Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu pemanasan global sebagai akibat meningkatnya kadar CO2 atmosfer, memberikan dampak yang serius terhadap makhluk hidup dan lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Peningkatan suhu permukaan bumi sebagai salah satu dampak dari pemanasan global dapat langsung dirasakan. Pemanasan global juga memberikan dampak berupa perubahan iklim yang mengganggu daur hidrologi. Akibatnya adalah terjadi banjir pada suatu daerah dan kekeringan pada daerah lainnya. Kekeringan memberikan dampak negatif pada suatu lahan, yaitu terjadi defisit air baik pada danau dan sungai sebagai penampung air maupun pada air tanah sebagai sumber utama air serapan bagi tumbuhan. Defisit air akan memberikan berbagai pengaruh pada makhluk hidup, khususnya tumbuhan. Pada tumbuhan, selain berfungsi sebagai penyusun utama jaringan yang aktif mengadakan kegiatan fisiologis, air juga berperan penting dalam memelihara turgiditas yang diperlukan untuk pembesaran dan pertumbuhan sel. Peranan yang penting ini menimbulkan konsekuensi bahwa secara langsung atau tidak langsung, defisit air akan mempengaruhi semua proses metabolisme dalam tubuh tumbuhan yang mengakibatkan terganggunya proses pertumbuhan. Tumbuhan memberikan respon terhadap berbagai perubahan faktor lingkungan, baik secara fisiologis, anatomis, morfologis, dan tingkah laku. Dari keempat jenis respon tersebut, respon fisiologis terjadi secara cepat, misalnya

pada saat mendapat cekaman kekeringan. Respon fisiologis tumbuhan terhadap cekaman kekeringan cukup beragam, seperti pengaturan kadar air pada tubuh tumbuhan, peningkatan senyawa osmoprotektan, dan hormon-hormon yang berperan dalam cekaman kekeringan. Selain itu, Widyasari, et al. (2004) menambahkan bahwa cekaman kekeringan juga memicu ekspresi gen yang diduga mengendalikan respon tumbuhan terhadap cekaman kekeringan. Kekeringan memicu beberapa tumbuhan menjadi toleran dengan mengembangkan berbagai strategi beradaptasi. Sedangkan tumbuhan yang tidak teradaptasi, menjadi sensitif jika didedahkan pada lingkungan kering. Makalah ini membahas empat strategi tumbuhan toleran dalam merespon cekaman kekeringan, yaitu melalui produksi asam absisat (ABA) untuk menurunkaan laju transpirasi, peningkatan kadar karotenoid, biosintesis senyawa antioksidan, serta akumulai senyawa osmoprotektan. Penulis memilih untuk membahas keempat strategi ini karena penelitian-penelitian mengenai respon tumbuhan terhadap cekaman kekeringan lebih difokuskan pada keempat strategi tersebut. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dikaji dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu bagaimanakah respon fisioanatomis tumbuhan terhadap cekaman kekeringan? 1.3.Tujuan Penulisan Secara umum, pembahasan dalam makalah ini ditujukan untuk memperoleh pemahaman yang memadai tentang mekanisme molekuler yang

mendasari munculnya respon fisioanatomis tumbuhan terhadap cekaman kekeringan. Secara khusus, pembahasan dalam makalah ini ditujukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih rinci dan mendalam tentang: 1.3.1.Peranan asam absisat terhadap bukaan stomata selama cekaman kekeringan. 1.3.2.Penurunan laju fotosintesis terhadap kandungan klorofil dan karotenoid 1.3.3.Pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dan senyawa antioksidan. 1.3.4. Akumulasi senyawa osmoprotektan. 1.4. Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan makalah ini adalah: 1. Sebagai wahana bagi penulis dalam mengembangkan kemampuan berpikir, wawasan dan sikap ilmiah, serta keterampilan

mengkomunikasikan karya ilmiah. 2. Sebagai pendalaman dan pengayaan khasanah ilmu biologi khususnya dalam bidang ekofisiologi tumbuhan.

BAB II PEMBAHASAN Cekaman merupakan perubahan pada kondisi fisiologis yang disebabkan oleh faktor-faktor yang cenderung mengganggu keseimbangan. Faktor cekaman pada tumbuhan dapat berupa faktor fisika, kimia, maupun biologis. Faktor cekaman fisika misalnya kekeringan, banjir, dan keasaman tanah. Faktor cekaman kimia misalnya logam berat dan kandungan nutrien dalam tanah. Faktor cekaman biologis misalnya infeksi virus, bakteri dan fungi (Mahajan & Tuteja. 2005) Kekeringan sebagai salah satu faktor cekaman fisika merupakan suatu istilah meteorologi yang secara umum didefinisikan sebagai suatu periode tanpa curah hujan yang berarti. Secara umum, cekaman kekeringan dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu (1) air yang tersedia di tanah berkurang dan (2) kondisi atmosfer yang menyebabkan kehilangan air terus menerus oleh transpirasi maupun evaporasi. (Jaleel, et al. 2009). Pada kasus pertama, kekurangan suplai air dapat disebabkan oleh musim kemarau yang berkepanjangan sehingga persediaan air tanah menjadi sedikit akibat besanya tingkat penguapan pada media tanam. Akibatnya adalah pengurangan jumlah air pada media tanam dan tonisitas lingkungan terhadap tumbuhan akan meningkat. Selain itu, kurangnya suplai air di daerah perakaran dapat juga disebabkan oleh sifat dari media tanam yang tidak mampu menyimpan air sehingga air yang menginfiltrasi media tanam akan lewat begitu saja dan tidak mengubah potensial osmotik tanah. Pada kasus kedua, dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu tingginya suhu atmosfer dan tingginya kecepatan angin diatas permukaan daun. Suhu yang tinggi selain menguapkan air

pada media tanam, juga akan menguapkan air pada tubuh tumbuhan melalui stomata (proses transpirasi). Kecepatan angin yang tinggi juga akan meningkatkan laju transpirasi ini, sehingga jumlah air yang hilang menjadi berlebihan. Untuk mengganti kehilangan air ini, tumbuhan harus mengambil lebih banyak dari tanah. Jika laju transpirasi ini sangat tinggi, ketersediaan air tanah yang seharusnya mencukupi untuk tumbuhan pada keadaan laju transpirasi normal akan menjadi tidak cukup dan dapat menyebabkan cekaman kekeringan. Tumbuhan memiliki respon terhadap cekaman lingkungan, termasuk cekaman kekeringan. Respon yang paling sering dilakukan oleh untuk mentoleransi cekaman adalah respon fisioanatomis. Respon fisionatomis merupakan respon fisiologis dan anatomis tumbuhan terhadap lingkungan. Respon fisiologi dilakukan oleh tumbuhan untuk jangka waktu yang singkat dalam merespon perubahan lingkungan, seperti perubahan biokimia dalam sel. Sedangkan respon anatomis merupakan respon tumbuhan dalam jangka waktu yang lama dengan cara mengadaptasikan struktur anatomi jaringan tertentu, misalnya stomata. Respon anatomis dapat disebabkan oleh respon fisiologis yang dilakukan oleh tumbuhan secara terus menerus sehingga anatomi jaringan berubah untuk menyesuaikan dengan lingkungan. 2.1.Pengecilan Bukaan Stomata oleh Peningkatan Konsentrasi Asam Absisat Cekaman kekeringan pada umumnya disebabkan oleh tingginya suhu atmosfer sehingga laju transpirasi meningkat. Tranpirasi pada tumbuhan terjadi pada stomata dan sel epidermis. Selain sebagai tempat keluarnya air, stomata juga berperan penting dalam pertukaran gas pada tumbuhan berpembuluh. Stomata

merupakan pori kecil yang terdapat pada daun yang diapit oleh dua sel penjaga. Stomata dapat ditemukan epistomatik, hipostomatik, maupun amfistomatik pada daun. Stomata dapat membuka secara penuh, sebagian, dan menutup dibawah kontrol sel penjaga. Bukaan stomata dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konsentrasi CO2 pada ruang antar seluler daun, transpirasi, dan cekaman air. (Ozyigit & Akinci. 2009). Cekaman air akan menginduksi tumbuhan memproduksi hormon asam absisat (ABA) untuk mencegah melalui stomata dengan cara memperkecil bukaan stomata. Sinyal pertama bagi tumbuhan dalam memproduksi ABA adalah perubahan Relative Water Content (RWC) pada sel yang dideteksi sebagai cekaman (Gambar 1.). Penurunan RWC pada sel tumbuhan akan mengakibatkan perubahan keadaan fisik dari membran sel yang berpengaruh pada aktivitas beberapa protein integral, seperti akuaporin yang mengontrol volume sel atau homeostasis turgor. Akuaporin merupakan salah satu stress-protecting protein yang memfasilitasi pengambilan dan alokasi air dengan membentuk pori air seluler. Akuaporin terdapat pada membran plasma maupun tonoplas (Cazares, et al. 2011). Selain itu, penurunan RWC akan mengakibatkan aktivasi suatu protein sitoplasma yang disebut Phospolipase C (PLC). PLC merupakan enzim yang menghidrolisis salah satu jenis fosfolipid membran, yaitu phospatydil inositol 4,5biphospate (PIP2) menjadi inositol trifosfat (IP3) dan 1,2-diacylglycerol (DGA). Selama cekaman, konsentrasi Ca2+ sitoplasmik akan meningkat melalui pemasukan Ca2+ dari ekstraseluler maupun melalui pelepasan dari RE halus. kehilangan air

Peningkatan konsentrasi Ca2+ akan memberikan umpan balik positif terhadap PLC dan mengaktivasi sebuah protein transmembran lain berupa enzim, yang secara umum disebut histidin kinase. Salah satu histidin kinase yang ditemukan pada Arabidopsis thaliana adalah AtHTK1 (Chaves, et al. 2003). Histidin kinase akan memulai kaskade transduksi sinyal seperti fosforilasi dan defosforilasi protein yang dibantu oleh beberapa protein kinase dan fosfatase. Kaskade ini pada akhirnya mengaktivasi protein tertentu yang berperan sebagai faktor transkripsi beberapa gen, salah satunya gen yang mengkode enzim untuk biosintesis ABA.

Gambar 1. Pengsinyalan sel terhadap defisit air yang menginduksi sintesis ABA (Sumber: Mahajan & Tuteja, 2005)

ABA sebagai hormon cekaman memiliki beberapa peranan, salah satunya adalah memperkecil bukaan stomata. Sel target ABA pada daun adalah sel penjaga. ABA akan menginduksi peningkatan ion Ca2+ sitosolik melalui pemasukan dari apoplas maupun dari organel penimbun Ca2+ yaitu vakuola dan RE halus. Peningkatan konsentrasi Ca2+ sitosolik akan mengnon-aktifkan pompa H+-ATP-ase yang memompa H+ dari dalam sel ke luar, sehingga potensial membran menjadi lebih positif. Hal ini akan memicu pengaktifan pompa K+ yang memompa K+ dari sel penjaga ke sel tetangga untuk menciptakan kondisi hiperosmotik pada sel tetangga (Gambar 2.). Akibatnya, aliran osmosis air dari sel penjaga ke sel tetangga akan membuat sel penjaga mengkerut dan bukaan stomata mengecil (Shinozaki & Shinozaki. 2003).

Gambar 2. Jalur penutupan stomata oleh ABA melalui aktivasi pompa K+. (Sumber: Shinozaki & Shinozaki. 2003)

Ozyigit & Akinci (2009) meneliti struktur anatomi stomata Urtica pilulifera yang diberi cekaman kekeringan moderat dan ekstrem. Parameter yang diukur yaitu diameter pori stomata, perimeter dinding sel penjaga, dan luasan area stomata (gambar 3.)

Gambar 3. Parameter pengukuran stomata A) diameter pori stomata, B) perimeter sel penjaga, C) luasan area stomata. (Sumber: Ozyigit & Akinci. 2009) Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa cekaman kekeringan moderat mereduksi ketiga parameter pengukuran stomata tersebut pada stomata Urtica pilulifera dan lebih tereduksi lagi pada cekaman kekeringan ekstrem (Tabel 1). Tabel 1. Persentase reduksi bukaan stomata pada daun dari batang utama dan cabang lateral pertama Urtica pilulifera terhadap cekaman kekeringan moderat (WS1) dan ekstrem (WS2) (D= Diameter, P= Perimeter, A=Area). WS 1 Reduksi (%) D P Batang utama 70,3 29,31 Cabang lateral 68,51 36,60 (Sumber: Ozygit & Akinci. 2009) WS 2 P 34,74 55,66

A 76,64 81,20

D 26,45 48,09

A 58,30 61,08

Cekaman air mengakibatkan perubahan struktur anatomi stomata pada Urtica pilulifera, yang dapat dilihat dari perimeter stomata. Perimeter stomata merupakan ketebalan dinding sel penjaga yang menghadap ke stomata. Pada

10

cekaman air ekstrem, ukuran perimeter lebih tebal daripada tumbuhan pada cekaman air moderat. Penebalan pada perimeter ini bertujuan untuk memperkecil diameter stomata dan luas area stomata, sehingga laju transpirasi dapat ditekan. Hasil pengamatan mikroskopik stomata Urtica pilulifera pada perlakuan konrol, cekaman air moderat dan ekstrem, dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Struktur anatomis stomata Urtica pilulifera sebagai respon terhadap cekaman kekeringan. (C= kontrol, S= daun pada batang utama, B= daun pada cabang lateral, WS1= cekaman air moderat, WS2= cekaman air ekstrem) (Sumber: Ozygit & Akinci. 2009)

11

2.2. Penurunan Laju Fotosintesis dan Peningkatan Kadar Karotenoid Cekaman kekeringan akan menurunkan laju pertukaran gas antara atmosfer dengan ruang antar sel daun akibat menutupnya stomata. Kondisi ini mengakibatkan konsentrasi CO2 dalam ruang antar sel lebih rendah daripada O2. Pada tumbuhan C3, hal ini beresiko menimbulkan fotorespirasi, yaitu penurunan laju fotosintesis akibat oksidasi Ribulosa Bifosfat (RuBP) oleh oksigen. Selain disebabkan oleh kandungan CO2 dalam RAS daun yang menurun, penurunan laju fotosintesis juga disebabkan oleh terganggunya fotofosforilasi pada reaksi terang, yaitu tidak terjadinya fotolisis air untuk menghasilkan ATP dan NADPH. Efek dari penurunan laju fotosintesis ini yaitu terjadi kerusakan pada komponen fotosintesis, seperti fotosistem dan klorofil.. Klorofil merupakan salah satu komponen terbesar kloroplas dalam melakukan fotosintesis, dan kandungan klorofil relatif berbanding lurus dengan laju fotosintesis. Konsentrasi pigmen fotosintetik yang rendah secara langsung mempengaruhi batasan fotosintesis dan produktivitas primer (Anjum, et al. 2011). Stancato, et al. (2001) menyimpulkan dari hasil penelitian mereka pada Cattleya tebrenosa, bahwa jumlah klorofil pada tanaman yang mengalami cekaman kekeringan menurun secara signifikan, seperti yang terlihat pada gambar 5. Penurunan kandungan klorofil ini diakibatkan oleh rusaknya komponen klorofil akibat fotooksidasi terutama pada fotosistem II (PSII) karena PSII yang berperan dalam fotolisis air tidak dapat bekerja. Selain itu, cekaman air menurunkan kandungan klorofil karena tidak dapat diproduksinya klorofil. Kandungan klorofil cenderung menurun seiring lamanya waktu cekaman kekeringan. Walaupun

12

kandungan klorofil menurun, tumbuhan masih dapat berfotosintesis dengan menggunakan klorofil yang masih aktif.

Gambar 5. Grafik rasio Fv/Fm pada daun pertama dan ketiga pada tanaman kontrol (,, secara berurutan) dan pada tanaman yang kekurangan air (, , secara berurutan), dari Cattleya tenebrosa (Orchidaceae). (Fv, fluoresensi klorofil variabel; Fm, fluoresensi klorofil maksimum perlakuan). (Sumber: Stancato, et al. 2001). Berbeda dengan jumlah klorofil yang menurun, kandungan karotenoid dan senyawa antosianin lainnya justru meningkat pada saat kekurangan air (Tahkokorpi, 2010). Hasil penelitian Nazarli et al. (2011) menunjukkan bahwa cekaman kekeringan meningkatkan pembentukan senyawa karotenoid pada tumbuhan Heliathus annus. (gambar 6.). Peningkatan kadar karotenoid diduga berperan dalam perlindungan klorofil karena oksidasi oleh ROS yang banyak dihasilkan pada saat cekaman kekeringan. Dengan kata lain, kandungan klorofil berbanding terbalik dengan kandungan karotenoid dan berbanding lurus dengan cekaman air (Xiao, et al. 2008).

13

Penyiraman setelah 6 hari Penyiraman setelah 8 hari Penyiraman setelah 10 hari

Gambar 6. Grafik pengaruh cekaman kekeringan terhadap kandungan karotenoid pada Helianthus annus. (Sumber: Nazarli, et al. 2011) 2.3.Pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) dan Antioksidan Reactive Oxygen Species (ROS) disebut juga Active Oxygen Species (AOS) yang merupakan hasil reduksi parsial O2 atmosfer (Carvalho, 2008). Pada dasarnya ada empat bentuk dari ROS seluler, yaitu singlet oksigen (1O2), radikal superoksida (O2-), hidrogen peroksida (H2O2), dan radikal hidroksil (HO.), dimana kesemuanya memiliki waktu paruh dan berpotensi sebagai sumber oksidasi. ROS bisa menjadi sangat reaktif, khususnya singlet oksigen dan radikal hidroksil. Tidak seperti O2 atmosfer, kedua ROS ini mampu mengoksidasi komponen seluler berkali-kali, misalnya protein, lipid, DNA dan RNA. ROS memiliki dua efek terhadap kondisi cekaman abiotik, tergantung pada jumlahnya didalam sel. Jika jumlah ROS dipertahankan dalam level yang rendah, maka ROS berfungsi sebagai komponen dalam jalur pensinyalan cekaman, memicu respon pertahanan terhadap cekaman maupun aklimasi. Namun, jika

14

mencapai level fitotoksisitas tertentu, ROS menjadi sangat berbahaya karena menginisiasi kaskade oksidatif yang tidak terkontrol yang menyerang membran sel dan komponen sel lainnya sehingga bisa menyebabkan kematian. Dalam kondisi normal, tumbuhan sebenarnya memproduksi ROS secara terus menerus. Tidak seperti singlet oksigen dan radikal hidroksil yang jumlahnya dipertahankan dibawah level minimum, superoksida dan H2O2 disintesis dalam laju yang sangat tinggi dalam keadaan normal. Salah satu komponen seluler yang berperan dalam menghasilkan ROS adalah kloroplas (Carvalho, 2008). Selama fotosintesis, energi dari sinar matahari ditangkap dan ditransfer ke dua kompleks pemanen-cahaya (fotosistem I dan fotosistem II) pada membran tilakoid kloroplas. Rangkaian reaksi redoks terjadi selama rantai transpor elektron hingga elektron mencapai CO2 pada reaksi gelap. Namun, terdapat suatu keadaan yang tidak umum pada jalur ini, dimana digunakan akseptor elektron lain, yaitu oksigen, alihalih CO2. Singlet oksigen bisa terbentuk oleh transfer energi dari keadaan klorofil tereksitasi ke O2. Selain itu, komponen transpor elektron membran tilakoid pada PSI, seperti Fe-S, dapat melakukan auto-oxydable yang mereduksi O2 menjadi superoksida dan H2O2. Selama fotosintesis, terdapat jalur lain yang disebut fotorespirasi, yang juga menghasilkan ROS (Gambar 7). Enzim dalam siklus Calvin, Rubisco, memainkan peranan dalam kasus ini. Rubisco mengkatalis karboksilasi dan oksigenasi dari RuBP. Rasio karboksilasi dan oksigenasi sangat tergantung pada konsentrasi relatif dari O2 dan CO2. Produk dari karboksilasi adalah dua molekul fosfogliserat (C3), sedangkan reaksi oksigenasi menghasilkan hanya satu

15

fosfogliserat dan satu molekul fosfoglikolat (C2). Molekul C2 ini pertama kali didefosforilasi di kloroplas menghasilkan glikolat. Kemudian, glikolat ditransfer ke peroksisom, dan oleh enzim glikolat oksidase diubah menjadi glioksilat dan menghasilkan produk samping H2O2 (Lambers, et al. 1998). Pada saat tumbuhan mendapat cekaman kekeringan, khususnya tumbuhan C3, laju fotorespirasi akan meningkat dan mengakibatkan produksi ROS melebihi ambang batas. Rantai transpor elektron mitokondria juga berperan dalam pembentukan ROS pada kondisi normal, walaupun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kloroplas dan peroksisom pada saat ada cahaya. Diperkirakan sekitar 1-2% dari konsumsi oksigen yang direspirasi oleh mitokondria tumbuhan, akan digunakan untuk membentuk superoksida. Produksi ROS ini terjadi terutama pada kompleks I dan III dari rantai transpor elektron mitokondria (Carvalho, 2008).

Gambar 7. Jalur fotorespirasi pada sel tumbuhan fotosintetik. (Sumber: Carvalho, 2008).

16

Untuk menanggulangi produksi ROS secara terus menerus, tumbuhan memiliki antioksidan enzimatik dan nonenzimatik yang berfungsi sebagai suatu sistem kooperatif yang sangat efisien. Senyawa utama yang berperan yaitu superoksida dismutase (SOD), enzim dan metabolit dari siklus askorbat-glutation, dan katalase. Enzim-enzim ini terletak pada seluruh bagian sel tumbuhan, kecuali katalase yang secara khusus terletak di peroksisom. SOD adalah enzim yang paling awal merespon serangan ROS dengan cara mengubah superoksida, salah satu ROS yang diproduksi pertama kali menjadi oksigen dan H2O2. Namun, reaksi ini hanya mengubah satu ROS ke ROS lainnya, dan H2O2 harus segera dihancurkan karena dapat menyerang protein tiol. Enzim utama yang mengubah H2O2 adalah katalase dan askorbat peroksidase (APX). Namun, keduanya memiliki afinitas yang berbeda terhadap ROS dan juga memiliki aturan seluler yang berbeda. Katalase tidak memerlukan suatu reduktan untuk mengubah H2O2, sedangkan APX memerlukan suatu reduktan yaitu askorbat. Afinitas katalase terhadap H2O2 juga lebih rendah dibandingkan APX terhadap H2O2. Oleh sebab itu, APX, suatu enzim yang terdapat pada tiap bagian sel yang memproduksi ROS, berfungsi sebagai regulator untuk menjaga level ROS intraseluler. Sedangkan katalase yang terletak secara khusus di peroksisom, berfungsi sebagai pembuang kelebihan ROS yang diproduksi di bawah kondisi cekaman. Enzim terakhir dari siklus askorbat/glutation, yaitu glutation reduktase (GR), memiliki peranan penting dalam menjaga jumlah glutation dalam keadaan tereduksi (GSH). GSH dapat berfungsi sebagai antioksidan secara langsung (non-

17

enzimatik), dengan cara mengambil singlet oksigen, superoksida, dan radikal hidroksil (Bartoli, et al. 1999) Konsentrasi senyawa antioksidan berbanding lurus terhadap konsentrasi ROS. Pada beberapa jenis tumbuhan, tidak semua jenis ROS dihasilkan dalam jumlah yang banyak. Misalnya pada Triticum aestivum dan Lotus corniculatus, jumlah superoksida tidak meningkat secara signifikan, sehingga jumlah SOD juga relatif tidak meningkat. Terzi & Kadioglu (2006) melakukan pengukuran akktivitas enzim antioksidan pada daun, tangkai daun dan akar tanaman Ctenanthe setosa yang diberi perlakuan cekaman kekeringan dan hasilnya ditunjukkan oleh gambar 8, 9, dan 10. Enzim antioksidan yang dikur adalah superoksida dismutase, glutation reduktase, dan peroksidase.

Gambar 8. Grafik pengaruh cekaman kekeringan terhadap kandungan superoksida dismutase (SOD) pada Ctenanthe setosa. Huruf yang berbeda menunjukkan beda nyata (p<0,05).

18

Gambar 9. Grafik pengaruh cekaman kekeringan terhadap kandungan glutation reduktase pada Ctenanthe setosa. Huruf yang berbeda menunjukkan beda nyata (p<0,05).

Gambar 10. Grafik pengaruh cekaman kekeringan terhadap kandungan peroksidase pada Ctenanthe setosa. Huruf yang berbeda menunjukkan beda nyata (p<0,05). (Sumber: Terzi & Kadioglu. 2006) Dari gambar 8, dapat dilihat bahwa jumlah enzim SOD pada daun, tangkai daun, dan akar Ctenanthe setosa tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat terjadi pada tanaman yang telah teradaptasi pada lingkungan kering, sehingga tidak mempengaruhi jumlah superoksida yang dihasilkan. Namun,

19

gambar 9 dan gambar 10 menunjukkan perubahan pada jumlah enzim glutation reduktase (GR) di akar dan peroksidase (POD) di daun. Hal ini dikarenakan kedua enzim ini memiliki afinitas terhadap hampir semua jenis ROS, tidak seperti SOD yang memiliki afinitas terhadap superoksida saja. 2.4. Akumulasi Senyawa Osmoprotektan. Salah satu strategi tumbuhan dalam mentoleransi cekaman adalah dengan meningkatkan produksi berbagai tipe senyawa organik yang kompatibel, yang dikenal sebagai senyawa osmoprotektan. Senyawa osmoprotektan memiliki berat molekul yang kecil, kelarutannya dalam air tinggi, dan bersifat non-toksik bahkan pada konsentrasi yang tinggi dalam sitosol. (Serraj & Sinclair, 2002). Penyesuaian osmotik (osmotic adjusment) adalah suatu mekanisme pengaturan kandungan air daun (leaf water content) dengan menurunkan potensial air. Penyesuaian osmotik dilakukan dengan cara mengakumulasi senyawa yang kompatibel, seperti gula, oligosakarida, prolin, polyol, glutamat, dan osmolit lainnya seperti protein hidrofilik (Charron & Quatrano, 2009). Prolin merupakan senyawa terpenting dalam sitosol dan diakumulasi oleh tumbuhan selama adaptasi pada berbagai cekaman. Pada beberapa tumbuhan, biosintesis prolin diregulasi oleh hormon yang sama yang meregulasi bukaan stomata pada cekaman kekeringan, yaitu ABA. Pemberian ABA eksogen pada Arabidopsis thaliana menginduksi ekspresi gen At-P5S dan At-P5R, gen yang berperan dalam biosintesis prolin pada A. thaliana (gambar 11). Namun, pada bayam, tembakau dan bunga matahari, kandungan

20

prolin tidak dipengaruhi oleh pemberian ABA eksogen. Perbedaan respon tumbuhan terhadap ABA disebabkan oleh adanya perbedaan dalam kaskade transduksi sinyal. Pada tanaman yang memiliki gen responsif terhadap ABA, kehadiran ABA akan mengaktifkan faktor transkripsi gen biosintesis prolin, seperti pada A. thaliana. Sebaliknya pada tanaman yang tidak memiliki gen responsif terhadap ABA, kehadiran ABA tidak berpengaruh pada kandungan prolin. Pada kelompok tanaman ini, biosintesis prolin kemungkinan diregulasi oleh faktor lain.

Grambar 11. Grafik pengaruh pemberian ABA eksogen terhadap ekspresi gen AtP5S dan At-P5R. (A. Total RNA yang difraksinasi dalam gel agarosaformaldehida; B. kandungan prolin bebas). (Sumber: Savoure, et al. 1997).

21

Selain prolin, senyawa osmoprotektan lain adalah fruktan. Fruktan bisa diakumulasi dalam jangka waktu pendek maupun panjang pada organ heterotrof, seperti akar, batang dan biji, atau pada organ autotrof seperti daun. Biosintesis fruktan dari sukrosa dikatalisis oleh enzim sukrosa:sukrosa 1-fruktosiltransferase (1-SST) yang mentransfer fruktosil dari satu sukrosa ke sukrosa lainnya. Roover, et al. (2000) meneliti pengaruh cekaman kekeringan terhadap akumulasi fruktan pada bibit Cichorium intybus dan hasilnya ditunjukkan pada gambar 12.

Gambar 12. Grafik konsentrasi fruktan pada akar (A) dan daun (B) pada tanaman Cichorium intybus (: tanaman kontrol; : tanaman yang mendapat cekaman kekeringan). (Sumber: Roover, et al. 2000) Dari grafik tersebut, konsentrasi fruktan mengalami peningkatan yang signifikan selama cekaman kekeringan dibandingkan kontrol. Peningkatan produksi fruktan disebabkan oleh peningkatan produksi sukrosa. Selama cekaman kekeringan, fotosintesis masih dapat berlangsung walaupun kelajuannya rendah. Proses yang paling terhambat dari kurangnya air ini adalah pembelahan sel, karena tidak mencukupinya air untuk mengisi volume sel hasil pembelahan. Karena pembelahan sel tidak terjadi, maka glukosa yang pada keadaan normal

22

dipolimerisasi menjadi selulosa sebagai salah satu penyusun dinding sel baru, menjadi menumpuk. Dengan demikian, penumpukan glukosa dapat berasal dari dua sumber, yaitu glukosa yang tidak digunakan sebagai sumber energi dalam pembelahan sel dan glukosa yang tidak dipolimerisasi menjadi selulosa. Penumpukan ini akan menginduksi pengubahan glukosa menjadi sukrosa, selanjutnya sukrosa dipolimerisasi menjadi fruktan. Akumulasi senyawa osmoprotektan pada masa cekaman kekeringan akan kembali menjadi normal (sama dengan tumbuhan yang tidak mendapat cekaman) jika dilakukan penyiraman kembali pada tumbuhan tersebut (Vajrabhaya, et al. 2001).

23

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan Berdasarkan analisis dalam pembahasan respon fisoanatomis tumbuhan terhadap cekaman kekeringan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Cekaman kekeringan menginduksi biosintesis ABA yang memicu pengecilan bukaan stomata untuk menurunkan laju transpirasi. 2. Pengecilan bukaan stomata menyebabkan penurunan laju fotosintesis karena laju difusi O2 dan CO2 menurun. Cekaman air menurunkan kandungan klorofil karena terjadi fotooksidasi klorofil dan penurunan produksi klorofil. Namun, cekaman air meningkatkan kandungan karotenoid karena karotenoid berfungsi mencegah oksidasi klorofil oleh ROS yang meningkat pada saat cekaman kekeringan. 3. Penurunan laju fotosintesis akibat mengecilnya bukaan stomata menyebabkan terjadinya fotorespirasi yang akan meningkatkan produksi ROS. Peningkatan jumlah ROS diimbangi dengan meningkatnya senyawa antioksidan yang bersifat enzimatik maupun non-enzimatik. 4. Cekaman kekeringan menyebabkan lingkungan memiliki potensial osmotik yang negatif terhadap sel tumbuhan sehingga aliran air ke luar dari sel. Tumbuhan mengakumulasi senyawa osmoprotektan seperti prolin dan fruktan untuk menurunkan potensial osmotik sel.

24

3.2. Saran Perlu adanya pendalaman pembahasan terhadap cekaman kekeringan pada tumbuhan yang lebih ditekankan pada regulasi tingkat gen dan mekanisme toleransi lain pada tumbuhan dalam menghadapi cekaman kekeringan.