Anda di halaman 1dari 6

Sekedar copas sana copas sini

Home About

Kronologis kasus Bank Century


December 4, 2009 tags: berita nasional, berita terhangat, century, kasus bank century, kasus century by bedeng Kasus Bank century menjadi buah bibir di kalangan masyarakat saat ini, dan kita ketahui kasus yang melanda salah satu bank di indonesia ini yang menyebabkan pemerintah melalui Bi mengucurkan dana yang luamyan besar untuk menyelamatkan bank yang kini beralaih nama menjadi Bank Permata ini, kasus bank centuty telah berkembang selama ini sehingga menimbulkan pernyataan yang sangat penting untuk di jawab, karena setelah rapat paripurna DPR mengatakan tidak ada pengucuran dana, akan tetapi pemerintah saat ini tetep melakukan suntukan dana segar ke bank century sehingga hal ini yang menyebabkan anggota DPR melakukan inisiatif hak angket Berikut ini merupakan kronologis kasus bank century yang mengakibatkan hak angket DPR harus dilaksanakan yang saya dapatkan dari berbagai sumber Kasus Bank Century Kasus Bank Century hingga kini masih menjadi pemberitaan hangat disejumlah media massa, baik media massa yang berorientasi elektronik dan cetak. Kasus Bank Century juga telah menyeret berbagai institusi hukum di Indonesia, seperti halnya KPK, POLRI,dan DPR. Bagaimana sebenarnya kronologi awal persoalan yang dihadapi oleh Bank Century sampai Bank ini dinyatakan harus diselamatkan oleh pemerintah? Berikut kita simak kronologisnya, dimana sumber dari kronologis berikut ini diperoleh Karo Cyber dari berbagai sumber situs internet: 2003 Bank CIC diketahui didera masalah yang diindikasikan dengan adanya surat-surat berharga valutas asing sekitar Rp2 triliun, yang tidak memiliki peringkat, berjangka panjang, berbunga rendah, dan sulit di jual. BI menyarankan merger untuk mengatasi ketidakberesan bank ini. 2004 Bank CIC merger bersama Bank Danpac dan bank Pikko yang kemudian berganti nama menjadi Bank Century. Surat-surat berharga valas terus bercokol di neraca bank hasil merger ini. BI menginstruksikan untuk di jual, tapi tidak dilakukan pemegang saham. Pemegang saham membuat perjanjian untuk menjadi surat-surat berharga ini dengan deposito di Bank Dresdner, Swiss, yang belakangan ternyata sulit ditagih. 2005 BI mendeteksi surat-surat berharga valas di Ban Century sebesar US$210 juta.

30 Oktober dan 3 November 2008 Sebanyak US$56 juta surat-surat berharga valas jatuh tempo dan gagal bayar. Bank Century kesulitan likuiditas. Posisi CAR Bank Century per 31 Oktober minus 3,53%. 13 November 2008 Bank Century gagal kliring karena gagal menyediakan dana (prefund) 17 November 2008 Antaboga Delta Sekuritas yang dimilik Robert Tantutar mulai default membayar kewajiban atas produk discreationary fund yang di jual Bank Century sejak akhir 2007. 20 November 2008 BI Mengirim surat kepada Menteri Keuangan yang menentapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik dan mengusulkan langkah penyelamatan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Di hari yang sama, Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) yang beranggotakan BI, Menteri Keuangan, dan LPS, melakukan rapat. 21 November 2008 Ban Century diambil alih LPS berdasarkan keputusan KKSK dengan surat Nomor 04.KKSK.03/2008. Robert Tantular, salah satu pemegang saham Bank Century, bersama tujuh pengurus lainnya di cekal. Pemilik lain, Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al-Warraq menghinglang. 23 November 2008 LPS memutuskan memberikan dana talangan senilai Rp2,78 triliun untuk mendongkrak CAR menjadi 10%. 5 Desember 2008 LPS menyuntikkan dana Rp2,2 triliun agar Bank Century memenuhi tingkat kesehatan bank. 9 Desember 2008 Bank Century mulai menghadapi tuntutan ribuan investor Antaboga atas penggelapan dana investasi senilai Rp1,38 triliun yang mengalir ke Robert Tantular. 31 Desember 2008 Bank Century mencatat kerugian Rp7,8 triliun pada 2008. Aset-nya tergerus menjadi Rp5,58 triliun dari Rp14,26 triliun pada 2007. 3 Februari 2009 LPS menyuntikkan dana Rp1,5 triliun. 11 Mei 2009 Bank Century keluar dari pengawasan khusus BI. 3 Juli 2009 Parlemen mulai menggugat karena biaya penyelamatan Bank Century terlalu besar.

21 Juli 2009 LPS menyuntikkan dana Rp630 miliar. 18 Agustus 2009 Robert Tantular dituntut delapan tahun penjara dan denda Rp50 miliar subsider lima bulan kurungan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sebelumnya pada 15 Agustus, manajemen Bank Century menggugatnya sebesar Rp2,2 triliun. 3 September 2009 Kepala Kepolisian Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat agar terus mengejar aset Robert Tantular sebesar US$19,25 juta, serta Hesham Al-Warraq dan Rafat Ali Rizvi sebesar US$1,64 miliar. 10 September 2009 Robert Tantular divonis 4 tahun penjara dan dengan Rp50 miliar. Dengan adanya kasus Bank Century ini, maka beberapa saat yang lalu masyarakat juga sempat dihebohkan kasus Bibit-Chandra yang disebut-sebut terkait dengan kasus Bank Century itu sendiri. Dalam sebuah pemberitaan yang diterbitkan oleh liputan6.com, maka Tif pencari Fakta (TPF) kasus Bibit-Chandra menduga, upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK yang berujung pada penahanan Bibit dan Chandra, terkait dengan kasus Bank Century. Menurut kami, ada kaitannya. Tapi sejauhmana kaitannya masih kami dalami, kata Sekretaris TPF Deny Indrayana, Selasa (10/11). eperti diberitakan sebelumnya, upaya penyelamatan Bank Century diwarnai dugaan korupsi dan suap yang melibatkan Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Susno diduga ikut menikmati aliran dana Rp 10 miliar dan tengah diselidiki oleh KPK. Namun dalam beberapa kali kesempatan, Susno Duadji yang sempat dinonaktfikan dari jabatannya selalu membantah dugaan itu. Bahkan saat mengikuti rapat dengan Komisi III DPR, Susno sempat bersumpah bahwa dirinya tidak menerima uang dari Bank Century. Hal yang sama juga diungkapkan Susno ketika dimintai keterangan oleh TPF beberapa waktu lalu. Kini TPF bekerja keras untuk mengungkap apakah memang ada keterkaitan langsung antara Kasus Bank Century dengan upaya kriminalisasi terhadap Bibit dan Chandra. Atas kasus Bank Century hal yang paling mencuat akhir-akhir ini adalah mengenai Hak Angket DPR untuk kasus Century. Mengenai hak angket Century sejauh ini telah terbentuk Tim Sembilan yang diharapkan dapat memimpin Panitia Angket Century itu sendiri. Sejumlah aktivis dari berbagai elemen masyarakat, Kamis (3/12), menyatakan sikap, berharap Tim Sembilan, tim yang mengusung hak angket Bank Century, untuk turut dalam panitia khusus

hak angket Bank Century. Mereka mendukung dan memercayai anggota Tim Sembilan untuk memimpin dan menjadi anggota panitia angket tersebut. Saya pikir yang diusulkan semestinya ketua pansus itu dari Tim Sembilan, ujar aktivis KOMPAK, Ray Rangkuti, ketika ditemui dalam konferensi pers di Kantor PP Muhammadiyah, di Jakarta, Kamis (3/12). Turut hadir dalam pertemuan tersebut aktivis dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (KOMPAK), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Forum Kepemimpinan Muda Indonesia (FKIP), dan beberapa elemen lainnya. Harapan mereka adalah adanya penyeleksian dalam memilih orang-orang yang akan duduk dalam panitia hak angket tersebut. Kalau bisa orang-orangnya diseleksi, kata Ray. Dalam pernyataan sikapnya, mereka mengatakan, kepercayaan masyarakat telah tertambat kepada Tim Sembilan sejak upaya mereka yang tidak kenal lelah dalam mengusung dan mengajukan hak angket ini. Mereka berharap pemimpin parpol sebaiknya tidak mengabaikan kepercayaan rakyat tersebut. Selanjutnya, Jumat (4/12) besok, bertepatan dengan penetapan panitia hak angket Bank Century oleh DPR, para aktivis tersebut berencana akan menggelar aksi di Nusantara Tiga Gedung DPR RI, Jakarta, pukul 14.00. Tema yang diusung masih sama, yaitu Tolak Penumpang Gelap Pansus Century.

Possibly related posts: (automatically generated)

Nama SBy di sebut dalam kasus Bank Century

04/12/2009 20:39 wib - Nasional Aktual Robert Ceritakan Runtutan Kasus Bank Century Jakarta, CyberNews. Selain merasa dikambinghitamkan, Robert menuturkan runtutan kasus Bank Century. Tanggal 4 Oktober 2005, Rafat dan Hesyam sebagai pemegang saham pengendali Bank Century telah menandatangi Letter of Commitment dengan Bank Indonesia (BI), yang membahas surat-surat berharga. Pada 15 Oktober 2008, dirinya bersama kedua koleganya itu kembali menandatangani Letter of Commitment yang isinya sama dengan penandatangan pertama. Penandatanganan itulah, menurutnya yang kemudian dijadikan dasar penangkapannya tanggal 25 November 2008.

Saat itu dia membenarkan, Bank Century mengalami kesulitan likuditas, dan meminta bantuan BI. Namun setelah gagal kliring tanggal 13 November, BI baru mengucurkan bantuan likuiditas. Rinciannya tanggal 15 November dikucurkan dana sebesar Rp 502 miliar, tanggal 18 November dikucurkan lagi sebesar Rp 187 miliar, sehingga totalnya Rp 689 miliar. Walaupun begitu, pada 20 November, dana tersebut telah habis karena adanya penarikan dana besar-besaran oleh nasabah (rush) se-Indonesia. Menurut Robert, sebelumnya tanggal 16 November dia telah mendapatkan calon investor baru dari grup Sinar Mas Multi Artha. Oleh sebab itu, di hari yang sama, dirinya menuju kantor BI bertemu Deputi Gubernur BI Siti Fajriah dan Budi Rohadi, mengabarkan hal itu. "Tapi karena pengumuman kalah kliring itu tetap tidak bisa diatasai rush-nya," katanya. Akibatnya, kesulitan likuiditas tidak dapat tertolong lagi. Tanggal 20 November, dia bersama Dirut Bank Century Hermanus Hasam Muslim (sudah divonis tiga tahun penjara terkait kasus perbankan Bank Century), dan Wakil Dirut Bank Century Hamidi, dia dipanggil lagi ke BI, kemudian disuruh ke Departemen Keuangan. Saat itu Rafat dan Hesyam tidak hadir. Sampai di sana, ternyata sedang ada rapat Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Dari pukul delapan malam hingga tujuh pagi, ketiganya disuruh menunggu di sebuah ruangan. Keesokan harinya, tanggal 21 November, Wakil Dirut Pengawasan BI, Heru Kristiana memberitahukan Bank Century telah diambil alih Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS). Diberitahukan juga, semua pemegang saham Bank Century dapat ambil bagian dalam rekapitulasi, minimal 20 persen dari dana yang diperlukan untuk penyehatan bank tersebut, yang harus dibayar dalam waktu 35 hari. Mewakili PT Century Mega Investindo, Robert menandatangi pernyataan keikutsertaan dalam rekapitulasi. Malam harinya, pihaknya bersama direksi Bank Century dihubungi kembali untuk datang ke BI. Sampai disana mereka langsung dipecat, dan diganti pengurus baru dari LPS. Setelah dipecat, pihaknya tidak diperkenankan sama sekali balik ke kantor hingga kini. Keesokan harinya, dia berangkat ke Singapura untuk menemui calon investor. Siangnya, Menteri Keuangan mengumumkan pencegahan ke luar negeri tehadap direksi dan komisari Bank Century termasuk dirinya. Karena Senin tanggal 24 November ada rencana pertemuan dengan LPS, maka sehari sebelumnya dia pulang ke Indonesia. "Jadi tidak benar saya mau kabur atau apa. Senin ketemuan dengan LPS ditunda hari Kamis. Selasanya saya sudah ditangkap di Mabes Polri tanggal 25 November samapai sekarang." ungkapnya. Dia mempermasalahkan penangkapan itu, karena batas waktu pembayaran rekapitulasi selama 35 hari baru terlewati empat hari. "Kok sudah ditangkap, dasarnya apa? Sekarang semua kalian tahu, dasarnya karena perintah Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dibilang saya perampok, dibilang kalo tidak ditangkap, saya kabur," kata Robert.

Sebelum pulang ke Indonesia dia sempat menelpon pengacara Denny Kailimang. Atas runtutan yang dikemukakan itu, Robert mengaku tidak mengetahui pengucuran dana bailout sebesar Rp 6,7 triliun dari LPS, yang kini bergulir menjadi bola panas. Setelah diambilalih LPS Jumat 21 November, Bank Century beroperasi kembali dengan pengurus baru, Senin 24 November. "Pencairan (dana bailout) dari LPS katanya kan bertahap. Saudara tahu tanggal 25 November saya sudah ditangkap Mabes Polri. Ya saya mana tahu mengenai 6,7 T. Apa hubungannya dengan saya," ujar Robert.