Anda di halaman 1dari 2

LO 1: ARIJAL AZMI JUITA ARYANI 1.

DEFINISI SKIZOFRENIA Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tidak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. 2. EPIDEMIOLOGI SKIZOFRENIA a. Umur dan Jenis Kelamin Prevalensi penderita skizofrenia antara laki-laki dan perempuan adalah sama, namun kedua jenis kelamin tersebut berbeda awitan dan perjalanan penyakitnya. Awitan pada laki-laki lebih awal dari pada wanita. Usia puncak awitan untuk laki-laki adalah 15-25 tahun sedangkan pada wanita adalah pada usia 25-35 tahun. Awitan Skizofrenia pada usia dibawah 10 tahun atau diatas 60 tahun adalah sangat jarang. b. Bulan kelahiran Penderita skizofrenia kebanyakan dilahirkan pada musim dingin dan permulaan musim semi, di belahan Bumi Utara, termasuk Amerika Serikat, penderita skizofrenia lebih sering dilahirkan pada bulan Januari hingga April. Di belahan Bumi selatan, penderita skizofrenia lebih sering lahir pada bulan Juli hingga September. c. Distribusi geografis Skizofrenia secara geografis tidak tersebar secara merata diseluruh dunia. Prevalensi skizofrenia di bagian timur laut dan bagian barat Amerika Serikat lebih tinggi dari pada didaerah lainnya. Sejumlah regio geografis Bumi, seperti Irlandia, memiliki prevalensi skizofrenia yang tinggi. d. Faktor Reproduktif Penggunaan obat-obat psikoterapeutik, penekanan pada rehabilitasi, kebijakan terbuka di rumah sakit, dan perawatan berbasis masyarakat pada penderita skizofrenia secara umum

meningkatkan angka perkawinan dan angka kesuburan diantara penderita skizofrenia. Akibat faktor-faktor tersebut sejumlah anak lahir dari orang tua yang menderita skizofrenia terus meningkat. e. Bunuh diri Bunuh diri merupakan penyebab utama kematian pada orang yang menderita skizofrenia. Taksirannya bervariasi, namun hingga 10% orang dengan skizofrenia meninggal dengan percobaan bunuh diri. Penderita wanita dan pria adalah hampir sama terlibat bunuh diri, diantara penderita skizofrenia ada pada penderita yang depresi, usia muda dan penderita yang sering menderita sakit. Oleh karenanya sangat perlu pendekatan perawatan secara farmakologis (pemberian obat-obatan anti depresi) dan penggunaan dukungan kelompok secara langsung. f. Faktor Sosioekonomi dan Kultural Skizofrenia digambarkan terdapat pada semua kebudayaan dan kelompok status sosioekonomi. Lebih banyak pasien schizofrenia menduduki kelas sosial yang rendah dalam masyarakat yang perkembangan industrinya tinggi, dan lebih banyak orang menderita schizofrenia pada kelompok pendatang baru ke satu perkotaan (emigran). Beberapa studi melaporkan prevalensi yang tinggi dari schizofrenia adalah diantara imigran dan menemukan perubahan budaya yang tiba-tiba g. Faktor Populasi Prevalensi skizofrenia senantiasa berkorelasi dengan kepadatan populasi lokal di kota dengan populasi lebih dari 1 juta orang. Korelasi ini lebih lemah di kota yang berpenduduk 100.000 sampai 500.000 orang dan tidak terdapat di kota dengan penduduk kurang dari 10.000 orang.

Daftar pustaka: 1. Benjamin j. Sadock, Virginia A. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri klinis. Edisi 2. Jakarta: EGC, 2012. 2. Maslim, rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ-III.Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Atma Jaya, 2001.