Anda di halaman 1dari 249

PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA TERHADAP MINAT MEMBACA ANAK DITINJAU DARI PENDEKATAN STRES LINGKUNGAN Soejanto Sandjaja

Minat membaca anak Sekolah Dasar masih rendah dan belum ada cara yang efektif untuk meningkatkannya. Keterlibatan orang tua diyakini dapat meningkatkan minat membaca anak. Dalam keluarga miskin, keterlibatan orang tua menjadi berkurang karena orang tua mengalami stres tingkat tinggi, sehingga mereka kurang dapat meningkatkan minat membaca anak. Namun keluarga miskin yang mendapat dukungan sosial, mereka dapat mengatasi stres keluarga dan mau terlibat untuk menolong anak dalam membaca sehingga minat membaca anak juga meningkat. Pendahuluan Tiap bulan September diperingati sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan. Melalui peingatan itu diharapkan masyarakat menjadi gemar membaca, khususnya anak-anak Sekolah Dasar (SD); sebab membaca adalah kunci untuk keberhasilan belajar siswa di sekolah. Kemampuan membaca dan minat membaca yang tinggi adalah modal dasar untuk keberhasilan anak dalam berbagai mata pelajaran. Sejak tahun 1995 sampai sekarang, media massa selalu memuat berita mengenai minat membaca masyarakat, terutama minat membaca anak-anak SD. Misal harian Suara Merdeka menulis tajuk rencana dengan judul Kegemaran Membaca Belum Seperti Yang Diharapkan (Suara Merdeka, 1995). Kompas memuat artikel Rumah Baca, Upaya Menumbuhkan Minat Baca (Kompas, 1995) dan Pikiran Rakyat (2000) melalui tulisan Wakidi yang berjudul Minat Membaca Anak Sekolah Dasar juga ikut prihatin dengan minat membaca anak SD yang rendah. Media elektronik seperti televisi juga ikut

menayangkan iklan layanan masyarakat untuk meningkatkan minat membaca Tulisan di surat kabar dan tayangan iklan layanan masyarakat di televisi pada intinya menyuarakan kepihatinan terhadap minat membaca anak-anak yang masih rendah. Padahal masalah minat membaca merupakan persoalan yang penting dalam dunia pendidikan. Anak-anak SD yang memiliki minat membaca tinggi akan berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya anak-anak SD yang memiliki minat membaca rendah, akan rendah pula prestasi belajarnya (Wigfield dan Guthrie, 1997). 12 Hampir tiap tahun orang tua diingatkan untuk menanamkan dan menumbuhkan minat membaca anak melalui media massa, namun keluhan bahwa minat membaca anak tetap rendah masih selalu terdengar. Nampaknya belum ditemukan cara yang efektif untuk melibatkan orang tua dalam menolong meningkatkan minat membaca. Belum banyak diteliti mengenai faktor-faktor yang menentukan bagaimana cara melibatkan orang tua untuk meningkatkan minat membaca anak. Pemahaman terhadap faktorfaktor tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan intervensi yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam menumbuhkan minat membaca anak di keluarga masing-masing. Kesulitan untuk melibatkan orang tua menjadi makin bertambah pada keluarga dengan sosial ekonomi rendah. Krisis ekonomi, bencana alam dan kerusuhan di beberapa daerah di Indonesia menambah jumlah keluarga miskin sehingga mereka tersisih dari kehidupan kota dan tinggal di kantong-kantong kemiskinan. Mereka sering mengalami pertengkaran dalam masalah keuangan keluarga sehingga mengalami stres tiap hari. Stres ini mkin bertambah tinggi oleh stres kerja, tinggal di daerah kumuh, panas, bising dan

sesak, persoalan kegagalan pendidikan anak dan laju kelahiran anak yang sulit dikendalikan. Tumpukan stres ini menyita dan membuang energi orang tua untuk hal yang negatif dan perhatian mereka tidak terpusat untuk terlibat menolong anak dalam membaca sehingga minat membaca anak tidak tumbuh dan berkembang. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka secara berurutan akan dibahas mengenai minat membaca anak, pendekatan stres lingkungan dan yang terakhir pengaruh keterlibatan orang tua terhadap minat membaca anak ditinjau dari pendekatan stres lingkungan. Minat Membaca Anak Aktivitas membaca akan dilakukan oleh anak atau tidak sangat ditentukan oleh minat anak terhadap aktivitas tersebut. Di sini nampak bahwa minat merupakan motivator yang kuat untuk melakukan suatu aktivitas. Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif anak terhadap aspekaspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang. 3 Meichati (1972) mengartikan minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melalukan suatu aktivitas. Aspek minat terdiri dari aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu obyek dan berpusat pada manfaat dari obyek tersebut. Aspek afektif nampak dalam rasa suka atau tidak senang dan kepuasan pribadi terhadap obyek tersebut. Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa

huruf dan kata. Juel (1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan. Secara operasional Lilawati (1988) mengartikan minat membaca anak adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan anak untuk membaca dengan kemauannya sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca oleh anak. Sinambela (1993) mengartikan minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. Berdasar pendapat-pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa minat membaca adalah kekuatan yang mendorong anak untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. Minat membaca perlu ditanamkan dan ditumbuhkan sejak anak masih kecil sebab minat membaca pada anak tidak akan terbentuk dengan sendirinya, tetapi sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diperoleh dari lingkungan anak. Keluarga merupakan lingkungan paling awal dan dominan dalam menanamkan, menumbuhkan dan membina minat membaca anak. Orang tua perlu menanamkan kesadaran akan pentingnya membaca dalam kehidupan anak, setelah itu baru guru di sekolah, teman sebaya dan masyarakat. Mulyani (1978) berpendapat bahwa tingkat perkembangan seseorang yang paling

menguntungkan untuk pengembangan minat membaca adalah pada masa peka, yaitu sekitar usia 5 s/d 6 tahun. Kemudian minat membaca ini akan berkembang sampai dengan masa remaja. 4 Minat membaca pertama kali harus ditanamkan melalui pendidikan dan kebiasaan keluarga pada masa peka tersebut. Anak usia 5 s/d 6 tahun senang sekali mendengarkan cerita. Mula-mula mereka tertarik bukan pada isi ceritanya, tetapi pada kenikmatan yang diperoleh dalam kedekatannya dengan orang tua. Ketika duduk bersama atau duduk di pangkuan orang tua, anak merasakan adanya kasih sayang dan kelembutan. Suasana yang menyenangkan dan didukung oleh buku cerita yang penuh gambargambar indah akan membuat anak menjadi tertarik dan senang menikmati cerita dari buku. Melalui proses imitasi, anak akan suka menirukan aktivitas membacakan cerita yang dilakukan oleh orang tuanya. Peniruan ini akan semakin diulang bila anak juga sering melihat orang tua melakukan aktivitas membaca. Anak akan meniru gaya dan tingkah laku orang tua dalam membaca. Kemudian setelah anak mampu membaca sendiri, maka ia akan senang sekali mempraktekkan kemampuan membacanya dengan membaca sendiri buku-buku yang tersedia di rumah. Kemauan untuk membaca buku atas inisiatif diri sendiri ini adalah awal tumbuhnya minat membaca anak. Perkembangan selanjutnya dari minat membaca ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ada dua kelompok besar faktor yang mempengaruhi minat membaca anak, yaitu faktor personal dan faktor institusional (Purves dan Beach, dalam Harris dan Sipay, 1980). Faktor personal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri anak, yaitu meliputi usia, jenis kelamin, inteligensi, kemampuan membaca, sikap dan kebutuhan psikologis. Sedangkan faktor institusional adalah faktor-faktor di luar diri anak, yaitu meliputi

ketersediaan jumlah buku-buku bacaan dan jenis-jenis bukunya, status sosial ekonomi orang tua dan latar belakang etnis, kemudian pengaruh orang tua, guru dan teman sebaya anak Ada perbedaan minat anak terhadap buku bila ditinjau dari usia kronologis anak. Ediasari (Ayahbunda, 1983) berpendapat bahwa pada usia antara dua sampai dengan enam tahun anak-anak menyukai buku bacaan yang didominasi oleh gambar-gambar yang nyata. Pada usia tujuh tahun anak menyukai buku yang didominasi oleh gambargambar dengan bentuk tulisan besar-besar dan kata-kata yang sederhana dan mudah dibaca. Biasanya pada usia ini anak sudah memiliki kemampuan membaca permulaan dan mereka mulai aktif untuk membaca kata. Pada usia 8 s/d 9 tahun, anak-anak menyukai buku bacaan dengan komposisi ganbar dan tulisan yang seimbang. Mereka biasanya sudah lancar membaca, walaupun pemahaman mereka masih terbatas pada kalimat singkat dan sederhana bentuknya. Kemudian pada usia 10 s/d 12 tahun anak lebih menyukai buku dengan komposisi tulisan lebih banyak daripada gambar. Pada usia ini 5 kemampuan berpikir abstrak dalam diri anak mulai berkembang sehingga mereka dapat menemukan intisari dari buku bacaan dan mampu menceritakan isinya kepada orang lain. Munandar (1986) menemukan ada perbedaan minat anak terhadap isi cerita ditinjau dari perkembangan usia kronologis anak. Pada usia 3 s/d 8 tahun anak menyukai buku cerita yang berisi mengenai binatang dan orangorang di sekitar anak. Pada masa ini anak bersikap egosentrik sehingga mereka menyukai isi cerita yang berpusat pada kehidupan di seputar dirinya. Mereka juga menyukai cerita khayal dan dongeng. Pada usia 8 12 tahun anak menyukai isi cerita yang lebih realistik. Munandar juga menemukan ada perbedaan umum antara minat membaca anak laki-laki dan perempuan dalam sifat dan tema cerita, walaupun perbedaan ini tidak

bersifat pilah sama sekali; artinya anak-anak perempuan juga menikmati bacaan anakanak laki-laki dan sebaliknya. Pada umumnya anak-anak perempuan menyukai buku cerita dengan tema kehidupan keluarga dan sekolah. Anak-anak laki-laki lebih menyukai buku cerita mengenai pertualangan, kisah perjalanan yang seram dan penuh ketegangan, cerita kepahlawanan dan cerita humor. Faktor institusional memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan minat membaca anak. Keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi, mampu menggunakan tingkat pendidikannya yang tinggi untuk memperoleh informasi mengenai buku-buku yang perlu untuk perkembangan kognitif dan afektif anak. Didukung oleh penghasilan mereka yang cukup tinggi, maka orang tua dapat menyediakan buku-buku bacaan untuk anak dengan jenis yang beragam. Slavin (1998) menemukan ada perbedaan aktivitas orang tua dalam membimbing anak antara keluarga dengan status sosial ekonomi tinggi dengan status sosial ekonomi rendah. Orang tua dengan status sosial ekonomi tinggi memiliki harapan tinggi terhadap keberhasilan anak di sekolah dan mereka sering memberi penghargaan terhadap pengembangan intelektual anak. Mereka juga mampu menjadi model yang bagus dalam berbicara dan aktivitas membaca. Orang tua sering membaca bersama anak, memberika pujian kepada anak saat anak membaca buku atas inisiatif sendiri, membawa anak ke toko buku dan mengunjungi perpustakaan dan mereka menjadi model bagi anak dengan lebih sering memanfaatkan waktu luang untuk membaca. Orang tua dengan status sosial ekonomi rendah sering memberi contoh negatif dalam berbicara, terutama saat mereka bertengkar karena keterbatasan keuangan keluarga. Mereka juga jarang memuji anak ketika anak membaca, bahkan orang tua memiliki pengharapan rendah terhadap keberhasilan sekolah anak sehingga mereka tidak 6

mau terlibat untuk membantu pekerjaan rumah anak atau tugas sekolah yang lain. Akibat selanjutnya anak menjadi tidak berprestasi di sekolah dan hal ini menambah tekanan keluarga ketika orang tua dipanggil ke sekolah untuk mempertanggungjawabkan kegagalan pendidikan anak. Nampak bahwa keluarga dengan status sosial ekonomi rendah mengalami stres yang tinggi. Pendekatan Stres Lingkungan Pendekatan stres lingkungan sering digunakan secara luas dalam psikologi lingkungan. Stresor seperti kebisingan, kepadatan penduduk dan kesesakan, tekanan kerja, bencana alam, polusi dll adalah lingkungan aversif yang mengancam kesejahteraan manusia. Sebagai variabel mediator, stres didefiniskan sebagai reaksi terhadap lingkungan aversif (Bell dkk, 1996). Reaksi tersebut meliputi komponen emosi, perilaku dan fisiologis. Komponen fisiologis sering dinamakan stres sistemik, sedangkan komponen emosi dan tingkah laku dinamakan stres psikologis. Karena stres sistemik dan stres psikologis adalah saling berkaitan dan tidak terjadi sendiri-sendiri, maka psikolog lingkungan biasanya memadukan keduanya dalam satu teori yang dinamakan model stres lingkungan. Dalam model ini, stresor menunjuk kepada komponen lingkungan sedangkan response stres menunjukkan reaksi yang disebabkan oleh komponen lingkungan. Ada tiga karakteristik utama stresor, yaitu peristiwa kataklismik (cataclysmic events), stres personal (personal stressors) dan stresor latar belakang (background stressors). Kejadian atau peristiwa kataklismik memiliki beberapa karakteistik dasar, yaitu biasanya terjadi secara tiba-tiba dengan sedikit tanda-tanda atau bahkan tidak ada tanda-tanda akan terjadi suatu peristiwa. Pengaruhnya sangat kuat sehingga muncul response universal dan melibatkan sejumlah besar orang. Kekuatan kataklismik yang

mendadak menimbulkan rasa bingung pada korban, biasanya membutuhkan usaha sangat besar untuk melakukan koping secara efektif. Koping stres yang efektif berupa afiliasi satu sama lain dengan cara berbagi pendapat dan rasa. Bila koping tidak berhasil maka akan muncul ketidakberdayaan dan sikap pasif. Contoh peristiwa kataklismik adalah bencana alam, perang, kebocoran nuklir, kebakaran hebat dll. Stresor personal meliputi kesakitan, kematian suami atau istri atau anak yang disayangi, pemutusan hubungan kerja dll yang biasanya dialami oleh seseorang dan membawa pengaruh yang buruk. Strategi koping yang efektif untuk stresor personal biasanya adalah dukungan sosial. 7 Background stressors dibedakan menjadi dua, yaitu daily hassles yang sering dinamakan juga stresor mikro, bersifat stabil dan intensitasnya rendah; misalnya adalah kehilangan barang, terlambat kerja, tekanan karena pekerjaan rumah tangga dan hal-hal lain yang bersifat rutin; dan ambient stressors atau stresor kronis yang bersifat global, misalnya polusi air dan udara, kebisingan, kepadatan dan kesesakan tempat hunian, kemacetan lalulintas dll yang bersifat masalah masyarakat pada umumnya. Smet (1994) menemukan ada beberapa stresor dalam keluarga, yaitu perselisihan dalam masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, perbedaan yang tajam dalam menentukan tujuan, kebisingan karena suara radio, televisi atau tape yang dinyalakan dengan suara keras sekali, keluarga yang tinggal di lingkungan yang terlalu sesak, dan kehadiran adik baru. Stresor lain dalam keluarga adalah kehilangan anak yang disayangi akibat bencana alam, kesakitan atau kecelakaan, kematian suami atau istri. Burr dan Klein (1994) menemukan ada enam stresor dalam stres keluarga, yaitu perekonomian keluarga menjadi bangkrut, anak mengalami cacat fisik atau mental sehingga harus di rawat di rumah sakit, remaja yang sulit dididik sehingga harus dibawa ke psikiater, anak yang mengalami penyempitan otot, ketidaksuburan pasangan suami dan

istri, perubahan peran dalam rumah tangga. Karakteristik response stres meliputi response fisiologis, strategi koping dan adaptasi. Response fisiologis bersifat otomatis dan menurut Selye (dalam Bell dkk, 1996) ada tiga tahap sindrome adaptasi umum yaitu tahap reaksi alarm, tahap resistensi dan tahap kelelahan. Reaksi alarm terhadap stresor bersifat proses otomatis, misal detak jantung meningkat, pengeluaran adrenalin, keringat dingin dll. Tahap resistensi juga dimulai dengan proses otomatis untuk menghadapi stresor, misal pada udara yang panas, secara otomatis tubuh mengeluarkan keringat. Bila mekanisme keseimbangan tidak tercapai, maka akan terjadi tahap ketiga, yaitu tahap kelelahan yang mengakibatkan beberapa penyakit seperti tukak lambung, pembengkakan adrenal dan gagal ginjal. Strategi koping adalah perpaduan antara fungsi dari faktor individu dan situasional, meliputi melarikan diri dari stresor, serangan fisik atau verbal, dan kompromi. Pada dasarnya ada dua kategori strategi koping, yaitu aksi langsung atau berfokuskan pada masalah, misal mencari informasi, melarikan diri / menghindari stresor, mencoba memindahkan atau menghentikan stresor; dan paliatif atau berfokuskan emosi, misal menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti penyangkalan, rasionalisasi, reaksi formasi dll, penggunaan obat-obatan, relaksasi dll. Adaptasi terjadi ketika stimulus aversif muncul berulang kali dan response stres terhadap stresor menjadi makin lemah 8 dan bertambah lemah. Proses berikutnya setelah adaptasi adalah terjadi aftereffects, yaitu akibat jangka panjang setelah stresor berhenti. Pengaruh Keterlibatan Orang Tua terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau dari Pendekatan Stres Lingkungan Dalam keluarga yang miskin, penghasilan suami dan atau istri yang rendah sering menjadi pemicu pertengkaran dalam keluarga. Akibat lebih lanjut dari pertengkaran adalah suami dan istri menjadi saling tidak peduli. Orang tua dengan tingkat pendidikan

yang rendah ternyata sulit untuk mengendalikan kelahiran anak, sehingga jumlah kelahiran anak menjadi bertambah (Semaoen, Hani, Kiptiyah, 2000). Kehadiran anak atau adik baru bagi anak yang lebih tua menimbulkan stres bagi ibu dan ayah. Ibu akan merasakan stres selama kehamilan, apalagi bila anak yang dikandung adalah anak yang ketiga atau keempat dimana muncul rasa bersalah tidak mentaati program Keluarga Berencana, dan pasca melahirkan. Stres pada ayah berkaitan dengan rasa kuatir akan berubahnya interaksi antara suami dan istri dan timbul kekuatiran akan tambahan beaya hidup. Biasanya keluarga miskin ini tinggal di kantong-kantong kemiskinan dengan luas rumah yang sangat terbatas, kumuh, panas, bising dan sesak. Tinggal di lingkungan yang terlalu sesak dapat menimbulkan stres dan akibat selanjutnya orang menjadi kurang suka menolong orang lain (Bell dkk, 1996). Keluarga yang tinggal di daerah slums, biasanya tetap memiliki gambaran kualitas rumah yang ideal. Mereka biasanya masih mendambakan rumah berkualitas dengan ciri-ciri adanya kontinuitas, yaitu rasa memiliki rumah secara permanen; ada privasi, ada tempat untuk mengekspresikan diri, identitas personal yaitu berkaitan dengan simbol diri mereka dan keinginan untuk menunjukkan rumah kepada orang lain; relasi sosial, kehangatan dan tempat untuk berteduh dan berlindung (Smith, 1994). Ketiadaan ruang untuk ekspresi diri, yaitu untuk mengembangkan intelektual dan kepribadian anak; maupun kehangatan yang ditandai dengan adanya suasana persahabatan dan dukungan untuk berprestasi, menghalangi orang tua untuk menolong anak dalam aktivitas membaca maupun aktivitas belajar yang lain. Perselisihan dalam keluarga, perasaan saling tidak peduli, kesesakan karena

keterbatasan luas rumah dan terlalu banyak anak, kebisingan, kurang ruang untuk ekspresi diri dan kehangatan merupakan stresor yang kuat dalam keluarga miskin. Stresor 9 ini masih ditambah dengan adanya interaksi orang tua dengan fihak lain di luar lingkungan rumah, yaitu tekanan kerja di tempat kerja. Ada konflik antara tuntutan kerja dengan tuntutan keluarga. Keluarga menuntut penghasilan yang lebih tinggi untuk menutup beaya kehidupan sehari-hari, sedangkan di tempat kerja orang tua juga dituntut untuk lebih profesional dalam bekerja namun tidak mampu karena keterbatasan tingkat pendidikan dan kekurangan ketrampilan kerja. Stresor yang lain adalah pengalaman stres anak-anak di sekolah. Orang tua jarang terlibat untuk membantu anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah maupun aktivitas belajar anak yang lain menyebabkan anak tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah. Ketidakbiasaan membuat pekerjaan rumah menjadikan anak tidak terlatih sehingga anak sering gagal dan ditertawakan bila harus mengerjakan tugas di depan kelas. Dua hal ini menjadikan anak juga mengalami stres. Orang tua juga akan bertambah stres ketika dipanggil oleh pihak sekolah guna mempertanggungjawabkan kegagalan pendidikan anak. Stres dalam keluarga berinteraksi dengan stres dari luar lingkungan rumah menimbulkan stres tingkat tinggi dalam diri orang tua. Hal ini menyita waktu orang tua dan membuang energi dan perhatian mereka sehingga secara psikologis mereka tidak mampu untuk terlibat menolong anak dalam aktivitas membaca. Ketidakterlibatan orang tua dalam aktivitas membaca mengakibatkan minat membaca anak tetap rendah (Grolnick dkk, 1997). Penelitian Grolnick dkk ini berbeda dengan hasil penemuan Morrow dan Young (1997) yang menemukan bahwa kegiatan membaca bersama antara anak dan orang

tuanya berpengaruh terhadap sikap dan minat membaca anak. Melalui program membaca bersama antara orang tua dan anak, anak-anak menjadi suka mengisi waktu luangnya dengan aktivitas membaca, mereka suka membaca bersama orang dewasa yang lain, suka membaca majalah dan buku-buku yang ada di rumah dan di perpustakaan sekolah. Kondisi sosial ekonomi keluarga dalam penelitian Morrow dan Young juga tergolong rendah, namun mereka merasa mendapat dukungan sosial melalui program membaca keluarga. Buku-buku dan perlengkapan membaca merupakan dukungan instrumental untuk mendidik anak, program pelatihan untuk orang tua agar terlibat secara efektif dalam program membaca keluarga merupakan dukungan informatif yang sangat berguna bagi orang tua untuk memberikan dukungan penghargaan dan emosi kepada anak saat mereka membaca bersama. 10 Penutup Pendekatan stres lingkungan dapat digunakan untuk menolong memprediksikan bermacam-macam akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan lingkungan fisik, sosial maupun psikologis. Namun perlu dicermati bahwa pendekatan stres lingkungan secara tunggal sering menimbulkan kekaburan dalam mengidentifikasi stresor. Model stres lingkungan juga sering sulit secara pasti memprediksikan strategi koping yang akan digunakan oleh keluarga untuk menghadapi stresor, sebab antara satu keluarga dengan keluarga lain mungkin berbeda walaupun tinggal dalam lingkungan dan kondisi sosial ekonomi sama. Ketergantungan pada konteks keluarga dan adanya perbedaan individual masih merupakan suatu tantangan psikologi lingkungan. DAFTAR PUSTAKA Ayahbunda, Jakarta, September No. 18, 1983 Bell, P.A., Greene, T.C., Fisher, J.D., and Baum, A. 1996. Enviromental Psychology. Fourth Edition. Orlando : Harcourt Brace College Publishers.

Burr, W.C., and Klein, S.R. 1994. Reexamining Family Stress : New Theory and Research. California : Sage Publishers, Inc. Grolnick, W.S., Benjet, C., Kurowski, C.O., and Apostoleris, N.H. 1997. Predictors of Parent Involvement in Childrens Schooling. Journal of Educational Psychology. 89 ( 3), 538 548. Harris, A., and Sipay, E. 1980. How To Increase Reading Ability.. New York : Longman, Inc. Juel, C. 1988. Learning to Read and Write : A Longitudinal Study of 54 Children from First through Fourth Grade. Journal of Educational Psychology, 80 (4), 437 447. Kompas, Jakarta, 22 Januari 1995 Lilawati, 1988. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Stimulasi Membaca dari Orang Tua dan Inteligensi dengan Minat Membaca Pada Anak Kelas V Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Meichati, S. 1978. Motivasi Pembaca. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada. Morrow, L..M., and Young, J. 1997. A Family Literacy Program Connecting School and home : Effects on Attitude, Motivation and Literacy Achievement. Journal of Educational Psychology, 89 ( 4), 736 - 742. 11 Mulyani, A.N. 1981. Pembinaan Minat Baca dan Promosi Perpustakaan. Berita Perpustakaan Sekolah, I, 24 29. Munandar, S.C.U. 1986. Memupuk Minat Untuk Membaca. Jakarta : IKAPI. Pikiran Rakyat, Bandung, 15 Juli 2000 Semaoen, I., Hani, E.S. dan Kiptiyah, S.M. 2000. Strategi Orang tua Di Perdesaan Miskin dalam Upaya Peningkatan Kualitas Anak. Jurnal Ilmu-ilmu Sosial, 12 ( 1 ), 10 17.

Sinambela, N.L. 1993. Hubungan Minat Membaca dengan Kreativitas Pada Siswa-siswi Kelas II SMP Negeri 5 Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Slavin, R. 1998. Educational Psychology : Theory and Practice. Fourth Edition. Boston : Allyn and Bacon. Smeth, B. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta : PT : Gramedia Smith, S.G. 1994. The Essential Qualities of Home. Journal of Enviromental Psychology, 14, 31 46. Suara Merdeka, Semarang, 15 September 1995. Wigfield, A., and Guthrie, J.T. 1997. Relations of Childrens Motivation for Reading to the Amount and Breadth of Their Reading. Journal of Educational P

http://www.pandjipurnama.com/jurnal/artikel1.pdf

Pada zaman sekarang ini internet bukanlah sesuatu yang sangat istimewa sebagaimana pada waktu pertama kalinya internet diperkenalkan kepada masyarakat. Teknologi internet tidak hanya dinikmati oleh kalangan cendikiawan atau pelajar saja. Anak usia SD pun pada zaman sekarang ini sudah mengenal teknologi internet. Disadari atau tidak internet telah melakukan perubahan di dalam masyarakat, bahkan internet telah menjadi bagian kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari terutama di kalangan pelajar yang sehari-harinya diliputi oleh tugas-tugas yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan membaca buku yang banyak yang tentunya akan membuang waktu yang lama. Manfaat dan Dampak Negatif Penggunaan Internet Terhadap Prestasi Siswa Tidak semua infomasi yang ada di internet menyajikan informasi-informasi yang positif saja tetapi juga terdapat informasi-informasi yang bersifat negatif. Di bawah ini adalah uraian manfaat dan dampak penggunaan internet :

Manfaat Internet Media internet sebagai media komunikasi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Dengan adanya internet seorang siswa bisa mengadakan studi banding dengan sekolah-sekolah lain seperti tukar-menukar informasi pelajaran maupun yang lainnya, dengan begitu seorang siswa yang memiliki kekurangan didalam pelajaran maupun prestasi maka dengan sering berkomunikasi dengan siswa yang berprestasi maka akan memberikan suatu motivasi yang kuat terhadap siswa yang kurang berprestasi sehinggga siswa yang kurang berprestasi menjadi lebih terpacu semangatnya untuk lebih giat lagi belajar.

Dampak Negatif Internet a.) Malas Karna mudah mencari informasi diinternet sehingga mengakibatkan timbulnya rasa malas dikalangan siswa untuk membaca buku yang ada perpustakaan, maupun buku-buku pelajaran karna mereka merasa diinternet sudah ada semuanya. b.) Pornografi Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela. Hal ini karena akses internet bersifat bebas dan mudah diakses oleh siapa saja sehingga situs-situs pornografi yang tidak boleh ditonton oleh kalangan dibawah umur (belum menikah) terutama siswa. Hal ini bisa berdampak buruk bagi perkembangan prestasi siswa. c.) Kriminal Dengan terdapatnya gambar-gambar pornografi dan kekerasan di internet bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal. Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya terjadi tawuran dikalangan siswa d.) Penipuan. Seorang siswa yang memiliki pengetahuan yang minim akan mudah terpengaruh dengan iklan-iklan yang terdapat didalam internet yang pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri. e.) Ketergantungan. Dengan adanya internet ini membuat siswa semakin malas untuk membaca buku yang memiliki kelengkapan informasi yang lebih lengkap dibandingkan dengan internet. Hal ini mengakibatkan ketergantungan siswa didalam menggunakan internet.

Permasalahan Internet di Dunia Pendidikan Tidaklah selamanya internet dapat diperoleh dengan mudah oleh setiap orang termasuk juga di Dunia Pendidikan. Tidak semua intelektual dapat mengoperasikan internet dengan baik, bahkan ada juga yang tidak bisa menggunakan internet sama sekali. Oleh karena itu, dibawah ini merupakan hambatan yang terjadi :

Kurangnya penguasaan bahasa Inggris.Sebagian besar informasi di internet tersedia dengan menggunakan bahasa Inggris. Untuk mengatasi hal ini maka orang yang akan mengakses internet paling sedikitnya harus mengerti bahasa Inggris. Kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia. Solusi untuk hal ini adalah haruslah banyak disediakan situs-situs terutama pendidikan yang menggunakan bahasa Indonesia di dalam memberikan informasinya. Akses Internet masih mahal. Namun hal ini diharapkan akan menjadi lebih murah di masa yang akan datang. Misalnya dengan memberikan subsidi dari pemerintah untuk institusi pendidikan. Akses Internet masih susah diperoleh. Akibatnya, siswa atau pelajar yang berada di kota kecil atau pelosok yang belum tersentuh internet akan ketinggalan informasi. Guru belum siap. Di Indonesia masih banyak guru yang belum bisa mengakses internet. Jika setiap guru di Indonesia membuat soal dua saja dan menyimpannya di internet, maka akan ada ribuan bahkan jutaan soal yang dapat dipergunakan untuk latihan soal di kelas *) Tulisan ini dikirim oleh Abu Talha Al, seorang guru SD di SD Negeri 006 Sagulung, Kota Batam Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2013/03/pengaruh-internet-terhadapprestasi.html#ixzz2ZH7Bm8YO

i PENGARUH MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH TERHADAP PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS VI (ENAM) MADRASAH IBTIDAIYAH JOHOREJO KECAMATAN GEMUH KABUPATEN KENDAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam Oleh: SITI ROICHAH NIM: 093111271 FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011PERNYATAAN KEASLIAN Yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Siti Roichah NIM : 093111271 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya. Semarang, 10 Juni 2011 Saya yang menyatakan,

Materai 6000 Siti Roichah NIM: 093111271NOTA PEMBIMBING Semarang, 9 Juni 2011 Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Semarang Assalamualaikum Wr.Wb. Dengan ini diberitahukan bahwa saya telah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi naskah skripsi dengan: Judul : Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Nama : Siti Roichah NIM : 093111271 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam Saya memandang bahwa naskah skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang untuk diujikan dalam Sidang Munaqosyah. Wassalamualaikum Wr.Wb. Pembimbing, Dr. H. Syaifudin Zuhri, M.Ag NIP.19580815987031002ABSTRAK

Judul : Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Penulis : Siti Roichah NIM : 093111271 Skripsi ini membahas Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. kajianya dilatarbelakangi oleh rendahnya minat belajar pada materi cerita sejarah yang mempengaruhi prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Studi ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: (1) Bagaimanakah minat belajar siswa pada materi cerita sejarah di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo? (2) Bagaimanakah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo? (3) Adakah pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi belajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo? Permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan pada siswa Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah. Madarasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal tersebut dijadikan sumber data untuk mendapatkan potret dan jawaban pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Datanya diperoleh dengan cara wawancara, observasi, angket, dan dokumentasi. Semua data dianalisis dengan analisis statistik dengan rumus product moment. Kajian ini menunjukkan bahwa: (1) Tingkat minat belajar siswa diperoleh mean

yaitu 29. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa variable minat belajar siswa dalam kategori cukup yaitu pada interval 26 32. (2) Prestasi siswa pada prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam diperoleh mean yaitu 85,73 dan dibulatkan menjadi 86. Dari mean tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel tentang Prestasi siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam kategori cukup yaitu pada interval 82 142. (3) Pengujian hipotesis penelitian menunjukkan pengaruh positif minat belajar siswa terhadap peningkatan prestasi siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, dengan rumus product moment yang menunjukkan nilai r observasi adalah 0,47049. Kemudian hasil tersebut dikonfirmasikan dengan harga rteoritik pada taraf signifikansi 5% maupun 1% untuk jumlah responden 33 dalam taraf sigifikansi 5% = 0,344 dan taraf signifikansi 1% = 0,442.KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT. Penulis panjatkan atas segala rahmat, taufik, hidayah, dan inayah-Nya, sehinga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal dengan baik tanpa mengalami kendala yang berarti. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpahkan dan senantiasa penulis sanjungkan kepada Khotamu Anbiya`Walmursalin Rosulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat-sahabat, dan para pengikutnya yang telah membawa dan mengembangkan Islam sehingga seperti sekarang ini. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini bukanlah semata hasil dari jerih payah penulis secara pribadi. Akan tetapi semua ini terwujud berkat adanya usaha dan bantuan baik berupa moral maupun spiritual dari berbagai pihak yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan skipsi ini. Oleh karena itu, penulis tidak akan lupa untuk menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Prof. Dr. Muhibbin, M.Ag., selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang

2. Dr. Sujai, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. 3. Ahmad Muthohar, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Program Kualifikasi S1 Guru R.A. dan Madrasah. 4. Dr. H. Syaifudin Zuhri, M.Ag. selaku pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan nasehat sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi tanpa menemui hambatan yang berarti. 5. Segenap Dosen dan Karyawan IAIN Walisongo Semarang atas segala didikan, bantuan, dan kerjasamanya. 6. Kepala Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal 7. Suamiku Mukhozin yang telah memberikan semangat dan dorongan 8. Segenap sahabat penulis tanpa kecuali yang selalu memotivasi.9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam memberikan bantuan, dorongan dan do`a kepada penulis selama melaksanakan studi di Fakultas Tarbiyah di IAIN Walisongo Semarang. Harapan dan do`a penulis semoga semua amal kebaikan dan jasa-jasa dari semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikanya skripsi ini dapat diterima Allah SWT, serta mendapatkan balasan yang lebih baik dan berlipat ganda. Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan yang disebabkan karena keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharap saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat nyata bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Semarang, 10 Juni 2011 Siti Roichah

NIM: 093111271DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i PERNYATAAN KEASLIAN ....................................................................... ii PENGESAHAN ............................................................................................. iii NOTA PEMBIMBING ................................................................................. iv ABSTRAK ..................................................................................................... v KATA PENGANTAR ................................................................................... vii DAFTAR ISI .................................................................................................. viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................... 4 C. Manfaat Penelitian ................................................................... 5 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka ......................................................................... 6 B. Kerangka Teoritik ................................................................... 24 C. Rumusan Hipotesis .................................................................. 25 BAB III METODE PENELITAN A. Jenis Penelitian ........................................................................ 28 B. Tempat dan Waktu Penelitian.................................................. 28 C. Populasi dan Sampel Penelitian............................................... 29 D. Variabel dan Indikator Penelitian............................................. 29 E. Teknis Pengumpulan Data ....................................................... 31 F. Teknis Analisis Data ............................................................... 35 BAB IV ANALISIS A. Diskripsi Pola Hasil Penelitian ................................................ 38 B. Pegujian Hipotesis .................................................................. 47

C. Pembahasan Hasil Penelitian .................................................. 50D. Keterbatasan Penelitian............................................................ 51 BAB V PENUTUP A. Simpulan ................................................................................. 52 B. Saran ........................................................................................ 53 C. Penutup .................................................................................... 53 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP1 BAB I PENGARUH MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH TERHADAP PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS VI (ENAM) MADRASAH IBTIDAIYAH JOHOREJO A. Latar Belakang Masalah Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan pada tanggal 2 Mei 2002. Salah satu kebijakan pokok dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan melalui gerakan tersebut yang terkait dengan pengelolaan pendidikan adalah ditetapkannya penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) mulai dari satuan pendidikan anak usia dini sampai menengah.1 Hal ini sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003, bab XIV tentang pengelolaan pendidikan, bagian ke satu (umum), pasal 51 ayat 1 berikut: Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah / madrasah.2

Setiap orang tua yang mensekolahkan anaknya menginginkan anaknya berprestasi yang baik. Namun untuk mencapai hal itu bukanlah suatu hal yang mudah. Karena keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain, Faktor internal, ialah faktor yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri, seperti kesehatan, mental, tingkat kecerdasan, minat dan sebagainya. Faktor itu berwujud juga sebagai kebutuhan dari 1 Ibrahim Bafadal, Peningkatan Profesionalan Guru, (Jakarta: Grafindo Persada, 2000), hlm. 90 2 UUSPN No. 20 tahun 2003, hlm. 272 anak. Faktor eksternal, ialah faktor yang datang dari luar diri anak, seperti kebersihan rumah, udara, lingkungan, keluarga, masyarakat, teman, guru, media, sarana dan prasarana belajar. Firman Allah dalam surat Ar-Rad ayat: 11

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Rad: 11). 3 Ayat diatas mejelaskan bahwa perubahan pada diri seseorang tidak akan terwujud apabila tidak di sertai dengan usaha pada dirinya. Begitu juga halnya siswa dalam kegiatan belajar mengajar tidak akan mendapatkan prestasi yang diharapkan apabila tidak disertai dengan kemauan yang kuat untuk belajar dalam diri siswa. Sebagai suatu aspek kejiwaan minat bukan saja dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang, tapi juga dapat mendorong orang untuk tetap

melakukan dan memperoleh sesuatu. Hal itu sejalan dengan yang dikatakan oleh S. Nasution bahwa pelajaran akan berjalan lancar apabila ada minat. Anak-anak malas, tidak belajar, gagal karena tidak ada minat.4 Dalam hal ini minat belajar pada materi cerita sejarah merupakan salah satu landasan penting bagi siswa dalam memperoleh prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Apalagi pada anak kelas VI (enam) dalam menghadapi ujian baik Ujian Akhir Madrasah (UAM) maupun Ujian Akhir Sekolah (UAS). Tuntutan itu sangatlah dirsakan oleh guru atau siswa ketika dihadapkan pada target nilai akhir yang harus dicapai. 3 R.H.A. Soenarjo, dkk, Al-quran dan Terjemahnya, (Jakarta: CV. Naladana, 2004), hlm. 337. 4 S. Nasution, Didaktik Azas-Azas Mengajar, (Bandung; Jemmars, 1998) hlm. 58 3 Bila seorang siswa tidak memiliki minat dan perhatian yang besar terhadap objek yang dipelajari maka sulit diharapkan siswa tersebut akan tekun dan memperoleh hasil yang baik dari belajarnya. Sebaliknya, apabila siswa tersebut belajar dengan minat dan perhatian besar terhadap objek yang dipelajari, maka hasil yang diperoleh lebih baik. Seperti yang diungkapkan oleh Usman Efendi dan Juhaya S. Praja bahwa belajar dengan minat akan lebih baik daripada belajar tanpa minat.5 Tinggi rendahnya minat belajar siswa pada materi cerita sejarah dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tentunya akan memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar yang akan dicapai oleh siswa. Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan mata pelajaran yang materinya berisikan tentang peristiwa sejarah masa lalu, sehingga guru dituntut untuk memberikan materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

dengan metode yang kreatif dan inovatif sehingga siswa tidak merasa bosan dan jenuh dalam menerima materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Guru sering terjebak dengan metode pengajaran yang lebih mengarah pada metode ceramah saja. Padahal metode tersebut dapat mendatangkan kebosanan siswa apabila guru yang memberikan materi tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi atau keadaan siswa selain itu metode tersebut membuat siswa kurang kreatif menggunakan semua aspek kecerdasannya. Karena itu jika terjadi kebosanan pada siswa maka akan berpengaruh kepada minat siswa untuk mengikuti proses belajar. Minat mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan pelaksanaan studi yaitu : 1. Minat melahirkan perhatian yang serta merta 2. Minat memudahkan terciptanya konsentrasi 3. Minat mencegah gangguan perhatian dari luar 5 Usman Efendi dan Juhaya S Praja, Pengantar Psikologi, (Bandung: Angkasa, 1993) hlm. 1224 4. Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan 5. Minat memperkecil kebosanan studi dalam diri sendiri.6 Dikarenakan sebagian besar siswa menyatakan bahwa pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah pelajaran yang membosankan karena hanya berisikan cerita sejarah, mereka tidak dapat melihat apakah sesungguhnya makna pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tersebut bagi kehidupannya. Dan biasanya mereka yang kurang berminat dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tersebut nilainya kurang memuaskan sedangkan siswa yang berminat dan memperhatikan nilainya memuaskan Dari keterangan diatas bahwa pembelajaran Sejarah Kebudayaan

Islam bukanlah mata pelajaran yang dianggap momok terutama seorang siswa kalau dapat disajikan dengan hal yang menarik dan menyenagkan. Hal tersebut menjadikan pekerjaan rumah bagi seorang guru untuk memberikan inovasi dalam pembelajaran sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan optimal dan menghasilkan drop out sesuai yang diharapkan, baik dari seorang guru ataupun dari oranr tua yang menjadikan tujuan awal dalam mensekolahkan anaknya. Sehubungan dengan masalah tersebut dalam kesempatan ini penulis bermaksud mengkajinya dalam skripsi dengan judul: PENGARUH MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH TERHADAP PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS VI (ENAM) MADRASAH IBTIDAIYAH JOHOREJO B. Rumusan Masalah Merujuk pada latar belakang di atas maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah minat belajar siswa pada materi cerita sejarah di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo? 6 The Liang Gie, Cara Belajar yang Efisien, Jilid I, Pusat Belajar Ilmu Berguna, Yogyakarta, 1998, hlm. 285 2. Bagaimanakah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo? 3. Adakah pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi belajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo? C. Manfaat Penelitian Dalam penelitian ini penulis berharap ada manfaat yang dapat diambil

oleh pihak terkait seperti penulis sendiri, orang tua dan bagi para pendidik dalam hal ini khususnya guru. Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah : 1. Kepada lembaga pendidikan Hendaknya lebih mengawasi dan memberikan arahan kepada para guru, dalam kegiatan belajar mengajar. 2. Kepada guru Sebagai acuan dan motivasi dalam mengembangkan inovasi pembelajaran dalam meningkatkan kualitas pendidikan khusunya prestasi siswa pada bidang mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. 3. Kepada siswa Siswa sebagai obyek dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya lebih pro aktif supaya timbul rasa suka terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. 4. Kepada Peneliti Sebagai informasi kepada masyarakat luas dan lembaga terkait lainya. 5. Kepada Fakultas Sebagai bahan evaluasi dalam dunia pendidikan. .6 BAB II MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH TERHADAP PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM A. Kajian Pustaka 1. Minat Belajar Siswa a. Pengertian Minat Belajar

Untuk dapat melihat keberhasilan proses kegiatan belaja mengajar, seluruh faktor-fakor yang berhubungan dengan guru dan murid harus dapat diperhatikan. Mulai dari perilaku guru dalam mengajar sampai dengan tingkah laku siswa sebagai timabal balik dari hasil sebuah pengajaran. Tingkah laku siswa ketika mengikuti proses belajar mengajar dapat mengindikasikan akan ketertarikan siswa tersebut terhadat pelajaran itu atau sebaliknya, ia merasa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut. Ketertarikan siswa inilah yang merupakan salah satu tandatanda minat. Lebih lanjut terdapat beberapa pengertian minat diantaranya adalah: Menurut M. Alisuf Sabri Minat adalah kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus, minat ini erat kaitannya dengan perasaan senang, karena itu dapat dikatakan minat itu terjadi karena sikap senang kepada sesuatu, orang yang berminat kepada sesuatu berarti ia sikapnya senang kepada sesuatu.1 1 M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995), Cet. Ke11, hlm. 847 Menurut Muhibbin Syah Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.2 Menurut Ahmad D. Marimba Minat adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu, karena kita merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu, pada umumnya disertai dengan perasaan senang akan sesuatu itu.3 Menurut Mahfudh Shalahuddin Minat adalah perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan. Dengan begitu minat, tambah

Mahfudh, sangat menentukan sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan, atau dengan kata lain, minat dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan.4 Menurut Crow dan Crow bahwa minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita untuk cendrung atau merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan, ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.5 Adapun materi cerita sejarah adalah bagian dari mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah yang dimaksudkan untuk memberikan motivasi, bimbingan, mengarahkan pemahaman, megembangkan kemampuan dasar dan menghayati isi yang terkandung dalam isi cerita sejarah islamyang diharapkan dapat membentuk perilaku baik, seperti halnya tokoh dalam cerita sejarah islam. Dari uraian diatas penulis simpulkan bahwa materi cerita sejarah adalah kemauan yang timbul karena rangsangan dari luar, yang 2 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), Cet. Ke-6, hlm. 136 3 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Almaarif, 1980), Cet. Ke-4, hlm. 79 4 Mahfudh Shahuddin, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Surabaya: Bina Ilmu, 1990), Cet. Ke-1, hlm. 95 5 Abd. Rachman Abror, Psykologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1993), Cet. Ke-4, hlm. 1128 memberikan rasa ingin tahu terhadap sesuatu ha. Dengan penjelasan ini, seorang guru apabila ingin berhasil dalam melakukan kegiatan belajar

mengajar harus dapat memberikan stimulan agar siswanya mempunyai keinginan dan berminat dalam mengikuti proses belajar mengajar tersebut. Apabila murid sudah merasa berminat mengikuti pelajaran, maka ia akan dapat mengerti dengan mudah dan sebaliknya apabila murid merasakan tidak berminat dalam melakukan proses pembelajaran ia akan merasa tersiksa mengikuti pelajaran tersebut b. Aspek-aspek Minat Belajar Seperti yang telah di kemukakan bahwa minat dapat diartikan sebagai suatu ketertarikan terhadap suatu objek yang kemudian mendorong individu untuk mempelajari dan menekuni segala hal yang berkaitan dengan minatnya tersebut. Minat yang diperoleh melalui adanya suatu proses belajar dikembangkan melalui proses menilai suatu objek yang kemudian menghasilkan suatu penilaian-penilaian tertentu terhadap objek yang menimbulkan minat seseorang. Penilaian-penilaian terhadap objek yang diperoleh melalui proses belajar itulah yang kemudian menghasilkan suatu keputusan mengenal adanya ketertarikan atau ketidaktertarikan seseorang terhadap objek yang dihadapinya. Hurlock mengatakan minat merupakan hasil dari pengalaman atau proses belajar.6 Lebih jauh ia mengemukakan bahwa minat memiliki dua aspek yaitu: 1. Aspek kognitif Aspek ini didasarkan atas konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Konsep

6 Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 4229 yang membangun aspek kognitif didasarkan atas pengalaman dan apa yang dipelajari dari lingkungan. 2. Aspek afektif Aspek afektif ini adalah konsep yang membangun konsep kognitif dan dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan atau objek yang menimbulkan minat. Aspek ini mempunyai peranan yang besar dalam memotivasikan tindakan seseorang. Berdasarkan uraian tersebut, maka mint terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang dimiliki seseorang bukan bawaan sejak lahir, tetapi dipelajari melalui proses penilaian kognitif dan penilaian afektif seseorang yang dinyatakan dalam sikap. Dengan kata lain, jika proses penilaian kognitif dan afektif seseorang terhadap objek minat adalah positif maka akan menghasilkan sikap yang positif dan dapat menimbulkan minat. c. Indikator Minat Belajar Dalam kamus besar Bahasa Indonesia indikator adalah Alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk/keterangan.7 Kaitannya dengan minat siswa maka indikator adalah sebagai alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk ke arah minat. Ada beberapa indikator siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali melalui proses belajar dikelas maupun dirumah. 1. Perasaan Senang Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam misalnya, maka ia harus terus mempelajari ilmu yang berhubungan dengan Sejarah

Kebudayaan Islam. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut. 7 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), Cet. Ke10, hlm. 32910 2. Perhatian dalam Belajar Adanya perhatian juga menjadi salah satu indikator minat. Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek tersebut. Misalnya, seorang siswa menaruh minat terhadap pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, maka ia berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari gurunya. 3. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru yang Menarik Tidak semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor minatnya sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari gurunya, teman sekelas, bahan pelajaran yang menarik. Walaupun demikian lama-kelamaan jika siswa mampu mengembangkan minatnya yang kuat terhadap mata pelajaran niscaya ia bisa memperoleh prestasi yang berhasil sekalipun ia tergolong siswa yang berkemampuan rata-rata. Sebagaimana dikemukakan oleh Brown yang dikutip oleh Ali Imran sebagai berikut: Tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh, tertarik kepada mata pelajaran yang

diajarkan, mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada gur, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas, ingin identitas dirinya diketahui oleh orng lain, tindakan kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontroldiri, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan selalu terkontrol oleh lingkungannya.8 8 Ali Imran, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1996), Cet, Ke1, hlm. 8811 4. Manfaat dan Fungsi Mata Pelajaran Selain adanya perasaan senang, perhatian dalam belajar dan juga bahan pelajaran serta sikap guru yang menarik. Adanya manfaat dan fungsi pelajaran (dalam hal ini pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam) juga merupakan salah satu indikator minat. Karena setiap pelajaran mempunyai manfaat dan fungsinya. Seperti contoh misalnya pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam banyak memberikan manfaat kepada siswa bila Sejarah Kebudayaan Islam tidak hanya dipelajari di sekolah tetapi juga dipelajari sebaliknya bila siswa tidak membaca pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam maka siswa tidak dapat merasakan manfaat yang terdapat dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tersebut. d. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar Salah satu pendorong dalam keberhasilan belajar adalah minatterutama minat yang tinggi. Minat itu tidak muncul dengan sendirinya akan tetapi banyak faktor yang dapat mempengaruhi munculnya minat. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi minat belajar siswa

antara lain: 1. Motivasi Minat seseorang akan semakin tinggi bila disertai motivasi, baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Menurut D.P. Tampubolon minat merupakan perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi.9 Seorang siswa yang ingin memperdalam Ilmu Pengetahuan tentang tafsir misalnya, tentu akan terarah minatnya untuk membaca buku-buku tentang tafsir, mendiskusikannya, dan sebagainya. 9 D.P. Tampubolon, Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak, (Bandung: Angkasa, 1993), Cet, Ke-1, hlm.4112 2. Belajar Minat dapat diperoleh melalui belajar, karena dengan belajar siswa yang semula tidak menyenangi suatu pelajaran tertentu, lama kelamaan lantaran bertambahnya pengetahuan mengenai pelajaran tersebut, minat pun tumbuh sehingga ia akan lebih giat lagi mempelajari pelajaran tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapatnya Singgih D. Gunarsa dan Ny. Singgih D.G bahwa minat akan timbul dari sesuatu yang diketahui dan kita dapat mengetahui sesuatu dengan belajar, karena itu semakin banyak belajar semakin luas pula bidang minat.10 3. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru Faktor yang dapat membangkitkan dan merangsang minat adalah faktor bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, akan sering dipelajari oleh

siswa yang bersangkutan. Dan sebaliknya bahan pelajaran yang tidak menarik minat siswa tentu akan dikesampingkan oleh siswa, sebagaimana telah disinyalir oleh Slameto bahwa Minat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya.11 Guru juga salah satu obyek yang dapat merangsang dan membangkitkan minat belajar siswa. Menurut Kurt Singer bahwa Guru yang berhasil membina kesediaan belajar murid-muridnya, berarti telah melakukan hal-hal yang terpenting yang dapat dilakukan demi kepentingan murid-muridnya.12 10 Singgih D.G. dan Ny. SDG, Psikologi Perawatan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), Cet. Ke-3, hlm 68 11 Slameto, op.cit, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), Cet. Ke-2, hlm.187 12 Kurt Singer, Membina Hasrat Belajar di Sekolah, (Terj. Bergman Sitorus), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1987), hlm. 9313 Guru yang pandai, baik, ramah, disiplin, serta disenangi murid sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan minat murid. Sebaliknya guru yang memiliki sikap buruk dan tidak disukai oleh murid, akan sukar dapat merangsang timbulnya minat dan perhatian murid. Bentuk-bentuk kepribadian gurulah yang dapat mempengaruhi timbulnya minat siswa. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar guru harus peka terhadap situasi kelas. Ia harus mengetahui dan memperhatikan akan metode-metode mengajar yang cocok dan sesuai

denga tingkatan kecerdasan para siswanya, artinya guru harus memahami kebutuhan dan perkembangan jiwa siswanya. 4. Keluarga Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga, oleh karenanya keluarga sangat berpengaruh dalam menentukan minat seorang siswa terhadap pelajaran. Apa yang diberikan oleh keluarga sangat berpengaruhnya bagi perkembangan jiwa anak. Dalam proses perkembangan minat diperlukan dukungan perhatian dan bimbingan dari keluarga khususnya orang tua. 5. Teman Pergaulan Melalui pergaulan seseorang akan dapat terpengaruh arah minatnya oleh teman-temannya, khususnya teman akrabnya. Khusus bagi remaja, pengaruh teman ini sangat besar karena dalam pergaulan itulah mereka memupuk pribadi dan melakukan aktifitas bersamasama untuk mengurangi ketegangan dan kegoncangan yang mereka alami. 6. Lingkungan Melalui pergaulan seseorang akan terpengaruh minatnya. Hal ini ditegaskan oleh pendapat yang dikemukakan oleh Crow& 14 Crow bahwa minat dapat diperoleh dari kemudian sebagai dari pengalaman mereka dari lingkungan di mana mereka tinggal.13 Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat bergaul, juga tempat bermain sehari-hari dengan keadaan alam dan iklimnya, flora serta faunanya. Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan

lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.14 7. Cita-cita Setiap manusia memiliki cita-cita di dalam hidupnya, termasuk para siswa. Cita-cita juga mempengaruhi minat belajar siswa, bahkan cita-cita juga dapat dikatakan sebagai perwujudan dari minat seseorang dalam prospek kehidupan di masa yang akan datang. Citacita ini senantiasa dikejar dan diperjuangkan, bahkan tidak jarang meskipun mendapat rintangan, seseorang tetap beruaha untuk mencapainya. 8. Bakat Melalui bakat seseorang akan memiliki minat. Ini dapat dibuktikan dengan contoh: bila seseorang sejak kecil memiliki bakat menyanyi, secara tidak langsung ia akan memiliki minat dalam hal menyanyi. Jika ia dipaksakan untuk menyukai sesuatu yang lain, kemungkinan ia akan membencinya atau merupakan suatu beban bagi dirinya. Oleh karena itu, dalam memberikan pilihan baik sekolah maupun aktivitas lainnya sebaiknya disesuaikan dengan bakat dimiliki. 9. Hobi Bagi setiap orang hobi merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya minat. Sebagai contoh, seseorang yang 13 L. Crow dan A. Crow, op.cit., (Surabaya: Bina Ilmu, 1988), hlm. 352 14 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 13015 memiliki hobi terhadap matematika maka secara tidak langsung dalam dirinya timbul minat untuk menekuni ilmu matematika, begitupun dengan hobi yang lainnya. Dengan demikian, faktor hobi tidak bisa dipisahkan dari faktor minat. 10. Media Massa

Apa yang ditampilkan di media massa, baik media cetak atau pun media elektronik, dapat menarik dan merangsang khalayak untuk memperhatikan dan menirunya. Pengaruh tersebut menyangkut istilah, gaya hidup, nilai-nilai, dan juga perilaku sehari-hari. Minat khalayak dapat terarah pada apa yang dilihat, didengar, atau diperoleh dari media massa. 11. Fasilitas Berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana, baik yang berada di rumah, di sekolah, dan di masyarakat memberikan pengaruh yang positif dan negatif. Sebagai contoh, bila fasilitas yang mendukung upaya pendidikan lengkap tersedia, maka timbul minat anak untuk menambah wawasannya. Tetapi apabila fasilitas yang ada justru mengikis minat pendidikannya, seperti merebaknya tempat-tempat hiburan yang ada di kota-kota besar, tentu hal ini berdampak negatif bagi pertumbuhan minat tersebut. 2. Prestasi Belajar a. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan istilah yang tidak,asing lagi dalam dunia pendidikan. Istilah tersebut lazim digunakan sebagai sebutan dari penilaian dari hasil belajar. Dimana penilaian tersebut bertujuan melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Prestasi belajar terdiri dari dua kata, yakni prestasi dan belajar. Prestasi belajar digunakan 16 untuk menunjukkan hasil yang optimal dari suatu aktivitas belajar sehingga artinya pun tidak dapat dipisahkan dari pengertian belajar. Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai dari usaha yang telah

dilakukan dan dikerjakan. 15 atau dalam definisi yang lebih singkat bahwa prestasi adalah hasil yang telah di capai (dilakukan dan dikerjakan).16 Senada dengan pengertian di atas, prestasi adalah hasil yang telah di capai dari apa yang dikerjakan/yang sudah diusahakan.17 Menurut Masud Khasan Abdul Qahar, prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.18 Tidak jauh dari pengertian yang dikemukakan oleh Masud, Syaiful Bahri Djamarah menyatakan bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan keuletan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.19 Dengan demikian, dapat dinyatakan beberapa rumusan dari pengertian prestasi belajar, diantaranya bahwa prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau materi yang dikembangkan oleh mata pelajaran.20 Hasil belajar menurut Nana Sudjana adalah kemampuan yang dimiliki siswa, setelah ia menerima pengalaman belajarnya.21 Sedangkan menurut Hadari Nawawi prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan murid 15 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), Edisi II, Cet. Ke-10, hlm. 787 16 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1987), Cet. Ke-10, hlm. 768 17 J.S. Badudu dan Sultan M. Zein, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994), Cet. Ke-2, hlm. 1088 18 Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya:Usaha Nasional, 1994), hlm. 20 19 Ibid., h. 21

20 Habeyh, Kamus Populer, (Jakarta: Centre, 1974), hlm. 139 21 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992), Cet. Ke-4, hlm. 2217 untuk mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi.22 Dalam dunia pendidikan, bentuk penilaian dari suatu prestasi biasanya dapat dilihat atau dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka. Jadi, prestasi belajar adalah hasil yang diraih oleh peserta didik dari aktivitas belajarnya yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diwujudkan dengan adanya perubahan sikap dan tingkah laku dan pada umumnya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka. Prestasi belajar yang didapatkan oleh seorang siswa bersifat sementara kadang kala dalam suatu tahapan belajar, siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. Seperti angka raport rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir dan sebagainya. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Menurut Muhibbin Syah, secara global faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar.23 1. Faktor Internal Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor ini meliputi 2 aspek, yakni : a. Aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang

menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi jasmani yang tidak mendukung kegiatan belajar, seperti gangguan kesehatan, cacat tubuh, gangguan penglihatan, 22 Hadari Nawawi, Pengaruh Hubungan Manusia dikalangan Murid terhadap Prestasi Belajar di SD, (Jakarta: Analisa Pendidikan, 1981), hlm. 100 23 Muhibbin Syah, op.cit., hlm 13218 gangguan pendengaran dan lain sebagainya sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas. b. Aspek psikologis (yang bersifat rohaniah) Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran siswa. Diantaranya adalah tingkat intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa. 1. Intelegensi Siswa Tingkat kecerdasan merupakan wadah bagi kemungkinan tercapainya hasil belajar yang diharapkan. Jika tingkat kecerdasan rendah, maka hasil belajar yang dicapai akan rendah pula. Clark mengemukakan bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan.24 Sehingga tidak diragukan lagi bahwa tingkat kecerdasan siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. 2. Sikap Siswa Sikap merupakan gejala internal yang berdimensi afektif

berupa kecenderungan untuk mereaksi dengan cara relatif tetap terhadap objek, baik secara positif maupun negatif. Sikap siswa yang positif terutama kepada guru dan mata pelajaran yang diterima merupakan tanda yang baik bagi proses belajar siswa. Sebaliknya, sikap negatif yang diiringi dengan kebencian terhadap guru dan mata pelajarannya menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut, sehingga prestasi belajar yang di capai siswa akan kurang memuaskan. 24 Hallen, Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), Cet. Ke-1, hlm. 13019 3. Bakat Siswa Sebagaimana halnya intelegensi, bakat juga merupakan wadah untuk mencapai hasil belaja tertentu. Secara umum bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat juga diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Peserta didik yang kurang atau tidak berbakat untuk suatu kegiatan belajar tertentu akan mengalami kesulitan dalam belajar. 4. Minat Siswa Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa. Siswa yang menaruh minat besar terhadap bidang studi tertentu akan memusatkan perhatiannya lebih banyak dari pada siswa lain, sehingga memungkinkan siswa tersebut untuk belajar lebih giat dan pada akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.

5. Motivasi Siswa Tanpa motivasi yang besar, peserta didik akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar, karena motivasi merupakan faktor pendorong kegiatan belajar. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal keadaan yang datang dari luar individu siswa yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Motivasi yang dipandang lebih esensial adalah motivasi intrinsik karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. 20 2. Faktor Eksternal Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi/keadaan lingkungan di sekitar siswa. Adapun faktor eksteren yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah : a. Lingkungan sosial Lingkungan sosial siswa di sekolah adalah para guru, staf administrasi dan teman-teman sekelasnya, yang dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Masyarakat, tetangga dan teman-teman sepermainan di sekitar perkmpungan siswa juga termasuk lingkungan sosial bagi siswa. Namun lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar sisa ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga dan letak rumah, semuanya dapat memberi dampak baik dan buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang di

capai siswa. b. Lingkungan non sosial Lingkungan non sosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. 3. Faktor Pendekatan Belajar Tercapainya hasil belajar yang baik dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas siswa dalam belajar. Faktor pendekatan belajar adalah jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Faktor pendekata belajar sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga semakin mendalam cara belajar siswa maka semakin baik hasilnya.21 3. Sejarah Kebudayaan Islam a. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam yang terdapat di dalam kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Johorejo adalah: Salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan.25 Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) mempunyai fungsi yang dapat menjelaskan ketercapaian yang tercantum dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diterapkan di madrasah. Fungsi dasar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam)

meliputi: 1. Fungsi edukatif Sejarah menegaskan kepada peserta didik tentang keharusan menegakkan nilai, prinsip, sikap hidup yang luhur dan islami dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. 2. Fungsi keilmuan Melalui sejarah peserta didik memperoleh pengetahuan yang memadai tentang masa lalu Islam dan kebudayaannya. 3. Fungsi transformasi Sejarah merupakan salah satu sumber yang sangat penting dalam merancang transformasi masyarakat.26 25 Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Kerangka Dasar, (Jakarta: Departemen Pendidikan nasional, 2004), hlm. 68 26 Departemen Pendidikan Agama RI, Pedoman Khusus Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Departemen Pendidikan Agama RI, 2004), hlm 222 Mata pelajaran Sejarah kebudayaan Islam di MadrasahIbtidaiyah Johorejo memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Memberikan pengetahuan tentang Sejarah Agama Islam dan Kebudayaan Islam pada masa Nabi Muhammad saw. Dan khulafaur Rasyidin kepada peserta didik, agar ia memiliki konsep yang obyektif dan sistematis dalam perspektif histories. 2. Mengambil hikmah, nilai dan makna yang terdapat dalam sejarah. 3. Menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk, berdasarkan cermatnya atas fakta sejarah yang ada. 4. Membekali peserta didik untuk membentuk kepribadiannya berdasarkan

tokoh-tokoh teladan sehingga terbentuk kepribadian yang luhur.27 b. Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Acuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran dan memantau perkembangan mutu pendidikan adalah standar kompetensi. Standar kompetensi dapat didefinisikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran. Standar Kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo berisi mata pelajaran yang harus dikuasai peserta didik selama menempuh Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo. Kemampuan ini berorientasi pada perilaku aspek afektif, peserta didik memiliki: keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Sesuai ajaran Agama Islam yang tercermin dalam perilaku sehari-hari memiliki nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan humaniora, serta menerapkannya dalam kehidupan 27 Ibid, hlm 323 bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara baik lingkup nasional maupun global. Berkenaan dengan aspek kognitif, menguasai ilmu, teknologi, dan kemampuan akademik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berkenaan dengan aspek psikomotorik, memiliki keterampilan berkomunikasi, kecakapan hidup, mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan sosial, budaya dan lingkungan alam baik lokal, regional, maupun global, memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang bermanfaat untuk melaksanakan tugas/kegiatan sehari-hari.

Standar kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) juga mengacu pada struktur keilmuan mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam). Berdasarkan pokok-pokok pikiran tersebut, standar kompetensi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Johorejo adalah sebagai berikut: c. Strategi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Secara Efektif Sejarah Kebudayaan Islam secara substansial memberikan motivasi kepada peserta didik untuk memperaktekan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataannya, setelah ditelusuri, pendidikan Sejarah Kebudayaan Islam menghadapi beberapa kendala, antara lain: waktu yang disediakan terbatas sedangkan materi begitu padat dan memang penting, yakni menuntut pemantapan pengetahuan hingga terbentuk watak dan kepribadian yang berbeda jauh dengan tuntunan terhadap mata pelajaran lainnya. Kelemahan lain, materi Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam), lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif). Dalam implementasinya juga lebih didominasi pencapaian kemampuan kognitif, kurang mengakomodasikan kebutuhan afektif. 24 Kendala lain adalah lemahnya sumber daya guru Sejarah Kebudayaan Islam dalam pengembangan pendekatan, metode yang lebih variatif serta dalam mengusahakan media yang digunakan untuk mengefektifkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan bagi guru Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam). Padahal guru Sejarah Kebudayaan Islam merupakan

tenaga kependidikan dan salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang mempunyai kedudukan strategis dan menentukan keberhasilan pembelajaran di sekolah. Untuk itu, guru Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) harus senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya agar dapat mengelola kegiatan pembelajaran secar efektif dan efisien. Strategi pembelajaran baru dapat berlangsung secara efektif dan efisien, jika Guru harus dapat mengetahui keadaan yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar. Keadaan siswa yang memiliki konsentrasi atau perhatian yang penuh tentu akan dapat dengan mudah menerima pelajaran yang diberikan kepadanya. Siswa yang memilikikonsentrasi penuh akan belajar lebih cepat dan lebih mudah. Selain itu, mereka mengingat informasi lebih lama. B. Kerangka Teoritik Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat belajar besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dihafalkan dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar. Minat belajar siswa pada materi cerita sejarah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar atau prestasi siswa maka minat 25 dapat mempengaruhi kwalitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidangbidang tertentu. Minat belajar pada materi cerita sejarah cenderung

menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar pada materi cerita sejarah yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Maka apabila seorang siswa mempunyai minat belajar pada materi cerita sejarah yang besar terhadap suatu bidang Sejarah Kebudayaan Islam ia akan memusatkan perhatian lebih banyak dari temannya, kemudian karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang studi tersebut. Demikian pula halnya dengan minat siswa pada materi cerita sejarah terhadap bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam, apabila seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam maka siswa tersebut akan memusatkan perhatiannya terhadap bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam dan lebih giat dalam mempelajari bidang studi ini dan prestasinya pun akan memuaskan. Tujuan mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam adalah agar siswa siswi siswi mengetahui Sejarah Islam lalu mencontoh keteladanan sifat-sifat dari tokoh Islam masa lalu itu dengan mengambil hikmah dari nilai dan makna sejarah, menanamkan penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk berdasarkan pengetahuannya atas fakta sejarah yang ada, dan juga untuk menggugah semangat untuk mendalami Islam yang lebih baik. C. Rumusan Hipotesis Penelitian semacam ini memerlukan hipotesis sebagai jawaban sementara. Adapun fungsi hipotesis dalam penelitian adalah : 1. Sebagai alat untuk menyatakan asumsi Pada dasarnya hipotesis merupakan alat untuk menyatakan asumsiasumsi yang mendasari proposisi dalam suatu pernyataan yang melingkupi keseluruhan. Pernyataan tersebut merupakan hasil akhir dari analisis yang

seksama terhadap seluruh elemen, baik yang bersifat konseptual maupun 26 faktual yang mempunyai relevansi dengan masalah dan saling berhubungan satu sama lain. 2. Sebagai kerangka kerja kesimpulan Hipotesis yang berupa pernyataan dan generalisasi sementara terhadap suatu fenomena tertentu, membantu peneliti dalam menyajikan kesimpulan penelitiannya. Ia akan tetap berfungsi sebagai prakiraan yang bersifat sementara sampai ditemukan fakta-fakta yang mendukungnya. Temuan-temuan yang didasarkan fakta-fakta tersebut diorganisasikan dalam kesimpulan penelitian dalam kaitannya dengan tujuan yang mendasari penelitian tersebut. Jika bukti-bukti faktualnya sesuai dengan tujuan yang diusulkan, maka hipotesis tersebut dapat diterima sehingga memberikan sumbangan baru pada ilmu pengetahuan. Sebaliknya, jika bukti-bukti faktual tersebut tidak sesuai, maka hipotesis tersebut ditolak sehingga perlu diubah atau diuji kembali dengan sampel yang berbeda.28 Sehubungan dengan hal tersebut di muka maka dalam penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut: Semakin tinggi minat belajar siswa pada materi cerita sejarah semakin baik prestasi siswa mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh. Mengingat hipotesis yang diajukan di atas merupakan dugaan sementara yang mungkin benar atau mungkin salah maka akan dilakukan pengkajian pada bagian analisis data untuk mendapatkan bukti apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Menurut Sutrisno Hadi yang dimaksud dengan populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki.29

Sedangkan yang dimaksud penduduk dalam penelitian ini adalah semua siswa VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh kelas. 28 Ibnu Hadjar, Op.Cit., hlm. 63 29 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 108-10927 Karena jumlah populasi yang ada kurang dari 100 orang, maka penelitian ini menggunakan teknik populasi, sehingga semua siswa di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh pada tahun akademik 2010/2011 yang berjumlah 33 siswa digunakan sebagai obyek penelitian. Untuk memudahkan jalan bagi penelitian ini, Penulis mengajukan hipotesis sebagai jawaban sementara yang nantinya akan diuji kebenarannya. Hipotesis terebut adalah sebagai berikut: Semakin besar minat belajar siswa pada materi cerita sejarah maka semakin baik prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo.28 BAB III METODE PENELITIAN Untuk menjawab rumusan masalah metode penelitian terdiri dari: 1. Jenis Penelitian 2. Tempat dan Waktu Penelitian 3. Populasi 4. Variabel Penelitian 5. Teknik Pengumpulan Data 6. Teknik Analisis Data

A. Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan, yang bertujuan untuk melihat, mengetahui secara langsung berbagai hal yang berhubungan dengan prestasi mata pelajaran Sejarah Kebuayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal dikaitkan dengan minat belajar siswa pada materi cerita sejarah, adakah pengaruhnya baik itu yang berdampak positif maupun negatif B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo dengan alamat Jalan Kauman Nomor 08 Desa Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal yang terdiri dari 33 siswa, 19 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 02 Januari 2011 sampai dengan 02 Februari 2011.29 C. Populasi Menurut Sutrisno Hadi yang dimaksud dengan populasi adalah seluruh penduduk yang dimaksud untuk diselidiki.1 Sedangkan yang dimaksud penduduk dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Karena jumlah populasi yang ada kurang dari 100 orang, maka penelitian ini menggunakan teknik populasi, sehingga semua siswa kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh pada tahun

akademik 2010/2011 yang berjumlah 33 siswa, 19 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan D. Variabel Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel pengaruh atau bebas X (Independent) dan variabel terpengaruh atau terikat Y (dependent). Di bawah ini adalah penjelasan tentang kedua variabel. a. Variabel Bebas (Independent) X Adapun yang menjadi variabel (X) bebas atau independent adalah minat belajar pada materi cerita sejarah dengan indikatornya. 1. Motivasi Minat merupakan perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi. Minat seseorang akan semakin tinggi bila disertai motivasi, baik yang bersifat internal ataupun eksternal.. 2. Perasaan Senang Seorang siswa yang memiliki perasaan senang atau suka terhadap mata pelajaran Sejarah Kebuayaan Islam misalnya, maka ia harus 1 Suharsimi Arikunto, Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 108-10930 terus mempelajari ilmu yang berhubungan dengan Sejarah Kebuayaan Islam. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa untuk mempelajari bidang tersebut. 3. Kesungguhan Kesungguhan dalam belajar termasuk salah satu indikator dari minat. Kesungguhan dalam belajar akan muncul karena ada minat

yang besar. 4. Perhatian dalam Belajar Perhatian merupakan konsentrasi atau aktifitas jiwa kita terhadap pengamatan, pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu. Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka dengan sendirinya dia akan memperhatikan objek b. Variabel Terikat (Dependent) Y Yang menjadi variabel terikat (dependent) Y adalah prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal adalah nilai raport. Indikator ini dimaksudkan untuk mengetahui perubahan hasil belajar pada siswa Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. E. Teknik pengumpulan data Untuk mengambil data dan mengumpulkan data yang akurat dalam penelitian ini, digunakan dua macam pendekatan, yaitu: 1. Library Research Untuk memperoleh data kepustakaan digunakan metode-metode Library Reseacrh yaitu riset kepustakaan.2 Metode ini digunakan untuk memperoleh data dengan cara membaca atau mempelajari bukubuku yang ada kaitannya dengan penelitian sebagai landasan teori. Tetapi untuk mengumpulkan bahan-bahan penelitian dalam menyusun 2 Sutrsino Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta: Andi Offset, 1994), hlm. 9.31 teori, peneliti menguraikan metode induktif, yaitu proses pendekatan yang berangkat dari kebenaran dengan pengetahuan yang bersifat umum dan dijadikan untuk menilai suatu kejadian yang bersifat khusus.

2. Field Research Metode field research yaitu riset yang dilakukan dikancah atau medan terjadinya gejala-gejala.3 Dalam penelitian lapangan ini digunakan metode-metode sebagai berikut: a. Metode Observasi Observasi sebagai metode ilmiah dilakukan dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap fenomenafenomena/ kejadiankejadian yang diselidiki. Lebih lanjut James P. Chapli yang dikutip Kartini Kartono mendefinisikan bahwa observasi adalah Pengujian secara Internasional atau bertujuan sesuatu hal, khususnya untuk maksud pengumpulan data. Metode ini merupakan suatu verbalisasi mengenai hal-hal yang diteliti.4 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal pengaruhnya dengan Minat belajar siswa pada materi cerita sejarah. Letak geografis, sarana, sistem pengajaran dan lingkungan sosial. b. Metode interview Metode interview adalah teknik pengumpulan data yang menggunakan pedoman berupa pertanyaan yang diajukan langsung kepada obyek untuk mendapat respon secara langsung.5 Dimana interaksi yang terjadi antara pewawancara dan obyek penelitian ini 3 Ibid., hlm. 19. 4 Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, (Bandung, Mandar Maju, t.th)., hlm. 157.

5 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogjakarta: Rake Sarasih, 1998), hlm. 104.32 menggunakan interview bentuk terbuka sehingga dapat diperoleh data yang lebih luas dan mendalam.6 Wawancara sebagai alat pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi yang berkenan dengan prestasi mata pelajaran Sejarah Kebuadayaan Islam Kelas VI (enam) di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan 30 item pertanyaan yang terdiri dari 15 item untuk data tentang minat belajar siswa pada materi cerita sejarah dan 15 item untuk data tentang prestasi mata pelajarn Sejarah Kebudayaan Islam. c. Metode dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis.7 Metode ini digunakan untuk mencari data mengenai hal atau variabel yang dapat dijadikan sebagai informasi untuk melengkapi data-data penulis, baik data primer maupun sekunder sebagai sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk menguji dan menafsirkan. d. Metode Angket Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden, dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.8 Teknis penggunaan metode ini adalah dengan cara menyajikan langsung daftar pertanyaan untuk dijawab oleh responden. Penggunaan

metode ini adalah untuk mengetahui pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Adapun kisi-kisi angket adalah: 6 Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), Cet.14, hlm. 137. 7 Suharsimi Arikunto, Op. Cit., hlm. 149. 8 Ibid., hlm 140.33 No Variabel Dimensi Indikator Jumlah item 1. Minat Belajar Sejarah Kebudayaan Islam

Senang

dalam Belajar

pelajaran dengan senang

belajar

dengan belajar

bosan

perhatian lebih

trasi

penjelasan guru

tugas dari guru

nilai yang sesuai diharapkan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

pelajaran dari 3 1 2 1 2 1 1

1 1 134

teman bila saya berhalangan hadir

mengerjakan tugas yang diberikan guru jika tidak diperiksa

sesuai dengan kebutuhan siswa

Sejarah Kebudayaan Islam kurang menarik

mudah diikuti

Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dari

Peristiwa masa lalu Tahu akan adanya contohcontoh keteladanan pembelajaran Sejarah Kebudayaan 1 3 3 2 135 Islam -buang waktu 2. Prestasi Belajar Siswa si Data nilai raport kelas II semester II tahun pelajaran 20052006 1 F. Teknik Analisis Data Setelah semua data tersedia, maka langkah selanjutnya adalah

menganalisa data atau mengolah data. Analisis data merupakan hal yang sangat penting dalam setiap penelitian. Tanpa adanya suatu analisis maka data yang telah diperoleh di lapangan atau dari informasi yang lain tidak bisa dipahami oleh seseorang peneliti, apalagi orang lain. Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah, yaitu: 1. Persiapan Kegiatan persiapan adalah meneliti ulang semua kelengkapan data yang dihasilkan dari pengumpulan data sesuai dengan metode yang digunakan. 2. Tabulasi Yang termasuk ke dalam jenis kegiatan tabulasi meliputi pemberian skor terhadap item-item yang perlu, memberikan kode-kode, mengubah jenis data, yang disesuaikan dengan teknik analisis yang digunakan.36 Pada tahap ini data yang sudah diperoleh dari hasil angket dimasukkan ke dalam tabel dan diberi skor atau bobot nilai pada setiap alternatif jawaban responden, yaitu dengan mengubah data yang bersifat kualitatif menjadi data yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. Untuk alternatif jawab A dengan skor 4 b. Untuk alternatif jawab B dengan skor 3 c. Untuk alternatif jawab C dengan skor 2 d. Untuk alternatif jawab D dengan skor 1 3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan Penelitian Maksudnya adalah mengolah data yang diperoleh dengan

menggunakan rumus-rumus atau aturan-aturan yang ada, yang berarti menggunakan teknik statistik. Dalam hal ini rumus yang kami pakai adalah analisis statistik inferensial. Adapun secara lebih spesifik rumus statistik yang kami pakai adalah koefesiensi korelasi dengan rumus angka kasar yang apabila ditulis secara matematis sebagai berikut:9 Rumus Product Moment

N Y Y N X X N XY XY rx y 2 2 2 2()() ( )( ) Keterangan: rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y XY = Perkalian X dan Y X = Variabel tentang minat belajar siswa pada materi cerita sejarah 9 Sutrisno Hadi, Op.Cit., hlm. 294.37

Y = Variabel tentang prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal N = Jumlah responden38 BAB IV ANALISIS TENTANG MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH TERHADAP PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM A. Diskripsi Pola Hasil Penelitian Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Minat belajar Sejarah Kebudayaan Islam Untuk memperoleh data minat belajar Sejarah Kebudayaan Islam penulis membuat angket yang terdiri dari 30 Pernyataan yang harus dijawab oleh siswa.Yang berisi mengenai indikator-indikator minat. Angket yang disebarkan kepada siswa Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabuapten Kendal, dianggap telah memiliki konstruksi validitas yang memadai. Kemudian diuji cobakan kepada 33 siswa. Selanjutnya penelitian dilakukan pada sampel sebanyak 33 siswa yang terdiri dari siswa kelas VI (enam) sebagai responden dalam waktu 45 menit, responden dapat mengisi angket tersebut dengan baik. Mengingat tugas responden hanya memberikan tanda silang pada pertanyaan sangat baik, baik, cukup atau kurang. Data-data tersebut diolah dalam bentuk tabel sebagai berikut:39

TABEL I SKOR MENTAH MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH No Res. Skor Mentah (x) (x-m) atau (d) (x-m)2 (d)2 1 28 -2 4 2 25 -5 25 3 29 -1 1 4 26 -4 16 5 30 0 0 6 27 -3 9 7 29 -1 1 8 25 -5 25 9 30 0 0 10 28 -2 4 11 30 0 0 12 30 0 0 13 28 -2 4 14 32 2 4 15 30 0 0 16 26 -4 16

17 26 -4 16 18 25 -5 25 19 30 0 0 20 24 -6 36 21 28 -2 4 22 29 -1 1 23 23 -7 49 24 27 -3 9 25 31 1 140 26 30 0 0 27 32 2 4 28 30 0 0 29 35 5 25 30 30 0 0 31 30 0 0 32 33 3 9 33 28 -2 4 Jml 944 -46 292 Jadi untuk mengetahui M dan SD adalah menggunakan rumus sebagai berikut: 28.6060 33 944

N xM Dibulatkan menjadi 29 2,97 8,849 33 292 () 2

N xm SD Langkah selanjutnya adalah menentukan SUD. Dalam penjabaran ini akan digunakan seluruh jarak range dari kurva normal yaitu -3 SD sampai dengan +3 SD. Karena kategori yang akan digunakan 3 unit, maka 6 SD = 3 = 2 SD. Jadi SUD = 2 x 2,97 = 5,94 dibulatkan menjadi 641 Untuk selanjutnya menentukan batas bawah dan batas atas dari masing-masing kategori. Karena diketahui M = 29 dan SUD = 6, maka : - Batas bawah cukup = M 0,5 SUD

= 29 0,5 x 6 = 26 - Batas atas cukup = M + 0,5 SUD = 29 + 0,5 x 6 = 32 - Batas bawah kurang = M - 1,5 SUD = 29 - 1,5 x 6 = 20 - Batas atas baik = M + 1,5 SUD = 29 + 1,5 x 6 = 38 Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan dalam tabel interval sebagai berikut: TABEL II INTERVAL MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH No Interval Keterangan 1 2 3 4 38 keatas 32 38 26 32 20 26 Sangat baik Baik Cukup Kurang 42 TABEL III

NILAI ANGKET NILAI RATA-RATA MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH TERHADAP PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELS VI MI JOHOREJO No X F FX Mean 1 23 1 23 F.X M = ----N 944 = -----33 = 28,6060 2 24 1 24 3 25 3 75 4 26 3 78 5 27 2 54 6 28 5 140 7 29 3 87 8 30 10 300 9 31 1 31 10 32 2 64 11 33 1 33 12 35 1 35 Jumlah 33 944 Dari hasil analisis tentang pengaruh minat belajar siswa pada

materi cerita sejarah diperoleh mean yaitu 29. Dari mean tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah dalam kategori cukup yaitu pada interval 26 32.43 TABEL IV PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM SISWA KELAS VI (ENAM) MADRASAH IBTIDAIYAH JOHOREJO No Res. Skor Mentah (Y) (y-m) atau (d) (y-m)2 (d)2 1 80 50 2500 2 78 48 2304 3 83 53 2809 4 80 50 2500 5 90 60 3600 6 80 50 2500 7 92 62 3844 8 81 51 2601 9 80 50 2500 10 80 50 2500 11 90 60 3600 12 90 60 3600 13 91 61 3721

14 89 59 3481 15 90 60 3600 16 87 57 3249 17 85 55 3025 18 88 58 3364 19 89 59 3481 20 89 59 3481 21 76 46 2116 22 90 60 3600 23 80 50 2500 24 83 53 2809 25 88 58 336444 26 86 56 3136 27 90 60 3600 28 88 58 3364 29 90 60 3600 30 90 60 3600 31 80 50 2500 32 89 59 3481 33 87 57 3249 Jml 2829 1839 103179 Jadi untuk mengetahui M dan SD adalah menggunakan rumus sebagai berikut: 85,73 33 2829

N y M Dibulatkan menjadi 86 55,92 56 3126,64 33 103179 () 2

dibulatkan N ym SD Langkah selanjutnya adalah menentukan SUD. Dalam penjabaran ini akan digunakan seluruh jarak range dari kurva normal yaitu -3 SD sampai dengan +3 SD = 6 SD. Karena kategori yang akan digunakan 3 unit, maka 6 SD : 3 = 2 SD.

Jadi SUD = 2 x 56 = 112 Untuk selanjutnya menentukan batas bawah dan batas atas dari masing-masing kategori. Karena diketahui M = 86 dan SUD = 112, maka : 45 - Batas bawah cukup = M 0,5 SUD = 86 0,5 x 112 = 30 - Batas atas cukup = M + 0,5 SUD = 86 + 0,5 x 112 = 142 - Batas bawah kurang = M - 1,5 SUD = 86 - 1,5 x 112 = 82 - Batas atas baik = M + 1,5 SUD = 86 + 1,5 x 112 = 254 Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan dalam tabel interval sebagai berikut: TABEL V INTERVAL PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM K No Interval Keterangan 1 2 3 4 254 keatas 142 254 82 142 30 82 Sangat baik

Baik Cukup Kurang 46 TABEL VI NILAI ANGKET TENTANG PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM No Y F FY Mean 1 76 1 76 f.y M = ----N 2.829 = -----33 = 85,73 2 78 1 78 3 80 7 560 4 81 1 81 5 83 2 166 6 85 1 85 7 86 1 86 8 87 2 174 9 88 3 264 10 89 4 356 11 90 8 720 12 91 1 91

13 92 1 92 Jumlah 33 2829 Dari hasil analisis tentang tentang prestasi siswa diperoleh nilai mean yaitu 85,73. Dari nilai mean tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (Enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal dalam kategori cukup yaitu pada interval 82 142. B. Pegujian Hipotesis Dalam pengujian hipotesis ini, perhitungan dilakukan dengan melihat hasil angket yang telah disebarkan pada responden. Sebelum dilakukan 47 perhitungan dengan rumus korelasi product moment maka terlebih dahulu dibuat beberapa langkah kerja yaitu : 1. Langkah pertama adalah membuat tabel kerja yang memuat data-data hasil angket tentang pengaruh Minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI Madrasah Ibtidaiyah Johorejo. 2. Rumus Product Moment

N Y Y N X X N XY XY rx y

2 2 2 2()() ( )( ) X = Variabel X (minat belajar siswa pada materi cerita sejarah) Y = Variabel Y (prestasi mata pelajaran sejarah Kebudayaan Islam X 2 = Kuadrat X Y 2 = Kuadrat Y X.Y = Perkalian X dan Y N = Jumlah responden TABEL VII TABEL KERJA X TERHADAP Y No X Y X 2Y 2 X.Y 1 28 80 784 6400 2240 2 25 78 625 6084 1950 3 29 83 841 6889 2407 4 26 80 676 6400 2080 5 30 90 900 8100 2700 6 27 80 729 6400 216048

7 29 92 841 8464 2668 8 25 81 625 6561 2025 9 30 80 900 6400 2400 10 28 80 784 6400 2240 11 30 90 900 8100 2700 12 30 90 900 8100 2700 13 28 91 784 8281 2548 14 32 89 1024 7921 2848 15 30 90 900 8100 2700 16 26 87 676 7569 2262 17 26 85 676 7225 2210 18 25 88 625 7744 2200 19 30 89 900 7921 2670 20 24 89 576 7921 2136 21 28 76 784 5776 2128 22 29 90 841 8100 2610 23 23 80 529 6400 1840 24 27 83 729 6889 2241 25 31 88 961 7744 2728 26 30 86 900 7396 2580 27 32 90 1024 8100 2880 28 30 88 900 7744 2640 29 35 90 1225 8100 3150 30 30 90 900 8100 2700 31 30 80 900 6400 2400 32 33 89 1089 7921 2937

33 28 87 784 7569 2436 Jml 944 2829 27232 243219 8111449 2. Setelah diketahui tentang nilai-nilai X dan Y sebagaimana tercantum di atas, maka dalam menganalisis lebih lanjut menggunakan angka-angka ke dalam rumus korelasi Product Moment dibawah ini :

0.47049 398.4091 187.45 158729.814 187.45 227.88 696.55 187.45 27232-27004.12 243219-242522.45 81114-80926.55 33 8003241 24321933 891136 2723233 2670576 8111433 (2829) 24321933

(944) 2723233 (944)(2829) 81114N () N () N ()() 22 2 2 2 2

Y Y X X XY XY rx y Jadi dapat diketahui bahwa hasil korelasi product moment pada observasi (ro) adalah 0,47049 Setelah diperoleh koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y maka langkah selanjutnya adalah menghubungkan antara nilai r (hasil koefisien korelasi) dengan nilai r pada tabel baik taraf signifikansi 5 % atau 1 %. Apabila nilai r yang dihasilkan dari koefisien

korelasi diperoleh nilai sama atau lebih besar dari nilai r yang terdapat pada tabel, maka hasil yang diperoleh adalah signifikan yang berarti 50 hipotesis yang diajukan diterima (ada pengaruh). Apabila r yang dihasilkan dari koefisien korelasi lebih kecil dari pada tabel berarti hipotesis yang diajukan tidak dapat diterima (tidak ada pengaruh). Dari analisis uji hipotesis diperoleh koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,47049, sedang koefisien korelasi dalam tabel ( rt ) untuk taraf signifikansi 5% adalah 0,344 dan taraf signifikansi 1 % adalah 0,442. Berdasarkan perhitungan di atas ro lebih besar dari pada rt atau koefisien korelasi pada tabel baik taraf signifikansi 5 % maupun 1 %, sehingga diperoleh angka yang signifikan. Artinya variabel X mempunyai pengaruh terhadap variabel Y. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa ada pengaruh antara Minat belajar siswa pada ateri cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal hipotesis yang penulis ajukan diterima. C. Pembahasan Hasil Penelitian Minat adalah perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan. Dengan begitu minat, tambah Mahfudh, sangat menentukan sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan, atau dengan kata lain, minat dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan. Data tentang minat belajar Sejarah Kebudayaan Islam diperoleh dari angket yang terdiri dari 30 pertanyaan yang dijawab siswa. hasil yang diperoleh dari analisis tentang pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah diperoleh mean yaitu 29 dari interval 26 32.

Pretasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya)1 . 1 Poerwaodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, hlm. 354.51 Prestasi adalah hasil belajar yang dicapai oleh setiap siswa setelah mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar baik itu berupa angka maupun kata-kata dalam jangka waktu tertentu. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh murid sebagai hasil belajarnya, baik berupa angka, huruf, atau tindakan yang mencerminkan hasil belajar yang telah dicapai masing-masing anak dalam periode tertentu. Dari hasil analisis angket tentang prestasi siswa nilai mean yaitu 85,73. Dari nilai mean tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (Enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal pada interval 82 142. Pengertian Sejarah Kebudayaan Islam yang terdapat di dalam kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Johorejo adalah: Salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati Sejarah Kebudayaan Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan untuk itu. Minat belajar besar pengaruhnya terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, karena minat adalah salah satu faktor dari keberhasilan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, dan sebaliknya

prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam akan turun apabila tidak didukung dengan minat belajar yang tinggi. Kesimpulan yang dapat kita tarik ialah tinggi rendahnya prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ada hubungannya/dipengaruhi oleh minat belajar siswa. D. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menyampaikan data-data dari observasi yang dilaksanakan hanya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari yang dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. 52 Hasil dari penelitian ini agar dijadikan informasi bagi instansi terkait dalam memajukan dunia pendidikan khusunya di Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan dimungkinkan akan mengalami perbedaan anggapan dan perolehan data seiring dengan bertambahnya waktu dan berkembangnya zaman. Peneliti berharap ada penelitian lanjutan yang akan menyempurnakan dalam penelitian ini.. 53 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah penulis mengadakan penelitian lapangan dan menganalisa data yang diperoleh dalam rangka pembahasan skripsi yang berjudul Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo, maka secara garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Hasil analisis tentang pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah diperoleh mean yaitu 29. Dari mean tersebut dapat disimpulkan bahwa minat belajar siswa pada materi cerita sejarah dalam kategori cukup yaitu pada interval 26 32. 2. Hasil analisis tentang tentang prestasi mata pelajaran sejarah kebudayaan islam diperoleh nilai mean yaitu 85,73. Dari nilai mean tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (Enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal dalam kategori cukup yaitu pada interval 82 142. 3. Hasil analisa statistik korelasi product moment Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo didapatkan r observasi adalah 0,47049. Kemudian hasil tersebut dikonfermasikan dengan tabel baik taraf signifikansi 5 % maupun 1 %. Untuk jumlah responden 33, dalam taraf signifikansi 5 % = 0,344 dan taraf signifikansi 1 % = 0,442. Dengan demikian dapat diinterpretasikan bahwa ada pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap . 54 prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo. B. Saran-saran Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan saran-saran sebagai berikut : 1. Kepada guru Mengemas materi Sejarah Kebudayaan Islam dengan sebaik-baiknya agar tidak membosankan karena materi Sejarah Kebudayaan Islam hanya

berisi tentang cerita-cerita sejarah saja, menggunakan metode yang menarik seperti metode bervariasi ceramah-tanya jawab, diskusi-tanya jawab, metode bermain peran dan sosiodrama, selanjutnya dapat mengajak siswa melihat film-film Sejarah Islam, dan membuat kliping 2. Kepada orang tua orang tua harus menyadari bahwa anak membutuhkan perhatian dan support dalam belajar. Bagi para orang tua disarankan mau mendengarkan apa yang diminati anak dan apa yang tidak, sehingga orang tua bisa memberikan arahan positif bagi kemajuan anak dalam belajar 3. Kepada Peneliti Sebagai informasi kepada masyarakat luas dan lembaga terkait lainya 4. Kepada siswa Siswa sebagai obyek dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya lebih pro aktif supaya timbul rasa suka terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam C. Penutup Dengan selesainya penyusunan skripsi ini penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT dan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang bersedia memberikan kritik yang membangun demi kesempurnaan dalam pembuatan skripsi ini, sebab penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan, namun demikian penulis . 55 mengharap semoga usaha dan karya penulis ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya khususnya kepada penulis sendiri.47 DAFTAR PUSTAKA Abror, Abd. Rachman, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Pt. Tiara Wacana,

1993. Alisuf Sabri, M., Drs., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995. Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Rajawali Press, 1995. Arikunto, Suharsimi, Dr., Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 1993. Badudu, J.S, dan Sultan M. Zein, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994. Crow, L. & A. Crow, Psikologi Pendidikan, Surabaya: Bina Ilmu. 1988. D.G, Singgih, dan Ny. Yulia Singgih, D.G., Psikologi Perawatan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989 Dalyono, M, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997 Departemen Pendidikan Agama RI, Pedoman Khusus Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Departemen Pendidikan Agama RI, 2004. Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Kerangka Dasar, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004. Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1991 Djamarah, Syaiful Bahri, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya: Usaha Nasional, 1994. Herman Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992. Hallen A., Dra., Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Ciputat Pers, 2002. Hurlock, Elizabeth, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1990. Imran, Ali, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1996. 48 Marimba, Ahmad, D, Drs., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: PT. Al maarif, 1980. Naziri, Mohamad, Ph.D., Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998. Nasution, S. Didaktik Azas-Azas Mengajar, Bandung: Jemmars, 1998.

Poerwadarminta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1987. Shalahuddin, Mahfudh, Drs., Pengantar Psikologi Pendidikan, Surabaya: Bina Ilmu, 1990. Singer, Kurt, Membina Hasrat Belajar di Sekolah, (Terj. Bergman Sitorus), Bandung: Remaja Rosda Karya, 1987 Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yogyakarta: Andi Offset, 1991. Syah, Muhibin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001. Tampubolon, D.P, Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak, Bandung: Angkasa, 1993. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1997 Tuu, Tulus, MM.Pd., Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004. Usman Effendi dan Juhaya S. Praja, Pengantar Psikologi, Bandung: Angkasa, 1993.i ANGKET MENGENAI MINAT BELAJAR SISWA PADA MATERI CERITA SEJARAH DALAM MENINGKATKAN PRESTASI MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM Identitas Responden : Nama Responden : Kelas : Nama Madrasah : Petunjuk Pengisian Angket

1. Pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, alangkah baikya anda menjawab dengan benar 1. Berilah tanda silang (X) pada salah satu jawaban yang anda pilih ( a, b, c dan d). 2. Jawaban yang anda berikan akan sangat membantu dan berguna bagi kami, untuk itu kami ucapkan terima kasih. 1. Apakah anda senang mengikuti mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 2. Apakah anda memfavoritkan mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 3. Apakah anda tetap belajar walaupun tidak ada guru? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 4. Apakah anda mengikuti mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan kemauan sendiri? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah5. Apakah anda selalu mengikuti pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam karena tuntutan guru Mapel? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 6. Apakah anda Terpaksa Mengikuti Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Karena diwajibkan Oleh Sekolah? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 7. Apakah anda selalu hadir mengikuti pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam?

a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 8. Apakah anda mengikuti pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dengan penuh perhatian? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 9. Apakah anda aktif bila ada kesempatan bertanya? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 10. Apakah anda mengikuti penjelasan guru dalam setiap pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 11. Apakah anda sering mencatat materi-materi yang diberikan guru? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 12. Apakah anda mengerjakan tugas-tugas pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 13. Apakah anda mendapatkan nilai yang sesuai diharapkan pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam? a. selalu c. kadang-kadangb. sering d. tidak pernah 14. Apakah anda mencatat pelajaran dari teman bila saya berhalangan hadir? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 15. Apakah anda tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru jika tidak diperiksa?

a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 16. Apakah mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang disampaikan berisi materi yang diinginkan ? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 17. Apakah materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kurang menarik? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 18. Apakah pelajaran Sejarah Kebudayaan islam berisi kisah-kisah para tokoh yang dapat saya contoh dan saya terapkan pada zaman sekarang? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 19. Apakah pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang disampaikan oleh guru sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga tertarik dengan mempelajarinya? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 20. Apakah materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang disampaikan oleh guru sangat menarik? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 21. Apakah materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam bisa dipelajari dari buku, karena itu siswa boleh mengobrol dikelas? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah22. Apakah materi pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sangat membosankan? a. selalu c. kadang-kadang

b. sering d. tidak pernah 23. Apakah Penjelasan Guru Mudah Diikuti? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 24. Apakah anda sering mengantuk waktu guru menerangkan? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 25. Apakah mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam banyak membuang waktu? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 26. Apakah siswa anda menayakan materi yang belum dipahami? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 27. Apakah siswa anda mempraktekkan materi yang sudah diajarkan? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 28. Ketika ditanya apakah siswa anda dapat menjawab pertanyaan anda ? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 29. Apakah cerita sejarah menjadikan pengalaman anda bertambah ? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernah 30. Apakah anda merasa senang ketika disuruh bercerita didepan kelas? a. selalu c. kadang-kadang b. sering d. tidak pernahHal : Nilai Bimbingan Skripsi Semarang, 9 Juni 2011 Kepada

Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Waliongo Semarang di Semarang Assalamualaikum Wr.Wb. Berama ini saya kirimkan naskah skripsi dengan: Judul : Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Nama : Siti Roichah NIM : 093111271 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Program Studi : Pendidikan Agama Islam Berdasarkan bimbingan, arahan dan koreksi atas naskah skripsi tersebut diatas, maka saya memberikan nilai ( ................................................ ). Kemudian harap menjadi maklum. Wassalamualaikum Wr.Wb. Pembimbing, Dr. H. Syaifudin Zuhri, M.Ag NIP.19580815987031002PERSETUJUAN PEMBIMBING Lamp : 4 (empat) eksemplar Hal : Naskah Skripsi A.n. Nurjanah Assalamualaikum Wr.Wb. Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, bersama ini saya kirim naskah skripsi saudara:

Nama : Siti Roichah NIM : 093111271 Judul : Pengaruh minat belajar siswa pada materi cerita Sejarah terhadap prestasi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah Johorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Dengan ini sayamohon kiranya skripsi saudara tersebut dapat segera dimunaqosahkan. Demikian harap menjadikan maklum. Wassalamualaikum Wr.Wb. Semarang, 9 Juni 2011 Pembimbing, Dr. H. Syaifudin Zuhri, M.Ag NIP.19580815987031002i RIWAYAT HIDUP A. Identitas Diri 1. Nama Lengkap : Siti Roichah 2. Tempat & Tgl. Lahir : Kendal, 7 Mei 1973 3. NIM : 093111271 4. Alamat Rumah : RT 03 RW I Desa Karangayu Kecamatan Cepiring Kabupaten Kendal 51352 5. HP. : 081 325 278 251 6. E-Mail : B. Riwayat Pendidikan 1. Pendidikan Formal:

a. MI Tahun Masuk 1981 Tahun Lulus 1987 b. MTs Tahun Masuk 1987 Tahun Lulus 1990 c. MA Tahun Masuk 1990 Tahun Lulus 1993 d. DII Tahun Masuk 2005 Tahun Lulus 2007 2. Pendidikan Non Formal: a. Madrasah Diniyah Awaliyah C. Prestasi Akademik D. Karya Ilmiah Semarang, 10 Juni 2011 Siti Roichah NIM: 093111271

http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/132/jtptiain-gdl-sitiroicha-6586-1fileskr-h.pdf

1 PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR DAN MINAT MEMBACA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN IPS DI MTs DARUL HUDA WONODADI BLITAR SKRIPSI Oleh: Husna Afida (03160031) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG Juli 2007 2 PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR DAN MINAT MEMBACA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN IPS DI MTs DARUL HUDA WONODADI BLITAR SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Islam Negeri (UIN)Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (S.Pd) Oleh: Husna Afida (03160031)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG Juli 2007 3 PERSETUJUAN PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR DAN MINAT MEMBACA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN IPS DI MTs DARUL HUDA WONODADI BLITAR SKRIPSI Oleh: Husna Afida NIM. 03160031 Telah disetujui oleh: Dosen Pembimbing Drs. Muhammad Yunus, M.Si NIP. 150 274 940 Tanggal, 9 Juli 2007 Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan IPS Drs. Muhammad Yunus, M.Si NIP. 150 274 940 4 PENGESAHAN PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR DAN MINAT MEMBACA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN IPS DI MTs DARUL HUDA WONODADI BLITAR

SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Husna Afida (03160031) Telah dipertahankan di depan dewan penguji dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada tanggal: 20 Juli 2007 Panitia ujian: Ketua Sidang/ Pembimbing, Drs. Muhammad Yunus, M.Si NIP. 150 274 940 Seketaris Sidang, Abdul Basith, M.S NIP. 150 327 264 Penguji Utama, Drs. Ec. Muhammad Mansur, M.Si NPP. 90 02 00029 Mengesahkan, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony NIP.150 042 031 5 Drs. M. Yunus, M.Si Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Skipsi Husna Afida Malang, 9 Juli 2007

Lamp. : 4 (Empat) Eksemplar Kepada Yth. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang di Malang Assalamualaikum Wr. Wb. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama : Husna Afida NIM : 03160031 Jurusan : Pendidikan IPS Judul Skripsi : Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya. Wassalamualaikum Wr. Wb Pembimbing, Drs. M. Yunus, M.Si NIP. 150 274 940 6 SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Malang, 9 Juli 2007 Husna Afida 7 MOTTO

Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S Al-Baqarah: 269) Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri __Dorothy Law Nolte__ 8

PERSEMBAHAN Kupersembahkan goresan tinta yang bermakna ini teruntuk: Allah SWT atas ridho dan segala nikmat karunianya sehingga kemudahan dan kelancaran menuntunku dalam perjalanan menimba ilmu. Ayahanda dan ibunda tercinta, Bapak Suparno Masjhuri (Alm) dan Ibu Siti Saadah yang telah memberikan cinta dan kasih sayang tanpa batas. Juga perhatian, kesabaran, keikhlasan, dan untaian doa suci serta dukungan moral dan material yang tiada henti-hentinya dalam tiap jengkal kehidupanku. Beliaulah pelita hidupku. Adek-adekku tersayang, zulia Nurus Sofa dan Nailil Maghfiroh dan juga seluruh keluarga besar yang slalu memberikan dukungan, semangat dan doa. Guru-guruku dan Dosen-dosenku, trimakasih atas keikhlasannya, mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mendidik dan membimbingku kearah yang lebih baik, Jasa-jasamu selalu terukir disanubari. Sahabat ku Desi Indra dan maratus yang menemani hari-hariku, yang memberikan semangat saat aku mulai malas, tempat curhatku. Makasih atas segalanya, doa dan dukunganya. Kalianlah yang bisa ngerti aku. Thanks. To Iin, Atus, Nunin, dan semua temen IPS trimakasih atas persahabatan kalian, semoga persahabatan ini abadi. Encrur, fida, wawa dan seluruh Temen-temen kost Sunan Ampel no.9 makasih bantuanya. Ya Allah betapa besar Nikmat yang ada dalam hidupku. Tiada lain semua karena Rohman dan Rohim-Mu.

Syukurku yang tiada henti karena engkau telah memberikan orangorang yang ada disampingku, mendukungku dan selalu menyayangiku. And Thanks to All9 KATA PENGANTAR 10 5. Bapak Asyharul Muttaqin, S.Pd. M.Ag, selaku Kepala MTs Darul Huda Wonodadi Blitar, yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan penilitian di madrasah tersebut. 6. Seluruh dewan guru dan Staf yang ada di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar yang telah memberikan bantuan selama dalam proses penelitian. 7. Segenap siswa-siswi MTs Darul Huda Wonodadi Blitar khususnya siswa kelas VIII. 8. Teman-teman yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung terutama pada sobatku Desi, Nunin, Encrur, Fida, Cece, mba nita, mba tatik, dita, Mas Hendra juga Mas Iput atas motivasi dan bantuanya yang sangat berarti bagi peneliti dalam penyelesaian skripsi ini. Kesadaran peneliti mengatakan bahwa dalam penyusunan skipsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak untuk menyempurnakan skripsi ini. Akhir kata, semoga apa yang peneliti tulis dan laporkan dalam skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi peneliti khususnya serta semua pihak yang terkait pada umumnya. Malang, 20 Juni 2007 Penulis 11 DAFTAR TABEL Tabel 1 : Ruang lingkup dan alokasi waktu mata pelajaran IPS.................. 5 Tabel 2 : Variabel, Indikator dan Item...................................................... 11

Tabel 3 : Populasi .................................................................................... 53 Tabel 4 : Kriteria keberhasilan belajar...................................................... 58 Tabel 5 : Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel X1......................... 59 Tabel 6 : Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel X2......................... 60 Tabel 7 : Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian......................................... 62 Tabel 8 : Persentase Variabel X1 ............................................................. 73 Tabel 9 : Persentase Variabel X2 ............................................................. 77 Tabel 10: Persentase Variabel Y ............................................................... 80 Tabel 11: Hasil Analisis Regresi Berganda ............................................... 81 Tabel 12: Hasil Uji Hipotesis t-Test.......................................................... 84 Tabel 13: Hasil Uji Hipotesis F-Test......................................................... 85 12 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN.................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... iii HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING ..............................................iv HALAMAN SURAT PERNYATAAN....................................................... v HALAMAN MOTTO................................................................................ vi HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................ vii KATA PENGANTAR.............................................................................viii DAFTAR TABEL ...................................................................................... x DAFTAR ISI............................................................................................. xi ABSTRAK............................................................................................... xv BAB I PENDAHULUAN..................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ...................................................... 1 B. Rumusan Masalah................................................................. 7

C. Tujuan Penelitian.................................................................. 7 D. Kegunaan penelitian ............................................................. 8 E. Hipotesis penelitian............................................................... 9 F. Asumsi penelitian................................................................ 10 G. Batasan Masalah................................................................. 10 H. Definisi Operasional ........................................................... 11 I. Sistematika Pembahasan ...................................................... 12 13 BAB II KAJIAN PUSTAKA.............................................................. 15 A. Konsep Dasar Belajar ........................................................ 15 1. Pengertian Belajar........................................................ 15 2. Belajar Menurut Pandangan Islam................................ 16 3. Prinsip-prinsip Belajar ................................................. 23 4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar.................. 25 5. Teori Belajar................................................................ 27 B. Kebiasaan Belajar.............................................................. 29 C. Minat Membaca................................................................. 37 D. Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS ................................... 41 1. Pengertian Prestasi Belajar........................................... 41 2. Mata Pelajaran IPS ...................................................... 44 E. Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS................. 46 BAB III METODE PENELITIAN...................................................... 50 A. Lokasi Penelitian............................................................... 50 B. Jenis Penelitian.................................................................. 50 C. Data dan Sumber Data....................................................... 50 D. Populasi dan Sampel.......................................................... 52

1. Populasi....................................................................... 52 2. Sampel......................................................................... 53 E. Pengumpulan Data............................................................. 54 F. Instrumen Penelitian.......................................................... 56 14 G. Validitas dan Reliabilitas................................................... 58 1. Uji Validitas Instrumen................................................ 58 2. Uji Reliabilitas Istrumen.............................................. 60 H. Analisis Data..................................................................... 62 1. Uji Hipotesis.................................................................. 62 2. Analisis Regresi Ganda (Multiple Regression) ............... 65 BAB IV HASIL PENELITIAN .......................................................... 67 A. Deskripsi Obyek............................................................... 67 1. Profil MTs Darul Huda ................................................ 67 2. Sejarah Berdirinya MTs Darul Huda............................ 68 3. Visi, Misi dan Tujuan .................................................. 70 4. Fasilitas-fasilitas.......................................................... 72 B. Deskripsi Data................................................................... 73 1. Persentase Kebiasaan Belajar....................................... 73 2. Persentase Minat Membaca.......................................... 77 3. Persentase Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS ............ 80 4. Analisis Regresi Berganda ........................................... 81 C. Pengujian Hipotesis........................................................... 83 1. Uji Parsial (t) ............................................................... 84 2. Uji Simultan (F)........................................................... 85 BAB V PEMBAHASAN .................................................................... 87 A. Pengaruh Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi

Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS.............................. 87 15 B. Pengaruh Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS.......................................... 90 C. Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada mata Pelajaran IPS ................. 93 BAB VI PENUTUP............................................................................. 97 A. Kesimpulan ....................................................................... 97 B. Saran-saran........................................................................ 98 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN16 ABSTRAK Afida. Husna. 2007. Pengaruh Kebiasaan Belajar Dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS Di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Pembimbing: Drs. Muhammad Yunus, M.Si. Kata Kunci: Kebiasaan Belajar, Minat Membaca, dan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS Pada umumnya, siswa masih sering melakukan kebiasaan belajar yang kurang baik yaitu belajar semalam suntuk ketika akan menghadapi ujian atau ulangan saja dan minat terhadap bacaan pun masih kurang. Padahal efektivitas belajar tergantung pada kebiasaan belajar yang baik dan juga minat membaca siswa. Ilmu akan bertambah dan berkembang melalui kegiatan membaca. Khususnya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Karena IPS merupakan pelajaran yang selalu berkembang. Dengan membaca siswa akan lebih menguasai atau

memahami materi pelajaran, dan tentunya hal ini juga harus didukung dengan kebiasaan belajar yang baik sehingga siswa dapat memperoleh prestasi yang tinggi. Kebiasaan dan minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Kebiasaan belajar yang baik berarti membiasakan diri melakukan proses belajar dengan tepat. Dan minat membaca merupakan perasaan senang seseorang terhadap kegiatan membaca yang dilakukanya tanpa paksaan. Tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar, untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara minat membaca terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar, dan untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Penelitian ini dilakukan pada siswa MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian penjelasan atau eksplanatory. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Karena jumlah populasi kurang dari 100, maka sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan populasi yang berjumlah 91 siswa. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan angket dan dokomentasi. Sedangkan untuk Analisis data menggunakan analisis regresi ganda, uji t , dan uji F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS ditunjukkan oleh nilai t hitung 2,146 > t tabel 1,980 dengan nilai

signifikansi 0,035 (2) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara minat 17 membaca terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS ditunjukkan oleh nilai t hitung 23,388 > t tabel 1,980 dengan nilai signifikansi 0,000 (3) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara simultan antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Hal tersebut terbukti dari hasil uji F yaitu diperoleh nilai F hitung 297,056 > F tabel 3,11 dengan signifikansi 0,000. Koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,871. Hal tersebut menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS dipengaruhi oleh kebiasaan belajar dan minat membaca sebesar 87,1%, sisanya 12,9% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila siswa melakukan kebiasaan belajar yang baik dan memiliki minat yang tinggi untuk membaca buku-buku pelajaran apalagi yang berhubungan dengan bidang IPS maka prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS pun akan meningkat. Untuk itu disarankan agar orang tua siswa sebaiknya juga ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar putra putrinya dengan jalan selalu memperhatikan kebiasaan belajar juga minat terhadap bacaan khususnya yang berhubungan dengan materi pelajaran di sekolah. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru juga diharapkan dapat menanamkan kebiasaan belajar yang baik dan minat membaca yang tinggi tanpa membeda-bedakan status sosial dan taraf pikir siswa. Dan bagi siswa sendiri harus benar-benar memperhatikan kebiasaan belajarnya dan terus berusaha meningkatkan minat membacanya agar mendapatkan kesuksesan dalam studi. 18 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana yang tertuang dalam Undangundang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yaitu Untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab1 sangat tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik. Belajar merupakan suatu keharusan atau kewajiban bagi manusia. Dalam agama Islam sudah jelas disebutkan, sebagaimana dalam hadis Nabi bahwa Belajar itu wajib bagi semua orang Islam sejak mulai ia lahir sampai ia mati.2 Jadi kewajiban belajar sudah tidak dapat ditawar lagi, harus dilakukan oleh semua orang semasa ia hidup. Ibarat peperangan, dalam belajar kita juga harus siap. Yaitu mengetahui hal-hal apa yang membantu suksesnya belajar dan apa yang sering membuat gagalnya pelajaran. Sehingga bagi seorang pelajar, harus faham teknik-teknik 1 Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Serta Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas (Bandung: Citra Umbara, 2006), hal. 76 2 Hasbullah Thabrany, Rahasia Sukses Belajar Bagaimana Memilih dan Belajar di Perguruan Tinggi Amerika (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 9 19 belajar yang baik, mengetahui waktu yang tepat untuk belajar, mengatur waktu dan disiplin dalam belajar, juga membiasakan membaca serta mengunjungi perpustakaan yang merupakan gudang dari segala bacaan. Dengan

melaksanakan kebiasaan-kebiasaan baik dalam belajar maka seorang siswa akan memperoleh prestasi yang tinggi dan akhirnya sukses dalam studi. Selain mempunyai kebiasaan belajar yang baik, membaca juga merupakan tuntutan penting bagi para siswa. Karena pada dasarnya belajar memang tidak dapat lepas dari aktivitas membaca. Dalam Islam, wahyu yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Alaq 1-5 yang berbunyi:

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmu-lah yang Maha pemurah; Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaran kalam; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya 3 Akan tetapi sangat disayangkan, minat baca di Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam malah sangat memprihatinkan. Malas membaca adalah virus yang terus menjadi boomerang bagi generasi muda. Virus 3 Al-Quran dan Terjemahnya Jilid II (Kudus: Mubarokatan Toyyibah, Tanpa Tahun), hal. 597 20 itu telah ditularkan dari generasi terdahulunya dan hingga kini terus menular kesemua kalangan tidak pandang usia. Riset-riset yang dilakukan para pakar menunjukkan bahwa minat membaca masyarakat Indonesia masih rendah, paling rendah di antara negara tetangga se-Asia Tenggara, bahkan masih rendah dibandingkan dengan Nigeria, negara berkembang di padang gurun Afrika. Hal tersebut merupakan laporan

yang dikemukakan suatu lembaga pengetesan International Association for Educational Achievement (IAEA) pada tahun 1992. 4 Dengan kondisi seperti itu, maka tidak heran apabila kualitas pendidikan di Indonesia juga buruk. Menurut Ichwani AS, ada dua faktor yang sangat vital yang menyebabkan budaya malas dan rendahnya minat membaca tidak berubah. Pertama, rendahnya budaya cinta ilmu. Dalam masyarakat kita budaya cinta ilmu pengetahuan memang masih kalah dengan budaya konsumtif dan kesenangan sesaat. Seperti shooping ke mal, makan di restoran mewah, membeli barangbarang yang kurang bermanfaat, membawa anak rekreasi yang hanya akan memakan biaya banyak dan lain-lain, itu semua lebih disenangi dari pada harus membeli buku yang harganya relatif murah dan lebih bermanfaat. Kedua, kurangnya kesadaran akan penting dan bermanfaatnya membaca. Hal tersebut dapat dilihat dari betapa sepinya pengunjung perpustakaan. Anak-anak atau remaja yang masih menyandang status pelajar, lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain, keluyuran, berkumpul dengan teman-teman geng-nya 4 dalam, Suroso, Kemampuan Membeli Buku dan Minat Membaca, (http://www. hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/02/28/0075.html, diakses 11 januari 2007). 21 tanpa ingat belajar (membaca) dan mengulangi pelajaran yang telah diterima di sekolah.5 Memang ilmu tidak akan berkembang tanpa kegiatan membaca. Melalui kegiatan membaca buku pelajaran siswa akan lebih memahami atau menguasai materi pelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi. Keaktifan dan ketekunan siswa untuk membaca buku-buku pelajaran sangat dipengaruhi oleh minat seorang siswa untuk membaca. Bila minat membaca di kalangan siswa telah tumbuh dan berkembang, diharapkan prestasi

belajar siswa pun akan meningkat. Dengan adanya minat membaca yang tinggi, terutama bacaan yang berhubungan dengan bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) maka pengetahuan siswa akan bertambah. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. Ilmu Pengetahuan Sosial mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Di SMP/Madrasah Tsanawiyah, mata pelajaran IPS memuat materi pengetahuan sosial yang terdiri dari Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik di arahkan untuk dapat menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab serta warga dunia yang cinta damai. Hal inilah yang menambah pentingnya ilmu pengetahuan sosial dalam dunia pendidikan. Hal tersebut terbukti dari ruang lingkupnya yang luas dan pemberian alokasi waktu setiap minggunya. Sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini: 5 Ichwani A.S, Budaya Membaca (http://www.Pontianakpost.com/berita/index.asp? Berita=opini&id=96937, diakses 03 November 2006)22 Tabel. 1 Ruang lingkup dan alokasi waktu mata pelajaran IPS Ruang Lingkup Materi Pelajaran Alokasi waktu 1. Manusia tempat dan lingkungan 2. Waktu keberlanjutan dan perubahan 3. Sistem sosial dan budaya 4. Perilaku ekonomi dan

kesejahteraan Geografi Sejarah Sosiologi Ekonomi 4x40 menit Sumber: Olahan Kurikulum KTSP Untuk menambah dan mengembangkan pengetahuan umum dan khususnya pengetahuan sosial seorang siswa dapat dilakukan dengan memperbanyak frekuensi membaca dan juga membiasakan diri dengan belajar yang baik. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan sosial merupakan pelajaran yang dinamis dalam arti selalu berkembang, sehingga mengharuskan siswa untuk mengikuti perkembangan tersebut dengan memperbanyak membaca dan belajar dengan baik. Kegiatan membaca yang dilakukan di sekolah biasanya merupakan suatu alat untuk dapat menguasai semua bahan pelajaran. Adanya minat membaca yang tinggi terhadap segala bidang pengetahuan, terutama bacaan yang berhubungan dengan bidang studi pengetahuan sosial, maka makin mudahlah bagi siswa untuk menguasai segala bidang pengetahuan tersebut. Saat ini, masih sering kita jumpai pelajar yang kurang memperhatikan kebiasaan belajar dan minatnya terhadap bacaan. Kebanyakan siswa masih juga membudayakan Cramming yaitu menumpuk pelajaran yang harus dipelajari sampai saat terakhir yakni bila saat ulangan atau ujian sudah tiba, sehingga 23 seorang siswa pada saat itu akan belajar mati-matian semalam suntuk untuk menghadapi ujian atau yang biasa dikenal dengan istilah SKS (Sistem Kebut Semalam) di kalangan pelajar. Selain itu minat terhadap bacaan pun juga

rendah, sehingga bagaimana mereka menjadi pelajar yang baik dan sukses apabila tidak didukung adanya faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar dalam diri mereka. MTs Darul Huda merupakan sebuah lembaga pendidikan tingkat dasar yang berada di pinggir barat Kabupaten Blitar, tepatnya yaitu di Kecamatan wonodadi. Dari sekian banyak siswa pastinya juga mempunyai kebiasaan belajar yang beragam dan mempunyai minat membaca yang berbeda-beda. Hal tersebutlah yang menjadikan prestasi belajar siswa juga berbeda. Karena kebiasaan-kebiasaan belajar dan minat membaca siswa dapat mempengaruhi hasil belajarnya, sudah seharusnya penerapan kebiasaan belajar yang baik dan peningkatan minat membaca akan sangat berguna bagi keberhasilan studinya. Oleh karena uraian tersebut di atas, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti realitas dalam dunia pendidikan tersebut dengan judul: Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. 24 B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini secara khusus dikemukakan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar? 2. Apakah terdapat pengaruh signifikan secara parsial antara minat membaca terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar? 3. Apakah terdapat pengaruh signifikan secara simultan antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada

mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar? C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. 2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara minat membaca terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. 3. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi 25 belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. D. Kegunaan Penelitian 1. Bagi Sekolah Hasil dari penelitian ini diharapkan digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam membuat kebijakan mengenai upaya peningkatan mutu lulusan. 2. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, yakni tentang faktor-faktor yang berhubungan dan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. 3. Bagi penulis Untuk menambah pengetahuan, pengembangan cakrawala berpikir dan sebagai bahan refleksi bagi penulis sebagai calon pendidik ataupun praktisi pendidikan untuk mencoba menyelesaikan salah satu permasalahan

pendidikan, khususnya yang terkait dengan prestasi belajar siswa. E. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau tingkat paling tinggi kebenarannya.6 Teori yang mendasari ada tidaknya pengaruh kebiasaan belajar dan minat membaca adalah menurut pendapat Gie, Kebiasaan belajar yang baik 6 S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 6726 adalah kebiasaan belajar yang membantu siswa menguasai pelajaranya untuk kemajuan belajar yang akhirnya dapat meraih sukses di sekolah.7 Selanjutnya menurut Wigfield dan Gutrie telah merumuskan bahwasanya anak-anak yang memiliki minat membaca tinggi juga akan berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya anak-anak yang memiliki minat membaca rendah akan rendah pula prestasi belajarnya.8 Syah mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa.9 Berdasarkan teori-teori tersebut, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua hipotesis. Yaitu hipotesis alternatif (Ha), dan hipotesis nol (Ho). Hipotesis tersebut adalah: Ha: Terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Ho: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan belajar terhadap

prestasi belajar pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Ha: Terdapat pengaruh yang signifikan antara minat membaca terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. 7 The Liang Gie, Cara belajar yang Efisien Jilid II (Yogyakarta: Liberty, 1995), hal. 193 8 Soejanto Sandjaja, Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau Dari Pendekatan Stress Lingkungan (http//www.Unika.ac.id/ fakultas/psikologi/ artikel/ss-1.Pdf, Diakses 6 Januari 2007), hal. 2 9 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 192 27 Ho: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara minat membaca terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Ha: Terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Ho: Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. F. Asumsi Penelitian Asumsi-asumsi dalam penelitian ini di antaranya adalah: 1. Setiap siswa mempunyai kebiasaan belajar dan minat terhadap bacaan yang berbeda-beda. 2. Prestasi belajar siswa yang diambil dari nilai mentah raport mata pelajaran IPS dianggap cukup obyektif sebagai gambaran dari prestasi belajar siswa. 3. Variable-variabel lain di luar penelitian dianggap tidak ikut mempengaruhi

prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. G. Batasan Masalah Agar ruang lingkup penelitian atau pembahasan ini dapat mencapai sasarannya, maka perlu dikemukakan batasan masalah dalam penelitian. Penelitian ini difokuskan pada upaya mengidentifikasi dan membuktikan 28 variabel-variabel prediktor yang berpengaruh dengan prestasi belajar siswa. Adapun variabel tersebut adalah kebiasaan belajar dan minat membaca siswa dan bagaimana pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS di MTs Darul Huda Gambar Wonodadi Blitar. Tabel. 2 Variabel, Indikator dan Item No Variabel Indikator Item angket 1 Kebiasaan belajar a. kebiasaan belajar secara teratur b. kebiasaan mempersiapkan keperluan studi pada malam hari c. kebiasaan hadir di kelas sebelum pelajaran dimulai d. kebiasaan belajar sampai paham dan tuntas e. kebiasaan mengunjungi perpustakaan (Sumber: The Liang Gie, 1995) 1, 2, 3, 4

5, 6, 7 8, 9, 10 11, 12, 13, 14 15, 16, 17 2 Minat membaca a. kesenangan membaca b. kesadaran akan manfaat membaca c. frekuensi membaca d. jumlah buku yang pernah dibaca (Sumber: Lilawati dalam Soejanto Sandjaja, 2007) 1, 2, 3, 4 5, 6, 7 8, 9, 10 11, 12, 13 3 Prestasi belajar IPS Nilai mentah raport mata pelajaran IPS (Geografi, Sosiologi, Sejarah, Ekonomi) Dokumentasi H. Definisi Operasional Variabel dalam konsep penelitian ini yakni terdapat variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) yang dikategorikan sebagai berikut : 29 1. Variabel bebas (X) X1 : Kebiasaan Belajar Adalah suatu tingkah laku yang dilakukan oleh siswa secara teratur dan

berulang-ulang dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan. X2 : Minat membaca Adalah kecenderungan siswa untuk menyukai dan tertarik pada suatu bacaan, sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. 2. Variabel terikat (Y) Y : Prestasi belajar Adalah perubahan tingkah laku dalam aspek berpikir tentang penguasaan terhadap mata pelajaran IPS yang dapat diukur melalui tes atau evaluasi. I. Sistematika Pembahasan Adapun sistematika pembahasan dalam skripsi ini dikelompokkan menjadi enam bab. Dan masing-masing bab terdapat beberapa bahasan yang lebih terperinci yaitu: BAB I Bab ini merupakan pendahuluan yang menempati bab pertama, terdiri dari latar belakang masalah yang memberikan gambaran judul skripsi, rumusan masalah, tujuan penelitian untuk mengetahui tujuan dalam pembuatan judul skripsi, pentingnya penelitian yakni memberi masukan kepada instansi yang terkait 30 supaya dikembangkan sesuai dengan tujuan, ruang lingkup atau keterbatasan penelitian untuk mengetahui batasan-batasan yang akan digunakan dalam pembahasan, hipotesis penelitian, definisi operasional untuk menghindari salah pengertian dan penafsiran terhadap judul skripsi, serta terakhir sistematika pembahasan. BAB II Bab ini merupakan tinjauan kepustakaan atau landasan teori. Pada bab ini berisi

lima point yaitu: 1. Membahas tentang konsep dasar belajar 2. Membahas tentang kebiasaan belajar yang meliputi pengertian kebiasaan belajar dan jenis-jenis kebiasaan belajar 3. Membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan minat membaca 4. Membahas tentang konsep-konsep prestasi belajar 5. Membahas tentang pengaruh kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar siswa BAB III Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh hasil penelitian disajikan dalam bab ini yaitu meliputi: lokasi penelitian yaitu tempat di mana penelitian akan dilakukan, penentuan jenis penelitian yang akan dilakukan, mengemukakan jenis dan sumber data penelitian, penentuan populasi dan sampel beserta teknik-teknik pengambilanya, instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti, dan juga uraian tentang analisis yang akan digunakan untuk pencapaian hasil penelitian. 31 BAB IV Laporan hasil penelitian merupakan bab ke-IV yang menyajikan data dan temuan yang diperoleh dengan menggunakan metode dan prosedur yang telah diuraikan pada bab III, yang terdiri atas latar belakang obyek atau deskripsi obyek, deskripsi data penelitian dan hasil analisis data. BAB V Pada bab V ini merupakan uraian tentang pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian yang telah dikemukakan dalam bab IV. BAB VI Terdiri dari dua hal pokok yaitu tentang kesimpulan dan saran yang akan

diberikan oleh peneliti terhadap hasil penelitian. Dalam bab ini akan diketahui kesimpulan dari hasil penelitian dan sebagai kelengkapanya disertakan daftar pustaka dan lampiran-lampiran. 32 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Belajar 1. Pengertian Belajar Kata belajar, merupakan sebuah kata yang sudah tidak asing lagi bagi semua lapisan masyarakat, apalagi bagi pelajar. Karena kata belajar merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari semua kegiatan dalam menuntut ilmu. Tetapi tidak semua orang mengetahui pengertian belajar. Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, penulis akan mengemukakan pengertian belajar menurut beberapa ahli dalam dunia pendidikan. Menurut Chaplin seperti yang dikutip Muhibbin Syah, ia membatasi pengertian belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama menyebutkan bahwa Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Dan rumusan kedua menyebutkan bahwa Belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.10 Sehingga belajar tidak akan terwujud tanpa adanya latihanlatihan yang akan mengubah tingkah laku individu. Winkel berpendapat bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman, 10 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 60-61 33 keterampilan dan nilai, sikap. Dan perubahan tersebut sifatnya konsisten dan berbekas.11 Gagne juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar

adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Dan belajar juga merupakan penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.12 Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan tahapan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dari keseluruhan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya yang melibatkan proses kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan perubahan yang timbul akibat belajar adalah perubahan yang bersentuhan dengan aspek kejiwaan dan mempengaruhi tingkah laku seseorang. Sehingga perubahan-perubahan seseorang yang terjadi akibat mabuk, gila, lelah, jenuh, dan lain sebagainya tidak dapat dikategorikan dalam belajar ini. 2. Belajar Menurut Pandangan Islam Islam menggambarkan belajar dengan mendasarkan pada firman Allah Q.S. An-Nahl ayat 78 sebagai berikut:

11 W. S. Winkel, Psikologi Pengajaran (Jakarta: Grasindo, 1991), hlm. 36 12 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 13 34 Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibumu dengan keadaan kamu tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur13 Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pada mulanya manusia tidak memiliki pengetahuan atau tidak mengetahui sesuatupun. Kemudian setelah mulai sempurna perkembangannya sebagai hasil dari pematangan dan aktivitas

belajarnya, maka ia sudah dapat menggunakan dan memfungsionalkan alat-alat indra yang dianugerahkan Allah SWT padanya. Yaitu untuk mengenal alam sekitarnya, dirinya dan Allah pencipta alam semesta. Keadaan manusia yang baru lahir dan tidak memiliki pengetahuan apapun bukanlah berarti bahwa tidak memiliki potensi, akan tetapi ia memiliki potensipotensi atau daya-daya yang harus dikembangkan melalui proses belajar. Abdul Fattah Jalal dalam bukunya Minal Ushul at-Tarbawiyah al-Islamiyah, sebagaimana yang dikutip Zaini, telah mengkaji ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan alat-alat yang dianugerahkan Allah untuk meraih ilmu pengetahuan. Dan masing-masing alat itu saling berkaitan dan melengkapi dalam mencapai ilmu. Diantaranya adalah: 14 a. Al-Lams dan As-Syum (alat peraba dan penciuman), sebagaimana disebutkan dalam Q.S Al-Anam: 7 13 Al-Quran dan Terjemahnya (Kudus: Mubarokatan Toyyibah), hlm. 275 14 Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), hlm. 8-935

Artinya: Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang kafir itu berkata: ini tidak lain adalah sihir yang nyata 15 dan pada Surat Yusuf ayat 94 yaitu:

Artinya: Tatkala Kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) berkata ayah

mereka: Sesungguhnya aku mencium bau yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)16 b. As-Sama (alat pendengaran). Penyebutan alat ini dihubungkan dengan penglihatan dan qolbu, yang menunjukkan adanya saling melengkapi antara berbagai alat untuk mencapai ilmu pengetahuan. Sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-Isra: 36

15 Al-Quran dan Terjemahnya, Op. cit, hlm. 128 16 Ibid, hlm. 24636 Artinya:Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya 17 c. Al-Abshar (penglihatan). di dalam Al-Quran banyak ayat-ayat yang menyeru manusia untuk melihat dan merenungkan apa yang dilihatnya sehingga dapat mencapai hakikatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Araf: 185

Artinya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan Telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada

berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?18 d. Al-Aql (akal atau daya berfikir). Dalam hal ini Al-Quran memberikan perhatian khusus sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali-Imron: 191 17 Ibid, hlm. 285 18 Ibid, hlm.37

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka 19 e. Al-Qalb (kalbu). Hal ini termasuk alat marifah yang digunakan manusia untuk dapat mencapai ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Hajj: 46

Artinya: Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada 20

19 Ibid, hlm. 75 20 Ibid, hlm. 33738 Dari situlah dapat dipahami, bahwa proses belajar menurut konsep Islam sebagaimana pendapat Sjahminan Zaini dan Muhaimin berarti melatih, menggunakan, memfungsikan, serta mengoptimalkan fungsi macam-macam alat indera yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia secara integral dalam berbagai aspek kehidupan sebagai manifestasi dari rasa syukur kepadaNya.21 Dalam pandangan Islam belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Hal ini disebutkan dalam Al-Quran surat AlMujadalah: 11, yaitu:

Artinya: Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orangorang yang beriman dan berilmu 22 Atau dengan kata lain, untuk memperoleh kemajuan hidup manusia adalah terletak pada kemampuan belajarnya. Sedang kemampuan belajar seseorang telah ditetapkan oleh Allah sebagai suatu kemampuan ikhtiariahnya sendiri melalui proses transformasi, transaksi dan transinternalisasi dalam berbagai segi kehidupan manusia, dimulai sejak lahir sampai meninggal dunia. Hal inilah yang disebut dengan belajar tanpa batas. Sebagaimana yang telah difirmankan dalam Q.S. Ali-Imron ayat 190-191 sebagai berikut: 21 Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Op. cit, hlm. 9 22 Al-Quran dan Terjemahnya, Op. cit, hlm. 54339

Artinya: Sesungguhnya dalam pemciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai (mempergunakan akalnya). (Yaitu) orang-orang yang mengingat (dzikir) Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka peliharalah kami dari dari siksa neraka23 Oleh karena itu manusia dianjurkan untuk selalu belajar, mencari dan meneliti rahasia-rahasia ciptaan Allah melalui kemampuan berpikir dan dzikirnya untuk memperkuat dan mempertajam iman kepadaNya. Belajar tanpa batas di sini bukan hanya belajar sepanjang hayat, akan tetapi lebih dari itu. Menurut Noeng Muhajir Belajar tanpa batas setidak-tidaknya mengandung tiga makna, yaitu pengembangan optimal kemampuan manusia, pengembangan optimal kreasi wahana kehidupan manusia, dan pengembangan optimal 23 Ibid, hlm. 75 40 kesejahteraan manusiawi manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ciptaan Allah 24 Berdasarkan pengertian belajar tanpa batas tersebut, maka tujuan dari belajar menurut Islam adalah terbentuknya keterpaduan (integritas) antara iman, ilmu dan amal secara optimal dalam diri seseorang yang senantiasa berkembang dan di kembangkan terus menerus.25

3. Prinsip-prinsip Belajar Hakikat belajar adalah sebuah perubahan. Agar memperoleh hasil yang efektif dan efisien setelah melakukan kegiatan belajar, tentunya diperlukan prinsip-prinsip belajar tertentu yang dapat memberi jalan ke arah keberhasilan belajar. Menurut Djamarah, prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah:26 a. Prinsip bertolak dari motivasi. Fungsi motivasi yang terpenting adalah sebagai pendorong timbulnya aktivitas, sebagai pengarah, dan sebagai penggerak untuk melakukan suatu pekerjaan. b. Prinsip pemusatan perhatian. Atau yang biasa disebut konsentrasi terhadap suatu masalah atau objek dengan mengosongkan fikiran dari hal-hal lain yang dianggap mengganggu. c. Prinsip pengambilan pengertian pokok. Dengan menggambil kata kunci/ pokok pikiran maka akan lebih mudah mengingat-ingat apa yang telah dipelajari, sehingga mempercepat penguasaan bahan. 24 Sjahminan Zaini dan Muhibbin, Op. cit, hlm. 15 25 Ibid 26 Syaiful Bahri Djamarah, PsikologiBelajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2002),hlm. 61-6941 d. Prinsip pengulangan. Pengulangan diperlukan agar kesan-kesan berupa ilmu pengetahuan yang timbul akibat belajar mudah diangkat ke alam sadar. Artinya ilmu pengetahuan yang didapat dari hasil belajar harus dimanfaatkan untuk menjawab berbagai masalah dalam kehidupan, bukan membiarkanya mengisi otak tanpa arti. e. Prinsip yakin akan kegunaan. Orang yang tidak malas dan gemar mencari ilmu adalah orang yang yakin akan kegunaan ilmu. Karena dengan ilmulah tatanan kehidupan pribadi, keluarga, dan kelompok sosial dapat berubah. f. Prinsip pengendapan. Belajar tidak harus terus-menerus selama berjam-jam,

akan tetapi perlu juga adanya istirahat untuk pengendapan terhadap sejumlah kesan yang sudah diterima dari kegiatan membaca buku, guna mendapatkan pergertian dari apa yang telah dibaca. g. Prinsip pengutaraan kembali hasil belajar. Hal ini adalah strategi yang jitu untuk mengingat kembali kesan-kesan yang baru didapatkan dari kegiatan belajar, dengan cara memakai kata-kata sendiri dengan mengambil pokok pikiran dari apa yang telah dibaca. h. Prinsip pemanfaatan hasil belajar. Guna dari prinsip ini adalah untuk mempertahankan ilmu yang diterima dari kegiatan belajar, dengan cara mempelajari hal-hal lain atau mengamalkanya pada orang lain yang memerlukanya. i. Prinsip menghindari gangguan. Siapapun sekali waktu pasti akan mengalami gangguan dalam belajar. Gangguan adalah musuh utama dalam belajar, bentuk dan jenisnya pun bermacam-macam. Datangnya tidak hanya dari luar 42 diri kita sendiri tetapi dapat juga dari dalam diri kita sendiri. Berbagai macam jenis dan bentuk gangguan dapat menyebabkan seseorang sulit dalam belajar, dan sukar berkonsentrasi. Oleh karena itu belajar yang berhasil adalah kegiatan belajar yang sepi dari gangguan. Sedangkan menurut Ahmadi,27 prinsip-prinsip belajar adalah: a. Belajar harus bertujuan dan terarah. Tujuan akan menuntunnya dalam dalam belajar untuk mencapai harapan-harapanya. b. Belajar memerlukan bimbingan. Baik bimbingan dari guru atau buku pelajaran itu sendiri. c. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga diperoleh pengertian-pengertian. d. Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa-apa yang telah dipelajari

dapat dikuasainya. e. Belajar adalah suatu proses aktif di mana terjadi saling pengaruh secara dinamis antara murid dengan lingkungannya. f. Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan. 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Dimyati dan Mudjiono,28 mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah: a. Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa meliputi hal-hal seperti: sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, kemampuan mengolah bahan belajar, kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja, kebiasaan belajar, dan cita-cita siswa. 27 Abu Ahmadi, Cara Belajar yang Mandiri dan Sukses (Solo: Anaka, 1993), hlm. 22 28 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 236-25343 b. Faktor ekstern belajar yang meliputi hal sebagai berikut: guru sebagai pembina belajar, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan sosial siswa di sekolah dan kurikulum sekolah. Sedangkan menurut slameto faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern dibahas menjadi tiga faktor, di antaranya: a. Faktor jasmaniah yang meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh b. Faktor psikologis yang meliputi inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan. c. Faktor kelelahan baik secara jasmani atau rohani.

Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar juga dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu: a. Faktor keluarga yang meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, dan pengertian orang tua. b. Faktor sekolah yang meliputi metode mengajar, kurikulum,relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. c. Faktor Masyarakat yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.29 29 Slameto, Op. cit, hlm. 54-7144 Ngalim purwanto juga merumuskan tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap belajar, dan membaginya menjadi dua golongan. (a) faktor individual yaitu faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang berupa kematangan atau pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi dan faktor pribadi. (b) faktor sosial, yaitu faktor yang ada di luar individu, antara lain keluarga atau keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial.30 Karena faktor-faktor tersebut di ataslah, maka muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi dan berprestasi rendah atau gagal sama sekali dalam belajarnya. 5. Teori Belajar Teori-teori yang berhubungan dengan peristiwa belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis teori, di antaranya adalah: a. Teori belajar behavioristik Teori belajar ini di pelopori oleh Thorndike, Pavlov, Watson. Keyakinan

yang terdapat dalam teori behavioristik adalah bahwa setiap anak manusia lahir tanpa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan, dan warisan abstrak lainnya. Semua kecakapan, kecerdasan, dan bahkan perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kontak dengan alam sekitar terutama alam pendidikan.31 Dan hal tersebut berarti seorang individu bisa pintar, terampil dan berperasaan tergantung pada bagaimana individu tersebut dididik. 30 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 102 31 Muhibbin Syah, Op. cit, hlm. 94 45 Para penganut teori behavioristik ini terlalu mengutamakan pentingnya pembiasaan dalam pendidikan. Dan menganggap dasar atau keturunan itu tidak ada. Hasil pendidikan terutama ditentukan oleh pengaruh yang diterima anak dari dunia sekitarnya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pembentukan kebiasaan itu sangat penting artinya, akan tetapi jangan sampai dilupakan bahwa di samping itu manusia juga mempunyai kata hati. Dan ia dapat memilih dan menentukan sendiri. b. Teori belajar kognitif Para penganut teori ini lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Menurut pendapat aliran ini, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkahlaku itu terjadi32 . Piaget seorang pakar psikologi kognitif mengemukakan bahwa semenjak kelahiranya, setiap anak manusia memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya sendiri untuk belajar33 Dalam teori ini kerangka berpikir seseorang merupakan kunci utama dari perilaku individu tersebut. Sehingga segala keputusan adalah murni dari pikiran

tanpa pengaruh atau stimulus dari luar atau lingkungan sekitarnya. c. Teori belajar konstruktivistik Bagi kaum konstuktivis, belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu, bukan suatu proses mekanik untuk menemukan fakta. Dan kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif, di mana siswa membangun sendiri 32 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm, 121 33 Muhibbin Syah, Op. cit, hlm. 93 46 pengetahuannya, dan mencari arti sendiri dari apa yang mereka pelajari. Menurut konstruktivis, pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Siswa sendiri yang membuat penalaran atas apa yang dipelajari dengan cara mencari makna, kemudian membandingkanya dengan apa yang telah ia ketahui serta menyelesaikan ketegangan antara apa yang yang telah diketahui dengan apa yang ia perlukan dalam pengalaman yang baru. 34 Berpijak pada teori ini, seorang siswa harus mempunyai pengalaman dalam belajar seperti membuat hipotesis, mengetes hipotesis, memanipulasi objek, memecahkan persoalan, mencari jawaban, menggambarkan, meneliti, berdialog, mengadakan refleksi, mengungkapkan pertanyaan, mengekspresikan jawaban, dan lain-lain. Kemudian siswa juga diharapkan mampu mempraktikkan pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dalam konteks kehidupan nyata. C. Kebiasaan Belajar Dalam buku The 7 Habits of Higly Ef ective People, Covey menyebutkan bahwa: Kebiasaan merupakan faktor yang kuat dalam hidup. Karena konsisten dan sering merupakan pola yang tidak disadari, maka kebiasaan secara terus

menerus setiap hari mengekspresikan karakter kita dan menghasilkan efektifitas atau ketidakefektifan kita. Kemudian ia mendefinisikan kebiasaan sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Di mana pengetahuan adalah paradigma teoritis, yaitu apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukanya dan keinginan adalah motivasi, yaitu keinginan untuk melakukan.35 34 Triyo Supriyatno, Teori Belajar Konstruktivistik: Aplikasi dalam Dunia Belajar Siswa dan Dunia mengajar Guru, Makalah Disajikan dalam Perkuliahan Program Akta VI, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, Malang 18 Juni 2007, hlm. 1 35 Stephen R. Covey, The 7 Habits Of Highly Ef ective People, terj. Budijanto (Jakarta: Bina Aksara, 1993), hlm. 3647 Dalam kamus besar bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu yang dilakukanya secara berulang-ulang untuk hal yang sama.36 Sedangkan menurut poerwodarminto, kebiasaan ialah sesuatu yang biasa dilakukan atau merupakan adat.37 Menurut Gie, kebiasaan belajar didefinisikan sebagai segenap perilaku yang ditunjukkan secara ajeg dari waktu ke waktu dalam rangka pelaksanaan belajar. Kebiasaan belajar bukanlah bakat alamiah atau bawaan (hereditas) akan tetapi merupakan perilaku yang dipelajari secara sengaja ataupun tanpa sadar dari waktu-waktu yang lalu. Karena selalu diulang-ulang maka perilaku tersebut terbiasakan dan pada akhirnya terlaksana secara spontan. Jadi kebiasaan belajar ini mula-mula dibentuk sendiri oleh individu secara sadar atau tidak, dan kemudian kebiasaan belajar yang telah tertanam akan membentuk corak dari individu tersebut, yaitu individu yang sukses dan individu yang gagal dalam studinya.38

Kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Slameto Kebiasaan belajar juga akan mempengaruhi belajar itu sendiri39 kebiasaan belajar yang dapat mempengaruhi keberhasilan studi adalah kebiasaan belajar yang baik, sedangkan yang membuat individu gagal adalah karena 36 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai pustaka, 1989), hlm. 113 37 W. J. S, Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hlm. 135 38 The liang Gie, Cara Belajar yang Efisien Jilid II (Yogyakarta: Liberty, 1995), hlm. 192-193 39 Slameto, Op.cit, hlm 82 48 melaksanakan kebiasaan belajar yang buruk. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Gie bahwa ada dua macam kebiasaan belajar, yaitu kebiasaan belajar baik dan kebiasaan belajar buruk40 . a. Kebiasaan belajar baik Kebiasaan belajar yang baik, akan membantu siswa menguasai pelajarannya, mencapai kemajuan studi dan akhirnya meraih sukses di sekolahnya. Bentuk-bentuk dari kebiasaan belajar yang baik tersebut adalah: 1) Melakukan studi secara teratur setiap hari. Jenis pekerjaan apapun akan memperoleh hasil yang baik apabila dilakukan dengan teratur. Terlebih lagi dalam hal belajar. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ahmadi bahwasanya pokok pangkal pertama dari cara belajar yang baik adalah keteraturan.41 Karena hanya dengan membiasakan belajar dengan teraturlah seorang siswa akan memperoleh hasil yang baik. Selanjutnya Ahmadi juga menuturkan bahwa pikiran yang teratur akan

menjadi modal yang tidak ternilai harganya. Karena hanya dengan pikiran teratur, ilmu dapat dimengerti dan dikuasai.42 Kesalahan yang sering dibuat para pelajar selama ini adalah menumpuk pelajaran sampai saat ulangan atau sudah mendekati ujian. Jelas saja pelajaran itu tidak mungkin masuk ke otak dalam waktu yang sangat singkat, walau bagaimanapun kerasnya seorang siswa belajar. Kalaupun dapat selesai mempelajarinya, materi pelajaran itu tidak akan dikuasanya dengan baik. Hal inilah yang biasa disebut Cramming. Oleh karena itu sudah 40 The Liang Gie, Op. cit, hlm. 193 41 Abu Ahmadi, Op. cit, hal. 29 42 Ibid49 sepantasnyalah apabila seorang siswa membiasakan diri untuk teratur dalam belajar. Dari berbagai percobaan telah dibuktikan, bahwa belajar yang terus menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat adalah belajar yang tidak efisien dan tidak efektif. Oleh karena itu belajar yang produktif diperlukan adanya pembagian waktu belajar. Dalam hal ini, sebagaimana dikemukakan dalam hukum jost tentang belajar, bahwasanya belajar 30 menit 2x sehari selama 6 hari lebih baik dan produktif dari pada sekali belajar selama 6 jam (360) menit tanpa berhenti untuk istirahat.43 2) Mempersiapkan semua keperluan studi pada malam hari sebelum keesokan harinya berangkat kesekolah. Siswa harus benar-benar mempersiapkan keperluan-keperluan yang dibutuhkanya di sekolahan setidaknya pada malam hari sebelum keesokan harinya berangkat kesekolah. Sehingga pada saat proses belajar mengajar dimulai, siswa sudah siap dengan peralatan belajarnya seperti buku,

bolpoint, pensil, pengaris, penghapus buku PR dan lain sebagainya. Dengan begitu keefektifan kegiatan belajar di sekolah tidak terganggu, hanya karena ada peralatan yang tertinggal dirumah. 3) Senantiasa hadir di kelas sebelum pelajaran dimulai. Disiplin akan membuat seseorang memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik, juga merupakan suatu proses kearah pembentukan watak yang baik. Dan watak yang baik dalam diri seseorang akan menciptakan 43 Ngalim Purwanto, Op, cit. hlm. 11450 suatu pribadi yang luhur.44 Dengan membiasakan diri untuk disiplin masuk kelas sebelum guru memulai pelajaranya, maka siswa tidak akan ketinggalan materi yang dibahas pada hari tersebut. Minimal siswa sudah siap di kelas 5 menit sebelum guru hadir dan memulai pelajarannya. Agar pemahaman siswa terhadap materi juga lebih maksimal. 4) Terbiasa belajar sampai paham betul dan bahkan tuntas tak terlupakan lagi. Seorang siswa akan selalu dituntut untuk benar-benar menguasai bahan pelajaran secara lengkap sebelum melangkah pada materi berikutnya. Memahami, mencatat dan menghafal materi merupakan satu kesatuan untuk membantu agar siswa dapat menguasai bahan-bahan pelajarannya hingga tuntas. Jika terdapat materi yang belum dimengerti dan sukar difahami, siswa dapat menanyakanya pada guru atau pada temannya sehingga materi yang sulit akan lebih mudah difahami. Siswa yang sulit memahami materi yang dipelajarinya terkadang disebabkan karena kurangnya konsentrasi dalam belajar. Sedangkan menurut Slameto, penyebab dari sulitnya berkonsentrasi adalah karena kurang berminat terhadap mata pelajaran yang dipelajari; terganggu oleh keadaan lingkungan seperti bising, keadaan yang kurang kondusif, cuaca buruk dan

lain-lain; pikiran kacau atau sedang mengalami banyak masalah sehingga kondisi jiwa dan raganya terganggu; bosan terhadap sekolah/pelajaran dan lain-lain.45 44 The Liang Gie, Cara Belajar yangEfisien (Yogyakarta: Pusat Kemajuan Studi, 1988), hlm. 59 45 Slameto, Op. cit, hlm. 87 51 5) Terbiasa mengunjungi perpustakaan. Tidak seorang pun belajar tanpa bacaan. Dan perpustakaan adalah gudang dari bacaan tersebut. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ahmadi, bahwa dengan menjadi pengunjung perpustakaan yang setia dan dapat mempergunakan perpustakaan dengan tangkas dan baik, maka seorang pelajar akan menjadi seorang yang berpengetahuan.46 Selanjutnya untuk dapat memakai perpustakaan yang baik harus memperhatikan dan mempelajari beberapa hal di antaranya yaitu: 1) mengetahui peraturan-peraturan yang berkenaan dengan pemakaian perpustakaan, misalnya syarat-syarat peminjaman, lama peminjaman, dan kewajiban-kewajiban yang harus ditaati. 2) mengetahui bagaimana cara menemukan buku dalam katalog, 3) memperhatikan hal-hal yang ada di ruang baca, seperti adanya buku-buku petunjuk, buku pegangan, kamus, atlas, ensiklopedi dan lain-lain.47 b. Kebiasaan belajar buruk Kebiasaan belajar yang buruk, akan mempersulit siswa memahami pengetahuan, menghambat kemajuan studi, dan akhirnya mengalami kegagalan. Bentuk-bentuk dari kebiasaan belajar yang buruk tersebut yaitu: (1) hanya melakukan belajar secara mati-matian setelah ujian di ambang pintu, (2) sesaat sebelum berangkat ke sekolah barulah ribut mengumpulkan buku dan peralatan

yang perlu dibawa, (3) sering terlambat masuk kelas, (4) belajar seperlunya saja sehingga butir-butir pengetahuan masih kabur dan banyak terlupakan, (5) jarang 46 Abu Ahmadi, Op. cit, hlm. 103 47 Ibid, hlm. 102 52 sekali masuk perpustakaan dan tidak tahu cara mempergunakan ensiklopedi dan berbagai karya acuan lainnya.48 Dalam kaitanya dengan kebiasaan baik dan buruk, Al Quran juga banyak menganjurkan kepada manusia untuk melakukan hal-hal yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk dalam hal apapun, termasuk juga membiasakan diri melakukan hal-hal yang baik terhadap sesuatu yang telah menjadi kewajiban manusia seperti belajar. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Q.S. Luqman: 17

Artinya: Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)49 Dalam hadist Nabi juga disebutkan bahwa seseorang yang membiasakan diri melakukan hal-hal yang baik dan benar maka akan memperoleh kebaikan. Sedangkan dalam kaitannya dengan kebiasaan belajar yang baik dan benar, yang diperoleh siswa adalah keberhasilan belajarnya yaitu ditunjukkan dengan prestasi yang tinggi. 48 The Liang Gie, Op. cit, hal. 193 49 Al Quran dan Terjemahnya, Op.cit, hlm. 41253

Artinya: Sesungguhnya as-shidq (bersikap benar) itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang membiasakan diri bersikap benar, maka tercatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang benar). (H.R. Bukhori Muslim)50 Karena itulah maka seorang siswa harus membiasakan diri dengan kebiasaan yang baik dalam belajarnya. Selain akan membawa hasil belajar yang bagus kebiasaan belajar juga mempunyai manfaat tersendiri. Sebagaimana sifat dasar dari kebiasaan belajar itu sendiri adalah spontan dan otomatis. Donald A. Laird yang dikutip oleh Gie menyatakan bahwa kegunaan dari kebiasaan adalah: (a) Menghemat waktu dalam mengerjakan sesuatu atau memakai pikiran, (b) Dapat meningkatkan efisiensi manusia (human ef iciency), (c) Membuat seseorang menjadi lebih cermat. Selanjutnya Harry Dexter juga menambahkan bahwa Kebiasaan membantu seseorang menjadi ajeg (consistent). 51 Karena adanya manfaat-manfaat dari kebiasaan belajar tersebut, maka sudah seharusnya bagi seorang pelajar untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik agar memperoleh hasil atau prestasi yang baik pula di sekolahnya. D. Minat Membaca Aktivitas membaca akan dilakukan oleh seseorang atau tidak sangat ditentukan oleh minatnya terhadap aktivitas tersebut. Secara umum, minat dapat 50 Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Op. cit, hlm. 49 51 The Liang Gie, Op. cit, hlm. 194-195 54 diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha

atau mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. 52 Menurut Slameto,53 Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tesebut maka semakin besar minat. Minat (interest) juga berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. 54 Minat akan menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuni oleh seseorang. Bila individu berminat pada suatu kegiatan maka pengalaman mereka akan lebih menyenangkan dari pada merasa bosan. Dan jika tidak ada suatu kesenangan maka kegiatan tersebut hanya akan dilakukan seperlunya saja. Sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Dengan demikian, minat seharusnya menjadi pangkal dari semua aktifitas manusia di mana setiap manusia mempunyai kebutuhan yang bermacammacam. Sehingga dengan adanya usaha pemenuhan kebutuhan itu, maka timbullah minat yang kuat dalam dirinya untuk berusaha dengan sungguhsungguh dalam mencapai kebutuhan tersebut tanpa adanya perintah atau paksaan dari orang lain. 52 Soejanto Sandjaja, Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau Dari Pendekatan Stress Lingkungan (http//www.Unika.ac.id/ fakultas/psikologi/ artikel/ss-1. Pdf, diakses: 6 januari 2007), hlm. 2 53 Slameto, Op. cit,hlm. 180 54 Muhibbin Syah, Op. cit, hlm. 13655 Menurut Hurlock, 55 minat mempunyai dua aspek yaitu aspek kognitif dan

aspek afektif. Aspek kognitif berupa konsep positif terhadap suatu obyek dan berpusat pada manfaat dari obyek tersebut. Dan aspek afektif berupa rasa suka atau tidak senang dan kepuasan pribadi terhadap obyek tersebut. Adapun ciri-ciri minat menurut Hurlock yaitu:56 a. Minat tumbuh bersamaan dengan berkembangnya fisik dan mental. Minat di semua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental, misalnya perubahan minat dalam hubunganya dengan perubahan usia. b. Minat tergantung pada kegiatan belajar. Kesiapan belajar merupakan salah satu penyebab meningkatnya minat seseorang. c. Minat tergantung pada kesempatan belajar. Kesempatan belajar merupakan faktor yang sangat berharga, sebab tidak semua orang dapat menikmatinya. d. Perkembangan minat mungkin terbatas. Ketidakmampuan fisik dan mental serta pengalaman sosial yang terbatas akan membatasi minat anak. e. Minat dipengaruhi budaya, sebab jika budaya sudah mulai luntur mungkin minat juga luntur. f. Minat berbobot emosional. Yaitu minat yang berhubungan dengan perasaan, bila suatu obyek dihayati sebagai suatu yang sangat berharga, maka akan timbul perasaan senang dan akhirnya diminati. Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata.57 Sedangkan menurut Soedarso membaca adalah 55Elizabet B. Hurlock, Perkembangan anak, terj., Meitasari Tjandrasa (Jakarta: Erlangga, 1993), hlm. 116 56 Ibid, hlm. 115 56 aktivitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah meliputi, orang harus menggunakan pengertian dan khayalan,

mengamati dan juga mengingat.58 Dalam kaitannya minat dengan membaca, maka dapat dimisalkan jika seorang siswa yang minatnya besar terhadap suatu bacaan tertentu, maka ia akan suka mempelajari dan membacanya. Menurut Lilawati minat membaca diartikan sebagai berikut: Minat membaca merupakan suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan seseorang untuk membaca sesuai dengan kemauannya. Dan minat membaca dapat ditandai adanya: (1) kesenangan membaca (2) kesadaran akan manfaat bacaan (3) frekuensi membaca (4) dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca.59 Sehingga dapat disimpulkan bahwa minat membaca merupakan kekuatan yang mendorong anak untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka mau melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Ajaran agama Islampun memberikan tuntunan dan sekaligus anjuran kepada umat manusia untuk membaca, bahkan ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca. Yaitu Q.S. AlAlaq: 1-5 yang berbunyi:

57 Soejanto sandjaja, Op. cit, hlm. 3 58 Soedarso, Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2002), hlm. 4 59 Lilawati, dalam Soejanto Sandjaja, Op, Cit, hlm. 357 Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia

telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya 60 Ayat ini menunjukkan tentang keutamaan membaca, menulis dan ilmu pengetahuan. Yang memberikan pelajaran kepada manusia supaya giat membaca untuk menambah ilmunya. Maka di sini membaca bukanlah sekedar mengenal dan mengeja kata-kata, tapi jauh lebih dalam lagi yaitu dapat memahami gagasan yang disampaikan kata-kata yang dibacanya itu. Karena membaca merupakan suatu proses penalaran dari kegiatan pencarian informasi melalui penerjemahan lambing-lambang yang tertulis. Sehingga dengan aktifitas membaca seseorang dapat mempelajari rahasia alam ini, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kebutuhan hidupnya. E. Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS 1. Pengertian Prestasi Belajar Prestasi belajar merupakan hal yang tidak pernah habis-habisnya dibicarakan di dunia pendidikan. Karena prestasi belajar merupakan simbol dari keberhasilan seorang siswa dalam studinya. Sehingga prestasi yang tinggi merupakan dambaan setiap siswa, guru, juga orang tua. 60 Al Quran dan Terjemahnya, Op. cit, hlm. 59758 Prestasi menurut Purwodarminto dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh .61 Dalam pengertian prestasi ini, Al-Quran juga telah menjelaskan bahwasanya Allah akan memberikan balasan dari apa yang sudah dikerjakan manusia sebesar usaha yang mereka lakukan, yakni tertera dalam Q.S Al-Ahqaf

ayat 19 yang berbunyi:

Artinya: Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan. Dan dalam Q.S Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 juga disebutkan

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula Dari sini sudah dapat diketahui secara jelas bahwasanya manusia diperintahkan untuk memacu diri dalam rangka peningkatan prestasi yang maksimal, sehingga akhirnya akan dapat merasakan hasil dari usaha dan jerih 61 Purwodarminto, Op. cit, hlm. 76859 payahnya sendiri. Demikian pula halnya seorang siswa, prestasi yang diperoleh juga dapat dilihat dari usaha-usahanya dalam belajar. Karena pada dasarnya yang membuat seseorang maju atau mundur adalah dirinya sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Ar-Rad ayat 11, sebagi berikut:

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi

mereka selain Dia. Sedangkan belajar sebagaimana yang diungkapkan Mulyasa, pada hakekatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhanya, sehingga setiap kegiatan belajar yang dilakukan seseorang akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam dirinya, dan perubahan tersebut meliputi kawasan kognitif, afektif, dan psikomotor.62 Dari uraian di atas dapat disimpulkan, Prestasi belajar adalah hasil usaha yang telah dicapai siswa dari apa yang dilakukan dan dikerjakan selama dalam kegiatan belajar mengajar, yang ditandai adanya perubahan-perubahan dalam diri siswa meliputi ke tiga aspek belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. 62 E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK (Bandung: Rosdakarya, 2005), hlm. 18960 Bloom juga merumuskan bahwa prestasi belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku meliputi tiga ranah yang biasa disebut Taksonomi, yaitu ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain). Ranah kognitif meliputi: pengenalan, pemahaman, penerapan atau aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif meliputi: pandangan atau pendapat, dan sikap atau nilai. Sedangkan ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya.63 Menurut Muhibbin Syah,64 prestasi belajar merupakan pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Prestasi belajar siswa dapat ditunjukkan dalam bentuk nilai yang berupa angka-angka atau simbol huruf sebagai bukti sejauh mana siswa dapat menyerap atau menerima materi pelajaran dan ilmu pengetahuan yang telah

diberikan oleh guru selama proses belajar mengajar yang biasanya diukur melalui tes atau evaluasi. Adapun faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ini sama halnya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa yaitu adanya faktor internal dan eksternal sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya dalam kajian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. 63 Benjamin S. Bloom, sebagaimana dikutip oleh Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 117-122 64 Muhibbin Syah, Op. cit, hlm. 19261 2. Mata Pelajaran IPS Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. IPS dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan intedisipliner dari aspek cabang-cabang ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya).65 Adanya mata pelajaran IPS ini bertujuan agar peserta didik atau siswa memiliki kemampuan sebagai berikut: a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya. b. Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial. c. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional maupun global.66 Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam

memasuki kehidupan masyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS ini disusun secara sistematis, komprehensif dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju 65 Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional Pusat Kurikulum, Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP/MTs/SMPLB (http//www. Puskur. Net/Inc/mdl/060_model_ips_trpd.pdf, diakses 20 mei 2007), hlm. 7 66 Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional Pusat Kurikulum, Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), (http//www. Puskur.Net/ inc /si/ smp/ pengetahuan sosial.pdf, diakses 20 mei 2007), hlm. 417 62 kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam dalam bidang ilmu yang berkaitan. Sedangkan yang menjadi obyek dalam penilaian pembelajaran IPS mencakup penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik dan penilaian hasil belajar yaitu proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan criteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Dan hasil belajar atau prestasi belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar. 67 Penilaian terhadap hasil belajar hendaknya tidak dilakukan sesaat saja, akan tetapi harus dilakukan secara berkesinambungan. Di samping itu penilaian

bukan hanya menaksir sesuatu secara menyeluruh yang meliputi proses, hasil dan perkembangan dari wawasan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai. Sehingga untuk menentukan nilai raport siswa seorang guru menyimpulkan dari ulangan harian, ulangan umum, tugas-tugas terstruktur, catatan perilaku harian siswa, dan juga laporan kegiatan siswa di luar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. 67 Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional Pusat Kurikulum, Op. cit, hlm. 2263 F. Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Di atas telah diterangkan bahwa belajar sekaligus prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor, baik faktor internal dan eksternal siswa. Di samping itu hasil prestasi belajar yang juga tidak terlepas dari serangkaian aktifitas-aktifitas siswa itu tidak akan mendapat hasil yang baik apabila tidak didukung oleh kegiatan belajar sehari-hari yang bersifat positif. Sebaliknya apabila kegiatan belajar yang dilakukan siswa sehari-hari bersifat negatif misalnya terlalu banyak bermain, suka membaca buku yang bukan buku pelajaran maka prestasi belajar tidak akan mencapai hasil yang memuaskan. Aktifitas yang dilakukan siswa setiap hari yang berhubungan dengan pelajaran misalnya, mengulangi pelajaran yang sudah disampaikan secara teratur, membiasakan diri untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru, bahkan sangat suka membaca buku-buku pelajaran dapat mempermudah keberhasilan belajar, dalam hal ini khususnya apabila siswa menyukai membaca buku-buku yang berhubungan dengan materi IPS maka prestasi belajar pada mata pelajaran IPS juga akan tinggi. Dalam belajar, siswa tentunya memiliki tujuan yang hendak dicapai. Dan

untuk mencapai tujuan tersebut siswa melakukan segala bentuk usaha yang hasilnya akan dapat terlihat apakah siswa tersebut sukses atau tidak. Penilaian atas baik buruk usaha yang dilakukan siswa akan tergambar dalam bentuk prestasi belajar siswa. Gie merumuskan bahwa kebiasaan belajar yang baik akan membantu siswa dalam menguasai pelajaranya untuk mencapai kemajuan studi, dan 64 akhirnya sukses di sekolah.68 Jadi kebiasaan belajar yang baik berarti membiasakan diri dengan melakukan proses belajar yang tepat untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal. Dari sini sudah cukup jelas bagaimana pengaruh dari kebiasaan belajar yang dilakukan oleh siswa terhadap hasil prestasi belajarnya. Minat membaca juga besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. Karena hampir sebagian besar kegiatan belajar adalah membaca, apalagi dalam kaitanya dengan mata pelajaran IPS. Karena Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu yang dinamis, senantiasa berubah sesuai perkembangan dunia, sehingga untuk menguasai ilmu tersebut dibutuhkan pengetahuan juga pengalaman yang luas. Pengetahuan dan pengalaman akan terbentuk apabila seorang siswa banyak membaca hal-hal yang berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial. Kegiatan membaca tidak gampang dilakukan apabila tidak ada minat yang besar dari seorang siswa dalam melakukan kegiatan membaca. Wigfield dan Gutrie telah menegaskan bahwasanya anak-anak yang memiliki minat membaca tinggi juga akan berprestasi tinggi di sekolah, sebaliknya anakanak yang memiliki minat membaca rendah akan rendah pula prestasi belajarnya.69 Karena pada dasarnya belajar memang tidak lepas dari membaca, dan prestasi adalah hasil dari belajar itu sendiri. Kebiasaan belajar yang baik dan minat membaca yang tinggi akan memainkan peranan yang terpenting bagi para pelajar yang sukses. Kecerdasan

(Intelligence) tidak dianggap sebagai faktor utama untuk meraih sukses dalam 68 The Liang Gie, Op. cit, hlm. 193 69 Wigfield dan Gutrine, dalam Soejanto Sandjaja, Op, Cit, hlm. 1 65 studi. Akan tetapi apabila intelligence yang tinggi didukung kebiasaan yang baik dan dilandasi minat yang besar pasti akan mendatangkan sukses dalam studi. Sebagaimana pendapat Slameto bahwa minat membaca sekaligus kebiasaan belajar besar pengaruhnya terhadap belajar.70 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Henry Clay Lindgren yang dikutip oleh Gie, juga membuktikan bahwasanya faktor-faktor yang melatar belakangi keberhasilan studi adalah 33% berasal dari kebiasaan-kebiasaan studi yang baik, 25% minat, 15% kecerdasan, 5% pengaruh keluarga, dan 22% berasal dari faktor lain.71 Dari beberapa keterangan tersebut sudah cukup jelas bagaimana pengaruh kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap keberhasilan studi siswa. Oleh karena itu, siswa harus menumbuhkan dan mengembangkan dua faktor tersebut agar mencapai sukses dalam studinya. 70 Slameto, Op. cit, hlm. 57 dan 82 71 The Liang Gie, Op. cit, hlm. 195 66 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Tsanawiyah Darul Huda yang berlokasi di Jl. Soekarno-Hatta No. 29 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar. B. Jenis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, maka jenis dari penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian penjelasan atau eksplanatory. Singarimbun menyatakan bahwa Penelitian eksplanatory

adalah penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variable-variabel penelitian dan melalui pengujian hipotesa72 . Dalam penelitian jenis ini yang telah dirumuskan akan diuji untuk mengetahui adanya pengaruh antara variabel-variabel dalam penelitian yaitu mengenai kebiasaan belajar dan minat membaca yang berpengaruh terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS. C. Data dan Sumber Data Untuk melakukan penelitian diperlukan data-data yang sesuai dan berhubungan dengan penelitian. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu: 72 Singarimbun dan Efendi, Metode Statistik Survey (Jakarta:LP3ES, 1989), hlm. 5 67 1. Data primer Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama baik Dari individu atau perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner yang biasa dilakukan oleh peneliti.73 Dalam penelitian ini data tersebut berupa: Hasil angket pengukuran kebiasaan belajar siswa MTs Darul Huda Wonodadi Blitar Hasil angket pengukuran minat membaca siswa MTs Darul Huda Wonodadi Blitar 2. Data sekunder Data sekunder yaitu data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain, misalnya dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram.74 Dalam penelitian ini data tersebut berupa:

Data nilai mentah raport siswa mata pelajaran IPS semester ganjil Data jumlah siswa kelas II MTs Darul Huda Wonodadi Blitar Data mengenai sejarah, Visi dan Misi MTs Darul Huda Wonodadi Blitar Sedangkan sumber data yang merupakan subyek dari mana data-data dalam penelitian ini dapat diperoleh, sebagaimana menurut Arikunto dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu person (sumber data berupa orang), Place 73 Husein Umar, Metode Penelitian untuk Skripsi dan Thesis Bisnis (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 42 74 Ibid68 (sumber data berupa tempat), paper (sumber data berupa simbol)75 , di antaranya adalah: 1. Perpustakaan pusat Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dan Perpustakaan Pusat Universitas Negeri (UM) Malang tempat peneliti memperoleh berbagai buku yang digunakan sebagai bahan rujukan dan bahan kajian dalam penelitian. 2. Kepala sekolah MTs Darul Huda, guru dan staf tata usaha di mana dalam hal ini peneliti memperoleh data sejarah berdirinya MTs Darul Huda, jumlah siswa dan data hasil belajar siswa. 3. Responden yang dalam hal ini adalah siswa kelas VIII untuk memperoleh data tentang kebiasaan belajar dan minat membaca. 4. Sumber-sumber data lain yang relevan dengan penelitian. D. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi merupakan keseluruhan dari subyek penelitian76 . Populasi dapat

berupa manusia, benda, gejala-gejala, pola hidup, tingkah laku, dan sebagainya. Ada dua macam populasi dalam penelitian yaitu, populasi terhingga yang terdiri dari elemen dengan jumlah tertentu dan populasi tak terhingga yang terdiri dari elemen yang sukar dicari batasannya77 . Populasi tak terhingga dalam hal ini adalah seluruh komponen yang ada di Madrasah Tsanawiyah Darul Huda Wonodadi Blitar. Sedangkan populasi 75 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 107 76 Ibid, hlm. 108 77 Ibid69 tehingga dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII yang terdiri dari 91 siswa dan terbagi dalam 2 kelas. Sebagaimana tercantum dalam tabel dibawah ini: Tabel. 3 Populasi No Keterangan Jumlah populasi 1 2 Kelas VIII A Kelas VIII B 48 43 Jumlah 91 Sumber: Dokumentasi MTs Darul Huda 2. Sampel

Menurut Arikunto, Sampel adalah sebagian atau merupakan wakil dari populasi yang diteliti78 . Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.79 Sehubungan dengan banyaknya jumlah siswa kelas VIII yang ada di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar berjumlah 91 siswa maka sesuai pendapat Arikunto di atas, yang menjadi sampel penelitian adalah seluruh populasi yang ada. Alasan peneliti hanya mengambil kelas VIII sebagai sampel, karena kelas IX sudah jarang berada di sekolahan sehingga akan sulit dalam pengambilan data, sedangkan untuk kelas VII peneliti menganggap bahwa siswa di kelas tersebut masih dalam tahap penyesuaian, sehingga kondisi mereka kurang stabil. 78 Ibid, hlm. 109 79 Ibid, hlm. 11270 E. Pengumpulan Data Untuk menentukan data yang yang diperlukan maka dibutuhkan adanya teknik pengumpulan data agar bukti-bukti dan fakta-fakta yang diperoleh berfungsi sebagai data obyektif dan tidak terjadi penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya. Untuk menggali data dari sumber yang telah ditentukan, maka diperlukan alat kerja untuk mengumpulkan data yang disebut dengan teknik atau metode pengumpulan data. Adapun metode-metode yang diperlukan tersebut di antaranya adalah: 1. Metode angket/ kuesioner Metode ini digunakan untuk penelitian dengan cara memberikan daftar pertanyaan pada orang yang sengaja diminta memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, baik berupa pendapat, keyakinan, maupun

tanggapan untuk menceritakan tentang dirinya atau keadaan orang lain. Sebagaimana yang dikatakan Arikunto bahwasanya: Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.80 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang kebiasaan belajar dan minat membaca siswa. Adapun langkah-langkah dalam pengambilan data dengan angket yaitu: a. Tahap persiapan Mengurus surat izin penelitian dari fakultas, untuk melakukan penelitian di sekolah yang bersangkutan. 80 Ibid, hlm. 12871 b. Tahap pelaksanaan, meliputi: 1) Menyerahkan surat izin pengantar untuk mengadakan penelitian dan proposal penelitian kepada kepala sekolah yang bersangkutan. 2) Menyebarkan angket kepada responden untuk diisi. 3) Setelah pengisian angket, maka angket diperiksa ada tidaknya angket yang belum terjawab untuk ditanyakan langsung kepada responden. 4) Mentabulasi data yang telah diperoleh 5) Menganalisis data 6) Menyimpulkan hasil yang telah diperoleh dari hasil analisis data. c. Tahap pelaporan Hasil penelitian dilaporkan dalam bentuk skripsi. Sedangkan waktu yang digunakan selama pelaksanaan pengambilan data melalui angket ini sampai tahap akhir adalah 1 bulan. 2. Dokumentasi Sebagaimana disebutkan oleh Arikunto, dokumentasi berasal dari kata

dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Dalam melaksanakan metode ini, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.81 Dokumentasi merupakan metode di mana peneliti menggunakan dokumendokumen yang relevan untuk menunjang hasil penelitian. Antara lain: a. Nilai mentah raport mata pelajaran IPS semester ganjil tahun pelajaran 2006/2007. 81 Ibid, hlm. 13572 b. Daftar nama siswa yang dijadikan sebagai sampel penelitian. F. Instrumen Penelitian Hal yang terpenting dalam penelitian adalah menentukan instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel. Dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu kebiasaan belajar dan minat membaca sebagai variabel bebas, sedangkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS sebagai variabel terikat. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket yang di dalamnya berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kebiasaan belajar dan minat membaca siswa. Dan angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup, yaitu angket yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.82 Angket dalam penelitian ini menggunakan skala pengukuran yang disebut skala likert. Menurut Kinnear, skala likert ini berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang terhadap sesuatu, seperti setuju-tidak setuju, senangtidak senang, dan baik-tidak baik.83 Atau dengan kata lain, skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat

berupa pertanyaan atau pernyataan. Jawaban setiap item istrumen yang 82 Ibid, hlm. 129 83 Kinnear Sebagaimana dikutip oleh Husein Umar, Op. cit, hlm. 6973 menggunakan skala likert mempunyai gradasi sangat positif sampai sangat negatif. Adapun jawaban dari item-item angket yang menggunakan skala likert dinilai dengan skor sebagai berikut: 1. Sangat setuju mempunyai skor : 5 2. Setuju mempunyai skor : 4 3. Netral mempunyai skor : 3 4. Tidak setuju mempunyai skor : 2 5. Sangat tidak setuju mempunyai skor : 1 Data tentang prestasi belajar mata pelajaran IPS siswa kelas VIII semester ganjil tahun pelajaran 2006/2007 diambil melalui dokumentasi dari nilai mentah raport siswa, karena lebih mudah, cepat diperoleh dan tidak terlalu banyak waktu serta data otentik dan dapat dipertanggung jawabkan. Sehubungan dengan pemakaian metode dokumentasi dalam pengambilan nilai mentah raport siswa mata pelajaran IPS, maka peneliti membuat kriteria keberhasilan belajar mata pelajaran IPS yang didasarkan pada pendapat Syah, bahwa angka terendah yang menyatakan kelulusan atau keberhasilan siswa (Passing Grade) untuk skala 0-100 adalah 55 atau 60, sehingga nilai 61 ke atas sudah dianggap sudah memenuhi target keberhasilan belajar.84 Kriteria tersebut dapat dipilah-pilah mulai dari skor terendah sampai tertinggi, sebagaimana dapat dilihat dalam tabel dibawah ini. 84 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta:Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 197 74 Tabel. 4

Kriteria keberhasilan belajar No Skor Kriteria 1 2 3 4 5 20 21-40 41-60 61-80 81-100 Gagal Kurang Cukup Baik Sangat baik G. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Hasil dari sebuah penelitian akan sangat tergantung pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut. Data penelitian yang didalam proses pengumpulanya seringkali menuntut pembiayaan, waktu dan tenaga yang besar tidak akan berguna apabila alat pengukur yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut tidak memiliki validitas dan reliabilitas. 1. Uji Validitas Instrumen Validitas menurut Arikunto adalah suatu ukuran yang menunjukkkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.85 Sebuah butir soal

atau item pada instrumen dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah. Dalam arti skor suatu item mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi, sehingga dalam penelitian ini untuk mengetahui validitas item digunakan rumus korelasi Product moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut86: 85 Suharsimi Arikunto, Op. cit, hlm. 144 86 Ibid, hlm. 14675 rxy = ( )( ) { ( )}{ ( )} 2 2 2 2 NSC - SC NSU - SU NSCU - SC SU keterangan: r : koefisien korelasi N : banyaknya sampel X: skor item X Y: skor itemY Dan butir soal atau item dapat dikatakan valid apabila r hitung > r table, pada taraf signifikan 5%. Dengan df= 91-2 = 89; r tabel = 0, 217. Setelah dilakukan uji validitas item, hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel. 5 Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel X1 Variabel Item r r kritis Keterangan X1 X1.1

X1.2 X1.3 X1.4 X1.5 X1.6 X1.7 X1.8 X1.9 X1.10 X1.11 X1.12 X1.13 X1.14 X1.15 X1.16 X1.17 0,633 0,456 0,576 0,550 0,514 0,272 0,533 0,434 0,439 0,546

0,554 0,467 0,653 0,641 0,426 0,594 0,587 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 Valid Valid

Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber: Data primer (diolah) tabel Validitas 76 Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa validitas tiap-tiap item terhadap skor total item valid karena nilai r di atas 0,217. Dengan nilai tertinggi pada item X1.13 sebesar 0,653 dan nilai terendah item X1.6 sebesar 0,272. Tabel. 6 Uji Validitas Instrumen Penelitian Variabel X2 Variabel Item R r Kritis Keterangan X2 X2.1 X2.2 X2.3 X2.4

X2.5 X2.6 X2.7 X2.8 X2.9 X2.10 X2.11 X2.12 X2.13 0,607 0,501 0,614 0,494 0,665 0,474 0,550 0,650 0,490 0,663 0,504 0,488 0,566 0,217 0,217 0,217 0,217

0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 0,217 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber: Data primer (diolah) tabel Item total statistik Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa validitas tiap-tiap item terhadap skor total item adalah valid karena nilai hasil korelasi atau nilai r diatas 0,217 Dengan nilai tertinggi pada item X2.10 sebesar 0,663 dan nilai terendah item X2.6

sebesar 0,474. 2. Uji Reliabilitas Instrumen Butir soal dapat dikatakan reliabel jika dapat memberikan hasil yang tetap. Reliabel artinya dapat dipercaya, atau dapat diandalkan. Maka reliabilitas mengandung arti bahwa instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkap data yang bisa dipercaya.87 87 Ibid, hlm. 154.77 Teknik yang digunakan untuk mengukur reliabilitas intrumen dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0 tetapi merupakan rentangan antara beberapa nilai yang berbentuk skala.88 Data dalam penelitian ini berbentuk skala interval 1-5, karena itu digunakan rumus alpha sebagai berikut: r11 = S

2 1 2 1 1s sb k k Keterangan: r11 : reliabilitas instrumen k : banyaknya butir pernyataan atau banyaknya soal b 2 : jumlah varian butir 1 2 : varian total dengan dasar pengambilan keputusan: jika r alpha positif dan r alpha > r kritis yaitu 0,6089 , maka butir atau data tersebut reliabel. jika r alpha positif dan r alpha < r kritis yaitu 0,60, maka butir atau data tersebut tidak reliabel. Sedangkan hasil dari pengujian reliabilitas instrumen dapat dilihat pada

tabel berikut: 88 Ibid, hlm. 171 89 Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis (Bandung: Alfabeta, 2005), hlm. 183 78 Tabel. 7 Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Variabel Cronbachs Alpa r kritis keterangan X1 0,836 0,60 Reliabel X2 0,818 0,60 Reliabel Sumber: Data primer (diolah) tabel Reliabilitas Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah representatif. Dalam arti pengukuran datanya dapat dipercaya karena hasil perhitungan semua variabel di atas standar nilai alpha cronbach yaitu 0,60. H. Analisis Data 1. Uji Hipotesis Untuk mengetahui hipotesa yang diajukan bermakna atau tidak maka digunakan uji statistik sebagai berikut: a. Uji parsial (t-test) Uji t dimaksudkan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel independen secara individual terhadap variabel dependen dengan asumsi variabel independen lainya konstan. Tingkat kepercayaan dari uji t ini adalah 95% dengan tingkat kesalahan 5%. Adapun rumus yang digunakan dalam pengujian ini adalah: t-test = () 2

1 2 r rn - 90 90 Ibid, hlm. 18479 Keterangan: t : uji hipotesis r : koefisien regresi n : jumlah responden adapun langkah-langkah yang digunakan adalah: 1) perumusan hipotesis. Sebagai berikut: Ha :10 Terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS 20 Terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara minat membaca terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS Ho : 1=0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS 2=0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS 2) penentuan nilai kritis dengan menentukan level of signifikan () = 5% t tabel = t (;df=n-2)91 t (0,05;91-2) t = 1,98 3) penentuan kriteria penerimaan dan penolakan

Daerah penolakan Ho Daerah penolakan Ho Daerah terima Ho -1,98 1,98 91 Ibid80 Ho diterima jika 1,98 t hitung 1,98 Ho ditolak jika t hitung < -1,98 atau t hitung > 1,98 b. Uji simultan (F-test) Uji simultan atau uji serentak berarti menguji kevalidan seluruh variabel dalam penelitian secara bersama-sama. Dalam uji F ini dilakukan untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependent dengan tingkat kesalahan 95% dan tingkat kesalahan 5%. Rumus yang digunakan untuk uji F adalah92: F = (1 )/( 1) / 2 2 -Rn-kRk Keterangan F : F hitung yang selanjutnya dibandingkan dengan F tabel R : koefisien korelasi ganda k : jumlah variabel independen n : jumlah sampel adapun langkah-langkah yang digunakan adalah: 1) perumusan hipotesis Ha : 0 Terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama

antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS Ho : =0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersamasama antara kebiasaan belajar dan m81 2) penentuan nilai kritis dengan menentukan level of signifikan () = 5% F (k; df= n-k-1; ) 93 F (2; 91-2-1; 0,05) F (2; 88; 0,05) F = 3,11 3) penentuan kriteria penerimaan dan penolakan Daerah penolakan Ho Daerah penolakan Ho Daerah terima Ho -3,11 3,11 Ho diterima jika 3,11 F hitung 3,11 Ho ditolak jika F hitung < -3,11 atau F hitung > 3,11 2. Analisis Regresi ganda (Multiple Regression) Menurut Arikunto, Regresi ganda (multiple regression) adalah suatu perluasan dari teknik regresi apabila terdapat lebih dari satu variabel bebas untuk mengadakan prediksi terhadap variabel terikat94 analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri antara variabel independen (X) yang dalam penelitian ini adalah kebiasaan belajar dan minat membaca dan variabel dependen (Y) yaitu prestasi belajar. Rumus persamaannya adalah: Y= b0+ b1 X1+b2 X2 95 93 Ibid, hlm. 191

94 Suharsimi Arikunto, Op. cit, hlm, 264 95 Ibid, hlm. 27082 Keterangan: Y : prestasi belajar X1 : kebiasaan belajar X2 : minat membaca b0 : konstanta b1, b2 : koefisien regresi Analisis regresi ganda dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS (Statistical Package For Social Science) 12.0 for Windows. 83 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Obyek 1. Profil MTs Darul Huda a. Nama Sekolah : MTs Darul Huda b. Alamat Sekolah : Jl. Soekarno-Hatta No. 29 Wonodadi 1) Desa : Wonodadi 2) Kecamatan : Wonodadi 3) Kabupaten : Blitar 4) Propinsi : Jawa Timur c. Letak Sekolah : 25 Km dari Kota Blitar 01 Km dari Kecamatan Wonodadi d. Nama Yayasan : Pondok Pesantren Darul Huda e. Alamat : Jl. Soekarno-Hatta No. 29 Wonodadi Blitar f. NSS/NSM/NDS : 212350514008

g. Status : Swasta h. Jenjang Akreditasi : Terakreditasi B i. Tahun Didirikan : 1961 j. Tahun Beroperasi : 1972 k. Kepemilikan Tanah : Milik Yayasan 1) Status Tanah : Sertifikasi/Akte 2) Luas Tanah : 11.100 m2 l. Status Bangunan : Milik Yayasan 84 m. Luas Bangunan : 9,866 m2 n. Jumlah Guru : 31 o. Jumlah Siswa : 302 2. Sejarah Berdirinya MTs Darul Huda Madrasah Darul Huda mengalami evolusi panjang mulai dari berdirinya. Darul Huda didirikan oleh KH. Said Hamzah tahun 1940. Pada masa awal berdirinya, Darul huda merupakan Pondok Pesantren Salafiyah yang bernama Hidayatut Tholibin di mana santri-santrinya banyak yang berasal dari luar Blitar, bahkan dari luar pulau Jawa di antaranya Gresik, Banyuwangi, Semarang, Kudus, Cirebon, Palembang, Medan dan juga Makasar. Setelah KH. Said Wafat, kepemimpinan pondok pesantren salafiyah tersebut digantikan oleh putra beliau yakni KH. Hasan Badri dan KH. Bustomi. Pada masa ini selain diajarkan pelajaran pondok salaf seperti Talimul Mutaalim, Mantiq, Balaghoh, Bulughul Marom dan sebagainya, dua Kyai tersebut juga mulai berinisiatif untuk mendirikan sebuah lembaga formal. Dan keinginan tersebut mendapat tanggapan baik dari pemerintah dan akhirnya tahun 1960 dapat trealisasikan dengan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pada tahun tersebutlah mulai dibangun fondasi institusi pendidikan formal yang pertama di Pondok Pesantren

Hidayatut Tholibin. Melihat keberhasilan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, dalam waktu yang relatif singkat yaitu 1 tahun, KH. Hasan Badri dan KH. Bustomi, telah berhasil mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kemudian pada pada tahun 1966 dengan resmi perguruan salafiyah 85 hidayatut tholibin menjadi perguruan Darul Huda dan dengan perkembanganya pada masa itu telah memiliki 7 lembaga. Yakni Pondok Pesantren Darul Huda, Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun dan Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 tahun. Setelah KH. Hasan Badri meninggal, KH. Bustomi pindah ke Desa Dadaplangu karena beliau mendapat amanat untuk mendirikan pondik pesantren di sana. Dengan kepindahanya ini akhirnya kepemimpinan Darul Huda diserahkan pada adiknya yang bernama KH. Muhsin. Pada masa ini mulai terjadi kemunduran di Pondok Pesantren Darul Huda dari sisi jumlah santri. Namun di tangan beliau inilah pada tahun 1992 mulai dibentuk yayasan secara formal dengan akta notaris Budi Dharma Kusuma SH No. 17/12/1992 dan mulai berdirinya koperasi pondok pesantren yang terdiri dari koperasi sekolah dan unit simpan pinjam. Tahun 1998 KH. Muhsin meninggal dunia, dan beliau digantikan oleh Asyharul Muttaqin, S.Pd, M.Ag sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Darul Huda. Banyak perubahan kearah kemajuan yang dilaksanakan mulai dari mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diimbangi dengan kemantapan aqidah serta kedalaman spiritual untuk melahirkan out come yang cerdas, trampil dan berakhlaq mulai. Sebagaimana Madrasah Darul Huda memiliki konsep pendidikan yang berwawasan tauhid

dan kemanusiaan (teo-antroposentris), holistic dan integrated yang menghilangkan dikotomi antara ilmu umum dan agama. 86 3. Visi, Misi dan Tujuan a. Visi Madrasah Darul Huda cerdas, terampil dan berakhlaq mulia b. Misi 1) Meningkatkan prestasi akademik dan non akademik 2) Meningkatkan sumber daya pendidikan berkapasitas kepemimpinan yang bersifat Uswatun Hasanah. 3) Menanamkan nilainilai religius bernuansa Ahlusunah Waljamaah sebagai kultur warga madrasah dan lingkungan belajar. 4) Menghantarkan siswa memiliki kemantapan aqidah dan kedalaman spiritual. 5) Menghasilkan output yang cerdas dan terampil 6) Membangun jaringan berbasis mutual improvement antara madrasah dengan masyarakat 7) Mewujudkan madrasah efektif yang mengembangkan lingkungan masyarakat berbasis pengetahuan ( masyarakat belajar ) 8) Mewujudkan pengembangan profesionalisme sumber daya kependidikan 9) Mewujudkan sarana prasarana kependidikan. 10) Mewujudkan perangkat sistem penilaian kependidikan. 11) Mewujudkan pengembangan kelembangaan dan manajemen kependidikan menuju otonomi madrasah. 87 c. Tujuan 1) Mewujudkan madrasah berorientasi focus learning

2) Mewujudkan silabus dan perangkat pembelajaran untuk tiap mata pelajaran 3) Mewujudkan metode dan strategi pembelajaran untuk tiap mata pelajaran 4) Mewujudkan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. 5) Mewujudkan Peningkatan kegiatan ketrampilan / life skill 6) Mewujudkan tercapainya standart nilai ujian akhir Nasional 7) Mewujudkan siswa memiliki Akhlaq Mulia 8) Mewujudkan siswa memiliki kemantapan aqidah dan kedalaman spiritual 9) Mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif 10) Mewujudkan peningkatan sumber daya kependidikan yang profesional 11) Mewujudkan siswa unggul prestasi akademik dan non akademik 12) Mewujudkan siswa mandiri, kreatif dan terampil 13) Mewujudkan kelembagaan dan manajemen yang berkualitas 14) Mewujudkan peningkatan perangkat penilaian pendidikan 15) Mewujudkan persiapan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 88 4. Fasilitas-fasilitas MTs Darul Huda memasuki tahap perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditunjang oleh lokasi yang strategis dengan sarana transportasi dan fasilitas umum seperti kantor pos, perbankan yaitu BRI unit Wonodadi, pasar, dan layanan kesehatan yaitu RSI H. Mardjoeki dan Puskesmas Wonodadi. Selain fasilitas penunjang tersebut, MTs Darul Huda juga mempunyai fasilitas sebagai sarana prasarana untuk mempersiapkan generasi muslim yang berilmu, di

antaranya: a. Gedung sekolah atau ruang kelas sebagai tempat siswa-siswi menimba ilmu. b. Laboratorium komputer yang mempunyai program basic Windows 98 ditunjang dengan jumlah komputer yang memadai. c. Perpustakaan. MTs Darul Huda mempunyai 2 perpustakaan. Pertama, perpustakaan konvensional yakni perpustakaan yang terbentuk sebagaimana umumnya, yaitu siswa dapat membaca dan meminjam buku dari perpustakaan tersebut. Kedua, perpustakaan digital dengan menggunakan sistem komputer. Di mana dengan komputer tersebut, siswa dapat mengakses beberapa buku hanya dari 1 CD dan kemudian bisa mencetaknya sebagai bahan bacaan atau sebagai bahan pembuatan karya ilmiah. d. Masjid yang digunakan sebagai tempat sholat berjamaah setiap harinya dan juga berfungsi sebagai pembelajaran lalaran nadhom Alfiyah, Imrithi, sholat dhuha dan juga istighosah. e. Sistem administrasi dan keuangan di mana layanannya sudah menggunakan sistem komputerisasi demi pelayanan yang mudah cepat dan akurat. 89 f. Lapangan yang multifungsi. Yaitu yang digunakan sebagai tempat olah raga, upacara dan sebagainya. g. Mesin jahit dan obras yang bertujuan untuk menambah life skill dan keterampilan siswa. h. Internet. Pembelajaran melalui dunia maya mulai diperkenalkan sejak tahun 2004. dengan adanya internet siswa diharapkan mampu mencari informasiinformasi terbaru mengenai perkembangan ilmu pengetahuan. i. Koperasi sekolah MASDA, yang menyediakan beberapa keperluan siswa seperti buku, alat-alat tulis, dan lain sebagainya. B. Deskripsi Data 1. Persentase Kebiasaan Belajar

Dari data hasil angket/kuesioner yang telah disebarkan pada 91 siswa yang menjadi sampel dari penelitian ini, dapat diperoleh persentase dari skor tiap-tiap item tentang kebiasaan belajar yang dijawab oleh responden sebagaimana dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel. 8 Persentase Variabel X1 Frekuensi dan Persentase Item STS TS N S SS X1.1 0 0% 17 18.7% 24 26.4% 32 35.2% 18 19.8% X1.2 14 15.4% 26 28.6% 25 27.5% 21 23.1% 5 5.5% X1.3 4 4.4% 16 17.6% 38 41.8% 20 22.0% 13 14.3% X1.4 2 2.2% 11 12.1% 24 26.4% 30 33% 24 26.4% X1.5 0 0% 3 3.3% 15 16.5% 45 49.5% 28 30.8% X1.6 3 3.3% 14 15.4% 55 60.4% 16 17.6% 3 3.3% X1.7 2 2.2% 13 14.3% 25 27.5% 32 35.2% 19 20.9% X1.8 3 3.3% 9 9.9% 27 29.7% 32 35.2% 20 22% X1.9 3 3.3% 21 23.1% 28 30.8% 28 30.8% 11 12.1% X1.10 3 3.3% 19 20.9% 30 33% 24 26.4% 15 16.5%90 Frekuensi dan Persentase Item STS TS N S SS X1.11 1 1.1% 6 6.6% 24 26.4% 40 44% 20 22% X1.12 1 1.1% 24 26.4% 36 39.6% 28 30.8% 2 2.2% X1.13 1 1.1% 19 20.9% 29 31.9% 30 33% 12 13.2% X1.14 0 0% 7 7.7% 20 22% 36 39.6% 28 30.8% X1.15 2 2.2% 18 19.8% 35 38.5% 26 28.6% 10 11% X1.16 2 2.2% 6 6.6% 19 20.9% 48 52.7% 16 17.6% X1.17 1 1.1% 14 15.4% 29 31.9% 27 29.7% 20 22% Sumber: Data Primer (diolah) dari tabel frequencies

Dari tabel di atas variabel X1 item angket X1.1 siswa/responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 17 siswa (18,7%), netral sebanyak 24 siswa (26,4%), setuju sebanyak 32 siswa (35,2%), dan sangat setuju sebanyak 18 siswa (19,8%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 50 siswa atau 55%. Item angket X1.2 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 14 siswa (15,4%), tidak setuju sebanyak 26 siswa (28,6%), netral sebanyak 25 siswa (27,5%), setuju sebanyak 21 siswa (23,1%), dan sangat setuju sebanyak 5 siswa (5,5%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 26 siswa atau 33,5%. Item angket X1.3 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 4 siswa (4.4%), tidak setuju sebanyak 16 siswa (17,6%), netral sebanyak 38 siswa (41,8%), setuju sebanyak 20 siswa (22%), dan sangat setuju sebanyak 13 siswa (14.3%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 33 siswa atau 36.3%. Item angket X1.4 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 2 siswa (2.2%), tidak setuju sebanyak 11 siswa (12,1%), netral sebanyak 24 siswa (26,4%), setuju sebanyak 30 siswa (33%), dan sangat setuju sebanyak 24 siswa (30.8%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 54 siswa atau 63.8%. Item angket X1.5 responden yang 91 menjawab tidak setuju sebanyak 3 siswa (3,3%), netral sebanyak 15 siswa (16,5%), setuju sebanyak 45 siswa (49,5%), dan sangat setuju sebanyak 28 siswa (30,8%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 73 siswa atau 80,3%. Item angket X1.6 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 3 siswa (3,3%), tidak setuju sebanyak 14 siswa (15,4%), netral sebanyak 55 siswa (60,4%), setuju sebanyak 16 siswa (17,6%), dan sangat setuju sebanyak 3 siswa (3,3%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 19 siswa atau 20,9%. Pada item angket X1.7

responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 2 siswa (2.2%), tidak setuju sebanyak 13 siswa (14,3%), netral sebanyak 25 siswa (27,5%), setuju sebanyak 32 siswa (35,2%), dan sangat setuju sebanyak 19 siswa (20,9%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 51 siswa atau 56,1%. Item angket X1.8 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 3 siswa (3,3%), tidak setuju sebanyak 9 siswa (9,9%), netral sebanyak 27 siswa (29,7%), setuju sebanyak 32 siswa (35,2%), dan sangat setuju sebanyak 20 siswa (22%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 52 siswa atau 77,2%. Item angket X1.9 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 3 siswa (3,3%), tidak setuju sebanyak 21 siswa (23,1%), netral sebanyak 28 siswa (30,8%), setuju sebanyak 28 siswa (30,8%), dan sangat setuju sebanyak 11 siswa (12,1%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 39 siswa atau 42,9%. Item angket X1.10 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 3 siswa (3,3%), tidak setuju sebanyak 19 siswa (20,9%), netral sebanyak 30 siswa (33%), setuju 92 sebanyak 24 siswa (26,4%), dan sangat setuju sebanyak 15 siswa (16,5%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 39 siswa atau 42,9%. Item angket X1.11 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 1 siswa (1,1%), tidak setuju sebanyak 6 siswa (6,6%), netral sebanyak 24 siswa (26,4%), setuju sebanyak 40 siswa (44%), dan sangat setuju sebanyak 20 siswa (22%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 60 siswa atau 66%. Item angket X1.12 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 1 siswa (1,1%), tidak setuju sebanyak 24 siswa (26,4%), netral sebanyak 36 siswa (39,6%), setuju sebanyak 28 siswa (30,8%), dan sangat setuju sebanyak 2 siswa (2,2%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 30 siswa atau 33%. Item angket X1.13

responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 1 siswa (1,1%), tidak setuju sebanyak 19 siswa (20,9%), netral sebanyak 29 siswa (31,9%), setuju sebanyak 30 siswa (33%), dan sangat setuju sebanyak 12 siswa (13,2%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 42 siswa atau 46,2%. Item angket X1.14 responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 7 siswa (7,7%), netral sebanyak 20 siswa (22%), setuju sebanyak 36 siswa (39,6%), dan sangat setuju sebanyak 28 siswa (30,8%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 64 siswa atau 70,4%. Pada item angket X1.15 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 2 siswa (2.2%), tidak setuju sebanyak 18 siswa (19,8%), netral sebanyak 35 siswa (38,5%), setuju sebanyak 26 siswa (28,6%), dan sangat setuju sebanyak 10 siswa (11%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 93 36 siswa atau 39,6%. Item angket X1.6 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 2 siswa (2.2%), tidak setuju sebanyak 6 siswa (6,6%), netral sebanyak 19 siswa (20,9%), setuju sebanyak 48 siswa (52,7%), dan sangat setuju sebanyak 16 siswa (17,6%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 64 siswa atau 70,3%. Dan terakhir pada variabel X1 adalah Item angket X1.17. Responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 1 siswa (1,1%), tidak setuju sebanyak 14 siswa (15,4%), netral sebanyak 29 siswa (31,9%), setuju sebanyak 27 siswa (29,7%), dan sangat setuju sebanyak 20 siswa (22%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 47 siswa atau 51,7%. 2. Persentase Minat Membaca Persentase untuk setiap item jawaban angket siswa tentang minat membaca dapat disajikan dalam tabel di bawah ini: Tabel. 9

Persentase Variabel X2 Frekuensi dan Persentase Item STS TS N S SS X2.1 8 8,8% 21 23,1% 14 15,4% 33 36,3% 15 16,5% X2.2 4 5,5% 24 26,4% 22 24,2% 34 37,4% 7 7,7% X2.3 4 4,4% 14 15,4% 29 31,9% 35 38,5% 9 9,9% X2.4 0 0% 12 13,2% 12 13,2% 46 50,6% 21 23,1% X2.5 1 1,1% 10 11% 19 20,9% 33 36,3% 28 30,8% X2.6 1 1,1% 5 5,5% 21 23,1% 35 38,5% 29 31,9% X2.7 3 3,3% 19 20,9% 28 30,8% 27 29,7% 14 15,4% X2.8 5 5,5% 24 26,4% 35 38,5% 22 24,2% 5 5,5% X2.9 2 2,2% 11 12,1% 18 19,8% 43 47,3% 17 18,7% X2.10 3 3,3% 15 16,5% 34 37,4% 23 25,3% 16 17,6% X2.11 4 4,4% 29 31,9% 27 29,7% 27 29,7% 4 4,4% X2.12 10 11% 36 39,6% 28 30,8% 15 16,5% 2 2,2% X2.13 4 4,4% 20 22% 27 29,7% 25 27,5% 15 16,5% Sumber: Data Primer (diolah) dari tabel frequencies94 Dari tabel analisis deskriptif variabel X2 dapat dilihat bahwa pada item angket X2.1 siswa/responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 8 siswa (8,8), tidak setuju sebanyak 21 siswa (23,1%), netral sebanyak 14 siswa (15,4%), setuju sebanyak 33 siswa (36,3%), dan sangat setuju sebanyak 15 siswa (16,5%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 48 siswa atau 52,8%. Item angket X2.1 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 4 siswa (4,4%), tidak setuju sebanyak 24 siswa (26,4%), netral sebanyak 22 siswa (24,2%), setuju sebanyak 34 siswa (37,4%), dan sangat setuju sebanyak 7 siswa (7,7%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 41 siswa atau 45,1%. Item angket X2.3

responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 4 siswa (4,4%), tidak setuju sebanyak 14 siswa (15,4%), netral sebanyak 29 siswa (31,9%), setuju sebanyak 35 siswa (38,5%), dan sangat setuju sebanyak 9 siswa (9,9%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 38 siswa atau 48,4%. Item angket X2.4 responden yang menjawab tidak setuju sebanyak 12 siswa (13,2%), netral sebanyak 12 siswa (13,2%), setuju sebanyak 46 siswa (50,6%), dan sangat setuju sebanyak 21 siswa (23,1%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 67 siswa atau 73,7%. Pada item angket X2.5 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 1 siswa (1,1%), tidak setuju sebanyak 10 siswa (11%), netral sebanyak 19 siswa (20,9%), setuju sebanyak 33 siswa (36,3%), dan sangat setuju sebanyak 28 siswa (30,8%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 61 siswa atau 67,1%. Item angket X2.6 responden yang menjawab 95 sangat tidak setuju sebanyak 1 siswa (1,1%), tidak setuju sebanyak 5 siswa (5,5%), netral sebanyak 21 siswa (23,1%), setuju sebanyak 35 siswa (38,5%), dan sangat setuju sebanyak 29 siswa (31,9%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 64 siswa atau 70,4%. Item angket X2.7 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 3 siswa (3,3%), tidak setuju sebanyak 19 siswa (20,9%), netral sebanyak 28 siswa (30,8%), setuju sebanyak 27 siswa (29,7%), dan sangat setuju sebanyak 14 siswa (15,4%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 41 siswa atau 45,1%. Item angket X2.8 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 5 siswa (5,5%), tidak setuju sebanyak 24 siswa (26,4%), netral sebanyak 35 siswa (38,5%), setuju sebanyak 22 siswa (24,2%), dan sangat setuju sebanyak 5 siswa (5,5%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 27 siswa atau 29,7%. Item angket X2.9 responden yang

menjawab sangat tidak setuju sebanyak 2 siswa (2.2%), tidak setuju sebanyak 11 siswa (12,1%), netral sebanyak 18 siswa (19,8%), setuju sebanyak 43 siswa (47,3%), dan sangat setuju sebanyak 17 siswa (18,7%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 60 siswa atau 66%. Item angket X2.10 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 3 siswa (3,3%), tidak setuju sebanyak 15 siswa (16,5%), netral sebanyak 34 siswa (37,4%), setuju sebanyak 23 siswa (25,3%), dan sangat setuju sebanyak 16 siswa (17,6%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 36 siswa atau 42,5%. Item angket X2,11 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 4 siswa (4,4%), tidak setuju sebanyak 29 siswa (31,9%), netral 96 sebanyak 27 siswa (29,7%), setuju sebanyak 27 siswa (29,7%), dan sangat setuju sebanyak 4 siswa (4,4%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 31 siswa atau 34,1%. Item angket X2.12 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 10 siswa (11%), tidak setuju sebanyak 36 siswa (39,6%), netral sebanyak 28 siswa (30,8%), setuju sebanyak 15 siswa (16,5%), dan sangat setuju sebanyak 2 siswa (2,2%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 17 siswa atau 18,7%. Dan pada item angket X2.13 responden yang menjawab sangat tidak setuju sebanyak 4 siswa (4,4%), tidak setuju sebanyak 20 siswa (22%), netral sebanyak 27 siswa (29,7%), setuju sebanyak 25 siswa (27,5%), dan sangat setuju sebanyak 15 siswa (16,5%). Jadi responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 40 siswa atau 44%. 3. Persentase Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS Analisis deskriptif variabel Y (prestasi belajar) di mana pengambilan datanya adalah dengan menggunakan metode dokumentasi, dapat dipilah-pilah sesuai klasifikasi yang peneliti cantumkan dalam bab sebelumnya. Persentase

hasil data yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 10 Persentase Variabel Y Frekuensi dan Persentase Materi Gagal Kurang Cukup Baik Sangat baik Geografi 0 0% 0 0% 0 0% 85 93.4% 6 6.6% Sosiologi 0 0% 0 0% 0 0% 76 83,5% 15 16,5% Sejarah 0 0% 0 0% 0 0% 75 82,4% 16 17,6% Ekonomi 0 0% 1 1,1% 32 35,2% 45 49,5% 13 14,3% Sumber: Data sekunder (diolah) 97 Dari tabel di atas, pada Y1.1 atau materi geografi, siswa yang mendapat nilai baik adalah 85 siswa (93,4%), dan sangat baik 6 siswa (6,6%). Pada Y1.2 atau materi sosiologi, siswa yang mendapat nilai baik adalah 76 siswa (83,5%), dan sangat baik 15 siswa (16,5%). Pada Y1.3 atau materi sejarah, siswa yang mendapat nilai baik adalah 75 siswa (82,4%), dan sangat baik 16 siswa (17,6%). Pada Y1.4 atau materi ekonomi, siswa yang mendapat nilai kurang adalah 1 siswa, cukup 32 siswa (35,2%), nilai baik adalah 45 siswa (49,5%), dan sangat baik 13 siswa (14,3%). 4. Analisis Regresi Ganda Dari pengolahan data dengan menggunakan analisis SPSS for Windows, dapat diketahui bahwa hasil dari regresi linear ganda adalah sebagaimana tabel berikut: Tabel. 11 Hasil Analisis Regresi Berganda Variabel Independen Unstandardized

coeficients B Standardized Coefficients Beta T hitung Sig. (Constant) ,474 3,132 ,002* X1 ,079 ,084 2,146 ,035** X2 ,796 ,913 23,388 ,000* R 2 R F-hitung Sig. F Alpha () = 5% 0,871 0,933 297,056 0, 000 Keterangan: * = Signifikan level 1% ** = Signifikan level 5% Sumber: Data primer (diolah) dari tabel Regression Dari hasil analisis dalam tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa bentuk hubungan antara variabel independen yaitu kebiasaan belajar (X1) dan minat membaca (X2) dengan variabel dependen yaitu prestasi belajar mata pelajaran 98

IPS menunjukkan hubungan linear, sehingga model linearnya dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut: Prestasi belajar (Y) = 0,474+ 0,07874 X1+ 0,796 X2 Tampak pada persamaan tersebut menunjukkan angka yang signifikan pada variabel kebiasaan belajar (X1) dan minat membaca (X2). Sedangkan pada nilai konstannya juga menunjukkan angka yang signifikan. Adapun interpretasi dari persamaan tersebut adalah: 1. b0 = 0,474 Nilai konstan ini menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel kebiasaan belajar (X1) dan variabel minat membaca (X2) maka prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS sebesar 0,474. Dalam arti kata prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS akan meningkat sebesar 0,474 sebelum atau tanpa adanya variabel kebiasaan belajar dan minat membaca (X1 dan X2 = 0). 2. b1 = 0,079 Nilai parameter atau koefisien regresi b1 ini menunjukkan bahwa setiap variabel kebiasaan belajar (X1) meningkat 1 kali, maka prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS akan meningkat pula sebesar 0,079 kali. Atau dengan kata lain setiap peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS dibutuhkan variabel kebiasaan belajar sebesar 0,079, dengan asumsi variabel bebas yang lain tetap (X2 = 0) atau citeris paribus. 3. b2 = 0,796 Nilai parameter atau koefisien regresi b1 ini menunjukkan bahwa setiap setiap variabel minat membaca (X2) meningkat 1 kali, maka prestasi belajar 99 siswa pada mata pelajaran IPS akan meningkat pula sebesar 0,796 kali. Atau dengan kata lain setiap peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS dibutuhkan variabel minat membaca sebesar 0,796. dengan

asumsi variabel bebas yang lain tetap (X1 = 0) atau citeris paribus. Koefisien korelasi ganda R (multipler) yang diperoleh sebesar 0,933 atau 93%, menunjukkan besarnya derajat keeratan hubungan antara variabel kebiasaan belajar dan minat membaca (X1, X2) dengan prestasi belajar mata pelajaran IPS (Y). Dengan kata lain koefisien korelasi antara variabel kebiasaan belajar dan minat membaca dengan variabel prestasi belajar mata pelajaran IPS berpengaruh secara signifikan dengan angka korelasi sebesar 0,933. Koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,871 atau 0,87% hal ini menunjukkan besarnya pengaruh variabel kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS. Artinya prestasi belajar pada mata pelajaran IPS siswa dijelaskan oleh kebiasaan belajar dan minat membaca sebesar 0,87%. Sedangkan sisanya sebesar 0,129 atau 13% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian. C. Pengujian Hipotesis Sebagaimana disebutkan pada bab sebelumnya, dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua jenis uji hipotesis. Yaitu uji individual atau parsial variabel dengan menggunakan uji t dan uji serentak atau simultan dengan menggunakan uji F. 100 1. Uji Parsial Yang dimaksud uji parsial (t-test) dalam penelitian ini adalah untuk menunjukkan apakah variabel bebas yakni kebiasaan membaca (X1) dan minat membaca (X2) secara individu mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat yakni prestasi belajar (Y). Serta untuk membuktikan variabel manakah yang paling dominan. Berikut adalah tabel yang menunjukkan hasil uji t dan besarnya t tabel pada signifikansi 5% dua sisi.

Tabel. 12 Hasil Uji Hipotesis t-Test Hipotesis Ha Nilai Status 1 Terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS t = 2,146 sig t = 0,035 t tabel= 1,980 Ha diterima/ Ho ditolak 2 Terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara minat membaca terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS t = 23, 388 sig t = 0,000 t tabel= 1,980 Ha diterima/ Ho ditolak Sumber: Data primer (diolah) a. Variabel kebiasaan belajar Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa variabel kebiasaan belajar memiliki nilai t hitung sebesar 2,146 dengan nilai signifikansi 0,035. Dan nilai t hitung tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan t tabel (2,146 > 1,980)

dengan demikian pengujian menunjukkan Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil ini memperlihatkan bahwa variabel kebiasaan belajar berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar. 101 b. Variabel minat membaca Berdasarkan perhitungan diketahui bahwa variabel minat membaca memiliki nilai t hitung sebesar 23,388 dengan nilai signifikansi 0,000. Dan nilai t hitung tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan t tabel (23,388 > 1,980) dengan demikian pengujian menunjukkan Ha diterima dan Ho ditolak. Hasil ini memperlihatkan bahwa variabel minat membaca secara individu juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar. 2. Uji Simultan Yang dimaksud uji simultan (F-test) dalam penelitian ini adalah untuk menunjukkan apakah semua variabel bebas yaitu kebiasaan belajar (X1) dan minat membaca (X2) yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat yaitu prestasi belajar (Y). Berikut ini adalah hasil uji F dan besarnya F tabel: Tabel. 13 Hasil Uji Hipotesis F-Test 1 Hipotesis Ha Nilai Status Terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS F = 297,056

Sig F = 0,000 F tabel = 3,11 Ha diterima/ Ho ditolak Sumber: Data primer (diolah) Berdasarkan tabel tersebut, pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji F yaitu pengujian secara serentak, pengaruh kebiasaan belajar (X1) dan minat membaca (X2) terhadap prestasi belajar mata pelajaran IPS. Pada pengujian ini, Ha diterima dengan ditunjukkan besarnya F hitung sebesar 102 297,056 dengan nilai signifikansi 0,000. Dan nilai F hitung lebih besar dari F tabel (297,056 > 3,11). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara serentak dari variabel kebiasaan belajar (X1) dan minat membaca (X2) terhadap variabel prestasi belajar (Y). 103 BAB V PEMBAHASAN A. Pengaruh Kebiasaan Belajar Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Sebagaimana diketahui bahwasanya menurut Dimyati dan Mudjiono,96 kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi belajar sekaligus hasil belajar yang biasa disebut prestasi belajar. Hal tersebut sesuai dengan hasil analisis data penelitian melalui uji t-test sebesar 2,146 dengan tingkat kesalahan 0,035 (signifikan level 5%) dan t tabel 1,980 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Atau dengan kata lain kebiasaan belajar mempunyai pengaruh positif dan signifikan secara individual terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS. Artinya dengan melakukan kebiasaan baik dalam belajar, maka siswa akan memperoleh prestasi yang baik dalam studinya. Hal

tersebut senada dengan pendapat Gie97 bahwa dengan melaksanakan kebiasaankebiasaan belajar yang baik maka siswa akan lebih cepat dalam menguasai apa yang dipelajarinya untuk mencapai kemajuan studi dan sukses di sekolahnya. Ini juga sesuai dengan hadist Nabi SAW yang menyebutkan bahwasanya seseorang yang membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar maka akan memperoleh kebaikan. Yaitu:

96 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka cipta, 2006), hlm. 246 97 The Liang Gie, Cara Belajar Yang efisien Jilid II (Yogyakarta: Liberty, 1995), hlm. 193104 Artinya: Sesungguhnya as-shidq (bersikap benar) itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang membiasakan diri bersikap benar, maka tercatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang benar) 98 Dari hadist tersebut dapat diambil suatu pelajaran bahwasanya dengan membiasakan diri bersikap benar atau dalam hal ini yaitu membiasakan diri untuk melakukan kebiasaan yang baik dalam belajar maka imbalanya adalah sebuah kebaikan yaitu kesuksesan studi atau prestasi belajar yang baik. Pada dasarnya siswa-siswi kelas VIII MTs Darul Huda sudah cukup melaksanakan kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam belajar. Walaupun masih ada beberapa siswa yang belum membiasakan diri melakukannya. Hal ini terbukti dari jawaban mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam kuesionair mengenai kebiasaan belajar yang dilakukan yang dapat dilihat pada hasil

deskripsi variabel X1, di antaranya: 1. Dari segi keteraturan dalam belajar, siswa yang tetap belajar teratur walaupun tidak ada ujian adalah 55%, siswa yang selalu belajar diwaktu yang sama dan di tempat yang sama adalah 33,5%, siswa yang belajar teratur minimal 30 menit perhari adalah 36,3% dan siswa yang selalu menghindari Craming dalam belajar adalah 63,8%. 2. Dari segi kebiasaan mempersiapkan keperluan studi, siswa yang selalu mempersiapkan semua buku-buku pelajaran dan tugas pada malam harinya sebelum berangkat sekolah adalah 80,3%, dan karena persiapanya tersebut 98 Sjahminan Zaini dan Muhaimin, Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia (Jakarta: Kalam Mulia, 1991), hlm. 49105 sehingga 20,9% siswa menyatakan tidak pernah mengerjakan PR di sekolahan dan siswa yang tidak pernah lupa membawa peralatannya adalah 56,1%. 3. Dari segi kebiasaan hadir di kelas sebelum pelajaran, siswa yang tidak pernah terlambat masuk kelas 77,2%, siswa yang disiplin hadir 15 menit sebelum pelajaran dimulai 42,9%, dan siswa yang tidak pernah ketinggalan materi pelajaran walaupun hanya 5 menit 42,9%. 4. Dari segi kebiasaan belajar sampai paham dan tuntas, siswa yang selalu memahami materi yang dipelajari 66%, siswa yang mampu menyikapi pelajaran secara kritis 33%, siswa yang selalu mencatat hal-hal yang belum dimengerti dan selalu mengingat-ingatnya sampai benar-benar hafal adalah 46,2%, dan siswa yang selalu menanyakan materi yang belum difahaminya 70,4%. 5. Dari segi kebiasaan dalam mengunjungi perpustakaan, siswa yang sering mengunjungi perpustakaan 39,6%, siswa yang selalu memanfaatkan fasilitas

perpustakaan baik untuk belajar, mengerjakan tugas yang diberikan guru, maupun untuk meminjam buku 70,3%, siswa yang mengetahui segala peraturan perpustakaan 51,7%. Kebiasaan belajar yang rata-rata masih kurang baik tersebut dapat mempengaruhi prestasi belajar yang diperoleh, dan dapat dilihat dari prestasi belajar beberapa siswa kelas VIII masih kurang dari standar nilai yang baik dalam dunia pendidikan, walaupun sebagian siswa sudah mendapat nilai yang baik pada mata pelajaran IPS (lihat lampiran 2). Kenyataan tersebut sesuai 106 dengan pendapat Gie,99 bahwa suatu kebiasaan yang sudah tertanam akan membentuk corak dari individu yaitu individu yang sukses jika mempunyai kebiasaan belajar yang baik dan individu yang gagal jika mempunyai kebiasaan belajar yang buruk. B. Pengaruh Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Sama halnya dengan kebiasaan belajar, minat membaca juga mempunyai peranan penting dalam belajar dan prestasi belajar siswa. Sehingga selain mempunyai kebiasaan belajar yang baik, siswa juga harus meningkatkan minat untuk membaca apabila ia menginginkan prestasi yang baik di sekolahnya. Hasil analisis uji hipotesis t-test tentang minat membaca membuktikan bahwa minat membaca berpengaruh terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS. Dengan nilai posif t hitung 23,388 > t tabel 1,980 dengan tingkat kesalahan 0,000 (signifikan level 1%). Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Atau dengan kata lain minat membaca berpengaruh positif dan signifikan secara individual terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Yang berarti dengan adanya minat membaca yang tinggi khususnya membaca buku-buku pelajaran IPS, maka siswa akan memperoleh prestasi yang baik pada mata pelajaran tersebut.

Hal itu sejalan dengan teori yang ditegaskan oleh Wigfield dan Gutrie bahwa siswa yang mempunyai minat membaca tinggi juga akan berprestasi tinggi di 99 The Liang Gie, Op. cit, hlm. 192107 sekolah.100 Dan teori tersebut juga sesuai dengan firman Allah SWT, dalam Q.S Al Alaq ayat 1-5 yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat tersebut merupakan bentuk perintah kepada manusia, khususnya orang Islam untuk mencari ilmu pengetahuan lewat bacaan, karena pada hakikatnya ilmu dapat diperoleh lewat perantaraan kalam (baca, tulis). Dan bacaan lah jendela penghubung manusia dengan ilmu pengetahuan. Dari hasil deskripsi Variabel X2 telah diperoleh bahwa minat membaca siswa kelas VIII MTs Darul Huda masih cukup rendah, hal tersebut terbukti dari sikap mereka terhadap hal-hal yang berhubungan dengan membaca juga kurang. Untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat minat membaca siswa dapat dilihat: 1. Dari segi kesenangan dalam membaca, siswa yang mulai suka membaca sebelum masuk MTs sebesar 52,8%, siswa yang mengaku memiliki kesenangan tersendiri saat membaca khususnya materi IPS adalah 45,1%, siswa yang lebih menyukai membaca buku pelajaran dari pada bermain ketika waktu luang 48,4%, dan siswa yang membaca dengan senang hati tanpa ada keterpaksaan 73,7%. 100 Wigfield dan Gutrine dalam Soejanto Sandjaja, Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau Dari Pendekatan Stress Lingkungan

(http//www.Unika.ac.id/ fakultas/psikologi/ artikel/ss-1. Pdf, diakses: 6 januari 2007), hlm. 1108 2. Dari segi kesadaran akan manfaat membaca, siswa yang menyadari bahwa ia membaca buku-buku pelajaran untuk menambah wawasan dan pengetahuan 67,1%, siswa yang sadar bahwa dengan membaca akan mendatangkan kesuksesan 70,4%, dan siswa yang sadar bahwa dengan membaca materimateri IPS maka ia akan memperoleh nilai yang baik 45,1% 3. Dari segi frekuensi membaca, siswa yang mengaku sering membaca hanya 29,7%, siswa yang selalu menyempatkan membaca walaupun beberapa menit adalah 66%, dan siswa yang selalu menggunakan waktu luangnya baik di sekolah maupun di rumah untuk membaca buku, koran, atau majalah 42,5% 4. Dari segi jumlah buku yang pernah dibaca, siswa yang sudah membaca lebih dari 3 buku yang berhubungan dengan materi IPS adalah 34,1%, siswa yang dapat menyelesaikan membaca 1 buku pelajaran dalam 1 hari 18,7%, siswa yang banyak memiliki koleksi buku-buku pelajaran atau buku-buku bacaan lain 44% Keadaan minat membaca siswa kelas VIII Mts Darul Huda yang rata-rata masih kurang tersebut dapat mempengaruhi prestasi belajar yang diperoleh, dan dapat dibuktikan dari prestasi belajar beberapa siswa kelas VIII yang juga masih kurang dari standar nilai yang baik dalam dunia pendidikan, walaupun sebagian siswa sudah mendapat nilai yang baik pada mata pelajaran IPS (lihat lampiran 2). Dan kenyataan tersebut sangat sesuai dengan pendapat Wigfield dan Gutrie di atas. 109 C. Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Pada dasarnya belajar menurut Gagne merupakan proses untuk

memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, juga tingkah laku. Belajar juga merupakan penguasaan pengetahuan atau pengetahuan yang diperoleh seseorang dari instruksi.101 Dan kebiasaan belajar yang baik juga adanya minat untuk membaca sudah merupakan tugas bagi seorang siswa yang menginginkan sukses dalam studinya, karena proses untuk mendapatkan penguasaan pengetahuan tidak dapat terlepas dari adanya kebiasaan belajar baik dan minat membaca yang tinggi. Dari hasil analisis regresi ganda menunjukkan bahwa nilai R Square yang diperoleh adalah sebesar 0.871 yang berarti variabel prestasi belajar dapat dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel kebiasaan belajar dan minat membaca sebesar 87,1%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian. Hasil uji F sebesar 297,056 dengan signifikansi 0,000 (tepat/ signifikan pada level 1%) dan nilai F hitung tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan F tabel (297,056>3,11). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kebiasaan belajar dan minat membaca terhadap prestasi belajar. Atau dengan kata lain jika seorang siswa banyak melakukan kebiasaan belajar yang baik juga mempunyai minat membaca yang tinggi maka prestasi belajarnya pun akan meningkat. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Henry Clay Lindgren102 bahwa 2 faktor yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan 101 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 13 102 Henry ClayLindgren sebagaimana dikutip oleh TheLiangGie, Op. cit, hlm. 195110 studi adalah kebiasaan dan minat. Kecerdasan saja tidak cukup untuk menjadikan sukses dalam studi apabila tidak diikuti oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam belajar dan juga tingginya minat untuk membaca buku-buku pengetahuan yang berkenaan dengan materi pelajaran.

Selain itu dapat dibuktikan pula pada rincian faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap belajar dan prestasi belajar di mana menurut Dimyati dan Mudjiono103 dibagi menjadi 2 bagian yaitu faktor internal yang terdiri dari:sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, kemampuan mengolah bahan belajar, kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja, kebiasaan belajar, dan cita-cita siswa. Dan faktor eksternal yang meliputi: guru sebagai pembina belajar, sarana dan prasarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan sosial siswa di sekolah dan kurikulum sekolah. Kemudian Slameto juga berpendapat bahwa minat membaca sekaligus kebiasaan belajar juga merupakan faktor yang berpengaruh besar terhadap belajar sekaligus prestasi belajar.104 Siswa kelas VIII MTs Darul Huda sebagian besar masih kurang mempunyai kebiasaan belajar yang baik dan minat membaca yang cukup rendah, sehingga prestasi belajar pada mata pelajaran IPSnya pun beberapa siswa masih ada yang kurang dari standar. Apalagi mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang terus berkembang sesuai kondisi sosial masyarakat yang dinamis, maka minat membaca yang tinggi diikuti adanya kebiasaan belajar yang baik akan benar103 Dimyati dan Mudjiono, Op. cit, hlm. 235-253 104 Slameto, Op. cit, hlm. 57 dan 82111 benar membantu siswa memperluas cakrawala pengetahuannya. Selain itu prestasi yang didapat seorang siswa merupakan kesesuaian antara usaha dengan hasil yang didapat, sejalan dengan apa yang telah tercantum dalam Q.S AlAhqaaf ayat 19, sebagai berikut:

Artinya: Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah

mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan. Oleh karena itu, seorang siswa yang sungguh-sungguh berusaha melakukan hal yang berkaitan dengan belajar, maka akan mendapatkan hasil yang sebanding dengan usaha tersebut. Sehingga bagi siswa kelas VIII MTs Darul Huda peningkatan dalam melaksanakan kebiasaan belajar yang baik dan minat membaca harus selalu dilakukan, demi meraih tujuan belajar itu sendiri. Yang dapat merubah apakah nantinya siswa sukses dan mendapat prestasi yang baik atau tidak, kunci utamanya ada pada diri masing-masing siswa, hal itu sesuai dengan pendapat penganut teori belajar konstruktivistik, yaitu pelajar sendirilah yang bertanggung jawab atas hasil belajarnya. Firman Allah dalam Al-Quran surat Ar-Rad ayat 11, juga menyebutkan :

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Kebiasaan belajar dan minat membaca merupakan persoalan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Kedua hal tersebut dapat mempengaruhi prestasi belajar yang akan diperoleh seorang siswa. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi seorang siswa khususnya siswa-siswi kelas VIII MTs Darul Huda yang belum banyak mempunyai kebiasaan baik dalam belajar dan minat membaca yang masih rendah, dapat lebih menumbuh kembangkan kebiasaankebiasaan baik dalam hal belajar dan meningkatkan minatnya terhadap bacaan.

Upaya untuk pengembangan kebiasaan belajar yang baik dan peningkatan minat membaca siswa tersebut harus dimulai sejak dini, sehingga nantinya siswa tidak akan mengalami kesulitan dalam proses belajar dan dapat memperoleh prestasi belajar yang maksimal. 113 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Variabel kebiasaan belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS secara parsial dengan nilai t hitung sebesar 2,146, variabel ini dikatakan berpengaruh terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS sebab t hitung 2,146 > t tabel 1,980 dalam hal ini Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan nilai signifikan 0,035 0,05. Artinya apabila siswa memiliki kebiasaan belajar yang baik maka prestasi belajarnya juga baik, atau dengan kata lain semakin baik kebiasaan belajar yang dilakukan siswa maka semakin tinggi pula prestasi belajar yang diperolehnya.. 2. Variabel minat membaca berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS secara parsial dengan nilai t hitung sebesar 23,388, variabel ini dikatakan berpengaruh terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS sebab t hitung 23,388 > t tabel 1,980 dalam hal ini Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan nilai signifikan sebesar 0,000 0,05. Artinya apabila siswa memiliki minat yang tinggi terhadap bacaan khususnya yang berhubungan dengan pelajaran IPS maka prestasi belajarnya juga baik, atau dengan kata lain semakin tinggi minat membaca siswa maka

semakin tinggi pula prestasi belajar yang diperolehnya.. 114 3. Secara simultan variabel kebiasaan belajar dan minat membaca berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS, dengan nilai koefisien determinan (R square) sebesar 0,871 atau 87,1% dan F hitung sebesar 297,056. Secara bersama-sama kedua variabel ini dikatakan berpengaruh terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran IPS sebab F hitung 297,056 > F tabel 3,11 dalam hal ini Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan nilai signifikan sebesar 0,000, maka variabel kebiasaan belajar dan minat membaca mempunyai pengaruh yang besar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS secara positif dan signifikan, sebab nilai signifikan 0,05. Artinya apabila siswa memiliki kebiasaan belajar yang baik juga minat membaca yang tinggi maka prestasi belajarnya juga baik, atau dengan kata lain semakin baik kebiasaan belajar dan semakin tinggi minat membaca siswa, maka semakin tinggi pula prestasi belajar yang diperolehnya. B. Saran-Saran 1. Orang tua sebaiknya juga ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan belajar putra putrinya yaitu dengan jalan selalu memperhatikan kebiasaan belajar mereka juga minat mereka terhadap bacaan khususnya yang berhubungan dengan materi pelajaran di sekolah, agar nantinya dapat tercapai hasil belajar sebagaimana yang diinginkan. 2. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru diharapkan dapat menanamkan kebiasaan belajar yang baik dan minat membaca yang tinggi terhadap siswanya tanpa membeda-bedakan status sosial dan taraf pikir siswanya. 115 3. Bagi siswa sendiri khususnya siswa kelas VIII MTs Darul Huda, juga sudah merupakan kewajiban untuk benar-benar memperhatikan kebiasaan

belajarnya dan terus berusaha meningkatkan minatnya terhadap bacaan, karena hal tersebut dapat mendatangkan kesuksesan dalam studi. 116 DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu. 1993. Cara Belajar yang Mandiri dan Sukses. Solo: Aneka Al-Quran dan Terjemahnya Jilid II. Tanpa Tahun. Kudus: Mubarokatan Toyyibah Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara ________. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta A.S, Ichwani. Budaya Membaca. Diakses 03 November 2006. http://www.Pontianakpost.com/ berita/index.asp? Berita=opini&id=96937 Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai pustaka Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional Pusat Kurikulum. Diakses 20 Mei 2007. Model Pembelajaran Terpadu IPS SMP/MTs/SMPLB. http//www.Puskur. Net/Inc/mdl/060_model_ips_trpd.pdf Departemen Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Nasional Pusat Kurikulum. Diakses 20 Mei 2007. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), http//www. Puskur.Net/inc/si/smp/pengetahuan sosial.pdf Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Gie, The Liang. 1988. Cara Belajar Yang Efisien. Yogyakarta: Pusat Kemajuan Study

________. 1995. Cara Belajar Yang Efisien Jilid II. Yogyakarta: Liberty Hurlock, Elizabet B. 1993. Perkembangan anak, terj., Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Erlangga Margono, S. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Mulyasa, E. 2005. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya 117 Poerwodarminto, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Purwanto, M. Ngalim. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya R. Covey, Stephen. 1993. The 7 Habits Of Highly Ef ective People. terj. Budijanto. Jakarta: Bina Aksara, Sandjaja, Soejanto. Diakses 6 Januari 2007. Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau Dari Pendekatan Stress Lingkungan. http//www.Unika.ac.id/ fakultas/psikologi/ artikel/ss-1.Pdf Singarimbun dan Efendi. 1989. Metode Statistik Survey. Jakarta: LP3ES Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:Rineka Cipta Soedarso. 2002. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif . Jakarta: Gramedia Pustaka Soemanto Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Suroso. Diakses 11 Januari 2007. Kemampuan Membeli Buku dan Minat Membaca,http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/02/28/0075.htm l Supriyatno, Triyo. Malang 18 Juni 2007. Teori Belajar Konstruktivistik: Aplikasi dalam Dunia Belajar Siswa dan Dunia mengajar Guru, Makalah Disajikan

dalam Perkuliahan Program Akta VI, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu Thabrany, Hasbullah. 1994. Rahasia Sukses Belajar Bagaimana Memilih dan Belajar di Perguruan Tinggi Amerika. Jakarta: Raja Grafindo Persada Umar, Husein. 2005. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Thesis Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo Persada Winkel, W. S. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo Zaini, Sjahminan dan Muhaimin. 1991. Belajar Sebagai Sarana Pengembangan Fitrah Manusia. Jakarta: Kalam Mulia 118 Lampiran 1 STRUKTUR ORGANISASI MTs DARUL HUDA PKM Kurikulum Hidayatul Chofsah, S.E PKM Kesiswaan Dwi Endro P, S.Pd PKM Sarana Prasarana Ahmad Khotib, S.Hi PKM Humas Mujiono, S.Pdi Bimbingan Penyuluhan Wali Kelas Wali G Kelas uru Piket

Koordinator SISWA Ketua Yayasan Kyai Drs. Ibnu Sholeh Kepala Madrasah Asyharul Muttaqin, S.Pd, M.Ag Kepala T.U Abdullah Asbah, S.Ag Komite Madrasah Drs. Masroni 119 Lampiran 2 NILAI MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII A No Nama Geografi Sosiologi Sejarah Ekonomi 1 A. Ulin Nuha 70 65 76 53 2 Andariyatul Maslukhi 75 70 64 71 3 Anis Miftakhul Kh 70 65 68 61 4 Binti Wafirotun N 75 65 76 74 5 Choirul Anwar 65 65 66 39 6 Dewi Toyyibah 65 75 68 55 7 Edi Riyanto 70 70 74 62 8 Eka Noviana 70 70 66 62 9 Eko Wahyudi 70 70 68 56 10 Evita Amelia 70 70 70 66 11 Fahrul Alnisya 80 65 76 92 12 Fathul Umam 75 80 72 49 13 Heri Purwanto 70 65 74 56

14 Ika Lailatul S 70 70 70 66 15 Ipnu Rozakia Faruq 65 60 68 52 16 Lailatul Badriyah 70 80 76 61 17 Lailatul Khusna 65 65 74 57 18 Lena Husnaini 70 70 68 66 19 Lutfatul Khasanah 70 70 72 74 20 M. Ali Shadik 75 70 66 39 21 M. Anwar Ma'rufi 70 75 74 70 22 M. Fathur Rohman 65 75 64 79 23 M. Hamim Fuadi 80 75 72 62 24 M. Kanzul Firdausi 85 75 80 84 25 M. Lathoiful Fikri 70 70 72 61 26 M. Miftahur Rohman 70 70 66 52 27 M. Nur Rohman 75 60 70 47 28 M. Nurul Huda 85 75 82 83 29 M. Rofik Arianto 65 60 66 45 30 M. Saifudin 65 65 78 60 31 M. Saiful Arifin 75 65 70 56 32 Maimunah 65 70 72 46 33 Mukhlis Zulaikhah 70 75 66 67 34 Nur Fulandari 65 75 68 46 35 Nur Hidayah 75 75 76 70 36 Nurul Aini Maulidah 65 65 64 56 37 Prapti Fatma S 65 80 72 56 38 Samsudin 65 70 74 43 39 Siti Halimatus S 80 65 72 79

40 Siti Khabibatul Kh 70 70 70 52 41 Siti Khisatur R 65 75 74 62 42 Siti Maimunah 70 65 66 55 120 43 Siti Maslikah 65 60 72 59 44 Siti Milatul Ainiyah 75 70 74 69 45 Siti Nadiroh 75 70 76 79 46 Siti Qonifatur R 75 70 78 75 47 Sunawan 75 60 82 57 48 Ummu Lubba A 70 75 62 71 121 NILAI MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII B No Nama Geografi Sejarah Sosiologi Ekonomi 1 Adi Lukito 65 65 78 50 2 Ah. Adi Munawar 75 85 82 87 3 Ah. Adi Munawir 65 80 76 77 4 Ah. Habibun Niza 60 75 70 59 5 Ah. Syaifudin Zuhri 65 80 82 78 6 Aniswatuz Zuhriyah 60 80 76 67 7 Asnaful Husni 65 75 78 75 8 Desi Atika Sari 60 70 64 73 9 Dewi Binti Rosidah 60 70 72 77 10 Dewi Kholifatus S 65 75 68 61 11 Erni Ernawati 65 75 74 87 12 Eni Purwati 60 80 68 73 13 Faidatul Azizah 75 70 66 72 14 Imam Mudawari 65 70 62 70 15 Imamatul Khamidah 75 80 74 81

16 Intazul Fikriyah 80 75 82 63 17 Iswatul Khasanah 70 70 80 80 18 Jamal Ma'rufin 70 75 82 72 19 Jauharotun Nisa' 75 70 76 74 20 Lailatul Badriyah 65 70 66 64 21 Lailatul Fitriyah 70 60 72 52 22 Linda Fatmawati 75 70 78 60 23 Moh. Bahrudin 60 65 88 58 24 Moh. Hasan As'ari 65 75 66 54 25 Moh. Irfan 65 70 74 57 26 Moh. Irsyadun Najib 75 80 78 72 27 Moh. Khoirun Ni'am 65 75 84 61 28 Moh. Khomarudin 65 75 86 53 29 Moh. Khorisudin 60 75 78 57 30 Moh. Mukharom 60 70 62 57 31 Moh. Riyadil Basori 65 80 78 81 32 Nafisatul Azizah 70 75 78 100 33 Ni'matus Sa'diyah 65 80 80 70 34 Nur Khasanah 65 75 78 81 35 Nur Laila Fitriyah 75 75 82 100 36 Nurul Hidayati A 60 75 76 67 37 Nur Atim Hariyanto 75 80 78 64 38 Rofiatul Arifah 65 70 78 79 39 Setiyo Heri Irawan 60 65 76 51 40 Susilo Catur Wibowo 60 70 66 58 41 Umi Farida 75 75 82 81

42 Umi Shoimah 75 80 80 97 43 Wike Ratomi Fuadati 70 80 82 82 122 Lampiran 3 DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551345 Fax. (0341) 572533 Angket Siswa I. Pengantar Dalam rangka pengambilan data dalam penelitian skripsi sesuai dengan judul Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar, yang digunakan sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, maka dengan ini diharapkan kesediaan siswa untuk mengisi angket dengan sejujurnya dan keadaan yang sebenarnya. Kejujuran Anda dalam mengisi angket ini akan sangat membantu dalam penelitian ini. Tidak ada jawaban yang dianggap salah, jawaban yang benar adalah jawaban yang sesuai dengan keadaan Anda, atas kesediaan dan kerja sama Anda mengisi angket ini, saya ucapkan terima kasih dan selamat mengerjakan II. Petunjuk: 1. Berilah tanda ceklist () pada salah satu pilihan jawaban yang Anda anggap sesuai. Dengan kriteria jawaban sebagai berikut: A. SS : apabila Anda Sangat Setuju dengan pernyataan tersebut S : apabila Anda setuju dengan pernyataan tersebut N : apabila Anda netral dengan pernyataan tersebut

KS : apabila anda Kurang setuju dengan pernyataan tersebut TS : apabila anda Tidak setuju dengan pernyataan tersebut III. Identitas Siswa 1. Nama Siswa : 2. Kelas : 123 Kebiasaan Belajar (X1) No Kriteria jawaban Item Pernyataan SS S N TS STS 1 2 3 4 Indikator 1: Kebiasaan belajar secara teratur Setiap malam saya belajar dengan teratur walaupun tidak ada ujian/ulangan Saya selalu belajar diwaktu yang sama dan di tempat yang sama Saya biasa belajar teratur minimal 30 menit perhari Saya tidak suka menumpuk-numpuk materi pelajaran yang harus dipelajari 5 6 7

Indikator 2: Kebiasaan mempersiapkan keperluan studi pada malam hari Saya selalu mempersiapkan semua buku pelajaran dan tugas-tugas pada malam harinya sebelum berangkat sekolah Saya tidak pernah mengerjakan tugas/PR di sekolahan Saya tidak pernah lupa membawa peralatan yang saya butuhkan di sekolahan 8 9 10 Indikator 3: Kebiasaan hadir dikelas sebelum pelajaran dimulai Saya tidak pernah terlambat masuk kelas Saya membiasakan berdisiplin untuk hadir di kelas 15 menit sebelum pelajaran dimulai Saya tidak pernah ketinggalan materi pelajaran walaupun hanya 5 menit 124 11 12 13 14 Indikator 4: Kebiasaan belajar sampai paham dan tuntas Saat belajar saya memahami materi yang

saya pelajari Setiap pelajaran yang saya pelajari selama ini mampu saya sikapi secara kritis Saat ada materi yang belum saya mengerti, saya akan mencatat dan mengingat-ingatnya sampai benar-benar hafal Saat ada materi yang belum saya fahami, saya selalu menanyakannya pada teman atau guru sampai faham 15 16 17 Indikator 5: Kebiasaan mengunjungi perpustakaan Saya sering mengunjungi perpustakaan Saya selalu memanfaatkan fasilitas perpustakaan baik untuk belajar, mengerjakan tugas, maupun meminjam buku-buku pelajaran Saya juga mengetahui peraturan-peraturan yang ada di perpustakaan seperti batas waktu dan jumlah peminjaman buku Minat Membaca (X2) Kriteria Jawaban No Pernyataan SS S N TS STS 1 2

3 Indikator 1: Kesenangan Membaca Saya mulai suka membaca sebelum masuk MTs Saya memiliki kesenangan tersendiri saat membaca. Khususnya yang berhubungan dengan materi IPS Saya lebih suka membaca buku-buku pelajaran dari pada bermain ketika menganggur 125 4 Setiap membaca suatu bacaan, saya melakukannya dengan senang hati tanpa ada keterpaksaan 5 6 7 Indikator 2: Kesadaran akan manfaat membaca Saya banyak membaca buku-buku pelajaran untuk menambah wawasan dan pengetahuan Saya suka membaca demi kesuksesan saya Saya banyak membaca materi-materi IPS, untuk memperoleh nilai yang baik pada mata pelajaran tersebut 8 9

10 Indikator 3: Frekuensi membaca Saya termasuk siswa yang sering membaca Setiap hari saya selalu menyempatkan membaca walaupun hanya beberapa menit saja Saya selalu menggunakan waktu luang saya di sekolah maupun di rumah untuk membaca buku, Koran atau majalah 11 12 13 Indikator 4: Jumlah buku yang pernah dibaca Saya sudah membaca lebih dari 3 buku yang berhubungan dengan materi IPS, baik sosiologi, sejarah, geografi dan ekonomi Saya dapat menyelesaikan membaca 1 buku pelajaran dalam 1 hari Saya memiliki banyak koleksi buku, baik tentang pelajaran ataupun buku-buku bacaan lain. 126127 Lampiran 5 Frequency Table Kebiasaan Belajar (X1) x1.1 Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent 2.00 17 18.7 18.7 18.7 3.00 24 26.4 26.4 45.1 4.00 32 35.2 35.2 80.2 5.00 18 19.8 19.8 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.2 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 14 15.4 15.4 15.4 2.00 26 28.6 28.6 44.0 3.00 25 27.5 27.5 71.4 4.00 21 23.1 23.1 94.5 5.00 5 5.5 5.5 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.3 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 4 4.4 4.4 4.4 2.00 16 17.6 17.6 22.0 3.00 38 41.8 41.8 63.7

4.00 20 22.0 22.0 85.7 5.00 13 14.3 14.3 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.4 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 2 2.2 2.2 2.2 2.00 11 12.1 12.1 14.3 3.00 24 26.4 26.4 40.7 4.00 30 33.0 33.0 73.6 5.00 24 26.4 26.4 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0128 x1.5 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 2.00 3 3.3 3.3 3.3 3.00 15 16.5 16.5 19.8 4.00 45 49.5 49.5 69.2 5.00 28 30.8 30.8 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.6

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 3 3.3 3.3 3.3 2.00 14 15.4 15.4 18.7 3.00 55 60.4 60.4 79.1 4.00 16 17.6 17.6 96.7 5.00 3 3.3 3.3 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.7 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 2 2.2 2.2 2.2 2.00 13 14.3 14.3 16.5 3.00 25 27.5 27.5 44.0 4.00 32 35.2 35.2 79.1 5.00 19 20.9 20.9 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.8 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 3 3.3 3.3 3.3

2.00 9 9.9 9.9 13.2 3.00 27 29.7 29.7 42.9 4.00 32 35.2 35.2 78.0 5.00 20 22.0 22.0 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0129 x1.9 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 3 3.3 3.3 3.3 2.00 21 23.1 23.1 26.4 3.00 28 30.8 30.8 57.1 4.00 28 30.8 30.8 87.9 5.00 11 12.1 12.1 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x11.0 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 3 3.3 3.3 3.3 2.00 19 20.9 20.9 24.2 3.00 30 33.0 33.0 57.1 4.00 24 26.4 26.4 83.5 5.00 15 16.5 16.5 100.0

Valid Total 91 100.0 100.0 x1.11 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 1 1.1 1.1 1.1 2.00 6 6.6 6.6 7.7 3.00 24 26.4 26.4 34.1 4.00 40 44.0 44.0 78.0 5.00 20 22.0 22.0 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.12 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 1 1.1 1.1 1.1 2.00 24 26.4 26.4 27.5 3.00 36 39.6 39.6 67.0 4.00 28 30.8 30.8 97.8 5.00 2 2.2 2.2 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0130 x1.13 Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent 1.00 1 1.1 1.1 1.1 2.00 19 20.9 20.9 22.0 3.00 29 31.9 31.9 53.8 4.00 30 33.0 33.0 86.8 5.00 12 13.2 13.2 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.14 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 2.00 7 7.7 7.7 7.7 3.00 20 22.0 22.0 29.7 4.00 36 39.6 39.6 69.2 5.00 28 30.8 30.8 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.15 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 2 2.2 2.2 2.2 2.00 18 19.8 19.8 22.0 3.00 35 38.5 38.5 60.4

4.00 26 28.6 28.6 89.0 5.00 10 11.0 11.0 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x1.16 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 2 2.2 2.2 2.2 2.00 6 6.6 6.6 8.8 3.00 19 20.9 20.9 29.7 4.00 48 52.7 52.7 82.4 5.00 16 17.6 17.6 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0131 x1.17 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 1 1.1 1.1 1.1 2.00 14 15.4 15.4 16.5 3.00 29 31.9 31.9 48.4 4.00 27 29.7 29.7 78.0 5.00 20 22.0 22.0 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0

Frequency Table Minat Membaca (X2) x2.1 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 8 8.8 8.8 8.8 2.00 21 23.1 23.1 31.9 3.00 14 15.4 15.4 47.3 4.00 33 36.3 36.3 83.5 5.00 15 16.5 16.5 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x2.2 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 4 4.4 4.4 4.4 2.00 24 26.4 26.4 30.8 3.00 22 24.2 24.2 54.9 4.00 34 37.4 37.4 92.3 5.00 7 7.7 7.7 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x2.3 Frequency Percent Valid Percent Cumulative

Percent 1.00 4 4.4 4.4 4.4 2.00 14 15.4 15.4 19.8 3.00 29 31.9 31.9 51.6 4.00 35 38.5 38.5 90.1 5.00 9 9.9 9.9 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0132 x2.4 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 2.00 12 13.2 13.2 13.2 3.00 12 13.2 13.2 26.4 4.00 46 50.5 50.5 76.9 5.00 21 23.1 23.1 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x2.5 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 1 1.1 1.1 1.1 2.00 10 11.0 11.0 12.1 3.00 19 20.9 20.9 33.0 4.00 33 36.3 36.3 69.2

5.00 28 30.8 30.8 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x2.6 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 1 1.1 1.1 1.1 2.00 5 5.5 5.5 6.6 3.00 21 23.1 23.1 29.7 4.00 35 38.5 38.5 68.1 5.00 29 31.9 31.9 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x2.7 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 3 3.3 3.3 3.3 2.00 19 20.9 20.9 24.2 3.00 28 30.8 30.8 54.9 4.00 27 29.7 29.7 84.6 5.00 14 15.4 15.4 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0133 x2.8

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 5 5.5 5.5 5.5 2.00 24 26.4 26.4 31.9 3.00 35 38.5 38.5 70.3 4.00 22 24.2 24.2 94.5 5.00 5 5.5 5.5 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x2.9 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 2 2.2 2.2 2.2 2.00 11 12.1 12.1 14.3 3.00 18 19.8 19.8 34.1 4.00 43 47.3 47.3 81.3 5.00 17 18.7 18.7 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x21.0 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 3 3.3 3.3 3.3

2.00 15 16.5 16.5 19.8 3.00 34 37.4 37.4 57.1 4.00 23 25.3 25.3 82.4 5.00 16 17.6 17.6 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 x2.11 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 4 4.4 4.4 4.4 2.00 29 31.9 31.9 36.3 3.00 27 29.7 29.7 65.9 4.00 27 29.7 29.7 95.6 5.00 4 4.4 4.4 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0134 x2.12 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 10 11.0 11.0 11.0 2.00 36 39.6 39.6 50.5 3.00 28 30.8 30.8 81.3 4.00 15 16.5 16.5 97.8 5.00 2 2.2 2.2 100.0

Valid Total 91 100.0 100.0 x2.13 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 1.00 4 4.4 4.4 4.4 2.00 20 22.0 22.0 26.4 3.00 27 29.7 29.7 56.0 4.00 25 27.5 27.5 83.5 5.00 15 16.5 16.5 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 Frequency Table Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPS (Y) y11 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 4.00 85 93.4 93.4 93.4 5.00 6 6.6 6.6 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 y12 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

4.00 76 83.5 83.5 83.5 5.00 15 16.5 16.5 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0 y13 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 4.00 75 82.4 82.4 82.4 5.00 16 17.6 17.6 100.0 Valid Total 91 100.0 100.0135 y14 Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent 2.00 1 1.1 1.1 1.1 3.00 32 35.2 35.2 36.3 4.00 45 49.5 49.5 85.7 5.00 13 14.3 14.3 100.0 Valid Total 91 100.0 100.01 Lampiran 6 Validitas Variabel X1 (Kebiasaan Belajar) Correlations x11 x12 x13 x14 x15 x16 x17 x18 x19 x110 x111 x112 x113 x114 x115 x116 x117 x1

x11 Pearson Correlation 1 .403** .332** .327** .213* .112 .371** .222* .231* .169 .312** .243* .369** .411** .343** .291** .237* .633** Sig. (2-tailed) . .000 .001 .002 .043 .292 .000 .034 .028 .108 .003 .020 .000 .000 .001 .005 .023 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x12 Pearson Correlation .403** 1 .275** .109 -.003 .220* .078 -.071 .100 .201 .186 .099 .248* .218* .250* .388** .225* .456** Sig. (2-tailed) .000 . .008 .302 .978 .036 .461 .503 .344 .057 .078 .352 .018 .038 .017 .000 .032 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x13 Pearson Correlation .332** .275** 1 .388** .372** .363** .246* .023 .176 .352** .278** .171 .395** .283** .220* .202 .130 .576** Sig. (2-tailed) .001 .008 . .000 .000 .000 .019 .831 .095 .001 .008 .105 .000 .007 .036 .054 .220 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x14 Pearson Correlation .327** .109 .388** 1 .339** .306** .234* .136 .190 .299** .223* .135 .244* .413** .101 .299** .219* .550** Sig. (2-tailed) .002 .302 .000 . .001 .003 .026 .198 .071 .004 .034 .202 .020 .000 .342 .004 .037 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x15 Pearson Correlation .213* -.003 .372** .339** 1 .145 .300** .187 .248* .221* .293** .332** .294** .257* .163 .297** .194 .514** Sig. (2-tailed) .043 .978 .000 .001 . .171 .004 .076 .018 .035 .005 .001 .005 .014 .122 .004 .065 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x16 Pearson Correlation .112 .220* .363** .306** .145 1 .053 -.086 .020 .217* .086 .151 .278** .174 -.008 .136 .192 .272** Sig. (2-tailed) .292 .036 .000 .003 .171 . .620 .416 .848 .039 .416 .152 .008 .098 .942 .200 .068 .008 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91

x17 Pearson Correlation .371** .078 .246* .234* .300** .053 1 .285** .077 .305** .296** .158 .329** .273** .142 .169 .373** .533** Sig. (2-tailed) .000 .461 .019 .026 .004 .620 . .006 .468 .003 .004 .134 .001 .009 .179 .109 .000 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x18 Pearson Correlation .222* -.071 .023 .136 .187 -.086 .285** 1 .373** .245* .319** .206* .165 .230* .109 .062 .331** .434**2 Sig. (2-tailed) .034 .503 .831 .198 .076 .416 .006 . .000 .019 .002 .050 .119 .028 .303 .562 .001 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x19 Pearson Correlation .231* .100 .176 .190 .248* .020 .077 .373** 1 .309** .244* .119 .199 .121 .195 .264* .062 .439** Sig. (2-tailed) .028 .344 .095 .071 .018 .848 .468 .000 . .003 .020 .260 .059 .251 .065 .012 .556 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x110 Pearson Correlation .169 .201 .352** .299** .221* .217* .305** .245* .309** 1 .023 .172 .438** .245* .109 .191 .295** .546** Sig. (2-tailed) .108 .057 .001 .004 .035 .039 .003 .019 .003 . .826 .104 .000 .019 .305 .070 .005 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x111 Pearson Correlation .312** .186 .278** .223* .293** .086 .296** .319** .244* .023 1 .282** .309** .360** .177 .312** .318** .554** Sig. (2-tailed) .003 .078 .008 .034 .005 .416 .004 .002 .020 .826 . .007 .003 .000 .093 .003 .002 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x112 Pearson Correlation .243* .099 .171 .135 .332** .151 .158 .206* .119 .172 .282** 1 .303** .366** .060 .330** .276** .467** Sig. (2-tailed) .020 .352 .105 .202 .001 .152 .134 .050 .260 .104 .007 . .003 .000 .573 .001 .008 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91

x113 Pearson Correlation .369** .248* .395** .244* .294** .278** .329** .165 .199 .438** .309** .303** 1 .392** .198 .320** .416** .653** Sig. (2-tailed) .000 .018 .000 .020 .005 .008 .001 .119 .059 .000 .003 .003 . .000 .060 .002 .000 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x114 Pearson Correlation .411** .218* .283** .413** .257* .174 .273** .230* .121 .245* .360** .366** .392** 1 .243* .401** .391** .641** Sig. (2-tailed) .000 .038 .007 .000 .014 .098 .009 .028 .251 .019 .000 .000 .000 . .020 .000 .000 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x115 Pearson Correlation .343** .250* .220* .101 .163 -.008 .142 .109 .195 .109 .177 .060 .198 .243* 1 .338** .160 .426** Sig. (2-tailed) .001 .017 .036 .342 .122 .942 .179 .303 .065 .305 .093 .573 .060 .020 . .001 .130 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x116 Pearson Correlation .291** .388** .202 .299** .297** .136 .169 .062 .264* .191 .312** .330** .320** .401** .338** 1 .405** .594** Sig. (2-tailed) .005 .000 .054 .004 .004 .200 .109 .562 .012 .070 .003 .001 .002 .000 .001 . .000 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x117 Pearson Correlation .237* .225* .130 .219* .194 .192 .373** .331** .062 .295** .318** .276** .416** .391** .160 .405** 1 .587** Sig. (2-tailed) .023 .032 .220 .037 .065 .068 .000 .001 .556 .005 .002 .008 .000 .000 .130 .000 . .0003 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x1 Pearson Correlation .633** .456** .576** .550** .514** .349** .533** .434** .439** .546** .554** .467** .653** .641** .426** .594** .587** 1 Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .001 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 . N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

* Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Validitas Variabel X2 (Minat Membaca) Correlations x21 x22 x23 x24 x25 x26 x27 x28 x29 x210 x211 x212 x213 x2 x21 Pearson Correlation 1 .217* .368** .214* .447** .100 .153 .463** .256* .408** .123 .181 .330** .607** Sig. (2-tailed) . .039 .000 .042 .000 .346 .147 .000 .014 .000 .246 .085 .001 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x22 Pearson Correlation .217* 1 .133 .132 .212* .157 .302** .275** .162 .210* .421** .247* .172 .501** Sig. (2-tailed) .039 . .211 .213 .044 .137 .004 .008 .125 .046 .000 .018 .102 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x23 Pearson Correlation .368** .133 1 .227* .475** .340** .224* .416** .246* .495** .266* .202 .137 .614** Sig. (2-tailed) .000 .211 . .031 .000 .001 .032 .000 .019 .000 .011 .055 .197 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x24 Pearson Correlation .214* .132 .227* 1 .381** .257* .265* .191 .352** .242* .068 .233* .153 .494** Sig. (2-tailed) .042 .213 .031 . .000 .014 .011 .070 .001 .021 .520 .026 .147 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x25 Pearson Correlation .447** .212* .475** .381** 1 .433** .289** .386** .281** .290** .283** .263* .215* .665** Sig. (2-tailed) .000 .044 .000 .000 . .000 .005 .000 .007 .005 .007 .012 .041 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x26 Pearson Correlation .100 .157 .340** .257* .433** 1 .339** .145 .306** .222* .191 .013 .101 .474**4 Sig. (2-tailed) .346 .137 .001 .014 .000 . .001 .172 .003 .034 .070 .905 .343 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91

x27 Pearson Correlation .153 .302** .224* .265* .289** .339** 1 .218* .131 .183 .289** .195 .370** .550** Sig. (2-tailed) .147 .004 .032 .011 .005 .001 . .038 .214 .083 .005 .064 .000 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x28 Pearson Correlation .463** .275** .416** .191 .386** .145 .218* 1 .223* .415** .241* .308** .452** .650** Sig. (2-tailed) .000 .008 .000 .070 .000 .172 .038 . .034 .000 .021 .003 .000 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x29 Pearson Correlation .256* .162 .246* .352** .281** .306** .131 .223* 1 .316** .232* .061 .066 .490** Sig. (2-tailed) .014 .125 .019 .001 .007 .003 .214 .034 . .002 .027 .568 .532 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x210 Pearson Correlation .408** .210* .495** .242* .290** .222* .183 .415** .316** 1 .199 .323** .448** .663** Sig. (2-tailed) .000 .046 .000 .021 .005 .034 .083 .000 .002 . .059 .002 .000 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x211 Pearson Correlation .123 .421** .266* .068 .283** .191 .289** .241* .232* .199 1 .270** .187 .504** Sig. (2-tailed) .246 .000 .011 .520 .007 .070 .005 .021 .027 .059 . .010 .077 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x212 Pearson Correlation .181 .247* .202 .233* .263* -.013 .195 .308** .061 .323** .270** 1 .328** .488** Sig. (2-tailed) .085 .018 .055 .026 .012 .905 .064 .003 .568 .002 .010 . .001 .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x213 Pearson Correlation .330** .172 .137 .153 .215* .101 .370** .452** .066 .448** .187 .328** 1 .566** Sig. (2-tailed) .001 .102 .197 .147 .041 .343 .000 .000 .532 .000 .077 .001 . .000 N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 x2 Pearson Correlation .607** .501** .614** .494** .665** .474** .550** .650** .490** .663** .504** .488** .566** 1

Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 .000 . N 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 91 * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).1 Lampiran 7 Reliability X1 Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items .836 .838 17 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Squared Multiple

Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted x11 55.3077 66.793 .553 .449 .822 x12 56.1209 69.219 .340 .371 .834 x13 55.6264 67.392 .494 .417 .825 x14 55.1758 67.791 .461 .372 .827 x15 54.7912 70.500 .450 .335 .828 x16 55.8462 72.732 .276 .254 .835 x17 55.2857 68.362 .436 .338 .828 x18 55.2418 70.319 .320 .389 .835 x19 55.6154 69.862 .343 .332 .833 x110 55.5495 67.717 .453 .420 .827 x111 55.0769 69.094 .473 .364 .826 x112 55.8022 70.760 .390 .285 .830 x113 55.5055 66.497 .585 .423 .820 x114 54.9341 67.573 .569 .410 .821 x115 55.6044 70.620 .330 .229 .834 x116 55.0989 68.446 .522 .453 .824 x117 55.3077 67.438 .498 .428 .8252 Reliability X2 Reliability Statistics Cronbach's Alpha Cronbach's

Alpha Based on Standardized Items N of Items .818 .818 13 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Squared Multiple Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted x21 40.3736 46.614 .486 .386 .804 x22 40.4835 49.586 .385 .271 .811 x23 40.3187 48.086 .524 .455 .800 x24 39.8242 50.280 .395 .272 .810 x25 39.8132 47.042 .592 .474 .795 x26 39.7143 50.562 .372 .342 .812

x27 40.3297 48.735 .432 .316 .808 x28 40.6813 47.753 .568 .417 .797 x29 39.9780 50.088 .381 .277 .811 x210 40.2857 47.029 .566 .472 .797 x211 40.6813 49.775 .404 .304 .810 x212 41.0659 50.218 .382 .270 .811 x213 40.3626 48.256 .441 .432 .8073 Lampiran 8 Regression Descriptive Statistics N Mean Std. Deviation y 91 3.4106 .50358 x1 91 3.3335 .53578 x2 91 3.3584 .57760 Valid N (listwise) 91 Correlations 1 .263* .930** . .012 .000 91 91 91 .263* 1 .196 .012 . .063 91 91 91 .930** .196 1 .000 .063 . 91 91 91 Pearson Correlation

Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N y x1 x2 y x1 x2 * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). . ** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). . Variables Entered/Removedb x2, x1a . Enter Model 1 Variables Entered Variables Removed Method a All requested variables entered. . b. Dependent Variable: y4 Model Summary

a Predictors: (Constant), x2, x1 ANOVAb 19.879 2 9.939 297.056 .000a 2.944 88 .033 22.823 90 Regression Residual Total Model 1 Sum of Squares df Mean Square F Sig. a. Predictors: (Constant), x2, x1 b. Dependent Variable: y Coefficientsa .474 .151 3.132 .002 .079 .037 .084 2.146 .035 .796 .034 .913 23.388 .000 (Constant) x1 x2 Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients

Beta Standardized Coefficients t Sig. a. Dependent Variable: y Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Change Statistics R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change 1 .933(a) .871 .868 .18292 .871 297.056 2 88 .0005 DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533 Nomor : Un. 3.1/TL.00/537/2007 25 Mei 2007 Lampiran : 1 (Satu) berkas Hal : PENELITIAN Kepada Yth. Kepala MTs Darul Huda di Blitar

Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan ini kami mohon dengan hormat agar mahasiswa yang tersebut di bawah ini: Nama : Husna Afida NIM : 03160031 Semester/ Th. AK : VIII/ 2003 Judul Skripsi : Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS di MTs Darul Huda Gambar Wonodadi Blitar. Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir studi/ menyusun skripsinya, yang bersangkutan diberikan izin/ kesempatan untuk mengadakan penelitian di lembaga/ instansi yang menjadi wewenang Bapak/Ibu dalam bidang-bidang yang sesuai dengan judul skripsinya di atas. Demikian, atas perkenan dan kerjasama Bapak/ Ibu disampaikan terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb. Dekan, Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony NIP.150 042 031 6 DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551345 Fax. (0341) 572533

BUKTI KONSULTASI 1. Nama : Husna Afida 2. NIM : 03160031 3. Jurusan : Pendidikan IPS 4. Pembimbing : Drs. M. Yunus, M.Si 5. Judul : Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII pada Mata Pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar No Tanggal Hal Yang Dikonsultasikan Tanda Tangan 1 10-04-2007 Proposal 1. 2 30-04-2007 BAB I dan BAB II 2. 3 22-05-2007 Revisi BAB I, BAB II dan Pengajuan BAB III 3. 4 25-05-2007 Angket 4. 5 25-06-2007 Revisi BAB III dan Pengajuan BAB IV 5. 6 06-07-2007 Revisi BAB IV, pengajuan BAB V dan VI 6. 7 09-07-2007 Keseluruhan 7. Malang, 9 Juli 2007 Mengetahui, Dekan Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031 7 DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

FAKULTAS TARBIYAH Jl. Gajayana 50 Malang Telp. (0341) 551354 Fax. (0341) 572533 Nomor : Un. 3. 1/TL. 00/ 513/2007 Malang, 10 - 04 - 2007 Lampiran : 1 (Satu) berkas Hal : Bimbingan Skripsi Mahasiswa Kepada Yth . Drs. Muhammad Yunus M.Si Dosen Fakultas Tarbiyah Di Malang Assalamualaikum Wr.Wb. Mengharap kesediaan bapak untuk memberikan bimbingan skripsi kepada mahasiswa Nama : Husna Afida Nim : 03160031 Jurusan : Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Semester/ Th. Ak : VIII/ 2003 Judul Skripsi : Pengaruh Kebiasaan Belajar dan Minat Membaca Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Pada Mata Pelajaran IPS di MTs Darul Huda Wonodadi Blitar. Jangka waktu penyusunan: 3 (tiga) bulan Mulai tanggal : 10 - April - 2007 Sampai tanggal : 9 - Juli - 2007 Sesuai dengan program studinya, maka dimohon Bapak mengarahkan judul skripsi ke bidang Tarbiyah, adapun kesempurnaan judul, out line, dan

proposal diserahkan kepada Bapak pembimbing melalui proses bimbingan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Demikian, atas kesediaan dan kerja samanya disampaikan terima kasih Wassalamualaikum Wr.Wb. Dekan, Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031

http://lib.uin-malang.ac.id/files/thesis/fullchapter/03160031.pdf