Anda di halaman 1dari 10

SKABIES

I.

PENDAHULUAN Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan

sensitasi terhadap Sarcoptes scabei var, hominis dan produknya (DERBER 1971).
(1)

Pengetahuan dasar tentang penyakit ini diletakkan oleh VON HEBRA, bapak dermatologi modern. Penyebabnya ditemukan pertama kali oleh BENOMO pada tahun 1687, kemudian oleh MELLANBY dilakukan percobaan induksi pada sukarelawan selama perang dunia II.(1)

II.

EPIDEMIOLOGI Skabies adalah infestasi kulit manusia disebabkan oleh penetrasi parasit

tungau Sarcoptes scabiei var. hominis ke dalam epidermis. Tungau skabies adalah arthropoda kelas Acarina pertama kali diidentifikasi pada tahun 1600-an, tetapi belum dikenal sebagai penyebab erupsi kulit sampai pada tahun 1700-an. Ada yang memperkirakan bahwa lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terinfeksi dengan tungau skabies. (2) Skabies adalah masalah seluruh dunia dan segala usia, ras dan kelompok sosial ekonomi yang rentan. Faktor lingkungan mempercepat penyebaran meliputi kepadatan penduduk, pengobatan kasus primer yang terlambat, dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi tersebut. Ada variasi yang cukup besar dalam prevalensi, dengan tingkat di beberapa negara berkembang berkisar antara 4% sampai 100% . Insiden yang lebih tinggi terjadi pada daerah dengan kepadatan penduduk, sering berhubungan dengan bencana alam, perang, depresi ekonomi dan tempat pengungsian. Skabies dapat ditularkan langsung melalui kontak
1

pribadi yang dekat, seksual atau lainnya, atau tidak langsung melalui transmisi melalui benda-benda. Prevalensi lebih tinggi pada anak dan pada orang yang aktif secara seksual. Pada umumnya infestasi penyebarannya terjadi antara anggota keluarga dan orang yang dekat.(1,3,4) Skabies berkrusta (sebelumnya disebut skabies Norwegia) ditemukan

pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang rentan (misalnya orang tua, orang yang terinfeksi HIV, dan pasien transplantasi) serta mereka yang memiliki fungsi sensorik menurun (seperti pasien dengan kusta atau paraplegia).(2,3)

III.

ETIOLOGI Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo

Ackarima, super family Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. Hominis. Selain itu terdapat Sarcoptes scabiei yang lain, misalnya pada kambing dan babi.(1) Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurann betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat..(1,2) Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat
2

hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 12 hari. (1,2)

IV.

PATOGENESIS Tungau tidak bisa terbang atau melompat tetapi merangkak dengan

kecepatan 2,5 cm per menit pada kulit hangat. Mereka dapat bertahan hidup selama 24 sampai 36 jam pada suhu kamar dan kelembaban rata rata dan tetap mampu infestasi dan menggali epidermis. Kemungkinan terinfeksi tegantung individu, lebih kepada kemungkinan penularannya, baik kontak secara langsung (misalnya kontak kulit ke kulit) ataupun secara tidak langsung (misalnya infestasi melalui tempat tidur, pakaian atau fomit lain).(4) Masa inkubasi sebelum timbul gejala dapat berkisar dari hari ke bulan. Pada pertama kali infestasi, biasanya membutuhkan 2 6 minggu sebelum sistem kekebalan tubuh menjadi peka terhadap tungau atau produk sampingan yang menghasilkan lesi pruritus dan kulit. Serangan berikutnya biasanya terjadi dalam waktu 24 48 jam. Orang orang tanpa gejala skabies yang tidak terjadi seperti pada umumnya, dapat dianggap karier, dimana penderita skabies ini tidak merasakan gejala gejala oleh karena mengalami hiposensitif meskipun tungau telah mengalam infestasi pada kulit tetapi penyakit yang diderita masih dapat tertular baik secara langsung maupun secara tidak langsung.(3,4) Adapun proses imunologis yang terjadi adalah reaksi hipersensitivitas dan peningkatan IgE yang memicu eosinofil sehingga memacu reaksi hipersensitivitas tipe cepat yang mengakibatkan gatal dan manifestasi kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dan lain-lain. Dengan

garukan akibat rasa gatal dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder .(1,5)

V.

GEJALA KLINIS Setelah paparan awal terhadap tungau skabies akan timbul pruritus dan

ruam dapat terjadi selama 6 sampai 8 minggu selanjutnya gatal dan ruam berkembang dalam beberapa hari, mungkin karena sensitisasi sebelumnya dengan tungau skabies. Rasa gatal tersebut bertambah parah dan biasanya memburuk pada malam hari. Lesi muncul berupa kemerahan, bersisik, kadang kadang krusta ekskoriasi, papula dan nodul pada sela sela jari, pergelangan tangan, permukaan ekstensor siku dan lutut, pinggiran tangan dan kaki, daerah ketiak, bokong, daerah pinggang, dan pergelangan kaki. Pada pria, penis dan skrotum biasanya terlibat; pada wanita, payudara, termasuk areola dan puting. Lesi sering vesikular dan distribusinya mungkin paling banyak di telapak tangan dan telapak bayi. Pada bayi yang berumur kurang dari 2 tahun scabies dapat menyerang daerah wajah dan kulit kepala, sedangkan pada orang dewasa jarang terkena pada daerah tersebut.(2) Eritematosa difus dapat terjadi dan merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap antigen tungau. Parapathognomonic lesi adalah terowongan yang tipis, seperti benang, struktur linear yang panjangnya 1 sampai 10 mm, dan merupakan terowongan yang disebabkan oleh gerakan dari tungau di stratum korneum.(2) Skabies Norwegian (skabies berkrusta) memiliki bentuk yang ditandai dengan dermatosis berkrusta pada tangan, kaki, kuku yang distrofik, dan skuama yang generalisata. Bentuk ini sangat menular, tetapi rasa gatalnya sangat sedikit. Tungau dapat ditemukan dalam jumlah sangat besar. Penyakit dapat terjadi pada penderita retardasi mental, kelemahan fisis, gangguan imunologik, dan psikosis.
(1,2)

VI.

DIAGNOSIS

Diagnosis skabies ditegakkan dengan riwayat penyakit pasien riwayat keluarga atau orang yang terdekat, dan pemeriksaan fisik. Diagnosis pasti tergantung pada identifikasi tungau, telur, fragmen cangkang, atau tungau. Beberapa sampel kulit dangkal harus diperoleh dari lesi khususnya, liang atau papula dan vesikula yang kemudian dicongkel dari lateral di kulit dengan pisau, berhati hati untuk menghindari perdarahan. Spesimen dapat diperiksa dengan mikroskop cahaya dengan daya yang rendah. Kalium hidroksida tidak boleh digunakan, karena dapat melarutkan tungau. Oleh karena jumlah tungau rendah dalam kasus kasus skabies klasik, teknik ini sangat tergantung pemeriksa. Kegagalan untuk menemukan tungau biasa terjadi dan tidak mengesampingkan diagnosis skabies. Selain itu tungau juga bisa didapatkan dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar. Cara lain juga dapat dibuat dengan melakukan biopsi irisan yaitu lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diidentifikasi dengan mikroskop cahaya. Cara terakhir yaitu dengan melakukan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E. (1,4)
VII.

DIAGNOSIS BANDING Ada pendapat yang mengatakan bahwa penyakit skabies ini merupakan

the great imitator karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal. Sebagai diagnosis banding ialah prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis, dan lesi lain. Diferensial diagnosis skabies yang paling sering adalah dermatitis atopik, reaksi sengatan serangga, dermatitis kontak, dermatitis herpetiformis, dan eksema dishidrotik. Adapun penyakit lain yang dapat dipertimbangkan yaitu psoriasis khususnya pada skabies berkrusta, pemphigoid bullosa saat terdapat vesikel disertai bulla, dan dapat juga dipertimbangkan adanya erupsi obat.(1,2)
VIII.

PENATALAKSANAAN Syarat obat yang ideal adalah harus efektif terhadap semua stadium

tungau, tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik, obat tidak berbau atau kotor

serta tidak merusak atau mewarnai pakaian, dan obat mudah diperoleh dan harganya murah.(1) Ada beberapa pengobatan untuk skabies yang memiliki berbagai tingkat efektivitas. Adapun faktor faktor yang dapat menentukan pengobatan adalah usia pasien, biaya pengobatan, keparahan erupsi, dan jika sudah melakukan perawatan tapi gagal. Pada orang dewasa, scabicid topikal harus diterapkan pada seluruh permukaan kulit, kecuali wajah dan kulit kepala, dengan perhatian khusus ke daerah daerah intertriginosa, alat kelamin, daerah periungual, dan dibelakang telinga. Pada anak anak dengan skabies, wajah dan kulit kepala juga harus diberikan pengobatan topikal. Sebelum pemberian obat, pasien harus diberitahu bahwa setelah terapi skabicidal memadai, ruam dan pruritus dapat bertahan sampai dengan 4 minggu kalau tidak mereka menduga, bahwa pengobatan yang dilakukan tidak berhasil dan pemberian skabicidal tidak tepat dosisnya. Pemberian steroid, antihistamin dan jika perlu diberikannya steroid sistemik jangka pendek, untuk mengurangi pruritus dan ruam setelah pasien menyelesaikan pengobatan dengan skabicid.(1,2) 1. Pengobatan Sistemik Ivermektin adalah satu satunya terapi skabicid oral yang sangat efektif dan dikenal sampai saat ini. Ditemukan pada 1970-an difermentasi dari actinomycete dan Streptomyces avenuilifis. Obat ini secara struktural mirip dengan antibiotik macrolid, tetapi tidak mempunyai aktivitas antibakteri. Saat ini AS Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui untuk pengobatan dari tahap usus onchocerciasis dan strongyloides, tetapi FDA tidak mnyetujui untuk pengobatan skabiesnya. Aktivitas tungau skabies disebabkan berlawanan dengan afinitasnya gluminasi ion klorida yang tinggi yang ditemukan di sistem saraf perifer invertebrata. Ivermektin memblok saluran transmisi di sinaps saraf yang menggunakan gamma asam aminobutirad. Hasil ini mengakibatkan kelumpuhan dan kematian parasit invertebrata. Pada mamalia, reseptor obat ini terbatas pada sistem saraf pusat dan dalam kondisi normal obat ini tidak melewati sawar darah otak dan bahkan menjadi penghalang obat yang memungkinkan masuk sawar darah otak. Oleh karena itu obat tidak harus digunakan pada anak-anak muda dari
6

usia 5 tahun atau berat badan kurang dari 15 kg, atau selama kehamilan atau menyusui, meskipun ada laporan dari ivermektin meskipun ada laporan dari ivermektin digunakan pada anak-anak dan selama kehamilan tanpa efek samping.
(2,4)

Telah dilaporkan efektifitas ivermektin dalam pengobatan skabies. Dosis yang biasa digunakan adalah 200 Ilg/kg; dosis ini dalam 10 sampai 14 hari,tetapi dosis yang optimal untuk pengobatan skabies belum ditetapkan. Dari hasil studi penelitian klinis, dilakukan perbandingan ivermektin terhadap permetrin topical 5% memperlihatkan bahwa satu dosis ivermektin dapat mengobati hingga 70%, yang meningkat sampai 95% dengan dosis kedua setelah 2 minggu kemudian, sedangkan penggunaan permetrin tunggal memberikan makna kuratif hampir 98% pasien. Dari 1 preparat topikal, 1 persen ivermektin telah terbukti efektif dalam studi klinis awal, tapi belum komersial. Pada kasus skabies berkrusta, kombinasi dari ivenectin dan topikal anti scabicide sering digunakan karena tingkat keparahan infeksi, dan untuk beberapa kasus yang berkaitan dengan infeksi berat. Efek samping ivermektin biasanya ringan dan sementara, namun dilaporkan juga efek samping yang jarang terjadi seperti hipotensi, edema laring, dan ensefalopati. Ada satu laporan kasus peningkatan angka kematian pada lansia panti jompo pasien yang diobati dengan ivermektin.(2) 2. Pengobat Topikal a. Permetrin Permetrin adalah sintetis piretroid yang diformulasikan dalam krim 5% dan saat ini permetrin merupakan obat topical standar. Efek samping jarang terjadi dibanding dengan gamexan . Meskipun aplikasi hanya sekali tetapi efeknya sangat berarti untuk pengobatan skabies. Terapi topikal dengan cara mengoles krim diseluruh tubuh kecuali pada wajah dan kulit kepala kemudian dihapus setelah 10 12 jam. Terapi ini dapat digunakan selama kehamilan jika diindikasikan, dengan aplikasi yang dipersingkat menjadi 2 jam. Tanda

tanda toleransi terhadap permetrin telah dicatat, tetapi resistensinya belum didokumentasikan.(1,3,4)
b. Sulfur

Sulfur (belerang) digunakan untuk mengobati skabies selama lebih dari 150 tahun. Apoteker mencampurkan 6% (berkisar 5 - 10%) belerang hasil endapan dalam petrolatum atau basis krim dingin. Senyawa ini digunakan pada seluruh tubuh di bawah leher sekali setiap hari selama 3 hari. Pasien diinstruksikan untuk mandi 24 jam setelah setiap aplikasi. Sulfur yang diterapkan dengan cara ini sangat efektif, tapi preparat tersebut tidak terlalu baik karena memiliki bau yang tidak menyenangkan, noda, dan menyebabkan kekeringan. Belerang dalam petrolatum dianggap lebih aman daripada lindane untuk mengobati bayi.(5)
c. Krotamiton (eurax lotion)

Pemberian Krotamiton (eurax lotion) pada sebuah studi anak anak dengan skabies menunjukkan angka kesembuhan 89% setelah 4 minggu dengan krim permetrin tingkat eliminasi 5% dan angka kesembuhan 60% dengan krim crotamiton. Tingkat toksisitas dari crotamiton tidak diketahui.Tingkat kesembuhan dilaporkan dari 50% menjadi 100% untuk aplikasi selama 5 hari. Crotamiton mungkin memiliki sifat antipruritus, tapi ini masih dipertanyakan.(5) d. Lindane Lindane adalah nama generik untuk gamma benzen hexa klorida, suatu senyawa kimia mirip dengan pestisida pertanian juga disebut sebagai lindane. Senyawa tersebut merupakan stimulan sistem saraf pusat yang menyebabkan kejang dan kematian pada tungau skabies. Kwell merupakan merek dagang lindane. Lindane tersedia dalam bentuk krim, shampoo, dan lotion. Laporan mengenai resistensi lindane telah ditemukan. Pengobatan kedua setelah seminggu setelah pengobatan pertama merupakan pengobatan standar.
8

Direkomendasikan pemeriksaan tindak lanjut pada 2 sampai 4 minggu. Sekitar 10% dari lindane diserap melalui kulit utuh. Lindane terakumulasi dalam lemak dan terikat pada jaringan otak. Dengan penggunaan lindane, pruritus dapat bertahan selama berminggu - minggu. Lindane harus dihindari pada anak-anak dibawah umur 2 tahun, wanita hamil atau menyusui, dan pasien dengan human immunodeficiency virus atau acquired immunodeficiency syndrome. Beberapa anak anak dengan penyakit berat beresiko lebih besar untuk terjadi toksisitas. Hal ini juga berlaku untuk anak anak prematur, kurus, atau kurang gizi dan mereka yang memiliki riwayat gangguan berupa kejang..(5)
e. Benzyl - Benzoas

Emulsi benzyl-benzoas (20 - 25), efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari. Obat ini sulit diperoleh. Sering memeberikan efek iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.(1)

IX.

PROGNOSIS Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat

pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain hygiene), maka penyakit ini dapat diberantas dan memberikan prognosis yang baik.(1) DAFTAR PUSTAKA 1. Handoko, Ronny P. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : FK UI. pp 122-125 2. Stone SP, Goldfarb JN, Bacelieri RE. Scabies, other mites, and pediculosis. In : Wollff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, PAller AS, Leffell DJ, editors. Fitzpatrixks dermatology in General Medicine 7th ed NewYork : McGraw Hill ; 2008. P. 2029 32. 3. Meinking TL, Burkhart CN, Burkhart CG, Eigart G. Infestations. In : Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP, editors. Dermatology 2nd ed London : British Library : 2008.
9

4. Chosidow O. Scabies. N Eng J Med. 2006 : 354 (16) : 1718-1722 5. Habif, Thomas P. Clinical Dermatology 4th ed Philadelpia : Mosby The Curtis Center p 498-505

10