu bangunan didirikan , maka terlebih dahulu harus diketahui tinggi permukaan tanah dan rencana meratakan tanahnya sehingga dapat dihitung seberapa tanah yang gigali dan berapa banyak urugan yang diperlukan serta untuk menentukan peil suatu bangunan yang akan dibangunan untuk pedoman ketinggian lantai dan sebagainya. 3. Pengukuran untuk pembuatan peta

Untuk memberi petunjuk berapa jauh antara tempat A ke tempat B maka kita harus membuat sket jalan dari tempat A ke tempat B.Gambar sket tersebut walaupun tidak sempurna dinamakan peta. Untuk praktisnya pemerintah mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten , propinsi bahkan setiap Negara mempunyai ganbar daerahnya yang disebut peta. Peta tersebut harus digambar berdasarkan hasil pengukuran tanah, baik pengukuran secara teoritis maupun secara fotogrametrik. 4. Pengukuran untuk merencanakan bangunan Bila akan mendirikan rumah , maka harus ada ijin bangunan dari dinas pertanahan atau dinas pekerjaan umum. Pada setiap rencana pembangunan daerah , pembuatan jalan, rencana irigasi terlebih dahulu tanah yang akan dibangunan harus diukur dan disahkan oleh pemerintah daerah. Disamping hal tersebut pekerjaan ukur tanah merupakan hal sangat penting dalam merencana bangunan karena dapat memudahkan menghitung rencana biaya. 3. Rangkuman Pekerjaan mengukur tanah dan pemetaan (Survei dan pemetaan) meliputi pengambilan/ pemindahan data-data dari lapangan ke peta atau sebaliknya. Manfaat pekerjaan survei dan pemetaan yang ditemui dalam kehidupan 1. Pengukuran untuk mencari luas tanah 2. Pengukuran untuk mengetahui beda tinggi tanah 3. Pengukuran untuk pembuatan peta 4. Pengukuran untuk merencanakan bangunan.

4. Tugas Carilah sebuah gambar mengenai pekerjaan mengukur tanah, kemudian jelaskan sesuai dengan pengetahuan anda ! 5. Tes Formatif .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ................................................................................................................................... .................................................................................................................................... ................................................................................................................................... ....................................................................................................................................

KEGIATAN BELAJAR 3 a. Tujuan Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa mampu : Menjelaskan macam-macam pekerjaan dasar survei dengan benar Mengidentifikasi peralatan untuk pekerjaan dasar survei sesuai kegunaannya

b. Uraian Materi Peralatan Survey dan Pemetaan Alat-alat ukur tanah adalah alat-alat yang dipersiapkan untuk mengukur suatu jarak dan atau sudut. Peralatan ukur tanah beragam macamnya, baik yang konvensional atau sederhana maupun modern, hal ini dapat dilihat dari komponen-komponen alat tersebut serta cara penggunaannya. Dalam pekerjaan pengukuran progress mining atau survey perlu digunakan alat-alat untuk mempermudah penyelesaian pengambilan datadata. Jenis alat yang digunakanpun sangat mempengaruhi kecepatan dan ketepatan dalam pekerjaan tersebut. Alat yang umum digunakan dalam pengukuran ini adalah theodolite.
ALAT UKUR TANAH

A. ALAT UKUR SUDUT

B. PENYIPAT DATAR

Gambar 3.1 Jenis Alat Ukur Tanah A. Alat Ukur Sudut Untuk mengukur sudut dalam Ilmu Ukur Tanah yaitu menggunakan pesawat Theodolite. Theodolite merupakan alat pengukur sudut vertikal maupun horisontal, sehingga teropong yang ada pada alat ini harus dapat berputar pada dua lingkaran bersekala, yaitu lingkaran bersekala tegak dan mendatar. Pesawat ini merupakan alat berkaki tiga, yaitu menggunakan alat bantu penyangga berupa tripod. Alat theodolite ini dinyatakan sebagai alat ukur sudut dikarenakan alat ini khusus diciptakan atau disiapkan guna mengukur sudut, baik sudut vertikal maupun horisontal. Penggunaan alat ini, selain berfungsi untuk mengukur sudut, dengan bantuan rambu ukur (Baak) dapat difungsikan sebagai alat pengukur jarak, baik jarak horisontal maupun miring, ataupun beda tinggi dengan menggunakan metode tertentu. Di dalam pesawat theodolite ini terdapat bagian yang disebut nivo, nivo

pertama berbentuk bulat atau kotak, sedangkan nivo kedua berbentuk tabung di dalam kedua nivo ini terdapat gelembung udara. Pada nivo kotak apabila gelembung udara ini ditempatkan pada titik tengah nivo, menunjukan bahwa sumbu pertama dalam keadaan tegak, Sedangkan pada nivo tabung menunjukkan bahwa sumbu kedua dalam keadaan mendatar. Pada pembidikan alat, yang perlu diperhatikan adalah benangnya karena teropong theodolite tidak harus dalam posisi tepat mendatar. Perinsip kerja alat ini yaitu apabila teropong atau benang diafragma mendatar pada jarak tertentu, apabila diputar mendatar harus membentuk bidang horisontal, dan diafragma tegak apabila diputar ke dalam arah tegak lurus harus membentuk atau mengikuti bidang vertikal. Secara garis besar theodolit terbagi 2, Theodolit bagian atas, terdiri dari : Plat atas yang langsung dipasang pada sumbu vertical Sumbu HOR Nivo tabung Telescop (teropong), Pada teropong ini terdapat dua lensa, depan yang disebut lensa objektif dan belakang yang disebut lensa okuler, dimana kedua lensa diletakkan sedemikian rupa sehingga sumbu optisnya berimpit. Agar teropong bisa digunakan sebagai alat bidik pada bagian belakang dilengkapi dengan dua garis salib sumbu yang terbuat dari benang labalaba atau dengan cara digoreskan pada kaca. Garis salib sumbu biasanya berupa garis tegak dan tiga garis mendatar yang biasanya digunakan untuk pembacaan. Theodolit bagian bawah, terdiri dari : Plat bawah Lingkaran horizontal Tabung sumbu luar dari sumbu vertical Sekrup pengikat datar ( penyetel nivo) Statip atau tripot atau kaki tiga yang berguna untuk menyangga theodolit Centring. Agar lebih jelasnya, perhatikan gambar pesawat Theodolite di bawah ini beserta fungsi dari masing-masing bagiannya,

Gambar 3.2 Pesawat Theodolite Keterangan : 1. Visir, selain berfungsi sebagai alat pengarah kasar, juga berfungsi sebagai alat penunjuk bacaan sudut. 2. Teropong, berfungsi sebagai pembidik 3. Sekrup pengunci gerak vertikal, berfungsi sebagai pengunci agar teropong tidak bergerak ke arah vertikal, apabila terkunci, maka skrup gerakan halus vertikal akan berfungsi. 4. Sekrup okuler, berfungsi untuk memperjelas benang diafragma 5. Kaca penerang, berfungsi untuk menangkap dan memantulkan cahaya sehingga pembacaan benang dan micrometer lebih jelas. 6. Teropong pembaca sudut terletak disebelah kanan dari teropong besar yang berguna untuk membaca sudut horizontal dan vertical. 7. Sekrup obyektif, berfungsi untuk memperjelas sasaran bidik sedangka lensa obyektif berfungsi sebagai penangkap bayangan sasaran bidik. 8. Sekrup gerak halus vertikal, berfungsi untuk menempatkan bidikan atau benang diafragma mendatar pada tinggi bidikan yang dihendaki 9. Nivo tabung, berfungsi sebagai petunjuk pengatur sumbu ke dua atau sumbu mendatar, apabila gelembung nivo berada di tengah menunjukkan bahwa sumbu ke dua dalam keadaan mendatar. 10. Sekrup mikrometer, Alat ini terletak pada bagian kanan atas dari theodolit yang berguna untuk mempaskan bacaan sudut horizontal dan vertical dengan cara diputar kedepan atau kebelakang agar sudut horizontal dan vertical pas pada pembacaan sudut. 11. Centring optis, Berguna untuk melihat posisi alat apakah sudah tepat berada diatas patok. Pada alat model lama tidak ada centringnya masih menggunakan

unting-unting yang dihubungkan dengan benang dan digantung di bawah alat ukur. 12. Sekrup gerak halus horisontal atas, untuk menggerakkan bidikan atau diafragma tegak ke arah horisontal sehingga tepat pada sasaran. 13. Sekrup gerak halus pengunci atas, untuk mengunci teropong agar tidak berputar atau bergerak ke arah horisontal dan memfungsikan gerakan halus horisonlat. 14. Sekrup pengunci gerak halus bawah 15. Sekrup gerak halus horisontal bawah 16. Lensa penerang, 17. Nivo kotak, sebagai patokan arah vertikal dari sumbu pertama 18. Tribarch 19. Sekrup penyetel, sebagai pengataur gelembung pada nivo kotak 20. Statif, berfungsi sebagai landasan pesawat theodolite yang dilengkapi dengan sekrup pengunci agar statif dan pesawat theodolite menyatu dengan baik. 21. Baak atau Rambu, Berupa garis garis yang tebalnya 1 cm yang berguna untuk menghitung jarak yang diukur yaitu jarak antara alat berdiri dengan bak yang menghasilkan jarak miring.

Gambar 3.3 Pesawat Theodolite Pemasangan theodolit dan Pembacaan Alat Ukurnya Sebelum theodolit digunakan harus distel terlebih dahulu agar posisi theodolit bisa waterpas atau level kesegala arah dan cara penggunaannya sebagai berikut : 1. Sebelum alat dikeluarkan dari tempatnya maka harus diperhatikan terlebih dahulu posisi alat tersebut pada tempatnya, karena dikhawatirkan apabila tidak diperhatiakan posisinya, setelah dipakai dan akan disimpan kembali akan mengalami kesulitan . 2. Untuk mempermudah pada setiap alat pasti ada tandanya berupa titik merah atau hitam dan biasanya kedua titik tersebut dalam keadaan sejajar

bila akan dimasukkan pada tempatnya. Setelah posisi tandanya sudah kita perhatikan lalu letakkan pesawat diatas statip atau kaki tiga lalu diikat dengan baut yang ada pada statip. 3. Setelah pesawat tereikat dengan sempurna pada statip baru pesawat yang sudah terikat pada statip diangkat dan diletakkan diatas patok yangsudah ada pakunya. 4. Pertama tancapkan salah satu kaki di tripod sambil tangan dua memegang kedua kaki di tripod lihat paku dibawah dengan bantuan centring, setelah paku terlihat baru kedua kaki yang kita pegang ditaruh pada tanah (kalau sudah mahir tanpa melihat centring sudah bisa menentukan posisi alat sudah tepat diatas patok atau palu (walaupun tidak pas). 5. Setelah statip ditaruh semua dan patok serta pakunya sudah kelihatan (walau tidak tepat)baru diinjak ketiga kaki di statip agar posisinya kuat menancap ditanah dan alat tidak mudah digoyang . Setelah posisi statip kuat dan tidak goyang barulah dilihat paku lowat centring, apabila paku tidak tepat maka kejar pakunya dengan menggunakan sekrup penyetel sambil melihat centring, karena dengan memutar sekrup penyetel, lingkaran petunjuk yang ada pada centring akan berubah dan arahkan lingkaran tersebut pada paku yang ada dipatok. 6. Setelah itu barulah dilihat nivo kotak(bagian bawah). Apabila nivo mata sapinya tidak ada ditengah maka posisi alat dalam keadaan miring. Untuk melihat dimana posisi alat yang lebih tinggi maka lihat gelembung yang ada pada nivo kotak apabila nivo mata sapinya ada di Timur maka posisi alat tersebut lebih tinggi disebelah Timur (kaki sebelah Timur dipendekkan atau yang sebelah Barat dinaikkan ). Setelah posisi gelembung pads nivo kotak ada ditengah maka alat sudah dalam keadaan waterpas (walau masih dalam keadaan kasar). 7. Untuk menghaluskan agar posisinya lebih level maka gunakan nivo tabung caranya : karena dibawah alat theodolit terdapat tiga sekrup penyetel maka sebut saja sekrup A, B, C. Pertama sejajarkan nivo tabung dengan kedua sekrup penyetel (bebas dan tidak terikat harus sekrup yang mana). Misalnya saja A dan B, setelahitu baru dilihat posisi gelembungaya. Apabila tidak ditengah maka posisi alat tersebut belum level maka harus ditengahkan dengan menggunakan sekrup A dan B (kalau belum mahir disarankan untuk menggunakan satu sekrup saja A atau B karena dikhawatirkan sekrup yang A akan menarik nivo kekiri dan sekrup yang B akan menarik nivo tabung kekanan ).

8. Setelah nivo tabung ada ditengah baru diputar 90 atau 270 dan nivo tabung ditengahkan dengan menggunakan sekrup yang C, setelah ditengah berarti posisi nivo tabung dan kotak sudah sempurna dan keduanya ada ditengah. Setelah itu baru dilihat centring apabila paku sudah tepat pada lingkaran kecil berarti alat tersebut sudah tepat diatas patok apabila belum tepat maka alat harus digeser dengan cara mengendorkan baut pengikat yang berada dibawah alat ukur. 9. Setelah kendor geser alat tersebut agar tepat di atas paku. Perlu diingat untuk merubah posisi alat agar tepat diatas paku harus digeser sekali lagi digeser dan jangan diputar, sebab kalau diputar posisi nivo pasi akan berubah banyak. Setelah posisi alas tepat diatas patok maka pengaturan nivo tabung diulangi seperti semula sehinga posisinya ditengah lagi, seperti pada waktu penyetelan pertama. 10. Setelah itu baru angka bacaan pada Skala horizontal disetel dan diatur pada angka 000'0" dan selanjutnya sejajarkan arah teropong, dan arah Utara dengan menggunakan kompas arah, setelah itu di ukur tingginya alat dan alat siap digunakan. B. Penyipat Datar Alat penyipat datar dalam kegiatan survey dan pemetaan yaitu waterpass, adalah alat penyipat datar dengan teropong yang dilengkapi nivo dan sumbu mekanis tegak sehingga teropong dapat berputar ke arah horisontal. Alat ini tergolong ke dalam alat penyipat datar kaki tiga (Tripod level), karena apabila alat ini digunakan harus dipasang di atas kaki tiga atau statif. Perinsip kerja alat ini ialah garis bidik ke semua arah harus mendatar, sehingga membentuk bidang datar atau horisontal, dimana titik-titik pada bidang tersebut akan menunjukkan ketinggian yang sama. Beberapa fungsi alat penyipat datar yaitu sebagai berikut : 1. Memperoleh garis mendatar atau garis bidikan yang sama tinggi sehingga titik-titik yang tepat pada garis bidikan memiliki ketinggian yang sama. 2. Dengan garis mendatar ini, apat diketahui jarak titik bidik dari alat, ketinggian titik bidik, serta perbedaan ketinggian antar titik bidik. 3. Apabila waterpass difungsikann bersama rambu ukur dan benang stadia, benang stadia yaitu dua buah benang yang berada di atas dan dibawah serta sejajar dengan jarak yang sama dengan dengan benang diafragma mendatar, waterpass dapat digunakan sebagai alat ukur jarak horisontal atau mendatar, cara pengukuran jarak seperti ini disebut jarak optis. 4. Apabila waterpass disertai dengan alat lingkaran bersekala, yaitu lingkaran di badan alat yang dilengkapi dengan skala ukuran sudut. Dapat berfungsi

sebagai alat pengukur sudut horisontal. Dengan adanya lingkaran bersekala ini arah yang dinyatakan dengan bacaan sudut dari bidikan yang ditunjukkan oleh benang diafragma tegak dapat diketahui, sehingga bila dibidikkan ke dua buah titik, sudut antara dua buah titik tersebut dapat ditentukan. Alat lainnya yang digunakan dalam kegiatan ukur tanah diantaranya sebagai berikut: 1. Meteran, sering disebut sebagai pita ukur atau tape, yang dibuat dalam bentuk pita dengan panjang tertentu. Fungsi utama alat meteran ini adalah untuk mengukur panjangatau jarak. 2. Kompas, kompas adalah alat dengan komponen utama jarum dimana salah satu ujungnya bermagnet, sehingga dalam keadaan bebas, ujung jarum yang bermagnet secara bebas bergerak ke arah horisontal untuk menemukan arah utara, jenis kompas yang akurat adalah dilengkapi dengan pembidik, dan cairan untuk menstabilkan gerakan jarum dan alat pembidik yang disebut pisir. Fungsi utama alat ini yaitu untuk mengetahui arah mata angin, penentuan arah dari satu titik ke titik lain, yang ditunjukkan oleh besarnya sudut, yaitu besarnya sudut yang dimulai dari arah utara atau selatan, selain itu kompas juga digunakan untuk mengukur sudut horisontal dan membuat sudut siku-siku. Ada beberapa jenis kompas, diantaranya sebagai berikut : Kompas tangan, yaitu kompas jenis konvensional yang digunakan dengan dipegang dengan tangan dan diarahkan untuk menemukan arah utara. Kompas statif, yaitu kompas yang apabila digunakan dengan dipasang diatas statif atau kaki tiga, salah satu contoh kompas statif yaitu kompas Busol. 3. Tripod (Statif), disebut juga kaki tiga yang memiliki fungsi utama statif yang stabil. c. Rangkuman Alat-alat ukur tanah adalah alat-alat yang dipersiapkan untuk mengukur suatu jarak dan atau sudut. Alat ukur tanah dibagi menjadi dua jenis, yaitu Alat ukur sudut, dan Penyipat datar Bagian-bagian atas Theodolite terdiri dari : Plat atas yang langsung dipasang pada sumbu vertical, sumbu HOR, nivo tabung, telescop (teropong). Bagian atas Theodolite terdiri dari : Plat bawah Lingkaran horizontal Tabung sumbu luar dari sumbu vertical untuk menstabilkan alat yang dipasang, dengan pengaturan yang tepat akan diperoleh

Sekrup pengikat datar ( penyetel nivo) Statip atau tripot atau kaki tiga yang berguna untuk menyangga theodolit Centring.

Bagian-bagian Theodolite secara mendetail adalah : Statif, Sekrup penyetel,

Tribarch, Nivo kotak, Lensa penerang, Sekrup gerak halus horisontal bawah, Sekrup pengunci gerak halus bawah, Sekrup gerak halus pengunci atas, Sekrup gerak halus horisontal atas, Centring optisSekrup mikrometerNivo tabung, Sekrup gerak halus vertikal, Sekrup obyektif, Teropong pembaca sudut Kaca penerang, Sekrup okuler, Sekrup pengunci gerak vertikal, Teropong, Visir, Baak atau Rambu, adalah rambu yang di dalamnya terdapat garis garis yang tebalnya 1 cm yang berguna untuk menghitung jarak yang diukur yaitu jarak antara alat berdiri dengan bak yang menghasilkan jarak miring. Alat penyipat datar dalam kegiatan survey dan pemetaan yaitu waterpass, adalah alat penyipat datar dengan teropong yang dilengkapi nivo dan sumbu mekanis tegak sehingga teropong dapat berputar ke arah horisontal Alat lainnya yang digunakan dalam kegiatan ukur tanah adalah : Meteran, Kompas, dan Tripod.

d. Tugas Lakukan pekerjaan dasar ukur tanah dengan mengatur theodolite agar siap untuk digunakan sesuai dengan tahapan yang telah anda pelajari ! Penilaian dilakukan melalui pengammatan dengan kriteria sebagai berikut No 1 ASPEK YANG DINILAI PERSIAPAN Alat Lokasi Kerja Alat Keselamatan Kerja Jumlah 2 PROSES UNJUK KERJA Sikap Kerja Menyiapkan peralatan ukur tanah Mempersiapkan lokasi kerja Cara mengatur dan memposisikan tripod dan memasang pesawat theodolite pada tripod Cara mengatur posisi theodolit tepat diatas patok (titik ukur) Cara menseting nivo kotak Cara menseting nivo tabung Memposisikan teropong ke arah utara dan dalam posisi 0o00 Jumlah 3 HASIL KERJA Tripod dalam posisi kuat/menancap dan tidak bergeser Posisi pesawat theodolite tepat diatas patok (titik ukur) Gelembung nivo kotak tepat 10 10 10 20 3 4 4 3 1 2 2 1 1 1 3 5 SKOR MAK. SKOR YANG DICAPAI KET.

berada di tengah-tengah lingkaran nivo Gelembung nivo tabung tepat berada di tengah-tengah nivo tabung Teropong pesawat theodolite mengarah ke utara dan dan dalam posisi 0o00 Jumlah 4 KESELAMATAN KERJA Pribadi Membereskan Alat Membereskan lokasi kerja Jumlah 5 WAKTU Skor Maksimum Syarat Lulus (Skor Minimum) Hasil Penilaian 5 5 5 15 10 100 75 LULUS/TIDAK LULUS*) 50 10 10

e. Tes Formatif 1. Sebutkan peralatan yang digunakan dalam kegiatan Ukur Tanah, kemudian jelaskan fungsi masing-masing peralatan tersebut ! 2. Gambarkan dan jelaskan fungsi setiap bagian theodolite ! 3. Uraikan langkah kerja dalam mempersiapkan theodolite agar siap untuk digunakan !

Jawab : .....................................................................................................................................

..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... ..................................................................................................................................... .....................................................................................................................................

KEGIATAN BELAJAR 4 a. Tujuan Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa mampu : Langkah-langkah pekerjaan pengukuran dasar-dasar survei dijelaskan dengan benar. Pengukuran dasar-dasar survei berbagai metode dilaksanakan dengan benar.

b. Uraian Materi Pembacaan Mistar Dalam pengukuran dengan menggunakan theodolit data yang diperleh salah satunya adalah jarak. Jarak ini didapat dengan pembacaan Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT) dan Benang Bawah (BB). Contoh : BA = 1750 ; BT = 1500 ; BB = 1250 Untuk mengetahui bacaan rambu salah atau benar dapat dicek dengan menggunakan rumus : (BA +BB)/2= BT BB + BA = 2BT BB = 2BT BA BA = 2BT BB Contoh : Diketahui, benang atas 1750 mm, benang bawah 1250 Jadi benang tengah = (1750 + 1250)/2 = 1500 Dalam hal ini Benang Tengah diusahakan menggunakan bilangan bulat. Contoh 1500, 1450, 1520, 1480 karena dengan dibulatkan akan memudahkan dalam perhitungan selanjutnya. Hasil dari (BA BB) x 100 merupakan Jarak Miring. Koreksi Sudut Horizontal dan Vertical ( biasa dan luar biasa) Dalam pembacaan sudut baik yang horizontal maupun vertiakal ada koreksinya. Cara pengkoreksiannya adalah dengan pembacaan luar biasa. Setelah theodolit tepat pada posisi yang dituju maka dibaca sudut horizontal maupun yang vertical. Contoh : Sudut Horizontal 17937'28" (biasa) Sudut vertikal 9328 48 " (biasa) Maka untuk mendapatkan pembacaan luar biasa alat theodolit kita putar 180 secara horizontal dan teropong diputar 180 secara vertical maka akan didapat bacaan sebagai berikut : Sudut Horizontal 35937'10"( luar biasa) 26631'03"( luar biasa), Hasilnya : 359037'10" 9328'48" 17937'28" - 26631'03" +

17959'42" 35959'51" Kalau hasilnya baik untuk pembacaan sudut horizontal luar biasa - sudut biasa = 180. Sedang untuk koreksi pembacaan sudut vertikal biasa dan luar biasa maka sudut biasa + luar biasa = 360. Koreksi yang diijinkan adalah 20 0 dan apabila koreksinya > 20 maka alat survey tersebut harus dikalibrasi. Setelah itu baru angka bacaan pada skala, horizontal distel dan ddiatur pada angka 00'0" dan selanjutnya sejajarkan arah teropong dan arah Utara dengan menggunakan kompas arah Setelah itu diukur tingginya alat dan alat siap kerja. Pengukuran (Survey) A. Survey Original Dalam kegiatan penambangan sebelum dimulai kegiatan yang lainnya, maka terlebih dahulu akan dilakukan kegiatan survey original yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan permukaan tanah yang belum berubah karena belum ada kegiatan penambangan. Survey original sebagai acuan untuk perhitungan volume progress. Dalam pekerjaan survey original atau progress digunakan sistem line, dimana jarak dan data yang dihasilkan dari pengukuran ini adalah jarak miring dan beda tinggi dan selanjutnya akan diketahui jarak datar dan beda tinggi dari rumus tersebut diatas. Sebelum survey original dimulai biasanya terlebih dahulu dilakukan kegiatan clearing agar mempermudah pekerjaan survey original . Hasil dari perhitungan original berupa potongan melintang dimana setelah peta selesai barulah pekejaan penambangan dapat dilakukan. Cari atau tentukan titik dipatok simpanan pada lahan yang belum ditambang karena biasanya surveyor pasti mempunyai simpanan titik atau patok yang disimpan didalam hutan agar tidak hilang dan tidak dicabut . Setelah itu baru ditarikpada daerah yang akan dikembangkan dan dipasangi patok dengan jarak tiap 10m dan patok tersebut didirikan alat dan dihitung jaraknya. Didirikan alat pada patok-patok yang jaraknya kelipatan 10, akan didirikan alat untuk menembak kiri dan kanan dengan menggunakan rambu untuk mengetahui jarak maupun beda tinggi. Dengan data original dapat digunakan untuk menggambar propil melintang dari daerah yang diukur. Kegiatan ini merupakan dasar atau acuan untuk menghitung progress setelah tambang dikerjakan. B. Pengukuran (Survey) Progress Survey progress adalah survey yang diakukan setiap bulan yang bertujuan untuk menghitung berapa volume overburden (lapisan tanah penutup) yang telah diambil dan dipindahkan dari lokasi tambang yang akan diambil batubaranya ketempat lokasi yang tidak ada batubaranya (disposal area).

Dari hasil survey progress digunakan untuk menghitung berapa uang yang dibayarkan dari pemilik lahan (owner) kepada kontraktor. Mengingat pentingnya pekerjaan survey progress maka biasanya dilakukan oleh dua team survey yaitu kontraktor dan owner. Hasil perhitungan kedua team survey akan dibandingkan dan dirata--ratakan. Data yang diperoleh dan pengukuran survey progress adalah jarak datar, Beda Tinggi dan data ini akan diplotkan pada peta yang sebelumnya sudah diplotkan data original pada line yang sama. Metode pengukuran progress yang dilakukan pads PT. Alas Watu Utama adalah menggunakan sistem penampang melintang atau sistem line dengan jarak antar ine adalah 10 m. Untuk mempermudah perhitungan line-line tersebut dibuat pada angka kelipatan 10, sedangkan arahnya tidak terikat dan tinggal mengikuti survey yang sudah dilakukan sebelumnya baik itu arah Timur Barat atau Utara Selatan. Pertama cari dua buah titik simpanan yang masih baik. Contoh titik D 340 dan E 340 (biasanya disimpan di hutan, agar tidak terganggu ). Salah satu dititik -tersebut dijadikan untuk mendirikan alat dan satunya untuk back sigh. Dari kedua titiktersebut tarik titik ketempat lokasi dimana pada lokasi tersebut banyak terjadi perubahan karena diambil lapisan atasnya atau overburden selama satu bulan. Dari tarikan tersebut dibuat baseline dimana jarak tiap- tiap baseline 10 m. Dari baseline tersebut didirikan alat satu persatu untuk mengambil detail baik kearah 900 atau 2700 dimana detail-detail tersebut diplot gambar- gambarnya yang akan dijadikan acuan dalam menghitung luas areal tersebut . Hasil perhitungan luas dijumlahkan dan dikalikan dengan 10 m (jarak antar line) yang akan menghasilkan volume.

Gambar 4.1. Contoh Pembuatan Baseline Dalam pengambilan data, daerah yang diukur adalah seluruh daerah Yang berubah, cara pengambilan data harus mengikuti lekuk- lekuk permukaan tanpa harus ada yang terlewati.

C. Arah Dalam pekeerjaan survey, baik untuk survey geologi, pemetaan topografi. situasi maupun untuk survey progress, arah atau azimuth merupakan hal yang harus dicari dilapangan. Ada dua cara untuk mencari arah : Dengan cara setiap alat berdiri, arah Utara disejajarkan dengan 0 0 pada piringan skala HOR. Kelebihan dari cara ini tidak perlu menghitung besarnya sudut dari titik-titik yang ditembak karena begitu ditembak skala horizontal sudah menunjukan arah sebenarnya. Sedangkan k-ekurangannya adalah pada setiap berdiri alat harus mensejajarkan arah Utara dengan arah 0 pada alat. Dengan demikian setiap berdiri alat harus memasang kompas arah, dan mensejajarkan arah Utara dengan 0 pada piringan skala horizontal. Seperti diketahui magnet pada kompas arah peka sekali terhadap bahan logam atau besi, sedangkan disekitar alat banyak perangkat survey terbuat dari besi misalnya parang, tongkat payung dan lain- lain. Jadi dengan demikian benda-benda tersebut mempengaruhi jarum kompas, arah Utara pada kompas, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan arah.

Gambar 4.2. Pengukuran Dengan Menggunakan Arah Utara Sebagai Acuan Setiap berdiri alat arah 0 pads Skala horizontal diarahkan ke titik sebelumnya. Keuntungan dari cara ini adalah penggunaan kompas arah hanya pada waktu pemasangan alat untuk penembakkan pertama kali atau pada awal pekerjaan. Kerugian dari cara ini terlalu banyak menghitung sudut- sudut yang menggunakan bilangan derajat (0), menit () dan detik (") sedangkan bilangan derajat, menit dan detik merupakan bilangan yang sulit untuk dihitung kecuali bagi yang sudah terbiasa menggunakannya.

Gambar 4.3. Pengukuran Dengan Patok Sebelumya Sebagai Acuan D. Jarak miring atau jarak optik Dalam pekejaan pengukuran yang menggunakan alat ukur Theodolit, yang tidak kalah pentingnya selain arah dan azimuth adalah jarak. Jarak yang dimaksud adalah jarak optis. Jarak optis didapat dari pembacaan mistar, bak atau rambu. Jarak miring atau optis dapat dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut, dimana: BA =Benang Atas ; BB = Benang Bawah ; 100 adalah bilangan konstanta pengali teropong.

Contoh : BA = 1750 mm BT = 1500 mm BB = 1250 mm Jarak Miring = (1750 mm - 1250 mm ) x 100 = 50.000 mm = 59 m E. Jarak Datar Untuk mencari jarak datar dapat dihitung dengan menggunakan rumus seperti dibawah ini. Cara 1: Jarak Datar = Cos 2 x Jarak miring

Contoh : Diketahui BA = 1750 Pembacaan vertikal 95 23' 48 BB = 1250 JM = 50 m Maka slope atau sudut kemiringannya = 9523'48" 900000 - 52348 Jarak Datarnya Cos 523'48" = 0,9955674382 = 0,991154523 x Jarak Miring = 0,991154523 x 50 m = 49,557726 m Cara 2:

Apabila yang digunakan untuk menghitung bukan sudut kemiringan tapi pembacaan sudut vertikal dan yang terbaca adalah 95023'48" maka rumus yang digunakan adalah : Diketahui : BA = 1750 Pembacaan vertikal 95o23'48 BB = 1250, JM= 50 m Jarak Datarnya Sin 2 (95o2348") = 0,995567438` = 0,991154523 x Jarak Miring = 0,991154523 x 50 m = 49,557726 m F. Beda Tinggi Beda tinggi merupakan hal yang juga sangat penting apalagi dalam pekeerjaan bangunan gedung dan irigasi, kalau tidak teliti akan mengakibatkan kemiringan pada gedung atau aliran air yang tidak sesuai dengan perencanaan. Pada pekerjaan pengukuran beda tinggi dapat dihitung dengan menggunakan rumus : Cara 1 : BT = Sin 2 x Jarak Miring Contoh : Diketahui BA = 1750 mm BB = 1250 mm pembacaan sudut vertikal 95o23'48" , JM = 50 m. Maka sudut kemiringannya adalah 95023'48" - 9000'00" = 05o23'48" Beda tinggi = Sin (523'48" x 2) x Jarak Miring = Sin (1047'36") x Jarak Miring = (0,187267019 ) x Jarak Miring = 0,093633509 x Jarak Miring = 0,093633509 x 50 m = 4,681675 m = - 4,681675 m Karena pembacaan sudut vertikal lebih dari 90 maka beda tingginya diberi tanda minus. Cara 2 Apabila yang digunakan untuk menghitung bukan sudut kemiringan tapi pembacaan sudut vertikal dan yang terbaca adalah 95o23'48 maka minus yang digunakan adalah : Diketahui BA = 1750 mm

BB = 1250 mm pembacaan sudut vertikal 95o23'48" , JM = 50 m Beda tinggi = 1/2 (95o23'48" x 2) x 50 m = 1/2 Sin 190o47' 36 x 50 m =1/2(- 0,187267019) x 50 m = - 0,093633509 x 50 m = - 4,681675 m Kesalahan Dalam Pengukuran Dalam pengukuran ada bermacam- macam kesalahan dan yang sering terjadi dilapangan ada tiga macam kesalahan dalam pengukuran yaitu : A. Kesalahan yang disebabkan karena alam Dalam hal ini kesalahan disebabkan karena keadaan bumi yang sebenarnya melengkung atau berbentuk bola tapi kita menggapnya lurus. Hal ini bisa ter jadi karena jarak yang diukur tidak terlalu jauh sekitar 50 m sampai 80 m. Tapi karena jarak yang diukur tersebut berulang kali maka dari jarak yang pendek-pendek tersebut digabung yang akan menjadi panjang dengan sendirinya kelengkungan bumi akan berpengaruh terhadap ketelitian pengukuran. Tapi kesalahan karena alam tidak terlalu berpengaruh terhadap penngukuran progress karena dalam pengukuran progress jarak yang diambil tidak telalu jauh maksimal 70m sampai dengan 100m. Jadi dalam hal ini faktor alam bisa diabaikan. Faktor alam juga bisa disebabkan sinar matahari dimana pada bagian nivo yang mudah mengembang jika terkena panas matahari . Maka dalam pekerjaansurvey harus memaki payung jika cuaca dalam keadaan panas. B. Kesalahan yang disebabkan oleh alat Kesalahan karena alat ukut theodolit yang sangat peka terhadap goncangan dan tekanan maka alat ukur ditempatkan pada kotak yang sedemiklan rupa. Karenasering berpindah- pindah maka theodoit juga, akan terguncang- guncang bahkan terbanting dan akan mengalami perubahan misalnya nivo tidak bisa ditengah waktu distel, centring akan berubah jika dilihat disisi lain, pembacaan biasa dan luar biasa pada pembacaan sudut horizontal dan vertikal akan mengamlami selisih yang besar, maka alat tersebut harus dikalibrasi. Kesalahan juga bisa karena rambu ukur misalnya pada waktu memegang rambu letakkya tidak vertikal, bagian bawah rambu sudah rusak, rambu terbenam dilumpur sambungan rambu yang tidak tepat, rambu sudah rusak sehingga tulisannya tidak jelas yang menyulitkan surveyor untuk-membacanya. C. Kesalahan yang disebabkan manusia

Kesalahan disini lebih sering terjadi karena, orangnya belum mahir atau kondsi sudah dalam kelelahan. Apabila, lokasinya jauh dan memerlukan perjalanan yang melelahkan. Untuk itu disararankan apabila lokasinya jauh didalam hutan dan mernerlukan perjalanan yang jauh dan melelahkan, lebih baik membuat basecamp dilokasi sekitar tempat kerja, agar bisa menyingkat waktu dan menghemat biaya maupun tenaga. Adapun macam-macam kesalahan yang ditimbulkan oleh manusianya, meliputi kesalahan dalam penyetelan alat, kesalahan dalam pembacaan. Untuk mengatasinya perlu mencari surveyor yang mahir dan diusahakan tempat menginap tidak jauh dari lokasi kerja dan disediakan fasilitas yang memadai. c. Rangkuman BA adalah Benang Atas, BB adalah Benang Bawah, BT adalah Benang Tengah Untuk mengetahui bacaan rambu salah atau benar dapat dicek dengan menggunakan rumus : (BA +BB)/2 = BT Untuk menghitung jarak miring, apabila diketahui BA, BB digunakan rumus (BA - BB) x 100 Apabila diketahui BA, BB, dan jarak miring, untuk menari Jarak datar digunakan rumus, Jarak Datar = Cos 2 x Jarak miring dimana adalah sudut miring Apabila diketahui Sudut Vertikalnya untuk mencari jarak datarnya digunakan rumus, Jarak Datar = Sin 2 , dimana adalah sudut vertikal Apabila diketahui Jarak miring dan sudut miringnya, maka beda tinggi dapat dicari dengan menggunakan persamaan BT = Sin 2 x Jarak Miring, dimana adalah sudut miring Apabila diketahui Jarak miring dan sudut miringnya, maka beda tinggi dapat dicari dengan menggunakan persamaan BT = Sin 2 x Jarak Mendatar , dimana adalah sudut vertikal d. Tugas Bacalah dan pahami materi pada kegiatan belajar 4 !

e. Tes Formatif .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. .................................................................................................................................. ..................................................................................................................................

KEGIATAN BELAJAR 5 a. Tujuan Setelah mempelajari modul ini diharapkan siswa mampu : Melakukan langkah perhitungan hasil pengukuran dasar-dasar survei dengan benar. Melakukan perhitungan hasil pengukuran dasar-dasar survei dengan berbagai metode dengan benar. Menggambar hasil pengukuran sesuai dengan data lapangan. Mengambar hasil pengukuran dengan skala tertentu. Menjelaskan sistermatika laporan hasil pengumpulan data dengan benar. Membuat laporan hasil pengumpulan data sesuai dengan sistematika laporan.

b. Uraian Materi Luas Penampang Yang dimaksud dengan luas (L) adalah suatu nominal yang didapat dari perkalian antara panjang (p) dan lebar (1) dari suatu bidang. Dalam hal ini, luasnya adalah luas yang dihitung dalam peta atau gambar yang merupakan keadaan bumi dengan proyeksi orthogonal. Luas penampang dapat dihitung secara mekanis menggunakan alat ukur theodolite dan dioleh dengan menggunakan planimeter. Ada bebempa cara yang dapat digunakan untuk menghitung luas, yaitu antara lain: 1. Dengan menggunakan kertas milimeter, Cara ini dilakukan dengan menghitung banyaknya kotak kecil per milimeter yang termasuk dalam area pengukuran. L = Luas ; n = Banyaknya kotak per milimeter 2. Dengan menggunakan data koordinat, Cara ini dilakulan dengan menggunakan data-data koordinat (koordinat X, Y dan z). L = Luas, Z = Elevasi, X= Koordinat X, n = point titik pengukuran 3. Dengan menggunakan alat Planimeter, Cara ini lebih mudah, karena dengan mengelilingi area penelitian (dalam bentuk peta) sudah dapat diketahui nilai luas area tersebut. 4. Dengan menggunakan Software, Cara ini yang paling mudah yaitu dengan memasukkan data pengukuran dari theodolite ke dalam komputer (software) seperti surfac, surfer, kemudian diolah dengan perintahperintah yang tersedia, maka dengan sendirinya akan dapat diketahui besaran luas dari daerah penelitian.

Volume Tanah Penutup Untuk menentukan volume tanah penutup, dapat diperoleh diantaranya melalui peta topografi yaitu dengan cara membuat penampang melintang (cross section). Penampang melintang dibuat tegak lurus terhadap kontur struktur batubara dengan interval tertentu antar penampang dengan batas-batas sesuai rencana-rencana penambangan. Adapun cara yang dapat digunakan untuk menghitung volume tanah penutup, antara lain adalah sebagai berikut : 1. Menentukan luas area per penampang (section) kemudian luas 1 ditambah luas 2 dibagi 2 kemudian dikalikan jarak per penampang- Atau dapat denggan menggunakan rumus: V = Volume tanah penutup A = Luas area L = Jarak per area

PENUTUP

Ilmu Ukur Tanah , khususnya pada kompetensi Dasar-Dasar Survei dan Pemetaan akan dikuasai dengan lebih, jika menguasai baik teori maupun keahlian dan ketrampilan dalam menggunakan peralatan survei. Setelah menyelesaikan modul ini anda berhak untuk mengikuti tes praktik uji kompetensi. Dan jika anda memenuhi syarat lulus yaitu dengan mencapai hasil minimal rata-rata 7,5 (tujuh koma lima). Mintalah kepada instruktur anda untuk melakukan uji kompetensi dengan sistem penilaian yang dilakukan langsung oleh pihak DuDi (Dunia Usaha dan Dunia Industri) yang kompeten jika anda telah menyelesaikan suatu kompetensi tertentu. Apabila anda telah menyelesaikan seluruh evaluasi dari setiap modul, maka hasil yang berupa nilai dari instruktur dapat dijadikan verifikasi bagi DuDi sebagai standart pemenuhan kompetensi tertentu. Jika anda telah memenuhi syarat, anda berhak mendapatkan sertifikat kompetensi yang dikeluarkan oleh DuDi (Dunia Uasah dan Dunia Industri).

DAFTAR PUSTAKA

Muda, Iskandar. (2008). Survei dan Pemetaan Jilid 1. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Muda, Iskandar. (2008). Survei dan Pemetaan Jilid 2. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.