Anda di halaman 1dari 11

CASE BASED DISCUSSION

DERMATITIS NUMULARIS

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin di RST dr. Soejono Magelang

Disusun oleh :

Retno Setyowati 01.208.5759

Pembimbing : Letkol CKM (K) dr. Puguh S., Sp.KK

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2012

STATUS ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN DERMATITIS NUMULARIS

A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur : An. R. : 12 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat Pendidikan No. RM : Padudan RT 07/03,kel. Banjarsari- Kec. windusari. Magelang : SMP : 01-36-19

B. ANAMNESA Autoanamnesis dilakukan di Poli kulit kelamin pada hari rabu tanggal 31 Oktober 2012 pukul 10.30 WIB. Keluhan Utama : Gatal-gatal pada kedua lengan, kaki dan wajah Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan gatal gatal pada daerah lengan, kaki dan wajah. Gatal gatal pertama kali dirasakan sejak dua bulan yang lalu. Gatal pertama dirasakan pada daerah kaki, kemudian diikuti gatal pada kedua lengan tangan dan sekitar wajah. Awalnya berupa bintil bintil kemerahan yang berisi cairan yang terasa sangat gatal, lama kelamaan makin membesar sampai seperti ukuran koin dengan bagian tengahnya basah mengeluarkan cairan. Karena terasa sangat gatal pasien menggaruknya sehingga bintil- bintil berisi air pecah, kemudian timbullah keropeng. Sebelumnya pasien sudah mengalami penyakit ini namun muncul lagi. Pasien sudah berobat ke dokter dan sudah ada perbaikan tetapi karena obat habis pasien memutuskan untuk berobat lagi. Riwayat Pemakaian Obat : Betametason, Gentamicyn, Eritromisin, Interhisti. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak memiliki riwayat alergi.

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak terdapat riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga yang lain.

C. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis : o Tanda Vital : Dbn o Keadaan Umum Kesadaran : Compos Mentis Status Gizi : Cukup Status Dermatologi : Lokasi : Lengan, Tungkai, wajah UKK : plak eritematosa berukuran numularis, papula, erosi, krusta, fissura, dan skuama

D. DIAGNOSA BANDING

Dermatitis Numularis Dermatitits Numularis ditandai oleh bercak yang sangat gatal, bersisik, berbentuk bulat, berbatas tegas (berbeda dari dermatitis pada umumnya), dengan vesikel-vesikel kecil di bagian tepi lesi Liken simpleks kronikus (neurodermatitis). Biasanya jarang, lesinya kering berupa plak yang likenifikasi dengan distribusi tertentu. Dermatitis kontak alergi. Morfologi klinis primer antara dermatitis kontak dan dermatitis numularis sering sulit untuk dibedakan. Pada dermatitis kontak biasanya lokal, dan ditemukan riwayat kontak sebelumnya. Untuk membedakan dapat dilakukan pemeriksaan patch test atau prick test. Pitiriasis rosea Merupakan peradangan yang ringan dengan penyebab yang belum diketahui. Banyak diderita oleh wanita yang berusia antara 15 dan 40 tahun terutama pada musim semi dan musim gugur. Gambaran klinisnya bisa menyerupai dermatitis numularis. Tetapi umumnya terdapat sebuah lesi yang besar yang mendahului terjadinya lesi yang lain. Lesi tambahan cenderung mengikuti garis kulit dengan distribusi pohon cemara dan biasanya disertai dengan rasa gatal yang ringan. Lesi-lesi tunggal berwarna merah muda terang dengan skuama halus. Bisa juga lebih eritematus. Pitiriasis rosea berakhir antara 3-8 minggu dengan penyembuhan spontan. Dermatitis atopik Umumnya pada pasien dengan lesi pada tangan. Patch test dan prick test dapat membantu jika terdapat riwayat dermatitis atopik.

E. PEMERIKSAAN USULAN Pemerikaan mikroskopis preparat dari kerokan lesi dengan KOH. Biopsi kulit (contohnya pada tinea, psoriasis). Patch test dan pick test.

F. DIAGNOSA KERJA Dermatitis Numularis G. PENATALAKSANAAN Medikamentosa

Pasien diberikan terapi : 1. R Eritromycin 500 mg 3 dd tab 1/2 pc 2. R Interhistin tab 3 dd tab 1/2 pc 3. R Betametason cream ue 3x/hari 4. R Gentamicin ue 3x/hari

Non Medikamentosa Pasien perlu untuk diberitahukan tentang perkembangan atau

perjalanan penyakit dari dermatitis numular yang cenderung sering berulang, Mencegah atau menghindari faktor-faktor yang memperburuk atau

menimbulkan dermatitis numularis seperti stress, panas, atau trauma, Menggunakan pelembab kulit atau emollient untuk mengatasi kulit kering Jangan menggaruk luka karena bisa menjadi tempat infeksi baru dan dapat meninggalkan bekas garukan yang permanen. Pengobatan meliputi semua orang di sekitar pasien, bila ada yang mengeluh gatal-gatal segera periksa ke dokter Jaga kebersihan diri dan lingkungan Minum obat secara teratur

H. PROGNOSIS Dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

DERMATITIS NUMULARIS
A. DEFINISI Dermatitits Numularis ditandai oleh bercak yang sangat gatal, bersisik, berbentuk bulat, berbatas tegas (berbeda dari dermatitis pada umumnya), dengan vesikel-vesikel kecil di bagian tepi lesi. Sering dijumpai penyembuhan pada bagian tengah lesi (central clearing), tetapi secara klinis berbedadari bentuk lesi tinea. Pada kelainan ini bagian tepi lebih vesikuler dengan batas relatif kurang tegas. Kata numular diambil dari bahasa Latin nummulus yang berarti koin kecil= diskoid. Dermatitis numularis lebih sering dijumpai pada usia dewasa dibanding pada anak-anak. Terdapat berbagai variasi bentuk klinis, antara lain dermatitis numularis pada tangan dan lengan, dermatitis numularis pada tungkai dan badan, dan dermatitis numularis bentuk kering. dermatitis numularis merupakan kelainan yang kambuh-kambuhan. Pada setiap kekambuhan dapat muncul lesi tambahan, tetapi umumnya lesi awal selalu menjadi aktif kembali.

B. EPIDEMIOLOGI Dermatitis numularis angka kejadiannya pada usia dewasa lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita, onsetnya pada usia antara 55 dan 65 tahun. Penyakit ini jarang pada anak-anak, jarang muncul dibawah usia 1 tahun, hanya sekitar 7 dari 466 anak yang menderita dermatitis numularis dan frekuensinya cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan umur.

C. ETIOLOGI Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui. Namun demikian banyak faktor predisposisi, baik predisposisi primer maupun sebagai predisposisi sekunder telah diketahui sebagai agen etiologi. Staphylococci dan Micrococci diketahui sebagai penyebab langsung melalui mekanisme hipersensitivitas. Namun demikian, perannya secara patologis belum juga diketahui. Dalam beberapa kasus, adanya tekanan emosional, trauma lokal seperti gigitan serangga dan kontak dengan bahan kimia mungkin dapat mempengaruhi timbulnya dermatitis numularis, tetapi bukan merupakan penyebab utama. Penyakit ini umumnya cenderung meningkat pada musim dingin, juga dihubungkan

dengan kondisi kulit yang kering dan frekuensi mandi yang sering dalam sehari akan memperburuk kondisi penyakit ini.

D. PATOFISIOLOGI Dermatitis numularis merupakan suatu kondisi yang terbatas pada epidermis dan dermis saja. Hanya sedikit diketahui patofisiologi dari penyakit ini, tetapi sering bersamaan dengan kondisi kulit yang kering. Adanya fissura pada permukaan kulit yang kering dan gatal dapat menyebabkan masuknya alergen dan mempengaruhi terjadinya peradangan pada kulit. Suatu penelitian menunjukkan dermatitis numularis meningkat pada pasien dengan usia yang lebih tua terutama yang sangat sensitif dengan bahan-bahan pencetus alergi. Barrier pada kulit yang lemah pada kasus ini menyebabkan peningkatan untuk terjadinya dermatitis kontak alergi oleh bahan-bahan yang mengandung metal. Karena pada dermatitis numularis terdapat sensasi gatal, telah dilakukan penelitian mengenai peran mast cell pada proses penyakit ini dan ditemukan adanya peningkatan jumlah mast cell pada area lesi dibandingkan area yang tidak mengalami lesi pada pasien yang menderita dermatitis numularis. Suatu penelitian juga mengidentifikasi adanya peran neurogenik yang menyebabkan inflamasi pada dermatitis numularis dan dermatitis atopik dengan mencari hubungan antara mast cell dengan saraf sensoris dan mengidentifikasi distribusi neuropeptida pada epidermis dan dermis dari pasien dengan dermatitis numularis. Peneliti mengemukakan hipotesa bahwa pelepasan histamin dan mediator inflamasi lainnya dari mast cell yang kemudian berinteraksi dengan neural Cfibers dapat menimbulkan gatal. Para peneliti juga mengemukakan bahwa kontak dermal antara mast cell dan saraf, meningkat pada daerah lesi maupun non lesi pada penderita dermatitis numularis. Substansi P dan kalsitonin terikat rantai peptide meningkat pada daerah lesi dibandingkan pada non lesi pada penderita dermatitis numularis. Neuropeptida ini dapat menstimulasi pelepasan sitokin lain sehingga memicu timbulnya inflamasi. Penelitian lain telah menunjukkan bahwa adanya mast cell pada dermis dari pasien dermatitis numularis menurunkan aktivitas enzim chymase, mengakibatkan menurunnya kemampuan menguraikan neuropeptida dan protein. Disregulasi ini dapat menyebabkan menurunnya kemampuan enzim untuk menekan proses inflamasi.

E. MANIFESTASI KLINIS Gejala-gejala yang umum, antara lain: Timbul rasa gatal

UKK kulit yang antara lain makula, papul, vesikel, atau tambalan : 1. Bentuk numular (seperti koin) 2. Terutama pada tangan dan kaki 3. Umumnya menyebar 4. Lembab dengan permukaan yang keras Kulit bersisik atau ekskoriasi Kulit yang kemerahan atau inflamasi

Berdasarkan predileksinya dapat dibagi 2 bentuk klinis dermatitis numularis yaitu: Dermatitis numularis pada tangan dan lengan Kelainannya terdapat pada punggung tangan serta di bagian sisi atau punggung jari-jari tangan. Sering dijumpai sebagai plak tunggal yang terjadi pada sisi reaksi luka bakar, kimia atau iritan. Lesi ini jarang meluas. Dermatitis numularis pada tungkai dan badan Bentuk ini merupakan bentuk yang lebih sering dijumpai. Pada sebagian kasus, kelainan sering didahului oleh trauma lokal ataupun gigitan serangga. Umumnya kelainan bersifat akut, persisten dan eksudatif. Dalam perkembangannya, kelainan dapat sangat edematous dan berkrusta, cepat meluas disertai papul-papul dan vesikel yang tersebar. Pada Dermatitis numularis juga sering dijumpai penyembuhan pada bagian tengah lesi, tetapi secara klinis berbeda dari bentuk lesi tinea. Pada kelainan ini bagian tepi lebih vesikuler dengan batas relatif kurang tegas. Lesi permulaan biasanya timbul di tungkai bawah kemudian menyebar ke kaki yang lain, lengan dan sering ke badan.

F. PEMERIKSAAN Pada pemeriksaan laboratorium, tidak ada penemuan yang spesifik. Untuk membedakannya dengan penyakit lain, seperti dermatitis karena kontak diperlukan patch test dan prick test untuk mengidentifikasikan bahan kontak. Pemeriksaan KOH untuk membedakan tinea dengan dermatitis numularis yang mempunyai gambaran

penyembuhan di tengah. Jika ada kondisi lain yang sangat mirip dengan penyakit ini sehingga sulit untuk menentukan diagnosisnya (contohnya pada tinea, psoriasis) dapat dilakukan biopsi.

G. DIAGNOSIS Dermatitis numularis dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis dan gejala klinis. Tingkat gatal dan terjadinya likenifikasi akan membedakannya dari neurodermatitis. Distribusi lesi biasanya pada kedua lutut, kedua siku dan kulit kepala. Pada psoriasis, lesinya kering, skuamanya lebih tebal dan iritasinya lebih ringan, patch test dan prick test akan membantu mengidentifikasikan penderita dengan dermatitis kontak.

H. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari penyakit ini antara lain: Liken simpleks kronikus (neurodermatitis). Biasanya jarang, lesinya kering berupa plak yang likenifikasi dengan distribusi tertentu. Dermatitis kontak alergi. Morfologi klinis primer antara dermatitis kontak dan dermatitis numularis sering sulit untuk dibedakan. Pada dermatitis kontak biasanya lokal, dan ditemukan riwayat kontak sebelumnya. Untuk membedakan dapat dilakukan pemeriksaan patch test atau prick test. Pitiriasis rosea Merupakan peradangan yang ringan dengan penyebab yang belum diketahui. Banyak diderita oleh wanita yang berusia antara 15 dan 40 tahun terutama pada musim semi dan musim gugur. Gambaran klinisnya bisa menyerupai dermatitis numularis. Tetapi umumnya terdapat sebuah lesi yang besar yang mendahului terjadinya lesi yang lain. Lesi tambahan cenderung mengikuti garis kulit dengan distribusi pohon cemara dan biasanya disertai dengan rasa gatal yang ringan. Lesi-lesi tunggal berwarna merah muda terang dengan skuama halus. Bisa juga lebih eritematus. Pitiriasis rosea berakhir antara 3-8 minggu dengan penyembuhan spontan. Dermatitis atopik Umumnya pada pasien dengan lesi pada tangan. Patch test dan prick test dapat membantu jika terdapat riwayat dermatitis atopik.

I. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaanya difokuskan pada gejala yang mendasari. Menghindari alergen.

Dermatitis numularis terutama pada anak sangat berkaitan erat dengan dermatitis atopik, menghindari alergen pada penderita atopik anak dapat menurunkan insidensi dermatitis numularis. Melindungi kulit dari trauma. Karena pada jenis ini biasanya berawal dari trauma kulit minor. Jika ada trauma pada tangan, gunakan sarung tangan supaya tidak teriritasi. Pemberian Emollients. Emollients merupakan pelembab. Digunakan untuk mengurangi kekeringanpada kulit. Contoh emollients yang sering digunakan antara lain: aqueous cream, gliserine dan cetomacrogol cream, wool fat lotions. Steroid topikal Untuk menghilangkan peradangan pada kulit dan mengurangi iritasi kulit. Dapat diberikan steroid dengan kombinasi antibiotik untuk dermatitis numularis dengan infeksi sekunder. Antibiotik oral maupun topikal. Untuk mengatasi infeksi sekunder. Digunakan antibiotik golongan sefalosporin sebagai drug of choice untuk pioderma misalnya cefadroxil dengan dosis oral 125-500 mg selama 7-10 hari. Kadang-kadang dermatitis numularis dapat sembuh total, hanya timbul lagi jika pengobatan tidak diteruskan. Antihistamin oral. Mengurangi gatal dan sangat berguna pada malam hari. Yaitu antihistamin H1 seperti Cetirizine dengan dosis oral 25-100 mg. Steroid sistemik. Digunakan untuk kasus-kasus dermatitis numularis yang berat, diberikan prednilson dengan dosis oral 40-60 mg dengan dosis yang diturunkan secara perlahan-lahan. Hanya berguna dalam beberapa minggu, dermatitis yang belum sembuh sempurna, dapat ditangani dengan pemberian krim steroid dan emolilients.

J. KOMPLIKASI Infeksi sekunder. Dermatitis numularis pada anak seringkali dijumpai datang ke rumah sakit dengan infeksi sekunder.

K. PROGNOSIS

Pasien perlu untuk diberitahukan tentang perkembangan atau perjalanan penyakit dari dermatitis numularis yang kronik dan cenderung sering berulang (residif). Mencegah atau menghindari dari faktor-faktor yang memperburuk atau meningkatkan frekuensi untuk cenderung berulang dengan menggunakan pelembab pada kulit akan sangat membantu mencegah penyakit ini. Adapun prognosis bervariasi dalam setiap individu. Dermatitis numularis cenderung residif pada sebagian besar kasus. Umumnya prognosis dari penyakit ini adalah baik.