Anda di halaman 1dari 3

Kasus sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan yang melibatkan dua negara anggota ASEAN, yaitu antara Indonesia

dan Malaysia berawal sejak tahun 1969. Permasalahan atas kedua pulau tersebut mulai muncul sejak Indonesia dan Malaysia pertama kalinya membicarakan mengenai kepemilikan atas kedua pulau tersebut dalam perundingan mengenai batas landas kontinen kedua negara di Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan lepas pantai Kalimantan Timur, pada tanggal 9-22 September 1969 di Kuala Lumpur (Malaysia). Dalam perundingan itu kedua delegasi telah menyetujui batasbatas landas kontinen di Selat Malaka, Laut Cina Selatan (Bagian Barat Lepas Pantai Timur Malaysia Barat dan Laut Cina Selatan (Bagian Timur) Lepas Pantai Serawak. Akan tetapi tidak demikian halnya mengenai batas landas kontinen di kawasan lepas pantai Kalimantan Timur, karena terdapat ketidaksesuaian pendapat antara Indonesia dan Malaysia mengenai status kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan yang kedua-duanya terletak di sebelah timur Kalimantan timur. persetujuan tersebut ditandatangani Malaysia Disinformasi Soal Sipadan-Ligitan. Kedua negara lalu sepakat agar Sipadan dan Ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quo akan tetapi ternyata pengertian ini berbeda. Pihak Malaysia membangun resor parawisata baru yang dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia memahami status quo sebagai tetap berada di bawah Malaysia sampai persengketaan selesai, sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa dalam status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki sampai persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Pada tahun 1969 pihak Malaysia secara sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta nasionalnya. Pada tahun 1976, Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) dalam KTT pertama ASEAN di pulau Bali ini antara lain menyebutkan bahwa akan membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak Malaysia menolak beralasan karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk klaim pulau Batu Puteh, sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta sengketa kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Cina, dan Taiwan. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan sepasukan polisi hutan (setara Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara Indonesia serta meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau. Sikap pihak Indonesia yang ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN dan selalu menolak membawa masalah ini ke ICJ kemudian melunak. Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur pada tanggal 7 Oktober 1996, Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan PM Mahathir tersebut

yang pernah diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar Ibrahim, dibuatkan kesepakatan "Final and Binding," pada tanggal 31 Mei 1997, kedua negara menandatangani persetujuan tersebut. Indonesia meratifikasi pada tanggal 29 Desember 1997 dengan Keppres Nomor 49 Tahun 1997 demikian pula Malaysia meratifikasi pada 19 November 1997, sementara pihak mengkaitkan dengan kesehatan Presiden Soeharto dengan akan dipergunakan fasilitas kesehatan di Malaysia. Sejak persoalan ini ditemukan, Indonesia menilai adanya suatu kesepakatan tentang status quo antara kedua negara, meski setahu saya, kata status quo tidak ada dalam surat-menyurat Indonesia-Malaysia. Setelah berbagai perundingan tidak berhasil, sesuai dengan Pasal 33 Piagam PBB dan Treaty of Amity and Cooperation in South-east Asia (1976), kedua negara wajib refrain from the threat or use of force dan dapat mencari penyelesaian melalui High Council ASEAN (Pasal 14) yang terdiri dari pejabat-pejabat ASEAN tingkat Menteri. Jadi, sebelum ke Mahkamah, terbuka berbagai kemungkinan penyelesaian dilakukan kedua negara, melalui mediation, conciliation, arbitration, atau melalui High Council ASEAN. Indonesia mengusulkan penyelesaian melalui ASEAN High Council. Malaysia menentang. Alasannya, Malaysia mempunyai persoalan kewilayahan dengan hampir seluruh negara ASEAN, karena itu merasa High Council ASEAN bisa memihak Indonesia. Malaysia mengusulkan masalah ini dibawa ke Mahkamah, di mana perkara diputus berdasarkan Hukum Internasional (Pasal 38 Ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional), meski Statuta itu dalam Pasal 38 Ayat (2) memberi kemungkinan kepada Mahkamah untuk memutus suatu perkara berdasarkan prinsip ex aequo et bono, berdasar prinsip "keadilan" dan "kepatutan" (bukan hanya berdasar hukum) "jika pihak yang bertengkar menghendakinya". Dalam perundingan di Hotel Sari Pasific (1995), Indonesia menolak usul Malaysia. Setelah menemui jalan buntu, kedua Kepala Pemerintah sepakat menunjuk 'nterlocutor untuk mencari jalan penyelesaian, yaitu Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar Ibrahim, masing-masing dibantu seorang lawyer, untuk Indonesia adalah Direktur Perjanjian Internasional Deplu. Kedua pemerintah sepakat untuk menyelesaikan masalah ini melalui Mahkamah Internasional, seperti diusulkan Malaysia. Di antara pertimbangan Indonesia yang menyetujui langkah ini, setahu saya, adalah (1) kebijaksanaan pemerintah untuk tidak membebani generasi mendatang dengan masalah ini; dan (2) untuk menunjukkan kepada dunia, Indonesia menghormati hukum, termasuk Hukum Internasional. Persetujuan Khusus antarkedua negara, 31 Mei 1997, meminta Mahkamah menentukan, on the basis of the treaties, agreements and other evidence furnished by the

parties,

milik

siapakah

kedua

pulau

itu?

Mahkamah

tidak

diminta

menentukannya berdasar prinsip ex aequo et bono, juga tidak untuk menentukan batas laut, (wilayah, zona tambahan, zona ekonomi, atau landas kontinen) antara kedua negara. Semua ini harus dirundingkan setelah ketentuan kepemilikan diputuskan. Pada tahun 1998 masalah sengketa Sipadan dan Ligitan dibawa ke ICJ, kemudian pada hari Selasa 17 Desember 2002 ICJ mengeluarkan keputusan tentang kasus sengketa kedaulatan Pulau Sipadan-Ligatan antara Indonesia dengan Malaysia. Hasilnya, dalam voting di lembaga itu, Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim, sementara hanya 1 orang yang berpihak kepada Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15 merupakan hakim tetap dari MI, sementara satu hakim merupakan pilihan Malaysia dan satu lagi dipilih oleh Indonesia. Kemenangan Malaysia, oleh karena berdasarkan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu pemerintah Inggris (penjajah Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suar sejak 1960-an. Sementara itu, kegiatan pariwisata yang dilakukan Malaysia tidak menjadi pertimbangan, serta penolakan berdasarkan chain of title (rangkaian kepemilikan dari Sultan Sulu) akan tetapi gagal dalam menentukan batas di perbatasan laut antara Malaysia dan Indonesia di selat Makassar. Jadi, Internasional diserahkan penyelesaian benar-benar kepada masalah Sipadan-Ligitan yang oleh Mahkamah Soal penyelesaian bersifat Indonesia hukum.

diplomasinya berakhir saat persoalan ini, berdasar keputusan politik, Mahkamah. Seyogianya menghormati keputusan itu, apalagi karena Pasal 5 Persetujuan 1997 tegas menyatakan, kedua pihak agree to accept the judgement of the Court given pursuant to this Special Agreement as final and binding upon them.