Anda di halaman 1dari 41

1

BAGIAN 5

Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al
Jawiy Al Indonesiy






Membongkar Aqidah Murjiah
Membuktikan Benarnya Fatwa Lajnah Daimah

(Rof'ul (Rof'ul (Rof'ul (Rof'ul Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah)
(bagian kedua/terakhir) (bagian kedua/terakhir) (bagian kedua/terakhir) (bagian kedua/terakhir)



Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rojihiy
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ali Humayyid
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Salim Ad Dausriy
-
Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy
-


2


Membongkar Aqidah Murjiah
Membuktikan Benarnya Fatwa Lajnah Daimah
Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah)
(bagian kedua/terakhir) (bagian kedua/terakhir) (bagian kedua/terakhir) (bagian kedua/terakhir)
Dengan Kata Pengantar :
Fadhilatusy Syaikh Sholih Al Fauzan
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rojihiy
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ali Humayyid
Alloh menjaga beliau semua-

Penulis:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Salim Ad Dausriy
-semoga Alloh menjaga beliau-

Penerjemah:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Jawiy
-semoga Alloh memaafkannya-

w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Membongkar Aqidah Murjiah
Membuktikan Benarnya Fatwa Lajnah Daimah
Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah) Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah)
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rojihiy
Dan Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ali Humayyid-Semoga
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Salim Ad Dausriy



3
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m


,=' -=' - --
Pengantar Penerjemah

` -+- - --=' ' _'= --=- _'= '- .- +'' ',- --= --=- -+- ` '
-- '- ,-= -'=- :
Alhamdulillah ini adalah bagian kedua (terakhir) dari terjemahan "Rof'ul
Laimah 'An Fatwal Lajnatid Daimah" insya Alloh akan semakin membuka
wawasan para pencari kebenaran tentang batilnya Ali Hasan sekalipun
berpenampilan bagus, dan membuktikan benarnya teguran ringkas para ulama
Lajnah Daimah, dan bahwasanya pandangan mereka mereka tentang kebatilan
kedua kitab Ali Halabiy itu adalah pandangan yang mendalam dan bidikan yang
tepat.
Sebagian sururiyyin berteriak-teriak membela Ali Hasan dengan
membawa-bawa nama Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin - -= . Insya Alloh akan
dijelaskan oleh sang penulis madzhab yang benar dari Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin
- -= terkait dengan masalah ini.
Selamat menyimak, barokallohu fikum.




4
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m


Al Halabiy dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 15) setelah
menukilkan ucapan Al 'allamah Hafizh Al Hakamiy dia berkata: "Maka apa
yang kita ucapkan juga yaitu terhadap ucapan Al Hakamiy-? Apakah
beliau murji atukah salafiy? Atau apa?"
Jawabnya adalah persis seperti apa yang kami sebutkan saat menjawab
soal dia tentang As Sa'diy - -=
(1)
. Dan aku akan tambahkan penjelasan pada
sang pembaca bahwasanya Al Halabiy seandainya dia membaca apa yang setelah
ucapan yang dinukilkannya dari Asy Syaikh Hafizh Al Hakamiy tentang soal-soal
dan jawabannya niscaya akan jelas bagi dia aqidah Asy Syaikh Hafizh - -=,
tentang masalah ini, dan aku tidak mengira kecuali bahwa dia itu telah
membacanya, akan tetapi !!!

Al Halabiy berkata di halaman yang sama: "Maka yang wajib adalah
berbaik sangka kepada setiap salafiy dan tidak terseret di belakang ucapan
kholafiy yang manapun atau ucapan yang tidak ilmiyyah!!"
Aku jawab semoga Alloh memaafkan aku-:
Al Halabiy - benar-benar memastikan bahwasanya dirinya itu adalah
di atas jalan salaf dalam masalah iman, karena setiap tuduhan yang diarahkan
kepadanya adalah tuduhan kepada salafiyyin dengan aqidah murjiah. Dan ini
adalah kebodohan yang bertingkat karena dirinya tidak tahu, dan dia tidak tahu
bahwasanya dirinya itu tidak tahu. Dan ini adalah jenis kebodohan yang paling
parah. Adapun ucapan dia: "dan tidak terseret di belakang ucapan kholafiy
yang manapun atau ucapan yang tidak ilmiyyah!!" maka sungguh ini adalah
tuduhan dan cercaan terhadap empat ulama yang termasuk terbaik di zaman ini
bahwasanya mereka terseret di belakang ucapan kholafiy yang manapun
atau ucapan yang tidak ilmiyyah tanpa penelitian atau pendalaman
sehingga mereka membangun fatwa ini di atas ucapan kholaf atau ucapan
yang tidak ilmiyyah, sebagaimana di dalamnya juga ada tuduhan terhadap
mereka bahwasanya mereka tidak membaca kitab itu dan tidak memeriksanya
sebagaimana yang mereka katakan. Seandainya tuduhan dosa ini muncul dari
seorang ahli bid'ah yang telah keluar, niscaya fakta akan mendustakannya, dan
orang-orang yang adil akan berdiri menantangnya. Tapi bagaimana sementara
yang mengucapkan tuduhan ini adalah orang yang menisbatkan diri kepada
salafiyyah dan mengangkat teriakannya dengan salafiyyah. Dan yang lebih besar
daripada yang terdahulu dan lebih besar bencananya adalah: bahwasanya Al
Halabiy berbicara setelah keluarnya fatwa Lajnah tersebut, dengan kalimat

(1)
Kata Abu Fairuz -= - '-= : yaitu: Al Halabiy memotong-motong ucapan Asy Syaikh Al
Hakamiy sebagaimana dia memotong-motong ucapan Asy Syaikh As Sa'diy, sesuai dengan
hawa nafsunya sehingga berubahlah maknanya. Bukan berarti kita wajib menukil seluruh
ucapan seorang ulama secara total, hanya saja jika pemotongan tadi menyebabkan
maknanya berubah, atau menjadikan para pembaca mengira bahwasanya madzhab ulama
tersebut adalah sesuai dengan madzhab si penukil yang berkhianat tadi padahal madzhab
ulama tadi sudah sesuai kebenaran seandainya ucapan ulama tadi dinukil secara cukup
lengkap- inilah yang menjadi bencana.



5
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

yang "tercuci" dan terekam dalam kaset yang luarnya berisi cercaan
terhadap Lajnah dan dalamnya berisi membikin keraguan terhadap
amanah anggota Lajnah. Dan termasuk yang datang dalam kaset tersebut
adalah jawaban dia terhadap pertanyaan yang bersifat tipu daya. Silakan simak
soal tersebut dan jawabannya dari Al Halabiy sebagaimana dalam kaset itu:
"Apakah benar bahwasanya Lajnah Daimah punya panitia dari para pembahas,
yang mengerjakan penelitian karya tulis-karya tulis dan kitab-kitab , dan
dibangun di atas penetapan panitia ini Lajnah membikin fatwa tanpa merujuk
kepada kitab yang selesai diperiksa itu?"
Maka Al Halabiy menjawab sebagai berikut:
` - -=- ,- _'= `-' `-' - --=' ...
Perkaranya tidak keluar dari salah satu dari dua gambaran:
Yang pertama: bisa jadi para masyayikh itu tidak membaca sendiri kitab-kitab
yang diinginkan untuk diteliti atau didebat atau dibantah atau ditahdzir.
Yang kedua: bisa jadi mereka mewakilkan yang demikian itu kepada panitia-
panitia peneliti yang membantu yang mempermudah untuk mereka dalam
menelaah kitab-kitab dan mentakhrij hadits-hadits serta mengeluarkan nash-
nash dari perut kitab-kitab dan yang seperti itu.
Perkaranya tidak keluar dari salah satu dari dua kondisi ini.
Aku Al Halabiy- katakan: jika kita tetapkan bahwasanya Lajnah menulis
apa yang ditulisnya dibangun di atas apa yang dibacanya sendiri tentang
tahdzirnya terhadap kedua kitabku, maka ini demi Alloh adalah musibah yang
terbesar. Kenapa? Karena sebagaimana yang kalian baca dalam "Al Ajwibatul
Mutalaimah" dan dalam "Naqdul Fatwa", dan sebagaimana akan kalian baca
dalam kitab yang ketiga "Al Hujjatul Qoimah"
(2)
aku mengatakan: tidak
didapatkan sedikitpun dari apa yang disebutkan ada di dalam kedua kitabku. Dan
seluruh apa yang disebutkan itu tidak ada. Itu tadi hanyalah dibangun di atas
pemahaman-pemahaman yang kurang bagi pembaca ucapan. Dan sebagiannya
adalah kedustaan yang benar-benar nyata tanpa ada keraguan di dalamnya. Dan
pada hakikatnya kita meninggikan Lajnah atau siapapun dari individunya untuk
sampai berbuat demikian, atau bahkan untuk mendekati yang demikian itu.
Maka tidak tersisa kecuali untuk dikatakan: bahwasanya yang demikian
itu adalah dari perbuatan sebagian pemeriksa yang bertugas membantu, dan ini
sekalipun menjadi musibah juga tetapi dia itu lebih ringan.
Maka jika demikian yang menjadi patokan pemberatan adalah para
pembantu tadi yang bisa jadi ilmunya dangkal, atau punya arahan pemikiran,
atau punya pemahaman yang kurang, atau sebab yang lain yang bisa jadi kita
bebankan pada mereka. adapun untuk kita bebankan lepada para masyayikh
maka kita bersihkan mereka dari itu dan kita jauhkan mereka dari itu."
(3)
selesai.
Aku Asy Syaikh Muhammad Ad Dausriy- jawab:

(2)
Ini termasuk tasyabbu' (mencari kenyang).
(3)
Kaset terekam dengan suara Al Halabiy dengan judul "Rihlati Ila Biladil Haromain."



6
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Mahasuci Alloh Yang Mahaagung!! Al Halabiy membersihkan para
masyasyikh dari kesalahan dalam ijtihad jika ditetapkan mereka memang telah
keliru- tapi dia menuduh mereka telah berdusta di mana mereka semoga Alloh
memberi mereka taufiq- berkata: "Setelah Lajnah mempelajari kedua kitab
tersebut dan menelaahnya" sementara Al Halabiy berkata: "mereka tidak
mempelajarinya dan tidak menelaahnya." Maka pembersihan macam apa ini?
Dan apa yang diinginkan oleh Al Halabiy di belakang ucapan ini? Apakah dia
ingin memperburuk citra Lajnah di benak-benak manusia? Ataukah dia ingin
membela dirinya? Dan bahwasanya yang berbicara tentang kedua kitabnya itu
bukanlah ulama Lajnah akan tetapi sebagian peneliti saja, dan bahwasanya ulama
Lajnah andaikata mereka membaca kedua kitab itu tentunya fatwa mereka tidak
muncul dalam bentuk tersebut.

Al Halabiy pada halaman 16 setelah menukilkan ucapan dari kitab
"At Ta'rif Wat Tanabbuah" dia berkata: "Maka di manakah demi Alloh-
tempat yang dikritik ?"
Aku jawab: sesungguhnya Lajnah hanya mengkritik dua kitab yaitu: "At
Tahdzir Min Fitnatit Takfir" dan "Shoihatu Nadzir" dan tidak mengkritik kitab "At
Ta'rif Wat Tanabbuah". Maka pertanyaan dia di sini bukanlah pada tempatnya.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 16):
"Adapun tempat yang lain yang mana Lajnah yang terhormat
menunjukkan ke situ yaitu hal. 22 dari "At Tahdzir" maka tidak ada di situ
selain penukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di "Majmu'ul Fatawa"
(20/hal. 91) yaitu ucapan beliau = -= .
Kemudian dia menyebutkan ucapan Syaikhul Islam yang lafazhnya
sebagai berikut: "Dan telah tetap dari madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah:
bahwasanya mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari ahli qiblah
(orang yang sholat ke arah Ka'bah, menisbatkan diri kepada Islam) dengan
suatu dosa, dan mereka tidak mengeluarkan dari Islam dengan suatu
amalan jika berupa perbuatan yang dilarang, seperti zina, pencurian dan
minum khomr selama tidak mengandung peninggalan keimanan. Adapun
jika mengandung peninggalan terhadap apa yang Alloh perintahkan untuk
mengimaninya semisal: keimanan kepada Alloh, malaikat-Nya, kitab-kitab-
Nya, para Rosul-Nya, Hari Berbangkit setelah kematian, maka
sesungguhnya orang ini kafir dengan sebab itu.
Demikian pula dia kafir dengan tidak yakinnya akan kewajiban
perkara-perkara lahiriyyah yang wajib dan mutawatir, dan tidak
mengharomkan perkara-perkara lahiriyyah yang diharomkan dan
mutawatir." Selesai ucapan Syaikhul Islam = -=.
Kemudian Al Halabiy setelah itu berkata: "Aku katakan: maka
perkaranya semuanya tentang area kekufuran- itu dibangun di atas
pembatalan keimanan dan tiadanya keyakinan, karena hukum-hukum di
dunia dan akhirat itu diakibatkan oleh apa yang dikerjakan oleh hati dan
diyakininya." sampai pada ucapan Al Halabiy:- "Kemudian apa makna



7
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

kalimat: "pembatalan iman" di sini? Dan itu menunjukkan pada apa?
Bukankah di bawahnya itu ada gambaran-gambaran yang bermacam-
macam dan jenis-jenis yang beragam? Atau apa?"
Jawabku adalah:
Jawaban yang pertama: Ya Alloh! Alangkah cepatnya Al Halabiy berkelit
ketika jalan-jalan menyempit terhadapnya. Oleh karena itu engkau dapati dia
sering mendatangkan ucapan-ucapan yang mengandung beberapa kemungkinan
dan kalimat-kalimat global, sehingga ketika perkaranya disingkapkan mulailah
dia berkelit seraya berkata: "Aku tidak memaksudkan begini, aku hanya
menginginkan begitu," Sebagaimana dalam masalah kita ini.
Maka wahai ahli iman, sesungguhnya yang sebelum ucapan ini dan
setelahnya itu benar-benar menunjukkan dengan penunjukan yang jelas
bahwasanya Al Halabiy menginginkan dengan penukilan ini petunjuk
bahwasanya kekufuran itu terbatas pada keyakinan. Penjelasannya adalah
sebagai berikut:
Penjelasan pertama: dia menghitamkan kalimat berikut ini dengan warna
hitam yang lebar untuk benar-benar menunjukkan dan mengingatkan
kepadanya. Yaitu ucapan: "Dan mereka itu tidak keluar dari Islam dengan
sebab suatu amalan." Dan ucapan: "Selama tidak mengandung peninggalan
terhadap iman." Dan ucapan: "Demikian pula dia kafir dengan tidak
yakinnya akan kewajiban perkara-perkara lahiriyyah yang wajib dan
mutawatir, dan tidak mengharomkan perkara-perkara lahiriyyah yang
diharomkan dan mutawatir." Dan ucapannya: "Karena hukum-hukum di
dunia dan akhirat itu diakibatkan oleh apa yang dikerjakan oleh hati dan
diyakininya."
Penjelasan kedua: bahwasanya dia berkata setelah ucapan Syaikhul Islam
yang terdahulu: "Dan di atas ini di dalam masalah kita ini para imam tafsir
dan ulamanya sepanjang zaman." Kemudian dia menyebutkan sejumlah dari
ucapan mereka yang di dalamnya ada tanshish bahwasanya penentangan dan
pembatasan kekufuran di situ dalam masalah hakimiyyah. Dan dia telah
menghitamkan dan memperbesar kalimat-kalimat yang di dalamnya ada
penyebutan "penentangan."
Maka isim isyaroh pada ucapan dia "Dan di atas ini" kembali pada ucapan
Syaikhul Islam, sehingga jadilah maknanya itu: "Bahwasanya ucapan para imam
tafsir dan ulamanya adalah merupakan ucapan Syaikhul Islam itu sendiri, dan
yang mana ucapan para umam tafsir yang disebutkan oleh Al Halabiy itu jelas
dalam pembatasan kekufuran pada "penentangan" pada masalah hakimiyyah,
karena sesungguhnya ucapan Syaikhul Islam juga demikian, di dalamnya ada
pembatasan kekufuran pada "penentangan" sebagaimana yang disangka oleh Al
Halabiy dengan menutup mata dari masalah yang para imam tafsir
membicarakannya. Dan ini jelas bagi orang yang merenungkannya.
Jawaban yang kedua: sesungguhnya ucapan Syaikhul Islam itu hanyalah
berkisar tentang dosa-dosa yang selain kesyirikan dan kekufuran. Dan ini jelas
sekali bagi orang yang merenungkannya, yang mana beliau berkata: "Dan mereka
tidak keluar dari Islam disebabkan oleh suatu amalan." Kemudian beliau



8
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

menyebutkan contoh dengan perzinaan, pencurian, dan minum khomr. Maka
inilah yang diucapkan oleh Ahlussunnah: "kami tidak mengkafirkan seorangpun
dengan suatu dosa selama dia tidak menganggapnya halal. Demikian pula kami
tidak mengeluarkan seorangpun dari Islam dengan suatu amalan yang
dikerjakannya selain kekufuran atau kesyirikan, seperti zina, pencurian, minum
khomr, dan yang lainnya, selama dia tidak menganggap halal amalan yang harom
itu."
Beliau - -= telah berkata: "Dan kami jika kami berkata: "Ahlussunnah
bersepakat bahwasanya seseorang itu tidak kafir dengan dosa" maka hanyalah
yang kami inginkan dengannya adalah maksiat-maksiat seperti zina dan minum
khomr."
(4)

Jawaban ketiga: Kemudian pembaca tidaklah jelas apa yang digambarkan
oleh Al Halabiy karena lahiriyyah perkataan pada ucapan si Halabiy: "Maka
perkaranya semuanya tentang area kekufuran- itu dibangun di atas
pembatalan keimanan dan tiadanya keyakinan, karena hukum-hukum di
dunia dan akhirat itu diakibatkan oleh apa yang dikerjakan oleh hati dan
diyakininya" itu memberitahu adanya pembatasan. Jika tidak demikian, maka
apa makna pengumpulan seluruh perkara pada suatu area, lalu dibangunnya di
atas sesuatu dengan menutup mata dari sesuatu yang menjadi pondasi
bangunan tadi- khususnya karena di akhir ucapannya memberitahukan tentang
ini, dari ucapan dia: " karena hukum-hukum di dunia dan akhirat itu
diakibatkan oleh apa yang dikerjakan oleh hati dan diyakininya."

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 17):
"Kemudian mereka menyebutkan di antara dua tanda kurung- suatu
perkataan yang dinisbatkan kepadaku yang lafazhnya: "Bahwasanya
Jengkis Khon yang menyatakan dalam Al Yasuq bahwasanya kitab itu
adalah datang dari sisi Alloh, dan bahwasanya ini adalah sebab kekafiran
mereka." kemudian mereka berkata: "Tapi ketika dirujuk ke tempat yang
disebutkan itu tidak didapatkan di dalamnya apa yang dinisbatkannya
kepada Ibnu Katsir _-'- = -= itu."
Maka aku Al Halabiy- katakan: Asal dari nash ucapanku dalam "At
Tahdzir" hal. 15 yang terkait dengan penukilan dari Ibnu Katsir itu adalah
ucapanku- yang menjelaskan asal masalah "penggantian": "Dan Al Imam
Ibnul Arobiy Al Malikiy punya perkataan lain yang di dalamnya ada
penjelasan yang bagus untuk makna "penggantian". Beliau berkata di
"Ahkamul Qur'an" (2/hal. 624): "Jika dia menghukumi dengan apa yang ada
di sisinya dengan menyatakan bahwasanya itu dari sisi Alloh, hukum dia
itu adalah penggantian untuk hukum-Nya, maka hal itu mewajibkan
kufurnya orang itu. Dan jika dia menghukumi dengan hawa nafsu dan
maksiat, maka itu adalah dosa yang bisa disusuli dengan ampunan
berdasarkan prinsip Ahlussunnah tentang ampunan untuk para pelaku
dosa."

(4)
"Majmu'ul Fatawa" (7/hal. 302).



9
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Aku Al Halabiy- katakan: Dan ini secara sempurna- adalah
madzhab Salaf. Dan Al Qurthubiy telah mencakup dalam "Al Jami'" (6/hal.
191) ucapan beliau (yaitu Ibnul Arobiy) huruf per hurufnya. Dan Al
'Allamah Asy Syinqithiy (As Salafiy) menukilkannya dengan nashnya- dari
Al Qurthubiy dalam "Adhwaul Bayan" (2/hal. 103) sambil menyetujuinya
dan mendukungnya-.
Aku katakan: dan "penggantian" ini secara dzatnya itulah yang
dilakukan oleh Jengkis Khon di dalam "Al Yasuq" sebagai pengaku-akuan,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam "Al Bidayah Wan
Nihayah" (13/hal. 118), dan keadaannya dalam yang demikian itu
Maka di manakah aku merujuk (dengan nash) hingga ditiadakan-?!
Itu tadi hanyalah ucapan yang global, tidak ada di dalamnya nash apapun!!
Bahkan di dalamnya itu hanyalah sekedar isyarat kepada penjelasan Ibnu
Katsir terhadap kondisi orang itu yaitu Jengkis Khon- dalam yang
demikian itu, tanpa aku menukilkan nash apapun sama sekali !!!
Selesai ucapan al Halabiy dengan panjangnya secara huruf per huruf, dari
bantahan dia terhadap Lajnah.
Aku Asy Syaikh Muhammad Ad Dausriy- semoga Alloh memaafkan aku,
menjawab:
Ucapan yang dinukilkan oleh Al Halabiy dari "At Tahdzir" itu hanyalah
pada cetakan yang kedua, bukan cetakan yang pertama
(5)
. Dan aku akan
menukilkan kepadaku wahai pembaca yang mulia- ucapan dia dalam kitab "At
Tahdzir" hal. 15 pada bagian catatan kaki, dari cetakan yang pertama hingga
engkau melihat perbedaannya, dan menjadi jelaslah bagimu kondisi Al Halabiy
dalam membikin-bikin dan membuat pengkaburan, dan bahwasanya dia itu
manakala telah terbongkar perkaranya, diapun mengganti dan merubah
(6)
.
Dalam "At Tahdzir" hal. 15 bagian catatan kaki pada cetakan yang pertama
setelah dia menyebutkan ucapan Ibnul 'Arobiy, Al Halabiy berkata: "Aku
katakan: "Dan penggantian inilah yang memang dilakukan oleh Jengkis
Khon dalam "Al Yasuq" sebagaimana yang diucapkan oleh Ibnu Katsir
dalam "Al Bidayah Wan Nihayah" (13/hal. 128). Beliau telah mengkafirkan
mereka karena mereka memang memaksudkan untuk menentang hukum
Alloh dengan sengaja dan membangkang, sebagaimana beliau sendiri
berkata dalam tafsir beliau (2/hal. 61)." Selesai.
Maka perhatikanlah semoga Alloh memeliharamu- perbedaan yang
sangat besar antara apa yang ada di cetakan pertama dan cetakan kedua.

(5)
Catatan Abu Fairuz semoga Alloh memaafkannya-: ini menunjukkan kejahatan Al Halabiy
dalam debat ilmiyyah, dan upaya kerasnya untuk menyembunyikan kebatilannya dari mata
umat Islam.
(6)
Catatan Abu Fairuz semoga Alloh memaafkannya-: merubah kebatilannya dan
menggantinya bukan dalam rangka rujuk kepada kebenaran dan bersyukur kepada orang
yang mengingatkannya, tapi dalam rangka menyembunyikan kebatilannya dan
mengesankan pada orang-orang bahwasanya para ulama besar Lajnah Daimah telah keliru
terhadapnya dan berdusta atas nama dia. Kita berlindung pada Alloh dari sifat
membangkang terhadap kebenaran dan kejahatan dalam perdebatan.



10
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Perbedaan yang pertama: dia menambahkan pada cetakan kedua lafazh
"pengaku-akuan", dan ini tidak ada pada cetakan pertama. Dan Al Halabiy
mengira bahwasanya lafazh ini akan membantu dirinya.
Perbedaan kedua: dia menyebutkan pada cetakan kedua ucapannya:
"sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Imam Ibnu Katsir", adapun pada
cetakan pertama dia berkata: "sebagaimana yang diucapkan oleh Al Imam
Ibnu Katsir" dan perbedaan di antara kedua ungkapan itu besar. Ucapan dia:
"sebagaimana yang diucapkan oleh Ibnu Katsir" maksudnya adalah nashnya.
Adapun ucapan dia: "sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir" maka
maksudnya adalah maknanya. Oleh karena itulah maka Al Halabiy pada cetakan
pertama memastikan bahwasanya Ibnu Katsir mengkafirkan mereka karena
memang mereka memaksudkan untuk menentang hukum Alloh dengan sengaja
dan membangkang. Sementara itu pada cetakan kedua Al Halabiy tidak
memastikan itu, yang mana dia berkata: "Dan ini menunjukkan bahwasanya
beliau = -= hanyalah mengkafirkan mereka karena mereka menentang
hukum Alloh "
Perbedaan ketiga: pada cetakan pertama, Al Halabiy merujukkan ke hal.
128 dari "Al Bidayah Wan Nihayah", tapi pada cetakan kedua dia merujukkan ke
hal. 118 dari kitab itu. Dan ini bukanlah kesalahan cetak, karena orang yang
mengetahui apa yang ada pada kedua halaman itu akan jelas baginya
bahwasanya perkara ini memang telah dikehendaki oleh si Halabiy.
Kemudian dia pada bantahannya ini tidak mengisyaratkan kepada
penggantian dan perbedaan besar di antara kedua cetakan itu. Maka ini
menunjukkan pada apa?
(7)

Perkataan Al Halabiy pada cetakan pertama itu sangat jelas bahwasanya
dia berdusta dan membikin pengelabuhan atas nama Ibnu Katsir. Lebih jelasnya
adalah sebagai berikut:
Bahwasanya dia Al Halabiy- setelah menyebutkan ucapan Ibnul 'Arobiy
yang nashnya sebagai berikut: "Jika dia menghukumi dengan apa yang ada di
sisinya dengan menyatakan bahwasanya itu dari sisi Alloh, hukum dia itu
adalah penggantian untuk hukum-Nya, maka hal itu mewajibkan kufurnya
orang itu..."
Dia berkata: "Dan "penggantian" ini secara dzatnya itulah yang dilakukan
oleh Jengkis Khon di dalam "Al Yasuq" ."
Kemudian dia Al Halabiy- berkata: "Sebagaimana yang diucapkan oleh
Ibnu Katsir dalam "Al Bidayah Wan Nihayah" ." Ucapan "sebagaimana" adalah
untuk penyerupaan. Maka Al Halabiy menyerupakan ucapan dia dengan ucapan
Ibnu Katsir, sehingga jadilah maknanya yang tidak ada makna lagi selain itu
adalah: bahwasanya Ibnu Katsir - -= berkata sebagaimana ucapan Al
Halabiy-: "Dan penggantian tersebut yaitu yang disebutkan oleh Al Halabiy dari
Ibnul 'Arobiy- secara dzatnya itulah yang dilakukan oleh Jengkis Khon di dalam
"Al Yasuq" ."

(7)
Catatan Abu Fairuz semoga Alloh memaafkannya-: ini jelas bahwasanya si Halabiy ingin
berkelit sambil membikin pengkaburan, bukan sebagai orang yang jujur mengakui
kekeliruan dan ingin memperbaiki diri dengan tawadhu'.



11
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Jika tidak demikian maka katakan padaku: Apa yang diinginkan oleh Al
Halabiy dengan ucapan dia: "Sebagaimana yang diucapkan oleh Ibnu Katsir"?
dan apa yang diucapkan beliau?
Dan inilah yang dibikin-bikin oleh Al Halabiy dan kedustaannya atas nama
Ibnu Katsir.
Adapun pengelabuhan yang dia lakukan adalah pada ucapannya: "Beliau
telah mengkafirkan mereka karena mereka memang memaksudkan untuk
menentang hukum Alloh dengan sengaja dan membangkang, sebagaimana
beliau sendiri berkata dalam tafsir beliau (2/hal. 61)."
Maka ucapan ini ditampilkan oleh Al Halabiy dalam keadaan dia berkata
tentang "Al Yasuq", kemudian dia menempelkan ucapan ini di bagian akhirnya
untuk mengesankan bahwasanya pembicaraan tersebut masih bersambung
untuk Ibnu Katsir terhadap Jengkis Khon dan "Al Yasuq". Maka marilah kita lihat
pengelabuhan Al Halabiy dan penempelan yang dia lakukan.
Ibnu Katsir - -= berkata dalam tafsir firman Alloh ta'ala:

V'

V'

- ~

Q -

-'

- Q -

--'

- Q

--

' )-

) -

- - '

- -- -

, =

Q ~-'

- Q ~-

-'

=-

; 4

'

'

; - =-

- Q

'

- -

; )

- - ~ - Q

- ' ~

- ] --'-' : 45 [
"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat)
bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan
hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada
qishoshnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishosh) nya, maka
melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak
memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu
adalah orang-orang yang zholim."
"Dan ini juga termasuk perkara yang dengannya Yahudi dicerca dan dihardik,
karena menurut mereka di dalam nash Tauroh itu jiwa dibalas dengan jiwa,
dalam keadaan mereka menyelisihi hukum Alloh secara sengaja dan
membangkang, mereka melakukan qishosh terhadap orang Bani Nadhr karena
dia membunuh orang Bani Quroizhoh, tapi mereka tidak melakukan qishosh
terhadap orang Bani Quroizhoh karena dia membunuh orang Bani Nadhr, bahkan
mereka berpaling kepada diyah (pembayaran denda) sebagaimana mereka
menyelisihi hukum Tauroh yang ternashkan di sisi mereka tentang hukum rajam
bagi pezina yang telah menikah, dan mereka berpaling kepada hasil perdamaian
mereka yang berupa pemukulan, penghitaman wajam dan pemasyhuran
pelakunya. Oleh karena itulah di sana Alloh berfirman:

' Q-

- ;

- ~

Q-

- ; -

-- ' )

; - =- ;

- ' )-

;-- '

- ,

'

'

- '- =

; -

-'- ,-

-'-!

- ,- ~- V

; ~

'

--

; ~

=- >

- - ) ~

- - ;

-' -

' -

- Q

- ;

- =- ~

- Q

>-

- '

-
,

-' -

; 4

'

'

; - =- ] --'-' : 44 [
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Tauroh di dalamnya (ada)
petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan
perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada
Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka,
disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Alloh dan
mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kalian takut



12
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar
ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir."
Karena mereka memang memaksudkan menentang hukum Alloh dengan sengaja
dan membangkang."
Selesai ucapan Ibnu Katsir.
Maka renungkanlah semoga Alloh melindungi dirimu- apakah di dalam
nash ini ada lafazh yang mengisyaratkan kepada Jengkis Khon atau Yasuq dia,
dari jarak dekat ataupun jarak jauh? Maka apakah yang dikatakan terhadap
orang yang menempelkan ucapan-ucapan para ulama dan berdusta atas nama
mereka yang mereka tidak mengucapkan perkataan itu? Dan adanya si Halabiy
merubah dan mengganti pada cetakan kedua perkara yang tidak ada di cetakan
pertama itu tidak bermanfaat baginya sedikitpun.
Maka ucapan dia: "Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Imam Ibnu
Katsir dalam "Al Bidayah Wan Nihayah"" itu tidak benar, karena Ibnu Katsir
tidak berkata dan tidak menjelaskan bahwasanya Jengkis Khon mengaku-aku
bahwasanya Al Yasuq itu datang dari sisi Alloh. Ini adalah kedustaan murni, tidak
ada di hal. 118 ataupun di hal. 128 ataupun di tempat yang lainnya. Justru beliau
- -= berkata (13/hal. 138): "Sesungguhnya Jengkis Khon itu membikinnya
dari dirinya sendiri." Dan tidak mengatakan "Dari sisi Alloh". Dan Al Halabiy
menukilkan dari Ibnu Katsir ucapan beliau: "Sebagian dari mereka telah
menyebutkan bahwasanya dia sering naik ke sebuah gunung, lalu turun berkali-
kali hingga capek dan jatuh pingsan. Dan dia memerintahkan orang yang di
sisinya untuk menulis dari apa yang terucapkan dari lidahnya ketika itu."
Dan Al Halabiy berpandangan bahwasanya ini adalah ucapan Ibnu Katsir
dengan pengaku-akuan Jengkis Khon bahwasanya Al Yasuq itu dari sisi Alloh.
Dan Al Halabiy tidak punya hujjah tentang itu, berdasarkan pembahasan berikut:
Yang pertama: tidak ada di sini isyarat kepada pengaku-akuan Jengkis
Khon dari jarak dekat ataupun jauh bahwasanya Al Yasuq itu dari sisi Alloh,
karena Ibnu Katsir - -= setelah itu berkata dan ini telah dihapus oleh Al
Halabiy-: "Jika terjadinya demikian maka yang nampak adalah bahwasanya
setan itu berbicara melalui lidahnya." Maka di manakah syarat adanya pengaku-
akuan? Dan apakah ucapan beliau - -= "Sebagian dari mereka telah
menyebutkan" adalah dalil yang teranggap untuk menetapkan syarat adanya
pengaku-akuan?
Yang kedua: sesungguhnya Ibnu Katsir berkata dalam "Al Bidayah Wan
Nihayah" hal. 139: "Maka bagaimana dengan orang yang berhukum kepada "Al
Yasuq" dan lebih mendahulukannya di atas beliau (Nabi '- ,'= - _'-)?
Barangsiapa berbuat yang demikian itu maka dia itu kafir dengan kesepakatan
muslimin."
Dan ini pengkafiran dari Ibnu Katsir bagi orang yang berhukum kepada "Al
Yasuq" sepeninggal Jengkis Khon dari kalangan orang yang mengaku-aku



13
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

beragama Islam. Dan tidak tetap dari seorangpun dari mereka bahwasanya dia
berkata: "Kita berhukum kepada Al Yasuq karena dia itu dari sisi Alloh."
(8)

Yang ketiga: Jengkis Khon itu bukan muslim sama sekali dan tidak
mengaku beragama Islam, bahkan dia itu adalah penyembah berhala,
sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir - -= dalam "Al Bidayah Wan
Nihayah" (13/hal. 139) yang mana beliau berkata tentangnya: "Dia itu musyrik
kepada Alloh, beribadah pada yang lain bersamaan dengan beribadah pada
Alloh." Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah - -= berkata dalam "Majmu'ul
Fatawa" (28/hal. 521): " raja yang kafir musyrik termasuk musyrikin yang
paling besar kekufurannya, kerusakannya, permusuhannya, termasuk dari jenis
Bukhtanshor dan yang semisalnya." Beliau juga berkata (di 28/hal. 522-523): "
si kafir musyrik itu yang menyerupai Fir'aun atau Namrud dan semisalnya.
Bahkan dia itu lebih besar kerusakannya di bumi daripada keduanya -sampai
pada ucapan beliau:- dan si kafir ini berkuasa di bumi dan menundukkan seluruh
pemeluk agama dari kalangan muslimin, Yahudi, Nashoro dan yang
menyelisihinya dari kalangan musyrikin, "
Maka apakah tergambarkan dari orang kafir musyrik ini untuk berkata
pada kaumnya yang musyrikin itu bahwasanya: "Hukum yang aku tegakkan di
antara kalian ini hanyalah syariat Alloh"? atau "Hanyalah Al Yasuq ini merupakan
wahyu dari Alloh kepadaku"? akan tetapi manakala tercampurkan pada Al
Halabiy tentang keadaan orang ini Jengkis Khon- dengan kaumnya yang masuk
ke dalam Islam setelah itu, Al Halabiy mengira bahwasanya Jengkis Khon itu
semisal mereka yaitu masuk ke dalam Islam- dan bahwasanya Ibnu Katsir itu
hanyalah mengkafirkannya karena dia mengaku-aku bahwasanya Al Yasuq itu
datang dari sisi Alloh, maka dia bermaksud menentang hukum Alloh dengan
sengaja dan penentangan...!!!
Dan yang benar yang telah lewat penetapannya adalah: bahwasanya
Jengkis Khon itu tidak masuk ke dalam Islam dan tidak mengaku-aku
bahwasanya dirinya itu muslim. Hanyalah yang masuk Islam itu adalah kaumnya
yang datang setelah dia. Maka berdasarkan ini, Al Halabiy tidak punya hujjah
terhadap apa yang disebutkannya. Wallohu a'lam.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 18): "Dan
bukanlah persangkaannya ini -bahwasanya dia itu diberi wahyu- sebagai
pengaku-akuan sebagai nabi dan kedustaan bahwasanya Yasuq itu adalah
wahyu dari sisi Alloh."
Aku jawab semoga Alloh memaafkanku-:
Ini adalah pemahamanmu, dan setiap orang memahami sesuai dengan
kadar akal dan ilmunya. Adapun bahwasanya ini adalah pemahaman Ibnu Katsir,
maka tidak demikian. Dan bukanlah suatu kekurangan jika seseorang itu
memahami sesuatu kemudian dia mengatakan: "Inilah pemahamanku." Akan
tetapi kekurangan yang besar sekali lebih-lebih lagi untuk masuk kepada

(8)
Lihat pembahasan ini dalam kitab "Haqiqotul Khilaf Bainas Salafiyyah Asy Syar'iyyah Wa
Ad'iyaiha Fi Masailil Iman" karya Asy Syaikh Doktor Muhammad Abu Ruhayyim" . semoga
Alloh memberinya taufiq. Sungguh beliau telah berbuat bagus dan memberikan faidah.



14
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

keharoman- adalah jika dia membikin-bikin atas nama orang lain berdusta atas
nama dia perkara yang tidak diucapkan orang itu.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 18-19):
"Apa yang disebutkan oleh Lajnah bahwasanya hukum yang diganti itu
bukanlah kekufuran menurut Syaikhul Islam kecuali jika didasari oleh
pengetahuan, keyakinan dan penghalalan, ini dinisbatkan oleh Lajnah
kepada kitab "At Tahdzir" hal. 17-18, dan dengan yang berikutnya maka
dia itu berdasarkan ini- sebagaimana yang mereka sebutkan: "adalah
madzhab murjiah."!!
Maka aku Al Halabiy- katakan: nash yang aku nukilkan dari
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan hurufnya adalah sebagai berikut:
"Dan tiada keraguan bahwasanya barangsiapa tidak berkeyakinan akan
wajibnya berhukum dengan apa yang diturunkan kepada Rosul-Nya maka
dia itu kafir. Maka barangsiapa menghalalkan untuk menghukumi di
antara manusia dengan apa yang dipandang oleh dirinya sebagai suatu
keadilan tanpa mau mengikuti apa yang Alloh turunkan maka dia itu
adalah kafir"
Kemudian setelah mengucapkan suatu ucapan beliau berkata: "
maka sesungguhnya kebanyakan dari manusia itu masuk islam tapi
mereka bersamaan dengan itu tidak menghukumi kecuali dengan adat-
adat yang berlangsung yang diperintahkan dengannya oleh orang-orang
yang ditaati. Maka mereka itu jika tahu bahwasanya tidak boleh bagi
mereka untuk berhukum kecuali dengan pada yang Alloh turunkan, tapi
mereka tidak mau komitmen dengan itu, bahkan mereka menghalalkan
untuk menghukumi dengan yang menyelisihi apa yang Alloh turunkan,
maka mereka itu kafir, "
Kemudian aku komentari dengan perkataanku: "Dan ucapan beliau
= -= itu jelas dan terang bahwasanya beliau membangun hukum di atas
pengetahuan dan keyakinan atau pengetahuan dan penghalalan, dan
bahwasanya tidak adanya yang demikian itu dengan kedua syaratnya itu
tidak mengharuskan kafirnya orang itu, dan hanyalah pelakunya itu bodoh
bukan kafir"
Maka manakala sebagian orang melihat yang demikian itu, semisal
pemikir harokiy Muhammad Quthb dalam kitabnya "Waqi'inal Mu'ashir"
hal. 133 dan sebagian muridnya !!, merekapun menghapus dari penukilan
ucapan yang menjelaskannya dan menerangkannya!!
Yaitu ucapan beliau = -= pada akhirnya: "Dan jika tidak demikian
maka mereka itu adalah orang-orang bodoh sebagaimana orang yang telah
terdahulu urusan mereka." maka apa yang akan kita katakan? Dan lihatlah
"Shoihatu Nadzir" (hal. 95-109) untuk tambahan.
Aku Al Halabiy- katakan: ini ucapanku. Dan ini komentarku. Maka di
manakah aku mengada-ada? Bahkan di manakah madzhab murjiah? Dan di
manakah perkataan mereka?"
Selesai penukilan ucapan Al Halabiy.



15
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Aku jawab semoga Alloh memaafkanku-:
Yang dipahami oleh Al Halabiy dari Syaikhul Islam yang disebutkannya-
adalah pemahaman yang salah dan berbicara atas nama Syaikhul Islam tentang
apa yang tidak beliau ucapkan dan tidak beliau inginkan. Penjelasannya adalah
sebagai berikut:
Yang pertama: agar diketahui bahwasanya Syaikhul Islam itu memakai
lafazh istihlal (penghalalan) dan beliau memaksudkan dengannya:
Terkadang keyakinan akan halalnya perkara yang diharomkan, dan
terkadang beliau memaksudkan dengannya adalah: ketidakmauan untuk setia
pada pengharomannya, sekalipun orang itu berkayakinan akan haromnya
perkara tersebut, yang mana Syaikhul Islam - -= berkata dalam "Ash Shorimul
Maslul" hal. 522: "Dan penjelasan masalah ini adalah bahwasanya barangsiapa
mengerjakan perkara-perkara yang diharomkan dalam keadaan dia
menghalalkannya maka dia itu kafir dengan kesepakatan ulama, karena
tidaklah beriman pada Al Qur'an orang yang menghalalkan perkara-perkara yang
diharomkan. Dan demikian pula jika dia menghalalkannya tanpa
mengerjakannya. Dan penghalalan adalah keyakinan bahwasanya Alloh tidak
mengharomkannya, dan terkadang dengan tidak meyakini bahwasanya Alloh
mengharomkannya. Dan ini terjadi karena adanya kecacatan dalam keimanan
kepada Rububiyyah, dan cacat dalam keimanan kepada risalah, dan menjadi
penentangan yang murni tanpa dibangun di atas suatu pendahuluan. Dan
terkadang dia tahu bahwasanya mengharomkannya, dan dia tahu bahwasanya
Rosul hanyalah mengharomkan apa yang Alloh haromkan, kemudian dia tidak
mau komitmen dengan pengharoman ini, dan dia membangkang pada
orang yang mengharomkan. Maka ini lebih kafir daripada orang yang
sebelumnya
(9)
. Dan bisa jadi ini disertai dengan ilmunya bahwasanya
barangsiapa tidak komitmen dengan pengharoman ini Alloh akan
menghukumnya dan menyiksanya. Kemudian sesungguhnya ketidakmauan dia
itu dan keengganannya itu bisa jadi karena cacat dalam aqidahnya akan hikmah
dan kemampuan Dzat Yang memerintahkan, maka ini kembali kepada tiadanya
pembenaran kepada suatu sifat dari sifat-sifat Alloh. Dan bisa jadi disertai ilmu
tentang perkara yang benar dengannya dalam rangka menentang dan melampaui
batas atau mengikuti demi hasrat jiwanya. Dan hakikatnya adalah kekufuran, -
sampai pada ucapan beliau - -= maka ini (yaitu:- ketidakmauan untuk
komitmen pada pengharoman) adalah jenis lain bukan jenis yang pertama (yaitu:
keyakinan akan halalnya perkara yang harom). Dan pengkafiran orang yang ini
telah diketahui secara pasti dari agama Islam. Dan Al Qur'an penuh dengan
pengkafiran orang jenis ini, bahkan hukumannya lebih keras."
Selesai ucapan beliau - -=.
Maka ucapan beliau - -=: "Dan terkadang dia tahu bahwasanya
mengharomkannya, dan dia tahu bahwasanya Rosul hanyalah mengharomkan

(9)
Komentar Abu Fairuz semoga Alloh memaafkannya-: berbeda dengan orang yang
melanggar larangan dengan mengakui bahwasanya dirinya itu bersalah, dan tidak
menyombongkan diri. Hanya saja syahwatnya masih mengalahkan dirinya. Maka yang
demikian ini tidaklah dikafirkan, hanya saja difasiqkan. Wallohu a'lam.



16
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

apa yang Alloh haromkan, kemudian dia tidak mau komitmen dengan
pengharoman ini, dan dia membangkang pada orang yang mengharomkan. Maka
ini lebih kafir daripada orang yang sebelumnya" sampai akhir ucapan beliau
- -= menunjukkan dengan penunjukan yang pasti bahwasanya ini yaitu:
ketidakmauan untuk komitmen dengan pengharoman- adalah termasuk
dari makna-makna penghalalan menurut Syaikhul Islam.
Maka menjadikan penghalalan pada ucapan Syaikhul Islam dipalingkan
dengan pemutlakan pada keyakinan halalnya perkara yang harom saja
merupakan pembatasan tanpa dalil. Dan maksud Syaikhul Islam diketahui
dengan penghalalan itu adalah melalui alur ucapan beliau. Jika engkau
mengetahui ini, maka hilanglah darimu kerumitan besar dalam memahami
ucapan Syaikhul Islam - -= pada bab ini dan pada bab yang lainnya insya
Alloh.
Yang kedua: bahwasanya keyakinan akan halalnya perkara yang harom itu
meniadakan pembenaran yang mana itu adalah ucapan hati. Adapun
ketidakmauan untuk komitmen dengan pengharoman maka itu meniadakan
penerimaan dan ketundukan yang mana itu merupakan amalan hati.
Yang ketiga: bahwasanya engkau jika menempatkan ucapan Syaikhul
Islam yang terdahulu tentang makna-makna penghalalan- kepada ucapan beliau
yang disebutkan oleh Al Halabiy, menjadi jelaslah bagimu bahwasanya dia telah
keliru dalam memahami ucapan Syaikhul Islam. Yang demikian itu dikarenakan
ucapannya itu - -= bukan di atas satu gambaran saja dari gambaran-gambaran
berhukum dengan selain apa yang Alloh turunkan dan sikap orang-orang
terhadap berhukum dengan apa yang Alloh turunkan. Penjelasannya adalah
sebagai berikut:
Penjelasan pertama: Syaikhul Islam - -= berkata: "Barangsiapa tidak
berkeyakinan tentang wajibnya berhukum dengan apa yang Alloh turunkan
kepada Rosul-Nya maka dia itu kafir."
Dipahami dari ini bahwasanya barangsiapa berkeyakinan bahwa
berhukum dengan apa yang Alloh turunkan kepada Rosul-Nya itu tidak wajib
maka dia itu kafir, sekalipun dia tidak menghukumi dengan selain dari apa yang
Alloh turunkan. Sampai bahkan sekalipun dia menghukumi dengan apa yang
Alloh turunkan. Dan sisi kekufurannya adalah: bahwasanya dia tidak
membenarkan nash-nash yang menunjukkan tentang wajibnya berhukum
dengan apa yang Alloh turunkan. Dan jika pembenaran itu hilang, maka
keimanan juga hilang.
Contohnya adalah: seorang hakim menghukumi dengan apa yang Alloh
turunkan, akan tetapi dia berpandangan bahwasanya menghukumi dengan apa
yang Alloh turunkan itu tidak wajib. Maka orang ini kafir secara ijma'. Maka ini
adalah gambaran yang berbeda dengan gambaran yang setelahnya, yaitu:
Penjelasan kedua: ucapan Syaikhul Islam - -=: "Maka sesungguhnya
kebanyakan dari manusia itu masuk islam tapi mereka bersamaan dengan itu
tidak menghukumi kecuali dengan adat-adat yang berlangsung yang
diperintahkan dengannya oleh orang-orang yang ditaati. Maka mereka itu jika
tahu bahwasanya tidak boleh bagi mereka untuk berhukum kecuali dengan pada



17
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

yang Alloh turunkan, tapi mereka tidak mau komitmen dengan itu, bahkan
mereka menghalalkan untuk menghukumi dengan yang menyelisihi apa yang
Alloh turunkan, maka mereka itu kafir. Jika tidak demikian maka mereka itu
orang-orang bodoh."
Maka orang-orang yang masuk islam tapi menghukumi dengan adat-adat
yang berlangsung yang diperintahkan dengannya oleh orang-orang yang ditaati,
mereka itu punya dua keadaan:
Keadaan pertama: mereka mengetahui bahwasanya tidak boleh bagi
mereka untuk berhukum kecuali dengan pada yang Alloh turunkan, tapi mereka
tidak mau komitmen dengan itu, maka mereka itu orang-orang kafir, dan bukan
orang-orang bodoh.
Keadaan kedua: mereka tidak mengetahui bahwasanya tidak boleh bagi
mereka untuk berhukum kecuali dengan pada yang Alloh turunkan, maka
mereka tidak mau komitmen dengan itu, bahkan mereka tetap tinggal di atas
hukum dengan adat-adat yang berlangsung yang diperintahkan dengannya oleh
orang-orang yang ditaati, mereka itu orang-orang bodoh dan tidak dikafirkan
sampai mereka mengetahui bahwasanya tidak boleh bagi mereka untuk
berhukum kecuali dengan apa yang Alloh turunkan, kemudian mereka tetap
tidak komitmen dengan ini. Inilah makna ucapan Syaikhul Islam.
Dan ucapan beliau: "Bahkan mereka menghalalkan untuk menghukumi
dengan yang menyelisihi apa yang Alloh turunkan, maka mereka itu kafir."
Maka penghalalan di sini maknanya adalah: tidak mau komitmen.
Berdasarkan ucapan beliau - -= sebelumnya: "Maka mereka itu jika tahu
bahwasanya tidak boleh bagi mereka untuk berhukum kecuali dengan apa yang
Alloh turunkan, tapi mereka tidak mau komitmen dengan itu yaitu tidak mau
komitmen dengan apa yang Alloh turunkan bahkan mereka tetap tinggal di atas
hukum dengan adat-adat yang berlangsung yang diperintahkan dengannya oleh
orang-orang yang ditaati." Dan ketidakmauan untuk komitmen itu
meniadakan amalan hati yang berupa penerimaan dan ketundukan hati.
Dan ini adalah sisi kufurnya mereka, berbeda dengan gambaran yang
sebelumnya. Akan tetapi manakala Al Halabiy tidak berpendapat adanya
kekufuran kecuali dengan penentangan dan pendustaan saja bukan dengan
hilangnya amalan hati- dia mengira bahwasanya bab dalam kedua perkara itu
tadi adalah satu. Maka dia keliru dalam memahami ucapan Syaikhul Islam.
Wallohu a'lam.

Al Halabiy berkata pada hal. 21: "Dan aku telah menukilkan pada "At
Tahdzir" (hal. 11-12) itu sendiri dari Al Imam Ibnul Qoyyim tentang
penggambaran beliau tentang masalah berhukum dengan selain yang Alloh
turunkan: bahwasanya itu secara pasti adalah termasuk dari kekufuran
amal. Maka bagaimana kekufuran orang yang melakukannya itu menjadi
kekufuran yang hakiki?" selesai.
Aku menjawab semoga Alloh memaafkan aku-:
Yang pertama: Sesungguhnya Al Halabiy tidak memandang kufur amaliy
itu kecuali kekufuran yang kecil, dan tidak menjadi kekufuran yang besar. Dan ini



18
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

adalah jelas dari ucapan dia, karena Ibnul Qoyyim ketika menjadikan berhukum
dengan selain yang Alloh turunkan sebagai kekufuran amalan dan kekufuran
amalan itu menurut Al Halabiy tidak mengeluarkan dari agama- menjadikan dia
bertanya: bagaimana kekufuran orang yang melakukannya itu menjadi
kekufuran yang hakiki?
Dan dalam ucapan ini ada dalil yang jelas bahwasanya Al Halabiy tidak
memandang sedikitpun ada dari amalan yang dengan itu seseorang
menjadi kafir, kecuali perkara yang mengharuskan timbulnya pendustaan
dan penentangan.
Yang kedua: sesungguhnya Al Halabiy telah keliru dalam memahami
ucapan Ibnul Qoyyim - -=, bahkan dia telah memotongnya lalu mengambil
darinya apa yang mencocoki hawa nafsunya dan madzhabnya, dan meninggalkan
ucapan yang menyelisihinya. Dan saya akan memaparkan kepadamu ucapan
Ibnul Qoyyim - -= secara sempurna tanpa pemotongan:
Ibnul Qoyyim - -= berkata: "Dan di sini ada dasar yang lain, yaitu
bahwasanya sesungguhnya kekufuran itu ada dua macam: kufur amal, dan kufur
penentangan dan pembangkangan. Dan dia itu yaitu kufur penentangan-:
seseorang mengingkari dengan menentang dan membangkang-perkara yang
telah diketahuinya bahwasanya Rosululloh '- ,'= - _'- membawanya dari sisi
Alloh, yang berupa nama-nama Robb, sifat-sifat-Nya, perbuatan-Nya dan hukum-
hukum-Nya. Dan ini adalah kekufuran yang menentang keimanan dari segala sisi.
Adapun kekufuran amalan itu terbagi menjadi amalan yang menentang
keimanan, dan amalan yang tidak menentang keimanan. Maka sujud kepada
patung, menghina mushaf, membunuh Nabi dan mencaci beliau adalah
menentang keimanan. Adapun berhukum dengan selain yang Alloh turunkan dan
meninggalkan sholat maka itu secara pasti adalah termasuk dari kekufuran
amalan, dan tidak mungkin dihilangkan darinya nama kekufuran setelah Alloh
dan Rosul-Nya menamainya dengan itu. Maka orang yang berhukum dengan
selain yang Alloh turunkan adalah kafir. Orang yang meninggalkan sholat adalah
kafir, dengan nash dari Rosululloh ,'= - _'- '- , akan tetapi dia itu adalah
kufur amalan bukan kufur keyakinan. Dan tidak mungkin Alloh Yang Mahasuci
dan Mahatinggi menamakan orang yang berhukum dengan selain yang Alloh
turunkan sebagai kafir, dan Rosululloh '- ,'= - _'- menamakan orang yang
meninggalkan sholat adalah kafir tapi tidak dilontarkan untuk keduanya nama
kekufuran, dst." (kitab "Ash Sholah" hal. 51-52).
Maka perhatikanlah semoga Alloh memeliharamu- bagaimana Ibnul
Qoyyim menjadikan kufur amalan terbagi menjadi dua: yang menentang
keimanan dan yang tidak menentang keimanan. Dan ini telah dihapus oleh Al
Halabiy. Maka darimana Al Halabiy mendapatkan bahwasanya Ibnul Qoyyim
menginginkan dengan ucapan beliau yang terdahulu bahwasanya berhukum
dengan selain yang Alloh turunkan dan meninggalkan sholat adalah kufur amalan
yang tidak menentang keimanan? Khususnya adalah jika engkau mengetahui
bahwasanya Ibnul Qoyyim = -= dalam kitabnya ini "Ash Sholah Wa
Hukmu Tarikiha" menguatkan pendapat bahwasanya orang yang
meninggalkan sholat itu kafir dengan kekufuran yang besar yang



19
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

mengeluarkan dari agama. Akan tetapi sebagaimana yang aku sebutkan
padamu terdahulu bahwasanya Al Halabiy tidak memandang kufur amaliy
kecuali sebagai kufur yang kecil, dan tidak berpandangan kufur besar kecuali
dengan penentangan dan pendustaan. Dan dia ingin membawa ucapan ulama
kepada apa yang sejalan dengan madzhab dia.

Kemudian Al Halabiy menukilkan dari Ibnul Qoyyim ucapan beliau:
"Dan perincian ini adalah dari ucapan para shohabat yang mereka itu
adalah orang yang paling tahu tentang Kitabulloh dan tentang Islam,
kekufuran, dan konsekuensi dari keduanya, maka masalah-masalah itu
tidak diambil kecuali dari mereka, karena generasi belakangan tidak
memahami apa yang mereka maukan, " dari "At Tahdzir" hal. 12
Aku jawab semoga Alloh memaafkanku-:
Maka siapakah yang tidak memahami apa yang dimaukan para shohabat?

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 25): "Yang
keenam: dakwaan Lajnah yang terhormat bahwasanya aku
menyelewengkan apa yang dimaukan oleh Samahatul 'Allamah Asy Syaikh
Muhammad bin Ibrohim = -= dalam risalah beliau "Tahkimul Qowanin"
mereka semoga Alloh meluruskan mereka- mengisyaratkan bahwasanya
aku menyatakan bahwasanya Asy Syaikh mensyaratkan adanya
penghalalan dalam hati!!
Maka aku Al Halabiy- katakan: aku telah berbicara dalam "At
Tahdzir" (hal. 25-28) terhadap risalah Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim
= -= dan aku menukilkan darinya dari risalah itu sejumlah penukilan,
dan aku mengomentarinya dengan sejumlah komentar. Dan tidak ada
sedikitpun darinya secara mutlak kalimat "adanya penghalalan dalam hati"
!!
Aku jawab semoga Alloh memaafkanku-:
Yang menunjukkan benarnya apa yang disebutkan oleh Lajnah adalah
sebagai berikut:
Yang pertama: bahwasanya Al Halabiy semoga Alloh menunjukinya-
menyebutkan ujung dari risalah Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim - -=
"Tahkimul Qowanin" yaitu ucapan beliau - -=: "Dan apa yang datang dari Ibnu
'Abbas pada tafsir ayat ini:
' )-

;-- '

- ,

'

'

- '- =

; -

-'- ,-

' Q-

- ;

- ~

Q-

- ; -

-- ' )

; - =- ;

-'-!

- ,- ~- V

; ~

'

--

; ~

=- >

- - ) ~

- - ;

-' -

' -

- Q

- ;

- =- ~

- Q

>-

- '

-
,

-' -

; 4

'

'

; - =- ] --'-' : 44 [
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Tauroh di dalamnya (ada)
petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan
perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada
Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka,
disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Alloh dan
mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kalian takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar



20
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir."
Dari Thowus dan yang lainnya menunjukkan bahwasanya orang yang
berhukum dengan selain yang Alloh turunkan itu kafir, bisa jadi sebagai
kekufuran aqidah yang memindahkan orang itu dari agama ini, dan bisa jadi
sebagai kufur amalan yang tidak mengeluarkan dari agama ini.
Kemudian dia memulai menunjukkan dengan apa yang dinukilkannya dari
Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim di tempat-tempat yang terpencar-pencar
bahwasanya beliau - -= mensyaratkan adanya keyakinan untuk bisa
dikafirkannya hakim yang menghakimi dengan selain yang Alloh turunkan. Yaitu:
bahkwasanya si hakim tidak kafir sampai dia meyakini halalnya perkara tadi dan
bolehnya berhukum dengannya
(10)
.
Maka orang yang membaca ucapan Al Halabiy akan mengira bahwasanya
Asy Syaikh Ibnu Ibrohim dalam risalah beliau "Tahkimul Qowanin"
mensyaratkan kufur hakim yang menghukumi dengan undang-undang
bahwasanya dia meyakini shohihnya undang-undang tadi dan bolehnya
berhukum dengannya. Adapun jika dia menghukumi dengan undang-undang tadi
tanpa keyakinan yang demikian itu, maka sungguh dia tidak kufur.
Al Halabiy -semoga Alloh memberinya petunjuk- tidak
menyempurnakan penukilan karena di dalamnya ada perincian yang akan
datang penjelasannya, untuk membikin salah duga bahwasanya ini adalah yang
dimaukan Asy Syaikh dari ucapan beliau dalam risalah beliau "Tahkimul
Qowanin": "Bisa jadi berupa kekufuran secara keyakinan yang memindahkan
dari agama, dan bisa jadi berupa kekufuran secara amalan yang tidak
memindahkan dari agama. Silakan engkau baca ucapan Asy Syaikh Muhammad
bin Ibrohim secara sempurna tanpa pemotongan:
Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim - -= berkata: " dan apa yang
datang dari Ibnu Abbas - - '-+-= dalam tafsir ayat ini dari riwayat Thowus
dan yang selainnya menunjukkan bahwasanya orang yang berhukum dengan
selain yang Alloh turunkan itu kafir, bisa jadi sebagai kekufuran aqidah yang
memindahkan orang itu dari agama ini, dan bisa jadi sebagai kufur amalan yang
tidak mengeluarkan dari agama ini. Adapun yang pertama, dan dia itu adalah
kufur keyakinan, dan dia itu ada beberapa macam:
Yang pertama: orang yang berhukum dengan selain yang Alloh turunkan
itu menentang lebih berhaknya hukum Alloh dan Rosul-Nya, dst.
Yang kedua: orang yang berhukum dengan selain yang Alloh turunkan itu
tidak menentang bahwasanya hukum Alloh dan Rosul-Nya itu benar, akan tetapi
dia berkeyakinan bahwasanya hukum selain Rosul '- ,'= - _'- itu lebih baik,
lebih sempurna dan lebih lengkap, dst.

(10)
Dan inilah yang dimaksudkan oleh Lajnah dengan ucapan mereka: "Jika si penulis kitab
tersebut menyatakan bahwasanya Asy Syaikh mensyaratkan penghalalan hati." Maka
janganlah terpedaya dengan ucapan Al Halabiy: Dan tidak ada sedikitpun darinya yaitu
nukilan-nukilan dan komentar-komentar- secara mutlak adanya kalimat " penghalalan
dalam hati"



21
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Yang ketiga: dia tidak berkeyakinan bahwasanya hukum tadi lebih baik
daripada hukum Alloh dan Rosul-Nya akan tetapi dia berkeyakinan bahwasanya
dia itu setara dst.
Yang keempat: dia tidak berkeyakinan bahwasanya hukum orang yang
berhukum dengan selain yang Alloh turunkan itu semisal dengan hukum Alloh
dan Rosul-Nya, lebih-lebih untuk berkeyakinan bahwasanya dia itu lebih baik
darinya, akan tetapi dia berkeyakinan tentang bolehnya berhukum dengan apa
yang menyelisihi hukum Alloh dan Rosul-Nya, dst.
Yang kelima: dan ini adalah yang terbesar, yang paling luas cakupannya,
yang paling jelas pembangkangannya terhadap syariat dan paling terang
penentangannya terhadap jelasnya hukum Alloh dan permusuhannya kepada
Alloh dan Rosul-Nya dan penyerupaan dengan kehakiman syar'iyyah, secara
persiapan, bantuan, penantian, pembentukan dasar dan cabang, dan
pembentukan karakter dan penganekaragaman, dan hukuman serta
pengharusan, sebagai rujukan dan sandaran. Maka sebagaimana kehakiman
syar'iyyah itu punya rujukan dan dukungan rujukannya sesemuanya kepada
Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya '- ,'= - _'- , maka kehakiman yang itu juga
punya rujukan dari Undang-undang yang berasal dari gabungan dari syariat-
syariat yang beraneka ragam dan undang-undang yang banyak, seperti undang-
undang Perancis, Undang-undang Amerika, Undang-undang Inggris, dan undang-
undang yang lain, dan dari madzhab-madzhab sebagian ahli bid'ah yang
menisbatkan diri kepada syariat dan yang lainnya.
Maka kehakiman-kehakiman ini di banyak kota-kota Islam telah
dipersiapkan dan disempurnakan, pintu-pintunya terbuka, orang-orang secara
berduyun-duyun pergi ke situ, para hakimnya menghukumi di antara mereka
dengan hukum yang menyelisihi As Sunnah dan Al Kitab, yang berupa hukum-
hukum dari undang-undang tadi, dan undang-undang itu mengharuskan mereka
untuk mengikutinya, dan menuntut mereka untuk menyetujuinya, dan
mewajibkan mereka untuk menjalankannya. Maka kekufuran apa yang melebihi
kekufuran ini? Dan penentangan terhadap persaksian bahwasanya Muhammad
adalah utusan Alloh yang manakah yang ada setelah penentangan ini,
-Sampai pada ucapan beliau - -=:- dan ketundukan manusia dan
kepatuhan mereka kepada hukum Robb mereka merupakan ketundukan kepada
hukum Dzat Yang menciptakan mereka, Yang Mahatinggi, agar mereka beribadah
pada-Nya. Maka sebagaimana makhluk tidak boleh sujud kecuali kepada Alloh,
dan mereka tidak beribadah kecuali kepada-Nya, dan mereka tidak beribadah
kepada makhluk, maka demikian pula wajib untuk mereka tidak patuh dan tidak
tunduk atau taat kecuali kepada hukum Al Hakim Al Alim Al Hamid, Ar Roufur
Rohim, bukan kepada hukum makhluk yang sangat zholim dan sangat bodoh,
yang dibinasakan oleh keraguan, syahwat dan syubuhat, dan berkuasa pada hati-
hati mereka kelalaian, kekakuan dan kegelapan.
Maka wajib bagi orang-orang yang berakal untuk meninggikan diri mereka
sendiri dari itu tadi, karena di dalam perbuatan itu ada perbudakan terhadap
mereka, dan pemaksaan terhadap diri mereka dengan hawa nafsu, hasrat,



22
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

kekeliruan dan kesalahan, lebih-lebih keadaannya sebagai kekufuran dengan
nash dari firman Alloh Yang Mahasuci dan Mahatinggi:
,

-' -

; 4

'

'

; - =-

- Q

] --'-' : 44 .[
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."
Yang keenam: hukum yang dengannya kebanyakan pimpinan keluarga dan
kabilah dari orang-orang badui dan sebagainya, yang berupa kisah-kisah ayah-
ayah mereka dan kakek-kakek mereka serta adat kebiasaan mereka yang mereka
namakan sebagai "Salumuhum" , mereka saling mewariskan dengannya, mereka
menghukumi dengan itu dan mendorong untuk saling berhukum kepada itu
ketika terjadi percekcokan, dalam rangka tetap tinggal di atas hukum-hukum
jahiliyyah, dan berpaling dan membenci hukum Alloh dan Rosul-Nya. Maka tiada
upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.
Adapun jenis kedua dari dua jenis kekufuran orang yang menghukumi
dengan selain apa yang Alloh turunkan, yaitu yang tidak mengeluarkan dari
agama:
Telah lewat tafsir Ibnu Abbas '-+-= - - berdasarkan firman Alloh Yang
Mahasuci dan Mahatinggi:
,

-' -

; 4

'

'

; - =-

- Q

] --'-' : 44 .[
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."
telah mencakup jenis ini, dan yang demikian pada ucapan beliau '-+-= - -
terhadap ayat itu: "Kekufuran yang di bawah kekufuran," dan ucapan beliau juga:
"Bukanlah itu kekufuran yang kalian maksudkan."
Dan yang demikian itu adalah di mana syahwat dan hawa nafsunya
membawanya untuk menghukumi kasus tersebut dengan yang tidak diturunkan
oleh Alloh, bersamaan dengan keyakinannya bahwasanya hukum Alloh dan
Rosul-Nya itulah yang benar, dan dia mengakui hawa dirinya itu di atas
kekeliruan dan berseberangan dengan petunjuk. Dan ini sekalipun kekufurannya
tidak mengeluarkannya dari agama ini, maka sungguh kedurhakaannya itu
sangat besar, lebih besar daripada dosa besar semacam zina, minum khomr,
mencuri, sumpah yang mengandung dosa, dan yang lainnya, karena
sesungguhnya kemaksiatan yang dinamakan oleh Alloh dalam kitab-Nya sebagai
kekufuran, maka itu lebih besar daripada kemaksiatan yang tidak Alloh namakan
sebagai kekufuran."
Selesai penukilan.
Maka Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim - -= berdasar apa yang
dinukilkan, beliau menjadikan hukum dengan undang-undang Perancis, Amerika,
Inggris dan yang lainnya itu termasuk kekufuran keyakinan yang terbesar
(11)
,

(11)
Dan yang dimaukan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim dengan kufur i'tiqodiy itu
lebih luas daripada apa yang diduga oleh Al Halabiy yang membatasi kekufuran pada



23
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

yang memindahkan orang dari agama ini dan yang paling luas cakupannya, yang
paling jelas pembangkangannya terhadap syariat dan paling terang
penentangannya terhadap jelasnya hukum Alloh dan permusuhannya kepada
Alloh dan Rosul-Nya
Dan beliau menjadikan kufur amaliy yang tidak mengeluarkan dari agama
ini adalah jika dia itu menjadi hukum dalam suatu kasus tertentu tanpa
membikin undang-undang
(12)
- sambil dia meyakini bahwasanya hukum Alloh dan
Rosul-Nya itulah yang benar, dan dia mengakui bahwasanya dirinya itu salah dan
menjauh dari petunjuk.
(13)


penentangan dan pendustaan, karena istilah i'tiqod (keyakinan) itu diberikan pada apa yang
ada di dalam hati, baik berupa ucapan atau amalan (ucapan hati yang berupa pembenaran,
dan amalan hati yang berupa pengikutan dan penerimaan). Maka berhukum pada undang-
undang bikinan manusia itu, dan memposisikannya pada posisi syariat Alloh itu meniadakan
pengikutan hati dan penerimaan hati, tanpa kita melihat apakah orang yang menghukumi
dengan undang-undang itu berkeyakinan bahwasanya undang-undang itu lebih utama
daripada syariat, ataukah syariat itu yang lebih utama daripada undang-undang. Dan yang
menunjukkan bahwasanya maksud dari Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim adalah ini,
sebagai berikut:
Yang pertama: beliau menjelaskan dalam empat macam yang telah lewat perkara
yang terkait dengan penentangan orang yang menghukumi dengan selain apa yang Alloh
turunkan tentang lebih benarnya hukum Alloh dan Rosul-Nya, dan pengutamaan hukum
selain Alloh di atas hukum Alloh, penyamaan hukum Alloh dengan yang lainnya, dan
pembolehan berhukum dengan selain apa yang Alloh turunkan. Dan ketika beliau datang
kepada jenis yang kelima, beliau beliau tidak menyebutkan kaitan-kaitan ini.
Yang kedua: beliau yaitu Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim - -=- berkata dalam
"Fatawa" beliau (12/hal. 280) (6/hal. 189): " adapun orang yang membikin undang-undang
dengan tertib dan penundukan maka itu adalah kekufuran, sekalipun mereka berkata: "Kami
salah, dan hukum syariat itu lebih adil."
Beliau juga berkata dalam "Fatawa" beliau (6/hal. 189): "Seandainya orang yang
berhukum kepada undang-undang itu berkata: "Aku yakin ini adalah batil," maka ini adalah
batil dan tidak ada pengaruhnya untuknya. Bahkan perbuatan itu adalah menyisihkan
syariat, sebagaimana jika ada seseorang berkata: "Aku menyembah berhala dan aku yakin
bahwasanya berhala itu batil."
(12)
Soalnya jika berupa pembentukan undang-undang, pastilah dia itu digabungkan kepada
jenis kelima dari bagian pertama. Dan beliau - -= telah menjelaskan itu dalam "Al
Fatawa" (1/hal. 280) (6/hal. 189) yang mana beliau berkata: "Adapun perkara yang
dikatakan sebagai kekufuran yang di bawah kekufuran, adalah jika berhukum kepada selain
Alloh disertai dengan keyakinannya bahwasanya dirinya itu adalah pendurhaka, dan
bahwasanya hukum Alloh itulah yang benar. Maka itu adalah perkara yang muncul dari
dirinya sekali atau dua kali. Adapun orang yang membikin undang-undang dengan tertib dan
penundukan maka itu adalah kekufuran, sekalipun mereka berkata: "Kami salah, dan hukum
syariat itu lebih adil."
(13)
Kata Abu Fairuz - - : ini adalah hukum umum, bahwasanya barangsiapa berhukum
dengan selain syariat Alloh dengan karakteristik di atas maka dia itu kafir atau melakukan
kekufuran. Adapun untuk diterapkan kepada orang-perorang, maka butuh ditegakkannya
hujjah agar terpenuhi syaratnya dan hilang penghalang-penghalangnya. Maka para khowarij



24
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Maka di manakah ini dari apa yang diucapkan oleh Al Halabiy? Dan
bukankah ini kecuali penyelewengan terhadap maksud Asy Syaikh
Muhammad bin Ibrohim semoga Alloh merohmati beliau dengan rohmat yang
luas-?
Dan termasuk yang harus diingat: bahwasanya Al Halabiy semoga Alloh
memberinya petunjuk- berpaling dari ucapan yang jelas yang terang dari
ucapan Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim, dan dia pergi kepada suatu
kata dari sana sini. Dan ini adalah termasuk perkara yang paling
mengherankan. Bagaimana dia meninggalkan risalah yang ditulis dalam bab
tersebut, yang datang di dalamnya pembentuknya dasar-dasar, pembentukan
kaidah, dan perincian, kemudian si Halabiy pergi kepada suatu ungkapan dari
sana sini yang (sekedar) sebagai bagian dari suatu risalah yang situasinya dan
keterkaitannya mengharuskan (penulisnya) untuk mendatangkan ungkapan tadi,
lalu justru si Halabiy menjadikan ungkapan tadi sebagai penghapus bagi hukum
yang jelas dan terang tadi?!!
Dan kenapa kita pergi jauh-jauh, sementara para murid Asy Syaikh
Muhammad bin Ibrohim pada hari ini masih banyak di tengah-tengah kita,
mereka membawa madzhab beliau yang telah aku tetapkan padamu tadi dalam
masalah ini?
Dan termasuk dari mereka adalah murid terkemuka beliau Asy Syaikh
Abdulloh bin Abdurrohman bin Jibrin semoga Alloh menjaga beliau-
(14)
yang
berkata dalam fatwa beliau dengan tulisan tangan beliau yang membantah salah
seorang pengikut Al Halabiy yang mengada-ada atas nama Asy Syaikh yang tidak
beliau katakan. Silakan menyimak soal dan jawaban Asy Syaikh - -= :
"Wahai Fadhilatusy Syaikh, bukankah perkataan Asy Syaikh Al 'Allamah
Muhammad bin Ibrohim itu benar, saling menyatu, teratur bersama kaidah-
kaidah Ahlussunnah? Dan apakah Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim - -=
_''- itu punya ucapan yang lain yang menyelisihi apa yang telah lewat
penyebutannya? Seorang saudara kita dari orang-orang Mesir yaitu Kholid Al
'Anbariy dalam kitabnya "Al Hukmu Bighoiri Ma Anzalalloh Wa Ushulut Takfir"
menyebutkan bahwasanya Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim punya ucapan
lain, dan dia menisbatkan ini kepada Anda. Orang ini berkata dalam kitab
tersebut yang nashnya adalah: "Dan Asy Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Alu
Jibrin semoga Alloh menjaga beliau- telah menceritakan padaku bahwasanya
beliau yaitu: Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim- punya ucapan lain " hal.

tidak bisa menjadikan ucapan Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim - -= ini sebagai dalil
untuk bermudah-mudah mengkafirkan penguasa dan memenuhi syahwat mereka untuk
merebut pemerintahan.
Dan dari sisi lain: seluruh pemaparan ucapan Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim
-= - ini adalah untuk membuktikan bahwasanya Ali Al Halabiy berkhianat dalam menukil
ucapan ulama sehingga merubah makna dan menisbatkan pada ulama tersebut madzhab
yang tidak mereka peluk.
(14)
Kata Abu Fairuz - - : sayangnya setelah itu Ibnu Jibrin membela keras para hizbiyyun
sampai-sampai dihukumi oleh Fadhilatusy Syaikh Ahmad An Najmiy sebagai hizbiy muhtariq.
Sekarang Ibnu Jibrin sudah meninggal. Semoga Alloh merohmatinya.



25
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

131. Maka kami mengharapkan uraian jawaban dalam masalah-masalah ini.
Semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan.
Beliau menjawab:
-= - --=' .. -- :
Maka sesungguhnya syaikh kami dan bapak kami Samahatusy Syaikh
Muhammad bin Ibrohim Alusy Syaikh itu sangat keras dan kuat dalam
mengingkari perkara-perkara baru dan kebid'ahan. Ucapan beliau tersebut
termasuk yang paling mudah adalah ucapan beliau tentang undang-undang
bikinan, ..
(15)
dan kami telah mendengar beliau dalam penetapan beliau mencerca
dan bersikap keras terhadap ahli bida' yang apa yang mereka itu yang berupa
penyelisihan terhadap syariat, pembikinan hukum-hukum dan sunnah-sunnah
yang menyerupai hukum Alloh ta'ala,.. yang berlepas diri dari perbuatan mereka
dan menghukumi bahwasanya mereka itu murtad dan keluar dari Islam .. di
mana mereka mencerca syariat dan meninggalkan hukum-hukumnya dan
berkeyakinan bahwa hukum Islam itu liar seperti qishosh yang disebabkan oleh
orang yang terbunuh, pemotongan (anggota badan) karena pencurian, rajam
orang yang berzina, dan karena mereka membolehkan zina jika disertai oleh
keridhoan kedua belah pihak, dan yang seperti itu, .. dan sering beliau
membicarakan itu dalam pelajaran fiqh aqidah dan tauhid, dan aku tidak ingat
bahwasanya beliau rujuk dari itu, ataupun bahwasanya beliau punya ucapan
yang membolehkan hukum dengan selain yang Alloh ta'ala turunkan, atau
memudahkan di dalamnya berhukum pada para thoghut yang berhukum dengan
selain yang Alloh turunkan ... dan Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab -=
- telah menilai mereka termasuk dari kepala-kepala para thoghut.. maka
barangsiapa menukilkan dariku bahwasanya beliau - -= telah rujuk dari
ucapan beliau tersebut maka dia telah keliru dalam penukilan .. dan tempat
rujukan dalam perkara semisal ini adalah kepada nash-nash syar'iyyah dari Al
Kitab dan As Sunnah serta ucapan para ulama yang mulia tentang itu..
sebagaimana dalam kitab At Tauhid bab firman Alloh ta'ala:

--

,- 4

- -

- Q

'

4 -

'

- ;

; )

- - ,- Q-

- _

,-

-'

=- _

- -' =--

- ,

- --

] '--' : 60 [
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya
telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut,
padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu." Dan selanjutnya.
Dan penjelasan dari ayat itu yang ditulis oleh para imam dakwah, semoga
Alloh ta'ala merohmati mereka.. dan karya tulis-karya tulis yang lainnya yang
bersifat terang-terangan .. wallohu a'lam
'- -=- ' --=- _'= _'- ..
Pada tanggal 14/5/1417 H

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 23): "Dan
di sini pada akhirnya ada peringatan yang sangat penting, yaitu

(15)
Kata Abu Fairuz - - : titik-titik ini dan yang semisalnya setelahnya memang ada dari
aslinya. Wallohu a'lam.



26
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

bahwasanya sebagian para penyelisih itu dari kalangan orang-orang yang
mudah mengkafirkan orang lain, mereka itu bertopang pada fatwa-fatwa semisal
itu (!) agar mereka mengeluarkan di sela-selanya hukum-hukum yang bersifat
perasaan (anak muda) yang ngawur (!) terhadap sebagian Negara Islam
Aku jawab:
Yang pertama: sesungguhnya ini adalah termasuk dari fitnah, teror dan
tuduhan yang zholim yang bayarannya adalah tauhid. Dan Al Halabiy
memakainya terhadap orang-orang yang menyelisihinya untuk mengharuskan
mereka dengan perkara yang tidak mesti bagi mereka. Dan ini adalah "kebiasaan
yang kami kenal dari pendahulunya". Dan Alloh sajalah tempat kembali, dan
Dialah Yang Maha Menilai Yang Mahasuci.
Yang kedua: tidak ada keharusan antara kafirnya orang yang
menghukumi dengan yang tidak diturunkan oleh Alloh, dengan
pemberontakan terhadapnya. Tidaklah setiap hakim itu kafir, boleh
diberontak. Di sana ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, seperti adalah
kemampuan, kekuatan untuk berontak, dan juga tidak adanya efek kerusakan
yang lebih besar daripada kerusakan yang terjadi sekarang ini.
Yang ketiga: bahwasanya kesalahan-kesalahan sebagian pemuda dalam
tindak-tanduk mereka jika didapatkan- bukanlah penghalang untuk
menjelaskan hukum Alloh dalam masalah ini. Maka ini tidak diucapkan oleh
orang yang mencium aroma ilmu.
Yang keempat: kaum tersebut tidak melihat masalah pengkafiran orang
yang menghukumi dengan yang tidak diturunkan oleh Alloh kecuali sekedar
darah, kelumpuhan, peledakan, fitnah, dan penyerupaan dengan khowarij, dan
mereka lupa atau pura-pura lupa bahwasanya kejadian ini terkait dengan
penyendirian Alloh = = dalam hukum, dan apa sikap mereka terhadap ini, dan
sejauh apa keimanan mereka kepadanya? Dan apa hukum orang yang berupaya
merebut itu (hak mengatur dan menghukumi) dari Alloh = = ? Dan apakah
boleh satu orangpun dari makhluk-Nya untuk menyekutui Alloh dalam hukum-
Nya? Jika mereka berkata: "Iya," maka mereka telah melepaskan ikatan Islam
dari leher mereka.
Jika mereka menjawab: "Tidak," kita katakan pada mereka: "Maka apa
yang terjadi pada sebagian pemerintah pada zaman kita? Ini dinamakan apa? Jika
Alloh = = menghukumi bahwasanya zina itu harom, sementara mereka yaitu
para penguasa- membikin sunnah dan undang-undang yang menyelisihi bahkan
menentang hukum ini, yaitu: zina jika disertai oleh kerelaan kedua belah pihak
yang mencapai usia kelurusan secara undang-undang, maka tidak masalah dan
tak ada tuntutan terhadap kedua pelakunya
(16)
. Bahkan yang demikian itu tidak

(16)
Kata Abu Fairuz - - : kita katakan sebagaimana ucapan Al Imam Abu Zakariya An
Nawawiy - -=: "Dan ketahuilah bahwasanya madzhab ahlul haq adalah: seorangpun dari
ahlu qiblat (muslim) itu tidak kafir dengan suatu dosa, demikian pula ahlul ahwa wal bida'
tidak kafir, dan bahwasanya barangsiapa menentang perkara yang telah diketahui dari
agama Islam dengan pasti maka dia dihukumi telah murtad dan kafir, kecuali jika dia baru
saja masuk Islam atau tumbuh di pedalaman yang jauh dan semisalnya, yang tersamarkan
darinya perkara itu, maka dia harus diberi tahu tentang itu. Jika dia masih melanjutkan



27
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

dianggap sebagai persetubuhan yang diharomkan pada awalnya dari sisi
perzinaan kecuali jika muncul dari orang yang telah menikah dan di atas kasur
suami istri, dan dia menganggap bahwasanya penggerakan dakwaan dalam
kondisi ini adalah hak suami semata, dan dia membolehkan untuk ikut campur
menghentikan dakwaan pada fase manapun dari fase-fase tuntutan, bahkan dia
boleh ikut campur menghentikan hukuman sampai munculnya hukum akhir
(17)
.
Maka hukum di sini milik siapa? Milik Alloh ataukah milik para penguasa?
Perebutan apa yang lebih besar daripada ini?
(18)

Dan apa beda antara perbuatan mereka dengan perbuatan Yahudi yang
Alloh turunkan firman-Nya tentang mereka:

penentangannya maka dia dihukumi dengan kekufuran. Dan demikian pula hukum orang
yang menghalalkan zina atau khomr atau pembunuhan atau perkara harom yang lainnya
yang pengharomannya itu diketahui dengan secara pasti." ("Syarhun Nawawiy 'Ala Shohih
Muslim"/1/hal. 69).
(17)
Dinukil dari "Tahkimusy Syari'ah Wa Shilatuhu Bi Ushulid Din." (hal. 21/karya D. Sholih
Ash Showiy).
Catatan Abu Fairuz -= - '-= : Sholih Ash Showiy sendiri tidak istiqomah di atas jalan yang
lurus
(18)
Catatan Abu Fairuz -= - '-= : Bukanlah ucapan ini untuk menggerakkan manusia untuk
memberontak pada pemerintah, hanya saja ini adalah untuk menerangkan kebenaran ketika
tersamarkan ketika dibutuhkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -= berkata:
dikarenakan para Nabi +,'= -' ` itu terjaga dari menyetujui kesalahan, berbeda dengan
satu individu dari para ulama dan pemerintah, karena dia itu tidaklah terjaga dari yang
demikian itu. Oleh karena itu diperbolehkan dan bahkan wajib untuk kita menjelaskan
kebenaran yang wajib kita ikuti, sekalipun di dalam perbuatan ini terdapat penjelasan
terhadap kesalahan orang yang berbuat salah dari kalangan ulama dan pemerintah.
(Majmuul Fatawa/19/hal. 123).
Faidah: Al Imam Muhammad bin Sholih Al Utsaimin - -= berkata: Adapun orang
yang membicarakan penguasa di tempat yang tidak semestinya, maka yang wajib adalah
membela kehormatan penguasa, karena sebagaimana wajib bagi kita untuk membela
kehormatan saudara-saudara kita masyarakat umum, demikian pula lebih utama lagi untuk
wajib bagi kita untuk membela kehormatan penguasa, karena jatuhnya manusia ke dalam
pencemaran kehormatan penguasa mengakibatkan timbulnya kebencian padanya, tidak
mau taat pada perintahnya, menentangnya, dan ini adalah bahaya besar. Akan tetapi jika
ada orang yang bertanya dan dia menginginkan kebenaran, maka di sini engkau wajib untuk
menjelaskan keadaan penguasa: kebaikannya dan kejelekannya. Atau engkau ingin
berbicara dengan seseorang tentang perkara-perkara yang tidak pantas untuk dilakukan
oleh sang penguasa, yang engkau menduga kuat bahwasanya orang ini akan bisa
memberikan faidah kepada penguasa, maka ini juga tidak mengapa untuk membicarakan
dengannya penyelisihan si penguasa, dan engkau tidak menyebutkan semuanya. (Syarh
Shohihil Bukhoriy/karya Al Imam Ibnu Utsaimin/di bawah no. 7178-7179/cet. Al
Maktabatul Islamiyyah).



28
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

,

-' -

; 4

'

'

; - =-

- Q

] --'-' : 44 .[
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."
Al Imam Muslim telah meriwayatkan dalam "Shohih" beliau, Kitabul
Hudud, Bab Rojmul Yahud Ahlidz Dzimmah Fiz Zina, no. 1700 dari Al Baro bin
'Azib '-+-= - - yang berkata:
'- '=-

,'=-

'--=- ,+,- '- ,'= _'- --' _'=

- : -=- -- ;--'-- - -,- -=


,'' : '- +-'-'= -

`= '=- - : -,- -= -=- -- _~;- _-- ;-- ,- --'- ='- -~-


;--'-- - ' : '--= '- '-- ` -' =' -=- -= ' -+- ----- =- `,' `
'-- -,-' -=' ,'= '-- -,-' '--= . _,-,' -,-' _'= -,-- - _'= _--=-' ,''- '-'
'- ,'= _'- ,- '- =' '- -'=' ,-=-' '-'= : ,- '-= Q- - ;)--
;-'- . .= = -' = - -' : 4-,=- V ;~,- ')- '- ,--- - ;-'~- Q--- ', _'
-=- - ;--- ] --'-' / 41 [ ,-, : =''- '- -= -'=' ,-=-''- - '

--=- ,--
_''- -' -=' : ,-'-- ; 4--'- ,- '-- ;-=- ;- Q- ] --'-' / 44 [ '-- ;-=- ;- Q-
,- ;--'=- ; 4--'- ] --'-' / 45 [ ;-~'-- ; 4--'- ,- '-- ;-=- ;- Q- ] --'-' / 47 [
'+' '-' .(
"Ada seorang Yahudi yang dibawa melewati kepada Nabi '- ,'= - _'- dalam
keadaan dicoreng-moreng dengan arang dan dipukuli. Maka beliau memanggil
mereka seyara bertanya: "Apakah demikian kalian mendapatkan hukuman
bagi orang yang berzina dalam kitab kalian?" mereka menjawab: "Iya." Maka
beliau memanggil seorang dari ulama mereka seraya bersabda: "Aku bertanya
kepadamu dengan nama Alloh, dengan nama Dzat yang menurunkan
Tauroh kepada Musa, apakah demikian kalian dapatkan hukum zina dalam
kitab kalian?" dia menjawab: "Tidak. Seandainya engkau tidak menanyaiku
dengan nama Alloh, aku tak akan mengabarimu. Kami mendapati hukumnya
adalah rajam. Akan tetapi banyak terjadi perzinaan di kalangan orang-orang
mulia kami, dulu jika kami menangkap orang yang mulia kami biarkan dia, dan
jika kami menangkap orang lemah kami tegakkan padanya hukum. Kami
katakan: kemarilah kalian untuk kita berkumpul pada suatu perkara yang bisa
kita tegakkan pada orang mulia dan orang yang hina. Maka kami jadikan
pencorengan dan pemukulan sebagai ganti rajam. Maka Rosululloh ,'= - _'-
'- berkata: "Ya Alloh, sesungguhnya saya adalah orang yang pertama
menghidupkan agamamu manakala mereka mematikannya." Maka beliau
memerintahkan untuk si pezina tadi dirajam. Maka Alloh = = menurunkan:
,--- - ;-'~- Q--- 4-,=- V ;~,- ')- '- ', _' -=- - ;--- ] --'-' / 41 [
"Wahai Rosul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera
(memperlihatkan) kekafirannya," sampai pada firman-Nya:- "Jika diberikan
ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kalian, maka
terimalah."
Mereka berkata: "Datangilah Muhammad, jika dia memerintahkan kalian dengan
pencorengan dan pemukulan maka terimalah itu, tapi jika dia berfatwa pada
kalian dengan rajam maka hindarilah." Maka Alloh ta'ala menurunkan:



29
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

,

-' -

; 4

'

'

; - =-

- Q

] --'-' : 44 .[
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."
;--'=-

; 4

'

'

; - =-

- Q

] --'-' : 45 .[
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh,
maka mereka itu adalah orang-orang yang zholim."
,

-' -

; 4

'

'

; - =-

- Q

] --'-' : 47 .[
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh,
maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq."
Semuanya tentang orang kafir."
Selesai hadits Al Baro bin 'Azib '-+-= - -.
Maka orang-orang Yahudi itu manakala mereka membikin perdamaian (di
antara mereka) di atas hukuman tertentu dalam hukuman orang yang berzina
tanpa apa yang disyariatkan oleh Alloh = = dan mereka menjadikan hukuman
tadi sebagai undang-undang yang kepadanya mereka semua orang yang mulia
dan yang hina- berhukum sebagai ganti dari hukum Alloh, maka Alloh
menghukumi mereka dengan kekufuran, dan menjadikan perbuatan mereka itu
sebagai bentuk berhukum dengan selain dari apa yang Alloh turunkan.
Disertai dengan penelitian kita bahwasanya Yahudi menilai perbuatan zina
tadi memang merupakan perzinaan dan perkara yang diharomkan yang
dengannya orang yang mulia dan yang hina itu dikenai hukum. Adapun undang-
undang pada zaman ini, maka tidaklah perbuatan tadi dinilai sebagai perzinaan
kecuali dengan syarat-syarat dan kaitan-kaitan yang telah disebutkan tadi.
Adapun ucapan Al Baro "Semuanya tentang orang kafir," maka yang
terpandang adalah keumuman lafazh, bukan kekhususan sebab. Maka sebab
turunnya ayat adalah tentang orang kafir, dan yang dimaukan dengan ayat ini
adalah seluruh manusia, yang muslim dan yang kafir.
Bersamaan dengan itu, Al Baro telah diselisihi oleh Shohabat yang lain,
yang mana Hudzaifah ibnul Yaman '-+-= - - berkata tentang firman Alloh
subhanahu wata'ala:
,

-' -

; 4

'

'

; - =-

- Q

] --'-' : 44 .[
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."
Beliau berkata:
-' - +-, '--' - . +' ,'= . ' --' .,-- ,-- ' ,=` -
"Sebaik-baik saudara untuk kalian adalah Bani Isroil, jika kalian memiliki seluruh
kemanisan, maka mereka memiliki seluruh kepahitan. Dan pastilah kalian akan
menempuh jalan mereka seperti pasangan tali sandal."
Selesai dari "Tafsir Ath Thobariy" (12033).



30
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Maka kiyaskanlah kepada ini seluruh hukum yang diganti dan
diselewengkan sambil memperhatikan bahwasanya apa yang diterapkan di
negri-negri itu yang memakai hukum undang-undang bikinan itu- yang berupa
hukum-hukum syariat Islamiyyah tidak punya kekuatan memaksa sampai
disodorkan kepada majelis rakyat atau majelis ummat atau parlemen hingga
disetujui. Maka katakanlah padaku demi Robbmu- hukum di sini milik siapa?
Apakah milik Alloh ataukah milik mereka? dan sesungguhnya termasuk dari asas
peraturan adalah: bahwasanya kekuasaan pensyariatan adalah bagian dari hak
penguasa atau presiden, dan bukan bagian dari hak Alloh. Mahatinggi Alloh dari
apa yang diucapkan oleh orang-orang yang zholim itu dengan ketinggian yang
besar.
(19)


(19)
Abu Fairuz -= - '-= berkata: Ini adalah ucapan orang alim yang dibangun di atas Al Kitab,
As Sunnah dan manhaj Salaful ummah dan para imam Salafiyyin. Dan ini adalah ucapan yang
benar sekalipun pahit. Akan tetapi bukanlah bermakna bahwasanya kita bermudah-mudah
untuk mengkafirkan individu-individu tertentu. Kita katakan bahwasanya perbuatan itu
adalah kekufuran dengan dalil-dalil dari Al Kitab, As Sunnah dan manhaj Salaful ummah-,
dan kita memperingatkan manusia dari perbuatan yang demikian itu karena besarnya
kebinasaan di dunia dan di akhirat diakibatkan oleh kejahatan yang sangat besar ini. Adapun
dalam penentuan kafirnya orang-perorang, maka kita sebagai pelajar bersikap pelan-pelan
dan hati-hati, dan kita kembali kepada ulama sunnah dan bukan kepada pemikiran
harokiyyin (orang-orang pergerakan) ataupun para khothib hizbiyyin. Perkara ini besar. Dari
Ibnu Umar '-+-= - - yang berkata: Rosululloh '- ,'= - _'- bersabda:
'-- ,- '- -=V : ) '- ,-'- ( --- '- ')- '--= '- '-- '- V ~= --- .
"Barangsiapa berkata kepada saudaranya: "Wahai orang kafir" maka sungguh ucapan itu
akan kembali kepada salah satunya. Jika orang tadi adalah seperti yang dikatakannya,
maka ucapan tadi akan menimpa orang tadi. Tapi jika tidak demikian, maka ucapan tadi
akan kembali menimpa dirinya." (HR. Al Bukhoriy (6104) dan Muslim (60)).
Syaikhul Islam - -= berkata: "Dan hakikat perkara dalam masalah itu adalah:
bahwasanya ucapan itu bisa jadi merupakan kekufuran, maka dilontarkanlah perkataan
bahwasanya orang yang berbicara tadi adalah kafir, dan dikatakan: "Barangsiapa berkata
demikian maka dia itu kafir." Akan tetapi orang tertentu yang mengucapkannya itu tidaklah
dihukumi sebagai orang kafir sampai tegak padanya hujjah yang mana orang yang
meninggalkan hujjah itu menjadi kafir. Dan ini seperti dalam nash-nash ancaman, karena
sesungguhnya Alloh subhanahu wata'ala berfirman:
,-

- ~- ~

' -

-;

=-

- ;

- -

'- '

'

-'--

- -

'- Q-

] '--' : 10 .[
"Sesungguhnya orang-orang yang makan harta anak yatim secara zholim , hanyalah
mereka itu makan api di dalam perutnya, dan mereka akan masuk dan dibakar di dalam
neraka yang menyala nyala."
Maka dalil ini dan semisalnya dari nash-nash ancaman, adalah benar. Akan tetapi
orang tertentu tidaklah dipersaksikan bahwasanya dia akan terkena kandungan dari
ancaman tadi. Maka tidak boleh dipersaksikan kepada orang tertentu dari ahli qiblah
bahwasanya dia akan masuk neraka, karena bisa jadi dia tidak terkena ancaman itu karena
luputnya suatu syarat, atau tetapnya penghalang. Bisa jadi pengharoman itu belum sampai
kepadanya, dan bisa jadi dia akan bertobat dari perbuatan harom itu, dan bisa jadi dia
punya kebaikan besar yang menghapus hukuman perbuatan harom tadi, dan bisa jadi dia



31
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m


Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 27): "Yang
ketujuh: tuduhan Lajnah yang dimuliakan bahwasanya aku mengomentarai
ucapan para ulama yang telah disebutkan, dengan membawa ucapan
mereka kepada makna yang tidak dikandungnya!"
Maka aku Al Halabiy- katakan: adapun di tempat yang pertama pada
hal. 108, maka tidak ada di dalamnya dalam isi halaman itu- kecuali
ucapan ustadz kami yang mulia Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin semoga Alloh
memberinya kesehatan- dengan nash beliau tentang keadaan orang yang
berhukum dengan selain dari apa yang Alloh turunkan, dan tidak ada
satupun lafazhku di situ!!!
Adapun dalam catatan kaki, maka itu adalah penukilan dari beliau
juga dengan nashnya dari "Fatawa" beliau dalam masalah itu sendiri, dan
tidak ada dalam bab ini satu kalimatpun yang terucap dariku secara
mutlak!!! Apa yang dilakukan, dan apa kembalinya?" selesai.
Aku jawab:
Yang pertama: Ucapan Al Halabiy bahwasanya tidak ada pada catatan kaki
satu kalimatpun yang terucap dariku, ini tidak benar. Al Halabiy telah berkata
dia mengucap-: "Dan beliau yang mulia semoga Alloh menjaganya- berkata
dalam "Majmu'ul Fatawa" (2/hal. 145), dalam rangka menerangkan
dengan ucapan ilmiyyah yang tinggi- ketentuan-ketentuan pengkafiran
terhadap orang yang keadaannya seperti ini: " di mana dia itu tahu
tentang hukum Alloh, tapi dia memandang bahwasanya hukum yang
menyelisihi hukum Alloh itu lebih utama, lebih bermanfaat bagi para
hamba daripada hukum Alloh, atau setara dengan hukum Alloh, atau
bahwasanya berpaling dari hukum Alloh itu boleh."
Maka bagaimana Al Halabiy mengatakan bahwasanya "tidak ada di situ
satu kalimatpun yang terucap dariku?"
Yang kedua: aku tidak tahu kenapa Al Halabiy membuat pengkaburan
kepada orang-orang dan memperbanyak ucapan "tidak ada di situ satu
kalimatpun dari lafazhku?" atau "satu lafazhpun dari ucapanku" atau "tidak ada
di situ satu kalimatpun yang terucap dariku?"
Ucapan ini ucapan para ulama- yang dipaparkannya di bawah judul-judul
yang dipilih oleh Al Halabiy dan diletakkannya, apa yang dia maukan dengan itu?

tertimpa bencana-bencana yang menghapus dosa dia, dan terkadang dia diberi syafaat oleh
pemberi syafaat yang ditaati.
Dan demikianlah ucapan-ucapan yang pelakunya itu dikafirkan, bisa jadi nash-nash
yang mengharuskan untuk mengetahui kebenaran itu belum sampai kepada orang itu, dan
bisa jadi ada padanya tapi dalilnya tidak shohih menurut dia, atau dia belum sanggup untuk
memahaminya, atau bisa jadi dia dihadang oleh syubuhat yang dengannya Alloh
memberinya udzur. Maka barangsiapa dia itu adalah mukmin yang bersungguh-sungguh
dalam mencari kebenaran, maka Alloh akan mengampuni kesalahannya siapapun dia. Sama
saja apakah itu dalam masalah-masalah penelitian ataukah amalan. Dan inilah yang diyakini
oleh para Shohabat Rosululloh '- ,'= - _'- dan mayoritas imam agama Islam."
("Majmu'ul Fatawa"/23/hal. 345-346).



32
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Dan apa yang dia inginkan darinya? Bukankah dia itu yang meletakkannya?
Bukankah ucapan itu adalah apa yang diyakininya dan dia beribadah kepada
Alloh dengannya? Maka kenapa dia berkelit? Dan kenapa dia lari-lari?
Dan kita katakan juga: jika ucapan itu bukan dari ucapan dia dan bukan
pula dari lafazh-lafazh dia, maka untuk apa dia menyusun? Dan untuk apa dia
menulis!?
Yang ketiga: dalil yang menunjukka bahwasanya Al Halabiy itu membawa
ucapan Asy Syaikh - -= kepada apa yang tidak dikandungnya adalah sebagai
berikut:
Dia memaparkan ucapan Asy Syaikh - -= dalam catatan kaki, yaitu
ucapan beliau: " tapi dia yaitu orang yang berhukum dengan selain dari
apa yang Alloh turunkan- memandang bahwasanya hukum yang
menyelisihi hukum Alloh itu lebih utama, dan lebih bermanfaat untuk para
hamba daripada hukum Alloh" dia mengira bahwasanya Asy Syaikh Muhammad
- -= mensyaratkan dikafirkannya orang yang berhukum dengan selain dari
apa yang Alloh turunkan sebagai pengganti dari agama Alloh untuk dia yaitu
orang yang berhukum dengan selain dari apa yang Alloh turunkan- keluar
kepada manusia dan terang-terangan dengan lidahnya bahwasanya dia
berkeyakinan bahwasanya apa yang dipakainya sebagai hukum itu lebih utama
dan lebih bermanfaat untuk para hamba daripada hukum Alloh. Dan ini bukanlah
kemauan Asy Syaikh Muhammad - -= karena Asy Syaikh Muhammad - -=
memandang bahwasanya sekedar meletakkan pensyariatan yang menyelisihi
pensyariatan Islamiyyah untuk menjadi metode yang di atasnya orang-orang itu
berjalan, itu adalah dalil tentang keyakinan mereka yang rusak, yang mana beliau
-Asy Syaikh Muhammad Al 'Utsaimin - -= berkata dalam "Fatawa" (2/hal.
143): "Barangsiapa tidak berhukum dengan apa yang Alloh turunkan karena
meremehkannya atau merendahkannya atau berkeyakinan bahwasanya yang
lain itu lebih bagus daripadanya dan lebih bermanfaat untuk para makhluk, maka
orang ini kafir dengan kekufuran yang mengeluarkan dari Islam. Dan termasuk
dari mereka adalah orang yang meletakkan pensyariatan untuk orang-orang,
yang menyelisihi pensyariatan Islamiyyah, untuk menjadi metode yang di
atasnya orang-orang itu berjalan karena mereka itu tidak meletakkan
pensyariatan-pensyariatan yang menyelisihi pensyariatan Islamiyyah itu kecuali
dalam keadaan mereka meyakini kecuali dalam keadaan mereka meyakini
bahwasanya hal itu lebih bagus daripadanya dan lebih bermanfaat untuk para
makhluk, karena telah dimaklumi dengan kepastian akal dan tabiat fithroh
bahwasanya manusia itu tidak berpaling dari suatu manhaj kepada manhaj yang
lain yang menyelisihinya kecuali dalam keadaan dia meyakini keutamaan manhaj
yang dia berpaling kepadanya, dan kurangnya manhaj yang dia tinggalkan."
Dan beliau Ibnu 'Utsaimin- berkata dalam komentar beliau - -=
terhadap fatwa Asy Syaikh Al Albaniy - -= dalam kitab "At Tahdzir" hal. 79
baris ke 2: "Ucapan Asy Syaikh Al Albaniy dalam masalah ini bagus sekali, akan
tetapi terkadang kami menyelisihi beliau dalam masalah bahwasanya mereka
tidak dihukumi dengan kekafiran kecuali jika mereka berkeyakinan halalnya hal
itu. Masalah ini butuh penelitian, karena kami berkata: barangsiapa berhukum



33
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

dengan hukum Alloh dalam keadaan dia berkeyakinan bahwasanya hukum selain
Alloh itu lebih utama, maka dia itu kafir sekalipun dia berhukum dengan hukum
Alloh. Dan kekafirannya adalah kekufuran aqidah. Akan tetapi pembicaraan kita
adalah tentang amalan. Dan dalam dugaanku: tidak mungkin bagi
seorangpun menerapkan suatu undang-undang yang menyelisihi syariat
yang di dalamnya dia menghukumi para hamba Alloh, kecuali dalam
keadaan dia itu menghalalkannya dan dia berkeyakinan bahwa undang-
undang tadi lebih baik daripada undang-undang syariat, maka dia itu kafir.
Dan beliau - -= berkata dalam "Syarh Riyadhush Sholihin" (3/hal. 311-
312): "Sesungguhnya orang-orang yang berhukum kepada undang-undang
sekarang ini dan meninggalkan Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya '- ,'= - _'-
di belakang punggung mereka bukanlah mereka orang-orang yang beriman
(20)

dan orang-orang yang berhukum dengan undang-undang, tidaklah mereka itu
berhukum dengannya dalam kasus tertentu yang di situ mereka menyelisihi Al
Kitab dan As Sunnah karena hawa nafsu atau karena kezholiman, akan tetapi
karena mereka itu mencari ganti agama dengan undang-undang ini, mereka
menjadikan undang-undang ini menduduki posisi syariat, dan ini adalah
kekufuran, sampai bahkan seandainya mereka itu bersholat, berpuasa,
bershodaqoh dan berhaji, mereka itu kafir selama mereka berpaling dari hukum
Alloh dalam keadaan mereka mengetahui hukum Alloh- kepada undang-undang
yang menyelisihi hukum Alloh tersebut:
>

- ~

- '

- ' = , =

- -

= - V

; )

- - - , = ~ '

--

- ;

- - =- _- = ;

- ;- V 4 -

'

--

- ~- ;

- ~-

~ -
] '~-- : 65 [
"Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu
keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya."
Maka janganlah engkau merasa aneh jika kami berkata: sesungguhnya
orang yang mencari ganti syariat Alloh dengan undang-undang yang lain maka
sesungguhnya dia itu kafir sekalipun dia itu berpuasa dan bersholat."
Selesai penukilan (dari ucapan Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin - -=).
Maka di manakah ini dari apa yang ditetapkan oleh Al Halabiy dalam
kitabnya ini dan kitab yang lainnya?
Maka Asy Syaikh Muhammad bin 'Utsaimin - -= berpendapat
bahwasanya amalan mereka dengan meletakkan pensyariatan-pensyariatan

(20)
Catatan Abu Fairuz -= - '-= : kelengkapan dari titik-titik tersebut adalah: mereka itu
bukanlah mukminin, berdasarkan firman Alloh ta'ala:
>- 4- V ;--;- _-= ;--=- '--- ,=~ ;)---
"Maka demi Robbmu mereka itu tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau
sebagai hakim di dalam perselisihan di antara mereka."
Q- ;- ;-=- '-- ,- 4--'- ; ,-'-- ) --'-' : 44 (
"Dan barangsiapa tidak menghukumi dengan apa yang Alloh turunkan maka mereka
itulah orang-orang yang kafir."
Selesai penukilan.



34
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

undang-undang- ini merupakan dalil yang cukup tentang aqidah mereka yang
rusak bahwasanya undang-undang tersebut lebih utama dan lebih bermanfaat
untuk makhluk daripada hukum Alloh, sampai bahkan sekalipun mereka tidak
terang-terangan mengucapkan itu, dan bahwasanya ini telah diketahui dengan
kepastian akal dan tabiat fithroh, dan bahwasanya tidak mungkin bagi
seorangpun untuk menerapkan suatu undang-undang yang menyelisihi syariat,
yang dia menghukumi para hamba Alloh dengan undang-undang itu kecuali dia
itu menganggap halal undang-undang tadi dan berkeyakinan bahwasanya
undang-undang tadi lebih baik daripada undang-undang syariat, sebagaimana
beliau - -= berpendapat bahwasanya menjadikan undang-undang menduduki
posisi syariat itu terhitung mencari ganti (syariat yang lain), dan inilah perkara
yang tidak dipandang oleh Al Halabiy, bahkan pendapat ini termasuk pendapat
yang Al halabiy mati-matian membatalkannya dalam kitab ini dan yang lainnya-.
Adapun ucapan Al Halabiy: "Maka apa yang harus dilakukan, dan apa
kesudahannya?"
Kukatakan padanya: yang harus dilakukan adalah engkau harus bertobat
pada Alloh dari jalan yang mengerikan ini, dan dari perbuatan menyelewengkan
ucapan para ulama dari posisinya, dan dari pemotongan ucapan-ucapan ulama
demi mencocoki keinginanmu.
Adapun pertanyaanmu tentang kesudahannya, maka kesudahannya adalah
kepada Alloh Yang Maha mengetahui perkara-perkara yang ghaib.
' ) ~-

~ -

-' - _

,- ~

- ;

-; ~

; -

- -

,- ~

- ;

- -

;-

- - '

; ---

--

- - ;

- ] -;-- : 105 [
"Dan Katakanlah: "Beramallah kalian, maka Allah dan Rosul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan
dikembalikan kepada (Alloh) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan."

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 27): "
adapun tempat kedua (pada hal. 109) dalam isi kitab, maka itu adalah
kelengkapan dari nash Fadhilah ustadz kami Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin
semoga Alloh memanjangkan umur beliau- itu! Dan di dalamnya ucapan
beliau: "Orang yang berhukum dengan selain dari apa yang Alloh turunkan
sebagai pengganti dari agama Alloh- maka dia itu adalah kekufuran besar
yang mengeluarkan dari agama ini, karena dia menjadikan dirinya sebagai
pembikin syariat bersama Alloh = -, dan dikarenakan dia itu benci
kepada syariat-Nya."
Dan aku telah memberikan komentar kepadanya dalam catatan
kaki- dengan ucapanku Al Halabiy-: "Dan ini adalah syarat yang tidak
terealisir kecuali dengan keyakinan atau penentangan dan yang serupa
dengan itu, atau menunjukkan kepada kedua perkara ini dengan
keyakinan yang tiada syubhat di situ, dan tiada keraguan yang
menimpanya."



35
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Dan aku katakan sekarang-: di manakah sisi penyelisihan yang
"paling terkecil" dalam komentar ini terhadap ucapan Asy Syaikh Ibnu
Sa'diy dan Asy Syaikh Ibnu Baz atau yang lainnya?!"
Aku jawab:
Pembicaraan kita bukanlah tentang Asy Syaikh Ibnu Sa'diy atau Asy Syaikh
Ibnu Baz semoga Alloh merohmati keduanya-, dan pembicaraan kita itu
hanyalah tentang Asy Syaikh Ibnu 'Utsaimin semoga Alloh merohmatinya-, yaitu
bahwasanya engkau membawa ucapan beliau kepada perkara yang tidak
dikandungnya. Maka kenapa berkelit?
Dan jika engkau ingin dalil bahwasanya engkau membawa ucapan beliau
kepada perkara yang tidak dikandungnya, yaitu ucapanmu yang mengomentari
ucapan beliau - -=- : " dan dikarenakan dia itu benci kepada syariat-Nya":
"Dan ini adalah syarat yang tidak terealisir kecuali dengan keyakinan atau
penentangan ," padahal Asy Syaikh tidak mensyaratkan yang demikian itu,
bahkan beliau itu menjelaskan bahwa alasan kekufurannya itu ada dua perkara:
Yang pertama: karena dia menjadikan dirinya sebagai pembikin syariat
bersama Alloh
Yang kedua: karena dia itu benci kepada syariat-Nya.
Dan ada perbedaan besar antara alasan dan syarat wahai Atsariy-
sebagaimana hal itu diketahui oleh penuntut ilmu yang kecil!!
Dan Al Halabiy telah rujuk dalam kitabnya "Shoihatu Nadzir" dari
bahwasanya kebencian itu adalah syarat terjadinya penggantian (penggantian
syariat) dan pengkafiran, dengan perkataannya (di hal. 63): "Dan ini adalah
salah satu alasan dari alasan-alasan pengkafiran dan sifat, bukan sebagai
syarat atau pengait untuknya."
Ini menunjukkan dengan penunjukan yang jelas bahwasanya dia itu
bukanlah ahli penelitian dan pendalaman dalam masalah-masalah ini, hanya saja
dia main tabrak saja, maka terkadang dia menetapkan, terkadang dia
meniadakan, dan dia menyatakan berjalan di atas manhaj salaf. Maka apakah ini
keadaan salaf bahwasanya setiap hari mereka punya tulisan yang di dalamnya
ada aqidah yang baru? Atau apakah mereka berjalan di atas kaidah-kaidah yang
tetap dan asas-asas yang mendalam bagaikan dalamnya kaki gunung?

Adapun ucapan Al Halabiy dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal.
29): "Sambil kita ingatkan dan berhati-hati kepada ucapanku- dalam
komentar- setelah menyebutkan keyakinan dan penentangan dan yang
serupa dengan keduanya, atau menunjukkan kepada keduanya."
Aku katakan:
Al Halabiy meletakkan kata-kata ini untuk menjadikannya sebagai -kata
orang- "garis kembali". Jika tidak demikian maka ucapannya: " dan yang serupa
dengan keduanya" apa yang dia maukan dengannya? Karena yang paling mirip
dengan penentangan adalah pendustaan dan penghalalan.
Dan ucapan dia: "Atau menunjukkan kepada keduanya" yaitu:
menunjukkan kepada keyakinan dan penentangan.



36
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Aku katakan: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah - -= berkata tentang
Jahmiyyah bahwasanya mereka menjadikan amalan kekufuran itu sebagai dalil
tentang kekufuran dan bukan merupakan kekufuran itu sendiri. Beliau berkata
dalam "Fatawa" (7/hal. 557): "Maka orang-orang yang berkata dengan perkataan
Jahm dan Ash Sholihiy telah terang-terangan bahwasanya mencaci Alloh dan
Rosul-Nya, berpendapat adanya tiga tuhan, dan setiap ucapan dari perkataan
kekufuran itu bukanlah dia itu kekufuran secara batin, akan tetapi dia itu adalah
dalil secara lahiriyyah yang menunjukkan adanya kekufuran, dan bisa jadi
bersamaan dengan ini orang yang mencaci atau mencerca tadi secara batin
adalah orang yang mengenal Alloh, mentauhidkan-Nya, beriman kepada-Nya.
Maka jika ditegakkan hujjah kepadanya dengan nash atau ijma' bahwasanya
orang ini kafir secara lahir batin, mereka berkata: "Ini menuntut bahwasanya
perbuatannya tadi mengharuskan pendustaan secara batin, dan bahwasanya
keimanan itu mengharuskan tidak adanya perkara tadi, " selesai penukilan.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 28): "Dan
apakah cacat tersebut jika ada!- cacat dalam aqidah dan manhaj, ataukah
sekedar kritikan ungkapan dan lafazh?"
Aku katakan:
Tidak demi Alloh, bahkan itu adalah cacat dalam aqidah dan manhaj,
bukan sekedar kritikan ungkapan dan lafazh. Seandainya cacatnya adalah yang
terakhir, tidaklah kami butuh untuk menghitamkan lembaran-lembaran dan
menginfaqkan waktu untuk membantah kebatilan macam ini. Hanya pada Alloh
kita mohon pertolongan.
(21)


Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 28-29):
"Yang kedelapan: dakwaan Lajnah yang dimuliakan semoga Alloh
meluruskannya- bahwasanya di dalam kitab itu yaitu "At Tahdzir" ada
peremehan terhadap berhukum dengan selain dari apa yang Alloh
turunkan, dan secara khususnya pada hal. 5/catatan kaki pertama, dengan
dakwaan
(22)
bahwasanya perhatian pada tahqiq tauhid dalam masalah ini
di dalamnya ada penyerupaan dengan syi'ah rofidhoh, dan ini adalah
kekeliruan yang parah."
Maka aku Al Halabiy- katakan: Memang, demi Alloh, itu adalah
kekeliruan yang parah, kebatilan yang mengerikan,mengerikan, akan
tetapi itu jika seperti apa yang mereka sebutkan semoga Alloh
mendukung mereka dengan pertolongannya-!!! Akan tetapi kenyataannya
tidak demikian, bahkan sebaliknya. Penjelasannya adalah dari beberapa
sisi -sampai pada ucapannya:- dan beda jauh sekali antara hakimiyyah
secara istilah dan kenyataan, dengan realisasi tauhid dalam masalah

(21)
Di dalam ceramah Al Halabiy yang disampaikannya lewat internet, dia ditanya tentang
fatwa Lajnah Daimah tentang dirinya, maka dia berkata: "Menjadi jelas bagiku bahwasanya
perselisihan antar diriku dengan Lajnah hanyalah masalah lafazh."
Dan kita katakan: "Apakah dia ini bodoh ataukah bermain-main?!
(22)
Keterangan Abu Fairuz - -: yaitu dakwaan Al Halabiy



37
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

berhukum dengan selain dari apa yang Alloh turunkan sebagai hukum
syar'iy."
Aku jawab semoga Alloh memaafkan aku-:
Al Halabiy telah berkata dalam kitab "At Tahdzir" hal. 5-6/catatan kaki 1:
"Dan sebagian dari mereka melontarkan istilah Hakimiyyah dan ini
adalah istilah baru yang di dalamnya perlu ada pembahasan dan
penelitian, kemudian dia menjadikan itu sebagai prinsip agama yang
paling penting dan pintu agama yang paling besar- yang mana jika
disebutkan kepadanya tentang aqidah, dia membawanya kepada
Hakimiyyah. Dan jika dia menyebutkan aqidah, maka dia itu di sisinya
hanyalah satu kata saja: Hakimiyyah!!!!
Dan ini menurut sejumlah ulama adalah menyerupai aqidah syi'ah
yang parah, yang mereka itu menjadikan Imamah (kepemimpinan) sebagai
prinsip agama yang terbesar, dan ini adalah ucapan yang batil dan
pendapat yang kosong, dan Syaikhul Islam = -= , Al Imam Ibnu Taimiyyah
dalam "Minhajus Sunnah" (1/hal. 20-29) telah membantahnya."
Aku jawab:
Telah diketahui bahwasanya madzhab Ahlussunnah tentang lafazh-lafazh
yang global dan yang terkait dengan tauhid jika maknanya itu masuk ke
dalamnya kebenaran dan kebatilan, sesungguhnya mereka meminta perincian,
maka mereka tidak meniadakan dan tidak menetapkan, sampai mereka
mengetahui maksud sang pembicara. Jika ditetapkan bahwasanya istilah
Hakimiyyah adalah termasuk dari lafazh yang global, maka harus diminta
perincian sebelum meniadakan atau menetapkan,
(23)
lebih-lebih lagi untuk
mencerca dan membid'ahkan dan menuduh orang lain dengan penyerupaan
pada zanadiqoh dari rofidhoh.
Kemudian apa pendapat Al Halabiy manakala Asy Syaikh Al Albaniy - -=
telah mempergunakan istilah ini dan menjadikannya sebagai satu prinsip dari
prinsip-prinsip dakwah Salafiyyah?
(24)
Yang mana beliau Asy Syaikh Al Albaniy
- -= berkata dalam bantahan beliau kepada salah seorang yang menisbatkan
diri kepada dakwah salafiyyah dalam kisah yang panjang- dalam "As Silsilatush

(23)
Kata Abu Fairuz - -: Al Imam Ibnul Qoyyim - -= berkata dalam "Qoshidah An
Nuniyyah" (1/hal. 38): "Maka engkau harus memakai perincian dan pemisahan, karena
pemutlakan dan pengglobalan tanpa penerangan itu telah merusak para makhluk dan
membikin benak dan pendapat itu menabrak-nabrak dengan ngawur di setiap zaman."
(24)
Kata Abu Fairuz - -: Maksudnya adalah: bahwasanya salah satu prinsip Salafiyyah
adalah menjadikan Alloh dan Rosul-Nya sebagai pemutus perkara dalam setiap perselisihan,
dan yang paling ditaati ketentuannya, dan Alloh diibadahi dengan tauhid, dan Nabi-Nya
diikuti sunnahnya tanpa berbuat bid'ah. Ini beda jauh dengan para hizbiyyin yang
membesar-besarkan istilah Hakimiyyah dan bahkan sebagian dari mereka menjadikannya
sebagai jenis tauhid yang tersendiri, lalu menjadikan itu sebagai syiar untuk merebut
kekuasaan dan duduk di kursi pemerintahan, sambil meremehkan pembahasan tauhid
uluhiyyah, tidak mengingkari syirik dalam ibadah, dan mereka memakai metode-metode
bid'ah dalam berdakwah dan merekrut massa. Terdapat perbedaan yang sangat besar
antara Salafiyyin dan Hizbiyyin.



38
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Shohihah" (6/hal. 30): " manakala kami merasa putus asa darinya kami katakan
padanya: "Sesungguhnya keinginanmu untuk mewajibkan orang lain mengikuti
pendapatmu dalam keadaan dia tidak puas dengannya itu menyelisihi salah satu
dari prinsip dakwah salafiyyah, yaitu bahwasanya Hakimiyyah itu adalah milik
Alloh semata," Dan kami ingatkan dia dengan firman Alloh ta'ala tentang
Nashoro:

- ' -'-

; )

-'-

; '- =

=-

; V

V -

' )

-- -

- V

'

;- ,

- Q - _-

~
; -

, ~- '

- -

-' = - ~ ] -,-' : 31 [
"Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka
sebagai Tuhan selain Alloh dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih
putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang
Esa, tidak ada sesembahan yang benar selain Dia. Mahasuci Alloh dari apa
yang mereka persekutukan."
Maka apakah Asy Syaikh Al Albaniy - -= dengan ini pada diri beliau ada
penyerupaan dengan syi'ah? Atau apa?
(25)
Kemudian sesungguhnya
pengingkaran Syaikhul Islam terhadap Syi'ah (Rofidhoh) dalam masalah imamah
adalah karena mereka menjadikannya sebagai tuntutan yang paling penting
dalam hukum-hukum agama dan masalah muslimin yang paling mulia, padahal
tidaklah demikian.
Adapun penukilannya dari Lajnah Daimah hal. 31 dari "Al Ajwibatul
Mutalaimah" yaitu ucapan Lajnah: "Dan menjadikan Hakimiyyah sebagai jenis
tersendiri dari jenis-jenis tauhid adalah amalan muhdats, tidak diucapkan
oleh seorangpun dari para imam, sebatas pengetahuan kami."
Kemudian dia Al Halabiy- berkata: "Apakah boleh bagi seseorang atau
pembikin-bikin- untuk berkata: "Lajnah telah meremehkan berhukum dengan
selain dari apa yang Alloh turunkan karena Lajnah meniadakan untuk hukum itu
sebagai satu jenis dari jenis-jenis tauhid?!!"
Selesai penukilan.
Aku jawab:
Lajnah semoga Alloh memberinya taufiq- meniadakan pembagian itu dan
menjadikannya sebagai amalan yang muhdats dan tidak diucapkan oleh
seorangpun dari ulama, dan Lajnah tidak masuk kepada masalah hukum atau
hakimiyyah seperti suatu istilah atau makna- hingga dikatakan bahwa Lajnah
meremehkan nilai berhukum dengan selain dari apa yang Alloh turunkan.
Adapun Al Halabiy, maka sungguh dia telah menjadikan perhatiannya kepada
masalah hukum atau hakimiyyah seperti suatu aqidah yang menyerupai aqidah-
aqidah syi'ah dalam perhatian mereka terhadap imamah, karena ucapan dia
dalam "At Tahdzir" menunjukkan pada yang demikian, yang mana dia berkata
pada hal. 5: "Ini adalah risalah ringkas tentang masalah hukum" kemudian
dia berkata pada catatan kaki hal. 5-6: "Dan sebagian orang menamainya
dengan nama hakimiyyah dan ini adalah istilah yang baru yang di

(25)
Rujuk "Haqiqotul Khilaf Bainas Salafiyyatisy Syar'iyyah Wa Ad'iyaiha" karys Asy Syaikh
Al Fadhil D. Muhammad Abu Rohim.



39
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

dalamnya perlu ada pembahasan dan penelitian, kemudian dia menjadikan
itu sebagai prinsip agama yang paling penting dan pintu agama yang paling
besar- yang mana jika disebutkan kepadanya tentang aqidah, dia
membawanya kepada Hakimiyyah. Dan jika dia menyebutkan aqidah,
maka dia itu di sisinya hanyalah satu kata saja: Hakimiyyah!! Dan ini
menurut sejumlah ulama adalah menyerupai aqidah syi'ah yang parah,
yang mereka itu menjadikan Imamah (kepemimpinan) sebagai prinsip
agama yang terbesar, dan ini adalah ucapan yang batil dan pendapat yang
kosong, dan Syaikhul Islam = -= , Al Imam Ibnu Taimiyyah dalam
"Minhajus Sunnah" (1/hal. 20-29) telah membantahnya, maka lihatlah."
Selesai ucapan Al Halabiy dengan huruf-hurufnya.
Maka ucapan Al Halabiy ini hanyalah bersumber dari aqidah, bukan dari
istilah dan lafazh belaka, karena dirinya manakala menyebutkan hakimiyyah
sebagai istilah, dia berkata: "di dalamnya perlu ada pembahasan dan
penelitian", lalu dia meninggalkan itu dan memulai pembicaraannya tentang
hakimiyyah sebagai aqidah, maka perhatikanlah.

Al Halabiy berkata dalam "Al Ajwibatul Mutalaimah" (hal. 34):
"Kesembilan: ucapan Lajnah yang dimuliakan semoga Alloh
mendukungnya dengan taufiq-Nya-: "Dan dengan melihat kepada risalah
yang kedua "Shoihatu Nadzir" didapati seakan-akan risalah ini sebagai
sandaran
(26)
bagi kitab tersebut dan kondisinya sebagaimana telah
tersebut "
Aku Al Halabiy- katakan: "Ini adalah ucapan yang umum dan global,
dan tidak cukup ucapan semisal ini untuk memberikan kritikan dan
menjawab kerumitan, maka aku tak mendapatkan tempat sedikitpun!! di
sini! untuk berbicara atau membantah dan pembahasan ilmiyyah." Selesai.
Aku menjawab:
Al Halabiy ingin mengisarkan debu di depan fatwa Lajnah dan
mengucapkan apapun sekalipun tidak penting, selama dia berhadapan dengan
apa yang dilakukan para ulama terhadap kedua kitabnya. Jika tidak demikkian,
apakah pantas dalam pola fatwa- untuk Lajnah mengurusi setiap kalimat yang
diucapkan oleh Al Halabiy untuk mengkritik kalimat-kalimat tadi? Sesungguhnya
Lajnah telah berbuat sangat baik di mana mereka menjelaskan bahwasanya Al
Halabiy dalam masalah keimanan berjalan di langkah-langkah murjiah pada
kitabnya "At Tahdzir" dan bahwasanya kaidah-kaidah yang Al Halabiy berjalan di
atasnya dalam membentuk suatu dasar-dasar itu bukanlah kaidah-kaidah
Ahlussunnah Wal Jama'ah. Dan demikianlah Lajnah menjelaskan kedustaan Al
Halabiy terhadap para ulama dan mengada-adanya dia atas nama mereka yang
mereka tidak mengucapkan itu, sebagaimana telah lewat dengan jelas dalam
risalah ini.

(26)
Abu Fairuz -= - '-= berkata: catatan kaki yang ini tidak bisa saya baca. Kitab ini saya
dapatkan dengan perantaraan Al Maktabatusy Syamilah. Wallohu a'lam.



40
w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Kemudian Lajnah menjelaskan bahwasanya kitab kedua "Shoihatu Nadzir"
mirip dengan kitab yang pertama dan berjalan di atas jalur itu dan dan ini jelas.
Dan bukanlah Lajnah ataupun para pembaca butuh kepada perincian lebih
banyak dari ini. Adapun untuk mengurusi setiap kata dan setiap kalimat pada
kitab yang kedua "Shoihatu Nadzir" maka tidak ada kebutuhan untuk itu jika
kekeliruan-kekeliruannya telah dijelaskan pada kitab yang pertama "At Tahdzir".
Dan setelah itu datanglah sisa-sisa dari kitab "Al Ajwibatul Mutalaimah"
seperti awalnya: berkelit dari kebenaran, memotong-motong nash-nash,
menyelewengkan ucapan, menakut-nakuti dengn ucapan, sajak yang dipaksakan,
berturut-turutnya kata-kata dan ungkapan yang rendahan dan memuakkan.
Membantah semua ucapan dia secara menyeluruh itu mengharuskan
terbuangnya waktu dan kerja keras, sementara orang yang cerdas bisa
mengetahui apa yang terkandung jika dia mengetahui apa yang diriwayatkan
orang tadi, dan akan jelas baginya sedikit dari keadaan orang ini. Dan apa yang
diucapkan oleh para ulama yang mulia itu cukup dan memuaskan.
Saya mohon pada Alloh Yang Mahaagung dalam ketinggian-Nya agar
menjadikan apa yang saya tulis ini ikhlas untuk mencari wajah-Nya yang mulia,
dan agar memberikan manfaat dengan risalah ini, dan menjadikan risalah ini
sebagai simpanan untuk saya di sisi-Nya pada hari saya berjumpa dengan-Nya,
sebagaimana saya meminta kepada-Nya ta'ala agar memberikan hidayah kepada
orang yang saya bantah, dan melapangkan dadanya untuk menerima kebenaran,
sesungguhnya Alloh Maha Mendengar dan Menjawab doa.
,-''' - --=' '-,= = .
,-= -=- ' _'= --=- '-,-- _'= '- _'- .
* * * * *
Ucapan penerjemah:
Alhamdulillah dengan ini selesailah terjemah dari risalah yang bagus ini,
dan segala puji bagi Alloh Yang menakdirkan saya menerjemahkan kitab ini.
Seandainya bukan takdir Alloh dengan menjadikan adanya tantangan dari
sebagian pihak, barangkali banyak saudara kita yang tidak kenal kitab ini
dan juga tidak kenal penulisnya. Tapi cukuplah Alloh yang kenal beliau dan
kerja keras beliau dalam membela kebenaran dan membantah kebatilan.
Dan cukuplah tazkiyyah untuk beliau bahwasanya ulama Ahlussunnah
mengenal beliau dan memuji beliau, sekalipun bisa jadi sebagian orang
akan meneriakkan slogan sururiyyin: "Kita tunggu ucapan Kibarul Ulama",
yaitu: penulis kitab ini cuma dari kalangan ulama kecil.
Alhamdulillah Ahlussunnah Wal Jama'ah ikut dalil dan hujjah, dan
menerima ucapan yang sesuai dengan kebenaran, berbeda dengan pengekor
hawa nafsu yang berlindung di balik taqlid buta untuk membolehkan dirinya
menghindar dari kewajiban ikut kebenaran.


Sekarang para ulama besar telah berbicara tentang kebatilan Ali
Hasan, maka terimalah itu. Sayangnya para sururiyyin setelah itu berkilah
dengan alasan "Kita tak boleh taqlid ulama!" semakin jelas bagi
Ahlussunnah bahwasanya para sururiyyin s
pengikut syariat, tapi sekedar pembebek hawa nafsu, bongkar pasang
kaidah dan syi'ar sesuai dengan hawa nafsunya.
Insya Alloh sebentar lagi akan datang bantahan Fadhilatusy Syaikh Robi Al
Madkholiy = -= terhadap Ali Al Halabiy,
karim Abul Mundzir Mujahid atau saya sendiri atau sebagian ikhwah yang
lain. Jazahumullohu khoiro.
Wallohu ta'ala a'lam.








41
Sekarang para ulama besar telah berbicara tentang kebatilan Ali
Hasan, maka terimalah itu. Sayangnya para sururiyyin setelah itu berkilah
dengan alasan "Kita tak boleh taqlid ulama!" semakin jelas bagi
Ahlussunnah bahwasanya para sururiyyin sebenarnya memang bukan
pengikut syariat, tapi sekedar pembebek hawa nafsu, bongkar pasang
kaidah dan syi'ar sesuai dengan hawa nafsunya.
Insya Alloh sebentar lagi akan datang bantahan Fadhilatusy Syaikh Robi Al
terhadap Ali Al Halabiy, yang diterjemahkan Akhunal
karim Abul Mundzir Mujahid atau saya sendiri atau sebagian ikhwah yang
lain. Jazahumullohu khoiro.

w
w
w
.
a
s
h
h
a
b
u
l
h
a
d
i
t
s
.
w
o
r
d
p
r
e
s
s
.
c
o
m

Sekarang para ulama besar telah berbicara tentang kebatilan Ali
Hasan, maka terimalah itu. Sayangnya para sururiyyin setelah itu berkilah
dengan alasan "Kita tak boleh taqlid ulama!" semakin jelas bagi
ebenarnya memang bukan
pengikut syariat, tapi sekedar pembebek hawa nafsu, bongkar pasang
Insya Alloh sebentar lagi akan datang bantahan Fadhilatusy Syaikh Robi Al
yang diterjemahkan Akhunal
karim Abul Mundzir Mujahid atau saya sendiri atau sebagian ikhwah yang