Anda di halaman 1dari 15

Puasa Aman Penderita Diabetes Diabetasi, sebutan bagi penyandang Diabetes Mellitus (DM) atau kencing manis, masih

diperbolehkan untuk menjalankan ibadah puasa namun tentunya mesti dikonsultasikan ke dokter. Hal itu, menurut dr. Reno Gustaviani R, SpPD dari Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, perlu dilakukan karena bila tidak disiasati dengan baik maka manfaat puasa bagi kesehatan tidak akan dapat dirasakan oleh penderita kencing manis. Bila tidak disiasati dengan baik, ia menjelaskan, perubahan metabolik akibat pembatasan makanan dan minuman saat berpuasa dapat berakibat buruk bagi penderita kencing manis. Saat berpuasa saluran pencernaan sama sekali tidak menerima asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 14 jam (di Indonesia) dan hal itu menyebabkan terjadinya beberapa perubahan fisiologis. Puasa menyebabkan penurunan kadar glukosa darah tapi tidak secara drastis. Glukosa darah dipertahankan sebanyak 60-126 mg/dl melalui mekanisme kerja hormon insulin dan kontra regulator insulin, katanya. Ia menambahkan, puasa juga merupakan suatu stres bagi tubuh karena terjadi peningkatan hormon kontra insulin. Hal inilah yang menyebabkan proses glikogenesis dan glukoneogenesis pada pasien DM menjadi tak terkendali dan cenderung lebih cepat sehingga menyebabkan ketoasidosis dan dehidrasi. Pada kondisi yang demikian, kata dia, penderita diabetes tidak dianjurkan berpuasa dan bila ingin berpuasa lagipun harus disertai pengaturan pengonsumsian obat-obatan dan makanan. Diabetasi, menurut dia, diperbolehkan berpuasa bila memang memungkinkan berdasarkan sejumlah pertimbangan seperti penilaian kondisi fisik, penilaian kontrol metabolik, penyesuaian diet dan penyesuaian jenis obat. Pasien DM yang diperbolehkan berpuasa, menurut dia, adalah pasien yang kadar gula darahnya terkendali yakni kurang dari 110 mg/dl sewaktu berpuasa dan kurang dari 160 mg/dl pada dua jam setelah berpuasa. Menurut dia, pasien DM tipe-1 (diabetes karena kurangnya produksi insulin) yang stabil atau terkendali dengan perencanaan makan dan olah raga diperbolehkan berpuasa. Puasa juga bisa dilakukan semua pasien DM tipe-2 (diabetes akibat kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin) dengan berat badan lebih serta kontrol yang baik dan pengawasan glukosa darah secara ketat.

Ia menambahkan pula bahwa pasien DM yang mendapat suntikan insulin satu kali per hari dapat berpuasa sedangkan pasien yang mendapatkan suntikan insulin dua kali sehari atau lebih dianjurkan untuk tidak berpuasa. Bagi diabetasi yang aman berpuasa, dr.Reno menyarankan agar memantau kadar glukosa darah dengan ketat dan belajar mengenali gejala hipoglikemia dan dehidrasi sejak dini. Jika glukosa darah kurang dari 63 mg/dl sebaiknya segera berbuka, ujarnya. Sementara bagi pasien DM tipe-1 yang tidak stabil serta pasien DM tipe-1 dan tipe-2 dengan kontrol buruk, katanya, dianjurkan untuk tidak puasa. Puasa, katanya, juga dianjurkan tidak dilakukan oleh diabetasi yang tidak mengikuti diet, pemakaian obat dan pengaturan aktivitas. Juga tidak baik untuk penyandang DM dengan komplikasi serius, pasien DM dengan riwayat ketoasidosis, pasien DM yang sedang hamil, pasien DM yang sedang mengalami infeksi, pasien dengan usia tua dengan masalah kesadaran serta pasien yang mengalami dua kali atau lebih episode hipoglikemia selama Ramadhan. Pengaturan Makan dan Aktivitas Menurut dr.Reno, penyandang DM sebaiknya menerapkan diet yang aman saat berpuasa dan berhati-hati dalam memilih makanan serta minuman yang dikonsumsi. Sahur disarankan dilakukan mendekati imsak dan makanan disajikan dengan lebih menarik agar jumlah makanan yang dikonsumsi cukup agar asupan kalorinya kurang lebih sama dengan kebutuhan kalori sehari-hari. Ia juga menyarankan agar pasien DM mengonsumsi makanan yang segar dan bergizi secara bertahap yakni 50% saat berbuka puasa, 10% setelah shalat taraweh dan 40% ketika sahur. Konsumsi cairan disesuaikan dengan kebutuhan normal, sekitar delapan gelas per hari. Sebaiknya membatasi makanan manis dan makanan yang digoreng serta memilih untuk mengonsumsi karbohidrat kompleks ketika makan sahur, jelasnya. Pengaturan makanan selama Ramadhan itu, menurut dia, sebaiknya juga dilaksanakan pada Hari raya Idul Fitri dan sesudahnya. Sementara berkenaan dengan pengaturan aktivitas, Reno menyarankan agar selama berpuasa pasien DM melakukan latihan ringan atau sedang yang tidak membahayakan, beristirahat pada siang hari dan melakukan kegiatan jasmani seperti pada hari-hari biasa.

Shalat taraweh juga membantu metabolisme makanan karena paling tidak mengeluarkan 200 kalori, katanya. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa waktu dan dosis pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO) pada penyandang DM yang berpuasa juga perlu diatur untuk mengurangi resiko hipo atau hiperglikemia. Pasien DM terkendali dengan OHO dosis tunggal aman untuk berpuasa dan sebaiknya OHO diberikan saat berbuka. Bagi pasien DM terkendali dengan OHO dosis terbagi sebaiknya diberikan dengan dosis lebih besar ketika berbuka, ujarnya serta menambahkan bahwa dalam hal ini tidak ada petunjuk baku tentang pengaturan pemberian insulin. Dengan pengaturan makanan, aktivitas dan pemberian obat yang baik, diabetasi diharapkan bisa menjalankan ibadah puasa dengan aman dan tenang.

Hipoglikemia dan Hiperglikemia Saat ditanya kemungkinan hipoglikemia (kadar gula darah rendah, kurang dari 60) dan hiperglikemia (kadar gula darah tinggi), Kasim menuturkan kalau pasien diabetes lebih baik mengalami sedikit kenaikan kadar gula darah (di bawah 200) dibandingkan hipoglikemia. Hipoglikemia, terang dia, akan menyebabkan otak kekurangan energi dalam menjalankan fungsinya.Hal ini bisa menyebabkan kerusakan otak yang tidak bisa dipulihkan. Hipoglikemia, terang dia, ditandai dengan tubuh gemetar, keringat dingin, dan lemas. Dan jika ini terjadi, terang dia, pastikan pasien diabetes segera mengonsumsi makanan yang mengandung gula untuk mendongkrak kadar gula darah. Bagaimana dengan hiperglikemia? Hiperglikemia, menurut dia, ditandai dengan sering buang air kecil akibat glukosa yang menarik cairan dari tubuh. Hal ini juga harus cepat ditangani. Kasim juga menganjurkan agar pengidap diabetes tetap berolahraga. Olahraga ini, menurut dia, ada baiknya dilakukan sebelum berbuka puasa. Menjelang berbuka biasanya badan akan terasa lebih segar. Intinya, terang Kasim, pasien diabetes bisa menjalani ibadah puasa setelah memastikan diabetes mereka terkontrol dengan baik. Pasien diabetes sebaiknya sudah terkontrol 2 minggu sebelum menjalani ibadah puasa.

Puasa Sehat bagi Penderita Diabetes KENCING MANIS atau DIABETES bukan penghalang untuk menjalani ibadah puasa. Tentunya jika diabetes terkontrol dengan baik. Hal ini disampaikan oleh dr. Kasim Rasjidi, SpPD, dari rumah sakit Asri, dalam seminar bertema sehat berpuasa bagi penderita diabetes di Jakarta, beberapa waktu lalu. Puasa, terang Kasim, sangat bermanfaat bagi kesehatan. Puasa berfungsi untuk membersihkan racun-racun dari dalam tubuh, meremajakan tubuh, menurunkan berat badan, memurnikan pikiran, mencegah penuaan, dan membuat hidup lebih gembira. Dengan berpuasa, lanjut Kasim, pola makan akan menjadi lebih teratur, kebiasaan merokok terkurangi, pikiran menjadi lebih tenang dan jauh dari stres. Bagaimana dengan pengidap diabetes? Menurut Kasim, manfaat puasa juga bisa dirasakan oleh pengidap diabetes. Tetapi pastikan dulu mengontrol diabetes tersebut. Diabetes dikatakan terkontrol, terang Kasim, apabila dengan terapi obat tertentu kadar gula darah bisa berada pada rentang normal (70-100 saat puasa). Sedangkan mereka yang masih mencoba-coba obat tertentu untuk menormalkan gula darah, berarti belum terkontrol. Selain itu, terang dia, yang tidak kalah pentingnya adalah memperhatikan jumlah asupan kalori dan sumber asupan kalori. Sumber kalori, menurut dia, sebaiknya dipilih lebih banyak dari makanan yang mudah dicerna, seperti sayur dan buah. Sayur dan buah bisa diserap dengan baik dalam waktu 15 menit dan menyediakan energi bagi tubuh. Ia juga mengatakan bahwa pengidap diabetes dianjurkan untuk melakukan latihan puasa sebelum menjalani ibadah puasa. Cara ini bisa membantu menemukan dan menyesuaikan jenis terapi insulin dan dosis yang tepat.

Jaga Kadar Gula Darah, Batalkan Jika terjadi Hiperglikemi Surabaya, eHealth. Diabetes bukanlah halangan untuk tetap menjalankan ibadah puasa. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh penderita Diabetes Melitus (DM) agar tetap sehat selama menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini. Hal yang paling utama harus diperhatikan bagi penderita DM untuk menjalankan puasa adalah disiplin, baik itu dalam pengaturan pola makan, maupun jadwal waktu makan. Jika tidak, kadar gula darah bisa tidak seimbang dan itu sangat berbahaya bagi penderita DM. Jika pasien bisa berdisiplin diri dengan tidak mengonsumsi makanan yang manismanis atau dalam jumlah yang terbatas, maka pasien tidak akan mengalami gangguan yang berarti. Dia bisa tetap menjalani puasa dengan baik, tanpa harus takut kadar gula darah berfluktuasi. Sebelum penderita DM menjalani puasa, sebaiknya kadar gula darahnya diukur terlebih dahulu. Agar dapat menentukan menu makanan dan membuat agar kadar glukosa darah terkendali, dipertahankan kurang dari 110 mg/dl selama puasa dan 160 mg/dl setelah dua jam makan.

Sebenarnya, penderita DM dibolehkan berpuasa sekitar 12 jam, asalkan tidak akan mengganggu kesehatannya dengan kadar glukosa darah yang tetap terkontrol. Tetapi, pasien DM yang glukosa darahnya tidak terkontrol, harus berhati-hati. Sebab, dengan berpuasa cadangan glukosa dalam hatinya tidak mencukupi kebutuhan energi. Sehingga, saat kadar glukosa darahnya turun, terjadi pemecahan sumber energi lain selain glikogen, yaitu asam lemak secara lebih awal untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Pemecahan asam lemak pada penderita DM mengakibatkan tubuhnya keracunan hasil pemecahan asam lemak yang berlebihan, berupa benda keton yang dikenal dengan ketosis. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan derajat keasaman (PH) di dalam tubuh dan dapat menjadi masalah kesehatan yang serius. Selain itu, puasa bagi penderita DM yang gula darahnya tidak terkontrol cenderung mengalami dehidrasi karena terlalu banyak buang air kecil (poliuri). Pengaturan kadar gula tidak hanya di siang hari, tapi juga pada malam hari. Pada saat berbuka, sebaiknya penderita diabetes tidak balas dendam. Sebab, setelah mengalami istirahat selama kurang lebih 14 jam, pemberian tugas pada saluran pencernaan harus dilakukan secara hati-hati. Penderita sebaiknya memilih minuman yang manis atau makan makanan yang mudah dicerna terlebih dahulu dan secukupnya. Memilih makan juga memberi keuntungan karena gula sederhana langsung dirubah menjadi glukosa dan digunakan sebagai sumber energi. Untuk sahur, disarankan mendekati imsak dan makanan disajikan dengan variasi yang lebih menarik agar jumlah makanan yang dikonsumsi cukup agar asupan kalorinya kurang lebih sama dengan kebutuhan kalori sehari-hari. Bagi pasien DM, asupan makanan yang segar dan bergizi diberikan secara bertahap, yakni 50% saat berbuka puasa, 10% setelah shalat taraweh dan 40% ketika sahur. Konsumsi cairan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan normal, sekitar delapan gelas per hari. Makanan manis dan makanan yang digoreng harus dibatasi dan sebaiknya memilih mengonsumsi karbohidrat kompleks ketika makan sahur. Pengaturan makanan selama Ramadhan tersebut sebaiknya juga dilaksanakan pada Hari Raya Idul Fitri dan sesudahnya. Sehingga, kestabilan gula darah tetap terjaga dan penyakit anda tidak bertambah parah. CATATAN : Pasien DM tipe-1 (diabetes karena kurangnya produksi insulin) yang stabil atau terkendali dengan perencanaan makan dan olah raga masih diperbolehkan berpuasa. Puasa juga bisa dilakukan semua pasien DM tipe-2 (diabetes akibat kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin) dengan berat badan lebih serta kontrol yang baik dan pengawasan glukosa darah secara ketat. Sementara bagi pasien DM tipe-1 yang tidak stabil serta pasien DM tipe-1 dan tipe-2 dengan kontrol buruk, dianjurkan untuk tidak puasa.

Pasien DM yang mendapat suntikan insulin satu kali per hari dapat berpuasa sedangkan pasien yang mendapatkan suntikan insulin dua kali sehari atau lebih dianjurkan untuk tidak berpuasa. Bagi diabetasi yang aman berpuasa, dr.Reno menyarankan agar memantau kadar glukosa darah dengan ketat dan belajar mengenali gejala hipoglikemia dan dehidrasi sejak dini. Jika glukosa darah kurang dari 63 mg/dl sebaiknya segera berbuka. Diabetasi yang tidak mengikuti diet, pemakaian obat dan pengaturan aktivitas juga dianjurkan tidak berpuasa. Demikian pula untuk penyandang DM dengan komplikasi serius, pasien DM dengan riwayat ketoasidosis, pasien DM yang sedang hamil, pasien DM yang sedang mengalami infeksi, pasien dengan usia tua dengan masalah kesadaran serta pasien yang mengalami dua kali atau lebih episode hipoglikemia selama Ramadhan. Waktu dan dosis pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO) pada penyandang DM yang berpuasa juga perlu diatur untuk mengurangi resiko hipo atau hiperglikemia. > Pasien DM terkendali dengan OHO dosis tunggal aman untuk berpuasa dan sebaiknya OHO diberikan saat berbuka. > Bagi pasien DM terkendali dengan OHO dosis terbagi sebaiknya diberikan dengan dosis lebih besar ketika berbuka. Selama berpuasa, pasien DM juga perlu melakukan latihan ringan atau sedang yang tidak membahayakan, beristirahat pada siang hari dan melakukan kegiatan jasmani seperti pada hari-hari biasa. (Shalat taraweh juga membantu metabolisme makanan karena paling tidak mengeluarkan 200 kalori).

Manfaat Puasa Bagi Penderita Diabetes, Jantung Koroner dan Gangguan Lambung Dari Segi Kesehatan Memasuki bulan puasa, segala persiapan pun dilakukan agar kegiatan puasa dapat berjalan dengan lancar. Begitu pun dengan kesehatan. Dimana kesehatan merupakan salah satu faktor terpenting selama seseorang menjalankan ibadah puasanya. Bagi penderita beberapa penyakit yang cukup serius, dalam melaksanakan puasa pun tidak boleh sembarangan dilakukan. Karena dikhawatirkan dapat berpengaruh terhadap penyakit yang sedang diidapnya. Beberapa penyakti tersebut membutuhkan arahan yang tepat dari para dokter ahli, agar dapat menjalankan puasa dengan nyaman dan tanpa keluhan yang berarti. Seperti 3 jenis penyakit dibawah ini:

Jantung Koroner Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Sebagian berpendapat jika penyakit ini mempunyai penyelesaian yang sebenarnya mudah, yakni dengan menjaga pola makan sehat dan teratur dalam berolahraga. Namun, menurut Dr. Kasim Rasjidi, SpPD-KKV, DTM&H, MCTM, MCHA, SpJP, FIHA selaku dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, serta dokter spesialis penyakit dalam (K), dalam pemaparannya di sebuah seminar di RS. Asri, Jakarta, pada Sabtu (8/8) silam, bahwa penyakit jantung korener tidak bisa dilihat sesederhana itu. Ada faktor resiko dari penyakit jantung koroner yang tidak bisa diubah, seperti jenis kelamin, umur dan faktor keturunan. Sementara yang bisa dikontrol atau diubah yaitu pola kebiasaan sehari-hari yaitu pola makan, kebiasaan bergerak, merokok, kondisi hipertensi, status diabetes dan kelebihan berat badan. Ada juga faktor pencetus lainnya yaitu stress dan pengonsumsian alkohol. Dr. Kasim pun juga menambahkan, jika makin banyak faktor resiko yang ada, maka makin besar pula resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa kesehatan yang baik bukan sekedar makanan yang baik dan olahraga, tapi lebih jauh lagi adalah bagaimana menyikapi pandangan hidup dan perilaku mental seseorang terhadap dirinya sendiri. Dengan bulan puasa maka, segala faktor pencetus, sedikit banyaknya bisa dihindari. Mulai dari pola makan yang semau gue menjadi lebih teratur, intensitas merokok jauh lebih berkurang, pikiran jadi lebih tenang dan terarah, sehingga stress pun jadi lebih mudah dihindari. Selain itu, dengan berpuasa maka dapat menjaga keseimbangan kadar kolesterol, tekanan darah, gula darah dan beberapa faktor pemicu timbulnya atau semakin buruknya penyakit jantung koroner. Diabetes Penyakit diabetes yang juga dikenal sebagai pencetus penyakit jantung koroner, adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia atau peningkatan kadar gula darah, yang terus menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Pembentukan diabetes yang utama adalah karena kurangnya produksi insulin, atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin. Dimana insulin yang menjadi pintu untuk masuknya glukosa ke dalam pankreas terkunci, sehingga mengakibatkan zat gula tertimbun di dalam darah. Bagi para penderita diabetes, pemahaman dan perhatian sangat penting karena tingkat glukosa darah sering berubah-ubah. Karena dengan keberhasilan menjaga gula darah dalam batas yang normal dapat mencegah terjadinya

komplikasi diabetes. Faktor lain yang dapat mengurangi komplikasi diantaranya dengan berhenti merokok, mengoptimalkan kadar kolesterol, menjaga berat badan supaya tetap stabil, mengontrol tekanan darah tinggi dan melakukan olahraga secara teratur. Hal-hal itu akan menjadi lebih mudah, saat bulan puasa tiba, dimana seorang penderita diabetes yang menjalankan puasa dapat mengontrol dirinya untuk menghindari pengonsumsian makanan sembarangan dan juga menghentikan kebiasaaan merokok, atau paling tidak dapat meminimalisir kemungkinan bersinggungan langsung dengan asap rokok. Kendati penderita diabetes bisa dengan aman dan nyaman melaksanakan puasa, namun beberapa bulan sebelumnya (minimal 3 bulan sebelum puasa) penderita diabetes harus mengonsultasikan kepada dokter, agar sang dokter pun bisa memberikan arahan yang baik dan juga dapat memodifikasi obat-obatan yang harus dikonsumsi oleh pasien dengan diabetes selama menjalankan ibadah puasa. Selain itu, melatih diri untuk berpuasa dua minggu sebelum pelaksanaan puasa juga sangat dianjurkan. Gunanya untuk menyesuaikan diri sebelum masuk ibadah puasa yang sesungguhnya, mulai dari beradaptasi dengan asupan makanan, obat-obatan dan reaksi tubuh saat puasa berlangsung. Dengan begitu tubuh akan terlatih menghadapi puasa, jika jauh-jauh hari telah dikondisikan untuk menghadapi aktivitas puasa. Dr. Agus Sudiro dalam jumpa wartawan setelah acara seminar berlangsung, memberikan tips bagi penderita diabetes yang ingin menjalankan ibadah puasanya. Pengonsumsian obat-obatan yang harus diminum bagi para penderita diabetes bisa dibalik, yakni obat yang biasanya diminum di pagi hari, dialihkan untuk diminum pada saat berbuka. Sedangkan untuk obat yang diminum di malam hari, dialihkan saat sahur. Lebih lanjut Dr. Agus juga mengungkapkan, saat berbuka orang dengan diabetes harus benar-benar memperhatikan asupan makanan dan minumannya. Saat berbuka puasa pastikan penderita dan keluarga yang mendampingi memperhatikan makanan dan minuman berbuka. Sebagai menu pembuka makan buah korma dalam jumlah ganjil, namun jangan pula terlalu banyak, karena kadar gula kurma cukup tinggi. Setelah itu jangan langsung barengi dengan makanan berat. Akan lebih baik makanan berat disantap setelah sholat maghrib atau tarawih untuk memberikan kesempatan pada tubuh mengolah makanan pembuka yang sudah dimakan. Yang wajib diwaspadai bagi penderita diabetes adalah saat di penderita mengalami hipoglikemi suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara drastis menurun dan hal itu dibarengi dengan gejala fisik, diantranya gemetar, keringat dingin dan tubuh lemas dimana jika hal itu terjadi maka harus sesegera mungkin diambil tindakan untuk menambah kadar glukosa. Jika terdesak bisa dengan memakan permen, yang penting makan yang manis-

manis, ungkap Dr. Agus menambahkan. Dengan kata lain puasa harus dibatalkan mengingat kondisi yang memang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan puasa hingga akhir berbuka nanti. karena kondisi tersebut jika terus dipaksakan hingga saatnya berbuka maka dapat berakibat fatal bagi si penderita. Gangguan lambung Bagi penderita gangguan lambung, dalam kesempatan yang sama Dr. Agus Sudiro Waspodo, Sp.PD, KGEH, selaku dokter spesialis penyakit dalam, memaparkan penjelasannya mengenai gangguan lambung, momen ibadah puasa bisa dimanfaatkan untuk menjaga pola makan menjadi lebih teratur lagi dan menghindari menu-menu makanan yang tidak sehat dan juga berlebihan.

haruslah yang encer. Sebagai upaya untuk mengencerkan air kencing, gula lalu menarik air yang terdapat dalam jaringan tubuh. Hal inilah yang mendorong penderita DM untuk minum lebih banyak dan lebih sering terasa haus. Jika dorongan untuk minum ini tidak segera dipenuhi, penderita bisa mengalami dehidrasi (kekurangan cairan dalam tubuh). Keadaan ini menjadikan gula darah makin pekat dan jika dibiarkan bisa membahayakan. Tidak semua penderita penyakit kencing manis aman untuk berpuasa. Hanya penderita yang kadar gula darahnya terkendali dan tidak menderita komplikasi penyakit lain yang dibolehkan. Gula darah disebut terkendali jika kadarnya dalam uji klinis dinyatakan sebagai nilai GTT (glucose tolerance test) tidak lebih dari 180 miligram per 100 mililiter. Dalam kondisi demikian, jumlah gula darah berimbang dengan kemampuan insulin untuk mengangkutnya, sehingga tidak terdapat timbunan sampah gula dalam darah. Diabetasi, diperbolehkan berpuasa bila memang memungkinkan berdasarkan sejumlah pertimbangan seperti penilaian kondisi fisik, penilaian kontrol metabolik, penyesuaian diet dan penyesuaian jenis obat. Pasien DM yang diperbolehkan berpuasa, adalah yang kadar gula darahnya terkendali yakni kurang dari 110 mg/dl sewaktu berpuasa dan kurang dari 160 mg/dl pada dua jam setelah berpuasa. Pasien DM tipe-1 (diabetes karena kurangnya produksi insulin) yang stabil atau terkendali dengan perencanaan makan dan olah raga diperbolehkan berpuasa. Puasa juga bisa dilakukan semua pasien DM tipe-2 (diabetes akibat kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin) dengan berat badan lebih serta kontrol yang baik dan pengawasan glukosa darah secara ketat. Pasien yang mendapat suntikan insulin satu kali per hari dapat berpuasa sedangkan pasien yang mendapatkan suntikan dua kali sehari atau lebih dianjurkan untuk tidak berpuasa. Bagi diabetasi yang aman berpuasa, agar memantau kadar glukosa darah dengan ketat dan belajar mengenali gejala hipoglikemia dan dehidrasi sejak dini. Jika glukosa darah kurang dari 63 mg/dl sebaiknya segera berbuka, . Sementara bagi pasien DM tipe-1 yang tidak stabil serta pasien DM tipe-1 dan tipe-2 dengan kontrol buruk, dianjurkan untuk tidak puasa. Puasa, juga dianjurkan tidak dilakukan oleh diabetasi yang tidak mengikuti diet, pemakaian obat dan pengaturan aktivitas. Juga tidak baik untuk penyandang DM dengan komplikasi serius, pasien dengan riwayat ketoasidosis, pasien yang sedang hamil, pasien yang sedang mengalami infeksi, usia tua dengan masalah kesadaran serta yang mengalami dua kali atau lebih episode hipoglikemia selama Ramadan.

Dengan begitu, saluran cerna dapat terjaga dari asupan makanan yang dapat membahayakan kondisi lambung, dan bisa dijadikan pula sebagai salah satu metode detoksifikasi yang sangat bermanfaat untuk tubuh. (Dee)

Puasa dan kencing manis | Bagi umat Islam, datangnya bulan Ramadan biasanya disambut dengan gembira. Namun bagi sebagian penderita diabetes mellitus atau kencing manis, menjalankan ibadah puasa kadang sangat menyulitkan. Penyandang kencing manis masih diperbolehkan untuk menjalankan ibadah puasa namun tentunya mesti dikonsultasikan ke dokter. Lantas, apakah penderita kencing manis atau penyakit gula boleh berpuasa ? Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit kronis (menahun) yang terjadi akibat gangguan hormon insulin dalam tubuh. Hormon ini berfungsi untuk mengangkut gula dalam darah (yang biasa disebut gula darah) ke seluruh jaringan tubuh, yang memerlukannya sebagai sumber energi. Bila konsumsi gula murni (sukrosa) maupun karbohidrat kompleks, yang bisa dipecah menjadi senyawa gula sederhana, terus berlangsung setiap hari, maka hormon insulin akan kewalahan mengangkutnya. Akibatnya, akan terjadi penumpukan gula darah dalam darah. Kalau hal ini terus menerus terjadi, maka lama kelamaan sampah gula ini pun akan menjadi racun yang mencemari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Untuk memperkecil dampak negatif tersebut, sedapat-dapatnya tubuh lalu ikut membantu membuangnya. Timbunan gula yang mubazir itu diserahkan pada ginjal, agar dibuang ke luar tubuh. Gula buangan itu menumpang keluar bersama air kencing (urine), sehingga air seni pun jadi terasa manis. Mestinya, dari sinilah asal muasal mengapa penyakit diabetes mellitus kemudian populer disebut dengan kencing manis. Karena mengandung gula, air seni lalu menjadi lebih pekat. Padahal, persyaratan air kencing yang boleh lolos melalui saluran pembuangan tersebut

Kadar gula darah yang terkendali hanya mungkin tercapai jika penderita berdisiplin menjalankan dietnya dan disiplin berolah raga. Kesiapan untuk berpuasa bisa diupayakan antara lain dengan tidak mengkonsumsi sama sekali gula murni (sukrosa) seperti gula pasir, gula merah, dan sebagainya, jauh-jauh hari. Juga makanan atau bahan makanan yang mengandung gula (sirup, selai, jeli, manisan buah, susu kental manis, saoft drink, es krim, cake, dodol, aneka kue manis, abon, dendeng, sarden, dan sebagainya). Konsumsi makanan dari tepung sebaiknya dikurangi. Konsumsi karbohidrat, terutama yang berasal dari makanan utama (nasi atu penggantinya) dan juga kalori harus ditukar sesuai dengan kesanggupan tubuh untuk menggunakannya. Hal ini sangat tergantung pada umur penderita, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan, aktivitas fisik, serta kelainan metabolik. Hanya dokter maupun ahli gizi yang bisa menyusun diet yang paling tepat bagi setiap penderita. Hindari mengadopsi pola diet orang lain, sekalipun Anda dan dia memiliki kondisi fisik, berat badan dan tinggi yang sama, misalnya. Perbanyak konsumsi bahan makanan yang kaya serat, baik serat yang bersifat larut dalam air maupun tidak. Serat bisa diperoleh dari buah apel yang banyak mengandung pektin, aneka kacang-kacangan (kecuali kacang tanah, karena banyak mengandung lemak), sayuran segar yang dimasak ringan maupun yang disantap mentah sebagai lalapan. Saat berpuasa saluran pencernaan sama sekali tidak menerima asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 14 jam (di Indonesia) dan hal itu menyebabkan terjadinya beberapa perubahan fisiologis. Puasa menyebabkan penurunan kadar glukosa darah tapi tidak secara drastis. Glukosa darah dipertahankan sebanyak 60-126 mg/dl melalui mekanisme kerja hormon insulin dan kontra regulator insulin. Puasa juga merupakan suatu stres bagi tubuh karena terjadi peningkatan hormon kontra insulin. Hal inilah yang menyebabkan proses glikogenesis dan glukoneogenesis pada pasien DM menjadi tak terkendali dan cenderung lebih cepat sehingga menyebabkan ketoasidosis dan dehidrasi. Untuk itu bagi yang memang ingin berpuasa agar sewaktu sahur dilakukan mendekati imsak dan makanan disajikan dengan lebih menarik, agar jumlah yang dikonsumsi cukup dan asupan kalorinya kurang lebih sama dengan kebutuhan kalori sehari-hari. Sebaiknya pasien DM mengonsumsi makanan yang segar dan bergizi secara bertahap yakni 50% saat berbuka puasa, 10% setelah shalat taraweh dan 40% ketika sahur. Konsumsi cairan disesuaikan dengan kebutuhan normal, sekitar delapan gelas per hari. Sebaiknya membatasi makanan manis dan makanan yang digoreng serta memilih untuk mengonsumsi karbohidrat kompleks ketika makan sahur.

11 Tips ber-olahraga bagi penderita kencing manis / diabetes Olahraga yang teratur dapat mengendalikan risiko diabetes. Manfaat olahraga bagi penderita diabetes antara lain: 1. Membakar kalori dan mengurangi lemak tubuh sehingga meningkatkan kemampuan metabolisme sel dalam menyerap dan menyimpan glukosa. 2. Meningkatkan sirkulasi darah, terutama pada kaki dan tangan, di mana biasanya penderita diabetes memiliki masalah. 3. Mengurangi stress yang sering menjadi pemicu kenaikan glukosa darah 4. Penderita diabetes yang rajin berolah raga dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada obat. Berikut adalah beberapa tips berolah raga bagi penderita diabetes (diabetesi): 1. Konsultasikan dengan dokter sebelum menjalani program olah raga. Dokter akan merekomendasikan jenis olah raga apa yang boleh Anda lakukan sesuai dengan kondisi Anda. Dokter biasanya akan melarang Anda berolah raga bila: o Glukosa darah Anda lebih dari 250 mg/dl. o Anda memiliki gejala retinopati (kerusakan pembuluh darah pada mata), neuropati (kerusakan syaraf dan sirkulasi darah pada anggota badan), nefropati (kerusakan ginjal) dan gangguan jantung seperti jantung koroner, infark miokard, arritmia dan lainnya.

1. Bila tidak ada larangan, mulailah dengan olah raga ringan seperti senam aerobik, berjalan, berenang, dan bersepeda. Olah raga aerobik tersebut bermanfaat memperdalam pernafasan dan meningkatkan kerja jantung. Bagi Anda yang tidak pernah berolahraga, awali dengan 10 - 20 menit setiap kali latihan, beberapa kali seminggu. 2. Banyak penderita diabetes yang tidak menyadari bila memiliki masalah di kaki mereka. Sebelum berjalan sehat atau jogging, pastikan kenyamanan dan keamanan sepatu yang dipakai: o o Selalu gunakan kaus kaki yang nyaman. Periksa apakah ada krikil atau benda lain sebelum mengenakan sepatu.

3. Hindari lecet atau goresan di kaki. 4. Bila Anda memiliki masalah di kaki, sebaiknya pilih berenang, senam atau bersepeda yang tidak terlalu membebani kaki.

5. Jangan mengangkat beban berat karena dapat meningkatkan tekanan darah secara tiba-tiba. 6. Awali dan akhiri latihan dengan pemanasan dan pendinginan selama 510 menit untuk mengurangi risiko jantung dan cedera otot. 7. Jangan menambah porsi latihan secara drastis. Setiap kali, naikkan hanya satu faktor saja (frekuensi, lama atau intensitas latihan). 8. Kenakan tanda pengenal diabetes, agar orang tahu bila terjadi sesuatu dengan Anda. Hipoglikemi adalah risiko yang dapat terjadi sewaktu berolah raga. Kenaikan penyerapan glukosa oleh otot dapat menurunkan gula darah ke tingkat yang sangat rendah (hipoglikemi). Gejala hipoglikemi adalah badan gemetar, jantung berdebar, keringat bertambah, rasa lapar, pusing, lesu, bingung, dan perubahan mood yang cepat. 9. Bila terkena gejala hipoglikemi: o o Lakukan tes gula darah untuk mengecek. Konsumsi makanan atau minuman manis, misalnya jus atau manisan buah. Hindari makanan yang mengandung lemak karena menghalangi penyerapan glukosa oleh tubuh. Istirahat selama 10 -15 menit dan lakukan pengecekan lagi sebelum melanjutkan latihan. Jangan meneruskan berolah raga bila gula darah di bawah 100 mg/dl. Bila melanjutkan berolah raga, selalu waspada terhadap munculnya kembali gejala hipoglikemi. Setelah selesai berolah raga, makanlah makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti ubi, roti, dan jagung.

Pentingnya Olahraga Bagi Penderita Diabetes Melitus Olahraga secara rutin penting bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Namun bagaimana penjelasan detailnya bagi para penderita diabetes melitus? Manfaatnya : Menurunkan kadar glukosa darah dan mencegah kegemukan. Pada keadaan istirahat, metabolisme otot hanya sedikit membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Tetapi saat berolah raga, glukosa, dan lemak akan merupakan sumber utamanya. Setelah berolahraga selama 10 menit, dibutuhkan glukosa 15 kalinya dibanding pada saat istirahat. Membantu mengatasi terjadinya komplikasi (gangguan lipid darah / pengendapan lemak di dalam darah, peningkatan tekanan darah, hiper koagulasi darah / penggumpalan darah)

Pada penderita diabetes melitus tipe I, karena produksi insulin yang terganggu / tidak ada, maka olah raga tidak begitu besar mempengaruhi kadar gula darah, tetapi keuntungan yang lainnya adalah mengurangi resiko penyakit jantung, gangguan pembuluh darah perifer. Perlu diwaspadai pada yang mengalami defisiensi insulin yang berat, dengan berolah raga akan menyebabkan gangguan metabolik yang lebih berat (terjadi hiperglikemia dan keracunan keton di darah). Pada penderita diabetes melitus tipe II, latihan jasmani berperan utama dalam pengaturan glukosa darah. Pada penderita diabetes melitus tipe II, produksi insulin tidak terganggu tetapi masih kurangnya respons reseptor pada sel terhadap insulin (resistensi insulin), sehingga insulin tidak dapat membantu transfer glukosa ke dalam sel. Pada saat berolahraga, permeabilitas membrans terhadap glukosa meningkat pada otot yang berkontraksi sehingga resistensi insulin berkurang, dengan kata lain sensitivitas insulin meningkat. Hal ini menyebabkan kebutuhan insulin berkurang. Respons ini bukan merupakan efek yang menetap atau berlangsung lama. Respon ini hanya terjadi setiap kali melakukan berolahraga. Sebelum berolahraga, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan (medis) dan faal (kebugaran) terlebih dahulu pada dokter untuk mengetahui tingkat kebugarannya dan kondisi metaboliknya. Berolahraga tidak sembarangan dilakukan. Beberapa perinsip dalam berolahraga : Frekwensi latihan hendaklah dilakukan secara teratur. Intensitas : ringan dan sedang yaitu 60 70 % MHR (maximum Heart Rate). Rumusnya : 220 umur. Contoh: Jika Anda berusia 50 thn, target

o o

10. Lakukan pengetesan glukosa darah 12 jam setelah latihan yang agak berat untuk mengecek adanya hipoglikemi yang muncul setelah latihan (late onset). 11. Berolahragalah dengan gembira. Untuk meningkatkan dan mempertahankan motivasi Anda berolahraga, bergabunglah dengan klubklub olah raga diabetes yang ada di dekat tempat tinggal Anda.

heart rate (THR) Anda adalah 60% MHR, maka melakukan olah raga denyut nadinya sebaiknya mencapai 60% X (220 -50 ) = 102 kali / menit. Durasi dalam berolahraga adalah selama 30 hingga 60 menit. Jenis olahraga yang dilakukan hendaklah tidak terlalu berat, seperti jalan, jogging, berenang, bersepeda. Ada tiga gejala klasik yang dialami penderita dibetes yakni, banyak minum, banyak kencing, dan berat badan turun. Tapi pada awalnya, kadang-kadang berat badan penderita diabetes naik, penyebabnya, kadar gula yang tinggi dalam tubuh. Penderita diabetes melitus (diabetesi) tentu sadar, bahwa diet makanan bukanlah satu-satunya cara untuk menjaga kualitas hidup. Mereka masih memerlukan kebugaran, cara tepat membantu mengendalikan kadar gula. Tapi bagaimana penderita diabetes menghadapi penyakitnya saat puasa ramadhan tiba. Seringkali saat menjelang bulan puasa, pasien DM atau keluarga yang kebetulan mempunyai anggota keluarga yang menderita DM sering kebingungan, bagaimana mengatur dosis obat dan mengatur diet penderita DM saat bulan puasa. Kebingungan memuncak tatkala keinginan untuk melaksanakan ibadah puasa begitu tinggi sementara pengetahuan tentang pengaturan diet dan obat anti diabetes saat puasa belum begitu dipahami oleh pasien, jadi tidak sedikit pasien DM yang masuk rumah sakit akibat anjloknya gula darah saat saat bulan puasa. Sebenarnya menjalani ibadah puasa bagi pasien DM tidak masalah karena sebenarnya yang bisa kita lakukan adalah mengatur pemberian obat sedemikian rupa sehingga tidak menganggu ibadah dan kadar gula dalam darah. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Herjunianto, SpPD saat menyampaikan materi dalam seminar awam Puasa Ramadhan Bagi Penderita Diabetes Melitus di Klinik Medis Pusura Tegalsari Surabaya belum lama ini. Menurutnya, untuk pasien yang kadar gula darahnya berada dalam kondisi terkendali atau stabil di angka normal/mendekati normal dengan cukup pengaturan makanan saja, atau dengan perkataan lain, dengan mengatur asupan makan saja sudah bisa mengendalikan kadar gula darah, pasien bisa langsung menjalankan ibadah puasa. Sedangkan bagi pasien pasien yang mampu mengendalikan kadar gula darahnya dengan hanya menggunakan obat anti diabetes dosis tunggal atau diminum sekali sehari. Obat anti diabetes bisa diberikan pada saat berbuka puasa.

Urutan kegiatan yang dilakukan : Pemanasan (warm up), lamanya 5 10 menit, bertujuan untuk menaikkan suhu tubuh, meningkatkan denyut nadi mendekati intensitas latihan, mengurangi kemungkinan cedera. Latihan inti (Conditioning), lamanya 20 menit, diusahakan denyut nadi mencapai THR (target Heart Rate). Bila dibawah THR maka latihan tersebut tidak bermanfaat. Dan bila berlebih akan menimbulkan resiko yang tidak diinginkan. Pendinginan (cooling down), lamanya 5 10 menit, bertujuan untuk mencegah penimbunan asam laktat di otot sehingga menimbulkan nyeri di otot, atau pusing sebab darah masih terkumpul di otot yang aktif. Bila jogging, pendinginan sebaiknya tetap jalan. Bila bersepeda sebaiknya tetap mengayun tanpa beban.

Peregangan (stretching), bertujuan untuk melemaskan dan melenturkan otot-otot yang masih teregang, ini penting sekali untuk diabetesi usia lanjut.
Pengaturan Pola Makan Penderita DM Saat Puasa Sumber : Kiat Sehat Surabaya Data WHO, saat ini Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes Melitus di dunia. Pada tahun 2006 jumlah Diabetasi di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta orang, dimana baru 50 % yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30 % yang datang berobat teratur. Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang dikenal masyarakat sebagai penyakit gula atau kencing manis terjadi pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat kekurangan insulin atau reseptor insulin yang tidak berfungsi dengan baik. Selain itu faktor resiko juga turut menjadi penyebab terjadinya DM. Faktor resiko ini dibagi menjadi 2, yakni faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi (dikendalikan) seperti faktor genetik (keturunan) dan usia serta faktor resiko yang dapat dimodifikasi yakni adanya Hipertensi, Dislipidemia, Obesitas, Stress, Diet tidak seimbang, dan gaya hidup.

Namun pada pasien yang membutuhkan obat dosis terbagi (diminum 2 kali sehari) untuk mengendalikan kadar gula darahnya maka dianjurkan untuk memberikan dosis obat yang lebih tinggi saat berbuka puasa sedangkan saat sahur diberikan obat dengan dosis lebih kecil. Khusus untuk pasien yang harus memperoleh insulin dosis kombinasi atau multipel maka dianjurkan untuk tidak menjalankan ibadah puasa saat Ramadhan, karena memang pasien yang masuk golongan ini membutuhkan injeksi obat lebih dari sekali sehari sehingga bisa membatalkan puasanya, ujar dokter yang juga berdinas di RSAL Dr. Ramelan Surabaya ini.

Begitu pula dalam pengaturan pola makan. Menurut dr. Herjunianto penderita diabetes hendaknya mengisi 50% dari kebutuhan energi sehari saat buka puasa dengan komposisi makanan ringan / segar sebelum sholat maghrib dan makanan padat sesudah sholat maghrib. Jika kebutuhan masih dirasa kurang maka penderita diabetes dapat menambahnya 10% sesudah sholat tarawih dengan makanan ringan seperti buah, roti, susu, dll disertai dengan konsumsi obat anti diabetes. Sedangkan pemenuhan kebutuhan saat sahur hendaknya 40% dengan komposisi makanan padat. Untuk menghindari hipoglikemi, sebaiknya penderita diabetes melambatkan waktu makan sahur dan segera berbuka begitu saatnya tiba. Penderita diabetes sangat rawan terhadap pengaturan pola makan, oleh karena itu penderita diabetes harus benar-benar taat pada saran dokter untuk menghindari kenaikan kadar gula darah. Berikut beberapa tips dari dr. Herjunianto untuk penderita diabetes selama menjalani puasa di bulan ramadhan : penderita diabetes hendaknya mengurangi aktivitas fisik di siang hari dan menggantinya pada sore hari, monitor kadar gula darah sebelum, selama, dan sesudah puasa, bila terjadi hipoglikemi hentikan puasa, serta cukup minum untuk menghindari dehidrasi. Jadi kesimpulannya, tidak ada halangan bagi mereka mereka yang menderita DM untuk berpuasa selama kadar gula darahnya terkendali dan komplikasi tidak terjadi atau bila terjadi masih dalam tahap yang ringan. Tik

Pada penderita maag misalnya, saat berpuasa, karena aktivitas makan berkurang, organ yang bekerja mengeluarkan enzim dalam lambung bisa sejenak beristirahat dan kesempatan ini dimanfaatkan untuk regenerasi sel organ. Untuk penderita maag sebaiknya hindari makanan berbahan baku tepung, makanan yang manis serta daging yang mempercepat pengeluaran asam lambung, kata Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB itu. Ketika berpuasa, lanjut dia, kegiatan jantung menurun dan menjadi sekitar setengahnya. Sekitar separuh darah digunakan untuk kerja otak, otot dan ginjal sehingga semakin besar peluang untuk membersihkan diri dari berbagai racun sisa metabolisme tubuh. Berbagai faktor penyebab peningkatan denyut jantung dan tekanan darah dapat dikendalikan dengan berpuasa yang baik. Saat berpuasa akan terjadi pengendalian emosi, keseimbangan istirahat, serta pengaturan makan dan minum. Hasil penelitian tentang puasa dan tekanan darah menunjukkan, tekanan darah orang yang berpuasa relatif konstan pada nilai yang normal. Bagi penderita hipertensi, Hardinsyah menyarankan agar menghindari makanan awetan dalam kaleng, makanan dengan penyedap atau terlalu asin, serta memperbanyak makan sayur.(*)

Penderita Diabetes, Hindari Makanan Berbahan Tepung Penderita diabetes sebaiknya menghindari makanan yang berbahan baku tepung seperti roti dan mie selama menjalankan ibadah puasa. Mereka sebaiknya mengkonsumsi makanan saat berbuka puasa dalam jumlah kecil namun lebih sering. Pakar gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr H Hardinsyah MS mengatakan di Bogor, Rabu, jenis makanan yang dikonsumsi penderita diabetes pada dasarnya tidak berbeda pada saat puasa ataupun tidak puasa. Hanya saja, makan dalam jumlah kecil dan lebih sering, katanya. Makanan berbahan baku tepung-tepungan, lanjut dia, sebaiknya dihindari karena makanan jenis ini lebih cepat diubah menjadi glukosa (gula darah). Sebaliknya makanan berserat seperti sayur dan buah harus diperbanyak karena makanan berserat lebih lambat diubah menjadi glukosa. Dengan pelepasan secara lambat, maka kadar gula darah akan lebih stabil. Hardinsyah, yang juga Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia ini mengatakan, dalam banyak kasus, penderita penyakit tertentu seperti maag, hipertensi, hiperkolesterol dan diabetes yang tetap melaksanakan puasa mendapat manfaat dan berkah penyembuhan dari puasa.

Diabetes Mellitus Penyakit kencing manis atau DM termasuk penyakit kronis yang disebabkan oleh kekurangan produksi insulin (kuantitas/kualitas) baik oleh keturunan dan/atau didapat. Disebut kuantitas jika jumlah insulinnya yang berkurang, sedangkan kualitas jika insulinnya cukup atau berlebih tetapi tidak efektif. Hasil kekurangan itu bisa meningkatkan konsentrasi glukosa dalam darah secara berlebihan sehingga bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel dalam tubuh manusia, terutama pada pembuluh darah dan saraf. Dua bentuk besar penyakit kencing manis yaitu sebagai berikut. 1. Diabetes tipe 1 yang dikenal sebagai Insulin-Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau DMTI (Diabetes Melitus Tergantung Insulin)

1. Diabetes tipe 2 yang dikenal sebagai Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau DMTTI (Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin). Tipe DM yang lain misalnya Gestational Diabetes atau DM yang terjadi pada kehamilan dan DM yang disebabkan oleh rusaknya pankreas akibat kurang gizi atau Malnutrition Related DM (MRDM) yang di Indonesiakan sebagai Diabetes Melitus Terkait Malnutrisi (DMTM). Gejala Gejala penyakit kencing manis bisa berat, ringan, atau tidak bergejala sama sekali. Pada DM tipe 1 gejala klasiknya adalah sering kencing (poliuria), rasa haus (polidipsi), menjadi kurus dan sering kelelahan (capek). Keluhan-keluhan itu bisa tidak begitu nyata pada DM tipe 2. Kadangkala pada DM tipe 2, pasien datang berobat jika sudah terjadi komplikasi pada mata (katarak), keputihan, gagal ginjal, dan lain-lain. Pada keadaan itu perjalanan penyakitnya sudah cukup jauh. Oleh sebab itu, PENTING UNTUK SELALU MELAKUKAN CHECK UP, TERUTAMA MEREKA YANG DALAM KELUARGA ADA YANG MENDERITA KENCING MANIS. Keluhan lain yang juga bisa disebabkan oleh hal lain selain DM adalah sering kesemutan pada jari tangan dan kaki serta gairah seks menurun. Diagnosis Penyakit itu mudah diketahui dengan memeriksa kadar glukosa darah. Diagnosis diabetes mellitus dipastikan bila: Kadar gula darah sewaktu adalah 200 mg/dl atau lebih ditambah gejala khas diabetes Glukosa darah puasa 126 mg/dl atau lebih pada 2 kali pemeriksaan pada saat berbeda Bagaimana Mengobati Diabetes Melitus? Adakalanya pada mereka yang mempunyai kadar gula darah tinggi, setelah melakukan perencanaan makanan (diet) dan peningkatan kegiatan jasmani, kadar gulanya menjadi normal dan terkontrol kembali. Memang benar demikian pengendalian awal penyakit kencing manis. Pasien tidak perlu buru-buru minum obat penurun gula darah jika dengan penurunan berat badan, pengendalian makanan maupun

peningkatan kegiatan jasmani bisa menormalkan gula darahnya. Tentu hal itu perlu dibantu oleh ahlinya, seperti ahli gizi maupun pelatih kegiatan jasmani. Namun, sebagai patokan dasar, bisa disebutkan sebagai berikut. 1. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein, dan lemak sesuai kecukupan gizi baik sebagai berikut: karbohidrat 60-70 persen, protein 10-15 persen, dan lemak 20-25 persen. 1. Dianjurkan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu) selama minimal 30 menit. Obat-obatan Obat penurun gula darah diperlukan jika kadar gula darah tidak bisa dikontrol dengan cara-cara di atas. Ada pelbagai macam jenis obat penurun gula darah. Dokter akan memulai dengan salah satu jenis di bawah ini, kemudian akan dikombinasi jika tidak berhasil. Sedangkan jenisjenis obatnya adalah sebagai berikut. 1. Golongan Sulfonilurea Obat itu bekerja dengan cara merangsang sel beta pankreas agar bisa memproduksi insulin lebih giat lagi. Umumnya menjadi pilihan utama bagi penyandang DM dengan berat badan yang normal. 1. Golongan Metformin/biguanid Bekerja dengan mengurangi glukosa hati dan memperbaiki ambilan glukosa perifer. Itu digunakan terutama pada pasien-pasien yang kelebihan berat badan. 1. Golongan Inhibitor glukosidase alfa Aksinya adalah menghambat penyerapan glukosa usus, dan digunakan bagi mereka yang kadar glukosa puasanya masih normal 1. Golongan Insulin sensitizer Cara kerja obat itu adalah meningkatkan sensitivitas sehingga bisa meningkatkan ambilan glukosa sel dan produksi glukosa di hati 1. Insulin, sampai saat ini insulin masih dalam bentuk suntikan meskipun ada bentuk insulin hirup yang berada dalam fase penelitian.

Penyandang DM dan Puasa Pertanyaan yang hangat saat ini dalam bulan Ramadhan yaitu bolehkah penderita DM itu berpuasa? Dalam keadaan puasa (tidak ada asupan kalori), untuk mempertahankan kadar glukosa darah terjadi pemecahan cadangan glukosa (glikogen) di hati. Glikogen hati itu dapat menjadi sumber glukosa darah untuk kebutuhan otak selama 12-16 jam. Dengan demikian, puasa Ramadhan yang hanya sekitar 12 jam tersebut tidaklah terlalu mengganggu kesehatan pada orang sehat dan pada pasien DM yang kadar glukosa darahnya terkontrol (Gambar 1. Pengaturan sumber energi dalam keadaan makan dan puasa pada manusia) Dari penelitian-penelitian yang dilakukan mengenai efek puasa pada penderita DM, dapat disimpulkan bahwa berpuasa Ramadhan cukup aman bagi pasien DM dengan kadar glukosa darah cukup terkendali dan mengikuti petunjuk berpuasa. Yang dimaksud dengan kadar gula darah terkontrol adalah kadar gula darah puasa < 110 mg% dengan kadar glukosa dua jam setelah makan adalah < 160 mg%. Untuk memudahkan dalam memilah-milah pasien DM yang akan mengikuti ibadah puasa, berdasarkan informasi dr Imam Subekti, beberapa waktu lalu, pasien-pasien DM dikelompokkan menjadi beberapa kelompok sebagai berikut. Kelompok I Digolongkan dalam kelompok satu adalah mereka yang kadar glukosa darahnya terkontrol dengan perencanaan makanan dan olahraga saja. Dalam kelompok itu tidak bermasalah untuk melakukan puasa di bulan Ramadhan. Kelompok II Masuk dalam kelompok II adalah pasien-pasien DM yang untuk mengontrol gula darah, selain diet dan berolahraga, juga memerlukan obat penurun gula darah dengan dosis tunggal dan kecil. Kelompok itu dapat dibagi atas dua bagian, yaitu sebagai berikut: a. membutuhkan dosis tunggal dan kecil atau b. membutuhkan dosis yang lebih tinggi dan terbagi.

Bagi mereka yang termasuk golongan II, pasien dapat melakukan ibadah puasa dengan melakukan perubahan dalam perencanaan makanan, aktivitas fisik dan pengobatan. Dalam hal itu tentu pemilihan obat yang hanya sekali sehari sangat dianjurkan. Konsultasikan dengan dokter Anda mengenai hal tersebut. Kelompok III Masuk dalam kelompok III adalah mereka yang membutuhkan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darahnya. Tidak disarankan pasien kelompok III untuk melakukan puasa. Kelompok IV Kelompok ini adalah mereka yang penyakitnya sudah berkomplikasi berat seperti gagal ginjal dan gagal jantung. Sama seperti kelompok III, tidak disarankan untuk melakukan puasa, sebab berpuasa dapat memperberat komplikasi yang sudah terjadi. Puasa bagi Penderita Diabetes Melitus DI bulan Ramadhan ini, undangan buka bersama tentu berderet-deret untuk didatangi. Dari undangan berbuka di rumah kolega, sampai di hotel berbintang. Di rumah, hidangan juga tidak kalah spesial. Semuanya menggugah selera. Namun, bagaimana dengan penderita diabetes melitus (DM) dalam menghadapi puasa dan hidangan buka puasa yang sangat menggoda? Dibutuhkan disiplin diri buat pasien DM. Jika tidak, kadar gula darah bisa tidak seimbang dan itu berbahaya bagi penderita DM, demikian dikatakan dr Sri Kurniati MS, ahli Gizi dari RSAB Harapan Kita Jakarta. Namun, sebelum penderita DM menjalani puasa, sebaiknya mereka mengukur kadar gula dan membuat agar kadar glukosa darah terkendali. Yang dimaksud dengan kadar glukosa darah terkendali baik ialah kadar glukosa darah dipertahankan kurang dari 110 mg/dl selama puasa dan 160 mg/dl setelah dua jam makan. Sri menambahkan, kondisi gula darah tidak seimbang jika pasien terus-menerus makan makanan yang memakai gula dalam jumlah banyak. Pasien masih tetap boleh mengonsumsi gula, asalkan jumlahnya sedikit atau memakai gula diet. Jika pasien bisa berdisiplin diri dengan tidak mengonsumsi makanan yang manismanis atau dalam jumlah yang terbatas, maka pasien tidak akan

mengalami gangguan yang berarti. Dia bisa tetap menjalani puasa dengan baik, tanpa harus takut kadar gula darah berfluktuasi. Sama sekali tidak mengonsumsi gula atau makanan yang mengandung gula, juga tidak baik. Dia akan menderita hipoglikemia atau kekurangan kadar gula dalam darah, tegas Sri. Hipoglikemia adalah suatu keadaan di mana penderita akan mengalami gelisah dan berkeringat, gemetar, berdebar-debar, rasa semutan pada lidah dan bibir, penglihatan ganda, bingung. Bila dibiarkan berlanjut dapat terjadi kesadaran menurun dan kejang-kejang. Penderita DM lanjut usia harus menghindari terjadinya hipoglikemia karena akibatnya bisa sangat fatal. Biasanya, hipoglikemia terjadi pada sore hari, saat menjelang buka puasa. Jika hipoglikemia terjadi, sebaiknya segeralah membatalkan puasa dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang manis seperti sirup, buah kurma, kolak, dan sebagainya. Setelah itu barulah menyantap makanan lengkap. Sementara Dr Pradana Soewondo, SpPD dari Subbagian Metabolik Endokrin Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI mengatakan, pasien DM dengan komplikasi berat seperti gagal ginjal atau gagal jantung, sebaiknya tidak berpuasa. Berpuasa dapat memperberat komplikasi yang sudah terjadi, tegas Pradana. *** MENURUT Sri, sebenarnya makanan yang dikonsumsi penderita DM selama berpuasa harus sama dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari saja, namun yang perlu diperhatikan adalah pembagian porsi makanan. Sebaiknya, setelah tarawih, pasien DM makan lagi untuk menjaga kadar gulanya. Paling tidak dia bisa makan dua buah crakers, kata Sri. Penderita diabetes memiliki kemampuan tubuh yang terbatas dalam hal pengaturan metabolisme hidrat arang, maka harus diperhatikan juga proses pengaturan jumlah kalori, jadwal makan, jadwal minum obat, serta jenis-jenis makanan yang dikonsumsi secara benar dan tepat. Dalam keadaan berpuasa, melalui proses biokimia yang melibatkan sistem hormon dan syaraf, hati melakukan pelepasan cadangan glukosa (gula darah) dan membentuk glukosa baru dari sisa pembakaran dalam tubuh. Mekanisme ini memungkinkan terjadinya peningkatan kadar gula darah selama berpuasa.

Pada saat sahur, sebaiknya pasien DM mengonsumsi makanan dalam jumlah normal sarapan. Lalu pada saat berbuka, porsi dan jenis makanan bisa disamakan dengan jumlah makanan siang atau sedikit lebih banyak. Makanan berbuka ini bisa disantap langsung pada saat berbuka ataupun setelah shalat Magrib. Jangan makan langsung dalam jumlah terlalu banyak. Usus dan hormon yang telah berhenti bekerja selama 13 jam, jika tiba-tiba disuruh bekerja keras, akan menimbulkan rasa sakit, kata Sri. Sri menambahkan, puasa tidak akan menyebabkan penurunan berat badan yang menyolok, sehingga makanlah dengan wajar. Penurunannya hanya sekitar 5-10 persen berat badan, karena puasa hanya berlangsung selama satu bulan. Setelah puasa selesai, berat badan bisa kembali ke berat semula, kata Sri. *** LALU, bagaimana menentukan menu yang boleh dikonsumsi penderita DM? Baik Sri maupun Pradana menyarankan agar penderita DM berkonsultasi dulu pada dokter dan ahli gizi. Yang juga perlu diperhatikan adalah jadwal makan yang berubah, otomatis jadwal mengonsumsi obat juga berubah, kata Pradana. Perubahan jadwal makan dan mengonsumsi obat ini bisa menimbulkan hipoglikemia seperti yang di atas telah dijelaskan. Menurut Pradana, obat-obatan diabetes yang biasanya diminum pagi hari diubah menjadi waktu berbuka puasa. Sedangkan dosis sore dipindahkan pada waktu makan sahur. Untuk penderita yang gemar melakukan aktivitas olahraga, perlu memperhatikan kapan jadwal ia boleh berolahraga. Pasalnya, bisa saja olahraga malah mempengaruhi kadar gula sewaktu melaksanakan puasa sehingga alternatif waktu terbaik untuk melakukan olahraga adalah jangan dilakukan menjelang waktu berbuka, dengan asumsi bahwa kondisi gula darahnya mungkin sudah mendekati ambang di bawah 60 mg/dl. Saat yang tepat dan lebih rasional untuk berolahraga adalah seusai salat Tarawih. Jenis olahraga pun sebaiknya pilih yang ringan saja. Selain itu, sebaiknya pasien DM sering melakukan pemantauan kadar glukosa darah. Pemantauan ini bisa menghindari pasien dari ancaman hipoglikemia. Selamat berpuasa. Dari berbagai sumber

Diabetesi dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan berikut sebagai suplemen: 1. TKW = Tomat, Kacang, Wortel. 2. PJKA = Pepaya, Jeruk, Kurma, Apel. 3. BK = Brokoli, Kubis. Anda Penderita Diabetes dan Ingin Puasa? Wah, Bapak masuk rumah sakit lagi! Gula darahnya sampai 510! Begitulah bunyi sms seorang dari seorang ibu yang saya kenal dekat. Suaminya sudah sering masuk rumah sakit. Terakhir yang saya ingat, setahun yang lalu beberapa kali masuk RS pas pada saat lebaran. Mungkin terlena dengan suguhan kue-kue dan es krim yang jelas sangat menggoda! Sangat dianjurkan kepada penderita diabetes untuk meningkatkan pengetahuan tentang program makanan, merencanakan makan dan makanan sehat. Kesemuanya bertujuan untuk: 1. Membuat dan mengatur kadar gula darah mendekati normal. 2. Menurunkan gula dalam urin menjadi negatif. 3. Mencapai berat badan normal (bagi diabetesi yang gemuk) 4. Diabetesi dapat melakukan pekerjaan sehari-hari seperti biasa. Tetapi bagaimana caranya? Menyesuaikan makanan dengan kesanggupan tubuh menggunakannya. Ada 3J yang harus diingat, yaitu: JADWAL-JUMLAH-JENIS 1. Jadwal makan (3x makanan pokok + 3x selingan) 2. Jumlah kalori sesuai dengan yang ditentukan 3. Jenis makanan: yang dilarang dengan yang dibatasi. Makanan apakah yang dianjurkan? 1. Sumber karbohidrat kompleks, seperti nasi, roti, mie, singkong, kentang, ubi, dan sagu. 2. Sumber protein rendah lemak, seperti ikan, ayam tanpa kulit, susu skim, tempe, tahu, dan kacang-kacangan. 3. Sumber lemak dalam jumlah terbatas. Makanan terutama diolah dengan cara dipanggang, dikukus, disetup, direbus, dan dibakar. Makanan apakah yang dibatasi? 1. Mengandung banyak gula sederhana, seperti: a. Gula pasir, gula jawa b. Sirup, jam, jeli, buah-buahan yang diawetkan dengan gula, susu kental manis, soft drinks, dan es krim. c. Kue-kue manis, dodol, cake, dan tarcis. 2. Mengandung banyak lemak, seperti cake, makanan cepat saji, gorenggorengan. 3. Mengandung banyak natrium, seperti ikan asin, telur asin, dan makanan yang diawetkan. Para diabetisi juga dianjurkan untuk banyak makan sayuran dan buah sebagai sumber antioksidan. Buah-buahan yang baik sebagai snack: kiwi, alpukat, tomat, pisang. Batasi konsumsi alpukat buah /hari. Nah, kini saatnya menjawab pertanyaan besar di atas: Anda penderita diabetes dan ingin puasa? Boleh saja, asalkan Anda tetap menjalankan 3J. Untuk jadwal, aturlah frekuansi makan Anda sesuai jadwal berikut: Makan pagi + selingan pagi = makanan buka puasa Makan siang = makanan sesudah tarawih Selingan sore = makanan sebelum tidur malam Makan malam + selingan malam = makanan sahur Begitulah, jadi semua tetap dalam koridor demi menjaga gula darah Anda tetap stabil. Oya, saya juga punya tips! 10 Petunjuk Hidup Sehat Diabetisi: 1. Batasi gula 2. Utamakan yang tinggi lemak tak jenuh tunggal (kacang-kacangan, alpukat), cegah dislipidemia 3. Batasi makanan tingi purin (asam urat) 4. Stop merokok 5. Cegah kegemukan: IMT <25 6. Tidur min 6 jam sehari 7. Stop minum alkohol 8. Cegah konsumsi garam berlebihan 9. Olah raga teratur 10. Check up teratur terutama untuk usia >40 tahun 11.Kumur-kumur setelah makan Contoh Menu Diet Diabetes Pagi: Nasi Telur dadar isi wortel Tahu goreng Tumis kangkung Selingan Pagi:

Pisang rebus Siang: Nasi Balado ikan Pecel sayuran Lalap timun Pepaya Selingan Sore: Bihun goreng Malam: Nasi Daging ungkep Sup sayuran Lalap tomat Pisang ambon Selingan Malam: Roti tawar Makan teratur sesuai dengan jumlah dan jadwal pembagian makan yang telah ditentukan oleh dokter atau ahli gizi anda Hal Berpuasa bagi Penderita Kencing Manis Bagi seluruh umat Muslim, Bulan suci Ramadhan adalah waktu untuk menjalani ibadah berpuasa. Hal berpuasa ini adalah wajib hukumnya sesuai Rukun Islam kesatu. Bagaimanakah kewajiban ini dijalankan bagi mereka yang memiliki gangguan kesehatan, dalam hal ini adalah penderita kencing manis ? Di tahun 2003, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia Indonesia, terdapat sekitar 20 juta lebih penduduk Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan, menderita kencing manis. Jumlah yang cukup besar ini memerlukan pencegahan maupun penanganan dari berbagai tenaga kesehatan seperti dokter spesialis, dokter umum, ahli gizi pasien dan keluarga. Karena kencing manis adalah penyakit menahun dimana didapatkan kadar gula darah yang meningkat, dan dapat mempengaruhi kinerja semua sel tubuh, termasuk otak, jantung dan pembuluh darah, ginjal, saraf, dsb. Kencing manis membutuhkan pengelolaan

jangka panjang agar pasien berada dalam keadaan terkontrol, namun tidak dapat disembuhkan. Jika anda mengalami kencing manis, tapi dalam keadaan gula darah yang terkontrol, maka kencing manis bukanlah halangan untuk berpuasa. Oleh karena itu, sebelum penderita kencing manis menjalani puasa, sebaiknya mengukur kadar gula darah terlebih dahulu. Yang dimaksud dengan kadar gula darah terkontrol adalah kadar gula darah puasa kurang dari 100 mg/dl dan kadar gula darah dua jam setelah makan kurang dari 140 mg/dl. Untuk pemantauan jangka panjang, dapat pula digunakan pemeriksaan HbA1C, dimana nilai yang dianjurkan adalah di bawah 6,5%. Penderita kencing manis juga dianjurkan untuk mengikuti beberapa anjuran pola makan (diit) selama bulan Ramadhan dan waspada terhadap keadaan hipoglikemi di sore hari. Hipoglikemi adalah keadaan dimana kadar gula darah sewaktu di bawah 60 mg/dL akibat berpuasa seharian. Ditandai dengan gelisah, berkeringat, gemetar, berdebar-debar, rasa semutan pada lidah dan bibir, penglihatan ganda, dan bingung. Bila dibiarkan berlanjut dapat terjadi kesadaran menurun dan kejangkejang. Penderita DM lanjut usia harus menghindari terjadinya hipoglikemia karena akibatnya bisa sangat fatal. Jika hipoglikemia terjadi, segeralah berbuka dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang manis seperti the manis, sirup, buah-buahan, kolak, dan sebagainya. Setelah itu barulah menyantap makanan lengkap. Berikut adalah pengelompokkan penderita kencing manis dan anjurannya selama puasa: 1. Penderita kencing manis dengan kadar gula darah terkontrol dengan pengelolaan pola makan dan olahraga saja. --> tidak ada masalah untuk menjalani ibadah puasa seperti biasa. Anda dapat mengikuti porsi makan seperti biasa. Saat sahur, sebaiknya penderita kencing manis mengonsumsi makanan dalam jumlah normal sarapan. Saat untuk makan sebaiknya dilambatkan. Untuk berbuka, porsi dan jenis makanan bisa disamakan dengan jumlah makanan siang atau sedikit lebih banyak. Makanan berbuka ini bisa disantap langsung pada saat berbuka ataupun setelah shalat Magrib. Dan sebaiknya setelah tarawih, penderita kencing manis makan 1 porsi kecil lagi untuk menjaga kadar gulanya, seperti biscuit dan sebagainya. --> untuk olahraga, perlu dibuat jadwal olahraga yang baru. Saat yang tepat untuk berolahraga adalah seusai salat Tarawih, jangan dilakukan menjelang waktu berbuka. Jenis olahraga dipilih yang ringan saja. Dianjurkan untuk istirahat atau mengurangi aktivitas fisik sesudah dzuhur. 2. Penderita kencing manis yang membutuhkan pengelolaan pola makan, olahraga dan obat-obatan kencing manis (Obat Hipoglikemik Oral) untuk mengontrol kadar gula darah. --> bila Anda meminum obat kencing manis dosis satu kali per hari, maka anda dapat menjalani pola makan dan olahraga seperti di atas. Obat kencing manis diminum saat berbuka puasa, untuk mencegah hipoglikemia. Kewaspadaan terhadap hipoglikemia harus ditingkatkan pada pasien yang mendapat obat dosis

maksimal. --> bila Anda meminum obat kencing manis dalam dosis terbagi (dua-tiga kali per hari), obat dengan dosis lebih besar diminum saat berbuka dan dosis yang lebih kecil diminum saat sahur. 3. Penderita kencing manis yang membutuhkan pengaturan pola makan, olahraga dan insulin. --> anda tidak dianjurkan untuk berpuasa. Karena kadar gula darah anda sangat berfluktuasi dan kerentanan anda untuk mengalami komplikasi akut seperti hipoglikemia dan ketoasidosis diabetikum. Pada penderita kencing manis yang sudah mempunyai komplikasi, seperti gangguan ginjal dan gagal jantung, dianjurkan tidak menjalankan puasa untuk menghindari perburukan komplikasi anda. Dengan pengelompokkan tersebut, diharapkan anda dapat mengetahui kondisi kesehatan anda dan menjalankan ibadah puasa yang sesuai. Selamat berpuasa!