Anda di halaman 1dari 12

ARAHAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI PAPUA BERBASIS SUMBERDAYA Recommendation on Resources Based Agricultural Development Acceleration in Papua

Wahyunto dan D. Kuntjoro


Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor

ABSTRAK
Papua merupakan provinsi dengan tingkat kemiskinan paling tinggi di Indonesia. Pada tahun 2003 kemiskinan di wilayah pedesaan berkisar sekitar 55%, sedangkan di perkotaan hanya 28%. Diindikasikan bahwa kemiskinan terjadi pada penduduk dengan mata pencaharian bertani. Sampai saat ini budaya bertani penduduk asli Papua masih peramu, dan sebagian sebagai peladang berpindah, dengan demikian sebagian besar sumberdaya lahan di Papua belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan Inpres No. 5 tahun 2007, arahan percepatan pembangunan Papua di sektor pertanian mempertimbangkan karakteristik dan potensi sumberdaya lahan dan sumberdaya manusia. Percepatan pembangunan pertanian Papua dapat diupayakan melalui klarifikasi status lahan untuk pembangunan pertanian oleh pemda dan masyarakat adat, pengembangan infrastruktur pertanian termasuk jaringan jalan, pasar, peningkatan SDM, dan pemberdayaan masyarakat untuk membangun sektor pertanian. Dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lahan yang tersedia secara tepat dan lestari akan dapat mengangkat daerah Papua sebagai sentra produksi pertanian di wilayah timur, memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat asli Papua, dan melestarikan sumber pangan lokal yang sudah terbukti adaptif untuk ketahanan pangan dan kelestarian budaya setempat. Kata Kunci : Pembangunan, pertanian, sumberdaya, percepatan, Papua

ABSTRACT
In general, the proportion of population living in poverty in Papua is still the highest among districts and provinces in Indonesia. In 2003, the percentages of poverty in urban area is about 28%, whereas in the villages is 55%. It is indicated that the poverty occurs within population dominated by farmers. Up to now, most farmers in Papua are conducting shifting cultivation and gathering natural resources. Therefore, land resources have not been utilized optimaly for agriculture. In line with Inpres (Presidents decree) No. 5, 2007, the direction of agricultural development acceleration in Papua Province should be based on both characteristic and potency of land and human resources. The efforts to speed up agricultural development in Papua can be executed by legalizing land status for agricultural development by local government and traditional society, developing infrastructures on agriculture including market and road network, improving the quality of human resources, and empowering society to build agricultural sectors. By optimizing the utility of available land resources properly and sustainably, Papua can be promoted as a central area of agro products in eastern Indonesia. It also can empower local people in the field of agriculture, so it can improve their prosperity and preserve local food sources which is adaptable for food security and local culture preservation. Keywords : Development, agriculture, land resources, acceleration, Papua

ampai saat ini pertanian masih merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan wilayah di kedua Provinsi Papua, yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat. Pada tahun 1990 sampai 2003, sektor ini mampu menyerap sekitar 72 sampai 77% tenaga kerja dan berkontribusi 15 sampai 24% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Hasil pertanian Papua sejauh ini masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan daerah. Realisasi investasi untuk sektor pertanian sangat kecil. Pada tahun 2003, jumlah investasi dari

dalam negeri untuk pertanian hanya 0,4% dan investasi luar negeri 4,24% dari jumlah realisasi investasi sebanyak Rp 19,99 triliun (Asmuruf, 2005). Data tahun 2003, Papua merupakan provinsi dengan tingkat kemiskinan paling tinggi di Indonesia. Kemiskinan di wilayah pedesaan sekitar 54%, sedangkan di perkotaan hanya 28%. Sebagai perbandingan, rumah tangga tanpa akses jalan di wilayah dataran seperti di Kabupaten Jayapura dan Merauke berturut-turut sebesar 24,5 dan 60,0%, namun di wilayah 39

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 1 No. 4, Desember 2007

perbukitan dan pegunungan seperti di wilayah Kabupaten Paniai dan Puncak Jaya, rumah tangga tanpa akses jalan berturut-turut sebesar 93 dan 98,5% (Dewan Ketahanan Pangan, 2005). Hal ini memberikan indikasi bahwa kemiskinan terjadi pada penduduk dengan mata pencaharian bertani. Budaya bertani penduduk asli Papua masih peramu, dan sebagian sebagai peladang berpindah, dengan demikian sampai saat ini sebagian besar sumberdaya lahan di Papua belum dimanfaatkan secara optimal. Data dan informasi sumberdaya lahan mempunyai peranan sangat penting dalam menunjang program pembangunan pertanian suatu daerah, khususnya dalam menyusun perencanaan pengembangan wilayah melalui pemilihan daerah-daerah berpotensi. Untuk mengetahui wilayah-wilayah berpotensi tersebut diperlukan data sumberdaya lahan. Potensi sumberdaya lahan untuk pertanian di Papua masih relatif besar. Namun, keterbatasan infrastruktur, keterisolasian dari pasar domestik dan internasional, keterbatasan dan ketidakmerataan penyebaran sumberdaya manusia terampil, dan gangguan keamanan merupakan disinsentif untuk penanaman modal di Papua (Suradisatra, 2001 dan 2003a). Pemanfaatan sumberdaya lahan di Papua perlu disesuaikan dengan kondisi dan sifat-sifat sumberdaya lahan tersebut serta kondisi lingkungannya, sehingga dapat dicapai pemanfaatan sumberdaya lahan secara optimal, seimbang, dan berkelanjutan. Di Papua, sumberdaya lahan pertanian sebagai sumber penghasil pangan, sumber pendapatan petani, maupun sumber pendapatan daerah, perlu digali dan dikembangkan secara optimal, mengingat sebagian besar masyarakat etnis Papua kehidupannya masih tergantung pada sumberdaya lahan dan lingkungannya. Dengan demikian, usaha pengembangan pertanian, secara tidak langsung juga ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat Papua. Pemanfaatan potensi sumberdaya lahan daerah ini secara terarah dan terpadu dapat menumbuhkan pusatpusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia bagian timur, khususnya di daerah Papua. 40

PERMASALAHAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI PAPUA


Penggunaan lahan dan vegetasi Sebagian besar wilayah Papua (70%) masih berupa hutan (Tabel 1). Menurut Pusat Perpetaan Kehutanan, Departemen Kehutanan (2005), kawasan hutan tersebut 47% berupa hutan lindung dan hutan perlindungan dan pelestarian alam, umumnya berupa hutan hujan tropis yang menempati daerah atas dan hutan rawa di daerah dataran. Di daerah hutan rawa umumnya terdapat tanah gambut, sebagian hutan rawa tersebut ditumbuhi pohon sagu. Sementara di sekitar Merauke dan Pegunungan Jayawijaya terdapat padang rumput, hutan savana, dan sebagian berupa tanah tandus dengan luas sekitar 2,15 juta ha. Padang rumput juga dijumpai di wilayah dataran tinggi sekitar Wamena (Lembah Baliem). Selain berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah, jenis-jenis vegetasi tertentu dapat merupakan petunjuk tentang keadaan tanahnya, misalnya mangrove merupakan indikasi wilayah pantai yang airnya payau dan drainase sangat terhambat (tergenang). Jenis vegetasi ramin dan mentangur misalnya merupakan indikasi adanya tanah gambut. Hutan sagu terdapat secara terpencarpencar, luasnya sekitar 667 ribu ha dan umumnya sudah dimiliki penduduk setempat secara turun-temurun. Sagu merupakan sumber makanan pokok, sehingga perlu dilindungi dan dipertahankan. Mengingat mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah berburu (rusa, kanguru, babi, dan sebagainya) dan menokok sagu, maka bila daerah ini dibuka perlu disediakan atau disisihkan sebagian lahannya untuk padang perburuan. Daerah dataran dan pinggiran rawa sudah banyak yang dimanfaatkan untuk pertanian. Wilayah yang telah digunakan untuk budi daya pertanian sekitar 17,6%, digunakan sebagai tegalan, sawah, pekarangan/pemukiman termasuk pemukiman transmigasi, perkebunan, kebun campuran dan pertambangan, sedangkan 8,9% berupa tanah tandus, savana, rawa, dan penggunaan lainnya.

Wahyunto dan D. Kuntjoro : Arahan Percepatan Pembangunan Pertanian di Papua

Tabel 1. Penggunaan lahan dan penutupan vegetasi di Papua


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Penggunaan lahan/vegetasi Hutan lahan kering Hutan rawa bergambut Hutan rawa Hutan mangrove Rawa Tegalan, semak, dan kebun campuran Belukar rawa Hutan tanaman industri (HTI) Perkebunan Ladang Sawah Pemukiman dan kawasan transmigrasi Tanah terbuka, savana, dan tandus Kawasan pertambangan Penggunaan lain Jumlah Luas (x 1000 ha) % 20.098 47,6 5.466 13,0 2.510 5,9 1.622 3,8 561 1,3 5.547 13,1 1.317 3,1 4 0,0 330 0,8 917 2,2 32 0,1 577 1,4 2.157 5,1 10 0,0 1.050 2,5 42.198 100,0

Sumber : Hasil analisis citra satelit rekaman tahun 2004-2007, didukung informasi dari Badan Pertanahan Nasional (2005), Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Papua (2006), Pusat Perpetaan Kehutanan, Departemen Kehutanan (2005).

Budi daya pertanian di Papua Sebagian besar petani di Papua melaksanakan kegiatan pertanian untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga, hanya sebagian kecil saja yang dipasarkan untuk memperoleh kebutuhan hidup lain seperti sandang dan kebutuhan sekunder lainnya. Ciri lain dari pertanian semacam ini adalah pembagian tugas antara pria dan wanita dalam kehidupan sehari-hari sangat jelas, dan pertanaman berpola campuran sebagai strategi memperkecil risiko gagal panen. Selama tidak ada pengaruh budaya dari luar, penyakit maupun bencana alam lainnya, maka sistem ini dapat berjalan dengan baik dalam menunjang kehidupan rumah tangga. Hal ini ditunjang oleh sistem sosial yang kuat dalam membentuk sistem komunal dan mekanisme saling membantu dan mengatasi permasalahan sudah menjadi budaya dan adat masyarakat. (Suradisastra et al., 1991 dan 2001). Secara umum, budaya bertani di Papua mencakup budaya meramu (hunting and gathering), ladang berpindah (slash-and-burn agriculture), usaha tani transisi (sedenter), dan usaha tani maju (semi-komersil dan komersil).

Meramu dan ladang berpindah merupakan budaya yang dianut masyarakat lokal, terutama di zona Manokwari-Fakfak, zona Pegunungan, dan Merauke-Digoel. Sebagian etnis Arfak di zona Manokwari masih menganut budaya meramu dan ladang berpindah. Sebagian telah berevolusi ke arah usaha tani sedenter, terutama bagi etnis lokal yang tergabung dalam program transmigrasi nasional seperti di Desa Prafi Mulya yang semula merupakan lokasi transmigrasi. Etnis Papua lokal umumnya menganut budaya lumbung, yaitu penanaman tanaman pangan (ubijalar, talas) secara bertahap (relay planting), sehingga panen dapat dilaksanakan sewaktuwaktu ketika petani membutuhkannya (Kepas, 1990). Teknik ini mampu menjaga kelangsungan konsumsi selama berabad-abad karena tata pengaturan dan pelaksanaannya dikontrol oleh lembaga norma dan adat setempat. Etnis pendatang, terutama petani transmigran memiliki keterampilan dan penguasaan teknik bertani modern, telah memiliki orientasi ekonomi dan agribisnis. Sebagian besar merupakan petani maju yang telah menerapkan teknologi tepat-guna dan berorientasi produksi untuk memenuhi kebutuhan dan dijual guna 41

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 1 No. 4, Desember 2007

menambah pendapatan. Sebagian lainnya merupakan usaha tani komersil dimana petani memilih dan mengembangkan komoditas yang memiliki nilai pasar tinggi (Dimyati et al., 1991). Kondisi sumberdaya lahan dan lingkungan Wilayah Papua dengan luas 421.981 km2 atau 42.198.100 ha (Badan Pusat Statistik, 2005) merupakan pulau paling timur dan terluas ( 22% luas Indonesia), terdiri atas lahan rawa (rawa pasang surut dan non pasang surut) seluas 11.942.100 ha atau 28,3% dan lahan kering (upland) seluas 30.256.000 ha atau 71,7%. Sumberdaya lahan di Papua belum banyak digali sifat-sifat dan potensinya untuk berbagai tujuan, sehingga masih sedikit sekali pemanfaatannya di sektor pertanian. Penelitian tanah di Papua sudah dimulai sejak tahun 1932 (Soepraptohardjo et al., 1971), namun sampai sekarang wilayah yang telah diteliti masih sangat sempit. Penelitian/survei dan pemetaan tanah sampai periode tahun 1990-an baru sekitar 66.989 km2 (Retno et al., 1994) atau 15,8% dari luas total seluruh Papua. Bersumber dari Peta Tanah Irian Jaya skala 1:1.000.000 (Wahyunto dan Marsoedi et al., 1994) dan Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2000), berdasarkan keadaan tanah dan fisiografinya, wilayah Papua dibedakan menjadi 33 satuan peta. Wilayah Papua didominasi oleh tanah Inceptisols (Kambisols) sekitar 22,2%, kemudian Ultisols (Podsolik) sekitar 21,4%. Tanah Inceptisols dan Ultisols umumnya berpenyebaran di daerah lahan kering (upland). Kedua tanah ini untuk pengembangan pertanian mempunyai kendala kemasaman tanah dan tingkat kesuburan yang rendah. Selain itu dijumpai tanah-tanah Alfisol (Mediteran), Mollisol (Renzina), Gleysol, dan Aluvial yang luasnya mencapai 31,8% dan mempunyai potensi relatif tinggi untuk pengembangan pertanian dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan lingkungan/iklim setempat (Pusat Penelitian dan Pengembangan 42

Tanah dan Agroklimat, 2000). Tanah Entisols (Litosols dan Regosols) seluas 15,9% bila dikembangkan untuk pertanian mempunyai faktor penghambat tanah dangkal, berbatu, dan berada pada lereng yang curam serta tekstur berpasir. Tanah-tanah ini mempunyai kesuburan alami yang sangat rendah dan tidak berpotensi untuk pertanian. Tanah Histosols (Organosol) terdapat di dataran rawa pantai dan pedalaman meliputi luas sekitar 8,7%. Kendala untuk pengembangan pertanian pada tanah ini adalah adanya lapisan gambut yang tebal dan selalu tergenang air. Lahan rawa yang ada di Papua dikelompokkan ke dalam tipologi: (1) lahan rawa lebak bertanah aluvial seluas 2,71 juta ha, dan bertanah gambut atau berasosiasi dengan tanah gambut seluas 3,59 juta ha; (2) rawa pasang surut air tawar 2,32 juta ha, dan rawa pasang surut air payau/salin 1,89 juta ha (Widjaja-Adhi, 1995). Iklim di Papua umumnya cukup basah. Variasi curah hujan cukup besar, dari 1.500 mm sampai 5.000 mm per tahun, dengan tendensi makin dekat ke Pegunungan Jayawijaya semakin basah. Curah hujan rata-rata di kawasan pegunungan berkisar antara 1.823 dan 4.355 mm/tahun. Namun menurut RePPProT (1989), curah hujan di daerah ini bisa mencapai 5.000 mm/tahun yang terjadi di daerah pegunungan utara, sebelah selatan S. Turui dan S. Idenberg serta dekat muara sungainya (Djaenudin, 1994). Wilayah di sekitar Merauke paling kering dengan curah hujan <1.500 mm/tahun dan musim kemarau cukup panjang (Juli-November), sedangan pada ketinggian di atas 4.500 m dpl terdapat salju yaitu di puncak Jayawijaya. Berdasarkan sistem Agroklimat Oldeman et al. (1980), Indonesia dibedakan menjadi lima zona utama agroklimat (A-E) atau 14 zona agroklimat, dimana 11 zona agroklimat diantaranya terdapat di Papua (zona agroklimat A sampai D2). Jumlah curah hujan rata-rata bulanan meningkat ke pedalaman yang berupa daerah perbukitan dan pegunungan (upland), mengikuti bertambahnya ketinggian tempat dari permukaan laut.

Wahyunto dan D. Kuntjoro : Arahan Percepatan Pembangunan Pertanian di Papua

Berdasarkan jumlah dan distribusi curah hujan, daerah upland mempunyai regim kelembaban tanah udik, sedangkan di daerah rendah/berawa (lowland) termasuk akuik. Makin besar curah hujan dan makin lama periode hujannya, proses pencucian hara di dalam tanah menjadi semakin kuat/intensif, sehingga tanah dipermiskin, sementara jika curah hujan terbatas pencucian hara relatif rendah. Infrastruktur Secara umum kondisi infrastruktur di Papua terutama di kawasan pegunungan tengah (rangkaian Pegunungan Jayawijaya dan Pegunungan Sudirman) masih memprihatinkan, jalan belum dibangun dan sebagian besar listrik belum menyala. Menurut Dinas Pekerjaan Umum Papua (2006), panjang jalan di Papua mencapai 4.677 km. Minimnya pembangunan infrastruktur jalan di Papua, hingga saat ini sebagian besar daerah tidak bisa dijangkau dengan transportasi darat. Untuk mencapai lokasi yang dituju, ada dua pilihan, menggunakan transportasi udara atau laut. Namun transportasi udara umumnya menjadi pilihan utama. Tersedia dua jenis transportasi udara di Papua, yakni penerbangan niaga berjadwal dan penerbangan non niaga (yang dilakukan sejumlah misionaris). Di Papua ada 45 landasan lapangan udara yang beroperasi. Ketergantungan masyarakat Pegunungan Jayawijaya terhadap angkutan udara teramat besar. Dampaknya, harga barang-barang yang dibutuhkan masyarakat menjadi mahal (Dinas Perkerjaan Umum Provinsi Papua, 2006). Harga kebutuhan pokok bisa mencapai enam kali lipat dari harga yang berlaku di Jayapura, Sorong dan Manokwari. Untuk menunjang transportasi laut dan danau, telah dibangun enam dermaga yaitu Yahim, Kamaiyaka dan Ayapo (Distrik Sentani), Pagai (Distrik Kaureh), Depapre (Distrik Depapre) dan Youlim Sari (Distrik Demta). Pelabuhan Jayapura melayani pelayaran antar samudera, kapal perintis/nusantara, kapal lokal, tanker serta lainnya. Sedangkan pelabuhan di Nabire hanya melayani kapal perintis/nusantara, kapal lokal, tanker serta lainnya.

Trans Papua (dulu disebut Trans Irian), yakni jalan yang menghubungkan JayapuraWamena (panjang jalan 585 km, diresmikan tahun 1985) belum selesai dibangun. Dari arah Wamena jalan yang sudah beraspal baru sekitar 37 km, selanjutnya kilometer 37-48 masih setengah aspal, berlanjut jalan sungai mati hingga kilometer 140, distrik Lereh Kabupaten Jayapura praktis tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. Kawasan ini sebenarnya sudah dibuka pada tahun 1990-an , tetapi kemudian tertutup karena jarang dilalui kendaraan (Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua, 2006). Seandainya pembangunan transportasi darat WamenaJayapura bisa segera direalisasikan, distribusi dan pemasaran hasil pertanian dapat terbuka lebar. Total jalan yang telah dibangun di daerah pegunungan Jayawijaya ke arah kabupaten di sekitarnya mencapai panjang 558,68 km, 26,2% diaspal, sisanya masih berupa jalan kerikil dan tanah. Klasifikasi jalan berdasarkan kondisinya tercatat 61% baik, 31% sedang, 5% rusak, dan 3% rusak berat (Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jayawijaya, 2006). Masalah infrastruktur di Papua pada kawasan pegunungan yang mendesak untuk dilaksanakan, dengan membuka hambatan akses darat antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya di kawasan pegunungan serta dengan kabupaten di pesisir. Hal ini dilakukan dengan melanjutkan pembangunan poros jalan darat JayapuraWamena, pembangunan ruas Wamena-Kenyam, serta pembangunan jalan antar kecamatan serta jalan usaha tani. Pengembangan infrastruktur untuk menunjang pertanian berdasarkan arahan penggunaan lahan dan kedekatan (aksesibilitas) daerah yang berpotensi dengan prasarana transportasi yang telah ada. Daerah yang sesuai dan berjarak 5 km di kiri dan kanan jalan dan sungai yang digunakan untuk transportasi air, secara geografis dianggap berpotensi untuk dikembangkan dalam jangka pendek menjadi daerah pertanian. Pada daerah-daerah yang dianggap berpotensi untuk dikembangkan pertanian, pengembangannya harus diikuti dengan rencana pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan desa, saluran irigasi, saluran drainase, 43

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 1 No. 4, Desember 2007

bangunan air, alat dan mesin pertanian, serta rencana lokasi pasar.

ANALISIS/PEMECAHAN MASALAH
Sesuai Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres) Nomor 05/2007, Departemen Pertanian ditugaskan memberikan dukungan kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat untuk percepatan pembangunan di kedua provinsi tersebut. Berkaitan dengan itu, percepatan pembangunan pertanian berbasis sumberdaya digunakan dua pendekatan utama, yakni (1) analisis biofisik sumberdaya lahan dan teknologi pertanian dan (2) analisis sosialekonomi dan kelembagaan. Pendekatan yang pertama mencakup kajian, tentang : (a) evaluasi potensi sumberdaya lahan pertanian, (b) pengembangan infrastruktur pertanian, (c) pemantapan ketahanan dan diversifikasi pangan lokal, dan (d) pengembangan produksi bioenergi. Pendekatan yang kedua mencakup kajian: (a) pengembangan sumberdaya manusia di sektor pertanian, (b) pengembangan agroindustri, (c) pengembangan kelembagaan pertanian, dan sistem pemasaran komoditas pertanian. Analisis diarahkan kepada komoditas pertanian unggulan hasil musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) pada masingmasing provinsi dan kabupaten untuk mendukung : (1) pertumbuhan perekonomian daerah, yaitu komoditas yang secara nyata berpotensi meningkatkan pendapatan daerah yang dalam pengembangannya memerlukan investasi dari pihak ketiga. Termasuk dalam kelompok ini adalah kelapa sawit dan kakao; (2) peningkatan perekonomian rakyat, yaitu komoditas yang secara langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, tidak mutlak memerlukan areal yang luas (10-100 ha dalam satu hamparan), dan tidak mutlak memerlukan investasi pihak ketiga. Contoh kelompok ini adalah kakao, kopi, dan ternak; dan (3) peningkatan diversifikasi dan ketahanan

pangan lokal, yaitu komoditas yang dapat diusahakan oleh masyarakat dalam skala usaha rumah tangga dan penggunaan utamanya adalah untuk konsumsi keluarga. Contoh kelompok ini adalah sagu, ubijalar, talas, dan gembili.

DUKUNGAN DATA POTENSI SUMBERDAYA LAHAN


Berdasarkan Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Indonesia skala 1:1.000.000, Provinsi Papua dan Papua Barat memiliki sekitar 17,3 juta ha lahan yang sesuai untuk pertanian, 7,2 juta ha di antaranya sesuai untuk dijadikan lahan sawah, 4,1 juta ha untuk pertanian tanaman semusim lahan kering, dan 5,6 juta ha untuk tanaman perkebunan dataran rendah (<700 m dpl). Di dataran tinggi, lahan yang sesuai untuk lahan sawah, tanaman semusim lahan kering, dan tanaman perkebunan berturut-turut adalah sekitar 0,2; 0,4; dan 0,1 juta ha (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2001). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2007) melakukan kajian untuk percepatan pembangunan pertanian di Papua. Dalam menyusun arahan pengembangan komoditas pertanian unggulan, pemilihan prioritas tanaman yang diunggulkan adalah mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Papua tahun 2004/2005, dan Program Pembangunan Pertanian (Badan Pertanahan Nasional, 2005). Komoditas tanaman pertanian yang diunggulkan untuk setiap kabupaten mengacu pada hasil musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) oleh pemerintah daerah tingkat kabupaten dan provinsi. Umumnya dalam satu wilayah kabupaten hanya satu atau dua komoditas pertanian yang diprioritaskan untuk dikembangkan dengan mempertimbangkan potensi sumberdaya lahan, permintaan pasar, ketersediaan dan kualitas sumberdaya manusia, dan kondisi sosial ekonominya. Misalnya di Kabupaten Jayapura, komoditas pertanian yang diunggulkan adalah kakao, sagu, diintegrasikan dengan ternak babi dan sapi. Dengan demikian di daerah Kabupaten

44

Wahyunto dan D. Kuntjoro : Arahan Percepatan Pembangunan Pertanian di Papua

Tabel 2. Potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan komoditas pertanian unggulan di Papua
No. Komoditas pertanian unggulan Luas wilayah potensial ha 1.429.644 477.321 81.098 78.781 180.733 254.880 4.634 268.782 50.976 2.826.849 426.345 296.588 210.856 1.237.327 2.171.116 836.470 215.489 2.717.947 3.769.906 210.855 6.951 217.806 8.985.677

I. Perkebunan 1. Sawit 2. Kakao 3. Karet 4. Kelapa 5. Kopi 6. Sawit atau kakao 7. Sawit atau kopi 8. Tebu atau jambu mete 9. Kopi atau hortikultura (buah-buahan) Jumlah I II. Palawija dan hortikultura 1. Ubijalar, jagung, padi gogo 2. Padi gogo dan palawija 3. Hortikultura, palawija, sayuran 4. Hortikultura (buah-buahan) Jumlah II III. Sagu dan padi sawah 1. Sagu 2. Sagu, sayuran, palawija 3. Padi sawah, palawija Jumlah III IV. Perikanan dan peternakan 1. Perikanan 2. Peternakan Jumlah IV Luas wilayah potensial (I+II+III+IV)

Sumber : Diolah dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (2000, 2001 dan 2002); Peta RTRWP Papua (Badan Pertanahan Nasional, 2005), Peta Penggunaan Lahan Papua (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007)

Jayapura hanya diarahkan untuk pengembangan komoditas kakao dan sagu, walaupun lahan tersebut juga berpotensi tinggi untuk pengembangan komoditas tanaman pertanian lainnya, misalnya kelapa sawit dan karet. Potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan komoditas pertanian unggulan di Papua disajikan pada Tabel 2. Di Papua lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman perkebunan, paling luas adalah untuk kelapa sawit 1,4 juta ha, kemudian diikuti kakao 477 ribu ha, kopi 180 ribu ha, dan tebu dan atau jambu mete 268 ribu ha (Tabel 2). Di daerah pantai utara Papua, lahan potensial

yang cukup luas untuk pengembangan komoditas kelapa sawit terdapat di Kabupaten Nabire >50.000 ha, Sarmi dan Keerom masingmasing >15.000 ha. Sedangkan di wilayah kepala Burung Papua, lahan yang sesuai untuk pengembangan kelapa sawit antara 25.00060.000 ha, terdapat di Kabupaten Sorong, Fakfak, Bintuni, dan Kaimana. Wilayah potensial dengan luasan 10.000 ha atau lebih untuk pengembangan kakao dan kelapa dapat dikembangkan di Kabupaten Sarmi, Waropen, Nabire, Manokwari, dan Kaimana (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2000, 2001, dan 2002; dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007).

45

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 1 No. 4, Desember 2007

Di kawasan pegunungan, dukungan lahan sangat menonjol untuk pengembangan komoditas pangan lokal seperti ubijalar, padipadian, dan palawija. Lahan potensial untuk pengembangan tanaman ubijalar, jagung, dan padi gogo seluas 426 ribu ha. Di Kabupaten Jayawijaya dan Puncak Jaya, terdapat lahan potensial untuk komoditas ubijalar, jagung, dan palawija seluas 150.000 ha. Petani di wilayah ini tidak mengusahakan komoditas pangan lain. Ubijalar atau hipere merupakan komoditas eksklusif untuk Kabupaten Jayawijaya (Suradisastra, 2003b dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 1998). Sebaliknya, Kabupaten Paniai dapat mendukung pengembangan pangan komoditas padi, palawija, jagung, dan padi gogo, serta sagu di lahan sekitar 48.000 ha. Di kawasan pegunungan ini juga berpotensi untuk pengembangan tanaman hortikultura (buah-buahan dan sayuran dataran tinggi), serta tanaman kopi dengan luas lahan sekitar 210 ribu ha. Kopi Wamena dan jeruk Bokondini termasuk komoditas pertanian yang telah dipasarkan ke luar Papua (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 1997). Kawasan dataran rendah Papua bagian selatan mencakup lima kabupaten, yakni Kabupaten Merauke, Mappi, Boven Digoel, Asmat, dan Mimika. Kabupaten Boven Digoel memiliki wilayah terluas untuk tanaman perkebunan terutama untuk kelapa sawit 544.000 ha, kemudian diikuti Kabupaten Merauke 139.000 ha, Mappi 90.000 ha, dan Mimika 6.000 ha. Di Kabupaten Boven Digoel dan Mappi terdapat wilayah potensial untuk pengembangan tanaman karet masing-masing seluas 74.000 dan 6.900 ha. Untuk komoditas tanaman tebu dan jambu mete dapat dikembangkan di Kabupaten Merauke dengan luas wilayah potensial sekitar 268.000 ha. Lahan sawah sebagian besar terdapat di Kabupaten Merauke, umumnya ditanami padi oleh petani transmigrasi. Produksi padi saat ini mampu memenuhi kebutuhan empat kabupaten lainnya. Lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman padi sawah di seluruh 46

Papua sekitar 2,7 juta ha. Lahan potensial untuk padi sawah, terluas di Kabupaten Merauke 1,39 juta ha, kemudian diikuti Kabupaten Mappi 468.000 ha. Untuk Kabupaten Boven Digoel, Asmat, dan Mimika, area potensial untuk pengembangan tanaman padi berturut-turut seluas 81.000, 32.000, dan 27.000 ha. Kalau dilihat dari potensi lahan yang dimiliki, kabupaten-kabupaten di wilayah selatan Papua ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena lahan di wilayah ini terbentuk dari bahan aluvial yang subur. Kabupaten Merauke yang mencanangkan program MIRE (Merauke Integrated Rice Estate), merupakan pengembangan lahan pertanian berbasis tanaman padi (pilot project 20.000 ha) diintegrasikan dengan ternak, ikan, dan sarana pendukung lainnya. Direncanakan akan mengoptimalkan pemanfaatan mekanisasi pertanian, namun masih terkendala masalah penyediaan sumberdaya manusia yang memadai. Lahan yang berpotensi untuk pengembangan pertanian masih luas dan baru sebagian kecil saja yang dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Kawasan lahan yang berpotensi tinggi (Sesuai-1) untuk pengembangan komoditas pertanian unggulan yang diunggulkan oleh pemerintah daerah tingkat kabupaten hasil Musrembang seluas 8,9 juta ha (Tabel 2), lahannya telah dimanfaatkan sekitar 759 ribu ha, sehingga masih tersedia lahan untuk pengembangan pertanian seluas 8,2 juta ha (Tabel 3). Lahan yang sudah dibuka untuk sawah hanya 1,3% dari seluruh lahan yang sesuai untuk sawah. Luas sawah Papua sekitar 25,1 ribu ha terluas terdapat di Kabupaten Merauke 19.350 ha dan Kabupaten Nabire 2.940 ha (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2006). Karena berbagai kendala, tiap tahun luas tanam padi tidak pernah mencapai luas areal sawah yang ada. Sebetulnya sumberdaya air cukup banyak tersedia, namun karena belum dikelola secara optimal, tidak dapat digunakan untuk mengairi seluruh sawah yang ada. Produksi padi tahun 2006 mencapai 73.168 ton dengan produktivitas rata-rata 4,2 t/ha.

Wahyunto dan D. Kuntjoro : Arahan Percepatan Pembangunan Pertanian di Papua

Tabel 3. Arahan pengembangan komoditas pertanian unggulan di Papua


No. 1. 2. 3. 4. Komoditas pertanian unggulan Perkebunan Palawija dan hortikultura Sagu dan padi sawah Perikanan dan peternakan Jumlah Lahan potensial Telah digunakan Lahan untuk untuk pertanian pengembangan ha 2.826.849 442.563 2.384.286 2.171.116 90.369 2.084.747 3.769.906 189.962 3.579.944 217.806 37.074 180.732 8.985.677 759.968 8.225.709

Wilayah potensial untuk sagu terdapat di daerah-daerah dataran rawa di sekitar pantai, dataran rendah, dan pelembahan sungai yang sering tergenang dengan luas sekitar 900.000 ha. Kabupaten yang mempunyai wilayah untuk pengembangan sagu cukup luas adalah Kabupaten Kaimana 157.000 ha, Nabire 150.000 ha, Waropen 139.000 ha, Sarmi 106.000 ha, Asmat 90.000 ha, Sorong 64.000 ha, dan Fak-fak 60.000 ha. Sebagian besar tanaman sagu masih merupakan tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya. Biasanya masyarakat hanya mengambil anakan dari rumpun tanaman yang tumbuh liar dan menanam kembali di lahan kosong yang diperkirakan baik untuk pertumbuhan sagu. Berdasarkan peta wilayah pertanian (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2006), luas hutan sagu 513.000 ha, letak terpencar-pencar dan seluruhnya sudah dimiliki masyarakat, produksinya sekitar 139 ton dan melibatkan 1.663 petani.

perlu direhabilitasi. Tanpa usaha ini, degradasi lahan dan penurunan fungsi lingkungan akan semakin parah, dan rehabilitasinya jauh lebih berat, memerlukan waktu lama dan dana yang besar. Dengan rusaknya hidrologi daerah DAS hulu, daerah pantai/DAS hilir yang merupakan sentra pengembangan pertanian akan terancam bencana, karena intrusi air laut akan semakin masuk jauh ke daratan. Hutan dan tanaman tahunan diperlukan terutama di daerah hulu DAS untuk memelihara tata air dan sebagai kawasan penyangga, sehingga lingkungan secara menyeluruh tetap terpelihara. Di sepanjang pantai dengan tanaman bakau dan hutan nipah juga perlu dipertahankan untuk penyangga maupun tempat habitat berbagai satwa yang secara ekonomis mempunyai nilai tinggi dan penyeimbang lingkungan, sebagaimana juga di sepanjang aliran sungai maupun mata air. Pertanian dan pengusahaan tanaman semusim hanya dianjurkan pada lahan dengan lereng <8% apabila tanahnya sesuai. Pertanian ini tidak dianjurkan pada lahan datar sekiranya tanahnya berbahan induk pasir kuarsa maupun gambut dalam, serta tanah yang terlalu banyak berbatu sehingga menyulitkan pengolahan tanah. Lahan dengan lereng 8-16% dianjurkan sistem wanatani, dimana tanaman semusim diusahakan bersama dengan tanaman keras/tahunan. Sedangkan lereng 16-40% sebaiknya hanya diusahakan tanaman permanen/tahunan seperti perkebunan maupun kehutanan (Amin et al., 1994). Penggunaan lahan yang tepat dan pengelolaan yang sesuai adalah kunci dari pertanian berkelanjutan. Namun walaupun usaha pertanian tersebut menguntungkan, tetapi kalau 47

ARAHAN PENGEMBANGAN PERTANIAN BERKELANJUTAN


Sektor pertanian memiliki potensi menjadi salah satu sektor andalan dalam percepatan pembangunan Papua. Dengan sumberdaya lahan yang dimiliki, pembangunan pertanian diharapkan dapat menjadi pilar permbangunan ekonomi Papua dan Papua Barat. Tata ruang untuk daerah yang belum banyak terganggu, perlu diatur secara seksama dan ketat dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup. Sedangkan daerah yang sudah rusak/ terdegradasi dan menurun fungsi produksinya

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 1 No. 4, Desember 2007

kelestarian terusik, kondisi lingkungan terganggu, usaha pertanian tidak akan dapat bertahan lama. Lahan gambut memegang peranan penting dalam sistem hidrologi DAS. Kegagalan introduksi teknologi dan teknik bercocok tanam sering terjadi karena pengabaian terhadap nilai-nilai lokal serta adat dan norma yang berlaku di wilayah pembangunan pertanian. Sebaiknya proses adopsi teknologi dan penyuluhan pertanian mengikutsertakan kelembagaan lokal seperti kepala suku (ondoafie, keret, otini, dan lain-lain) dan lembaga tata pengaturan (sambanim-pakasanim, otini-tabenak, dan lainlain). Strategi yang ditempuh untuk mempertahankan ketahanan dan diversifikasi pangan lokal adalah melalui: pencapaian kemandirian beras, ubi-ubian dan sagu sampai mendekati 100%; mempertahankan tingkat konsumsi ubiubian dan sagu, sekurang-kurangnya pada tingkat konsumsi sekarang; mendorong produksi sayur-sayuran, buah-buahan dan ternak untuk meningkatkan gizi masyarakat; meningkatkan ketahanan (aksesibilitas, kecukupan, dan keamanan) pangan rumah tangga; meningkatkan pengembangan komoditas non beras; meningkatkan daya beli rumah tangga atas pangan; dan meningkatkan upaya kecukupan pangan menjadi kecukupan gizi. Untuk mengatasi ketimpangan/ketidak selarasan budaya bertani antara etnis pendatang dan etnis Papua terutama tentang ketrampilan dan pengetahuan bertani hendaknya dikembangkan program percepatan pembangunan pertanian dan adopsi-inovasi teknologi yang sesuai dengan kondisi sosial-budaya, kelembagaan, dan penguasaan teknologi stakeholder petani maju dan petani tertinggal. Program pembinaan dan penyuluhan seyogyanya dipilah menjadi bimbingan dan penyuluhan untuk petani maju (etnis pendatang) dan petani tertinggal. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan dan strategi pelaksanaan percepatan sektor pertanian yang berbasis sumberdaya, baik sumberdaya lahan, air, iklim, dan sumber daya manusia secara terintegrasi dan sesuai dengan kondisi setempat.

PENUTUP
Arah percepatan pembangunan pertanian dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian lahan dan aspek bio-fisik wilayah, dan interaksi kepadatan penduduk dengan aspek pasar. Berdasarkan keadaan sumberdaya lahan dan aspek bio-fisik wilayah, wilayah Papua cukup potensial untuk pengembangan pertanian termasuk pangan lokal dan bio-energi (kelapa sawit, kelapa, tebu, ubijalar, dan jagung). Pangan tradisional perlu dipertahankan dalam rangka diversifikasi dan pengembangan tanaman bio-energi. Konsep desa mandiri dengan mengutamakan sumber-sumber kekayaan setempat untuk dijadikan bahan pangan, bahan bakar, terutama untuk suplai energi listrik. Upaya selayaknya mendorong kemandirian ekonomi kerakyatan ke dalam pasar tradisional. Adanya hak ulayat dan suku-etnis Papua memiliki ikatan batin yang kuat dengan alam serta lingkungan tempat mereka berpijak, maka rekomendasi pengembangan pertanian, infrastruktur, dan investasi di Papua tidak boleh memutuskan hubungan masyarakat adat dengan aspek penguasaan tanah ulayatnya. Kesiapan masyarakat dalam mengadopsi teknologi sangat penting untuk dipertimbangkan misal pengembangan agro-industri diprioritaskan untuk penyimpanan bahan pangan agar dapat bertahan lama, bukan teknik pengolahan menjadi berbagai produk olahan baru.

DAFTAR PUSTAKA
Asmuruf, D. 2005. Upaya Peningkatan Investasi di Provinsi Irian Jaya. Makalah untuk Kegiatan Rapat Pendahuluan Raker II APPSI. APPSI, Bandung. Amin, I., H. Sosiawan, dan E. Susanti. 1994. Agroekologi dan Alternatif Pengembangan Pertanian di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya. Makalah pada Temu Konsultasi Sumberdaya Lahan untuk Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Palu, 16-20 Januari 1994.

48

Wahyunto dan D. Kuntjoro : Arahan Percepatan Pembangunan Pertanian di Papua

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Arahan Percepatan Pembangunan Pertanian Berbasis Sumberdaya di Provinsi Papua dan Papua Barat. Draft Laporan Akhir. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta. Badan Pertanahan Nasional. 2005. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Papua. Proyek Inev-SDL Badan Pertanahan Nasional, Kerjasama dengan Bappeda Provinsi Papua. Jayapura. Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik Indonesia. Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi di Indonesia. Badan Pusat Statistik. Jakarta. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 1997. Pola Pengembangan Pertanian di Wilayah DAS Mamberamo, Irian Jaya. Laporan Kerjasama antara Bagian Proyek Sumberdaya Pertanian dan Agroteknologi dengan IPB. Jalan Thamrin Jakarta. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 1998. Studi Evaluasi Zonase Lahan dan Pra Studi Kelayakan Budidaya Lahan Padi dan Kelapa Sawit, di DAS Mamberamo Hilir, Irian Jaya. Laporan Kerjasama antara Bagian Proyek Sumberdaya Pertanian dan Agroteknologi dengan IPB. Jalan Thamrin Jakarta. Dewan Ketahanan Pangan. 2005. Peta Kerawanan Pangan Indonesia. Dewan Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian dan World Food Programe. Jakarta.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2006. Potensi Pengembangan Komoditas Pertanian Utama. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Jayapura. Djaenudin, D. 1994. Potensi Sumberdaya Alam Daerah Aliran Sungai Mamberamo di Provinsi Irian Jaya. Hlm. 403-412. Dalam Prosiding Temu Konsultasi Sumberdaya Lahan untuk Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, di Palu 17-20 Januari 1994. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Kepas. 1990. Analisis Agro-ekosistem untuk Pembangunan Masyarakat Pedesaan Irian Jaya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Cenderawasih dan the Ford Foundation. Oldeman, L.R., I. Las, and Muladi. 1980. The Agroclimatic Maps of Kalimantan, Maluku, Irian Jaya and Bali, West and East Nusa Tenggara. Contr. Centr. Res. Insti. Of Agric. No. 60. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2000. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia skala 1: 1000.000. Puslit Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2001. Atlas Arahan Tata Ruang Indonesia skala 1:1.000.000. Puslitbang Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2002. Atlas Arahan Pengembangan Komoditas Pertanian Unggulan Indonesia skala 1:1.000.000. Puslitbang Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian. Bogor. Pusat Perpetaan Kehutanan. 2005. Kawasan Hutan di Papua. Pusat Perpetaan Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. Regional Physical Planning Programme for Transmigration (RePPProT). 1989. Hasil Studi Regional Physical Planning Programme for Transmigration di Provinsi Irian Jaya dan Maluku. Ditjen Pankim, Departemen Transmigrasi. Jakarta. 49

Dimyati, A., K. Suradisastra, A. Taher, M. Winugroho, D.D. Tarigan, dan A. Sudradjat. 1991. Sumbangan Pemikiran Bagi Pembangunan Pertanian di Irian Jaya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua. 2006. Rencana Pembangunan Jalan di Papua. Dinas Pekerjaan Umum, Provinsi Papua. Jayapura. Dinas Pekerjaan Umum, Kabupaten Jayawijaya. 2006. Pembangunan Jalan di Kabupaten Jayawijaya. Wamena.

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 1 No. 4, Desember 2007

Retno, M.W., Suparmi, dan Marsoedi Ds. 1994. Liputan Wilayah Pemetaan Sumberdaya Lahan/Tanah di Provinsi Maluku dan Irian Jaya. Malakah pada Temu Konsultasi Sumberdaya Lahan untuk Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Palu, 16-20 Januari 1994. Soepraptohardjo, M., M. Soekardi, dan W.J. Surjanto. 1971. Tanah Irian Barat. Edisi ke-2. Dokumen Pusat Penelitian Tanah Bogor. No.3/1971. Suradisastra, K. 1991. Comparison and Conflict between Agriculturalists and SemiNomadic Society in Prafi-IV Resettlement Unit, Manokwari-Irian Jaya. The Research Group of Agro-ecosystem. The Ford Foundation. Suradisastra, K. 2001. Rancangan Strategik Pengembangan Investasi di Kawasan Timur Indonesia, dalam Kawasan Timur Indonesia dan Prospek Investasi. Hlm. 2942. Lembaga Informasi Nasional. Suradisastra, K. 2003a. Eastern Indonesia: the Great Challenge for Investment. Ministry for Acceleration of Eastern Indonesia Development, Jakarta.

Suradisastra, K. 2003b. Roadmap to Investment in Eastern Indonesia. Ministry for Acceleration of Eastern Indonesia Development, Jakarta. Suradisastra, K., A. Taher, A. Dimyati, D.D. Tarigan, A. Sudradjat, dan M. Winugroho. 1990. Potensi, Kendala, dan Peluang Pembangunan Pertanian di Provinsi Irian Jaya. Badan Litbang Pertanian. Wahyunto dan Marsoedi. Ds. 1994. Keadaan Tanah di Provinsi Irian Jaya. Hlm. 147162. Dalam Prosiding Temu Konsultasi Sumberdaya Lahan untuk Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, di Palu 17-20 Januari 1994. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Widjaja-Adhi, I P.G. 1995. Lahan Rawa di Kawasan Timur Indonesia: Potensi, Pengelolaan, dan Teknologi Pengembangannya. Hlm. 323-342. Dalam Prosiding Temu Konsultasi Sumberdaya Lahan untuk Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, di Palu 17-20 Januari 1994. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

50