Anda di halaman 1dari 8

Prosiding Seminar Nasional ke-17 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 01 Oktober 2011

ISSN: 0854 - 2910

MOMEN ELEKTROMAGNETIK STATIK DEUTERON PADA DINAMIKA PERTUKARAN PARTIKEL DALAM POTENSIAL LOKAL REID
R. Yosi Aprian Sari1, Supardi1, Agung BSU2, Arief Hermanto2
1

Jurdik Fisika, FMIPA UNY, Karangmalang, Yogyakarta, 55281 2 Jurusan Fisika, FMIPA UGM, Yogyakarta, 55281 e-mail: ryosia@uny.ac.id

ABSTRAK MOMEN ELEKTROMAGNETIK STATIK DEUTERON PADA DINAMIKA PERTUKARAN PARTIKEL DALAM POTENSIAL LOKAL REID. Keadaan dasar deuteron merupakan percampuran keadaan orbital- 3 S1 dan keadaan- 3 D1 . Keadaan- 3 S1 lebih dominan dan terkait dengan bilangan kuantum momentum sudut orbit, L = 0, sedangkan keadaan- 3 D1 yang fraksinya kecil (sekitar 4 %) terkait dengan L = 2. Deuteron memiliki bilangan kuantum spin, S = 1, yang gabungannya dengan L = 0 dan 2, menghasilkan bilangan kuantum momentum sudut total, J=1. Percampuran keadaanini memunculkan momen elektromagnet statik, yaitu momen dwikutub magnet, d=0,85621N, dan momen caturkutub listrik, Qd=0,002913967b yang keduanya diperoleh dari komputasi. Akibat adanya sumbangan keadaan- 3 D1 , momen caturkutub deuteron berbentuk sferoida pipih (oblate), yaitu distribusi muatan inti deuteron lebar sekitar bidang ekuatorial. Kata kunci: momen elektromagnetika statik, deuteron, keadaan campuran.

ABSTRACT ELECTROMAGNETICS STATIC MOMENT OF THE DEUTERON. PARTICLE EXCHANGE DYNAMICS IN THE REID LOCAL POTENTIAL. Deuteron ground state is a mixture of the orbital state of the 3 S1 and 3 D1 . State- 3 S1 is more dominant and associated with orbital angular momentum quantum number, L = 0, while the state- 3 D1 a small fraction (about 4%) associated with L=2. Deuteron has a spin quantum number, S=1, which combined with L= 0 and 2, yielding the total angular momentum quantum number, J=1. The mixture state raises the moment of electromagnetic static, i.e. the magnetic dipole moment, d=0,85621N and electric quadruple moment, Qd=0,002913967b are both derived from the computation. Due to the contribution of state3 D1 , deuteron quadruple moment is spheroid flat-shaped (oblate), that is the core charge distribution around the field of equatorial deuteron is wide. Keywords: static electromagnetic moments, deuteron, a mixture of state

1.

PENDAHULUAN Interaksi inti antar penyusunnya merupakan gabungan interaksi kuat, interaksi

elektromagnetik, dan interaksi lemah. Interaksi kuat penentu utama struktur, distribusi dan gerak nukleon dalam inti. Distribusi muatan, arus listrik dan momen magnet sistem nukleon akan menghasilkan medan listrik dan magnetik yang merupakan fungsi letak dan ikut mengatur struktur inti melalui interaksi elektromagnet. Distribusi muatan, arus dan momen magnet menimbulkan medan elektromagnet yang gayut ruang; medan listrik 1 r 2 timbul dari muatan, dikenal sebagai momen ke-nol atau monokutub; medan listrik 1 r 3 timbul dari momen pertama atau dwikutub; medan listrik 1 r 4 timbul dari momen kedua atau caturkutub, dan seterusnya. Setiap momen

187

Momen Elektromagnetik Statik Deuteron Pada Dinamika Pertukaran Partikel R. Yosi Aprian Sari, dkk.

ISSN: 0854 - 2910

multikutub magnetik orde tinggi berpeluang untuk muncul pula kecuali momen monokutub, sebab medan momen monokutub 1 r 2 tidak ada. Momen dwikutub magnet timbul dari arus listrik (orbital) dan spin (intrinsik). Momen multikutub terkait dengan simetri inti, dan secara langsung dapat dikaitkan dengan momentum sudut maupun paritas inti. Setiap momen multikutub elektromagnetik mempunyai paritas yang menentukan perilaku inti terhadap pencerminan dan diwakili oleh swanilai operator multikutub; paritas mewakili efek
r r r terhadap operator multikutub. Paritas operator multikutub listrik adalah ( 1)L , transformasi r

dengan L merupakan orde momen; L = 0 untuk monokutub, L = 1 untuk dwikutub, L = 2 untuk caturkutub, dan seterusnya; untuk momen multikutub magnetik orde L, paritasnya adalah ( 1) L +1 . Nilai harap suatu operator momen multikutub dapat dihitung sebagai bentuk integral

d , O

merupakan operator multikutub elektromagnetiknya. Bilamana O memiliki paritas ganjil, dengan O memiliki paritas genap, maka maka integran akan merupakan fungsi ganjil, dan begitu juga bila O

integran juga merupakan fungsi genap. Jadi semua momen multikutub statik paritas ganjil lenyap dwikutub listrik, caturkutub magnetik, astakutub listrik (L = 3), dan seterusnya (Ballentine, 1998; Eisenberg and Greiner, 1986; Greiner and Maruhn, 1995; Pal, 1982).
r . Momen Salah satu momen magnetik yang dominan adalah momen dwikutub magnetik

r , timbul baik akibat sumbangan proton maupun neutron, dihasilkan dari gerakan magnetik inti

()

orbital maupun spin yang menghasilkan sifat magnetik inti (momen magnetik). Momen multikutub lain yang tidak dapat diabaikan adalah momen caturkutub listrik. Sumbangan pada momen caturkutub (eQ) bagi elemen muatan dq = dV secara klasik berbentuk e 3z 2 r 2 (Eisenberg and Greiner, 1986; Wong, 1990). 2. KAJIAN TEORI Persamaan Schrdinger dalam koordinat pusat massa (Ballentine, 1998; Basdevant, et.al, 2005; Eisenberg and Greiner, 1986; Negele and Vogt, 2002; Pal, 1982, R. Yosi, 2011; Wong, 1990),
2m h 2 d 2 (r ) dr 2 + V (r ) (r ) = E (r )

(1)

dengan m adalah massa tereduksi antara massa proton dan neutron; potensial interaksi V dan fungsi r r r r , dan , , , dan, E adalah energi ikat. gelombang adalah fungsi r, , , 1 2 1 2 Interaksi proton dan neutron dalam potensial lokal menghasilkan keadaan campuran L=0 dan L=2, sehingga persamaan Schrdinger interaksi proton dan neutron ini termodifikasi menjadi dua persamaan Schrdinger terkopel yang mengandung bagian gaya sentral, VC (r ) dan bagian gaya tensor, VT (r ) ,
V (r ) = VC (r ) + VT (r )S12

(2)

dengan operator tensor


188

Prosiding Seminar Nasional ke-17 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 01 Oktober 2011

ISSN: 0854 - 2910

S12

r r )( ) ( r r ( =
1 2

2 1 3

).

Persamaan Schrdinger interaksi proton-neutron berbentuk


d2 dr 2 u (r ) + 2m h2

[E VC (r )]u (r )

2m h2

VT (r )w(r ) = 0 ,

(3a)

d2 dr 2

w(r ) +

2m 6h 2 2m E VT (r )u (r ) = 0 VC (r ) + 2VT (r ) w(r ) 8 h2 h2 m r 2

(3b)

dengan

merupakan massa tereduksi,

1 1 1 = + m * m p mn

(4)

Vc(r) adalah potensial bagian sentral, dan VT(r) adalah potensial bagian tensor yang mengandung operator S12. Potensial bagian sentral berbentuk (Eisenbegr and Greiner, 1986; Jaeda, Sander and von Geramb, 1997; Stoks, Terheggen and Swart, 1994; Sviratcheva, Draayer and Vary, 2006; Wong, 1990)
r r r r r + V (r ) r r r Vsentral = V0 (r ) + V (r ) 1 2 1 2 + V (r ) 1 2 1 2 .

)(

(5)

Oleh karena simetri, keadaan dasar deuteron memiliki nilai S = 1 dan T = 0. Nilai L = 0 dan L = 2 terkait terhadap fungsi gelombang deuteron. Dalam notasi spektroskopi, keadaan L = 0, S = 1 dilambangkan sebagai 3 S1 (keadaan-S triplet) dan L = 2, S = 1 sebagai
3

D1 (keadaan-D triplet)

(Eisenbegr and Greiner, 1986; Jaeda, Sander and von Geramb, 1997; Stoks, Terheggen and Swart, 1994; Sviratcheva, Draayer and Vary, 2006; Wong, 1990).

[u
0

(r ) + w 2 (r )]dr = 1

(6)

Seperti yang ditunjukkan pada persamaan (3), keterkopelan pada interaksi proton-neutron ini diakibatkan oleh adanya dua nilai momentum sudut L, yaitu L = 0 dan L = 2 . Terdapat campuran keadaan 3 S1 3 D1 pada keadaan terikat deuteron, muncul beberapa besaran fisis antara lain momen dwikutub magnet, d , dan momen caturkutub listrik, Qd (Eisenberg and Greiner, 1986; Haidenbauer, 2004; Jaeda, Sander and von Geramb, 1997; Krutov, Troitsky, 2002; Stoks, Terheggen and Swart, 1994; Sviratcheva, Draayer and Vary, 2006; Valderrama and Arriola, 2005; Wong, 1990).

A. Momen Dwikutub Magnetik Momen magnetik untuk deuteron


= r
1 2

r r r r + ) + 1 ( )( r + ) ( p + n )(r 1 2 n 1 + 2 )3 ( 1 2 4 p

189

Momen Elektromagnetik Statik Deuteron Pada Dinamika Pertukaran Partikel R. Yosi Aprian Sari, dkk.

ISSN: 0854 - 2910

1 4

r r r r r r 1 1 r ) ( 1 1 r + ) (r ( p n )(r 1 2 3 1 2 ) 2 h (r p ) + 4 h ( 1 2 3 r p).

(7)

dengan momen magnetik proton dan neutron adalah

p = (2,7928456 0,0000011) N

n = (1,91304189 0,00000088) N .
Bilamana deuteron dari keadaan triplet dalam ruang spin memberikan kontribusi, sedangkan dari pers. (7), faktor Dengan demikian,
=
r

(S = 1) ,

bentuk

1 2 ) (

tidak

(1 + 2 )3
r

pada deuteron akan lenyap.

1 2

r + ) + 1 h 1 L ( p + n )(r 1 2 2

(8)

dengan L adalah operator momentum sudut orbital. Untuk deuteron, operator momentum sudut total adalah:
r r r r + h J = L+ 1 1 2 2

)
)

(9)

atau
r r r = + J h p + n 1 L p n 2

) (

(10)

Bagian yang dominan dari keadaan dasar deuteron adalah keadaan- 3 S1 . Keberadaan gaya tensor deuteron menyebabkan adanya percampuran keadaan- 3 S1 dan 3 D1 , maka fungsi gelombang keadaan dasar sistem dapat ditulis dalam bentuk:
d = a 3 S1 + b 3 D1

(11)

Operator pada pers. (10), bersama-sama dengan fungsi gelombang terkopel memberikan momen magnetik deuteron dalam keadaan dengan bilangan kuantum proyeksi M,
dr 3 JM = p + n M p + n 1 h 1 w 2 (r )dr JM L 3 1 2 r 2 1M 2

)
0 2

= p + n M p + n 1 2

) M L (211 M L M M L M )2 w 2 (r )dr
M L = 2

(12)

Sehingga, momen magnetik deuteron adalah:


d = p + n

) 3 ( + n 1 ) w 2 (r )dr M. 2 p 2
0

(13)

(Eisenberg and Greiner, 1986; Pal, 1982; Stoks, Terheggen and Swart, 1994; Valderrama and Arriola, 2005; Wong, 1990). B. Momen Caturkutub Listrik Momen caturkutub listrik untuk inti dengan A nukleon dapat dihitung dari persamaan
190

Prosiding Seminar Nasional ke-17 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 01 Oktober 2011

ISSN: 0854 - 2910

Qij

r r 2 (3ri r j ij r ) (r ) dr

(14)

dan fungsi gelombang inti diasumsikan bahwa semua muatan dalam inti terpusat pada proton Z,dan dapat diandaikan sebagai sebuah titik, maka
= r

(r ) e (rr rr )
A k k k =1

(15)

dengan ek = e untuk proton (k = 1, 2, ... , Z), dan ek = 0 untuk neutron (k = Z + 1, Z + 2, ... , A). Dengan menggunakan pers. (14) dalam keadaan statik,
A r r r r r r r r r 2 Qij = ek JM r 1 , r2 ,..., rA 3ri r j ij r k JM r1 , r2 ,..., rA d r1 d r2 ...d rA k =1

)[

(16)

dengan JM adalah fungsi gelombang untuk keadaan (yang sama seperti ). Terhadap notasi, Qij yang berkelakuan seperti simetri tensor rank-kedua dengan mengabaikan trace, sehingga pers. (19) dapat dibuat menjadi:
2 JM Qij = C JM 3 J J + J j J i ij J 2 i j

(17)

dengan bagian utama merupakan syarat simetri dan lenyapnya trace. Dalam pers. (17), ditunjukkan label momentum sudut keadaan inti yang diperlukan untuk menentukan nilai elemen matriks. Nilai r tersebut dapat ditentukan dari aksi komponen operator J pada swakeadaan momentum sudut

JM . Dinamika inti yang mengharuskan nilai momen caturkutub semuanya dikandung di dalam
konstanta C dalam pers. (17). Secara umum momen caturkutub pada pers. (17) dengan mengambil nilai M = J dan i = j = 3. Secara khusus,
Q e 1Q33

(M = J )
= JJ

(3z 2 r 2 )k JJ dr ,..., drA


Z

(18)

k =1

Konstanta C dapat dikaitkan dari pers. (17) dan (18),


2 2 JJ = Ce 1 (2 J 1)J Q = Ce 1 JJ 3J 3 J

(19)

Secara umum
Qij = eQ JM J (2 J 1)
3 2

(J i J j J j J i ) ij J 2 JM

(20)

Walaupun tensor caturkutub simetri tiga dimensi Qij memiliki enam komponen bebas, pers. (20) menunjukkan bahwa semua tensor ditentukan oleh satu parameter, Q. Situasi ini timbul disebabkan oleh adanya aspek geometri yang terkait pada semua dari enam komponen terhadap satu dengan lainnya. Dari pers. (19), Q = 0 untuk J = 0 atau J =
1 2

Untuk deuteron dengan J =1, momen caturkutub tidak lenyap, dan dapat diukur dengan mengamati interaksi energi caturkutub. Nilai momen caturkutub positif, distribusi muatan deuteron

191

Momen Elektromagnetik Statik Deuteron Pada Dinamika Pertukaran Partikel R. Yosi Aprian Sari, dkk.

ISSN: 0854 - 2910

2 lebih panjang dalam arah spin inti daripada arah tegaklurus terhadapnya; dari pers. (20), 3 J 3

2 . Secara eksplisit, Q dalam bentuk fungsi gelombang dalam pers. (3). lebih besar daripada J
r Dalam bentuk pemisahan vektor r dalam pers. (1), proton berada pada
1 2

r r r dan neutron pada 1 r . 2

Operator caturkutubnya adalah:


1 4

(3z

r2 =

1 r2 4

(3cos 1) =
2

4 (uw 1 0

1 2

4 3

r 2Y20 ( , ) .

(24)

Dengan menggunakan pers. (20) dengan M = J = 1, diperoleh


1 2 Q = 10

2 w 2 r 2 dr

(25)

Persamaan di atas secara eksplisit menunjukkan momen caturkutub tidak lenyap dan mengharuskan adanya percampuran dengan keadaan-D, yaitu komponen w, dan muatan diasumsikan terpusat pada nukleon-nukleon. Secara umum, percampuran keadaan-D harus lebih kecil daripada keadaan-S,
w << u ,

(26)

dan ketika Q diamati positif, u dan w pada pers. (25) harus mempunyai tanda yang sama. Interaksi tensor harus berupa gaya tarik.
VT (r ) < 0 .

(27)

(Eisenberg and Greiner, 1986; Pal, 1982; Stoks, Terheggen and Swart, 1994; Valderrama and Arriola, 2005; Wong, 1990). 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan dasar deuteron merupakan percampuran keadaan orbital- 3 S1 dan keadaan- 3 D1 . Keadaan- 3 S1 lebih dominan dan terkait dengan bilangan kuantum momentum sudut orbit, L = 0, sedangkan keadaan- 3 D1 yang fraksinya kecil (sekitar 4 %) terkait dengan L = 2. Deuteron memiliki bilangan kuantum spin, S = 1, yang gabungannya dengan L = 0 dan 2, menghasilkan bilangan kuantum momentum sudut total, J = 1. Adapun hasil perhitungan dengan komputasi dan dibandingkan dengan nilai eksperimen adalah sebagai berikut (Eisenberg and Greiner, 1986; Haidenbauer, 2004; Jaeda, Sander and von Geramb, 1997; Krutov, Troitsky, 2002; Stoks, Terheggen and Swart, 1994; Sviratcheva, Draayer and Vary, 2006; Valderrama and Arriola, 2005; Wong, 1990). Tabel 1. Observabel Deuteron Pada Keadaan Terikat Untuk Potensial Lokal Reid Observabel Momen Dwikutub Magnetik ( d ) N Momen Caturkutub Listrik (Q d ) b Nilai Eksperimen (0,8574376 0,0000004) (0,00288 0,00002) Komputasi (0,856521) (0,10%) (0,002913967) (1,18%)

Dengan menggunakan metode komputasi numerik, sumbangan keadaan-D pada momen magnetik
192

Prosiding Seminar Nasional ke-17 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serta Fasilitas Nuklir Yogyakarta, 01 Oktober 2011

ISSN: 0854 - 2910

deuteron dapat dihitung dari persamaan

p D = w 2 (r ) =

2 3

D p + n p + n
1 2

),

dan dapat

rc

diperbandingkan hasilnya dengan data eksperimen. Tabel 2. Persentase Sumbangan Keadaan-D Sumbangan Keadaan
3 3

Nilai Eksperimen 93 96 % 47% Komputasi 95,94 % 4,06 %

S1

D1

4.

KESIMPULAN Keadaan dasar deuteron merupakan percampuran keadaan orbital- 3 S1 dan keadaan- 3 D1 yang

masing terkait dengan nilai momentum sudut L = 0 dan L = 2. Keadaan- S 1 lebih dominan daripada keadaan- 3 D1 . Secara komputasi, diperoleh nilai momen elektromagnetik statik, yaitu momen dwikutub magnet, d=0,85621N, dan momen caturkutub listrik, Qd=0,002913967b, tidak jauh berbeda dari nilai eksperimen. Akibat adanya sumbangan keadaan- 3 D1 , momen caturkutub deuteron berbentuk sferoida pipih (oblate), yaitu distribusi muatan inti deuteron lebar sekitar bidang ekuatorial. 5. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada DP2M Ditjen Dikti yang telah mempercayakan kami dalam penelitian Hibah PEKERTI dengan Nomor Kontrak:

01/H34.21/SPI.HPTK/DP2M/2011.

6. DAFTAR PUSTAKA

[1]. Ballentine, L.E. (1998). Quantum Mechanics: A Modern Development. Singapore: World
Scientific Publising.

[2]. Basdevant, J.L., Rich, J., & Spiro, M. (2005). Fundamentals In Nuclear Physics: From
Nuclear Structure to Cosmology. New York: Springer Science.

[3]. Eisenberg, J.M. & Greiner, W. (1986). Nucler Theory; Microscopic Theory Of The Nucleus.
Amsterdam: North-Holland Publishing Company.

[4]. Greiner, W. & Maruhn, J. A. (1995). Nuclear Models. Berlin: Springer-Verlag. [5]. Haidenbauer, J. (2004). The Nucleon-Nucleon Interaction. Brazilian Journal of Physics, vol.
34, no. 3A, September, 2004.

193

Momen Elektromagnetik Statik Deuteron Pada Dinamika Pertukaran Partikel R. Yosi Aprian Sari, dkk.

ISSN: 0854 - 2910

[6]. Jaede, L., M. Sander, H. V. von Geramb, (1997). Modeling of Nucleon-Nucleon Potentials,
Quantum Inversion versus Meson Exchange Pictures. Springer Lect. Notes in Physics 488, 124.

[7]. Krutov, A. F. & V. E. Troitsky, (2002), Relativistic Instant-Form Approach To The Structure
Of Two Body Composite Systems, Phys.Rev. C65 045501.

[8]. Negele, J.W. & Vogt, E. (2002). Advances in Nuclear Physics vol. 23. New York: Kluwer
Academic Publisher.

[9]. Pal, M, K, (1982). Theory of Nuclear Structure. New Delhi: EWP Press. [10]. R. Yosi Aprian Sari. (2011). Sistem Dua Nukleon; Deuteron sebagai Sistem Terikat (p, n)
pada Potensial Lokal, Jurnal Media Fisika UNS Vol. 10 No. 2 hal 73-78.

[11]. Stoks, V. G. J., R.A.M. Klomp, C.P.F. Terheggen, and J.J. de Swart. (1994). Construction of
high-quality Nucleon-Nucleon potential models. Phys.Rev.C49:2950-2962.

[12]. Sviratcheva, K. D, J. P. Draayer, and J. P. Vary. (2006). Realistic Two-body Interactions in


Many-nucleon Systems: Correlated Motion beyond Single-particle Behavior. SLAC-PUB11903 June 2006.

[13]. Valderrama, M. P., & E. R. Arriola, (2005), Renormalization of the Deuteron with One Pion
Exchange, Phys.Rev. C 72 054002.

[14]. Wong, S.S.M. (1990). Introductory Nuclear Physics. New Jersey: Prentice Hall.
DISKUSI/TANYA-JAWAB: 1. PERTANYAAN: (Geni Rina, PTRKN-BATAN) Bagaimana metode percobaan yang dilakukan dalam literatur yang saudara ambil? Jika perbedaan antara hasil percobaan dan simulasi komputasi begitu signifikan, apa yang melatarbelakangi? JAWABAN: (R. Yosi Aprian Sari, UNY) Metode penelitian yang dilakukan adalah komputasi numerik, diawali dari kajian teoritis, matematis sehingga diperoleh bentuk potensial dan persamaan Sehrodinger terkopel yang menunjukan keadaan campuran (L=0 dan L=2). Setelah itu dikaji juga bentuk matematis momen elektromagnetik inti sebagai akibat dari keadaan campuran. Pada akhirnya diperoleh hasil elektromagnetik inti secara komputasi Hasil yang diperoleh baik secara eksperimental dan komputasi tidak jauh berbeda, ini menunjukan bahwa keadaan campuran neutron dapat dibuat secara matematis dan dapat dilakukan perhitungan komputasinya.

194