Anda di halaman 1dari 29

KERTAS KERJA MAHASISWA PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA (BI RATE) DAN INFLASI TERHADAP PERGERAKAN INDEKS HARGA

SAHAM GABUNGAN (IHSG) PERIODE TAHUN 2009-2012

reniutamidewi@rocketmail.com

OLEH : NI KOMANG RENI UTAMI DEWI 1206205057

DISAJIKAN DALAM RANGKA TUGAS AKHIR MATA KULIAH : PENGANTAR MAKRO EKONOMI DOSEN PENGAMPU : Dr.G.SUDJANA BUDHI MAHASISWA S1 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR, BALI 3013

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu. Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah paper dengan judul "Pengaruh Tingkat Suku Bunga (BI Rate) dan Inflasi Terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)", yang mmenurut saya dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari bagaimana kita dapat mengambil keputusan yang tepat dalam berinvestasi di pasar saham Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat. Denpasar, Bali 2013 "Penulis"

ii

DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL .......................................................................................i KATA PENGANTAR ....................................................................................ii DAFTAR ISI ....................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................1 1.1. Latar Belakang Masalah .................................................................1 1.2. Tujuan Penulisan .............................................................................3 1.3. Rumusan Masalah ...........................................................................3 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................4 2.1. Kajian Pustaka .............................. 4 2.2.Konsep ..............................................................................................5 2.2.1 BI Rate ........................................................................................5 2.2.2 Inflasi ............................................................................................6 2.3 Landasan Teori ....................................................................................6 2.3.1 Teori Keynes .................................................................................6 2.2.3 Teori Inflasi .....................................................................................8 2.4 Model Penelitian ....................................................................................7
BAB III METODELOGI ......................................................................................16

3.1. Jenis dan Sumber Data ........................................................................16 3.2. Alat Analisis Data ..................................................................................17 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................20 4.1 Analisis deskriptif.....................................................................................20 4.2 Uji Regresi Linier Berganda......................................................................23 iii

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................24 5.1. Kesimpulan ....................................................................................24 5.2. Saran .............................................................................................24 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................25

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pasang surut dunia industry diikuti pula dengan kebutuhan dana yang besar, hal ini perlu disikapi oleh perusahaan dalam upaya mencari sumber dana guna menjaga stabilitas operasional perusahaan itu sendiri, kebutuhan akan modal yang besar mendorong perusahaan melakukan go public atau menjual sahamnya kepada masyarakat melalui pasar modal. Ini merupakan alternative yang lebih efisian, mudah, dan murah jika dibandingkan dengan sumber pendanaan lainnya misalnya melakukan peminjaman hutang kepada pihak lain yang sudah tentu bunga yang dibebankan cukup tinggi. Dengan adanya pasar modal ini memungkinkan maasyarakat dapat menginvestasikan dananya pada perusahaan-perusahaan tertentu, perlu diketahui juga bahwa investasi tidak bisa dilakukan asal-asalan, agar nantinya hasil yang didapatkan sesuai dengan apa yang diharapkan, untuk itu analisis factor makro ekonomi yang mempengaruhi kinerja perusahaan sehari-hari menjadi sangat penting untuk dipahami. Para investor harus mampu meramalkan kondisi makro ekonomi di masa mendatangkan sebagai tolak ukur pembuatan keputusan investasi yang menguntungkan nantinya. Indicator makro ekonomi yang sering

dihubungkan dengan pasar modal adalah suku bunga (SBI), nilai kurs, inflasi dan PDB. Disini hanya kan dijabarkan pengaruh suku bunga (SBI) dan inflasi terhadap pergerakan pasar modal. Secara teori tingkat suku bunga dan harga saham memiliki hubungan yang negative ( tandelilin, 2010) tingkat suku bunga yang terlalu tinggi akan mempengaruhi nilai sekarang (present value) aliran kas perusahaan, sehingga kesempatan investasi yang ada tidak akan menarik lagi. Tingkat suku bunga yang tinggi akan meningkatkan biaya modal yang ditanggung perusahaan sehingga mengakibatkan return kepada pemilik modal akan meningkat. Sama halnya dengan tingkat inflasi, tingkat inflasi yang tinggi biasanya dihubungkangkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu panas (overheated). Artinya, kondisi ekonomi mengalami kelebihan kapasitas permintaan, sehingga harga-harga cenderung mengalami kenaikan. Inflasi yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan penurunan daya beli uang ( purchasing power of money ).

1.2Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga (BI Rate) terhadap Indeks harga Saham Gabungan periode (IHSG) 2009 - 2012 ? 2. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) periode 2009 -2012 ? 3. Bagaimana menaikkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

berdasarkan analisis pengaruh tingkat suku bunga (BI Rate) ? 4. Bagaimana menaikkan indeks harga saham gabungan (IHSG) berdasarkan analisis pengaruh inflasi?

1.3Tujuan
1. Mengkaji pengaruh tingkat suku bunga (BI Rate) terhadap Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) periode 2009 -2012. 2. Mengkaji pengaruh inflasi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode 2009 -2012.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1 Kajian Pustaka
JAKARTA, KOMPAS.com Indeks Harga Saham Gabungan kembali dipenuhi tekanan eksternal dan internal sepanjang pekan lalu sehingga turun cukup dalam. Ke manakah indeks akan bergerak di perdagangan awal pekan ini, Senin (3/12/2012)?

Tekanan belum sepenuhnya hilang dari sisi eksternal. Menutup pekan lalu, bursa global terlihat variatif. Bursa Amerika Serikat ditutup variatif dan nyaris tidak bergerak dari perdagangan sebelumnya.

Pembicaraan mencari solusi atas masalah anggaran di negeri itu masih alot. Indeks Dow Jones industrial average menguat 0,03 persen; Indeks S&P500 menguat 0,02 persen, namun Indeks Nasdaq melempem 0,06 persen. Indeks sendiri ditutup cukup dalam sebanyak 42,95 poin (0,99 persen) ke level 4.276,14 dengan jumlah transaksi sebanyak 17,57 juta lot atau setara Rp 8,81 triliun pada Jumat (30/11/2012).

Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih di pasar reguler sebesar Rp 144,8 miliar dengan saham yang paling banyak dijual adalah BBRI, BMRI, BMTR, PGAS, dan MNCN.

Mata uang rupiah terapresiasi ke level Rp 9.618 per dollar AS. Di awal perdagangan pekan ini para investor dan pelaku pasar pasti berpikir untuk kembali mengoleksi saham-saham yang sudah turun harga.

2.2

Konsep
Woodruf mendefinisikan konsep sebagai adalah suatu gagasan/ide yang relatif

sempurna dan bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda). Pada tingkat konkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa objek atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep merupakan sintesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman dengan objek atau kejadian tertentu 2.2.1 BI Rate

BI Rate merupakan suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada public. Tingkat suku bunga yang ditetapkan BI ini akan menjadi patokan

bagi suku bunga pinjaman maupun simpanan bagi bank-bank atau lembaga keuangan yang ada diseluruh Indonesia. Secara sederhana dapat dikatakan jika BI Rate meningkat maka suku bunga pada bank-bank umuum lainnya akan ikut mengalami peningkatan. BI Rate bagi BI sendiri adalah suku bunga untuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang disalurkan kepada bank-bank. Ketika Bi Rate meningkat Bank-bank ini akan cenderung menaruh dana nasabahnya di BI dalam bentuk SBI. Hal ini akan menyebabkan aliran dana dimasyarakat akan semakin berkurang, sehingga tingkat inflasi dapat dikendalikan. 2.2.2 Inflasi Inflasi yaitu suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai factor, antara lain konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang.

2.3 Landasan Teori


2.3.1 Teori Keynes Tentang Investasi Keynes dalam teorinya menyatakn bahwa permintaan akan uang untuk spekulasi saat ini tinggi apabila tingkat bunga saat ini rendah dan permintaan untuk spekulasi saat ini rendah apabila tingkat bunga untuk

spekulasi mempunyai hubungan yang berkebalikan dengan tingkat bunga (saat ini). Secara umum Teori Keynesian ini menyatakan bahwa tingkat suku bunga berhubungan negative dengan tingkat harga saham yang berlaku dalam satu periode tertentu. Menurut teori Keynesian asumsi dasar bahwa ekonomi bekerja penuh atau full employment, tingkat harga yang fleksibel dan informasi yang dimilii secara sempurna adalah tidak benar dan bertentangan dengan realitas serta tidak akan tercapai dalam jangka waktu pendek bahkan juga dalam jangka waktu panjang. Dalam teorinya Keynes menekankan adanya indicator-indikator kebijakan makro ekonomi yang berperan dalam perkembangan ekonomi sebuah wilayah. Makro ekonomi Keynes menngatakan bagaimana peran pemerintah dalam mempengaruhi permintaan agregat (dengan demikian mempengaruhi situasi makro), agar mendekati posisi full employmentnya. Keynes menyarankan agar perekonomian tidak sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar, sebab dalam batas teertentu peran pemerintah sangat diperlukan, misalkan terjadi peningkatan inflasi yang signifikan pemerintah harus campur tangan menormalkan kembali ekonomi di wilayahnya.

2.3.2 Teori Inflasi Ada beberapa pandangan yang bisa memberikan penjelasan mengenai teori inflasi yang dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi. A. Teori Kuantitas Teori kuantitas menjelaskan bahwa sumber utama terjadinya inflasi adalah karena adanya kelebihan permintaan (demand) sehingga uang yang beredar di masyarakat semakin banyak. Teori kuantitas membedakan sumber inflasi menjadi dua, yakni teori Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation. 1. Demand Pull Inflation Demand Pull Inflation terjadi karena adanya kenaikkan permintaan agregatif (bersifat agregatif) dimana kondisi produksi telah berada pada kesempatan kerja penuh (full employment). Kenaikkan kesempatan agregatif selain dapat menaikkan harga-harga juga dapat meningkatkan produksi. Jika kondisi produksi telah berada pada kesempatan kerja penuh, maka kenaikkan permintaan tidak lagi medorong kenaikkan output (produksi) tetapi hanya mendorong kenaikkan harga-harga yang biasa disebut dengan inflasi murni (Pure Inflation) 2. Cost Push Inflation Pada kondisi Cost Push Inflation, tingkat penawaran lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat permintaan. Ini karena adanya kenaikkan harga factor produksi sehingga produsen terpaksa mengurangi produksinya sampai

pada jumlah tertentu. Penawaran toatal (aggregate supply) terus menurun karena semakin mahalnya biaya produksi. Apabila keadaan tersebut berlangsung cukup lama, maka terjadilah inflasi yang disertai resesi. B. Struktur Ekonomi Dengan menggunakan pendekatan struktur ekonomi, terjadinya inflasi dipandang karena tidak seimbangnya struktur ekonomi. Untuk itu, melalui pendekatan struktur ekonomi (structural approach), inflasi akan dapat ditanggulangi dengan melakukan pembenahan (penataan) pada semua sector ekonomi. C. Moneter Di dalam ilmu ekonomi moneter, terjadinya inflasi atau menurunnya nilai mata uang disiasati dengan pendekatan moneter (monetary

approach). Dengan pendekatan moneter, inflasi dinilai sebagai suatu fenomena moneter, yaitu keadaan yang disebabkan terlalu banyaknya uang yang beredar dibandingkan dengan kesediaan masyarakat untuk memiliki atau menyimpan uang tersebut. Pendapat tersebut didasarkan pada argumentasi bahwa peningkatan harga-harga barang di pasar terjadi karena kelebihan permintaan dibandingkan dengan penawaran terhadap barang tersebut (excess demand for goods) yang merupakan indikasi adanya kelebihan jumlah uang

yang beredar di masyarakat atau adanya kelebihan penawaran uang dibandingkan dengan permintaan terhadap uang (excess supply for money). D. Akuntansi Melalui pendekatan akuntansi (accounting approach to inflation), diketahui bahwa terjadinya inflasi bersumber pada perkembangan harga-harga pada kelompok barang dan jasa yang digunakan untuk menyusun Indeks Harga Konsumen (IHK). Perkembangan IHK digunakan sebagai alat untuk mengukur tingkat inflasi.

2.3.2.1 Bobot Inflasi Inflasi jika ditinjau dari sudut bobotnya, dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu : A. Inflasi Ringan Inflasi ringan disebut juga creeping inflation. Inflasi ringan adalah inflasi dengan laju pertumbuhan yang berlangsung secara perlahan dan berada pada posisi satu digit atau di bawah 10 % per tahun. B. Inflasi Sedang

10

Inflasi sedang (moderat) adalah inflasi dengan tingkat laju pertumbuhan berada di antara 10-30 % per tahun atau melebihi dua digit dan sangat mengancamstruktur dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.

C. Inflasi Berat Inflasi berat merupakan inflasi dengan laju pertumbuhan berada di antara 30100 % per tahun. Pada kondisi demikian, sektor-sektor produksi hampir lumpuh total kecuali yang dikuasai negara. D. Inflasi Sangat Berat/ Hiperinflasi Inflasi sangat berat yang juga disebut Hyper Inflation adalah inflasi dengan laju pertumbuhan melampaui 100 % per tahun, sebagaimana yang terjadi di masa Perang Dunia II (1939-1945). Untuk keperluan perang terpaksa harus dibiayai dengan cara mencetak uang secara berlebihan. 2.3.2.2 Cara Menghitung Inflasi Dalam menghitung tingkat inflasi, diperlukan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berguna untuk mengukur tingkat persentase kenaikan harga dari suatu periode ke periode yang lain. IHK ialah suatu indeks, yang menghitung rata-rata perubahan harga dalam suatu periode, dari suatu kumpulan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh penduduk/ rumah tangga dalam kurun waktu tertentu. Mulai Juni 2008, IHK

11

disajikan dengan menggunakan tahun dasar 2007=100 dan mencakup 66 kota yang terdiri dari 33 ibukota propinsi dan 33 kota-kota besar di seluruh Indonesia. IHK sebelumnya menggunakan tahun dasar 2002=100 dan hanya mencakup 45 kota. Dalam menyusun IHK, data harga konsumenatau retail diperoleh dari 66 kota dan mencakup antara 284 - 441 barang dan jasa yang dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok pengeluaran yaitu: 1. Bahan makanan; 2. Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; 3. Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; 4. Sandang; 5. Kesehatan; 6. Pendidikan, rekreasi dan olah raga; dan 7. Transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Setiap kelompok terdiri dari beberapa sub kelompok, dan dalam setiap sub kelompok terdapat beberapa item. Lebih jauh, item-item tersebut memiliki beberapa mutu atau spesifikasi. Rumus menghitung IHK : IHn = Pn x 100 %
12

Po

Keterangan : IHn = Indeks Harga tahun n (tahun yang dihitung) Pn = Jumlah harga-harga tahun n (tahun yang dihitung) Po = Jumlah harga-harga tahun dasar perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut.

2.4

Model Penelitian Model penelitian merupakan gambaran secara umum tentang hal apa yang

akan diteliti. Model penelitian merupakan konsep umum yang menunjukan bagaimana penelitian itu dilakukan, dari sudut apa penelitian itu dilakukan, dan merupakan gambaran bagaimana cara berfikir seorang yang melakukan penelitian dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Model penelitian disini menjadi sangat penting karena menjadi kunci dasar / model dasar yang digunakan sebagai patokan untuk menjawab masalah-masalah yang dihadapi peneliti.

13

Dalam analisis

pergerakan IHSG berdasarfkan pengaruh tingkat suku

bungan dan inflasi kali ini peneliti menggunakan sebuah model yang berupa gambaran secara umu tentang bagaimana ketiga hal tersebut dapat saling

mempengaruhi yang lainnya. Nantinya model yang digunakan diharapkan mampu menjadi gambaran yang konkret akan masalah-masalah yang dihadapi dalam penulisan kali ini.

BI RATE

INFLASI

IHSG
Dalam penelitian kali ini peneliti menggukan model analisi deskriftif dengan membandngkan perubahan yang terjadi antara variable-variabel terkait melalui grafik. Selain dengan analisis deskriftif peneliti juga menggunakan analisi linier berganda, dimana melalui metode ini memiliki tujuan
14

menemukan hubungan antara variable dependen (terikat) dengan variable independen (tidak terikat). Garis regresi dalam penelitian ini dijabarkan melalui persamaan berikut : = 0 + 1 X1 + 2 X2 dimana: = harga saham 0, 1, 2 = angka statistic penafsir parameter X1 = Tingkat suku bunga X2 = Inflasi

15

BAB III METODELOGI


3.1 Jenis dan Sumber Data
3.1.1 Setiap penelitian yang dihasilkan memerlukan barbagai data. Data memiliki kedudukan yang penting karena tanpa ada data yang valid atau akurat, hasil penelitian kita tidak sempurna. Hasan (2002 : 82) menyatakan bahwa data adalah keterangan terhadap suatu hal yang diketahui atau dianggap sebagai suatu fakta yang digambarkan lewat angka, symbol, kode, dan lain-lain. Nawawi (2005 : 96-97) menyatakan bahwa jenis data penelitian dapat dikelompokkan menjadi data kualitatif dan kuantitaf. Data kualitatif banyak digunakan dalam penelitian secara filosofis, penelitian deskriptif dan historis. Data kuantitaif dinyatakan dalam bentuk angka baik yang berasal dari transformasi kualitaif maupun sejak semula sudah bersifat kuantitatif. Dalam analisis tentang pergerakan IHSG berdasrkan pengaruh tingkat suku bunga dan inflasi menggunakan kedua jenis data tersebut, yaitu data kualitatif berupa teori-teori yang ada dan data kuantitaf dalam bentuk table yang memuat data riil yang terkumpul selama periode tahun 2009-2012.

16

3.1.2 Sumber Data Sumber data disini dibagi atas dua sumber yaitu, sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan dilapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau oleh pengumpul data. Data primer ini disebut juga dengan data asli atau data baru (Riduan, 2004: 1006) Selain data primer digunakan juga data sekunder, data sekunder yaitu data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitinya, dan biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia (AZwar, 1997: 91). Dalam kaitannya dengan penelitian ini, sumber data sekunder diperoleh dari sumber data tidak langsung seperti dokumentasi yang mendukung hasil penelitian.

3.2 Alat Analisis Kata analysis berasal dari bahasa Greek (Yunani), terdiri dari kata ana dan lysis. Ana artinya atas (above), lysis artinya memecahkan atau menghancurkan. Secara difinitif ialah: Analysis is a process of resolving data into its constituent components to reveal its characteristic elements and

17

structure Ian Dey (1995: 30). Agar data bisa dianalis maka data tersebut harus dipecah dahulu menjadi bagian-bagian kecil (menurut element atau struktur), kemudian mengaduknya bersama untuk memperoleh pemahaman yang baru Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, (1975: 79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Jenis-jenis analisis data ini terbagi pada dua bagian, yaitu, data kualitatif dan data kuantitatif.

1. Data kualitatif Analisis kualitatif adalah aktivitas intensive yang memerlukan pengertian yang mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat. Analisa kualitatif tidak berproses dalam suatu pertunjukan linier dan

18

lebih sulit dan kompleks dibanding analisis kuantitatif sebab tidak diformulasi dan distandardisasi

2. Data kuantitatif Munculnya aliran filsafat positivisme ini dipelopori oleh seorang filsuf yang bernama August Comte (1798 1875). Comte jugalah yang menciptakan istilah sosiologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat secara ilmiah. Mulai abad 20-an sampai dengan saat ini, aliran positivisme mampu mendominasi wacana ilmu pengetahuan. Aliran ini menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh ilmu-ilmu manusia maupun alam untuk dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan yang benar, yaitu berdasarkan kriteria-kriteria eksplanatoris dan prediktif.

19

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Analisis Deskriftif Analisis deskriftif dilakukan umtuk mengetahui bagaimana perkembangan variable instrument yang dipakai dalam suatu penelitian. Variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Indeks Harga saham gabungan, tingkat suku bunga dan inflasi. 4.1.1 IHSG

4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2009 2010 2011 2012 IHSG 2 Column2

20

Pada periode 2009-2012 IHSG cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hingga mencapai level tertinggi pada tahun 2012 pada angka 4118.83

4.1.2 BI Rate

8 7 6 5 4 3 2 1 0 2009 2010 2011 2012 BI Rate Column1 Column2

Pada awal penelitian tingkat suku bunga BI Rate sebesar 7.15 dan pada periode 2009-2012 mengalami penurunan yang konstan dari tahun ke tahun dan dari penelitian terakhir tingkat suku bunga pada 2012 adalah 5.86

21

4.1.3 Inflasi
6 5 4 3 2 1 0 2009 2010 2011 2012 Inflasi Series 2 Series 3

Data Inflasi sempat menunujukan peningkatan yang cukup signifikan pada periode 2009-2010, dan kembali menurun pada periode tahun berikutnya.

22

4.2 Uji Regresi Linier Berganda Pengujian dengan model regresi linier berganda ini dibantu dengan menggunakan aplikasi Microsoft excel add-ins agar memudahkan dalam menghitung data-data yang ada. Dalam penggunaan program ms excel add-ins didapatkan hasil : = 8.179637 - 0.072114 X1 - 0.00063 X2

hasil uji signifikan secara simultan didapat F = 12.68709 Signifikansi = 0.19472 < 0,5 Berdasarkan persamaan regresi yang didapat terlihat bahwa tingkat suku bunga menghasilkan nilai koefisien beta (-) 0.072114, nilai koefisien negative menandakan setiap kenaikan variable BI Rate sebesar 1 satuan maka akan diikuti penurunan sebesar 0.072114 satuan pada IHSG, dan sebaliknya. Begitu juga dengan koefisien beta yang dihasilkan Inflasi (-) 0.00063, memilki arti nilai koefisien negative menandakan setiap kenaikan variable Inflasi sebesar 1 satuan maka akan diikuti penurunan sebesar 0.00063 satuan pada IHSG, dan sebaliknya.

23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan Dari hasil yang didapat dari analisis menggunakan regresi linier berganda bahwa tingkat suku bunga (BI Rate) dan Inflasi memiliki hubungan yang negative dengan IHSG, dan hasil ini juga terlihat dengan menggunakan gambaran deskriftif melalui grafik ketiga variable yang diuji. Diharapkan dengan penelitian sederhana ini dapat membantu pembaca dalam menentukan langkah kepuutusan investasi yang tepat sehingga mampu menghasilkan hasil yang maksimal. 5.2 Saran Penelitian ini masih memiliki keterbatasan baik dari segi variable yang digunakan maupun periode waktu penelitian, sehingga masih memiliki banyak kekurangan yang nantinya diharapkan bagi pihak lain untuk melanjutkan maupun meneliti lebih jauh dan lebih baik lagi baik dari segi penambahan variable dan periode jangka waktu.

24

DAFTAR PUSTAKA
http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/teknik-analisis-data-dalam-penelitian/ http://djokosupriyadi.blogspot.com/2010/04/analisis-pengaruh-tingkat-inflasidan.html http://finance.yahoo.com/q/hp?s=%5EJKSE&a=00&b=1&c=2009&d=11&e=30&f=2 012&g=m http://id.wikipedia.org/wiki/Indeks_Harga_Saham_Gabungan#Sejarah_nilai_IHSG http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/ http://www.bi.go.id/biweb/Templates/Moneter/Default_Inflasi_ID.aspx?NRMODE= Published&NRNODEGUID=%7bA7760121-1768-4AE8-B3330C91E746F1E3%7d&NRORIGINALURL=%2fweb%2fid%2fMoneter%2fInflasi%2 fData%2bInflasi%2f&NRCACHEHINT=Guest http://syahrulhavianto.blogspot.com/2012/05/data-adalah-catatan-atas-kumpulanfakta.html

25